A comparative analysis of phonetic transcriptions of vowels in the al bhed language in final fantasy X: International Version / Adi Wicaksono

 

Key words: phonetics, phonetic transcriptions, vowels, the Al Bhed language The Al Bhed language is a fictional language used in the 2001’s famous Role Playing Game Final Fantasy X: International Version. Being a second language that is widely used in the gameplay after English, the Al Bhed language possessed unique system of coding and word choices, but lack of official pronunciation guide. This is the reason for the existence of this study: to find the correct phonetic transcriptions of vowels used in the Al Bhed language by comparing the phonetic transcriptions with the list of 12 English vowels stated by Roach (1991: 14-19) and Aitchison (1992: 40). The study employs a Qualitative Comparative Approach. The data of this study are the Al Bhed language audibly-spoken monologues and dialogues in Final Fantasy X: International Version. In collecting the data, the researcher played Final Fantasy X: International Version using PlayStation2 from the beginning until the end and recorded all sessions of dialogues and monologues in the Al Bhed Language throughout the gameplay then chose the clearest and the least noise recordings of each sessions to get the most accurate data, and finally writes the accurate phonetic transcriptions of the recordings. The transcriptions then further compared with the list of 12 English vowels stated by Roach (1991: 14-19) and Aitchison (1992: 40). The result of the study reveals the correct phonetic transcriptions used in the AL Bhed language in Final Fantasy X: International Version. While there are vowels similar to the 12 English vowels list by Roach (1991: 14-19) and Aitchison (1992: 40), there are several vowels that are not listed in the 12 English vowels. The study is basically expected to enrich the knowledge of Linguistics student in analyzing and determining phonetic transcriptions of a language and motivating English students to conduct more research related to languages not only in common subjects like movies and/or books, but also in new subjects such as in video games.

Pengaruh financial leverage, dan struktur modal terhadap return on equity pada perusahaan food and beverages yang go public di BEI (periode pengamatan tahun 2006-2009) / Galuh Yudha Adhi Tama

 

Kata Kunci: Financial Leverage, Struktur Modal dan Return On Equity. Setiap perusahaan pada dasarnya didirikan untuk menghasilkan laba atau profit. Perusahaan dapat terus menjalankan kegiatan operasionalnya dan dapat bertahan dalam ketatnya persaingan, apabila perusahaan tersebut memiliki profitabilitas yang tinggi. Profitabilitas ini dicerminkan dari Return on Equity. Return on Equity menggambarkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan neto. Untuk dapat menghasilkan ROE yang tinggi, dibutuhkan modal, baik modal sendiri maupun modal asing. Rasio DER, TIER, LDER dan EAR bertujuan untuk menghitung komposisi modal yang proporsional sehingga diharapkan mampu meningkatkan ROE perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel financial leverage, dan struktur modal terhadap ROE. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 14 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi Financial Leverage, dan Struktur Modal yang fluktuatif. Secara parsial Time Interest Earned Ratio (TIER) berpengaruh secara signifikan terhadap ROE, sedangkan Debt To Equity Ratio (DER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) dan Equity To Asset Ratio (EAR) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROE. Kemudian dari penelitian ini didapatkan hasil secara simultan Debt To Equity Ratio (DER), Time Interest Earned Ratio (TIER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) dan Equity To Asset Ratio (EAR) berpengaruh secara signifikan terhadap ROE. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi perusahaan untuk perlu menganalisis dan mempertimbangkan ketiga faktor yaitu DER, TIER, LDER dan EAR. Sedangkan Peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan ROE. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel perusahaan sektor usaha tertentu dan menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih signifikan. Selanjutnya bagi investor dapat menjadikan ROE sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi khususnya pada perusahaan Food And Beverages. Tama, Galuh Y.A . 2010. The influence of Financial Leverage and Capital Structure to Return To Equity (ROE) in Food and Beverages Companies Which Are Listed Indonesian Stock Exchange ((Observation Year Period from 2006 to 2009). Minithesis, Bachelor degree of Finance Concentration Management, Economy Faculty State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Agung Winarno, M. M (II) Drs. Mohammad Hari, M. Si. Keyword: Financial Leverage, Capital Structure and Return On Equity Every company basically set up to generate income or profit. The company can continue its operations and can survive in competition, if the company has high profitability. Profitability is reflected from the Return on Equity. Return on Equity illustrates the ability of the capital invested in the total assets to generate net profits. To be able produce a high ROE, the company need capital, either equity or debt. The ratio as DER, TIER, LDER and EAR The purpose of this study are to know the influence of partial and simultaneous financial leverage variable, and capital structure to ROE. The data used are secondary data such as financial statements. Sampling was done by purposive sampling and the resulting 14 companies designated as eligible for the study sample. Analysis of data used are multiple linear regression test. The results of this study indicate the condition of Financial Leverage and Capital structure is volatile. Partially Time Interest Earned Ratio (TIER) significantly affect to ROE, while the Debt To Equity Ratio (DER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) and Asset To Equity Ratio (EAR) did not significantly affect to ROE. Then, from this study, the results of simultaneous Debt To Equity Ratio (DER), Time Interest Earned Ratio (TIER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) and Asset To Equity Ratio (EAR) significantly affect the ROE. Based on the results, it can be advisable for companies to need to analyze and consider all three factors, DER, Tier, LDER and EAR. While researchers should further add other variables which potentially contribute to changes in ROE. In addition, companies can also use a sample of certain business sectors and increase the period of observation so that it can provide more significant results. Furthermore, investors can make the ROE as a material consideration in decisions to invest in companies, especially the Food And Beverages.

Pengaruh siklus belajar (Learning cycle) model Lawson terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang / Sahesty Andriani

 

Kata kunci: siklus belajar (learning cycle), hasil belajar. Peningkatan hasil belajar dapat dilakukan dengan meningkatan kualitas proses pembelajaran. Salah satu jenis strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar adalah siklus belajar. Pembelajaran menggunakan siklus belajar, terdiri dari 3 fase yaitu: eksplorasi, eksplanasi, dan ekspansi. Pada dasarnya model ini dapat meningkatkan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses yaitu aktivitas yang berujung pada meningkatnya keterampilan kognitif siswa yaitu hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh siklus belajar (learning cycle) model Lawson terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Subjek penelitian berjumlah 64 orang siswa yang terbagi dalam dua kelas yaitu kelas X5 sebagai kelas eksperimen dan kelas X6 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes untuk prates dan pascates. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar geografi dengan menggunakan siklus belajar memiliki rata- rata nilai lebih baik dibandingkan dengan tanpa menggunakan siklus belajar. Rata- rata hasil belajar (gain score) siswa pada kelas eksperimen sebesar 36,29 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 24,11. Hasil uji statistik yang diterapkan dalam penelitian ini diperoleh t hitung sebesar 4,385 dengan probabilitas (sig.) yaitu 0,000. Merujuk pada hasil analisis data dan temuan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa siklus belajar (learning cycle) model Lawson berpengaruh terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Bertolak dari hasil penelitian dan kesimpulan tersebut, maka dikemukakan saran untuk meningkatkan hasil belajar geografi, guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan siklus belajar. Bagi peneliti lanjutan disarankan mengembangkan model siklus belajar dengan mengujicobakan kombinasi model dan media pembelajaran yang lebih variatif sehingga, tampak pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa dan memperoleh manfaat dari siklus belajar.

Hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja pada guru sekolah dasar di kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang / Anggun Sistyo Winarko

 

Kata Kunci : Dukungan Sosial, Stres Kerja, Guru SD Semua jenis pekerjaan memiliki potensi untuk memunculkan stres kerja pada pegawai atau karyawan tanpa terkecuali guru. Stres kerja dapat terjadi karena kurangnya dukungan sosial. Dukungan sosial adalah sumber daya sosial dalam menghadapi suatu peristiwa yang menekan dan perilaku menolong yang diberikan pada individu yang membutuhkan dukungan. Dukungan yang dirasakan oleh individu dalam kehidupannya membuat ia merasakan arti dicintai, dihargai, dan diakui serta membuat dirinya menjadi lebih berarti dan dapat mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) besarnya dukungan sosial yang di terima oleh guru SD; (2) besarnya stres kerja yang di alami oleh guru SD; (3) hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja pada guru SD di Kecamatan Kunir Kab. Lumajang. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif korelasional. Subyek penelitian adalah 74 guru SD yang berdinas di wilayah Kecamatan Kunir Kab. Lumajang yang diperoleh dengan metode purposive sampling. Untuk menguji instrumen penelitian digunakan uji coba valliditas dan reliabilitas. Teknik analisis menggunakan analisis korelasional Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 72,79% atau 54 guru menerima dukungan sosial pada tingkat sedang dan 82, 43% atau 61 guru mengalami stres pada tingkat yang sedang. Hasil uji linearitas hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja guru menunjukkan nilai F = 42,291 (p = 0,000 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja guru adalah linear. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dan stres kerja dengan r = -0,608 ( p < 0,05). Dari hasil penelitian ini disarankan kepada guru SD untuk meningkatkan hubungan sosial dengan lingkungan kerja maupun masyarakat, dengan demikian guru merasa menjadi bagian dari kelompok itu. Bagi kepala sekolah, agar lebih meningkatkan komunikasi dengan guru. Bagi UPT Pendidikan untuk lebih sering melakukan pembekalan managemen stres kepada guru SD. Bagi penelitian selanjutnya untuk lebih mengembangkan instrumen penelitian serta menambahkan variabel lain serta dengan menambahkan metode wawancara.  

Pengaruh diversifikasi produk terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha (Studi pada warga kecamatan Junrojo yang menggunakan sepeda motor merk Yamaha) / Wahyu Widayat

 

Kata kunci: diversifikasi produk dan keputusan pembelian. Strategi pemasaran pada dasarnya adalah rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan. Sepeda motor menempati peran utama dalam sendi kehidupan masyarakat. Riset menunjukkan pasar di Indonesia telah lama diperhitungkan sebagai salah satu pasar terbesar di dunia. Sejak mulai beroperasi tahun 1974 Yamaha telah menghasilkan berbagai macam produk dan telah memproduksi lebih dari 5 juta unit sepeda motor. Peluang Yamaha untuk mendominasi pasar dimasa depan terbentang luas, karena Yamaha mengutamakan kualaitas, kesempurnaan produk, inovasi tanpa henti, termasuk aspek pelayanan pada konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha mempengaruhi diversifikasi konsentris, diversifikasi horizontal dan diversifikasi sinergis. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif korelasional, penelitian ini berusaha untuk menjelaskan apakah variabel diversifikasi konsentris, diversifikasi horizontal dan diversifikasi sinergis memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha pada warga Kecamatan Junrejo. Populasi dlam penelitian ini adalah seluruh penggunaan sepeda motor merk Yamaha pada warga Kecamatan Junrejo, teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling. Dalam menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus infinite dari Daniel & Terrel dengan hasil sebanyak 78 responden. Dua buah variabel digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel bebas (X) diversifikasi produk yang terdiri dari beberapa sub variabel yaitu; diversifikasi konsentris (X1), diversifikasi horizontal (X2), dan diversifikasi sinergis (X3). Sedangkan variabel terikatnya (Y) yaitu keputusan pembelian konsumen Hasil penelitian melalui proses pengolahan data diperoleh: (1) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara diversifikasi konsentris terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha sebesar (Beta) B = 0,164, t hitung 2,642 dan sig F 0,010. (2) ada pengaruh positif dan signifikan antara diversifkasi horizontal terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha sebesar (Beta) B = 0,161, t hitung = 3,033 dan sig t = 0,003. (3) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara diversifikasi sinergis terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha sebesar (Beta) B = 0,766, t hitung = 5,410, ii dan Sig t = 0,00. (4) secara simultan variabel diversifikasi konsentris, diversifikasi horizontal dan diversifikasi sinergis memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian sepeda motor merk Yamaha dengan nilai Adjusted R square = 0,607, dan sig f = 0,00. (5) Variabel diversifikasi sinergis (X3) mempunyai pengaruh yang dominan terhadap keputusan pembelian konsumen karena mempunyai nilai B terbesar yaitu 0,482 dan nilai SE (Sumbangan Efektif) terbesar yaitu 28,30% Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubung dengan hasil penelitian yang telah diperoleh adalah (1) Perusahaan perlu melakukan penlitian ulang kembali tentang kelemahan produk-produknya, sehingga perusahaan akan mengetahui keluhan-keluhan dari konsumen dan dapat melakukan perbaikan- perbaikan terhadap produknya (2) Perusahaan diharapkan bekerja lebih baik lagi, yaitu dengan cara mengembangkan atau menambah produk-produk baru yang memiliki strategi atau kaitannya dengan teknologi dalam hal pemasaran (3) Variabel diversifikasi horizontal juga menjadi variabel yang memiliki pengaruh paling kecil. Hal ini perlu perhatian melalui perbaikan-perbaikan pada setiap produk Yamaha, sehingga produk dari Yamaha akan semakin lebih baik lagi. (4) Variabel diversifikasi sinergis juga menjadi variabel yang dominan di antara variabel yang lain. Hal ini harus menjadi perhatian perusahaan untuk dapat memotivasi perusahaan untuk lebih baik lagi, dengan cara selalu mengutamakan kepuasan pelanggan sebagai tujuan dan visi yang melandasi kinerja perusahaan.

Penerapan pembelajaran kooperatif group investigation (GI) untuk meningkatkan ketrampilan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto / Vivin Mufidatu Zuroida

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, keterampilan proses, hasil belajar biologi. Observasi awal yang dilakukan pada bulan januari menunjukkan bahwa pembelajaran Biologi di kelas VII-C SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto ada beberapa masalah antara lain: (1) Siswa ramai dan berbicara dengan temannya ketika pembelajaran berlangsung, (2) Siswa kurang memperhatikan guru pada saat mengajar, (3) Sebagian siswa bercanda dengan temannya dan tidak menghiraukan penyampaian materi yang disampaikan oleh guru di depan kelas. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Biologi dalam belajar biologi kinerja siswa dalam melakukan pengamatan dengan ikut mengalami secara langsung masih kurang. Siswa lebih sering belajar di dalam kelas mengerjakan LKS, sehingga hasil belajar siswa kurang baik. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diterapkan Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas VII-C SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-C semester genap tahun ajaran 2009-2010 SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto yang berjumlah 30 orang. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada awal April sampai akhir Mei 2010. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, catatan lapangan, lembar observasi keterampilan proses, dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar Biologi siswa. Keterampilan proses belajar siswa meningkat sebesar 16% yaitu dari 57,8% pada siklus I menjadi 73,8% pada siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, terlihat dari nilai rata-rata siswa sebesar 74,2% pada siklus I menjadi 82,6% pada siklus II dan siswa yang tuntas belajar juga mengalami peningkatan dari 83,3% pada siklus I menjadi 93,3 % pada siklus II. Berdasarkan penelitian tersebut sebaiknya guru Biologi menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran agar keterampilan proses dan hasil belajar siswa meningkat. Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI), sehingga pembelajaran ini disarankan untuk diterapkan.

Hubungan antara persepsi terhadap gaya kepimpinan dan kinerja profesional melalui disiplin kerja guru SDN se-Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk / Intan Fitri Anna

 

Kata Kunci : persepsi gaya kepemimpinan, disiplin kerja, kinerja profesional Arahan dan koordinasi yang dilakukan kepala sekolah melalui gaya kepemimpinan, akan dipersepsi yang berbeda-beda antara guru satu dengan guru yang lain. Persepsi gaya kepemimpinan kepala sekolah merupakan suatu upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka merangsang dan mendorong guru untuk aktif dan kreatif dalam menjalankan tugasnya. Keberhasilan guru itu tidak lepas dari keberhasilan proses manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah, yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan fungsi sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) tingkat persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan sekolah, (2) tingkat disiplin kerja guru, (3) tingkat kinerja profesional, (4) ada tidaknya hubungan langsung antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dengan disiplin kerja, (5) ada tidaknya hubungan langsung antara disiplin kerja dengan kinerja profesional, (6) ada tidaknya hubungan langsung antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dengan kinerja profesional dan (7) ada tidaknya hubungan tidak langsung antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dan kinerja profesional melalui disiplin kerja guru SD Negeri Se-Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional dengan populasi tersebar di seluruh SDN Se-Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk yang terbagi atas 7 gugus. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling dengan sampel sebanyak 72 guru yang mewakili 7 gugus sekolah dasar negeri. Data persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan (koefisien validitas item antara 0,63 sampai 0,89 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,98). Data disiplin kerja guru dikumpulkan menggunakan kuesioner disiplin kerja guru (koefisien validitas item antara 0,50 sampai 0,88 dan koefisien reliabilitas 0,95). Data kinerja profesional guru dikumpulkan menggunakan kuesioner kinerja profesional guru (koefisien validitas item antara 0,61 sampai 0,91 dan koefisien reliabilitas 0,95) Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi terhadap gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas lebih dominan daripada manusia sebanyak 49 orang (68.06%), (2) sebagian besar guru memiliki disiplin kerja pada tingkat tinggi, (3) sebagian besar guru memiliki kinerja profesional pada tingkat sedang, (4) terdapat hubungan langsung yang signifikan, baik secara simultan ataupun secara parsial antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan kepala ii sekolah yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada manusia dengan disiplin kerja guru profesional guru, (5) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara disiplin kerja guru dengan kinerja profesional guru, (6) tidak terdapat hubungan langsung yang signifikan, baik secara parsial maupun secara simultan antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dengan kinerja profesional guru, (7) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan, baik secara parsial maupun secara simultan antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dan kinerja profesional melalui disiplin kerja guru SD Negeri Se- Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada : (1) kepala sekolah disarankan agar mempergunakan kemampuannya untuk menerapkan gaya kepemimpinan demi meningkatkan kedisiplinan guru. Selain meningkatkan kedisiplinan guru, gaya kepeimpinan yang diterapkan akan dapat meningkatkan kinerja profesional guru. Namun, tidak semua gaya kepemimpinan memberikan pengaruh yang sama. Dalam penelitian ini, gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap kedisiplinan guru dari pada gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Untuk itu disarankan kepada kepala sekolah agar menerapkan gaya kepemimpinan yang lebih berorientasi pada tugas dari pada lebih berorientasi pada manusia, (2) Bagi guru, disarankan agar meningkatkan kedisiplinan kerja agar dapat meningkatkan kinerja profesionalnya. Hal ini menjadikan saran karena hasil penelitian telah membuktikan bahwa kinerja profesional memiliki hubungan yang signifikan dengan kedisiplinan kerja guru, dan (3) Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, disarankan agar memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai tambahan kajian pustaka matakuliah Kepemimpinan Jurusan Administrasi Pendidikan, (4) bagi peneliti lanjutan agar melakukan penelitian secara berkesinambungan yang lebih komprehensif tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan kinerja profesional guru, gaya kepemimpinan dan kedisiplinan kerja guru. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah instrumen yang digunakan, misalnya dengan wawancara (untuk penelitian kualitatif) dan menambah butir instrumen sehingga hasil penelitian akan lebih sempurna. Selain itu, disarankan agar menambah populasi penelitian, misalnya guru sekolah menengah pertama dan guru sekolah menengah atas dalam satu wilayah propinsi sebagai tempat penelitian.

Studi pemahaman konsep materi dan perubahannya pada siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu / Ferry Budi Prasetya

 

Kata kunci: pemahaman konsep, materi dan perubahannya, makroskopik, Mikroskopik Kimia adalah salah satu bidang ilmu eksakta yang termuat di dalam KTSP SMA yang secara simultan dan terintegrasi mengkaji berbagai fenomena alam, seperti susunan (komposisi), struktur, sifat, perubahan materi yang melibatkan reaksi-reaksi kimia serta energi yang menyertainya. Kajian-kajian kimia tersebut umumnya terdiri atas konsep-konsep yang berjenjang dan berkaitan dengan konsep lainnya, sehingga untuk memahami konsep yang kompleks perlu pemahaman yang benar dan tepat terhadap konsep-konsep sederhana yang mendasarinya. Konsep-konsep ilmu kimia mayoritas juga bersifat abstrak yang memiliki skala mikroskopik dan sulit untuk diinderakan serta melibatkan perhitungan matematika. Oleh karena itu, dimungkinkan siswa mengalami hambatan dalam mempelajari kimia. Ketidakmampuan siswa dalam memahami konsep-konsep kimia akan mengakibatkan masalah yang luas dalam mempelajari konsep-konsep ilmu kimia secara umum serta dapat menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan konseptual siswa dengan keterampilannya dalam memecahkan soal. Salah satu konsep penting dalam kimia dan memerlukan pemahaman pada tingkat makroskopik dan mikroskopik dengan baik adalah materi dan perubahannya. SMA Negeri 1 Batu merupakan tempat peneliti melakukan penelitian. SMA tersebut merupakan salah satu sekolah berstatus RSBI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya; (2) hubungan antara pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya untuk tingkat makroskopik dan mikroskopik; dan (3) kesalahan-kesalahan konsep yang dialami siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu tahun ajaran 2010/2011. Instrumen yang digunakan berupa multiple-choice two-tier sebanyak 24 butir soal. Berdasarkan hasil validasi isi dan uji coba, instrumen tersebut memiliki validitas sebesar 94,44% dan reliabilitas tes sebesar 0,711 yang dihitung menggunakan SPSS 16 for Windows. Data penelitian berupa persentase pemahaman dan kesalahan-kesalahan konsep siswa pada konsep materi dan perubahannya yang diperoleh melalui analisis data perbandingan jumlah siswa yang menjawab benar dengan jumlah siswa secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya tergolong sedang (54,02%); (2) pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya untuk tingkat makroskopik (55,28%) ii lebih baik daripada tingkat mikroskopik (49,31%); dan (3) kesalahan-kesalahan konsep yang dialami siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu, yaitu partikel padatan (paku) berwarna hitam, keras, dan tidak bergerak (5,00%), partikel air berwarna putih dan bersifat lentur sehingga dapat bergerak (6,67%), partikel gas dalam balon bukan termasuk materi karena tidak berwarna dan tidak terlihat (5,00%), senyawa berasal dari gabungan atom-atom yang berbeda tanpa terjadi interaksi kimia diantara atom-atomnya (1,67%), partikel kamper mengecil (36,67%) dan menghilang ke udara (3,33%) saat terjadi proses penyubliman, partikel air menghilang ke udara (10,00%) dan mengecil (18,33%) dalam peristiwa penguapan, partikel es terselubung oleh lapisan tertentu (3,33%) dan mengecil saat es mencair (10,00%), gelembung-gelembung yang dihasilkan pada proses penguraian air adalah uap air (26,67%), siswa menganggap hanya terjadi perubahan warna (5,00%) pada perkaratan besi dan tidak terbentuk zat baru karena memiliki wujud yang tetap, yaitu padatan (13,33%).

Evaluasi kerusakan tanah akibat pendulangan intan di Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka kota Banjarbaru Kalimantan Selatan / Misna Marliana

 

Kata-kata kunci: kerusakan tanah, pendulangan intan Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman, dan menyuplai kebutuhan air dan udara serta sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman. Aktivitas kegiatan manusia berupa pendulangan intan di Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan dalam tahap pelaksanaannya akan berdampak negatif terhadap tanah yang dapat menimbulkan kerusakan tanah berupa penurunan nilai potensial biologis dari tanah, hilangnya lapisan tanah yang subur, dan limbah (tailing) yang akan berpengaruh pada reaksi tanah dan komposisi tanah. Untuk menganalisis masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui karakteristik tanah di Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, (2) Untuk mengevaluasi kondisi tanah akibat pendulangan intan berdasarkan kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000. Penelitian ini berbentuk deskriptif dan dirancang dengan menggunakan metode survey. Subjek penelitian ini adalah tanah di areal pendulangan intan yang ada di Kelurahan Sungai Tiung Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan menggunakan metode matching dengan cara membandingkan sifat fisik tanah yang telah diamati dan diuji laboratorium dengan setiap parameter yang ada dalam kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering menurut Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000. Hasil penelitian terhadap kerusakan tanah berdasarkan pengamatan dan hasil uji laboratorium menunjukan bahwa untuk karakteristik tanah jika dimanfaatkan untuk pertanian tanah akan menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. Kondisi tanah pendulangan melampaui ambang kritis yang ditentukan dalam kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering menurut Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000. Tanah berada dalam status rusak. Upaya untuk mengurangi dan menghentikan meluasnya kerusakan tanah, serta memulihkan kondisi tanah dapat dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan atau pengelolaan lingkungan hidup daerah serta bersama masyarakat dapat melakukan pengelolaan yang benar dalam menerapkan usaha pencegahan terhadap kerusakan tanah.

Penerapan model pembelajaran quantum learning untuk meningkatkan hasil belajar IPA di kelas IV SDN Pandean I Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk / Sumiatin

 

Kata kunci: hasil belajar,IPA, Quantum Learning Berdasarkan hasil observasi, di SDN Pandean I Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk ditemukan bahwa ketuntasan siswa klasikal hanya 40% (12 siswa dari 30 siswa). Sedangkan untuk ketuntasan individual adalah siswa memperoleh nilai minimal sama dengan SKBM (6,5). Hal tersebut diduga karena siswa menganggap pelajaran IPA sulit dipahami dan materi IPA disajikan dengan metode ceramah, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses penerapan model pembelajaran Quantum Learning dalam meningkatkan hasil belajar IPA tentang Energi Panas dan Energi Bunyi di kelas IV SDN Pandean 1 Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk. Penerapan Model Pembelajaran Quantum Learning dalam pembelajaran IPA akan membawa siswa belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih bebas dalam menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya, sehingga diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa. Pembelajaran IPA dengan menerapkan metode Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran dengan menerapkan metode Quantum Learning berdampak positif bagi siswa yaitu siswa menjadi aktif dalam mengikuti pembelajaran yang pada gilirannya berdampak pada hasil belajar. Selain itu dapat membuat guru dapat lebih menguasai materi karena guru sebagai fasilitator harus menguasai materi dan mampu mengembangkan-nya serta guru sebagai motivator yang mampu memotivasi siswa untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan menyediakan kesempatan dan pengalaman yang mendukung proses belajar. Setelah diterapkan pembelajaran dengan metode Quantum Learning terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Terlihat pada siklus I hasil belajar yang diperoleh adalah 53,97. Kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran belum optimal dan kegiatan siswa juga belum maksimal. Siswa belum terkondisikan dengan baik, sehingga masih banyak siswa yang membuat ramai dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Pada siklus ke II hasil yang diperoleh adalah 65,74, Hal ini terlihat pada proses pembelajaran kegiatan guru dan siswa sudah mengalami peningkatan dan siklus yang ke III memperoleh nilai 73,24. Pada siklus III kegiatan guru dan siswa sudah melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan metode Quantum Learning secara maksimal sehingga hasil belajar yang diperoleh juga maksimal, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan metode Quantum Learning mengalami peningkatan hasil belajar yang sangat baik sesuai dengan indikator keberhasilan.

Penerapan model pembelajaran learning cycle 5 fase berbantuan LKS terstriktur untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang / Rika Retnaning

 

Kata kunci: Learning Cycle 5 fase, LKS terstruktur, prestasi belajar siswa Siswa kelas XB2 SMA Negeri 2 Malang masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika. Salah satu penyebabnya adalah karena pembelajaran matematika cenderung berorientasi pada guru. Padahal seharusnya dalam proses pembelajaran guru hanya berperan sebagai fasilitator saja sedangkan siswa berperan sebagai pebelajar aktif yang membangun pengetahuannya sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, pelaksanaan proses pembelajaran matematika diharapkan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Salah satu model pembelajaran tersebut adalah Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur. Penggunaan LKS terstruktur dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa untuk menemukan konsep berdasarkan pemahamannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang pada materi trigonometri yaitu aturan kosinus dan luas segitiga. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMA Negeri 2 Malang dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas X B2 semester genap tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2010 dalam 2 tahap, yaitu (1) tahap pra tindakan dan (2) tahap tindakan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XB2 SMAN 2 Malang. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur yang dapat meningkatkan prestsi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang adalah: (a) engagement, yaitu siswa diberikan masalah awal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang mendorong siswa untuk mengungkapkan pengetahuan awal yang mereka miliki; (b) exploration, yaitu siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikan masalah yang ada pada LKS terstruktur dan diberi arahan seperlunya untuk membantu siswa berpikir aktif menyelesaikan masalah yang ada pada LKS; (c) explanation, yaitu siswa melakukan presentasi di depan kelas, memberikan tanggapan atau pertanyaan saat presentasi dan di akhir presentasi peneliti bersama siswa membuat kesimpulan; (d) elaboration, yaitu siswa mengerjakan latihan soal pada LKS terstruktur mulai dari soal yang mudah hingga soal yang sulit untuk menerapkan konsep yang telah diperoleh; (e) evaluation, yaitu siswa diberikan tugas, kuis atau tanya jawab untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah diperoleh. i Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang mencapai nilai KKM yaitu nilai 75 yang terus meningkat (pada tes awal adalah 65,78% pada tindakan I adalah 78,94% pada tindakan II adalah 94,73%). Hal tersebut diperkuat dengan hasil observasi aktivitas siswa masuk dalam kategori “baik” pada tindakan I dan “sangat baik” pada tindakan II dan hasil observasi aktivitas guru masuk dalam kategori “sangat baik” pada tindakan I dan II.

Penerapan sulam pita pada busana pesta berbahan denim / Tiwi Rimah Wati

 

Kata Kunci: Busana Pesta, Denim, Penerapan Sulam pita. Busana merupakan komponen penting yang tidak bisa ditinggalkan, tetapi fungsi dari busana adalah untuk Memenuhi kebutuhan kesusilaan, memenuhi kebutuhan kesehatan, memberi rasa nyaman, memberi rasa percaya diri, dan memenuhi kebutuhan keindahan yang artinya busana dapat membuat diri seseorang kelihatan indah, karena dapat menutupi bagian-bagian badan yang kurang ideal. Mode busana sangat beragam dan senantiasa berubah serta berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Diantara salah satu mode busana yang banyak mendapat perhatian khusus adalah busana pesta. Busana pesta ini menggunakan model two pieces, yaitu terdiri dari bustier dan rok pias 8 dan menerapkanan hiasan sulam pita dan penerapan warna kontras (warna ungu, orange, kuning, dan hijau) pada busana pesta berbahan denim membuat busana terkesan lebih feminim, unik, dan romantik. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah Menjelaskan tentang busana pesta berbahan denim dengan penerapan sulam pita. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah Sebagai bahan informasi bagi masyarakat tentang pembuatan busana pesta dengan hiasan sulam pita dan menambah pengetahuan tentang penerapan sulam pita pada busanapesta berbahan denim. Pada pembuatan busana pesta ini terdapat 4 proses, yaitu proses desain, proses pewarnaan kain, proses menjahit, dan proses penyulaman pita. Biaya yang dikeluarkan pada pembuatan busana pesta ini adalah Rp. 763.950.00 Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa busana two pieces, yaitu bustier dengan kerah dan rok pias 8. Bagian dalam menggunakan furing silky pada bagian bustier, kerah, dan rok. Aksesoris dan millinaries yang digunakan adalah anting dan sepatu (terbuat dari bahan utama). Saran yang dapat diberikan adalah Penerapan hiasan sulam pita pada bagian rok bagian bawah sebaiknya diperbanyak/lebih padat, sehingga busana pesta terkesan lebih feminim dan romantik dengan hiasan sulam pita yang padat dan Proses penyulaman dilakukan terlebih dahulu (sebelum pemasangan furing).

Peningkatan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada anak kelompok A di TK Qurrota A'yun Malang dengan media wayang / Ruly Dwi Anjarsari

 

Kata Kunci : Menceritakan pengalaman secara sederhana, media wayang, PAUD media wayang Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada kelompok A di TK Qurrota A’Yun. Guru belum memberikan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana, disamping itu keberanian bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta imajinasi anak dalam bercerita juga relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan bercerita dengan media wayang dalam pengembangan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada anak kelompok A di Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang serta mendiskripsikan peningkatan kemampuan menceritakan pengalaman swcara swderhana pada anak kelompok A di Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang yang di tandai dengan keberanian anak bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta kemampuan anak berimajinasi dalam bercerita. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian kelas (PTK) dengan model kolaborasi peneliti melakukan kolaborasi dengan ibu Marghfirlana Silmi, guru kelompok A Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang, mulai dari tahap proses identifikasi masalah,perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan menceritakan pengalaman secara sederhana dengan media wayang dapat meningkatkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada anak kelompok A di Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang. Penelitian berlangsung 2 (2) siklus dengan menggunakan observasi. Proses peningkatan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana dikatakan meningkat apabila prosentase mencapai 75% ata lebih dan dikatakan berhasl jika hasil siklus 2 lebi baik dari siklus sebelumnya. Keberhasilan penelitian ini ditandai dengan: (1) Anak berani bercerita di depan kelas; (2) Anak lancar dalam bercerita dan;(3) Anak mampu berimajinasi dalam bercerita. Berdasarkan penelitian ini, dapat di simpulkan bahwa menceritakan pengalaman secara sederhana dengan media wayang dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menceritakan pengalaman secara sederhana. Hal ini di buktikan dengan prosentase rata-rata mencapai 82% pada siklus 2.

Penciptaan karya tari dhodhog yang bersumber dari reyog Tulungagung sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat / Roosita Dewi Suriasih

 

Kata kunci: Reyog Tulungagung, Variasi Gerak, Penciptaan Karya Tari “Dhodhog” Reyog Tulungagung merupakan tarian arakan-arakan yang dipersembahkan kepada raja. Gerakan tari dilakukan bersama-sama dengan memainkan alat musik yang disebut kendang dhodhog. Reyog Tulungagung memiliki keunikan tersendiri karena selain melakukan gerakan yang sederhana, penari juga memainkan alat musik berupa kendang dhodhog. Karena menari sambil bermain musik, maka konsekuensi gerak tarinya sangat terbatas pada gerakan kepala dan kaki. Oleh karena itu gerak tari Reyog Tulungagung sangat terbatas. Kesederhanaan gerak yang terdapat dalam Reyog Tulungagung berpotensi untuk disajikan dalam bentuk gerak-gerak yang lebih variatif dan menarik. Dalam pembuatan karya tari “Dhodhog”, gerakan dan properti Reyog Tulungagung menjadi sumber utama. Gerak dalam karya tari dhodhog merupakan pengembangan dari Reyog Tulungagung. Penari menggunakan kendhang dhodhog sebagai properti , sehingga penguasaan alat atau teknik membawa dan menabuh kendang dhodhog harus benar dan terampil. Gerak dalam tari ini banyak mengeksplorasi gerak tangan yang membawa kendang dhodhog, gerak tangan yang tidak membawa kendang dhodhog, gerak kaki, dan kepala. Kata Dhodhog mengambil dari properti yang digunakan, yaitu kendang dhodhog. Namun, disini kendang bukan hanya sebagai properti pelengkap, tetapi dalam koreografinya juga mempunyai makna khusus. Kendang dhodhog dalam tarian ini melambangkan suatu tanggung jawab seniman yang ikut melestarikan kesenian tradisi Reyog Tulungagung. Koreografi Dhodhog menceritakan tentang sekelompok seniman tradisi yang sangat mencintai kesenian tradisinya. Dimana secara bersama mereka berusaha mempertahankan hidup dengan kesenian yang mereka miliki ditengah-tengah terjangan kontradiksi yang beredar di masyarakat. Namun ketika kecintaan tersebut dihadapkan pada masalah ekonomi (tanggapan dengan hasil minim) yang harus mereka hadapi, mulai munculah sebuah pemikiran untuk meninggalkan keseniannya. Namun dengan keteguhan hatinya, dia memilih untuk mempertahankan kesenian daerah bersama teman-temannya yang lain meskipun hasil yang ia dapatkan kurang dari cukup untuk menghidupi keluarganya Sumber iringan dalam tari Dhodhog adalah musik Reyog Tulungagung yang didasarkan pada musik yang dapat memberikan dinamika sehingga merangsang timbulnya suatu ide gerak. Musik dalam tari ini memberikan nuansa bunyi yang dinamis, sehingga mampu memberiakan sesuatu yang artistik. Selain itu, musik dalam tarian ini juga ditujukan untuk memberikan motivasi pada penari untuk dapat mengungkapkan rasa melalui gerak yang natural. ii Penentuan busana tari Dhodhog menggunakan pendekatan cerita atau tema. Tata busana didesain dengan pengembangan dari konsep tradisi, namun tidak kaku dan tetap komunikatif. Konsep warna pada busana mengambil tiga warna utama, yaitu merah, hitam dan emas. Ketiga warna tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Tata rias pada tarian ini menggunakan teknik rias yang mengacu pada penataan rias tradisi Tulungagung, dengan beberapa inovasi dan pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan penggarapan koreografi. Tujuannya agar komunikatif dengan penonton. Dalam koreografi ini, mode penyajian yang digunakan adalah simbolis representasional, karena sajian tari yang digunakan dalam garapan ini adalah penggabungan dari mode penyajian secara abstrak atau simbolis dan representatif.

Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA kelas V SDN Bandulan I dengan pendekatan STM / Bambang Tri Kuntoyo

 

Kata Kunci : Hasil belajar, Pembelajaran IPA, Pendekatan STM Pembelajaran IPA di SD dapat dilaksanakan secara aktif, kreaktif, efektif dan menyenangkan dengan memanfaatkan sarana atau sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah atau anak, serta didukung kemampuan guru untuk menciptakan dan menggunakan alat peraga yang ada dilingkungan sekitar. Pembelajaran di SD yang menggunakan metode imposisi dan tidak dimanfaatkan- nya lingkungan serta masyarakat sekitar secara optimal untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, termasuk di SD Negeri Bandulan I. Karenanya dilakukan Penelitian Tindakan Kelas melalui kolaborasi dengan guru dan kepala sekolah. Tujuan menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat yaitu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pendekatan sains teknologi masyarakat dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu meningkatnya hasil belajar siswa dalam menyelesai- kan soal IPA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan rancangan PTK yang terdiri dari tiga siklus, masing-masing siklus meliputi langkah: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dari penelitian ini adalah siswa dan guru kelas V SDN Bandulan I Kec. Sukun Kota Malang . Waktu semester II tahun pelajaran 2009 / 2010. Pengumpulan data dengan observasi langsung selama tin- dakan dan hasil tes kemampuan siswa. Hasilnya: (1) Untuk pembelajaran IPA kelas V model pendekatan STM sangat cocok sesuai dengan KTSP (2) Pengguna- an lingkungan dan masyarakat sebagai media dapat meningkatkan mutivasi belajar siswa.(3) Perbaikan pembelajaran IPA kelas V SD dapat dilakukan melalui PTK sehingga proses pembelajaran maupun hasilnya dapat lebih meningkat dan bermutu. (4) Kendalanya adalah keterbatasan waktu, media, serta kemampuan guru dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan sains teknologi masyarakat dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bandulan I Kota Malang dalam pelajaran IPA. Disarankan agar guru IPA kelas V SD dapat menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA.

Pengaruh program sertifikasi terhadap kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare / Devi Dyah Kusumawardhani

 

Kata kunci : Program Serifikasi Guru, Kinerja Guru Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang berarti tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, maka prospek guru di masa mendatang sebagai guru yang profesional, sejahtera dan terlindungi akan terwujud. Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui uji sertifikasi (UUGD No. 14 Tahun 2005 pasal 2 dan 3). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan : 1)bagaimana kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare ; 2) pengaruh antara program sertifikasi guru terhadap kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare. Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksplananasi dengan pendekatan kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linear sederhana. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 35 orang. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sertifikasi guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien beta bernilai positif yaitu sebesar 0.892, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Berhubung nilai R square yaitu sebesar 0,795 atau 79,5%, artinya bahwa variabel kinerja guru (Y) dipengaruhi oleh program sertifikasi guru (X) sebesar 79,5% dan sisanya 20,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan mengacu pada hasil temuan yang menyatakan bahwa program sertifikasi guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru maka hendaknya semua guru tetap menjaga dan harus meningkatkan kompetensi profesionalitas guna terciptanya peningkatan terhadap mutu pendidikan. Selain itu Kepala Sekolah hendaknya selalu melakukan pengawasan kepada guru yang telah tersertifikasi agar keprofesionalitasnya/kinerjanya terus meningkat.

Studi tentang keaktifan belajar siswa kelas akselerasi di SMAN 1 Malang / Manila Jayanti

 

Kata Kunci: Keaktifan belajar, kelas akselerasi. Program akselerasi merupakan program pendidikan yang ditujukan bagi siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, memiliki kemampuan intelegensi di atas rata-rata, memiliki kreatifitas dan keterikatan terhadap tugas dalam menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar mereka. Siswa akselerasi dituntut untuk selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan di luar pembelajaran agar dapat berkompetisi dengan siswa-siswa yang lain di kelas akselerasi. Keaktifan belajar siswa kelas akselerasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran maupun kegiatan di luar pembelajaran sangat tinggi karena ada banyak faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa akselerasi tersebut. Hal ini mendorong peneliti melakukan penelitian mengenai keaktifan belajar siswa kelas akselerasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas dan rinci mengenai: (1) jenis-jenis keaktifan belajar siswa kelas akselerasi, (2) pemaknaan siswa kelas akselerasi terhadap keaktifan belajar, (3) faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa kelas akselerasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan ancangan studi kasus. Subyek penelitian adalah siswa akselerasi kelas XI. Teknik pengumpulan data menggunakan: (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh diorganisasikan, ditafsirkan, dan dianalisis guna menyusun dan mengabstraksikan temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, dan (3) teknik triangulasi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis keaktifan belajar siswa kelas akselerasi di SMAN 1 Malang meliputi keaktifan akademik yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran, keaktifan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan kegiatan ekskul, olimpiade dan organisasi, serta keaktifan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. Adapun keaktifan belajar menurut siswa akselerasi diartikan sebagai suatu kegiatan keikutsertaan ataupun partisipasi siswa yang diikuti dengan pemikiran yang baik. Beberapa siswa akselerasi memaknai keaktifan belajar sebagai kegiatan yang tidak hanya bertumpu pada kegiatan pembelajaran di kelas saja namun keaktifan juga bisa dilakukan di luar kegiatan pembelajaran untuk mencapai hasil yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa akselerasi meliputi faktor motivasi terdiri dari motivasi yang berasal dari dalam dan diri siswa, faktor nilai yang mendukung prestasi siswa, faktor kesiapan dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, penghargaan sosial terhadap siswa, pengetahuan dan cita-cita yang ingin dicapai siswa, serta kesehatan fisik siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian, disarankan bagi jurusan Bimbingan dan Konseling untuk memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai calon konselor berupa pengetahuan mengenai anak berbakat, sehingga mahasiswa Bimbingan dan Konseling dapat menerapkannya dalam dunia kerja guna memberikan layanan bimbingan yang tepat bagi siswa berbakat. Dan bagi konselor dapat melakukan pengamatan secara lebih intensif pada keaktifan siswa kelas akselerasi baik pada kegiatan pembelajaran maupun kegiatan di luar pelajaran serta memonitor keaktifan siswa kelas akselerasi pada kegiatan di luar pembelajaran sehingga siswa akselerasi mampu berkembang secara optimal tentunya dengan tetap menjaga keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional, dan sosial siswa akselerasi.

Pengaruh penerapan strategi think pair share dalam pembelajaran problem posing (PP-TPS) terhadap prestasi belajar, kemampuan problem posing, dan motivasi belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Probolinggo pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan tahun ajaran 2009

 

Kata Kunci: Problem Posing-Think Pair Share (PP-TPS), motivasi belajar, prestasi belajar kimia Pembelajaran yang dilakukan di sekolah disarankan menggunakan pembelajaran yang konstruktivistik. Untuk itu diperlukan berbagai strategi dan pendekatan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu strategi yang digunakan adalah strategi Think Pair Share dalam pembelajaran Problem Posing (PP-TPS). Strategi PP-TPS merupakan gabungan dari strategi Problem Posing (pengajuan masalah) dan Think Pair Share (berpikir-berpasangan-bertukar pendapat). Variasi pembelajaran dengan menggunakan strategi PP-TPS diharapkan dapat membantu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi Think Pair Share dalam pembelajaran Problem Posing terhadap prestasi belajar, motivasi belajar, dan kemampun Problem posing siswa pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Probolinggo tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah empat kelas yaitu kelas XI-IPA 1 sampai dengan XI- IPA 4 sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA 3 (kelas kontrol) dan kelas XI IPA 4 (kelas eksperimen). Kelas eksperimen yang berjumlah 32 siswa dibelajarkan dengan strategi Problem Posing-Think Pair Share (PP-TPS) dan kelas kontrol yang berjumlah 33 siswa dengan pembelajaran Problem Posing (PP). Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen pembelajaran dan instrumen pengukuran. Sesuai tujuan penelitian, analisis data prestasi belajar kognitif dilakukan dengan Uji t dua ekor pada taraf signifikansi 0,05. Data kemampuan problem posing, dan motivasi dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan PP-TPS (84,41) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan PP (61,30). Prestasi belajar siswa kelompok atas yang dibelajarkan dengan PP-TPS (84,13) lebih tinggi daripada kelompok atas yang dibelajarkan dengan strategi PP (67,47), begitu juga dengan kelompok bawah yang dibelajarkan dengan strategi PP-TPS (84,69) lebih tinggi dari pada kelompok bawah yang dibelajarkan dengan srategi PP. Kemampuan problem posing dan motivas belajar siswa yang dibelajarkan dengan strategi PP-TPS terbukti lebih baik dari pada siswa yang dibelajarkan dengan strategi PP.

Penerapan model pembelajaran demokratis berperspektif gender untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas V SDN Beji IV Pasuruan / Geralds Ronald Kolely

 

Kata kunci: Pembelajarn Demokratis Berperspektif Gender, hasil belajara PKn Pada tanggal 29 Mei 2010 dilakukan observasi di kelas V SDN Beji IV mata pelajaran PKn dengan materi pokok keputusan bersama, teryata nilai hasil pembelajaran yang diperoleh siswa laki-laki cenderung lebih tinggi dari nilai hasil pembelajaran yang diperoleh siswa perempuan yaitu nilai siswa laki-laki rata-rata 6 sedangkan nilai siswa perempuan rata-rata 5, jadi nilai rata-rata siswa laki-laki dan perempuan adalah 5,5. hal ini membuktikan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas V SDN Beji IV tidak ada kesetaraan gender kerena dalam kegiatan pembelajaran guru lebih megutamakan siswa laki-laki dari siswa perempuan baik dalam mengajukan pertanyaan maupun pendapat. Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan model pembelajaran Demokratis Berperspektif Gender pada mata pelajaran PKn di kelas V SDN Beji IV Pasuruan; 2) untuk mendeskripsikan Penerapan Model Pembelajaran Demokrasi Berperspektif Gender untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn dengan materi pokok keputusan bersama di kelas V SDN Beji IV Pasuruan Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa: 1) lembar observasi; 2) soal tes. Seorang siswa dinyatakan tuntas belajarnya apabila telah mencapai skor 70. Pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu: a) perencanaan; b) pelaksanaan tindakan dan observasi; c) refleksi; d) revisi. Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Beji IV Pasuruan. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dilihat dari proses pembelajaran pada pra tindakan, tindakan siklus I dan tindakan pada siklus II dengan skor rata-rata kelas sebagai berikut: (1) pra tindakan 64,94% dengan 9 orang siswa yang tuntas dan 27 siswa tidak tuntas, dengan skor tertinggi 85 dan skor terendah 50; (2) tindakan siklus I 71,11% dengan 19 siswa tuntas dan 17 orang dan tidak tuntas, dengan skor tertinggi 88 dan skor terendah 58; (3) tindakan siklus II 76,61% dengan siswa yang tuntas 32 dan yang tidak tuntas 4 orang, dengan skor tertinggi 90 dan skor terendah 63. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran demokratis berperspektif gender pada mata pelajaran PKn dengan materi pokok keputusan bersama. Kesimpulan: 1) Penerapan model pembelajaran demokratis berperspektif gender dapat meningkatkan aktifitas kerjasama antara siswa laki-laki dan perempuan dalam belajar sehingga siswa tidak hanya duduk diam dan mendengarkan penjelasan guru namun siswa yang melakukan kegiatan belajar dan guru bertindak sebagai pengajar dan pembimbing; 2) Penerapan model pembelajaran demokratis berperspektif gender dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn dengan materi pokok keputusan bersama.

Pengaruh variasi suku sintering terhadap struktur kristal dan sifat histeris bahan keramik feroelektrik BaBi4TI4O15 / Ratna Anggraini

 

Kata Kunci: Histerisis, Struktur kristal, Feroelektrik Material yang saat ini banyak diteliti adalah bahan ferroelektrik BaBi4Ti4O15. Bahan ferroelektrik BaBi4Ti4O15 merupakan salah bahan oksida Aurivillius, yang ramah lingkungan karena tidak mengandung logam berat seperti timbale (Pb). Sifat histerisis dan konstanta dielektriknya yang tinggi dapat diterapkan pada FRAM dan DRAM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur kristal dan bentuk kurva histerisis bahan ferroelektrik BaBi4Ti4O15 dengan variasi suhu sintering 10000C, 10500C, dan 11000C . Penelitian ini menggunakan bahan dasar BaCO3 dengan kemurnian 99,99%, TiO2 dengan kemurnian 99,9%,¬ dan Bi2O3 dengan kemurnian 99,9% yang. Sintesis dilakukan dengan metode reaksi padatan. Suhu sintering yang digunakan adalah 10000C, 10500C, dan 11000C dengan lama sintering 6 jam. Sampel dikarakterisasi menggunakan osciloskop dan struktur kristal dikarakterisasi menggunakan Difraksi Sinar-X. Analisis data menggunakan software GSAS, Crystal maker, Cell Reff dan Microcal Origin dengan dibantu perangkat lunak Convert. Hasil penelitian menunjukkan suhu sintering menyebabkan perubahan parameter kisi a, b, c, dan volum. Transisi nilai kisi a, b, c, dan volume mencapai nilai optimum terjadi pada suhu 1100oC. Meskipun menurut teori Arhenius seharusnya kenaikan parameter kisinya secara eksponensial atau linier pada suhu sintering pendek. Hal ini disebabkan adanya perubahan atau transisi fase lokal di perovskite ABO3. Sampel yang memiliki kualitas kristal terbaik adalah sampel dengan suhu sintering 10500C. Sampel yang memiliki kualitas yang baik, akan memberikan nilai Polarisasi Remanen dan Medan Koersif yang besar. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai Polarisasi Remanen Pr dan Medan Koersif Ec tertinggi terjadi pada suhu sintering 1050oC yaitu berturut-turut sebesar 2.66 x 10-10 C/m2 dan 80 V/m.

Rancang bangun pertanahan saluran udara tegangan rendah pada gardu trafo tiang 20 KV / Irwan Apriyanto

 

Kata kunci: ohm, elektroda, triangle, tahanan pentanahan. Penyaluran tenaga listrik di Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang akan membangun Gardu Trafo Tiang 20 kV yang rencananya sebagai Laboratorium Sistem Tenaga Listrik dan sebagai penyuplai listrik pada gedung G2 sampai G6. Mengantisipasi ketidakstabilan dan kontinyuitas tenaga listrik pada Gardu Trafo Tiang (GTT), salah satunya dilakukan dengan cara sistem pentanahan saluran udara tegangan rendah. Pengetanahan ini meliputi pentanahan peralatan yang pada kerja normal tidak dilalui arus. Bilamana terjadi hubung singkat suatu penghantar dengan suatu peralatan, maka akan terjadi beda potensial (tegangan) dan bila seseorang berdiri ditanah dan memegang peralatan yang bertegangan, maka akan ada arus yang mengalir melalui tubuh orang tersebut yang dapat membahayakan oleh karena itu rancang bangun tentang besarnya nilai tahanan pentanahan itu diarahkan kepada usaha pemenuhan tahanan pentanahan sekecil mungkin, yaitu  5 ohm (PUIL 2000 pasal 3.13.2.10). Sistem pentanahan yang digunakan adalah metode batang dan pita dalam mencari nilai tahanan pentanahan tersebut. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data dilapangan dengan cara melakukan pengukuran tahanan jenis tanah menggunakan alat ukur earth tester sebagai dasar penentuan ukuran elektroda yang akan digunakan; (2) melakukan perhitungan dan mengolah data untuk mencari nilai tahanan pentanahan untuk elektroda batang tembaga dan pita; (3) pemasangan elektroda untuk mendapatkan nilai pengukuran tahanan pentanahan; (4) Analisa hasil pengambilan data, untuk disesuaikan dengan perencanaan; (5) Evaluasi dan pembuatan laporan untuk hasil analisa sesuai dengan perencanaan. Hasil percobaan menunjukan nilai pengukuran dan perhitungan tahanan pentanahan untuk pemasangan elektroda batang tembaga tunggal dan pita masing-masing sebesar 7,2 dan 5,6 ohm sedangkan perhitungan 9,8 dan 9,9 ohm, ini tidak memenuhi standart pengamanan  5 ohm yang sesuai dengan standart PUIL 2000. Oleh karena itu dilakukan pemasangan konfigurasi triangle yang menggunakan 3 elektroda batang tembaga dihubungkan secara paralel menggunakan kabel BC yang nilai tahanan pentanahannya mencapai 3,2 ohm.

Studi kasus keefektifan sosialisasi program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar di Kecamatan Klojen Kota Malang / Findha Priandari

 

Kata Kunci : sosialisasi, penuntasan, wajib belajar pendidikan dasar. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia. Padahal berkualitas atau tidaknya sumberdaya manusia (SDM) di suatu negara tergantung bagaimana penanganan pendidikan di negara tersebut. Oleh karenanya, pendidikan merupakan kunci keberhasilan pembangunan di Indonesia. Dalam upaya membangun SDM yang berkualitas, pemerintah Indonesia melalui Inpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara mewajibkan semua warga negara usia pendidikan dasar (7–15 tahun) tanpa memandang status sosial, etnis, dan jenis kelamin untuk menempuh minimal pendidikan dasar sembilan tahun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan profil Kecamatan Klojen (2) mendeskripsikan sosialisasi program penuntasan WAJAR DIKDAS pada kelompok sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah di Kecamatan Klojen; (3) mendeskripsikan media/cara yang digunakan dalam sosialisasi program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen; (4) mendeskripsikan faktor pendukung dalam program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen; (5) mendeskripsikan faktor penghambat yang dihadapi dalam program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen; (6) mendeskripsikan upaya untuk mengatasi kendala dalam program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang menafsirkan dan menjelaskan suatu fenomena/peristiwa sosial di masyarakat secara ilmiah, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Dalam penelitian ini, peneliti sendirilah yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala UPT Pendidikan Dasar, kepala sekolah, guru, dan wali murid yang berada di wilayah kecamatan Klojen Kota Malang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara dan dokumen yang berkaitan dengan wajib belajar pendidikan dasar. Setelah data tersebut diperoleh kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data dengan metode triangulasi dan kecukupan referensial. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kecamatan Klojen membawahi 11 Kelurahan yaitu: Kasin, Sukoharjo, KidulDalem, Kauman, Bareng, Gading Kasri, Oro-Oro Dowo, Klojen, Rampal Celaket, Samaan, dan Penanggungan. Kecamatan Klojen secara geografis terletak pada 112036’14” – 112040’42” BT dan 077036’38” – 008001’37” LS, sedangkan secara administratif Kecamatan Klojen sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Lowokwaru, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kecamatan Kedungkandang dan Kecamatan Blimbing, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sukun, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Sukun; (2) Sekolah yang berada di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang sangat merespon baik dengan adanya sosialisasi program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, selain itu Kecamatan Klojen juga dapat menjadi contoh bagi kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kota Malang dalam penyelenggaraan wajib belajar. Kesuksesan Kecamatan Klojen dalam penyelenggaraan sosialisasi wajib belajar ini ditandai dengan kecamatan yang memiliki persentase angka mengulang dan putus sekolah yang paling kecil untuk tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sasaran dari sosialisasi program wajib belajar pendidikan dasar di wilayah Kecamatan Klojen ini yaitu seluruh siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama terutama siswa kelas VI dan siswa yang baru memasuki jenjang SMP yang nantinya akan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Adapun tujuan yang didapat dari pelaksanaan sosialisasi ini adalah agar kualitas lulusan dapat meningkat sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya; (3) Media/cara yang digunakan dalam sosialisasi program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar di Kecamatan Klojen ini adalah menyampaikan langsung informasi yang berhubungan dengan wajib belajar langsung kepada murid setiap 2-3 bulan sekali terutama siswa kelas VI dan siswa SMP. Narasumber dalam sosialisasi ini langsung dari kepala sekolah atau wali kelas; (4) Faktor pendukung kesuksesan program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar dapat berupa dukungan dari pemerintah dan sekolah; (5) faktor penghambat program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar yaitu: masih terbatas dan belum meratanya bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat yang berasal dari keluarga kurang mampu dan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat tentang pentingnya menempuh pendidikan; (6) solusi yang diambil untuk mengatasi faktor penghambat antara lain mengupayakan subsidi silang, bantuan dari pihak swasta, memberikan pemahaman kepada orangtua/masyarakat tentang pentingnya menempuh pendidikan untuk jangka panjang. Berdasarkan kesimpulan atau hasil temuan penelitian, berikut ini dikemukakan saran bagi pihak terkait yaitu: (1) kepala sekolah/guru di wilayah kecamatan Klojen Kota Malang dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk secara aktif memberikan sosialisasi kepada siswa, terutama siswa kelas VI yang berkaitan dengan pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar; (2) orangtua murid, dapat memberikan pemahaman kepada orangtua murid bahwa betapa pentingnya menempuh pendidikan untuk jangka panjang dan orangtua murid dapat bekerjasama dalam rangka menyukseskan program wajib belajar pendidikan dasar; (3) jurusan administrasi pendidikan, hendaknya hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi bagi penelitian dalam ruang lingkup yang memiliki keterkaitan dengan wajib belajar pendidikan dasar; (4) peneliti lain, hendaknya para peneliti lain agar dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain dengan latar yang berbeda yang nantinya dapat bermanfaat untuk ditelit.

Pengaruh persepsi bauran promosi terhadap ketelibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah (studi pada pemilik rumah di Griya Tawangsari Indah Blitar) / Henny Widia Sari

 

Kata Kunci: Persepsi bauran promosi, keterlibatan konsumen, proses keputusan pembelian rumah Konsep penyampaian pesan secara umum disebut dengan bauran promosi, karena biasanya pemasar sering menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintregasi dalam suatu rencana promosi produk. Bauran promosi terdiri dari periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan presonal, yang kesemuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan. Efektif tidaknya bauran promosi yang dijalankan perusahaan, sangat dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap bauran promosi tersebut. Keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat kepentingan konsumen akan produk tersebut. Prospek bisnis perumahan di Indonesia juga masih bagus, mengingat saat ini kebutuhan akan perumahan terus meningkat, sementara penyediaan masih terbatas. Berdasarkan data yang dirilis terakhir oleh pemerintah terdapat backlog (kekurangan pasokan) perumahan antara 4,5 juta hingga 6 juta unit dengan pertumbuhan permintaan rumah tahunan 800.000 unit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Keadaan persepsi bauran promosi (periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan personal) dan tingkat keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah di Griya Tawangsari Indah Blitar. (2) Pengaruh persepsi bauran promosi (periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan personal) yang dilakukan oleh Griya Tawangsari Indah Blitar secara parsial dan simultan terhadap tingkat keterlibatan konsumen dalam proses pembelian rumah. Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan personnal. Sedangkan variabel terikatnya adalah keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah. Populasi pada penelitian ini adalah adalah individu atau orang yang melakukan pembelian unit rumah di Griya Tawangsari Indah Blitar,terhitung mulai tahun 2004 hingga 2008 populasi penelitian berjumlah 150 kepala keluarga, yang menempati rumah tipe 27/60 sebanyak 100 kepala keluarga dan tipe 36/84 sebanyak 50 kepala keluarga. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga ditemukan jumlah sample sebanyak 120 responden. Adapun teknik pengambilan sampel adalah menggunakan teknik Proporsional Sampling, yang dilanjutkan dengan pengambilan sampel yang dengan cara randon sampling. Analisis data penelitian yang dipakai adalah uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Hasil analisis data menunjukan bahwa: (1) Keadaan persepsi bauran promosi dan tingkat keterlibatan proses pembelian rumah pada Griya Tawangsari Indah Blitar adalah bahwa berdasarkan distribusi frekuensi responden memberikan penilaian setuju atau cukup tinggi terhadap faktor periklanan, hubungan masyarakat,penjualan personal dan keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah yang terdiri dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi berbagai alternatif, keputusan pem;belian serta perilaku pasca pembelian. (2) Persepsi bauran promosi berpengaruh positif dan signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah. Adapun saran yang dapat diberikan adalah: (1) Pengembang Griya Tawangsari Indah Blitar. (a) Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan mengenai bauran promosi. (b) Penjualan Personal mempunyai pengaruh paling kuat pada persepsi bauran promosi, sehingga kiranya perusahaan dapat mengoptimalkan fungsi penjualan personal, karena dari beberapa unsur bauran promosi, penjualan personal biayanya lebih ringan dibanding 3 unsur lainnya yaitu periklanan, promosi penjualan maupun humas. Peningkatan efektivitas penjualan personal ini antara lain dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibidang penjualan personal. (2) Peneliti. Hasil penelitian ini diperoleh dari keterbatasan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di wilayah kabupaten dan kota Blitar. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar peneliti lain dapat meneruskan penelitian ini pada obyek dan variabel lain yang belum disebutkan.

Rancang bangun alat pembengkok pipa besi berdiameter satu inchi sistim hidrolik / Panji Suharmanto, Mukti Sunanuddin Nur

 

Kata Kunci: alat pembengkok pipa besi Dalam dunia industri saat ini peranan pipa besi sangat penting dalam pengguaannya dikarenakan kegunaannya dan manfaat pipa besi bervariasi mulai dari saluran air, minyak, gas dan penggunaan lain yang mendukung pada dunia industri serta penggunan pipa besi yang membutuhkan bengkokkan untuk pagar atau pun komponen-komponen mesin. Pembengkokkan pipa besi untuk saat ini masih manual yaitu menggunakan tenaga manusia langsung. Pembengkokkan pipa besi secara manual mempunyai babarapa kalemahan jika dibandingkan menggunakan istim hidrolik. Jika kita menggunakan sistim hidrolik kekuatan yang digunakan untuk membengkokkan pipa besi sangat tinggi dibanding manual yaitu menggunakan tanaga manusia langsung dan belum juga tenaga yang digunakan untuk membengkokkan pipa besi sangat kuat sehingga saat kerja cepat lelah. Untuk itu diganti menggunakan sistim hidrolik yang kecil tenaga yang digunakan sehingga tidak cepat lelah pada saat kerja. Kesimpulan, pembengkokkan pipa besi menggunakan sistim hodrolik tenaga untuk membengkokan sangat tinggi dan energi yang dikeluarkan kecil sehingga tidak cepat lelah saat kerja.

Pengaruh gender dan jumlah semester terhadap persepsi sensitivitas etis akademis mahasiswa akuntansi Universitas Negeri Malang / Santi Dwi Juli Karuniawati

 

Kata Kunci: gender, jumlah semester dan persepsi sensitivitas etis akademis Dunia pendidikan tinggi mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku etika akuntan karena pendidikan yang baik akan mencetak mahasiswa menjadi calon akuntan yang mempunyai sikap profesional dan berlandaskan pada standar moral dan etika. Dalam pendekatan sosialisasi gender, pria dan wanita memiliki perbedaan nilai dan perlakuan pada pekerjaan mereka. Mahasiswa semester akhir juga mempunyai perbedaan persepsi etika dibanding mahasiswa semester awal karena mahasiswa akhir telah memperoleh muatan matakuliah yang berorientasi etis lebih banyak dibandingkan mahasiswa yang masih awal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan persepsi sensitivitas etis akademis pada mahasiswa Akuntansi pria dan wanita dan perbedaan persepsi sensitivitas etis akademis pada mahasiswa Akuntansi semester awal dan mahasiswa Akuntansi semester akhir Penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa Akuntansi program studi S1 Akuntansi Universitas Negeri Malang yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner model. Chekclist yang diperoleh dari mahasiswa Akuntansi Universitas Negeri Malang dengan menggunakan 5 point skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini menguji dua hipotesis menggunakan Independent Samples T-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sensitivitas etis secara signifikan antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita dan tidak terdapat perbedaan sensitivitas etis secara signifikan antara mahasiswa akuntansi semester awal dan mahasiswa akuntansi semester akhir. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk lebih menanamkan nilai etika kepada mahasiswa terutama kepada mahasiswa pria yang memiliki persepsi sensitivitas etis akademis yang lebih rendah dibanding wanita,salah satu caranya adalah dengan menerapkan disiplin. Dan menambah matakuliah baru tentang etika (selain etika bisnis) serta pada setiap mata kuliah akuntansi didiskusikan isu-isu etika yang sering dihadapi oleh akuntan dan mengundang dosen tamu dari kalangan akademisi maupun praktisi sehingga memberikan nuansa baru bagi mahasiswa. Untuk penelitian di masa mendatang perlu dilakukan penelitian dengan menambah variabel dan sampel. Selain itu diharapkan untuk melakukan penelitian dengan kondisi yang berbeda dan responden yang berbeda pula untuk memperkuat hasil penelitian ini.

Pengembangan awal modul pembelajaran kimia SMK kelas X semester 1 pada pokok bahasan ikatan kimia model learning cycle 5-E / Nurul Hidayati

 

Kata kunci: modul, Learning Cycle 5-E, Ikatan Kimia Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan dengan menggunakan bahan ajar yang tepat. Salah satu bahan ajar yang dapat dipakai adalah modul sehingga perlu dilakukan pengembangan modul. Paradigma pembelajaran yang digunakan dalam modul adalah konstruktivistik dengan menggunakan model Learning Cycle 5-E. Fase-fase dalam model Learning Cycle 5-E, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Materi yang dikembangkan dalam pengembangan modul adalah Ikatan Kimia dengan menggunakan model Learning Cycle 5-E karena materi pelajaran tersebut erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari dan bersifat abstrak sehingga dirasa cukup sulit untuk dipelajari siswa. Modul Ikatan Kimia dilengkapi dengan RPP untuk membantu guru dalam menggunakan modul dalam proses pembelajaran, selain itu soal-soal uji kompetensi yang digunakan memenuhi kriteria valid karena sudah diujicobakan ke lapangan. Tujuan dari penelitian pengembangan adalah 1) untuk menghasilkan modul dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Ikatan Kimia dengan model Learning Cycle 5-E Sekolah Menengah Kejuruan dan 2) untuk mengetahui kesesuaian modul dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Ikatan Kimia dengan model Learning Cycle 5-E dan kelayakannya untuk digunakan sebagai salah satu bahan ajar kimia untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Strategi pengembangan modul yang digunakan adalah strategi pengembangan Borg dan Gall. Dalam strategi Borg dan Gall terdapat sepuluh langkah pengembangan, namun karena keterbatasan waktu dan biaya untuk penelitian dan pengembangan modul Ikatan Kimia dibatasi sampai langkah ketiga. Ketiga langkah pengembangan modul tersebut yaitu: (1) Penelitian dan pengumpulan data, (2) Perencanaan pengembangan produk, dan (3) Pengembangan produk awal. Desain validasi pada pada pengembangan modul ini hanya sampai pada validasi isi saja. Validator terdiri dari 1 dosen kimia dan 2 guru kimia SMK. Tempat penelitian adalah SMK Negeri 2 Malang, instrument pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis nilai persentase rata-rata. Hasil penelitian diperoleh 1) Susunan modul hasil pengembangan terdiri dari beberapa komponen yaitu cover, kata pengantar, petunjuk penggunaan modul, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, kompetensi dasar, indikator hasil belajar, materi, gambar, tabel, kegiatan belajar siswa, rangkuman, daftar pustaka, uji kompetensi, umpan balik, dan kunci jawaban. Susunan RPP terdiri dari identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, uraian materi, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, sumber belajar, serta lembar penilaian. 2) Data hasil validasi ii untuk modul menunjukkan bahwa bentuk modul yang dikembangkan sesuai dengan model Learning Cycle 5-E dengan nilai persentase rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam Learning Cycle 5-E sebesar 90%, keseluruhan dari modul menunjukkan nilai persentase rata-rata sebesar 88,40%. RPP sesuai dengan model Learning Cycle 5-E dengan nilai persentase rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam Learning Cycle 5-E sebesar 90%, keseluruhan dari RPP menunjukkan nilai persentase rata-rata sebesar 87,22%. Modul dan RPP yang dikembangkan telah sesuai dan layak digunakan sebagai alternatif bahan ajar untuk SMK.

Validitas tes ujian akhir semester bahasa Jerman kelas XI Bahasa SMA Negeri Lamongan tahun 2009 / Nur Indah Anggraini

 

Kata kunci : Validitas, Ujian Akhir Semester, Bahasa Jerman. Bahasa Jerman merupakan bahasa asing yang diminati di Indonesia. Dewasa ini banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang mencantumkan bahasa Jerman sebagai mata pelajaran, baik sebagai program pilihan maupun sebagai program bahasa. Pembelajaran bahasa Jerman di Indonesia bertujuan supaya para peserta didik memiliki kemampuan dasar untuk mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis untuk komunikasi secara sederhana. SMA Negeri I Lamongan merupakan salah satu sekolah yang mencantumkan bahasa Jerman ke dalam kurikulum pembelajaran. Ujian Akhir Semester adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kemajuan belajar peserta didik dan merupakan proses penilaian hasil belajar yang dilaksanakan pada akhir semester. Untuk memperoleh soal UAS yang valid digunakan pengukuran yang bertujuan untuk memperoleh soal yang sesuai dengan kriteria tes yang baik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang validitas soal tes UAS bidang studi bahasa Jerman kelas XI bahasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada validitas isi terdapat soal yang valid dan soal yang tidak valid, baik pada semester gasal maupun pada semester genap. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan adanya tingkat penyimpangan materi pelajaran antara KTSP dan soal UAS. Penelitian ini juga menunjukkan adanya validitas empirik. Data validitas empirik pada semester gasal dan genap menunjukkan validitas sangat rendah, untuk selebihnya data tersebar pada interpretasi cukup,rendah, dan sangat tinggi. Sementara itu validitas empirik dengan bandingan ulangan harian menunjukkan bahwa soal UAS tersebut tergolong rendah validitasnya. Berdasarkan temuan tersebut disarankan kepada guru pengajar bahasa Jerman supaya memperhatikan pedoman-pedoman pembuatan tes yang baik, supaya soal dan data yang diperlukan valid adanya. Selain itu, disarankan bagi para peneliti selanjutnya agar lebih baik dalam meneliti soal tes, baik tes standar maupun tes terstandar.

Pengembangan media CD pembelajaran interaktif mata pelajaran IPS untuk siswa kelas 3 semester II SD Laboratorium Universitas Negeri Malang / Okmar Sulaiman

 

ABSTRAK Kata kunci : Pengembangan, Media, CD Interaktif, Ilmu Pengetahuan Sosial Media CD Interaktif merupakan salah satu media yang dapat digunakan sebagai sumber belajar, karena penyampaiannya menggunakan unsur audiovisual meliputi gambar, suara, dan animasi serta interaktifitas sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan hasil observasi di SD Laboratorium Universitas Negeri Malang, dalam penyampaian materi pelajaran khususnya Ilmu Pengetahuan Sosial guru menggunakan metode pemberian tugas dengan modul. Pengembang ingin membuat alternatif pilihan media pembelajaran melalui penmgembangan media CD Interaktif pembelajaran. Media ini dibuat secara menarik dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas dalam belajar. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan CD Pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang layak bagi siswa kelas III SD dan mempunyai kualitas teknis untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran. Karakteristik dari media CD Interaktif adalah terdapat komunikasi yang interaktif antara media dengan pengguna, sehingga mendorong tingkat keaktifan siswa dalam belajar. Pengembang menggunakan model pengembangan Sadiman S. Arif. Pengembangan Media CD Interaktif ini diujicobakan pada siswa kelas III pada mata pelajaran IPS. Hal ini dirasakan sesuai karena karakter siswa SD kebanyakan masih senang belajar yang diikuti dengan sesuatu yang menarik, misalnya : gambar, musik, atau permainan. Subyek uji coba dalam pengembangan media CD Interaktif Pembelajaran ini adalah siswa kelas III SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara serta menggunakan instrumen berbentuk angket ahli media, ahli materi, dan audiens. Untuk hasil belajar siswa digunakan tes dalam bentuk pre-test dan pos-test. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi, dan audiens adalah prosentase, sedangkan untuk mengolah data hasil belajar siswa digunakan uji tes t. Untuk mengetahui validitas dari media CD Interaktif dilakukan pengujian hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan media. Maka dari itu dikemukakan hipotesis tentang ada dan tidaknya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah menggunakan media. Hasil pengembangan media CD Interaktif pembelajaran ini memenuhi kriteria valid yakni ahli media 87,5%, ahli materi 95%, audiens kelompok kecil 84,5%, dan audiens kelompok klasikal 83,4% sedangkan untuk hasil belajar baik kelompok kecil maupun klasikal menunjukkan t hitung > t tabel. Dalam pengujian hipotesis rumus statistik H0 ditolak dan H1 diterima karena ada perbedaan antara sebelum dan sesudah menggunakan media CD Interaktif Pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa media CD Interaktif Pembelajaran ini mampu merangsang minat siswa dalam mempelajari pelajaran IPS dan dapat dijadikan pilihan sumber belajar bagi guru dan siswa. Saran yang diajukan adalah untuk senantiasa merawat dan membersihkan CD karena CD mudah sekali rusak dan tergores apabila dalam keadaan terbuka.

Studi pengembangan resep baku ayam bakar taliwang (makanan khas lombok) / Riza Maria Tiarsih

 

Kata Kunci: Pengembangan, Resep Baku, dan Ayam Bakar Taliwang Resep tradisional yang merupakan resep turun temurun dari nenek moyang. Kendala dari pengenalan resep tradisional adalah ukuran dari bahan-bahan dalam resep tradisional yang belum standar. Untuk itu penstandaran ukuran dilakukan studi pada resep ayam bakar Taliwang, dalam hal ini dilakukan pembakuan ukuran dan resep ayam bakar Taliwang sebagai idebtitas budaya Lombok. Dengan adanya pembakuan standar ukuran diharapkan memudahkan pengenalan dan penerapan. Penelitian ini untuk mengetahui (I) resep tradisional ayam bakar Taliwang yang digunakan selama ini, (II)hasil uji coba produk ayam bakar Taliwang yang diolah dengan resep tradisional, ditinjau dari warna, aroma, rasa, dan tekstur, (III)resep baku yang telah dikembangkan, dan (IV) perbandingan kualitas hasil uji produk resep baku dari warna, aroma, rasa, dan tekstur. Uji coba resep mengunakan 7 panelis terlatih berasal dari dosen yang ahli di bidang boga dan 25 panelis agak terlatih ditentukan mengunakan purposive sampling (sample bertujuan) mahasiswa tata boga 2006-2007. Instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah kuisioner atau angket. Uji coba pertama warna ayam bakar coklat gelap namun tidak memiliki warna khas ayam bakar, hasilnya tidak terdapat perbedaan nyata warna pada tingkat 5 %. Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua produk. Aroma ayam bakar tidak tercemar bau minyak tanah, namun aroma asap khas ayam bakar yang seharusnya dimiliki tidak muncul, hasilnya tidak terdapat perbedaan aroma kedua produk pada tingkat 5%. Artinya tidak terdapat perbedaan signifikan pada keduanya. Rasa bumbu lebih meresap pada produk pengembangan, terdapat perbedaan nyata rasa kedua produk pada tingkat 0,1%. Artinya terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada rasa kedua produk. Tekstur sudah empuk. tekstur dari kedua produk berbeda nyata pada tingkat 0,1%. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua produk. Uji coba kedua warna ayam bakar coklat gelap berkesan mengkilap telah didapatkan, tidak terdapat perbedaan nyata warna kedua produk pada tingkat 5%. Artinya tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua produk. Aroma asap khas ayam bakar telah didapat, tidak terdapat perbedaan nyata aroma kedua produk pada tingkat 5%. Rasa bumbu meresap hasil menyatakan terdapat perbedaan nyata rasa kedua produk pada tingkat 1 %. Artinya terdapat perbedaan nyata antara kedua produk. Tekstur empuk. menunjukkan tekstur dari kedua produk berbeda nyata pada tingkat 0,1%. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua produk. Saran yang dapat diberikan (I). Perlunya pertimbangan langkah-langkah untuk memperoleh hak paten terhadap resep baku (II) Dapat disosialisasikan lewat Dinas Pariwisata. (II) Dapat dikembangkan menjadi salah satu makanan beku

Hubungan perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto / Fitthiyatul Kholqiyah Astani

 

Kata Kunci: Hubungan, Perilaku Asertif, Prestasi Belajar. Berdasarkan teori Sikone (2007) yang menyatakan bahwa asertifitas akan membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang lingkungan, dan tidak mudah berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya (memiliki rasa ingin tahu yang tinggi). Kemampuan kognitif siswa dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Selain itu adanya teori Hurlock (1980) yang menyatakan bahwa siswa SMA memasuki masa remaja, yang pada masa itu siswa mulai mengembangkan dirinya dan memikirkan prestasi belajarnya di sekolah, karena dengan prestasi yang baik dapat memberikan kepuasan pribadi dan menimbulkan harga diri dalam kelompok sebaya. Begitu pentingnya memiliki prestasi belajar yang baik bagi seorang siswa SMA serta adanya teori yang menyatakan bahwa asertifitas dapat meningkatkan prestasi belajar siswa maka dari itu diperlukan penelitian ini agar diketahui sejauh mana asertifitas mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku asertif dan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto serta untuk menguji adakah hubungan perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif korelasional. Penelitian jenis ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai suatu hal serta untuk menemukan apakah ada hubungan (pengujian hipotesis) dan apabila ada hubungan berapa tingginya hubungan serta berarti tidaknya hubungan tersebut. Subyek penelitian ini yaitu siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan Stratified Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dari masing-masing tingkatan kelas tertentu. Instrumen penelitian berupa angket skala perilaku asertif yang dilengkapi dengan validitas dan memiliki reliabilitas sebesar 0,948. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik analisis korelasi product-moment menggunakan program SPSS 16.00 for windows korelasi product-moment Pearson. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa cukup banyak siswa (60%) SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto yang mempunyai kategori perilaku asertif sedang dan hanya sedikit siswa dengan persentase 40% yang perilaku asertifnya dalam kategori tinggi. Tidak ada siswa yang kategori perilaku asertfinya rendah. Sedangkan deskripsi mengenai prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto diketahui bahwa tidak ada siswa yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori baik sekali dan sangat kurang, sangat sedikit sedikit siswa dengan persentase 0,8% yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori baik dan 5,6% siswa yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori kurang, sangat banyak siswa dengan persentase 93,6% yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori cukup. Perilaku asertif mempunyai hubungan yang positif dengan nilai r sebesar 0,066. Nilai r menjauhi 1 sehingga hubungan perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa dikatakan lemah. Kesimpulan penelitian ini adalah Perilaku asertif siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 persentase tertinggi (60%) adalah pada kategori sedang. Sedangkan persentase tertinggi (93,6%) prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 adalah pada kategori cukup. Ada hubungan antara perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 namun hubungannya lemah. Saran pada penelitian ini adalah konselor sebaiknya lebih meningkatkan pemberian layanan assertive training yang dapat mengembangkan perilaku asertif pada siswa. Kepada peneliti selanjutnya untuk lebih menambah jumlah siswa sampel dan menyempurnakan instrument penelitian sehingga dapat menyempurnakan data penelitian.

Strategi kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan di SDN Percobaan I Malang / Yolla Anita Seqyon

 

Kata kunci: strategi, kepemimpinan kepala sekolah, inovasi, KTSP. Kepala Sekolah merupakan salah satu komponen yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 1990 Pasal 12 Ayat 1 bahwa: Kepala Sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Dengan adanya kepemimpinan kepala sekolah tersebut maka akan memberikan pengaruh yang besar bagi seluruh warga sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus mempunyai strategi atau cara agar menghasilkan sesuatu yang baru dan bermakna di dalam kehidupan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dapat terlaksana apabila didukung oleh seluruh warga sekolah. Kepala Sekolah berusaha mewujudkan keberhasilan pendidikan melalui bekerjasama dengan stakeholder yang ada demi mewujudnya tujuan pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang: (1) strategi kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan KTSP di SDN Percobaan I Malang, (2) proses inovasi dalam penerapan KTSP di SDN Percobaan I Malang ,(3) faktor-faktor yang mempengaruhi proses inovasi dalam penerapan KTSP beserta pemberdayaannya di SDN Percobaan I Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi dalam penelitian ini adalah SDN Percobaan I Malang. Alasan peneliti memilih sekolah ini karena kepemimpinan kepala sekolah sangat efektif dalam melakukan inovasi-inovasi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk memperoleh data menggunakan teknik sampling yaitu mencari informan yang memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan fokus penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah: Kepala Sekolah SDN Percobaan I malang,Wakil Kepala Sekolah, Bagian Hubungan Masyarakat, Guru kelas IVA, dan Staf Kantor Tata Usaha. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) strategi kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan KTSP terdiri dari empat langkah yaitu: kepala sekolah melibatkan stakeholder dalam merencanakan visi, misi, tujuan sekolah, struktur dan muatan KTSP, sosialisasi KTSP dilakukan melalui kegiatan lokakarya, seminar, pelatihan, adanya pembagian tugas untuk masing-masing guru, kepala sekolah memberikan masukan dan penilaian untuk setiap tugas yang telah dilaksanakan, (2) proses inovasi dalam penerapan KTSP terdiri dari dua tahap yakni: (a) langkah-langkah yang dipersiapkan dalam rangka penerapan KTSP adalah sebagai berikut: melibatkan stakeholder mulai dari guru, orang tua siswa, masyarakat, sosialisasi KTSP melalui: seminar, lokakarya, pelatihan KTSP, pembagian tugas mulai dari membentuk tim KTSP, mengembangkan KTSP, struktur dan muatan kurikulum, pengembangan silabus, RPP dan format penilaian untuk setiap bidang studi; (b) penerapan KTSP di SDN Percobaan I Malang diawali pada semester II tahun ajaran 2006/2007 dengan menggelompokkan Kelas I, II, dan III menggunakan pendekatan tematik sedangkan Kelas IV, V, dan VI menggunakan pendekatan bidang studi, implementasi KTSP diterapkan pada siswa mulai dari struktur kurikulum sampai pendekatan pembelajaran yang diterapkan, sistem pembelajaran yang diterapkan di SDN Percobaan I Malang sangat beragam yaitu pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, terkait dengan pendekatan tematik dan kontekstual sekolah mengadakan kegiatan pembelajaran diluar sekolah yaitu sinau wisata. (3)Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Inovasi dalam Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Di SDN Percobaan I Malang: faktor-faktor pendukung: (1) tingginya motivasi dan kesadaran dari kepala sekolah beserta para guru dan staffnya untuk menjadikan SDN Percobaan I Malang menjadi sekolah yang unggul dan lebih baik ke depannya, (2) tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembelajaran siswa, (3)masuknya peran serta masyarakat yaitu orang tua siswa, kebijakan pemerintah, kerjasama dengan pihak luar, faktor-faktor penghambat antara lain: (1) SDM dalam hal ini kurangnya pengetahuan tentang KTSP, (2) jumlah siswa kurang ideal, (3) tempat yang terbatas. Peneliti memberikan saran kepada: (1) kepala SDN Percobaan I Malang dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya mampu mempertahankan inovasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang telah dicapai saat ini, (2) para guru di SDN Percobaan I Malang untuk lebih meningkatkan keberhasilan dalam penerapan KTSP dan juga bersikap terbuka untuk setiap perubahan yang terjadi, (3) mahasiswa jurusan administrasi pendidikan, dapat digunakan sebagai bahan informasi dan dapat digunakan sebagai salah satu kajian untuk mengembangkan ilmu manajemen pendidikan, (4) jurusan administrasi pendidikan sebagai kajian khususnya yang berkaitan dengan ilmu manajemen pendidikan secara umum dan secara khusus ilmu kepemimpinan pendidikan. (5) peneliti lain, sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan sebagai dasar melakukan penelitian yang serupa atau penelitian lanjutan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

Peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli pada siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Panggungrejo tahun ajaran 2009/2010 dengan menggunakan metode bermain / Atik Setyawati

 

Kata kunci: peningkatan, keterampilan passing bawah bolavoli, metode bermain, SMP Negeri 1 Panggungejo Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar, memegang peranan penting dalam rangka pembentukan sikap dan pengetahuan serta budi pekerti yang dapat menunjang proses pertumbuhan serta mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik yang lebih baik dari apa yang telah mereka dapatkan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pendidikan Jasmani dan kesehatan merupakan salah satu bidang studi yang menjadi muatan dalam kurikulum SMP, Permainan dan olahraga merupakan salah satu ruang lingkup dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani olahraga dan kesehatan yang terdapat di dalam standar kompetensi Sekolah Menengah Pertama Kelas VII semester Gasal. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu permainan bolavoli pada kelas VII Semester Gasal salah satu materi pokoknya adalah passing bawah. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan bahwa dalam melakukan permainan bolavoli siswa kesulitan saat melakukan passing bawah, kesulitan ini karena kesalahan pada gerakan teknik dasar passing bawah. Kesalahan yang sering terjadi yaitu pada teknik cara pegangan tangan dan perkenaan bola. Kesalahan gerakannya cenderung pada saat bola datang lengan tidak lurus dan teknik pegangan tangan yang dilakukan salah, banyak siswa yang melakukan pegangan tangan dengan cara mengepalkan kedua tangannya, ada juga yang satu tangannya dibuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli pada siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Panggungrejo tahun ajaran 2009/2010 dengan menggunakan metode bermain. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Panggungrejo dengan jumlah subyek penelitian yaitu 39 orang siswa kelas VII F. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan persentase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada siklus pertama adalah tingkat kesalahan paling tinggi pada teknik perkenaan bola yaitu 38,46% dan untuk gerakan perkenaan bola yang sudah benar adalah 61,54% dengan kategori cukup baik, kemudian naik menjadi 74,36% masih dengan kategori cukup baik yang tingkat kesalahannya adalah 25,64%. Kemudian masih ada beberapa teknik dasar passing bawah yang lain yang juga tingkat kesalahannya banyak yaitu pada arah bola 15,38%, cara pegangan tangan 10,26%, lengan lurus 13,89%, sikap kaki 5,13%. Pada siklus 1 tingkat kesalahan yang pada umumnya terjadi pada gerakan perkenaan bola dari 38,46% menjadi 25,64% dapat diartikan gerakan yang benar adalah dari 61,54% menjadi 74,36% dan dikategorikan cukup baik, meskipun dalam siklus 1 ini masih tetap dalam kategori cukup baik akan tetapi sudah mulai ada peningkatan pada teknik gerakan perkenaan bola. Pada siklus 2 tingkat kesalahan yang pada umumnya terjadi pada gerakan perkenaan bola dari 17,95% menjadi 0% dapat diartikan gerakan yang benar adalah dari 82,05% menjadi 100% dan dikategorikan baik. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa metode bermain dapat meningkatkan keterampilan passing bawah bolavoli siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Panggungrejo, yang dilakukan selama enam kali tindakan. Dalam peningkatan keterampilan passing bawah atau keterampilan yang lainnya pada siswa, hendaknya guru memberikan banyak variasi metode bermain yang lebih seru, lebih disukai siswa, dan lebih baik serta lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan passing bawah siswa.

Pengembangan multimedia pembelajaran sains pokok bahasan sumber daya alam di SD Muhammadiyah Sidayu Gresik / Nur Yanita

 

Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia Pembelajaran, Sains Media CD Interaktif merupakan perwujudan dari multimedia. Multimedia merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan manfaat atau nilai tertentu, karena dalam penyampaianya memadukan unsur audio, visual serta interaktifitas sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan observasi awal di lapangan di sekolah SD Muhammadiyah Sidayu Gresik hanya menggunakan metode ceramah atau lisan dan media sederhana yang berupa buku cetak dalam proses pembelajaran meskipun di sana tersedia sarana belajar yang memadahi, selain itu juga metode lain yang digunakan adalah dengan memberikan tugas yang ada dalam buku cetak. Penyampaian materi dengan menggunakan metode-metode tersebut dirasa kurang efektif karena hanya neningkatkan kemampuan kognitif verbalnya saja. Waktu yang terbatas dan banyaknya materi-materi sumber daya alam jika hanya menggunakan media sederhana dan metode lisan dalam penyampaianya akan terasa menoton dan membosankan. Dalam materi sumber daya alam juga terdapat pokok bahasan mengenai macam-macam sumber daya alam, materi tersebut banyak terdapat gambar macam-macam sumber daya alam beserta hasilnya yang apabila visualnya dipadukan dengan gerakan-gerakan dan audio akan lebih menarik dan meningkatkan motivasi serta hasil belajar siswa sehingga mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan multimedia dirasakan cocok untuk memecahkan masalah tersebut di atas, karena multimedia mempunyai unsur-unsur yang berupa teks, gambar serta audio sehingga banyaknya materi akan tersampaikan dalam waktu yang tidak lama. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan sumber belajar yang berupa multimedia yang didesain dalam bentuk CD Interaktif . Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk multimedia pembelajaran Sains SD kelas IV yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SD Muhammadiyah Sidayu Gresik kelas IV A. jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari vaidasi ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa CD interaktif Mata pelajaran Sains pokok bahasan “ Sumber Daya Alam” yang tevalidasi atau layak digunakan. Validasi tersebut dilakukan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media berdasarkan kriteria kelayakan multimedia pembelajaran dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 83,75%, 2) data ahli materi berdasarkan kriteria kelayakan multimedia pembelajaan dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 84,6%, 3) data siswa perseorangan, kelompok kecil dan uji coba lapangan hasil yang diperoleh adalah 83,3%, 89% dan 90,5% sehingga berdasarkan kriteria kelayakan multimedia pembelajaran dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) pada data hasil pre-test dan post-test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 66,7% menjadi 100% dengan demikian menurut kriteria kelayakan multimedia yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran, 5) pada data hasil pre-test dan post-test siswa kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 66,7% menjadi 99,8%, 6) pada data hasil pre-test dan post-test uji coba lapangan terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 37,1% menjadi 80% dengan demikian menurut kriteria kelayakan multimedia yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah multimedia pembelajaran yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan secara umum adalah: (1)bagi Kepala Sekolah, menginstruksikan kepada guru untuk menggunakan atau mengembangkan media-media yang sesuai(termasuk multimedia),(2) bagi Guru, guru mata pelajaran hendaknya segera menggunakan multimedia pembelajaran dan lebih terampil dalam menggunakan dengan cara berlatih. (3) bagi Siswa, siswa sebelum menggunakan media ini harus terlebih dahulu menguasai dalam mengoperasikan komputer. (4) bagi Pengembang yang lain, diharapkan mengembangkan untuk pembelajaran yang lain (di kelas, mata pelajaran, materi pokok yang lain). Sedangkan saran secara khusus, sebelum pelaksanaan hendaknya guru membaca pedomaan penggunaan, menyiapkan sarana yang akan digunakan, berlatih dalam menggunakan media. Selama pelaksanaan harus sesuai dengan pedoman pemanfaatan, selalu mengecek siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Setelah pelaksanaan guru memperhatikan perubahan hasil belajar siswa.

Kolerasi antara persepsi gaya kepimpinan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom cabang Blimbing Malang / Aminatul Zuhriyah

 

Kata Kunci : Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional, Komitmen Organisasi Komitmen organisasi karyawan merupakan orientasi seseorang pada organisasi tempatnya bekerja, sehingga bersedia menyumbangkan tenaganya dan mengikat dirinya melalui aktivitas-aktivitas dan keterikatan dalam organisasi untuk mencapai tujuan atau kesuksesan organisasi. Persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan transformasional sangat diperlukan untuk meningkatkan komitmen organisasi dan tercapainya tujuan organisasi dengan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan transformasional pimpinan (2) tingkat komitmen organisasi pada karyawan (3) korelasi antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang. Rancangan penelitian yang digunakan deskriptif-korelasional dengan subyek penelitian karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang berjumlah 52 orang. Instrumen yang digunakan adalah Skala Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Skala Komitmen Organisasi model Likert. Analisis deskriptif menggunakan mean dan standar deviasi. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan transformasional pimpinan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang pada tingkat sedang yaitu sebesar 63,46% (33 orang), (2) tingkat komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang pada tingkat sedang yaitu sebesar 61,54% (32 orang), (3) terdapat korelasi positif antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang (rxy= 0,355; p=0,010). Ini berarti hipotesis penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah: (1) pimpinan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang hendaknya memperhatikan gaya kepemimpinan transformasional sebagai salah satu faktor penunjang komitmen organisasi pada karyawan, (2) diharapkan kepada karyawan untuk lebih melibatkan diri dan bersedia memberikan segala kemampuannya, (3) diharapkan kepada perusahaan merealisasikan satu set etika kerja yang dikenal sebagai The TELKOM Way 135.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran manajemen perkantoran (studi pada siswa kelas X SMK ardjuna 01 Malang) / Rani Setyowati

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran kooperatif yang dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar adalah Teams Games Tournament (TGT). Pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab penuh untuk memahami materi pelajaran baik secara berkelompok maupun individual. Penelitian ini bertujuan untuk pemilihan model Teams Games Tournament (TGT) sebagai focus penelitian ini, disebabkan model TGT memiliki potensi lebih daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa melalui system saling membantu. Suasana belajar kooperatif menghasilkan hasil belajar yang lebih baik, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik daripada suasana belajar konvensioanl. Hal ini yang mendorong peneliti untuk memilih pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) di dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui; 1) Penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Manajemen Perkantoran kelas X APK di SMK Ardjuna 01 Malang, 2) Penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa di SMK Ardjuna 01 Malang, dan 3) Hambatan-hambatan dan solusi-solusi dalam pelaksanaak pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) di SMK Ardjuna 01 Malang. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APK di SMK Ardjuna 01 Malang dengan jumlah 21 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui; 1) observasi, 2) tes, 3) catatan lapangan, 4) dokumentasi, dan 5) wawancara. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan yaitu; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Berdasarkan hasil observasi pada aktivitas belajar siswa yang dilakukan di setiap siklus, diketahui adanya peningkatan yang “sangat baik” terhadap penerapan pembelajran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT), 2) setelah adanya penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar siswa lebih baik dibandingkan dengan sebelum adanya penerapan pembelajarn iv   kooperatif model TGT, 3) Hamabatan yang dialami peneliti dalam penelitian penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) adalah; 1) Tahapan proses belajar yang cukup banyak, 2) Alokasi waktu yang kurang efektif pada siklus I, 3) Metode ini membutuhkan pengalokasian waktu yang tidak sedikit, 4) Membutuhkan media belajar yang cukup banyak, dan 5) Adanya perilaku dan karakteristik siswa yang mengarah pada keterlambatan belajar secara personal. Solusi untuk mengatasai hambatan yang dihadapi adalah; 1) Perencanaan alokasi waktu secara matang, 2) Membantu siswa dalam pengaturan tempat duduk dalam kelompok dan memberi pengarahan kepada siswa untuk membagi tugas dalam mengerjakan diskusi kelompok, 3) Persiapan media belajar, dan 4) Melakukan pendekatan secara personal. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu; 1) Bagi Kepala SMK Ardjuna 01 Malang, untuk memberikan motivasi kepada semua guru mata pelajaran agar menerapkan pembelajaran kooperati model TGT dalam proses belajar mengajarnya, 2) Bagi guru mata pelajaran Manajemen Perkantoran SMK Ardjuna 01 Malang untuk mencoba menerapkan pebelajaran kooperatif model TGT pada bahasan yang lain karena siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran metode ini dan dapat mengimplementasikan metode TGT pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, 3) Bagi siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan 4) Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif yang lebih bervariasi sehingga kemampuan dan hasil belajar siswa lebih meningkat lagi.

Penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III-B SDN Pagentan 02 Singosari - Malang / Witayah

 

Kata Kunci : Meningkatkan prestasi hasil belajar dan metode eksperimen. Pembelajaran IPA merupakan pelajaran yang kurang menyenangkan bagi siswa karena guru hanya menerapkan metode ceramah, sehingga nilai hasil belajar siswa rendah sesuai dengan dokumen ulangan harian siswa kelas III SDN Pagentan 02 Singosari tahuan pelajaran 2009/2010 tentang ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup nilai rerata siswa mencapai 50,00 yang tidak dapat memenuhi SKM untuk mata pelajaran IPA 65. Permasalah tersebut dicoba diatasi dengan penerapan metode eksperimen pada pembelajaran IPA kelas III untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA dalam pembelajaran ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup. Metode eksperimen adalah metode yang memungkinkan siswa terlibat aktif secara fisik dan mental dalam pembelajaran. Eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian sederhana yang dikembangkan oleh Yang meliputi tiga langkah yaitu : (1) pengajuan masalah, (2) pelaksanaan percobaan untuk pengamatan, dan (3) pengambilan kesimpulan. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas model siklus yang dikembangkan oleh Lewin, Kurt dalam Akbar, Sa’dun (2009:27) dengan model guru sebagai peneliti. Alur setiap siklus PTK meliputi 4 kegiatan yaitu : (1) planning, (2) action, (3) observing, dan (4) reflekcting. Dalam setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas III SDN Pagentan 02 Singosari Malang. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, dan soal tes. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini meliputi tiga siklus. Keaktifan kelompok siklus I adalah 65,82, siklus II adalah 74,71, siklus III adalah 86,20 dengan peningkatan dari siklus I ke siklus II 8,89%. Nilai individu sebelum tindakan 50,00, siklus I adalah 80,00, siklus II adalah 88,57. Peningkatan sebelum siklus ke siklus I 30,00% kategori tinggi, siklus I ke siklus II 8,57% kategori rendah. Meskipun peningkatan setiap tindakan menurun tetapi dalam setiap tindakan tetap mengalami peningkatan. Berdasarkan peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa pembelajaran IPA tentang ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup yang diterapkan pada siswa kelas III SDN Pagentan 02 Singosari Malang dengan menggunakan metode eksperimen. Maka layaklah metode eksperimen dijadikan alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Implementasi kebijakan pendidikan sistem ganda untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMK Negeri 2 Blitar / Aprilia Susanti

 

Kata kunci: implementasi kebijakan PSG, kualitas pendidikan Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat Indonesia untuk menghadapi era globalisasi dan dapat bersaing dengan negara lain. Kualitas sumber daya manusia ini dalam pelaksanaanya diutamakan untuk peningkatan kualitas lulusan pendidikan. Untuk mewujudkan hal terebut, pemerintah menciptakan suatu kebijakan terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah kejuruan, kebijakan tersebut adalah implementasi program pendidikan sistem ganda. Pendidikan sistem ganda adalah suatu penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematik antara pendidikan di sekolah dengan program yang ada di dunia industri melalui praktik secara langsung dan sesuai dengan bidang keahlian tertentu juga untuk mencapai suatu tingkat keahlian tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan pendidikan sistem ganda untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif oleh peneliti, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus observasional. Teknik pengambilan data yang digunakan ada tiga metode yaitu observasi nihil, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Teknis analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman meliputi reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi, meliputi triangulasi sumber dan metode. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukan bahwa: (1) implementasi kebijakan PSG dilaksanakan dengan acuan UU yang berlaku. Kegiatan yang ada dalam proses perencanaan adalah penyusunan program kerja, penyusunan proposal kegiatan, pembagaian tugas pokja PSG untuk prakerin, penjelasan prakerin kepada siswa, pembagian kelompok calon peserta prakerin, pencarian DU/DI untuk prakerin, kemudian persiapan surat, buku panduan prakerin dan administrasi untuk prakerin. Seluruh kegiatan penyelenggaraan PSG diatur oleh Tim pokja sekolah. Kegiatan pelaksanaan diantaranya adalah pembekalan dan pendalaman terhadap siswa yang mengikuti prakerin, upacara pemberangkatan siswa ke industri, mengantarkan siswa ke pihak industri, siswa melaksanakan kegiatan prakerin di industri dengan dimonitoring oleh guru pembimbing, dan iv penjemputan siswa yang selesai melaksanakan kegiatan prakerin di industri. Kegiatan penilaian dalam hal ini ada 2 yaitu penilaian program dan penilaian terhadap kinerja siswa di industri. Penilaian program dilakukan oleh ketua pokja dibantu dengan kepala sekolah, sedangkan penilaian kinerja siswa dilakukan oleh industri dengan format penilaian dari sekolah. (2) Pelaksanaan PSG di SMK Negeri 2 Blitar dilakukan selama 6 bulan secara full di dunia kerja atau industri dilaksanakan dengan 2 periode dengan waktu dan tempat yang berbeda. (3) Terdapat beberapa faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan PSG di sekolah. (4) Terdapat indikator-indikator implementasi kebijakan PSG yang dapat meningkatkan kualitas siswa seperti halnya kedisiplinan dan ketrampilan siswa dan juga kesesuaian pihak yang diajak kerjasama. (5) Penyelenggaraan kebijakan PSG di sekolah memberikan dampak bagi ketrampilan siswa sehingga dapat meningkatkan kemandirian siswa, kualitas sumber daya manusia, produktivitas kerja dan juga menghasilkan kompetensi terhadap siswa. Berdasarkan kesimpulan dapat disarankan kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu: (1) bagi kepala sekolah untuk memberikan arahan, bimbingan dan juga optimalisasi kegiatan agar dapat berjalan lancar dan barmanfaat, (2) bagi ketua jurusan administrasi pendidikan untuk lebih mengembangkan mata kuliah yang berhubungan dengan penelitian ini dengan pengetahuan yang lebih mengacu pada perkembangan yang ada, (3) bagi guru sekolah untuk menjadi seorang pembimbing yang melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan ketentuan yang ada, sehingga dapat memperlancar program, (4) bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Blitar untuk membantu mempermudah sekolah dalam menciptakan kerjasama dengan pihak DUDI yang berkembang dan berkualitas, (5) bagi peneliti lain untuk lebih memperkuat hasil penelitian dengan menggunakan variabel dan pendekatan yang berbeda agar memperoleh hasil penelitian yang lebih sempurna.

Pengembangan bahan ajar tekstual berbantuan rekaman audio sebagai audio acaffolds mata pelajaran bahasa inggris bagi siswa kelas VII SMP/MTs di lingkungan Lemabaga Pendidikan Maarif NU Sidoarjo / Sugeng Susilo Adi

 

Kata Kunci: Pengembangan, rekaman audio, scaffolding, audio lingual Pengembangan ini bertujuan untuk pertama, meneliti, mengembangkan, menguji, dan memvalidasi bahan ajar mata pelajaran bahasa Inggris berbantuan audio sebagai scaffolds untuk siswa kelas VII SMP dan MTs di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sidoarjo. Kedua, pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk pembelajaran berupa bahan ajar tekstual berbantuan rekman audio yang terdiri dari komponen-komponen pembelajaran berupa: (1) produk audio pembelajaran berupa rekaman suara Bahasa Inggris yang disimpan dalam Compact Disks (CD) dan kaset, (2) bahan ajar tekstual, dan (3) panduan guru. Alasan pengembang melakukan pengembangan ini adalah karena adanya permasalahan bahan ajar mata pelajaran Bahasa Inggris di beberapa SMP dan MTs khususnya di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sidoarjo yang tidak menyediakan aktivitas berbantuan audio untuk latihan keterampilan menyimak (listening), sehingga siswa tidak mendengar bahasa otentik (authentic language). Beberapa bagian bab yang berisi tentang aktifitas listening yang ada dalam buku tersebut hanya berupa perintah kepada siswa untuk menyimak atau menirukan suara guru. Pengembang beranggapan bahwa pemecahan masalah dengan produk (solution by product) akan menjadi salah satu alternatif pemecahan atas ketidakberhasilan pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah menengah umum khususnya Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain itu, pengembang juga beranggapan bahwa perlu dikembangkan bahan ajar berbantuan audio yang berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang memudahkan belajar siswa karena input bahasa yang paling mudah untuk diproses adalah input suara yang diterima melalui proses listening. Pada awal proses pembelajaran, sebelum siswa belajar membaca dengan baik, adalah listening yang merupakan keterampilan yang paling mempunyai kedekatan hubungan dengan makna dalam bahasa baru yang dipelajari. Metode pengembangan ini menggunakan silklus penelitian dan pengembangan (R&D Cycle) dari Borg & Gall (1983) yang dimodifikasi. Alasan pemilihan R & D cycle ini adalah karena pertama, tujuan pengembangan ini adalah mengembangkan, menguji, dan memvalidasi produk pembelajaran, dan R & D cycle adalah metode tepat yang sesuai dengan tujuan pengembangan ini; dan kedua, R & D cycle memiliki beberapa karakter yang sesuai dalam proses pengembangan produk bahan ajar yang ideal, diantaranya: R & D cycle dapat melibatkan kolaboroasi berkelanjutan antara praktisi dan peneliti, dan R & D cycle dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek. Data yang diperoleh dari uji coba produk bahan ajar tekstual berbantuan audio ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran perbaikan yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. Sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui nilai pretest dan posttest dari uji lapangan. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dokumentasi, diskusi dan konsultasi, wawancara, dan kuesioner. Data yang dihimpun melalui serangkaian uji coba dibedakan berdasarkan fungsinya menjadi: (1) data dari uji coba ahli yaitu review untuk merevisi produk pengembangan, (2) data dari uji coba lapangan awal dan dari subjek guru mata pelajaran dipergunakan untuk merevisi produk, dan (3) data dari uji coba lapangan utama berfungsi untuk mengetahui kelayakan dan efektifitas produk. Dalam analisis data digunakan dua teknik analisis yang diperoleh dari hasil review ahli dan uji coba produk, yaitu dengan menggunakan analisis isi dan analisis statistik deskriptif. Analisis isi digunakan untuk mengolah data dan hasil wawancara dan diskusi dengan guru pengajar mata pelajaran serta hasil uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan utama. Analisis isi ini dilakukan dengan mengelompokkan informasi-informasi dari data kualitatif yang berupa masukan, tanggapan, kritik, saran perbaikan yang terdapat di dalam kuesioner. Hasil analisis ini kemudian digunakan sebagai dasar merevisi produk pengembangan. Sedangkan analisis statistik deskriptif dipergunakan untuk mengolah data hasil uji coba yang bersifat kuantitatif yang dihimpun dari pretest, posttest dan nilai unjuk kerja individu siswa. Untuk menganalisis data dari uji lapangan utama digunakan rumus uji t sampel independen dengan bantuan software SPSS terbaru. Berdasarkan hasil penilaian ahli, guru, dan ujicoba lapangan atas produk pengembangan berupa bahan ajar berbantuan rekaman audio, telah diperoleh hasil bahwa produk pengembangan ini dinilai layak dan telah mampu memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil uji lapangan terhadap kelas eksperimen dalam pengembangan ini menunjukkan bahwa penilaian siswa menunjukkan prosentasi sebesar 86,75% untuk bahan ajar tekstual dan 87,19 % untuk rekaman audio. Hasil posttest kelas eksperimen yang menggunakan produk pengembangan juga menunjukkan perbedaan yang signifikan dibanding kelas kontrol yang menggunakan paket pembelajaran yang lain. Selain itu, hasil unjuk kerja individu siswa kelas eksperimen menunjukkan bahwa mereka mempunyai unjuk kerja berbahasa Inggris yang baik dengan angka-angka prosentasi sebagai berikut: Siswa yang menunjukkan unjuk kerja sangat baik adalah yang paling tinggi prosentasenya yaitu sebesar 53,88%, sedangkan yang baik sebesar 30,38 %. Siswa yang menunjukkan unjuk kerja cukup sebesar 15,08%. Produk pengembangan yang telah dikembangkan dan direvisi berdasarkan uji coba memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan perangkat pembelajaran lain. Hal ini dapat dilihat dari 2 hal. Pertama, produk pengembangan berupa media rekaman audio yang dihasilkan dari pengembangan ini mampu berfungsi sebagai scaffolds karena memberikan bantuan belajar kepada siswa khususnya untuk mampu melafalkan kata, frasa dan kalimat dengan akurasi dan kejelasan yang berterima. Selain itu, rekaman audio juga mampu memberikan input yang memadai unuk pengkonstruksian pengetahuan dan keterampilan berbahasa Inggris siswa. Kedua, strategi pembelajaran Audio Lingual Communicative (ALC) yang memadukan metode Audio Lingual Method dengan Communicative Language Teaching (CLT) yang diterapkan dalam desain pembelajaran dari pengembangan ini dapat disimpulkan sebagai strategi yang tepat untuk konteks pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs di lingkungan LP Ma’arif NU Sidoarjo. Konteks tersebut adalah kelas besar yang terdiri dari sedikitnya 40 orang siswa, sekolah yang tidak memiliki laboratorium bahasa, siswa yang terbiasa dengan bahan ajar yang berbasis latihan tertulis (written based exercises), dan guru yang menjadi figur sentral dalam pengajaran.

Pengaruh minyak biji jarak pagar (Japropha curcas L.) aksesi HS 35 dan SP 115 sebagai insektida nabati terhadap mortalitas ulat buah Helicoverpa armigera hubner / Emi Yuliastuti

 

Kata kunci: Minyak biji jarak pagar, Insektisida nabati, Mortalitas, Ulat buah Minyak biji jarak pagar memiliki kandungan senyawa kimia, yaitu kursin, forbol ester dan trigliserida. Senyawa kimia tersebut dapat mengendalikan hama utama pada tanaman kapas (Helicoverpa armigera Hubner). Hama ini merusak tanaman kapas pada stadia larva/ulat dengan cara memakan daun, bunga dan buah kapas. Pengendalian hama dengan menggunakan insektisida nabati lebih baik dibandingkan dengan menggunakan insektisida sintetik. Insektisida nabati merupakan insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan dan bersifat mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian berbagai konsentrasi larutan minyak biji jarak pagar (J. curcas) terhadap mortalitas ulat buah H. armigera, untuk mengetahui pada konsentrasi dan waktu berapakah minyak biji jarak pagar (J. curcas) dan interaksinya yang efektif berpengaruh terhadap mortalitas ulat buah H. armigera, serta mengetahui pengaruh efek lanjutannya. Jenis penelitian ini adalah adalah eksperimen faktorial. Penelitian dilakukan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso-Malang, pada bulan Februari-Mei 2010. Perlakuan terdiri atas dua aksesi minyak biji jarak pagar (aksesi HS 35 dan SP 115 dengan berbagai konsentrasi yaitu: (1) kontrol air, (2) kontrol air+detergen, (3) 5 ml MJP, (4) 10 ml MJP, (5) 20 ml MJP, (6) 40 ml MJP. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan 4 ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari 25 botol vial, masing-masing botol vial terdiri dari 1 ekor ulat. Pengamatan dilakuan pada 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam dan 120 jam setelah perlakuan, dengan variabel pengamatan mortalitas, berat ulat pre pupa (instar 6), berat pupa dan persentase telur tetas. Objek dalam penelitian ini berupa ulat instar dua. Analisis data menggunakan anava ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: konsentrasi insektisida nabati minyak biji jarak pagar (J. curcas) berpengaruh terhadap mortalitas ulat buah H. armigera. Perlakuan dengan minyak biji jarak pagar (MJP) aksesi HS 35 asal Nusa Tenggara Timur dan aksesi SP 115 asal Sulawesi Selatan pada konsentrasi 20 ml MJP sudah cukup efektif mengakibatkan mortalitas ulat buah H. armigera dengan mortalitas masing-masing 43 % dan 48 %. Waktu 96 jam setelah penyemprotan mengakibatkan mortalitas ulat buah H. armigera. Interaksi antara konsentrasi dan waktu berpengaruh terhadap mortalitas ulat buah H. armigera. Bahan kimia yang terdapat dalam minyak biji jarak pagar dapat mempengaruhi serangga H. armigera mulai larva/ulat, pre pupa (instar 6), pupa, imago dan persentase telur tetas. Nilai LC50 dapat digunakan sebagai rekomendasi penggunaan insektisida nabati minyak biji jarak pagar.

Pengembangan media pembelajaran dalam bentuk buku paket digital untuk mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang / Hendrik Kiswanto

 

Kata kunci: pengembangan, media pembelajaran, buku paket digital, Seni Budaya, Seni Rupa. Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah menciptakan berbagai media pembelajaran baru yang dianggap lebih menunjang proses pembelajaran. Salah satu hal yang menunjang proses pembelajaran adalah adanya sumber belajar yang mendukung. Seni rupa sebagai salah satu bidang dalam mata pelajaran Seni Budaya memiliki peranan sendiri dalam mengembangkan sensitivitas dan kretivitas perlu media yang lebih mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam observasi yang dilakukan di SMP Negeri 01 Malang ditemukan bahwa terdapat masalah kurangnya pemahaman siswa dari penjelasan guru Seni Budaya karena metode yang digunakan masih terbatas pada metode konvensional, yakni ceramah. Perihal penggunaan media pembelajaran pun masih terbatas pada contoh-contoh gambar serta bahan ajar yang dikembangkan sendiri oleh guru Seni Budaya. Oleh karena itu guna meningkatkan kualitas pembelajaran, maka diupayakan mengembangkan sebuah media yang dapat membantu peserta didik untuk dapat memahami esensi materi Seni Budaya bidang Seni Rupa. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan dan menghasilkan suatu rancangan media pembelajaran dalam bentuk buku paket digital sebagai sumber belajar, diujicobakan keefektifan prototype-nya untuk siswa kelas VIII dalam mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa di SMP Negeri 01 Malang. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan hasil adaptasi dari model pengembangan milik Sadiman. Subjek uji coba media pembelajaran ini adalah seorang ahli media pembelajaran selaku validator media, seorang ahli materi, yaitu guru mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 01 Malang, dan responden yang terdiri dari siswa kelas VIII yang dipilih secara acak. Instrumen dalam penelitian pengembangan ini adalah format penilaian berupa angket. Hasil pengembangan media pembelajaran ini berupa satu keping CD berisi buku paket digital yang memuat mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa cakupan semester satu. Hasil uji coba produk dalam pengembangan media ini berupa data kuantitatif dengan prosentase ahli media mencapai tingkat kevalidan 91%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 97%, dan uji kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 95%. Berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran ini, dapat disarankan untuk dimanfaatkan secara maksimal baik oleh siswa dan guru Seni Budaya terkait dan untuk pengembang selanjutnya agar memaksimalkan esensi materi daripada visualisasi media demi menghindari efek redudansi agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang antara yang tinggal di rumah dan yang tinggal di asrama / Khairul Bariyyah

 

Kata kunci: Kemandirian, Tinggal di Rumah, Tinggal di Asrama. Kemandirian adalah aktivitas seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian diperoleh siswa tentu berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Perbedaan kemandirian dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah tempat tinggal yang memungkinkan individu memiliki pengalaman yang berbeda. Tempat tinggal anak dalam penelitian ini dibedakan antara tempat tinggal di rumah dan tempat tinggal di asrama. Masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimanakah keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah? (2) Bagaimanakah keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di Asrama? (3) Adakah perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dengan yang tinggal di Asrama. Tujuan penelitian ini adalah (1) Diperoleh deskripsi mengenai keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah. (2) Diperoleh deskripsi mengenai keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di Asrama. (3) Diperoleh deskripsi mengenai perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dengan yang tinggal di Asrama. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan deskriptif komparatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dan siswa yang tinggal di asrama. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratifield proportional random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kemandirian. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan persentase tingkat kemandirian siswa yang tinggal di rumah sedikit (37,7%) pada tingkat kemandirian tinggi, banyak (61,4%) pada tingkat kemandirian sedang dan sangat sedikit (9%) pada tingkat kemandirian rendah. Untuk tingkat kemandirian siswa yang tinggal di asrama banyak (70,1%) pada tingkat kemandirian tinggi, sedikit (29,9%) pada tingkat kemandirian sedang dan sangat sedikit (0%) siswa yang berada pada tingkat kemandirian rendah. Sedangkan uji T diketahui bahwa nilai p sebesar 0,000 < 0,05 diartikan hipotesis berbunyi ada perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dan yang tinggal di asrama dapat di terima. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini, diajukan saran (1) hendaknya konselor memberikan layanan konseling kepada siswa yang memiliki tingkat kemandirian rendah serta dapat menjadikan asrama sebagai alternatif membantu siswa yang berada pada kategori tersebut. Konselor juga dapat memberikan layanan pemeliharaan dan pengembangan bagi siswa yang berada pada kategori tingkat kemandirian tinggi. (2) Khususnya peneliti dengan topik yang sama hendaknya menggunakan instrumen pengumpul data yang lain seperti observasi dan wawancara sehingga dapat diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika materi keliling dan luas segi empat dan segitiga pada siswa kelas VII SMP Negeri 7 Malang / Ratih Mufidah Kusfianti

 

Kata Kunci : TSTS, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Melalui kegiatan observasi dan wawancara, diketahui bahwa motivasi belajar siswa SMP Negeri 7 Malang sangat kurang. Hal disebabkan kurangnya motivasi ekstrinsik yakni perhatian dari orang tua. Kurang termotivasinya siswa dalam belajar berdampak pula pada hasil belajar siswa. Lebih dari 50% siswa mendapatkan nilai di bawah SKM yaitu minimal 67. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan penerapan model pembelajaran yang bervariasi dan mulai mengurangi metode ceramah. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 7 Malang serta untuk mendapatkan deskripsi tentang proses pembelajaran tipe TSTS yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 7 Malang pada bulan April – Mei 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 7 Malang yang berjumlah 40 orang. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket motivasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil tes yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor tes yang dilaksanakan di setiap siklus. Siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai nilai minimal 67 dan daya serap klasikal minimal 85% dari jumlah siswa yang mengikuti tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Skor motivasi rata- rata angket sebelum tindakan 154,6 atau 77,3% meningkat menjadi 170,86 atau 85% setelah pelaksanaan tindakan. Rerata kelas dari hasil evaluasi di siklus II juga mengalami peningkatan, pada saat siklus I sebesar 57,8 dan hasil belajar setelah tindakan sebesar 78,8 dengan peningkatan sebesar 11,4. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 25% dan pada siklus II meningkat menjadi 85%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 60%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa guru dapat menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TSTS dalam proses pembelajaran sebagai variasi dalam pembelajaran Matematika.

Upaya meningkatkan kualitas produk media fisika melalui model pembelajaran berbasis proyek bagi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM / M. Dewi Manikta Puspitasari

 

Kata kunci: kualitas produk media fisika, pembelajaran berbasis proyek Berdasarkan hasil diskusi dengan dosen pembina matakuliah Perkembangan Media Pembelajaran Fisika diperoleh informasi bahwa cara pembelajaran yang selama ini dilakukan dosen pembina matakuliah belum tepat dan masih individual. Cara belajar dan mengajar selama ini cenderung tidak memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk saling belajar antarmahasiswa. Cara belajar individual cenderung bersifat kompetitif yang akhirnya hanya mahasiswa yang pandai saja yang mencapai tujuan, sedangkan mahasiswa yang kurang pandai tetap tertinggal. Sehingga terdapat kesenjangan nilai yang dicapai dan menunjukkan masih rendahnya kualitas produk media yang dihasilkan mahasiswa. Model pembelajaran yang menekankan adanya pembelajaran kelompok secara kolaboratif adalah model pembelajaran berbasis proyek. Model pembelajaran berbasis proyek memungkinkan meningkatkan kualitas produk media fisika mahasiswa. Adapun tujuan pada penelitian ini, diantaranya (1) mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kualitas produk media fisika yang dihasilkan mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM pada perkuliahan Pengembangan Media Pembelajaran Fisika dan (2) untuk mengetahui kualitas produk media fisika yang dihasilkan mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM pada perkuliahan Pengembangan Media Pembelajaran Fisika melalui model pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan kondisi di atas, maka dilakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka untuk meningkatkan kualitas produk media fisika mahasiswa. Oleh karena itu, dalam penelitian tindakan kelas ini tindakan yang diberikan adalah memberi tindakan proses pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini menggunakan dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap menetapkan tema proyek, menetapkan konteks belajar, merencanakan aktivitas, memproses aktivitas, dan penerapan aktivitas. Subyek penelitian adalah mahasiswa offering D kelas B Jurusan Fisika FMIPA UM berjumlah 30 mahasiswa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan persentase keterlaksanaan pembelajaran berbasis proyek pada siklus I sebesar 82,35% menjadi 94,12% pada siklus II dapat meningkatkan kualitas produk media fisika mahasiswa offering D kelas B Jurusan Fisika FMIPA UM. Peningkatan kualitas produk fisika dibuktikan dengan hasil siklus I nilai rata-rata produk media fisika adalah 80,97 dan mengalami peningkatan pada siklus II yang nilai rata-rata produk media fisika adalah 91,18. Atas dasar hasil penelitian, maka disarankan: (1) pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek akan mencapai tujuan pembelajarannya apabila tahap-tahap pembelajarannya terlaksana dengan baik, (2) dosen dapat menerapkan ii pembelajaran berbasis proyek untuk memberikan kesempatan kepada masingmasing individu belajar, berkreasi, dan membuat produk media, (3) dosen atau peneliti lain dapat menerapkan pembelajaran berbasis proyek sebagai salah satu metode pembelajaran untuk meningkatkan kualitas produk media fisika mahasiswa.

Hubungan prestasi belajar mata diklat pengelolaan usaha jasa boga dengan motivasi berwirausaha siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang / Veronika Prihatiningsih

 

Kata kunci: prestasi belajar, motivasi berwirausaha Prestasi belajar merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi siswa baik dari dalam maupun luar individu ketika mengikuti pembelajaran. Prestasi belajar berfungsi sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai. Mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga bertujuan untuk menumbuhkan motivasi berwirausaha siswa. Motivasi berwirausaha siswa terbagi menjadi dua jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui prestasi belajar mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga, (2) mengetahui motivasi berwirausaha siswa, dan (3) mengetahui hubungan prestasi belajar mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga dengan motivasi berwirausaha siswa. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian ex-postfacto correlational. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang yang terdiri dari dua kelas dengan total populasi 66 orang. Pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment. Dari hasil analisis data deskriptif menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang adalah cukup baik. Motivasi berwirausaha siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang pada umumnya cukup tinggi. Sedangkan berdasarkan korelasi Product Moment diperoleh koefisien korelasi 0,575, jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara prestasi belajar mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga dengan motivasi berwirausaha siswa kelas XI resto SMK Negeri 7 Malang dengan keeratan hubungan sedang. Disarankan agar siswa tetap mempertahankan prestasi belajar dalam mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga dan mewujudkan motivasi berwirausaha dengan memulai berwirausaha. Untuk guru agar lebih memotivasi siswa untuk berwirausaha dengan memberikan materi dan media pembelajaran yang mendukung. Saran untuk sekolah agar melengkapi fasilitas yang mendukung siswa untuk berwirausaha.

Pengembangan modul logika matematika kelas X beracuan konstruktivis sebagai penunjang pembelajaran pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) / Selviana Resti Riani

 

Kata kunci: Konstruktivis, Modul Matematika, Logika Matematika, RSBI. Pembelajaran konstruktivis merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada pembelajar di mana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan pengajar hanya sebagai fasilitator belajar. Salah satu bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran konstruktivis adalah modul. Pada lingkungan RSBI, kurikulum yang dilaksanakan adalah kurikulum reguler dan kurikulum luar seperti Cambridge yang mengharuskan pemakaian bahasa Inggris dalam setiap perangkat pembelajaran. Dipilihnya materi logika dalam pengembangan modul ini adalah karena pokokbahasan logika tidak termasuk dalam kurikulum Cambridge tetapi diajarkan pada RSBI, sehingga jarang ditemui bahan ajar materi logika dalam bahasa Inggris. . Modul dikembangkan dengan menggunakan pendekatan konstruktivis (pada aktivitas let’s try it) sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan logika matematika. Modul disajikan dalam bahasa Inggris dan dilengkapi dengan gambar untuk meningkatkan motivasi siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada pada modul. Modul terdiri dari lima kegiatan. Masing-masing kegiatan terdiri dari beberapa aktivitas antara lain check capability, recall, let’s try it, let’s complete it, student worksheets dan evaluation. Modul dilengkapi dengan umpan balik (follow up) di mana siswa dapat membandingkan hasil kerjanya dengan kunci jawaban dan menilainya sendiri. Prosedur dalam pengembangan modul terdiri dari tiga tahap yaitu (1) analisis pendahuluan, (2) penyusunan modul, dan (3) validasi dan revisi. Tahap analisis pendahuluan terdiri dari aktivitas mengkaji masalah modul, KTSP dan Cambridge, serta pendekatan konstruktivis. Tahap penyusunan modul terdiri dari aktivitas menentukan materi, merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun rancangan kegiatan belajar siswa, menyusun perangkat evaluasi, dan menyusun komponen kelengkapan modul. Tahap validasi dan revisi terdiri dari aktivitas validasi dan uji coba. Modul logika matematika telah divalidasi oleh 1 dosen Matematika Universitas Negeri Malang, 2 guru matematika pada RSBI yaitu guru SMA Negeri 4 Malang. Uji coba melibatkan 7 siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang. Hasil validasi maupun uji coba menunjukkan modul logika matematika sebagai penunjang pembelajaran pada RSBI adalah valid.

Gaya penyelesaian konflik narapidana lembaga pemasyarakatan klas IIA Mataram / Anugrawuri Handayani

 

Kata kunci: gaya penyelesaian konflik, narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram adalah salah satu lembaga pemasyarakatan yang ada di Indonesia. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada staf Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas, dapat diketahui bahwa sering terjadi konflik antar narapidana di lapas ini. Penyebab konflik yang terjadi cukup beragam, seperti penggunaan barang tanpa izin, salah paham, dan kehilangan barang. Salah satu hal yang patut untuk diperhatikan adalah bagaimana narapidana menyelesaikan konflik yang dialaminya di dalam lapas. Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui konflik yang terjadi pada narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram, 2) Untuk mengetahui sumber-sumber konflik yang terjadi pada narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram, 3) Untuk mengetahui gaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian basic or generic qualitative study. Lokasi penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sample. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi nonpartisipan. Keseluruhan data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik analisis basic or generic qualitative study. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan 1) ketekunan pengamatan, 2) triangulasi sumber dan metode, 3) generalisasi empiris, 4) verifikasi teori. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) Konflik yang terjadi pada narapidana adalah konflik antar individu dan konflik dalam diri individu, 2) Sumber-sumber konflik yang terjadi pada narapidana adalah tindakan salah satu pihak yang merugikan orang lain, salah paham, dan perasaan malu, 3) Gaya penyelesaian konflik narapidana adalah kompromi, memaksa, bantuan pihak ketiga, menghindar, memendam, dan pemecahan masalah. Gaya penyelesaian konflik memendam adalah meredam emosi negatif dengan mengalihkan ke hal lain sehingga tidak menjadi sumber konflik kembali. Berdasarkan hasil penelitian disarankan 1) Bagi narapidana, hendaknya dapat memilih gaya penyelesaian konflik yang efektif dan menghindari cara kekerasan dalam menyelesaikan konflik, seperti kompromi, bantuan pihak ketiga, dan pemecahan masalah, 2) Bagi lembaga pemasyarakatan, hendaknya dapat meredam sumber konflik sedini mungkin dan lebih intensif mengadakan kegiatan bagi narapidana, seperti pelatihan keterampilan kerja, kegiatan rohani, dan olahraga, 3) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya lebih memahami kehidupan narapidana di dalam lapas sehingga mempermudah pengumpulan data.

Penerapan media belajar multi dimensi untuk meningkatkan aktivitas dan pemahaman konsep pada pelajaran IPA kelas III di SDN Lakarsantri III - 474 Surabaya / Wahyu Supriyati

 

Kata kunci : Multi dimensi, aktivitas pemahaman konsep Rendahnya nilai hasil belajar IPA materi kenampakan permukaan bumi siswa kelas III dari perolehan data peneliti menjadi masalah yang perlu dicari penyebabnya, dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan meningkatkan aktivitas dan pemahaman konsep, serta diharapkan dapat digunakan dalam pengajaran pendidikan IPA di sekolah, yaitu pada materi IPA kelas III SD Bab kenampakan permukaan bumi. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi; (4) refleksi. Tehnik pengumpulan data yang digunakan: observasi, wawancara, dokumentasi, instrumen penelitian berupa LKS, lembar observasi siswa, format kerja kelompok. Analisis data yang digunakan berupa deskriptif kualitatif maupun deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SDN Lakarsantri III – 474 Surabaya mulai tanggal 05 April – 28 Juni 2010. Rancangan yang digunakan adalah rancangan PTK ”guru sebagai peneliti”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan media multi dimensi dapat meningkatkan hasil belajar siswa IPA kelas 3 SDN Lakarsantri III – 474 Surabaya. Hal ini dapat dilihat pada hasil belajar pada siklus I. Aktivitas 75% menjadi 91,75%. Pemahaman konsep pada siklus II 65% menjadi 75% pada siklus II. Berdasarkan hasil temuan dan simpulan dalam penelitian ini adalah bahwa penerapan pembelajaran dengan media tiga dimensi dapat meningkatkan aktifitas dan pemahaman konsep pembelajaran tentang kenampakan permukaan bumi.

Hubungan antara minat membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita (studi pada siswa kelas XI di SMK Negeri 7 Malang) / Heny Purnamawati

 

Kata Kunci : Minat, Membuat Pola, Menjahit, Kemampuan belajar, Membuat Busana Wanita Tuntutan pendidikan di bidang kejuruan yaitu SMK, merupakan bekal siswa dalam mencapai keberhasilan dalam menempuh masa depan. Semua hal tersebut dikembalikan lagi pada siswa sebagai seorang pelajar dan kepada guru sebagai orang yang memberikan pengajaran, karena berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar tergantung dari siswa dan guru, oleh karena itu minat dan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu hal, khususnya dalam bidang busana sangatlah diperlukan, baik untuk pelajaran teori maupun praktek. Faktor- faktor yang mempengaruhi minat adalah perhatian, disiplin, dan ketertarikan. Dari faktor tersebut dapatlah diukur minat siswa dalam membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara minat membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita baik secara parsial maupun secara simultan. Sedangkan responden dari penelitian ini adalah siswa kelas XI jurusan Tata Busana di SMK Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 34 orang. Penelitian ini termasuk dalam jenis rancangan penelitian Kolerasional. Peneliti menggunakan rumus korelasi Product Moment untuk mencari hubungan secara parsial dan menggunakan rumus Regresi berganda untuk mencari hubungan secara simultan. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan relibilitas dengan sampel uji coba sebanyak 34 responden. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Minat membuat pola memiliki nilai sig t = 0,000 lebih kecil dari nilai signifikan (α=0,05) sehingga pada peluang kesalahan 5% mempunyai hubungan terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita (2) Minat menjahit memiliki nilai sig t = 0,000 lebih kecil dari nilai signifikan (α=0,05) sehingga pada peluang kesalahan 5% mempunyai hubungan terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita (3)Secara simultan kedua variabel minat membuat pola dan minat menjahit memiliki hubungan yang signifikan terhadap kemampuan membuat busana wanita. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) terdapatnya hubungan positif signifikan antara minat membuat pola terhadap kemampuan membuat busana wanita, (2) terdapatnya hubungan positif signifikan antara minat menjahit terhadap kemampuan membuat busana wanita, dan (3) terdapatnya hubungan antara minat membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita. Untuk saran- saran yang dapat peneliti berikan antara lain: (1) dari pihak sekolah meningkatkan sarana dan prasarana untuk menunjang proses belajar mengajar (2) pengajar lebih memberikan dorongan dan semangat dalam proses belajar mengajar

Peningkatkan prestasi belajar dengan pendekatan berbasis aktivitas mata pelajaran IPA pada siswa kelas IV semester 2 SDN menanggal 601 surabaya / Ani Rosuliyah

 

Pengaruh penerapan model pembelajaran cooperative script terhadap hasil belajar geografi pada topik hidrosfer kelas X SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek / Wulan Dwi Permatasari

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model Cooperative Script, hasil belajar Berdasarkan pengamatan yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Durenan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut terjadi karena pola pembelajaran yang masih kurang bervariasi. Selain itu, hal tersebut juga berdampak pada hasil belajar siswa yang tidak optimal. Siswa tidak dapat menerima dan mengendapkan materi belajar lebih banyak yang disajikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar Geografi pada topik hidrosfer kelas X SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas X B sebagai kelas eksperimen dan kelas X A sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes untuk prates dan pascates. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan (Independent Samples Test) yang dapat diselesaikan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kntrol. Dari hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar siswa pada kelas eksperimen memiliki rata-rata sebesar 29,21 sedangkan pada kelas kontrol memiliki rata-rata 16,97 dengan nilai probabilitas (p) 0,000, sehingga ada pengaruh penerapan model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar Geografi siswa pada topik Hidrosfer. Disarankan bagi guru Geografi untuk menggunakan model pembelajaran Cooperative Script sebagai variasi model pembelajaran karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan model ini untuk materi selain topik Hidrosfer.

Manajemen pemasaran sekolah gratis (Studi kasus di SMP PGRI 1 Batu) / Syaiful Anwar

 

Kata kunci: manajemen, pemasaran sekolah, sekolah gratis Pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara Indonesia. Untuk itu seluruh masyarakat harus bisa merasakannya, jika dari masyarakat ada yang berkeberatan tentang biaya pendidikan yang mahal dari pihak pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan berupa pemberian dana bantuan operasional sekolah (BOS). Dengan adanya BOS diharapkan sekolah tidak memungut biaya dari siswa. Tetapi dalam kenyataanya banyak sekolah masih memungut biaya dari siswa. Untuk mengatasi hal ini harus ada sekolah gratis yang tidak memungut biaya dari siswa sama sekali atau gratis. Tetapi ada pendapat di kalangan masyarakat bahwa sekolah gratis tidak mutu dan tidak berkualitas. Untuk menepis pandangan ini maka sekolah harus melakukan kegiatan pemasaran dan promosi sekolah untuk memaparkan program-program sekolah yang dimiliki, seperti prestasi yang diraih, dan keunggulan sekolah. Kegiatan pemasaran bertujuan untuk menarik minat calon peserta didik. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih dalam tentang manajemen pemasaran sekolah gratis. Ada enam tujuan dalam penelitian ini: (1) mendeskripsikan prosedur perencanaan pemasaran sekolah gratis, (2) prosedur pengorganisasian pemasaran sekolah gratis, (3) mendeskripsikan prosedur pelaksanaan pemasaran sekolah gratis, (4) mendeskripsikan prosedur evaluasi pemasaran sekolah gratis, (5) mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pemasaran sekolah, (6) mendeskripsikan pemberdayaan faktor pendukung dan strategi penanggulangan faktor penghambat dalam pemasaran sekolah gratis. Penelitian ini dilakukan di SMP PGRI 1 Batu dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) observasi; (2) wawancara mendalam; (3) studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini adalah (1) reduksi data; (2) dispay data; (3) verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan beberapa cara yaitu: (1) ketekunan pengamatan; (2) triangulasi; (3) pengecekan anggota. Hasil penelitian menunjukkan: (1) prosedur perencanaan pemasaran sekolah gratis di SMP PGRI 1 Batu, diawali dengan rapat koordinasi antara guru dan kepala sekolah dalm rapat yang yang dibicarakan adalah teknik pemasaran, dana yang digunakan untuk pemasaran, (2) prosedur pengorganisasian pemasaran sekolah gratis, proses ini adalah pembagian tugas dan penerbitan SK kepanitiaan kegiatan pemasaran, (3) prosedur pelaksanaan pemasaran sekolah gratis. Proses pelaksanaan dilakukan dengan 3 cara. Yaitu dengan media (brosur, spanduk, plakat), melibatkan orang (siswa, alumni, orangtua siswa), dan kegiatan yang diselenggarakan sekolah (pembagian daging kurban dan zakat fitrah, rapat semesteran). (4) prosedur evaluasi pemasaran sekolah gratis, dilakukan dengan tiga cara: evaluasi menyeluruh, pengawasan supervisi, dan pengawasan monitoring. (5) faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pemasaran sekolah. Faktor pendukung mendapatkan dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Batu, dukungan dari siswa, alumni, dan kepala sekolah dasar. Faktor penghambat dana yang terbatas, letak yang tidak strategis, dan tidak ada dukungan masya yang kuat. (6) mendiskripsikan pemberdayaan faktor pendukung dan strategi penanggulangan faktor penghambat dalam pemasaran sekolah gratis. Pemberdayaan dengan cara kerjasama dan meningkatkan tali persaudaran. Penanggulangan dilakukan dengan penambahan pencarian dana, pembuatan penunjuk arah letak sekolah, dan sering dilakukuan rapat sesama anggota PPLP PGRI Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian sasaran-saran diajukan adalah (1) bagi Kepala SMP PGRI 1 Batu, diharapkan secara terus menerus melakukan perbaikan dalam menyelenggarakan kegiatan pemasaran sekolah gratis yang dilakukan oleh sekolah, sehingga dapat meningkatkan jumlah siswa, (2) bagi guru SMP PGRI 1 Batu, dapat meningkatkan kinerjanya dan saling bekerja sama, (3) bagi Dinas Pendidikan Kota Batu, lebih memperhatikan lagi sekolah swasta yang berada diwilayah Kota Batu. (4) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan Jurusan mengkaji pemasaran yang dilakukan lembaga pendidikan secara luas, untuk pendalaman ilmu manajemen pendidikan, khususnya manjemen humas dan kurikulum, (5) Peneliti lain kepada para peneliti lain dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagi aspek lain yang bermanfaat dari penyelenggaran kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh sekolah yang dapat meningkatkan jumlah siswa.

Pembelajaran fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas VIII-4 semester II di SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep / Nurhidayati

 

Kata kunci: peta konsep, eksperimen, pemahaman konsep Upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep bagi siswa merupakan hal penting yang perlu diupayakan perbaikannya. Pentingnya perbaikan tersebut karena konsep-konsep Fisika merupakan konsep berjenjang, berkembang dari konsep sederhana ke konsep yang lebih kompleks. Perbaikan bisa dimulai dari perbaikan strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memahami suatu konsep. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Fisika dan hasil observasi di kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Kalianget, siswa kurang aktif dan kurang memahami konsep-konsep Fisika. Adapun strategi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen. Adapun tujuan pada penelitian ini, diantaranya (1) mengetahui proses pembelajaran Fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa kelas VIII-4 semester II SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep dan (2) mengetahui proses pembelajaran Fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa kelas VIII-4 semester II SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di dalam kelas dengan SKM 60. Berdasarkan kondisi di atas, maka dilakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa. Oleh karena itu, dalam penelitian tindakan kelas ini tindakan yang diberikan adalah memberi tindakan proses pembelajaran Fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen. Penelitian ini menggunakan dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan memberi tindakan meliputi: proses pembelajaran dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen dan memberikan tes untuk mengetahui peningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep. Peningkatan pemahaman konsep Fisika dibuktikan dengan hasil siklus I ketuntasan belajarnya adalah 60, 7 % dan mengalami peningkatan pada siklus II yang ketuntasan belajarnya adalah 85,71%. Atas dasar hasil penelitian, maka disarankan: (1) bagi guru-guru IPA khususnya Fisika hendaknya dalam pembelajaran menggunakan peta konsep disertai eksperimen dan (2) guru yang melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen harus bisa mengelolah kelas dengan baik.

Capitalist exploitation on Oompa-Loompas in Charlie and the Chocolate Factory the movie / Ayu Liskinasih

 

Key terms: capitalism, exploitation, labor, false consciousness. Capitalism generates different classes in society: the passive owner (bourgeoisie) and the proletariats. The proletariats are forced to work for living and sell her/his labor power to capitalist, while the capitalists enjoy the profit from the labors’ product. Exploitation happens when the labors get less equivalent compensation than the actual amount of work done. It is almost impossible for the proletariats to refuse their conditions, since their consciousnesses are constructed by the capitalist that they will survive if only they work. Tim Burton’s movie Charlie and the Chocolate Factory (2005) depicts the phenomenon of exploited proletariat from the relation of the Wonka’s factory worker, Oompa-Loompas and the capitalist, Willy Wonka. The foci of this study are to analyze how the movie represents capitalist exploitation on the workers and how the exploitation happens. The story is interpreted using Marxist approach. Previous studies had been conducted to discuss the movie from various approaches. Unfortunately, critics are rarely talking about Oompa-Loompas. The topic of labor exploitation is actually important to discuss further in this analysis; for this issue is connected to the world today’s labor exploitation problem. This study has proven that Wonka, the capitalist had exploited his workers, Oompa-Loompas. This matter could be shown from Oompa-Loompas’ wages, which are unequal to the amount of work they have done. Oompa-Loompas also lost their freedom to interact with outer world, since Wonka owned them exclusively and put them in a giant “prison”—Wonka’s chocolate factory. Single actor which performed the whole Oompa-Loompas shows capitalist depiction of labor. The whole Oompa-Loompas were identical; this feature fits to typical capitalist who ignores individual variation. Oompa-Loompas acted only as production machine. Their working motivations were only economic compulsion to survive and to keep the capitalist system work. Oompa-Loompa always looked happy working in the factory, though they were exploited. This happiness was a pseudo condition; since the false consciousness had made Oompa-Loompas not realize their condition as exploited workers. Wonka had shaped Oompa-Loompas’ thoughts, ideas, and frameworks and developed a system in such a way as to generate false consciousness and ideology: Oompa-Loompa would not survive without Wonka’s help and to work in Wonka’s factory was their fate, therefore they had to sincerely accept their condition in the factory; Oompa-Loompas were kept in ignorance of what was wrong with them. This condition created a status quo, which made the workers think their condition was normal, while in reality they were actually exploited by capitalist.

Evaluasi pelaksanaan pembelajaran mata diklat produktif program studi usaha jasa boga pada kelas X di SMK Negeri 2 Malang / Saripah Bte Patola

 

Kata kunci: evaluasi, pelaksanaan pembelajaran, mata diklat produktif. Kurikulum merupakan komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan. Kurikulum seharusnya secara terus-menerus dievaluasi dan dikembangkan agar isi dan muatannya selalu relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi. Selain itu juga evaluasi kurikulum dilaksanakan dengan tujuan mengetahui seberapa jauh kurikulum dilaksanakan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran mata diklat produktif pada program studi Usaha Jasa Boga yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian evaluasi (evaluation research) dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah 4 orang guru mata diklat produktif dan siswa kelas X program studi Usaha Jasa Boga yang terdiri dari 3 kelas dengan jumlah total 112 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah 2 orang guru mata diklat produktif dan 30 orang siswa kelas X program studi Usaha Jasa Boga yang diambil dengan menggunakan teknik propotional random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi dan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah triangulasi yang bersifat menggabungkan data hasil penelitian dari berbagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran mata diklat produktif semester genap yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Malang telah terlaksanaan sesuai dengan program semester dan silabus yang telah dibuat, namun dalam pelaksanaannya kurang maksimal dengan alasan keterbatasan waktu dan keterbatsan media pembelajaran yang disediakan oleh pihak sekolah kurang memenuhi. Disarankan kepada kepala SMK Negeri 2 Malang untuk lebih memperhatikan lagi waktu dalam penyampaian materi mata diklat produktif serta media pembelajaran siswa program studi Usaha Jasa Boga baik di kelas maupun di ruang praktek. Untuk guru mata diklat produktif agar lebih memperhatikan rancangan pelaksanaan pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Survey jentik dan tempat perindukan nyamuk Aedes sp. sebagai vektor utama penyakit demam chikungunya di Kecamatan Tempursari Lumajang / Henik Farida Kusumawati

 

Kata Kunci: Jentik nyamuk Aedes sp., demam chikungunya, indeks jentik nyamuk Bulan Pebruari tahun 2009 di Kecamatan Tempursari terdapat 2 penderita yang diduga menderita penyakit demam chikungunya. Jumlah penderita tersebut meningkat menjadi 81 orang pada bulan Maret 2009. Untuk mengurangi penyebaran penyakit ini diperlukan pemberantasan vektor dari virus tersebut berupa pemberantasan jentik nyamuk Aedes sp. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1). ada/ tidaknya jentik nyamuk Aedes sp. di kontainer yang ada di Kecamatan Tempursari Lumajang, (2). indeks jentik nyamuk Aedes sp. di Kecamatan Tempursari Lumajang, dan (3). upaya pemberantasan jentik nyamuk Aedes sp. Di Kecamatan Tempursari. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey. Objek penelitian ini adalah jentik nyamuk Aedes sp. yang ada di Desa Pundungsari, Sukosari, Langkapan, Argosari, dan Tempursari dengan mengacu pada data Puskesmas Tempursari. Penelitian ini dilakukan pada 20 rumah pada setiap desa terdiri dari 5 rumah mantan penderita dan 15 rumah di sekitarnya. Data berupa jumlah kontainer yang ditemukan di Kecamatan Tempursari dan jumlah rumah yang terdapat jentik nyamuk Aedes sp. Data dianalisis secara deskiptif, yaitu mengukur indeks jentik meliputi Container indexs dan House indexs selanjutnya dibandingkan dengan standar Departemen Kesehatan RI thun 2003. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kontainer dalam 100 rumah yang diperiksa sebanyak 204 kontainer dan 77 diantaranya mengandung jentik nyamuk Aedes sp. Kontainer dengan jentik nyamuk ditemukan pada 52 rumah. Container indexs lima desa di Kecamatan Tempursari antara 25,80%-45,00%, Container indexs tersebut melebihi standar Depkes yaitu 5% dan House indexs lima desa di Kecamatan Tempursari antara 30% - 65%, House indexs tersebut melebihi standar Depkes yaitu 5%. Oleh karena itu perlu upaya pemberantasan jentik nyamuk dengan cara abatisasi, pengasapan, menguras tempat penampungan air, dan memeluhara ikan pemakan jentik nyamuk di Kecamatan Tempursari Lumajang.

Penggunaan media puzzle untuk meningkatkan kemampuan membaca peta buta Indonesia pada mata pelajaran IPS siswa kelas V SDN Sambikerep III Surabaya / Arif Setiawan

 

Kata kunci : media puzzle, pembelajaran peta buta Penelitian Tindakan Kelas ini merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran serta meningkatkan kemampuan membaca peta, sehingga siswa dapat mencapai prestasi yang maksimal. Pemilihan Media “Puzzle Peta”sesuai dengan tujuan, karakteristik materi dan siswa dapat menciptakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan lebih variatif, inovatif dan konstruktif. Dengan media puzzle peta dapat meningkatkan kemampuan membaca peta bagi siswa. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Puzzle Peta berarti permainan menyusun potongan-potongan bentuk peta. Dalam hal ini Peta wilayah Propinsi yang termasuk wilayah Waktu Indonesia Barat, Tengah, dan Timur. Jadi Proses Pembelajaran IPS dengan media Puzzle meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengakaran IPS dengan menggunakan media Puzzle. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sedangkan prosedur pelaksanaannya dilakukan dalam dua siklus secara berdaur ulang mulai perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas V yang berjumlah 38 siswa. Waktu penelitian tindakan kelas direncanakan mulai awal Februari hingga akhir Mei 2010. Prosedur pengumpulan datanya berupa hasil pengamatan tentang aktifitas guru dan siswa dalam belajar melalui penggunaan media permainan, dan hasil kerja siswa untuk mengetahui pemahaman siswa melalui penilaian / evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPS dengan Media Puzzle memiliki dampak positif dalam meningkatkan kemampuan membaca peta pada siswa SD kelas V. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi hasil belajar siswa yang terlihat dari peningkatan nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa di setiap siklus perbaikan pembelajaran, yang awalnya siklus I 63,16% pada siklus II menjadi 86,84%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dalam melaksanakan pembelajaran perlu persiapan yang matang dan menggunakan media yang sesuai dengan karakter mata pelajaran, materi dan karakter siswa SD yang salah satunya adalah senang bermain.

Perbedaan prestasi belajar matematika antara metode pembelajaran inkuiri terbimbing dan metode pembelajaran ekspositori pada siswa SMA kelas XI IPA / Nadya Husenti

 

Kata kunci: inkuiri terbimbing, ekspositori, prestasi belajar Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang penting dan bersifat abstrak tetapi kurang disukai oleh siswa, seperti yang dialami siswa SMA Negeri 8 Malang. Hal ini dikarenakan siswa hanya menerima saja materi yang disajikan oleh guru yang mengakibatkan kegiatan pembelajaran menjadi tidak bermakna, maka guru dituntut untuk meningkatkan kualitasnya. Guru disarankan perlu merubah pembelajaran yang ada, misalnya dari pembelajaran ekspositori menjadi pembelajaran konstruktivis. Pembelajaran dengan metode ekspositori menyebabkan siswa lebih cenderung pasif. Salah satu metode pembelajaran yang secara teoritis mampu mengatasi permasalahan yang dialami siswa SMA Negeri 8 Malang adalah menerapkan metode pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika antara siswa yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan metode ekspositori pada pokok bahasan turunan pada kelas XI IPA SMA Negeri 8 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 8 Malang tahun ajaran 2009/2010 dan sampelnya adalah 76 siswa terbagi menjadi dua kelas. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive cluster sampling, sehingga terpilih kelas XI IPA-2 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA-3 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas yang dibelajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing, sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang dibelajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran ekspositori. Kedua kelas diberikan postes dengan soal yang sama dalam bentuk uraian setelah diberi perlakuan yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai postes, rata-rata nilai postes kelas eksperimen yaitu 79,69, sedangkan rata-rata nilai postes kelas kontrol yaitu 71. Rata-rata nilai postes dari kedua kelas tersebut menunjukkan bahwa rata-rata nilai postes matematika kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa metode pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik daripada metode pembelajaran ekspositori.

Analisis kompetensi guru dalam menggunakan media pembelajaran powerpoint pada pembelajaran di SMK Negeri 6 Malang / Aditya Wahyudha Yunanta

 

Kata Kunci: Kompetensi, Media Pembelajaran PowerPoint. Media sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen sumber belajar dan merupakan bagian yang penting dari seluruh komponen pembelajaran. Penggunaan media yang tepat dan sesuai dengan perkembangan teknologi seperti Microsoft PowerPoint akan sangat membantu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Akan tetapi kemungkinan masih ada guru yang belum bisa menggunakan media pembelajaran PowerPoint dengan baik. Masalah tersebut perlu diketahui untuk dijadikan evaluasi agar keunggulan media pembelajaran PowerPoint dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di SMK Negeri 6 Malang menunjukkan, (1) Guru SMKN 6 Malang mempunyai kompetensi tinggi dalam menggunakan media pembelajaran PowerPoint, dengan rincian yaitu (a) kompetensi tinggi dalam menggunakan teks, suara, background, animasi, mendesain media PowerPoint sesuai tujuan dan kebutuhan pembelajaran, dan mendesain teks yang baik (b) kompetensi cukup dalam menggunakan video, hyperlink dan penyempurnaan setelah selesai pembelajaran. (2) Guru SMKN 6 Malang mempunyai kemauan tinggi dalam menggunakan fasilitas media pembelajaran PowerPoint dengan rincian (a) kemauan tinggi dalam menggunakan teks dan gambar, (b) kemauan cukup dalam menggunakan animasi, video dan background, dan (c) kemauan rendah dalam menggunakan suara dan hiperlink (3) Guru SMKN 6 Malang mempunyai tingkat upaya tinggi dalam meningkatkan kemampuan menggunakan media pembelajaran PowerPoint dengan rincian (a) upaya tinggi dalam hal mencari reverensi dari bacaan dan belajar sendiri, (b) upaya cukup dalam hal berdiskusi dengan sesama guru, dan (c) upaya rendah dalam hal mengikuti pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru SMKN 6 Malang untuk berusaha meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media pembelajaran PowerPoint untuk beberapa indikator yang masih mengalami kesulitan agar penggunaan media pembelajaran PowerPoint ini bisa maksimal. Kepada pihak sekolah diharapkan dapat memotivasi guru dalam penggunaan media khususnya PowerPoint agar vasilitas yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran problem based learning (PBL) pada siswa kelas V SDN Ardimulyo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Sri Irianti

 

Keywords: Problem Based Learning (PBL), Learning Activities, Learning Outcomes, IPS Learning on the SDN Ardimulyo 2002 IPS still centered on teachers and students tend to be passive. Therefore, researchers consider it important to conduct research to enhance the activities and outcomes of IPS students. Problem Based Learning (PBL) is one of the strategies of contextual learning approach used in this study to achieve its objective of improving the activity and students' social studies class V SDN Ardimulyo 2002. Types of research that used is Class-Action Research (CAR), which consists of two cycles. Data were analyzed descriptively. Place of implementation in 02 Districts Singosari SDN Ardimulyo Malang Regency with V grade students study subjects which amount to 48 students and take place from July 12 until August 15, 2010. The results after application of Problem Based Learning (PBL) in subjects with the core competencies of social studies "leaders tell the history of Buddhism and Hinduism pad period of Islam in Indonesia" indicate the existence of a good impact on activity and improving student learning outcomes. Indications of impact on students is an increase in the average score of students' learning activities, from pre-action to a later cycle I to cycle II. Average score of all components of students' pre-action activities from 40 increases to 70 in the first cycle, then reached 94 on the second cycle. For student learning outcomes indicated by the increase in the average score of student learning outcomes from the pre-action (58) to the first cycle (69) and then to the second cycle (83) and from the increased level precentage of student success from pre-action (4%) to the first cycle (40%) and cycle II (96%). Based on this research can be concluded that the Problem Based Learning (PBL) can enhance the activity and outcomes of IPS students. Therefore, it is recommended that the Problem Based Learning (PBL) used as an alternative for teachers in assessment activities and results to improve student learning in elementary schools.

Penerapan kooperatif STAD untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Randuagung 05 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Sumartini

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah-masalah konkrit yang terdapat di kelas diantaranya siswa suka belajar secara individu, kondisi orang tua siswa banyak kaum buruhnya, prestasi belajar siswa masih dibawah Standart Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan, jumlah siswa yang relatif kecil, serta cara belajar siswa masih kurang efektif. Di samping itu masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah, sehingga pemahaman yang diterima siswa hanya bersifat kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diperoleh pengamatan yang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Evaluasi dilaksanakan 2 kali setelah pertemuan 2 dan pertemuan 4 selesai. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu tahap rencana tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), mengamati (observasi), dan melakukan refleksi (reflection). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi hasil belajar pada siswa kelas V SDN Randuagung 05 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, hal ini terbukti dari data di lapangan dalam kegiatan pra tindakan dan deskripsi data pada siklus 1 dan siklus 2, terdapat adanya peningkatan yang konkrit diantaranya meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru dan keaktifan siswa dalam diskusi kelompok. Secara klasikal pada siklus 1 rata-rata nilai yang dicapai sebesar 82,40 dan pada siklus 2 terdapat kenaikan < 2,0% rata-rata nilai menjadi 83,80. Sehingga dapat dikategorikan telah melampaui ketuntasan belajar minimal atau SKBM Kecamatan Singosari untuk mata pelajaran PKn adalah 70. Pada penelitian ini rata-rata nilai PKn yang diperoleh siswa mencapai > 70, ini berarti secara klasikal dianggap telah tuntas belajar. Berdasarkan peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa, pembelajaran PKn tentang keutuhan NKRI yang diterapkan pada siswa kelas V SDN Randuagung 05 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang dengan penerapan kooperatif STAD, maka layaklah penerapan kooperatif STAD dijadikan alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan prestasi belajar IPA pada siswa kelas V SDN Pagentan V Kecamatan Singosari Kabupaten Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Wiwik Sumiyati

 

Kata Kunci : Metode Eksperimen, Prestasi Belajar IPA. Peningkatan kualitas pendidikan menjadi pusat perhatian bagi pemerintah dan pemerhati pendidikan. Seiring dengan itu pemerintah sudah menerbitkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (KTSP). KTSP sebagai perbaikan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 (KBK). Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah-masalah konkrit yang terdapat di kelas diantaranya, rendahnya hasil prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA, siswa kurang mendapat bimbingan dari orang tua, latar belakang pendidikan siswa tidak menempuh pendidikan di TK dan siswa terbiasa tidak menger akan PR. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada satu kelas agar diperoleh pengamatan yang mendalam. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Evaluasi dilaksanakan dua kali setelah pertemuan 2 dan pertemuan 4 selesai. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu tahap rencana tindakan (planning, pelaksanaan tindakan (action), mengamati (observasi) dan melakukan refleksi (reflection). Ketuntasan belajar yang dapat dicapai oleh siswa pada pra tindakan adalah 24 % (6 siswa), pada siklus I ketuntasan belajar siswa mencapai 32 % (8 siswa) dan pada siklus 2 nilai ketuntasan belajar siswa mencapai 84 %. (29 siswa). Nilai rata-rata yang dapat dicapai oleh siswa adalah 69,92 % SKBM untuk mata pelajaran IPA adalah 60 %. Ini berarti sudah mencapai SKIM yang telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kecamatan Singosari. Pada penelitian ini rata-rata nilai IPA yang diperoleh siswa mencapai > 70, ini berarti secara klasikal dianggap telah tuntas belajar. Hendaknya guru tidak menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, agar tidak terkesan membosankan, tetapi sebaikhya guru menggunakan beberapa metode yang inovatif, serta menggunakan model pembelajaran yang dapat menarik motivasi siswa dalam belajar aktif, kreatif dan inovatif, contohnya dengan menerapkan metode eksperimen dan menggunakan bends sebenarnya dalam pembelajaran. Karena dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif bertanya, aktif menemukan sendiri, aktif untuk melakukan percobaan sendiri, serta aktif menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dan kreatif untuk merefleksi hasil belajar yang sudah dilakukannya

Aplikasi transformasi fourier dan fuzzy histogram hyperbolization untuk memperbaiki citra digital hasil radiografi / Wafiq Umam Fakhrudin

 

Kata kunci: radiografi, radiograf, Transformasi Fourier, fuzzy histogram hyperbolization, GUI Radiografi ialah penggunaan sinar pengionan (sinar X dan sinar gama) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film atu citra digital. Radiografi umumnya digunakan untuk melihat benda tak tembus pandang, misalnya bagian dalam tubuh manusia. Gambaran benda yang diambil dengan radiografi disebut radiograf. Radiografi dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis penyakit dalam bidang medis. Umumnya citra radiograf masih tampak kabur untuk memperbaikinya memerlukan peningkatan kualitas untuk menghilangkan atau mengurangi kekaburan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan komputer. Program komputer dapat diciptakan untuk melakukan proses peningkatan kualitas citra digital. Sehingga didapatkan radiograf yang lebih baik, mudah dilihat dan dianalisa. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengaplikasikan teori-teori matematika sebagai metode perbaikan citra digital. Metode yang digunakan adalah Transformasi Fourier dan Fuzzy Histogram Hyperbolization. Transformasi Fourier bekerja meningkatkan kualitas citra digital yang bekerja melalui manipulasi nilai-nilai pixel . Fuzzy histogram hyperbolization bekerja meningkatkan kualitas citra digital melalui tiga, yaitu fuzzifikasi citra, modifikasi nilai keanggotaan dan fuzzifikasi balik. Tahap-tahap tersebut telah dilakukan dalam penelitian. Pada skripsi ini penulis mempresentasikan aplikasi transformasi citra dengan menggunakan Matlab 6.5 yang disajikan berupa aplikasi berbasis Graphical User Interface (GUI). Hasil penelitian dengan objek empat citra digital dari hasil CT Scan menunjukkan bahwa metode Transformasi Fourier dan fuzzy histogram hyperbolization dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas citra dengan baik. Citra yang diolah menggunakan metode Transformasi Fourier berjumlah satu, memiliki karakteristik warna merah kehitaman, tepi lebih cerah dan background hitam. Sedangkan citra yang diolah menggunakan Fuzzy Histogram Hiperbolyzation berjumlah empat dan masing-masing citra memilki intensitas yang berbeda dan memilki warna kecoklatan. Pembimbing I, Darmawan Satyananda, S. T, M. T NIP. 19730724 199903 1 001 Pembimbing II, Mahmudin Yunus, S. Kom NIP. 19721208 200003 1 001 Dewan Penguji, Muhamad Yasin, S. Kom, M. Kom NIP. 1322 31 728

Persepsi pengunjung berdasarkan konsep essensial geografi, sapta pesona, dan sarana pada wisata makam Bung Karno di Kota Blitar / Soffatul Faridah

 

Kata Kunci : Persepsi, Pengunjung, Wisata Sektor pariwisata menempati urutan keempat dalam meningkatkan PAD Kota Blitar setelah perdagangan/jasa, perhubungan/komunikasi, dan industri. Dalam rangka maningkatkan PAD Kota Blitar, dilakukan pembangunan pada Makam Bung Karno yang notabene sebagai ikon pariwisata di Kota Blitar. Pe-ngembangan yang telah dilaksanakan pada objek wisata Makam Bung Karno selama ini menunjukkan hasil yang tidak maksimal tentang pertumbuhan jumlah pengunjung. Dibuktikan dengan data jumlah pengunjung pada tahun 2001 ber-jumlah 408.833 jiwa dan tahun 2008 menjadi 447.067 jiwa. Pengembangan dae-rah tujuan wisata tidak hanya berorientasi pada fasilitas yang dapat ditawarkan, kemampuan yang dimiliki, tetapi juga respon dari pengunjung, karena pada dasarnya pengunjung sebagai unsur yang paling penting dalam usaha pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Persepsi pengunjung berda-sarkan konsep essensial geografi pada objek wisata Makam Bung Karno; 2) Persepsi pengunjung berdasarkan Sapta Pesona pada objek wisata Makam Bung Karno; 3) Persepsi pengunjung berdasarkan sarana pada objek wisata Makam Bung Karno. Penelitian ini menggunakan metode survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh pengunjung yang ada di lokasi Makam Bung Karno pada saat pengam-bilan sampel. Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan po-pulasi target 100 responden. Teknik pengambilan data menggunakan metode ob-servasi, dokumentasi dan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisis meng-gunakan teknik indek komposit skor. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Persepsi pengunjung terhadap konsep essensial geografi cukup baik, (kesesuaian lokasi dipersepsikan jelek, sedangkan jarak, aglomerasi, keterjangkauan, interaksi, diferensiai area, nilai kegunaan dan keterkaitan ruang dipersepsi cukup baik); 2) Persepsi pengunjung terhadap sapta pesona cukup baik, (keamanan, keindahan, keramahan termasuk baik, ketertiban, kebersihan, dan kenangan termasuk cukup baik, kesejukan termasuk jelek); 3) Persepsi pengun-jung terhadap sarana baik (persepsi pengunjug tentang sarana pokok cukup baik sarana penunjang, dan pelengkap termasuk baik). Dari hasil penelitian dapat disarankan: 1) Kepada Dinas Perhubungan disarankan untuk membuat jaringan jalan khusus wisata; 2) Kepada pengelola MBK disarankan untuk mengimbangi pembangunan fisik dengan penanaman dan tidak menebang pohon disekitar MBK; 3) Kepada Dinas Kominfoparda dan pihak penyelenggara kesenian dan kebudayaan disarankan agar lebih sering mengadakan pertunjukan kesenian dan kebudayaan asli masyarakat Kota Blitar.

Karakteristik tulisan narasi fiksi berbahasa arab mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia / Nurhidayati

 

Kata kunci: karakteristik, narasi fiksi, bahasa Arab, penutur asli, bahasa Indonesia. Narasi fiksi merupakan salah satu genre tulisan yang mempunyai karakteristik tertentu. Narasi fiksi merupakan bentuk perwujudan produksi bahasa tulis mahasiswa, yang dipengaruhi oleh faktor kompetensi berbahasa, pemahaman genre tulisan, dan pengetahuan tentang topik yang ditulis. Penulis narasi fiksi adalah mahasiswa sebagai pebelajar pemula yang sedang berada pada tahap transisi dari penguasaan bahasa Indonesia ke tahap penguasaan bahasa target yaitu bahasa Arab (sebagai pebelajar bahasa antara). Narasi fiksi yang ditulis mahasiswa pada masa transisi tersebut menarik untuk dikaji karena narasi fiksi tersebut merupakan refleksi pola pikir, kreativitas kebahasaan penulis, ciri khas pemerolehan bahasa yang telah dipelajari, dan sebagai penanda tingkat kemampuan berbahasa mahasiswa. Hal itu berguna untuk menambah wawasan teoretis dan praktis bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran menulis bahasa kedua/asing. Berdasarkan urgensi penelitian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah sebagai berikut. (1) Bagaimana karakteristik unsur-unsur intrinsik tulisan narasi fiksi berbahasa Arab mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia? (2) Bagaimana karakteristik kesalahan kebahasaan tulisan narasi fiksi berbahasa Arab mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia? (3) Bagaimana karakteristik strategi komunikasi yang digunakan mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia pada tulisan narasi fiksi berbahasa Arab? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosio-psiko-struktural. Data penelitian merupakan data verbal yang berupa data: (1) narasi fiksi tulis, (2) transkripsi wawancara, dan (3) catatan observasi. Data narasi fiksi tulis diambil dari portofolio tugas akhir semester. Data transkripsi wawancara dan catatan observasi proses pembelajaran merupakan data yang digunakan untuk mengklarifikasi dan melengkapi data narasi fiksi tulis. Data dianalisis dengan analisis interaktif. Prosedur analisis data penelitian ini sebagai berikut: (1) pereduksian data, (3) penyajian data, dan (4) verifikasi temuan penelitian. Temuan penelitian ini dikemukakan sebagai berikut. Unsur-unsur intrinsik tulisan narasi fiksi subjek penelitian ini tampak pada kekhasan plot, tokoh, dan latar. Plot didominasi oleh jenis plot linier yang tidak semuanya memaparkan klimaks. Tokoh yang ditampilkan dan mendominasi temuan adalah tokoh dengan peran mahasiswa dan siswa, dengan dominasi temuan pada pelukisan aspek fisik tokoh. Latar tempat yang ditemukan bervariasi, tetapi bermuara pada lingkungan sekitar mahasiswa. Latar waktu bervariasi, tetapi semua waktu yang digunakan menunjuk pada waktu yang biasa digunakan dalam kehidupan-sehari-hari. Latar sosial mengacu pada lingkungan sosial yang terkait dengan dunia kampus, sekolah, rumah indekos, pedesaan, dan pesantren. Latar suasana mengacu pada hal-hal yang sering dialami oleh penulis sebagai mahasiswa. Karakteristik kesalahan tulisan narasi fiksi berwujud: (1) penghilangan unsur kebahasaan (omission), (2) penambahan unsur kebahasaan (additions), (3) kesalahan bentukan unsur kebahasaan (misformation), dan (4) kesalahan penggunaan unsure kebahasaan dengan sumber kesalahan interlingual mencapai 6% dan kesalahan intralingual mencapai 94%. Karakteristik strategi komunikasi tampak pada kekhasan penggunaan strategi parafrase, strategi peminjaman, dan strategi penghindaran. Strategi parafrase yang ditemukan berupa: (1) rekonstruksi kata, frasa, dan kalimat, (2) pendeskripsian, (3) pemakaian contoh, (4) pendefinisian, (5) penggunaan sinonim, (6) penggunaan simile, dan (7) personifikasi. Strategi peminjaman yang ditemukan berupa: (1) terjemahan literal, (2) campur kode, dan (3) permintaan bantuan. Adapun strategi penghindaran yang ditemukan berupa: (1) penghindaran penggunaan bentuk morfologis yang kompleks, (2) penghindaran penggunaan struktur kalimat kompleks, dan (3) penghindaran variasi tema tulisan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut. Pertama, plot, tokoh, dan latar sebagai unsur intrinsik narasi fiksi yang ditemukan menggambarkan karakteristik penulis sebagai penulis pemula yang masih belum sempurna penguasaan kompetensi bahasanya dan pengetahuannya akan genre tulisan narasi fiksi. Kedua, penghilangan unsur kebahasaan, penambahan unsur kebahasaan, kesalahan bentukan unsur kebahasaan, serta kesalahan penggunaan unsur kebahasaan yang ditemukan merupakan wujud kesalahan yang bersumber dari kesalahan interlingual dan intralingual. Dari dua sumber kesalahan tersebut, kesalahan intralingual mendominasi temuan. Kesalahan intralingual menggambarkan karakteristik khusus bahasa Arab yang belum dikuasai dengan sempurna oleh penulis pemula. Ketiga, strategi parafrase, strategi peminjaman, dan strategi penghindaran yang ditemukan merupakan usaha penulis untuk menghindari kemacetan tulisan, memperlancar tulisan akibat belum dikuasai kaidah-kaidah bahasa sasaran secara sempurna, dan untuk memvariasikan tulisan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi teoretis tentang tulisan narasi fiksi dan pemerolehan bahasa kedua yang meliputi kesalahan bahasa dan strategi komunikasi. Hasil penelitian ini juga mempunyai implikasi praktis sebagai bahan penjelas dan penyelesai masalah-masalah dalam pembelajaran bahasa kedua atau asing di perguruan tinggi, khususnya dalam hal pembelajaran menulis narasi fiksi. Hasil penelitian ini juga sebagai acuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran menulis narasi fiksi. Bagi program studi bahasa Indonesia, hasil penelitian ini merupakan bahan pembanding dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia untuk pebelajar bahasa asing.

Penerapan assessment portofolio dalam pembelajaran geografi kelas XI IPS-IV SMA Negeri 3 Jombang / Efi Wijayanti

 

Kata Kunci: Portofolio, Hasil Belajar, Pengelolaan Lingkungan Hidup Portofolio adalah penilaian autentik berupa kumpulan pekerjaan siswa yang representativ menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu. Dengan mengenal dan mendokumentasikan hasil belajar siswa, guru dapat menggunakan portofolio untuk perkembangan hasil belajar siswa. Portofolio digunakan sebagai bukti belajar siswa baik pada proses belajar berlangsung dan diluar pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 3 Jombang , pembelajaran geografi dilakukan dengan metode ceramah dan menggunakan OHP. Padahal dengan metode tersebut siswa cenderung sulit untuk memahami materi yang diberikan dan cepat bosan karena metode tersebut. Tujuan lain dari pengembangan penilaian portofolio yaitu portofolio dapat meningkatkan hasil belajar, karena dalam belajar mandiri siswa termotivasi secara intrinsik untuk belajar dan terbantu untuk mengorganisasi dan menyusun hasil belajarnya. Siswa tidak cukup hanya menghafal catatan pelajaran dan bahan pelajaran, tetapi mereka harus mengorganisir materi, dan mendiskripsikan apa yang belum dipahami dan apa yang sudah dipamahi sehingga dapat dijadikan gambaran untuk mengetahui kemampuan mereka sendiri. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS-IV SMA Negeri 3 Jombang. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus pembelajaran. Pengumpulan data untuk hasil belajar siswa menggunakan soal tes evaluasi, yang terdiri dari pre tes dan postes, pekerjaan rumah, eveluasi pembelajaran, tugas kliping. Untuk mengetahui pengalaman belajar siswa yang didapt peneliti menggunakan jurnal belajar dan refleksi akhir pembelajaran. Dan untuk mengukur keefektifan penggunaan metode penilaian portofolio menggunakan angket untuk siswa. Hasil penelitian membuktikan meningkatnya hasil belajar geografi kelas XI IPS-IV SMA NEGERI 3 JOMBANG. Data pengamatan menunjukkan bahwa nilai rata-rata postes siklus I adalah sebesar 72,6 yaitu sebanyak 27 siswa atau sebesar 87,1 % di atas nilai Standar Kelulusan Minimal (SKM) dan pada siklus II persentase siswa yang mendapat nilai di atas rata-rata adalah sebanyak 31 siswa atau 100% dari jumlah siswa keseluruhan dengan nilai rata-rata sebesar 84,5. Kenaikan rata-rata nilai dari siklus I ke siklus II sebesar 14,7%. Peningkatan nilai akhir portofolio juga mengalami kenaikan sebesar 11,9% yaitu rata-rata pada siklus I sebesar 72,6 atau sebanyak 27 orang siswa (87,1%) tuntas belajar dan 4 orang siswa (12,9%) belum tuntas belajar. Pada siklus II nilai rata-rata akhir portofolio adalah sebesar 84,5 atau sebanyak 31 orang siswa (100%) dinyatakan tuntas belajar. ii Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penerapan assessment portofolio dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS-IV SMA NEGERI 3 JOMBANG, maka disarankan agar dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, assessment portofolio dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam penilaian untuk meningkatkan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran geografi. Bagi guru atau pratisi pendidikan lainnya yang tertarik untuk menerapkan assessment portofolio dalam pembelajaran, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) Selalu memberikan umpan balik yang positif dan bersifat membangun terhadap hasil pekerjaan siswa yang dimasukkan dalam portofolio, b) Mengingatkan kepada siswa bahwa segala hasil karya yang dihasilkan dan dikumpulkan akan dinilai oleh guru dan peneliti, c) Tidak meremehkan hasil karya pekerjaan siswa yang dikumpulkan dalam portofolio, d) Penerapan assessment portofolio memerlukan waktu yang lama, sehingga guru harus memperhitungkan waktu agar efektif dalam pembelajaran, e) Guru harus siap dengan kritik dan saran yang diungkapkan oleh siswa, f) Demi menyempurnakan proses pembelajaran dengan portofolio, g) Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan berupa bukti belajar dua dimensi (tugas rumah, kliping, lembar aktifitas siswa, evaluasi, jurnal belajar, dan lembar refleksi diri).

Lembar kerja siswa berbantuan komputer pada materi penyajian data dan ukuran pemusatan untuk siswa kelas VI Sekolah Dasar / Eka Farida Ariyani

 

Kata kunci: lembar kerja siswa, komputer, penyajian data, ukuran pemusatan. Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan dalam pengkonstruksian pengetahuan siswa. Namun, beberapa LKS yang digunakan di sekolah, khususnya pada materi penyajian data dan ukuran pemusatan hanya digunakan untuk melatih ketrampilan saja. Oleh karena itu disusunlah Lembar Kerja Siswa (LKS) berbantuan komputer yang membantu siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui masalah-masalah konstekstual yang disajikan. Pengembangan LKS berbantuan komputer ini meliputi beberapa tahapan yaitu: (1) identifikasi kebutuhan; (2) spesifikasi tujuan; (3) penyusunan LKS dan media; (4) validasi LKS berbantuan komputer yang terdiri dari validasi ahli materi, ahli media, praktisi, dan siswa; (5) analisis dan revisi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam validasi LKS berbantuan komputer berupa angket. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan persentase. Produk yang dihasilkan adalah Lembar Kerja Siswa (LKS) tertulis dan media pembelajaran Penyajian Data dan Ukuran Pemusatan yang disimpan dalam Compact Disk (CD). LKS berbantuan komputer ini terdiri dari 2 bagian yaitu LKS 1 dan LKS 2. LKS 1 memuat tentang penyajian data dalam bentuk tabel, diagram gambar, diagram batang, diagram garis, dan diagram lingkaran. LKS 2 memuat tentang rata-rata hitung (mean), modus, dan median. LKS berbantuan komputer ini dilengkapi dengan latihan soal yang terdiri dari 10 soal mengenai penyajian data dan 10 soal mengenai ukuran pemusatan. Hasil penskoran dari instrumen penilaian yang dilakukan ahli materi dan siswa mencapai nilai masing-masing 91,7% dan 94,5% yang menunjukkan bahwa LKS berbantuan komputer yang disusun bersifat sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Hasil penskoran dari instrumen penilaian yang dilakukan ahli media dan guru memperoleh nilai masing-masing 84,4% dan 80,25% yang menunjukkan bahwa LKS berbantuan komputer yang dirancang bersifat valid dan tidak memerlukan revisi. Namun LKS berbantuan komputer ini mengalami revisi berdasarkan saran dari validator yaitu revisi isi materi penyajian data dalam bentuk tabel, isi materi median, serta tentang beberapa tampilan dalam media. Saran pengembangan LKS selanjutnya untuk mengujicobakan LKS berbantuan komputer ini kepada siswa dalam kelompok besar dan menambahkan suara pada LKS berbantuan komputer ini agar lebih menarik.

Penerapan model pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD untuk meningkatkan pelajaran IPA lingkungan fisik terhadap daratan siswa kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya / Nunuk Nularsih

 

Kata Kunci : kontekstual,media VCD,lingkungan fisik Penerapan model pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD untuk meningkatkan pelajaran IPA lingkungan fisik terhadap daratan Kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya” memuat permasalahan, yaitu :Apakah penerapan model pembelajaran kontekstual dengan berbantuan media VCD dapat meningkatkan aktivitas ,kreativitas ,hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran IPA SDN Lakarsantri III/474 Surabaya? Sesuai dengan permasalahan diatas tujuan umum yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD dengan kompetensi dasar lingkungan fisik terhadap daratan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya . Penelitian ini menggunakan rancangan PTK model Kemmis &Mc.Taggart digambarkan sebagai suatu proses dinamis ,meliputi empat aspek ,yaitu perencanaan ,tindakan,observasi dan refleksi yang dilakukan selama dua siklus Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV di SDN Lakarsantri III/474 Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus1 skor rata-rata pemahaman siswa sebesar 64% ,keaktivan siswa mencapai skor rata-rata 75%, kerativitas siswa mencapai skor rata-rata 57,5% Pada siklus 2 keaktivan siswa rata-rata mencapai 90,75% ,kreativitas siswa mencapai skor rata-rata 84,5%,nilai pemahaman siswa mencapai 75% Penerapan pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD dapat meningkatkan aktivitas ,kreativitas dan hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran IPA SDN Lakarsantri III/474 Surabaya

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa terhadap matakuliah spesialisasi pilihan program studi pendidikan seni rupa angkatan tahun 2006-2007 jurusan seni dan desain Universitas Negeri Malang / Mohammad Faris Himawan

 

Kata kunci: Minat, Matakuliah Spesialisasi Pilihan, Seni dan Desain, UM. Matakuliah spesialisasi pilihan (MSP) adalah matakuliah paket yang wajib ditempuh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Setiap mahasiswa memiliki minat yang berbeda-beda terhadap matakuliah spesialisasi pilihan. Minat tersebut dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Sehingga tidak jarang mahasiswa yang telah menempuh sebuah MSP tertentu harus memilih MSP lain karena sadar minatnya tidak pada MSP yang ditempuhnya, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap masa studinya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi minat mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan tahun 2006-2007 Universitas Negeri Malang terhadap matakuliah spesialisasi pilihan. 2) mendeskripsikan faktor paling dominan yang mempengaruhi minat mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan tahun 2006-2007 Universitas Negeri Malang terhadap matakuliah spesialisasi pilihan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif dimana teknik analisis datanya menggunakan prosentase. Pengumpulan datanya menggunakan angket. Sampel penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Angkatan 2006-2007 Universitas Negeri Malang. Hasil dari penelitian menunjukkan faktor kebutuhan akan pengetahuan adalah faktor yang paling mempengaruhi minat mahasiswa terhadap MSP. Dengan prosentase tertinggi sebesar 57,3%. Sedangkan faktor yang paling tidak mempengaruhi adalah faktor pengaruh pacar. Faktor paling dominan yang mempengaruhi minat mahasiswa terhadap matakuliah spesialisasi pilihan berturut- turut adalah sebagai berikut: faktor kebutuhan akan pengetahuan, faktor memiliki cita-cita yang sesuai dengan MSP, faktor sesuai dengan hobi, faktor memiliki keterampilan, faktor fasilitas kampus, faktor dosen pembimbing, faktor ingin menguasai keterampilan, faktor pengaruh orang tua, faktor memiliki bakat, faktor pengaruh lingkungan yang sama dengan bidang MSP, faktor pengaruh teman, faktor pengaruh pacar. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar mahasiswa sebelum memilih matakuliah spesialisasi pilihan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang nantinya akan merugikan, diharapkan hubungan mahasiswa dengan dosen pembimbing akademik agar lebih diintensifkan lagi agar dosen pembimbing akademik bisa memberikan pengarahan kepada mahasiswa. Karena fasilitas sarana dan prasarana mempengaruhi mainat mahasiswa untuk memilih matakuliah spesialisasi pilihan diharapkan jurusan menambah fasilitas tersebut, juga agar fasilitas tersebut dapat menunjang jalannya perkuliahan secara maksimal.

Peningkatan hasil belajar matematika konsep bilangan pecahan melalui CTL pada siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang / Subiati

 

Kata kunci: Peningkatan hasil belajar melalui CTL Tujuan pendidikan harus dicapai dengan melalui tujuan yang lebih kecil. Adapun tujuan yang paling kecil adalah tujuan pembelajaran khusus (TPK). Agar dapat mencapai TPK yang baik untuk semua mata pelajaran maka semua siswa harus memiliki tiga kemampuan dasar yakni kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Dalam hal kemampuan berhitung maka pelajaran matematika memegang peranan penting. Dengan menguasai berhitung beserta seluk beluknya diharapkan anak dapat memahami semua materi mata pelajaran dari masing-masing mata pelajaran. Setelah dikuasainya seluruh materi pelajaran, tentunya prestasi belajar siswa akan baik, dan jika prestasi belajarnya baik tentunya pencapaian tujuan pendidikan tinggal masalah waktu. Penelitian tindakan kelas ini berlokasi di SD Negeri Ciptomulyo 2 Malang. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 32 anak. Materi pelajarannya ialah peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dipadu dengan alat peraga konkrit pada konsep bilangan pecahan. Adapun waktu pelaksanaan penelitian adalah pada bulan Mei minggu pertama sampai minggu keempat. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika konsep bilangan pecahan dari tes awal ke siklus I ke siklus II melalui CTL. Hal ini didukung dengan nilai rata-rata setelah siklus II sebesar 85,2%. Sedangkan pada siklus I didapatkan rata-rata kelas sebesar 73,3%. Ini menandakan bahwa dengan melalui pendekatan CTL maka hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SD Negeri Ciptomulyo 2 Malang dapat meningkat secara signifikan.

Pertimbangan investor berinvestasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan corporate social responsibility perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia / Luqman Hakim

 

Kata Kunci : Investasi, ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, ukuran perusahaan, Tipe Industri, profitabilitas, struktur kepemilikan saham dan pengungkapan corporate social responsibility Pengungkapan corporate social responsibility merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan. Suatu perusahaan dapat mewujudkan corporate social responsibility secara baik, kalau perusahaan tersebut mampu menerapkan kewajibanya secara berimbang antara kepentingan stakeholders primer dan sekunder. Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin bagus (good corporate governance) semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Masyarakat maupun investor membutuhkan informasi mengenai sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aktivitas sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengungkapan corporate social responsibility digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam berinvestasi. Selain itu, mengetahui pengaruh ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, ukuran perusahaan, tipe industri, tingkat profitabilitas, struktur kepemilikan saham terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Jenis penelitian adalah penelitian eksplanatori, sampel yang terkait dengan para investor didapat 36 investor yang ada di Kota Malang, sedangkan yang terkait dengan laporan keuangan dalam penelitian ini berjumlah 73 perusahaan yang mengungkapkan corporate social responsibility. Data persepsi investor terhadap pengungkapan corporate social responsibility dengan penyebaran kuesioner kepada investor yang dijadikan sebagai responden, sedangkan data tentang ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, ukuran perusahaan, tipe industri, profitabilitas perusahaan dan struktur kepemilikan saham diperoleh dari annual report tiap perusahaan yang di publikasikan PT. Bursa Efek Indonesia tahun 2007 dan 2008. Analisis yang digunakan analisis deskriptif, regresi berganda. Hasil analisis deskripif, menemukan bukti bahwa investor sudah mulai merespon dengan baik informasi-informasi sosial yang disajikan perusahaan dalam laporan tahunan. Hal ini berarti pengungkapn sosial dalam laporan tahunan sudah direspon positif oleh investor sebagai salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam malakukan investasi. Hasil analisis regresi berganda, menemukan bukti bahwa ukuran dewan komisaris, leverage dan struktur kepemilikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility, Sedangkan ukuran perusahaan, tipe industri, profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Peningkatan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada siswa kelas VII SMPN 8 Kediri / Ana Mariatul Kiftiyah

 

Kata Kunci: membaca indah, puisi, teknik creative reading, pembelajaran Pembelajaran membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi sudah diajarkan kepada siswa kelas VII SMPN 8 Kediri. Berdasarkan studi pendahuluan, masalah yang muncul pada aspek proses pembelajaran membaca indah puisi adalah (1) pembelajaran membaca indah puisi kurang menumbuhkan minat siswa dalam membaca indah puisi, (2) guru belum memiliki teknik yang tepat untuk membelajarkan membaca indah puisi, (3) siswa memiliki kesulitan dalam memahami serta mengekspresikan isi puisi secara kreatif, (4) siswa tidak diberi pelatihan khusus oleh guru dalam membaca indah puisi, dan (5) siswa belum diberikan contoh oleh guru tentang cara membaca indah puisi secara baik dan benar. Masalah yang muncul pada aspek hasil membaca indah puisi adalah kurangnya kepercayaan diri dan pemahaman mengenai isi puisi yang menyebabkan siswa kurang optimal dalam mengekspresikan isi puisi. Oleh karena itu, permasalahan tersebut diatasi dengan penerapan teknik creative reading yang dapat memotivasi siswa untuk mau menyalurkan imajinasi dan kreativitas dalam mengekspresikan isi puisi sehingga isi puisi dapat dipahami oleh pembaca dan ditangkap oleh audien dengan lebih mudah dan mendalam. Masalah penelitian adalah bagaimana meningkatkan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada siswa kelas VII SMPN 8 Kediri. Secara khusus, terdapat dua masalah yaitu menyangkut aspek proses dan hasil. Pertama, bagaimana proses peningkatan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada tahap praperformansi, performansi, dan pascaperformansi. Kedua, bagaimana hasil peningkatan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada aspek irama, volume suara, mimik, kinesik, dan kekreatifan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi empat hal pokok, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, dan (4) refleksi tindakan. Kumpulan data dalam penelitian ini berupa data proses dan hasil. Data proses adalah data interaksi proses pembelajaran membaca indah puisi yang dilakukan siswa dan guru di kelas berupa catatan lapangan sedangkan data hasil berupa data hasil penilaian performansi membaca indah puisi siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi menggunakan pedoman observasi yaitu checklist mengenai kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa serta pencapaian tiap indikator pembelajaran. Selain itu, digunakan catatan lapangan untuk merekam semua kejadian yang terjadi dalam proses pembelajaran. Data ii proses tersebut kemudian direduksi, disajikan berdasarkan tahapan pembelajaran (praperformansi, performansi, dan pascaperformansi) kemudian diolah dan disimpulkan. Analisis data hasil dilakukan dengan studi dokumen menggunakan lembar penilaian hasil membaca indah puisi. dianalisis dengan mengorganisasi, mengelompokkan berdasarkan klasifikasi baik sekali, baik, cukup, kurang baik untuk kemudian dipaparkan dan ditarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data proses, diketahui pada tahap praperformansi guru memberikan materi tentang membaca indah puisi dengan teknik creative reading, menampilkan model yang mencontohkan dan melatihkan pembacaan indah puisi dengan teknik creative reading. Guru melatih olah gerak dan vokal, membagikan judul puisi, menjadi fasilitator ketika siswa mengerjakan LKS, dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk berlatih secara mandiri. Pada tahap performansi, guru mempersilakan siswa tampil ke depan kelas membaca indah puisi secara bergantian. Pada tahap pascaperformasi guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan menyampaikan kesan, kesulitan-kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran, dan merancang kegiatan lanjutan dalam upaya menumbuhkan kecintaan siswa terhadap karya sastra, khususnya puisi. Secara umum, dari ketiga tahapan pembelajaran tersebut siswa terlihat semangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, terutama pada tahap praperformansi. Berdasarkan hasil analisis data hasil, diketahui keterampilan membaca indah puisi siswa dengan teknik creative reading mengalami peningkatan. Dalam aspek irama, tingkat ketuntasan siswa mencapai 94,5% dengan 52,8% berkategori baik, 41,7% berkategori baik sekali, dan sisanya ada pada kategori cukup (siklus I) meningkat menjadi 100% dengan 77,8% berkategori baik sekali (siklus II). Dalam aspek volume suara, tingkat ketuntasan siswa mencapai 72,2% dengan 50% berkategori baik sekali (siklus I) meningkat menjadi 88,9% dengan 58,3% berkategori baik sekali (siklus II). Dalam aspek mimik, tingkat ketuntasan siswa mencapai 72,2% dengan 66,6% berkategori baik (siklus I) meningkat menjadi 88,9% dengan 61,1% berkategori baik (siklus II). Dalam aspek kinesik, tingkat ketuntasan siswa mencapai 75% dengan 38,9% berkategori baik sekali (siklus I) meningkat menjadi 91,7% dengan 47,2% berkategori baik sekali (siklus II). Dalam aspek kekreatifan dalam menggunakan tatarias, kostum, properti, dan iringan musik yang mendukung penyampaian isi puisi, tingkat ketuntasan siswa mencapai 88,9% dengan 55,6% berkategori baik sekali (siklus I) meningkat menjadi 100% dengan 66,7% berkategori baik sekali (siklus II). Secara keseluruhan, tingkat ketuntasan siswa mencapai 83,3% dengan 50% berkategori baik, 33,3% berkategori sangat baik, dan sisanya ada pada kategori cukup (siklus I) meningkat menjadi 94,5% dengan 66,7% berkategori sangat baik (siklus II). Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada kepala sekolah untuk senantiasa memberikan dukungan baik moril maupun fasilitas terhadap upaya peningkatan kualitas pembelajaran.Guru sebaiknya lebih berani dalam memilih dan menerapkan teknik pembelajaran baru yang efektif, kreatif, dan inovatif agar kualitas pembelajaran dapat senantiasa ditingkatkan, misalnya dengan penerapan teknik creative reading untuk meningkatkan keterampilan membaca indah puisi siswa. Bagi peneliti lain disarankan untuk terus melakukan penelitian agar dapat menambah ragam teknik pembelajaran baru yang lebih kreatif, efektif, dan inovatif agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran.

Penggunaan metode twin (tawar informasi) untuk meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro / Dia Purwo Rini

 

Kata Kunci: keterampilan berbicara, keterampilan menyimak, metode TWIN Pembelajaran bahasa Indonesia saat ini, terutama di SMP masih perlu ditingkatkan lagi, terutama pembelajaran menyimak dan berbicara. Untuk melatih kedua keterampilan tersebut memerlukan usaha keras karena banyak hambatan yang ditemui saat proses pembelajaran. Hambatan tersebut dapat diminimalkan dengan adanya alat bantu yang dapat merangsang tumbuhnya kedua keterampilan tersebut. Misalnya, dengan menggunakan media gambar dan pancingan per-tanyaan. Metode TWIN sebagai metode baru yang menggunakan strategi tanya-jawab dan media gambar ini ditawarkan untuk mengatasi hambatan dalam pembelajaran menyimak dan berbicara. Selain itu, metode ini berdasarkan pada metode Questioning, Learning Community, Inquiry, Constructivism, dan Autentic Assesment. Peneliti memilih SMP Negeri 1 Ngoro sebagai lokasi penelitian karena dalam pembelajaran menyimak dan berbicara di sekolah tersebut masih ditemukan kesulitan. Masalah penelitian ini terbatas pada penerapan metode TWIN untuk meningkatkan kemampuan menyimpulkan hasil wawancara pada pembelajaran menyimak dan berbicara siswa kelas VII. Kemampuan yang ingin ditingkatkan pada penelitian ini meliputi kemampuan menyimak (memahami, menyimpulkan, dan menanggapi informasi) dan kemampuan berbicara (menggunakan kosakata; menyusun kalimat; menggunakan intonasi, nada, lafal; dan bercerita). Pada pene-litian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan metode TWIN dalam meningkat-kan keterampilan menyimak dan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Data penelitian ini terdiri atas: (1) data utama berupa hasil observasi, hasil rekaman, dan hasil evaluasi, serta (2) data sekunder berupa hasil wawancara, hasil angket, dan dokumentasi. Pengumpulan data menggunakan tiga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan angket, sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa format catatan lapangan, rubrik penilai-an, pedoman wawancara, angket, perekam, dan kamera, selain peneliti sebagai instrumen kunci. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Penelitian ini meliputi lima tahap, yaitu (1) studi pen-dahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, dan (5) refleksi dan evaluasi. Hasil penelitian ini terdiri atas proses dan hasil tindakan. Pada proses penggunaan metode TWIN pada siklus I dan II meliputi tahap pendahuluan, inti, dan penutup. Pada siklus I, siswa kurang memperhatikan selama proses pembel-ajaran berlangsung, antara lain siswa masih bergurau, siswa kurang memahami penjelasan guru, dan siswa kurang merespon tugas dari guru. Pada siklus II terjadi i peningkatan pada siswa. Peningkatan tersebut terlihat dari siswa sudah mulai memperhatikan selama proses pembelajaran. Sedangkan, hasil penggunaan meto-de TWIN meliputi kemampuan menyimak (memahami, menyimpulkan, dan me-nanggapi informasi) dan kemampuan berbicara (menggunakan kosakata; menyu-sun kalimat; menggunakan intonasi, nada, lafal; dan bercerita). Pada kemampuan memahami informasi meningkat 3,7%. Pada kemampuan menyimpulkan informa-si meningkat 26%. Pada kemampuan menanggapi informasi meningkat 11,1%. Pada kemampuan menggunakan kosakata meningkat 11,1 %. Pada kemampuan menyusun kalimat meningkat 29,6%. Pada kemampuan menggunakan intonasi, nada, dan lafal meningkat 59,3%. Pada kemampuan bercerita meningkat 14,8%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode TWIN dapat meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada pembaca untuk memanfaatkan metode TWIN ini sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan atau memperbaiki keterampilan menyimak dan berbicara.

Analisis pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sektor potensial di Kabupaten Kediri (pendekatan model basis ekonomi dan SWOT) / Wiwit Tantiani

 

Kata Kunci: Pertumbuhan Ekonomi, Sektor Ekonomi, Pengembangan Sektor Potensial, Model Basis Ekonomi, SWOT Pembangunan Ekonomi hendaknya sesuai dengan kondisi potensi yang dimiliki suatu daerah dan pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolok ukur pembangunan ekonomi. Penggalian sektor potensial dibutuhkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi sehingga dibutuhkan suatu strategi pengembangan yang tepat. Serta keterkaitan antar daerah sebagai pelengkap. Sektor industri yang bukan termasuk sektor basis di Kabupaten Kediri menunjukkan geliat industrialisasi yang cukup baik, sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan karena sektor pertanian sudah tidak mungkin lagi dikembangkan secara optimal. Penelitian ini berkaitan dengan kondisi Kabupaten Kediri tahun 2004-2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sektor ekonomi yang strategis untuk dikembangkan, (2) keterkaitan Kabupaten Kediri dengan daerah sekitarnya, (3) strategi yang seharusnya diambil pemerintah untuk pengembangan sektor potensial dengan analisis SWOT. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah PDRB sektoral Kabupaten Kediri dan Provinsi Jawa Timur yang dihitung berdasarkan atas dasar harga konstan tahun 2000 kurun waktu 2004-2008 dengan menggunakan metode dokumentasi, observasi, dan wawancara. Skripsi ini menggunakan model basis ekonomi, yaitu analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share. Analisis gravitasi dan SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sektor yang stratgis untuk dikembangkan di Kabupaten Kediri adalah sektor industri. Sektor basis di Kabupaten Kediri adalah sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor jasa-jasa, (2) keterkaitan Kabupaten Kediri paling kuat dengan Kabupaten Nganjuk dan paling lemah dengan Kabupaten Malang, keunggulan yang dimiliki Kabupaten Kediri diantaranya sebagai pusat distribusi perdagangan, pusat pertumbuhan pertokoan, dan perkembangan infrastruktur yang baik, (3) dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threat) strategi yang direkomendasikan pada pemerintah untuk sektor industri (industri kecil) diantaranya: menyediakan outlet-outlet atau ruang pamer yang dapat memberikan pelayanan one stop service, memberikan bantuan permodalan, meningkatkan SDM dengan melakukan studi banding keluar daerah, dan adanya pembinaan secara berkesinambungan dengan peningkatan pelatiahan untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan serta Peningkatan penganekaragaman komoditi industri kecil, kontak dagang, dan peningkatan informasi pasar. Saran dari peneliti untuk pengembangan sektor potensial di Kabupaten Kediri adalah hendaknya pemerintah membantu dalam penguatan permodalan dan jaringan pemasaran, serta membangun outlet-outlet atau ruang pamer untuk lebih memperkenalkan produk-produk unggulan Kabupaten Kediri.

Penerapan pembelajaran matematika berbantuan media logika aktif untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa kelas V SD Negeri Tulungrejo 2 Wates Blitar / Eva Wahyu Puspita Wulandari

 

Kata kunci: Pembelajaran Matematika, Media Logika Aktif, Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa kelas V SD Negeri Tulungrejo 2 masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini diakibatkan siswa tidak terbiasa dalam menyelesaikan soal cerita. Pembelajaran soal cerita akan melatih siswa untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan menghargai pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan untuk membelajarkan siswa dalam menyelesaikan soal cerita adalah pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif. Media Logika Aktif ini berisi soal-soal serta langkah penyelesaiannya yang dapat membantu siswa untuk berpikir matematis dalam menyelesaikannya. Karena itu dalam penelitian ini akan dikaji pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif materi penjumlahan dan pengurangan pecahan pada siswa kelas V SD. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SD Negeri Tulungrejo 2 dan subyek penelitiannya adalah siswa kelas V semester genap tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2010 dalam 2 tahap, yaitu (1) tahap pra tindakan dan (2) tahap tindakan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Kriteria keberhasilan penelitian ada dua, keberhasilan proses dan keberhasilan hasil. Keberhasilan proses dinilai saat proses pembelajaran melalui lembar observasi yang menunjukkan hasil “baik”. Kriteria keberhasilan hasil berdasarkan hasil tes akhir siswa menunjukkan 86% siswa di kelas memenuhi Standar Kelulusan Minimum (SKM). Adapun langkah-langkah pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran dengan ekspositori; (2) tes awal; (3) pembentukan kelompok; (4) pengenalan media logika aktif; (5) pelaksanaan aktivitas; (6) penilaian kerja siswa dan perekapan nilai; (7) tes akhir.

Penerapan pembelajaran langsung (direct instruction) menggunakan media logico piccolo untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Laboratorium UM pada materi segitiga dan segi empat / Devi Indah Merdekasari

 

Kata kunci: pembelajaran langsung, media logico piccolo, hasil belajar Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di SMP Laboratorium UM menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Laboratorium UM masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa masih sekitar 35%. Melihat permasalahan di atas maka diperlukan sistem pembelajaran yang tepat dan dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran di mana guru berperan penuh dalam menentukan kegiatan pembelajaran, sehingga guru dapat mengendalikan isi dan urutan materi yang akan diterima oleh siswa. Pembelajaran langsung juga memiliki kelemahan, misalnya saja: siswa kurang terlibat secara aktif, siswa akan bercanda dengan temannya, dan sebagainya. Untuk menghindari hal tersebut, pembelajaran langsung akan dikombinasikan dengan media ‘Logico Piccolo’. Dengan model pembelajaran langsung dan media logico piccolo, siswa diajak belajar sambil bermain. Diharapkan siswa lebih senang dan termotivasi untuk belajar matematika, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Penelitian ini dilakukan di SMP Laboratorium UM, pada tanggal 21 Mei sampai 4 Juni 2010. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran langsung menggunakan media logico piccolo dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di mana dilihat dari rata-rata evaluasi dan persentase ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus. Rata-rata nilai evaluasi pada siklus I adalah 88,2 dan pada siklus II adalah 93,94. Sedangkan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan II adalah 91,43 %. Sehingga terjadi peningkatan rata-rata evaluasi sebesar 5,74. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pembelajaran langsung menggunakan media logico piccolo dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan guru-guru untuk membelajarkan matematika di sekolah, (2) sebaiknya memodifikasi langkah pembelajaran langsung ketika berlatih dengan media logico piccolo agar tidak terjadi kecurangan.

Using pictorial word puzzles to improve the vocabulary mastery of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang / Nurul Aulia

 

Key words: vocabulary mastery and pictorial word puzzles. This research was intended to improve the vocabulary mastery of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang in reading recount texts. Based on the preliminary study, 19 (65.52%) out of 29 students of grade eighth of MTs Surya Buana Malang got score below the SKBM set up by the school for English vocabulary. Furthermore, it also showed that the students’ difficulties lay upon the problem of memorizing new vocabulary. To overcome the problem, pictorial word puzzles were applied in vocabulary learning. This research was classroom action research. The subjects were class VIII– A in the first semester of 2009/2010 academic year. Class VIII–A consisted of 29 students with 13 females and 16 males. This research was conducted in two cycles. Every cycle consisted of four stages: planning the action, implementing the action, observing the action, and reflecting the action. In the planning step, the researcher planned and made some preparation for this action. Then, she conducted a vocabulary pre-test to measure the students’ vocabulary mastery. Next step, the researcher observed the situation of the implementation of pictorial word puzzles in the classroom. Based on the observation, the researcher made a reflection about what happened in the classroom in cycle I. After that, she re-planned the activities that were going to do in cycle II. The criterion of success was 75% of the students’ get the minimum passing grade of 75. The instruments used to collect the data were observation sheets, questionnaire, and vocabulary quizzes. The data gained from the observation sheets were teaching–learning process and students’ attitude towards the implementation of pictorial word puzzles. Students’ responses on the use of pictorial word puzzles were gained from questionnaire. It took two cycles to meet criteria of success. In cycle I, the implementation of the action was not fully successful; it was proven by 19 (65.52%) out of 29 students’ got score above minimum passing grade of 75. Since the criteria of success told that 75% of students had to reach the minimum passing grade of 75, Cycle II was conducted. The implementation of the action was fully successful in cycle II. The students’ score was better and had met the criteria of success. In cycle II, after the students play pictorial word puzzles, 25 (86.21%) out of 29 students got score above minimum passing grade of 75. To sum up, the students’ scores had suppressed the criteria of success determined by the school. The increasing number of students got score above minimum passing grade showed that pictorial word puzzles was very helpful for improving students’ vocabulary mastery at the eighth graders of MTs Surya Buana Malang. The research findings showed that the implementation of pictorial word puzzles makes the class more active and alive. The use of pictorial word puzzles during vocabulary learning improves the vocabulary mastery of the eight grades of MTs Surya Buana Malang. The pictorial word puzzles make the vocabulary ii learning more enjoyable and interesting because students can memories the meaning of the difficult words without asking their teacher or looking them up in the dictionary all the time. The result of observation sheets and questionnaire showed that students were interested in this media because it was enjoyable, the class atmosphere became relaxed and created cooperation between partners with challenging task. The research findings show that the using of pictorial word puzzles during vocabulary learning could be implemented to improve the vocabulary mastery of the eighth grades of MTs Surya Buana Malang. It is suggested to the English teachers to apply pictorial word puzzles to improve their students’ vocabulary mastery. For other researchers, it is suggested that the similar research can be conducted using different methodology in other schools or vocational schools with different genre of text.

Studi pemahaman fenomena pemanasan global (Global Warming) siswa kelas XI IPA SMA Islam Al Maarif Singosari tahun ajaran 2009/2010 / Umi Nurhidayah

 

Kata kunci: pemahaman, pemanasan global (global warming) Ilmu kimia merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam mempelajari lingkungan hidup, karena dalam lingkungan hidup selalu ada bahan-bahan kimia dan peristiwa-peristiwa kimia. Kehadiran bahan-bahan kimia di dalam lingkungan hidup di samping meningkatkan terpenuhinya berbagai kebutuhan hidup manusia, juga dapat menimbulkan masalah, salah satunya adalah masalah pemanasan global. Berbagai media seperti internet, televisi, surat kabar, dan radio juga marak membicarakan hal ini. Dalam KTSP masalah pemanasan global tidak dibahas secara terperinci. Hal ini mungkin akan berdampak terhadap kurangnya pemahaman siswa mengenai fenomena pemanasan global, yang selanjutnya akan berdampak terhadap kurangnya kepedulian siswa mengenai masalah yang berkaitan dengan pemanasan global. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pemahaman siswa terhadap gas rumah kaca, (2) pemahaman siswa terhadap efek rumah kaca, (3) pemahaman siswa terhadap penyebab pemanasan global, (4) pemahaman siswa terhadap dampak pemanasan global, (5) pemahaman siswa terhadap penanggulangan pemanasan global, (6) kesulitan siswa dalam memahami fenomena pemanasan global. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Islam Al Maarif Singosari tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 61 siswa. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa tes objektif sebanyak 20 butir soal dengan validitas isi 100% dan reliabilitas yang dihitung dengan persamaan Kuder Richardson-20 sebesar 0,64. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman siswa terhadap gas rumah kaca termasuk dalam kategori rendah, (2) pemahaman siswa terhadap efek rumah kaca termasuk dalam kategori rendah, (3) pemahaman siswa terhadap penyebab pemanasan global termasuk dalam kategori tinggi, (4) pemahaman siswa terhadap dampak pemanasan global termasuk dalam kategori sangat tinggi, (5) pemahaman siswa terhadap penanggulangan pemanasan global termasuk dalam kategori tinggi, (6) kesulitan siswa dalam memahami fenomena pemanasan global terletak pada: (a) siswa menganggap gas nitrogen, gas hidrogen sulfida, dan gas hidrogen sianida adalah gas rumah kaca, (b) siswa menganggap bahwa efek rumah kaca alami sama dengan efek rumah kaca yang diakibatkan oleh peningkatan gas rumah kaca, (c) siswa memahami sumber energi alternatif seperti biogas, biofuel, dan energi listrik tenaga surya.

Survei manajemen pengurus kota (Pengko) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Malang musim kompetisi 2009-2010 / Ardi Putro Wibowo

 

Kata Kunci : Manajemen, Pengko PSSI Kota Malang Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang tingkat perkembangan dan pembinaan sepakbolanya maju, hal itu dapat dilihat dari prestasi sepakbola Jawa Timur pada tingkat nasional. Prestasi Sepakbola Jawa Timur pada tingkat nasional untuk kategori tim senior antara lain : AREMA Malang Juara COPA Indonesia 2005 dan 2006, PERSEBAYA dan PERSIK pernah menjadi juara liga Indonesia sebanyak 2 kali. Untuk mengatur, membina dan meningkatkan sepakbola di Jawa Timur terdapat puluhan Pengurus Kota (Pengko) dan Pengurus Kabupaten (Pengkab). Pengko PSSI Malang adalah salah satu contohnya, organisasi ini berada dibawah naungan Pengurus Provinsi (Pengprov). Pengko PSSI Malang, Pada musim kompetisi tahun 2009 -2010 banyak prestasi yang sudah diperoleh diantaranya pada awal tahun 2009 tim PERSEMA berhasil promosi dari divisi utama menuju Liga Super Indonesia (Kasta tertinggi sepak bola indonesia), Pada tahun 2009 tim sepak bola PORPROV Kota Malang juga berhasil menjadi juara umum, berikutnya tim sepak bola U-21 PERSEMA berhasil menjadi yang terbaik dalam dalam kejuaraan U-21 Nasional pada tahun 2009. Prestasi ini yang tidak terlihat di musim 2008-2009. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif melibatkan instrumen tunggal yang diteliti, yaitu pengko PSSI Malang yang bertujuan untuk menggambarkan tentang bagaimana manajemen pengko PSSI Malang. Data yang diperoleh terdiri dari beberapa variabel yaitu : Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Pengawasan, Penyusunan staf, Anggaran. Data tersebut disajikan melalui angket yang disebarkan ke pengurus kota PSSI Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa diperoleh hasil persentase aspek perencanaan diperoleh hasil 96,87 % yang berarti sangat baik, aspek pengorganisasian diperoleh hasil 98,75% yang berarti sangat baik, aspek pelaksanaan diperoleh hasil 95 % yang berarti baik, aspek pengawasan diperoleh hasil 96,87 % yang berarti sangat baik, aspek penyusunan staf diperoleh 100% yang berarti sangat baik, aspek anggaran diperoleh hasil 96,87% yang berarti sangat baik. Dari seluruh aspek diperoleh rata-rata 97,39 %, dengan demikian secara keseluruhan manajeman Pengko PSSI Malang musim kompetisi 2009-2010 adalah sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan adalah lebih membenahi aspek perencanaan seperti pertemuan rutin antar pengurus. Aspek pengorganisasian seperti penyusunan AD/ART dan perubahan AD/ART. Dari aspek pelaksanaan, pertemuan rutin dengan klub anggota internal sangat perlu diperhatikan, aspek pengawasan juga perlu adanya pembenahan terutama yang berkaitan dengan pembandingan antara pelaksanaan dengan perencanaan.

Pola interferensi morfologi, sintaksis, dan leksikal bahasa Inggris (B1) terhadap bahasa Indonesia (B2) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing tingkat advanced program CLS-UM tahun 2010 / Nur Aini H.S.

 

Kata Kunci : Interferensi Morfologis, Interferensi Sintaktis, Interferensi Leksikal, Ragam Bahasa Tulis Penguasaan bahasa pertama seringkali memengaruhi penguasaan bahasa kedua pembelajar asing. Hal tersebut juga terjadi pada mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010 terutama pada pola penggunaan bahasa dalam bentuk ragam bahasa tulis. Pengaruh itulah yang akhirnya menyebabkan terjadinya interferensi bahasa sehingga ketika mahasiswa asing menulis kalimat dalam bahasa Indonesia, struktur dan pola pikir kalimat masih menggunakan struktur dan pola pikir kalimat bahasa Inggris. Interferensi bahasa dapat terjadi pada beberapa aspek tata bahasa Indonesia, baik secara gramatikal maupun secara leksikal. Secara gramatikal, interferensi bahasa dapat terjadi pada aspek morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat. Secara leksikal, interferensi bahasa dapat terjadi pada pemaknaan kata atau satuan bahasa yang bermakna (leksem). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) menjelaskan pola interferensi morfologis bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010, 2) menjelaskan pola interferensi sintaktis bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010, dan 3) menjelaskan pola interferensi leksikal bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010. Karena berhubungan dengan ragam tulis, maka penelitian ini tidak memasukkan fonologis ke dalam tujuan penelitian. Selain itu, di dalam fonologis yang dikaji antara lain mengenai fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik audiotoris dan ketiganya lebih mengarah pada bentuk ragam bahasa lisan. Penelitian mengenai interferensi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif deskripstif. Sumber data dalam penelitian berupa hasil tulisan mahasiswa asing selama mengikuti program CLS-UM, yaitu tugas harian, kuis mingguan, dan ujian akhir semester. Data penelitian berwujud kalimat-kalimat hasil tulisan mahasiswa yang didalamnya terdapat interferensi bahasa. Untuk proses pengumpulan data, metode yang digunakan berupa pengamatan perilaku mahasiswa asing di dalam kelas. Analisis data dilakukan dengan cara menentukan apakah interferensi bahasa yang terjadi termasuk dalam interferensi morfologis, sintaktis, dan leksikal, baru kemudian dijabarkan apa saja pola interferensi tersebut. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing ditemukan interferensi morfologis pada aspek penerapan ii proses afiksasi dan reduplikasi dalam kalimat bahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Indonesia; 2) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing masih ditemukan penggunaan struktur dan pola pikir bahasa Inggris sehingga terjadi interferensi sintaktis pada klausa, kalimat sederhana, dan kalimat luas; dan 3) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing ditemukan interferensi leksikal pada aspek pemaknaan kata dari bahasa Inggris yang kurang tepat dalam suatu konteks kalimat bahasa Indonesia dan penggunaan langsung kata dari bahasa Inggris dalam kalimat bahasa Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola interferensi pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010 terjadi pada tiga tataran, yaitu tataran morfologis, sintaktis, dan leksikal. Interferensi morfologis terjadi pada aspek penerapan proses afiksasi dan reduplikasi dalam kalimat bahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Interferensi sintaktis terjadi pada penggunaan struktur dan pola pikir bahasa Inggris pada klausa, kalimat sederhana, dan kalimat luas bahasa Indonesia. Interferensi leksikal terlihat pada pemaknaan kata dari bahasa Inggris yang digunakan kurang tepat dalam suatu konteks kalimat bahasa Indonesia dan penggunaan langsung kata dari bahasa Inggris dalam kalimat bahasa Indonesia. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada mahasiswa asing agar lebih meningkatkan penguasaan struktur kalimat bahasa Indonesia dan memperbanyak penguasaan kosakata dalam bahasa Indonesia. Kemudian, kepada guru kelas BIPA tingkat advanced disarankan untuk lebih memperbanyak materi yang dapat meningkatkan penguasaan struktur kalimat bahasa Indonesia dan lebih diperbanyak lagi latihan untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Indonesia. Kepada penyelenggara program BIPA, disarankan untuk tidak hanya memfokuskan kemampuan berbahasa Indonesia pada ragam lisan tetapi pada ragam tulis juga karena kedua bentuk ragam bahasa tersebut merupakan sarana berkomunikasi yang saling melengkapi satu sama lain. Kepada peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengadakan penelitian interferensi bahasa dengan menggunakan metode yang berbeda dan pengkajian mengenai penyebab terjadinya interferensi.

Penarapan pendekatan inquiri untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA pada siswa kelas III SDN Sumbersuko Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang / Widayati

 

Penerapan sulaman terawang pada gaun pesta berbahan dasar denim / Faudliah Rahmah

 

Kata Kunci: Sulaman Terawang, Gaun Pesta, Denim Melihat dari tren busana 2010 yang masih mengacu pada denim, maka penulis ingin membuat sebuah busana berbahan dasar denim. Dari masa ke masa denim masih menjadi sebuah tren mode busana. Namun selama ini denim hanya digunakan untuk busana sehari-hari, tetapi masih jarang ditemui denim digunakan untuk acara formal atau busana pesta. Dari hal inilah yang mendorong penulis untuk membuat sebuah busana berbahan denim dengan desain yang menarik sehingga bisa digunakan untuk acara-acara seperti pesta. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menciptakan suatu desain busana pesta yang berupa gaun dengan penerapan sulaman terawang pada bahan denim. Sulaman yang biasanya diterapkan pada tenunan polos, pada kesempatan ini sulaman terawang diterapkan pada bahan denim yang mempunyai tenunan kepar. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah dapat dijadikannya sumber inspirasi bagi pembaca untuk membuat gaun pesta dengan penerapan sulaman terawang pada bahan denim. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 156.000,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa gaun bersiluet A yang semuanya menggunakan bahan denim putih, yang diproses pewarnaan menjadi warna turquoise dengan perbandingan 3:1 hijau (60% kuning : 40% biru) : biru primer. Dengan hiasan sulaman terawang dan cabutan serat. Saran yang dapat diberikan adalah saat proses pewarnaan pada bahan denim, perebusan bahan sebaiknya waktunya lebih lama (± 45 menit), supaya warna lebih meresap dan hasilnya lebih baik.

Survei kegiatan latihan bolavoli di klub bolavoli Gajayana Kota Malang / Danny Perdana Putra

 

Kata Kunci: Bentuk latihan bolavoli Masalah pokok dalam penelitian ini yaitu berkenaan dengan bentuk latihan bolavoli yang digunakan di klub bolavoli Gajayana Kota Malang. Dari beberapa bentuk latihan bolavoli yang ada antara lain: (1) bentuk latihan fisik, (2) bentuk latihan teknik, (3) bentuk latihan taktik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk latihan di klub bolavoli Gajayana Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti hanya melakukan pengamatan langsung terhadap bentuk latihan yang digunakan di klub bolavoli Gajayana Kota Malang. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari: ketua klub, pelatih tim putra dan anggota klub sejumlah 15 atlet putra senior. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei. Hasil dari bentuk latihan bolavoli di klub bolavoli Gajayana Kota Malang antara lain: (a) bentuk latihan fisik yang dilakukan memiliki tujuan yang mengacu pada daya tahan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, stamina, power, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan, seperti: latihan fisik lompat pagar, latihan kekuatan otot lengan, drill passing, drill smash, drill block, dan drill touser, (b) bentuk latihan teknik dasar bolavoli yang digunakan dan dirangkai oleh pelatih agar menghasilkan suatu permainan yang kompetitif dan terjadi peningkatan penguasaan teknik bagi setiap atletnya, seperti: latihan teknik passing dengan tembok, latihan teknik smash (foles) dengan tembok, latihan teknik sliding, latihan kombinasi teknik dasar bolavoli, dll, (c) bentuk latihan taktik (menyerang dan bertahan) seperti: latihan penyerangan tunggal, latihan pertahanan dan memberikan umpan, latihan kekompakan dan reaksi, dll yang kesemuanya memiliki tujuan agar tim tersebut dapat melakukan pertahanan dan penyerangan yang lebih sempurna dalam menghadapi suatu pertandingan sehingga mencapai prestasi yang maksimal. Kesimpulannya bahwa bentuk latihan fisik di klub bolavoli Gajayana mengacu pada unsur-unsur kesegaran jasmani antara lain: daya tahan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, stamina, power, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan. Bentuk latihan teknik di klub bolavoli Gajayana dengan menggabungkan teknik dasar bolavoli yang bervariasi dengan tujuan terjadi peningkatan penguasaan teknik bagi setiap atletnya. Bentuk latihan taktik di klub bolavoli Gajayana memiliki tujuan agar dapat melakukan pertahanan dan penyerangan yang lebih sempurna dalam menghadapi suatu pertandingan sehingga mencapai prestasi yang maksimal. Disarankan kepada pelatih dalam penyusunan bentuk latihan dapat memperhatikan   dan memahami pedoman ilmu pelatihan, sehingga program latihan yang telah disusun benar-benar bermanfaat bagi para atlet bolavoli, untuk pembuatan periode latihan tidak terlalu panjang sehingga latihan yang dilakukan akan lebih efisien, untuk pemberian beban latihan kepada atlet sesuai dengan kemampuan dan kondisi atlet.

Perancangan event promosi berupa roadshow bina vokal Swara Narwastu / Dwika Resti Putri

 

Kata kunci: perancangan, event, promosi, bina vokal, Swara Narwastu. Bina Vokal Swara Narwastu adalah bina vokal tertua di kota Malang. Kualitas dan prestasinya tidak hanya diukur secara nasional, tapi juga internasional. Selama ini, BVSN mengadakan acara rutin seperti konser dan recital, serta juga mengadakan pengajaran singkat. Karena kurangnya promosi, BVSN tidak begitu dikenal oleh masyarakat awam. Promosi yang dilakukannya selama ini, cenderung merupakan promosi dari mulut ke mulut. Untuk lebih mengenalkan BVSN dan juga mempertahankan citra sebagai bina vokal terbaik, maka perancangan media promosi dilakukan dengan membuat perancangan event roadshow yang dijadwalkan untuk dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2011 di Malang Town Square dan Araya Mall. Roadshow dipilih menjadi cara yang dianggap efektif untuk bisa menjangkau masyarakat secara luas karena siapapun bisa menyaksikan tanpa dibatasi dengan pembayaran tiket. Perancangan dilakukan dengan menggunakan pendekatan Desain Komunikasi Visual dan dibatasi hanya pada perancangan tata panggung dan campaign media roadshow.

Developing interactive listening comprehension materials in self-learning center (SLC) for the students at Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri / Ria Fakhrurriana

 

Pengembangan project work sebagai sistem evaluasi produktif SMK Program Keahlian Elektronika di Kota Blitar / Eko Bakti Syamsuningtyas

 

Tesis, Program studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Waras Kamdi, MPd. (II) Drs. Setiadi Cahyono P.,MT.,MPd. Kata kunci: Penilaian autentik, pengembangan sistem evaluasi, project work. Penilaian autentik adalah penilaian yang mengukur kemampuan peserta didik dalam kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian diri sendiri dalam kehidupan nyata, bahwa para siswa bertanggung jawab untuk mengevaluasi diri mereka. Bahan evaluasi dapat dikumpulkan sebagai produk yang sebenarnya, sebagai contoh tes prestasi standar yang didasarkan pada beberapa kriteria. Penilaian unjuk kerja juga memiliki norma-norma, namun pendekatan filsafatnya jauh berbeda dengan tes standar pada umumnya. Konsep dasarnya adalah para siswa harus menghasilkan bukti pemenuhan tujuan kurikulum yang dapat digunakan sebagai kumpulan bukti prestasi. Penskoran dengan rubrik adalah salah satu metode yang digunakan untuk evaluasi penilaian unjuk kerja. Pengembangan sistem evaluasi menggunakan metode Borg dan Gall yang dibagi menjadi empat tahap pengembangan, yaitu: studi pendahuluan, perencanaan, oji coba dan uji validasi. Di industri penerapan sistem evaluasi dengan mengutamakan hasil kerja dengan produk mutu setara tidak hanya memerlukan penyesuaian dengan kondisi sebenarnya, tetapi juga praktik bengkel di sekolah. Kreativitas peserta dengan dasar ide kompetensi yang telah ditempuh selama studi menjadi target yang bisa diimplementasikan di lingkungan kerja. Secara nyata. Penerapan hasil studi dalam ranah kognitif berfungsi penting sebagai aktifitas motorik para peserta didik yang ditunjukkan dengan sikap kerja. Project work menerapkan pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek yang menghasilkan suatu hasil proyek yang dapat diamati secara langsung dan nyat. Peserta didik membuat laporan hasil kerja secara tertulis kemudian menyampaikannya secara lisan dalam bentuk presentasi. Metode tersebut tidak hanya meningkatkan kreativitas peserta didik tetapi juga kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.Metode analisis inter-rater digunakan untuk menguji kehandalan sistem evaluasi project work. Dari hasil analisis inter-rater diperoleh 0,7982. Hal ini menunjukkan bahwa project work cukup handal untuk evaluasi. Hasil pengamatan dan pembahasan dari pengembangan sistem evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa project work lebih tepat digunakan sebagai sistem evaluasi produktif untuk program keahlian elektronika, dan mampu meningkatkan hasil kerja siswa. Sarana dan prasarana yang memadai serta peningkatan kerjasama dengan dunia industri dibutuhkan agar evaluasi produktif dengan metode project work ini lebih efektif.

Pengaruh penggunaan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema pestisida terhadap kompetensi IPA siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 10 Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Helmid Hiteria

 

Kata kunci: Paket IPA Terpadu, pestisida, kompetensi IPA IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dihadapi. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 secara tegas dinyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Namun hasil wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 10 Malang menunjukkan bahwa guru merasa kesulitan dalam menerapkan kurikulum baru yang ditetapkan oleh pemerintah, karena IPA harus disajikan secara terpadu yang meliputi Fisika, Kimia, dan Biologi. Untuk mengatasi kesulitan ini telah dibuat paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan beberapa tema, salah satunya bertema “Pestisida”. Namun paket IPA Terpadu dengan tema “Pestisida” ini belum diterapkan dalam pembelajaran, sehingga belum diketahui apakah paket IPA Terpadu dengan tema “Pestisida” dapat meningkatkan kompetensi IPA siswa atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan paket IPA Terpadu dengan tema pestisida terhadap kompetensi IPA yang meliputi prestasi belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah untuk siswa SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design) dengan sampel penelitian yang digunakan adalah siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang. Jenis eksperimen semu yang digunakan adalah the pretest-postest nonequivalent control group design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster random sampling. Banyaknya sampel penelitian 72 siswa yang terdiri dari dua kelas, yaitu 36 siswa kelas eksperimen dan 36 siswa kelas kontrol. Instrumen perlakuan meliputi paket IPA Terpadu yang meliputi paket untuk siswa dan panduan guru. Dalam penelitian ini instrumen pengukuran berupa tes tertulis untuk mengukur kompetensi IPA siswa yang meliputi prestasi belajar dan kerja ilmiah sedangkan untuk sikap ilmiah digunakan skala sikap. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji anakova dan uji lanjut LSD (Least Square Difference). Berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan anakova, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar dan kerja ilmiah pada tema pestisida antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan paket IPA Terpadu dan siswa yang mendapat pembelajaran secara konvensional. Hasil uji lanjut LSD menyatakan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar dan kerja ilmiah kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Sedangkan untuk sikap ilmiah berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan anakova tidak ada perbedaan, sehingga tidak dilakukan uji lanjut.

Penggunaan ragam bahasa eufemisme dalam berita di media massa online / Hendri Eko Setiawan

 

Kata Kunci: eufemisme, berita, media massa online Media massa merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan informasi. Penyampaian informasi tersebut menggunakan bahasa yang memiliki ciri-ciri yang khas yaitu singkat, jelas, padat, sederhana, lancar, lugas, dan menarik. Ciri khas ini tentunya juga harus terkait dengan etika komunikasi atau kesantunan dalam berbahasa. Akan tetapi, dalam praktiknya penyampaian informasi yang santun dengan penghalusan bahasa dapat mengaburkan makna pesan sekaligus memanipulasi fakta yang hendak disampaikan pada khalayak. Konsekuensi penggunaan bahasa eufemisme adalah kaburnya fakta yang pada akhirnya, membuat pembaca tidak dapat menangkap dengan pasti apa yang disampaikan oleh media. Dalam penelitian ini dikaji penggunaan ragam bahasa eufemisme dalam berita di media massa online. Aspek eufemisme yang dikaji meliputi (a) bentuk eufemisme, (b) makna eufemisme, dan (c) fungsi eufemisme. Penelitian ini menggunakan rancangan analisis wacana. Data penelitian ini berupa teks berita di media massa online. Teks berita dikumpulkan dari internet di situs kompas.com, tvone.co.id, dan pikiran-rakyat.com. Berdasarkan hasil analisis data bentuk eufemisme yang ditemukan dalam penelitian ini berupa (a) pelabelan positif dan negatif, (b) pengonotasian, dan (c) pengiasan. Penggunaan pelabelan, pengonotasian dan pengiasan merupakan bentuk penggunaan eufemisme dalam berita di media massa online. Makna eufemisme yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi (a) makna eufemisme bentuk pelabelan positif yang meliputi makna komisif, ekspresif, representatif , dan makna bentuk pelabelan negatif meliputi makna ekspresif, representatif, direktif; (b) makna eufemisme bentuk pengonotasian meliputi makna komisif, representatif,direktif; dan (c) makna eufemisme bentuk pengiasan yang ditemukan berupa makna representatif, direktif. Fungsi eufemisme yang ditemukan dalam penelitian ini berupa (a) pelabelan positif (untuk menggugah rasa simpati dan kesan positif) dan pelabelan negatif (untuk menggugah rasa benci dan kesan negatif); dan (b) pengonotasian (meninggikan, merendahkan, menguatkan, dan melemahkan) dan (c) pengiasan untuk menimbulkan atau menciptakan efek tertentu pada informasi yang disampaikan. Penggunaan gaya bahasa eufemisme dalam teks berita untuk menghaluskan informasi menyebab makna yang diterima tidak jelas dan bertafsir. Penggunaan eufemisme dalam berita politik dan hukum belum tentu bertujuan baik karena bisa saja gaya bahasa eufemisme dijadikan alat untuk menutupi atau menyamarkan realitas yang sebenarnya demi kepentingan pribadi dan golongan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada wartawan dan pengelola media massa, pembaca media massa, lembaga atau instansi pendidikan dan peneliti berikutnya. Wartawan dan pengelola media massa diharapkan dapat ii menggunakan gaya bahasa eufemisme dengan tepat agar informasi yang disampaikan kepada khalayak tetap obyektif, benar, menyeluruh dan berimbang. Pembaca media massa perlu mengkonfirmasi kebenaran informasi karena informasi dengan penghalusan bahasa atau eufemisme dapat mengaburkan makna dan memanipulasi fakta. Lembaga atau instansi pendidikan diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat dijadikan cerminan dalam menemukan fenomena penggunaan eufemisme. Peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi penelitian lebih lanjut disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Pelabelan total titik tak beraturan pada gabungan dua graf K2,n atau (2K2,n) / Ni'mah Hermawati

 

Kata kunci: graf, pelabelan total titik tak beraturan, graf 2K2,n. Misalkan G suatu graf dengan himpunan titik Vdan himpunan sisi E. Untuk suatu bilangan bulat k. Pelabelan- total didefinisikan sebagai suatu pemetaan . Pelabelan dikatakan pelabelan- total titik tak beraturan jika untuk setiap titik k{..,2kVf.,,1:→E∪fkyx,)(x yang berbeda berlaku dengan Σ+xyxyx))w∈Ef(=fxw()()(wy≠. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan total titik tak beraturan pada gabungan dua graf atau 2K2,n . Graf nK,22,2nK merupakan penggabungan dari 2 graf dengan jumlah n sama. Salah satu titik yang berderajat n dari masing-masing graf saling dihimpitkan sehingga didapatkan nK,2nK,22,2nK dengan n 4. Dari pembahasan diperoleh hasil yang menyatakan bahwa untuk setiap titik di graf 2K2,n dimana n 4, bentuk umum dari nilai bobotnya berbeda sehingga mengakibatkan nilai bobot masing-masing titik juga berbeda.

Peningkatan proses dan hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran karya wisata tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjati II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Elisa Diah Oktarina

 

Kata kunci: karya wisata, proses belajar, hasil belajar, IPS Pembelajaran IPS bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan tersebut tidak akan tercapai apabila siswa hanya mendengarkan ceramah dari guru di dalam kelas. Sehingga kegiatan pembelajaran kurang menarik, berpusat pada guru dan hasil belajar siswa rendah. Hasil nilai tersebut dapat dilihat melalui hasil pra tindakan. Nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 52, sedangkan bagi siswa yang mencapai KKM ada 6 siswa (20%) dan 14 siswa (80%) masih belum mencapai KKM yang sudah ditentukan. Dari data tersebut perlu adanya pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan, yaitu siswa secara langsung dihadapkan pada permasalahan yang ada di sekelillingnya. Salah satu bentuk belajar mengajar yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan belajar mengajar di luar kelas. Dengan kegiatan karya wisata dapat mengarahkan siswa untuk mencocokkan hal-hal yang mereka peroleh di dalam kelas dengan kenyataan di masyarakat maupun kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan metode karya wisata dalam pembelajaran IPS tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjajti II, (2) mendeskripsikan peningkatan proses belajar IPS dengan menggunakan metode karya wisata tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjati II, dan (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan metode karya wisata tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjati II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Kemmis dan Mc Teggart (dalam Aqib, 2006:22) yang pelaksanaannya terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap tindakan, (3) tahap observasi, dan (4) tahap refleksi. Penelitian tersebut dilaksanakan sebanyak dua siklus, siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan dan siklus yang kedua dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan. Kedua siklus tersebut menggunakan metode yang sama yaitu karya wisata dengan materi aktivitas ekonomi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Gejugjati II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan yang terdiri dari 30 siswa. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan karya wisata yang dilakukan oleh siswa kelas IV SDN Gejugjati II sesuai dengan tahapan-tahapan dalam karya wisata yang meliputi persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Hasil pengamatan terhadap kemampuan guru dalam menerapkan metode karya wisata meningkat 15,8%. Untuk aktivitas siswa dalam kegiatan karya wisata dari siklus I ke siklus II meningkat 22,8%. Sedangkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS juga meningkat dari siklus I ke siklus II menjadi 10,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode karya wisata dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas IV tentang aktivitas ekonomi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru-guru yang lain untuk menggunakan metode karya wisata ini sebagai metode pembelajaran.

Pengaruh perputaran modal kerja terhadap profitabilitas (studi pada 50 leading companies in market capitalization yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008) / Ratna Tri Wahyuni

 

Kata-kata kunci: Perputaran Kas, Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Profitabilitas Keberadaan modal kerja sangat penting bagi perusahaan karena modal kerja digunakan perusahaan untuk memperlancar kegiatan operasionalnya. Modal kerja harus dikelola dengan baik supaya tidak terjadi kelebihan atau kekurangan modal kerja. Kelebihan modal mengakibatkan adanya dana menganggur dan kekurangan modal membuat perusahaan tidak dapat beroperasi. Modal kerja harus dalam keadaan berputar agar perusahaan dapat beroperasi secara terus menerus sehingga profitabilitasnya meningkat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2) dan perputaran persediaan (X3) sebagai variabel bebas dan Return on Equity/ROE sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang masuk dalam 50 Leading Companies in Market Capitalization di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 12 perusahaan yang dijadikan sampel. Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2) dan perputaran persediaan (X3) secara parsial berpengaruh terhadap Return on Equity/ROE serta perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2) dan perputaran persediaan (X3) secara simultan berpengaruh terhadap Return on Equity/ROE.Dimana ROE digunakan untuk mengukur profitabilitas. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan bagi perusahaan hendaknya mengelola modal kerja dengan baik agar perusahaan memperoleh keuntungan yang maksimal. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah menambah variabel bebas yang diduga berpengaruh terhadap profitabilitas seperti leverage, aktivitas dan likuiditas. Selanjutnya saran untuk investor adalah sebelum melakukan investasi, investor diharapkan untuk menganalisis laporan keuangan untuk memberikan gambaran keadaan perusahaan.

Perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang yang pembelajarannya menggunakan inkuiri terbimbing dengan pembelajaran ekspositori / Wuli Oktiningrum

 

Kata kunci: inkuiri terbimbing, ekspositori, hasil belajar Masih banyak siswa SMP Negeri 13 Malang mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar geometri, padahal ide –ide atau konsep – konsep geometri sudah dikenal siswa dalam kehidupan sehari – hari. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran matematika masih menggunakan metode ekspositori . Metode ekspositori menyebabkan siswa lebih cendrung pasif karena kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru, sehingga siswa dalam proses belajar hanya mengandalkan ingatannya dan hal ini menyebabkan kemampuan mental siswa untuk berproses secara analitis sangat minim. Salah satu metode pembelajaran yang secara teoritis dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dialami siswa SMP Negeri 13 Malang adalah menerapkan metode pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika antara siswa dengan pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik daripada ekspositori pada pokok bahasan segitiga pada kelas VII SMP Negeri 13 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang tahun ajaran 2009/2010 dan sampelnya adalah 78 yang terbagi 2 kelas. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling, sehingga terpilih kelas VII-D sebagai kelas kontrol dan kelas VII-C sebagai kelas eksperimen. Kelas kontrol dalam penelitian ini adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran ekspositori dan kelas eksperimen adalah kelas yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing. Kedua kelas diberikan postes dengan soal yang sama setelah perlakuan berakhir. Hasil penelitian eksperimen ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol . Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai postes, rata-rata nilai postes pada kelas eksperimen adalah 87 dan rata-rata nilai postes kelas kontrol adalah 74. Rata-rata nilai postes dari kedua kelas tersebut menunjukkan bahwa rata-rata nilai postes matematika kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe learning together terhadap hasil belajar sains kimia siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang pada pokok bahasan bahan kimia dalam makanan / Shanti Welfriyanti

 

Kata kunci : pembelajaran kooperatif, learning together, sains. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.Untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik, diharapkan ada komponen yang dapat menunjang pendidikan. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together. Model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together berperan penting membantu tercapainya proses belajar mengajar, penyelenggaraannya mencakup interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran dan kebutuhan belajar siswa. Penelitian bertujuan (1) Mengetahui apakah hasil belajar sains kimia menggunakan model pembelajaran tipe Learning Together lebih baik dibanding pembelajaran konvensional(ceramah). (2)Mengetahui keterlaksanaan proses belajar dan mengajar sains menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe learning together. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental semu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster sample. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang, kelas VII B adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan kelas VII E adalah kelas yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rerata hasil belajar siswa kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together adalah 77,73. Rerata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah) adalah 69,97. Analisis data menggunakan uji-t menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together lebih baik dibanding siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah) pada pokok bahasan bahan kimia dalam makanan. Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif dilakukan dengan (1) mengisi lembar observasi keterlaksanaan 5 unsur pembelajaran kooperatif , diperoleh data bahwa pada pertemuan keempat semua siswa telah melaksanakan 5 unsur pembelajaran kooperatif. (2)Lembar observasi keaktifan siswa diperoleh data bahwa pada pertemuan keempat semua kelompok telah memperoleh skor dengan kriteria baik dengan besar persentase 91,67%. Dan keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together telah berjalan dengan baik.

Pengembangan buku panduan model latihan quick smash depan di unit Kreatifitas mahasiswa Unit Aktivitas Bolavoli Universitas Negeri Malang / Nurrul Riyad Fadhli

 

Kata kunci: pengembangan, permainan bolavoli, quick smash, model, latihan. Dalam permainan bolavoli banyak orang beranggapan bahwa smash adalah bagian yang paling menarik, tetapi permainan bolavoli tidak cukup hanya dengan smash yang monoton, harus disertai variasi-variasi serangan yang bagus. Variasi serangan akan lebih sempurna jika ada quick smash di dalamnya, selain menjadikan permainan lebih menarik, aksi quick smash lebih dapat menghasilkan banyak poin untuk mencapai tujuan utama, yaitu sebuah kemenangan. Berdasarkan hasil observasi pada kejuaran bolavoli PORPROV II Jatim dan kejuaraan antar PTN/PTS Se-Jawa Bali yang diikuti oleh tim UKM UABV UM, smash quick masih sangat rendah digunakan dan tingkat kegagalan cukup tinggi serta hasil wawancara dengan pelatih tim UKM UABV Universitas Negeri Malang, latihan smash secara umum sudah diberikan namun untuk latihan quick smash depan belum muncul, maka akan dilakukan penerapan model latihan quick smash depan di UKM UABV Universitas Negeri Malang. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu belum adanya bentuk-bentuk latihan quick smash depan di UKM UABV Universitas Negeri Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan latihan quick smash depan yang baik dan sesuai untuk pemain bolavoli di UKM UABV Universitas Negeri Malang Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk para ahli dan pemain. Dengan kualifikasi, 3 ahli kepelatihan bolavoli dan 2 ahli media, sedangkan untuk pemain dilakukan uji coba (kelompok kecil) sebanyak 10 pemain, dan uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 25 pemain. Hasil penelitian berupa bentuk-bentuk latihan quick smash depan ini adalah sebagai berikut: dari 3 ahli bolavoli sudah sesuai di berikan kepada siswa, dari 2 ahli media sudah sesuai dengan produk buku model latihan quick smash depan, dari uji coba (kelompok kecil) yaitu persentasenya 83.2% untuk hasil angket dan 76.18% untuk hasil observasi, serta dari uji lapangan (kelompok besar), yaitu persentasenya 89.77% dan 82.23% dari hasil observasi uji kelompok besar. Produk pengembangan berupa buku panduan quick smash depan, diharapkan dapat dijadikan referensi baik oleh pelatih maupun atlit bolavoli UKM UABV Universitas Negeri Malang.

Penggunaan teknik Euclides untuk meningkatkan hasil belajar faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) pada siswa kelas IV SDN Kedungpengaron II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Hari Purwanto

 

Kata kunci: Teknik Euclides, Hasil belajar matematika, FPB dan KPK Pembelajaran matematika sebagai proses terdiri atas berbagai ketrampilan dasar hitung seperti menjumlahkan, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Hasil belajar matematika tentang FPB dab KPK di SDN Kedungpengaron II masih belum memenuhi SKM yang telah ditentukan . Oleh karena itu penulis melaksanakan perbaikan metode pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan menerapkan teknik Euclides pada penyelesaiaan soal tentang FPB dan KPK. Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah: Apakah penggunaan teknik Euclides dapat meningkatkan hasil belajar matematika faktor persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil pada siswa kelas IV SDN Kedungpengaron II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan? Dalam penelitian ini penulis mengambil sasaran di semester II SDN Kedungpengaron II, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Siswa kelas IV sebanyak 25 siswa sebagai subyek penelitian ini, dengan alasan bahwa siswa kelas IV diharapkan dapat menyelesaikan masalah FPB dan KPK dengan cepat dan benar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). yang dikembangkan oleh Kemmis dam Mc Tanggart.meliputi empat jalur (langkah), yaitu: 1) Planning –perencanaan; 2) acting & observing – tindakan dan pengamatan; 3) reflecting – perefleksian; dan 4) revise plan – perbaikan rencana. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik Euclides dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang FPB dan KPK pada siswa kelas IV SDN Kedungpengaron II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 69 ,sedangkan rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 76 , dan pada siklus II rata-rata prestasi mencapai 88. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata hasil belajar dari pra tindakan dan Siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar (19 %) . 2. Ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan sebesar 58% dan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 72% sedangkan pada siklus II mencapai 100 %, sehingga dapat dikatakan ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yang lebih tinggi lagi. Peningkatan ketuntasan belajar dari pra tindakan dan siklus I, ke siklus II sebesar 42 %. Hasil tersebut dirasa sudah memenuhi kriteria yang diharapkan peneliti. Hal ini berarti siklus III dinyatakan berhasil dan terbukti penggunaan teknik Euclides mampu meningkatkan ketuntasan belajar siswa.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model think-talk-write (TTW) di kelas ID SDN Ranggeh Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Roswita Tabavmolo

 

Kata kunci: keterampilan menulis deskripsi, Think-Talk-Write (TTW), siswa kelas IV SD Siswa Sekolah Dasar (SD), khususnya kelas IV diharapkan dapat memiliki keterampilan menulis deskripsi. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas IV SD Negeri Ranggeh ditemukan bahwa kemampuan menulis siswa masih rendah. Hal ini dilihat dari tugas-tugas dan nilai ulangan harian yang berkaitan dengan materi pelajaran menulis karangan deskripsi yang ditulis yaitu masih sulit dibaca guru karena tulisan siswa masih belum rapi, penempatan huruf besar dan kecil tidak teratur dan penggunaan tanda baca belum maksimal, siswa kurang mampu menggunakan dan memilih kata dalam menuangkan buah pikirnya, sering mengulang kata “lalu” dan “terus”, isi kalimat relatif tidak menggambarkan topik, dan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak sinambung, paragraf yang satu dengan paragraf yang lain tidak koheren. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan cara penerapan model TTW sebagai upaya meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi pada siswa kelas IV SD, (2) mendiskripsikan peningkatan keterampilan menulis deskripsi dengan model TTW pada siswa kelas IV SD. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Ranggeh yang berjumlah 26 siswa. Penelitian ini dilaksanakan tiga siklus, tiap siklus dilakukan dalam dua pertemuan yang melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Model TTW dalam penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap think, pada tahap think siswa melaluinya dengan bentuk pengamatan terhadap lingkungan sekolah, wawancara dengan guru-guru SDN Ranggeh, dan pengamatan terhadap apotik hidup. Tahap ke 2 yaitu tahap talk, pada tahap ini yang dilakukan siswa adalah berdiskusi dengan teman sendiri setelah melakukan pengamatan, dan tahap ke 3 yaitu tahap write, tahap Write terlihat pada saat siswa mulai menulis karangan deskripsi berdasarkan hasil pengamatan. Dari tahap-tahap dalam model ini terlihat ada peningkatan keterampilan menulis deskripsi pada siswa. Peningkatan ketuntasan belajar (berdiskusi dalam kelompok) pada siklus I sebesar 46,1%, siklus II sebesar 61,3%, dan siklus III sebesar 92,2%. Ketuntasan belajar (keterampilan menulis deskrpsi) yang diperoleh pada saat pra tindakan sebesar 15,3%, siklus I sebesar 46,1%, siklus II sebesar 65,3%, dan siklus III sebesar 84,5%. Penerapan model TTW dalam pembelajaran menulis deskripsi ini merupakan salah satu alternatif dalam meningkatan keterampilan menulis deskripsi siswa SD sehingga dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa.

Catatan budaya dalam buku teks BIPA Beginning Indonesia (through self-instruction) / Achmad Kusen Sutrisno

 

Kata kunci: deskripsi, catatan budaya, buku teks, dan bipa Pembalajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) memiliki tiga jenis materi pembelajaran, yaitu materi kebahasaan, materi keterampilan berbahasa dan materi budaya. Materi kebahasaan mencakup materi mengenai fonologi, morfologi, sintaksis dan lain sebagainya. Materi keterampilan berbahasa mencakup aspek menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Sedangkan, materi kebudayaan mencakup hal-hal yang memiliki unsur kebudayaan Indonesia dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Indonesia yang dipelajari, misalnya materi tentang salam, pertanyaan kesantunan, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan catatan budaya dalam buku teks Beginning Indonesian karangan John U. Wolff, Dede Oetomo dan Daniel Fietkewicz. Adapun rumusan tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan wujud materi budaya dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction), (2) mendeskripsikan penggolongan/ klasifikasi materi budaya dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction), (3) mendeskripsikan hubungan materi budaya dengan materi lain dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction), dan (4) mendeskripsikan penyajian materi budaya dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif. Dikatakan kualitatif karena data dalam penelitian ini merupakan data verbal dan peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian ini dan penelitian ini bertujuan untuk melukiskan keadaan materi budaya secara alamiah. Penelitian ini mengikuti tahapan penelitian (1) tahap perencanaan, (2) pengumpulan data, (3) kodifikasi data, (4) analisis data, dan (5) penyajian data. Hasil analisis data menunjukkan (1) wujud materi budaya dalam buku teks merupakan materi budaya bendawi dan tak bendawi, (2) klasifikasi materi budaya beragam sesuai dengan topik kebiasaan bertamu, ungkapan kesantunan/ basa-basi, cara menghormati orang lain, kebiasaan menawar harga, salam, keramah-tamahan, kebiasaan dalam bertelepon, kebiasaan dalam hal menggunakan angkutan umum, kebiasaan arisan, dan kebiasaan makan di tempat umum, (3) materi budaya memiliki hubungan dengan bagian Kalimat Dasar, Pertanyaan-Pertanyaan, Pilihan Berganda, dan Latihan Pola Kalimat, dan (4) penyajian materi budaya mengacu pada penggunaan kalimat dasar dalam percakapan baik menggunakan acuan langsung maupun tidak langsung. Wujud catatan budaya dalam buku teks BIPA Beginning Indonesian: Through Self-Instruction (BI) adalah catatan budaya bendawi dan tak bendawi. Dari sembilan belas materi dalam buku teks tersebut, hampir semua wujud catatan budaya dalam buku teks BI adalah wujud catatan budaya tak bendawi (intangible), hanya terdapat sebuah materi bendawi (tangible). Wujud budaya ii bendawi adalah materi budaya tentang pasar tradisional, sementara wujud catatan budaya tak bendawi mencakup (1) kebiasaan berpamitan, (2) ungkapan kesantunan/ basa-basi, (3) sopan santun, (4) cara menghormati orang lain, (5) kebiasaan dalam menerima tamu, (6) kebiasaan bertamu, (7) kebiasaan menawar harga, (8) salam, (9) keramah-tamahan, (10) kebiasan mencicipi hidangan, (11) kebiasaan dalam hal makan, (12) kebiasaan dalam bertelepon, (13) kebiasaan dalam hal menggunakan angkutan umum, (14) kebiasaan arisan, dan (15) kebiasaan makan di tempat umum. Penggolongan/ klasifikasi catatan budaya dalam buku teks BI disajikan dengan topik yang beragam. Topik-topik tersebut adalah (1) kebiasaan bertamu, (2)ungkapan kesantunan/ basa-basi, (3) cara menghormati orang lain, (4) kebiasaan menawar harga, (5) salam, (6) keramah-tamahan, (7) kebiasaan dalam bertelepon, (8) kebiasaan dalam hal menggunakan angkutan umum, (9) kebiasaan arisan, dan (10) kebiasaan makan di tempat umum. Hubungan catatan budaya dengan materi-materi lain dalam buku teks BI mencakup hubungan catatan budaya dengan sub-sub unit lain dalam satu unit pelajaran. Hubungan tersebut mencakup hubungan catatan budaya dengan bagian Kalimat Dasar, Pertanyaan-pertanyaan, Pilihan berganda, dan Latihan pola kalimat. Penyajian catatan budaya dalam buku teks BI disajikan dengan dua bentuk acuan pada penggunaan kalimat dasar dalam percakapan. Dua acuan tersebut adalah bentuk acuan langsung pada penggunaan kalimat dasar dalam percakapan dan bentuk acuan tidak langsung namun berhubungan dengan penggunaan kalimat dasar dalam percakapan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan pengajar BIPA sebagai fasilitator hendaknya dapat menggunakan materi budaya dalam buku teks BI dengan mengembangkan aspek budaya yang lebih beragam dan tidak terpaku pada buku teks saja. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian terhadap materi-materi budaya yang terdapat dalam buku teks selain materi budaya yang berbentuk catatan budaya.

Studi tentang perilaku hidup sehat siswa sekolah dasar negeri Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo / Devi Tri Kuncoro Habibi

 

Kata kunci: kesehatan, perilaku hidup sehat, siswa sekolah dasar Dalam rangka mensukseskan program Indonesia sehat 2010, maka peran siswa terkait perilaku hidup sehat dalam meningkatkan derajat hidup dan kesehatannya harus dioptimalkan. Tetapi berdasarkan observasi awal, masih ditemukan perilaku siswa SDN Klenang Kidul II yang belum mencerminkan perilaku hidup sehat seperti jajan sembarangan serta makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu. Sebagai generasi penerus bangsa dengan harapan menjadi siswa yang sehat seutuhnya khususnya secara fisik, maka perlu adanya pembinaan dan pengembangan perilaku siswa SDN Klenang Kidul II dalam meningkatkan derajat hidup dan kesehatannya. Upaya pembinaan ini, salah satunya melalui pelaksanaan pendidikan kesehatan, baik yang diberikan di lingkungan sekolah maupun yang diajarkan oleh orang tua siswa di rumah. Tujuan dari pelaksanaan pendidikan kesehatan ini adalah terbentuknya perilaku hidup sehat yaitu perilaku individu yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah perilaku hidup sehat siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo khususnya perilaku sehat fisik. Dari rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku hidup sehat siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo khususnya Perilaku sehat fisik. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif dan menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V dsn VI SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo dengan jumlah responden sebanyak 43 siswa. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa angket yang terdiri dari 35 pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui rata-rata persentase perilaku sehat fisik siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo sebesar 68,49%, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku sehat fisik siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo termasuk dalam kategori cukup baik. Dengan diketahuinya hasil penelitian ini maka penulis menyarankan kepada para guru serta orang tua siswa di SDN Klenang Kidul II untuk lebih meningkatkan pelaksanaan pendidikan kesehatan, terutama terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan fisik siswa, lebih meningkatkan pengawasan terhadap perilaku siswa sehari-hari dan memberikan contoh atau teladan kepada siswa, serta memberikan fasilitas yang mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat siswa.

Penerapan analisis deret waktu untuk meramalkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara ke Kota Batu / Desy Dwi Arfiani

 

Kunci: peramalan, wisatawan, metode seasonal ARIMA, metode winter’s eksponensial smoothing Mengamati pertumbuhan kunjungan wisatawan ke beberapa daerah wisata di Indonesia merupakan suatu hal yang menarik, terlebih lagi jika dapat melakukan peramalan jumlah kunjungan wisata pada beberapa bulan kedepan. Hal ini sangat bermanfaat bagi dinas pariwisata setempat untuk pelaksanaan program-program yang berhubungan dengan program pemerintah tentang kepariwisataan Indonesia. Pada skripsi ini data yang digunakan berupa data sekunder yaitu data wisatawan yang terdiri dari data wisatawan domestik dan data wisatawan mancanegara yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data deret waktu adalah data yang disusun berdasarkan urutan waktu atau data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, data deret waktu berhubungan dengan data statistik yang dicatat dan diselidiki dalam batas-batas (interval) waktu tertentu. Dari suatu data deret waktu dapat diketahui apakah peristiwa, kejadian, gejala atau variabel yang diamati berkembang mengikuti pola-pola perkembangan yang teratur atau tidak. Oleh sebab itu, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peramalan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara ke kota Batu dengan menggunakan analisis deret waktu yaitu metode seasonal ARIMA dan Metode winter’s eksponensial smoothing. Setelah data jumlah wisatawan mancanegara dikerjakan dengan metode seasonal ARIMA diperoleh nilai MSE 17662 sedangkan rata-rata penyimpangan metode winter’s eksponensial smoothing untuk data wisatawan mancanegara dengan nilai parameter = 0.4,= 0.04 dan = 0.001 adalah 12908,3. Sedangkan data jumlah wisatawan domestik dikerjakan dengan metode seasonal ARIMA diperoleh nilai MSE 30114470 dan rata-rata penyimpangan metode winter’s eksponensial smoothing untuk data wisatawan domestik dengan nilai parameter  = 0.382, = 0.071 dan  = 0.001 adalah 23187710. Sehingga metode winter’s eksponensial smoothing lebih sesuai untuk digunakan dalam meramalkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di Kota Batu karena mempunyai rata-rata penyimpangan peramalan yang lebih kecil daripada metode seasonal ARIMA.

Peningkatan aktivitas belajar dan kemampuan membaca cepat melalui metode speed reading pada siswa kelas IV SDN Pakisaji 02 Malang / Nur 'Ani Pratiti

 

Kata Kunci: Speed Reading, Membaca Cepat, Sekolah Dasar Membaca merupakan kegiatan/aktifitas untuk memahami ide atau gagasan yang tersirat dalam sebuah bacaan yang melibatkan beberapa komponen ketrampilan berbahasa. Di jaman yang semakin maju seperti sekarang ini, ilmu dan teknologi berkembang semakin cepat baik lewat media cetak maupun elektronik. Membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya. Speed Reading merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat sekaligus memahami semua yang terkandung di dalam bacaan yang bersangkutan. Penelitian membaca cepat ini pada pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Pakisaji 02 Malang kelas IV, mengamati masalah – masalah yang meliputi: (1) kecepatan membaca siswa kurang dalam membaca non fiksi, (2) kurangnya kemampuan siswa memahami isi teks bacaan, (3) kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran membaca. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas IV SDN Pakisaji 02 Malang yang berjumlah 38 siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan proses analisis data penelitian ini berpedoman pada langkah–langkah analisis data penelitian kualitatif, yang terdiri dari: (1) Reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa kemampuan membaca cepat siswa kelas IV SDN Pakisaji 02 Malang melalui metode Speed Reading mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pra tindakan aktivitas belajar rata–rata siswa dari 62,68 meningkat pada siklus I menjadi 74,58, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 87,43. Kecepatan rata–rata membaca siswa dari 119 kpm pada pra tindakakan meningkat menjadi 141 kpm pada siklus I. Dan semakin meningkat lagi menjadi 152 kpm. Pemahaman tentang isi bacaan juga meningkat dari hasil pra tindakan 52,63 meningkat pada siklus I menjadi 77,89 dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 83,16. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru dalam pembelajaran mata pelajaran lain aspek membaca bisa menggunakan metode Speed Reading karena dapat meningkatkan hasil belajar dan mempersingkat waktu baca. Dengan metode Speed Reading siswa juga dapat dengan mudah dan teliti dalam menghitung kecepatan membacanya baik menghitung sendiri maupun secara berpasangan/berkelompok.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 |