Peningkatan kemampuan menemukan konsep luas bangun datar trapesium melalui penerapan model penemuan terbimbing pada kelas VA SDN Kasin Malang / Nova Guruh Sulistyo

 

Kata Kunci: luas, bangun datar trapesium, model penemuan terbimbing, sekolah dasar, matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai siswa agar kelak dapat memecahkan permasalahan-permasalahan terkait hitungmenghitung dalam kehidupan sehari-hari. Dalam membelajarkan matematika juga tidak sembarangan, pada setiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda-beda. Agar pembelajaran tidak berpusat pada guru, makadiperlukan suatu model pembelajaran yang mengoptimalkan kinerja serta kognitif siswa, namun peran guru tetap mengawasi serta mengarahkannya agar pembelajaran tetap mengarah pada tujuan pembelajaran. Model yang sesuai dengan pendapat di atas yaitu, model penemuan terbimbing. Dalam model tersebut guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa pada penemuan konsep diiringi dengan bimbingan-bimbingan yang bertahap, tujuannya agar siswa merasa bahwa merekalah yang menemukan pengetahuannya sendiri. Penelitian dilaksanakan di SDN Kasin Malang, dimulai pada tanggal 16 Februari 2011 sampai dengan tanggal 16 April 2011. Penelitian dilaksanakan dalam rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berdasarkan penerapan model penemuan terbimbing pada pembelajaran bangun datar trapesium di kelas VA SDN Kasin Malang, diketahui aktivitas dan kemampuan siswa mengalami peningkatan. Peningkatan aktivitas belajar siswa yang diperoleh dari hasil penyekoran kerja kelompok penemuan dari siklus I menuju siklus II sebesar 0,49. Pada setiap siklus pembelajaran juga ditemukan skor siswa yang menurun atau tetap (stabil) setelah penerapan pembelajaran penemuan terbimbing. Untuk rata-rata nilai hasil belajar siswa kelas VA SDN Kasin Malang mengalami peningkatan, jika dilihat dari pra tindakan menuju siklus I kemudian menuju siklus II, maka rata-rata nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan menuju siklus I meningkat sebesar 50,39. Sedangkan dari siklus I menuju siklus II rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat sebesar 2,06. Selanjutnya, sesuai KKM SDN Kasin Malang, rata-rata hasil belajar luas bangun trapesium siswa kelas VA melalui penerapan model penemuan terbimbing sudah tuntas 89,79% dari jumlah seluruh siswa VA. Berdasarkan hasil penelitian di atas diperoleh simpulan penelitian sebagai berikut. Penerapan model penemuan terbimbing pada pembelajaran luas bangun datar trapesium terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa serta dapat meningkatkan hasil belajar penemuan. Dalam keterlaksanaan model penemuan terbimbing juga harus benar-benar memperhatikan beberapa faktor selain langkah-langkah penerapan model, yaitu motivasi, variasi dan banyaknya media serta bimbingan yang merata pada seluruh siswa dalam pembelajaran

Penerapan model pembelajaran arias untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa IIIA SDN Purwantoro 2 kota Malang / Rifqi Dian Agustin

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran ARIAS, aktivitas belajar, hasil belajar, mata pelajaran IPS Permasalahan yang terkait dengan hasil belajar terutama pada mata pelajaran IPS terjadi karena beberapa faktor yaitu minimnya keaktivan siswa. Berdasarkan observasi pendahuluan pada mata pelajaran IPS yang dilakukan peneliti terhadap guru dan siswa kelas III A SDN Purwantoro 2 Malang menunjukkan bahwa, rata-rata kelas baru mencapai 65,85% penguasaan materinya dan siswa yang nilainya memenuhi Standar Ketuntasan Minimal(SKM) sebanyak 27 dari 41 siswa atau 65,85%. Pencapaian prestasi siswa pada mata pelajaran IPS di bawah SKM yaitu 74,0. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan model ARIAS yaitu peningkatan aktivitas dan hasil belajar setelah menggunakan model ARIAS. Model pembelajaran ARIAS adalah model pembelajaran yang usaha pertama dalam kegiatan pembelajarannya menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 41 siswa kelas III A SDN Purwantoro 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran ARIAS menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa kelas IIIA meningkat ditandai dengan aspek-aspek yang diamati (keaktifan siswa, kerjasama siswa, rasa percaya diri dan kemampuan menyimpulkan) dari siklus I sebesar 66,63 pada siklus II meningkat menjadi 76,08. Selain itu, peningkatan hasil belajar siswa sebelum penerapan model ARIAS yang hanya mencapai rata-rata 61,28 dengan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan individu sebanyak 14 siswa. Pada siklus I hasil belajar siswa diperoleh rata-rata sebesar 73,95 sebanyak 26 siswa (68,42%) sudah memenuhi ketuntasan. Kemudian meningkat lagi pada siklus II rata-rata siklus II rata-rata menjadi 86,32 sebanyak 32 (84,21%) siswa sudah memenuhi SKM. Apabila seorang peneliti lain ingin menerapkan model ini, diharapkan bisa memperhatikan hal-hal atau kendala yang mempengaruhi pembelajaran tersebut agar penerapan model pembelajaran ARIAS dapat berjalan secara optimal.

Pemanfaat benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan hasil belajar menggambar ekspresi siswa kelas 2 SDN Kasin MAlang / Winda Dyah Puspitasari

 

Kata kunci: benda-benda di lingkungan kelas, menggambar ekspresi, SD. Hasil observasi pada awal Maret tahun 2011 yang dilakukan peneliti di SDN Kasin Kota Malang serta berdasarkan hasil belajar siswa sebelumnya, ditemukan kondisi tentang rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa kelas II, khususnya pada mata pelajaran SBK materi menggambar ekspresi. Pada proses pembelajaran siswa cenderung ramai sendiri, tidak adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru dan siswa kesulitan dalam membuat gambar. Menggambar ekspresi dengan memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas akan membantu siswa dalam menentukan gambar. Tujuan penelitian ini adalah (1) memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan proses menggambar ekspresi siswa kelas II SDN Kasin Malang dan (2) memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan hasil belajar menggambar ekspresi siswa kelas II SDN Kasin Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan benda-benda di lingkungan kelas telah berhasil meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pada proses pembelajaran siswa lebih bersemangat dalam membuat gambar ekspresi begitu pula yang terlihat pada hasil gambar siswa yang menunjukkan peningkatan dari pewarnaan, kreasi dan kerapian. Pada proses belajar terjadi peningkatan dari tahap pratindakan ke siklus 1 sebesar 8,33% dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18,75%. Peningkatan hasil belajar (karya siswa) dari tahap pratindakan ke siklus 1 sebesar 4,12% dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 29,22%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menggambar ekspresi dan penelitian ini dapat dijadikan langkah awal untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa dalam menggambar ekspresi lebih menyenangkan.

Peningkatan kemampuan memahami isi cerita melalui teknik directed reading thinking activities (DRTA) di kelas IV SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar / Rofiq Alfa Humaida

 

Kata kunci: Membaca pemahaman, siswa, teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA). Pembelajaran memahami isi cerita di SD pada saat ini masih dirasakan belum memenuhi tuntutan kurikulum yang diberlakukan sekarang yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Guru dalam membelajarkan membaca pemahaman masih memiliki kecenderungan memusatkan kegiatannya agar siswa dapat membaca dan kurang memanfaatkan membaca untuk belajar lebih lanjut.Tujuan penelitian pelaksanaan pembelajaran kemampuan memahami isi cerita di kelas IV SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar adalah mendeskripsikan pelaksanaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) dalam upaya meningkatkan kemampuan memahami isi cerita siswa di kelas IV SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami isi cerita siswa kelas IV dengan penggunaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) di SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penggunaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) untuk siswa kelas IV di SDN Gondangtapen ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan memahami isi cerita. Rekapitulasi hasil dari ketiga tahap memahami isi cerita diperoleh penilaian tahap pratindakan, tingkat ketuntasan belajar siswa sebesar 18,75%, pada siklus I pertemuan pertama naik menjadi 25%, pada siklus I pertemuan kedua naik menjadi 43,75%, pada siklus II pertemuan pertama menjadi 81,25%, dan pada siklus II pertemuan kedua naik menjadi 93,75%. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu dengan menggunaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) dalam pembelajaran memahami isi cerita terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Maka disarankan menggunakan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) dalam pembelajaran memahami isi cerita untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan model project-based learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang / Dewi Nofita Sari

 

Kata kunci: Model Project-Based Learning, Aktivitas, Hasil belajar, IPA. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pemebalajaran IPA dan guru masih menggunakan metode ceramah. Hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan pada ulangan harian yaitu 59, jauh dari ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 67. Oleh karena itu peneliti menerapkan model Project-Based Learning untuk mengatasi permasalahan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)penerapan model proyek pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas belajar siswa kelas IV, (3) hasil belajar IPA setelah menerapkan model pembelajaran proyek di kelas IV. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 23 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan model proyek pada pembelajaran IPA siswa kelas IV dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat. Guru memfasilitasi dan memotivasi siswa sehingga siswa dapat membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian aktivitas/kegiatan. Penggunaan model ini dapat meningkatkan aktivitas. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa sebelumnya yaitu 81 pada siklus I meningkat menjadi 91,6 di siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pratindakan pada materi "energi dan perubahannya” adalah 59 yang tuntas hanya 6 orang (26%), pada siklus I meningkat menjadi 74,5 yang tuntas 16 siswa (69,6%). Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 89,2 yang tuntas 22 siswa (95,6%). Kesimpulannya penerapana model proyek dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN ketawanggede 2 Malang. Saran bagi Kepala Sekolah agar memotivasi guru untuk lebih terfokus dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model proyek. Untuk guru dan peneliti lain dalam menerapkan model proyek tidak terpisah-pisah, sebaiknya 1 proyek minimal di selesaikan 1 siklus dan untuk siklus berikutnya diupayakan mengganti dengan kegiatan proyek lain yang sesuai dengan proyek sebelumnya.

Penggunaan media kartu angka dengan pasangan gambar untuk meningkatkan pengembangan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Budi Rahayu Wonorejo / Rahayu

 

Kata Kunci : Kartu angka, Kemampuan kognitif, Memasangkan kartu pada gambar. Penelitian ini berlatar belakang membangun kemampuan kognitif anak dalam memahami konsep bilangan 1 – 10 melalui kartu angka dan pasangan gambar sebagai salah satu upaya mengembangkan matematika dasar hasil pengamatan dan observasi pembelajaran di dapat bahwa sebagian siswa kelompok B TK Budi Rahayu, masih ada yang belum mampu mengenal konsep bilangan. Berdasarkan refleksi guna didapat bahwa pengorganisasian kurikulum masih bersifat subjed. Dari 20 peserta didik yang ada di TK, ditemukan bahwa 14 anak yang belum tepat untuk menghubungkan angka, sehingga mendapatkan bintang 1. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain kartu angka, 2) Mendiskripsikan peningkatan pengembangan siswa dalam kemampuan memasangkan kartu angka dengan pasangan gambar di kelompok B TK Budi Rahayu Wonorejo. Untuk rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Arikunto,Suharsimi yang tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan observasi, refleksi. Penelitian ini menggunakan metode bermain kartu angka dengan pasangan gambar untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Budi Rahayu Wonorejo. Untuk rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Arikunto, Suharsimi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peneliti dapat membantu mengatasi masalah pembelajaran dan dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui kegiatan bermain kartu angka dengan pasangan gambar. Penelitian ini berlatar belakang membangun meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam memahami konsep bilangan 1 – 10. Dengan bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain kartu angka dengan pasangan gambar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peneliti dapat membantu mengatasi masalah pembelajaran. Disarankan untuk pembelajaran bidang pengembangan kognitif di TK hendaknya menunjukkan bahwa pelaksanaan metode bermain kartu angka dengan pasangan gambar dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa secara sederhana, khususnya siswa kelompok B TK Budi Rahayu Wonorejo.

Penerapan model pembelajaran guided note talking (GNT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang / Arini Ilma

 

Kata Kunci : Model Guided Note Taking (GNT), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Pembelajaran IPS pada kelas IVA di SDN Bareng 3 masih menggunakan model konvensional. Akibatnya hasil ulangan harian siswa kelas IVA siswa yang mampu mencapai ketuntasan minimal hanya 20 siswa dan yang mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal ada 18 siswa. Selain itu, siswa menjadi bosen sehingga membuat siswa pasif, bermain sendiri, ramai, dan tidak konsentrasi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang; (2) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang; (3) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Kehadiran dan peran peneliti bertindak sebagai instrumen utama, perencana tindakan, dan pelaksana tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas IVA SDN Bareng 3 Kota Malang. Langkah-langkah penelitian tindakan kelas menggunakan model Kemmis Taggart yang tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan; (2) Pelaksanaan; (3) Pengamatan; (4) Refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) semakin meningkat. Hal ini terbukti saat selama proses pembelajaran. Siswa yang biasanya takut mengeluarkan pendapat menjadi berani dan siswa yang tidak mau bekerjasama menjadi mau. Hasil belajar rata-rata kelas pada siklus I pertemuan 1 sebesar 73,63. Nilai rata-rata kelas siklus I pertemuan 2 sebesar 78,94. Hasil belajar siklus I pertemuan 1 sampai pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 5,31. Nilai rata-rata siklus II pertemuan 1 sebesar 84,07, Hasil belajar siklus I pertemuan 2 sampai siklus II pertemuan 1 mengalami peningkatan sebesar 5,13. Nilai rata-rata siklus II pertemuan 2 sebesar 89,81. Hasil belajar siklus II pertemuan1 sampai pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 5,74. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Saran yang dapat diberikan agar peneliti selanjutnya: (a) Dalam menerapkan model Guided Note Taking (GNT) hendaknya guru memvariasikan dengan model lain agar siswa tidak cenderung monoton, (b) Dengan menggunakan model Guided Note Taking (GNT) diharapkan siswa harus berani mengeluarkan pendapat, bertanya kepada teman atau guru dan bisa menjawab pertanyaan dari guru serta konsentrasi dengan baik. Sehingga akhirnya penerapan model Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas siswa; (c) Hendaknya guru memberikan soal evaluasi sesuai dengan model Guided Note Taking (GNT) agar siswa paham sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan media alam sekitar pada siswa kelas IV SDN Ngadipuro 01 Kabupaten Blitar / Yulia Novitasari

 

Kata Kunci: keterampilan menulis, karangan deskripsi, alam sekitar Proses pembelajaran menulis terutama menulis karangan deskripsi akan berlangsung optimal apabila guru dapat memanfaatkan dan menggunakan media pembelajaran secara tepat sesuai dengan keadaan siswa yang dihadapi. Di SDN Ngadipuro 01 kabupaten Blitar pada pembelajaran bahasa Indonesia guru tidak menggunakan media pembelajaran yan tepat akibatnya keterampilan menulis karangan deskripsi siswa sangat rendah. Penelitian ini bertujuan : (1) mendeskrip-sikan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan deskripsi melalui media alam sekitar pada siswa kelas IV SDN Ngadipuro 01 kabupaten Blitar, dan (2) mendeskrip-sikan peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi melalui media alam sekitar pada siswa kelas IV SDN Ngadipuro 01 kabupaten Blitar. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas. Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaan menulis karangan deskripsi, siswa belum mencapai ketuntasan yang ditentukan sekolah. Dengan kriteria ketuntasan minimal mencapai 75%. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh rata-rata nilai siswa tahap pratindakan 47,4 dengan persentase ketuntasan 0%. Pada akhir siklus I nilai rata-rata 68,9 dengan persentase ketuntasan 45,5% dan pada akhir siklus II nilai rata-rata naik menjadi 85,5 dengan persentase ketuntasan 90,9%. Dengan menggunakan media alam sekitar, siswa mampu mencapai ketuntasan klasikal 90,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media alam sekitar dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa khususnya karangan deskripsi, yaitu pada aspek kelengkapan penggambaran, keutuhan karangan, dan ketepatan penulisan. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu dengan menggunaan media alam sekitar dalam pembelajaran terbukti dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa. Maka disarankan menggunakan media alam sekitar dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa.

Hubungan antara pemberian bimbingan belajar oleh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Kecamatan Sukun kota Malang / Ike Rinnata Septiana

 

Kata Kunci : Bimbingan Belajar Oleh Orang Tua, Prestasi Belajar Turunnya nilai UASBN pada siswa kelas VI menjadi tolok ukur sekolah dan orang tua dalam menilai prestasi belajar siswa di sekolah. Salah satu penyebab turunnya prestasi siswa di sekolah adalah kurang adanya bimbingan belajar yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam proses belajar di rumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemberian bimbingan belajar oleh orang tua, mengetahui hasil belajar siswa dan untuk mengetahui hubungan antara bimbingan belajar oleh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Manfaat penelitian ini bagi orang tua sebagai bahan masukan untuk memberikan informasi pentingnya pemberian bimbingan belajar pada anak yang berdampak pada prestasi belajarnya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi yang dipakai adalah semua siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 semester gasal sebanyak 143 siswa. Teknik sampling menggunakan metode stratified random sampling untuk menentukan jumlah sampel yang diambil yaitu sebanyak 37 siswa. Pemberian bimbingan belajar oleh orang tua diukur menggunakan metode angket dan hasil prestasi belajar siswa diperoleh dari nilai raport siswa pada semester gasal. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi sederhana yang pengolahan datanya dibantu dengan menggunakan SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian siswa kelas V tidak ada (0%) siswa yang mendapatkan bimbingan belajar oleh orang tua dengan klasifikasi rendah, 18 siswa (48,65%) mendapakan bimbingan belajar oleh orang tua dengan klasifikasi sedang, dan 19 siswa (51,35%) mendapatkan bimbingan belajar oleh orang tua dengan klasifikasi tinggi. Berdasarkan hasil penelitian prestasi belajar diketahui bahwa dari 37 siswa yang menjadi sampel penelitian, 15 siswa (40,54%) yang mendapatkan prestasi belajar dengan klasifikasi rendah, 11 siswa (29,73%) mendapakan prestasi belajar dengan klasifikasi sedang, dan 11 siswa (29,73%) mendapatkan prestasi belajar dengan klasifikasi tinggi. Hasil uji normalitas diketahui bahwa variabel independen dan dependen memiliki distribusi normal. Sedangkan dari pengujian hipotesis diperoleh nilai sig. (0,000) 0,05 dan thitung (4,703) > ttabel (2,030) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Adapun saran dari penelitian ini ditujukan kepada guru Sekolah Dasar agar dapat memberikan masukan untuk dapat melakukan kerjasama dengan orang tua siswa dalam rangka meningkatkan prestasi belajar. Selain itu juga ditujukan bagi peneliti lanjutan disarankan untuk menambah jumlah variabel yang akan diteliti.

Pengaruh motivasi, pembelajaran, dan sikap terhadap keputusan pembelian sepeda motor Honda (Studi pada konsumen sepeda motor honda di kalangan mahasiswa psikologi Universitas Negeri Malang) / Ugik Oktavianto

 

Pertumbuhan konsumen sepeda motor meningkat luar biasa. Sepeda motor Honda yang sudah lama berada di Indonesia, dengan segala keunggulannya tetap mendominasi pasar dan sekaligus memenuhi kebutuhan angkutan yang tangguh, irit dan ekonomis di tengah-tengah persaingan yang begitu tajam akibat banyaknya merek pendatang baru. Untuk menghadapi persaingan tersebut produk Honda selalu menciptakan penemuan-penemuan baru yang mana disesuaikan dengan perkembangan jaman dan keinginan dari masyarakat agar produknya tetap laku terjual. Jika berbicara tentang penjualan tentu saja berkaitan dengan konsumen dan perilakunya. Perusahaan tentu akan berusaha meningkatkan penjualan dengan berbagai cara, diantaranya memperhatikan faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Motivasi, pembelajaran, dan sikap adalah determinan penting bagi keputusan pembelian suatu produk. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Subjek penelitian adalah mahasiswa psikologi Universitas Negeri Malang yang berjumlah 40 orang, dengan teknik pengambilan subyek purposive. Instrumen pengambilan data berupa skala motivasi, pembelajaran, sikap, dan keputusan pembelian. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis korelasi dan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan positif antara motivasi dan keputusan pembelian. Motivasi berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel motivasi memberikan Pengaruh sebesar 32% terhadap keputusan pembelian; (2) ada hubungan positif antara pembelajaran dan keputusan pembelian. Pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel pembelajaran memberikan Pengaruh sebesar 13,06% terhadap keputusan pembelian; (3) ada hubungan positif antara sikap dan keputusan pembelian. Sikap berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel sikap memberikan Pengaruh sebesar 23,64% terhadap keputusan pembelian; (4) motivasi, pembelajaran, dan sikap berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel motivasi, pembelajaran, dan sikap secara simultan mampu menjelaskan variabel keputusan pembelian sebesar 68,7%, selebihnya sebesar 31,3% di jelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Namun ketika secara bersama-sama, variabel motivasi yang lebih berpengaruh terhadap keputusan pembelian dari pada pembelajaran dan sikap. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1) kepada perusahaaan untuk lebih memperhatikan faktor motivasi, dengan demikian perusahaan diharapkan dapat meningkatkan motivasi konsumennya yang saat ini berada di tingkat sedang. Karena jika diperhatikan dengan baik maka motivasi meningkat dan pada akhirnya membuat keputusan pembelian naik menjadi lebih kompleks; (2) sedangkan bagi peneliti selanjutnya yang berminat membahas keputusan pembelian disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif dengan cara menambah variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian

Pebelajaran konseptual dan prosedural untuk meningkatkan hasil belajar penjumlahan pecahan siswa kelas IV SDN Kasin Malang / Aulia Eva

 

Kata kunci: Pembelajaran konseptual, pembelajaran prosedural, penjumlahan pecahan. Hasil observasi pada awal Februari tahun 2011 yang dilakukan peneliti di SDN Kasin Malang serta berdasarkan hasil belajar siswa sebelumnya, ditemukan kondisi tentang hasil belajar siswa kelas IV, khususnya pada mata pelajaran Matematika pada materi perkalian. Perkalian merupakan prasyarat untuk dapat melakukan operasi penjumlahan pecahan. Untuk dapat melakukan operasi penjumlahan pecahan siswa harus menguasai perkalian. Pada proses pembelajaran siswa cenderung kesulitan untuk mengalikan bilangan. Oleh krena itu peneliti mencoba memperbaiki hasil belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran konseptual dan prosedural pada materi penjumlahan pecahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pembelajaran matematika kelas IV pada materi penjumlahan pecahan setelah menerapkan pembelajaran konseptual dan prosedural. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas pada pembelajaran matematika yang diselenggarakan di semester genap. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kasin Malang tahun ajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Ketuntasan pada siklus I sebesar 83,33 % dan ketuntasan pada siklus II meningkat menjadi 84,61 %, peningkatan disini sebesar 0,77%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru menggunakan pembelajaran konseptual dan prosedural untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan penelitian ini dapat dijadikan langkah awal untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa menemukan sendiri suatu konsep dan prosedur pada pembelajaran matematika.

Pelaksanaan Pilkada langsung Kabupaten Pasuruan ditinjau dari aspek politik hukum / Ujang Mansur

 

Amandemen terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan warna baru dalam tatanan politik dan sistem politik di Indonesia, terutama berkaitan dengan seluruh proses politik di daerah. Salah satu yang mewarnai perubahan dalam menegakkan demokrasi tersebut ialah Pilkada Langsung. Pilkada Langsung adalah suatu proses pemilihan untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang memenuhi syarat. Pada dasarnya Pilkada langsung itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari aspek Politik Hukum. Politik hukum diartikan sebagai kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara yang dicita-citakan. Nilai-nilai yang hendak dicapai dalam hal ini ialah nilai-nilai demokratis yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat. Penelitian berjudul Pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan ditinjau dari Aspek Politik Hukum, bertujuan untuk, (1) mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (2) mengetahui tahapan pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (3) mengetahui pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (4) mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan,(5) mengetahui upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (6) mengetahui pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan ditinjau dari aspek politik hukum. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskritif, yakni dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Ketua KPUD Kabupaten Pasuruan, Anggota KPUD Kabupaten Pasuruan dan Masyarakat Kabupaten Pasuruan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan, (1) pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan terdiri atas, KPUD Kabupaten Pasuruan, Panitia Pengawas Pilkada Kabupaten Pasuruan, PPK,PPS dan KPPS, pasangan calon, pemilih, aparat keamanan dan Lembaga Swadaya Masyarakat, (2) tahapan pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan terdiri atas, tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, (3) pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan mengacu pada tahapan yang telah di rencanakan sebelumnya sesuai dengan Keputusan KPUD Kabupaten Pasuruan No. 01 Tahun 2007 tentangii Tahapan dan Program Pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (4) Kendala-kendala dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan terdiri atas, Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) KPUD Kabupaten Pasuruan dalam pembuatan regulasi/aturan dalam pembuatan Undang-Undang, terbatasnya dana Pilkada Langsung, rendahnya pemahaman masyarakat tentang Pilkada, adanya budaya politik masyarakat yang bersifat apatisme dan memilih golput, (5) upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan ialah mengangkat ahli hukum untuk membuat aturan-aturan Pilkada di Kabupaten Pasuruan, menambah dana Pilkada Langsung dari APBD dan sumbangan donatur, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, memberikan pemahaman secara mendalam kepada masyarakat yang memiliki sifat apatisme dan memilih golput, KPUD Kabupaten Pasuruan berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Pasuruan, dinas kependudukan, PPK dan PPS setempat, (6) ditinjau dari aspek politik hukum pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan yang merupakan bentuk dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor 06 Tahun 2005 belum sepenuhnya menciptakan nilai-nilai demokratis yang semestinya. Hal ini disebabkan oleh rendahnya partisipasi politik masyarakat yang hanya mencapai 704.968 atau 70,5% dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) yang berjumlah 1.076.747 jiwa, serta kurangnya kepatuhan hukum dari masyarakat Kabupaten Pasuruan

Pengembangan buku bergambar mata pelajaran IPA kelas 3 semester 2 materi pokok cuaca dan pengruhnya bagi manusia di SDN Kebonagung PAsuruan / Dian Agustin Purnamasari

 

Kata kunci: Media, Buku Bergambar, IPA, Cuaca dan Pengaruhnya bagi Manusia, Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya visualisasi grafis (gambar) yang mutlak dipergunakan, oleh karena itu keberadaanya memiliki fungsi antara lain sebagai berikut : (1) menarik perhatian, (2) mempertinggi kesukaan, (3) memberi kemudahan mempelajari teks, (4) memperbaiki pemahaman dan retensi, (5) mengakomodasi pembaca lemah. Nyoto (1993). Salah satu contoh media visualisasi grafis adalah media cetak berupa buku bergambar. Penggunaan media dalam pembelajaran merupakan usaha untuk meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, penelitian ini akan menghasilkan media Buku Bergambar yang digunakan untuk pembelajaran IPA. Khususnya materi yang tidak dapat dijangkau oleh mata telanjang diantaranya Cuaca dan pengaruhnya Bagi Manusia. Tujuan dari Pengembangan ini, adalah : (1) memproduksi media buku bergambar dengan menggunakan program software corel draw menjadi buku bergambar yang diterapkan pada pembelajaran IPA kelas 3 semester 2 di SD Kebonagung Kota Pasuruan untuk mencapai tujuan pada pembelajaran IPA secara efektif, (2) mendeskripsikan validitas Media buku bergambar pada siswa kelas III SD Kebonagung Pasuruan. Model pengembangan media diadopsi dari langkah-langkah oleh Sadiman ( 2009:101) yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) merumuskan butir-butir materi, (4) mengembangkan alat pengukur keberhasilan, (5) menulis naskah media, (6) produksi media buku bergambar, (7) menyusun petunjuk pemanfaatan, (8) validasi oleh ahli media, ahli materi dan Audiens di bagi menjadi 3 kelompok uji coba, dan (9) revisi. Sumber data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam Pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (Pre Test dan Post Test). Hasil data kualitatif dan kuatitatif berasal dari validasi angket . Aspek-aspek yang divalidasi a) kualitas teknik dari ahli media, ahli materi, audiens, b) Pemanfaatan, c) hasil belajar siswa Dalam pengembangan media buku bergambar ini terdapat revisi antara lain : (1) warna difokuskan tiap halaman selalu lebih menonjol daripada komponen-komponen yang lain, (2) Jenis huruf diganti dengan jenis times new roman atau arial, (3) satu teks menggunakan satu jenis huruf agar lebih menjadi konsisten. Hasil data kulitatif dan kuantitutatif untuk media buku bergambar sebagai berikut : (1) hasil validasi angket dari ahli media sebesar 75% dan dikategorikan cukup valid, (2) hasil validasi angket dari ahli materi sebesar 82,5% dan dikategorikan valid, (3) siswa dalam uji coba individu diperoleh hasil sebesar 95,3%, (4) siswa dalam uji coba terbatas ( kelompok kecil) diperoleh hasil sebesar 95,3%, (5) siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh hasil sebesar 95,3% sehingga dapat diinterpretasikan bahwa media buku bergambar yang dikembangkan termasuk dalam kriteria Valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran IPA pada materi cuaca dan pengaruhnya bagi manusia di SDN Kebonagung Pasuruan. Selain itu hasil data kuantitatif berupa hasil belajar Postest dari (1) siswa dalam uji coba individu diperoleh skor posttest 75, (2) siswa dalam uji coba terbatas (kelompok kecil) diperoleh skor posttest 75, (3) siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh skor posttest 80,3 Berdasarkan hasil pengembangan di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar siswa diatas maka media buku bergambar dikategorikan baik dan efektif digunakan dalam pembelajaran IPA khususnya materi cuaca dan pengaruhnya bagi manusia.

Peran kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) dalam usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) (Studi kasus di desa Tambak Asri Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang) / Anita Rima Silvia

 

Kata kunci: Peran, Kader, POSYANDU, Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Posyandu merupakan suatu program yang dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) dalam upaya penggembangan sumber daya manusia (SDM) sejak dini. Posyandu memiliki banyak program diantaranya pelayanan gizi dan pelayanan kesehatan yang dapat memberikan pendidikan bagi masyarakat sebagai salah satu bentuk dari penggembangan masyarakat. Posyandu juga dapat disebut sebagai satuan pendidikan non formal di mana posyandu juga merupakan kelompok belajar dalam masyarakat, kelompok belajar tersebut dapat terjadi pada saat kegiatan posyandu berlangsung, kader posyandu disebut sebagai fasilitator dan anggota posyandu sebagai peserta didik, fasilitaor berfungsi sebagai pemberi motivator, pentugas penyuluhan, dan pelayanan kesehatan. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kader posyandu melaksanakan perananya dalam usaha perbaikan gizi keluarga di Desa Tambak Asri Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang. Dan mengetahui uasaha-usaha apa yang telah dilakukan oleh para anggota posyandu dalam usaha memperbaiki gizi dalam keluarganya. Sumber data penelitian adalah 11 kader posyandu dan 64 anggota posyandu yang terdapat di dua kelompok posyandu. Prosedur pengumpulan data menggunakan wawancara dan kuisioner. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus satu situs dimana bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan untuk memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Demikian pula Winarno Surakhmad (dalam Febrianti,2006:42) mengemukakan bahwa "studi kasus memusatkan perhatian pada satu orang, satu lembaga, satu keluarga, satu desa, ataupun satu kelompok manusia dan kelompok obyek lain-lain yang cukup terbatas, yang dipandang sebagai kesatuan" Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa fungsi peran kader posyandu dalam melaksanakan kegiataannya, peran kader sebagai motivator meliputi tugas-tugas yang dilakukan oleh kader posyandu antara lain: a). Mengerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), b). Memberikan materi tentang informasi tentang pemanfaatkan pakarangan untuk meningkatkan gizi keluarga pada saat kegiatan POSYANDU berlangsung, c). Memberikan informasi seputar kesehatan dan menanamkan perilaku-perilaku yang mendukung perbaikan gizi keluarga, d). Memberikan materi tentang perawatan dini bagi ibu baru melahirkan dan bayi baru lahir, e). Memberikan kritik, teguran, dan pujian pada anggota POSYANDU yang dapat memenuhi target maupun yang tidak, f). Menberikan informasi kepada anggota POSYANDU tentang hari buka POSYANDU, g). Menyediakan sarana dan prasarana dalam kegiatan POSYANDU. Selanjutnya peran kader posyandu sebagai petugas penyuluhan, meliputi tugas-tugas yang dilakuakn oleh kader posyandu antara lain: a). Menjelaskan materi tentang konsep perawatan dini bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, b). Memberikan atau menyampaikan informasi tentang pemanfaatan pakarangan rumah, c). Memberikan pengarahan kepada balita yang mengalami permasalahan, d). Memeriksa dan memberikan pengarahan kepada rumah-rumah yang tidak layak huni, e). Memberikan materi dan mempraktekkan prilaku-prilaku yang mendukung dalam perbaikan gizi keluarga, f). Melakukan kunjungan rumah terhadap bayi-bayi yang belum mendapatkan imunisasi, g). Memberikan pelatihan Juru Pemantau Jentik (JUMANTIK), h). Melakukan kunjungan rumah dalam kegiatan JUMANTIK. Dan yang terakhir adalah peran kader posyandu sebagai pelayanan kesehatan, meliputi tugas-tugas yang dilakuakn oleh kader posyandu antara lain: a). Memberikan informasi-informasi tentang imunisasi dan pemberian vitamin bagi anak, b). Melakukan pendaftaran kepada para anggota POSYANDU, c). Melakukan pencatatan tentang perkembangan BALITA, d). Melakukan pengisian kepada buku kesehatan ibu dan anak tentang perkembangan BALITA, e). Melakukan penimbangan pada BALITA, f). Melakukan pendataan ulang anggota POSYANDU, g). Pemberian kapsul vitamin kepada para anggota POSYANDU, h). Penyuntikan imunisasi kepada anggota pada saat hari buka POSYANDU, i). Menilai tentang kualitas kader sebagai pemberi materi pada anggota POSYANDU. Berdasarkan hasil penelitian dapat pula disimpulkan bahwa Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) di Desa Tambakasri Kec. Sumbermanjing Kab. Malang kegiatan yang dilakukan oleh para anggota antara lain: a). Pemenuhan kebutuhan kalori sehari-hari, b). Pemenuhan kebutuhan protein sehari-hari, c). Pemenuhan kebutuhan vitamin sehari-hari, d). Pemenuhan kebutuhan mineral sehari-hari Saran-saran yang dapat dikemukakan adalah: a). Dari hasil penelitian tentang peranan kader Posyandu dalam UPGK yang berfungsi sebagai motivator, petugas penyuluhan, dan petugas pelayanan kesehatan di Tambak Asri Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam mengembangkan dan menjalankan perananya sebagai kader Posyandu, b). Sebagai kader Posyandu yang bertugas memberikan informasi-informasi kepada masyarakat diharapkan lebih meningkatkan sumber daya yang telah dimilikinya agar menjadi kader Posyandu yang berkualitas dan profesional. c). Untuk lebih meningkatkan pelayanan dan pelaksanaan kegiatan Posyandu, maka sangat diperlukan peranan secara aktif dari masyarakat dan kader untuk memperlancar kegiatan pelaksanaan kegiatan posyandu.

Pengembangan media pembelajaran audio/radio mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII Sekolah Menengah Pertama di SMPN 4 Probolinggo / Wulan Rahmahdani

 

Kata Kunci : Pengembangan media pembelajaran, Media Audio/Radio, Bahasa Indonesia Perubahan dan perkembangan di beberapa bidang dalam kehidupan selalu terjadi dari masa ke masa, terutama dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat perlu diimbangi dengan pembaharuan dibidang-bidang lain termasuk dalam bidang Pendidikan. Selain itu, Anderson, ( dalam Munadi 2008:65) mencoba menghubungkan program audio dengan tujuan pembelajaran kognitif, psikomotorik dan afektif. Untuk tujuan kognitif, audio dapat digunakan untuk mengajar pengenalan kembali atau pembedaan rangsang audio yang relevan, contohnya : 1) memperdengarkan suara-suara tanda bahaya tertentu atau alat-alat lain sehingga siswa dapat mengambil tindakan tertentu. 2) mengajarkan pengenalan kembali dialek dan istilah yang berhubungan dengan pekerjaan atau untuk memperdengarkan suara lapangan disertai suara latar belakangnya. 3) memberikan latihan pendengaran, untuk belajar mengingat dan mengucapkan kata-kata. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan produk media audio/radio pembelajaran khusus untuk pembelajaran Bahasa Indonesia pokok materi drama kelas VIII di SMPN 4 Probolinggo berupa CD pembelajaran. Metode pengembangan yang diambil oleh penulis adalah metode R&D, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat diuji keefektifannya serta dapat dipertanggungjawabkan. Hasil pengembangan diperoleh dari 3 ahli media, 2 ahli materi, uji coba kelompok kecil berjumlah 5 orang siswa, kelompok klasikal berjumlah 15 orang siswa, serta uji coba individu berjumlah 3 orang siswa. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan terhadap ahli media diperoleh rata-rata 75%, ahli materi rata-rata 73%, siswa/audiens perorangan74.4%, siswa/audiens kelompok kecil 70% yang dapat diinterpretasikan dalam kriteria valid, sedangkan siswa/audiens kelompok klasikal diperoleh rata-rata 83% dapat diinterpretasikan dalam kriteria sangat valid. Hasil belajar siswa individu mendapat peningkatan rata-rata 72.5%, kelompok kecil rata-rata 73.5% dan kelompok klasikal diperoleh rata-rata 70%. Untuk mendapatkan penelitian yang lebih akurat, disarankan untuk meneliti dan membandingkan beberapa media yang dikenal selama ini, sehingga guru dapat memilih media pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar selain itu, Waktu yang disediakan harus cukup, pemilihan karakter suara harus sesuai dan tepat, lebih menguasai program pembuatan media audio/radio, persiapan saat pembuatan dan penelitian harus maksimal serta saat pemutaran media harus fokus.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI Ipa 1 MAN 3 Malang / Diana Kusumaningrum

 

Kata kunci: TAI, motivasi, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2010 di kelas XI IPA 1 MAN 3 Malang diketahui motivasi siswa dalam pelajaran biologi masih kurang. Kurangnya motivasi ditunjukkan oleh kejadian sebagai berikut: 1) kurang aktifnya siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru, 2) sedikitnya siswa yang bertanya kepada guru apabila mengalami kesulitan dalam materi yang dipelajari, 3) ketidaktepatan mengumpulkan tugas serta 4) sifat menggantungkan pekerjaan kelompok kepada salah satu anggota kelompoknya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, yaitu dengan penerapan pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization). Melalui penerapan pembelajaran TAI diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 1 di MAN 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan, setiap siklus terdiri atas tiga pertemuan (6 jam pelajaran). Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI IPA 1 semester ganjil tahun ajaran 2010/2011 MAN 3 Malang yang berjumlah 33 siswa, terdiri 14 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa motivasi dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa wawancara guru beserta siswa dan catatan lapangan. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan dari skor angket motivasi belajar siswa sebelum tindakan dibandingkan dengan skor angket motivasi belajar setelah pemberian tindakan serta peningkatan persentase motivasi yang diketahui berdasarkan lembar observasi yang diisi oleh observer selama proses pembelajaran berlangsung, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan rata-rata skor tes akhir siklus secara klasikal serta ketuntasan belajar siswa pada masing- masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes, lembar observasi motivasi siswa, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif TAI: 1) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI MAN 3 Malang. Peningkatan motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan sebesar 24,55% untuk attention; 34,15% untuk relevance; 31,55% untuk confidence; dan 16,42% untuk satisfactio; sedangkan peningkatan motivasi berdasarkan angket sebesar 0,55 untuk attention; 0,69 unuk relevance; 0,6 untuk confidence dan 0,46 untuk satisfaction; 2) belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa XI IPA 1 MAN 3 Malang. Rata-rata hasil belajar siswa siklus I adalah 86,56 dan rata-rata hasil belajar secara siklus II adalah 80,54. Persentase ketuntasan siswa siklus I adalah 90,90 % sedangkan persentase ketuntasan siswa siklus II adalah 63,64%. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan:1) guru mata pelajaran biologi di MAN 3 Malang dapat menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, 2) hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kecermatan pengelolaan waktu, ketepatan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran serta variasi kegiatan pembelajaran dalam Team Assisted Individualization.

Penerapan model pembelajaran kolaboratif untuk meningkatkan kualitas hasil belajar IPA siswa kelas V SD Ma'arif Jogosari Pandaan PAsuruan / Diana Johartono

 

Kata Kunci: pembelajaran, kolaboratif, hasil belajar. Pembelajaran kolaboratif adalah suatu aktifitas pembelajaran dimana siswa terlibat dalam kerja tim untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dalam aktifitas pembelajaran tersebut terdapat elemen-elemen yang merupakan ciri pokok pembelajaran kolaborasi, meliputi: adanya saling ketergantungan yang positif, akuntabilitas individual, memajukan interaksi tatap muka, penggunaan ketrampilan kolaborasi yang sesuai dan adanya proses kelompok. Pembelajaran kolaboratif memiliki ciri-ciri yaitu struktur tujuan, tugas dan penghargaannya bersifat kolaboratif yang berbeda dengan pembelajaran yang bersifat individualistik dan kompetitif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang digunakan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa-peristiwa yang nampak dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan di SD Ma arif Jogosari Pandaan melalui dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Data yang diambil meliputi: (1)Penerapan pembelajaran kolaboratif, (2)Partisipasi siswa selama diskusi dan presentasi kelompok melaui observasi, (3)Kualitas hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pre tes dan post tes, (4)Angket mengenai respon siswa terhadap Mata pelajaran IPA setelah diterapkan model pembelajaran kolaboratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan diterapkannya pembelajaran kolaboratif pada Mata Pelajaran IPA di kelas V hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Adapun penerapan model pembelajaran kolaboratif dilakukan dilakukan melalui tahap-tahap: 1) Menentukan tujuan belajar 2) Membagi siswa ke dalam kelompok yang heterogen berdasarkan hasil pre tes dan jenis kelamin 3) Melakukan diskusi kelompok dan mencatat hasil diskusi tersebut 4) Laporan dikumpulkan kemudian dikoreksi dan dikomentari, selanjutnya dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Respon siswa terhadap pembelajaran kolaboratif sangat baik dimana siswa merasa senang belajar IPA karena berguna bagi kehidupan kelak. Siswa berusaha membeli buku-buku IPA sehingga bisa mempelajari terlebih dahulu di rumah. Siswa menayakan pada guru atau teman jika ada materi yang belum dimengerti dan siswa mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran. Siswa merasa senang belajar IPA menggunakan model kolaboratif dari pada ceramah karena siswa lebih bersemangat mempelajari materi. Hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran kolaboratif yang tuntas belajar pada siklus I sebesar 61,5% (24 siswa) dan sebesar 82,05(32 siswa) pada siklus II.

Penerapan model pembelajaran controversial issues untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas IVB di SDN Kasin kota MAlang / Novita Verdiantika

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Controversial Issues, motivasi belajar, hasil belajar, IPS Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS yang dilakukan peneliti di kelas IVB SDN Kasin Kota Malang, menunjukkan bahwa motivasi belajar dan hasil belajar siswa masih rendah sebesar 55,96% sehingga belum mencapai KKM yang ditentukan oleh SDN Kasin Kota Malang yaitu 76 pada mata pelajaran IPS. Rendahnya motivasi ditunjukkan pada kurangnya keaktifan siswa pada saat kegiatan pembelajaran. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Controversial Issues dimana materi pelajaran berupa isu-isu kontroversial yang terkait dengan kehidupan lingkungan sekitar siswa akan lebih membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan oleh guru. Sehingga siswa akan termotivasi dalam belajarnya dan akan meningkatkan hasil belajarnya pula. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, jenis penelitiannya kualitatif, sedangkan rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemmis dan M.CTaggart. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 taap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi tindakan, refleksi tindakan, dan perbaikan rencana. Subyek penelitian adalah siswa kelas IVB SDN Kasin Kota Malang sebanyak 47 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Controversial Issues pada pembelajaran IPS telah berhasil meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IVB SDN Kasin Kota Malang. Hal ini dilihat dari perolehan observasi tentang motivasi dan hasil belajar siswa yang terus meningkat. Hasil rata-rata motivasi siswa pada siklus I sebesar 59,37 % dan pada siklus II menjadi 81,7%. Sementara untuk hasil belajar siswa, ketuntasan pada siklus I sebesar 69,66% dan ketuntasan pada siklus II meningkat menjadi 81,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Controversial Issues dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IVB SDN Kasin Kota Malang pada mata pelajaran IPS. Selain itu disarankan dalam menerapkan model pembelajaran Controversial Issues, sebaiknya menyajikan isu-isu kontroversial yang mudah dipahami siswa, kemudian isu-isu yang berbeda dan menarik. Hal ini bertujuan agar siswa lebih berminat dan termotivasi untuk membahas isu-isu kontroversial tersebut. Selain itu sebaiknya menggunakan media dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi agar siswa dapat lebih mudah dalam memahami materi yang sedang dipelajarinya. Sumber belajar yang digunakan tidak hanya dari buku penunjang, tetapi bisa dengan menggunakan media elektronik maupun media cetak.

Penerapan CTL (Contextual Teaching and Learning) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada pembelajaran sains "Sifat-sifat cahaya" di SDN Pohsangit ngisor Kabupaten Probolinggo / Rilvan Uzwardani

 

Kata Kunci : Penerapan CTL, Aktivitas, Hasil Belajar. Pendidikan saat ini dalam peranan pemerintah mengupayakan agar pendidikan lebih memiliki makna yang berfungsi, dan lebih maju untuk perkembangan zaman, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya proses belajar mengajar pada pembelajaran sains di SDN Pohsangit Ngisor, peran siswa hanya terikat dengan apa yang guru inginkan dalam pembelajaran bukan dari pengetahuan siswa sendiri yang muncul. Sehingga hal itu akan mempengaruhi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Maka diperlukan konsep belajar mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu melalui pembelajaran kontekstual. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) melalui penerapan CTL diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran Sains. (2) melalui penerapan CTL diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pelaksanaan pembelajaran Sains. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam penerapan CTL pada pembelajaran sains siswa kelas V dengan pokok bahasan sifat-sifat cahaya yang dilaksanakan pada 2 siklus. Dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan test. Dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011. Dalam pelaksanaan tindakan siklus I terdapat kekurangan yang peneliti temukan yaitu pada aspek appersepsi atau motivasi, pengelolaan kelas yang dilakukan guru belum maksimal, waktu yang kurang efisien, siswa kurang aktif dalam bertanya dan menjawab, pemodelan pembelajaran oleh guru yang kurang. Maka dilakukan perbaikan yaitu guru harus lebih kreatif, guru harus lebih memperhatikan lingkungan kelas yang kondusif dengan membimbing siswa agar siswa berani bertanya dan menjawab. Sehingga pada pelaksanaan tindakan siklus II proses belajar mengajar sudah lebih baik dengan didapatkan hasil belajar lebih baik pula. Berikut data penilaian aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Pohsangit Ngisor Kabupaten Probolinggo dalam pembelajaran sains pokok bahasan sifat-sifat cahaya (1) aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar berlangsung pada siklus I aktivitas belajar siswa dengan penilaian kriteria siswa yang sangat aktif 11,1 %, aktif 55,5%, cukup aktif 22,2%, kurang aktif 11,1; (2) penilaian sikap aktivitas siswa dalam diskusi kelompok menununjukkan nilai rata-rata baik 53,7%, cukup 40 %, kurang 6,2%; (3) mengalami peningkatan pada pelaksanaan siklus II menjadi siswa yang sangat aktif 22,2 %, aktif 66,6 %, cukup aktif 11,1%, kurang aktif tidak ada; (4) penilaian sikap aktivitas siswa dalam diskusi kelompok menunjukkan nilai rata-rata baik 72,5%, cukup 25,7 %, kurang 1,7%; (5) hasil belajar siswa selama proses belajar mengajar berlangsung menunjukkan peningkatan pada siklus I menunjukkan ketuntasan siswa 74,3%; (6) ketidaktuntasan 25,7%; (7) pelaksanaan siklus II menunjukkan 88,6%. Dengan ketidaktuntasan siswa 11,4%. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut : (1) dalam proses pembelajaran CTL diharapkan peran guru lebih kreatif dalam memotivasi siswa (2) proses pembelajaran yang baik diperlukan media pembelajaran yang menarik (3) perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan pembelajaran CTL sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pengembangan modul pembelajaran biologi semester 2 untuk siswa kelas XI IPA di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung / Rebkly Kurnia

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul Pembelajaran, Pembelajaran Individual, Pembelajaran tuntas, Biologi Pendidikan mempunyai peranan untuk mengembangkan sumber daya manusia terdidik dan profesional. Untuk menyikapi rendahnya kualitas pendidikan, Indonesia berupaya memperbaiki kualitas pendidikan. Upaya peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan guru, peningkatan kesejahteraan guru, dan perbaikan metode pembelajaran. Oleh karena itu guru dituntut untuk memberikan inovasi dalam proses pembelajaran. Inovasi dapat meliputi metode dan media yang digunakan. Dengan adanya inovasi yang dilakukan oleh guru diharapkan dapat merubah proses pembelajaran. Untuk itu perlu adanya perubahan dalam segi media yaitu dengan menggunakan modul. Pembelajaran dengan modul dapat melatih siswa untuk belajar mandiri sesuai dengan kecepatannya sendiri. Berdasarkan kegiatan observasi yang telah dilakukan di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung diketahui bahwa proses pembelajaran masih menggunakan metode konvensional. Dan hasil wawancara yang dilakukan di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung proses pembelajaran pada mata pelajaran Biologi masih menggunakan metode konvensional, diskusi, presentasi, dan praktikum. Dengan ini, pengembang mengembangkan modul pembelajaran Biologi. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media modul pembelajaran, yang telah melalui validasi pada mata pelajaran Biologi di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung. Modul merupakan suatu program pembelajaran yang dipelajari oleh siswa secara mandiri yang menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, pokok materi, kegiatan belajar, lembar kerja dan evaluasi. Modul mempunyai karakteristik yaitu: (1) paket pembelajaran sendiri, (2) mempertimbangkan adanya perbedaan individual, (3) tujuan pembelajaran, (4) adanya kaitan, struktur dan urutan pengetahuan yang disajikan, (5) penggunaan multimedia, (6) peran aktif siswa, (7) reinforcement secara langsung, dan (8) kontrol terhadap cara evaluasi. Modul pembelajaran digunakan untuk pembelajaran individual karena berpusat pada siswa. Model pengembangan yang digunakan menggunakan model Sadiman yang meliputi: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan pembelajaran, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat-alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media, (6) uji validasi, (7) revisi, dan (8) naskah siap diproduksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi ahli materi, ahli media, dan angket siswa. Selain itu juga dilakukan pre-test dan post-test pada siswa untuk mengetahui ketuntasan belajar dilihat dari skor post-test. Hasil pengembangan modul pembelajaran Biologi di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung didapatkan hasil penilaian berupa angket dari ahli materi dengan persentase 93,6% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, ahli media dengan persentase 95% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, uji coba perseorangan dengan persentase 83,9% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, uji coba kelompok kecil dengan persentase 79,4% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, dan uji coba lapangan/kelas dengan persentase 81,8% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid. Sedangkan skor rata-rata hasil post-test yang dilakukan pada uji coba perseorangan untuk penggalan III sebesar 84 dan penggalan IV sebesar 74,7, uji coba kelompok kecil untuk penggalan III sebesar 90 dan penggalan IV sebesar 74,7, dan uji coba lapangan/kelas untuk penggalan III sebesar 84,7 dan penggalan IV sebesar 73,2. Berdasarkan data ini disimpulkan bahwa skor post-test mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Untuk skor post-test untuk penggalan III dan penggalan IV semua siswa mencapai SKM, sehingga disimpulkan bahwa media modul pembelajaran valid. Berdasarkan hasil pengembangan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran Biologi ini layak digunakan dalam proses pembelajaran efektif dan efisien. Berdasarkan hal tersebut dapat disarankan sebagai berikut: (1) modul pembelajaran Biologi dapat dijadikan media baru dalam proses pembelajaran, (2) dapat melatih siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, dan (3) modul pembelajaran Biologi dapat digunakan dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan juga eksperimen.

Penerapan SQ3R untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V di SDN Ketawanggede 2 MAlang / Fitri Setyorini

 

Kata kunci: Metode SQ3R, Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Bahasa Indonesia salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia salah satu penyebabnya karena kemampuan membaca mereka dalam memahami bacaan yang masih rendah. Bahasa Indonesia sering dianggap mudah padahal ppada kenyataannya kemampuan memahami bacaan masih kurang, terutama dalam menyelesaikan soal yang disertai dengan bacaan. Peneliti berpendapat bahwa dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Ketawanggede 2, (2) hasil kemampuan membaca pemahaman setelah menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) di kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK terdiri dari 2 siklus. Instrument yang digunakan adalah tes dan lembar observasi aktivitas siswa. Tehnik analisis yang dipakai rata-rata dan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang dengan menerapkan metode SQ3R memberikan dampak positif bagi siswa. Hal tersebut antara lain memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan. (2) Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang melalui penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) mengalami peningkatan yaitu dari peningkatan pada pratindakan hasil belajar siswa terdapat 4 siswa yang berkualifikasi sangat baik, 12 siswa mendapat kualifikasi baik, dan 10 siswa dengan kualifikasi cukup. Kemudian pada siklus I meningkat yaitu terdapat 7 siswa berkualifikasi sangat baik, 13 siswa mendapat kualifikasi baik, 6 siswa dengan kualifikasi cukup. Pada siklus II berdasarkan standar kualifikasi penilaian terdapat 14 siswa yaitu 53,8% siswa dengan kriteria sangat baik dan sisanya 12 siswa yaitu 46,2% siswa dengan kriteria baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini: (1) penerapan SQ3R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V yaitu memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan, (2) telah terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang yang ditunjukkan dari kualifikasi siklus I yaitu 7 siswa mendapatkan kriteria sangat baik, 13 siswa mendapatkan kriteria baik, 6 siswa mendapatkan kriteria cukup dan pada siklus II meningkat menjadi 53,8% siswa mendapatkan kriteria sangat baik dan 46,2% siswa mendapatkan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) Kepala Sekolah hendaknya memotivasi dan mengarahkan guru agar lebih terfokus dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa yang salah satunya dapat dilakukan dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review), (2) guru bahasa Indonesia agar dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dapat menggunakan pembelajaran dengan metode SQ3R(Survey, Question, Read, Recite, Review) untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, (3) peneliti yang lain untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan menggunakan metode SQ3R yang mencakup jenis-jenis membaca lain, karena penelitian ini masih terbatas pada membaca pemahaman.

Penerapan model inductive thinking untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang / Risma Lusi Santi

 

Kata kunci: Metode SQ3R, Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Bahasa Indonesia salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia salah satu penyebabnya karena kemampuan membaca mereka dalam memahami bacaan yang masih rendah. Bahasa Indonesia sering dianggap mudah padahal ppada kenyataannya kemampuan memahami bacaan masih kurang, terutama dalam menyelesaikan soal yang disertai dengan bacaan. Peneliti berpendapat bahwa dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Ketawanggede 2, (2) hasil kemampuan membaca pemahaman setelah menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) di kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK terdiri dari 2 siklus. Instrument yang digunakan adalah tes dan lembar observasi aktivitas siswa. Tehnik analisis yang dipakai rata-rata dan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang dengan menerapkan metode SQ3R memberikan dampak positif bagi siswa. Hal tersebut antara lain memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan. (2) Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang melalui penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) mengalami peningkatan yaitu dari peningkatan pada pratindakan hasil belajar siswa terdapat 4 siswa yang berkualifikasi sangat baik, 12 siswa mendapat kualifikasi baik, dan 10 siswa dengan kualifikasi cukup. Kemudian pada siklus I meningkat yaitu terdapat 7 siswa berkualifikasi sangat baik, 13 siswa mendapat kualifikasi baik, 6 siswa dengan kualifikasi cukup. Pada siklus II berdasarkan standar kualifikasi penilaian terdapat 14 siswa yaitu 53,8% siswa dengan kriteria sangat baik dan sisanya 12 siswa yaitu 46,2% siswa dengan kriteria baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini: (1) penerapan SQ3R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V yaitu memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan, (2) telah terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang yang ditunjukkan dari kualifikasi siklus I yaitu 7 siswa mendapatkan kriteria sangat baik, 13 siswa mendapatkan kriteria baik, 6 siswa mendapatkan kriteria cukup dan pada siklus II meningkat menjadi 53,8% siswa mendapatkan kriteria sangat baik dan 46,2% siswa mendapatkan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) Kepala Sekolah hendaknya memotivasi dan mengarahkan guru agar lebih terfokus dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa yang salah satunya dapat dilakukan dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review), (2) guru bahasa Indonesia agar dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dapat menggunakan pembelajaran dengan metode SQ3R(Survey, Question, Read, Recite, Review) untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, (3) peneliti yang lain untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan menggunakan metode SQ3R yang mencakup jenis-jenis membaca lain, karena penelitian ini masih terbatas pada membaca pemahaman.

Penerapan model inductive thinking dengan menggunakan kliping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 kota Malang / Nirmala Puspita Sari

 

Kata kunci: Model Inductive Thinking, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran PKn kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pembelajaran PKn. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk mencari sumber sendiri yang berkaitan dengan materi pelajaran PKn. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 40,38, jauh dari ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan 69. Oleh karena itu peneliti menerapkan model inductive thinking dengan menggunakan kliping untuk mengatasi permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)penerapan model Inductive Thinking dengan menggunakan kliping dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn pada materi”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang. (2)penerapan model Inductive Thinking dengan menggunakan kliping dapat meningkatkan aktivitas belajar PKn pada materi”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang. (3)penerapan model Inductive Thinking dengan menggunakan kliping dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada materi”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif dengan pendekatan kualitatif, untuk memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa meningkat. Prosedur tindakan kelas (PTK) terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus menggunakan langkah-langkah: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) observasi dan; (4) refleksi. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes tulis, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan dengan menerapkan model inductive thinking menggunakan kliping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn materi pokok ”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Aktivitas belajar siswa dilihat dari prosentase dari siklus I yaitu 85% meningkat menjadi 94,5% di siklus II. Hasil belajar siswa yang dapat di tunjukkan dari adanya peningkatan pada pratindakan nilai rata-rata 40,38 meningkat menjadi 57,48 di siklus I dan siklus II nilai rata-rata meningkat sebesar 82. Saran untuk kepala sekolah adalah agar dapat memotivasi guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi guru agar menerapkan model inductive thinking dalam pembelajaran khususnya PKn. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kekurangan yang ada pada penelitian sebelumnya sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Peningkatan kemampuan menulis tegak bersambung melalui media lembar balik kelas II Mi Miftahul Ulum Kejayan Pasuruan / Tri Widiastuti

 

Kata kunci: Media lembar balik, menulis tegak bersambumg, Sekolah Dasar. Menulis merupakan ketrampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif arena penulis harus trampil menggunakan grafologi, struktur bahasa dan memiliki pengetahuan bahasa yang memadai. Permasalahan yang terjadi dikelas adalah siswa belum mampu menulis tegak bersambung yang baik dan benar, sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu peningkatan hasil belajar menulis tegak bersambung siswa kelas II MI Miftahul Ulum Kejayan yang mencakup, kelengkapan tulisan, kerapian tulisan, tebal tipisnya huruf, pemakaian huruf kapital. Penelitian menerapkan penggunaan media lembar balik dengan tujuan : (1) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas II MI Miftahul Ulum Kejayan Kabupaten Pasuruan (2) Untuk mendiskripsikan media lembar balik dapat peningkatan kemampuan menulis tegak bersambung dikelas II MI Miftahul Ulum Kejayan Kabupaten Pasuruan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas II MI Miftahul Ulum Kejayan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah 10 siswa. Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus setiap siklus terdiri dari : (1) Penggunaan media lembar balik dalam pembelajaran menulis tegak bersambung, (2) Hasil belajar dalam pembelajaran menulis tegak bersambung, (3) Hasil analisis (4) Refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penggunaan media lembar balik mengalami peningkatan dari 43% pada pra tindakan menjadi 53,8%pada silkus I. Selanjutnya menjadi 83,6% pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah penbelajaran dengan menggunakan media lembar balik. Hal ini disimpulkan bahwa penggunaan media lembar balik telah berhasil meningkatkan kemampuan menulis tegak bersambung siswa. Dari hasil penelitian ini diharapan guru menerapkan pembelajaran dengan media lembar balik dalam mengajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis tegak bersambung. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan media lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran disekolah.

Penerapan permainan kooperatif untuk meningkatkan kmampuan sosial emosional anak TK Kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling / Sulistyowati

 

Kata Kunci: Permainan Kooperatif, Kemampuan sosial emosional Emosional, Anak TK Dari hasil observasi di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling, diketahui adanya permasalahan tentang rendahnya kemampuan sosial emosional anak TK Kelompok A yang meliputi: 1) kurangnya kemandirian anak, dari 35 anak yang ada 14 anak juga masih sering minta ditunggu di dalam kelas dan kalau ditinggal keluar masih menangis mencari ibunya atau pengasuhnya, 2) kurangnya rasa percaya diri dan keberanian anak, dari 35 anak hanya 10 anak yang berani ke depan untuk bercerita kepada teman-temannya, 3) belum mau berbagi dengan teman dan masih sering berebut mainan dengan teman 4) kurangnya antusiasme dalam mengikuti kegiatan dan permainan, ogah-ogahan dan kurang semangat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan sosial emosional anak TK Kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling, melalui penerapan permainan kooperatif yang dilaksanakan dengan cara membentuk kelompok kelompok kecil dalam kelas secara heterogen agar interaksi sosial anak lebih banyak. Penelitian dilakukan bersiklus dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan MC Taggart (1990). Setiap siklusnya dua kali pertemuan. Subyek penelitiannya adalah anak TK kelompok A yang berusia 4-5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling Kecamatan Dau Kabupaten Malang sejumlah 35 anak. Dalam pengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan dalam melakukan analisa data temuan penelitian, peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Hasil analisa data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Pertama, pada skor awal kemampuan sosial emosional anak hanya 394 poin (70%), setelah dilakukan tindakan pada Siklus I meningkat sebesar 473 poin (84 %), dilanjutkan dengan siklus ke II, juga meningkat menjadi 516 poin (92,1 %). Hal ini membuktikan bahwa permainan yang dilakukan bersama teman yang lain membuat anak-anak merasa senang dan berani untuk melakukan kegi atan sendiri dan tidak tergantung kepada ibunya. Kedua, kemampuan sosial emosional anak dalam kemandirian dan bekerjasama dengan temannya menjadi lebih meningkat. Ketiga, menambah kepercayaan diri anak yang dibuktikan dengan komunikasi yang terjalin semakin baik, dan yang keempat, karena interaksi dengan temannya semakin banyak dan komunikasinya juga semakin baik membuat antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan dan permainan juga meningkat. Hal ini menunjukkan, bahwa penerapan metode permainan kooperatif efektif untuk meningkatkan kemampuan sosial emosional anak Kelompok A TK Dharma Wanita Sengkaling Dau Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan tersebut, disarankan guru melakukan pembelajaran dengan penerapan permainan kooperatif agar kemampuan sosial emosional anak lebih optimal khususnya pada indikator kemandirian, keberanian, kepercayaan diri dan kemauan berbagi dengan teman serta antusiasme terhadap kegiatan dan permainan yang dilakukan.

Penerapan permainan hitung langkah untuk mengembangkan kemampuan mengenal konsep ukuran pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang / Sri Ismi Muhawwin

 

Kata Kunci: Konsep Ukuran, Permainan Hitung Langkah. Latar belakang penelitian ini adalah kecenderungan yang tampak pada anak-anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang banyak mengalami kesulitan ketika belajar memahami konsep bilangan dan media pembelajaran yang diberikan kepada anak kurang,menarik perhatian anak dan ukuran media sangat kecil untuk digunakan secara klasikal, dan proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan kurang menyenangkan dan membosankan bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan bagaimana penerapan Mendeskripsikan proses penerapan permainan hitung langkah yang dapat mengembangkan kemampuan mengenal konsep ukuran pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang, 2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif melalui penerapan permainan hitung langkah tentang konsep ukuran pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang, Penelitian ini dilakukan di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang dengan subjek penelitian sebanyak 14 anak. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data observasi dan instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kognitif yaitu pemainan hitung langkah dapat meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran kemampuan kognitif yang ditlihat dengan terjadinya peningkatan : mengukur panjang dengan menggunakan langkah mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,6; mengukur panjang dengan menggunakan jengkal mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,5; mengukur panjang dengan menggunakan batang korek api mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,3; mengukur panjang dengan menggunakan meteran mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,8; dan mengukur panjang dengan menggunakan penggaris mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,4. Sehingga nilai rata-rata kemampuan kognitif konsep ukuran secara keseluruhan mencapai peningkatan adalah 0,5. Penelitian ini dapat disimpulkan Dalam pelaksanaan kegiatan bermain permainan hitung langkah anak merasa sangat senang dan gembira. Dan ada beberapa saran-saran dari penulis untuk guru, sekolah TK, dan penelitian lanjutan. Saran untuk guru yaitu untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak konsep ukuran. Saran untuk sekolah TK yaitu upaya peningkatan mutu pembelajaran yang PAKEMI (Pembelajaran Aktif, Kreatif , Efektif, menyenangkan dan Inovatif). Dan penelitian lanjutan yaitu mencoba teliti lagi dalam aktivitas bermain permainan hitung langkah.

Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB pada matapelajaran sejarah kelas VII semester 2 SMP Negeri 1 Kertosono Kb. Nganjuk / Yanita Kartikasari Subiyanto

 

Kata kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Berbasis Web, Sejarah. Media pembelajaran berbasis Web adalah media pembelajaran yang disiapkan, dijalankan dan dimanfaatkan dengan media web. Pengembangan media pembelajaran Sejarah berbasis web adalah suatu media yang dibuat atau dikembangkan dengan menggunakan web pada mata pelajaran Sejarah dan dijalankan menggunakan jaringan Local Area Network (LAN). Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Kertosono diperoleh hasil bahwa SMP Negeri 1 Kertosono sekarang telah memenuhi Rint isan Sekolah Bertaraf International dan telah memiliki ruang kelas yang mernenuhi syarat penyelenggaraan proses belajar mengajar serta keterbiasaan siswa menggunakan internet. Namun pada pelajaran Sejarah metode pembelajaran masih secara tradisional yaitu menggunakan bahan ajar cetak sehingga terkadang timbul rasa bosan dan kurang memotivasi siswa dalam belajar Sejarah. Dengan ini pengembang mengembangkan Media Pembelajaran Berbasis Web Matapelajaran Sejarah Kelas VII Semester II SMP Negeri 1 Kertosono sebagai inovasi pembelajaran Sejarah di sekolah tersebut. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah dan mengetahui validitas media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah di SMP Negeri 1 Kertosono. Media pembelajaran berbasis web ini mempunyai kelebihan dan kelemahan yaitu, (1) dapat digunakan secara individu sehingga siswa lebih leluasa dalam memanfaatkan pengerjaannya, (2) tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengerjakan media ini, (3) web yang menjadi media pembelajaran ini bersifat dinamis dapat diubah dan dikelola sesuai kebutuhan dan dapat digunakan secara berulang, (4) dilengkapi materi-materi dan informasi tentang pelajaran materi Sejarah. Sedangkan kelemahan dari media ini adalah (1) media pembelajaran berbasis web ini dibutuhkan pembuatan ulang saat materi pada buku ajar Sejarah acuan SMP Negeri 1 Kertosono berubah, (2) hanya dapat digunakan pada sekolah yang mempunyai fasilitas internet, (3) kelemahan dalam mengakses web dikarenakan masih menggunakan hostingan free, (4) lemahnya animasi yang digunakan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi, pre test dan post test, pengembangan media pembelajaran berbasis web kepada ahli media, ahli desain, ahli isi, dan responden (siswa) kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah. Hasil pengembangan media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah pokok bahasan Masa Perkembangan Islam di Indonesia di SMP Negeri 1 Kertosono ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 85,22 % dengan tingkat keefektifitasan 82,14%, keefisiensian 82,14%, dan kemenarikan 78,57%; ahli desain mencapai tingkat kevalidan77,5 % dengan tingkat keefektifitasan 67%, keefisiensian 91,6%, dan kemenarikan 85%; ahli isi mencapai tingkat kevalidan 84,37% dengan tingkat keefektifitasan 85%, keefisiensian 80%, dan kemenarikan 85%; uji responden (siswa) perseorangan mencapai tingkat kevalidan 72,91%, uji responden kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 82,70%, dan uji responden lapangan mencapai tingkat kevalidan 80% dengan tingkat keefektifitasan 81,77%, keefisiensian 81,50% dan kemenarikan 76,60%. Disamping itu, nilai peningkatan hasil belajar siswa pada uji coba perseorangan mencapai 60%, uji coba kelompok kecil mencapai 59% dan uji coba lapangan mencapai 60%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Media Pembelajaran Berbasis Web Matapelajaran Sejarah Kelas VII Semester 2 SMP Negeri 1 Kertosono, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Korelasi antara kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar matapelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas VIII SMPN 3 Blitar / Dedy Ariyanto

 

Kata Kunci: Kondisi Lingkungan Keluarga, Teman Sebaya, Kondisi Lingkungan Sekitar, Kondisi Lingkungan Sosial, Hasil Belajar Kondisi lingkungan sosial yang baik akan dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh siswa. Dalam penelitian ini kondisi lingkungan sosial dibagi menjadi tiga indikator yaitu keadaan keluarga, teman sebaya, kondisi lingkungan sekitar siswa. Keadaan keluarga adalah keadaan keluarga dimana siswa tersebut tinggal serumah, teman sebaya adalah teman sepermainan siswa sehari-hari baik di rumah maupun disekolah, kondisi lingkungan sekitar siswa adalah kondisi-kondisi disekitar siswa yang mempengaruhi proses belajarnya. Kondisi lingkungan sosial yang baik akan dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh siswa. .Kondisi lingkungan sosial disini adalah kondisi lingkungan tempat tinggal siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui hubungan antara keadaan keluarga siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, (2) Mengetahui hubungan antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, (3) Mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan sekitar siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, (4) Mengetahui kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar. Untuk mencapai tujuan penelitian, rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya korelasi antara kondisi lingkungan sosial siswa denngan hasil belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Variabel bebas penelitian ini adalah kondisi lingkungan sosial (X) dan variabel terikatnya adalah hasil belajar (Y) . Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri 3 Blitar tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 60 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen kuesioner dan hasil ujian tengah semester (UTS) mata pelajaran TIK. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase dan korelasi Tata Jenjang dari Spearman yang dioperasikan dengan program SPSS 15,0 for windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) antara kondisi lingkungan keluarga dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, bernilai sebesar 0,305 dengan probabilitaas (Sig.) 0,018. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan keluarga dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak, dan H1 yang berbunyi "terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan keluarga dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima ; (2) antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, sebesar 0,422 dengan probabilitas (Sig.) 0,001. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak dan H1 yang berbunyi " terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima; (3) antara kondisi lingkungan sekitar dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, bernilai sebesar 0,483 dengan probabilitas (Sig.) 0,000. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sekitar dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak dan H1 yang berbunyi terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sekitar dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima; (4) ) antara kondisi kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, bernilai sebesar 0,414dengan probabilitaas (Sig.) 0,001. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak, dan H1 yang berbunyi "terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima. Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel yaitu kondisi keluarga, teman sebaya, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi lingkungan sosial siswa memiliki korelasi yang signifikan terhadap hasil belajar TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar. Kondisi lingkungan sosial siswa merupakan keadaan dimana siswa tersebut hidup bermasyarakat, belajar, dan melakukan kontak sosial dengan sekitar. Keberhasilan studi siswa juga dipengaruhi keadaan sekitar, jika keadaan sekitar kondusif untuk belajar maka kemungkinan besar siswa akan berhasil, tapi jika tidak kondusif kemungkinan besar siswa akan gagal dalam belajar. Perkembangan teknologi yang begitu pesat perlu adanya kontrol dari masyarakat agar siswa bisa menggunakan teknologi tersebut secara positif. Berdasarkan temuan penelitian, ada beberapa saran yang akan disampaikan sebagai berikut: (1) untuk orang tua agar dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dirumah, (2) untuk siswa agar siswa-siswi dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, (3) untuk masyarakat agar membantu untuk menyediakan suasana kondusif untuk belajar di lingkungan sekitar, (4) untuk sekolah harus menyadari bahwa siswanya berasal dari lingkungan yang berbeda-beda, sehingga harus bisa memberikan cara pengajaran yang mencakup untuk keseluruhan siswa, (5) untuk guru bisa memiliki metode pengajaran yang bisa membuat siswa mampu mengikuti pelajaran dengan sempurna, (6) untuk peneliti selanjutnya agar menggunakan instrumen yang lainnya selain kondisi keluarga, teman sebaya, dan kondisi lingkungan sekitar.

Perbandingan cerita hanoman duta antara relief ramayana di Candi Panataran dan cerita wayang kulit hanoman duta versi ki dalang Sukron Suwondo serta nilai-nilai edukasinya / Ruri Indarwanti

 

Penerapan model think pair share (TPS) untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Sedayu 03 Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Ana Najmatul La'ali,

 

Kata Kunci: Pembelajaran, IPA, Model Think Pair Share Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Sedayu 03 Turen pada waktu pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang variatif, siswa terlihat kurang bersemangat dan tidak ekspresif. Kenyataan ini didukung oleh kurangnaya aktivitas siswa sehingga pemahaman siswa pada materi “Sifat-sifat cahaya” kurang maksimal. Hasil dari pre-test yang diberikan pada 36 siswa menunjukkan bahwa hanya ada 6 siswa (17%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan 75,00. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model Think Pair Share untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model Think Pair Share, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model Think Pair Share. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sedayu 03 Turen. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh tiga hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penerapan model Think Pair Share dapat meningkatkan pembelajaran IPA materi “Sifat-sifat cahaya” siswa kelas V SDN Sedayu 03 Turen. Penerapan model berturut-turut dari siklus I pertemuan ke-1 sampai siklus II pertemuan ke-2 memperoleh skor 30 atau 75%, 35 atau 87,5%, 37 atau 92,5%, 38 atau 95% dari skor maksimal keberhasilan model. Kedua, aktivitas siswa kelas V dalam belajar IPA materi “Sifat-sifat cahaya” meningkat ketika diterapkan model Think Pair Share. Siswa yang mendapat kriteria aktif berturut-turut dari siklus I pertemuan ke-1 sampai siklus II pertemuan ke-2 sebanyak 16 siswa atau 44%, 25 siswa atau 69%, 29 siswa atau 81%, dan 31 siswa atau 86%. Ketiga, hasil belajar siswa kelas V dalam belajar IPA materi “Sifat-sifat cahaya” meningkat setelah diterapkan model Think Pair Share. Siswa yang mendapat kriteria tuntas belajar berturut-turut dari siklus I pertemuan ke-1 sampai siklus II pertemuan ke-2 sebanyak 25 siswa atau 69%, 21 siswa atau 58%, 27 siswa atau 75%, dan 32 siswa atau 89%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Sedayu 03 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Dengan demikian dapat disarankan dalam melakukan model pembelajaran Think Pair Share, guru harus melakukan persiapan yang matang khususnya pada kelas yang jumlah siswanya banyak tujuannya untuk menghindari kekacauan dalam pengelolaan kelas, memberikan reward/ hadiah untuk memacu keaktifan siswa.

Penerapan metode sosiodrama untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak di kelompok A semester II tahun 2010/2011 Tk Minhajut Thullab BAujeng - Beji Kabupaten PAsuruan / Ari Purwaningsih

 

Kata Kunci : Metode sosiodrama, kemampuan berbahasa, Kelompok A Kemampuan berbahasa anak di kelompok A untuk pembelajaran menjawab pertanyaan secara sederhana, menceritakan suatu pengalaman, mendengar dan menceritakan kembali isi cerita yang dilakukan secara individu dan saat disuruh maju hanya ada 4 anak yang mau dan berani maju dari 16 anak, sehingga diperlukan penerapan metode sosiodrama. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode sosiodrama yang dapat mengembangkan kemampuan berbahasa anak di kelompok A. Hasil belajar anak kelompok A TK Minhajut Thullab Baujeng Beji, dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dengan metode sosiodrama. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing – masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek yang digunakan sejumlah 16 anak dan melibatkan satu guru kolaborator, Tehnik pengumpulan data yang dilakukan melalui tehnik observasi terhadap proses pembelajaran sosiodrama, observasi hasil pembelajaran kemampuan berbahasa, dan wawancara terhadap anak setelah bermain drama. Tehnik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu secara deskriptif baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan standart ketuntasan belajar minimal 85%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode sosiodrama dapat mengembangkan kemampuan berbahasa anak di kelompok A dari 45,14% meningkat 52,08% pada siklus I dan akhir 86,46% pada siklus II. Kesimpulan hasil penelitian berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode sosiodrama dapat mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok A TK Minhajut Thullab – Baujeng Beji Pasuruan. Disarankan pada guru PAUD agar menerapkan metode sosiodrama untuk mengembangkan kemampuan berbahasa.

Perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan modul digital dan bukan modul digital pada mata pelajaran IPA kelas V SDN Kasin MAlang / Luluk Tri Indrayani

 

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal diperlukan perangkat pembelajaran yang salah satunya berbentuk media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa dan dapat meningkatkan keaktifan serta motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu jenis media pembelajaran yaitu modul digital. Tujuan penelitian: (1) mendeskripsikan validitas modul digital yang digunakan dalam penelitian ini; (2) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas VA (kelas eksperimen) yang diajar menggunakan modul digital sebagai media pembelajaran pada materi bumi dan alam semesta di SDN Kasin Malang; (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas VB (kelas kontrol) yang diajar tanpa menggunakan modul digital sebagai media pembelajaran pada materi bumi dan alam semesta di SDN Kasin Malang; (4) mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan media pembelajaran yang berupa modul digital jika dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang tidak diajar dengan menggunakan media pembelajaran yang berupa modul digital. Kegiatan analisis dalam penelitian ini meliputi uji coba ahli media, ahli materi dan uji coba test pada siswa. Subjek uji coba test dalam penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VA sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VB sebagai kelas kontrol SDN Kasin Malang. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli media dan ahli materi, sedangkan untuk mengukur hasil belajar siswa digunakan instrumen berupa soal pre test agar dapat diketahui kemampuan awal dan post test untuk mengukur kemampuan akhir siswa. Berdasarkan hasil penelitian, media pembelajaran modul digital ini divalidasikan oleh ahli media sebanyak 2 orang dan ahli materi sebanyak 2 orang. Soal test diikuti oleh 68 siswa kelas V yang terdiri dari 39 siswa kelas eksperimen dan 31 siswa kelas kontrol. Setelah dianalisis, diperoleh : (1) hasil uji coba ahli media memperoleh hasil 92,5 % dan telah memenuhi kriteria valid, hasil uji coba ahli materi memperoleh hasil 90% dan telah memenuhi kriteria valid; (2) Skor rata-rata yang diperoleh dari kemampuan akhir kelompok eksperimen yaitu 75,26 yang berarti masuk dalam skala interval 69 – 81 dan termasuk dalam kriteria baik; (3) skor rata-rata yang diperoleh dari kemampuan akhir kelompok kontrol yaitu 68,28 yang berarti masuk dalam skala interval 56 – 68 dan termasuk dalam kriteria cukup; (4) terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan modul digital dan bukan modul digital, hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji t yang dilakukan pada nilai post test siswa kelas V. Selisih rata-rata hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh angka sebesar 7,837055.

Pelaksanaan strategi promosi pada showroom PT. Astra International Tbk-Toyota Auto 2000 MAlang Sutoyo / Nanik Yuliati

 

Persaingan dunia bisnis khususnya pada pejualan otomotif saat ini sangat ketat, sehingga membuat konsumen lebih selektif dalam membeli produk khususnya pada produk mobil. Sebagai salah satu bauran pemasaran, promosi adalah salah satu faktor yang sangat penting dan harus diperhatikan dalam suatu usaha, sebagai penentu keberhasilan program pemasaran. Kegiatan promosi harus dilakukan secara obyekif guna meningkatkan penjualan seperti yang diharapkan. Dalam melakukan kegiatan promosi perlu adanya pemilihan strategi yang tepat. agar kegiatan promosi yang dilakukan dapat mencapai hasil yang diinginkan. Tujuan utama dari promosi adalah untuk menginformasikan (informing), membujuk pelanggan sasaran (persuading), dan mengingatkan (remainding). Tujuan dari penulisan laporan PKL ini adalah untuk mengetahui (1) strategi promosi yang digunakan oleh Showroom PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk – Toyota Auto 2000 Malang Sutoyo, (2) strategi efektif yang digunakan oleh Showroom PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk – Toyota Auto 2000 Malang Sutoyo dan (3) faktor – faktor yang mendukung pelaksanaan strategi promosi pada Showroom PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk – Toyota Auto 2000 Malang Sutoyo.Hasil laporan ini dapat diketahui strategi yang diterapkan oleh Showroom PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk – Toyota Auto 2000 Malang Sutoyo yang meliputi periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), penjualan tatap muka (personal selling), dan hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing) serta faktor – faktor yang mendukung dan menghambat strategi promosi. Hambatan dalam melakukan strategi promosi adalah strategi promosi yang dilakukan masih tergantung pada pusat sehingga menyebabkan perusahaan kurang dapat berkembang. Pelaksanaan strategi promosi pada Showroom PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk – Toyota Auto 2000 Malang Sutoyo adalah untuk menarik konsumen dan mempengaruhi pelanggan untuk meningkatkan volume penjualan. Dengan hasil laporan tugas akhir ini diharapkan akan mengembangkan Showroom PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk – Toyota Auto 2000 Malang Sutoyo supaya dalam pelaksanaan promosi tidak hanya tergantung dari promosi yang dilakukan pusat karena efektif atau tidaknya suatu strategi promosi tergantung pada bagaimana suatu perusahaan tersebut dalam mengembangkan program komunikasi dan promosi secara total.

Peningkatan kosakata siswa melalui model induktif kata bergambar di kelas 1 SDN Sedayu 03 Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Nina Rizki Fauziah

 

Kata Kunci: model induktif, kata bergambar, kosakata SD. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas I SDN Sedayu 03 Turen pada waktu pembelajaran Bahasa Indonesia didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi, siswa terlihat bosan pada saat pelajaran, dan siswa membutuhkan waktu yang lama untuk melontarkan sebuah kata-kata. Dari nilai siswa pada saat dilaksanakan pra tindakan menunjukkan hasil belajar siswa yang tuntas hanya mencapai 37% dengan kualifikasi kurang baik, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 75 untuk hasil belajar. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model induktif kata bergambar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model induktif kata bergambar yang dapat meningkatkan kosakata hasil belajar siswa, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model induktif kata bergambar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas I SDN Sedayu 03 Turen. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model induktif kata bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas I SDN Sedayu 03 Turen tentang peningkatan kosakata siswa, dapat dilaksanakan dengan efektif. Hasil belajar siswa persentase jumlah siswa yang tuntas belajar sebelum siklus I yaitu sebanyak 8 orang siswa (29,62%) dan jumlah siswa yang tidak tuntas belajar setelah tindakan pada siklus I pertemuan pertama 19 siswa (70,37%). Pada siklus I pertemuan kedua siswa yang tuntas belajar yaitu sebanyak 21 siswa (68,97%), maka terjadi peningkatan belajar sebesar (48,15%). Pada siklus II dilakukan beberapa koreksi dan perbaikan dengan bertolak dari hasil refleksi dan analisis siklus I. Jika ditinjau dari peningkatan belajar maka pada siklus II terjadi kenaikan peningkatan belajar. Peningkatan belajar siklus I setelah tindakan mencapai 68,97% meningkat menjadi 92,59% pada siklus II pertemuan pertama, sedangkan pada siklus II pertemuan kedua menjadi 85,18% dan jumlah siswa yang tuntas belajar yaitu sebanyak 4 siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melakukan model induktif kata bergambar, seharusnya guru mempersiapkan rancangan dan media pembelajaran dengan baik, selai itu persiapan pada saat pembelajaran berlangsung dan diusahakan memberikan penghargaan pada siswa untuk memacu keaktifan siswa.

Hubungan antara kegemaran anak bermain game dengan kontrol diri dan perilaku agresif siswa sekolah dasar di Kecamatan Klojen / Sita Erry Vrintiana

 

Kata Kunci: Kegemaran Bermain Game, Kontrol Diri, Perilaku Agresif Siswa sekolah dasar yang berada di Kecamatan Klojen Kota Malang sebagian besar sudah terampil menggunakan internet, dan ada beberapa siswa yang nakal dan sering melakukan kekerasan terhadap temannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan yang signifikan antara kegemaran bermain game di warnet dengan kontrol diri dan perilaku agresif. Siswa yang gemar bermain game di warnet di Kecamatan Klojen Malang terhadap kemampuan mengontrol diri dan menekan perilaku agresif. Penelitian ini menggunakan bentuk survey yang dilakukan di warnet yang terletak di wilayah Kecamatan klojen Kota Malang dengan sampel 100 siswa sekolah dasar yang sering berkunjung ke warnet untuk bermain game online.Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner (angket), sedangkan teknik analisis menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara bermain game dengan perilaku agresif, hal ini berarti semakin tinggi tingkat kegemaran bermain game online maka semakin tinggi tingkat perilaku agresif anak. Dalam penelitian ini analisis menggunakan rumus regresi ganda (multiple regression). Ditunjukkan oleh Nilai thitung = 2,395 dan sig (p) = 0,019. Dimana p < 0,05. H0: ditolak dan Ha: diterima. Semakin tinggi tingkat kegemaran bermain game online maka semakin rendah tingkat kemampuan anak dalam mengontrol diri mereka, ini dibuktikan dengan adanya hasil. Nilai t = 8,414 dan sig (p) = 0,000. Dimana p < 0,05. H0: ditolak dan Ha: diterima. Disarankan bagi Guru Sekolah Dasar memberikan penyuluhan atau pengertian kepada siswa tentang bahaya dampak bermain game online agar anakanak tidak bermain game di warnet-warnet yang menyediakan fasilitas untuk bermain game online. Bagi orang tua lebih mengontrol kegiatan anaknya di luar sekolah dan di luar rumah, dan permainan yang sering mereka mainkan di warnet yakni game internet. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian dengan topik yang sama diharapkan dapat menambahkan materi-materi dalam instrumen yang digunakan sehingga data hasil penelitian dapat lebih akurat kemudian, hendaknya dilakukan uji metodologi instrumen yang digunakan dapat lebih valid. Peneliti juga diharapkan dapat mengembangkan populasi atau wilayah penelitiannya.

Penggunaan movie media untuk meningkatkan kemampuan memerankan tokoh drama siswa kelas 5 SDN Genukwatu II Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang / Kiki Ratnaning Arimbi

 

Kata Kunci: Movie Media, Tokoh Drama, Drama, Sekolah Dasar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pelajaran bahasa Indonesia materi memerankan tokoh drama di kelas 5 SDN Genukwatu II Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang diketahui bahwa: 1) pembelajaran yang diterapkan guru masih bersifat klasikal, menghafal naskah drama, 2) aktivitas belajar siswa tampak pasif karena pembelajaran masih bersifat teacher center (terpusat pada guru), 3) tingkat penguasaan siswa terhadap materi memerankan tokoh drama masih rendah, hal ini terbukti berdasarkan hasil belajar yang diperoleh siswa. Salah satu pembelajaran yang dapat menjadi solusi permasalahan tersebut yaitu dengan penggunaan movie media untuk meningkatkan kemampuan memerankan tokoh drama. Tujuan diadakannya penelitian ini untuk: 1) mendeskripsikan penggunaan movie media sehingga dapat meningkatkan kemampuan memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat di SDN Genukwatu II Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, 2) mendeskripsikan peningkatan keaktifan belajar siswa dalam memerankan tokoh drama dengan menggunakan movie media, 3) mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan pada setiap siklus. Penelitian ini dilakukan dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan penilaian, (4) refleksi disetiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Subyek penelitian yaitu siswa kelas 5 SDN Genukwatu II Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang pada semester genap, tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 11 siswa yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 4 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah menggunakan movie media, diketahui bahwa: 1) rata-rata persentase nilai hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 72,27 dan siklus II mengalami peningkatan menjadi 83,63 dengan persentase peningkatan 15,72%, 2) sedangkan untuk aktivitas belajar siswa siklus I diperoleh rata-rata skor sebesar 71,45 dan pada siklus II meningkat sebesar 85,85 dengan persentase peningkatan aktivitas belajar sebesar 20,57%. Dari data-data yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan movie media dapat meningkatkan kemampuan memerankan tokoh drama siswa kelas 5 SDN Genukwatu II Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang. Peneliti memberikan saran sebaiknya guru menggunakan movie media dalam pembelajaran bahasa Indonesia materi memerankan tokoh drama sehingga dapat meningkatkan kemampuan memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat. Kepala sekolah hendaknya mensosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru-guru lain sehingga movie media banyak digunakan dalam pembelajaran, selain itu siswa juga dapat mengaplikasikan pembelajaran lafal, intonasi dan ekspresi dalam komunikasi sehari-hari dan untuk peneliti disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan penggunaan movie yang lebih bervariasi. Sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan movie media dengan berbagai aplikasi lain sehingga perbedaan lafal, intonasi dan ekspresi movie yang ditampilkan semakin jelas.

Perbedaan efektifitas model pembelajaran word square dengan make A match terhadap hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran PKn di SDN Dampit 2 Kabupaten Malang / lilik Mulyeni

 

Kata kunci: Word Square, Make a Match, Hasil Belajar, PKn SD Model pembelajaran yang dilakukan di SDN Dampit 2 Kabupaten Malang masih bersifat konvensional, hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Word Square dengan Make a Match terhadap hasil belajar; (2) mendeskripsikan perbedaan hasil belajar model pembelajaran Word Square dengan Make a Match siswa kelas III pada mata pelajaran PKn di SDN Dampit 2 Kabupaten Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian eksperimen kuasi (Quasi Experimental Design) dengan pendekatan kuantitatif yang bersifat komparasi kausal. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IIIA dan IIIB. Data hasil belajar diperoleh dari tes hasil belajar pada materi harga diri. Setelah data dianalisis dapat diketahui bahwa kedua kelas berdistribusi normal dan memiliki varian yang identik baik untuk data kemampuan awal maupun data hasil belajar serta kemampuan awal kelas eksperimen dan pembanding sama. Sedangkan pada uji hipotesis dapat diketahui bahwa ada perbedaan pelaksanaan efektifitas model pembelajaran Word Square dengan Make a Match terhadap hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran PKn di SDN Dampit 2 Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen (77,143) lebih tinggi dibanding rata-rata hasil belajar kelas pembanding (65,806). Hasil uji hipotesis dengan uji t menunjukkan taraf signifikansi 0,022 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) hasil penerapan dengan model pembelajaran Word Square dapat mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Model ini dapat mendisiplinkan siswa dan mengajarkan kerjasama, akan tetapi dapat mematikan kretifitas siswa jika guru tidak menyiapkan pertanyaan lanjutan untuk menggali potensi siswa; (2) hasil penerapan model pembelajaran Make a Match dapat mengaktifkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung. Model ini dapat melatih tanggung jawab, disiplin serta kerjasama siswa di kelas, akan tetapi siswa cenderung akan bermain daripada belajar jika guru tidak membatasi waktu yang diberikan; (3) rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibanding rata-rata hasil belajar kelas pembanding. Disarankan, sebaiknya: (1) dua model pembelajaran ini untuk tetap dipertahankan karena sudah terbukti keefektifannya; (2) sebaiknya penelitian ini dilakukan lebih dari satu kali pertemuan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model TGT (Teams Game Tournaments) bagi siswa kelas IV SDN Tondowulan II Jombang / Aris Sandhi Sucahyono

 

Kata Kunci: hasil belajar, PKn, TGT Pembelajaran yang dilaksanakan di kelas IV SDN Tondowulan II yang masih menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran ternyata membuat aktivitas belajar siswa kurang maksimal yang berdampak pada hasil akhir pembelajaran masih jauh dibawah nilai minimal yang ditargetkan sekolah. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan TGT (Teams Game Tournaments) di kelas IV SDN Tondowulan II Jombang, (2) mengetahui keberhasilan pembelajaran TGT (Teams Game Tournaments) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Tondowulan II Jombang tahun pelajaran 2010/2011, (3) mengetahui dampak TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas IV SDN Tondowulan II Jombang Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan pada temuan-temuan yang muncul dilapangan. Rancangan yang digunakan adalah PTK dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas (a) Perencanaan, (b) Pelaksanaan, (c) Observasi, dan (d) Refleksi. Instrumen yang digunakan adalah (a) Tes Tertulis, (b) Wawancara, (c) Pedoman Observasi, dan (d) Dokumentasi. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan TGT (Teams Game Tournaments) adalah belajar secara mandiri dan diskusi kelompok, permainan dan turnamen, (2) pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Tondowulan II Jombang, yaitu dari rerata skor 67,28 dan daya serap klasikal 28% pada pra siklus setelah tindakan pada siklus I menjadi rerata skor 70,56 dan daya serap klasikal 64%, dan rerata skor 85,32 dan daya serap klasikal 84% pada siklus II, (3) dampak pembelajaran model TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa adalah semangat belajar siswa menjadi lebih meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan TGT (Teams Game Tournaments) di kelas IV SDN Tondowulan II Jombang adalah pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara kelompok diskusi dan langkah-langkahnya terdiri dari penyajian kelas, kerja kelompok, turnamen dan penghargaan kelompok, (2) Pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa, yaitu berdasar pada paparan data prasiklus jumlah rerata skor 67,28 dan daya serap klasikal 28%, dan setelah diadakan tindakan pada siklus I rerata skor meningkat 70,56 dan daya serap klasikal meningkat menjadi 64%. Jumlah rerata skor dan daya serap mengalami peningkatan lagi pada siklus II yaitu 85,32 dan 84%, (3) Dampak TGT (Teams Game Tournaments) terhadap aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar di kelas IV SDN Tondowulan II Jombang adalah suasana kelas makin menyenangkan dengan adanya belajar sambil bermain pada saat diskusi kelompok dan terutama pada saat turnamen, pengaruh lainnya khususnya pada saat kerja kelompok adalah tampak adanya peningkatan interaksi antar siswa dalam kelompok. Disarankan (1) kepada guru agar dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) agar pembelajaran lebih menyenangkan, siswa menjadi lebih aktif dalam belajar dan kerjasama dalam pembelajaran khususnya dalam kegiatan diskusi dapat meningkat, (2) Untuk memahami lebih mendalam tentang penerapan pendekatan pembe­lajaran kooperatif model TGT (Teams Game Tournaments) dengan cara guru diharapkan terlebih dahulu mengerti dan memahami apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan TGT (Teams Game Tournaments). Selain itu, hendaknya guru mengenal siswa secara perorangan dan lingkungan anak.

Upaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Karangbesuki 4 Malang melalui model interaktif pada materi pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan / Sheyla Chrysti

 

Kata Kunci: Model interaktif, aktivitas belajar, hasil belajar Model interaktif adalah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif melalui kegiatan tanya jawab. Pada hasil observasi awal ditemukan pengelolaan kegiatan tanya jawab yang kurang tertib dan secara keseluruhan siswa tidak ikut serta secara aktif karena didominasi oleh guru dalam kegaiatan. Hasil belajar siswa hanya 27,3% yang mencapai ketuntasan. KKM yang digunakan hanya 62. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan: (1)penerapan pembelajaran IPA dengan menggunakan model interaktif di SDN karangbesuki 4 Malang (2)peningkatan aktivitas belajar siswa kelas IV dan (3)peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas IV dengan menerapkan model pembelajaran interaktif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa penerapan pembelajaran model interaktif menggunakan lembar pengamatan aktivitas guru dalam menerapkan model pembelajaran interaktif, aktivitas belajar siswa menggunakan lembar observasi pengamatan aktivitas siswa, hasil belajar siswa diperoleh dari hasil evaluasi setiap pertemuan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara, observasi, catatan lapangan, hasil belajar dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran IPA dengan menggunakan model interaktif dapat memperbaiki perilaku belajar siswa terutama pada saat kegiatan tanya jawab berlangsung. Model interaktif dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Karangbesuki 4 Malang. Pada siklus I siswa yang mendapat nilai ≥70 sejumlah 43,9% dengan rata-rata 66,65 pada siklus II aktivitas siswa mencapai 64% dengan rata-rata 77,1. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada siklus I siswa yang mendapat nilai ≥70 mencapai 43,2% dengan rata-rata 62,4. Pada siklus II mengalami peningkatan mencapai 61,6% dengan rata-rata 73. Berdasarkan hasil penelitian, saran diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah ketika akan melakukan percobaan sebaiknya media dibagikan kepada siswa agar kegiatan tetap berjalan dengan lancar dan tertib. Pada saat melakukan kegiatan evaluasi siswa harus belajar dengan teliti dalam waktu yang ditentukan agar perolehan nilai dapat mencapai maksimal.

Penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV semester II SDN Merjosari 1 Malang / Eka Setiawati

 

Kata kunci: Kontekstual, Aktivitas belajar, Hasil belajar Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada pengalaman sesungguhnya. Pembelajaran yang dilaksanakan berorientasi pada konteks kehidupan nyata sehingga siswa mampu menemukan makna dari belajar itu sendiri. Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa guru masih menggunakan metode ceramah dan penugasan dalam mengajar karena dianggap lebih mudah untuk mengendalikan kelas. Pembelajaran yang terpusat pada guru menyebabkan pengalaman belajar menjadi kurang. Selain itu, hasil belajar yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran IPA pada semester 1 yang dapat memenuhi SKM hanya berkisar antara 50%-60% dari seluruh jumlah siswa kelas IV. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas. Tujuan tersebut antara lain untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual, peningkatan aktivitas siswa, serta peningkatan hasil belajar siswa. Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif yang terdiri dari siklus I dan siklus II. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pengamatan pendahuluan dan tahap tindakan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, tes tulis, catatan lapangan, serta dokumentasi. Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA. Peningkatan ini ditunjukkan pada penilaian aktivitas siswa mencapai rata-rata 8,15 dengan kategori baik pada siklus I dan meningkat menjadi 9,05 dengan kategori sangat baik pada siklus II. Kategori minimal yang ditetapkan adalah baik. Sedangkan pada hasil belajar siswa terjadi peningkatan yang ditunjukkan dengan persentase ketuntasan klasikal pada pemberian tes di akhir siklus I dan II adalah 42,8% pada siklus I dan pada siklus II menjadi 56,7% dengan ketuntasan klasikal minimal yang ditetapkan adalah sebesar 55%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sehingga pembelajaran ini layak dikembangkan. Dapat disarankan kepada para guru yang ingin mengadakan variasi pembelajaran dengan menggunakan model kontekstual, agar pada saat pembentukan kelompok guru menunjuk seorang siswa sebagai penanggung jawab pada masing-masing kelompok. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat dengan mudah dikondisikan pada saat melakukan kegiatan di luar kelas.

Penerapan permainan scrabble untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Sukolilo no. 250 Kecamatan Bulak Surabaya / Nur Hijratul Laili

 

Kata Kunci : penerapan permainan scrabble, penguasaan kosakata, SD Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat dan saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian kehidupan masyarakat dibangun atas dasar komunikasi diantara anggotanya. Bahasa sebagai alat komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Dengan bahasa manusia dapat saling mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta maksud yang diinginkan. Pembelajaran bahasa mamiliki empat aspek yang meliputi berbicara, menulis, menyimak, dan membaca. Dalam hal ini bahasa yang digunakan bukan bahasa yang seenaknya sendiri tanpa mematuhi norma kebahasaan, namun bahasa yang sesuai dengan etika berbahasa. Dengan demikian pembendaharaan kata (kosakata) yang dimiliki siswa hendaknya ditambah sehingga dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan adanya pembahasan tentang pembelajaran kosakata bahasa Indonesia. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan permainan scrabble untuk meningkatkan kosakata bahasa Indonesia dan seberapa besar peningkatan penguasaan kosakata siswa yang menggunakan permainan scrabble dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran konkret mengenai penggunaan media scrabble dan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai peningkatan penguasaan kosakata dengan menerapkan media permainan scrabble. Rancangan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model siklus Kemis & Taggart. Langkah PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sukolilo No. 250 Surabaya dengan jumlah siswa 22 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes,dokumentasi, dan catatan lapangan. Penerapan permainan scrabble adalah untuk menemukan kosakata baru kemudian mencari makna dari kosakata tersebut, setelah itu kata yang telah dimengerti maknanya disusun menjadi sebuah kaliamt sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan rata-rata hasil belajar siswa meningkat, dari rata-rata refleksi awal pada pra kegiatan 37,27 menjadi 56,58 pada siklus I. Begitu pula rata-rata yang diperoleh siswa pada siklus II sebesar 67,89. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan penguasaan kosakata secara bertahap pada siswa kelas IV SDN Sukolilo No. 250 surabaya. Berdasarkan simpulan diatas penulis memberikan saran agar dapat dipertimbangkan penerapan permainan scrabble dalam pembelajaran kosakata, lebih mempersiapkan metode dan teknik pengajaran yang bervariasi dan menyesuaikan kemampuan siswa dalam penguasaan pembelajaran.

Meningkatkan keterampilan menulis berita melalui menyimak rekaman berita radio di kelas V SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar / Novialita Angga Wiratama

 

Kata Kunci: menulis, media rekaman berita, hasil belajar. Hasil observasi pembelajaran bahasa Indonesia dalam keterampilan menulis kelas V di SDN Kamulan 02 tahun ajaran 2010/2011 terdapat beberapa kekurangan. Guru hanya menggunakan metode ceramah, tidak menggunakan media sehingga siswa kurang berminat dan tidak aktif dalam pembelajaran. Setelah pembelajaran selesai siswa mengumpulkan hasil pekerjaan di meja guru untuk dinilai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan media rekaman berita radio dalam meningkatkan pembelajaran keterampilan menulis berita dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis melalui Menyimak rekaman berita di radio siswa kelas V di SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah PTK dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Langkah-langkah penelitian berupa perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data diawali dengan mengumpulkan data, menyajikan dan mendeskripsikan data kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan penerapan media rekaman berita radio, diperoleh peningkatan keterampilan menulis berita pada siswa di kelas V. Peningkatan hasil belajar dari pratindakan, siklus I ke siklus II sebagai berikut. Pada pra tindakan rata-rata nilai kelas 59 dengan persentase 40%. Siklus I mengalami peningkatan adalah 68 dengan persentase keberhasilan tindakan sebesar 60%. Siklus II diperoleh rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia siswa sebesar 76 dengan persentase keberhasilan tindakan sebesar 80%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia keterampilan menulis setelah diterapkan pembelajaran menggunakan media rekaman berita radio.

Penerapan model cooperative integrated reading and composition untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas V SDN BAndungrejosari 1 Malang / Dewi Fensiska Mardiah

 

Kata kunci: Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), membaca pemahaman, hasil belajar. Hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas VA SDN Bandungrejosari 1 Malang pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membaca pemahaman didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi. Rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 50,35 dengan ketuntasan kelas 20%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65,00 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model CIRC yang dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VA SDN Bandungrejosari 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menerapkan model CIRC dapat dilaksanakan dengan efektif dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Aktivitas pembelajaran tersebut meliputi kerjasama membacakan teks bacaan, menemukan gagasan utama, merangkum cerita sekaligus menceritakan kembali, serta saling merevisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model CIRC untuk materi membaca pemahaman cerita rakyat dapat dilaksanakan dengan efektif. Kemampuann membaca pemahaman siswa meliputi pemahaman literal, reorganisasi, dan inferensial. Teks bacaan yang diberikan pada siswa telah disesuaikan dengan formula SMOG. Hasil belajar pada siklus I rata-rata 51,32 dan ketuntasan kelas 40% meningkat pada siklus II menjadi rata-rata 65,34 dan ketuntasan kelas mencapai 73,68%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bahwa penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana rujukan penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan dan melakukan persiapan yang matang dalam pembagian tugas kelompok untuk menghindari kekacauan dalam pengorganisasian kelompok serta memilihkan teks bacaan yang sesuai dengan kelas dan usia siswa.

Penerpan model numbered head together untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pasanggrahan 02 kota Batu / Vita Dwi Agustina

 

Kata kunci: Numbered Head Together (NHT), Kemampuan Membaca Pemahaman, Sekolah Dasar (SD) Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hal ini disebabkan karena model pembelajarannya yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar masih bersifat konvensional dan teacher centered. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan model NHT untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Penelitian ini dilakukan di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu dengan subyek penelitian siswa kelas IV sebanyak 16 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia Kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model NHT dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hal ini ditandai pada kegiatan diskusi kelompok yang menggunakan model NHT pada tahap berpikir bersama dan pemberian jawaban, siswa aktif dan berani dalam mengemukakan pendapatnya baik ketika diskusi dengan anggota kelompoknya maupun pemberian jawaban dengan adanya presentasi siswa di depan kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa secara individu dan klasikal mengalami peningkatan. Pada pra tindakan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 40% (6 siswa) dari jumlah keseluruhan (16 siswa), peningkatan mencapai 33,33% pada siklus I yaitu ketuntasan belajar klasikal mencapai 73,33% (11 siswa), dan siklus II ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 100%, artinya prosentase peningkatan ketuntasan belajar secara klasikal siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu dari tahap pra tindakan sampai siklus II mencapai 60% yaitu 10 siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca pemahaman. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model NHT dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 0 Kota Batu, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan model Numbered Head Together pada mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada kemampuan membaca pemahaman. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat dikembangkan untuk mata pelajaran lain agar pembelajaran menjadi bervariasi.

Politisasi kesenian ludruk di Kediri 1959-1966 / Aulina Faiza

 

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan keterkaitan antara kesenian ludruk dengan politik praktis yang ada di Kediri. Ludruk muncul dan berkembang di kalangan rakyat kecil yang fungsinya sebagai media hiburan rakyat, namun pada masa penjajahan Jepang ludruk juga digunakan untuk mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga tidak heran jika dalam perkembangannya ludruk dimanfaatkan oleh partai-partai politik tertentu untuk menarik massa. Dalam hal ini PKI sebagai salah satu partai terbesar di Kediri memanfaatkan kedekatan ludruk dengan rakyat kecil karena memang basis massa terbesar PKI berasal dari kalangan rakyat bawah seperti buruh dan petani. Alasan lain yaitu didorong oleh adanya sumber dan buktibukti yang mengarah kepada ludruk yang dipolitisi oleh PKI bersama Lekra, dan belum adanya penelitian tentang politisasi kesenian ludruk di Kediri. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui situasi politik di Kediri tahun 1959-1966; (2) Mengetahui praktik politisasi kesenian yang dilancarkan oleh PKI terhadap ludruk di Kediri tahun 1959-1966 yang berlangsung variatif; (3) Mengetahui akhir dari politisasi kesenian ludruk di Kediri tahun 1959-1966. Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian sejarah yang meliputi lima tahap yaitu a. Pemilihan topik; b. Heuristik (pengumpulan sumber); c. Verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber); d. Interpretasi (analisis dan sintesis); e. Historiografi atau penulisan. Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dikemukan sebagai berikut (1) Kediri merupakan daerah dengan tingkat polarisasi politik yang tinggi khususnya antara PKI, PNI dan NU. Ketiga partai tersebut mewakili struktur sosial masyarakat yang ada di Kediri. (2) Lembaga Kebudayaaan Rakyat (Lekra) yang didirikan pada tahun 1950 oleh beberapa seniman serta tokoh-tokoh PKI seperti Njoto dan D.N Aidit dianggap sebagai bagian PKI. Pada kenyataannya tidak hanya PKI bersama Lekra yang memanfaatkan pertunjukan ludruk, namun dari pelaku kesenian yang kreatif juga mengambil keuntungan dari sering diundangnya grup ludruk mereka dalam acara-acara mereka. (3) Pasca peristiwa G/30S/1965 yang terjadi di Jakarta, setelah Soeharto mengumumkan bahwa PKI merupakan dalang dari pembunuhan para jenderal, NU segera menyiapkan untuk memerangi orang-orang PKI. Anshor dibantu tentara mulai menangkap orang-orang PKI, hampir semua elemen komunis tingkat desa keatas dihabisi. Orang-orang yang tergabung dalam BTI, Gerwani, Pemuda Rakyat, Sobsi serta Lekra juga mengalami hal yang sama, namun ada yang menarik bahwa para seniman ludruk binaan Lekra banyak yang tidak ikut terbantai, karena banyak dari seniman yang selamat mengaku pernah ikut berpentas dalam acara-acara yang disponsori PKI namun tidak ikut sebagai anggota Lekra, karena itulah mereka selamat dari pembantaian meskipun semua grup ludruknya dibubarkan. Pada tahun 1967 atas prakarsa TNI AD Dam VIII Brawijaya menghidupkan kembali perkumpulan ludruk di Kediri yang mendapat dukungan dari para seniman ludruk, salah satunya melahirkan Ludruk Kartika Nada, Candra Kirana dan Ludruk Kopasgad. Peleburan grup ludruk dengan tentara itu terjadi sampai pada tahun 1975, pada tahun ini ludruk kembali dipolitisasi, bahkan bisa dikatakan politisasi terjadi secara mutlak. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diajukan adalah (1) Kajian sejarah politik khususnya Politisasi Kesenian di Kediri pada tahun 1959-1966 sebenarnya masih luas, peneliti menemukan bahwa pada tayub dan jaranan juga dimanfaatkan oleh PKI. (2) Kajian sejarah mengenai Politisasi Kesenian Ludruk di Kediri yang dibahas hanya sebatas tahun 1959-1966 saja, padahal pada masa Orde Baru sebenarnya ludruk juga masih dipolitisasi oleh TNI AD secara mutlak. Sehingga memerlukan kajian yang lebih dalam. (3) Hasil penelitian yang dituangkan dalam materi pembelajaran tentang pendidikan politik ini masih belum bisa menampilkan sajian pendidikan politik dalam perspektif sejarah yang lengkap dan praktis. Diharapkan dalam penelitian selanjutnya mampu memberikan sajian materi pembelajaran yang lebih lengkap dan praktis sehingga mudah dipahami oleh siswa.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model pembelajaran cooperative integreted reading and composition siswa kelas IV MI Nurul Huda Ngadirejo kota Blitar / Ani Kristiana

 

Kata Kunci: menulis, karangan narasi, cooperative integreted reading and composition Sesuai dengan hasil temuan observasi lapangan di MI Nurul Huda Ngadirejo kota Blitar pada siswa kelas IV dimana rendahnya keterampilan menulis narasi disebabkan oleh model pembelajaran yang kurang variatif. Hal inilah yang menyebabkan model pembelajaran menulis narasi menjadi monoton dan skhirnya siswa menjadi bosan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition dalam pembelajaran menulis narasi dan peningkatan keterampilan menulis melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II dengan masing-masing siklus 2 kali pertemuan. Teknik analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dari data yang didapatkan menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition dapat berjalan baik dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi terbukti hasil belajar siswa menunjukkan ketuntasan klasikal dari 58% pada pratindakan menjadi menjadi 84% pada siklus I dan 87,5% pada siklus II. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition berjalan baik dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar guru menerapkan model pembelajaran inovatif Cooperative Integreted Reading And Composition dalam meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa. Selain itu, guru juga harus aktif mencari informasi mengenai model pembelajaran inovatif yang lain agar menambah pengetahuannya mengenai model pembelajaran serta dapat memilih model pembelajaran yang sesuai untuk masalah pembelajaran yang sedang dihadapi.

