Pengaruh kemampuan efikasi diri (self efficacy) terhadap kesiapan menjadi guru tata niaga mahasiwa Program Studi S1 Pendidikan Tata Niaga Jurusan Manajemen Universitas Negeri Malang / Siti Komariyah

 

ABSTRAK Komariyah, S. 2016. PengaruhKemampuanEfikasiDiri (Self Efficacy) TerhadapKesiapanMenjadi Guru Tata NiagaMahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Tata NiagaJurusanManajemenUniversitasNegeri Malang.Skripsi, JurusanManajemen, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. H. GatotIsnani, M. Si., (II) Dr. AniekIndrawati, S. Si., M.M. Kata kunci: efikasidiri, kesiapanmenjadi guru Kesiapandiriseorang guru jugadipengaruhiolehkemampuanefikasidiri (self efficacy).Efikasidiriikutmempengaruhiseseorangdalammenentukantindakan yang akandilakukanuntukmencapaitujuannya, termasuk di dalamnyaperkiraanterhadapsegala yang akandihadapi. Sebagaicalon guru, efikasidirisangatdiperlukanuntukkeberhasilandalammengajarkanilmu yang telahdidapatkanselamamenempuhpendidikandi bangkuperkuliahan.Efikasidiri (self efficacy) terdiridaritigadimensiyaitudimensitingkat, dimensikekuatan, dandimensigeneralisasi. Penelitianinibertujuanuntukmengetahui: (1) Deskripsidimensitingkat, dimensikekuatan, dandimensigeneralisasi; (2) Deskripsikesiapanmenjadi guru Tata Niaga; (3) Pengaruhdimensitingkat, dimensikekuatan, dandimensigeneralisasisecaraparsialterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niaga; (4) Pengaruhdimensitingkat, dimensikekuatan, dandimensigeneralisasisecarasimultanterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niaga; (5) Pengaruhdominandimensitingkat, dimensikekuatan, dandimensigeneralisasiterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niaga. Penelitianiniadalahpenelitiankuantitatifdenganmenggunakananalisisstatistikdeskriptifdananalisisregresi linier berganda.Variabelbebasdaripenelitianiniadalahdimensitingkat (X1), dimensikekuatan (X2), dandimensigeneralisasi (X3), denganvariabelterikatnyaadalahkesiapanmenjadi guru Tata Niaga (Y). Populasidalampenelitianiniadalahmahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Tata NiagaAngkatan 2012/2013 yang Terdiridari 2 offeringdan yang lulusPraktikPengalamanLapangan (PPL) yang berjumlah 73 mahasiswadengansampel 62 mahasiswa. Pengambilansampelinimenggunakanteknikproportional random sampling.Skala yang digunakandalampenelitianiniadalahskalaLikertdengan 5 opsiyaituSelaludiberiskor 5, Seringdiberiskor 4, Kadang-Kadangdiberiskor 3, HampirTidakPernahdiberiskor 2, danTidakPernahdiberiskor 1. Sumber data yang digunakanadalahdata primer yang berasaldariresponden.Teknikpengumpulan data menggunakanmetodekuesionerdanmetodedokumentasi.Untukujikelayakaninstrumendilakukanujivaliditasdanreliabilitas.Untukmengetahuikelayakan model dilakukantigaujiasumsiklasik, yaitu: (1) UjinormalitasdenganmelihatgrafikNormal P-P Plot of Regression Standardized Residual; (2) Ujimultikolinearitas yang dapatdilihatdarinilaiTolerancedan VIF (Variance Inflation Factor) pada model regresi; (3) Ujiheteroskedastisitasdenganmelihatgrafikscatterplot.Kemudiandilanjutkandengananalisisregresi linier berganda. Hasilanalisisdeskriptifmenunjukkanbahwa: (1) Dimensitingkatdapatdiklasifikasikansudahbaik; (2) Dimensikekuatandapatdiklasifikasikansudahbaik; (3) Dimensigeneralisasidapatdiklasifikasikansudahbaik; (4) Kesiapanmenjadi guru Tata Niagadapatdiklasifikasikansudahbaik.Hasilujiasumsiklasikmenunjukkanbahwa: (1) Model regresimemenuhiasumsinormalitasterlihatdarititik-titikmenyebar di sekitargaris diagonal padagambargrafikNormal P-P Plot of Regression Standardized Residual; (2) Model regresitidakterjadigejalamultikolinearitas. Jadi, model regresilayakuntukdigunakan; (3) Model regresitidakterjadiheteroskedastisitasterlihatpadagambargrafikscatterplottidakmembentuksuatupolatertentudanmenyebarsecaraacak di atasdan di bawahangka 0 padasumbu Y. Berdasarkanhasilujihipotesismenunjukkanbahwa: (1) Tidakadapengaruh yang signifikanantaradimensitingkatterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niaga; (2) Tidakadapengaruh yang signifikanantaradimensikekuatanterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niaga; (3) Ada pengaruh yang signifikanantaradimensigeneralisasiterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niaga; (4) Ada pengaruh yang signifikanantaradimensitingkat, dimensikekuatan, dandimensigeneralisasisecarasimultanterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niagasebesar18% sedangkansisanyasebesar 82% dipengaruhiolehfaktor lainsepertikematangan (maturation) dankecerdasan; (5) Variabeldimensigeneralisasimempunyaipengaruh yang dominanterhadapkesiapanmenjadi guru Tata Niagayaitusebesar 17%. Berdasarkanhasilpenelitianini, penelitimenyarankan: (1) BagiJurusanManajemen Program Studi S1 Pendidikan Tata Niagadikhususkanbagidosen Tata Niagalebihmengenalkan model danmetodepembelajaran yang bertujuanmeningkatkankemampuanefikasidiriterhadapkesiapanmahasiswauntukmenjadi guru dalam proses kegiatanbelajarmengajar; (2) Bagimahasiswadapatmengembangkanpengetahuannyatidakhanya di bangkuperkuliahansajaakantetapijugadenganmengikutiberbagai seminar tentangkeguruan, mencobamenyusunperangkatpembelajaransecaramandiri, menjaditentordalambimbinganbelajar, menyusundanmengerjakantugas-tugassecaramandiri, memanfaatkankebijakan yang diberikandanditetapkanolehpihakuniversitasdalamrangkameningkatkanpengalamanpraktikmengajar, sertamenekunibidangstudi yang sedangdipelajari agar setelah lulus siapmenjadi guru Tata Niagadandapatmenjalankantugasdantanggungjawabnyadenganbaik; (3) Bagipeneliti yang tertarikuntukmelanjutkanpenelitianinisebaiknyaperludilakukanpenelitianlebihlanjuttentangvariabel lain yang dapatmempengaruhikesiapanmenjadi guru Tata Niagaselaindarikemampuanefikasidiri (self efficacy) sepertikematangan (maturation) dankecerdasan.

Pengaruh pola asuh orang tua dan modernitas individu terhadap pemahaman dasar ekonomi (economic literacy) siswa kelas XII Sosial SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Binti Rohmatul Laela

 

Kata kunci: pola asuh orang tua, modernitas individu, pemahaman dasar ekonomi siswa (Economic Literacy). Kesibukan orang tua dalam bekerja mengakibatnya terpecahnya perhatian orang tua terhadap anak. Konsekuensi yang ada menjadikan anak sebagai prioritas kedua setelah prioritas bekerja. Kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap kasih sayang dan perhatian yang dicurahkan orang tua terhadap anak. Di sudut pandang lain, perkembangan zaman yang semakin modern yang ditandai dengan berkembangnya ilmu dan pengetahuan ( IPTEK) menuntut anak untuk aktif dan dinamis dalam mengikuti perkembanngnya. Landasan untuk mengetahui prestasi belajar tercermin dalam pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy) siswa pada mata pelajaran ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk: a) mendeskripsikan pengaruh antara pola asuh orang tua dengan pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy) siswa, b) mendeskripsikan pengaruh antara modernitas individu dengan pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy) siswa, c) mendeskripsikan pengaruh antara pola asuh orang tua dan modernitas individu dengan pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy) siswa. Variabel bebas penelitian ini terdiri dari pola asuh orang tua dan modernitas individu sedangkan variabel bebasnya pemahaman dasar ekonomi siswa (Economic Literacy). Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriftif korelasional. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang mengambil semua populasi sebagai sampel yaitu sebanyak 73 anak. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk melihat pengaruh parsial maupun simultan pola asuh dan modernitas individu terhadap pemahaman dasar ekonomi (Eonomic Literacy) siswa kelas XII Sosial SMA Negeri 5 Malang Tahun Ajaran 2010/2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumbangan efektif pola asuh orang tua (X1) terhadap pemahaman dasar ekonomi (Y) sebesar 26,56%, sedangkan sumbangan efektif modernitas individu siswa (X2) terhadap pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy) sebesar 24,9%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pula bahwa terdapat terdapat pengaruh positif yang signifikan secara parsial pola asuh orang tua terhadap pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy), terdapat pengaruh positif yang signifikan secara parsial modernitas individu terhadap pemahaman dasar ekonomi (Economic Literacy), terdapat pengaruh positif yang signifikan secara simultan pola asuh dan modernitas individu terhadap pemahaman dasar (Economic Literacy) ekonomi pada siswa kelas XII Sosial SMA Negeri 5 Malang tahun ajaran 2010/2011.

Peran Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar dalam pemberian bekal keterampilan terhadap anak didik pemsayarakatan di LPKA Kelas I Blitar / Anis Choirun Ni'mah

 

ABSTRAK Ni’mah, Anis Choirun. 2016. Peran Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar dalam Pemberian Bekal Keterampilan terhadap Anak Didik Pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar. Skripsi, Program Studi SI Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutoyo, SH., M.Hum, (II) Dr. Nuruddin Hady, SH., M.H. Kata Kunci: Bekal keterampilan, anak didik pemasyarakatan, LPKA Anak adalah bagian dari warga negara yang harus dilindungi karena mereka merupakan generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa Indonesia. Setiap anak disamping wajib mendapat pendidikan formal juga perlu mendapat pendidikan nonformal sehingga mereka dapat tumbuh menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara. Temasuk anak yang telah melakukan suatu tindak pidana dan harus masuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Di LPKA anak tidak hanya mendapat pendidikan formal saja tetapi juga pendidikan non formal seperti halnya pemberian bekal keterampilan sangat bermanfaat bagi mereka untuk memperoleh pengalaman dan bekal ketika nantinya mereka keluar dari LPKA dan dapat diterima di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Bekal keterampilan yang diberikan kepada anak didik pemasyarakatan untuk mandiri ketika nanti sudah keluar dari LPKA Kelas I Blitar; (2) Hambatan dalam pelaksanaan pemberian bekal keterampilan terhadap anak didik pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar; (3) Solusi yang diterapkan untuk mengatasi hambatan dalam pemberian bekal keterampilan kepada anak didik pemasyarakatan di LPKA Kelas I Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu pembina LPKA dan anak didik pemasyarakatan. Kegiatan analisis data dengan menggunakan model analisis interaktif yang dimulai dari tahap (1) Reduksi data; (2) Penyajian data; (3) Verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga hasil penelitian sebagai berikut. Pertama bentuk bekal keterampilan yang diberikan LPKA yaitu (1) bidang pertanian; (2) bidang peternakan; (3) bidang perikanan; (4) pembuatan handycraft; (5) kegiatan menjahit; (6) pembuatan keset dari kain perca. Kedua, hambatan yang dihadapi LPKA dalam pemberian bekal keterampilan terhadap anak didik pemasyarakatan yaitu (1) Faktor kemalasan; (2) Kurangnya tenaga pembina; (3) Faktor anggaran; (4) Faktor pemasaran. Ketiga, solusi dalam mengatasi hambatan yang dihadapi dalam pemberian bekal keterampilan yaitu (1) Menjalin komunikasi dan motivasi dengan baik; (2) Perlu kesabaran dan ketelatenan pembina; (3) Hasil karya anak dipamerkan kepada setiap pengunjung yang datang; (4) Pelatihan drumb band dilaksanakan sendiri oleh anak. Beberapa saran dari peneliti diajukan kepada beberapa pihak, yakni (1) Bagi LPKA seharusnya melakukan penambahan tenaga pembina untuk melatih anak dalam pemberian bekal keterampilan; (2) Kepada LPKA hendaknya dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pemberian bekal keterampilan oleh LPKA terhadap anak didik pemasyarakatan. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa di LPKA anak juga diberikan pendidikan formal dan nonformal untuk bekal mereka ketika nanti keluar dari LPKA; (3) Kepada Menteri Hukum dan HAM hendaknya memberikan tambahan anggaran bagi pembinaan anak didik pemasyarakatan di LPKA agar pelaksanaan kegiatan berlangsung secara lancar dan terpenuhi segala kebutuhan; (4) Bagi anak didik pemasyarakatan perlu adanya kesadaran mengikuti pelatihan bekal keterampilan dengan semanagat dan penuh ketekunan. Mengingat hal tersebut sangat bermanfaat ketika nantinya mereka keluar dari LPKA

Pengaruh dividen inisiasi dan dividen omisi terhadap return, abnormal return, trading volume activity, dan security return variability perusahaan manufaktur yang listing di BEi tahun 2014 / Asri Ardani

 

ABSTRAK Ardani,A. 2015. Pengaruh Dividen Inisiasi dan Dividen Omisi terhadap Return, Abnormal Return, Trading Volume Activity, dan Security Return Variability pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI Tahun 2014. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Subagyo, S.E., S.H., M.M., (II) Lulu Nurul Istanti, S.E., M.M Kata Kunci: Dividen Inisiasi, Dividen Omisi, Return, Abnormal Return, Trading Volume Activity, Security Return Variability, Event Study. Penelitian event study atau studi peristiwa ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat ada tidaknya reaksi investor dengan proksi return, abnormal retun, trading volume activity, dan security return variability atas kenbijakan dividen yang diambil perusahaan baik itu inisiasi maupun omisi. Populasi penelitian adalah 145 perusahaan manufaktur yang yang listing di BEI tahun 2014. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 12 perusahaan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi yang disusun sesuai dengan instrument penelitian agar mempermudah peneliti. Kegiatan analisis data dimulai dari uji normalitas hingga uji beda rata-rata menggunakan paired sample t-test dan wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata nilai return sebelum dan sesudah kebijakan inisiasi maupun omisi dividen, (2) tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata nilai abnormal return sebelum dan sesudah kebijakan inisiasi maupun omisi dividen,(3) tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata nilai trading volume activity sebelum dan sesudah kebijakan inisiasi maupun omisi dividen, (4) tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata nilai security return variability sebelum dan sesudah kebijakan inisiasi maupun omisi dividen. Berdasarkan hasil dari penelitian saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut. (1) Pada pihak emiten atau manajemen perusahaan sebaiknya lebih meningkatkan kinerja perusahaan agar investor tidak meninggalkan saham perusahaan tersebut dan harga saham juga bisa meningkat sesuai dengan kinerjanya, bukan hanya untuk kepentingan pencitraan emiten. (2) Pihak investor dalam melakukan investasi hendaknya lebih peka terhadap sinyal yang diberikan perusahaan agar dapat mengambil strategi yang tepat dalam bertransaksi saham serta portofolio investasinya akan menjadi lebih baik dan seimbang. (3) Peneliti selanjutnya sebaiknya tidak hanya terfokus pada kebijakan dividen saja, melainkan juga kebijakan yang dapat diambil pihak emiten seperti kebijakan pendanaan dan kebijakan investasi yang tentu akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Selain itu peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk meneliti jenis dividen selain dividen kas dan juga menambah sampel penelitian agar diperoleh hasil yang lebih signifikan dan lebih akurat.

Implementasi model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang) / Galuh Ayu Pranesthi

 

Kata kunci : Problem Based Learning (PBL), aktivitas belajar, hasil belajar siswa Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMK PGRI 3 Malang diketahui beberapa hambatan kegiatan pembelajaran pada kelas X Pemasaran A1 Mata Pelajaran Melakukan Negosiasi. Hambatan yang ditemui antara lain siswa yang kurang fokus pada pelajaran, sulitnya siswa untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan masalah di dunia nyata dan nilai ulangan harian siswa banyak yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Rendahnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar yang ditunjukkan dari dominasi yang banyak dari guru, menyebabkan minimnya interaksi siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru di dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan strategi pembelajaran Problem Based Learning diharapkan siswa dapat mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada di kelas dan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? (2) Apakah implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? (3) Apakah implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? (4) Apakah yang menjadi faktor penghambat dan pendukung proses implementasi model Pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas X Pemasaran A1 mata pelajaran melakukan negosiasi tahun ajaran 2010/2011 di SMK PGRI 3 Malang? Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2 x 45 menit. Pada tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran A1 SMK PGRI 3 Malang yang berjumlah 29 siswa. Terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 25 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran Problem Based Learning. Implementasi model pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran produktif Melakukan Negosiasi, siswa kelas X Pemasaran A1 di SMK PGRI 3 Malang ini, terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa dari Siklus I ke Siklus II. Peningkatan ketuntasan belajar siswa pada ranah kognitif Siklus I sebesar 72,41% meningkat pada Siklus II menjadi 96,55%. Pada hasil belajar ranah afektif Siklus I ketuntasan belajar siswa sebesar 93,1% meningkat menjadi 100% pada Siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa ranah psikomotor pada Siklus I sebesar 31,04 meningkat pada Siklus II menjadi 93,1%. Faktor yang menghambat adalah jumlah observer yang terbatas, artinya 1 observer mengamati 2 kelompok siswa, rendahnya rasa percaya diri siswa dan interaksi antar siswa dalam 1 kelas masih kurang. Adapun faktor yang mendukung adalah sarana dan prasarana serta kemampuan guru untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah Pada tahap observasi, diperlukan instrumen penelitian yang dapat merekam setiap kegiatan penelitian misalnya selain menggunakan lembar observasi juga menggunakan handycamp. Untuk mendapatkan peningkatan hasil belajar siswa secara signifikan, peneliti memberikan saran kepada peneliti berikutnya untuk memberikan jumlah soal tes lebih dari 5 butir soal. Proses bimbingan intensif oleh peneliti untuk memotivasi siswa dalam hal mencari jawaban atas pertanyaan dan pentingnya bekerja sama dalam kelompok sangat menentukan keberhasilan pembelajaran dalam hal meningkatkan aktivitas siswa. Untuk lebih memaksimalkan observasi aktivitas siswa apabila memungkinkan setiap kelompok diamati oleh 1 orang observer dan hendaknya penelitian dilakukan bukan hanya pada mata pelajaran Melakukan Negoisasi, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang relevan.

Dinamika metode Hisab Imkanurrukyah Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang (1935-2014) / M. Choirul Huda

 

Hubungan antara imaginary audience (penonton khayalan) dengan body image (citra tubuh) pada remaja putri / Mia Fitriani

 

Kata Kunci: imaginary audience, body image Imaginary audience adalah keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Body image adalah gambaran yang dibuat seseorang mengenai tubuhnya. Body image bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, melainkan dapat berubah-ubah akibat berbagai hal salah satunya media massa. Dengan semakin maraknya pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa serta tekanan-tekanan yang berasal dari lingkungan di sekitarnya mengenai citra ideal tertentu akan menyebabkan remaja semakin memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri untuk mencapai citra ideal tersebut. Dalam keyakinannya bahwa ia memiliki penonton yang terus menerus mengamatinya, maka cacat sekecil apapun akan menyebabkan remaja menjadi semakin mengkhawatirkan penampilannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) imaginary audience pada remaja putri, (2) body image pada remaja putri, (3) hubungan antara imaginary audience dengan body image pada remaja putri. Penelitian dilakukan di SMKN 3 Malang dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 58 orang. Rancangan penelitian yaitu penelitian deskriptif korelasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala NIAS (New Imaginary Audience Scale) dan skala body image. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik analisis korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan: (1) terdapat 5,17% siswi dengan imaginary audience sangat tinggi, 50% siswi dengan imaginary audience tinggi, 43,1% siswi dengan imaginary audience rendah, 1,72% siswi dengan imaginary audience sangat rendah; (2) 3,45% siswi dengan body image sangat tinggi, 51,72% siswi dengan body image tinggi, 44,83% dengan body image rendah, (3) dari hasil uji korelasi diperoleh r sebesar 0,630 (p=0,000<0,05), berarti ada hubungan positif antara imaginary audience dengan body image pada siswi kelas X SMKN 3 Malang. Semakin tinggi tingkat imaginary audience diikuti oleh semakin tinggi pula tingkat body image. Berdasarkan hasil penelitian adabeberapa saran, yaitu: (1) remaja putri diharapkan untuk tidak hanya memusatkan perhatian pada penampilan fisiknya dan lebih menggali potensi-potensi positif yang dimilikinya. (1) Orangtua dan sekolah diharapkan dapat memberikan dorongan dan dukungan kepada para remaja putri untuk lebih mengembangkan potensi-potensi positif lain dari remaja putri. (3) Peneliti lain disarankan untuk lebih memperluas variabel-variabel penelitian dan subyek penelitian.

Peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kontekstual tentang jenis dan besar sudut kelas III MI Al Huda Kebonrejo Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar / Himatul Aliyah

 

ABSTRAK Aliyah, Himatul. 2016. Peningkatan Hasil Belajar Siswa melalui Model Pembelajaran Kontekstual tentang Jenis dan Besar Sudut Kelas III MI Al Huda Kebonrejo Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Sunyoto, S.Pd, M.Si. (II) Dra. Hj. Sri Murdiah, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD), model pembelajaran kontekstual, hasil belajar Berdasarkan pada hasil observasi dan wawancara mendalam kepada guru dan siswa kelas III MI Al Huda Kebonrejo Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar pada materi jenis dan besar sudut ditemukan permasalahan yaitu sikap berani dan tanggung jawab siswa pada saat mengikuti pembelajaran belum ditanamkan oleh guru, keterampilan menggambar sudut dan menggunakan busur derajat tidak digali oleh guru sehingga tidak menumbuhkan keterampilan pada diri siswa, dan hasil belajar siswa rendah sekali hal ini terjadi karena (a) guru menggunakan metode ceramah yang tidak mengaktifkan siswa dalam pembelajaran sehingga ada siswa yang mengobrol, bermain sendiri dengan mencoret-coret bukunya, ada yang bermain dengan kursinya, dan ada siswa yang mengantuk dapat dikatakan suasana pembelajaran monoton sehingga membosankan, (b) guru kurang baik didalam mengelola kelas sehingga banyak siswa yang gaduh sendiri, dan (c) guru menggunakan media kertas berbentuk bangun datar yang ditempel di papan tulis penulisan keterangan sudut kurang besar sehingga siswa yang duduk di baris belakang tidak bisa melihat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran kontekstual pada siswa kelas III MI Al Huda Kebonrejo Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar dan peningkatan hasil belajar siswa pada materi jenis dan besar sudut pada siswa kelas III MI Al Huda Kebonrejo Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kontekstual pada materi jenis dan besar sudut berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa, serta nilai hasil belajar siswa. Aktivitas guru pada siklus I 63% meningkat 100% pada siklus II. Aktivitas siswa pada siklus I 64% meningkat 100% pada siklus II. Hasil belajar siswa pada siklus I 39,09% meningkat 100% pada siklus II.

Hubungan antara perilaku diet untuk penurunan berat badan dengan percaya diri pada remaja putri di Universitas Negeri Malang / Verry Kurnia Indah

 

Kata kunci: perilaku diet, penurunan berat badan, percaya diri. Saat ini banyak remaja putri yang sangat mendambakan tubuh ideal seperti para model yang sering tampil di media cetak maupun media elektronik dengan melakukan perilaku diet demi turunnya berat badan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat perilaku diet untuk penurunan berat badan, (2) tingkat percaya diri, (3) hubungan antara perilaku diet untuk penurunan berat badan dengan percaya diri pada remaja putri di Universitas Negeri Malang. Desain yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional dengan subyek sebanyak 90 mahasiswi UM yang ditentukan dengan teknik Quota Sampling. Data perilaku diet untuk penurunan berat badan dikumpulkan dengan skala perilaku diet untuk penurunan berat badan (koefisien validitas item antara 0,312 sampai 0,748 dan koefisien relibialitas Alpha Cronbach 0,718), dan data percaya diri dikumpulkan dengan skala percaya diri (koefisien validitas item antara 0,288 sampai 0,668 dan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach 0,709). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa tingkat perilaku diet untuk penurunan berat badan sebanyak 6 orang (7%) termasuk dalam kategori sangat tinggi, 47 orang (52%) termasuk kategori tinggi, 31 orang (34%) termasuk kategori rendah dan 6 orang (7%) termasuk kategori sangat rendah. Sedangkan tingkat percaya dirinya menunjukkan sebanyak 0 orang (0%) termasuk kategori sangat tinggi, 42 orang (47 %) termasuk kategori tinggi, 43 orang (48%) termasuk kategori rendah, 5 orang (6%) termasuk kategori sangat rendah. Hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan teknik Korelasi Product Moment yang hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara perilaku diet untuk penurunan berat badan dengan percaya diri (rxy = -0,268 sig = 0,028 < 0,05). Artinya, semakin tinggi perilaku diet untuk penurunan berat badan maka semakin rendah tingkat percaya dirinya, sebaliknya semakin rendah perilaku diet untuk penurunan berat badan maka semakin tinggi tingkat percaya dirinya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi remaja putri untuk dapat mengontrol dan mengendalikan dorongan dari lingkungan maupun dari dirinya sendiri yang bersifat negatif serta membekali diri dengan pengetahuan terhadap bahaya kesehatan jika melakukan perilaku diet untuk penurunan berat badan yang salah. Untuk meningkatkan rasa percaya diri, remaja putri hendaknya mampu mengubah cara pandang dan selalu berpikir positif terhadap bentuk tubuhnya sendiri.

Analisis kesalahan penyelesaian soal-soal sistem persamaan linier dengan dua variabel (peubah) yang dilakukan siswa kelas II SLTP negeri 2 Kademangan tahun ajaran 1998/1999 / oleh Menuk Agus Triasih

 

Perbedaan penerapan metode mind mapping dengan metode ceramah terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran elektronika dasar di SMK Negeri 2 Singosari / Ulfa Devayuni Utami

 

ABSTRAK Utami, Ulfa Devayuni. 2015.PerbedaanPenerapanMetodeMind MappingdenganMetodeCeramahTerhadapPeningkatanHasilBelajarSiswaKelas X Pada Mata PelajaranElektronikaDasar di SMK Negeri 2 Singosari. Skripsi, JurusanTeknikElektro, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. HarySuswanto, S.T.,M.T. (II) Drs. Suwasono, M.T. Kata kunci: Mind Mapping, Ceramah, Hasil Belajar, Elektronika Dasar. SekolahMenengahKejuruan (SMK) adalahsalahsatujenjangpendidikanmenengah yang bertujuan mempersiapkanlulusannyauntuksiapbekerjadanmampumenghasilkanSumberDayaManusiayang terampildanberkualitas. Hal tersebut tentunya merupakan tugas dari seorang guru. Berdasarkan Hasilobservasi yang dilakukan di SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang padasiswakelas X menyatakan bahwaguru masihmenggunakanmetodepembelajaranyang berpusat pada guru(ceramah),tingkat pemahamansiswa terhadap materimasihkurang, dan siswa belum bisa memahami konsep materi yang sedang dipelajari. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran mind mapping. Penelitianinibertujuanuntukmengetahui: (1) signifikansiperbedaanhasilbelajarranah sikap antara kelas eksperimen dan kontrol, (2) signifikansi perbedaan hasil belajar ranah pengetahuan antara kelas eksperimen dan kontrol, (3) signifikansiperbedaanhasilbelajarranah keterampilan antara kelas eksperimen dan kontrol, (4) signifikansi peningkatan hasil belajar kelas eksperimen yang menggunakan metode mind mapping, dan (5) signifikansi peningkatan hasil belajar pada kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah. Jenis Penelitianinimenggunakanrancanganpenelitianquasi experimentaldengandesainnonequivalent control group design. Desainpenelitianinimenggunakanduakelasyaitu kelas X TEI 2sebagaikelaseksperimen yang diterapkanperlakuanmetodepembelajaranmind mapping dankelas X TEI 1sebagaikelaskontrolyang diterapkan perlakuan metode pembelajaran ceramah. Analisis data yang digunakanuntukmengujihipotesisadalahuji-t dengan prasyarat uji normalits dan uji homogenitas. HasilPenelitianmenunjukkanperbedaanhasilbelajarsecarasignifikan yang dibuktikandengan:(1) nilai rata-rata ranah sikap kelaskontrolsebesar75,83dankelaseksperimensebesar92,50, (2) nilai rata-rata ranah pengetahuan kelaskontrolsebesar95,86dankelaseksperimensebesar97,40, (3) nilai rata-rata ranah keterampilan kelaskontrolsebesar77,50dankelaseksperimensebesar95,83, (4) adanya peningkatan hasil belajar pada kelas eksperimen yang menggunakan metode mind mapping, dan (5) adanya peningkatan hasil belajar pada kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah. Hal ini terjadi karena pada kelas eksperimen diterapkan metode pembelajaran mind mapping. Sehinggadapatdisimpulkanbahwapenerapanmetodepembelajaranmind mapping sangatefisienuntukditerapkanpadamatapelajaran ElektronikaIndustri di kelas X SMK Negeri 2 Singosari.

Pengembangan E-module materi pelatihan teknik analisis potensi wilayah dan agroekosisten berorientasi agribisnis di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Songgoriti Kota Batu / Ayu Dwi Wahyu Saputri

 

Dwi Wahyu Saputri, Ayu. 2012. Pengembangan E-Module Materi Pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah dan Agroekosisten Berorientasi Agribisnis di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Songgoriti Kota Batu. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Henry Praherdiono, S. Si, M.Pd, (II) Arafah Husna, S. Pd., M.Med.Kom. Kata kunci: E-modul, Pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah dan Agroekosisten Berorientasi Agribisnis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan menghasilkan e-module pada mata pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah dan Agroekosisten Berorientasi Agribisnis di Balai Besar Pelatihan peternakan (BBPP) Songgoriti Kota Batu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan/kevalidan e-module sebagai media pembelajaran, mengetahui respon siswa terhadap media ini, dan mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media dibandingkan dengan yang tidak menggunakannya. Model Pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model ADDIE (Reiser, Robert A & John V. Dempsey, 2002:18). Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilakukan guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut antara lain: (1) Analisis/Analysis; (2) Desain/Design; (3) Pengembangan/ Development; (4)Implementasi/Implementation; (5)Evaluasi/Evaluation. Hasil Pengembangan e-module ini memenuhi kriteria valid/layak yakni, ahli media 85,71%, ahli materi 95%, hasil uji coba perseorangan 72,91%, hasil uji coba kelompok kecil 84,72% dan hasil uji coba lapangan 82,7 %. Sedangkan untuk tes hasil belajar siswa peserta diklat terdapat 18 orang (90%) yang berhasil mencapai ketuntasan dalam belajar, dan nilai mencapai SKM (Standar Ketuntasan Minimum). Dengan demikian, e-module ini bisa dikatakan valid, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Saran yang diajukan kepada widyaiswara pengajar mata pelatihan Teknik Analisis Potensi Wilayah adalah, hendaknya e-module ini ditindak lanjuti sampai pada tahap pemanfaatan sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan untuk pengembang selanjutnya, disarankan agar mempertimbangkan aspek alur kerja media pembelajaran yang dikembangkan agar media yang dihasilkan dapat dimanfaatkan pada strategi pembelajaran yang direncanakan.

Pemahaman mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Penyetaraan D-3 IKIP MALANG tahun 1996/1997 terhadap kurikulum SLTP tahun 1994 / oleh Sukarno Tanjung

 

Peningkatan keterampilan berpikir kritis dn hasil belajar fisika menggunakan problem posing siswa kelas X.7 SMA Negeri 1 Kepanjen / Aisyatur Rodiyah

 

Kata kunci: hasil belajar, keterampilan berpikir kritis, problem posing. Berdasarkan observasi yang dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2011, diketahui pembelajaran di SMA Negeri I Kepanjen menggunakan metode ceramah yang diselingi tanya jawab dan diskusi sehingga pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Keaktifan siswa dalam pembelajaran rendah, saat diajukan pertanyaan oleh guru siswa yang menjawab dan angkat tangan tidak ada atau hanya 1-3 siswa saja. Keterampilan berpikir kritis yang rendah akan berdampak pada hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan kurangnya rerata kelas yaitu sebesar 36,77 dari SKM yang berlaku (≥75). Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut diterapkan pembelajaran menggunakan problem posing. Pembelajaran dengan problem posing merupakan suatu bentuk pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran dengan problem posing dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar Fisika siswa SMA Negeri I Kepanjen. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-7 yang berjumlah 30 siswa. Data penelitian ini berupa keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Keterampilan berpikir kritis siswa diketahui dari hasil tes dan lembar observasi keterampilan berpikir kritis, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai skor ≥75 dan daya serap klasikal 85% siswa yang mencapai ≥75. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I rata-rata kelas sebesar 77,17 menjadi 79,17 pada sikluls II. Persentase ketercapaian siklus I sebesar 86,67% meningkat menjadi 93,33% pada siklus II. Rata-rata kelas dari hasil evaluasi di setiap siklus mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 81,5 dan hasil belajar pada siklus II sebesar 82,67 dengan peningkatan sebesar 1,17. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 90% dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dengan problem posing dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan hasil belajar siswa berjalan dengan baik dengan persentase pelaksanaan pembelajaran pada siklus I sebesar 87,5% dan pada siklus II 96,79% sehingga diharapkan guru dapat menerapkan problem posing sebagai variasi dalam pembelajaran Fisika. Keterbatasan penelitian yang hanya menerapkan problem posing pada materi pemuaian dan perpindahan kalor dengan waktu penelitian yang cukup singkat, maka diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan pada materi yang lain dengan menghadapkan siswa pada masalah-masalah yang ada pada kehidupan sehari-hari pada waktu penelitian yang cukup lama untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

Pengaruh service quality dan trust terhadap loyalitas nasabah tabungan Shar-E Bank Muamalat Cabang Malang / Ndaru Perdhana

 

Kata kunci: Kualitas Pelayanan (Service Quality), Kepercayaan (Tust) , loyalitas nasabah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini mendorong semakin kompetitif persaingan dalam dunia usaha, salah satunya usaha jasa. Perkembangan teknologi dan arus informasi membuat konsumen menuntut lebih atas sebuah barang dan jasa. Berbagai strategi dipilih oleh para marketer untuk bertahan ditengah badai persaingan global. Tujuan utama untuk mencapai loyalitas konsumen dikarenakan hal ini sangat menguntungkan bagi berusahaan. Peningkatan kualitas pelayanan (service quality) dan kepercayaan (trust) diyakini merupakan strategi untuk mendapatkan loyalitas konsumen. Bank muamalat adalah bank pertama yang mengusung konsep murni syariah islam dan tidak mengakui bunga riba yang dilarang keras dalam islam. Bank Muamalat Indonesia memulai operasinya pada tanggal 27 Syawal 1412 H atau tanggal 1 Mei 1992, salah satu produk andalan adalah tabungan Shar’e dengan mengusung tag line tag line Easy, Every where, and Ekstra ordinary menjadikan produk tabungan Shar’e dapat diterima baik oleh konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: Bagaimanakah kondisi loyalitas nasabah tabungan Shar-E di Bank Muamalat Cabang Malang. Untuk mengetahui pengaruh service quality terhadap loyalitas nasabah tabungan Shar-E Bank Muamalat Cabang Malang. Untuk mengetahui pengaruh Trust terhadap loyalitas nasabah tabungan Shar-e Bank Muamalat Cabang Malang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif korelasional. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah nasabah tabungan Shar’e bank Muamalat Cabang Malang. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin dengan persen kelonggaran ketidaktelitian yang digunakan adalah 10% sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah Proportional Random Sampling dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 30 orang responden. Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 13 for Windows. Berdasarkan penelitian ini hasil yang diperoleh adalah: (1) mayoritas responden menyatakan setuju dengan kualitas pelayanan yang baik dari manajemen bank Muamalat Cabang Malang (2) ada pengaruh positif yang signifikan antara kualitas pelayanan (service quality) dengan loyalitas nasabah tabungan Shar’e bank Muamalat Cabang Malang (3) mayoritas responden menyatakan setuju dengan kepercayaan antara nasabah dengan pihak manajemen bank Muamalat Cabang Malang, (4) ada pengaruh positif yang signifikan antara kepercayaan (trust) dengan loyalitas nasabah tabungan Shar’e bank Muamalat Cabang Malang. Dari penelitian menunjukkan kualitas pelayanan (service quality) memiliki pengaruh 19,12% terhadap loyalitas nasabah tabungan Shar’e bank Muamalat cabang Malang, dan kepercayaan (trust) memiliki pengaruh 29,48% terhadap loyalitas nasabah tabungan Shar’e bank Muamalat Cabang Malang. Saran yang dapat diberikan dalam penellitian ini adalah: (1) Saran ditujukan kepada produk Shar’e, hendaknya bank Muamalat lebih memperhatikan unsur kualitas pelayanan. Hal itu dapat dilakukan dengan cara meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana dalam mendukung proses transaksi nasabah tabungan Shar’e seperti, fasilitas ruang tunggu yang lebih nyaman ditambah dengan dukungan front office dengan dukungan SDM yang lebih profesional dan ramah. (2) Dukungan teknologi untuk mendukung segala trasaksi nasabah tabungan Shar’e juga perlu untuk ditingkatkan. (3) Perusahaan harus lebih inovatif dalam strategi memperoleh nasabah. Salah satu cara yang baik adalah dengan menerapkan program member get member, yaitu nasabah yang mengajak orang lain untuk menjadi nasabah. (4) kursi di ruang tunggu yang terlalu sedikit membuat nasabah harus berdiri jika lagi banyak nasabah yang datang, permasalahan ini mestinya harus segera diatasi dengan menambah fasilitas kursi untuk para nasabah. (5) menjalin hubungan kepada nasabah secara lebih personal, meniadakan batasan-batasan antara pihak manajemen dengan para nasabah, membuat promo-promo untuk menjalin kedekatan dengan para nasabah sehingga terbentuk kepercayaan secara mendalam antara pihak manajemen bank Muamalat Cabang Malang dengan para nasabah khususnya nasabah tabungan Shar’e.

Keefektifan kalimat dalam karangan narasi siswa kelas II SLTP 01 Sanankulon Blitar tahun 1997/1998 / oleh Hartono

 

Pemeraman buah papaya dengan pengaruh gas Acetylene / Adi Mujiono

 

Upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) pada siswa kelas XI Ilmu Alam di SMA Brawijaya Smart School Malang / Fetty Yudha Winata Sekti

 

Kata kunci: tipe TAI, hasil belajar, motivasi Pengamatan peneliti pada siswa kelas XI Ilmu Alam di SMA Brawijaya Smart School Malang memiliki kemampuan yang heterogen. Keheterogenan ini mengakibatkan siswa dengan karakteristik kemampuan yang sama cenderung mengelompok menjadi satu, sehingga di dalam kelas yang heterogen terbentuk kelompok yang homogen. Kelompok dengan kemampuan yang baik mampu menyelesaikan tugas dengan lancar dan benar. Sedangkan pada saat siswa dikelompokkan menjadi kelompok yang heterogen, siswa melimpahkan pekerjaan mereka pada temannya yang memilki kemampuan tinggi. Hal ini menyebabkan siswa yang mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) hanya siswa tertentu saja. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI yaitu bentuk belajar kooperatif yang memanfaatkan potensi individu dengan didahului belajar individual di mana siswa terlebih dahulu diharuskan memahami materi dan mengerjakan soal yang ada secara individu, setelah itu siswa berdiskusi dengan teman satu kelompok untuk saling berbagi hasil pemikiran masing-masing. Model pembelajaran ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMA Brawijaya Smart School, pada bulan Februari sampai Mei 2010 yang terdiri dalam dua tahap, yaitu tahap pra tindakan dan tahap tindakan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI Ilmu Alam SMA Brawijaya Smart School Malang tahun ajaran 2009/2010 sebanyak 19 siswa. Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan siklus II. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. Peningkatan ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai kuis sebelum tindakan adalah 69,92 menjadi 78,68 pada siklus I dan 85,84 pada siklus II . Sedangkan pada motivasi siswa terjadi peningkatan yang ditunjukkan dengan rata-rata skor motivasi awal siswa adalah 2,94 yaitu dalam kategori baik menjadi 3,12 yaitu dalam kategori baik pada siklus I dan pada siklus II menjadi 3,34 yaitu dalam kategori sangat baik. Sehingga pembelajaran kooperatif tipe TAI ini layak dikembangkan dalam pembelajaran matematika.

Pola pengembangan gagasan dalam karangan siswa kelas III SMU PGRI Gerokgak tahun pelajaran 1997/1998 / oleh Hasyim Asy'ary

 

Penerapan model pembelajaran langsung untuk meningkatkan hasil belajar bilangan romawi siswa kelas IV SDN Lesanpuro 1 kota Malang / Rahayu Iskandar

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Langsung, Bilangan Romawi, SD Kelas IV, Matematika merupakan pengetahuan yang berhubungan secara tersusun, untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat didefenisikan secara logika. Dalam pembelajaran Matematika, perlu menggunakan pendekatan yang bukan saja dapat meningkatkan hasil pembelajaran, tetapi juga dapat mengajarkan keterampilan bekerjasama antar siswa, agar kelak mereka mampu bersosialisasi di lingkungan masyarakat dengan baik. Permasalahan yang terjadi di kelas IV SDN Lesanpuro 1 Kedungkandang Kota Malang yaitu rendahnya hasil belajar siswa. Sehingga perlu adanya tindakan yang inovatif dalam pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah (a) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran langsung untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IV SDN Lesanpuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang (b) mendeskripsikan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran langsung dalam pembelajaran matematika bagi siswa kelas IV SDN Lesanpuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Penelitian tindakan kelas ini diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Lesanpuro 1 Kedungkandang Kota Malang yang mencakup pemahaman konsep bilangan Romawi. Model yang digunakan adalah model pembelajaran langsung. Model pembelajaran langsung dianggap mampu meningkatkan hasil belajar siswa karena di dalamnya siswa berlatih secara terstruktur. Penelitian dikhususkan pada mata pelajaran Matematika khususnya materi pokok lambang bilangan Romawi. Rencana penelitian dengan menggunakan jenis pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Lesanpuro 1 Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 46 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa yang merupakan pemahaman konsep matematika materi pokok lambang bilangan Romawi pada pra siklus menjadi 74,56% pada siklus I 81,30%, kemudian menjadi pada siklus II 90,00%.

Perbandingan prestasi belajar trigonometri siswa kelas III SLTP Negeri 6 Kodia Malang yang mendapatkan tes awal dan mendapatkan tes akhir / oleh Lutfiatul Amilah

 

Pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi swasta (studi multi kasus di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram) / Baiq Rohiyatun

 

Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Sumber Daya Manusia, Perguruan Tinggi Swasta Pengembangan organisasi merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Hal ini karena mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan pencapaian tujuan perguruan tinggi. Di dalam rangka pengembangan organisasi, PTS hendaknya mengoptimalkan layanan pendidikan dengan potensi sumber daya yang ada sesuai dengan tuntutan lingkungan internal dan eksternal. Salah satu cara dalam menggali potensi yang dimiliki oleh sumber daya manusia di perguruan tinggi adalah dengan pengembangan. Pengembangan sumber daya manusia merupakan dimensi penting dalam proses pembangunan nasional yang saling berkaitan dengan pembangunan dimensi yang lain, karena faktor yang paling menentukan keberhasilan suatu bangsa bukan kekayaan alam yang dipunyainya, melainkan kualitas sumber daya manusia yang dipunyainya. Begitupun dalam lembaga perguruan tinggi, faktor yang menentukan keberhasilan organisasai adalah kualitas Sumber Daya Manusianya terutama tenaga pengajar atau yang disebut dosen. Dosen adalah merupakan ujung tombak pelaksanaan kegiatan pendidikan yang sifat pekerjaanya selalu berkembang dan dinamis seirama dengan perubahan yang terjadi. Fokus utama dari penelitian ini adalah: pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Mataram. Fokus tersebut dijabarkan menjadi sub fokus penelitian yakni: (1) Perencanaan pengembangan sumber daya Manusia dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram; (2) Tehnik-tehnik Pengembangan Sumber Daya Manusia dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram; dan (3) Tindak lanjut pengembangan sumber daya manusia dosen di Universitas Muhammadiyah Mataram dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multikasus. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) wawancara mendalam; (2) observasi berperan serta dan (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian dilakukan secara snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan alur: (1) reduksi data; (2) penyajian data; (3) penarikan kesimpulan. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan melalui: (1) Uji Kredibilitas yang terdiri dari Triangulasi, Member cek dan diskusi teman sejawat; (2) Dependabilitas; dan (3) Konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan: pertama perencanaan pengembangan sumber daya manusia dosen dikedua perguruan tinggi swasta lokasi penelitian sesuai dengan tuntutan kebijakan pemerintah dan keinginan untuk terus eksis ditengah persaingan kualitas dari PTS yang lain. Kedua tehnik-tehnik pengembangan sumber daya manusia dosen di kedua perguruan tinggi swasta lokasi penelitian menggunakan tehnik studi lanjut, pelatihan atau penataran, workshop atau lokakarya dan seminar kesemua tehnik-tehnik tersebut ditentukan berdasarkan kebutuhan dosen dan kebutuhan lembaga perguruan tinggi. Penetapan tehnik yang digunakan melibatkan peran serta pimpinan perguruan tinggi dan unsur yayasan. Ketiga Tindak lanjut pengembangan sumber daya manusia dosen di kedua perguruan tinggi swasta lokasi penelitian menunjukkan bahwa akan dipasilitasi dalam bentuk sarana dan dana agar apa yang sudah dipelajari dalam tehnik-tehnik pengembangan SDM dapat diaplikasikan untuk peningkatan kemampuan mengajar dan ilmu spesialisasi dosen disamping itu juga faktor kompensasi akan diupayakan untuk meningkatkan motivasi kerja dan kesejahteraan dosen. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) Untuk Kopertis wilayah IIIV dan DIKTI, bekerjasama dengan perguruan tinggi memberikan dana dalam rangka pengembangan kualitas dosen. Pengadaan tehnik-tehnik pengembangan dosen selain studi lanjut perlu diintensifkan penyelenggaraannya dengan mengundang dosen-dosen dari PTS-PTS yang ada, sehingga semua kebijakan maupun program yang dikembangkan tepat sasaran dan dapat ditindak lanjuti; (2) Untuk IKIP Mataram, Perguruan tinggi walaupun swasta perlu berinisiatif dengan sungguh-sungguh untuk menggunakan hasil analisis kebutuhan sebagai dasar dalam menyusun program pengembangan sumber daya manusia dosen, perguruan tinggi perlu menyusun tehnik-tehnik apa yang sesuai untuk program pengembangan sumber daya manusia dosen dan dapat bekerjasama dengan Universitas lain, DIKTI/Kopertis dan lembaga pendidikan lain untuk memberikan bimbingan berkelanjutan dalam hal pengembangan sumber daya manusia. Khusus untuk penelitian karena data yang penulis dapatkan dilapangan bahwa belum ada hasil penelitian dosen yang diseminarkan maka perlu kiranya IKIP Mataram mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk seminar; (3) Bagi UMM, walaupun swasta perlu berinisiatif dengan sungguh-sungguh untuk menggunakan hasil analisis kebutuhan sebagai dasar dalam menyusun program pengembangan sumber daya manusia dosen, perguruan tinggi perlu menyusun tehnik-tehnik apa yang sesuai untuk program pengembangan sumber daya manusia dosen dan dapat bekerjasama dengan Universitas lain, DIKTI/Kopertis dan lembaga pendidikan lain untuk memberikan bimbingan berkelanjutan dalam hal pengembangan sumber daya manusia; (4) bagi dosen, tanggung jawab dan kewajiban sebagai seorang dosen adalah melaksanakan Tri Dharma Perguruan tinggi sudah seharusnya untuk melakukan pengembangan diri tidak hanya menunggu giliran dan kesempatan dari perguruan tinggi tetapi ada inisiatif sendiri untuk mau mengembangkan diri menjadi dosen yang professional; (5) Bagi peneliti lain, dapat dijadikan acuan bagi para peneliti-peneliti selanjutnya dalam rangka perbaikan kedepan, apabila metodologi dan temuan penelitian ini dinilai kredibel dan relevan, maka dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam meneliti kasus sejenis pada lembaga lainya.

Fragmen bangunan patirthan di situs Reco Warak desa Modangan: kajian gaya ikonografi dan fungsi / oleh Yustrina Rusmawarni

 

A thematic analysis of Edgar Allan Poe's selected short stories / byTeguh Trilistyono

 

An analysis of vocabulary used in the English textbook based in the 1994 English curriculum for the third year of SLTP students / by T. Rantining Lestari

 

Pengembangan media pembelajaran audio visual mata pelajaran biologi kelas VIII semester II di SMPN 15 Malang / Maulana Andri Firmansyah

 

Kata kunci: Pengembangan, Media pembelajaran, audio visual, Biologi. Media audio visual merupakan gabungan antara suara dan rupa sehingga terbentuk media video. Media audio visual adalah merupakan media atau penggunaan materi dan penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. SMPN 15 Malang, sekolah yang akan dilaksanakannya pengembangan ini merupakan sekolah yang sistem pembelajarannya optimal terbukti dengan hasil belajar siswa yang memuaskan. Sekolah ini bukannya tidak memiliki permasalahan dalam proses pembelajaran, menurut observasi yang dilakukan, pembelajaran dikelas pada mata pelajaran biologi dengan materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga. Guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, ini membuat siswa salah persepsi mengenai materi yang ada dalam pembelajaran, karena materi prosedural yang mengenai sebuah proses butuh penjelasan secara detail. Adapun dengan media gambar yang terdapat dalam buku, gambar tidak dapat menunujukan secara detail proses awal sampai akhir dari materi pembelajaran tersebut, dengan itu hasil belajar siswa banyak yang dibawah standar ketuntasan minimal (SKM) yang ditetapkan sekolah. Materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga merupakan materi yang membutuhkan media gerak untuk dijelaskan dalam pembelajaran, semua terkait dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa dalam materi tersebut. Dengan itu pembelajaran ini memerlukan media audio visual, karena media audio visual merupakan media yang dapat menampilkan sebuah proses dan terdapat suara untuk menjelaskan proses tersebut. Adapun tujuan pengembangan adalah menghasilkan media pembelajaran audio visual yang teruji kevalidannya serta lebih efektif dalam membantu guru untuk memecahkan masalah pembelajaran dikelas dengan membuat siswa fokus memperhatikan penjelasan materi melalui media tersebut. Media pembelajaran audio visual ini dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan Sadiman yang terdiri dari 10 langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat pengukuran keberhasilan, (5) penulisan naskah, (6) produksi, (7) menyusun petunjuk pemanfaatan (8) uji coba, (9) revisi. (10) produk siap dimanfaatkan ii Pengembangan media pembelajaran audio visual ini dikembangkan di SMPN 15 Malang pada kelas VIII semester II mata pelajaran biologi dengan materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga. Pengambilan data pada pengembangan ini menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Kualitatif meliputi hasil validasi ahli media, ahli materi dan audien (siswa), adapun hasil validasi tersebut adalah: ahli media dengan persentase 82,5 %, ahli materi dengan persentase 80% dan audien (siswa) dengan persentase 82,4%. Sedangkan data kuantitatif meliputi hasil pre test dan post test, adapun hasil pre test dalam persentase 44,1% dan hasil post test dalam persentase 64,6%. Berdasarkan hasil data kualitatif diatas dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pembelajaran audio visual di SMPN 15 Malang dapat dikatagorikan layak dipergunakan dalam proses pembelajaran di kelas khususnya kelas VIII semester II mata pelajaran biologi dengan materi Reaksi Fotosintesis, Sistem Pernapasan Pada Manusia dan Vertebrata, Sistem Transportasi Pada Manusia, Bagian-bagian Bunga. Sedangkan menurut data kuantitatif diatas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran audio visual ini dapat dikatakan efektif karena terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Pengembangan disini mengalami sedikit kendala dalam melaksanakan pengembangan media audio visual yakni tampilan media audio visual banyak mengalami revisi, dan pemanfaatan media kurang maksimal dalam pembelajaran. Pengembang menyarankan bagi pengembang selanjutnya lebih mengkaji lagi pemilihan materi, pemilihan software untuk mengembangkan media audio visual berikutnya dan mampu memberikan tampilan media audio visual lebih layak dan sesuai dengan materi pembelajaran. Bagi guru sebelum menampilkan media audio visual harus memperhatikan petunjuk pemanfaatan dengan seksama. Seterusnya bagi siswa agar media pembelajaran audio visual ini dapat menjadi salah satu variasi proses pembelajaran dikelas.

Model pembelajaran dimensi tiga kelas III SMU / oleh Mahmud Yunus

 

Karakteristik bahasa remaja di Kelurahan Kutorejo Kecamatan Kota Tuban Kabupaten Tuban / oleh Munandar

 

Aktivitas pers mahasiswa Kota Malang tahun 1992-2002 / Mohamad Fahmi

 

Kata Kunci: aktivitas, pers mahasiswa, kota Malang Aktivitas pers mahasiswa kota Malang memiliki keunikan tersendiri. Dari awal tahun 1990an sampai 2000an terjadi beberapa peristiwa yang menjadi tonggak sejarah pers mahasiswa di kota Malang. Namun, dari waktu ke waktu berbagai peristiwa yang terjadi itu sudah tidak begitu diingat oleh penggiat pers mahasiswa saat ini, apalagi masyarakat luas. Minimnya transfer informasi dari para penggiat pers mahasiswa senior kepada juniornya merupakan satu sebab aktivitas pers mahsiswa tahun 1990an dan awal 2000an semakin dilupakan. Latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang aktivitas pers mahasiswa Kota Malang tahun 1992-2002. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana latar belakang proses berkembangnya pers mahasiswa di Kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002?, (2) Bagaimana aktivitas pers mahasiswa di Kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002?. Dari rumusan masalah yang ada, peneliti mempunyai tujuan sebagai berikut: Mendeskripsikan proses berkembangnya pers mahasiwa di kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002 dan mendeskripsikan aktivitas pers mahasiswa di Kota Malang pada tahun 1992 sampai 2002. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian sejarah. Metode ini memiliki 5 tahapan yaitu: (1) pemilihan topik, (2) heuristik, (3) verivikasi, (4) interpretasi, (5) historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa universitas-universitas besar di Malang baik negeri atau swasta memberikan ruang kepada penggiat-penggiat pers mahasiswa. Oleh karena itu pada awal tahun 1990an pers mahasiswa sudah tersebar di universitas-universitas Kota Malang. Seperti pers mahasiswa SiarHMP di IKIP Malang, Kavling 10, Indikator, Dianns, Solid, Manifest di Univeritas Brawijaya, Unit Aktifitas Pers Mahasiswa (UAPM) Inovasi di STAIN Malang, Mei di Universitas Islam Malang, Civitas di Universitas Merdeka Malang. Pers mahasiswa kota Malang pada tahun 1990 telah membuat wadah dalam lingkup kota Malang saja yaitu Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Kota Malang (FKPMM). Tahun 1992 adalah tahun kebangkitan pers mahasiswa Indonesia. Tahun kebangkitan ini ditandai dengan dideklarasikannya sebuah wadah bagi pers mahasiswa di kota Malang, tepatnya di Universitas Brawijaya dalam sebuah acara lokakarya pers mahasiswa Indonesia tanggal 15 sampai 18 Oktober 1992. Wadah itu bernama Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI). Acara ini dihadiri oleh 72 peserta yang merupakan perwakilan dari 37 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia. Aktivitas pers mahasiswa kota Malang bisa dikatakan pada awal-awal tahun 1990an adalah fase pembangkitan. Dengan ditandai hadirnya FKPMM dan PPMI. Dari wadah-wadah ini terjadi komunikasi dan pembentukan kultur pers mahasiswa di Malang. Tahun 1995 setelah terjadi kongres PPMI di Jember, pers mahasiswa di Malang turut mengalami perubahan. Salah satu sebabnya adalah perubahan nama PPMI dari “penerbit” menjadi “pers” sehingga menjadi Pehimpunan Pers Mahasiswa Indonesia. PPMI kemudian menginstruksikan kepada seluruh kota dan dewan kota yang menjadi anggota untuk mengganti nama penerbit menjadi pers. Eksistensi pers mahasiswa kota Malang mengalami perubahan setelah pergantian rezim pemerintahan di Indonesia. Kalau pada masa Orde Baru pers mahasiswa kota Malang eksistensi dan pengaruhnya dalam gerakan mahasiswa cukup besar namun tidak demikian setelah Indonesia mengalami reformasi. Pers mahasiswa di kota Malang turut mengalami depresi dan bahkan mengalami krisis sumber daya manusia. Meskipun demikian aktivitas pers mahasiswa kota Malang tidak menjadi padam. Pers mahasiswa kota Malang masih terus kelihatan aktif bahkan dengan adanya “gerakan media” pers mahasiswa kota Malang terus bersemangat belajar dan berkarya Penelitian selanjutnya diharapkan mampu menutupi penelitian ini baik dari segi data dan sumber. Tema seperti gerakan pers mahasiswa pada masa reformasi, sejarah pers mahasiswa di masing-masing kampus belum ada yang membahasnya sehingga kesempatan melakukan penelitian bertemakan pers mahasiswa masih terbuka lebar dan yang penting penelitian selanjutnya diharapkan mampu menutupi kekurangan dari penelitian ini.

Pengaruh pembelajaran dengan Lembar Kerja Siswa (LKS), motivasi belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi pada siswa kelas III cawu 3 di SMUN 1 Pakel Tulungagung tahun pelajaran 1999/2000 / oleh Teguh Wahyudi

 

Usaha-usaha penanggulangan kenakalan siswa pada kelas III SLTP 2 Prambon Nganjuk / oleh M. Maksum Daud

 

Pengaruh rasio likuiditas, rasio solvabilitas terhadap rasio profitabilitas banking, credits agencies other thanbank, securities yang listing di BEI sebelum dan sesudah krisis global 2008 / Alindra Yanuardi

 

Kata Kunci: Return on Asset, Return on Equity, Cash Ratio, Loan to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio, Long Term Debt to Asset Ratio, Sebelum dan Sesudah Krisis Global 2008. Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba disebut profitabilitas. Dalam upaya memperoleh laba, yang perlu diperhatikan adalah pengoptimalan operasional perusahaan dan efektivitas dalam menggunakan aktiva yang dimiliki perusahaan. Namun ada peristiwa penting yang perlu dicermati dan diperlukan tindakan pencegahan atau perbaikan terhadap kinerja perusahaan, yaitu krisis global. Krisis ekonomi global akan menyerang perusahaan lewat kondisi keuangan. Kekurangan dana atau uang akan menyebabkan likuiditas menurun sehingga perusahaan akan mengalami penurunan operasional dan akan menurunkan laba. Krisis global juga dapat menyebabkan beban bunga meningkat akibat adanya melemahnya kurs Rupiah terhadap US$, dan melemahnya ini diikuti meningkatnya jumlah hutang perusahaan yang berbentuk mata uang asing. Dan pada akhirnya akan mengurangi laba bersih perusahaan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rasio Likuiditas (cash ratio, loan to asset ratio), rasio solvabilitas (debt to equity ratio, long term debt to asset ratio) sebagai variabel independen dan variabel dependennya adalah rasio profitabilitas (return on asset, return on equity) Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi Rasio Profitabilitas, Rasio Likuiditas, dan Rasio Solvabilitas sebelum dan sesudah krisis global 2008. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh Rasio Likuiditas dan Rasio Solvabilitas terhadap Rasio Profitabilitas sebelum dan sesudah krisis global 2008 secara parsial. Bertujuan untuk mengetahui pengaruh Rasio Likuiditas dan Rasio Solvabilitas terhadap Rasio Profitabilitas sebelum dan sesudah krisis global 2008 secara simultan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan event study krisis global 2008. Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan indutri keuangan yang telah listing di BEI sejak 2007-2009 seperti Banking, Credits Agencies Other than Bank, Securities sebanyak 60 perusahaan. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling, dengan kriteria sampel perusahaan harus listing di BEI selama periode 2007-2009 dan perusahaan yang dijadikan sampel adalah perusahaan yang sebagian besar atau seluruh kegiatannya untuk memberikan kredit maka didapat 40 perusahaan sebagai sampel penelitian. Analisa data yang dilakukan terlebih dahulu adalah menganalisa laporan keuangan, selanjutnya mencari dan menganalisa rasio keuangan yang dijadikan variabel, setelah itu analisis regresi linier berganda dan bisa dilakukan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai return on asset dan return on equity sebelum krisis global 2008 mengalami kenaikan. Selain itu cash ratio dan loan to asset ratio pada sebelum krisis global 2008 juga mengalami kenaikan dari tahun 2007-2008. Sedangkan debt to equity ratio dan long term debt to asset ratio pada sebelum krisis global 2008 juga mengalami kenaikan dari tahun 2007-2008. Dari tahun 2008-2009 diketahui return on asset sesudah krisis global 2008 atau dari tahun 2008-2009 mengalami penurunan sedangkan return on equity sesudah krisis global 2008 mengalami kenaikan. Nilai cash ratio dan loan to asset ratio sesudah krisis global 2008 juga mengalami penurunan dari tahun 2008-2009. sedangkan debt to equity ratio mengalami penurunan dari tahun 2008-2009 dan long term debt to asset ratio sesudah krisis global 2008 juga mengalami kenaikan dari tahun 2007-2008. Rasio Likuiditas (cash ratio dan loan to asset ratio) berpengaruh signifikan terhadap return on asset sebelum dan sesudah krisis global 2008. Rasio Likuiditas (cash ratio dan loan to asset ratio) tidak berpengaruh signifikan terhadap return on equity sebelum dan sesudah krisis global 2008. Rasio solvabilitas (debt to equity ratio) berpengaruh signifikan terhadap return on asset sebelum dan sesudah krisis global 2008, sedangkan Rasio solvabilitas (long term debt to asset ratio) tidak berpengaruh signifikan terhadap return on asset sebelum dan sesudah krisis global 2008. Rasio solvabilitas (debt to equity ratio) berpengaruh signifikan terhadap return on equity sebelum dan tidak berpengaruh signifikan terhadap return on equity sesudah krisis global 2008, sedangkan Rasio solvabilitas (long term debt to asset ratio) tidak berpengaruh signifikan terhadap return on equity sebelum dan sesudah krisis global 2008. Secara simultan Rasio Likuiditas dan Rasio Solvabilitas berpengaruh signifikan terhadap return on asset sebelum dan sesudah krisis global 2008, dan secara simultan Rasio Likuiditas dan Rasio Solvabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap return on equity sebelum dan sesudah krisis global 2008. Saran yang bisa disampaikan antara lain kepada karyawan sebaiknya lebih peka terhadap apa yang terjadi dalam perekonomian perusahaan maupun global, karena itu dapat dijadikan tambahan dalam menentukan karir ke depannya di dalam perusahaan. Bagi perusahaan sebaiknya lebih waspada terhadap isu-isu dan gejala akan terjadinya kembali krisis ekonomi global. Bagi investor dan masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam menanamkan dananya di perbankan. Karena dana tersebut bisa dijadikan tambahan modal bagi perusahaan, dan apabila perusahaan tidak mampu mengembalikan dana tersebut maka dana yang sudah ditanamkan kemungkinan tidak akan kembali. Terlebih dengan adanya krisis ekonomi global yang pasti punya dampak besar bagi perusahaan. Bagi pemerintah diharapkan mampu membantu perusahaan dalam mempertahankan diri ketika terjadi krisis global utamanya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya dapat mengambil kriteria sampel yang lebih baik, supaya hasil penelitian bisa lebih akurat, signifikan, dan sesuai dengan teori yang ada.

Perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih pasangan ditinjau dari kelestarian hubungan cinta / Mar'atush Sholihah

 

Kata Kunci: Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Memilih Pasangan, Kelestarian Hubungan Cinta Putusnya hubungan cinta saat masih pacaran dan kasus-kasus perceraian merupakan ketidakcocokan yang bersumber dari kesalahan memilih pasangan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih pasangan, mengetahui besar sumbangan masing-masing faktor, mengetahui perbedaan faktor-faktor antara hubungan cinta selama 1 tahun, 3 tahun dan pasangan yang sudah menikah, dan mengetahui perbedaan faktor-faktor antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Cross-Sectional. Data penelitian berupa data kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa skala yaitu Skala Memilih Pasangan. Variabel bebas penelitian ini ialah lamanya hubungan cinta dan jenis kelamin dan variabel terikatnya ialah pengambilan keputusan memilih pasangan. Sampel penelitian ialah 100 mahasisiwa Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Malang, yang berusia 19-24 tahun. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 4 kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama diketahui terdapat 5 faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih pasangan. Meliputi faktor keamanan, faktor keintiman, faktor kesamaan, faktor kedekatan dan faktor asertif. Kedua, Masing-masing faktor hasil analisis faktor memberikan sumbangan terhadap PKMP. Faktor keamanan memberikan total sumbangan 25.122 %, faktor keintiman memberikan total sumbangan 10.961 %, faktor kesamaan memberikan total sumbangan 9.437 %, faktor kedekatan memberikan total sumbangan 5.418 %, faktor asertif memberikan total sumbangan 4.735 %. Ketiga, tidak ada perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi PKMP antara hubungan cinta selama 1 tahun, 3 tahun dan pasangan yang sudah menikah. Keempat, tidak ada perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi PKMP antara jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. Disarankan kepada pasangan, sejak mulai berpacaran untuk lebih dahulu mempertimbangkan dengan matang faktor-faktor apa saja dalam memilih pasangannya. kepada peneliti selanjutnya, untuk menyempurnakan penelitian agar dapat menjelaskan 45.327% varian yang tidak tercover oleh penelitian ini.

Pengembangan model pemanasan senam lantai untuk siswa SMP Negeri se Kota Malang oleh Antonius Dodi Windanto

 

Analisis kemampuan proses sixpack weibull studi kasus bobot benang sliver di PT. Industri Sandang Nasantara Lawang / Eva Widiyana

 

ABSTRAK Widiyana, Eva. 2009. Analisis Kemampuan Proses Sixpack Weibull Studi Kasus Bobot Benang Sliver Di PT. Industri Sandang Nusantara Lawang. Skripsi, Program Studi Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Hendro Permadi, M.Si (II) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: pengendalian kualitas statistik, distribusi Weibull, analisis kemampuan proses sixpack Weibull. Pengendalian kualitas statistik merupakan metode statistik untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam menentukan dan mengawasi kualitas hasil produksi.Pengendalian kualitas dapat menggunakan analisis grafik pengendali dan analisis kemampuan proses statistik dengan cara menguji distribusi data terlebih dahulu. Apabila disribusi data tidak memenuhi asumsi normal, maka salah satu pendekatan distribusi yang dapat diterapkan adalah pendekatan distribusi Weibull. Analisis kemampuan proses sixpack Weibull merupakan suatu solusi dalam menyelesaikan masalah pengendalian mutu produksi dalam suatu perusahaan. Analisis ini menampilkan enam grafik yang menggambarkan sebaran dari data-data yang diperoleh yaitu Individual Chart or Chart, Moving Range Chart, R Chart atau S Chart, Capability Histogram, Weibull Probability Plot, Capability Plot. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui proses produksi kualitas benang sliver menggunakan grafik pengendali distribusi Weibull dan analisis kemampuan proses sixpack Weibull sesuai dengan batas spesifikasi dari perusahaan. Hasil Overview Plot distribusi Weibull menunjukkan parameter skala = 365,512 dan parameter bentuk = 131,635. Grafik pengendali distribusi Weibull mempunyai batas-batas yaitu UCL = 374,51; CL = 363,93; LCL = 353,35. Hasil analisis kemampuan proses bobot benang sliver terkendali secara statistik dan prosesnya kurang baik, namun rata-rata hasil proses berada dalam batas spesifikasi dan sebagian di luar batas spesifikasi. Nilai Pp = 0,53 yang menunjukkan bahwa proses berjalan kurang baik dan nilai Ppk = 0,37 yang menunjukkan sebagian dari variasi proses berada di luar batas-batas yang telah ditentukan perusahaan. Hasil Expected Overall Performance menunjukkan bahwa nilai PPM < LSL = 70005,3. Hal ini berarti bahwa produk yang berada di luar batas spesifikasi bawah (LSL) 70005,3 unit per 1.000.000 produk yang dihasilkan. Sedangkan nilai PPM > USL = 2088,4, yang berarti bahwa produk yang berada di luar batas spesifikasi atas (USL) 2088,4 unit per 1.000.000 produk yang dihasilkan. PPM Total = 72093,7, yang berarti bahwa produk yang berada di luar batas spesifikasi bawah maupun atas (LSL dan USL) 72093,7 unit per 1.000.000 produk yang dihasilkan.

Perancangan dan perakitan pembangkit listrik tenaga surya 50 watt peak / Denny Muhammad Al Fitrah

 

Kata Kunci: PLTS, Renewable Energy, . PLTS atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya adalah peralatan pembangkit listrik yang merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar Photovoltaic, atau Solar Energy. Dengan konsep yang sederhana yaitu mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik yang mana cahaya matahari adalah salah satu bentuk energi dari Sumber Daya Alam. Cahaya matahari sudah banyak digunakan untuk memasok daya listrik di satelit komunikasi melalui sel surya. Sel surya ini dapat menghasilkan energi yang tidak terbatas langsung diambil dari matahari, tidak memerlukan bahan bakar. Sehingga sel surya sering dikatakan bersih dan ramah lingkungan. Renewable Energy atau Energi baru dan yang terbarukan mempunyai peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan energi. Hal ini disebabkan penggunaan bahan bakar untuk pembangkit-pembangkit listrik konvensional dalam jangka waktu yang panjang akan menguras sumber minyak bumi, gas dan batu bara yang makin menipis dan juga dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Salah satunya upaya yang telah dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Pada tugas akhir ini akan membahas mengenai apa itu PLTS, bagaimana merancang sistem PLTS sesuai dengan kebutuhan, bagaimana merakit PLTS, dan melakukan uji pembebanan PLTS. Adanya tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai PLTS dan bagaimana PLTS itu bekerja. Dari hasil pengujian dan pembahasan “Perancangan dan Perakitan Pembangkit Listrik Tenaga Surya” Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang telah dirancang dengan spesifikasi panel surya 50 WP, solar charge controller SDDC 12-10A, inverter 500 W/220VAC serta baterai 65 Ah 12V telah berhasil diuji coba. PLTS ini juga dilengkapi dengan indikator tegangan yang dihasilkan panel surya dan tegangan output inverter. Berdasarkan hasil pengujian PLTS ini mampu menghasilkan rata-rata daya sebesar 311,19 W pada keadaan cuaca cerah.

Penggunaan penanda kohesi antarkalimat dalam penyusunan paragraf oleh mahasiswa S1 1984 jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indoensia FPBS IKIP Malang tahun akademik 1985 - 1986
oleh Roekhan

 

Pengembangan multimedia interaktif untuk memproduksi teks negosiasi siswa SMA/MA / Ervina Rufiana Wati

 

ABSTRAK Wati, Ervina Rufiana. 2015. PengembanganMultimedia Interaktif untuk Memproduksi Teks Negosiasi Siswa SMA/MA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd, (II) Drs. Dwi Saksomo, M.Si. Kata kunci: multimedia interaktif, keterampilan memproduksi, teks negosiasi Seiring dengan perkembangan dunia teknologi informasi yang maju, kini telah diperkenalkan adanya multimedia yang digunakan untuk membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini karena multimedia dapat menggabungkan aspek visual dan audio. Salah satu program komputer yang dapat dijadikan sarana untuk mengembangkan media pembelajaran adalah Adobe Flash, yaitu program animasi profesional yang berguna untuk melatih kemampuan siswa dalam memahami, memproduksi, dan melakukan negosiasi melalui tayangan video yang disajikan dalam media. Pembelajaran memproduksi teks negosiasi mengajarkan siswa untuk aktif dan kreatif dalam berkarya. Selain memproduksi teks, kemampuan siswa dalam praktik bernegosiasi dapat diasah dengan baik. Kegiatan ini dapat mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan menanamkan pendidikan karakter dalam diri siswa. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk (1) menghasilkan multimedia interaktif memproduksi teks negosiasi yang menarik dari segi tampilan, pilihan warna, dan isi media dan (2) mudah dan layak dari segi tinjauan kurikulum, isi materi, dan kemanfaatan media dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang diadaptasi dari model penelitian dan pengembangan Sadiman, Raharjo, & Haryono (2012). Berdasarkan model tersebut, terdapat delapan tahap prosedur penelitian dan pengembangan, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi pembelajaran, (4) perumusan alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media, (6) tes/uji coba, (7) revisi, dan (8) produk akhir. Uji coba produk dilakukan melalui empat tahapan, yaitu (1) uji kepada ahli materi, (2) uji kepada ahli media, (3) uji kepada praktisi (guru bahasa Indonesia), dan (4) uji kepada siswa (terdiri dari 12 orang siswa). Instrumen pengambilan data uji coba menggunakan pedoman wawancara dan angket. Berdasarkan hasil uji coba ini diperoleh data kuantitatif dalam bentuk skor penilaian dan data kualitatif berupa komentar dan saran perbaikan.Data yang telah diperoleh dari hasil uji coba dianalisis dengan mendeskripsikan (1) kemenarikan produk multimedia interaktif melalui validasi analisis rata-rata nilai dari ahli media dan siswa, dan (2) kelayakan produk multimedia interaktif melalui validasi analisis nilai rata-rata dari ahli media, praktisi, dan siswa. Perbaikan multimedia interaktif dilakukan berdasarkan komentar dan saran perbaikan dari ahli materi, ahli media, praktisi, dan siswa. Multimedia interaktif ini terdiri atas85 tampilan (slide) yang menyajikan tiga kompetensi dasar pembelajaran memproduksi teks negosiasi, meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan. Pada aspek pengetahuan terdapat kompetensi dasar memahami teks negosiasi, sedangkan aspek keterampilan terdapat kompetensi dasar memproduksi dan menyunting teks negosiasi. Multimedia interaktif ini menyajikan langkah-langkah pembelajaran pada setiap kompetensi dasar, dan dilengkapi dengan soal evaluasi yang terdiri atas sepuluh soal pilihan ganda untuk menguji pemahaman siswa terhadap pembelajaran teks negosiasi. Berdasarkan uji coba multimedia interaktif kepada ahli materi, ahli media, praktisi, dan siswa, diperoleh hasil bahwa multimedia interaktif ini layak digunakan sebagai media pembelajaran oleh guru dan siswa. Dilihat dari tingkat kelayakan multimedia diperoleh nilai rata-rata 84,3%, sedangkan dilihat dari tingkat kemenarikan multimedia diperoleh nilai rata-rata 87,6%. Meskipun multimedia ini tergolong layak dan dapat diimplementasikan, perolehan data kualitatif berupa komentar dan saran perbaikan dalam angket tetap menjadi pedoman untuk memperbaiki multimedia interaktif ini. Multimedia interaktif memproduksi teks negosiasi ini dapat digunakan oleh guru sebagai pendamping dalam menyampaikan materi memproduksi teks negosiasi. Sebagai langkah pemanfaatan multimedia interaktif, guru disarankan mampu menggunakan multimedia interaktif ini agar dapat mendampingi siswa saat belajar menggunakan multimediadengan baik. Siswa pun dapat memanfaatkan multimedia interaktif ini secara mandiri untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang teks negosiasi. Produk multimedia interaktif ini dikemas dalam bentuk CD (Compact Disk)sehingga dapat dengan mudah digunakan sebagai multimedia yang menarik dan menyenangkan.

KWh meter digital dengan output display rupiah / Abdurrohman Mukti

 

Kata Kunci: kWh meter, Sensor, Mikrokontroler, LCD, Biaya listrik. kWh meter merupakan alat ukur pemakaian energi listrik yang sudah umum dipakai oleh pelanggan listrik. Pelanggan listrik tersebut melingkupi berbagai instansi maupun perumahan, baik rumah tangga, gedung perkantoran, industri dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi listrik sangat tinggi terlebih sekarang semakin banyak pendirian bangunan rumah-rumah atau gedung baru yang tentunya akan menambah jumlah kebutuhan listrik. kWh meter yang masih umum digunakan sekarang adalah kWh meter analog. kWh meter digital sudah ada namun pemakaianya belum tersebar pada lapisan masyarakat. Pada perancangan kWh meter digital dalam Tugas Akhir berikut merupakan pengembangan dari kWh meter yang sudah ada sebelumnya. kWh meter digital yang sebelumnya masih menggunakan sensor untuk mendeteksi putaran piringan pada kWh meter analog, atau masih mengunakan trafo arus dan resistor shunt untuk mendeteksi arus, namun perancangan kWh meter berikut menggunakan sensor arus ACS712 dengan Hall efect. Sensor arus ACS712 tersedia dalam bentuk chip kecil dan mampu mendeteksi arus mencapai maksimal 5 ampere. Sedangkan rangkaian lain yang digunakan adalah rangkaian mikrokontroller AVR Atmega8, RTC DS1302, keypad 4x4 dan layar LCD M1632. Pinsip kerja dari kWh meter digital yaitu: Proses awal dimulai dengan mendeteksi arus yang berasal dari jala-jala listrik. Lalu sinyal keluaran dari sensor arus akan berubah menjadi tegangan DC dilanjutkan masuk ke ADC mikrokontroller untuk dikonversi dari sinyal analog menjadi sinyal digital. Sinyal digital tersebut lalu diproses oleh mikrokontroler dan ditampilkan ke LCD berupa nilai energi listrik, disertai biaya pemakaiannya, jam dan tanggal pemakaian. Hasil dari pengukuran pada beban 40 watt dan 100 watt didapatkan bahwa alat ini sudah dapat berjalan dengan baik yaitu dengan berubahnya nilai daya listrik tiap menitnya. Setiap terjadi perubahan daya akan diikuti oleh perubahan tarif listriknya. Nilai tarif yang diperoleh sudah sesuai dengan nilai daya yag ditunjukan dikalikan TDL yang ditetapkan oleh PLN, dalam hal ini yaitu Rp 900. Alat ini akan memberikan kemudahan bagi pelanggan listrik. Karena pihak pelanggan langsung dapat mengetahui berapa biaya energi pemakaian listriknya dalam suatu waktu tertentu. Untuk melihat biaya pemakaian energi listrik tidak harus menunggu sampai akhir bulan. Jadi setiap peningkatan jumlah daya maka biaya listrik juga akan ikut meningkat. Hal ini akan memberi kemudahan bagi petugas PLN dalam mencatat biaya listrik pelanggan, begitu halnya bagi pihak pelanggan akan mempermudah dalam pembacaan kWh meternya.

Kemampuan siswa kelas II SMA Islam Batu Malang tahun ajaran 1989/1990 dalam mengembangkan paragraf
oleh Sujarno

 

Pengaruh budaya organisasi dan keterlibatan kerja terhadap kinerja karyawan bagian agen pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota / Cindera Fatikha

 

ABSTRAK Fatikha, C. 2015. Pengaruh Budaya Organisasi dan Keterlibatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan Bagian Agen Pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Budi EkoSoetjipto, M.Ed., M.Si. (II) Elfia Nora, S.E., M.Si. Kata Kunci: Budaya Organisasi, Keterlibatan Kerja, dan Kinerja Karyawan. Kinerja karyawan adalah hasil seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya yang menjadi tanggungjawabnya dalam rangka mencapai tujuan perusahaan dalam periode waktu tertentu.Kondisi objektif kinerja karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota masih kurang, hal ini disebabkan oleh pencapaian target yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kondisi budaya organisasi, keterlibatan kerja dan kinerja karyawan bagian agen pada PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang kota. (2) Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota. (3) Pengaruh keterlibatan kerja terhadap kinerja karyawan PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota. (4) Pengaruh budaya organisasi dan keterlibatan kerja secara simultan terhadap kinerja karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota sejumlah 140 karyawan. Penentuan sampel menggunakan teknik proportionate stratified random samplingdan diperoleh 100 karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota. Teknik pengumpulan data menggunakan metode kuesioner, dokumentasi, dan observasi. Data dianalisa menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang diterapkan oleh karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota berada pada kriteria sangat kuat, keterlibatan kerja dan kinerja karyawan berada pada kriteria tinggi. Budaya organisasi dan keterlibatan kerja secara simultan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial budaya organisasi dan keterlibatan kerja memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan kepada karyawan bagian agen PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) Kantor Cabang Malang Kota berkaitan dengan kinerja karyawan agar lebih berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kinerja karyawan, berkaitan dengan budaya organisasi lebih aktif mengadakan diskusi yang berhubungan dengan pekerjaan, dan yang berkaitan dengan keterlibatan kerja agar lebih bisa memotivasi diri sehingga lebih semangat dalam melakukan pekerjaan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menambah variabel lainnya seperti kepuasan kerja, stres kerja, dan komitmen organisasional agar penelitian menjadi lebih menarik dan lebih berkembang untuk diteliti.

Perbedaan kemandirian antara siswa yang berasal dari keluarga utuh dengan siswa yang berasal dari keluarga berstatus orangtua tunggal di SMU Negeri Tumpang / Candra Darmawati

 

PeneIi ti ani ni men gungkapp erbedaanke mandirai np adaa is wa y angb erasadl ari duak ondisis trukturk eluargey angb erteda Kondisi struktrr kelumgay angd imaftsud adalahk eluargau tuh dimanaa nggotak eluarganyam asihl engkapy aitu anakt inggal dengank eduao rangt rmnyad ank eluargay angb erstatuso rangt uatunggaly aitu anak tinggalh anyad engana yahnyas 4jaa laua nakt inggald enganib unyas ajq hal ini diakibatkank arenaperceraiuar taus alahs atuo rangt uurya telahm eninggalK. ondisi stsukhrk eluargay angb erbedaa kanm emberikanp engaruhp adap erkembangamn ak yangb erbedap ulat ermasukp adap orkembangakre mandirian. Penelitianin i bertujuanu ntukm engetahubi agaimanatin gkatk emandiriurs iswa yzngb erasadl ari keluargau tuh dans isway angb erasald ari koluargay angb erstafus orangtu at unggalS. elainit ujugau ntukm engetahuaip akala dap erbedaan kemandirialp adas iawayangb erarald mi duakondisis kukturk elurgayang berbeda tersebut. Untukm emperolehd atat entangk eadannk ondisis trukturk eluargas iswa digunakante knikd okumentasis, edangkand atak emandirians iswad igunakana agket, Sampepl enelitians iswadarik eluargab erstutuso rangtuatunggadl igunakante knik purposives amplings, edangkasna mpesl iswadarik eluargautuhd igunakante knik randoms amplingT eknik analisisy angd igunakana dalahp rosentasere, ratad anu ji t Dari anails is datad iperoel hh asIi peneilt i ans ebagabi eriku: Dari 40 respondesni swayangberasadla rik eluargaututhe rdapaIt' 7,5o/oR. espondon beradap adat ingkatk emandiriany angt inggi, 65 % beradapadatingkaste dangd an 17,5o/boe radapadatingkatrendaShe.d angkadnm i4Ar espondensisuayangberasal dari keluargab erstatuso rangt ua tunggd terdapat\ 7 ,5 o/or espondebno radap ada tingkalk emandirianti nggi, 70 % beradapadatingkaste dangd an 12,5o /ob eradapada tingkatr endahS, edangkahna sil analisisa ntark-e lornpokc lenganru musu ji t mengungkapkabna hwatidqkt erdapapt erbeda.akne mandirianantara,siswayang berasadl ari kelurga berstatuso rangt uat unggal. Dari hasilp enelitianin i disarankana garp ihak orangt ua lebih membiasakan anaknyau ntukb ertindaka taub ersikapa tasd asari nisiaiifsnndiri.U ntuk pengembangpaenn elitians elanjutnynan tukm emperluassa rnpedl anp opulasdi an untukI ebilru remperlratikadna luu penyebarura ngl

Pengaruh blended learning berbasis schoology dan kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar mata pelajaran pemeliharaan kelistrikan kendaraan ringan di kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja / Vincentius Tjandra Irawan

 

ABSTRAK Irawan, Vincentius Tjandra. 2016. Pengaruh Blended Learning Berbasis Schoology dan Kemampuan Awal Siswa terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan di Kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Eddy Sutadji, M.Pd, (II) : Dr. Widiyanti, M.Pd. Kata Kunci : Blended Learning, Schoology, Kemampuan Awal, Hasil Belajar Sekolah Menengah Kejuruan merupakan penyedia teknisi madya terbesar di Indonesia. Mayoritas pelajaran yang diberikan di SMK adalah praktikum. Pada kenyataannya, guru pada Mata Pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja memberikan 70% materi teori dan 30% praktikum pada siswa. Hal ini disebabkan kemampuan awal yang dimiliki siswa masih rendah, guru khawatir akan hasil belajar yang tidak memenuhi KKM, sehingga difokuskan pada pemberian teori agar hasil belajar memenuhi KKM. Blended Learning berbasis Schoology hadir sebagai solusi untuk memberi teori tambahan di luar jam pelajaran sekolah, sehingga pertemuan teori dapat dikurangi dan diganti praktikum. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu dengan the nonequivalent control group design. Subjek penelitian berjumlah 64 siswa, 30 siswa XI TKR 1 sebagai kelas treatment, dan 34 siswa XI TKR 2 sebagai kelas nontreatment. Kemampuan awal didapat dengan memberi prates, dan hasil belajar didapat dengan memberi postes. Instrumen yang digunakan adalah tes multiple choice. Data pada penelitian dianalisis menggunakan SPSS versi 17 for windows. Teknik analisis data yang digunakan adalah ANAVA dua jalan. Hasil penelitian adalah (1) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa dengan model Blended Learning berbasis Schoology dan siswa dengan model Problem Based Learning (sig p = 0,000 <α = 0,05), (2) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa dengan kemampuan awal tinggi, siswa dengan kemampuan awal sedang, dan siswa dengan kemampuan awal rendah (sig p = 0,000 <α = 0,05), dan (3) tidak terdapat interaksi antara model pembelajarandan kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar kelas XI TKR SMK Negeri 3 Singaraja Mata Pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan (sig p = 0,196 >α = 0,05).

Karakteristik teks prosedur kompleks karya siswa kelas X SMK PGRI 2 Malang tahun pelajaran 2014/2015 / Shinta Okta Selvi O.

 

ABSTRAK Selvi, ShintaOkta. 2015. KarakteristikTeksProsedurKompleksKaryaSiswaKelas X SMK PGRI 2 Malang Tahun Pelajaran 2014/2015.Skripsi, JurusanSastra Indonesia, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.EndahTri Priyatni, M.Pd, (II) Dr. MuakibatulHasanah, M.Pd. Kata Kunci: teks prosedur kompleks, kaidah, karakteristik teks prosedur kompleks Teks prosedur kompleks merupakan teks yang memberikan petunjuk untuk melakukan atau menggunakan sesuatu dengan langkah-langkah yang urut. Teks prosedur kompleks ditata dengan struktur isi dan ciri bahasa. Yang dimaksud struktur isi di sini, yaitujudul, tujuan, bahan/alat, dan tahapan/prosedur. Adapun ciri bahasa, yaitu penggunaan kata kerja yang menunjukkan perintah, penggunaan penomoran atau kata sambung yang menyatakan tahapan atau urutan, dan penggunaan kata/frase/kalimat yang menjelaskan kondisi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan teks prosedur kompleks karya siswa kelas X SMK PGRI 2 Malang, yaitu mendeskripsikan struktur isi teks prosedur kompleks karya siswa dan mendeskripsikan ciri bahasa teks prosedur kompleks karya siswa. Penelitianinimenggunakanrancanganpenelitiandeskriptifkualitatif.Data penelitianiniberupahasil karya teksprosedurkomplekssiswakelas X SMK PGRI 2 Malang.Data penelitianinidiperolehmelaluitestulis yang berupapenugasan atau memberikan soal kepada siswa untuk menulisteks prosedur kompleks dengan prosedur dan LembarKerjaSiswa(LKS).Langkah-langkahanalisis data padapenelitianiniadalahsebagaiberikut:(1) membaca teks prosedur kompleks karya siswa, (2) mengidentifikasidanmengklasifikasi data yang telahdikumpulkanberdasarkanpedomananalisis, dan (3) memasukkanhasil yang diperolehkedalamtabel hasilanalisis. Uji keabsahan data dalam penelitian iniyang dilakukanolehpeneliti dengan ketekunan membaca. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa karakteristik teks prosedur kompleks karya siswa kelas X SMK PGRI 2 Malang tahun pelajaran 2014/2015 pada aspek strukturisiteksprosedurkompleksadaempat bagian, yaitujudul, tujuan, bahan/alat, dantahapan/prosedur. Bagian judul pada teks prosedur kompleks pada karya siswa mempunyai empat variasi pola, yaitu judul diawali dengan frase(a) cara membuat (16 siswa), (b) cara mengurus (1 siswa), (c) cara melakukan(1 siswa), dan (d) daur ulang(2 siswa). Bagian tujuan mempunyai tiga variasi pola, yaitu ada yang menggunakan kata motivasi, tidak menggunakan kata motivasi, dan penulisan formal. Bagian bahan/alat siswa mempunyai dua variasi pola, yaitu mencantumkan ukuran/takaran pada bahan dan tidak mencantumkan ukuran/takaran. Bagian tahapan/prosedur mempunyai empat variasi pola, yaitu menggunakan penomoran dengan angka(1,2,3), kata yang menunjukkan urutan (pertama, kedua, ketiga), simbolbullet(-), dan variasi yang diawali dengan kata kerja perintah(siapkan, aduklah, tiriskan). Pada aspek ciri bahasateksprosedurkompleks tiga bagian, yaitu penggunaan kata kerja yang menunjukkanperintah(semuamenggunakannya). Penggunaanpenomoran atau kata keterangan petunjuk yang menyatakantahapan yang meliputi tigavariasipola, yaitupenggunaannomor(14 siswa),penggunaan kata (2 siswa), danpenggunaansimbol lain(5 siswa). Penggunaan kata/frase/kalimatsudahmenjelaskankondisiuntukmenggambarkanaktivitas yang harusdilakukandenganbenar. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru Bahasa Indonesia untuk melakukanperbaikanpembelajaranmenulisteksprosedurkompleks, khususnyapada strukturisi, yaitu judul, tujuan, bahan/alat, dan tahapan/prosedur agar siswalebihmemahamidanterampildalammenulisteksprosedurkompleksdenganbenardanlengkap. Hal tersebutdapatdilakukanpendalamanmateri, pemberiananeka variasi contoh, danlatihan.Siswa dalam membuat judul yang menarik untuk dibaca, membuat tujuan penulisan yang memotivasi pembaca, membuat bahan/alat dengan rinci agar pembaca dapat melakukan dengan sesuai, dan membuat tahapan/prosedur dengan urut memudahkan pembaca dalam membuat sesuatu. selanjutnya, meminta siswauntukmenyuntingtulisan.Disarankankepada penelitiselanjutnyamelakukanpenelitianpadaaspeklainterkaitdenganteksprosedurkompleks.  

Studi pewarnaan alami kulit pisang raja nangka (Musa paradisiaca linn) menggunakan fiksator tawas, tunjung, dan jeruk nipis pada kain katun ATBM / Noviary Sulistyo

 

ABSTRAK Sulistyo, Noviary. 2015. Studi Pewarnaan Alami Kulit Pisang Raja Nangka (Musa Paradisiaca Linn) Menggunakan Fiksator Tawas, Tunjung, dan Jeruk Nipis pada Kain Katun ATBM. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Nurul Hidayati, S.Pd, M.Sn, (II) Dra. Hapsari Kusumawardani, M.Pd. Kata Kunci: Pewarnaan alami, Kulit pisang (Musa Paradisiaca Linn), Fiksator, Tawas, Tunjung, Jeruk Nipis. Kulit pisang Raja Nangka (Musa Paradisiaca Linn) merupakan jenis kulit pisang yang banyak ditemukan di Kota Kediri sebagai limbah dari home industry gethuk pisang. Limbah kulit pisang raja Nangka dapat diolah sebagai bahan pewarna tekstil yang memiliki serat kapas seperti yang banyak dipakai pada kain katun ATBM di Industri tenun ikat di Kediri. Agar zat warna alam kulit pisang dapat terserap dengan baik maka diperlukan zat pembangkit seperti tawas, tunjung, dan jeruk nipis. Fungsi zat pembangkit selain untuk memperkuat daya serap zat warna ke dalam kain adalah untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan dari zat warna alam kulit pisang. Untuk mengetahui arah warna yang dihasilkan perlu dilakukan pengamatan terhadap kain hasil pencelupan. Pengamatan dapat dilakukan secara visual (organoleptik), yaitu dengan mencocokkan kain hasil pencelupan dengan nama-nama warna untuk kain dalam Colour card fabric cotton. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Obyek penelitian ini adalah kain katun ATBM hasil pencelupan zat warna alam kulit pisang menggunakan fiksator tawas, tunjung, dan jeruk nipis. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah memaparkan hasil pengamatan visual (organoleptik) kain hasil pencelupan zat warna alam kulit pisang menggunakan fiksator tawas, tunjung, dan jeruk nipis. Berdasarkan analisis data, hasil penelitian pencelupan zat warna alam kulit pisang menggunakan fiksator tawas, tunjung, dan jeruk nipis dengan metode 10 kali celup-fiksasi menunjukkan bahwa:(1) Warna utama yang dihasilkan oleh kulit pisang adalah solid honey (2) Melalui proses fiksasi yaitu: fiksator tawas menghasilkan warna solid khaki, fiksator tunjung menghasilkan warna solid midnight, fiksator jeruk nipis menghasilkan warna solid khaki. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ini, terdapat beberapa saran untuk penelitian lain yaitu (1) perlu dikembangkan zat warna alam kulit pisang menggunakan metode lain, misalnya dengan cara distilasi (penguapan) (2) Mencoba menggunakan fiksator lain, misalnya gula jawa, kapur, soda kue, daun jambu biji, serta cuka (3) Melakukan variasi jumlah konsentrasi larutan fiksator (4) Menggunakan bahan sutera untuk mengetahui perbedaan hasil warna untuk dibandingkan dengan katun. (5) Melakukan pengujian-pengujian ketuaan warna dan ketahanan luntur warna.

Sistem proteksi terhadap tegangan lebih pada gardu trafo tiang 20 KV / Moh. Ishak

 

SISTEM PROTEKSI TERHADAP TEGANGAN LEBIH PADA GARDU TRAFO TIANG 20KV Moh.Ishak Abstrak: Gangguan tegangan lebih sering terjadi pada gardu trafo tiang yang biasanya diakibatkan dua hal yang pertama dikarenakan surja petir/sambaran petir dan yang kedua akibat surja hubung/pemutusan beban. Jika gangguan ini tidak diperoteksi maka gangguan ini akan merusak peralatan gardu trafo tiang sehingga gardu tarfo tiang ini tidak dapat menyalurkan daya ke konsumen ini karena pada peralatan gardu trafo tiang mempunyai batas minimum dan batas maksimum terhadap tegangan lebih . Dalam pembahasan ini akan mengambil permasalahan tegangan tengan lebih akibat surja petir dimana tegangan lebih ini dibagi menjadi dua yaitu sambaran petir langsung dan sambaran petir tak langsung untuk memproteksi ini memerlukan peralatan proteksi yaitu untuk gangguan sambaran petir langsung alatnya kawat tanah/groundwire sedangkan gangguan sambaran petir tak langsung alatnya Arrester/lightining Arrester , peralatan diatas mempunyai funsi masing-masing dan juga tempatnya berbeda oleh karena itu perlu adanya sebuah sistem proteksi untuk mengatasi gangguan petir langsung maupun tak langsung. Rumusan masalah ini meliputi : 1. Bagaimana merancang sistem proteksi terhadap tegangan lebih menggunakan Arrester dan Kawat Tanah pada gardu trafo tiang?; 2. Bagaimana merancang sistem proteksi berdasarkan SOP Arrester dan kawat tanah?; 3. Bagaiman analisa tegangan lebih yang ditimbulkan oleh surja petir menggunakan peralatan proteksi Arrester dan Kawat Tanah pada gardu trafo tiang dengan simulasi program Matlab 6.1?. Metode ini meliputi:1. Data nilai tegangan dasar Arrester dan pelepasan Arrester dan analisa tegangan lebih menggunakan Matlab 6.1, 2. Data SOP pemasangan Arrester dan kawat, 3. Data perhitungan sambaran langsung dan sambaran tak langsung pada kawat tanah menggunakan program Matlab 6.1. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi Matlab 6.1, dapat disimpulkan; 1. Dari hasil perhitungan rumus tegangan dasar Arrester dan tabel karekteristik kerja Arrester didapat 139 kV sedangkan hasil perhitungan simulasi matlab didapat tegangan pelepasan Arrester 120 kV ini dikeranakan adanya pengaruh sistem pentanahan, untuk tegangan pelepasan diatas 120 kV masih aman bagi trafo karena tidak melebihi dari BIL Trafo 20 kV yaitu 150 kV, 2. untuk perhitungan sambaran tak langsung dengan saluran kawat tanah diperoleh 38,5663 gangguan per 100 km per tahun dan tanpa kawat tanah 61,8648 gangguan per 100 km per tahun ini dikarenakan saluran kawat tanah mempunyai factor perisaian, 3. perhitungan sambaran langsung dengan tiang yang diketanahkan diperoleh 30,2134 gangguan/100km/tahun dan tiang yang tidak diketanahkan diperoleh 36,5526 gangguan/100km/tahun ini dikarenakan pengaruh tahanan kontak tiang pada tiang diketanahkan lebih rendah daripada tahanan kontak tiang yang tidak diketanhkan, 4.SOP Arrester : Arrester sedapat mungkin dipasang pada titik percabangan dan pada ujung-ujung saluran yang panjang, baik saluran utama maupun saluran percabangan, jarak Arrester yang satu dan yang lain tidak boleh lebih dari 500 meter sedangkan SOP kawat tanah: Pada tengah gawang kawat tanah harus mempunyai jarak yang cukup di atas kawat fasa untuk mencegah terjadinya loncatan api. Kata kunci: sistem proteksi, tegangan lebih, Arrester dan kawat tanah/ groundwire.

Pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah (Studi kasus terhadap siswa SMP Negeri 4 Malang) / Luki Pramita Dewi

 

Kata Kunci: Pelaksanaan, Budaya Demokrasi, Sekolah Sekolah merupakan tonggak dasar penanaman budaya demokrasi bagi generasi penerus bangsa, karena di sinilah mereka bertemu dengan berbagai macam pikiran-pikiran, watak, karakter, budaya, dan agama. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran utama dalam menumbuhkan budaya demokrasi di kalangan pelajar. Oleh karena itu, sekolah harus menampilkan budaya demokratis dalam pengelolaan pendidikannya. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mendeskripsikan pemahaman siswa mengenai konsep demokrasi, (2) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah, (3) Untuk mendeskripsikan faktor pendukung pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah, (4) Untuk mendeskripsikan faktor penghambat pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah, (5) Untuk mendeskripsikan solusi dalam mengatasi faktor penghambat pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan jenis penelitian kuantitatif dan kualitatif deskriptif. Penelitian kuantitatif digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep demokrasi sedangkan penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk mengetahui pelaksanaan, faktor pendukung, faktor penghambat, dan solusi budaya demokrasi di sekolah. Subjek penelitiannya adalah siswa SMPN 4 Malang. Adapun tahapan pengumpulan data yang dipergunakan adalah angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan resuksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) Pemahaman siswa terhadap konsep demokrasi secara umum tergolong baik. (2) Pelaksanaan budaya demokrasi yang umumnya diterapkan di sekolah adalah pemilihan kepengurusan OSIS, pemilihan kepengurusan MPK, dan pemilihan pengurus kelas, dimana hal ini merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran nyata dalam berpolitik secara demokratis pada tataran sekolah. Pelaksanaan pemilihan kepengurusan OSIS, kepenguruan MPK, dan pengurus kelas sudah menerapkan budaya demokrasi dengan baik hal ini terlihat dari pelaksanaan pemilihan yang berasaskan luber dan jurdil serta pelaksanaan yang mencerminkan kultur/ budaya demokrasi. (3) Adapun faktor yang mendukung pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah antara lain: tersedianya wadah pembelajaran berorganisasi bagi siswa di sekolah seperti OSIS dan MPK; adanya keleluasaan untuk mengemukakan pendapat pada saat musyawarah; sekolah memberikan dukungan baik dari segi pendanaan kegiatan, fasilitas, dan sarana prasarana, maupun dari segi pembelajaran demokrasi hal ini terlihat dari diberikannya materi demokrasi pada mata pelajaran PKn serta materi pembinaan kesiswaan berkaitan dengan pembelajaran demokrasi; kerjasama yang baik antar siswa dengan siswa dan antara siswa dengan sekolah dalam menyelenggarakan sebuah pemilihan di sekolah; pelaksanaan kegiatan pemilihan di SMPN 4 Malang 75% melibatkan siswa secara penuh untuk berpartisipasi di dalamnya mulai dari tahap perencanaan hingga tahap pelaksanaan kegiatan; kemampuan siswa yang menunjang hal tersebut; diberikannya kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk mengikuti pelaksanaan pemilihan baik itu pemilihan OSIS, MPK dan pemilihan ketua kelas. (4) Faktor penghambat dari pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah adalah: dari segi pendanaan, sekolah hanya menganggarkan dana sesuai dengan apa yang telah direncanakan, lebih dari apa yang direncanakan sekolah tidak dapat memberikan dana; kurangnya kesadaran siswa untuk tertib pada saat melakukan musyawarah kelas; kurangnya kesadaran siswa untuk ikutserta dalam pemilihan di sekolah, salah satunya adalah pemilihan ketua OSIS; sifat malu bertanya ataupun mengemukakan pendapat yang terkadang ada di diri siswa; adanya pengaruh negatif dari guru yang terlalu keras dalam mengajar siswa juga berdampak pada terhambatnya pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah; perbedaan pendapat yang muncul pada saat musyawarah. (5) Solusi untuk mengatasi faktor penghambat tersebut antara lain: pentingnya kesadaran diri yang harus dimiliki oleh setiap siswa pada pelaksaan kegiatan musyawarah di sekolah; pemberian peringatan pada siswa yang tidak mengikuti pelaksanaan pemilihan yang dilakukan di sekolah; keitkutsertaan guru dalam pelaksanaan jalannya musyawarah yang dilakukan oleh siswa; kesabaran guru dalam menghadapi siswa. Dari hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Pihak sekolah hendaknya perlu mengupayakan penerapan iklim belajar yang tepat bagi para siswa, agar dapat menanamkan sendi-sendi yang bisa membangun karakter bagaimana hidup berdemokrasi pada para siswa, (2) Untuk menyikapi tumbuhnya semangat berdemokrasi secara positif dan konstruktif sejak dini di lingkungan sekolah, maka hendaknya guru pengajar disarankan agar dapat bersifat proaktif dalam meberikan stimulus yang dapat memberikan pemahaman dan penilaian yang benar mengenai konsep budaya demokrasi pada diri siswa, serta dapat menjembatani kekurangan pngetahuan siswa dalam hal ini dengan baik.

Manajemen persediaan pada perusahaan keramik Soekardie Malang / oleh Pujiati

 

Faktor penyebab, motivasi dan dampak perkawinan usia muda di Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang / M. Andika Zahron Banana

 

i ABSTRAK Banana, M.Andika, Zahron. 2015. Faktor Penyebab, Motivasi dan Dampak Perkawinan Usia Muda di Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si, (II) Drs. Petir Pudjantoro, M.Si. Kata Kunci : Usia Muda, Perkawinan, dan Perkawinan Usia Muda. Pemuda masa kini menjadi dewasa lebih cepat daripada generasi-generasi sebelumnya, tetapi secara emosional, mereka memakan waktu jauh lebih panjang untuk mengembangkan kedewasaan. Pada taraf ini, keinginan untuk mendekati lawan jenis memang banyak disebabkan oleh dorongan seks. Dalam kehidupan manusia di dunia ini, yang berlainan jenis kelaminnya (laki-laki dan perempuan) secara alamiah mempunyai daya tarik-menarik antara satu dengan yang lainnya untuk dapat hidup bersama, atau secara logis dapat dikatakan untuk membentuk suatu ikatan lahir dan bathin dengan tujuan menciptakan suatu keluarga/rumah tangga yang rukun,bahagia, sejahtera dan abadi. Perkawinan sebagai jalan untuk mewujudkan suatu keluarga atau rumah tangga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini dimaksudkan bahwa perkawinan itu hendaknya berlangsung seumur hidup dan tidak boleh berakhir begitu saja. Perkawinan pada umumnya dilakukan oleh orang dewasa dengan tidak memandang pada profesi, agama, suku bangsa, miskin atau kaya, tinggal di desa atau di kota. Usia perkawinan yang terlalu muda mengakibatkan meningkatnya kasus perceraian karena kurangnya kesadaran untuk bertanggungjawab dalam kehidupan berumah tangga bagi suami-istri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup pasangan yang melakukan perkawinan usia muda, faktor faktor penyebab, motivasi, dampak perkawinan usia muda di Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Penelitian menggunakan pendekatan induktif yaitu deskriptif kualitatif yang membahas tentang faktor penyebab, motivasi dan dampak perkawinan usia muda di Kelurahan Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Sumber pengumpulan data melalui sumber langsung dan tidak langsung. Prosedur pengumpulan data dengan observasi secara langsung,wawancara terstruktur, dokumentasi,dan triangulasi. Analisis data dengan menggunakan model strategi analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan analisis data, diperoleh beberapa simpulan hasil penelitian sebagai berikut (1) Perkawinan usia muda adalah suatu ikatan lahir dan bathin antara suami dan istri untuk membentuk keluarga yang bahagia namun perkawinan dilakukan di usia muda.(2) Perkawinan usia muda yang dimaksudkan disini adalah dibawah umur 21 tahun yang menggunakan surat ijin menikah dari orangtua pasangan yang akan melakukan perkawinan usia muda. Perkawinan usia muda yang dilakukan di Kelurahan Gadingkasri Kota Malang rata-rata berkisar antara usia perempuan yang akan menikah usia muda di bawah 16 tahun dan laki laki dibawah 19 tahun.(3) Berbagai faktor yang menyebabkan terjadinyaperkawinan usia muda antara lain dari segi fisik dengan ciri-ciri kematangan alat reproduksi. Dalam segi mental merupakan cara berpikir seorang pasangan yang hendak melakukan perkawinan usia muda dengan ditandai cara berpikir secara rasional dan logis untuk mampu menyelesaikan suatu permasalahan yang akan dihadapinya. Modal utama untuk melakukan perkawinan usia muda adalah nafkah dari suami untuk istri dan anak-anaknya. (4) Motivasi pasangan usia muda melakukan perkawinan usia muda antara lain hamil duluan,trend yang berkembang di masyarakat sebagai ibu muda, dan perjodohan yang dilakukan oleh orangtua.(5)Perkawinan usia muda yang bermanfaat untuk mengatasi masalah penyimpangan seks atau perzinahan (6) Dampak negatif yang ditimbulkan oleh pasangan suami istri yang melakukan perkawinan usia muda antara lain adalah dampak terhadap suami istri yang memiliki ego yang tinggi dan belum matang fisik dan mental dalam memecahkan suatu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan rumahtangga. Keluarga awal pembentukan jiwa dan karakter dalam kehidupan manusia, oleh karena itu hal yang paling mempengaruhi setiap individu mulai dini adalah keluarga. Penting adanya dukungan dari orangtua terhadap anak-anaknya sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan bebas yang mengakibatkan terjadinya perkawinan usia muda karena terpaksa. Namun jika sudah merasa siap fisik, mental, nafkah dan biaya maka jika ingin melakukan perkawinan usia muda orangtua wajib mendukung sepenuhnya agar dapat terhindar dari penyimpangan seks atau perzinahan. Perlu juga bimbingan dan pendekatan orangtua terhadap anaknya sehingga anak mampu memahami arti sebuah perkawinan usia muda. (8) Sangat penting menanamkan nilai-nilai agama terhadap anak dibawah umur yang akan melakukan perkawinan usia muda, agar tidak terjerumus dan salah melangkah. Perlu bimbingan spiritual dengan menambah keimanan dengan bimbingan terhadap nilai-nilai kebutuhan terhadap agama.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap struktur modal perusahaan farmasi yang go public di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2009 / Novita Indriana

 

Kata Kunci : Struktur Aktiva, Pertumbuhan Penjualan, Profitabilitas, Rasio Hutang dan Struktur Modal. Seiring dengan berkembangnya teknologi yang modern ini, perekonomian pun semakin maju. Hal ini mengakibatkan adanya persaingan yang semakin ketat, utamanya dalam dunia bisnis. Pada umumnnya masalah keuangan merupakan masalah utama perusahaan. Perusahaan yang beroperasi dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi pada umumnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian laba maksimal akan tetapi juga berusaha untuk meningkatkan nilai perusahaan. Untuk itu perusahaan memiliki rencana strategis dan taktis yang disusun dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu aspek penting untuk mengimplementasikan rencana tersebut adalah rencana pembelanjaan. Pengaturan yang tepat dalam rencana pembelanjaaan dapat membantu perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan terhadap struktur modal baik secara simultan maupun parsial dan mengetahui variabel bebas mana yang mempunyai pengaruh dominan terhadap struktur modal. Sub variabel dari variabel bebas kinerja keuangan yaitu struktur aktiva, pertumbuhan penjulan, profitabilitas, dan rasio hutang. Obyek penelitian ini adalah perusahaan farmasi yang go public di BEI, dengan periode penelitian 2006-2009. Jenis penelitian asosiatif kausalitas dan data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Jumlah populasi 9 perusahaan dan sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 8 perusahaan. Alat analisis data yang digunakan regresi linear berganda yang sudah bebas dari gejala asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan secara simultan variabel-variabel bebas yang diteliti mempengaruhi struktur modal perusahaan farmasi dan secara parsial variabel pertumbuhan penjualan, profitabilitas, dan rasio hutang memiliki pengaruh terhadap struktur modal. Sedangkan struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Variabel rasio hutang merupakan variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap struktur modal. Sehingga bila semakin besar rasio hutang, maka semakin besar hutang yang dimilikinya.

Makna riset pemasaran (studi kasus pada Koperasi Asuransi Indonesia Kantor Unit Produksi DAerah Blitar)
oleh Widayatin

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani tebu di Desa Benjor dan Desa Duwet Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang / Choirul Amin Febrianto

 

ABSTRAK Febrianto, Choirul Amin. 2011. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kesejahteraan Petani Tebu Di Desa Benjor Dan Desa Duwet Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu osial Universitas Negeri Malang Pembimbing: (I) Dra,Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si (II) Drs, Djoko Soelistijo, M.Si Kata Kunci: Petani Tebu, Kesejahteraan Desa Benjor dan Desa Duwet merupakan desa yang terletak di sebelah timur Kecamatan Tumpang. Luas lahan perkebunan di Desa Benjor mencapai 173 ha, sedangkan pada Desa Duwet mencapai 166 ha. Jumlah penduduk Desa Benjor mencapai 2225 jiwa dan pada Desa Duwet mencapa 3595 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi kondisi kesejateraan petani tebu yang ditinjau dari aspek jumlah beban tanggungan keluarga, tingkat pendidikan, pendapatan, dan usia petani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan melakukan wawancara langsung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani tebu yang ada di Desa Duwet dan Desa Benjor. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan kondisi sosial ekonomi dan kemiskinan yang terjadi di Desa Benjor dan Desa Duwet. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Upaya untuk meningkatkan taraf kesejahteraan melalui keluarga diperlukan dukungan dari pemerintah melalui pemantapan program-program Keluarga Sejahtera antara lain melalui upaya peningkatan tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan upaya pengendalian pertumbuhan penduduk melalui program KB Sesuai dengan hasil dari perhitungan dan data pada bab lima menunjukkn bahwa usia responden pada ke dua desa tidak memiliki hubungan dengan kesejahteraan. Tingkat pendidikan para petani tebu yang ada pada Benjor dan Desa Duwet tidak Memiliki hubungan yang signifikan dengan pencapaian keluarga Sejahtera. Pendapatan petani tebu di Desa Benjor dan Desa Duwet menunjukkan bahwa hasil dari panen tebu dan juga yang diperoleh oleh anggota keluarga yang bekerja selain menjadi petani tebu menunnjukkan bahwa memiliki hubungan dengan tingkat pencapaian keluarga kesejahteraan. Keluarga responden yang berada di Desa Benjor dan Desa Duwet mayoritas belum dapat memenuhi segala kebutuhan dasar secara minimal seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan, dan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. Adanya peningkatan pendidikan bagi masyarakat guna meningkatkan sumberdaya manusia. Mengoptimalkan fungsi kelembagaan masyarakat sehingga dapat membantu mengatasi permasalahan yang ada di Desa Benjor dan Desa Duwet. Bagi instansi baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten hendaknya dapat memberikan penyuluhan rutin kepada kepala keluarga mengenai pentingnya pendidikan, serta menyediakan alternatif kesempatan kerja dengan menyediakan lapangan pekerjaan selain disektor pertanian dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Benjor dan Desa Duwet.

A descriptive study on the use of reward system at MIN Malang I / Desi Indrawati

 

ABSTRAK Indrawati. Desi. 2009. A Descriptive Study on the Use of Reward System at MIN Malang I. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Enny Irawati, M.Pd. Key words: reward system, Bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar, partisipasi siswa Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing dapat menjadi masalah bagi para siswa di Indonesia karena disebabkan oleh banyaknya perbedaan diantara kedua bahasa tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mengeluarkan undang-undang berdasarkan keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia No. 060/U/1993. Keputusan tersebut meliputi Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran lokal, sehingga para siswa dapat belajar Bahasa Inggris lebih awal. Pengajaran Bahasa Inggris untuk siswa dan siswi sekolah dasar tidak mudah. Salah masalah yang sangat penting yang dihadapi oleh guru-guru Bahasa Inggris di sekolah dasar adalah kurangnya keaktifan murid dalam kelas untuk belajar Bahasa Inggris. Olehkarena itu, guru-guru sebagai fasilitator dan motivator sebaiknya mencari cara-cara yang tepat untuk meningkatkan motivasi para siswa untuk aktif di dalam kelas pada saat proses belajar mengajar. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi para siswa adalah dengan menggunakan reward system. Sudah banyak para pendidik memilih reward system sebagai pendorong yang positif untuk diberikan pada para siswa mereka. Reward system sebagai pemotivasi masih efektif dan tepat untuk digunakan dalam dunia pendidikan. Reward system juga dapat meningkatkan dorongan dari dalam. Apabila para siswa tidak mempunyai dorongan dari dalam, kemudian dorongan dari luar seperti halnya reward adalah dibutuhkan untuk memberi nilai positif bagi para siswa dalam berperilaku. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam penggunaan reward system untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas Bahasa Inggris yang mana meliputi (1) jenis penghargaan yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris di kelas, dan (2) penggunaan reward dalam belajar Bahasa Inggris di kelas. Data dari pembelajaran ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Mei 2009. Subjek dari pembelajaran ini adalah guru Bahasa Inggris MIN Malang I. Sedangkan proses pengumpulan data dilakukan melalui proses interview, observation checklist, dan kuesioner, setelah itu dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penemuan, ditemukan bahwa guru tersebut menggunakan sosial reward dan material reward. Sosial reward yang digunakan gunakan adalah berupa pujian seperti “good”. “well done”, dan “excellent”, memberikan tepuk tangan, menganggukan kepala dan mengangkat jempol sebagai simbol penghargaan dan persetujuan, sedangkan material reward adalah point dan stiker. Reward yang digunakan untuk memotivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris di kelas sudah memenuhi kriteria yang diharapkan oleh guru. Berdasarkan pandangan guru Bahasa Inggris di MIN Malang I, reward-reward sebaiknya mempunyai nilai positif tersendiri dan mempunyai manfaat bagi siswa. Penelitian ini memperlihatkan keefektifan reward system dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris. Hal ini terbukti dari hasil penemuan bahwa reward sytem dapat memotivasi siswa untuk berpartisipasi dengan aktif di dalam kelas dan untuk selalu menggunakan Bahasa Inggris di dalam kelas. Reward system dapat menciptakan suasana kelas yang aktif dimana menunjukan hampir semua siswa mengangkat tangan untuk berpartisipasi di dalam kelas dan para siswa juga memperlihatkan kesungguhan untuk belajar Bahasa Inggris dengan keras. Penelitian ini juga menunjukan bahwa reward system membuat proses belajar mengajar berjalan lancar dan cepat. Dalam proses pengumpulan data, penelitian ini dilakukan selama empat kali pertemuan. Peneliti-peneliti lain disarankan untuk mengumpulkan data dalam waktu yang cukup panjang dan pengambilan data tidak harus dilakukan di jenjang sekolah dasar, tapi juga diharapkan bisa dilakukan di jenjang yang berbeda seperti di SLTP dan SLTA untuk memperoleh hasil yang maksimal. Untuk guru Bahasa Inggris dan guru mata pelajaran lainnya disarankan agar mereka menggunakan reward system di dalam kelas mereka pada saat mengajar untuk mendorong motivasi awal terhadap siswa mereka.

Modifikasi sandi vigenerse menggunakan kunci sandi RSA / Iffatu Wardani

 

Kata kunci: Kriptografi, Vigenere, RSA, enkripsi, dekripsi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berpengaruh pada canggihnya kejahatan penyadapan, pencurian dan pemalsuan informasi. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem pengamanan informasi, yang pada masa sekarang ilmu kriptografi dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Sandi Vigenere sebagai salah satu algoritma kriptografi simetri yang memiliki satu kunci dan digunakan pada proses enkripsi serta dekripsinya. Sandi Vigenere pertama kali diperkenalkan oleh Giovan Batista Belaso dalam bukunya yang berjudul La cifra del. Sig. Giovan Batista Belaso. Sedangkan sandi RSA adalah algoritma kriptografi asimetri sehingga kunci untuk proses enkripsi tidak sama dengan kunci pada dekripsi. Tiga orang peneliti dari MIT yaitu Ron Rivest, Adi Shamir, dan Len Adleman adalah penemu sandi RSA yang nama RSA itu sendiri diambil dari ketiga orang tersebut. Pada masa kejayaannya, sandi Vigenere pernah menjadi sandi yang tak terpecahkan karena tidak dapat diserang. Tetapi sekarang sudah ada suatu metode yang dapat mengancam keamanan sandi Vigenere yang disebut metode kasiski. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menambahkan kunci pada proses enkripsi dan dekripsinya. Kunci sandi RSA yang asimetris dapat digunakan pada proses ini. Skripsi ini membahas modifikasi sandi Vigenere agar tidak mudah diserang dengan memanfaatkan kunci asimertis sandi RSA. Dengan ditambahkan kunci, proses enkripsi dan dekripsi menjadi lebih sulit yaitu setelah dilakukan enkripsi pada plainteks menggunakan kunci Vigenere kemudian dilakukan enkripsi lagi menggunakan kunci sandi RSA. Demikian juga untuk proses dekripsinya. Oleh karena itu dalam penelitian ini dibahas pembuatan program yang dapat membantu proses enkripsi dan dekripsi yaitu program Delphi7. Akan tetapi program tersebut masih memiliki keterbatasan pada input kunci RSA yang nilainya kecil ( <29 ).

Upaya meningkatkan volume penjualan melalui berbagai kegiatan promosi pada perusahaan rokok P.T. Gudang Garam di Kediri
oleh Istiani

 

Pengembangan media Computer Assisted Instruction (CAI) mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan pada kelas VII SMP Negeri 3 Ngimbang Lamongan / Harmani

 

i ABSTRAK Harmani. 2015. Pengembangan Media Computer Assisted Instruction (CAI) Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kelas VII SMP Negeri 3 Ngimbang kabupaten Lamongan. Skripsi jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si. (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum Kata Kunci: Pengembangan, Media CAI , Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dari hasil wawancara guru SMP Negeri 3 Ngimbang menyatakan bahwa pembelajaran PPKn merupakan salah satu pembelajaran yang identik dengan banyak teori yang menyangkut tentang kehidupan sosial dalam penerapannya minat siswa sangat minim dalam mempelajarinya. Padahal jika dilihat dari manfaat mempelajarinya sangat penting bagi individu dalam menerapkannya dikehidupan dalam masyarakat apalagi sebagai warga negara Indonesia. Umumnya, metode pembelajaran dalam pelajaran PPKn cenderung ceramah apalagi materi pelajaran kasus pelanggaran dan upaya penegakan HAM kebanyakan teori hal tersebut menyebabkan siswa bosan. Dalam hal ini pendidik dapat menggunakan media CAI sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dari permasalaan tersebut, diperoleh sebuah alternatif untuk mengatasi masalah tersebut yaitu pengembangan media Computer Assisted Instruction (CAI) pada pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dengan media tersebut diharapkan siswa lebih semangat lagi untuk antusias mengikuti pelajaran PPKn. Model pengembangan yang di pakai peneliti dalam penelitian ini adalah model pengembangan research and development (R & D). Pengembang menggunakan 8 langkah yang merupakan modifikasi dari langkah-langkah R & D menurut Sugiyono. Produk yang dihasilkan berupa media CAI tersebut merupakan media pembelajaran yang memuat materi pembelajaran PPKn dan dibuat dengan menggabungkan gambar, animasi, suara, dan video. Dalam media pebelajaran ini pengguna media dapat berinteraksi dan mengoperasikan media sesuai dengan keinginanya. Media ini terdiri dari tampilan awal (pembuka) dan tampilan utama. Tampilan utama berisi antara lain: (a) tujuan pembelajaran; (b) materi pembelajaran; (c) rangkuman; (d) latihan soal; (e) permainan; (f) profil pengembang. Untuk mengetahui tingkat kelayakan media yang dikembangkan, pengembang melakukan uji ahli dan uji coba produk, diantaranya: Hasil uji ahli materi memperoleh kategori sangat layak dengan presentase 93,75% . Hasil uji ahli media mendapat kategori sangat layak, dengan peresentase 97,83%. Hasil uji praktisi pembelajaran mendapat kategori sangat layak, dengan peresentase 78,13%. Hasil uji coba kelompok kecil mendapat kategori sangat layak, dengan persentase 93,89 %. Dan Hasil uji kelompok besar mendapat kategori sangat layak, dengan peresentase 91,96 %. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ii media CAI pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewaranegaraan sangat layak untuk di pakai dalam proses pembelajaran. Saran yang dapat peneliti berikan kepada pengguna yaitu: media ini perlu dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang dapat menunjang proses belajar mengajar.

Implementing SQ3R strategy to improve the students' readng comprehension / Tentrem Rahayu Rantining Lestari

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (I) Prof, Dr. Nur Mukminatien, M.Pd., (II) Drs. Fachrurrazy, M.A.,Ph.D. Key words: Reading comprehension, SQ3R This study is aimed at improving the ability of the eighth graders of MTs Negeri Jambewangi Selopuro Blitar in reading comprehension by implementing SQ3R strategy. This strategy is chosen based on its effective stages in encouraging and having the students involved in teaching learning process of reading comprehension. Consequently, the objective of the research is to implement SQ3R in improving the students’ achievement reading comprehension of descriptive texts in general. To achieve the purpose, collaborative classroom action research was employed by following four stages: planning, implementing, observing, and reflecting. This study was implemented in two cycles, in which the first cycle was carried out in four meetings. The second cycle consisted of three meetings. This strategy consisted of five stages, survey, question, read, recite, and review. In the pre-reading phase, the teacher encouraged the students activate their schemata by showing pictures. In whilst reading phase, survey, question, read, and recite were implemented. While in the post reading phase, review was carried out. The subjects of the research were 40 students of grade VIII C of MTs Negeri Jambewangi Selopuro Blitar in the 2010/2011 academic year. The instruments employed for gathering the data were observation checklist, quiz, and questionnaire for the students. The results of the research revealed that SQ3R strategy improved the students’ reading comprehension ability of MTs N Jambewangi Selopuro Blitar. The improvement was indicated by the students’ mean score which increased from 39.5 in preliminary study, 70.625 in the first cycle, and 77.75 in the second cycle. Besides, the results of the study showed that the students were enthusiastic, motivated, and actively involved in teaching learning process. Based on the result of the study, the researcher suggests English teachers implementing SQ3R strategy in teaching reading as an alternative solution for English teachers who have similar problems in teaching reading. Meanwhile, future researchers are recommended to conduct a study of SQ3R strategy at the same level or higher level to verify the advantages of this strategy in teaching reading with other text types.

Waktu munculnya fenotipe rekombinan akibat peristiwa pindah silang pada Drosohila melanogaster / oleh Prayitno Joko Waluyo

 

Pilihan karier siswa dari keluarga orang tua tunggal (single parent family) studi kasus di Madrasah Aliyah Negeri Leuwiliang - Bogor / oleh Nunuy Nursyamsiah Fairuzi

 

Pemanfaatan Buku Sekolah Elektronik (BSE) sebagai bahan ajar guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo / Anggara Sukma Ardiyanta

 

Kata Kunci: pemanfaatan BSE, bahan ajar guru program produktif, Sidoarjo. Guru selaku pendidik menggunakan sumber bahan ajar untuk menyampaikan materi di dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu sumber bahan ajar adalah Buku Sekolah Elektronik (BSE). Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pemanfaatan BSE sebagai sumber bahan ajar guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui pemanfaatan BSE sebagai bahan ajar guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo, 2) untuk mengetahui berbagai kendala yang dialami guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo dalam memanfaatkan BSE. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian secara dekriptif. Populasi dalam penelitian ini yaitu guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo. Jumlah populasi sebanyak 164 orang. Sampel diambil sebesar 30% dan secara proporsional. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan angket dan disampaikan secara langsung. Angket ini terdiri dari 13 butir. Uji validitas instrumen menggunakan pendapat ahli ( judgement expert) dan uji reliabilitas menggunakan rumus Hoyt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (64,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo sudah mengetahui dan memanfaatkan BSE dalam kegiatan pembelajaran, (20,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo sudah mengetahui keberadaan BSE tetapi belum memanfaatkan BSE dalam kegiatan pembelajaran; (16,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo tidak mengetahui dan belum memanfaatkan BSE dalam kegiatan pembelajaran. Di dalam kegiatan pembelajaran; (25,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo memanfaatkan BSE sebagai bahan ajar utama; (20,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo memanfaatkan BSE sebagai bahan tugas terstruktur; (25,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo memanfaatkan BSE sebagai bahan tugas mandiri; (25,00%) guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo memanfaatkan BSE sebagai bahan pengayaan. Kendala yang dialami guru program produktif di SMK se-kota Sidoarjo dalam pemanfaatan BSE adalah (47,00%) disebabkan karena terbatasnya jumlah Buku Sekolah Elektronik (BSE), (20,00%) disebabkan karena lambatnya akses web Buku Sekolah Elektronik (BSE), dan (12,00%) disebabkan karena belum tersedianya perangkat akses internet.

