Peningkatan menganalisis unsur intrinsik cerpen melalui model student teams-achievement divisions (STAD) kelas V SDN Juwet II Kabupaten Kediri / Erna Yuliani

 

Kata kunci: menganalisis, unsur intrinsik cerpen, model stad Hasil observasi menunjukkan bahwa masalah tentang menganalisis unsur intrinsik cerpen yang terjadi di SDN Juwet II dalam mengajar cerpen guru hanya menggunakan metode yang kurang variatif, ceramah, dan penugasan. Disamping itu guru mengajar tanpa menggunakan media pembelajaran akibatnya siswa merasa jenuh dan tidak ada antusias untuk belajar. Berdasarkan uraian tersebut tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model STAD dalam meningkatkan menganalisis unsur intrinsik cerpen siswa kelas V dan mendeskripsikan dengan menerapkan model STAD dapat meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen siswa kelas V serta mengorganisasikannya dengan anggota kelompok. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model STAD dapat meningkatkan menganalisis unsur intrinsik cerpen pada siswa, yaitu terbukti hasil belajar siswa menunjukkan ketuntasan klasikal dari 19% pada pratindakan, siklus I menjadi 56 %, sedangkan pada siklus II mencapai 88% . Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menganalisis unsur intrinsik cerpen melalui model STAD dapat meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerpen siswa kelas V SDN Juwet II kabupaten Kediri, oleh karena itu guru disarankan agar dalam meningkatkan menganalisis unsur intrinsik cerpen hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif dan mengajak siswa lebih aktif seperti model pembelajaran STAD.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui media gambar pada siswa di kelas IV SDN Kedungbanteng 02 Bakung Kabupaten Blitar / Ria Rustiana

 

Kata kunci: menulis, deskripsi, media gambar Menulis deskripsi mempunyai tujuan agar siswa dapat mengembangkan nalar dan imajinasinya, serta ia peka terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk terampil mengarang deskripsi dengan baik, siswa memerlukan praktik dan latihan. Berdasarkan pengamatan dalam kegiatan pembelajaran mengarang deskripsi , rendahnya keterampilan siswa kelas IV di SDN Kedungbanteng 02 Bakung Kabupaten Blitar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : (1) siswa kesulitan menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. (2) kurangnya pemahaman siswa tentang pemilihan kosa kata yang tepat (3) minimnya perbendaharaan kata yang dimiliki oleh siswa (4) minimnya waktu untuk pembelajaran mengarang (5) lemahnya bimbingan guru dalam memberikan materi mengarang (6) guru belum menemukan metode yang tepat untuk memberikan memberikan materi menulis yang mudah diterima oleh siswa. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penggunaan media gambar pada pembelajaran menulis deskripsi siswa kelas IV SDN Kedungbanteng 02 Bakung Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan penggunaan media gambar dalam meningkatkan keterampilan mengarang deskripsi siswa kelas kelas IV SDN Kedungbanteng 02 Bakung Kabupaten Blitar. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif serta jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas..Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus minimal ada 2 kali tatap muka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan tes. Teknik analisis data adalah analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah digunakan media gambar, terbukti ada peningkatan dalam ketuntasan pembelajaran Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini, ditujukan kepada (1) guru, (2) siswa, (3) sekolah (4) peneliti,(5) diknas, (6) UPTD, dan (7) KKG yaitu kiranya penggunaan media gambar sebagai media pembelajaran menulis, dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan dalam pengadaan media pembelajaran karena terbukti efektif meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis. Disamping itu, media gambar juga dapat mengurangi kejenuhan siswa selama pembelajaran.

Peningkatan kemampuan apresiasi cerpen dengan strategi aktivitas terbimbing pada siswa kelas V SDN Mergosono 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Muhammad Imamuddin

 

Kata kunci: Peningkatan kemampuan, apresiasi cerpen, strategi aktivitas terbimbing Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SDN Mergosono 4 Kota Malang tentang pembelajaran Bahasa Indonesia diketahui beberapa permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran di kelas tersebut, diantaranya: (1) guru menggunakan strategi pembelajaran secara individual dan kompetitif, (2) pembelajaran apresiasi cerpen diawali dengan menyuruh siswa membuka bacaan cerpen di dalam buku paket, kemudian menyuruh siswa membaca dan menjawab pertanyaan tentang cerpen yang dibacanya, (3) hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V masih rendah, nilai rata- rata kelasnya 58 dan ketuntasan belajar klasikal hanya 30% padahal standar yang ditetapkan adalah 75%. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan tentang penerapan strategi aktivitas terbimbing dalam meningkatkan kemampuan apresiasi cerpen pada siswa kelas V SDN Mergosono 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan mengapresiasi cerpen pada siswa kelas V SDN Mergosono 4 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif partisipatoris dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus yang terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 30 siswa kelas V SDN Mergosono 4 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti dibantu dengan teman sejawat yang merupakan wali kelas V.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Analisis data pada aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran diperoleh melalui lembar observasi aktivitas siswa dan analisis hasil belajar siswa diperoleh melalui penskoran hasil tes. Hasil penelitian dengan penerapan strategi aktivitas terbimbing menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan rata-rata dari 58 pada observasi awal menjadi 65 pada siklus I, dan meningkat menjadi 70 pada siklus II. Aktivitas siswa mengalami peningkatan di tiap siklus, baik individu maupun klasikal dan siswa terlihat lebih antusias selama pembelajaran. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dengan menggunakan strategi aktivitas terbimbing dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan mengapresiasi cerpen. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia hendaknya menggunakan strategi aktivitas terbimbing, untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di kelas.

Penerapan strategi language experience approach (LEA) untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan sederhana di kelas III SDN Tanjungrejo 2 Kota Malang / Aulia Rohmawati

 

Kata kunci: Strategi Language Experience Approach (LEA), Kemampuan menulis. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran Bahasa Indonesia pada kelas III SDN Tanjungrejo 2 kota Malang, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan antara lain: (1) pembelajaran masih berpusat pada guru, (2) kurangnya kemampuan siswa untuk mengembangkan ide dalam mengarang, (3) dalam pembelajaran guru hanya mengacu pada buku teks atau LKS, (4) Hasil nilai dalam menulis karangan masih rendah. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan strategi pembelajaran yang baru agar siswa dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menulis karangan sederhana. Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai adalah Strategi LEA yaitu pembelajaran baca tulis yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengungkapkan pengalaman berbahasa anak dan menuangkanya dalam bentuk karangan. Strategi LEA dapat menumbuhkan kemampuan anak dalam berbahasa siswa dengan urut sehingga dapat dibaca oleh orang lain dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan Strategi LEA, (2) mendiskripsiakan peningkatan kemampuan menulis karangan sederhana melalui penerapan Strategi LEA Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemis & Taggart. Langkah Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan & observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Tanjungrejo 2 Kota Malang dengan jumlah siswa 46 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Penerapan Strategi LEA di kelas III SDN Tanjungrejo 2 Kota Malang Sebagai berikut: (1) penjajakan, (2) pembahasan, (3) penulisan, (4) penyempurnaan dan (5) pemanfaatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Strategi LEA dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan sederhana siswa kelas III SDN Tanjungrejo 2 Kota Malang. Nilai rata-rata menulis karangan siswa meningkat, dari rata-rata pretes ke siklus I sebesar 13% dari siklus I ke siklus II sebesar 16% dengan ketuntasan belajar 96%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan penerapan Strategi LEA dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan sederhana kelas III SDN Tanjungrejo siswa kelas III SDN Tanjungrejo 2 Kota Malang. Disarankan agar guru dapat menerapkan Strategi LEA , karena dengan menggunakan Strategi ini anak akan lebih tertarik dalam pembelajaranya. Melaui pengalaman bahasanya, Siswa dapat mengawali kegiatan menulis dengan rasa senang. Siswa dapat menuliskan apa yang dirasakan, dipikirkan dan kemudian membaca apa yang dirasakan dan dipikirkanya, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa.

Penerapan model pembelajaran problem based introduction (PBI) untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Purwantoro 2 Kota Malang / Nora Muliyandari

 

Kata Kunci: Model pembelajaran problem based introduction (PBI), hasil belajar, mata pelajaran IPA Proses pembelajaran IPA menghendaki pengajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran pengalaman langsung dan berpikir kritis terhadap masalah yang terjadi di sekitarnya sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap pembelajaran di kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Malang, nilai sebelum diterapkannya model PBI menunjukkan bahwa, dari 28 siswa yang mendapatkan nilai diatas 68 hanya 11 anak (40%), sedangkan yang dibawah SKM sebanyak 17 anak (60%). Ketercapaian kompetensi siswa dalam pembelajaran IPA kurang begitu tampak. Serta penilaian terhadap proses belajar sering diabaikan, setidaknya-tidaknya kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan penilian hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model PBI, peningkatan proses dan hasil belajar setelah menggunakan model PBI. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan prosedur kerja yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 28 siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Penilaian proses didapatkan dari keaktifan siswa, kerjasama siswa, keberanian siswa mengemukakan pendapat dan ketepatan dalam menyimpulkan. Penerapan model pembelajaran Problem Based introduction (PBI) pada mata pelajaran IPA materi “Perubahan Kenampakan Bumi dan Benda Langit” siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Kota Malang pada siklus I mengalami beberapa kendala, baik dialami oleh guru maupun siswa. Akan tetapi pada siklus-siklus guru maupun siswa berusaha secara maksimal untuk memperbaiki dan meningkatkan cara penerapan model Problem Based introduction (PBI ) pada proses pembelajarannya. Penerapan model pembelajaran Problem Based introduction (PBI) terhadap proses belajar siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Kota Malang dalam pembelajaran IPA materi “Perubahan Kenampakan Bumi dan Benda Langit” dapat meningkat dari siklus I sampai siklus II. Siswa memperoleh nilai rata-rata nilai keaktifan pada siklus I sebesar 76,375 meningkat lagi pada siklus II sebesar 86,975. Penerapan model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Kota Malang dalam pembelajaran IPA materi “Perubahan Kenampakan Bumi dan Benda Langit”. Menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan dari 67,5 pada observasi awal menjadi 79,24 pada tindakan siklus I. Sedangkan peningkatan rata-rata dari siklus I ke siklus II meningkat menjadi 88,4 sekitar 9,16%. Pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based introduction (PBI) ini mampu meningkat dengan baik. Apabila seorang peneliti lain ingin menerapkan model ini, diharapkan bisa memperhatikan hal-hal atau kendala yang mempengaruhi pembelajaran tersebut. Dengan memotivasi siswa dalam bekerja dan memberikan penghargaan terhadap kelompok yang melakukan percobaan dengan benar..

Penerapan model pembelajaran index card match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Begendeng 3 Kabupaten Nganjuk / Gatut Saputro

 

Kata kunci: IPA, model index card match, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi pada kelas III SDN Begendeng 3 Nganjuk pada pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru. Guru masih menggunakan metode pembelajaran klasik dalam membelajarkan siswa, yaitu hanya menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas sehingga siswa sekedar menjadi pendengar pasif selama proses belajar mengajar berlangsung. Hal tersebut berdampak pada aktivitas dan hasil belajar siswa. Dilihat dari nilai siswa pada materi kenampakan permukaan bumi menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 54 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 25 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65 untuk hasil belajar dan 75% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan pembelajaran IPA perlu diadakan perbaikan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran index card match. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model pembelajaran index card match untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model pembelajaran index card match, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran index card match. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran index card match untuk pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Begendeng 3 dengan kompetensi dasar “Mendeskripsikan kenampakan permukaan bumi di lingkungan sekitar” dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perolehan skor aktivitas siswa selama pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran index card match. Pada siklus I diperoleh skor 66,95 meningkat menjadi 84,71 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 59,2 dan ketuntasan kelas 58,33% pada siklus I menjadi rata-rata 70,83 dan ketuntasan kelas mencapai 83,33% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran index card match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Begendeng 3 Kabupaten Nganjuk. Disarankan dalam melakukan model pembelajaran index card match ini hendaknya guru mempersiapkan dengan matang. Agar mudah dalam mengkondisikan dan mengorganisasikan kelas dengan baik.

Penerapan model kreatif produktif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Plosoharjo II Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk / Andra Dewi Lestari

 

Kata kunci : IPA, Model Kreatif Produktif, Aktivitas dan Hasil Belajar Pembelajaran IPA dengan menggunakan metode ceramah dan pembalajaran yang berpusat pada guru tanpa melibatkan siswa untuk melakukan percobaan, diskusi kelompok, serta membangun sendiri pengetahuan siswa terhadap materi yang dipelajari, membuat siswa pasif dan kurang perhatian dalam belajar. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran cenderung pasif. Hasil belajar siswa rata-rata 59,75. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model kreatif produktif. Keunggulan model kreatif produktif yaitu siswa terlibat secara intelektual dan emosional, mampu menemukan sendiri konsep yang sedang dikaji, dilatih untuk bertanggung jawab dan memiliki rasa percaya diri, dan dapat membangun pengetahuannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model kreatif produktif dalam pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model kreatif produktif, (3) hasil belajar IPA siswa setelah diterapkan model kreatif produktif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVsebanyak 20 siswa, dengan 12 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Rancangan penelitian adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK meliputi empat tahapan, yaitu, (1) planning, (2) acting, (3) observing, (4) reflecting. Teknik pengumpulan data yang digunakan, observasi, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model kreatif poduktif, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kreatif produktif untuk pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Plosoharjo II Nganjuk dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perolehan keberhasilan guru dalam penerapan model kreatif produktif pada siklus I yaitu 85,61 dan meningkat pada siklus II menjadi 92,28. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 55,3 menjadi 80,6 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 68,61 dan ketuntasan kelas 55,56% pada siklus I menjadi rata-rata 85,05dan ketuntasan kelas mencapai 100% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dalam melakukan model pembelajaran kreatif produktif ini hendaknya guru mempersiapkan dengan matang semua perangkat pembelajaran. Hal ini dikarenakan agar mudah mengorganisasikan kelas sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk belajar dengan aktif . Bagi peneliti lain yang sejenis apabila melakukan penelitian dengan menggunakan model kreatif produktif hendaknya memperhatikan waktu selama pembelajaran berlangsung

Peningkatan kemampuan bercerita melalui penggunaan media gambar seri di kelompok B TK PGRI I Kepanjen / Dwi Nurcahyani

 

Keywords: Telling Story Skill, Serial Picture Media One of the learning outcomes expected in terms language development is children’s ability to tell a simple story from a serial picture fluently and in correct order. The background of this study is the inadequate telling story skill of children in group B of PGRI Kindergarten I, Kepanjen. The children were shy, doubtful, and afraid when they had to tell a story in front of their classmates or other people. Therefore, the teachers still need to improve children’s telling story skill by using direct media or model in the form of pictures, that is serial picture. This study aims at describing: 1) the use of serial picture media in improving telling story skill, 2) the improvement of telling story skill after the application of serial picture media. This study uses the classroom action research design with cycle process, the controlled investigation process to find and solve a classroom problem. This data collection is conducted in two cycles with 4 total meetings. The subjects are 20 students of group B, PGRI Kindergarten, Kepanjen. In this study, the researcher collaborate with the teaching assistant as the observer. The instrument used to collect the data are observation sheet and documentation. The findings of the study show that the telling story activity, which starts with arranging pictures in order, retelling story and telling story using serial picture conducted repeatedly will make studentsunderstand the picture more. Then, they will be able to tell the story fluently and in correct order. The use of serial picture brings improvement in children’s ability to arrange a story and tell a serial story both individually and in classical way. Based on the findings of the study, the suggestions made are as follow. For the teachers, they are expected to use serial story media to improve telling story skill for kindergarten students. They are also expected to use various interesting serial stories. For the headmasters, they are expected to make a policy regarding the use of serial story for improving children’s telling story skill. For future researchers,they are expected to use this technique as one of the references in developing children’s language development

Pemanfaatan majalah dinding untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi pada siswa kelas IV di SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang / Nury Yuniasih

 

Kata kunci: Kemampuan menulis karangan deskripsi, Pemanfaatan media pembelajaran majalah dinding, Sekolah Dasar Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa selama ini pembelajaran menulis dilaksanakan secara tradisional. Pembelajaran tradisional mempunyai ciri-ciri menggunakan metode tunggal yaitu ekspositori dengan preaching method, memposisikan guru sebagai pelaku utama dan siswa terposisikan sebagai peserta didik yang pasif. Dengan asumsi ingin memberi bekal materi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan pemanfaatan media pembelajaran majalah dinding pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV SDN Bareng 4 Kota Malang; (2) mendeskripsikan pemanfaatan media pembelajaran majalah dinding untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SDN Bareng 4 kota Malang; (3) mendeskripsikan pemanfaatan media pembelajaran majalah dinding untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia khususnya aspek menulis siswa kelas IV SDN Bareng 4 Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada pendapat Suharsimi Arikunto. Langkah Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Bareng 4 Kota Malang dengan jumlah siswa 22 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Bareng 4 Kota Malang. Perolehan rata-rata hasil belajar siswa meningkat, dari rata-rata pretes ke siklus I sebesar 27% dari siklus I ke siklus II sebesar 18% dengan ketuntasan belajar 82%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran majalah dinding dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SDN Bareng 4 Kota Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat memanfaatkan media pembelajaran majalah dinding pada materi lain yang sesuai.

Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah melalui model Polya pada materi pecahan siswa kelas IV SDN Pisang Cansi 3 Kota Malang / Dwi Sudarsih

 

Kata Kunci: kemampuan memecahkan masalah, model Polya, pecahan Berdasarkan hasil studi awal yang dilakukan peneliti, di kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang dengan memberikan soal yang berkaitan dengan pecahan ditemukan bahwa, khusus untuk soal yang berkaitan dengan menyelesaikan masalah banyak siswa masih belum bisa 80% siswa masih belum bisa memahami masalah seperti menuliskan hal yang diketahui dan hal yang ditanyakan, 60% siswa masih salah dalam merencanakan tindakan seperti menuliskan model matematika, 30% siswa masih salah dalam melaksanakan rencana seperti pengerjaan hitungnya, sedangkan 90% siswa sudah mampu menuliskan jadi meskipun penempatanya salah. Peneliti disini menawarkan pemecahan masalah model Polya mengatasi masalah di atas tersebut. Tujuan diadakannya penelitian ini untuk mendeskripsikan: 1) penerapan model Polya untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada materi pecahan, 2) penerapan model Polya dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam memecahkan masalah pada materi pecahan, 3) penerapan model Polya dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada materi pecahan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang sebanyak 9 siswa. Intrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi lembar observasi guru dan siswa, tes dan lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunujukkan bahwa penerapan pembelajaran pemecahan masalah pada materi pecahan dengan model Polya dapat dilaksanakan dengan baik, dan dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Hal ini dapat dilihat dari penerapan model Polya pada siklus I rata-rata skor yang diperoleh 11 dan meningkat pada siklus II menjadi 11,5. Aktivitas siswa meningkat, siklus I mendapat rata-rata 71,73 menjadi 92,36 pada siklus II. Kemampuan memecahkan masalah sudah meningkat dapat dilihat dari kenaikan rata-rata nilai pada tiap siklus. nilai proses siklus I 71,73 pada siklus II meningkat 92,13. Nilai evaluasi pada siklus I 88,33 meningkat pada siklus II yaitu 94,33. Dan nilai rata-rata tugas siklus I 94,93 meningkat pada siklus II 95,5. Rounded Rectangle: iBerdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan guru dalam kegiatan pembelajaran matematika yang berkaitan dengan pemecahan masalah hendaknya menggunkana model Polya dalam pembelajaran sehingga siswa bisa lebih mudah menyelesaiakan pemecahan masalah. Peneliti lain, selanjutnya kalau menggadakan penelitian tentang pemecahan masalah bisa menggunakan model pemecahan masalah lain yang sejenis.

Pemanfaatan media televisi untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas VA SDN Bareng 1 Kota Malang / Rizka Riana

 

Kata Kunci: berita televisi, berbicara, pembelajaran Bahasa Indonesia Televisi merupakan media komunikasi audio visual yang memuat berbagai tayangan seperti berita, film, kuis, dan sebagainya. Berita televisi merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran berbicara di sekolah dasar karena dapat melatih siswa berpikir kritis dan memberikan komentar terhadap berita yang diketahuinya. Berkomentar merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa kelas V SD. Dari hasil pengamatan ditemukan fakta bahwa siswa kelas VA SDN Bareng 1 Kota Malang sebagian besar sudah berani berbicara dan dapat mengungkapkan komentar ketika diminta untuk berkomentar. Namun masih ada kesulitan yang dialami siswa ketika ingin menyampaikan suatu informasi lisan dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan memanfaatkan media berita televisi untuk meningkatkan kemampuan siswa mengomentari persoalan faktual dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan mengomentari persoalan faktual yang diperoleh siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaboratif menggunakan acuan model siklus PTK. Setiap siklus terdiri dari: planning, acting & observing, reflecting, dan revise plan. Penelitian ini dilakukan di kelas VA SDN Bareng 1 Kota Malang, dengan subyek siswa kelas VA sebanyak 35 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes lisan. Instrumen penelitian yang digunakan berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dan soal tes. Data dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Pembelajaran berbicara dengan memanfaatkan media berita televisi menunjukkan adanya peningkatan keaktivan siswa dalam berbicara khususnya berkomentar karena adanya ketertarikan terhadap media berita televisi sehingga siswa lebih mudah berkomentar. Suasana kelas cukup tenang selama berita televisi ditayangkan dan siswa menyimak dengan penuh perhatian. Siswa juga berebut untuk lebih dulu mengomentari persoalan dari berita yang ditayangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbicara siswa mengalami kenaikan. Hal ini terbukti dari siswa yang termasuk kualifikasi sangat baik dari 57,6% pada siklus I menjadi 81,82% pada siklus II. Alasan yang dikemukakan dan pilihan kata yang digunakan sudah lebih baik dari yang teramati pada siklus I. Hal ini menunjukkan bahwa siswa semakin memahami persoalan yang dikomentari yang disajikan melalui media berita televisi. Saran yang diberikan peneliti, hendaknya pemanfaatan media berita televisi dapat menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran terutama materi berbicara.

Penerapan model pembelajaran rotating trio exchange (RTE) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V-A SDN Tanjungrejo 2 Malang / Reni Ika Puspita Sari

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran Rotating Trio Exchange, Aktivitas dan Hasil Belajar PKn, Keputusan Bersama. Berdasarkan observasi dan wawancara di kelas V-A diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn di kelas V-A tersebut. Permasalahan tersebut antara lain: (1) siswa pasif dalam pembelajaran, (2) siswa ada yang bermain sendiri pada saat pembelajaran (3) siswa terlihat bosan dan malas mengikuti pembelajaran (4) hasil belajar siswa masih rendah. Oleh karena itu, peneliti menangani permasalahan yang ada dengan menerapkan model pembelajaran Rotating Trio Exchange dalam pembelajaran PKn pokok bahasan keputusan bersama pada kelas V-A SDN Tanjungrejo 2 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui penerapan model pembelajaran Rotating Trio Exchange pada mata pelajaran PKn di kelas V-A SDN Tanjungrejo 2 Malang, (2) mengetahui aktivitas belajar mata pelajaran PKn siswa kelas V-A SDN Tanjungrejo 2 Malang dengan menerapkan model pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan, (3) mengetahui hasil belajar mata pelajaran PKn siswa kelas V-A SDN Tanjungrejo 2 Malang dengan menerapkan model pembelajaran Rotating Trio Exchange. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam PTK tersebut terdapat 2 siklus dengan acuan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Pada setiap siklus terdiri dari: (1) perencanaan tindakan (planning), (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Penelitian dilakukan dengan mengambil subyek penelitian yaitu siswa kelas V-A SDN Tanjungrejo 2 Malang yang berjumlah 45 siswa, dengan rincian 29 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini, antara lain melalui wawancara, observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa model pembelajaran Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn kelas V-A. Hasil pengamatan aktivitas siswa dari siklus I yaitu 86, pada siklus II meningkat menjadi 94. Hasil belajar rata-rata kelas pada siklus I sebesar 73 dan meningkat pada siklus II menjadi 89. Sedangkan untuk ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan. Pada siklus I ketuntasan klasikal sebesar 57%, pada siklus IImeningkat menjadi 92%. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran kooperatif model Rotating Trio Exchange diterapkan. Dari hasil penelitian ini diharapkan bagi peneliti lain dapat memperbaiki penelitian sebelumnya dan dapat menerapkan model pembelajaran Rotating Trio Exchange pada mata pelajaran dan kelas yang lainnya dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Penggunaan media alphabet card untuk meningkatkan aktivitas belajar membaca siswa kelas I di SDN Arjosari 01 Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang / Anelia Yuniandari

 

Kata kunci: Media Alphabet Card, hasil belajar, Membaca, SD. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas I SDN Arjosari 01 Malang pada waktu pembelajaran Bahasa Indonesia didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi, siswa terlihat kurang aktif dan banyak yang mengantuk. Dari nilai siswa pada materi bahan penyusun benda menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 60.00 dengan ketuntasan kelas 25% sedangkan SKM yang ditentukan adalah 72.00 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran Alphabet Card. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan media pembelajaran Alphabet Card yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil siswa melalui penggunaan media pembelajaran Alphabet Card. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan Problem Solving dan dengan media kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas I SDN Arjosari 01 Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Pada siklus I pertemuan pertama hasil belajar individu pada pertemuan ini dari 16 siswa hanya 25% (4 siswa) yang telah tuntas dalam belajar membaca, sedangkan sebagian besar siswa (75%) belum tuntas. Hal senada terlihat pada pertemuan 2, walaupun mengalami peningkatan pada rata kelasnya yaitu 62, tetapi keberhasilan kelasnya masih sama denganpertemuan 1 yaitu 25% saja. Dan pada siklus II pertemuan 1, telah terlihat peningkatan keberhasilan kelas yaitu 69% siswa telah tuntas belajar, dan rata-rata kelas telah sampai pada KKM kelas yaitu 75. dan pada pertemuan 2 siklus 2 separo lebih siswa telah tuntas dalam belajar membaca, hampir semua siswa telah lancar membaca kalimat sederhana dengan benar, diperoleh hasil keberhasilan kelas sebesar 81% (13 siswa) telah memenuhi KKM yang ditentukan, sedang 3 siswa (19%) belum mampu mencapai nilai 75. Untuk aktivitas guru juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melakukan media pembelajaran Alphabet Card, seharusnya guru melakukan persiapan yang matang dalam pembelajaran dan guru memberikan perhatian yang khusus dan terus memotivasi pada siswa yang memiliki tingkat kemampuan membaca yang rendah.

Evaluasi pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran matematika kelas V di MI Miftahul Huda Malang / Mustika Sari

 

Kata Kunci: evaluasi, pembelajaran, guru Matematika KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Bentuk kurikulum dibagi menjadi dua yaitu printed curriculum dan real curriculum. Dalam penelitian ini fokus yang diambil tentang real currriculum atau pelaksanaaan pembelajaran. Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan standar proses. Mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dirasa sulit bagi peserta didik. Oleh sebab itu, peneliti mengevaluasi proses pembelajaran untuk perbaikan pada proses pembelajaran berikutnya Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas penyusunan RPP, kualitas implementasi RPP, dan kualitas evaluasi pembelajaran pada mata pelajaran Matematika kelas V sesuai dengan KTSP di MI Miftahul Huda. Penelitian ini menggunakan model evaluasi studi kasus. Studi kasus memusatkan perhatiannya terbatas pada kegiatan kurikulum di satu unit kegiatan pembelajaran. Unit yang dimaksud dalam penelitian ini terbatas pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru Matematika kelas V. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia/peneliti sendiri dan alat perekam video/kamera digital. Untuk menguji keabsahan data, dilakukan dengan teknik pemeriksaan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Kegiatan analisis dimulai dengan penelaahan data, klasifikasi data sesuai rumusan masalah, membandingkan data dengan kriteria, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas penyusunan RPP tergolong cukup dengan prosentase 58,8%. Dalam menyusun RPP, rumusan tujuan pembelajaran masih belum menggunakan kata kerja operasional, sumber pembelajaran belum menerapkan teknologi informasi dan komunikasi, dan guru belum menyusun RPP secara terpadu. Kualitas implementasi tergolong baik dengan prosentase sebesar 72,1%. Kelemahannya terletak pada penentuan buku teks pelajaran yang tidak melalui rapat dengan komite madrasah; guru belum menyampaikan tujuan, cakupan materi, dan manfaat kegiatan belajar, serta belum memberi penguatan secara lisan pada respon positif peserta didik. Kualitas evaluasi pembelajaran tergolong baik dengan prosentase sebesar 77,7%. Berkaitan dengan evaluasi pembelajaran, guru belum menyampaikan penilaian sesuai silabus. Saran ditujukan bagi guru, kepala madrasah dan peneliti lain. Guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Selama proses pembelajaran guru perlu menyampaikan tujuan, memberi penguatan secara lisan, menyampaikan manfaat dan sumber pembelajaran lain (misalnya di buku perustakaan) agar hasil belajar siswa dapat meningkat. Kepala madrasah perlu melibatkan komite madrasah dalam menentukan buku teks yang akan digunakan oleh peserta didik. Peneliti selanjutnya diharapkan mengadakan evaluasi pelaksanaan kurikulum pada mata pelajaran yang lain.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay (studi empiris pada perusahaan yang terdaftar dalam 50 Most Active Stocks by Trading Value di BEI tahun 2008-2010) / Rystahati Kusumawardani

 

Kata Kunci : Audit Delay, Ukuran Perusahaan, Ukuran KAP, Klasifikasi Industri, Regresi Berganda. Audit delay adalah perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan yang mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dibutuhkan oleh auditor. Lama waktu penyelesaian audit dapat dipengaruhi oleh ukuran perusahaan yang dilihat dari besar atau kecil total asset perusahaan (Boynton dan Kell 2003:210). Audit delay juga dapat dipengaruhi oleh ukuran KAP yang dilihat dari kategori KAP yaitu termasuk KAP the big four atau KAP lokal (Ashton dalam Hossain, 1998). Indikator yang lain juga dapat dilihat dari klasifikasi industri suatu perusahaan (Ashton dalam Ahmad dan Abidin, 2008). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh ukuran perusahaan, ukuran KAP, dan klasifikasi industri terhadap audit delay. Pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method, sehingga diperoleh sebanyak 75 perusahaan manufaktur dan finansial yang termasuk dalam 50 Most Active Stocks by Trading Value tahun 2008-2010. Pada penelitian ini ukuran perusahaan diproksikan dengan total asset, ukuran KAP diproksikan dengan KAP the big four dan KAP lokal, dan klasifikasi industri diproksikan dengan perusahaan manufaktur dan perusahaan finansial. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi berganda (multiple regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki nilai sig < 0,05 sehingga berpengaruh terhadap audit delay, hal ini dikarenakan semakin banyak assets maka sampel audit yang diambil juga semakin banyak, sehingga waktu audit menjadi lebih lama. Klasifikasi industri juga memiliki nilai sig < 0,05 sehingga berpengaruh terhadap audit delay, hal ini dikarenakan aktiva perusahaan finansial lebih banyak berbentuk moneter sehingga lebih mudah diukur dan mempercepat proses audit. Ukuran KAP memiliki nilai sig < 0,05 sehingga berpengaruh terhadap audit delay, KAP the big four memilki audit delay lebih lama karena untuk menjaga reputasi mereka lebih teliti dalam melakukan audit.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar mata diklat kerjasama dengan kolega dan pelanggan kelas X APK pada SMK PGRI 6 Malang / Robbi Oktadiansyah

 

Kata Kunci : Model pembelajaran Group Investigation, Hasil Belajar Penerapan pembelajaran yang bersifat konvensional di sekolah dengan menggunakan metode ceramah masih banyak diterapkan dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang seperti ini lebih banyak didominisasi oleh guru dan jarang melibatkan siswa sehingga mengakibatkan siswa cenderung pasif selama proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran ini kegiatan siswa lebih banyak duduk diam, mendengarkan, mencatat dan mengerjakan soal, sehingga siswa terkesan malas dan jarang berpikir aktif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu cara guru dalam memberikan ilmu pada siswa secara aktif untuk perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah pembelajaran model Group Investigation (GI). Penerapan pembelajaran ini dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan pembelajaran model Group Investigation (GI) pada mata diklat Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dilaksanakan pada bulan November sampai Desember. Dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan melalui 4 tahapan yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Subyek yang diteliti adalah kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK PGRI 6 Malang, dengan sebanyak 43 siswa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung pada subyek yang diteliti. Tekhnik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, catatan lapangan, rubrik penilaian, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penerapan pembelajaran model Group Investigation dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis hasil belajar menunjukkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada hasil nilai pre test dan post test siklus 1 nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 52,32 menjadi 81,4 sebesar 55,6%. Sedangkan pada siklus 2 nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 67,2 menjadi 86,74 dengan persentase kenaikan 29,1%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran model (GI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun saran yang dapat diajukan yaitu: 1) Bagi sekolah, diharapkan dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat, dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Salah satunya adalah strategi kooperatif model Group Investigation pada mata pelajaran kerjasama dengan kolega dan pelanggan, 2) Bagi guru, Dapat menerapkan Pembelajaran model Group Investigation, sebagai alternatif model pembelajaran yang tepat. Terutama pada mata pelajaran Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan, 3) Bagi peserta didik, diharapkan siswa dapat bekerjasama yang baik antar sesama teman, membantu dalam penyempurnaan ingatan siswa, dapat membantu siswa belajar dengan efisien, 4) Bagi peneliti berikutnya, dapat dilakukan dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat menerapkan metode pembelajaran bervariasi yang menarik lainnya yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka

Pengaruh bid-ask spread, market value, dividend per share, dan risk of return terhadap holding period (studi pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2009) / Robbi Oktadiansyah

 

Kata Kunci: Bid-Ask Spread, Market Value, Dividend Per Share, Risk of Return, Holding Period Holding period atau lamanya seorang investor menahan sahamnya pada suatu perusahaan akan menentukan perilaku investor dalam aktivitas investasinya. Jangka investasi akan membantu investor dalam mempertimbangkan seberapa besar resiko yang akan ditanggung untuk mendapatkan keuntungan yang optimal. Jangka waktu (holding period) seorang investor dalam menahan saham yang dimilikinya dalam suatu perusahaan merupakan suatu hal menarik untuk diteliti. Hal ini disebabkan karena dalam berinvestasi, para investor tersebut memiliki kebebasan untuk memilih jenis saham yang dinginkan dan berapa lama akan menahan saham tersebut. Selain itu, dalam menahan atau melepas saham yang dimilikinya, para investor ini juga akan mempertimbangkan seberapa besar resiko yang akan ditanggung untuk mendapatkan keuntungan yang optimal. Semakin panjang jangka waktu seorang investor menahan sahamnya, maka akan semakin besar pula risiko yang dihadapinya. Sebaliknya, semakin pendek jangka waktunya dalam menahan saham tersebut maka akan semakin kecil risiko yang akan ditanggung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh secara parsial dan simultan Bid-Ask Spread, Market Value, Dividend Per Share dan Risk of Return terhadap Holding Period. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data saham. Populasi penelitian ini adalah saham-saham Perusahaan Perbankan tahun 2008-2009, sebanyak 30 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 15 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah Analisis regresi berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh Bid-Ask Spread, Market Value, Dividend Per Share dan Risk of Return terhadap Holding Period baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan Bid-Ask Spread, Market Value, Dividend Per Share dan Risk of Return berpengaruh secara simultan terhadap Holding Period, namun secara parsial hanya Bid-Ask Spread dan Market Value berpengaruh signifikan terhadap Holding Period sedangkan variable Dividend Per Share tidak berpengaruh signifikan Berdasarkan hasi penelitian, saran yang dapat dikemukakan adalah: 1) Bagi Investor diharapkan menganalisis dan mempertimbangkan berbagai faktor dalam pengambilan keputusan investasi khususnya keputusan mengenai menahan atau melepas saham yang dimiliki, 2) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel holding period. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel perusahaan sektor usaha tertentu dan menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih signifikan, 3) Bagi perusahaan sebaiknya memberikan informasi yang transparan kepada investor tentang keadaan perusahaannya sehinga investor yang menanamkan dananya (modal) pada perusahaan tersebut dapat melakukan pengambilan keputusan berinvestasi yang tepat.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan menggunakan strategi T-chart siswa kelas VII SMP Al Irsyad Batu / Moh. Arif Ariansyah

 

Kata kunci: peningkatan keterampilan menulis, karangan narasi, strategi T-Chart. Pembelajaran menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi sudah diajarkan kepada siswa kelas VII di SMP AL Irsyad sesuai dengan KTSP. Terkait dengan pembelajaran menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi di sekolah tersebut, dilakukan studi pendahuluan dengan hasil bahwa (1) pembelajaran menulis karangan narasi kurang menumbuhkan minat siswa dalam menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi, (2) guru belum memiliki teknik yang tepat untuk membelajarkan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi, (3) siswa memiliki kesulitan dalam menentukan dan mengembangkan topik untuk menulis karangan narasi berdasarka pengalaman pribadi, serta (4) masih ada 70% yang mengalami kesulitan dalam menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi, sehingga siswa tersebut memperoleh nilai di bawah KKM. Masalah yang muncul pada aspek hasil menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi adalah topik yang ditulis siswa seragam. Antara siswa satu dengan yang lain saling berbagi topik, bahasa yang digunakan asal- asalan. Oleh karena itu, permasalahan tersebut diatasi dengan penggunaan strategi T-Chart untuk lebih mengkhususkan pokok persoalan dalam karangan narasi siswa. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan strategi T-Chart siswa kelas VII SMP AL Irsyad Batu, sedangkan tujuan penelitian ini yaitu meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan strategi T-Chart siswa kelas VII SMP AL Irsyad Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi lima hal pokok yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, dan (4) refleksi hasil tindakan. Data dalam penelitian ini berupa data proses dan hasil. Data proses berupa transkrip hasil interaksi proses pembelajaran menulis karangan narasi berdarkan pengalaman pribadi yang dilakukan siswa dan guru di kelas, sedangkan data hasil berupa kerangka karangan siswa dan hasil karangan siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi menggunakan pedoman observasi dan catatan lapangan, sedangkan data hasil dilakukan dengan studi dokumen dengan menggunakan rubrik penilaian hasil menulis karangan narasi. Data proses dan hasil yang telah dikumpulkan dianalisis dengan mengorganisasi, mengelompokkan, memaparkan, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian meliputi proses dan hasil peningkatan menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan menggunakan strategi T-Chart pada tahap pratulis, menulis, dan pascatulis. Tahap pratulis, kegiatan siswa meliputi: membaca contoh karangan narasi dari guru, mengidentifikasi unsur intrinsik karangan, menyimak penjelasan guru tentang menulis karangan narasi berdasarkan pengalaman pribadi dengan strategi T-Chart, mendata peristiwa menarik yang pernah dialami siswa, memilih pengalaman yang aling menarik, dan membuat kerangka karangan. Siswa terlihat antusias membuat kerangka karangan dengan menggunakan strategi T-Chart. Strategi T-Chart dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membuat kerangka karangan. Hasil kerangka karangan narasi siswa kategori tuntas dari siklus I menuju siklus II meningkat dari 80% (dengan 5% kualifikasi sangat baik, 75% kualifikasi baik, 20% kualifikasi cukup) menjadi 100% (dengan 25% kualifikasi sangat baik dan 75% kualifikasi baik). Kualitas kerangka karangan untuk kategori tuntas dengan kualifikasi sangat baik yaitu lengkap dan rinci baik judul, tokoh, latar, maupun peristiwa. Kualitas kerangka karangan siswa kategori tuntas dengan kualifikasi baik yaitu sudah menyebutkan semua aspek tetapi ada salah satu aspek yang kurang rinci. Proses peningkatan keterampilan menulis karangan narasi pada tahap menulis dilakukan dengan kegiatan siswa mengembangkan kerangka karangan narasi menjadi karangan narasi utuh. Pada siklus I sebagian besar siswa tampak antusias dan tidak banyak mengalami kesulitan karena sebelumnya siswa sudah membuat kerangka karangan narasi. Pada siklus II, terjadi peningkatan motivasi sehingga sebagian besar siswa serius dan antusias dalam mengembangkan kerangka karangan narasi. Hasil peningkatan pada tahap menulis ditandai dengan bertambahnya kualitas hasil menulis karangan narasi siklus I menuju siklus II dari 60% (dengan 40% kualifikasi baik, dan 60% kualifikasi cukup) menjadi 90% (5% kualifikasi sangat baik dan 85% kualifikasi baik, dan 10% kualifikasi cukup). Kualitas karangan narasi yang dihasilkan siswa kategori tuntas untuk kualifikasi sangat baik yaitu sudah mengembangkan judul, tokoh, latar, dan peristiwa sesuai dengan media serta pengembangan topik menarik, sesuai dengan tokoh, latar, dan peristiwa. Proses peningkatan keterampilan menulis karangan narasi pada tahap pascatulis dilakukan dengan kegiatan siswa menyunting aspek ejaan, tanda baca, dan bahasa karangan narasi. Hasil peningkatan tahap pascatulis ditandai dengan meningkatnya kualitas siswa yang melakukan penyuntingan kategori tuntas siklus I menuju siklus II dari 75% (dengan 15% kualifikasi sangat baik, 60% kualifikasi baik, dan 25% kualifikasi kurang) menjadi 100% (dengan 55% kualifikasi sangat baik dan 45% kualifikasi baik). Jadi, media benda tiga dimensi dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa pada tahap pratulis, menulis, dan pascatulis. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi T-Chart dalam pembelajaran menulis karangan narasi. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan strategi pembelajaran yang lainnya untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi. Selain itu, penelitian ini juga dapat dikaji lebih mendalam lagi dengan menggunakan kriteria, evaluasi, dan pendekatan yang berbeda mengenai upaya meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi.

Penerapan model pembelajaran rotating trio exchange untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas 4 SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang / Tito Santana Eriza

 

Kata Kunci : Model Rotating Trio Exchange, Pembelajaran, IPA Berdasarkan hasil observasi awal yang diperoleh temuan bahwa pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang masih rendah, hal ini disebabkan karena metode pembelajaran menarik dan menyenangkan sehingga siswa saat belajar kelompok cenderung memilih teman yang mempunyai kemampuan akademik baik serta hasil belajar siswa tidak memenuhi standar ketuntasan minimal. Untuk itu, perlu adanya suatu model pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif dan berkembang sikap ilmiahnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan, aktivitas belajar IPA, dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang pada pembelajaran dengan model Rotating Trio Exchange. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 30 orang. Jenis penelitian ini PTK dengan model kolaboratif partisipatoris. Teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Rotating Trio Exchange dapat meningkatkan pembelajaran siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Keaktifan siswa pada siklus I sebesar 83,43% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 90,75% dengan kategori sangat baik. Pada siklus I pertemuan ke-1 siswa yang tuntas belajar sebanyak 2 siswa atau 6,67% pada siklus I pertemuan ke-2 siswa yang tuntas belajar sebanyak 18 siswa atau 60% pada siklus II pertemuan ke-1 siswa yang tuntas belajar sebanyak 17 siswa atau 56,67% pada siklus II pertemuan ke-2 siswa yang tuntas belajar sebanyak 26 siswa atau 86,67 %. Saran bagi guru, sebaiknya guru menggunakan model Rotating Trio Exchange ini sebagai alternatif dalam memilih model pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi kepala sekolah, sebaiknya model Rotating Trio Exchange ini digunakan sebagai bahan pertimbangan sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam pembelajaran dikelas. Bagi peneliti lain atau guru, jika ingin mengembangkan model pembelajaran IPA yang efektif dalam meningkatkan rasa kebersamaan dan suasana yang menyenangkan.

Peningkatan penguasaan kosakata bahasa Inggris melalui penerapan memory-spiel pada siswa kelas IV SDK Marga Bhakti Malang / Brigita Vigara Dista

 

Kata kunci: Memory Spiel, Penguasaan Kosakata. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di kelas IV terdapat beberapa faktor penyebab kesulitan siswa dalam mempelajari kosakata dalam pembelajaran bahasa Inggris yaitu (1) siswa kurang berminat mempelajari bahasa Inggris karena terlalu banyak kosakata yang harus dihafal, (2) kejenuhan siswa terhadap media yang ada, serta (3) kesulitan siswa berkomunikasi karena penguasaan kosakata yang mereka kuasai kurang. Berdasarkan data yang diperoleh sebelum tindakan, diketahui terdapat 10 siswa tidak tuntas dalam tes sebelum tindakan dan 16 siswa dinyatakan tuntas dalam tes sebelum tindakan. Prosentase ketuntasan data sebelum tindakan yaitu 61,53%. Sebagian besar siswa masih kurang dari SKM (Standar Ketuntasan Minimum) yang ditetapkan oleh SDK Marga Bhakti Malang yaitu 59. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui penerapan permainan Memory Spiel dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris siswa kelas IV SDK Marga Bhak Malang, (2) mengetahui peningkatan penguasaan kosakata bahasa Inggris melalui penerapan permainan Memory Spiel. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDK Marga Bhakti Malang yang berjumlah 26 siswa dengan rincian 15 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah angket, tes, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Memory Spiel dapat meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris. Hal ini ditunjukkan dari prosentase perolehan nilai siswa sebelum tindakan yaitu 61,53% dan tes penguasaan kosakata sesudah tindakan siklus I sebesar 73,07%. Pada siklus II juga terlihat peningkatan sebesar 88,46%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Penerapan Memory-Spiel dalam pembelajaran kosakata bahasa Inggris ini dilakukan dengan baik, Memory Spiel dapat membantu siswa meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Inggris melalui permainan. Dalam pembelajaran siswa tidak hanya bisa menghafal kosakata akan tetapi mereka juga bisa melatih ingatan otak melalui permainan Memory Spiel. Memory-Spiel juga dapat meningkatkan minat siswa untuk lebih bersemangat mempelajari penguasaan kosakata bahasa Inggris. Hal tersebut dapat diketahui dari peningkatan pada pra tindakan dan siklus I. Penguasaan kosakata siswa pada siklus I belum mencapai ketuntasan belajar, maka dilakukan siklus II. Penguasaan kosakata dari siklus II dinyatakan telah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditentukan, sehingga penelitian dianggap sudah cukup. Dari hasil penlitian ini diharapkan (1) bagi guru bahasa Inggris disarankan untuk Memory Spiel sebaiknya dikembangkan pada materi lain dan lebih kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran dengan tetap memperhatikan variasi dan kebutuhan di lapangan. (2) bagi peneliti yang akan datang, semoga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai petunjuk dan pertimbangan untuk penelitian yang lain dalam bidang yang sama yaitu penelitian tentang media.

Penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas III SDN Pisangcandi 2 Malang / Nur Zubaidah

 

Kata Kunci: pendekatan komunikatif, pembelajaran bahasa Indonesia, keterampilan berbicara, SD. Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi, menekankan pembinaan dan pengembangan kemampuan komunikatif siswa. Penerapan pendekatan komunikatif sepenuhnya dilakukan oleh siswa (student centre) sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Dengan demikian siswa akan mampu bercerita, menanggapi masalah, dan mengungkapkan pendapatnya secara lisan dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami. Didalam penelitian ini penulis menemukan berbagai masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam keterampilan berbicara yaitu, didalam pembelajaran bahasa Indonesia kurang dapat melatih siswa dalam aspek keterampilan berbicara. Siswa belum melakukan kegiatan pembelajaran dengan berbagai metode hanya kegiatan ceramah dan penugasan dalam menceritakan pengalamannya, siswa masih tampak malu, kurang lancar dalam bercerita, dan struktur kalimatnya belum runtut. Ada pula diantara siswa yang tidak mau berbicara di depan kelas. Selain itu, pada saat guru bertanya kepada seluruh siswa, umumnya siswa lama sekali untuk menjawab pertanyaan guru. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Mendiskripsikan penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran berbicara pada siswa kelas III SDN Pisang Candi 2 Malang, (2) Mendiskripsikan peningkatan keterampilan berbicara pada siswa kelas III SDN Pisang Candi 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penilitian Tindakan Kelas (PTK), Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Pisang Candi 2 Malang Jalan. Pisang Agung III / 8 Malang. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi, Instrumen yang digunakan adalah RPP, lembar observasi guru, lembar observasi siswa dengan menilai keberanian, keaktifan, kelancaran, intonasi, keruntutan dalam melakukan percakapan, dan diksi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, pemaparan data, dan kesimpulan. Dalam penelitian ini dapat ditemukan bahwa penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas III SDN Pisang Candi 2 Malang. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata rata pada indikator keberanian siswa 3,17% siklus I manjadi 3,93 % pada siklus II, nilai rata-rata pada indikator keaktifan 2,82% siklus I menjadi 3,27 % pada siklus II, nilai rata-rata pada indikator kelancaran 2,75% siklus I menjadi 3,27% pada siklus II, nilai rata-rata pada indikator intonasi 3,37% siklus I meningkat menjadi 3,69% pada siklus II, nilai rata-rata pada indikator keruntutan 3,62% siklus I meningkat menjadi 3,68%, dan nilai rata-rata pada indicator pemilihan kata 3,17% siklus I menjadi 3,41% pada siklus II. Penerapan pendekatan komunikatif untuk maningkatkan keterampilan berbicara siswa SDN Pisang Candi 2 Malang dapat tercapai. Guru mengoptimalkan pembelajaran keterampilan berbicara pada kegiatan pembelajaran agar siswa mendapatkan hasil yang lebih bagus lagi. Penerapan pendekatan komunikatif meningkatkan keterampilan berbicara siswa, menumbuhkan sikap berani dan aktif dalam melakukan percakapan melaui telepon. Dari uraian diatas dapat dismpulkan bahwa terdapat pengaruh positif dalam penerapan pendekatan komunikatif dalam pengajaran keterampilan berbicara dari segi keberanian, keaktifan, kelancaran, intonasi, keruntutan dalam melakukan percakapan, dan diksi. Sebagai saran kepada guru dan sekolah, sebaiknya lebih meningkatkan pembelajaran keterampilan berbicara khususnya dalam percakapan melalui telepon.

Penerapan model pembelajaran VCT untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas IIIB pada mata pelajaran IPS di SDN Purwantoro 2 Kota Malang / Ratna Julianti

 

Kata Kunci: model pembelajaran VCT, proses belajar, hasil belajar, IPS SD. Proses pembelajaran IPS menghendaki pengajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran serta dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap pembelajaran kelas di IIIB SDN Purwantoro 2 Malang menunjukkan bahwa, dari 40 siswa yang mendapatkan nilai ≥75 hanya 22 siswa (55%), sedangkan <75 sebanyak 18 siswa (45%). Selain itu, penilaian terhadap proses belajar sering diabaikan, setidaknya-tidaknya kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan penilian hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran VCT terhadap proses dan hasil belajar IPS siswa kelas IIIB di SDN Purwantoro 2 Malang; (2) Mendeskripsikan peningkatan proses belajar IPS siswa kelas IIIB melalui penerapan model pembelajaran VCT; (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IIIB melalui penerapan model pembelajaran VCT. Model pembelajaran VCT dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran IPS secara kompleks pada jenjang sekolah dasar, yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan pemahaman materi, proses belajar siswa dan keterampilan klarifikasi nilai siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas model spiral dari Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian adalah siswa kelas IIIB SDN Purwantoro 2 Kota Malang, pada semeser genap tahun ajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran VCT menunjukkan bahwa proses dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dari siklus I mencapai 66,63% meningkat pada siklus II menjadi 76,08%. Sedangkan untuk rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan dari 63,25 pada observasi awal menjadi 73,95 pada tindakan siklus I. Kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 83,65.. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru menggunakan model VCT untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa dan penelitian ini dapat dijadikan langkah awal untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa dalam menemukan nilai-nilai dapat diaplikasikan dalam kehidupan

Penerapan metode tanya jawab (question answer) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Bareng 5 Malang / Nany Puspita Sari

 

Kata Kunci: Metode tanya jawab (question answer), hasil belajar, PKn SD. Pembelajaran PKn di SDN masih menggunakan pembelajaran yang masih tradisional. Dalam pembelajaran guru sering menggunakan metode ceramah saja, Dengan demikian pembelajaran masih didominasi oleh guru dan dalam penyampaian materi pelajaran, sedangkan siswa hanya dituntut untuk mendengarkan secara tertib dan tenang tanpa terlibat langsung dalam pembelajaran tesebut. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan proses penerapan metode tanya jawab (question answer) pada mata pelajaran PKn untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bareng 05 Malang. (2)Mendeskripsikan penerapan metode tanya jawab (question answer) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bareng 05 Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari atas tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subyek penelitian adalah guru dan 29 siswa kelas V SDN Bareng 5 Malang. Teknik pengumpulan datanya yaitu : observasi, wawncara, dan tes. Intrument yang di gunakan yaitu test wawancara, alat penilaian aktivitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN Bareng 5 Kecamatan Klojen Kabupaten Malang mengalami peningkatan dari siklus I menjadi 58,82 dan pada siklus II 83,27 dari hasil siklus I ke siklus II mengalami peningkatan setelah menggunakan metode tanya jawab (Question answer). Peningkatan hasil belajar siswa SDN Bareng 5 Kecamatan Klojen Kabupaten Malang pada mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) perlu peningkatan lagi melalui upaya-upaya yang berkesinambungan. Saran untuk guru yaitu agar guru dapat menerapkan model pembelajaran tanya jawab (Question answer) pada mata pelajaran PKn. Model pembelajaran ini dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga dapat menjadi lebih baik.

Peningkatan kemampuan fisik motorik anak kelompok B melalui aktivitas bermain memasukkan bola ke dalam ring di TK Negeri Pembina 3 Sukun Malang / Sulastri

 

Kata Kunci: Penerapan, Kemampuan fisik motorik, Bermain memasukkan bola kedalam ring Latar belakang penelitian ini berawal dari keinginan penulis untuk menguji pengembangan pembelajaran bidang fisik motorik anak dengan rentang usia 5 – 6 tahun. Kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif dan kreativitas ini dapat dipuaskan melalui bermain sehingga mampu melakukan koordinasi otak kasar dan berlatih menggunakan kemampuan kognitifnya untuk beraktivitas berjalan, merangkak, berlari, meloncat, melompat, menendang, melempar dan sebagainya. Kemampuan fisik motorik ini merupakan salah satu kemampuan untuk melompat dan melempar bola yang ditentukan jarak dan ketinggian tiang ring. Dari hasil pengujian tersebut, hanya 2 anak yang mampu memasukkan bola ke dalam ring dengan tepat dari keseluruhan jumlah populasi sebanyak 19 anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi aktifitas bermain memasukkan bola ke ring untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik anak kelompok B di TK Negeri Pembina 3 Sukun Malang. Model PTK yang digunakan dalam peneliti ini adalah model Kurt Lewin yang meliputi : perencanaan, pelaksanaan dan observasi, refleksi (Akbar, 2009.) Penelitian dilakukan di TK Negeri Pembina 3 Sukun Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Bermain memasukkan bola ke dalam ring terbukti dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik pada anak kelompok B. Standar nilai keberhasilan klasikal dalam penelitian ini ditetapkan minimal 75 % . Artinya kemampuan fisik- motorik anak dinyatakan meningkat jika rata-rata keberhasilan dalam kelas mencapai minimal pada persentase tersebut. Kesimpulan penelitian ini dapat diketahui jika kemampuan anak mengalami peningkatan pada siklus II dari siklus I. Bermain memasukkan bola dengan berdiri skor peningkatan mencapai 98,47%, memasukkan bola dengan melompat mencapai 94,72%, dan memasukkan bola dengan memantulkan bola satu kali mencapai 84,21 %. Atas dasar temuan penelitian tersebut disarankan kepada guru dan pihak sekolah untuk melakukan pengajaran menggunakan permainan bola yang sangat bermanfaat dalam pengembangan refleksi fisik motorik anak. Kegiatan seyogyanya dikemas secara menarik dan inovatif agar tidak membosankan. Senantiasa memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan anak agar aman dan nyaman serta dapat mengasah ketrampilan anak dalam berkompetisi dengan teman dan menguasai arah serta ketepatan melakukan lemparan

Penentuan kadar likopen, vitamin C dan serat kasar selama proses pembuatan cuka tomat dari buah tomat super dan tomat apkir menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Acetobacter acetii / Hendra Widya Ardiansah

 

Kata Kunci : Pembuatan cuka, Likopen, Vitamin C, dan Serat kasar Diversivikasi produk olahan tomat sangat diperlukan untuk mengatasi melimpahnya produksi buah tomat. Salah satu yang sedang dikembangkan adalah dengan mengolah tomat menjadi cuka tomat, yang diharapkan dapat meningkatkan lama penyimpanan dan menstabilkan nilai jual buah tomat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kadar likopen, vitamin C, dan serat kasar selama proses pembuatan cuka tomat dan perbandingan kualitas cuka tomat baik dari tomat super dengan tomat apkir. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UM. Waktu pelaksanakan penelitian dilaksanakan antara bulan September – Oktober 2010. Buah tomat diperoleh dari pertanian tomat Desa Ngabab Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang Jawa Timur. Tahap penelitian yang dilakukan yaitu: (1) preparasi sampel yaitu pembuatan cuka tomat dengan cara fermentasi berkelanjutan menggunakan Saccharomycess cerevisiae (fermentasi I) dan dilanjutkan dengan Acetobacter acetii (fermentasi II) (2) penetuan kadar likopen, vitamin C, dan serat kasar pada beberapa tahap yang dilakukan pada proses pembuatan cuka tomat. Penentuan likopen menggunakan metoda spektroskopi UV-Vis, vitamin C menggunakan metoda titrasi Iodo-Iodimetri, dan penentuan serat kasar menggunakan metoda hidrolisis asam basa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kadar likopen pada sari tomat, sari tomat pasteurisasi, hasil fermentasi I (Saccharomycess cerevisiae), hasil fermentasi II(Acetobacter acetii) masing-masing pada tomat kualitas super sebagai berikut: 0,321 g/g, 0,202 g/g, 0,154 g/g dan 0,003 g/g sedangkan pada tomat kualitas apkir adalah sebagai berikut: 0,154 g/g, 0.885 g/g, 0,016 g/g, 0.002 g/g, (2) Kadar Vitamin C pada tomat kualitas super sebagai berikut: 0,117 mg/g; 0,106 mg/g; 0,035 mg/g; 0,035 mg/g dan 0,106 mg/g, sedangkan pada tomat kualitas apkir adalah sebagai berikut: 0,141 mg/g; 0,106 mg/g; 0,070 mg/g; 0,035 mg/g; 0,070 mg/g. (3) Kadar serat kasar pada hasil samping proses biosintesis cuka tomat yaitu kadar serat kasar pada sebelum fermentasi dan kadar serat kasar sesudah fementasi masing – masing sebagai berikut: 0,9 mg/g dan 2,3 mg/g. Sedangkan pada tomat kualitas apkir adalah sebagai berikut: 5,3 mg/g dan 5,4 mg/g. Berdasarkan kadar likopen dan vitamin C kualitas cuka tomat dari tomat super lebih baik daripada tomat kualitas apkir

Alternatif perencanaan jembatan menggunakan konstruksi beton precast di Desa Gambiran Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi / Prayitno

 

Prayitno. 2013. Alternatif Perencanaan Jembatan Menggunakan Konstruksi Beton Precast Di Desa Gambiran Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Proyek Akhir, Program Studi D3 Teknik Sipil dan Bangunan, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Adjib Karjanto, S.T., M.T. Kata-kata kunci: Jembatan Precast, Upper Structure, Beton Prategang. Desa Gambiran dan Desa Curahketangi terletak di Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Desa tersebut dipisahkan oleh sungai Setail dengan lebar 20 m. Pada sungai Setail, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan kedua desa tersebut. Jembatan ini terbuat dari jembatan beton konvensional dengan lebar 9.5 m yang bisa dilewati kendaraan dengan kelas jalan IIIC. Jembatan ini mempunyai peran penting mengingat banyak warga yang memiliki lahan persawahan di desa tersebut. Jembatan Setail merupakan jalur alternatif untuk menuju desa Dasri Kecamatan Tegalsari dan sebaliknya. Seiring bergulirnya waktu Jembatan Setail semakin ramai dilalui oleh kendaraan yang akan menuju ke Kecamatan Genteng dan Kecamatan Tegalsari. Berdasarkan informasi yang diperoleh Jembatan Setail rencananya akan dibangun jembatan baru yang bisa dilewati kendaraan besar yang letaknya di sebelah jembatan lama. Hal ini bertujuan supaya kendaraan besar bisa lewat dengan baik dan lancar serta aman bagi pengguna jalan dan jembatan. Berdasarkan kondisi tersebut perencanaan jembatan precast dapat digunakan sebagai alternatif pilihan jembatan. Permasalahan yang ditinjau dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana menentukan spesifikasi balok struktur jembatan menggunakan beton precast di Desa Gambiran, (2) Bagaimana menghitung kekuatan komponen jembatan precast terhadap gaya dalamnya, (3) Bagaimana menggambar hasil perhitungan ke dalam bentuk gambar teknik. Hasil dari perencanaan adalah jembatan dengan panjang bentang 20 m, lebar total 9.50 m, tebal slab 0.25 m, untuk tulangan positif negatif dengan tulangan D16 – 200 dan tulangan bagi D13 – 130, dengan dimensi tiang sandaran 15 cm x 15 cm jumlah 4 D13 dengan tulangan geser  6 – 150, penulangan bagian trotoar menggunakan tulangan dengan D16 – 200 dan tulangan bagi D13 – 130, balok gelagar induk beton precast bentuk I dengan tinggi 1.00 m berjumlah 5 buah dengan jarak 1.75 m antar balok gelagar. Jumlah tendon yang digunakan 2 dengan 1 tendon berisi 15 strands dan 1 tendon berisi 14 strands, jenis strands yang digunakan Uncoated 7 wire super strands ASTM A-416 grade 270, dengan tulangan arah memanjang balok menggunakan besi D13 dengan jumlah bagian atas 10, bagian bawah 12 dan bagian tengah/badan 12 tulangan geser menggunakan D13. Dari hasil perhitungan, gaya-gaya dalam yang terjadi telah memenuhi syarat SNI-T-12-2004.

Efetivitas penerapan metode demonstrasi disertai tugas berkarya seni kriya ukir logam pada pengajaran seni rupa siswa kelas X SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek / Herlin Farida

 

Kata Kunci: efektivitas, metode demonstrasi, kriya ukir logam, SMA, Trenggalek. Kemampuan guru dalam memilih dan menerapkan metode pembelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Durenan kurang bervariasi. Hal ini bisa diketahui dari metode yang digunakan, guru selalu menggunakan metode konvensional yaitu ceramah yang disertai dengan penugasan. Dalam kegiatan ekspresi, guru memberikan contoh karya seni kemudian menugaskan kepada siswa untuk berkarya berdasarkan contoh karya yang diperagakan. Sehingga siswa cenderung meniru. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya peluang bagi siswa untuk berfikir kreatif. Padahal menurut KTSP, tujuan mata pelajaran seni rupa adalah menampilkan kreatifitas melalui seni rupa. Oleh karenanya, untuk meningkatkan kreatifitas siswa dalam berkarya seni rupa serta meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa, peneliti ingin menerapkan metode demonstrasi disertai tugas berkarya seni kriya ukir logam serta keefektifannya dalam pembelajaran seni rupa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dengan metode konvensional, proses pembelajaran dengan metode demonstrasi disertai tugas berkarya seni kriya ukir logam dan keefektifan pembelajaran seni rupa dengan metode demonstrasi disertai tugas berkarya seni kriya ukir logam terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi eksperimen (eksperimen semu) dengan rancangan penelitiannya adalah One Group Pretest-Posttest Design (rancangan pra-pasca test dalam satu kelompok). Pengumpulan data menggunakan instrumen lembar observasi dan tes berkarya seni kriya ukir logam serta dokumentasi berupa foto selama proses belajar mengajar berlangsung. Sedangkan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif . Analisis statistik deskriptif dalam penelitian ini menggunakan nilai terendah (nilai minimum), nilai tertinggi (nilai maksimum), dan mean (nilai rata-rata) dari kemampuan awal dan kemampuan akhir siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa metode demonstrasi disertai tugas berkarya seni efektif diterapkan dalam pengajaran seni rupa. hal ini dapat dibuktikan dengan nilai kemampuan awal siswa lebih tinggi daripada nilai rata-rata kemampuan akhir siswa dengan perolehan nilai akhir sebesar 81,50 sedangkan nialai awalnya 81.36. Sehingga disarankan kepada guru mata pelajaran seni budaya di SMA Negeri 1 Durenan untuk menerapkan metode demonstrasi sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran pada pengajaran seni rupa karena hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Writing a diary as a strategy to improve the tenth graders' ability in writing recount texts at SMAN 6 Malang / Citra Siwi Hanayanti

 

Keywords: writing a diary, improve the ability in writing recount text Based on the preliminary study at SMAN 6 Malang, the tenth grade students’ ability in writing recount was unsatisfying. Most of the students had problem with content, organization, vocabulary and grammar as well as lack of confidence in writing. As a result, 65% out of 23 students did not like to write English compositions. Writing diary was proposed as an alternative strategy to solve the students’ problems in writing. Writing diary describes their daily activities and requires them to write on their private book telling about their lives. Besides training the students to write well, this could benefit to a closer, better relationship between the students and their teacher. This study was aimed at finding out how the implementation of a diary as a strategy to improve the ability of the tenth graders at SMAN 6 Malang in writing recount text. This study was a Classroom Action Research (CAR) which consisted of two Cycles, each consisted of three meetings. Each meeting consisted of three stages: pre-activity, whilst activity, and post activity. In Cycle 1, the researcher used WH-questions to guide the students in writing their outlines of recount text. Cycle 2 was done by giving some varied topics. The researcher’s colleague was appointed to observe the teaching and learning process as well as to observe the students’ attention and participation, using checklists. The instruments used to collect the data were interview guides, questionnaires, observation checklist, field notes, and the students’ final writing product. The procedures in this study were as follows. First, the researcher explained the principle of making outline based on WH-questions. Then a handout consisted of text and questions were distributed. After that, the students had to answer the questions and identify the generic structure of recount text. Then step the students wrote recount text using WH-questions. Based on the findings, it was found that writing diary effectively improved the students’ ability in writing recount text and obtained the student’s positive responses. In this case 95.65% students reached good level in terms of content and 52.2% answered “I like it” related to the students interest in writing a composition. The result of the research also showed that diary as an additional activity successfully improves the students’ ability in writing recount text. The scores of the students’ writing products improved significantly from preliminary to Cycle 1 and from Cycle 1 to Cycle 2. The students mean score improved from 63.8 in the preliminary study to 69.5 in Cycle 1 and 78.91 in Cycle 2. In conclusion, writing diary can be implemented to improve the students’ ability in writing recount text of the tenth graders at SMAN 6 Malang. Writing diary was helpful to build the students’ positive responses and interest in learning English because they were accustomed to writing freely without any pressure.

Perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode ekspositori terhadap peningkatan hasil belajar TIK pada pokok bahasan pengenalan perangkat internet dan intranet siswa kelas IX SMP Negeri 4 Malang / Fatkhur Rochman

 

Kata Kunci: kooperatif Tipe STAD, Ekspositori, Hasil Belajar TIK Permasalahan yang sering kali dijumpai dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran TIK adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru harus mampu memilih metode mengajar yang paling efektif dan inovatif sesuai dengan kondisi dan situasi. Kenyataan bahwa siswa memiliki kemampuan yang heterogen merupakan tantangan bagi guru untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa dengan metode pembelajaran yang inovatif. Salah satu metode yang dapat menunjang kemampuan siswa yang heterogen adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) untuk mengetahui hasil belajar siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Malang dengan menggunakan metode kooperatif Learning Tipe STAD (Student Team Achievement Division), (2) untuk mengetahui hasil belajar siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Malang dengan menggunakan metode ekspositori, (3) Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar yang signifikan antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode pembelajaran ekspositori pada materi Pengenalan Perangkat Internet dan Intranet Siswa Kelas IX SMP Negeri 4 Malang. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dengan pre-test dan post-test non equivalent control group design, dan jenis penelitiannya yaitu kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 4 Malang semester satu tahun ajaran 2010/2011. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas IXA sebagai kelas kontrol dan kelas IXC sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian ini yaitu instrumen perlakuan dan pengukuran. Instrumen perlakuan berupa perangkat pembelajaran, sedangkan instrumen pengukuran berupa instrumen tes dan lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan dari hasil rata-rata tes awal dengan tes rata-rata akhir dimana kelas eksperimen meningkat dari 64,26 menjadi 85,17 atau sebesar 32,54 % dan kelas kontrol meningkat dari 64,00 menjadi 78,26 atau sebesar 22,28 %. Setelah diuji hipotesis menggunakan Uji-t diperoleh hasil thitung = 3,803 > ttabel = 1,99, yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar TIK antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen secara signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang belajar dengan metode pembelajaran ekspositori.

The speaking performance of grade XI language program students of SMAN 1 Lawang / Marta Rosa Hasianna Siahaan

 

Key words: speaking performance, grade XI, language program, fluency, pronunciation, grammar, vocabulary, content. This study was conducted to describe the speaking performance of grade XI language program students of SMAN 1 Lawang in self-introduction, describing a picture, and question and answer activities in terms of fluency, pronunciation, grammar, vocabulary and content. The subject was 10 students of language program from grade XI. This study used a descriptive design. There were three instruments used in this study; those were speaking tasks, a scoring rubric and an audio recorder. The speaking tasks consisted of three activities, namely; self-introduction, describing a picture and question and answer. The findings of this study were as follows. First, the speaking performance of grade XI language program students in self-introduction in terms of fluency was very good (22points), in terms of pronunciation was very good (13 points), in terms of grammar was very good (13 points), in terms of vocabulary was very good (12 points), and in terms of content was very good (26 points). Second, the speaking performance of grade XI language program students in describing a picture in terms of fluency was good (20 points), in terms of pronunciation was very good (12 points), in terms of grammar was good (11 points), in terms of vocabulary is very good (12 points), and in terms of content was good (25 points). Third, the speaking performance of grade XI language program students in question and answer in terms of fluency was good (19 points), in terms of pronunciation was very good (12 points), in terms of grammar was good (11 points), in terms of vocabulary was good (11 points), and in terms of content was good (24 points). Based on the result of the study, some recommendations are addressed to students and other researchers. For students, they are advisable to improve their speaking ability. They should practice speaking in a more fluent way and minimize the hesitations that they usually make. They also need to enlarge their vocabulary size so that they can use various vocabularies in their speaking which will improve their confidence. For other researchers who want to study more about the speaking performance of senior high school students, they can use the speaking tasks used by the researcher or use other speaking tasks such as storytelling, speech, debate, etc with the intention that there will be more data collected to know how the speaking performance of senior high school students in general is. The result will be useful for the betterment of the students’ speaking performance.

Cooperative integrated reading and composition (CIRC) strategy to improve students' reading achievement / Rininta Triwuri Cahyaningpuspita

 

Keywords: Cooperative Integrated Reading and Composition, minimize heterogeneity, reading achievement Some studies about the use of Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) to improve the students’ achievement have been done several times. However, the uses of CIRC that focus on minimizing the heterogeneity of students’ achievement are rarely done. Actually, the heterogeneity of students’ achievement in a class is considered as a problem faced by teacher in class. It means that the students do not reach the same level in understanding the material given. This study was focused on the use of CIRC to minimize the heterogeneity of students’ reading achievement. The study was done using Classroom Action Research (CAR). Subjects of the study were the eighth graders of SMP Negeri Malang year 2010/2011, that was class 8G. Data of this study were collected using observation sheets, interview, field notes, and reading test. This study was expected to give significance to other language teachers, especially English teachers who faced the same problem in their class. It was also aimed to encourage teachers to be more innovative and creative in choosing and using teaching strategy to deliver their material. The result of this study revealed that the procedure of the use of CIRC to minimize the heterogeneity of students’ reading achievement consisted of three steps. They were: pre-reading activity, main reading activity, and post reading activity. Each step has its own activity. In pre-reading activity, there were (1) building knowledge and vocabulary and (2) making predictions. In main reading activity, there was (1) treasure hunt: comprehension of the story. Then, in post-reading activity, there were (1) story mapping, and (2) story retell. This study proved that CIRC can be used to minimize the heterogeneity of students’ reading achievement. It was proved by the length of the gap between the highest and lowest scores achieved by the students. In preliminary test, the gap was 58; in Post-test 1 the gap was shortened into 40 while in Post-test 2 the gap was shortened into 35. Besides minimizing the heterogeneity of the students’ achievement, CIRC can also be used to improve students’ reading achievement. It was proved by the improvement of the highest score from 92 to 100 and the lowest score from 34 to 65after the implementation of CIRC. The number of students who could not pass the passing grade also decreased. Before the implementation of CIRC, 21 students did not pass the passing grade, while after the implementation; only 7 students did not pass the passing grade.

Keefektifan komponen pembelajaran program kesetaraan paket C di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang / Innecke Kartika Warhana W.

 

Kata Kunci: keefektifan, komponen pembelajaran, program kesetaraan Paket C Pendidikan merupakan sektor penting yang berperan aktif dalam meningkatkan pembangunan bangsa. Masyarakat Indonesia sekarang ini masih banyak yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Pendidikan yang diselenggarakan Lembaga Pemasya-rakatan Kelas I Malang merupakan salah satu bentuk PLS yang tidak lepas dari komponen-komponen PLS yaitu (1) warga belajar, (2) sumber belajar, (3) pamong belajar, (4) ragi belajar, (5) kelompok belajar, (6) sarana belajar, (7) panti belajar, (8) program belajar, dan (9) hasil belajar. Oleh karena itu, penelitian ini mendes-kripsikan mengenai keefektifan komponen pembelajaran program kesetaraan Paket C di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan menggunakan angket, wawancara, observasi dan studi dokumentasi untuk mengumpulkan data. Angket berisi 26 pertanyaan. Pertanyaan pada angket tersebut diberikan kepada 20 orang warga belajar kesetaraan Paket C sebagai sampel dari populasi yang berjumlah 104 orang. Selanjutnya data tersebut dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua komponen pembelajaran (warga belajar, sumber belajar, pamong belajar, ragi belajar, kelompok belajar, sarana belajar, panti belajar, program belajar, dan hasil belajar) program kesetaraan Paket C dikatakan efektif. Semua pada kategori 75,1-100%. Adapun saran yang disampaikan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan keefektifan komponen pembelajaran, diharapkan: 1. Melibatkan secara lebih aktif dalam proses perencanaan belajar, 2. Memanfaatkan sumber-sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitar, 3. Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dengan baik dengan cara bekerja sama dengan penilik pendidikan, 4. Mengembangkan model-model motivasi belajar untuk meningkatkan semangat warga belajar, 5. Dalam satu kelompok belajar, hanya terdapat 20-25 warga belajar sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik, 6. Memanfaatkan sarana belajar yang ada serta menambah kualitas maupun kuantitas dari sarana belajar, 7. Dapat diperoleh tempat-tempat baru yang lebih layak saat proses pembelajaran, 8. Kurikulum seharusnya disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku, baik dari SKB maupun penyelenggaraan Paket C lain, 9. Adanya evaluasi belajar secara reguler setiap bulan, dan 10. Agar mempertahankan sifat warga belajar yang aktif dalam proses pembelajaran. Karena pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat membawa warga belajar yang aktif.

Pengembangan bahan ajar bercerita pengalaman berbasis cerita naratif kronologis untuk siswa SMP kelas VII semester I / Junita Budiono

 

Kata kunci: pengembangan bahan ajar, bercerita pengalaman, cerita naratif kronologis. Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh sejumlah masalah, yakni perencanaan pembelajaran bercerita pengalaman yang kurang matang di kalangan guru dan siswa, penguasaan materi oleh guru yang masih minimal, dan metode yang digunakan guru kurang inovatif. Agar proses pembelajaran bercerita pengalaman berkesan dapat berlangsung dengan baik sehingga mencapai tujuan, yakni siswa memiliki keterampilan bercerita pengalaman berkesan. Adapun langkah yang dapat ditempuh untuk memenuhi tujuan tersebut, yaitu mengembangkan bahan ajar yang menguraikan materi serta diramu dalam strategi belajar yang menyenangkan. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengembangkan (1) pra bahan ajar berupa (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/RPP) bercerita pengalaman berbasis cerita naratif kronologis, dan (2) bahan ajar pembelajaran bercerita pengalaman berbasis cerita naratif kronologis. RPP dikembangkan sebagai dasar penulisan bahan ajar, sehingga materi dalam bahan ajar dijelaskan dengan strategi pembelajaran yang saling berkesinambungan hingga mencapai satu tujuan pembelajaran. Adanya cerita naratif kronologis dalam bahan ajar digunakan sebagai strategi dan model pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran diuraikan menjadi 4 tahap, yakni membaca model cerita naratif kronologis, menganalisis cerita naratif kronologis, menulis cerita pengalaman berkesan, dan menceritakan secara lisan dengan memperhatikan keterampilan verbal dan non-verbal. Adapun fungsi cerita naratif kronologis sebagai model pembelajaran, yakni untuk menguraikan materi dan contoh-contoh materi. Kedua fungsi cerita naratif kronologis tersebut dimanfaatkan dalam produk, yakni bahan ajar. Kebermanfaatan bahan ajar dapat dirasakan oleh guru dan siswa. Adapun manfaat bagi guru, yaitu sebagai sumber materi. Adapun RPP dapat difungsikan oleh guru sebagai panduan mengajar. Demikian pula dengan keterkaitan materi satu dengan yang lain, merupakan kekuatan bahan ajar yang dikemb angkan, sehingga siswa dapat mempelajari secara mandiri.

Questions used by a biology teacher at SMP RSBI Negeri 1 Tulungagung: a case study / Neneng Hernawati

 

Key words: question types, questioning strategies, purposes in posing question, RSBI. This study is undertaken in order to investigate the questions used by a Biology teacher in SMP RSBI Negeri 1 Tulungagung. In detail, this study aims at answering three questions: 1) what type of questions does the teacher give to the students?, 2) what question strategies does the teacher apply in the class?, and 3) what are the purposes of the teacher in posing the questions? The design of this study is descriptive qualitative. It is also a case study because it is aimed at describing special and unique features of a teaching situations or the method used by a particular teacher in a particular setting. The subject of this study was a Biology teacher who taught in the RSBI class namely 7E. The researcher chooses the Biology teacher as the subject of this study since she has good English skill and her experience in teaching Biology longer than other Biology teachers in RSBI program. Besides, the Biology teacher applies English and Indonesian as the medium of instruction consistently in her classes. 7E class becomes the observed class because this class has Biology class earlier at 3-4 periods than other classes. The setting of this study was SMP RSBI Negeri 1Tulungagung since the school is the first school which implement RSBI program in Tulungagung. The data were collected from three observations in the class. The instruments used in the study were: the researcher, observation sheet, interview guides, and questionnaire. The findings showed that the Biology teacher used 94 questions during the observation. The study found that the subject employed convergent and divergent questions. However, the teacher posed convergent questions more frequently than divergent questions. There were 74 questions of convergent level (78.72%) and the rest was divergent questions (21.27%). In addition, the study also showed that subject used four question levels based on Bloom's taxonomy. The teacher used 57 knowledge level questions (60.63%) followed by 28 comprehension level questions (29.79%), 5 application level questions (5.32%), and 4 analysis level questions (4.26%). Based on the findings above, it can be said that the teacher used low level questions in Biology class. The study also found that the most frequent strategy used by teacher was wait time strategy. The average of total wait time in the class is 8.3 seconds. It indicates that the students need more time to think right after the teacher posed first question. The teacher employed this strategy for 35 times (37.23%). Then, followed by redirecting 28 times (29.79%), probing 13 times (13.83%), rephrasing 9 times (9.58%), focusing 5 times (5.32%), and prompting 1 time (1.06%). From the interview, the teacher stated that there were some purposes in delivering the questions. The subject mentioned there were three purposes of posing the question: to motivate the students to focus on the topic which would be discussed, to motivate the students to focus on the discussion, and to check the extent of students’ understanding. Furthermore, it was found that the teacher used both English and Indonesian languages as the medium of instruction. However, based on the result of the interview, the teacher realized that she still got difficulty to use English in explaining the teaching material in class. In conclusion, the questions posed by the teacher do not cover all the question levels and the teacher only knows a few purposes of posing questions. However, the teacher employs all of questioning strategies with different frequencies in the classroom. Furthermore, the teacher applies both English and Indonesian as the medium of instruction in the process of teaching and learning in RSBI program, even though many difficulties encountered.

Analisis morfem bahasa Jerman mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2009 pada mata kuliah Deutsche morphologie / Dewi Lestari Utami Putri

 

Kata kunci: morfologi, morfem, analisis morfem, kesalahan analisis Manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Sebagai objek dari linguistik, bahasa bersifat sistematis, yakni terdiri dari beberapa subsistem yang salah satunya adalah morfologi. Kata merupakan komponen pembentuk terpenting setiap bahasa. Morfologi menangani perubahan bentuk, struktur dan konstruksi kata-kata. Kata bisa terdiri dari satu atau beberapa morfem. Untuk mengetahui konstruksi morfem dari sebuah kata dapat dilakukan dengan teknik analisis morfem. Analisis morfem dapat dilakukan dengan mengurai afiks atau memenggal tiap morfem dalam hierarki pada sebuah kata. Mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menganalisis morfem bahasa Jerman. Hal tersebut dapat diketahui dengan ditemukan banyak kesalahan dalam menganalisis morfem bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan mahasiswa angkatan 2009 Jurusan Sastra Jerman dalam menganalisis morfem bahasa Jerman pada matakuliah Deutsche Morphologie. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari tes tertulis yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan mahasiswa menganalisis morfem bahasa Jerman. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2009 offering A dan offering B sebanyak 35 orang yang sedang menempuh matakuliah Deutsche Morphologie. Dari hasil penelitian diketahui bahwa (1) mahasiswa mampu atau tidak melakukan banyak kesalahan dalam menganalisis kata dengan satu morfem, (2) mahasiswa tidak melakukan banyak kesalahan dalam menganalisis kata dengan dua morfem, (3) mahasiswa melakukan banyak kesalahan dalam menganalisis kata dengan jumlah tiga sampai lima morfem. Kesalahan terbanyak dilakukan karena mahasiswa menganalisis morfem berdasarkan Silbe (suku kata) dan mereka tidak memahami materi Fugenzeichen pada komposita atau sufiks “t” dari verba bertempus Perfekt. Berdasarkan hasil penelitian ini, mahasiswa disarankan untuk lebih bisa meningkatkan semangat belajar khususnya belajar materi Fugenzeichen pada komposita dan Flexionssuffixs. Selain itu, dosen juga diharapkan untuk lebih memperdalam materi Flexionssuffix dan Fugenzeichen pada materi Wortbildung dalam pengajaran Deutsche Morphologie.

Pemanfaatan pestisida nabati campuran ekstrak biji mimba (Azadiracta indica A. Juss) dan filtrat umbi gadung (Discorea hispida) sebagai bahan pengawet kayu meranti terhadap serangan rayap / Maya Indriyani

 

Kata Kunci: Pengawetan kayu, ekstrak biji mimba, filtrat umbi gadung, rayap. Tujuandaripenelitianadalah : (1) Untukmengetahuiperbedaan beratbahan pengawet yang tertinggal (retensi) dalam kayu meranti? (2)Untukmengetahuiperbedaan berat kayu yang dimakan rayap antara kayu meranti yang tidak diawetkan? Metodepenelitianiniadalahpenelitianeksperimental yang diberiperlakuandiawetkandengan campuran ekstrak biji mimba dan filtrat umbigadung konsentrasi 0%, 5%, 10%,dan 15%. Untuk mengetahui perbedaan retensi dan beratantar perlakuan digunakan analisisvari ansatujalur (anava) dilanjutkandenganujibeda Duncan. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa (1) beratrerataretensibahanpengawetcampuranekstrak bijimim badan filtratumbi gadung padakonsentrasi5% adalahsebesar 5,6gram, konsentrasi 10% adalahsebesar 4,4 gramdankonsentrasi 15% adalahsebesar 3,5gram.(2) rata-rataberatkayumeranti yang dimakanrayapuntukkayumeranti yang diawetkandenganmenggunakanbahan pengawet campuran ekstrakbijimimbadanfiltratumbigadungpadakonsentrasi 0% adalahsebesar 11,2gram, konsentrasi 5%adalahsebesar 8,5gram, konsentrasi 10% adalahsebesar 9,5gram dankonsentrasi 15%adalahsebesar 10,1gram. Berdasarkanhasilpenelitianinidisimpulkanbahwacampuranekstrakbijimimbada nfiltratum bigadungpadakonsentrasi 5 % berpengaruhsignifikan dalam meningkatkan retensidan menekan kehilangan beratkayumeranti.Disarankanuntukpenelitianselanjutnya agar menggunakan konsentrasi antara 1% -10% .

Pengaruh good corporate governance terhadap manajemen laba pada perusahaan yang tergabung dalam corporate governance perception index (CGPI) periode 2006-2008 / Anggraita Dyah Wijayanti

 

Kata Kunci: Good Corporate Governance, Manajemen Laba, Good Corporate Governance Perception Index. Gagasan Good Corporate Governance (GCG) muncul akibat reaksi terhadap perilaku bisnis yang dilaksanakan perusahaan. GCG merupakan sistem bagaimana suatu perusahaan dikelola dan dikendalikan. Praktik GCG mensyaratkan pengelolaan perusahaan dengan baik, secara wajar dan benar sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham sehingga dapat mengurangi risiko yang mungkin dilakukan manajemen yang dapat menguntungkan diri sendiri. Corporate governance dapat meningkatkan kepercayaan investor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh GCG yang diproksi dengan proporsi dewan komisaris independen, persentase kepemilikan institusional, komite audit dan ukuran dewan direksi terhadap manajemen laba yang diproksi dengan discretionary accrual. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 11 perusahaan yang diperoleh berdasarkan metode purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa, proporsi dewan komisaris independen, kepemilikan institusional dan komite audit pada perusahaan sampel berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Akan tetapi ukuran dewan direksi pada perusahaan sampel berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya hendaknya menambahkan variabel lain yang juga menunjang implementasi GCG pada suatu perusahaan seperti kepemilikan manajerial, komite remunerasi, komite nominasi dan corporate secretary. Selain itu, diharapkan bisa memperluas sampel tidak hanya terbatas pada perusahaan yang tergabung dalam CGPI saja, sehingga hasil penelitian benar-benar mencerminkan kondisi semua perusahaan di Indonesia.

Pengembangan inventori efikasi diri bagi siswa SMA di SMA Negeri 1 Purwoharjo / Indah Sriwarini

 

Kata kunci: efikasi diri, inventori, pengembangan Efikasi diri yaitu keyakinan individu memperkirakan kemampuan dirinya sendiri untuk menyelesaikan suatu tugas atau kegiatan yang memiliki tujuan tertentu. Efikasi diri mempengaruhi bagaimana individu berpikir, memotivasi diri, serta mempersepsikan dirinya. Inventori efikasi diri dikembangkan berdasarkan teori Bandura (1994), yang mengemukakan bahwa efikasi diri terdiri atas empat domain yaitu cognitive processes (proses kognitif), motivational processes (proses motivasi), selection processes (proses seleksi), dan affective processes (proses afektif). Inventori ini tidak mengandung jawaban benar atau salah melainkan jawaban yang sesuai dengan karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inventori efikasi diri yang memiliki validitas, reliabilitas, serta norma yang memadai, sehingga dapat digunakan konselor untuk membantu siswa dalam mengidentifikasi/mengetahui tingkat efikasi diri yang siswa miliki. Penelitian pengembangan ini menggunakan langkah-langkah pengembang-an yang diadaptasi dari model Borg and Gall yang terdiri atas tahap pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan produk awal, pelaksanaan uji permulaan, revisi hasil uji permulaan, pelaksanaan uji lapangan utama, dan revisi hasil uji lapangan utama. Penelitian ini akan menghasilkan produk berupa inventori efikasi diri untuk siswa dan buku manual untuk konselor. Subjek coba adalah dua orang ahli materi bimbingan dan konseling serta siswa SMA kelas X di SMA Negeri I Purwoharjo berjumlah 320 siswa, subjek pengembangan sebanyak 80 siswa (25% dari populasi) diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data untuk menilai kesesuaian penjabaran teori dengan butir-butir pernyataan dalam inventori dikumpulkan melalui format uji ahli; sedangkan untuk menilai validitas, reliabilitas, serta menentukan norma dikumpulkan melalui uji coba terbatas dan uji lapangan utama yang berupa inventori. Hasil uji ahli menunjukkan bahwa kesesuaian antara deskriptor dengan indikator mempunyai skor 74, sedangkan kesesuaian antara item pernyataan dengan deskriptor mempunyai skor 182. Inventori efikasi diri diuji tingkat konsistensi internalnya dengan rumus Product Moment Pearson. Inventori ini juga diuji tingkat reliabilitasnya menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa: (a) Inventori efikasi diri memiliki tingkat validitas serta memiliki tingkat konsistensi internal yang tinggi; (b) Inventori efikasi diri memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi; (c) Inventori efikasi diri memiliki ketepatan norma yang diwujudkan dalam bentuk norma persentil. Analisis data hasil pengembangan inventori efikasi diri menggunakan program SPSS versi 12. Berdasarkan hasil pengembangan, konselor dapat mempergunakan inventori efikasi diri untuk mengidentifikasi data pribadi siswa dengan catatan subjeknya mempunyai kesamaan karakteristik dengan subjek pengembangan yang telah dipakai, serta tingkat validitas dan reliabilitasnya harus diuji kembali sebelum dipergunakan. Bagi pengembang selanjutnya, hendaknya menindak-lanjuti hasil pengembangan dengan terus melakukan pengembangan baik dalam konstruk teoritis, penulisan item-item pernyataan, isi item pernyataan, subjek pengembangan yang digunakan, dan teknik analisisnya, sehingga dapat lebih menyempurnakan produk inventori yang sudah ada.

Pengembangan modul pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk kelas VIII semester ganjil di SMP Negeri 18 Kota Malang / Baskoro Nugroho Putro

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan baik siswa maupun guru kelas VIII di SMP Negeri 18 Kota Malang untuk membantu proses pembelajaran. Modul ini dikembangkan sesuai dengan KTSP yang terdapat pada SMP Negeri 18 Kota Malang. Sebelumnya SMP Negeri 18 Kota Malang menggunakan LKS pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang isinya kurang sesuai dengan KTSP SMP Negeri 18 Kota Malang. Sumber belajar yang sesuai dengan KTSP sangat dibutuhkan bagi SMP Negeri 18 Kota Malang karena diharapkan dari sumber belajar tersebut siswa terbantu dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan angket yang ditujukan kepada 1 orang guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan kelas VIII 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 2 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dan 1 ahli modul, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan untuk kelas VIII semester ganjil. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 8 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 32 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Kota Malang modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dinyatakan dapat digunakan. Produk pengembangan berupa modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani dalam memberikan materi pendidikan jasmani.

Perancangan dan implementasi intrusion detection system (IDS) pada jaringan komputer / Achmad Riyanto

 

Kata kunci: networks, IDS (Intrusion Detection System), penyusup. Keamanan jaringan komputer sebagai bagian dari sebuah sistem informasi sangatlah penting untuk menjaga validitas dan integritas data dan menjamin ketersedeian layanan bagi penggunanya. Langkah untuk mencegah terjadinya kejahatan komputer perlu dilakukan pengamanan yang berlapis-lapis pada suatu jaringan komputer, seperti firewall yang berfungsi mengatur TCP/IP dan port-port yang mana diizinkan atau tidak untuk melewati jaringan. Intrusion Detection System (IDS) atau Sistem Deteksi Penyusup adalah sistem komputer (bisa merupakan kombinasi software dan hardware) yang berusaha melakukan deteksi penyusupan. IDS akan melakukan pemberitahuan saat mendeteksi sesuatu yang dianggap tindakan illegal. IDS tidak melakukan pencegahan terjadinya penyusupan. Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini untuk membuat suatu sistem yang dapat mendeteksi penyusup pada jaringan komputer. Sehingga dengan adanya sistem ini dapat mengamalisis dari suatu lalu-lintas jaringan dan menemukan pola serangan yang dapat mengancam integritas jaringan komputer (networks). Metode perancangan meliputi: (1) perancangan perangkat keras (hardware) meliputi instalasi perangkat PC (Personal Comuter) (2) perancangan perangkat lunak (software) meliputi instalasi snort, apache, MySQL, dan BASE (Basic Analysis and Security Engine). Pengimplementasian terhadap jaringan ditempatkan pada jaringan lokal (LAN) yang memiliki traffict jaringan yang cukup tinggi Hasil yang didapat adalah pengecekkan penyusup pada database apakah ada logging file. Khususnya query database yang mengandung alert. Kondisi dari jaringan dapat diketahui dengan mengecek melalui BASE (web based front end) apakah terjadi serangan atau intrusi dari sistem yang tengah dimonitor. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) dalam perancangan dan implementasi Intrusion Detection System (IDS) adalah (a) IDS dapat mendeteksi alert dan membuat log pada sistem serta memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi dalam mendeteksi suatu serangan, (b) serangan yang terdeteksi mengandung informasi mengenai alamat IP dan port dari penyusup, dan, (c) analisa output dapat menggunakan BASE untuk menganalisa tampilan berbasis web. (2) Dalam pembuatan Intrusion Detection System (IDS) agar dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan adalah (a) menentukan komponen yang akan dipakai , (b) membuat skema penyerangan, (c) memodifikasi database rule. (3) Pengujian Intrusion Detection System (IDS) dilakukan berdasarkan serangan yang dilakukan untuk menguji output (alert) apakah sesuai dengan rule yang telah ditentukan.

Pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar oleh mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang / Poltak Hasugian

 

Kata Kunci: sumber belajar, internet Kehadiran internet dengan segala sifat dan karakteristiknya yang khas telah dipandang salah satu alternatif sumber informasi masa depan. Melalui media internet ilmu dapat disebarluaskan secara cepat, tepat, murah dan handal. Jarak dan perbedaan waktu karena faktor geografi tidak menjadi halangan bagi seseorang yang ingin mengakses ilmu pengetahuan. Melalui internet, setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh berbagai informasi yang mereka butuhkan dalam segala kebutuhan sehari-harinya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi tentang pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar di Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan teknik pengambilan sampel Propotional Sampling. Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa angkatan tahun 2007 samapai dengan 2009 sebanyak 90 mahasiswa. Teknik pengambilan data berupa angket dan analisa data yang digunakan berupa statistik deskriptif yang meliputi analisa prosentase, dan diagram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar mahasiswa menggunakan internet sejak mereka belum kuliah dengan intensitas penggunaan internet 1-2 hari dalam semingu. Dalam seminggu mahasiswa memanfaatkan internet sebagai sumber belajar selama 2-5 jam dan lamanya penggunaan internet dalam satu kali akses selama 2-3 jam, (2) faktor yang memotivasi mahasiswa menggunakan internet sebagai sumber belajar karena dosen menganjurkan untuk mencari refrensi tugas kuliah, selain itu karena internet menyediakan materi pembelajaran dan sumber informasi yang melimpah, up to date dan bervariasi, ingin mendapatkan aplikasi secara gratis, dapat mengakses keperpustakaan, dapat berdiskusi dengan dosen, para pakar, keluarga, sahabat sehingga dapat menambah pergaulan, pengetahuan dan wawasan secara umum, oleh karena itu internet merupakan media yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan media lainnya sehingga dapat menciptakan wadah belajar mandiri dan membuat waktu lebih hemat dalam mengerjakan tugas-tugas, (3) faktor penghambat mahasiswa dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar adalah karena biaya akses internet masih terasa mahal dan adanya virus yang dapat merusak komputer. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) agar mahasiswa lebih mengenal teknlogi informasi dan giat memanfaatkan internet sebagai sumber sehingga dapat memperluas ilmu pengetahuan dan menunjang perkuliahan secara optimal, (2) diharapkan dosen lebih memotivasi mahasiswa dalam meningkatkan frekuensi pemanfaatan internet bagi mahasiswa dengan cara menugaskan mahasiswa mencari sumber belajar di internet, memberikan tugas melalui internet dalam upaya meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

Pengembangan media pembelajaran pembentukan keramik menggunakan teknik putar berbasis Adobe Flash / Vina Ulandari

 

Kata Kunci : Pengembangan, keramik teknik putar. Pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk yang baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengembang melihat kondisi saat proses pembelajaran keramik teknik putar di Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang, dalam perkuliahan keramik teknik putar belum ada media pembelajaran audio visual untuk menunjang proses pembelajaran, hal tersebut dapat berakibat pada pembelajaran yang cenderung verbal dan kurang efektif. Pembelajaran keramik di laboratorium keramik memerlukan banyak variasi dalam penggunaan media pembelajaran keramik khususnya keramik teknik putar. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah untuk mengembangkan Media Pembelajaran Pembentukan Keramik Menggunakan Teknik Putar Berbasis Adobe Flash. Kegiatan penelitian pengembangan ini meliputi sepuluh tahap dengan menggunakan model pengembangan prosedural, kemudian dalam proses pengembangan produk mengacu pada proses pengembangan media instruksional yang telah diadaptasi dan disesuaikan dengan lapangan, yaitu meliputi: 1) Analisis kebutuhan, 2) analisis tujuan; 3) pengembangan materi; 4) pengembangan alat evaluasi; 5) menyusun naskah; 6) produksi ; 7) penyusunan petunjuk pemanfaatan; 8) validasi; 9) uji coba kelompok kecil; 10) revisi. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli media dan ahli materi. Sedangkan metode analisis data menggunakan metode deskripsi dengan prosentase. Berdasarkan hasil analisis ahli, CD Interaktif ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan 77% oleh ahli media dan 71% oleh ahli materi, sedangkan hasil dari perhitungan analisis dari uji mahasiswa kelompok kecil 77%. Saran yang diajukan, hendaknya agar dilakukan uji coba secara berulang- ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada lembaga pendidikan terkait. Penelitian hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya untuk menguji tingkat efektifitas dari produk CD Interaktif keramik teknik putar yang dikembangkan. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat bermanfaat bagi pengguna produk.

Kajian kritik seni holistik terhadap lukisan sketsa karya Suderi periode 2010 / Elfa Olivia Verdiana

 

Kata Kunci: lukisan sketsa, latar belakang, tujuan, karakteristik, nilai, makna Lukisan sketsa merupakan sketsa sebagai karya jadi. Lukisan sketsa mempunyai daya ekspresi yang besar, berupa hasil rekaman maupun imajinasi seniman terhadap objek secara spontanitas dan mengalir bebas yang visualisasinya mengutamakan estetika garis dan menggunakan warna yang minim. Namun, kebiasaan berkarya sketsa kini mulai jarang ditekuni sebagai pondasi seorang perupa. Selain itu, banyak masyarakat yang belum mengenal lukisan sketsa. Karya-karya lukis sketsa seniman Suderi sangat menarik dari segi latar belakang, tujuan, karakteristik, nilai, dan maknanya. Melalui pembelajaran kritik seni, diharapkan bisa bermanfaat bagi siswa maupun mahasiswa karena kritik dapat meningkatkan sensitivitas dan pemikiran yang kritis. Penelitian ini bertujuan mengetahui latar belakang dan tujuan terbentuknya lukisan sketsa karya Suderi periode 2010, karakteristik lukisan sketsa karya Suderi periode 2010, serta nilai dan makna yang terkandung dalam lukisan sketsa karya Suderi periode 2010. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan kajian kritik seni holistik dari teori Sutopo tahun 1995. Metode yang digunakan adalah dokumentasi, observasi, dan wawancara. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dan lembar observasi. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan trianggulasi sumber dan metode. Selain itu juga ditunjang dengan katalog pameran dan artikel mengenai Suderi serta data-data pustaka yang berkaitan dengan kajian karya lukis sketsa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang terbentuknya karya-karya lukis sketsa Suderi antara lain dari studi pendidikan seni rupanya dan belajar dari teman-temannya, kemudian ditekuni hingga sekarang. Sikap, karakter, dan seleranya melatarbelakangi pilihan tema alam, tema kerja, dan tradisional. Tujuannya berkarya lukis sketsa antara lain untuk mengabadikan objek yang unik dan langka, mengekspresikan diri, dan memvisualisasikan keartistikan lukisan sketsa, serta berkomunikasi pada masyarakat. Karakteristik karya lukis sketsa Suderi yaitu lukisannya bergaya ekspresionis. Media yang digunakan adalah kertas, tinta pigmen, dan lidi. Goresannya ekspresif, tidak mengutamakan kemiripan objek, garis-garisnya berirama, nampak gradasi warna dan emphasis pada beberapa karya. Pilihan objek-objeknya nyata dan apa adanya tentang tema alam, tema kerja, dan tradisional. Karya-karya lukis sketsa Suderi menyiratkan nilai-nilai sosial dan budaya serta mengandung makna yaitu penghargaan terhadap alam dan budaya yang harus dilestarikan. Selain itu juga menyiratkan semangat nasionalis dan kegigihan manusia, serta rasa syukur terhadap Tuhan YME. Dalam mengkaji karya lukis sketsa berikutnya lebih fokus membahas makna. Karena notabene, karya seni merupakan media komunikasi secara visual pada masyarakat.

Pengembangan paket bahan ajar aliran-aliran seni lukis barat berbasis multimedia untuk meningkatkan kwalitas belajar dan pembelajaran pendidikan seni rupa / Krisna Trinurtitasari

 

Kata Kunci : Pengembangan, paket bahan ajar, aliran seni lukis, multimedia. Media pembelajaran sangat bermanfaat bagi siswa, karena dengan menggunakan media siswa mengurangi hal yang bersifat verbalistik. Selain itu, pergerseran orientasi dari teacher center menuju student center menuntut adanya pengembangan kemampuan siswa dalam hal belajar. Dewasa ini, peran guru dalam pembelajaran yaitu sebagai fasilitator dan katalisator saja, yang mana di dalam pembelajaran bukan guru yang aktif menjelaskan materi, akan tetapi siswa yang harus lebih aktif mencari informasi. Oleh karena itu, agar memudahkan siswa dalam mencari informasi, disini perlu adanya sarana untuk memfasilitasi siswa yaitu dengan mengembangkan bahan ajar. Dalam penelitian ini, peneliti akan memfasilitasi sarana media pendidikan yaitu Pengembangan Paket Bahan Ajar Aliran Seni Lukis Barat Berbasis Multimedia untuk Meningkatkan Kwalitas Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Seni Rupa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural. Model pengembangan prosedural memiliki sembilan tahapan, pertama analisis kebutuhan, kedua penentuan tujuan, ketiga pengembangan materi, keempat pengembangan alat evaluasi, kelima penyusunan story line dan story board, keenam produksi, ketujuh petunjuk pemanfaatan, kedelapan yaitu validasi ahli materi, ahli media, guru, siswa dan yang kesembilan yaitu revisi media. Materi dalam pengembangan media ini yaitu 14 aliran seni lukis, diantaranya (klasisme, romantisme, realisme, naturalisme, impresionisme, pointilisme, ekspresionisme, kubisme, fauvisme, dadaisme, futurisme, surealisme, abstraksionisme, dan pop art). Sub materi yang dikembangkan per aliran seni lukis yaitu sejarah aliran, tokoh aliran beserta contoh lukisannya. Dengan demikian siswa lebih mengenal dan dapat membandingkan antar aliran seni lukis.Hasil dari paket pengembangan ini menunjukkan bahwa produk yang telah dibuat cukup layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Prosentase kelayakan dari ahli media sebesar (78.3%), prosentase dari ahli materi sebesar (88.8%), prosentase subjek uji guru sebesar (95.4%), dan prosentase dari subjek uji siswa sebesar (78.8%). Dari keseluruhan prosentase dapat diperoleh rata-rata (85.32%) dengan demikian paket media bahan ajar aliran-aliran seni lukis barat layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Pengembangan ini merupakan langkah awal dari upaya penulis untuk mengembangkan paket media dengan materi apresiasi seni lukis mancanegara. Berdasarkan pengembangan ini, dapat disarankan untuk pengembangan selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan materi-meteri yang sifatnya teori dengan materi seperti, seni rupa Indonesia, sejarah seni rupa barat, sejarah seni rupa timur dan aliran seni lukis di Indonesia.

Penggunaan media batang cuisenaire untuk meningkatkan hasil belajar konsep penjumlahan pecahan siswa kelas IV SD Negeri Oro-oro Dowo Kota Malang / Rima Ernawati

 

Kata kunci : Media Batang Cuisenaire, Hasil belajar, Konsep penjumlahan pecahan. Guru merupakan faktor utama yang memiliki peranan sebagai pengelola dan pengembang pembelajaran yang dituntut aktif dan kreatif dalam menerapkanmodel dan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil tes pra tindakan ditentukan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Kota Malang menunjukkan prosentase ketuntasan 42,42%, selain itu aktivitas siswa pada saat pembelajaran cenderung ramai sendiri. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penerapan penggunaan media batang cuisenaire yang dapat meningkatkan hasil belajar konsep penjumlahan pecahan siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa setelah diterapkan penggunaan media batang cuisenaire, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan penggunaan media batang cuisenaire Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Oro-Oro Dowo Kota Malang. Subyek penelitian ini siswa kelas IV, sebanyak 34 orang siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan meliputi pedoman aktivitas guru pada saat pembelajaran, pedoman penilaian aktivitas siswa, dan soal evaluasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data kualitatif, yang meliputi mereduksi data, memaparkan data, dan menyimpulkan data. Hasil penelitian penerapan penggunanaan media batang cuisenaire ini dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Kota Malang. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil aktivitas siswa yang meningkat yaitu pada siklus I prosentase mencapai 59,37% sedangkan pada siklus II peningkatan mencapai prosentase 93,75%. Selain itu hasil evaluasi belajar siswa juga mengalami peningkatan yaitu pada hasil pra tindakan prosentase ketuntasan mencapai 42,42%, pada siklus I peningkatan mencapai prosentase 75%, dan pada siklus II peningkatan mencapai prosentase 96,97%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu melalui penggunaan media batang cuisenaire pada konsep penjumlahan pecahan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Kota Malang. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar guru menggunakan media yang dapat dimanipulasi siswa dalam menanamkan suatu konsep. Bagi peneliti lain selanjutnya dapat memberi informasi, wawasan serta dapat meningkatkan lagi hasil dari penelitian ini, dan pada penelitian tentang penggunaan media batang cuisenaire dapat terlaksana lebih sempurna lagi.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran kreatif dan menyenangkan di kelas V SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar / Muhamad Khoirur Rifai

 

ata kunci: membaca pemahaman teks, tari bambu Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Guru sering menekankan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menekankan pembelajaran menulis dan berbicara. Oleh sebab itu guru juga harus mengingatkan siswa bahwa kemampuan membaca pemahaman berhungan erat dengan kemampuan berbahasa yang lain misalnya menyimak, berbicara dan menulis. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di kelas V SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan penggunaan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di kelas V SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar pada kelas V karena sebagian besar siswa kurang mampu memahami materi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran yang dilakukan guru mata pelajaran kelas V, dapat diketahui tingkat pemahaman siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil tes menunjukkan hanya 5 siswa yang sudah mencapai KKM dari 12 siswa. Hal ini berarti hanya 41,6% siswa yang tuntas belajar. Setelah penerapan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan metode tari bambu, pemahaman siswa pada observasi awal adalah 41,6% atau 5 anak. Setelah diterapkannya pembelajaran kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan metode tari bambu, tingkat pemahaman siswa yang dicapai pada siklus I adalah 58,3%. Sedangkan pada siklus ke II mengalami peningkatan lagi yaitu mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan metode tari bambu dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman pada siswa. Dengan demikian, guru hendaknya dapat menerapkan metode pembelajaran inovatif seperti tari bambu, sehingga keterampilan siswa menjadi lebih baik lagi.

Penerapan model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IIA SDN Kasin Malang / Ika Wahyu Septiana

 

Kata Kunci: penerapan, numbered Heads Together, menulis deskripsi, SDN Kasin Malang Paeramasalahan kelas IIA SDN kasin malang pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi tentang menulis deskripsi ini masinh kurang. Siswa-siswa kelas dua pada umumnya kurang memahami cara menulis deskripsi. Penulisan mereka masih cenderung pada penulisan narasi jika diminta menulis deskripsi. Penggunaan model pembelajaran dalam suatu pembelajaran bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran dalam pendidikan. Model pembelajaran Numbered Haeds Together bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi di kelas IIA SDN kasin Malang. Untuk itu pada dalam pemeblajaran bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran menjadi lebih baik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan langsung pengamatan kesumber data, wawancara, dokumentasi. Kemudian pelaksanaan pengumpulan data diperlukan intrumen penelitian, sebagai instrumen utama, peneliti menggunakan beberapa alat yang digunakan mengumpulkan data antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pedoman wawancara, dan catatan lapangan yang berisi deskripsi kegiatan belajar berlangsung. Dalam penelitian ini mengguanakan kegiatan-kegiatan siklus PTK yaitu siklus 1 dan siklus 2 yang terdiri dari: (1) perencaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) obsevasi, dan (4) melakukan refleksi. Jika hasilnya belum mencapai target maka dialnjudkan pada siklus 2. Pada kegiatan sikus 1yang telak dilaksanakan siswa yang memenuhi SKM dan nilainya mendapat nilai >71 sebanyak 9 siswa prosentasenya 21%, sedangkan yang siswa yang mendapat nilai 71 seabyak 36 siswa dengan prosentase 80% dan siswa yang mendapat nilai

Peningkatan keterampilan berbciara melalui pendekatan pragmatik di kelas V SDN Tangkil 02 Kabupaten Blitar / Binti Masruroh

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Jigsaw, hasil belajar perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi, Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk : (1) memberikan gambaran dampak penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi dilihat dari suasana belajar dan interaksi belajar siswa kelas IV SD Tulungrejo 03 Kecamatan Gandusari, (2) meningkatkan hasil belajar siswa materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi siswa kelas IV SD Tulungrejo 03 Kecamatan Gandusari. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dua siklus. Masing-masing siklus memiliki tahapan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SDN Tulungrejo 03 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV tahun pelajaran 2008/2009. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan tes. Teknik analisis data dengan menggunakan batas ketuntasan individu 65% dan batas ketuntasan klasikal 85%. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) dampak penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw memberikan suasana pembelajaran lebih menyenangkan, interaksi belajar meningkat baik dari interaksi siswa dan siswa maupun interaksi guru-siswa, (2) hasil belajar berupa konsep pemahaman materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi meningkat secara klasikal dari 20% pada pratindakan menjadi 66% pada siklus I kemudian menjadi 93,33% pada siklus II. Proses aktivitas siswa dalam kerjasama meningkat dari 80 % pada siklus I menjadi 93,33% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi yang diterapkan memberikan suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan interaksi belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa baik dari segi pemahaman konsep materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi maupun hasil belajar proses kerjasama.

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Plintahan II Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Pipit Mau Ria

 

Kata kunci: pembelajaran, IPA, model Problem Based Learning Berdasarkan observasi awal di SDN Plintahan II Pandaan, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas V masih relatif rendah. Guru cenderumg menggunakan metode ceramah. Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif dan kurang kreatif sehingga perlu adanya model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif. Selain itu guru tidak pernah memberikan pertanyaan ataupun permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan siswa. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa dan melatih siswa dalam pemecahan masalah salah satunya adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Plintahan II Pandaan dengan Kompetensi Dasar (KD) “Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak, dan energi melaui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran model Problem Based Learnig, 3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model Problem Based Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Problem Based Learning dapat meningkatkan: 1) aktivitas siswa dari pra tindakan ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan ke arah baik (B), yaitu pada tingkat K dari siklus I (9,35%) menjadi (0%) ke siklus II. Tingkat C dari siklus I (22,9%) menjadi (6,25%) ke siklus II, dan tingkat B mengalami kenaikan sebesar 27% yaitu dari siklus I (66,7%) menjadi (93,7%) ke siklus II, dan 2) Ketuntasan belajar siswa dari pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 29,1%, dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hasil belajar siswa sebesar 8,4%, dan dari siklus II ke postest tidak mengalami peningkatan hasil belajar siswa. Jika dibandingkan antara pretest dengan postes, terjadi peningkatan sebesar 37,5%. Dari kegiatan pra tindakan, siklus I, dan ke siklus II dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran model PBL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk perbaikan pembelajaran ini yaitu diharapkan guru lebih memotivasi siswa dalam kegiatan kelompok. Bagi para guru yang akan menggunakan model ini hendaknya perencanaan awal disiapkan secara matang seperti RPP, LKS, soal evaluasi, media, pengaturan kelas, dan lain-lain yang perlu disiapkan.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran yurisprudensi inkuiri di kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri / Asri Indria Hapsari

 

Kata Kunci: hasil belajar, PKn, yurisprudensi inkuiri Sering muncul anggapan bahwa pembelajaran PKn kurang menarik dan monoton, sehingga siswa merasa bosan dan tidak antusias saat mengikuti pembelajaran, yang akhirnya berpengaruh pada rendahnya hasil belajar siswa. Model pembelajaran yurisprudensi inkuiri memberi kesempatan siswa untuk berpikir kritis dalam menyikapi sebuah masalah serta mampu mengungkapkan ide-ide dalam pembelajaran. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran yurisprudensi inkuiri dalam pembelajaran PKn di kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri?; (2) Apakah penerapan model pembelajaran yurisprudensi inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar PKn di kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri? Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru SD. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri dengan jumlah 27 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu, observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pratindakan 63 dan ketuntasan belajar klasikal 26%, kemudian pada siklus I pertemuan 1 rata-rata hasil belajar 66 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 41%. Karena belum mencapai standar ketuntasan belajar klasikal yang ditentukan, maka dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II pertemuan 2 diperoleh rata-rata hasil belajar sebesar 71, dengan ketuntasan belajar klasikal 78%, sedangkan siklus II pertemuan 2 rata-rata hasil belajar siswa menjadi 85 dengan ketuntasan klasikal sebesar 93%. Pembelajaran dinyatakan tuntas karena sudah melebihi standar ketuntasan belajar klasikal yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran yurisprudensi inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Banyakan 1 Kab

Peningkatan kemampuan membaca teks bacaan melalui model pakem di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar / Meiditya Fitri Wardhani

 

Kata kunci: membaca teks bacaan, model PAKEM Pembelajaran membaca teks bacaan di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar hanya diberikan sekilas yaitu guru membaca dan siswa menyimak. Selan-jutnya guru memberi tugas membaca dan soal. Tidak adanya pemberian materi menyebabkan banyak siswa mendapat nilai di bawah KKM yang ditetapkan (75). Penelitian ini membahas permasalahan, yaitu (1) bagaimanakah penerapan model PAKEM untuk meningkatkan kemampuan membaca teks bacaan di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar, dan (2) bagaimanakah peningkatan kemam-puan membaca teks bacaan melalui model PAKEM di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kua-litatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan taha-pan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) re-fleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model PAKEM dapat mening-katkan hasil membaca teks bacaan siswa kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 63, siklus I 74, dan si-klus II 85 . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 25%, siklus I sebesar 75%, dan siklus II 95%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga me-ningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 70%, dan siklus II 95%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model PAKEM dapat meningkatkan hasil membaca teks bacaan siswa ke-las III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan model PAKEM sebagai model pembelajaran di kelas rendah seperti kelas III.

Penerapan model pembelajaran two stay two stray untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang / Ning Wijaya

 

Kata Kunci: model two stay two stray, aktivitas belajar, hasil belajar Pembelajaran IPA apabila pelaksanaannya berpusat pada guru menjadikan siswa pasif dalam belajar. Kurang keterlibatan siswa secara langsung dalam pembelajaran kelompok akan mengakibatkan siswa kurang mampu memahami materi yang dipelajari. Pelaksanaan pembelajaran dengan berkelompok yang kurang efektif dapat menimbulkan ketergantungan siswa kepada temannya dalam penyelesaian tugas kelompok. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray. Keunggulan dari model pembelajaran Two Stay Two Stray siswa dapat aktif dan bekerjasama dalam belajar karena mendapatkan kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok lain, dan meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap tugas yang harus diselesaikan. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tindakan dalam PTK tersebut berupa model pembelajaran Two Stay Two Stray yang terdiri dari lima tahapan yaitu persiapan, presentasi guru, kegiatan kelompok, presentasi kelompok, evaluasi dan penghargaan. PTK ini terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang dan pokok bahasan tanah dan struktur bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray pada siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang, 2) penerapan model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan aktivitas belajar IPA siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang, 3) penerapan model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, dokumentasi, tes, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil analisis dapat dilihat peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 20%. Hasil belajar IPA juga menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 25,8%. Peningkatan nilai rata-rata pada setiap siklusnya yang berdampak positif terhadap ketuntasan belajar. Pada akhir siklus II masih terdapat 3 siswa yang belum tuntas dalam belajar (< 70), hal ini disebabkan adanya faktor intern dari diri siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan, sebaiknya model pembelajaran Two Stay Two Stray dijadikan alternatif pembelajaran karena mengandalkan kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan temannya dalam membantu menguasai materi pelajaran, serta dalam pembelajaran Two Stay Two Stray ini guru perlu mempertimbangkan waktu yang direncanakan dengan seksama agar proses pembelajaran IPA berjalan efektif dan efisien.

Penggunaan media flip chart untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV di SDN Bareng 5 Kota Malang / Wahyu Tri Hanani

 

Penerapan metode eksperimen dengan memanfaatkan barang bekas pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karang Pakis II Kabuh Jombang / Neni Widaryanti

 

Kata kunci: Metode Eksperimen, aktivitas, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA di SDN Karang Pakis II Kabuh Jombang, guru masih tampak menggunakan metode ceramah dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa yaitu 52,2 dan masih terdapat 19 siswa atau 61,3% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 60. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, yaitu dengan penerapan metode eksperimen. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Karang Pakis II Kabuh Jombag setelah diterapkannya metode pembelajaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan metode eksperimen pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas belajar siswa kelas IV, (3) hasil belajar siswa setelah menerapkan metode eksperimen di kelas IV. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri atas 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Sedangkan Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar wawancara, lembar observasi aktivitas siswa dan guru. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah dengan penerapan metode eksperimen maka aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi energi panas dan energi bunyi mengalami peningkatan. Pada siklus I aktivitas siswa mencapai 60% sedangkan pada siklus II mencapai 83,3%. Sedangkan hasil belajar siswa siklus I sebesar 56,7%, sedangkan pada siklus II mencapai 90%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan bagi guru apabila ingin menerapkan metode eksperimen hendaknya memperhatikan segala persiapan yang dibutuhkan mulai dari pengoraganisasian kelompok sampai dengan pengadaan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk percobaan sehingga diharapkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada saat pembelajaran IPA dapat meningkat. Sedangkan bagi peneliti lain, diharapkan dapat mengembangkan penelitian metode eksperimen agar tercipta inovasi yang lebih kaya dalam pembelajaran IPA.

Meningkatkan hasil belajar melalui metode problem solving dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kotes 01 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Erwin Putera Permana

 

Kata kunci: hasil belajar, problem solving, IPS Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa nilai hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Kotes 01 Kabupaten Blitar masih kurang memuaskan, hal ini dapat diketahui dari nilai hasil belajar IPS yaitu hanya 14 siswa dari 33 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Hal ini disebabkan oleh guru menggonakan metode ceramah tanpa ada variasi metode inovatif, siswa kurang aktif, pembelajaran berpusat pada guru, tidak menggunakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), tidak menggunakan media pembelajaran, siswa kurang diberi kesempatan untuk berkreatifitas, siswa tidak diajak untuk menemukan konsep tetapi ditunjukkan konsep yang harus selalu diingat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode problem solving dalam pembelajaran IPS dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam pelaksanaannya melalui empat tahapan tiap siklus yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi, lembar wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian metode problem solving menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Proses peningkatan aktivitas siswa pada pertemuan 1 siklus I adalah 57, pada pertemuan 2 siklus I meningkat menjadi 63, pada pertemuan 3 siklus I meningkat menjadi 63, pada pertemuan 1 siklus II meningkat menjadi 64, pada pertemuan 2 siklus II meningkat menjadi 66 dan pada pertemuan 3 siklus II meningkat menjadi 69. Peningkatan hasil belajar IPS dari pra tindakan berdasarkan persentase yaitu 14 anak atau 42% siswa tuntas, pada siklus I terjadi peningkatan mencapai 21 anak atau 64% siswa tuntas belajar, pada siklus II terjadi peningkatan dengan mencapai 32 atau 97% siswa tuntas belajar dan 1 siswa tidak tuntas belajar karena tergolong siswa lambat belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode problem solving dapat meningkatan aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajar IPS. Dengan demikian, hendaknya dapat menerapkan metode pembelajaran yang lebih inovatif seperti problem solving, sehingga prestasi belajar siswa menjadi lebih baik lagi.

Penerapan media nyata untuk mengatasi kesalahan konsep IPA pada materi gaya terapung, tenggelam dan melayang dalam air di kelas IV SD Negeri Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang / Dwi Sucahyono

 

Kata kunci: media nyata, kesalahan konsep, gaya terapung, tenggelam, dan melayang. Penelitian tindakan kelas ini didasari oleh adanya kesalahan konsep pada kelas IV SDN Oro-oro Dowo yaitu pada materi gaya terapung, tenggelam dan melayang. Data diperoleh dari pratindakan yang dilakukan oleh peneliti. Adapun rincian data tersebut sebagai berikut. Kesalahan konsep terapung pada soal no 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 15 dan 20 secara runtut sebesar 84,21%, 18,42%, 93,36%, 65,78%, 92,1%, 97,36%, 7,89%, 94,73%, 98,42%, dan 92,1%. Pada soal mengenai konsep tenggelam, tertera kesalahan konsep pada no 8, 14, 16, 17, 18, 19, dan 20 secara runtut adalah 44,73%, 44,73%, 47,36%, 55,26%, 5,26%, 94,73%, dan 92,1%. Selanjutnya pemahaman soal konsep melayang yang terdapat pada no 9, 11, 12, 13, dan 20 secara runtut sebesar 23,68%, 36,84%, 86,84%, 73,68%, dan 92,1%, dapat disimpulkan bahwa kesalahan konsep terapung, tenggelam dan melayang sangat besar sekali. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesalahan konsep yang terjadi pada siswa dengan memakai media nyata, menemukan metode yang sesuai untuk meningkatkan pemahaman materi terapung, tenggelam dan melayang. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas.Pengumpulan data mengenai penelitian ini diperoleh dari hasil pratindakan, dan hasil tes evaluasi siklus I dan siklus II, serta dokumen berupa foto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode praktikum. Hasil penelitian penerapan pembelajaran dengan media nyata untuk mengatasi miskonsepsi ini berhasil menurunkanya dari awal pratindakan sampai siklus 2 dengan paparan data sebagi berikut. pada soal no 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 15 dan 20 diperoleh data 21,05%,5,27%, 18,42%, 15,15%, 42,1%, 41,47%, 2,63%, 44,74%, 15,79% dan 28,95%. Gaya tenggelam dideskripsikan penurunannya secara runtut pada no no 8, 14, 16, 17, 18, 19, dan 20 adalah 7,89%, 10,52%, 20,68%, 13,15%, 2,63%, 34,21%, dan 28,95%. Sedangkan gaya melayang pada no 9, 11, 12, 13, dan 20 dirinci sebagai berikut. 2,63%, 0%, 34,21%. 18,42% dan 28,95% Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berhasil dalam menerapkan media nyata dalam pembelajaran, meningkatkan pemahaman konsep dan meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi gaya terapung, tenggelam dan melayang. dari keberhasilan tersebut Penelitian juga disarankan untuk selalu menyiapkan semua yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar dengan media nyata ini dengan sempurna agar penyampaian materi dapat terlaksana dengan baik dan mempercepat pemahaman siswa mengenai materi yang dipelajari.

Pengembangan butir tes pilihan ganda distraktor bermakna untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMA pada materi hukum Newton dan gaya / Januar Anton Firmansyah

 

Kata Kunci : butir tes pilihan ganda distraktor bermakna, miskonsepsi, hukum Newton dan gaya. Miskonsepsi dapat diartikan konsepsi seseorang yang tidak sesuai dengan yang diterima para ilmuan atau pakar. Miskonsepsi dapat mengganggu pemikiran siswa baik ketika siswa mengerjakan soal maupun ketika siswa menerima materi berikutnya. Materi hukum Newton dan gaya merupakan salah satu materi fisika di mana siswa banyak mengalami miskonsepsi. Selama ini usaha untuk mengidentifikasi miskonsepsi fisika jarang dilakukan oleh guru-guru fisika di Indonesia. Alat identifikasi miskonsepsi yang pernah dikembangkan oleh peneliti di dalam dan di luar negeri membutuhkan waktu lama dalam proses analisisnya. Atas dasar kendala tersebut, maka dikembangkan butir tes pilihan ganda distraktor bermakna sebagai alat identifikasi miskonsepsi pada materi hukum Newton dan gaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan butir tes pilihan ganda distraktor bermakna sebagai alat identifikasi miskonsepsi pada materi hukum Newton dan gaya serta mengetahui kelayakan dan karakteristik butir tes pilihan ganda distraktor bermakna yang telah dikembangkan. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan meliputi: studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, uji coba awal, dan revisi produk awal. Penelitian ini menggunakan teknik perhitungan rata-rata untuk validasi isi, analisis dengan program Analisis Tes (Anates), dan analisis dengan program Analisis Asesmen Formatif Fisika (AAFF). Validasi isi dilaksanakan oleh guru dan dosen sebagai validator. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, soal uraian, dan soal pilihan ganda. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan skala Likert dan data kualitatif berupa tanggapan dan saran oleh validator. Produk akhir penelitian dan pengembangan ini adalah butir tes pilihan ganda distraktor bermakna materi hukum Newton dan gaya. Produk tersebut dikembangkan berdasarkan butir tes uraian yang telah diujikan sebelumnya dan berdasarkan deskripsi jawaban siswa pada butir tes uraian. Produk yang dihasilkan memiliki empat alternatif jawaban dengan deskripsi yang berbeda-beda. Deskripsi yang dibuat menggambarkan pemikiran siswa ketika memilih sebuah alternatif jawaban. Berdasarkan hasil analisis data, produk yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak, namun masih perlu ada revisi berdasarkan tanggapan dan saran dari validator. Produk yang dihasilkan telah mampu mengidentifikasi miskonsepsi siswa, dapat memberikan umpan balik pada siswa terhadap kemajuan belajarnya, dan dapat mengelompokkan siswa berdasarkan miskonsepsinya sehingga mudah untuk melakukan program remedial teaching.

Modifikasi media peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang / Feri Mardiyansah Pribadi

 

Kata kunci: Pengembangan, Modifikasi, Pembelajaran, Tolak Peluru, Peluru Kayu Salah satu tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Di dalam dunia pendidikan, pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan satu mata pelajaran yang harus dimasukkan dalam kurikulum di semua jenis dan jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Permainan dan olahraga adalah satu pokok bahasan dari mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang terdapat dalam standart kompetensi Sekolah Menengah Pertama Kelas VII. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu mempraktikkan teknik dasar perorangan lanjutan atletik, serta nilai disiplin, semangat, sportifitas, percaya diri dan kejujuran. Nomor-nomor kejuaraan atletik di atas, nomor lempar biasanya digolongkan menjadi lempar cakram, lempar lembing, lontar martil, dan tolak peluru. Dari keempat golongan di atas yang akan dibahas lebih lanjut adalah tolak peluru. Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran tolak peluru di sekolah, tentunya diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, hal ini biasanya yang menjadi masalah di sekolah. Minimnya sarana dan prasarana di sekolah adalah faktor utama yang menghambat proses pembelajaran tolak peluru. Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru olahraga dan di SMP Negeri 1 Kota Malang, pada saat pembelajaran tolak peluru, peluru yang digunakan adalah peluru yang standar, berhubungan dengan antusiasme siswa terhadap pembelajaran tolak peluru, peluru yang standar di rasa sangat berat. Dan juga dijelaskan bahwa pada pembelajaran tolak peluru diperlukan media atau alat yang bisa digunakan pada saat pembelajaran tolak peluru sehingga siswa bisa lebih antusias dan pembelajaran tolak peluru bisa dilaksanakan dengan optimal. Peneliti juga melakukan wawancara pada seorang siswa, dan siswa tersebut tidak senang terhadap pembelajaran tolak peluru. Salah satu alasan yang dikatakan siswa tersebut adalah peluru yang digunakan terasa sangat berat. Maka dalam hal ini modifikasi pada media (peluru) sangat dibutuhkan. Tujuan penelitian & pengembangan ini adalah mendapatkan peluru yang cocok/sesuai dan ada peluru yang dapat dijadikan alat untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang, sehingga pembelajaran tolak peluru bisa dilaksanakan secara optimal. Model pengembangan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan Borg & Gall yang dimodifikasi menjadi 7 langkah yaitu: (1) Pengumpulan informasi dari observasi dan wawancara (analisis kebutuhan), (2) mengembangkan bentuk persiapan dari rencana produk, (3) proses pembuatan produk dan evaluasi ahli, (4) uji coba (kelompok kecil) menggunakan 9 siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang, (5) revisi rencana produk hasil dari uji coba (kelompok kecil), (6) uji lapangan (kelompok besar) menggunakan 45 siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang, (7) produk akhir hasil pengembangan hasil dari uji lapangan (kelompok besar). Dari penelitian & pengembangan dan prosedur yang dilakukan di atas dihasilkan produk yaitu peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang. Spesifikasi peluru berbahan kayu tersebut ada 2 yaitu: (1) Spesifikasi produk peluru yang pertama atau peluru model A dengan Bahan kayu, Berdiameter 110-130 mm, dan Berat 600-800 gr, (2) Spesifikasi produk peluru yang kedua atau peluru model B dengan Bahan kayu, Berdiameter 95-110 mm, dan Berat 400-600 gr. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh hasil bahwa modifikasi media peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang dapat digunakan karena memenuhi kriteria valid dengan persentase 96,67%. Dan hasil uji lapangan (kelompok besar) juga diperoleh hasil valid/digunakan dengan persentase 96,89%. Produk penelitian & pengembangan media peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang ini disarankan dapat dijadikan sarana untuk pembelajaran khususnya tolak peluru oleh guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah. Dalam hal pemanfaatan produk peluru berbahan kayu ini harus diperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Sebagai upaya penyebarluasan produk yang telah dikembangkan ke sasaran yang lebih luas sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Dan disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga hasil pengembangan ini dapat dimanfaatkan dengan baik.

Pemahaman ideologi liberal, komunis dan Pancasila sebagai upaya memantapkan ideologi nasional dalam pembentukan watak bangsa Indonesia / oleh Laksmi Nusantari

 

Pengembangan ragam variasi model self assessment mata pelajaran otomatisasi perkantoran pada kurikulum 2013 dengan menggunakan aplikasi adobe flash CS3 / Elma Dinda Puspita Atma Negara

 

ABSTRAK Negara, Elma Dinda Puspita Atma. 2015. Pengembangan Ragam Evaluasi Model Self Assessment Mata Pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada Kurikulum 2013 dengan Menggunakan Aplikasi Adobe Flash CS3. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Agung Winarno, M.M, (II) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M. Kata Kunci: evaluasi, ragam evaluasi, self assessment. Pendidikan di Indonesia selalu mengalami pembaharuan. Hal dilakukan agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa setara dengan pendidikan pada negara-negara maju. Seperti halnya kurikulum yang selalu berubah dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Kurikulum yang baru-baru ini ditetapkan di Indonesia adalah kurikulum 2013. Dalam penelitian dan pengembangan ini yang dikembangkan merupakan instrumen dari evaluasi dalam proses pembelajaran. Instrumen evaluasi ini menggunakan model self assessment yang saat ini sangat populer dalam kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menyusun instrumen evaluasi model self assessment mata pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada kurikulum 2013 dengan berbantuan Adobe Flash CS3; (2) mendeskripsikan tentang cara menggunakan produk berupa alat evaluasi model self assessment mata pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada kurikulum 2013; (3) menguji cobakan ragam evaluasi model self assessment mata pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada kurikulum 2013 yang dikembangkan di sekolah. Penelitian pengembangan ini dirancang untuk memperoleh suatu produk. Produk yang dimaksud adalah instrumen evaluasi model self assessment mata pelajaran otomatisasi perkantoran pada kurikulum 2013 yang terdiri dari dua aspek instrumen yaitu, aspek kognitif dan psikomotor. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang terdiri atas 4 tahap yaitu; (1) define; (2) design; (3) develop; dan (4) disseminate.Lokasi penelitian adalah SMK Negeri 1 Turen dengan subjek penelitian siswa kelas X APK 2. Desain uji coba produk ini melibatkan beberapa ahli dan praktisi yaitu, validasi dari ahli materi. ahli media, dan siswa kelas X APK 2 SMK Negeri 1 Turen. Data yang diperolah dari uji coba produk pengembangan adalah data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian dari pengembangan produk ini menunjukkan bahwa hasil validasi dari ahli materi memiliki jumlah presentase sebesar 100%. Sedangkan, hasil dari validasi ahli media memiliki jumlah presentase sebesar 93,33%. Hasil dari validasi ahli materi dan media ini dapat dinyatakan telah memenuhi kriteria kualifikasi sangat valid (dapat digunakan tanpa revisi). Setelah produk diujicobakan kepada siswa, menunjukkan bahwa hasil penilaian pretest rata-rata nilainya adalah dibawah 75 dan hasil postest rata-rata nilainya berada diatas 75. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa berada diatas KKM yang ditetapkan dan Evaluasi Model Self Assessment Mata Pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada Kurikulum 2013 yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan hasil belajar.Selain itu dalam uji coba peroragan dan uji coba kelompok kecil 98,12% dan 95,62%. Hal ini membuktikan bahwa dengan adanya media Evaluasi Model Self Assessment Mata Pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada Kurikulum 2013 ini dapat meningkatkan semangat belajar siswa karena siswa dapat melakukan evaluasi secara mandiri khususnya untuk siswa SMK Negeri 1 Turen. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan tersebut, maka disarankan agar penilaian yang muncul langsung dihubungkan dengan database, sehingga selain siswa dapat mengevaluasi secara mandiri, guru juga dapat melihat hasil evaluasi siswa secara otomatis.

Peningkatan kemampuan menulis cerita pengalaman melalui metode karya wisata di kelas V MI Ta'limusshibyan Karangpandan Rejoso Pasuruan / Fathur Rozi

 

Kata Kunci: menulis cerita, metode karya wisata , Sekolah Dasar (SD). Kemampuan menulis pada hakikatnya merupakan hasil dari sebuah proses. Dengan konsep dasar seperti ini maka kesempatan menulis akan diperoleh siswa melalui proses yaitu dengan pelatihan. Keterampilan menulis sangat dibutuhkan karena merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat atau merekam, melaporkan atau memberitahukan dan mempengaruhi. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikiran dan mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata dan struktur kalimat yang jelas. Berdasarkan hasil observasi di kelas V MI Ta’limussibyan Karangpandan Rejoso Pasuruan, ditemukan permasalahan kemampuan menulis siswa yang masih rendah. Salah satu penyebabnya diduga karena penggunaan metode pembelajaran dan bahan ajar yang kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peningkatan keterampilan menulis cerita pengalaman siswa kelas V melalui metode karya wisata, (2) perilaku siswa kelas V dalam mengikuti pembelajaran menulis cerita pengalaman dengan metode karya wisata. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan 2 siklus. Subyeknya 16 siswa kelas V MI Ta’limussibyan Karangpandan Rejoso Pasuruan. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, lembar penilaian proses, lembar penilaian kemampuan menulis, tes dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan mengelompokkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari instrumen penilaian proses dan wawancara, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari tes, instrumen observasi dan penilaian kemampuan menulis. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Hal ini diketahui dari peningkatan kemampuan menulis siswa yang mencakup unsur cerita (tokoh, latar, alur) dan tata bahasa (ejaan, tanda baca, pengkalimatan) yang dinilai menggunakan deskripsi nilai kemampuan menulis. Siswa dikatakan tuntas jika memperoleh nilai minimal 70 berdasarkan deskripsi nilai tersebut. Dari 16 siswa, yang tuntas pada pra tindakan sebanyak 3 atau 18,8%, meningkat menjadi 9 atau 56,3% pada siklus 1, kemudian meningkat lagi menjadi 13 siswa atau 81,3% pada siklus 2. Secara keseluruhan peningkatan yang diperoleh mulai dari pra tindakan sampai tindakan siklus 2 sebesar 62,5% atau 10 siswa dari yang semula 3 siswa menjadi 13 siswa yang tuntas. Secara umum disimpulkan metode karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas V melalui tahap-tahap dalam proses menulis yaitu menulis draft; merevisi; mengedit; menulis jadi; dan memajangnya. Disarankan kepada guru untuk menjadikan metode karya wisata sebagai alternatif dalam meningkatkan kemampuan menulis di kelas V maupun di kelas yang lain.

Prototype media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis permainan simulasi materi aritmatika sosial untuk siswa SMP kelas VII / Inggit Latih Nilasari

 

Kata Kunci: Prototype, Aritmatika Sosial, Media Pembelajaran, Komputer, Permainan Simulasi. Aritmatika Sosial adalah materi yang penting karena berhubungan dengan kegiatan dalam kehidupan sehari hari. Oleh karena itu, materi Aritmatika Sosial merupakan materi yang seharusnya dalam penyampaian materi membutuhkan suatu simulasi agar siswa dapat memahaminya. Namun, siswa pada umumnya dalam pembelajaran cenderung hanya dihadapkan pada suatu soal yang harus dikerjakan dengan suatu rumus tertentu. Dan ini tentunya membuat siswa bosan sehingga menjadi kurang memahami materi Aritmatika Sosial. Adanya simulasi materi Aritmatika Sosial dalam suatu pembelajaran juga terkadang kurang efektif, hal ini dikarenakan siswa yang aktif belajar dalam simulasi akan memperoleh manfaat dari proses tersebut. Namun siswa yang pasif cenderung untuk tidak mau melakukan simulasi tersebut dan ini tentunya merugikan bagi beberapa siswa. Selain itu dalam mempersiapkan dan melakukan simulasi dalam pembelajaran membutuhkan waktu yang banyak. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya suatu media yang membantu siswa dalam mempelajari materi Aritmatika Sosial yaitu dengan menggunakan media berbantuan komputer. Penulis dalam pengembangan media ini menggunakan 10 langkah pengembangan media yang dikembangkan oleh Stephen M. Alessi dan Stanley R. Trollip yaitu: (1) Menentukan tujuan dan kebutuhan, (2) Mengumpulkan bahan acuan, (3) Mempelajari isi, (4) Mengembangkan ide (brainstorming), (5) Mendesain pembelajaran, (6) Membuat flowchart materi, (7) Membuat Stroryboard, (8) Memprogram materi, (9) Membuat materi pendukung, (10) Evaluasi dan revisi. Media pembelajaran berbantuan komputer ini digunakan oleh siswa secara individu. Media pembelajaran ini berisi materi, latihan soal, permainan simulasi (games), dan petunjuk penggunaan media. Permainan simulasi pada media ini memiliki tema Berburu Emas. Penulis memperoleh hasil rata-rata skor 7,59 untuk validasi kepada para ahli dan rata-rata skor 16,47 untuk validasi kepada pengguna media (siswa). Masing-masing rata-rata skor tersebut lebih besar dari skor netral dan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ini mendapatkan respon positif sehingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran matematika pada siswa SMP kelas VII.

The use of popup pictures to improve vocabulary mastery of the second year students of state elementary school "Gempol 3" at Pasuruan regency / Lustia Ritia Putri

 

Keywords: instructional media, popup pictures, vocabulary. Instructional media are media which are used in the learning process in the classroom. This thesis deals with popup pictures as an instructional medium. The purpose of the use of popup pictures is to improve vocabulary mastery of the second year students of State Elementary School “Gempol 3”. The problem in this study comes up when the researcher did her observation and asked the students in the 2nd grade of State Elementary School “Gempol 3” about the name of an object or some vocabularies, they could not answer without opening their textbook. They are addicted to always opening their textbooks to find the answer. Popup pictures are papers which contain folded cut-out pictures in a form of two dimensional scenes or figures when the papers are opened. These media are suitable for students of elementary schools in learning new English vocabulary. Vocabulary is a list of words that are taught by the teacher and learned by the students. This classroom action research (CAR) method consists of two cycles, and the approach is qualitative approach. Cycle 1 and Cycle 2 were conducted in five meetings. There were three meetings in Cycle 1 and two meetings in Cycle 2. Each cycle consists of four stages; those were planning, implementation, observing, and reflection. Planning the action consists of prepared teaching strategy, lesson plans, research instruments, instructional media, and criteria of success. Next, it was the implementation of the action which describes the way teacher teaches the students based on the lesson plans and instructional media (popup pictures, and popup pictures + clue cards). In observing the action, the observer observed and collected the data based on the activities in the classroom. In reflecting the action, the researcher analyzed the data and determined whether the actions succeed or not. The material or topic which was used in this research was about the means of transportations and the name of toys. The application of popup pictures + clue cards in Cycle 2 was appropriate to use in learning English vocabulary and improving students’ vocabulary mastery because the forms and the colors of popup pictures were interesting, and the clues which stated in the clue cards could make the students easier to learn the new vocabulary by memorizing the characteristics of an object. This finding could be seen from the scores of the students’ vocabulary test which improved in Cycle 2. The mean of scores in Cycle 1 was 77.34, and the mean of scores in Cycle 2 was 95.84. The results of the mean in vocabulary test Cycle 2 increased from the results of the mean in vocabulary test Cycle 1, from 77.34 to 95.84, and all the students’ scores were above the standard. The success of using popup pictures to improve vocabulary mastery of the second year students of State Elementary School “Gempol 3” appeared when the researcher/teacher used popup pictures and clue cards in learning vocabulary in the Cycle 2. The procedures of using popup pictures + clue cards are as follows: (1) the researcher asked the students to take one of the clue cards, (2) she read the clues or characteristics of an object in the clue card, (3) she asked the name of an object which matched with the clues in clue card to the students, (4) after the students knew the answer, the researcher asked them to find the object by opening the pictures, (5) she asked in what number the object was stated. The researcher did this procedure for the next pictures until the last pictures. Based on the results of the research, the researcher has some suggestions: (1) English teachers in primary schools are suggested to use these media to make the teaching and learning process more fun, relieving the students’ boredom, and attracting the students to be more active in learning English. Popup pictures which were used as an instructional medium especially in learning vocabulary were appropriate because these media have interesting forms and colors; these media were cheap; and the teacher can also create their own popup pictures using recycle material at home. (2) Future researchers are suggested to make the popup pictures more interesting than before if these popup pictures are going to be applied again in their research for students in elementary schools. Using an instructional medium in this case popup pictures were suitable and made learning process more varied. These media will be useful if the students were involved to create the popup pictures by themselves and the level of difficulty must be matched.

The teaching of English for tourism class as a local-content subject at SMAN 6 Malang / Desi Puspitasari

 

This study was conducted to describe the teaching of English for Tourism Class at SMA Negeri 6 Malang. There were five sub objectives included in this study. They were to describe (1) the syllabus used, (2) the teaching technique applied, (3) the facilities, media, and materials used, (4) the students’ opinion toward the teaching of English for Tourism Class, and (5) the problems in the teaching of English for Tourism Class. This study employed a descriptive-qualitative design since it was designed to describe the teaching of English for Tourism Class in the form of words rather than numbers. The data were obtained through some instruments, namely interview guide, observation sheet, questionnaire, and relevant documents. They were presented descriptively after being classified into related aspects. The findings showed that the syllabus used in the English for Tourism Class consisted of the compulsory components based on the Board of National Education Standard (BSNP). It was also found that the teacher tended to apply the teacher-centered technique. Related to the facilities were sufficient enough. Most of the time, the teacher used Information and Communication Technologies (ICT) media than others. The materials also were not really varied. Students gave positive responses toward the English for Tourism Class. It provided the students opportunity to improve their abilities, especially in listening and speaking. However, it still needs improvement related to the facilities, media, materials, and the teaching techniques used by the teacher. While the problems in the teaching of English for Tourism Class could be divided into two categories. They were students’ and teacher’s problems. The students’ problems were linguistic and non linguistic problems. Besides, the teacher’s problems were the facilities, media and the classroom management. Some suggestions can be proposed for the improvement of the teaching of English for Tourism Class. The teacher should elaborate the syllabus so that it can be more detail. It is also suggested for the teacher to vary the materials and media used which are suitable with the students’ need and level during the class. He also should vary the teaching techniques to avoid the boredom and support students-centered learning. It is better for the teacher to give more control to the students so that they can be more focused to follow the activities. The school is proposed to provide sufficient facilities in order to create conducive atmosphere in the teaching learning process. The last suggestion is given to the future researchers. It is expected for them to conduct wider scope of study of the English for Tourism Class in order to provide more valid information which can be used by other teachers or institutions as reference to conduct similar program.

Penerapan model mind mapping dalam peningkatan kemampuan mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung / Nira Tri Wulandari

 

Kata kunci: mengarang, mind mapping Pembelajaran mengarang kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung guru masih terfokus pada pencapaian target materi, banyak ceramah, dan tidak menggunakan media pembelajaran, sehingga siswa sangat sedikit yang memiliki kemampuan mengarang. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model mind mapping dalam meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung dan (2) peningkatan kemampuan mengarang dengan model mind mapping siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dan dokumentasi yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel, dianalisis dan ditarik kesimpulan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model mind mapping dapat meningkatkan hasil mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 65, siklus I sebesar 71, dan siklus II sebesar 78. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 36,8%, siklus I sebesar 57,9%, dan siklus II sebesar 84,2%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 79%, dan siklus II sebesar 88%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model mind mapping dilakukan dengan 3 tahap, yaitu pratindakan, siklus I, dan siklus II dimana masing-masing siklus mellui beberapa langkah, yaitu guru menjelaskan langkah membuat mind mapping, siswa menuliskan konsep pengalamannya dengan mind mapping, dan siswa mengarang berdasarkan mind mapping yang telah dibuat. Selain itu, model mind mapping juga meningkatkan hasil belajar siswa dalam mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan karakter siswa agar dapat meningkatkan hasil pembelajaran.

Pengaruh stimulasi brain gym terhadap kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Sunan Ampel Pujon / Fadilatul Ummah

 

Pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) hingga saat ini dihadapkan pada permasalahan utama mengenai pembelajaran membaca permulaan secara tepat bagi anak, tidak dipungkiri bahwa bagi anak membaca merupakan aktifitas yang tidak mudah. Untuk itu kreatifitas guru sangat diperlukan dalam membantu menstimulasi kemampuan anak dengan berbagai alternatif. Salah satu cara adalah dengan memberikan anak stimulasi berupa gerakan Brain Gym yang merupakan gerakan yang menyenangkan untuk meningkatkan kemampuan belajar seseorang dengan menggunakan keseluruhan otak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah pengaruh stimulasi Brain Gym terhadap kemampuan membaca permulaan pada anak kelompok B di TK Sunan Ampel Pujon, dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan anak usia dini guna meningkatkan pendidikan serta memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan bidang keilmuan selanjutnya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian Pre-Experiment Designs dengan model satu kelompok Pre-test-Post-test (The One Group Pre-test and Post-test). Penelitian dilakukan di TK Sunan Ampel Pujon, pada 10 Maret sampai 5 April, frekuensi perlakuan sebanyak 24 kali dengan durasi 15 menit. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Brain Gym dan membaca permulaan sebagai variabel terikat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes dan observasi. Subyek penelitian adalah anak kelompok B di TK Sunan Ampel Pujon berjumlah 12 anak. Berdasarkan hasil analisis perbedaan pre-test dan post-test dengan menggunakan penghitungan secara manual dengan menggunakan rumus statistik uji t didapatkan didapatkan nilai t hitung 15,36 lebih besar dari nilai t tabel , baik pada taraf signifikan 1% = 3,11 maupun taraf signifikan 5% = 2,20 dengan derajat kebebasan (d.b) = 12-1=11. Maka dapat dikatakan bahwa hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis hipotesis kerja (Ha) diterima. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian stimulasi Brain Gym memberi pengaruh positif terhadap kemampuan membaca permulaan pada anak kelompok B di TK sunan Ampel Pujon. Karena penelitian ini menggunakan metode eksperimen Pre-test-Post-test (The One Group Pre-test and Post-test) yang tidak menyertakan kelompok kontrol, maka perbedaan nilai bukan semata-mata hasil penelitian tetapi dipengaruhi faktor eksternal maupun internal diantaranya adalah motivasi dan keaktifan subyek dalam melakukan gerakan Brain Gym dan kemungkinan adanya pengaruh dari faktor maturasi.

Pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki pada bahan keramik porcelain terhadap penyusutan, porositas, kekerasan dan konstanta dielektrik / Nindha Ayu Berlianti

 

Kata Kunci: Variasi penggantian kuarsa-toseki, penyusutan, porositas , kekerasan, konstanta dielektrik. Kuarsa merupakan salah satu komponen penyusun bahan dasar porcelain, yang memiliki sifat dapat mengurangi penyusutan dan memperkecil pori. Kuarsa memiliki partikel yang kasar bersifat mekanik, yaitu kekerasan. Kuarsa merupakan keramik elektronik yang memiliki sifat dielektrik mampu menyimpan muatan listrik. Sama halnya dengan toseki, toseki merupakan mineral baru yang mempunyai kemiripan sifat seperti kuarsa. Toseki digunakan sebagai bahan pengganti kuarsa dalam pembuat n keramik porcelain yang memiliki keunggulan diantaranya memiliki susut dan pori kecil, bersifat keras dan mampu menyimpan muatan listrik. Diaplikasikan untuk keramik lantai atau sebagai bahan kapasitor keramik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki pada bahan keramik porcelain terhadap penyusutan, porositas, kekerasan dan konstanta dielektrik. Penelitian ini membuat variasi penggantian toseki dengan kuarsa 5 % -30%. Sintering pada suhu 13000C lama penahanan 6 jam, data dianalisis prosentase penyusutan dan porositas, dihitung nilai konstanta dielektriknya, diuji kekerasan menggunakan metode vickers dan uji mikrostruktur dengan SEM yang diambil tiga nilai variasi penggantian kuarsa dengan toseki tertinggi, sedang dan terendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai penyusutan bakar dengan pola y = -0,083x + 3,628, nilai penyusutan kering dengan pola y = -0,042x + 2,806 dan nilai penyusutan jumlah dengan pola y = -0,245x + 9,8 yang linier dengan gradien negatif .(2) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai keporian nyata dengan pola y = -0,466x + 22,02, nilai keporian semu dengan pola y = -0,109x + 8,179, nilai peresapan air dengan pola y = -0,193x + 11,33 yang linier dengan gradien negatif. (3) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai kekerasan dengan pola y = 0,559x + 6,255 yang linier dengan gradien positif. (4) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai konstanta dielektrik dengan pola y = 40,41e0,014x yang eksponensial dengan gradien positif. (5) mikrostruktur pada variasi penggantian kuarsa dengan toseki tertinggi, sedang dan terendah terlihat bahwa semakin banyak variasi penggantian kuarsa dengan toseki maka pori – pori yang terlihat dominan tidak ada.

Evaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan wisata pesisir di Kabupaten Lamongan / M. Irsyadul Ibad Normansyah

 

Kata kunci: evaluasi kesesuaian lahan, wisata pesisir Kawasan wisata pesisir merupakan kawasan wisata yang terletak di daerah pertemuan antara darat dan laut dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut. Pengembangan objek wisata pesisir di kabupaten Lamongan yang belum terealisasi adalah pada kawasan flood way di desa Sedayulawas yang masuk dalam wilayah IKK Brondong. Kawasan yang direncanakan merupakan lahan yang saat ini di gunakan sebagai sawah dan tambak yang merupakan sudetan sungai Bengawan Solo yang mempengaruhi kondisi fisik lahan tersebut, misalnya memungkinkan terjadinya luapan air dari flood way pada kawasan ini dan akan mempengaruhi materi dasar laut serta kedalaman laut yang berpangaruh terhadap kesusuaian wisata pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan karakteristik lahan pada kawasan yang direncanakan sebagai objek wisata pesisir di desa Sedayulawas kecamatan Brondong kabupaten Lamongan dan mengevaluasi karakteristik lahan untuk pengembangan kawasan wisata pesisir di kabupaten Lamongan berdasarkan kelas kesesuaian lahan untuk pariwisata khususnya rekreasi dan piknik serta persyaratan lahan pesisir sebagai objek wisata. Metode yang digunakan survey dengan pendekatan deskriptif dan evaluatif. Deskriptif yaitu suatu metode pendekatan penelitian yang memberikan penjelasan data yang diperoleh dari pengukuran berdasarkan kriteria-kriteria yang ada, sedangkan evaluatif adalah suatu pendekatan penelitian dengan tujuan untuk memberikan penilaian pada suatu objek yang diteliti. Data primer yang dikumpulkan meliputi: drainase, kemiringan lereng, tekstur, kerikil/kerakal, batu, batuan, genangan/bahaya banjir, kedalaman laut, materi dasar laut, buffer garis pantai, jenis pantai, ketersediaan air tanah, dan aksesibilitas. Data sekunder meliputi: data kependudukan dan data curah hujan. Objek penelitian berada di IKK Brondong. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan peta unit medan yang dihasilkan dari tumpang susun (overlay) empat peta yaitu peta jenis tanah, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan dan peta pengembangan kawasan khusus. Penentuan kelas kesesuaian lahan untuk pariwisata khususnya rekreasi dan piknik serta kelas kesesuaian pesisir untuk objek wisata ditetapkan berdasarkan pembandingan (matching) terhadap parameter-parameter kesesuaian lahan pada satuan medan dan parameter kesesuaian pesisir pada pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian untuk satuan medan A1SwWp adalah sedang, untuk satuan medan M1TbWp dan A1TbWp adalah buruk bagi pengembangan kawasan wisata khususnya rekreasi dan piknik, dan menurut persyaratan lahan pesisir sebagai objek wisata termasuk dalam kelas N (tidak sesuai).

Analisis varian multivariat rancangan acak kelompok pada uji daya lanjutan galur-galur kedelai tahan pengisap polong (studi kasus di Balitkabi - Malang) Kiki Putri Anggraini

 

Kata kunci: analisis varian, multivariat RAK, galur-galur kedelai Analisis varian multivariat merupakan salah satu metode statistika multivariat yang digunakan untuk mengetahui perbedaan dari berbagai perlakuan yang dicobakan terhadap respon ganda. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data pengamatan galur-galur kedelai terhadap jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji yang diperoleh KP Muneng-Probolinggo. Pengujian asumsi pada analisis varian multivariat yaitu antar variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji harus independen, data mengikuti distribusi normal ganda pada variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji, serta memiliki kesamaan matrik varian kovarian antar grup pada variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji. Hasil uji manova rancangan acak kelompok pada data uji daya lanjutan galur-galur kedelai tahan pengisap polong menunjukkan vektor rata-rata dari 23 galur kedelai pada variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji berbeda. Dengan kata lain pada penelitian analisis varian multivariat pada rancangan acak kelompok menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara 23 galur kedelai terhadap hasil jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji.

Penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok untuk meningkatkan kemampuan sosial anak di TK Cita Insani Malang / Farida

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, permainan balok, kemampuan sosial, taman kanak-kanak Kegiatan pembelajaran pada kelompok B TK Cita Insani Malang masih belum bisa berinteraksi dengan temannya, belum dapat bekerjasama mengembalikan mainan pada tempatnya, berebut mainan saat digunakan sehingga menimbulkan pertengkaran. Guru memberikan pembelajaran tidak menarik, bermain individual dan anak kurang dilibatkan dalam pembelajaran kelompok. Permainan balok merupakan salah satu permainan yang bisa dijadikan pembelajaran kelompok yang mampu meningkatkan kemampuan sosial dan aktivitas belajar anak. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan kemampuan sosial anak di kelompok B TK Cita Insani Malang?, (2) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan kemampuan sosial di kelompok B TK Cita Insani Malang?, (3) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan aktivitas belajar anak di kelompok B TK Cita Insani Malang?. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah anak-anak di kelompok B TK Cita Insani Malang. Adapun instrumen pada penelitian ini adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan kemampuan sosial dan aktivitas belajar anak. Kemampuan sosial anak pada siklus II ditandai dengan sikap anak untuk bertanggung jawab melakukan kerjasama dan saling membantu semakin baik. Aktivitas belajar anak dengan kompromi dan rasa senang anak dalam bermain juga semakin baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan: (1) Guru kelompok B TK Cita Insani Malang untuk menggunakan pembelajaran kooperatif melalui permainan yang lain dalam aktivitas pembelajaran, (2) Kepala TK agar digunakan sebagai kebijakan dalam mengatasi masalah di kelompok B pada taman kanak-kanak yang dipimpinnya, (3) peneliti lain, coba teliti lagi penerapan pembelajaran kooperatif untuk diterapkan kemampuan anak yang lain, seperti: fisik motorik, kognitif dan lain sebagainya.

Penggunaan metode peramalan (forecasting) dalam analisis laju inflasi ekonomi Kabupaten Banyuwangi dengan model general autoregressive conditional heterosvedastic (GARCH) / Denny Merdeka Jaya

 

Kata kunci: inflasi ekonomi, peramalan, GARCH Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Salah satu analisis deret waktu yang dipakai untuk menentukan model peramalan adalah dengan menggunakan model GARCH. Model GARCH sendiri dapat memodelkan data yang bersifat heteroskedastis, yaitu sebuah konsep tentang ketidakkonstanan variansi dari data acak (volatility) dan perubahan variansi ini dipengaruhi oleh data acak sebelumnya yang tersusun dalam urutan waktu (kondisional). Pendekatan model ini terdiri dari empat tahap utama, yaitu tahap uji heteroskedastik, tahap identifikasi model sementara, tahap pemeriksaan model, dan terakhir adalah tahap peramalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari arsip Badan Pusat Statistik Kabupatan Banyuwangi. Hasil penelitian diperoleh model GARCH yang telah memenuhi asumsi model terbaik adalah GARCH (1,1) dengan persamaan: Xt = 0.001675 – 0.629038 Xt-1 + εt , σt2 = 0.128514 -0.290219 ε2t-1 + 0.863976 σ2t-1 Dari model GARCH (1,1), didapat hasil peramalan laju inflasi Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 dengan nilai yang fluktuatif. Inflasi tertinggi sendiri terjadi pada bulan Februari sebesar 0.625, sedangkan inflasi terendah terjadi pada bulan Januari sebesar -0.992. Nilai varians yang rata-rata bernilai 1 menunjukkan bahwa variansi tergolong kecil, sehingga model cukup baik untuk peramalan.

Peningkatan pemahaman konsep volume bangun ruang dengan model pembelajaran Van Hiele pada siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung / Atik Nurul Khusna

 

Kata kunci: pemahaman konsep, volume, model pembelajaran Van Hiele Kemampuan siswa dalam memahami konsep volume bangun ruang berperan penting terhadap keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman konsep merupakan langkah awal yang diambil untuk melangkah pada tahap selanjutnya yaitu aplikasi dalam perhitungan matematika. Tetapi kebanyakan siswa belum menguasai materi prasyarat dari konsep yang diajarkan. Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep siswa dalam belajar matematika adalah kegiatan pembelajaran yang terpusat pada guru. Kondisi tersebut selaras dengan permasalahan yang terjadi di SDN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung. Hal ini membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep volume bangun ruang terutama dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah yang berhubungan dengan konsep volume balok dan kubus. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran Van Hiele pada pembelajaran matematika volume bangun ruang pada siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung?, (2) Apakah penerapan model pembelajaran Van Hiele dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban terhadap konsep volume bangun ruang?, dan (3) Apakah model pembelajaran Van Hiele dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban terhadap konsep volume bangun ruang? Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian berupa proses pembelajaran model Van Hiele dan peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep volume bangun ruang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Kegiatan analisis data dilakukan dengan metode alur meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan prestasi belajar siswa terhadap konsep volume bangun ruang. Peningkatan pemahaman konsep siswa mengacu pada kriteria yang didukung dengan hasil wawancara kepada siswa, dimana 86% siswa telah memahami konsep yang diajarkan dengan dibuktikan kemampuan siswa dalam 1) menyatakan ulang suatu konsep, 2) mengklarifikasikan objek i objek menurut sifat-sifat tertentu, 3) memberi contoh dan non-contoh dari konsep, dan 4) mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata dan prosentase ketuntasan belajar secara klasikal dari data awal, siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada data awal sebesar 51,64 dengan prosentase ketuntasan 36%, 62,14 dengan prosentase ketuntasan 50% pada siklus I, dan pada siklus II 79,29 dengan prosentase ketuntasan 86%

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran word square kelas IV SDN Karangrejo 05 / Istiani

 

Kata kunci: hasil belajar, word square, pembelajaran IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar (SD). Dewasa ini, guru masih menggunakan metode konvensional yaitu dengan menggunakan metode ceramah saja sehingga siswa merasa bosan dan malas untuk belajar pada mata pelajaran IPS. Hal tersebut menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran word square kelas IV. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran model word square dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Karangrejo 05 dan mendeskripsikan model pembelajaran word square dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Karangrejo 05. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Data penelitian yang berupa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan materi koperasi dan kesejahteraan rakyat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, lembar observasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 sangat baik. Pada tahap pratindakan nilai rata-rata kelas 61,05. Siswa yang tuntas belajar pada tahap pratindakan sebanyak 7 siswa (35%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 13 siswa (65%). Nilai tertinggi 93, nilai terendah 26. Pada pelaksanaan pembelajaran siklus I, nilai rata-rata kelas menjadi 66,98. Nilai tertinggi 79 dan nilai terendah 46. Jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa (70%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 6 siswa (30%). Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 69,84. Nilai tertinggi 81 dan nilai terendah 56. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 16 siswa (80%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 4 siswa (20%). Keempat siswa ini adalah siswa yang sering tinggal kelas, malas belajar, dan tidak serius mengikuti pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran word square terbukti dapat meningkatkan hasil belajar IPS kelas IV SDN Karangrejo 05. Oleh karena itu, disarankan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa guru menguasai dan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran yang tepat dan dapat memotivasi siswa untuk belajar, salah satunya model pembelajaran word square.

Pengembangan paket pelatihan self esteem untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam membentuk pribadi independen / Ais Sasnia A'yun

 

Kata kunci : Self esteem, percaya diri, pribadi independen. Self Esteem (penghargaan diri) perlu ditanamkan sejak dini pada setiap individu. Self esteem tinggi bukanlah sifat bawaan sejak manusia lahir, akan tetapi self esteem tinggi dapat diperoleh melalui proses belajar. Individu yang tidak memiliki self esteem tinggi, mereka akan selalu takut dan ragu untuk bertindak. Mereka selalu tergantung pada orang lain. Dapat disimpulkan bahwa penghargaan diri termasuk salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika setiap siswa sudah memiliki self esteem tinggi, maka mereka akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi saat bertindak. Dengan demikian, rasa takut, malu, dan tergantung pada orang lain akan berubah menjadi rasa percaya diri ,dan individu akan memiliki pribadi yang independen. Namun, BK di SMA Negeri 1 Purwoasri Kediri belum memiliki paket pelaatihan self esteem yang berguna, layak, tepat dan menarik bagi siswa. Tujuan pengembangan paket pelatihan self esteem adalah untuk menghasilkan Paket Pelatihan Self Esteem yang layak, tepat, berguna, dan menarik bagi siswa SMA Negeri 1 Purwoasri, Kediri. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah Paket Pelatihan Self Esteem yang terdiri atas (1) panduan Paket Pelatihan Self Esteem untuk konselor, (2) materi Paket Pelatihan Self Esteem untuk siswa, dan (3) lembar jawaban untuk siswa yang terdiri atas tiga penggalan, yaitu: (I) Konsep dasar self esteem, yang terdiri atas (a) pengertian self esteem, (b)self esteem sebagai kebutuhan, dan (c) karakteristik orang yang memiliki self esteem positif dan negatif; (II) Membangun Self Esteem pada diri sendiri, yang terdiri atas (a) menerima diri sendiri, (b) menanamkan sikap percaya diri; dan (III) Membentuk Pribadi Independen, yang terdiri atas (a) membangun lokus kontrol internal, dan (b) berorientasi pada keberhasilan dan masa depan. Paket ini disusun dengan menggunakan model pembelajaran experiential learning. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Borg & Gall (1983) yang terdiri atas tahap perencanaan, tahap pengembangan produk, dan tahap uji coba. Subyek uji coba adalah ahli bimbingan dan konseling dan ahli bahasa; Subyek uji calon pengguna produk adalah konselor dan subyek uji kelompok kecil adalah siswa SMA Negeri 1 Purwoasri Kediri. Data dikumpulkan melalui angket uji ahli, uji calon pengguna dan uji kelompok kecil yang berupa skala penilaian. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis rerata dan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan penilaian ahli BK, Paket Pelatihan Self Esteem ini sangat berguna dengan rerata 3,4. Dilihat dari aspek kelayakan, paket ini layak diberikan kepada siswa dengan rerata 3,0. Dari aspek ketepatan, paket ini sangat tepat untuk digunakan oleh siswa dan konselor dalam memberikan bimbingan self esteem dengan rerata 3,1. Adapun aspek kemenarikan, paket ini sangat menarik dengan rerata 3,2. Hasil penilaian ahli Bahasa, Paket Pelatihan Self Esteem ini sangat tepat, dilihat dari kejelasan, kesesuaian, hubungan kalimat satu dengan yang lain, dan bahasa yang digunakan untuk siswa dengan rerata 3,2, Sedangkan panduan paket untuk konselor memiliki rerata 3,5 yang berarti sangat tepat, dilihat dari kejelasan, kesesuaian, hubungan kalimat yang satu dengan yang lain, dan bahasa yang digunakan untuk konselor. Berdasarkan uji calon pengguna (konselor), dilihat dari aspek kegunaan, paket ini sangat berguna dengan rerata 3,5, aspek kelayakan paket ini sangat layak dengan rerata 3,2, aspek ketepatan paket ini sangat tepat dengan rerata 3,3, dan aspek kemenarikan paket ini sangat menarik dengan rerata 3,3. Berdasarkan uji kelompok kecil (siswa), Paket Pelatihan Self Esteem ini sangat berguna dengan rerata 3,3, sangat layak dengan rerata 3,4, sangat tepat dengan rerata 3,4, dan sangat menarik dengan rerata 3,5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diberikan adalah: (1) konselor perlu menyampaikan kepada pimpinan sekolah perihal penggandaan paket, agar masing-masing siswa memiliki pegangan paket saat mengikuti bimbingan, (2) konselor harus kreatif dalam mengatur waktu, mengingat minimnya jam tatap muka, sebagai contoh pertemuan dapat dilakukan di luar jam sekolah, (3) bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan uji efektivitas paket pelatihan self esteem untuk mengetahui efektivitas dan kelayakan penerapan paket pelatihan self esteem, (4) isi paket dapat dilakukan revisi berkelanjutan dan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan akan langkah-langkah bimbingan yang lebih terperinci, (5) perlu dikembangkannya paket pelatihan self esteem pada populasi penelitian yang lebih luas mencangkup beberapa sekolah.

Persepsi kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMP Negeri Kecamatan Lowokwaru Malang / Aries Kurniawan

 

Kata Kunci: persepsi, kepala sekolah, guru bidang studi, siswa, bimbingan dan konseling Bimbingan dan konseling mempunyai peranan yang penting dalam membantu setiap pribadi siswa agar berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. Kerjasama dari kepala sekolah, guru dan siswa sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Persepsi yang salah terhadap bimbingan konseling dapat mempengaruhi kerjasama. Kesalahpahaman di sekolah antara lain bahwa bimbingan konseling dianggap sebagai polisi sekolah, BK hanya menangani siswa-siswa yang bermasalah, seperti siswa yang sering tidak masuk sekolah, siswa yang melanggar tata tertib di sekolah. Padahal, tujuan bimbingan konseling di sekolah tidak terbatas bagi siswa yang bermasalah, tetapi siswa yang berprestasi juga perlu mendapatkan bantuan agar dirinya lebih berkembang. Oleh karena itu persepsi yang baik mengenai pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah sangat diharapkan terutama dari kepala sekolah, guru, dan siswa sehingga pelaksanaan bimbingan konseling dapat optimal dan mencapai tujuan. Penelitian ini bertujuann untuk (1) mendeskripsikan persepsi kepala sekolah terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang, (2) mendeskripsikan persepsi guru bidang studi terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang, (3) mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sampel penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa kelas VIII di SMPN 11 Malang, SMPN 13 Malang dan SMPN 18 Malang. Teknik pengambilan sampel kepala sekolah menggunakan teknik sampel total, sedangkan sampel guru dan siswa menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan analisis yang digunakan adalah analisis persentase. Hasil penelitian mengenai persepsi kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang, menunjukkan bahwa secara umum kepala sekolah yang memiliki persepsi yang sangat baik terhadap pelaksanaa BK. Sebagian besar guru bidang studi juga mempersepsi sangat baik pelaksanaan BK. Sedangkan sebagian besar siswa mempersepsi cukup baik pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang. Sedangkan secara khusus terdapat kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa mempersepsi kurang baik pada pelaksanaan perencanaan individual. Berdasarkan hasil penelitian ditujukan beberapa saran: (1) Konselor hendaknya lebih menguasai keterampilan penggunaan alat-alat pengumpul data guna mengungkap potensi maupun kelemahan yang ada pada diri siswa sehingga siswa mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat dalam mengembangkan potensinya. Konselor diharapkan pula meningkatkan kolaborasi dengan kepala sekolah dan guru bidang studi, agar pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah terselenggara sesuai dengan harapan; (2) kepala sekolah diharapkan dapat melengkapi sarana dan prasarana untuk kelancaran pelaksanaan BK; (3) Hendaknya peneliti selanjutnya menggunakan jenis angket yang berbeda pada subyek penelitian yang berbeda dalam pengumpulan data. Peneliti selanjutnya diharapkan pula untuk menggunakan teknik wawancara dan observasi untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih komprehensif.

Kemanjuran teknik psikodrama untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi di SMA / Yuanita Dwi Krisphianti

 

Kata Kunci: psikodrama, keterampilan sosial Keterampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri agar bisa diterima dengan baik ditengah-tengah lingkungan dia berada yang nantinya akan mempermudah individu untuk mengapresiasikan diri dan kemampuan yang dimiliki. Keterampilan sosial juga merupakan keterampilan yang dimiliki individu yang ditunjukkan dengan ekspresi emosi, kepekaan emosi, kontrol emosi, ekspresi sosial, kepekaan sosial, dan kontrol sosial. Psikodrama digunakan untuk mengeksploitasi diri melalui tindakan nyata dimana kita hidup, baik internal maupun eksternal. Hal ini memungkinkan untuk mengekspresikan perasaan aman yang kuat, perspektif yang lebih luas pada masalah-masalah individu, sosial, dan juga kesempatan untuk mencoba perilaku yang diinginkan. Penulisan ini bertujuan untuk menguji kemanjuran permainan peran teknik psikodrama melalui bimbingan kelompok untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi di SMA. Rancangan penulisan yang digunakan adalah eksperimen semu dengan menggunakan pre-post test single design. Kelompok eksperimen adalah siswa akselerasi yang memiliki kriteria keterampilan sosial rendah melalui inventori keterampilan sosial. Permainan peran psikodrama dilakukan sebanyak enam kali pertemuan dengan tema yang berbeda-beda. Data penulisan dianalisis dengan teknik analisis Wilcoxon dan Sign. Hasil penulisan menunjukkan bahwa permainan peran psikodrama manjur untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi di SMA yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre test dan post test yang telah diberikan. Berdasarkan hasil penulisan diajukan beberapa saran: kepada guru BK sekolah tempat penelitian diharapkan memperhatikan dan membantu untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi dalam hal keterampilan ekspresi emosi, kepekaan emosi, kontrol emosi, ekspresi sosial, kepekaan sosial, dan kontrol sosial untuk mencapai perkembangan optimal. Psikodrama bisa digunakan oleh guru BK sebagai perangkat untuk membantu siswa akselerasi meningkatkan keterampilan sosial tapi dengan catatan waktu yang digunakan harus diperhatikan karena psikodrama membutuhkan waktu yang lebih dari satu jam pelajaran, yakni selama 60 menit. Bagi peneliti selanjutnya dapat mencoba penggunaan teknik psikodrama ini sebagai perangkat untuk membantu remaja/siswa menyelesaikan kurangnya keterampilan sosial yang rendah, dengan variabel terikat dan subyek dalam skala yang lebih luas untuk lebih mengetahui kemanjuran teknik psikodrama.

Pelestarian nilai-nilai budaya melalui kegiatan ekstrakurikuler kesenian reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman Tulungagung / Nurna Listya Purnamasari

 

Kata Kunci : Pelestarian Nilai-Nilai budaya,Ekstrakulikuler, Reyog Tulungagung Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung sebagai salah satu aset kebudayaan daerah Tulungagung perlu dilestarikan pada generasi muda terutama siswa yang sedang mengalami kegiatan belajar di sekolahnya. Untuk merealisasi hal itu SMPN 1 Kauman memasukkan kesenian Reyog Kendang sebagai program Ekstarkulikuler. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari himbauan bupati Tulungagung bahwa Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung harus dilestarikan agar budaya bangsa dapat diketahui oleh generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan;(1) proses penyelenggaraan program ekstrakulikuler Reyog kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman;(2) proses pelaksanaan program ekstrakulikuler Reyog kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman; (3) nilai-nilai budaya yang terkandung pada ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman; (4) proses pelestarian nilai-nilai budaya melalui kegiatan ekstrakulikuler Reyog kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi untuk mengamati langsung segala macam gejala sosial yang ada baik proses, situasi, kondisi, dan aktivitas dari yang di teliti. Wawancara untuk mengetahui dan menjawab segala permasalah yang sedang diteliti oleh peneliti. Dokumentasi untuk mendokumentasikan sebagai bukti peneliti dan pendukung hasil penelitian. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut;(1) Kegiatan Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung direncanakan tujuannya untuk menjaga kelestarian kebudayaan kesenian Indonesia, untuk mengenalkan kepada siswa pada kesenian Reyog Tulungagung atau Reyog Kendang,untuk mengasah bakat yang ada pada diri siswa,agar siswa dapat mempelajari sekaligus mendalami gerakan dari Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung,siswa juga dapat memetik makna dari setiap gerakan dari Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan dierencanakan dengan struktur program dan agenda yang jelas, penetapan pelatih ,penjadwalan dan juga perijinan;(2) Pelaksanaan Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman dilaksanakan secara rutin setiap hari sabtu sehabis pulang sekolah dan hari minggu pukul 08.00-11.00 WIB. Pada pelaksanaan Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung diawali dengan pemanasan berupa senam dan dilanjutkan dengan latihan gerakan diiringi dengan gending kemudian diakhiri dengan doa;(3) Nilai-nilai budaya yang terkandung pada Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman antara lain sebagai berikut:(a)Nilai Religius Nampak pada kegiatan doa;(b) Nilai kerjasama tampak pada saat siswa melakukan persiapan untuk latihan;(c) Nilai kebersamaan tampak pada saat latihan;(d) Nilai kedisiplinan tampak pad ketepatan waktu latihan;(e) Nilai kesopanan tampak pada ucapan dan bersalaman saat datang,selama latihan dan selesai latihan;(4) Proses pelestarian Kesenian Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung terintregasi dengan makna simbol setiap gerakan tari Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung mulai gerakan dasar menggambarkan nilai persatuan, gerakan menthokan menggambarkan nilai penghormatan, gerakan kejang symbol nilai kehidupan, gerakan patettan menggambarkan nilai penghormatan, gerakan lilingan menggambarkan nilai kehidupan,gerak ngungak sumur menggambarkan nilai kehidupan, gerak midak kecik menggambarkan nilai kehidupan, gerak andul menggambarkan nilai kehidupan ,gerakan gejoh bumi menggambarkan nilai religius, gerak sundangan menggambarkan nilai religius, gerak gembyangan menggambarkan nilai kehidupan, gerak baris(gerak terakhir) menggambarkan nilai religius.

Nilai-nilai moral dalam tradisi upacara ceprotan pada masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan / Murni Asih

 

Kata Kunci : Tradisi upacara ceprotan, Pelaksanaan, Nilai, Pandangan Masyarakat Tradisi upacara ceprotan merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat desa Sekar Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Tradisi upacara ceprotan dilakukan setiap tahun sekali pada hari senin kliwon pada bulan longkang (kalender Jawa) bulan Dulhizah (kalender Islam). Tradisi upacara ceprotan bertujuan untuk memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah member nikmat dan keberkahan dan untuk meminta keselamatan. Dalam tradisi upacara ceprotan terkandung nilai-nilai moral. Dengan adanya tradisi upacara ceprotan dapat memberikan suatu pembelajaran kepada masyarakat tentang nilai-nilai moral tersebut. Nilai-nilai moral bagi masyarakat untuk mengatur baik buruknya taindakan atau perilaku seseorang, sehingga nilai-nilai moral tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan : (1) sejarah tradisi upacara ceprotan (2) pelaksanaan tradisi upacara ceprotan (3) nilai-nilai moral yang terkandung dalam tradisi upacara ceprotan (4) pandangan masyarakata terhadap tradisi upacara ceprotan. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus, prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi,wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Analisis data dalam penelitian dilakukan dengan model interaktif. Keabsahan temuan dilakukan dengan (1) perpanjangan keikutsertaan (2) ketekunan pengamatan serta (3) triangulasi. Dan penelitian dilakukan di Desa Sekar kecamatan Donorojo kabuapten Pacitan dengan objek penelitian masyarakat desa Sekar kecamatan Donorojo kabupaten Pacitan dan Dinas Pariwisata dan kebudayan kabupaten pacitan. Hasil penelitian dapat dipaparkan sebagai berikut: (1) tradisi upacara ceprotan adalah warisan dari leluhur atu nenek moyang masyarakat desa Sekar . dan sampai sekarang tradisi upacara ceprotan masih tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat desa Sekar karena merupakan tradisi yang sudah turun temurun. (2) Pada pelaksanaan tradisi upacara ceprotan dikelompokan menjadi tiga sesi atau tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan (inti) dan tahap penutupan . (3) nilai-nilai moral yang terkandung dalam tradisi upacara ceprotan adalah nilai religi, nilai ritual, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai keindahan, nilai hiburan atau tontonan dan nilai tuntunan. (4) pandangan-pandangan masyarakat terhadap tradisi ceprotan relative normal karena masyarakat desa Sekar memiliki kesadaran yang tinggi dari keyakinan mereka semua . Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada masayarakat desa sekar hendakanya tetap dilaksanakan dan dilestarikan. Kepada pemerintah daerah khususnya Dinas kebudayaan dan pariwisata lebih memperhatikan dan ikut serta dalam pelestarian adat kebiasaan yang sudah turun temurun.

Penerapan model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tempuran 1 Ngawi / Pratika Tungga Dewi

 

Kata Kunci: pembelajaran IPA, model pembelajaran problem solving, aktivitas belajar, hasil belajar Aktivitas dan hasil belajar siswa pra tindakan rendah. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal pra tindakan 21,05% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 50,63. Peneliti memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran problem solving. Melalui penerapan model pembelajaran problem solving, siswa akan aktif melakukan percobaan untuk memecahkan masalah sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA materi pokok pengungkit di kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA, serta (3) peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif interaktif yang dilakukan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri dari planning, acting and observing, reflecting dan revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain teknik observasi, wawancara, dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Hasil penelitian ini yaitu penerapan model pembelajaran problem solving dapat merubah kegiatan pembelajaran yang bersifat teacher centered menjadi student centered dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar klasikal siklus-1 yaitu 52,63% dengan nilai rata-rata aktivitas belajar kelas 67,76. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar klasikal siklus-2 yaitu 100% dengan nilai rata-rata aktivitas belajar kelas 87,72. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal siklus-1 yaitu 63,16% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 68,11. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal siklus-2 yaitu 100% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 90,04. Penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA materi pokok pengungkit di kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi dapat diterapkan dengan baik sekali. Penerapan model pembelajaran problem solving dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Saran berdasarkan hasil penelitian ini yaitu bagi guru dan peneliti selanjutnya jika menerapkan atau mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran problem solving sebaiknya memperhatikan kesesuaian materi pembelajaran, keluasan materi pembelajaran, alokasi waktu dan memecahkan masalah satu persatu sampai selesai.

Pengembangan bahan ajar kimia SMK kelas X Program Keahlian Teknik Mesin untuk model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok / Siti Faizah

 

Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Subandi, M. Si, (II) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D Kata Kunci: bahan ajar, kimia SMK, teknik mesin, pembelajaran kooperatif, investigasi kelompok. Kimia merupakan mata pelajaran adaptif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di SMK, fungsi pemberian mata pelajaran kimia adalah untuk mendukung mata pelajaran produktif. Permasalahannya adalah bahwa kompetensi siswa dalam mata pelajaran kimia cenderung tidak berhubungan langsung dengan kompetensi mereka dalam mata pelajaran produktif. Salah satu sumber permasalahan adalah tidak tersedianya bahan ajar kimia yang isi materinya berhubungan langsung dengan materi pelajaran produktif. Welding atau pengelasan merupakan materi yang diberikan dalam mata pelajaran produktif. Materi ini dapat dihubungkan dengan materi dalam mata pelajaran kimia seperti rumus kimia material pengelasan dan reaksi pembakaran. Namun, tidak ada buku kimia yang membahas hubungan antara pengelasan dengan rumus kimia material pengelasan serta reaksi pembakarannya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan bahan ajar kimia bagi siswa kelas X program keahlian teknik mesin yang berhubungan dengan pengelasan dan, (2) mengetahui efektivitas bahan ajar kimia yang dikembangkan untuk digunakan dalam model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Pengembangan bahan ajar kimia ini mengadopsi model Dick & Carey (1990) dikombinasikan dengan pengembangan materi pembelajaran dari Paulina dan Purwanto (2001). Penelitian dan pengembangan ini terdiri dari 8 langkah, yaitu: (1) mengidentifikasi tujuan belajar melalui review kurikulum untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar kimia dengan pelajaran produktif; (2) menganalisis bahan ajar kimia yang dibutuhkan oleh mata pelajaran produktif dengan bertanya kepada guru pelajaran produktif menggunakan kuesioner; (3) menganalisis karakteristik siswa untuk mengetahui tingkat perkembangan berpikir dan minat siswa berdasarkan data yang terdapat pada program bimbingan konseling di sekolah; (4) melakukan analisis instruksional untuk menentukan garis-garis besar materi bahan ajar kimia yang diperlukan oleh mata pelajaran produktif; (5) menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai dengan kebutuhan siswa dalam program keahlian teknik mesin; (6) merumuskan indikator ketercapain, (7) pengembangan materi bahan ajar kimia; dan (8) validasi dan revisi materi bahan ajar kimia. Bahan ajar kimia yang dikembangkan divalidasi oleh para ahli yang terdiri dari dua dosen kimia Universitas Negeri Malang, dua orang guru kimia SMKN 1 Singosari, dan seorang guru produktif SMK Negeri 1 Singosari dengan spesialisasi pengelasan. Efektivitas belajar kimia dengan menggunakan materi yang dikembangkan dilakukan pada kelas X dan kelas XI siswa program keahlian teknik mesin SMK Negeri 1 Singosari. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran untuk perbaikan bahan ajar kimia yang dikembangkan yang diberikan oleh para ahli. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian pengembangan bahan ajar berdasarkan penilaian standar materi pembelajaran yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari skor prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam proses pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan. Data ini diperoleh dengan menggunakan tes hasil belajar yang terdiri dari 21 item dengan validitas isi sebesar 84. Bahan ajar kimia yang dikembangkan terdiri dari buku siswa dilengkapi dengan media pembelajaran visual dalam bentuk CD dan petunjuk guru. Hasil penilaian ahli untuk kelayakan isi memiliki nilai 86%, kelayakan penyajian memiliki nilai 88%. Revisi bahan ajar kimia telah dilakukan berdasarkan saran yang diberikan oleh para ahli. Berdasarkan hasil penilaian ahli isi, bahan ajar yang sudah direvisi dianggap layak untuk digunakan dalam proses belajar kimia. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok dengan menggunakan bahan ajar kimia yang dikembangkan menunjukkan bahwa 83% dari siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75, dan skor rata-rata 82,1 . Berdasarkan hasil yang diberikan di atas, dapat dianggap bahwa bahan ajar kimia yang sudah dikembangkan sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya dalam model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan efektivitas dari bahan kimia yang dikembangkan pembelajaran harus dilakukan apabila akan dilakukan penyebaran yang lebih luas.

Kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos / Sayyidatina Al Akhirina

 

Kata kunci: kesantunan, tuturan imperatif, mahasiswa Manusia pada umumnya lebih senang mengungkapkan pendapat-pendapat yang sopan daripada yang tidak sopan. Kesantunan berbahasa bukan semata-mata motif utama bagi penutur untuk berbicara, melainkan merupakan faktor pengatur yang menjaga agar percakapan berlangsung dengan lancar, menyenangkan, dan tidak sia-sia. Tuturan imperatif merupakan tuturan yang mengharuskan mitra tutur untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penuturnya, baik secara tersirat maupun tersurat. Dalam aktivitas kesehariannya di tempat indekos, mahasiswa tidak pernah lepas dari penggunaan tuturan imperatif, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos, dan (2) faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Tujuan penelitian yang telah ditetapkan dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa berbagai macam tuturan dalam praktik berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa keseharian yang berbentuk lisan, yangmengandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Sumber data dalam penelitian ini yakni mahasiswa yang tinggal di tempat indekos dengan latar belakang etnik Jawa. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, dan pencatatan lapangan. Adapun analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kontekstual. Metode analisis kontekstual adalah cara-cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan, memperhitungkan, dan mengaitkan identitas konteks- konteks yang ada. Penelitian ini menghasilkan dua temuan, yakni wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos dan faktor- faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Pertama, wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos diklasifikasikan berdasarkan konstruksi dan maknanya, yang meliputi: (1) konstruksi deklaratif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, permintaan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, mengizinkan, larangan, harapan, dan umpatan; (2) konstruksi imperatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: perintah, permohonan, imbauan, persilaan, dan harapan; (3) konstruksi interogatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: perintah, suruhan, permintaan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, harapan, dan umpatan; (4) konstruksi eksklamatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, desakan, bujukan, ajakan, mengizinkan, larangan, umpatan, dan pemberian ucapan selamat; (5) konstruksi emfatik yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, permintaan, desakan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, mengizinkan, harapan, dan umpatan. Kedua, faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos terdiri dari 5 faktor yang berupa (1) pematuhan maksim, yang terdiri atas maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatisan; (2) skala kerugian dan keuntungan; (3) skala pilihan; (4) skala ketidaklangsungan; (5) skala keotoritasan; serta (5) jarak sosial. Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini yakni yang pertama bagi mahasiswa yang tinggal di tempat indekos, sebaiknya antara mahasiswa satu dan lainnya hendaknya saling menjaga kesantunan dalam bertutur sehari-hari di tempat indekos karena di samping menyampaikan amanat, kebutuhan dan tugas penutur adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur-pendengar. Saran yang kedua ditujukan kepada peneliti selanjutnya untuk menindaklanjuti penelitian ini dengan penelitian lain yang serupa, berancangan sama, namun memiliki ruang lingkup kajian yang lebih luas, yaitu tidak dibatasi pada tempat indekos saja, tetapi bahkan bisa dibandingkan antar kelompok etnik tertentu. Jangkauan penelitian yang demikian diharapkan dapat memiliki tingkat kebermaknaan yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bagi perkembangan linguistik pragmatik Indonesia yang sampai dengan saat ini terbukti masih mendapatkan perhatian yang terbatas.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran group investigation kelas X-E SMA Islam Malang pada mata pelajaran geografi pokok bahasan litosfer dan pedosfer / Reny Budi Prastiwi

 

Kata Kunci: pembelajaran model Group Investigation, aktivitas siswa, hasil belajar Berdasarkan observasi awal terkait aktivitas belajar siswa dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa kelas X-E SMA Islam Malang tanggal 14 Oktober 2010, menunjukkan bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi oleh guru dan siswa cenderung pasif, siswa merasa jenuh jika selama 2 × 45 menit kegiatan pembelajaran tanpa ada aktivitas yang menyenangkan, cara belajar siswa menggunakan metode menghafal, sehingga materi yang telah dihafalkan tersebut mudah untuk di lupakan, dan di luar jam pelajaran di sekolah (di rumah) siswa jarang mempelajari mata pelajaran geografi. Hasil analisis daftar nilai mata pelajaran geografi hanya terdapat 22,22% siswa tuntas belajar, dan pada aktivitas siswa hanya sebesar 19,44% siswa mencapai taraf keberhasilan. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu diterapkan pembelajaran yang mampu mengarahkan siswa untuk menumbuhkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Alternatif pembelajaran tersebut adalah penerapan pembelajaran model Group Investigation. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-E yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, teknik pengumpulan data melalui tes, sedangkan aktivitas siswa menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Aktivitas klasikal pada siklus I mencapai 44,44% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80,55%, sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 55,56% pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-E SMA Islam Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan; 1). Bagi guru geografi, model pembelajaran Group Investigation dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang berguna dalam meningkatankan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga dapat meningkatkan mutu pengajaran di sekolah; 2). Bagi peneliti selanjutnya, model pembelajaran Group Investigation dapat digunakan pada materi yang lainnya selain materi litosfer dan pedosfer, dengan diberikan beberapa inovasi pada tahap- tahap pembelajarannya guna menyiasati kebosanan siswa.

Studi tentang media pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo / Analisa Yohana

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Seni Budaya, Seni Rupa. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Ketepatan penggunaan media pembelajaran dapat memepengaruhi kualitas proses serta hasil yang dicapai. SMP Negeri 1 Probolinggo mengadakan mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa pada semester 1. Sekolah tersebut dianggap memiliki prestasi akademik yang baik oleh banyak pihak. Maka dari itu diadakan penelitian tentang media pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa, karena penggunaan media yang tepat akan sangat berpengaruh pada keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah tersebut Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran apresiasi mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo, (2) Mengetahui penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran ekspresi mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk mengungkap data adalah metode observasi pada perangkat pembelajaran yang digunakan guru, wawancara dengan guru mata pelajaran, serta angket yang diberikan pada siswa untuk triangulasi sumber. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Media-media yang digunakan pada pembelajaran apresiasi adalah media buku teks/buku panduan, media contoh gambar/foto-foto, media model, media hasil karya seni yang dihadirkan langsung pada siswa, serta media elektronik berbasis komputer. Guru selalu menggunakan media pembelajaran pada setiap KD pembelajaran apresiasi. Media yang paling berperan membantu siswa dalam pembelajaran apresiasi adalah media LCD, media video/film, dan media contoh-contoh (seperti patung, lukisan, keramik, dll), sedangkan media yang paling berperan membantu guru adalah media karya yang ditunjukkan secara langsung pada siswa yaitu lukisan, (2) Media yang digunakan pada pembelajaran ekspresi selama ini adalah media buku teks/buku panduan, media model, media contoh gambar/foto, media hasil karya seni, media elektronik berbasis komputer, serta media alat dan bahan untuk berkarya seni. Guru selalu menggunakan media pembelajaran pada setiap KD pembelajaran ekspresi. Media yang paling berperan membantu siswa dalam pembelajaran ekspresi adalah media LCD, media video/film, media contoh-contoh (seperti patung, lukisan, keramik, dll), dan media gambar, sedangkan media yang paling berperan membantu guru adalah media karya yang ditunjukkan secara langsung pada siswa yaitu lukisan.

Peran kepala sekolah dalam pengembangan rintisan sekolah bertaraf internasional (studi multisitus di SMA Negeri 1 Malang dan SMA Negeri 10 Malang) / Faridah Hayati)

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd. Kata kunci: peran kepala sekolah, rintisan sekolah bertaraf internasional Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 50 ayat (3) mengamanat­kan agar pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendi­dikan yang bertaraf internasional. Pada tahun 2008 Depdiknas telah menetapkan 570 SMP/SMA/ SMK menjadi sekolah RSBI. Saat ini di kota Malang terdapat beberapa sekolah yang telah ditetapkan sebagai sekolah RSBI, termasuk SMAN 1 dan SMAN 10 Malang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa RSBI di SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang memiliki beberapa kesamaan, yakni sebagai sekolah RSBI yang pelaksanaannya melibatkan peran serta masyarakat tetapi berbeda dalam hal manajemen dan pendanaannya. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti kedua sekolah tersebut. Peran kepala sekolah sebagai manajer profesional sangat menentukan dalam pengembangan sekolah, maka penelitian akan difokuskan pada peran kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. Dalam Permen­dik­nas Nomor 13 Tahun 2007 dinyatakan bahwa kepala sekolah dipersyaratkan memiliki 5 kompe­tensi, yakni kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Jika sekolah dipimpin oleh kepala sekolah yang memenuhi persyaratan kompetensi kepala sekolah, maka dapat diharapkan bahwa sekolah tersebut dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh Mendiknas tahun 2009 tentang SMA bertaraf internasional. Penelitian ini bertujuan untuk memerikan dan menjelaskan (1) peran kepala sekolah dalam merumuskan dan mensosialisasikan visi dan misi RSBI, (2) peran kepala sekolah dalam pengem­bangan RSBI, dan (3) faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis rancangan studi multisitus (multi-site studies). Penelitian dilakukan di 2 lokasi, yakni SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang. Data penelitian bersumber dari kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, para kepala Tata Usaha, dan dokumen. Untuk menjaring data, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam, angket, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data sampai terselesaikannya laporan penelitian. Analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan secara bersamaan, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam merumuskan dan mensosialisasikan visi dan misi RSBI, kepala SMAN 1 dan SMAN 10 Malang berperan sebagai: manajer dalam mengkoordinasikan kegiatan dengan membentuk tim perumus, inisiator perumusan visi dan misi, fasilitator, pemimpin, dan inspirator dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Dalam pengembangan RSBI, kepala SMAN 1 dan SMAN 10 Malang adalah sebagai berikut; (1) akreditasi sekolah, kepala sekolah berperan sebagai manajer dan motivator; (2) pengembangan kurikulum, kepala sekolah beperan sebagai manajer, leader, pendidik, dan inspirator; (3) proses pembelajaran, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, supervisor, dan fasilitator; (4) peningkatan mutu penilaian, kepala sekolah berperan sebagai pendidik dan fasilitator; (5) peningkatan mutu kompetensi lulusan, kepala sekolah berperan sebagai fasilitator, manajer, dan administrator; (6) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, fasilitator, motivator, dan supervisor; (7) pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, kepala sekolah berperan sebagai manajer dan supervisor; (8) pengelolaan, kepala sekolah berperan sebagai manajer, pendidik, dan fasilitator; (9) pembiayaan, kepala sekolah berperan sebagai manajer; dan (10) kesiswaan, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, inovator, dan manajer. Faktor pendukung dan kendala yang dihadapi kepala SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang dalam pengembangan RSBI meliputi: (1) Faktor pendukung: (a) akreditasi sekolah: kuatnya komitmen dan kekompakan serta koordinasi; (b) pengembangan kurikulum: tingginya semangat guru, adanya pendampingan konsultan ahli kurikulum; (c) proses pembelajaran: intensifnya kepala sekolah dalam memotivasi para guru, intensifnya kegiatan peningkatan profesionalisme guru; (d) penilaian: pemahaman guru terhadap sistem penilaian, tersedianya alat dan bahan penilaian, adanya konsultan; (e) peningkatan mutu kompetensi lulusan: efektifnya sistem pembela­jaran, efektifnya program pembinaan ekstrakurikuler, dan adanya program untuk mema­cu siswa berpretasi; (f) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan: profesionalisme guru, kepemimpinan kepala sekolah yang menerapkan pola saling menghargai; (g) pengembangan sarana dan prasarana: tersedianya sarana dan prasarana menunjang pembelajaran, adanya lembaga donor; (h) penge­lolaan: terlaksananya manajemen berbasis sekolah, tingginya kualitas input; (i) pembiayaan: adanya sistem perencanaan anggaran yang baik, adanya dana tambahan; (j) kesiswaan: adanya program pengembang­an kerja sama dengan berbagai pihak, mapannya sistem penerimaan siswa baru, dan input siswa yang bagus. (2) Kendala yang dihadapi: (a) akreditasi sekolah: terbatasnya waktu, kurang tertibnya sistem administrasi; (b) pengembangan kurikulum: guru masih minim pemahamannya tentang kurikulum baru; (c) proses pembelajaran: rendahnya kemampuan bahasa Inggris para guru dan siswa; (d) penilaian: banyak menyita waktu para guru, kurangnya kemampuan siswa berbahasa Inggris; (e) kompetensi lulusan: belum terealisasinya program pembinaan untuk mengikuti ujian; (f) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan: kemam­puan SDM guru mulai dari nol sehingga merasa berat dalam menghadapi RSBI; (g) pengem­bang­an sarana dan prasarana: minimnya bantuan/subsidi pendanaan dari pemerintah; (h) pengelolaan: belum terciptanya budaya layanan prima berstandar internasional; (i) pembiayaan: keterbatasan anggaran, sistem administrasi keuangan yang rumit; (j) kesiswaan: belum bisa memberikan prioritas dalam penerimaan siswa baru bagi warga tinggal di sekitar sekolah. Berdasarkan temuan penelitian tersebut di atas dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. (1) Faktor pendukung dan kendala yang ada di sekolah hendaknya dijadikan pijakan bagi kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. (2) Untuk menjamin keberhasilan RSBI, guru perlu terus-menerus meningkatkan profesionalismenya melalui training, workshop, seminar, penataran, dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. (3) Komite Sekolah diharapkan dapat berperan dalam hal pendanaan maupun mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak sehingga pengembangan RSBI dapat berjalan dengan lancar. (4) Dinas Pendidikan Kota Malang sebagai pengambil kebijakan yang dapat mendukung pengembangan RSBI, misalnya kebijakan dalam hal peningkatan profesionalisme guru, pengembangan sarana prasarana dan pendanaan. (5) Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur diharapkan dapat mendukung pengembangan RSBI dalam bentuk pemberian dana blockgrant, sarana dan prasarana, peningkatan SDM, kebijakan dalam pengembangan RSBI, sehingga tujuan pendidikan dapat berhasil dengan baik. (6) Peneliti-peneliti lain dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang RSBI, misalnya pengembangan RSBI di sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan.

Pengembangan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD / Nova Kristian

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, membaca dongeng, berbentuk komik Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran membaca dongeng berdasarkan observasi mengalami beberapa hambatan. Hambatan tersebut adalah (1) terdapat indikasi rendahnya minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran membaca dongeng, (2) pembelajaran mem-baca dongeng monoton dan membosankan, dan (3) guru hanya terpaku pada buku teks dan LKS. Padahal buku tersebut terlalu banyak teori, monoton, dan kurang dekat dengan siswa. Pada akhirnya hal tersebut akan membuat siswa mengalami banyak kesulitan dalam memahami materi yang disajikan di dalamnya, sehingga dapat memengaruhi hasil belajar siswa. Agar proses pembelajaran membaca dongeng dapat berlangsung dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan paling tidak guru dituntut mampu menyedia- kan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pemilihan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik diduga cocok dan sesuai dengan siswa SD karena komik adalah bahan bacaan yang dekat dan disukai oleh siswa SD. Jika dongeng dalam bahan ajar disajikan dalam bentuk komik maka siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari dan membaca bahan ajar tersebut. Motivasi yang tinggi ini akan berpengaruh positif terhadap penyampaian materi dan pesan-pesan pembelajaran yang tertuang di dalam buku ajar tersebut. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar dongeng berbentuk komik untuk Siswa kelas III SD. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, (2) mengembangkan organisasi penyajian bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, dan (3) mengembangkan bahasa bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, dan (4) mengembangkan tampilan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk sisw kelas III SD Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model desain sistem pembelajaran Dick dan Carey (1990). Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 4 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui tiga kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli sastra, ahli pembelajaran bahasa Indonesia, dan ahli visualisasi komik, (2) uji praktisi yakni guru kelas III SD, dan (3) uji siswa SD kelas III Oro-oro Dowo Malang yang terdiri dari 37 siswa. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kuantitatif dan teknik kualita-tif. Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif yang dipero-leh dari angket penilaian bahan ajar, sedangkan teknik kualititatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif yang berupa data verbal yang diperoleh dari wawancara dan catatan tertulis berupa komentar, saran, dan masukan yang tertulis pada lembar penilaian. Analisis data verbal dilakukan dengan cara (1) mengum-pulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data ver-bal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) mengana-lisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah sudah layak atau harus direvisi. Dari hasil uji bahan ajar dengan ahli sastra menghasilkan rata-rata kelaya-kan sebesar 80%, ahli pembelajaran 89,2%, ahli visualisasi komik 89,6%, guru Bahasa Indonesia 98%, dan siswa 90%. Hasil uji dengan ahli materi dongeng menunjukkan bahwa bahan ajar harus direvisi karena dari kelima aspek yang diujikan ada satu aspek yang belum layak, sedangkan menurut ahli pembelajaran dongeng produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan dalam pembela-jaran, dari ahli visualisasi komik produk tergolong layak dan dapat diimplemen-tasikan dalam pembelajaran, dan dari guru dan siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar membaca do-ngeng berbentuk komik dari hasil uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi kepala sekolah bahan ajar ini dapat memberikan kesem-patan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar secara mandiri. Bagi guru dapat menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan bahan ajar yang berfungsi sebagai alternatif bahan pembelajaran membaca dongeng berbentuk komik, diharapkan pembelajaran membaca dongeng lebih menarik bagi siswa. Selanjut-nya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Hubungan motivasi kerja dan prestasi kerja pemantau Pemilu Indonesia 2004 pada jaringan pendidikan pemilih untuk rakyat (JPPR) Kecamatan Blimbing, Kota Malang / Yuli Hartini

 

Survei tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah menengah atas negeri (SMAN) se-kabupaten Bangkalan / Soleh Hoddin

 

Model pembelajaran pada pelatihan bagi tuna netra di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra Budi Mulya Malang / Irwan Hadi Yuwono

 

Hubungan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa kelas II SMA Negeri 1 Pamekasan / Evi Kusdiana

 

Perbedaan kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa kelas II MA Islamiyah yang tinggal di pondok dengan siswa yang tinggal di luar pondok pesantren, At-Tanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro / Roikhatul Jannah

 

Analisis tingkat kesehatan perusahaan untuk memprediksi potensi kebangkrutan dengan pendekatan Altman (Z-score) (studi kasus pada perusahaan wholesale and retail yang terdaftar di BEJ) / Zuhrina Puspitasari

 

Pengaruh kualitas layanan terhadap partisipasi anggota KPRI "Praja Mukti" Pemerintah Kabupaten Blitar / Rida Kurnia Hayati

 

Pengujian paritas daya beli relatif di Indonesia tahun 2001-2003 / Binti Nur Cholisiyah

 

Upaya penanggulangan pekerja anak di Indonesia / Dyah Eka Larasati

 

Hubungan antara tingkat partisipasi siswa di koperasi sekolah dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMPNH 1 Wlingi / Wahyu Sari Retno

 

Analisis pembentukan portofolio dengan menggunakan single index market model (studi pada Bursa Efek Jakarta) / Evy Widyaningrum

 

Pengaruh kinerja keuangan perusahaan terhadap return saham pada perusahaan food and beverage di Bursa Efek Jakarta periode tahun 2000-2002 / Medinia Nurul Aini

 

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan pilihan jabatan siswa kelas 2 SMP Negeri se Kota Malang / Ulfatul Millah

 

Analisis keuangan sebagai landasan mengukur kinerja saham pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) / Haris Yohananta

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 |