Pengembangan multimedia pembelajaran berbasis WEB mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi di SMA An-Nur Bululawang Malang / Muhammad Abdul Ghofur

 

Kata kunci: Pengembangan, Multimedia Pembelajaran, Berbasis Web, TIK, Sadiman Salah satu media pembelajaran yang berkembang pada saat ini adalah teknologi informasi yang wujudnya berupa web dan salah satu teknologi informasi yang mendukung pembelajaran adalah komputer, khususnya pembelajaran berbasis web. Web dapat disajikan dengan perpaduan gambar, tulisan dan gerak yang berguna untuk mempermudah pemahaman belajar dan juga bisa diakses tidak harus di satu tempat atau terpaku pada lokasi tertentu, selama bisa tergabung dalam jaringan. Sehingga bisa dikatakan web bisa dimanfaatkan dimana saja dan kapan saja, ketika memang pembelajaran itu dibutuhkan. Berdasarkan hasil observasi di SMA An-Nur Bululawang Malang dalam pencapaian nilai harian belajar siswa dalam ulangan harian dipandang masih belum memenuhi target SKM mata pelajaran TIK yakni 70 sedangkan siswa ratarata nilainya 50-60. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pola pembelajaran yang masih bersifat konvensional, sekolah memberikan batasan dalam akses internet karena ditakutkan siswa yang berstatus santri menggunakan internet untuk mengakses situs porno atau untuk hal-hal yang negatif dikarenakan memang belum tersedianya teknisi tenaga ahli dalam pengontrolan akses internet, maka dari itu siswa belum bisa memanfaatkan internet secara maksimal dalam pembelajaran, serta jumlah siswa yang lebih banyak dari setiap kelas rata-rata 40 siswa dibandingkan jumlah komputer yang tersedia 20 unit, sehingga masih perlu adanya upaya peningkatan hasil belajar salah satunya dengan variasi dalam pembelajaran di sekolah. Web pembelajaran diharapkan menjadi pilihan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Karena media web ini bisa diakses melalui jaringan yang sudah dimiliki oleh sekolah, sehingga siswa bisa belajar secara mandiri. Selain itu media web sudah diorganisasikan dan dikombinasikan dengan materi gambar, suara, video tutorial dan soal latihan di sajikan secara interaktif memberikan pembelajaran yang menarik, dan dapat mempermudah guru dalam penyampaian pesan pembelajaran kepada siswa dalam memahami materi, serta memotivasi belajar siswa sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa. Berdasarkan permasalahan itu, maka pengembang memandang perlu memproduksi media pembelajaran yang dapat digunakan pada proses belajar mengajar dengan menggunakan multimedia pembelajaran berbasis web. Adapun tujuan dari pengembangan media pembelajaran ini untuk menghasilkan produk multimedia pembelajaran berbasis web yang memberikan variasi dalam pembelajaran serta untuk mengetahui validitas multimedia pembelajaran berbasis web mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, kelas XI semester 2 dengan materi pokok software pengolahan angka Microsoft excel 2003 dan untuk mengetahui apakah produk yang dibuat memberikan variasi baik dari segi media maupun metode pembelajaran yang dihasilkan maupun dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Multimedia pembelajaran berbasis web ini dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan Sadiman yang terdiri dari 9 langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan materi, (4) perumusan alat pengukuran keberhasilan, (5) desain (storyboard), (6) produksi, (7) validasi, (8) revisi. (9) produk siap dimanfaatkan Pengumpulan data dilakukan pengembang dengan menggunakan angketvalidasi, pre test dan post test, kepada ahli media, ahli materi, dan audien kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan media pembelajaran serta meningkatnya hasil belajar siswa sesudah menggunakan multimedia pembelajaran berbasis web. Hasil pengembangan Multimedia pembelajaran berbasis web untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentang software pengolahan angka microsoft excel 2003 di SMA An-Nur Bululawang Malang ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli materi mencapai tingkat kevalidan 97,5%, ahli media mencapai tingkat kevalidan 87,5%, dan uji responden (siswa) Perseorangan mencapai tingkat kevalidan 90%, kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 76,75%, dan hasil uji lapangan mencapai tingkat kevalidan 80,7%. Dan dari hasil nilai uji coba siswa post test di bandingkan dengan pre test, pada uji coba perseorangan 29%, uji coba kelompok kecil 26%, dan uji coba lapangan 23,3%.Menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran berbasis web untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentang software pengolahan angka microsoft excel 2003 di SMA An-Nur Bululawang Malang, dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga bisa dikatakan valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembang bagi pengembang produk selanjutnya yakni mengkaji lebih dalam pada saat pemilihan materi, pemilihan software yang digunakan, komposisi warna, gambar dan menyediakan teknisi untuk mengatur jaringan internet untuk mengontrol secara berkelanjutan pada penggunaan internet sehingga pengaksesan internet bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran dan kemudian memberikan balikan yang akan di dapat oleh siswa agar menghasilkan media yang layak disajikan dalam bentuk multimedia pembelajaran berbasis web.

Penggunaan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan kemampuan sosial anak kelompok B di RA 08 Dewi Sartika Junrejo - Batu / Siti Astutik

 

Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif model jigsaw, kemampuan sosial, anak TK kelompok B. Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan kegiatan pembelajaran kelompok terdiri dari 4-6 anak yang terstruktur, terarah, terpadu, efektif dan efisien dalam mengkaji sesuatu melalui proses kerjasama, bergotong-royong, saling membantu secara kolaboratif untuk tujuan bersama sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif. Pembelajaran dimulai dengan pembentukan kelompok awal, yang diberi materi dan tugas yang berbeda, anggota kelompok yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub yang sama bertemu dengan kelompok baru tim ahli untuk berdiskusi dan menyelesaikan tugas, selanjutnya kembali pada kelompok awal menyampaikan hasil dari kelompok ahli, diakhiri dengan presentasi dari kelompok ahli. Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan sosial agar anak dapat menunjukkan sikap kerjasama dan persatuan, rasa percaya diri dan terbiasa menunjukkan kepedulian. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi dilaksanakan 2 siklus 4 pertemuan. Analisis data dimulai dari pengelompokkan hasil observasi terstruktur dengan menggunakan lembar observasi dan dokumentasi. Selanjutnya dideskripsikan dalam bentuk grafik dan tabel, dan disimpulkan hasil kemampuan sosial dan peserta didik. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh dua kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut:1) pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat digunakan meningkatkan kemampuan sosial anak di RA. 08 Dewi Sartika dengan memperhatikan karakteristik perkembangan dan tema yang digunakan; 2) pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan kemampuan sosial anak senang bermain dengan teman, dapat melaksanakan tugas kelompok, berani bertanya secara sederhana dan senang menolong. Untuk memaksimalkan keberhasilan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik disarankan agar dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw: 1) kepada guru PAUD agar menggunakan media yang sudah dikenal anak dan peserta didik dalam kelompok tidak lebih dari 6 anak; 2) kepada lembaga PAUD bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw agar dimasukkan dalam rencana pembelajaran di akhir setiap tema; 3) disarankan pada peneliti lebih lanjut untuk mengadakan penelitian kembali pembelajaran kooperatif model jigsaw bagi Taman kanak-kanak sehingga perkembangan kemampuan peserta didik dapat diprediksi lebih baik lagi.

Peningkatan pemblajaran IPA siswa kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang melalui model inside outside circle (IOC) / Ida Iriana

 

Kata Kunci: Model Inside Outside Circle (IOC), Pembelajaran IPA. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang, diperoleh permasalahan sebagai berikut: (1) pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan metode diskusi namun guru masih terlalu banyak menjelaskan materi, (2) aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA kurang maksimal, dan (3) hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA belum mencapai SKBM. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model IOC dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang, (2) aktivitas belajar IPA melalui penerapan model IOC, dan (3) hasil belajar IPA melalui penerapan model IOC pada siswa SDN Pisang Candi 2 Malang. Inside Outside Circle (IOC) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif, yaitu para siswa membentuk kelompok, mencari informasi, membentuk lingkaran kecil dan besar, bertukar informasi, diskusi kelompok, serta mempresentasikan hasil diskusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang yang berjumlah 28 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran IOC dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas guru dalam penerapan model IOC. Pada siklus 1 mendapatkan rata-rata (88,89%) meningkat pada siklus 2 menjadi (95,55%). Peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari rata-rata siklus 1 (60,28%) meningkat pada siklus 2 menjadi (77,67%) peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar siswa yang meningkat dari pra tindakan (55,17%), siklus 1 (44,64%) meningkat pada siklus 2 menjadi (87,49%). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) bagi Kepala Sekolah. Hendaknya selalu membimbing guru untuk melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa, (2) diharapakan guru menerapkan model IOC dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA tentang struktur bumi, (3) dan bagi peneliti lain, diharapkan untuk meneliti model IOC pada mata pelajaran lain.

Peningkatan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang melalui model Team Assisted Individualization (TAI) / Age Putra Wilyono

 

Kata Kunci: Model Team Assisted Individualization (TAI), Pembelajaran IPA. Model Team Assisted Individualization merupakan model pembelajaran yang memadukan antara belajar individu dan kelompok. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas V SDN Sumbersari 1 Malang, diperoleh temuan sebagai berikut: (1) pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan metode ceramah, (2) aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA kurang optimal, dan (3) hasil belajar IPA yang mencapai SKBM yang ditetapkan yaitu 60. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Team Assited Individualization dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang, (2) aktivitas belajar IPA pada siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang, dan (3) hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang yang berjumlah 18 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Team Assisted Individualization dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Sumbersari 1 Malang. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas siswa dalam penerapan model Team Assisted Individualization. Pada pertemuan 1 memperoleh nilai (56,41), pertemuan 2 (71,79), pertemuan 3 (84,61), pertemuan 4 (97,43). Meningkatnya aktivitas belajar dalam pembelajaran IPA pertemuan 1 sampai 4 mencapai taraf keberhasilan klasikal baik, pada pertemuan 1 memperoleh nilai (53,17%), pertemuan 2 (56,74%), pertemuan 3 (59,12%), pertemuan 4 (62,03%). Meningkatnya hasil belajar ditunjukkan pada nilai rata-rata setiap pertemuan yang meningkat. Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus 1 (64,1), siklus 2 (91,02). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) Bagi Kepala Sekolah, hendaknya selalu memotivasi guru untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa, (2) Hendaknya guru menerapkan model Team Assisted Individualization khususnya pada pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya, dan (3) bagi peneliti lain, diharapkan untuk meneliti kembali model Team Assisted Individialization serta dapat diterapkan pada mata pelajaran, kelas, dan sekolah yang lain.

Penggunaan permainan tebak misteri untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 Malang / Lailaturrohmatin

 

Kata Kunci : menulis deskripsi, permainan tebak misteri Dari hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa tingkat kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) hasil penilaian menulis yang dilaksanakan oleh guru selama pembelajaran, (2) aktivitas pembelajaran terpusat pada guru, (3) siswa belum mampu mendeskripsikan tentang benda atau manusia, (4) guru juga kurang inovatif dalam memilih serta menggunakan metode, (5) guru jarang menggunakan media yang ada. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru terutama menulis terkadang membuat siswa kesulitan dalam menangkap materi yang disampaikan. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan media dan cara mengajar guru. Hal tersebut menyebabkan siswa menjadi malas untuk menulis. Untuk itu, perlu adanya media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa yaitu dengan menggunakan permainan tebak misteri. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan permainan tebak misteri untukmeningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 Malang dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 Malang dengan menggunakan permainan tebak misteri. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Bareng 3 malang sebanyak 31 anak. Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan lembar pengamatan kelompok, lembar pengamatan individu. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tiga cara yaitu: (1) reduksi data, (2) paparan data, (3) penyimpulan data. Kemampuan awala menulis deskripsi siswa rata-rata adalah 55. Setelah diberi tindakan pada siklus I rata-rata kemampuan menulis deskripsi siswa menjadi 61. Dari pelaksanaan siklus I menunjukkan peningkatan rata-rata 6. Pelaksanaan siklus II, menunjukkan rata-rata kemampuan menulis deskripsi siswa meningkat menjadi 89. Peningkatan skor rata-rata dari siklus I ke siklus II adalah 28. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan permainan tebak misteri dengan memanfaatkan benda yang dibungkus dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa. Saran yang diberikan kepada guru dan peneliti lain adalah: (1) guru hendaknya bisa menerapkan permainan tebak misteri pada pokok bahasan yang lain, (2) peneliti lain hendaknya bisa mengelola kelas dengan baik agar bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, agar memperoleh hasil yang maksimal.

Penerapan model learning cycle untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Jatimulyo 01 Malang / Hariza

 

Kata kunci: learning cycle, pembelajaran IPA Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan terhadap pembelajaran IPA ditemukan fakta bahwa pembelajaran hanya terikat pada LKS yang berisi kumpulan soal. Aktivitas belajar siswa cenderung pasif, hanya sebatas mendengarkan penjelasan dari guru kemudian mengisi LKS untuk selanjutnya dibahas bersama-sama di kelas dan dinilai. Hal ini berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa. Berkaitan dengan itu, perlu diadakan perbaikan pembelajaran dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model learning cycle. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model learning cycle dalam pembelajaran IPA, aktivitas belajar siswa kelas dalam pembelajaran IPA dengan penerapan model learning cycle, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan penerapan model learning cycle. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang. Data penelitian yang dikumpulkan yakni data berupa paparan penerapan model learning cycle, aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV dalam pembelajaran IPA dengan penerapan model learning cycle. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi, wawancara, dan tes. Pada penelitian ini diperoleh tiga simpulan yakni (a) penerapan model learning cycle pada pembelajaran IPA menggambarkan tahapan mulai dari siswa memperoleh pengetahuan sampai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, (b) penerapan model learning cycle pada pembelajaran IPA mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, peningkatan aktivitas tersebut dapat dilihat selama pembelajaran berlangsung berupa siswa melakukan kegiatan untuk menemukan pengetahuan baru, mengkomunikasian hasil kegiatan, mengajukan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, (c) penerapan model learning cycle pada pembelajaran IPA mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada saat pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 58,75 dengan ketuntasan 31,25%. Pada siklus 1 diperoleh rata-rata hasil belajar siswa mengalami kenaikan menjadi 74,6 dengan ketuntasan 56,25%. Pada siklus 2, diperoleh rata-rata hasil belajar mencapai 88 dengan ketuntasan 87,5%. Untuk itu, disarankan model pembelajaran learning cycle hendaknya dapat diterapkan dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa

Penerapan teknik pembelajaran mind map untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 kota Malang / Yuli Tulistiyani

 

Kata kunci: mind map, aktivitas, hasil belajar, IPS, SD Berdasarkan hasil tes pra tindakan yang peneliti lakukan di kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang, semua siswa nilainya di bawah rata-rata. Siswa kurang memahami materi koperasi karena pembelajaran yang diterapkan membuat siswa merasa bosan dan kurang bersemangat. Pembelajaran yang dilakukan guru yaitu dengan tanya jawab, diberikan penjelasan dan mengerjakan LKS. Selain itu, menurut penjelasan dari salah satu guru bahwa siswa kelas IV daya ingatnya kurang. Untuk itu, dalam penelitian ini diterapkan teknik pembelaran mind map untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk: (1) mendeskripsikan penerapan teknik pembelajaran mind map untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang, (2) mendeskripsikan penerapan teknik pembelajaran mind map untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang, dengan prosedur penelitian menurut Kemmis & MC. Taggart yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus meliputi 4 tahapan diantaranya: (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3) refleksi dan (4) perbaikan rencana. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara, (3) pedoman dokumentasi, (4) soal-soal tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai aktivitas siswa mencapai prosentase ketuntasan klasikal 33,33% pada siklus I, 88,89% pada siklus II. Begitu juga rata-rata klasikalnya dari 65,61 pada siklus I, 79,22 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar didapatkan prosentase ketuntasan klasikal 0% pada pra tindakan menjadi 22,22% pada siklus I, 77,78% pada siklus II. Begitu juga rata-rata klasikalnya dari 13,67 pada pra tindakan menjadi 64,11 pada siklus I, 75,61 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu teknik pembelajaran mind map dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Saran yang diberikan yaitu hendaknya guru dapat: (a) menerapkan teknik pembelajaran mind map sebagai variasi teknik pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti pembelajaran, (b) memilih teknik pembelajaran yang sesuai dan efektif dalam penyampaian materi pelajaran IPS, (c) agar pengetahuan siswa dapat berkembang, maka sebaiknya siswa diberikan tindak lanjut untuk membuat catatan dengan menggunakan teknik mind map untuk pembelajaran berikutnya.

Peningkatan kualitas belajar bercerita dengan sandiwara boneka pada kelompok A TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi / Titik Boyong Riwayati

 

Kata Kunci : Kualitas Belajar Bercerita, Sandiwara Boneka, TK Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan bercerita secara sederhana pada kelompok A TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi. Guru belum memberikan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan bercerita secara sederhana. Disamping itu juga keberanian, ketertarikan, kemauan anak untuk menceritakan kembali dalam kegiatan bercerita masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bercerita dengan sandiwara boneka di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi yang ditandai dengan pemanfaatan sandiwara boneka. Peningkatan keberanian, ketertarikan, dan kemauan anak dalam bercerita. Untuk mencapai tujuan diatas,penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model guru sebagai peneliti. Peneliti dibantu guru pendamping kelompok A Taman Kanak-kanak ABA Fajar Harapan Gondanglegi sebagai kolaborator, mulai dari tahap proses identifikasi, masalah, perencanaan, tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bercerita secara sederhana di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi. Peningkatan kualitas belajar ditandai dengan pemanfaatan sandiwara boneka di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi sesuai desain yang disusun oleh peneliti dan guru pedamping sebagai kolaborator. Disamping itu pemanfaatan sandiwara boneka di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi dapat meningkatkan (1) keberanian anak untuk maju kedepan kelas, (2)ketertarikan anak dalam mendengarkan cerita, (3) kemampuan anak dalam bercerita. Bercerita dengan memanfaatkan sandiwara boneka anak sangat berani untuk bercerita di depan kelas, kemampuan anak dalam bercerita juga meningkat, ketertarikan anak juga meningkat sehingga anak dalam bercerita tidak banyak yang bergurau dengan temannya karena guru dalam membelajarkan anak, lebih banyak anak praktek melalui sandiwara boneka sehingga pembelajaran lebih terpusat pada anak. Tidak hanya anak disuruh mendengarkan cerita saja dan di ceritakan kembali tanpa menggunakan alat peraga yang menarik bagi anak. Disarankan bahwa dalam meningkatkan kemampuan bercerita secara sederhana guru kelompok A TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi memanfaatkan sandiwara boneka. Hasil penelitian ini sangat mungkin diterapkan di TK lain jika kondisinya relative sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk memanfaatkan sandiwara boneka pada upaya peningkatan kemampuan lainnya

Peningkatan keterampilan berbicara melalui teknik wawancara di kelas V MI Plus Islamiyah Gaprang Kabupaten Blitar / Suryaningsih

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, teknik wawancara, Sekolah dasar Hasil observasi awal yang telah dilakukan di MI Plus Islamiyah Gaprang Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, siswa kurang mampu dalam keterampilan berbicara. Latar belakang penelitian ini adalah guru lebih sering menekankan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menekankan pembelajaran menulis dan membaca. Oleh sebab itu guru juga harus mengingatkan siswa bahwa kemampuan berbicara berhungan erat dengan kemampuan berbahasa yang lain misalnya menyimak, membaca dan menulis. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penerapan wawancara dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas 5 MI Plus Islamiyah Gaprang Kab.Blitar. (2) Mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara melalui teknik wawancara pada siswa kelas 5 MI Plus Islamiyah Gaprang Kab. Blitar. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian tindakan (action research), yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Analisis data penelitian yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Data dijaring melalui pedoman wawancara, angket, dokumentasi, catatan lapangan dan lembar observasi dengan indikator kelancaran berbicara, keruntutan berbicara dan ketangkasan berbicara siswa. Secara klasikal siswa belum mampu mencapai KKM. Namun, dengan menggunakan teknik wawancara mampu memotivasi siswa dalam pembelajarannya, siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan sekolah melalui teknik wawancara. Pada pelaksanaan siklus I, siswa mampu mencapai 60,86%. Dari 23 siswa, 15 siswa yang mampu mencapai nilai diatas 6,00. Pada siklus II, 100% siswa telah mencapai KKM yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, dengan menggunakan teknik wawancara, siswa lebih memahami teknik wawancara dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan bahasa yang santun, dengan demikian hasil belajar siswa dapat meningkat. Hal ini tampak pada siklus I mencapai 60,86% 100% pada siklus II.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas IV SDN Karangrejo 02 kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Prisma Ikawati

 

Kata Kunci: Peningkatan hasil belajar, PKn, Pembelajaran Berbasis Masalah Pengamatan di SDN Karangrejo 02 kelas IV pada mata pelajaran PKn siswa belum memahami cara dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya belajar PKn merupakan belajar memecahkan suatu masalah. Oleh sebab itu pembelajaran PKn hendaknya mulai dengan pengenalan suatu masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Untuk menciptakan suatu pembelajaran yang sesuai dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melatih memecahkan suatu permasalahan yaitu dengan menerapkan Pembelajaran Berbasis Masalah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dalam mata pelajaran PKn pada siswa kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar? (2) Apakah pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar PKn dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pemahaman nilai moral siswa kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitianya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang di bantu guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan hasil belajar siswa. Rata-rata keterampilan dalam memecahkan masalah pada pra tindakan mencapai 11.4% meningkat menjadi 69.2% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 77%. Sedangkan hasil belajar yang di peroleh setelah kegiatan pembelajaran juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar pada pra tindakan adalah 58.2% meningkat menjadi 73.37% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 80.4%. Sedangkan ketercapaian belajar secara klasikal pada pra tindakan 44% meningkat menjadi 66.7% dan pada siklus II meningkat menjadi 85.2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar. Dalam membelajarkan siswa guru disarankan menciptakan pembelajaran dengan menghadirkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model group investigation bagi siswa kelas IV SDN Soso 03 Gandusari Kabupaten Blitar / Murti Rahayu

 

Kata Kunci : hasil belajar, IPS, model group investigation Hasil observasi yang peneliti lakukan di SDN Soso 03 di dapatkan kenyataan bahwa keberhasilan siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV masih terdapat kekurangan. Kekurangannya terletak dari guru dalam pembelajarannya cenderung menggunakan metode ceramah. Selain itu, buku yang sering digunakan dalam pembelajaran siswa yaitu buku paket, siswa disini dalam mengerjakan soal melihat jawaban dari buku paket, sehingga siswa tidak mendapat pengembangan materi. Hal ini membuat siswa kurang aktif dan pembelajaran tidak optimal, berdampak pada hasil belajar siswa yang masih dibawah nilai ketuntasan individu (65%) dan nilai ketuntasan klasikal (80%). Siswa yang tuntas sebanyak 6 siswa dengan prosentase 37,5%, siswa yang tidak tuntas sebanyak 10 siswa dengan prosentase 62,5%. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran model group investigation dalam pembelajaran IPS dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model group investigation. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dua siklus. Masing-masing siklus memiliki tahapan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SDN Soso 03 Gandusari dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV Tahun Pelajaran 2010/2011. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan tes. Teknik analisis data dengan menggunakan batas ketuntasan individu 65% dan ketuntasan klasikal 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model group investigation dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dilihat dari peningkatan yang diperoleh siswa pra tindakan rata-ratanya 61,2 dengan persentase 37,5%, siklus I pertemuan 1 rata-ratanya 63 dengan persentase 50%, pertemuan 2 rata-ratanya 67 dengan persentase 62,5%, dan pertemuan 3 rata-ratanya 71 dengan presentase 68,75%, siklus II pertemuan 1 rata-ratanya 77 dengan persentase 75%, pertemuan 2 rata-ratanya 79 dengan persentase 8,25%, dan pertemuan 3 rata-ratanya 92 dengan persentase 87,5%. Dari siklus I sampai dengan siklus II mencapai peningkatan sebesar 13% dari 16 siswa yang tuntas 14 siswa dan yang belum tuntas 2 siswa Karena mereka dari keluarga yang broken home dan memiliki latar belakang keluarga yang tidak berpendidikan, sehingga kurang perhatian dalam belajar., selain itu motivasi dan keinginan untuk berprestasi kurang. Kesimpulannya bahwa dengan menerapkan model group investigation pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mengenal perkembangan teknologi produksi, transportasi, dan komunikasi siswa kelas IV SDN Soso 03 Gandusari. Disarankan kepada guru untuk menerapkan model pembelajaran group investigation baik pada mata pelajaran IPS maupun pada pembelajaran lainnya, sehingga akan meningkatkan mutu pembelajaran.

Analisis buku teks mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) kelas II Sekolah dasar (SD) / Avivatu Rosita

 

Kata Kunci: analisis buku teks, kesesuaian pendekatan penulisan, materi, sistem evaluasi dengan kurikulum tahun 2006. Buku teks digunakan sebagai buku penunjang dalam proses pembelajaran. Namun saat ini masih ada beberapa buku yang belum sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan tahun 2006 baik dari segi pendekatan penulisan, kompetensi maupun sistem evaluasi Oleh karena itu, untuk mengatasi kondisi seperti itu, para guru atau calon guru harus memiliki kemampuan menelaah buku teks. Dalam penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) bagaimana kesesuaian pendekatan penulisan buku teks dengan pendekatan yang ada dalam kurikulum yang ditetapkan tahun 2006? (2) bagaimana kesesuaian materi dalam buku teks dengan kompetensi dalam kurikulum yang ditetapkan tahun 2006? (3) bagaimana kesesuaian sistem evaluasi yang ada dalam buku teks dengan sistem evaluasi dalam kurikulum yang ditetapkan tahun 2006? Untuk memecahkan masalah tersebut, penelitian dirancang dengan model analisis isi. Sumber data penelitian ini adalah buku teks PKn SD/MI Kelas 2 yang ditulis oleh Setiati Widihastuti dan Fajar Rahyuningsih, penerbit Pusat Perbukuan Depdiknas 2008. Data hasil analisis dikumpulkan menggunakan instrumen. Data yang dikumpulkan sebagai berikut: pertama, kesesuaian pendekatan penulisan pada bab 1 sesuai dengan pendekatan filosofis konstruktivisme namun pada akhir pembahasan belum ada konfirmasi jawaban yang tepat, sedangkan pada bab 2, 3, dan 4 sesuai dengan pendekatan filosofis kognitivisme. Tidak ertulis pendekatan kurikuler yang berupa SK, KD dan tidak sesuai dengan pendekatan pembelajaran tematik; kedua, kesesuaian materi dari 4 SK dan 9 KD dijabarkan menjadi 22 indikator, tetapi 7 indikator pembelajaran tidak dibahas; ketiga, kesesuaian sistem evaluasi terdapat 189 sistem evaluasi aspek kognitif, 10 istem evaluasi aspek afektif dan tidak terdapat sistem evaluasi aspek psikomotor. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan: pertama, Pendekatan penulisan buku teks tidak sesuai dengan pendekatan dalam kurikulum tahun 2006; kedua, Materi dalam buku teks kurang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum tahun 2006; ketiga, Sistem evaluasi dalam buku teks cenderung pada aspek kognitif, sedangkan untuk aspek afektif hanya terdapat afektif yang bersifat kognitif saja, dan tidak terdapat aspek psikomotor. Saran-saran dari hasil penelitian: pertama, penulis hendaknya melakukan revisi pada buku teks PKn kelas II; kedua, bagi guru atau calon guru, sebelum mempergunakan buku teks, guru dapat menelaah kesesuaian materi buku teks dengan kurikulum tahun 2006 dan guru bisa mengembangkan sendiri materi jika indikator belum dicantumkan atau memanfaatkan sumber belajar yang lain. Ketiga, bagi peneliti lain hendaknya dapat meneliti materi buku teks PKn sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan karakteristik siswa SD.

Penerapan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IV dalam menyelesaikan soal cerita di SDN Bareng 01 Klojen kota Malang / Mike Irawati

 

Kata Kunci : pemecahan masalah, soal cerita. Hasil Observasi awal serta pengambilan data awal dengan tes mata pelajaran matematika di kelas IVa SDN Bareng 01 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal berbasis pemecahan masalah masih sangat rendah. Terbukti dari 34 siswa tidak ada satu pun yang tepat menjawab soal pemecahan masalah yang disajikan dalam cerita.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa kesalahan terjadi akibat siswa tidak memahami permasalahan yang dihadapinya. Selain itu akar permasalahan juga terdapat pada penguasaan yang rendah dalam langkah atau cara penyelesaian soal cerita dan soal-soal yang berbasis masalah. Penelitian ini menawarkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IV dalam menyelesaikan soal cerita. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan strategi pemecahan masalah heuristik IV. Strategi heuristik IV merupakan strategi pemecahan masalah dengan cara menyederhanakan masalah. Adapun langkah-langkah dalam strategi heuristik IV yaitu pemahaman masalah, perencanaan, dan penyelesaian masalah yang meliputi pelaksanaan penyelesaian, pengecekkan kembali serta kesimpulan jawaban. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan pendekatan kualitatif. data yang terkumpul dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif. penelitian dilakukan dalam 2 siklus tindakan kelas. Siklus I terdiri dari 3 kali pertemuan dan siklus II terdiri dari 4 spertemuan. Pertemuan ke-4 pada siklus II dilaksanakan untuk memantapkan hasil penelitian karena pada pertemuan ke-3 hasilnya turun, yang disebabkan oleh kondisi pembelajaran yang kurang kondusif. Penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan Prosentase keterlaksanaan pembelajaran pemecahan masalah oleh guru terlaksana 95% dan pembelajaran pada siswa 75%. Kemampuan siswa kelas IVa dalam menyelesaikan masalah mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 56%, dari 26% menjadi 82%. Prosentase pencapaian keberhasilan penelitian 82% masuk dalam kategori baik. Hal yang harus lebih diperhatikan lagi dalam mengetahui apresiasi siswa dan observer hendaknya dilakukan wawancara setiap selesai pelaksanaan pembelajaran.

Penerapan model pembeljaran advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan sukun kota Malang / Novalina Eka Hapsari

 

Kata kunci: Pembelajaran IPS, Advance Organizer, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPS kelas IV SDN Karang Besuki 01 Malang, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh SDN Karangbesuki I, sehingga perlu dilakukan penelitian. Alternatif pemecahannya yaitu dengan menggunakan model advance organizer. Advance organizer adalah pola belajar mengajar yang dirancang untuk memperbaiki efektifitas prestasi, efisiensi perilaku belajar, sehingga siswa dapat menyerap, mencerna, dan mengingat bahan pembelajaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran advance organizer pada matapelajaran IPS untuk siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan Sukun Kota Malang. (2) peningkatan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan Sukun Kota Malang pada matapelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran advance organizer. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk guru sebagai peneliti. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK oleh Kemmis dan Taggart meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Kancah dari penelitian ini yaitu di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan Sukun Kota Malang. Subyek dari penelitian yaitu siswa kelas IV sebanyak 37 siswa yang terdiri dari 20 siswa dan 17 siswi. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran advance organizer dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada matapelajaran IPS terutama pada konsep koperasi. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil tes akhir siswa siklus I, yaitu 65,89 siswa yang telah tuntas sebanyak 21 siswa dengan ketuntasan belajar klasikal 56,76%. Rata-rata hasil tes akhir siklus II yaitu 72,75, atau ketuntasan belajar klasikal mencapai 82,97%. Kesimpulan penelitian ini yaitu penerapan model advance organizer dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karangbesuki I pada matapelajaran IPS. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu (1) Sebaiknya guru menggunakan model advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada materi pokok koperasi, (2) peneliti lain dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan model advance organizer untuk mengatasi masalah bagi siswa yang lambat belajar agar hasil belajar siswa mencapai ketuntasan belajar klasikal secara maksimal.

Peningkatan hasil belajar matematika pada materi pecahan melalui problem based learning (PBL) model polya pada siswa kelas III SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar / Ria Nurvitasari

 

Kata kunci : Hasil Belajar, Pecahan, PBL Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas III pada waktu pembelajaran Matematika adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif dan tidak bisa menyampaikan gagasannya, (2) penjelasan guru terlalu cepat sehingga kurang dapat dipahami siswa, (3) siswa yang ramai di dalam kelas masih cukup banyak dan kurang mendapat perhatian dari guru, (4) siswa sangat jarang bertanya pada guru mengenai materi yang belum mereka pahami, dan (5) guru kurang memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap proses pembelajaran Matematika yang berlangsung diperoleh hasil yang kurang memuaskan, yaitu dari 15 siswa hanya 5 siswa saja yang nilainya dapat mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) atau ≥ 60, sedangkan 10 siswa lainnya masih belum dapat mencapai KKM atau < 60. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model Polya. Rumusan masalah penelitian ini: (1) Bagaimanakah aktivitas siswa selama pembelajaran penerapan Problem Based Learning (PBL) Model Polya pada materi pecahan kelas III semester 2 di SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar? (2) Apakah ada peningkatan hasil belajar pecahan melalui pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model Polya pada siswa kelas III semester 2 di SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas III. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar), guru kelas (mitra peneliti) sebagai observer, dan rekan mahasiswa sebagai pengambil foto dalam proses pembelajaran pecahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran PBL Model Polya tentang pecahan pada kelas III SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Presentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 33,3%, pada siklus I 66,7% dan siklus II adalah 100%. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan kepada guru kelas III SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar untuk menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model Polya dalam pembelajaran Matematika khususnya pada materi pecahan agar hasil belajar siswa meningkat dan lebih optimal

Peningkatan hasil belajar matematika dengan materi luas dan keliling persegi panjang melalui pembelajaran berbasis masalah kelas 3 SDN Karangtengah I kota Blitar / Fifi Elfa Wahyuni

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran Berbasis Masalah Dalam observasi permulaan yang dilakukan oleh peneliti, peneliti menemukan beberapa masalah yang terjadi dalam pemebelajaran matematika di kelas 3 SDN Karangtengah I. masalah tersebut adalah 1) bahwa dalam mengajar matematika guru selalu aktif untuk memberikan ceramah kepada siswa sedangkan siswa hanya duduk, diam dan mendengarkan saja, 2) Adanya salah dalam memaknai konsep yang telah diberikan guru. Dari temuan tersebut maka peneliti akan melakukan penelitian dengan judul "Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Materi Luas dan Keliling Persegi Panjang Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah di Kelas 3 SDN Karangtengah I Kota Blitar" Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman ( proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Tujuan intruksional pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang diingikan pada diri siswa. Oleh sebab itu, dalam penilaian hedaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa melalui proses belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( PTK). Yang dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas 3 yang berjumlah 26 siswa terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Adapun alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah 1)Tes 2) Observasi dan 3) wawancara. Analisis data dilakukan pada data yang telah diperoleh baik dari lembar observasi, penilaian tes, maupun catatan lapangan. Aktifitas belajar siswa pada pembelajaran berbasis masalah meningkat hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan skor pada kegiatan pra tindakan yang hanya mencapai 6, dengan persentase 23 % sedangkan pada skor aktifitas siswa pada siklus II aktifitas siswa mencapai skor 20 dengan persentase aktifitas siswa sebesar 95%. Pada nilai hasil belajar siswa selama pembelajaran berbasis masalah mencapai nilai rata-rata 7,9. Dengan presentase ketuntasan sebesar 100%. Dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah telah meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilan belajar siswa sebesar 79 serta persentase dari tingkat ketuntasan belajar siswa yang telah mencapai ketuntasan klasikal dan individual sebesar 100%. Dalam melaksanakan pembelajaran berbasis masalah harus dapat memperhitungkan waktu, tinngkat kesulitan permaslahan, serta pemecahan masalah agar pembelajaran dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa seyogyanya guru dapat mengurangi kesalahan konsep pada siswa dengan cara siswa berperan aktif menemukan konsep dan mengkonstruksikan konsepnya sendiri.

Peningkatan hasil belajar PKn kelas V melalui metode simulasi di SDN Plosokerep 1 kota Blitar / Tika Wahyu Fitrianingsih

 

Kata Kunci : media pembelajaran, PKn SD, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi ddiketahui bahwa di SDN Plosokerep 1 Kota Blitar siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu strategi pembelajaran kurang bervariasi dan kurang melibatkan siswa SDN Plosokerep 1 Kota Blitar. Hal tersebut berdampak pada perolehan rara-rata nilai ulangan dan ketuntasan belajar. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan metode simulasi dalam pembelajarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan: (1) bagaimana penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas V SDN Plosokerep Kota Blitar, (2) apakah penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas V SDN Plosokerep 1 Kota Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Plosokerep kota Blitar dengan jumlah 17 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket dan observasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Analilsis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada setiap siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan: (1) penerapan metode simulasi meliputi orientasi, latihan bagi peserta, proses simulasi, dan pemantapan, (2) penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn secara klasikal dengan peningkatan rata-rata penilaian proses pada siklus 1 pertemuan 1 sebesar 57,05, pada silus 1 pertemuan 2 sebesar 61,70, pada siklus 1 pertemuan 3 sebesar 67, pada siklus 2 pertemuan 1 sebesar 68,29, pada siklus 2 pertemuan 2 sebesar 74,23,dan pada siklus 2 pertemuan 3 sebesar 85,12. Sedangkan pada rata-rata penilaian evaluasi pada pra tindakan 59,64, pada siklus 1 pertemuan 1 sebesar 61,76, pada siklus 1 pertemuan 2 sebesar 64,70, pada siklus 1 pertemuan 3 sebsesar 64,70, pada siklus 2 pertemuan 1 sebesar 66,47, pada siklus 2 pertemuan 2 sebesar 71,18, pada siklus 2 pertemuan 3 sebesar 74,70. Berdasarkan analisis data yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa metode simulasi dapat membawa pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil beajar siswa setelah pembelajaran dilakukan. Saran dari penelitian yaitu guru menggunakan metode simulasi untuk pembelajaran agar nilai belajar meningkat.

Meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi melalui model pembelajaran quantum learning siswa kelas IV SDN Sukorejo 3 kota Blitar / Ihda Hasniah Yulisa

 

Kata kunci: quantum learning, keterampilan menulis, narasi Hasil observasi awal yang telah dilakukan di SDN Sukorejo 3 kota Blitar mata pelajaran bahasa Indonesia materi menulis karangan narasi diperoleh data bahwa siswa belum menguasai materi menulis karangan narasi. Hal ini dibuktikan dengan nilai hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran yaitu hanya 33% siswa yang dapat melampaui KKM kelas yaitu 65. Siswa yang lain yaitu 67% belum memenuhi KKM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu perbaikan pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran quantum learning untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa kelas IV SDN Sukorejo 3, (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa kelas IV SDN Sukorejo 3 kota Blitar dengan model pembelajaran quantum learning. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu penelitian bersifat deskripstif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sukorejo 3 kota Blitar pada kelas IV dengan jumlah siswa 24 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat pada peningkatan rata-rata prosentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan yaitu 33 % dan meningkat menjadi 67% pada siklus I. Pada siklus II jumlah ini terus meningkat menjadi 83%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model dengan menggunakan model quantum learning dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa kelas IV SDN. Sukorejo 3 kota Blitar. Dengan demikian, dapat disarankan bagi peneliti bahwa dengan melihat realitas dilapangan tentang pembelajaran selama ini, maka untuk ke depannya peneliti berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan guru dan dapat memberikan alternatif model pembelajaran salah satunya model pembelajaran quantum learning. Bagi siswa dapat meningkatkan motivasi belajar, siswa lebih aktif, kreatif, dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi. Dengan pemberian media yang menarik dan pemutaran musik klasik dapat memberikan suasana belajar yang berbeda kepada siswa. Bagi guru dapat menerapkan model pembelajaran quantum learning sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi.

Peningkatan pemahaman konsep operasi bilangan pecahan melalui model pembelajaran kontekstual di kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar / Yanurisma Al Rosidah

 

Kata kunci: peningkatan pemahaman, penjumlahan bilangan pecahan, pengurangan bilangan pecahan, model pembelajaran kontekstual Hasil observasi awal yang telah dilakukan di SDN Maron 04 Kabupaten Blitar mata pelajaran diperoleh pembelajaran Matematika yang dilaksanakan oleh guru antara lain: guru tidak mengaitkan pembelajaran operasi hitung bilangan pecahan dengan kehidupan sehari-hari siswa dam guru tidak pernah membelajarkan penjumlahan pecahan dengan menggunakan media dan strategi yang membuat siswa aktif bekerja untuk membuktikan kebenaran dari pernyataan yang dianggap ketentuan tersebut. Hal ini dibuktika dengan nilai hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran yaitu hanya 45% siswa yang dapat melampaui KKM kelas yaitu 62. Agar dapat meningkatkan pemahaman siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran dalam matapelajaran matematika perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan memantapkan konsep operasi hitung bilangan pecahan melalui model pembelajaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kontekstual pada pembelajaran Matematika tentang operasi hitung bilangan pecahan di kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar, (2) untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan pemahaman operasi hitung bilangan pecahan melalui model pembelajaran kontekstual di kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskripstif kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Tahapan dalam penelitian ini yaitu dimulai dengan pengumpulan data, yaitu melalui observasi, wawancara, dan tes. Kemudian pelaksanaan yang melalui tahapan perencanaan, observasi, dan refleksi. Selanjutnya analisis data, yaitu melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman siswa. Data yang diperoleh yaitu, prosentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 45%, pada siklus I adalah 65% dan pada siklus II adalah 75%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pemahaman konsep operasi bilangan pecahan pada siswa kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar. Berdasarkan kesimpulan dapat disarankan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran kontekstual yang kehidupan siswa sehari-hari agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Dan saran bagi siswa hendaknya siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan meningkatkan kerjasamanya dalam berkelompok.

Peningkatan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi melalui pembelajaran pengembangan outline pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang / Hadi Setio Prabowo

 

Kata Kunci: menulis, paragraf, kohesi, koherensi, outline, SD Pembelajaran menulis paragraf merupakan salahsatu pembelajaran di sekolah dasar peranannya sangat penting. Hal itu dikarenakan kemampuan menulis paragraf merupakan salahsatu dasar kemampuan siswa dalam menulis lanjut. Oleh karena itu, pembelajaran menulis paragraf harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin agar hasil yang didapatkan bisa optimal. Kenyataan di lapangan, hasil belajar menulis paragraf pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang belum sesuai apa yang diharapkan. Hasil penulisan paragraf siswa masih belum memenuhi syarat-syarat paragraf yang baik, khususnya syarat kohesi dan koherensinya. Secara umum penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi melalui pembelajaran pengembangan outline pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan bentuk penelitian guru sebagai peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pengembangan outline dapat meningkatkan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Peningkatan tersebut ditandai dengan: (1) telah diterapkannya pembelajaran pengembangan outline dalam menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi; (2) siswa telah menggunakan piranti kohesi dan koherensi dengan baik dalam menulis paragraf melalui pengembangan outline; (3) hasil penulisan paragraf siswa sudah memenuhi syarat kohesi dan koherensi; (4) jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dalam menulis paragraf mencapai lebih dari 90 %. Berdasarkan hasil penelitian, secara umum dapat disimpulkan bahwa (1) Pembelajaran menulis paragraf melalui pembelajaran pengembangan outline dilakukan dengan a) perumusan tema, b) penulisan subtema, c) penelaahan subtema, d) pengurutan subtema, dan e) pengembangan tema dan subtema menjadi paragraf utuh; (2) Pembelajaran pengembangan outline dapat meningkatkan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan untuk diterapkan di kelas V sekolah lain.

Penerapan model peta konsep untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Mojosari Kabupaten Malang / Dimas Kusuma Dyan Pamungkas

 

Kata kunci: pembelajaran, IPA, model peta konsep. Proses belajar mengajar harus dapat mengembangkan cara belajar mendapatkan, mengelola, menemukan, menggunakan dan mengkomunikasikan perolehan atau hasil belajar. Berdasarkan observasi awal di SDN Mojosari Kabupaten Malang, diketahui kegiatan belajar mengajar masih didominasi oleh guru dan hasil belajar siswa kelas IV masih relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah. Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif, kurang kreatif dan pengetahuan mereka kurang berkembang sehingga perlu adanya model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif dan dapat membantu siswa mengaitkan pengetahuan awal mereka dengan pengetahun baru yang mereka pelajari. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran peta konsep. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Mojosari Kabupaten Malang dengan Kompetensi Dasar (KD) “Keterkaitan antara sumber daya alam, lingkungan, teknologi dan masyarakat . Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran model peta konsep dalam meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran model peta konsep, 3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model peta konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model peta konsep dapat meningkatkan: 1) aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan ke kategori baik (B), yaitu pada kategori kurang (K) dari siklus I (55,21%) menjadi (11,76%) ke siklus II. Kategori cukup (C) dari siklus I (31,93%) menjadi (11,76%) ke siklus II, dan kategori baik (B) mengalami kenaikan sebesar 50,7% yaitu dari siklus I (12,85%) menjadi (76,47%) ke siklus II, dan 2) Prosentase ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hasil belajar siswa sebesar 24,92%. Dari kegiatan pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran model peta konsep dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti siswa ramai sendiri, guru dapat memberikan Lembar Kegiatan Siswa pada tiap-tiap kelompok lebih dari satu lembar agar siswa lebih bertanggung jawab, namun dalam pelaksanaannya siswa tetap bekerjasama. Selain itu guru juga harus lebih merata dalam mengelola kelas supaya seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode diskusi pada siswa kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar / Devis Hendrawan

 

Kata kunci: pembelajaran IPS, metode diskusi, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran sangat penting untuk dipertimbangkan oleh guru karena metode pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam mempelajari materi. Selama ini guru kurang memahami pentingnya metode pembelajaran, sehingga siswa pasif dan bosan dalam pembelajaran hal itu terbukti dari 20 siswa kelas IV SDN Gununggede 03 yang mendapat nilai di atas 70 sebanyak 11 anak. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan metode diskusi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui metode diskusi di kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar. Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini yaitu lembar observasi aktifitas siswa, tes, dan dokumentasi. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan, siklus I, dan siklus II diketahui persentase peningkatan aktifitas siswa dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar. Persentase aktifitas siswa pada siklus I pertemuan 1 meningkat sebesar 20%, pertemuan 2 meningkat sebesar 25%, pertemuan 3 meningkat sebesar 5%. Pada siklus II pertemuan 1 meningkat sebesar 10%, pertemuan 2 meningkat sebesar 15%, pertemuan 3 meningkat sebesar 15%. Persentase hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 meningkat sebesar 25%, kemudian pada pertemuan 2 meningkat 10%, dan pertemuan 3 meningkat 10%. Pada siklus II pertemuan 1 meningkat sebesar 5%, pertemuan ke 2 meningkat 10% dan pada pertemuan 3 meningkat sebesar 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode diskusi dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model picture and picture pada siswa kelas III SDN Turi 2 kota Blitar / Miftachudin

 

Kata kunci: peningkatan keterampilan menulis narasi, model picture and picture Keterampilan menulis narasi di kelas III SDN Turi 2 Kota Blitar kurang memuaskan, yaitu hanya terdapat 12 siswa dari jumlah total 34 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa, sehingga nilainya juga dapat meningkat. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis narasi siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui model picture and picture. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) pe-rencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Turi 2 Kota Blitar dengan subyek penelitian siswa kelas III. Hasil penelitian pada siklus 1 nilai rata-rata kelas 74, ada 25 siswa yang tuntas belajar dan 9 siswa belum tuntas belajar atau persentase ketuntasan 74%. Sedangkan pada siklus 2 nilai rata-rata siswa 80, ada 32 siswa yang tuntas belajar dan 2 siswa belum tuntas belajar dengan persentase ketuntasan 94%. Peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan model picture and picture nilai rata-rata siswa pada siklus 1 yaitu 74 meningkat menjadi 81 atau persentase ketuntasan 74% meningkat menjadi 94% pada siklus 2. Dari 11 siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 meningkat menjadi 32 siswa pada siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model picture and picture dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis narasi. Untuk itu, hendaknya para guru disarankan untuk menerapkan model picture and picture kepada siswa supaya keterampilan menulis siswa semakin meningkat.

Pengembangan desain pembelajaran karakter pada mata pelajaran PKn berbasis kitab Ta'limul Muta'alim di SDN Kedungsolo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo / Layli Hidayah

 

Kata Kunci: Desain pembelajaran karakter, kitab Ta’limul Muta’alim Fakta yang diperoleh dari hasil pengamatan pada PPL pada bulan September-Oktober 2010 di SDN Kedungsolo kecamatan Porong kabupaten Sidoarjo yakni sikap siswa terhadap gurunya kurang baik berbicara dengan menggunakan bahasa jawa kasar (ngoko) terhadap gurunya misalkan “Bu, atase sampean gak iso boso jowo ae’’, meminta uang pada gurunya dan membuat bulan-bulanan gurunya misalkan “Suit…suit Pak Agus pacarae sopo ce”. Anak yang seperti itu membutuhkan perbaikan karakter, salah satunya yakni dengan memasukkan unsur pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan suatu desain pembelajaran. Desain tersebut harus mengandung unsur karakter. Salah satu desain tersebut yakni desain pembelajaran karakter berbasis kitab Ta’limul Muta’alim. Desain pembelajaran karakter berbasis kitab Ta’limul Muta’alim adalah tata cara yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat petunjuk penggunaan, RPP, dan bahan pembelajaran yang dipadukan dengan materi yang ada dalam kitab Ta’limul Muta’alim serta desain pembelajaran ini bisa membentuk karakter siswa. Desain pembelajaran yang dibuat selama ini hanyalah desain pembelajaran yang mengedepankan sisi kognitif tanpa memperhatikan perkembanagan karakter anak. Kitab Ta’limul Muta’alim yakni kitab karangan Syekh Al-Zanurji yang membahas tentang etika pelajar dalam mencari ilmu. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pengembangan desain pembelajaran karakter berbasis kitab Ta’limul Muta’alim. Skripsi pengembangan ini dilakasanakan dengan tujuan menghasilkan desain pembelajaran karakter untuk SD berdasarkan kitab Ta’limul Muta’alim yang valid, dan mendeskripsikan tingkat kevalidan desain pembelajaran karakter untuk memperbaiki karakter anak. Model pengembangan yang digunakan untuk menyusun desain pembelajaran ini yakni berupa model prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Langkah-langkah untuk menyusun desain pembelajaran ini yakni: (1) menemukan mata pelajaran yang terdapat pembentukan sikap anak yakni mata pelajaran PKn; (2) merumuskan SK dan KD pada mata pelajaran PKn menjadi indikator dan pengembangan indikator; (3) menemukan materi pada kitab Ta’limul Muta’alim yang didalamnya terdapat materi musyawarah dan menghormati guru; (4) menyusun RPP yang berisi (skenario pembelajaran, LKS, soal evaluasi dan penilaian); (5) membuat bahan pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan lembar observasi.ii Berdasarkan hasil pengembangan desain pembelajaran yang divalidasi oleh ahli model dan ahli materi kitab Ta’limul Muta’alim, ahli materi PKn dan audien. data nilai yang diperoleh yakni valid. Setelah desain pembelajaran ini diterapkan saat di lapangan hasil belajar siswa meningkat dan sikap siswa menjadi lebih baik terutama dalam sikap penghormatan kepada guru

Peningkatkan keterampilan menulis narasi melalui model cooperative learning tipe stad (Student Teams Achievement Division) siswa kelas IV SDN Ketawanggede 1 Malang / Titik Dwi Fajariani

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, STAD, Menulis Narasi, hasil belajar Menulis narasi merupakan salah satu kemampuan yang diberikan kepada siswa mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, namun kenyataannya masih banyak siswa yang belum mampu menulis narasi secara benar. Mereka masih kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah paragraf yang utuh dan padu, siswa kurang paham dengan penggunaan ejaan dan tanda baca dan siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan sebuah kejadian atau peristiwa secara runtut berdasarkan pengalaman. Berdasarkan uraian tersebut peneliti memilih menulis narasi sebagai bahan pertimbangan ini. Salah satu materi dalam menulis narasi sebagai pengalaman pribadi. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis lebih banyak membahas tentang menulis pengalaman pribadi tujuannya agar siswa dapat menulis narasi dengan baik. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : 1) penerapan menulis narasi dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Malang; 2) Peningkatan hasil belajar siswa Kelas IV SDN Ketawanggede 1 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus melalui tahapan-tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan dalam siklus tersebut dituangkan dalam tiap tahapan proses penulisan, yang terdiri dari prapenulisan, penulisan, dan penyuntingan. Dalam penerapan pelaksanaan tindakan diterapkan tahapan-tahapan model STAD yang terdiri dari presentasi, kerja kelompok, tes, penentuan skor dan penghargaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran kooperatif kemampuan siswa dalam mengembangkan isi, penyusunan kalimat secara runtut, dan ketepatan penulisan EYD dalam menulis narasi semakin meningkat dari siklus ke siklus berikutnya, Siklus I yang menunjukkan ketuntasan klasikal 61% dan Siklus II yang menunjukkan 95% mengalami ketuntasan menulis. Narasi yang ditulis siswa menjadi lebih baik, lengkap, susunan paragrafnya beruntun dari kalimat satu ke kalimat yang lain, serta pola pengembangan isinya tepat. Peningkatan kemampuan siswa tersebut dilakukan dengan cara menerapkan bentuk-bentuk belajar yang efektif, menyenangkan, dan saling bekerja sama.

Mengubah miskonsepsi IPA melalui model savi pada siswa kelas IV SDN Talangagung 01 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Ony Krisnawati

 

Kata kunci: miskonsepsi IPA, model SAVI Pembelajaran IPA dengan menggunakan metode ceramah dan penugasan telah menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang pasif karena aktivitas siswa hanya mendengar penjelasan guru, menghafal apa yang didengar, mencatat hasil penjelasan guru dan mengerjakan soal yang mengacu pada buku paket atau LKS, sehingga aktivitas siswa baik secara fisik maupun intelektual kurang terlatih dalam menemukan fakta, konsep, dan prinsip dengan sendirinya melalui sebuah percobaan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran cenderung pasif. 17 (85%) dari 20 siswa mengalami miskonsepsi tentang sumber energi panas dan sumber energi bunyi. Hasil belajar siswa rata-rata 62. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model SAVI. Keunggulan model SAVI adalah siswa akan lebih aktif dalam belajar karena melibatkan gerak fisik dan intelektual untuk mendapat berbagai keterampilan yang dapat membantu siswa untuk memahami materi dan mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan kritis terhadap masalah yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan konsepsi awal siswa terkait dengan energi panas dan energi bunyi sebelum menggunakan model SAVI, 2) Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model SAVI pada pembelajaran IPA kelas IVA, 3) mendeskripsikan hasil belajar siswa dengan model SAVI pada pembelajaran IPA kelas IVA, 4) mendeskripsikan konsepsi akhir siswa secara ilmiah setelah diterapkan model SAVI pada pembelajaran IPA kelas IVA SDN Talangagung 01 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan model SAVI dapat mengubah miskonsepsi siswa, meningkatkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan miskonsepsi siswa yakni 5 siswa (25%) masih mengalami terkait sumber energi panas dan 4 siswa 20% masih mengalami miskonsepsi terkait sumber energi bunyi, meningkatnya aktivitas belajar pada siklus I mencapai rata-rata 84,7 dan siklus II mencapai rata-rata 94,42. Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I dan II. Pada siklus I diperoleh rata-rata 90,70 dan siklus II diperoleh rata-rata 89,37. Penelitian ini menerapkan model SAVI pada materi pokok energi panas dan energi bunyi yang telah berhasil mengubah miskonsepsi siswa, meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa. Jadi peneliti lain dan guru jika ingin mengubah miskonsepsi siswa, meningkatkan aktivitas belajar siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa disarankan menggunakan model SAVI dengan menyesuaikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan model SAVI.

Peningkatan keterampilan menulis melalui pemanfaatan buku yang ada di perpustakaan sekolah siswa kelas V SDN Karangrejo 02 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Jepi Priyo Tysono

 

Kata kunci: Kegemaran, perpustakaan sekolah, keterampilan menulis. Mengajar guru dalam kegiatan keterampilan menulis ringkasan cerita di dalam kelas masih monoton, yaitu pembelajaran dilakukan hanya di dalam kelas dan memberikan bacaan yang telah ditentukan oleh guru tanpa meberikan kebebasan siswa untuk memilih bacaan, sehingga siswa tidak tertarik dan cenderung bosan dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia terutama dalam menulis ringkasan cerita. Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) bagaimanakah pelaksanaan pemanfaatan perputakaan dalam kegemaran keterampilan menulis pada kelas V SDN Karangrejo 02, (2) apakah pemanfaatan perpustkaan sekolah dapat meningkatkan kegemaran keterampilan menulis siswa kelas V SDN Karangrejo 02. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Data dan sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang meliputi proses, sikap, dan hasil. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) teknik observasi, (2) teknik wawancara, (3) teknik tes, dan (4) dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa (1) lembar observasi, (2) pedoman wawancara, (3) lembar tes, dan (4) foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran melalui pemanfaatan perpustakaan pada kelas V menunjukkan keberhasilan. Hal ini ditunjukkan oleh terpenuhinya semua kriteria dalam prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan perpustakaan. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 25%, pada siklus I adalah 75 % dan pada siklus II adalah 91%. Kesimpulan yang dapat diambil setelah pelaksanaan pembelajaran melalui pemanfaatan perpustakaan sekolah adalah pembelajaran bahasa indonesia berhasil dilaksanakan, karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran bahasa indonesia. Oleh karena itu, disarankan kepada semua pihak yang berkaitan dengan kelas V khususnya, maupun pihak lain di bidang pendidikan untuk menerapkan pembelajaran melalui pemanfaatan perpustakaan ini dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa indonesia.

Penerapan model group investigation untuk meningkatkan pemebelajaran IPA siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang / Dedik Setiyo Winoto

 

Kata Kunci : Group Investigation, aktivitas, hasil belajar, IPA Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2 Malang masih rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil penilaian yang dilaksanakan oleh guru pada materi gaya; (2) Siswa terlihat ramai tapi tidak berkaitan dengan pembelajaran; (3) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (4) Media pembelajaran hanya terpaku pada gambar yang ada pada buku pelajaran. (5) Pembelajaran IPA yang dilakukan oleh guru kurang variatif. Guru mendominasi pembelajaran sehingga hal ini menyebabkan siswa hanya menjadi pendengar pasif. Untuk itu, perlu adanya penggunaan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk aktif berdiskusi dan memecahkan masalah. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan model Group Investigation pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2; (2) Mendeskripsikan aktivitas siswa kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2 setelah penerapan model Group Investigation; (3) Mendeskripsikan hasil belajar V SD Negeri Kidul Dalem 2 setelah penerapan model Group Investigation. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Menggunakan empat cara dalam pengumpulan data, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan model Group Investigation dapat meningkatkan pembelajaran IPA materi "Bumi dan Alam Semesta" pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang. Penilaian penyusunan RPP sebesar 90,44% dan meningkat pada siklus II sebesar 95,59%. Sedangkan penerapan model Group Investigation pada siklus I sebesar 74,47% dan meningkat pada siklus II sebesar 86,23%. Aktivitas belajar siswa sebesar 42,34% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 64,03%. Hasil belajar siswa sebesar 55 % pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 75,93%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada guru atau peneliti lainnya serta kepala sekolah sebaiknya memperhatikan kekurangan yang dipaparkan dalam penelitian ini seperti penggunaan waktu yang cukup lama, pengorganisasian kelas, dan selalu memberikan motivasi kepada siswa.

Penerapan pendekatan science environment technology society (SETS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Selorejo Tulungagung / Ika Diana Tristanti

 

Kata Kunci : Pendekatan SETS, IPA SD, hasil belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Selorejo Tulungagung tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari data nilai tes siswa, siswa yang memperoleh nilai antara 50-59 ada 3 siswa, 60-69 ada 12 siswa, 70-79 ada 12 siswa dan 80-89 ada 2 siswa. Dengan observasi yang telah dilakukan diketahui bahwa standar ketuntasan minimal (SKM) sekolah adalah 70 dan siswa yang mendapat nilai dibawah SKM ada 15 siswa. Untuk itu, perlu adanya suatu cara yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan pendekatan SETS. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society) dalam mata pelajaran IPA kelas IV di SDN Selorejo materi sumber daya alam, (2) Mendeskripsikan aktivitas siswa kelas IV SDN Selorejo dalam mata pelajaran IPA dengan materi sumber daya alam dan (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dengan materi sumber daya alam kelas IV di SDN Selorejo melalui pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society) Subjek yang diteliti adalah siswa kelas IV di SDN Selorejo Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung semester 2 tahun ajaran 2010/2011. Banyak siswa ada 29 siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi, dan (5) Catatan Lapangan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian dari hasil belajar awal siswa yaitu ada 14 siswa (48%) yang mendapatkan nilai lebih dari 70. Setelah dilaksanakan siklus I, nilai siswa meningkat menjadi 17 siswa yang mendapat nilai diatas 70 dengan ketuntasan klasikal sebesar 58%. Selanjutnya pada siklus II, nilai siswa mengalami peningkatan menjadi 24 siswa dengan ketuntasan klasikal sebesar 84%. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan SETS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Selorejo Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Saran yang diberikan peneliti bagi guru sebaiknya dapat menerapkan pendekatan SETS dalam pembelajaran IPA dengan memperhitungkan waktu, karena memerlukan waktu yang relatif lama dan mempertimbangkan materi yang akan diajarkan karena pendekatan SETS tidak dapat diterapkan dalam semua materi.

Penerapan model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan / Putri Mahanani

 

Kata kunci: model SFAE, aktivitas, hasil belajar, PKn, SD. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada guru dan siswa kelas IV SDN Merjosari Malang, diketahui bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini masih cenderung guru yang menjadi pusat pembelajaran. Hasil belajar siswa pun masih belum maksimal. Oleh karena itu masalah ini perlu untuk segera diselesaikan karena siswa SD merupakan aset negara sehingga pemberian pendidikan yang berkualitas sangat dibutuhkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman materi globalisasi yaitu dengan menggunakan model pembelajaran SFAE. Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan model pembelajaran SFAE mengikuti langkah-langkah sebagai berikut. (1) guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, (2) guru mempresentasikan materi globalisasi, (3) siswa berkelompok menyelesaikan tugas tertentu, kemudian siswa mempresentasikan hasil diskusi mereka kepada siswa lain,(4) guru menyimpulkan hasil presentasi siswa, (5) guru menerangkan semua materi, (6) penutup. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan model pembelajaran SFAE dalam pembelajaran PKn materi globalisasi pada siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang. Selain itu mendeskripsikan aktivitas dan hasil belajar siswa sebagai akibat penerapan model pembelajaran SFAE. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru kelas IV dan seluruh siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang. Prosedur pelaksanaannya yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara dan (3) soal-soal tes. Hasil penelitian yang dilaksanakan selama dua siklus menunjukkan bahwa model pembelajaran SFAE dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditandai dengan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari prosentase keberhasilan kelas yang tuntas pada pra tindakan sebesar 41% meningkat menjadi 62% pada siklus I dan meningkat menjadi 81% di siklus II dengan persentase peningkatan dari pra tindakan ke siklus I sebesar 21% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 19%, sehingga prosentase peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal dari pra tindakan ke siklus II sebesar 40%. Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran SFAE dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Disarankan saat guru menerapkan model SFAE, perlu diperhatikan kemampuan siswa, sebab model ini menuntut siswa yang dapat membaca, bertanggung jawab, memiliki kemampuan individu untuk menjadi fasilitator dan membelajarkan siswa. Guru disarankan juga menggunakan variasi model pembelajaran sehingga siswa tidak jenuh dan hasil belajar dapat meningkat.

Penerapan model pembelajaran giving question and getting answer untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kecamatan Klojen kota Malang / Rizki Yusuf Hidayat

 

Kata Kunci : Model Giving Question and Getting Answer, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn SD Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa hasil belajar dan aktivitas siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang masih rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil nilai raport siswa pada semester ganjil tahun ajaran 2010-2011 yang masih di bawah rata-rata KKM; (2) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (3) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan; (4) Media pembelajaran hanya terpaku bacaan yang tersedia pada buku pelajaran. Hal ini menyebabkan siswa lebih cepat bosan. Untuk itu, perlu adanya suatu model pembelajaran yang membuat siswa lebih kreatif. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan penerapan model GQGA dalam pembelajaran PKn kelas IV, (2) mendiskripsikan peningkatan aktivitas belajar PKn siswa kelas IV, dan (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan model GQGA siklus I keberhasilannya mencapai 91,25% sedangkan siklus II meningkat menjadi 98,75%, (2) Keaktifan siswa pada siklus I ketuntasan klasikalnya sebesar 73,7% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 96,1%, (3) Hasil Belajar saat pratindakan rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,6 dengan ketuntasan klasikal sebesar 53,3%. Siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa menurun menjadi 53 dengan ketuntasan klasikal 33,3%. Siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 74 dan ketuntasan klasikal menjadi 76,67%. Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan model GQGA dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Dalam penelitian ditemukan kendala bahwasanya guru masih belum sepenuhnya menguasai kelas. Saran yang diberikan hendaknya penerapan model GQGA disiapkan lebih matang baik media dan penguasaan kelas, labih sering memberikan penguatan dan penghargaan berupa hadiah agar aktivitas belajarnya meningkat, dan memberikan hadiah bagi yang hasil belajarnya sudah diatas rata-rata kelas agar terpacu meningkatkan hasil belajarnya.

Peningkatkan hasil belajar siswa menggunakan media puzzle pada pembelajaran PKn kelas IV SDN Kuwik II Kec. Kunjang Kab. Kediri / Devid Krisetya Agung

 

Keywords: learning, group work, media puzzles, learning Civics The use of media as the title puzzle in Civics learning is due to the low student learning outcomes fourth grade II SDN Kuwik Kunjang Kediri District. Over the last five meetings, students are able to achieve the target ketuntatan learn just 35% only. This was caused by several aspects, one of them because during the teachers' conduct lessons only use the lecture method, so that low student motivation and resulted in the low learning outcomes. Writing this thesis aims to describe the use of media on learning puzzles Fourth grade Civics II SDN Kuwik Kunjang Kediri District, describes the puzzle of learning to use media to enhance student learning outcomes. This study was designed with classroom action research design. The design of the study was designed in two cycles. Each cycle consists of planning, execution, observation and reflection. Reflection activities carried out each end of the cycle and pledged the determination of the action in the next cycle. Phase of research carried out collaboratively with the supervising teacher who is appointed by the school as an observer. Data obtained from this study were analyzed with descriptive qualitative way. Learning to use the media puzzles can improve the learning process in class IV Civics II SDN Kuwik Kunjang Kediri District. This is evident from the pre-cycle learning outcomes by 35% up to 60% in cycle I and rose again to 92% in cycle II. Learning to use media that carried the maximum puzzles, can improve student learning outcomes. This is evident by the increasing percentage of mastery learning that occurred from pre-cycle, the cycle I to cycle II, amounting to 35.9% increased to 82% then becomes 94.8%. Based on the discussion it can be concluded that with the implementation of group work methods to use the media puzzles, activities, motivation and student learning outcomes can be improved, it is evident with increasing student learning outcomes both individually and in groups. With a well-coordinated management in a learning process, from submission of information, establishment of study groups of students, guidance and supervision of student activities performed, then the learning will be able to achieve maximum results.

Peningkatan kemampuan menyimak isi cerita anak melalui penetapan strategi direct listining thinking activities (DLTA) pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 3 kota Malang / Innany Mukhlishina

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, isi cerita anak, strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA), SD. Berdasarkan hasil tes pra tindakan kemampuan menyimak isi cerita anak yang peneliti lakukan di kelas V SDN Pisang Candi 3 Kota Malang dapat diketahui bahwa kemampuan menyimak isi cerita anak siswa rendah. Siswa kesulitan menyebutkan unsur cerita, menjawab pertanyaan sesuai cerita yang didengar, dan kesulitan menceritakan kembali isi cerita yang telah didengar. Aktivitas belajar siswa belum terlibat aktif dalam isi cerita. Pembelajaran yang dilakukan guru dengan cara memberikan bacaan kepada siswa untuk dibaca siswa sendiri bukan dibacakan oleh guru. Hal itu tidak sesuai dengan aspek pada kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu aspek mendengarkan. Selain itu belum ada media yang digunakan guru. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) untuk meningkatkan kemmapuan menyimak isi cerita anak pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) dalam meningkatkan kemampuan menyimak isi cerita anak, (2) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) dapat meningkatkan kemampuan menyimak isi cerita anak. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis&Mc.Taggart. Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi, dan (5) Catatan Lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata aktivitas kemampuan menyimak isi cerita anak siswa mencapai 87,3 dengan kriteria A (baik sekali) pada siklus I dan 93,76 dengan kriteria A (baik sekali) pada siklus II. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar kemampuan menyimak isi cerita anak siswa mencapai 55,46 dengan kriteria C (cukup) pada pra tindakan menjadi 68 dengan kriteria B (baik) pada siklus I dan 89,07 dengan kriteria A (baik sekali) pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian yaitu bahwa penerapan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) dapat meningkatkan kemampuan menyimak isi cerita anak pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Saran yang diberikan adalah hendaknya guru dapat: (a) menerapkan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) sesuai tahap-tahapnya; (b) memilih cerita anak yang disukai siswa yaitu dengan tokoh binatang; (c) menggunakan media yang bervariasi yaitu media rekaman dan gambar; (d) memberi ruang lebih banyak untuk siswa mengaktualisasikan dirinya.

Meningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun daftar melalui model pembelajaran think pair share pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri / Titis Andestya Furinda

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, Luas Bangun Datar, Think Pair Share Berdasarkan studi pendahuluan ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran matematika materi luas bangun datar di SDN Senden II Kabupaten Kediri antara lain: (1) pelaksanaan pembelajaran masih bersifat konvensional , (2) siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran, (3) masih banyak siswa yang belum memahami materi luas bangun datar, (4) masih banyak siswa yang mendapat hasil belajar di bawah KKM. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendiskripsikan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri, (2) untuk mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun datar melalui model pembelajaran Think Pair Share pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri semester II tahun pelajaran 2010/2011. Waktu dan lama penelitian dimulai dari Februari 201I sampai April 201I. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes,wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri meningkat. Pada pratindakan belum ada penilaian aktifitas siswa, pada siklus I sebesar 72 % dengan kriteria baik, dan siklus II sebesar 89% dengan kriteria sangat baik. Dan hasil belajar siswa pada pratindakan rata-rata 58 dan ketuntasan 40%, pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa adalah 69 dan ketuntasan 79%, sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa adalah 80 dengan ketuntasan klasikal 93%. disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan aktifitas siswa dan hasil belajar luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Senden II. Berdasarkan hasil penelitian disarankan model pembelajaran Think Pair Share dapat dijadikan alternatife bagi guru untuk diterapkan pada pembelajaran Matematika selanjutnya, karena model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa, serta dapat melatih siswa untuk bekerja secara individu maupun berkolaborasi dengan temannya.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model talking stick pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 kota Blitar / Perdana Prihandar

 

Kata kunci: keterampilan menulis, menulis deskripsi, model talking stick. Hasil observasi siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar diketahui bahwa guru kelas mengajar menulis karangan deskripsi dengan cara siswa langsung diminta untuk membaca materi tentang karangan deskripsi, kemudian siswa diminta untuk membuat karangan tersebut. Guru tidak menjelaskan karakteristik dan contoh karangan deskripsi sebelumnya, kemudian karangan tersebut dikumpulkan kembali kepada guru tanpa adanya penunjukan hasil karya siswa secara klasikal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model talking stick dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar dan (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model talking stick pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif . Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini diawali dengan tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Instrumen dalam pengumpulan data penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar observasi baik untuk aktivitas siswa maupun kemampuan guru, catatan lapangan, hasil tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian penerapan model talking stick dalam pembelajaran diperoleh persentase siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 yaitu 52%. Persentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 70%, maka dilanjutkan pada siklus 2. Pada siklus 2 persentase siswa yang tuntas belajar naik menjadi 86%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran talking stick dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar terbukti dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi. Oleh karena itu, disarankan bagi guru agar menerapkan model talking stick dalam pembelajaran agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.

The implementation of learning together strategy to improve the reading comprehension ability of the english education departement studens of Unima / Livianni Lambe

 

Graduate Program in English Education Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr.Johannes A.Prayogo, M.Pd, M.Ed. and (2) Dr. Monica Djohana D. Oka, M.A Key Words: learning together strategy, reading comprehension ability. Reading is an activity that is done by reader to understand written texts and it can be classified into word recognition and comprehension. Word recognition refers to the process of perceiving how written symbols correspond to one's spoken language, whereas comprehension is the process of making sense of words, sentences and connected text. In teaching reading, especially when the language is foreign to the students, teachers need to assist students to set their reading purposes as to facilitate comprehension and get responses from them. Failure to do this may lower students' motivation or discourage them to make attempts for comprehension as well as to react to what is written in the text. This situation also happened to the students of English Education Department of UNIMA, which was indicated by the average score of preliminary test that was 54.59. From preliminary study observation which was conducted prior to the study, the researcher found out the following facts: (1) the students had difficulty in finding main idea and determining text type, (2) the students did not know whether the questions were explicit or implicit, (3)most of the students were passive and unmotivated in the reading class, and (4) teacher's teaching was monotonous. Based on the problems above, the researcher in this research concentrated on finding main ideas, determining text types and students' participation in the reading class. To overcome the problems, the researcher employed Learning Together Strategy as one of cooperative learning strategies. The strategy was selected for it is believed that it can facilitate more communicative practices and provide enjoyable learning activity. Learning Together Strategy consists of five main principles namely (1) positive interdependence, (2) face to face interaction, (3) individual accountability, (4) interpersonal and small group skills, and (5) group processing. The researcher utilized the design of Collaborative Classroom Action Research, in which the researcher was assisted by a collaborative teacher (a colleague) conducted the research. The research was conducted in a single class that consisting of twenty eight students who join Reading Comprehension III class in the academic year 2009/2010, in which all of the students were taken as the subjects of the research. The procedure of the research consisted of four main steps: planning of the action, implementation of the action, observation, and analysis and reflection. To collect the data, the researcher used some instruments namely observation sheet, field notes, reading test and questionnaire. The findings of the research show that Learning Together Strategy has been proven to be able to improve the students' reading ability, especially the ability to identify main ideas and text types (Procedure and Analytical Exposition Texts). The students' average score decreased from 54.59 in the preliminary test to 41.66 in Cycle 1. Afterwards, in Cycle 2, the students' average score improved greatly from 41.66 in Cycle 1 to 73.80 in Cycle 2. In addition, the findings of the study also describe that the strategy improves the students' participation. In preliminary study, most of the students were passive and unmotivated before the strategy implemented. After the strategy implemented, based on analysis of observation sheet and field notes, the students participate more actively during the teaching-learning process, which is indicated by the average score 98.33 (98.33%) in Cycle 1 and 100 (100%)in Cycle 2. Based on the findings, the improvement of students' achievement in Reading Comprehension III is encompassed through the appropriate procedure of Learning Together Strategy as the following steps: (1) explaining the aim of lesson and introducing text ( type of text), (2) asking students to tell individually their idea related to topic, (3) dividing students into groups of four and asking students to determine a different job/role, (4) introducing purpose of the text ( relating to SIO), (5) asking students to determine the texts relating to SIO and answering reading questions, (6) encouraging the students to help each other and monitoring the students discussion, (7) asking one or two group to present the answer in front of the class, (8) discussing the answer with the whole class, and (9) giving reward or compliment to the group assignment. The researcher finally suggests that the students apply the strategy in their study. This strategy is given opportunity for the students to discuss and to work together during teaching-learning process and to lead the students helping each other to improve their reading comprehension ability. She also suggests that the English lecturers are to train the other students using the strategy either in improving reading comprehension or other skills (e.g. listening, speaking, and writing) Then, they must be very careful in selecting reading materials to be used in the teaching and learning activities. The reading materials should meet the students' level and should not those have been read by the students. Moreover, the lecturers should be supportive and encouraging the students because the atmosphere created during the implementation determines success .Administrators in English Education Department of UNIMA are also suggested to use the findings of this research as the basis of making policy to develop education to higher quality concerning the teaching of English Reading Comprehension using Learning Together Strategy. The last, the researcher suggests the other researchers to use the result of the research as relevant reference when they want to conduct research dealing with the implementation of the Learning Together Strategy in the same field of English subject.

Penerapan pembelajaran berprogram untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 kota Blitar / Dewi Sanianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran Berprogram, Hasil Belajar, Pendidikan Kewarganegaraan Hasil observasi pra tindakan menunjukkan terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SDN Karangtengah 1 Kota Blitar, yaitu: (1) pelaksanaan pembelajaran menggunakan model konvensional yang tidak memperhatikan perbedaan yang ada pada setiap siswa, (2) pelaksanaan pembelajaran didominasi guru, (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran, (4) nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 66,33, (5) siswa yang mencapai hasil belajar di atas KKM sebanyak 15 siswa atau 35% dari jumlah siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran berprogram pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif dan didukung dengan data kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Hasil penelitian penerapan pembelajaran berprogram pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 kota Blitar, menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar PKn, dari pra tindakan ke siklus 1 dan ke siklus 2. Nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan yaitu 66,33, pada siklus 1 meningkat menjadi 74,30 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 76,70. Peningakatan rata-rata hasil belajar siswa dari pra tidakan sampai siklus 2 adalah 10,37. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan persentase ketuntasan belajar klasikal, dari pra tindakan ke siklus 1 dan ke siklus 2. Siswa yang tuntas belajar pada pra tindakan yaitu 15 siswa atau 35%, pada siklus 1 yaitu 29 siswa atau 67%, siklus 2 yaitu 34 siswa atau 79%. Peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa dari pra tindakan sampai siklus 2 adalah 44%. Siswa belum tuntas belajar sebanyak 9 siswa, dikarenakan siswa tesebut kurang memperhatikan penjelasan yang diberikan guru. Penerapan pembelajaran berprogram PKn pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada agar pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Penerapan model POE (Predict. Observe, explain) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang / Setyaningtyas Wahyu Nugraheni

 

Kata kunci : pembelajaran IPA, model POE, aktivitas, hasil belajar Pembelajaran IPA pada siwa kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang selama ini masih berpusat pada guru dan masih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Guru jarang mengajak siswa melakukan percobaan. Dalam kegiatan tanya jawab guru jarang memberikan pertanyaan yang menuntut siswa untuk berpikir seperti meminta siswa untuk memprediksi suatu permasalahan. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran cenderung pasif. Hasil belajar siswa rata-rata 68,79. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran POE. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model POE dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa kelas III setelah dibelajarkan melalui model POE, serta (3) peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang setelah dibelajarkan melalui model pembelajaran POE. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III sebanyak 21 siswa, dengan siswa laki-laki sebanyak 12 siswa dan 9 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK yang digunakan meliputi empat tahapan, yaitu: 1) planning, 2) acting 3) observing, dan 4) reflecting. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model POE dapat meningkatkan pembelajaran IPA. Terbukti pada pembelajaran yang sudah dilaksanakan, siswa terlibat langsung dalam pembelajarannya sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Prosentase untuk keberhasilan guru dalam menerapkan model pada siklus 1 mencapai 93,39% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 100%. Nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 70,50 dengan kriteria memuaskan dan pada siklus II rata-rata aktivitas belajar meningkat menjadi 77,22 dengan kriteria memuaskan. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 57,14% dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa 73,81 dan pada siklus II prosentase meningkatan menjadi 85,71% dengan nilai rata-rata 79,91. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk kepala sekolah hendaknya dapat memberikan dukungan dan pengarahan kepada guru agar dapat menerapkan model pembelajaran POE sehingga dapat meningkatkan pembelajaran IPA. Guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran POE pada materi lain selama materi tersebut sesuai dengan karakter model pembelajaran POE.

Hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dan kemandirian emosi pada remaja akhir di kota Malang / Diar Arsyianti

 

Kata Kunci : pola asuh demokratis orang tua , kemandirian emosi. Pola asuh orang tua sangat menentukan perkembangan remaja. Salah satu pola asuh yang ideal adalah pola asuh asuh demokratis. Pola asuh ini dapat membentuk remaja memiliki kemandirian emosi. Kemandirian emosi adalah kemampuan memecahkan ketergantungannya (sifat kekanak-kanakannya) dari orangtua dan remaja dapat memuaskan kebutuhan kasih sayang dan keakraban di luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran pola asuh demokratis orang tua, (2) gambaran kemandirian emosi, dan 3) mengetahui hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dan kemandirian emosi pada remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan merupakan penelitian korelasional dengan teknik purposive sampling. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 100 remaja yang berusia 16-18 tahun dan sejak kecil tinggal dengan orang tuanya. Instrumen yang digunakan adalah Skala Pola Asuh Demokratis orang tua dan Skala Kemandirian Emosi yang telah teruji validitasnya dengan teknik korelasi Product Moment dan reliabilitasnya dengan teknik Alpha-Cronbach. Koefisien validitas Skala Pola Asuh Demokratis orang tua pada kisaran 0,258-0,705 dan Skala Kemandirian Emosi pada kisaran 0,309-0,618. Sementara reliabilitas skala pola asuh demokratis orang tua sebesar 0,840 dan reliabilitas skala kemandirian emosi sebesar 0,867. Hasil analisis deskriptif menunjukkan : (1) Sebanyak 19 orang (19%) remaja yang memiliki tingkat pola asuh demokratis orang tua tergolong tinggi, 65 orang (65%) tergolong sedang, dan 16 orang (16%) tergolong rendah, (2) Remaja yang memiliki tingkat kemandirian emosi tinggi sebanyak 17 orang (17%), 56 orang (56%) sedang dan 27 orang (27%) kategori rendah (3) Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pola asuh demokratis orang tua dan kemandirian emosi (rxy = 0,815 sig = 0,001 < 0,05). Artinya, semakin tinggi pola asuh demokratis orang tua maka semakin tinggi kemandirian emosinya, sebaliknya semakin rendah pola asuh demokratis maka semakin rendah pula kemandirian emosinya.

Perbedaan prestasi belajar adobe photoshop dengan penerapan project-based learning berbantuan multimedia interaktif dibandingkan direct instruction berbantuan multimedia interaktif pada siswa kelas XI SMAN 2 Malang / Hayu Noeritasari

 

Kata kunci: Project-based Learning, Direct Instruction, Multimedia Interaktif, Prestasi Belajar, Adobe Photoshop Penerapan model pembelajaran direct instruction (DI) yang bersifat teacher centered di SMA Negeri 2 Malang mengakibatkan siswa menjadi pasif dan kurang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah secara mandiri. Hal ini didasarkan hasil pengamatan pada saat PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), khususnya untuk mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang menuntut siswa pro aktif, salah satunya adalah project-based learning (PjBL). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi perbedaan karena penerapan PjBL dibandingkan dengan DI yang sama-sama berbantuan multimedia interaktif. Rancangan penelitian eksperimen ini menggunakan Post-test Only Control Design dengan pemilihan kelompok yang tidak acak. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 2 Malang semester 2 tahun ajaran 2010/2011. Sampel yang digunakan adalah dua kelas, yaitu kelas XI IPA 2 sebagai kelompok eksperimen dengan menggunakan model PjBL dan kelas XI IPA 3 sebagai kelompok kontrol yang diajar menggunakan model DI. Instrumen yang digunakan terdiri dari: instrumen perlakuan dan pengukuran. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen sebesar 87,20 sedangkan kelas kontrol 80. Berdasarkan uji t diperoleh hasil bahwa nilai probabilitas hitung < 0,05 (0,000 < 0,05). Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan PjBL dibandingkan DI yang sama-sama didukung penggunaan multimedia interaktif. Penerapan PjBL terlihat mampu memicu keaktifan dan memberikan pengaruh positif terhadap kelas XI IPA 2 (eksperimen) sehingga prestasi belajarnya lebih tinggi dari pada kelas XI IPA 3 (kontrol).

Pemanfaatan media animasi audio visual untuk meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang / Lina Rohma Yunita

 

Kata Kunci: media animasi audio visual, keterampilan menyimak Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Bareng 4 Malang, keterampilan menyimak khususnya menyimak cerita anak masih tergolong rendah. Hal tersebut dikarenakan (1) siswa kurang terampil dalam menyimak cerita anak, (2) siswa kurang merasakan manfaat dari menyimak cerita anak, (3) kegiatan pembelajaran menyimak cerita anak yang kurang bervariasi dan menarik, dan (4) keberadaan media pembelajaran yang masih belum merata di sekolah-sekolah. Untuk itu peneliti ingin melakukan perbaikan pembelajaran dan meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan memanfaatkan media animasi audio visual. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan media animasi audio visual yang dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang, (2) mendeskripsikan apakah pemanfaatan media animasi audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, yaitu siklus 1 dan siklus 2, yang dalam tiap siklusnya terdiri dari empat tahap, yaitu (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflection). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang dengan jumlah siswa 16 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media animasi audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang. Perolehan nilai rata-rata pra tindakan adalah 46,44, nilai rata-rata siklus 1 adalah 67,77 dan nilai rata-rata siklus 2 adalah 78,74. Hasil keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang mengalami peningkatan dari siklus 1 dan siklus 2. Dengan prosentase dari pra tindakan ke siklus 1 sebesar 21,33% dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 10,97%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media animasi audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menerapkan media animasi audio visual pada materi lain yang sesuai.

Hubungan antara pengendalian diri (Self Control) dan perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri / Ririt Rennawati

 

Kata Kunci: pengendalian diri (self control), perilaku cybersex, siswa SMA. Siswa SMA termasuk pada masa remaja yaitu masa peralihan dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan dan adanya perubahan secara hormonal ditandai dengan gejala perkembangan seksualitas. Selain itu, secara sosio-emosional siswa SMA mengalami kelabilan dan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Oleh karena itu, pengendalian diri (self control) pada siswa SMA sangat diperlukan untuk mengatur perilaku mereka agar sesuai norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, terlebih terkait masalah mengenai seksualitas seperti perilaku cybersex yang sekarang menjadi fenomena baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran pengendalian diri (self control) pada siswa SMA Negeri 7 Kediri, (2) gambaran perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri, dan (3) hubungan antara pengendalian diri (self control) dan perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri. Rancangan penelitian adalah deskriptif dan korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-XII SMA Negeri 7 Kediri yang berjumlah 93 orang, dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Instrument pengambilan data dengan memberikan Skala Pengendalian Diri dan Skala Perilaku Cybersex pada subyek. Data penelitian dihitung dengan teknik analisis korelasi nonparametrik Spearman-Brown. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pengendalian diri siswa SMA Negeri 7 Kediri termasuk kategori sedang sebanyak 73 dari 93 responden dengan persentase 78,49 %, (2) Perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri termasuk kategori sedang sebanyak 79 dari 93 responden dengan persentase 84,95%, dan (3) Hasil korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara pengendalian diri (self control) dan perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri (rxy = -0,239 dengan nilai Sign. = 0,021 Sign. < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1) Pihak sekolah, dapat mengembangkan self control siswa dengan memberikan layanan informasi tentang arti pentingnya memiliki self control yang tinggi, dan memberikan informasi mengenai bahaya perilaku cybersex bagi diri sendiri dan hubungan dengan orang lain, (2) Peneliti selanjutnya, yang berminat membahas cybersex disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih komprehensif dengan cara menambah variabel, jumlah populasi, dan menggunakan wawancara.

Kemandirian remaja down syndrome / Niken Nurmei Ditasari

 

Kata Kunci : Kemandirian Remaja Down Syndrome. Kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Remaja merupakan kalangan yang memiliki tugas perkembangan, yakni mencapai kemandirian. Down syndrome adalah abnormalitas kromoson yang paling banyak menyebabkan retardasi mental Remaja down syndrome memiliki tujuan perkembangan yang sama dengan remaja normal, yakni mencapai kemandirian. Sekolah merupakan lingkungan interaksi yang penting pada masa remaja. Di Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Bhakti Luhur Malang terdapat beberapa siswa yang berusia remaja dan terdiagnosis down syndrome. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti menggunakan metode pengambilan data wawancara, observasi dan studi dokumen, analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta triangulasi teknik dan sumber digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subyek dalam penelitian ini berjumah 5 orang yang merupakan remaja yang terdiagnosis down syndrome. Temuan dalam penelitian ini, yakni remaja down syndome tidak mudah marah, terlatih untuk menghormati orang yang, terlatih untuk melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain, mampu mengelola uang hingga pecahan senilai lima ribu rupiah, memiliki keterampilan kerja sederhana, mampu meyelesaikan masalah konkrit sederhana yang baru ditemuinya, mampu menyelesaikan soal hitungan hingga operasi perkalian, mampu menyelesaikan soal hitungan operasi penjumlahan dan pengurangan hingga bilangan belasan ribu, mampu memahami perintah sederhana, mampu menyampaikan keinginan pada orang lain, menjawab pertanyaan dengan kata dasar tunggal, terlatih untuk bertanggungjawab terhadap tugas piket, terlatih untuk menaati peraturan di sekolah dan menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Adapun saran yang dapat diajukan terakit dengan temuan dalam penelitian ini adalah orang tua, guru dan pihak sekolah sebaiknya menciptakan lingkungan yang kondusif yang dapat membantu mempertahankan wujud dari kemandirian yang sudah tampak pada remaja down syndrome dan mengembangkan aspek- aspek kemandirian yang lain sesuai dengan kemampuan mereka. Terkait dengan temuan bahwa remaja down syndrome menunjukkan ketertarikan terhadap lawan jenis, orang tua, guru dan pihak sekolah diharapkan mampu memberikan pendidikan seksual yang proporsional bagi mereka. Peneliti lain diharapkan meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian remaja down syndrome dan aspek-aspek perilaku seksual pada remaja down syndrome.

Penggunaan permainan kartu bilangan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar penjumlahan bilangan dua angka pada siswa kelas I SDN Turupinggir II Megaluh Jombang / Endi Pertama Putra

 

Kata kunci : permainan kartu bilangan, aktivitas, hasil belajar, penjumlahan bilangan dua angka, SD. Hasil tes pra tindakan pada materi penjumlahan bilangan dua angka yang diujikan kepada siswa kelas I SDN Turipinggir II menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam melakukan penjumlahan bilangan dua angka masih rendah. Hanya ada 5 siswa (20,00%) yang memperoleh nilai antara 85 dan 100. Terdapat 7 siswa (28,00%) yang memperoleh nilai antara 70 dan 84. Terdapat 4 siswa (16,00%) yang memperoleh nilai antara 55 dan 69. Terdapat 5 siswa (20,00%) yang memperoleh nilai antara 40 dan 54. Serta, 4 siswa (16,00%) masih memperoleh nilai di bawah 40. Siswa belum menguasai betul beberapa konsep prasyarat seperti fakta dasar penjumlahan dan nilai tempat. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi sehingga menyebabkan pembelajaran terkesan monoton dan kurangnya aktivitas siswa dalam pembelajaran. Peneliti melakukan upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika tersebut dengan menggunakan permainan kartu bilangan. Tujuan penelitian ini: (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran menggunakan permainan kartu bilangan pada materi penjumlahan bilangan dua angka, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan permainan kartu bilangan, dan (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa menggunakan permainan kartu bilangan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pen-dekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Turipinggir II Megaluh Jombang. Prosedur penelitiannya: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, dan (3) lembar observasi aktivitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran menggunakan permainan kartu bilangan pada materi penjumlahan bilangan dua angka dilaksanakan dengan sangat baik, (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran juga sudah sangat baik dan mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata skor aktivitas siswa dari siklus I dengan presentase 67,67% ke siklus II dengan presentase 85,67%, dan (3) hasil belajar siswa sudah baik dan mengalami pening-katan dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 63,60 meningkat menjadi 71,60 pada siklus I dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 84,80. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menggunakan permainan kartu bilangan sebagai salah satu pembelajaran alternatif khusunya pada materi penjumlahan bilangan dua angka. Namun, perlu dipertimbangkan juga mengenai manajemen waktu dan pengelolaan kelas yang baik.

Penerapan strategi direct reading thinking activities (DRTA) untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman dalam pembeljaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Kasin Malang / Yuni Sulistiyowati

 

Kata kunci: strategi Direct Reading Thinking Activities, membaca pemahaman. Hasil observasi yang dilakukan peneliti di SDN Kasin Malang, ditemukan bahwa proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru, tidak ditemukannya siswa membangun sendiri pengetahuannya. Pada proses pembelajaran siswa cenderung ramai sendiri, tidak adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Kemampuan membaca pemahaman yang diperoleh siswa pun masih belum maksimal. Penenlitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan strategi Direct Reading Thinking Activities (DRTA) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDn Kasin Malang; (2) mendeskripsikan peningkatakn kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Kasin Malang. Kegiatan pembelajaran dengan strategi DRTA ini mengaktifkan siswa karena siswa mampu membangun pengetahuannya, siswa harus dapat membuat prediksi dari judul ataupun gambar, serta membuat prediksi dari isi paragraf selanjutnya dan pada akhirnya kemampuan membaca pemahaman siswa akan meningkat. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas VB SDN Kasin Malang, pada semeser genap tahun ajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa meningkat. Pada siklus I kemampuan membaca pemahamn siswa sebesar 63,97 dan pada siklus II sebesar 78,73. Peningkatan disini sebanyak 14,74%. . Membaca (reading) dapat meningkatkan pengetahuan siswa, meningkatkan pemahaman serta meningkatkan daya konsentrasi siswa. Dalam membaca bukan hanya sekedar membaca saja, tetapi juga perlu berfikir (thinking). Berfikir ternyata dapat membuat anak dapat berfikir kreatif. Teori mengatakan bahwa membaca merupakan salah satu proses berfikir. Dalam proses ini seseorang akan memanfaatkan sel-sel otak untuk melakukan "pencernaan" terhadap tulisan yang dibaca. Aktivitas dalam membaca juga perlu, aktivitas dalam strategi DRTA disini adalah dapat menggerakkan siswa lebih fokus membaca karena didorong oleh keinginan dan hasrat ingin mengatahui jalan ceritanya. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa serta diharapkan strategi DRTA ini dapat diterapkan untuk mata pelajaran lainnya sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut berkenaan dengan strategi DRTA ini.

Kentongan elektronik berbasis mikrokontroler dengan SMS / Andi Kurniawan

 

Kata kunci: Mikrokontroler, SMS, PDU, Kentongan elektronik Sarana informasi bagi masyarakat semakin bertambah seiring bertambahnya waktu dan kemajuan teknologi. Dengan begitu sarana tradisional sudah mulai terpinggirkan. Seperti kentongan yang mempunyai beberapa kelemahan diantaranya jangkauan suara yang sempit menyebabkan kentongan tidak menjadi alat komunikasi utama dalam dunia modern. Dikembangkannya kentongan pukul menjadi kentongan elektronik diharapkan efisien dalam menyebarluaskan informasi secara masal dan jangkauan suara menjadi luas. Pengontrolan menggunakan SMS untuk mempercepat dan mudah dalam penyampaian informasi. Pengembangan dari kentongan pukul menjadi kentongan elektronik berbasis mikrokontroler yang dapat dikendalikan secara langsung dengan menekan push button maupun jarak jauh menggunakan SMS. Dengan menggunakan SMS akan lebih efisien dalam menyebarluaskan informasi. Ketika dalam pengiriman SMS maka isi pesan tersebut akan diter-jemahkan terlebih dahulu ke dalam bentuk PDU. Dengan mengirim SMS yang sudah disuaikan PDU sebagai tanda kentongan (ken1, ken 2, ken 3, ken 4, ken 5, ken 6) ke HP server, kemudian pesan diteruskan ke mikrokontroler. Apabila perintah dapat diaktifkan, maka mikrokontroler akan memberikan instruksi ke HP server untuk mengirim pesan berupa SMS (ken1, ken 2, ken 3, ken 4, ken 5, ken 6) ke HP user TX/RX sebagai laporan bahwa perintah sudah dijalankan. Dengan demikian kentongan elektronik berbasis mikrokontroler dapat di-kendalikan secara langsung dengan push button maupun jarak jauh menggunakan SMS. Kentongan elektronik berbasis mikrokontroler berhasil dikendalikan handphone user dengan mengirim pesan SMS, pesan akan diterima oleh handphone server lalu akan diterjemahkan oleh mikrokontroler, jika pesan tersebut sesuai format yang telah dikehendaki maka mikrokontroler akan menjalankan sebuah intruksi untuk membunyikan buzzer dan mengirim balik pesan tersebut ke HP user penerima. Agar bunyi kentongan yang dihasilkan mirip dengan suara kentongan yang sesungguhnya, dengan menggunakan tambahan IC ISD 1420. Dengan penambahan rangkaian pengeras suara sehingga dapat diaplikasikan langsung kemasyarakat.

Keefektifan penggunaan bibliokonseling untuk meningkatkan empati siswa SMP / Romia Hari Susanti

 

Kata kunci: empati, bibliokonseling, cerita pendek Empati adalah kesanggupan untuk menempatkan diri dalam keadaan orang lain tanpa menjadi orang lain. Rendahnya empati di kalangan siswa dapat menyebabkan adanya pelecehan antar siswa, pengintimidasian, perkelahian dan juga adanya kekerasan. Empati siswa dapat ditingkatkan melalui aplikasi teknik bibliokonseling. Bibliokonseling yang digunakan adalah cerita pendek yang dalam penerapannya memiliki beberapa tahap meliputi siswa diberikan waktu untuk membaca cerita pendek, diskusi refleksi isi cerita, refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen dan refleksi pengalaman. Penggunaan bibliokonseling dapat memperluas wawasan siswa mengenai keanekaragaman nilai-nilai yang dianggap berharga untuk membangun aspek-aspek kemanusiaan yang mengarah pada kepedulian, belas kasihan, toleransi, dan menerima adanya perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan penggunaan bibliokonseling dalam meningkatkan empati siswa SMP dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu jenis pretest posttest one group design. Subjek penelitian berjumlah sepuluh orang siswa SMP yang memiliki kriteria empati rendah yang diukur dengan menggunakan skala empati siswa SMP. Pemberian treatment dengan menggunakan bibliokonseling berupa cerita pendek dilakukan dalam sembilan kali pertemuan yang diawali dengan kegiatan ice breaking pada pertemuan pertama. Sedangkan untuk delapan kali pertemuan selanjutnya diberikan satu cerita pendek setiap pertemuan untuk direfleksi. Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala empati siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon dan berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek efektif untuk meningkatkan empati siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada postes di akhir pertemuan. Oleh sebab itu, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) aplikasi teknik bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek hendaknya diperhatikan apakah tema cerita sesuai dengan tingkat kemampuan membaca dan usia siswa, tulisan harus menarik serta melatih siswa untuk berfikir, merasakan dan mengartikan makna yang bisa diambil dari cerita, dan alur kisah tidak terlalu rumit sehingga siswa memperoleh wawasan tentang keanekaragaman nilai-nilai yang dianggap berharga bagi manusia, serta (2) peneliti selanjutnya dapat menggunakan kelompok kontrol atau jenis penelitian time series.

Peningkatan keterampilan menganalisis unsur instrinsik cerita melalui model pakem siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar / Anik Wahyulina

 

Kata kunci: penggunaan model PAKEM, bahasa Indonesia, sekolah dasar Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan yang dihadapi adalah adanya ketuntasan klasikal yang belum tercapai dan kurang adanya antusias siswa dalam menerima pelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan model PAKEM dalam meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerita dan mendiskripskan peningkatan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerita siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kulaitatuf, jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar dengan jumlah 20 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, dokumentasi, dan observasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Refleksi dilakukan setelah setiap siklus. Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa model PAKEM dapat meningkatkan keterampilan mengalisis unsur intrinsik cerita. Siswa semakin aktif dan tidak takut untuk mengekspresikan ide-ide yang dimilikinya. Selain menambah pengetahuan, siswa juga belajar bersosialisasi dengan teman-temannya, hal ini terlihat pada waktu siswa melaksanakan kerja kelompok. Selain itu penilain hasil juga mengalami peningkatan, Ini terbukti dari nilai pratindakan sampai ke siklus penilain proses siklus I ketuntasan klasikal adalah 80 % dan pada siklus II ketuntasn klasikal mencpai 100 %. Pada penilain hasil pratindakan ketuntasan klasikal mencapai 40 %, pada siklus I mencapai mencapai 65 % dan pada siklus II adalah 100 %.Dari di atas maka peneliti memberikan saran, guru hendaknya menggunakan model PAKEM sebagai salah satu cara atau alternatif utuk meningkatakan hasil belajar siswa dan meningkatkan aktivitas siswa dalam kelas, kegiatan ini dilaksanakan secara berkesinambungan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia maupun mata pelajaran lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan materi lain.

Perbedaan hasil belajar IPS sejarah antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran learning cycle dan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMPN 3 Batu tahun ajaran 2010/2011 / Wiwit Sulistiani

 

Kata kunci : Pembelajaran Learning Cycle, Pembelajaran Konvensional, dan Hasil Belajar Kegiatan pembelajaran IPS Sejarah kelas VIII di SMPN 3 Batu masih menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, yang dibuktikan dengan nilai-nilai IPS Sejarah siswa masih banyak yang dibawah standar ketuntasan minimum sekolah yaitu ≥ 73. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu metode dan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle, yaitu suatu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme. Pembelajaran Learning Cycle ini dapat mengembangkan atau memperkaya konsep- konsep yang dimilki siswa sebagai bekal awal kognisinya dan dapat membuat siswa lebih aktif dalam proses belajar karena membuat siswa bisa mandiri dalam belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional, (2) Bagaimana hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Learning Cycle. (3) Bagimana perbedaan hasil belajar IPS Sejarah antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle dan pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian experimen, dalam penelitian ini bentuk desain experimen yang digunakan adalah Nonequvalent Control Group Design. Dalam desain ini terdapat 2 kelas yaitu kelas eksperimen (VIII A) dan Kontrol (VIII D). Pada saat penelitian kelas eksperimen diajar dengan pembelajaran Learning Cycle dan kelas kontrol diajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil belajar IPS Sejarah antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan, dibuktikan dengan analisis yang menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil perhitungan uji-t, diperoleh t hitung (5,552) ≥ t tabel (2,000). Jadi nilai kelas ekperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen 74,54 dan kelas kontrol 65,64. Maka Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran Learning Cycle baik digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar. Disarankan bagi peneliti yang mungkin tertarik dengan penelitian sejenis, untuk melakukan pengembangan dalam keseluruhan apsek (instrumen, sampel, tempat) penelitian agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik.

Peningkatan keterampilan menyimak dongeng melalui penggunaan media boneka tangan siswa kelas 2 SDN Polehan 4 Malang / Agus Setyorini

 

Kata Kunci: Keterampilan menyimak, dongeng, media boneka tangan, SD Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi menyimak teks pendek, menunjukkan hasil belajar menyimak belum tuntas. Identifikasi masalah belajar menyimak adalah (1) sikap negatif yang ditampilkan siswa saat proses pembelajaran seperti mengganggu teman saat menyimak, berbicara sendiri, mengeluh saat diberi tugas, menyimak tidak serius (2) siswa mudah bosan dalam kegiatan pembelajaran, (3) siswa tidak menguasai bahan teks pendek, (4) hasil belajar berupa menceritakan isi teks pendek yang telah disimak kurang, (5) teknik pembelajaran menyimak kurang variatif, (6) tidak adanya media pembelajaran sehingga siswa tidak tertarik mengikuti proses pembelajaran. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam PTK ini dilaksanakan dua siklus, siklus I dilaksanakan dalam 2 × pertemuan dan siklus ke II dilaksanakan dalam 2 × pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Polehan 4 Kota Malang dengan jumlah 44 siswa. Data dari penelitian ini diperoleh melalui observasi , wawancara, dokumentasi dan tes. Teknik observasi digunakan untuk mengamati perilaku siswa saat pembelajaran menyimak dongeng. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui kesan-kesan dan perasaan siswa ketika belajar menyimak menggunakan media boneka tangan. Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah kongkrit yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa menyimak dongeng. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa hasil menyimak dongeng oleh siswa pada pratindakan hanya mencapai 59,10% dan skor rata-rata kelas hanya 52,86 dengan skor kriteria ketuntasan minimal secara individu 56,28. Sedangkan setelah pemberian tindakan, persentase meningkat menjadi 90,09% pada akhir siklus II dan rata-rata kelas mencapai 69,27. Dengan demikian pemberian tindakan pada siklus II telah berhasil. Kesimpulan dari penelitian ini adalah boneka tangan dapat digunakan sebagai media belajar menyimak dongeng siswa kelas II, dan dengan media boneka tangan dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar menyimak dongeng siswa kelas II. Disarankan bagi peneliti selanjutnya maupun guru kelas II bahwa dalam pembuatan media boneka tangan agar menjahit boneka tangannya agar lebih kuat, guru hendaknya berlatih teknik mendongeng dengan boneka tangan agar tujuan belajar yang diinginkan dari siswa dapat tercapai.

Peningkatan pemahaman isi paragraf melalui model pakem siswa kelas V SDN Kandangan 2 Kabupaten Blitar / Leni Diana Putri

 

Kata Kunci: meningkatkan pemahaman, paragraf, model PAKEM Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan model PAKEM dalampeningkatan kemampuan memahami paragraf pada siswa kelas V SDN Kandangan 02 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar dan (2) mendeskripsikan peningkatan pemahaman paragraf melalui model PAKEMbagi siswa kelas V SDN Kandangan 02 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakandalam penelitianiniadalah pendekatankualitatif denganjenispenelitiantindakankelasyang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflektion) dandilaksanakandalam 2 siklus.Subjekpenelitianiniadalahsiswakelas V SDN Kandangan 2 KabupatenBlitardenganjumlahsiswasebanyak 23 siswa.Teknikpengumpul-an data yang digunakanuntukmendukung data penelitianinimeliputi: (1) lembarobservasi, (2) catatanlapangan, (3) dokumentasidan(4) hasiltes.Teknikanalisis data yang digunakandalampenelitianiniadalahteknikanalisis data kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifatmenggambarkankenyataansesuaidengan data yang diperoleh dengan tujuanuntukmengetahuiprestasibelajar yang dicapaisiswa jugauntuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Hasil penerapan model PAKEM dapat meningkatkan pemahaman isi paragraf pada siswa kelas V di SDN Kandangan 2 Kabupaten Blitar. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berlangsung dan peningkatan hasil pemahaman isi paragraf pada siklus I dan siklus II. Pada hasil pemahaman isi paragraf siswa yang dinilai dari hasil tes akhir dari siklus I ke siklus II yang meningkat dari siklus I dengan presentase 87% menjadi 91% pada siklus II, hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman isi paragraf pada siswa secara klasikal sebesar 4%. Berdasarkanhasilpenelitianmakadapatdisimpulkanbahwapenerapanmodel PAKEM dapat meningkatkanpemahamanisiparagrafpadasiswakelas V. Dari 23 siswa yang tuntassebesar 21 siswaatau 91% dan 2 siswaatau 9% tidaktuntaskarenakelainanberfikir yang dialami.

Perancangan company profile SMK Negeri 2 Batu sebagai media promosi / Nugroho Ade Trisnawan

 

Kata kunci: company profile, promosi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) merupakan sebuah lembaga pendidikan setara SMA yang memiliki konsentrasi pada suatu bidang tertentu. Pendidikan yang diberikan oleh SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) lebih menekankan pada pendidikan keterampilan dengan lebih banyak praktek yang menunjang siswa untuk menjadi ahli dalam suatu bidang. SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) diadakan untuk mencetak tenaga-tenaga yang siap untuk langsung bekerja setelah lulus dari sekolah ini. Company profile ini dibuat sebagai media promosi SMK Negeri 2 Batu untuk sarana menarik minat target audience. Produk yang dihasilkan berupa sebuah paket company profile. Untuk mendukung produk perancangan company profile ini maka dibuat media promosi komunikasi visual berupa poster, stiker, kalender 2010, horizontal banner, book note, kartu nama dan stationary set. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah perancangan company profile SMK Negeri 2 Batu efektif sebagai sarana promosi dalam meningkatkan brand images SMK di masyarakat serta menjaring minat calon siswa baru. Saran yang dapat diberikan pada SMK Negeri 2 Batu adalah diharapkan dapat meneruskan kegiatan promosinya agar dapat mencapai visi dan misi yang dimiliki.

Perancanaan buku kumpulan komik strip sebagai media informasi tentang tata cara masuk perguruan tinggi negeri melalui SNMPTN / Faisal Amin Suhada

 

Kata kunci: perancangan, komik strip, media informasi, SNMPTN. SNMPTN hingga sekarang merupakan satu-satunya pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri dalam satu sistem yang terpadu dengan menggunakan soal yang sama atau setara dan diselenggarakan secara serentak. SNMPTN dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku berdasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 006 tahun 2008 tentang Pedoman Penerimaan Calon Mahasiswa Baru pada Perguruan Tinggi Negeri dan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional No.18/DIKTI/Kep/2008 tanggal 28 Maret 2008 tentang Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pada pelaksanaan SNMPTN tahun 2010 ini akan diterapkan sistem pendaftaran secara online untuk pertama kalinya. Perancangan ini bertujuan untuk menyediakan media informasi yang efektif dan efisien serta dapat diterima oleh target audiens, yaitu remaja usia 18 - 20 tahun yang masih memenuhi syarat untuk mengikuti SNMPTN. Model perancangan yang dipakai merupakan model perancangan deskriptif yang menerangkan langkah- langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data yang berhubungan dengan isi dan perancangan komik serta penggunaan konsep-konsep tersebut yang nantinya akan diaplikasikan dalam komik. Perancangan ini akan menghasilkan produk sebuah buku kumpulan komik strip terdiri dari 30 cerita yang berdiri sendiri pada setiap halaman namun masih tetap berhubungan satu sama lain. Gaya ilustrasi yang dipakai adalah percampuran dan pengembangan dari gaya ilustrasi kartun dan gaya ilustrasi manga agar menghasilkan gaya ilustrasi baru yang lain, khas dan sesuai dengan gaya penceritaan yang lebih merujuk ke komedi serta diminati oleh target audiens. Dari proses perancangan ini dapat diambil kesimpulan bahwa komik dapat dipakai sebagai salah satu pilihan media informasi yang baik dan efisien. Informasi tersebut disajikan dalam bentuk ilustrasi visual komik yang menarik didukung dengan bahasa verbal agar lebih jelas dimengerti. Informasi yang disampaikan dapat dibungkus dengan cerita yang menarik yang dapat disesuaikan dengan target market. Kedepannya nanti diharapkan konsep tema dari perancangan buku ini akan dapat diterapkan untuk perancangan buku yang selanjutnya dengan jenis tema yang lain untuk target market yang lain pula, seperti tata cara masuk ke SMA/SMK untuk pelajar SMP dan lain-lain.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 |