Autofluoresens komponen spora dan sporangium berbagai jenis tumbuhan paku / oleh Olahairullah

 

Peningkatan kemampuan menulis surat pribadi siswa kelas IV melalui pembelajaran Think Pair Share di SDN Saptorenggo 03 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Ratna Dewi

 

Kata Kunci: peningkatan, kemampuan menulis, surat pribadi, think pair share Salah satu keterampilan berbahasa yang sudah mulai dikembangkan pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar adalah keterampilan menulis. Menulis surat merupakan salah satu kompetensi kemampuan menulis yang harus dicapai oleh siswa. Menulis surat pribadi merupakan jenis surat yang pertama dikenalkan pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan keterampilan menulis surat pribadi di kelas IV SDN Saptorenggo 03 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang dan apakah pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan keterampilan menulis surat pribadi di kelas IV SDN Saptorenggo 03 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk berfikir (thinking), diskusi berpasangan (pairing) dan berbagi (sharing) dengan kelompok besar dalam memecahkan suatu permasalahan dalam belajar. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui penerapan pembelajaran Think Pair Share pada materi menulis surat pribadi dan untuk mengetahui apakah pembelajaran Think Pair Share mampu meningkatkan kemampuan menulis surat pribadi siswa kelas IV SDN Saptorenggo 03 Kec. Pakis Kab. Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK model siklus Kemmis dan Taggart dengan langkah-langkah perencanaan, tindakan, pengamatan refleksi dan observasi.. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Instrument yang digunakan pedoman observasi, pedoman wawancara, foto dan hasil tes. Berdasarkan hasil analisis data tersebut penerapan pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan menulis surat pribadi siswa kelas IV SDN Saptorenggo 03. Peningkatan kemampuan menulis surat pribadi siswa kelas IV SDN Saptorenggo 03 dinilai dari aspek kelengkapan bagian surat pribadi, kepaduan paragraph, isi surat dan penggunaan ejaan. Dilihat dari hasil belajar pada pre test 53%, pada siklus 1 prosentase 62,5% dan pada siklus 2 prosentase 71,6%. Dilihat dari aktivitas siswa pada siklus 1 prosentase 69,3% sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 82,12%. Dari paparan data di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas IV SDN Saptorenggo 03 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi menulis surat pribadi. Saran yang peneliti sampaikan adalah guru dalam pembelajaran keterampilan menulis surat pribadi hendaknya menerapkan pembelajaran Think Pair Share sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis surat pribadi.

Pembinaan minat baca remaja dalam lingkungan keluarga di Kabupaten Kediri / oleh Khususiyah

 

Kajian kualitas air sungai Pekalen Kabupaten Probolinggo dengan indikator makrozoobentos menggunakan metode Belgian Biotic Index (BBI) / Eka Nurwiansyah Aquariska

 

Kata Kunci : makrozoobentos, kualitas lingkungan, sungai pekalen, indikator biologis Makrozoobentos adalah hewan yang hidup di dasar perairan atau menempel di dasar substrat perairan yang berupa batu, pasir, dan lumpur. Makrozoobentos sangat peka terhadap kondisi perairan sungai. Makrozoobentos juga peka terhadap beberapa aktivitas manusia yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan seperti pemakaian pestisida dan pupuk pada lahan pertanian, sampah rumah tangga di daerah pemukiman, dan meningkatnya jumlah lumpur (akibat erosi). Oleh karena itu keberadaan makrozoobentos dapat menjadi suatu indikator biologis terhadap pencemaran pada perairan. Berdasarkan telaah tentang makrozoobentos penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas air Sungai Pekalen Kabupaten Probolinggo berdasarkan indikator makrozoobentos dan indikator kimiawi, serta untuk mengetahui perbandingan hasil analisis terhadap kualitas air Sungai Pekalen Kabupaten Probolinggo atas dasar inikator makrozoobentos dengan indikator kimiawi. Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilakukan pada bulan Februari sampai April 2011 di Sungai Pekalen Kabupaten Probolinggo. Penentuan tempat pengambilan sampel ditentukan secara sistematik dengan memperhatikan rona lingkungan di sekitar Sungai Pekalen sehingga diketahui bahan pencemar yang masuk ke sungai. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali ulangan dengan selang waktu 14 hari, setiap kali ulangan pada setiap stasiun dilakukan pengukuran faktor kimiawi berupa suhu, pH, DO (Dissolved Oxigene), BOD, dan kadar NH4. Untuk mengetahui tingkat kualitas air berdasarkan keberadaan makrozoobentos dipergunakan metode BBI (Belgian Biotic Index), sedangkan untuk tingkat kualitas air berdasarkan faktor kimiawi digunakan metode CI (Chemical Index). Kemudian dari hasil tersebut dibandingkan antara metode BBI dengan metode CI untuk menunjukkan kesesuaian diantara metode tersebut dalam mengukur tingkat kualitas air di Sungai Pekalen. Hasil penelitian berdasarkan keberadaan makrozoobentos dengan metode BBI menunjukkan bahwa kualitas air di Sungai Pekalen dalam situasi yang kritis sedangkan menggunakan uji CI menunjukkan tingkat kualitas air yang dapat diterima (Acceptable quality). Perbandingan dengan menggunakan dua metode tersebut terhadap kualitas air menunjukkan tingkat yang berbeda tipis atau berbeda satu tingkat kualitas air. Pada metode BBI menunjukkan kepekaan yang lebih terhadap pencemaran ditunjukkan dengan kualitas air yang tercemar atau situasi yang kritis pada perairan di Sungai Pekalen sedangkan pada metode CI menunjukkan kualitas air yang dapat diterima.

Struktur retorik ludruk tragedi cinta Retno Wulan / Moh. Badrih

 

Kata Kunci: struktur, retorika, ludruk, Retno Wulan. Retorika yang digunakan pada pertunjukan ludruk telah merebak dan menggeser retorika verbal atau oral yang hanya berfokus pada ceramah dan pidato. Konsep ini merupakan salah satu rute pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berdialog yang ditampilkan dalam ludruk. Selain itu, sebagai suatu upaya persuasi khalayak retorika yang digunakan tidak hanya hidup dalam ranah produksi tetapi juga dalam ranah konsumsi. Retorika pementasan ludruk ditujukan supaya pendengar tergerak mengkonsumsi apa yang disampaikan oleh para pemeran dalam setiap dialognya ataupun panampilannya. Sebagai persuasi, menurut Kenneth Burke rutenya adalah identifikasi, menurut Rene Girard adalah mimesis atau peniruan terhadap ‘model’. Kaitannya dengan hal di muka, retorika mempunyai subtansi yang bertujuan fungsional. Barrett mengatakan bahwa “setidaknya pemakai retorika berusaha agar efektif, untuk mendapatkan jawaban, menjadi orang, dikenali, didengarkan, dishahihkan, dimengerti dan diterima”. Dengan demikian tujuan interaksi retoris merupakan dasar bersama tempat menjalin hubungan secara sukses. Berdasarkan deskripsi di atas penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut, (1) bagaimanakah struktur gagasan ludruk tragedi cinta Retno Wulan?, (2) bagaimanakah struktur paparan ludruk tragedi cinta Retno Wulan?, dan (3) bagaimanakah struktur bahasa ludruk tragedi cinta Retno Wulan? Untuk menjawab pertanyaan di atas penelitian ini memakai pendekatan kualitatif karena data yang diperoleh berdasarkan deskripsi yang terdapat dalam ludruk tragedi cinta Retno Wulan bersifat kualitatif, yaitu lirik diksi dan bukan angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ludruk tragedi cinta Retno Wulan (1) terdapat struktur gagasan yang meliputi (a) proposisi, yaitu proposisi tunggal proposisi majemuk, proposisi universal afirmatif, proposisi universal negatif, proposisi partikular afirmatif, dan partikular negatif, (b) argumen, dan (c) penalaran; (2) berdasarkan kebertalian antar kalimat terdapat struktur paparan, yaitu (a) kohesi yang berbentuk referensi, deiksis, subtitusi, elepsis, konjungsi, dan hubungan leksikal, dan (b) koherensi yang dapat dilihat berdasarkan prinsip interpretasi, dan analogi; (3) di samping struktur paparan juga terdapat struktur bahasa, meliputi (a) diksi berupa nomina, verba, adjektiva, pronomina, (b) kalimat berupa kalimat imperatif tak transitif, kalimat imperatif transitif, kalimat imperatif halus, kalimat imperatif permintaan, kalimat imperatif permintaan dan harapan, kalimat imperatif larangan, kalimat imperatif pembiaran, kalimat interogatif, dan kalimat ekslamatif, (c) gaya bahasa retorik berupa aliterasi, asonansi, anastrof, apafasis, apostrof, polisindeton, kiasmus, eufemismus, litotes, histeron proteron, pleonasme, prolepsis atau antipasis, aroteris, hiperbol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam ludruk tragedi cinta Retno Wulan terdapat struktur gagasan berupa proposisi, argumen, dan penalaran, sedangkan dalam bentuk struktur paparan terdapat kebertalian kohesi dan koherensi. Selain itu, dalam struktur bahasa terdapat pilihan kata (diksi), kalimat, dan gaya bahasa. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan persentase dan kualitas struktur retorik. Saran yang diajukan tersebut ialah (1) dapat dijadikan referen untuk menambah wawasan dalam bidang retorika dan sastra; (2) dapat dijadikan referensi untuk memperkaya khasanah keilmuan dan menyelesaikan berbagai persoalan retorika komunikasi khususnya yang berbahasa Madura; (3) dapat dijadikan rujukan untuk meneliti kebudayaan (bahasa lisan) pada bidang dan kebudayaan yang lain; (4) hendaknya menjadi pegangan untuk mengajarkan kajian retorika secara komprehensif. Sehingga kajian retorika tidak hanya terfokus pada contoh ceramah dan pidato saja, melainkan juga pada sastra lisan seperti ludruk.

Penerapan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media sederhana untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 6 Malang / Rahmatinnija

 

Kata Kunci: pembelajaran kontekstual, media sederhana, prestasi, motivasi belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru IPA fisika kelas VII SMP Muhammadiyah 6 Malang diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan metode ceramah dan diskusi kelas. Metode praktikum dan diskusi kelompok kecil serta penggunaan media pembelajaran jarang diterapkan. Guru menyampaikan materi dengan cara ceramah, memberikan catatan, memberikan tugas merangkum, dan latihan soal kepada siswa. Metode seperti ini membuat siswa bosan, pasif, dan tidak kritis dalam memecahkan masalah-masalah fisika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berdampak pada ren-dahnya prestasi dan motivasi siswa dalam mempelajari pelajaran IPA khususnya fisika. Salah satu model pembelajaran yang cocok diterapkan untuk meningkatkan prestasi dan motivasi siswa untuk mempelajari fisika yaitu dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media sederhana sehingga dapat meningkatkan prestasi dan motivasi belajar fisika siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 6 Malang. Jenis pe-nelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggu-nakan pendekatan kualitatif. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan lembar observasi keterlaksanaan pembelajar-an, lembar observasi motivasi siswa, angket, tes, dan catatan lapangan. Penelitian dilaksanakan di kelas VII SMP Muhammadiyah 6 Malang dengan jumlah siswa 12 orang, terdiri dari 6 siswa perempuan dan 6 siswa laki-laki. Peningkatan motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan untuk mengalami peningkatan pada tiap aspeknya yaitu pada aspek minat mencapai 48.9%, pada aspek perhatian mencapai 40% , dan 60% pada aspek ketekunan, sedangkan untuk keseluruhan aspek motivasi pada observasi awal 41.2%, pada siklus I 74.1%, sedangkan siklus II 89.4%. Hasil angket motivasi belajar siswa menunjukkan index rata-rata motivasi belajar sebesar 2.99 (motivasi cukup) dan setelah tindakan sebesar 4.17 (motivasi baik) dengan peningkatan 39.5%. Prestasi belajar siswa untuk nilai mencapai KKM sekolah dari sebelum ke sesudah tindakan mengalami peningkatan 41.67%. Sedangkan pada peningkatan prestasi dari nilai rata-rata mencapai 9.25 (13.6%). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembe-lajaran kontekstual dengan menggunakan media sederhana dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.

Hubungan antara promosi penjualan dan periklanan dengan omzet penjualan tegel di PT Malang Indah Rajawali industri tegel beton, paving stone Malang / oleh Wiwik Mulyosari

 

Analisis pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan daerah di Provinsi Jawa Timur (tahun 2010-2013) / Putra Cahya Trinata

 

ABSTRAK Trinata, Putra Cahya. 2015. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan Daerah di Provinsi Jawa Timur (Tahun 2010-2013). Skripsi, Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Sumarsono, S.T., M.Si (II) Drs. Mardono, M.Si Kata kunci: Pertumbuhan Ekonomi, Distribusi Pendapatan Pada hakekatnya pembangunan daerah dianjurkan tidak hanya memusatkan perhatian pada pertumbuhan ekonomi saja namun juga mempertimbangkan bagaimana distribusi pembangunan itu. Selama ini pertumbuhan ekonomi dan hasil pembangunan tidak dinikmati secara adil dan merata oleh seluruh masyarakat, maka dari itu menimbulkan persoalan distribusi pendapatan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana laju pertumbuhan PDRB pada sektor-sektor unggulan di Provinsi Jawa Timur? (2) Sektor-sektor basis ekonomi apa yang berkontribusi paling besar dalam pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur? (3) Bagaimana sebaran distribusi pendapatan daerah di Provinsi Jawa Timur?. Jenis data penelitian ini adalah menggunakan data sekunder. Ada dua variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) Pertumbuhan ekonomi, dan (2) distribusi pendapatan daerah di Provinsi Jawa Timur tahun 2010-2013. Teknik di dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Data utama yang digunakan adalah data sekunder berdasarkan urutan waktu (time series data). Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik deskriptif dan teknik perhitungan LQ, Shift share dan Indeks Williamson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan struktur PDRB Provinsi Jawa Timur tahun 2010-2013 didominasi oleh tiga sektor yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Berdasarkan metode analisis Shift Share, sektor pertanian memiliki nilai komponen differensial shift (Dj) negatif yang menunjukkan pertumbuhan sektor pertanian lebih lambat dari sektor yang sama di Indonesia (Nasional). Untuk sektor industri pengolahan, menunjukkan nilai komponen differensial shift (Dj) positif pada tahun 2010-2011 dan 2011-2012 sedangkan pada tahun 2012-2013 memiliki nilai komponen differensial shift (Dj) negatif. Sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki nilai komponen differensial shift (Dj) positif yang berarti pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran lebih cepat dari sektor yang sama di Indonesia (Nasional). Sedangkan berdasarkan metode analisis Location Quotient (LQ), sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan. Sebaran distribusi pendapatan daerah di Provinsi Jawa Timur berada pada ketimpangan taraf tinggi karena nilainya rata-rata dalam kurun waktu tahun 2010-2013 berada diatas angka 0.50, hal ini menunjukkan bahwa tidak meratanya distribusi pendapatan daerah di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga sektor unggulan di Provinsi Jawa Timur yaitu (1) sektor pertanian, (2) sektor industri pengolahan, (3) sektor perdagangan, hotel dan restoran. Ketiga sektor ini strategis untuk dikembangkan dalam meningkatkan perolehan PDRB. Tetapi sektor ekonomi yang paling potensial dan strategis untuk dikembangkan guna memacu serta menunjang pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran. Keadaan sebaran distribusi pendapatan daerah di Provinsi Jawa Timur berada pada ketimpangan taraf tinggi karena nilainya rata-rata dalam kurun waktu tahun 2010-2013 berada diatas angka 0.50.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X Jurusan Pemasaran SMK Islam Batu pada mata pelajaran kewirausahaan / Wabika Nahya

 

Kata Kunci : Model Two Stay Two Stray (TSTS), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru selalu monoton. Dalam setiap pembelajaran guru selalu menggunakan metode ceramah. Dengan metode ceramah ini, guru selalu menguasi kelas sedangkan siswa hanya duduk diam mendengarkan penjelasan dari guru dan siswa tidak dituntut aktif. Padahal dalam proses pembelajaran yang sebenarnya, guru diharapkan mampu mengembangkan suatu kondisi kelas yang kondusif dalam arti bahwa guru mampu mengajak dan memotivasi para siswa untuk turut berpartisipasi dalam tiap kegiatan pembelajaran dalam kelas. Dalam hal ini guru harus lebih kreatif lagi untuk menggunakan model-model pembelajaran dalam kelas. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah pembelaran model Two Stay Two Stray (TSTS). Dengan menerapkan model Two Stay Two Stray (TSTS) siswa tidak hanya duduk diam. Siswa harus menjadi lebih aktif lagi sehingga mereka bisa menguasai materi dan mereka dituntut untuk bisa bekerja sama dengan teman sekelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan aktivitas dan hasil belajar Kewirausahaan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS).. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan di kelas X Jurusan Pemasaran SMK Islam Batu, pada bulan September sampai Oktober 2010, dan data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu aktivitas siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Pada pra tindakan siswa dibagi menjadi dua kelompok di mana persentase masing-masing kelompok termasuk kategori kurang yaitu 33,3% dan 18,75%. Sedangkan pada siklus I dan siklus II siswa dibagi menjadi 7 kelompok dan mengalami peningkatan. Pada siklus I aktivitas siswa mencapai 71,52% dan pada siklus II aktivitas siswa mningkat 90,625%. Selain itu hasil belajar siswa juga meningkat setelah penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS). Nilai rata-rata ranah kognitif pada pra tindakan 56,07 kemudian siklus I meningkat menjadi 72,27 dan siklus II meningkat menjadi 77,4. Ketuntasan klasikal ranah kognitif juga mengalami peningkatan. Pada pra tindakan sebesar 13,33%, meningkat pada siklus I menjadi 73,33% dan siklus II menjadi 83,33%. Untuk ketuntasan klasikal pada ranah afektif juga mengalami peningkatan pada setiap siklus. Untuk pra tindakan ketuntasan klasikal hasil belajar ranah afektif siswa sebesar 65,48%, siklus I sebesar 79,92% dan siklus II 85,7%. Adapun saran yang dapat diajukan yaitu: 1) Bagi guru kewirausahaan, diharapkan dapat menerapkan model Two Stay Two Stray (TSTS) ) di dalam proses pembelajaran, karena dengan menggunkan model pembelajaran akan menuntut siswa menjadi lebih aktif, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh pada hasil belajar yang dipeoreleh siswa. Dan Guru tidak bosan-bosannya selalu memberikan motivasi kepada siswa untuk menyampaikan pendapatnya dan jangan takut salah dalam mengemukakan suatu pendapat. Guru sebaiknya selalu memberikan motivasi dengan memberikan poin kepada siswa yang berani menjawab dan bertanya dalam diskusi supaya rasa percaya diri siswa dalam mengemukakan pendapat mulai tumbuh.; 2) Bagi Sekolah, hendaknya lebih memfasilitasi sarana dan prasarana pembelajaran, misalnya dengan menambah literatur buku mata pelajaran supaya siswa lebih tertarik untuk belajar; 3)Bagi siswa, diharapkan mempersiapkan diri dengan belajar telebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran, sehingga pada saat diskusi kelas siswa mudah mengikuti pembelajaran dan siswa harus bisa bersosialisasi dengan teman dalam satu kelas; 4) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian dengan menerapkan model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan.

Perancangan sistem deteksi kebocoran tabung LPG (Liquefied Petroleum Gasses) portable / Vita Rediyanti Hidayat

 

Identifikasi terjadinya aspek, kreatif, efektif dan menyenangkan pada pembelajaran fungsi dengan pendekatan realistic mathematic education untuk siswa kelas VIII-A SMP Negeri 17 malang / Wina Widiasari

 

Kata Kunci: Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Realistic Mathematic Education Dalam upaya untuk memudahkan siswa dalam memahami suatu konsep matematika maka diperlukan suatu pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) yang merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa terlibat aktif dalam mengembangkan suatu ide untuk memecahkan masalah. Pembelajaran ini mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana belajar dimana siswa aktif, kreatif dan efektif. Hal ini, diharapkan dapat menghadirkan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan, terutama bagi siswa. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menangkap pelajaran karena suasana dalam diri maupun di luar dirinya mendukung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai bulan November 2010. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-A semester Gasal di SMP Negeri 17 Malang. Jumlah siswa kelas VIII-A laki-laki adalah 19 siswa, sedangkan siswa perempuan berjumlah 22 siswa. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memaparkan peristiwa urgen yang terjadi pada masa kini yang dilakukan secara sistematik dan lebih menekankan pada faktual dari pada penyimpulan (Degeng: 1997: 42). Tahap-tahap penelitian ini meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) observasi, 4) analisis data, dan 5) refleksi. Dalam penelitian ini dilakukan dalam 3 pertemuan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, catatan lapangan, dan wawancara. Teknik pengambilan atau pengumpulan data meliputi: 1) hasil tes kemampuan awal, 2) hasil observasi dari siswa dan guru, 3) hasil jawaban siswa dalam mengerjakan LKS, 4) hasil angket dan 5) hasil wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Milles dan Huberman dalam Haryani (2004: 36) yang terdiri dari tiga tahap kegiatan yang dilakukan secara berurutan, yaitu: 1) mereduksi data, 2) penyajian data dan 3) menarik kesimpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran fungsi melalui pendekatan Realistic Mathematic Education dapat memunculkan aspek aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam diri siswa selama proses pembelajaran. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian tiap pertemuan bahwa siswa yang memiliki kemampuan akademik berbeda dapat memunculkan aspek yang berbeda dalam dirinya.

Hubungan antara pelaksanaan pengawasan dengan disiplin kerja pegawai Kantor Depdikbud kecamatan di wilayah kabupaten Jember
oleh Iin Sugihartini

 

Pembelajaran menulis puisi kelas VIII C SMP Negeri 1 Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Yuliana Dwita sari

 

Kata Kunci: pembelajaran, menulis, puisi Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa yang dikembangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Keterampilan menulis sangat diperlukan dalam berkomunikasi karena menulis merupakan kegiatan menyampaikan pesan-pesan kepada orang lain. Menulis puisi bebas merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas VIII SMP. Kompetensi ini bertujuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi bebas. Menulis puisi dapat digunakan sebagai wadah untuk meluapkan emosi, perasaan,dan suasana hati. Pembelajaran menulis puisi yang dilaksanakan menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan menarik minat siswa. Untuk itu, dibutuhkan inovasi dan kekreativitasan guru yang bertindak sebagai fasilitator, motivator, dengan teknik pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga tujuan pembelajaran menulis puisi dapat tercapai. Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru Bahasa Indonesia kelas VIII C mampu menarik minat siswa. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis puisi kelas VIII C SMPN 1 Malang. Secara khusus, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis puisi kelas VIII C SMPN 1 Malang pada aspek: (1) aspek kegiatan pendahuluan, (2) aspek kegiatan inti, (3) aspek kegiatan penutup. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Dalam hal ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Untuk mengumpulkan data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, dan observasi. Pengumpulan dimaksudkan untuk menjaring informasi tentang persiapan guru dan kegiatan dalam pembelajaran menulis puisi,serta hasil wawancara dengan guru dan beberapa siswa secara acak. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan kamera, perekam, pedoman wawancara, lembar pengamatan, dan catatan lapangan. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pelaksanaan pembelajaran menulis puisi apek kegiatan pendahuluan yang telah dilaksanakan menarik minat siswa. Kemenarikan tersebut terletak pada media dan metode yang dilaksanakan oleh guru. Apersepsi yang dilakukan guru menggunakan media yang dekat dengan siswa yaitu lagu. Guru mengaitkan lagu dengan menulis puisi. Kedua, pelaksanaan pembelajaran menulis puisi pada aspek kegiatan inti sudah sesuai dengan pencapaian tahap menulis puisi. Guru melaksanakan kegiatan inti secara rinci dan bertahap sesuai dengan pencapaian kompetensi. Tahap tersebut meliputi (1) tahap persiapan/penginderaan, (2) tahap pengendapan, (3) tahap memainkan kata, (4) tahap iluminasi, dan (5) tahap verivikasi. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran menulis puisi pada aspek kegiatan penutup yang telah dilaksanakan oleh guru tidak lengkap. Ketidaklengkapan tersebut i dikarenakan guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan kesan dan saran terhadap pembelajaran menulis puisi yang telah berlangsung. Dari serangkaian pembelajaran baik pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua yang telah dilaksanakan oleh guru berlangsung baik. Guru mampu mengoptimalkan dan mengarahkan karakteristik siswa kelas VIII C yang aktif dalam pembelajaran menulis puisi. Guru aktif dan kreatif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menyenangkan, dan menarik minat siswa sehingga tujuan pembelajaran menulis puisi dapat tercapai.

Aplikasi metode runge-kutta pada persamaan diferensial linear orde satu / Dina Ika Pravitasari

 

Kata kunci: persamaan diferensial linear orde satu, metode Runge-Kutta, matlab. Perkembangan dan kemajuan matematika memberikan bantuan dalam berbagai bidang,diantaranya teknik, ekonomi, sosial dan sains. Masalah dalam bidang tersebut dapat diselesaikan dengan menerjemahkan masalah menjadi model matematika. Dalam model matematika persamaan diferensial merupakan salah satu alat dalam pemodelan itu. Persamaan diferensial dapat diselesaikan secara eksak atau numerik. Metode penyelesaian persamaan diferensial secara numerik salah satunya dengan metode Runge-Kutta. Metode Runge-Kutta merupakan cara numerik yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial. Persamaan diferensial yang digunakan adalah persamaan diferensial linear orde satu yang berbentuk dan nilai awal . Metode tersebut digunakan untuk mencari nilai pada titik t dan banyak selang n. Langkah-langkah pencariannya adalah menyelesaikan persamaan tersebut secara analitik (mencari nilai eksak), secara numerik (metode Runge-Kutta), menghitung nilai galat dan membandingkan nilai galatnya. Dalam menyelesaikan permasalahan diatas dapat juga digunakan pemrograman. Langkah-langkah dalam pembuatan program yaitu penganalisaan masalah, pembuatan algoritma, diagram alir (flowchart), dan pembuatan program dalam bahasa pemrograman yang digunakan yaitu matlab. Masukan yang diperlukan adalah persamaan diferensial linear orde satu, solusi, nilai awal, nilai t yang ditentukan, banyak selang dan orde yang digunakan sedangkan keluaran program adalah nilai h, grafik eksak, grafik metode Runge-Kutta dan grafik galatnya. Tampilan program yang sederhana memudahkan dalam penggunaannya. Setelah melakukan perhitungan persamaan diferensial linear orde satu dengan metode Runge-Kutta secara manual dan dengan program bahasa matlab diperoleh bahwa ketelitian metode Runge-Kutta orde empat lebih akurat daripada orde tiga sedangkan metode Runge-Kutta orde tiga lebih akurat daripada orde dua. Semakin banyak selang yang digunakan maka semakin akurat nilainya.

Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kurikulum SMU 1994 bidang studi geografi cawu I di SMU Negeri Tulungagung ditinjau dari hasil belajar siswa / oleh Anas Fatkhulloh

 

Pengembangan multimedia materi pembentukan permukaan bumi untuk siswa SMA / Anugrah Teguh Prasetyo

 

ABSTRAK Prasetyo, Anugrah Teguh. 2015. Pengembangan Multimedia Materi Pembentukan Permukaan Bumi untuk Siswa SMA. Tesis. Jurusan Pendidikan Geografi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., (II) Dr. I Nyoman Ruja, S.U. Kata Kunci: Pengembangan, multimedia, pembentukan permukaan bumi Pembentukan permukaan bumi merupakan salah satu materi untuk siswa SMA kelas X IPS pada semester gasal. Karakteristik materi pembentukan permukaan bumi banyak berupa konsep dan juga materi yang membahas proses. Materi tersebut akan lebih mudah dipahami siswa apabila disampaikan dalam bentuk multimedia karena multimedia mampu mengintegrasikan teks, gambar, video, dan animasi dalam kemasan yang menarik. Multimedia akan membuat siswa bisa belajar baik secara verbal maupun visual konsep-konsep yang terdapat dalam materi pembentukan permukaan bumi. oleh karena itu, tujuan utama dalam penelitian ini adalah mengembangkan multimedia materi pembentukan permukaan bumi. Pengembangan multimedia dirancang dengan mengadaptasi model Research and Development Borg dan Gall yang terdiri dari tujuh langkah, yaitu: studi pendahuluan, pengembangan multimedia, validasi ahli materi dan ahli media, revisi produk awal, uji coba lapangan, revisi produk akhir, dan diseminasi. Pengembangan multimedia ini berbasis komputer dengan menggunaka software Autoplay Media Studio 8. Tahap validasi dilakukan untuk menguji kelayakan produk sebelum diuji cobakan di lapangan. Uji coba lapangan dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2014-2015 di sekolah SMA Negeri 8 Malang kelas X IPS 3. Hasil uji coba lapangan dengan lima indikator menunjukkan hasil persentase kelayakan produk berdasarkan respon siswa sebesar 89,10%. Skor uji pemahaman materi sebesar 86,15. Hasil tersebut menunjukkan hasil pengembangan produk sudah baik dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Revisi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil validasi ahli materi dan ahli media serta masukan dari siswa. Saran pemanfaatan meliputi: (1) pembelajaran dilakukan di laboratorium komputer agar siswa dapat mengoperasikan multimedia secara mandiri, (2) komputer yang digunakan harus memiliki headset, (3) aplikasi multimedia sebaiknya sudah berada dalam komputer server dan user, (4) terlebih dahulu memperhatikan petunjuk penggunaan multimedia. Selain itu, disarankan adanya penelitian lebih lanjut dengan memperbaiki kelemahan yang terdapat pada materi dan media.

Meningkatkan prestasi belajar fisika melalui penerapan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) pada siswa kelas VIII C SMPN Satu Atap Lesan Puro 2 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Nurdiyanto

 

Kata Kunci : aspek psikomotorik, prestasi belajar, CTL. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII C SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Malang diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan metode ceramah dan langsung memberikan tugas. Nilai Ujian Tengah Semester (UTS) fisika semester 1 banyak yang belum tuntas. Nilai rata-rata 47 dengan nilai tertinggi 60. Standar ketuntasan minimal yang ditentukan 60. Siswa jarang dilibatkan dalam praktikum atau kegiatan yang bisa melihat secara langsung peristiwa yang berhubungan dengan materi yang dipelajari. Hal ini diketahui dari metode yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yakni hanya berceramah di depan kelas tanpa menghadirkan sesuatu yang konkret, dan prestasi belajar fisika siswa rendah. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan aspek psikomotorik siswa dan prestasi belajar fisika siswa adalah model pembelajaran Kontekstual. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keunggulan pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan kemampuan aspek psikomotorik dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII C melalui penerapan model pembelajaran Kontekstual. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan tindakan berupa penerapan pembelajaran kontekstual. Penelitian terdiri dari 2 siklus, tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan di SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Malang kelas VIII C dengan jumlah siswa 37 siswa yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, rubrik kemampuan aspek psikomotorik siswa dan prestasi belajar fisika siswa melalui pretes dan postes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Kontekstual dapat meningkatkan kemampuan aspek psikomotorik dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII C SMPN Satu Atap Lesanpuro 2 Malang. Kemampuan aspek psikomotorik siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 36,31%. Prestasi belajar mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 14,87.

Pengaruh tingkat pendidikan, pendapatan dan partisipasi ibu ke posyandu terhadap usaha pemeliharaan kesehatan balita di kecamatan Winongan kabupaten Pasuruan / oleh Wahyu Setijowati

 

Analisis tingkat keuangan keluarga di Kelurahan Polowijen Kota Malang / Ringganing Shintia Novia

 

ABSTRAK Novia, Ringganing Shintia. 2015. Analisis Tingkat Literasi Keuangan Keluarga di Kelurahan Polowijen Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E., M.Pd. (II) Dr. Imam Mukhlis, S.E.,M.Si. Kata kunci: Literasi keuangan, keluarga Literasi keuangan merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh seluruh masyarakat. Literasi keuangan yang baik akan membimbing masyarakat kepada kesejahteraan keuangan. Masyarakat Indonesia dengan tingkat literasi keuangan rendah memiliki jumlah yang jauh lebih besar daripada masyarakat dengan tingkat literasi keuangan tinggi. Masyarakat dengan tingkat literasi keuangan rendah akan berpeluang lebih besar menerima resiko dari produk dan jasa keuangan yang digunakannya karena ketidaktahuan akan adanya resiko dari produk dan jasa keuangan tersebut.Pada kehidupan keluarga, literasi keuangan dengan tingkatan yang baik perlu dimiliki karena sebuah keluarga harus mampu membuat kondisi keuangannya tetap baik untuk mewujudkan tujuan-tujuan keuangan keluarga. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan tingkat literasi keuangan keluarga. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, survei, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah peneliti sendiri dan kuesioner. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat dua kategori tingkat literasi keuangan keluarga yakni kategori tingkat literasi keuangan tinggi dan kategori tingkat literasi keuangan rendah. Terdapat perbedaan yang menonjol dari dua kategori tersebut. Perbedaan itu menyangkut tindakan, keputusan, pengetahuan dan opini yang semuanya seputar keuangan. Keluarga dengan tingkat literasi keuangan yang rendah memiliki pengetahuan keuangan yang kurang baik, tindakan yang kurang bijaksana, keputusan yang kurang tepat dan opini yang salah. Sedangkan keluarga dengan tingkat literasi keuangan tinggi cenderung memiliki pengetahuan keuangan yang baik namun tidak semuanya mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan keuangan keluarga.

Hubungan antara persepsi mengenai kemampuan mengajar guru dan kemanfaatan bahan pelajaran dengan minat belajar terhadap mata pelajaran geografi siswa SMAN di kabupaten Tulungagung / oleh Eny Pudjiastuti

 

Perancangan animasi musikal pengenalan permainan engklek / Mahrus Ali

 

Kata Kunci: perancangan, media komunikasi visual, animasi, engklek Kemajuan teknologi membuat permainan tradisional semakin tersingkir oleh permainan elektronik. Tidak banyak anak-anak mengenal jenis-jenis permainan tradisional. Anak-anak lebih suka duduk di depan layar monitor daripada bermain keluar rumah. Begitupula yang terjadi dengan nasib lagu-lagu anak. Jarang sekali lagu-lagu anak ditayangkan di televisi, lebih sering ditayangkan lagu remaja daripada lagu anak-anak, sehingga anak-anak jarang menyanyikan lagu-lagu anak lagi. Untuk menghindari menghilangnya permainan tradisional, maka Perancang membuat sebuah media yang digunakan untuk mengajak anak-anak mulai menyukai, mengenal, dan bermain permainan tradisional. Selain itu Perancang juga mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu-lagu anak dengan media yang diciptakan. Untuk mempengaruhi anak-anak agar mengenal dan menyukai permainan tradisional, maka Perancang membuat sebuah media yang cocok dan dapat dengan mudah mempengaruhi anak-anak, yaitu dengan cara membuat sebuah animasi musikal yang memiliki karakter anak-anak. Dengan animasi musikal ini, diharapkan anak-anak tertarik dan mengerti manfaat dari permainan tradisional engklek. Dengan memperkenalkan permainan tradisional dan menjelaskan manfaat dari permainan tradisional diharapkan anak-anak menyeimbangkan diri antara bermain permainan elektronik dan permainan tradisional. Dan dengan memasukkan lagu-lagu anak dalam Animasi yang Perancang buat, diharapkan dapat mengajak anak-anak bernyanyi lagu yang sesuai dengan umur mereka.

Studi eksperimen antara model pembelajaran langsung dengan model pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas X TPm pada mata pelajaran alat ukur SMK Nasional Malang / Muhamad Daroni

 

Kata Kunci : pembelajaran langsung, hasil belajar alat ukur Alat ukur dianggap pelajaran yang sulit oleh kebanyakan siswa. Salah satu hal yang berpengaruh terhadap hasil pembelajaran alat ukur adalah model pembelajaran alat ukur. Model pembelajaran alat ukur yang lebih mengutamakan hafalan daripada pengertian menyebabkan pemahaman konsep siswa kurang. Penerapan model pembelajaran yang tepat akan menentukan efektifitas proses belajar mengajar. Pembelajaran langsung merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki potensi lebih dalam meningkatkan hasil belajar siswa serta merupakan model yang paling sederhana dan dapat diterapkan pada hampir semua materi pelajaran yang menekankan pemahaman konsep dan praktik. Model pembelajaran langsung merupakan sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Seperti yang di amanahkan oleh kurikulum satuan pendidikan, penelitian ini dilakukan di SMK Nasional Malang pada materi mistar geser karena dengan menggunakan model pembelajaran langsung siswa dihadapkan langsung dengan permasalahan dan mencoba melakukan penyelesaian dengan berbekal proses informasi dan pengalaman yang diperoleh atau dimiliki masing-masing individu sehingga dengan diterapkan model ini dapat meningkatkan hasil belajar mistar geser. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan rancangan ekspereimen semu (quasi eksperiment). Sampel yang digunakan dua kelas yaitu kelas X TPm1 sebagai kelas eksperimen yang mendapatkan perlakuan model pembelajaran langsung dan X TPm2 sebagai kelas kontrol yang mendapatkan perlakuan model pembelajaran konvensional. Instrumen perlakuan yang digunakan yaitu RPP, silabus, hand out, kisi-kisi soal, dan kunci jawaban. Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS 16. Hasil penelitian rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 79.30 dan kelas kontrol adalah 67.05. Nilai rata-rata dari masing-masing kelas diuji hipotesis dengan menggunakan uji-t. Dari uji-t diperoleh hasil yaitu t-hitung 5,930 > t-tabel 1,996, kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung dan diajar menggunakan model konvensional. Model pembelajaran langsung memberikan pengaruh yang positif dan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga proses pembelajaran lebih bisa maksimal. Pembelajaran ini mampu menggantikan peran guru yang sebelumnya menjadi pusat informasi berganti menjadi fasilitator untuk para siswa pada setiap proses pembelajaran. Disarankan kepada guru untuk lebih sering menggunakan model pembelajaran langsung karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Menguji pengaruh aktivitas siswa dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sekolah terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 9 Malang / Dian Fitria Handayani

 

Kata Kunci: Kegiatan Intrakurikuler, Kegiatan Ekstrakurikuler, Hasil Belajar. Kegiatan sekolah merupakan kegiatan yang dilakukan siswa di luar jam belajar dalam rangka mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki siswa. Kegiatan di sekolah sendiri terdiri dari kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan belajar yang mengacu dan mendukung pada program kurikulum dan dilakukan di luar sekolah, seperti mengikuti belajar kelompok rutin bersama teman sekelas, bisa juga yang mengikuti bimbingan belajar dalam lembaga pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler berarti kegiatan di luar program kurikulum dalam rangka peningkatan optimalisasi potensi diri siswa. Kegiatan sekolah sering dijadikan sebagai salah satu faktor penyebab menurunnya hasil belajar siswa. Padahal menurut teori motivasi tiga kebutuhan dari McClelland, kegiatan sekolah bisa dijadikan sebagai pendongkrak motivasi untuk meningkatkan hasil belajar karena dengan mengikuti kegiatan sekolah siswa bisa memenuhi salah satu dari teori tersebut dan kegiatan sekolah bisa dijadikan sebagai tempat menerima rangsangan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara kegiatan sekolah dari siswa yang mengikuti kegiatan intrakurikuler dan siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler terhadap hasil belajar akuntansi. Serta apakah terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi antara siswa yang mengikuti kegiatan intrakurikuler dan yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Pengujian hipotesis menggunakan analisis Paired Sample T-test dan Independent Sample T-test. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan dari kegiatan intrakurikuler terhadap hasil belajar akuntansi, sebaliknya terdapat pengaruh negatif signifikan dari kegiatan ekstrakurikuler terhadap hasil belajar akuntansi, dan terdapat perbedaan hasil belajar akuntansi antara siswa yang mengikuti kegiatan intrakurikuler dan yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah Ada baiknya pengukuran hasil belajar tidak hanya dari mata pelajaran akuntansi, misalnya dari nilai raport sesungguhnya supaya bisa lebih diketahui nilai siswa yang sebenarnya. Ada baiknya apabila akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan variabel yang diteliti lebih diperluas misalnya minat belajar, motivasi belajar, dan variabel lain sehingga dapat mengungkapkan lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil yang bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh lama penyimpanan dalam lemari es terhadap mutu daging sapi ditinjau dari angka lempeng total bakteri / oleh Elva Virdianastuty

 

Pengembangan bahan ajar sains SD dengan menggunakan model elaborasi / Siswanto

 

ABSTRAK Siswanto, 2015. Pengembangan Bahan Ajar Sains Dengan Menggunakan Model Elaborasi Disertasi. Jurusan Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Pd., Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng (II) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., (III) Kata kunci: bahan ajar, Sains,sekolah dasar, model elaborasi. Sains. Pengembangan bahan ajar merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi isi dan strategi pembelajaran yang diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Pengembangan ini dilaksanakan untuk mengembangkan tingkat keefektifan pembelajaran, tingkat efesiensi pembelajaran, dan tingkat daya tarik pembelajaran. Dengan berpijak pada anologi tentang prinsip-prinsip yang mendasari, maka langkah pengorganisasian pembelajaran dengan menggunakan model elaborasi tadalah (1) penyajian kerangka isi, (2) elaborasi tahap pertama (1), (3) pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal, (4) elaborasi tahap ke dua (2), (5) pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal, (6) setelah semua elaborasi tahap kedua (2) disajikan, disintesiskan, dan diintegrasikan kedalam kerangka isi, pola ini akan berulang kembali untuk elaborasi tahap ketiga dan seterusnya, dan (7) pada tahap akhir pembelajaran disajikan kembali kerangka isi untuk mensintesiskan keseluruhan isi bidang studi yang telah diajarkan. Tujuan pengembangan ini adalah (1) menghasilkan desain bahan ajar pembelajaran dengan menggunakan teori elaborasi, (2) bahan ajar lebih memperhatikan struktur isi materi yang lebih bermakna, (3) memudahkan dan mengoptimalkan pebelajar dalam proses belajar dan pembelajaran, (4) mampu meningkatkan prestasi belajar dan retensi (ingatan) pebelajar, dan menjadikan belajar mereka lebih efisien.Pengembangan ini adalah pengembangan dengan jenis data kuantitatif dan jenis data kuantitatif, untuk menjawab tingkat keefektifan pembelajaran, efesiensi pembelajaran, dam daya tarik pembelajaran. Teknik analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data berupa angket tanggapan/penilaian berupa saran dan komentar dari: (1) hasil para ahli yakni, ahli isi bidang studi, ahli desain pembelajaran, dan ahli media pembelajaran, (2) hasil dari uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan, (3) hasil tanggapan guru matapelajaran Bidang Studi Sains, dengan menggunakan rumus presentase. Sedangkan teknis analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis data hasil tes awal dan tes akhir dari pebelajar siswa kelas V semester II SDN Talangsuko 01 dan SDN Talangsuko 03 dengan menggunakan rumus uji t berpasangan. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa secara umum penyajian data uji coba dan analisa data tentang aseptabilitas produk bahan ajar Bidang Studi Sains pada tahap uji coba dalam tabel 4.4 diperoleh data kualitatif yang dihimpun melalui angket dengan persentase 77%. Kemudian dari hasil uji coba kelompok kecil, diperoleh data kualitatif yang dihimpun melalui angket dengan presentase 82,6%. Penilaian pebelajar pada uji coba lapangan secara keseluruhan urutan komponen lebih meningkatkan hasil yakni 83,4%.Begitu juga pada hasil tes awal dan hasil tes akhir memberikan hasil yang sangat berbeda yakni, signifikan dk = N – 1 = 30 – 1 = 29. Nilai kritis untuk t dalam dk = 29 pada tingkat kepercayaan (atau α) 0,05 = 2,045 dan 0,01 = 2,756. Hasil t sebesar -9,1350 > 2,045 atau -9,1350 > 2,756, sehingga signifikan baik pada a = 0,05 dan a = 0,01 (uji dua sisi). Sehingga dalam interpretasi: tes awal sebelum mengikuti pembelajaran amat berbeda dengan tes akhir setelah pembelajaran pada matapelajaran Bidang Studi Sains. Atau sebelum tes awal ≠ setelah tes akhir pada tingkat kepercayaan 0,05. Artinya hasil test akhir lebih besar dari test awal

Nilai-nilai pendidikan dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam / oleh Adi Supratikto

 

Pengembangan e-modul berbasis digital flipbook sebagai sumber belajar pada mata pelajaran korespondensi (studi pasa siswa kelas X Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Faristin Novianti

 

ABSTRAK Novianti, Faristin. 2016. Pengembangan E-Modul Berbasis Digital Flipbook sebagai Sumber Belajar pada Mata Pelajaran Korespondensi (Studi pada Siswa Kelas X Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.M. (II) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si. Kata Kunci: E-modul, Flipbook, Korespondensi Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menuntut pendidik untuk mengembangkan inovasi dalam pembelajaran. Penggunaan aplikasi yang dimanfaatkan sebagai penyajian materi dan media dalam proses belajar mengajar sangat membatu guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Flipbook adalah salah satu aplikasi yang dapat mentransformasikan konsep modul cetak ke dalam modul digital yang di dalamnya dapat dipaparkan video/media pembelajaran. Khususnya mata pelajaran Korespondensi yang membutuhkan pemahaman materi dan tutorial pembuatan surat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa e-modul berbasis digital flipbook dan mengetahui kelayakan e-modul sebagai sumber belajar pada mata pelajaran Korespondensi di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini merupakan modifikasi model pengembangan pendidikan dari Plomp dan pengembangan perangkat pembelajaran dari Kemp dengan tahap: (1) penelitian awal, (2) desain, (3) realisasi/pembuatan, (4) tes, evaluasi, dan revisi, dan (5) implementasi. Penelitian ini menggunakan angket untuk memperoleh hasil yang valid dalam pengembangan e-modul. Angket diberikan kepada ahli materi, ahli media, dan pengguna e-modul. E-modul ini divalidasi oleh validator sebanyak tiga kali, yaitu setelah produk awal, setelah uji coba terbatas, dan setelah penerapan pada siswa secara menyeluruh (kelompok besar). Berikut adalah hasil yang diperoleh pada tahap terakhir validasi, diantaranya validator ahli materi sebesar 98,55%, ahli media sebesar 97,65%, uji coba terbatas sebesar 89%, dan hasil penerapan menyeluruh sebesar 90%. Dari hasil tersebut maka e-modul yang dikembangkan layak digunakan sebagai sumber belajar pada mata pelajaran Korespondensi.

Improving the reading comprehension of the second year students of MTs Nurul Islam Kota Kediri through think-pair-share strategy / Nasih Iwan Susanto

 

Thesis, English Language Education, Graduate Program of State University Of Malang. Advisors: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd. (II) Drs. Fachrurrazy, M.A.,Ph.D Key Words: reading comprehension, think-pair-share strategy. Reading is considered as a complex skill, it requires not only the reading activity, but also ability to understand the content. Based on the researcher’s observation in MTs Nurul Islam Kota Kediri, the students can hardly comprehend the reading text even in the simple text. This is because in comprehending the text, they must focus attention on many aspects such as identifying information, discriminating elements, interpreting complex ideas, inferring text, Synthesizing, and evaluating. These aspects can affect the students to master reading text. Consequently, the students find problems in comprehending the text. Sometimes in doing their task, they just answer questions using incomplete sentences or only guess the answers. To overcome these classroom problems, this Think-Pair-Share (TPS) strategy was applied to improve the students’ reading comprehension in English as the research. The objective of the research is to describe how Think-Pair-Share strategy improves the students’ reading comprehension. The research employed a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in preparing a suitable procedure of Think-Pair-Share strategy, designing the lesson plan, determining of the criteria of success, implementing the action, observing and doing reflections. The subjects of this research were 26 second-year students of MTs Nurul Islam Kota Kediri of the 2010/2011 academic year. This research was conducted in 2 cycles, in which Cycle 1 comprised three meetings and Cycle 2 comprised two meetings. The data of this research were obtained through (1) observation sheet, to obtain information about teacher’s and the students’ activities and performance during the implementation of Think-Pair-Share strategy, (2) field notes, to note the data beyond the coverage of the observation sheet, (3) quiz, to identify whether the students had made progress in reading comprehension, and (4) questionnaire, to get information from the students whether the strategy applied could lead the students to be actively involved during the teaching and learning process. The findings showed that the best procedures of implementing the Think-Pair-Share strategy in teaching-learning of reading comprehension were divided into three phases. The first phase was pre- activities; (1) showing pictures to the students and asking some oral questions related to the pictures, (2) asking the students to predict the topic that will be discussed, (3) asking the students to mention words that might be used in the text and writing the words predicted on the board. The second phases was whilst- activities; (1) asking the students to read the text silently, (2) giving a model on how to read the text and asking the students to repeat and underline the difficult words, (3) clarifying the meaning of difficult words, (4) explaining the content of the text, (5) giving time to students for asking something that they still don’t understand, (6) asking the students to answer yes-no questions orally, (7) explaining the steps and activities the students will do in this reading class, (8) asking the students to answer comprehension questions individually and circulating and providing assistance if needed, (9) assigning the students to sit in pairs, (10) asking the pairs to discuss of the comprehension questions and encouraging the students to help each other, monitoring and providing assistance if necessary, (11) asking the pairs to report their answer. The third phase was post –activities; (1) rechecking the students’ answers, (2) writing down the right answers on the board, and (3) making conclusions of the topic and closing the class. The research showed that the implementation of Think-Pair-Share strategy in the teaching-learning of reading comprehension is effective in improving the students’ comprehension skill. It could improve the students’ ability and achievement in reading comprehension. Moreover, students were actively involved in the class using Think-Pair-Share strategy in terms of sharing ideas, asking and answering questions. In addition, the students’ participation, perception, and motivation toward the implementation of Think-Pair-Share strategy were positive. It is suggested that teachers use Think-Pair-Share strategy as one alternative in the teaching of reading comprehension in the classroom and other English instructions. The findings showed that the implementation of Think-Pair-Share strategy that had been proven to improve the students’ reading comprehension as well as enhancing students’ participation in terms of sharing ideas, discussing and reporting the answer was closely related to the role of the teacher. It is also recommended for future researchers who are interested in the same field conduct further research at the same or other level of students.

Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi melalui media gambar seri pada siswa kelas IV SDN Sukolilo 01 Kecamatan Jabung di Kabupaten Malang / Lailatul Mukarromah

 

ABSTRAK Mukarromah, Lailatul. 2016. Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Narasi Melalui Media Gambar Seri pada Siswa Kelas IV SDN Sukolilo 01 Kecamatan Jabung di Kabupaten Malang. Skripsi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Rumidjan, M. Pd, (II) Dra. Ratna Trieka Agustina, S. Pd., M. Pd. Kata Kunci: Menulis, Karangan Narasi, Media Gambar Seri Berdasarkan hasil observasi di kelas IV SDN Sukolilo 01 Kecamatan Jabung di Kabupaten Malang, ditemukan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama dalam kegiatan menulis masih terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Misalnya hasil tulisan siswa tidak runtut dan ditemukan banyak kesalahan dari aspek mekanik. Selain itu, guru dalam memberikan materi mengarang masih belum menggunakan media pembelajaran yang menarik minat siswa.Berdasarkan hasil dokumentasi karangan siswa, diperoleh data bahwa 18 siswa dari 31 siswa masih mendapatkan nilai di bawah KKM. Dengan melihat data hasil belajar dan pelaksanaan mata pelajaran tersebut, maka keterampilan menulis siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV perlu ditingkatkan. Tujuan penelitian ini, yaitu (1) mendeskripsikan proses pembelajaran keterampilan menulis karangan narasi menggunakan media gambar seri pada siswa kelas IV SDN Sukolilo 01 Kecamatan Jabung di Kabupaten Malang; (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis karangan narasi menggunakan media gambar seri pada siswa kelas IV SDN Sukolilo 01 Kecamatan Jabung di Kabupaten Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan rancangan penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek dari penelitian ini yakni siswa kelas IV SDN Sukolilo 01 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang yang berjumlah 31 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalahlembar observasi aktivitas guru, lembar observasi penggunaan media gambar seri, lembar observasi aktivitas siswa dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas di setiap siklusnya mengalami peningkatan. Peningkatan juga dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa secara klasikal yaitu pada pra tindakan (42%), pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 29%, dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 23%.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan media gambar seri dapat meningkatkan hasil keterampilan menulis siswa. Selain itu, dapat membuat siswa lebih antusiasdan dapat memberikan kesempatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untukmenggunakan media gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan narasi.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran kooperatif group investigation siswa kelas V SDN Gilang Kabupaten Tulungagung / Rahayuningtyas Handayani

 

ABSTRAK Handayani, Rahayuningtyas. 2016. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation Siswa Kelas V SDN III Gilang Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Dra. Hj. Sri Murdiyah, M.Pd, (2) Drs. H. Sunyoto, S.Pd., M.Si. Kata kunci: ips, hasil belajar, group investigation Hasil observasi pada pembelajaran IPS kelas V SDN III Gilang Kabupaten Tulungagung dan wawancara dengan guru kelas V, diketahui bahwa: (1) guru tidak membuat sendiri RPP dan LKS, (2) guru tidak menggunakan model pembelajaran, (3) guru menggunakan metode ceramah sehingga siswa merasa bosan, (4) guru tidak membentuk kelompok belajar dan tidak semua siswa aktif saat kegiatan belajar, (5) sebagian siswa kesulitan memahami materi, karena terbatasnya media dan tidak berani bertanya, (6) hasil belajar siswa ditentukan dari aspek pengetahuan saja. Hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa yakni 12 dari 30 siswa tuntas belajar, dengan ketuntasan klasikal 40%. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation pada pembelajaran IPS, dan (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS setelah diajar menggunakan model Group Investigation. Pendekatan penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama dua siklus, dalam satu siklus terdiri dari dua pertemuan. Tiap siklus dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan (1) teknik observasi, (2) teknik tes, (3) teknik wawancara, (4) teknik dokumentasi, (5) catatan lapangan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V. Pada penelitian ini peneliti sebagai guru dan guru kelas V sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar. Dibuktikan dengan rata-rata persentase aktivitas guru pada siklus I sebesar 82,82%, aktivitas siswa sebesar 79,17% . Sedangkan siklus II persentase aktivitas guru sebesar 96,88% dan aktivitas siswa sebesar 97,92%. Rata-rata hasil belajar tahap pratindakan 60,01, siklus I 69,24, siklus II 82,31. Ketuntasan belajar klasikal tahap pratindakan 40%, siklus I 63%, siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa yakni 30 siswa dapat tuntas seluruhnya. Oleh karena itu disarankan hendaknya peneliti lebih mengembangkan model Group Investigation menjadi lebih baik lagi, bagi siswa lebih aktif berpikir mandiri, guru dapat menerapkan dan mengembangkan model Group Investigation pada mata pelajaran lain yang sesuai, dan bagi sekolah diharapkan dapat menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mewujudkan pembelajaran yang inovatif.

Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang bercirikan Realistic Mathematics Education (RME) pada materi untuk SMP kelas VIII / Rohmat Yusufa

 

Kata Kunci: Lembar Kerja Siswa (LKS), RME, Lingkaran. Ketersediaan LKS matematika untuk SMP yang beredar dipasaran saat ini tidak dapat ditemukan. Oleh karena itu, perlu disusun dan dikembangkan LKS yang berkualitas menurut kriteria tertentu. LKS yang akan dikembangkan menggunakan salah satu pendekatan pembelajaran yang akan menggiring siswa memahami konsep matematika dengan mengkontruksi sendiri melalui pengetahuan sebelumnya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya, menemukan sendiri konsep tersebut sehingga belajarnya menjadi bermakna. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan LKS bercirikan RME yang valid sehingga dapat digunakan dalam mendukung proses pembelajaran di kelas pada materi keliling dan luas lingkaran. Model pengembangan LKS pada penelitian ini mengacu pada model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang telah dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut, 1) penyederhanaan model yang sebelumnya terdapat empat tahap menjadi tiga tahapan saja yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop), hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu serta biaya, 2) tidak semua tahapan pada model 4-D digunakan karena disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan bahan ajar yang berupa LKS. Berdasarkan hasil validasi yang telah diuraikan pada Bab IV, secara keseluruhan produk LKS yang dikembangkan dinyatakan valid menurut penilaian validator ahli dan praktisi dan validator user. Jadi dapat disimpulkan bahwa LKS yang dikembangkan memenuhi kriteria baik. Disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk mengujicobakan LKS ini kepada siswa dalam kelompok yang lebih besar dengan menerapkan tiga prinsip dan lima karakteristik RME secara utuh.

Isolasi gen Hfi-el pengkode enzim F3'5'H pengendali sintesis warna bunga pada Petunia x hybrida cv. Picotee Rose di Batu Malang / Naailatu Nur Azizah

 

Azizah, Naailatu Nur. 2014. Isolasi Gen Hf1-e1 Pengkode Enzim F3’5’H Pengendali Sintesis Warna Bunga Pada Petunia x hybrida cv. Picotee Rose di Batu Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Dahlia, M.S., (II) Dra. Dwi Listyorini, M.Si., D.Sc. Kata kunci: Gen Hf1-e1, enzim F3’5’H, Petunia x hybrida cv. Picotee Rose Sumber daya florikultura di Indonesia sangat melimpah dan memiliki potensi ekonomi sangat tinggi. Salah satu tanaman hias yang memiliki keindahan bunga dan sangat komersil secara global adalah Petunia. Petunia telah lama digunakan sebagai bahan riset untuk studi flavonoid khususnya biosintesis antosianin. Gen yang berperan dalam menentukan warna bunga petunia adalah gen hf1 yang mengkode enzim F3’5’H. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sekuen gen hf1-e1 pada Petunia x hybrida cv. Picotee Rose sebagai penelitian awal untuk pengembangan pemuliaan tanaman hias di Indonesia. Metode penelitian adalah isolasi DNA total, amplifikasi gen hf1-e1 dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer forward (5’-AAGAGG-GTGGCCGGTGATCGG-3’) dan primer reverse (5’-CCGATATGAGTCGA-GAGGGCC-3’), dan sekuensing hasil PCR. Penelitian ini berhasil memperoleh gen hf1-e1 sepanjang 419 bp.

Keefektifan pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) pada pembelajaran sistem pertidaksamaan linier di kelas 2 semester 2 SMAN 1 Lenteng Kabupaten Sumenep / oleh Sri Nurhayati

 

Proses berpikir kreatif siswa kelas VII dalam menyelesaikan masalah open ended materi segiempat dan segitiga / Nining Astuti

 

ABSTRAK Astuti, Nining. 2016. Proses Berpikir Kreatif Siswa Kelas VII dalam Menyelesaikan Masalah Open ended Materi Segi Empat dan Segitiga. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si (II) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd Kata kunci: Proses berpikir kreatif, Masalah Open ended, Materi segi empat dan segitiga Hakikatnya setiap manusia mempunyai potensi untuk kreatif, namun tingkat kreativitasnya berbeda-beda. Kreativitas merupakan tuntutan penting dalam pendidikan. Salah satu cara mengukur kemampuan berpikir kreatif dengan menggunakan masalah open ended. Berpikir kreatif tergolong kompetensi tingkat tinggi dan dipandang sebagai kelanjutan dari kompetensi dasar dalam pembelajaran matematika. Proses berpikir kreatif merupakan suatu proses mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir divergen. Proses berpikir kreatif siswa dapat diidentifikasi dengan menggunakan Tahapan Wallas yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa kelas VII dalam menyelesaikan masalah open ended materi segi empat dan segitiga. Penelitian dilaksanakan di kelas VII-7 SMP Negeri 5 Malang. Siswa diberikan lembar tugas masalah open ended dan dikategorikan berdasarkan indikator kreativitas yaitu kelancaran, fleksibilitas, dan kebaruan. Subjek diambil dari masing-masing kategori yaitu 2 siswa sangat kreatif, 2 siswa kreatif dan 2 siswa cukup kreatif. Data hasil pengerjaan lembar tugas masalah open ended dan wawancara kemudian dianalis melalui tahap mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap persiapan, siswa kategori sangat kreatif dan kreatif memahami masalah dengan baik. Siswa kategori cukup kreatif memahami maslah namun belum dapat menyampaikan informasi dengan bahasanya sendiri. Pada tahap inkubasi, siswa kategori sangat kreatif dan kreatif cenderung diam sejenak untuk mencari strategi dalam menyelesaikan masalah. Siswa dengan kategori cukup kreatif cenderung membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan solusi. Pada tahap iluminasi, siswa kategori sangat kreatif, kreatif, dan cukup kreatif menemukan ide untuk menyelesaikan masalah. Ide yang ditemukan berupa gabungan bangun datar untuk membuat pola. Pada tahap verifikasi, siswa kategori sangat kreatif, kreatif, dan cukup kreatif menerapkan setiap ide yang diperoleh dengan yakin. Siswa dengan kategori sangat kreatif membuat tiga pola berbeda yang memenuhi indikator kelancaran, fleksibilitas, dan kebaruan. Siswa pada kategori kreatif mampu membuat tiga pola berbeda yang memenuhi indikator kelancaran dan fleksibilitas. Siswa dengan kategori cukup kreatif membuat satu atau dua pola berbeda yang memenuhi indikator kebaruan atau fleksibilitas. Siswa dengan kategori sangat kreatif dan kreatif memeriksa kembali jawaban dengan mengecek hasil perhitungan. Siswa dengan kategori cukup kreatif tidak mengecek kembali sehingga terdapat kesalahan dari jawaban yang diberikan.

Kompetensi pada industri pengecoran logam "Baja Mulia Utama" di Ceper Klaten Jawa Tengah untuk bahan masukan pengembangan kurikulum SMK bidang keahlian mesin produksi / Mochtar Fitra Hadi Kusuma

 

Kata Kunci: kompetensi, perusahaan cor logam, pengembangan kurikulum Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang yang dipersiapkan menjadi seorang tenaga pengajar yang professional dituntut mampu dan jeli dalam melihat perkembangan IPTEK. Seorang guru harus mampu dalam mengembangkan materi yang akan diajarkannya sesuai dengan kebutuhan masa yang akan datang. Penelitian ini dilaksanakan di perusahaan cor logam “Baja Mulia Utama” Ceper, Klaten, Jawa Tengah karena industri logam semacam ini banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dan berpotensi besar jika dikembangkan dengan serius sehingga perlu dikembangkan kurikulum muatan lokal sebagai relevansi pendidikan pengembangan potensi daerah. Dalam sebulan industri Usaha Kecil Menengah (UKM) ini merauk keuntungan hingga mencapai Rp.250 juta. Oleh karena itu hasil penelitian ini layak untuk masukan pengembangan kurikulum SMK di daerah Malang sekaligus agar industri semacam ini dapat berkembang luas di luar daerah industri yaitu kota Malang. Ada tiga hal yang menjadi fokus penelitian, yaitu (1) Profil industri cor logam ”Baja Mulia Utama” Ceper, Klaten, Jawa Tengah, (2) proses pembuatan kerajinan logam dari bahan baku sampai dengan finishing, dan (3) kompetensi yang dibutuhkan perusahaan cor logam ”Baja Mulia Utama” sebagai bahan masukan pengembangan kurikulum SMK bidang keahlian mesin produksi. Penenelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan silabus muatan lokal sebagai masukan pengembangan kurikulum SMK dan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data trianggulasi. Hasil penelitian ini adalah Pertama, pembuatan kerajian logam terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1) Pemilihan bahan baku, (2) Olah pasir, (3) Pembuatan rangka cetakan (Cup and Drag) dan Matres/pola, (4) Pembuatan inti (core), (5) Pengepresan/Cetak pasir, (6) Peleburan, (7) Penuangan dan pembongkaran hasil cor, (8) Pengerjaan lanjut coran (finishing). kedua, kompetensi yang dibuat silabus pengembangan kurikulum adalah pengecoran logam dan diverifikasikan dengan pihak guru SMK dan dipertimbangkan oleh Waka Kurikulum SMKN 1 Singosari Malang Bapak Mochammad Sodiq dan Waka Kurikulum SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Bapak Tri Hariyoto untuk materi muatan lokal tahun ajaran berikutnya. Berdasarkan pada temuan penelitian diajukan saran-saran sebagai berikut, pertama,perusahaan cor logam “Baja Mulia Utama” untuk memperhatikan K3 dan membuat kompetensi karyawan yang relevan dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) sektor logam. kedua, bagi mahasiswa yang melakukan penelitian kualitatif tentang pengembangan kurikulum untuk memperhatikan KTSP, SKL yang dipakai SMK, SKKNI bidangnya, dan kompetensi yang ada pada jenis pekerjaan di industri yang mempunyai potensi di daerah penelitiannya.

Alih wahana novel Namaku Wage karya Umar Nur Zain menjadi buku cerita bergambar sebagai bacaan anak usia 7-9 tahun / Nurul Choiriyah

 

ABSTRAK Choiriyah, Nurul. 2015. Alih Wahana Novel Namaku Wage Karya Umar Nur Zain Menjadi Buku Cerita Bergambar sebagai Bacaan Anak Usia 7—9 Tahun. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nita Widiati, M.Pd., (II) Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. Kata Kunci: alih wahana, buku cerita bergambar, anak usia 7—9 tahun Cerita pahlawan yang ditulis khusus untuk anak-anak masih belum banyak. Cerita pahlawan lebih banyak ditulis dalam bentuk biografi atau novel. Novel dan biografi tidak sesuai jika dijadikan sebagai bacaan anak karena biografi dan novel ditulis dalam bentuk prosa yang panjang. Anak-anak perlu mendapatkan bacaan bertema pahlawan yang sesuai dengan perkembangan kognitif mereka. Oleh karena itu, perlu dilakukan alih wahana cerita pahlawan yang ditulis dalam bentuk biografi atau novel menjadi buku yang sesuai untuk anak. Alih wahana adalah proses pengubahan jenis karya sastra satu ke jenis lainnya. Alih wahana dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi yang semakin menunjang berbagai aktivitas manusia. Perkembangan teknologi ini juga berpengaruh terhadap karya sastra. Perkembangan teknologi selain memberikan dampak positif yang mempercepat berbagai aktivitas pekerjaan manusia juga memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari teknologi adalah banyak acara televisi yang menyajikan acara hiburan untuk anak yang mengandung sedikit keteladanan. Oleh karena itu, anak-anak perlu memiliki buku cerita yang memiliki banyak cerita keteladanan. Salah satu kisah keteladanan yang baik adalah dari pahlawan. Novel yang dialihwahanakan adalah novel Namaku Wage karya Umar Nur Zain. Novel ini merupakan novel sejarah yang menceritakan kehidupan Wage Rudolf Supratman. Novel ini dipilih karena literatur yang menceritakan kisah masa kecil Wage Rudolf Supratman sedikit. Berdasarkan paparan latar belakang pada paragraf satu dan paragraf dua di atas, tujuan penelitian pengembangan ini adalah (1) menghasilkan buku cerita bergambar sebagai bentuk alih wahana masa kecil pada novel Namaku Wage sebagai bacaan anak usia 7—9 tahun, dan (2) mendeskripsikan kelayakan buku cerita bergambar sebagai bentuk alih wahana masa kecil pada novel Namaku Wage sebagai bacaan anak usia 7—9 tahun. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model Thiagarajan, Dorothy S., dan Melvyn I., yaitu model 4D. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada tiga tahap pengembangan yang dilakukan, yaitu (1) tahap pendefinisian, (2) tahap desain, dan (3) tahap pengembangan. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan buku cerita bergambar yang dilakukan pada tahap pendefinisian. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui dua kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli sastra dan ahli desain visualisasi cerita bergambar, dan (2) uji kelompok besar yang terdiri atas 30 siswa SD Negeri 06 Bantur usia 7—9 tahun. Buku cerita bergambar yang dikembangkan adalah buku cerita disertai gambar berwarna. Buku cerita bergambar ini berjudul Kisah Wage Kecil Pencipta Lagu Indonesia Raya. Buku cerita bergambar ini menceritakan masa kecil Wage Rudolf Supratman. Genre buku adalah picture book. Jenis kertas yang digunakan adalah art paper 120 gram. Jumlah halaman isi yaitu 33 halaman. Hasil validasi oleh ahli materi mendapat skor 91,6 (sangat layak). Hasil validasi oleh ahli media mendapat skor 80,2 (sangat layak). Uji coba pengembangan atau uji coba kelompok besar mendapat skor 97,1 (sangat layak). Hasil uji dengan ahli materi sastra anak menunjukkan bahwa buku cerita bergambar sangat layak. Uji dengan ahli desain cerita bergambar produk dikategorikan sangat layak dan dapat diimplementasikan tanpa revisi. Hasil uji kelompok besar yang terdiri dari 30 anak menunjukkan bahwa buku cerita bergambar dikategorikan sangat layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan bacaan kisah pahlawan berbentuk buku cerita bergambar dari hasil uji menunjukkan bahwa produk buku cerita bergambar sangat layak dan dapat diimplementasikan. Buku cerita bergambar ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada anak-anak usia 7—9 tahun, orang tua, guru, sekolah, dan peneliti lain. Manfaat untuk anak usia 7—9 tahun yaitu untuk menambah bahan bacaan bertema pahlawan nasional Indonesia, membantu proses belajar membaca anak usia 7—9 tahun, dan meningkatkan rasa cinta kepada cerita pahlawan nasional. Manfaat bagi orang tua yaitu untuk memberikan prasarana yang dipersiapkan untuk membantu anak gemar membaca.Manfaat untuk guru yaitu dapat digunakan sebagai alternatif bahan pengayaan bertema pahlawan nasional. Bagi sekolah dapat dijadikan tambahan koleksi perpustakaan. Bagi pengembang selanjutnya disarankan untuk melakukan pengembangan cerita-cerita lokal Indonesia untuk anak agar bacaan anak semakin banyak variasinya.

Penerapan model pembelajaran advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar materi turunan pada siswa kelas XI-IPA 1 SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011 / Rudy Setiawan

 

Kata Kunci: advance organizer, hasil belajar Berdasarkan observasi awal dan wawancara tak terstruktur yang dilakukan dengan guru Matematika kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Tumpang diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi guru dan siswa masih pasif. Siswa cenderung kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa kesulitan dalam memahami konsep matematika, siswa cenderung menghafal konsep-konsep matematika dan hasil belajar matematika yang diperoleh rendah. Solusi untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan pembelajaran model advance organizer. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Tumpang, dengan subjek siswa kelas XI IPA 1 yang berjumlah 34 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi tahapan pembelajaran guru dan siswa, lembar pretes, lembar tes akhir siklus dan catatan lapangan sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan setiap kali tindakan dalam satu siklus berakhir. Tahapan dari pembelajaran model advance organizer adalah meliputi tiga fase yaitu penyajian advance organizer, fase penyajian materi belajar dan fase penguatan struktur kognitif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar materi turunan pada siswa kelas XI-IPA 1 SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Hasil penelitian yang diperoleh adalah meningkatnya hasil belajar materi turunan. Dilihat dari perbandingan hasil pretes, rata-rata skor siswa 67,21 dan jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 80 adalah 26,47%. Hasil tes akhir siklus I rata-rata skor siswa 72,5 dan jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 80 adalah 44,12%. Hasil tes akhir siklus II rata-rata skor siswa 85,29 dan jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 80 adalah 70,59%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran advance organizer dapat meningkatkan hasil belajar materi turunan pada siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011.

Hubungan antara persepsi dan tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di SMP se-Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Nurma Fitriyani

 

ABSTRAK Nurma, Fitriyani. 2016. Hubungan antara Persepsi dan Tingkat Partisipasi Siswa dalam Kegiatan Ekstarkurikuler Pramuka di SMPN Se-Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Budi Wiyono, M. Pd, (II) Dr. Bambang Setyadin, M. Pd. Kata Kunci: persepsi, tingkat partisipasi, siswa, ekstrakurikuler, pramuka Sejalandengan pelaksanaankurikulum 2013 mewajibkan siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) mengikuti kegiatanekstrakurikuler Pramuka. Namun pada kenyataannya ekstrakurikuler Pramuka kurang diminati siswa, karena kegiatan yang dipelajari tidak variatif dan monoton. Lalu tidak semua siswa senang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka karena masing-masing siswa memiliki bakat dan minat yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan tingkat persepsi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, (2) Mendeskripsikan tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, dan (3) Menemukanhubungan antara persepsi dan partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Penelitian ini menggunakan Teori Partisipasi dari Cohen dan Uphoff,sertaSumarto dimana subvariabel penelitiannya adalah pengambilan keputusan, kepentingan, solidaritas, tujuan yang sama, ingin melakukan langkah bersama, harta benda, tenaga, keterampilan, dan buah pikiran. Sedangkan teori kedua adalah Teori Persepsi dari Robbins, adalah faktor penerimaan, faktor situasi, dan faktor objek. Metode penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan analisis korelasi. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII dan IX SMP Negeri se-Kecamatan Kepanjen yang terdiri dari 5 SMPN berpopulasi 2.998 lalu dengan pengambilan sampel berjumlah 358 siswa Penentuan subjek menggunakan teknik pengambilan sampel Proportional Random Sampling dimana nama-nama siswa diambil menggunakan sistem kocokan dengan membuat gulungan kertas kecil yang berisi nomor presensi dengan jumlah 358 siswa. Analisis data menggunakan teknik analisis Korelasi Product MomentPearson untuk menganalisis hubungan antara persepsi dan tingkat partisipasi. Hasil penelitian ini menunjukkan 192 siswa (53,60%) memiliki persepsi tinggi, 145 siswa (40,50%) memiliki persepsi sedang, dan 21 siswa (5,90%) memiliki persepsi rendah dengan reliabilitas pengukuran persepsi (rα=0,853). Sedangkan 137 siswa (38,30%) memiliki tingkat partisipasi tinggi, 194 siswa (54,20%) memiliki tingkat partisipasi sedang, dan 27 siswa (7,50%) memiliki tingkat partisipasi rendah dengan reliabilitas pengukuran tingkat partisipasi (rα= 0,931).Perolehan koefisien korelasi antara X dan Y sebesar 0,773 dengan P = 0,00 < α 0,05.Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwaada hubungan signifikan antara persepsi dan tingkat partisipasi siswa Kelas VIII dan IX SMPN se-Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) Tingkat persespi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dalam kategori tinggi, (2) Tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka berada pada kategori sedang, (3) Ada hubungan yang signifikan antara persepsi dan tingkat partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Hasil pengujian asumsi normalitas data diperoleh variabel persepsi sebesar 0,144> 0,005 dan variabel tingkat partisipasi 0,159> 0,005. Sedangkan untuk pengujian homogenitas varians menggunakan Levenetestvariabel persepsi diperoleh koefisien sebesar P = 0,024 >α 0,05 dan variabel tingkat partisipasi sebesar P = 0,010 >α 0,05. Penelitian ini memiliki implikasi sebagai berikut: (1) Tingkat persepsi perlunya pengadaan media, seperti buletin, spanduk, atau majalah sekolah yang berisi tentang keseluruhan kegiatan Pramuka sehingga siswa merasa senang kalau kegiatan yang mereka ikuti dipublikasikan, (2) Tingkat partisipasi perlunya memberikan dorongan kepada siswa dengan cara pemberian hadiah bagi siswa yang berprestasi, dan (3)Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi dan tingkat partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka,sebaiknyakepala sekolah memberi dorongan kepada guru kelas untuk turut serta berpartisipasi menjadi Pembina Pramuka, selain itu adanya pemberian fasilitas oleh kepala sekolah yang akan digunakan oleh pembina untuk membuat dokumentasi atau untuk menunjang aktivitas Kepramukaan Saran yang diberikan peneliti, yaitu kepada: (1)Kwartir CabangPramuka, sebagai pengawas dan penyelenggara kegiatan-kegiatan besar hendaknya mengadakan evaluasi program kegiatan dimana diikuti oleh seluruh Pembina dan Pelatih dari seluruh sekolah, (2)KepalaSekolah, sebagai penunjang program wajib ekstrakurikuler Pramuka sebaiknya memberikan dorongan kepada guru kelas agar mau berpartisipasi menjadi PembinaPramuka, (3) Guru, hendaknya mendukung pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dengan membantu pembina Pramuka membuat program kerja, membuat tata tertib bagi siswa, serta membantu mengawasi kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, (4) PembinaPramuka, juga bisa membuat buletin, spanduk, atau majalah sekolah yang berisi tentang proses kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dengan tujuan sebagai ajang promosi untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut, dan (5) Peneliti Lain, dengan melakukan penelitian lain, misalnya hubungan keefektifan publikasi dan citra lembaga pendidikan dengan partisipasi siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler wajib Pramuka.

Aplikasi regresi logistik biner terhadap faktor-faktor pada persalinan normal (studi kasus di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo) / Dyah Tri Wahyuningtyas

 

Kata kunci: Regresi Logistik Biner, Persalinan Normal. Kata kunci: Regresi Logistik Biner, Persalinan Normal. Model regresi logistik merupakan salah satu metode regresi yang digunakan untuk mencari hubungan variabel respon yang berkategori dengan satu atau lebih variabel bebas yang berupa kategori atau kontinu. Regresi logistik biner merupakan regresi yang responnya berupa variabel kategori atau nominal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan model regresi logistik biner tentang hubungan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persalinan normal dan menentukan faktor–faktor yang mempengaruhi persalinan normal dengan menggunakan regresi logistik biner. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi persalinan normal yaitu: penambahan berat badan ibu hamil , usia ibu hamil , urutan kehamilan , tekanan darah ibu hamil , berat badan bayi sebelum lahir , posisi bayi sebelum lahir , dan masalah lain sebelum persalinan . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model regresi logistik biner tentang hubungan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persalinan normal adalah dengan nilai koefisien determinasinya sebesar 78% dan nilai MSE sebesar 0,22. Persalinan normal dipengaruhi oleh kenormalan tekanan darah ibu hamil, kenormalan berat badan bayi sebelum lahir, kenormalan posisi bayi sebelum lahir dan ketidakadaan masalah sebelum persalinan. 1X2X3X4X5X6X7X)32635, 230129, 365771, 2406104, 00597682, 009158, 3exp(1)32635, 230129, 365771, 2406104, 00597682, 009158, 3exp(ˆ1.71.62.51.541.71.62.51.54XXXXXXXXXXY

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |