Pengaruh minat baca, motivasi berprestasi dan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar mahasiswa / Riza Yonisa Kurniawan

 

Kata kunci: minat baca, motivasi berprestasi, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar. Fenomena yang terjadi di lapangan menunjukkan pengajaran ekonomi selama ini masih berorientasi pada kemampuan peserta didik dalam menghafal fakta-fakta di dalam materi, yang pada kenyataannya mereka seringkali belum memahami secara mendalam substansi materi yang belum sampai pada kemampuan untuk berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis yang menyebabkan peserta didik kurang mendapatkan pembelajaran yang bermakna. Begitu juga dengan mahasiswa, mereka hanya akan mau belajar jika mendekati ujian, Apalagi perkembangan game atau play station (PS) yang semakin maju menjadikan mahasiswa lebih sering didepan komputer atau PS untuk bermain game dari pada belajar, sehingga dibutuhkan semangat atau motivasi dalam diri mahasiswa agar lebih giat dalam belajar dan apa yang mereka pelajari nantinya akan bermanfaat jika mereka terjun dalam dunia kerja atau dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan pengaruh: (1) minat baca terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, (2) motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, (3) kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, (4) minat baca, motivasi berprestasi dan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian korelasional. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian serta hipotesis, diidentifikasikan sebanyak 4 (empat) variabel yang diteliti, meliputi: minat baca (X1), motivasi berprestasi (X2) dan kemampuan berpikir kritis (X3) terhadap hasil belajar (Y). Data yang terkumpul berupa data kuantitatif yang kemudian di analisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan program SPSS for Windows 16.0. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Ekonmi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2007 s/d 2009 semester genap tahun ajaran 2009/2010 dengan sampel yang ditentukan dengan teknik proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, tes dan dokumentasi. Dari pengolahan data dan analisis melalui uji hipotesis didapatkan hasil penelitian sebagai berikut: (1) minat baca berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; (2) motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; (3) kemampuan berpikir kritis berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; dan (4) minat baca, motivasi berprestasi dan kemampuan berpikir kritis berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar. Dari hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka peneliti menyarankan sebagai berikut: (1) untuk meningkatkan minat baca banyak sekali cara yang dapat dilakukan mahasiswa diantaranya dengan seringnya pergi ke perpustakaan agar mencari informasi yang banyak baik untuk kegiatan kuliah maupun menambah wawasan khasanah pengetahuan. Dengan memperdalam dan memperluas pengetahuan yang berkaitan dengan minat baca maka akan dapat pula meningkatkan hasil belajar mahasiswa, (2) agar motivasi berprestasi mahasiswa tinggi dilakukan dengan cara memberikan skill ataupun kemampuan enterpreneurship yang memadai baik guna bersaing dengan tuntutan zaman yang modern. Dosen juga memberi semangat kepada mahasiswa baik dengan pujian maupun hadiah apabila mahasiswa menjawab dengan benar agar memacu mereka belajar lebih giat dan bersaing secara sehat dengan teman-temannya yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa, (3) agar kemampuan berpikir kritis mahasiswa semakin meningkat sebaiknya dosen memberikan artikel maupun jurnal agar mahasiswa menganalisisnya, sehingga semakin lama mereka akan terbiasa dengan analisis kritis sehingga kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan meningkat, (4) diperlukan upaya untuk meningkatkan minat baca, motivasi berprestasi dan kemampuan berpikir kritis sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Dengan memberi semangat kepada mahasiswa bahwa masa depan mereka yang menentukan mereka sendiri dan jika mereka tidak giat dalam belajar sehingga cita-cita yang diharapkan dapat tercapai.

Pengaruh minat dan motivasi mahasiswa menjadi guru terhadap kebiasaan belajar mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Merina Indriastuti

 

Kata Kunci: minat menjadi guru, motivasi menjadi guru, kebiasaan belajar. Salah satu penyebab kegagalan pendidikan di Indonesia dikarenakan masih banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang hanya mengacu pada hasil belajar, tetapi kurang memperhatikan proses belajar. Banyak penelitian yang mengkaji tentang hasil belajar atau prestasi belajar sebagai variabel terikatnya, tetapi belum ada penelitian yang mengkaji mengenai proses belajar (kebiasaan belajar). Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu diadakan penelitian untuk mengkaji pengaruh minat dan motivasi mahasiswa menjadi guru terhadap kebiasaan belajar mahasiswa. Adapun tujuannya adalah untuk (1) mengetahui apakah minat mahasiswa menjadi guru memberikan pengaruh terhadap kebiasaan belajar, dan (2) mengetahui apakah motivasi mahasiswa menjadi guru memberikan pengaruh terhadap kebisaan belajar mahasiswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian explanation dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive propotional sampling dengan jumlah sampel sebanyak 109 mahasiswa yang diambil dari angkatan 2007 dan 2008 Prodi S1 Pendidikan Akuntansi FE UM yang diwakili secara proporsional sesuai dengan jumlah mahasiswa setiap offering. Teknik pengumpulan datanya yaitu dengan menggunakan angket sebagai instrumen penelitian. Uji kualitas instrumen dilakukan sebanyak 2 kali dan pengambilan data penelitian dilakukan pada tanggal 15 Maret 2010. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Seluruh penggujian dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat mahasiswa menjadi guru tidak memberikan pengaruh terhadap kebiasaan belajar mahasiswa, sedangkan motivasi mahasiswa menjadi guru memberikan pengaruh terhadap kebiasaan belajar mahasiswa sebesar 20,2%. Tidak berpenpengaruhnya minat mahasiswa menjadi guru terhadap kebiasaan belajar bisa dikarenakan indikator yang ditetapkan untuk mengukur minat mahasiswa menjadi guru, tidak dapat mengakomodasi setiap kebutuhan mahasiswa dalam mengukur minatnya untuk menjadi guru. Dari hasil penelitian ini, disarankan untuk mahasiswa Prodi SI Pendidikan Akuntansi FE UM, hendaknya senantiasa menambah wawasannya agar motivasinya untuk menjadi guru akan semakin meningkat. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang sejenis, hendaknya menggunakan variabel lain sebagai variabel bebasnya dan menambah variabel prestasi belajar untuk variabel terikatnya. Hal ini dilakukan agar penelitian-penelitian tersebut akan saling melengkapi, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan secara komprehensif (menyeluruh).

Penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Palangsari II, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan / Alfiah

 

Kata Kunci: Penggunaan, Media Gambar Seri, Kemampuan Bercerita, Bahasa Indonesia Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Dengan pendekatan komunikatif ini siswa harus diberi kesempatan untuk melakukan komunikasi baik secara lisan maupun tulis. Supaya siswa mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka siswa perlu dilatih sebanyak-banyaknya atau diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan kegiatan berkomunikasi. Dengan mempertimbangkan karakteristik anak yang lebih memperhatikan terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka, membangkitkan minat dan motivasi belajar serta melatih imajinasi anak, maka penggunaan media gambar dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak dapat dilakukan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan cara menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Palangsari II, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, (2) Mendeskripsikan adanya peningkatan kemampuan bercerita siswa dengan penggunaan media gambar seri pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Palangsari II, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini merupakan bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Palangsari II, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 13 siswa yang terdiri dari siswa laki-laki dan siswa perempuan dan seorang guru kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Lembar Kerja Siswa (LKS), soal tes, pedoman wawancara, catatan lapangan serta rencana pelaksanaan tindakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Penerapan pembelajaran dengan menggunakan media gambar seri tidak hanya dapat meningkatkan aspek kognitif saja, tetapi juga kelancaran membaca, keberanian dan semua aspek yang menyangkut perkembangan siswa dalam pembelajaran seperti kemampuan bekerja sama serta partisipasi siswa dalam pembelajaran itu, selain itu pembelajaran ini juga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merancang serta mengelola pembelajaran secara individual, klasikal maupun berkelompok. 2) Penerapan pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Palangsari II, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan prestasi murid di setiap siklus, pada siklus I mencapai rata-rata 69,12 dan meningkat menjadi rata-rata 77,15 (100%) pada siklus II. Pada pratindakan kosa kata yang dikuasai murid masih sangat kurang, setelah adanya pembelajaran dengan menggunakan gambar seri untuk kemampuan bercerita diadakan wawancara dengan murid, perbendaharaan kata yang terkuasai bertambah, keberanian anak untuk mengungkapkan pertanyaan balik dengan peneliti patut diacungi jempol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan kemampuan bercerita dan hasil belajar mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas III SDN Palangsari II, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Tentunya pembelajaran ini dapat diterapkan pada kelas yang berbeda untuk ketrampilan yang sama. Saran kepada guru agar memakai model pembelajaran ini agar siswa tidak bosan dan termotivasi. Saran kepada siswa hendaknya meningkatkan hasil dan kemampuannya dengan cara lebih aktif dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran.

Analisis keragaman genetik tanaman jarak pagar (Jatropha curcas. L) aksesi unggul dan tipe liar berbasis RAPD sebagai sumber belajar matakuliah teknik analisis biologi molekuler / Fadilla Salim

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd., dan Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd.,M.Si. Kata kunci : keragaman genetik, RAPD, tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) Kebutuhan terhadap minyak bumi yang cenderung meningkat mengakibatkan perlunya pemanfaatan sumber energi terbarukan sebagai bagian penting dalam program diversifikasi energi. Alternatif yang ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak dan penghematan penggunaan cadangan devisa adalah dengan pemanfaatan minyak tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) sebagai bahan biodiesel. Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman kosmopolitan dengan kata lain secara agronomis tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dapat beradaptasi dengan lahan dan agroklimat di Indonesia, bahkan pada kondisi kering dan pada lahan marginal (kritis). Akan tetapi permasalahan yang masih dihadapi adalah belum adanya varietas unggul dan teknik budidaya yang memadai. Mengatasi permasalahan tersebut maka dilakukan eksplorasi. Eksplorasi dilakukan di beberapa daerah yaitu di NTB (SM 35), NTT (HS 49), Sulawesi Selatan (SP 8, SP 16, SP 33, SP 34, SP 38), Maluku Utara (TTE, JLL, SDL) dan Randusari Pasuruan (RSP). Selain dilakukannya eksplorasi dibeberapa daerah tersebut, dilakukan juga teknik RAPD dengan menggunakan primer OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPA-15, OPA-18, OPA-19, dan OPA-20 untuk menganalisis keragaman genetik tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) aksesi unggul sebanyak 7 sampel (HS 49, SP 8, SP 16, SP 33, SP 34, SP 38, dan SM 35) dan tipe liar sebanyak 4 sampel (TTE, JLL, SDL, dan RSP ) sehingga dapat mengetahui apakah ada hubungan kekerabatan hasil pemuliaan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) antara aksesi unggul dengan tipe liar tersebut. Teknik RAPD merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam bidang biologi molekuler untuk mengetahui tingkat keragaman genetik dari makhluk hidup. Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan tujuan untuk menganalisis keragaman genetik tanaman jarak pagar ( Jatrohpa curcas L.) aksesi unggul dan tipe liar berbasis RAPD, dengan mengkaji ekspresi fenotip dan ekspresi genotip melalui DNA dengan metode RAPD. Selaian itu juga, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui materi tentang analisis keragaman genetik pada tanaman jarak pagar ( Jatrohpa curcas L.) dengan menggunakan teknik RAPD dapat dijadikan penuntun praktikum sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam matakuliah teknik analisis biologi molekuler. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa, karateristik fenotip tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) aksesi unggul dan tipe liar pada dasarnya masih sama dengan karateristik fenotip tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) secara umumnya. Hasil PCR-RAPD dengan menggunakan tujuh jenis primer menunjukkan bahwa semua primer memperlihatkan jumlah pita yang berbeda antar tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.), hal ini disebabkan karena terdapat primer yang tidak dapat menghasilkan pita DNA. Adanya primer yang tidak menghasilkan pita mengindikasikan bahwa primer-primer tersebut tidak mempunyai homologi dengan DNA cetakan, karena terbentuknya fragmen pita DNA tergantung pada sekuen primer dan genotip dari DNA cetakan. Lokus yang ditempati oleh alel-alel yang terdeteksi tersebut bersifat polimorfik, karena dari semua jenis alel RAPD yang terdeteksi pada tujuh aksesi dan empat tipe liar tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) frekuensi alelnya kurang dari 0,95 (95%). Berdasarkan hasil analisis kekerabatan dengan menggunkan dendogram menunjukan bahwa terdapat beberapa tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang berasal dari daerah atau propinsi yang berbeda justru tingkat kekerabatannya lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang berasal dari daerah atau propinsi yang sama. Hal ini disebabkan karena sistem klasifikasi berdasarkan penanda molekuler-RAPD menghasilkan pengelompokan yang berbeda dengan hasil pengelompokan berdasarkan morfologi karena hanya berdasarkan pada analisis faktor genetik saja tanpa adanya pengaruh lingkungan, selain itu juga RAPD mempunyai keterbatasan salah satunya adalah tidak dapat membedakan individu homozigot dan heterozigot karena bersifat sebagai penanda dominan. Faktor penyebab lain terjadinya variasi genetik antara lain mutasi dan rekombinasi. Implikasi penelitian ini berupa penuntun praktikum mata kuliah teknik analisis biologi molekuler dengan judul analisis keragaman genetik tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) berbasis RAPD dapat digunakan sebagai penuntun praktikum matakuliah teknik analisis biologi molekuler, karena penuntun praktikum tersebut menarik, memadai, dan sudah layak digunakan.

Remitensi, pemanfaatan remitensi dan kondisi ekonomi keluarga TKW di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Prasetyo Ari Widodo

 

Kata kunci: Remitensi, Tenaga Kerja Wanita. Di daerah penelitian dua dasawarsa yang lalu sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dengan kharakteristik: luas kepemilikan lahan yang sempit, rendahnya penghasilan, keinginan memperbaiki kondisi sosial ekonomi, serta sempitnya lapangan pekerjaan, namun kondisi sepuluh tahun terakhir ini sungguh berbeda, di daerah penelitian semakin bermunculan berbagai jenis variasi kegiatan ekonomi, semakin berkembangnya sarana transportasi dan juga banyak rumah penduduk yang berkesan mewah. Berdasarkan pada uraian latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian berjudul Remitensi,Pemanfaatan remitensi dan kondisi ekonomi keluarga TKW di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar remiten yang diterima oleh keluarga TKW di daerah asal, pemanfaatan remitensi oleh rumah tangga TKW di daerah asal, serta kondisi ekonomi keluarga TKW di Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk yang salah satu anggota keluargannya melakukan migrasi internasional dan menjadi TKWdi luar negeri. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pedoman wawancara. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan tabulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan TKW yang bekerja di luar negeri, mengirimkan remitensi sebesar 2–2,5 juta Pemanfaatan remitensi oleh keluarga TKW tertinggi digunakan untuk membangun rumah, selain itu juga dipergunakan untuk membayar hutang, modal usaha, ditabung, biaya pendidikan anak, dan konsumsi. Dan kondisi ekonomi keluarga TKW mengalami perubahan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar besarnya jumlah remitensi yang dikirimkan ke daerah asal hendaknya bukan diperuntukkan untuk keperluan konsumsif saja, tetapi keluarga TKW perlu diberdayakan agar mau dan mampu untuk memggunakan remitensi sebagai modal usaha.

Pengaruh debt to equity ratio (DER) dan return on equity (ROE) terhadap harga saham melalui earning per share (EPS) pada perusahaan LQ 45 yang listing di BEi tahun 2009 / Moh. Faried Muis

 

Kata kunci: Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Harga Saham Melakukan investasi pada pasar modal merupakan alternatif untuk memperoleh keuntungan. Salah satu investasi yang menarik di pasar modal adalah investasi dalam bentuk saham. Namun, di sisi lain berinvestasi di pasar modal memberikan ketidakpastian dan risiko tinggi, sehingga investor perlu melakukan penilaian terhadap saham yang dipilihnya. Aspek paling sulit dalam mengambil keputusan investasi saham adalah menentukan layak tidaknya suatu saham dibeli, mengingat faktor harga mempunyai mobilitas tinggi. Harga saham merupakan cerminan nilai perusahaan. Untuk mengetahui pergerakan harga saham dapat dilakukan melalui analisis fundamental dengan menggunakan rasio laporan keuangan. Rasio tersebut antara lain rasio solvabilitas (DER), profitabilitas (ROE), dan EPS yang mengukur seberapa besar bagian laba per lembar saham yang dibagikan. Oleh karena itu penting untuk mengetahui seberapa besar pengaruh DER dan ROE terhadap harga saham melalui EPS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat harga saham, DER, ROE, dan EPS, serta mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara DER dan ROE terhadap EPS; DER, ROE, dan EPS terhadap harga saham; DER terhadap harga saham secara langsung maupun tidak langsung melalui EPS; ROE terhadap harga saham secara langsung maupun tidak langsung melalui EPS. Dengan begitu dapat diketahui fungsi variabel EPS sebagai moderator dalam pengaruh DER dan ROE terhadap harga saham. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kausalitas yang bertujuan mencari hubungan antara variabel-variabel, dengan memisahkan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung variabel penyebab terhadap variabel akibat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar dalam indeks LQ 45 tahun 2009. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 36 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari www.idx.co.id dan www.duniainvestasi.com. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis), dan analisis data menggunakan bantuan SPSS 16 for Windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama masa pengamatan, tingkat harga saham, DER, ROE, dan EPS mempunyai klasifikasi rendah. Dari uji hipotesis dalam penelitian menunjukkan bahwa DER tidak berpengaruh signifikan terhadap EPS dan harga saham; ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, namun berpengaruh signifikan terhadap EPS; sedangkan EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham; DER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui EPS; ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham secara langsung, namun berpengaruh signifikan secara tidak langsung melalui EPS, sehingga EPS merupakan variabel mediator untuk pengaruh ROE terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan pada perusahaan untuk lebih meningkatkan kinerja keuangan terutama yang berkaitan dengan ROE dan memanfaatkan penggunaan hutang dengan efisien, sehingga dapat menghasilkan laba per lembar saham yang tinggi dan meningkatkan harga saham. Bagi investor sebaiknya tetap memperhatikan faktor-faktor kinerja keuangan sebagai bahan pertimbangan yang rasional dalam melakukan analisis terhadap harga saham. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya melibatkan variabel pengukur kinerja keuangan yang lebih banyak, periode waktu yang berbeda dan sampel penelitian yang lebih luas.

Pemberian tugas dan penerapan sistem penilaian portofolio untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa SMKB 2 kota Malang program Studi Restoran kelas X pada mata Pelajaran Food Product / Rizqi Ranadhani

 

Kata kunci: penilaian, portofolio, proses dan hasil belajar Salah satu pendidikan formal yang ada di Indonesia adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sistem penilaian yang selama ini diterapkan di SMK masih menerapkan sistem penilaian konvensional yang dirasa monoton dan kurang memotivasi siswa dalam meningkatkan prose dan hasil belajar siswa, demikian pula yang terjadi pada siswa kelas X SMK N 2 Kota Malang yang rata-rata peserta didiknya masih belum mampu mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan standar kompetensi yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari data nilai kompetensi yang dicapai siswa/siswi SMK N 2 Malang angkatan 2007/2008 pada mata pelajaran food product yang tingkat keberhasilannya hanya mencapai 57% dan pada tahun angkatan 2008/2009 tingkat keberhasilannya hanya mencapai 47,90%. Hal tersebut menunjukkan kompetensi siswa dalam mata diklat food product masih belum maksimal. Guna meningkatkan kompetensi siswa, maka perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas yang inovatif. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan kajian teoritik salah satu usaha yang tepat untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam mata pelajaran food product adalah dengan menerapkan penilaian portofolio. Tujuan penelitian ini adalah (1) memperbaiki proses belajar mengajar mata diklat food product, (2) meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran food product kelas X di SMK N 2 Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan: tingkat pencapaian pembelajaran portofolio mencapai 40% sudah baik, sedangkan 60% proses pembelajaran masih perlu perbaikan. Pada siklus II peningkatan kualitas pembelajaran yang dicapai meningkat menjadi 70% pelaksanaan pembelajaran dikatakan baik dan 30% lagi masih harus diperbaiki untuk mencapai proses pembelajaran yang diharapkan. Sedangkan pada siklus III peningkatan kualitas proses belajar mengajar ditunjukkan dengan meningkatnya pencapaian pembelajaran menjadi 90% dalam kategori baik. Demikian pula pada pencapaian kompetesnsi siswa yang mengalami peningkatan pada setiap siklusnya, yakni Pada siklus I tingkat keberhasilan dari 33 siswa mencapai 40,43% dengan nilai rata-rata 7,3. Pada pelaksanaan siklus II nilai rata-rata yang dicapai oleh siswa mencapai 8,6 dengan tingkat keberhasilan 60,61%. pada pelaksaan siklus III dengan nilai rata-rata 9,3 dan tingkat pencapaian kompetensi 90,91%. Dengan demikian sistem penilaian portofolio dinilai dapat meningkatkan KBM dan kompetensi siswa kelas X SMK N 2 Malang.

Pembelajaran perkalian bilangan bulat dengan belajar penemuan Bruner untuk memahamkan siswa kelas V SDK Mardi Wiyata II Malang / Juliana M.H. Nenohai

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika Sekolah Dasar, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D. (II) Drs. Muchtar Abdul Karim, M.A. ABSTRAK Kata kunci: Belajar penemuan (Discovery Learning), Enaktif, Ikonik, Simbolik, Perkalian bilangan bulat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kesulitan siswa kelas V SDK Mardi Wiyata II Malang dalam memahami operasi perkalian bilangan bulat. Kekurangpahaman siswa ini terungkap dari kesulitan siswa menyelesaikan soal-soal perkalian bilangan bulat khususnya soal aplikasi. Hal ini disebabkan oleh kesulitan guru memilih alat peraga yang tepat untuk pembelajaran bilangan bulat. Akibatnya guru melaksanakan pembelajaran topik ini secara konvensional tanpa alat peraga. Selain itu penelitian tentang pembelajaran perkalian bilangan bulat juga masih jarang dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan desain pembelajaran berdasarkan belajar penemuan Bruner yang dapat membangun pemahaman siswa kelas V SDK Mardi Wiyata II Malang terhadap konsep perkalian bilangan bulat dan untuk mengetahui keefektifan pelaksanaan pembelajaran tersebut. Penelitian ini dilaksanakan sesuai langkah-langkah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan prosedur sebagai berikut. Kegiatan penelitian diawali dengan meran-cang pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan strategi Discovery Learning yang mengacu pada tiga tahap representasi menurut Bruner yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Langkah-langkah pembelajaran ini tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja siswa (LKS) yang dilengkapi dengan alat pera-ga manik-manik bilangan bulat. Selain itu disiapkan pula instrumen penelitian berupa lembar validasi, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, tes, dan pedoman wawan-cara. Semua perangkat ini divalidasi oleh tiga orang validator sebelum digunakan. Selanjutnya kegiatan pembelajaran dilaksanakan oleh peneliti sebagai guru dan diob-servasi oleh tiga orang observer. Setelah selesai pelaksanaan pembelajaran diberikan tes dan mewawancarai subjek wawancara sebanyak 4 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pembelajaran yang dihasilkan valid dan terlaksana dengan baik sehingga dapat memahamkan siswa kelas Vb SDK Mardi Wiyata II Malang. Keefektifan pelaksanaan pembelajaran tersebut ditandai oleh keberhasilan guru mengelola pembelajaran dengan rata-rata skor 95,33% dengan kategori sangat baik dan keaktifan siswa dengan rata-rata skor 89,17% dengan kate-gori sangat baik pula. Meningkatnya pemahaman siswa ditandai oleh kemampuan siswa: (a) menemukan hubungan antara ide-ide yang terlihat melalui manipulasi manik-manik (tahap enaktif) maupun gambar manik-manik (ikonik), (b) menkonsep-tualisasikan ide-ide yang muncul dalam kegiatan manipulasi manik-manik (tahap ikonik), (c) menulis bentuk matematik yang tepat sesuai dengan manipulasi manik-manik (tahap simbolik), (d) menemukan pola yang menunjukkan hubungan antara masing-masing faktor maupun hasil perkalian dari bentuk-bentuk perkalian yang diberikan (tahap simbolik), dan (e) menyelesaikan soal-soal aplikasi perkalian bilangan bulat. Kemampuan-kemampuan ini terwujud dari proses penyelesaian kegiatan-kegiatan dalam LKS secara kelompok dan proses penyelesaian soal tes secara perorangan. Hasil tes akhir siklus I dan II menunjukkan bahwa persentase siswa yang mampu membuat dan membaca diagram mengalami peningkatan sebagai berikut: (a) perkalian bilangan bulat positif dan negatif meningkat 42,31%; (b) perka-lian bilangan bulat negatif dan positif serta perkalian dua bilangan negatif meningkat 19,23%. Sedangkan persentase siswa yang mampu menyelesaikan soal aplikasi meningkat 23,08%. Saran-saran yang direkomendasikan antara lain: (a) guru kelas V SDK Mardi Wiyata II Malang agar menerapkan model pembelajaran ini dengan memperhatikan alokasi waktu yang disiapkan dan memperkenalkan alat peraga manik-manik sedini mungkin secara bertahap, (b) bagi guru matematika di sekolah lain dimungkinkan untuk menerapkan model pembelajaran ini jika kondisinya relatif sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini, (c) peneliti lain dapat merancang pembelajaran perkalian bilangan bulat dengan menggunakan alat peraga yang berva-riasi untuk lebih memperkaya pemahaman siswa serta mengembangkan model pembelajaran ini untuk topik matematika lainnya.

Peningkatan prestasi belajar mahasiswa prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Blitar melalui pembelajaran Think Pair Share pada materi ruang vektor Real / Cicik Pramesti

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc (II) Dr. H. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Peningkatan, Prestasi Belajar, Think Pair Share, Ruang Vektor Real. Mata kuliah Aljabar Linier Elementer merupakan salah satu Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK) yang mempunyai peran sangat penting dalam penguasaan materi mata kuliah yang selanjutnya. Tetapi kenyataannya penguasaan mahasiswa terhadap mata kuliah Aljabar Linier Elementer di STKIP PGRI Blitar ini masih relatif rendah. Akiba tnya prestasi belajar mahasiswa juga rendah. Padahal model pembelajaran student center juga sudah dilaksakan. Model pembelajaran tersebut antara lain dengan menggunakan metode tanya jawab, latihan soal-soal dan penugasan. Dengan model tersebut ternyata pembelajaran masih didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa yang pandai. Berdasarkan data tersebut maka digunakan model pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share), yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpikir secara individu, berkelompok dan juga menyampaikan pendapatnya. Untuk menjawab permasalahan di Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Blitar, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan dampak strategi pembelajaran think pair share dalam membelajarkan materi Ruang Vektor Real pada mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Blitar. Selain itu tujuan penelitian ini juga untuk meningkatan prestasi belajar mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Blitar pada materi Ruang Vektor Real dengan menerapkan strategi pembelajaran think pair share. Pembelajaran think pair share ini mempunyai tiga tahapan yaitu: think, pair, dan share (sesuai dengan namanya). Pada tahapan think, mahasiswa mempunyai kesempatan untuk berpikir secara individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang telah diberikan, dosen hanya mengarahkan jalan berpikir mahasiswa agar tidak keluar dari materi yang dipelajari (bagi mahasiswa yang merasa kesulitan). Pada tahap pair, mahasiswa dapat bernegosiasi dengan teman kelompoknya/berdiskusi untuk menemukan kesepakatan penyelesaian permasalahan, dan dosen hanya sebagai mediator. Sedangkan pada tahap share, mahasiswa dapat menyampaikan dan menjelaskan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Selain itu mahasiswa dapat menerima masukan/saran dari kelompok lain. Pada tahap ini dosen sebagai mediator dan evaluator. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat 10 langkah pembelajaran think pair share pada materi ruang vektor real terhadap mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Blitar, yaitu: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan orientasi tentang strategi pembelajaran, (2) melakukan tanya jawab tentang materi sebelumya, (3) dosen memberikan permasalahan untuk dapat memahami materi, (4) mahasiswa berpikir dan menjawab secara individu, (5) dosen berkeliling untuk memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang mahasiswa mengalami kesulitan, (6) mahasiswa melakukan tanya jawab dengan kelompoknya, (7) mahasiswa membuat kesepakatan/kesimpulan, (8) salah satu perwakilan anggota kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, (9) mahasiswa melakukan tanya jawab dengan kelompok pemresentasi, dan (10) dosen dan mahasiswa membuat kesimpulan tentang materi. Selain sepuluh langkah pembelajaran, pada penelitian ini ditemukan adanya peningkatan prestasi belajar yang dapat dilihat dengan membandingkan hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2. Instrumen yang digunakan adalah tes, lembar observasi (aktivitas dosen dan mahasiswa), lembar angket dan wawancara. Berdasarkan data hasil penelitian menyatakan bahwa prosentase hasil tes secara klasikal yang mendapatkan skor ≥ 66 meningkat dari 77% pada siklus 1 menjadi 93% pada siklus 2, prosentase hasil observasi aktivitas dosen meningkat dari 80% pada siklus 1 menjadi 93% pada siklus 2, prosentase hasil observasi aktivitas mahasiswa meningkat dari 81% pada siklus 1 menjadi 93% pada siklus 2, prosentase hasil angket meningkat dari 81% pada siklus 1 menjadi 95% pada siklus 2, dan hasil wawancara yang dilkukan pada 3 (tiga) obyek juga meningkat dari 2 mahasiswa pada siklus 1 menjadi 3 mahasiswa pada siklus 2 yang menyatakan memahami materi ruang vektor real. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sepuluh langkah pembelajaran think pair share yang digunakan dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa prodi pendidikan matematika STKIP PGRI Blitar pada materi ruang vektor real. Sedangkan saran yang diperkirakan dapat memperbaiki pembelajaran adalah seyogyanya para pendidik lebih aktif dalam mendesign dan membuat LKM yang dapat mengarahkan anak didik dalam memahami suatu materi.

Studi tentang implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001-2000 di SMKN 3 Malang / Otiex Kusuma Prahesti

 

Kata Kunci : Implementasi, Sistem Manajemen Mutu (SMM), ISO 9001:2000 Standar mutu sangat diperlukan lembaga pendidikan agar dapat bersaing dengan negara-negara di dunia, berbagai permasalah mengenahi mutu pendidikan membuat word bank merekomendasikan lima strategi untuk meningkatan mutu pendidikan di Indonesia, salah satunya ialah dengan mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu (SMM). Uniknya, implementasi sistem manajemen mutu tersebut memiliki pedoman baku yang harus dianut oleh suatu organisasi jika ingin mendapatkan pengakuan secara internasional, standar Sistem Manajemen Mutu tersebut ialah ISO 9001:2000. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan: (1) mekanisme perencanaan SMM ISO 9001:2000, (2) pelaksanaan SMM ISO 9001:2000, (3) Sistem kontrol SMM ISO 9001:2000. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut sehingga jenis penelitian yang digunakan ialah bersifat deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada guru, staf tata usaha, dan tim manajemen mutu di SMK Negeri 3 Malang dengan sampel yang diambil sebanyak 52 responden. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data ialah angket, wawancara, dan dokumentasi. Pengolahan data angket dilakukan dengan teknik distribusi frekuensi dan analisis persentase, sedangkan pengolahan data wawancara dilakukan sesuai dengan pedoman wawancara. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Implementasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2000 berkualifikasi Baik yaitu mencapai 73,0%, beberapa sub variabel yang memberikan kontribusi persentase tersebut ialah mekanisme perencanaan sebesar 67,0%, pelaksanaan SMM ISO 9001:2000 sebesar 73,0%, dan sistem kontrol SMM ISO 9001:2000 sebesar 75,0% yang seluruhnya berkualifikasi Baik. Beberapa temuan penelitan yang dapat dijadikan masukan ialah masih terdapat 26,9% responden tidak mengetahui Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2000. Berdasarkan hasil tersebut sehingga saran yang dapat dijadikan masukan bagi SMK Negeri 3 Malang ialah agar manajemen puncak menginformasikan kepada guru dan pegawai di SMK Negeri 3 Malang yang belum mengetahui tentang Implementasi SMM ISO 9001:2000 di SMK Negeri 3 Malang dan agar manajemen dapat menciptakan budaya mutu bagi seluruh warga sekolah, sedangkan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis akan lebih sempurna apabila menggunakan pendekatan kualitatif.

Motivasi siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen Kabupaten Malang / Havid Yusuf

 

Motivasi adalah daya upaya yang mendorong manusia atau seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan adanya arah dan tujuan dalam proses belajar mengajar maka tujuan dan arah yang dikehendaki atau subjek belajar dapat terpenuhi. Sedang ekstrakurikuler adalah kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang mempunyai fungsi pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat motivasi intrinsik siswa, mengetahui tingkat motivasi ekstrinsik siswa, dan mengetahui tingkat motivasi yang lebih tinggi antara motivasi intrinsik dengan motivasi ekstrinsik siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen, Kabupaten Malang. Kata kunci: motivasi, siswa, ekstrakurikuler bola basket. Olahraga merupakan kegiatan yang sangat penting bagi setiap orang. Dalam kegiatannya, olahraga sangat diperlukan untuk kesehatan tubuh dan juga menuju pada prestasi. Kesehatan dan prestasi juga didasari oleh adanya motivasi yang berkembang dalam diri individu tersebut. Kegiatan berolahraga sangatlah melelahkan, tetapi apabila dinikmati dengan senang, rasa lelah tersebut akan menjadi kesenangan tersendiri bagi orang yang melakukan olahraga. Dampak berolahraga sangatlah bagus sekali, antara lain: menjadikan tubuh sehat, stamina yang prima dan berdampak pada kehidupan sehari-hari untuk pola hidup sehat. Sekarang ini peranan olahraga sangat beranekaragam. Mulai dari kegiatan latihan ekstrakurikuler yang terdapat di sekolah, kegiatan yang dilakukan di klub yang dibina oleh seorang pelatih, sampai tercapainya menjadi seorang atlet dan kegiatan pertandingan yang sering dilakukan. Dalam dunia pendidikan, proses belajar mengajar guru akan menghadapi siswa yang mempunyai karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda sehingga seorang guru dalam proses belajar mengajar tidak akan pernah lepas 2 dengan masalah hasil belajar siswanya, karena hasil belajar merupakan ukuran dari hasil kemampuan siswa dalam menerima pekerjaan di sekolah, termasuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran diluar kegiatan intrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk memenuhi tuntutan penguasaan kompetensi mata pelajaran, pembentukan karakter bangsa, dan peningkatan kecakapan hidup yang alokasi waktunya diatur secara tersendiri berdasarkan pada kebutuhan dan kondisi sekolah. Motivasi adalah daya upaya yang mendorong manusia atau seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan adanya arah dan tujuan dalam proses belajar mengajar maka tujuan dan arah yang dikehendaki atau subjek belajar dapat terpenuhi. Menurut Hayinah (1992:19) secara tradisional orang biasa membedakan motif menjadi 2, yaitu: motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motivasi sangat berpengaruh pada aktivitas olahraga yang akan dilakukan oleh individu tersebut. Motivasi dapat dibagi menjadi 2, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Setiap individu melakukan semua cabang olahraga yang mereka gemari tidak lepas dengan motivasi. Dalam kegiatan ekstrakurikuler yang terdapat di SMP 4 Kepanjen sekarang diharapkan siswa dapat meningkatkan prestasinya dibidang olahraga dan dengan adanya sarana dan prasarana yang dimiliki SMPN 4 Kepanjen, siswa menjadi lebih berminat dan termotivasi dalam mengembangkan bakatnya dibidang olahraga, selain mempunyai kemampuan akademis, kemampuan di bidang olahraga juga tak kalah hebatnya. Di SMPN 4 Kepanjen terdapat 3 macam kegiatan ekstrakurikuler olahraga antara lain: bola basket sebanyak 54 orang, bola voli sebanyak 32 siswa, dan karate sebanyak 24 siswa. Dari sini kita dapat mengetahui, bahwa ekstrakurikuler yang memiliki jumlah siswa paling banyak adalah ekstrakurikuler bola basket sebanyak 54 orang. Dalam kegiatan sekolah, kegiatan olahraga yang digemari oleh siswa, masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler, berupa olahraga sepakbola, bola basket, bola voli, beladiri, dan sebagainya. Kegiatan ini akan menjaring minat dan bakat 3 siswa yang pantas dan sesuai dengan keahliannya. Namun, ini pun tergantung juga dengan motivasi mana yang lebih tinggi yang siswa usung untuk masuk ekstraku- rikuler tersebut. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tingkat motivasi intrinsik siswa, mengetahui tingkat motivasi ekstrinsik siswa, dan mengetahui tingkat motivasi yang lebih tinggi antara motivasi intrinsik dengan motivasi ekstrinsik siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen, Kabupaten Malang. Menurut Giddens (dalam Sobur, 2003:267) motif diartikan sebagai impuls/dorongan yang memberi energi pada tindakan manusia sepanjang lintasan kognitif/perilaku ke arah pemuasan kebutuhan. R.S. Woodworth (dalam Sobur, 2003:267) mengartikan motif sebagai suatu set yang dapat atau mudah menyebabkan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu (berbuat sesuatu) dan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Menurut Hayinah (1992:19) motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Menurut Moeslichatoen (1992:54) motivasi merupakan daya penggerak yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan cara tertentu. Menurut Suryabrata (dalam Sobur, 2003:295) motif intrinsik, yaitu motifmotif yang dapat berfungsi tanpa harus dirangsang dari luar. Dalam diri individu sendiri, memang telah ada dorongan itu. Seseorang tersebut melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya. Menurut Johannes dan Yunus (1991:62) motivasi intrinsik berfungsi karena adanya dorongan yang berasal dari individu sendiri. Misalnya seorang siswa selalu berusaha untuk semakin meningkatkan kepintarannya, kemampuan dan keterampilannya, karena hal tersebut dapat memberikan kepuasan kepada dirinya. Menurut Hayinah (1992:19), motivasi ekstrinsik adalah motif yang timbulnya karena adanya rangsangan dari luar, misalnya anak mau belajar kalau diberi hadiah yang akan menyenangkan hatinya. Menurut Suryabrata (dalam Sobur, 2003:295) motif ekstrinsik ialah motif-motif yang berfungsi karena ada perangsang dari luar. 4 Menurut Ahmadi (1984:105) ekstrakurikuler adalah kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang mempunyai fungsi pendidikan dan biasanya berupa klub-klub, misalnya : olahraga, kesenian, ekspresi dan lain-lain. Menurut Sutisna (1990:56) banyak macam dan jumlah kegiatan murid yang dilakukan di sekolah-sekolah dewasa ini, yaitu: organisasi murid seluruh sekolah; organisasi kelas dan organisasi tingkat-tingkat kelas; kesenian: tari-tarian, band, karawitan, nyanyian bersama; pidato dan drama (diskusi, deklamasi, dsb.); klub-klub hobi (fotografi); kegiatan-kegiatan sekolah; klub-klub yang berpusat pada mata pelajaran (klub IPA); atletik dan sport; publikasi sekolah (koran sekolah); organisasi-organisasi yang disponsori secara kerjasama (pramuka). Permainan bola basket dilakukan dengan mempergunakan tiga unsur teknik yang menjadi pokok permainan, yakni : mengoper dan menangkap bola (passing and catching), menggiring bola (dribbling), serta menembak (shooting). Ketiga unsur teknik tadi berkembang menjadi berpuluh-puluh teknik lanjutan yang memungkinkan permainan bola basket hidup dan bervariasi. Misalnya, dalam teknik mengoper dan menangkap bola terdapat beberapa cara seperti : tolakan dada (chest pass), tolakan di atas kepala (overhead pass), tolakan pantulan (bounce pass), dan lain sebagainya. Dalam rangkaian teknik ini, dikenal pula sebutan pivot yakni pada saat memegang bola, salah satu kaki bergerak dan satu kaki lainnya tetap di lantai sebagai tumpuan. METODE Penelitian ini menggunakan rancangan non eksperimental dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Menurut Winarno (2007:34) penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa yang terjadi pada masa kini. Selain itu, menurut Dasna, Ibnu, dan Mukhadis (2003:46), penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa yang urgen terjadi masa kini. Dalam penelitian deskriptif tidak ada pengujian hipotesis karena cenderung tidak maksudkan untuk mengungkapkan hubungan antar variabel. Dalam penelitian ini subjeknya adalah siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen yang berjumlah 54 orang, dengan rincian; kelas VII sebanyak 20 siswa, kelas VIII sebanyak 18 siswa, dan 5 kelas IX sebanyak 16 siswa. Karena jumlah populasinya di bawah 100, maka 54 siswa tersebut diambil semua sebagai subjek, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Penelitian ini menggunakan instrumen non tes berupa angket/kuesioner. Menurut Arikunto (2006:151) kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memproleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Alasan peneliti menggunakan angket adalah untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan keadaan yang dialami oleh responden dan akan memperoleh data yang relevan. Selain itu penggunaan angket dalam evaluasi ini akan mempermudah responden memberikan jawaban yang sesuai dengan hal-hal yang diketahuinya atau dialaminya. Dalam penelitian ini, angket yang digunakan berbentuk skala yang memuat suatu nilai untuk tiap pilihan jawaban yang tersedia. Setiap instrumen dalam penelitian ini mengunakan skala likert, dengan gradasi skor antara empat sampai dengan satu. Menurut Arifin (1988:56) dalam skala likert, subjek tidak disuruh memilih pernyataan-pernyataan yang positif saja, tetapi memilih juga pernyataanpernyataan yang bersifat negatif. Jawaban setiap item instrumen menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang berupa kata-kata, yaitu: selalu, sering, jarang, tidak pernah. Instrumen menggunakan checklist atau pilihan ganda. Jawaban selalu diberi bobot 4. Jawaban sering diberi bobot 3. Jawaban jarang diberi bobot 2. Jawaban tidak pernah diberi bobot 1. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan melakukan penyebaran angket dengan pertanyaan-pertanyaan tertulis kemudian diberikan kepada responden untuk dipilih dari 4 butir pilihan jawaban. Analisis data dengan memberi kode jawaban angket, kemudian menganalisis data dengan menggunakan rumus persentase sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif persentase sehingga dengan menganalisis setiap variabel dan memperoleh gambaran variabel yang akan diteliti. Teknik yang digunakan untuk mengetahui jumlah perbandingan skor dari masing-masing variabel. 6 HASIL Hasil penelitian ini menunjukkan persentase bahwa tingkat motivasi intrinsik siswa dalam megikuti kegiatan bola basket di SMPN 4 Kepanjen sebesar 31,48% dengan rata-rata 26.7 yang termasuk kriteria sedang. Tingkat motivasi ekstrinsik siswa dalam mengikuti kegiatan bola basket di SMPN 4 Kepanjen sebesar 31,48% dengan rata-rata 29 yang termasuk kriteria sedang. Hasil analisis deskriptif persentase aspek motivasi yang lebih tinggi antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik, bahwa persentase motivasi intrinsik siswa sebesar 44,44%, sedangkan persentase motivasi ekstrinsik siswa sebesar 55,56%. Jadi, dapat diketahui bahwa siswa SMPN 4 Kepanjen lebih tinggi atau dominan mengikuti ekstrakurikuler bola basket karena motivasi ekstrinsik. PEMBAHASAN Dari hasil penelitian tingkat motivasi intrinsik kegiatan siswa ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen secara keseluruhan, siswa termasuk dalam kategori sedang. Menurut Anderson dan Faust (dalam Prayitno, 1989:10) menyatakan bahwa motivasi dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perhatian, konsentrasi dan ketekunan. Menurut Thornburgh (dalam Prayitno, 1989:10), motivasi intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari dalam diri individu. Siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam latihan menampakkan minat yang besar dan perhatian yang penuh tehadap latihan-latihan yang diberikan oleh pembina. Jadi, sebagian siswa SMPN 4 Kepanjen mengikuti kegiatan ekstra-kurikuler bola basket karena keinginan yang ada dalam diri mereka memiliki tujuan sendiri untuk peningkatan dalam olahraga bola basket. Dari hasil penelitian tingkat motivasi ekstrinsik kegiatan siswa ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen secara keseluruhan, siswa termasuk dalam kategori sedang. Menurut Hamalik (2001:112), motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar. Menurut Handoko (dalam Sobur, 2003:269) dalam suatu motif, umumnya terdapat 2 unsur pokok, yaitu 7 unsur dorongan dan unsur tujuan. Unsur dorongan sangat berpengaruh pada peran siswa dalam mengikuti kegiatan ektrakurikuler bola basket. Kegiatan akan lebih berprestasi jika ditunjang dengan motivasi ekstrinsik agar kegiatan siswa menjadi lebih baik. Motivasi ekstrinsik mempunyai peranan yang juga sangat penting bagi siswa. Jadi, sebagian siswa SMPN 4 Kepanjen mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket karena ingin mendapatkan sesuatu yang diluar dari keinginan diri mereka untuk peningkatan olahraga bola basket yang dijalani siswa itu sendiri. Dari hasil penelitian tingkat motivasi mana yang lebih tinggi antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik kegiatan siswa ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen, menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik lebih tinggi daripada motivasi intrinsik. Hal ini, rangsangan dari luar sangat berpengaruh kepada siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen. Menurut Phil Louther (dalam Prayitno 1989:14) bahwa banyak sekali siswa yang dorongan belajarnya adalah motivasi ekstrinsik. Siswa seperti ini memerlukan perhatian dan pengarahan yang khusus dari guru. Siswa sangat bergantung kepada keharusan-keharusan yang ditentukan oleh pembina untuk mendorong mereka dalam berlatih. Namun, hal itu tidaklah berarti bahwa adanya motivasi ekstrinsik itu jelek dan perlu dihindari sama sekali. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thornburgh (dalam Prayitno, 1989:14), antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik itu saling menambah atau memperkuat, bahkan motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi intrinsik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkaan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut: tingkat motivasi intrinsik siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen termasuk dalam kategori sedang, tingkat motivasi ekstrinsik siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen termasuk dalam kategori sedang, motivasi ekstrinsik siswa dalam mengikuti kegiatan 8 ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen lebih tinggi daripada motivasi intrinsik siswa. Saran Berdasarkan dari kesimpulan yang didapat, maka peneliti mengemukakan saran-saran dengan harapan dapat bermanfaat untuk peningkatan mutu siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMPN 4 Kepanjen sebagai berikut. 1. Bagi Sekolah Perlu adanya motivasi dari pihak sekolah untuk menumbuhkan minat dan bakat siswa dalam mengikuti ekstrakurikuler yaitu berupa penghargaan terhadap siswa yang berprestasi supaya semangat, minat dan kemauan terus berkembang di dalam diri siswa dan pemacu siswa lain untuk terus berprestasi. Perlu adanya sarana, dan perhatian dari pihak sekolah, supaya peserta ekstrakurikuler olahraga bola basket dapat berlatih dengan optimal, sehingga dapat mencapai target baik dalam bermain maupun berlatih. 2. Bagi Pembina Dari hasil penelitian, tingkat motivasi ekstrinsik siswa lebih tinggi daripada motivasi intrinsik. Jadi, perlu adanya motivasi dari pembina untuk menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga bola basket agar peserta ekstrakurikuler mempunyai kemauan yang tinggi untuk berlatih. Pemberian motivasi ekstrinsik yang berlebihan akan berdampak sifat negatif dari siswa, contohnya siswa menang dalam pertandingan dan selalu mendapat hadiah dari gurunya, tiba-tiba siswa tersebut kalah dan tidak diberi hadiah lagi oleh guru sehinggaa dia malas berlatih lagi. Pembina ekstrakurikuler seharusnya menerapkan dan memberikan motivasi ekstrinsik juga kepada siswa, supaya motivasi intrinsik dengan motivasi ekstrinsik tetap seimbang. Diharapkan, keseimbangan motivasi keduanya pada siswa muncul dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya dari segi perilaku dan teknik permainan siswa.

Upaya meningkatkan prestasi belajar IPA pokok bahasan bunga dan fungsinya pada siswa kelas IV dengan pendekatan exploratory-discovery di SDN Tamanharjo 02 Singosari Malang / Erlina Suhardiningsih

 

Kata Kunci : Eksploratory-Discovery, Bunga dan Fungsinya. Pembelajaran IPA Kelas IV SDN Tamanharjo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang kurang aktif saat pembelajaran berlangsung, dikarenakan guru masih menggunakan metode ceramah dan selalu mendominasi pembelajaran saat berlangsung. Oleh karena itu pada saat proses pembelajaran siswa menjadi monoton yang pada akhirnya hasil belajar tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa semaksimal mungkin dalam pembelajaran Bunga dan Fungsinya dan keberhasilan dalam belajar serta meningkatkan keaktifan siswa melalui penerapan Pendekatan Eksploratory-Discovery dalam memahami Bunga dan Fungsinya pada kelas IV SDN Tamanharjo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Dalam pembelajaran penerapan Pendekatan Eksploratory-Discovery, Bunga dan Fungsinya bisa mengaktifkan siswa dalam belajar dan meningkatkan kemampuan siswa dalam keberhasilan pembelajaran melalui pendekatan Eksploratory-Discovery yang disertai pendekatan demonstrasi dan pendekatan lainnya yang bervariasi maka siswa lebih aktif dengan mencari macam- macam Bunga dan Fungsinya. Dari Hasil Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa dengan Pendekatan Eksploratory-Discovery dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA Pokok Bahasan Bunga dan Fungsinya. Dimana dari Segi Ketuntasan Siswa mengalami peningkatan dari Pra Tindakan 1 hanya ada 8 siswa yang Tuntas meningkat menjadi 9 siswa pada Tindakan 1 dan mencapai 16 Siswa pada tindakan 2. Kesimpulan dari hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan yaitu (1). Bahwa Penerapan Pendekatan Eksploratory-Discovery untuk meningkatkan Kemampuan Siswa dalam memahami Bunga dan Fungsinya dalam meningkatkan kemampuan siswa pada kelas IV SDN Tamanharjo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Hal ini dapat dilihat makin meningkatnya hasil belajar siswa dari rata-rata nilai 57.00 pada pra tindakan menjadi 60.5 pada siklus 1 meningkat menjadi 66.25 pada siklus 2. demikian juga terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar 40 % atau 8 siswa pada pra tindakan menjadi 45 % atau 9 siswa pada siklus 1 dan 80 % atau 16 siswa pada siklus 2, sudah memenuhi ketuntasan belajar diatas standar ketuntasan minimal 65 % yang ditentukan dari satuan sekolah. ( 2). Kemampuan memahami Bunga dan Bagiannya pada siswa kelas IV SDN Tamanharjo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang terdapat peningkatan melalui pendekatan Eksploratory-Discovery. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan mulai pra tindakan , siklus 1 dan akhirnya pada siklus 2 sudah memenuhi standar ketuntasan minimal > 65 % yang ditentukan satuan sekolah. (3). Dalam pembelajaran IPA dengan Pendekatan Eksploratory-Discovery untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami bunga dan bagiannya, siswa aktif karena guru tidak lagi menggunakan metode ceramah melainkan menggunakan pendekatan Eksploratory-Discovery. Peneliti menyadari bahwa Ujian Akhir Program ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan peneliti. Kami mengharapkan saran dan pendapat dari pembaca maupun pihak-pihak yang terkait sehingga Ujian Akhir Program ini bisa lebih sempurna.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui model simulasi di kelas II SDN Tajinan 02 Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang / Erna Tjahjani

 

Kata kunci: hasil belajar, matematika, simulasi Berdasarkan hasil pengamatan permasalahan yang dihadapi siswa di SD Negeri Tajinan 02 khususnya di kelas II adalah hasil belajar Matematika yang belum tuntas yakni belum mencapai angka minimal daya serap 70%. Salah satu faktor penyebabnya adalah pembelajaran Matematika disampaikan secara klasikal (ceramah), sehingga siswa pasif dan hanya sebagai pendengar selama pembelajaran. Dan juga pemanfaatan media pembelajaran belum diupayakan secara optimal. Hal itu ditambah dengan pendapat siswa bahwa pelajaran matematika dianggap sulit karena banyak konsep yang harus dihafalkan , sehingga tidak menarik untuk belajar dan akhirnya berdampak pada rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa. Tujuan diadakan penelitian di SDN Tajinan 02 Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang antara lain: Mendeskripsikan penerapan simulasi pada pembelajaran operasi hitung perkalian dan pembagian di kelas II SDN Tajinan 02 Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, dokumentasi dan pengamatan selama pembelajaran berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan Model Pembelajaran Simulasi dalam pembelajaran merupakan permainan menyediakan lingkungan belajar perlu dengan mainan dimana para siswa mengikuti aturan-aturan yang telah digariskan karena mereka tertarik untuk mendapatkan tantangan. Permainan ini merupakan teknik yang dapat memotivasi para siswa, khususnya untuk materi yang berulang-ulang membosankan. adanya peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Peningkatan proses pembelajaran berakibat positif pada hasil belajar siswa yang terjadi ditiap siklusnya. Penerapan Model Simulasi dapat meningkatkan hasil belajar matematika yaitu peningkatan rata-rata hasil belajar siswa pada pra siklus sebesar 55,6, meningkat menjadi 61,8 pada siklus 1 dan 73,6 pada siklus 2. Begitu juga terjadi peningkatan pada aktivitas siswa. Peningkatan tersebut antara lain: aktivitas siswa pada pra siklus yaitu 18 % meningkat menjadi 65% pada siklus 1 dan 79% pada siklus 2. Peningkatan ketuntasan kelas pada pra siklus sebesar17,5%, meningkat menjadi 28% pada siklus 1 dan 79% pada siklus 2. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika dengan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa selama pembelajaran. Hal ini tampak dari peningkatan nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal seperti yang dipaparkan di atas. Adanya variasi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran sangat diperlukan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan adanya metode simulasi siswa menjadi tertarik dengan pembelajaran dan aktif mengikuti pembelajaran.

Pengembangan perangkat pembelajaran tematik pokok bahasan pemanasan global dan pengaruhnya terhadap kecakapan hidup (life skills), motivasi, dan prestasi belajar kognitif siswa sekolah dasar di Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Amram Rede

 

Pembelajaran tematik merupakan penerapan pendidikan holistik yang melihat sesuatu masalah dari berbagai sudut pandang keilmuan (multidisipliner). Pemanasan global (global warming) merupakan permasalahan yang kompleks dan penanganannya diharapkan secara holistik. Pembelajaran tematik dipandang sebagai pilihan tepat membelajarkan pemanasan global kepada siswa Sekolah Dasar. Penerapan keilmuan multidisipliner dalam penelitian ini diarahkan pada 7 mata pelajaran meliputi Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, Penjas-Kes, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Bahasa Ingris. Tujuan penelitian adalah mengembangkan perangkat pembelajaran tematik pokok bahasan pemanasan global. Penelitian dibagi dalam 2 tahap, yaitu tahap penelitian pengembangan dan tahap penelitian eksperimen. Penelitian pengembangan meliputi, pengembangan tema dan pengembangan perangkat pembelajaran. Pengembangan tema bertujuan mengembangkan tema sentral pemanasan global menjadi beberapa subtema: tuntutan ekonomi, hutan, kondisi-kondisi lingkungan, emisi gas buangan, udara sehat, kerajinan dari sampah organik, dan kebakaran hutan. Tahapan ini mengadopsi model pengembangan Tarmizi (2008). Selanjutnya subtema yang bersesuai berpasangan dengan mata pelajaran. Setiap mata pelajaran dikembangkan mengacu model pengembangan Kemp (1994) yang telah diadaptasi. Penelitian eksperimen bertujuan mengetahui pengaruh pembelajaran tematik terhadap kesadaran diri (Self Awareness) siswa Sekolah Dasar dalam menyikapi persoalan pemanasan global (Global Warming). Data dikumpulkan menggunakan rubrik berupa asesmen performa. Uji hipotesis menggunakan Anava dengan bantuan program SPSS 16. Sebanyak 118 siswa kelas 5 yang berasal dari 4 SDN terjaring sebagai subjek penelitian. Ke 4 SDN terpilih berasal dari 23 SDN di Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang yang menjadi sampel. Sampel pertimbangan (purposive sampling) digunakan dengan alasan ke 4 SDN terpilih berdekatan dengan stasiun Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai sumber belajar pemanasan global. Hasil penelitian menunjukkan, pengimplementasian perangkat pembelajaran tematik berpengaruh sangat nyata terhadap kesadaran diri dengan nilai probability of error () 0,00 lebih kecil dari standard error () 0,05 yang ditetapkan. Bahkan lebih kecil dari () 0,01. Hasil anava hipotesis juga menunjukkan nilai LSD sebesar 72,82. Pengimplementasian perangkat pembelajaran tematik berpotensi meningkatkan kesadaran diri dalam menyikapi permasalahan Global Warming. Kata kunci: pembelajaran tematik, kesadaran diri, self awareness, dan pemanasan global. *)Alumni PPS Universitas Negeri Malang Tahun 2010.

Pengembangan media pembelajaran online interaktif berbantuan facebook untuk materi termokimia kelas XI / Dian Novitasari

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran Interaktif, Pembelajaran Online, Facebook, Termokimia. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi(TIK) saat ini mendapat sambutan positif dunia bidang pendidikan. Perkembangan komputer dan software pendukung dapat membantu dalam visualisasi benda-benda ataupun konsep abstrak. Sistem pembelajaran online merupakan salah satu terobosan teknologi informasi yang menawarkan fleksibilitas dalam sebuah sistem pembelajaran. Selain itu melalui media online sangat efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersifat terbuka Oleh karena itu dibutuhkan media pembelajaran yang bersifat online. Salah satu media tersebut adalah facebook. Tujuan pengembangan ini adalah untuk memanfaatkan facebook sebagai sarana kolaborasi dalam dunia pembelajaran. Selain itu juga untuk mengetahui kefektifan interaksi yang terjadi pada pembelajaran online berbantuan facebook untuk materi termokimia. Materi yang dikembangkan adalah materi termokimia untuk kelas XI. Hal ini materi termokimia dinilai memiliki banyak konsep sukar, melibatkan eksperimen, hitungan dan hal-hal abstrak. Maka dibutuhkan terobosan baru dalam proses pembelajaran kimia sehingga dapat melakukan proses pembelajaran secara lebih mandiri, fleksibel, berpusat kepada siswa(student centered), kolaboratif, terkelola dengan efektif dan efisien, serta mendukung paradigma pembelajaran sepanjang hayat(life-long education). Bentuk pembelajaran melalui facebook yang dikembangkan untuk materi termokimia untuk SMA dengan memanfaatkan website, blog, yahoogroups, virtual lab, dan google sebagai program penunjangnya. Keunggulan facebook adalah dilengkapi fasilitas chatting yang memberikan kesan penunjang e-learning yang tidak dimiliki situs lain. Facebook ini merupakan tempat guru, siswa, dan para peminat termokimia berinteraksi di luar kelas. Facebook yang dikembangkan dapat digunakan siswa untuk belajar tanpa hadirnya guru atau instruktur, dapat diakses siswa kapan saja dengan biaya relatif terjagkau, dan dapat mendukung program jaringan berbasis teknologi informasi yang digalakkan pemerintah. Pengembangan facebook dilakukan dengan mengadopsi model pengembangan Dick and Carrey dengan penyesuaian yang diperlukan. Pengujian validitas menggunakan instrument berupa angket. Pengujian validitas meliputi uji validitas isi dan uji terbatas. Validator uji validitas isi adalah 1 orang dosen kimia sebagai ahli materi dan 1 orang dosen teknologi pembelajaran sebagai ahli media, sedangkan validator uji terbatas adalah 1 orang guru kimia dari SMAN 3 Malang, dan 2 orang siswa SMAN 8 Malang yang memiliki akun facebook. Setelah melelui tahap validasi, media pembelajaran diperbaiki berdasarkan saran-saran yang diberikan validator. Data yang diperoleh ada dua jenis yaitu data dari validator dan data dari hasil uji coba. Teknik analisis dari validator dilakukan dengan menggunakan angket adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif dari hasil angket. Sedangkan teknis analisis data dari hasil uji coba di analisis untuk mengetahui tingkat interaksi dilakukan melalui jumlah anggota yang bergabung, jumlah komentar atau pertanyaan, kulitas komentar, responden setiap komentar maunpun diskusi, dan interaksi didalamnya. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu media pembelajaran online berbantuan facebook untuk materi termokimia memiliki tingkat kelayakan tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil validasi ahli media yang dikembangkan adalah 100% (valid) dan ahli materi sebesar 76,25% (valid). Sedangkan hasil validasi kepada guru adalah 82.8125% (valid) dan kepada siswa sebesar 86.6% (valid). Dari data interaksi uji coba dapat dilihat bahwa siswa yang aktif sebanyak 11% (sekitar 41 orang), 17%(66 orang) jarang aktif, dan sisanya 72%(303 orang) pasif (hanya sekedar join). Selain itu, hasil observasi pada saat uji coba menunjukkan bahwa siswa termotivasi belajar termokimia dengan menggunakan media berbantuan facebook dan lebih mudah dalam memahami materi tersebut terlihat dari kualitas pertanyaan maupun komentar yang masuk. Secara umum media pembelajaran online berbantuan facebook layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk guru-guru disekolah di sekolah. Tetapi masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi yaitu keterbatasan dari situs facebook dalam menjaring informasi karena bersifat terbuka sehingga komentar bebas masuk dari siapapun termasuk pihak-pihak yang mengarah ke sesuatu yang tidak jelas atau diluar topik utama. Selain itu tidak menutup kemungkinan bagi siswa yang pasif turut membaca walupun tidak menuliskan atau mengungkapkan hasil belajarnya. Hal inilah adalah salah satu keterbatasan dari peneliti karena belum bisa menelusuri siswa yang pasif tersebut, sehingga diharapkan ada tindak lanjut dari peneliti berikutnya.

Studi pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Widang-Gresik-Surabaya / Feny Dwi Ratna Puspitasari

 

Kata Kunci : Studi pelaksanaan, lapis pondasi jalan. Lapis pondasi jalan, baik lapis pondasi bawah (subbase course) maupun lapis pondasi bawah (base course) adalah lapisan yang mendukung lapis permukaan (surface course). Lapis pondasi ini berfungsi sebagai bantalan lapis permukan (surface course) dan menyebarkan beban roda dari lapis perkerasan (surface course) ke tanah dasar. Jika pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi jalan tidak dilakukan sesuai prosedur, maka akan menghasilkan mutu pekerjaan yang jelek yang dapat menyebabkan lendutan dan retakan (cracking) pada lapisan di atasnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka proyek akhir ini akan mengkaji tentang tentang pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi serta mengkaji lebih mendalam tentang karakteristik bahan yang digunakan untuk masing-masing lapis pondasi pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Widang – Gresik – Surabaya. Tujuan studi lapangan ini adalah: (1) mengetahui karakteristik bahan yang digunakan untuk masing-masing lapis pondasi pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Widang – Gresik – Surabaya; (2) mengetahui proses pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Widang – Gresik – Surabaya. Hasil dari studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) Berdasarkan job mix formula dan laporan hasil pengujian agregat kelas B dan agregat kelas A, dapat dilihat bahwa antara timbunan pilihan (selected material), agregat kelas B, dan agregat kelas A mempunyai komposisi butiran yang berbeda, dimana pada selected material mempunyai komposisi butiran dengan gradasi yang lebih besar dibandingkan dengan agregat kelas B dan agregat kelas B memiliki komposisi butiran yang lebih kasar dibandingkan dengan agregat kelas A, serta ketiga material tersebut berada dalam batas toleransi yang direncanakan dan memenuhi syarat sesuai spesifikasi teknis sebagai material lapis pondasi; (2) Pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Widang – Gresik – Surabaya meliputi, pekerjaan persiapan, pekerjaan survei lapangan dan pengukuran, pekerjaan pembongkaran beton existing, pekerjaan galian, peyiapan badan jalan, pemasangan geotekstil, pekerjaan timbunan pilihan, dan pekerjaan lapis pondasi agregat; (3) Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kepadatan masing-masing lapis pondasi juga telah memenuhi syarat kepadatan yang ditentukan yaitu 100% dan pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi pada proyek pembangunan jalan dan jembatan Widang – Gresik – Surabaya sesuai dengan spesifikasi teknis.

Hubungan motivasi belajar dan partisipasi siswa dalam interaksi edukatif dengan prestasi belajar pada matadiklat mengukur menggunakan alat ukur mekanik presisi di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Adam Suprayogi

 

Kata Kunci: Motivasi Belajar, Interaksi Edukatif, dan Prestasi Belajar Siswa Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar, partisipasi siswa dalam interaksi edukatif dengan prestasi belajar, dan motivasi belajar dan partisipasi siswa dalam interaksi edukatif dengan prestasi belajar pada matadiklat Mengukur Menggunakan Alat Ukur Mekanik Presisi Semester Gasal Kelas X Teknik Pemesinan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan populasi seluruh siswa kelas X teknik pemesinan SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data melalui angket dan dokumentasi. Pengujian angket menggunakan uji validitas, dengan r tabel 3,00. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan uji F pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar berpengaruh secara positif signifikan terhadap prestasi belajar siswa pada matadiklat mengukur menggunakan alat ukur mekanik presisi, hal ini dapat dilihat dari t hitung 3,6374 > t tabel 1,98. Interaksi edukatif berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi belajar siswa yang dilihat dari hasi t hitung 2,303 > t tabel 1,98. Sedangkan secara simultan motivasi belajar dan interaksi edukatif berpengaruh positif signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan hasil F hitung 13,690 > F tabel 3,07. Selain itu, diperoleh R Square sebesar 0,220 yang artinya secara simultan motivasi belajar dan interaksi edukatif berpengaruh sebesar 22% terhadap prestasi belajar siswa kelas X TPm pada matadiklat Mengukur Menggunakan Alat Ukur Mekanik Presisi. Sedangkan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa adalah variabel motivasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin meningkat atau tingginya motivasi belajar dan interaksi edukatif, baik secara individu maupun secara simultan akan diikuti oleh semakin meningkatnya prestasi belajar siswa pada matadiklat Mengukur Menggunakan Alat Ukur Mekanik Presisi. Disarankan kepada peneliti selanjutnya dengan kasus serupa agar mengembangkan variabel-variabel penelitian yang bervariasi yang diharapkan dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil temuan penelitian yang lebih berarti, serta memperluas wilayah populasi dan menggunakan teknik pengumpulan data yang bervariasi agar hasil penelitian lebih akurat dan objektif.

Pengaruh perasan daun tapak liman (Elephantopus scaber L.) terhadap daya ingat mencit (Mus musculus) galus Balb C jantan / Addin Najmal Muttaqin

 

Kata kunci: team assisted individualization, aktivitas kooperatif, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru Biologi di SMA Negeri 3 Malang, kendala utama yang terjadi selama proses pembelajaran adalah aktivitas kooperatif dan hasil belajar kognitif siswa yang masih rendah serta nuansa belajar kompetitif yang dapat menghambat perkembangan psikologis siswa. Rendahnya aktivitas kooperatif disebabkan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu terutama metode ceramah. Metode ini kurang melibatkan siswa secara langsung sehingga banyak siswa yang mengerjakan tugas matapelajaran lain saat jam pelajaran biologi, pasif, sikap tenggang rasa dan saling menghargai terhadap temannya masih kurang, serta menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Siswa yang berkemampuan tinggi enggan berbagi informasi kepada siswa yang berkemampuan rendah karena dianggap akan menjadi saingan. Perlu dilakukan upaya pengembangan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar yang diraih siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 Malang. Pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar karena menekankan pada kerjasama siswa dalam kelompok yang mendorong dan membantu siswa dalam menguasai materi yang sedang dipelajari, saling menghargai, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar kognitif melalui model pembelajaran kooperatif TAI pada pelajaran biologi dengan materi Fungi kelas X di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, siklus I terdiri atas tiga kali pertemuan dan siklus II terdiri atas tiga kali pertemuan. Pengambilan data dilaksanakan dari bulan November sampai dengan Desember pada semester 1 tahun ajaran 2009-2010. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 29 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini diperoleh dari aktivitas kooperatif dan hasil belajar kognitif siswa. Instrumen penelitian berupa lembar observasi aktivitas kooperatif, catatan lapangan, dan tes akhir siklus. Aktivitas kooperatif siswa diukur berdasarkan peningkatan persentase aktivitas kooperatif secara klasikal pada setiap kelompok. Hasil belajar kognitif siswa diukur berdasarkan peningkatan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Berdasarkan hasil penelitian penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TAI dapat disimpulkan bahwa: 1) roling kelompok dan team teaching yang dilakukan pada siklus II menjadikan pembelajaran lebih efektif; 2) aktivitas kooperatif siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah guru melakukan roling kelompok dalam menerapkan TAI yaitu pada siklus I sebesar 67,22% kemudian meningkat menjadi 76,94% pada siklus II; 3) hasil belajar kognitif siswa yang dilihat berdasarkan kentuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan yang signifikan setelah guru melakukan team teaching dalam menerapkan TAI yaitu pada siklus I sebesar 61,29% kemudian meningkat menjadi 87,1% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: 1) guru lebih memperhatikan deskriptor ”dapat menyelesaikan beda pendapat”, yaitu guru harus lebih sering memberi penguatan terhadap jawaban siswa dan menjadi penengah dalam diskusi kelompok; 2) mengembangkan media pembelajaran dengan menampilkan contoh animasi atau film singkat yang terkait dengan materi untuk membantu siswa mencapai kognitif tingkat tinggi (menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta); 3) guru melaksanakan team teaching agar proses pembelajaran lebih efektif.

Perencanaan pengembangan dan pembuatan Switch Box dengan kendali PLC untuk mengoperasikan mesin pengolahan kapas (Mesin Carding) / Ade Irma Megawati Wasiyat

 

Kata Kunci: Mesin Carding, Switch Box, kendali PLC. P.T Industri Sandang Nusantara Unit Patal Lawang yang merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang pemintalan benang, hampir sebagian besar kontrol proses produksinya masih menggunakan kendali manual. Salah satunya yaitu tahap proses carding, sehingga diperlukan pengawasan yang terus menerus sehingga banyak menyita waktu kerja, untuk itu perlu perancangan ulang intsalasi kontrol panel secara otomatis (Switch Box). Switch Box mesin carding adalah kontrol pemutus suatu sistem atau suatu proses dalam menghasilkan output yang dikehendaki sesuai dengan masukan tertentu. Perancangan switch box meliputi rangkaian sensor pendeteksi, blok program PLC, rangkaian driver, rangkaian blok kontaktor, rangkaian keseluruhan switch box. Prinsip kerja switch box yaitu sensor akan memberikan sinyal kepada PLC, kemudian rangkaian driver akan memberikan sinyal output dari PLC untuk mengaktifkan kontaktor. Kemudian kontaktor itu sendiri diaplikasikan sebagai penggerak motor induksi 3 fasa. Switch box akan mengontrol semua sistem pada mesin carding. Pada saat mesin bekerja maka sensor akan aktif. Jika serat kapas putus maka sensor akan mendeteksi kemudian memberikan sinyal pada PLC, dengan otomatis mesin akan mati. begitu juga jika ada kotoran maka sensor akan mendeteksi kemudian mesin akan mati selama 5 detik setelah kotoran dibersihkan dengan blower atau penghisap kotoran, dan jika tong penuh maka sensor akan mendeteksi kemudian memberikan sinyal pada PLC, dengan otomatis mesin akan mati. Disarankan sebelum merancangan switch box hendaknya memeriksa lagi seluruh komponen yang akan digunakan sebelum dirakit, sehingga pada saat alat dioperasikan tidak akan terjadi trouble dalam prosesnya.

Pengembangan modul pembelajaran kimia dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada materi termokimia untuk siswa SMA kelas XI IPA / Arwita Dinar Sari Lase

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. Effendy, M.Pd.,Ph.D., (2) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D. Kata-kata kunci: inkuiri terbimbing, termokimia, modul Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa para siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mempelajari termokimia. Hal ini diindikasikan oleh kesalahan konsep yang dipahami siswa dan rendahnya pencapaian hasil belajar. Masalah ini dapat diatasi jika para siswa mampu mengoptimalkan cara pemikiran mereka dalam memahami konsep selama proses pembelajaran dengan menggunakan modul termokimia berdasarkan pendekatan inkuiri terbimbing. Modul ini dikembangkan berdasarkan KTSP dan disusun dengan menggunakan beberapa pertanyaan yang dapat membantu siswa untuk menguasai konsep itu sepenuhnya. Objek penelitian ini adalah: (1) untuk mengembangkan modul termokimia berdasarkan KTSP dan pendekatan inkuiri terhadap siswa kelas XI IPA; (2) untuk menemukan keefektifan modul yang dikembangkan. Pengembangan modul termokimia dengan pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan model 4-D (four-D model) oleh Thiagarajan dan Semmel (1974). Model ini meliputi empat langkah pengembangan, yaitu (1) pendefinisian (define), (2) perancangan (design), (3) pengembangan (develop), dan (4) penyebaran (disseminate). Penilaian di dalam modul tersebut dikembangkan berdasarkan standar evaluasi materi pembelajaran yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Penilaian itu meliputi dua aspek utama, yaitu aspek isi dan aspek penyajian modul. Penilaian terhadap isi modul berkaitan dengan kesesuaiannya terhadap Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), keakuratan, keterkaitan, kekinian dan aspek tematik materi pembelajaran. Penilaian terhadap penyajian modul berhubungan dengan teknik penyajian, penyajian pembelajaran, dan kelengkapan penyajian. Penilaian terhadap isi dan penyajian modul serta materi pendukungnya divalidasi oleh tiga dosen ahli kimia sebagai ahli isi, dua guru kimia sebagai ahli pembelajaran, dan beberapa siswa SMA kelas XI IPA sebagai pengguna. Keefektifan modul ini didasarkan pada pencapaian siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Malang setelah dilibatkan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan modul yang dikembangkan. Data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan untuk memperoleh objek penelitian. Data kualitatif meliputi tanggapan dan saran dari guru, dosen, dan siswa terhadap pengembangan ke depan modul yang dikembangkan itu. Data kuantitatif meliputi respon guru, dosen dan siswa terhadap angket yang diberikan kepada mereka dan pencapaian siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Malang setelah diikutsertakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan modul yang dikembangkan. Data yang dikumpulkan itu dianalisis secara deskriptif. Modul termokimia yang dikembangkan dengan pendekatan inkuiri terbimbing terdiri dari dua kegiatan belajar, yaitu perubahan energi dalam reaksi kimia dan penentuan perubahan entalpi standar pada reaksi kimia. Hasil evaluasi pengembangan modul oleh dosen kimia, guru kimia dan siswa SMA kelas XI IPA untuk kelayakan isi modul berada pada rentangan 64-84 %, dan untuk kelayakan penyajian modul berada pada rentangan nilai 85 – 100 %. Hal ini menunjukkan bahwa modul hasil pengembangan adalah tepat dan layak untuk digunakan dalam pengajaran materi termokimia. Hasil uji coba terbatas yang dilakukan kepada siswa SMA kelas XI IPA menunjukkan lebih dari 80% siswa mempunyai nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 75 dari nilai total 100. Hal ini menyatakan bahwa modul hasil pengembangan adalah efektif digunakan dalam pengajaran materi termokimia.

Identifikasi variasi genetik kerbau lokal Jawa Timur (Bubalus bubalis) dari wolayah yang berbeda berbasis mikrosatelit sebagai pengembangan bahan ajar mata kuliah genetika / Riyanto

 

Tesis, Program studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si. dan Pembimbing (II) Dr. Abdul Gofur, M.Si. Kata kunci: variasi genetik, kerbau lokal Jawa Timur, mikrosatelit, bahan ajar. Salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki populasi kerbau cukup banyak adalah Jawa Timur. Jumlah populasi ternak kerbau di Jawa Timur dari tahun 2003-2007 mengalami penurunan secara drastis. Tahun 2003 jumlah ternak kerbau 110.685 ekor sedangkan tahun 2007 jumlahnya 53.364 ekor, selama 4 tahun mengalami penurunan sekitar 50%. Apabila hal ini berlangsung terus menerus dikhawatirkan suatu saat akan mengalami kepunahan dan kehilangan plasma nutfah. Kehilangan plasma nutfah dapat dihindari dengan deteksi keragaman genetik, salah satu cara untuk deteksi keragaman genetik dapat dilakukan melalui pendekatan dengan pengamatan morfologi dan molekuler. Salah satu penanda molekuler yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan identifikasi genetik adalah mikrosatelit Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) variasi fenotip kerbau lokal di Jawa Timur dari wilayah Banyuwangi dan Blitar; (2) variasi genotip berbasis Mikrosatelit kerbau lokal di Jawa Timur dari wilayah Banyuwangi dan Blitar; (3) bagaimanakah hasil penelitian dapat digunakan sebagai pengembangan bahan ajar mata kuliah genetika. Pengamatan pola variasi genetik dilakukan mulai tahapan isolasi DNA yang dilanjutkan dengan elektroforesis dengan menggunakan gel agarose setelah itu dilakukan PCR dan dilanjutkan dengan elektroforesis gel poliacrilamid. Dari elektoforesis gel ini didapatkan band yang kemudian dianalisis dengan menggunakan GENEPOP ver. 3.1d. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi genetik populasi kerbau Blitar lebih tinggi apabila dibandingkan dengan populasi kerbau Banyuwangi. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai informasi polimorfik alel pada populasi kerbau Blitar yaitu 55% sedangkan rata-rata nilai informasi polimorfik pada populasi kerbau Banyuwangi yaitu 47%. Nilai frekuensi alel ketiga lokus mikrosatelit populasi kerbau Blitar berkisar antara 0,06 sampai 0,65, sedangkan nilai frekuensi alel ketiga lokus mikrosatelit populasi kerbau Banyuwangi berkisar antara 0,07 sampai 0,63, setelah diketahui nilai frekuensi alel, maka analisis dilanjutkan dengan penentuan nilai heterosigositas. Nilai rata-rata heterosigositas pada populasi kerbau Blitar dari ke tiga lokus sebesar 41,50%, sedangkan nilai rata-rata heterosigositas dari populasi kerbau Banyuwangi ke tiga lokus sebesar 27,60%. Angka ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata heterosigositas pada populasi kerbau Blitar lebih tinggi apabila dibandingkan dengan nilai rata-rata heterosigositas pada populasi kerbau Banyuwangi. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam pembelajaran terutama untuk pengembangan bahan ajar mata kuliah genetika bagian genetika populasi beserta penuntun praktikumnya. Bahan ajar dan penuntun praktikum yang telah disusun, dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa program studi pendidikan biologi untuk lebih memahami prinsip-prinsip dasar genetika khususnya genetika populasi.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran IPS melalui pembelajaran berbasis portofolio pada siswa kelas IV SDN Kiduldalem I Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Novie Istiaricha

 

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kiduldalem I Kec. Bangil Kab. Pasuruan ditemukan fakta bahwa banyak siswa yang bermain sendiri saat belajar kelompok berlangsung, ada siswa yang mencontek jawaban teman sekelompok, dan satu siswa saja yang mengerjakan tugas kelompok. Perolehan nilai pada materi pengajarannya sebesar 62,80. Siswa dalam kegiatan kelompok belum nampak dalam bekerjasama, oleh karena pada penelitian ini dicoba diterapkan pembelajaran berbasis portofolio, untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan model pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran IPS untuk meningkatakan aktivitas dan hasil belajar siswa, mendiskripsikan dampak penerapan model pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan proses belajar siswa dan mendiskripsikan dampak penerapan model pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kiduldalem I Bangil. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas model bersiklus (model Kemmis dan Taggart). Yang terdiri dari dua siklus, masing-masisng siklus terdiri dari 4 tahap, yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Kiduldalem I Kec. Bangil Kab. Pasuruan, sebanyak 28 siswa. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, angket dan tes tulis. Instrumen yang digunakan meliputi: lembar observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, soal evaluasi ( tes tulis ). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas dan hasil belajar siswa selama pembelajaran meningkat. Indikasinya banyak siswa mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dimengerti, siswa dapat berdiskusi dan bekerjasama, siswa mampu menjawab pertanyaan guru/teman,siswa mampu mengemukakan ide-ide dan siswa mampu melaporkan hasil karya kelompok tanpa ditunjuk. Aktifitas belajar meningkat 34, 26% dan hasil belajar siswa dari pra tindak ke siklus I meningkat 6,96%, dari pra tindakan ke siklus II meningkat 9,82% dan dari siklus I ke siklus II meningkat 5 % . Disarankan pada penelitian selanjutnya dapat lebih mengembangkan fokus penelitiannya tentang penerapan pembelajaran berbasis portofolio yang berbeda pada mata pelajaran yang berbeda pula.

Peningkatan kreativitas siswa kelas XI SMA Taman Madya Malang dengan metode karya wisata dalam pembelajaran keterampilan menyulam / Sri Iswati

 

Kata Kunci : Kreativitas, menyulam, Karya Wisata, SMA. Penelitian ini dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa kreativitas siswa SMA Taman Madya Malang pada pembelajaran keterampilan menyulam masih tergolong rendah. Rendahnya kreativitas tersebut terlihat dari desain dan hasil sulaman siswa pada pembelajaran sebelumnya penggunaan tusuk, teknik menyulamnya belum maksimal yang disebabkan oleh kebiasaan siswa menggunakan tusuk kurang tepat dan teknik menyulamnya juga kurang tepat yaitu dengan menggunakan bidangan sebagai alat bantu. Oleh karena itu berdasarkan hasil diskusi dan refleksi terhadap kondisi tersebut tujuan penelitian melalui pemberian Metode Karya Wisata diharapkan dapat meningkatkan kreativitas keterampilan menyulam siswa kelas XI di SMA Taman Madya Malang. Pendekatan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi melalui 2 siklus. Instrumen yang digunakan ialah lembar pengamatan aktifitas siswa, lembar pengamatan aktifitas guru, lembar pedoman aktifitas guru, lembar pedoman wawancara siswa dan instrumen tes hasil belajar siswa. Untuk instrumen pengumpulan datanya meliputi teknik pengamatan/observasi dan teknik dokumentasi dengan subyek penelitian siswa kelas XI SMA Taman Madya Malang. Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa melalui motode pembelajaran Karya Wisata dalam proses pembelajaran dapat: (1) menimbulkan rasa senang sehingga siswa lebih tekun dalam mengerjakan tugas menyulam .Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada siklus II 25% mengalami peningkatan dari pelaksanaan siklus 1(2)meningkatkan kreativitas siswa kelas XI SMA Taman Madya Malang dalam membuat motif dan menggunakan teknik menyulam. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar pada siklus II 48% yang mengalami peningkatan dari pelaksanaan siklus 1 (3) peningkatan kualitas produk-produk sulaman siswa kelas XI SMA Taman Madya Malang. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada siklus II 38% yang mengalami peningkatan dari siklus I. Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran agar dapat meningkatkan kreativitas pembelajaran keterampilan menyulam dengan menambah sarana yang berupa produk-produk sulaman, memperbaiki cara mengajar guru dengan memberikan metode karya wisata, guru harus kreatif untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan menyulam dengan mengajarkan bentuk-bentuk sulaman yang sedang musim dengan tujuan meningkatkan kreativitas siswa.

Pengembangan senam aerobik bernuansa gerakan Capoeira pada perkumpulan Capoeira Kabupaten Kediri / Didit Yuniarno

 

Kata kunci: Pengembangan, Senam, Aerobik, Senam Aerobik, Capoeira , Olahraga dan Kesehatan. Senam Aerobik adalah aktivitas yang menyenangkan dan gerakannya dibuat sengaja, tersusun secara sistematis dengan dipadukan musik, continue dan durasi waktu tertentu. Sedang Capoeira adalah seni beladiri yang dipadukan dengan tarian, musik, dan lagu. Keberadaan Capoeira di Kabupaten Kediri semakin berkembang di kalangan para remaja karena kegiatan tersebut merupakan olahraga beladiri yang trent saat ini, sementara kegiatan Capoeira di sekolah kurang diminati. Pengembangan ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kebugaran jasmani serta dapat meningkatkan minat remaja dalam melakukan aktivitas rikmik khususnya senam aerobik. Capoeira berhubungan di masyarakat khususnya kesegaran remaja, bahkan menjadi gaya hidup saat ini, mencermati kondisi ini peneliti ingin mengembangkan secara kolaborasi Capoeira dengan senam aerobik di sekolah. Dalam penelitian ini model pengembangan penelitian pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Dikarenakan keterbatasan biaya dan waktu menurut Ardhana (2002:09) Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan senam aerobik dengan gerakan Capoeira adalah sebagai berikut: 1) Riset dan pengumpulan informasi 2) Pengembangan rancangan produk, 3) Evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli senam aerobik, 1 ahli Capoeira dan 1 ahli media, 4) Revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) Revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) Revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa VCD senam aerobik dengan gerakan Capoeira. Berdasarkan hasil analisa non test dengan angket/ kuesioner pada dua pelatih Capoeira, 75 % menyatakan cukup baik dan klasifikasi persentase antara 56-75 % tergolong dalam klasifikasi cukup valid (digunakan). Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 20 anggota Capoeira kabupaten kediri, 91,05 % menyatakan menarik dan klasifikasi persentase antara 80 – 100 % tergolong dalam valid (digunakan). Produk pengembangan berupa VCD senam aerobik dengan gerakan Capoeira: 1) Produk pertama yang menggunakan gambar subjek penelitian, 2) Produk ini telah melalui tinjauan ahli, 3) Produk ini dapat digunakan anggota dan pelatih capoeira sebagai bentuk latihan yang lain sehingga tidak menimbulkan kejenuhan waktu latihan.

Pengaruh promotion mix kartu seluler merek non Indosat terhadap keputusan perpindahan merek (Brand Switching) dari kartu seluler Indosat (Studi pada mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Ratna Harlia

 

Kata Kunci: Promotion Mix, Keputusan Perpindahan Merek (Brand Switching) Perusahaan kartu seluler Indosat merupakan pemegang market share kedua produk kartu seluler di Indonesia. Akan tetapi, saat ini pelanggan Indosat mengalami penurunan dan banyak pelanggannya yang menuai protes akibat dari kurang efektifnya promosi Indosat yang dinilai terlalu mengumbar promosi serta semakin gencar dan menariknya promotion mix kartu seluler merek non Indosat saat ini menyebabkan konsumen memutuskan untuk beralih melakukan perpindahan merek dari kartu seluler merek Indosat ke kartu seluler merek non Indosat. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pelaksanaan promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat dan keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat pada mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; (2) Untuk mengetahui pengaruh promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat secara simultan terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) kartu selular Indosat pada mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; (3) Untuk mengetahui pengaruh promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) secara parsial terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat pada mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; (4) Untuk mengetahui variabel dari promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat yang berpengaruh dominan terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat pada mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebas yakni promotion mix (X) yang terdiri dari variabel advertising (X1), sales promotion (X2), personal selling (X3), public relation (X4) dan direct marketing (X5). Sedangkan variabel terikat adalah variabel keputusan perpindahan merek (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional, sedangkan populasi dalam penelitian ini tergolong infinite population sehingga populasinya adalah seluruh Mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang pernah menggunakan kartu seluler Indosat, dengan sampel berjumlah 120 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling insidental, dengan instrumen kuesioner. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan lima opsi i pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan insrtumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pelaksanaan promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat direspon setuju oleh mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam mempengaruhi keputusan perpindahan merek dari kartu seluler Indosat; (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat secara simultan terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat; (3) Terdapat pengaruh yang signifikan antara promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat secara parsial terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat; (4) Sales promotion merupakan unsur dari variabel promotion mix kartu seluler merek non Indosat yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,396 yang berarti bahwa 39,6% keputusan perpindahan dari kartu seluler Indosat pada mahasiswa S1 jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dipengaruhi oleh promotion mix kartu seluler merek non Indosat. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa promotion mix (advertising, sales promotion, personal selling, public relations, dan direct marketing) kartu seluler merek non Indosat memang memiliki pengaruh terhadap keputusan perpindahan merek (brand switching) dari kartu selular Indosat pada mahasiswa S1 jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Oleh karena itu perlu disarankan hendaknya Indosat lebih memperhatikan variabel sales promotion merupakan unsur dari promotion mix yang berpengaruh dominan yakni melalui kebijakan dalam bentuk pemberian hadiah, undian atau bonus dari penggunaan kartu seluler Indosat yakni secara lebih rasional dan nyata dihadapan konsumen. Hal ini untuk mengembalikan kepercayaan pengguna Indosat dan untuk meningkatkan lagi konsumen pengguna kartu seluler Indosat yang saat ini telah banyak berpindah merek pada kartu seluler Non Indosat yang mengakibatkan penurunan pelanggan pengguna kartu seluler Indosat. Hendaknya Indosat senantiasa mengevaluasi variabel advertising, sales promotion, public relation dan direct marketing, karena hal ini juga terbukti mempengaruhi konsumen brand switching dari kartu seluler Indosat. ii

Daya hidrolisis lemak oleh bakteri lipolitik indigen dalam limbah cair pabrik minyak kelapa sawit sebagai sumber belajar mikrobiologi / Sainab

 

Kata kunci: daya hidrolisis lemak, bakteri lipolitik indigen, limbah cair kelapa sawit, sumber belajar Mikrobiologi. Limbah cair pabrik minyak kelapa sawit mengandung zat organik dengan kadar yang tinggi, sehingga menyebabkan pencemaran di lingkungan sekitar pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik minyak kelapa sawit telah mengupayakan pengolahan limbah cair yang dihasilkan dengan menerapkan sistem lagoon (kolam), namun pengoperasian sistem lagoon belum optimal sehingga outlet belum memenuhi baku mutu limbah cair. Dalam limbah cair pabrik minyak kelapa sawit terdapat spesies bakteri lipolitik indigen yang mempunyai potensi melakukan hidrolisis terhadap lemak dan minyak. Berdasarkan masalah ini perlu dilakukan penelitian terhadap bakteri lipolitik indigen yang memiliki kemampuan yang potensial dan optimal dalam menghidrolisis lemak dalam limbah cair kelapa sawit, sehingga hasilnya dapat digunakan dalam teknologi pengolahan limbah cair yang berwawasan lingkungan yang dikenal dengan teknologi bioremediasi. Tujuan penelitian ini ialah: (1) mendeskripsikan spesies-spesies bakteri indigen yang berasal dari limbah cair pabrik minyak kelapa sawit yang bersifat lipolitik, (2) mendeskripsikan karakteristik dan ciri-ciri morfologi koloni serta mikroskopis dari spesies-spesies bakteri indigen yang bersifat lipolitik yang berasal dari limbah cair industri kelapa sawit, (3) menjelaskan perbedaan kemampuan hidrolisis lemak antara spesies-spesies bakteri lipolitik yang ditemukan dalam limbah cair pabrik minyak kelapa sawit, (4) menguji perbedaan pengaruh volume biakan bakteri dari tiap isolat bakteri lipolitik indigen terhadap kemampuan hidrolisis lemak, (5) menguji perbedaan pengaruh interaksi antara macam isolat bakteri lipolitik indigen dan volume biakan bakteri terhadap kemampuan hidrolisis lemak, dan (6) menjelaskan konstribusi hasil penelitian tentang daya hidrolisis lemak oleh bakteri lipolitik indigen dalam limbah cair pabrik minyak kelapa sawit sebagai sumber belajar Mikrobiologi. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif komparatif untuk mendeskripsikan masing-masing isolat bakteri lipolitik indigen yang berpotensi menghidrolisis lemak. Sedangkan dengan pendekatan eksperimen bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan hidrolisis lemak dari tiap isolat bakteri lipolitik indigen dengan variasi volume biakan serta pengaruh interaksinya terhadap penurunan kadar lemak dalam medium uji Nutrien Cair ditambah lemak (NCL). Data penelitian kedua dianalisis menggunakan analisis varians (uji F) ganda pada taraf uji 5%, dan dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Rancangan penelitian eksperimen uji hidrolisis lemak dalam medium NCL menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel penelitian berupa limbah cair kelapa sawit yang diambil dari bak pengendapan I pabrik PT. Suryaraya Lestari 1 di Mamuju, Sulawesi Barat. Penelitian secara Mikrobiologi dilakukan di laboratorium Mikrobiologi FMIPA UM, analisis kadar lemak di laboratorium Kimia UMM, dan identifikasi isolat bakteri lipolitik menggunakan MicrobatTM 12A/B/ E, 24E Identification Kits di laboratorium Mikrobiologi FK UNIBRAW. Hasil penelitian ialah: (1) terdapat 18 isolat bakteri lipolitik indigen yang berasal dari limbah cair pabrik minyak kelapa sawit yang; (2) ditemukan 6 isolat yang paling berpotensi menghidrolisis lemak dengan kode D, E, J, O, V, dan W. Masing-masing isolat mempunyai ciri-ciri morfologi koloni dan mikroskopis yang berbeda satu sama lain. Isolat D dan E ialah Proteus vulgaris strain d_LCKS dan Proteus vulgaris strain e_LCKS, isolat J, O, dan W ialah Bacillus coagulans strain j_LCKS, Bacillus coagulans strain o_LCKS dan Bacillus coagulans strain w_LCKS, dan isolat V ialah Acinetobacter baumanii; (3) masing-masing spesies bakteri lipolitik mempunyai kemampuan hidrolisis lemak yang berbeda satu sama lain secara signifikan. Isolat bakteri kode D memiliki kemampuan hidrolisis lemak paling potensial; (4) volume biakan bakteri dari tiap isolat bakteri lipolitik indigen berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan hidrolisis lemak. Volume biakan bakteri yang paling optimal dalam menghidrolis lemak ialah volume biakan 30 ml; (5) tiap macam isolat bakteri lipolitik indigen dengan variasi volume berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan hidrolisis lemak. Isolat bakteri lipolitik indigen kode D dengan volume biakan bakteri 30 ml paling potensial dan optimal dalam menghidrolisis lemak; (6) hasil penelitian tentang daya hidrolisis lemak oleh bakteri lipolitik indigen dalam limbah cair pabrik minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber belajar dalam bentuk Penuntun Praktikum pada matakuliah Mikrobiologi. Bertitik tolak dari hasil temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diajukan ialah (1) kepada pihak pabrik kelapa sawit PT. Suryaraya Lestari 1 di Mamuju, Sulawesi Barat disarankan untuk menggunakan spesies bakteri Proteus vulgaris, yang telah terbukti paling potensial dan optimal dalam menghidrolisis lemak, untuk keperluan bioremediasi limbah cair yang mengandung lemak (2) volume biakan bakteri lipolitik untuk keperluan hidrolisis lemak dalam limbah cair pabrik minyak kelapa sawit PT. Suryaraya Lestari 1 di Mamuju, sebaiknya dipilih volume sebesar 30 ml per 100 ml limbah cair (3) perlu dilakukan penelitian sejenis lebih lanjut dengan perlakuan menggunakan konsorsium/kombinasi beberapa spesies bakteri lipolitik indigen untuk menghidrolis lemak dalan limbah cair pabrik minyak kelapa sawit.

Model pendekatan supervisi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru (Studi multi situs pada SMAN 1 Madapangga & SMAN 1 Bolo Kab. Bima) / Ruslan

 

Tesis. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (2) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd. Kata kunci: model supervisi, profesionalisme guru, kepala sekolah Keberhasilan suatu sekolah sangat ditentukan oleh proses belajar mengajar (PBM) dimana guru menjadi komponen yang paling menentukan. Guru sebagai pengelola sumber daya manusia dan non manusia sehingga mampu menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran. Sebagai faktor kunci dalam keberhasilan pendidikan, guru harus meningkatkan kemampuan profesionalismenya, antara lain dengan mengikuti kegiatan-kegiatan in-service education and training. Keikutsertaan guru dalam berbagai kegiatan tersebut harus diiringi dengan sistem pembinaan yang tepat oleh kepala sekolah sebagai penanggung jawab di sekolah. Bagaimanapun efektifnya kepala sekolah di dalam memimpin sekolahnya pasti masih ada kekurangan dan kelemahan terutama dalam melakukan fungsinya sebagai supervisor, banyak kendala-kendala yang ditemukan oleh kepala sekolah dalam menggunakan model dan teknik pembinaan guru di sekolahnya. Berdasarkan temuan dan kenyataan dalam penelitian ini, dikemukakan bahwa penggunaan dan pelaksanaan model supervisi dan teknik-teknik pembinaan guru,di samping keberhasilan, berbagai kesulitanpun dihadapi oleh kepala sekolah di SMA Negeri di Kabupaten Bima tersebut, terutama dalam menggunakan model supervisi dan teknik-teknik supervisi dalam membina keberagaman guru, walaupun pada akhirnya segera dicarikan solusinya. Di samping itu dalam melaksanakan model dan teknik supervisi yang diberikan juga memiliki persamaan dan perbedaan. Adapun teknik pembinaan guru yang termaktub dalam model supervisi yang diberikan menjadi tanggung jawab kepala sekolah yaitu berupa teknik kunjungan kelas, rapat guru, MGMP .atau semiloka. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan kualitatif sehingga terungkap data deskriptif dan dapat menemukan makna dari fenomena yang terjadi pada penelitian secara alami. Rancangan yang digunakan adalah studi multi situs dengan seting penelitian dilakukan pada dua sekolah menengah atas di Kabupaten Bima yaitu SMA Negeri 1 Madapangga dan SMA Negeri 1 Bolo dengan informan kunci yaitu Kepala Sekolah. Kemudian informan lain adalah Pengawas Pendidikan pada Subdikmen Diknas Kabupaten Bima, seluruh wakil kepala sekolah yang berjumlah masing-masing empat orang, beberapa guru, kepala staf tata usaha, dan siswa. Berdasarkan hasil analisis paparan data dan temuan penelitian pada dua SMAN di Kabupaten Bima tersebut ditarik lima komponen inti dalam model pendekatan supervisi, yaitu: (1) beban mengajar; (2) keterbatasan waktu kepala sekolah maupun guru; (3) dana; (4) komitmen; dan (5) perasaan senioritas. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disajikan kesimpulan sebagai berikut (1) pelaksanaan supervisi mengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah dengan menggunakan model pendekatan supervisi baik secara langsung, kolaboratif, maupun tidak langsung melalui teknik-teknik supervisi; (2) kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan supervisi bisa segera diselesaikan dengan membicarakan bersama diknas, komite, maupun guru-guru; (3) tanggapan guru terhadap pelaksanaan supervisi beragama, yang pada intinya menyetujui dan mendukung, demi meningkatkan profesionalisme guru; (4) penentuan model pendekatan supervisi didasarkan pada pertimbangan: potensi yang dimiliki guru, keberagaman kompetensi, kepadatan waktu kepala seklah dan guru, dan kebutuhan profesionalisme guru; dan (5) peningkatan profesionalisme ditandai dengan: meningkatnya keahlian guru pada bidang studinya, peduli sejawat, peningkatan prestasi guru, dan meningkatnya prestasi siswa. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disajikan kesimpulan bahwa model supervisi direktif, kolaboratif maupun non-direktif yang mencakup pelaksanaan teknik supervisi, sebagai berikut (1) teknik kunjungan kelas, hampir tidak menemukan kesulitan karena sudah ada petunjuk, format yang jelas dari Diknas, (2) inservice education and training, pelaksanaannya pada dua sekolah sama saja, (3) rapat guru/karyawan pada dua sekolah tersebut telah menyepakati dengan dewan gurunya melaksanakan 2 kali sebulan, (4) penempatan guru dalam team teaching dan pembentukan kelompok bidang studi, dalam tiga kelompok bidang studi yaitu IPA, IPS, BAHASA, dan (5) supervisi klinis, pada dua sekolah ditekankan pada guru baru dan guru yang memiliki kendala dalam mengajar dan perlu penangan yang serius. Didasarkan pada pembahasan dan kesimpulan penelitian, maka disarankan sebagai berikut: (1)guru diharapkan meningkat profesionalismenya melalui pembinaan supervisi pengajaran; (2) kepala sekolah diharapkan untuk lebih meningkatkan kualitas layanan melalui pembenahan program supervisi pengajaran; (3) pemanfaatan waktu seefisien mungkin, baik dengan cara mengurangi jam bagi guru yang terlalu banyak jam mengajarnya maupun waktu kepala sekolah untuk kegiatan-kegiatan di luar; (4) pembinaan lanjutan diharapkan bisa dilaksanakan di sekolah-sekolah lain oleh pengawas pendidikan; dan (5) kepala dinas sebagai penentu kebijakan di kabupaten memperhatikan program supervisi pengajaran.

Hubungan antara minat membaca bacaan fiksi anak dengan prestasi belajar pada siswa sekolah dasar / Fika Dinita Khairunnisa Hasibuan

 

Kata kunci: minat membaca bacaan fiksi anak, prestasi belajar. Keberhasilan dalam belajar sebagian besar ditunjang oleh minat baca. Melalui kegiatan membaca, siswa dapat memperoleh informasi, fakta atau pengetahuan, sekaligus memperoleh hiburan. Dengan demikian minat baca berkaitan erat dengan prestasi belajar para siswa. Minat membaca ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca. Individu yang memiliki minat baca yang tinggi tentunya akan memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap segala hal. Bacaan yang paling menarik bagi anak adalah bacaan fiksi anak. Bacaan fiksi dapat meningkatkan kemampuan kognitif, kreativitas, dan daya imajinasi anak. Hal ini dapat menunjang prestasi anak di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengungkap minat membaca bacaan fiksi anak pada siswa kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. (2) mengungkap prestasi belajar pada siswa kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. (3) mengungkap hubungan antara minat membaca bacaan fiksi anak dan prestasi belajar pada siswa sekolah dasar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2009/2010 yang berada pada tahap perkembangan masa akhir anak-anak (usia 9-12 tahun). Pada penelitian ini, subjek diminta untuk mengisi skala minat membaca bacaan fiksi anak dan kemudian skornya dikorelasikan dengan nilai rata-rata ujian akhir sekolah (UAS) semester II. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat membaca bacaan fiksi siswa kelas V SD Laboratorium Universitas Negeri Malang yang termasuk dalam kategori tinggi sebesar 51,95% dan prestasi belajar siswa yang termasuk dalam kategori tinggi sebesar 38,96%. Selain itu juga terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara minat membaca bacaan fiksi anak dan prestasi belajar pada siswa sekolah dasar (rxy= 0,273; p= 0,016 <0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada: (1) Bagi siswa untuk dapat meningkatkan prestasi belajar, salah satunya dengan meningkatkan minat membaca bacaan fiksi., (2) Bagi Guru, untuk mendukung dan memotivasi siswa agar mau berusaha untuk lebih meningkatkan prestasi belajarnya, (3) Bagi orang tua, agar mendukung dan mengembangkan minat dan prestasi anakanaknya, (4) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan penelitian tentang minat membaca bacaan fiksi anak dan prestasi belajar dengan menambah jumlah subjek penelitian penelitian dan variabel lain yang terkait dengan minat membaca bacaan fiksi anak dan prestasi belajar.

Analisis pengendalian persediaan bahan baku dengan metode economic order quantity / Dwi Sumartina

 

Kata kunci: Pengendalian persediaan, metode Economic Order Quantity (EOQ). Masalah pengendalian persediaan merupakan salah satu masalah penting yang dihadapi oleh perusahaan. Persediaan yang terlalu besar ataupun terlalu kecil dapat menimbulkan masalah dalam perusahaan. Kekurangan persediaan akan mengakibatkan proses produksi terhambat. Sehingga permintaan konsumen tidak dapat dipenuhi pada waktu yang tepat. Sedangkan persediaan yang terlalu banyak akan menimbulkan biaya ekstra disamping resiko yang dihadapi perusahaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa manajemen persediaan yang efektif sangat mempengaruhi proses produksi, terutama terhadap keuntungan perusahaan. Metode Economic Order Quantity (EOQ) atau jumlah pemesanan paling ekonomis merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah pengendalian persediaan. Metode ini digunakan untuk menentukan kuantitas pemesanan persediaan yang meminimumkan biaya penyimpanan persediaan dan biaya pemesanan persediaan. Hasil analisis yang dilakukan pada persediaan bahan baku di PT Semen Padang dengan menggunakan metode EOQ menunjukkan adanya penghematan biaya persediaan sebesar Rp 1.084.078.948,00 bila dibandingkan dengan kebijakan perusahaan. Sehingga metode EOQ dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan oleh PT Semen Padang.

Assessment of the kexical richness of the eaasays of the first graders of SMA 10 Malang / Aprillia Surya Kusuma Dewi

 

Key words: lexical richness, writing, vocabulary knowledge, the Lexical Frequency Profile (LFP), descriptive This study is descriptive research to measure vocabulary knowledge of the first graders of senior high school with different cultures and backgrounds of learning English and whether or not they have similar breadth of lexical knowledge. The researcher used writings of 44 first graders from different areas of East Java with different background of learning English analyzed by the Lexical Frequency Profile computer program, and finally the researcher made an assessment on the students’ vocabulary knowledge based on the lexical richness of their writings. In this study, the researcher introduced a tool to monitor the students’ progress in learning vocabulary from their writings and know the students’ progress of their lexical richness routinely through one of good predictors of lexical richness, the Lexical Frequency Profile (LFP). The LFP has proven to be more valid and reliable measure than some existed measures of lexical richness such as lexical originality, lexical density, lexical sophistication and lexical variation. The result of the research showed that the first graders of SMA 10 Malang still had low vocabulary knowledge. The students did not have varied vocabulary knowledge as very limited use of ‘low-frequency’ words meaning academic word list in their writings and quite clear gap of the range or spread of the vocabulary used. Also, they still did not have similar vocabulary breadth since they only used 770 word families found in all students’ writings, again with quite clear gap of range or spread of the vocabulary used except the word families found in the first 1,000 most frequent words of English. Based on the result of this study, it is suggested that English teachers provide better strategies and promote better instruction to teach vocabulary and should really encourage the students to enrich their vocabulary through many means. The finding is somehow useful for the management of the education department to improve better curriculum of English subject especially to the teaching of vocabulary and put more concern for the students from different areas with different backgrounds especially for those who share different L1s. This study might also be useful for researchers, educational observers and lecturers to examine factors that may affect the students’ acquisition and use of English academic vocabulary in the written form. Thus, lecturers, educational observer and especially future researchers are suggested to modify this study in order to verify the present findings with better and newest tools that have also been developed.

Evaluasi manejemen induk organisasi persatuan bulutangkis seluruh Indonesia (PBSI) Pengkot Malang periode 2006-2010 dalam Porprov Jatim II tahun 2009 / M. Amrozi

 

Kata Kunci: Porprov II, Induk Organisasi Olahraga, Bulutangkis, Manajemen, Evaluasi. Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) merupakan event penjaringan bibit-bibit atlet dari kabupaten dan kota. Porprov diselenggarakan dua tahun sekali disetiap Provinsi. Porprov Jatim pertama telah diselenggarakan di Surabaya sedangkan Porprov kedua diselenggarakan di kota Malang. Pembinaan dan pengembangan olahraga dilakukan oleh induk organisasi sesuai dengan cabang olahraga masing-masing. Induk organisasi cabang olahraga adalah organisasi olahraga yang membina, mengembangkan, dan mengkoordinasikan satu cabang atau jenis olahraga. Salah satu induk organisasi olahraga adalah PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia). Induk organisasi PBSI terkait dalam Porprov Jatim II membutuhkan manajemen yang baik agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Keberhasilan manajemen PBSI dalam Porprov Jatim II dapat diketahui dengan adanya evaluasi pada even tersebut. Evaluasi pada Porprov Jatim II tahun 2009 dapat diketahui dari beberapa aspek meliputi: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan. Rumusan masalah bagaimana keefektifan manajemen induk organisasi persatuan bulutangkis seluruh Indonesia. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keefektifan manajemen induk organisasi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Pengkot Malang Periode 2006-2010 dalam Porprov Jatim II2009. Metodologi penelitian yang digunakan adalah evaluasi program dengan model CIPP (contects evaluation, input evaluation, proses evaluation, produk evaluation). Subyek penelitian 17 Pengurus PBSI pengkot Malang perioede 2006-2010 dan 13 atlet Porprov yang mewakili Kota Malang. Pelaksanan penelitian berlangsung pada bulan April sampai Mei tahun 2010, bertempat di induk organisasi PBSI Pengkot Malang. Analisis yang digunakan menggunakan deskripsi persentase. Hasil penelitian diperoleh jawaban responden yang dievaluasi dari tiap-tiap aspek dipersentasekan yaitu untuk perencanaan pengurus diperoleh persentase sebesar 97,75% yang berarti baik sekali dan atlet dipersentase sebesar 75 % yang berarti baik, untuk pengorganisasian pengurus diperoleh persentase sebesar 87,53% yang berarti baik sekali dan atlet dipersentase sebesar 94,87 % yang berarti baik sekali, untuk pelaksanaan pengurus diperoleh persentase sebesar 78,56 % yang berarti baik dan atlet diperoleh persentase sebesar 61,54 yang berarti baik, untuk bidang pengawasan pengurus diperoleh persentase sebesar 96,86 % yang berarti baik sekali dan atlet dipersentase sebesar 100 % yang berarti baik sekali. Berdasarkan hasil dari penelitian yang diperoleh dapat diketahui atau dapat diputuskan tentang manajemen induk organisasi PBSI Pengkot Malang dalam Porprov Jatim II Tahun 2009 dari setiap aspek yang dievaluasi. Hasil penelitian dapat digunakan untuk meningkatkan manajemen induk organisasi PBSI pada Porprov berikutnya untuk lebih baik. Sesuai dengan hasil penelitian, peneliti mengajukan saran untuk PBSI Pengkot Malang agar lebih meningkatkan manajemen olahraga terkait Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang belum mencapai tingkat efektif dari setiap program yang direncanakan.

Analisis antrian model multi channnel-single phase pada loket pembayaran hypermart di Malang Town Square (Matos) / Siti Aisyah

 

Kata kunci: antrian, loket pembayaran, model multi channel – single phase. Pada saat ini banyak terdapat pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern. Pasar modern antara lain mini market dan supermarket. Salah satu supermarket yang berada di Malang yaitu Hypermart yang tepatnya berada di Malang Town Square (MATOS). Masalah yang sering terjadi pada supermarket dan banyak dikeluhkan para pelanggan adalah antrian pada loket pembayaran atau kasir. Oleh karena hal diatas diperoleh rumusan masalah yaitu bagaimana model antrian Multi Channel - Single Phase yang paling representatif pada loket pembayaran Hypermart Malang Town Square (MATOS) dan bagaimana performansi antrian Multi Channel - Single Phase pada loket pembayaran Hypermart Malang Town Square (MATOS). Terdapat beberapa model antrian yaitu single channel – single phase, single channel – multi phase, multi channel – single phase, dan multi channel – multi phase. Menganalisis model antrian bertujuan menentukan ukuran performansi dari model antrian yang diperoleh. Ukuran dari performansi ini antara lain utilitas pelayanan (ρ), rata – rata banyak individu dalam sistem (Ls), rata – rata banyak individu dalam antrian (Lq), rata – rata waktu menunggu dalam sistem (Ws), dan rata – rata waktu menunggu dalam antrian (Wq). Penelitian ini dilakukan pada loket pembayaran di Hypermart Malang Town Square (MATOS), pada tanggal 2 Maret – 8 Maret 2010. Pengamatan dilakukan pada pukul 15.30 – 17.00 WIB. Teknik Analisis data yang digunakan untuk menguji distribusi banyak kedatangan menggunakan software EasyFit dengan teknik perangkingan distribusi. Sedangkan untuk menguji distribusi waktu antar kedatangan dan distribusi waktu pelayanan digunakan software Minitab 14 dengan menggunakan ID Plot dan Probability Plot. Dalam menduga parameter distribusi waktu antar kedatangan dan distribusi waktu pelayanan dengan digunakan Probability Plot. Sedangkan dalam menganalisis model antrian untuk memperoleh peformansi digunakan software POM dengan memasukkan nilai laju kedatangan (λ), laju pelayanan (µ), dan jumlah server yang digunakan. Hasil analisis dan pembahasan diperoleh model antrian yang paling representatif pada loket pembayaran Hypermart Malang Towm Square (MATOS) (M/M/1) : (FCFS/∞/∞) yang mempunyai arti bahwa model pelayanan tunggal dan distribusi banyak kedatangan berdistribusi Poisson dan waktu antar kedatangan dan waktu pelayan berdistribusi Eksponensial. Disiplin pelayanannya FCFS bermakna pelanggan yang lebih dulu datang maka pelanggan tersebut akan lebih dulu mendapat pelayanan. Sedangkan panjang antrian dan sumber populasinya tak terbatas. Dari hasil perhitungan performansi diperoleh nilai utilitas terbesar 0.95 pada hari Minggu dan yang terkecil 0.4752 pada hari Selasa, hal ini berarti terjadi antrian yang panjang pada hari Minggu dan berlaku sebaliknya. Rata – rata banyak pelanggan antri dalam sistem (Ls) dan rata – rata banyak pelanggan antri dalam antrian (Lq) yang terbanyak terjadi pada hari Minggu dan yang paling sedikit pada hari Selasa. Rata – rata lama waktu menunggu dalam sistem (Ws ) dan rata – rata lama waktu menunggu dalam antrian (Wq) yang terlama pada hari Minggu dan tercepat pada hari Selasa. Probabilitas tidak ada individu dalam sistem (Po) paling kecil pada hari Minggu dan yang paling besar hari Selasa. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disarankan untuk pihak subyek penelitian karena antrian yang paling panjang terjadi pada hari Minggu, diharapkan membuka loket pembayaran lebih banyak lagi untuk mengurangi antrian pada hari tersebut. Pada penelitian ini dalam menguji distribusi digunakan 4 distribusi disarankan untuk lebih mempertajam penelitian ini dengan 10 distribusi dalam pengujian distribusi. Serta disarankan pula untuk melakukan penelitian menggunakan model lainya dan supermarket lainya.

Analisis kesusaian pelatihan-pelatihan dalam buku teks 'Komponen berbahasa Indonesia untuk SMA kelas XI oleh Drs. Mafrukhi, M.Pd. dkk terbitan Erlangga' dengan keterampilan berbahasa / Alfi Shofia Jawahiroh

 

Kata Kunci: kesesuaian, pelatihan, buku teks, keterampilan berbahasa Pelatihan dalam buku teks digunakan sebagai parameter untuk mengukur tingkat kemampuan siswa dalam mencapai kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar. Kompetensi yang dicapai siswa meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan berbahasa tersebut bukan hanya digunakan untuk melatih kemahiran berbahasa Indonesia siswa, tetapi juga kemahiran dalam bersastra Indonesia. Salah satu sarana untuk menunjang kelancaran pembelajaran adalah buku teks. Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini dibahas mengenai pelatihan dalam sebuah buku teks. Buku teks yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku teks ’Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI oleh Drs. Mafrukhi, M. Pd. dkk. Terbitan Erlangga’. Permasalahan yang dibahas adalah kesesuaian pelatihan dengan sasaran pelatihan keterampilan berbahasa. Penelitian ini menitikberatkan pada kesesuaian pelatihan yang ada dalam buku teks tersebut dengan empat aspek keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul Kesesuaian Pelatihan-Pelatihan dalam Buku Teks ’Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI oleh Drs. Mafrukhi, M. Pd dkk. Terbitan Erlangga’ dengan Keterampilan Berbahasa. Secara khusus, penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk pelatihan yang terdapat dalam buku teks tersebut, (2) mendeskripsikan kesesuaian pelatihan dalam buku teks dengan sasaran pelatihan keterampilan berbahasa, dan (3) mendeskripsikan kesesuaian pelatihan berdasarkan tujuan pembelajaran tiap unit dalam buku teks. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif evaluatif dengan pendekatan kualitatif. Deskriptif berarti mendeskripsikan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, sedangkan evaluatif berarti menggunakan standar tertentu sebagai tolak ukur untuk meneliti permasalahan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah (1) deskripsi bentuk-bentuk pelatihan dalam buku teks, (2) deskripsi kesesuaian pelatihan dalam buku teks dengan sasaran pelatihan keterampilan berbahasa, dan (3) deskripsi kesesuaian pelatihan berdasarkan tujuan pembelajaran tiap unit dalam buku teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk pelatihan yang digunakan dalam buku teks ’Kompeten Berbahasa Indonesia’ adalah pelatihan subjektif dan pelatihan objektif. ii Pelatihan subjektif dalam buku teks tersebut berupa esei atau uraian, melengkapi kalimat yang rumpang, pertanyaan dengan menggunakan kata tanya, dan pertanyaan dengan jawaban pendek. Pelatihan objektif dalam buku teks berupa pilihan ganda, pelatihan menjodohkan, dan pelatihan benar-salah (B/S), (2) pelatihan-pelatihan dalam buku teks tersebut sesuai dengan keterampilan berbahasa, hal tersebut disebabkan pelatihan-pelatihan dalam buku teks sesuai dengan sasaran pelatihan keterampilan berbahasa, dan (3) pelatihan tersebut juga sesuai dengan tujuan pembelajaran tiap unit, sebab dalam tujuan pembelajaran terdapat berbagai macam kegiatan dan pelatihan yang menyertai kegiatan tersebut. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah pelatihan-pelatihan dalam BTBI yang diteliti sesuai dengan keterampilan berbahasa. Kesesuaian pelatihan dalam buku teks dengan keterampilan berbahasa terletak pada kesesuaian pelatihan dengan sasaran pelatihan keterampilan berbahasa. Sasaran pelatihan adalah pencapaian kompetensi siswa melalui sebuah tes. Saran yang bisa diberikan dari hasil penelitian ini adalah (1) bagi peyusun buku teks BTBI agar menyusun buku teks dengan beragam bentuk pelatihan, menyesuaikan pelatihan tersebut dengan keterampilan berbahasa dan tujuan pembelajaran agar siswa lebih mudah dalam mencapai kompetensi, (2) bagi guru bidang studi, orang tua, dan siswa agar lebih selektif dalam memilih buku teks yang digunakan, dan (3) bagi peneliti lain agar meneliti permasalahan lain yang berkaitan dengan buku teks bahasa Indonesia.

Penerapan pendekatan konstruktivistik melalui thinking empowerment by questioning (TEQ) dalam pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan kemampuan dalam berpikir kritis dan motivasi belajar pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 9 Malang / Malikhatun Nisa

 

Kata kunci : Thingking Empowerment By Questioning (TEQ), berpikir kritis, motivasi belajar Pemilihan metode pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai kualitas pembelajaran yang tinggi setiap mata pelajaran khususnya akuntansi harus diorganisasikan dengan metode-metode yang tepat pula. Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa metode pembelajaran yang diterapkan di SMA Negeri 9 Malang adalah pembelajaran dengan metode ceramah. Menggunakan metode ceramah dapat menyebabkan siswa menjadi kurang aktif di dalam kelas dan kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri, sehingga mengakibatkan kemampuan berpikir kritis siswa sangat rendah. Penelitian dengan pola TEQ ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar pada siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 9 Malang. Data yang dijaring berupa data kemampuan berpikir kritis, motivasi belajar yang diperoleh dari aktivitas bertanya dan menjawab pertanyaan, serta lembar observasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Waktu pelaksanaan penelitian ini berlangsung pada bulan Mei sampai Juni 2010. Hasil penelitian pada siklus I siklus II dari pembelajaran TEQ yang diamati yaitu kemampuan berpikir kritis yang diukur dengan kemampuan bertanya dan menjawab siswa selama proses pembelajaran menunjukkan kualifikasi sangat kritis, sedangkan untuk motivasi belajar siswa yang diukur dengan angket motivasi dan lembar observasi motivasi siswa ditinjau dari aktivitas siswa selama proses pembelajaran menunjukkan kriteria baik, sehingga penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan pola Thingking Empowerment by Questioning (TEQ) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa XI IPS 1 SMA Negeri 9 Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru bidang studi akuntansi untuk menggunakan metode pembelajaran pola TEQ sebagai alternatif dalam membelajarkan siswa. Pola TEQ dapat terus diterapkan dengan beberapa variasi, misalnya pola TEQ dengan jigsaw, TGT, atau NHT.

Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidian (KTSP) pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 6 Kediri / Ayub Waskito

 

Kata kunci: strategi pembelajaran, efektifitas, efisiensi, daya tarik. Dalam strategi pembelajaran, ada tiga variabel utama yang sangat penting yaitu, kurikulum, guru dan pengajaran. Dan guru menempati kedudukan sentral, sebab peranannya sangat menentukan. Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini dikembangkan sesuai dengan potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Di sekolah-sekolah non unggulan, seperti di SMPN 1 Pangarengan, strategi mengajar IPS kurang bervariasi, kebanyakan didalamnya adalah menggunakan metode ceramah. Padahal masih banyak metode lain yang bisa dikondisikan dengan kondisi pembelajaran dan tetap menarik. Masalah utama adalah kurang lengkapnya sarana/alat yang dihadapi oleh pengajar dalam menerapkan strategi dan media pembelajarannya. Sementara KTSP yang mengharuskan seorang guru untuk menguasai 4 bidang studi (Geografi, Ekonomi, Sejarah dan Sosiologi) dalam satu pelajaran yaitu IPS Terpadu. Maka dari itu guru harus mempunyai strategi yang efektif, efisien, dan menarik untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan melihat kondisi murid dan sekolah. Fokus penelitian ini adalah bagaimana guru mengembangkan strategi pembelajaran IPS yang efektif, efisien, dan menarik, diharapkan menjadi contoh sekolah lain dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sekolah terutama di kelas 7 dengan materi mendiskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Pangarengan kelas 7A,7B, dan 7C. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kasus tunggal, bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti melihat secara langsung proses pembelajaran di kelas 7A, 7B dan 7C selama 4X tatap muka dan 2 minggu untuk wawancara dan dokumentasi, pada semester ganjil Tahun Ajaran 2008/2009. Tiga metode yang digunakan dalam mengumpulkan data-data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan bagaimana guru menggunakan strategi pembelajaran dengan pendekatan ekspositori dengan metode ceramah dan pendekatan inquiri dengan metode diskusi kelompok ternyata efektif untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran dilihat penilaian dari aspek kognitif, psikomotorik dan afektif siswa. Strategi pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi dipilih sesuai dengan kondisi pembelajaran di kelas 7 SMPN 1 Pangarengan dan terbukti efisien waktu, tempat dan biaya. Daya tarik pembelajaran IPS terlihat dari respon dan minat siswa terhadap materi yang disampaikan dan dari pengajar/guru sendiri. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar strategi pembelajaran disesuaikan dengan kondisi siswa dan sekolah/daerah, kurikulum hendaknya jangan berubah-ubah demi kepentingan lancarnya proses jangka panjang pendidikan Indonesia, diharapkan kepada pihak yang berkaitan dengan pendidikan bersama-sama memecahkan masalah pendidikan nasional dengan tindakan nyata dan juga kepada pemerintah supaya memperhatikan sekolah non unggulan dengan memberikan sarana prasarana yang baik agar tujuan pendidikan nasional benar-benar tercapai dengan merata.

Hubungan antara profesionalisme guru dan atribusi guru dengan sikap guru terhadap ujian nasional / Baquandi Lutvi Yoseanto

 

Kata kunci: profesionalisme, guru, atribusi, sikap, ujian nasional. Penelitian ini diadakan karena dua fenomena yang terjadi di masyarakat. Fenomena pertama adalah kondisi tingkat profesionalisme guru yang rendah. Fenomena kedua adalah kontroversi tentang perlu tidaknya diselenggarakan Ujian Nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara: (1) profesionalisme guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional; (2) profesionalisme guru dengan atribusi kemampuan, atribusi usaha, atribusi tugas, dan atribusi nasib; (3) atribusi kemampuan, atribusi usaha, atribusi tugas, dan atribusi nasib dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional; (4) profesionalisme guru dan atribusi kemampuan, atribusi usaha, atribusi tugas, dan atribusi nasib dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional Rancangan penelitian ini adalah penelitian korelasional. Teknik pengambilan sampel adalah group sampling. Besarnya sampel adalah 32 orang guru SMKN 3 Blitar. Instrumen penelitian terdiri dari angket profesionalisme guru, inventors atribusi guru, dan skala sikap guru terhadap Ujian Nasional. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis korelasional, dan analisis jalur. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) ada korelasi antara profesionalisme guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional. Nilai rxy = 0,694, signifikan pada 0,000; (2) ada korelasi antara profesionalisme guru dengan atribusi kemampuan (r = 0,750, sig 0,000) dan atribusi nasib (r = -0,614 sig 0,000) dan tidak ada korelasi dengan atribusi usaha (r = -0,089 sig 0,629) dan atribusi tugas (r = -0,137 sig 0,456); (3) ada korelasi antara atribusi kemampuan (r = 0,593 sig 0,000) dan atribusi nasib (r = -0,464 sig 0,008) dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional, dan tidak ada hubungan antara atribusi usaha (r = -0,094 sig 0,610) dan atribusi tugas (r = -0,117 sig 0,524) dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional; (4) Analisis Jalur antara Profesionalisme Guru dan Atribusi Kemampuan dengan Sikap Guru terhadap Ujian Nasional adalah sebagai berikut. Nilai Standardized Coefficients Beta profesionalisme guru → atribusi kemampuan sebesar 0,750 (jalur 1) dan signifikan pada 0,000. Nilai eror jalur 1 yaitu e1 = √(l - 0,562) 0,662. Nilai Standardized Coefficients Beta profesionalisme guru → sikap guru terhadap ujian nasional (jalur 2) sebesar 0,569 dan signifikan pada 0,008. Nilai Standardized Coefficients Beta atribusi kemampuan → sikap guru terhadap ujian nasional (jalur 3) sebesar 0,167 dan signifikan pada 0,411. Nilai eror jalur 2 dan jalur 3 yaitu e2 = √(l - 0,493) = 0,712. Total pengaruh = 0,569 + (0,750 x 0,167) = 0,694. Analisis Jalur antara Profesionalisme Guru dan Atribusi Nasib dengan Sikap Guru Terhadap Ujian Nasional adalah sebagai berikut. Nilai Standardized Coefficients Beta profesionalisme guru → atribusi nasib (jalur 1) sebesar -0,614 dan signifikan pada 0,000. Nilai eror jalur 1 yaitu el = √(1 – 0,376) = 0,790. Nilai Standardized Coefficients Beta profesionalisme guru → sikap guru terhadap ujian nasional (jalur 2) sebesar 0,566 dan signifikan pada 0,001. Nilai Standardized Coefficients Beta atribusi nasib → sikap guru terhadap ujian nasional (jalur 3) sebesar -0,061 dan signifikan pada 0,720. Nilai eror jalur 2 dan jalur 3 yaitu e2 = √(1 – 0,484) = 0,718. Total pengaruh = 0,656 + (-0,614 x -0,061) = 0,694. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi peneliti diharapkan membuat instrumen atribusi guru pada masa yang akan datang dalam bentuk terpisah untuk mengatasi kelemahan bentuk instrumen ispatif yang sudah digunakan. Bagi guru yang mempunyai atribusi kemampuan, atribusi usaha, atribusi tugas maupun nasib agar bisa lebih memahami dirinya untuk mengajar secara optimal kepada anak didiknya. Bagi pihak sekolah dan universitas diharapkan memahami bahwa guru atau calon guru mempunyai atribusi yang berbeda-beda yang menyebabkan dan disebabkan oleh kondisi tertentu. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik terhadap penelitian mengenai hubungan antara profesionalisme guru dan atribusi guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan faktor-faktor lain dengan mengembangkan instrumen yang telah ada.

Rancang bangun gergaji profil kayu untuk pembuatan APE (Alat Peraga Edukasi) / Purna Setyawan, Yanuar Yoseph Raja

 

Kata kunci: Mesin Gergaji, Profil Kayu, APE (Alat Peraga Edukasi) Kayu merupakan kebutuhan bahan baku yang sangat penting dan diperlukan oleh masyarakat dalam berbagai bidang, seperti pembuatan APE (Alat Peraga Edukasi) dengan bahan dasar kayu. Pengrajin APE (Alat Peraga Edukasi) dengan bahan dasar kayu selama ini kebanyakan masih menggunakan pahat tangan konvensional untuk membuat media belajar tersebut. Untuk mengerjakan atau membuat Alat Peraga Edukasi dengan tingkat kedetailan desain yang cukup rumit, para pengrajin biasanya melimpahkan pekerjaan kepada perusahaan yang memiliki mesin lebih canggih, atau bahkan membeli sendiri mesin dengan harga yang cukup mahal dan dimensi yang cukup besar. Dengan diciptakannya mesin ini, diharapkan mampu menekan biaya produksi dan peningkatan devisa dari seni kriya kayu yang menjanjikan seperti sakarang ini. Proses pembuatan APE (Alat Peraga Edukasi) pada dasarnya memerlukan berbagai macam peralatan. Dimana peralatan itu untuk berbagai proses pemotongan, penghalusan, pengecatan, serta kegiatan kerajinan yang lainnya. Pembuatan APE dilakukan dengan beberapa tahap, diawali dari proses pengumpulan bahan baku yaitu kayu. Kayu yang dipilih merupakan kayu yang memiliki serat halus, lurus, tidak berlubang dan tidak ada lendutan atau tidak bergelombang. Pemilihan jenis kayu ini dimaksudkan untuk mendapatkan finishing yang halus dan memiliki serat indah serta untuk memperoleh hasil produk yang berkualitas. Dari permasalahan diatas maka dibuat mesin gergaji profil kayu yang berfungsi untuk menggergaji bentuk profil kayu itu sendiri. Penulis membuat mesin gergaji profil kayu yang lebih efektif dan efisien dengan hasil atau luaran keunggulan sebagai berikut: mesin ini memiliki variasi dalam membuat bentuk profil, selain dapat membuat profil luar dapat juga membuat profil dalam seperti: huruf O, A, B. Hal ini dibuktikan dengan meja kerja pada mesin yang penulis rencanakan dapat dimiringkan hingga membentuk sudut 45°, sehingga bisa membuat profil bersudut. Dimensi mesin juga cukup kecil (dengan Panjang Mesin (p) = 0,52 m; Lebar Mesin (l) = 0,48 m; dan Tinggi Mesin (h) = 0,5 m ) sehingga tidak menyita ruang kerja cukup besar dan mudah dipindah-pindah. Mesin ini juga dapat membuat profil berlubang tanpa merusak desain yang hendak dibuat.

Aplikasi metode arima Box-Jenkins dan Garch untuk meramalkan tingkat pencurian di Kabupaten Kediri / Ria Kumala Sari

 

Kata kunci : ARIMA, GARCH, tingkat pencurian Tingkat pencurian adalah banyak pencurian yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Adanya pencurian yang semakin meningkat perlu mendapatkan perhatian karena menyangkut keamanan dan keselamatan masyarakat. Oleh karena itu dengan peramalan diharapkan manusia dapat memprediksi keadaan atau kondisi yang akan terjadi, sehingga upaya preventif dapat diambil untuk menekan tingkat pencurian tersebut. Masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana model ARIMA Box-Jenkins dan GARCH terbaik yang menggambarkan tingkat pencurian di Kabupaten Kediri dan bagaimana perbandingan akurasi kedua model terbaik tersebut. Dalam menentukan model peramalan, pendekatan yang dipakai dalam menganalisis yaitu menggunakan analisis runtun waktu dengan model ARIMA Box-Jenkins. Model ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu tahap identifikasi model sementara, tahap estimasi parameter dan pemeriksaan model, dan terakhir adalah tahap peramalan. Sedangkan salah satu model yang dikembangkan untuk memodelkan data dengan varian tidak konstan dari data acak adalah autoregresi. Model GARCH adalah model autoregresi yang bersifat heteroskedastis dan non stasioner. Pada data tingkat pencurian dengan tingkat fluktuasi tinggi, model GARCH adalah model yang realistis diterapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari arsip Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Kediri. Teknik analisis data yang digunakan adalah penetapan kriteria model terbaik ARIMA Box-Jenkins menggunakan program Minitab 14 dan GARCH menggunakan program Eview 4.1. Sedangkan untuk menganalisis perbandingan akurasi model terbaik dari kedua model tersebut berdasarkan nilai MSE, MAE, dan MAPE. Hasil penelitian diperoleh model ARIMA yang telah memenuhi kriteria model terbaik untuk data tingkat pencurian adalah ARIMA (0,1,1)(0,1,1)5 dengan persamaan : , dengan 0,9390 dan 0,8891. Sedangkan untuk model GARCH yang telah memenuhi asumsi model terbaik adalah GARCH (1,1) dengan persamaan : , dimana adalah varian residual. Dari perbandingan kedua model tersebut diperoleh nilai MSE, MAE dan MAPE model GARCH (1,1) lebih kecil dari ARIMA (0,1,1)(0,1,1)5 sehingga dapat dikatakan bahwa model GARCH (1,1) lebih baik untuk meramalkan tingkat pencurian di Kabupaten Kediri.

Grice's conversational maxims reflected in verbal offers used by "Sariayu Martha Tilaar" cosmetic vendors in department stores in Malang / Mega Pertiwi

 

Key words: Grice’s conversational maxims, verbal offer, cosmetic vendors. This research examines the verbal offers produced by cosmetic vendors, who are attempting to offer what they are selling, especially “Sariayu Martha Tilaar” cosmetic products, in department stores in Malang. The settings of the research are some department stores in Malang which are frequently used by the cosmetic vendors as a place to promote and offer their cosmetic products. The researcher chooses five department stores in Malang where the promotions of the cosmetic products are frequently found. They are Matos (Malang Town Square), MOG (Mall Olympic Garden), Ratu , Raya, and Mitra Department Store. In this research, the researcher tries to map the cosmetic vendor’s utterances while offering their product in the Gricean four maxims: quantity, quality, relation, and manner from the customers’ perspectives. Here, the researcher wants to know what kinds of Grice’s conversational maxims are used by cosmetics vendors and how they obey those kinds of maxims reflected in their utterances. After analyzing the data, the researcher found that the highest percentage of maxim that is used by the cosmetic vendors is the maxim of relation that is used for ten times (43.47%). The second highest percentage is the maxim of quantity that is used for five times (21.73%). Then, the less percentage is maxim of manner (17.39%) and maxim of quality (17.39%). The first conclusion from this research is the cosmetic vendors’ utterances use all of the four conversational maxims with the maxim of relation as the most frequently used. The second is the cosmetic vendors obey the conversational maxims by being informative, by providing satisfactory information and response, by showing direct and avoiding obscurity of responses, and by giving relevant responses toward their costumers’ question. In this research, the researcher gives two suggestions that are for future researchers and the students. The first suggestion is addressed to the future researchers who are going to conduct linguistic studies. It shows that linguistic theories especially Pragmatic theories (i.e., the cooperative principle and conversational maxims) are applicable in daily conversation (i.e., the conversation between the cosmetic vendors and costumers). The second suggestion is addressed to the students to understand the conversation process in accordance with simplicity, clarity, relevance, which then give them such a communicative competence facilitating them to use the spoken language well.

Pengaruh pengungkapan corporate social responsibility dalam laporan tahunan terhadap kenaikan volume penjualan saham pada perusahaan high profile yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2008 / Silvia Nilam Aprila Putri

 

Kata Kunci: corporate social responsibility, volume penjualan saham Persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha dan semakin berkembangnya tekhnologi mengakibatkan perusahaan hanya melakukan kegiatan operasinya sebagai organisasi bisnis dan seringkali lupa akan fungsinya sebagai organisasi sosial. Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan seharusnya mampu memenuhi tuntutan masyarakat dan stakeholders lainnya sebagai organisasi yang telah melaksanakan tanggung jawab sosialnya dan mengungkapkannya dalam laporan tahunan perusahaan yang akan digunakan stakeholders dalam pengambilan keputusan investasinya pada perusahaan tersebut yang akan berpengaruh terhadap kenaikan volume penjualan saham perusahaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dalam laporan tahunan perusahaan terhadap kenaikan volume penjualan saham. Berdasarkan metode purposive sampling, telah diperoleh 30 sampel dari 213 populasi perusahaan high profile yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2008. Variabel terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah volume penjualan saham, sedangkan variabel bebasnya (independent) adalah pengungkapan corporate social responsibility. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji asumsi klasik berupa uji normalitas dan uji regresi sederhana. Pada pengujian hipotesis diperoleh hasil bahwa pengungkapan corporate social responsibility dalam laporan tahunan tidak berpengaruh terhadap kenaikan volume penjualan saham yang ditunjukkan dengan angka signifikansi sebesar 0,47 yang berarti lebih dari 0,05. Penelitian ini juga menunjukkan koefisien regresi sebesar -0,003 yang berarti apabila pengungkapan tanggung jawab sosial bertambah 1, maka volume penjualan saham menurun sebesar 0,003%. R Square yang menunjukkan angka 0,018 menggambarkan bahwa indeks pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan memiliki pengaruh 1,8% terhadap kenaikan volume penjualan saham dan 98,2% lainnya dipengaruhi oleh faktor luar. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pada penelitian selanjutnya menggunakan sampel yang lebih luas sehingga hasilnya akan lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia dan menambahkan variabel lain yang potensial berpengaruh terhadap volume penjualan saham.

Perancangan company profile hotel Pelangi Malang / Kiki Mardini

 

Kata Kunci: perancangan, company profile, hotel. Kota Malang merupakan salah satu dari kota yang menjadi tujuan wisata.Banyaknya wisatawan baik dalam dan luar negeri yang berkunjung ke kota Malang, membuat usaha perhotelan juga ikut berkembang pesat. Sebuah hotel yang telah lama berdiri harus memiliki media komunikasi yang lengkap dan efektif sebagai sarana promosi kepada konsumen karena dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, Hotel Pelangi dituntut untuk menentukan strategi pemasaran yang efektif agar mampu mempertahankan pangsa pasar yang sudah ada, bahkan memperbesar pangsa pasar tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan jalan promosi. Company Profle merupakan salah satu media komunikasi visual yang digunakan untuk media promosi.Sebuah Company Profile harus mampu menarik perhatian audience dan juga harus mampu menginformasikan garis besar, ide ataupun visi, misi perusahaan secara lebih efektif, serta dapat ditempatkan dimana saja. Company Profile ini sangat penting dalam menunjang pemasaran sebuah perusahaan perhotelan, semua fasilitas dan keunggulan yang diberikan oleh sebuah hotel seperti Hotel Pelangi, akan dapat diketahui oleh konsumen atau calon pengunjung melalui Company Profile tersebut serta dapat mempertahankan image/citra Hotel Pelangi sendiri. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap Hotel Pelangi Malang. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalaui wawancara dan observasi yang kemudian ditarik kesimpulan.Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan Company Profile (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan Company Profile. Hasil dari perancangan ini adalah berupa booklet dan web-media yang secara umum memiliki karakteristik mampu memperkuat karakter Hotel Pelangi kepada audience secara personal, dengan spesifikasi utama adalah informasi mengenai Company Profile, beserta nilai keunggulan dan nilai-nilai positif mengenai Hotel Pelangi Malang. Diharapkan dengan pemilihan media promosi yang tepat dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan meningkatkan image/citra yang positif dimata audience.

Peningkatan hasil belajar pecahan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assited Individualization) kelas V semester 2 SDN Bendogerit II Kota Blitar / Miftahur Roifana

 

Kata kunci: hasil belajar, pecahan, model pembelajaran kooperatif tipe TAI Observasi yang dilakukan terhadap siswa kelas V SDN Bendogerit 2 Kota Blitar menunjukkan siswa memiliki pemahaman konsep perkalian dan pembagian pecahan yang rendah sehingga hasil belajar siswa kurang dari KKM. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dalam pembelajaran matematika materi perkalian dan pembagian pecahan pada siswa kelas V semester 2 di SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar tahun ajaran 2011/2012?, 2) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dalam pembelajaran matematika materi perkalian dan pembagian pecahan dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V semester 2 di SDN Bendogerit 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar tahun ajaran 2011/2012? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, angket, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dilakukan dengan metode alur meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran perkalian dan pembagian pecahan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bendogerit 2 Kota Blitar yang ditunjukkan dengan persentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan 32%, pada siklus I pertemuan 1 sebesar 45%, siklus I pertemuan 2 sebesar 66%, pada siklus II pertemuan 1 sebesar 71%, dan siklus II pertemuan 2 sebesar 87%. Nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan 59,34, siklus I 64,21, dan siklus II 75,46 . Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran matematika materi perkalian dan pembagian pecahan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI telah dilaksanakan sesuai langkah-langkah model pembelajaran TAI. Penerapan model pembelajaran TAI juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bendogerit 2 Kota Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk memahami dan mampu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI.

Kajian substansi isi peraturan pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2008 tentang wajib belajar dan pelaksanaannya pada pendidikan dasar di Kota Malang / Merynda Deny Permata Delly

 

Kata Kunci: peraturan pemerintah nomor 47 tahun 2008, substansi isi, persepsi, wajib belajar, pelaksanaan wajib belajar Pendidikan dasar untuk semua pada hakikatnya berarti penyediaan akses yang sama untuk semua anak. Dalam hal ini pemerintah telah mencanangkan pendidikan nasional sebagai prioritas pembangunan pendidikan nasional. Salah satu prioritas pembangunan pendidikan nasional adalah Penuntasan Wajib Belajar (WAJAR) Pendidikan Dasar 9 Tahun. Setidak-tidaknya ada lima alasan bagi pemerintah untuk memulai program WAJAR 9 tahun: 1) Lebih dari 80 persen angkatan kerja hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD) atau kurang, atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak tamat; 2) Program WAJAR 9 tahun akan meningkatkan kualitas SDM dan dapat memberi nilai-tambah pada pertumbuhan ekonomi; 3) Semakin tinggi pendidikan akan semakin besar partisipasi dan kontribusinya di sektor-sektor yang produktif; 4) Dengan peningkatan program WAJAR dari 6 tahun ke 9 tahun, akan meningkatkan kematangan dan ketrampilan siswa; 5) Peningkatan WAJAR menjadi 9 tahun akan meningkatkan umur kerja minimum dari 10 ke 15 tahun (Depdiknas, 2002). Program WAJAR direalisasikan melalui Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji substansi isi PP No 47 Tahun 2008 Tentang WAJAR dan pelaksanaannya pada pendidikan dasar di Kota Malang. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui apa isi dari PP No 47 Tahun 2007 tentang wajib belajar (secara tekstual dan kontekstual), (2) mengetahui persepsi pemerintah dan masyarakat terhadap isi PP No 47 tahun 2008 tentang WAJAR, (2) Mengetahui bagaimana pelaksanaan PP No 47 tahun 2008 tentang WAJAR, (3) Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam menerapkan PP No 47 tahun 2008 tentang WAJAR. Untuk mencapai maksud tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian deskriptif analisis isi. Subjek penelitian yang utama adalah PP No 47 tahun 2008 yang dilengkapi oleh persepsi kepala sekolah, guru, orangtua, dan kepala bagian perencanaan program. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis dokumen dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis isi dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. ii Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) PP No 47 Tahun 2008 Tentang WAJAR terdiri atas IX Bab, 16 Pasal yang mencakup kajian tentang: Bab I ketentuan umum, menjelaskan bahwa program WAJAR dilaksanakan pada jenjang pendidikan dasar minimal (usia 7-15 tahun) atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah yang diselenggarakan selama 6 tahun di SD baik SD reguler, SD kecil, SD pamong, SD terpadu, MI, Ponpes, SDLB, dan paket A, dan 3 tahun di SMP baik itu SMP Reguler, SMP kecil, SMP terbuka, SMP terpadu, MTs, MTs terbuka, ponpes, paket B. Bab II fungsi dan tujuan WAJAR adalah mengupayakan perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan, dan memberikan pendidikan minimal. Bab III penyelenggaraan WAJAR, menjelaskan bahwa penyelenggaraan WAJAR tidak hanya pada SD SMP saja tetapi juga mencakup SDLB, SMPLB, Paket A dan B, atau yang sederajat. Bab IV pengelolaan WAJAR, menjelaskan bahwa pengelolaan WAJAR di Kota Malang dilaksanakan berdasarkan renstra yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kota Malang. Bab V evaluasi WAJAR dapat dilihat APK, APM, tingkat lulusan, hasil belajar siswa, siswa tinggal kelas dan DO. Bab VI Penjaminan WAJAR dilaksanakan melalui BOS, tanpa memungut biaya. Bab VII hak dan kewajiban masyarakat adalah dalam hal memberi masukan, memantau, mengawasi, dan memberikan penilaian. Bab VIII pengawasan yang dilakukan meliputi pengarahan, bimbingan dan pemberian sanksi. (2) persepsi pemerintah dan masyarakat terhadap isi PP No 47 Tahun 2008 WAJAR adalah program WAJAR wajib diikuti semua WNI atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah serta masyarakat melalui proses penyelenggaraan, pengelolaan, evaluasi, penjaminan WAJAR, dan pengawasan, (3) pelaksanaan wajar dilakukan dengan memberikan bantuan biaya berupa BOS dan biaya gratis bagi yang tidak mampu, pemerataan sarana dan prasarana, SDM, dan pembangunan pengembangan lembaga pendidikan baik formal, nonformal dan informal, (4) kendala yang dihadapi dalam penerapan PP No 47 Tahun 2008 Tentang WAJAR adalah kurang meratanya Sarpras, SDM, kendala pada usia, kurikulum untuk siswa ABK, kompetensi guru dalam memahami kurikulum, pembuatan soal-soal ujian, kendala dalam pembiayaan, dan kurangnya kesadaran masyarakat (orang tua) terhadap pentingnya pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian, saran-saran yang diajukan adalah (1) Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, diharapkan lebih memperhatikan siswa yang berkebutuhan khusus, khususnya dari segi kurikulum, dan dapat melihat kemampuan lembaga pendidikan yang ada, (2) Kepala Bagian Perencanaan Program diharapkan lebih menjaring anak-anak usia WAJAR dan melakukan evaluasi atau pengawasan terhadap anak-anak yang ABK, (3) Kepala Sekolah, guru, dan orangtua, diharapkan kepala sekolah dapat memberikan solusi terkait dengan pengembangan kompetensi guru dalam mengajar khususnya masalah dalam menetapkan KKM, guru lebih meningkatkan kompetensinya dalam mengajar, orangtua diharapkan lebih memberikan kontribusinya dalam peningkatan kualitas pendidikan, (4) Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan pada tingkat Perguruan Tinggi, (5) peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan atau mengembangkan penelitian ini dengan berbagai kajian yang ada.

Sistem pencegahan flooding data pada jaringan komputer / Akhmad Suhadak dan Arief Purnomo

 

Peningkatan kemampuan menulis puisi baru menggunakan media artikel berita di media massa siswa kelas XB MAN Malang II Batu / Nur Khasanah

 

Kata Kunci: media artikel berita di media massa, menulis, puisi Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa yang dikembangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMU. Menulis puisi baru merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas X SMU. Kompetensi ini bertujuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, rima, dan irama. Kenyataan di lapangan menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, rima dan irama. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, rima, dan irama dengan menggunakan media artikel berita pada tahap pramneulis, menulis, dan pasca menulis pada pembelajaran menulis puisi baru di kelas X B MAN Malang II Batu. Media artikel berita menyajikan informasi yang berisi pengalaman hidup seorang tokoh beserta konflik yang dialami. Hal ini memungkinkan siswa untuk dapat terinspirasi melalui pengalaman hidup tokoh yang terdapat dalam artikel berita tersebut untuk dijadikan bekal dalam menulis puisi. Penggunaan media artikel berita mendorong guru untuk mengembangkan media pembelajaran yang menarik dan dekat dengan kehidupan siswa. Dengan menggunakan pengalaman hidup dari seorang tokoh yang terdapat dalam kehidupan nyata dan dekat dengan siswa, maka dapat membantu siswa dalam memperoleh inspirasi dalam pembelajaran menulis puisi, membantu kepekaan siswa terhadap situasi global yang sedang terjadi, dan menumbuhkna empati siswa terhadap masalah yang dialami orang lain. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sesuai dengan rancangan tersebut, penelitian disusun dalam siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Peningkatan Pembelajaran), Pelaksanaan, Pengamatan, hasil tindakan, dan refleksi. Penetapan subyek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan oleh peneliti. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X B MAN Malang II Batu yang berjumlah 29 siswa. Dari keseluruhan jumlah tersebut sebanyak 11 siswa mendapatkan nilai diatas KKM dan sebanyak 18 siswa memperoleh nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Data penelitian meliputi data proses pembelajaran menulis puisi menggunakan media artikel berita pada tahap pramenulis, menulis, dan pasca menulis. Data hasil dalam penelitian ini berupa hasil menjelaskan isi berita berita, hasil menentukan tema puisi berdasarkan isi artikel berita, hasil menjabarkan gagasan pokok berdasarkan tema puisi, hasil menulis daftar katakata puitis berdasarkan tema puisi, hasil menulis kalimat puitis berdasarkan gagasan pokok dan kata puitis yang relevan dengan tema puisi dengan   memperhatikan bait, rima, dan irama, dan hasil menyunting serta merevisi kalimat puitis berdasarkan penggunaan diksi, bait, rima, dan irama. Bertolak dari proses dan hasil pembelajaran menulis puisi menggunakan media artikel berita siklus I dan siklus II dapat dikemukakan bahwa penggunaan media artikel berita dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi di kelas X B MAN Malang II Batu. Hal ini dapat dilihat dari skor yang dicapai siswa, yakni di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, yakni 71. Penulisan puisi menggunakan media artikel berita pada tahap menjelaskan isi berita berita, tahap menentukan tema puisi berdasarkan isi artikel berita, tahap menjabarkan gagasan pokok berdasarkan tema puisi, hasil menulis daftar kata-kata puitis berdasarkan tema puisi, tahap menulis kalimat berdasarkan gagasan pokok dan kata puitis yang relevan dengan tema puisi dengan memperhatikan bait, rima, dan irama, dan tahap menyunting serta merevisi kalimat puitis berdasarkan penggunaan diksi, bait, rima, dan irama mengalami peningkatan. Pada siklus I, siswa yang mendapat skor di atas KKM sebesar 3,44 %, dan siklus II, siswa yang mendapat skor di atas KKM sebesar 96,6 %. Pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 49,5. Proses pembelajaran menulis puisi menggunakan media artikel berita pada siklus I ini belum tercapai sepenuhnya karena siswa kurang memahami tahap-tahap dalam penulisan puisi menggunakan media artikel berita. Pada pelaksanaan tindakan siklus II, skor rata-rata kelas meningkat menjadi 82,8. Proses pembelajaran berlangsung dengan aktif karena siswa lebih antusias dalam menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami pada setiap tahap dalam pembelajaran menulis puisi menggunakan media artikel berita. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media artikel berita kemampuan menulis puisi siswa kelas X B MAN Malang II Batu meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru agar menggunakan media artikel berita dalam pembelajaran menulis puisi, dengan bermacam-macam topik dan tema dengan lebih kreatif dan bervariasi dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa pembelajaran menulis puisi. Untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang kreatif dan inovatif, kepada Kepala MAN Malang II Batu, disarankan agar memberikan dukungan kepada guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif serta mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik minat siswa dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di MAN Malang II Batu. Kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan dan mengembangkan media artikel berita sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain dengan cara yang lebih kreatif dan bervariasi.

Implementasi E-Learning sebagai media yang interaktif berbasis Web Site dengan menggunakan moodle pada program keahlian akuntansi di SMKN 1 Pogalan Trenggalek / Rafiatul Husna

 

Kata kunci: Implementasi, media interaktif, e-learning, website, moodle Media pembelajaran memiliki peranan sangat penting dalam proses pembelajaran. Media membantu proses penyampaian informasi dari guru dan siswa. Media juga menjadikan sesuatu yang abstrak dan sulit dimengerti bagi siswa menjadi lebih jelas dan mudah dimengerti. Seiring dengan perkembangan teknologi maka keberadan media berbasis komputer banyak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan sebuh media pembelajaran akuntansi yang berbasis website dengan menggunakan moodle, yaitu salah satu aplikasi dari e-learning yang dapat dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran dan mudah dalam pembuatannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, sedangkan untuk tahapan pembuatan media yang diimplementasikan menggunakan model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif , menunjukkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Adapun analisa data hasil validasi dengan metode kualitatif deskriptif Pengambilan data validasi media dilakukan dengan menggunakan instrument berupa kuisioner dan wawancara kepada ahli media, ahli materi. Kegiatan validasi dilakukan di SMKN 1 Pogalan Trenggalek dan Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Dari hasil analisa data didapatkan kesimpulan bahwa media yang dikembangkan sudah memenuhi criteria layak. Dari hasil pretes dan postes diperoleh peningkatan hasil belajar 17,5% dengan diimplementasikannya media. Rata-rata nilai siswa secara keseluruhan juga mengalami peningkatan. Meskipun demikian ada beberapa hal yang perlu direvisi dan mendapatkan perhatian khusus diantaranya adalah pemilihan jenis huruf, tema, dan warna serta gambar yang ada dalam media. Responden memberikan penilaian yang kurang positif pada butir tersebut. Revisi dari ahli media dan ahli matei dilakukan sebelum media diterapkan kepada siswa. Media yang dikembangkan hanya terbatas pada pelajaran akuntansi pokok bahasan menyusun laporan keuangan pada kelas X SMK. Implementasi maupun pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan dengan cara memperluas materi dan jenjang sekolah mulai dari tingkat SD sampai universitas maupun sekolah non formal lainnya.

Pengembangan perangkat pembelajaran matematika yang bercirikan realistic mathematics education (RME) pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel untuk siswa SMP kelas VIII / Agung Prasetyo Abadi

 

Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran, Pendekatan RME, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Perangkat pembelajaran merupakan media bagi terjadinya interaksi belajar mengajar yang optimal. Sehingga jelas bahwa dengan adanya perangkat pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Guru akan lebih mudah mengajarkan suatu materi sedangkan siswa akan lebih mudah dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru. Oleh sebab itu perangkat pembelajaran mutlak diperlukan oleh seorang guru dalam mengelola pembelajaran. Pendekatan matematika realistik adalah salah satu pendekatan belajar matematika yang dikembangkan untuk mendekatkan matematika kepada siswa. Masalah-masalah nyata dari kehidupan sehari-hari digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika untuk menunjukkan bahwa matematika sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari pengamatan di lapangan, persamaan linear dua variabel merupakan salah satu pokok bahasan matematika yang tergolong sukar. Dari pengalaman penulis dan hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas VIII menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami siswa dikarenakan materi yang diajarkan terlalu abstrak. Selain itu siswa belum mampu memaknai apa yang dipelajarinya dikarenakan adanya pemikiran siswa bahwa persamaan linear dua variabel hanya mempelajari perhitungan-perhitungan yang berupa variabel dan belum mengetahui manfaat mempelajari sistem persamaan linear dua variabel. Model pengembangan perangkat pada penelitian ini mengacu pada model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel,dan Semmel (1974) yang telah dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut, 1) penyederhanaan model yang sebelumnya terdapat empat tahap menjadi tiga tahapan saja yaitu pendefinisian (Define), perancangan (design), dan pengembangan (Develop), hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu serta biaya, 2) tidak semua tahapan pada 4D-model digunakan karena disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan perangkat pembelajaran. Berdasarkan hasil validasi yang telah diuraikan pada Bab IV, secara keseluruhan produk RPP dan LKS yang dikembangkan dinyatakan valid menurut penilaian validator ahli dan praktisi dan Validator User. Jadi dapat disimpulkan bahwa RPP dan LKS yang dikembangkan memenuhi kriteria baik. Disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk mengujicobakan perangkat pembelajaran ini kepada siswa dalam kelompok besar/satu kelas agar dapat diketahui tingkat keefektifan dan kepraktisannya

Studi implementasi life skill (Kecakapan hidup) dalam dokumen pembelajaran pada mata pelajaran komputer akuntasi (Myob accounting) di SMK Negeri 1 Ponorogo / Daulina Rahmi

 

Kata kunci: life skill, dokumen pembelajaran, komputer akuntansi (myob accounting) SMK Negeri 1 Ponorogo merupakan sekolah kejuruan negeri di Ponorogo yang memiliki jurusan bisnis manajemen dengan berbagai program keahlian yang salah satunya adalah akuntansi. Lulusan dari SMK ini banyak yang langsung bekerja dengan bekal keterampilan yang diperoleh di sekolah. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran seorang guru dalam hal penanaman skill di sekolah untuk menjadikan lulusan dengan keterampilan yang terdidik dan terlatih. Maka dari itu, sebelum melaksanakan KBM guru membuat rencana pembelajaran terlebih dahulu supaya materi yang disampaikan dapat dipahami siswa. Rencana pembelajaran tersebut berupa silabus dan RPP yang berisi mengenai standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator-indikator yang mengandung life skill, karena rencana pembelajaran tersebut dipersiapkan untuk membekali siswa dalam memasuki dunia kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi life skill (kecakapan hidup) pada dokumen pembelajaran mata pelajaran komputer akuntansi (myob accounting) di SMK Negeri 1 Ponorogo. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif (studi kasus). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik dokumentasi, wawancara, dan observasi. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian adalah guru mata pelajaran komputer akuntansi di SMK Negeri 1 Ponorogo dan dalam penelitian ini disebut responden. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa guru komputer akuntansi telah mengimplementasikan beberapa unsur life skill dalam dokumen pembelajaran, diantaranya adalah kecakapan personal, kecakapan sosial, dan kecakapan vokasional. Sedangkan dari pengembangan life skill diketahui bahwa: (1) Implementasi life skill dalam dokumen pembelajaran (silabus dan RPP) mata pelajaran komputer akuntansi (myob accounting) di SMK Negeri 1 Ponorogo belum terimplementasi secara maksimal. (2) Dari observasi pada kegiatan belajar mengajar di SMK Negeri 1 Ponorogo diketahui bahwa: a) pengalaman belajar diberikan dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional; b) guru membuat modul sebagai sumber belajar; c) mata pelajaran komputer akuntansi dengan program myob ini belum bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pengimplementasian life skilnya kurang maksimal; (3) Penilaian yang digunakan dalam mata pelajaran komputer akuntansi ini berdasarkan teknik penilaian secara psikomotorik dan berdasarkan kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang telah ditentukan oleh guru. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa guru komputer akuntansi di SMK Negeri 1 Ponorogo telah memasukkan beberapa unsur life skill dalam dokumen pembelajaran, namun pada KBMnya belum bisa mengimplementasikan life skill secara maksimal. Pada penelitian ini terdapat keterbatasn penelitian yaitu pengukuran indikator dilihat dari dokumentasi dokumen pembelajaran, hasil observasi dan wawancara yang dianalisis sendiri oleh peneliti dan tidak berdasar pada suatu teori. Dengan demikian disarankan kepada guru mata pelajaran untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas mengajarnya, sebaiknya guru juga mengaplikasikan berbagai variasi model pembelajaran serta mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata yang berorientasi pada pembelajaran life skill. Kepada pihak sekolah sebaiknya juga mengadakan sosialisasi yang bersifat pelatihan atau lokakarya bagi guru mata pelajaran untuk menghadapi dinamika kurikulum yang terus berlanjut supaya guru lebih professional, aktif serta kreatif dalam KBM dan juga dapat lebih memperjelas pengimplementasian dan pengembangan life skill dalam pembelajaran. Kepada peneliti selanjutnya harus lebih mengembangkan penelitiannya, sehingga penelitian selanjutnya bisa lebih inovatif.

Implementasi algoritma genetika hibrid (First improvement search) pada travelling salesman problem / Devi Yuliagandi

 

Kata kunci: graph, Travelling Salesman Problem (TSP), Algoritma Genetika Hibrid. Travelling Salesman Problem (TSP) merupakan suatu permasalahan dalam memilih rute dari salesman yang akan mendistribusikan barang ke berbagai kota dan kembali ke kota awal dimana setiap kota harus dilewati hanya satu kali dengan total bobot seminimum mungkin. Dalam hal ini bobot bisa dalam ukuran jarak, waktu, ataupun biaya. Algoritma yang dapat menyelesaikan Travelling Salesman Problem diantaranya farthest insertion heuristic dan nearest neighbor. Terdapat algoritma lain yang dapat menyelesaikan Travelling Salesman Problem dan menghasilkan solusi tidak tunggal yaitu algoritma genetika. Algoritma genetika merupakan teknik optimasi yang didasarkan pada proses evolusi makhluk hidup, dimana dalam evolusi tersebut makhluk hidup mengalami mekanisme seleksi alam (diantaranya pindah silang dan mutasi) untuk bertahan hidup. Algoritma genetika merupakan suatu algoritma yang dapat diaplikasikan dalam berbagai jenis permasalahan optimasi. Algoritma first improvement search adalah salah satu keluarga local search yang memperhitungkan perubahan di lingkungan persekitarannya dari keadaan yang diberikan untuk menghasilkan nilai optimal. Selain itu, terdapat algoritma lain yang dapat menghasilkan solusi tidak tunggal yang merupakan pengembangan dari algoritma genetika. Algoritma tersebut adalah algoritma genetika hybrid. Algoritma genetika hybrid merupakan gabungan dari algoritma genetika dan local search (first improvement search). Dari uji coba yang dilakukan solusi yang dihasilkan algoritma genetika hybrid sama atau lebih baik daripada algoritma genetika dan metode-metode heuristic. Hal ini dipengaruhi oleh adanya local search. Solusi dari local search akan lebih baik jika pada langkah awal telah ditemukan nilai fitness yang lebih baik sebelum atau sampai batas p (pN, 1 ≤ p ≤ 15). Namun terdapat beberapa parameter yang harus diperhatikan diantaranya banyaknya populasi yang digunakan dan maksimum generasi. Parameter tersebut akan mempengaruhi unjuk kerja dari algoritma genetika hybrid. Oleh karena itu, dalam melakukan proses algoritma genetika hybrid perlu adanya kesesuaian antara jumlah populasi dan maksimum generasi terhadap jumlah kota. Maksimum generasi yang baik adalah 30% dari ukuran populasi dan ukuran populasi yang digunakan sebaiknya tidak kurang dari 30. Untuk mempermudah dalam perhitungan maka dibuat software algoritma genetika hybrid dalam suatu bahasa pemrograman delphi.

Penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 2 SDN Pandanwangi 1 Kota Malang / Dian Rahmani

 

Kata Kunci : Kontekstual, Hasil belajar, aktivitas, IPA Berdasarkan observasi awal siswa kelas II SDN Pandanwangi 1 cenderung pasif dalam pembelajaran IPA. Hal ini dikarenakan pembelajaran masih menggunakan cara tradisional/konvensional. Metode yang digunakan lebih banyak ceramah, sehingga guru berperan aktif dalam pembelajaran. Pemanfaatan media pembelajaran sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memaparkan penerapan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA siswa kelas II SDN Pandanwangi 1; (2) memaparkan hasil belajar IPA siswa kelas II SDN Pandanwangi 1 setelah dibelajarkan dengan pendekatan kontekstual ; (3) memaparkan aktvitas belajar siswa kelas II SDN Pandanwangi 1 setelah dibelajarkan dengan pendekatan kontekstual. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN Pandanwangi 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh guru kelas II. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus berikutnya. Pada penelitian ini guru menerapkan tujuh komponen CTL dalam pembelajaran. Ketujuh komponen tersebut adalah constructivism, questioning, inquiry, modeling, learning community, reflection, dan authentic assessment. Nilai kemampuan guru pada pratindakan rata-rata 14,29 meningkat pada siklus I menjadi 76,79 dan pada siklus II menjadi 98,22. Penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa pada pembelajaran IPA. Hasil belajar siswa, pada pratindakan rata-rata 63 meningkat pada siklus I menjadi 80,65 dan pada siklus II hasil belajar siswa menjadi 87,12. Aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada pratindakan Rata-rata yang diperoleh adalah 12, meningkat pada siklus I menjadi 64,23 dan pada siklus II menjadi 76,29. Saran yang diberikan peneliti adalah sebaiknya guru menyiapkan media yang konkrit untuk anak usia SD. Selain itu sebaiknya guru menerapkan komponen-komponen pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di kelas.

Analisis paragraf argumentatif siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009-2010 / Ariva Luciandika

 

Kata kunci: kemampuan berbahasa, menulis, paragraf, argumentatif Penguasaan kemampuan berbahasa Indonesia sangat penting sebagai alat komunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Kemampuan berbahasa ini harus dibina dan dikembangkan sejak dini. Salah satu wujud pembinaan kemampuan berbahasa adalah dengan menerapkan pengajaran bahasa di tingkat SD, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Dalam pengajaran bahasa Indonesia di SMA, terdapat empat aspek kemampuan yang harus dikuasai siswa, yaitu berbicara, medengarkan, membaca, dan menulis. Dari keempat aspek tersebut, kemampuan menulis bisa dikatakan sebagai kemampuan berbahasa yang paling kompleks. Menulis membuat siswa dapat mengkomunikasikan gagasan, pikiran, pendapat, maupun perasaannya dengan baik sesuai kaidah yang benar. Berdasarkan hal tersebut, salah satu kemampuan yang harus dicapai oleh siswa SMA adalah mampu menulis paragraf argumentasi. Hal ini sejalan dengan salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas X, yaitu mampu menulis gagasan untuk medukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif. Argumentasi memungkingkan siswa untuk mengemukakan gagasan pendapat, maupun pikirannya dengan disertai bukti-bukti relevan yang mendukung argumennya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menulis paragraf argumentatif. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah karakteristik paragraf, wujud argumen, dan pola pengembangan paragraf argumentasi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang yang berjumlah 95 orang dan berasal dari tiga kelas yang berbeda. Sumber data penelitian berupa hasil tulisan paragraf argumentatif siswa. Instrumen berupa tugas menulis paragraf argumentatif yang berbentuk Lembar Kerja Siswa. Keseluruhan hasil tulisan paragraf argumentatif tersebut kemudian dikumpulkan dan dianalisis. Analisis data didasarkan pada aspek yang akan diteliti, yaitu karakteristik paragraf, wujud argumen, dan pola pengembangan paragraf argumentasi. Hasil analisis karakteristik paragraf berdasarkan aspek kesatuan isi menunjukkan dari 95 hasil tulisan paragraf argumentatif yang dibuat oleh siswa, ditemukan 73 (sekitar 77%) hasil memiliki kesatuan isi paragraf yang baik. Berdasarkan aspek koherensi paragraf, ditemukan 68 (sekitar 29%) hasil memiliki koherensi yang baik. Berdasarkan aspek kelengkapan isi, ditemukan 95 (100%) hasil memiliki kelengkapan isi paragraf yang baik. Berdasarkan aspek kebahasaan, ditemukan 27 (sekitar 28%) hasil yang mengandung unsur kebahasaan yang baik. ii Hasil analisis wujud paragraf menunjukkan dari 95 hasil tulisan paragraf argumentatif yang dibuat oleh siswa, ditemukan 18 (sekitar 19%) hasil paragraf yang menggunakan wujud genus, 24 (sekitar 25%) menggunakan wujud sebab akibat, 7 (sekitar 7%) menggunakan wujud keadaan, 7 (sekitar 7%) menggunakan wujud persamaan, 10 (sekitar 11%) menggunakan wujud perbandingan, 9 (sekitar 10%) menggunakan wujud pertentangan, 20 (sekitar 21%) menggunakan wujud autoritas. Hasil analisis pola paragraph menunjukkan 56 hasil paragraf yang menggunakan pola argumentasi deduktif (sekitar 59% dari jumlah keseluruhan) dan 39 hasil yang lain menggunakan pola induktif (41% dari jumlah keseluruhan).

Penggunaan bahasa anak usia 4-5 tahun di TK Negeri Pembina Lumajang / Eka Meilinda Eka

 

Kata kunci: Penggunaan, Bahasa anak Bahasa merupakan sistem tanda bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa digunakan oleh semua kalangan, dari tua-muda, besar-kecil, laki-laki-perempuan, dsb. Anak-anak menggunakan bahasa sejak ia berusia 18 bulan. Sejak anak lahir, ia dilengkapi oleh LAD (Language Acquisition Device) yang menjadikan anak mampu membawa sejumlah perbendaharaan kata dan kalimat untuk berbahasa. Dengan adanya LAD ini anak dapat memperoleh dan menggunakan bahasa. Selain dilengkapi LAD, pemerolehan bahasa dapat diperoleh melalui tahapan-tahapan yang hingga akhirnya anak bisa menguasai bahasa secara utuh dan sempurna. Penggunaan bahasa pada anak usia prasekolah belum sempurna seperti halnya orang dewasa. Penggunaan bahasa yang belum sempurna ini disebut bahasa antara. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan bahasa anak usia 4–5 tahun di TK Negeri Pembina Lumajang yang berupa wujud atau bentuk kalimat (kalimat tanya, larangan, perintah, dan berita), bentukan kata dan jenis/kelas kata yang digunakan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahasa anak. Informan dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 4–5 tahun di TK Negeri Pembina Lumajang yang menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Peneliti melakukan pengumpulan data melalui teknik observasi dan dokumentasi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah transkrip tuturan kalimat yang digunakan oleh anak usia 4–5 tahun di TK Negeri Pembina Lumajang. Untuk memperoleh data yang valid, peneliti melakukan proses triangulasi teknik yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Data diperoleh dengan observasi dan dokumentasi, lalu dicek dengan wawancara atau pemancingan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum anak telah menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Anak usia 4–5 tahun juga telah menggunakan kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. Dalam pengunaan kalimat tersebut, telah ditemukan bahwa pola-pola atau susunan kalimat yang digunakan oleh anak kebanyakan bersifat sederhana. Peneliti juga menemukan adanya penggunaan kalimat verba, kalimat nomina, kalimat adjektiva, kalimat negatif, kalimat numeralia, kalimat tak berklausa, kalimat lengkap berbentuk susun balik dan inversi, dan kalimat tak lengkap. Selain itu, dalam penggunaan bentukan kata, peneliti menemukan penggunaan afiksasi, reduplikasi, dan morfofonemik dalam berkomunikasi. Penggunaan kelas kata pada anak usia 4–5 tahun berupa kata kerja (verba), kata benda (nomina), kata ganti ii (pronomina), kata bilangan (numeralia), kata sifat (adjektiva), kata depan (preposisi), kata penghubung, dan kata seru. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut: 1) Bidang Pendidikan: Guru melatih siswa dalam menggunakan bahasa dan memperbanyak perbendaharaan kata untuk anak usia 4–5 tahun. Anak dilatih untuk bercerita tentang apa saja yang dialaminya. Dengan demikian guru memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh bahasa, bukan memaksa mempelajari bahasa. Jika anak salah dalam menggunakan bahasa, itu hal yang wajar karena bahasa yang digunakan anak pada umumnya belum sempurna. Para pendidik diharapkan membimbing anak dalam menggunakan bahasa. 2) Orang tua: Orang tua juga diharapkan dapat memahami perkembangan bahasa anak, selain itu orang tua juga memperhatikan ujarannya karena ujaran merupakan model bagi anak dalam belajar bahasa.

Pembuatan PC router freebsd pada jaringan komputer di SMP Negeri 1 Tutur / Praputra Febri Ananto

 

Kata kunci : Router, DHCP Server. Teknologi Informasi atau Information Technology saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap organisasi atau lembaga pendidikan, hal ini terbukti saat ini hampir tidak ada organisasi bisnis atau perusahaan bahkan instansi pendidikan yang tidak menggunakan teknologi informasi khususnya komputer. Dengan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat ini, SMP Negeri 1 Tutur bisa dibilang tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, karena di SMP Negeri 1 Tutur sudah Tersedia Laboratorium Komputer. Pada Laboratorium Komputer koneksi internet menggunakan Speedy, sedangkan pada Ruang Guru, Ruang Kepala Sekolah, Ruang Tata Usaha dan Ruang Kepala Urusan belum terkoneksi jaringan Internet sama sekali. Melihat kenyataan ini penulis ingin membangun jaringan Intranet pada lingkungan SMP Negeri 1 Tutur yang terkoneksi dengan Speedy, guna mengoptimalkan penggunaan internet dengan menggunakan PC Router berbasis FreeBSD. Pada perancangan PC router ini diawali instalasi FreeBSD dilanjutkan konfigurasi IP address, kemudian mengkonfigurasi DHCP Server. Dari hasil pengujian PC router FreeBSD secara keseluruhan diperoleh hasil bahwa piranti sesuai dengan rancangan, yaitu: (1) Membagi kedua jaringan Ruang Guru dan Lab Komputer untuk mencegah penyebaran virus atara kedua jaringan dan mengamankan file sharing pada Ruang Guru agar tidak bisa diakses dari Lab Komputer, (2) mengaktifkan DHCP Server pada jaringan Lab Komputer. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan: (1) Perlu dilakukan upgrade FreeBSD ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router, (3) Upgrade PC Router yaitu penambahan memory dan kapasitas hardisk untuk mendukung kinerja PC Server.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar 5-E untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan kognitif siswa kelas VII B MTs. Surya Buana malang / Imroatul Kholishoh

 

Kata kunci : pembelajaran inkuiri terbimbing, model siklus belajar 5-E, kerja ilmiah, kognitif. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di MTs. Surya Buana Malang, ditemukan bahwa guru yang mengajar di kelas VIIB menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran fisika dan jarang melakukan kegiatan praktikum sehingga kemampuan kerja ilmiah siswa kurang 70%, ini berarti kemampuan kerja ilmiah siswa masih kurang menurut Modifikasi Nasution (2007). Hasil lain yang ditemukan bahwa kemampuan kognitif siswa kurang dari ketutasan yang belajar klasikal, yaitu hanya 21%. Ketutasan belajar klasikal siswa menurut SKM madrasah adalah 85%. Usaha yang dilakukan untuk memperbaiki permasalahan tersebut yaitu melakukan penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar 5-E. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa dan kognitif siswa. Ketercapaian tujuan tersebut dilakukan dengan menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar 5-E. Pembelajaran terdapat kegiatan demonstrasi dan praktikum yang terdiri dari merumuskan masalah, membuat hipotesis, merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, mengumpulkan data, dan mengambil kesimpulan dengan petunjuk-petunjuk seperlunya dari seorang guru. Model siklus belajar 5-E terdiri dari fase pendahuluan, eksplorasi, eksplanasi, elaborasi, dan evaluasi. . Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang terdiri dari dua siklus. Tahapan yang digunakan dalam penelitian adalah perencanaan, tindakan kelas, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII B MTs. Surya Buana Malang dengan jumlah 19 siswa yang terdiri dari 7 laki-laki dan 12 perempuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi untuk mencatat data keterlaksanaan pembelajaran dan data kemampuan kerja ilmiah, tes untuk mencatat data kemampuan kognitif siswa, dan catatan lapangan untuk mancatat segala hal yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru maupun siswa yang tidak tercantum dalam lembar observasi. Teknik analisis data dalam penelitian adalah analisis data kualitatif yang menggunakan persentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model siklus belajar 5-E dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentasi seluruh aspek kemampuan kerja ilmiah dan kemampuan kognitif siswa kelas VII B MTs. Surya Buana Malang.. Persentasi kemampuan kerja ilmiah pada siklus I sebesar 74% meningkat menjadi 83,41% pada siklus II dan kemampuan kognitif pada siklus I sebesar 42,10% meningkat menjadi 89,47% pada siklus II.

Simulasi pertumbuhan pohon menggunakan cellular automata / Febriana Yusiyanti

 

Kata kunci : model pembelajaran inkuiri, multimedia animasi, hasil belajar Berdasarkan observasi melalui wawancara dengan guru fisika dan pengamatan pada siswa XI IPA SMA Negeri 7 Malang diketahui bahwa, hasil belajar siswa kurang optimal dibuktikan oleh nilai siswa yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah. Hal ini dikarenakan guru menerapkan metode ceramah secara monoton dalam pembelajaran fisika, hal ini berdampak pada hasil belajar kognitif siswa rendah, siswa pasif dalam pembelajaran dan ketrampilan psikomotorik siswa kurang diujikan. Guru fisika SMA Negeri 7 Malang mengalami kesulitan dalam mengaktifkan siswa dengan cara mengaitkan materi pelajaran dengan keseharian siswa. Dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri berbantuan multimedia animasi mampu mengaktifkan siswa dalam proses ”menemukan” sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi afektif, lembar observasi psikomotorik, tes kognitif dan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran inkiuiri berbantuan multimedia animasi. Untuk melihat dampak penerapan pembelajaran inkuiri berbantuan multimedia animasi terhadap hasil belajar dirancang siklus I. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan pada siklus I maka dilaksanakan siklus II. Karena peningkatan hasil belajar siswa sudah mengalami ketuntasan yang diharapkan maka berhenti pada siklus II. Analisis data terhadap hasil belajar siswa berpedoman pada standar yang ditetapkan sekolah yaitu sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa dalam satu kelas memperoleh nilai minimal 70 untuk aspek afektif dan aspek psikomotorik serta untuk aspek kognitif sekurang-kurangnya 65% dari jumlah siswa dalam satu kelas atau nilai gain score ≥0,3. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah menerapkam pembelajaran inkuiri berbantuan multimedia animasi, nilai kognitif, nilai rata-rata afektif, dan nilai rata-rata psikomotorik siswa kelas XI IPA-4 mengalami peningkatan dari siklus I samapai siklus II hingga mencapai ketuntasan belajar yang ditetapkan oleh sekolah. Nilai afektif rata-rata pada siklus I sebesar 76,83 dan rata-rata pada siklus II sebesar 80,83, terjadi peningkatan 5,2%. Nilai psikomotorik rata-rata siswa pada siklus I sebesar 77,57 dan rata-rata pada siklus II sebesar 81,4, terjadi peningkatan 4,9%. Nilai kognitif rata-rata siswa pada siklus I ditandai dengan hasil gain score sebesar 0,45, dan siklus II diperoleh hasil gain score sebesar 0,53. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri berbantuan multimedia animasi dapat meningkatkan hasil belajar fisika kelas XI IPA SMA Negeri 7 Malang.

Pengaruh minat terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran embroidery (Studi pada siswa kelas X jurusan tata busana SMK Negeri 7 Malang) / Diah Harianti

 

Kata Kunci: Minat, Hasil Belajar, Embroidery Minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih suka suatu hal daripada hal yang lainnya, dapat pula dinyatakan dalam bentuk partisipasi dalam suatu aktivitas. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu subyek akan cenderung memberikan perhatian yang lebih besar terhadap obyek tersebut. Hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran hasil belajar. Hasil belajar ini dinyatakan dalam bentuk nilai yang diperoleh dari nilai tugas dan nilai ujian.Embroidery merupakan salah satu mata pelajaran yang disajikan dalam kurikulum. Tujuan dari pembelajaran ini memberikan kemampuan kepada siswa dalam penguasaan pembuatan sulaman. Minat belajar Embroidery merupakan hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan pengujian tentang pengaruh minat terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Embroidery. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara minat belajar Embroidery terhadap hasil belajar siswa kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah minat belajar sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi yang diperoleh dari nilai siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi, uji validitas menggunakan korelasi Product Moment sedangkan reliabilitasnya menggunakan Alpha Cronbach. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 18 siswa ( 60 % ) memiliki minat dalam kategori cukup, sedangkan hasil belajar siswa dengan SKM ( Standar Ketuntasan Minimum ) yaitu nilai 7 menunjukkan 15 siswa ( 50 % ) dalam kategori cukup. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tingkat signifikansi sebesar 0,05 adalah 4,18. Karena F hitung ( 8,826 ) > F tabel ( 4,18 ) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya bahwa ada pengaruh antara minat belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Embroidery siswa kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada pengaruh antara minat belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Embroidery siswa kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang.

Studi kasus tentang konsep diri pada orang dengan HIV?AIDs (ODHA) akibat injection drug use (IDU) / Imroatul Hasanah

 

Kata kunci: konsep diri, ODHA, IDU, Studi kasus HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang dapat menyebabkan penyakit AIDS dan juga dapat menyebabkan kematian. Di Indonesia sendiri, Jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh kabupaten atau kota pada 2010 diperkirakan mencapai 93.000 sampai 130.000 orang, dengan jumlah ODHA akibat IDU mencapai 40,7 persen dari keseluruhan penderita. Seseorang yang telah terinfeksi HIV/ AIDS mengalami beberapa perubahan baik dalam hal fisik maupun psikis, salah satunya adalah konsep diri. Konsep diri adalah cara pandang individu terhadap diri sendiri yang dapat mempengaruhi perilaku individu tersebut. Semakin berkembangnya fenomena ODHA akibat IDU ini, mendorong dilakukannya penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui konsep diri pada ODHA akibat IDU, (2) Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsep diri pada ODHA akibat IDU. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan penelitian kualitatif dengan model penelitian studi kasus. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah tiga orang dengan kriteria sebagai berikut: (1) Warga tetap Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, (2) Pengguna Narkoba suntik, (3) Pria atau wanita penderita HIV/ AIDS, (4) Bersedia menjadi subjek penelitian. Alat pengumpul data yang digunakan adalah (1) Observasi, (2) Wawancara mendalam, (3) Dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan tahapan merangkum data yang telah terkumpul dan kemudian menyajikan data dengan teks yang bersifat naratif dan terakhir menarik kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data dilakukan dengan (1) Perpanjangan pengamatan, (2) Meningkatkan ketekunan, dan (3) Triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri pada ODHA akibat IDU umumnya mengarah pada konsep diri negatif, namun satu subjek menunjukkan konsep diri positif. faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri pada diri subjek adalah: (1) Peranan dari teman sesama ODHA, (2) Reaksi dari significant others seperti dukungan atau penolakan dari keluarga umumnya belum ada, karena subjek belum terbuka pada keluarga, (3) Pembandingan dengan orang lain sesama ODHA, (4) Identifikasi terhadap ODHA lainnya sehingga subjek dapat menerima kondisinya yang positif. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi ODHA untuk mengembangkan konsep diri yang lebih positif dengan cara untuk lebih terbuka kepada orang lain, seperti keluarga, teman atau lingkungan sekitar. Dengan konsep diri yang positif yang dimiliki ODHA, akan dapat memberikan motivasi sehingga ODHA dapat hidup dengan lebih baik.

Pengaruh ekuitas merek (Brand Equity) terhadap loyalitas konsumen dalam membeli produk air minum kemasan galon merek Aqua (Studi pada mahasiswa Universitas Negeri Malang yang tinggal di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Malang) / Nanin Karlina

 

Kata Kunci: Ekuitas Merek, Loyalitas Konsumen Kecenderungan perkembangan perang pemasaran dimasa mendatang akan menjadi perang antar merek, yaitu suatu persaingan untuk memperoleh dominasi merek. Salah satu pemain industri dalam Air Minum Dalam Kemasan adalah produk air minum merek AQUA. Untuk terus bersaing dengan kompetitornya, maka ekuitas merek AQUA perlu dikelola karena merupakan intangible asset yang dimiliki dan tidak mudah ditiru oleh kompetitor. Ekuitas merek dalam penelitian ini terdiri dari empat elemen, yaitu: kesadaran merek (brand awareness), persepsi kualitas (perseived quality), asosiasi merek (brand association), dan loyalitas merek (brand loyalty). Ekuitas merek harus dikelola terus menerus oleh perusahaan karena dapat memperkuat program untuk memikat para konsumen baru dan mempertahankan konsumen lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: kondisi ekuitas merek serta loyalitas konsumen pengguna air minum kemasan galon merek AQUA, pengaruh ekuitas merek (X) baik secara parsial maupun simultan terhadap loyalitas konsumen (Y) dalam membeli produk air minum kemasan galon merek AQUA. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari kesadaran merek (X1), asosiasi merek (X2), persepsi kualitas (X3), dan loyalitas merek (X4) dan variabel terikatnya adalah loyalitas konsumen (Y). Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang yang tinggal di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Malang, jumlah sampel yang diambil sebesar 113 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala likert 5 tingkat. Analisis data yang diujikan adalah analisis deskriptif, regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validias dan reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 30 responden. Proses pengolahan data menggunakan software SPSS for windows 15.00. Berdasarkan hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh ekuitas merek yang terdiri dari kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek secara parsial terhadap loyalitas konsumen dalam membeli produk air minum kemasan galon merek AQUA studi pada mahasiswa Universitas Negeri Malang yang tinggal di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Malang. Hal ini dibuktikan dengan pengaruh kesadaran merek terhadap loyalitas konsumen dengan nilai thitung > ttabel yaitu 3,392 > 1,982 dan nilai signifikansi t = 0,001 ≤ 0,05; pengaruh asosiasi merek terhadap loyalitas konsumen dengan nilai thitung > ttabel yaitu 3,007 > 1,982 dan nilai signifikan t = 0,003 ≤ 0,05; persepsi kualitas terhadap loyalitas konsumen dengan nilai thitung > ttabel yaitu 2,796 > 1,982 dengan nilai signifikan t = 0,006 ≤ 0,05; pengaruh loyalitas merek terhadap loyalitas konsumen dengan nilai thitung > ttabel yaitu 5,933 > 1,982, dengan nilai signifikan t = 0,006 ≤ 0,05. Berdasarkan nilai Fhitung 56,665 dengan tingkat signifikansi 0,000 dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh ekuitas merek yang terdiri dari kesadaran merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, dan loyalitas merek secara simultan terhadap loyalitas konsumen air minum kemasan galon merek AQUA di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Malang. Diketahui pula bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,665, dapat diartikan bahwa variabel ekuitas merek dalam mempengaruhi loyalitas konsumen dalam membeli produk air minum kemasan galon merek AQUA adalah sebesar 66,5% dan sisanya sebesar 33,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini, misalnya hak paten, cap, saluran hubungan, dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar, 1) Untuk lebih meningkatkan persepsi kualitas, maka PT. AQUA Golden Missisippi, Tbk perlu melakukan perluasan distribusi AQUA dan juga memastikan stock atau persediaan produk AQUA pada tiap-tiap saluran distribusi, 2) AQUA sebagai pemimpin pasar harus menjaga ekuitas merek yang dimiliki, apalagi kondisi pasar memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Untuk itu yang harus dilakukan AQUA adalah dengan mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas yang ada dengan menjamin kesegaran, kebersihan, dan kehigienisan AQUA sehingga menjadikan AQUA benar-benar menjadi air minum yang segar dan menyehatkan karena di ambil langsung dari mata air pegunungan. Sehingga asosiasi merek sebagai air minum yang sehat dan di ambil langsung dari mata air pegunungan tetap terjaga, 3) Untuk memelihara ekuitas merek yang telah dibangun sejak lama, maka PT. AQUA Golden Missisippi, Tbk diharapkan dapat terus melakukan inovasi-inovasi dalam menghadapi para pesaing di lini produk yang sama, hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan cara membuat kemasan dengan model baru yang lebih menarik serta menjamin kondisi kemasan tidak cacat.

Penerapan model pembelajaran siklus belajar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa tentang SDA pada siswa kelas V SDN Plosoharjo I Nganjuk / Puji Rahayu

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Siklus Belajar, Prestasi Belajar Pembelajaran IPA selama ini masih menggunakan paradigma yang lama dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Guru mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, dengar, diam catat dan hafalkan. Sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa. Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran Bahasa Indonesia. Akibatnya nilai akhir yang diharapkan di kelas V selama ini siswanya masih kurang aktif dalam hal bertanya dan menjawab.Hal ini dibuktikan dengan hasil dari tes awal yang diberikan oleh peneliti adalah dari 20 siswa hanya 7 siswa yang mendapat nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran siklus belajar siswa tentang SDA pada siswa kelas V SDN Plosoharjo I Nganjuk?(2) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran siklus belajar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa tentang SDA pada siswa kelas V SDN Plosoharjo I Nganjuk?. Tujuan Penelitian ini adalah (1) Mendiskripsikan Penerapan model pembelajaran siklus belajar dalam mata pelajaran IPA tentang SDA pada siswa kelas V SDN Plosoharjo I Nganjuk. (2) Mendiskripsikan penerapan model pembelajaran siklus belajar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar IPA tentang SDA pada siswa kelas V SDN Plosoharjo I Nganjuk Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi: hasil belajar siswa yang diambil dari lembar observasi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang diambil dari lembar obsrvasi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang diambil dari lembar observasi. Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah: (1) apabila rata-rata hasil belajar siswa diatas 7,5 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 85%, dengan ketuntasan individu sebesar 65. Hasil belaajar siswa pada siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar sebesar rata 7,32 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 60%, Jadi, hasil dari siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan. Hasil dari siklus II adalah nilai rata-rata 9, 25 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 95% . Hasil dari siklus II ini jelas telah melampaui kriteria ketuntasan belajar yang mensyaratkan rata- rata hasil tes minimal 7,5 dengan prosentase ketuntasan ≥ 85 %. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran siklus belajar dapat meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa. Saran yang diajukan dalam kaitannya penelitian ini adalah guru dapat menerapkan model pembeajaran siklus beajar pada pembelajaran IPA tentang SDA.

Pengembangan modul dengan pendekatan investigasi sebagai alternatif pembelajaran matematika pada materi peluang untuk siswa SMP kelas IX / Dwi Oktaviana Jamil

 

Kata kunci : modul, pendekatan investigasi, peluang. Berdasarkan kenyataan di lapangan, belum ada suatu data atau fakta yang dapat dijadikan bukti bahwa hasil pembelajaran matematika di Indonesia sudah berhasil dengan baik. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil pembelajaran matematika di Indonesia adalah rendahnya kualitas pembelajaran yang diselenggarakan guru di sekolah. Salah satu penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah kurang tepatnya pendekatan pembelajaran yang dipilih guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang dirumuskan, yang bermuara pada kurang efektifnya pembelajaran yang dikembangkan di kelas. Dari kenyataan ini, penulis terdorong untuk mengembangkan modul sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika agar siswa lebih senang mempelajari matematika. Modul yang dikembangkan menggunakan pendekatan investigasi, yaitu suatu pendekatan yang menuntun siswa untuk belajar membangun pemahamannya tentang suatu konsep materi yang akan dipelajari berdasarkan permasalahan awal yang diberikan oleh guru. Dengan demikian konsep yang telah mereka pelajari akan lebih melekat pada ingatan mereka dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan hanya menerima dari gurunya. Dalam pembelajaran ini, guru hanya berfungsi sebagai pembimbing. Adapun unsur-unsur modul ini terdiri dari halaman sampul, petunjuk untuk guru, petunjuk untuk siswa, daftar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, idikator dan tujuan pembelajaran, tes kemampuan awal, lembar motivasi, lembar kegiatan siswa, lembar kerja siswa, kunci jawaban lembar kerja siswa, lembar evaluasi, kunci jawaban lembar evaluasi, lembar soal remidi, kunci jawaban soal remidi, lembar penilaian diri, pengayaan, penutup, daftar pustaka, dan lembar pembatas. Sebelum diujicobakan kepada siswa, modul divalidasi terlebih dahulu oleh 2 dosen matematika, 2 guru, dan 2 teman sejawat. Setelah itu, modul diujicobakan kepada 5 orang siswa. Berdasarkan hasil validasi isi (validasi content), penilaian terhadap modul yang meliputi aspek kelayakan isi, pendekatan investigasi, kebahasaan, dan kegrafisan dapat disimpulkan valid. Modul perlu direvisi pada kesalahan ketik, pemilihan warna dan jenis font, serta memperbanyak contoh soal. Sementara dari hasil uji coba kelompok kecil (validasi empirik), dapat disimpulkan bahwa modul dapat diterima oleh siswa dan layak digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika pada materi peluang. Adapun saran pemanfaatan modul ini adalah digunakan di sekolah sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika pada materi peluang. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan untuk mengembangkan modul pada materi yang lain dan mengujicobakan hasil pengembangan pada kelas kecil, sedang, dan besar dengan siswa yang heterogen.

Hubungan pengendalian emosi dan kecemasan ibu hamil pada trimester ketiga / M. Irwan Fauzi

 

Kata kunci: pengendalian emosi, kecemasan ibu hamil, terimester ketiga Proses kehamilan memberikan perasaan yang bercampur baur, antara bahagia dan penuh harapan dengan kekhawatiran tentang apa yang akan dialaminya semasa kehamilan. Kecemasan tersebut dapat muncul karena masa panjang saat menanti kelahiran penuh ketidakpastian, selain itu bayangan tentang halhal yang menakutkan saat proses persalinan walaupun apa yang dibayangkannya belum tentu terjadi. Situasi ini menimbulkan perubahan drastis, bukan hanya fisik tetapi juga psikologis (Kartono, 1992). Untuk mengatasi kecemasan khususnya pada saat trimester tiga usia kehamilan maka mutlak bagi ibu hamil untuk mempunyai kemampuan pengendalian emosi. Pengendalian emosi adalah kemampuan mengenali, memahami serta mengelola suatu keadaan yang dirasakan individu yang meliputi keadaan kognitif, fisiologis, dan perilaku yang ditunjukkan melalui mimik wajah suara dan gerak tubuh.Prijosaksono (2003) mengemukakan bahwa pengendalian emosi berarti mampu mengenali atau memahami serta mengelola emosi. Penelitian ini bertujuan mengetahui: (1) Kemampuan pengendalian emosi ibu hamil pada trimester ketiga, (2) Tingkat kecemasan ibu hamil pada trimester ketiga, (3) Hubungan kemampuan pengendalian emosi dan tingkat kecemasan ibu hamil pada trimester ketiga. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Populasi penelitian ini adalah ibu hamil dengan usia kehamilan pada trimester ketiga yang yang memanfaatkan fasilitas unit Obstetri dan Genekologi di Rumah Sakit Umum Saiful Anwar Malang dengan sampel sebanyak 40 orang. Teknik pengambilan sampel adalah ConvenienceSampling. Instrumen yang digunakan adalah skala: Pengendalian Emosi dan Kecemasan. Teknik analisis data untuk mengetahui gambaran kemampuan pengendalian emosi dan tingkat kecemasan adalah analisis deskriptif, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara pengendalian emosi dan kecemasan adalah dengan analisis korelasi productmoment. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemampuan pengendalian emosi ibu hamil pada trimester ketiga termasuk dalam kategori cukup sedangkan tingkat kecemasan ibu hamil pada trimester ketiga dalam kategori sedang, serta terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara pengendalian emosi dengan kecemasan (r = 0,608; p = 0,000 < 0,05). Sesuai hasil penelitian dapat disarankan: (1) agar ibu hamil yang memiliki kemampuan pengendalian emosi rendah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengendalian emosinya untuk dapat menghadapi kecemasan yang muncul selama masa kehamilan, (2) agar bidan dan atau pekerja kesehatan hendaknya mempunyai pemahaman yang baik mengenai bagaimana mengajarkan pengendalian emosi kepada ibu hamil untuk mengurangi kecemasan menjelang persalinan, (3) peneliti selanjutnya agar menggunakan faktor lain misalnya kecerdasan emosional, budaya, dan stress yang dapat mempengaruhi kecemasan ibu hamil pada trimester ketiga.

Pengembangan perangkat pembelajaran berdasarkan prinsip progressive differentiation dan integrative reconciliation pada materi pernyataan majemuk dan berkuantor di kelas X SMA / Zulfa Anggraini Rahman

 

Kata kunci: perangkat pembelajaran, prinsip Progressive Differentiation dan Integrative Reconciliation, pernyataan majemuk dan berkuantor Siswa cenderung mempelajari matematika dengan cara menghafal untuk mengerjakan soal matematika. Siswa tidak memahami materi matematika secara mendalam karena dalam struktur kognitifnya materi tersebut merupakan hal yang terpisah-pisah. Dengan pemahaman yang cukup tentang kondisi kognitif siswa, guru mampu untuk mengembangkan kemampuan matematika siswa. Pembelajaran matematika sekolah tidak terlepas dari psikologi pembelajaran yang mendasarinya. Psikologi pembelajaran berkaitan dengan pola pikir siswa. Hal ini yang melatarbelakangi penulis untuk mengembangkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan prinsip Progressive Differentiation dan Integrative Reconciliation yang merupakan prinsip dalam pembelajaran bermakna menurut Ausubel. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran berdasarkan prinsip Progressive Differentiation dan Integrative Reconciliation pada materi pernyataan majemuk dan berkuantor di kelas X SMA. Perangkat pembelajaran ini berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Perangkat pembelajaran yang dihasilkan telah diuji ahli. Uji ahli melibatkan tiga orang ahli. Hasil uji ahli menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yaitu RPP dan Lembar Kerja Siswa (LKS) valid. Kemudian Lembar Kerja Siswa (LKS) diujicobakan kepada lima orang siswa SMA. Hasil uji coba Lembar Kerja Siswa (LKS) menunjukkan bahwa Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat dipahami dengan baik oleh siswa. Perangkat pembelajaran dikembangkan berdasarkan karakteristik prinsip Progressive Differentiation dan Integrative Reconciliation yaitu:(1) Guru menjelaskan suatu konsep matematika dari materi yang paling umum kemudian secara bertahap materi itu dibedakan menjadi submateri, (2) Siswa menunjukkan kriteria-kriteria pembeda dari materi yang umum sehingga berdasarkan kriteria itu materi dikhususkan menjadi submateri, (3) Siswa menggolongkan submateri-submateri berdasarkan kriteria pembeda, (4) Siswa menyusun dan mengatur submateri-submateri dalam hierarkhi konsep matematika, (5) Guru mengarahkan siswa untuk menentukan hubungan antar submateri dalam suatu konsep matematika yang sedang dipelajari dan hubungan submateri itu dengan materi lain dari konsep yang pernah dipelajari, (6) Siswa mencari hubungan dari submateri-submateri dalam konsep matematika yang sedang dipelajari, dan (7) Siswa menentukan hubungan materi dalam konsep yang sedang dipelajari dengan materi lain dalam konsep yang pernah dipelajari.

Penerapan model siklus belajar peta pikiran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya pada mata pelajaran IPA / Sri Yanti

 

Kata kunci: Model Siklus Belajar, Peta Pikiran, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, IPA. Penelitian ini berlatar belakang dari pengalaman peneliti sebagai guru kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya yang menemukan fakta bahwa tingkat aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA, khususnya pada pokok bahasan “Memahami Pengaruh Kegiatan Manusia terhadap Keseimbangan Ekosistem”, masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh pencapaian nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA yang masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan guru terhadap nilai ulangan harian IPA siswa pada pokok bahasan “Memahami Pengaruh Kegiatan Manusia terhadap Keseimbangan Ekosistem”, nilai rata-rata ulangan harian IPA siswa kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya hanya mencapai 67,38; padahal kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya adalah 70,00. Dari 24 siswa, terdapat 11 orang siswa (45%) yang masih memperoleh nilai di bawah KKM (0-69). Hal ini dapat diartikan bahwa pembelajaran dalam kelas tersebut dinilai masih belum berhasil atau belum tuntas, karena hanya 13 orang siswa saja (54%) yang mendapat nilai di atas KKM (70-100). Selain itu, dalam pembelajaran IPA di kelas guru juga menjumpai beberapa permasalahan, seperti: (1) Siswa sangat pasif dan jarang sekali mau bertanya atau mengemukakan pendapatnya, dan (2) Siswa banyak yang malas membaca atau mencari informasi tambahan mengenai materi IPA dan hanya mengandalkan guru sebagai sumber pengetahuan dan pencari informasi. Tingkat ketergantungan siswa pada guru masih tinggi. Berdasarkan hasil kajian dan refleksi guru (peneliti) terhadap permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran IPA tersebut, ditemukan faktor-faktor penyebab munculnya permasalahan tersebut, diantaranya: (1) Pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat oleh guru. Selama ini, metode yang dominan digunakan oleh guru adalah metode ceramah yang dilanjutkan dengan mencatat dan latihan soal, sehingga membuat siswa kurang terlatih untuk beraktivitas dalam pembelajaran, seperti mengajukan dan menjawab pertanyaan, berdiskusi, atau bekerjasama dengan siswa lainnya, dan (2) Metode pencatatan yang dilakukan oleh guru masih klasikal/konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model siklus belajar dan peta pikiran dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya pada mata pelajaran IPA, (2) Mendeskripsikan penerapan model siklus belajar dan peta pikiran untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya pada mata pelajaran IPA, dan (3) Mendeskripsikan penerapan model siklus belajar dan peta pikiran untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Pada masing-masing siklus dilaksanakan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya yang berjumlah 24 orang siswa. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam rentang waktu dua bulan, mulai bulan Pebruari sampai Maret 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi, tes, perekaman secara audio-visual, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkannya model siklus belajar dan peta pikiran di SDN Lidah Kulon V/468 Surabaya yang dilaksanakan berdasarkan tahap/fase-fase enggagement (pendahuluan), exploration (pengenalan konsep), explanation (penjelasan konsep), elaboration (penerapan konsep) dan evaluation (evaluasi), telah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA, khususnya pada pokok bahasan “Memahami Pengaruh Kegiatan Manusia terhadap Keseimbangan Ekosistem”. Peningkatan aktivitas belajar siswa terlihat dari perolehan skor rerata 3,33 (66,6%) pada siklus I dan meningkat menjadi rerata 4,08 (81,6%) pada siklus II. Adapun hasil belajar siswa meningkat dengan perolehan skor rerata 72,13 pada siklus I menjadi rerata 77,25 pada siklus II. Begitu pula dengan prosentase ketuntasan belajar siswa sebesar 54% pada tahap pra tindakan, meningkat menjadi 67% pada siklus I dan 87,5% pada siklus II. Beberapa saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil dari penelitian ini, yaitu: (1) Bagi guru dianjurkan untuk menerapkan model siklus belajar dan peta pikiran sebagai alternatif pemecahan masalah pembelajaran IPA pada materi pokok lain yang mempunyai karakteristik yang sama dengan materi pokok yang digunakan dalam penelitian ini, (2) Sebelum menerapkan model siklus belajar dan peta pikiran dalam pembelajaran di kelas, hendaknya guru memperkenalkan terlebih dahulu konsep peta pikiran dan cara membuatnya, sehingga pada saat pelaksanaan tindakan siswa tidak lagi kebingungan dan bertanya-tanya tentang tentang hal tersebut. Dengan demikian waktu pelaksanaan pembelajaran pun akan menjadi lebih efektif, (3) Pembelajaran yang hanya mengutamakan “hasil” tidak akan membawa dampak yang baik bagi pembentukan pengalaman belajar siswa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran selanjutnya, hendaknya guru tidak hanya berpatokan untuk mengejar hasil yang baik pada UASBN dan mengesampingkan “proses” siswa belajar. Guru setidaknya harus dapat menerapkan model-model pembelajaran yang inovatif dan variatif dalam beberapa kali pelaksanaan pembelajarannya, dan tidak hanya dominan menggunakan metode ceramah. Dengan demikian pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.

Penerapan bahan ajar IPA terpadu dengan model siklus belajar (Learning cycle) untuk meningkatkan keterampilan proses ilmiah dan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 18 Malang / Kuney Shofwatul Hamidah

 

Kata kunci: IPA terpadu, siklus belajar, keterampilan proses ilmiah, hasil belajar. Salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia adalah pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi IPA (Biologi) serta melakukan pengamatan langsung pembelajaran di kelas pada kelas VII G SMPN 18 Malang ditemukan beberapa permasalahan di antaranya adalah: 1) guru masih menggunakan metode ceramah; 2) rerata kriteria keterampilan proses yang dimiliki siswa cenderung rendah; 3) hasil belajar siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM); 4) pembelajaran IPA yang diterapkan di kelas bukan merupakan pembelajaran IPA terpadu. Salah satu model pembelajaran yang dianggap sesuai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah siklus belajar (Learning Cycle). Siklus belajar pada penelitian ini terdiri dari empat fase, yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, dan evaluasi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari empat kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2009 sampai akhir bulan Juni 2010. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VII G SMPN 18 Malang yang berjumlah 40 siswa, 23 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bahan ajar IPA terpadu dengan model siklus belajar (Learning Cycle) dapat meningkatkan keterampilan proses ilmiah dan hasil belajar siswa kelas VII SMPN 18 Malang. Hal ini didasarkan pada meningkatnya persentase keterampilan proses dengan kriteria baik (B) dari siklus I ke siklus II dari 32,50% menjadi 75%. Meningkatkan hasil belajar siswa didasarkan pada 3 ranah, yaitu: 1) hasil belajar kognitif mengalami peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar kognitif dari siklus I ke siklus II dari 87,57% menjadi 97,50%; 2) hasil belajar afektif siswa mengalami peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar dari siklus I ke siklus II dari 40% menjadi 85%; 3) hasil belajar psikomotor siswa mengalami peningkatan persentase siswa yang tuntas belajar dari siklus I ke siklus II dari 72,50% menjadi 92,50%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka saran dari penelitian ini yaitu: 1) bagi guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini pada materi dengan karakteristik yang sesuai; 2) pada penelitian selanjutnya hendaknya juga meneliti aspek lain selain keterampilan proses ilmiah dan hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran model think pair share dalam menyelesaikan msalah tidak rutin pada pokok bahasan segiempat bagi siswa kelas VII MTs. Barakatul Hasan Probolinggo / Hanifah Dini Agustina

 

Kata Kunci: Masalah tidak rutin, Model Think Pair Share, Segiempat Dalam pembelajaran matematika masih banyak guru yang melakukan pembelajaran konvensional, soal-soal yang diberikan kepada siswa masih sering berupa soal rutin, sehingga kemampuan siswa untuk menyelesaikan soal tidak rutin kurang terasah, dalam masalah tidak rutin untuk sampai pada prosedur yang benar diperlukan analisis dan proses pemikiran yang lebih mendalam. Para peserta didik akan lebih memahami suatu materi bila mereka belajar secara maksimal. Salah satu model pembelajaran yang mengoptimalkan siswa dalam belajar adalah pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS). TPS memberikan waktu berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. TPS terdiri dari 3 tahapan inti yaitu think (berpikir) artinya siswa memikirkan secara individu suatu permasalahan, pair (berpasangan) artinya secara berpasangan mendiskusikan suatu permasalahan dan share (berbagi) artinya siswa mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Penelitian ini mengkaji penerapan pembelajaran TPS dalam membantu siswa menyelesaikan masalah tidak rutin. Penelitian dilakukan di MTs Barakatul Hasan Probolinggo, kelas VII-A semester genap tahun 2008/2009 dengan subjek penelitian adalah 24 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian ekspositori. Data diambil dari pengamatan selama pembelajaran, wawancara, catatan lapangan dan hasil jawaban siswa yang ditulis pada LKS. Penelitian dilakukan dalam empat pertemuan. Kemampuan menyelesaikan soal tidak rutin diukur dari macam-macam strategi pemecahan masalah yang digunakan oleh siswa. Pembelajaran dengan metode TPS terdiri atas tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, inti, dan akhir. Pembelajaran dimulai dengan tahap Think, peneliti membagi LKS kepada setiap siswa, siswa mengerjakan LKS secara individu, tahap Pair, peneliti meminta siswa berdiskusi dengan teman berpasangannya, kedua siswa membandingkan hasil pekerjaan masing-masing, berusaha mengungkapkan pendapatnya, dan saling membantu melengkapi soal-soal yang belum dijawab pada LKS, tahap Share, peneliti meminta siswa mempresentasikan hasil diskusinya di depan tetan-teman satu kelas. Dengan penerapan TPS tersebut, dapat membantu siswa menyelesaikan masalah tidak rutin. Hal ini dapat diketahui dari bertambahnya kemampuan siswa dalam menggunakan strategi pemecahan masalah, yang didapat dari pasangannya pada tahap Pair.

Kemampuan membaca cerita pendek Jerman mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2007 pada mata kuliah Deutsche literatur / Novi Silvia Yuliana

 

Kata Kunci: Membaca pemahaman, Kemampuan Membaca, Cerita Pendek, Deutsche Literatur Membaca dan memahami cerita pendek merupakan salah satu kompetensi dasar dalam mata kuliah Deutsche Literatur. Tujuan dari mata kuliah Deutsche Literatur adalah mahasiswa dapat membaca dan memahami cerita pendek dengan menggunakan ciri-ciri cerita pendek dalam unsur intrinsik. Materi pokok yang digunakan dalam perkuliahan terdiri dari empat cerita pendek, yaitu Nachst schlafen die Ratten doch,, Das Fenster-Theater, Das Brot dan San Salvador. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan membaca pemahaman cerita pendek mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Angkatan 2007 berdasarkan ciri-ciri cerita pendek dalam unsur intrinsik cerpen pada mata kuliah Deutsche Literatur. Pada penelitian ini ciri-ciri cerita pendek yang digunakan adalah ciri-ciri cerita pendek yang mengacu pada teori Eduard Fleischmann, yaitu kemampuan mengenal ciri: (a) Unmittelbarer Beginn (awal cerita tanpa pengantar), b) Alltägliche Handlung (konflik sehari-hari), c) Offener/halboffener Schluss (akhir cerita terbuka/semi terbuka), d) Alltägliche Charaktere (penokohan), e) Einfache Sprache (bahasa), f) Ich-Erzählung (sudut pandang “Aku”), g) Zeitverhältnisse (waktu). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah 24 mahasiswa (off A dan B) yang mengikuti mata kuliah Deutsche Literatur. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, angket dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca cerita pendek mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Angkatan 2007 tergolong dalam kategori baik. Hal ini terbukti dari jumlah mahasiswa yang mendapatkan nilai baik dalam tes membaca cerita pendek, yaitu 22 orang (91,7%). Secara keseluruhan mahasiswa mampu mengenal ciri-ciri cerita pendek dengan baik, tetapi sebagian besar mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam mengenal ciri Unmittelbarer Beginn/awal cerita tanpa pengantar dan Alltägliche Charaktere/penokohan. Bertolak dari hasil penelitian di atas, dapat diberikan beberapa saran, (1) agar mahasiswa terus melatih kemampuan membaca sastra, khususnya cerita pendek, (2) agar peneliti selanjutnya memanfaatkan temuan penelitian ini sebagai acuan untuk melakukan kajian yang lebih mendalam dan luas.

Pengaruh desain kemasan model pouch terhadap keputusan pembelian (Studi pada konsumen teh botol sosro di SMA Negeri 1 Malang) / Siti Marlena Sari

 

Kata kunci: Desain Fungsional, Desain Grafis, Etika Kemasan, Keputusan Pembelian. Menjamurnya produk-produk dengan berbagai kualitas yang terpajang pada rak-rak swalayan membuat peran kemasan semakin besar. Kemasan dijadikan sebagai “perangkap emosional” yang sangat ampuh untuk menarik perhatian konsumen karena ia langsung berhadapan dengan konsumen. Pentingnya peranan kemasan dewasa ini membuat banyak pemasar menyebut pengemasan sebagai P kelima bersamaan dengan Price (harga), Place (tempat), Promotion (promosi), dan Product (produk). Sudah sepantasnya produsen menaruh perhatian besar terhadap desain kemasan produknya, dengan menciptakan kemasan yang baik dalam hal desain fungsional, desain grafis, dan etika kemasannya. Dalam hal desain fungsional, didalamya mencakup tentang bahan kemasan, kepraktisan, dan kesesuaian isi dengan kebutuhan. Mengenai bentuk, warna, merek dan logo, tipografi, ilustrasi, dan tata letak, kesemua hal ini termasuk dalam desain grafis. Sedangkan dalam etika kemasan mencakup beberapa hal seperti pencantuman nomor registrasi BPPOM, keterangan berat isi produk, keterangan komposisi produk dan kandungan nutrisi, sampai pada pencantuman tanggal kadaluwarsa. PT. Sinar Sosro sebagai pemain di pasar teh dalam kemasan selalu memperhatikan desain kemasannya, hal ini terlihat dari berbagai inovasi kemasan yang telah dibuatnya mulai dari kemasan botol, kotak dan yang terakhir adalah kemasan pouch. Produk Teh Botol Sosro yang merupakan produk andalan PT. Sinar Sosro ini muncul dengan sebuah kemasan berbentuk pouch (kantung) 230 ml yang lebih efisien jika dibanding dengan Teh Botol Sosro kemasan kotak dengan volume 200 ml. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan pengaruh desain kemasan baik secara simultan maupun secara parsial terhadap keputusan pembelian pada konsumen Teh Botol Sosro di SMA Negeri 1 Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari desain fungsional (X1), desain grafis (X2), dan etika kemasan (X3). Sedangkan variabel terikatnya adalah keputusan pembelian. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan penelitian kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Malang dengan pengambilan sampel sebesar 20% dan metode sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara desain kemasan secara simultan terhadap keputusan pembelian sebesar r2 = 0,539; sig = 0,000. Secara parsial, tiga variabel desain kemasan terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai desain fungsional t = 4,484; sig = 0,000, desain grafis t = 7,256; sig = 0,000 dan etika kemasan t = 4,694; sig = 0,000. Selain itu ditemukan juga bahwa variabel desain grafis merupakan variabel yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian dengan nilai β = 0,274 yang terbesar jika dibandingkan dengan variabel desain fungsional dengan nilai β = 0,168 dan etika kemasan dengan nilai β = 0,190. Walaupun berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa desain kemasan Teh Botol Sosro kemasan pouch ini baik, SOSRO sebaiknya melakukan survey tentang desain kemasannya secara terus-menerus karena selera konsumen cepat berubah. Dalam hal desain fungsional dan etika kemasan ini memang memberikan kemudahan kepada konsumen dan memberikan keyakinan kepada konsumen terhadap produknya. Sedangkan dalam hal desain grafis walaupun hasilnya merupakan variabel yang sangat dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, tetapi desain grafis kemasan juga perlu diperhatikan dengan membuat desain yang lebih atraktif dan menarik.

Analisis prosedur pelaksanaan pemeriksaan lapangan atas surat pemberitahuan masa pajak pertambahan nilai lebih bayar pada kantor pelayanan pajak madya Malang / Yanti

 

Kata kunci: prosedur pelaksanaan, pemeriksaan lapangan, SPT Masa PPN Lebih Bayar. Penerimaan negara terbesar adalah dari sektor pajak. PPN adalah salah satu jenis pajak di Indonesia. Perhitungan SPT Masa PPN yang banyak tidak menutup kemungkinan terjadinya kesalahan sehingga menyebabkan pajak lebih bayar. PPN Lebih Bayar dapat diminta kembali kelebihannya dengan mengajukan permohonan restitusi, namun harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan lapangan. Pemeriksaan Lapangan atas SPT Masa Lebih Bayar bertujuan untuk membuktikan bahwa WP/PKP/JKP benar-benar memiliki kelebihan pembayaran pajak dan untuk menguji kepatuhan WP/PKP/JKP. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah: (1) untuk mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan pemeriksaan lapangan atas SPT Masa PPN Lebih Bayar pada KPP Madya Malang, (2) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan pemeriksaan lapangan atas SPT Masa PPN pada KPP Madya Malang, dan (3) untuk mengetahui bagaimana pencapaian alokasi pemeriksaan pada KPP Madya Malang. Berdasarkan pembahasan dapat dijelaskan bahwa Pemeriksaan Lapangan atas SPT Masa PPN Lebih Bayar pada KPP Madya Malang telah sesuai dengan peraturan dan undang-undang pemeriksaan yang berlaku. Namun Wajib Pajak yang terlambat dalam memberikan tanggapan mengenai hasil pemeriksaan yang telah dilakukan mengakibatkan jangka waktu penyelesaian Laporan Pemeriksaan Pajak (LPP) terlambat atau melebihi batas waktu yang telah ditetapkan. Mutasi Pegawai pada Seksi Pemeriksaan dan Jabatan Fungsional yang dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan pemeriksaan. Faktor yang mempengaruhi efektivitas pemeriksaan lapangan atas SPT Masa PPN Lebih Bayar adalah faktor pendukung secara internal dan eksternal juga faktor penghambat secara internal dan eksternal. Rencana pemeriksaan pada KPP Madya Malang tidak sepenuhnya dapat terealisasi pada tahun 2008 dan tahun 2009 karena volume pemeriksaan yang banyak dan jumlah pemeriksa yang terbatas. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah: (1) meningkatkan koordinasi dan kerja sama antara Petugas Pemeriksa dan Wajib Pajak, (2) mendiskusikan Daftar Temuan Pemeriksaan Pajak tersebut secara langsung dengan WP/Wakil WP/Kuasa WP, (3) memberikan batas waktu perpanjangan tanggapan hasil pemeriksaan dan pemberian sanksi, (4) Tidak terlalu sering melakukan mutasi pegawai karena ketidaksukaan atu maslah pribadi, (5) Sosialisasi peraturan perpajakan terbaru, dan (6) meningkatkan kinerja Sumber Daya Manusia KPP Madya Malang.

Peningkatan prestasi belajar pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat menggunakan media "Star" di kelas VC SDN Tunjung Sekar I Kota Malang / Umi Romadiyah

 

Kata Kunci : Media , “Star” Bilangan Bulat , Prestasi Belajar Matematika merupakan mata pelajaran yang masih dianggap sulit oleh sebagian siswa sekolah dasar. Hal ini dikarenakan pembelajaran matematika sebagian besar masih bersifat abstrak, tanpa menggunakan media yang dapat mengkonkretkan materi pelajaran. Pembelajaran matematika cenderung hanya berupa kegiatan menghitung angka-angka yang sulit dimengerti siswa. Terbukti dalam proses KBM siswa cenderung diam, pasif, dan kurang antusias dalam pembelajaran sehingga prestasi belajarnyapun rendah. Oleh karena itu perlu diusahakan penggunaan media pembelajaran yang dapat membantu dan memudahkan siswa dalam memahami konsep yang abstrak. Media “star” bilangan bulat dapat dijadikan alternatif untuk mengkonkretkan materi pelajaran matematika yang bersifat abstrak. Berdasarkan kenyataan di atas, penelitian tindakan kelas ini bertujuan : (1) Mendeskripsikan pemanfaatan media “Star” untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VC SDN Tunjung Sekar I Malang, (2) Mendeskripsikan peningkatan keaktifan, rasa senang, dan motivasi belajar dalam pembelajaran dengan menggunakan media “star”, (3) Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar siswa VC SDN Tunjung Sekar I dalam pembelajaran menggunakan media “star”. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan guru sebagai peneliti, menggunakan 2 siklus. Subyek penelitian ini siswa kelas VC SDN Tunjung Sekar I kota Malang yang siswanya sebanyak 32 orang. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan uji kompetensi. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media “Star” Bilangan Bulat ini, dapat meningkatkan keaktifan, rasa senang, motivasi dan prestasi belajar siswa. Peningkatan keaktifan siklus I dengan rata-rata nilai 59 menjadi 82,3 pada siklus II, Rasa senang siswa mencapai nilai rata-rata 57,8 pada siklus I meningkat menjadi 82 pada siklus II. Peningkatan motivasi belajar ditandai dengan meningkatnya hampir semua indikator motivasi belajar siswa, sedangkan prestasi belajar siswa meningkat dari sebelum PTK sebesar 56,6 menjadi 68,8 (siklus I) dan 82,5 (siklus II) Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar para guru di sekolah dasar menggunakan media “star” untuk mengatasi kesulitan siswa dalam belajar matematika khususnya materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

Strategi pelayanan pada suplier di Departement Accounting Giant Gajayana Malang / Sayyida Anom

 

Keywords: Service Strategy, Supplier In the current era of globalization may result in the development of world economy on the extraordinary. It is marked by the emergence of various shopping malls such as mini markets, supermarkets, plazas and various other types of shopping centers. heterogeneous consumer needs can be met so that they can compete in the business world, by improving service quality. Where service is any act or activity that can be offered by one party to another party, which is essentially intangible (not physically tangible) and not any ownership. Quality of service provides an incentive to consumers to build strong ties with the company. Ties such as this allows companies to understand the actual customer expectations especially on the supplier and their needs This final project as a continuation of the implementation of working practices are carried out on the Giant lapamgan Gajayana Malang began on 11 January until 11 pebuari 2010. From the results of fieldwork practice shows that the strategy of service at the Departement Giant Gajayana supplier in Malang is the strategy of relationship marketing, strategy custumer superior service, guarentes unconditional strategy, an effective complaints handling strategy, a strategy to enhance corporate performance. Implementation of good service strategy at Giant Gajayana Malang as through efforts to foster a close relationship between the companies represented employees are suppliers to service users. Thus, good service quality is one factor the company's success. Based on the results of field work practices can be suggested that the parties conducted additional Malang Gajayana Giant warehouse employees, menguranggi meating-hour effective, and more infrastructure such as computers for the smooth operations of the company.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan (Studi pada siswa administrasi perkantoran kelas X SMK PGRI 2 Malang) / Tutus Kukuh Santoso

 

Keywords: Cooperative Learning, Problem Based Learning Model, Student Learning Outcomes. One of the problems that we have to face in our education today is about weaknesses in the learning process. Recent learning processes evidently burden students with so many materials and assignments that students finally feel bored in the class. In learning activities, many approaches have been conducted by teachers; nevertheless, it has not yet shown satisfying results. It was proved by the results of both school and national examinations and individual skill tests achieved by students. Schools themselves have not yet been able to create a learning environment that enables students to think critically, creatively, and responsibly, as well as gives students opportunities to explore their own imaginative ideas. Hence, it is important that a learning model can encourage students to be active in learning processes. The research tried to collaborate a problem based learning model. Problem based learning is a model of cooperative learning that students are trained to overcome a real-life problem while for the group divisions. The purposes of the research are: 1) to describe the implementation problem based learning model on the topic of cooperating in a team, 2) to know the increase of student learning outcomes through the implementation of problem based learning model, and 3) to know the constraints and solutions faced by the researchers in the process taking place. Subjects of the research are 34 APK students of class X in SMK PGRI 2 Malang. The research is a qualitative research designed in the form of classroom action research (CAR). The research data were collected by 1) test, 2) observation sheets, 3) interviews, 4) questionnaire, 5) documentation and 6) field notes. This kind of research is a classroom action research conducted in cycles. Each cycle involves 4 stages, namely: 1) planning, 2) action, 3) observation, 4) reflection. Data analysis in the research is done in a descriptive way. The result shows that generally problem based learning model has been done well. Students helped each other, did interaction, discussed with the teacher and their classmates, contributed scores for teams, gave respect to others, and became independent and good students. It can be seen from the observation result of students‟ cooperative skills. In the implementation of cycle 1, based on the observation between two observers it shows a success stage. The implementation of problem based learning model on APK students of class X of SMK PGRI 2 Malang is good. It is shown by the increase from cycle I that is 79,4% to 100% in cycle II. The increase of 20,6% shows the learning thoroughness. In the cycle I the ii number of students completing their learning changes from 27 students to 34 students. Although in the action implementation there were many weaknesses and constraints in the cycle I, the researcher tried to improve it in the cycle II. Based on the result it can be concluded that the implementation of problem based learning model can increase the learning outcome of the training subject of cooperation with colleagues and customers in the topic of cooperation in a team. It can be seen through 3 aspects, namely cognitive and affective that increase in every cycle. Some suggestions that the researcher recommends are: 1) teachers who teach the subject of Cooperation with Colleagues and Customers can use problem based learning model to increase student learning outcomes. 2) Students should participate in the learning process seriously, since the learning process trains students to think critically, overcome a problem and increase student learning outcomes. 3) The research should be continued by next researchers with different class and school, and use other cooperative learning that capabilities and student learning outcomes can increase. 4) The government should improve the quality of education; in the learning process students are very active while teachers are only facilitators.

Pemanfaatan minyak biji jarak pagar (Jatropha Curcas L.) sebagai insektida nabati untuk pengendalian larva selenothrips rubrocinctus giard / Kirana Nur Hayati

 

Kata kunci: Minyak biji jarak pagar, Insektisida nabati, Mortalitas, Selenothrips rubrocinctus G. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) famili Euphorbiaceae adalah tanaman yang mengandung senyawa kimia phorbol ester, curcin dan tryglyserida yang berpengaruh terhadap kehidupan serangga. Berdasarkan senyawa kimia tersebut, jarak pagar berpotensi sebagai insektisida nabati yang relatif aman terhadap lingkungan. Selenothrips rubrocinctus merupakan hama yang bersifat polifagus. Selain menyerang tanaman jarak pagar, serangga ini juga menjadi hama pada beberapa jenis tanaman budidaya lain, antara lain jambu mete, kopi, kakao, manggis, alpukat, mangga, makadamia, jambu biji, kacang tanah dan kapas. Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangga hama ini terutama terjadi pada daun, bunga dan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian aksesi, konsentrasi dan waktu pengamatan yang berbeda yang mempunyai pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva S. rubrocinctus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dalam faktorial. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2009 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso Malang. Perlakuan terdiri atas tiga aksesi minyak biji jarak pagar aksesi IP. 1A (Improf Population) adalah aksesi yang didapat/diperoleh dari tanaman hasil pilihan dalam kebun induk dari Asembagus, yang memiliki produktivitas tinggi, kandungan minyak juga tinggi, aksesi SM 111 adalah aksesi yang berasal dari Nusa Tenggara Barat dan aksesi SP 8 adalah aksesi yang berasal dari Sulawesi Selatan) dengan berbagai konsentrasi yaitu kontrol air, kontrol air + detergen, 5 ml minyak biji jarak pagar + 1 g detergen/L air, 10 ml minyak biji jarak pagar + 1 g detergen /L air, 20 ml minyak biji jarak pagar + 1 g detergen /L air, 40 ml minyak biji jarak pagar + 1 g detergen /L air. Larva S. rubrocinctus disemprot dengan insektisida nabati sesuai konsentrasi, menggunakan alat “spray chamber”. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Diulang 5 kali, setiap ulangan terdiri dari 50 larva S. rubrocinctus. Pengamatan dilakukan pada 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam, dan 120 jam setelah penyemprotan dan di tandai dengan data mortalitas. Analisis data menggunakan analisis faktorial dan dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian aksesi, konsentrasi dan waktu pengamatan yang berbeda memberikan pengaruh terhadap mortalitas larva S. rubrocinctus. Pemberian macam aksesi yang berpengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva S. rubrocinctus adalah SP 8 hingga 35,31 %. Konsentrasi yang berpengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva S. rubrocinctus adalah 40 ml minyak biji jarak pagar + 1 g detergen/L air hingga 28,84 %. Sedangkan waktu pengamatan yang berpengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva S. rubrocinctus adalah pada 120 jam hingga 31,32 %.

Penerapan model pembelajaran kooperatif team assisted indvidualization untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 Malang / Addin Najmal Muttaqin

 

Kata kunci: team assisted individualization, aktivitas kooperatif, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru Biologi di SMA Negeri 3 Malang, kendala utama yang terjadi selama proses pembelajaran adalah aktivitas kooperatif dan hasil belajar kognitif siswa yang masih rendah serta nuansa belajar kompetitif yang dapat menghambat perkembangan psikologis siswa. Rendahnya aktivitas kooperatif disebabkan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu terutama metode ceramah. Metode ini kurang melibatkan siswa secara langsung sehingga banyak siswa yang mengerjakan tugas matapelajaran lain saat jam pelajaran biologi, pasif, sikap tenggang rasa dan saling menghargai terhadap temannya masih kurang, serta menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Siswa yang berkemampuan tinggi enggan berbagi informasi kepada siswa yang berkemampuan rendah karena dianggap akan menjadi saingan. Perlu dilakukan upaya pengembangan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar yang diraih siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 Malang. Pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar karena menekankan pada kerjasama siswa dalam kelompok yang mendorong dan membantu siswa dalam menguasai materi yang sedang dipelajari, saling menghargai, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar kognitif melalui model pembelajaran kooperatif TAI pada pelajaran biologi dengan materi Fungi kelas X di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, siklus I terdiri atas tiga kali pertemuan dan siklus II terdiri atas tiga kali pertemuan. Pengambilan data dilaksanakan dari bulan November sampai dengan Desember pada semester 1 tahun ajaran 2009-2010. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 29 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini diperoleh dari aktivitas kooperatif dan hasil belajar kognitif siswa. Instrumen penelitian berupa lembar observasi aktivitas kooperatif, catatan lapangan, dan tes akhir siklus. Aktivitas kooperatif siswa diukur berdasarkan peningkatan persentase aktivitas kooperatif secara klasikal pada setiap kelompok. Hasil belajar kognitif siswa diukur berdasarkan peningkatan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Berdasarkan hasil penelitian penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TAI dapat disimpulkan bahwa: 1) roling kelompok dan team teaching yang dilakukan pada siklus II menjadikan pembelajaran lebih efektif; 2) aktivitas kooperatif siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah guru melakukan roling kelompok dalam menerapkan TAI yaitu pada siklus I sebesar 67,22% kemudian meningkat menjadi 76,94% pada siklus II; 3) hasil belajar kognitif siswa yang dilihat berdasarkan kentuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan yang signifikan setelah guru melakukan team teaching dalam menerapkan TAI yaitu pada siklus I sebesar 61,29% kemudian meningkat menjadi 87,1% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: 1) guru lebih memperhatikan deskriptor ”dapat menyelesaikan beda pendapat”, yaitu guru harus lebih sering memberi penguatan terhadap jawaban siswa dan menjadi penengah dalam diskusi kelompok; 2) mengembangkan media pembelajaran dengan menampilkan contoh animasi atau film singkat yang terkait dengan materi untuk membantu siswa mencapai kognitif tingkat tinggi (menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta); 3) guru melaksanakan team teaching agar proses pembelajaran lebih efektif.

Peningkatan hasil belajar matematika dengan pendekatan open-ended problem solving di kelas V SDN Suru II Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk / Indra Eka Cahyana

 

Kata kunci: hasil belajar, matematika, open-ended, problem solving Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, rendahnya hasil belajar matematika siswa disebabkan karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya kreatifitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Tujuan diadakan penelitian di SDN. Suru II Kab. Nganjuk antara lain: mendeskripsikan proses penerapan pendekatan Open-Ended Problem Solving dalam meningkatkan aktivtas siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar Matematika tentang Bangun Datar, dan meningkatkan aktivitas siswa di kelas V SDN Suru II Kec. Ngetos, Kab. Nganjuk. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian siswa kelas V SDN Suru II Kab. Nganjuk dengan jumlah 25 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, dokumentasi dan pengamatan selama pembelajaran berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pendekatan open-ended problem solving aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat ditingkatkan. Dari yang semula siswa hanya pasif dalam pembelajaran sebagai pendengar materi siswa menjadi lebih berani dalam mengungkapkan ide. Siswa juga menjadi aktif dan serius dalam pembelajaran serta ketepatan mengkomunikasikan ide siswa meningkat. Jadi dapat dikatakan bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan membuat siswa lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru dan oleh teman dalam kelompoknya dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan open-ended problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa selama pembelajaran. Hal ini tampak dari peningkatan nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal. Adanya variasi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran sangat diperlukan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan adanya penerapan pendekatan open-ended problem solving membuat siswa menjadi tertarik dengan pembelajaran dan aktif mengikuti pembelajaran karena siswa merasa bahwa ide atau pendapatnya dalam menyelesaikan permasalahan matematika dihargai.

Perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe expert group (Jigsaw) dengan model ceramah bermakna terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan perbaikan peripheral kelas X TKJ di SMK Negeri 6 Malang / Ainun Kusuma Ningrum

 

Kata Kunci: hasil belajar, Model Pembelajaran Kooperatif tipe Expert Group (JIGSAW), model Ceramah Bermakna, perbaikan peripheral Salah satu kunci utama dalam peningkatan mutu pendidikan adalah guru. Guru secara langsung dapat menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan siswa membentuk makna dari bahan-bahan pelajaran melalui suatu proses belajar dan menyimpannya dalam ingatan yang sewaktu-waktu dapat diproses dan dikembangkan lebih lanjut. Usaha guru untuk mencapai tujuan pembelajaran antara lain memilih model yang tepat sesuai dengan materinya dan menunjang terciptanya kegiatan belajar mengajar yang kondusif. Berdasarkan wawancara dan observasi yang dilakukan di lokasi penelitian (SMKN 6 Malang) diperoleh data hasil belajar dan rata-rata kelas yang sangat rendah pada mata pelajaran Peripheral kompetensi "Melakukan Perbaikan Peripheral". Selama ini siswa kelas X TKJ di SMK N 6 Malang banyak yang kurang berhasil dalam melakukan praktikum karena kurang mampu menerapkan teori ke dalam praktikum. Bahkan pada kelas yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, diperoleh nilai rata-rata pre-test yang rendah yaitu 54,21 dengan nilai tertinggi hanya 63 dan terendah 43 di kelas X TKJ 3 sedangkan di X TKJ 5 rata-rata 55,07 dengan nilai tertinggi 67 dan terendah 33. Untuk mengatasi permasalahan di atas, dalam penelitian ini diterapkan model pembelajaran kooperatif Expert Group (JIGSAW) dengan pertimbangan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group (JIGSAW) adalah pembelajaran yang didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajaran sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perbedaan hasil belajar (ranah kognitif dan psikomotorik) antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Expert Group (JIGSAW) dengan siswa yang diajar menggunakan model Ceramah Bermakna pada kompetensi "Melakukan Perbaikan Peripheral". Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu. Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar ranah kognitif dan ranah psikomotorik siswa kelas X TKJ pada pokok bahasan Perbaikan Peripheral sebagai variabel terikat sedangkan variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group (JIGSAW) dan model Ceramah Bermakna. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X TKJ di SMKN 6 Malang semester 2 tahun ajaran 2009/2010 sebanyak 239 siswa dengan sampel penelitian ini adalah kelas X TKJ 3 (42 siswa) sebagai kelas kontrol dan kelas X TKJ 5 (41 siswa) sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling kelompok (kluster). Instrumen penelitian ini yaitu instrumen pembelajaran dan pengukuran. Instrumen pembelajaran berupa perangkat pembelajaran. Instrumen pengukuran berupa instrumen tes dan lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif. Analisis stasistik kuantitatif untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group (JIGSAW) dengan siswa yang diajar dengan model ceramah bermakna. Hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group (JIGSAW) lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan ceramah bermakna. Untuk hasil belajar ranah kognitif, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (72,27) lebih tinggi dai kelas kontrol (67,05) dengan selisih sebesar 5,22 poin. Sedangkan untuk hasil belajar ranah psikomotorik, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (81,61) lebih tinggi dai kelas kontrol (76,90) dengan selisih sebesar 4,71 poin. Sehingga disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group (JIGSAW) dapat meningkatkan hasil belajar (ranah kognitif dan psikomotorik) siswa pada kompetensi "Melakukan Perbaikan Peripheral".

Peningkatan kemampuan menulis puisi melalui media gambar siswa kelas V SDN Pandanmulyo 02 Malang / Anggoro Bakhtiar

 

Kata Kunci: Media Gambar, Menulis Puisi, SD Hasil observasi menemukan bahwa pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V pokok materi menulis puisi, guru kurang memanfaatkan media pembelajaran. Sehingga hal tersebut mempengaruhi terhadap hasil belajar siswa. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam menulis puisi adalah kemampuan siswa berbahasa kurang. Dari nilai stadar ketuntasan minimum yang ditetapkan sebesar 7,00 secara keseluruhan siswa belum mampu mencapai target yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatkan kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media gambar dan mendeskripsikan efektifitas penyajian gambar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi. Penelitian ini dilakukan di SDN Pandanmulyo 02 dengan subyek siswa kelas V sebanyak 24 siswa yang terdiri dari 14 putra dan 10 putri. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang diadaptasi dari teori Kemmis & Mc. Taggart, meliputi empat tahap yaitu (1) planning, (2) acting & observing, (3) reflecting dan (4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data dan analisis data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar pada pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Pandanmulyo 02 materi menulis puisi dapat meningkatkan antusias belajar siswa, meningkatkan konsentrasi dan menambah minat belajar siswa. Siswa telah mampu membuat puisi dengan memperhatiakan diksi, larik, tema, dan amanat puisi. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat. Penggunaan media gambar juga dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Nilai rata-rata kelas menulis puisi sebelumnya yaitu 52,8 pada siklus I, pada siklus II meningkat menjadi 60,7 pada siklus III. Meningkat menjadi 79,4. Saran kepada guru dalam menggunakan media pembelajaran berupa gambar hendaknya mempertimbangkan efektifitas penggunaanya, efektif bagi guru dalam kegiatan pembelajaran dan efektif bagi siswa dalam menerima materi pelajaran. Dengan mempertimbangkan ukuran gambar, penyajian gambar, jumlah gambar dan pesan yang akan disampaikan media gambar akan membantu meningkatkan prestasi belajar siswa.

The Effectiveness of strategic interaction approach in promoting speaking skill / Wakhid Nashruddin

 

Thesis, English Language Education, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Yazid Basthomi, M.A., (II) Dr. Sri Rachmajanti, M.Pd., Dip TESL. Key words: the effectiveness, strategic interaction approach, teaching speaking. This study focuses on testing the effectiveness of strategic interaction approach in promoting speaking skill. The research applied was a quasi-experimental research. The subjects of the study, as the experiment group, were 29 students who were taught using strategic interaction approach. On the other hand, 23 students were assigned to the control group, and they were treated using role play technique—a conventional technique in teaching speaking. A question was then raised: “Is there any difference in speaking skill between students who were taught using strategic interaction approach and those who were taught using role-play in their speaking class?” The pre-test indicated that the two groups—experiment and control—were in different levels. The mean score of the experiment class was 66.60, with 80 as the highest and 51 as the lowest score. The mean score of the control group was 71.78, with 54 as the lowest score and 86 as the highest score. To calculate the students’ ability in speaking from two different level classes of students, a certain statistical calculation was needed. Analysis of Covariance (ANCOVA) was used to adjust the starting point by including pre-test scores as covariate. The assumptions of ANCOVA have been fulfilled. The independency of observations, the normal distribution of dependent variable, the homogeneity of variances, the linear relationship between covariate and the dependent variable, and the homogeneity of regression slopes have been met before the calculation. Post-test was assigned to the two groups to measure the progress of the study. The experimental group reached 74.43 of the average score, indicating that it raised its mean score by 7.83. The highest score for this group was 85.5, and the lowest one was 62. On the other hand, control group improved its mean score only 1.85, from 71.78 to 73.63. The highest score for this class was 87.5 while the lowest was 64. Two steps of ANCOVA were conducted to test the effectiveness of strategic interaction approach in promoting speaking skill. The first was testing the interaction between covariate and fixed factor and the second was the analysis of covariance. On the test between subject effects—in the first step, it shows Sig (.090) > α (.05) which means that there was no interaction between strategic interaction approach and pre-test. In the second step, it was found out that, at 95% of confidence, Sig (.007) > α (.05) which means that there is a difference in speaking skill between students who were taught using strategic interaction approach and those who were taught using role play in their speaking class. From ANCOVA, the effectiveness of strategic interaction approach was proved better than role play. Secondary data supported the successfulness of the research. The result of questionnaires as minor data indicated that 63.22% of the students and 83.33% of the teacher had enough positive attitudes in the experiment that helped the successfulness of the teaching and learning using strategic interaction approach. Meanwhile, the observation checklist showed that the teacher taught correctly. In conclusion, strategic interaction approach has been proved to be effective in promoting the students’ speaking skill, especially in developing speaking fluency. Tests as primary data have shown that strategic interaction approach is more effective than role play in teaching speaking while the minor data also support the findings. For teachers intending to improve their students’ fluency in speaking may use strategic interaction approach in their speaking classes. The limitations of the study were about the short treatment time and the avoidance of using recording (audio or audio-video) as an instrument. For further research, these limitations can be addressed.

Pembelajaran melalui penerapan strategi react pada materi pertidaksamaan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X MAN Malang I / Sayuthi

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program studi Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Subanji, S.Pd, M.Si. (2) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D Kata Kunci: Strategi REACT, Pertidaksamaan, Kemampuan Berpikir Kreatif Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah dapat mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi, dan dugaan serta mencoba-coba dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Kenyataannya banyak dari sekolah-sekolah yang masih kurang memberikan penekanan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Berdasarkan hasil observasi awal di MAN Malang I diperoleh bahwa selama ini di MAN Malang I belum ada upaya khusus untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan beberapa guru matematika diperoleh bahwa materi pertidaksamaan merupakan salah satu materi yang masih sulit dipahami siswa. Dengan demikian peneliti mencoba untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui langkah-langkah pembelajaran dengan strategi REACT pada materi pertidaksamaan yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Strategi REACT merupakan strategi pembelajaran dengan pendekatan Kontekstual yang ditawarkan oleh Center of Occupational Research and Development (CORD). Strategi REACT terdiri dari lima tahap yaitu Relating (mengaitkan), Experiencing (mengalami), Applying (menerapkan), Cooperating (bekerjasama), Transferring (mentransfer). Melalui tahap-tahap tersebut, strategi REACT berpotensi untuk dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan meningkatkan pemahaman siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti sebagai pengajar dan guru matematika serta teman sejawat sebagai pengamat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan desain pembelajaran dengan strategi REACT yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas X-C MAN Malang I, Kota Malang. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas X-C MAN Malang I yang berjumlah 36 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui: (1) pelaksanaan pembelajaran, (2) observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, (3) observasi terhadap kegiatan guru selama melaksanakan pembelajaran melalui strategi REACT, (4) analisis terhadap hasil kerja siswa berdasarkan jawaban pada LKS, (5) tes tertulis yang terdiri dari dua uji yaitu uji kompetensi dan uji kemampuan berpikir kreatif, (6) wawancara dengan 4 orang siswa yang dipilih berdasarkan hasil uji kemampuan berpikir kreatif, satu orang siswa kategori baik, satu orang kategori cukup baik, satu orang kategori kurang baik dan satu orang kategori tidak baik. Dari penelitian ini diperoleh hasil yaitu rata-rata persentase keterlaksanaan aktivitas siswa diperoleh sebesar 95,00% dan kegiatan guru sebesar 96,44%. Hasil analisis terhadap jawaban siswa pada LKS secara keseluruhan termasuk kategori baik. Persentase kemampuan berpikir kreatif siswa secara klasikal sebesar 56,00%. Dari hasil uji kompetensi diperoleh bahwa 91,43% dari 36 siswa yang mengikuti ujian mencapai ketuntasan. Sedangkan hasil wawancara dengan subjek penelitian terlihat bahwa siswa yang termasuk kategori sangat baik selain telah lancar dan luwes dalam memberikan gagasan, juga telah dapat membuat contoh permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkenaan dengan pertidaksamaan dan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut serta memberikan alasan-alasan yang benar.. Dalam penelitian ini diperoleh kesimpulan (1) langkah-langkah pembelajaran dengan strategi REACT yang meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu pada tahap awal guru memberikan penjelasan materi prasyarat, pada tahap relating guru memberikan soal yang mengaitkan antara materi yang akan dipelajari dengan materi prasyarat atau contoh dalam kehidupan sehari-hari, pada tahap experiencing guru memberikan soal-soal yang mengarahkan kegiatan siswa sehingga siswa dapat mengalami sendiri proses membangun pengetahuannya, pada tahap applying guru memberikan soal-soal yang penyelesaiannya menggunakan konsep-konsep yang telah dipelajari siswa, pada tahap cooperating guru menciptakan kondisi agar siswa dapat saling sharing pendapat, pada tahap transferring guru memberikan soal-soal dari konteks berbagai konteks lain, pada tahap penutup guru membimbing siswa membuat kesimpulan dan melakukan evaluasi (2) Kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat dari kategori kurang baik (38,63%) pada siklus I menjadi kategori cukup baik (56,00%) pada siklus II. Dalam pembelajaran materi pertidaksamaan dengan strategi REACT agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, peneliti menyarankan kepada para guru untuk (1) mengalokasikan waktu secara cermat dalam merancang perangkat pembelajaran dan mengelola pembelajaran, (2) memperhatikan kemampuan materi prasyarat siswa, (3) mengatur, mengawasi dan memberi bimbingan kepada siswa agar dalam tahap cooperating dapat berjalan dengan optimal, (4) memberikan beberapa soal transfer yang realistik dan relevan dan bervariasi dengan mempertimbangkan ketersediaan waktu.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar PKn materi globalisasi pada siswa kelas IV SDN Pungging tutur Pasuruan / Abdul Azis

 

Kata kunci: pembelajaran Jigsaw, hasil belajar, tentang globalisasi, PKn. Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas praktik pembelajaran di kelas IV SDN Pungging yang relatif rendah. Kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajaran tentang globalisasi disebabkan guru kurang kreatif dalam penggunaan model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar. Keaktifan siswa dalam belajar masih rendah, siswa-siswa kurang kreatif, kurang menyenangkan karena pembelajaran yang masih cenderung berpusat pada guru, dan hasil dari peneliti lain menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran Jigsaw. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV di SDN Pungging Kabupaten Pasuruan pada pembelajaran PKn tentang Globalisasi. (2) mendeskripsikan pengaruh penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Pungging Kabupaten Pasuruan pada pembelajaran PKn tentang Globalisasi. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan melalui 4 tahap: mulai dari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Tehnik pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Analisis data ketuntasan individu mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar PKn setelah mendapat pembelajaran PKn materi globalisasi dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw. Peningkatan ini dilihat dari partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar yang ditunjukkan oleh skor hasil tes. dilihat dari hasil belajar siswa sebelum penerapan model jigsaw memperoleh nilai rata-rata menjadi 72,4 pada siklus I dan menjadi 83 pada siklus II. Sedangkan pada penilaian proses sebelum penerapan model pembelajaran jigsaw memperoleh nilai rata-rata 66,7 menjadi 74,3 pada siklus I dan menjadi 85,3 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran jigsaw dapat dipertimbangkan sebagai alternatif model pembelajaran tentang globalisasi. Hasil ketuntasan belajar siswa mencapai 85,3 di atas ketentuan yang ditetapkan yaitu 70. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan dapat diterapkan di kelas IV sekolah lain jika kondisinya relatif sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini.

Penerapan model pembeljaran concept attainment untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang globalisasi di kelas IV SDN Rembang Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Esterlina Watratan

 

Kata Kunci: Model Concept Attainment, peningkatan pemahaman globalisasi, Sekolah Dasar. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti tentang mata pelajaran PKn kelas IVB SDN Rembang Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan dapat diketahui bahwa siswa memiliki minat belajar yang rendah, di antaranya adalah siswa cenderung pasif dan merasa bosan dalam pembelajaran PKn. Nilai rata-rata siswa kelas IVB pada hasil belajar adalah 62,25%, masih kurang dari kriteria yang ditentukan, yaitu 75%. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan pada pembelajaran PKn adalah metode konvensional. Oleh karena itu, pada penelitian ini dicoba untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Concept Attainment untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang materi globalisasi melalui Penelitian Tindakan Kelas.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) Mendeskripsikan cara penerapan model pembelajaran Concept Attainment dalam pembelajaran PKn pada materi tentang globalisasi di kelas IVB SDN Rembang Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan; (2) Mendeskripsikan peningkatan pemahaman siswa tentang globalisasi melalui penerapan model pembelajaran Concept Attainment di kelas IVB SDN Rembang Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang diadaptasi dari Kemmis & Taggart, terdiri dari 2 siklus dan masing-masing siklus meliputi: (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) pengamatan/observasi; (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVB SDN Rembang Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 31 siswa, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Model pembelajaran Concept Attainment dilakukan melalui fase-fase yang dikemas dalam bentuk sintaks. Adapun sintaksnya dibagi ke dalam tiga fase, yakni: (a) presentasi data dan analisis data; (b) menguji pencapaian konsep dari suatu konsep; (c) analisis strategi berpikir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Concept Attainment pada mata pelajaran PKn materi pokok ”Globalisasi” di kelas IVB SDN Remabng Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan dikategorikan baik, dengan melihat dari peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa dari pra tindakan, Siklus I ke siklus II, yaitu dari rata-rata kelas sebesar 62,25%, meningkat menjadi 72,25% dan meningkat lagi menjadi 85,16%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti mengharapkan bahwa tidak hanya mata pelajaran PKn saja yang mencoba menggunakan model pembelajaran Concept Attainment tetapi juga untuk mata pelajaran yang lain dapat juga menggunakan model pembelajaran ini.

Penerapan pembelajaran kooperatif model stad untuk meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep fisika siswa kelas X-4 semester II SMA Brawijaya Smart School Malang tahun ajaran 2009/2010 / Yulia Joar Trisnasari

 

Kata Kunci : pembelajaran kooperatif model STAD, keaktifan, pemahaman konsep fisika Berdasarkan hasil wawancara dengan guru fisika dan observasi di kelas X-4 SMA Brawijaya Smart School Malang diperoleh informasi bahwa keaktifan dan pemahaman konsep fisika siswa rendah. Rendahnya keaktifan siswa ditunjukkan dengan rendahnya keberanian siswa untuk bertanya pada materi yang sebenarnya belum mereka pahami. Indikator lain rendahnya keaktifan siswa yaitu masih sedikitnya siswa yang mau menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh guru, mengerjakan soal-soal latihan di papan tulis, dan mempresentasikan pendapatnya sendiri atau hasil kerja kelompoknya di depan kelas secara sukarela. Rendahnya pemahaman konsep fisika ditunjukkan oleh rendahnya nilai rata-rata ulangan harian siswa bila dibandingkan dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 75 untuk mata pelajaran fisika di sekolah ini. Hasil observasi juga menunjukkan adanya kecenderungan pola pembelajaran yang masih terpusat pada guru. Guru menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan siswa menerima informasi tersebut sambil membuat catatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kualitas keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD dan mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep fisika siswa kelas X-4 Semester II SMA Brawijaya Smart School Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tindakan yang diberikan adalah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD. Penelitian dilakukan di SMA Brawijaya Smart School Malang dengan subjek penelitian kelas X-4 dengan jumlah 25 siswa, terdiri dari 12 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi keaktifan siswa, dan tes pemahaman konsep fisika. Keaktifan dan pemahaman konsep fisika dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar keduanya telah mencapai 85% dari seluruh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep fisika siswa kelas X-4 SMA Brawijaya Smart School Malang. Keaktifan siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 28% meskipun kelas belum bisa dikatakan tuntas keaktifannya. Pemahaman konsep fisika siswa mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 16 % dan kelas sudah bisa dikatakan tuntas belajarnya. Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD juga mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 20,29%. Peningkatan persentase keaktifan, pemahaman konsep fisika siswa, dan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD terjadi karena pada siklus II terdapat perbaikan-perbaikan berdasarkan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Diantaranya yaitu guru lebih mempersiapkan diri dalam mengajar yaitu menyiapkan materi pelajaran pada saat tahap presentasi kelas dengan lebih baik, guru lebih sering memberikan pertanyaan kepada siswa pada saat menyampaikan materi sehingga konsentrasi siswa tetap dapat terfokus pada materi yang sedang disampaikan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif menjawab dan bertanya, suara guru lebih keras dengan instruksi lebih tegas, pembentukan ketua kelompok untuk meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap hasil belajar kelompok dan individu, serta siswa diminta mempersiapkan diri memasuki pembelajaran berikutnya yaitu dengan mempelajari terlebih dahulu materi yang akan diajarkan.

Kajian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X di SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek / Andra Damayanta

 

Kata kunci: analisis, buku teks, KTSP, BSNP. Sebagai salah satu sumber belajar yang sering digunakan, buku teks pelajaran harus dapat menunjang pelaksanaan pembelajaran. Begitu juga dengan buku teks pelajaran sejarah dalam hal ini buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X yang paling banyak digunakan oleh guru-guru sejarah di Kabupaten Trenggalek yang tergabung dalam MGMP, yang harus dapat menunjang pelaksanaan pembelajaran sejarah. Tidak semua buku teks pelajaran sejarah bisa menunjang pelaksanaan pembelajaran sejarah yang sesuai dengan tuntutan KTSP dan BSNP. Buku teks pelajaran sejarah yang berkualitas harus memuat bahan pembelajaran yang esensial dalam rangka pencapaian kompetensi siswa dalam pembelajaran sejarah. Berdasarkan fakta di lapangan, belum semuanya guru-guru mata pelajaran sejarah SMA Negeri se-Kabupaten Trenggalek menggunakan buku teks pelajaran sejarah yang sesuai dengan tuntutan KTSP dan BSNP. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menentukan buku teks pelajaran sejarah yang akan dipakai yang sesuai dengan tuntutan KTSP dan BSNP. Oleh karena itu diperlukan suatu analisis untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesesuaian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X terhadap standar yang telah ditentukan oleh KTSP dan BSNP. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah sejauh mana kesesuaian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X terhadap standar yang telah ditentukan oleh KTSP dan BSNP dengan perincian sebagai berikut: (1) Bagaimana kesesuaian buku teks pelajaran Sejarah SMA kelas X dengan Standar Kompetensi KTSP?, (2) Bagaiamana kesesuaian buku teks pelajaran Sejarah SMA kelas X dengan komponen kelayakan isi yang ditentukan oleh BSNP?, (3) Bagaimana kesesuaian buku teks pelajaran Sejarah SMA kelas X dengan komponen kebahasaan yang ditentukan oleh BSNP?, (4) Bagaimana kesesuaian buku teks pelajaran Sejarah dengan komponen penyajian yang ditetapkan oleh BSNP? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analisis isi. Penentuan buku teks mana yang akan dianalisis ditentukan dengan menyebarkan angket pra penelitian yang ditujukan kepada guru-guru mata pelajaran sejarah SMA kelas X se-Kabupaten Trenggalek yang tergabung dalam MGMP. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengamat penuh. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi. Metode dokumentasi dilaksanakan dengan membuat pedoman penilaian dan check-list yang dibuat sesuai dengan standar KTSP dan BSNP tahun 2006. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data tertulis berupa kedua buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X terbitan Erlangga dan terbitan Bumi Aksara yang dianalisis. Pengolahan datanya menggunakan analisis prosentase dengan menggunakan prosedur statistik sederhana. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Tingkat kesesuaian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X dari penerbit Erlangga dan Bumi Aksara dengan Standar Kompetensi KTSP sebesar 100% sehingga termasuk dalam kategori baik. (2)Tingkat kesesuaian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X dengan standar penilaian BSNP dari segi komponen materi untuk penerbit Erlangga sebesar 95% termasuk dalam kategori baik sekali, sedangkan untuk penerbit Bumi Aksara prosentasenya sebesar 88,33% juga termasuk dalam kategori baik sekali. (3)Tingkat kesesuaian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X dengan standar penilaian BSNP dari segi komponen kebahasaan untuk penerbit Erlangga sebesar 95% termasuk dalam kategori baik sekali, sedangkan penerbit Bumi Aksara prosentasenya sebesar 94% juga termasuk dalam kategori baik sekali. (3)Tingkat kesesuaian buku teks pelajaran sejarah SMA kelas X dengan standar penilaian BSNP dari segi komponen penyajian untuk penerbit Erlangga sebesar 88,57% termasuk dalam kategori baik sekali, sedangkan penerbit Bumi Aksara prosentasenya sebesar 85% juga termasuk dalam kategori baik sekali. Akan lebih baik jika siswa terlebih guru, menggunakan buku teks pelajaran sejarah lebih dari satu penerbit. Variasi penggunaan buku teks pelajaran sejarah tentu akan saling melengkapi satu sama lain, namun bila kondisi tidak memungkinkan untuk itu, maka disarankan untuk menggunakan buku teks pelajaran sejarah yang telah mencapai nilai persentase lebih unggul berdasarkan temuan hasil penelitian yang telah diperoleh.

Keanekaragaman dan kepadatan kepiting bakau (Scylla, spp) pada kawasan hutan manggrove teluk Kotania Kabupaten Seram bagian Barat sebagai bahan pengembangan materi praktikum ekologi di Perguruan Tinggi / Corneli Pary

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof.Dr.Duran Corebima,M.Pd. (II) Dr.agr. Mohamad Amin,M.Si. Kata Kunci: keragaman,kepadatan, Substrat Wilayah pesisir teluk Kotania yang berada di Pulau Seram bagian barat merupakan wilayah pesisir semi permanen tertutup yang memiliki keunikan ekosistem berupa terdapatnya ekositem mangrove, padang lamun, terumbu karang (coral reef) yang saling berdampingan satu sama lainnya. Pada ekosistem hutan bakau (mangrove) di teluk Kotania, terdapat keanekaragaman sumberdaya hayati laut misalnya pisces, moluska, ekinodermata, crustacea dan makro-algae yang bernilai ekonomi dan non ekonomi fauna mangrove hidup pada substrat dengan cara berendam dalam lubang lumpur, berada dipermukaan substrat, ataupun menempel pada perakaran pepohona. Salah satu sumberdaya hayati laut yang terdapat di hutan bakau teluk Kotania adalah Kepiting Bakau (Scylla spp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kepiting bakau (Scylla spp) yang terdapat pada daerah, kawasan hutan mangrove di teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat, Kualitas perairan di hutan mangrove teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat, Perbedaan indeks keanekaragaman, kemerataan dan kekayaan kepiting bakau (Scylla spp) pada substrat berlumpur dan substrat berpasir di kawasan hutan mangrove teluk Kotania Kabupaten Seram bagian barat, perbedaan kepadatan dan nilai penting Kepiting bakau (Scylla spp) berdasarkan ukuran tubuh di kawasan hutan mangrove teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat. Penelitian tentang keanekaragaman dan kepadatan kepiting bakau (Scylla spp) pada kawasan hutan mangrove teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat telah dilakukan pada bulan pebruari sampai bulan maret 2010. Sampel diambil dari dua stasiun pengamatan dan setiap stasiun dilakukan 25 kali ulangan. Titik pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan metode purposive Sampling. Sampel diambil dengan bubu dan diidentifikasi dilakukan di Labotarorium Lembaga Ilmu Pengetahuan penelitian Indonesia (LIPI) Maluku. Hasil Penelitian didapatkan kepiting Bakau sebanyak 3 species yakni Scylla serrata, Scylla oceanica dan Scylla Tranguabarica yang berasal dari 1 genus. Nilai Keragaman rata-rata keanekaragaman kepiting bakau (Scylla spp) pada substrat berpasir di hutan mangrove teluk Kotania berkisar antara 0,00 sampai 1,08, indeks keanekaragaman kepiting bakau pada substrat berlumpur berkisar antara 0,00 sampai 1,04. Indeks kemerataan kepiting bakau pada substrat berpasir adalah 0,00 sampai 0,94 dan indeks kemerataan pada substrat berlumpur adalah 0,94-1,00. Indeks kekayaan kepiting bakau pada substrat berpasir adalah 0,31 dan indeks kekayaan kepiting bakau pada substrat berlumpur berkisar antara 0,46. Frekuensi kehadiran spesies Scylla seratta pada stasiun 1 adalah sebesar 0,76 dan masih lebih tinggi dibanding dengan spesies lainnya yaitu Scylla oceanica dengan nilai frekuensi kehadiran 0,68 dan Scylla tranguebarika dengan nilai frekuensi kehadiran sebesar 0,48. Pada stasiun II (susbstrat berlumpur), Nilai frekuensi kehadiran spesies kepiting bakau Scylla seratta sebesar 0,92, kemudian spesies Scylla oceanica dengan nilai frekuensi kehadiran 0,72 dan Scylla tranguebarika dengan frekuensi kehadiran sebesar 0,64 .Pada substrat berpasir, kepadatan spesies kepiting bakau juga menunjukkan bahwa kepadatan spesies Scylla seratta juga lebih tinggi yaitu 0,08 Nilai kepadatan ini masih lebih tinggi dibanding dengan kepadatan spesies Scylla oceanica yaitu 0,05 serta kepadatan spesies Scylla tranguebarika yaitu 0,03 Sedangkan pada substrat berlumpur, kepadatan spesies Scylla seratta adalah sebesar 0,10 dan masih lebih tinggi dibanding dengan 2 spesies lainnya yaitu Scylla oceanica dengan kepadatan sebesar 0,05 serta kepadatan Scylla tranguebarika sebesar 0,05.Indeks nilai penting dimana spesies Scylla seratta memiliki indeks nilai penting yang lebih tinggi yaitu 90,11 kemudian spesies Scylla oceanica dengan indeks nilai penting sebesar 68,05 dan spesies Scylla tranguebarica dengan indeks nilai penting sebesar 41,84. Demikian pula dengan substrat berlumpur, indeks nilai penting Scylla seratta memiliki indeks nilai penting yang lebih tinggi yaitu 93,67 dan lebih tinggi dibanding dengan spesies Scylla oceanica yang memiliki nilai penting 61,33 dan spesies Scylla tranguebarika dengan nilai penting 45,00. Berdasarkan hasil analisis tidak terdapat perbedaan keanekaragaman kepiting bakau (Scylla, spp) berdasarkan pada substrat berpasir dan substrat berlumpur. Sementara itu, berdasarkan jenis, terdapat perbedaan rata-rata indeks keanekaragaman. Selanjutnya, interaksi substrat dan jenis juga tidak mempengaruhi keanekaragaman kepiting bakau. Perbedaan rata-rata hanya terlihat pada kelompok kombinasi spesies S. tranguebarika pada substrat berpasir dan substrat berlumpur. Terdapat perbedaan kepadatan kepiting bakau pada substrat berpasir dan berlumpur. Demikian pula dengan jenisnya, terdapat perbedaan kepadatan spesies kepiting bakau berdasarkan jenisnya. rata-rata kepadatan kepiting bakau jenis Scylla serata lebih tinggi dibanding dengan rata-rata kepadatan spesies Scylla oceanica dan spesies Scylla tranguebarika, selanjutnya pada level interaksi, tidak terdapat pengaruh interaksi substrat dan spesies terhadap kepadatan kepiting bakau, meskipun tidak berpengaruh rata-rata kepadatan kepiting bakau pada kelompok kombinasi lainnya. Melalui hasil penelirian ini diharapkan adannya suatu upaya konservasi terhadap jenis-jenis kepiting bakau (Scylla, spp) dengan memanfaatkan kearifan lokal (local genius) masyarakat dengan menerapkan sistem sasi.

Analisis kestabilan dari oregonator pada reaksi Belousov-Zhabotingsky / Inu Wuntikaratri

 

Kata Kunci : Reaksi Belousov-Zhabotinsky, Oregonator, kestabilan. Reaksi Belousov-Zhabotinsky merupakan salah satu reaksi kimia paling terkenal yang dapat berosilasi. Umumnya, dengan kondisi tetap yang diberikan, suatu reaksi kimia berlangsung satu arah. Namun reaksi ini membalikkan arahnya sendiri berulang kali sehingga terjadi perubahan warna dari kuning ke jernih dan kembali ke kuning lagi. Reaksi ini melibatkan konsentrasi HBrO2 (asam hipobromus), Br-(ion bromit), dan Ce4+ (cerium IV). Dengan memodelkan persamaan laju reaksi Belousov-Zhabotinsky ke dalam model matematika diperoleh suatu sistem persamaan diferensial tak linier yang dinamakan Oregonator. Dari Oregonator akan diperoleh tiga titik kesetimbangan. Selanjutnya, titik kesetimbangan tersebut dianalisis kestabilannya untuk mengetahui perilaku dinamik dari Oregonator. Untuk menganalisis kestabilannya, digunakan nilai eigen yang diperoleh dengan mensubstitusikan titik kesetimbangan ke dalam matriks Jacobian dari Oregonator. Secara matematis, perilaku dinamik dari Oregonator dapat diketahui dari grafik solusi. Dari Oregonator dapat ditunjukkan bahwa titik kesetimbangan{x= 0,z= 0}, {x = -0,040402, z = -0,040402}, dan titik {x = 0,039602, z = 0,039602} bersifat tidak stabil.

Pengaruh tingkat pengembalian bebas resiko, tingkat pengembalian pasar, risiko sistematis, dan inflansi terhadap return saham (Studi empiris pada leading companies in market capitalization yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008) / Ludia Megawati

 

Kata kunci: Risiko, Inflasi, Return Saham Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana saat ini dengan tujuan mendapatkan return di masa datang. Salah satu sarana investasi yang membutuhkan dana yang relatif kecil adalah melalui sekuritas terutama saham yang diperjualbelikan di pasar modal. Dalam pasar modal, investor cenderung untuk memfokuskan pada return yang diperoleh sedangkan return tersebut juga diikuti oleh risiko. Salah satu model yang digunakan untuk menganalisis risiko dan return investasi adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM). Faktor-faktor yang diperhatikan dalam CAPM yaitu tingkat pengembalian bebas risiko, tingkat pengembalian pasar, terutama risiko sistematis. Faktor inflasi juga perlu untuk diperhatikan oleh investor selain ketiga variabel CAPM tersebut karena merupakan faktor ekonomi yang berdampak pada pasar modal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengembalian bebas risiko, tingkat pengembalian pasar, risiko sistematis, dan inflasi secara parsial terhadap return saham. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam leading companies in market capitalization yaitu sebanyak 70 perusahaan. Sampel diambil berdasarkan teknik purposive sampling dengan kriteria perusahaan yang termasuk dalam leading companies in market capitalization berturut-turut selama 2 tahun serta mempunyai data harga saham lengkap selama periode penelitian. Berdasarkan teknik purposive sampling tersebut maka diperoleh sampel sebanyak 42 perusahaan. Penelitian ini dilakukan di Pojok BEI UM. Data yang diperlukan adalah tingkat suku bunga SBI, IHSG, harga saham, dan IHK. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis menggunakan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengembalian pasar berpengaruh positif yang signifikan terhadap return saham begitu pula risiko sistematis berpengaruh positif yang signifikan terhadap return saham, sedangkan tingkat pengembalian bebas risiko dan inflasi tidak berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini maka disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan periode lebih dari 3 tahun dan juga menambahkan variabel bebas selain variabel tingkat pengembalian bebas risiko, tingkat pengembalian pasar, risiko sistematis, dan inflasi, seperti kebijakan perusahaan. Bagi investor, dapat menggunakan tingkat pengembalian pasar dan risiko sistematis sebagai pertimbangan di pasar modal.

Studi tentang kegiatan pembelajaran dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di kelas X SMA Negeri Wlingi / Heny Triwidiyanti

 

Kata kunci: kegiatan pembelajaran, motivasi belajar Pembelajaran sebagai proses dapat mengandung pengertian sebagai rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tidak lanjut. MA Negeri Wlingi adalah satu-satunya sekolah sederajat SMA yang berbasis agama Islam di MA Negeri Wlingi. Dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah kelas X di MA Negeri Wlingi, siswa cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran.Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah, diskusi dan mengerjakan LKS. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal yang dilakukan peneliti di MA Negeri Wlingi banyak permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran, salah satunya yaitu guru mengajar pelajaran yang bukan bidangnya. Ketika pelajaran berlangsung, siswa tidak memperlihatkan ketertarikan untuk belajar, bahkan beberapa siswa mengatakan bahwa sejarah itu membosankan karena lebih banyak menghafalkan. Akibatnya banyak siswa yang tidak memperhatikan dan lebih suka mengerjakan hal lain seperti tidur, berbicara dengan teman, dan bermain. Rumusan masalah pada penelitian ini, diantaranya (1) bagaimana kegiatan pembelajaran sejarah kelas X di MA Negeri Wlingi, (2) mengapa motivasi belajar siswa kelas X di MA Negeri Wlingi rendah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dan pengumpul data. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui: 1) observasi, 2) wawancara mendalam, dan 3) dokumentasi. Teknik analisis data melalui tiga tahapan yaitu, penyajian data, reduksi data, dan kesimpulan dan verifikasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan tiga instrumen yaitu 1) efektivitas penggunaan waktu, 2) observasi intensif, dan 3) triangulasi. Setelah melalui proses pengolahan data, diketahui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Dalam perencanaan pembelajaran guru sejarah telah menyusun program-program dari prota, promes, silabus dan RPP meskipun tidak selalu disusun di awal tahun ajaran dan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan pembelajaran guru belum menerapkan metode, sumber belajar serta media yang variatif (2) Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas X di MA Negeri Wlingi adalah minat siswa pada mata pelajaran sejarah yang rendah, kondisi fisik siswa, kondisi ekonomi orang tua, perhatian orang tua, sumber-sumber belajar sejarah, upaya guru dalam membelajarkan siswa yang kurang maksimal dan guru pengajar yang bukan bidangnya. Dari hasil penelitian tersebut maka disarankan bagi peneliti selanjutnya yaitu diharapkan untuk melakukan penelitian pada semester ganjil dan semester genap, serta melihat pengembangan bahan kajian.

Perancangan sign system sebagai media komunikasi visual Taman Rekreasi Selecta / Nur Vicky Wahyudi

 

Kata kunci: Sign System, Taman Rekreasi Selecta. Taman Rekreasi Selecta terletak di Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur dengan dikelilingi oleh Gunung Arjuno, Welirang dan Anjasmoro. Taman Rekreasi Selecta merupakan obyek wisata yang menawarkan konsep tatanan wisata, keindahan alamnya dan kesejukan pegunungan, serta bangunan sejarahnya. Perancangan sign system Taman Rekreasi Selecta ini dilakukan dengan latar belakang kebutuhan sign system. Kini cukup penting keberadaannya dan tidak hanya digunakan untuk lalu lintas dan tanda bangunan tetapi juga berkembang menjadi tanda di tempat-tempat umum seperti tempat wisata. Oleh karena itulah sebuah sign system perlu dirancang sebaik mungkin sehingga menjadi sign system yang efektif dalam menyampaikan pesan atau informasi namun tetap memiliki tingkat estetika yang tinggi sehingga dapat menarik perhatian serta harus memiliki kesinambungan antar signage yang ada, namun keseragaman yang diciptakan tidak menimbulkan kejenuhan. Tujuannya untuk mempermudah pengunjung dalam menggunakan fasilitas yang disediakan oleh Taman Rekreasi Selecta dan juga melakukan promosi untuk menarik para wisatawan baik lokal maupun internasional. Metode perancangan yand digunakan adalah model prosedural dengan menetapkan langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk berupa rancangan media dan disertai deskripsi konseptual, meliputi : (1) latar belakang masalah, (2) pengunpulan data, (3) analisis data, (4) konsep kreatif desain, (5) visualisasi desain, (6) hasil desain. Perancangan ini menghasilkan beberapa media komunikasi visual, yaitu ; sign system, landmark, guide sign, extrance sign, identity sign, roof sign, symbol sign, dan advertising sign. Dalam pembuatan sign system ini diharapkan pengunjung Taman Rekreasi Selecta dapat mengetahui keberadaan tempat dan sekiranya menjadi tempat yang akan dituju, oleh karena itu sarana yang ada perlu adanya, papan petunjuk yang biasa digunakan sebagai sarana pemberitahuan.

Pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan sebaran kepemilikan terhadap hutang jangka panjang (Studi pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006 - 2008) / Pieta Priamika

 

Kata Kunci : Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Penyebaran Kepemilikan dan Hutang Jangka Panjang. Penentuan besarnya hutang jangka panjang dalam perusahaan sangat penting untuk mendapatkan komposisi struktur modal yang optimal. Struktur modal yang optimal dapat memaksimalkan nilai saham perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan. Pendanaan melalui hutang mempunyai keuntungan penghematan pajak, tetapi juga dapat meningkatkan resiko kebangkrutan apabila perusahaan tidak bisa memenuhi kewajiban-kewajibanya. Perusahaan bisa mengalami kesulitan keuangan apabila manajer menggunakan hutang pada tingkatan yang berlebihan, karena itu manejer harus berhati-hati dalam menentukan besarnya hutang jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan sebaran kepemilikan terhadap hutang jangka panjang perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008. Penelitian ini menggunakan sample perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006 sampai tahun 2008. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 51 sampel perusahaan yang memenuhi kriteria-kriteria yang ditentukan. Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua variabel penelitian yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan sebaran kepemilikan berpengaruh secara simultan terhadap hutang jangka panjang. Kepemilikan manajerial secara parsial mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap hutang jangka panjang. Kepemilikan institusional dan sebaran kepemilikan tidak berpengaruh signifikan terhadap hutang jangka panjang. Variabel bebas yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan penyebaran kepemilikan mempunyai kemempuan menjelaskan perubahan variabel terikat yaitu hutang jangka panjang masih rendah karena sebagian besar perubahan variabel terikat dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Penentuan besarnya hutang jangka panjang sangatlah penting dalam pemaksimalan struktur modal perusahaan. Pihak manajemen dan pemilik harus berhati-hati dalam menentukan besarnya hutang yang digunakan untuk pendanaan. Hal ini dapat menghindarkan perusahaan dari resiko kesulitan keuangan yang tinggi dan menjaga cash flow perusahaan tetap pada posisi yang optimal. Investor juga harus dapat menentukan keputusan investasi yang tepat dengan mempertimbangkan besarnya hutang perusahaan agar investasi yang ditanamkan memberikan keuntungan yang diinginkan.

Pengaruh lama aniling pada sintesis partikel NANO ZnCo2O4 dengan metode sonokimia terhadap dielektriksitas sebagai bahan superkapasitor / Danang Yudi Miswar

 

Kata Kunci : Partikel nano ZnCo2O4, Sonokimia, Struktur Spinel, Konstanta Dieletrik. Beberapa tahun terakhir, nanoteknologi telah membangkitkan perhatian para ilmuan di berbagai negara terutama dibidang energi. Penelitian dalam pencarian dan pengembangan alat penyimpan energi yang lebih efisien juga terus dilakukan. Media penyimpan energi yang efisien adalah superkapasitor. Salah satu bahan superkapasitor yang menjadi perhatian para peneliti adalah ZnCo2O4 dalam matrik karbon teraktivasi seperti CNF (Carbon Nano Foam) dan CNT (Carbon Nano Tubes). Partikel nano ZnCo2O4 telah disintesis dalam bentuk serbuk dengan menggunakan metode sonokimia. Metode sonokimia merupakan salah satu metode alternatif yang dapat dikembangkan dalam fabrikasi partikel nano ZnCo2O4 yang memanfaatkan gelombang ultrasonik dengan frekuensi 20 kHz-100 kHz. Metode ini dapat dilakukan pada suhu rendah, waktu yang relatif cepat, serta dengan peralatan yang automatis dan sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis, ukuran kristal terhadap dielektrisitas partikel nano ZnCo2O4 dengan menggunakan metode sonokimia. Bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah ZnCl2 (PA 99.9%), CoCl2 (PA 99.9%), C2H5OH (PA 99.9%), NH4OH (PA 99.9%). Sampel disintesis dengan metode sonokimia pada suhu rendah 30oC selama 90 menit dan dipanaskan dengan variasi lama aniling 0,5 jam sampai 3 jam suhu 500oC. Karakterisasi untuk mengetahui kandungan unsur diuji dengan XRF dan konstanta dielektrik dengan menggunakan Kapasitansi meter. Untuk mengetahui fasa kristal diuji dengan difraksi sinar-X yang dianalisis dengan program Rietica dan ukuran kristalnya diuji dengan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel terbentuk dalam ukuran nanometer yaitu sekitar 24-53 nm. Dari analisis rietveld menunjukkan bahwa volume kristal relatif tidak berubah secara signifikan dengan semakin besarnya lama aniling. Sedangkan uji dielektrisitas menunjukkan bahwa partikel nano ZnCo2O4 semakin lama temperatur yang diberikan pada partikel nano ZnCo2O4 maka semakin tinggi nilai konstanta dielektrik dan menaikkan ukuran

Penerapan teknik Team Games Tournament dalam pelajaran IPS untuk meningkatkan kesadaran karier siswa kelas tiga sekolah dasar / Syaiful Hadi

 

Tesis, Program Studi Bimbingan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dany M. Handarini, MA., (2) Dr. Marthen Pali, M.Psi. Kata kunci: Team Games Tournament, Pelajaran IPS, Kesadaran Karier Bimbingan karier di sekolah dasar tidak dimaksudkan agar anak-anak melakukan pilihan-pilihan prematur. Fokusnya adalah pada kesadaran akan pilihan-pilihan yang bakal tersedia, cara-cara mengantisipasi dan merencanakannya, serta hubungannya dengan ciri-ciri pribadi. Banyak murid yang perlu mengetahui bahwa mereka akan mempunyai kesempatan-kesempatan untuk memilih dan kompetensi untuk melaksanakannya. Siswa-siswa ini juga perlu menyadari dirinya, bagaimana mereka berubah, dan bagaimana mereka dapat menggunakan pengalaman-pengalaman sekolah untuk menjelajah dan bersiap guna menyongsong masa depan. Pada anak usia sekolah dasar, perkembangan kariernya berada pada tahap kesadaran karier. Sampai saat ini di Indonesia pada tingkat sekolah dasar belum ada tenaga profesional konselor, oleh karena itu program bimbingan dilakukan dengan mengintegrasikan program tersebut dalam mata pelajaran. Berdasarkan studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa di Sekolah Dasar Negeri Percobaan Malang belum pernah diselenggarakan bimbingan karier dengan mengintegrasikannya dalam mata pelajaran. Atas dasar hal tersebut, dilakukan penelitian penerapan teknik team games tournament dalam pelajaran IPS untuk meningkatkan kesadaran karier siswa kelas tiga sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian ini meliputi (1) pemetaan standar kompetensi mata pelajaran IPS yang berhubungan dengan kesadaran karier dan pemetaan standar kompetensi bimbingan karier kelas tiga sekolah dasar, (2) menyusun materi pembelajaran, (3) menyusun rencana tindakan, (4) pelatihan terhadap guru dalam melaksanakan pembelajaran, (5) pelaksanaan tindakan, (6) hasil pelaksanaan tindakan, dan (7) evaluasi dan diskusi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci; peneliti memegang peran kunci dalam proses pengumpulan, penganalisisan, maupun penyimpulan data. Teknik pengumpulan data adalah observasi dan perekaman. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis data mengalir yang dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penyimpulan data. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan triangulasi dan pengecekan teman sejawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik team games tournament dalam pelajaran IPS dapat meningkatkan kesadaran karier kelas tiga sekolah dasar. Secara keseluruhan siswa mempunyai kesadaran karier yang baik. Dari 42 siswa kelas III B Sekolah Dasar Negeri Percobaan Malang yang mampu menjawab paling sedikit 80% pertanyaan yang berhubungan dengan kesadaran karier rata-rata 7,3% yaitu kurang lebih 3 orang siswa. Pada tahap perencanaan pembelajaran, guru melaksanakannya dengan baik. Hal itu tercermin dari (1) rencana disusun berdasarkan kurikulum, dan (2) penerapan teknik team games tournament dalam pelajaran IPS untuk meningkatkan kesadaran karier siswa kelas tiga Sekolah Dasar Negeri Percobaan Malang disusun dan diwujudkan dalam bentuk rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran disusun secara kolaboratif dengan peneliti yang terdiri dari (a) standar kompetensi, (b) kompetensi dasar, (c) indikator, (d) hasil belajar, (e) tujuan pembelajaran, (f) kegiatan pembelajaran, (g) media dan sumber belajar, (h) metode, dan (i) teknik penilaian. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, guru melakukannya dengan optimal. Guru telah melaksanakan pembelajaran team games tournament sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang telah disusun. Hasil analisis proses kegiatan guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran termasuk dalam kualifikasi baik sekali. Penggunaan pembelajaran team games tournament menciptakan kegiatan belajar mengajar yang aktif dan menyenangkan. Pada tahap penilaian, guru telah mampu melaksanakan secara komprehensif. Guru tidak hanya melaksanakan penilaian hasil tetapi juga melaksanakan penilaian proses. Penilaian proses direkam dengan menggunakan pedoman analisis kegiatan siswa. Sedangkan penilaian hasil dilakukan dengan menganalisis hasil perolehan poin pada setiap tahapan dengan menggunakan panduan penilaian.

Pengaruh persepsi bauran promosi terhadap keputusan pembelian (studi pada konsumen sepeda motor Honda Dealer Tirto Agung Blitar) / Mei Yanti

 

Kata Kunci:Bauran Promosi, Keputusan Pembelian Dalam era globalisasi sebuah perusahaan harus bertindak praktis dan ekonomis dalam usahanya untuk menguasai pangsa pasar seluas mungkin. Strategi pemasaran yang digunakan antara perusahaan satu dengan yang lain memang berbeda, hal ini dikarenakan pelaksanaan suatau strategi harus disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Perbedaan strategi tersebut misalnya terletak dari segi harga, kualitas, kegiatan promosi, penampilan produk yang menarik sampai pada pemberian hadiah setiap pembelian produk tersebut. Itu semua merupakan kebijakan yang dianggap paling baik dan sesuai dengan kondisi perusahaan tersebut, seperti pada penelitian ini yang akan meneliti tentang pengaruh persepsi bauran promosi merupakan strategi yang digunakan oleh salah satu perusahaan yaitu Dealer Tirto Agung Blitar yang diharapkan mampu untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh persepsi bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor Honda pada Dealer Tirto Agung Blitar selama tahun 2009. Pendekatan yang digunakan dalam penelitain ini adalah pendekatan deskriprif dan explanatory dengan rancanangan tersebut akan diketahui apakah ada pengaruh antara bauran promosi baik secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor Honda Dealer Tirto Agung Blitar. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas (X) bauran promosi (periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan tatap muka). Sedangkan variabel terikatnya adalah keputusan pembelian (Y). Populasi pada penelitian ini adalah konsumen yang membeli sepeda motor Honda di Dealer Tirto Agung Blitar pada tahun 2009. Teknik pengambilan sampel adalah Random Sampling dengan jumlah jumlah responden 100 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup atau kuesioner. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda, dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ada pengaruh positif signifikan antara periklanan (X1) dengan keputusan pembelian konsumen , nilai ini menunjukkan dengan B = 0,161, nialai thitung = 2,353 dengan tingkat signifikansi 0,021, (2) ada pengaruh positif signifikan antara promosi penjualan (X2) dengan keputusan pembelian konsumen , nilai ini menunjukkan dengan B = 0,095, nialai thitung = 2,370 dengan tingkat signifikansi 0,020, (3) ada pengaruh positif signifikan antara hubungan masyarakat (X3) dengan keputusan pembelian konsumen , nilai ini menunjukkan dengan B = 0,455, nialai thitung = 3,504 dengan tingkat signifikansi 0,001, (4) ada pengaruh positif signifikan antara penjualan tatap muka (X4) dengan keputusan pembelian konsumen , nilai ini menunjukkan dengan B = 0,164 , nialai thitung = 3,022 dengan tingkat signifikansi 0,003, (5) ada pengaruh positif signifikan periklanan (X1), promosi penjulan (X2), hubungan masyarakat (X3), penjualan tatap muka (X4) secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Deaaler Tirto Agung Blitar (Y) berdasarkan Fhitung = 40,224 dengan signifikansi 0,000. Berdasarkan penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah (1) Penjualan tatap muka harus lebih ditingkatkan lagi oleh Dealer Tirto Agung Blitar dengan cara memberikan pendidikan dan pelatihan kepada SPG dan SPB sehingga dapat melayani dan menjual produk dengan baik, mengingat pemasaran suatu produk sangat penting maka SPG dan SPB perlu dilakukan pengawasan dalam melakukan penjualan agar nama baik Dealer dan kualiatas produk tidak berkurang, (2) Periklanan yang dilakukan Dealer Tirto Agung Blitar ditingkatkan lagi dengan cara membuat konsep iklan lebih menarik lagi, misalnya iklan surat kabar dibikin menarik agar konsumen dapat terpengaruh terhadap iklan yang disampaikan, (3) Promosi penjulan Dealer Tirto Agung Blitar ditingkatkan lagi dengan cara memberikan souvenir agar konsumen lebih tertarik lagi dengan adanya pemberian souvenir dan melakukan keputusan pembelian, (4) Bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat meneliti serta memperluas area penelitian, selain itu diharapkan peneliti dapat menemukan variabel-variabel lain diluar penelitian ini.

Pengembangan paket pelatihan keterampilan membuka diri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa SMP Negeri 20 Malang / Eva Dwi Arimastuti

 

Kata Kunci : Pengembangan, Pelatihan, Keterampilan Membuka Diri, Komunikasi Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Usia remaja berkisar 12-18 tahun berada pada usia awal SMP dan SMA. Remaja memiliki peluang untuk membuat perilaku-perilaku baru di luar rumah. Pada usia ini remaja selalu mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab. Harapan untuk mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab ini lebih ditekankan pada masa SMP karena merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak. Sesuai dengan perkembangannya, remaja dituntut untuk lebih belajar menyesuaikan diri dalam hubungan sosial terutama dalam hal berkomunikasi. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak remaja yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial berkaitan dengan komunikasi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah difokuskan pada pengembangan media berupa paket pelatihan keterampilan membuka diri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa dan panduan penggunaan untuk konselor yang berterima secara teoritis dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan, dan kemenarikan. Tujuan penelitian yaitu untuk menghasilkan paket pelatihan keterampilan membuka diri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa dan panduan penggunaan untuk konselor yang berterima secara teoritis dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan, dan kemenarikan. Pengembangan paket pelatihan keterampilan membuka diri ini mengikuti tahapan pengembangan yang diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall. Tahapan ini meliputi: 1) analisis kebutuhan, 2) penetapan jenis materi, 3) perumusan tujuan umum dan tujuan khusus paket pelatihan, 4) penyusunan produk, 5) uji ahli materi dan ahli bahasa, 6) revisi, 7) uji calon pengguna produk, 8) uji kelompok kecil, 9) revisi, dan 10) produk akhir. Guna mengetahui paket pelatihan yang berterima secara teoritik maupun praktis, dilakukan uji validitas terhadap tiga (3) subyek yaitu ahli materi, ahli bahasa dan calon pengguna produk (tiga konselor SMP) sekaligus uji kelompok kecil (30 orang siswa kelas VIII SMP). Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah skala penilaian serta lembar saran. Adapun hasil pengisian skala penilaian dan lembar saran dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa paket pelatihan keterampilan membuka diri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa memiliki keberterimaan yang baik secara teoritis dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan, dan kemenarikan. Begitu juga dengan panduan penggunaan paket pelatihan memiliki keberterimaan yang baik secara teoritis dan praktis dari segi ketepatan, kegunaan, dan kemenarikan. Saran yang diberikan dalam hal ini yaitu berhubungan dengan pemanfaatan yaitu 1) konselor diharapkan menggunakan paket pelatihan keterampilan membuka diri ini untuk memberikan layanan BK, 2) konselor disarankan meminta bantuan konselor pendamping apabila kegiatan pelatihan dilakukan dalam kelas besar. Bagi peneliti selanjutnya yaitu 1) perlu diadakan uji lapangan utama, 2) perlu dibuat instrumen untuk mengetahui tingkat kemampuan berkomunikasi, 3) apabila paket pelatihan keterampilan membuka diri ini akan digunakan oleh selain siswa SMP Negeri 20 Malang, maka perlu adanya penyesuaian sesuai dengan kebutuhan siswa di sekolah yang bersangkutan.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian (Studi pada konsumen Rumah Makan Green Garden Pasuruan) / Aireen Restiana Nugraha

 

Kata kunci: Bauran Pemasaran, Perilaku Konsumen, Keputusan Pembelian. Perkembangan ekonomi dan bisnis ditandai oleh munculnya usaha-usaha baru yang memproduksi baik barang maupun jasa. Hal ini tidak lepas dari persaingan. Aspek bauran pemasaran sebuah usaha akan sangat berperan untuk dapat memberikan rasa tertarik membeli produk dan dapat memberikan kepuasan kepada konsumen secara lebih baik dari pesaingnya. Keadaan ini juga dialami oleh rumah makan Green Garden Pasuruan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi bauran pemasaran serta perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian; (2) Pengaruh bauran pemasaran (X) baik secara parsial maupun simultan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian (Y); (3) Elemen bauran pemasaran yang paling mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari produk (X1), harga (X2), lokasi (X3), dan promosi (X4) dan variabel terikatnya adalah perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian (Y). Penelitian ini bersifat deskriptif korelasional. Populasi yang diambil adalah konsumen yang telah melakukan pembelian produk di rumah makan Green Garden Pasuruan. Penentuan sampel menggunakan rumus infinite population dengan menggunakan  = 5%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 73 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dan menggunakan instrumen kuesioner tertutup dengan skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 30 responden. Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 13 for Windows. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) Responden setuju bahwa produk menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan pembelian, dengan jumlah persentase responden sebesar 63,01%; (2) Responden menyatakan cukup setuju bahwa harga, lokasi, dan promosi menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan pembelian dengan jumlah persentase responden masing-masing 46,57%, 58,90%, 52,05%; (3) Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan produk (X1) terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai Signifikansi t 0,287; (4) Terdapat pengaruh positif yang signifikan harga (X2) terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai Signifikansi t 0,001; (5) Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan lokasi (X3) terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai Signifikansi t 0,808; (6) Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan promosi (X4) terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai Signifikansi t 0,073; (7) Terdapat pengaruh produk (X1), harga (X2), lokasi (X3), dan promosi (X4) secara simultan terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai Signifikansi F 0,000; (8) Sub variabel dari bauran pemasaran yang paling berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian adalah harga dengan nilai sumbangan efektif sebesar 16,24%. Selain itu diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,391, yang berarti bahwa produk, harga, lokasi, promosi secara simultan mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian sebesar 39,1%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Sebagian besar responden menyatakan setuju bahwa kondisi produk menjadi pertimbangan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian; (2) Dinyatakan cukup setuju bahwa kondisi harga, lokasi, dan promosi menjadi pertimbangan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian; (3) Tidak terdapat pengaruh positif yang signifikan produk, lokasi, promosi; (4) Terdapat pengaruh positif yang signifikan harga terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian; (5) Elemen bauran pemasaran yang paling berpengaruh adalah harga. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Sebaiknya pihak rumah makan Green Garden Pasuruan mengadakan penambahan jenis produk secara berkala agar lebih variatif ataupun mendesain ulang tampilan produk yang sudah ada; (2) Membangun area bermain mini bagi anak-anak; (3) Membuka cabang di lokasi yang lain; (4) Membuat baliho atau menyebarkan brosur agar lebih banyak lagi masyarakat yang tertarik dan melakukan pembelian di rumah makan Green Garden Pasuruan.

Profil tenaga kerja wanita (TKW) yang pernah bekerja di luar negeri di Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung / Nur Isroatul Khusna

 

Kata kunci: profil, Tenaga Kerja Wanita (TKW) Rendahnya tingkat penghasilan dan kesempatan kerja menyebabkan sebagian penduduk wanita di Kecamatan Sendang melakukan mobilitas ke luar negeri untuk menjadi TKW. Setiap mobilitas dilakukan dengan mekanisme tertentu dan setibanya di tempat tujuan mengalami peran kehidupan yang berbeda dengan di daerah asal yaitu sebagai pekerja wanita di luar negeri. Dari kegiatan tersebut menghasilkan kiriman ke daerah asal (remiten) yang pada akhirnya mempengaruhi keadaan sosial ekonomi. Setiap pelaku migrasi yang pernah bekerja di luar negeri mempunyai ciri-ciri, situasi dan kondisi yang secara keseluruhan dapat memberi gambaran tentang TKW. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan karakterisrik demografi, sosial, dan ekonomi TKW, (2) Mendeskripsikan mekanisme rekruitmen TKW, (3) Menggambarkan kehidupan TKW selama bekerja di luar negeri, (4) Mendeskripsikan alokasi pemanfaatan remiten oleh keluarga TKW, (5) Mendeskripsikan transformasi pekerjaan TKW pasca bekerja di luar negeri. Penelitian ini berbentuk penelitian descriptive research dengan menggunakan metode survey. Populasi dalam penelitian ini adalah TKW di Kecamatan Sendang yang pernah bekerja di luar negeri dan berjumlah 138 responden. Sampel yang diambil sebanyak 100 responden dengan cara proporsional random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis tabulasi tunggal dan prosentase untuk memperoleh gambaran umum dari setiap variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Karakteristik demografi, sosial dan ekonomi TKW rerata berusia produktif dengan status kawin, berpendidikan minimal SMP/sederajat, jenis pekerjaan awal sebagai ibu rumah tangga tanpa mempunyai pendapatan pribadi dan pendapatan kepala keluarga tergolong rendah yaitu antara Rp.300.000,00-

Penggunaan media ular tangga untuk meningkatkan pemahaman dan aplikasi konsep norma kehidupan pada siswa kelas III SDN Jetis II Nganjuk / Suparmiati

 

Kata Kunci: Media ular tangga, Pemahaman dan aplikasi konsep norma Pembelajaran yang frekuensinya kurang. Hal ini diduga menjadi penghambat dalam proses pembelajaran yang hasil belajar belum mencapai ketuntasan minimal yang diharapkan yaitu 65 pada mata pelajaran PKn yang telah ditentukan oleh SDN Jetis II Nganjuk. Dengan demikian diperlukan media yang cocok digunakan untuk mendukung proses pembelajaran Pkn tentang moral. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran PKn tentang norma dengan menggunakan media ular tangga siswa dan Untuk mendiskripsikan penggunaan media ular tangga dalam meningkatkan pemahaman dan aplikasi konsep norma kehidupan pada siswa kelas III SDN Jetis II Nganjuk Penelitian dilaksanakan di kelas III SDN Jetis II sebanyak dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah 25 siswa yang terdiri dari 12 anak laki-laki dan 13 anak perempuan.Indikator keberhasilan siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65 % atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila dikelas tersebut terdapat 85 % yang telah mencapai rata-rata kelas 7,0. Hasil penelitian ini adalah dengan menggunakan media ular tangga pemahaman dan aplikasi konsep norma dalam kehidupan dapat ditingkatkan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang menunjukkan peningkatan dari siklus I diperoleh nilai dengan rata-rata 6,40 menjadi 9,12 pada akhir siklus II. Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media ular tangga pemahaman dan aplikasi konsep norma dapat ditingkatkan. Saran yang perlu disampaikan kaitannya dengan hasil penelitiaan ini adalah jika menggunakan media ular tangga dalam pembelajaran tentang norma hendaknya guru menguasai cara bermain ular tangga.

Analisis hubungan ketinggian terhadap temperatur di daerah ekuator dalam observasi metro vertikal dari data SPD Lapan Kototabang Sumatra Barat / Habibur Rido

 

Kata kunci : Temperatur, Ekuator, Atmosphere Semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), terutama dibidang industry, semakin tinggi pula aktivitas kegiatan manusia terutama dibidang industrialisasi dan sistem transportasi. Zat-zat polutan yang dikeluarkan dari kegiatan industri maupun transportasi tersebut tentu akan berpengaruh terhadap proses-proses fisika dan kimia yang terjadi di udara yang dapat menyebabkan perubahan parameter di atmosfer tentang : iklim global, perubahan komposisi atmosfer, serta peningkatan suhu udara serta hujan asam. Kototabang merupakan salah satu daerah yang berada pada garis ekuator. Di ekuator berpotensi terjadi fenomena parameter klimatologi. Observasi ozon vertical di ekuator berguna untuk meneliti sebesar mana proses absorbsi yang terjadi di ozon terhadap sinar UV. Dengan adanya lapisan ozon, sinar UV yang masuk ke bumi menjadi berkurang jumlah dan intensitasnya, karena sinar UV dalam jumlah yang besar akan membahayakan kehidupan makhluk hidup di bumi. Penyerapan ozon didaerah ekuator akan mempengaruhi perubahan Temperatur disekitar ekuator. Untuk mendapatkan data meteo secara vertikal, digunakan suatu metode meteo vertikal dengan menggunakan payload berupa Radiosonde RS 80 Vaisala, yang diterbangkan bersama balon karet. System pengiriman data meteo pada setiap level ketinggian, dilakukan menggunakan gelombang radio dengan frekuensi 400 MHz. Berdasarkan data dan hasil dari analisis data maka dapat diketahui Temperatur rata-rata tiap parameter ketinggian. Temperatur rata-rata pada ketinggian 0,8-5 km adalah 10.21386 0C. Temperatur rata-rata pada ketinggian 5,1-10 km adalah -17.1046 0C. Temperatur rata-rata pada ketinggian 10,1-15 km adalah -53.32840C. Temperatur rata-rata pada ketinggian 15,1-20 km adalah -79.8704 0C. Temperatur rata-rata pada ketinggian 20,1-25 km adalah -60.58460C. Temperatur rata-rata pada ketinggian 25,1-31,1 km adalah -51,55710C.

Pengaruh media berbasis komputer dalam model pembelajaran stad terhadap prestasi dan motivasi belajar siswa kelas X MAN 3 Malang pada materi senyawa hidrokarbon / Afrida Nur Diana

 

Kata kunci : STAD, media berbasis komputer, prestasi, motivasi, senyawa hidrokarbon Perubahan paradigma dalam dunia pendidikan dari behaviorisme menjadi konstruktivisme diiringi dengan ditemukan dan diterapkannya model-model pembelajaran inovatif dan konstruktif. Salah satu strategi pembelajaran inovatif-konstruktif yang memberikan dampak positif baik pada kualitas proses dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di MAN 3 Malang, diketahui bahwa prestasi dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran kimia termasuk materi senyawa hidrokarbon tergolong rendah. Salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan diterapkannya model STAD (Student Teams Achievement Divisions) berbantuan media berbasis komputer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi dan motivasi belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model STAD berbantuan media berbasis komputer dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model STAD, serta mengetahui pelaksanaan pembelajaran dengan model STAD tanpa dan dengan bantuan media berbasis komputer. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design). Populasi penelitian adalah siswa kelas X MAN 3 Malang. Sedangkan sampel penelitian adalah kelas X.E dan X.G yang diambil dengan cara undian kelas. Instrumen yang digunakan adalah tes yang terdiri dari 30 butir soal yang valid dengan reliabilitas α = 0,881. Analisis data dilakukan menggunakan uji-t dan uji-U dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows . Sedangkan pelaksanaan pembelajaran dengan model STAD tanpa dan dengan media berbasis komputer dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi dan motivasi belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan menggunakan STAD berbantuan media berbasis komputer dengan siswa yang dibelajarkan mengguna-kan model STAD. Nilai rata-rata prestasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model STAD berbantuan media berbasis komputer (83) lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan dengan model STAD (77). Nilai rata-rata motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model STAD berbantuan media berbasis komputer (102) lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan dengan model STAD (97). Pelaksanaan pembelajaran dengan model STAD tanpa dan dengan bantuan media berbasis komputer berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan afektif siswa yang dibelajarkan dengan model STAD berbantuan media berbasis komputer mempunyai kriteria sangat baik+baik (84%) lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan dengan model STAD (72%). Persentase keterlaksanaan unsur-unsur pembelajaran kooperatif diatas 80%. Sedangkan jumlah kelompok super selalu lebih banyak dari jumlah kelompok hebat dan kelompok baik. KATA PENGANTAR

Meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Malang melalui pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament / Fajar Dhilamaya

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), motivasi belajar. Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan pada bulan April 2010 dengan guru Matematika SMP Negeri 1 Malang kelas VII B diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi guru dan siswa masih pasif, hanya siswa yang pandai yang mendominasi kegiatan pembelajaran. Metode yang biasa diterapkan guru adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan diskusi. Saat diskusi kelompok, suasana kelas terlihat gaduh akibat banyak siswa yang berbicara tentang hal-hal di luar materi pelajaran. Hal tersebut menunjukkan motivasi belajar siswa masih kurang dan perlu ditingkatkan. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Malang, dengan subjek siswa kelas VII B yang berjumlah 30 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Teknik pengumpulan data motivasi belajar siswa menggunakan angket motivasi belajar dan lembar observasi motivasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi keliling dan luas segi empat dan segitiga di kelas VII B SMP Negeri 1 Malang. Pembelajaran tipe TGT terdiri dari lima tahap, yaitu (1) presentasi di kelas, (2) tim, (3) games, (4) turnamen, dan (5) rekognisi tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran TGT meningkat dari siklus I ke siklus II baik dilihat dari angket maupun lembar observasi motivasi. Berdasarkan angket motivasi sebelum tindakan, persentase skor klasikal adalah 73,61% dengan kategori cukup. Pada siklus I persentase skor klasikal meningkat menjadi 76,34% dengan kategori baik, dan pada siklus II meningkat menjadi 77,13% dengan kategori baik. Berdasarkan lembar observasi motivasi belajar matematika, pada siklus I persentase keberhasilan motivasi adalah 76% dengan kategori baik. Pada siklus II persentase keberhasilan meningkat menjadi 87,10% dengan kategori sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada pokok bahasan atau mata pelajaran yang lain.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan prestasi belajar IPS materi perkembangan teknologi, pada siswa kelas IV SDN Duren II Nganjuk / Nurul Anwar

 

Kata-kata kunci : Pembelajaran jigsaw, IPS, Perkemabngan Teknologi Menurut Saidiharjo (1996:4) IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti : geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik. Dalam pembelajaran yang terjadi di SD pada mata pelajaran IPS khususnya materi perkembangan teknologi, guru lebih banyak mendominasi proses pembelajaran, sehingga siswa hanya pasif dalam pembelajaran. Hal tersebut memposisikan IPS sebagai hafalan belaka sehingga siswa merasa bosan dan berdampak rendahnya prestasi belajar. Berdasarkan masalah tersebut diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar IPS materi Perkembangan Teknologi pada siswa kelas IV SDN Duren II? 2. Apakah pembelajaran jigsaw dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran? Untuk membahas masalah tersebut, maka dilakukan penelitian tindakan kelas IV di SDN Duren II kecamatan Sawahan, kabupaten Nganjuk tahun pembelajaran 2009/2010 yang berjumlah 20 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah minimal 75% siswa memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu mendapatkan nilai ≥70 dan peran serta siswa yang aktif dalam pembelajaran mencapai 80 %, baik itu aktif bertanya, berpendapat ataupun menjawab pertanyaan telah tercapai. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran jigsaw telah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SDN Duren II Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk pada materi peninggalan bersejarah Indonesia. Peningkatan nilai dari nilai rata-rata 59,8 meningkat menjadi 77,6 serta ada peningkatan aktivitas belajar siswa.disarankan bagi pendidik untuk menggunakan model pembelajaran yang inovatif termasuk pembelajaran jigsaw.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |