Pengaruh pembelajaran peta konsep terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas 2 semester 1 SMP Negeri 5 Jombang tahun pelajaran 2004/2005 / Ririn Febriyanti

 

A study on the use of electronic dictionary in teaching vocabulary to the students of SMPN 14 Malang / Lydia Stevany Wokas

 

Kata kunci: Kamus elektronik, Pengajaran vocabulary. Vocabulary memainkan peranan penting dalam pengajaran bahasa Inggris di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Vocabulary merupakan pusat dari proses belajar mengajar. Hal itu berarti dengan menguasai vocabulary tentu berdampak dengan grammar, dimana siswa akan dapat menciptakan begitu banyak kalimat bahasa Inggris dengan mudah, baik secara lisan atau tulisan. Mereka juga dapat berkomunikasi dengan orang lain secara lancar dan mengekspresikan pendapat atau ide mereka dengan yakin. Seorang siswa bahasa asing akan berbicara dengan lancar dan akurat, menulis dengan mudah, atau memahami apa yang dia baca atau dengar jika dia memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa asing itu dengan baik. Maka dari itu ,guru-guru bahasa Inggris harus memperhatikan pengajaran vocabulary. Ada begitu banyak strategi dalam pengajaran vocabulary. Salah satu media yang digunakan guru-guru bahasa Inggris di SMPN 14 Malang untuk mengajarkan vocabulary di dalam kelas adalah dengan menggunakan kamus elektronik. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini mendeskripsikan atau menjabarkan pandangan guru-guru bahasa Inggris di SMPN 14 Malang tentang penggunaan kamus elektronik dan cara-cara mereka dalam menerapkan penggunaan kamus elektronik dalam pengajaran vocabulary kepada siswa-siswi mereka. Subjek penelitian ini adalah tiga guru bahasa Inggris di SMPN 14 Malang. Instrumen-instrumen penelitian untuk mengumpulkan data adalah dengan menggunakan wawancara (interview), checklist observasi, dan catatan lapangan (field notes). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, guru-guru bahasa Inggris di SMPN 14 Malang memiliki pandangan positif tentang penggunaan kamus elektronik dalam pengajaran vocabulary. Mereka berpendapat bahwa ada beberapa keuntungan dalam menggunakan kamus elektronik, yaitu: (1) Kamus elektronik dapat membantu mereka untuk menemukan arti atau definisi dari berbagai macam kata-kata dan frase-frase bahasa Inggris, (2) kamus elektronik dapat digunakan untuk menemukan sinonim dan antonim dari sebuah kata, (3) kamus elektronik dapat digunakan untuk melatih pelafalan (pronunciation) dari kata-kata yang dicari, (4) kamus elektronik dapat menghemat waktu dalam proses belajar mengajar karena guru dan siswa tidak perlu mencari-cari arti dari sebuah kata di dalam kamus yang berbentuk buku, dan (5) kamus elektronik sangat praktis digunakan untuk menemukan kata-kata yang dicari, hanya dengan mengetik atau memasukkan kata atau frase tersebut dengan keyboard komputer, dan hasilnya dapat langsung ditampilkan di LCD. Kedua, guru-guru bahasa Inggris di SMPN 14 Malang menerapkan penggunaan kamus elektronik dalam pengajaran vocabulary tidak langsung, melalui reading atau listening. Mereka menggunakannya untuk memahami arti dari kata-kata atau frase-frase yang muncul dalam teks. Jadi, mereka dapat membantu siswa dalam memahami teks reading atau listening. Ada beberapa saran yang diberikan dalam penelitian ini. Yang pertama, agi guru-guru bahasa Inggris, dapat menerapkan penggunaan kamus elektronik dalam pengajaran vocabulary mereka. Hal ini dapat menjadi slah satu media untuk mengajarkan vocabulary. Para guru tidak hanya bergantung pada kamus elektronk saja, mereka juga dapat mencari strategi dan media yang lainnya dalam mendukung pengajaran vocabulary. Kedua, untuk peneliti yang selanjutnya, disarankan agar menemukan hubungan antara penggunaan kamus elektronik dan `penguasaan vocabulary siswa. Juga disarankan untuk mengadakan penelitian mengenai peningkatan penguasaan vocabulary siswa melalui kamus elektronik.

Meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran tolak peluru gaya menyamping dengan menggunakan pendekatan modifikasi di kelas VII B SMP Negeri 3 Batu / Syamsul Hadi

 

Pada observasi awal yang dilakukan peneliti diperoleh data dan fakta antara lain : 1). materi pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan nomor atletik yang di ajarkan di kelas VII adalah lari jarak pendek 50 meter, lompat jauh gaya jongkok, tolak peluru awalan menyamping, lempar cakram awalan menyamping. 2). metode pembelajaran tolak peluru gaya menyamping yaitu dengan metode ceramah dan demonstrasi. Guru menjelaskan terlebih dahulu teknik melakukan tolak peluru, kemudian siswa melakukan secara bergantian sesuai instruksi dari guru. 3). beberapa siswa terlihat tidak aktif dalam pembelajaran (24 siswa atau 77%) ditandai dengan duduk-duduk di pinggir lapangan, bergurau dengan teman saat siswa lain melakukan menolak peluru. 4). Selama pembelajaran siswa terlihat kurang memiliki motivasi, hal ini ditunjukkan dengan siswa kurang bersemangat selama mengikuti pelajaran (20 siswa atau 62,5%). 5). Sebagian besar siswa terlihat bermain-main sendiri saat pelajaran berlangsung, yaitu ketika siswa lain melakukan gerakan menolak. Sambil menunggu giliran siswa bergurau dan bermain-main dengan teman lain. 6). Siswa banyak yang mengganggur menunggu giliran melakukan tolak peluru. 7). Siswa kurang senang dengan pembelalajaran tolak peluru (25 siswa atau 78,12%). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa pada pembelajaran tolak peluru gaya menyamping menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan modifikasi siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Batu. Pengambilan data dilaksanakan 18 maret-15 april 2011. Data diperoleh dari catatan lapagan, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan partisipasi siswa selama mengikuti pembelajaran tolak peluru gaya menyamping di setiap siklus dari siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Pada siklus 1 masih terdapat kekurangan di setiap indikator partisipasi siswa. Pada siklus 1 persentase indikator tiap siklus adalah sebagai berikut : 1). indikator keaktifan dalam pembelajaran 52,50% dengan taraf keberhasilan kurang baik, 2) indikator motivasi sebesar 56,25% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 3) indikator prakarsa sebesar 51,25% dengan taraf keberhasilan kurang baik, 4) indikator ketekunan sebesar 55% dengan taraf keberhasilan kurang baik, 5) indikator orientasi belajar dari pada bermain sebesar 50% dengan taraf keberhasilan kurang baik, 6) indikator senang atau enjoy dalam pembelajaran sebesar 60% dengan taraf keberhasilan cukup baik. Rata-rata skor partisipasi siswa di atas sebesar 54,17% yang termasuk dalam kategori kurang baik. Pada siklus 2 terjadi peningkatan disetiap indikator partisipasi siswa. Persentase tiap indikator tersebut adalah sebagai berikut : 1) indikator keaktifan dalam pembelajaran sebesar 71,87% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 2) indikator motivasi sebesar 72,5% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 3) indikator prakarsa sebesar 66,87% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 4) indikator ketekunan sebesar 71,87% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 5) indikator orientasi belajar dari pada bermain sebesar 70,62% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 6) indikator senang/enjoy dalam pembelajaran sebesar 76,25% dengan taraf keberhasilan baik. Rata-rata skor partisipasi siswa di atas sebesar 71,66% yang termasuk dalam kategori cukup baik. Pada siklus 3 terjadi peningkatan partisipasi siswa selama mengikuti pembelajaran dengan persentase tiap indikator sebagai berikut : 1) indikator keaktifan dalam pembelajaran sebesar 82,5% dengan taraf keberhasilan baik, 2) indikator motivasi sebesar 83,12% dengan taraf keberhasilan baik, 3) indikator prakarsa sebesar 78,75% dengan taraf keberhasilan baik, 4) Indikator ketekunan sebesar 78,75% dengan taraf keberhasilan baik, 5) indikator orientasi belajar dari pada bermain sebesar 83,12% dengan taraf keberhasilan baik, 6) indikator senang/enjoy dalam pembelajaran sebesar 87,5% dengan taraf keberhasilan baik. Rata-rata skor partisipasi siswa di atas sebesar 82,29% yang termasuk dalam kategori baik. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan modifikasi dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran tolak peluru gaya menyamping siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Batu. Bagi guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan model pembelajaran dengan pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai referensi dalam memberikan materi tolak peluru gaya menyamping berikutnya untuk meningkatkan partisipasi siswa. Selanjutnya bagi peneliti hendaknya dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Metode ACM plus pada program pengentasan buta aksara tingkat dasar (studi kasus di Dukuh Golek Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji Kabpoaten Malang) / Anggi Dian Endah Novita

 

Pemberantasan buta aksara merupakan salah satu program pendidikan nonformal yang menjadi upaya pemerintah untuk mengentaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan yaitu melalui program keaksaraan tingkat dasar yang merupakan upaya pemberian kemampuan keaksaraan bagi penduduk buta aksara agar memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, mendengarkan, dan berbicara untuk mengkomunikasikan teks lisan dan tulis. Dengan penggunaan metode Aku Cepat Membaca (ACM) Plus pada pembelajaran diharapkan program pembelajaran dapat berlangsung dengan praktis, efektif, dan efisien. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: (1) karakteristik, (2) penerapan, dan (3) efektifitas metode ACM Plus pada program pengentasan buta aksara di Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Rancangan penelitian ini berupa penelitian studi kasus yang bertujuan untuk memberi suatu gambaran tentang metode ACM Plus pada program pengentasan buta aksara tingkat dasar, khususnya yang diterapkan di Dukuh Golek Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang dengan jumlah populasi keseluruhan yaitu 100 orang warga belajar. Untuk sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik nonprobability sampling, sedangkan cara pengambilan sampel, peneliti menggunakan penarikan sampel purposive sampling. Berdasarkan studi pendahuluan di lapangan, disimpulkan bahwa dipilih 3 kelompok belajar buta aksara di wilayah RW 03 dan RW 04 dukuh Golek yang berjumlah 30 orang sebagai sampel dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) karakteristik metode ACM Plus adalah baik, yang meliputi metodologi kata lembaga dan bahasa yang mudah dipahami warga warga belajar, (2) penerapan metode ACM Plus secara umum dikategorikan baik, hal ini didasarkan atas kinerja tutor dikategorikan baik, partisipasi warga belajar dikategorikan sangat baik, bahan ajar yang digunakan dikategorikan baik, dan media pembelajaran yang digunakan dikategorikan cukup baik, (3) efektifitas metode ACM Plus dalam hal ini dapat dilihat dari minat warga belajar dikategorikan sangat baik, dan hasil belajar yang dicapai oleh warga belajar adalah baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dikemumkan beberapa saran sebagai berikut: (1) metode ACM Plus diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan alternatif tutor dalam merencanakan dan melaksanaan pembelajaran buta aksara, (2) dalam penyelenggaraan program keaksaraan hendaknya dapat melibatkan serta bekerja sama dengan lembaga-lembaga satuan PLS lainnya, (3) sebagai lembaga pendidikan di bidang nonformal, diharapkan jurusan PLS agar lebih intensif memberikan layanan pendidikan bagi warga masyarakat buta aksara.

Peranan serikat pekerja dalam memantapkan hubungan industrial (studi kasus pada serikat pekerja kesehatan Unit Kerja Rumah Sakit Baptis Kediri) / Veronica Dian Prima Anggraeni

 

Kata Kunci: Serikat Pekerja, Hubungan Industrial Sumber daya manusia di Indonesia merupakan modal dasar pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya untuk memperbaiki sistem kehidupan yang ada di negara kita ini. Disamping itu dapat dikatakan bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kualitas sumber daya manusia yang ada. Tanpa adanya sumber daya manusia yang berkualitas maka pembangunan tersebut tidak akan berjalan dengan lancar. Manusia sebagai sumber daya yang penting bagi perusahaan tidak boleh diperlakukan semena-mena sebagai faktor produksi saja, oleh karena itu harus ada departemen yang mengurusi masalah ketenagakerjaan. Sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU No. 21 Tahun 2001 tentang Serikat Pekerja, tiap pekerja dalam suatu perusahaan diberi kebebasan untuk mendirikan organisasi serikat pekerja untuk semakin memantapkan hubungan industrial dalam perusahaan. Serikat pekerja merupakan suatu organisasi pekerja yang berfungsi untuk menampung aspirasi para pekerja atau pegawai untuk kemudian disalurkan dan dikomunikasikan kepada pihak manajemen untuk dicarikan solusinya. Selain itu serikat pekerja merupakan salah satu sarana dan pelaksana utama hubungan industrial. Hubungan Industrial berkembang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di masyarakat. Fungsi utama hubungan industrial, yaitu: pertama, untuk menjaga kelancaran atau peningkatan produksi; kedua, untuk memelihara dan menciptakan ketenangan kerja (industrial peace); ketiga, untuk mencegah dan menghindari adanya pemogokan; keempat, untuk ikut menciptakan serta memelihara stabilitas nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif-kualitatif memiliki tujuan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan saat ini dan hanya menggambarkan mengenai keadaan yang sebenarnya pada obyek yang diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara, observasi dan kuesioner. Pada penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus pengumpul data dan peneliti hanya bertindak sebagai pengamat, tidak turut bekerja atau berinteraksi dengan obyek. Selama penelitian berlangsung peneliti mengamati dan bersikap netral terhadap semua kejadian yang berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serikat Pekerja Kesehatan Unit Kerja Rumah Sakit Baptis Kediri sudah berperan dengan baik dalam proses penyusunan Perjanjian Kerja Bersama. Untuk pelaksanaannya pun Perjanjian Kerja Bersama juga sudah berjalan dengan baik. Pihak serikat pekerja dan Manajemen sama-sama sudah mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka dalam bekerja. Untuk keberadaan Lembaga Kerja Sama Bipartit dalam Rumah Sakit Baptis Kediri secara formal/lembagawi memang belum ada, tetapi dalam pelaksanaannya sudah berfungsi dengan baik. Setiap ada masalah atau untuk mengkonsultasikan suatu hal selalu dikomunikasikan secara musyawarah kekeluargaan sehingga jarang sekali terjadi konflik. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut diatas disarankan agar Serikat Pekerja Kesehatan Unit Kerja Rumah Sakitr Baptis Kediri: (1) Serikat Pekerja Kesehatan Unit Kerja Rumah Sakit Baptis Kediri diharapkan dapat berperan lebih baik lagi. Misalnya dengan lebih memberdayakan anggotanya dan lebih meningkatkan efektivitas dari kinerja pengurus Serikat Pekerja Kesehatan Unit Kerja Rumah Sakit Baptis Kediri. (2) Serikat Pekerja Kesehatan Unit Kerja Rumah Sakit Baptis Kediri diharapkan dapat merumuskan dan menetapkan program kerja yang lebih jelas dalam membuat Perjanjian Kerja Bersama. (3) Serikat Pekerja Kesehatan Unit Kerja Rumah Sakit Baptis Kediri diharapkan membentuk Lembaga Kerja Sama Bipartit sebagai forum komunikasi dan konsultasi serta untuk menyelesaikan permasalahan dan perselisihan hubungan industrial. (4) Karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, maka untuk penelitian selanjutnya diharapkan menentukan fokus penelitian yang lebih spesifik dan variatif serta memperpanjang keikutsertaannya dalam proses penelitian agar hasil penelitian bisa lebih mendalam.

The use of English songs to teach vocabulary to young learners at "PG/TK Laboratory" of State University of Malang / Tri Itut Wijayanti

 

Key words: songs, teaching vocabulary, young learners Teaching English to young learners, especially for Kindergarten students, is focused on teaching vocabulary because they are still introduced to new language in which it has not ever been learned before. Because teaching English for young learners is not easy, the teachers should have strategies or interesting activities to attract the students in learning English. The use of songs in teaching vocabulary for young learners is an effective way to teach English for young learners because the children can enjoy singing the songs and they are not aware that they are also learning language. Therefore, this study is intended to find out the characteristics of songs used by the teachers, the way the teachers select the songs, and the way the teachers use the songs. It was conducted at PG/TK Laboratory of State University of Malang because PG/TK Laboraturium State University of Malang is one of kindergartens in Malang that administers bilingual class, and the teachers of the bilingual classes use songs to teach vocabulary. This study is a descriptive qualitative research because (1) it concerns with context and meaning, (2) the researcher works in a natural setting, (3) the researcher is the key instrument in collecting data, (4) the data are presented descriptively, and (5) the data are analyzed inductively. The subjects are four teachers of two classes namely two teachers of “A” Bilingual Moon and two teachers of “A” Bilingual Star. In this study, the instruments used are observation checklist, field note, and interview guide for the four teachers. From the findings, it can be concluded the characteristics of the songs used in teaching vocabulary were the lyrics of the songs were simple and not too long, there was the repetition of the words while singing the songs, the vocabulary used in the lyrics was presented in the meaningful context, the lyrics were based on the theme in the school curriculum, and the rhythm of the songs was fun. The teachers also considered the kriteria of the appropriate songs for their students while they were selecting the songs. The criteria were: (1) the vocabulary used in the songs should be based on the theme in the curriculum or related to the students’ lives, (2) the songs should be simple and not too long around 4-5 verses/lines, , and (3) the rhythm of the songs should be familiar by the students. Meanwhile, the teachers had 5 ways to use the songs to teach vocabulary, i.e. singing, singing songs by doing action, singing songs by using chant, singing songs as the background of playing games, singing songs between lessons or doing assignments, and singing songs by using pictures/flashcard/ real objects. Based on the result of this research, there are some suggestions offered. For the teachers of Bilingual Classes at PG/TK Laboratory of State University of Malang, The teachers are expected to be more creative to create their own songs and they can also use the songs since the songs are appropriate for the students. Besides, the teachers are also suggested to find out activities that can be combined with the songs. The teachers can find those activities by reading some books about the teaching of English to young learners, for example a book of “English for Young Learners” which is written by Kasihani K.E. Suyanto. For other teachers who teach young learners in other schools, they are suggested to use songs in teaching and learning English. Finally, for other researchers who will conduct further studies; they are suggested to conduct studies for the effectiveness of using songs in teaching English and the students’ respond toward English songs not only in kindergarten level but also in higher level such as in elementary, secondary, or even tertiary level.

Aplikasi sistem absensi menggunakan fingerprint di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Irsam Muhammad Fatoni

 

Kata kunci : Fingerprint, Absensi, Basis data Proses pengolahan presensi pada Program Studi Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang selama ini masih menggunakan cara manual dimana Staf Administrasi harus melakukan penyalinan data dari lembar presensi mahasiswa. Kemudian data tersebut di olah agar dapat di rekap dari jumlah jam keterlambatan dan frekuensi ke tidak hadiran mahasiswa. Pada sistem manual tersebut, Staf Administrasi perlu memasukkan data presensi satu per satu untuk masing-masing kelas. Kinerja Staf Administrasi juga dirasa lebih lama karena data-data dari setiap pengajaran berbeda. Melihat alur yang rumit tersebut, kami bermaksud untuk memberikan kontribusi positif kepada Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang dengan cara membuat sebuah alat yang diharapkan mampu mempermudah proses pengolahan data presensi mahasiswa. Sistem pengolah data presensi yang semula bersifat manual digantikan dengan sistem otomatis. Proses absensi ini tidak akan dapat diganti mahasiswa karena pada client hanya bisa menampilkan form absensi saja. Sedangkan pada komputer staf administrasi dapat mengakses menu administrasi dengan syarat melewati kata kunci (password) dengan benar. Selain itu, staf administrasi dapat Menambah, Edit dan del data Dosen dan Mahasiswa. Staf administrasi berhak mengganti data yang telah tersimpan dengan ketentuan yang berlaku. Sistem ini memberikan kemudahan mahasiswa, Dosen dan administrasi dalam absen, pengecekan dan pengontrolan data. Pada saat matakuliah dimulai dosen login serta mengisikan data yang diperlukan, di saat yang sama mahasiswa absen menggunakan Sidik jari yang di baca oleh Fingerprint. Data absen tersebut akan secara otomatis terkirim kekomputer Server atau administrasi sehingga administrasi bisa dengan mudah memproses data yang telah masuk tersebut. Dengan begini lebih mendisiplinkan mahasiswa agar tepat waktu dan mengurangi resiko kehilangan Data-data absensi pada saat kegiatan perkuliahan berlangsung. Hasil yang didapat adalah sebuah Aplikasi Sistem Absensi menggunakan Fingerprint di jurusan Teknik Elektro UM, Yang dibuat dengan maksud untuk mempermudah mahasiswa dan dosen pengajar untuk melakukan proses absensi. Begitu pula dengan administrasi, data absensi mahasiswa dapat diproses dan diolah dengan mudah, cepat ,dan efisien dibandingkan dengan proses absensi secara manual.

Alat kontrol suhu dan pH air akuarium ikan arwana / Nico Adi Cahyo

 

Kata kunci: Alat Kontrol, pH, suhu, ikan arwana. Ikan arwana tergolong ikan yang mahal maka dalam pemeliharaannya harus jeli agar ikan tidak mati karena kesalahan pemeliharaan, yang perlu diperhatikan antara lain adalah parameter air. Disesuaikan dengan kondisi aslinya di alam disarankan agar mereka dipelihara pada rentang pH netral sampai agak masam (pH 6.0 – 7.0) dan pada rentang suhu 26 – 30 °C. Pengontrolan secara manual tentunya akan merepotkan pemelihara ikan arwana, karena harus selalu memperhatikan suhu dan pH air pada akuarium. Maka dari itu dikembangkan suatu alat otomatis pengontrol suhu dan pH air akuarium ikan arwana. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah : (1) Merancang rangkaian alat kontrol suhu dan pH air akuarium ikan arwana, (2) Merancang software alat kontrol suhu dan pH air akuarium ikan arwana, (3) Membuat keseluruhan alat kontrol suhu dan pH air akuarium ikan arwana, (4) Menguji alat kontrol suhu dan pH air akuarium ikan arwana. Metode perancangan meliputi : (1) Spesifukasi produk, (2) Blok diagram perangkat keras (hardware), (3) Perancangan dan pembuatan perangkat keras (hardware), (4) Perancangan perangkat lunak (software) dan (5) Perancangan dan pembuatan mekanik, (6) Uji coba rangkaian. Prinsip kerja dari alat kontrol ini adalah suhu dan pH air dideteksi melalui sensor ditampilkan nilai sensor pada LCD dan mengontrol suhu dengan mengaktifkan heater jika suhu kurang dari 25 dan Mengontrol pH dengan menyalakan pompa air untuk mengisi dengan air bersih dengan pH antara 6-7 sekaligus mengurangi air pada akuarium jika pH kurang dari 6 dan lebih dari 7. Hasil dari analisis tersebut antara lain: terdapat data yang tidak pasti tergantung proses penurunan atau proses kenaikan suhu data tersebut adalah antara 27 sampai 29 pada suhu tersebut kondisi heater on jika pada proses kenaikan suhu dan kondisi heater off pada saat proses penurunan suhu..begitu juga dengan proses penurunan dan kenaikan pH pada proses kenaikan pH. saat ph 6.2 kondisi pompa air on, saat mencapai 6.8 pompa air off sedangkan terjadi kondisi sebalik saat proses penurunan pH. Hal ini memang dirancang demikian agar frekuensi kondisi on/off pada heater dan pompa air dapat lebih kecil namun suhu dapat tetap terkontrol antara 26-30 dan pH antara 6-7. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan : (1) rancangan alat terdiri dari sensor suhu LM 35, sensor pH vernier tipe BTA (British Telecom Analog), rangkaian minimum system atmega 8, Rangkaian driver heater, driver pompa air dan rangkaian LCD 16x2 tipe M1632. (2) Software berisi program perintah untuk mengontrol suhu, ph air dan menampilkan nilainya ke LCD, (3) Pada pembuatan keseluruhan alat seluruh rangkaian disusun sesuai blok diagram kemudian mikrokontroler diisi program sesuai rancangan. (4) Setelah di uji alat dapat menampilkan nilai suhu dan pH serta dapat mempertahankan kondisi suhu antara 26 sampai 30 dengan heater dan pH antara 6 sampai 7 dengan pompa air.

Perancangan multimedia interaktif Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur untuk media promosi wisata alam Indonesia / Iva Khususia Hidayati

 

Kata Kunci: Perancangan, Multimedia Interaktif, Taman Nasional Komodo Taman Nasional Komodo adalah salah satu obyek wisata alam yang ditetapkan sebagai warisan alam dunia. Taman Nasional Komodo terletak diantara Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pulau Flores) dan Nusa Tenggara Barat (Pulau Sumbawa yang terdiri atas tiga pulau besar yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil lainnya.Taman Nasional Komodo didirikan untuk melindungi habitat satwa komodo (Varanus Komodoensis) yaitu satu-satunya reptil purba yang tersisa dibumi agar tidak terjadi kepunahan. Perancangan multimedia interaktif ini bertujuan untuk memperkenalkan Taman Nasional Komodo kepada masyarakat luas. Multimedia interaktif Taman Nasional Komodo dirancang secara sederhana namun tetap komunikatif, yang kemudian di simpan berupa file CD berbentuk .exe. Adanya multimedia interaktif Taman Nasional Komodo, diharapkan bisa menambah pengetahuan masyarakat luas tentang keberadaan Taman Nasional Komodo serta tumbuh upaya untuk bersama-sama melestarikannya.

Detektor pencurian arus listrik pada pelanggan PLN / Anang Dedy Kharisma

 

Kata Kunci: arus listrik, pencurian arus, sensor arus Sejalan dengan pesatnya pembangunan dan perkembangan industri serta teknologi modern, telah mempengaruhi segala aspek sosial budaya kehidupan umat manusia. Semua kemajuan teknologi itu tidak lepas dari ketergantungan akan energi listrik, sehingga semakin tinggi pula permintaan energi listrik. Dengan sangat banyaknya jumlah konsumen yang memakai energi listrik, tidak jarang konsumen yang melakukan tindakan kecurangan terhadap pemakain energi listrik. Kecurangan yang dilakukan salah satunya adalah memakai energi listrik tanpa melalui prosedur yang berlaku, ini dinamakan pencurian arus listrik. Akibat dari terjadinya pencurian arus listrik, Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menjadi penyedia listrik di Indonesia mengalami banyak kerugian. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk membuat detektor pencurian arus listrik. Prinsip kerjanya adalah mempersempit letak terjadinya kecurangan arus listrik dengan cara membaca, menjumlahkan dan membandingkan arus listrik yang mengalir ke pelanggan menggunakan software pada mikrokontroler ATMEGA16. Dengan demikian wilayah letak terjadinya pencurian arus listrik dapat segera diketahui. Metode perancangan alat meliputi: (a) spesifikasi produk, (b) perancangan sistem, (c) perancangan tiap blok (Hardware) yang meliputi: sensor arus, minimum sistem mikrokontroler ATMEGA16, LCD (Liquid Crystal Display) M1632, buzzer, (c) perancangan perangkat lunak (Software) pada mikrokontroler dan langkah pengujian. Hasil yang didapatkan adalah detektor pencurian arus listrik. Alat ini dipasang pada Gardu Trafo Tiang (GTT), prinsip kerjanya adalah dengan cara mendeteksi arus yang mengalir ke pelanggan yang kemudian dijumlahkan dan dibandingkan dengan arus yang mengalir dari GTT. Apabila arus yang terdeteksi dari GTT lebih kecil atau sama dengan jumlah arus yang terdeteksi ke pelanggan maka alat ini akan menampilkan kondisi normal, sebaliknya apabila arus yang terdeteksi dari GTT lebih besar dari jumlah arus yang terdeteksi ke pelanggan maka alat ini akan menampilkan adanya pencurian serta ada alarm dari buzzer sebagai tanda adanya pencurian arus listrik. Kesimpulan setelah melakukan perancangan, pembuatan dan pengujian serta analisis sistem “detektor pencurian arus listrik pada pelanggan PLN” maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Pada perancangan detektor pencurian arus listrik pada pelanggan PLN, menggunakan komponen antara lain: sensor arus ACS712-05B dan ACS712-20A, mikrokontroler ATMEGA16, LCD M 1632, buzzer, push-button serta komponen- komponen pelengkapnya.(2) Pembuatan detektor pencurian arus listrik dimulai dari membuat diagram blok, pembuatan mekanik, membuat perangkat keras (hardware), membuat perangkat lunak (software), serta menggabungkan antara mekanik, perangkat lunak dengan perangkat kerasnya. (3) Pengujian detektor pencurian arus listrik pada pelanggan PLN diawali dari pengujian tiap blok perangkat keras, pengujian perangkat lunak, serta pengujian alat keseluruhan. Sensor arus yang digunakan dalam alat ini hanya dapat mendeteksi arus AC sesaat, sehingga keluaran dari sensor arus ini tidak pasti. Untuk membaca besarnya arus AC yang sesungguhnya agar dapat diolah secara vektor harus ditambahkan dengan rangkaian elektronika tertentu agar dapat diketahui pergeseran sudutnya. Oleh karena itu, arus AC yang terdeteksi sensor arus ini belum bisa dijumlahkan, sehingga untuk pembuatan detektor pencurian arus listrik ini belum bisa dimanfaatkan pada arus listrik yang mengalir ke pelanggan PLN.

Perancangan game animasi berbasis flash bertema pelestarian komodo di Indonesia "Varanus Komodoensis" / Randy Sahrizal

 

Kata Kunci: perancangan, game animasi , komodo Komodo (Varanus Komodoensis) adalah hewan asli Kepulauan Flores, Nusa Tenggara. Kadal-kadal raksasa ini termasuk hewan yang nyaris punah karena menurunnya populasi rusa sebagai makanan utamanya di pulau tersebut. Jumlah populasi rusa tersebut menurun drastis sebagai dampak dari perburuan liar. Untuk meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian binatang yang langka tersebut perlu diupayakan berbagai kegiatan, salah satu diantaranya ialah melalui pembuatan media game animasi. Perancangan varanus komodoensis game ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah media game animasi yang efektif dan informatif guna upaya pelestarian komodo Indonesia. Perancangan varanus komodoensis game ini memanfaatkan data website dan buku-buku atau karya ilmiah. Meskipun demikian, latar cerita dalam game tersebut berdasarkan cerita rekaan (fiktif). Pesan utama dalam game tersebut ialah kesadaran tentang perlunya pelestarian komodo. Perancangan yang berorientasi terhadap produk ini menggunakan berbagai software grafis animasi yaitu Adobe Flash CS 3, 3DS Max, Adobe Photoshop CS 5, Corel Draw X 4 dan Adobe Audition 3.0. Perancangan ini menghasilkan 5 media yaitu (a) game animasi (sebagai media utama), (b) kemasan CD game animasi, (c) manualbook cara memainkan game, (d) marchendise berupa pembatas buku, penggaris, (e) media promosi berupa x-banner, poster dan stiker. Perancangan ini belum melewati tahap validasi dan ujicoba. Untuk mengetahui keefektifannya, disarankan untuk dilakukan validasi dan ujicoba terhadap game animasi in

Pengembangan sumber belajar berbasis WEB untuk pembelajaran mandiri materi pengolah gambar vektor / Ratna Sri Hartatik

 

Kata kunci: sumber belajar, pengolah gambar vektor, web, pembelajaran mandiri, moodle Distance Learning atau pendidikan jarak jauh (PJJ) adalah pendidikan dengan karakteristik adanya keterpisahan antara pendidik dan peserta didik. Penerapan PJJ di Indonesia ini dikarenakan secara umum negara Indonesia terdiri dari pulau-pulau sehingga menyebabkan pendidikan tidak merata, selain itu karena adanya keterbatasan pemanfaatan sumber belajar yang selama ini hanya mengacu pada media cetak (buku). Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan sumber belajar yang bisa diakses dari berbagai daerah tanpa adanya keterbatasan tempat, ruang dan waktu sehingga peserta didik dapat belajar lebih mandiri. Oleh sebab itu diperlukan program-program yang mendukung aplikasi pembelajaran jarak jauh. Moodle adalah salah satu software yang digunakan untuk pembelajaran berbasis web dan dapat dilakukan pembelajaran mandiri. Penelitian ini akan mengembangkan sumber belajar menggunakan Moodle yang memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Cepi yang terdiri dari: identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan butir-butir materi, garis besar pengembangan media, penyusunan sumber belajar, evaluasi sumber belajar, revisi sumber belajar, uji coba produk, revisi dan sumber belajar siap dimanfaatkan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan peserta didik. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Sampel uji coba 30 peserta didik dan uji coba kelas besar diambil dari peserta didik SMK Negeri 10 Malang. Sumber belajar yang dihasilkan berbentuk web yang terdiri dari modul berupa teks dalam format Pdf, ilustrasi gambar/foto, audio-video, dan dilengkapi fasilitas penunjang seperti: forum, chat, kuis dan latihan atau penugasan serta kunci jawaban. Sumber belajar menggunakan Moodle ini dapat diakses melalui internet dan dapat digunakan untuk pembelajaran di dalam kelas. Hasil validasi sumber belajar dari ahli media menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 92%, ahli materi menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 94%, uji coba 30 siswa menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 84% dan uji coba kelas besar menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 88%. Sumber belajar yang dikembangkan ini dapat diterapakan untuk pembelajaran mandiri pada siswa tingkat SMK, PJJ, siswa serta masyarakat umum. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi untuk pembelajaran, pokok bahasan pengolah gambar vektor.

Penerapan metode exponential generalized auto regressive conditional heteroscedastic (EGARCH) dan arima Box-Jenkins untuk meramalkan nilai tukar rupiah terhadap Euro / Ermawati

 

Kata kunci: nilai tukar Rupiah terhadap Euro, model EGARCH, model ARIMA Box-Jenkins. Indonesia merupakan negara yang sering menjalin hubungan perdagangan dengan Negara-negara di Eropa. Dari perdagangan internasional tersebut timbul keterkaitan antara mata uang Rupiah dengan mata uang Euro. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk memprediksi nilai tukar Rupiah terhadap Euro di masa mendatang. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dicari model EGARCH dan ARIMA Box-Jenkins dari data nilai tukar Rupiah terhadap Euro. Dari kedua model tersebut akan dilihat hasil peramalan nilai tukar Rupiah terhadap Euro. Model EGARCH merupakan model yang dapat mengatasi varian yang tidak konstan dan dapat menangkap pengaruh asimetrik. Sedangkan model ARIMA merupakan model dengan varian konstan. Pendekatan model ini terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap identifikasi model sementara, penaksiran parameter, pemeriksaan model, dan tahap peramalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kurs Rupiah (transaksi Bank Indonesia) terhadap mata uang Euro periode 3 Mei 2010 sampai 5 Januari 2011 dengan banyak pengamatan adalah 168. Hasil penelitian diperoleh model EGARCH terbaik dari data nilai tukar Rupiah terhadap Euro periode 3 Mei 2010 – 5 Januari 2011 adalah model EGARCH(1,1) dengan persamaan: Y􀭲􀵌􀉁􀵅􀔄􀬵Y􀭲􀬿􀬵􀵅􀉂􀭲 dengan 5.530474, dan 􀔄􀬵 =0.921408,e􀭲􀬿􀬵=􀮢􀮕􀱪􀱪􀰷􀰷􀰭􀰭 􀉁= 􀉀(e􀭲􀬿􀬵)􀵅􀈾􀬵ln(􀉐􀭲􀬶􀬿􀬵) dengan , ln(􀉐􀭲􀬶)􀵌􀈽􀬴􀵅􀈽􀬵|e􀭲􀬿􀬵|+ 􀈽􀬴=13.79100,􀈽􀬵=0.381108,􀉀=0.161251, dan 􀈾􀬵􀵌􀵆0.589724. Model ARIMA Box-Jenkins terbaik dari data nilai tukar Rupiah terhadap Euro periode 6 oktober 2010 sampai 5 Januari 2011 adalah model ARIMA(0,1,1) dengan 0pe.9rs7a2m1aan: Z􀭲=Z􀭲􀬿􀬵+W􀭲,W􀭲 􀵅􀈽􀭲􀵆􀉅􀬵􀈽􀭲􀬿􀬵+W􀭲􀬿􀬵,dengan nilai 􀉅􀬵= Dari kedua model terbaik tersebut diketahui bahwa rata-rata hasil peramalan yang mendekati data asli adalah ramalan dari model EGARCH(1,1). Oleh karena itu, model EGARCH(1,1) lebih baik diterapkan untuk meramalkan nilai tukar Rupiah terhadap Euro.

Peningkatan hasil belajar dalam menentukan FPB dan KPK dengan kartu bilangan prima pada siswa kelas V SDN Tenggilisrejo Pasuruan / Kartini Nasution

 

Kata Kunci: hasil belajar, FPB dan KPK, kartu bilangan prima Berdasarkan observasi peneliti pembelajaran matematika di kelas V SDN Tenggilisrejo Pasuruan bahwa setelah siswa menerima penjelasan tentang materi menentukan FPB dan KPK, siswa mengerjakan soal latihan yang ada di papan tulis. Hal tersebut membuat siswa merasa bosan dan kurang tertarik terhadap pelajaran matematika. Untuk mengatasi hal ini, peneliti mencoba untuk menerapkan pembelajaran menggunakan media kartu bilangan prima pada siswa kelas V SDN Tenggilisrejo Pasuruan. Penerapan pembelajaran matematika menggunakan kartu bilangan prima membimbing siswa untuk mengembangkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan menggunakan kartu bilangan prima untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam menentukan FPB dan KPK pada siswa kelas V dan mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan menggunakan kartu bilangan prima untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menentukan FPB dan KPK pada siswa kelas V. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif. Dimana peneliti bekerjasama dengan guru matematika kelas IV SDN Tengilisrejo Pasuruan. Penelitian dilaksanakan di SDN Tenggilisrejo sebanyak 2 siklus. Setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian sebanyak 40 siswa. Indikator keberhasilan siswa telah tuntas belajar bila mencapai skor 60% atau nilai 60, dan kelas dikatakan tuntas belajar apabila 70% siswa telah mencapai nilai minimal 60. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dua hasil simpulan. Pertama, siswa kelas V SDN Tenggilisrejo lebih aktif dan antusis dalam pembelajaran matematika dengan menggunaka media kartu bilangan prima daripada pembelajaran sebelumnya. Kedua, hasil belajar siswa kelas V SDN Tenggilisrejo meningkat setelah menggunakan media kartu bilangan prima, meskipun ada 3 siswa yang belum tuntas.

Pengaruh kelompok acuan dan melek ekonomi (economic literacy) terhadap pola konsumsi siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Malang / Nugroho Sugiarto

 

Kata Kunci: Kelompok acuan, melek ekonomi (economic literacy), dan pola konsumsi Pemikiran konsumen membeli suatu produk saat ini tidak hanya di dasari pertimbangan manfaat dari suatu produk itu sendiri melainkan kepuasan lain yang diterima oleh konsumen sebagai sebuah kompensasi setelah membeli suatu produk. Khususnya pada siswa SMAN 1 Malang yang cenderung konsumtif, selain itu remaja pada umumnya membeli sesuatu tidak berdasarkan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya. Sejauh ini kecenderungan pola konsumsi siswa SMA lebih besar dipengaruhi oleh perilaku konsumtif dari teman sepergaulan dan juga masih minimnya tingkat pemahaman dasar ekonomi siswa sehingga siswa itu menjadi lebih konsumtif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh kelompok acuan terhadap pola konsumsi siswa, (2) pengaruh economic literacy terhadap pola konsumsi siswa, (3) pengaruh kelompok acuan dan economic literacy terhadap pola konsumsi siswa SMAN 1 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket, dan tes. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, bahwa ada pengaruh secara signifikan dari variabel kelompok acuan terhadap pola konsumsi siswa. Hal ini menunjukkan semakin rendah kelompok acuan maka semakin rasional dalam berkonsumsi, sebaliknya semakin tinggi kelompok acuan maka semakin tidak rasional dalam berkonsumsi. Kedua, bahwa ada pengaruh secara signifikan dari varibel economic literacy terhadap pola konsumsi siswa. Hal ini menunjukkan semakin tinggi economic literacy maka semakin rasional dalam berkonsumsi. Ketiga, bahwa ada pengaruh secara signifikan dari varibel kelompok acuan dan economic literacy terhadap pola konsumsi siswa. Dari hasil penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah: (1) Bagi sekolah diharapkan kualitas kegiatan belajar mengajar di sekolah lebih ditingkatkan untuk mendidik siswa lebih rasional pola konsumsinya. (2) Bagi guru diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dasar ekonomi serta aplikasinya sehingga siswa dapat membentuk pribadi yang baik dalam pertimbangan melakukan tindakan ekonomi. (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mengkaji serta meneliti variabel lain selain yang ada dalam penelitian ini sehingga dapat diketahui apa saja yang mempengaruhi pola konsumsi siswa.

Inovasi blondes kukus berbahan dasar tepung labu kuning / Hilvina Sekar Sari

 

Kata kunci: blondies kukus, tepung labu kuning. Blondies merupakan variasi dari brownies yang merupakan cake yang tidak mengembang (bantat) dan tidak berpori dengan proses akhir dipanggang maupun dikukus. Perbedaan brownies dan blondies terletak pada warna akhir yang dihasilkan dan bahan yang digunakan. Pada penelitian ini pembuatan blondies menggunakan tepung labu kuning dari jenis bokor. Pembuatan tepung labu kuning melalui proses blanching agar kandungan β-karoten tidak berkurang selama proses pengeringan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen pembuatan blondies kukus tepung labu kuning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui volume pengembangan blondies kukus , dan sifat organoleptik blondies kukus yang meliputi rasa, warna, tekstur dan aroma melalui uji pembedaan dan uji hedonik. Pengambilan data menggunakan panelis agak terlatih yaitu mahasiswa Tata Boga yang telah menempuh mata kuliah pastry. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis Uji T atau T Test. Apabila thitung > ttabel maka ada perbedaan yang sangat nyata. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tekstur blondies kukus tepung labu kuning dengan blondies kukus terigu dengan skor 62. Volume pengembangan blondies kukus terigu sebesar 88,8 cm³ lebih mengembang daripada blondies kukus tepung labu kuning dengan selisih volume pengembangan sebesar 11,41%. Rasa blondies kukus yang disukai adalah blondies kukus tepung labu kuning dengan persentase kesukaan 64,44%. Warna blondies kukus yang disukai adalah blondies kukus tepung labu kuning dengan persentase kesukaan 88,89%. Tekstur blondies kukus yang disukai adalah blondies kukus tepung labu kuning dengan persentase kesukaan 84,45%. Aroma blondies kukus yang disukai adalah blondies kukus tepung labu kuning dengan persentase kesukaan 65,55%. Kesimpulan penelitian adalah tekstur blondies kukus tepung labu kuning padat dan berpori halus, sedangkan blondies kukus terigu berpori besar dan lebih mengembang. Volume blondies kukus tepung labu kuning tidak memenuhi kriteria pengembangan blondies, sementara blondies kukus terigu sebagai kontrol memenuhi kriteria pengembangan. Blondies kukus tepung labu kuning lebih disukai dalam hal rasa, warna, tekstur, dan aroma. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah melakukan penelitian tentang analisis finansial blondies kukus tepung labu kuning untuk dipasarkan secara luas.

Model pembelajaran pendidikan luar sekolah di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi'in Tasikmadu Lowokwaru Malang / Yayuk Fitriani

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Pendidikan Luar Sekolah, Pondok Pesantren Pondok pesantren merupakan bagian dari pendidikan luar sekolah yang bernaung di bawah Kementrian Agama. Pondok pesantren (pontren) tetap eksis dan konsisten dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran agama Islam (tafakuh fi dien) untuk menarik serta menanamkan kesan tetap eksis pontren menawarkan berbagai model dalam pembelajarannya. Model pembelajaran yang ditawarkan di pontren meliputi sorogan, balahan, hafalan, dan tabarok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaiman profil, prinsip, model pembelajaran, dan harapan santri di pontren, dan bisa menggunakannya sebagai acuan untuk merumuskan model pembelajaran dalam proses pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di Pontren Hidayatul Mubtadi`in yang berlokasi di Kelurahan Tasikmadu Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Desain penelitiannya adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data natural setting, sedangkan teknik penggalian datanya adalah dengan observasi berperan serta (participan observation), wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah triangulasi tiga sisi, sehingga data yang diperoleh tersebut merupakan data yang benar dan valid juga dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pontren ini didirikan oleh Almaghfurllah salafy dengan manajemen modern dan misinya mengembangkan nilai-nilai keIslaman ahlusunnah wal jamaah, melalui pendidikan formal, non-formal, dan informal pada masyarakat yang berwawasan rohmatan lil alamiin dan tujuannya membantu masyarakat mendapatkan pendidikan sesuai dengan kemajuan zaman. Penelitian ini memperoleh hasil bahwa model pembelajaran yang berlangsung di pontren tersebut memakai prinsip pembelajaran yang klasik tradisionalsalafiyah. Santri ingin memiliki keterampilan yang sama seperti pelajar pada umumnya, sederhananya santri tidak ingin dianggap kuper. Harapan ini harus mendapat perhatian khusus agar mereka yang belajar di pontren dapat bernafas lega, maka tentang sinergi antara pola pembelajaran yang Islami dan pembelajaran kehidupan umum dipandang sangat penting, mengingat bahwa kesuksesan santri dalam kehidupan bermasyarakat bisa dioptimalkan dengan menyeimbangkan antara ilmuilmu agama dengan pengetahuan selaras dengan visi, misi, dan tujuan pontren. Dengan model pembelajaran yang ada di pontren, pendidkan luar sekolah bisa menjadikan pontren sebagi lembaga pengembangan masayarakat resminya di dalam pontren maupun masyarakat sekitar pontren. Menjadikan pontren tersertifikasi ijazahnya seperti program PLS lainnya, sehingga pontren bisa berperan optimal terhadap peran-peran yang memungkinkan untuk dilakukan dan tidak hanya sebagai tambahan dalam tatanan masyarakat. Berdasarkan pada hasil penelitian model pembelajaran luar sekolah di Pontren Hidayatul Mubtadi`in ini maka disarankan: (1) Untuk Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, agar proses pendidikan luar sekolah mengembangkan kemitraannya dengan pontren sebagai salah satu bidang garapan pendidikan luar sekolah; (2) bagi lembaga hasil penelitian model pembelajaran pendidikan luar sekolah di Pontren Hidayatul Mubtadi`in ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengkomunikasikan tentang kesinergian antara pola pembelajaran yang Islami dengan pembelajaran berwawasan umum. KH. Agus Salim Mahfudz pada tahun 1972, berupa pondok salafiyah dan pada tahun 1989 berdirilah yayasan pendidikan Islam (YPI) yang menaungi Pontren, yayasan yatim piatu, PAUD, RA, MI, MTs, dan MA. Visinya adalah menyelenggarakan pendidikan berwawasan keIslaman yang

Penerapan strategi pair check dengan menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas III SDN Pagentan 05 Singosari / Nurul Rahmawati

 

Kata Kunci : Strategi Pair Check, Media Gambar Seri, Mengarang. Tingkat kemampuan mengarang siswa kelas III SDN Pagentan 05 sangat rendah, hal ini disebabkan karena guru kurang menerapkan strategi yang beragam dan jarang menggunakan media pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan strategi pair check dengan menggunakan media gambar seri terhadap kemampuan mengarang siswa kelas III SDN Pagentan 05 Singosari, serta mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis karangan siswa dengan menerapkan strategi pair check dengan menggunakan media gambar seri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah semua siswa kelas III SDN Pagentan 05 Singosari yang berjumlah 51 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa hasil menulis karangan siswa berdasarkan gambar seri dari aspek EYD, ide cerita, serta keruntutan kata dan kalimat. Kemampuan mengarang yang dapat dicapai oleh siswa pada siklus I pertemuan 1 mencapai rata-rata 61, pada pertemuan 2 rata-rata nilai naik menjadi 70. Sedangkan pada siklus II rata-rata nilai kemampuan mengarang meningkat menjadi 80, SKBM untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kecamatan Singosari adalah 70. Ini berarti sudah memenuhi SKBM yang telah ditentukan. Pada penelitian ini nilai rata-rata siswa mencapai 80, ini berarti secara klasikal telah dianggap tuntas belajar dan terjadi peningkatan kemampuan mengarang. Hendaknya guru dapat menerapkan strategi pair check dalam pembelajaran mengarang, serta menggunakan media gambar seri. Karena dengan menerapkan strategi pembelajaran yang dipadukan dengan menggunakan media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa, serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.

Pengembangan media forum berbagi dan belajar online tentang kecakapan hidup dalam berwirausaha di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Nur Asri Handayani

 

Kata kunci: Pengembangan, Media Forum Online, Kewirausahaan Kewirausahaan merupakan proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut dapat berupa ide inovatif, peluang, atau cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Media forum online tentang kecakapan hidup berwirausaha dikembangkan sebagai salah satu media untuk mewadahi mahasiswa dalam belajar dan membagi pengetahuan mereka tentang kewirausahaan dengan memanfaatkan teknologi internet dengan melalui aplikasi Learning & Content Management System (LCMS). Pengembang menerapkan model pengembangan Davidson-Shivers dan Rasmussen yang memiliki fase-fase pengembangan antara lain : 1). analisa; 2). rencana evaluasi 3) fase serentak yang meliputi desain, pengembangan sistim, ujicoba dan implementasi dan evaluasi formatif. Fase ini dapat dilakukan bekali-kali hingga batas waktu yang tidak ditentukan; 4). implementasi menyeluruh; 5). evaluasi sumatif dan penelitian. Karena keterbatasan waktu pengembangan, maka fase bertautan hanya dilakukan satu kali sehingga model ini dimodifikasi menjadi 7 tahapan yaitu, 1) tahap analisis masalah; 2) tahap pengembangan instrument evaluasi; 3) tahap desain; 4) tahap pengembangan media; 5) tahap implementasi terbatas; 6) tahap evaluasi formatif; 7) tahap implementasi penuh. Tujuan dari pengembangan ini adalah 1) menghasilkan web forum berbagi dan belajar online tentang kecakapan hidup dalam berwirausaha serta panduan pemanfaatannya di jurusan Teknologi Pendidikan FIP UM; 2) mengetahui validitas dari web forum berbagi dan belajar online tentang kecakapan hidup dalam berwirausaha di jurusan Teknologi Pendidikan FIP UM sebagai media memiliki kualifikasi media yang valid sebagai media untuk mewadahi aktifitas pembelajaran berwirausaha bagi mahasiswa TEP FIP UM. Pengembangan ini menggunakan rancangan deskriptif. Sasaran utama dari pengembangan media ini adalah mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan angkatan 2007-2010. Untuk mendapatkan data validitas hasil pengembangan media, digunakan angket yang ditujukan pada ahli materi, ahli media, dan audiens. Kemudian, data yang dapat diinterprestasikan untuk mengetahui kevalidan dari media. Hasil interprestasi angket menunjukan bahwa secara umum media yang dikembangkan sudah memiliki kevalidan yang baik. Ahli media memberikan prosentase sebesar 87,5%, ahli materi memberikan prosentase sebesar 80%, dan audiens memberikan prosentase sebesar 89%.

Menentukn posisi kebocoran pipa dalam tanah dengan metode geolistrik konfigurasi Wenner / Raehanayati

 

Kata kunci: Geolistrik, Konfigurasi Wenner, Sounding Mapping, Res2dinv, Kebocoran Pipa. Sistem jaringan perpipaan merupakan komponen utama dari sistem distribusi air bersih atau air minum. Dalam perkembangannya sistem instalasi pipa memerlukan pengawasan dan perawatan yang kontinyu, hal ini untuk mengurangi kerugian-kerugian akibat kondisi instalasi yang salah satunya mempengaruhi umur pipa. Permasalahan-permasalahan yang sering timbul akibat kurangnya perawatan dan umur pipa antara lain: kebocoran pipa, sering terjadi kerusakan pipa, dan penurunan tingkat layanan penyediaan air bersih untuk konsumen. Di Indonesia tingkat kebocoran pipa air masih tinggi, dan sampai saat ini instansi-instansi PDAM menentukan kebocoran dengan menggunakan metode radioisotop. Telah diketahui bahwa radioisotop ini memancarkan sinar radioaktif yang dapat membahayakan manusia. Sehingga perlu diadakan penelitian dengan metode geolistrik. Metode geolistrik adalah salah satu metode dalam geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi dan untuk mengetahui struktur geologi di bwah permukaan bumi. Metode ini banyak digunakan untuk pencarian air tanah, eksplorasi, dan menentukan benda berongga. Penelitian geolistrik menggunakan pemodelan di lapangan dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner (Sounding-Mapping) dengan panjang bentangan yang digunakan yaitu 15 m. Pemodelannya menggunakan pipa paralon dengan panjang 4 m dan ditanam pada kedalaman 1 m. Sebelum ditanam pipa tersebut dilubangi pada jarak 7.5 m dari titik awal pengukuran. Pipa dilubangi dengan jari-jari 0.35 cm. Sebelum melakukan pengukuran, air yang di dalam drum dialirkan ke dalam pipa dan kembali lagi ke drum sehingga menimbulkan efek kebocoran pipa. Hal ini dimaksudkan untuk menguji metode geolistrik dalam penerapannya dibidang geoteknik, yaitu mempelajari pola anomali akibat kebocoran pipa dalam tanah. Dari hasil interpretasi software Res2dinv ver 3.54x dapat diketahui pola anomali yang disebabkan akibat pipa bocor. Pusat kebocoran pipa terletak pada bentang 7.3 m dan pada kedalaman 1.02 m dengan nilai resistivitas 66.9 Ω m. Hal tersebut mendekati titik bocor pipa yang telah ditentukan sebelumnya. Pada saat pemodelan, pipa diberi lubang pada bagian bawah pipa sehingga air lebih banyak yang merembes ke bawah, hal tersebut mengakibatkan daerah sekitar pipa nilai resistivitasnya lebih tinggi karena di daerah tersebut relatif kering.

Penggunaan model pembelajaran cooperative reading and composition (CIRC) untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan kelas 3A SDN Kotalama 3 Malang / Ervinah

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran CIRC, Pemahaman Isi Bacaan, SD Pembelajaran membaca di Sekolah Dasar memegang peranan penting dalam pengajaran bahasa. Hal itu sangat berpengaruh pada ke empat keterampilan berbahasa. Keefektifan pembelajaran membaca pemahaman ditentukan oleh implikasi membaca sebagai proses memahami isi bacaan dan mengembangkan keterampilan menulis. Berdasarkan hasil orientasi di SDN Kotalama 3 Malang ditemukan beberapa masalah dalam pembelajaran pemahaman isi bacaan Bahasa Indonesia, yaitu: (1) rendahnya minat baca siswa, (2) siswa miskin akan perbendaharaan kata atau kosakata Bahasa Indonesia, (3) siswa kurang mampu menuangkan ide atau gagasan dalam menceritakan kembali cerita yang dibaca, (4) dalam proses pembelajaran masih menggunakan model konvensional sehingga efektifitas pembelajaran menjadi menjemukan. Penelitian ini bertujuan mendeskrisikan (1) model pembelajaran CIRC dalam meningkatkan pemahaman isi bacaan, (2) peningkatan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas 3A dengan model pembelajaran CIRC. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas, yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas 3A SDN Kotalama 3 Malang. Instrumen penelitian berupa observasi, dokumentasi, wawancara, dan soal tes. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut: (1) prosentase nilai rata-rata dari pra tindakan, siklus 1 sampai siklus 2 meningkat. Hasil belajar pra tindakan sebesar 55,2 % (tabel 4.1) meningkat pada siklus 1 menjadi 60,7 %, pada siklus 2 hasil belajar siswa menjadi 82,2 %. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal siswa meningkat, pada pra tindakan ketuntasan belajar klasikal sebesar 22,2 %, pada siklus 1 menjadi 38,8 %, dan pada siklus 3 meningkat menjadi 91,6 %. Aktifitas belajar siswa dalam keaktifan, kerjasama, unjuk kerja, dan tanggung jawab juga meningkat dari siklus 1 dengan prosentase 71,5 % meningkat pada siklus 2 menjadi 85,3 %. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa tercapai dan membuktikan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan pemahaman isi bacaan kelas 3A SDN Kotalama 3 Malang. Saran dari penelitian ini adalah model pembelajaran CIRC hendaknya digunakan sebagai masukan untuk peningkatan kualitas proses belajar dan hasil belajar pemahaman isi bacaan, serta bagi guru supaya dapat menerapkan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan, sehingga kreatifitas dan hasil belajar siswa meningkat.

Penerapan pendekatan komunikatif untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah pidato pada siswa kelas VI SDN Tampung I Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Diana Wahyuni

 

Kata Kunci : Pendekatan komunikatif, menulis naskah pidato, SD Berdasarkan temuan awal pada pembelajaran sebelumnya, siswa tidak aktif dan mengalami kesulitan dalam menguasai materi menulis naskah pidato dibuktikan dengan rendahnya nilai rata-rata yaitu 56,6. Metode penyampaian pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas VI SDN Tampung I kurang bermakna dan tidak bervariasi. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Untuk meningkatkan mutu siswa, pembelajaran menulis naskah pidato menjadi lebih aktif, efektif, menarik dan merangsang serta menumbuhkan minat siswa. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa pada materi menulis naskah pidato siswa kelas VI SDN Tampung I Lekok Pasuruan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas adalah penerapan pendekatan komunikatif dengan menggunakan metode diskusi kelompok dan dilaksanakan selama dua siklus. Arah penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Data penelitian diperoleh melalui pengumpulan data yang yang dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi dan analisis data. Subyek penelitian adalah siswa kelas VI SDN Tampung I Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, sebanyak 27 siswa yang terdiri 15 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Komunikatif dilakukan pada semester II tahun pelajaran 2010 - 2011 dengan materi menulis naskah pidato mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan pendekatan komunikatif untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah pidato siswa dilaksanakan dalam bentuk yang memaksimalkan potensi siswa seperti tanya jawab, menulis, diskusi kelompok, mendengarkan dan berpendapat, menanggapi, menyusun dan membaca naskah pidato di depan kelas. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai rata-rata hasil menulis naskah pidato yaitu 56,6 dengan prosentase 56% pada pra tindakan meningkat menjadi 74% dengan nilai rata-rata 66,4 siswa yang tuntas belajar pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 85% dengan nilai rata-rata73,5 pada siklus II. Ini berarti diperoleh kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan peneliti yaitu 85%. Saran yang diberikan kepada guru, hendaknya guru diharapkan mampu me nerapkan pendekatan komunikatif sebagai salah satu cara atau alternatif dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan ketrampilan menulis naskah pidato siswa, karena pendekatan komunikatif merupakan pendekatan dalam bahasa yang memfokuskan pada ketrampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulis.

Content analysis on the English E-book "developing English competencies for Senior High School (SMA/MA) grade X" / Ratih Yulianti

 

Key words: content analysis, e-book, tenth graders. This study is conducted in order to analyze the English textbook “Developing English Competencies for Senior High School (SMA/MA) Grade X” published by the government in terms of (1) the relevancy of the book with the standard of content from the Board of National Education Standard, (2) organization, (3) language content, (4) the language skills, (5) topic, (6) lay out and graphics, and (7) the practical consideration taken from the criteria proposed by the Board of National Education Standard and these following Experts including Harmer (1983), Grant (1991), Sheldon (1988), and Cunningsworth (1995). The method of the research is descriptive evaluative by using content analysis design. The techniques of data collection used were evaluation rating scale, questionnaire and interview guide. In terms the relevancy of the book with the standard of content from the Board of National Education Standard, the textbook was categorized as good with the total score percentage 66.8%. Secondly, in terms of organization, the textbook was categorized as fair with the total percentage 60%. Thirdly, in terms of language content, the textbook was categorized as fair with the total percentage 58.33%. Fourthly, in terms of language skills, the textbook was categorized as good with the total percentage 71%. Fifthly, in terms of the topic, the textbook was categorized as fair with the total percentage 60%. Sixthly, in terms of lay out and graphics, the textbook was categorized as good with the total percentage 71.6%. Seventhly, in terms of practical considerations, the textbook was categorized as fair, with the total percentage 60%. The overall fulfillment of the seven criteria reached 63.96%. It could be inferred that the book was good. Based on the findings the researcher suggested that the authors of the textbook should improve the quality of the textbook by considering several aspects above. The textbook publishers should also be more selective in choosing the textbooks they would publish. The English teachers of tenth graders needed to create new materials not only from the book. For other researchers who might conduct studies on the similar topic about textbook evaluation, it was suggested that the future researchers should make more careful consideration in selecting the criteria of textbook evaluation.

Pengaruh kandungan informasi laporan arus kasa dan laba bersih terhadap return saham (studi empiris pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI) / Pramudya Ery Firmanto

 

Kata Kunci : Kas Operasi, Laba Bersih, Return Saham. Laporan keuangan merupakan laporan yang bertujuan untuk menunjukkan posisi keuangan pada suatu perusahaan yang sekaligus dapat menggambarkan keadaan perusahaan tersebut. Laporan keuangan sebagai hasil akhir dari proses akuntansi memang dirancang untuk menyediakan kebutuhan informasi bagi calon investor, kreditor, dan pemakai eksternal lainnya untuk pengambilan keputusan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus kas operasi dan laba bersih terhadap return saham. Penelitian ini memerlukan pengujian hipotesis menggunakan uji statisitik dengan teknik regresi linear berganda. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling dan diperoleh sampel 30 perusahaan Consumer Goods yang listing di BEI periode 2008-2009. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dokumentasi. Hasil analisis data yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara informasi arus kas operasi terhadap return saham pada perusahaan consumer goods, karena nilai signifikansi arus kas operasi sebesar 0,224 lebih besar dari 0,05. Hal ini disebakan karena pada tahun 2008 krisis global berpengaruh terhadap perdagangan saham di BEI. Investor takut melakukan pembelian saham, selain saham-saham unggulan. Sedangkan hasil pengujian laba bersih diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara informasi laba bersih terhadap return saham pada perusahaan consumer goods. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi arus kas operasi sebesar 0,038 lebih kecil dari 0,05. Investor menggunakan laba bersih untuk mengukur kinerja perusahaan. Kesimpulan yang bisa diperoleh dari penelitian ini adalah informasi arus kas operasi tidak bisa memberikan informasi untuk menentukan keputusan investasi untuk memperoleh return aktual. Sedangkan informasi laba bersih dapat digunakan dalam menentukan keputusan investasi untuk memperoleh return atas investasi saham. Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan, yaitu pada tahun penelitian 2008 terjadi krisis global yang mengakibatkan kondisi pasar modal dalam negeri menjadi labil. Sehingga investor disarankan sebaiknya juga memperhatikan analisis fundamental dalam mengambil keputusan sebelum melakukan investasi selain memperhatikan informasi laba bersih.

Penerapan perpaduan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan example non example untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-9 SMAN 5 Malang / Tissa Nikmatul Layla

 

Kata Kunci: model pembelajaran Numbered Heads Together, model pembelajaran Example Non Example, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa kelas X-9 SMA Negeri 5 Malang dalam proses belajar mengajar masih rendah. Guru selalu berusaha menerapkan model-model pembelajaran ceramah dan diskusi, mengabaikan metode yang inovatif seperti Jigsaw, STAD. Saat guru melakukan metode ceramah tanpa variasi, siswa terkadang kurang memahami materi, kurang melaksanakan proses tanya jawab, dan pengerjaan tugas yang dilaksanakan dirasa kurang maksimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa meningkat. Berkaitan dengan itu, maka peneliti memutuskan menerapkan adalah perpaduan model pembelajaran Numbered Heads Together dan Example Non Example. Rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimanakah penerapan perpaduan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan model Example Non Example pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang?, (2) Apakah penerapan perpaduan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan model Example Non Example dapat meningkatkan Kememapuan berpikir kritis ekonomi pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang?, (3) Apakah penerapan perpaduan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan model Example Non Example dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang? (4) Bagaimana respon siswa kelas X-9 SMA Negeri 5 Malang Malang terhadap penerapan perpaduan model pembelajaran Numbered Heads Together dan Example Non Example? Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlangsung dalam 2 siklus, Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-9 SMA Negeri 5 Malang yang terdiri dari 36 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, angket dan catatan lapangan. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil observasi Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dengan dua siklus juga telah memperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perpaduan model pembelajaran Numbered Heads Together dan Example Non Example dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dari siklus 1 ke siklus 2 yaitu 24,30 % dilihat dari 4 aspek yang diteliti dan hasil belajar siswa tampak dari adanya jumlah siswa yang tuntas belajar dari siklus 1 ke siklus 2 dengan keterangan sebagai berikut : (a) Peningkatan hasil belajar dilihat dari aspek kognitif siswa yang tuntas siklus 1 ke siklus 2 yaitu 8,26% dari siklus sebelumnya yaitu dari 83,34% menjadi 91,60%. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian tersebut yaitu: (1)Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran tersebut pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X-9 SMA Negeri 5 Malang berjalan baik; (2)Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran tersebut dapat Meningkatkan kemampuan berpikir kritis; (3)Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran tersebut dapat Meningkatkan Hasil Belajar; dan (4)Respon siswa kelas X-9 SMA Negeri 5 Malang terhadap penerapan perpaduan model pembelajaran tersebut adalah positif. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu: (1) Bagi sekolah, dapat sebagai bahan referensi sekolah untuk peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar di SMA Negeri 5 Malang; (2) Bagi guru-guru, hendaknya mulai mencoba menerapkan perpaduan model pembelajaran yang baru dan inovatif sesuai dengan keadaan siswa; (3) Bagi siswa, hendaknya siswa lebih termotivasi dan aktif saat mendengarkan pelajaran ekonomi; (4) Bagi peneliti, hendaknya lebih tanggap dengan permasalahan dalam pendidikan khususnya dalam pelajaran ekonomi

Sifat organoleptik soyghurt dengan lama fermentasi yang berbeda pada suhu ruang / Fatkurohman Septianto Prasetyo

 

Kata Kunci: soyghurt, lama fermentasi, fermentasi suhu ruang Pembuatan soyghurt dari susu kedelai bermanfaat untuk mengurangi rasa langu, mengurangi penyebab flatulence, menghilangkan zat anti gizi dan memperpanjang umur produk. Pengolahan kedelai untuk pembuatan soyghurt tidak diproduksi oleh masyarakat umum karena terkendala alat inkubator yang mahal, namun sebenarnya dapat dilakukan pada suhu ruang dengan lama waktu fermentasi yang tepat. Lama waktu fermentasi berpengaruh terhadap kualitas soyghurt yaitu aroma, konsistensi, homogenitas dan pH. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen pembuatan soyghurt dengan lama fermentasi 25 jam, 40 jam dan 55 jam pada suhu ruang. Pada penelitian pendahuluan bertujuan untuk mengetahui teknik fermentasi dan interval lama fermentasi soyghurt yang optimal. Pengamatan penelitian utama dilakukan dengan uji mutu hedonik dan uji hedonik. Data diperoleh dari panelis agak terlatih sebanyak 30 orang yang dipilih secara acak dan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis menunjukkan berbeda sangat nyata pada aroma, konsistensi dan homogenitas soyghurt dengan lama fermentasi 25 jam, 40 jam dan 55 jam pada suhu ruang. Uji mutu hedonik aroma pada perlakuan fermentasi 55 jam memiliki skor tertinggi (3,72) dengan aroma khas yoghurt kuat. Konsistensi memiliki skor tertinggi (3,21) pada perlakuan fermentasi 55 jam yaitu berkonsistensi agak kental. Skor tertinggi pada homogenitas (4,00) ditunjukkan pada perlakuan fermentasi 25 jam dengan soyghurt yang homogen. Sedangkan uji hedonik menunjukkan rasa soyghurt yang difermentasi 25 jam disukai sebagian besar panelis (73,33%). Aroma yang disukai sebagian besar panelis (75,56%) yaitu aroma khas yoghurt kuat pada perlakuan fermentasi 55 jam. Konsistensi soyghurt yang kental pada perlakuan fermentasi 55 jam disukai oleh sebagian besar panelis (81,11%). Homogenitas soyghurt yang homogen disukai oleh sebagian besar panelis (78,89%) pada perlakuan fermentasi 25 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lama fermentasi soyghurt dilakukan maka aroma akan semakin kuat, konsistensi semakin kental dan homogenitas berkurang. Perlakuan yang menghasilkan produk terbaik yaitu soyghurt yang difermentasi selama 25 jam dengan aroma khas yoghurt agak kuat, konsistensi soyghurt agak cair, homogenitas soyghurt yang homogen dan memiliki pH 4,31. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu perlu diteliti mengenai teknik penyimpanan soyghurt yang optimal dengan suhu yang ditentukan dan bagaimana cara pengemasan yang dapat mengoptimalkan umur soyghurt. Dapat juga diteliti tentang penerimaan konsumen terhadap soyghurt yang diberi perasa tambahan.

Pengaruh tingkat entelegensi, kebiasaan belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah, dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi (studi pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Malang) / Wahyu Afantin

 

Kata Kunci: tingkat intelegensi, kebiasan belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah, kondisi ekonomi orang tua, hasil belajar Intelegensi adalah kemampuan indifidu berdasarkan kapasitas/ kecakapan umum untuk memberikan respon yang tepat dan cepat terhadap situasi yang dihadapi untuk mencapai prestasi dalam kehidupannya. Kebiasaan belajar adalah aktivitas belajar sehari-hari yang dilakukan secara teratur dengan waktu yang relatif lama baik itu di rumah maupun di sekolah sehingga akan menjadi sebuah kebiasaan belajar. Tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah adalah seberapa besar tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah yang dapat membantu proses belajar siswa. Kondisi sosial ekonomi orang tua adalah suatu keadaan orang tua siswa yang dilihat dari tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua. Dengan adanya tingkat intelegensi, kebiasan belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan kondisi sosial ekonomi orang tua, maka akan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh antara tingkat intelegensi dengan hasil belajar siswa (2) pengaruh antara kebiasan belajar dengan hasil belajar siswa, (3) pengaruh antara tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dengan hasil belajar siswa, (4) pengaruh antara kondisi sosial ekonomi orang tua dengan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang dilakukan pada 93 siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Dari hasil pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa : (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat intelegensi dengan hasil belajar, (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasan belajar dengan hasil belajar. (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dengan hasil belajar. (4) terdapat pengaruh yang signifikan antara kondisi sosial ekonomi dengan hasil belajar. (5) terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat intelegensi, kebiasaan belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan kondisi sosial ekonomi orang tua dengan hasil belajar. Dan sebesar 70,7% hasil belajar dipengaruhi oleh variabel tingkat intelegensi, kebiasan belajar, tingkat pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan kondisi sosialekonomi orang tua, sedangkan sisanya sebesar 29,3% dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah: (1)Bagi siswa diharapkan untuk lebih meningkatkan intelegensi, meningkatkan kebiasaan belajar yang baik, meningkatkan pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah serta lebih meningkatkan motivasi diri dengan memanfaatkan kondisi sosial ekonomi orang tua yang ada. (2) Bagi guru diharapkan selalu memberikan motivasi kepada siswa agar lebih meningkatkan daya berfikirnya, memberikan cara belajar yang baik, mengarahkan siswa untuk memanfaatkan fasilitas belajar yang ada di sekolah dan memberikan perhatian dan bantuan bagi siswa yang mempunyai masalah/kurang mampu dalam biaya. (3) Bagi SMA Negeri 1 diharapkan mengadakan tes IQ setiap tahunnya untuk mengetahui perkembangan IQ siswa, mengadakan seminar motivasi ketika siswa akan menghadapi ujian, melengkapi fasilitas belajar yang ada di sekolah, dan memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi dan kurang mampu. (4)Bagi orang tua diharapkan untuk mencukupi kebutuhan gizi dan nutrisi anak, mengawasi kedisiplinan belajar anak agar giat belajar, serta menyediakan kebutuhan/ fasilitas belajar anak sesuai dengan kemampuannya. (5) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperluas variabel lain diluar variabel yang digunakan dalam penelitian ini, karena masih banyak faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Pelaksanaan pembelajaran sains tentang energi panas dan listrk kelas II dalam kurikulum KTSP standar nasional dan standar CIPP di SD Laboratorium UM Blitar / Sukma Rahmaning Susilowati

 

Kata Kunci: standar kurikulum KTSP, CIPP, pembelajaran sains Dalam implementasi KTSP, SD Laboratorium UM Blitar menggunakan dua standar yaitu standar nasional dan standar internasional. Standar nasional yang digunakan sekolah adalah KTSP sedangkan standar internasional sekolah menggunakan program Cambridge International Primary Program (CIPP). Cambridge International Primary Program (CIPP) merupakan suatu program dari Universitas Cambridge untuk anak usia 5-11 tahun untuk memberikan kerangka kurikulum sekolah untuk mengembangkan pemahaman peserta didik pada bidang akademis bahasa Inggris, matematika, sains. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengembangan silabus yang terdiri dari standar nasional KTSP dan standar internasional CIPP, mendiskripsikan pelaksanaan CIPP pembelajaran sains kelas II di SD Laboratorium UM Blitar ditinjau dari peran guru, penilaian, dan fasilitas pendukung pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti merupakan instrumen kunci dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti menjadi partisipan moderat dalam pelaksanaan pengumpulan data selama di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan mengoreksi kelengkapan data dari masing-masing instrumen yang telah dipersiapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengembangan silabus guru berpedoman pada kurikulum KTSP selanjutkan guru mengkombinasikan materi standar CIPP yang sesuai dengan materi pelajaran. Peran guru dalam pembelajaran sains adalah sebagai fasilitator, pembimbing, agen kognitif, dan evaluator dalam pembelajaran. Setiap akhir pembelajaran guru mengadakan tes tulis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran sains yang ditetapkan sekolah adalah 80. Guru memberikan program remidi bagi siswa yang nilainya kurang dari KKM yang telah ditentukan, selain itu guru memberi tambahan pelajaran, serta pekerjaan rumah kepada siswa yang nilainya belum mencapai KKM. Dalam pelaksanaan pembelajaran sains, sekolah berupaya untuk mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang ada termasuk fasilitas IT berupa jaringan internet yang disediakan di dalam kelas untuk mengakses pengetahuan secara online. Disarankan sekolah terus meningkatkan kualitas pendidikan dengan terus melakukan revisi terhadap kekurangan dari kombinasi kurikulum standar nasional KTSP dan standar CIPP.

Tinjauan atas prosedur penyusunan dan penyajian anggaran pembelian bahan baku air brake pada PT Pindad (Persero) / Suparmi

 

Kata Kunci : Anggaran Pembelian Bahan Baku Anggaran adalah alat bagi manajemen untuk membantu menjalankan fungsi- fungsinya. Anggaran lazim dipergunakan sebagai sistem perencanaan, koordinasi dan pengawasan dalam perusahaan. Anggaran nampaknya cukup memadai untuk dipergunakan sebagai alat perencanaan yang lebih baik, sehingga koordinasi dan pengawasan yang dilaksanakan dapat memadai pula. Dengan demikian jelaslah bahwa anggaran dapat dipergunakan sebagai salah satu pengendalian kegiatan perusahaan.Anggaran menjadi masalah yang cukup menarik untuk dibahas, karena dengan disusunnya anggaran maka dapat dilihat taksiran-taksiran dari hasil-hasil atau pengeluaran-pengeluaran, jauh sebelum kegiatan dilaksanakan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur penyusunan anggaran pembelian bahan baku pada PT. PINDAD(Persero) apakah sudah berjalan dengan prosedur yang diterapkan pada perusahaan, selain itu juga untuk mengetahui penyajian anggaran pembelian bahan baku pada PT. PINDAD (persero) apakah sudah disajikan dengan jelas dan terperinci. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa prosedur penyusunan anggaran pembelian bahan baku telah berjalan dengan baik, akan tetapi dalam hal penyajian anggaran pembelian bahan baku belum disajikan dengan jelas dan terperinci karena PT. PINDAD (Persero) hanya menyajikan dalam jumlah satu tahun dan belum ada rincian setiap bulanya PT. PINDAD (Persero) dalam menyajikan anggaran pembelian seharusnya dalam bentuk tabel sehingga realisasi setiap bulan dapat diketahui. Karena apabila di sajikan dalam bentuk satu tahun seperti yang di buat oleh PT. PINDAD (Persero) maka bahan baku yang digunakan tidak diketahui.

Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah pecahan melalui langkah-langkah Polya di kelas IV SDN Plinggisan Pasuruan / Desi Tri Handayani

 

Kata Kunci: meningkatkan menyelesaikan masalah, metode Polya Soal penyelesaian masalah matematika adalah soal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Soal penyelesaian masalah biasanya diletakkan pada tiap akhir pokok bahasan atau sub pokok bahasan. Pada pokok bahasan pecahan misalnya diakhiri dengan soal cerita yang melibatkan operasi penjumlahan dan pengurangan begitu juga pada pokok bahasan yang lain. Demikian pula halnya dengan soal-soal cerita yang diberikan pada materi penjumlahan dan pengurangan, sudah barang tentu akan melibatkan operasi tersebut. Kemampuan menyelesaikan soal cerita di SD Negeri Plinggisan belum mencapai hasil yang optimal, meskipun upaya guru telah dilakukan dengan mengadakan latihan berulang-ulang. Berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru kelas IV, bahwa hasil ulangan materi pecahan terutama berbentuk soal cerita, siswa yang mengalami kesulitan sebanyak 65% dari 30 siswa. Dengan kata lain kesulitan belajar dalam menyelesaikan soal cerita baik pada proses pengerjaan maupun pada hasil yang dicapai belum menunjukkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan penerapan metode Polya dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal penyelesaian masalah pada siswa kelas IV SDN Plinggisan Kabupaten Pasuruan dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyelesaikan soal penyelesaian masalah pecahan pada siswa kelas IV SDN Plinggisan Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SDN Plinggisan sebanyak dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah 30 siswa. Indikator keberhasilan siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65 % atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila dikelas tersebut terdapat 80 % yang telah mencapai nilai lebih dari 65. Hasil penelitian ini menunjukkan dengan digunakannya metode Polya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal penyelesaian masalah pecahan. Berdasarkan temuan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode Polya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal penyelesaian masalah dapat ditingkatkan. Saran yang perlu disampaikan kaitannya dengan hasil penelitiaan ini adalah metode Polya dapat digunakan untuk menyelesaikan soal penyelesaian masalah pecahan.

Penerapan penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Kalasan, Sleman, Yogyakarta / Istika Sri Sulistyandari

 

Interferensi leksikal dan morfologis bahasa Madura terhadap bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas IV SDN Sukorejo Sukowono Jember / Lailina

 

Perbedaan prestasi belajar matematika siswa kelas II MAN Pamekasan yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw dan konvensional / Fatiyatul Jannah

 

Hubungan antara minat masuk program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dengan prestasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2003 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Dewi Laili Hurin Farida

 

Pemanfaatan laboratorium bahasa dalam pembelajaran istima' (menyimak) di Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang / Aniza

 

The teaching English in SDN Blimbing III Malang (a case study) / Dewi Maria Ulfa

 

Peningkatan pemahaman konsep pecahan dengan menggunakan alat peraga kepingan pecahan bidang geometris siswa kelas III SDN Mergosono II Kota Malang / Etik Kusweni

 

Program pembelajaran pecahan dengan menggunakan pendekatan pendidikan matematika realistik (PMR) untuk siswa SD kelas III semester 1 / Uun Indrawati

 

Studi tentang evaluasi guru pendidikan jasmani dan kesehatan dalam pelaksanaan pengajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di SD Negeri Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang / Anton Dwi R.H.

 

Hubungan kebiasaan belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar mata diklat kejuruan siswa SMK kelas III se Kabupaten Tulungagung / Moh. Syamsul Huda

 

Penerapan matriks Leslie dan metode Newton-Raphson pada pemanenan populasi ayam betina / Henie Mulyaningsih

 

Hubungan antara nilai matematika pada tes masuk SMA Muhammadiyah 1 Babat tahun ajaran 2003/2004 dengan prestasi belajar matematika di kelas satu pada materi notasi sigma dan deret aritmatika / Siswandi Afandi

 

Hambatan yang dihadapi guru bahasa Indonesia kelas I SMA Negeri di Kota Malang dalam melaksanakan pengajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum 2004 / Yulianti

 

Pelaksanaan evaluasi pembelajaran matematika oleh guru-guru bidang studi matematika kelas III SMA Negeri di Kota Malang / Sri Maryuni

 

Pemetaan skripsi bidang pengajaran bahasa Prodi Pendidikan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Nova Zahrotul Fadhilah

 

Identifikasi dan solusi penyebab kesulitan belajar matematika siswa kelas 2 SMPN II Malang tahun ajaran 2004/2005 / Anis Akhodiyah

 

Diksi dalam lirik lagu Iwan Fals / Aida Jamila

 

Diksi guru bahasa Indonesia dalam interaksi belajar mengajar di kelas II SMK PGRI 02 Malang / Farihi

 

Penerapan model pembelajaran penelitian kelompok untuk meningkatkan pretasi belajar IPS siswa kelas VI SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dalam pokok bahasan mengenal Benua Amerika / Sulasmeni

 

Proses perubahan dalam penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di MTsN Malang I / Cieciel Khusriny

 

Pembelajaran fungsi melalui pemecahan masalah pada siswa kelas II B SMP Muhammadiyah I Malang tahun ajaran 2004/2005 / Murti'ah

 

Analisis soal ulangan umum matematika semester genap kelas I dan II SMA Negeri I Pacitan tahun ajaran 2003/2004 / Anita Nur Apriyani

 

The representation of cooperative principle in Earnest Miller Hemingway's The Sun Also Rises / Marsuki

 

Improving writing ability of the second year students of SLTP Negeri 18 Malang through process writing strategy / Ramli Eksan

 

Persepsi mahasiswa program S-1 Jurusan Administrasi Pendidikan terhadap program praktek pengalaman lapangan manajemen pendidikan / Dwi Pranoto

 

Studi tentang penerapan gaya kepemimpinan oleh kepala sekolah dasar negeri se-kecamatan Lamongan Kabupaten Lamongan / Ahmad Tsalis Afrizal

 

Hubungan pelaksanaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan performansi mengajar guru SMA negeri se Kota Madiun / Wahyu Kesumaningrum

 

Implementasi kurikulum pendidikan dan latihan kepemimpinan tingkat III di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur / Lucky Novitawati

 

Peranan badan perwakilan desa dalam penyusunan peraturan desa (studi di Desa Klurah, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo) / Kusnul Laely

 

Pengembangan paket bimbingan perilaku moral dengan teknik bercerita untuk anak Taman Kanak-kanak (TK) kelompok B / Nilla Chayani Patty

 

Pengembangan sumber belajar desain interior 3D menggunakan Google Sketchup untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) / Dian Posita

 

Kata kunci: pengembangan sumber belajar, e-learning, desain Interior 3D pendidikan jarak jauh. Perkembangan teknologi informasi tersebut semakin mendorong upaya-upaya pembaharuandalam memanfaatkan hasil teknologi dibidang pendidikan. Teknologi pendidikan jarak jauh (PJJ) ini sebagai alternatif pemerataan kesempatan belajar yang memungkinkan peserta didik dapat mengakses sendiri materi atau bahan yang dibelajarkan yaitu dalam bentuk e-learning. PJJ merupakan pembelajaran yang disampaikan kepada peserta didik yang terpisah secara ruang dan waktu dengan guru/instruktur dengan memanfaatkan TIK dan sumber belajar. Tujuan penelitian ini adalah: (1)Tersedianya sumber belajar berbasis e-learning pada materi desain interior 3Dmenggunakan Google SketchUp untuk PJJ. Dengan harapan sumber belajar ini dapat membantu guru dan peserta didik. (2)Teridentifikasinya kelayakan sumber belajar yang dikembangkan. (3)Teridentifikasinya efektifitas dari sumber belajar yang dikembangkan. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan sadiman yang disesuaikan dengan pengembangan sumber belajar berbasis e-learning . Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan responden. Sampel uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan diambil dari peserta didik SMA Negeri 1 Pare kelas XI dan X. Produk sumber belajar berbasis e-learning ini mennggunakan software Moodle dengan web server Xampp. Hasil validasi sumber belajar dari ahli media mendapat persentase 88,125%, dari ahli materi mendapat persentase 83,5%, dari responden kelompok kecil 89% dan responden lapangan 88,9% . Berdasarkan hasil validasi tersebut, sumber belajar berbasis e-learning pada materi desain interior 3D menggunakan Google SketchUp untuk pendidikan jarak jauh dapat disimpulkan valid dan efektif digunakan sebagai sumber belajar jarak jauh. Penggunaan sarana komunikasi yang disediakan dalam sumber belajar ini, sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal, sebagai pengganti komunikasi pada tatap muka. Deseminasi sumber belajar ini dapat diterapkan pada SMA Negeri 1 Pare. Pengembangan sumber belajar lebih lanjut dapat dilakukan dengan menambahkan materi lain baik yang berhubungan dengan desain interior 3D.

Hubungan antara pendapat siswa tentang pelaksanaan pembelajaran modul dengan prestasi belajar PKn di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang / Nyuprih Ayu Rahayu

 

Kata kunci: pendapat siswa, pelaksanaan pembelajaran modul, prestasi belajar. SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah salah satu sekolah menengah pertama yang dalam pelaksanaan proses pembelajarannya menggunakan sistem modul pada semua mata pelajaran. Pembelajaran dengan sistem modul memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Penerapan sistem modul dalam pelaksanaan pembelajaran mempunyai alasan mengapa sistem tetap dipertahankan hingga sekarang. SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang tentu mengetahui bahwa penggunaan modul tersebut mempunyai pengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Penelitian ini mempunyai tujuan: (1) untuk mendeskripsikan pendapat siswa tentang pelaksanaan pembelajaran modul di SMP laboratorium Universitas Negeri Malang, (2) untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PKn di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang, (3) mengetahui hubungan pendapat siswa tentang pelaksanaan pembelajaran modul dengan prestasi belajar PKn siswa di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif korelasionl. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Kluster (cluster rondom Sampling). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket dengan skala likert dan metode dokumentasi. Analisis korelasional menggunakan analisis Product Moment dengan bantuan SPSS 16 For Windows. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pendapat siswa tetang pelaksanaan pembelajaran modul di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang dalam klasifikasi sering yaitu, sebesar 25,66% atau sebanyak 29 siswa termasuk dalam klasifikasi selalu, 67, 25% atau 76 siswa termasuk dalam klasifikasi sering, 7,07% atau 8 siswa termasuk dalam klasifikasi jarang, dan 0,00% siswa termasuk dalam klasifikasi tidak pernah. Hasil penelitian tersebut diambil secara keseluruhan atau bersama-sama (simultan), sedangkan prestasi belajar siswa di siswa Di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang sebesar 20,35% responden memiliki prestasi sangat baik, 61,39% responden memiliki prestasi baik, 17, 69 responden memiliki prestasi cukup, 0,00% responden memiliki prestasi kurang dan 0,00% responden memiliki prestasi sangat kurang. Hasil analisis r=0,684 dengan nilai signifikansi = 0,000 (signifikansi < 0,05), menunjukkan bahwa pendapat siswa tentang pelaksanaan pembelajaran modul mempunyai hubungan dengan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara pendapat siswa tentang pelaksanaan pembelajaran modul dengan prestasi belajar siswa di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Dan kemukakan saran sebagai berikut: (1) bagi sekolah hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan dalam upaya memperbaiki proses pelaksanaan pembelajaran dengan sistem modul di SMP Laboratorium UM; (2) bagi guru dianjurkan untuk melaksanakan peranannya dalam pelaksanaaan pembelajaran modul yaitu: guru sebagai pembimbing dalam pelaksanaan pembelajaran, guru sebagai pengatur lingkungan belajar siswa, guru sebagai partisipan proses pembelajaran, guru sebagai konselor dalam masalah yang dihadapi oleh siswa, guru sebagai supervisor dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan modul, guru sebagai motivator dalam proses belajar siswa, dan guru sebagai evaluator terhadap hasil belajar yang telah dicapai siswa; (3) bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat melakukan penelitian tentang pelaksanaan pembelajaran modul pada mata pelajaran PKn pada khususnya, dan mata pelajaran lain pada umumnya, dengan menambah variabel-variabel lain dalam penelitian berikutnya agar dapat mengetahui hubungan penggunaan modul dengan prestasi belajar; (4) bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan kreatifitas mereka dalam berfikir dan menjalakan peranannya dalam pelaksanaan pembelajaran modul yaitu sebagai berikut: siswa sebagai pemecah masalah, siswa sebagai pembaca yang baik, siswa sebagai pendengar yang baik, siswa sebagai pemikir yang baik, dan siswa sebagai penemu konsep, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Penerapan model siklus belajar (learning cycle) untuk meningkatkan pembelajaran IPS siswa kelas V SDN Jimbaran I Puspo Kabupaten Pasuruan / Elok Dwi Isty Qomah

 

Kata Kunci: siklus belajar (learning cycle), hasil belajar, IPA. Berdasarkan observasi awal siswa kelas V SDN Jimbaran I Puspo cenderung pasif dalam pembelajaran IPA. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan lebih banyak guru menjelaskan dan siswa mendengarkan, sehingga guru berperan aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model siklus belajar ( Learning cycle) untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Jimbaran I Puspo Kabupaten Pasuruan.; (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar IPA siswa kelas V SDN Jimbaran I Puspo Kabupaten Pasuruan selama penerapan model siklus belajar (learning cycle).; (3) Mendeskripsikan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Jimbaran I Puspo Kabupaten Pasuruan melalui penerapan model siklus belajar (learning cycle) Penelitian ini dilakukan di SDN Jimbaran I Puspo Kabupaten Puspo dengan subjek siswa kelas V sebanyak 31 siswa terdiri dari 16 siswa dan 15 siswi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc.Taggart Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model learning cycle dapat meningkatkan: 1) aktivitas guru hal ini terlihat dari data yang diperoleh yaitu, Siklus I pertemuan 1 skornya 48 (32%), pertemuan 2 skor meningkat 64 (42,7%) pada siklus II untuk pertemuan 1 skornya menjadi 67 (44,7%), pada pertemuan kedua meningkat 68 (45,3%); 2) aktivitas siswa hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh pada siklus I pertemuan 1 rata-rata yang didapat sebesar 71,5, pertemuan 2 meningkat menjadi 73,9. Pada siklus II rata-rata pada pertemuan 1 76,1 sedangkan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 79,7; 3) hasil belajar siswa hal ini terbukti pada pratindakan rata-rata hasil belajar siswa 61,6 dengan ketuntasan belajar 45,2%, meningkat pada siklus I dengan rata-rata 70,00 dengan ketuntasan belajar 67,74% namun belum mencapai standar ketuntasan yang telah ditentukan yaitu sebesar 75%, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan lagi yaitu rata-rata 84,19 dan ketuntasan belajar klasikal yang dicapai sebesar 90,32% Saran yang diberikan peneliti adalah guru-guru hendaknya memilih model-model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa sehingga mempermudah dalam menyampaikan materi pelajaran IPA, yaitu salah satunya dengan menerapkan model learning cycle untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran IPA.

Penerapan metode field trip untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi pada siswa kelas V SDN Bukir Pasuruan / Catur Rahayu Kurniawati

 

Kata Kunci. Metode Field Trip, Menulis Deskripsi, SD Hasil Tes Awal Siswa Kelas V SDN Bukir Pasuruan sebelum menerapkan metode Field Trip pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi pokok menulis karangan deskripsi yang rendah menunjukkan bahwa siswa belum sepenuhnya memahami materi tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman materi menulis karangan deskripsi yaitu dengan menerapkan metode Field Trip. Metode Field Trip merupakan metode yang mampu menjembatani siswa dalam menulis karangan deskripsi Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan metode Field Trip dalam pembelajaran metode Field Trip materi menulis karangan deskripsi pada siswa keas V SDN Bukir Pasuruan. Selain itu mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode Field Trip untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas V SDN Bukir Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Subyek dalam penelitian ini yaitu seorang guru kelas V dan seluruh siswa kelas V SDN Bukir Pasuruan Adapun prosedur dalam penelitian ini adalah (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi dan evaluasi, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) Pedoman wawancara, (3) Kamera, (4) LKS, (5) Soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan metode Field Trip dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi. Peningkatan rata-rata kelas keaktifan siswa dari siklus I dengan nilai 55,81 ke siklus ii dengan nilai 75,40 sebesar 19,59%. Sedangkan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 49,15 meningkat menjadi 60,42 dan pada sklus II meningkat menjadi 75,20 dengna persentase 11,27% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 14,78%, sehingga persentase peningkatan nilai rata-rata kelas pra tindakan ke siklus II sebesar 26,25. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan siswa mampu meningkatkan keterampilan menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam menulis deskripsi. Selain itu,harapan dari penelitian ini adalah semoga hasil penelitian ini membantu guru, siswa, maupun peneliti lain dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga mutu pendidikan akan terwujud dengan baik.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui strategi KWL (Know - Want to know - Learned) pada siswa kelas III MIN Beji Kabupaten Pasuruan / Ucik Nurul Maulidah

 

Kata Kunci: membaca pemahaman, Strategi KWL, SD. Kemampuan mambaca bagi siswa perlu mendapatkan perhatian serius dari seluruh unsur pendidikan yang ada di sekolah. Khususnya dalam membaca pemahaman. Diketahui bahwa kegiatan pembelajaran membaca di kelas III MIN Beji Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan masih terkategori kurang baik. Hal ini menyebabkan siswa tidak mampu memahami bacaan dengan baik, siswa merasa bosan dan kesulitan, serta kurang antusias pada kegiatan membaca pemahaman. Masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah Bagaimana strategi KWL dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, bagaimana strategi KWL dapat meningkatkan kemampuan mengungkapkan isi bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi KWL dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, mendeskripsikan strategi KWL dalam meningkatkan kemampuan mengungkapkan isi bacaan Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara kolaboratif antara guru kelas III dan peneliti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini ini adalah siswa kelas III MIN Beji Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Dengan jumlah siswa 31 yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Peneliti ini menggunakan lembar observasi pelaksanaan kegiatan, wawancara untuk mendapatkan informasi dari terwawancara, tes berupa tugas sebagai instrumen pengumpulan data, dan dokumen foto untuk mengetahui kegiatan siswa selama melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan membaca siswa kelas III MIN Beji ditunjukkan dari prosentase ketuntasan hasil membaca pemahaman siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan. Hasil peningkatan ini terlihat dari hasil membaca pemahaman siswa, keaktifan, minat dan motivasi pada pada setiap siklus. Pada pra tindakan atau sebelum siklus prosentase kemampuan memahami isi bacaan adalah 22,6%. Pada pembelajaran siklus I pertemuan pertama ketuntasan belajar meningkat menjadi 58,1%, dan pertemuan kedua ketuntasan belajar mencapai 67,7%. Pada pembelajaran siklus II secara klasikal mencapai ketuntasan belajar mencapai 93,5%. Sedangkan untuk kemampuan mengungkapkan isi bacaan, pada pra tindakan atau sebelum siklus prosentase mengungkapkan isi bacaan adalah 38,7%. Pada pembelajaran siklus I pertemuan pertama ketuntasan belajar meningkat menjadi 54,8%, dan pertemuan kedua ketuntasan belajar mencapai 80,6%. Pada pembelajaran siklus II secara klasikal mencapai ketuntasan belajar sebesar 92,8%. Pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan strategi KWL dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Guru menulis satu topik di papan tulis, 2) Siswa menuliskan apa yang diketahuinya tentang topik tersebut pada kolom K (Know), 3) Siswa membuat beberapa pertanyaan tentang apa yang ingin diketahuinya tentang topik tersebut dan menuliskannya pada kolom W (Want to know), 4) Siswa membaca teks, 5) Siswa menuliskan tentang apa yang telah dipelajarinya dari membaca teks pada kolom L (Learned). Dari hasil penelitian ini, diharapkan siswa mampu meningkatkan kemampuan membaca dalam mata pelajaran bahasa Indenesia khususnya membaca pemahaman. Selain itu, harapan dari penelitian ini adalah semoga hasil penelitian ini membantu guru, siswa, maupun peneliti lain dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia sehingga mutu pendidikan akan terwujud dengan baik.

Penerapan model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan aktifitas kerja kelompok siswa kelas IV pada pembelajaran IPS SDN Manaruwi II Kecamatan Bangil / Ari Fachrudiana

 

Kata Kunci: Aktivitas, Kerja Kelompok, Model NHT, IPS SD Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Manaruwi II Kec. Bangil ditemukan fakta bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama pada saat kerja kelompok, Perolehan nilai pada materi pengajarannya sebesar 59,64. Perolehan hasil aktifitas kerja kelompok sebesar 13,38%. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba diterapkan pembelajaran model NHT. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan model NHT untuk meningkatkan hasil belajar permasalahan sosial di daerahnya, mendiskripsikan cara meningkatkan hasil belajar permasalahan sosial di daerahnya, mendiskripsikan cara meningkatkan aktifitas kerja kelompok siswa pada permasalahan sosial di daerahnya pada mata pelajaran IPS di SDN Manaruwi II Bangil. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas model bersiklus (model Kemmis dan Taggart). Yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Manaruwi II Kec. Bangil, sebanyak 28 siswa. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes tulis. Instrumen yang digunakan meliputi: lembar observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, soal evaluasi ( tes tulis ). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas kerja kelompok dan hasil belajar siswa selama pembelajaran meningkat. Indikasinya banyak siswa mau membaca materi, mau bekerja sama, mau mengemukakan ide dan mau menjawab pertanyaan yang diajukan. Aktifitas kerja kelompok dari pra tindakan ke siklus I meningkat sebesar 7,13%, dari pra tindakan ke siklus II meningkat sebesar 43,8%, dari Siklus I ke siklus II meningkat sebesar 36,68% dan hasil belajar siswa dari pra tindakan ke siklus I meningkat 7,14%, dari pra tindakan ke siklus II meningkat 13,21% dan dari siklus I ke siklus II meningkat 6,07 % . Disarankan pada pihak sekolah hendaknya memberikan dukungan positif terhadap penyelenggaraan pembelajaran kooperatif model NHT sehingga tercapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan, sedangkan pada penelitian selanjutnya dapat lebih mengembangkan fokus penelitiannya tentang penerapan model NHT untuk mendapatkan temuan lain yang signifikan.

Penerapan media benda konkrit untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDN Mendalanwangi 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Sri Wahyuni

 

Kata kunci: menulis kalimat sederhana, media benda konkrit Kemampuan berbahasa Indonesia di SD dirasakan masih sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari keluhan-keluhan guru terutama di SD setelah membaca kalimat yang di buat oleh siswa khususnya siswa kelas II SD. Selain bahasanya yang tidak baku juga sedikitnya perbendaharaan kata, sehingga kalimatnya tidak teratur. Hal ini berakibat pula pada kesulitan siswa dalam memahami suatu kalimat yang tidak hanya pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penilitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1)Bagaimana penerapan media benda konkrit dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDN Mendalanwangi 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang? (2)Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana dengan penerapan media benda konkrit dalam proses menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDN Mendalanwangi 01 Kec. Wagir Kab. Malang? Dan penelitian ini bertujuan : (1)Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana dengan penerapan media benda konkrit siswa kelas II SDN Mendalanwangi 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.(2)Mendeskripsikan penerapan media benda konkrit dalam proses menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDN Mendalanwangi 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan kualitatif, karena data yang dikumpulkan berbentuk kata atau kalimat bukan angka. Sedangkan jenis PTK yang digunakan adalah kolaborasi yang dilaksanakan dua siklus yang meliputi: 1) Perencanan tindakan, 2) Tindakan, 3) pengamatan, 4) refleksi. ( 1) Hasil belajar siswa pada tes awal nilai rata-rata 50,28, siklus I nilai rata-rata 61,14 dan siklus II nilai rata-rata 70,20. (2) Kemamapuan menulis kalimat siswa mengalami peningkatan dari tes awal 22,86%, siklus I (60%) dan siklus II (88%). Penerapan media benda konkrit dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat siswa SDN Mendalanwangi 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Penerapan media benda konkrit dapat mempermudah siswa menulis ide atau pikiran dalam bentuk kalimat khususnya bagi siswa kelas II SDN Mendalanwangi 01 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Dalam Penerapan media benda kokrit hendaknya guru dapat mengembangkan lagi penggunaannya, sehingga siswa mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan oleh guru dan memperoleh nilai sesuai dengan KKM yang diharapkan guru.

Pemahaman dan penerapan konsep energi pada pembelajaran IPA dengan model Webbed kelas II SD Negeri Pandean II Rembang / Riami

 

Kata Kunci : Pembelajaran, IPA SD , model webbed Pembelajaran IPA di kelas II SDN Pandean II Rembang pada materi sumber energi, guru mendominasi dalam pembelajaran secara konvensional, guru tidak mengajak siswa untuk terlibat dalam tanya jawab yang berkaitan dengan materi, dan langsung memberikan tugas mandiri tanpa penjelasan lebih dulu dan penggunaan model pembelajaran terkesan kaku dan membosankan, sehingga hasil belajar siswa belum optimal. Berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru kelas II, bahwa hasil ulangan materi sumber energi, dari 16 siswa, hanya 3 siswa yang mendapatkan nilai memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan yaitu nilai 70, sedangkan sisanya dibawah nilai KKM. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses belajar mengajar dengan model webbed untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas II SDN Pandean II Rembang , dan mendeskripsikan aktivitas siswa kelas II SDN Pandean II Rembang, serta mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas II SDN Pandean II Rembang. Penelitian dilaksanakan di kelas II SDN Pandean II Rembang sebanyak dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah 16 siswa. Hasil penelitian ini adalah penerapan model webbed dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dibuktikan dengan adanya peningkatan pada tiap siklus : kategori A 6,25%, kategori B 6,25%, kategori C 12,5%, serta hasil belajar siswa kelas II di SDN Pandean II Rembang pada siklus 1 pertemuan 1 nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 63,62, pada pertemuan 2 nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 65,12 dan pada siklus 2 pertemuan 1 adalah 70,37, pada pertemuan 2 nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 74,75 mengalami kenaikan skor 3,71. Sesuai dengan indikator keberhasilan bila telah mencapai skor 70. Berdasarkan temuan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model webbed dapat meningkatkan pembelajaran IPA dalam materi sumber energi. Saran yang perlu disampaikan kaitannya dengan hasil penelitiaan ini adalah model webbed dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran IPA dalam materi sumber energi.

Penerapan metode mengarang terpimpin dengan media film untuk meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas IV SDN Sumbermanjingkulon 01 Pagak / Nur Latifah

 

Kata Kunci: mengarang, mengarang terpimpin, media film Mengarang merupakan salah satu ketrampilan bercerita dalam bentuk tulisan. Ketrampilan menulis karangan ini merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai khususnya siswa kelas IV SD. Pada penerapan pembelajarannya siswa sering merasa kesulitan dalam mengungkapan imajinasinya dalam bentuk bahasa tulis. Dalam menulis karangan siswa hanya menuliskan empat sampai lima kalimat pendek. Maka diperlukan latihan dan bimbingan lebih lanjut agar siswa dapat memahami langkah-langkah menulis karangan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan penerapan metode mengarang terpimpin untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IV SDN Sumbermanjingkulon 01 Pagak dan peningkatan kemampuan mengarang dengan metode mengarang terpimpin dengan media film siswa kelas IV SDN Sumbermanjingkulon 01 Pagak. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dekriptif kualitatif. Data penelitian berupa lembar observasi aktifitas siswa dan guru dalam pembelajaran, kumpulan portofolio hasil menulis karangan siswa, dan lembar wawancara dengan guru dan siswa. Instrument pengumpulan data berupa lembar obserfasi, portofolio dan lembar panduan wawancara. Kegiatan analisa data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menyusun karangan siswa mengalami peningkatan setelah dibimbing dengan pola karangan yang sama sesuai dengan pola mengarang terpimpin. Pola mengarang terpimpin menurut Sukadi AM adalah 1) guru memberikan contoh karangan dan membacakannya, 2) guru menerangkan contoh karangan, 3) siswa membuat karangan dengan judul yang sama. Dengan menggunakan media film mempermudah siswa dalam menuliskan rangkaian cerita atau alur cerita. Siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran karena dalam memberikan bimbingan mengarang guru menggunakan stategi diskusi dengan siswa. Kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan hal ini terlihat dari antusias siswa ketika memperhatikan film dan menulisnya dalam bentuk karangan. Siswa juga lebih percaya diri dan mandiri dalam kegiatan pembelajaran.

Penggunaan media solar sistem dan CD interaktif untuk meningkatkan hasil belajar mengidentifikasi sistem tata surya siswa kelas VI SDN Sumberoto 05 Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang / Felina Devi Cacilia

 

Kata Kunci : Media Solar Sistem dan CD Interaktif, Hasil belajar Ketika guru menjelaskan di depan kelas, hanya beberapa anak yang antusias, sedangkan yang lain berbicara sendiri, bahkan ada yang mengalihkan perhatian ke tempat lain. Sedangkan pada saat anak kerja kelompok, hanya satu dua anak yang mau mengerjakan yang lain hanya duduk sambil bermain sendiri dan ada pula yang membicarakan materi lain. Anak mengalami kesulitan dalam mengimajinasikan sistem tata surya dari penjelasan guru sehingga belum mampu mengidentifikasi sistem tata surya. Selain itu, guru hanya menggunakan metode ceramah , tanya jawab dan penugasan, sedangkan anak hanya mendengarkan dan melakukan tanya jawab yang materi pelajarannya belum mereka pahami , sehingga anak mudah bosan dan konsentrasi cepat hilang Tujuan penelitian tindakan ini adalah untuk (1) Mengetahui bagaimana langkah-langkah Penggunaan Media Solar Sistem dan CD Interaktif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mengidentifikasi Sistem Tata Surya Siswa Kelas VI SDN Sumberoto 05 Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang (2) Mengetahui apakah dengan Penggunaan Media Solar Sistem dan CD Interaktif dapat Meningkatkan Hasil Belajar Mengidentifikasi Sistem Tata Surya Siswa Kelas VI SDN Sumberoto 05 Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang? Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (Action Research) model Kemmis dan Mc Taggart sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Sasaran penting ini adalah siswa kelas VI SDN Sumberoto 05 Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan Media Solar Sistem dan CD Interaktif siswa mampu mengidentifikasi sistem tata surya beserta ciri-cirinya. Penggunaan Media Solar Sistem Dan CD Interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SDN Sumberoto 05 Kec. Donomulyo Kab. Malang. Hasil belajar terus mengalami peningkatan sehingga dapat dari siklus 1 sebesar 38,9% meningkat menjadi 94,4% pada siklus 2. Sehingga dapat disimpulkan penggunaan media Solar Sistem dan CD Interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Sumberoto 05 Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, serta media ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran IPA atau Sains. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini hendaknya guru Sejak awal pembelajaran menerapkan media solar sistem dan media CD Iteraktif pada setiap pertemuan. Materi sama dapat menimbulkan kebosanan jadi sebaiknya dapat mengembangkan indikator dalam setiap pertemuan harus memperhatikan perbedaannya agar tujuan pembelajaran lebih jelas.

Peningkatan kemampuan membaca dan menulis permulaan melalui metode cooperative integrated reading and composition (CIRC) pada siswa kelas III SDN Kiduldalem I Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Eny Fauzia

 

Kata Kunci: Membaca dan menulis permulaan, Metode (Cooperative Intregated Reading And Compotision) CIRC SD Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah suatu proses terus menerus manusia untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi sepanjang hayat. Bahasa Indonesia mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu pengetahuan lain. Dalam kurun waktu terakhir ini para ahli menyadari pentingnya kemampuan membaca dan menulis bagi siswa menjadikan pembelajaran membaca dan menulis menjadi pelajaran paling awal yang harus diikuti oleh siswa kelas III Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yaitu, mendeskripsikan pembelajaran membaca dan menulis permulaan melalui metode CIRC dan peningkatan keaktifan dalam membaca dan menulis permulaan melalui metode CIRC pada siswa kelas III SDN Kiduldalem 1 Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa data pra tindakan dan tindakan kemampuan siswa membaca dan menulis siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara, observasi dan dokumen foto.Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu berupa instrumen manusia yaitu peneliti sendiri. Untuk menhaga keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pemaparan data, penyederhanaan data, pengelompokan data dan pemaknaan. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan ketahui bahwa kemampuan membaca siswa kelas III SDN Kiduldalem1 Bangil ditunjukkan dari prosentase ketuntasan hasil membaca dan menulis siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan. Pada pra tindakan prosentase kemampuan membaca adalah 18%. Pada pembelajaran siklus I pertemuan pertama ketuntasan belajar meningkat menjadi 64%, dan pertemuan kedua ketuntasan belajar mencapai 76%. Pada pembelajaran siklus II secara klasikal mencapai ketuntasan belajar mencapai 89%. Sedangkan untuk kemampuan menulis pada pra tindakan atau sebelum siklus prosentase adalah 19%. Pada pembelajaran siklus I pertemuan pertama kemampuan menulis meningkat menjadi 21%, dan pertemuan kedua kemampuan menulis mencapai 25%. Dari hasil penelitian ini, diharapkan siswa mampu meningkatkan kemampuan membaca dalam mata pelajaran bahasa Indenesia khususnya membaca dan menulis. Selain itu, harapan dari penelitian ini adalah semoga hasil penelitian ini membantu guru, siswa, maupun peneliti lain dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia sehingga mutu pendidikan akan terwujud dengan baik.

Pelaksanaan strategi public relation sebagai kegiatan promosi pada tok buku diskon Togamas Malang / Sandy Dwi Putra

 

Kata kunci: Bauran Promosi, Public relation. Promosi sebagai salah satu elemen bauran pemasaran memiliki arti dan peranan yang penting, karena promosi bertujuan untuk mengkomunikasikan produk kepada konsumen agar melakukan pembelian. Jenis promosi yang tersedia dalam pemasaran yang dikenal dengan bauran promosi meliputi periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing). Melalui komponen tersebut dapat dipadukan menjadi bauran promosi yang terintegrasi sehingga dapat digunakan sebagai upaya branding yang dilakukan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang. Penulisan Tugas Akhir ini sebagai lanjutan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang mulai tanggal 1 Maret 2010 sampai dengan 31 Maret 2010. Dari hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan diperoleh bahwa strategi bauran promosi yang digunakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang adalah periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing). Tujuan dari diadakanya penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui bagaimana bentuk strategi public relation yang diterapkan oleh Toko Buku Diskon Togamas Malang, (2) Untuk mengetahui pengaruh strategi public relation terhadap kegiatan promosi pada Toko Buku Diskon Togamas Malang dan (3) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan strategi public relation pada Toko Buku Diskon Togamas Malang. Strategi bauran promosi yang paling efektif dilaksanakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang adalah promosi penjualan dengan menggunakan alat promosi konsumen berupa pemberian diskon dan juga public relation yang dilakukan Toko Buku Diskon Togamas Malang seperti jelajah wisata buku, live musik, workshop dan bedah buku atau seminar. Dalam pelaksanaan strategi bauran promosi khususnya public relation terdapat beberapa faktor pendukung yang meliputi tersedianya biaya untuk melaksanakan bauran promosi, kerjasama yang baik dengan para penerbit, adanya media elektronik sebagai media periklanan serta adanya kerjasama yang baik diantara anggota tim pemasaran Toko Buku Diskon Togamas Malang, sehingga dapat mewujudkan program promosi yang baik khususnya program public relation. Sedangkan faktor penghambat meliputi rasa antusias dan ketertarikan konsumen yang belum mencapai target yang direncanakan, jumlah strategi bauran promosi yang terlalu banyak membuat konsumen merasa bingung dan kurang paham mengenai program promosi yang dilaksanakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang, kurangnya tenaga marketing, dan fasilitas toko yang kurang nyaman. Melalui bauran promosi khususnya public relation,tujuan dari Toko Buku Diskon Togamas dapat tercapai, sebab dengan pelaksanaan bauran promosi berupa public relation, perusahaan dapat memberikan penguatan citra baik kepada konsumen melalui public relation dan berbagai program promosi lain yang dilaksanakan oleh Toko Buku Diskon Togamas Malang. Berdasarkan hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan dapat disarankan sebagai berikut. (1) Toko Buku Diskon Togamas Malang terus berupaya untuk meningkatkan strategi diskon sehingga dapat memberikan rasa antusias bagi konsumen untuk selalu berbelanja di Toko Buku Diskon Togamas Malang. Misalnya dengan pemberian diskon-diskon lain yang lebih menarik, (2) lebih mengevaluasi kembali strategi-strategi bauran promosi yang sudah ada, dan mencermati kembali strategi-strategi yang lebih efektif dan strategi yang kurang efektif sehingga dapat mengurangi jumlah strategi yang sudah ada, (3) pihak manejemen Toko Buku Diskon Togamas Malang, hendaknya menambah jumlah SDM (sumber daya manusia) yang diposisikan sebagai tenaga marketing, mengingat tenaga marketing yang ada di Toko Buku Diskon Togamas Malang saat ini sangat terbatas. Terlebih marketing merupakan ujung tombak bagi setiap perusahaan dan agar strategi public relation dapat berlangsung dengan semestinya, dan (4), Meningkatkan acara-acara yang berkaitan dengan public relation agar pengunjung bisa lebih banyak lagi yang mengunjungi Toko Buku Diskon Togamas Malang.

Penerapan metode pembelajaran PQ4R (preview, question, readm reflect, recite, review) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VI SDN Klampis Ngasem IV/560 Surabaya pada pokok bahasan benua / Leny Oktriana

 

Kata Kunci: Metode PQ4R, aktifitas belajar, hasil belajar Hasil observasi di kelas diketahui hasil belajar siswa kurang, hal ini disebabkan karena pembelajaran masih bersifat konvensional sehingga siswa kurang tertarik dan bersikap pasif. Oleh karena itu, diperlukan metode atau strategi dalam proses pembelajaran. Pembelajaran IPS mencakup bahasan yang sangat luas dan mengharuskan siswa mengingat materi yang sangat banyak. Sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengingat materi. Dengan melihat perbedaan dan karakteristik serta potensi yang dimiliki siswa, dapat digunakan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, and Review) sebagai alternative proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan efektifitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan langkah-langkah penerapan metode PQ4R dalam pembelajaran IPS siswa kelas VI SDN Klampis Ngasem IV/560 Surabaya, (2) Peningkatan aktivitas belajar IPS dengan penerapan metode PQ4R pada siswa kelas VI SDN Klampis Ngasem IV/560 Surabaya, (3) Peningkatan hasil belajar IPS dengan penerapan metode PQ4R pada siswa kelas VI SDN Klampis Ngasem IV/560 Surabaya. Rancangan yang digunakan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Subjek penelitian siswa kelas VI SDN Klampis Ngasem IV/560 Surabaya yang berjumlah 16 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, dan tes Hasil penelitian menunjukkan langkah-langkah metode PQ4R telah berjalan dengan baik, yang ditunjukkan dengan aktivitas guru pada siklus I sebesar 65,6%, pada siklus II meningkat menjadi 87,5%. Aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dari 51,95% pada siklus I menjadi 67,38% pada siklus II. Peningkatan juga terjadi pada hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan pada siklus I 47,87% yang mengalami peningkatan ke siklus II menjadi 75%. Dari hasil temuan di atas dapat disimpulkan bahwa penenerapan metode pembelajaran PQ4R dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Saran yang dapat disampaikan yaitu guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Hal ini diperlukan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran yang optimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar materi listrik siswa kelas VI / Sunoto

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Kooperatif Model Stad, Aktifitas dan Hasil Belajar. Berdasarkan temuan awal pada pembelajaran sebelumnya, siswa kurang aktif dan mengalami kesulitan dalam menguasai materi listrik dengan nilai rata-rata 60, penyampaian pembelajaran yang dilakukan di kelas VI SDN Sukoreno I kurang bervariasi dan masih dominannya metode ceramah, padahal guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar, dalam meningkatkan mutu siswa, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab guru untuk membuat pembelajaran IPA menjadi lebih aktif, efektif, menarik dan menumbuhkan minat belajar siswa. Salah satu model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan model stad yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan memperbaiki pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model stad ,khususnya dalam menyelesaikan mata pelajaran IPA soal materi listrik siswa kelas VI. Pelaksanaan pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan aktifitas dan hasil belajar materi listrik siswa kelas VI di SDN Sukoreno I Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan metode deskriptif kualitatif model dua siklus dengan langkah: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian siswa kelas VI, sebanyak 24 siswa yang terdiri 12 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pedoman observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model stad (1) dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran IPA, (2) dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa dari kurang baik pada siklus I menjadi baik pada siklus II, (3) dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu nilai rata-rata kelas dari 69,31 pada siklus I menjadi 81,45 pada siklus II dan siswa yang berhasil dari 29,16% pada siklus I menjadi 87,5% pada siklus II mata pelajaran IPA untuk materi listrik siswa kelas VI di SDN Sukoreno I Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Kesimpulan:Penerapan pembelajaran kooperatif model stad (1) dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran IPA (2) dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran IPA siswa kelas VI, (3) hasil belajar siswa meningkat setelah mengikuti pembelajaran IPA model stad.

Perbedaan hasil belajar sistem pengapian elektronik antara siswa yang diajar melalui pendekatan cooperative learning teknik jigsaw dengan teknik problem based learning (PBL) pada sisw Keahlian Ototronik kelas X SMK Negeri 1 Singosari / Achmad Helmi Mudhaffar

 

Kata kunci: Cooperative Learning, Jigsaw,Problem Based Learning (PBL), hasil belajar, pengapian elektronik. Salah satu kunci utama dalam proses belajar mengajar adalah guru. Dalam konteks spektrum SMK siswa dituntut untuk lebih aktif sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Namun pada kenyataannya masih banyak guru yang kurang memperhatikan penggunaan metode belajar yang tepat. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan sebuah model cooperative learning teknik jigsaw dan Problem Based Learning (PBL), pada pokok bahasan dasar pengapian elektronik motor bensin. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui seberapa besar perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan pembelajaran model cooperatif learning teknik jigsaw dan Problem Based Learning (PBL) materi “Dasar Pengapian Elektronik Motor Bensin” Kelas X T.OT SMK Negeri Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan pola Two Group, Pretest Posttest Design. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X T.OT Tahun Pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 4 kelas. Sampel penelitian menggunakan dua kelas dimana teknik pengambilannya melalui random sam¬pling. Kelas X T.OT 1 sebagai kelas eksperimen Jigsaw dan X T.OT 2 sebagai kelas eksperimen Problem Based Learning (PBL). Variabel penelitian terdiri dari, variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan varia¬bel terikat yaitu hasil belajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini pre test dan post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapanan model cooperatif learning teknik Jigsaw terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa dan jigsaw lebih baik daripada PBL dilihat dari perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan yaitu sebesar 24,7, sedang¬kan dengan penerapan Problem Based Learning (PBL) juga terdapat pengaruh meski¬pun tidak sebesar dengan penerapanan model cooperatif learning teknik Jigsaw, dilihat dari perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan yaitu 19,6. Hasil belajar antara kelas eksperimen Jigsaw dan eksperimen Problem Based Learning (PBL) juga menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan yaitu 5,5 dengan nilai Sig(p) 0,001 dan teknik jigsaw menunjukkan lebih baik dibandingkan PBL yakni dengan nilai Sig(p) 0,000. Kesimpulan penelitian yaitu terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara penerapan cooperative learning teknik Jigsaw dan teknik Problem Based Learning (PBL) pada materi “Pengapian Elektronik”. Model cooperative learning teknik Jigsaw memberikan lebih baik dibandingkan PBL. Saran bagi guru pengajar, hendaknya menggunakan pembelajaran cooperative learning teknik jigsaw sebagai alternatif pengajaran pengapian elektronik selanjutnya.

Kemampuan membaca indah puisi siswa Jurusan Bahasa semester 2 SMA Negeri 1 Talun / Nunik Trisnayati

 

Kata Kunci: kemampuan vokal, kemampuan ekspresi, membaca indah puisi. Mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya dalam bidang sastra memiliki peranan dalam pembentukan watak dan kepribadian manusia Indonesia. Dalam kurikulum 2006 dinyatakan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia salah satunya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Salah satu perwujudannya adalah dengan membaca indah puisi. Membaca indah puisi, secara langsung melatih peserta didik untuk mengembangkan kemampuan intelektual, emosi, dan keterampilan penggunaan aspek vokal dan ekspresi yang sesuai dengan isi puisi. Ketika membaca puisi, siswa dapat mengekspresikan pemahaman isi maupun pesan yang terkandung di dalamnya dengan vokal dan ekspresi yang sesuai. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yakni: (1) mendeskripsikan kemampuan vokal dalam membaca indah puisi dan (2) mendeskripsikan kemampuan ekspresi dalam membaca indah puisi. Kemampuan vokal diperoleh dari aspek volume suara, intonasi, pelafalan, jeda, dan irama. Sedangkan kemampuan ekspresi diperoleh dari aspek mimik dan kinesik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Data diperoleh dari seluruh siswa kelas XII Bahasa yang berjumlah 14 siswa, tetapi hanya diikuti 12 siswa karena 2 siswa tidak hadir. Puisi yang dibaca oleh siswa merupakan puisi pilihan siswa dari lima puisi yang disediakan oleh peneliti. Penilaian membaca puisi dilakukan oleh tiga penilai, yaitu dua guru bahasa Indonesia dan peneliti sendiri. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes performansi, observasi dan dokumentasi audio dan visual. Data yang berupa angka yang diperoleh dianalisis menggunakan program SPSS. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa siswa Jurusan Bahasa memperoleh rata-rata nilai 65,7. Dalam hal ini, sekolah menetapkan standar kelulusan minimal (SKM) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 75. Berdasarkan SKM yang ditetapkan sekolah, kemampuan membaca indah puisi siswa jurusan Bahasa berada di bawah SKM dengan kualifikasi cukup (C). Pada aspek vokal, kriteria kemampuan untuk volume suara adalah baik (B), intonasi (C), pelafalan sangat baik (SB), jeda baik (B), dan irama (C). Kriteria aspek ekspresi yang meliputi mimik adalah cukup (C) dan kinesik juga cukup (C). Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini, yakni (1) guru tidak hanya memberikan materi apresiasi teks puisi, tetapi juga memberikan materi tentang olah vokal dan kspresi maupun contoh untuk performansi seni mambaca puisi disertai latihan-latihan terkait seperti latihan bersama di lapangan atau di gedung aula; (2) hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai patokan, informasi, maupun referensi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan pengembangan sehubungan dengan kegiatan membaca puisi.

Using pictures to improve speaking ability of the first grade students in SMKN 1 Kediri in describing things and people / Yerri Kardiana

 

Graduate Program in English Language Education. State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Enny Irawati, M. Pd. (II) Drs. Fachrrurazy, M. A., Ph. D. Key words: using pictures, describing things and people, improve, speaking ability. This research employed a classroom-action-research. Considering the fact that the students' speaking ability is still poor, the present researcher plans to promote a new technique that will improve the students' speaking ability. In addition, this technique should be interesting so that the students are motivated to engage communication in speaking activities based on the task independently. In this case, a picture is a suitable technique that can be used to overcome the existing problem. The preliminary study to find the speaking problems have been carried out. Classroom action-research design was used to investigate how the students' speaking ability can be improved using Pictures in Describing Things and People. The research problem is: How can the speaking ability of the first grade students of SMKN 1 Kediri be improves by using Pictures in Describing Things and People?" The procedure of the research consisted of the four main steps i.e. planning, implementing, observing and reflecting. This research was conducted in two cycles. Each cycle comprised of three meetings. The instruments for collecting the data were observation checklist, field notes, and speaking assessment. The finding of the research indicated that Using Pictures in Describing Things and People was successful in improving the students' speaking ability. The improvement could be seen from the increase of students' speaking assessment from pre test to cycle one and cycle two. In cycle one, 60.71% of the students got poor score, 21.43% of the students got very poor score , 40.62% of the students got average score, and 3.12% of the students got good score. In cycle two, 50% of the students got average score, 28.12% of the students got good score and 6.25% of the students got very good score. Besides, the finding showed that using pictures in describing Things and People was effective in improving the students' involvement in the teaching and learning process. Implementing pictures in describing Things and People for teaching speaking involved the following steps: (1) showing a set of pictures to the students, (2) describing the things and people based on the pictures, (3) asking questions to the students to check the students' understanding about the story, (4) describing the pictures once more to make clear what the pictures are about while writing the description of things and people on the blackboard to become a model description for the students, (5) dividing the students into five groups, (6) handing out six sets of pictures to each group of the students, (7) giving the students guided vocabulary related to the pictures, (8) practicing the pronunciation of the vocabulary, (9) asking the students to make brief notes of their descriptions based on the pictures, (10) asking the students to describe the things and people based on pictures, (11) correcting the students' pronunciation and grammar usage, and (12) asking the students to describe people with the real pictures (famous people). Based on the findings, it can be concluded that using pictures in describing things and people can be used to improve both the students' speaking ability and students' involvement in the teaching and learning process. Therefore, it is suggested to the English teachers to implement it as an alternative technique in their English class particularly in the speaking class. For the principal, it is suggested to provide facilities to improve the English teachers' teaching quality by making a policy of cooperating with some experts to hold an in-service training about teaching methods for English teachers. For other researchers, it is suggested to conduct other researches by implementing the pictures in describing things and people in other school levels and for other language skills such as listening and writing.

Pembelajaran bermakna untuk meningkatkan hasil belajar opersi penjumlahan tiga pecahan pada kelas V SDN Kidul Dalem 02 Malang / Lina Dwi Lestari

 

Kata kunci: pembelajaran bermakna, hasil belajar, operasi penjumlahan pecahan Hasil analisis kesalahan jawaban siswa dari soal tes awal yang telah dilakukan, ditemukan bahwa siswa belum menguasai cara penyelesaian soal pada materi operasi penjumlahan tiga pecahan. Guru kurang maksimal dalam menggunakan media untuk pembelajaran pada materi tersebut karena guru hanya cenderung memperkenalkan media yang digunakan sedangkan dalam memberi serangkaian soal guru juga memberi aturan lain sehingga tidak menggunakan media tersebut dalam menyelesaikan soal. Siswa juga cenderung mengikuti aturan yang diberikan karena dianggap dapat menyelesaikan soal lebih cepat dibandingkan menggunakan media yang disediakan. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan suatu pendekatan yang bermakna sehingga cara kerja siswa pun akan bermakna dan mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri karena siswa bisa secara bebas menggunakan cara penyelesaian mereka sendiri tetapi juga masih berpatokan pada konsep yang ada. Belajar bermakna sangat diperlukan dimanapun dan bagaimanapun materi berlangsung karena bisa sebagai alternatif dari pendekatan atau teori hafalan atau yang lebih kita kenal teori drill. Dan peneliti berinisiatif menggunakan pembelajaran bermakna untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V SDN Kidul Dalem 02 Malang. Tahap dalam penelitian ini (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi. Data yang dapat diperoleh pada penelitian ini (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi, dan (3) pedoman wawancara. Studi awal yang peneliti lakukan sebelum melakukan penelitian yaitu memberi serangkaian soal tes pada siswa yang berhubungan dengan materi yang belum dipahami siswa. Sesuai hasil tes yang telah dilakukan siswa, ditemukan bahwa hasil pekerjaan siswa kelas V SDN Kidul Dalem 02 yaitu 14 siswa belum tuntas karena memperoleh nilai di bawah SKM yaitu 70, sedangkan 13 siswa lainnya tuntas karena telah memenuhi SKM. Dari hasil pra tindakan tersebut, peneliti mengatasi ketidaktuntasan tersebut dengan cara melakukan penelitian dan pemecahan masalah dengan memperbaiki pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya yaitu dengan menggunakan pembelajaran bermakna pada materi operasi penjumlahan pecahan sehingga setelah dalakukan penelitian ternyata menunjukkan peningkatan pada hasil belajar dengan memiliki tingkat penguasaan hingga 85% dan ini dikatakan bahwa penelitian ini dianggap tuntas dan berhasil. Dalam pembahasannya, siswa lebih menyukai pendekatan ini karena siswa merasa bebas dan tidak terpaku pada aturan yang biasa diberlakukan karena siswa bisa menyelesaikan soal-soal dengan caranya sendiri, dengan kreatifitasnya sendiri tetapi juga masih harus sesuai dengan konsep yang ada. Dengan adanya tindakan seperti ini, belajar siswa pun pasti akan bermakna dan siswa tidak hanya lulus dengan cara menghafal.

Tindak tutur representatif penyiar radio Elfara FM pada program chat room / Devita Mandhasari

 

Kata kunci chat room. Sumber data untuk tujuan tersebut berupa data tuturan yang direkam dari program chat room. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data verbal yaitu datadata yang berupa kata-kata yang diujarkan penyiar dan telah ditranskrip dari rekaman siaran radio. Instrumen untuk pengambilan data adalah tabel instrumen wujud dan fungsi tindak tutur representatif penyiar radio Elfara FM pada program chat room. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur penyiar radio Elfara FM pada program chat room terdiri dari tiga bagian, antara lain (1) pembuka siaran, (2) isi siaran, dan (3) penutupan siaran. Pada bagian pembuka siaran program chat room radio Elfara FM, terdapat dua wujud tindak tutur representatif penyiar dan empat fungsi. Wujud tindak tutur representatif penyiar yaitu wujud kalimat deklaratif dan kalimat imperatif, dan memiliki fungsi menyatakan, menegaskan, menjelaskan, dan mendesak. Sedangkan pada bagian isi siaran program chat room radio Elfara FM, terdapat tiga wujud tindak tutur representatif penyiar dan tujuh fungsi. Wujud tindak tutur representatif penyiar yaitu wujud kalimat deklaratif, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif. Fungsi tindak tutur representatif penyiar pada bagian isi siaran program chat room radio Elfara FM adalah untuk menyatakan, mengeluh, menegaskan, menduga, memprediksi, menjelaskan, dan mendesak. Pada bagian penutupan siaran program chat room radio Elfara FM terdapat dua wujud tindak tutur representatif penyiar dan tiga fungsi. Wujud tindak tutur representatif penyiar yaitu wujud kalimat deklaratif dan kalimat imperatif, dan memiliki fungsi menyatakan, dan menjelaskan. Berdasarkan ketujuh fungsi di atas, dapat disimpulkan tindak tutur representatif penyiar radio Elfara FM pada program chat room banyak difungsikan untuk menyatakan dan menjelaskan. Jadi, fungsi tuturan yang mendominasi siaran chat room adalah untuk menyatakan dan menjelaskan informasi tentang kesehatan (siaran hari Kamis, 21 Oktober 2010), dan informasi tentang relationship (siaran hari Senin, 25 Oktober 2010). Dengan adanya fungsi tersebut, informasi yang hendak diberikan penyiar diharapkan dapat diterima pendengar dengan jelas dan lengkap. Penelitian ini memberikan hasil yang baik bagi perkembangan kajian tentang tindak tutur representatif. Saran bagi peneliti selanjutnya, diharapkan peneliti lain memilih rumusan masalah yang terkait dengan wujud dan fungsi tindak tutur dari segi bidang lainnya, misalnya bidang sosial, budaya atau hukum untuk diteliti pada konteks penggunaan bahasa yang berbeda, agar temuan penelitian ini dapat diuji kebenarannya. Selain itu, peneliti lain juga dapat melakukan penelitian tentang tindak tutur representatif dengan menggunakan metode penelitian, yang tentunya akan menghasilkan temuan yang berbeda dari yang telah dilakukan peneliti. Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa tutur lisan, khususnya bahasa tutur lisan yang digunakan di media elektronik radio memiliki kecenderungan menggunakan tindak tutur yang berbeda dengan bahasa lisan yang digunakan dalam saluran yang lain. Untuk memahami wacana siaran di radio sebagai salah satu kegiatan berbahasa tutur lisan hanya dapat dilakukan melalui penelitian terhadap daya ilokusi tuturan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) wujud tindak tutur representatif penyiar radio dan (2) fungsi tindak tutur representatif penyiar radio. Untuk tujuan tersebut digunakan metode kualitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan wujud dan fungsi tindak tutur representatif penyiar radio Elfara FM pada program

Kajian sosiolinguistik pilihan bahasa obrolan elektronik di facebook antarmahasiswa Universitas Malang / Novi Eka Susilowati

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Malang. Pembimbing (I) Dr. Mujianto, M.Pd, (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd. Kata kunci: kajian sosiolinguistik, pilihan bahasa, obrolan elektronik, antarmahasiswa Universitas Malang Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak pada semakin bervariasinya media komunikasi, misalnya situs jejaring sosial Facebook. Saat ini, Facebook sedang marak digunakan oleh masyarakat, termasuk mahasiswa. Fasilitas-fasilitas yang ada di Facebook menyebabkan pengguna Facebook menggunakannya secara aktif, misalnya dengan melakukan obrolan elektronik. Obrolan elektronik adalah salah satu kegiatan komunikasi melalui saluran internet yang dilakukan dengan cara mengetikkan suatu pesan pada layar yang kemudian dikirim hingga pesan itu diterima oleh lawan obrolan sama persis seperti yang dikirimkan oleh pelaku obrolan. Obrolan elektronik merupakan salah satu wujud nyata penggunaan bahasa di masyarakat. Sebagai salah satu bentuk komunikasi, pelaku obrolan elektronik mempunyai kewenangan untuk memilih bahasa yang ia gunakan dalam obrolan elektroniknya. Pilihan bahasa tersebut dilatarbelakangi oleh faktor-faktor tertentu, bergantung pada partisipan, topik, jenis kelamin, maupun faktor-faktor lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan pilihan bahasa obrolan elek-tronik mahasiswa UM yang dilakukan melalui media/saluran Facebook. Pilihan bahasa ini dijabarkan berdasarkan struktur pertukarannya, yaitu pilihan bahasa dalam membuka, merespon, dan menutup obrolan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memaparkan faktor penyebab pilihan bahasa obrolan elektronik. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) teori kajian sosiolinguistik (Wadhaugh, 1984; Fishman 1972; Fasold, 1984), (2) teori variasi bahasa (Thomas & Wareing, 1999; Ibrahim & Suparno, 2008), dan (3) teori bahasa obrolan elektronik (Crystal, 2002). Teori kajian sosiolinguistik dimanfaatkan sebagai kerangka dasar analisis obrolan elektronik karena unit-unit fungsional kajian sosiolinguistik sesuai dengan masalah penelitian ini. Teori variasi bahasa digunakan sebagai parameter penafsiran hasil penelitian. Adapun teori bahasa obrolan elektronik digunakan untuk memberi penafsiran tentang wujud bahasa obrolan elektronik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan ancangan penelitian sosiolinguistik. Ancangan sosiolinguistik dalam kajian ini dipusatkan pada model fungsional pemakaian bahasa obrolan elektronik pada dimensi sosial budaya masyarakat tuturnya. Model yang dimaksud adalah model etnografi komu-nikasi. Data dalam penelitian ini diperoleh dari teks obrolan elektronik mahasiswa Universitas Malang yang dipilih berdasarkan lima kategori, yaitu (1) usia, (2) bahasa pertama pelaku obrolan elektronik, (3) topik, (4) jarak sosial, dan (5) jenis kelamin. Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi dokumentasi, observasi partisipatori, dan wawancara. Analisis data menunjukkan beberapa hasil penelitian tentang pilihan baha-sa dalam membuka, merespon, dan menutup obrolan elektronik. Pilihan bahasa yang digunakan dalam membuka obrolan elektronik adalah BA, BINF, dan BJN. Pilihan bahasa yang digunakan dalam merespon obrolan elektronik yaitu BIF, BINF, BJN, IS, dan BA, BJK, BING, dan DM. Pilihan bahasa yang digunakan dalam menutup obrolan elektronik yaitu BA, BINF, BJN, dan BING. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik empat kesimpulan, yaitu (1) di dalam obrolan elektronik, pelaku masih memperhatikan kesantunan berbahasa yang dapat dibuktikan dengan pilihan bahasa dalam tahap-tahap obrolan elektronik, (2) dalam hal penggunaan bahasa, obrolan elektronik memiliki karakteristik khas yang berbeda dengan percakapan langsung yang dapat dilihat dari pilihan bahasa, khususnya kosakata, (3) dalam membuka, merespon, dan menutup obrolan elektronik, pilihan bahasa yang digunakan berbeda pada masing-masing tahap tersebut, yang terkait dengan tujuan masing-masing tahap, dan (4) obrolan elektronik merupakan salah satu jenis komunikasi yang masih memegang aturan komunikasi yang dibuktikan dengan pilihan bahasa yang disesuaikan dengan partisipan maupun topik. Hasil penelitian ini memberikan implikasi pada (1) kajian sosiolinguistik, (2) kajian tindak tutur, (3) pemertahanan dan pengembangan bahasa, dan (4) pembelajaran. Berkenaan dengan hasil penelitian, dapat diberikan saran kepada beberapa pihal yang terkait. Pertama, bagi ahli bahasa/peneliti selanjutnya, disarankan agar diadakan penelitian lanjutan tentang pilihan bahasa obrolan elektronik. Kedua, bagi pusat bahasa/lembaga pengembang bahasa/penentu kebijakan bahasa, disarakan agar menyusun laras bahasa obrolan elektronik. Ketiga, bagi guru dan pengembang bahan ajar, disarankan agar menggunakan bahasa obrolan elektronik sebagai salah satu bahan ajar kecermatan berbahasa. Selain itu, guru juga disarankan untuk mengggunakan bahasa obrolan elektronik untuk melatih kesantunan berbahasa siswa. Terkait langsung dengan guru, disarankan agar guru tidak terpengaruh dengan penggunaan bahasa obrolan elektronik dalam pembelajaran. Keempat, bagi pengembang internet, disarankan agar menyediakan aplikasi-aplikasi pada obel dengan berbagai variasi bahasa.

Pengaruh penambahan pasak terhadap kuat geser balok laminasi dari bambu petung dan kayu sengon / Ardian Sigit Rakhmadi

 

Kata kunci: bambu petung, kayu sengon, balok laminasi, kuat geser. Dari tahun ke tahun harga kayu di Indonesia mengalami kenaikan, hal ini menambah beban masyarakat Indonesia yang masih sering menggunakan kayu dalam kesehariannya. Untuk mananggulangi masalah tersebut diperlukan solusi, salah satunya adalah mencari bahan pengganti kayu yaitu balok laminasi. Balok laminasi adalah balok yang terbuat dari 2 bahan atau lebih yang dipotong kecil-kecil dan direkatkan dengan suatu perekat. Bahan yang digunakan adalah bambu petung dan kayu sengon. Pada penelitian yang terdahulu balok laminasi dengan rasio bambu 75% mengalami kerusakan geser, yang artinya bahwa balok laminasi tersebut masih bisa ditingkatkan lagi kekuatannya dengan melakukan perkuatan geser. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beda nilai beban geser antara balok laminasi tanpa penambahan pasak dengan balok laminasi yang diberi penambahan pasak. Benda uji dalam penelitian ini adalah balok laminasi dari bambu petung dan kayu sengon dengan rasio bambu petung terhadap kayu sengon sebesar 3 : 1, berdiameter 6 cm x 8 cm x 150 cm. Benda uji dibagi menjadi dua, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah balok laminasi tanpa pasak sedangkan kelompok eksperimen adalah balok laminasi dengan penambahan pasak berdiameter 0,9 cm yang terbuat dari bambu petung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Struktur Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, tanggal 23 Agustus 2010 sampai dengan 23 Oktober 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap balok laminasi kelompok kontrol dan balok laminasi kelompok eksperimen didapatkan bahwa nilai rerata beban maksimum balok laminasi kelompok eksperimen sebesar 589 kg, lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata beban maksimum balok laminasi kelompok kontrol sebesar 541,8 kg. Selisih nilai rerata beban maksimum balok eksperimen dengan balok kontrol sebesar 47,2 kg atau meningkat sebesar 8,71%.

Pengaruh variasi doping ion Ni2+ terhadap struktur kristal dan magnetodielektrisitas senyawa delafossite CuCr1-xNixO2 / Lalu Ahmad Didik Meiliyadi

 

Kata Kunci : Doping, Struktur Kristal, Magnetodielektisitas, Delafossite, CuCr1-xNixO2. Delafossite CuCrO2 merupakan senyawa yang menarik untuk dikaji karena potensi aplikasinya dalam teknologi Transparent Conductive Oxide (TCO). TCO merupakan teknologi yang sangat penting pada material zat padat. TCO mengkombinasikan sifat transparan material pada daerah frekuensi cahaya tampak dengan konduktivitas listrik yang tinggi. Akan tetapi, yang menjadi tantangan adalah sifat dielektrisitasnya yang masih belum banyak diteliti. Penelitian ini menawarkan penelitian tentang dielektrisitas senyawa CuCr1-xNixO2 baik yang tidak dipengaruhi medan magnet maupun yang mengalami pengaruh medan magnet luar. Pada penelitian ini, CuCrO2 didoping dengan Ion Ni2+ dari NiO didoping ke dalam CuCrO2 menjadi senyawa CuCr1-xNixO2 (0 ≤ x ≤ 0.04). Bahan dasar yang digunakan adalah CuO(PA 99%), Cr2O3(PA 99%), dan NiO (99%). Karakterisasi struktur kristal menggunakan XRD dan magnetodielektrisitas menggunakan LCR meter. Analisis struktur kristal menggunakan software GSAS untuk refinement berdasarkan model dengan grup ruang R-3m (166), input dengan parameter kisi a = b = 2,9765 Å, parameter kisi c = 17,1010 Å, α = β = 90̊, γ = 120̊. Penentuan parameter kisi serta panjang ikatan antar atom penyusun senyawa CuCr1-xNixO2 menggunakan metode tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan parameter kisi baik parameter kisi a, b maupun c. Parameter kisi a meningkat dari 2,9715 Å pada x = 0 menjadi 2,9745 Å pada x = 0,04. Sedangkan parameter kisi c meningkat dari 17,0765 Å pada x = 0 menjadi 17,0880 Å pada x = 0,04. Secara umum kenaikan volume meningkat dari konsentrasi x = 0 sampai x = 0,04. Kenaikan dan penurunan volume yang terjadi berimbas pada perubahan konstanta dielektrik. Peningkatan parameter kisi, volume dan jarak ikatan antar ion berpengaruh terhadap menurunnya konstanta dielektrik. Pemberian medan magnet meningkatkan nilai konstanta dielektrik.

Pengaruh konsentrasi doping ion Mn terhadap struktur krstal dan magnetodielektrisitas senyawa delafosit CuCr1-xMnx)2+5 / Katrina Yunita Rachman

 

Kata kunci: solid state reaction, CuCr1-xMnxO2+δ, delafosit, konstanta dielektrik, magnetodielektrisitas. Bahan delafosit telah banyak diaplikasikan dalam dunia industri. Pada bahan delafosit energi dari ion A+ dan O 2p akan saling memberi kontribusi untuk kenaikan mobilitas pada hole (lubang) yang membuat delafosit cocok untuk konduktor tipe-p (semikonduktor). Salah satunya yaitu dalam TCO (transparent conducting oxides). TCO merupakan teknologi yang penting dalam material zat padat dengan mengkombinasikan material yang mempunyai sifat optik transparasi dengan material yang memiliki konduktivitas tinggi. Pada penelitian ini, delafosit CuCrO2 didoping dengan Mn4+ dalam bentuk CuCr1-xMnxO2+δ dengan variasi konsentrasi 0 x 0,04. Bahan dasar yang digunakan adalah CuO (99%), MnO2(99%) dan Cr2O3(99%). Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode solid state reaction. Metode solid state reaction adalah suatu metode yang memungkinkan reaksi tanpa pelarut. Karakterisasi struktur kristal menggunakan XRD dan konstanta dielektrisiknya menggunakan LCR meter. Pembentukan fasa dan struktur krisatal dianalisis menggunakan program GSAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa delafosit CuCr1-xMnxO2+δ berhasil disintesis. Pencocokan dengan model menunjukkan bahwa senyawa delafosit CuCr1-xMnxO2+δ telah berhasil disintesis dengan parameter kisi a = b berkisar antara 2,9714-2,9758 (Å) dan nilai parameter kisi c antara 17,07660-17,10172 (Å). Pada konsentrasi molar x = 0 sampai x = 0,02 volume sel membesar dan pada x = 0,03 dan x = 0,04 volume sel mengecil. Pemberian medan magnet pada senyawa delafosit CuCr1-xMnxO2+δ mengakibatkan perbesaran konstanta dielektrik. Semakin besar medan magnet yang diberikan, maka konstanta dielektrik juga semakin besar.

Penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) dan metode numbered heads together (NHT) untuk meningkaykan partisipasi dan pretasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X-4 SMAN 1 Sumberpucung Kabupaten Malang

 

Kata kunci: Contextual Teaching and Learning (CTL), Numbered Heads Together (NHT), Prestasi Belajar Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui depdiknas. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan perubahan dalam sektor kurikulum, baik struktur maupun prosedur perumusannya. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Saat ini sering muncul anggapan bahwa ilmu Ekonomi adalah ilmu yang kurang menarik bila dibandingkan dengan ilmu lainnya. Anggapan ini muncul karena pelajaran ekonomi cenderung mengingat dan menghafal. Hal ini diperkuat dengan adanya hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti. Observasi tersebut dilakukan peneliti di SMAN 1 Sumberpucung kelas X-4 dengan jumlah siswa 32 orang yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Sehingga, 79% atau sekitar 25 siswa kelas X-4 nilainya masih dibawah siswa kelas X yang lain. Metode ceramah ini juga cenderung berpusat pada guru (teacher centered), guru masih berperan banyak dalam proses pembelajaran bila dibandingkan dengan siswanya. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK), karena penelitian ini merupakan bentuk kajian yang bersifat reflektif untuk pelaku tindakan (karena digunakan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan, peristiwa maupun kejadian secara alami di kelas seperti aktivitas dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung). Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Penerapan pendekatan contextual teaching and learning dengan meng-gunakan metode numbered heads together dapat meningkatakan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi di SMAN 1 Sumberpucung sebesar 58.75% pada siklus I meningkat menjadi 88% pada siklus II. Penerapan pendekatan contextual teaching and learning dengan menggunakan metode numbered heads together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebesar 90,62% siswa kelas X-4 mengalami peningkatan prestasi belajar setelah menggunakan pendekatan contextual teaching and learning dengan menggunakan metode numbered heads together.

Hubungan persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru dengan motivasi belajar siswa dan prestasi belajar siswa pada sub mata pelajaran seni tari kelas X di SMA Negeri Trenggalek / Rika Rini Mindasari

 

Kata Kunci : Persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru, motivasi belajar, prestasi belajar Pendidikan merupakan investasi sumberdaya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradapan manusia di dunia. Dalam dunia pendidikan, sampai saat ini yang digunakan untuk mengukur prestasi siswa adalah prestasi yang diraih siswa dalam belajar. Untuk mencapai prestasi di sekolah guru mempunyai peranan yang besar. Oleh karena itu selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Dalam menilai apakah seorang guru telah memiliki berbagai kompetensi, siswa mempunyai persepsi yang berbeda. Persepsi dari siswa akan mempengaruhi perkembangan mental siswa yaitu motivasi siswa untuk belajar. Motivasi belajar merupakan pendorong atau daya penggerak individu untuk melakukan aktivitas belajar dalam usaha untuk mencapai hasil belajar. Motivasi ini meliputi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi belajar ini akan mempengaruhi tindakan siswa dalam mencapai tujuan, yaitu mendapatkan prestasi yang memuaskan. Apabila motivasi belajar rendah tentunya prestasi tidak sesuai dengan yang diharapkan yaitu mendapatkan nilai tinggi. Sebaliknya apabila motivasi belajar tinggi tentunya prestasi yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri Trenggalek karena sekolah ini merupakan sekolah favorit yang terkenal dengan kedisiplinannya akan tetapi adanya siswa yang kurang berminat dengan mata pelajaran seni tari. Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X di SMAN Trenggalek tahun ajaran 2010/2011 bertujuan untuk mengetahui Hubungan Persepsi Siswa tentang Kompetensi Profesionalisme Guru dengan Motivasi Belajar Siswa dan Prestasi Belajar Siswa Pada Sub Mata Pelajaran Seni Tari Kelas X di SMAN Trenggalek. Sampel di dalam penelitian ini adalah berjumlah 106 siswa di ambil dari SMAN 1 Dongko, SMAN 1 Karangan, dan SMAN 2 Trenggalek. Pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi nilai raport. Untuk teknik analisis data menggunakan analisis jalur (part analysis).Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan secara langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru dengan motivasi belajar. Hal ini terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai beta terstandarisasi sebesar 0,430. terdapat hubungan secara langsung motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis nilai beta terstandarisasi sebesar 0,205. Terdapat hubungan secara tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi profesionalisme guru dengan prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar. Hal ini terbukti dengan nilai hubungan total yang diperoleh sebesar 0.088. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat menggunakan variabel yang lebih unik. Hal ini disebabakan prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kompetensi profesionalaisme guru dan motivasi belajar.

Pengaruh penggunaan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme topik kendaraan bermotor terhadap kompetensi IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Dau semester genap tahun ajaran 2010/2011 / Febrianto Yudhi Setiawan

 

Kata Kunci: Pengaruh, Paket IPA Terpadu, Kompetensi IPA. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah secara tegas menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Hasil pengamatan di SMP Negeri 1 Dau menunjukkan bahwa pembelajaran IPA masih disampaikan secara terpisah-pisah dalam disiplin ilmu fisika, kimia dan biologi. Salah satu penyebabnya adalah karena terbatasnya bahan ajar yang menyajikan IPA secara terpadu. Pada tahun 2010 telah dikembangkan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan Topik Kendaraan Bermotor oleh Mu’minul muhaimin, dkk, yang telah diuji kelayakannya meliputi penilaian Paket IPA Terpadu oleh dosen dan guru serta uji keterbacaan buku panduan siswa oleh siswa SMP. Penelitian ini bermaksud menguji paket tersebut secara empirik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Dau Tahun Pelajaran 2010/2011. Sampel pada penelitian ini adalah kelas VIII B dan VIII D yang dipilih secara acak kelompok. Kelas VIII B berjumlah 34 siswa dan ditetapkan sebagai kelas eksperimen, sedangkan VIII D berjumlah 34 siswa dan ditetapkan sebagai kelas pembanding (Kontrol). Instrumen perlakuan pada penelitian ini adalah Paket IPA Terpadu Berbasis Konstruktivisme dengan Topik Kendaraan Bermotor yang digunakan sebagai bahan ajar untuk pembelajaran IPA pada Kelas eksperimen, sedangkan kelas pembanding mendapat pembelajaran IPA dengan paket IPA yang telah ditetapkan sekolah. Kedua kelas memperoleh materi yang sama sesuai SK dan KD IPA kelas VIII. Instrumen pengukuran kompetensi IPA berupa pilihan ganda untuk soal tes prestasi belajar sebanyak 12 butir dengan reliabilitas = 0,574, essay untuk soal tes kerja ilmiah sebanyak 10 butir dengan reliabilitas = 0,585, dan skala sikap ilmiah untuk mengukur sikap ilmiah sebanyak 16 butir dengan reliabilitas = 0,802. Instrumen digunakan untuk pre test dan post test pada kelas eksperimen dan kelas pembanding, setelah sebelumnya diujikan pada 141 responden dan dinyatakan valid berdasarkan taraf kesukaran, daya pembeda dan validitas. Uji hipotesis dilakukan dengan analisis Non parametrik menggunakan uji Mann-Whitney U Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor prestasi belajar dan kerja ilmiah siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas pembanding, sedangkan skor sikap ilmiah siswa kelas eksperimen dan kelas pembanding tidak ada perbedaan.

Pengembangan permainan kosakata berbasis macromedia flash dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab untuk SD Insan Amanah Malang kelas IV / Noerma Fillaily

 

Kata kunci Macromedia Flash. Tujuan penelitian adalah: (1) Menghasilkan media permainan kosakata berbasis Macromedia Flash untuk matapelajaran bahasa Arab dalam rangka meningkatkan kosakata bahasa Arab SD Insan Amanah Malang kelas IV, (2) untuk mendiskripsikan kelayakan permainan kosakata berbasis Macromedia Flash akan membuat media lebih menarik bagi siswa.: permainan kosakata, Macromedia Flash, bahasa Arab. Perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat dari waktu ke waktu mengakibatkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan. Untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, diperlukan adanya peningkatan mutu pendidikan. Hal ini juga mendorong manusia untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun. Metode pembelajaran bahasa Arab (PBA) yang masih menggunakan metode ceramah membuat murid cepat merasa bosan dan jenuh sehingga guru dituntut untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar siswa lebih termotivasi dan antusias dalam belajar bahasa Arab. Media tersebut berupa permainan kosakata berbasis Macromedia Flash yang memenuhi kriteria sebagai media pembelajaran pada matapelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan kosakata bahasa arab untuk SD Insan Amanah Malang kelas IV. Rancangan penelitian ini adalah pengembangan, model pengembangannya adalah: (1) analisis kebutuhan, (2) rumusan tujuan, (3) mengembangkan materi, (4) produksi, (5) menyusun petunjuk pemanfaatan, (6) uji ahli, (7) revisi produk 1, (8) uji coba perseorangan, (9) revisi produk 2, (10) uji coba lapang, (11) revisi produk akhir. Hasil penelitian adalah berupa produk CD interaktif pembelajaran bahasa Arab berbasis Macromedia Flash dan diuji cobakan pada siswa - siswi kelas IV SD Insan Amanah. Berdasarkan hasil validasi yang melibatkan ahli media bahasa Arab dan ahli materi bahasa Arab keseluruhan media pembelajaran yang merupakan produk pengembangan memiliki tingkat validitas 69,5%. Hal ini berarti media pembelajaran tersebut cukup valid. Untuk meningkatkan tingkat validitasnya, diadakan revisi terhadap media. Berdasarkan hasil uji coba lapang, secara keseluruhan hasil yang didapat dari prosentase hasil pekerjaan siswa melalui pre test dan post test, yang memiliki nilai valid. Saran bagi peneliti lain, hasil pengembangan ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam melakukan penelitian pengembangan yang akan datang. Inovasi-inovasi baru masih perlu ditingkatkan, penambahan animasi-animasi dan fitur-fitur baru dalam pengembangan media permainan berbasis

Identifikasi kesulitan siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari dalam memahami materi hidrolisis garam / Khoiriyah

 

Kata Kunci : kesulitan, hidrolisis garam Hidrolisis garam adalah materi kimia yang mengandung konsep berurutan, aplikasi matematik, dan banyak membutuhkan prasyarat. Prasyarat tersebut adalah konsep asam basa, kekuatan asam, reaksi penggaraman, reaksi ionisasi, kesetim-bangan kimia, dan kesetimbangan air. Bila prasyarat tersebut tidak dipahami oleh siswa, hal ini memungkinkan terjadi kesulitan dalam memahami materi hidrolisis garam. Kesulitan ini juga dapat terjadi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari karena menurut guru pengajar kimia di SMA Negeri 1 Purwosari, pen-guasaan konsep asam basa siswa masih kurang. Oleh karena itu, perlu adanya identifikasi mengenai kesulitan siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari da-lam memahami materi hidrolisis garam. Tujuan penelitian adalah untuk mengeta-hui persentase siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari yang mengalami ke-sulitan dalam memahami materi hidrolisis garam. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat menggambar-kan kesulitan yang dialami oleh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari da-lam memahami materi hidrolisis garam. Populasi pada penelitian adalah siswa ke-las XI IPA SMA Negeri 1 Purwosari yang berjumlah 196 siswa yang terbagi da-lam 5 kelas. Sampel pada penelitian diambil dengan teknik simple random sampling melalui undian kelas. Kelas yang menjadi sampel adalah kelas XI IPA-2 dan XI IPA-3. Instrumen penelitian yang dipakai berupa tes objektif yang terdiri dari 25 soal berbentuk pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban dengan validitas sebesar 97,3% dan reliabilitas sebesar 0,774 . Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif melalui penghitungan persen-tase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) cukup banyak (40,9%) siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pengertian reaksi hidrolisis garam, (b) sedikit (23,4%) siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan garam yang terhidrolisis, (c) cukup banyak (51,3%) siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan jenis hidrolisis garam, (d) cukup banyak (41,9%) siswa yang mengalami kesulitan dalam menuliskan persamaan reaksi hidrolisis garam, (e) cu-kup banyak (52,3%) siswa yang mengalami kesulitan dalam menentukan sifat larutan hasil hidrolisis garam, (f) cukup banyak (54,2%) siswa yang mengalami kesulitan dalam menurunkan rumus mencari [H +] dan [OH-] dari persamaan reaksi hidrolisis garam, (g) cukup banyak (46,8%) siswa yang mengalami kesulitan dalam menggunakan rumus pH untuk menentukan nilai pH larutan hasil hidrolisis garam. Secara umum cukup banyak (44,4%) siswa yang mengalami kesulitan da-lam memahami materi hidrolisis garam. Kesulitan paling banyak terletak pada va-riabel penurunan rumus mencari [H+] dan [OH-] dari persamaan reaksi hidrolisis garam yaitu dengan persentase kesulitan sebesar 54,2%.

Pengembangan bahan ajar mata kuliah manajemen kelas pada Program Studi PGSD Universitas Tadulako Palu dengan menggunakan model R2D2 / Zulnuraini

 

Tesis. Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) : Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Pd, M. Ed, Pembimbing (II) : Prof. Dr. Muhammad Effendi, M.Kes, M.Pd Kata kunci : Pengembangan, Bahan Ajar, PGSD, Model R2D2 Universitas Tadulako Palu merupakan salah satu LPTK yang diberikan wewenang untuk menyelenggarakan pendidikan profesi khususnya guru sekolah dasar. PGSD mencetak calon guru yang sekolah dasar yang mempunyai standar kompetensi guru kelas SD/MI. Salah satunya kompetensi penguasaan pembelajaran yang mendidik, di mana kompetensi ini memberikan kemampuan pengelolaan pembelajaran yang mendidik pada siswa, yang tercermin dalam perencanaan, pelaksanaan serta penilaian dan pemanfaatan hasil penilaian pembelajaran secara dinamis untuk membentuk kompetensi siswa seperti yang dikehendaki. Dalam kurikulum PGSD kompetensi tersebut terdapat dalam matakuliah manajemen kelas. Permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran matakuliah ini adalah dari sisi kuantitas, jumlah buku ajar yang tersedia sangatlah terbatas, Selain itu pebelajar mengalami kesulitan untuk memahami teks, karena bahasa yang digunakan kurang komunikatif dan ada beberapa kosakata yang sulit dipahami atau dengan kurang sesuai dengan tingkat pengetahuan pebelajar. Dari materi, buku ajar yang digunakan perlu dilakukan pemutakhiran agar sesuai dengan paradigma belajar saat ini, sehingga ketika pebelajar tidak mengalami kesulitan ketika berada di lapangan. Menyikapi salah satu permasalahan tersebut, maka dikembangkan bahan ajar yang didasari oleh kebutuhan dan karakteristik pebelajar program studi PGSD Universitas Tadulako Palu. Bahan ajar ini dikembangkan dengan menggunakan model R2D2 (recursive, reflective, design and development). Produk yang dikembangkan diujicobakan pada mahasiswa PGSD Universitas Tadulako. Uji coba produk yang dilakukan melalui beberapa tahap yaitu : (1) review ahli materi, (2) ahli media, (3) uji coba perorangan, (4) uji coba kelompok dan (5). Uji lapangan. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh melalui angket dan wawancara. Hasil uji lapangan penilaian pebelajar terhadap bahan ajar 85,7 % dan panduan mahasiswa 80,24%. Sedangkan hasil penilaian pembelajar terhadap bahan ajar 80,1% dan panduan dosen 85%. Hasil penilaian ini kemudian dikonversi dan hasilnya produk yang dikembangkan termasuk dalam kategori baik dan tidak perlu direvisi. Produk ini akan direvisi apabila ada tanggapan atau masukan yang dianggap bisa membuat produk ini menjadi lebih baik. Pengembangan produk selanjutnya alangkah baiknya apabila dilengkapi dengan perangkat lain yang menunjang bahan ajar seperti lembar kerja, dan jika berkenan bisa mengembangkan dalam bentuk bahan ajar digital atau multimedia interaktif.

Hubungan ketertarikan program keahlian dan dukungan orang tua dengan animo lulusan sekolah menengah pertama untuk melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan di Kota Mojokerto / Ahmad Siswantoro

 

Tesis Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. H. Syaad Patmanthara, M.Pd., (II) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. Kata Kunci: Ketertarikan Program Keahlian, Dukungan Orang Tua, dan Animo Lulusan SMP. Ketertarikan program keahlian dan dukungan orang tua merupakan dua faktor yang diduga berhubungan dengan animo lulusan SMP untuk melanjutkan ke SMK di Kota Mojokerto. Hubungan ketertarikan program keahlian di SMK karena siswa mencermati karakter pribadi masing-masing dan mencermati gambaran pekerjaan yang spesifik. Sedangkan dukungan orang tua berupa bimbingan belajar dan minat melanjutkan sekolah ketika anak masih duduk di bangku kelas IX (sembilan) SMP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya hubungan: (1) ketertarikan program keahlian dengan animo lulusan SMP untuk melanjutkan ke SMK di Kota Mojokerto; (2) dukungan orang tua dengan animo lulusan SMP untuk melanjutkan ke SMK di Kota Mojokerto; (3) ketertarikan program keahlian dan dukungan orang tua secara simultan dengan animo lulusan SMP untuk melanjutkan ke SMK di kota Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelasional dengan populasi 635 siswa kelas X (sepuluh) dari 6 (enam) SMK se Kota Mojokerto tahun pelajaran 2007/2008. Pengambilan sampel menggunakan proporsional sampling dengan jumlah sampel sebanyak 159 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dengan menggunakan angket. Sedangkan analisisnya menggunakan Pearson Product Moment (PPM) dan regresi ganda. Hasil penelitian ini mengungkap hubungan: (1) ketertarikan program keahlian tergolong kuat (66,7%); (2) dukungan orang tua tergolong kuat (74,7%); (3) program keahlian dan dukungan orang tua secara simultan tergolong kuat (78,5%). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1); pimpinan program keahlian mempromosikan program keahlian yang dikelolanya misalnya mengajak siswa kelas IX SMP untuk mengunjungi seluruh fasilitas yang dimilki oleh program keahlian; (2) pimpinan SMK lebih banyak lagi melibatkan orang tua siswa dalam kegiatan tertentu di sekolah misalnya pembuatan program kerja perbaikan/pengembangan sarana yang ada di sekolah sehingga rasa memiliki sekolah; (3) pimpinan SMK mempromosikan masing-masing program keahlian misalnya mengajak langsung siswa kelas IX SMP untuk mengunjungi seluruh fasilitas yang dimilki oleh program keahlian yang diikuti juga dengan kunjungan orang tua, pembuatan program kerja sekolah bersama dengan orang tua.

Upaya meningkatkan kemampuan berpikir siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII-A SMPN Satu Atap Merjosari Malang / Ermawati

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif tipe TPS, kemampuan berpikir siswa. Kemampuan berpikir siswa kelas VIII-A SMPN Satu Atap Merjosari Malang masih tergolong rendah. Hal itu terbukti dari observasi yang peneliti lakukan, hanya 20% siswa yang mencapai ketuntasan belajar. Ini mungkin disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih menggunakan metode ceramah. Hal itu menyebabkan siswa belum terbiasa mengkonstruksi sendiri pengetahuannya serta menyampaikan idenya baik dengan guru maupun siswa lain. Terkait dengan itu, perlu dirancang suatu pembelajaran yang membiasakan siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, sehingga siswa lebih memahami konsep yang diajarkan serta mampu menyampaikan pemikirannya baik dengan guru maupun teman. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Penelitian ini dilakukan di SMPN Satu Atap Merjosari Malang pada bulan September sampai November 2010 yang terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pratindakan dan tahap tindakan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-A tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 30 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir siswa adalah LKS dan tes di akhir siklus yang berupa soal matematika dengan tingkat kognitif taksonomi Bloom C1- C4. Pembelajaran kooperatif tipe TPS yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir terdiri dari 3 tahap utama, yaitu (1) Tahap Think, siswa menerima permasalahan, menuliskan jawaban, dan mengumpulkan lembar jawaban individu pada guru, (2) Tahap Pair, siswa berdiskusi dengan pasangannya, menuliskan hasil diskusi serta mengumpulkan lembar jawaban pasangan pada guru. Permasalahan yang diberikan pada tahap think dan pair adalah sama dan terdapat pada tagihan LKS, (3) Tahap Share, siswa menyampaikan hasil diskusi ke seluruh kelas dan siswa lain menanggapi hasil diskusi. Guru memberikan evaluasi tentang hasil diskusi kelompok. Kemampuan berpikir siswa setelah dilakukan tindakan siklus I masih tergolong rendah, yaitu pada tahap think sebesar 63,695% dan tahap pair sebesar 73,33% serta 19 siswa (63,33%) memperoleh nilai minimal 75 melalui tes 1. Selanjutnya setelah dilakukan tindakan siklus II, kemampuan berpikir siswa pada tahap think sebesar 76,785%dan tahap pair sebesar 82,735% serta 25 siswa (83,67%) memperoleh nilai minimal 75 melalui tes 2. Kemampuan berpikir siswa di siklus II mengalami peningkatan dibanding siklus I, Selain itu, tingkat kognitif dari siklus I ke siklus II melalui tes juga meningkat. Peningkatan tingkat kognitif C1(pengetahuan) sebesar 17,03%, C2(pemahaman) sebesar 9,48%, C3(aplikasi) sebesar 0,7%, dan C4(analisis) sebesar 14,5%.

Pengembangan alat penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang / Mohammad Imam Eko Widiyanto

 

Kata kunci: Pengembangan, Alat penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan. Salah satu aktivitas senam yang diajarkan di SMP adalah senam lantai guling ke depan, agar siswa dapat melakukan guling ke depan dengan baik maka, guru selain menguasai materi juga harus memiliki strategi pembelajaran yang sesuai dan dapat menunjang pembelajaran guling ke depan sebagai pedoman pembelajaran yang dilakukan. Hal itu perlu diadakan suatu pemecahan masalah dengan alternatife dengan menggunakan alat bantu yang berupa penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan agar siswa berani dan mudah melakukan guling ke depan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan alat pembelajaran guling ke depan sebagai berikut: 1) melakukan penelitian awal dan pengumpulan informasi pembelajaran guling ke depan siswa-siswi kelas VII SMP Negeri 18 Malang, 2) menyusun rancangan produk berupa pengembangan alat penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan yang dievaluasi oleh ahli pembelajaran dan senam, 3) mengembangkan bentuk produk awal berupa alat penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan setelah dievaluasi oleh ahli pembelajaran dan ahli senam, 4) melakukan uji coba kelompok kecil (dilakukan pada siswa-siswi kelas VII di SMP Negeri 18 Malang dengan menggunakan 7 subyek), 5) melakukan revisi terhadap produk awal (sesuai hasil uji coba kelompok kecil dan saran para ahli), hasil revisi merupakan produk utama, 6) melakukan uji lapangan (kelompok besar, dilakukan pada siswa-siswi kelas VII di SMP Negeri 18 Malang dengan menggunakan 35 subyek) terhadap produk utama, 7) melakukan revisi terhadap produk utama berdasarkan hasil uji coba lapangan dan evaluasi dan saran-saran para ahli, sehingga diperoleh produk akhir. Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 7 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 35 orang siswa kelas VII SMP Negeri 18 Kota Malang alat penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan dinyatakan dapat digunakan. Produk pengembangan alat penyangga matras untuk pembelajaran guling ke depan, diharapkan dapat dijadikan alat bantu oleh guru pendidikan jasmani dalam memberikan materi guling ke depan.

Penerapan model pembelajaran group investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran geografi kelas XI IS 1 semester genap tahun ajaran 2010/2011 pada kompetensi dasar mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berk

 

Kata kunci: Model Pembelajaran, Group Investigation (GI), hasil belajar. Hasil observasi awal diketahui bahwa terdapat 22 siswa (61,11%) perhatian terhadap pembelajaran geografi belum maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan hasil belajar siswa kurang tuntas dengan standar keberhasilan mengajar 75. Dari 36 siswa yang terdiri dari 14siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan kebanyakan nilai akhir ujian siswa kurang dari 75 yang tuntas hanya 12 siswa (33,33%) sedangkan yang tidak tuntas 24 siswa (66,66%). Dari hasil wawancara dengan guru geografi yang dilakukan di SMAN 1 Tumpang dapat diketahui dari 36 siswa terdapat 31 siswa (86,11%) kurang mampu mengemukakan pendapatnya dan 5 siswa (13,88%) yang bisa menyampaikan pendapatnya akibatnya siswa terlihat sangat pasif dalam kegiatan pembelajaran, selain itu terdapat 26 siswa (72,22%) kurang berdiskusi dengan temannya sehingga diskusi kurang berjalan dengan maksimal, yang aktif dalam berdiskusi hanya 10 siswa (27,7%), selain itu rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi metode yang diberikan oleh guru monoton sehingga siswa kurang bisa memahami materi yang diberikan oleh guru. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang rendah terhadap mata pelajaran Geografi, dimana untuk nilai ulangan semester yang tuntas hanya 12 siswa (33,33%) sedangkan untuk nilai tugas hanya 22 siswa (61,11%) yang bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Inilah yang menjadi dasar pemikiran peneliti dalam pengambilan judul penelitian ini. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Februari–April 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IS1 yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, Teknik pengumpulan data melalui tes. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 1 ke siklus 2. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 69,75 pada siklus 1 meningkat menjadi 74,55 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 80,08. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan sebesar 33%, siklus 1 sebesar 69%, dan pada siklus 2 menjadi 86%. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model Group Investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model Group Investigation dengan subjek penelitian yang berbeda

Pengembangan bentuk pembelajaran lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbond training dalam pembelajaran pendidikan jasmani di SMA Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang / Dedy Mizwar

 

Kata Kunci : Pendidikan jasmani, Lari Cepat (Sprint), Pembelajaran Outbound. Pendidikan jasmani merupakan suatu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh semua siswa, sebagaimana mata pelajaran pokok lainnya. Pendidikan jasmani merupakan paduan dari proses pendidikan yg menyeluruh. Lari cepat (sprint) adalah suatu kemampuan yang di tandai proses pemindahan posisi tubuhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya secara cepat, melebihi gerak dasar pada keterampilan lari santai (jogging). Outbound adalah jenis latihan di alam terbuka (outdoor) untuk pengembangan diri yang disimulasi melalui permainan-permainan edukatif baik secara individual maupun kelompok dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, berpikir kreatif, rasa kebersamaan, tanggungjawab, komunikasi, rasa saling percaya, dll. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan, dimana peneliti mengembangkan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbound pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Singosari. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi dan sampel peneliti adalah kelas X-7. Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan model Research and development (R & D) dari Borg and Gall. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner (angket) dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil pengembangan lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbound persentase tentang kemenarikan pembelajaran pada model I dan II adalah sebanyak 92,5% siswa menyatakan menarik. Persentase tentang ketertarikan siswa melakukan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbound pada model I dan II adalah sebanyak 90% siswa menyatakan tertarik. Persentase tentang kemudahan melakukan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbound pada model I dan II adalah sebanyak 82,5% siswa menyatakan mudah melakukan. Persentase tentang kemenyenangan saat melakukan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbound pada model I dan II adalah sebanyak 87,5% siswa menyatakan menyenangkan. Persentase tentang keterbantuan dalam melakukan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan pendekatan outbound pada model I dan II adalah sebanyak 85% siswa menyatakan terbantu. Dari keselurahan hasil persentase dapat disimpulkan bahawa pembelajaran dapat digunakan. Saran untuk pengguna sebelum disebarluaskan sebaikanya produk ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sasaran yang ingin dituju. Guru penjas lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan media yang ada secara maksimal.

Pengaruh kecerdasan intrapersonal dan prestasi belajar siswa terhadap keputusan penjurusan SMA Negeri 1 Kertosono Kabupaten Nganjuk / Aditya Wikandaru

 

Kata Kunci: Kecerdasan Intrapersonal, Prestasi Belajar, Keputusan Penjurusan Penjurusan merupakan pengorganisasian potensi diri siswa kelas X pada bidang lebih melingkup dan terkonsentrasi yaitu jurusan tertentu dengan meng-hasilkan keputusan penjurusan. Pada tahun pelajaran 2009-2010 SMA Negeri 1 Kertosono Kabupaten Nganjuk direncanakan akan menghasilkan keputusan penjurusan terdiri dari jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Penelitian ini difokuskan pada keputusan penjurusan IPS. Keputusan penjurusan IPS diambil ketika rapat panitia, di mana siswa kelas X telah memenuhi kriteria dan syarat akademik jurusan IPS. Syarat akademik penjurusan IPS poin ke-1 adalah minat siswa pada jurusan IPS yang tercantum dalam angket penjurusan. Angket penjurusan utama-nya berisi tentang jurusan pilihan I dan pilihan II yang diminati siswa. pilihan I sebagai pilihan yang diprioritaskan sedangkan pilihan II sebagai pilihan alternatif apabila pilihan I ditolak atau tidak memenuhi syarat akademik jurusan pilihan I. Minat siswa terhadap jurusan IPS secara logis menunjukkan kemampuan siswa mengenali potensi diri sendiri pada jurusan IPS. Untuk mengenali potensi diri ini, siswa memerlukan suatu kecerdasan untuk mengenali kemampuan sendiri dan mengukur potensi yang dimiliki pada jurusan IPS sesuai dengan karakteristik jurusan IPS. Jenis kecerdasan ini secara umum dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah kecerdasan intrapersonal sebagai bagian dari Kecerdasan Majemuk (multiple intelligence) yang dikembangkan oleh Howard Gardner. Selain kecerdasan intrapersonal, prestasi belajar pada mata pelajaran khas IPS menjadi bagian dari persyaratan akademik penjurusan IPS pada poin ke-2 dan ke-3. Prestasi belajar yang diteliti dibatasi prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi. Prestasi ini ditunjukkan dengan nilai rapor mata pelajaran ekonomi pada aspek kognitif tahun pelajaran 2009-2010. Siswa dinyatakan berprestasi apabila nilai rapor pada aspek kognitif ≥ 74. Melalui prestasi belajar pada salah satu mata pelajaran khas IPS tersebut diharapkan dapat berpengaruh pada keputusan penjurusan IPS. Rumusan permasalahan yang diteliti adalah: (1) bagaimana kecerdasan intrapersonal siswa kelas X? (2) bagaimana prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X? (3) apakah kecerdasan intrapersonal siswa kelas X secara parsial dapat berpengaruh signifikan terhadap keputusan penjurusan IPS? (4) apakah prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X secara parsial dapat berpengaruh signifikan terhadap keputusan penjurusan IPS? (5) apakah kecerdasan intrapersonal dan prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X secara simultan dapat berpengaruh signifikan terhadap keputusan penjurusan IPS? Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional. Populasinya adalah siswa kelas X yang terdiri dari 8 kelas. Sampel diambil dengan teknik pengambilan sampel porportional random sampling dimana masing-masing kelas diambil sebanyak 25%. Pengumpulan data menggunakan instrumen observasi, angket, dokumentasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda dan uji asumsi klasik. Sedangkan untuk menguji hipotesisnya menggunakan nilai uji t, nilai uji F dan taraf signifikansi baik secara parsial maupun secara simultan. Untuk keperluan analisis data peneliti menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Dari olahan data penelitian diperoleh informasi bahwa: (1) kecerdasan intrapersonal kelas X tergolong kategori tinggi; (2) prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas X tergolong kategori rendah; (3) terdapat pengaruh positif yang signifikan dari variabel kecerdasan intrapersonal (X1) siswa kelas X secara parsial terhadap keputusan penjurusan IPS (Y); (4) terdapat pengaruh negatif dari prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi (X2) siswa kelas X secara parsial terhadap keputusan penjurusan IPS (Y); (5) terdapat pengaruh positif yang signifikan dari kecerdasan intrapersonal (X1) dan prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi (X2) siswa kelas X secara simultan terhadap keputusan penjurusan IPS (Y). Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah: siswa kelas X SMA Negeri 1 Kertosono Kabupaten Nganjuk yang akan dijuruskan pada tahun pelajaran selanjutnya disarankan lebih memperdalam kecerdasan intra-personal masing-masing untuk memilih jurusan (khususnya pada pemilihan jurusan IPS). Hal ini dimaksudkan agar keputusan penjurusan secara tepat men-juruskan siswa pada pilihan prioritasnya dan tidak menyesal di kemudian hari. Prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi disarankan lebih ditingkatkan agar memberikan kontribusi pengaruh positif terhadap keputusan penjurusan IPS. Bagi guru BK hasil penelitian ini dijadikan sebagai acuan dalam memberi-kan bimbingan atau arahan bagi siswa agar memilih jurusan secara tepat sesuai dengan kecerdasan intrapersonal yang dimilikinya. Sedangkan bagi guru mata pelajaran ekonomi dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan kinerjanya sekaligus untuk menjaring siswa yang berprestasi pada mata pelajaran ekonomi agar masuk pada jurusan IPS. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan tidak hanya mengukur kecerdasan intrapersonal pada jurusan IPS saja, tetapi juga pada jurusan selain jurusan IPS agar dapat diketahui kecerdasan pada jurusan apa yang lebih dominan. Disamping itu peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel lain selain prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi, termasuk semua mata pelajaran khas jurusan IPS agar dapat diketahui pengaruhnya secara lengkap.

Hubungan antara pendidikan dan latihan dengan harapan terhadap kinerja guru sekolah dasar di Kota Malang / Unun Winarti

 

Keterpanggilan jiwa fasilitator desa (FD) menjalankan tugas fungsionalnya dalam program pengembangan kecamatan (PPK) (studi FD program PPK di Kabupaten Kediri) / Rudi Dwi Laksono

 

Persepsi konselor mengenai kenakalan remaja di SMA negeri se-kota Malang / Mutmainah

 

Hubungan antara gaya kepemimpinan yang berorientasi pada jangkauan masa depan dengan tingkat produktivitas kerja pegawai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang / Elly Widiastuty

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |