Penerapan metode bermain kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kabupaten Blitar / Asyroful Ma'wa

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, bermain kartu kata ,TK Penelitian ini berlatar belakang pada anak yang mengalami kesulitan dalam mengenal kata – kata sejenis, menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya.Guru belum menggunakan metode yang tepat dalam mengembangkan kemampuan tersebut. Penyebab dari kesulitan tersebut adalah metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran kurang menarik bagi anak, anak merasa bosan dan bermain sendiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode bermain kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa kelompok B,(2) Mendeskripsikan hasil penerapan metode bermaian kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kab.Blitar. Pendekatan adalah pendekatan kualitatif dengan model PTK. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Subyek penelitian guru dan anak didik kelompok B di TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kabupaten Blitar, dengan jumlah peserta didik 25 anak. Penelitian di lakukan pada tanggal 9 Mei 2011 sampai dengan 20 Mei 2011. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas.Instrumen yang digunakan adalah (1) Aktivitas siswa dalam bermain kartu kata (2). Peningkatan kemampuan berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain kartu kata dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I aktivitas Kemampuan rata rata anak mencapai 67 % dan meningkat menjadi 84% pada siklus II. Pada siklus I ke siklus II kemampuan anak mengalami peningkatan yaitu 17 % Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan langkah-langkah metode bermain dengan menggunakan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat menerapkan langkah metode pembelajaran yang inovatif,menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pengembangan dan efektifitas media pembelajaran untuk meningkatka hasil belajar siswa dengan media visual sejarah kelas XI di SMA Negeri 9 Malang / Sucipto

 

Kata Kunci: pengembangan media visual sejarah ,efektifitas media pembelajaran, hasil belajar. Media pembelajaran kurang dimanfaatkan oleh guru sejarah di SMA Negeri 9 Malang, sehingga dalam penyampaian materi sejarah kurang menarik bagi peserta didik/siswa. Media yang biasa digunakan oleh guru selama ini buku teks, penggunaan papan tulis, permainan monopoli dengan menggunakan soal-soal. Guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Malang juga belum menggunakan variasi media, bahkan peta juga jarang digunakan. Kurangnya variasi dalam penggunaan media menyebabkan minat peserta didik terhadap pelajaran sejarah juga kurang. Penggunaan metode yang kurang tepat dan penggunaan media yang belum memadai, menyebabkan hasil belajar siswa rata-rata kelas XI IPS masih dikisaran KKM mata pelajaran sejarah yang ditetapkan pihak sekolah yaitu 75. Oleh karena itulah dilakukan sebuah penelitian pengembangan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini, yaitu (1) Bagaimana mengembangkan media visual sejarah untuk bahan ajar Kelas XI di SMA Negeri 9 Malang?, (2) Bagaimana efektifitas penggunaan media visual sejarah? dan (3) Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan media visual di SMA Negeri 9 Malang?. Tujuan pengembangan yaitu (1) Untuk menghasilkan media visual sejarah sebagai media pembelajaran. (2) Untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran. (3) Mediskripsikan hasil belajar siswa kelas XI yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan media visual sejarah di SMA Negeri 9 Malang. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Model pengembangan software ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) tahap identifikasi kebutuhan materi dan media; (2) tahap perancangan prototipe yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan editing; (3) tahap produksi prototipe software; (4) tahap validasi kelompok kecil yang terdiri dari tiga subjek validasi yaitu ahli media, ahli materi, dan audiens; (5) tahap revisi; dan (6) tahap pengemasan akhir. Hasil penelitian menyatakan bahwa media ini secara keseluruhan mendapatkan penilaian 94 (Valid) dari ahli media, 86 (Valid) dari ahli materi, 94 (valid) dari siswa pada uji coba individu, 94 (Valid) dari siswa pada uji coba terbatas, dan 95 (Valid) pada uji coba lapangan. Selain itu, media pembelajaran ini juga terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah penelitian menggunakan media visual sejarah, ternyata media ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan pada peningkatan nilai yang didapat oleh siswa sebelum menggunakan media (pre test) dan setelah menggunakan media (pos test). Pada uji coba individu, uji coba terbatas dan uji coba lapangan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah mengalami pembelajaran menggunakan media visual sejarah. Produk ini dibuat hanya untuk materi Hindu-Budha yang merupakan salah satu produk bahasan di dalam Standar Kompetensi, oleh karena itu, disarankan kepada pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lainnya seperti: Kehidupan Pra-Sejarah, Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Pendudukan Jepang di Indonesia, dan lainlain.

Media interaktif berbasis audio visual untuk pembelajaran menyimak bahasa Jawa kelas VII SMP / Nikmatul Zuliana

 

Kata Kunci: Media Interaktif, Pembelajaran Menyimak, Dongeng Bahasa Jawa. Menyimak memiliki tujuan meresepsi pemahaman dari materi yang disimak. Untuk kepentingan tersebut materi harus didesain menarik agar indikator pembelajaran yang diinginkan tercapai dan siswa tertarik mempelajarinya. Untuk lebih meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran menyimak bahasa daerah yang efektif dan efisien dibutuhkan media. Penggunaan media yang tepat dapat menimbulkan suasana pembelajaran menyimak bahasa daerah yang menyenangkan di dalam kelas. Dalam penelitian ini dikembangkan suatu media untuk pembelajaran menyimak bahasa Jawa. Pembelajaran menyimak bahasa Jawa ini difokuskan pada pembelajaran menyimak dongeng bahasa Jawa pada siswa kelas VII SMP. Hal tersebut diharapkan mampu membantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Media yang dikembangkan bersifat interaktif sehingga siswa dapat mengoperasikan sendiri media tersebut sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah tertera dalam media. Tujuan pengembangan media ini adalah menghasilkan produk media interaktif berbasis audio visual untuk menyimak dongeng. Selain itu, juga untuk mendeskripsikan isi dan bahasa produk media yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan siswa. Media menyimak dongeng bahasa Jawa menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko dan krama. Produk akhir penelitian pengembangan ini berbentuk CD-Multimedia Interaktif. Rancangan penelitian ini meliputi 3 tahap yakni tahap prapengembangan, pengembangan, dan pascapengembangan. Sebelum diuji coba pada kelompok terbatas, produk terlebih dahulu melalui tahap uji ahli oleh ahli materi, guru, dan ahli media untuk menilai dan memberi masukan pada produk media. Selanjutnya dilakukan revisi berdasarkan penilaian dan masukan dari uji ahli. Setelah produk direvisi, dilakukan uji kelompok terbatas yaitu siswa kelas VII SMP 2 Malang yang berjumlah 24 siswa. Instrumen uji coba berupa angket yang berisi deskripsi pedoman penilaian. Hasil uji coba produk kepada ahli materi dan guru mengenai isi dan bahasa menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan sudah cukup layak. Kelayakan tersebut diperoleh dengan persentase 74,27%. Hasil uji coba produk kepada ahli media mengenai tampilan media juga menunjukkan bahwa produk media cukup layak dengan perolehan persentase 68,75%. Di samping itu, hasil uji coba tampilan produk dari ahli materi dan guru diperoleh presentase 63,89% yang berarti bahwa media sudah cukup layak. Namun saran dan masukan dari ahli materi, guru, dan ahli media perlu dilaksanakan dalam bentuk revisi pada beberapa bagian isi, bahasa, dan tampilan media untuk lebih meningkatan kualitas produk media. Sedangkan, hasil uji kelompok terbatas diperoleh persentase 82,41% untuk isi dan bahasa media. Sedangkan untuk tampilan produk media diperoleh persentase sebanyak 78,48%. Berdasarkan kriteria interpretasi produk media menyimak dongeng bahasa jawa sudah layak dari segi isi, bahasa, dan tampilan sehingga tidak perlu dilakukan revisi.

Pengembangan alat evaluasi dalam pembelajaran bahasa Arab Madrasah Aliyah untuk kemahiran membaca dengan program Hot Potatoes di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I / Agus Jauhar Makmun

 

Kata kunci: alat evaluasi, hot potatoes, madrasah aliyah. Dewasa ini para pebelajar dituntut untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Sistem pembelajaran kuno seperti teacher centered sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan dalam pembelajaran masa kini. Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi mendorong manusia untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun. Di samping itu, metode pembelajaran bahasa Arab yang konvensional dan klasik menuntut pendidik untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar peserta didik lebih termotivasi dalam belajar bahasa Arab. Media tersebut berupa alat evaluasi berbasis Hot Potatoes yang memberikan output berupa ringkasan materi dan latihan soal. Inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk belajar bahasa Arab secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (a) membuat langkah-langkah penggunaan perangkat lunak Hot Potatoes sebagai alat evaluasi pembelajaran bahasa Arab peserta didik kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I. (b) mengembangkan alat evaluasi yang digunakan dalam perangkat lunak Hot Potatoes untuk evaluasi pembelajaran bahasa Arab peserta didik kelas X MAN Malang I semester genap. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan. Uji lapangan dilaksanakan di MAN Malang I, kota Malang, Jawa Timur. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X MAN Malang 1. Prosedur penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi/analisis kebutuhan, (2) studi pendahuluan, (3) menelaah dan memilih materi, (4) mengembangkan media desain program Hot Potatoes dan tahap produksi awal, (5) uji coba awal pada kelompok kecil, (6) tahap validasi dari ahli materi dan ahli media (7) tahap revisi awal dan penyempurnaan, (8) uji coba kedua di lapangan, (9) revisi produk akhir, dan (10) hasil produk akhir. Hasil penelitian adalah berupa produk yakni alat evaluasi bahasa Arab berbasis web yang telah divalidasi oleh ahli di bidang isi produk, ahli di bidang perancangan produk dan sasaran pengguna produk (peserta didik MAN Malang I). Berdasarkan hasil validasi dan uji coba, program ini telah mencapai tingkat kelayakan 86,9% (valid) dan telah memenuhi kategori alat evaluasi yang cocok untuk peserta didik. Dalam model perangkat lunak tersebut disajikan materi membaca bahasa Arab dengan mengacu pada buku yang dipakai untuk peserta didik MAN Malang I. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar alat evaluasi ini dapat digunakan sebagai referensi dan mengevaluasi hasil belajar bagi peserta didik.

Pengaruh metode pengelolaan diri (self-management) terhadap berat badan remaja putri yang mengalami obesitas di SMA Negeri 1 Kepanjen / Siska Dwi Jayanti

 

Kata Kunci: metode pengelolaan diri (self-management), berat badan Obesitas merupakan suatu kondisi kronis yang menunjukkan adanya penumpukkan lemak tubuh yang melebihi normal. Remaja memiliki kecenderungan untuk mengalami penambahan berat badan sebagai akibat dari masa pubertas. Obesitas yang terjadi pada masa remaja perlu mendapat penanganan khusus karena remaja yang obesitas memiliki kecenderungan menjadi dewasa yang obesitas dan rentan terhadap masalah psikologis. Pada remaja khususnya remaja putri sering memilih diet yang tidak sehat dalam menurunkan berat badan dan permasalahan berat badan yang turun-naik tidak dapat dihindari hal ini disebabkan tidak diimbangi dengan perubahan perilaku. Metode pengelolaan diri (self-management) merupakan salah satu metode pengubahan perilaku yang mana klien sendirilah yang dapat mengurangi/ mengubah perilaku lama yang tidak efektif melalui bantuan minimal dari seorang konselor/ terapis dengan menggunakan suatu teknik atau kombinasi teknik tertentu – pemantauan diri, kendali rangsang dan hadiah diri – dalam mempelajari hal-hal yang baru dan mengatur kembali lingkungannya. Metode pengelolaan diri (self-management) diduga mempunyai pengaruh terhadap perubahan berat badan pada remaja putri yang mengalami obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengelolaan diri (self-management) terhadap berat badan remaja putri yang mengalami obesitas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design. Variabel eksperimental dalam penelitian ini adalah metode pengelolaan diri (self-management) dan variabel terikat adalah berat badan pada remaja putri yang obesitas. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling incidental. Subyek penelitian berjumlah tiga orang remaja putri yang mengalami obesitas di SMA Negeri 1 Kepanjen. Analisis hasil penelitian adalah analisis komparatif menggunakan uji statistik nonparametrik two related sample dengan uji Wilcoxon. Uji hipotesis menunjukkan hasil nilai Z= -1.604 dengan signifikansi 0.109 (p> 0.05) yang berarti bahwa tidak ada pengaruh metode pengelolaan diri (self-management) terhadap berat badan remaja putri yang mengalami obesitas. Ketidakberhasilan metode pengelolaan diri dalam mempengaruhi berat badan pada remaja putri yang mengalami obesitas disebabkan oleh waktu pelaksanaan treatment yang terlalu singkat, prosedur pengelolaan diri yang belum dilakukan secara maksimal, komitmen dan motivasi yang cenderung berubah pada remaja dan kurangnya dukungan dari lingkungan. Metode pengelolaan diri untuk menurunkan berat badan diduga kurang sesuai jika diterapkan pada remaja karena emosi pada remaja cenderung fluktuatif yang dapat mempengaruhi motivasi dalam melakukan pengelolaan diri. Dalam penelitian ini terdapat variabel ekstra yang mempengaruhi penelitian dan perlu dikontrol dengan ketat diantaranya komitmen dan motivasi, serta kondisi lingkungan di sekitar subyek. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan pada penelitian selanjutnya melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap variabel-variabel yang ikut berpengaruh selama proses penelitian.

Hubungan minat menjadi guru dengan prestasi PPL mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang / Ahmad Fajar Hidayat

 

Kata Kunci: minat menjadi guru, prestasi. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan suatu pekerjaan, karena dapat memotivasi individu untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Karena itulah, individu akan merasa bahagia dan berhasil dalam pekerjaannya jika minatnya sesuai dengan pekerjaannya. Individu tidak perlu mendapatkan dorongan dari luar apabila pekerjaan yang dilakukannya cukup menarik minat. Demikian juga calon guru akan bekerja dengan sungguh-sungguh jika memang berminat untuk menjadi seorang guru Jenis penelitian ini adalah korelasional. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana minat mahasiswa jurusan teknik sipil Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan untuk menjadi guru dan pengaruhnya terhadap prestasi PPL. Penelitian dilaksanakan terhadap mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan FT UM yang sudah memprogram Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2 (dua) tahun terakhir (tahun 2008 dan 2009). Instrumen dalam penelitian ini berupa angket yang telah di validitas dan reabilitas. Data tentang minat menjadi guru dijaring dengan menggunakan angket sedangkan data tentang prestasi praktek pengalaman lapangan diambil dari nilai akhir PPL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, Minat mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang untuk menjadi guru cukup tinggi. Hasil analisis menyatakan 56,70% (34) dari 60 mahasiswa yang diteliti memiliki minat yang cukup tinggi untuk menjadi guru. Kedua, Dari 60 mahasiswa yang diteliti rata-rata memiliki tingkat penguasaan PPL antara 84% sampai 90% atau memiliki nilai pada rentangan 3,70 sampai 3,99 (A-). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi praktik pengalaman lapangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang memiliki predikat memuaskan.Ketiga, terdapat hubungan yang signifikan antara variabel bebas (minat menjadi guru) dengan variabel terikat (prestasi PPL). Hal ini dinyatakan dengan nilai R hitung sebesar 0,762 yang mendekati angka 1.

Hubungan kemampuan adversity dan intensi berwirausaha pada siswa SMK Yayasan Pendidikan Ma'arif 1 Taman Sidoarjo / Dwi Ratih Anomsari

 

Kata Kunci : kemampuan adversity, intensi berwirausaha. Berdasarkan fakta yang dikemukakan oleh Bapak Dharmawan, ketua organisasi kewirausahaan, banyak lulusan SMK yang belum siap bekerja dan menjadi pengganguran. Hal ini disebabkan para lulusan SMK tidak berani berwirausaha karena takut akan kesulitan dan kegagalan. Disamping itu pula, meningkatnya kebutuhan hidup yang menuntut adanya pemenuhan, mendorong siswa SMK untuk segera lulus dan dapat mencari penghasilan sendiri dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki dalam wirausaha (Dharmawan, 2011). Berwirausaha merupakan salah satu pilihan yang rasional mengingat sifatnya yang mandiri, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan lapangan kerja yang ada. Salah satu faktor pendukung wirausaha adalah keinginan. Ini oleh Fishbein dan Ajzen (dalam Dayaksini & Hudaniah, 2006) disebut sebagai intensi, yaitu komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Intensi berwirausaha adalah keinginan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan wirausaha dengan berani mengambil resiko dalam menangani usaha yang mengarah pada upaya, mencari, menciptakan, menerapkan, cara kerja, teknologi, dan produk baru. Sedangkan kemampuan adversity adalah kemampuan seseorang dalam bereaksi terhadap kesulitan yang dihadapinya (Stoltz, 2000). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional dengan besaran sampel berjumlah 86 siswa yang ditentukan dengan teknik simple random sampling. Hasil uji validitas aitem kemampuan adversity diperoleh nilai validitas antara 0.304 sampai 0.686 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien alpha cronbach 0.786. sedangkan untuk hasil uji validitas aitem intensi berwirausaha diperoleh nilai validitas antara 0.304 sampai 0.727 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien alpha cronbach 0.925. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemampuan adversity dengan intensi berwirausaha pada siswa SMK YPM 1 Taman Sidoarjo (rxy = 0.774, sig.= 0.000 < 0.05). Artinya semakin tinggi kemampuan adversity siswa maka semakin baik intensi berwirausahanya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa siswa SMK YPM 1 Taman Sidoarjo yang memiliki kemampuan adversity tinggi sebanyak 1 siswa (2%), sedang 37 siswa (82%), dan rendah 7 siswa (16%). Sedangkan siswa SMK YPM 1 Taman Sidoarjo yang memiliki intensi berwirausaha tinggi sebanyak 6 siswa (13%), sedang 34 siswa (76%), dan rendah 5 siswa (11%). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada : (1) siswa: dapat mengidentifikasi seberapa besar skill competence dan motivasi yang dimilikinya (2) sekolah: meningkatkan kinerjanya, dalam hal ini memperbaiki metode pengajaran program kewirausahaan agar lebih menarik (3) peneliti selanjutnya: dapat mengembangkan penelitian tentang kemampuan Adversity misalnya menjadikan tipe Adversity sebagai variabel penelitian.

Pengembangan sumber belajar E-learning materi desain grafis berbasis vektor untuk sekolah menengah atas / Achmad Subagiyono

 

Kata Kunci: Pengembangan sumber belajar, desain gafis, internet. Desain grafis merupakan salah satu bidang multimedia yang banyak mendapatkan perhatian di dunia usaha dan dunia industri, salah satu program aplikasi yang digunakan adalah CorelDRAW. Karena adanya keterbatasan pemanfaatan sumber belajar pada materi desain grafis di SMA N 1 Wates yang selama ini digunkan hanya mengacu pada media cetak (buku). Maka usaha untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pengembangan sumber belajar yang mana bisa diakses kapan saja, dimana saja tanpa adanya keterbatasan tempat, ruang dan waktu, sehingga peserta didik dapat belajar lebih mandiri. Penelitian ini akan mengembangkan sumber belajar e-learning materi desain grafis berbasis vektor untuk sekolah menengah atas Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Arif Sadiman Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan responden. Sampel uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil diambil dari peserta didik SMA Negeri 1 Wates-Kediri. Sumber belajar yang dihasilkan berbentuk web yang terdiri dari modul berupa teks dalam format Pdf, ilustrasi gambar/foto, audio-video, dan dilengkapi fasilitas penunjang seperti: forum, chat,kuis dan latihan atau penugasan. Sumber belajar menggunakan Moodle ini dapat diakses melalui internet yang dapat digunakan untuk pembelajaran baik dalam maupun di luar kelas. Hasil uji coba kelayakan sumber belajar dari ahli media mendapat persentase 89,1%, dari ahli materi mendapat persentase 92,9%, dan dari peserta didik 91,61%. Berdasarkan hasil kelayakan tersebut, sumber belajar berbasis web untuk pembelajaran e-learning materi desain grafis berbasis vektor pada SMAN 1 Wates dapat disimpulkan layak digunakan sebagai sumber belajar.

Pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 8 Pasuruan / Akhmad Nur Shalih

 

Kata kunci: pengembangan, VCD pembelajaran, teknik dasar headstand, senam lantai. Teknik dasar headstand merupakan salah satu materi yang diajarkan pada kelas VIII di SMP Negeri 8 Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan, pada pelaksanaan pembelajaran guru memberikan latihan gerobak dorong, sit up dan back up kemudian pada materi inti guru meberikan contoh sikap headstand setelah itu siswa disuruh melakukan sikap headstand, sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam melakukan sikap headstand. Dalam proses pembelajaran guru memerlukan sarana yang mendukung dan kreativitas yang beraneka ragam untuk mencapai suatu pembelajaran yang maksimal. Salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah dengan tersedianya media VCD pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alat untuk membantu pemahaman siswa dalam proses belajar mengajar. Guru mata pelajaran pendidikan jasmani SMP Negeri 8 Pasuruan menyatakan belum ada video pembelajaran tentang materi teknik dasar headstand pada senam lantai dan menyatakan memerlukan video pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai, oleh karena itu peneliti bertujuan mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai untuk membantu penjelasan tentang cara melakukan sikap headstand. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai adalah sebagai berikut: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi (kajian pustaka, observasi ke sekolah, dan analisis kebutuhan), 2)Mengembangkan bentuk produk awal (penyiapan materi pengajaran, buku petunjuk yang akan digunakan, dan perlengkapan evaluasi), 3) Evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli media, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, dan 1 ahli senam. Data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, kemudian melakukan revisi produk awal, 4)Melakukan uji coba (kelompok kecil) terhadap produk awal (dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan dengan menggunakan 6 subyek yang di ambil 1 siswa dari masing-masing kelas), kemudian data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, 5) Melakukan revisi terhadap produk pertama yang berdasarkan dari hasil kuesioner uji coba (kelompok kecil), 6)Melakukan uji lapangan (kelompok besar) yang dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan dengan menggunakan 30 subyek yang di ambil 5 siswa dari masing-masing kelas, kemudian data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, 7) Melakukan revisi produk akhir berdasarkan dari hasil kuesioner, sehingga menjadi produk akhir pengembangan. Berdasarkan hasil analisis data uji coba (kelompok kecil) terhadap 6 orang siswa dan uji lapangan (kelompok besar) terhadap 30 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar Headstand untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 76% - 100%. Hasil pengembangan ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan dan hasil penelitian dan pengembangan ini, diharapkan dapat diuji cobakan pada lingkup yang lebih luas.

Hambatan-hambatan belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif angkatan 2006 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Hendrik Kurniawan

 

Kata kunci: Hambatan belajar mahasiswa Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran nyata tentang hambatan-hambatan belajar mahasiswa dalam memempuh perkuliahan di Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut maka rancangan penelitian ini digolongkan sebagai penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif karena penelitian akan dinyatakan dalam bentuk angka-angka dan dianalisis dengan teknik statistik serta didiskripsikan untuk memperoleh informasi atau gambaran yang jelas mengenai hambatan-hambatan yang dialami oleh mahasiswa selama penelitian ini berlangsung. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 3 indikator yang menghambat belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif angkatan 2006 yaitu: (1) Indikator kebiasaan belajar dengan nilai rata-rata 2,29 masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa; (2) Indikator organisasi dengan nilai rata-rata 2,65 masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa; (3) Indikator masalah kesehatan dengan nilai rata-rata 3,00 masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) bagi mahasiswa: berdasarkan hasil penelitian, kesehatan fisik, kebiasaan belajar dan organisasi masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa maka dari itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi mahasiswa jurusan teknik mesin khususnya program Studi Pendidikan Teknik Otomorif sehingga tepat dalam menyelesaikan studinya, antara lain dengan cara memperhatikan kesehatan fisik, memperbaiki kebiasaan belajar dan manage/mengurangi kegiatan; (2) bagi jurusan: berdasarkan hasil penelitian, fasilitas perkuliahan mendekati kategori cukup menghambat belajar mahasiswa maka dari itu hendaknya jurusan menambah sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar, misalnya menambah koleksi buku-buku perpustakaan mengenai otomotif; (3) bagi Universitas Negeri Malang: mengingat besarnya peranan buku-buku literatur terhadap kesuksesan studi mahasiswa disarankan kepada pihak universitas untuk memperbanyak koleksi buku-buku perpustakaan terutama buku-buku otomotif; (4) bagi peneliti selanjutnya: mengingat sempitnya ruang lingkup penelitian baik populasi, variabel penelitian atau indikator-indikator yang diteliti disarankan kepada pihak peneliti lain yang tertarik pada masalah yang sama untuk memperluas ruang lingkup penelitian.

Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer program Macromedia Flash 8 pada konsep dasar jaringan mata pelajaran TIK siswa kelas IX SMPN 2 Malang / Very Sugiarto

 

Kata Kunci : Media pembelajaran dan Macromedia Flash 8 Saat ini model pembelajaran yang banyak diterapkan di sekolah dengan model pembelajaran konvensional dan metode ceramah telah bergeser kearah penggunaan layar monitor komputer, melalui sistem pembelajaran secara individual (self instruction). Dengan bantuan komputer menjadikan pembelajaran dapat terjadi kepada siapa saja, kapan, dan dimana saja. Media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 akan sangat membantu proses belajar mengajar di SMPN 2 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menghasilkan produk media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 pada bab konsep dasar jaringan; dan (2) Memvalidasi hasil pengembangan media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 pada bab konsep dasar jaringan. Metodologi penelitian ini menggunakan model pengembangan sadiman (2002). Pada teknik pengumpulan datanya menggunakan angket dengan melibatkan ahli media dan materi, kelompok kecil sebanyak 5 responden dan kelompok besar sebanyak 20 responden Hasil pengembangan adalah sebagai berikut: produk berupa media pembelajaran berbasis komputer, yang didalamnya terdapat tampilan home, indikator, tujuan, materi pembelajaran, test formatif, playlist, fullscreen, exit fullscreen, on/off sound, rangkuman dan evaluasi. Hasil validasi dari ahli media sebesar 93,75%, hasil validasi dari ahli materi sebesar 98,07%, dan hasil rata – rata ahli media dan materi adalah sebesar 95,91%. Hasil validasi dari kelompok kecil adalah sebesar 95,50%, yang didapat dari 5 responden. Hasil validasi dari kelompok besar adalah sebesar 97,37%, yang didapat dari 20 responden. Semua validasi mulai dari validasi ahli dan validasi siswa dinyatakan valid dengan tingkat kevalidan lebih dari 96,27%.

Evaluasi kontrol governor pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Temas Kota Batu / Laurensius Wahyu Tirtana

 

Kata Kunci: Turbin Air, guide vane, komparator. Listrik merupakan salah satu jenis energi yang paling banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kebutuhan akan energi ini sangat tinggi. Berbagai jenis pembangkit listrik telah banyak dikembangkan. Salah satunya pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang sangat cocok dikembangkan di Indonesia mengingat banyaknya sumber air yang bisa dimanfaatkan dan dapat membantu masyarakat pedesaan yang belum terjangkau PLN. Pembangkit listrik tenaga air (mikrohidro) adalah memanfaatkan kecepatan aliran dan debit air sebagai tenaga utama dalam menghasilkan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) merupakan salah satu contoh pembangkit yang paling banyak digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Energi iistrik yang didapatkan dapat dikendalikan secara otomatis dengan menggunakan governor. Governor merupakan peralatan bantu pembangkit yang berfungsi untuk membuka dan menutup katub yang terdapat pada turbin, sehingga aliran air yang masuk dapat dikendalikan unluk mendapatkan tegangan yang selalu berada dalam keadaan stabil. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang dikaji di dalam tugas akhir ini berada di kelurahan Temas kota Batu. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap turbin mikrohidro ini, pengendalian putaran turbin merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan untuk mengendalikan tegangan keluaran generator dilakukan dengan cara memutar governor untuk menggerakkan guide vane sebagai pengatur banyaknya debit air yang masuk pada nozel turbin crossflow. Untuk memutar governor masih dilakukan secara manual, sehingga sebagai hasil evaluasi dibuat prototype sistem kontrol otomatis pada governor untuk menggerakkan guide vane. Selain itu dalam tugas akhir ini dijelaskan beberapa hal yang mempengaruhi karakteristik turbin, pengaruh saluran udara pada pipa pesat terhadap kinerja turbin, dan perencanaan saluran udara pada pipa pesat. Pengujian alat menggunakan regulator tegangan sebagai input dari rangkaian komparator. Rangkaian komparator akan membandingkan tegangan rendah dibawah 220 volt dan tegangan tinggi diatas 230 volt untuk mengaktifkan relay sebagai driver motor DC. Ketika tegangan dibawah 220 volt maka motor akan putar kanan sehingga guide vane akan berada pada posisi membuka nozel dan ketika tegangan diatas 230 volt maka motor akan putar kiri sehingga guide vane akan berada pada posisi menutup nozel.

Studi evaluasi pengaturan air sebagai penggerak turbin terhadap PLTMh di Temas Kota Batu / Irma Nur Rohmah

 

Kata Kunci: Evaluasi Pengaturan Air, Pintu Air Otomatis, Sensor Ketinggian Air Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) adalah pembangkit listrik berskala kecil (kurang dari 200 kW), yang memanfaatkan aliran air sebagai sumber penghasil energi. Berdasarkan hasil evaluasi awal menjelaskan bahwa debit air pada PLTMh Temas cenderung stabil. Sampah pada sungai merupakan faktor penting yang mempengaruhi debit air karena dapat membuat laju air menjadi terhambat. Selain itu, pintu airnya masih bekerja secara manual dan pintu pembuangan cara buka dan tutupnya sulit karena masih harus berjongkok. Hal ini sangat membahayakan terutama proses buka tutup pintu air tidak bisa dilakukan pada waktu banjir dan tidak memenuhi syarat keselamatan. Perancangan proyek akhir ini membahas tentang studi evaluasi terhadap potensi PLTMH di Kelurahan Temas, Kota Batu untuk menggali kembali potensi-potensi Mikrohidro yang sudah ada. Sehingga potensi Mikrohidro tersebut dapat bekerja lebih optimal dalam menghasilkan energi listrik, dengan memfokuskan permasalahan terhadap pengaturan air sebagai penggerak turbin. Serta, membuat sebuah miniatur pintu air otomatis sebagai salah satu upaya perbaikannya. Pintu air akan digerakkan dengan menggunakan motor sehingga akan bekerja secara otomatis Prinsip kerja miniatur pintu air otomatis ini yaitu: membuka dan menutup pintu air dapat bekerja dengan kendali sensor ketinggian air. Sensor ketinggian air ini terdiri dari sensor ketinggian batas atas dan batas bawah. Sensor batas atas berfungsi untuk mendeteksi air penuh atau mencapai batas atas. Sedangkan sensor batas bawah berfungsi untuk mendeteksi air yang habis atau mencapai batas bawah. Relay 1 berfungsi untuk mendeteksi apakah sensor yang terdeteksi adalah sensor batas atas atau sensor batas bawah dan mengendalikan kerja limit switch 1 dan 2.Saat air penuh hingga terdeteksi sensor batas atas, maka sensor batas atas akan ON. Relay 2 akan bekerja dan membuat motor berputar ke kanan. Putaran motor ini membuat pintu air akan membuka secara otomatis. Pintu akan berhenti setelah mengenai limit switch 1. Saat air mulai habis hingga terdeteksi sensor batas bawah, maka sensor batas bawah ON. Relay 3 akan bekerja dan membuat motor berputar ke kiri. Putaran motor ini membuat pintu air akan menutup secara otomatis. Sensor ketinggian air pada batas atas mempunyai ketinggian 8 cm, sedangkan sensor batas bawah mempunyai ketinggian 2 cm dari dasar kotak bendungan. Jadi, dari hasil pengujian yang dilakukan sebanyak 9 kali dapat dilihat jika ketinggian sama dengan lebih dari 8 cm pintu air akan membuka secara otomatis. Pintu akan terus membuka hingga ketinggian air sama dengan kurang dari 2 cm atau hingga mengenai sensor batas bawah.

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung tahun ajaran 2010/2011 dengan metode permainan simulasi / Ahmad Fatoni

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, bahasa Jawa krama, model permainan simulasi Data yang diperoleh dari studi pendahuluan menunjukkan bahwa keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 masih rendah. Siswa belum mampu berbicara bahasa Jawa krama dengan baik dan menempatkan kosakata krama yang sesuai dengan unggah-ungguh basa. Oleh karena itu, penerapan metode yang tepat dan menyenangkan dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) adakah peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 setelah penerapan metode permainan simulasi, dan (2) adakah perubahan perilaku yang ditunjukkan siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 setelah proses belajar mengajar dengan menggunakan metode permainan simulasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 dengan menggunakan metode permainan simulasi dan (2) mendiskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 setelah proses belajar mengajar dengan metode permainan simulasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, catatan lapangan, dan wawancara. Teknik analisis data berupa teknik deskripstif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk analisis perilaku siswa dan deskriptif kuantitatif untuk analisis keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama dari kemampuan awal saat pretes studi pendahuluan ke siklus I sebesar 16,36%, siklus I ke siklus II sebesar 28,90 dan dari pretes studi pendahuluan ke siklus II sebesar 50%. Hasil analisis data observasi, catatan lapangan dan wawancara menunjukkan adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 yaitu siswa menjadi aktif dan bersemangat dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa krama. Selain itu dengan metode permaianan simulasi siswa menjadi paham bagaimana berbicara krama sesuai dengan unggah-ungguh basa. Dari hasil penelitian ini, saran peneliti adalah penggunaan metode permainan simulasi dapat menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa dalam pembelajaran berbicara sehingga perlu dipertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa, khususnya berbicara bahasa Jawa krama.

Implementing story mapping strategy to improve the writing ability of the eight graders of MTs Bahrul Ulum Tajinan Malang / Laili Makhfudhoh

 

Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL., M.Pd. (2) Drs. Fachrurrazy, M. A., Ph.D. Key words: writing, strategy, story mapping, classroom action research. The objective of this study is to find out how Story Mapping Strategy can improve the ability in writing narrative text of the eighth graders f MTs Bahrul Tajinan Malang. Generally, the students got difficult in generating ideas and organized them into a good paragraph. Furthermore, the teacher focused her teaching mostly in grammatical exercises and the product of writing. Therefore, this strategy is considered appropriate to solve the students’ problems in writing, particularly narrative text because story map can enhance students' interpretative abilities by enabling them to visualize story characters, events and settings. This study adopted action research design. The researcher and her collaborative teacher worked together in designing lesson plan, setting the criteria of success, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subject of this study was the eighth graders of MTs. Bahrul Ulum Tajinan Malang of the 2010/2011 academic year. The study consisted of two cycles, and used observation sheet, field notes, questionnaires and writing task for the instruments. The criteria of success were determined on the basis of students’ improvement on the writing achievement and their interest in the activities during the implementation of the strategy. The criteria of success were achieved when 65% of the students could get the score more than 60. Besides, the success was also determined on the basis of students’ interest in the activity. The technique is considered successful when 75% of the students had positive perception on the implementation of strategy. With the implementation of the technique, the criteria of success were successfully achieved in Cycle 2. There was 75% of the total number of the students who could get the scores more than 60 and 83% had positive perception on the implementation of story mapping strategy. The findings showed that the effective procedures of using Story Mapping in teaching narrative text was implemented in pre-writing, whilst writing and post-writing stages. In pre-writing stages, the teacher reconstructs the students’ prior knowledge about a narrative text by showing a famous story Bawang Merah and Bawang Putih and asked some questions about chronological order of the story. In the main activities, the teacher gave the model of a narrative text entitled Bawang Merah and Bawang Putih and its story map, and followed by explaining the procedure in writing narrative text using story map to the students. The teacher also discussed the generic structure and the usage of past tense in narrative texts. The students then were asked to create a story map and their draft individually. The teacher guided the students to revise and edit their draft, and asked them to write a final composition. In the post activities, students were asked to stick on their work on the wall and then collected in the form of portfolio. Then, the result of students’ writing product were evaluated by using analytic scoring, which described the students’ ability in mastering the five components of the writing, namely content, organization, vocabulary, grammar and mechanics. The findings of the research showed that the students gained good progress from the first to the second cycle. They could minimize the number of errors and mistakes in narrative texts they produce so that their writing could be understood easily. It is indicated by the increase of the percentages of the students who achieve the score of greater than or equal to 60 throughout the two cycles of the action, that is, 33% in the preliminary study, 52% in cycle 1 and 75% in the second cycle. Besides, the implementation of this strategy encouraged the students to be more active in the teaching and learning process. Based on the researcher findings, it was concluded that the implementation of Story Mapping Strategy in teaching writing could improve the students writing ability. This improvement could be proved by the students writing achievement and the score obtained by the students. Some suggestions are proposed to the English teacher and future researcher. It is advisable for the teacher to use story mapping strategy in teaching writing, particularly in narrative text, because this strategy could help the students arranged a narrative text in a chronological order. In addition, story map could increase students’ vocabulary. Second, since the research findings showed positive results, it is suggested to the future researcher, especially those who are interested in applying Story Mapping Strategy. Here they are suggested to prepare a deliberate planning before conducting a similar study in order to make the implementation of Story Mapping Strategy runs well.

Pengembangan alat evaluasi pembelajaran berbasis e-learning pada mata pelajaran TIK di SMAN 4 Malang / Arief Rahman Yusuf

 

Kata Kunci: E-learning, Evaluasi, Moodle, Pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada saat melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMAN 4 Malang, kurangnya alat evaluasi pembelajaran yang bervariasi dari guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), menyebabkan siswa menjadi bosan dalam proses pembelajaran. Untuk itu perlu adanya cara untuk membangkitkan ketertarikan siswa dalam proses pembelajaran serta daya ingat siswa dengan memberikan soal yang bervariasi. Berkaiatan dengan itu, maka diperlukan media pendukung yang bertujuan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang ada yaitu mengembangkan alat evaluasi berbasis e-learning dengan memanfaatkan Moodle. Pengembangan ini menggunakan rancangan pengembangan (research and development) yang bertujuan mengembangkan alat evaluasi pembelajaran. Pengembangan alat evaluasi berbasis Moodle menggunakan model Sadiman. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode tes dan metode angket. Hasil uji coba produk dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: (1) Ahli media, (2) Ahli materi, dan (3) Siswa Kelas X SMAN 4 Malang. Hasil validasi alat evaluasi berbasis e-learning yang dikembangkan sebagai berikut: (1) Hasil analisis data ahli media menunjukkan sebesar 90%, dapat disimpulkan bahwa alat evaluasi layak digunakan untuk media evaluasi pembelajaran. (2) Hasil analisis data angket ahli materi menunjukkan sebesar 93%, dapat disimpulkan bahwa materi dalam alat evaluasi ini layak untuk digunakan untuk siswa pada saat pembelajaran. (3) Hasil analisis data dalam uji coba lapangan menunjukkan sebesar 78%, dapat disimpulkan bahwa alat evaluasi berbasis e-learning ini layak digunakan sebagai media alat evaluasi pembelajaran untuk siswa. Manfaat hasil pengembangan alat evaluasi terhadap kemudahan siswa didasarkan pada hasil uji coba yaitu dengan melihat persentase item pertanyaan yang terdapat dalam angket siswa, yaitu: (1) Media alat evaluasi dapat membantu pembelajaran materi hasil rata-rata persentase dengan 79,5 % media ini sudah masuk dalam kriteria baik. (2) Kemudahan pemakaian alat evaluasi dapat dilihat hasil rata-rata persentase 77, 5 % dan media alat evaluasi ini sudah termasuk dalam kriteria baik. (3) Memberikan pengalaman baru dapat dilihat hasil rata-rata persentase dengan 75,5 % dan media ini sudah termasuk kriteria cukup.

Penerapan model permainan mencari pasangan dalam meningkatkan pemahaman konsep IPS di kelas V SDN Tumpang 04 / Dwi Cahyono

 

Kata Kunci: model permainan mencari pasangan, pemahaman konsep IPS Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 17-18 Februari 2011 di kelas V SDN Tumpang 04 pada mata pelajaran IPS diperoleh data hasil belajar IPS siswa yang masih terbilang kurang maksimal,.Dari data di SD N Tumpang 04 , nilai yang diperoleh oleh peserta didik di SD N Tumpang 04 tahun pelajaran 2009-2010 untuk mata pelajaran IPS di kelas V dari jumlah peserta didik 23 yang memperoleh hasil di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sebanyak 10 peserta didik atau sebanyak 43%. Sedangkan 13 peserta didik atau sebanyak 57% tidak memenuhi KKM. Hal ini disebabkan oleh luasnya materi, kurang menariknya pembelajaran di kelas serta kurang terampilnya merangkum materi-materi yang penting dari konsep yang ada. Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: 1)mengetahui sejauh mana penerapan metode pembelajaran model permainan mencari berpasangan pada siswa kelas V SD Negeri Tumpang 04 kecamatan Tumpang dapat meningkatkan pemahaman konsep mata pelajaran IPS. 2)mendeskripsikan penerapan model permainan mencari pasangan pada mata pelajaran IPS kelas V SD N Tumpang 04. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, instrument pengumpuan data yang digunakan berupa: 1) lembar observasi; 2) soal tes. Seorang siswa dinyatakan tuntas belajarnya apabila telah mencapai skor 70. Pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu: a) perencanaan; b) pelaksanaan tindakan dan observasi; c) refleksi; d) revisi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Tumpang 04 Kabupaten Malang. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dilihat dari proses pembelajaran pada tindakan siklus I dan siklus II dengan skor rata-rata sebagai berikut: (1) tindakan siklus I pre test 48,70 dan post test 60,00; (2) tindakan siklus II pre test 63,48 dan post test 80,87. Pada siklus I dengan prosentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 17,39% dan meningkat pada siklus II menjadi 82,61% Pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar klasikal di atas 80%. Dari penelitian di atas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran permainan mencari pasangan pada mata pelajaran IPS . Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: 1) penerapan model pembelajaran permainan mencari pasangan dapat meningkatkan pemahaman konsep IPS dalam belajar; 2) penerapan model pembelajaran permainan mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Saran kepada guru-guru, hendaknya menggunakan model pembelajaran yang bervariasi yang sesuai dan efektif dalam penyampaian materi pelajaran IPS.

Pengembangan aplikasi e-learning berbasis web untuk meningkatkan prestasi belajar mengoperasikan software web design pada siswa kelas X SMKN 1 Bangil / Byan Purbapranidhana Dwi Maulud

 

Kata Kunci: E-learning, web, software web design, prestasi Pembelajaran secara klasikal yang selama ini masih dilakukan oleh guru adalah metode ceramah. Namun harus diakui bahwa pembelajaran dengan metode ceramah tidak selamanya berjalan dengan baik. Dampak negatif yang ditimbulkan yaitu siswa saling berbicara sendiri dan tidak menghiraukan guru pada saat proses pembelajaran. Salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut yaitu e-learning. Salah satu bentuk implementasi e-learning adalah menggunakan perangkat komputer dilengkapi dengan sarana jaringan secara internet maupun intranet dalam bentuk pembelajaran berbasis web atau web based learning. SMKN 1 Bangil merupakan salah satu sekolah kejuruan yang memiliki fasilitas belajar dengan dukungan infrastruktur jaringan intranet maupun internet. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh pengembang dengan guru mata pelajaran, pencapaian prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif masih belum memenuhi target. Untuk meningkatkan prestasi tersebut, maka guru perlu menarik perhatian siswa untuk belajar. Dengan adanya aplikasi e-learning berbasis web yang memuat materi dengan kombinasi teks, gambar, video, forum, chat yang dapat diakses kapan saja maka siswa dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Model pengembangan aplikasi ini mengadaptasi dari model pengembangan dari Dick & Carey, Borg & Garl dan model Luther. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan ini adalah lembar kuesioner dan soal tes. Lembar kuesioner diberikan kepada ahli materi, ahli media, dan kelompok kecil. Sedangkan soal tes diberikan melalui pre test dan post test kepada siswa kelas X sebanyak 2 kelas dimana 1 kelas sebagai kelas eksperimen dan 1 kelas lainya sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa validasi oleh ahli materi 90% dan memenuhi kriteria valid, oleh ahli media 87,5% dan memenuhi kriteria valid, serta validasi kelompok kecil 89,5% dan memenuhi kriteri valid. Sedangkan untuk hasil tes menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa yang menggunakan aplikasi e-learning berbasis web dengan persentase 20% menjadi 86%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa aplikasi e-learning berbasis web dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran komik untuk menulis cerita bagi siswa kelas VIII SMP / Ferry Ardianto

 

ABSTRAK Ardianto, Ferry. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Komik untuk Menulis Cerita Fabelbagi Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roekhan, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum. Kata kunci: media, komik, pembelajaran menulis ceritafabel. Pembelajaran menulis cerita fabel merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa SMP kelas VIII. Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan di SMPN 20 Malang ditemukan bahwapembelajaranmenulisceritafabeltanpa menggunakan media pembelajaran apapun. Akibatnya, siswa sulit berimajinasiuntukmenemukan ide, mengembangkan paragraf, dan memunculkan unsur pembangun cerita. Berdasarkan identifikasi kebutuhan yang dilakukan di sekolah, pengembang memberikan alternatif berupa media pembelajaran menulis cerita fabel berbasis ilustrasi gambar berbentukkomik. Komik dipilih sebagai media pembelajaran karena siswa lebih menyukai menggunakan gambar yang dikombinaiskan dengan warna. Media komik ini untuk merangsang imajinasi siswa dalam berpikir kreatif untuk mengembangkan ide menjadi sebuah cerita fabel yang menarikPenelitianpengembanganinibertujuanuntukmenghasilkan poduk berupa media komik, dan buku panduan penggunaan media yang menarik dan layak dari segi tampilan, penyajian, isi, dan bahasa. Penelitian ini menggunakan pola gabungan model Sadiman dan model Tim Puslitjaknov. Tahapan-tahapan modifikasitersebut meliputi: (1) analisis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan instruksional, (3) perumusan materi pembelajaran, (4) perumusan alat pengukur kelayakan media, (5) penulisan naskah media, (6) produk awal, (7) uji validasi, (8) uji praktisi, (9) uji coba lapangan, (10) revisi, dan (11) produk akhir. Data penelitian pengembangan ini berupa data verbal dan nonverbal. Data verbal dibedakan menjadi data tulis dan lisan. Data verbal tulis berupa saran perbaikan yang ditulis oleh subjek coba pada lembar penilaian. Data lisan berupa informasi lisan yang diperoleh ketika wawancara dengan guru. Data nonverbal berupa skor yang ditulis oleh subjek uji, yaitu ahli pembelajaran sastra, ahli media, praktisi (guru), dan siswa pada lembar penilaian. Hasil uji coba tampilan produkmenunjukkan produk tergolong sangat layak dan siap diimplementasikanberdasarkanskor ahli (85,7%), praktisi (92,3%), dan siswa (93,88%). Hasil uji coba isi produk menunjukkan produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikanberdasarkanskor ahli (85%), praktisi (95%), dan siswa (92,22%). Hasil uji coba penyajian produk menunjukkan produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikan berdasarkanskorahli (89,3%), praktisi (96,42%), dan siswa (95,58%). Hasil uji coba kebahasaan produk menunjukkan produk tergolong sangat layak dan siap untuk diimplementasikan berdasarkanskorahli (87,5%), praktisi (100%), dan siswa (90%). Ada enamkomentar dan saran perbaikan dari ahlipembelajaransastra, ahli media, dan praktisi dalam penelitian ini. Komentar dan saran tersebut meliputi: (1)penyesuaiantahapan pembelajaran dengan kurikulum yang digunakan, (2) pemberian contoh pada lembar kerja imajinasi, (3) penggunaan gambar dalam komik karakter tokohnya diperjalas, (4) penomoran pada urutan komik untuk memudahkan siswa, (5) covermemakai ilustrasi sesuai dengan keterampilan menulis, yaitu hand writting, serta (6) penggunaan warna pada kolom harus diperhatian agar warnanya padu. Hasil penelitian berupa produk media komikyang dilengkapi dengan buku panduan penggunaan media komikdan lembar kerja siswa atau lembar kerja imajinasi. Penerapan produk dalam pembelajaran dilakukan dalam empat tahap kegiatan. Tahapan-tahapan tersebut meliputi (1) memahami isi komik dan menuliskan unsur pembangun ceritafabel, (2) menulis kerangka cerita fabelberdasarkan imajinasi sendiri, (3) menulis ceritafabelsecara utuh dan menarik, serta (4) menelaah dan merevisi hasil penulisan ceritafabel. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa produk tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran menulis cerita fabeluntuk siswa SMP kelas VIII. Terkait dengan hal tersebut, disarankan kepada guru untuk memanfaatkan produk media sebagai sarana pembinaan moral dan karakter siswa. Selain itu, bagi siswa supaya produk dimanfaatkan untuk memunculkan ide, mengembangkan ide, dan merangkai kalimat menjadi cerita fabel secara maksimal. Bagi pengembang lain, prosedur penelitian pengembangan media ini diharapkan bisa dikembangkan dalam kompetensi yang berbeda.

Kekerasan verbal dalam pembelajaran di SMP Kota Malang / Ribut Wahyu Eriyanti

 

Program Studi Pendidikan Bahasa Idonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd., (II) Dr. H. Nurhadi, M.Pd., (III) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, M.Pd. Kata Kunci : kekerasan verbal, pembelajaran, analisis wacana kritis, wujud kekerasan verbal, strategi kekerasan verbal Kajian tentang kekerasan dalam konteks pembelajaran telah banyak dilakukan, akan tetapi tentang kekerasan verbal masih terbatas. Padahal, dampak kekerasan verbal pada siswa bisa lebih serius dibandingkan dengan kekerasan fisik karena sasaran kekerasan verbal adalah aspek psikologis. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian secara lebih mendalam tentang kekerasan verbal, khususnya dalam konteks pembelajaran di sekolah. Tujuan penelitian ini secara rinci adalah (1) mendeskripsikan wujud kekerasan verbal, (2) menginterpretasi strategi ekspresi kekerasan verbal, (3) menjelaskan faktor-faktor pemicu kekerasan verbal, dan (4) menjelaskan dampak kekerasan verbal terhadap siswa dalam pembelajaran di SMP Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kritis dengan ancangan analisis wacana kritis. Data penelitian ini berupa tuturan lisan guru dan siswa yang merepresentasikan kekerasan verbal dalam konteks pembelajaran di SMP Negeri dan Swasta Kota Malang. Sumber data penelitian ini adalah wacana pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKn., dan BP yang diperoleh melalui observasi. Di samping itu juga digunakan angket untuk menggali data latar belakang budaya dan pendidikan subjek penelitian. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dibantu dengan alat perekam CCTV, Handycame, alat pencatat data, dan angket. Analisis data didasarkan pada analisis wacana kritis menurut Fairclough, yang meliputi analisis (a) teks bahasa, (b) praksis wacana, dan (c) praksis sosiokultural. Dari penelitian ini ditemukan bahwa (1) terdapat kekerasan verbal guru terhadap siswa dalam pembelajaran, yang merentang dari pengabaian siswa dalam menjalin komunikasi, penolakan pendapat siswa, tuduhan, peremehan kemampuan dan martabat siswa, penghakiman dan celaan, pemaksaan, hingga ancaman, dan ledakan kemarahan. Dari kategori-kategori tersebut, yang dominan adalah penolakan, penghakiman disertai celaan, dan ancaman kepada siswa. (2) Kekerasan verbal guru terhadap siswa diekspresikan melalui strategi langsung dan taklangsung. Strategi langsung ekspresi kekerasan verbal berbentuk tuturan deklaratif, interogatif, dan imperative dengan gaya lugas, sedangkan strategi taklangsung berbentuk tuturan deklaratif, interogatif, dan imperative yang diungkapkan dengan gaya pengiasan, retoris, dan pengabaian. Dari kedua strategi tersebut yang dominan adalah strategi tidak langsung. (3) Kekerasan verbal dalam pembelajaran dipicu oleh adanya (a) ketimpangan kekuasaan guru dan siswa sebagai subjek pembelajaran, (b) adanya prasangka sosial guru terhadap siswa, baik karena stereotype negatif maupun karena jarak sosial yang renggang antara guru dan siswa, (c) ideologi behavioristik yang dianut oleh guru, (d) karakteristik institusi sekolah yang birokratis, dan (e) situasi pembelajaran yang otokratik. (4) Kekerasan verbal guru berdampak negatif pada proses pembelajaran dan siswa. Dalam pembelajaran, kekerasan verbal mengakibatkan situasi pembelajaran kaku dan mencekam karena siswa ketakutan. Kekerasan verbal juga berdampak negatif pada psikologis siswa, yakni berupa ketakutan, malu kepada teman sekelas, tumbuhnya kepatuhan semu, perlawanan secara verbal, dan menirukan mengolok-olok teman. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan kepada guru hendaknya mengubah pandangannya terhadap siswa dan pembelajaran dengan menerapkan paradigma konstruktivistik serta menerapkan berbagai metode pembelajaran yang lebih variatif. Dengan demikian, diharapkan dalam menjalin komunikasi edukatif dengan siswa, guru dapat lebih menaruh empati dan mengeliminasi kekerasan secara verbal serta mengedepankan penggunaan bahasa yang santun, misalnya penggunaan bahasa yang bersifat mengajak, menawarkan, menyarankan, mengingatkan, mempersilakan, mengundang, menyapa dengan bahasa yang halus, dan menginformasikan. Kepada kepala sekolah disarankan agar membantu guru menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dengan menggunakan bahasa yang santun dan komunikatif.

Pengaruh perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri terhadap kecakapan hidup dan hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Purwosari, Pasuruan / Prihatin Dwi Mahareny

 

Tesis, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. agr. H. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si., (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran Bioteknologi, model pembelajaran inkuiri, kecakapan hidup, hasil belajar. Di SMK khususnya bidang keahlian Pertanian, materi bioteknologi ini sangat diperlukan karena materi ini dapat memberikan bekal kepada siswa agar siap memasuki dunia kerja. Banyak aspek yang dapat dikembangkan sebagai lapangan kerja dibidang bioteknologi walau masih dalam kajian tradisional, misalnya wirausaha di bidang pembuatan tempe, tape, yoghurt, kecap, nata de coco dan lain-lain. Namun demikian untuk mengantisipasi masa depan bahwa bidang biologi adalah biologi molekuler, maka sudah menjadi hal wajar siswa SMK dikenalkan dengan bioteknologi molekuler. Berdasarkan Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan pada Permendiknas no 22 tahun 2006 (BNSP, 2006) bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan siswa untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Untuk itu kurikulum yang ditetapkan sekarang menekankan bahwa salah satu tugas pendidikan adalah mengupayakan peningkatan kecakapan hidup (life skills) dalam pembelajaran. Pendidikan kecakapan hidup meliputi kecakapan pribadi (personal skill), kecakapan berpikir (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan kerja (vocational skill). Matapelajaran biologi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMK berkaitan dengan cara mencari tahu, bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (inkuiri). Pembelajaran sains di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, sehingga dapat mengatasi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Fakta di lapangan (hasil survei pada bulan April 2010, di SMK Negeri Purwosari dan kuesioner analisis kebutuhan) menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Peran guru masih lebih dominan daripada siswa pada kegiatan pembelajaran bioteknologi dan biologi. Sembilan puluh persen guru belum memahami dengan benar tentang pendekatan inkuiri dan strategi pembelajaran kooperatif, sehingga keduanya belum dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dirancang menggunakan quasy experiment (eksperimen semu), dilaksanakan di SMK Negeri 1 Purwosari pada siswa tingkat XII semester ganjil tahun ajaran 2010/2011, dengan kelas XII ATPH1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII ATPH2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, lembar pengamatan tentang kecakapan hidup, tes hasil belajar kognitif, tes hasil belajar afektif, dan lembar pengamatan psikomotor. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Anakova, dilanjutkan dengan uji beda LSD (Least Significant Difference), sedangkan data pelaksanaan kegiatan praktikum dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup dan hasil belajar kognitif, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar afektif. Kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Interaksi antara perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri dan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Rerata nilai ketrampilan psikomotor siswa yang belajar dengan perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibanding siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Terkait kesimpulan tersebut, maka peneliti menyarankan agar guru mengimplementasikan perangkat pembelajaran mata diklat lainnya dipadu dengan model pembelajaran inkuiri agar penguasaan kecakapan hidup, jiwa kewirausahaan, hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa dapat meningkat dan berkembang dengan baik.

Peranan guru bahasa Jerman dalam menumbuhkan minat dan motivasi siswa pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang / Ratna Strie Pratiwimba

 

Kata kunci : peranan guru, minat, motivasi Salah satu bahasa asing yang saat ini diajarkan di Indonesia adalah bahasa Jerman. Berbeda dengan bahasa Inggris, bahasa Jerman terasa lebih sulit untuk dipelajari. Kesulitan itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, minat dan motivasi siswa dalam mempelajari bahasa Jerman, struktur bahasa yang lebih rumit, atau bisa juga karena peranan guru dalam pembelajaran bahasa Jerman yang kurang maksimal. Hal ini juga terjadi di SMA Negeri 7 Malang, tidak hanya di kelas XI, tetapi juga kelas X yang menjadi awal siswa belajar bahasa Jerman. Sebaik apapun guru mengajar bila siswa tidak memiliki minat dan motivasi untuk belajar, hal tersebut dapat menjadi batu sandungan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Di sinilah peran seorang guru sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan guru dalam menumbuhkan minat dan motivasi siswa pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, hasil angket guru dan siswa serta hasil wawancara guru dan siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan pengamatan berulang dan kegiatan triangulasi data. Sumber data dalam penelitian ini adalah seorang guru bidang studi bahasa Jerman dan 38 siswa kelas X-6 yang mengikuti pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang memiliki peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat dan motivasi siswa belajar bahasa Jerman di kelas X-6. Hal ini terbukti dari hasil angket yang menunjukkan bahwa 52,8% siswa menjawab sangat setuju bahwa guru memiliki peran yang besar dalam menumbuhkan motivasi siswa belajar bahasa Jerman dan sebanyak 50% siswa menjawab sangat setuju bahwa guru bidang studi bahasa Jerman mampu menumbuhkan minat siswa belajar bahasa Jerman. Meskipun guru kurang menguasai manajemen kelas, tetapi peran guru sebagai perencana, pelaksana pembelajaran dan pemberi balikan dilakukan dengan baik dan sesuai dengan teori yang mengacu pada minat dan motivasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru disarankan untuk bisa selalu menjadi motivator serta memperbaiki kemampuan manajemen kelas, sehingga minat belajar siswa terus bertambah. Siswa juga diharapkan lebih serius dan memperhatikan saat pembelajaran sedang berlangsung serta mengkomunikasikan dengan guru mata pelajaran masalah pada pembelajaran bahasa Jerman yang memiliki kaitan dengan minat dan motivasi. Dengan demikian siswa bisa lebih mudah menerima materi pembelajaran bahasa Jerman.

Penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC) pada keterampilan menulis siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 5 Malang / Novita Kartikasari

 

Kata kunci: model pembelajaran CIRC, keterampilan menulis Pembelajar bahasa, khususnya pembelajar bahasa Jerman harus menguasai empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Menulis dalam bahasa Jerman bukan hal yang mudah, terlebih bagi pembelajar bahasa pemula, seperti siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 5 Malang. Keterampilan menulis dilatihkan bergantian dengan tiga keterampilan berbahasa yang lainnya, sehingga siswa memperoleh waktu lebih sedikit dalam berlatih keterampilan menulis. Oleh karena itu peneliti menerapkan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) agar keterampilan menulis dapat dikuasai dengan baik. Pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman dengan menerapkan model pembelajaran CIRC mendorong siswa untuk mengemukakan ide dalam memecahkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan model pembelajaran CIRC dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan instrument observasi, kuisioner dan tes, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran, sedangkan kuisioner digunakan untuk mengetahui tanggapan dan pendapat siswa tentang model pembelajaran CIRC. Sumber data yang digunakan adalah siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 5 Malang yang berjumlah 8 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Siswa mampu menulis ringkasan wacana dengan menggunakan kosa kata dan penulisan yang tepat. Penerapan model pembelajaran ini membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran serta mampu membantu siswa dalam menulis karangan berbahasa Jerman. Oleh karena itu, disarankan pada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menerapkan model pembelajaran CIRC.

Hubungan antara intensitas bermain game online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi pada remaja / Dity Ayu Kusumawardhani

 

Kata Kunci: intensitas bermain game online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi, game online, intensitas, perilaku agresi, remaja. Game online berkembang dengan pesat seiring berkembangnya kreatifitas para pembuatnya. Game online ini banyak diminati oleh masyarakat khususnya para remaja. Hal ini didukung dengan adanya fasilitas warung internet (warnet) yang mengkhususkan untuk game online. Tidak ada aturan khusus untuk bisa memainkan semua game online dengan.segala usia dapat mengakses game online dengan bebas. Agaknya berbahaya ketika game online tersebut berkonten kekerasan. Jika kita membicarakan tentang game online berkonten kekerasan maka akan memiliki kaitan dengan perilaku agresi pada remaja yang cukup banyak terjadi. Penelitian yang dilakukan bertujuan mengetahui (1) untuk megetahui seberapa besar intensitas bermain game online berkonten kekerasan pada remaja, (2) untuk mengetahui perilaku agresi pada remaja , (3) untuk mengetahui hubungan antara intensitas berain gae online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi pada remaja. Rancangan penelitian adalah deskriptif dan korelasi. Populasi penelitian ini adalah remaja dengan cirri-ciri (1) berusia 13 – 17 tahun (2) bermain game online berkonten kekerasan (3) bermain game online berkonten kekerasan lebih dari 1 jam. Pengambilan sampel menggunakan teknik Insidental Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 80 mahasiswa. Alat pengumpulan data berupa kuesioner intensitas dan skala perilaku agresi yang dikembangkan berdasar teori Buss. Skala yang digunakan adalah model Likert. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan (1) intensitas bermain game online berkonten kekerasan adalah sedang (2) perilaku agresi pada remaja adalah sedang (3) ada hubungan antara intensitas bermain game online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi pada remaja (rxy= 0,508 ; p = 0,000 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas bermain game online berkonten kekerasan, semakin tinggi pula perilaku agresi pada remaja. Sebaliknya bila intensitas bermain game online berkonten kekerasan rendah maka diikuti dengan rendahnya perilaku agresi pada remaja. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) Bagi remaja, sebaiknya para remaja memiliki kegiatan yang positif sehingga remaja tidak hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game online khususnya game online yang berkonten kekerasan. (2) Bagi orang tua, hendaknya para orang tua bisa mengawasi kegiatan anak-anak mereka saat bermain game online (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih lengkap karena penelitian ini hasilnya mewakili sebagian remaja yang bermain game online yang ditemui oleh peneliti maka dari itu diharapkan peneliti selanjutnya lebih memperbanyak populasi dan sampel serta dapat pula mengembangkan variabel-variabel lain yang mendukung penelitian yang berkaitan dengan intensitas bermain game online berkonten kekerasan dan perilaku agresi.

Pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar sejarah terhadap hasil belajar sejarah siswa kelas XI Program Studi IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi / Minarti

 

Kata kunci: pemanfaatan internet, sumber belajar, hasil belajar Permasalahan rendahnya minat siswa untuk membeli buku penunjang sejarah menjadi latar belakang utama yang mendorong guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Glagah memanfaatkan internet sebagai sumber belajar alternatif untuk mendukung proses belajar siswa. Melalui penelitian ini penulis ingin mengetahui bagaimana pemanfaatan internet sebagai sumber belajar di sekolah ini apakah memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa sehingga terdapat perbedaan hasil belajar sejarah siswa yang menggunakan internet sebagai sumber belajar dengan siswa yang tidak menggunakan internet sebagai sumber belajar (buku penunjang). Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi yang diajar dengan tidak menggunakan internet sebagai sumber belajar?. (2) Bagaimana hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi yang diajar dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar?. (3) Bagaimana pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar Sejarah terhadap hasil belajar Sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi? Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest posttest control group design. Instrumen penelitian yang akan digunakan terlebih dahulu diuji dengan menggunakan uji validitas data, uji reliabilitas, uji tingkat kesukaran soal dan daya pembeda soal. Sumber data dalam penelitian ini berupa nilai pretest dan posttest yang di dapat dari kelas kontrol dan kelas eksperimen. Data tersebut kemudian di analisis dengan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji homogenitas. Selain itu juga dilakukan uji hipotesis berupa uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi yang diajar dengan tidak menggunakan internet sebagai sumber belajar lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai siswa yaitu sebesar 73,54 yang telah memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditentukan oleh sekolah sebesar 70. Peningkatan hasil belajar siswa pada kelas kontrol sebesar 14,94 %. Peningkatan prestasi belajar secara signifikan ini dimungkinkan karena dengan menggunakan buku penunjang, siswa dapat lebih fokus dalam mempelajari materi pelajaran sehingga siswa lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran tersebut. Siswa juga lebih mudah menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru sehingga siswa mendapatkan nilai yang baik. (2) Hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi setelah diajar dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar mengalami kenaikan sebesar 19,91%. Hal ini menunjukkan bahwa pengunaan internet sebagai sumber belajar memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa walaupun masih kurang maksimal. Kurang maksimalnya pemanfaatan internet sebagai sumber belajar ini dapat dilihat dari rata-rata nilai siswa yaitu sebesar 68,62 yang belum memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Tidak adanya proteksi terhadap sistem internet yang tersedia mengakibatkan perhatian siswa terpecah ketika menggunakan internet di sekolah sehingga tidak terjadi perubahan yang besar dalam hasil belajar siswa khususnya untuk mata pelajaran sejarah. (3) Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar khususnya bagi siswa kelas eksperimen SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi terbukti mampu memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap hasil belajar siswa sebesar 29,2%. Pengaruh pemanfaatan internet terhadap hasil belajar siswa ini masih rendah karena sebesar 70,8% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian ini. Pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar siswa terhadap peningkatan hasil belajar siswa ini dapat ditingkatkan dengan cara memaksimalkan peran guru, sekolah dan orang tua dalam memotivasi siswa agar siswa mampu memanfaatkan potensi internet sebagai sumber informasi tak terbatas secara maksimal. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemanfaatan internet sebagai sumber belajar siswa memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi. Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar secara maksimal dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar di SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi disarankan untuk lebih dikembangkan sehingga dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap hasil belajar siswa.

Peningkatan kemampuan menyimak tembang pucung dan gambuh dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe cooperative script bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kota Batu / Defri Mustika Rani

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, tembang Pucung dan Gambuh, Cooperative Script Berdasar pada Standar Isi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006, keterampilan menyimak telah diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMP/MTs. Siswa SD/MI hingga SMP/MTs diharapkan memiliki keterampilan menyimak dalam berbagai bentuk, termasuk dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh. Meski telah dilaksanakan pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh, hasil pembelajaran menyimak di kelas tersebut kurang maksimal. Dari kegiatan studi pendahuluan, diketahui adanya permasalahan dalam proses pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh, serta kelemahan siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh, baik pada aspek jenis tembang macapat, ciri-ciri, isi, dan amanat, sehingga nilai yang diperoleh belum mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan, yakni 75%. Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan, peneliti bekerjasama dengan guru mata pelajaran Bahasa Jawa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu merencanakan tindakan melalui penelitian dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu setelah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, baik pada jenis, ciri-ciri, isi, maupun amanat. Dengan menggunakan Cooperative Script, diharapkan kemampuan siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh mengalami peningkatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April―Juni 2011 di SMP Negeri 1 Kota Batu, dengan subjek penelitian siswa kelas VIII E. Penelitian ini difokuskan pada kemampuan siswa dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh. Data penelitian ini adalah data hasil wawancara, rekaman aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dan hasil karya siswa. Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru Bahasa Jawa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu. Berdasarkan hasil penilaian menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa dengan mengacu pada pedoman penskoran dan standar keberhasilan yang telah ditentukan, diketahui bahwa pada tahap pretes, yakni sebelum menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, rata-rata kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa hanya mencapai 61,97% sehingga belum mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Setelah diberikan tindakan dengan menggunakan strategi kooperatif tipe Cooperative Script pada siklus I, rata-rata kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa mengalami peningkatan sebesar 3,84% sehingga mencapai 65,81%. Pada siklus II rata-rata kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa mengalami peningkatan sebesar 13,13% dari siklus I sehingga mencapai 78,94%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, kemampuan siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh mengalami peningkatan sebesar 16,97% dan mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu pada setiap aspeknya. Setelah menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa mengalami peningkatan pada: (1) aspek jenis, dengan peningkatan sebesar 19,53%; (2) aspek ciri-ciri, dengan peningkatan sebesar 18,36% pada subaspek guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan; (3) aspek isi, dengan peningkatan sebesar 20,12% pada subaspek penulisan tembang dan isi tembang Pucung dan Gambuh; dan (4) aspek ajaran hidup dengan peningkatan sebesar 8,2%. Berdasarkan penelitian peningkatan kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kota Batu, guru mata pelajaran Bahasa Jawa disarankan: (1) menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script dalam pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh, (2) menggunakan langkah-langkah pembelajaran sebagaimana langkah-langkah pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, dan (3) membimbing siswa untuk melakukan tahapan-tahapan dalam menghasilkan sebuah pemahaman setiap aspek, yaitu jenis tembang macapat, ciri-ciri, isi, dan ajaran hidup tembang Pucung dan Gambuh. Untuk peneliti lanjutan disarankan melaksanakan penelitian dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script untuk meningkatkan kemampuan siswa pada keterampilan menyimak yang lain.

Pengembangan media pembelajaran membaca dengan program Macromedia Flash 8 untuk siswa kelas X SMA / Tariyat Budi Santoso

 

Kata kunci: Media pembelajaran, membaca, kelas X, SMA' Mengajarkan keterampilan berbahasa kepada siswa bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan variasi media untuk meningkatkan minat belajar dan mengurangi rasa bosan siswa dalam belajar. Dengan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, siswa akan lebih bersemangat dan senang dalam belajar. Software Macromedia Flash 8 pada saat ini telah banyak digunakan untuk membuat media pembelajaran. Dari uraian di atas, maka perlu diadakan penelitian tentang media pembelajaran yang bercirikan pembelajaran interaktif dengan media pembelajaran yang berbasis Macromedia Flash 8 sebagai salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan menyenangkan pada kemahiran membaca untuk siswa kelas X SMA. Tujuan penelitian ini adalah (1) menghasilkan media pembelajaran membaca berbasis macromedia flash 8 untuk siswa kelas X SMA, (2) menghasilkan pedoman penggunaan media pembelajaran berbasis macromedia flash 8 untuk siswa kelas X SMA. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model prosedural yang dikembang oleh baedowi dengan sedikit perbaikan dan sedikit penyesuaian pada komponen-komponennya. Langkah-langkah penelittian pengembangan media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis bahan ajar, (3)analiasis kebutuhan siswa, (4) desain media, (5) produksi, (6) editing, (7) prototipe media, (8) validasi produk, (9) uji coba produk, (10) revisi dan penyempurnaan, (11) produksi akhir. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media pembelajaran membaca berbasis Macromedia Flash 8 yang telah divalidasi. Media pembelajaran tersebut adalah media pembelajaran yang dirancang khusus untuk kemahiran membaca bahasa Arab kelas X SMA dengan menggunakan software Macromedia Flash 8. Akan tetapi ada pula software pendukung yang digunakan dalam proses pembuatan media ini yaitu Corel Draw X4 Portable, Audio Recorder Free , Jet Audio 5.0, dan Microsoft Power Point. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas media pembelajaran yaitu 80%. Untuk hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 82,14%. Berarti media pembelajaran tersebut cukup layak digunakan dalam pembelajaran. Namun untuk menyempurnakan media ini peneliti merevisi produk berdasarkan saran ahli media dan materi. Dan secara keseluruhan, persentase penilaian yang didapat dari hasil jawaban siswa adalah 80,92%. Hal ini berarti, media pembelajaran membaca dengan program Macromedia Flash 8 ini valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Dari hasil pengembangan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran kepada peneliti selanjutnya mengembangkan evaluasi yang berupa penilian angka dan yang berbasis online atau internet. Dengan begitu semua sekolah bisa memakainya secara online. Selain itu diharapkan dapat melakukan uji coba produk pengembangan kepada subjek yang lebih luas dengan kurun waktu yang lebih lama sehingga didapatkan validitas media yang lebih optimal.

Perbedaan mahasiswa reguler dan non reguler ditinjau dari minat, motivasi dan kebiasaan belajar serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah angkatan 2008 Univeritas Negeri Malang / Derta Arjaya

 

Kata kunci: minat belajar, motivasi belajar, kebiasaan belajar, prestasi belajar Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi berhasil tidaknya mahasiswa selama belajar di universitas, yaitu minat dan motivasi belajar serta kebiasaan belajar yang baik. Minat sangat mempengaruhi kualitas dan pencapaian hasil belajar tertentu serta akan menjaga konsentrasi seseorang sehingga ia dapat menguasai suatu pelajaran dengan baik dan pada gilirannya akan meningkatkan prestasinya pada pelajaran itu. Demikian juga halnya dengan motivasi, pelajar yang memiliki motivasi yang tinggi, akan berusaha lebih keras agar ia bisa mencapai tujuannya. Fakor yang ketiga adalah kebiasaan belajar yang juga sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar. Penelitian ini bertujuan (1) Membandingkan minat belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008 (2) Membandingkan motivasi belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008 (3) Membandingkan kebiasaan belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008 (4) Membandingkan pengaruh minat, motivasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008. Penelitian ini menggunakan rancangan kausal komparatif. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X1) adalah minat belajar, (X2) motivasi belajar, (X3) kebiasaan belajar, sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah angkatan 2008 sejumlah 102 mahasiswa dengan jumlah sampel 51 mahasiswa. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan teknik proportional random sampling (pengambilan sampel secara acak dan seimbang atau sebanding dengan banyaknya populasi penelitian). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Selanjutnya data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan bantuan soft ware SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai pada equal variance assumed (kedua variance sama besar) adalah 6.050 dengan probabilitas signifikansi 0.000 (two tail) < 0,05. Adapun besarnya perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi minat, dimana ditunjukkan bahwa besarnya korelasi minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa reguler adalah .634, yang berarti besarnya korelasi antara minat belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 63,4%. Sedangkan besarnya korelasi minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa non reguler adalah .610, yang berarti besarnya korelasi antara minat belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 61%. Jadi, minat belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yaitu 2,24%. (2) Terdapat perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai pada equal variance assumed (kedua variance sama besar) adalah 2.553 dengan probabilitas signifikansi 0.015 (two tail) < 0,05. Adapun besarnya perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi motivasi, dimana ditunjukkan bahwa besarnya korelasi motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa reguler adalah .605, yang berarti besarnya korelasi antara motivasi belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 60,5%. Sedangkan besarnya korelasi motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa non reguler adalah .584, yang berarti besarnya korelasi antara motivasi belajar mahasiswa non reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 58,4%. Jadi, motivasi belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yaitu 2,1%. (3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara kebiasaan belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh equal variance assumed (kedua variance sama besar) adalah 4.388 dengan probabilitas signifikansi 0.000 (two tail) < 0,05. Adapun besarnya perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi kebiasaan belajar, dimana ditunjukkan bahwa besarnya korelasi kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa reguler adalah .459, yang berarti besarnya korelasi antara kebiasaan belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 45,9%. Sedangkan besarnya korelasi kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa non reguler adalah .394, yang berarti besarnya korelasi antara kebiasaan belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 39,4%. Jadi, minat belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yaitu 6,5%. (4) Dilihat dari pengaruh secara simultan, maka variabel minat, motivasi dan kebiasaan belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka (dilihat dari nilai Adjusted R Square masing-masing) dengan perbandingan .566 (56,6%) berbanding .387 (38,7 %). Hal tersebut menunjukan bahwa pengaruh minat, motivasi dan kebiasaan belajar lebih besar (17,9%) daripada pengaruh minat, motivasi dan kebiasaan belajar mahasiswa non reguler.Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh besaran probablitas (Sig.) 0,578 > 0,05 dan t hitung (0,578) < t tabel (25 ; 0,05) (2,060) untuk minat belajar mahasiswa reguler. Sedangakan besaran probablitas (Sig.) 0,272 > 0,05 dan t hitung (1,134) < t tabel (18 ; 0,05) (2,101) untuk minat belajar mahasiswa non reguler. Saran dalam penelitian adalah (1) Untuk mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah baik reguler maupun non reguler pada umumnya dan mahasiswa reguler prodi pendidikan Sejarah angkatan pada khusunya agar dapat meningkatan minat dan motivasi belajar serta memperbaiki kebiasaan belajar agar dapat memperoleh prestasi yang optimal, (2) Untuk para dosen, diharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam menilai minat, motivasi dan kebiasaan belajar mahasiswa, (3) Untuk peneliti, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk selalu memperbaiki kualitas akademiknya, melalui peningkatan minat dan motivasi belajar maupun memperbaiki kebiasaan belajar dan (4) Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran untuk jurusan Sejarah, agar selalu memperhatikan pentingnya minat, motivasi dan kebiasaan belajar.

Pengembangan perangkat pembelajaran blended kimia ada topik solubility equilibria and the solutibility product dan colloid kelas XI semester 2 Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioal / Ubed Sonai Fahruddin Arrozi

 

Kata Kunci: Perangkat pembelajaran, pembelajaran blended, solubility equilibria and the solubility product, colloid, SMA bertaraf internasional. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah melalui peningkatan status sekolah secara bertahap untuk mencapai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dimana Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan lembaga utama dalam implementasi SBI. Sebelum mencapai status SMA Bertaraf Internasional, SMA harus menjadi Rintisan SMA Bertaraf Internasional (R-SMA-BI) terlebih dahulu. Ditinjau dari aspek kurikulum di RSMA- BI, adanya indikator kinerja tambahan membuat beban kurikulum semakin berat dan membuat aktivitas proses belajar mengajar semakin padat. Hal ini mengakibatkan dibutuhkannya waktu tambahan untuk melaksanakan proses belajar mengajar diluar kelas demi terpenuhinya target kurikulum. Salah satu solusi pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengakomodir pembelajaran di luar kelas adalah pembelajaran blended yang menggabungkan pembelajaran tatap muka (face-to-face) dan pembelajaran online (Littlejohn and Pegler, 2007). Gagasan ini juga didukung dengan adanya kriteria unggulan di RSMA- BI yang mengharuskan pengintegrasian penerapan proses pembelajaran berbasis TIK (Depdiknas, 2009). Dengan adanya tuntutan tersebut, penelitan ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran blended pada mata pelajaran kimia yang materinya mengandung banyak konsep abstrak seperti halnya pada materi pokok solubility equilibria and the solubility product dan colloid. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas lima bagian utama, yaitu bagian awal, pendahuluan, isi, penutup, dan media pembelajaran online. Bagian awal meliputi cover, kata pengantar (preface), daftar isi (table of content), dan daftar gambar (picture list). Bagian pendahuluan, meliputi panduan penggunaan perangkat pembelajaran. Bagian isi meliputi silabus (syllabus), rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan), uraian materi pelajaran (handout), lembar kegiatan belajar siswa (worksheet), instrumen penilaian (assessment) yang meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta ringkasan (summary). Bagian penutup meliputi glosarium (glossary) dan daftar pustaka (references). Media pembelajaran online dikem-bangkan dengan menggunakan software open source Moodle. Pengembangan perangkat pembelajaran ini didasarkan atas adaptasi model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick and Carey. Adapun langkah-langkahnya adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melakukan analisis pembelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan pengalaman belajar, mengembangkan item tes berbasis kriteria, mengembangkan strategi dan model pembelajaran, mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, melakukan revisi, dan memproduksi produk yang berupa perangkat pembelajaran yang dilengkapi dengan media pembelajaran online. Desain validasi yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif terhadap perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh validator ahli, dan uji kelompk kecil terhadap media pembelajaran online. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Berdasarkan penilaian oleh tiga validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat dan media pembelajaran yang dikembangkan adalah 94% dengan kriteria valid/layak/baik. Sedangkan data dari hasil uji pada kelompok keci terhadap media pembelajaran online diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh adalah 77% dengan kriteria valid/layak/baik. Untuk pengembangan lebih lanjut, hendaknya perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan ini dilakukan uji validasi empirik (uji sumatif) di sekolah untuk mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran, sedangkan untuk mengimplementasikan media pembelajaran online yang telah dikembangkan diharapkan untuk menyosialisasikan terlebih dahulu pada user (guru dan siswa) tentang penggunaannya. Perangkat pembelajaran blended juga perlu dikembangkan untuk topik yang lain.

Penerapan teknik permainan tebak gaya dalam keterampilan berbicara bahasa Jerman siswa kelas XI SMA Laboratorium Universitas Negeri Malag / Vivi Kurniasari

 

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman teks melalui teknik scramble siswa kelas V SDN Bedali 05 Kabupaten Kediri / Litta Mariyana

 

Kata Kunci: teknik scramble, membaca pemahaman Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesi di SDN Bedali 05 kabupaten Kediri diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan yang dihadapi adalah siswa kurang mampu memahamiisi bacaan dan menyimpulkannya menjadi beberapa paragraf yang runtut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik scramble dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman teks siswa kelas V SDN Bedali 05 kabupaten Kediri. Untuk penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket, dokumentasi dan observasi. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diawali dengan tahap perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflecting). Prosedur penelitian ini meliputi pratindakan, siklus 1, dan siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik scramble dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman teks. Siswa semakin sktif dan tidak takut untukmengekspresikan ide-ide yang dimilikinya. Selain menambah pengetahuan, siswa juga bermain sambil belajar, hal ini terlihat pada waktu siswa melaksanakan kerja kelompok. Selain itu penilaian hasil juga mengalami peningkatan, ini terbukti dari nilai pratindakan sampai penilaian proses siklus 1 ketuntasan klasikal adalah 50% dan pada siklus 2 ketuntasan klasikal mencapai 100%. Pada penilaian hasil pratindakan ketuntasan klasikal mencapai 40%, pada siklus 1 mencapai 50% dan pada siklus 2 adalah 100%. Kesimpulan dari data di atas bahwa pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN Bedali 05 perlu mendapat penanganan khusus pada aspek membaca pemahaman teks dengan materi pokoknya cerita anak.karena siswa kelas Vkurang mampu membaca secara kritis dan menyimpulkan sebuah teks cerita tersebut menjadi beberapa kalimat yang runtut. Berdasarkan kesimpulan yang dipaparkan peneliti maka peneliti memberikan saran, guru hendaknya menggunakan teknik scramble sebagai salah satu cara atau alternative untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan aktifitassiswa dalam kelas, kegiatan ini dilaksanakan secara berkesinambungan dalam mata pelajaran lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan materi lain.

Penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar berdasarkan Permendiknas Nomor 12 tahun 2005 (studi kasus di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang) / Trisiwi Tyas Utami

 

Kata kunci : deskripsi tugas, pengawas pendidikan dasar. Pendidikan nasional memiliki tiga subsistem pendidikan yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Subsistem pertama disebut pula pendidikan sekolah, sedangkan subsistem pendidikan nonformal dan informal berada dalam pendidikan luar sekolah. Pada dasarnya pendidikan ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan yang lebih baik, karena tuntutan peningkatan kualitas pendidikan yang semakin meningkat. Pendidikan berkualitas tidak akan terjadi tanpa ada peserta didik dan tenaga pendidik. Keduanya merupakan simbiosis mutualisme, dimana keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Namun tidak hanya hubungan antara peserta didik dan pendidik yang dibutuhkan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang berkualitas. Peran pengawas juga tidak bisa dilepaskan dari terbentuknya sekolah yang bermutu. Hampir tidak ada sekolah bermutu tanpa kepala sekolah yang bermutu, dan didukung oleh pengawas yang bermutu (Sudrajat, 2010). Aspek yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan mutu belajar siswa adalah kegiatan belajar mengajar guru di dalam kelas. Karena pada hakekatnya kegiatan pembelajaran di kelas merupakan sebuah proses mengubah input menjadi output, dan proses tersebut haruslah dilakukan secara benar. Untuk itu diperlukan pengawasan yang efektif guna mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Di sinilah tugas seorang pengawas untuk merencanakan, memantau, mengarahkan, membantu, dan mengevaluasi pelaksanaan pendidikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas) No. 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, secara umum dijelaskan bahwa seorang pengawas hendaknya memiliki beberapa kompetensi, antara lain: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi supervisi manajerial; (3) kompetensi supervisi akademik; (4) kompetensi evaluasi pendidikan; (5) kompetensi penelitian pengembangan; dan (6) kompetensi sosial. Fokus dari penelitian ini adalah deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar, penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang, faktor pendukung dan kendala yang dihadapi dalam penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang, dan solusi mengatasi kendala penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang. Berdasarkan paparan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara; (2) observasi; dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dikelola dan dianalisis guna mengetahui makna dan kesimpulannya. Triangulasi dilakukan guna memperoleh data yang dibutuhkan. Penelitian ini mengungkap penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang mencakup beberapa hal yang meliputi tugas pengawas pendidikan dasar, tanggung jawab pengawas pendidikan dasar, spesifikasi jabatan pengawas pendidikan dasar, dan hubungan kerja. Penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang, sejauh ini berjalan dengan baik dan optimal. Hal ini terbukti dengan adanya rencana kegiatan pengawasan beserta laporan hasil kepengawasan, pengawas juga melakukan pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah binaannya. Faktor pendukung dari penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan adalah adanya partisipasi beberapa pihak, yaitu pihak sekolah, UPT, komite, dan stakeholder lainnya. Kendala yang dihadapi, dari pihak pengawas mengemukakan kurangnya pemahaman pihak sekolah terhadap kedudukan pengawas serta kendala waktu yang dimiliki pengawas. Langkah-langkah yang ditempuh baik dari pengawas atau dari sekolah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut adalah, pengawas selalu berusaha untuk mengajak semua pihak dalam menyusun program kepengawasan agar tidak terjadi kesenjangan antara program pengawas dengan sekolah maupun dengan UPT. Masalah waktu yang dikeluhkan oleh pihak sekolah, maka solusi untuk mengatasinya adalah dengan mengintensifkan kegiatan KKG dan K3S. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disarankan dalam melakukan proses kepengawasan, pengawas lebih meningkatkan penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan khususnya pengawas pendidikan dasar guna meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya. Dengan menerapkan Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas serta Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan. Kepada Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan untuk menyarankan kepada mahasiswa Administrasi Pendidikan untuk mengkaji tentang pengawas dan proses kepengawasan guna memperoleh rujukan di bidang kepengawasan. Dan kepada peneliti lain untuk menyempurnakan teori hasil penelitian yang telah dipaparkan. Kepala Sekolah diharapkan lebih berpartisipasi dalam mendukung penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar.

Pengaruh pengumuman dividen dan stock split terhadap trading volume activity pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010 / Fatmamia Putri Megawati

 

Kata Kunci: Pengumuman Dividen, Stock Split, Trading Volume Activity. Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan. Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu Negara, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha dan kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi. Pengumuman dividen dan stock split merupakan salah satu informasi yang dipiblikasikan dipasar modal dan merupakan sinyal komunikasi secara tidak langsung bagi pemegang saham. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman dividen dan stock split. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI tahun 2007-2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 20 sampel. Periode pengamatan volume perdagangan saham dibedakan menjadi 5 hari sebelum pengumuman dividen dan stock split, pada saat pengumuman dan 5 hari sesudah pengumuman dividen dan stock split. Uji hipotesis menggunakan uji t-berpasangan (paired sample t-test). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengumuman dividen dan stock split masing-masing berpengaruh terhadap Trading Volume Activity. Terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai probabilitas TVA sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Begitu pula dengan nilai probabilitas TVA sebelum dan sesudah stock split juga memiliki perbedaan yang signifikan. Kesimpulan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pengumuman dividen dan stock split. Dapat disimpulkan bahwa pengumuman dividen dan stock split mempengaruhi aktivitas trading volume activity. Namun obyek penelitian ini relatif kecil jumlahnya dan tidak mengelompokkan sampel perusahaan menurut kelompok industri yang ada di Bursa Efek Indonesia. Saran dari penelitian ini sebaiknya investor dapat meng-gunakan informasi yang didapat dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keuntungan dan meminimalkan resiko atas investasi dananya. Untuk emiten hendaknya tidak hanya memperhatikan pengumuman dividen dan stock split sebagai bahan menentukan kebijakan perusahaan namun juga corporate action lainnya.

Hubungan ketersediaan media pembelajaran TIK dan tingkat literasi komputer terhadap prestasi belajar TIK siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen Kabupaten Malang / Kartika Damayanti

 

Kata Kunci: Ketersediaan Media Pembelajaran TIK, Literasi Komputer, dan Prestasi Belajar TIK Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang saat ini telah masuk ke dalam dunia pendidikan, penyediaan media pembelajaran TIK sangat mendesak untuk dipenuhi, karena media TIK digunakan sebagai alat bantu dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas baik teori maupun praktek agar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Selain penyediaan media, tingkat literasi tentang komputer juga harus diperhatikan, karena tanpa adanya pemahaman komputer secara mendasar kepada peserta didik, maka ketersediaan media pembelajaran TIK akan tidak maksimal dalam pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan secara simultan an¬ta¬ra tingkat ketersediaan media pembelajaran TIK (X1), tingkat literasi komputer (X2) terhadap prestasi belajar TIK (Y) siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen. Penelitian menggunakan pende¬katan kuantitatif, dengan rancangan penelitian des¬krip¬tif kore¬lasional. Populasi diambil dari seluruh siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 274 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik Proportional Random Sampling di mana dari masing-masing kelas yang diteliti diambil proporsi 30% siswa secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan metode angket dan dokumentasi. Analisis diperoleh dengan menggunakan teknik regresi ganda. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS for Windows release 17. Hasil penelitian ini adalah: (1) ketersediaan media pembelajaran TIK di SMA Negeri 1 Kepanjen cenderung berada dalam kategori tinggi sebesar 36,8%, tingkat literasi komputer cenderung dalam kategori tinggi sebesar 37,8%,dan prestasi belajar TIK siswa cenderung berada dalam kategori tinggi sebesar 48,2%. (2) hasil korelasi antara ketersediaan media pembelajaran TIK dengan prestasi belajar TIK sebesar 0,263 dan sig=0,01 < 0,05, berarti ada hubungan signifikan antara ketersediaan media pembelajaran TIK dengan prestasi belajar TIK, (3) hasil korelasi antara tingkat literasi komputer dengan prestasi belajar TIK sebesar 0,256 dan sig=0,01 < 0,05, berarti ada hubungan signifikan antara tingkat literasi komputer dengan prestasi belajar TIK siswa, dan (4) hasil korelasi antara ketersediaan media pembelajaran TIK dan tinigkat literasi komputer terhadap prestasi belajar TIK sebesar 0,409 dan sig=0,001 < 0,05, berarti ada hubungan secara simultan dan signifikan antara ketersediaan media pembelajaran TIK dan tingkat literasi komputer dengan prestasi belajar TIK.

Hubungan efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja karyawan / Ilmah Ashihatul Maghfiroh

 

Kata Kunci: efikasi diri, komitmen organisasi, produktivitas kerja Efikasi diri merupakan keyakinan atau kepercayaan seorang karyawan atas kemampuan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang telah ditetapkan. Komitmen organisasi merupakan keinginan karyawan untuk tetap mempertahankan dirinya dalam suatu organisasi dan bersedia memberikan kemampuan dan dirinya untuk membantu kesuksesan organisasi. Produktivitas kerja merupakan indeks perbandingan tingkat pencapaian hasil dengan sasaran atau pun standar kerja yang telah ditetapkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk :1) Mengetahui tingkat efikasi diri, komitmen organisasi, produktivitas kerja pada karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut. 2) Mengetahui hubungan efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja pada karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut. Subjek penelitian ini adalah karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut yang berjumlah 30 orang. Data penelitian diperoleh dari Skala Efikasi Diri dan Skala Komitmen Organisasi serta data gaji karyawan pada bulan Januari 2011. Teknik analisis data untuk melihat efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja adalah Analisis Deskriptif, untuk mengetahui hubungan antara Efikasi Diri dan Produktivitas Kerja, Komitmen Organisasi dan Produktivitas Kerja adalah dengan analisis korelasi Product Moment, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara Efikasi Diri, Komitmen Organisasi dan Produktivitas Kerja adalah dengan analisis korelasi Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Efikasi diri karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut berada dalam intensitas sedang. 2) Komitmen organisasi karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut berada dalam intensitas sedang. 3) Produktivitas kerja karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut berada dalam intensitas sedang. 4) Adanya hubungan yang positif antara efikasi diri dan produktivitas kerja (rxy = 0.601, p = 0.000<0.05). 5) Adanya hubungan yang positif antara komitmen organisasi dan produktivitas kerja (rxy = 0.570, p = 0.001<0.05). 6) Adanya hubungan yang positif antara efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja (F = 9.442 dengan nilai p = 0.001<0.05). Berdasar hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu: 1) Bagi karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut agar meningkatkan keyakinan dirinya untuk mampu menyelesaikan setiap pekerjaan dan melanggengkan hubungan dengan perusahaan, agar tercipta suasana hangat ketika bekerja. 2) Bagi perusahaan dan manajeman agar menanamkan keyakinan pada seluruh karyawannya ketika memberikan pekerjaan kepada mereka, dan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang hangat bagi karyawannya. 3) Bagi peneliti selanjutnya bisa menggunakan faktor lain yang memiliki pengaruh sama dan lebih memperluas populasi penelitian yang digunakan.

Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi dengan pendekatan komunikatif pada kelas III SD Berita Hidup Malang / Wahyu Dyah Sriwindartin

 

Pengaruh persepsi atribut produk laptop Toshiba terhadap proses keputusan pembelian konsumen (studi kasus pada mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang) / Rina Nugraheny

 

Kata Kunci: Atribut Produk, Proses Keputusan Pembelian Pada saat sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju, dan perkembangan teknologi semakin canggih dengan memunculkan produk-produk baru yang berteknologi modern untuk konsumen. Alat untuk mengumpulkan informasi yang mendukung kebutuhan konsumen dan banyak diminati masyarakat saat ini adalah laptop. Untuk bersaing didunia pemasaran produsen harus bisa menetapkan strategi-strategi pemasarn yang tepat untuk produknya agar dapat mempertahankan market share yang telah didapat agar tidak direbut oleh pesaing yang semakin banyak. Strategi tersebut bisa dengan cara mengembangkan atau memperbaiki atribut produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keadaan persepsi atribut produk dan proses keputusan pembelian, untuk mengetahui pengaruh atribut produk secara parsial dan simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen yaitu mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang yang membeli dan menggunakan Laptop Toshiba. Varibel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari varibel bebas yakni Atribut Produk (X) yang terdiri dari Merek (X1), Desain (X2), Harga (X3), Mutu(X4) dan Garansi (X5). Sedangkan Variabel terikatnya adalah variabel Proses Keputusan Pembelian(Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang yang membeli dan menggunakan Laptop Toshiba. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 139 responden yang dipilih secara accidental sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel merek terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial B=0,249; thitung=4,107; dan Sig t=0,000; (2) ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel Desain secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen nilai B=0,186; thitung=2,950; dan Sig t=0,004; (3) ada pengaruh positif yang antara variabel Harga terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial dengan nilai B=0,225; thitung=3,759; dan Sig t=0,000; (4) ada pengaruh positif yang antara variabel Mutu dengan proses keputusan pembelian konsumen dengan nilai B=0,384; thitung=6,170; dan Sig t=0,000; (5) ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel Garansi terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial B=0,198; thitung=3,295; dan Sig t=0,001; dan (6) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel Merek, Desain, Harga, Mutu dan Garansi terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara simultan dengan nilai Fhitung =33,663; Ftabel=2,281; Sig. F=0,000; R=0,747; R square =0,559; dan Adjusted R Square=0,542. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas konsumen menjawab setuju terhadap keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian laptop toshiba, dan terdapat pengaruh secara parsial dan simultan antara atribut produk terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba dan mutu (X4) merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh dominan terhadap proses keputusan pembelian Laptop Toshiba pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Dan Merek, Desain, Harga, Mutu dan Garansi mempengaruhi keputusan mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang sebesar 54,2% sedangkan sisanya 45,8% dipengaruhi faktor-faktor lain diluar penelitian. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa variabel atribut produk sangat relatif digunakan sebagai salah satu faktor dapat meningkatkan proses keputusan pembelian laptop toshiba pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Sehingga perlu adanya perbaikan dan perhatian khusus terhadap variabel-variabel tersebut terutama untuk variabel garansi, karena garansi merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh paling lembah terhadap proses keputusn pembelian laptop toshiba pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang.

Pengaruh atribut kartu seluler Telkomsel terhadap proses keputusan pembelian (studi pada mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Muhammad Nabiel Abraham

 

Kata kunci: Atribut Kartu Seluler, Proses Keputusan Pembelian Salah satu kemajuan teknologi pada saat ini adalah terdapat pada bidang komunikasi yang ditandai dengan adanya berbagai macam alat komunikasi bagi masyarakat dan salah satunya adalah kartu seluler sebagai alat komunikasi. Agar dapat lebih bersaing dengan produsen-produsen kartu seluler yang lain, maka produsen kartu seluler harus menetapkan strategi-strategi pemasaran yang jitu agar dapat memenangkan persaingan serta mampu mempertahankan market share yang telah diraih agar tidak direbut oleh para pesaing yang salah satunya adalah dengan mengembangkan atribut produk. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keadaan atribut kartu seluler produk dan preses keputusan pembelian, mengetahui pengaruh variaber-variabel produk secara parsial dan simultan terhadap proses keputusan pembelian serta mengetahui factor yang paling dominan yang mempengaruhi proses keputusan pembelian kartu seluler Telkomsel pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yakni atribut kartu seluler (X) yang terdiri dari call quality (X1), value added service (X2), pricing structures (X3), customer complaint/customer care (X4), and physical evidence (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel proses keputusan pembelian. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang memakai kartu seluler TELKOMSEL. Jumlah sample sebanyak 100 responden yang dipilih secara accidental random sampling dengan instrument yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen menjawab setuju terhadap keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL, terdapat pengaruh parsial dan simultan antara atribut produk kartu seluler terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dan variabel call quality merupakan variabel atribut kartu seluler yang memiliki pengaruh dominant terhadap proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, i Dari hasil penelitian tersebut dikatakan dapat dikatakan bahwa variabel atribut kartu seluler sangat efektif digunakan sebagai salah satu fatur yang dapat meningkatkan proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, sehingga perlu adanya perbaikan dan perhatian khusus terhadap variabel-variabel tersebut terutama untuk variabel pricing structures karena variabel tersebut mempunyai pengaruh paling lemah terhadap proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang,

Pengaruh manfaat citra merek terhadap intensi pembelian ponsel Nokia (studi kasus pada konsumen di Counter Oke Shop Malang Town Square) / Witamining Ayu Lelia Dewi

 

Analisis faktor dimensi kualitas layanan yang dipertimbangkan pelanggan dalam keputusan pemilihan hotel (studi pada pelanggan Hotel The Graha Cakra Malang) / Diyah Pratiwi

 

Kata Kunci : Bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, empati. Bukti fisik merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Selain bukti fisik, keandalan juga merupakan kemampuan perusahaan untuk menyampaikan layanan yang dijanjikan secara akurat sejak pertama kali. Dengan memberikan layanan yang andal maka tidak mampu ditiru oleh perusahaan lain. Yaitu dengan megimbangi ketanggapan yang diberikan karyawan kepada pelanggan merupakan hal yang sangat penting. Kemampuan dan ketrampilan karyawan sangat diperlukan dalam melayani baik dalam pemberian pelayanan konsultasi bagi pemecahan masalah yang dihadapi pelanggan dengan baik dan tepat. Selain itu jaminan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan harus sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Yaitu berkenaan dengan pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka dalam menumbuhkan rasa percaya (trust) dan keyakinan pelanggan (confidence). Setiap pelanggan tentunya mengharapkan bahwa jaminan yang diberikan akan memberikan kenyamanan pada dirinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang dipertimbangkan pelanggan dalam pemilihan Hotel. Penelitian ini mempunyai 5 variabel, yaitu bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), empati (X5). Populasi dalam penelitian ini adalah Pelanggan yang menginap di Hotel The Graha Cakra Malang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 150 responden. Sampel diambil dengan menggunakan accidental sampling. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: dari 22 variabel yang terotasi dalam 7 faktor yaitu (1) Faktor daya tanggap yang merupakan merupakan faktor yang dominan dibandingkan faktor-faktor lain yang terdapat dalam dimensi kualitas layanan yang dipertimbangkan pelanggan dalam keputusan pemilihan Hotel The Graha Cakra Malang. Hal ini dibuktikan nilai Eigen Value 3.487 dengan nilai variance 15.849%. (2) Faktor empati yang merupakan faktor terbesar kedua, dengan nilai Eigen Value 3.087dengan nilai total variance 14.033%. (3) Faktor jaminan kenyamanan dan kepercayaan yang merupakan faktor terbesar ketiga, dengan nilai Eigen Value 2.683 dengan nilai variance 12.196%. (4) Faktor keandalan dalam pelayanan yang merupakan faktor terbesar keempat, dengan nilai Eigen Value 2.424 dengan nilai variance 11.016%. (5) Faktor buktifisik internal yang merupakan faktor terbesar kelima, dengan nilai Eigen Value 2.349 dengan nilai variance 10.679%. (6) Faktor buktifisik eksternal yang merupakan faktor terbesar keenam, dengan nilai Eigen Value 1.821 dengan nilai variance 8.277%. (7) Faktor jaminan ketepatan yang merupakan faktor terbesar ketujuh, dengan nilai Eigen Value 1.312 dengan nilai variance 5.964%. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah: Faktor daya tanggap merupakan faktor yang dominan dalam dimensi kualitas layanan dalam keputusan pemilihan Hotel The Graha Cakra Malang. Hasil tersebut bisa dijadikan acuan Hotel The Graha Cakra Malang. Sehingga Hotel The Graha Cakra Malang diharapkan lebih meningkatkan faktor daya tanggap yang ada dan disesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan pelanggan yaitu dengan cara memberikan training kepada karyawan Hotel dan pemberian reward kepada karyawan yang memiliki kinerja lebih baik. Untuk mendapatkan harapan pelanggan terhadap layanan yang diberikan, Hotel The Graha Cakra Malang dapat mempelajari dimensi kualitas layanan secara mendalam, dengan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan pelanggan dalam keputusan pemilihan Hotel yaitu dengan cara menyediakan kotak saran agar pihak Hotel The Graha Cakra Malang mengetahui keluhan, harapan dan juga keinginan dari pelanggan.

Pengetahuan gizi ibu hubungannya dengan status gizi anak balita di Desa Gendangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung / Nila Darmayanti

 

Kata Kunci: Pengetahuan Gizi Ibu, Status Gizi, Anak Balita Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak balita di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini termasuk penelitian Survey dengan pendekatan Cross Sectional. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh balita berusia 36-60 bulan di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 35 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan wawancara, kuesioner (angket) dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data pengetahuan berhubungan secara signifikan terhadap status gizi, terbukti dengan (sig.) 0,002 < 0,05 dan rhitung (0,505) > rtabel (0,334), sehingga dapat disimpulakan bahwa pengetahuan gizi ibu berhubungan dengan status gizi anak balita di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

The use of smart strategy to improve the reading comprehension of the ninth grade students of MTsN Bantarwaru-Majalengka / Tori Satori

 

Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1)Dr. Suharmanto, M. Pd. (2) Prof. M. Adnan Latief, M.A, Ph.D. Key words: SMART strategy, improvement, reading comprehension. The teaching of reading comprehension plays significant roles in leading our students the understandingof written texts.Those understandings imply that the objective of teaching reading comprehension should be helping students to develop all of the reading comprehension skills. The teaching techniques and strategies should be directed to achieving those objectives. Students’ difficulty in comprehending the text becomes the case in MTsNBantarwaru. It implies that the students’ reading achievement is yet unsatisfactory.In the preliminary study, the researcher found that the students’ reading achievement is still under the minimum passing level. Therefore, this research is designed to improve the students’ reading comprehension through the use of SMART strategy. In a SMART activity, students are rehearsed to comprehend a text with the procedure of (1) reading a text fast and silently, (2) placing check mark () or question mark (?) next to each paragraph that contains something understood or not, (3) modeling how to paraphrase each paragraph, (4) translating and troubleshooting. The research applies a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher work together in preparing a suitable procedure of SMART strategy, designing the lesson plan, determining the criteria of success, implementing the action, observation, and doing reflection. The subjects of this research were 35 ninth year students of MTsNBantarwaruMajalengka, West Java in the academic year of 2010/ 2011. This research was conducted in 2 Cycles, each of which comprises four meetings. The data of this research were obtained through (1) observation sheet, designed to obtain information about teacher’s and students’ activities and performance during the implementation of SMART strategy, (2) field notes, arranged to note the data beyond the coverage of the observation sheet, and (3) test, devised to identify whether the students make progress in reading comprehension. The research shows that the implementation of SMART strategy in the teaching-learning of reading comprehension can improve the students’ comprehension skill. It can be identified that after the implementation of the action, there was an improvement on the number of students who obtained the gain at least 10 in first Cycle was 30 students out of 35 students (85.71%). It had not fulfilled the criteria of success yet. In cycle 2, the students who got the gain at least 10 were all of 35 students (100%). It had fulfilled the criteria of success in term of the score improvement. Moreover, the finding indicated that SMART strategy was successful to enhance students’ motivation to be actively involved in the instructional process. The improvement on the students’ participation was 75% in Cycle 1 and 87% in Cycle 2. Based on the findings above, some suggestions for English teachers and future researchers are made as follows: for the English teachers who have similar problem, it is suggested that they implement SMART strategy as one of the alternatives for improving students’ reading comprehension. For the future researchers, it is suggested that they conduct the same research in other level of study with different subjects, setting, and other text types to see whether SMART strategy is also applicable and effective to improve the students’ reading comprehension.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) pada pokok bahasan optika geometri untuk SMA kelas X semester II / Eki Luthfintri

 

Kata kunci: bahan ajar fisika, SAVI, optika geometri Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan bahan ajar untuk membantu jalannya proses pembelajaran tersebut. Bahan ajar yang digunakan haruslah memenuhi kriteria bahan ajar yang baik sehingga siswa mudah memahami materi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada guru dan siswa ditemukan bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan belum adanya inisiatif siswa untuk membaca maupun mengerjakan soal latihan yang ada pada bahan ajar fisika. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan mengembangkan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk aktif bergerak, berbicara, mengamati, menemukan konsep, dan memecahkan masalah dalam pembelajaran fisika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan, mengetahui karakteristik, serta mengetahui kelayakan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) pada pokok bahasan optika geometri untuk SMA Kelas X semester 2. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan lima langkah awal metode Borg dan Gall, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draf produk, uji coba, dan revisi hasil uji coba. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji validitas oleh tim ahli materi (dua dosen fisika dan satu guru fisika SMA Negeri 4 Malang), serta pengguna bahan ajar (sepuluh siswa SMA Negeri 4 Malang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar fisika berbasis SAVI pada pokok bahasan optika geometri memperoleh nilai rata-rata 3,44 dari penilaian tim ahli yang berarti layak. Dari siswa, diperoleh nilai rata-rata 3.40 yang berarti layak. Hal ini berarti bahan ajar yang disusun sudah layak untuk digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan penelitian pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar fisika tersebut dengan melakukan uji coba lebih luas, sehingga diperoleh bahan ajar fisika berbasis SAVI pada pokok bahasan optika geometri yang teruji validitasnya secara empiris.

Pengaruh service quality terhadap loyalitas pelanggan (studi pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang) / Rani Fahmi

 

Kata kunci: Service quality, Loyalitas pelanggan Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan industri perbankan yang ada dalam negara tersebut. Perkembangan bank-bank syariah di Indonesia mengalami kendala karena Bank Syariah hadir di tengah-tengah perkembangan dan praktik-praktik perbankan konvensional yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, bank Syariah harus memberikan pelayanan prima (service excellent) dengan cara meningkatkan service quality. Hal ini dilakukan agar pelanggan menjadi loyal dengan produk yang ditawarkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keadaan service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) dan loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (2) apakah service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) berpengaruh secara parsial terhadap loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (3) apakah service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) berpengaruh secara simultan terhadap loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (4) variabel service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) manakah yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?. Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan nasabah Tabungan Muamalat yang tercatat sebanyak 159.729 sampai bulan Desember 2010, penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Tekhnik sampling dalam penelitian ini menggunakan (accidental sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup yang menggunakan skala Likert dengan 5 pilihan jawaban. Penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis data yang menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini adalah: (1) bahwa keadaan service quality terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang cukup tinggi, (2) dengan nilai thitung sebesar 2,911 dan sig t 0,005, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel reliability secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 2,395 dan sig t 0,019, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel responsiveness secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 3,830 dan sig t 0,000, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel assurance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 2,242 dan sig t 0,027, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel empathy secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 3,244 dan sig t 0,002, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel tangibles secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 4,766 dan sig t 0,000, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel compliance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Malang diterima, (3) dengan nilai Fhitung = 34,574 > Ftabel = 2,19 dengan taraf signifikansi 0,000, dengan melihat taraf signifikansi yang lebih kecil dari 0,05, maka ada pengaruh positif yang signifikan antara reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara simultan terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima, (4) variabel yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang adalah compliance yang menunjukkan nilai SE sebesar 23,7%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) keadaan service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance) Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang cukup tinggi, (2) ada pengaruh positif yang signifikan antara service quality yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang, (3) ada pengaruh positif yang signifikan antara service quality yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara simultan terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang, (4) variabel service quality yang dominan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang adalah variabel compliance (kesesuaian dengan prinsip Syariah). Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pihak Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang lebih meningkatkan responsiveness kepada pelanggan, dari segi assurance karyawan harus bersikap profesional dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, segi tangibles Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang bisa lebih meningkatkan kenyamanan bagi pelanggan, diharapkan kepercayaan pelanggan terhadap compliance selalu dipertahankan dan menjadi perhatian khusus dengan meningkatkan kualitas dari compliance; (2) Peneliti selanjutnya, perlu pengujian lebih mendalam mengenai service quality pada perbankan syariah, terutama untuk menemukan peranan dimensi syariah dalam menciptakan loyalitas pelanggan.

Pengaruh cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang / Andi Setiawan

 

Kata kunci: Cara Belajar, Tingkat Stres, Hasil Belajar Ekonomi. Cara belajar merupakan strategi yang dilakukan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Cara belajar dibagi menjadi cara belajar di rumah dan cara belajar di sekolah. Tingkat stres merupakan tekanan pada aspek emosi, fisik, intelektual dan interpersonal siswa sebagai akibat dari adanya stressor yang diperoleh individu. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pengaruh antara cara belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang? (2) Bagaimana pengaruh antara tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang? (3) Bagaimana pengaruh antara cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang?. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 1 Malang. Teknik pengambilan sampel dengan “Proportional Random Sampling” Instrumen yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Analisis deskriptif korelasionalnya menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh variabel cara belajar (X1) dan tingkat stres (X2) terhadap hasil belajar (Y). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif antara cara belajar terhadap hasil belajar dengan tingkat signifikansi t (0,000) lebih kecil dari α (0,05) dan sumbangan efektif 6,62%, terdapat pengaruh negatif antara tingkat stres terhadap hasil belajar dengan tigkat signifikansi t (0,000) lebih kecil dari α (0,05) dan sumbangan efektif 57,22%. Secara simultan terdapat pengaruh cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar dengan Fhitung = 145.934 dan taraf signifikansi sebesar 0,000, angka Adjusted R Square = 0,634. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran (1) bagi siswa dapat mengatur waktu dan cara belajarnya lebih efektif dan aktif dalam mengikuti pelajaran dan berusaha mengatasi stres yang dialami dalam belajar seperti memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya, belajar atau mempersiapkan pelajaran sebelum dimulai dan rajin berolah raga, (2) bagi sekolah perlu memberikan bimbingan kepada siswa dalam hal cara belajar dan mengolah stres agar siswa lebih baik dalam mengatasi masalah yang dapat menimbulkan stres dalam belajar, (3) bagi peneliti lain diharapkan untuk lebih dalam dan spesifik dalam meneliti masalah tingkat stres siswa dengan metode yang lebih baik.

Analisis tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem wancik untuk ukuran XXXXL / Nurma Evy Maulidya

 

Kata kunci: Analisis, pola, Wancik, Kenyamanan. Masalah-masalah yang sering muncul dalam pembuatan pola badan, misalnya kurang tepatnya ukuran yang dipakai sehingga hasil jadi yang diperoleh kurang maksimal, pemindahan kupnad yang tidak sesuai, terdapat kerut atau menggelembung. Begitu pula dalam pembuatan pola celana untuk seseorang yang memiliki tubuh langsing (ideal) cenderung tidak bermasalah dengan struktur pola celana. Sebaliknya pada orang berbadan gemuk permasalahan sering terjadi pada bagian pesak, karena struktur badan orang gemuk tidak ada keseimbangan antara struktur bagian perut, lingkar panggul, dan lingkar paha, sehingga terlihat bentuk yang tidak rapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem Wancik pada pembuatan celana panjang wanita yang memiliki ukuran tubuh gemuk dengan indikator penilaian hasil pengepasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini yaitu pola celana panjang wanita sistem Wancik. Beberapa ukuran dalam pembuatan pola celana panjang wanita sistem Wancik yaitu lingkar pinggang, panjang celana, tinggi duduk, lingkar panggul, lingkar pesak, lingkar paha, lingkar lutut, lingkar kaki. Pola celana panjang wanita dengan sistem Wancik mempunyai bentuk yang lebih lebar, dalam menentukan besar paha sistem Wancik menggunakan rumus lingkar paha + 13 cm dikurangi 1 cm : 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kenyamanan pemakai untuk wanita yang memiliki ukuran XXXXL dengan menggunakan pola celana panjang wanita sistem Wancik. Hasil penelitian berdasarkan penilaian hasil pengepasan dapat diketahui frekwensi rata-rata tingkat kenyamanan celana panjang wanita ukuran (XXXXL), persentase dari masing-masing kedua ukuran tersebut memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda pula. Ukuran pada model pertama (I) nilai tingkat kenyamanan dengan kategori nyaman sebanyak 47,6%, sedangkan untuk ukuran model kedua (II) memiliki nilai dengan kategori nyaman sebanyak 38,01%. Untuk tingkat kenyamanan dengan kategori kurang nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 28,7%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai dengan kategori kurang nyaman sebanyak 33,3%. Persentase nilai dengan kategori tidak nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 23,8%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai tingkat kenyamanan dengan kategori tidak nyaman sebanyak 28,7%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembuatan celana panjang wanita dengan sistem Wancik pada hasil jadi ban pinggang celana bagian belakang longgar dan bergelombang (tidak rata), sehingga terlihat kurang nyaman ketika di pakai, pada bagian lingkar pesak sempit di bagian bawah pantat dan berkerut pada bagian sisi dan pantat, serta pada bagian lingkar paha sedikit longgar. Sistem pola celana yang di ujikan pada dua orang model yang masih memiliki ukuran tubuh yang di tetapkan (XXXXL). Pengujian pada dua ukuran tersebut menghasilkan nilai yang berbeda dan hasil tingkat kenyamanannya berbeda. Untuk ukuran yang pertama memiliki tingkat kenyamanannya lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran yang kedua. Ukuran tubuh seseorang dalam membuat busana sangat penting oleh karena itu pengukuran dilakukan dengan lebih teliti supaya busana yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebaiknya, dalam pemilihan desain tidak terlalu banyak merubah pola dasar, sehingga nantinya bisa diketahui letak kekurangan dan kelebihan dari pola yang di pakai.

Penerapan model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok dengan media alat peraga untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang / Bagus Purwanto

 

Kata Kunci: Kooperatif investigasi kelompok, Media Alat Peraga, Prestasi Belajar Fisika Penggunaan metode pembelajaran yang masih didominasi oleh ceramah dalam pembelajaran fisika merupakan faktor penyebab kurang berkembangnya prestasi belajar fisika siswa di sekolah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan menggunakan model pembelajaran tradisional yang didominasi oleh metode ceramah dan jarang menggunakan media alat peraga. Selain itu penerapan model pembelajaran yang selalu sama dalam semua materi membuat siswa merasa jenuh, pada akhirnya menyebabkan prestasi belajar fisika siswa menjadi rendah.Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa dan menyiapkan siswa agar memiliki hubungan sosial yang sehat akhir-akhir ini banyak dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif. Salah satunya adalah kooperatif investigasi kelompok dengan media alat peraga. Sejumlah studi tentang kooperatif investigasi kelompok ini telah konsisten menemukan bahwa siswa yang belajar dengan cara ini dapat belajar dan mengendapkan materi lebih banyak daripada siswa yang sekedar mendengarkan materi pelajaran. Tujuan dari penelitian ini tidak lain untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahaptahap penelitian tindakan berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) pemberian tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi, yang membentuk siklus demi siklus sampai penelitian tuntas, sehingga diperoleh data yang dapat dikumpulkan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok dengan peningkatan pada prestasi belajar fisika dengan nilai gain score 0,33 pada siklus I menjadi 0,44 pada siklus II dan ini sudah berada di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75. Diharapkan pada penelitian selanjutnya pembelajaran dapat menggunakan model kooperatif nvestigasi kelompok dengan alat peraga terhadap prestasi belajar fisika karena model kooperatif investigasi kelompok dengan alat peraga ini dapat meningkatkan interaksi siswa melalui proses kerjasamanya.

Upaya meningkatkan kualitas produk media pembelajaran fisika melalui kelompok kolaboratif model think pair share mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM / Dwi Windi Ari Suyitno

 

Kata Kunci: kolaboratif, Think-Pair-Share, kualitas produk media Rerata nilai produk media pembelajaran fisika berupa Galvanometer yang dibuat mahasiswa kelas AA offering CC di Jurusan Fisika masih mencapai 65,71. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar mahasiswa pada ranah psikomotor masih rendah. Penyebab dari permasalahan rendahnya kemam¬puan mahasiswa membuat produk media adalah kurangnya memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk berkreasi mengembangkan suatu desain media karena kerja kelompok yang selama ini dilakukan belum memperhatikan tanggung jawab individu. Berdasar¬kan masalah rendahnya hasil belajar ranah psikomotor maka perlu dilakukan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas produk media melalui kelompok kolaboratif dengan model Think Pair Share. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk media pembelajaran fisika dengan menerapkan kelompok kolaboratif model Think Pair Share mahasiswa Jurusan Fisika kelas AA offering CC. Penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan dosen pengampu mata-kuliah Pengembangan Media Pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Mc Taggart dengan tahapan penelitian berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Penelitian dilakukan selama dua siklus. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Fisika kelas AA offering CC dengan jumlah 36 mahasiswa yang terdiri dari 15 mahasiswa laki-laki dan 21 mahasiswa perempuan. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan lembar penilaian kualitas produk media pembelajaran fisika Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menerapkan kelompok kolaboratif model Think Pair Share, kualitas produk media pembelajaran fisika yang dibuat mahasiswa meningkat. Skor peningkatan pada siklus I sebesar 70,20 menjadi 85,20 pada siklus II.Rerata skor akhir produk media pembelajaran fisika mahasiswa adalah sebesar 85,20.

Hubungan antara motivasi berprestasi dan adversity quotient dengan prestasi akademik siswa SMAN 1 Malang / Heridha Yuninda

 

Kata Kunci: motivasi berprestasi, adversity quotient, prestasi akademik, siswa Adversity Quotient adalah suatu cara yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh seseorang mampu menghadapi kesulitan dan bagaimana kemampuan seseorang dalam mengatasinya. Motivasi berprestasi adalah usaha seseorang dalam menguasai tugasnya, mencapai kesuksesan, mengatasi rintangan, menjadi lebih baik dari orang lain, dan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atas pekerjaannya. Prestasi akademik adalah hasil dari proses belajar secara formal di sekolah, berupa penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru dalam rapor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik, mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik siswa, mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan motivasi berprestasi, dan mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan Adversity Quotient dengan prestasi akademik pada siswa SMAN 1 Malang. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik stratified proportional random sampling. Ada tiga alat pengumpul data dalam penelitian ini yaitu skala motivasi berprestasi, skala Adversity Quotient, dan dokumentasi laporan hasil rapor siswa. Subyek penelitian adalah siswa SMAN 1 Malang berjumlah 321 anak. Sampel penelitian adalah siswa SMAN 1 Malang kelas XI berjumlah 79 anak. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebesar 49,3% memiliki motivasi berprestasi yang rendah, sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebesar 36,7% memiliki Adversity Quotient rendah, dan sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebanyak 46,8% siswa memiliki prestasi akademik yang sedang. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik sebesar rx1y = 0, 352 dengan nilai p<0.05. Ini berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik sebesar rx2y= 0.424 dengan nilai p< 0.05. Ini berarti ada hubungan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dengan Adversity Quotient sebesar rx1x2= 0,780 dengan p< 0,05, artinya ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan Adversity Quotient. Hasil analisis korelasi ganda menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dan Adversity Quotient dengan prestasi akademik yaitu Rsquare= 0.181 dengan sig= 0,001 artinya R2 = 0,181, signifikan pada 0,001 sehingga Ha

Dampak program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri perdesaan (PNPM-MP) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang / Dewi Ningnurati

 

Kata Kunci: Dampak, PNPM-MP, kesejahteraan masyarakat Kemiskinan adalah permasalahan utama dalam agenda pembangunan di Indonesia sampai dengan tahun 2010. Masalah kemiskinan menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah karena merupakan amanat konstitusi dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu cara dalam pengentasan kemiskinan adalah dengan menggunakan pendekatan pemberdayaan, sehingga pemerintah mengeluarkan beberapa program pemberdayaan masyarakat antara lain: PPK, P2K, P4K, PEMP dan KUBE. Program-program pemberdayaan masyarakat dalam pengentasan kemiskinan pelaksanaannya kurang efektif sehingga pemerintah mengeluarkan program baru yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang yang melaksanakan PNPMMP. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji dampak PNPM-MP dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sebagaimana yang ada pada tujuan program, sehingga peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimana dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) dalam pengembangan prasarana sosial dasar dan ekonomi bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang; (2) Bagaimana dampak PNPM-MP dalam perluasan lapangan pekerjaan bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang; (3) Bagaimana dampak PNPM-MP dalam pengembangan partisipasi keswadayaan dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif-studi kasus. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian ini adalah Pengelola PNPM-MP di Kecamatan Wonosari dan di desa serta masyarakat penerima manfaat dari PNPM-MP di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif (reduksi, penyajian dan verifikasi data). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) dampak PNPM-MP dalam pengembangan prasarana sosial dasar pendidikan pada pembangunan gedung TK bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari yaitu adanya ketersediaan prasarana sosial dasar pada pendidikan, meningkatkan kualitas prasarana gedung i

Pengaruh model pembelajaran inquiry training (pelatihan inkuiri) terhadap hasil belajar dan perhatian siswa pada mata pelajaran fisika di kelas X SMA Negeri 4 Malang / Ika Suryani

 

Kata kunci: model inquiry training, hasil belajar, perhatian Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 4 Malang, ditemukan bahwa hasil belajar dan perhatian siswa pada pelajaran fisika masih rendah. Hasil belajar yang rendah ditunjukkan dengan nilai rata-rata siswa yang masih berada di bawah KKM yang sebesar 76. Nilai-nilai tersebut adalah sebesar 57.35 untuk kelas X1, 56.66 untuk kelas X2, 62.45 untuk kelas X3, 65,21 untuk kelas X4, 64.89 untuk kelas X5, dan 54.97 untuk kelas X6. Nilai tersebut diperoleh dari hasil ujian akhir semester gasal. Sedangkan perhatian siswa yang rendah ditandai dengan banyaknya kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa selama pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan terhadap pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran baru dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar dan perhatian siswa. Salah satunya adalah model pembelajaran inquiry training (pelatihan inkuiri). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Rancangan penelitiannya adalah eksperimen semu dan desain penelitian yang digunakan adalah posttest only control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang yang terdiri dari enam kelas sebagai populasi penelitian, sedangkan sampelnya adalah kelas X3 sebagai kelas eksperimen dan X5 sebagai kelas pembanding. Setiap kelas yang menjadi subjek penelitian tersebut terdiri dari 38 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan berupa RPP dan instrumen pengukuran berupa lembar observasi dan instrumen tes. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar dengan uji U Mann- Whitney, diperoleh nilai z sebesar −2.834 yang lebih kecil dari nilai kritis z yaitu 1.645 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak. Diterimanya H0 ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas pembanding. Artinya, hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran inquiry training tidak lebih tinggi dari hasil belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil analisis terhadap perhatian siswa yang dilakukan dengan uji perbedaan dua proporsi, diperoleh nilai z sebesar 6.087 yang lebih besar dari negatif nilai z tabel yaitu sebesar −1.64 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak, artinya proporsi kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa kelas eksperimen tidak lebih kecil dari kelas pembanding. Proporsi kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa ini menunjukkan perhatian siswa. Jadi perhatian siswa kelas eksperimen atau kelas yang belajar dengan model pembelajaran inquiry training tidak lebih besar dari siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. ABSTRAK Suryani, Ika. 2011. The Influence of Inquiry Training Model to Students’ Learning Results and Attention in Physics of Grade X at Public Senior High School 4 Malang. Thesis, Physics Department, Faculty of Mathematics and Science, State University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Subani, (II) Dra. Chusnana Insjaf Yogihati, M.Si. Keywords: inquiry training model, learning results, attention Based on observations in Public Senior High School 4 Malang, it was found that the students’ learning results and attention are low. The low learning results indicated by the average student is still below that of KKM 76. Values amounted to 57.35 for class X1, 56.66 for X2, 62.45 for X3, 65.21 for X4, 64.89 for X5, and 54.97 for X6. This value is obtained from the odd semester of the final exam. While students attention which are low shown by the number of irrelevant activities done by students during the lesson. Therefore, the necessary improvements to learning by applying new learning models in the hope of increasing students’ learning results and attention. One model of learning is inquiry training model. The approach used in this study is a quantitative approach to the type of experimental research. The design study is a quasi-experimental and design study is a posttest only control group design. The subject of this study is the grade X at Public Senior High School 4 Malang which consist of six classes as the population, while the sample is X3 as experiment class and X5 as the comparison class. Each class that is the subject consist of 38 students. Research instrument used is the treatment instrument in the form of lesson plans and measuring instruments in the form of the observation sheets and test instruments. Based on the analysis results of learning results by the Mann-Whitney U test, z values obtained for −2.834 is less than the critical value of z is 1.645 so the H0 is received or H1 is refused. H0 receipt shows that there is no difference in learning results between experimental class and comparison class. It means the learning results of students who learn by inquiry training model is not higher than the learning results of students who studied with conventional learning. The analysis of students' attention to the difference of two proportions test, z values obtained for 6.087 is greater than negative value of z table that is equal to −1.64 so that H0 accepted or H1 refused, meaning that the proportion of irrelevant activities conducted experimental class students is not lower than the comparison class. The proportion of irrelevant activities of the student shows students' attention. So attention experimental class or classes of students who learn by inquiry learning model of training is not greater than students who studied with conventional learning.

Evaluasi potensi mata air Song Bajul untuk suplai air bersih penduduk di Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung tahun 2010-2050 / Mar'atus Sholekhah

 

Kata Kunci: kebutuhan air, kuantitas air, proyeksi penduduk Kekeringan merupakan keadaan dimana sebagian besar penduduk merasakan kurangnya air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah ini dialami oleh penduduk Kabupaten Tulungagung bagian selatan, yaitu Kecamatan Pucanglaban. Penduduk Desa Pucanglaban memanfaatkan mata air Umbul Bendo dan Desa Sumberdadap memanfaatkan mata air Sumber Kucur, yang masing-masing memiliki debit 0,5 liter/detik, sehingga terdapat batasan waktu untuk mendapatkan pasokan air bersih. Di Desa Panggungkalak terdapat sumber mata air yang memiliki debit yang besar, yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan kekurangan air bersih. Mata air tersebut dinamakan mata air Song Bajul yang merupakan mata air karst. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi (kuantitas) mata air Song Bajul, menganalisis kebutuhan air, dan mengevaluasi potensi mata air Song Bajul untuk memenuhi kebutuhan air bersih tahun 2010-2050 di Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Obyek dalam penelitian ini meliputi mata air Song Bajul dan penduduk Desa Pucanglaban dan Sumberdadap. Sampel responden ditentukan dengan Stratified Proportional Random Sampling dan jumlah responden ditentukan dengan Stratified Sampling. Jumlah responden di Desa Pucanglaban 156 KK dan Desa Sumberdadap 133 KK. Hasil penelitian ini yaitu: (1) kuantitas mata air Song Bajul adalah 201,67 liter/detik atau 17.424.616,32 liter/hari, (2) saat ini total kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap yaitu 1.030.381,24 liter/hari, (3) Perkiraan total kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap tahun 2050 yaitu 2.536.746,61 liter/hari. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) Debit mata air Song Bajul memiliki debit yang relatif stabil sepanjang tahun karena merupakan mata air karst, (2) terjadi perbedaan pola konsumsi antara jenis pekerjaan, (3) besar kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Sumberdadap tahun 2050 dapat tercukupi dengan debit mata air Song Bajul baik pada musim kemarau dan dan musim penghujan. Saran yang dapat diberikan: (1) untuk penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan juga evaluasi kualitas mata air, (2) faktor kebocoran harus diperhatikan dalam proses distribusi air sehingga kuantitas air yang diperoleh lebih akurat, (3) hendaknya dilakukan prediksi penggunaan lahan untuk beberapa tahun yang akan datang.

Pengaruh permainan dalam outbond terhadap sikap disiplin dalam bekerja / Ken Anis Nur Laily

 

Kata Kunci: permainan, sikap disiplin dalam bekerja Permainan merupakan suatu aktivitas manusia yang menyenangkan, bersemangat dan kompetitif dengan menaati aturan-aturan yang sudah ditentukan sesuai dengan materi dan jenis permainannya. Sikap yaitu suatu penilaian subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Disiplin dalam bekerja adalah serangkaian tingkah laku karyawan untuk mentaati dan mematuhi segala peraturan-peraturan yang berlaku dalam perusahaan yang meliputi ketepatan masuk kerja, kepatuhan dan loyalitas, ketaatan pada peraturan dan prosedur, dan penggunaan alat kerja serta kerjasama dengan rekan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan terhadap sikap dalam disiplin bekerja. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 orang (N=30). Untuk menghitung perbedaan pretest dan posttest menggunakan t-score tesretes. pre test and post test design. Hasildari 30 peserta terdapat 23 orang yang mengalami peningkatan skor sikap disiplin dalam bekerja dan 7 orang mengalami penurunan. Hasil t-score tesretes memperoleh t = 3,498, signifikansi pada. 0.002 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan sikap disiplin sebelum dan sesudah diberikan permainan. Permainan efektif mengubah sikap disiplin dalam bekerja seseorang, dapat dilihat dari skor mean posttest = 96,97 lebih besar dibanding pretest = 88,66 Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran pada beberapa pihak diantaranya : (1) Bagi perusahaan diharapkan dapat menjadikan permainan sebagai kegiatan berkala sehingga kinerja karyawan dalam hal ini disiplin dalam bekerja dapat terus meningkat. (2) Bagi para karyawan peserta permainan diharapkan dapat mengaplikasikan pengalaman dan pemahaman yang didapat dalam dunia kerja. (3) Bagi perusahaan jasa permainan diharapkan penelitian ini dapat menjadikan referensi mengenai efektivitas permainan. (4) Bagi praktisi psikologi yang ingin meneliti lebih lanjut disarankan melakukan randomisasi untuk menentukan sampel penelitian dan perlu menggunakan varabel dan atau kelompok kontrol agar eksperimen yang dilakukan lebih bersih.

Penerapan metode mind mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang / Bayu Dwi Septiawan

 

Kata kunci: Metode Mind Mapp, Keterampilan Menulis Narasi. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Purwantoro 02 Malang didapatkan fakta bahwa, pembelajaran yang dilakukan guru terhadap kemampuan siswa dalam menulis karangan menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam penggunaan diksi, ejaan dan tanda baca, serta membangun kepaduan kata dengan kalimat sesuai dengan isi cerita. Nilai yang diperoleh pun secara klasikal rata-ratanya hanya mencapai 45,05. Sedangkan SKM yang ditentukan adalah 75 untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode Mind Mapp. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan metode Mind Mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa. (2) mendiskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa dengan penggunaan metode Mind Mapping. Penelitian ini menggunakan jenis PTK yang dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus 2 pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Jenis data yang hendak dikumpulkan adalah data proses pembelajaran dan hasil keterampilan menulis narasi siswa. Sumber datanya adalah siswa kelas V dan juga guru Bahasa Indonesia di kelas tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan tes dengan instrument berupa lembar observasi, kamera dan soal test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Mind Mapp untuk pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang dengan standar kompetensi “Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis” dapat dilaksanakan dengan efektif. Keterampilan menulis narasi siswa meningkat dari 45,05 pada kegiatan pratindakan menjadi 55,16 pada siklus I dan menjadi 75,37 pada siklus II. Pada penilaian menulis narasi terdapat beberapa indikator yang dirasa perlu diperhatikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan indikator yang rendah dibandingkan dengan indikator yang lain. Indikator tersebut adalah pemilihan kata, serta penggunaan Ejaan dan tanda baca. Untuk indikator pemilihan kata dapat diselesaikan dengan menambahkan sumber bacaan kepada siswa pada waktu mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa. Sedangkan indikator penggunaan ejaan dan tanda baca dapat diselesaikan dengan cara pembiasaan dan latihan yang berkelanjutan. Dari hasil penelitian ini, guru seharusnya melakukan persiapan yang matang sebelum kegiatan belajar mengajar seperti lebih menyiapkan media ataupun bahan pembelajaran yang diperlukan untuk menunjang ketercapaian indikator, sedangkan untuk pihak sekolah diharapkan kerjasamanya dalam menumbuhkan minat siswa untuk menulis dengan menyediakan fasilitas berupa buku bacaan anak dan tempat yang nyaman untuk membaca sehingga kosa kata siswa bertambah dengan harapan dapat menumbuhkan minat menulis siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbasis auto play untuk mata kuliah teknik penerjemahan di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Syayidah Ginanjar Rahayu

 

Kata Kunci: Hak Asasi Manusia, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Hak Asasi Manusia merupakan hak dasar yang dimiliki manusia yang tidak dapt di kurangi dengan suatu apapun. Dalam proses pembelajaran Hak Asasi Manusia merupakan salah satu komponen yang dapat mendukung terwujudnya pembelajaran yang lebih menghargai hak-hak manusia dan mewujudkan pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran efektif (effective learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning). Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di SMP Negeri 1 Wajak diaktualisasikan dalam bentuk proses pemebelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan, hal ini dapat terlihat dalam keterlibatan siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas VII SMP Negeri 1 Wajak Kabupaten Malang, (2) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), (3) upaya-upaya yang dilakukan oleh guru guna mengatasi kendala-kendala implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Berdasarkan tujuan tersebut, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu sumber data manusia dan sumber data non manusia (dokumen). Penentuan informan penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan menggunakan empat teknik, yaitu perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan, triangulasi (sumber, metode, teknik), dan pemeriksaan sejawat. Temuan penelitian menujukkan bahwa (1) implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 1 Wajak meliputi (a) Implementasi HAM dalam perencanaan pembelajaran yang meliputi: Perumusan kompetensi pembelajaran, dimana guru mengembangkan kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi kedalam beberapa indikator pembelajaran, dalam mengembangkan indikator guru tetap memperhatikan potensi dan kemampuan dari peserta didiknya; Perencanaan materi, dalam proses pembelajaran guru selalu menumbuhkan sikap demokratis melalui keterbukaan untuk bertanya atau berpendapat jika dalam pembelajaran ditemukan perbedaan antara materi dengan buku; Perencanaan metode, guru melakukan pemilihan metode yang akan digunakan sehingga pembelajaran lebih efektif, aktif dan sesuai dengan tujuan Perencanaan media, penggunaan media disesuaikan dengan materi yang diajarkan, serta penggunaan media terbatas pada media OHP dan Perencanaan evaluasi pembelajaran, meliputi kegiatan perencanaan waktu, materi yang diujikan serta intrumen dan bentuk tes yang akan digunakan (b) implementasi HAM dalam pelaksanaan pembelajaran, diwujudkan dengan pemberian hak pada siswa dalam bentuk hak untuk bertanya, menyampaikan pendapat, serta mengemukakan gagasan. (c) implementasi HAM dalam evaluasi pembelajaran, dalam merencanakan waktu evaluasi guru berpedoman pada kalender akademik agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah, serta dalam menentukan soal evaluasi guru tetap memperhatikan batasan-batasan kompetensi dasar yang ditentukan. (2) faktor pendorong implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Wajak adalah sebagai berikut: Ingin mengubah paradigma pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran yang modern, pembelajaran aktif, dan pembelajaran yang menyenangkan. Mewujudkan pembelajaran yang mengedepankan persamaan hak dan kebebasan dalam mengembangkan pengetahuan dan kreativitas. Sedangkan faktor penghambat adalah: Masih kurangnya pengetahuan guru dan siswa tentang penggunaan haknya dalam proses pembelajaran; Siswa masih belum bisa sepenuhnya mengharagai hak-hak masing-masing individu; Adanya sebagian siswa yang memaksakan kehendak dalam berpendapat; Kurangnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa. (3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn adalah: Guru selalu mengadakan komunikasi, sharing dan interaksi dengan siswa; Guru selalu memotivasi diri untuk meningkatkan profesionalismenya unutk meningkatkan kualitas dalam mengajar; Guru selalu menghadirkan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Beberapa saran sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran yaitu: (1) Guru perlu lebih meningkatkan kualitas dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional, (2) Bagi pihak sekolah, perlu adanya bimbingan dan pelatuhan tentang hak asasi manusia bagi guru yang betujuan untuk meningkatkan kesadaran guru dalam peningkatan dan penghargaan hak asasi manusia dalam pembelajaran, (3) Bagi Diknas, perlu adanya pertimbangan tentang penerapan hak asasi manusia dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah serta perlu pelatihan atau sosialisasi tentang hak asasi manusia dalam mengembangkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai hak asasi manusia.

Implementasi strategi pembelajaran mastery learning dalam kompetensi kejuruan sistem pemindah tenaga (kopling) Teknik Mekanik Otomotif di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung / Muh. Amri Mukhtarifin

 

Peningkatan kemampuan menjawab dan mengajukan pertanyaan melalui metode bisajawab pada siswa kelas IIIB SD Negeri Kandangan I Kediri / Dwi Nur Rohmah

 

Kata Kunci : metode BISAJAWAB, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, kemampuan membaca Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri. Salah satunya adalah membaca intensif suatu artikel pendek. Membaca intensif perlu dibiasakan kepada siswa sejak duduk di bangku kelas rendah. Melalui membaca intensif, siswa dapat mengetahui ide, pesan maupun isi artikel secara menyeluruh sehingga dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan seperti mengajukan dan menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil pengamatan di kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri, sebagian besar siswa belum mampu membaca intensif dengan tepat sehingga banyak kendala yang dihadapi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kendala-kendala tersebut: (1) siswa belum mampu menjawab dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan isi artikel yang dibaca secara intensif, (2) pertanyaan yang diajukan oleh siswa cenderung pada hal-hal yang bukan berkenaan dengan isi artikel yang dibaca, (3) siswa sering kesulitan jika guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan seputar isi artikel yang dibaca, (4) para siswa juga kesulitan untuk menemukan kalimat utama yang menjadi tolak ukur pemahaman siswa terhadap isi artikel yang dibaca secara intensif, (5) jawaban dari pertanyaan guru tidak sesuai dengan kunci jawaban sehingga hasil belajar siswa di bawah KKM. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri yang terdiri atas 45 siswa. Analisis data kualitatif menunjukkan bahwa melalui metode BISAJAWAB siswa antara lain (1) dapat membaca intensif dengan tanpa bersuara dan tidak menggeleng-gelengkan kepala, (2) dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan literal secara cepat, (3) dapat berkompetisi secara sehat dengan siswa lain dalam mengikuti kuis bertanya cepat dapat, (4) dapat konsentrasi, teliti, dan tepat dalam menjawab pertanyaan, (5) dapat menggali pembendaharaan kosakata siswa dalam menentukan variasi pertanyaan yang akan diajukan, dan (6) dapat berpikir aktif dalam mengajukan pertanyaan kritis. Analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa skor penilaian rata- siswa pada siklus I sebesar 51,59 dengan presentase klasikal 18,17% sehingga siklus I belum dikatakan berhasil karena ketuntasan belajar klasikal siswa belum bisa mencapai standar ketuntasan klasikal pada pembelajaran bahasa Indonesia sebesar 75% seperti yang ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan. Presentase ketuntasan pada siklus II sebesar 89,29%. Pada siklus II, skor penilaian rata-rata siswa sebesar 62,86 dengan ketutasan klasikal 38,63%. Meskipun siklus II mengalami peningkatan tetapi siswa belum mencapai KKM. Perubahan drastis terjadi pada siklus III. Pada siklus III, skor penilaian rata-rata sebesar 89,76 dengan presentase klasikal sebesar 100%. Dengan demikian, presentase hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sampai siklus III mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar ini terjadi karena siswa sudah mampu membaca intensif untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan dengan tepat, cepat, logis, dan bervariasi.

Penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Malang / Wildan Akhsana

 

Kata kunci: Media Macromedia Flash Professional 8, IPA, Pembelajaran, Media pembelajaran adalah segala sesuatu alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata atau konkrit dari pengirim pesan kepada penerima sehingga terjadi proses belajar, dengan media proses pemahaman konsep siswa menjadi lebih mudah dan belajar menjadi lebih bermakna. Berdasarkan hasil observasi di SDN Tunjungsekar 1 didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang belum pernah menggunakan media, sehingga siswa kurang aktif. Dari nilai tes menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 60,9 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 36,4 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 67 untuk hasil belajar dan 70% untuk ketuntasan kelas. Penelitian ini merumuskan masalahnya (1) bagaimanakah langkah-langkah guru dalam memanfaatkan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) bagaimankah aktivitas siswa selama pembelajaran dengan media macromedia flash professional 8, (3) bagaimanakah hasil belajar siswa setelah diterapkan media macromedia flash professional 8. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media macromedia flash professional 8, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 dengan kompetensi dasar “mendeskripsikan sistem tata surya dan posisi penyusunan tata surya” dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam penerapan media macromedia flash professional 8. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 82,5 menjadi 86,5 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 78 dengan ketuntasan 84% pada siklus I menjadi rata-rata 82 dengan ketuntasan kelas mencapai 92% pada siklus II. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran macromedia flash professional 8 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan sekolah supaya lebih termotivasi dan lebih semangat dalam memberikan pengajaran yang bermutu, bervariasi dan berinovasi untuk mengadakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.

Studi setting rele proteksi terhadap gangguan arus hubungan singkat 3 fasa pada generator PT. YTL Jawa Timur / Moch. Efendi

 

Kata kunci: generator, arus gangguan, rele proteksi, EDSA 2005. PLTU Paiton unit 5 dan 6 merupakan pembangkit yang mensuplai energi listrik di Jawa-Bali sebesar 1220 MW. Guna menjaga kontinyuitas suplai energi, maka keandalan generator harus dijaga dari berbagai jenis gangguan. Di PLTU Paiton unit 5 dan 6 sering terjadi gangguan hubung singkat pada lilitan stator. Hal ini bisa disebabkan oleh tegangan lebih ataupun beban yang menghilang mendadak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui setting rele arus lebih terhadap arus hubung singkat yang terjadi pada lilitan stator. Untuk menentukan waktu kerja rele diperlukan perhitungan besar arus hubung singkat yang terjadi pada belitan stator dengan perhitungan manual serta perhitungan arus hubung singkat dengan menggunakan EDSA 2005. Setelah menentukan arus hubung singkat pada lilitan stator baru dapat menetukan waktu setting trip rele. Jadi hubungan gangguan hubung singkat 3 fasa adalah dalam menentukan waktu kerja rele untuk mencegah terjadinya gangguan. Hasil yang didapat berdasarkan analisa dan pembahasan yaitu dalam penyetelan kerja rele arus lebih tidak terdapat perbedaan dengan yang terpasang 1 Ampere, hal ini disebabkan karena pada tap penyetelan rele menggunakan data yang valid untuk perhitungan setting rele. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada pembahasan ini besar arus hubung singkat dengan perhitungan manual sebesar 72237,69 Ampere sedangkan perhitungan menggunakan EDSA 2005 sebesar 78171 Ampere dan setting rele arus lebih terdapat 0,94 Ampere dibulatkan menjadi 1 Ampere dengan setting waktu 2,86 detik dan dibulatkan menjadi 3 detik, sehingga apabila terjadi gangguan arus hubung singkat tiga fasa pada generator akan bekerja dengan waktu tunda 3 detik. Sistem pengaman generator tetap terkoordinasi dengan baik dan keandalan generator dalam menyupplai energi listrik tetap terjaga. Saran yang dapat digunakan untuk permasalahan ini adalah dengan melakukan pemeliharan dan pemeriksaan secara berkala terhadap rele arus lebih karena kalau seandainya rele tidak bekerja maka kita segera mengetahui dan segera memperbaikinya.

Pembuatan cocktail dress variasi ruffles pleats / Amelia Rahma Devi

 

Kata Kunci: Cocktail dress, variasi ruffles pleats. Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan oleh seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk pelengkap busana, tatarias wajah dan tatarias rambutnya. Dunia busana berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat dalam berbusana. Tren busana pesta terus mengalami perkembangan, salah satunya adalah cocktail dress. Cocktail dress merupakan gaun pendek (sampai batas lutut atau lebih), biasanya dibuat dari bahan wol ringan, satin, sutera, beludru, atau bahan mewah lain, juga dapat dihias dengan bordir atau hiasan dekoratif lain, dengan potongan yang memamerkan pundak serta lengan atas. Ruffles pleats dipilih sebagai variasi karena keduanya memiliki keunikan tersendiri. Jika keduanya digunakan dalam pembuatan cocktail dan dress akan memberikan kesan glamor dan feminim. Jenis pleats yang digunakan penulis yaitu sunray pleats dan knife pleats. Dalam pembuatan cocktail dress kali ini, penulis membuat karya cocktail dress dari bahan kain “dobby kombinasi”, kain organdi dan kain tile.  Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 348.700,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa cocktail dress berbahan “doby kombinasi” dengan variasi ruffles pleats. Saran yang dapat diberikan adalah pada saat pembuatan cocktail dress ini adalah pada saat pembuatan ruffles pleats sebaiknya bahan dipleats telebih dalulu sebelum dipotong agar tekstur pleats pada pola ruffles pleats bisa lebih terlihat serta pola ruffles pleats dihasilkan lebih bergelombang.

Peningkatan hasil belajar operasi penjumlahan pecahan melalui pemanfaatan benda manipulatif siswa kelas V SDN Bandulan 5 Kecamatan Sukun Kota Malang / Wahyu Nurdianta

 

Kata kunci: PTK, Benda Manipulatif, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya penguasaan materi dikarenakan kurangnya penggunaan media pembelajaran di SDN Bandulan 5 Kota Malang. Penelitian ini berangkat dari akar permasalahan siswa yang cenderung terlihat sulit menerima materi saat pembelajaran berlangsung. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan memanfaatkan benda manipulatif seperti kertas lipat dan mika transparan. Pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan memamfaatkan benda manipulatif yang dapat meningkatkan keaktifan siswa sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep matematika. Tujuan penelitian ini yaitu : 1) mendeskripsikan pemanfaatan benda manipulatif dalam pembelajaran matematika kelas 5 pada pokok bahasan operasi penjumlahan pecahan; 2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa Kelas 5 SDN Bandulan 5 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara dan tes. Data yang dianalisis pada penelitian ini berupa penguasaan materi yang diperoleh melalui hasil penilaian pembelajaran dan hasil penilaian terakhir pembelajaran yang didapat dari nilai test akhir. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 5 SDN Bandulan 5 Kota Malang, dengan jumlah siswa sebanyak 17 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010-2011, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai Matematika, soal test akhir sebanyak 10 soal, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan benda manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar Matematika dengan materi operasi penjumlahan pecahan di kelas V SDN Bandulan 5 Malang. Perolehan hasil belajar siswa meningkat, dari nilai pretes terlihat 11,76%, pada siklus I mencapai 52,94%, jadi dari hasil pre tes ke siklus I meningkat sebesar 41,18%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 41,18%, hal ini terlihat dari siklus I yang tuntas 52,94% dan siklus II yang tuntas mencapai 94,12%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan benda manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V SDN Bandulan 5 Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menggunakan media pembelajaran saat pembelajaran yang memang membutuhkan media.

Frekuensi kunjungan harian arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Anggun Wulandari

 

Kata kunci: frekuensi, kunjungan harian, distribusi temporal, Arthropoda, tumbuhan liar, faktor abiotik Frekuensi adalah keseringan suatu jenis yang ditemukan dalam setiap petak pengamatan. Frekuensi kunjungan harian Arthropoda dapat dilihat dari seberapa sering famili Arthropoda tersebut dalam mengunjungi tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. yang ditentukan berdasarkan rerata Arthropoda disetiap jam yang di amati secara visual control dari jarak 2 meter selama 10 hari. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. (2) mengetahui distribusi temporal Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. (3) mengetahui faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang memaparkan tentang frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Pengamatan jumlah Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dilakukan pada pukul 07.00-07.15, 08.00-08.15, 09.00-09.15, 10.00-10.15, 11.00-11.15, 12.00-12.15, 13.00-13.15, 14.00-14.15, 15.00-15.15, 16.00-16.15 dan 17.00-17.15, sedangkan pengamatan pada tumbuhan liar Setaria sp. dilakukan pada pukul 07.20-07.35, 08.20-08.35, 09.20-09.35, 10.20-10.35, 11.20-11.35, 12.20-12.35, 13.20-13.35, 14.20-14.35, 15.20-15.35, 16.20-16.35 dan 17.20-17.35. Penelitian ini dilakukan pada petak klon assamica dan faktor abiotik yang diukur meliputi suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya dan kecepatan angin. Frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. dianalisis dengan uji t berpasangan (pair-sample t test), sedangkan distribusi temporal dianalisis secara deskriptif dan untuk mengetahui faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. dianalisis dengan analisis regresi ganda bertahap dengan menggunakan program SPSS. Berdasarkan hasil analisis uji t berpasangan yang dilakukan ada perbedaan frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tinggi pada Borreria repens DC. adalah Acrididae, Coccinellidae, Dolichopodidae, Gryllidae, Syrpidae, Vespidae, Tachinidae dan Ichneumonidae. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tinggi pada Setaria sp. adalah Lycosidae, Oxyopidae, Pholcidae dan Salticidae. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tidak berbeda pada Borreria repens DC. dan Setaria sp. adalah Cicadellidae, Drosophilidae, Formicidae, Muscidae, Papilionidae, Geometridae, Carabidae, Tettigonidae, Pyrgomorphidae, Aeshnidae, Mantidae, Pentatomidae dan Culicidae. Distribusi temporal menunjukkan bahwa Arthropoda tertentu lebih sering ditemukan pada jam-jam tertentu, dari hasil penelitian diketahui bahwa famili Arthropoda yang aktif pada pagi dan sore hari yaitu Cicadellidae, famili Arthropoda yang aktif pada siang hari yaitu Dolichopodidae dan Syrpidae. Arthropoda yang aktif sepanjang hari yaitu famili Coccinellidae, Formicidae, Lycosidae, Oxyopidae, Geometridae dan Mantidae. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. adalah suhu udara dengan sumbangan terbesar pada famili Coccinellidae dengan nilai r2 parsial 21,05%, Lycosidae dengan nilai r2 parsial 28,97%, Oxyopidae dengan nilai r2 parsial 35,04% dan Syrpidae dengan nilai r2 parsial 43,44%. Intensitas cahaya mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Dolichopodidae dengan nilai r2 parsial 29,84% dan Mantidae dengan nilai r2 parsial 21,11%. Kecepatan angin mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Cicadellidae dengan nilai r2 parsial 33,32%, Formicidae dengan nilai r2 parsial 13,25% dan Geometridae dengan nilai r2 parsial 17,08%. Hasil analisis regresi ganda pada tumbuhan liar Setaria sp., suhu udara mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Coccinellidae dengan nilai r2 parsial 22,45% dan Lycosidae dengan nilai r2 parsial 31,22%. Kelembaban udara mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Cicadellidae dengan nilai r2 parsial 33,22%, Dolichopodidae dengan nilai r2 parsial 36,72% dan Geometridae dengan nilai r2 parsial 38,64%. Intensitas cahaya mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Oxyopidae dengan nilai r2 parsial 28,91% dan Syrpidae dengan nilai r2 parsial 38,44%. Kecepatan angin mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Formicidae dengan nilai r2 parsial 20,38%.

Peningkatan kemampuan menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan media video klip musik pop untuk siswa kelas VIII-G SMP Negeri 2 Malang / Yossy Firmansyah

 

Kata kunci: Kemampuan menulis, pembelajaran menulis, media video klip Dalam kegiatan belajar mengajar, menulis mempunyai peranan penting karena menulis merupakan dasar untuk menguasai kemampuan berbahasa lainnya. Oleh karena itu, penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran kemampuan menulis dapat tercapai. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran menulis masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Malang, kemampuan menulis siswa masih rendah dan belum mencapai nilai standar yang ditetapkan sekolah tersebut terutama pada kemampuan menulis naskah drama. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis naskah drama pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 2 Malang menggunakan media video klip. Penggunaan media video klip diharapkan dapat menambah minat dan semangat siswa dalam belajar siswa tentang menulis naskah drama sehingga pembelajaran menulis dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Manfaat penelitian ini adalah membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pembelajaran khususnya menulis naskah drama, memotivasi siswa untuk belajar, dan melatih siswa melakukan kegiatan menulis secara efektif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data yang digunakan berupa tes, observasi, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian kemampuan menulis naskah drama siswa pada kemampuan awal, siklus I, dan siklus II menunjukkan peningkatan pada tahap pramenulis, tahap menulis dan tahap pascamenulis. Penggunaan media video klip pada tahap pramenulis dikategorikan sangat baik sebesar 82,7% siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kerangkan naskah drama. Penggunaan media video klip pada tahap menulis dikategorikan sangat baik sebesar 95,6% siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat naskah drama dengan mengembangkan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh dan padu. Penggunaan media video klip pada tahap pascamenulis dikategorikan sangat baik sebesar 100% siswa dapat memberikan komentar terhadap naskah drama milik temannya. Peningkatan kemampuan menulis naskah drama pada tiap siklus diikuti dengan perubahan perilaku positif siswa.. Dari hasil penelitian ini, saran yang disampaikan peneliti adalah penggunaan media video klip dapat menumbuhkan minat dan ketertaikan siswa dalam pembelajaran menulis naskah drama sehingga perlu dipertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran.

Kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang / Nurmeida Rokh Sasminingrum

 

Kata kunci: Kepuasan pelayanan, Subag Pendidikan dan Evaluasi, Universitas Negeri Malang. Kepuasan pelayanan merupakan harapan dari sebuah pelayanan. Pelayanan yang berkualitas akan mampu memberikan pelayanan kepada publik secara memuaskan. Pada era globalisasi sebuah instansi pelayanan dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik sehingga dapat meningkatkan derajat kepuasan masyarakat. Mencermati pelayanan subag pendidikan dan evaluasi masih mengandung beberapa permasalahan. Oleh sebab itu, agar memberikan pelayanan yang baik, maka diperlukan adanya peningkatan kepuasan pelayanan. Berdasarkan latar belakang di atas dilakukan penelitian dengan fokus penelitian (1) bagaimana kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan subag pendidikan dan evaluasi (PE) Universitas Negeri Malang, (2) bagaimana partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM, (3) bagaimana tanggapan subag PE terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan yang diberikan subag PE UM, (2) mendeskripsikan partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM, (3) mendeskripsikan tanggapan subag PE UM terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Lokasi penelitian berada di subag pendidikan dan evaluasi Universitas Negeri Malang, diantaranya bagian administrasi nilai, penerbitan kartu hasil studi (KHS), penerbitan transkrip dan ijasah, dan legalisir transkrip dan ijasah. Sumber data berasal dari: orang yaitu kasubag PE UM, para staf PE UM, mahasiswa, dan alumni. Peristiwa berupa seluruh aktivitas pelayanan subag PE UM dan dokumentasi tentang gambaran umum pelayanan subag PE UM. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Analiasis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Keabsahan data dilakukan dengan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) kepuasaan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan yang diberikan subag PE UM yaitu perasaan mahasiswa dan alumni terhadap kepuasan pelayanan subag PE, yaitu perasaan senang dan tidak senang, perasaan senang antara lain tentang kejelasan dan kepastian prosedur, kedisiplinan petugas, kecepatan pelayanan, ketepatan jadwal, perhatian dan tanggapan, dan kenyamanan lingkungan kantor. Perasaan tidak senang antara lain tentang kesopanan, keramahan, dan prosedur pelayanan, (2) partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM yaitu saran mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE dan cara berpartisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE berbentuk dua cara yaitu menulis komentar di website UM dan menyampaikan saran langsung ke petugas. (3) tanggapan subag PE terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni mengenai masalah jadwal, keramahan, kenyamanan, dan koordinasi. Pertama, masalah jadwal subag pendidikan dan evaluasi negeri malang sudah mencantumkan jadwal penerbitan/pengambilan KHS di internet. Kedua, masalah keramahan pelayanan subag pendidikan dan evaluasi sudah ramah tetapi akan berusaha meningkatkan lagi. Ketiga, masalah kenyamanan tempat duduk/ruang tunggu subag pendidikan evaluasi sudah memperbanyak tempat duduk. Keempat, masalah koordinasi antara subag pendidikan dan evaluasi dengan fakultas tiap jurusan sudah saling berkoordinasi dengan baik mangenai masalah nilai mahasiswa yang terlambat keluar. Berdasarkan temuan penelitian ini, agar disarankan bagi subag pendidikan dan evaluasi (PE) universitas negeri malang sebaiknya lebih meningkatkan pelayanan dengan cara pelatihan pegawai untuk meningkatkan responsivitas dan keramahan pelayanan kepada mahasiswa dan alumni. Subag PE universitas negeri malang menyediakan kotak saran untuk mencapai tingkat kepuasan pelayanan. Peningkatan keramahan perlu dilakukan dengan menerapkan pelayanan seperti di bank agar mahasiswa dan alumni lebih merasa puas terhadap pelayanan subag PE. Selain itu Peran dan kerja sama berbagai pihak terkait, yaitu Rektor UM sebagai pengawas, pihak Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang sebagai pelaksana, serta mahasiswa dan alumni sebagai pengawas dan pengendali nonformal sekaligus pengguna, perlu ditingkatkan dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan subag PE kepada mahasiswa dan alumni. Mahasiswa dan alumni juga harus lebih aktif dan kritis terhadap fenomena pelayanan publik, khususnya di Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang.

Pengaruh kepemilikan saham dan profitabilitas terhadap kebijakan hutang pada perusahaan properti dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2008 / Diah Mei Listriyaningsih

 

Kata kunci: Profitability basic concern dari para pemegang saham. Profitability suatu perusahaan dapat digunakan untuk meramalkan kemampuan perusahaan memperoleh laba di masa mendatang. Perusahaan lebih suka menggunakan modal dari laba ditahan (retained earning) daripada utang ataupun dari menerbitkan saham, yang dikenal dengan Pecking Order Theory Rancangan penelitian ini adalah penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel struktur kepemilikan saham manajerial, struktur kepemilikan saham institusional, struktur kepemilikan saham menyebar dan profitabilitas terhadap kebijakan hutang. Populasi dalam penelitian ini adalah 48 perusahaan properti dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2008. Dengan teknik purposive sampling diperoleh sampel sejumlah 9 perusahaan. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan yang dipublikasikan pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2008 dan www.bei.co.id. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial selama periode 2006-2008 mengalami punurunan. Kepemilikan institusional periode 2006-2008 mengalami peningkatan dibandingkan kepemilikan manajerial sedangkan kepemilikan menyebar mengalami penurunan dari tahun 2006-2008 dengan ditunjukkan dari turunnya persentase. Besarnya profitabilitas perusahaan properti dan real estate mengalami penurunan selama periode tahun 2006-2008 dan hutang cenderung naik selama periode tahun 2006-2008. Secara parsial variabel struktur kepemilikan saham (kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional, dan kepemilikan saham menyebar) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang sedangkan pada variabel profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Hal ini dikarenakan ada factor lain yang mempengaruhinya yaitu masyarakat bisa menanamkan dananya di bursa efek sehingga tidak hanya mengandalkan hutang sebagai sumber dana. Secara simultan variabel struktur kepemilikan saham (kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional, kepemilikan saham menyebar) dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang. Berdasarkan hasil penelitian, jika perusahaan mempunyai profitabilitas yang tinggi maka perusahaan tersebut dapat meminimalisir tingkat hutang dan juga perusahaan harus memperhatikan besarnya komposisi kepemilikan saham manajerial, kepemilikan saham institusional, kepemilikan saham menyebar dimana kepemilikan saham tersebut dapat menaikkan dan menurunkan kebijakan hutang. Bagi investor, profitabilitas suatu perusahaan menjadi pertimbangan investor untuk melakukan investasi. Selain itu, investor juga harus memperhatikan proporsi kepemilikan saham manajerial dan konflik kepentingan yang terjadi. Sedangkan untuk peneliti lebih lanjut yaitu disarankan untuk menambah variable dengan kepemilikan keluarga, deviden payout ratio, firm size, asset structure, tax rate dan menambah sampel dengan karakteristik perusahaan, jumlah sampel yang lebih banyak, serta periode pengamatan yang lebih lama untuk mendapatkan hasil yang representatif. mencerminkan ukuran kemampuan memperoleh laba (earning power dari suatu perusahaan untuk mendanai investasi. Earning power dari suatu perusahaan merupakan truktur kepemilikan saham manajerial, struktur kepemilikan saham institusional, struktur kepemilikan saham menyebar, profitabilitas dan kebijakan hutang

Pengembangan model tata panggung untuk pementasan naskah realis Orang Kasar karya Anthon Pavlovich Chekhov terjemahan W.S. Rendra / Muhammad Sholihin

 

Kata Kunci: Pengembangan Model, Tata Panggung, Naskah “Orang Kasar”. Salah satu unsur artistik dalam teater adalah tata panggung atau biasa disebut set dekor. Fungsi tata panggung selain memperindah penampakan pentas juga memberikan ruang bagi pemeran. Tetapi fungsi yang paling penting dari tata panggung adalah memperkuat permainan para aktor. Artinya, kehadiran tata panggung tidak hanya sekedar mempercantik tetapi menegaskan laku aksi yang disajikan oleh para aktor di atas pentas. Tidak ada gunanya menata dan menghias panggung dengan baik tetapi justru menenggelamkan para pemain. Tata panggung dalam teater dapat menegaskan makna sehingga pesan yang hendak disampaikan menjadi semakin jelas ditangkap oleh para penonton. Maksud dan tujuan pementasan harus menjadi satu kesatuan dengan tampilan tata panggung. Panggung memiliki bagian yang disebut pentas/playingspace/ruang permainan, yaitu daerah panggung yang terlihat oleh penonton yang merupakan tempat untuk berakting (Maryaeni, 1994:45). Tujuan penelitian pengembangan ini secara khusus adalah (1) Menggambarkan pembagian Daerah permainan dalam pementasan naskah Orang Kasar karya Anton Pavlovich Chekhov terjemahan W.S Rendra, (2) Membuat rancangan tata lampu dalam pementasan naskah Orang Kasar karya Anton Pavlovich Chekhov terjemahan W.S Rendra, dan (3) Membuat rancangan tata panggung dalam pementasan naskah Orang kasar karya Anton Pavlovich Chekhov terjemahan W.S Rendra. Subjek uji coba dalam pengembangan model tata panggung ini adalah mahasiswa Minor Drama angkatan 2006 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model tata panggung yang dirancang secara variatif dapat membantu memudahkan penggarapan naskah drama. Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk pengembangan model tata panggung ini digunakan sebagai rancangan awal sebelum menggarap naskah, sehingga dapat memberikan motivasi dan meningkatkan hasil penggarapan naskah drama untuk pembelajaran drama karena selama ini penggarapan panggung kurang begitu diperhatikan.

Efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model Student Team Achievement Division (STAD) dengan peta konsep dalam meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar fisika siswa / Manda Dian Pravita

 

Penerapan metode bercerita dengan story reading untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B2 TK Negeri Pembina Kecamatan kepanjenkidul Kota Blitar / Siti Nawasiyah

 

Keyword: method tell a story, bahasa,tk reading,kemampuan story Berdasarkan pengamatan dalam pembelajaran sehari-hari kegiatan bercerita tentang pengalaman, mendengarkan cerita dan menceritakan kembali cerita yang baru didengar yang telah dilakukan anak-anak kelompok B2 di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar tanpa menggunakan media ada 47,31 persen anak yang masih belum berani bercerita di depan teman-temannya yaitu sebanyak 8 anak dari jumlah total keseluruhan 14 anak. Penelitian bertujuan mendiskripsikan penerapan metode bercerita dengan Story Reading yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan mendiskripsikan penerapan metode bercerita dengan Story Reading dapat mengembangkan kemampuan bahasa kelompok B2 di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru pendamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kemampuan awal bahasa anak 47,31% skor nilai kelompok B2 TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar kemudian meningkat dengan diterapkannya metode bercerita dengan story reding. Peningkatan pada siklus I penelitian tindakan kelas ini meningkat dengan rata-rata 62,33% dengan tidak adanya anak yang berkemampuan bahasa rendah. Dalam pembuktian peningkatan bahasa anak , peneliti melaksanakan siklus II untuk melakukan upaya peningkatan yang lebih dari penerapan metode bercerita yang mana kemudian hasil nilai rata-rata anak menjadi 80,57%. Dari penelitian ini, mendengar cerita dan menceritakan kembali isi cerita secara urut dan membaca buku cerita bergambar yang memiliki kalimat sederhana dan menceritakan isi buku dengan menunjuk beberapa kata yang dikenalinya dengan menggunakan story reading dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B2 TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar pada semester II Tahun akademik 2010/2011.

Peningkatan aktifitas dan hasil belajar siswa melalui model problem posing pada pembelajaran matematika kelas V SD Negeri Wonorejo 01 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Sugeng Alianto

 

Kata Kunci : Problem Posing, Keaktifan Siswa, Hasil Belajar. Berdasarkan observasi pada tanggal 21 Pebruari 2011 di SDN Wonorejo 01 Kecamatan Talun kabupaten Blitar, dalam pembelajaran guru terlalu banyak ceramah, tidak melibatkan anak, sehingga anak pasif dan hanya mendengarkan penjelasan guru. Hasil belajar siswa pada ulangan harian tentang pecahan masih belum tuntas secara keseluruhan. Diperoleh data dari 35 siswa kelas V SDN Wonorejo 01 pada semester 2 tahun ajaran 2010 / 2011 terdapat 17 siswa (48,6%) yang mendapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yitu 65. Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan model Problem Posing pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN Wonorejo 01 Kecamatan talun Kabupaten Blitar; 2) untuk mendeskripsikan penerapan model Problem Posing dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika di kelas V SDN Wonorejo 01 Kecamatan talun Kabupaten Blitar; Penelitian ini rancangan penelitian tindakan kelas sebanyak dua siklus tindakan, setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu persiapan / rencana tindakan, observasi, analisis / refleksi. Pada penelitian ini, peneliti mencoba suatu pembelajaran dengan menggunakan model problem posing. Problem posing adalah penyusunan pembuatan soal / pertanyaan oleh siswa dari situasi / informasi yang diberikan guru. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 5 SDN Wonorejo 01 Kecamatan Talun dengan jumlah siswa 35anak Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat disimpulkan bahwa 1) Penerapan model problem posing dapat meningkatkan keaktifan belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Wonorejo 01 Kec Talun Kab Blitar. 2) Penerapan model problem posing dapat meningkatan hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Wonorejo 01 Kec Talun Kab Blitar. Siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi pelajaran dan hasil belajar siswa menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mencapai ketuntasan belajar yaitu 85,7% Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan sebaiknya dilakukan penelitian sejenis pada konsep-konsep matematika yang lain untuk mengetahui apakah penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika siswa.

Kepribadian tokoh utama dalam novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara: kajian psikologi kepribadian Sigmund Freud / Nafilia Rachmah

 

Kata Kunci: Kepribadian, Tokoh Utama, Novel, Psikologi Kepribadian, Sigmund Freud Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra berbentuk prosa. Peristiwa dalam novel merupakan khayalan atau rekaan yang diceritakan oleh pengarang. Novel memiliki unsur-unsur cerita berupa unsur instrinsik dan ekstrinsik. Pada dasarnya novel dibangun oleh dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Tokoh sebagai salah satu unsur intrinsik dalam karya sastra memiliki kedudukan yang sangat penting. Karena tokoh menggambarkan kondisi psikologis dan kepribadian seseorang.Salah satu novel yang memiliki kekuatan penokohan adalah novel Pintu Terlarang karaya Sekar Ayu Asmara yang menjadi objek dalam penelitian ini. Novel “ Pintu Terlarang” dipilih karena merupakan novel yang berani mengungkapkan akibat buruk yang ditimbulkan dari penyikasaan terhadap seorang anak. Novel ini penuh dengan lika-liku kepribadian para tokohnya sangat beragam dan unik, terutama kepribadian tokoh utama. Kepribadian tokoh utama dinilai sangat menarik untuk diteliti karena terdapat beberapa muatan emosi yang membentuk kepribadiannya yang dianggap aneh dan unik. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang kepribadian tokoh utama pada novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Kepribadian tersebut dikaji berdasarkan teori psikologi kepribadian Sigmund Freud yang menjelaskan bahwa kepribadian seseorang terbagi menjadi (1) id, (2) ego, dan (3) superego. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model kajian pustaka berdasarkan pendekatan psikologi kepribadian Sigmund Freud. Data dalam penelitian ini berupa satuan kutipan yang meliputi tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, dialog tokoh dan deskripsi pengarang yang memuat kepribadian tokoh utama berdasarkan tinjauan psikologi kepribadian Sigmund Freud yang terdapat dalam teks monolog, dialog, dan narasi. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data oleh peneliti sendiri sebagai instumen ( human instrument). Analisis data dilakukan melalui tahap kodifikasi, reduksi, analisis, dan inferensi. ii Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat bentuk struktur kepribadian tokoh utamadalam novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Struktur kepribadian itu terbagi menjadi dua, yakni kepribadian tokoh utama dan kepribadian tokoh khayalan. Struktur kepribadian itu terdiri dari: (1) id, (2) ego, dan (3) superego. Ketiga struktur kepribadian ini tidak berhubungan secara baik. Hal ini dikarenakan id sangat dominan pada tokoh utama yang disebabkan adanya ketidakenakan yang dirasakan akibat dari siksaan orang tua Gambir. Sebaliknya, ego yang bertindak sebagai penengah kepribadian tidak mempunyai banyak sumbangan terhadap pemikiran Gambir. Hal ini dikarenakan Gambir tidak dapat berpikir dengan baik karena terhalang oleh id atau keinginan dirinya untuk segera terlepas dari penderitaan. Superego Gambir tampak hanya beberapa bagian dari keseluruhan kepribadian Gambir. Superego ini tampak dominan karena adanya penyesalan pada diri Gambir karena telah membunuh orang tuanya. Kepribadian tokoh khayalan yang diceritakan cukup dominan mengisi cerita dalam novel merupakan refleksi dari kepribadian tokoh utama. Meskipun bukan wujud dari kepribadian sebenarnya, tetapi secara tdak langsung merupakan cermin dari kepribadian yang sebenarnya. Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan hasil kesimpulan, yakni: (1) Saran bagi Pembaca, penelitian ini dapat digunakan pembaca sebagai salah satu referensi dalam memahami sekaligus menambah pengetahuan tentang kepribadian seseorang, terutama kepribadian anak korban penyiksaan orang tuanya; (2) Saran bagi Peneliti Selanjutnya, peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi tambahan disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda; (3) Saran bagi Lembaga atau Intitusi Pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan cerminan dalam menemukan fenomena-fenomena psikologis di masyarakat sebagai tambahan dalam pengajaran menulis sastra dan apresiasi sastra; (4) Saran bagi Penulis Sastra, kepribadian tokoh utama merupakan salah satu aspek menarik dalam novel Pintu Terlarang ini. Sehingga penulis sastra selanjutnya dapat menjadikan hal ini sebagai referensi tambahan untuk menulis karya sastra selanjutnya.

Eksistensi, surut dan hilangnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok pada kesenian reog Ponorogo / Widyorini Pramodha Wardani

 

Kata Kunci: Kesenian Reog Ponorogo, Tradisi Gemblak, Warok Reog merupakan salah satu bentuk seni budaya yang masih kental dengan hal-hal yang berbau mistis dan ilmu kebatinan yang kuat. Reog juga sering diidentikan dengan dunia hitam serta kekuatan supranatural. Eksistensi kesenian daerah ini memang tidak diragukan lagi, melalui keindahan dan keunikan “dhadhak merak” dan gamelannya, kesenian ini dapat mengumpulkan massa yang cukup banyak. Kelincahan para penari juga menjadi daya tarik sendiri. Pembarong harus mengetahui teori untuk mengangkat dan menarikan dhadhak yang mempunyai berat sekitar 50kg dan tinggi 2 meter ini. Apabila tidak mengetahui secara pasti gerakan seorang pembarong bisa terhambat dan mengakibatkan cedera, misal gerakan mengibaskan dhadhak merak ada aturan bagaimana posisi kaki, gerakan leher serta tangannya. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis sejarah lahirnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok Ponorogo, (2) menganalisis wujud kehidupan gemblak dan warok pada kesenian Reog Ponorogo, (3) menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan warok dan gemblak pada kesenian Reog Ponorogo, (4) menganalisis faktor-faktor penyebab surut dan hilangnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni: observasi, wawancara, dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari para informan, hasil observasi wujud kehidupan gemblak berupa dokumentasi. Hasil penelitian membawa perolehan kesimpulan bahwa gemblak adalah anak laki-laki berusia 10-17 tahun yang dipelihara warok untuk mempertahankan kesaktian yang dimilikinya. Seorang warok harus menjauhi perempuan. Konon menurut cerita apabila seorang warok berdekatan atau bahkan berhubungan dengan perempuan maka ilmu yang dimiliki akan berkurang dan hilang. Karena syarat dan pantangan inilah, kemudian muncul sosok gemblak. Mereka yang menjadi gemblak umumnya berasal dari keluarga yang kurang mampu dan memiliki wajah yang tampan. Untuk mendapatkan gemblak, seorang warok harus melakukan peminangan terhadap orang tua calon gemblak. Biasanya gemblak dikontrak selama 2 tahun dengan imbalan seekor sapi atau sesuai permintaan orangtua calon gemblak. Setelah selesai kontrak warok akan memberi modal untuk masa depan si gemblak misalnya seekor sapi. Bagi kalangan warok memelihara gemblak merupakan suatu kewajiban, karena dipercaya dapat mempertahankan kesaktian yang dimiliki. Selain itu ada ii kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Pada umumnya gemblak berasal dari keluarga miskin, karena keadaan ekonomi yang sulit membuat para orang tua calon gemblak merelakan anaknya menjadi gemblak piaraan warok. Warok harus memenuhi semua kebutuhan hidup gemblak yang dipeliharanya, apabila gemblak masih bersekolah warok harus membiayai sekolahnya dan kebutuhan hidupnya. Sedangkan apabila gemblak tidak bersekolah, warok tetap wajib membiayai kebutuhan hidupnya serta memberikan seekor sapi per tahun kepada keluarga gemblak. Memelihara gemblak pada masa itu merupakan salah satu seni dan bentuk kegagahan yang dimiliki oleh warok Ponorogo. Karena semakin banyak mempunyai gemblak akan semakin tinggi status sosial yang dimiliki. Dalam kehidupan warok dan gemblak mengandung nilai-nilai yang dapat diambil sebagi acuan dalam kehidupan sehari-hari, nilainilai itu antara lain: saling menyayangi dan saling membantu. Dalam kehidupan warok jika dicermati secara lebih dalam terdapat nilainilai yang mampu dijadikan sebagai acuan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: 1) sebagai teladan dan panutan bagi masyarakat; 2) sebagai pemimpin; 3) guru serta pembimbing; 4) sebagai pengajar/pelatih, baik dalam membuat perlengkapan reog maupun melatih tari Reog; dan 5)sebagai penggerak massa untuk aktif dalam kegiatan kemasyarakatan sekaligus sebagai pengarah, penunjuk, dan pembimbing. Hilangnya tradisi gemblak dalam kehidupan warok disebabkan oleh: 1) tidak diterimanya kehadiran gemblak oleh masyarakat modern; 2) Keberhasilan siar agama; 3) masyarakat telah memahami pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya; 4) keinginan untuk tidak di cap sebagai pasangan sesama jenis atau homoseksual; 5) serta anggapan bahwa perempuan lebih dapat menarik banyak massa.

Keterampilan mengajar lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang / Eswina Rosalia Meylani

 

Kata Kunci: keterampilan mengajar, lulusan S1 Pendidikan Tata Busana. Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu fakor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Demikianpun dalam upaya membelajarkan siswa, guru dituntut memiliki multi peran sehingga mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif. Untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif, guru hendaknya menguasai ketrampilan mengajar. Demikian pula dengan lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang yang dicetak untuk menjadi tenaga pendidik, mereka harus siap terjun ke lapangan dengan kemampuan penguasaan keterampilan dasar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan mengenai keterampilan mengajar lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang. Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini bersifat diskriptif. Penelitian dilakukan pada lulusan dengan menyebarkan angket yang diisi oleh pihak berwenang dari lulusan tersebut, dalam penelitian ini sumber datanya adalah kepala sekolah yang menjadi pimpinan dari sekolah tempat lulusan mengajar. Jumlah lulusan yang diteliti ada sebanyak 7 orang. Pengolahan data angket dilakukan dengan teknik distribusi frekuensi dan analisis pesentase. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kemampuan lulusan dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar adalah terampil. Untuk keterampilan bertanya, persentasenya adalah 54,3% pada jawaban sering dengan kualifikasi terampil. Sedangkan keterampilan memberi penguatan, lulusan dinyatakan terampil dengan persentase 66,7% pada jawaban sering. Untuk ketrampilan mengadakan variasi, lulusan dinilai terampil dengan persentase 76,2% pada jawaban sering. Sedangkan untuk keterampilan menjelaskan, dinilai terampil dengan persentase 71,5% pada jawaban sering. Dalam keterampilan membuka dan menutup pelajaran, persentase yang diperoleh sebesar 66,7% pada jawaban sering yang mengindikasikan bahwa lulusan terampil. Untuk keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, terdapat jumlah 69,1% yang berarti terampil. Selanjutnya, untuk keterampilan mengelola kelas dinilai terampil dengan persentase 71,4%. Yang terakhir, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan, persentase terbesar adalah 60,7% pada jawaban sering yang berarti lulusan terampil dalam menerapkan keterampilan tersebut. Lulusan yang dianggap paling terampil diantara lulusan yang lain adalah lulusan 7, dan lulusan yang kurang terampil adalah lulusan 6. Secara global dapat dilihat bahwa semua lulusan dianggap terampil dalam mengimplementasikan keterampilan dasar mengajar di sekolah tempat lulusan mengajar saat ini.Dari sini dapat dilihat bahwa secara garis besar, keterampilan mengajar lulusan S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang sudah dianggap baik oleh para pengguna lulusan, dan bagi mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana dapat meningkatkan kualitasnya masing-masing.

Penggunaan media batang pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV di SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang / Wheny Churnia Ningsih A.

 

Kata kunci: Batang Pecahan, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran Matematika kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pembelajaran Matematika. Siswa tidak menguasai materi pecahan disebabkan pemahaman konseptual tentang KPK dan FPB masih kurang serta kurang optimalnya penggunaan media pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 22.097, jauh dari ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 60. Oleh karena itu peneliti menggunakan media pembelajaran Tongkat Pecahan untuk mengatasi permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Mendeskripsikan penggunaan media batang pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi pecahan kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan media batang pecahan pada siswa kelas IV di SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif dengan pendekatan kualitatif, untuk memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa meningkat. Prosedur tindakan kelas (PTK) terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus menggunakan langkah-langkah: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) observasi dan; (4) refleksi. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes tulis, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan dengan menggunakan media pembelajaran Batang Pecahan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika materi pokok ”Pecahan” siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Malang. Meningkatnya hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dari adanya peningkatan nilai pratindakan yang semula nilai rata-rata 22,097 meningkat menjadi 59,43 di siklus I dan siklus II nilai rata-rata meningkat sebesar 66,17. Saran untuk kepala sekolah adalah agar dapat memotivasi guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi guru agar menggunakan media pembelajaran Batang Pecahan khususnya pada pembelajaran Matematika. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kekurangan yang ada pada penelitian sebelumnya sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu / Heny Lutfia Eka Bakti

 

Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, keterampilan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis Berdasarkan observasi dan wawancara informal dengan guru ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu mengenai kegiatan pembelajaran di kelas XI IPS 1 diketahui bahwa siswa kurang dapat mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis terhadap suatu masalah. Selain itu, siswa kurang berperan aktif dan jarang untuk bertanya, serta berpendapat mengenai materi pelajaran ekonomi yang telah disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran di kelas, guru ekonomi masih menerapkan model pembelajaran yang konvensional tanpa adanya variasi sehingga pembelajaran menjadi monoton dan siswa merasa jenuh. Oleh sebab itu, maka perlu diterapkan model-model pembelajaran inovatif yang mengedepankan siswa aktif dan dapat mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Salah satunya dengan model pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan: (1) Menganalisis keterampilan memecahkan masalah siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan sumber-sumber penerimaan dan jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah, (2) Menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu setelah penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran ekonomi pokok bahasan sumber-sumber penerimaan dan jenis-jenis pengeluaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 yang berjumlah 38 siswa. Prosedur pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, angket, tes, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan untuk menilai keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu dengan menggunakan persentase siklus I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase skor rata-rata siswa dalam tes keterampilan memecahkan masalah pada siklus I sebesar 65,69% dengan klasifikasi cukup baik menjadi 82,14% pada siklus II dengan klasifikasi baik. Sehingga dalam siklus II terjadi peningkatan sebesar 16,45%. Sedangkan hasil persentase skor rata-rata siswa dalam tes kemampuan berpikir kritis siklus I sebesar 68,42% dengan klasifikasi cukup baik menjadi 78,70% pada siklus II dengan klasifikasi baik. Sehingga dalam siklus II terjadi peningkatan 10,28%. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Batu. Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti, antara lain: (1) Bagi sekolah (SMA Negeri 2 Batu) diharapkan model pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan terutama pada mata pelajaran ekonomi agar hasil belajar siswa semakin meningkat, (2) Bagi guru mata pelajaran ekonomi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa, (3) Bagi siswa diharapkan untuk aktif dalam proses pembelajaran berbasis masalah dan dapat lebih peka dalam menanggapi permasalahan ekonomi secara nyata yang ada di lingkungan sekitar mereka, (4) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dapat meneruskan penelitian ini untuk diterapkan pada kelas dan sekolah lain dengan materi yang berbeda, serta melakukan tindakan lebih dari dua siklus sehingga hasilnya dapat maksimal.

Penerapan model experiential learning sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan coping self-talk bago calon konselor / Irene Maya Simon

 

Tesis, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Marthen Pali, M.Psi., (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata kunci: model experiential learning, coping self-talk. Konseling merupakan psychological process yang dinamis dan mengandung pergerakan di antara dan di dalam pikiran-pikiran, baik konselor maupun konseli. Dengan kata lain, dalam setiap hubungan konseling, paling sedikit terdapat tiga percakapan yang terjadi, yaitu: percakapan umum, wicara-dalam-diri (self-talk) konselor dan wicara-dalam-diri (self-talk) konseli. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa self-talk memberikan pengaruh yang besar terhadap emosi dan perilaku seseorang. Oleh karena itu penting bagi seorang konselor untuk mampu mengendalikan self-talk (coping self-talk) sehingga dia mampu menyelenggarakan konseling terapeutik dengan baik. Melihat tuntutan kompetensi tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran tertentu bagi para calon konselor (dalam hal ini adalah mahasiswa S1 jurusan bimbingan dan konseling) sehingga kemampuan coping self-talk calon konselor tersebut meningkat. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (action research) yang diterapkan pada 43 mahasiswa semester 4 (empat) program studi bimbingan dan konseling. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dimana pada siklus pertama dilaksanakan dalam 8 (delapan) pertemuan dan pada siklus kedua dilaksanakan dalam 5 (lima) pertemuan. Kegiatan refleksi dilakukan dengan cara diskusi antara peneliti, dosen pembimbing, mitra peneliti, dan dosen pembina mata kuliah. Pada akhir kegiatan dilakukan focus group discussion (FGD) antara peneliti dan beberapa mahasiswa yang mewakili beberapa kelompok self-talk. Semua kegiatan dicatat dalam Jurnal Pengalaman Belajar (JPB) yang merekam aktivitas, pikiran, self-talk, dan konsekuensi yang diperoleh dan dirasakan para mahasiswa selama proses tersebut. Berdasarkan data yang tercatat di dalam jurnal pengalaman belajar, self-talk tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian, positif dan negatif, kemudian dihitung persentase individu maupun kelompoknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-talk mahasiswa meningkat di akhir perkuliahan. Pada akhir siklus pertama, self-talk positif mahasiswa sebesar 72% dan self-talk negatif sebesar 28%. Pada akhir siklus kedua, self-talk positif mahasiswa meningkat menjadi 90% dan self-talk negatif mahasiswa menurun menjadi 10%. Hal ini berarti bahwa model experiential learning dapat digunakan sebagai suatu strategi dalam meningkatkan kemampuan coping self-talk para mahasiswa calon konselor. Berikut skenario experiential learning-nya: (1) concrete experience: dosen mengarahkan mahasiswa untuk mengalami proses pembelajaran dengan memperhatikan self-talk mereka; (2) reflective observation: dosen meminta mahasiswa untuk menuliskan pengalaman mereka dalam Jurnal Pengalaman Belajar (JPB) dan lalu mengumpulkannya; (3) abstract conceptualization: dosen memberikan balikan terhadap JPB para mahasiswa dengan memberikan tanda positif dan atau negatif terhadap pandangan mereka, self-talk, dan kemudian konsekuensi mereka sehingga mahasiswa dapat memiliki gambaran tentang pengalaman self-talk mereka. Dosen kemudian meminta mahasiswa untuk menuliskan dalam JPB tentang rencana-rencana mereka untuk dapat menggunakan self-talk positif (melakukan coping self-talk) pada pertemuan selanjutnya; (4) active experimentation: dosen mengarahkan mahasiswa untuk mencobakan rencana-rencana yang telah mereka tuliskan dalam JPB untuk menggunakan coping self-talk. Hasil penelitian ini merekomendasikan agar model ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran para calon konselor, terutama pada matakuliah dasar konseling dan matakuliah yang merupakan praktikum. Untuk dapat membantu meningkatkan coping self-talk mahasiswa, perlu diberikan pemahaman mengenai makna dan pentingnya coping self-talk bagi mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode classroom meeting, yaitu suatu metode dimana para mahasiswa berkesempatan untuk sharing experience mengenai coping self-talk yang telah mereka alami.

Alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia / Irda Yesy Armita

 

Kata Kunci: alih kode, komunikasi guru dan siswa, pembelajaran bahasa Indonesia, bentuk alih kode. Alih kode merupakan alternatif guru dalam penyampaian pesan saat proses pembelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI 4 Malang. Alih kode dalam wacana kelas terjadi karena pengaruh bahasa pertama siswa, yaitu bahasa Jawa. Bahasa pertama cenderung sering digunakan, oleh karena itu berpengaruh pada penguasaan bahasa kedua. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai alih kode komunikasi guru dan siswa.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan bentuk alih kode, jenis alih kode, dan penyebab alih kode komunikasi guru dan siswa di SMP PGRI 4 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sebelum penelitian ini dilakukan observasi dan wawancara. Data penelitian berupa ujaran verbal dalam bentuk audio. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik Simak Bebas Libat Cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa manusia yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini dilakukan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari transkip data, identifikasi data, serta kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mengenai bentuk alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Bentuk alih kode yang dipilih penutur yaitu bentuk alih kode antarbahasa dan alih kode antarragam bahasa. Kedua, mengenai jenis alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI 4 Malang. Jenis alih kode yang ditemukan tujuh jenis dari empat klasifikasi. Klasifikasi pertama alih kode berdasarkan bahasa yang digunakan yakni alih kode intern, klasifikasi kedua alih kode berdasarkan alasan penutur yaitu alih kode situasi dan alih kode topik, klasifikasi ketiga alih kode berdasarkan tata kalimat yaitu alih kode antarkalimat, alih kode intrakalimat, dan alih kode penanda, dan klasifikasi keempat alih kode berdasarkan kepermanenan yaitu alih kode sementara. Ketiga, mengenai penyebab alih kode komunikasi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI 4 Malang. Penelitian inimenemukan lima penyebab yaitu (1) guru ingin bergurau dengan siswa, (2) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, (3) perasaan jengkel guru, (4) penjelasan instruksi dari guru, dan (5) ekspresi keterkejutan guru.

Pembelajaran seni tari pada program pengembangan diri bagi siswa sekolah dasar luar biasa tunagrahita di SLB Pembina Malang / Desi Jatimuning Ratih

 

Kata Kunci: Pembelajaran Seni Tari, Pengembangan Diri, Tunagrahita, SLB Pembina. Pengembangan diri merupakan upaya mengaktualisasikan bakat istimewa yang dimiliki anak didik yang diri dilakukan melalui pembelajaran termasuk dalam kurikulum sekolah. Permasalahannya adalah bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran seni tari dalam program pengembangan diri pada siswa Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita di SLB Pembina Malang dan faktor- faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung pelaksanaan pembelajarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Pelaksanaan pembelajaran seni tari dalam program pengembangan diri pada siswa sekolah dasar luar biasa Tunagrahita, dan (2) Faktor-Faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan pembelajaran seni tari dalam pengembangan diri pada siswa Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita di SLB Pembina Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi, penyajian data, penarikan simpulan dan verifikasi. Peneliti mengambil lokasi penelitian di SLB Pembina Malang dengan sumber data guru pembimbing pengembangan diri seni tari dan guru kelas/walikelas. Prosedur pengumpulan data dilakukan berdasarkan observasi, dokumentasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pembelajaran seni tari terdiri dari (a) Perencanaan, meliputi: tujuan, perangkat, materi, dan media. (b) Pelaksanaan pembelajaran meliputi: strategi individualisasi dengan pendekatan individual, menggunakan metode demonstrasi, drill/latihan (pengulangan), dan mencontoh, serta menggunakan model aprentisip (c) Aspek penilaian yang diamati meliputi: dapat melakukan gerakan, ketepatan ketukan dengan gerakan, dapat mengingat gerakan dengan rentang 1-5. (2) Faktor penghambat meliputi kondisi kelas yang kurang kondusif hal tersebut disebabkan guru kurang menguasai kelas dan siswa yang tidak mengikuti pembelajaran seni tari gaduh, serta tenaga pembimbing yang kurang memadai. Faktor-faktor pendukung dalam pembelajaran adalah adanya sarana dan prasarana yang memadai serta antusias siswa mengikuti pembelajaran seni tari. Berdasarkan penelitian ini penulis menyarankan agar pembelajaran seni tari dapat ditingkatkan serta pengorganisasian perangkat pembelajaran tetap terlaksana sebagaimana mestinya.

Implementing the learning together strategy to improve the reading comprehension ability of the tenth graders of M.A. Raudlatut Thalabah Kediri / Sholihun

 

Unpublished Thesis, English Language Teaching, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Johannes A. Prayogo, M. Ed, M.Pd (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Key words: implementing, reading comprehension, Learning Together strategy. Reading is an important part of language skills which must be taught in classes of Senior High Schools. In reading activities, the students are expected to be able to comprehend reading passages. In teaching reading at the tenth graders of MA Raudlatut Thalabah, the English teachers faced problems related to this skill. First, the interaction between students was low. Second, the reading activities were dominated by small minority of high achievers. Third, students' motivation was low. Meanwhile, based on the finding of the preliminary study, it was indicated that the teaching of reading at MA Raudlatut Thalabah is not satisfactory. Therefore, this research was designed to improve the students’ reading comprehension through the use of Learning Together Strategy. The objective of the study was to describe how Learning Together Strategy improved the reading comprehension ability of the tenth graders of MA Raudlatut Thalabah Kediri. Meanwhile, this study was focused on descriptive text as the text type which must be taught to the tenth graders of Madrasah Aliyah. The design of the study was Collaborative Classroom Action Research. In this design, the researcher and the collaborative teacher worked together in preparing a suitable procedure of Learning Together Strategy, designing the lesson plan, determining of the criteria of success, implementing the action, observing and doing reflections. The subjects of this research were 46 tenth graders of MA Raudlatut Thalabah, Kediri, East Java in the academic year 2008/2009. This research was conducted in 2 cycles, each of which consisted of two meetings. The data of the research were obtained from (1) observation sheet, which was used to obtain information about teacher’s and the students’ activities and performance during the implementation of Learning Together Strategy, (2) field notes, which were used to note the data, and (3) test, which was used to identify whether the students made progress or improved the reading comprehension ability or not. The result of the research showed that the implementation of Learning Together Strategy in the teaching and learning of reading comprehension can successfully improve the students’ comprehension skill. There were 4 steps in implementing the Learning Together Strategy, namely (1) Assigning the students to group by dividing students into group. Each group has a mixed of high, medium, and low achievers and both male and female students in each group. Then, giving the roles for the group members such as leader, reader, writer, checker, encourager, and helper, (2) Activating the students’ background knowledge. The teacher showed the pictures and asking the students to mention words that might be used in the text, (3) Encouraging the students to comprehend the text. The teacher asked the students to read the text silently, gave the model on how to read the text, asked the students to discus the content of the text, and encouraged the students to help each other. (4) Reviewing the reading activity. The teacher checked the students’ answers and making conclusion of the topic and gave reward for the best group. Based on the result of the research, it was indicated that this strategy has strength; particularly it can improve the reading comprehension of the students and in increasing the students’ involvement in teaching and learning of reading activities. The research findings indicated that the students were active during the reading activities and the students’ reading comprehension ability improves after the implementation of the action. The improvement was shown by the increase of the percentage of the students’ achievement in reading comprehension ability. Cycle 1 showed that the number of students who got the score of greater or equal to 65. There were 25 students out of 46 students or 54.35% gained the score of greater or equal to 65. Meanwhile, Cycle 2, the students who gained the score of greater or equal to 65 were 37 out of 46 students or 80.43%. It fulfilled the criterion of success in term of the score improvement. Whereas, the finding indicated that Learning Together Strategy was successful to empower students’ participation and motivation to be actively involved in the instructional process. The students were active in the class in terms of sharing ideas, reading, answering the questions, making groups, using Learning Together Strategy. Based on the findings of the study, it is suggested that the English teachers, the school and for the future researchers apply or implement Learning Together Strategy in teaching reading classes since the strategy can improve the students’ reading comprehension ability. For English teachers are recommended also to employ Learning Together Strategy in order to be able to teach reading comprehension effectively. English teachers should organize the groups by considering the students’ achievement levels. Meanwhile, they should implement the strategy as alternatives strategies in English instruction to make the students are interested and motivated in attending the teaching learning activities. For the school, this strategy is suggested to provide special lesson time for students to practice the reading comprehension, which can be done for their intra curricular activities or extra curricular activities. For the future researchers, this strategy was as like small group setting, so that they should well known the principal of Learning Together Strategy.

Pengembangan strategi baju bersih (baca, maju, bermain, kasih) dalam pembelajaran bermain drama siswa kelas VIII SMP / Tedy Niko Jatmiko Saputro

 

Kata kunci: strategi Baju Bersih, pembelajaran bermain drama. Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan bahwa pembelajaran bermain drama mengalami beberapa kendala. Pembelajaran drama di sekolah tersebut masih bersifat teoretis. Guru hanya memberikan teori-teori tentang bermain peran atau bermain drama. Guru menyikapi drama sebagai naskah baca. Naskah drama tidak divisualisasikan ke dalam pementasan dengan alasan waktu yang tidak mencukupi. Selain hambatan pembelajaran terjadi pada guru, hambatan juga terjadi pada siswa. Siswa cenderung malu ketika guru menyuruh siswa ke depan kelas untuk memerankan suatu karakter tokoh dalam naskah drama. Selain itu, sebagian besar siswa kurang tertarik pada karya sastra drama. Hal itu lah yang menyebabkan kemampuan siswa dalam berakting dan berdialog terhambat. Oleh karena itu, guru harus meningkatkan mental siswa ketika unjuk kerja di kelas. Guru memerlukan strategi pembelajaran yang dapat mengatasi hambatan dan mendukung kelancaran pembelajaran bermain drama. Strategi pembelajaran memegang peranan penting terhadap pembelajaran, karena strategi pembelajaran dapat mempermudah proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai secara optimal. Tujuan pembelajaran bermain drama antara lain (1) melatih siswa dalam menghadapai situasi yang sebenarnya dalam hidup dan kehidupan, (2) melatih praktik lisan secara intensif, dan (3) memberikan kesempatan pengembangan kemampuan berkomunikasi. Beberapa hal tersebut memberi pertimbangan, strategi pembelajaran untuk pembelajaran bermain drama perlu dikembangkan agar pembelajaran tujuan pembelajaran bermain drama dapat dicapai. Penelitian ini menghasilkan produk strategi pembelajaran untuk bermain drama. Strategi pembelajaran tersebut diberi nama strategi Baju Bersih. Strategi Baju Bersih dikembangkan berdasar pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Strategi Baju Bersih memberikan kesempatan bagi siswa dalam mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri untuk menghasilkan produk nyata, yakni pementasan drama kelas. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengembangkan deskripsi isi produk, (2) mengembangkan sistematika penyajian produk, (3) mengembangkan penggunaan bahasa produk, dan (4) mengembangkan tampilan produk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan prosedur tersebut, terdapat tujuh tahap prosedur penelitian, yakni (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji ahli dan uji praktisi, (5) revisi hasil uji ahli dan uji praktisi, (6) uji lapangan, (7) penyempurnaan produk akhir. Uji produk dilakukan dengan melibatkan (1) ahli drama (teater), (2) ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, (3) ahli strategi pembelajaran, (4) praktisi, yakni guru Bahasa dan Sastra Indonesia, dan (5) lapangan, yakni siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tumpang. Jenis data penelitian ini adalah data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek uji pada angket penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi yang disampaikan secara lisan ketika wawancara dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsi agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Angket penilaian dan pedoman wawancara bebas digunakan sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan. Uji produk melibatkan ahli drama (teater) menghasilkan rata-rata kelayakan produk sebesar 77,77%, ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 81%, ahli strategi pembelajaran 93,05%, praktisi 89,58%, dan siswa 84,94%. Berdasarkan hasil uji melibatkan ahli drama dan ahli pembelajaran, produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikan. Berdasarkan hasil uji melibatkan ahli strategi pembelajaran dan praktisi, produk tergolong sangat layak dan siap untuk diimplementasikan. Namun, ada beberapa aspek yang perlu direvisi dan ditambahkan berdasarkan komentar dan saran perbaikan dari ahli drama (teater), ahli pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ahli strategi pembelajaran, dan praktisi. Uji lapangan dengan melibatkan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tumpang dimaksudkan untuk mengetahui respon siswa terhadap strategi Baju Bersih yang diterapkan dalam pembelajaran bermain drama. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah strategi Baju Bersih yang dikembangkan berdasar pendekatan pembelajaran berbasis proyek menunjukkan bahwa produk tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran bermain drama. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan untuk menerapakan strategi Baju Bersih dalam pembelajaran bermain drama, sehingga kendala-kendala dalam pembelajaran bermain drama dapat teratasi. Siswa disarankan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermain drama dengan strategi Baju Bersih, karena strategi Baju Bersih dapat membantu menumbuhkembangkan kemampuan mereka dalam hal akting dan dialog. Prosedur penelitian pengembangan strategi pembelajaran ini dapat menjadi pedoman bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa. Pengembang lain disarankan untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini. Langkah tersebut dapat diterapkan pada pengembangan strategi pembelajaran untuk kompetensi lain. Selanjutnya, penyebarluasan produk harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi. Oleh karena itu, agar penyebarluasan produk memenuhi kriteria efektif dan efisien, maka produk dapat diunggah dengan memanfaatkan media internet.

Pengembangan buku permainan lape di Kabupaten Dompu Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat / M. Syamsurizal

 

Kata kunci: Pengembangan, Permainan, Buku Permainan Lape. Hingga saat ini, buku dianggap sebagai salah satu media tulisan yang dapat digunakan untuk mempromosikan dan mengenalkan semua jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Pertimbangannya pemilihan buku sebagai media untuk mempromosikan budaya tersebut dikarenakan buku memiliki banyak keuntungan: sederhana, mudah diakses dan mudah untuk diletetakkan dimana saja. Salah satu kebudayaan yang dapat direpresentatifkan dalam bentuk sebuah buku adalah permainan “Lape”. Permainan “Lape” itu sendiri berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama di kabupaten Dompu dan Bima. Permainan “Lape” hampir mirip dengan bulutangkis. Perbedaan diantara kedua permainan/olahraga ini hanya terdapat pada jenis alat pemukul dan bola (kok) yang digunakan. Alat pemukul yang digunakan dalam permainan “Lape” terbuat dari kayu yang bentuknya menyerupai dayung sampan dan bola (kok) terbuat dari karet dan bulu unggas yang berwarna putih. Tujuan yang ingin dicapai adalah mempopulerkan permainan lape yang belum diketahui oleh masyarakat luas dalam bentuk buku. Dalam penelitian ini model pengembangan dari sepuluh langkah penelitian pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku permainan lape di kabupaten Dompu adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assesment) dengan angket yang ditujukan kepada 15 masyarakat Dompu, serta wawancara kepada tokoh-tokoh masyarakat, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli permainan, 1 ahli media pembelajaran, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa buku permainan lape di Kabupaten Dompu Pulau Sumbawa Nusa tenggara barat. Lokasi penelitian adalah di Kelurahan Simpasai, Kelurahan Kandai II, Kelurahan Monta Baru dan Desa Wawonduru di Kecamatan Woja Kabupaten Dompu. Subjek uji coba dalam pengembangan buku permainan lape di kabupaten Dompu ini terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari seorang ahli permainan dan seorang ahli media, (2) mayarakat Kecamatan Woja dari empat Kelurahan/desa di Kabupaten Dompu sebagai kelompok uji coba dengan jumlah 12 masyarakat untuk uji coba kelompok kecil dan 30 masyarakat untuk uji kelompok lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan instrument untuk para ahli serta pedoman pertanyaan untuk masyarakat. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan menggunakan persentase. Hasil pengembangan buku permainan lape di Kabupaten Dompu ini memenuhi kriteria sangat baik untuk ahli media (83,52%), memenuhi kriteria sangat baik untuk masyarakat pada uji coba kelompok kecil adalah (80,78%) dan uji coba lapangan adalah (82,55%). Ini berarti pengembangan buku permainan lape di kabupaten Dompu dapat digunakan di masyarakat Dompu khususnya di Kecamatan Woja. Berdasarkan penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subjek yang lebih besar.

Pengembangan media pembelajaran animasi untuk mata diklat produktif teknik komputer jaringan siswa kelas XI SMK / Nirwana Haidar Hari

 

Kata kunci: pengembangan, media pembelajaran animasi, Produktif TKJ. Media pembelajaran yang digunakan di SMKN 2 Pamekasan, masih sangat sederhana, khususnya media pembelajaran yang berbasis komputer. Akibatnya, kegiatan pembelajaran di SMKN 2 Pamekasan tidak berjalan dengan maksimal. Sebagian besar siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terlihat dari seringnya siswa tidak megumpulkan tugas yang diberikan oleh pengajar atau guru mata diklat tertentu. Permasalahan tersebut membuat guru perlu memikirkan suatu cara yang dapat membuat siswa lebih berminat dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Pengembangan media pembelajaran ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran animasi pada mata diklat Produktif TKJ siswa kelas XI SMKN 2 Pamekasan. Pengembangan media pembelajaran animasi ini menggunakan model pengembangan Dick and Carrey yang telah dimodifikasi. Subjek uji coba adalah siswa yang mengikuti mata diklat produktif TKJ kelas XI TKJ-B SMKN 2 Pamekasan. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Instrumen pengumpulan data berupa lembar evaluasi untuk ahli media dan ahli materi, sedangkan untuk siswa berupa lembar angket. Data yang dikumpulkan dalam pengembangan ini adalah data evaluasi dari ahli materi, data evaluasi dari ahli media, dan penilaian siswa terhadap media pembelajaran animasi. Setelah mengalami tahap validasi, media pembelajaran animasi ini mendapatkan skor diantaranya: (1) 91,70 % penilaian dari ahli materi; (2) 95,83 % penilaian dari ahli media; (3) 98,08 % penilaian siswa secara perorangan; (4) 96,15 % penilaian siswa secara kelompok kecil, dan; (5) 93,31 % penilaian siswa secara kelompok besar. Dari penilaian responden tersebut, maka dapat disimpulkan media pembelajaran animasi yang telah dikembangkan dikatakan valid dan tanpa revisi dengan beberapa pertimbangan dan saran dari responden.

Manajemen pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman, dan Jepang) di SMA Negeri 1 Turen Malang / Afri Ferdiyanto Basuki

 

Kata kunci: manajemen pembelajaran, bahasa asing Pendidikan adalah pembelajaran terhadap hidup dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi hidup. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan adanya pendekatan sistem pembelajaran di lembaga pendidikan menjamin terselenggaranya proses pembelajaran yang obyektif, adil dan akuntabel yang dicerminkan dari adanya evaluasi siswa terhadap proses pembelajaran secara berkala dan hasilnya ditindaklanjuti. SMA Negeri 1 Turen Malang merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sistem pembelajaran bahasa asing dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar yang berkelanjutan. Fokus penelitian secara umum adalah manajemen pembelajaran bahasa asing (Arab,Jerman dan Jepang) di SMA, sedangkan fokus khusus mengungkap: (1) perencanaan pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (2) pengorganisasian pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (3) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (4) pengawasan pembalajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; (5) faktor pendukung dan penghambat pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA; dan (6) strategi dalam menambah motivasi pembelajaran dan mengurangi faktor penghambat pembelajaran Bahasa Asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Turen Malang yang beralamat jalan Panjaitan I no. 65 Turen Malang, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dengan menggunakan teknik-teknik tersebut selanjutnya dianalisis untuk menyusun temuan penelitian yang diperoleh dari beberapa informan yaitu koordinator kurikulum, kepala SMA Negeri 1 Turen Malang, dan guru pengajar. Keabsahan data diuji dan diperiksa dengan teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik/metode. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) perencanaan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu perencanaan awal yang dilakukan dengan cara pengembangan guru ahli bahasa asing; (2) pengorganisasian pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu dengan cara melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan pembinaan terhadap (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) MGMP guru bahasa asing; (3) pelaksanaan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di sekolah ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem pembelajaran secara berkelanjutan; (4) pengawasan pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pengawasan intern yang dilakukan oleh kepala sekolah langsung serta pengawasan ekstern yang dilakukan oleh Dispendik; (5) faktor pendukung pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu adanya dukungan dari pihak luar (masyarakat) yang terkait, adanya sarana dan prasarana yang menunjang, sedangkan faktor penghambat yaitu minimnya jam pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) serta rendahnya motivasi siswa; dan (6) strategi yang dilakukan dalam menambah motivasi pembelajaran dan mengurangi faktor penghambat pembelajaran bahasa asing (Arab, Jerman dan Jepang) di SMA yaitu pemadatan materi oleh guru, serta pemberian kebebasan terhadap guru untuk mengelola pembelajaran siswa didalam kelas. Berdasarkan kesimpulan hasil temuan penelitian, dikemukakan saran-saran berikut, yaitu: (1) kepala sekolah SMA, agar terus mengembangkan kemampuannya untuk lebih baik dan mengembangkan sekolah terutama dalam pembelajaran bahasa asing, dalam rangka meningkatkan mutu di ssekolah; (2) Waka kurikulum SMA agar terus mengembangkan kemampuan dan kompetensi diri guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang aktif dan menyenangkan untuk menghasilkan output yang bermutu dengan kualitas baik; (3) bagi sekolah lain yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa asing yang sama, untuk lebih mendukung dan menerima program pembelajaran bahasa asing dengan baik; (4) peneliti lainnya, untuk dapat mengembangkan pendekatan lain dan memperdalam fokus penelitian dalam variasi sudut pandang yang berbeda; (5) siswa-siswi, agar dapat menjalankan proses pembelajaran tersebut untuk lebih baik dari sebelumnya dan dapat meningkatkan kemampuan dalam berbahasa asing yang lebih baik.

An evaluation of real time 2: an interactive English course for junior high school students year VIII / Selviati Syukri

 

Key words: Evaluation, Textbook, Criteria of good EFL Textbook This study is carried out in order to analyze the English textbook used in SMP Negeri 3 Jekan Raya Palangkaraya. This study specifically aims at analyzing the textbook based on criteria for a good EFL textbook; aims and approaches, organization of the textbook, language content of the textbook, language skills in the textbook, topics of the textbook, methodology, and practical consideration of the textbook. This study is a descriptive evaluative which focuses on content analysis design that attempts to analyze the English textbook namely Real Time 2: An Interactive English Course for Junior High School Students Year VIII used by the eighth graders of SMP Negeri 3 Jekan Raya Palangkaraya. The intruments of data collection are the English textbook evaluation checklist, interview guide, and students’ questionnaire. The textbook is qualified as good with the score 4 in terms of aims and approaches. Next, the textbook is qualified as fair with the score 3 in terms of organization. Then, in terms of language content, the textbook is qualified as fair with the score 3. Fourthly, the textbook is qualified as fair with the score 3 in terms of language skills. Next, the textbook is classified as good with the score 4 in terms of the topics. In terms of methodology, the textbook is classified as fair with the score 3. Lastly, the textbook is classified as good with the score 4 in terms of practical considerations. In general, the fulfillment of the textbook towards the criteria of good EFL textbook is 3. As a conclusion, the textbook which is used by the eighth graders on SMP Negeri 3 Jekan Raya Palangkaraya is categorized "fair" in terms of the criteria of a good EFL textbook. It means that the textbook can be used as a source and reference for the teacher in teaching and learning process. Based on the findings, the researcher suggests that the author of the textbook improve the quality of the textbook by considering several aspects in the textbook. English teachers should also use the textbook creatively by making best use of the strength of the textbook and finding other alternative materials and resources to complement the weaknesses of textbook. For other researchers who may conduct studies on the similar topic about textbook used in junior high school, it is suggested that they evaluate the textbook based on other criteria, such as the current syllabus/curriculum.

Pembuatan roti tawar dengan penambahan tepung daun kelor sebagai pewarna dan meningkatkan nilai gizi / Ria Aprilia Sari

 

Kata Kunci: daun kelor, roti tawar daun kelor, kandungan gizi tepung daun kelor, warna roti tawar daun kelor, formulasi resep dan kesukaan konsumen. Daun kelor (Moringa Oliefera) merupakan tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai sayuran dan dikenal berkhasiat sebagai penawar kekuatan magis. Masing-masing bagian pohon kelor mulai dari daun, akar, hingga getahnya memiliki manfaat yang luar biasa atau sumber gizi yang diperlukan oleh tubuh. Roti tawar daun kelor merupakan olahan jenis bakery yang berwarna hijau muda, rasa gurih, aroma khas roti tawar dan bertekstur empuk. Penulisan ini merupakan laporan dari percobaan pendahuluan yang dilakukan sebanyak 3 kali dengan formulasi resep yang berbeda yaitu penambahan tepung daun kelor sebanyak 20%, 15%, dan 10%. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pembuatan tepung daun kelor, kandungan gizi daun kelor, warna roti tawar daun kelor, formulasi resep yang tepat untuk roti tawar daun kelor dan kesukaan konsumen terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur roti tawar daun kelor. Konsumen yang dijadikan objek pengambilan data uji kesukaan adalah masyarakat umum yang terdiri dari anak-anak, remaja dan orang dewasa sebanyak 90 konsumen. Analisis data yang digunakan adalah uji kesukaan yang dianalisis menggunakan persentase. Hasil yang dapat disampaikan pada penulisan ini adalah pembuatan tepung daun kelor menggunakan uji coba kedua yaitu daun kelor direbus menggunakan soda kue. Komponen gizi daun kelor setelah mengalami proses pengeringan selain vitamin C, semua komponen gizi yaitu vitamin A, kalsium, kalium, protein dan zat besi mengalami peningkatan konsentrasi lebih dari dua kali lipat (Jonni, 2008). Formulasi resep yang tepat untuk pembuatan roti tawar daun kelor adalah formulasi resep yang ketiga yaitu menggunakan penambahan tepung daun kelor sebanyak 25 gram atau 10% dari berat bahan utama yaitu terigu protein tinggi. Warna hijau muda dari roti tawar daun kelor diperoleh dari tepung daun kelor itu sendiri. Sebagian besar konsumen (82,17%) menyukai warna roti tawar daun kelor. Sebagian konsumen 76,67% menyukai aroma roti tawar daun kelor. Sebagian besar konsumen 92% menyukai rasa roti tawar daun kelor. Sebagian besar konsumen 92,33% menyukai tekstur roti tawar daun kelor.

Studi fenomenografi: konsepsi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang tentang fenomena kimia dalam kehidupan sehari-hari / Erna Wulan Sari

 

Kata Kunci : Konsepsi, Fenomena Kimia, Pendekatan Fenomenografi Konsep-konsep kimia mempunyai tingkat generalisasi dan keabstrakan yang tinggi. Proses belajar yang dilakukan siswa diharapkan menghubungkan konsep-konsep yang ada melalui proses belajarnya. Dengan demikian ketika mempelajari ilmu kimia, siswa membangun model mental dan mencoba menggunakannya untuk memahami fenomena. Berdasarkan pengalaman peneliti, guru kurang mengkaitkan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan konsep kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsepsi siswa tentang fenomena (a) kelarutan gula di tempat yang berbeda, (b) pematangan kentang berdasarkan ukuran, (c) pematangan bubur yang berasal dari beras dan dari tepung beras, (d) pencucian noda pada kain dengan jumlah detergen yang berbeda, (e) pemberian daun pepaya untuk pelunakan daging. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptitf kualitatif dengan pendekatan fenomenografi. Peranan peneliti di lapangan adalah sebagai instrumen dibantu pedoman wawancara untuk melakukan wawancara mendalam. Sampel penelitian 30 siswa kelas X SMAN 1 Tumpang yang telah dipilih secara sampel purposif. Analisis data yang dilakukan adalah menstranskip hasil wawancara, menganalisis konten dan mengkategorikannya. Pengujian keabsahan hasil penemuan dilakukan teknik pemeriksaan teman sejawat, proses co-judging diperoleh reliabilitas tinggi (90%) dan chek re-chek juga diperoleh reliabilitas tinggi (97%). Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh konsepsi siswa sebagai berikut. Konsepsi siswa mengenai fenomena kelarutan gula pada air dingin dan air panas. (1) Kategori yang sudah bisa menjawab tiga aspek, yaitu gerak partikel, suhu dan pemutusan interaksi molekul (26,67%). (2) Kategori yang bisa menjawab dua aspek, yaitu (a) karena pengaruh suhu dan pemutusan interaksi molekul (10%), b) karena pengaruh suhu dan gerakan partikel (26,67%). (3) Kategori yang hanya bisa menjawab satu aspek yaitu karena pengaruh suhu (36,67%). Konsepsi siswa mengenai fenomena pematangan kentang berdasarkan ukuran dan pematangan bubur berbahan dasar beras dan tepung beras. (a) Kategori pengaruh suhu dan ukuran (80%), (b) Kategori lain- lain karena pengaruh ukuran dan kemungkinan bersentuhan (20%). Konsepsi siswa mengenai fenomena pencucian noda kain dengan jumlah detergen yang berbeda- beda (a) kategori pengaruh jumlah zat aktif (36,67%) (b) kategori pengaruh banyaknya detergen (53,33%). (c) kategori lain karena pengaruh jumlah busa (6,67%). Konsepsi siswa mengenai fenomena kecepatan melunaknya daging dengan pemberian daun pepaya. (a) Kategori papain menyebabkan ikatan pada daging merenggang (30%). (b) Kategori papain menyebabkan daging menjadi lunak (70%). Implikasi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan agar guru dapat mempersiapkan pembelajaran secara maksimal dan mengetahui miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya.

Pengembangan inventori agresi untuk SMA Negeri di Blitar / Hikma Rahayu

 

Kata Kunci: Agresi, inventori, siswa SMA. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang sangat rentan dengan bergejolaknya emosi. Bergejolaknya emosi dapat menjadi salah satu pemicu timbulnya agresi. Agresi dapat diukur menggunakan suatu alat. Alat yang dibutuhkan konselor dapat berbentuk inventori, namun kenyataan di lapangan inventori mengenai agresi belum dikembangkan, oleh sebab itu inventori agresi ini dikembangkan. Dalam pengembangan inventori agresi ini khusus pada bagaimana tingkat validitas, reliabilitas dan norma yang digunakan. Pengembangan inventori agresi ini mempunyai tujuan untuk menghasilkan inventori yang: (1) memiliki validitas tinggi; (2) memiliki reliabilitas tinggi; (3) menetapkan norma; (4) menghasilkan produk; (5) mengetahui gambaran tingkat agresi siswa SMA. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan adaptasi prosedur pengembangan Borg and Gall. Adaptasi pengembangan model Borg and Gall meliputi tahapan: 1) menentukan tujuan inventori, 2) menentukan populasi, sasaran dan sub bidang yang dikembangkan, 3) menentukan variabel, sub variabel, indikator dan deskriptor, 4) mengembangkan item pernyataan sesuai dengan deskriptor, 5) menyusun dan menyiapkan prototipe inventori agresi, 6) uji lapangan awal (try out) item-item inventori agresi (draf I), 7) uji lapangan utama item-item pertanyaan inventori agresi (draf II), 8) revisi produk inventori agresi yang menghasilkan produk akhir inventori agresi untuk siswa SMA Negeri di Blitar. Inventori agresi diuji tingkat validitasnya menggunakan rumus Product Moment Pearson dengan signifikansi P < 0,05 dan uji reliabilitasnya menggunakan rumus Alpha Cronbach. Populasi pengembangan adalah siswa kelas X SMAN di Blitar tahun pelajaran 2011/2011, sampel pengembangan sebanyak 125 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik proportional cluster area random sampling. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa: (1) inventori agresi memiliki tingkat validitas yang tinggi, memenuhi syarat konsistensi internal pada P < 0,05; (2) inventori agresi memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi α = 0,921; (3) inventori agresi memiliki ketetapan norma yang diwujudkan dalam bentuk norma persentil dengan kategorisasi tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan hasil penilaian ahli bahasa, ahli materi, dan uji kelompok kecil dapat disimpulkan bahwa produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini yaitu inventori agresi telah memenuhi kevalidan dan layak digunakan oleh siswa. Berdasarkan hasil pengembangan, disarankan: 1) hasil produk pengembangan ii dapat digunakan konselor sebagai salah satu alat pengumpul data pribadi untuk mengetahui tingkat agresi siswa; 2) diharapkan konselor melakukan bantuan usaha seperti langkah preventif dan kuratif ; 3) bagi pengembang selanjutnya, hendaknya menindak lanjuti hasil pengembangan dengan terus melakukan pengembangan, baik dalam konstruk teoritis berdasarkan teori Averill maupun teori agresi yang lain. Selain itu, subjek pengembangannya diharapkan lebih diperluas pada jenjang Sekolah Dasar, Menengah maupun Perguruan Tinggi, menggunakan variasi teknik analisis yang lain. Disamping itu, mengingat perkembangan teknologi yang semakin canggih disarankan produk dapat dikembangkan melaui program dalam bentuk software.

Pengaruh penerapan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dan NHT (Numbered Head Together) terhadap hasil belajar dan motivasi siswa kelas X1 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung pada materi koloid / Tuti Winarnik

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, STAD, NHT, Hasil Belajar, Motivasi Mata pelajaran kimia mencakup konsep-konsep yang bersifat abstrak sehingga dapat membuat siswa sulit memahaminya dalam pembelajaran. Diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil dan motivasi belajar siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung yang dibelajarkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan STAD-NHT pada materi pokok Koloid. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung tahun ajaran 2010/2011. Hasil uji-t menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa kelas XI IPA1 dan kelas XI IPA5 sama sehingga memenuhi syarat untuk dijadikan sampel maka dari itu dalam penelitian diambil kelas XI-IPA1 (40 siswa) sebagai kelas eksperimen II dengan pembelajaran tipe STAD-NHT dan kelas XI-IPA5 (40 siswa) sebagai kelas eksperimen I dengan pembelajaran tipe STAD. Instrumen yang digunakan terdiri dari instrumen pembelajaran (berupa silabus, RPP, handout, dan LKS) dan instrumen pengukuran (berupa lembar observasi, tes, postest, dan angket motivasi siswa). Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji-t dengan taraf signifikan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT. Hal tersebut dapat dilihat dari uji-t yang menunjukkan perbedaan hasil belajar yang signifikan pada kedua kelas. Nilai rata-rata siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 80,125 untuk pembelajaran dengan STAD-NHT dan 74,25 untuk pembelajaran dengan STAD. (2) Ada perbedaan motivasi antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT. Siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD-NHT memiliki motivasi yang lebih baik yaitu siswa yang sangat termotivasi dan termotivasi sebanyak 100%, sedangkan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD persentase siswa yang sangat termotivasi dan termotivasi sebanyak 90%.

Pengaruh informasi laba, total arus kas, dan opini audit going concern terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009 / Nani Hakim Mariana

 

Kata Kunci : Informasi Laba, Total Arus Kas, Opini Audit Going concern dan Harga Saham Perusahaan selalu menginginkan agar harga saham selalu meningkat. Hal ini dapat terjadi jika perusahaan menyampaikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada investor luar. Informasi yang disampaikan oleh perusahaan bisa berupa laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor yang didalamnya terdapat informasi tentang laba perusahaan, arus kas perusahaan serta laporan auditor independen yang memuat opini auditor. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh informasi laba, total arus kas, opini audit going concern secara parsial dan simultan terhadap harga saham. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2007-2009, menerbitkan laporan keuangan auditan selama periode pengamatan, dan memiliki catatan harga saham yang lengkap. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara parsial variabel informasi laba, total arus kas dan opini audit going concern berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Untuk pengujian secara simultan variabel informasi laba, total arus kas, opini audit going concern berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga variabel ini dianggap sebagai sinyal yang dapat digunakan dan merupakan faktor-faktor yang dapat dijadikan pertimbangan bagi investor dalam menetapkan keputusan investasi sehingga dapat meningkatkan harga saham. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya, menggunakan faktor lain yang bisa mempengaruhi harga saham, menggunakan sampel yang berbeda menggunakan metode lain, serta memperpanjang tahun penelitian.

Manajemen pembelajaran di lembaga pendidikan taman kanak-kanak (studi kasus di TK Negeri Pembina Tulungagung) / Rosita Oktafiani

 

Perbedaan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dan model jigsaw terhadap peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Arjasa / Suharno Wahyudi

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif, model GI (Model Group Investigation), prestasi belajar. Proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru dikelas sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar. Rendahnya prestasi belajar siswa merupakan indikasi pembelajaran yang belum optimal. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat. Oleh karena itu perlu adanya metode yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu salah satunya dengan menggunakan metode kooperatif model GI (Group Investigation) dan model Jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pembelajaran kooperatif model GI (Group Investigation) dan model pembelajaran Jigsaw terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Arjasa, Situbondo yang terdiri dari kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-B sebagai kelas pembanding. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa tes prestasi fisika siswa yang diberikan saat pra-tes dan pasca-tes. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t untuk data prestasi belajar dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata Post-tes prestasi belajar fisika kelas eksperimen tidak lebih tinggi dibandingkan kelas pembanding. Hasil rata-rata nilai akhir kelas eksperimen sebesar 72.17. Sedangkan rata-rata nilai akhir kelas pembanding sebesar 69.95. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis uji-t menggunakan Independent Sample T-Test, thitung = 0.549 dengan df sebesar 44 dan taraf signifikansi 5% lebih kecil dari ttabel (t44;.05 = 1.680). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model GI (Group Investigation) tidak berpengaruh lebih besar daripada model pembelajaran model Jigsaw khusus pada pokok bahasan pesawat sederhana terhadap prestasi belajar fisika siswa.

Hubungan antara career self efficacy dan pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo / Qori Rizka Rizkiana

 

Kata kunci : career self efficacy, pengambilan keputusan karier Siswa SMA sebagai remaja hanya perlu diberi bimbingan karier agar dapat menguasai keterampilan keputusan karier secara tepat. Remaja belajar dan berlatih membuat rencana, memilih alternatif keputusan, bertindak sesuai dengan hasil keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Siswa yang memiliki keterampilan pengambilan keputusan, tidak akan bingung menghadapi karier masa depannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tingkat career self efficacy siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo? (2) Bagaimana pengambilan keputusan karier siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo? (3) Apakah ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo?. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo tahun pelajaran 2010/2011. Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Tahap pertama dari 17 SMA Negeri yang ada di Kabupaten Probolinggo ditentukan 4 sekolah dan diambil secara random dengan teknik undian. Tahap berikutnya dari setiap sekolah yang terpilih sebagai kelompok sampel, selanjutnya ditentukan jumlah subyek yang dijadikan anggota sampel, dan juga diambil secara random dengan teknik undian. Peneliti mengambil 13% dari jumlah populasi yang ada, sehingga sampel ditentukan sebanyak 225 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa inventori career self efficacy dan inventori pengambilan keputusan karier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) sangat banyak siswa (90,2%) yang memiliki tingkat career self efficacy dalam kategori sedang, sangat sedikit siswa (9,8%) yang memiliki career self efficacy dalam kategori tinggi, dan tidak ada siswa yang memiliki career self efficacy rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo memiliki tingkat career self efficacy dalam kategori sedang; (2) cukup sedikit siswa (46,2%) yang memiliki tingkat pengambilan keputusan dalam kategori tinggi, cukup sedikit pula siswa (53,8%) yang memiliki tingkat pengambilan keputusan karier dalam kategori sedang dan tidak ada siswa yang memiliki tingkat pengambilan keputusan karier yang rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Probolinggo memiliki tingkat pengambilan keputusan karier dalam kategori sedang; (3) ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier sebesar rxy=0,346 dan probability error diperoleh sebesar 0,000 sehingga penambahan tingkat career self efficacy diikuti dengan penambahan tingkat pengambilan keputusan kareir atau penurunan tingkat career self efficacy akan diikuti dengan penurunan tingkat pengambilan keputusan karier. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier diterima. Berdasarkan hasil penelitian bahwa career self efficacy dapat memberikan kontribusi positif dalam pengambilan keputusan karier, diharapkan siswa dapat meningkatkan career self efficacy-nya. Peningkatan career self efficacy dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan karier secara intensif kepada siswa. Konselor perlu melakukan penajaman program di bidang karier agar siswa semakin memahami diri terutama yang berhubungan dengan masalah-masalah karier siswa di masa depan. Dalam menyusun materi bimbingan karier, konselor diharapkn melakukan analisis kebutuhan agar konselor lebih memahami siswa yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap pengambilan keputusan kariernya. Selain itu, konselor perlu mengadakan konseling khusus untuk penjurusan siswa, sehingga penjurusan tidak hanya berdasarkan kriteria nilai.

Pengembangan buku panduan latihan bolabasket: ball handling, dribbling, shooting, passing, dan screening untuk tim bolabasket putri SMA Negeri 4 Malang / Try Hady Mardyanto

 

Kata Kunci:, penelitian pengembangan, buku panduan latihan, bolabasket Tujuan pengembangan buku panduan latihan bolabasket ini adalah mengembangkan buku panduan latihan bolabasket yang nantinya dapat membantu peserta ekstrakurikuler untuk mempercepat proses pemahaman tentang latihan bolabasket. 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi buku panduan latihan bolabasket ini adalah: 1) Riset dan pengumpulan informasi dengan melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan, 2) Pembuatan rancangan produk, 3) Evaluasi para ahli, 4) Pembuatan produk awal, 5) Uji coba kelompok kecil dan melakukan revisi produk pertama., 6) Uji coba kelompok besar dan melakukan revisi produk yang kedua, 7) Produk hasil akhir pengembangan. 7 langkah ini diambil dari Borg dan Gall (1983:77) yang telah dimodifikasi. Data yang didapat dari penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen pengumpulan data diperoleh dengan menyebarkan angket pada penelitian awal, uji ahli yang terdiri dari 2 ahli bolabasket dan 1 ahli media untuk evaluasi terhadap rancangan produk yang akan dibuat, serta uji kelompok kecil dan besar untuk mengetahui apakah produk yang dipakai sudah valid atau belum.. Dari penelitian awal melalui pengisian angket yang disebar pada 14 orang anggota tim bolabasket putri SMA Negeri 4 Malang, diketahui anggota tim yang mengerti dengan instruksi yang diberikan pelatih sebanyak 5 orang (35,7%) dan 9 (64,3%) orang merasa kadang mengerti kadang tidak. Sebanyak 11 orang (78,6%) menerima latihan yang bervariasi dari pelatih dan 3 orang yang merasakan pelatih kadang-kadang memberikan latihan yang bervariasi. Sebanyak 14 orang (100%) manyatakan bahwa di ekstrakurikuler bolabasket belum memiliki buku panduan latihan bolabasket untuk menunjang kegiatan tersebut. Selain itu sebanyak 14 orang (100%) menyatakan setuju jika di ekstrakurikuler bolabasket memiliki buku panduan latihan untuk latihan bolabasket. Hasil yang didapat dari uji ahli bolabasket I adalah gambar lapangan yang dibuat menggunakan gambar lapangan bolabasket yang terbaru (peraturan FIBA 2010). Hasil evaluasi dari ahli bolabasket II adalah materi yang diberikan dari yang mudah ke yang rumit/variasi. Ahli bolabasket II juga menyarankan agar setiap materi yang diberikan hendaknya diperhatikan keefektifannya dengan memperhatikan kualitas gerakan dan durasi waktu materi yang diberikan. Dari hasil uji ahli media adalah tulisan dan gambar judul serta logo Universitas Malang diperjelas. Dari hasil uji coba kelompok kecil didapat rata-rata persentase 94%, yang berarti produk dapat digunakan. Selanjutnya dari hasil uji coba kelompok besar didapat rata-rata persentase 95%, yang berarti produk dapat digunakan.

Peningkatan pembelajaran membaca cepat dengan latihan persepsi kata dan frasa siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pakisaji Malang tahun ajaran 2010/2011 / Lailatul Fitriyah

 

Kata Kunci: pembelajaran membaca, membaca cepat, latihan persepsi. Membaca cepat merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas VIII SMP. Penerapan dalam pembelajaran terdapat dalam KD menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata/menit. Dalam pembelajaran ini siswa tidak hanya harus bisa mempraktikkan membaca cepat namun siswa harus memahami isi teks tersebut. Proses pembelajaran membaca cepat yang belum maksimal meliputi (1) kesiapan siswa membaca cepat, (2) kefokusan terhadap teks bacaan, dan (3) kesungguhan dalam pembelajaran membaca. Oleh karena itu guru perlu menerapkan suatu strategi untuk memaksimalkan proses pembelajaran membaca cepat. Dalam penelitian ini diterapkan strategi latihan persepsi kata dan frasa untuk meningkatkan pembelajaran membaca cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) peningkatan proses pembelajaran membaca cepat dengan latihan persepsi kata dan frasa siswa kelas VIII SMP N 2 Pakisaji, dan (2) peningkatan hasil pembelajaran membaca cepat dengan latihan persepsi kata dan frasa siswa kelas VIII SMP N 2 Pakisaji Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), dan (4) refleksi (reflektion). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) observasi, dan (2) wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. (1) Peningkatan kesiapan siswa dengan kualifikasi siap meliputi; a) siswa membaca tidak menggerakkan kepala, b) siswa membaca tidak menggerakkan bibir, dan c) siswa membaca tidak menggunakan alat bantu penunjuk teks. (2) Peningkatan kefokusan terhadap teks bacaan dengan kualifikasi sangat fokus meliputi: a) siswa memperhatikan isi (ide utama) teks, b) siswa mengabaikan contoh-contoh dalam teks, dan c) siswa mengabaikan kalimat-kalimat penjelas. (3) Kesungguhan dalam pembelajaran membaca cepat dengan kualifikasi sangat sungguh-sungguh meliputi: a) siswa tidak bergurau dengan teman sebangku, b) siswa tidak meninggalkan tempat selama pembelajaran, dan c) siswa tepat waktu dalam membaca cepat. (4) Peningkatan hasil nilai yang berasal dari tes menyimpulkan isi teks. Nilai rata-rata pada siklus I adalah 67. Terdapat 9 siswa (31%) yang nilainya mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Terjadi peningkatan nilai rata-rata pada siklus II. Nilai rata-rata pada siklus II adalah 78. Sebanyak 25 siswa (87%) telah mencapai SKM Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah kepala sekolah diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menambah sarana dan prasarana pembelajaran berupa penyediaan materi bacaan dan juga bahan sebagai latihan persepsi kata dan frasa. Kepada guru agar lebih meningkatkan profesionalisme dalam pengajarannya dengan menggunakan strategi yang lebih bervariasi dan juga lebih memperkaya materi yang disampaikan kepada siswa. Sementara peneliti yang mengadakan penelitian sejenis hendaknya lebih mengembangkan lagi cakupan penelitian sehingga bisa memberikan masukan kepada guru dan juga kualitas pembelajaran bisa menjadi lebih baik.

Aplikasi pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis WEB di Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar / Slamet Rahmanu W.

 

Kata kunci : Kartu Tanda Penduduk (KTP) , Web, Database. Identitas kependudukan adalah kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap warga Negara dimanapun kita berada , salah satu identitas pribadi yang dapat dipercaya keakuratannya adalah KTP (Kartu Tanda Penduduk). Pembuatan KTP (kartu tanda penduduk) bukanlah suatu proses pekerjaan yang sederhana terdapat banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi. Maka dari itu penulis merasa ingin membuat sebuah aplikasi yang dapat mempermudah akses pembuatan KTP (kartu tanda penduduk) yang bisa diakses dimana saja dan kapanpun juga sehingga masyarakat akan mudah dalam membuat sebuah KTP (kartu tanda penduduk). Dalam proyek akhir ini, Permasalahan yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah bagaimana penerapan sistem informasi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis Web yang didukung program Dreamweaver MX 8, PHP (personal home page) dan MySQL. Bagaimana penerapan Aplikasi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis web penerapanya meliputi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) dan pengurusan perpanjangan. Pembuatan Aplikasi Pendaftaran KTP (kartu tanda penduduk) berbasis Web menggunakan bahasa pemrograman PHP (personal home page) dan MySQL sebagai database yang diaplikasikan dengan Macromedia Dreamweaver MX. Perancangan basis data dari suatu Data Base yang kemudian dapat diakses oleh user. Data yang dapat diakses oleh user berupa informasi data KTP (kartu tanda penduduk) maupun perpanjangan data KTP (kartu tanda penduduk).

Optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi (IT) dalam pembelajaran (studi kasus SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang) / Irmawati

 

Kata kunci: optimalisasi, pemanfaatan, teknologi informasi, pembelajaran Kehadiran teknologi multimedia/informasi, bukan lagi menjadi barang mewah karena harganya bisa dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya. Artinya, sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi tersebut sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, kognitif, afektif, psikomotorik, emosional, dan spritualnya. SMA Laboratorium UM merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan teknologi informasi ini dalam pembelajaran serta semua aktivitas/kegiatan yang ada di sekolah. Fokus penelitian ini mengungkapkan: (1) alasan digunakannya teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; (2) penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; (3) dampak penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; (4) faktor pendukung dan faktor penghambat penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM; dan (5) strategi yang dilakukan untuk menanggulangi faktor penghambat penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran di SMA Laboratorium UM. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) analisis dokumen. Data yang diperoleh dengan menggunakan teknik-teknik tersebut selanjutnya dianalisis untuk menyusun temuan penelitian yang diperoleh dari informan kunci yaitu koordinator teknologi informasi, kepala SMA Laboratorium UM, guru, dan pengurus teknologi informasi. Keabsahan data uji dan diperiksa dengan teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik/metode. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) alasan digunakannya teknologi informasi dalam sekolah untuk memajukan sekolah dalam bidang lainnya sehingga dapat menghasilkan prestasi-prestasi lainnya selain dalam bidang akademik; (2) penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran diimplementasikan dengan adanya program SIAP sekolah dalam perencanaan koordinator teknologi sebagai usaha menyukseskan teknologi informasi dalam pembelajaran secara optimal. Proses perencanaan melalui tahapan fungsi manajemen yaitu penyusunan program, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi; (3) dampak yang ditimbulkan dari penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran meliputi dampak positif dan negatif, baik secara materi maupun mental atau psikologis semua personil sekolah; (4) dalam penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat baik yang berasal dari intern maupun ekstern sekolah dengan memanfaatkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang terintegrasi di tubuh SMA Laboratorium UM; dan (5) strategi untuk menanggulangi dampak negatif yang juga menjadi faktor penghambat meliputi inisiatif pengurus teknologi informasi mengadakan pelatihan teknologi informasi bagi bapak/ibu guru, serta mengikuti pelatihan teknologi informasi yang diselenggarakan pihak luar sekolah. Sehingga bapak/ibu guru bisa berpartisipasi dengan melaksanakan teknologi informasi dalam menyelesaikan semua tugasnya. Berdasarkan kesimpulan hasil temuan penelitian, dikemukakan saran-saran berikut, yaitu: (1) kepala sekolah SMA Laboratorium UM, agar membuat standar program kegiatan teknologi informasi dalam pembelajaran untuk pencapaian yang optimal; (2) bagi guru SMA Laboratorium UM, untuk lebik memaksimalkan lagi dalam hal pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran misalnya selalu menggunakan alat atau media teknologi informasi dalam setiap pembelajaran: (3) koordinator teknologi informasi SMA Laboratorium UM, supaya teknologi informasi dalam sekolah khususnya dalam pembelajaran perlu ditingkatkan sehingga dengan begitu tujuan teknologi informasi tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) siswa SMA Laboratorium UM, meningkatkan kualitas kegiatan belajar dari awal menempuh jenjang pendidikan guna mempersiapkan fisik/materi dan mental/psikologis lebih dini; (5) orangtua siswa dan masyarakat, meningkatkan peran orangtua dan masyarakat dalam mendukung dan memotivasi dalam menghadapi teknologi informasi dalam pembelajaran; (6) pegawai tata usaha SMA Laboratorium UM, untuk lebih meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dalam menyelesaikan semua tugasnya; (7) peneliti lainnya, untuk dapat mengembangkan pendekatan lain dan memperdalam fokus penelitian dalam variasi sudut pandang yang berbeda.

Inovasi produk sereal dengan substitusi tepung labu kuning / Sya'idatuz Zaqiyah

 

Kata Kunci: Inovasi, sereal, labu kuning Labu kuning merupakan salah satu buah yang mempunyai kandungan gizi yang baik untuk tubuh. Terdapat beberapa jenis labu kuning yang banyak diperoleh dipasaran, salah satunya adalah labu kuning jenis bokor. Penganekaragaman olahan labu kuning masih terbatas, oleh karena itu pada penelitian ini labu kuning diolah menjadi sereal, karena pada sereal labu kuning juga terdapat kandungan yang hampir sama dengan sereal gandum, yaitu protein tepung labu kuning mengandung protein jenis gluten yang cukup tinggi. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui formulasi resep yang tepat untuk sereal labu kuning dan kesukaan konsumen terhadap warna, rasa, aroma dan tekstur. Proses pembuatan sereal labu kuning diawali dengan pembuatan tepung labu kuning, kemudian ditambah bahan tepung terigu, susu skim, air, telur dan margarin. Lalu dibuat adonan kemudian dicetak dengan opak gapit dan kemudian dihancurkan menjadi serpihan-serpihan (flake). Penulisan ini merupakan laporan dari uji coba resep yang dilakukan sebanyak 3 kali dengan formulasi resep yang berbeda dengan uji kesukaan atau uji hedonik terhadap konsumen yang meliputi aroma, rasa, tekstur dan warna. Konsumen berupa responden yang dijadikan objek pengambilan data uji kesukaan adalah masyarakat umum yang terdiri dari anak-anak, remaja dan orang dewasa sebanyak 80 responden. Analisis data yang digunakan adalah uji kesukaan yang dianalisis menggunakan persentase yaitu (f/n x100%). Hasil dari uji kesukaan sereal labu kuning 92,5% konsumen menyukai rasa, 95% konsumen meyukai warna, 86,25% konsumen menyukai tekstur sedangkan 80% konsumen menyukai aroma. Kesimpulan yang dihasilkan dari penulisan ini adalah memperoleh prosedur pembuatan sereal labu kuning yaitu buah labu kuning dijadikan tepung, kemudian dicampur dengan bahan-bahan sereal lain yaitu air, telur, margarin, tepung terigu dan susu skim, setelah itu dicetak dengan cetakan opak gapit, kemudian dihancurkan menjadi serpihan-serpihan kecil (flake).  

Perbedaan kualitas produk media pembelajaran antara mahasiswa fisika yang belajar dengan pembelajaran individu dan kolaboratif melalui model think-pair-share (TPS) / Bayu Amijaya

 

Kata kunci: Kualitas Produk Media Pembelajaran, Pembelajaran Individu, Pembelajaran Kolaboratif, Think-Pair-Share (TPS) Media pembelajaran merupakan sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, merangsang pikiran dan perasaan, serta kemauan siswa, sehingga dapat menen-tukan kesuksesan proses belajar mengajar di kelas. Sebagai calon guru, mahasiswa dituntut untuk mampu membuat media pembelajaran dengan kualitas yang baik dengan rentang skor 85-100. Sebelum pemberian perlakuan dilaksanakan, hasil observasi dan wawancara dengan dosen pengampu menunjukkan bahwa nilai kualitas media yang dibuat oleh mahasiswa sebesar 65.71. Nilai ini lebih kecil dari rentangan disebabkan oleh kecerdasan mahasiswa yang beragam serta pembelajaran yang selama ini dilakukan belum tepat. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas media pembelajaran yang dibuat oleh mahasiswa ini adalah dengan menggunakan metode pembelajaran kolaboratif melalui model pembelajaran TPS. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Experimetal) dengan desain yang digunakan adalah The Matching Only Posttest Control Group Design. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik pengukuran dan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis parametrik dengan metode analisis kovarian. Analisis data menghasilkan informasi mengenai kualitas media pembelajaran yang dibuat oleh mahasiswa. Hasil uji hipotesis I menunjukkan terdapat perbedaan kualitas produk media pembelajaran yang signifikan antara mahasiswa yang belajar dengan metode pembelajaran kolaboratif melalui model TPS dan yang belajar dengan pembelajaran secara individual. Hasil uji hipotesis II menunjukkan tidak terdapat perbedaan kualitas produk media pembelajaran yang signifikan antara mahasiswa laki-laki yang belajar dengan metode pembelajaran kolaboratif melalui model TPS dan yang belajar dengan pembelajaran secara individual. Hasil uji hipotesis III menunjukkan terdapat perbedaan kualitas produk media pembelajaran yang signifikan antara mahasiswa perempuan yang belajar dengan metode pembelajaran kolaboratif melalui model TPS dan yang belajar dengan pembelajaran secara individual. Hasil uji hipotesis IV dan V dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kualitas media pembelajaran yang dibuat oleh mahasiwa laki-laki dan perempuan di masing-masing kelas.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok bahasan listrik dinamis untuk SMA/MA kelas X semester genap / Ino Angga Putra

 

Kata kunci: Bahan ajar fisika, PBL (Problem Based Learning), nilai-nilai kewirausahaan, listrik dinamis. Peraturan Mendiknas No 17 Tahun 2006 menyatakan bahwa pendidikan menengah bertujuan membentuk peserta didik menjadi insan berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif. Di lain pihak, hasil survei terhadap siswa dan guru me-nunjukkan bahwa sangat diperlukan bahan ajar fisika yang dapat melatih dan mengembangkan berpikir kritis dan kreatif serta penanaman nilai-nilai kewira-usahaan. Hasil pengamatan di beberapa toko buku di Malang menunjukkan bahwa belum banyak ditemukan bahan ajar fisika yang dapat mengembangkan berpikir kritis dan kreatif siswa serta penanaman nilai-nilai kewirausahaan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan menyusun bahan ajar fisika berbasis PBL (Pro-blem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok baha-san Listrik Dinamis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan kelayakan bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok bahasan Listrik Dinamis. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan lima langkah awal metode Borg dan Gall, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draf produk, uji coba, dan revisi hasil uji coba. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji validitas oleh tim ahli materi (dosen Fisika) dan pengguna bahan ajar (guru Fisika MA Negeri 3 Malang). Selain itu, terkait dengan keterbacaan bahan ajar maka dilakukan uji keterbacaan oleh sepuluh siswa MA Negeri 3 Malang yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah dengan mengisi angket dan membaca bahan ajar, kemudian menandai kata-kata sulit dan kalimat yang belum dipahami. Hasil validasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausa-haan pada pokok bahasan listrik dinamis memperoleh nilai rata-rata 3,57 yang berarti layak. Bahan ajar ini perlu dilakukan perbaikan berdasarkan saran dan kritik dari tim validator. Bahan ajar fisika ini belum dapat digunakan untuk pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk mela-kukan penelitian pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar fisika tersebut dengan melakukan kajian eksperimen dan uji coba yang lebih luas, sehingga di-peroleh bahan ajar fisika berbasis PBL (Problem Based Learning) dan penanaman nilai-nilai kewirausahaan pada pokok bahasan listrik dinamis yang teruji validitasnya secara empiris dan siap digunakan.

Karakterisasi dan identifikasi bakteri-bakteri termofilik yang terdapat dalam sumber air panas di Detusoko, Kabupaten Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur / Ferdinandus Nawa

 

Kata kunci: karakterisasi, identifikasi bakteri termofilik, sumber air panas, Detusoko, Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur Masyarakat Kabupaten Ende memanfaatkan sumber air panas yang terdapat di Detusoko, Kabupaten Ende-Flores, Nusa Tenggara Timur sebagai tempat pemandian dan juga pengobatan penyakit. Pada sumber air panas ini terdapat bakteri yang memiliki kemampuan untuk bertahan hidup yang tergolong dalam bakteri termofilik. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui karakter dan identifikasi spesies-spesies bakteri termofilik yang terdapat dalam sumber air panas di Detusoko, Kabupaten Ende Flores -Nusa Tenggara Timur, 2) mengetahui spesies bakteri termofilik yang paling dominan terdapat dalam sumber air panas di Detusoko, Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, pada bulan Januari sampai dengan April 2011. Penelitian ini menggu-nakan metode deskriptif observasional. Sumber air panas yang digunakan dalam penelitian ini di peroleh dari 3 sumber air panas yang terdapat di Detusoko, Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Sumber air panas diambil 100 ml untuk masing-masing sumber dan 25 ml untuk diaklimatisasi menggunakan shaker selama 1x 24 jam. Setelah aklimasi di ambil 10 ml dilarutkan ke dalam 90 ml air pepton 0,1%, sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5 dan 10-6. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium Nutrien Agar (NA) sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 37C0 selama 1 x 24 jam. Kemudian dilakukan isolasi, deskripsi ciri-ciri morfologi dan sel secara mikroskopis sampai dengan tingkat genus, serta dilanjutkan dengan identifikasi spesies-spesies bakteri yang diujikan di Labortorium Mikrobiologi Kedokteran Universitas Brawijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies bakteri termofilik yang terdapat dalam sumber air panas yang terdapat di Detusoko, Kabupaten Ende Nusa Tenggara Timur telah ditemukan 8 isolat bakteri termofilik dengan kode A ialah Vibrio alginoliticus, isolat dengan kode B ialah Seratia marcescens, isolat dengan kode C ialah Pseudomonas putida, isolat dengan kode D ialah Bacillus mycoides, isolat dengan kode E ialah Pseudomonas cepacia, isolat dengan kode F ialah Pseudomonas stutzeri , isolat dengan kode G ialah Actinobacillus haemoliticus, dan isolat dengan kode H ialah Acinetobacter baumannii. Hasil pengamatan morfologi koloni bakteri pada umumnya koloni berwarna putih dengan beberapa variasi, kecuali koloni dengan kode H yang berwarna merah muda. Tepi koloni pada umumnya licin, kecuali koloni dengan kode C yang bersifat berlekuk, dan koloni dengan kode D yang bersifat tidak beraturan. Adapun berdasarkan hasil pengamatan sel secara mikroskopis bahwa bentuk sel bakteri terdiri dari streptococcus, yaitu koloni dengan kode A dan E; streptobacillus, yaitu koloni B, D, F, G, dan H; sedangkan hasil pengamatan sifat Gram, pada umumnya bersifat Gram negatif, kecuali koloni D bersifat Gram positf. Berdasarkan jumlah perhitungan spesies bakteri yang paling dominan adalah isolat dengan kode B ialah Seratia marcescens dengan jumlah koloni 2,9 x 106 cfu/ml sampel air

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 |