Perbedaan kemampuan interaksi sosial antara remaja adiksi internet dengan remaja non-adiksi di Universitas Negeri Malang / Endhi Ratnani Firdausi

 

Kata kunci: interaksi sosial, adiksi internet Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan interaksi antara remaja adiksi internet dengan remaja non-adiksi di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukan kepada 85 mahasiswa Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan dengan skala internet addiction disorder (koefisien relibialitas 0,938) dan skala kemampuan interaksi sosial (koefisien relibialitas 0,890). Data dianalisis dengan uji Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kemampuan interaksi sosial antara remaja adiksi internet dengan remaja non-adiksi di Universitas Negeri Malang dengan nilai t sebesar -5,626, nilai F sebesar 0,016, serta signifikansi (0,000 < 0.05).

Pengaruh sikap terhadap tayangan iklan di media televisi dengan perilaku konsumtif mahasiswa di Universitas Negeri Malang / Pitra Nervie

 

Kata Kunci: sikap terhadap iklan televisi, perilaku konsumtif, mahasiswi Remaja biasanya mudah terbujuk oleh rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, dan cenderung boros dalam menggunakan uang (Tambunan, 2001). Iklan merupakan informasi yang memberikan berita yang up to date kepada konsumen mengenai produk yang bertujuan menjaga tingkat produksi. Iklan ternyata mampu menumbuhkan sikap konsumerisme masyaratkat, sehingga masayarakat mengkonsumsi barang dan jasa secara berlebihan (Widyatama, 2007). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) sikap mahasiswi di Universitas Negeri Malang terhadap iklan di televisi (2) perilaku konsumtif pada mahasiswi di Universitas Negeri Malang (3) pengaruh sikap terhadap tayangan iklan di televisi terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswi di Universitas Negeri Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi di Universitas Negeri Malang, sampel dalam penelitian ini berjumlah 80 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan dua instrumen (1) skala sikap terhadap iklan di televisi dengan reliabilitas 0,934 (2) skala perilaku konsumtif dengan reliabilitas 0,893. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Subjek memiliki sikap positif terhadap iklan di televisi sebanyak 10 orang (12,5% ), memiliki sikap netral 56 orang (70%), dan yang memiliki sikap negatif sebanyak 14 orang (17,5%). (2) Subjek sebagian besar memiliki perilaku konsumtif dalam tingkatan sedang yaitu sebanyak 52 orang (65%), 15 orang (18,75%) dalam tingkat yang tinggi, dan 13 orang (16,25%) termasuk dalam tingkat rendah. (3) Uji regresi dengan menggunakan analisis Regresi Linier diperoleh bahwa terdapat pengaruh sikap terhadap tayangan iklan di televisi terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswi di Universitas Negeri Malang. Disarankan pada mahasiswi untuk mengurangi atau menghilangkan pola perilaku konsumtif khususnya dalam mengkonsumsi kosmetik. Diharapkan pada pengiklan dapat membuat tayangan iklan yang dapat menimbulkan sikap positif terhadap yang melihatnya, dengan cara menumbuhkan ketertarikan dan kepercayaan akan produk yang diiklankan sehingga konsumen akan mengkonsumsi produk tersebut. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan meneliti variabel-variabel lain agar dapat mendeskripsikan fenomena perilaku konsumtif dengan lebih mendalam dan memperluas populasi penelitian agar hasil penelitian yang diperoleh menjadi lebih variatif dan lebih akurat. Perbaikan instrumen dan teknik analisis juga perlu dilakukan agar hasil yang didapat lebih maksimal.

Pengaruh bauran eceran (retailing mix) terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada Apolo Swalayan Jombang) / Retno Sari Dewanti

 

Kata kunci: Bauran eceran, keputusan pembelian konsumen. Seiring dengan perkembangan dunia bisnis dan kebutuhan manusia akan barang dan jasa, banyak bermunculan perusahaan dagang yang bergerak di bidang perdagangan eceran (retail) yang berbentuk toko, minimarket, pasar swalayan dan lain-lain. Jumlah pasar swalayan yang semakin meningkat tersebut menyebabkan persaingan yang semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat menuntut pelaku bisnis untuk pandai-pandai mengatur strategi untuk dapat memenangkan persaingan yaitu dengan mengembangkan strategi-strategi pemasaran berdasarkan sasaran dan rencana strategis keseluruhan. Strategi-strategi yang digunakan pengecer untuk mencapai sasarannya yaitu dengan merumuskan bauran eceran (retailing mix). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi bauran eceran (retailing mix) dan keputusan pembelian konsumen pada Apolo walayan, Jombang, (2) Pengaruh positif bauran eceran (retailing mix) secara parsial yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan, Jombang, (3) Pengaruh positif bauran eceran (retailing mix) secara simultan yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan, Jombang. (4) serta untuk mengetahui elemen bauran eceran (retailing mix) yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian di Apolo Swalayan, Jombang. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari Merchandise (X1), harga (X2), Lokasi (X3), Promosi (X4), retail service (X5), atmosphere (X6),dan variabel terikatnya adalah keputusan pembelian konsumen (Y). Jenis dari penelitian ini adalah asosiatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pembelian di Apolo Swalayan Jombang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 responden. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus untuk populasi tak terhingga.. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner, skala pengukuran yang dipakai adalah Skala Likert (Sangat Setuju, Setuju, Cukup Setuju, Kurang Setuju, dan Tidak Setuju). Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X1) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,264 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X2) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,312 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X3) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,184 dan sig t = 0,003, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X4) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,185 dan sig t = 0,020, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X5) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,127 dan sig t = 0,003, tidak terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X6) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,031 dan sig t = 0,693. (2) Terdapat pengaruh merchandise (X1), harga (X2), lokasi (X3), promosi (X4), retail service (X5), atmosphere (X6),secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen berdasarkan nilai Fhitung sebesar 51,193 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari bauran eceran yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen adalah harga (X2) dengan nilai sumbangan efektif sebesar 22,5%. Selain itu, dalam diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,753, ini berarti bahwa variabel merchandise, harga, lokasi, promosi, retail service dan atmosphere secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian sebesar 75% sedangkan sisanya sebesar 25% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1)Variabel bauran eceran (retail mix) yang terdiri dari variabel merchandise, harga, lokasi, promosi, lokasi, retail service dan atmosphere mempengaruhi keputusan pembelian Apolo Swalayan Jombang baik secara simultan maupun parsial. (2) Setiap variabel bauran eceran (retail mix) dapat mempengaruhi penjualan di Apolo Swalayan Jombang dan satu sama lain saling mempengaruhi. (3) Dari hasil uji t diketahui bahwa variabel yang memiliki nilai koefisien Beta yang distandarisasi yang terbesar adalah variabel harga (X2). Hal ini membuktikan bahwa harga merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan Jombang. (4) Variabel atmosphere kurang berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen Apolo Swalayan. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pengelola Apolo Swalayan Jombang perlu memperhatikan pengaruh bauran eceran terhadap keputusan pembelian konsumen dalam penyusunan rencana maupun strategi pemasaran Apolo Swalayan Jombang. (2) pengelola Apolo Swalayan dapat melakukan penetapan harga yang mampu bersaing dengan Swalayan lain. (3) pengelola Apolo Swalayan diharapkan dapat melakukan peningkatan kualitas dalam toko, misalnya dalam segi desain interior dan eksterior, memperhatikan suhu ruangan agar membuat konsumen nyaman dalam berbelanja, dll. (4) meningkatkan pelayanan terhadap konsumen sangat penting untuk memberikan kesan yang positif dengan cara pelatihan karyawan dalam melayani baik keterampilan teknis maupun keterampilan antarpribadi. Yang dapat diwujudkan dari komitmen semua karyawan untuk meningkatkan pelayanan (5) bagi peneliti lain yang berminat mengembangkan studi ini disarankan untuk lebih memperdalam kajian melalui pengembangan item-item pernyataan untuk variabel-variabel bauran eceran (retail mix) dan meneliti variabel-variabel lain yang belum masuk dalam model, karena dalam penelitian ini masih terdapat variabel lain yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian yang ditunjukkan dengan sisa nilai adjusted R square sebesar 25%.

Penerapan media brettspiel dalam keterampilan berbicara bahasa Jerman siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang / Arif Yanuar Pribadi

 

Kata Kunci: Media, Brettspiel, Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman. Media adalah alat pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajar bahasa Jerman. Brettspiel merupakan salah satu jenis media pengajaran. Dengan menggunakan Brettspiel guru dapat memberikan rangsangan kepada siswa. Cara bermain media tersebut yaitu dengan bantuan lawan dan tema bicara. Brettspiel dimainkan di atas papan. Untuk itu dibutuhkan pion, kartu, dan dadu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerapan media Brettspiel dalam keterampilan berbicara Bahasa Jerman siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang. Jawaban angket siswa dan hasil observasi digunakan untuk mengetahui penerapan media Brettspiel dalam keterampilan berbicara Bahasa Jerman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dapat lebih aktif dalam berbicara Bahasa Jerman. Enam dari delapan siswa berpendapat bahwa materi pada media Brettspiel sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengetahuan siswa. Disarankan kepada guru bahasa Jerman untuk mengatur tempat duduk siswa dengan baik sebelum bermain. Guru disarankan agar memperbaiki pelafalan bahasa Jerman siswa menjadi lebih baik lagi. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menyempurnakan permainan ini dengan materi atau tema yang lain.

Evaluasi automatic voltage regulator pada generator sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Kelurahan Temas Kota Batu / Jajang Candra Lesmana

 

Kata Kunci: generator sinkron, AVR, mikrohidro, brush exitation. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang terdapat di Kelurahan Temas, Kota Batu. PLTMh tersebut merupakan suatu pembangkit yang perlu di kembangkan, sehingga pembangkit yang sudah ada dapat difungsikan secara optimal, dimana daya keluaran yang dihasilkan sekitar 4,43 kW dengan kapasitas total generator 10 kW. Penulis akan membahas tentang studi evaluasi terhadap generator PLTMh di Kelurahan Temas, Kota Batu dan perencanaan Automatic Voltage Regulator (AVR) pada generator sinkron 1 fasa yang difungsikan sebagai alat pengatur pada sistem penguatan kutub generator tipe Brush Exitation menggunakan sikat-sikat sebagai penghubung dengan slipring pada rotor. Dari hasil pengujian terhadap generator tanpa beban, diketahui daya keluaran generator menunjukkan bahwa jumlah putaran generator pada saat mencapai 1500 rpm menghasilkan tegangan keluaran 230 Volt, dimana hal tersebut sudah sesuai dengan data nameplate pada generator. Sedangkan pada pengujian berbeban baik pada saat frekuensi tetap maupun tegangan tetap menunjukkan penurunan keluaran generator pada setiap kenaikkan beban yang mengakibatkan generator menjadi berputar pelan dan berat, beban yang digunakan mencapai 935 Volt. Dalam pengevaluasian ini, dirancang sebuah Automatic Voltage Regulator (AVR) yang berfungsi untuk memberikan arus eksitasi pada penguatan kutub jenis Brush Exitation yang dihubungkan ke slipring rotor dengan menggunakan sikat-sikat arang. Dimana AVR mampu menghasilkan tegangan keluaran VDC maksimal 60,65 Volt pada saat tegangan input mencapai 150-165 Volt dengan kondisi potensiometer pengatur tegangan input AVR menunjukkan posisi setegah terbuka, apabila potensiometer terbuka penuh maka keluaran AVR mencapai 75,23 VDC. Dan pada saat input > 220 Volt maka tegangan output AVR akan turun hingga mencapai 23 VDC.

Using pictures to improve the speaking skill of the seventh graders of MTs Al-Madany Menganti Gresik in delivering oral description / Siswa Yusbido

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd. (2) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd. Key words: Pictures, Improving Speaking Skill, Delivering Oral Description. The objective of the research is to improve the speaking skill of the seventh graders of MTs Al-Madany Menganti-Gresik by using the pictures. This research was conducted on the basis of the result of preliminary study of the seventh graders of MTs Al- Madany Kec. Menganti Kab. Gresik showed that the speaking skill in delivering oral description was not sufficient based on the minimum adequacy criterion (Kriteria Ketuntasan Minimum) that was 6.0. The students’ average score was 2,5 or only 2 of eighteen students could pass. By using the pictures of people the researcher is greatly motivated to solve some problems arising in the teaching of speaking skill. This research employed classroom-action research design to improve the students’ speaking skill using picture with the research problem: How can using pictures improve the speaking skill of seventh grade students at MTs Al - Madany Kec. Menganti Kab. Gresik in delivering oral description? The procedure of the research consisted of four main steps i.e. planning, implementing, observing and reflecting. This research was conducted in two cycles. Each cycle comprised two meetings. The subjects of the study were class VII of MTs Al-Madany Kec. Menganti Kab. Gresik in the 2010-2011 academic years consisting18 students. The instruments for collecting the data were questionnaire, observation checklist, field notes, and speaking assessment. Implementing pictures for teaching speaking involves: 1) show some pictures to the students, 2) guide students to find some words based on the pictures, 3) asking questions to the students to check the students’ understanding about words related to the pictures, 4) translating and pronouncing the words to make clear what the pictures are about while teacher writes the description of pictures on the board to become a model in describing someone for the students, 5) dividing the students into four or five groups to do short question and answer base on the pictures given, 6) giving a model in describing someone trough pictures, 7) asking the students to make brief notes of their ideas based on the pictures, 8) asking and guiding the students to do a monolog in describing someone based on the pictures, 9) correcting the student’s pronunciation and grammar usage, 10) asking the students with the different pictures in each group or individually to practice more in or out of class to develop their speaking ability. The finding of the research indicated that the uses of pictures were successful in improving students’ speaking skill based on the students’ speaking performance that could achieve the criteria of success (60% students achieve the standard minimum score 60). The improvement could be seen from the increase of the students’ speaking assessment in cycles one two. It found that 5 (28%) of the students who got 34-54 (Poor Score), 7 (39%) of the students who got 55-64 (Average Score), 4 (22%) of students who got 65-84 (Good Score) and 2 (11%) of the students who got 85-100 (Very Good Score) in cycle one. And in cycle two, 1 (6%) of the students who got 34-54 (Poor Score), 5 (28%) of the students who got Average Score, 8 (44%) of students who got 65-84 (Good Score) and 4 (22%) of the students who got 85-100 (Very Good Score). Based on the improvement of the students’ speaking skill after the implementation of using pictures of people in teaching speaking, it is suggested the English teacher and other language teachers who have similar classroom problems to implement the technique in their class particularly in the speaking class. To the principals, they should provide facilities of media to improve the English teachers’ teaching quality, to socialize the teaching technique to the teachers, and to hold an in-service training about teaching methods for the English teachers. For the future researchers, they should conduct the research more attentive with some students’ obstacles arising like pronunciation, grammar and background knowledge of vocabularies, besides implementing pictures in teaching other language skills such as listening and writing.

Pengembangan bahan ajar Computer Assisted Instruction (CAI) IPA terpadu tema air limbah rumah tangga sebagai media belajar siswa SMP/MTs kelas VII / Lailatul Masruroh

 

Kata kunci: CAI, IPA terpadu, media belajar, tema air limbah rumah tangga. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA untuk SMP/ MTs merupakan IPA terpadu. Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran terpadu. Pengembangan bahan ajar IPA Terpadu harus disesuaikan dengan perkembangan IPTEK. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dan pengembangan dengan tujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan Bahan Ajar Computer Assisted Instruction (CAI) IPA Terpadu Tema Air Limbah Rumah Tangga sebagai Media Belajar Siswa SMP/MTs Kelas VII. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan metode Borg dan Gall, yaitu (1) studi pendahuluan yang terdiri dari studi pustaka, survei lapangan, dan rencana pengembangan, (2) pengembangan draft produk yang terdiri dari draft produk, uji kelayakan, revisi draft produk, dan produk hasil pengembangan. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji kelayakan oleh ahli media (dosen Fisika dan Biologi) dan ahli materi (dosen Biologi dan guru IPA SMP). Desain uji coba dalam pengembangan bahan ajar CAI ini adalah uji coba terbatas pada siswa SMP Lab UM. Jenis data ada dua yaitu data kuantitatif dan data kualitatif untuk perbaikan bahan ajar CAI. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis skor rata-rata. Hasil analisis rata-rata evaluator ahli media menunjukkan nilai tingkat kelayakan sebesar 3,43 (layak), ahli materi sebesar 3,60 (layak), dan audiens sebesar 3,32 (layak). Secara keseluruhan diperoleh rata-rata total sebesar 3,45 yang berada pada kategori layak. Berdasarkan analisis data kualitatif dari ahli media dan ahli materi, terdapat beberapa bagian produk yang perlu direvisi. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat bahan ajar CAI sebagai media belajar di sekolah maupun mandiri. Berdasarkan perolehan uji kelayakan dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar CAI (Computer Assisted Instruction) IPA Terpadu Tema Air Limbah Rumah Tangga untuk Siswa SMP/MTs Kelas VII ini layak untuk digunakan sebagai media belajar siswa.

Peningkatan pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Mergosono 2 Malang melalui penerapan problem-based learning / Wiwied Endrayeni

 

Kata-kata kunci : Pembelajaran, Model Problem-Based Learning, IPA Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pada umumnya guru IPA terpaku pada metode ceramah, Hasil observasi menyatakan dengan metode ceramah aktivitas siswa cenderung pasif dan hasil belajar siswa rendah. Problem-Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model Problem-Based Learning pada pelajaran IPA di kelas III SDN Mergosono 2, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran, (3) hasil belajar siswa dengan diterapkannya model Problem-Based Learning pada mata pelajaran IPA. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kurt Lewin dengan tahapan perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Mergosono 2 dengan jumlah siswa 33, laki-laki sebanyak 15 siswa dan perempuan sebanyak 18 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning dapat dilaksanakan sesuai dengan tahapan-tahapannya yaitu (1) mengorientasi siswa pada masalah, (2) mengarahkan siswa untuk belajar, (3) membimbing siswa menemukan penjelasan dan pemecahan masalah, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung pada siklus I sebesar 74,5, meningkat pada siklus 2 menjadi 87. Hasil belajar pada siklus I mempunyai rata-rata kelas sebesar 72 meningkat pada siklus II menjadi 87. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Problem-Based Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Jika peneliti lain ingin menggunakan model Problem-Based Learning dalam penelitiannya disarankan agar memperhatikan pengorganisasian siswa. Selain itu materi pokok yang digunakan juga perlu diperhatikan supaya pembelajaran dapat lebih dikemban

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang melalui model Attention Relevance Confidance Satisfaction (ARCS) / Riyani

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, SD, Model ARCS Model ARCS merupakan model pembelajaran yang menitik beratkan pengelolaan dan peningkatan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada saat pembelajaran IPA di kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru, pembelajaran kurang bervariasi, aktivitas siswa terlihat kurang aktif dan banyak yang mengantuk. Dari nilai siswa pada materi menggolongkan hewan berdasarkan makanannya menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 48,88 dengan ketuntasan kelas 13%, sedangkan KKM yang ditentukan adalah 70.00 untuk hasil belajar dan 75% untuk ketuntasan kelas. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan upaya perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran ARCS. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model ARCS untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model ARCS, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model ARCS. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru mata pelajaran IPA sebagai pengamat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran ARCS pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang dengan standar kompetensi “Menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya” dapat dilaksanakan dengan baik sesuai rencana. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam menerapkan model ARCS pada siklus I yaitu 75% dan meningkat pada siklus II menjadi 92,5%. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 10,80% menjadi 12,71% pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 62,82 dengan ketuntasan 46% pada siklus I menjadi rata-rata 70,64 dengan ketuntasan kelas mencapai 92% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam menerapkan model ARCS ini hendaknya guru mempersiapkan rencana pembelajaran yang matang, Pembelajaran hendaknya terpusat pada siswa, guru memberikan penghargaan berupa hadiah kecil pada siswa yang aktif dalam pembelajaran.

Analisis satuan biaya pendidikan mahasiswa Universitas Negeri Malang / Ahmad Rahman Budiman

 

Kata Kunci: analisis, satuan biaya pendidikan, mahasiswa Pendidikan tidak dapat terhindar dari adanya suatu biaya. “Biaya pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan” (Supriadi, 2004:3). Tanpa dukungan biaya, proses pendidikan tidak dapat berjalan dengan lancar. Menurut Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008, “pendanaan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat”. Saat ini mayoritas orang menganggap, bahwa biaya pendidikan semata-mata hanya menjadi tanggung jawab pemerintah; padahal tidak sedikit orangtua dan calon mahasiswa yang telah menyadari, bahwa kuliah di perguruan tinggi dipandang sebagai investasi bagi masa depan mereka. Sementara itu, pemerintah belum bisa memastikan biaya pendidikan di perguruan tinggi yang ideal dan masyarakat mengeluhkan akan tingginya biaya pendidikan di perguruan tinggi, namun keluhan mereka tidak rasional karena tidak menyertakan rincian seberapa besar biaya pendidikan yang diperlukan. Sudah banyak studi, diskusi, dan perhitungan biaya pendidikan yang berbasis dana pemerintah dengan mengabaikan dana dari mahasiswa itu sendiri dan masyarakat. Sementara, dana yang dibelanjakan oleh mahasiswa untuk pendidikannya, misalnya untuk membeli buku kuliah, membayar sewa kamar, biaya konsumsi sehari-hari, dan lain-lain tidak pernah dihitung secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Besar biaya langsung yang dikeluarkan mahasiswa Universitas Negeri Malang per tahun, (2) Besar biaya tidak langsung yang dikeluarkan mahasiswa Universitas Negeri Malang per tahun, (3) Besar biaya pendidikan yang dikeluarkan mahasiswa Universitas Negeri Malang per tahun. Biaya yang diteliti meliputi besarnya biaya langsung yang terdiri dari biaya pokok, merupakan biaya yang dibebankan pihak universitas kepada mahasiswa untuk dapat menempuh proses pendidikan, biaya tidak langsung yaitu biaya ekstra dan biaya hidup, yang merupakan biaya penunjang proses pendidikan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang dilaksanakan di Universitas Negeri Malang (UM) dengan jumlah populasi mahasiswa UM yang berjumlah 19645 orang mahasiswa. Digunakan rumus Sample Size Formula Slovin, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 392 orang mahasiswa. Penelitian ini subjeknya berjenjang mulai mahasiswa tahun angkatan 2007, 2008, 2009, dan 2010 serta S1, S2, S3. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik proportional stratified random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi sebagai pendukung. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa biaya langsung mahasiswa UM termasuk kategori sedang. Dan rata-rata biaya langsung per tahun mahasiswa FE sebesar Rp 3.490.977,00; FIK sebesar Rp 3.289.586,00; FIP sebesar Rp 3.064.061,50; FIS sebesar Rp 3.293.600,50; FMIPA sebesar Rp 3.546.817,20; FS sebesar Rp 3.270.756,50; FT sebesar Rp 3.716.440.30; Program Magister sebesar Rp 13.695.001,00; dan Program Doktor sebesar Rp 14.022.223,00. Biaya tidak langsung mahasiswa UM termasuk kategori rendah. Dan rata-rata biaya tidak langsung per tahun, mahasiswa FE sebesar Rp 16.207.815,00; FIK sebesar Rp 16.691.089,25; FIP sebesar Rp 14.948.188,00; FIS sebesar Rp 15.378.289,00; FMIPA sebesar Rp 13.434.437,00; FS sebesar Rp 15.443.430,00; FT sebesar Rp 16.588.784,00; Program Magister sebesar Rp 27.721.252,00; dan Program Doktor sebesar Rp 26.651.369,00. Biaya pendidikan mahasiswa UM termasuk kategori sedang. Dan rata-rata biaya pendidikan per tahun, mahasiswa FE sebesar Rp 19.698.792,00; FIK sebesar Rp 19.980.675,25; FIP sebesar Rp 18.012.249,50; FIS sebesar Rp 18.671.889,50; FMIPA sebesar Rp 16.981.254,20; FS sebesar Rp 18.714.186,50; FT sebesar Rp 20.305.224,30; Program Magister sebesar Rp 41.416.253,00; dan Program Doktor sebesar Rp 40.673.592,00. Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka implikasi hasil penelitian ini adalah (1) Ditemukan perbedaan mencolok antara biaya langsung dan biaya tidak langsung, seharusnya mahasiswa atau orangtua mahasiswa menekan komponenkomponen biaya tidak langsung sehingga dapat menghemat pengeluaran, (2) Jika konsolidasi penghematan atas biaya tidak langsung sudah dilakukan dan tetap lebih tinggi daripada biaya langsung, maka harus dilakukan kebijakan menekan opportunity cost dengan langkah kuliah sambil bekerja, (3) Harus dikaji kembali kebijakan pemerintah terhadap pembiayaan pendidikan mengingat apabila investasi pada pendidikan tinggi selama 5 tahun menghabiskan dana Rp 95.000.000,00 dan lost of opportunity cost sejumlah itu pula, maka seharusnya tidak perlu kuliah terlebih dahulu. Lebih baik dana itu digunakan untuk modal usaha dan setelah produktif dapat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Berdasarkan implikasi hasil penelitian, maka dikemukakan saran bagi (1) Rektor UM, mempertimbangkan adanya penetapan tarif pendidikan di UM berdasarkan kemampuan finansial mahasiswa dan fasilitas atau layanan yang disediakan, (2) Mahasiswa dan orangtua mahasiswa UM, hendaknya mahasiswa juga harus berkreasi meciptakan lapangan kerja sendiri (wirausaha) atau kuliah sambil bekerja untuk menekan biaya ekstra. Dan karena biaya pendidikan mengalami kenaikan setiap tahun, hendaknya orangtua menyisihkan pendapatannya, misalnya dengan mengikuti program asuransi pendidikan, (3) Dosen UM, hendaknya memanfaatkan teknologi dalam melaksanakan perkuliahan dengan memberikan materi atau tugas perkuliahan kepada mahasiswa dalam bentuk soft copy sehingga terjadi efisiensi biaya ekstra, (4) Peneliti lain, untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang hilangnya biaya kesempatan (lost of opportunity cost) yang disebabkan oleh adanya pendidikan.

Pengaruh waktu kontak dan konsentrasi Pb2+ (sebagai garam nitrat) terhadap adsorpsi ion No3- (sebagai garam Cd(NO3)2) menggunakan adsorben nata de coco dengan metode Batch / Binti Afifah

 

Kata kunci : adsorben, adsorpsi, nata de coco, klorofil Adsorpsi merupakan suatu peristiwa yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik antara molekul-molekul adsorbat dengan permukaan adsorben. Berbagai jenis adsorben telah banyak digunakan, diantaranya yaitu sekam padi, serbuk gergaji kayu lamtoro gung, dan arang komersial. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh adanya ion penganggu Pb2+ pada berbagai variasi konsentrasi dan variasi waktu kontak terhadap adsorpsi ion NO3- serta studi profil penyerapan senyawa klorofil oleh serbuk nata de coco. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan dilakukan di Laboratorium Jurusan Kimia dan Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Metode yang digunakan adalah metode batch. Dalam penelitian ini digunakan 1 gram nata de coco kering dengan ukuran 30-40 mesh. Adsorbat yang digunakan yaitu adsorbat anorganik yang merupakan campuran dari Cd2+ dan Pb2+ dengan variasi konsentrasi Pb2+ (0, 10, 25, dan 50 ppm) dengan variasi waktu kontak (20, 40, dan 60 menit) dan adsorbat organik yang berupa klorofil dengan variasi pengenceran 50 dan 100 kali. Sampel anorganik sebanyak 50 mL adsorbat dimasukkan dalam erlenmeyer yang sudah berisi serbuk nata de coco. Campuran dikocok dengan kecepatan 100 rpm pada tiap variasi waktu kontak dan variasi konsentrasi. Setelah proses adsorpsi dilakukan penyaringan. Filtrat yang diperoleh dianalisis dengan metode spektrofotometri yaitu direaksikan dengan larutan fenoldisulfonat dan amoniak, yang diukur pada λ= 410 nm. Adsorpsi senyawa klorofil dilakukan dengan sebanyak 50 mL sampel dimasukkan dalam erlenmeyer yang sudah berisi serbuk nata de coco. Campuran dikocok dengan kecepatan 100 rpm selama 20 menit kemudian disaring. Analisis filtrat dilakukan metode spektrofotometri yang diukur pada λ= 398 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) persen teradsorpsi ion nitrat menurun seiring dengan kenaikan konsentrasi ion Pb2+ (2) pengaruh waktu kontak terhadap persentase teradsorpsi ion nitrat memberikan hasil yang berbeda pada tiap-tiap konsentrasi ion penganggu Pb2+ (3) perbandingan konsentrasi ion Cd2+ : ion Pb2+ (25:25) ppm persentase ion nitrat pada tiap-tiap waktu kontak (20, 40, dan 60 menit) berturut-turut sebesar 36,27%; 72,88%; 42,86% (4) persentase teradsorpsi senyawa klorofil semakin tinggi seiring dengan menurunnya konsentrasi sampel klorofil.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Endang Goulap

 

Kata Kunci : Pembelajaran, TPS, Aktivitas dan Hasil Belajar, IPS SD. Keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas salah satunya di tentukan oleh cara guru menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran di gunakan harus sesuai dengan kebutuhan siswa, karena setiap model pembelajaran mempunyai tujuan, prinsip dan penekanan yang berbeda. Namun dalam kenyataannya guru tidak pernah menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, sehingga aktivitas siswa terlihat masih pasif dan hasil belajarnya rendah. Bahkan guru hanya dapat menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru sendiri , sehingga siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatakan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang melalui model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Dalam model ini siswa akan berpikir (Think) secara individu, kemudian siswa secara berpasangan (Pair) saling tukar pendapat untuk melengkapi penemuannya. Selanjutnya tahap berbagi dalam kelompok besar yang di lakukan dengan kelompok besar di dalam kelas (Share). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dengan jumlah 43 siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan pengembangan Kemmis dan Taggart. Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan observasi, wawancara, test, dan dokumentasi. Sedangkan instrumen penelitiannya menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, test, lembar observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS materi pokok tokoh-tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan indonesia. Hasil pre test siswa rata-rata 63,25%. Siklus 1 mengalami peningkatan menjadi 84,65% dan siklus 2 terus megalami peningkatan menjadi 95,81%. Penerapan model pembelajaran Think Pair Share berhasil diterapkan pada siswa kelas V SDN Madyopuro II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Disarankan bagi peneliti lain, penelitian ini dapat di jadikan sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam penelitian selanjutnya, sehingga hasilnya dapat dijadikan pedoman dan pengembangan profesi dan meningkatkan prestasi belajar.

Hubungan locus of control dan kematangan emosi dengan stres kerja karyawan CV. Jaya Barokah Malang / Naning Sugiarti

 

Kata kunci: locus of control, kematangan emosi, stres kerja Bidang konstruksi besi dan baja merupakan salah satu bidang pekerjaan yang memiliki resiko tinggi dalam memunculkan stres kerja bagi karyawan. Sebagian besar karakteristik kepribadian berhubungan dengan stres kerja yaitu: locus of control, kepribadian tipe A, rendahnya kontrol diri, kepribadian neurotis, kecemasan dan rendahnya konsep diri. Individu yang berorientasi locus of control internal mengalami ancaman stres kerja lebih sedikit dari pada yang eksternal. Selain itu jika kontrol diri terhadap emosi rendah maka individu akan mudah meledakkan emosi akan memicu munculnya stres kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran locus of control, kematangan emosi, dan stres kerja karyawan CV. Jaya Barokah Malang. Mengetahui hubungan locus of control dan stres kerja karyawan CV. Jaya Barokah Malang, mengetahui hubungan kematangan emosi dan stres kerja karyawan CV. Jaya Barokah Malang, dan mengetahui hubungan locus of control dan kematangan emosi dengan stres kerja karyawan CV. Jaya Barokah Malang. Penelitian ini dilakukan di CV. Jaya Barokah Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasional. Subjek yang dijadikan sampel sebanyak 50 karyawan. Instrumen yang digunakan adalah skala LOC diadaptasi dari Rotter dan skala kematangan emosi serta skala stres kerja disusun oleh peneliti. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif berdasarkan nilai mean, teknik korelasi product moment, dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 23 karyawan atau sebesar 46% memiliki locus of control eksternal dan 27 karyawan atau sebesar 54% memiliki locus of control internal. Kematangan emosi tinggi sebanyak 28 karyawan atau sebesar 56% sedangkan kematangan emosi rendah sebanyak 22 karyawan atau sebesar 44% sedangkan untuk stres kerja sebanyak 26 karyawan atau sebesar 52% termasuk kategori tinggi dan 24 karyawan atau sebesar 48% kategori rendah. Hasil korelasi menunjukkan ada hubungan positif antara locus of control dan stres kerja dengan koefisien korelasi 0,336 dan ada hubungan negatif antara kematangan emosi dengan stres kerja dimana koefisien korelasinya sebesar -0,438. Hasil analisis regresi diperoleh hubungan locus of control dan konsep diri dengan stres kerja diperoleh nilai F 7,188 signifikan pada p = 0,002 < 0,05 dengan nilai R sebesar 0,484. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka hendaknya: (1)Karyawan selalu mewaspadai sumber-sumber terjadinya stres kerja dan mengikuti pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan kematangan emosi yang tinggi sehingga dapat mengurangi stres kerja; (2)Bagi perusahaan perlu memberi pemahaman akan faktor dan cara mengatasi stres kerja, juga melakukan pelatihan-pelatihan rutin bagi karyawan; (3)Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk lebih memperluas tema dari sudut pandang yang berbeda, meneliti hubungan antara stres kerja dengan faktor- faktor lain seperti faktor-faktor intrisik dalam pekerjaan, peran dalam organisasi, hubungan dalam pekerjaan, struktur dan iklim organisasi dan disarankan menggunakan metode kualitatif.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain dengan menggunakan strategi analanting siswa kelas XG MAN Bangil / Evi Afriyanti Rohmah

 

Kata kunci: analanting Kemampuan menulis cerpen merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang diajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA/ MA. Menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas X SMA/ MA. Kompetensi dasar ini bertujuan untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaan siswa dalam bentuk tulisan cerpen. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. Kesulitan tersebut antara lain, siswa belum mampu menuliskan rangkaian peristiwa dalam cerpen, siswa belum mampu menuliskan tokoh dan perwatakannya dalam cerpen, siswa belum mampu menuliskan latar dalam cerpen, siswa sering mengabaikan tema dan judul dalam menulis cerpen, dan siswa masih belum menggunakan paparan naratif dengan baik. Penelitian dengan judul Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen Berdasarkan Pengalaman Orang Lain dengan Menggunakan Strategi Analanting Siswa Kelas X G MAN Bangil dimaksudkan untuk memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis khususnya pada kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. Penerapan strategi analanting dalam pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain dengan mengembangkan unsur-unsur instrinsik cerpen, yakni tema, pelaku (tokoh), peristiwa (alur), latar, teknik naratif, dan judul. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah proses peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain siswa kelas X-G MAN Bangil dengan menggunakan strategi analanting? dan (2) bagaimanakah hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain siswa kelas X-G MAN Bangil dengan menggunakan strategi analanting? Strategi analanting adalah strategi yang digunakan peneliti untuk meningkatkan pembelajaran menulis cerpen berdasarkan pengalaman orang lain. Analanting reality show yang berbentuk audiuovisual tentang peristiwa yang dialami orang lain. Setelah siswa mengamati tayangan reality show selanjutnya siswa menarasikan cerita dalam lembar kerja siswa yang sudah disiapkan. Tayangan reality show yang digunakan sebagai sumber pembelajaran adalah tayangan “Jika Aku Menjadi”. Tahap ini disebut tahap narasi. Kegiatan mengamati tayangan reality “Jika Aku Menjadi” dan menarasikan inti cerita digunakan sebagai perangsang untuk menulis tema. Tahap selanjutnya adalah membuat kerangka tahapan-tahapan cerpen yang sesuai dengan indikator dalam lembar kerja siswa yang sudah disiapkan dengan cara mengembangkan unsur-unsur instrinsik cerpen, meliputi pelaku (tokoh, dan penokohan), peristiwa (alur), latar, judul, dan menggunakan paparan naratif kemudian mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh. Tahap ini disebut tahap lanjut. Tahap terakhir adalah tahap sunting, yaitu siswa saling menyunting cerpen dengan teman sejawatnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rancangan penelitian tindakan kelas disusun dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan oleh peneliti. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X G MAN Bangil yang berjumlah 47 siswa karena mempunyai penilaian proses dan penilaian produk (hasil) di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh MAN Bangil. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 22 Maret 2011 sampai dengan 21 Mei 2011 dalam dua siklus. Data penelitian tindakan kelas ini berupa data proses dan data hasil. Data proses berupa transkrip hasil interaksi proses pembelajaran menulis cerpen yang dilakukan siswa dan guru di kelas, sedangkan data hasil berupa kerangka cerpen siswa dan hasil produk cerpen siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi menggunakan pedoman observasi dan catatan lapangan, sedangkan data hasil dilakukan dengan studi dokumen dengan menggunakan rubrik penilaian hasil menulis cerpen. Data proses dan hasil yang telah dikumpulkan dianalisis dengan mereduksi, memaparkan, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian meliputi peningkatan proses dan peningkatan hasil pembelajaran menulis cerpen dengan strategi analanting yakni tahap amati, narasikan, lanjutkan dan suntingkan. Tahap amati dan tahap narasikan meliputi mengamati penayangan mata acara reality show ‘Jika Aku Menjadi’ dan menarasikan inti cerita dari tayangan yang sudah diamati. Pada tahap ini siswa mampu berkonsentrasi hal ini ditandai dengan sikap tenang yang ditunjukkan siswa. Pada siklus I siswa yang dikategorikan tuntas adalah 94% meningkat pada siklus II yakni 100%. Pada tahap lanjutkan yakni membuat kerangka cerpen dan mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen utuh. Pada siklus I beberapa siswa tampak antusias dan tidak mengalami kesulitan dalam membuat kerangka cerpen dan mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen utuh, namun pada siklus II terjadi peningkatan motivasi sehingga sebagian besar siswa serius dan antusias dalam membuat kerangka cerpen dan mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen utuh. Peningkatan hasil pada tahap lanjutkan ditandai dengan bertambahnya kualitas hasil menulis cerpen siklus I menuju siklus II yakni dari 70% meningkat menjadi 82% . Peningkatan proses kemampuan menulis cerpen pada tahap suntingkan dilakukan dengan kegiatan siswa menyunting aspek ejaan, tanda baca dan bahasa serta memublikasikan cerpen. Penggunaan strategi analanting dapat iii menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa untuk membacakan cerpennya di depan kelas, mampu membangun interaksi sosial antar siswa dan merangsang siswa untuk menunjukkan prestasi. Peningkatan hasil tahap suntingkan ditandai dengan meningkatnya kualitas siswa yang melakukan penyuntingan baik di siklus I maupun siklus II. Pada suklus I perolehan skor siswa yaitu 95,7 dengan kategori tuntas sedangkan pada siklus II perolehan skor siswa meningkat yaitu 100% dengan kategori tuntas. Sehubungan dengan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi analanting dengan lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan juga disarankan untuk memberi dukungan dan fasilitas yang memadai kepada guru untuk melakukan kerja sama dengan para peneliti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin menggunakan dan mengembangkan strategi analanting sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain dengan cara lebih kreatif. adalah kependekan dari amati, narasi, lanjut, sunting. Pada tahap amati, siswa ditugasi untuk mengamati penayangan mata acara menulis, cerpen berdasarkan pengalaman orang lain, strategi

Electric brooder untuk anak ayam ras pedaging pada peternakan Laisa Poultry Shop / Shellyna Yuri Swastika

 

Kata kunci:Electric brooder , ayam ras pedaging, peternakan. Bibit ayam ras pedaging (Kuri) tidak dapat menstabilkan suhu tubuhnya sendiri. Untuk mendapatkan suhu ideal, kuri harus dipelihara di dalam brooding atau eraman.Brooder merupakan penghangat yang menghasilkan suhu ideal sesuai dengan kebutuhan kuri pada periode brooding. Saat ini jenis brooder yang sering digunakan adalah gas brooder berbahan bakar gas LPG. namun kurang efisien karena gas LPG 3kg hanya bertahan 8jam. Sehingga dibuatlah electric brooder dengan tujuan: (1) mengetahui suhu yang dibutuhkan oleh bibit ayam ras pedaging (kuri); (2) mengetahui komponen-komponen eraman (brooder ) yang digunakan untuk menjaga suhu tubuh kuri; (3) merancang eraman yang menghasilkan suhu yang dibutuhkan kuri; (4) membuat eraman yang menghasilkan suhu yang dibutuhkan kuri; (5) menghasilkan eraman yang telah teruji dapat menghasilkan suhu sesuai kebutuhan kuri. Metode perancangan electric brooder adalah: (1) perancangan sistem; (2) pengujian sistem dan hasil. Proses perancangan dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen yang dibutuhkan dalam membangun sebuah electric brooder . Dan proses pengujian dibutuhkan untuk mengetahui kesalahan, kekurangan serta hasil dari perancangan brooder . Pada bagian pengujian, diketahui bahwa brooder dapat menghangatkan 100ekor kuri pada usia 1-3hari dengan pemberian pembatas di sekitar kuri. Area yang diberi pembatas adalah seluas 1x1,5m2 dengan setpoint suhu 320 C-350 C. Ketika usia kuri mencapai 4hari maka pembatas dapat dibuka, dan kapasitas brooder berkurang menjadi 75ekor. Pada usia 14hari dengan setpoint suhu maksimal 330 C, brooder dapat menghangatkan 100-200ekor kuri. Kesimpulan yang didapatkan dari proses perancangan hingga pengujian electric brooder adalah electric brooder mampu menghangatkan kuri pada usia dan jumlah tertentu. Dengan menyesuaikan kondisi alam, kandang serta luas area pemanasan. Kelebihan electric brooder dibandingkan dengan brooder konvensional adalah panas yang dihasilkan lebih standar, yaitu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Electric brooder dapat diatur setpointnya sesuai dengan kebutuhan kuri. Ketika suhu terlalu tinggi maupun terlalu rendah, brooder akan secara otomatis mati dan menyala kembali sesuai dengan kebutuhan.

Studi tentang pengembangan instrumen penilaian prstasi belajar fisika bentuk uraian pada materi kesetimbangan benda tegar di SMA Negeri se-kota Malang / Jihan Amalia

 

Kata kunci: pengembangan instrumen penilaian, bentuk uraian Penilaian merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh guru maupun calon guru. Penilaian adalah kegiatan pengumpulan dan pengolahan data tentang proses dan hasil belajar siswa, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam menentukan tingkat pencapaian hasil belajar siswa. Agar kegiatan penilaian berjalan sesuai dengan fungsinya, maka ada prosedur yang harus ditempuh oleh guru sebagai penilai. Kualitas instrumen penilaian juga perlu diperhatikan layak atau tidaknya. Dalam prosedur penilaian, guru menyesuaikan dengan dengan teknik penilaian yang dipilih. Salah satu teknik penilaian yang digunakan oleh guru adalah teknik penilaian tes tertulis bentuk uraian. Penilaian bentuk ini berfungsi untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi dan kemampuan kompleks lainnya yang dimiliki oleh siswa. Selama ini informasi tentang prosedur dan kualitas instrumen penilaian bentuk uraian dalam kegiatan pembelajaran sangat sedikit. Oleh karena itu, studi tentang pengembangan instrumen penilaian bentuk uraian penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan prosedur penilaian serta kualitas instrumen penilaian hasil belajar fisika bentuk uraian pada materi kesetimbangan benda tegar yang dilakukan oleh guru fisika SMA negeri se-kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, angket, dan penilaian produk. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh informasi mengenai keterlaksanaan prosedur pengembangan instrumen penilaian bentuk uraian pada materi kesetimbangan benda tegar, serta kualitas instrumen yang dikembangkan oleh guru fisika SMA negeri se-kota Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru fisika SMA negeri se-kota Malang selalu melakukan persiapan penilaian (100%). Sedangkan tahap analisis dan tindak lanjut jarang dilakukan, dengan persentase 47.5% untuk tahap analisis dan 20% untuk tahap tindak lanjut. Tahap analisis meliputi validasi soal, penentuan tingkat reliabilitas soal, tingkat kesukaran butir soal, serta daya beda butir soal. Tahap tindak lanjut berupa kegiatan memperbaiki instrumen untuk digunakan di masa mendatang. Sedangkan untuk kualitas instrumen penilaian bentuk uraian yang dibuat oleh guru, secara keseluruhan kualitasnya baik.

Penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar geografi kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Malang / Dwi Winda Anggraeni

 

Kata kunci: Pembelajaran, Model Think Pair Share, dan Hasil belajar geografi Demi tercapainya peningkatan kualitas pembelajaran, salah satu upaya pemerintah menetapkan standar ketuntasan minimal yang harus dicapai dalam suatu pembelajaran, baik kriteria ketuntasan minimal untuk keterampilan proses maupun hasil belajar yang diperoleh siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 8 Maret 2011 dalam proses pembelajaran Geografi di kelas XI IPS 2 terdapat beberapa kelemahan yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya yaitu: (1) Hasil belajar rendah, terbukti dari hasil ulangan tengah semester pada kompetensi dasar Menjelaskan Pemanfaatan Sumber Daya Alam, masih banyak siswa yang nilainya dibawah KKM yang ditetapkan75, sebanyak 15 siswa yang tuntas, sedangkan yang belum tuntas belajarnya sebanyak 23 siswa atau 60,52%; (2) Minat belajar siswa masih rendah; (3) Proses pembelajaran masih didominasi oleh guru; (4) Suasana kelas kurang kondusif; (5) Guru hanya terfokus untuk menjelaskan yang ada di LKS; (6) Penerapan strategi belajar kurang dapat memotivasi siswa, sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas.Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaantindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tulis. Penelitian dilaksanakan di kelas XI IPS 2 SMANegeri 6 Malang dengan jumlah siswa 38 orang, pada Kompetensi Dasar: Menganalisis Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar Geografi siswa mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II. Pada pra tindakan rata-rata nilai kelas 69,47 dengan persentase keberhasilan 39,47%. Siklus I mengalami peningkatan 77,5 dengan persentase keberhasilan tindakan 71,05%. Siklus II juga menunjukkan peningkatan yakni diperoleh rata-rata 83,37 dengan persentase keberhasilan tindakan sebesar 86,84%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar Geografi setelah diterapkan pembelajaran model Think Pair Share dan disarankan untuk menggunakan model Think Pair Share dengan merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran Geografi khususnya pada materi yang membutuhkan penalaran dan analisa.

Pengaruh modernitas individu terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMK Ardjuna I Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Ervin Mutia Hanifah

 

Kata kunci: Modernitas Individu, Prestasi Belajar Pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar. Pada saat proses belajar mengajar di sekolah berlangsung, setiap siswa tentu berharap mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Hasil dari kegiatan belajar mengajar ini kemudian disebut dengan prestasi belajar. Prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam nilai rapor yang diberikan pada akhir semester. Dari prestasi belajar tersebut dapat dilihat tingkat penguasaan siswa atas materi-materi pembelajaran yang diberikan. Materi pembelajaran dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari yang diajarkan oleh guru di sekolah maupun dari sumber-sumber lain misalnya dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang semakin canggih di jaman modern ini. Pada jaman yang semakin modern siswa diharapkan dapat bersikap, berfikir dan bertindak sesuai tuntutan modernitas serta siap dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang semakin maju. Siswa modern hendaknya aktif menambah pengetahuan dari berbagai sumber dengan memanfaatkan teknologi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada peningkatan prestasi belajarnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang bertujuan untuk mencari pengaruh variabel gaya belajar dan modernitas individu terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMK Ardjuna 1 Malang. Metode pengumpulan data adalah metode kuesioner (angket) dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian populasi dengan subyek penelitian siswa kelas II SMK Ardjuna 1 Malang yang berjumlah 66 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernitas individu berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMK Ardjuna 1 Malang. Hal ini dapat diartikan semakin tinggi tingkat modernitas inidividu dalam diri responden, maka responden tersebut akan dapat bersikap, berfikir dan bertindak sesuai tuntutan jaman modern serta siap dalam menghadapi masyarakat yang semakin maju. Siswa modern aktif menambah pengetahuan dari berbagai sumber dengan memanfaatkan teknologi yang pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan prestasi belajarnya. Saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan meneliti pengaruh modernitas individu terhadap prestasi belajar pada siswa dengan satuan pendidikan yang berbeda-beda sehingga didapat hasil yang beragam. Selain itu dapat juga ditambah dengan variabel penelitian yang lain.

Sistem pemberian kredit PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk Unit Perak Cabang Jombang / Badrus Zaman Habibie

 

Kata Kunci: sistem pemberian kredit PT. BRI. Tbk Unit Perak merupakan salah satu jenis bank pemerintahan yang bidang usahanya selain menghimpun dana dari masyarakat juga menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Lembaga perbankan atau sejenis memberikan kredit dengan tujuan untuk memperoleh bunga dari pokok pinjamannya yang dapat meningkatkan pendapatan lembaga perbankan itu sendiri, untuk itu diperlukan adanya suatu sistem perkreditan yang baik untuk menjaga kelancaran pelaksanaan kredit. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem pemberian kredit pada PT. BRI. Tbk Unit Perak, serta mengetahui penerapan prinsip 5’C (Character/kepribadian, Capacity/kemampuan, Capital/modal, Condition/kondisi, Collateral/agunan) dari prosedur pemberian kredit PT. BRI. Tbk Unit Perak. Teknik pengumpulan data menggunakan metode pengumpulan data berupa studi lapangan (observasi) dan dokumentasi, sedangkan untuk metode pemecahan masalah menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan Tugas Akhir ini dapat disimpulkan bahwa sistem pemberian PT. BRI. Tbk Unit Perak secara umum sudah baik, Prinsip 5 C telah diterapkan sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Kredit Bisnis Mikro (PPK-BM). Berdasarkan hasil pengamatan ini disarankan kepada pihak bank bahwa: (1) untuk petugas yang terkait lebih meningkatkan kemampuan dalam memeriksa atau menilai kredit yang diajukan oleh pemohon agar kredit tersebut benar-benar tersalurkan pada nasabah yang pantas menerima kredit tersebut. Sehingga tidak akan menimbulkan kredit bermasalah yang akan merugikan pihak bank. (2) Petugas yang terkait harus melakukan pengawasan dan pembinaan kepada nasabah agar dapat memperlancar proses perkreditan. (3) mempercepat proses putusan kredit agar nasabah lebih nyaman dengan sistem perkreditan yang ada, dengan ketelitian dari petugas yang terkait.

Keefektifan klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kepedulian siswa SMP / Bagus Setiawan

 

Kata Kunci: klarifikasi nilai, kesadaran akan nilai kepedulian, contoh kasus. Kepedulian jarang dijumpai pada anak yang berada dalam masa puber. Nilai kepedulian sebenarnya ada pada diri mereka, akan tetapi kesadaran untuk memunculkannya masih kurang. Padahal, dengan meningkatkan kesadaran untuk peduli, mereka belajar bagaimana mengenal diri dan lingkungannya, cerdas baik dalam emosi maupun akademis, sehingga terhindar dari masalah-masalah yang umumnya dialami remaja terkait dengan hubungan sosial serta kenakalan remaja. Klarifikasi nilai (values clarification) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Dalam proses klarifikasi nilai, siswa terlibat secara aktif, siswa mengembangkan pemahaman dan pengenalannya terhadap nilai-nilai pribadi, mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan keputusan yang telah diambil. Dalam penelitian ini, teknik klarifikasi nilai yang digunakan adalah dengan memberikan contoh kasus sebagai bahan bacaan. Adapun tahap-tahapnya adalah pembagian contoh kasus, refleksi isi dan refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen, dan refleksi pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan klarifikasi nilai untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kepedulian siswa SMP. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP berjumlah 10 siswa. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah penelitian eksperimen one group pretest posttest, alat yang digunakan berupa skala kesadaran akan nilai kepedulian siswa SMP yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan. Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon dan berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa klarifikasi nilai dengan menggunakan contoh kasus efektif untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kepedulian siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan skor pada posttes di akhir pertemuan. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) dalam mengaplikasikan teknik ini, konselor harus mempersiapkan bahan bacaan yang sesuai dengan usia kelompok eksperimen, dan contoh kasus yang diberikan lebih baik mengenai masalah yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari. (2) pada peneliti selanjutnya sebelum melakukan kegiatan penelitian, disarankan melakukan kegiatan need assesment terlebih dahulu mengenai kasus-kasus apa saja yang sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehar-hari dengan teteap menyesuaikan dengan kesadaran yang akan ditingkatkan.

Desain kontrol daya resistif dengan triac berbasis mikrokontroler / Imam Saputra

 

Kata Kunci : TRIAC, Kontrol Daya, Mikrokontroler AT89S51 Jika sebuah saklar thyristor dihubungkan antara sumber arus bolak-balik dan beban, maka daya yang mengalir dapat diatur oleh variasi nilai rms tegangan yang diberikan pada beban, jenis rangkaian daya ini dikenal sebagai pengaturan tegangan bolak-balik. Umumnya pengaturan tegangan bolak-balik ini banyak digunakan pada pemanas industri, pengatur cahaya, pengatur kecepatan motor induksi 3 fasa. Oleh sebab itu, perlu adanya modul pengontrol daya sebagai praktikum bagi mahasiswa untuk memahami prinsip kerja dari alat tersebut. Tujuan dari pembuatan tugas akhir ini adalah: (1) Melakukan studi literature dan observasi desain kontrol daya resistif menggunakan TRIAC berbasis mikrokontroler. (2) Mensimulasikan rangkaian pemicuan TRIAC menjadi satu rangkaian dengan menggunakan mikrokontroler AT89S51 untuk mengatur sudut sulut dari TRIAC tersebut. Prinsip kontrol daya resistif menggunakan TRIAC adalah daya yang mengalir ke beban diatur oleh penundaan sudut penyulutan thyristor. Dengan menggunakan mikrokontroler AT89S51, Mikrokontroler berfungsi sebagai pusat pengendali dan sebagai pengambil keputusan dari data-data yang dikirimkan oleh zero crossing detector. Sehingga pengambilan keputusan jadi lebih mudah dengan bantuan dengan keypad maka penyulutan TRIAC jadi lebih mudah untuk mendapatkan daya yang dibutuhkan oleh beban. Pada tugas akhir ini pembuatan alat menggunakan mikrokontroler AT89S51 untuk pengaturan sudut picu pada TRIAC. Sebagai objek percobaan menggunakan beban lampu untuk didapatkan data dan hasil visual keluaran pada kontrol daya pada TRIAC.

Meningkatkan keaktifan belajar pendidikan jasmani melalui permainan kecil pada siswa-siswi kelas II SD Negeri Sumbersari II Malang / Fredy Gustriansyah

 

Kata Kunci: keaktifan belajar, permainan kecil Keaktifan belajar sangat diperlukan dalam kegiatan belajar di kelas. Keaktifan belajar yang kurang menjadikan pembelajaran yang ada di kelas menjadi tidak menarik. Siswa sebagai subjek didik dalam pembelajaran harus diberikan dalam pelaksanaan kegiatan sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Pembelajaran pada siswa-siswi tingkat sekolah dasar (SD) harus lebih menekankan pada kegiatan bermain dalam penyampaian kegiatannya, karena pada masa perkembangan anak usia 6-12 tahun, seorang anak mempunyai minat kegiatan bemain yang makin luas. Masa ini juga disebut masa bermain. Permainan merupakan sarana seorang guru dalam menerapkan pembelajaran yang bertujuan, dinamis dan dapat mengaktifkan siswa terutama bagi pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar khususnya di SD Negeri Sumbersari 2 Malang. Penerapan pembelajaran yang membutuhkan peran aktif semua siswa, begitu halnya dengan permainan yang membutuhkan kesempatan siswa untuk berpartisipasi dalam aktivitas bermain. Adapun tujuan penelitian ini adalah ingin meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani melalui kegiatan bermain pada kelas II di SD Negeri Sumbersari II Malang. Penelitian ini dilakukan pada siswa-siswi kelas 2 di SD Negeri Sumbersari II Malang yang terletak di Jalan Sumbersari gang V Malang dengan jumlah siswa terdiri dari 27 anak dengan klasifikasi putra 16 anak dan putri 11 anak. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas dengan studi kasus dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan untuk menjawab fokus penelitian yaitu dengan observasi kegiatan pembelajaran, mencatat semua kejadian yang ada di lapangan dan mendokumentasikan melalui foto atau video. Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan keaktifan belajar siswa-siswi kelas 2 SD Negeri Sumbersari 2 Malang. Berdasarkan hasil pengamatan pada observai awal yang dilakukan oleh 2 observer bahwa tingkat keaktifan siswa kurang yaitu observer 1 dengan persentase 44% dan observer 2 dengan persentase 46% berkurang. Pada pertemuan pertama, siswa yang aktif mencapai persentase 65% dan yang memiliki tingkat keaktifan cukup mencapai 35% yang dilakukan pengamatan oleh observer I, sedangkan berdasarkan pengamatan observer II siswa yang aktif mencapai 62% dan yang cukup aktif 38%. Pada pertemuan kedua, siswa yang aktif mencapai persentase 77% dan yang memiliki tingkat keaktifan cukup mencapai 23% yang dilakukan pengamatan oleh observer I, sedangkan berdasarkan pengamatan observer II siswa yang aktif mencapai 81% dan yang cukup aktif 19%. Pada pertemuan ketiga, siswa yang aktif mencapai persentase 92% dan yang memiliki tingkat keaktifan cukup mencapai 8% yang dilakukan pengamatan oleh observer I, sedangkan berdasarkan pengamatan observer II siswa yang aktif mencapai 88% dan yang cukup aktif 12%. Pada pertemuan pertama siklus 2, siswa yang sangat aktif mencapai persentase 58% dan yang aktif mencapai 42% yang dilakukan pengamatan oleh observer I, sedangkan berdasarkan pengamatan observer II siswa yang sangat aktif mencapai 54% dan yang aktif 46%. Pada pertemuan kedua siklus 2, siswa yang sangat aktif mencapai persentase 69% dan yang memiliki tingkat keaktifan aktif mencapai 31% yang dilakukan pengamatan oleh observer I, sedangkan berdasarkan pengamatan observer II siswa yang sangat aktif mencapai 69% dan yang aktif 31%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa permainan kecil dapat meningkatkan keaktifan belajar pendidikan jasmani pada siswa-siswi kelas 2 di SD Negeri Sumbersari 2 Malang. Siswa-siswi merasa senang dan semangat dalam melakukan tiap-tiap permainan kecil tersebut, ini bisa dibuktikan berdasarkan pengamatan peneliti bahwa banyak siswa-siswi tertawa senang, berkeringat, sibuk dalam melakukan aktivitas permainan tersebut, selain itu dengan permainan kecil tersebut, guru juga dapat melaksanakan materi pembelajaran mengenai gerak dasar jalan, lari dan lompat yang terdapat di kompetensi dasar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diberikan adalah: bagi Guru Penjas Orkes SD Negeri Sumbersari 2 Malang dapat menjadikan permainan kecil sebagai sarana dalam mengaktifkan siswa dan menciptakan kedisiplinan siswa, pembelajaran dengan menggunakan permainan kecil juga dapat menambah wawasan tentang model-model permainan kecil terhadap siswa dan dapat memperkaya pengetahuan sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, bagi Sekolah SD Negeri Sumbersari 2 Malang dapat dijadikan sebagai bahan kajian dalam pembelajaran penjas dan digunakan sebagai literatur sekolah mengenai permainan kecil yang digunakan pembelajaran, bagi peneliti lain agar dapat melanjutkan peneltian yang sejenis pada berbagai aspek lain dengan latar berbeda yang nantinya dapat bermanfaat untuk diteliti.

Rancang bangun mesin pengayak pasir silika / Muhammad Syaifuddin

 

Kata Kunci: Mesin , Pengayak , Pasir Material pasir sangatlah penting dan tidak dapat dipisahkan penggunaanya dalam dunia industri. Seringkali dalam dunia industri dibutuhkan material pasir yang telah diproses. Dalam hal ini material pasir yang dimaksud adalah material pasir yang sudah siap pakai. Pada proses pembelajaran Praktikum Pengecoran Logam di Program DIII Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, untuk meningkatkan kualitas prestasi mahasiswa biasanya oleh Ketua Program DIII Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dalam satu kelas dibagi menjadi dua offering. Namun karena ketersediaan bahan pasir cetak sangat terbatas yaitu hanya satu offering, maka setelah pasir cetak dibuat rongga cetak untuk diisi logam cair, rongga cetak pada cetakan pasir tersebut menggumpal. Dampak terjadinya gumpalan tersebut maka kelas offering yang kedua tidak dapat menggunakannya. Agar limbah gumpalan cetakan pasir menjadi pasir cetak untuk pembuatan rongga cetak pada cetakan pasir yang digunakan kelas offering kedua perlu adanya alat bantu mesin pengayak pasir dengan ukuran pasir 100 mesh agar proses pembelajaran Pengecoran Logam dengan durasi waktu sepuluh hari target dapat tercapai dari segi kualitas maupun prestasi belajar mahasiswa. Alat ini dibuat untuk membantu mahasiswa dalam matakuliah praktik laboratorium pengecoran yang dilakukan selama dua minggu. Saat ini proses pengayakan pasir masih menggunakan cara manual yang memakan waktu 4 jam untuk 500 kg pasir, sedangkan alat pengayak pasir cetak yang dibuat oleh penulis ini diharapkan memiliki kapasitas minimum 500 Kg/jam. Pada Tugas Akhir ini akan dibahas suatu alat pengayak pasir cetak yang akan digunakan pada Laboratorium Pengecoran Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Alat pengayak pasir ini akan memisahkan material limbah pasir cetak basah yang masih tercampur antara yang halus dan yang masih menggumpal, sehingga pasir hasil proses pengayakan dapat digunakan untuk membuat cetakan pasir untuk keperluan pengecoran. Selain itu alat ini dibuat sedemikian rupa agar konstruksinya sederhana dan pengoperasiannya mudah.

Faktor-faktor penghambat pelaksanaan pekerjaan di lapangan pada pembangunan apartemen Menara Soekarno Hatta Malang / Mochammad Fajar Bakhtiar

 

Kata Kunci: Faktor penghambat, pelaksanaan Proyek akhir ini bertujuan untuk menganalisis berapa lama keterlambatan yang terjadi dalam suatu proyek dan mencari informasi faktor-faktor keterlambatan yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut. Pengamatan ini dilaksanakan pada proyek pembangunan Apartemen Menara Soekarno Hatta Malang, Jl. Soekarno Hatta No.2 Malang. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, tanya jawab, dan dokumentasi. Setelah semua data terkumpul, kemudian dianalisa dan selanjutnya dideskripsikan. Dari hasil pengamatan dan analisis dapat diketahui berapa lama keterlambatan pelaksanaan pekerjaan struktur pada lantai 5 hingga lantai 7 dan mendapatkan faktor-faktor yang menjadi penyebab keterlambatan tersebut. Pekerjaan struktur lantai 5 hingga lantai 7 dikerjakan mulai minggu keempat bulan Januari 2011 dan seharusnya berlangsung selama 63 hari atau selesai pekerjaan pada minggu keempat bulan Maret atau 27 Maret 2011, namun terjadi keterlambatan hingga selesai pada minggu keempat bulan April atau tanggal 27 April 2011. Terjadi selisih dengan jadwal rencana selama 31 hari. Keterlambatan seharusnya tidak terjadi jika seluruh komponen dalam system manajemen saling bekerja dengan baik dan bekerja secara optimal. Hasil analisa ini mendapatkan beberapa faktor penyebab keterlambatan pelaksanaan pekerjaan tersebut yaitu, (1.) Proses pengerjaan struktur bagian awal sudah terlambat sehingga membuat pekerjaan selanjutnya terlambat, (2.) Masalah tenaga kerja, (3.) Masalah perijinan dari beberapa instansi terkait yang belum selesai,(4.) Terlambatnya pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan struktur, (5.) Pengaruh cuaca pada saat pekerjaan berlangsung, (6.) Penggunaan alat kerja secara bergantian. Dari beberapa faktor tersebut menjadi penyebab keterlambatan pekerjaan struktur.

Penerapan strategi pembelajaran kreatif-produktif pada mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kelas X TGB1 SMK 1 Singosari / Muthoharoh

 

Kata Kunci : Strategi pembelajaran kreatif- produktif, mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah dengan cara perbaikan proses belajar-mengajar atau pembelajaran. Jika strategi pembelajaran yang digunakan guru menyenangkan siswa, maka siswa akan tekun, rajin, dan antusias menerima pelajajaran yang diberikan. Strategi pembelajaran kreatif-produktif merupakan strategi pembelajaran yang menumbuhkan kreativitas dan produktifitas secara bersamaan serta mengacu pada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui penerapan strategi pembelajaran kreatif-produktif pada mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kelas X TGB1 SMK 1 Singosari Malang; dan (2) Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran kreatif-produktif pada mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: dokumentasi, wawancara, observasi, soal post-tes/tugas, dan catatan lapangan. Setelah itu datadata yang diperoleh dianalisis untuk menjawab semua permasalahan yang ada. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa: (1) Penerapan strategi pembelajaran kreatif-produktif pada mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kelas X TGB1 SMK 1 Singosari Malang dilakukan dengan membuat program pembelajaran kreatif-produktif yang meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, soal post test, lembar penilaian, dan lembar observasi keterlaksanaan penerapan strategi pembelajaran kreatif-produktif untuk siswa dan guru pada setiap tahapan pembelajaran. Selain guru dan siswa hal penting lain yang perlu diobservasi dan sangat mendukung penerapan strategi pembelajaran kreatif-produktif adalah sarana dan prasarana mengajar; dan (2) Dengan menerapkan strategi pembelajaran kreatif-produktif, aktifitas belajar siswa di kelas serta presatasi belajar yang dicapai oleh siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada: (1) Guru untuk dapat menggunakan strategi pembelajaran kraeatif-produktif pada mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan sebagai alternatif pembelajaran karena terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X TGB1 SMK 1 Singosari Malang; (2) Siswa hendaknya banyak berlatih dan membiasakan diri untuk mengeluarkan ide maupun gagasanya. Siswa harus lebih aktif dalam setiap tahap pembelajaran; dan (3) Sebaiknya dalam penelitian mengenai penerapan strategi pembelajaran kraeatif-produktif, dapat diteliti juga faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa baik faktor internal maupun faktor eksternal, sehingga dapat diketahui secara signifikan faktor mana yang paling berpengaruh dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengaruh market value, bid-ask spread, dan risk of return terhadap holding period saham pada perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009 / Adityo Prayogo

 

Kata kunci : Market Value, Bid-Ask Spread, Risk of Return, Holding Period Pasar modal merupakan tempat pertemuan antara pihak membutuhkan dana dan pihak mempunyai kelebihan dana. Investasi pada hakekatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang. Pelaku pasar yaitu individu-individu atau badan usaha yang mempunyai kelebihan dana (surplus funds) melakukan investasi dalam surat berharga berupa saham, obligasi dan beberapa derivatif lain. Saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor. Investor memiliki kebebasan untuk menahan dan melepas saham yang dimilikinya. Holding period merupakan panjangnya waktu investor untuk menahan saham suatu perusahaan yang dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan dan memininimalkan risiko. Faktor-faktor yang diidentifikasi mempengaruhi lamanya seorang investor untuk menahan sahamnya yaitu market value, bid-ask spread, dan risk of return. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan market value bid-ask spread dan risk of return terhadap holding period. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ-45 periode 2007 – 2009 sebanyak 19 perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan adalah teknik analisis regresi linear berganda dengan tingkat signifikansi sebesar 5%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan secara parsial dan simultan market value bid-ask spread dan risk of return terhadap holding period. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa market value bid-ask spread dan risk of return memiliki pengaruh signifikan terhadap holding period Hasil pengujian parsial menunjukkan market value dan bid-ask spread memiliki pengaruh signifikan dengan arah hubungan positif terhadap holding period saham, untuk variabel risk of return memiliki pengaruh signifikan dengan arah hubungan negatif terhadap holding period saham. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan bagi investor yang akan melakukan investasi di pasar modal memperhatikan market value, bid ask spread, dan risk of return sebagai acuan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan masa kepemilikan sahamnya. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian sejenis, hendaknya menambah jumlah sampel dan jenis perusahaan lain yang tidak hanya tergabung dalam indeks LQ-45.

Analisis pengaruh variabel pembentuk rasio Camels sebagai ukuran kinerja perbankan terhadap harga saham pada PT BEI periode tahun 2007-2009 / Lissa Lina Karunia

 

Kata kunci: CAR (Capital Adequacy Ratio), NPL (Non Performing Loan), NPM (Net Profit Margin), ROA (Return on Assets), LDR (Loan to Deposit Ratio) dan Harga Saham Industri perbankan adalah salah satu industri yang ikut berperan serta dalam pasar modal. Investasi dalam bentuk saham merupakan jenis investasi yang cukup beresiko meskipun keuntungan yang relatif lebih besar sehingga investor memerlukan informasi yang aktual, akurat dan transparan untuk mengurangi resiko saham. Investor dapat memprediksi harga saham untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yaitu dengan analisis fundamental dan analisis teknikal. Sesuai standar Bank Indonesia, untuk menilai tingkat kesehatan perbankan dengan menggunakan metode CAMELS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh CAR (Capital Adequacy Ratio), NPL (Non Performing Loan), NPM (Net Profit Margin), ROA (Return on Assets), dan LDR (Loan to Deposit Ratio) terhadap harga saham baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang listing di BEI tahun 2007 −2009 sebanyak 30 perusahaan. Pengambilan sampel didasarkan pada metode purposive sampling. Jumlah sampel yang terpilih sebanyak 15 perusahaan. Pengumpulan data dengan cara mengambil dokumentasi laporan keuangan dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan uji statistik regresi linier berganda dengan alat SPSS. Analisis data dengan statistik deskriptif untuk menggambarkan profil data, normalitas data dengan one sample kolmogorov smirnov untuk mengetahui distribusi data, pengujian dengan menggunakan Variance inflation factor dan tolerance untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antar variabel independen dalam model regresi yang dipakai, pengujian dengan nilai durbin watson untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi, grafik scatterplot untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas, nilai R square untuk melihat koefisien determinasi. Hasil pengujian ini membuktikan bahwa variabel CAR dan ROA secara parsial berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan NPL, NPM dan LDR tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan di BEI. Secara simultan terdapat pengaruh antara variabel CAR, NPL, NPM, ROA dan LDR terhadap harga saham perusahaan perbankan di BEI. Berdasarkan hasil temuan tersebut, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan data amatan tidak hanya perusahaan perbankan saja, tetapi menggunakan data informasi keuangan dari perusahaan selain perbankan dan rasio keuangan yang digunakan tidak hanya CAR, NPL, NPM, ROA dan LDR, tetapi juga rasio-rasio lainnya yang dapat mempengaruhi harga saham.

Hubungan intelegensi dan kemandirian belajar dengan prestasi belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada siswa SMA Negeri 2 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Firman Hidayah

 

Kata Kunci: intelegensi, kemandirian belajar, prestasi belajar TIK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap permasalahan tentang (1) Deskripsi intelegensi, kemandirian belajar dan prestasi belajar mata pelajaran TIK, (2) Signifikansi hubungan secara parsial antara intelegensi dan kemandirian belajar siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, dan (3) Signifikansi hubungan secara simultan antara intelegensi dan kemandirian belajar dengan hasil belajar mata pelajaran TIK. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Malang. Objek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang, dengan sampel sebanyak 162 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode angket, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis regresi linier ganda untuk mengungkap besarnya hubungan intelegensi dan kemandirian belajar dengan prestasi belajar TIK. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS Statistics 17.0. Penelitian ini berhasil mengungkap: (1) Intelegensi (X1) memiliki kategori rata-rata sebesar 48%, (2) Kemandirian Belajar (X2) memiliki kategori tinggi sebesar 64%, dan (3) Prestasi belajar TIK (Y) memiliki kategori sedang sebesar 57%, hasil analisis uji hipotesis: (1) Ada hubungan yang signifikan antara intelegensi dan prestasi belajar siswa. (2) Ada hubungan yang signifikan antara kemandirian belajar dan prestasi belajar siswa, dan (3) Ada hubungan yang cukup kuat antara kedua prediktor yaitu intelegensi dan kemandirian belajar secara simultan dengan prestasi belajar TIK siswa. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Intelegensi siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2010-2011 cenderung berada dalam dalam kriteria rata-rata, (2) kemandirian belajar TIK siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2010-2011 cenderung berada dalam kategori tinggi, (3) prestasi belajar TIK siswa siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2010-2011 cenderung dalam kategori sedang, (4) ada hubungan positif dan signifikan antara intelegensi dengan prestasi belajar TIK siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2010-2011 dengan perolehan nilai koefisien korelasi parsial antara X2 dengan Y yaitu Ry1 sebesar 0,250 dengan probabilitas phitung ≤ pstandar, yaitu 0,01 < 0,05. (5) ada hubungan positif dan signifikan antara kemandirian belajar dengan prestasi belajar TIK siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang dengan perolehan nilai koefisien korelasi parsial antara X2 dengan Y yaitu Ry2 sebesar 0,514 dengan probabilitas phitung ≤ pstandar, yaitu 0,00 < 0,05, dan (6) ada hubungan positif dan signifikan antara kedua prediktor yaitu intelegensi dan kemandirian belajar secara simultan dengan prestasi belajar TIK siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang dengan perolehan nilai koefisien korelasi ganda 2 prediktor antara X1 dan X2 dengan Y yaitu R sebesar 0,664 dan nilai Fhitung sebesar 62,584 dengan probabilitas phitung ≤ pstandar, yaitu 0,00 < 0,05.

Penerapan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran melakukan negosiasi (studi pada siswa kelas X Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Ika Kurniawati

 

Kata kunci: Penerapan Metode Inkuiri, Hasil Belajar Inkuiri atau kegiatan menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Menurut Nurhadi, dkk (2004: 43), Inkuiri merupakan siklus yang terdiri dari langkah–langkah sebagai berikut: (1)Merumuskan masalah, (2)Mengumpulkan data melalui observasi, (3)Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4)Membuat kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi dan praktikum, hasil semua data yang diperoleh. Berdasarkan obsevasi awal yang dilakukan penulis pada guru mata pelajaran Melakukan Negosiasi di SMK Muhammadiyah 2 Malang pada tanggal 30 Oktober 2009, diketahui bahwa hasil belajar pada mata pelajaran Melakukan Negosiasi relatif rendah. Atas dasar inilah, maka penelitian ini disusun untuk memperoleh gambaran mengenai Penerapan metode inkuiri pada mata pelajaran Melakukan Negosiasi, sehingga dapat membuka peluang siswa untuk lebih memahami mata pelajaran ini, siswa telihat aktif dalam aktivitas pembelajaran, proses berpikir, dan mempunyai kemandirian dalam melakukan tugas-tugas sekolah, sehingga dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Penjualan semester gasal tahun ajaran 2009/2010 SMK Muhammadiyah 2 Malang yang berjumlah 28 siswa dan dilakukan mulai tanggal 6 sampai 27 November 2009. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi diskusi siswa, angket respon siswa terhadap pembelajaran Inkuiri, dan tes. Analisis hasil penelitian menggunakan tehnik presentase. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor presentase keberhasilan tindakan aktivitas guru dalam menerapkan metode Inkuiri dari Siklus I ke Siklus II yaitu sebesar 14,3%, hasil observasi aktivitas siswa dari siklus I ke Siklus II mengalami peningkatan sebesar 3,6%, sedangkan observasi aktivitas siswa pada pelaksanan metode Inkuiri dari Siklus I ke Siklus II tampak adanya peningkatan pada tiap tahapnya. Pada tahap 1 terjadi peningkatan sebesar 5%,, tahap 2 sebesar 14%, tahap 3 sebesar 14%, dan tahap 4 sebesar 6%. Respon belajar siswa yang diketahui melalui angket respon siswa menunjukkan respon yang sangat positif. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari Siklus I ke Siklus II, yaitu nilai pre test mengalami peningkatan sebesar 30%, sedangkan nilai post test mengalami peningkatan sebesar 7,4%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan (1) Metode Inkuiri sangat bermanfaat bagi siswa karena metode tersebut telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga guru mata pelajaran lainnya dapat menggunakan metode ini (2) Guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran karena motivasi belajar siswa masih kurang, dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.(3) Bagi peneliti berikutnya, penelitian ini dapat dikembangkan untuk materi selain melakukan tawar – menawar dengan calon pelanggan dan dapat dikembangkan untuk sekolah – sekolah lain.(4) Metode Inkuiri dapat terlaksana dengan baik serta hasil yang maksimal apabila diterapkan pada mata diklat yang dapat mendorong siswa untuk mencari alternatif jawaban serta berfikir kritisan kreatif untuk mengembangkan pengetahuan.

Pengaruh Economic Value Added (EVA), arus kas operasi, dan Return On Equity (ROE) terhadap harga saham pada perusahaan food and beverage yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009 / Setiawan Herdianto

 

Kata Kunci: EVA, Arus Kas Operasi, ROE, Harga Saham Dalam manajemen keuangan, kita kenal 3 fungsi utama, yaitu fungsi penggunaan dana yang menyangkut investasi, fungsi mendapatkan dana yang menyangkut keputusan pendanaan serta fungsi pengalokasian laba yang menyangkut kebijakan deviden. Investasi yang dilakukan investor pada asset keuangan mengandung banyak ketidakpastian, sehingga investor perlu melakukan penilaian terhadap instrument keuangan yang akan dipilihnya. Saham adalah salah satu instrument keuangan yang diminati oleh investor. Para investor hendaknya menganalisa kinerja perusahaan emiten sehingga investor dapat memperoleh gambaran perusahaan yang dapat meningkatkan keuntungan bagi investor. Kemampuan atau kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan, yang dapat diukur dengan menggunakan EVA, Arus Kas Operasi, dan ROE. dan harga saham untuk mengukur tingkat pengembalian perusahaan atas sahamnya. Oleh karena itu penting untuk mengetahui seberapa besar pengaruh EVA(Economic Value Added), Arus Kas Operasi dan ROE (Return on Equity) terhadap Harga saham Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat EVA (Econmic Value Added), Arus kas Operasi, ROE (Return on Equity) dan Harga saham, serta untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara EVA (Econmic Value Added), Arus kas Operasi, ROE (Return on Equity) terhadap Harga saham. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Populasi yang digunakan adalah keseluruhan perusahaan Food and Beverage yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009. Pemilihan sampel dengan cara purposive sampling dan diperoleh 13 perusahaan sampel. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), www.idx.co.id, dan www.duniainvestasi.com. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis), dan analisa data menggunakan bantuan SPSS for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EVA (Econmic Value Added) berpengaruh signifikan terhadap harga saham, Arus kas Operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, ROE (Return on Equity) berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah, bagi investor untuk menentukan investasi selanjutnya investor hendaknya memberi perhatian lebih terhadap kondisi fundamental perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang lain, seperti likuiditas dan leverage. Selain itu, investor juga harus memperhatikan faktor makro yang terjadi, seperti inflasi, kurs, tingkat suku bunga dan informasi yang beredar. Bagi perusahaan, seharusnya perusahaan tetap menjaga dan meningkatkan kinerja keuangannya, terutama dalam menjaga rasio profitabilitas. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya meningkatkan cara mengukur atau mendeteksi faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham, lebih baik mengamati untuk periode waktu yang berbeda dengan jangka waktu pengamatan yang lebih lama dari penelitian ini dan memperbanyak jumlah perusahaan yang dijadikan sampel.

Perbedaan prestasi belajar ditinjau dari gaya belajar siswa pada mata diklat gambar teknik dasar kelas X TGB SMK Negeri 1 Singosari / Marina Ikawati Lisandi

 

Kata kunci : gaya belajar, prestasi belajar. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh suasana lingkungan sekitar dan sifat alami siswa tersebut. Personaliti yang berbeda ini memunculkan gaya belajar yang berbeda antara seorang pelajar dengan pelajar yang lain. Perbedaan gaya belajar secara tidak langsung akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) bagaimanakah sebaran siswa peserta mata diklat Gambar Teknik Dasar ditinjau dari gaya belajar, (2)bagaimanakah prestasi belajar siswa pada masing-masing gaya belajar, (3) adakah perbedaan prestasi belajar dan signifikan antara siswa dengan gaya belajar diverger, asimilator, konverger dan akomodator pada mata diklat Gambar Teknik Dasar kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Penelitian ini adalah jenis ex-post facto (pengukuran sesudah kejadian) dengan pendekatan komparatif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 63 siswa kelas X Progaram Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Singosari. Untuk pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi, analisis data menggunakan teknik anava satu jalur. Berdasarkan hasil penelitian, dari 63 siswa kelas X Progaram Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Singosari sebanyak 14 siswa (22,2%) memilih gaya belajar diverger, sebanyak 21 siswa (33,3%) memilih gaya belajar asimilator, sebanyak 12 siswa (19,0%) memilih gaya belajar konverger dan sebanyak 16 siswa (25,4%) memilih gaya belajar akomodator. Sedangkan rata-rata prestasi belajar masing-masing gaya belajar siswa menunjukkan bahwa gaya belajar diverger memiliki rata-rata nilai 8,06 , selanjutnya gaya belajar asimilator dengan rata-rata nilai 8,07 kemudian gaya belajar konverger dengan rata-rata nilai 8,02 sedangkan gaya belajar akomodator memiliki rata-rata nilai 8,16. Dari hasil uji anava satu jalur, didapatkan nilai F hitung 1,467 ; db = 3; 59; sig = 0,233 > α = 0,05, maka Ho gagal ditolak. Kesimpulannya adalah tidak ada perbedaan prestasi belajar dan signifikan antara siswa dengan gaya belajar diverger, asimilator, konverger dan akomodator pada mata diklat Gambar Teknik Dasar kelas X Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan (TGB) SMK Negeri 1 Singosari. Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan prestasi antara masing-masing gaya belajar, namun bukan berarti tidak ada hubungan antara gaya belajar dengan prestasi belajar, karena gaya belajar secara tidak langsung mempengaruhi prestasi belajar siswa. Untuk menyesuaikan antara gaya belajar siswa dengan mata diklat Gambar Teknik Dasar, guru dapat menggunakan model pembelajaran model resource based learning (belajar berdasarkan sumber). Bagi siswa, diharapkan mengadaptasi gaya belajar yang sesuai, untuk memperoleh prestasi yang memuaskan.

Apologi berbahasa Indonesia dalam komunikasi lisan multikultural di Balai Diklat Keagamaan Surabaya / Jamal

 

Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonsia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, (II) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (III) Dr. H. Sumadi, M.Pd. Kata kunci: apologi, respon, pemicu, strategi, parameter sosiokultural, komunikasi multikultural. Apologi merupakan topik yang menarik untuk dikaji karena tidak hanya berkaitan dengan fakta kebahasaan, tetapi juga berkaitan dengan fakta sosial. Sebagai fakta kebahasaan, apologi berkaitan dengan penerapan prinsip, maksim, dan situasi tutur. Sebagai fakta sosial, apologi berkaitan dengan latar belakang sosiokultural partisipan. Berdasarkan latar belakang itu, dilakukan penelitian Apologi Berbahasa Indonesia dalam Komunikasi Lisan Multikultural di BDK Surabaya. Penelitian difokuskan pada (1) wujud verbal apologi, (2) jenis apologi, (3) pemicu apologi, (4) wujud respon apologi, (5) bentuk strategi apologi, (6) parameter sosiokultural yang berpengaruh. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan ancangan sosiopragmatik. Data penelitian yang berupa tuturan dihasilkan oleh widyaiswara dan peserta diklat dalam suasana kediklatan dikumpulkan dengan observasi partisipasi dan dianalisis secara interaktif. Analisis data yang dilakukan meliputi mengidentifikasi wujud verbal, pemicu, dan respon apologi, mengklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu, dan menemukan pola-pola tertentu masalah yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis data ditemukan enam hal sebagai hasil penelitian. Keenam hal tersebut dipaparkan sebagai berikut. Pertama, berkaitan dengan wujud verbal, ditemukan sembilan pola wujud verbal apologi berdasarkan elemennya. Kesembilan pola wujud verbal itu adalah (a) meminta maaf, (b) mengakui kesalahan, (c) mengakui kelemahan diri, (d) bertanggung jawab, (e) menawarkan perbaikan, (f) menawarkan penggantian, (g) menjamin gangguan tidak terulang lagi, (h) memberi penjelasan, (i) dan memberi alasan. Wujud verbal apologi dapat hadir secara sendiri-sendiri sebagai apologi tunggal atau hadir secara bergabung bersama sebagai apologi kompleks. Kehadiran wujud verbal apologi berupa gabungan beberapa elemen diperlukan untuk mendampingi tingginya level keabsolutan gangguan yang ditimbulkan. Kedua, berkaitan dengan jenis, ditemukan pola apologi yang dominan adalah jenis genuini, empatik, interpersonal, yang muncul secara antisipatoris maupun retrospektif. Ke-genuini-an apologi dan ke-empatik-an apologi ini diperlukan untuk mendampingi dan mereduksi tingginya level keabsolutan gangguan yang muncul. Dominasi jenis apologi interpersonal disebabkan oleh dominasi metode ceramah dalam penyampaian materi oleh widyaiswara. Kemunculan apologi mendahului atau mengikuti kemunculan gangguan tidak tergantung pada tinggi atau rendahnya level keabsolutan gangguan. Ketiga, berkaitan dengan pemicu, elemen pemicu apologi yang dominan adalah berupa pelanggaran norma sosiokultural. Aspek spasial, temporal, dan perilaku spesifik berpotensial sebagai pemicu munculnya apologi. Aspek itu baru benar-benar dirasakan sebagai elemen pemicu apologi ketika dikaitkan dengan norma sosiokultural yang berlaku. Keempat, berkaitan dengan respon, secara umum respon penerimaan lebih dominan daripada respon penolakan. Hal ini berkaitan dengan ke-genuini-an, ke-empatik-an, jenis gangguan yang muncul yang pada umumnya berada pada level keabsolutan rendah, dan keakraban antara apologizer-apologizee yang pada umumnya berada pada level tinggi. Di samping itu, respon penerimaan apologi pada umumnya disebabkan oleh faktor situasi sosial, yaitu situasi kelas diklat. Kelima, bentuk strategi yang digunakan ada dua macam, yaitu strategi eksplisit dan implisit. Strategi eksplisit yang digunakan adalah ‘minta maaf’, ‘mohon maaf’, ‘sorry’, dan ‘nyuwun ngapura’ yang diperlukan untuk mendampingi tingginya level keabsolutan gangguan yang timbul dan rendahnya level keakraban antara apologizer-apologizee. Strategi implisit ini dilakukan dengan cara (a) mengakui kesalahan, (b) mengakui kelemahan diri, (c) menyesali diri, (d) menyatakan bertanggung jawab, (e) menawarkan perbaikan, (f) menawarkan penggantian, (g) menjamin gangguan tidak terulang lagi, (h) memberi penjelasan atau alasan. Strategi implisit berupa gabungan beberapa strategi implisit diperlukan untuk mendampingi tingginya level keabsolutan gangguan yang ditimbulkan. Keenam, berkaitan dengan parameter sosiokultural, status sosial, kekuasaan relatif, level keakraban, dan tingginya level keabsolutan gangguan berpengaruh terhadap wujud verbal, strategi, dan respon apologi. Jika status sosial, kekuasaan relatif, dan level keakraban terhadap apologizee tinggi, apologizer memiliki tiga keuntungan. Pertama, apologizer memiliki keleluasaan untuk memilih wujud verbal dan strategi apologi. Kedua, level keabsolutan gangguan yang timbul tereduksi. Ketiga, apologi yang disampaikan berpeluang besar memperoleh respon berupa penerimaan. Dari keseluruhan proposisi tentang apologi dapat dirumuskan proposisi utama sebagai berikut. Wujud verbal apologi, strategi apologi, dan respon apologi dipengaruhi oleh level keabsolutan gangguan yang ditimbulkan, status sosial, kekuasaan relatif, dan level keakraban antara apologizer-apologizee. Sesuai dengan hasil temuan tersebut, disarankan kepada widyaiswara dan peserta diklat untuk memperhatikan elemen pemicu yang dapat menimbulkan gangguan ketidaknyamanan selama komunikasi multikultural berlangsung. Level keabsolutan gangguan ketidaknyamanan dirasakan berbeda pada masyarakat dengan kultur yang berbeda. Jika kenyamanan terganggu, proses komunikasi juga terganggu. Jika proses komunikasi sudah terganggu, apologi diperlukan untuk mereduksi level keabsolutan gangguan selama proses komunikasi berlangsung, menghilangkan ketidaknyamanan, mendukung tercapainya tujuan komunikasi, dan memelihara hubungan sosial. Respon penerimaan apologi dipertimbangkan dari level keabsolutan gangguan dan level keakraban apologizer-apologizee. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keakraban dengan masyarakat sekitar.

Penerapan strategi inquiry untuk membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus kelas V SDN Percobaan I Malang / Mohammad Husnan

 

Tesis tidak dipublikasikan. Program Studi Pendidikan Matematika SD, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D, dan (II) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata Kunci: Luas Permukaan Balok dan Kubus, Strategi Inquiry, Membangun Pemahaman Pelajaran geometri mempunyai peranan yang penting dalam bidang matematika dan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran tersebut diberikan mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Sesuai dengan perkembangan kognitif anak SD yang berada pada tahap operasi konkret maka diperlukan alat peraga yang tepat untuk membantu membangun pemahaman siswa dalam pembelajaran geometri. Disamping penggunaan alat peraga siswa diharapkan aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran di kelas. Salah satu strategi untuk mengaktifkan siswa adalah dengan strategi inquiry. Strategi inquiry adalah suatu strategi yang menekankan pada proses mencari dan menemukan. Guru sebagai fasilitator berperan dalam memberikan sejumlah pertanyaan-pertanyaan kepada siswa sehingga siswa merasa terpancing untuk memahaminya. Ada enam tahap dalam strategi inquiry, yaitu: orientasi, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan. Dengan strategi inquiry ini siswa kelas V SDN Percobaan I Malang tahun pelajaran 2010/2011 mampu membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus. Penelitian ini merupakan tindakan partisipan dengan pendekatan kualitatif melalui rancangan penelitian tindakan kelas ini siswa memahami secara prosedural dan memahami secara konseptual masalah yang berkaitan dengan luas permukaan balok dan luas permukaan kubus. Disini soal dibuat bervariasi yang dimulai dengan bantuan benda konkret, gambar , dan soal cerita dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan perencanaan pembelajaran untuk membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus, (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran untuk membangun pemahaman konsep menghitung luas permukaan balok dan kubus, (3) Mendeskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran untuk membangun pemahaman konsep menghitung luas permukaan balok dan kubus siswa kelas V SDN Percobaan I Malang. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari hasil tes akhir pada tindakan I, siswa tuntas dalam belajar adalah 87,50%. Persentase aktivitas belajar siswa pada tindakan I adalah 93,50%. Pada Tindakan II, hasil tes akhir tindakan siswa yang tuntas belajar adalah 92.50%. Persentase aktivitas belajar siswa pada tindakan II 94,44%. Dengan demikian diperoleh bahwa strategi inquiry dapat membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus siswa kelas V SDN Percobaan I Malang.

Evaluasi sistem pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan pada pabrik gula Ngadirejo Kediri tahun 2011 / Nova Kurnia Edwinanda

 

Kata Kunci: Evaluasi Sistem, Pengendalian Intern, Gaji dan Upah Gaji dan upah merupakan bagian dari kompensasi yang paling besar yang diberikan perusahaan sebagai balas jasa kepada karyawannya. Seperti halnya yang dilakukan PG. Ngadiredjo dalam kewajibannya memberikan gaji dan upah kepada seluruh karyawannya. Dibutuhkan pengendalian intern dalam prosedur penggajian dan pengupahan untuk mencegah ancaman dan mengatasi masalah jika terjadi dalam pelaksanaannya. Sistem pengendalian intern yang baik dapat menghasilkan informasi akuntansi yang dapat dipercaya. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kesesuaian pengendalian intern penggajian dan pengupahan (pemisahan fungsi, wewenang otorisasi, praktek yang sehat, dan karyawan yang berkualitas) dalam upaya menghasilkan informasi akuntansi yang berkualitas. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada penanggung jawab Bagian Pengolahan, Pengawas Bagian Pembukuan, dan Wakil Kepala Bagian Perencanaan dan Pengawasan. Dokumentasi diperoleh dari Bagian Pengolahan, Bagian Pembukuan, dan Bagian Perencanaan dan Pengawasan. Metode pemecahan masalah dilakukan dengan cara menganalisis kesesuaian unsur-unsur pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo. Langkah-langkah dalam menganalisis yaitu mengevaluasi kesesuaian pemisahan fungsi, mengevaluasi kesesuaian wewenang otorisasi dalam pembuatan dokumen-dokumen, mengevaluasi kesesuaian praktik pelaksanaan setiap bagian yang bertugas, dan mengevaluasi kesesuaian kualitas karyawan yang menangani prosedur penggajian dan pengupahan. Berdasarkan hasil analisis dari wawancara dan dokumentasi diketahui bahwa pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo terdapat ketidaksesuaian di beberapa hal yaitu adanya perangkapan jabatan antara pembuat dan pendistribusian cek gaji dan upah, penulisan jam/waktu lembur yang dilakukan oleh karyawan yang bersangkutan, praktek tidak sehat ditandai dengan tidak adanya rotasi jabatan secara berkala di Bagian Pengolahan, serta proses perekrutan karyawan dengan jumlah sedikit yang dilkakukan secara tertutup dengan memprioritaskan lingkungan intern. Kesimpulan penulisan Tugas Akhir ini yaitu pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo memiliki beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya namun bukan berarti prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo buruk sepenuhnya. Sehingga saran mengenai hasil pembahasan Tugas Akhir ini yaitu adanya kelemahan yang ditemukan dapat dijadikan acuan dalam perbaikan atau pembentukan sistem baru yang lebih efektif agar dapat menghasilkan informasi akuntansi yang memiliki akuntabilitas tinggi serta tidak merugikan perusahaan.

Pengaruh tingkat inflasi, tingkat suku bunga kredit dan nilai tukar rupah terhadap permintaan pembiayaan bank umum syariah negara di Indonesia tahun 2008-2010 / Rahmad Efendi

 

Kata Kunci : Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga Kredit, Permintaan Pembiayaan Bank Umum Syariah Negara Pembiayaan adalah pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang direncanakan ( Veitzal, 2010: 681). Pembiayaan bank syariah merupakan pembiayaan yang hanya dilakukan oleh perbankan syariah. menurut Sukirno (1994: 75), tingkat inflasi dapat mempengaruhi permintaan pembiayaan bank syariah. indikator lain yang dapat mempengaruhi permintaan pembiayaan bank syariah adalah tingkat suku bunga kredit (Sumitro, 1999: 46). Selain itu, menurut Arifin (1999: 46) permintaan pembiayaan bank syariah dapat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh tingkat inflasi, tingkat suku bunga kredit dan nilai tukar rupiah terhadap permintaan pembiayaan Bank Umum Syariah Negara (BUSN). Pemilihan sampel pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method dan menggunakan pool data, sehingga diperoleh sebanyak 3 bank syariah yang masuk ke dalam Bank Umum Syariah Negara tahun 2008-2010. Pada penelitian ini, tingkat inflasi diukur menggunakan IHK yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia setiap akhir bulan. Tingkat suku bunga kredit yang diukur dari Suku Bunga Bank Indonesia yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia setiap akhir bulan. Nilai tukar rupiah yang diukur dengan nilai tukar rupiah terhadap USD. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi berganda (multiple regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tingkat inflasi dan tingkat suku bunga kredit memiliki nilai sig < 0,05 sehingga berpengaruh signifikan terhadap permintaan pembiayaan Bank Umum Syariah Negara (BUSN). Hal ini dikarenakan penerapan sistem bagi hasil yang dijalankan oleh Bank Syariah Negara yang berlandaskan keadilan. Sedangkan nilai tukar rupiah memiliki nilai sig. > 0,05 sehingga tidak berpengaruh terhadap permintaan pembiayaan Bank Syariah Negara ( BUSN). Hal ini dikarenakan sebagian besar kreditur BUSN adalah UKM dan sebagian kecil adalah perusahaan besar dan multinasional. Bagi penelitian berikutnya diharapkan menambah variabel lain disamping variabel yang telah digunakan oleh penulis seperti pendapatan, nisbah dan lain-lain. Populasi yang digunakan dalam penelitian berikutnya dapat ditambah dengan melibatkan semua BUSN yang telah terbentuk. Penelitian berikutnya dapat lebih mengutamakan pada salah satu jenis pembiayaan di perbankan syariah sehingga dapat diketahui jenis pembiayaan mana yang paling terpengaruh oleh kondisi makro ekonomi.

Pengembangan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA / Anik Purwati

 

Kata Kunci: Pengembangan Bahan Ajar, Menulis Laporan Penelitian, Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran menulis laporan penelitian berdasarkan penelitian pada prapengembangan mengalami beberapa masalah. Permasalahan-permasalahan tersebut, yakni pada pembelajaran menulis laporan penelitian guru terpaku pada buku teks dan diketahui bahwa pembahasan di dalam buku teks mengenai laporan penelitian sangat sedikit. Permasalahan lain yang muncul pada siswa adalah (1) siswa kesulitan untuk menuangkan ide-ide mereka ke dalam laporan penelitian, (2) siswa belum paham sistematika menulis laporan penelitian yang benar, dan (3) siswa kurang tertarik terhadap materi menulis laporan penelitian. Permasalahanpermasalahan tersebut harus dipecahkan agar siswa dapat mencapai indikator pembelajaran yang diharapkan. Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan siswa pun bersemangat dalam menulis laporan penelitian, maka peneliti mengembangkan bahan ajar yang menarik dan dikolaborasikan dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran menulis laporan penelitian. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA yang sesuai dengan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan siswa yang dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi bahan menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (2) mengembangkan sistematika bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (3) mengembangkan bahasa bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (4) mengembangkan tampilan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA. Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan model penelitian pengembangan yang telah dimodifikasi dari model pengembangan Borg dan Gall, Sukmadinata, dan Sugiyono. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 3 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) prapengembangan, (2) pengembangan, dan (3) tahap uji produk. Untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar pada penelitian ini dilakukan uji produk yang melalui tiga kelompok uji, yakni (1) uji ahli pembelajaran menulis laporan penelitian, (2) uji ahli menulis bahan ajar, (3) uji ii praktisi yakni guru bahasa Indonesia kelas XI SMA, dan (4) uji kelompok kecil siswa kelas XI SMA. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripkan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskripsikan data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah implementasi, revisi atau diganti. Dari uji bahan ajar dengan ahli pembelajaran menulis laporan penelitian rata-rata adalah 75%, ahli menulis bahan ajar 83,3%, guru bahasa indonesia 100%, dan siswa 96%. Hasil uji dengan ahli pembelajaran menulis laporan penelitian tergolong layak dan dapat diimplementasi, namun, ada beberapa bagian dari bahan ajar yang perlu direvisi seperti tinjauan kompetensi, penggunaan bahan ajar, ringkasan materi dan penambahan halaman glosarium. Menurut ahli pembelajaran menulis bahan ajar produk tergolong layak dan dapat diimplementasi dan disarankan untuk mengganti tampilan halaman sampul agar tidak mencolok. Guru bahasa Indonesia dan siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dari hasil uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi siswa bahan ajar ini dapat menjadi alternatif untuk pembelajaran menulis laporan penelitian. Bagi guru dapat menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek ini, diharapkan pembelajaran menulis laporan penelitian lebih menarik dan siswa lebih bersemangat untuk menulis laporan penelitian. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Pembelajaran wechselpraposition menggunakan media audiovisual di kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang / Frida Rachmawati

 

Kata Kunci : Media Pembelajaran, Media Audiovisual, Wechselpräposition Pembelajaran bahasa Jerman di SMA menuntut siswa untuk menguasai gramatika. Präposition adalah salah satu gramatika yang harus dipelajari siswa. Namun, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 8 Malang, diketahui bahwa siswa kurang menguasai materi preposisi terutama materi Wechselpräposition. Hal ini disebabkan karena media yang digunakan masih konvensional dan kurang dapat membantu siswa dalam memahami materi. Oleh karena itu, media audiovisual dapat dijadikan alternatif pembelajaran Wechselpräposition karena video ini sangat menarik dan disertai dengan gerak dan mimik dari penutur asli, sehingga memudahkan pemahaman siswa terhadap materi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran Wechselpräposition dengan menggunakan media audiovisual/video di kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa XI Bahasa yang berjumlah 8 orang. Instrumen dalam penelitian ini yaitu observasi, tes, dan angket. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan data yang telah terkumpul melalui observasi, angket, dan tes. Pengecekan keabsahan temuan ini juga dilakukan dengan melakukan diskusi dengan teman sejawat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa terlihat sangat antusias terhadap media video German 2 Way Prepositions (Wechselpräposition). Berdasarkan hasil pengamatan, siswa terlihat sangat termotivasi dalam belajar dan aktif dalam pembelajaran. Hasil angket menunjukkan bahwa 100% responden menyatakan bahwa media audiovisual dapat memotivasi belajar mereka. Selain itu, siswa yang semula menemui kesulitan dalam belajar, dapat mencapai nilai tertinggi setelah belajar menggunakan video ini. Nilai rata-rata kelas dapat mencapai nilai 85. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa media ini dapat dijadikan alternatif yang baik dalam pembelajaran Wechselpräposition. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan kepada guru untuk menggunakan media audiovisual ini dalam pembelajaran Wechselpräposition dengan memperhatikan teknis penayangan. Peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan berbicara.

Pengembangan instrumen tes pilihan ganda untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMA pada pokok bahasan dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar / Revinda Afifatintia

 

Kata Kunci : instrumen tes pilihan ganda, miskonsepsi, dinamika rotasi dan kese-timbangan benda tegar Miskonsepsi adalah perbedaan konsepsi seseorang dengan konsepsi yang dimiliki para ahli dalam bidang tertentu yang telah diyakini kebenarannya. Mis-konsepsi dapat mengganggu pemikiran siswa baik ketika mengerjakan soal maupun ketika siswa menerima materi berikutnya. Miskonsepsi dapat disebabkan karena adanya faktor internal dari dalam diri siswa dan faktor eksternal. Alat identifikasi miskonsepsi yang selama ini dikembangkan adalah peta konsep, tes esai tertulis, wawancara, dan diskusi dalam kelas. Alat yang dikembangkan terse-but dalam proses analisisnya membutuhkan waktu lama, sehingga sebagian besar guru enggan untuk melakukan identifikasi miskonsepsi. Atas dasar kendala terse-but, maka dikembangkan alat yang dapat mengidentifikasi miskonsepsi dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam proses analisisnya berupa pengembangan instrumen tes pilihan ganda pada materi dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar. Penelitian pengembangan (Research and Development) ini memanfaatkan modifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Brog dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut ada-lah sebagai berikut: (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji lapangan awal, (5) revisi produk utama. Produk akhir penelitian pengembangan ini adalah instrumen tes pilihan ganda sebagai alat identifikasi miskonsepsi. Instrumen ini dikembangkan berda-sarkan respon siswa terhadap soal uraian yang diujicobakan pada siswa. Setiap butir pilihan ganda memiliki empat pilihan jawaban yang terdiri atas satu jawaban benar dan tiga jawaban pengecoh. Keempat pilihan jawaban disusun berdasarkan jawaban siswa dalam soal uraian yang mengandung miskonsepsi. Kelayakan produk ini didasarkan pada hasil validasi oleh tim ahli (dosen dan guru SMA) dan uji coba satu kali (terbatas) pada siswa. Selain itu juga dilaku-kan analisis kelayakan menggunakan program AAFF. Hasil analisis validasi oleh validator dan program AAFF menunjukkan bahwa instrumen tes yang telah disusun sudah memenuhi kriteria layak, namun masih perlu adanya revisi berdasarkan saran, kritik dan tanggapan dari validator. Instrumen pilihan ganda yang dikembangkan mampu membedakan siswa yang mengalami miskonsepsi dan yang tidak miskonsepsi serta mampu mengelompok-kan siswa berdasarkan bentuk miskonsepsinya. Proses identifikasi dilakukan de-ngan melihat kecenderungan jawaban siswa

Profil pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW di Dusun Ngrobyong Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Yuwanita Ariyanti

 

Kata Kunci: pola asuh, pendidikan, anak TKI-TKW Pola asuh merupakan usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa. Pola asuh yang diterapkan pada anak tidak hanya diterapkan oleh orang tua kandung melainkan juga diterapkan oleh orang tua wali, terutama terhadap anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka ke luar negeri sebagai TKW maupun sebagai TKI. Sejauh ini belum terlalu banyak fakta yang diungkap tentang pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW sehingga perlu adanya pembahasan yang menggambarkan tentang profil pola asuh anak TKI-TKW.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW di Dusun Ngrobyong, Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data yang dilaporkan berupa paparan yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman wawancara maupun peneliti sendiri. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Analisis data dimulai dari reduksi data, kategorisasi, penyajian data (display), kemudian diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua wali anak TKI-TKW tidak bersifat mutlak menggunakan pola asuh otoriter, demokratis, maupun, permisif. Pada dasarnya pola asuh tersebut lebih bersifat campuran dengan dominasi indikator pola asuh tertentu. Hal ini ditinjau dari perlakuan wali terhadap anak meliputi pengelolaan keuangan, pemenuhan pendidikan, dan pemenuhan hak anak dalam berkomunikasi dengan orang tua. Faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua, meliputi pengalaman orang tua dalam memperlakukan anak sebagai bagian dari masyarakat. Dalam pelaksanaannya pola asuh tersebut melibatkan orang-orang terdekat maupun masyarakat sekitar tempat tinggal. Orang tua wali cenderung lebih banyak berkolaborasi dengan tetangga dekat dibandingkan dengan orang tua di luar negeri akibat dari keterbatasan komunikasi yang dapat dilakukan, mengingat jarak dan waktu yang tidak mendukung. Sehingga sebagian anak TKI-TKW cenderung lebih dekat dengan orang tua wali maupun dengan salah satu dari orang tua mereka.

Meningkatkan kemampuan menulis puisi anak melalui media pembelajaran benda konkret pada siswa kelas III SDN Sumbersari 2 Malang / Deni Saherliawati

 

Kata Kunci: Menulis, Puisi Anak, Media Pembelajaran Benda Kokret, SD. Menulis puisi merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa SD. Pembelajaran menulis puisi bermanfaat untuk mengembangkan ide, memperhalus perasaan, penalaran, daya khayal, dan kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitar. Berdasarkan pretes yang dilaksanakan pada siswa kelas III SDN Sumbersari 2 Malang dapat diketahui bahwa siswa kurang berminat dalam menulis puisi, kemampuan menulis puisi masih kurang, siswa kesulitan mengungkapkan ide dalam menulis puisi berdasarkan gambar yang diamati, dan kesulitan menentukan judul puisi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: 1) penerapan media pembelajaran benda konkret untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi anak, dan 2) peningkatan kemampuan menulis puisi anak melalui penerapan media pembelajaran benda konkret siswa kelas III SDN Sumbersari 2 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Data yang diolah dan dianalisis berupa data proses dan hasil pembelajaran menulis puisi. Isntrumen yang digunakan yaitu pedoman observasi, asesmen kinerja, pedoman wawancara guru dan siswa, dan dokumentasi pembelajaran. Subjek penelitian yaitu siswa kelas III SDN Sumbersari 2 Malang yang berjumlah 27 siswa, terdiri atas 8 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki. Berdasarkan hasil analisis data pada tiga kegiatan yaitu pramenulis, menulis, dan pasca menulis diperoleh temuan kemampuan dan hasil puisi siswa meningkat. Siswa semakin paham tahap-tahap menulis puisi, mulai dari pengamatan media benda konkret, menentukan kata kunci, mendeskripsikan hal-hal yang mereka ketahui tentang benda konkret, menentukan tema, sampai menuliskan puisi menggunakan kata yang menarik. Mereka lebih mudah mengungkapkan ide. Sedangkan untuk hasil penulisan puisi, siswa dapat menggambarkan benda sesuai kenyataan; judul dan diksi yang digunakan beragam; isi puisi lebih luas seperti cerita sehari-hari, ungkapan perasaan baik senang maupun sedih, dan ucapan terima kasih; pengimajian juga mulai muncul. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa kemampuan menulis puisi anak dapat ditingkatkan dengan menggunakan media pembelajaran benda konkret. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk dapat memanfaatkan media benda konkret dalam pembelajaran menulis puisi dan pembelajaran lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses berkarya pada MKK pilihan seni lukis mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang / Dhaquasen Lutfi Friyangga

 

Friyangga, Dhaquasen Lutfi, 2013. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Proses Berkarya Pada Mkk Pilihan Seni Lukis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Dan Desain, Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Tjitjik Sri Wardani, M.Pd, (2) Drs. Eko Budi Winarno. Kata Kunci: Faktor, Proses Berkarya, Seni Lukis, Universitas Negeri Malang. Seorang seniman dalam membuat karyanya dipengaruhi oleh faktor internal (subjektif) dan faktor eksternal (objektif). Faktor subjektif adalah faktorfaktor pribadi yang mencakup watak, tempramen, emosi, imaginasi, dan seluruh proses kejiwaan yang mengolah dan merubah kesan serta tanggapan. Sedangkan faktor objektif adalah dunia sekitar pelukis (seniman) dan dunia yang nampak. Dengan demikian setiap seniman pastinya memiliki ciri khasnya masing-masing dalam menghasilkan suatu karya, begitu juga dengan mahasiswa Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Setiap mahasiswa pasti memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, pengalaman tentang apa yang terjadi di lingkungan sekitar yang berbeda-beda, pandangan hidup atau filosofi yang berbeda, dan wacana tentang berkesenian yang berbeda-beda pula. Perbedaan-perbedaan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap karya lukis yang dihasilkan, pemilihan material lukis, objek yang ditampilkan, tema yang diangkat ke dalam lukisan, corak atau gaya lukisan, serta aliran sesuai dengan gayanya masingmasing. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses berkarya pada MKK Pilihan Seni Lukis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi proses berkarya pada MKK Pilihan Seni Lukis dan faktor-faktor paling dominan yang mempengaruhi proses berkarya pada MKK Pilihan Seni Lukis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Sumber data adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa yang mengambil MKK Pilihan Seni Lukis. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan wawancara dan angket tertutup dengan teknik penskoran menggunakan skala linkert serta analisa data dijabarkan dalam bentuk prosentase dan penjelasa secara deskriptif. Dari hasil dari penelitian ini diperoleh data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi proses berkarya sebagai berikut: faktor Pengalaman 9.27%, Minat 9.04%, Emosi 8.96%, Fantasi 8.84%, Hobi 8.26%, Waktu 8.11%, Ide 8.53%, Material 7.53%, Lingkungan 7.12%, Pengaruh orang terdekat 6.59%, Pengaruh teman sejawat 6.52%, Filosofi 6.23%, dan Pengaruh dosen 5.5%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling dominan yang mempengaruhi proses berkarya pada MKK Pilihan Seni Lukis adalah faktor pengalaman dengan prosentase 9.27%. Berkaitan dengan faktor-faktor yang paling dominan dalam proses berkarya seni lukis, disarankan kepada mahasiswa untuk menambah pengalamannya dalam berkarya seni khususnya dalam hal ini adalah berkarya seni lukis. Pengalaman berkarya seni sendiri meliputi banyak hal seperti pengalaman pribadi atau peristiwa interaksi dengan alam sekitar, pengalaman menggunakan teknik dalam melukis, pengalaman dalam memilih bahan, pengalaman dalam memanajemen waktu dan berbagai pengalaman lainnya yang bisa membuat lebih kreatif dalam berkarya seni lukis.

Penerapan model pembelajaran peta pikiran (mind map) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Kesamben Kabupaten Blitar / Wakhidatus Sholikhah

 

Kata kunci: model pembelajaran peta pikiran (mind map), hasil belajar geografi. Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa hasil belajar geografi siswa kelas X-6 SMAN 1 Kesamben, 100% masih dibawah KKM dengan nilai rata-rata 57,35. Mayoritas siswa kurang dapat memahami dan mengingat materi-materi geografi, terutama untuk materi yang mengandung pemahaman konseptual. Kesulitan pemahaman tersebut disebabkan oleh banyaknya materi dan banyaknya istilah dalam pelajaran geografi. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa terhadap materi pelajaran adalah dengan membelajarkan siswa cara mencatat yang baik. Mind map merupakan salah satu bentuk metode mencatat yang dikembangkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an berdasarkan hasil penelitian cara otak memproses informasi, sedangkan penggunaan mind map sebagai model pembelajaran di kelas telah dikenalkan oleh Melvin L. Silberman sekitar tahun 1996 melalui bukunya yang berjudul Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Untuk itu dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran peta pikiran (mind map) di kelas X-6 SMAN 1 Kesamben Kabupaten Blitar. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Geografi dengan menerapkan model pembelajaran peta pikiran (mind map). Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari 2 kali pertemuan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April dan Mei 2011. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa mulai dari pra tindakan, siklus I, hingga siklus II. Pada pra tindakan nilai rata-rata kelas sebesar 57,35 , pada siklus I naik menjadi 64, dan siklus II naik kembali menjadi 87. Persentase hasil belajar siswa yang mencapai KKM juga mengalami peningkatan yaitu 35% pada siklus I, dan 94% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi guru geografi agar menggunakan model pembelajaran peta pikiran (mind map) sebagai salah satu alternatif pembelajaran di kelas guna meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran peta pikiran (mind map) namun dengan subjek penelitian yang berbeda guna meningkatkan kemampuan analisis siswa.

Penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan keaktifan belajar IPS Geografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung / Ifa Hasna Hidayanti

 

Kata Kunci: Model pembelajaran Think Talk Write, keaktifan belajar siswa Berdasarkan observasi awal pada tanggal 7 dan 14 September dapat diketahui keaktifan belajar siswa secara klasikal masih tergolong rendah. Hal ini terlihat selama proses pembelajaran siswa enggan bertanya pada guru walaupun kurang paham pada materi yang diajarkan, takut dan malu untuk mengungkapkan ide dan pendapat, malas mencatat penjelasan dari guru, dan membicarakan hal-hal di luar materi selama proses pembelajaran. Pada waktu guru menggunakan metode diskusi diketahui hanya 4 siswa (11,4%) yang mengajukan pertanyaan, 6 siswa (18,75%) mengemukakan pendapat, 3 siswa (14,2%) memberi saran, sisanya 19 siswa (59,37%) hanya diam dan belum menunjukkan keaktifan. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII B SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung dengan subjek penelitian 32 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, dan tiap siklusnya dilaksanakan dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan data keaktifan belajar siswa menggunakan lembar observasi. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Think Talk Write. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I persentase rata-rata keaktifan belajar siswa sebesar 59,51% (cukup) pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 81,58% (sangat baik). Persentase rata-rata keaktifan siswa saat presentase pada siklus I sebesar 61,45% (baik) pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80,72% (sangat baik), yang berarti ada peningkatan secara signifikan dari penerapan model pembelajaran Think Talk Write terhadap keaktifan belajar siswa secara klasikal dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka sarannya sebagai berikut: 1) Bagi guru bidang studi IPS Geografi untuk menerapkan model Think Talk Write (TTW) sebagai salah satu pembelajaran alternatif, dengan memberikan materi problematik, 2) Guru sebaiknya dalam menerapkan model pembelajaran TTW mengatur waktu pada tiap tahapan agar penerapan model ini bisa berjalan lancar, 3) Perlu adanya pengelolaan kelas yang lebih baik terutama dalam mengatasi siswa yang sering membuat ramai dan gaduh, 4) Bagi peneliti selanjutnya agar menerapkan model Think Talk Write pada materi dan jenjang kelas yang berbeda atau mengkombinasikan dengan model lain untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa, 5) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk lebih memotivasi siswa pada setiap tahapan dalam model TTW berupa pemberian hadiah dan hukuman agar penerapan model ini bisa berjalan lancar.

Karakteristik dan persepsi wisatawan terhadap konsep esensial geografi dan sapta pesona pada wisata Waterpark Sumberudel dan Makan Bung Karno Kota Blitar / Weny Eka Yuswandari

 

Kata kunci: Karakteristik, Persepsi, Wisatawan Di Kota Blitar terdapat dua objek wisata yang terletak di pusat kota yaitu waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno. Pengembangan yang telah dilaksanakan pada kedua objek wisata selama ini tidak menjadikan penambahan pengunjung yang berarti. Pengembangan kepariwisataan tidak hanya ditujukan pada objek wisata yang ditawarkan, daya dukung yang dimiliki, tetapi juga respon dari wisatawan, oleh karena itu perlu adanya penelitian tentang perilaku wisatawan untuk mengetahui respon melalui karakteristik dan persepsi wisatawan untuk mengetahui keberhasilan pengembangan. Untuk mengetahui karakteristik dan persepsi wisatawan, maka penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut (1) Bagaimana karakteristik wisatawan objek wisata waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno? (2) Bagaimana persepsi wisatawan terhadap konsep essensial geografi pada objek wisata waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno? (3) Bagaimana persepsi wisatawan terhadap sapta pesona pada objek wisata waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno? Metode yang digunakan adalah metode survei dengan populasi seluruh pengunjung waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno pada saat pengambilan sampel. Pengambilam sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan 100 responden (50 responden waterpark Sumberudel dan 50 responden Makam Bung Karno). Alat pengumpul data berupa wawancara. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan tabulasi dan gabungan skor (Indeks Komposit Skor). Hasil penelitian menunjukkan: (1) Karakteristik wisatawan waterpark Sumberudel, mayoritas berjenis kelamin perempuan yang berumur antara 14-24 tahun dan berasal dari daerah Blitar, yang didominasi oleh pelajar/mahasiswa dan tujuan berkunjung ke waterpark Sumberudel untuk berenang. Sedangkan karakteristik wisatawan Makam Bung Karno, mayoritas berjenis kelamin perempuan yang berumur antara 36-46 tahun dan berasal dari luar daerah Blitar, dengan pekerjaan yang bervariasi dan tujuan berkunjung ke Makam Bung Karno untuk berziarah, (2) Persepsi wisatawan terhadap konsep essensial geografi waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno tergolong baik, (3) Persepsi wisatawan terhadap sapta pesona waterpark Sumberudel tergolong baik dan Makam Bung Karno tergolong cukup. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) Kepala Dinas Infoparda untuk meningkatkan promosi, (2) Kepada pengelola dan Karyawan waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno supaya lebih terampil dan komunikatif, (3) Kepada masyarakat supaya lebih berperan aktif dalam mendukung objek wisata waterpark Sumberudel dan Makam Bung Karno.

Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar geografi siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Ngantru Tulungagung tahun ajaran 2010/2011 pokok bahasan atmosfer / Sinta Puspitasari

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif model jigsaw, keaktifan belajar, hasil belajar Meskipun telah lama kita menyadari bahwa belajar memerlukan keterlibatan siswa secara aktif, kenyataan di lapangan menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Siswa bersikap pasif karena terbiasa dengan pembelajaran teacher centered. Begitu pula kecenderungan yang terjadi di kelas VII B SMP Negeri 1 Ngantru, Tulungagung. Kegiatan pra tindakan yang dilaksanakan pada tanggal 7 dan 14 Januari 2011 menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa masih kurang. Hanya sekitar 4% dari 42 siswa yang ada. Minimnya keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran ini berdampak terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. 22 dari 42 siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan pihak sekolah (sebesar 75) dengan rata-rata kelas 74,4. Berkaitan dengan hal tersebut, diperlukan pembahasan untuk menyelesaikan permasalahan kelas VII B SMP Negeri 1 Ngantru. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui model pembelajaran jigsaw yang bagaimana yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS geografi siswa kelas VII B SMP Negeri 1 Ngantru. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi, sedangkan instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, soal post-tes dan format catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan menghitung selisih data yang diperoleh tiap siklus, digunakan pula analisis statistik uji t (T-test) agar perbedaan yang dinilai dari tiap siklusnya diketahui signifikan atau tidak. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa keaktifan dan hasil belajar IPS geografi siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, keaktifan belajar siswa berada pada taraf keberhasilan C (cukup) dengan nilai 56,3% dan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 76,8. Pada siklus II, keaktifan belajar siswa berada pada taraf keberhasilan B (baik) dengan nilai 74,1% dan ratarata hasil belajar siswa sebesar 83,7. Untuk keaktifan belajar siswa dari siklus I ke siklus II meningkat 17,8% dan untuk hasil belajar, rata-rata kelas meningkat sebesar 6,9. Peningkatan tersebut terjadi karena pembelajaran kooperatif model jigsaw yang diterapkan peneliti selaku guru menggunakan power point berisi gambar-gambar yang relevan dengan materi pembelajaran; kelompok yang dibentuk heterogen; lembar diskusi yang dibagikan, jumlahnya lebih sedikit dari anggota kelompok; pemberian waktu yang lebih lama untuk kegiatan bertukar informasi; serta pemberian bimbingan yang lebih pada saat siswa melaksanakan kegiatan diskusi dan presentasi.

Penerapan model pembelajaran Van Hiele untuk meningkatkan hasil belajar geometri di kelas V SDN Ranggeh Pasuruan / Deden Yunus

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Van Hiele, Pembelajaran, Matematika, SD. Proses pembelajaran geometri kususnya mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar yang selama ini cenderung menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa masih banyak yang belum tuntas dalam hasil belajarnya. Maka untuk mengatasi permasalahan ini akan direncanakan model pembelajaran yang relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran Van Hiele Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan masalah Penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pelaksanaan model pembelajaran Van Hiele untuk meningkatkan hasil belajar geometri di kelas V SDN Ranggeh Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan, (2) Apakah model pembelajara Van Hiele dapat meningkatkan hasil belajar geometri di kelas V SDN Ranggeh Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Deskriptif Kualitatif. Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) langkah-langkahnya diadopsi dari model Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Ranggeh Pasuruan sebanyak 20 siswa. Sedangkan instumen yang digunakan adalah kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci, lembar observasi, soal test tulis dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Van Hiele meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Ranggeh Pasuruan. Hal ini terjadi karena guru telah menerapkan model pembelajaran Van Hiele sesuai dengan tahap-tahap dalam Strategi tersebut. Untuk keterlaksanaan aktifitas guru dalam pembelajaran geometri dengan menggunakan model pembelajaran Van Hiele pada siklus I menunjukkan nilai (92,04) sedangkan pada siklus II meningkat menjadi (95,45). Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai dari sebelum dilakukannya tindakan (58,89), dilakunnya tindakan pada siklus I (70,5), selanjutnya tindakan pada siklus II (73,25) Berdsarkan hasil penelitian disarankan: (1) Dalam melaksanaakan KBM dengan model pembelajaran Van Hiele seorang guru harus mengetahui dengan jelas seperti apa langkah-langkahnya. (2) Karena aktifitas siswa hal yang sangat mendasar, maaka peneliti menyarankan kepada guru untuk memilih strategi belajar yang memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam KBM. (3) Peneliti sarankan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian di sekolah lain untuk mendapatkan temuan yang baru.

Pengembangan bahan ajar bentuk komik pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV sekolah dasar / Laili Rahmawati

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika SD, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A., (II) Dr. Swasono Raharjo, M.Si. Keywords: Komik, Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan. Salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan dapat dilakukan dengan bahan ajar yang dapat mendukung siswa dalam memahami pecahan melalui media Komik. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar dalam bentuk Komik dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa pada materi Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan. Pemilihan model pengembangan bahan ajar Dick dan Carey dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara sistematis berdasarkan landasan teoritis desain pembelajaran. Prosedur pengembangan dalam pengembangan bahan ajar ini terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) menentukan mata kuliah yang akan dikembangkan, (2) mengidentifikasi silabusnya, (3) mengembangkan bahan ajar, dan (4) mendesain dan melakukan evaluasi formatif. Data yang telah dikumpulkan melalui serangkaian evaluasi formatif dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) dua data dari evaluasi pertama berupa data hasil review ahli materi dan ahli media, (2) dua data dari evaluasi tahap kedua berupa data hasil review uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil, dan (3) tiga data dari hasil uji lapangan berupa data hasil review, data hasil tes, dan data peningkatan motivasi siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket, tes, dan angket motivasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik deskriptif. Setelah dikonversikan dengan tingkat validitas, ahli materi menilai bahwa bahan ajar ini termasuk dalam kriteria baik, sedangkan menurut penilaian ahli media, bahan ajar ini termasuk dalam kriteria sangat baik. Persentase keseluruhan angket pada uji coba kelompok kecil menunjukkan rerata 80,64%, yang berarti bahwa bahan ajar berada dalam kriteria baik. Rerata persentase angket penilaian siswa terhadap bahan ajar dalam uji coba lapangan adalah 77,22%. Setelah dikonversikan dengan tabel tingkat validitas menunjukkan bahwa bahan ajar ini berada dalam kriteria baik. Setelah melalui serangkaian uji coba, menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan ini layak digunakan dalam materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini dibuktikan dengan perolehan motivasi belajar siswa sebelu pembelajaran dengan skor rata-rata 2,94 pada kategori motivasi sedang dan sesudah pembelajaran dengan skor rata-rata 3,99 pada kategori motivasi tinggi, dimana ada kenaikan perolehan skor sebesar 1,05. Dengan demikian, produk bahan ajar yang dihasilkan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.

Pengembangan multimedia interaktif mata pelajaran ilmu pengetahuan alam kelas V di SDN Merjosari 5 Malang / Sulthan Akbar

 

Kata kunci: pengembangan, multimedia interaktif, ilmu pengetahuan alam Media awalnya berfungsi sebagai alat bantu visual dalam kegiatan pembelajaran, yaitu berupa saran yang dapat memberikan pengalaman visual kepada siswa antara lain untuk mendorong motivasi belajar, memperjelas dan memudahkan konsep yang abstrak, dan mempertinggi daya serap belajar. Kemudian secara bertahap mulai muncul media audio visual dan sampai pada multimedia yang berbasiskan komputer. Multimedia interaktif adalah perwujudan dari multimedia pembelajaran yang memadukan unsur audio, visual serta dapat berinteraksi secara langsung dengan siswa. Dengan multimedia interaktif siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti informasi yang terdapat di media tersebut dan membuat pembelajaran tidak membosankan, karena interaktif memiliki komunikasi yang bersifat dua arah yaitu antara pengguna dengan media. Oleh karena itu pengembangan multimedia interaktif dikemas sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik siswa. Walaupun media ini masih harus melibatkan guru secara penuh. Karena tidak dapat dipungkiri pengawasan dan panduan dari seorang guru lebih berperan. Jadi siswa tidak hanya berpegangan pada 1 buku paket, namun siswa dapat mempunyai materi pembelajaran yang lebih dari satu nara sumber buku yang dijadikan satu dalam bentuk multimedia interaktif tersebut dengan tanpa membeli beserta latihan soal berbentuk elektronik. Subyek uji coba pengembangan ini adalah siswa kelas V semester 2 SDN Merjosari 5 Malang. Pengembangan multimedia interaktif ini divalidasikan oleh ahli materi sebanyak 2 orang, ahli media sebanyak 2 orang, audiens individual sebanyak 3 siswa, audiens kelompok kecil sebanyak 10 siswa dan uji coba lapangan sebanyak 15 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa multimedia interaktif ini dinyatakan valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang bumi dan alam semesta. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan angket ahli media 94,4%, ahli materi 97,5% dan siswa individual 97,5% serta siswa kelompok kecil 89,7% dan uji lapangan 90,7%. Dalam penelitian ini saran yang peneliti ajukan kepada pihak sekolah adalah multimedia interaktif ini agar dijadikan bahan pertimbangan sebagai alternatif media yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan dapat digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam kelas.

Keefektifan bibliokonseling untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMP / Irnada Mufidah

 

Kata Kunci: bibliokonseling, kesadaran bertanggung jawab, siswa SMP. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. tanggung jawab berarti juga berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Rendahnya kesadaran bertanggung jawab di kalangan siswa dapat menyebabkan adanya perilaku seperti membolos, mencontek pada saat ujian, dan malas belajar, serta dapat berdampak pada berkurangnya kesadaran lain seperti kepedulian. Siswa membuang sampah sembarangan adalah salah satu contoh berkurangnya kesadaran akan kepedulian sebagai imbas akan berkurangnya kesadaran bertanggung jawab. Kesadaran bertanggung jawab siswa dapat ditingkatkan melalui aplikasi teknik bibliokonseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bibliokonseling untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMP. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP berjumlah 10 orang siswa. Bibliokonseling adalah salah satu teknik yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Konsep perlakuan bibliokonseling adalah dengan memberikan bahan bacaan kepada siswa sebagai media untuk mencapai suatu tujuan yaitu meningkatkan kesadaran bertanggung jawab. Dalam penelitian ini, teknik bibliokonseling yang digunakan adalah dengan memberikan cerita pendek sebagai media. Adapun tahap-tahapnya adalah pembagian cerita pendek, refleksi isi dan refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen, dan refleksi pengalaman. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen one group pretest posttest. Subjek penelitian berjumlah sepuluh orang siswa SMP yang memiliki kriteria kesadaran bertanggung jawab rendah yang diukur dengan menggunakan skala tanggung jawab siswa SMP. Pemberian treatment dengan menggunakan bibliokonseling berupa cerita pendek dilakukan dalam sepuluh kali pertemuan yang diawali dengan kegiatan ice breaking pada pertemuan pertama. Delapan kali pertemuan selanjutnya diberikan satu cerita pendek setiap pertemuan untuk direfleksi. Di pertemuan kesepuluh dilaksanakan posttest. Data pretest dan posttest yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis uji wilcoxon dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek efektif untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari skor pada posttest di akhir pertemuan, di sini semua siswa mengalami kenaikan skor yang bervariasi. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) dalam mengaplikasikan teknik ini, konselor harus mempersiapkan bahan bacaan yang sesuai dengan usia kelompok eksperimen, dan cerita yang diberikan harus menarik. (2) pada peneliti selanjutnya disarankan menggunakan desain time series untuk melihat perubahan setelah memberikan treatment berupa bibliokonseling.

Hubungan minat membaca dengan hasil belajar dasar motor diesel pada mata pelajaran sistem bahan bakar motor diesel sisw kelas X Teknik Ototronik SMK Negeri 1 Singosari / Ahmad Zakki Su'aidi

 

Kata kunci: minat membaca, hasil belajar dasar motor diesel. Minat adalah kecenderungan akan tingkah laku seseorang karena tertarik dengan sesuatu atau kegiatan tertentu. Rasa tertarik ini dapat mendorong seseorang tersebut untuk menaruh perhatian ataupun usaha untuk mendapatkan objek atau hal yang sesuai dengan minatnya. Minat menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni seseorang. Jika tanpa sebuah minat, maka yang muncul hanya kebosanan terhadap kegiatan tersebut atau hanya akan berusaha seperlunya saja. Jika dalam sebuah kegiatan pembelajaran, seseorang siswa melakukannya dengan minat yang tinggi maka dapat diindikasikan akan memperoleh hasil belajar terbaiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki minat membaca tinggi dengan siswa yang memiliki minat membaca rendah pada materi Dasar Motor Diesel. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk menguji hubungan antara minat membaca dengan hasil belajar. populasi penelitian ini adalah siswa kelas X program studi teknik ototronik SMKN 1 Singosari dengan jumlah total 133 siswa, sedangkan sampel yang digunakan adalah 30 siswa Data hasil belajar diperoleh melalui laporan hasil belajar siswa (raport). Sedang tingkatan minat membaca diketahui melalui instrumen penelitian yang diberikan kepada subjek penelitian. Analisis korelasional akan digunakan untuk menjawab hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar siswa dengan tingkat minat membaca tinggi adalah lebih baik dibanding hasil belajar siswa yang memiliki tingkat minat membaca rendah, hal ini dibuktikan dengan rerata hasil belajar siswa dengan minat membaca tinggi yaitu 86,16. Sedang rerata hasil belajar siswa dengan minat membaca rendah hanya 80,56. (2) terdapat hubungan yang positif antara minat membaca dengan hasil belajar Dasar Motor Diesel Pada mata pelajaran Sistem Bahan Bakar Motor Diesel. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) pentingnya menumbuhkan minat membaca pada setiap siswa harus diupayakan oleh guru dan sekolah, agar hasil belajar siswa menjadi lebih baik karena bertambahnya pengetahuan akibat membaca. (2) wali murid atau orang tua diharapkan dapat menanamkan kebiasaan dan kesadaran akan pentingnya membaca pada anak sejak usia dini. (3) diperlukan dukungan dari pemerintah melalui perpustakaan umum maupun perputakaan sekolah untuk menyadarkan kepada masyarakat akan pentingnya membaca melalui berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan budaya membaca pada masyarakat.

Upaya peningkatan keterampilan menolak pada tolak peluru gaya menyamping siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Pembangunan Kabupaten Lamongan dengan menggunakan metode bermain / Hendra Setiawan

 

Kata kunci: Upaya Peningkatan, Keterampilan, Tolak Peluru Gaya Menyamping, Metode Bermain. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan tolak peluru gaya menyamping siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Pembangunan Kabupaten Lamongan dapat dikatakan kurang baik karena dari keempat teknik dasar yang diamati persentase kesalahan masih banyak terlihat pada teknik saat menolak yaitu 68%. Oleh karena itu perlu adanya pembaharuan metode penyampaian materi yaitu dengan penerapan metode bermain untuk menghindarkan siswa menjadi bosan dan kurang kreatif. Peneliti menulis ini dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan dan peningkatan keterampilan menolak pada materi tolak peluru gaya menyamping pada siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Pembangunan Kabupaten Lamongan dengan menggunakan media bermain. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Pembangunan Kabupaten Lamongan Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan keterampilan siswa dari siklus ke siklus. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan bagi guru Pendidikan Jasmani di Madrasah Aliyah Pembangunan, metode bermain dapat dijadikan alternatif pilihan dalam pembelajaran tolak peluru gaya menyamping karena berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa metode bermain dapat meningkatkan keterampilan tolak peluru gaya menyamping siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Pembangunan Kabupaten Lamongan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengunaan metode bermain dapat meningkatkan keterampilan menolak pada tolak peluru gaya menyamping siswa kelas X-1 Madrasah Aliyah Pembangunan Kabupaten Lamongan . Metode permainan yang digunakan yaitu permainan lonceng, gerobak dorong, permainan melempar bola sejauh-jauhnya, permainan melempar bola melewati tali yang di laksanakan secara bergantian, dan permainan melempar bola mengenai sasaran.

Hubungan antara pemanfaatan perpustakaan sekolah dengan prestasi belajar sejarah siswa kelas X SMA Negeri I Lawang / Pishana S. Putri

 

Kata kunci: hubungan, pemanfaatan, perpustakaan, prestasi Sekarang siswa cenderung menggunakan internet sebagai acuan belajarnya karena menurut mereka lebih praktis dan instan, padahal di perpustakaan lebih banyak menyimpan ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih lengkap. SMAN 1 Lawang mempunyai sarana dan prasarana belajar yang cukup memadai, khususnya perpustakaan sebagai sumber belajar siswa. Aktifitas siswa masih sangat kurang dalam memanfaatkan perpustakaan, hal ini terlihat dari sedikitnya jumlah siswa yang mengunjungi dan menggunakan koleksi buku di perpustakaan. Selain itu di SMAN 1 Lawang belum pernah diadakan penelitian serupa yang berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1). Bagaimana tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SMAN 1 Lawang?, (2). Bagaimana prestasi belajar sejarah siswa kelas X SMAN 1 Lawang?, (3). Apakah terdapat hubungan antara pemanfaatan perpustakaan sekolah dengan prestasi belajar sejarah siswa kelas X SMAN 1 Lawang? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1). Tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SMAN 1 Lawang., (2). Prestasi belajar sejarah siswa kelas X SMAN 1 Lawang, (3). Hubungan pemanfaatan perpustakaan sekolah dengan prestasi belajar sejarah siswa kelas X SMAN 1 Lawang Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan adalah adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang dilakukan dengan menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN I Lawang. Penentuan sampel dengan menggunakan simpel random sampling product moment karena penelitian ini bersifat hubungan atau asosiatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari analisis data diketahui bahwa (1). Siswa kelas X SMAN I Lawang telah memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan baik, (2). Prestasi belajar siswa kelas X SMAN I Lawang pada mata pelajaran sejarah termasuk kriteria baik karena hampir semua siswa nilainya berada di atas SKM (75) dan hanya 5 siswa yang mendapat nilai di bawah SKM (75), (3). Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pemanfaatan perpustakaan sekolah dengan prestasi belajar sejarah siswa kelas X SMAN I Lawang yang dibuktikan dengan besarnya hitung r lebih besar dari tabel r yaitu 0,489 ≥ 0,202. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi guru untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana pembelajaran dengan sering mengadakan proses belajar mengajar yang melibatkan perpustakaan sekolah. Serta bagi peneliti lain diharapkan dapat melakukan penelitian yang lebih baik lagi dengan mengembangkan variabel penelitian yang lebih kompleks. sehingga diperoleh jumlah sampel 95 orang siswa kelas X SMAN I Lawang. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik inferensial dimana teknik statistik ini digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Sedangkan yang berkaitan dengan uji hipotesis yaitu menggunakan teknik korelasi : hubungan, pemanfaatan, perpustakaan, prestasi Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam mengantarkan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Proses pembelajaran di sekolah diselenggarakan dengan lebih banyak mengacu pada bagaimana siswa itu belajar selain apa yang dipelajari siswa. Siswa sekarang dituntut untuk lebih aktif dan mandiri dalam belajar untuk memperoleh hasil yang optimal. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah melalui penyediaan seperangkat sarana dan prasarana yang mampu mendorong peningkatan efektivitas fungsi-fungsi pengelolaannya secara terus-menerus sehingga mampu berkembang secara maksimal. Upaya yang dimaksudkan adalah mengadakan perpustakaan sekolah. Alasan kenapa peneliti memilih penelitian tentang pemanfaaatan perpustakaan karena peneliti melihat pada umumnya sekarang ini banyak siswa yang mengabaikan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar.

Penerapan metode kooperatif struktural round table pada pembelajaran keterampilan membaca bahasa Jerman kelas X SMA Negeri 1 Batu / Tri Sulistiyowati

 

Kata kunci: keterampilan membaca, metode kooperatif, struktural Round Table Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang sangat penting, karena membaca merupakan tuntutan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat memahami bacaan, pembaca terlebih dahulu harus memahami kata-kata dan kalimat dalam bacaan. Hal ini juga diperlukan ketika seseorang membaca teks bahasa Jerman. Keadaan di lapangan menunjukkan bahwa, ketergantungan siswa pada kamus dalam proses pembelajaran masih tinggi. Kondisi tersebut mengakibatkan siswa cenderung pasif. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menerapkan metode kooperatif struktural Round Table sebagai metode pengajaran dalam keterampilan membaca. Dalam metode struktural Round Table, siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran. Setiap siswa di dalam kelompok duduk membentuk lingkaran pada sebuah meja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode kooperatif struktural Round Table pada pembelajaran keterampilan membaca bahasa Jerman di SMA Negeri 1 Batu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskripftif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes membaca, dan kuesioner. Sumber data yang digunakan adalah siswa SMA Negeri 1 Batu X-1 tahun jaran 2010/2011 yang berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan metode kooperatif struktural Round Table membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan metode kooperatif struktural Round Table efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan membaca. Hal ini terbukti dari hasil tes membaca siswa yang memperoleh nilai rata-rata 87,5, dan hasil tersebut masuk dalam ketegori baik. Semua siswa telah mencapai ketuntasan dalam keterampilan membaca. Oleh karena itu, disarankan pada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menggunakan metode struktural Round Table. Kepada peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan pembanding atau referensi untuk penelitian berikutnya yang sejenis untuk keterampilan berbahasa yang lain.

Pengembangan media pembelajaran dengan pemrograman visual untuk mata pelajaran IPS SD kelas 5 di SDN Cepokomulyo 02 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Aedhon Zunaedi

 

Kata Kunci : Pengembangan, Pemrograman Visual, IPA Pengembangan media pembelajaran dengan pemrograman visual untuk mata pelajaran IPA merupakan media yang di tujukan untuk membantu kegiatan pembelajaran dalam meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar siswa. Dari hasil observasi ke sekolah, proses belajar mengajar masih menggunakan metode klasikal yaitu menggunakan buku penunjang / buku paket. Maka dari itu diharapkan pengembangan ini dapat menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih bervariatif dan dapat memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Tujuan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu media pembelajaran yang variatif dan layak agar pembelajaran yang dilakukan tidak monotone dan dapat meningkatkan prestasi serta motivasi belajar siswa. Pengembangan ini di uji cobakan di SDN Cepokomulyo 02 Kepanjen pada kelas 5 yang berjumlah 28 siswa. Uji coba ini di peruntukkan untuk mengumpulkan data dalam rangka mengetahui tingkat ke valid media yang dikembangkan. Pengumpulan data yang digunakan meliputi : angket ahli materi, media, dan audien serta tes hasil belajar untuk siswa. Hasil dari pengembangan media pembelajaran dengan pemrograman visual untuk mata pelajaran IPA memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 90%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 90%, dan uji audien (siswa) Uji kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 82,5%, uji lapangan mencapai tingkat kevalidan 83,83%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran komputer berbasis pemrograman visual untuk mata pelajaran IPA kelas di SDN Cepokomulyo 02 Kepanjen, valid/layak digunakan dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Saran dalam pengembangan ini meliputi, bagi sekolah dengan adanya media berbasis komputer ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk menambah media lainnya sehingga dapat menunjang kegiatan belajar siswa, bagi guru dalam pemanfaatan media ini agar tidak terjadi kesalahan atau kekurangan hendaknya guru terlebih dahulu membaca serta memahami betul petunjuk pemanfaatan yang telah disediakan, sehingga penggunaan media dalam proses belajar tidak tergangggu. Disamping itu guru harus memiliki ketrampilan mengoperasikan computer/ laptop dan LCD proyektor, bagi siswa Saran bagi siswa dalam penggunaan media ini saat melihat tayangan hendaknya disertai dengan membuka buku yang berkaitan dengan materi sehingga dapat memaksimalkan pembelajaran, bagi pengembang selanjutnya, hendaknya harus lebih selektif dalam memilih komposisi gambar, animasi, video, desain background, susunan tombol-tombol agar siswa lebih tertarik untuk mempelajarinya. Disamping itu, pengembang juga disarankan agar mengembangkan pembelajaran ini pada semua mata pelajaran.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia dalam pembelajaran bahasa Arab kelasIII semester 2 tahun ajaran 2010-2011 Sekolah Dasar Al-Kautsar Pasuruan / Lud Khumaida

 

Kata Kunci : Pengembangan, Multimedia, Bahasa Arab Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri teks, grafis, gambar, foto, suara, video, dan animasi secara terintegrasi. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk berupa media pembelajaran berbasis multimedia dalam pembelajaran Bahasa Arab kelas III yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan dan peningkatan partisipasi dan motivasi belajar siswa. Pengembangan dilaksanakan di Sekolah Dasar Al-Kautsar Pasuruan. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens, dan hasil tes belajar untuk subyek penelitian. Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis yang tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi.. Hasil pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia. Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Multimedia ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 98,3%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 85%, uji kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 94% uji lapangan mencapai tingkat kevalidan 92%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis multimedia dalam pembelajaran Bahasa Arab kelas III Semester 2 SD Al-Kautsar Pasuruan, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Arab. Saran yang diajukan, hendaknya produk Multimedia interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media variasi pada penyampaian mata pelajaran, dapat dijadikan media pembelajaran yang dapat meningkatan partisipasi dan motivasi belajar bagi siswa.

Pembelajaran garis tinggi dan garis berat segitiga dengan penajaman ciri relating dan experiencing bagi mahasiswa / Riki Suliana Ranggawati Sidik

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr Edy Bambang Irawan, M.Pd (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D Kata Kunci : relating dan experiencing, garis tinggi dan garis berat Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang dihadapi mahasiswa STKIP PGRI Blitar yaitu masih ada mahasiswa STKIP PGRI Blitar yang mengalami kesulitan dalam memahami garis tinggi dan garis berat. Dari hasil observasi, masih juga dijumpai mahasiswa STKIP PGRI Blitar yang kesulitan dalam menyelesaikan persoalan yang memuat persamaan garis khususnya garis tinggi dan garis berat suatu segitiga . Oleh karena itu diperlukan usaha dalam membangun pemahaman mahasiswa STKIP PGRI Blitar terhadap persamaan garis tinggi dan garis berat. Usaha yang dapat dilakukan peneliti untuk menyelesaikan persoalan ini adalah dengan menerapkan pembelajaran garis tinggi dan garis berat pada segitiga dengan penajaman ciri relating dan experiencing bagi mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di tingkat I STKIP PGRI Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan penajaman ciri relating dan experiencing bagi mahasiswa dapat membangun pemahaman mahasiswa STKIP PGRI Blitar kelas IF terhadap materi garis tinggi dan garis berat. Mahasiswa STKIP PGRI Blitar dikelompokkan dalam sepuluh kelompok belajar. Peneliti menjelaskan tugas dan tanggung jawab anggota kelompok. Setelah itu peneliti menyampaikan indikator pembelajaran dan memotivasi mahasiswa STKIP PGRI Blitar serta membangkitkan pengetahuan awal. Mahasiswa STKIP PGRI Blitar bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menemukan dan menggunakan garis tinggi dan garis berat , menyelesaikan masalah yang ada dalam LKM, menyajikan hasil kerja kelompok. Peran dosen adalah sebagai mediator dan fasilitator. Di akhir pembelajaran mahasiswa membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari mengenai garis tinggi dan garis berat. Untuk mengetahui pemahaman mahasiswa STKIP PGRI Blitar secara lebih mendalam dilakukan tes akhir tindakan. Menerapkan pembelajaran garis tinggi dan garis berat dengan strategi REACT disarankan untuk merancang perangkat pembelajaran yang memuat semua komponen yang terdapat dalam strategi REACT dan menggunakan media pembelajaran atau alat peraga serta LKM untuk membantu dan memudahkan dalam memahami materi yang akan dipelajarinya. memotivasi mahasiswa STKIP PGRI Blitar yang pasif atau kurang untuk berani mengemukakan pendapatnya saat ditanya.

Pengembangan buku pembelajaran seni rupa untuk mata pelajaran seni budaya dan keterampilan kelas IV SD / Marta Putri Damayanti

 

Kata kunci: Buku pembelajaran, seni rupa, kelas IV, SD Pembelajaran seni rupa di sekolah dasar merupakan dasar untuk mengembangkan potensi kecerdasan dan kepribadian anak. Karena itu pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa antara manusiawi, material, fasilitas dan prosedur agar dapat saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah pemilihan media dan pengembangan bahan ajarnya. Dari uraian di atas, maka perlu diadakan penelitian tentang pengembangan buku pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik sebagai salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran seni rupa yang menarik dan menyenangkan untuk kelas IV SD. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah terciptanya buku ajar yang berisi hasil pengembangan bahan ajar untuk digunakan dalam pembelajaran seni budaya dan keterampilan kelas IV SD. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model prosedural. Uji lapangan dilakukan di SD. Langkah-langkah penelittian pengembangan media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan (3)memilih dan mengembangkan materi, (4) produksi, (5) validasi produk, (6) revisi, (7) uji coba produk, (8) uji coba kelompok kecil, (9) hasil akhir. Penelitian ini menghasilkan produk berupa buku pembelajaran seni rupa untuk kelas IV SD yang telah divalidasi. Buku tersebut adalah buku yang dirancang khusus berisi materi seni rupa sesuai dengan standar isi untuk kelas IV SD. Buku ini dirancang dengan lebih banyak informasi visual agar lebih menarik. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas media pembelajaran yaitu 88,75%. Untuk hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 80,56%. Berarti media pembelajaran tersebut cukup layak digunakan dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan tingkat validitasnya, diadakan revisi terhadap media, (1) menambah kelengkapan identitas cover dan membuat desain cover dalam, (2) memperbesar dan memperjelas data visual berupa gambar, (3) memperbaiki desain layout, (4) memperbaiki dekorasi agar tidak berlebihan. Adapun revisi yang telah dilakukan terhadap materi, yaitu (1) dari aspek materi/teks yaitu harus dicermati pemaparan konsepnya(2) mengubah beberapa kata yang terlalu sulit untuk pengguna, (3) menyesuaikan tingkat kesulitan tugas dan soal dengan kemampuan pengguna. Media pembelajaran tersebut kemudian diujicobakan kepada siswa. Secara keseluruhan, persentase vii penilaian yang didapat dari hasil jawaban siswa adalah 80,92%. Hal ini berarti, Buku Pembelajaran Seni Rupa untuk Pembelajara Seni Budaya dan Keterampilan Kelas IV SD ini valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Dari hasil pengembangan dalam penelitian ini, peneliti memberikan Saran pengembangan produk lebih lanjut bagi peneliti/pengembang lain/selanjutnya yang akan mengembangkan media pembelajaran akan lebih baik apabila produk pembelajaran dibuat dengan lebih menarik baik dari segi warna, gambar, atau yang lainnya. Pengembangan buku pembelajaran seni musik, seni tari,dan juga keterampilan juga akan sangat baik dalam mendukung terlaksananya pembelajaran SBK secara komprehensif. Selain itu diharapkan dapat melakukan uji coba produk pengembangan kepada subjek yang lebih luas dengan kurun waktu yang lebih lama sehingga didapatkan validitas media yang lebih optimal.

Pengembangan multimedia interaktif akord untuk pelajaran seni musik kelas XI di SMA Negeri 1 Kejayan Pasuruan / Sigit Hadi Firmansyah

 

Kata Kunci : Pengembangan multimedia interaktif, Seni Musik, Akord. Pada pelajaran seni musik pokok bahasan akord merupakan kunci utama untuk melanjutkan ke materi-materi lain. Pada pokok bahasan ini alat musik sangat diperlukan agar anak dapat menerapkan akord. Terbatasnya alat musik menyebabkan siswa tidak memiliki kesempatan menggunakan alat musik dalam mempelajari materi akord. Sekolah yang menjadi tempat penelitian pengembangan adalah SMA Negeri 1 Kejayan Pasuruan, pembelajaran seni musik yang diterapkan masih cenderung menggunakan metode ceramah dan menggunakan media papan tulis. Alat musik masih sangat jarang digunakan dalam pembelajaran seni. Tujuan dari pengembangan ini adalah (1) menghasilkan produk pengembangan multimedia interaktif akord; (2) mengetahui validitas multimedia interaktif akord; (3) mengetahui efektifitas multimedia interaktif akord. Metode pengembangan yang digunakan adalah model Sadiman, model ini terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) penyusunan rancangan; (2) penulisan naskah; (3) produksi media; (4) evaluasi program media. Sampel yang diambil adalah siswa SMA N 1 Kejayan kelas XI IPA 2. Sumber data yang digunakan dalam pengembangan ini menggunakan instrument antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (pre-tes dan post-test). Teknik analisis data yang digunakan antara lain: analisis data angket, interpretasi data dengan kriteria tingkat validitas dan mengolah tes hasil belajar siswa dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan multimedia interaktif akord. Multimedia interaktif akord mata pelajaran seni musik ini juga telah diperbaiki dari produk awal sebelum menjadi produk, adapun beberapa perbaikan yang dilakukan yaitu (1) penggantian layout di beberapa form, (2) pemisahan tombol aplikasi dengan materi, (3) penataan form penilaian, (4) perbaikan komposisi volume sound materi dengan sound pengiring. Hasil pengembangan multimedia interaktif akord mata pelajaran seni musik adalah sebagai beriktut: (1) validasi ahli media sebesar 82,5%; (2) ahli materi sebesar 91%; (3) validasi siswa dalam uji coba individu sebesar 90,5%; (4) validasi siswa dalam uji coba terbatas sebesar 87,7%; (5) validasi siswa dalam uji coba lapangan sebesar 88,5%. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa multimedia interaktif akord yang dikembangkan termasuk dalam kualifikasi valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran seni musik. Hasil tes belajar baik pre-test maupun post-test yang didapat, yaitu (1) uji coba individu sebesar 57,7%; (2) uji coba terbatas sebesar 52,7%; (3) uji coba lapangan sebesar 50,9%. Sehingga dari hasil tes belajar siswa ini multimedia interaktif akord yang telah dikembangkan termasuk dalam kualifikasi valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran seni musik.

Using Mr. Bean videos to improve the ability of the eight graders of MTsN Terate Pandian Sumenep in writing a recount paragraph / Asri Atikah Wahyudiyati

 

Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd., M.A., Ph.D. (2) Dr. Gunadi Harry Sulistyo, M.A. Key words: writing, media, video, recount, action research This study was conducted to improve the ability of eighth graders of MTsN Terate Pandian Sumenep in writing a recount paragraph. Mr. Bean videos was proposed to be applied in the teaching of writing not only because it is interesting and attracting, but also because it is a good medium to introduce and present the content, organization and the grammatical feature of recount text, since recount texts consist of series of events or experiences in the past, usually in the order they occured. In addtion, some previous studies found that video/film is able to stimulate the students to be more actively involved in the writing activity so their writing ability can be enhanced. This study used action research design. The researcher and her collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, setting the criteria of success, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subjects of this study were VIII-C students of MTs Negeri Terate Sumenep of the 2010/2011 academic year. This study was conducted by following the procedures of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The main activity of the teaching and learning process was Building Knowledge of the Field (BkoF), Modelling of the Text (MoT), Joint Construction of the Text (JcoT), and Independent Construction of the Text (IcoT). In BKoF and MoT, the students were given a recount text then the students analyzed the generic structure, language features, and the connectors used in the text. After that the researcher gave a modelling on how to write a recount paragraph based on Mr. Bean video. In JCoT, the students wrote a recount paragraph in group following the procedure in modelling. In ICoT, the students wrote a recount text independently. The result of the study showed that the use of Mr. Bean videos through writing process can improve the students’s ability in writing a recount paragraph. The percentage of the students achieving the score above KKM had improved from only 14.89% (7 students out of 47 students) in the preliminary study to 77.50% (31 students out of 40 students) in Cycle 1 and to 80% (36 students out of 45 students). Besides, the mean scores of each aspect; content, organization, language use and vocabulary also improved. Based on the findings of the study, it is suggested for English teachers to implement Mr. Bean video in teaching writing, especially recount text. In implementing the videos, the teachers should vary in the way how they teach students so that the students will not get bored. It is also suggested that the teachers be selective in choosing the appropriate videos for students to avoid negative effect of video. For further researcher, it is suggested to use Mr. Bean video for different text types, and on different grades and levels of education. In addition, related to the weaknesses identified in this study, further researchers are suggested to conducts preliminary study more than one time to get the students’ real condition in order to identify the students’ problem more accurately. Next, the scoring rubric should reflect the text type. Finally, the students who failed achieving the KKM, should be given reinforcement and remedial until they can achieve the KKM.

Pengembangan materi penunjang buku teks Living Indonesian untuk pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) / Yusinta Memoriani

 

Kata kunci: materi penunjang, Living Indonesian, BIPA Living Indonesian adalah salah satu buku teks Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang telah diterbitkan untuk umum dan memiliki frekuensi penggunaan yang tinggi. Namun demikian, pembelajaran hanya dengan bersumber dari buku teks Living Indonesian saja tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan belajar pelajar. Buku teks Living Indonesian hanya menyajikan latihanlatihan dasar pemahaman materi dan tidak menyajikan latihan pemantapan atau penguatan pemahaman. Selain itu, bentuk-bentuk latihan yang disajikan dalam Living Indonesian kurang bervariatif sehingga kurang memenuhi kebutuhan belajar pelajar untuk tinggal di Indonesia dan berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia. Hal ini juga didukung oleh hasil wawancara kepada pengajar-pengajar BIPA yang menyatakan bahwa mereka memerlukan materi penunjang dalam menggunakan buku teks Living Indonesian. Oleh karena itu, dibutuhkan materi penunjang buku teks Living Indonesian untuk memantapkan pemahaman serta keterampilan berbahasa pelajar. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menghasilkan materi penunjang buku teks Living Indonesian berdasarkan aspek keinteraktifan yang meliputi aspek keinteraktifan isi materi, keinteraktifan bentuk latihan, dan keinteraktifan topik yang disajikan, (2) menghasilkan materi penunjang buku teks Living Indonesian berdasarkan aspek kelayakan yang meliputi aspek kelayakan pemilihan materi, kelayakan ilustrasi/ gambar/ foto, kelayakan bahasa. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian pengembangan analisis deskriptif kualitatif. Adapun model pengembangan yang digunakan merupakan hasil adaptasi dari model pengembangan Borg dan Gall. Model pengembangan Borg dan Gall memiliki 10 tahapan, yaitu (1) penellitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal produk, (4) uji lapangan awal, (5) revisi produk utama, (6) uji lapangan produk utama, (7) revisi produk operasional, (8) uji lapangan produk akhir, (9) revisi produk akhir, serta (10) diseminasi dan implementasi yang kemudian diadaptasi menjadi model pengembangan yang memiliki lima tahapan, yaitu (1) tahap pra pengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, (4) tahap penyempurnaan, dan (5) tahap produk akhir. Hasil analisis data menunjukkan bahwa materi penunjang buku teks Living Indonesian ini layak untuk digunakan. Namun demikian, tentu produk materi penunjang buku teks Living Indonesian masih memerlukan adanya perbaikan. Perbaikan tersebut meliputi perbaikan pemilihan materi, ilustrasi/ gambar/ foto yang disajikan, serta bahasa yang digunakan terutama dalam hal kejelasan instruksi dan ilustrasi. ii Berdasarkan penelitian ini maka disarankan kepada pengajar-pengajar BIPA agar dapat menggunakan latihan-latihan dalam materi penunjang sejalan dengan penyampaian materi dalam buku teks Living Indonesian sebagai penguatan materi. Sedangkan secara pengembangan, materi penunjang buku teks Living Indonesian masih membutuhkan banyak perbaikan. Oleh karena itu, disarankan pengajar dapat mengembangkan lebih dalam lagi materi penunjang buku teks Living Indonesian sesuai dengan kebutuhan pelajar.

Kompetensi mahasiswa praktikan bimbingan dan konseling tahun 2010 / Iin Nuroniah

 

Kata Kunci: kompetensi, mahasiswa praktikan, Bimbingan dan Konseling. Konselor harus menguasai kompetensi yang mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan, sehingga kinerjanya dapat diakui dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan organisasi profesi. Salah satu pengalaman yang harus ditempuh dalam pendidikan S-1 untuk mencapai kompetensi di atas yaitu Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling. PPL merupakan wahana melaksanakan layanan BK dengan menggunakan pola internship. Dalam kegiatan PPL, unjuk kerja tiap mahasiswa praktikan akan tampak, artinya penguasaan setiap mahasiswa dalam melaksanakan layanan BK akan berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penguasaan mahasiswa praktikan BK tahun 2010 dalam 1) memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani; 2) menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling; 3) menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan; 4) dan mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan ketika melaksanakan PPL II di sekolah. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Data penelitian dikumpulkan dengan angket. Populasi penelitian adalah mahasiswa praktikan BK tahun 2010. Data dianalisis dengan teknik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh empat simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, cukup banyak (45,54%) mahasiswa praktikan BK yang cukup menguasai kompetensi memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani; Kedua, cukup banyak (50,49%) mahasiswa praktikan BK tahun 2010 yang cukup menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling; Ketiga, cukup banyak (42,57%) mahasiswa praktikan BK tahun 2010 yang cukup menguasai kompetensi menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan; Keempat, cukup banyak (51,49%) mahasiswa praktikan BK tahun 2010 yang menguasai kompetensi mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada beberapa pihak di antaranya: Pertama, Program studi BK hendaknya lebih mensosialisasikan organisasi profesi konselor, karena ditemukan bahwa kompetensi berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi masih kurang dikuasai oleh sebagian besar mahasiswa praktikan BK tahun 2010; Hendaknya memperbanyak ragam penelitian bimbingan dan konseling, seperti Penelitian Tindakan dalam Bimbingan Konseling (PTBK), eksperimen, pengembangan, dan penelitian studi kasus, karena atas dasar temuan penelitian bahwa ragam penelitian yang dipelajarai masih kurang beragam; Penyempurnaan kurikulum tentang jadwal pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) agar tidak bersamaan dengan kegiatan perkuliaahan, agar unjuk kerja mahasiswa dalam kegiatan PPL lebih maksimal. Kedua, Dosen pembimbing PPL hendaknya lebih proaktif dalam melakukan bimbingan kepada mahasiswa praktikan BK, baik dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi kegiatan PPL. Hal ini berdasarkan hasil temuan penelitian yang berkaitan dengan kompetensi mahasiswa praktikan BK tahun 2010 pada umumnya, baik yang telah dikuasai maupun yang masih kurang dikuasai. Misalnya dengan lebih aktif melakukan supervisi mahasiswa praktikan ketika berpraktik, untuk mengetahui unjuk kerja mahasiswa dan untuk mengetahui jika ada hambatan dalam berpraktik. Ketiga, Dosen BK khusunya yang mengampu matakuliah asesmen hendaknya lebih inovatif dalam kegiatan pembelajaran, misalnya dengan lebih memperbanyak praktik. Karena hasil temuan penelitian bahwa kompetensi memahami konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli kurang dikuasai oleh sebagian besar mahasiswa praktikan BK tahun 2010. Keempat, peneliti lanjutan yang akan melakukan penelitian sejenis, hendaknya menggunakan dosen pembimbing PPL sebagai subyek penelitian dan menggunakan teknik pengumpulan data yang lebih komprehensif, yaitu selain menggunakan angket juga menggunakan wawancara dan observasi untuk saling melengkapi data yang diperoleh.

Pengembangan pembelajaran berbasis e-learning dengan aplikasi Moodle sejarah Eropa SMA kelas XI di SMAN 10 Malang / Syachrial Ariffiantono

 

Tesis, Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Mohammad Effendi., M.Pd, M. Kes. (2) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata kunci: sejarah, pengembangan, e-Learning, moodle, sejarah eropa e-Learning merupakan inovasi penggunaan teknologi informasi untuk mendukung pembelajaran materi Sejarah Eropa untuk siswa kelas XI di SMAN 10 Malang. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah mengembangkan materi pembelajaran e-Learning pada materi Sejarah Eropa yang dapat digunakan sebagai komplemen pembelajaran dan menjadi alat bantu pelajaran untuk penyampaian materi dan tugas-tugas terstruktur siswa. Penelitian pengembangan ini menggunakan Learning Management System (LMS) moodle untuk mendesain dan mengatur tata laksana penyelenggaraan pembelajaran. Prosedur pengembangan pembelajaran e-Learning ini melalui 7 tahap, yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan (3) pengembangan materi, (4) penulisan alat ukur keberhasilan, (5) pengembangan produk awal, (6) uji coba lapangan skala kecil dan revisi produk, (7) uji coba lapangan skala besar dan produk akhir. Produk pengembangan yang dihasilkan berbentuk (1) model web learning materi Sejarah Eropa, dan (2) petunjuk pemanfaatan untuk guru dan siswa. Pengembangan pembelajaran berbasis e-Learning ini telah di uji coba materi Sejarah Eropa siswa kelas XI jurusan IPS di SMAN 10 Malang. Pada tahap uji coba dengan 3 indikator menunjukkan hasil sebagai berikut : (1) hasil uji coba lapangan skala kecil mendapatkan persentase 77,7 %, (2) hasil uji coba lapangan skala besar mendapatkan persentase 78,4 %. Revisi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil uji coba dan masukkan dari siswa. Hasil pengembangan ini telah divalidasi oleh ahli materi dan ahli sumber dan media pembelajaran, masing-masing mendapatkan persentase 84,71 % dan 83,56%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk media yang dikembangkan dianggap memiliki nilai validitas yang memadai yang positif dan dapat dinyatakan layak untuk digunakan oleh siswa.

Perbedaan asertifitas siswa madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar umum / Risa Rahmawati

 

Kata Kunci: Asertifitas, Sekolah dasar Banyaknya kasus yang menimpa siswa SD saat ini adalah karena kurangnya sikap asertif pada diri mereka. Seperti bullying baik antar teman sebaya maupun guru dan orang sekitar. Adapun kasus narkoba pada 800 siswa SD yang tercatat dalam riset BNN (Badan Narkotika Nasional). Dengan demikian terlihat pentingnya sikap asertif dimana anak menjadi berani, tegas, mampu mengemukakan pendapat dalam menghadapi dunia sosialnya. Sikap asertif pada anak ditunjang melalui pendidikan karakter dimana salah satu pilarnya adalah cinta tuhan atau nilai religious yang tinggi. seperti visi dari pelajaran agama yang telah disampaikan oleh menteri agama yaitu jujur, adil, berbudi pekerti, saling menghargai, baik personal maupun sosial yang juga merupakan cirri asertifitas. Sehingga pentingnya penelitian ini untuk mengetahui perbedaan tingkat asertifitas siswa SD dengan muatan religius yang berbeda. Rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa SD Umum dan MI di kota Malang. Sampel diambil menggunakan tekhinik purposive sampling dan mendapatkan 70 siswa SDN. Kauman III Malang dan 70 siswa MIN Malang I sebagai sampel. Instrumen penelitian menggunakan skala Asertifitas Siswa SD dengan 57 item. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean pada siswa MIN sebesar 191,01 dan diperoleh tingkat asertifitas siswa yang memiliki asertifitas rendah sebanyak 29 siswa (41,4%), sedangkan siswa yang memiliki asertifitas tinggi yang berjumlah sedikit lebih banyak yaitu berjumlah 41 siswa (58,6%). Skor mean pada siswa SDN. Kauman III sebesar 168,59 dan diperoleh tingkat siswa yang memiliki asertifitas rendah sebanyak 37 siswa (52,9%), sedangkan siswa yang memiliki asertifitas tinggi lebih sedikit yaitu berjumlah 33 siswa (47,1%). Hasil analisis komparasi yang memiliki nilai t -13,604 dengan Sig 0,000 < 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan asertifitas siswa Madrasah Ibtidaiyah dengan siswa Sekolah Dasar Umum. Siswa Madrasah Ibtidaiyah memiliki asertifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asertifitas siswa SD Umum. Dalam hal kurikulum yang disampaikan oleh departemen pendidikan nasional SD umum dengan Madrasah Ibtidaiyah memiliki struktur,substansi, alokasi dan metode yang sama, namun yang membedakan kedua sekolah tersebut adalah muatan dalam pelajaran agamanya. Walaupun tidak dijelaskan langsung dalam Permenag namun jelas asertifitas merupakan bagian dari visi pendidikan agama. Dan dari visi tersebut dapat diketahui bahwa manfaat pendidikan agama yang sangat menunjang pembentukan asertifitas. Bagi peneliti selanjutnya agar meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi asertifitas serta metode peningkatan asertifitas di sekolah dasar.

Pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis WEB untuk mata pelajaran produktif troubleshooting dan perbaikan PC/periferal kelas X SMKN 5 Malang / Ika Wiyanti Unitaria Wida

 

Kata kunci: pengembangan media pembelajaran, media pembelajaran interaktif, web, mata pelajaran produktif, troubleshooting dan perbaikan PC/periferal. Pendidikan kejuruan, sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 mengenai tujuan Pendidikan Nasional dengan penjelasan pasal 15, merupakan pendidikan menengah yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, sehingga tujuan khusus dari program Teknik Komputer dan Jaringan yaitu untuk menyiapkan tenaga kerja professional dalam bidang Teknik Komputer dan Jaringan, maupun wirausahawan dalam bidang Teknik Komputer dan Jaringan. Ketidakhadiran guru pada saat praktikum seringkali menjadi kendala tersendiri bagi siswa, sehingga seringkali siswa harus melakukan praktikum secara mandiri dengan berbantuan modul atau handout yang telah diberikan oleh guru, atau bersifat trial and error. Dampak dari hal ini adalah banyaknya jumlah kerusakan PC yang digunakan untuk praktikum, serta kerugian materiil oleh pihak sekolah. Media pembelajaran interaktif berbasis web dipilih sebagai alternatif untuk menjembatani permasalahan tersebut karena sifatnya sebagai media yang dapat mengatasi jarak dan waktu, serta dapat digunakan oleh siswa sebagai bahan pembelajaran agar dapat lebih mendalami materi troubleshooting dan perbaikan PC/periferal, sebelum melakukan praktikum secara riil. Media pembelajaran interaktif berbasis web diharapkan dapat mengurangi cost atau biaya kerusakan akibat trial and error pada saat praktikum. Troubleshooting dan perbaikan PC/periferal merupakan gabungan dari 3 standar kompetensi pada mata pelajaran produktif program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan, yaitu 1) mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC dan periferal; 2) melakukan perbaikan dan/atau setting ulang sistem PC; dan 3) melakukan perbaikan periferal, yang ditujukan bagi siswa kelas X semester II program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. Desain pengembangan media ini menggunakan model pengembangan Arif S. Sadiman dengan subjek uji coba adalah siswa Teknik Komputer dan Jaringan SMKN 5 Malang. Jenis data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari ahli media, ahli materi, dan siswa terkait dengan kualitas media pembelajaran. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari skor hasil belajar ii siswa (pre-test dan post-test) sebelum dan setelah menggunakan media pembelajaran berbasis web yang mengacu pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang digunakan oleh SMKN 5 Malang, yaitu sebesar 7,78. Hasil dari validasi media pembelajaran interaktif berbasis web ini adalah: 1) pada validasi ahli media diperoleh hasil 97%, sehingga media termasuk dalam kriteria valid 2) pada validasi ahli materi diperoleh hasil 81%, sehingga media termasuk dalam kriteria valid 3) pada validasi kelompok kecil dan lapangan, diperoleh hasil 88% dan 85%, sehingga media termasuk dalam kriteria valid 4) pada hasil pre-test dan post-test diperoleh peningkatan sebesar 22% sehingga dapat disimpulkan bahwa media yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran.

Implementasi strategi promosi pada toko buku diskon Togamas Malang / Mohammad Faiz Mahfuddin

 

Kata kunci: Strategi Promosi Promosi sebagai salah satu elemen bauran pemasaran memiliki arti dan peranan yang penting, karena promosi bertujuan untuk mengkomunikasikan produk kepada konsumen agar melakukan pembelian. Jenis promosi yang tersedia dalam pemasaran yang dikenal dengan bauran promosi meliputi periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing). Penulisan Tugas Akhir ini sebagai lanjutan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang mulai tanggal 2 Februari 2011 sampai dengan 2 Maret 2011. Dari hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan diperoleh bahwa strategi promosi yang digunakan Toko Buku Diskon Togamas Malang adalah periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing). Strategi promosi yang paling efektif dilaksanakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang yaitu promosi penjualan dengan menggunakan alat promosi konsumen berupa pemberian diskon dan juga hubungan masyarakat dengan empat program public relation berupa jelajah wisata buku, acara musik, workshop dan bedah buku. Dalam pelaksanaan strategi promosi terdapat beberapa faktor pendukung yang meliputi tersedianya biaya untuk melaksanakan promosi, kerjasama yang baik dengan para penerbit, adanya media elektronik sebagai media periklanan serta adanya kerjasama yang baik diantara anggota tim pemasaran Toko Buku Diskon Togamas Malang, sehingga dapat mewujudkan program promosi yang baik. Sedangkan faktor penghambat meliputi rasa antusias dan ketertarikan konsumen yang belum mencapai target yang direncanakan. Jumlah strategi bauran promosi yang terlalu banyak membuat konsumen merasa bingung dan kurang paham mengenai program promosi yang dilaksanakan pada Toko Buku Diskon Togamas Malang, kurangnya tenaga marketing, pembagian tugas yang kurang jelas, tas belanja untuk konsumen yang kurang menarik, dan fasilitas toko yang kurang nyaman. Melalui promosi, Target Toko Buku Diskon Togamas dapat tercapai, sebab dengan pelaksanaan promosi, perusahaan dapat memberikan penguatan citra baik kepada konsumen melalui berbagai komponen dalam promosi tersebut, seperti pemberian diskon, acara public relation dan berbagai program promosi lain yang dilaksanakan oleh Toko Buku Diskon Togamas Malang. Berdasarkan hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan dapat disarankan agar pihak Toko Buku Diskon Togamas Malang lebih meningkatkan pelaksanaan promosi yang dilaksanakan, serta mengevaluasi promosi yang sudah dilaksanakan dan menambah tenaga marketing.

Implementasi strategi produk pada divisi fresh Department Bakery di Giant Hypermarket Gajayana Malang / Diandra Nur Devianty

 

Kata kunci : strategi produk Seiring munculnya pusat-pusat perbelanjaan seperti minimarket, supermarket, swalayan, ,all, plaza, Town Square dan sebagainya diiringi dengan persaingan yang semakin ketat. Tingkat persaingan usaha yang ketat ini menuntut para pelaku bisnis untuk lebih aktif dan inovatif dalam menerapkan strategi pemasarannya. Strategi produk yang tepat akan menempatkan perusahaan dalam posisi persaingan yang lebih unggul dari para pesaingnya. Hal ini dapat dilihat pada Giant Hypermarket Gajayana Malang yang melaksanakan berbagai strategi produk untuk mendapatkan kepuasan dari konsumennya dan memeproleh laba. Subyek yang dipergunakan sebagai sumber data penelitian adalah Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang. Tujuan penelitian yang saya lakukan pada Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang yaitu ” (1)Menjelaskan produk apa saja yang ada di Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery, (2) Menjelaskan strategi produk yang dilaksanakan pada Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery, (3) Mengetahui permasalahan dan pemecahan strategi produk yang dilaksanakan oleh Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery”. Strategi produk pada Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang ditujukan untuk menetapkan cara yang tepat memuaskan konsumen dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang melalui peningkatan penjualan dan peningkatan pasar. Dalam hal ini kepuasan pelanggan terletak atau berfokus pada kualitas maupun kuantitas produk yang diberikan. Strategi produk yang efektif dilakukan oleh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang yaitu bagaimana menangani produk yang akan expired atau bisa disebut dengan strategi blanded dimana produk yang besoknya expired diblanded menjadi beli satu gratis satu, strategi pengadaan produk dimana ada tiga cara yang diterapkan, diantaranya konsinyasi, beli putus dan produk sendiri, selain itu strategi displayed produk dimana berkaitan dengan tata letak produk-produk untuk menarik konsumen yang datang yaitu dengan metode FIFO (First In First Off ) dan Show Moving. Strategi-strategi tersebut di atas saling terkait dalam upaya meningkatkan penjualan yang berorientasi terhadap keuntungan. Masalah-masalah yang dihadapi pada Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan strategi produk. Adapun beberapa masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut : (1) Kondisi produk (roti dan kue) banyak yang rusak atau cacat pada saat penyimpanan, (2) Luas cold storage dan chiller Departemen Bakery kurang karena menjadi satu dengan Departemen RTE (Ready To Eat), (3) Adanya keterlambatan dalam pengiriman produk dan bahan baku dari supplier, (4) Anggapan yang melekat di benak konsumen bahwa produk roti dan kue yang ada pada Departemen Bakery Giant Gajayana Malang memiliki harga yang lebih mahal daripada harga jual di pusat perbelanjaan lainnya, (5) Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang masih menjual produk broken stock yang masih layak makan tetapi sudah mendekati tanggal kadaluarsa (expired), (6) Kurangnya ketelitian dalam pembuatan produk roti dan kue akibatnya mengalami gagal produksi sehingga produk gagal tersebut dibuang begitu saja, (7) Karyawan (pembuat roti dan kue) Departemen Bakery kurang mengapresiasikan kreativitasnya dalam menciptakan produk yang lebih menarik (monoton). Setiap produk akan mengalami tingkat kejenuhan dimana stok produk masih cukup banyak hingga masa kadaluarsa (expired) yang mengakibatkan penurunan penjualan. Untuk menghadapi hal tersebut, Departemen Bakery Giant Gajayana Malang melakukan strategi khusus agar kemungkinan tersebut tidak terjadi secara berulang. Strategi khusus yang efektif dilakukan oleh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang adalah strategi blanded dimana produk yang besoknya akan kadaluarsa (expired) diblanded menjadi “beli satu gratis satu”. Pemblandedan hanya berlaku pada produk bermerek “GIANT” dan produksi Departemen Bakery sendiri. Langkah yang dilakukan apabila produk yang diblanded tidak habis adalah mencatat produk yang tersisa (sudah kadaluarsa) biasa disebut dengan BS (Broken Stock). Setelah di BS maka produk tersebut dibuang atau dihancurkan kedalam tempat pembuangan. Strategi ini dimaksudkan untuk meminimumkan broken stock karena apabila catatan jumlah produk broken stock banyak menunjukkan bahwa terjadi penurunan penjualan. Dengan melakukan strategi blanded secara efektif, resiko kerugian dapat diminimalisir. Selain itu Departemen Bakery menyeleksi dan merekrut pegawai yang tanggung jawab, cekatan, cepat dan sigap sehingga dapat menangani kerusakan. Sehingga apabila ada keluhan dari konsumen mengenai kondisi produk maka pegawai/karyawan dapat segera tanggap dan mampu menanganinya. Begitu juga dengan DH (Departement Head) maupun ADH (Assistent Departement Head) yang mendukung dan menunjang kreativitas dari karyawan/pegawainya untuk menciptakan produk yang berkualitas dan mampu menarik konsumen. Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan ini untuk bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh seluruh karyawan Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery dalam penerapan strategi produk pada periode selanjutnya agar mendapatkan hasil yang optimal dari pelaksanaan strategi produk tersebut.

Penerapan strategi promosi pada Divisi Fresh Department Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang / Nurmaliya Zulfa

 

Kata kunci : Strategi Promosi, Divisi Fresh Departemen Bakery. Persaingan dunia usaha semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah konsumen yang ditandai dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. Hal tersebut menyebabkan keadaan ekonomi yang tidak menentu sehingga mempengaruhi para praktisi usaha yang dalam hal ini adalah pedagang eceran atau peritel untuk selalu berfikir, bersikap dan bertindak efisien. Dari hal tersebut muncullah bisnis eceran atau bisnis retail dengan sistem Hypermarket, artinya pembeli mengambil sendiri barang yang akan dibeli. Dengan sistem ini efisiensi dapat diperoleh, karena dengan sedikit karyawan dapat menjangkau luas toko yang relatif besar. Giant Hypermarket adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan eceran (ritail) dalam pencapaian sasaran ada tujuannya yang banyak berhubungan dengan pihak lain. Giant merupakan salah satu Hypermarket yang muncul sebagai daya saing pasar tradisional dengan bentuk pasar modern. Adanya persaingan yang semakin ketat dalam industri retail, mendorong Giant untuk melakukan berbagai kegiatan dan pemasaran, salah satunya adalah kegiatan promosi. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk 1) mengetahui jenis strategi promosi yang diterapkan Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang dalam mempromosikan produknya, 2) mengetahui faktor yang menjadi pendukung dan penghambat Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang dalam mempromosikan produknya. Jenis promosi yang digunakan oleh Giant Hypermarket Gajayana Malang dalam mempromosikan produknya adalah 1) Periklanan, dengan menggunakan media: drop banner, pamflet, promo mailler, dan promo koran. 2) Promosi Penjualan, dengan menggunakan cara penggunaan sampel, midnight sale, promosi harga gila, dan happy hour. 3) Pejualan perseorangan, dengan menggunakan cara seorang pramuniaga di Giant Hypermarket Gajayana Malang diharapkan dapat memberikan pelayanan yang baik, dan cepat terhadap para konsumen, seorang pramuniaga diharapkan dapat berpenampilan rapi dan menarik, seorang pramuniaga diharapakan dapat bersikap ramah, dan seorang pramuniaga diharapkan dapat mengetahui informasi tentang produk-produk yang ada. 4) Hubungan Masyarakat, dilakukan dengan cara memberikan pelayanan yang baik dari pramuniaga, mengadakan event saat peringatan hari besar, dan word of mouth (dari mulut ke mulut).

Pengembangan inventori kecerdasan adversitas untuk siswa SMA / Erni Nila Wati

 

Kata Kunci: Pengembangan, Inventori, Kecerdasan Adversitas Kecerdasan adversitas merupakan jenis kecerdasan dalam menghadapi kesulitan hidup. Seseorang yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi mampu memandang kesulitan sebagai peluang untuk mengembangkan potensi diri, selalu optimis, pantang menyerah, mampu membuat rencana untuk maju. Kecerdasan ini perlu dimiliki oleh siswa supaya mampu mengubah kesulitan yang dihadapinya sebagai pendorong untuk menggapai kesuksesan. Fenomena di lingkungan persekolahan saat ini, terutama di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA) memperlihatkan bahwa ada beberapa siswa SMA bereaksi menghindar jika kesulitan menimpanya. Bentuk perilaku menghindar yaitu dengan melakukan tindakan negatif seperti membolos sekolah, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran/kenakalan remaja bahkan ada beberapa yang melakukan tindakan bunuh diri. Fenomena ini memperlihatkan bahwa beberapa siswa SMA memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang rendah. Untuk melakukan deteksi dini terhadap tindakan negatif siswa SMA tersebut, dibutuhkan instrumen pengumpul data berupa inventori kecerdasan adversitas. Oleh karena instrumen tersebut belum ada untuk siswa SMA, maka tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan inventori kecerdasan adversitas yang memenuhi syarat validitas, reliabilitas dan penormaan yang memadai. Prosedur pengembangan inventori kecerdasan adversitas ini mengadaptasi rancangan penelitian dan pengembangan Borg and Gall (1983) yaitu (1) pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) mengembangkan bentuk produk awal, (4) uji coba permulaan, (5) analisis data, seleksi butir pernyataan dan revisi, (6) uji coba lapangan utama, (7) analisis data, seleksi butir pernyataan dan revisi, (8) draft III berupa produk akhir inventori kecerdasan adversitas untuk siswa SMA. Populasi penelitian ini yaitu siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang dan kelas XI SMA Negeri 8 Malang. Data dikumpulkan dengan angket penilaian siswa, skala penilaian ahli, dan inventori kecerdasan adversitas untuk siswa SMA. Analisis data penilaian ahli dilakukan dengan statistika deskriptif. Analisis validitas butir pernyataan dilakukan dengan menggunakan korelasi product moment pearson, uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach, dan penormaan dengan menggunakan norma persentil. Pengolahan data menggunakan bantuan program SPSS 16.0. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa inventori kecerdasan adversitas yang dikembangkan, telah memenuhi syarat dari segi validitas, reliabilitas dan penormaan. Berdasarkan penilaian dua ahli isi dan instrumentasi mengenai kesesuaian subvariabel dengan konstruk, indikator dengan subvariabel, deskriptor dengan indikator, pernyataan dengan deskriptor, didapatkan hasil “sangat sesuai”. Validitas butir menunjukkan indeks korelasi 0,200 s.d. 0,716. Reliabilitas menunjukkan nilai α = 0,898. Penormaan persentil ii adalah sebagai berikut: persentil ke-81 s.d. 100 kategori “sangat tinggi”, 61 s.d. 80 kategori “tinggi”, 41 s.d. 60 kategori “sedang”, 21 s.d. 40 kategori “rendah”, 0 s.d. 20 kategori “sangat rendah”. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan sebagai berikut: (1) Konselor, hendaknya menggunakan inventori kecerdasan adversitas untuk mengungkapkan ketegaran siswa dalam menghadapi kesulitan yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun program Bimbingan dan Konseling yang sesuai dengan karakteristik siswa, (2) Peneliti selanjutnya, hendaknya memperluas populasi penelitian sehingga hasilnya dapat digunakan pada populasi yang lebih luas, hendaknya melakukan uji validitas konstruk dengan analisis faktor, dan hendaknya mengembangkan inventori kecerdasan adversitas pada jenjang pendidikan menengah yang lain, misalnya SMK, MA, SMP, dan MTs.

Rancang bangun mesin cetakan pengecoran sistem sentrifugal horizontal sebagai penambah sarana media pembelajaran di Laboratorium Pengecoran Fakultas Teknik Universita Negeri Malang / Aries Prasetya, Danny Priyo Cahyono

 

Laboratorium Pengecoran, Fakultas Teknik Mesin Universitas Negeri Malang yang masih menggunakan cetakan pasir sebagai media perkuliahan. Perencanaan mesin cetakan pengecoran dengan sisitem sentrifugal horizontal ini bertujuan untuk menambah keragaman alat dan media perkuliahan yang nantinya dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang proses pengecoran terutama dengan sistem sentrifugal. Tahap-tahap perencanaan pembuatan mesin meliputi penentuan ide, membaut skets design dari ide yang telah ditetapkan, menentukan dan menghitung ukuran-ukuran part mesin, membuat design manufactur sesuai ukuran dari hasil perhitungan, membuat part-part mesin, merakit part-part menjadi satu (assembly), melakukan proses finishing dan yang terakhir melakukan uji mesin. Dari proses perencanaan yang di lakukan, dapat dihasilkan sebuah mesin cetakan pengecoran dengan sistem sentrifugal horizontal dengan kecepatan putar cetakan 1440 rpm yang dihasilkan dari motor listrik 0,25 HP, akan menghasilkan logam cetak berbentuk silinder berlubang dengan diameter 60 mm dan panjang 150 mm. Kata kunci : Mesin Cetakan, Pengecoran, dan Sistem Sentrifugal Horisontal

Perbedaan hasil belajar desain WEB antara metode problem based learning (PBL) kombinasi Student Team Achievement Division (STAD) dengan metode Direct Instruction (DI) pada siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 1 Blitar tahun pelajaran 2010/2011 / Adhitia Kusuma Ngesti Wa

 

Kata Kunci: metode PBL kombinasi STAD, metode Direct Instruction (DI), dan hasil belajar Berdasarkan hasil pengamatan SMA Negeri 1 Blitar memiliki fasilitas memadai dengan kondisi laboratorium komputer yang berjumlah tiga, kelengkapan fasilitas multimedia, dan fasilitas internet yang bebas digunakan siswa secara gratis. Di dalam RPP TIK SMA Negeri 1 Blitar metode yang tertulis adalah tanya jawab, identifikasi, dan demonstrasi atau dikenal sebagai metode Direct Intruction. Sementara dewasa ini, telah berkembang mengenai student centered metode ini dicanangkan untuk menggantikan teacher centered. Metode ini kini dianggap lebih sesuai dengan kondisi masa kini yang menjadi tantangan bagi siswa untuk mampu mengambil keputusan secara efektif terhadap problematika yang dihadapinya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dengan Pretest-Posttest Group Desain. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari dua kelas, yaitu: kelas XI IA3 (40 siswa) sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IA4 (40 siswa) sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan metode PBL kombinasi STAD dan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model DI (pembelajaran langsung). Instrumen penelitian terdiri dari instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik kuantitatif untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai hasil belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimendengan siswa kelas kontrol, berdasarkan hasil uji-t yang memperoleh thitung. (3,490> ttabel (1,665). Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari hasil belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar kelas eksperimen (79,56) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas kontrol (74,12).Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang terdiri dari ranah kognitif dan afektif siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) kombinasi Student Team Achievement Division (STAD)dan metode Direct Instruction (DI) pada materi Desain Webpada siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 1 Blitar Tahun Pelajaran 2010-2011.

Pengaruh kepuasan pelanggan terhadap loyalitas pelanggan Hotel Sri Lestari (Tugu) Blitar / Ferri Bagus Setiawan

 

Kata Kunci : Kepuasan, Loyalitas Pelanggan Loyalitas pelanggan (konsumen) secara umum dapat diartikan kesetiaan seseorang atas suatu produk, baik barang maupun jasa tertentu. Dalam membentuk loyalitas pelanggan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada pelanggannya kepuasan pelanggan merupakan suatu hal yang sangat berharga demi mempertahankan keberadaan konsumen tersebut untuk tetap berjalannya suatu bisnis atau usaha. Hal ini juga terjadi pada hotel ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui tingkat kepuasan dan loyalitas; (2) Mengetahui pengaruh kepuasan pelanggan yang terdiri dari atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian terhadap loyalitas pelanggan secara parsial; (3) Mengetahui pengaruh kepuasan pelanggan yang terdiri dari atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian terhadap loyalitas pelanggan secara simultan; (4) Mengetahui faktor manakah yang memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas pelanggan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua konsumen yang pernah dan sedang menggunakan jasa hotel. Penentuan sampel menggunakan rumus Zainuddin sehingga diperoleh sampel sebanyak 136 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner, observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif jawaban. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda, sedangkan untuk menguji kelayakan regresi, dilakukan uji asumsi klasik. Untuk menguji Validitas dan Reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 30 responden. Hasil analisis data responden dilakukan dengan bantuan SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian ini adalah: (1) Atribut Produk (X1) mempunyai nilai β 1 = 0,803 yang artinya apabila koefisien Atribut Produk (X1) naik satu satuan maka Loyalitas Pelanggan (Y) akan naik sebesar 0,803 dengan asumsi X2 dan X3 konstan, nilai thitung sebesar 14,098 dan signifikansi t sebesar 0,000. Karena thitung lebih besar dari t tabel (14,098>1,985) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0,000<0,05), sehingga Ha yang berbunyi terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Atribut Produk (X1) terhadap Loyalitas pelanggan diterima; (2) Atribut Pembelian (X2) mempunyai nilai β 1 = 0,072 yang artinya apabila koefisien Atribut Pelayanan (X2) naik satu satuan maka Loyalitas Pelanggan (Y) akan naik sebesar 0,072 dengan asumsi X1 dan X3 konstan, nilai thitung sebesar 2,970 dan signifikansi t sebesar 0,018. Karena thitung lebih besar dari t tabel (2,970 >1,985) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0,018<0,05), sehingga Ha yang berbunyi terdapat pengaruh yang positif signifikan Atribut pelayanan (X2) terhadap loyalitas diterima; (3) Atribut Pembelian (X3) mempunyai nilai β 1 = 0,109 yang artinya apabila koefisien Atribut Pembelian naik satu satuan maka loyalitas wisatawan akan naik sebesar 0,109 dengan asumsi X1 dan X2 konstan, nilai thitung sebesar 2,680 dan signifikansi t sebesar 0,028. Karena thitung lebih besar dari t tabel (2,680 >1,985) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0,028<0,05), sehingga Ha yang berbunyi terdapat pengaruh yang signifikan atribut pelayanan (X3) terhadap loyalitas pelanggan diterima.; (4) Hasil uji linier berganda diperoleh besarnya nilai Fhitung = 70, 978 dan sig F = 0,000, karena sigF < 0,05 maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara kepuasan pelanggan (atribut produk, atribut pelayanan dan atribut pembelian) secara bersama-sama terhadap loyalitas pelanggan Hotel Sri Lestari ( TUGU) Blitar. Dilihat dalam model summary pada Adjusted R Square sebesar 0,964 memiliki arti bahwa 96,4% Loyalitas pelanggan dapat dijelaskan secara simultan oleh variabel Atribut Produk, Atribut Pembelian dan Atribut Pelayanan. sedangkan sisanya sebesar 3,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Sebagian besar responden menyatakan setuju bahwa atribut produk, atribut pelayanan dan atribut pembelian menjadi pertimbangan terhadap kepuasan pelanggan; (2) Secara umum responden memberikan jawaban positif terhadap loyalitas; (3) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel kepuasan yang meliputi atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap loyalitas pelanggan; (4) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel kepuasan yang meliputi atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian secara simultan atau bersama-sama terhadap loyalitas pelanggan; (5) Faktor yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan dalam penelitian ini adalah Atribut Produk (X1). Saran dalam penelitian ini adalah sebaiknya: (1) Perlu mempertahankan kepuasan pelanggan yang sudah tercipta, karena mayoritas pelanggan beranggapan baik terhadap produk yang telah diberikan, seperti reputasi perusahaan yang baik di benak pelanggan; (2) Peningkatan pelayanan dalam hal sumber daya manusia, dengan meningkatkan keramahan, kesopanan, dan perhatian karyawan dalam melayani konsumen; (3) Hotel Sri Lestari (TUGU) Blitar hendaknya selalu responsible dan selalu tanggap terhadap keluhan-keluhan yang diberikan oleh pelanggan, hal ini bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas perusahaan sebagai perusahaan jasa; (4) Perusahaan seharusnya lebih memperhatikan sisi kepuasan konsumen, karena telah terbukti kepuasan konsumen yang terdiri dari atribut produk, atribut pelayanan dan atribut pembelian perbengaruh terhadap loyalitas pelanggan; (5) Hotel Sri Lestari (TUGU) Blitar adalah perusahaan jasa yang bergerak dibidang perhotelan, hendaknya selalu meningkatkan mutu pelayanan melebihi perusahaan lain yang bergerak di bidang perhotelan.

Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dn Equity to Asset Rati (EAR) terhadap return saham pada perusahaan LQ45 periode 2006-2009 / Mokh. Fariz Nasrullah

 

Kata Kunci : Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Equity To Asset Rato (EAR) dan Return Saham Investasi pada asset keuangan mengandung banyak ketidak pastian. Pada dasarnya investor dalam menanamkan modalnya menginginkan return atau tingkat pengembalian yang tinggi. Oleh karena itu para investor harus pintar menilai dan memilih perusahaan mana yang bisa menghasilkan laba yang tinggi, sehingga dapat menerima return yang tinggi pula. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, diperlukan analisis rasio keuangan diantaranya Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dan Equity To Asset Ratio. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat ROA, ROE, EAR, dan return saham suatu perusahaan. Disamping itu juga untuk mengetahui pengaruh ROA, ROE, dan EAR terhadap return saham perusahaan LQ 45. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 80 perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ 45 dengan periode pengamatan tahun 2006-2009. Sedangkan pengambilan sampel berjumlah 9 perusahaan dilakukan dengan purposive sampling. Data yang digunakan terdiri dari laporan keuangan dalam annual report dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD), dan closing price tahun 2006-2009 yang dianalisis dengan tehnik regresi linier berganda yang didukung oleh program SPSS 16. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial ROA dan ROE berpengaruh signifikan terhadap Return, sedangkan EAR tidak berpengaruh signifikan terhadap return. Dan untuk hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa ROA, ROE dan EAR berpengaruh signifikan terhadap Return. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan untuk penelitian yang sama di masa yang akan datang agar dapat memasukkan variabel-variabel lain yang lebih beragam untuk menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi Return, sehingga hasil penelitian dapat lebih baik dan lengkap.

Pengaruh penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) terhadap hasil belajar pada mata pelajaran IPS terpadu kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari / Rufiani Arum Primilianti

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran Kooperatif (Numbered Head Together), Hasil Belajar Siswa Untuk membelajarkan siswa agar siswa tersebut cakap, kreatif, dan mandiri sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif. Numbered Head Together merupakan salah satu model pembelajaran yang diterapkan pada kelas heterogen. Model pembelajaran ini melibatkan siswa dalam me-review bahan ajar yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman siswa mengenai isi pelajaran Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu (quasi experiment) sebab penelitian ini menggunakan dua kelompok, Kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas yang dalam proses pembelajaran menggunakan metode (Numbered Head Together), sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang menggunakan metode Konvensional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII di SMPN 1 Singosari, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonrandomized Control-Group Pretest-Posttest, serta pemilihan kelompok sampel yang dilakukan dengan dipilih 2 kelas dengan teknik Purposive Sampling (sampel bertujuan). Dimana dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah kelas VIII-F sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-G sebagai kelas kontrol. Jumlah sampel setiap kelas terdiri dari 32 siswa. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa metode pembelajaran kooperatif (Numbered Heat Together) berbeda dengan pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan dari nilai rata-rata nilai kelas eksperimen sebelum diberi perlakuan pada saat pre tes yaitu 62,22 sedangkan rata-rata kelas kontrol sebelum diberi perlakuan pada saat pre tes yaitu 63,5. Namun rata-rata nilai kelas eksperimen setelah diberi perlakuan pada saat pos tes yaitu 85,38 sedangkan rata-rata kelas kontrol setelah diberi perlakuan pada saat post tes yaitu 79,31. Dari hasil analisis perbedaan yakni nilai probabilitas (Sig) = 0,000 < 0,05 jadi Ho ditolak dan Ha diterima pada α 5%. Dari analisis tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari. Sehingga disarankan bagi pihak sekolah Bagi pihak pengelola SMP Negeri 1 Singosari perlu kiranya penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan keterampilan mengajar guru yang dapat mendukung hasil belajar siswa, guru dapat menerapkan metode Numbered Head Together pada kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa, siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan memilih metode belajar yang menjadikan siswa lebih aktif dan siswa perlu memperkaya ilmu dan pengetahuan melalui berbagai sumber belajar lain selain guru untuk mendukung kegiatan belajar di dalam kelas, pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together perlu diterapkan dan dikembangkan pada materi yang lain, sehingga dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran concept attainment untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran PKn di SDN Madyopuro 3 Kota Malang / Saloy Rosina Taliak

 

Kata Kunci: Model Concept Attainment, peningkatan hasil belajar PKn, Sekolah Dasar. Sekolah Dasar merupakan tumpuan dari proses pendidikan yang ada pada jenjang berikutnya. Untuk itu pendidikan pada Sekolah Dasar harus dilaksanakan dengan cara yang benar-benar mampu menjadi landasan yang kuat ke jenjang berikutnya. Sekolah Dasar adalah salah-satu lembaga yang mendidik dan mengembangkan potensi siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan cara penerapan model pembelajaran Concept Attainment dalam pembelajaran PKn pada mata pelajaran PKn di SDN kelas IV Madyopuro 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang; (2) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas IV SDN madyopuro 3 kecamatan kedungkandang kota Malang. Masalah yang diteliti adalah tentang peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu (a) observasi, (b) wawancara, (c) tes. Penelitian ini dilakukan di SDN Madyopuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Madyopuro III , yang berjumlah 43 siswa. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model pembelajaran Concept Attainment dilakukan melalui fase-fase yang dikemas dalam bentuk sintaks. Adapun sintaksnya dibagi ke dalam tiga fase, yakni: (a) presentasi data dan analisis data; (b) menguji pencapaian konsep dari suatu konsep; (c) analisis strategi berpikir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Concept Attainment pada mata pelajaran PKn materi pokok ”Globalisasi” di kelas IV SDN madyopuro 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dikategorikan baik, dengan melihat dari peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa dari pra tindakan, Siklus I ke siklus II, yaitu dari rata-rata kelas sebesar 53,13 %, meningkat menjadi 68,37% dan meningkat lagi menjadi 86,51%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Concept Attainment pada mata pelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Madyopuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Dari hasil pnelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan Model pembelajaran Concept Attainment dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Madyopuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.

Pengembangan media pembelajaran berbasis adobeflash untuk mata kuliah Jughrofiya al-Alam al-Arabi wal Islami di Universitas Negeri Malang / Ahmad Musthofa

 

Kata kunci: Adobeflash, pendidikan dan peradaban, Jughrofiya al-Alam al-Arabi wal Islami Elaborasi kemajuan di ranah komunikasi dan teknologi serta ditemukannya dinamika proses belajar, membuat pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran dituntut untuk lebih variatif dalam menggunakan media pendidikan. Proses pembelajaran mata kuliah Geografi dunia Arab pada Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang (JSA UM) yang memuat berbagai materi dan pokok bahasan seperti letak geografis, politik, ekonomi, pendidikan dan peradaban pada negara-negara Arab baik yang tersebar di benua Asia atau pun Afrika menuntut adanya pembelajaran yang tidak hanya dilakukan di kelas saja melainkan juga di luar kelas untuk menunjukkan objek nyata di lapangan. Oleh karena itu, media pembelajaran berbasis Adobeflash merupakan suatu sarana yang dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, yaitu dengan menampilkan berbagai objek fisik dan semua bagian yang ada di dalamnya tanpa harus melihat langsung di lapangan. Tujuan pengembangan ini adalah: (1) menghasilkan media pembelajaran berbasis Adobeflash untuk materi pendidikan dan peradaban di negara-negara Arab Asia pada mata kuliah Geografi Dunia Arab Jurusan Sastra Arab UM; dan (2) menghasilkan cara penggunaan media pembelajaran berbasis Adobeflash untuk materi pendidikan dan peradaban di negara-negara Arab Asia pada mata kuliah Geografi Dunia Arab Jurusan Sastra Arab UM. Penelitian ini menggunakan model pengembangan yang diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1979), yaitu penelitian dan pengembangan (research and development), yang merupakan proses yang digunakan dalam mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan. Langkah-langkah pengembangan media pembelajaran Geografi Dunia Arab berbasis Adobeflash adalah: 1) melakukan penelitian dan pengumpulan informasi; 2) melakukan perencanaan; 3) mengembangkan dan memilih materi; 4) mengembangkan produk awal; 5) uji validasi; 6) revisi atas produk utama; 7) uji lapangan; 8) produk akhir. Teknik analisis data yang digunakan adalah tekhnik analisis data persentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrumen) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa angket. Hasil pengembangan dan pembahasan penelitian ini adalah program aplikasi berbasis Adobeflash berbentuk DVD yang telah divalidasikan kepada ahli materi dan ahli media. Hasil akhirnya media ini telah valid dan layak untuk diuji cobakan di lapangan. Berdasarkan uji materi yang telah dilakukan, dari empat aspek yang menjadi aspek penilaian, diketahui bahwa semua aspek penilaian dikategorikan valid. Keempat aspek tersebut adalah: (1) materi bisa menunjang SK, KD dan tujuan umum; (2) kejelasan susunan kata/kalimat; (3) kemenarikan materi; dan (4) kemampuan mahasiswa dalam memahami materi. Dan berdasarkan uji media yang telah dilakukan, dari delapan aspek yang menjadi aspek penilaian, diketahui bahwa diketahui bahwa tiga aspek penilaian dikategorikan valid, yaitu: (1) pemilihan objek gambar dan video; (2) kejelasan objek gambar dan video; dan (3) pemilihan warna background. Dan lima aspek penilaian dikategorikan cukup valid adalah: (1) pemilihan font dan ukuran font; (2) pemilihan warna teks; (3) tata letak gambar, video dan tulisan; (4) desain dan tampilan; dan (5) kemudahan penggunaan media. Angket yang diberikan kepada subyek lapangan terdiri dari sepuluh aspek penilaian, setelah melakukan uji coba lapangan diketahui bahwa semua aspek penilaian dikategorikan valid yaitu: (1) saya senang belajar mata kuliah Geografi Dunia Arab dengan menggunakan media ini; (2) media pembelajaran ini mudah dipahami; (3) media pembelajaran ini membantu dalam proses pembelajaran mata kuliah Geografi Dunia Arab; (4) media pembelajaran ini dapat meningkatkan semangat belajar; (5) media ini menarik dalam segi bentuk; (6) media ini menarik dalam segi isi; (7) tampilan dalam media ini menarik; (8) pengoperasian media ini simple atau mudah bagi saudara; (9) media pembelajaran ini dapat meningkatkan motivasi saudara untuk belajar; (10) apakah cara belajar dengan menggunakan media pembelajaran seperti ini perlu dikembangkan untuk mata kuliah lain?. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar media pembelajaran ini digunakan dosen sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran di kelas dan dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu media belajar mahasiswa, baik di Universitas Negeri Malang dan universitas lain. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mengembangkan materi dengan menambah jumlah bab (tema) dan dibuat dengan lebih menarik baik dari segi warna, animasi, atau yang lainnya. Selain itu diharapkan dapat melakukan uji coba produk pengembangan kepada subjek yang lebih luas dengan kurun waktu yang lebih lama sehingga didapatkan validitas media yang lebih optimal.

Peningkatan kemampuan kognitif tentang konsep penjumlahan dengan media benda kongkrit pada anak usia dini kelompok A di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Yudi Kristyanto

 

Kata kunci : kognitif, penjumlahan, anak usia dini Pemilihan judul tersebut dengan latar belakang adanya penggunaan media yang kurang tepat, yaitu media abstrak dan monoton seperti paper and pencil yang kurang menarik bagi anak untuk dapat belajar tentang penjumlahan secara langsung, sehingga penguasaan anak tentang penjumlahan rendah, untuk itu dalam penelitian ini mencoba menggunakan media berbantuan benda kongkrit dalam pembelajaran penjumlahan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar kognitif dalam penjumlahan. Kegiatan pembelajaran penjumlahan ini merupakan wujud praktik pengembangan kemampuan aritmatika yang berhubungan dengan kemampuan yang diarahkan untuk kemampuan berhitung atau konsep berhitung permulaan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), pada setiap siklusnya terdiri dari planing (perencanaan), acting & observasing (tindakan & pengamatan), reflecting (refleksi) dan revise plan (revisi rencana). Subjek penelitian adalah anak didik kelompok A di TK Negeri Pembina Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar, tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah 20 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, catatan lapangan atau wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan kognitif anak dalam penjumlahan dengan berbantuan media benda kongkrit. Pada siklus I peningkatan mencapai 24,5% dan diperoleh rata-rata penilaian anak dalam kemampuan kognitif sebesar 72,5%. Pada siklus II peningkatan mencapai 8,703% dan diperoleh rata-rata penilaian sebesar 81,203%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran penjumlahan dengan media berbantuan benda kongkrit dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak. Pembelajaran yang monoton menjadi menarik dan menyenangkan bagi anak dengan melakukan kegiatan penjumlahan dengan media benda kongkrit secara langsung.

Utilizing semantic mapping strategy to improve the reading comprehension of the eight graders of SMPN 1 Bunyu / Wahyudi

 

Thesis. Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Yazid Basthomi, M.A. (2) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd., M.Ed. Key Words: semantic mapping, reading comprehension. The fact that emerged from the teaching of English at SMP Negeri 1 Bunyu, especially the teaching of reading comprehension, is the low ability of the students in comprehending reading texts. The observation result showed that: (1) the students found difficulties in understanding English texts, (2) the students’ motivation in learning English was low, (3) the teachers’ was monotonous teaching, and (4) the reading activities were dominated by a small minority of the best students. To cope with the problems, the researcher applies the Semantic Mapping Strategy. With such a learning strategy, it is expected that the students’ reading comprehension could be improved. This study is designed to investigate how semantic mapping strategy improves the students’ reading comprehension. It aims at finding out how the semantic mapping strategy can be used to improve the students’ reading comprehension at SMP Negeri 1 Bunyu. The study employed a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, implementing the action, analyzing the data and doing the reflection. The subjects of this research were 22 eighth graders of SMP Negeri 1 Bunyu, Bulungan regency, East Kalimantan in the academic year of 2010/2011. This study was conducted in a cycle, following the procedure of action research namely: (1) planning, (2) implementing, (3) observing, and (4) reflecting. This study was conducted in two cycles, each cycle of the study comprises two meetings and followed by evaluation on the result by did a test. The data of this study were obtained through (1) observation guidelines, and checklist, (2) interview, and (3) the students’ test results. They were taken during the implementation of the action. The findings show that the implementation of semantic mapping strategy in the teaching-learning of reading comprehension can improve the students’ reading comprehension. The students’ mean score increased from 76.67 in the first test to 77.50 in the second test. The study also shows that the appropriate procedures of implementing the semantic mapping strategy in the teaching-learning of reading comprehension of the study were (1) explaining the students to the objectives of learning (2) gearing the students to the topic by asking questions and by using media, (3) brainstorming, (4) making a semantic map in the pre-reading activity, (5) classifying information, (6) grouping the students, (7) finding Indonesian equivalence of unfamiliar words, (8) discussing the text, (9) identifying the main and supporting ideas, (10) making a semantic map in the post-reading activity, (11) guiding the students to share and complete the map, (12) checking the students’ works, and (13) administering a formative test about the text. It also shows that the students were really interest and courage to do the reading activities during the action, and that they give a positive perception. Thus the students’ involvement in teaching-learning process through the appropriate procedure of semantic mapping strategy improved. Based on the findings, some suggestions are made. First, it is recommended the teachers apply this strategy as one of the alternatives used in the teaching of reading comprehension. It is suggested that teachers make a well-prepared lesson plan which focuses on the selection of the instructional material and media as well as the time allotment. In the pre-reading activity, the teachers encourage the students to make a semantic map of their own version if they are already familiar with this strategy. In the whilst-reading activity, it is proposed to assign the students to make a semantic map in pairs or individually. In the post-reading activity, they should display or publish the students’ work as the benchmark on the class wall or in the school paper. Moreover, in the evaluation/assessment stage, it advisable for teacher to make the evaluation on the process and the evaluation on the result, and to design subjective test to measure the students’ achievement. Second, for the future researcher, it is suggested that they use the result of this present study as their reference.

Penggunaan media gambar seri dalam meningkatkan ketrampilan bercerita pada anak kelompok A TK al Hidayah 01 Talun / Siti Julaikah

 

Kata kunci : ketrampilan, media gambar seri, bercerita Penelitian ini berlatar belakang pada saat pembelajaran bercerita tentang diri anak atau pengalaman yang dialami anak. Anak-anak kurang menyukai kegiatan bercerita, karena menganggap bercerita itu hal yang sulit. Ada sebagian anak sudah mampu bercerita walaupun masih terpatah-patah, bahkan ada yang diam tanpa sepatah katapun. Bercerita dengan menggunakan alat peraga masih jarang dilakukan oleh guru, khususnya media gambar seri. Penelitian ini untuk menjawab rumusan masalah penggunaan media gambar seri dalam meningkatkan ketrampilan bercerita dan media gambar seri dapat meningkatkan ketrampilan bercerita pada anak Kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun. Penelitian ini dilakukan di TK Al Hidayah 01 Talun. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) model siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media gambar seri dalam meningkatkan ketrampilan bercerita di TK Al Hidayah 01 Talun sangat membantu anak. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan nilai proses dari pratindakan sampai siklus II, mengalami kenaikan 30,9% dengan rincian sebagai berikut : pra tindakan 33,3%, siklus I 64,2%, dan siklus II 77,6%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkat melalui kegiatan bercerita dengan gambar seri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan ketrampilan bercerita anak melalui kegiatan berbagi dan bertanya. Dengan melakukan tanya jawab, menggunakan media gambar seri yang diberikan guru dan dapat melatih untuk menuangkan ide dan inspirasinya melalui gambar seri, dan disarankan bahwa kegiatan bercerita menggunakan media gambar seri dapat diterapkan untuk meningkatkan ketrampilan bercerita anak. Media gambar seri yang digunakan hendaknya bisa menarik agar anak mempunyai minat untuk bercerita. Guru lebih mempersiapkan kelengkapan belajar agar suasana kelas dapat terkondisikan dengan baik sehingga apa yang disampaikan dapat dimengerti anak. Guru harus memotivasi anak agar percaya diri untuk melakukan sesuatu yang baru.

Penerapan model pembelajaran Problem Based Introduction (PBI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Bareng 3 Kota Malang / Ferid Aquarista

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran PBI, aktivitas, hasil belajar, mata pelajaran PKn PKn merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting karena berhubungan dengan sikap atau mental anak dimasa yang akan datang. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran PKn harus dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa di SDN Bareng 3 Kota Malang belum menerapkan model PBI. Proses pembelajaran PKn menghendaki pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran, dan dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung selama pembelajaran tersebut, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan model PBI, peningkatan proses dan hasil belajar setelah menggunakan model PBI. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian kualitatif Interaktif. Subyek penelitian ini adalah 38 siswa kelas V B SDN Bareng 3 Kecamatan Klojen Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap guru kelas V B SDN Bareng 03 Kota Malang (arsip nilai yang dimiliki guru) juga menunjukkan bahwa, dari 38 siswa yang mendapatkan nilai diatas 75 hanya 18 anak (45%), sedangkan yang dibawah SKM sebanyak 20 anak (55%). Hasil temuan penilitian ini mengacu pada paparan data, yang menggambarkan secara umum, penerapan model PBI pada mata pelajaran PKn dapat meningkatkan kualitas pembelajaran tentang materi "organisasi" di SDN Bareng 3 Malang. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran PBI menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan dari 63,25 pada observasi awal menjadi 73,95 pada tindakan siklus I. Sedangkan peningkatan rata-rata dari siklus I ke siklus II meningkat dari 73,95 menjadi 83,65. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBI dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Bareng 3 Kecamatan Klojen Kota Malang, materi pokok Organisasi. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapankan guru menerapkan pembelajaran PBI pada mata pelajaran PKn sehingga siswa dapat merubah tingkah lakunya, memahami masalah sosial yang ada di lingkungannya serta dapat menyelesaikan tugas dan penilaian yang dilakukan oleh guru.

Penerapan strategi Graphic Organizer (GO) untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IV SDN Purwantoro 2 Malang / Faizatul May Mahmudah

 

Kata Kunci: Strategi GO, menulis karangan, SD. Berdasarkan observasi pendahuluan pada kemampuan menulis karangan yang dilakukan peneliti terhadap guru kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Malang menunjukkan bahwa, dari 28 siswa yang mendapatkan nilai diatas 70 terdapat13 anak (46%), sedangkan 15 anak (54%) mendapatkan nilai dibawah 70. Ketercapaian kompetensi siswa dalam menulis karangan kurang optimal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan strategi GO yaitu peningkatan kemampuan menulis karangan setelah menggunakan strategi GO. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi, dan perbaikan rencana. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 28 siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan strategi GO menunjukkan bahwa kemampuan menulis karangan siswa secara klasikal terjadi peningkatan dari 56% pada observasi awal menjadi 68,25% pada tindakan siklus I. Sedangkan peningkatan rata-rata dari siklus I ke siklus II meningkat dari 68,25% menjadi 83,90%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi GO dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas IV-A SDN Purwantoro 2 Malang. Sehingga disarankan agar guru menggunakan model pembelajaran GO untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa sehingga siswa dapat menyelesaikan tugas dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menerapkan untuk mengembangkan kemampuan menulis karangan siswa kelas tinggi maupun kelas rendah.

Pengembangan paket pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas VIII SMPN 2 Purwoharjo / Risky Febria Rinasari

 

Tesis. PSSJ Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof Dr.Mohammad Efendi, , M.Pd, M.Kes (II). Dr. Anselmus J.E Toenlioe, M.Pd. Kata Kunci : pengembangan, paket pembelajaran, mata pelajaran bahasa inggris. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah mengidentifikasi dan memecahkan masalah belajar, dan untuk pengembangan ini tujuannya adalah menghasilkan produk pembelajaran berupa paket pembelajaran yang berupa bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa untuk kelas VIII SMPN 2 Purwoharjo . Pemecahan masalah belajar tersebut penting karena terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Pengembangan paket pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk memecahkan masalah belajar. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran mengacu pada rancangan pembelajaran model Dick, Carey & Carey (2001). Prosedur pengembangan ini terdiri atas sepuluh langkah, namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sembilan langkah yaitu (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (5) mengembangkan butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, (8) merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) merevisi pembelajaran. Pengembangan paket pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dan membantu guru dalam menfasilitasi pembelajaran. Paket pembelajaran yang dikembangkan berupa mata pelajaran Bahasa Inggris, panduan guru dan panduan siswa. Hasil uji coba ahli isi dan ahli desain bahan ajar, panduan guru dan panduan siswa dalam kategori baik. Hasil uji coba perorangan terdapat 9 kesalahan dalam pengetikan, 4 kesalahan dalam penggunaan tanda baca, dan 5 hal yang seharusnya diperbaiki. Hasil uji coba kelompok kecil dan hasil uji coba lapangan bahan ajar dan panduan siswa dalam kategori baik. Hasil pre test dan post test dengan derajat kebebasan 29 dan taraf signifikansi 0,005 di dapat t observasi = 19,44 lebih besar dari t tabel = 2.042, maka dapat dikatakan bahwa perbedaan mean tersebut meyakinkan atau dengan kata lain bahan ajar yang digunakan efektif.

Penerapan permainan tradisional pasaran untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa di kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar / Indah Noor Qomaroh

 

Kata Kunci: permainan tradisional pasaran, kemampuan kognitif dan berbahasa Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada bulan Maret 2011 bahwa pengembangan kemampuan dasar kognitif dan berbahasa anak di kelompok A Tk Al Hidayah 01 Talun dalam pengembangannya mengalami beberapa hambatan. Hambatan pada pengembangan kemampuan dasar kognitif tersebut adalah menghubungkan/ memasangkan lambang bilangan dengan benda-benda. Hasilnya adalah 52% dari 25 anak dalam satu kelas masih belum mencapai kompetensi yang diharapkan. Sedangkan pada kemampuan dasar berbahasa yaitu menghubungkan gambar/ benda dengan kata, 60% anak belum mencapai kompetensi yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan permainan tradisioanal ”Pasaran” untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa di kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar, (2) perkembangan kemampuan kognitif anak melalui permainan tradisional ”Pasaran”, (3) perkembangan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tradisional ”Pasaran”. Rancangan yang digunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah anak kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar tahun 2010/2011. Jumlah siswa 25 anak. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu lembar observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan tradisional “Pasaran” dilakukan dengan menentukan seting permainan, menyediakan media, mengelompokkan barang, mengambil kartu angka, menjual dan membeli dengan kartu angka, dan menyimpan barang di keranjang sesuai kartu kata, sehingga dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa di kelompok A TK Al Hidayah 01 Talun Kabupaten Blitar. Hal ini ditandai dengan kemampuan kognitif anak dalam menghubungkan lambang bilangan dengan benda meningkat dari 72% pada siklus I, menjadi 88% pada siklus II. Sedangkan kemampuan berbahasa anak dalam menghubungkan benda dengan kata meningkat dari 68% pada siklus I, menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) pendidik anak usia dini hendaknya menerapkan permainan tradisional “Pasaran” dalam pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa anak, dan (2) bagi peneliti lain, diharapkan untuk meneliti penerapan permainan tradisional “Pasaran” dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan berbahasa anak.

Peningkatan kemampuan pemahaman isi teks melalui metode membaca cepat (speed reading) di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar / Adhitia Putra Harsono

 

Kata kunci: membaca teks, metode membaca cepat Pembelajaran membaca isi teks di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar dinilai kurang efektif. Pembelajaran membaca pemahaman isi teks dilaksanakan dengan guru memberi tugas. Tidak adanya penjelasan pembela-jaran menyebabkan sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah KKM yang ditetapkan (65). Penelitian ini membahas permasalahan (1) bagaimanakah pene-rapan metode Speed Reading pada pembelajaran membaca isi teks di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar, dan (2) apakah metode Speed Reading dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obser-vasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Speed Reading dapat meningkatkan hasil membaca pemahaman isi teks siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Hal ini dapat dilihat dari dengan perubahan sikap siswa selama pembelajaran, meliputi keaktifan dan kerjasama. Peningkatan proses ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai siklus I 60 meningkat pada siklus II menjadi 71. Peningkatan hasil membaca isi teks ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 58, siklus I 60, dan siklus II 70. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 24%, siklus I sebesar 52%, dan siklus II 82%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode Speed Reading dapat meningkatkan hasil membaca isi teks siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Hal ini, ditunjukkan dengan kemampuan siswa membaca cepat dalam waktu yang ditentukan. Siswa yang sebelumnya lambat dalam membaca namun dengan metode Speed Reading, siswa dapat membaca dengan waktu yang lebih cepat. Pemahaman siswa dalam membaca isi teks juga meningkat. Oleh karena itu, guru disarankan untuk menerapkan metode Speed Reading dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas IV, khususnya dalam pembelajaran membaca.

Pengembangan bahan ajar ilustrasional mata pelajaran kimia kelas X pada Homeschooling dengan model Addie / Yuni Eka Fajarwati

 

Tesis, Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed, (II) Dr. A. J. E. Toenlioe, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, ilustrasional, kimia Kimia merupakan salah satu mata pelajaran dari rumpun IPA. Bagi sebagian besar siswa sekolah menengah atas, kimia dianggap sebagai pelajaran yang cukup sulit. Faktor yang menyebabkan adalah 1) materi bersifat abstrak dan kompleks, 2) berjenjang dan berurutan, dan 3) memerlukan ketrampilan algoritma matematika. Faktor lain yang menyebabkan mata pelajaran ini sulit bagi peserta homeschooling adalah 1) terbatasnya sarana dan prasarana pendukung laboratoriun, 2) kemampuan siswa yang bervariasi, 3) kemandirian belajar rendah, 4) kemampuan matematis yang kurang, dan 5) kurangnya kemampuan dalam membaca tabel, grafik ataupun bagan. Selain faktor-faktor tersebut sebagian besar guru pengajar kimia menggunakan cara konvensional dalam mengajar. Tesis ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar yang mempertimbangkan karakterisitik mata pelajaran dan karakter siswa. Bahan ajar ini dirancang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga dapat meningkatkan ketertarikan siswa dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar. Model yang dipilih dalam mengembangkan bahan ajar ini adalah model ADDIE. Alasan memilih model ini karena model ini begitu sederhana dan sistematik. Sehingga sangat sesuai dengan karakteristik mata pelajaran kimia yang dikembangkan pada homeschooling. Alasan lain adalah model ini dapat digunkan untuk mengembangkan bahan ajar pada pembelajaran di ranah informasi verbal, ketrampilan intelektual, psikomotor dan sikap yang relevan dengan Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tahapan yang dilakukan dalam pengembangan paket pembelajaran ini adalah 1) analisa pembelajaran, 2) desain produk, 3)pengembangan bahan ajar, 4) penerapan bahan ajar, dan 5) evaluasi bahan ajar. Penelian pengembangan ini menghasilkan 3(tiga) produk yaitu 1) buku ajar, 2) panduan guru, dan 3) panduan siswa. Proses pengembangan ini melibatkan ahli isi mata pelajaran, ahli desain pembelajaran dan ahli media pembelajaran untuk memberikan tanggapan dan masukan perbaikan. Selain itu guru mata pelajaran kimia dan siswa homeschooling sebagai pengguna bahan ajar ini juga diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan. Perbaikan produk pengembangan setelah review ahli isi, ahli desain dan ahli media dengan tahap-tahap 1) uji coba perorangan oleh 3 orang siswa sebagai responden, dan 2) uji coba lapangan dengan responden sebanyak 5 orang siswa dan 1 guru kimia. Hasil uji coba lapangan menunjukkan 1) buku ajar memperoleh prosentase pencapaian 84,90% dari siswa dan 75% dari guru, sehingga buku ajar berada pada kualifikasi baik, 2) panduan siswa memperoleh nilai 81,16% dari siswa menunjukkan kualifikasi baik, dan 3) panduan guru mendapatkan penilaian 80% dari guru menunjukkan berada pada kualifikasi baik. Bahan ajar kimia kelas X semester genap dikembangkan oleh Yuni Eka Fajarwati yang dapat digunakan pada homeschooling dan siswa maupun guru sekolah formal setara SMA dengan memperhatikan saran pemanfaatan produk, desiminasi dan saran pengembangan lebih lanjut

Pengaruh penggunaan media gambar seri terhadap hasil belajar keterampilan berbicara bahasa Mandarin mahasiswa Politeknik Negeri Malang / Nancy Perdanasari

 

Tesis. Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Ed., M.Pd., (II) Dr. H. Sulton, M.Pd. Kata kunci: penggunaan media gambar seri, peningkatan keterampilan berbicara bahasa Mandarin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar berbicara mahasiswa yang menggunakan media gambar seri lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar mahasiswa yang tidak menggunakan media gambar seri pada mata kuliah bahasa Mandarin di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi experiment), karena peneliti tidak bisa sepenuhnya melakukan kontrol. Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah penggunaan media gambar seri, sedangkan variabel terikatnya adalah keterampilan berbicara bahasa Mandarin. Subyek penelitian adalah mahasiswa semester IV pada Program D3 Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang, yang terbagi menjadi kelompok eksperimen (25 orang) dan kelompok kontrol (26 orang). Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan gambar seri, pada awal eksperimen diberikan prates, baik kepada kelompok eksperimen maupun kontrol; dan pada akhir eksperimen diberikan pascates kepada kedua kelompok tersebut. Bagi kelompok eksperimen, hasil prates adalah 50,93 dan hasil pascates adalah 60,26; sedangkan bagi kelompok kontrol hasil prates adalah 49,74 dan hasil pascates adalah 52,56. Dengan menggunakan SPSS for Windows, dilakukan uji-t terhadap nilai prates dan pascates bagi kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Hasilnya, ditemukan t-hitung 5,03 untuk kelompok eksperimen dengan t-tabel 1,711; dan ditemukan t-hitung 1,85 untuk kelompok kontrol dengan t-tabel 1,708. Kedua nilai t-hitung tersebut memiliki taraf signifikansi 0.05. Ini berarti bahwa kemampuan berbicara bahasa Mandarin pada kelompok eksperimen meningkat lebih dari 2,5 kali lipat (tepatnya, 2,72 kali lipat) dibandingkan kemampuan kelompok kontrol Sedangkan untuk menemukan perbedaan capaian (gain) antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dilakukan uji-t terhadap perbedaan nilai prates dan pascates pada kedua kelompok tersebut, dengan hasil t-hitung sebesar 2,87 pada t-tabel 1,676 dan taraf signifikansi 0,05. Artinya, ada perbedaan signfikan antara hasil belajar mahasiswa yang menggunakan gambar seri dan hasil belajar mahasiswa yang tidak menggunakan gambar seri.

Penggunaan media kartu gambar dan kata untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK PKK Dewi Sartika 01 Balerejo Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar / Diah Asmoro Asih

 

Kata kunci : Kemampuan Berbahasa, media kartu gambar,TK Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan berbahasa anak. Hal ini terjadi adalah karena guru tidak ada alat peraga,kurang bervariasinya penggunaan metode mengajar, sehingga menyebabkan anak kurang senang atau menjadi enggan bahkan ramai sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mendeskripsikan penggunaan media kartu gambar dan kata yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak dan ( 2).mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa anak melalui penggunaan media kartu gambar dan kata pada anak kelompok B di TK PKK Dewi Sartika Balerejo 01 Kec.Wlingi Kab.Blitar . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian, tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, subyek penelitian, instrumen juga menggunakan analisis data. Penelitian di lakukan pada tanggal 23 Mei 2011 sampai dengan 1 Juni 2011.Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi kegiatan anak dan unjuk kerja, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pemberian tugas dengan menggunakan media kartu gambar dan kata dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata rata anak mencapai 67,96 % meningkat menjadi 88,28125 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan bahasa melalui menirukan urutan 4-5 urutan kata dan menghubungkan tulisan dengan simbol yang melambangkannya. Disarankan bahwa dalam pembelajaran untuk meningkatkan bahasa anak dapat menggunakan media kartu gambar dan kata. Untuk penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan masalah lain yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bidang pengembangan selain bidang kemampuan bahasa , yaitu seni,kognitif dan fisik motorik .

Penerapan metode bercerita dengan menggunakan media finger puppet untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Ana Setyoningrum

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, media finger puppets ,metode bercerita,TK Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan berbahasa anak dalam hal menceritakan pengalaman secara sederhana pada kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar.Guru belum menggunakan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana, disamping itu keberanian bercerita didepan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta imajinasi anak dalam bercerita juga relative rendah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan langkah metode bercerita dengan media finger puppet yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa serta Mendeskripsikan penerapan metode bercerita dengan media finger puppet untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di Tk PKK I Sentul Kec.Kepanjenkidul dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model siklus . Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan mengunakan media finger puppets dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata rata anak mencapai 64,28 % meningkat menjadi 84,52 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan bahasa melalui keberanian bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita, imajinasi anak dalam bercerita. Berdasarkan penelitian ini, mendengarkan cerita dan menceritakan kembali cerita yang baru didengar, menceritakan pengalaman secara sederhana dan bercerita dengan menggunakan kata ganti aku, saya kamu, mereka, dia dengan menggunakan media finger puppets dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak dalam bercerita.

Efektivitas penerapan strategi pembelajaran kooperatif model TGT (Team Games Tournament) yang dipadukan dengan model Time Token Arends dan tipe pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Trenggalek pada mata pelajaran ekonomi / Kiki Eka

 

Kata Kunci: Hasil belajar siswa, Model pembelajaran TGT (Team Games Tournament), Time Token Arends dan Konvensional Sistem Pendidikan Nasional sampai saat ini menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada sekolah-sekolah sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang cenderung teacher-oriented dalam proses belajar mengajar, sehingga diperlukan strategi atau model pembelajaran yang menyenangkan dalam upaya meningkatkan hasil belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah mampu menguasai materi pelajaran dan memilih metode yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan efektivitas metode pembelajaran kooperatif model TGT (Team Games Tournament) yang dipadukan dengan model Time Token Arends dan tipe Konvensional pada mata pelajaran Ekonomi terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Trenggalek. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Trenggalek, yang berlangsung selama dua kali pertemuan dengan pokok bahasan Permintaan dan Penawaran Uang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XH sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model TGT yang dipadukan dengan model Time Token Arends, dan siswa kelas XA sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan model konvensional. Teknik pengumpulan data melalui tes (pre-test dan post-test), dan lembar observasi. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data hasil belajar. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas varian, uji kesamaan rata-rata, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa merasa model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) yang dipadukan dengan Model Time Token Arends sangat menarik dan tidak membosankan, karena mengandung unsur permainan. Di samping itu model tersebut juga dapat menumbuhkan sikap untuk berkompetensi antar kelompok sehingga dapat mendorong siswa untuk menguasai materi secara mendalam, serta dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan ide maupun pendapat dengan lebih kreatif, dapat menghilangkan sifat egois, tidak mendominasi kelompok, dan menang sendiri serta mau menerima ide/pendapat orang lain dan menggunakannya yang dirasa lebih baik. Sedangkan Model Konvensional cenderung berpusat pada guru, sedangkan posisi siswa hanya sebagai pendengar dan pencatat saja. Jadi kecil peluang bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran ekonomi pada pembelajaran model TGT yang dipadukan dengan model Time Token Arends dan model Konvensional. Di mana penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT yang dipadukan dengan model Time Token Arends di SMA Negeri 2 Trenggalek lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran konvensional.

Penggunaan media manik-manik untuk meningkatkan hasil belajar operasi penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SDN Sidorahayu 04 Wagir Malang / Suryanto

 

Kata Kunci : media manik-manik, bilangan bulat, hasil belajar . Sesuai dengan kenyataan yang ada di SDN Sidorahayu 04 Kecamatan Wagir tempat peneliti mengajar, bahwa siswa kelas IV masih kesulitan memahami operasi penjumlahan bilangan bulat. Hal ini terlihat dari hasil ulangan harian matematika siswa kelas IV SDN Sidorahayu 04 Kecamatan Wagir pada materi operasi penjumlahan bilangan bulat. Dari 20 siswa, yang menjawab benar 3 anak. Sedangkan yang 17 anak menjawab salah. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan proses belajar mengajar dengan penerapan media manik-manik dalam meningkatkan hasil belajar matematika kelas IV SD N Sidorahayu 04 Wagir, dan mendeskripsikan aktivitas hasil belajar siswa. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD N Sidorahayu 04 Wagir sebanyak dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini ada 20 siswa. Hasil penelitian ini merupakan penggunaan media manik-manik untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada operasi penjumlahan bilangan bulat, yang dibuktikan dengan pelaksanaan pembelajaran dari siklus I hingga siklus II dengan menggunakan media manik-manik sudah mencapai seluruh indikator. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan observasi, teknik dokumentasi berupa foto kegiatan dan dokumen portofolio. Simpulan dari penelitian ini yaitu, penggunaan media berupa benda manik-manik dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam proses pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada operasi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV sdn Sidorahayu 04 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.

Pengaruh bauran eceran (retail mix) terhadap citra toko (studi pada konsumen Carrefour Market Malang) / Yohanes Setiawan

 

Kata Kunci: Bauran Eceran, Citra Toko Kemajuan di bidang perekonomian selama ini telah banyak membawa akibat perkembangan yang cukup pesat dalam bidang usaha ritel. Hal ini menimbulkan persaingan diantara perusahaan ritel. Agar suatu perusahaan dapat terus dan memenangkan persaingan, perusahaan dituntut untuk mengadakan perbaikan dan peningkatan di bidang pemasaran. Hal yang sangat perlu dilakukan oleh seorang peritel adalah bagaimana peritel tersebut harus bisa menciptakan strategi pemasaran agar dapat menarik perhatian pelanggan dan menciptakan citra toko yang baik dari konsumen dengan cara melaksanakan bauran eceran dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Gambaran bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) dan citra toko pada Carrefour Market, (2) Pengaruh bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) secara parsial terhadap citra toko pada Carrefour Market, (3) Pengaruh bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) secara simultan terhadap citra toko pada Carrefour Market, (4) Variabel yang berpenganruh dominan dari bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) terhadap citra toko pada Carrefour Market. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah bauran eceran, dengan sub variabel: lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service. Sedangkan variabel terikat adalah citra toko. Penelitian ini dilakukan di Carrefour Market Malang pada Januari 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda, dengan uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian dijaring dengan memberikan kuesioner kepada 174 responden, yaitu konsemen dari Carrefour Market Malang. Hasil analisis data menunjukkan bahwa bauran eceran (lokasi, merchandise, pricing, promosi, atmosfer dalam gerai, retail service) berpengaruh secara simultan terhadap citra toko. Dapat dilihat dari besarnya F hitung= 30.755 dan tingkat signifikansinya adalah 0.000 < 0.05. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya pengaruh secara parsial dari masing-masing sub variabel bauran eceran terhadap citra toko. Variabel lokasi besarnya (b1) = 0.229, t hitung = 4.471 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel merchandise besarnya (b2) = 0.190, t hitung = 2.570 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel pricing besarnya (b3) = 0.217, t hitung = 2.123 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel promosi besarnya (b4) = 0.081, t hitung = 2.526 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel atmosfer dalam gerai besarnya (b5) = 0.118, t hitung = 2.317 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Variabel retail service besarnya (b6) = 0.195, t hitung = 3.079 >1.96, dengan signifikansi α = 0.05. Dari hasil yang didapatkan dalam penelitian, keberlakuan teori tentang pengaruh bauran eceran terhadap citra toko sudah terpenuhi, namun hasilnya belum maksimal. Dalam penelitian ini penulis menyarankan agar Carrefour Market Malang lebih memperjelas informasi tentang promo yang diberikan, meningkatkan promosi supaya tidak kalah bersaing dengan pesaing lainnya. Karyawan lebih memperhatikan penampilan, bersikap sopan, dan ramah agar konsumen nyaman. Peneliti berharap agar citra toko yang baik di Carrefour Market Malang juga akan terus meningkat.

Efektivitas pemanfaatan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang / Ayidah Habibah

 

Kata Kunci: efektifitas, sumber belajar, Lembar Kerja Siswa (LKS) Sumber belajar merupakan sarana atau alat bantu siswa dalam menunjang proses pembelajaran, dengan memanfaatkan sumber belajar maka siswa dapat mengembangkan pola pikir belajarnya sendiri, tidak hanya tergantung dari ajaran guru. Dari hasil observasi di SMA Negeri 6 Malang diketahui bahwa sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran ekonomi adalah Lembar Kerja Siswa (LKS). Pemanfaatan sumber belajar yang sesuai sebagaimana mestinya maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menjawab rumusan masalah: (1) Bagaimana keberadaan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi dalam proses pembelajaran ekonomi? (2) Bagaimana pemanfaatan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagai sumber belajar siswa? (3) Bagaimana hasil pemanfaatan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagai sumber belajar siswa SMA Negeri 6 Malang? Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X.1 dan X.4 beserta 1 guru ekonomi di SMA Negeri 6 Malang pada bulan April-Mei 2011. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian adalah simbolic interactionisme. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survei, wawancara dan dokumen. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi teknik dan member cek. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Keadaan fisik LKS yang dimanfaatkan pada pembelajaran di kelas X SMA Negeri 6 Malang sudah baik. anya sampul LKS yang dianggap kurang menarik karena menggunakan kertas buram, permasalahn yang dihadapi siswa pada setiap bab yaitu pada bahasa yang digunakan tetapi permasalahan tersebut dapat diatasi. Hal ini sesuai dengan teori bahwa LKS yang baik harus memenuhi persyaratan konstruksi. Persyaratan konstruksi tersebut meliputi syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan, kosakata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang hakekatnya harus tepat guna dalan arti dapat dimengerti oleh pihak pengguna LKS yaitu peserta didik. Dalam teknis penulisan LKS menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi. (2) Dalam pemanfaatan LKS guru selalu berpedoman pada SK, KD, indikator dan alokasi waktu. Siswa dan guru selalu menggunakan LKS dalam proses pembelajaran. Setelah guru menerangkan materi siswa ditugaskan untuk mengerjakan latihan soal guna mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Ketika mengerjakan soal ternyata dijumpai permasalahan yaitu jawaban dari pertanyaan tidak ada pada materi. Akibatnya siswa harus mencari sumber belajar lain yang bisa digunakan dalam menyelesaikan soal latihan LKS. Teori yang mendukung pernyataan iniadalah Proses pembelajaran ekonomi dengan LKS salah satunya dilaksanakan dengan ketentuan yaitu Guru menerangkan materi pembahasan sesuai dengan SK, KD, dan indikator. Tugas-tugas sebuah lembar kerja tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya. (3) Ketika nilai siswa dalam mengerjakan latihan soal kurang dari KKM maka yang dilakukan adalah meminta remedi kepada guru. Tugas yang diberikan guru untuk perbaikan nilai berupa mencari artikel di internet disesuaikan dengan pokok bahasan yang belum tuntas. Berdasarkan hasil penelitian untuk peningkatan kualitas pendidikan ekonomi di sekolah menengah maka saran yang ditujukan kepada: (1) Guru, Guru sebagai enaga pendidik yang mengarahkan siswa pada keberhasilan pendidikan hendaknya bisa memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS) ekonomi sebagaimana mestinya yang tidak telepas dari fungsi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sebenarnya. (2) Sekolah, Penelitian ini dilakukan hanya pada 1 sekolah saja sehingga untuk penelitian selanjutnya perlu dilakukan penelitian dengan responden yang lebih banyak sehingga nantinya akan ada perbandingan antara antara satu sekolah dengan sekolah yang lain yang sama-sama memanfaatkan LKS sebagai sumber belajar.

Persepsi guru tentang pelaksanaan supervisi klinis dan kompetensi guru di SD/MI Gugus V Kecamatan Sukun Kota Malang / Yuli Amaliyah

 

Kata Kunci: Supervisi Klinis, Profesionalisme guru, SD Guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun Kota Malang memiliki perbedaan persepsi mengenai pelaksanaan supervisi klinis dan kompetensi guru. Hal ini terjadi diduga disebabkan antara lain: iklim sosial, sistem kedinasan, atau persepsi dari guru sendiri. Persepsi guru mengenai supervisi klinis dilihat dari pelaksanaan supervisi tersebut. Sedangkan persepsi guru mengenai kompetensi guru dilihat dari penguasaan kompetensi sebagai seorang guru, meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, dan profesional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi tentang pelaksanaan supervisi klinis dan kompetensi guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun kota Malang. Penelitian ini dilakukan dengan sampel 65 dipada guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun kota Malang.Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan metode penelitian deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner (angket). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki persepsi ‘efektif’ (44.62%) mengenai pelaksanaan supervisi klinis, diartikan supervisi klinis telah dilaksanakan dengan efektif namun belum secara maksimal kerena belum berkesinambungan dengan baik pada prosedur supervisi klinis. Sedangkan mengenai kompetensi guru, sebagian besar guru memiliki persepsi yang sangat tinggi (52.31%), diartikan bahwa guru di SD/MI gugus V kecamatan Sukun kota Malang adalah guru yang berkompeten atau telah memiliki kompetensi/kemampuan sabagai seorang guru Disarankan Bagi Kepala Sekolah agar menindaklanjuti pelaksanaan supervisi klinis dengan secara berkesinambungan dan terkoordinasi dengan baik, serta mengevalusai kinerja guru untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran didalam atau diluar kelas.Bagi guru disarankan untuk melaksanakan supervisi klinis dengan intensif untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran dikelas guna meningkatkan profesionalisme, serta melaksanakan sebagaimana mestinya kompetensi sebagai guru yang profesional dan menyelenggarakan program pembelajaran yang baik kepada peserta didiknya, sehingga akan tercipta suasana belajar yang komunikatif, variatif dan berdaya saing. Bagi peneliti diharapkan apabila menggunakan variabel yang sama dalam penelitiannya disarankan agar mengambil jumlah sampel yang lebih luas sehingga hasil penelitian tersebut bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan risk of return terhadap bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split (studi empiris pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2006-2009) / Yuli Dwi Jayanti

 

Kata Kunci: Harga Saham, Volume Perdagangan, Risk of Return, Bid Ask Spread Pelaksanaan stock split oleh emiten akan direspon para partisipan pasar sebagai informasi dalam melakukan transaksi di lantai bursa. Corporate action tersebut akan mempengaruhi tingkat likuiditas saham. Salah satunya ditunjukkan dengan nilai bid ask spread saham. Bid ask spread merupakan selisih antara ask price terendah dengan bid price tertinggi suatu saham. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan risk of return terhadap bid ask spread di sekitar pengumuman stock split dan untuk mengetahui pengaruh stock split terhadap bid ask spread. Populasi penelitian ini sebanyak 32 perusahaan yang melakukan pemecahan saham dan terdaftar di BEI tahun 2006-2009. Metode penentuan sampel dengan menggunakan purposive sampling menghasilkan sampel sebanyak 24 perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 17,0. Analisis linier berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh harga saham, volume perdagangan, dan risk of return terhadap bid ask spread. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa tidak ada pengaruh signifikan rata-rata harga saham terhadap bid ask spread sebelum dan sesudah stock split. Volume perdagangan sebelum stock split tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap bid ask spread dan berpengaruh signifikan terhadap bid ask spread sesudah stock split. Variabel risk of return tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap bid ask spread sebelum dan sesudah stock split. Saran yang dapat diberikan penulis bagi para investor dengan adanya informasi pengumuman stock split dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan pengambilan keputusan mengenai investasi mana yang paling menguntungkan secara cepat dan akurat sehingga kepentingannya dapat tercapai. Bagi emiten yang akan melakukan stock split harus berupaya memberikan sinyal yang positif kepada investor mengenai tujuan pelaksanaan stock split. Hal ini dimaksudkan agar investor terkesan bahwa dengan stock split akan menghasilkan return yang positif sehingga penurunan harga saham setelah stock split tidak berlangsung lama. Bagi penelitian selanjutnya disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan menambahkan variabel independen lain, jumlah sampel, dan memperpanjang periode pengamatan agar hasil yang didapatkan lebih baik dan akurat.

Studi tentang aplikasi pembelajaran biologi berbasis inkuiri di SMA negeri se Kota Malang oleh mahasiswa PPL tahun ajaran 2010/2011 / Asri Puji Kuswanti

 

Kata Kunci : Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri, Mahasiswa PPL. Biologi sebagai bagian dari IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pada hakikatnya, pembelajaran biologi merupakan proses untuk menjadikan siswa berinkuiri dalam rangka memecahkan masalah kehidupannya.Tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan aplikasi pembelajaran Biologi berbasis inkuiri di SMA Negeri se kota Malang oleh mahasiswa PPL tahun ajaran 2010/2011. Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan teknik observasi dan dokumentasi angket. Observasi dilakukan terhadap pembelajaran oleh mahasiswa PPL di SMAN 2 Malang. Sedangkan angket diberikan kepada mahasiswa yang PPL di SMAN se Kota Malang selain SMAN 2 Malang. Populasi penelitian yaitu mahasiswa PPL jurusan Biologi semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SMA Negeri Se Kota Malang. Sampel penelitian yaitu sampel total. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April 2011. Lokasi penelitian dengan teknik observasi adalah di SMA Negeri 2 Malang, Jl. Laksamana Laut RE Martadinata 84 Malang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan angket. Data dari hasil observasi dan angket dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui pembelajaran Biologi berbasis inkuiri diaplikasikan melalui kegiatan eksperimental dan noneksperimental. Kegiatan eksperimental diaplikasikan oleh enam mahasiswa secara terpimpin dengan langkah-langkah meliputi perumusan masalah, pengajuan hipotesis, penentuan variabel, perancangan dan perakitan instrumen, pelaksanaan investigasi, penyajian dan penafsiran data secara sistematis, penyusunan kesimpulan, serta pengkomunikasian data. Kegiatan noneksperimental diaplikasikan oleh 23 mahasiswa dengan langkah-langkah meliputi perumusan masalah, perancangan dan perakitan instrumen (pengamatan, diskusi, studi pustaka, pembuatan peta konsep, melihat fenomena sehari-hari, browsing internet, dan penyusunan bagan), pelaksanaan investigasi, penyajian dan penafsiran data secara sistematis, penyusunan kesimpulan, serta pengkomunikasian data. Kegiatan noneksperimental diaplikasikan secara (1) terpimpin; (2) bebas yang dimodifikasikan; dan (3) bebas.

Upaya peningkatan pembelajaran IPA melalui model pembelajaran STM (Sains Teknologi dan Masyarakat) pada siswa kelas V SDN Pronojiwo 02 Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang / Imro'atun Nasikhah

 

Pengaruh konsentrasi larutan Cd(No3)2, larutan klorofil dan waktu gelling terhadap adsorpsi Cd2+ dan klorofil oleh gel nata de coco dengan metode Batch / Miftahur Rahmah

 

Kata kunci: adsorpsi, Cd2+, klorofil, nata de coco, batch. Adsorpsi adalah proses penarikan komponen dari campuran gas atau cairan oleh permukaan adsorben. Nata de coco dapat digunakan sebagai adsorben, karena nata memiliki banyak situs aktif, yaitu OH dan C-O, selain itu nata merupakan bacterial sellulose yang memiliki kemurnian yang tinggi, jika dibandingkan selulosa yang lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi larutan Cd(NO3)2, larutan klorofil dan waktu gelling terhadap adsorpsi Cd2+ dan klorofil oleh gel nata de coco dengan metode batch. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia Fakultas MIPA UM. Metode yang digunakan adalah metode batch dengan nata de coco sebagai adsorben sedangkan Cd(NO3)2, molekul klorofil sebagai adsorbat. Nata de coco dibuat dengan cara mencampurkan air kelapa beserta pendukungnya (gula pasir, ZA dan asam asetat), didihkan, kemudian ditambah dengan bakteri Acetobacter xylinum. Nata de coco yang digunakan merupakan gelling 6 hari dan 11 hari. Proses adsorpsi menggunakan 3 gram nata de coco gelling, kemudian 50 mL adsorbat Cd2+ dengan variasi konsentrasi masing-masing 10, 25, dan 50 ppm ditambahkan, dikocok dengan shaker 100 rpm, dan waktu kontak 20 menit. Larutan Cd(NO3)2 sebelum dan sesudah proses adsorpsi diukur konsentrasinya dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada panjang gelombang 228,8 nm. Sehingga dapat diketahui kapasitas teradsorpsinya. Percobaan yang sama dilakukan pula pada molekul klorofil sebagai pengganti Cd(NO3)2. Filtrat yang diperoleh diukur dengan spektronik 20D+ pada panjang gelombang 398 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kapasitas adsorpsi Cd2+ oleh nata de coco gelling 6 hari pada konsentrasi Cd2+ 10, 25, 50 ppm adalah sebesar 0,090 mg/g; 0,091 mg/g; dan 0,157 mg/g, (2) kapasitas adsorpsi Cd2+ oleh nata de coco gelling 11 hari pada konsentrasi Cd2+ 10, 25, 50 ppm adalah sebesar 0,119 mg/g; 0,298 mg/g; dan 0,536 mg/g. (3) kapasitas adsorpsi molekul klorofil oleh nata de coco gelling 6 hari pada pengenceran molekul klorofil 10 kali dan 5 kali adalah sebesar 0,020 mg/g; 0,015 mg/g, dan (4) kapasitas adsorpsi molekul klorofil oleh nata de coco gelling 11 hari pada pengenceran molekul klorofil 10 kali dan 5 kali adalah sebesar 0,011 mg/g; 0,018 mg/g.

Pengembangan media autoplay dalam pembelajaran prakarya dan kewirausahaan kelas X Pemasaran di SMK Pemuda 1 Kesamben / Tito Rombi Yosepta

 

Yosepta, Tito R. 2014. Pengembangan Media Autoplay dalam Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Kelas X Pemasaran di SMK Pemuda 1 Kesamben. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Sutrisno, M.M. (2) Dr. Suwarni, M.Si. Kata Kunci: media pembelajaran autoplay, prakarya dan kewirausahaan. Pesatnya laju perkembangan ilmu dan teknologi sekarang, membuat guru lebih mudah dalam memanfaatkan media pembelajaran untuk proses pembelajaran.Perkembangan tersebut dapat digunakan sebagai inovasi dalam pengembangan media pembelajaran multimedia sebagai sarana yang efektif untuk menunjang proses pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran multimedia ini bertujuan untuk (1) menghasilkan produk berupa media pembelajaran multimedia berbasis Autoplay Media Studio 7.5, (2) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan media pembelajaran multimedia dan yang tidak menggunakan media pembelajaran multimedia, (3) Mengimplementasikan media didalam pembelajaran. Model penelitian dan pengembangan menggunakan tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji coba awal, (5) revisi hasil uji coba produk awal, (6) uji coba lapangan terbatas (7) penyempurnaan produk hasil uji lapangan (8) uji pelaksanaan lapangan (9) penyempurnakan produk akhir, (10) diseminasi dan implementasi. Pengembangan produk yang dilakukan dalam penelitian ini akan dibatasi hingga tahap ketujuh, yakni revisi produk akhir dilakukan setelah uji coba lapangan terbatas. Uji coba media diujikan kepada siswa SMK Pemuda 1 Kesamben kelas XProgram Keahlian Pemasaran. Hasil validasi ahli materi mencapai 96,67% yang menyatakan media pembelajaran multimedia sangat valid atau sangat baik untuk digunakan dan hasil validasi ahli media mencapai 65% yang menyatakan bahwa media valid/ baik untuk digunakan untuk proses pembelajaran. Supaya penggunaan media autoplay pada mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan materi perencanaan produk dan distribusi dapat berjalan dengan baik oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengguna media Autoplay yaitu: (1) Sebelum menggunakan media pembelajaran, pastikan LCD Projector telah siap untuk digunakan sebagai penghubung antara komputer untuk menampilkan media pembelajaran ini, (2) Pastikan software dan hardware komputer mendukung dalam penggunaan media pembelajaran multimedia berbasis Autoplay Media Studio 7.5, (3) Pada ruangan kelas harus dilengkapi dengan sound agar siswa dapat mengetahui percakapan atau pembicaraan pada video yang ditampilkan dengan media pembelajaran, (4) Guru harus mengawasi siswa ketika menggunakan media pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.

Pengaruh perputaran piutang dan persediaan terhadap return saham melalui Return On Investment pada perusahaan manufaktur yang listing di BEi periode 2007-2009 / Ratna Suliyantiningtias

 

Kata kunci: Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Return Saham, Return On Investment Sumber pembiayaan perusahaan tidak hanya berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, namun perusahaan juga harus mencari sumber pembiayaan dari luar perusahaan salah satunya dengan penjualan saham. Timbal balik perusahaan terhadap investor adalah dengan memberikan return atas investasi tersebut. Apabila keadaan perusahaan mengalami goncangan maka return yang diterima oleh investor akan ikut berpengaruh. Motif investor menanamkan modalnya dalam bentuk saham adalah untuk mendapatkan nilai tambah dalam usahanya yang berupa return saham. Tujuan penelitian ini yaitu Untuk mengetahui: (1)kondisi return saham, perputaran piutang, perputaran persediaan, dan return on invesment pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2007-2009, (2)pengaruh perputaran piutang terhadap return saham, (3)pengaruh perputaran persediaan terhadap return on invesment (4)pengaruh perputaran piutang terhadap return saham, (5)pengaruh perputaran persediaan terhadap return saham, (6)pengaruh return on invesment terhadap return, (7)pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung langsung perputaran piutang terhadap return saham melalui, (8)pengaruh secara langsung maupun tidak langsung langsung perputaran persediaan terhadap return saham melalui ROI. Variabel dalam penelitian ini menggunakan perputaran piutang, perputaran persediaan, return on investment dan return saham. Sedangkan populasi yang digunakan yaitu pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa, laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Pusat Data Bisnis Universitas Negeri Malang dan Website Bursa Efek Indonesia. Teknik analisi yang digunakan menggunakan teknik analisis path. Penelitian menunjukkan bahwa (1)perputaran piutang berpengaruh positif terhadap ROI, (2)perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap ROI. (3)perputaran piutang berpengaruh positif terhadap return saham, (4)perputaran persediaan berpengaruh positif terhadap return saham, (5)ROI berpengaruh positif terhadap return saham,(6)terdapat pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung perputaran piutang terhadap return saham melalui ROI, (7)terdapat pengaruh langsung perputaran persediaan terhadap return saham, tetapi melalui ROI tidak terdapat perngaruh tidak langsung pada perusahaan manufaktur yang go public periode 2007-2009 Dari disarankan bagi perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel pada penelitian ini hendaknya lebih memperhatikan lagi pengelolaan terhadap asset-aset yang dimiliki. Apabila kinerja perusahaan sudah mulai menurun, hendaknya perusahaan lebih cermat menganalisis faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan kinerja tersebut menjadi menurun karena hal tersebut akan berdampak pula pada kesejahteraan para pemegang saham. Pihak manajemen hendaknya juga hasil penelitian memperhatikan kondisi di luar perusahaan, seperti para pesaing, kondisi pasar, dan faktor ekstern yang bisa berdampak pada kinerja perusahaan. Pada penelitian ini terdapat variabel yang tidak berpengaruh terhadap variabel lainnya, hal ini diduga terdapat faktor makro di luar variabel penelitian yang mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan tanpa memperhatikan struktur modal perusahaan, misalnya Kondisi Fundamental Emiten, Hukum Permintaan dan Penawaran, Tingkat Suku Bunga (SBI), Valuta Asing, Dana Asing di Bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), News and Rumor

Designing lexically-based English syllabus for the first year Analytical Chemistry Program students of SMK Negeri 7 Malang / Istu Handayani

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D, (II) Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd. Kata kunci: silabus, berbasisleksikal, kimiaanalisis, surveikebutuhan Penyusunan silabus pengajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas X program Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang sangat penting dilakukan sehubungan dengan kenyataan bahwa selama ini silabus yang dipakai adalah silabus yang diadopsi dari silabus yang telah dirilis oleh BSNP tanpa menelitinya terlebih dahulu. Fakta menunjukkan bahwa hasil dari proses belajar pembelajaran bahasaInggris di sekolah inij uga belum memuaskan seperti yang diharapkan. Siswa masih memiliki kemampuan yang rendah dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris baik secara lisan maupun tulisan. Mereka masih mendapatkan nilai yang kurang memuaskan pada ujian nasional. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya adalah kemampuan awals iswa yang terbatas, latar belakang keluarga, tuntutan yang tinggi dari pemerintah, dan ketidakpedulian terhadap kebutuhan siswa. Kemampuansiswa yang terbatas terhadap leksikal dalam bahasa Inggris sangat membatasi kemampuan siswa untuk memahami semua pelajaran yang diberikan oleh guru. Siswa, guru, dan pelaksanapendidikan di sekolah ternyata memiliki pemahaman yang sama terhadap masalah ini. Merespon temuan di atas, penelitian ini diadakan dengan tujuan untuk menyusun sebuah silabus yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan dapat memenuhi tuntutan semua pihak. Mengacu pada bagian terpenting yakni rendahnya kapasitas leksikal siswa, maka silabus berbasis leksikal dipercaya akan dapat menyelesaikan masalah di atas. Penelitian ini merupakan penelitian riset dan penegembangan. Pada tahap riset, peneliti melakukan studi dokumen, analisa kebutuhan siswa, serta interview kepala sekolah dan guru. Berdasar hasil dari riset tersebut, syllabus ini dibuat dengan menerapkan tahap-tahap yang merupakan kombinasi dari model pengembangan pelajaran oleh Richard (2001:145-167) dan pengembangan program bahasa yang dipopulerkan oleh Yalden (1987:88). Kombinasi tersebut menghasilkan empat tahap yaitu: (1) melakukansurveikebutuhan; (2) meyusunsilabusberdasar model yang dipopulerkanoleh Richard; (3) melakukanvalidasiterhadaprancangansilabus; (4) melakukanujicoba. Tahap pengembangan menghasilkan sebuah silabus yang telah tervalidasi untuk pengajaran bahasa Inggris di kelas X Program Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh silabus ini. Pertama, meskipun format yang digunakan adalah format yang dirilis oleh BSNP, beberapa pengembangan dilakukan. Silabus ini mencakup: (1) identitas; (2) standar kompetensi; (3) kompetensi dasar; (4) indikator; (5) materi; (6) konten leksikal; (7) pengalaman pembelajaran; (8) penilaian; (9) waktu; (10) sumber dan media pembelajaran. Keberadaan kolom konten leksikal adalah karakteristik utama untuk menunjukkan bahwa silabus ini berbasis leksikal. Terlebih lagi, silabus ini dilampiri dengan daftar 2000 kata yang paling sering muncul yang harus dikuasai oleh siswa dengan beberapa sumber concordance dari internet yang bisa digunakan untuk mempelajari collocation dan colligation. Pengembangan juga dilakukan sehubungan dengan materi yang juga meliputi materi yang berhubungan dengan kimia, indicator, kegiatan pembelajaran, metode penilaian yang lebih jelas, serta adanya media pembelajaran. Keberadaan silabus ini akan sangat membantu para pengajar sebagai acuan pengajaran.Selain itu, karena kebutuhan dan minat siswa juga diperhatikan dalam penyusunan silabus ini, maka silabus ini akan lebih bermakna bagi siswa. Tuntutan dari pembuatkebijakan di dunia pendidikan juga diperhatikan. Kesimpulannya, silabus ini akan memenuhi tuntutan komponen-komponen yang saling terkait tersebut. Berdasar proses riset dan pengembangan dalam penyusunan silabus ini, beberapa saran diberikan. Silabus ini terbuka terhadap revisi. Ketika latarbelakang dan kondisi berubah, adaptasi harus dilakukan. Karena silabus ini hanya diperuntukkan siswa kelas X program Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang, silabus untuk level yang lebih tinggi atau untuk program lain dapat disusun dengan menggunakan tahapan yang sama dengan penyusunan silabus ini. Terakhir, melakukan ulang penelitian ini sangat dimungkinkan ketika kelemahan ditemukan untuk mendapatkan hasil yang lebih lengkap dan bagus.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |