Kajian terhadap intensitas terjadinya resiko-resiko dalam proyek konstruksi bangunan gedung di Surabaya / Yeni Farika Rahmawati

 

Kinerja mandor pada proyek pembangunan gedung di Surabaya / Erliyanty Safitrie

 

Hubungan antara kegemaran menonton televisi dan kegiatan belajar di rumah pada siswa SDN 1 Pesanggaran Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi / Ari Astuti

 

Studi pelaksanaan pondasi footplat setempat, kolom dan balok serta analisa biaya pada pembangunan gedung rumah sakit lavalette Malang / Firman Nur Hakim

 

Kata Kunci: Pelaksanaan Pondasi Footplat, Kolom, dan Balok serta Analisa Biaya Struktur bangunan merupakan bagian terpenting dari suatu bangunan untuk menentukan kokoh dan tidaknya suatu bangunan tersebut. Pondasi footplat, kolom dan balok adalah salah satu elemen struktur suatu bangunan. Maka dari itu dalam mendirikan bangunan memerlukan metode dan pengawasan yang ketat. Seperti pada bangunan Gedung Rumah Sakit Lavalette Malang. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode pelaksanaan pondasi footplat, kolom dan balok beserta perbedaan RAB yang dihitung oleh kontraktor bid price dengan biaya pelaksanaan riil dilapangan atau cost budget. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan beton khususnya pekerjaan pondasi footplat, kolom dan balok dilapangan. Metode pengumpulan data yaitu metode dokumentasi dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil studi pelaksanaan pondasi footplat, kolom dan balok adalah sebagai berikut. Pekerjaan kolom dan balok dimulai dari pekerjaan persiapan, penulangan, bekisting, pengecoran, pembongkaran bekisting dan perawatan beton umumnya telah sesuai dengan teori. Sedangkan masih terdapat ketidaksesuaian pada tahapan pelaksanaan dilapangan. Untuk analisa biaya terdapat perbedaan antara yang ada pada Rencana Anggaran Biaya yang berdasarkan perhitungan kontraktor bid price yang dihitung dengan metode SNI 2008 dengan Rencana Anggaran Pelaksanaan riil dilapangan Cost Budget. Sehingga terdapat selisih Rp 8.328.000,00. yang merupakan keuntungan dari kontraktor. Berdasarkan studi ini dapat disarankan dalam pelaksanaan pekerjaan pondasi footplat, kolom dan balok beton agar dilakukan sesuai dengan gambar.

Peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas XI IPA 2 SMAN Darussholah Singojuruh Banyuwangi melalui metode think pair share / Galuh Azizatus Samawati

 

Kata kunci: peningkatan, berbicara, Think Pair Share. Berbicara diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan interaksi antarsesama manusia. Kegiatan pembelajaran berbicara diperlukan untuk membina kemampuan berbicara. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan, diketahui pelaksanaan pembelajaran berbicara belum maksimal. Hal tersebut tampak pada hasil kemampuan berbicara siswa ketika tampil di depan kelas yang masih rendah. Performansi yang ditampilkan kurang sesuai, seperti mimik yang tidak tepat, gestur yang salah, dan keberanian yang kurang. Bahasa yang digunakan juga tidak tepat, terdapat beberapa kata dalam bahasa jawa yang diucapkan siswa. Karena performansi dan bahasa yang tidak tepat maka isi yang disampaikanpun menjadi tidak maksimal. Untuk meningkatakan kemampuan berbicara khususnya menyampaikan uraian topik artikel, diperlukan sebuah metode pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan metode Think Pair Share (TPS). Metode Think Pair Share mengajak siswa berpikir mendalami suatu masalah dan merespon, serta saling membantu satu sama lain sehingga dengan saling merespon, keterampilan berbicara siswa terasah dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada tiga aspek, yakni (1) aspek isi, (2) aspek penggunaan bahasa, dan (3) aspek performansi dalam pembelajaran berbicara melalui metode Think Pair Share (TPS). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi pembelajaran tersebut. Penelitian ini meliputi lima hal pokok yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan,(3) pelaksanaan tindakan, (4) observasi, dan (5) refleksi hasil tindakan. Penelitian ini berlokasi di SMAN Darussholah Singojuruh Banyuwangi, lebih dikhusukan pada kelas XI IPA 2. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas XI IPA 2 SMAN Darussholah Singojuruh Banyuwangi. Rancangan penelitian dilaksanakan dari studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti dan guru bidang studi. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Pembelajaran yang dilakukan pada siklus I bertitik tolak pada permasalahan yang ditemukan saat studi pendahuluan. Pelaksanaan pembelajaran yang dipaparkan meliputi kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Tindakan siklus II dilakukan untuk memperbaiki dan menemukan solusi dari permasalahan yang ditemukan pada siklus I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Think Pair Share dalam pembelajaran berbicara dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas XI IPA 2 SMAN Darussholah Singojuruh Banyuwangi. Pada siklus I, diperoleh rata-rata kelas 77, sedangkan pada siklus II diperoleh rata-rata kelas 85. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam pembelajaran berbicara pada aspek isi siklus I, persentase siswa yang memperoleh kualifikasi sangat baik sebesar 15% atau 4 siswa, yang memperoleh kualifikasi baik sebesar 59% atau 16 siswa, yang memperoleh kualifikasi cukup sebesar 15% atau 4 siswa, dan yang memperoleh kualifikasi kurang sebesar 11% atau 3 siswa. Pada siklus II, tidak terdapat siswa yang masuk dalam kualifikasi kurang dan cukup. Siswa terbagi dalam dua kualifikasi saja, yaitu sangat baik dan baik. Persentase siswa yang memperoleh kualifikasi sangat baik sebesar 37% atau 10 siswa, sedangkan persentase siswa yang memperoleh kualifikasi baik sebesar 63% atau 17 siswa. Berdasrkan hasil yang diperoleh dalam pembelajaran berbicara pada aspek penggunaan bahasa siklus I, persentase siswa yang memperoleh kualifikasi sangat baik sebesar 11% atau 3 siswa, yang memperoleh kualifikasi baik sebesar 78% atau 21 siswa, dan yang memperoleh kualifikasi cukup sebesar 11% atau 3 siswa. Pada siklus II, kualifikasi siswa terbagi dalam dua kategori, yaitu sangat baik dan baik. Persentase siswa yang memperoleh kualifikasi sangat baik sebesar 44% atau 12 siswa, sedangkan persentase siswa yang memperoleh kualifikasi baik sebesar 66% atau 15 siswa. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam pembelajaran berbicara pada aspek performansi, pada siklus I persentase siswa yang memperoleh kualifikasi sangat baik sebesar 11% atau 3 siswa, yang memperoleh kualifikasi baik sebesar 70% atau 19 siswa, yang memperoleh kualifikasi cukup sebesar 11% atau 3 siswa, dan yang memperoleh kualifikasi kurang sebesar 8% atau 2 siswa. Pada siklus II, tidak terdapat siswa yang masuk dalam kualifikasi kurang dan cukup. Siswa terbagi dalam dua kualifikasi, yaitu sangat baik dan baik. Persentase siswa yang memperoleh kualifikasi sangat baik sebesar 44% atau 15 siswa, sedangkan persentase siswa yang memperoleh kualifikasi baik sebesar 56% atau 12 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh data bahwa penggunaan metode Think Pair Share mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran berbicara pada aspek isi, aspek penggunaan bahasa, dan aspek performansi. Oleh karena itu, disarankan bagi guru untuk menggunakan metode Think Pair Share dalam pembelajaran berbicara atau pembelajaran yang lainnya. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran yang lain di samping metode Think Pair Share. Selain itu, penelitian ini juga dapat dikaji lebih mendalam lagi dengan menggunakan kriteria, evaluasi, dan pendekatan yang berbeda mengenai upaya meningkatkan kemampuan berbicara. Dengan demikian, hasil penelitian selanjutnya dapat memperkaya pengetahuan mengenai upaya meningkatkan kemampuan berbicara.

Fenomena klik remaja pada siswa kelas IX.G (Studi kasus di SMP Negeri 1 Blitar) / Retno Siswi Palupi

 

Kata Kunci: Fenomena, Klik, Remaja, Siswa SMP. Klik remaja adalah fakta sosial yang telah terjadi di kalangan anak sekolah. Keberadaan klik remaja relatif mudah berkembang dan sulit dipisahkan dari kehidupan remaja, terutama di lingkungan sekolah yang merupakan tempat bertemunya dengan teman-teman sebaya dan tempat menghabiskan separuh waktu mereka. Fenomena tersebut juga terjadi di SMP Negeri 1 Blitar dimana terdapat sebuah klik yang terkenal yaitu Tjah Mpough. Klik Tjah Mpough membentuk polaritas tertentu sehingga bisa dikenal di kalangan sekolah dan luar sekolah. Oleh karena itu diperlukan penelitian ini agar menggambarkan fenomena klik remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan (1) pandangan terhadap klik Tjah Mpough, (2) perilaku kekhasan yang terlihat dari klik Tjah Mpough yang dijadikan sensasi agar dikenal di lingkungan sekolah bahkan sampai ke sekolah, (3) interaksi internal dan eksternal dari sebuah klik Tjah Mpough sehingga bisa dikenal di lingkungan sekolah bahkan sampai ke sekolah lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Studi kasus. Data penelitian yang digunakan berasal dari hasil observasi peneliti yang dilakukan di SMP Negeri 1 Blitar, hasil wawancara dengan para informan yaitu anggota Tjah Mpough, siswa, guru, dan konselor. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri, untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat diperoleh tiga simpulan yaitu: Pertama, Tjah Mpough yang membentuk polaritas yang anggotanya memiliki kesamaan hobi dan minat di bidang basket dan band, rasa solidaritas yang tinggi diantara anggotanya, selain itu nama Tjah Mpough secara tidak sengaja diberikan oleh seorang guru yang sering memanggil mereka Mpough. Kedua, perilaku kekhasan yang paling menonjol yaitu pembuatan kaos yang didesain khusus untuk anggota TJMC yang dipakai sebagai identitas komunitas tersebut. Ciri khas lain dari Tjah Mpough adalah para anggotanya memberikan akhiran Tjah Mpough di belakang akun facebook mereka. Tjah Mpough juga membuat fanspage yang berisi kegiatan dan dokumentasi mereka. Ketiga, interaksi yang dilakukan Tjah Mpough sangat luas tidak hanya terbatas dengan teman anggotanya saja tetapi juga dengan teman-teman lainnya baik adik kelas maupun siswa dari sekolah lain.

Analisis ketidakakuratan representasi objek matematika pada buku matematika bilingual SMP kelas VIII / Ayu Wulandari

 

Kata kunci: analisis, ketidakakuratan, representasi objek matematika, buku teks matematika bilingual. Buku teks matematika merupakan salah satu media penyampaian representasi objek matematika. Oleh karena itu sehingga representasinya pada buku harus akurat. Tetapi terdapat ketidakakuratan representasi objek matematika pada beberap buku, khususnya buku bilingual. Untuk menggunakan buku teks matematika secara efektif, para pembaca harus mengetahui ketidakakuratan representasi matematika pada buku. Hal ini menyebabkan peneliti melakukan analisis ketidakakuratan representasi objek matematika pada 3 buku teks matematika bilingual SMP Kelas VIII, yaitu WA, CA, dan MA. Ketidakakuratan representasi objek matematika yang dimaksud adalah kekurangan representasi objek matematika, kesalahan representasi fakta, konsep, keterampilan, dan prinsip. Dengan penelitian ini, guru dan peserta didik dapat memperoleh informasi sehingga dapat menghindari atau bahkan memberikan pembenaran dari kesalahan yang ada pada buku teks. Hasil penelitian menunjukkan kekurangan representasi objek matematika terdapat 5 pada WA dan tidak terjadi pada CA dan MA. Kesalahan fakta terdiri dari: a) penggunaan simbol yang tidak tepat terdapat 4 pada WA, 5 pada CA , dan 4 pada MA; b) ketidakbermaknaan simbol terjadi 4 kali pada WA dan 1 pada MA, sedangkan pada CA tidak ada; c) terdapat 1 kesalahan penggunaan istilah matematika pada WA dan 1 pada MA, namun tidak terdapat pada CA; d) kesalahan penggunaan istilah berbahasa Inggris ada 2 pada WA, 1 pada CA, dan 6 pada MA. Sedangkan kesalahan fakta : a) kesalahan definisi tidak ditemukan pada WA, ada 1 pada CA, dan 4 pada MA; b) kesalahan pada hirarki konsep ditemukan sebanyak 1 pada WA dan tidak ditemukan pada CA dan MA; c) ketidaktaatan kesemestaan terdapat 5 pada WA, 6 pada CA, dan 3 pada MA; c) kesalahan penggunaan konsep pada suatu operasi ditemukan 1 pada WA dan 1 pada MA, sedangkan pada CA tidak ada. Kesalahan keterampilan terdiri dari: a) informasi pada soal tidak benar terdapat 3 pada WA, 2 pada CA, dan 1 pada MA; b) informasi pada soal dan proses pengerjaan tidak koheren ditemukan sebanyak 4 pada CA dan tidak ditemukan pada WA dan MA; c) terdapat 7 kesalahan prosedural pada WA, 1 pada CA, dan tidak ditemukan pada MA; d) kesalahan representasi geometri ditemukan sebanyak 2 pada WA, 2 pada CA, dan 1 pada MA; d) kesalahan representasi tabel terdapat 1 pada WA dan tidak ditemukan pada CA dan MA. Sedangkan kesalahan prinsip terjadi hanya 1 pada WA dan 1 pada CA. Baik pada WA, CA, maupun MA, klasifikasi ketidakakuratan representasi objek matematika yang paling banyak terjadi adalah penggunaan simbol yang tidak tepat dan ketidaktaatan kesemestaan. Ketidakakuratan ini terjadi karena dilakukan pembulatan dan dua buah sudut atau dua ruas garis dihubungkan oleh relasi “=”. Selain itu juga disebabkan suatu sudut atau ruas garis dan bilangan yang menyatakan ukurannya dihubungkan oleh relasi “=”.

Peningkatan kemampuan menulis geguritan siswa kelas VIII SMPN 1 Campurdarat tahun ajaran 2010/2011 dengan menggunakan metode experiental learning / Marista Dwi Rahmayantis

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, geguritan, experiential learning Keterampilan menulis pada pelajaran Bahasa Jawa yang diajarkan untuk siswa kelas VIII salah satunya adalah menulis geguritan (puisi bebas). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis geguritan belum dilaksanakan secara baik sehingga menyebabkan pembelajaran tidak bisa dilaksanakan secara maksimal. Dari observasi yang dilakukan di SMPN 1 Campurdarat ditemukan masalah dalam pembelajaran keterampilan menulis geguritan. Masalah utamanya adalah siswa sulit menyesuaikan judul dengan isi geguritan, pemilihan diksi, penggunaan penginderaan, dan bahasa figuratif dalam penulisan geguritan. Kesulitan tersebut menyebabkan rendahnya mutu dan kualitas tulisan siswa dalam menulis geguritan. Penelitian ini bermaksud meningkatkan kemampuan menulis geguritan siswa kelas VIII SMPN 1 Campurdarat dengan menggunakan metode experiential learning. Dalam metode experiential learning terdapat empat tahap, yaitu yaitu (1) pengalaman konkret, siswa memperoleh atau mengingat pengalaman yang mereka alami, (2) refleksi; merefleksikan, mendeskripsikan, menentukan hal yang menarik, dan belajar dari salah satu pengalaman yang menarik tersebut, (3) berpikir abstrak, dan (4) penerapan. Penelitian yang dilaksanakan di SMPN 1 Campurdarat ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas tersebut dilaksanakan pada dua siklus, siklus I dan siklus II. Siswa yang diamati sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas VIIIF berjumlah 41 siswa dengan rincian 19 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang baik pada kemampuan menulis geguritan siswa kelas VIII SMPN 1 Campurdarat setelah menggunakan metode experiential learning. Hasil pretes menunjukkan 92% siswa memperoleh nilai di bawah 75. Hasil tersebut belum mencapai standar ketuntasan minimal (SKM). Persentase rata-rata kemampuan menulis geguritan pada siklus I adalah 68% dengan jumlah siswa yang dikategorikan belum tuntas sebanyak 14 siswa. Aspek yang belum dapat dicapai siswa dengan baik adalah pada aspek penggunaan bahasa figuratif. Sedangkan pada siklus II, persentase rata-rata kemampuan menulis geguritan siswa mencapai 100%. Pada siklus ini siswa dikategorikan telah berhasil dan mencapai SKM yang disyaratkan. Dari data persentase rata-rata kemampuan menulis geguritan siswa mengalami peningkatan sebesar 32% pada siklus II. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode experiential learning dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis geguritan siswa kelas VIII.

Pengembangan modul pelajaran biologi kelas VII semester 2 SMPN 13 Malang / Maria Genitrix Suryani

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul, pembelajaran Biologi Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Permasalahan yang sering dijumpai selama ini adalah banyak guru yang cendrung memperhatikan kelas secara keseluruhan (klasikal), tidak perorangan atau individu, sehingga perbedaan individual kurang diperhatikan. Sementara tiap anak memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan adanya hal tersebut membuat siswa yang cepat belajar menjadi bosan di kelas sedangkan siswa yang lamban semakin sulit mengejar ketertinggalannya. Untuk mengatasi permasalahan di atas pengembang mencoba mengembangkan modul Pembelajaran sistem kontrak. Dengan pembelajaran modul peserta didik dapat belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan, kesempatan dan gaya belajar masing-masing. Di sini peranan guru akan berubah adalah sebagai manajer yang bertugas untuk menyiapkan dan mengondisi kemudahan belajar anak, sebagai observer yang bertugas untuk mendiagnosis kesulitan belajar anak dan selanjutnya membantunya, serta evaluator yang bertugas untuk menilai tingkat penguasaan anak terhadap tujuan pembelajaran. Adapun tujuan dari pengembangan yaitu untuk menghasilkan produk berupa Modul Pembelajaran Sistem Kontrak Mata Pelajaran Biologi Kelas VII Semester 2 SMPN 13 Malang, memvalidasi modul untuk menguji tingkat kelayakannya. Metodologi dalam pengembangan ini menggunakan adaptasi model pengembangan Sadiman yang terdiri dari 9 langkah, yaitu (1) mengidentifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) merumuskan materi, (4) merumuskan alat keberhasilan, (5) menyusun naskah/story board dan storyline, (6) memproduksi, (7) memvalidasi, (8) merevisi (9) produk siap dimanfaatkan. Hasil instrument penilaian oleh evaluator menunjukkan bahwa: (1) ahli media menilai modul yang dikembangkan memenuhi kriteria valid/ layak dengan persentase 91% , (2) ahli materi menilai modul yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid/ sangat layak dengan persentase 86%, (3) audiens perseorangan menilai modul media yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid/ sangat layak dengan persentase 90.7%, (4) audiens kelompok kecil menilai modul media yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid/ sangat layak dengan persentase 86%, (5) audiens klasikal menilai modul media yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid/ sangat layak dengan persentase 87.4% . Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa modul yang dikembangkan termasuk dalam kriteria sangat valid dan sangat layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran Biologi kelas VII semester 2 di SMPN 13 Malang. Hasil uji coba pre test maupun post test yang diberikan kepada siswa kelas VII Semester 2 di SMPN 13 Malang untuk mengetahui kelayakan, kefektifan dan keefisien penggunaan modul ini menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar siswa setelah menggunakan modul persentase peningkatan hasil belajar (1) uji coba perseorangan sebesar 30%, (2) uji coba kelompok kecil sebesar 18% (3) uji coba klasikal sebesar 17.1%. Berdasarkan saran dari evaluator dilakukan revisi untuk menyempurnakan modul diantaranya memperbesar logo UM, memperbaiki tata letak penulisan dan konsisten dalam menggunakan angka romawi dalam tiap penggalan 1-4 dan latihan ulangan dalam tiap penggalan 1-4, serta menjelaskan tujuan penelitian kepada siswa-siswi, sehingga lebih termotivasi untuk mempelajari modul. Agar modul Biologi untuk kelas VII semester 2 yang telah direvisi dapat lebih bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran, maka ada beberapa saran berkaitan dengan pengembangan modul pelajaran Biologi kelas VII semester 2 sebagai berikut: 1. Bagi guru a. Guru dapat mengoptimalkan modul hasil pengembangan dengan memanfaatkan dan mengikuti petunjuk yang ada dalam petunjuk guru b. Guru hendaknya selalu mengontrol proses belajar siswa serta membantunya apabila peserta didik menemukan kesulitan c. Guru diharapkan siap dengan program pengayaan bagi siswa yang cepat mempelajari modul dan memberi bimbingan dan memantau bagi siswa yang mengalami kesulitan d. Guru diharapkan dapat menjadi fasilitator belajar siswa, manusia sumber dan sebagai pembimbing e. Guru hendaknya menyediakan waktu untuk kegiatan konsultasi atau diskusi tentang materi dengan siswa 2. Bagi siswa a. Siswa dapat mengoptimalkan modul hasil pengembangan dengan mempelajari sesuai dengan petunjuk yang ada b. Siswa disarankan untuk belajar secara mandiri sesuai kecepatan, kesempatan dan cara belajarnya masing-masing c. Siswa hendaknya segera bertanya pada guru apabila mengalami kesulitan dalam memahami modul agar tidak tertinggal jauh dengan teman yang lain 3. Bagi pengembangan lanjutan Perlu adanya pengembangan modul dengan materi lain yang lebih menarik dan lebih sempurna sehingga dapat digunakan sebagai penunjang (bahan ajar) dalam proses pembelajaran Biologi.

Peningkatan keterampilan berbicara dengan media gambar pada siswa kelas II SDN Modangan 01 Kabupaten Blitar / Gogot Agus Triyono

 

Kata kunci: keterampilan, berbicara, media gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan media gambar dalam meningkatkan pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas II SDN Modangan 01 kabupaten Blitar. Selain itu, setelah mendeskripsikan gambar dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II SDN Modangan 01 Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian menggunakan rancangan dari Kemmis dan Taggart. Tahap pelaksanaannya meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanankan di SDN Modangan 01 Kabupaten Blitar pada siswa kelas II. Data dan sumber data diambil dari seluruh aktifitas dan hasil pembelajaran siswa. Adapun pengumpulan data diambil dari hasil observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Prosedur penelitian ini melalui tahapan pra tindakan, siklus I, dan dilanjutkan Pelaksanaan siklus II. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Modangan 01 Kabupaten Blitar dengan media gambar. Peningkatan keterampilan berbicara terjadi baik secara individu maupun klasikal. Peningkatan rata-rata prestasi belajar peserta didik secara individu pada pra tindakan yaitu 64,17 % meningkat menjadi 67,25 % pada siklus I, kemudian dari siklus I yaitu 67,25 % meningkat menjadi 80,58 % pada siklus II. Sedangkan secara klasikal pada pra tindakan yaitu 17 % meningkat menjadi 58 % pada siklus I, kemudian dari siklus I yaitu 58 % meningkat menjadi 92 % pada siklus II. Sehingga ada 10 peserta didik yang tidak tuntas pada pra tindakan, ada 5 peserta didik yang tidak tuntas pada siklus I, dan 1 peserta didik yang tidak tuntas pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan yaitu bagi para guru untuk menggunakan media gambar pada pembelajaran berbicara, bagi sekolah untuk lebih bekerja keras dalam meningkatkan mutu pendidikan secara kreatif daninovatif, bagi pemerintah untuk memberikan motivasi dan sarana prasarana yang mendukung pada sekolah, dan bagi peneliti lain agar menggunakan media gambar dalam penelitiannya tentang pembelajaran berbicara.

Penerapan media domino pada pembelajaran keterampilan berbicara kelas XI Progfram Pilihan SMAN I Malang / Fransiskus Dosi

 

Dosi, Fransiskus. 2013. Penerapan Media Domino pada pembelajaran Keterampilan Berbicara Kelas XI Program Pilihan SMAN I Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dewi Kartika Ardiyani, S.Pd., M.Pd., (II) Iwa Sobara, M.A. Kata Kunci: Media, Media Domino,Keterampilan Berbicara Media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan untuk memudahkan pengajar dalam menyampaikan maksud atau tujuan pembelajaran. Bentuk media yang inovatif dan kreatif dapat membantu menumbuhkan semangat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga siswa mampu memahami isi materi pembelajaran. Salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah media domino. Media Domino merupakan salah satu media konvensional yang diadaptasi dari permainan Kartu Domino. Tema yang digunakan dalam penerapan media ini adalah tema Hobby dengan materi „trennbare Verben”. Media domino terdiri dari dua sisi. Sisi yang pertama berisi Vorsilbe (kata awalan) dan sisi kedua berisi Verben (kata Kerja). Dalam permainan ini, siswa tidak hanya menyusun kartu sesuai pasangannya masing-masing, melainkan juga membuatnya dalam kalimat. Kalimat yang telah dibuat tersebut disampaikan secara lisan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan Media Domino pada pembelajaran keterampilan berbicara kelas XI Program Pilihan SMAN I Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Pilihan SMAN I Malang yang berjumlah 18 orang. Data pada penelitian ini adalah hasil observasi dan hasil angket siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi dan angket, sedangkan teknik analisis dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sangat antusias dan termotivasi mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media Domino. Hasil angket siswa menunjukan, sebagian besar siswa berpendapat bahwa media domino sangat menarik. Selain itu, mereka juga berpendapat bahwa media domino ini sangat cocok untuk diterapkan pada pembelajaran bahasa Jerman, khususnya pada pembelajaran keterampilan berbicara. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa media domino sangat tepat digunakan pada pembelajaran bahasa Jerman siswa kelas XI Program Pilihan SMAN I Malang.

Pengaruh metode trifokus Steve Snyder terhadap kecepatan efektif membaca siswa kelas 5 SDN Bakalan Krajan 1 Malang / Ana Rahmawati

 

Kata kunci : metode Trifokus Steve Snyder, kecepatan efektif membaca (KEM), SD. Di era globalisasi berbagai macam bacaan semakin bertambah, sementara waktu yang dimiliki seseorang tidak bertambah. Diperlukan satu metode membaca cepat sederhana yang mengena agar siswa SD tidak kesulitan menerapkannya. Metode Trifokus Steve Snyder adalah metode membaca cepat sederhana yang efektif dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam membaca cepat sekaligus memahami isi bacaan. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui KEM siswa kelas V SDN Bakalan Krajan 1 Malang sebelum penggunaan metode Trifokus Steve Snyder (2) mengetahui KEM siswa kelas V SDN Bakalan Krajan 1 Malang sesudah penggunaan metode Trifokus Steve Snyder (3) mengetahui pengaruh penggunaan metode Trifokus Steve Snyder terhadap KEM siswa kelas V SDN Bakalan Krajan 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan quasi eksperimen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Data nilai diambil dari hasil pretes dan postes pemahaman terhadap bacaan yang telah dibaca siswa sampel, sedangkan kecepatan efektif membaca diambil dari tes kecepatan membaca per menit. Analisis data menggunakan t-test dengan membandingkan nilai pretes maupun postes. Data hasil penelitian dianalisis dengan bantuan SPSS 16 for Windows. Penelitian ini memilih siswa kelas V SDN Bakalan Krajan 1 Malang sebagai populasi dengan jumlah 105 siswa. Sampel penelitian ini yaitu kelas V A dan V C yang berjumlah total sebanyak 69 siswa. Rata-rata nilai pretes siswa kelas eksperimen adalah 55,91, sedangkan rata-rata KEM siswa adalah 86,7 kpm. Rata-rata nilai postes siswa kelas eksperimen adalah 68,48, sedangkan rata-rata KEM siswa adalah 120,12 kpm. Hal itu menunjukkan adanya pengaruh nilai tes dan KEM pada siswa setelah penggunaan metode Trifokus Steve Snyder. Perhitungan uji t diperoleh t hitung = 3,029 untuk t tabel dengan α = 0,05 dan df = 69 - 1 = 68, diperoleh t tabel = 1,645 (digunakan df ∞ karena angka 68 tidak terdapat pada tabel t). sehingga t hitung > t tabel yaitu 3,029 > 1,645 (Ha diterima). Dari kriteria pengujian, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai postes kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kesimpulannya adalah penggunaan metode Trifokus Steve Snyder berpengaruh positif terhadap KEM siswa kelas V SDN Bakalan Krajan 1 Malang. Diharapkan metode ini dapat diterapkan secara berkelanjutan agar siswa mampu melatih kemampuannya dalam membaca cepat sehingga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa yang lain.

Gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo / Tutik Hidayati

 

Kata kunci: Gaya belajar Santri, Pondok Pesantren, Wawasan Kebangsaan. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren diharapkan mampu memfasilitasi komunitas belajar dalam hal ini santri dalam mengenyam atau menuntut ilmu baik ilmu yang bersifat duniawi maupun ukhrowi dalam konteks Indonesia. Semua lembaga pendidikan termasuk pesantren harus memiliki wawasan yang tidak bisa dipisahkan dengan wawasan nasional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kinerja belajar santri seharusnya mencerminkan gaya-gaya belajar yang bisa mendukung bagi tercapainya tuntutan menuntut ilmu termasuk juga tuntutan untuk memiliki wawasan kebangsaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan di pondok pesantren Zainul Hasan genggong. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana gaya belajar santri di pondok pesantren Zainul Hasan Genggong, (2) Bagaimana gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan di pondok pesantren Zainul Hasan Genggong, (3) Bagaimana pemahaman santri terhadap materi wawasan kebangsaan di pondok pesantren Zainul Hasan Genggong. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni: wawancara mendalam observasi partisipatif, dokumentasi dan kuesioner. Sedangkan analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Gaya belajar yang diterapkan di pondok pesantren Zainul Hasan Genggong termasuk dalam kegiatan sekolah formal setiap harinya menggunakan metode ceramah PAKEM dan gaya belajar auditory; (2) Gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan dengan cara mengenali diri sendiri, merekam kata dengan tulisan, belajar bersama dan menghargai diri sendiri, gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan termasuk gaya belajar modalitas (auditory, visual, reading,dan kinesthetic), gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan jika ditinjau dari Pengaturan informasi termasuk gaya belajar spectrum (abstract random, concret sequensial dan abstract sequensial), gaya belajar santri dalam memahami materi wawasan kebangsaan jika ditinjau dari gaya terima dimana setiap akan melihat dunia dengan caranya sendiri, gaya belajar santri memiliki gaya berpikir analitik, global. Dikuatkan dengan kuesioner (85,7%) mengenali diri sendiri, (81,4%) santri menyatakan bahwa mereka selalu merekam kata dengan tulisan, (84,3%) santri setuju bahwa belajar bersama merupakan cara termudah untuk memahami materi wawasan kebangsaan, dan (97,1%) santri memilih untuk menghargai diri sendiri, (62,86%) santri memilih gaya belajar auditory, (12,86%) santri memilih gaya belajar visual, (17,14%) santri memilih gaya belajar reading, (7,14%) santri memilih gaya belajar kinesthetic, (17,14%) santri memilih abstract sequensial, (22,86%) memilih gaya belajar Concret sequensial dan (60%) santri memilih gaya belajar abstract random, (64,29%) santri memilih gaya berfikir analitik , (35,71%) memilih gaya berfikir global; (3) Pemahaman santri terhadap materi wawasan kebangsaan cukup baik. Santri mengaktualisasi wawasan kebangsaan yang diwujudkan dalam hal-hal seperti pengetahuan warga negara serta rasa cinta, rasa hormat dan rasa memiliki bangsa dan negaranya dan keikutsertaan santri untuk memajukan, ingin menjaga, dan ingin memartabatkan bangsa dan negaranya, hasil kuesioner (62,86%) santri menjawab keseluruhan pertanyaan tentang wawasan kebangsaan dengan benar. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa gaya belajar santri di pondok pesantren dalam memahami materi wawasan kebangsaan masih perlu dikembangkan, misalnya dengan mengembangkan gaya belajar seperti gaya belajar visual, serta meningkatkan gaya belajar reading dan concret sequensial. Bagi guru PKn hendaknya dapat memberikan pemahaman yang lebik baik terhadap materi wawasan kebangsaan terhadap santri. Bagi mahasiswa yang ingin mengkaji atau menindaklanjuti gagasan atau ide lain yang berkaitan dengan karya tulis ini sebaiknya menggunakan objek yang lebih luas dan materi yang lebih mendalam tentang gaya belajar dan wawasan kebangsaan.

Peningkatan keterampilan menulis surat pribadi melalui pemodelan siswa kelas IV SDN Sananwetan 2 kota Blitar / Renny Purwanti

 

Kata kunci: keterampilan menulis, surat pribadi, model surat pribadi Keterampilan menulis surat pribadi yang dilaksanakan di SDN Sananwetan 2 kota Blitar belum mencapai standar ketuntasan. Hal ini terjadi karena ada beberapa faktor yaitu guru belum menerapkan metode pembelajaran yang menarik, guru belum memanfaatkan media pembelajaran, dan siswa langsung diberi tugas menulis surat kepada teman sebaya tanpa diberi penjelasan terlebih dahulu terkait dengan materi. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan penerapan pemodelan dapat meningkatkan keterampilan menulis surat pribadi siswa kelas IV SDN Sananwetan 2 kota Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun alur PTK tersebut yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sananwetan 2 kota Blitar. Teknik pengumpul data diperoleh dari pengamatan, tes, angket, dan dokumentasi. Teknik analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Pro-sedur penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu pratindakan, tindakan siklus I, dan tindakan siklus II. Hasil penelitian dari data yang didapat menunjukkan bahwa penerapan contoh model surat pribadi dalam pembelajaran menulis surat pribadi meningkat-kan keterampilan menulis surat pribadi siswa kelas IV SDN Sananwetan 2 kota Blitar. Terbukti nilai hasil menulis surat pribadi yang diperoleh siswa kelas IV SDN Sananwetan 2 kota Blitar pada pratindakan ketuntasan klasikal yang dicapai 50% dengan rata-rata kelas 60, meningkat pada tindakan siklus I dengan ketuntas-an klasikal 80% dan rata-rata kelas 78,1, kemudian meningkat lagi pada tindakan siklus II ketuntasan klasikal yang dicapai 90% dengan rata-rata kelas 82,7. Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran telah berhasil. Saran yang disampaikan untuk guru dan kepala sekolah hendaknya di sekolah menyediakan fasilitas dan sumber belajar yang lengkap bagi siswa. Adanya metode bervariasi yang diberikan guru, siswa diharapakan dapat semakin tertarik untuk mempelajari bahasa Indonesia. Sehingga hasil belajar siswa akan meningkat. Bagi peneliti lain, semoga skripsi ini menjadi dasar dan acuan dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih baik. Sedangkan bagi peneiti sendiri, diharapakan dapat lebih mengembangkan ilmu yang di dapat dalam perkuliahan di dunia kerja sehingga mampu menciptakan metode pembelajaran yang lebih inovatif.

Konflik politik Israel Palestina tahun 1993-2006 dan dampaknya di Indonesia / Teguh Adi Susilo Yuwono

 

Kata kunci : konflik politik, israel-palestina, dampak, makna edukatif Konflik politik Israel-Palestina merupakan konflik yang berlangsung cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab konflik itu terjadi di Palestina serta dampaknya bagi Indonesia, di mana Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi tambahan dalam pengajaran pendidikan sejarah di sekolah. Rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut. (1) Bagaimana deskripsi Perjanjian Oslo 1993 dan pelaksanaanya? (2) Bagaimana konflik politik Israel-Palestina tahun 1993 sampai 2006? (3) Bagaimana upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina pada tahun 1993 sampai 2006? (4) Apa dampak konflik Israel-Palestina pada tahun 1993 sampai 2006 bagi bangsa Indonesia? (5) Apa makna edukatif dari konflik Israel-Palestina bagi bangsa Indonesia. Penulis menggunakan metode penelitian sejarah. Pemilihan topik, heuristik (pencarian sumber sejarah), verifikasi (kritik sumber), intepretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Perjanjian Oslo adalah upaya untuk memecahkan persoalan konflik politik Israel-Palestina, perjanjian perdamaian ini ditanda tangani oleh Yaser Arafat sebagai perwakilan PLO sedangkan dari pihak Israel diwakili oleh Yizhak Rabin. (2) Konflik Israel-Palestina ini adalah konflik yang terjadi akibat ketidak konsistenan kedua belah pihak dalam menaati namun perjanjian tersebuti perjanjian damai. (3) Upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina tahun 1993-2006 melalui perundingan di antaranya Perjanjian Oslo I, Perjanjian Oslo II, Perjanjian Wye River.t tidak mampu menghentikan konflik secara permanen, perjanjian tersebut hanya menghentikan sementara. (4) Konflik politik Israel-Palestina ini berdampak kepada bangsa Indonesia yaitu dalam bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial.(5) Pembahasan tentang Konflik Israel-Palestina memiliki makna edukatif bagi Sekolah Menengah Pertama dengan Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi.

Problematika pendidikan budi pekerti di lembaga pemasyarakatan kelas II anak Blitar / Desinta Dwi Rapita

 

Kata Kunci: pendidikan, pendidikan budi pekerti, lembaga pemasyarakatan anak Pendidikan Budi Pekerti merupakan pendidikan yang strategis dan bersifat urgen untuk diberikan, sebab Pendidikan Budi Pekerti sebagai upaya sadar membekali para peserta didik agar mampu berperilaku sebagai manusia-manusia yang ber-imtaq, berbudi pekerti luhur, berkepribadian dan berkualitas, serta bertanggungjawab terhadap masyarakat dan bangsanya. Lebih khusus, Pendidikan Budi Pekerti yang dilaksanakan di Lembaga Pemayarakatan Kelas II A Anak (LPA) Blitar merupakan salah satu upaya pembinaan dalam rangka untuk mengembalikan perilaku dan sikap mental anak ke arah yang lebih baik. Dengan begitu diharapkan anak dapat kembali menjadi manusia seutuhnya, meninggalkan masa lalunya yang gelap, menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulangi kesalahannya sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan problematika Pendidikan Budi Pekerti di LPA Blitar, yang mencakup tujuan Pendidikan Budi Pekerti di LPA Blitar, isi materi Pendidikan Budi Pekerti di LPA Blitar, metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti di LPA Blitar, pelaksanaann evaluasi pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran serta cara untuk mengatasi hambatan pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di LPA Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan kunci seperti peserta didik, petugas, guru pengajar, dan orangtua anak. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Beberapa simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mengenai tujuan dilaksanakan pendidikan budi peketi di LPA Blitar adalah intinya untuk memberikan pendidikan budi pekerti kepada anak didik, agar jika mereka sudah keluar dari LPA Blitar, mereka bisa menjadi manusia seutuhnya dan bisa diterima oleh masyarakat. Kedua, isi materi pendidikan budi pekerti adalah berkaitan dengan penanaman nilai, akhlak, bagaimana berperilaku yang baik sesuai dengan norma yang berlaku, berlaku sopan, menghargai sesama manusia dan bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannnya, disiplin, patriotis, tenggang rasa, empati, adil, dan dapat hidup dalam kebersamaan. Ketiga, mengenai metode dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti adalah metode ceramah, permainan, diskusi dan pembiasaan. Keempat, evaluasi pembelajaran pendidikan budi pekerti di LPA Blitar dilaksanakan dengan cara memberikan test atau ujian tertulis dan melalui evaluasi diri. Kelima, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti antara lain; (a) motivasi belajar siswa rendah, (b) kurangnya koordinasi dan pengertian dari masing-masing sub bidang di Lapas, (c) jumlah tenaga pengajar yang terbatas, (d) guru pengajar kurang kompeten, (e) motivasi guru dalam mengajar kurang, (f) minimnya jam pelajaran. Keenam, cara yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti di LPA Blitar antara lain; (a) menyediakan tambahan tenaga guru, bisa dari LPA maupun dari luar dan memang mempunyai kompetensi mengajar, (b) guru-guru yang masih mempunyai SK dari dephukham diberikan insentif berupa tambahan gaji agar mereka tidak lagi mempunyai kecemburuan sosial dengan guru-guru pada umumnya, (c) memberikan perhatian lebih kepada anak-anak binaan atau siswa, (d) menambah jam pelajaran atau jam sekolah, (e) inovasi metode pembelajaran agar lebih menarik dalam pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti, dan (f) menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan penuh dengan nilai budi pekerti.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student teams achiement divisions (STAD) untuk meningkatkan motivasi dfan hasil belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Batang-Batang Sumenep / Syafaatul Hidayati

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, tipe STAD, motivasi, hasil belajar Metode pembelajaran merupakan unsur penting yang mendukung tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar. Melalui metode pembelajaran, seorang guru dapat merancang dan mengarahkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Oleh karena itu guru harus peka dan mampu memilih serta menentukan metode pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar agar tercapai hasil belajar yang optimal. Strategi yang menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar adalah pembelajaran kooperatif. Salah satu tipe dalam model pembelajaran kooperatif adalah Student Teams Achievement Divisions (STAD). Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPS kelas VIII di SMP Negeri 1 Batang-Batang Sumenep; (2) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Batang-Batang Sumenep; (3) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Batang-Batang Sumenep; (4) untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Batang-Batang Sumenep. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Waktu pelaksanaan penelitian ini selama dua siklus mulai tanggal 1 Februari sampai tanggal 14 Februari 2011. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-1 SMP Negeri1Batang-Batang Sumenep sebanyak 39 siswa yang terdiri dari 23 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Berdasarkan hasil perhitungan data menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Untuk itu, maka disarankan bagi guru mata pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Batang-Batang Sumenep pada khususnya dan guru IPS di sekolah lain pada umumnya untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran di dalam kelas. Bagi peneliti lanjutan untuk diadakan penelitian lanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas dan memadukan beberapa metode pembelajaran yang dikenal selama ini. Disamping itu, bagi dinas pendidikan setempat supaya lebih sering memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang model pembelajaran yang ada sekarang secara merata pada semua sekolah-sekolah baik yang ada di kota maupun di kecamatan.

Hubungan antara body image dengan perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik pada siswi kelas X SMK Negeri 2 Malang / Devina Andriany

 

Kata Kunci: Body Image, Perilaku Konsumtif, Produk Kosmetik, SMKN 2 Malang Perhatian remaja akan gambaran tubuh yang dimilikinya terkait erat dengan body image. Pada remaja permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan atau keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki. Remaja yang dapat menerima dan puas dengan keadaan fisiknya mempunyai pengaruh positif terhadap penilainnya pada diri sendiri. Sebaliknya remaja yang tidak dapat menerima keadaan dirinya dan merasa kurang beruntung, akan memikirkan suatu cara yang dapat memperbaiki penampilan mereka seperti pakaian atau alat-alat kecantikan yang dapat digunakan untuk menyembunyikan bentuk-bentuk fisik yang tidak disukai dan menonjolkan bentuk fisik yang dianggap menarik. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) gambaran body image siswi kelas X SMK Negeri 2 Malang (2) gambaran perilaku konsumtif dalam pembelian kosmetik pada siswi kelas X SMK Negeri 2 Malang (3) hubungan antara body image dengan perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik pada siswi kelas X SMK Negeri 2 Malang dengan menggunakan metode kuantitatif yang dikembangkan dengan cara deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini siswi kelas X SMK Negeri 2 Malang, sampel dalam penelitian ini berjumlah 90 siswi dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan dua instrumen (1) skala body image dengan reliabilitas 0,956 (2) skala perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik dengan reliabilitas 0,942. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Subjek sebagian besar memiliki body image positif yaitu sebesar 61,1% dan 38,9% memiliki body image negatif (2) Subjek sebagian besar memiliki perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik dalam tingkatan sedang yaitu sebesar 54,4% dan 45,56% dalam tingkat yang rendah. Jika dilihat kedudukannya di kelompok 81,1% subjek sebagian besar memiliki perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik pada tingkatan sedang, 13,33% dalam tingkat yang tinggi dan 5,56% dalam tingkatan rendah (3) Uji korelasi dengan menggunakan analisis Product Moment diperoleh bahwa ada korelasi negatif antara body image dengan perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik pada siswi kelas X SMK Negeri 2 Malang sehingga semakin tinggi body image maka semakin rendah tingkat perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik. Disarankan pada remaja putri yang masih memiliki body image negatif untuk lebih belajar menerima dan menyukai keadaan fisik dan penampilannya serta lebih memperhatikan dan mengembangkan faktor penting lain seperti prestasi belajar atau bakat agar body image yang dimiliki menjadi lebih positif sehingga remaja putri dapat menghindari perilaku konsumtif dalam pembelian produk kosmetik. Diharapkan sekolah membantu membentuk body image positif dengan memberikan pengertian dan pengarahan pada siswi untuk menerima dan menyukai keadaan fisik dan penampilannya serta lebih memfokuskan pada prestasi, bakat, minat atau hobi siswi sehingga perilaku konsumtif terhadap pembelian produk kosmetik dapat dihindari. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan metode kualitatif agar dapat mendeskripsikan aspek-aspek dengan lebih jelas. Jika menggunakan metode kuantitatif, diharapkan memperluas populasi agar hasil penelitian yang diperoleh menjadi lebih variatif dan lebih akurat.

Implementasi pendidikan anti korupsi melalui pendidikan kewarganegaraan di SMPN 8 Malang / Any Setyo Rahayu

 

Kata Kunci: implementasi, pendidikan anti korupsi, pendidikan kewarganegaraan Pendidikan Anti Korupsi adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar-mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti korupsi. Dalam proses tersebut, Pendidikan Anti Korupsi bukan sekedar media bagi transfer pengetahuan (kognitif), namun juga menekankan pada upaya pembentukan karakter (afektif), dan kesadaran moral dalam melakukan perlawanan (psikomotorik), terhadap perilaku korupsi. SMPN 8 Malang merupakan salah satu sekolah yang menerapkan Pendidikan Anti Korupsi melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang implementasi Pendidikan Anti Korupsi melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup: (1) pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus PKn, (2) penyusunan RPP yang memuat Pendidikan Anti Korupsi, (3) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn, (4) kendala-kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui mata pelajaran PKn, dan (5) upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui mata pelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian di SMPN 8 Malang yang terletak di Jl. Arjuno No. 19 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan (orang), peristiwa, dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Prosedur analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa:(1) prosedur pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus PKn adalah: (a) mengidentifikasi SK dan KD yang akan menjadi materi pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi, (b) menambah indikator tentang korupsi pada kolom indikator, (c) menambah materi pokok tentang korupsi pada kolom materi pokok sesuai dengan indikatornya, (d) menyisipkan instrumen yang berkaitan dengan korupsi untuk mengevaluasi Pendidikan Anti Korupsi, dan (e) menambah sumber belajar tentang korupsi, (2) prosedur dalam menyusun RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi adalah: (a) menyisipkan indikator materi Pendidikan Anti Korupsi, (b) menyisipkan materi Pendidikan Anti Korupsi pada tujuan pembelajaran, (c) menguraikan indikator materi Pendidikan Anti Korupsi pada materi pembelajaran, (d) merencanakan pemberian materi Pendidikan Anti Korupsi dalam langkah-langkah pembelajaran, (e) menambahkan sumber belajar, dan (f) menyisipkan instrumen tentang materi Pendidikan Anti Korupsi dalam penilaian pelajaran PKn, (3) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn menggunakan media gambar, artikel, dan media massa serta menggunakan metode ceramah, role playing, tanya jawab, penugasan, dan diskusi kelompok. Untuk mengevaluasi Pendidikan Anti Korupsi mengikuti dengan evaluasi PKn, (4) kendala-kendala dalam pembelajaran PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi terdiri dari dua kendala yaitu kendala internal dan eksternal. Kendala internalnya meliputi: (a) guru mengalami kesulitan dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn karena kekurangtelitian dalam mengidentifikasi SK dan, (b) guru mengalami kesulitan dalam penyusunan silabus dan RPP PKn yang memuat materi Pendidikan Anti Korupsi karena sebelum membuat silabus dan RPP guru harus memikirkan materi Pendidikan Anti Korupsi apa yang dimasukkan dalam silabus dan RPP serta banyaknya komponen yang harus memuat materi Pendidikan Anti Korupsi mulai dari indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar dan evaluasinya, dan (c) guru mengalami kesulitan dalam pembagian waktu pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi karena materi PKn sudah penuh dan alokasi waktu pembelajaran PKn yang sedikit. Sedangkan kendala eksternalnya adalah faktor lingkungan yang melihat korupsi sebagai hal yang biasa atau membudaya sehingga berakibat rusaknya tatanan hidup di Indonesia, dan (5) upaya mengatasi kendala-kendala internal adalah: (a) upaya mengatasi kendala dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi dengan cara sering mempelajari SK dan KD yang menjadi materi pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi serta harus teliti, (b) upaya mengatasi kendala dalam penyusunan silabus dan RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi dengan cara harus teliti dan kreatif agar semua materi bisa tersampaikan dan memiliki banyak referensi, dan (c) upaya mengatasi kendala alokasi waktu yang sedikit dengan cara banyak memberikan tugas dan juga guru harus pandai dalam memilih metode pembelajaran yang bisa menyampaikan seluruh materi baik materi PKn maupun materi Pendidikan Anti Korupsi. Sedangkan upaya mengatasi kendala eksternal karena faktor lingkungan dengan cara selalu memberi nasihat dan memberi contoh kongkrit kepada siswa dengan membiasakan bersikap dan berperilaku anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak menganggap korupsi sebagai hal yang biasa. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan saran-saran: (1) kepada kepala SMPN 8 Malang, sekolah harus lebih memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti seminar maupun pelatihan tentang pembelajaran agar guru memiliki pengetahuan yang luas dan juga segera membuka kantin kejujuran, (2) kepada guru, guru lebih sering mempelajari Pendidikan Anti Korupsi agar mengalami kemudahan dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus maupun RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi. Guru sebaiknya juga harus pandai memanfaatkan waktu secara efektif dengan menggunakan metode pembelajaran yang bisa mencakup semua materi baik materi PKn maupun materi Pendidikan Anti Korupsi, (3) kepada siswa, siswa sebaiknya bisa aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn dan bisa menerapkan hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) kepada bangsa Indonesia, pemerintah sebaiknya mensosialisasikan Pendidikan Anti Korupsi kepada seluruh elemen masyarakat agar tujuan Pendidikan Anti Korupsi bisa terlaksana secara maksimal dan tidak hanya siswa saja yang bersikap dan berperilaku anti korupsi tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Nilai-nilai kearifan lokal dalam grebeg suro di Kabupaten Ponorogo / Endang Sri Lestari

 

Kata Kunci: Nilai-nilai, Kearifan Lokal, Grebeg Suro Grebeg Suro merupakan acara tradisi kultural masyarakat Ponorogo dalam wujud pesta rakyat Ponorogo. Puncak pentas seni, budaya, dan tradisi ditampilkan pada saat itu yang meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Do’a di Telaga Ngebel. Kegiatan ini sudah belasan tahun dilaksanakan.Tentunya ada nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya sehingga dipertahankan sampai sekarang oleh masyarakat Ponorogo. Nilai-nilai luhur tersebut tampak pada gerak-gerik, simbol, sikap, tindak tanduk yang ada ketika seni dan tradisi tersebut dipertunjukkan. Nilai luhur ini tentunya berbeda dengan daerah lain karena seni dan tradisi yang ditampilkan berbeda pula. Jadi dapat dikatakan nilai luhur tersebut hanya ada di daerah yang menampilkan seni dan tradisi tersebut. Maka dikenallah nilai-nilai luhur ini dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berarti nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan bertingkah laku sehari-hari masyarakat setempat. Untuk itulah peneliti disini ingin mengetahui nilai-nilai tersebut yang sampai sekarang seni dan tradisi ini sudah ditampilkan belasan tahun lamanya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap sejarah Grebeg Suro, wujud seni dan tradisi yang ditampilkan, tata cara pelaksanaan Grebeg Suro, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung didalamnya, kendala yang dihadapi dan cara mengatasinya, serta pelestarian yang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Untuk mencapai tujuan tersebut, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan meliputi data yang berasal dari berlangsungnya kegiatan Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo dan sejumlah orang yang terlibat dalam kegiatan. Untuk menjaga validitas data, maka peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, pelibatan teman sejawat, dan member check. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa sejarah Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo adalah adanya kebiasaan masyarakat pada malam 1 Suro masyarakat mengadakan tirakatan semalam suntuk dengan mengelilingi kota dan berhenti di alon-alon Ponorogo. Pada tahun 1987 Bupati Subarkah melihat fenomena ini dan melahirkan gagasan kreatif untuk mewadahi kegiatan mereka dengan kegiatan yang mengarah pada pelestarian budaya. Sebab ditengarahinya minat para pemuda terhadap kesenian khas Ponorogo mulai luntur, untuk itu diadakanlah Grebeg Suro ini dan memasukkan Reog didalamnya. Pada awal prakarsa belum tingkat nasional. Seni dan tradisi yang ditampilkan meliputi Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, dan Larungan Risalah Do’a di Telaga Ngebel. Tata cara pelaksanaannya adalah dimulai dengan Festival Reog Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari dengan jumlah peserta 51 yang berasal dari 21 peserta dari Ponorogo dan 30 dari Luar Ponorogo. Dari keseluruhan peserta diambil 10 besar group Reog terbaik dan 10 besar pembina terbaik. Sehari sebelum 1 Suro diadakan Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka dari kota lama ke kota tengah untuk mengenang perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo dari kota lama ke kota tengah. Malam 1 Suro diadakan penutupan Festival Reog Nasional dan pengumuman lomba, dan tepat tanggal 1 Suro diadakan Larungan Risalah Do’a di Telaga Ngebel. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung meliputi nilai simbolik, nilai tanggung jawab, nilai keindahan, nilai moral, nilai hiburan, nilai budaya, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai apresiasi, dan nilai religius. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Grebeg Suro ini adalah masalah pendanaan dan cuaca dimana pada saat itu jatuhnya bulan Suro pada saat musim penghujan. Cara mengatasi kendala ini dengan mencari pawang hujan dan mencari sponsor untuk mengatasi kekurangan pendanaan. Pelestarian yang dilakukan meliputi pengadaan pelajaran MULOK dari SD sampai SMA dan pementasan rutin setiap bulan purnama, pengadaan Festival Reog Nasional dan Reog Mini merupakan usaha melestarikan kesenian ini. Sedangkan tradisi yang ditampikan dengan cara penetapan menjadi agenda wajib Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar Pemerintah Kabupaten Ponorogo tetap melestarikan seni dan tradisi yang ada di daerah ini sebagai identitas diri Ponorogo dengan pengadaan perayaan setiap bulan Suro demi meningkatkan sektor kepariwisataan dan pendapatan masyarakat sekaligus sebagai wujud pelestarian budaya.

Meningkatkan keterampilan menyimak mellui media rekaman tayangan berita pada siswa kelas V SDN 1 Sobo Kabupaten Trenggalek / Yudista Patriat Budi

 

Kata kunci: keterampilan menyimak, media rekaman tayangan berita Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia aspek menyimak di kelas V SDN 1 Sobo kabupaten Trenggalek yang mengalami permasalahan. Permasalahan tersebut berupa hasil belajar siswa yang masih rendah yaitu dengan nilai rata-rata kelas pada aspek menyimak adalah 60,52 dengan presentase siswa yang mencapai KKM sebesar 37 %, interaksi sosial antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa masih kurang, pembelajaran bersifat monoton serta penggunaan media yang kurang variatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran menyimak menggunakan media rekaman tayangan serta mendeskripsikan peningkatan hasil belajar mata pelajaran bahasa Indonesia aspek menyimak melalui media rekaman tayangan berita pada siswa kelas V SDN 1 Sobo kabupaten Trenggalek. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode deskriptif kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian terdiri dari dua siklus. Tiap siklus meliputi tahap (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Untuk teknik pengumpulan data yang digunakan adalah abstrak, wawancara, angket dan tes. Penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan. Hasil tersebut berupa peningkatan hasil belajar siswa yaitu presentase siswa yang mencapai KKM pada tahap pratindakan sebesar 37 %, pada tindakan siklus I sebesar 42%, dan pada tindakan siklus II sebesar 84 %. Kriteria aktivitas belajar siswa pada tindakan siklus I yang dominan muncul adalah kurang, sedangkan pada tindakan siklus II kriteria aktivitas belajar siswa yang dominan muncul adalah baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menyimak melalui media rekaman tayangan berita menunjukkan perubahan ke arah positif. Perubahan tersebut yaitu siswa lebih termotivasi, antusias dan senang saat pembelajaran. Sedangkan penilaian terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran menyimak melalui media rekaman tayangan berita juga menunjukkan adanya peningkatan. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan pembelajaran menyimak melalui media rekaman tayangan berita.

Studi perbandingan efektivitas model pembelajaran inquiry dan think pair share dalam peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS ekonomi siswa kelas VIII SMPN 2 Nguling Kabupaten Pasuruan / Septriza Kusumawati

 

Kata kunci: Inquiry, Think Pair Share, motivasi, hasil belajar IPS Ekonomi. Pada saat ini telah banyak perkembangan dalam metode dan model pembelajaran, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran yang sebelumnya seperti metode konvensional yang hampir kegiatanya dalam proses belajar mengajar didominasi oleh guru (teacher centered), yang kemudian berakibat pada pasifnya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, menguasai materi pembelajaran hanya dengan menghafal, siswa belum ditempatkan sebagai subjek dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang ada selama ini masih belum memperhatikan efektivitas dan kesesuaian penggunaan model pembelajaran dengan pokok bahasan yang akan disampaikan sehingga tujuan pembelajaran sulit dicapai. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui perbedaan efektivitas antara model pembelajaran inquiry dan think pair share dalam peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VIII SMPN 2 Nguling, 2) Mengetahui perbedaan efektivitas antara model pembelajaran inquiry dan think pair share dalam peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VIII SMPN 2 Nguling. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen, dengan rancangan penelitian adalah Pre Experimental Design. Populasi pada penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 2 Nguling. Sedangkan sampel yang diambil terdiri dari dua kelas, dimana satu kelas sebagai kelompok eksperimen 1 yaitu kelas VIII B dan satu kelas sebagai kelompok eksperimen 2 yaitu kelas VIII F yang diambil dengan teknik Purposive Sampling. Data diambil dari wawancara, angket dan tes (pre test dan post test). Metode Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, dan uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan awal (t test), kemampuan akhir (t test), dan gain value (t test). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar IPS Ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry dengan model pembelajaran Think Pair Share. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan uji t diperoleh hasil : 1) motivasi awal kelompok eksperimen 1 adalah 62,1026 dan motivasi awal kelas eksperimen 2 adalah 61,3333. 2) motivasi akhir kelompok eksperimen 1 adalah 69,6667 dan motivasi akhir kelas eksperimen 2 adalah 63,2051. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan motivasi belajar IPS ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry lebih tinggi daripada peningkatan motivasi belajar IPS ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share. Jadi, model pembelajaran Inquiry lebih efektif daripada Think Pair Share pada pokok bahasan “Pajak” Kelas VIII SMPN 2 Nguling Kabupaten Pasuruan. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan Uji-t diperoleh hasil: 1) Nilai rata-rata pre test dari kelompok eksperimen 1 adalah 40,2564 dan nilai pre test pada kelompok eksperimen 2 adalah 38,4615; 2) Nilai rata-rata post test kelompok eksperimen 1 yang diajar dengan model pembelajaran Inquiry sebesar 86,0256 dan nilai rata-rata post test kelompok eksperimen 2 yang diajar dengan model pembelajaran Think Pair Share sebesar 77,6923; dan 3) Rata-rata gain value kelompok eksperimen 1 yang diajar dengan model pembelajaran Inquiry sebesar 45,7692, sedangkan rata-rata gain value kelompok eksperimen 2 yang diajar dengan model pembelajaran Think Pair Share sebesar 39,2308. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar IPS ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar IPS ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan sebagai berikut: 1) Bagi Guru Mata Pelajaran IPS ekonomi di SMPN 2 Nguling khususnya dan di sekolah lain umumnya, disarankan untuk lebih selektif dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan; 2) Bagi Lembaga Pendidikan dan Institusi yang terkait, disarankan untuk membantu mensosialisasikan model pembelajaran Inquiry dan mengadakan kerjasama dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan guru melalui pelatihan dan penataran cara menerapkan model pembelajaran Inquiry di sekolah-sekolah secara benar; dan 3) Bagi Penelitian Lanjutan disarankan untuk menerapkan model pembelajaran Inquiry pada pokok bahasan yang berbeda dengan karakteristik yang sama dan sampel yang lebih luas, sehingga dapat diketahui apakah terdapat hasil yang sama dengan hasil penelitian ini. Disarankan pula untuk diadakan penelitian lanjutan dengan mengukur hasil belajar tidak hanya dari ranah kognitif saja tetapi juga ranah afektif dan psikomotor agar menghasilkan penelitian yang memiliki nilai lebih.

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris melalui permainan magic disk pada siswa kelas IV SDN Sumbersari 2 Malang / Yanti Ika Huri

 

Kata kunci: Keterampilan Berbicara, Permainan, Magic Disk, Sekolah Dasar Berdasarkan hasil studi pendahuluan dan pra tindakan yang dilaksanakan di SDN Sumbersari 2 Malang diketahui bahwa keterampilan berbicara bahasa Inggris peserta didik kelas IV masih rendah. Rendahnya keterampilan berbicara peserta didik ditandai dengan berbicara pelan dan tersendat-sendat, serta kesalahan dalam pelafalan. Hal ini disebabkan oleh metode dan teknik yang kurang variatif, serta pemanfaatan media yang kurang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris melalui pembelajaran yang menarik, interaktif, dan menyenangkan dapat dilakukan melalui permainan. Salah satu permainan yang dapat digunakan adalah permainan magic disk.Tujuan penelitian ini, yaitu: 1) mendeskripsikan penerapan permainan magic disk dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris pada peserta didik kelas IV, 2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris melalui penerapan permainan magic disk pada peserta didik kelas IV. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Model siklus yang digunakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SDN Sumbersari 2 Malang sejumlah 22 anak. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, catatan lapangan, dan wawancara. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi guru, lembar observasi peserta didik, lembar performance berbicara peserta didik, serta catatan hasil lapangan. Data dalam penelitian ini merupakan keterampilan berbicara bahasa Inggris peserta didik pada aspek pronouncation, accuracy, vocabulary, fluency, keberanian, serta volume. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pemrosesan satuan, tahap kategorisasi, dan tahap penafsiran data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berbicara bahasa Inggris meningkat setelah penerapan tindakan dengan permainan magic disk dari siklus I nilai rata-rata 57 meningkat pada siklus II menjadi 75. Peningkatan terjadi pada siklus I dari 7 anak menjadi 17 anak melafalkan dialog meminjam benda dalam kelas dengan bahasa Inggris yang tepat. Untuk aspek accuracy pada siklus I masih ada 2 anak yang salah menggunakan istilah warna coklat dengan chocolate, namun pada siklus II sudah tidak ada lagi. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan permainan magic disk dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris pada aspek pronouncation, accuracy, vocabulary, fluency, keberanian serta volume. Disarankan kepada guru kelas IV agar menggunakan teknik repeat and listen agar peserta didik dapat melafalkan kata bahasa Inggris dengan tepat, serta concept mapping untuk menghubungkan antar konsep,dan dalam penerapan permainan magic disk.

Pengembangan media pembelajaran interaktif penerapan ragam hias pada bahan tekstil berbasis Adobe Flash untuk SMP Negeri 02 Malang kelas VII / Briliana Kurnia Rizki

 

ABSTRAK Rizki, Briliana Kurnia. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Penerapan Ragam Hias Pada Bahan Tekstil Berbasis Adobe Flash Untuk SMP Negeri 02 Malang Kelas VII.Skripsi, JurusanSenidanDesain,FakultasSastra,UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dra Hj. Purwatiningsih,M.Pd., (II) Drs. AAG Rai Arimbawa, M.Sn. Kata Kunci: Pengembangan,Media Interaktif, Ragam Hias, Adobe Flash Suatu pembelajaran akan berjalan dengan efektif bila guru memiliki kualitas mengajar yang baik serta memilki kemampuan yang sesuai di bidangnya. Namun bukan berarti seorang guru yang tidak memiliki kemampuan yang sesuai tidak diperbolehkan untuk mengajar. Hanya saja, pembelajaran tersebut akan mendapatkan hasil yang kurang maksimal. Untuk mengimbangi hal tersebut maka perlu adanya variasi dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal tersebutlah yang ditemukan pada SMP Negeri 02 Malang. Guru Seni Budaya kelas VII SMP Negeri 02 malang merupakan lulusan Seni Tari. Selain itu ditemukan siswa yang kurang paham dengan materi Ragam hias yang berada di kelas VII. Hal tersebut yang diangkat dalam penelitian dan pengembangan ini sehingga peneliti tergerak untuk membuat sebuah pengembangan berupa media interaktif untuk membantu jalannya proses pembelajaran.Penelitiandan pengembangan inidilaksanakandengantujuanuntukmembantu siswa belajar secara mandiri dan menumbuhkan minat siswa terhadap pelajaran Seni Rupa. Penelitiandan pengembangan inimengadopsimodel pengembangan milik Sugiyono.Tahap yang dilakukan dikelompokkan menjadi lima bagian yaitu tahap persiapan, tahap pengembangan, tahap validasi, tahap penyempurnaan produk, dan tahap uji coba produk. Metode yang digunakanuntukmenjaring data adalahmetodeobservasidankuisioner.Subjek uji coba dalam penelitian dan pengembangan ini adalah dua orang ahli media yaitu bapak Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T. dan bapak Andreas Syah Pahlevi, S.Sn, M.Sn., dua orang ahli materi yaitu ibu Dra. Hj. Ida Siti Herawati M.Pd. dan ibu Ike Ratnawati, S.Pd, M.Pd, dan dua puluhsiswa kelas VII SMP Negeri 02 Malang. Produk yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa media interaktif yang dikemas dalam bentuk CD. Produk yang dihasilkan berisi tentang materi ragam hias, teknik penerapan ragam hias pada tekstil, video dan games yang telah disesuaikan dengan isi materi dalam media. Data yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa data kuantitatif deskriptif. Persentase kevalidan yang diperoleh dari ahli media sebesar 86,25%, dari ahli materi sebesar 88,3%, dan dari kelompok kecil sebesar 95,9%. Dengan persentase yang telah diperoleh tersebut, produk penelitian dan pengembangan berupa media interaktif ini termasuk dalam kategori sangat layak digunakan. Pengembangan media interaktif yang dihasilkan ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan dan sumber inspirasi dalam mengembangkan media yang lebih baik. Disarankan produk ini dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh semua pihak yang membutuhkan media penerapan ragam hias pada bahan tekstil.

Pemetaan resistivitas daerah rawan longsor dengan menggunakan metode geolistrik Wenner di daerah Poncokusumo Kabupaten Malang / Dedy Satriyo Utomo

 

Kata Kunci : Geolistrik, Konfigurasi Wenner, Bidang Gelincir, Longsor, Poncokusumo. Daerah Poncokusumo dengan kondisi tanah yang cukup kompleks dan labil memerlukan pemetaan geoteknik dengan skala yang sesuai perencanaan. Pemetaan tersebut perlu dilakukan sebelum diadakan penataan lahan di sekitar lokasi. Pemetaan geoteknik tersebut dipandang penting, mengingat salah satu fungsinya yakni untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, seperti tanah longsor. Untuk menggali daerah rawan longsor di daerah tersebut, perlu dilakukan penelitian pendahuluan dengan menggunakan metode survei geofisika, salah satunya adalah metode geolistrik tahanan jenis. Metode geolistrik pada prinsipnya adalah untuk menentukan resistivitas lapisan batuan. Kinerja dari metode ini adalah dengan mengalirkan arus ke lapisan batuan dan didapat beda potensialnya. Dari data yang berupa besarnya arus dan beda potensial tersebut akan didapat nilai hambatan jenisnya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian untuk memetakan tanah didaerah penelitian dengan tujuan mengetahui adanya pasir yang mengakibatkan longsor dengan menggunakan metode tahanan jenis konfigurasi Wenner sounding mapping menggunakan alat geolistrik resistivity meter Mcohm. Hasil pengukuran geolistrik di Poncokusumo Kabupaten Malang lintasan 1 menunjukkan bahwa pada titik 0 sampai titik 72 dengan kedalaman 0,75 meter sampai 7,05 meter memiliki nilai tahanan jenis berkisar antara 6,78 Ωm sampai 60,7 Ωm diidentifikasikan sebagai bidang gelincir berbentuk translasi dan rotasi yang mengarah ke badan jalan berupa pasiran – lempung yang bersifat lunak. Pada lintasan 2 menunjukkan bahwa pada titik 0 sampai titik 51 dengan kedalaman 0,75 meter sampai 10,05 meter memiliki nilai tahanan jenis berkisar antara 3,29 Ωm sampai 16,5 Ωm diidentifikasikan sebagai bidang gelincir berbentuk translasi dan rotasi yang mengarah ke badan jalan berupa tanah pasiran. Pada lintasan 3 menunjukkan bahwa pada titik 0 sampai titik 90 dengan kedalaman 1,25 meter sampai 7,86 meter memiliki nilai tahanan jenis berkisar antara 30,9 Ωm sampai 163 Ωm diidentifikasikan sebagai bidang gelincir berbentuk translasi yang sejajar dengan bidang lereng diduga berupa lempung dan pasir. Berdasarkan hasil penampang geolistrik, secara umum bidang gelincir di daerah Poncokusumo relatif lebih tinggi dibandingkan bagian diatasnya. Sehingga daerah ini sangat rawan terhadap bencana gerakan tanah terutama pada musim hujan. Maka secara umum dapat disimpulkan daerah Poncokusumo merupakan daerah rawan bencana gerakan tanah sehingga perlu diwaspadai karena merupakan jalur vital yang menghubungkan antara Poncokusumo – Desa Pandansari. Oleh sebab itu Perlu disosialisasikan kepada masyarakat sekitar, khususnya di daerah penelitian tersebut untuk waspada ketika mendirikan sarana pembangunan dikarenakan berpotensi terjadinya tanah longsor dengan zona kerentanan gerakan tanah yang tinggi

Sikap dan keterampilan yang perlu dimiliki untuk menjadi konselor sebaya menurut mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang / Dian Ratih Permana

 

Kata kunci: sikap, keterampilan, konselor sebaya Tidak semua mahasiswa bisa menjadi konselor sebaya (peer counselor). Seorang konselor sebaya harus memiliki kualitas pribadi yang baik agar dapat menunjang dalam proses konseling dengan konseli. Kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh konselor sebaya meliputi sikap dan keterampilan. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui keefektifan sikap dan keterampilan yang seharusnya dimiliki untuk menjadi konselor sebaya agar dapat menghasilkan konselor sebaya yang berkualitas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif (descriptive resarch). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang berisi sejumlah sikap dan keterampilan yang nantinya akan dibagikan kepada 30 responden dari angkatan 2008-2010. Hasil analisis penelitian adalah sikap primer yang perlu dimiliki (sangat dibutuhkan) untuk menjadi konselor sebaya adalah (1) sikap menghormati orang lain, dan (2) sikap objektif dalam menyelesaikan masalah. Keterampilan primer yang perlu dimiliki (sangat dibutuhkan) untuk menjadi konselor sebaya adalah (1) keterampilan dalam mengendalikan emosi, dan (2) kemampuan dalam menjaga rahasia orang lain. Hasil dari penelitian ini disarankan bagi bagi mahasiswa jurusan Bimbingan dan konseling: mahasiswa haruslah bisa memahami sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi konseor sebaya, mahasiswa harus memiliki sikap untuk menjadi konselor sebaya yang baik, mahasiswa harus terus melatih keterampilannya untuk menjadi konselor sebaya yang efektif, mahasiswa harus siap untuk menjadi konselor sebaya bagi teman sebayanya, hal ini bertujuan untuk mempersiapkan diri untuk nantinya menjadi seorang konselor profesional. Bagi jurusan Bimbingan dan Konseling, pihak jurusan hendaknya memilih dan melatih konselor sebaya untuk masing-masing angkatan. Sehingga para mahasiswa dapat belajar untuk menjadi konselor sebaya yang baik dan nantinya akan menjadi konselor profesional yang efektif, pihak jurusan hendaknya terus mengasah kemampuan konselor sebaya melalui pelatihan keterampilan agar dapat mencetak konselor sebaya yang efektif. Bagi peneliti Selanjutnya, peneliti diharapkan dalam pengambilan sampel untuk penelitian hendaknya lebih bervariasi dan lebih banyak, untuk memperoleh data yang lebih akurat, materi dalam angket bisa dibuat lebih sederhana untuk memudahkan mahasiswa yang akan menjawab, sikap dan keterampilan yang tertulis di angket bisa ditambahkan lagi.

Penerapan model kooperatif tipe stad untuk meningkatkan prestasi belajar pecahan siswa kelas V SDN Pandanrejo 1 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Sri Ramai

 

Kata kunci: prestasi belajar, matematika, model kooperatif Berdasarkan hasil obserfasi yang dilakukan di SDN Pandanrejo 01 pada saat pembelajaran guru terbiasa menjelaskan cara menyelesaikan soal pecahan, guru terbiasa memberikan contoh dipapan tulis dan kemudian memberikan soal untuk dikerjakan, guru terbiasa tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk kreatif dan aktif menemukan jawaban / pemecahan sendiri, guru terbiasa tidak menggunakan media dalam pembelajaran. Permasalahan inilah yang menyebabkan prosentase hasil belajar siswa menurun, khususnya dalam mata pelajaran matematika presentase hasil belajar siswa hanya mencapai 55% dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 60 untuk mata pelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan : mendeskripsikan penerapan pembelajaran Model Kooperatif Tipe STAD pada siswa kelas V SDN Pandanrejo 01 Kecamatan Wagir, dengan menerapkan pembelajaran Model Kooperatif Tipe STAD mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas V SDN Pandanrejo 01 Kecamatan Wagir dengan menerapkan pembelajaran Model Kooperatif Tipe STAD. Rancangan yang digunakan alam penelitian ini adalah menggunakan rancangan penelitian pendekatan kualitatif, karena data yang dikumpulkan berbentuk kata atau kalimat bukan angka. Sedangkan jenis PTK yang digunakan adalah kolaborasi yang dilaksanakan 2 siklus yang meliputi : 1.) perencanaan tindakan, 2.) tindakan, 3.) pengamatan 4.) refleksi. (1) hasil belajar siswa pada tes awal nilai rata-rata 41,53, siklus 1 nilai rata-rata 57,38 dan siklus 2 nilai rata-rata 80,76. (2) aktifitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari tes awal 23,07%, siklus 1 menjadi 26,93%, dan siklus 2 mencapai 65,38%. Penerapan model kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar tentang pecahan siswa SDN Pandanrejo 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Penerapan model kooperatif tipe STAD dapat mempermudah siswa mencapai prestasi belajar tentang pecahan khususnya bagi siswa kelas V SDN Pandanrejo 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Dalam penerapan model kooperatif tipe STAD hendaknya guru dapat mengembangkan lagi penggunaannya. Sehingga siswa mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan oleh guru dan memperoleh nilai sesuai dengan KKM yang diharapkan.

Problematika pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar se-kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Ady Putra Dian Jai

 

Kata Kunci: problematika pembelajaran, IPS SD. Mata pelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang pendidikan formal (sekolah), dan merupakan salah satu mata pelajaran yang berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Sehingga materi yang disajikan kepada siswa dapat berubah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Pembelajaran IPS selama ini dianggap sulit karena disebabkan banyaknya materi dalam IPS yang mengharuskan siswa untuk mempelajarinya. Sulitnya pembelajaran IPS tidak hanya diakarenakan banyaknya materi. Namun ada beberapa problematika yang ada pada pembelajaran IPS yang menyebabkan pembelajaran IPS menjadi sulit bagi siswa. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan problematika pembelajaran IPS di SD se-Kecamatan Karangploso. Problematika yang diteliti oleh peneliti berasal dari guru yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Peneliti menggunakan angket dalam pengumpuan data. Selain itu peneliti juga melakukan penilaian terhadap perencanaan pembelajaran yang digunakan guru dengan menggunakan APKG 1, serta observasi pelaksanaan pembelajaran dengan APKG 2. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel guru sebesar 12% dari total 100 guru yang menjadi populasi. Dari hasil penelitian dilapangan didapatkan beberapa guru masih belum menggunakan RPP dalam pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung masih didominasi oleh guru. Hasil belajar yang didapat oleh siswa rata-rata masih belum memenuhi kriteria kelulusan minimum. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, guru masih belum membuat RPP sendiri dalam perencanaan pembelajaran. RPP yang digunakan guru adalah RPP yang telah jadi tanpa ada modifikasi. Bahkan ada guru yang tidak menggunakan RPP dalam pelaksanaan pembelajaran. Sehingga guru kurang optimal dalam pelaksanaan pembelajaran. Kedua, pelaksanaan pembelajaran masih didominasi oleh guru. Jadi pembelajaran masih bersifat konvensional. Ketiga, metode yang digunakan guru lebih dominan memakai metode caramah. Sehingga pembelajaran nampak kurang berfariasi yang mengakibatkan pembelajaran menjadi kurang menarik Keempat, guru belum menghadirkan media dalam proses pembelajaran. Sehingga siswa nampak kurang begitu antusias terhadap proses pembelajaran yang berlangsung.

Peningkatan keterampilan menulis puisi melalui model pembelajaran think pair and share (TPS) pada siswa kelas V SDN dampit 2 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang / Yanik Rinawati

 

Kata Kunci: Menulis puisi, siswa kelas V, Model Pembelajaran Think Pair And Share (TPS) Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Dampit 2 diketahui bahwa; (1) Pembelajaran masih menggunakan metode konvensional ; (2) Dalam kegiatan pembelajaran menulis puisi sebagian besar siswa merasa kesulitan dalam merangkai kata-kata serta siswa merasa bingung akan menulis apa.Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan alternatif pembelajaran yang mampu meningkatkan penguasaan atau kemampuan siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) dalam meningkatkan keterampilan menulis puisi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Think Pair and Share (TPS) pada pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya keterampilan menulis puisi, (2) peningkatan keterampilan menulis puisi setelah menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) di kelas V. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan sebanyak 2 Siklus dan setiap siklus terdiri dari 1 kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) planning, (2) akting & observing, (3) reflecting, (4) revising planning. Subyek penelitian yaitu siswa kelas V SDN Dampit 2 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang pada semester gasal tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 32 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Think Pair and Share (TPS) terbukti dapat memberi struktur diskusi sehingga siswa tidak melantur pemikirannya dan terarah tingkah lakunya karena harus melaporkan hasil pemikirannya ke pasangannya. Berdasarkan analisis data hasil penelitian setelah diterapkan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) dalam menulis puisi diketahui bahwa: banyaknya siswa yang telah mengalami peningkatan dari pra tindakan sampai siklus II. sebelum siklus hasil yang didapat yaitu 65.5 %. Sedangkan pada saat sudah dilakukan siklus I hasil yang didapat meningkat yaitu 73.26 % dan pada saat pelaksanaan siklus 2 nilai siswa semakin meningkat yaitu 87.78 % . Dari data-data yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair and Share(TPS) dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa kelas V di SDN Dampit 2 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah agar memotivasi guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS). Untuk guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran Thiink Pair and Share (TPS) pada pelajaran yang lainnya agar siswa menjadi lebih aktif dan hasil belajarnya meningkat. Bagi peneliti model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) perlu dikembangkan lebih lanjut mengenai penggunaan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) yang lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan dan mencapai hasil yang diinginkan. Bagi peneliti lain, agar dapat mengembangkan penelitian tentang model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) yang lebih bervariasi lagi sehingga penelitian yang dilakukan dapat memperbaiki keterbatasan penelitian ini.

Hubungan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar bidang produktif dengan prestasi praktik kerja industri siswa Program Teknologi Informasi dan Komunikasi SMK Negeri 5 Malang / Bobby Dwi Kusumanugraha

 

Kata Kunci: Kemampuan Komunikasi, Prestasi Belajar Bidang Produktif, dan Prestasi Praktik Industri Magang kerja adalah matapelajaran yang wajib diberikan kepada siswa SMK berdasarkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Magang kerja bertujuan mengasah ilmu yang didapat selama mengikuti matapelajaran di sekolah. Faktor yang diprediksi mempengaruhi praktik industri dalam hal prestasi adalah kemampuan komunikasi. Komunikasi adalah peristiwa sosial yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia yang lain. Faktor kedua yang diprediksi berpengaruh pada praktik industri adalah prestasi belajar bidang produktif. Bidang produktif adalah segala mata diklat yang dapat membekali pengetahuan teknik dasar keahlian kejuruan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan Tingkat “Kemampuan Komunikasi”(X1);(2)Mendeskripsikan Tingkat“Prestasi Belajar Bidang Produktif” (X2); (3) Mendeskripsikan Tingkat “Prestasi Praktik Kerja Industri” (Y); (4) Mengungkap hubungan X1 dan Y; (5) Mengungkap hubungan X2 dan Y dan (6) Mengungkap tingkat hubungan antara X1 dan X2 secara bersama dengan Y. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional. Metode sampling yang dipakai adalah proporsional random sampling dengan responden 88 siswa. Analisis diperoleh dengan menggunakan teknik regresi linear ganda, yaitu untuk mengetahui besarnya hubungan (X1) dan (X2) secara bersama dengan (Y). Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS for Windows release 16. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Tingkat X1 dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 44 responden (50%); (2) Tingkat X2 dalam kategori tinggi sebanyak 88 responden (100%); (3) Tingkat Y dalam kategori tinggi 71 responden (81%). Nilai koefisien korelasi parsial antara X1 dengan Y yaitu Ry1 sebesar 0,218. Nilai koefisien korelasi parsial antara X2 dengan Y yaitu Ry2 sebesar 0,408. Besarnya nilai koefisien korelasi ganda 2 prekditor antara X1 dan X2 dengan Y yaitu R sebesar 0,478. Kesimpulan penelitian adalah sebagai berikut: (1) X1 berada dalam kategori tinggi, X2 dan Y berada dalam kategori tinggi; (2) Ada hubungan positif antara X1 dengan Y dengan sig. = 0,042 < 0,05; (3) Ada hubungan positif antara X2 dengan Y dengan sig. = 0,000 < 0,05; (4) Ada hubungan positif dan signifikan antara X1 dan X2 dengan Y dengan sig. = 0,000 < 0,05. Variabel Kemampuan Komunikasi dan Prestasi Belajar Bidang Produktif memberi sumbangan efektif terhadap Prestasi Praktek Kerja Industri sebesar masing-masing 5,43% dan 17,21% dengan total sumbangam 22,64%, sedangkan yang 77,36% disebabkan variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian.

Persepsi mahasiswa terhadap penerapan E-Learning dalam pemblajaran di jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Anggita Andariyanti.E.A.

 

Kata Kunci: persepsi, e-learning, Jurusan Teknologi Pendidikan Setiap orang pasti akan memiliki pandangan atau pendapat tentang sesuatu yang dilihat atau dirasakannya, hal ini kemudian dipersepsikan. Persepsi dapat berupa tindakan positif, negative atau bahkan tidak ada tindakan apa-apa. JurusanTeknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang menerapan e-learning dalam kegiatan pembelajarannya dengan menggunakan web site resmi sebagai media online. Mahasiswa tidak harus bertatap muka dengan dosen dalam ruang kelas, dengan syarat harus terkoneksi dengan internet dan terintegrasi dalam network yang dibangun oleh Jurusan Teknologi Pendidikan. Hal ini akan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda pada setiap mahasiswa terhadap sistem perkuliahan yang mereka ikuti, respon yang mereka berikan juga akan berbeda pada setiap individu. Berkaitan dengan itu, peneliti melaksanakan penelitian ini untuk mendeskripsikan persepsi mahasiswa jurusan teknologi pendidikan dan akibat dari persepsi tersebut terhadap motivasi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Dengan menggunakan instrument skala likert, data penelitian ini diolah dalam bentuk angka, dijabarkan secara sederhana dengan menggunakan kata-kata. Penjabaran menggunakan kata ini diharapkan akan memberikan pemahaman lebih bagi pembaca. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh fakta dan kesimpulah sebagai berikut. Diketahu bahwa 40,4% mahasiswa menyatakan bahwa e-learning saat ini telah dibutuhkan mahasiswa untuk membantu proses belajarnya, namun 27,1% mahasiswa merasa kurang nyaman dan termotivasi untuk memanfaatkan e-learning dalam kegiatan perkuliahan. Secara keseluruhan variabel yang telah digunakan dalam penelitian ini mempengaruhi persepsi mahasiswa terhadap penerapan e-learning di Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Untuk varibel kebutuhan e-learning responden berpendapat bahwa e-learning cukup dibutuhkan oleh mahasiswa, hal ini terbukti dengan hasil perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti pada variabel tingkat pelayanan dan tingkat kepuasan. Beberapa data menunjukkan responden kurang puas terhadap tingkat pelayanan yang diberikan dalam penerapan e-learning yang telah dilaksanakan. Hal ini akan mengurangi motivasi dan antusias mahasiswa jika tidak segera ditangani, baik dari segi teknologi, jam tatap muka dengan dosen dan segi akses mahasiswa terhadap segala hal yang terkait dengan perkuliahan.

Studi perencanaan, pelaksanaan, dan analisa biaya tangga proyek pembangunan gedung rumah sakit lavalette Malang / Sayyid Muhamad Alwi

 

Kata kunci: perencanaan, pelaksanaan, analisa biaya, tangga beton bertulang Proyek akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan analisa biaya pekerjaan tangga beton bertulang pada proyek pembangunan Rumah Sakit Lavelette Malang. Pada proyek akhir ini berdasarkan hasil kerja pengembangan (proyek). Pada perencanaan tangga dan perhitungan anggaran biaya berdasarkan kajian teoritis. Studi pelaksanaan berdasarkan pengamatan berupa observasi pada obyek yang diamati. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan, wawan-cara, dan dokumentasi. Setelah semua data terkumpul, kemudian dianalisa dan selanjutnya dideskripsikan. Hasil studi mengenai perencanaan tangga beton bertulang sesuai teori karena perencanan tangga berdasarkan kajian teori yang berlaku. Perencanaan diawali dengan desain tangga meliputi: kemiringan tangga, lebar tangga, lebar dan tinggi anak tangga. Selanjutnya adalah perencanaan struktur tangga yang memiliki beberapa tahapan meliputi:perhitungan pembebanan, mekanika, beton, dan gambar rencana. Pelaksanaan tangga secara umum sesuai teori yang berlaku. Namun pada pengujian, penakaran, perawatan, dan pelepasan bekisting tidak sesuai teori yang berlaku. Selisih hasil perhitungan anggaran biaya proyek dan anggaran biaya menurut SNI 2008 adalah Rp. 2,487,000.00. Perbedaan diakibatkan perbedaan koefisien, kebutuhan dan penggunaan tulangan dalam perhitungan anggaran biaya. Tahapan perencanaan dan perhitungan anggaran biaya diharapkan sesuai dengan teori yang berlaku. Pada pelaksanaan diharapkan mengacu pada Rencana Kerja dan Syarat (RKS) pada dokumen kontrak.

Studi pelaksanaan pekerjaan tiang pancang pile slab (Fly Over) jembatan martadipura Tenggarong, kalimantan Timur / Arif Budi Cahyono Putra

 

Kata Kunci: pelaksanaan, tiang pancang, Pile Slab (Fly Over) Pondasi adalah struktur perantara yang berfungsi meneruskan beban bangunan di atasnya (termasuk beban sendiri) ke tanah tempat pondasi tersebut berpijak tanpa menyebabkan kerusakan tanah yang diikuti dengan terjadinya penurunan bangunan di luar batas toleransinya. Pondasi yang digunakan adalah tiang pancang yang merupakan pondasi dalam. Dasar pertimbangan pemilihan jenis pondasi ini adalah dari hasil data sondir yang menunjukkan bahwa daya dukung tanah dan lapisan tanah keras baru bisa dicapai pada kedalaman 40 meter dari permukaan tanah, karena jenis tanahnya adalah tanah rawa. Sehingga jenis pondasi yang cocok digunakan adalah pondasi tiang pancang. Studi lapangan pelaksanaan pondasi tiang pancang ini dilakukan pada proyek jalan pendekat pile slab (fly over) jembatan martadipura kecamatan kota bangun, tenggarong, provinsi kalimantan timur. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada studi lapangan ini adalah: (1) observasi lapangan, (2) wawancara/interview, dan (3) dokumentasi. Setelah semua data terkumpul, kemudian dianalisa dan selanjutnya dideskripsikan. Studi lapangan ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui proses pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang pancang jenis tanah rawa, dan (2) mengetahui proses pelaksanaan pekerjaan pier head sebagai penutup pondasi tiang pancang. Hasil Studi lapangan dan pembahasan menunjukkan bahwa, tahapan pelaksanaan pondasi tiang pancang adalah: (1) Lokasi titik pancang yang ditentukan sebanyak 220 titik sepanjang 1100m, yang ditentukan dengan menggunakan bantuan theodolit. Setelah diketahui titik-titik pancangnya, kemudian ditandai menggunakan patok, agar mudah diingat, (2) pengangkatan tiang pancang dengan cara melilitkan tali besi alat pancang dengan jarak 1/5 dari panjang tiang pancang atau 1,6-2,4m dari tepi tiang. panjang tiang pancang 8-12m. (3) Pengecekan ketegakan tiang pancang menggunakan bantuan theodolit karena pemancangan berada diatas air. Sehingga akan diperoleh ketegakan yang benar-benar tegak, (4) Pemancangan dilakukan dengan menggunakan ponton karena muka ketinggian air > 1 meter, (5) Penyambungan dilakukan dengan cara pengelasan menggunakan elektroda, (6) dilakukan calendering 10 pukulan terakhir sebesar 2,5 cm, (7) Pemancangan tiang dilakukan dengan bantuan alat pemancang, yaitu Hammer Hidrolis. Sedangkan untuk pelaksanaan pier head adalah: (1) sebelum pemasangan begisting terlebih dahulu dipasang balok penyangga searah longitudinal balok jembatan dan balok penyangga arah transversal jembatan sebagai penerus beban dari balok penyangga dengan baja IWF yang diikatkan ke tiang pancang, (2) dari daftar potong dan bengkok besi dapat direncanakan pemotongan yang paling efisien, sehingga sisa yang terbuang sesedikit mungkin, (3) Metode pengecoran beton yang digunakan adalah dengan menggunakan pipa. Saat pengecoran, beton tidak boleh dijatuhkan dari ketinggian lebih dari 150 cm, (4) Untuk merawat beton dengan cara selalu dibasahi pada permukaan atau dengan menutupi permukaan dengan cara tertentu dalam waktu lebih dari enam hari sehingga mengurangi kecepatan penguapan, (5) Pembongkaran cetakan beton dapat dilaksanakan setelah beton mengeras dan sudah mempunyai tegangan tekan yang dipersyaratkan yang dapat dicapai pada umur 28 hari (4 minggu).

Proses berpikir siswa dalam membuat koneksi matematika melalui aktivitas problem solving / Abdollah

 

Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Subanji,S.Pd., M.Si.dan (2) Dr. H. Makbul Muksar,S.Pd.,M.Si. Kata kunci: proses berpikir, koneksi matematika, dan aktivitas problem solving. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang dihadapi siswa SMP Negeri 1 Kertosono, yaitu kemampuan siswa dalam melakukan koneksi matematika, terutama koneksi antar konsep matematika dan koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari, masih tergolong rendah. Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa siswa sering merasa kesulitan dalam membuat koneksi matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan koneksi matematika dalam aktivitas Problem Solving. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian deskriptif eksploratif. Koneksi matematika adalah aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam : menghubungkan antar konsep matematika, prosedur sebagai representasi ekuivalen, keterkaitan matematika dan diluar matematika, serta matematika dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas Problem Solving dalam penelitian ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam memecahkan masalah matematika yang meliputi : (1) memahami masalah (Understanding the problem); (2) Carrying out the plan) dan (4) melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan (doing recheck).merencanakan cara penyelesaian (Devising a plan); (3) melaksanakan rencana Temuan penelitian ini, bahwa proses koneksi matematika kelompok atas dan kelompok sedang lengkap, sesuai dengan kerangka konseptual dalam pemecahan masalah (Problem Solving) yaitu: mampu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan penyelesaian dan melakukan pengecekan kembali hasil pekerjaannya dengan cepat. Dalam membuat koneksi antar konsep, subjek kelompok atas dan kelompok sedang mampu menemukan rumus luas trapesium sama kaki sebagai jumlah luas segitiga siku-siku dan luas persegi, sedangkan dalam membuat koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari, subjek kelompok atas dan kelompok sedang, mampu menggunakan matematika dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Proses koneksi matematika subjek kelompok bawah, baik koneksi antar konsep matematika maupun koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari belum sesuai dengan kerangka konseptual dalam pemecahan masalah (Problem Solving). Subjek kelompok bawah tidak dapat menemukan rumus luas trapesium sama kaki sebagai jumlah luas dua segitiga siku-siku dan persegi. Sedangkan dalam membuat koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari siswa kelompok bawah belum secara langsung mengintegrasikan semua informasi yang diperoleh dalam menyelesaikan masalah matematika.

Upaya sekolah dalam mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi / Nurina Fardila Sari

 

Kata kunci: Sikap Nasionalisme, Siswa. SMA Negeri 2 Ngawi adalah salah satu sekolah favorit di Kabupaten Ngawi. Sekolah ini banyak menghasilkan generasi penerus Ngawi yang bertanggung jawab dan berpotensi untuk membangun kota Ngawi menjadi lebih maju. Selain itu berdasarkan input kemampuan siswa yang masuk di SMA Negeri 2 Ngawi tergolong tinggi, dan prestasi yang ditorehkan sangat membanggakan, sehingga penulis tertarik untuk menjadikan SMA Negeri 2 Ngawi sebagai objek penelitian, dan oleh karena itu peneliti melakukan penelitian mengenai ”Upaya sekolah dalam Mengembangkan Sikap Nasionalisme Siswa di SMA Negeri 2 Ngawi”. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan program sekolah yang berhubungan dengan nasionalisme, (2) Mendeskripsikan pihak yang berperan dalam upaya sekolah dalam mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi, (3) Mendeskripsikan upaya sekolah dalam mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi, (4) Mendeskripsikan kendala serta upaya mengatasi kendala dalam upaya mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian yang dipilih adalah di SMA Negeri 2 Ngawi. Sumber data dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Metodeanalisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh empat simpulan sebagai berikut. Pertama, program sekolah yang berhubungan dengan nasionalisme melalui bidang akademik dan non akademik. Bidang akademik, melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah yang diintegrasikan berdasarkan materi dan metode pembelajaran. Sedangkan non akademik melalui kegiatan ekstrakurikuler. Pihak yang berperan dalam upaya mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi yaitu: kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa. Kepala sekolah berperan antara lain: membangun suasana yang kondusif dan menjalin komunikasi yang baik dengan komunitas sekolah, maupun pihak lain. Guru berperan mengevaluasi, dan memotivasi siswa. Karyawan berperan memberikan contoh sikap yang baik pada siswa. Sedangkan siswa berperan sentral sebagai objek dalam penelitian ini. Upaya sekolah dalam mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi, dilakukan melalui bidang akademik dan non akademik. Bidang akademik melalui materi dan metode yang disampaikan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah. Sedangkan non akademik, misalnya kegiatan baksos, yang diselenggarakan oleh OSIS, PMR, Pramuka, dan Pecinta Alam. Kegiatan ini melatih siswa untuk melakukan sikap tolong menolong dan melatih siswa mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama tanpa ada perbedaan. Seperti semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Kendala yang dihadapi dalam melaksanakan upaya mengembangkan sikap nasionalisme siswa di SMA Negeri 2 Ngawi berasal dari bidang akademik dan non akademik. Dalam bidang akademik, berasal dari siswa dan guru. Sedangkan bidang non akademik yaitu sarana prasarana, dana, dan dukungan dari orang tua.

Hubungan antara pemahaman budaya politik dengan partisipasi politik siswa melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMA Islam Diponegoro Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Chandra Kusaditiyanto

 

Kata kunci : Pemahaman budaya politik, partisipasi politik. Pembelajaran budaya politik bertujuan untuk menggabungkan siswa yang kritis dan paham politik sehingga pada saatnya nanti akan memperkuat partisipasi publik dalam proses demokrasi. Siswa juga akan mendapat pengajaran melalui proses pemilihan orientasi, sidang umum dan evaluasi. Selain itu diharapkan siswa paham tentang pentingnya pengetahuan berdebat dan bernegosiasi dan pentingnya keterlibatan siswa berpolitik. Siswa yang berpartisipasi dalam proses politik misalnya melalui pemberian suara atau kegiatan lain terdorong oleh keyakinan bahwa melalui kegiatan bersama itu kebutuhan dan kepentingan mereka akan tersalur atau sekurang-kurangnya diperhatikan dan bahwa mereka sedikit banyak dapat mempengaruhi tindakan-tindakan dari mereka yang berwenang untuk membuat keputusan-keputusan tersebut. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian tentang hubungan antara pemahaman budaya politik dengan partisipasi politik siswa melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Islam Diponegoro Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui pemahaman budaya politik siswa di SMA Islam Diponegoro Kecamatan Wagir Kabupaten Malang; (2)Mengetahui partisipasi politik siswa SMA Islam Diponegoro Kecamatan Wagir Kabupaten Malang; (3) Mengetahui hubungan antara pemahaman budaya politik dengan partisipasi politik siswa melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMA Islam Diponegoro Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Lokasi penelitian di SMA Islam Diponegoro, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket, dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Islam Diponegoro yang berjumlah 70 siswa, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling, karena populasi berjumlah tidak lebih dari 100 maka seluruh populasi dijadikan sebagai sampel. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Berdasarkan hasil penelitian mengenai pemahaman budaya politik dengan menggunakan tes soal dapat disimpulkan bahwa hasil tes siswa secara umum baik. Hasil analisis data tingkat pemahaman budaya politik menunjukkan bahwa dari 70 responden sebanyak 10 responden (14,28%) termasuk dalam kategori sangat baik, 31 responden (44,28%) termasuk dalam kategori baik, 26 responden (37,14%) termasuk dalam kategori cukup dan 3 responden (4,28%) termasuk dalam kategori kurang. Sedangkan mean dari variabel pemahaman budaya politik adalah 52,43 yang berada pada kualifikasi baik.; (2) Berdasarkan hasil penelitian mengenai partisipasi politik dengan menggunakan tes angket dapat disimpulkan bahwa hasil tes angket siswa secara umum tinggi. Hasil analisis data partisipasi politik menunjukkan bahwa dari 70 responden sebanyak 31 responden (44,28%) termasuk dalam kategori sangat tinggi, 34 responden (48,57%) termasuk dalam kategori tinggi, 5 responden (7,14%) termasuk dalam kategori rendah dan tidak ada responden (0 %) termasuk dalam kategori sangat rendah. Sedangkan mean dari variabel partisipasi politik adalah 63,75 yang berada pada kualifikasi tinggi; (3) Ada hubungan yang signifikan antara pemahaman budaya politik dengan partisipasi politik siswa melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Islam Diponegoro Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, berdasarkan uji hipotesis dapat dilihat dari perolehan r hitung sebesar 0,328 dan nilai signifikansi sebesar 0,003. Hasil r tersebut kemudian dikonsultasikan dengan tabel kritik r product moment pada taraf signifikansi 5% dengan N/responden sejumlah 70 yaitu 0,235. Dari hasil tersebut didapat nilai r hitung diatas nilai r tabel (0,328 > 0,235). Karena nilai r hasil > nilai r tabel (0,328 > 0,235), dan nilai sinifikansi hasil < nilai p pada taraf kepercayaan 95% (0,003 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, dan koefisien korelasi signifikan. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan adalah sebagai berikut; (1) perlu diadakan penelitian lain serta pemikiran kritis terhadap pemahaman budaya politik ; (2) siswa diharapkan lebih sadar akan pentingnya partisipasi politik sebagai sarana untuk dapat menyalurkan aspirasi mereka.

Bentuk dan pemanfaatan "LKS" sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya kelas VIII semester 1 di SMP Negeri 6 Malang / M. Ajib Maulana

 

Kata Kunci : Bentuk, Pemanfaatan, Media LKS, Seni budaya, SMP Media LKS merupakan lembar kerja bagi siswa baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler yang difungsikan untuk mempermudah pemahaman terhadap materi pelajaran yang didapat. Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik apabila tersedia suatu media yang baik dan efektif serta dapat difungsikan secara optimal oleh penggunanya. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk dan pemanfaatan media pembelajaran pada kegiatan pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya dengan menggunakan media LKS di SMP Negeri 6 Malang pada tahun ajaran 2010/2011, sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut ; 1) Untuk mengetahui bagaimana bentuk LKS dalam pembelajaran pada mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 6 Malang, 2) Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan media LKS dalam pembelajaran pada mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 6 Malang. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Dalam pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan wawancara. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII, pengambilan sampel dilakukan secara purposive sample (sampel pertimbangan) pada kelas VIII SMP Negeri 6 Malang yang berjumlah 8 kelas, selanjutnya dilakukan sampel kelas dengan cara random sampling (secara acak) dengan mengambil sebagian siswa. Teknik analisis datanya dengan teknik triangulasi data. Hasil penelitian tentang bentuk dan pemanfaatan “LKS” sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya kelas VIII semeter 1 di SMP Negeri 6 Malang adalah ; bentuk media LKS sebagai media pembelajaran seni rupa, dari semua indikator-indikator yang sudah disebutkan di silabus seni budaya, kesemuanya sudah dijabarkan dalam bentuk materi dan soal-soal dalam LKS. Berdasarkan pada analisis data dapat diambil kesimpulan bahwa media LKS ini masih kurang efektif jika digunakan sebagai madia pembelajaran seni budaya secara keseluruhan, karena bentuk dan pemanfaatannya masih kurang optimal. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan hendaknya dalam pembuatan LKS lebih menarik bagi siswa dan dalam pemanfaatannya hendaknya para siswa lebih mandiri dalam menggunakan LKS. Dengan cara seperti itu madia tersebut akan lebih efektif karena siswa akan lebih berinteraksi denngan media LKS, dan media ini bisa menjadi media pembelajaran yang baik.

Ketersediaan akses bagi masyarakat yang kurang mampu untuk memperoleh pendidikan di SMPN 18 Kota Malang / Lucy Rosminingrum

 

Kata Kunci: akses, pendidikan, masyarakat yang kurang mampu Pada masyarakat yang kurang mampu, mendapatkan akses untuk memperoleh pendidikan sangat penting. Akses tersebut akan membantu masyarakat yang kurang mampu sehingga dapat melanjutkan pendidikan tanpa dibebani masalah biaya. Sekolah sebagai tempat menimba ilmu wajib menerima setiap masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan baik masyarakat yang mampu maupun masyarakat yang kurang mampu. Sehingga bagi masyarakat yang kurang mampu tetap bisa bersekolah dengan tersedianya akses yang ada di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kebijakan SMPN 18 Malang untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dalam memperoleh pendidikan, (2) bentuk akses yang ada di SMPN 18 Malang dalam membantu masyarakat yang kurang mampu, (3) realisasi SMPN 18 Malang guna membantu masyarakat yang kurang mampu terhadap akses pendidikan, (4) kendala yang dihadapi SMPN 18 Malang dalam mnyediakan akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu, dan (5) cara mengatasi yang dilakukan SMPN 18 Malang terhadap kendala yang ada. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Tahapan pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumen, dan observasi. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) kebijakan SMPN 18 Malang untuk membantu siswa yang kurang mampu, yaitu: a) menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa yang kurang mampu melalui BOS, b) Pemberian Beasiswa, c) Pembebasan SBPP, dan d) BASIS untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah bagi siswa yang kurang mampu. (2) bentuk akses dalam memperoleh pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu di SMP Negeri 18 Malang terdapat 4 macam, yaitu: a) menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa yang kurang mampu melalui BOS, b) Pemberian Beasiswa, c) Pembebasan Sumbangan Pengembangan Pendidikan, d) Bantuan Siswa. (3) empat macam bentuk akses yang dimiliki SMP Negeri 18 Malang terbukti dapat membantu masyarakat yang kurang mampu untuk melanjutkan sekolah dan tetap memperoleh pendidikan walaupun mereka tidak mampu dalam membayar biaya pendidikan. (4) kendala yang dialami SMP Negeri 18 Malang dalam menyediakan akses tersebut yaitu: a) sekolah suka terlambat dalam mendapatkan dana BOS, b) beasiswa tidak rutin ada, c) pengembangan pendidikan di sekolah menjadi terhambat, dan d) sekolah sedikit kesulitan dalam mengetahui masyarakat mana yang tergolong mampu dan masyarakat mana yang tergolong kurang mampu. (5) Kemudian solusi untuk mengatasi kendala yang ada, yaitu: a) bendahara sekolah akan lebih tepat waktu dalam membuat laporan untuk mencairkan dana BOS, b) sekolah akan menggunakan akses lain walaupun tidak ada beasiswa sehingga siswa tetap etrbantu, c) dana yang dimiliki sekolah lebih diutamakan dikeluarkan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu, d) sekolah melakukan home visit agar tidak mengalami kecurigaan. Dari hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi Pemerintah hendaknya lebih mengoptimalkan kebijakan mengenai akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu. (2) Bagi Dinas Pendidikan hendaknya lebih memperhatikan kepada masyarakat yang kurang mampu agar mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan dengan cara mendukun akses-akses yang ada di sekolah. (3) Bagi sekolah hendaknya tetap memberikan akses bagi masyarakat yang kurang mampu untuk memperoleh pendidikan dan tidak mengeluarkan masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pendidikan. (4) Bagi masyarakat hendaknya menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting sehingga akan berkurangnya jumlah anak yang putus sekolah.

Pengembangan perangkat ajar materi sistem persamaan linier dua variabel yang kontekstual untuk siswa SMP RSBI / Arista Dewi

 

Kata Kunci: perangkat ajar, pendekatan kontekstual, RSBI. Pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Perangkat ajar dikembangkan untuk membantu guru RSBI dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Perangkat ajar berupa RPP dan LKS yang kontekstual ini dapat mewujudkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. LKS yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar bagi siswa. Tujuan pengembangan ini adalah tersusunnya perangkat ajar materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel yang valid, praktis, dan efektif serta kontekstual untuk siswa SMP RSBI. Pengembangan perangkat ajar ini menggunakan model pengembangan menurut Suhartono. Prosedur pengembangan perangkat ajar melalui tahap-tahap, yaitu : (1) analisis situasi awal, (2) pengembangan rancangan perangkat ajar, (3) penulisan perangkat ajar, dan (4) penilaian perangkat ajar. Berdasarkan hasil analisis pengembangan, keseluruhan aspek penilaian, yaitu: (1) kevalidan, (2) kepraktisan, (3) keefektifan, perangkat ajar dinyatakan valid, praktis, dan efektif. Dengan demikian perangkat ajar yang telah dikembangkan layak dijadikan sebagai perangkat ajar dalam pembelajaran Matematika pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel untuk siswa SMP RSBI. Walaupun secara keseluruhan perangkat ajar yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan efektif, tetapi sebagai penyempurnaan perangkat ajar, ada beberapa revisi yang dilakukan oleh pengembang berdasarkan saran dan kritik yang diberikan oleh dosen dan guru. Saran untuk pengembangan perangkat ajar selanjutnya diharapkan guru bidang studi Matematika untuk RSBI dapat menerapkan produk pengembangan ini pada siswa SMP RSBI. Selain itu diharapkan pada pengembang yang lain untuk dapat mengembangkan perangkat ajar lainnya seperti silabus dan buku pedoman untuk guru SMP RSBI.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia interaktif pada materi lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP / Rima Anisa Widyaningrum

 

Kata kunci: Pengembangan, media pembelajaran, multimedia interaktif, lingkaran. Pengembangan ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi peneliti, diperoleh data mengenai situasi dan kondisi pembelajaran matematika di SMP Negeri 9 Malang. Temuan yang didapatkan penulis adalah minat dan motivasi siswa kurang untuk belajar menggunakan buku paket pembelajaran, khususnya mata pelajaran matematika kelas VIII, serta pembelajaran yang diterapkan masih konvensional. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan media pembelajaran untuk siswa tentang materi lingkaran. Materi ini dirasa sulit oleh siswa dan selama ini pembelajaran matematika belum pernah menggunakan media berbasis multimedia interaktif. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) mendiskripsikan proses perancangan dan pengembangan media pembelajaran matematika berbasis multimedia interaktif pada materi lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP yang valid dan praktis, (2) mendiskripsikan cara pengujian media pembelajaran matematika berbasis multimedia interaktif pada materi lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP yang valid dan praktis. Model pengembangan yang digunakan menurut Stephen M. Alessi dan Stanley R.Trollip yaitu menentukan tujuan dan kebutuhan, mengumpulkan bahan acuan, mempelajari isi materi, membangkitkan ide, mendesain pembelajaran, membuat flowchart materi, membuat story board pada kertas, memprogram materi, membuat materi pendukung, evaluasi, dan revisi. Media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini telah diuji kevalidannya dan kepraktisannya. Subjek uji coba dalam pengembangan media terdiri dari lima orang validator (ahli materi dan ahli Teknologi Informasi) dan lima belas siswa sebagai pengguna saat uji coba produk. Dari data kuantitatif hasil analisis data hasil validasi Ahli Materi dan Ahli Teknologi Informasi didapatkan persentase validasi adalah 93,35% dan 77,06% dengan kriteria sangat valid. Sedangkan dari data kuantitatif hasil analisis data hasil uji kepraktisan oleh pengguna didapat presentase kepraktisan adalah 90,41%, dengan kriteria sangat praktis. Data kualitatif yang berupa saran dan komentar dari validator dan pengguna akan dijadikan pertimbangan peneliti dalam revisi media. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengharapkan kepada peneliti lainnya untuk melaksanakan penelitian sejenis dengan materi dan permasalahan yang berbeda.

Penerapan model pembelajaran rotating trio exchange untuk meningkaytkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Norma Rumbaru

 

Kata Kunci: Pembelajaran IPS, rotating trio exchange, aktivitas dan hasil belajar. Pembelajaran IPS sebetulnya merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena materi yang ada pada mata pelajaran IPS merupakan dasar untuk diterapkan dalam kehidupan dilingkungan sosialnya. Sementara pada observasi yang dilakukan peneliti di SDN Lesanpuro I Kec Kedungkandang Kota Malang, ditemukan bahwa proses pembelajaran yang di lakukan oleh guru masih minim atau bersifat konvensional, kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah sehingga membuat siswa berbicara dengan teman ketika guru menjelaskan materi, guru tidak menggunakan media/alat peraga, guru lebih cenderung menggunakan buku LKS yang di miliki oleh setiap siswa. Sehingga hasil belajar yang diperoleh siswapun masih belum mencapai KKM yang ditentukan. Berdarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah: (1) menerapkan model pembelajaran Rotating Trio Exchange pada mata pelajaran IPS, (2) meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, (3) meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Jenis rancangan penelitian ini adalah PTK model Kemmis dan Taggart dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang sebanyak 46 siswa. Teknik pengumpulan data ini menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Hal ini dibuktikan pada nilai aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 54,21, dan siklus II sebesar 59,51. Sementara untuk hasil belajar siswa, ketuntasan pada pra tindakan sebesar 66,9 (kurang), siklus I sebesar 74,13 (cukup), dan siklus II sebesar 82,17 (baik). Dapat dinyatakan bahwa terdapat 39 dari 46 siswa yang telah mencapai KKM yang ditetapkan oleh sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Lesanpuro I Kec Kedungkandang Kota Malang. Dan saran yang dapat diberikan yaitu agar dalam proses belajar mengajar hendaknya guru menggunakan model pembelajaran khususnya model Rotating Trio Exchange untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang / Wibi Gilang Saputro

 

Kata Kunci: Kontekstual, Model Numbered Heads Together (NHT), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, IPS. Hasil observasi awal di SDN Ketawanggede 2 Malang Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, belum pernah menerapkan pembelajaran Pembelajaran Kontekstual dengan Menggunakan Model Numbered Heads Together (NHT) dalam pembelajaran IPS. Dominasi guru dalam pembelajaan menyebabkan siswa lebih banyak menunggu sajian guru. Akibat hasil belajar siswa sebesar 70% belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang di tetapkan oleh sekolah yaitu 69. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) perlu digunakan sebagai sebagai alternatif dalam pembelajaran karena siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah yaitu mendiskripsikan penerapan pembelajaran, aktivitas, dan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, terdiri dari 2 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari 4 tahap, yaitu planning, acting & observing, reflecting, dan revise plan. Subyek penelitian ini adalah 23 siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, catatan lapangan dan tes. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa: 1) Pada pembelajaran IPS siklus I dengan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) kemampuan guru dalam membuat RPP mencapai skor 90 dan pada siklus II mencapai skor 93,33. Kemampuan guru dalam pembelajaran sesuai dengan RPP pada siklus I mencapai 87,5 dan pada siklus II mencapai 92,5. 2) Aktivitas belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata mencapai 55,97%, sedangkan siklus II rata-rata meningkat menjadi 72,27%. 3) Kentuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 43,47% dan pada siklus II ketuntasan belajar siswa mencapai 95,65%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu, penerapan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) pada pokok bahasan masalah sosial dilaksanakan mulai dari kegiatan awal, dilanjutkan kegiatan inti melalui numbering, questioning, heads together, answering, dan diakhiri dengan evaluasi, penerapan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peneliti menyarankan kepada kepala sekolah memberi masukan kepada guru tentang pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) kepada guru. Guru agar menerapkan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT) pada mata pelajaran, materi, dan kelas lain yang sesuai dengan karakteristik NHT. Agar pembelajaran dapat berhasil hendaknya lebih memperhatikan alokasi waktu, jalannya diskusi, dan menciptakan suasana yang kompetitif pada saat answering.

Penerapan konsep dan prinsip contextual teaching and learning (CTL) dalam pembelajaran bahasa Arab di MTsN Malang I / Hakim

 

Kesiapan madrasah aliyah negeri Kota Malang dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran bahasa Arab / Wiwik Widyasih

 

A descriptive study on the implementation of portofolio assessment in the English class at SMA Negeri 10 Malang / Nita Oktifa

 

English computer terms as borrowed by an information technology student: a case study / Risna Inayah

 

Perbandingan prestasi mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada mata kuliah ZD/ZiDS-Vorbereitung antara yang memiliki dan yang tidak memiliki latar belakang pembelajaran bahasa Jerman di SMTA / Yeni Kurniawan Murdiani

 

Analisis makna leksikal dan makna kontekstual dalam lagu Herbert Gronemeyer album Mensch / Krisna Aji Kusuma

 

Pengaruh iklan Gudang Garam International pada tayangan sepak bola piala Eropa 2004 Portugal di televisi terhadap keputusan pembelian konsumen / Ichsanudin Nur

 

Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap keputusan peserta didik dalam memilih lembaga pendidikan / Achmad Nurhidayat

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mahasiswa angkatan 2002 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli buku panduan perkuliahan / Arif Darmawan

 

Pengaruh persepsi tentang pemberian kompensasi dan motivasi terhadap semangat kerja pegawai Dinas Pendidikan Kota Malang / Hendri Sulistiyo Adhi Cahyono

 

Persepsi karyawan tentang tipe kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap kinerja karyawan Hotel Montana I Malang / Sucik Andarwati

 

Potensi sektor pariwisata dan peluang pengembangannya dalam meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur / Agung Hardika Putra

 

Kata Kunci: potensi pariwisata, peluang, Pendapatan Asli Daerah. Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan tidak terlepas dari peran serta daerah dalam turut mewujudkan tujuan pembangunan daerah secara utuh dan terpadu merupakan bagian internal dari pembangunan nasional. Untuk itu daerah yang diberi kewenangan untuk mengatur daerahnya sendiri sehingga diharapkan mempunyai kemampuan untuk menyediakan dan menggali potensi yang ada dan dapat dijadikan sumber keuangan. Salah satunya dengan memanfaatkan potensi dan peluang pariwisata. Dengan dimanfaatkannya potensi dan peluang pariwisata menjadi suatu industri yang diharapkan mampu meningkatkan sumbangan Pendapatan Asli Daerah. Meskipun bukan penyumbang yang utama, namun potensi dan peluang pariwisata Kabupaten Tulungagung memiliki peranan yang cukup penting, yakni sebagai salah satu penyumbang dalam penerimaan retribusi daerah pada khususnya dan PAD pada umumnya. Mengingat pentingnya Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber dari pembiayaan bagi pembangunan daerah disamping dana dari Pemerintah Pusat. Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut. Bagaimana Potensi Sektor Pariwisata Dan Peluang Pengembangannya Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Di Kabupaten Tulungagung?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dirancang dengan jenis penelitian deskriptif dengan menggabungkan metode kualitatif dan metode kuantitatif. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment) dan analisis kontribusi. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung, beberapa obyek wisata di Kabupaten Tulungagung yang statusnya belum beroperasi dan salah satu lokasi wisata yang sudah beroperasi dengan teknik survei lapangan dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Ada tiga obyek wisata yang paling berpotensi dan mempunyai peluang untuk dikembangkan yaitu obyek wisata pantai, diantaranya adalah Pantai Sine, Pantai Sidem, Pantai Klatak, (2) Rata-rata perkembangan penerimaan retribusi sektor pariwisata menunjukkan angka 13,23% pertahun, (3) Rata-rata kontribusi retribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah ialah 0,22% pertahun, (4) Retribusi sektor pariwisata dapat ditingkatkan minimal sebesar 1,5 kali dan maksimal sebesar 1,8 kali di tahun 2009. Sehingga secara kasar pada tahun 2009, retribusi sektor pariwisata dapat menyumbang pendapatan asli daerah minimal sebesar 0,18% pertahun dan maksimal sebesar 0,21% pertahun, (5) Retribusi sektor pariwisata dapat ditingkatkan minimal sebesar 1,6 kali dan maksimal sebesar 1,9 kali di tahun 2010, (6) Ada 2 jenis upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan potensi dan peluang pariwisata di Kabupaten Tulungagung yaitu upaya intensifikasi dan ekstensifikasi. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan potensi dan peluang pariwisata dalam kaitannya dengan PAD Kabupaten Tulungagung adalah: (1) Bagi Dinas Pariwisata perlu dioptimalkan dan digali lagi potensi-potensi wisata yang telah ada maupun yang belum tergali agar mendorong penerimaan retribusi, dengan cara pengoptimalan kembali usaha intensifikasi dan ekstensifikasi potensi wisata dan peluang pengembangannya, merencanakan adanya pekan budaya yang bertujuan mempromosikan potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Tulungagung sehingga mampu menarik minat wisatan maupun menarik investor untuk menjalin kerjasama mengembangkan potensi wisata yang mempunyai peluang untuk dikembangkan, dan perlu membuat paket-paket wisata yang berhubungan satu dengan yang lainnya, (2) Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung selaku pembuat kebijakan, maka sebagai pemerintah dapat menetapkan kebijakan yang mendukung pemanfaatan potensi sektor pariwisata dan peluang pengembangannya dalam meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Tulungagung, (3) Bagi peneliti selanjutnya, mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai teknik pengambilan data yang hanya menggunakan protret wisata yang paling dominan dan melakukan analisis hanya pada satu lokasi wisata, maka penelitian selanjutnya agar menggunakan beberapa lokasi sehingga hasil analisis yang dilakukan bisa lebih halus, rasional dan terpercaya untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik, (4) Bagi masyarakat agar ikut serta dalam memanfaatkan potensi sektor pariwisata dan peluang pengembangannya dengan menjaga kelestarian wisata.

Pelaksanaan audit internal pada prosedur kerja dalam rangka memaksimalkan pelayanan di PT. TASPEN (Persero) cabang Malang / Mulyani

 

Kata Kunci: Pengendalian Internal, Audit Internal Suatu perusahaan akan berjalan dengan baik apabila sistem yang digunakan juga baik sesuai dengan prosedur yang ditentukan. Dalam rangkaian sistem manajemen sub sistem pengendalian interal harus saling melengkapi guna tercapainya suatu tujuan perusahaan. Tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah (1) Untuk mengetahui pelaksanaan audit internal, (2) Mengetahui kendala apa yang dihadapi Tim Audit, (3) Langkah apa yang dilakukan Tim Audit Internal dalam rangka memaksimalkan pelayanan di PT. TASPEN (Persero) Cabang Malang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Observasi yaitu pengamatan dan pengumpulan data secara langsung terhadap objek yang diteliti, (2) Wawancara yaitu pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada pihak yang berwenang, (3) Dokumentasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menggunakan catatan dan arsip pendukung. Kesimpulan dari Tugas Akhir ini adalah: (1) Audit Internal pada prosedur kerja dalam memaksimalkan pelayanan di PT. TASPEN (Persero) Cabang Malang sudah dilaksanakan dengan baik yaitu struktur organisasi perusahaan dengan pemisahan fungsi yang memadai, (2) Masih terjadi keterlambatan yang disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya persyaratan data yang dibawa oleh peserta, kesibukan anggota audit internal dengan tugas masing-masing, pembagian tugas yang tidak sesuai dengan fungsinya, prosedur yang ditetapkan oleh Kantor Pusat belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Kantor Cabang, (3) Langkah pemecahan masalah Audit Internal yaitu dengan cara mengusulkan kepada kepada pimpinan unit kerja atau kepada Kepala Cabang (MR) agar pembagian tugas ditinjau kembali supaya sesuai dengan fungsinya sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam pelayanan; diberlakukanya penertiban prosedur kerja yang telah ditetapkan Kantor Pusat dan dilaksanakan oleh Kantor Cabang yaitu melakukan pengecekan rutin terhadap setiap transaksi dan dapat dipastikan setiap fungsi tidak merangkap fungsi yang lain dan dapat melakukan perbaikan atas kesalahan-kesalahan yang terjadi. Berdasarkan hasil pengamatan disarankan kepada pihak PT. TASPEN (Persero) Cabang Malang yaitu: (1) Diperlukan kedisiplinan bagi peserta dalam menyerahkan data yang sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh PT.TASPEN (Persero) Cabang Malang, (2) Diberlakukanya penertiban dan kedisiplinan dalam pembagian jadwal yang sesuai dengan fungsinya yang dilaksanakan oleh pegawai sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh PT. TASPEN (Persero) Cabang Malang.

Meningkatkan pembelajaran IPA menggunakan pendekatan contextual teaching and learning siswa kelas VB SDN Madyapuro 4 Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Paulina Karam

 

Kata Kunci: Pembelajaran, IPA , Contextaul Teaching And Learning Sesuai hasil observasi yang dilakukan di SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang pada tanggal 20 Februari 2011 menunjukkan bahwa pembelajaran yang sering dilakukan adalah ceramah. Saat pembelajaran berlangsung, siswa masih kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Rata-rata hasil belajar siswa yaitu 60,65. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah dan belum mencapai Standar Ketuntasan Minimal yang ditentukan di SD yaitu 76. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka dilakukan sebuah penelitian dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching And Learning. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan pendekatan Contextual Teaching And Learning, akativitas belajar siswa, dan hasil belajar melalui pendekatan Contextual Teaching And Learning. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Adapun tujuan dari Penelitian Tidakan Kelas adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Model rancangan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah model kolaboratif partisipatoris. Pada Kompetensi Dasar Mendeskripsikan Proses Pembentukan Tanah Karena Pelapukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Penerapan pendekatan Contextual Teaching And Learning untuk meningkatkan pelajaran IPA siswa kelas Vb SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini dapat dilihat pada pemerolehan keberhasilan guru dalam menerapkan pendekatan Contextual Teaching And Learning pada siklus I pertemuan 1, skor yang diperoleh adalah 21, dengan rata-rata 64,29, pertemuan 2 mendapat skor 25, dengan rata-rata 89,30. Selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 mendapatskor 26, dengan rata-rata 92,85 dan pada peretemuan 2 mendapat skor 28, dengan rata-rata 100. Dikatakan proses penerapan Contextual Teaching And Learning mengalami peningkatan. Selanjutnya aktivitas belajar siswa pada siklus I peretmuan 1 memperoleh rata-rata 43, pada pertemuan 2 memperoleh rata-rata 47, dan pada Siklus II pertemuan 1 memperoleh rata-rata 59,5. Selanjutnya pada pertemuan 2 memperoleh rata-rata 96. Mengalami peningkatan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 rata-rata hasil belajar siswa adalah 66,59, pertemuan 2 rata-rata hasil belajar siswa adalah 76,56. Selanjutnya pada siklus II pertemuan 1 rata-rata hasil belajar siswa adalah 77,81, dan pada peretmuan 2 rata-rata hasil belajar siswa adalah 90. Berdasarkan hasil penelitan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan Contextual Teaching And Learning dapat meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas Vb SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Walapun demikian apa bila peneliti lain atau guru dalam menerapkan pendekatan Contextual Teaching And Learning bisa memperhatikan hal-hal yang telah disarankan untuk diperbaiki.

Penerapan model pembelajaran scramble untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VA pada mata pelajaran PKn SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Febri Belandina Lay

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Scramble, Hasil Belajar, PKn, Sekolah Dasar. Permasalahan yang dialami oleh para siswa kelas VA SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang adalah kesulitan meningkatkan hasil belajar siswa kelas VA SDN Madyopuro 4 kota Malang, untuk itu perlu diadakan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan juga pembelajaran yang menyentuh kehidupan riil siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan model Scramble dalam meningkatkan berbagai kemampuan siswa dan untuk mendeskripsikan peningkatan berbagai kemampuan siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan bersiklus model Kemmis dan McTaggart, meliputi : perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observation), dan refleksi (reflecting). Subjek dan lokasi penelitian adalah siswa kelas VA SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, berjumlah 33 orang dengan komposisi siswa laki-laki 18 dan 15 orang siswa perempuan. Instrumen pengumpulan data penelitian adalah dengan memberikan post-test pada setiap akhir siklus, dan observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung, serta wawancara setelah kegiatan belajar mengajar di kelas. Analisis data kuantitatif untuk mendiskripsikan karakteristik hasil tes belajar siswa, dan analisis kualitatif untuk hasil aktivitas siswa melalui lembar observasi. Penerapan Model Pembelajaran Scramble yaitu a) Guru menyampaikan materi pelajaran. Kegiatan ini guru menanamkan konsep materi. b) Guru menyiapkan kartu soal yang telah dibuat untuk proses pembelajaran. c) Guru menyiapkan kartu jawaban dengan diacak nomornya sehingga anak dapat mencari jawaban yang tepat. d) Guru membentuk kelompok untuk mengerjakan soal-soal yang tersedia. e) Guru membagikan kartu soal dan kartu jawaban kepada masing-masing kelompok. f) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan soal dan mencari jawaban yang sesuai. g) Guru memberikan penilaian hasil kerja siswa. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; nilai rata-rata siswa pada siklus I adalah 69,54%, sebanyak 11 siswa (33,33%) belum tuntas karena masih berada dibawah kriteria penilaian, sebanyak 22 siswa (66,66%) tuntas karena sudah mencapai kriteria ketuntasan oleh karena itu perlu diadakan perbaikan pada siklus II. Pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VA SDN Madyopuro 4 adalah 74,54%, sebanyak 9 siswa (27,27%) yang belum tuntas atau belum mencapai kriteria ketuntasan, sedangkan sebanyak 24 siswa (72,72%) yang sudah tuntas karena telah mencapai kriteria ketuntasan. Dengan melihat pada nilai rata-rata siswa pada tiap siklus maka pada siklus II nilai siswa mengalami peningkatan. Disimpulkan bahwa model pembelajaran Scramble ini dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas VA SDN Madyopuro 4 Kota Malang.

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Madyopuro 3 Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Ebti Lusiana Dumgair

 

Kata Kunci : Pembelajaran, Problem Basid Learning (PBL) dan IPA SD Model Problem Based Learning (PBL) memilki ciri khusus dimana model ini membelajarkan siswa secara mandiri untuk memecahkan suatu permasalahan. Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA SDN Madyopuro 3 Malang tergolong masih rendah. Hal tersebut diantaranya disebabkan model pembelajaran yang selama ini diterapkan kurang efektif untuk meningkatkan untuk meningkatkan pembelajaran IPA. Siswa tidak dilatih untuk memecahkan masalah, untuk mengatasi masalah tersebut maka diterapkan model pembelajaran Problem Basid Learning(PBL). Berdasarkan hal tersebut, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. (1) Bagaimanakah penerapan model Problem Based Learning pada pembelajaran IPA di SDN Madyopuro 3? (2) Bagaimanakah keaktifan siswa selama penerapan model Problem Based Learning di kelas V SDN Madyopuro 3?. (3) Bagaimanakah hasil belajar IPA setelah diterapkan model Problem Based Learnng dikelas V SDN Madyopuro 3? Penelitian ini menggunakan rancangan tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tindakan dalam setiap siklus dilakukan dengan cara memberikan tugas berupa penyelesaian suatu permasalahan secara berkelompok, kemudian mempresentasikan hasil di depan kelas. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Madyopuro 3 Malang yang berjumlah 45 siswa. Data dikumpulkan dengan metode observasi dan tes. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif Hasil penelitian menemukan bahwa Proses penerapan Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SDN Madyopuro 3 Kota Malang dilaksanakan dengan menggunakan tahap-tahap pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) siklus I dan II sebagai berikut. 1) Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas; Langkah 2) Merumuskan Masalah; Langkah 3) Menganalisis Masalah; Langkah 4) Menata gagasan Anda dan secara sistematis menganalisisnya dengan dalam; Langkah 5) Memformulasikan tujuan pembelajaran; Langkah 6) Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain (di luar diskusi kelompok); Langkah 7) Mensintesa (menggabungkan) dan menguji informasi baru, dan membuat laporan untuk guru/kelas. Dari ketujuh langkah diatas telah dilakukan dengan baik, sehingga penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan pembelajaran pada siswa kelas V SDN Madyopuro 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Penerapan model Problem Based Learning (PBL) meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Hasil ini terlihat dari meningkatnya aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Peningkatan itu dalam aspek mengemukakan konsep tentang daur air, mengemukakan pertanyaan, menjawab pertanyaan, memecahkan masalah dengan tepat, mengemukakan ide, membuat laporan sederhana tentang langkah-langkah agar tidak teganggunya daur air. Rata-rata semua komponen aktivitas siswa meningkat pada siklus I 65,8% sedangkan pada siklus II 96, 93%. Selain itu model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning juga dapat menunjang kemampuan siswa dalam menyampaikan hasil diskusi di depan kelas, siswa juga menjadi lebih berani dalam mengemukakan. Hasil belajar IPA pada siswa kelasV sebelum diterapkan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah ( Problem Based Learning PBL) mempunyai nilai rata-rata kelas 45,33% Pada saat model pembelajaran dirubah dari model ceramah menjadi Problem Based Learning, prestasi belajar siswa meningkat menjadi 62,66 pada siklus I dan 93,77% pada siklus II. Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan bahwa jika menerapkan model PBL hendak siswa dilatih dengan tersendiri untuk kemampuan menulis supaya tidak kesulitan dalam menyusun laporan secara tertulis.

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA menggunakan model problem based instruction (PBI) siswa kelas IV SDN Madyopuro V Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Lisa Sedubun

 

Kata Kunci: Pembelajaran, IPA, Problem Based Instruction Penelitian ini berawal dengan adanya observasi dengan pihak SDN Madyopuro V Kecamatan Kedungkandang Kota Malang yang dilakukan pada tanggal 22 Februari 2011 menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang sering digunakan adalah ceramah. Saat pembelajaran berlangsung, siswa masih kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Rerata hasil belajar siswa yaitu 60,29. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah dan belum mencapai Standar Ketuntasan Minimal. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka dilakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model Problem Based Instruction. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup penerapan model Problem Based Instruction, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar melalui model Problem Based Instruction. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Adapun tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Model rancangan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah model kolaboratif partisipatoris. Pada Kompetensi Dasar menjelaskan perubahan energi bunyi melalui penggunaan alat musik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, Penerapan model Problem Based Instruction untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Madyopuro V Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukan dengan adanya perolehan keberhasilan guru dalam menerapkan model Problem Based Instruction, Pada siklus I pertemuan I jumlah presentasenya adalah 70%, sedangkan pada siklus I pertemuan II meningkat dengan jumlah presentasenya 90%, dan pada siklus II pertemuan I nilai yang didapatkan semakin meningkat, jumlah nilai presentasenya adalah 95%, selanjutnya pada pertemuan II sangat mengalami peningkatan dengan jumlah skor yaitu 20 dan nilai presentasenya adalah 100%, sehingga dapat dipahami bahwa proses penerapan PBI mengalami peningkatan. I pertemuan I jumlah yang diperoleh adalah 198 dengan nilai rata-rata adalah 39,6 sedangkan pada pertemuan II jumlah skor yang didapatkan adalah 290 dengan nilai rata-rata adalah 58. Dan pada siklus II pertemuan I semakin meningkat dimana jumlah skor adalah 399 dengan nilai rata-rata adalah 79,8 dan pada pertemuan II jumlah skor adalah 510 dengan nilai rata-rata adalah 102. Selanjutnya hasil belajar pada pra tindakan jumlah nilai yang didapatkan yaitu 2050 dengan rata-rata nilai 60,29. Mengalami peningkatan pada siklus I pertemuan I dengan jumlah nilai 2275 dan jumlah rata-ratanya adalah 66,91. Selanjutnya pada siklus I pertemuan II jumlah nilai 2510 dan nilai rata-ratanya adalah 73,82, selanjutnya hasil belajar siswa lebih meningkat pada siklus II dimana pertemuan I nilai yang didapat adalah 2880 dengan rata-rata nilai adalah 84,70 dan pada siklus II pertemuan II jumlah nilai adalah 3030 dengan nilai rata-rata adadalah 92,05 sehingga dapat dikatakan bahwa siswa sudah mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa menggunakan model Problem Based Instruction dapat meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Madyopuro V Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Untuk itu disarankan agar guru menerapkan model Problem Based Instruction dalam pembelajaran IPA.

Optimasi degradasi residu antibiotik sefalosporin dalam susu sapi segar dengan enzim B-laktamase / Chandra Yati

 

Kata kunci: Beta-laktamase, Sefalosporin, antibiotik dalam susu. Susu sapi segar yang diproduksi oleh sapi yang sedang mengalami pengobatan antibiotik seringkali mengandung residu antibiotik. Keberadaan antibiotik dalam air susu menyebabkan pasokan susu tersebut ditolak oleh Pabrik pengolahan susu. Untuk itu diperlukan suatu cara untuk mendegradasi antibiotik dalam susu segar. Optimasi degradasi antibiotik merupakan suatu upaya untuk menghilangkan cemaran-cemaran antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan dosis dan waktu optimum enzim Beta-laktamase yang dapat mendegradasi Sefalosporin dalam larutan susu sapi segar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang dilakukan di laboratorium FMIPA UM yang berlangsung antara September 2007 – Maret 2008. Tujuan penelitian ini dicapai melalui tiga tahapan percobaan, yaitu (1) uji coba degradasi antibiotik dengan enzim Beta-laktamase komersial, (2) menentukan dosis optimum enzim dalam mendegradasi antibiotik (Sefalosforin) dalam susu, dan (3) menentukan waktu optimal Beta-laktamase komersial pada dosis optimum dalam mendegradasi antibiotik (Sefalosforin) dalam susu. Untuk mendeteksi keberadaan antibiotik (Sefalosforin) digunakan kit Betastar. Degradasi dilakukan dengan menggunakan sampel susu tercemar buatan yang mempunyai kadar antibiotik lebih besar daripada konsentrasi antibiotik yang mungkin ada di sampel sesungguhnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) cemaran antibiotik (sefalosforin) dalam air susu sapi segar dapat didegradasi dengan enzim Beta-laktamase dan (2) 0,1 mg enzim _-laktamase secara optimum dapat mendegradasi 4,425 _mol sefalosporin pada suhu 250C, pH 7, dan waktu inkubasi 20 menit.

Rancang bangun mesin pemisah ampas kedelai untuk proses produksi tahu / Christian Arri Wijaya, Mohammad Mahbuby

 

Kata kunci: tahu, mesin pemisah ampas kedelai, gaya. Tahu dalam proses pembuatannya memerlukan proses yang begitu panjang. Mulai dari merendam kedelai agar kedelai tersebut tidak keras pada waktu digiling sampai dengan penyaringan yang membutuhkan tenaga besar. Sehingga memunculkan ide untuk membuat proses menjadi lebih mudah. Proses yang sangat berat dan memakan waktu adalah penyaringan kedelai. Di dalam proses ini pekerja dipaksa untuk bekerja dalam suhu panas dan tanpa alat pelindung serta menggunakan kekuatan tubuh yang besar. Sehingga dari keadan seperti ini muncul ide agar merancang alat yang dapat menghindarkan panas dari pekerja sehingga pekerja dapat bekerja dengan nyaman. Cara yang digunakan untuk merancang alat ini adalah dengan penelitian di pabirik-pabrik tahu skala menengah ke bawah karena alat ini di desain sangat murah dan sederhana sehingga produksi alat ini dapat diterima dalam seluruh golongan produsen tahu. Penelitian ini meliputi lama waktu dalam menyaring kedelai dan kondisi penyaringan kedelai yang sangat panas yang nantinya dijadikan panduan dalam merancang mesin pemisah seperti dalam perancangan dimensi dan kapasitas mesin. Dari perancangan tersebut dihasilkan sebuah produk mesin pemisah ampas kedelai dengan kapasitas 15 liter. Mekanisme atau cara kerja mesin pemisah ampas kedelai ini adalah dengan cara memasukkan adonan kedelai yang sudah dimasak dan di dalam alat ini nantinya adonan tersebut akan diputar dengan kecepatan 600 rpm sehingga nantinya adonan tersebut akan terpisah antara ampas dan sari kedelainya. Mesin ini menggunakan motor sebesar 0,5 PK dengan kecepatan putaran motor sebesar 1400 rpm.

Evaluasi kesesuaian lahan untuk kawasan industri di Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban / Fatiya Rosyida

 

Kata kunci: evaluasi kesesuaian lahan, kawasan industry Pertumbuhan industri wilayah Gerbangkertosusila yang sudah pada tingkatan yang cukup padat sehingga akan sulit dikembangkan lagi membuat Provinsi Jawa Timur melakukan alternatif pengembangan wilayah industri. Kabupaten Tuban adalah salah satu kabupaten yang memiliki potensi pengembangan industri yang cukup baik karena dekat dengan Gresik dan Surabaya dan akses jalan yang baik karena dilewati oleh jalan arteri primer. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Kawasan Industri Kabupaten Tuban tahun 2001, Kecamatan Jenu merupakan daerah yang akan dikembangkan sebagai kawasan industri dan merupakan pusat pengembangan industri zona II yang bergerak dalam bidang industri berat. Industri yang telah berkembang di kecamatan Jenu berada dekat dengan pemukiman sehingga perlu mendapatkan perhatian dalam limbah industri yang dihasilkan agar tidak menganggu kesehatan penduduk. Selain itu, kawasan industri juga berada tepat di tepi pantai. Lokasi industri yang berada dekat laut tersebut tidak sesuai dengan pedoman pemanfaatan ruang tepi pantai yang mengharuskan kawasan industri berada 100 hingga 300 meter dari titik pasang tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi kesesuaian lahan di Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban untuk pengembangan kawasan industri, (2) Mendeskripsikan dampak yang akan ditimbulkan jika dikembangkan sebagai kawasan industri, dan (3)Mendeskripsikan prioritas pengembangan kawasan industri yang didasarkan pada evaluasi kesesuaian lahan. Sifat penelitian evaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan industri ini adalah Ex-posfacto dengan menggunakan metode survey. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan evaluatif sesuai dengan tujuan penelitian. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data skunder. Data primer, meliputi: kemiringan lereng; pH tanah; daya dukung tanah; drainase; kembang kerut tanah; kedalaman air tanah; dan korosivitas besi baja.Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan overlay pada peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, dan peta penggunaan lahan yang menghasilkan unit lahan, sedangkan analisa data menggunakan metode pengharkatan yaitu memberikan nilai harkat pada parameter fisik lahan dan dicocokkan dengan kelas kesesuaian lahan untuk industri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelas kesesuaian lahan pada lokasi penelitian berdasarkan parameter Sutanto memiliki kesesuian kelas III atau cukup sesuai untuk unit lahan StEI dengan luas 14,1 Ha, LEII dengan luas 3,9 Ha, LEI dengan luas 204,8 Ha, dan StCI dengan luas 6,6 Ha serta kelas II atau sesuai pada unit lahan LCI dengan luas 8 Ha.

Perbandingan efektivitas pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) dengan pembelajaran kontekstual metode questioning dilihat dari peningkatan hasil belajar (STUdi eksperimen pada pembelajaran ekonomi kelas VII SMP Negeri 2 Pakuniran-Probolinggo) / Roni Wi

 

Kata kunci Two Stay Two Stray (TSTS). Dalam pembelajaran model ini siswa tidak hanya mendengarkan guru yang sedang mengajar, model Two Stay Two Stray (TSTS) diajarkan untuk melatih kemampuan berkelompok siswa dan lebih berperan aktif yang nantinya dapat meningkatkan hasil belajar dalam pelajaran ekonomi. Metode Questioning dengan adanya keinginan siswa untuk bertanya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain siswa memiliki keinginan bertanya, guru juga memberikan pertanyaan kepada siswa agar dapat memicu siswa untuk berfikir. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray (TSTS) pada pokok bahasan kegiatan pokok ekonomi kelas VII SMP Negeri 2 Pakuniran; 2) Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan pembelajaran Pembelajaran Kontekstual Metode Questioning pada pokok bahasan kegiatan pokok ekonomi kelas VII SMP Negeri 2 Pakuniran; dan 3) Untuk mengetahui perbedaan peningkatan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri 2 Pakuniran yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model TSTS (Two Stay Two Stray) dibandingkan dengan pembelajaran kontekstual metode Questioning pada pokok bahasan kegiatan pokok ekonomi kelas VII SMP Negeri 2 Pakuniran. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen, dengan rancangan penelitian adalah True Experimental Design. Populasi pada penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pakuniran. Sedangkan sampel yang diambil terdiri dari dua kelas, dimana satu kelas sebagai eksperimen yaitu kelompok A dan kelompok B kelompok kontrol yang diambil dengan teknik Proporsional Random Sampling wawancara. Dua kelompok penelitian ini mendapatkan perlakuan yang berbeda, kelas eksperimen mendapat perlakuan model Two Stay Two Stray (TSTS) sedangkan kontrol mendapatkan perlakuan Questioning. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, dan uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan awal (t test), kemampuan akhir (t test), dan gain value (t test). Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray Questioning. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan Uji-t diperoleh hasil: 1) Nilai rata-rata pretest dari kelompok eksperimen adalah 23,75 dan nilai pretest pada kelompok control adalah 22,36; 2) Nilai rata-rata posttest kelompok eksperimen sebesar 80,14 dan nilai rata-rata posttest kelompok kontrol sebesar 71,53; dan 3) Rata-rata gain value kelompok eksperimen sebesar 56,39, sedangkan rata-rata gain value kelompok kontrol sebesar 49,17. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray Questioning. (TSTS) lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran Kontekstual Metode (TSTS) dengan peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Kontekstual Metode . Data diambil dari observasi, dokumentasi dan : Two Stay Two Stray (TSTS), Questioning, Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif adalah salah satu alternatif strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran kooperatif mampu menciptakan pembelajaran yang dapat mengajak siswa satu dan siswa yang lainnya saling berinteraksi serta aktif dalam bertukar pengetahuan dalam kelompok untuk meningkatkan hasil belajarnya. Sedangkan pembelajaran kontekstual yang diterapkan agar siswa lebih tanggap terhadap permasalahan secara rasional. Dalam kelas kontekstual, tugas guru perlu membantu siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Salah satu pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model ilihat dari Peningkatan Hasil Belajar (Studi Eksperimen pada Pembelajaran Ekonomi Kelas VII SMP Negeri 2 Pakuniran-Probolinngo).

Pemanfaatan metode drill untuk meningkatkan apresiasi puisi pada siswa kelas IV c SDN Klojen kota Malang / Markus Marthen Djontar

 

Kata Kunci : Metode Drill Meningkatkan Apresiasi Puisi di SD Pembelajaran Apresiasi puisi merupakan bagian dari pembelajaran sastra Apresiasi puisi merupakan kegiatan menghayati suatu puisi yang melibatkan aktifitas berfikir yang bersifat estetis dan imajinatif, pembelajaran Apresiasi puisi adalah proses yang dilakukan guru untuk membelajarkan siswa yang diselenggarakan untuk memperoleh pengetahuan tentang Apresiasi puisi. Tujuan pembelajaran apresiasi puisi sesuai dengan kurikulum. RRP yang disusun guru terdiri dari kompetensi dasar, hasil belajar tujuan, pemilihan materi, dan media, perencanaan prosedur pembelajaran, dan perencanaan penilaian hasil belajar dirumuskan guru sesuai dengan kompetensi dasar dan tujuan yang disusun oleh guru. Rencana pada kegiatan awal sangat terfokus pada tujuan pembelajaran, adanya itentitas Tanya jawab, pemberian model kelompok belajar, kegiatan inti yang disusun guru atau peneliti teknik model kelompok belajar, rencana kegiatan akhir yang dirumuskan guru dengan melakukan kesimpulan dan refleksi, memberikan evaluasi pada siswa, memberikan kesan dan saran, serta memberikan tugas atau motivasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, perencanaan penilaian terdiri dari hasil penilaian proses. Maka hasil dalam peningkatan metode drill dapat meningkat hasil pembelajaran siswa baik dari siklus I sampai dengan siklus II. Hasil belajar yang di peroleh siswa selama guru/peneliti melakukan penelitian mencapai hasil sebagai berikut yaitu dari pra tindakan, siklus I, sampai dengan siklus II. Pra tindakan mencapai skor total 2298 dengan hitungan rata-rata 71,78%, jika dibandingkan dengan siklus I pertemuan pertama mencapai skor total 1490 dengan hitungan rata-rata 46,56%, hal ini kemampuan mengapresiasi puisi dan menentukan rima belum mencapai standar, dan siklus I ipertemuan kedua mencapai skor total 2098 dengan hitungan rata-rata 65,56%, tapi dilihat dari hasilnya belum begitu baik maka dilanjutkan pada siklus II pertemuan pertama mencapai skor total 2298 dengan hitungan rata-rata 71,81%, dan pertemuan kedua mencapai skor total 2335 dengan hitungan rata-rata 83,39%. Jadi dibandingkan dengan siklus I dengan siklus II maka hasil dari siklus II sudah mencapai standar ketuntasan. Hasil belajar ini dapat disarankan agar guru melaksanakan penilaian proses dan penilaian hasil yang telah dituliskan dalam RPP penilaian proses ini bertujuan untuk membantu hasil prestasi siswa dalam pembelajaran. Kesimpulan hasil belajar ini sangat baik untuk diharapkan pada guru bidang study agar selalu memberikan dorongan pada siswa dalam belajar agar hasil lebih baik lagi.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share pada mata pelajaran ekonomi di kelas X-7 SMA Negeri 08 Malang / Robbi Nugroho

 

Kata kunci: Think Pair Share Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Negeri 08 Malang karena berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi di sekolah tersebut, ada beberapa permasalahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran terutama di kelas X-7. Adapun permasalahan itu antara lain, nilai dari hasil UTS siswa kelas X-7 kurang memuaskan. Dari hasil wawancara didapatkan hasil, pada umumnya guru masih menggunakan metode konvensional yakni metode ceramah diteruskan mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS). Sehingga hal ini menyebabkan siswa kurang merespon selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena merasa bosan dan kurang dilibatkan. Mereka menganggap pembelajaran yang diberikan oleh guru kurang menarik sehingga mereka merasa bosan, mengantuk, oleh karena itu siswa sering melakukan kegiatan-kegiatan di luar kegiatan belajar misalnya bermain handphone, mengobrol, dan sebagainya. Ditambah lagi jam pelajaran ekonomi di kelas X-7 terdapat pada jam ke-10-12 yang notabene merupakan jam terakhir pelajaran. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Dengan diterapkannya model pembelajaran Think Pair Share maka diharapkan siswa juga akan lebih terlibat di dalam kegiatan pembelajaran. Hal itu membuat siswa lebih fokus dan aktif dalam pelajaran sehingga fenomena-fenomena seperti bosan, mengantuk, lelah yang terjadi pada saat jam mata pelajaran terakhir diharapkan akan bisa dikurangi. Sehingga diharapkan kemampuan siswa dalam menyerap materi pembelajaran juga akan lebih besar. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share di kelas X-7 SMA Negeri 08 Malang pada mata pelajaran ekonomi? Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan “quasi experiment”. Dimana dalam penelitian ini peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Dari penerapan tindakan tersebut kemudian diharapkan dapat terkumpul data berupa aktifitas dan hasil belajarsiswa setelah dikenai tindakan pembelajaran kooperatif dengan model Think Pair Share yang terdiri dari dua tahap yaitu Think Pair Share I dan Think Pair Share II Alat pengumpulan data menggunakan, Soal tes, lembar observasi, lembar catatan lapangan, angket dan pedoman wawancara. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-7 SMA Negeri 8 Malang tahun ajaran 2009/2010. Adapun dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Think Pair share diperoleh hasil bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran ekonomi di kelas X-7 siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Adapun aktivitas yang

Penerapan model pembelajaran clis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Pisangcandi II malang / Akbar Tanjung M. D. A.

 

Kata Kunci: CLIS, Pembelajaran, IPA, SDN Pisangcandi II Malang Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru, diperoleh temuan pembelajaran yang dilakukan oleh guru yaitu: (1) pembelajaran yang dilakukan guru kurang variatif, dan (2) siswa pasif dalam pembelajaran. Kelemahan tersebut menyebabkan nilai rata-rata hasil evaluasi mata pelajaran IPA rendah yaitu 58,46. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model CLIS dalam meningkatkan proses pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Pisangcandi II Malang, (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar IPA siswa kelas III SDN Pisangcandi II Malang melalui model CLIS, (3) Mendeskripsikan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Pisangcandi II Malang melalui model CLIS. Penelitian ini dilakukan di SDN Pisangcani II Malang dengan subyek siswa kelas III sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Penelitian ini difokuskan pada penerapan pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Pisangcandi II Malang melalui model Children’s Learning in Science (CLIS). Metode penelitian yang digunakan adalah tindakan kelas dengan menggunakan alur penelitian Kemmis dan MC. Taggart (dalam Akbar:2009). Tahapan dalam setiap siklusnya terdiri atas: planning-perencanaan, acting-tindakan, observing-observasi atau pengamatan, reflecting-refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa data observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam pembelajaran melalui model CLIS semakin meningkat dari tiap pertemuan pada masing-masing siklus. Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 76. Sedangkan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 90. Pembelajaran dengan menggunakan model CLIS dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 57,88 meningkat menjadi 66,42 pada siklus II. Pembelajaran dengan menggunakan model CLIS juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada pre test diperoleh rata-rata nilai 58,46, meningkat menjadi61,73 pada siklus I dan meningkat menjadi 78,84 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa model CLIS dapat meningkatkan pembelajaran IPA selain itu juga meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas III SDN Pisangcandi II Malang serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Pisangcandi II Malang Standar Kompetensi ” Memahami kenampakan permukaan bumi, cuaca dan pengaruhnya bagi manusia, serta hubungannya dengan cara manusia memelihara dan melestarikan alam” .Untuk itu disarankan perlu adanya penelitian lebih lanjut dalam rangaka meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar dengan menggunakan model CLIS dan menggunakan media yang lebih menarik.

Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer menggunakan software macromedia flash 8 untuk materi sistem koloid / Zuni Muhima

 

Kata kunci 4-D Models) Design compact disc. Media ini dari 4 tahap pengembangan yaitu Define (pendefinisian), dikembangkan untuk membantu guru dalam mengajar di kelas serta sarana belajar mandiri bagi siswa. Validasi hasil pengembangan oleh validator ahli isi media pembelajaran (validasi isi) menunjukkan persentase rata-rata kelayakan media pembelajaran ini sebesar 89,19% sedangkan hasil validasi terhadap kelompok kecil (uji terbatas) menunjukkan persentase rata-rata kelayakan media pembelajaran ini sebesar 80,64%. Kedua hasil validasi tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran ini layak untuk dipergunakan, namun keefektifannya perlu diteliti lebih lanjut melalui kegiatan pembelajaran di kelas. (perancangan), Develop (pengembangan), dan Disseminate (penyebaran). Pengujian validitas media ini menggunakan angket. Pengujian validitas meliputi validasi isi dan uji terbatas. Validator pada validasi isi adalah satu dosen kimia UM, satu guru MAN 3 Malang, satu guru SMAN 7 Malang dan satu guru SMAN 9 Malang. Uji terbatas dilakukan terhadap 25 siswa kelas XI IPA-4 SMAN 7 Malang. Setelah melalui tahap validasi, media ini direvisi berdasarkan masukanmasukan yang diberikan oleh para validator. Hasil penelitian pengembangan ini berupa media pembelajaran pada materi sistem koloid untuk SMA kelas XI dalam bentuk media pembelajaran, macromedia flash 8, sistem koloid Materi kimia meliputi tiga aspek penting yaitu aspek makroskopis, mikroskopis dan simbolik. Dalam aspek mikroskopik terdapat konsep-konsep yang sifatnya abstrak. Ketiga hal itu harus diajarkan pada siswa agar materi dapat tersampaikan dengan mudah dan meminimalkan terjadinya salah konsep. Sementara dalam pembelajaran di kelas para guru masih sangat jarang menyampaikan materi kimia sampai pada aspek mikroskopis. Hal inilah yang menyebabkan pemahaman dan minat siswa dalam mempelajari ilmu kimia sangat kurang, bahkan tak jarang sampai menimbulkan kesalahan konsep. Salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh guru untuk menjelaskan materi kimia sampai pada aspek mikroskopik adalah dengan penggunaan media pembelajaran berbasis komputer. Media ini dapat menyajikan animasi-animasi serta video yang lebih memudahkan siswa dalam memahami konsep yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat meningkatkan emahaman siswa dalam materi sistem koloid. Pengembangan media pembelajaran ini menggunakan model Thiagarajan

Identifikasi dan isolasi jenis mikroalga planktonik dari waduk Selorejo Kabupaten Malang Jawa Timur / Fadilah Nurlaili Lutfia

 

Kata Kunci: Identifikasi, Isolasi, Mikroalga Planktonik, Waduk Selorejo Waduk Selorejo merupakan waduk air tawar yang terletak di Kabupaten Malang. Air waduk Selorejo memiliki warna kehijauan yang mengindikasikan adanya mikroalga. Mikroalga memiliki banyak manfaat dibidang pangan, industri maupun pengobatan, seperti Chlorella sebagai protein sel tunggal (PST). Pemanfaatan mikroalga dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap pertama yaitu identifikasi dan isolasi mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies mikroalga yang berhasil diidentifikasi dan diisolasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pada masyarakat terkait potensi mikroalga dan spesies mikroalga yang berhasil diidentifikasi dan diisolasi dari waduk Selorejo. Mikroalga yang digunakan dalam penelitian adalah mikroalga planktonik yang berhasil disaring dengan jaring plankton ukuran 200 mesh di Waduk Selorejo Kabupaten Malang. Medium yang digunakan untuk isolasi adalah medium Walne. Metode isolasi mikroalga menggunakan metode isolasi goresan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif eksploratif. Data tentang jenis mikroalga yang ditemukan dan diisolasi dianalisis secara deskriptif dan dibuat kunci identifikasinya. Identifikasi menggunakan buku The Freshwater Algae of The United States karangan Gilbert M. Smith (tahun 1950), buku How To Know The Freshwater Algae karangan G.W. Prescott (tahun 1978) dan buku Freshwater Algae Identification and Use as Bioindicators karangan Edward G. Bellinger & David C. Sigee (tahun 2010). Mikroalga planktonik yang berhasil diidentifikasi terdiri dari 3 divisi (Chlorophyta, Chrysophyta dan Cyanophyta), 16 famili, 23 genus dan 24 spesies yang berbeda. Spesies tersebut yaitu Botrydiopsis arhiza, Navicula sp., Scenedesmus bijuga, Palmella miniata, Scenedesmus quadricauda, Chlorococcum sp., Selenastrum gracile, Dacthylothece confluens , Spirogyra sp., Gyrosigma sp., Pluto caldarius, Kirchneriella obesa, Closterium sp., Gleocapsa magma, Pseudotetraspora gainii, Netrium digitus, Ourococcus bicaudatus, Westella botryoides, Chroococcus sp., Chlorella sp., Terpsinoe americana, Borzia trilocularis, Cymbella cistula dan Nannochloris bacillaris. Mikroalga planktonik yang berhasil diisolasi terdiri dari 3 divisi , 8 famili, 9 genus dan 10 spesies yang berbeda yaitu Navicula sp., Scenedesmus bijuga, Scenedesmus quadricauda, Chlorococcum sp., Dacthylothece confluens , Pluto caldarius, Westella botryoides, Chroococcus sp., Chlorella sp., dan Nannochloris bacillaris. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan untuk penelitian selanjutnya agar lebih teliti dalam tahap isolasi mikroalga. Faktor lingkungan dan nutrisi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan mikroalga yang diinginkan agar mikroalga dapat terisolasi. Kultur mikroalga sebaiknya ditempatkan pada ruang dengan kondisi lingkungan yang sesuai untuk menghindari kekeringan.

Penggunaan gambar seri untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok A di TK Darun Najah Kedemungan Kejayan-Pasuruan / Nanik Kartini

 

Kata Kunci : Gambar Seri, Kemampuan Berbicara, Taman Kanak-Kanak Pembelajaran di bidang bahasa dalam kemampuan berbicara anak sangat penting untuk mengungkapkan keinginan, ide-ide dan perasaan anak melalui bercerita gambar seri, namun keberhasilan pembelajaran di bidang bahasa dalam berbicara lancar dengan kalimat sederhana anak TK Darun Najah Kedemungan Kejayan Pasuruan masih rendah. Berdasarkan pengamatan dari 20 anak peserta didik yang ada di TK ditemukan bahwa 15 anak belum mampu berbicara lancar dengan kalimat sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penggunaan gambar seri dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok A di TK Darun Najah Kedemungan Kejayan Pasuruan, (2) mendeskripsikan efektifitas penggunaan gambar seri dalam meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok A di TK Darun Najah Kedemungan Kejayan Pasuruan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses siklus, dalam setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan gambar seri untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, sedangkan yang menjadi subyek penelitian adalah anak didik kelompok A dengan jumlah 20 anak dan satu kolaborator (teman sejawat). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan gambar seri dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak. Pada siklus I kemampuan berbicara anak mencapai rata-rata 60,15 meningkat menjadi 80,15 pada siklus II. Peningkatan kemampuan berbicara anak dibuktikan dengan meningkatnya kemampuan bahasa anak dalam berbicara lancar dengan kalimat sederhana melalui cerita gambar seri. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada pendidik PAUD untuk menggunakan gambar seri dalam pembelajaran di TK untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak.

Perbandingan diversifikasi mata pencaharian petani antara wilayah perdesaan dan wilayah suburban di Kabupaten Mojokerto / Venti Ershanti

 

Kata Kunci: Diversifikasi Mata Pencaharian, Petani, Perdesaan, Suburban Indonesia merupakan negara agraris dan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian yang diandalkan sebagai sumber mata pencaharian mayoritas penduduknya. Seiring berjalannya waktu banyak petani yang mulai kehilangan lahan sawah karena pengalihfungsian lahan untuk pemukiman penduduk dan perindustrian. Lahan-lahan pertanian yang mulai menyempit menimbulkan masalah yaitu jumlah produksi yang semakin kecil. Selain itu, permasalahan gagal panen, melambungnya harga pupuk, anjloknya harga gabah, juga mempengaruhi pertanian. Hal tersebut juga terjadi di Kabupaten Mojokerto yang merupakan daerah pertanian, khususnya di Kecamatan Mojoanyar dan Kecamatan Pungging. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk-bentuk diversifikasi mata pencaharian petani di wilayah perdesaan dan wilayah suburban Kabupaten Mojokerto, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi diversifikasi mata pencaharian petani di wilayah perdesaan dan wilayah suburban Kabupaten Mojokerto, (3) perbandingan diversifikasi mata pencaharian petani antara wilayah perdesaan dan wilayah suburban di Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan metode survey. Sampel yang diambil adalah petani yang melakukan diversifikasi mata pencaharian di wilayah perdesaan dan wilayah suburban dengan menggunakan purposive sample yang diperoleh sampel di wilayah perdesaan sebanyak 65 KK dan wilayah suburban sebanyak 20 KK. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, kuesioner. Analisis yang digunakan adalah deskriptif dengan tabulasi tunggal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Sebagian besar bentuk diversifikasi mata pencaharian petani di wilayah perdesaan adalah berternak sedangkan di wilayah suburban adalah berdagang, (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi diversifikasi mata pencaharian petani di wilayah perdesaan dan wilayah suburban adalah banyaknya tanggungan keluarga, (3) Ada perbandingan diversifikasi mata pencaharian petani antara wilayah perdesaan dan wilayah suburban di Kabupaten Mojokerto yaitu kebanyakan di wilayah perdesaan mempunyai dua dan tiga mata pencaharian sampingan sedangkan di wilayah suburban mempunyai satu mata pencaharian sampingan. Temuan dalam penelitian ini adalah generasi muda di wilayah suburban cenderung pada transformasi mata pencaharian di bidang pertanian ke non pertanian. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah mengadakan penelitian tentang transformasi dari bidang pertanian ke bidang non pertanian di wilayah suburban.

Penerapan pembelajaran model problem based instruction (PBI) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Madyopuro 5 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Fedelfina Djabumir

 

Kata Kunci: Pembelajaran Problem Based Instructions, proses pembelajaran dan hasil belajar Ilmu pengetahuan sosial merupakan sebuah mata pelajaran yang mempelajari tentang hubungan antara manusia dan dunia sekitarnya. Melalui pendidikan siswa di bekali dengan pengetahuan, keterampilan sikap, dan nilai, serta bagaimana bertindak. Pada pembelajaran IPS masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Tidak jarang hasil belajar IPS yang diperoleh siswa masih rendah. Selain itu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih kurang. Dapat memperbaiki pembelajaran inovatif yaitu menggunakan pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggungkapkan (1) Penerapan model pembelajaran PBI dapat meningkatkan proses belajar IPS, (2) Penerapan pembelajaran PBI dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Data yang di peroleh dalam penelitian ini meliputi data pelaksanaan pembelajaran pada tahap pra tindakan dan pelaksanaan penelitian dengan menerapkan PBI, dan data hasil belajar siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara, tes, dokumentasi (foto). Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Pembelajaran masih bersifat konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru, (2) Hasil belajar pada pembelajaran IPS masih presentasi nilai rata-rata kelas 70,98% dari 46 siswa, dengan tingkat keberhasilan siswa mencapai 28,26% dan tingkat ketidak berhasilan siswa mencapai 71,74% (3) Penerapan model pembelajaran IPS sesuai dengan kerjasama siswa pada model pembelajaran PBI, (4) Hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh presentasi rata-rata kelas 75 % sedangkan siklus II 85%, (5) Siklus II presentasi keberhasilan secara klasikal dari 75% menjadi 85% dengan peningkatan 15,2%. Berdasarkan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Instruction dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Madyopuro 5 Malang Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Berdasarkan penelitian ini, disarankan hendaknya guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan.

Penerapan model advance organizer untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Windasari Waly

 

Kata Kunci: Model pembelajaran advance organizer, peningkatan, keterampilan berbicara. Latar belakang penelitian ini adalah kemampuan berbicara siswa masih lemah, siswa tidak tahu apa yang harus mereka tanggapi, siswa takut salah. Hal itu disebabkan karena guru tidak menggunakan model pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan model pembelajaran advance organizer dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Lesanpuro I; (2) mendeskripsikan kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Lesanpuro I Kec. Kedungkandang Kota Malang melalui model pembelajaran advance organizer. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan bersiklus model Kemmis dan McTaggart, meliputi : perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan dan observasi (acting & observing), refleksi (reflecting), dan rencana perbaikan (revise plan). Kancah dan subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Lesanpuro I Kec. Kedungkandang kota Malang, berjumlah 42 siswa, yang terdiri dari 23 siswa laki-laki dan 19 orang siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, catatan lapangan, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran advance organizer dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa di kelas V SDN Lesanpuro I Kec. Kedungkandang Kota Malang. Peningkatan kemampuan berbicara ditandai dengan: (1) terterapkannya model pembelajaran advance organizer, (2) siswa sudah berani memberikan tanggapan atau pendapatnya terhadap peristiwa yang didengar, dibaca, dan dilihat sebab siswa sudah tahu apa yang harus mereka tanggapi dan bagaimana cara memberikan tanggapan. Hasil kemampuan berbicara siswa pada (1) pra tindakan sebesar= 47,2%, (2) keterampilan berbicara siswa pada siklus I sebesar= 90,5%, dan (3) keterampilan berbicara pada siklus II sebesar= 100%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran advance organizer dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Lesanpuro I Kec. Kedungkandang Kota Malang, disarankan agar guru dapat menerapkan model pembelajaran advance organizer pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.

Penerapan model pembelajaran SAVI untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IVA pada mata pelajaran PKn SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Lencie Kilikily

 

Kata Kunci: Model SAVI , Hasil Belajar, PKn, Sekolah Dasar. Permasalahan yang dialami oleh para siswa kelas IVA SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang adalah kesulitan meningkatkan hasil belajar siswa kelas IVA SDN Madyopuro 4 kota Malang, untuk itu perlu diadakan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan juga pembelajaran yang menyentuh kehidupan riil siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan model Savi dalam meningkatkan berbagai kemampuan siswa dan untuk mendeskripsikan peningkatan berbagai kemampuan siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa SDN Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Tujuan penelitian ini adalah adalah (a) mendeskripsikan penerapan model SAVI untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas IVA Sekolah Dasar Negeri Madyopuro 4 Kecamatan kedungkandang Kota Malang . (b) mendeskripsikan hasil belajar siswa melalui penggunaan model SAVI dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bagi siswa kelas IVA Sekolah Dasar Negeri Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang . Penelitian menggunakan rancangan PTK yang terdiri dari 2 siklus masing -masing siklus Meliputi : Kegiatan perencanaan,pelaksanaan,observasi dan refleksi Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Model pembelajaran Savi dapat diterapkan dengan baik pada mata pelajaran PKn di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Madyopuro 4 Kecamatan Kedungkandng Kota Malang ,2).Hasil belajar siswa meningkat dari rata-rata 60 pada pra tindakan meningkat menjadi 65 pada siklus I dan akhirnya meningkat lagi menjadi 70 pada siklus II,dilakat dari ketuntasan kelas juga meningkat dari 65 % pada siklus I menjadi 85 % pada siklus II. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa model pembelajran SAVI dapat meningkatkan hasil belajar PKn Kelas IVA SDN Madyopuro 4 malang . Disarankan kepada guru dapat menggunakan model Savi dalam pembelajaran PKn.

Pengaruh pembelajaran berbantuan media video mata pelajaran IPA terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN Bangoan 1 Tulungagung / Syaifur Rizal

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran eksperimen Media video pembelajaran, Metode Pembelajaran Konvensional (Ceramah), Hasil Belajar Siswa Menghadapi masa depan yang sudah pasti diisi dengan arus globalisasi dan keterbukaan serta kemajuan dunia informasi dan komunikasi, pendidikan akan semakin dihadapkan pada berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih kompleks dari pada masa sekarang atau sebelumnya. Dunia pendidikan nasional perlu adanya inovasi dalam pengajarannya agar mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang memiliki keunggulan pada era globalisasi dan keterbukaan arus informasi dan kemajuan alat komunikasi yang luar biasa. Saat ini pengajaran yang digunakan dalam sekolah – sekolah yang ada cenderung konvensional, sehingga membosankan dan tidak menarik bagi siswa, siswa dipaksa mendengarkan guru yang ceramah di depan. Padahal setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda – beda menurut tipe individu siswa, tidak hanya gaya belajar reading yang bisa belajar dengan membaca, tetapi ada lagi gaya belajar visual, knestetik, audiotorik yang sesuai dengan karakteristik setiap individu. Seperti halnya dalam proses pembelajaran di SDN Bagoan 1 Tulungagung juga masih lebih mengandalkan media buku teks dalam pembelajaran. Oleh karena itu peneliti mencoba memperkenalkan dan mengukur keberhasilan prestasi belajar siswa setelah menggunakan media video pembelajaran. Penelitian ini bertujuan (1) mengkaji pengaruh penggunaan media video pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. (2) mengkaji apakah hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan media video pembelajaran lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan tanpa menggunakan media video pembelajaran pada mata pelajaran IPA bahasan Energi Bunyi kelas IV SDN Bangoan 1 Tulungagung. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka jenis penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan membagi 2 kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelompok siswa yang menggunakan media video pembelajaran, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menggunakan media video pembelajaran. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent Control Group Design dengan pre tes dan pos tes, serta membagi sasaran penelitian menjadi 2 kelompok sampel, yaitu kelas eksperimen (IV B) dan kelas kontrol (IV A) dengan cara purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis hipotesis yang dirumuskan dapat disimpulkan bahwa “Terdapat perbedaan signifikan hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan media video pembelajaran, dengan kelas kontrol yang diajar dengan metode konvensional (ceramah)”.Atau dengan kata lain bahwa rata-rata gainscore hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan media video pembelajaran lebih besar daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan metode pembelajaran konvensional (ceramah) dengan nilai probabilitas (signifikan) adalah 0,000 < 0,05 dengan t hitung = 6,694 > t tabel = 1,708. Nilai rata – rata gain score kelas experimen 19,7200 dan kelas kontrol adalah 6,1600. Sehingga terdapat perbedaan nilai rata – rata gain score antara kelas experimen dan kelas kontrol sebesar 13,56. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan saran: (1) guru seharusnya menyajikan materi pembelajaran menggunakan media yang sesuai dengan karakterisrik siswa sehingga dapat memberikan hasil belajar yang optimal. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan media video pembelajaran, (2) guru di sekolah SDN Bagoan 1 Tulungagung hendaknya lebih memanfaatkan sarana multimedia yang sudah ada dan dikolaborasikan dengan media video pembelajaran supaya dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, (3) peneliti lain dapat memperluas dan memperdalam kajian pengaruh media video pembelajaran dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui pendekatan pragmatik cooperative script bahasa Indonesia siswa kelas Vb SDN Lesanpuro 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Kalara Vivin Madiuw

 

Kata kunci: Pendekatan Kooperative Script, keterampilan berbicara, Sekolah Dasar. Bahasa Indonesia berperan sebagai alat untuk mempersatukan keberagaman bahasa, adat istiadat, suku, dan budaya. Bertolak dari hal tersebut, siswa diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Permasalahan yang terjadi di kelas adalah siswa belum mampu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta belum sesuai dengan situasi dan konteks, sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar keterampilan berbicara siswa kelas Vb SDN Lesanpuro 3 yang mencakup, kelancaran berbicara, intonasi, strukutur kalimat, ketepatan pilihan kata, kontak mata yang sesuai dengan situasi dan konteks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik membelajarkan siswa agar dapat berbicara sesuai situasi dan konteks antara lain; siapa, di mana, kapan, tujuan dan peristiwa apa? Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) melalui tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 41 orang siswa di SDN Lesanpuro 3 kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes, observasi dan wawancara selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, pendekatan pragmatik diterapkan dalam matapelajaran Bahasa Indonesia di kelas Vb SDN Lesanpuro 3. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep tentang situasi dan konteks saat berbicara secara klasikal mengalami peningkatan. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Hal ini disimpulkan bahwa pendekatan pragmatik telah berhasil meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan pendekatan pragmatik dalam mengajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Penerapan model pembelajaran assure pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belakar siswa kelas V SD Negeri Sukoharjo 2 Kota Malang / Muhammad Amin Yusuf

 

Kata kunci: Pembelajaran IPS SD, Model ASSURE, Aktivitas dan Hasil Belajar. Pembelaran IPS selama ini masih banyak kelemahan, sehingga prestasi maupun hasil belajar siswa rendah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran IPS lebih menekankan pada penguasaan sejumlah peristiwa, fakta, konsep (menghafal), serta cara pembelajaran disekolah yang belum mengarah kepada pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS. Salah satu model yang diprediksi mampu mengembangkan potensi siswa tersebut adalah dengan model pembelajaran ASSURE. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan menerapkan model pembelajaran ASSURE dalam pembelajaran IPS yang mencakup tujuan model ASSURE, pembelajaran IPS, tujuan pembelajaran IPS dan meningkatkan aktivitas belajar yang mencakup kegiatan dalam proses pembelajran serta hasil belajar siswa kelas V SDN Sukoharjo 2 Kota Malang. Jenis rancangan penelitian ini adalah PTK model Suharsimi Arikunto, dkk (2010) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan aktivitas dan hasil diperoleh dengan menggunakan instrumen pengumpulan data seperti tes tulis, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Penerapan model pembelajaran ASSURE Pada Mata Pelajaran IPS dapat Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Negeri Sukoharjo 2 Kota Malang. Hal ini terbukti pada pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa 57,875(kurang), siklus I rata-rata hasil belajar siswa 70,77(baik). Dapat dinyatakan bahwa 28 dari 40 siswa telah mencapai KKM atau sebesar 70% siswa telah mencapai ketuntasan klasikal. Dalam penerapan model pembelajaran ASSURE pada mata pelajaran IPS pada siswa kelas V SDN Sukoharjo 2 sesuai temuan yang dilakukan peneliti ternyata dapat merubah pola belajar siswa, khususnya pada aktivtas dan hasil belajar. Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran ASSURE dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Sukoharjo 2 Kota Malang. Dan saran yang dapat diberikan yaitu agar dalam proses belajar mengajar hendaknya guru menggunakan model pembelajaran khususnya model ASSURE untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian selanjutnya diharapkan bisa lebih bervariasi kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa menghafal semakin berkurang diganti berbuat dan hasilnya bisa diaplikasikan siswa dalam kehidupan.

Analisis ketersediaan peralatan dan bahan praktek program keahlian teknik ototronik standard pelayanan minimum SMK sesuai spektrum 2008 di SMK Negeri 1 Singosari Malang / Anton Suhadi

 

Kata Kunci: Peralatan Dan Bahan Praktik Ototronik, Spektrum 2008, Standar Pelayanan Minimum SMK Dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran praktik di SMK, khususnya untuk Program Keahlian Teknik Ototronik, sangat dibutuhkan peralatan dan bahan praktik karena berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 251/C/KEP/MN/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan menyatakan bahwa kegiatan praktik ototronik pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak dapat berlangsung tanpa adanya peralatan dan bahan praktik yang sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kondisi peralatan praktik teknik Ototronik di SMK Negeri 1 Singosari, (2) Mengetahui kondisi bahan praktik teknik Ototronik di SMK Negeri 1 Singosari, (3)Keterpenuhan peralatan dan bahan praktik ototronik di SMK Negeri 1 Singosari berdasarkan standart pelayanan minimum SMK sesuai spektrum 2008. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode survey dan wawancara.Tahap-tahap dalam penelitian ini adalah :tahap orientasi, tahap ekplorasi dan tahap member chek. Data yang terkumpul direkapitulasi, dikelompokkan, dihitung, dan dianalisa secara cermat menggunakan statistik deskriptif dengan teknik persentase Hasil penelitian ini antara lain: (1) keberadaan sarana Praktikum Kompetensi Keahlian Teknik ototronik yaitu pada standar equipment SMK sebanyak 364 jenis dan masih tersedia 245 buah atau 67,30%. Dengan kondisi peralatan dan bahan praktik keahlian Teknik ototronik yaitu dari 502 terdapat 368 (73,30%) dalamkondisi baik, 40 (7,97) rusak ringan dan 94 (18,72) rusak berat; (2) ketercukupan peralatan dan bahan praktik keahlian teknik ototronik jika dilihat dari standar pelayanan minimum SMK didapat persentase 26,08; (3) dari 108 KD yang ada didapatkan 48 (44,44%) SD terlaksana penuh, 49 (45,37%) KD terlaksana sebagian dan 11 (10,18%) SD tidak terlaksana sama sekali. Kesimpulan penelitian ini antara lain: (1) Tingkat keberadaan peralatan dan bahan praktik dikaji dari standar equipment SMK masih tergolong rendah; (2) Tingkat ketercukupanperalatan dan bahan yang tersedia diliat dari standar pelayanan minimum SMK tergolong sangat rendah; (3) Dikarenakan ketidak tersedianya serta jumlah peralatan dan bahan praktik yang tidak sesuai dengan jumlah praktikan banyak KD yang tidak bisa dilakukan secara penuh, dan beberapa KD tidak dapat terlaksana sama sekali, sehingga disarankan Bagi SMK Negeri 1 Singosari terutama kaprog jurusan teknik ototronik, supaya lebih memperhatikan sarana praktikum dengan jalan pemenuhan peralatan dan bahan praktik serta audit secara berkala

Perbedaan antara metode tutor sebaya dengan metode pembelajaran langsung demonstrasi terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK di SMP Negeri 1 Gandusari Trenggalek / Dian Ardiansyah

 

Tujuan dari penelitian ini adalah mencari : (1) mendeskripsikan kemampuan awal siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol, (2) mendeskripsikan prestasi belajar siswa kelas eksperimen dan kelas eksperimen, (3) mengetahui ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya dengan prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran langsung pada mata pelajaran TIK kelas VIII di SMP Negeri 1 Gandusari Trenggalek. Teknik analisa data yang digunakan untuk mengetahui signifikansi perbedaan prestasi belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol adalah uji-t. ttabel yang digunakan dengan α = 5% dan df = 38 + 38 - 2 = 74 adalah 1,960 (digunakan df ∞ karena angka 74 tidak terdapat pada tabel t).Dari hasil analisa uji beda prestasi belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol diketahui thitung >ttabel (2,082>1,960) dan nilai signifikansi (p)

Penerapan model pembelajaran telaah yurisprudensi inquiri untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS SDN Sukoharjo 2 Kota Malang / Husin Voth

 

Kata Kunci: Telaah yurisprodensi inquiri, Aktivitas dan hasil belajar, IPS SD Pembelajaran konvensional dalam proses belajar mengajar, kurang memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mengutarakan pendapat. Model pembelajaran harus memberikan kesempatan kepada siswa terdorong untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan model Telaah Yurisprodensi Inquiri pada mata pelajaran IPS di kelas V SDN Sukoharjo 2 ? (2) Apakah model pembelajaran telaah yurisprodensi Inquri dapat meningkatkan Aktivitas belajar siswa kelas V pada pelajaran IPS SDN Sukoharjo 2? (3) Apakah Model Pembelajaran Telaah Yurispodensi Inquiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada matapelajaran IPS SDN Sukoharjo 2 Kota Malang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas dan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian adalah siswa kelas V SDN Sukoharjo 2 Kota Malang, berjumlah 40 orang dengan komposisi siswa laki-laki 22 dan 18 orang siswa perempuan. Instrumen pengumpulan data penelitian adalah dengan memberikan post-test pada setiap akhir siklus, dan observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung, serta wawancara setelah kegiatan belajar mengajar di kelas. Analisis data kuantitatif untuk mendiskripsikan karakteristik hasil tes belajar siswa, dan analisis kualitatif untuk hasil aktivitas siswa melalui lembar observasi. Hasil penelitian yang diperoleh dari data lapangan : Semangat, partisipasi, dan aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran siklus I pertemuan pertama dengan skor tertinggi=80.00% pada siklus I dengan kualiatas cukup baik dan siklus I pertemuan kedua degan skor 83,5% dengan kualitas baik dan meningkat menjadi=90,0% pada siklus II dengan kualitan sangat baik. Hasil skor aktivitas kemampuan guru dalam kegiatan belajar mengajar pada siklus I sebesar=94,04% meningkat menjadi=96,42% pada siklus II.Sedengkan peningkatan hasil belajar siswa sebelum penelitian tindakan sebesar=59,12%.pada presentasi rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan pertama = 67.60 %, dan pertemuan kedua 73,8%. presentasi rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar= 83,5 % dari skor ideal 100.kesimpulan dari penelitian ini yaitu penerapan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kelas V SDN Sukoharjo 2 Kota Malang. Saran yang diberikan yaitu: bagi guru diantaranya (a) menerapkan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri sebagai alternatif model pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran, (b) melakukan persiapan yang matang sebelum penerapan model pembelajaran Telaah Yurisprodensi Inquiri pada pembelajaran, dan (c) memilih model pembelajaran yang sesuai dan efektif agar pembelajaran IPS dapat terlaksana dengan optimal.

Penambahan etanol pada premium untuk mereduksi emisi gas karbon monoksida (CO) di berbagai putaran mesin / Muhammad Nuhi Zayana Shofa

 

Pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk memahamkan siswa kelas X SMK Negeri 2 Bondowoso tentang bilangan berpangkat / Edy Purwanto

 

Tesis, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaya, M.Ed. Ph.D, (II) Dr. rer. nat. I Made Sulandra. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw, Memahamkan, Bilangan Berpangkat. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa SMK sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya, khususnya di dunia kerja. Sementara pada sisi lain, hasil observasi empirik di lapangan mengindikasikan bahwa sebagian besar lulusan SMK kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sulit untuk bisa dilatih kembali, dan kurang bisa mengembangkan diri (Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 2004). Temuan tersebut tampaknya mengindikasikan bahwa pembelajaran di SMK perlu mengembangkan kemampuan adaptasi siswa, di antaranya kemampuan pemecahan masalah. Selain kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penguasaan konsep berupa kemampuan kognitif juga perlu dimiliki siswa karena diharapkan dapat mendukung kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Demikian pula aspek sikap perlu dikembangkan untuk mendukung kemampuan adaptasi siswa. Berdasarkan pengalaman peneliti, hasil diskusi dengan guru matematika SMK Negeri 2 Bondowoso dan hasil tes menunjukan bahwa hasil belajar siswa disekolah tersebut belum baik, artinya belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) di sekolah tersebut. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam upaya memahamkan siswa salah satunya melalui pembelajaran kooperatif model jigsaw. Tujuan penelitian adalah menghasilkan rancangan pembelajaran kooperatif model jigsaw yang dapat memahamkan siswa kelas X program tata boga SMK Negari 2 Bondowoso, tentang materi bilangan berpangkat. Hasil penelitian di SMK Negeri 2 Bondowoso pada kelas X A1, menunjukan bahwa pada siklus I siswa yang tuntas dalam pembelajaran adalah 87,5%, sedangkan pada siklus II adalah 90,6%. Nilai rat-rata hasil tes awal adalah 63,1, pada siklus I adalah 74,8 dan pada siklus II menjadi 80,8. Pembelajaran kooperatif model jigsaw dengan langkah-langkah pembentukan kelompok asal, penyajian materi oleh guru, pemberian tugas oleh guru, diskusi kelompok ahli, diskusi kelompok asal, kuis/tes dan pemberian penghargaan kelompok dapat memahamkan siswa pada materi bilangn berpangkat

Hubungan persepsi siswa tentang pelaksanaan pembelajaran dengan prestasi belajar siswa mata diklat teori kejuruan kelas XII Jurusan Teknik pemesinan SMK Pekerjaan Umum malang / Andri Saputro

 

Kata kunci: persepsi siswa, pelaksanaan pembelajaran, prestasi belajar, SMK. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pendidikan kejuruan tingkat menengah yang disediakan Pemerintah dalam rangka menyiapkan tenaga kerja menengah siap pakai. Sehubungan dengan hal itu, hendaknya pendidikan dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pada dasarnya proses belajar-mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, dimana guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar-mengajar di dalam kelas. Keberhasilan siswa dalam menempuh pendidikan dapat dilihat dari prestasi belajar yang diperoleh. Berkaitan dengan hal itu, dalam pelaksanaan pembelajaran guru memegang peranan penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasional. Penelitian ini dilakukan di SMK Pekerjaan Umum Malang. Responden dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XII jurusan Teknik Pemesinan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 14 siswa. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi siswa tentang pelaksanaan pembelajaran dengan prestasi belajar siswa mata diklat Teori Kejuruan. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan teknik dokumentasi, sedangkan analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah uji prasyarat analisis, analisis deskriptif, dan analisis korelasi, serta dalam penghitungannya menggunakan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan tingkat persepsi siswa tentang pelaksanaan pembelajaran berada dalam kriteria baik dengan skor rata-rata sebesar 118,82, dan tingkat prestasi belajar siswa mata diklat Teori Kejuruan berada dalam kriteria baik dengan skor rata-rata sebesar 8,84, serta tidak ada hubungan antara persepsi siswa tentang pelaksanaan pembelajaran dengan prestasi belajar siswa mata diklat Teori Kejuruan kelas XII jurusan Teknik Pemesinan SMK Pekerjaan Umum Malang dengan hasil perhitungan sebesar (rhitung = -0,244; p = 0,400 > 0,05). Saran yang diberikan oleh peneliti adalah untuk pihak sekolah diharapkan lebih meningkatkan kegiatan di dalam proses pelaksanaan pembelajaran agar prestasi belajar siswa terus meningkat. Bagi guru mata diklat Teori Kejuruan supaya lebih meningkatkan performanya dalam mengajar agar persepsi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang diajarkan akan lebih baik dan sekaligus lebih memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Untuk siswa sebaiknya berusaha semaksimal mungkin dalam belajar dan menghindari hal-hal negatif yang dapat mengganggu kegiatan belajar agar prestasi belajarnya juga terus meningkat.

Penerapan model pembelajaran deep dialogue untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Siti Kunut Goulap

 

Kata Kunci: Penerapan model deep dialog/critical thingking, aktivitas belajar, hasil belajar. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti tanggal 28 Februai 2011 pada mata pelajaran Pkn siswa kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran Pkn, diantaranya adalah pembelajaran di kelas masih tergolong klasikal, siswa hanya mendengarkan dan melakukan apa yang diperintahkan oleh guru, siswa cenderung pasif dan merasa bosan dalam pembelajaran Pkn. Nilai rata-rata siswa kelas V pada hasil belajar adalah 58,12, masih kurang dari kriteria yang ditentukan, yaitu 66%. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan pada pembelajaran Pkn adalah metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan sehingga pembelajaran di kelas didominasi oleh guru. Oleh karena itu, pada penelitan ini mencoba untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Deep Dialog/Critical Thingking untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi keputusan bersama melalui penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup peningkatan pembelajaran PKn, aktivitas siswa di kelas dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Deep Dialog/Critical Thingking. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dilakukan atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Rancangan yang digunakan adalah PTK model Kemis dan Taggart dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari:(1) perencanaan tindakan,(2) pelaksanaan tindakan: (3) pengamatan observasi: (4) refleksi. Instrumen yang digunakan adalah (a) pedoman observasi, (b) soal-soal tes, (c) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Deep Dialog/Critical Thingking pada mata pelajaran Pkn materi pokok “Keputusan Bersama” di kelas V SDN Madyopuro II peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa dari pratindakan, Siklus I ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari rata-rata kelas sebesar 58,12 dan angka ketuntasan klasikal 25% dan setelah dilakukan tindakan pada siklus I meningkatkan menjadi 78,87 dengan angkah ketuntasan klasikal 75% . Jumlah rerata skor dan daya serap mengalami peningkatan lagi pada siklus II, yaitu 87,00dan angkah ketuntasan klasikalnya meningkat menjadi 78%. Penerapan model Deep Dialog/Critical Thibgking (DD/CT) sangatlah merubah hasil dari pembelajaran PKn, karena Penerapan model DD/CT melibatkan peserta didik aktif dalam pembelajaran, dimana peserta didik akan menemukan dan membangun sendiri pengetahuannya melalui kegiatan dalam kelompok-kelompok kecil. Berkomunikasi yang baik dengan teman, berani menyampaikan pendapatnya melalui berfikir kritis dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan media atau sumber daya belajar yang ada di sekitarnya. Pada siklus I 15 siswa dari 40 siswa berani dalam mengemukakan ide, berdiskusi, dan bertukar pikiran dengan teman, dan meningkat pada siklus II menjadi 29 dari 40 siswa. Sedangkan peningkatan rata-rata nilai hasil belajar siswa dari pra tindakan ke siklus 1 adalah 21 % dan dari siklus I ke siklus II adalah 6.13 %. Kesimpulan secara keseluruhan aktivitas dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah diterapkan model pembelajaran Deep Dialog/Critical Thingking. hambatan-hambatan dalam penerapan model pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) pada proses pembelajaran di kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang adalah keterbatasan waktu sehingga kelompok yang presentasi tidak bisa semua kelompok dari 7 kelompok hanya 3 kelompok yang berpresentasi. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu hendaknya guru memahami karakteristik siswa, sehingga tindakan yang dilakukan guru tepat dan efektif.

Penerapan pendekatan chemoentrepreneurship (CEP) terhadap minat berwirausaha, motivasi belajar, kreativitas dan kemampuan kognitif kimia siswa kelas X SMAN 1 Singosari Malang pada materi pokok senyawa hidrokarbon alkana / Fatkhiz Zuhriyatillaily

 

Kata Kunci: Chemoentrepreneurship (CEP), Minat Berwirausaha, Motivasi Belajar, Kreativitas, Kemampuan Kognitif, Senyawa Hidrokarbon Alkana. Salah satu fungsi pendidikan adalah sebagai penyiapan tenaga kerja. Fungsi ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Namun sampai saat ini mutu pendidikan masih jauh dari harapan. Hal ini nampak dari tidak semua lulusan SMA melanjutkan ke Universitas dan juga para lulusan SMA belum mempunyai bekal atau belum dipersiapkan untuk bekerja. Di sisi lain, tuntutan pemenuhan kebutuhan yang semakin meningkat sedangkan penghasilan relatif tetap sehingga diperlukan upaya pengembangan usaha untuk meningkatkan perolehan pendapatan. Oleh karena itu, siswa SMA perlu diberi pemahaman tentang berwirausaha sebagai bekal dirinya untuk memulai atau melanjutkan kegiatan secara layak. Untuk itu perlu pembelajaran yang dapat meningkatkan minat berwirausaha dan motivasi belajar siswa yang terintegrasikan dalam mata pelajaran yang ada di SMA. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat dikembangkan pada mata pelajaran kimia adalah Chemoentrepreneurship (CEP). Pendekatan CEP adalah pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan objek nyata sehingga selain dididik, siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan menumbuhkan semangat berwirausaha. Dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan minat berwirausaha, motivasi belajar, kreativitas dan kemampuan kognitif siswa dengan penerapan pendekatan CEP pada materi pokok senyawa hidrokarbon alkana. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Data minat berwirausaha dan motivasi belajar siswa diperoleh sebelum dan setelah penerapan CEP, sedangkan data kreativitas dan kemampuan kognitif siswa diperoleh setelah penerapan pendekatan CEP. Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari instrument perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen pengukuran yang digunakan berupa tes dan non tes. Analisis data hasil penelitian meliputi analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini memberikan empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, penerapan pembelajaran dengan pendekatan CEP dapat meningkatkan minat berwirausaha siswa sebesar 0,437 dalam kategori sedang. Kedua, penerapan pembelajaran dengan pendekatan CEP dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar 0,232 dalam kategori rendah. Ketiga, 100% siswa mempunyai kreativitas yang tergolong tinggi. Keempat, hasil perhitungan persentase ketuntasan klasikal yang diperoleh sebesar 71,42 % dan belum mencapai tolok ukur keberhasilan yang ditetapkan oleh sekolah, yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai ≥ 75 (tuntas belajar). Dengan demikian, disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CEP dapat meningkatkan kreativitas siswa tetapi belum dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

Penerapan model induktif kata bergambar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi di kelas IV SDN Kauman II Kecamatan Klojen kota Malang / Moh. Ramli Daeng Parany

 

Kata Kunci: Model pembelajaran induktif kata bergambar, peningkatan, kemampuan menulis, karangan deskripsi. Latar belakang penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menulis masih rendah hal itu disebabkan oleh dalam menulis penempatan huruf besar dan kecil tidak teratur dan penggunaan tanda bacapun belum maksimal, siswa kurang mampu menggunakan dan memilih kata dalam menuangkan buah pikirannya sesuai gambar, isi kalimat relatif belum menggambarkan topik dan kalimat satu dengan kalimat yang lain tidak sinambung, paragraf yang satu dengan paragraf yang lain belum koheren. Hal ini disebabkan karena guru belum berpikir untuk menggunakan model pembelajaran yang dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan siswa dalam menulis, dan pembelajaran yang dilaksanakan lebih berpusat pada guru, serta guru cenderung hanya menilai kemampuan siswa terhadap isi tulisan, sedangkan teknik penulisan siswa tidak diperhatikan untuk diperbaiki. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran induktif kata bergambar dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi di kelas IV SDN Kauman II; (2) mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi di kelas IV SDN Kauman II. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan bersiklus model Kemmis dan McTaggart, meliputi : perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observation), dan refleksi (reflecting). Kancah dan subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kauman II Kec. Klojen Kota Malang, berjumlah 48 siswa, yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 27 orang siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran induktif kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi di kelas IV SDN Kauman II Kec. Klojen Kota Malang. Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan ditandai dengan: (1) terterapkannya model pembelajaran induktif kata bergambar, (2) penempatan huruf dan tanda baca sudah maksimal karena guru memparbaiki hasil karangan siswa, (3) siswa sudah dapat menggunakan dan memilih kata dalam menuangkan pikirannya sesuai gambar karena dalam pelaksanaan pembelajaran guru sudah menampilkan gambar dan membuat garis merentang dari gambar ke objek kata yang menggambarkan pokok pikiran, (4) kalimat yang satu dengan kalimat yang lain serta paragraf sudah i sinambung sebab dalam pembelajaran guru sudah mengarahkan siswa menulis karangan deskripsi sesuai gambar dan kata yang sudah disiapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran induktif kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi di kelas IV SDN Kauman II Kec. Klojen Kota Malang, disarankan agar guru dapat menerapkan model pembelajaran induktif kata bergambar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi.

Implementasi rencana strategis dinas peternakan untuk meningkatkan pertumbuhan peternakan di Kabupaten Blitar / Nur Azis Setiawan

 

Kata Kunci:Implementasi dan Rencana Strategis Rencana Strategis Dinas Peternakan Kabupaten Blitar yaitu Program pencegahan dan penanggulangan penyakit, program peningkatan produksi peternakan, program peningkatan hasil produksi ternak, dan program penerapan teknologi peternakan dalam mewujudkan peternakan sebagai potensi unggulan Kabupeten Blitar masih ditemukan kendala-kendala di lapangan. Maka dari itu diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui Implementasi Rencana Strategis Dinas Peternakan dilihat dari tiga aspek Organisasi, interpretasi, dan pelaksanaan untuk mengetahui kendala-kendala yang ada dari Implementasi Rencana Strategis Dinas Peternakan serta seberapa besar kontribusi yang diberikan Subsektor Peternakan terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Blitar. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah Bagaimana Implementasi dari Rencana Strategis Dinas Peternakan Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Peternakan di Kabupaten Blitar pada tahun 2009 dilihat dari tiga aspek yaitu Organisasi, interpretasi dan Pelaksanaannya?, serta seberapa besar kontribusi yang diberikan Subsektor Peternakan terhadap Produk Domestik Regional Bruto. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengImplementasian Rencana Strategis Dinas Peternakan untuk meningkatkan pertumbuhan peternakan di Kabupaten Blitar dilihat dari tiga aspek, yaitu Organisasi, Interpretasi, dan Pelaksanaannya, serta mendeskripsikan kontribusi subsektor peternkan terhadap Produk Domestik Regional Produk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, dan wawancara. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan teknik triangulasi yaitu melihat wawancara, dokumentasi dan pengamatan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pelaksanaan Rencana Strategis Dinas Peternakan Kabupaten Blitar belum bisa maksimal yang dilihat dari variabel organisasi adalah masih terjadi persepsi yang berbeda dari Rencana Strategis dengan implementasinya, adanya kendala pelaksanaan dilapangan, dan perlunya mengadakan pembaharuan alat (sarana dan prasarana). Variabel interpretasi adalah Rencana Strategis Dinas Peternakan disusun dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Variabel pelaksanaan adalah bahwa Program Kerja Rencana Strategis sudah berjalan sesuai dengan jadwal pelaksanaannya. Dan kontribusi yang diberikan subsektor peternakan terhadap Produk Domestik Regional Produk adalah sebesar Rp 2.255.120,64 (juta rupiah) atau 18,43% yang dapat menyerap tenaga kerja sebesar 7,36% dari jumlah penduduk Kabupaten Blitar sebesar 1.259.880 jiwa. Saran yang bisa diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah (1) Peningkatan penyuluan-penyuluhan dan pendampingan terhadap peternak terutama peternak kecil, (2) Implementator sebaiknya diberikan penjelasan lebih mendalam terkait dengan tugas yang akan dilaksanakan, (3) Perlu adanya peningkatan kedisiplinan pagawai, jaringan informasi dan tingkat profesionalitas petugas di lapangan, (4) Perlu adanya pembaharuan dan penambahan alat, sarana prasarana di Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, (5) Memberikan kemudahan pada peternak dalam hal mencari input dan meyalurkan output/hasil peternakan, (6) Peningkatan inovasi, penelitian, dan penerapan teknologi tepat guna di bidang peternakan.

Penerapan model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE) pada mata pelajaran IPS sub mata pelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Malang / Wuri Agustina

 

Kata kunci: Model Pembelajara Student Facilitator And Explaining (SFAE), hasil belajar, PTK. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa perubahan pada banyak aspek kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan tersebut kita perlu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas serta berdaya saing untuk mencapai kesejahteraan. Suatu pendidikan dikatakan berkualitas apabila pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Namun selama ini banyak sekali anggapan bahwa pengatahuan yang diperoleh hanyalah seperangkat fakta-fakta yang dihafal oleh siswa karena pembelajaran di kelas kebanyakan masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan atau dengan kata lain suasana kelas cenderung bersifat Teacher Centered dimana peran guru bersifat aktif. Sementara itu, peran siswa pada proses pembelajaran bersifat pasif. Bardasarkan hasil pengamata awal di SMP Negeri 17 Malang pembelajaran masih secara konvensional, yang artinya masih berpusat pada guru, hal ini mengakibatkan siswa hanya menghafal dan bekerja secara prosedural, siswa juga akan merasa jenuh karena peran guru dalam pembelajaran terlalu dominan sehingga banyak siswa yang kurang aktif dalam belajar. Sehingga yang bisa dilakukan oleh guru adalah diperlukan model pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengaktualisasikan diri dengan memberdayakan potensi yang dimiliki siswa salah satunya menggunakan model pembelajaran Student Facilitator And Explaining. Student Facilitator And ExplainingStudent Facilitator And Explaining (SFAE) yang dilakukan dalam mata pelajaran IPS Sub.Mata Pelajaran Ekonomi kelas VIIIE di SMP Negeri 17 Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan jumlah siswa yang tuntas pada siklus I sebanyak 36 siswa (81,8%), yang belum tuntas 8 siswa (18,2%). Sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 41 siswa (93,1%), yang belum tuntas 3 siswa (6,9%). Kritria ketuntasan minimal (KKM) adalah 65, sedangkan KKM klasikal 85% dari jumlah keseluruhan siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka penerapan model pembelajaran Student Facilitator And Explaining (SFAE) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kemudian saran dalam menerapkan model Student Facilitator And Explaining apat menjadi alternatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, selain itu penerapan model pembelajaran SFAE hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar tidak hanya menilai hasil belajar tapi juga menilai segala aktivitas atau keaktifan setiap siswa dalam melaksanakan langkah-langkah model ini. merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempersentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya. Model pembelajaran ini efektif untuk melatih siswa berbicara untuk menyampaikan ide/gagasan atau pendapat sendiri. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan selama dua siklus, tiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan dan setiap siklusnya terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 17 Malang yang terdiri dari 44 siswa. Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5-6 siswa dalam satu kelompok, kemudian guru menbagikan hand out sebagai bahan diskusi. Selanjutnya siswa maju kedepan kelas untuk menjelaskan materi yang telah didiskusikan bersama kelompoknya, dimana pada kegiatan ini siswa berperan sebagai Facilitator and Explaining. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model

EFL reading strategies of Indonesian learners / by Patrisius Djiwandono

 

Pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua dan modernitas siswa terhadap pola konsumsi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang / Nur Azis Setiawan

 

Kata Kunci: Kondisi Sosial Ekonomi, Modernitas, dan Pola Konsumsi Kondisi sosial ekonomi orang tua merupakan kondisi orang tua dalam masyarakat yang dilihat dari tingkat pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dan jumlah tanggungan keluarga yang akan memberikan pola pengasuhan tersendiri bagi anak. Dan pertumbuhan modernitas anak yang semakin cepat akibat mudahnya mengakses informasi dan teknologi juga akan menimbulkan dampak tersendiri bagi anak. Hal ini, akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan terutama pada pola konsumsi anak tersebut. Maka dari itu diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua dan modernitas terhadap pola konsumsi anak. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap pola konsumsi siswa?, (2) Bagaimana pengaruh modernitas siswa terhadap pola konsumsi siswa?, (3) Bagaimana pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua siswa dan modernitas siswa terhadap pola konsumsi siswa? Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi sosial ekonomi orang tua dan modernitas siswa sebagai variabel independen dan pola konsumsi siswa sebagai vaiabel dependen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang. Sampel yang diambil sebanyak 80 siswa dengan teknik proportional random sampling yang diperoleh dengan rumus Slovin. Teknik pengumpulan data adalah melalui angket dan dokumentasi. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) Kondisi sosial ekonomi orang tua berpengaru terhadap pola konsumsi siswa sebesar 17,86%, (2) Modernitas siswa berpengaruh terhadap pola konsumsi siswa sebesar 45,04%, (3) Kondisi sosial ekonomi orang tua dan Modernitas siswa berpengaruh terhadap pola konsumsi siswa sebesar 62,90%. Saran yang bisa diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah (1) Bagi Sekolah pemberian materi di Sekolah sebaiknya tidak hanya pengetahuan tetapi juga materi-materi yang berkaitan dengan perubahan sikap, sehingga siswa mampu berperilaku yang rasional, termasuk dalam berkonsumsi, (2) Bagi siswa memaksimalkan sarana prasarana yang sudah ada guna meningkatkan potensi dalam diri siswa serta pemilihan informasi dan teknologi lebih selektif yang digunakan sesuai dengan kebutuhan

Penerapan model pembelajaran ADDIE untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VA mata pelajaran IPS SDN Madyopuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Rika Sonya Malagwar

 

ADDIE. Model pembelajaran ADDIE terdiri atas lima tahap/fase yaitu (Analysis-Design-Development-Implementation-Evaluation). Pembelajaran dilaksanakan pada mata pelajaran IPS khususnya materi pokok Tokoh-tokoh Perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Rencana penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang dikemukakan oleh Kemmis & Taggart yaitu (1) Perencanaan, (2), Tindakan, (3), Observasi dan (4), Refleksi disetiap siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Madyopuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 41 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi selama proses pembelajaran. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi pokok Tokoh-tokoh Perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia secara klasikal mengalami peningkatan dari 56,82% pada pra tindakan menjadi 63,90% pada siklus I. kemudian dari 63,90% pada siklus I kemudian mengalami peningkatan menjadi 80,24% pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah Model pembelajaran ADDIE diterapkan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan Model pembelajaranADDIE dalam mengajarkan mata pelajaran IPS. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan Model pembelajaran ADDIE ADDIE dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VA mata pelajaran IPS SDN Madyopuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dimna model ini lebih mengefektifkan guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang di buat serta guru dapat memahami kebutuhan siswa. Model Pembelajaran ADDIE, Hasil Belajar IPS SD.pada mata pelajaran IPS maupun mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 13 Februari 2011 dan pretes yang peneliti lakukan pada tgl 14 Februari 2011 pada jam sekolah berlangsung, ditemukan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial siswanya masih rendah, yaitu rata-rata skor yang diperoleh 56,41% dan belum mencapai Standar Ketuntasan Minimal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 64,76 %. Setelah diselediki lebih lanjut tentang metode yang digunakan oleh wali kelas V SDN Madyopuro 1 dalam proses pembelajaran, ditemukan bahwa guru kurang mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran artinya siswa kurang diberi kesempatan untuk bertanya sehingga guru lebih aktif dibanding siswa. Guru kurang menggunakan media yang di rancang sendiri tetapi menggunakan media yang sudah jadi. Penelitian tindakan kelas ini diterapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Madyopuro 1. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model pembelajaran

Pengaruh keragaman gaya belajar terhadap prestasi belajar (Studi pada siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari tahun ajaran 2010/2011) / Ulviani Novitasari

 

Kata Kunci: Keragaman Gaya Belajar, Prestasi Belajar. Pendidikan Nasional memiliki peran penting dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata baik material maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, penting sekali bagi guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa. Salah satu prinsip tersebut adalah adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar siswa, yaitu adanya gaya belajar yang berbeda-beda pada masing-masing siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Keragaman gaya belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari tahun ajaran 2010/2011; (2) Prestasi belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari tahun ajaran 2010/2011; (3) Perbedaan pengaruh keragaman gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini merupakan causal comparative research dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis varian (ANOVA) yaitu uji univariate analysis variance. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 309 siswa. Sampel yang digunakan sebanyak 154 siswa dengan menggunakan teknik simple random sampling. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan dokumentasi. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan 5 alternatif jawaban. Untuk uji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Sebagian besar siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari memiliki ciri-ciri gaya belajar visual yang paling banyak daripada gaya belajar auditorial dan kinestetik; (2) Prestasi belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari adalah sangat baik dimana kriteria tersebut memiliki persentase yang paling besar; (3) Tidak ada perbedaan pengaruh keragaman gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah 3 Singosari tahun ajaran 2010/2011. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan: (1) Bagi siswa SMK Muhammadiyah 3 Singosari diharapkan dapat menyadari perbedaan kecenderungan gaya belajar yang terdiri dari gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik sehingga dapat membantu menentukan cara belajar dan sasaran belajar yang efektif dan efisien bagi dirinya sendiri dalam mengoptimalkan prestasi belajar; (2) Bagi guru SMK Muhammadiyah 3 Singosari sebagai pendidik diharapkan dapat mengetahui gaya belajar yang berbeda-beda sesuai karakteristik masing-masing sehingga dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan mendukung proses belajar mengajar serta dapat memberikan solusi dari kesulitan belajar yang dialami siswa; (3) Bagi Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 3 Singosari diharapkan dapat memberikan motivasi dan program sosialisasi pendidikan yang dapat membantu siswa untuk lebih mengoptimalkan prestasi belajarnya dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar baik yang berasal dari luar maupun dari dalam diri siswa sendiri; (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dengan adanya keterbatasan sampel penelitian yang hanya melibatkan satu sekolah dan beberapa siswa dengan mengambil variabel gaya belajar dalam penelitian ini sebaiknya memperhatikan variabel-variabel lain seperti motivasi, kecerdasan emosional dan gaya mengajar guru yang dapat mempengaruhi prestasi belajar sehingga menambah kesempurnaan dari penelitian ini sebelumnya

Kehidupan pekerja anak sebagai nelayan di pedukuhan pesisir, desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo / Sandy Yuda Primadanta

 

Kata Kunci: pekerja anak, nelayan Pekerja anak adalah anak yang berada dalam kelompok penduduk usia 7-15 tahun yang bekerja di sektor-sektor tertentu. Pekerja anak tidak hanya terlibat dalam pekerjaan formal, melainkan bekerja di sektor non formal seperti bekerja sebagai nelayan dalam rangka mencari uang layaknya pekerja dewasa atau orang tuanya. Perubahan ini terjadi karena tekanan kebutuhan yang dialami keluarga-keluarga miskin semakin meningkat, sehingga banyak di antara mereka terpaksa mendayagunakan anggota keluarganya termasuk anak-anak untuk membantu mencari sumber pendapatan sebagai penyangga ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kondisi objektif kehidupan pekerja anak sebagai nelayan di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, (2) faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anak lebih memilih bekerja sebagai nelayan daripada bersekolah di Pendukuhan Pesisir, (3) peran orang tua dalam mendidik anaknya di Pendukuhan Pesisir, (4) Peran masyarakat dalam meningkatkan minat anak untuk sekolah di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, studi dokumen, dan observasi. Subyek penelitian adalah pekerja anak, orang tua pekerja anak, tokoh masyarakat di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo dan kepala dinas pendidikan Kabupaten Situbondo. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) kondisi objektif kehidupan pekerja anak sebagai nelayan di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari. Sekitar 175 orang adalah pekerja anak. Latar belakang ekonomi yang sangat rendah membuat mereka bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Anak dibesarkan dalam nilai budaya yang lebih mementingkan pekerjaan. Anak bekerja sebagai nelayan menggunakan salerek (perahu besar). Jenis pekerjaan yang dilakukan pekerja anak saat melaut yaitu pekerja anak mulai memancing untuk mengetahui dimana tempat ikan itu berada. Setelah tempat gerombolan ikan itu ditemukan, pekerja anak langsung memegang lampu mercury untuk menerangi tempat ikan tersebut. Selain itu pekerja anak lainnya juga ada yang menebarkan jaring. Pada saat melaut pekerja anak beresiko terkena baling-baling perahu, kepeleset ke dek perahu yang bisa mengakibatkan luka, nyilu, bengkak di lutut. Aktivitas pekerja anak setelah bekerja adalah istirahat untuk memulihkan staminanya. Salah satunya dengan menonton TV, bermain layangan, PS (play station), berolahraga seperti sepak bola, voli, renang serta nongkrong di warung. Saat nongkrong di warung tidak jarang pekerja anak melakukan perilaku negatif misalnya berjudi, merokok, minuman keras dan menggoda perempuan yang lewat. Upah pekerja anak sebagai nelayan di Desa Kilensari sangat tidak menentu (2) faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anak lebih memilih bekerja sebagai nelayan daripada bersekolah di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari, yaitu: (a) kemiskinan keluarga. Pendapatan orang tua Rp 25.000 per hari jelas tidak cukup untuk membiayai kebutuhan anak-anaknya, (b) pengaruh lingkungan. Anak-anak merupakan kelompok yang sangat mudah dipengaruhi oleh suatu lingkungan. Sehingga dapat dipahami mengapa lingkungan sosial dapat berdampak sangat besar pada anak-anak, (c) potensi lokal. Potensi lokal membuka peluang usaha yang pekerja anak terlibat di dalamnya. Apalagi akses ke daerah yang mempunyai sumber daya lokal mudah, maka akan menarik anak-anak untuk bekerja sebagai nelayan, (d) pra kondisi anak masuk dunia kerja. Anak mendapatkan informasi dari pemberitahuan teman, keluarga atau pekerja lainnya. Informasi tersebut berupa ajakan dari orang-orang yang terlibat pekerjaan. Sebab ajakan bekerja berarti menunjukkan adanya lowongan atau kebutuhan tenaga kerja tambahan. (e) ketidaktertarikan anak pada pendidikan. ketidaktertarikan pada pendidikan realitanya disebabkan oleh faktor ekonomi yang kurang mendukung sehingga pekerja anak memilih untuk bekerja daripada bersekolah. (f) dorongan diri sendiri. Pekerja anak bekerja atas dorongan dari diri sendiri karena adanya keinginan untuk cepat menikah. (3) peran orang tua dalam mendidik anaknya di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari, yaitu: (a) memotivasi. Dengan harapan anak tersebut mempunyai minat untuk melanjutkan sekolahnya demi mengejar cita-cita yang di inginkan oleh kedua orang tuanya. (b) memberi fasilitas sekolah. Seperti seragam sekolah, sepatu, tas, bukubuku, alat tulis dan uang saku. (c) memberi hukuman. Dengan tidak diberi uang saku dan pernah dipukuli tetapi anak tidak ada reaksi untuk kembali melanjutkan sekolah. (4) peran masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan minat anak untuk sekolah di Pendukuhan Pesisir, Desa Kilensari, yaitu: (a) menasehati. Menasehati agar orang tua jangan putus asa untuk memberikan dukungan pada anaknya untuk bersekolah lagi. (b) mengawasi. Apabila anak akan memulai untuk melakukan hal-hal yang negatif, tokoh masyarakat tidak membiarkan begitu saja. tetapi secepatnya ditegur dan diberi pengertian. (c) memberi pengertian. Memberikan pengertian bahwa pemerintah mempunyai kebijakan pendidikan gratis seperti biaya pendaftaran sekolah tidak dipungut biaya, menggratiskan biaya SPP setiap bulannya, buku materi diberi pinjaman oleh sekolah, dan memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi. (d) Menggratiskan biaya sekolah. Dengan bentuk kebijakan tersebut, masyarakat yang kurang mampu akan tetap memperoleh pendidikan tanpa harus dibebani biaya. Dari hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) bagi Pemerintah hendaknya lebih mengoptimalkan kebijakan terhadap akses-akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu agar tidak ada lagi anak yang putus sekolah serta memberikan jaminan perlindungan bagi pekerja anak khususnya pekerja anak sebagai nelayan. (2) bagi Dinas Pendidikan hendaknya lebih memperhatikan masyarakat yang kurang mampu dengan mendukung akses-akses yang ada di sekolah sehingga masyarakat yang kurang mampu dapat melanjutkan sekolah dan tetap memperoleh pendidikan. (3) bagi masyarakat khususnya orang tua pekerja anak sebagai nelayan hendaknya lebih menyadari bahwa pendidikan sangat penting dan ada akses untuk membantu masyarakat yang kurang mampu agar bisa bersekolah sehingga jumlah anak putus sekolah akan berkurang. (4) bagi juragan perahu hendaknya melengkapi dengan pelindung yang memadai seperti sarung tangan, ban pelampung bahkan obatobatan di perahu, memberi jaminan kesehatan, jaminan perlindungan serta penyetaraan upah bagi pekerja anak dan pekerja dewasa agar tidak terjadi kesenjangan sosial.

Peningkatan kemampuan mengarang menggunakan metode quantum learning pada siswa kelas V SDN Jugo 05 Kec. Kesamben Kab. Blitar tahun 2010/2011 / Indah Dwi Rahayu

 

Kata Kunci : Kemampuan Mengarang, Metode Quantum Learning, Anak SD Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD sangat vital karena erat kaitannya dengan mata pelajaran lainnya. Dengan demikian peserta didik harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, baik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, maupun mata pelajaran lainnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus diajarkan secara terpadu yang meliputi aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Namun demikian di SDN Jugo 05 terutama di kelas V, aspek menulis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu dalam hal mengarang kemampuan siswa masih sangat rendah. Siswa kurang mampu mengutarakan ide, buah pikiran dan gagasannya ke dalam bahasa tulis. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini di rumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana meningkatkan kemampuan mengarang dengan menggunakan metode Quantum Learning pada siswa kelas V SDN Jugo 05 Kec. Kesamben Kab. Blitar? (2) Apakah penggunaan metode Quantum Learning dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas V SDN Jugo 05 Kec. Kesamben Kab. Blitar?. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Peningkatan kemampuan mengarang mengguanakan Metode Quantum Learning pada siswa kelas V SDN Jugo 05 Kec. Kesamben Kab. Blitar. (2) Metode Quantum Learning dalam proses mengarang siswa kelas V SDN Jugo 05 Kec. Kesamben Kab. Blitar. Instrumen penelitian berupa lembar observasi, wawancara dan tes. Data yang di deskripsikan meliputi data kegiatan pembelajaran, data hasil observasi keaktifan siswa dan data hasil kemampuan mengarang siswa. Penelitian ini menggunakan langkah-langkah: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi dan Refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Jugo 05 Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar yang berjumlah 34 siswa terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 19 siswi perempuan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa melalui Metode Quantum Learning dengan bahan dan sumber pembelajaran lingkungan dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa yaitu pada aspek menulis. Peningkatan kemampuan mengarang terlihat pada skor rata-rata Pra Tindakan dengan 59,18, pada Siklus I 65,13 dan pada Siklus II 81,51. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Metode Quantum Learning dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran terutama mengekspresikan imajinasi, ide dan buah pikiran dalam bahasa tulisan atau yang disebut mengarang.Hendaknya guru lebih sering menggunakan metode dan media pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran.

Penggunaan scrabble sebagai media pembelajaran dalam pemberdayaan anak jalanan di Griya Baca Malang / Eky Roziana Nugrahawati

 

Kata kunci: scrabble, media pembelajaran, pemberdayaan anak jalanan. Lembaga pemberdayaan anak jalanan Griya Baca Malang merupakan lembaga yang mengadakan kegiatan pembinaan untuk anak jalanan. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh lembaga ini seperti: memberikan pembelajaran tentang materi yang ada di sekolah (bimbingan belajar), kegiatan mengaji Iqra’ dan Qur’an, belajar tari, dan belajar musik. Dalam suatu kegiatan pembelajaran kadangkala membutuhkan media dalam pembelajarannya. Penggunaan media pembelajaran dengan permainan scrabble merupakan salah satu inovasi pembelajaran yang dapat diberikan untuk anak jalanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (a) kegiatan pemberdayaan anak jalanan di Griya Baca Malang (b) proses penggunaan scrabble sebagai media pembelajaran dalam pemberdayaan anak jalanan di Griya Baca Malang. Dalam penelitian ini menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga pemberdayaan anak jalanan Griya Baca serta proses penggunaan scrabble bagi anak jalanan di Griya Baca Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif jenis penelitian deskriptif, dengan menggunakan prosedur pengumpulan data dan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di alun-alun Kota Malang Jalan Merdeka Selatan, tepatnya di depan Kantor Pos Pusat Malang dan di sekretariat di Jalan Kyai Thamin IC No. 20 Malang. Analisis data dilakukan dengan melakukan reduksi data, kategorisasi, kemudian mendeskripsikan hasil analisis data dalam bentuk narasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pemberdayaan anak jalanan di Griya Baca Malang merupakan kegiatan pendidikan luar sekolah sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam hal ini adalah anak jalanan. Bentuk pemberdayaan di Griya Baca adalah melalui pendidikan luar sekolah yaitu kegiatan-kegiatan pembelajaran yang positif yang dapat memberikan wawasan, keterampilan, dan juga menggali kemampuan dan potensi yang dimiliki diri anak sehingga memunculkan bakat yang bisa dijadikan sebagai salah satu kelebihan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa proses penggunaan scrabble sebagai media pembelajaran dalam pemberdayaan anak jalanan di Griya Baca Malang meliputi penyiapan peralatan yang dibutuhkan, pada saat pelaksanaan berupa diskusi antara tutor dengan adik binaan. Dalam permainan scrabble sebagai media pembelajaran, adik binaan diajak untuk menyusun huruf, menghitung angka, dan berdiskusi. Upaya pemberdayaan yang dilakukan dalam pembelajaran dengan menggunakan scrabble ini adalah: (a) meningkatkan kemampuan adik binaan dalam berdiskusi dan tidak malu untuk mengungkapkan pendapatnya, (b) mengajak adik binaan lebih kreatif dalam memanfaatkan letter yang dimiliki, (c) memunculkan kesadaran adik binaan untuk saling bekerja sama. Dari penelitian ini disarankan kepada kalangan akademisi agar temuan tentang cara pembelajaran dengan menggunakan permainan scrabble dalam pemberdayaan anak jalanan di Griya Baca Malang ini dapat dijadikan sebagai bahan mengembangkan program pendidikan luar sekolah dalam hal pengembangan media pembelajaran. Anak jalanan merupakan sasaran pendidikan luar sekolah, sehingga perlu adanya variasi kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang nyata untuk anak jalanan. Selain itu disarankan kepada masyarakat agar hasil penelitian berupa cara pembelajaran dengan permainan scrabble ini tidak hanya untuk anak jalanan saja, akan tetapi juga dapat digunakan untuk masyarakat luas. Permainan scrabble bisa membantu dalam kegiatan pembelajaran, sehingga permainan ini bisa lebih sering digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan scrabble juga dapat digunakan dengan metode yang lain, sehingga dapat memperbanyak variasi pembelajaran untuk anak.

Penerapan pembelajaran koopertif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Studi kasus pada mata diklat kewirausahaan kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen) / Wenny Dwi Rahayu

 

Kata kunci: model Group Investigation, hasil belajar. Dalam dunia pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur kurikulum, sistem pendidikan dan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Upaya tersebut antara lain peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan mutu para pendidik dan peserta didik serta perubahan dan perbaikan kurikulum. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu memiliki dan memecahkan problema pendidikan yang dihadapinya. Agar dapat menciptakan situasi pembelajaran yang lebih bervariasi dan dapat meningkatkan peran siswa dalam pembelajaran maka perlu diterapkan model pembelajaran, misalnya model pembelajaran kooperatif. Karena model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai salah satu alternative dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan siswa, ketrampilan berfikir, sikap positif terhadap materi pelajaran, hasil belajar dan motivasi belajar. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran Group Investigation pada mata diklat Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, 2) mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar setelah dilasanakan metode pembelajaran Grop Investigation pada mata diklat Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, 3) mengetahui apakah faktor-faktor penghambat dalam penerapan metode pembelajaran Group Investigation pada mata diklat Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Berdasarkan penilaian kognitif siswa pada mata diklat Kewirausahan, nilai ulangan harian sebelum menggunakan model GI siswa yang mendapat nilai <70 sebanyak 8 siswa dan setelah menggunakan model GI siswa yang mendapat nilai <70 sebanyak 2 siswa. Sedangkan berdasarkan penilaian afektif siswa pada siklus I siswa yang tuntas dengan nilai 70  sebanyak 17 siswa dan siswa yang belum tuntas sebanyak 20 siswa. Pada siklus II siswa yang tuntas dengan nilai 70  sebanyak 34 siswa dan siswa yang belum tuntas sebanyak 3 siswa. Dengan demikian dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Berdasarkan hasil penelitin dapat disimpulkan, bahwa: 1) pelaksanaan pembelajaran model Group Investigation terdiri dari enam tahap, yaitu: (a) menentukan sub topik, (b) rencana penyelidikan, (c) melakukan rencana penyelidikan (d) merencananakan presentasi, (e) melakukan presentasi, dan (f) evaluasi. 2) hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation.3) hambatan yang dialami peneliti dalam menerapkan metode kooperatif model Group Investigation adalah kurangnya sarana dan semangat belajar siswa. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut: (1) Guru matadiklat Kewirausahaan hendaknya lebih memotivasi siswa agar berpikir aktif, saling bekerjasama antar siswa dan memberikan bimbingan pada siswa untuk memecahkan suatu masalah, (2) Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen hendaknya meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan agar memberikan kenyamanan dalam melaksanakan proses pembelajaran, (3) pembelajaran kooperatif dengan model Group Investigation dapat digunakan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipakai Guru matadiklat Kewirausahaan dalam melaksanakan pembelajaran terhadap siswa. Karena dengan metode tersebut dapat meningkatkan aktivitas siswa, menimbulkan kerjasama anggota, dan mendorong siswa untuk menghargai pendapat orang lain sehingga mendorong semangat belajar dan akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Hubungan kondisi, kelengkapan sarana prasarana praktik dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa mata diklat produktif pada kompetensi keahlian teknik sepeda motor kelas X di SMK PGRI 3 Malang / Akhmad Kodir

 

Kata Kunci : Kondisi, Kelengkapan, Sarana prasarana, Motivasi belajar, Hasil belajar. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan siswa untuk bekerja dan studi lanjut, baik bekerja secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha/industri sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati. Untuk itu kebutuhan sarana dan prasarana praktik harus tepenuhi dalam sistem pendidikan nasional. Sarana dan prasarana praktik bertujuan memberikan bekal ketrampilan dan pengetahuan agar tamatannya menjadi tenaga kerja produktif. Dengan sarana prasarana praktik yang memadai maka diharapkan siswa dapat memperoleh prestasi belajar yang optimal. Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat sarana prasarana praktik di SMK 3 Malang,(2) tingkat motivasi belajar siswa kelas X SMK 3 Malang, (3) hasil belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang, (4) hubungan antara sarana prasarana praktik dengan hasil belajar siswa di SMK PGRI 3 Malang, (5) hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa di SMK PGRI 3 Malang, (6) hubungan antara sarana prasarana praktik, motivasi belajar dengan tingkat hasil belajar siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang, (7) sumbangan efektif antara sarana prasarana praktik dan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa di SMK PGRI 3 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional, dengan subjek penelitian berjumlah 42 orang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan angket tertutup. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi sedangkan untuk mengetahui hipotesis penelitian digunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) 2 siswa menyatakan bahwa tingkat sarana prasarana praktik di SMK PGRI 3 Malang dengan kategori tinggi; (2) 14 siswa mempunyai motivasi belajar tinggi; (3) 2 siswa yang memiliki hasil belajar sangat baik, 31siswa yang memiliki hasil belajar baik, 9 siswa memiliki tingkat hasil belajar cukup baik dan tidak ada siswa yang memiliki hasil belajar yang tidak memenuhi KKM; (4) terdapat hubungan yang signifikan antara sarana prasarana praktik dengan hasil belajar pada siswa SMK PGRI 3 Malang; (5) terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar pada siswa SMK PGRI 3 Malang; (6) terdapat hubungan yang signifikan antara sarana prasarana praktik, motivasi belajar dengan hasil belajar pada siswa SMK PGRI 3 Malang; (7) sumbangan efektif terbesar yang mempengaruhi hasil belajar adalah motivasi belajar. Dari hasil penelitian ini, maka disarankan kepada (1) Pihak sekolah: Berdasarkan hasil penelitian, kondisi dan kelengkapan sarana prasana praktik dalam kategori rendah. Untuk itu hendaknya pihak sekolah menambah kelengkapan sarana prasarana praktik dan mengganti sarana prasarana praktik yang sudah rusak dengan yang baru dengan cara membeli alat dan bahan praktikum seperti sepeda motor, (2) guru: Berdasarkan hasil penelitian, tingkat motivasi belajar siswa dengan kategori sedang. Untuk itu bagi guru studi lebih meningkatkan motivasi belajar siswa dengan cara memberikan nasihat langsung pada siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, (3) Siswa: hendaknya berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar untuk meningkatkan hasil belajar yang lebih baik lagi (4) Peneliti: peneliti hendaknya lebih teliti dalam penulisan skripsi ini dan lebih banyak membaca literatur yang berhubungan dengan sarana prasarana, motivasi belajar dengan hasil belajar.

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran mata diklat chassbatt (chasis dan baterai) di kelas X pada Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMK Nasional Malang / Dedy Irwan Wanandi

 

Kata kunci: Studi Tentang Pelaksanaan Pembelajaran Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi ciri abad sekarang atau millennium ketiga. Hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar kepada tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun bangsa secara keseluruhan. Bagaimanapun ini adalah suatu tantangan yang harus dihadapi, dan salah satu upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Diyakini banyak pihak bahwa meningkatkan SDM salah satu hal yang harus dibenahi ialah mutu atau kualitas pendidikan. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas pendidikan, maka pemerintah bersama pihak swasta berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui pengembangan, perbaikan kurikulum, sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengadaan materi ajar, pelatihan bagi guru dan tenaga pendidikan lainnya. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka didirikanlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dimana Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan tingkat menengah bertujuan untuk menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan akhlak mulia serta memiliki kompetensi yang berstandar nasional dan global. Di SMK siswa akan diberikan berbagai macam pelajaran salah satunya pelajaran produktif terdiri dari : (1) Pembacaan dan pemahaman gambar teknik, (2) Pemeliharaan/service sistem hidrolik, (3) Penggunaan dan pemeliharaan alat ukur, (4) Pengujian, pemeliharaan/servis dan penggantian baterai, (5) Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan, (6) Perbaikan sistem pengapian, (7) Pemeliharaan/service engine sepeda motor, dan lain-lain. Untuk membentuk lulusan yang berkualitas dan kompeten dibidangnya maka banyak faktor yang harus diperhatikan yaitu kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran ini terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Selain itu terdapat faktor lain yang menjadi pendukung kegiatan belajar mengajar yaitu fasilitas dan media pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan di SMK Nasional Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perencanaan pembelajaran mata diklat chassbat (chasis dan baterai) di kelas x pada program keahlian teknik kendaraan ringan (TKR) SMK Nasional Malang penyusunan perencanaan pelaksanaan pembelajaran telah disusun secara sistematis berdasarkan pada silabus yang ada dan berdasarkan standar kompetensi mata diklat serta komptensi dasar yang telah ditetapkan secara nasional. Sedangkan kualitas pelaksanaan pembelajarannya sudah baik, dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa melalui kegiatan observasi yang telah dianalisis oleh peneliti dan mendapatkan hasil yang bisa diartikan sangat baik. Pelaksanaan pembelajaran juga sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru dan telah disetujui oleh kepala bidang. Kualitas evaluasi belajar juga dikatakan baik, karena guru telah melaksanakan tiga tahap untuk melakukan proses evaluasi, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengolahan evaluasi, sedangkan aspek yang dinilai ada tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Kepada Kepala SMK Nasional Malang untuk melakukan pelatihan bagi guru, dan mengembangkan materi diklat produktif agar siswa lebih mendapatkan skill yang nantinya dapat digunakan pada saat siswa telah lulus dari SMK, (2) Kepada Guru SMK Nasional Malang untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi, karena siswa akan lebih termotivasi untuk belajar sehingga ilmu yang diberikan mudah untuk diserap oleh siswa, dan (3) Kepada peneliti-peneliti Lain agar bisa melakukan penelitian yang juga fokus dalam menganalisis kualitas strategi pembelajaran pada jurusan SMK yang sama atau meneliti pada jurusan yang berbeda dan peneliti hendaknya dapat mengalokasikan waktu yang sesuai untuk menganalisis strategi pembelajaran dikarenakan terdapat tiga komponen utama yang harus diamati yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran group investigation (GI) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata diklat kewirasahaan (Studi kasus pada siswa kelas X Broadcasting di SMK Muhammdiyah 5 Kepanjen) / Yean Indriana

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Group Investigation, Motivasi Belajar, Hasil Belajar Siswa. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, berbagai upaya pendidikan telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan kajian-kajian dan pengembangan kurikulum di Indonesia secara bertahap, konsisten, dan disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Salah satu strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu metode pembelajaran yang berkembang pada saat ini adalah pembelajaran kooperatif. Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui penerapan model pembelajaran Group Investigation pada kelas X Broadcasting di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata diklat Kewirausahaan, mengetahui motivasi belajar siswa pada kelas X Broadcasting di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen setelah menerapkan model Group Investigation pada mata diklat Kewirausahaan, mengetahui hasil belajar siswa pada kelas X Broadcasting di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen setelah menerapkan model Group Investigation pada mata diklat Kewirausahaan, mengetahui kendala-kendala dan solusi yang dihadapi dalam menerapkan modekl pembelajaran Group Investigation pada kelas X Broadcasting di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata diklat Kewirausahaan, penerapan model pembelajaran Group Investigation pada kelas X Broadcasting dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata diklat Kewirausahaan. Penelitian ini merupakan penelitian jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tidakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Broadcashting di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, cacatan lapangan, dan angket motivasi siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui 3 tahap yaitu Data Reduction (Data Reduksi), data display (Penyajian Data) dan conclusion drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I skor tertinggi yang diperoleh adalah 86 dan skor maksimalnya adalah 96, dengan presentase nilai rata-rata 89.58% dan termasuk dalam kategori sangat baik dan mendapatkan poin A. sedangkan skor

Penerapan model pembelajaran STAD untuk meningkatkan hasil belajar geografi kelas XI IPS 1 SMAN 2 Trenggalek / Novera Dwi Permana

 

Kata Kunci: STAD, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada bulan Oktober 2010 di kelas XI IPS 1 SMAN 2 Trenggalek diketahui bahwa sebagian besar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih didominasi guru, sedang siswa hanya duduk, mendengar dan mencatat sehingga siswa terlihat kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga berdampak pada perolehan nilai hasil belajarnya. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus 3 jam pelajaran. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas XI IPS 1 SMAN 2 Trenggalek semester genap tahun ajaran 2010-2011 yang berjumlah 33 siswa terdiri 16 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diperoleh berdasarkan hasil post-test serta ketuntasan belajar pada masing¬masing siklus. Instrumen yang digunakan yaitu tes, lembar observasi pelaksanaan STAD, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa XI IPS 1 SMAN 2 Trenggalek ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I 75,9 dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 63,6%, sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 82,6 dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 87,8%. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan manfaat dan pengembangan produk yang akan datang diajukan adalah: (1) perlu adanya pengelolaan kelas yang lebih baik terutama dalam mengatasi siswa yang sering membuat ramai dan gaduh, sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar, (2) guru perlu menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD sebagai salah satu metode alternatif dalam kegiatan pembelajaran, (3) guru perlu mempersiapkan ringkasan materi pelajaran untuk siswa agar semua siswa mempunyai bahan untuk belajar, (4) guru perlu mengatur pengelolaan waktu yang tepat sehingga semua kegiatan pembelajaran model STAD dapat terlaksana dengan baik, (5) perlu adanya observer lebih banyak dalam penelitian sehingga situasi kelas dapat dikendalikan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |