Pengembangan sumber belajar berbasis WEB untuk pembelajaran jarak jauh pada materi pembuatan desain banner sebagai media promosi / Eko Mulyanto

 

Kata Kunci : Pengembangan sumber belajar, desain banner, pembelajaran jarak jauh, web. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat telah membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia. Salah satu bentuk perkembangan teknologi dan informasi seperti komputer, internet, televisi dan lain-lain. Untuk mendapatkan informasi, masyarakat cukup menggunakan teknologi dan informasi yang telah tersedia. Perkembangan teknologi web dan internet turut mendorong berkembangnya konsep Pendidikan Jarak Jauh. Ciri teknologi internet yang selalu dapat diakses kapan saja, dimana saja, multi user serta menawarkan segala kemudahannya telah menjadikan internet suatu media yang sangat tepat bagi perkembangan pendidikan jarak jauh. Bidang multimedia merupakan salah satu bidang perkembangan teknologi dan informasi. Pada bidang ini banyak mendapatkan perhatian di dunia usaha dan dunia industri karena bidang ini memiliki seni yang mempunyai nilai dan karakter yang dapat menghasilkan nilai ekonomi di bidang multimedia. Banner merupakan salah satu karya di bidang multimedia. Dimana kebutuhan penggunaan banner di dunia usaha/dunia industri semakin meluas, yakni sebagai media untuk menyampaikan informasi tentang produk atau pesan kepada konsumen. Produk sumber belajar berbasis web ini menggunakan software Moodle. Pengembangan sumber belajar desain banner berbasis web ini bertujuan untuk memberikan alternatif sumber belajar tentang materi desain banner bagi masyarakat yang lebih suka belajar secara mandiri menggunakan Moodle. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Sadiman (2009). Prosedur pengembangan meliputi: 1) identifikasi kebutuhan, 2) perumusan tujuan, 3) perumusan butir-butir materi, 4) perumusan alat pengukur keberhasilan, 5) penulisan naskah, 6) produksi, 7) test/ujicoba, dan 8) revisi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan audiens. Sampel uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan diambil dari anggota Karang Taruna RW VII Janti Kelurahan Bandungrejosari Kecamatan Sukun dan dan Karang Taruna RW VIII Janti Kelurahan Bandungrejosari Kecamatan Sukun. Hasil validasi sumber belajar dari ahli media mendapat persentase 93,75%, dari ahli materi mendapat persentase 92,74%, dan dari audiens 86,83%. Berdasarkan hasil validasi tersebut, sumber belajar berbasis web untuk pembelajaran jarak jauh pada materi desain banner sebagai media promosi dapat disimpulkan valid dan layak digunakan sebagai sumber belajar jarak jauh.

Rancang bangun mesin uji impact charpy model penunjukan skala digital / Pratiwi Dwi Nur A., Lukman Hakim

 

Kata Kunci: mesin uji, uji impact charpy, digital Dewasa ini teknologi berkembang begitu cepat, baik di dunia komunikasi maupun dunia perindustrian. Dalam dunia industri banyak berbagai mesin berbahan logam yang digunakan. Dalam merencanakan suatu mesin dilakukan beberapa tahap, salah satunya adalah memilih bahan yang akan digunakan untuk penentuan sifat-sifat mekanik suatu bahan. Untuk mengetahui sifat-sifat mekanik suatu bahan, salah satunya adalah dengan cara melakukan pengujian. Ada beberapa jenis pengujian yang dapat dilakukan, diantaranya adalah pengujian tekan, pengujian tarik, pengujian pukul takik, dan pengujian kekerasan. Semua pengujian tersebut pada prinsipnya adalah sama yaitu dilakukan dengan cara memberikan suatu gaya tertentu pada bahan yang diuji, salah satunya adalah pengujian pukul takik. Dalam kegiatan pengujian pukul takik tentunya memerlukan suatu mesin uji pukul takik. Pada mesin uji takik yang ada pada saat ini, untuk mengetahui hasil energi pukul takik ditunjukkan oleh indicator penunjuk ketinggian. mesin uji impact yang ada pada saat ini menggunakan busur derajat dan jarum penunjuk. Setelah itu dilakukan penghitungan untuk mengetahui besar nilai impact. Keakuratan Nilai Impact ini ditentukan oleh seberapa besar ketelitian dari busur derajat yang digunakan dan jarum penunjuk yang bekerja. Dan operator yang melakukan pengujian harus melihat dengan sangat cermat berapa besar sudut awal dan sudut akhir yang ditunjukan oleh jarum penunjuk. Jika menggunakan mesin uji impact dengan penunjukan skala digital, keakuratan yang dihasilkan lebih tinggi dari jarum penunjuk manual. Kesimpulan, mesin uji impact dengan penunjukan skala digital menghasilkan keakuratan yang lebih tinggi dibandingkan mesin uji impact dengan penunjukan skala manual.

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi perkembangan konsep reaksi redoks terhadap hasil belajar dan motivasi siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari / Guntur Aji Febrianto

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat. Di Indonesia telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan SDM melalui pendidikan, yaitu dengan mengubah dan memperbaiki kurikulum pendidikannya. Saat ini pendidikan di Indonesia lebih condong menggunakan pendekatan konstruktivistik. Salah satu penerapan pendekatan konstruktivistik adalah pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, yang salah satunya adalah tipe Jigsaw yang digunakan dalam pemberian materi pelajaran perkembangan konsep reaksi redoks kepada siswa. Pemilihan model pembelajaran ini didasarkan pada kesesuaian model pembelajaran jigsaw dengan materi tersebut. Dalam materi tersebut, terdapat tiga pokok bahasan yang terpisah tetapi masih berhubungan, yaitu pada pokok bahasan perkembangan konsep reaksi reduksi dan oksidasi yang terdiri dari tiga konsep yang berbeda. Adanya tiga konsep yang berbeda dan masih berhubungan tersebut, maka tiga sub pokok bahasan tersebut memungkinkan untuk dapat dibahas secara terpisah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk pembagian kelompok ahli dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar antara siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran tipe Jigsaw dengan siswa yang pembelajarannya menggunakan metode konvensional pada materi perkembangan konsep reaksi redoks. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasy experimental design) dan deskriptif kuantitatif. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan kelas kontrol menggunakan metode konvensional. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sederhana dengan undian kelas, sehingga terpilih dua kelas, yaitu kelas X-7 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen pembelajaran (silabus, RPP, hand out, LKS, dan lembar penilaian) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar, angket motivasi dan lembar observasi). Instrumen tes hasil belajar terdiri dari 25 butir soal dengan validitas isi 96% dan reliabilitas sebesar 0,813. Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik kuantitatif berupa uji t dengan taraf signifikansi α = 0,050. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Window. ii Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat berjalan dengan baik, hal ini dibuktikan dengan tahap pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan RPP. Motivasi belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan motivasi belajar kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, persentase keseluruhan siswa yang termotivasi sebesar 82,5% sedangkan pada kelas kontrol hanya 65%. Hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 61,0 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 50,1. Berdasarkan uji t diperoleh nilai thitung sebesar 3,776 dan ttabel sebesar 1,991, sehingga hasil belajar kedua kelas terbukti berbeda. Oleh karena itu, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. iii ABSTRACT Febrianto, Guntur Aji. 2011. The Effects on Adoption of Cooperative Learning

Propositions in reading texts of upper secondary English textbooks: a corpus-based study / Rika Apriani

 

Unpublished Thesis. English Language Teaching Department. Graduate Program of the State University of Malang. Advisors: (1) A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D., (2) Dr. Yazid Basthomi, M.A. Keywords: prepositions, collocational pattern, concordance, corpus This study is corpus-based which was aimed to investigate the frequency of prepositions in reading texts of upper secondary English textbooks. It also investigated the collocational patterns of prepositions in the textbooks. However, the investigation of the collocational patterns were only restricted to prepositions of time, place and direction. The data of this study were prepositions taken from three English textbooks, namely Interlanguage X, Interlanguage XI, and Interlanguage XII. Those books are electronic books published by Ministry of National Education. The instrument used in this study was AntConc 3.2.1w. The Wordlist and concordance KWIC of AntConc 3.2.1w were utilized to analyze the data. The findings of this study revealed, regarding the frequency, that there were some prepositions that occurred in high frequency such as to, in, for, on, by, at, up, from, into, over and after. However, it was also found that there were some prepositions that occurred in low frequency or even no frequency. Concerning collocational pattern, it was found that prepositions of place were found frequently appear in N + prep + NP and V + prep + NP patterns; prepositions of time mostly appear in N + prep +NP and prep +NP ; and prepositions of direction frequently appear in V + prep + NP pattern. Based on the findings and discussion, there are three suggestions presented here. First, for writers or book publishers, it is recommended that they provide list of vocabulary consisting of collocations of prepositions especially if the reading texts deal with descriptive text, recount text, procedure, spoof, report, and narrative text. Secondly, for English teachers, since there are some prepositions which have low frequency of occurrence in the textbooks, the teachers can take the examples of prepositions online corpora such as Time magazine corpus and COCA. For future researchers, it is widely opened to do research using concordance, for example investigating teachers’ use of prepositions in their daily teaching talk so that they can compare with the results of this study to find out which input influences the students most. In addition, since the data of this study were limited only to reading texts, future researchers can investigate all the texts including conversational texts in the textbooks.

Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk identifikasi dan inventarisasi potensi objek wisata pantai di Kabupaten Lombok Utara / Raden Tazani Prassitya

 

Kata Kunci: SIG, Potensi Objek Wisata Pantai. Kabupaten Lombok Utara pada saat ini masih memerlukan pengembangan di sektor pariwisata, hal ini dikarenakan fasilitas umum yang terdapat di masing-masing objek wisata masih kurang memadai, dan penyajian informasi tentang objek wisata masih belum bisa diakses dengan mudah baik oleh masyarakat atau wisatawan. Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat mempermudah masyarakat untuk mengetahui data atau informasi potensi pariwisata di suatu wilayah tertentu, produk Sistem Informasi Geografi (SIG) yaitu peta dapat digunakan sebagai alat bantu wisatawan untuk mengunjungi objek wisata yang ada. Penelitian ini bertujuan yaitu: (1). Mendeskripsikan tahapan identifikasi dan inventarisasi potensi objek wisata, (2).Mengkaji kendala-kendala dalam pengembangan objek wisata di Kabupaten Lombok Utara, (3).Mengetahui objek wisata yang berpotensi dikembangkan di pantai Kabupaten Lombok Utara Penelitian ini menggunakan metode survei dan studi deskriptif. Subjek penelitian dalam penelitian ini meliputi seluruh objek wisata yang pantai di Kabupaten Lombok Utara. Objek wisata Pantai meliputi: Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan, Pantai Sire, Pantai Medana, Pantai Montong Pal, dan Pantai Teluk Nara. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik matching dengan membandingkan antara variabel-variabel yang terdapat di setiap objek wisata. Variabel yang dinilai dalam penelitian ini yaitu sarana objek wisata, jarak akomodasi dari objek wisata, aksesbilitas, dan atraksi (daya tarik). Hasil penelitian ini menunjukkan objek wisata yang ada di Kabupaten Lombok Utara memiliki dua karakteristik pantai secara umum yaitu tipologi pantai pesisir organik, dan desposisi marine. Kendala utama dalam pengembangan objek wisata Kabupaten Lombok Utara adalah pengelolaan objek wisata yang masih kurang optimal, ini dikarenakan pengelola objek wisata hanya dlakukan oleh masyarakat sekitar objek wisata. Selain itu kondisi sarana di objek wisata masih banyak yang tidak terawat. Kriteria potensi objek wisata pantai Lombok Utara menunjukkan empat objek wisata yang sangat berpotensi untuk dikembangkan yaitu: Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan, dan Pantai Medana. Sedangakan Objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan adalah Pantai Teluk Nara, dan Sira Indah. Serta yang cukup berpotensi untuk dikembangkan adalah Pantai Montong Pal. Saran dalam pengembangan objek wisata antara lain: peningkatan kualitas sarana di objek wisata, serta peningkatan sarana dan prasarana penunjang seperti akomodasi, sarana transportasi yang khusus untuk melayani wisatawan untuk menuju dan meninggalkan objek wisata. Ditingkatkannya variasi kegiatan disetiap objek wisata.

Pengembangan modul pembelajaran SPLDV beracuan pada standar proses sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk siswa SMP/MTs kelas VIII / Ika Yunita

 

Kata kunci : modul, alternatif pembelajaran matematika, standar proses, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Setiap siswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang kecepatan belajarnya tinggi namun ada juga siswa yang kecepatan belajarnya rendah. Pembelajaran dengan modul merupakan suatu alternatif pembelajaran yang menjadi solusi untuk permasalahan ini. Berdasarkan kenyataan di lapangan, masih banyak siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) karena belum memahami konsepnya. Oleh karena itu, penulis terdorong untuk mengembangkan modul SPLDV Kegiatan pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan suatu modul pembelajaran SPLDV yang beracuan pada standar proses (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah). Modul yang beracuan pada standar proses adalah modul yang memuat proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada proses eksplorasi, siswa dilibatkan secara aktif dalam mencari informasi yang luas untuk memahami materi yang dipelajari. Pada proses elaborasi, siswa diberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis dan menyelesaikan masalah secara individu. Pada proses konfirmasi, siswa diberikan kegiatan mengecek kebenaran hasil yang diperoleh pada proses eksplorasi atau elaborasi. Modul yang dikembangkan telah melalui dua tahap uji coba. Subjek uji coba tahap I yaitu dua dosen matematika dan satu guru matematika. Subjek uji coba tahap II yaitu enam siswa kelas VIII. Hasil uji coba tahap I atau validasi isi menyatakan bahwa semua komponen modul yang meliputi aspek kelayakan isi, standar proses, keterbacaan, sajian, dan tampilan telah valid. Hasil uji coba tahap II atau validasi empirik menyatakan bahwa modul yang dikembangkan sudah sesuai dan bagus. Disarankan modul ini dapat digunakan oleh guru sebagai alternatif sumber belajar. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan untuk mengujicobakan hasil pengembangan pada kelompok sedang dan besar.

Pengaruh OPM (Operating Profit Margin) dan NPM (Net Profit Margin) terhadap return saham pada perusahaan automotive and components yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010 / Inoky Ardi Nugroho

 

Kata Kunci : OPM dan NPM, Return Saham Keberadaan pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian, salah satu manfaatnya adalah memberi wahana investasi bagi investor. Dengan semakin majunya peradaban masyarakat, objek-objek investasi semakin banyak jenisnya. Untuk itu diperlukan suatu pengetahuan atau analisis agar dalam berinvestasi investor dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu analisis yang dapat dipakai adalah analisis rasio profitabilitas. Rasio Profitabilitas yang digunakan adalah OPM dan NPM. Dengan analisis ini investor dapat menilai kinerja perusahaan sehingga dapat mencapai tujuan (return) yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh secara parsial rasio OPM dan NPM terhadap return saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Automotive and Components yang Listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010 sebanyak 13 perusahaan, dan menghasilkan 10 perusahaan pertambangan sebagai sampel untuk penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria dan digunakan dalam penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari laporan keuangan perusahaan dan factbook pada Indonesia Stock Exchange serta pada www.duniainvestasi.com. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel OPM secara parsial berpengaruh dan NPM secara parsial tidak berpengaruh terhadap return saham. Hal tersebut menggambarkan bahwa investor tidak menggunakan rasio NPM dalam berinvestasi. Investor lebih cenderung mengunakan rasio OPM dalam memprediksi pergerakan harga saham masa mendatang. Untuk penelitian selanjutnya yang sejenis disarankan untuk mengkombinasikan vaiabel-variabel rasio keuangan dengan jumlah yang lebih banyak dan tepat. Dan menggunakan data terbaru serta rentang penelitian yang lebih panjang, sehingga diharapkan akan didapatkan hasil penelitian yang lebih banyak lagi.

Pengaruh penggunaan teknologi informasi dan gaya belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang / Rabatna Sari R.

 

Kata kunci: Teknologi Informasi, Gaya Belajar, dan Prestasi Belajar. Teknologi informasi merupakan segala bentuk teknologi yang diimplementasikan untuk memproses dan mengirim informasi dalam segala bentuk elektronik yang tidak terbatas ruang dan waktu. Berbagai informasi yang diterima dan diserap oleh siswa melalui teknologi informasi tersebut kemudian diproses oleh siswa dengan cara mengingat, berpikir, memecahkan soal, dan kecenderungan pemakaian sisi otak untuk mempercepat proses belajarnya, dalam hal ini disebut dengan gaya belajar. Apabila seseorang dapat menggunakan teknologi informasi dengan baik dan mengetahui gaya belajarnya sendiri maka ia akan lebih mudah dan cepat untuk belajar. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh: (1) penggunaan teknologi informasi terhadap prestasi belajar akuntansi siswa, (2) gaya belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa, dan (3) penggunaan teknologi informasi dan gaya belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang yaitu sebanyak 153 siswa. Teknik pengambilan sampel adalah teknik random sampling sehingga diperoleh sampel berjumlah 77 siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan teknologi informasi (X1), gaya belajar (X2), dan variabel terikatnya prestasi belajar akuntansi (Y). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian yang diperoleh: (1) terdapat pengaruh negatif penggunaan teknologi informasi terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang dengan thitung sebesar -2,014 dan nilai signifikansi sebesar 0,048 < alpha 0,05, (2) terdapat pengaruh positif gaya belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang dengan thitung sebesar 2,384 dan nilai signifikansi sebesar 0,020 < alpha 0,05, dan (3) terdapat pengaruh positif penggunaan teknologi informasi dan gaya belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang sebesar 0,031. Disarankan: (1) pihak sekolah sebaiknya meningkatkan kelengkapan fasilitas teknologi informasi yang sudah ada dan berupaya untuk memberikan pemahaman tentang penggunaan teknologi informasi yang benar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (2) guru sebaiknya memotivasi siswa untuk menggunakan fasilitas teknologi informasi dengan baik dan benar dan mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, dan (3) orang tua sebaiknya memperhatikan kebutuhan fasilitas belajar siswa dan gaya belajar yang dimilikinya agar siswa dapat menggunakan fasilitas belajarnya dengan baik dan belajar sesuai dengan gaya atau kebiasaan belajar yang dimiliki.

Pengembangan modul larutan asam dan basa dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Malang kelas X Program Keahlian Analisis Kimia / Chintia Rhamandica

 

Kata Kunci: Modul, RPP, Larutan Asam dan Basa, Learning Cycle 5 Fase, SMK. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), pemerintah melakukan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Diperlukan pengembangan modul untuk lebih mendukung pengembangan SMK. Agar pembelajaran dengan modul dapat berjalan efektif maka hasil pengembangan dilengkapi dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Modul dan RPP yang dikembangkan mengacu pada model Learning Cycle 5 Fase. Sejauh ini belum ada modul untuk materi larutan asam dan basa yang dikembangkan menggunakan model Learning Cycle 5 Fase. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menghasilkan draf modul Larutan Asam dan Basa dengan model Learning Cycle 5 Fase yang memenuhi kelayakan sebagai media belajar siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Malang Kelas X Program Keahlian Analisis Kimia, (2) untuk menghasilkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Larutan Asam dan Basa dengan model Learning Cycle 5 Fase sebagai pelengkap draf modul yang dapat digunakan bagi guru untuk mengelola pembelajarannya. Model pengembangan yang digunakan peneliti dalam mengembangkan modul adalah model Borg dan Gall. Model ini memiliki 10 tahap pengembangan. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu dan biaya untuk penelitian, maka pengembangan dibatasi sampai tahap ketiga. Ketiga tahap tersebut adalah penelitian dan pengumpulan data, perencanaan pengembangan produk, dan pengembangan produk awal. Desain validasi terdiri dari dua macam yaitu validasi soal uji kompetensi dan validasi isi produk (modul dilengkapi RPP). Validasi soal uji kompetensi diujicobakan ke siswa dan dianalisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya bedanya. Soal-soal dengan kriteria baik dimasukkan dalam modul. Modul yang telah lengkap dengan RPP divalidasi isi oleh ahli (validator). Intrumen pengumpulan data berupa soal uji kompetensi dan angket validasi. Hasil validasi dianalisis dengan teknik analisis nilai rata-rata. Hasil dari pengembangan adalah modul Larutan Asam dan Basa yang dilengkapi dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dari hasil analisis nilai rata-rata terhadap validasi modul dari 4 validator diperoleh 3,51 dengan kriteria penilaian valid/baik/layak. Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,47 dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan modul Larutan Asam dan Basa yang dilengkapi dengan RPP sudah layak dan baik untuk divalidasi empirik (evaluasi sumatif) di lapangan.

Penerapan model pembelajaran Problem BAsed Instruction (PBI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi lingkungan hidup di kelas XI IPS 2 SMA Islam Al-Maarif Singosari Kabupaten Malang / Bayu Hardiansyah

 

Kata kunci: Problem Based Instruction (PBI), hasil belajar Pendidikan mempunyai peranan penting dalam memperbaiki mutu sumber daya manusia, kemajuan suatu bangsa hanya bisa dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Salah satu hal yang memegang peranan penting dalam membantu tercapainya pembelajaran yang berkualitas adalah peran serta guru dalam proses pembelajaran. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, pada tanggal 23 dan 30 Maret di kelas XI SMAI Al-Maarif Singosari Kabupaten Malang, diketahui bahwa dalam ke-giatan pembelajaran guru menggunakan beberapa metode pembelajaran seperti cera-mah, diskusi kelompok dan pemberian tugas melalui LKS, tetapi siswa masih terlihat kurang termotivasi, sehingga menjadi kurang aktif. Hal ini terlihat dari 39 siswa hanya 3 siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini membuat hasil belajar siswa tidak bisa maksimal. Terbukti dengan nilai siswa kelas XI IPS 2 SMAI Al-Maarif Sin-gosari Kabupaten Malang yang masih rendah, dari 39 siswa yang nilainya di bawah SKM sebanyak 24 siswa (61,5%), dan 15 siswa (38,46%) mendapatkan nilai di atas SKM dengan rincian sebanyak 12 siswa (30,76%) mendapatkan nilai > 70 dan seba-nyak 3 siswa (7,69%) mendapatkan nilai > 80. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar geografi pada kelas XI IPS 2 SMAI Al-Ma’arif Singosari belum memenuhi SKM yang telah ditetapkan pihak sekolah yakni 70. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran PBI. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali per-temuan. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS-2 SMAI Al-Maarif Singosari Kabupa-ten Malang pada bulan Mei sampai Juni 2011, dan data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan ke siklus I, kemudian siklus I ke siklus II. Besarnya pe-ningkatan dari pra tindakan ke siklus I adalah 15,38%, yaitu pada saat pra tindakan siswa yang mendapatkan skor > 70 ada 15 siswa dan pada siklus I menjadi 21 siswa. Besarnya peningkatan pada siklus I ke siklus II adalah 41.03%, yaitu 53.84% pada sik-lus I menjadi 94.87% pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui juga berdasarkan nilai rata-rata siswa dari tes yang dilakukan di setiap akhir siklus se-besar 71,6% pada siklus I menjadi 78,9% pada siklus II. Dari perolehan tersebut dapat diketahui peningkatan hasil belajar siswa selama pelaksanaan tindakan sebesar 7,3%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pe-ningkatan hasil belajar Geografi setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Disarankan kepada para guru Geografi untuk menerapkan model Problem Based Instruction (PBI).agar kualitas pembelajaran Geografi semakin meningkat. Ke-pada peneliti lanjut untuk memperhatikan alokasi waktu agar yang telah direncanakan dalam RPP bisa terlaksana dengan baik.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement divisions (STAD) berbasis praktikum untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika peserta didik kelas X MIA 6 SMA Negeri 9 Malang / Resa Mahesta

 

ABSTRAK Mahesta, Resa. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) Berbasis Praktikum untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik X MIA 6 SMAN 9 Malang. Skripsi. Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd, (II) Drs. Sutarman, M.Pd. Kata Kunci : STAD, praktikum, aktivitas, hasil belajar SMAN 9 Malang sebagai salah satu sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester, secara otomatis tetap mengimplementasikan Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran. Hasil belajar peserta didik aspek kognitif di kelas tersebut diketahui bahwa dari 24 peserta didik dengan kriteria ketuntasan 75, hanya 4,17% yang tuntas dan sisanya 95,83% tidak tuntas dengan rata-rata nilai 56,25. Hasil belajar peserta didik aspek psikomotor rendah karena jarang sekali dilakukan praktikum pada proses pembelajaran. Hasil belajar afektif hanya dilihat berdasarkan baik atau tidaknya sikap peserta didik dalam kelas, jadi bukan mengacu pada proses pembelajaran di kelas. Aktivitas peserta didik rendah pada 7 indikator aktivitas yang diamati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis praktikum; (2) peningkatan kemampuan aktivitas belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis praktikum; (3) peningkatan hasil belajar fisika peserta didik kelas X MIA 6 SMAN 9 Malang dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis praktikum. Penelitian yang diterapkan dalam pembelajaran ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis praktikum. Prosedur dan langkah-langkah dalam penelitian ini mengikuti prinsip dasar penelitian tindakan kelas yaitu menggunakan prosedur kerja yang bersifat siklus, meliputi tahapan-tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus karena telah memenuhi kriteria keberhasilan PTK yang ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan antara lain keterlaksanaan model pembelajaran STAD berbasis praktikum yang diterapkan sudah terlaksana dengan baik antara lain penyajian kelas oleh guru, kerja kelompok berbasis praktikum, kuis cepat untuk mengetahui pemahaman peserta didik, dan penghargaan kelompok. pada siklus I yaitu 83,13% menjadi 90,00% pada siklus II. Peningkatan aktivitas peserta didik terjadi pada 7 indikator yang meliputi visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, motor activities, mental activities, dan emosional activities terdapat peningkatan rata-rata aktivitas belajar fisika siklus I yaitu 74,40 menjadi pada siklus II yaitu 84,35. Terjadi peningkatan hasil belajar fisika peserta didik pada semua aspek yaitu pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor. i

Improving the reading comprehension of the second year students of MTs Nurul Islam Kota Kediri through think-pair-share strategy / Nasih Iwan Susanto

 

Thesis, English Language Education, Graduate Program of State University Of Malang. Advisors: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd. (II) Drs. Fachrurrazy, M.A.,Ph.D Key Words: reading comprehension, think-pair-share strategy. Reading is considered as a complex skill, it requires not only the reading activity, but also ability to understand the content. Based on the researcher’s observation in MTs Nurul Islam Kota Kediri, the students can hardly comprehend the reading text even in the simple text. This is because in comprehending the text, they must focus attention on many aspects such as identifying information, discriminating elements, interpreting complex ideas, inferring text, Synthesizing, and evaluating. These aspects can affect the students to master reading text. Consequently, the students find problems in comprehending the text. Sometimes in doing their task, they just answer questions using incomplete sentences or only guess the answers. To overcome these classroom problems, this Think-Pair-Share (TPS) strategy was applied to improve the students’ reading comprehension in English as the research. The objective of the research is to describe how Think-Pair-Share strategy improves the students’ reading comprehension. The research employed a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in preparing a suitable procedure of Think-Pair-Share strategy, designing the lesson plan, determining of the criteria of success, implementing the action, observing and doing reflections. The subjects of this research were 26 second-year students of MTs Nurul Islam Kota Kediri of the 2010/2011 academic year. This research was conducted in 2 cycles, in which Cycle 1 comprised three meetings and Cycle 2 comprised two meetings. The data of this research were obtained through (1) observation sheet, to obtain information about teacher’s and the students’ activities and performance during the implementation of Think-Pair-Share strategy, (2) field notes, to note the data beyond the coverage of the observation sheet, (3) quiz, to identify whether the students had made progress in reading comprehension, and (4) questionnaire, to get information from the students whether the strategy applied could lead the students to be actively involved during the teaching and learning process. The findings showed that the best procedures of implementing the Think-Pair-Share strategy in teaching-learning of reading comprehension were divided into three phases. The first phase was pre- activities; (1) showing pictures to the students and asking some oral questions related to the pictures, (2) asking the students to predict the topic that will be discussed, (3) asking the students to mention words that might be used in the text and writing the words predicted on the board. The second phases was whilst- activities; (1) asking the students to read the text silently, (2) giving a model on how to read the text and asking the students to repeat and underline the difficult words, (3) clarifying the meaning of difficult words, (4) explaining the content of the text, (5) giving time to students for asking something that they still don’t understand, (6) asking the students to answer yes-no questions orally, (7) explaining the steps and activities the students will do in this reading class, (8) asking the students to answer comprehension questions individually and circulating and providing assistance if needed, (9) assigning the students to sit in pairs, (10) asking the pairs to discuss of the comprehension questions and encouraging the students to help each other, monitoring and providing assistance if necessary, (11) asking the pairs to report their answer. The third phase was post –activities; (1) rechecking the students’ answers, (2) writing down the right answers on the board, and (3) making conclusions of the topic and closing the class. The research showed that the implementation of Think-Pair-Share strategy in the teaching-learning of reading comprehension is effective in improving the students’ comprehension skill. It could improve the students’ ability and achievement in reading comprehension. Moreover, students were actively involved in the class using Think-Pair-Share strategy in terms of sharing ideas, asking and answering questions. In addition, the students’ participation, perception, and motivation toward the implementation of Think-Pair-Share strategy were positive. It is suggested that teachers use Think-Pair-Share strategy as one alternative in the teaching of reading comprehension in the classroom and other English instructions. The findings showed that the implementation of Think-Pair-Share strategy that had been proven to improve the students’ reading comprehension as well as enhancing students’ participation in terms of sharing ideas, discussing and reporting the answer was closely related to the role of the teacher. It is also recommended for future researchers who are interested in the same field conduct further research at the same or other level of students.

Implementasi pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada siswa kelas X Program Keahlian Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Laila Rahmasa

 

Kata kunci : Two Stay Two Stray, kemampuan berpikir kritis siswa, kemampuan berkomunikasi siswa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran Kewirausahaan kelas X Pemasaran (PM) SMK Muhammadiyah 2 Malang, dapat diidentifikasikan beberapa masalah antara lain, metode diskusi kelompok kecil masih belum dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar yang dicapai juga belum maksimal. Hal ini berarti kemampuan berpikir kritis siswa belum dikelola dengan baik. Kendala lain yang dapat diidentifikasikan adalah kurangnya partisipasi siswa dalam diskusi. Pada proses pembelajaran ini tampak indikator kemampuan komunikasi belum terpenuhi, yaitu kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan memberi dukungan, dan kemampuan mengungkapkan diri. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan implementasi pembelajaran kooperatif model TSTS pada siswa (2) Mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model TSTS (3) Mengetahui kemampuan berkomunikasi siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model TSTS (4) Mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi pembelajaran kooperatif model TSTS. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, display data, dan verifikasi data. Penelitian dilaksanakan di kelas X PM SMK Muhammadiyah 2 Malang dengan jumlah siswa 29 orang, pada mata pelajaran Kewirausahaan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa (1) Implementasi pembelajaran kooperatif model TSTS pada kelas X PM SMK Muhammadiyah 2 Malang sudah baik. (2) Implementasi pembelajaran kooperatif model TSTS dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase siklus I ke siklus II sebesar 50.9% menjadi 87.7% (3) Implementasi pembelajaran kooperatif model TSTS dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan persentase siklus I ke siklus II sebesar 50% menjadi 69.5% (4) Penelitian ini tidak mungkin bisa berjalan mulus, pasti ada kendala dan solusi untuk memecahkan kendala tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang diberikan oleh peneliti adalah (1) Guru SMK Muhammadiyah 2 Malang diharapkan untuk mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif yang inovatif agar siswa termotivasi dan dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal (2) Kepala sekolah SMK Muhammadiyah 2 Malang hendaknya lebih mengoptimalkan persentase kehadiran atau interaksi tatap muka siswa (3) Siswa hendaknya lebih meningkatkan kreativitas mereka untuk berfikir lebih maju dan berani mengungkapkan pendapat dan bisa lebih serius dalam mengikuti pelajaran agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik (4) Penulis mengharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan bagi peneliti-peneliti selanjutnya untuk mencari solusi bagaimana cara guru mengontrol atau membuat para siswa lebih menghargai guru ketika sedang ada di depan kelas memberikan bimbingan atau pelajaran. .

Implementing Reciprocal Peer Tutoring (RPT) strategy to improve the reading comprehension of the second semester students of Banking Departement Muhammadiyah University of Malang / Titik Purwanti

 

Purwanti, Titik. Implementing Reciprocal Peer Tutoring (RPT) Strategy to Improve the Reading Comprehension of the Second Semester Students of Banking Department Muhammadiyah University of Malang. Thesis. Malang: Pendidikan Bahasa Inggris. Program Pascasarjana Universitas Negeri malang. Pembimbing I: Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D,. Pembimbing II: Dr. Sri Rachmajanti, Dip.TESL., M.Pd. Kata Kunci: Strategi Tutor Sebaya Timbal-Balik, Pemahaman Membaca, Departemen Perbankan    Salah satu bahasa yang digunakan secara internasional adalah bahasa Inggris.di Indonesia, English adalah bahasa asing yang telah diajarkan sejak tingkat dasar sampai tingkat atas. Bahasa inggris untuk mahasiswa selain jurusan bahasa Inggris biasanya dikenal dengan sebutan English for Spesific Purposes (ESP) yang dibagi menjadi bahasa Inggris untuk akademik (EAP) dan bahasa Inggris untuk pekerjaan (EOP). Pada umumnya, mahasiswa selain Departemen bahasa Inggris belajar bahasa Inggris untuk tujuan akademis untuk mata kuliah, khususnya membaca. Thesis ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah strategi Tutor Sebaya Timbal Balik dapat meningkatkan pemahaman membaca siswa atau tidak dan menggambarkan apa yang terjadi di kelas selama strategi tersebut di aplikasikan. Nilai awal menunjukkan bahwa siswa memiliki masalah dalam memahami teks.    Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang dari bulan Maret sampai Juni 2013. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester II kelas B Departemen Perbankan Universitas Muhammadiyah Malang yang terdiri dari 31 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Peneliti melakukan beberapa langkah untuk tiap siklusnya, yaitu perencanaan, penerapan, pengamatan dan refleksi. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan lembar pengamatan, kuesioner dan test. Lembar pengamatan dianalisa dengan menghitung aktivitas siswa. Sedangkan, kuesionair dianalisa dengan menghitung respon positif siswa. Test yang digunakan berjenis pilihan ganda yang terdiri dari 20 pertanyaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) strategi Tutor Sebaya Timbal Balik dapat meningkatkan pemahaman membaca siswa, yang meliputi 1) ide pokok tiap paragraph, 2) ide pokok keseluruhan teks, 3) makna kata dalam kalimat, 4) ide penjelas, 5) rincian tersurat, dan 6) rincian tersirat dalam teks. Peningkatannya dapat dilihat dari hasil tes di setiap akhir siklus. Nilai rata-rata dari tes awal adalah 49, 03. Kemudian, nilai nya meningkat menjadi 63, 54 dalam tes membaca 1 dan 65, 96 dalam tes akhir 2., 2) Prosedure strategi Tutor Sebaya Timbal-balik adalah a) meminta siswa untuk berkumpul di dalam grup mereka, b) memberikan lembar kerja kepada siswa yang terdiri dari beberapa pertanyaan yang dibuat oleh dosen, c) meminta tutor untuk memberikan pertanyaan kepada tutee dari lembar kerja yang disediakan, d) meminta tutee untuk menjawab pertanyaan dari tutor, e) mengingatkna tutor untuk memberikan balasan yang positif /perbaikan pada kesalahan kepada para tutee, f) meminta siswa unuk meminta bantuan jika mereka memerlukannya, g) meminta siswa untuk mengubah peran mereka, h) memnatau dan memandu siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Kesimpulannya, strategi tutor sebaya timbal-balik mampu meningkatkan pemahaman siswa. Hal ini juga dapat mendorong siswa untuk menjadi aktif di kelas. Singkat kata, strategi ini direkomendasikan kepada pengajar bahasa inggris sabagai salah satu strategi dalam mengajar membaca. Disamping itu, penelitian ini bisa digunakan sebagai referensi kepada peneliti selanjutnya yang akan menerapkan strategi yang sama dan memiliki masalah yang serupa.

Sintesis ester etil asam lemak dari minyak biji sirsak (Annona muricata Linn.) berbasis green chemistry serta uji potensinya sebagai biodiesel / Mohamad Yusuf

 

Kata Kunci: biodiesel, ester etil asam lemak, green chemistry Biodiesel merupakan sumber bahan bakar alternatif yang dapat menggantikan minyak solar yang ramah lingkungan. Pengembangan sintesis biodiesel ini penting untuk selalu ditingkatkan karena kebutuhan dalam negeri belum mencukupi. Selama ini sintesis biodiesel berupa ester metil atau ester etil. Sintesis berupa ester etil dalam reaksi lebih aman karena menggunakan pereaksi etanol. Sebagai pengembangan lebih lanjut untuk mengaplikasikan prinsip green chemistry, dilakukan sintesis ester etil tanpa pelarut. Pengembangan sintesis biodiesel harus diikuti upaya kreatif untuk mengeksploitasi semua sumber daya minyak nabati agar dapat dicampurkan dengan bahan-bahan mentah utama. Upaya ini yaitu dapat berupa pemanfaatan kebanyakan biji yang dibuang di industri sari buah seperti buah sirsak. Penelitian bersifat eksperimental melalui percobaan di laboratorium dengan beberapa tahapan yaitu: Isolasi minyak biji sirsak dengan menggunakan pres hidrolik. Selanjutnya dilakukan sintesis ester etil yang dibagi menjadi dua metode, yaitu metode pertama sintesis dengan pelarut dan metode kedua yaitu sintesis tanpa pelarut. Kedua metode tersebut memiliki tahapan yang sama yang meliputi : (1) saponifikasi minyak biji sirsak, (2) pengasaman sabun, (3) esterifikasi asam-asam lemak minyak biji sirsak. Ester etil yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi yang meliputi: kelarutan, keasaman, densitas, viskositas, indeks bias, bilangan penyabunan, bilangan asam dan bilangan ester. Untuk membuktikan keberhasilan sintesis tanpa pelarut maka dilakukan identifikasi ester etil asam lemak hasil sintetis tanpa pelarut dengan instrument GC-MS. Sintesis ester etil asam lemak minyak biji sirsak dapat dilakukan dengan metode sintesis tanpa pelarut. Rendemen ester etil asam lemak hasil sintesis sebesar 92,417 %. Prinsip green chemistry yang diterapkan dalam desain sintesis tanpa pelarut adalah; (a) prinsip pertama yaitu pencegahan; (b) prinsip ketujuh yaitu memaksimalkan ekonomi atom; (c) prinsip kedelapan yaitu menghindari penggunaan pelarut; (d) prinsip kesembilan yaitu meningkatkan efisiensi energi. Hasil karakteristik ester etil asam lemak hasil sintesis tanpa pelarut yaitu: (1) larut dalam kloroform dan n-heksan tetapi tidak larut dalam air; (2) densitas sebesar 860 kg/m3; (3) viskositas sebesar 5,277 cSt; (4) indeks bias sebesar 1,445; (5) bilangan penyabunan sebesar 182,973 mg-KOH/g; (6) bilangan asam sebesar 4,825 mg-KOH/g dan; (7) bilangan ester sebesar 96 %. Ester etil asam lemak hasil sintesis tanpa pelarut masih berpotensi sebagai biodiesel jika dibandingkan dengan standar mutu biodiesel sesuai SNI 04-7182-2006. Identifikasi senyawa penyusun ester etil asam lemak hasil sintesis dengan GC-MS menunjukkan adanya etil palmitoleat, etil palmitat, etil oleat, dan etil stearat.

Penerapan model pembelajaran advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar materi turunan pada siswa kelas XI-IPA 1 SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011 / Rudy Setiawan

 

Kata Kunci: advance organizer, hasil belajar Berdasarkan observasi awal dan wawancara tak terstruktur yang dilakukan dengan guru Matematika kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Tumpang diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi guru dan siswa masih pasif. Siswa cenderung kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa kesulitan dalam memahami konsep matematika, siswa cenderung menghafal konsep-konsep matematika dan hasil belajar matematika yang diperoleh rendah. Solusi untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan pembelajaran model advance organizer. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Tumpang, dengan subjek siswa kelas XI IPA 1 yang berjumlah 34 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi tahapan pembelajaran guru dan siswa, lembar pretes, lembar tes akhir siklus dan catatan lapangan sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan setiap kali tindakan dalam satu siklus berakhir. Tahapan dari pembelajaran model advance organizer adalah meliputi tiga fase yaitu penyajian advance organizer, fase penyajian materi belajar dan fase penguatan struktur kognitif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar materi turunan pada siswa kelas XI-IPA 1 SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Hasil penelitian yang diperoleh adalah meningkatnya hasil belajar materi turunan. Dilihat dari perbandingan hasil pretes, rata-rata skor siswa 67,21 dan jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 80 adalah 26,47%. Hasil tes akhir siklus I rata-rata skor siswa 72,5 dan jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 80 adalah 44,12%. Hasil tes akhir siklus II rata-rata skor siswa 85,29 dan jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 80 adalah 70,59%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran advance organizer dapat meningkatkan hasil belajar materi turunan pada siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011.

Pengaruh minat baca, Intelligence Quotient (IQ), dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) (studi kasus SMP Negeri 2 Malang) / Dara Fitrisia Wardhany

 

Kata Kunci: Minat Baca, Intelligence Quotient (IQ), Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Pendidikan saat ini merupakan salah satu bidang yang penting dan telah menjadi suatu kebutuhan yang utama di seluruh jajaran negara di dunia termasuk juga di Indonesia, selain di bidang-bidang penting lainnya. Dalam proses belajar mengajar keberhasilan seorang siswa dalam menguasai mata pelajaran di sekolah tidak lepas dari faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri siswa adalah minat baca. Minat baca sangat berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Selain faktor-faktor minat baca, faktor yang turut mendukung dalam keberhasilan siswa dalam menguasai mata pelajaran adalah kecerdasan intelektual (IQ) dan motivasi belajar. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pengaruh pengaruh minat baca terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang pada mata pelajaran IPS?, (2) Bagaimana pengaruh intelligence quotient (IQ) terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang pada mata pelajaran IPS?, (3) Bagaimana pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang pada mata pelajaran IPS?, (4) Apakah ada pengaruh yang signifikan antara minat baca, intelligence quotient (IQ), dan motivasi belajar siswa secara simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang pada mata pelajaran IPS? Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah minat baca, kecerdasan intelektual, dan motivasi pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial sebagai variabel independen serta prestasi belajar sebagai variabel dependen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII SMP SMP Negeri 21 Malang yang berjumlah 250 orang. Sampel yang diambil sebanyak 71 siswa dengan teknik purposive random sampling yang diperoleh dengan rumus Slovin. Teknik pengumpulan data adalah melalui angket dan dokumentasi. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis statistic deskriptif dan regresi linear berganda dengan bantuan program SPSS 16.00 for Windows, dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) Minat baca berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar, (2) Intelligence quotient (IQ) berpebgaruh secara positif dan signifika terhadap prestasi belajar, (3) Motivasi belajar Simultaneously, students’ reading interest, IQ, and students’ motivation influence positively and are significant toward students’ achievement. The suggestions that can be given based on the result of the research are: (1) teacher has to be able to adapt their teaching methods based on the students’ intelligence level so that in turn, students are able to understand the materials given. (2) It is really necessary to conduct reading habit program among children, teens, and adults so that they are always able to sharpen their knowledge. (3) If the further researcher plan to conduct a similar study it is suggested to use boarder variables because there are still many other variables outside the study that can influence students’ achievement.

Pengaruh CAR, DPK, dan ROA terhadap penyaluran kredit pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (periode 2006-2010) / Miftah Lukman N.W.

 

Kata kunci: CAR, DPK, ROA, Penyaluran kredit Perbankan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel CAR, DPK, dan ROA yang mempengaruhi penyaluran kredit, mengetahui sejauh mana pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap penyaluran kredit dan faktor mana yang paling berpengaruh terhadap penyaluran kredit. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi yang diperoleh dari website Bank Indonesia atau buku Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu, tingkat CAR, DPK, ROA dan penyaluran kredit perbulan selama lima tahun dari Januari tahun 2006 sampai dengan Desember tahun 2010. Hasil pengujian hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penyaluran kredit. Hipotesis kedua yang menyebutkan bahwa DPK berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit ]. Hipotesis ketiga yang menyebutkan bahwa ROA berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Sedangkan hipotesis yang keempat yang menyebutkan bahwa CAR, DPK dan ROA secara simultan berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit. Besarnya pengaruh CAR, DPK, dan ROA terhadap penyaluran kredit sebesar 51,3% dan sisanya 48,7% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian. Dari hasil penelitian ini, disarankan agar penelitian selanjutnya sebaiknya menganalisis faktor yang mempengaruhi penyaluran kredit yang tidak saja dari sisi internal perbankan namun juga dari sisi di luar perbankan seperti faktor makroekonomi sehingga analisis yang dihasilkan dapat lebih menyeluruh dan seimbang.

Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan (studi pada karyawan bagian verpak PT. Bokormas Cabang Blitar) / Frishca Santika Megawati

 

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja. Seiring dengan meningkatnya persaingan antara perusahaan yang mengharuskan setiap perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya, perusahaan sering mengabaikan tentang pengelolaan sumber daya manusia yang dimilikinya. Sementara itu, kebutuhan dan keinginan manusia bukanlah suatu yang statis, tetapi terus berkembang secara dinamis pula. Manusia atau karyawan tersebut selalu mendambakan keinginan dan kebutuhannya dapat terpenuhi. Dalam hal ini peran seorang pemimpin sangatlah besar. Seorang pemimpin dalam melaksanakan fungsi dan peranan kepemimpinan agar dapat maksimal, maka perlu memahami dan menerapkan manajemen yang baik. Seorang pemimpin haruslah tepat dalam menentukan gaya seperti apa yang akan diterapkan untuk memimpin bawahannya secara tepat. Peranan seorang pemimpin dalam bekerja sangat terkait dengan gaya kepemimpinan yang ditampilkannya. Seorang pemimpin diharapkan dapat menampilkan gaya kepemimpinan dalam segala situasi dan kondisi kepada bawahannya. Dengan pemimpin yang bijaksana dan disukai bawahannya, ini merupakan salah satu faktor kunci untuk meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja karyawan. Kepuasan kerja karyawan dianggap penting karena kepuasan kerja dipandang dapat mempengaruhi jalannya organisasi secara keseluruhan. Menciptakan kepuasan kerja karyawan tidaklah mudah, karena kepuasan kerja dapat tercipta yang mempengaruhinya dapat diakomodasikan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan supportif, gaya kepemimpinan partisipatif, gaya kepemimpinan orientasi pencapaian secara parsial maupun simultan terhadap kepuasan kerja pada karyawan bagian verpak PT. Bokormas Cabang Blitar. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Bokormas Cabang Blitar yang berada di Jalan Mastrip No. 42 Blitar. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan bagian verpak yang berjumlah 200 orang, dan pengambilan sampelnya dilakukan menggunakan metode simple random sampling dengan jumlah sebanyak 133 orang. Analisis data yang dilakukan melalui uji validitas dan uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis statistik deskriptif, uji korelasi dengan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat indikator gaya kepemimpinan : gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan supportif, gaya kepemimpinan partisipatif, gaya kepemimpinan orientasi pencapaian berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Berdasarkan penelitian ini diharapkan pemimpin mempertimbangkan keempat variabel tersebut sebagai tolak ukur dalam mengembangkan kebijakan yang tepat demi meningkatnya kepuasan kerja karyawan dan tercapainya tujuan perusahaan.

Pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang / Lilik Andriana

 

Kata kunci: Kecerdasan Intelektual (IQ), Fasilitas belajar, Hasil Belajar Siswa Hasil belajar merupakan suatu alat untuk mengetahui sampai sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu pelajaran. Pada dasarnya kemampuan setiap orang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Dengan kecerdasan intelektual berkategori rata-rata maka kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah akan terarah, begitu juga dengan fasilitas belajar akan sangat mendukung dalam memperoleh tujuan yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan pengaruh tingkat kecerdasan intelektual (IQ) terhadap hasil belajar siswa, (2) untuk mendeskripsikan pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar siswa, (3) untuk mendeskripsikan pengaruh tingkat kecerdasan intelektual (IQ) dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini bersifat korelasional dan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket untuk mengukur fasilitas belajar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 7 Malang dengan jumlah 245, dengan sampel sebanyak 63 siswa. Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sample random sampling. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 5%. Dari hasil penelitian menunjukkan bila kecerdasan intelektual sebesar satu satuan, maka hasil belajar siswa (Y) akan meningkat sebesar 0,414. Apabila fasilitas belajar meningkat satu satuan, maka hasil belajar siswa (Y) akan meningkat sebesar 0,501. SedangkanAdjusted R-Square sebesar 0,621 menunjukkan bahwa perubahan variabel hasil belajar siswa (Y) berkorelasi dengan variasi perubahan variabel kecerdasan intelektual ( ) dan fasilitas belajar ( sebesar 62,1%. Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan: (1) terdapat pengaruh yang signifikan positif tingkat kecerdasan intelektual (IQ) terhadap hasil belajar siswa di SMPN 7 Malang, (2) terdapat pengaruh signifikan positif fasilitas belajar terhadap hasil belajar siswa di SMPN 7 Malang, (3) secara simultan terdapat pengaruh signifikan positif tingkat kecerdasan intelektual (IQ) dan fasilitas belajar terhadap hasil belajar siswa di SMPN 7 Malang.

Using storytelling to improve English listening skill of the first-year students at Madrasah Aliyah Persiapan Negeri Batu / Maqbul Hidayat

 

Thesis, English Language Teaching. Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. (II) Prof. Moh. Adnan Latief, M.A., Ph.D. Key words: storytelling technique, improve, listening skill On the basis of the result of preliminary study, it was figured out that the listening achievement of the first-year students at MAPN Batu was still unsatisfactory. Students had difficulty in terms of comprehending and finding detailed information from the text they listened. Those problems are caused by at least two factors. First, the teachers lack creativity to use available listening material. Second, the teachers lack varieties in teaching listening. The study is designed to improve the students’ listening skill through the use of the storytelling technique. The objective of the study is to find out how the storytelling technique can be used to improve the students’ listening skill in terms of comprehending the story and finding explicit information in the story. Conducting an action research design which is based on the classroom, the researcher as well as the English teacher individually observed the teaching and learning process. This study was carried out in two cycles. The subjects of this study were the students of grade XA of MAPN Batu. The instruments were the observation sheets, field notes, and listening tests. The criteria of success were determined on the basis of students’ improvement on the listening test and their response and engagement in the activities during the implementation of the storytelling technique. The criteria of success were achieved when the average of the students’ listening test could achieve the score greater than or equal to 65, the Minimum Mastery Criterion (Kriteria Ketuntasan Minimum/ KKM) which is employed at the school. In addition, each student could achieve at least 61. Besides, the success was also determined on the basis of students’ interest and engagement in the activity. The technique is considered successful when all of the students have a positive response in variety of positive body language, consistent focus, verbal participation, student confidence, and fun and excitement towards the implementation of storytelling technique. With the implementation of the technique using picture and puppet, the criteria of success were unsatisfactorily achieved in Cycle 1. Of the students’ listening test, it was found that the mean score was 62. And the poorest score was 60. In addition, as gained from the observation sheets and field notes, it was found that the majority of all students exhibited negative responses on the implementation of storytelling. In contrast to Cycle 1, with the use of computer multimedia implemented in the storytelling activity, the criteria of success achieved in Cycle 2 was successful. From the result of listening test, it was discovered that the mean score of the students’ listening test was 76. And the poorest score was 67. Meanwhile, as gained from the observation sheets and filed notes, it was found that all students exhibited positive responses on the implementation of storytelling. The findings showed that the effective procedure of the storytelling technique was (1) showing animated picture to the students, (2) asking about the picture, (3) giving the students guided vocabulary related to the story, (4) practicing the pronunciation of the vocabulary, (5) asking the students to give opinion about their previous understanding about the story, (6) telling the story using computer multimedia to make it truly comprehensible to the students, and (7) asking the students to answer orally about characters, specific or detailed information, and moral values of the story. It can be concluded that the storytelling technique has been proven to be able to improve the students’ listening ability in the terms of comprehending the story and finding detailed information in the story. English teachers are recommended to make use of the storytelling technique in their teaching to improve students’ listening ability. Other researchers are suggested to conduct research by implementing the storytelling technique in other language skills. Material developers are recommended to develop materials by using stories for MA students by considering the students’ specific characteristics. Finally, the school principal is suggested to provide facilities, in this case various kinds of English stories especially religious story books in the library to improve the students’ interest in stories which are written in English and English it self.

Penerapan pendekatan Somatic, Auditory, Visually, Intelectually (SAVI) untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran pada siswa kelas II SDN Sumbersari 2 Malang / Dian Puspitasari

 

Kata kunci : Penerapan Pendekatan SAVI, Pembelajaran Matematika SD Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku sesuai yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan bahwa di SDN Sumbersari 2 Kota Malang, khususnya pada kelas II belum pernah menerapkan pendekatan SAVI dalam pembelajaran Matematika. Guru menerapkan pembelajaran cenderung menggunakan cara yang kurang mengaktifkan dan memberi tantangan siswa. Akibatnya ada siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. Dari nilai siswa pada saat pratindakan diperoleh rata-rata 55,83 dan ketuntasan kelas 25,93%. Sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan pembelajaran perlu diterapkan pendekatan SAVI yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. karena dapat mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu; 1) mendeskripsikan penerapan pendekatan SAVI pada pembelajaran Matematika di kelas II SDN Sumbersari 2 Kota Malang, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa selama penerapan pendekatan SAVI pada pembelajaran Matematika di kelas II SDN Sumbersari 2 Kota Malang, 3) Mendeskripsikan hasil belajar Matematika siswa kelas IV SDN Sumbersari 2 Kota Malang melalui penerapan pendekatan SAVI. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Subjek penelitian ini yakni siswa kelas II SDN Sumbersari 2 Kota Malang banyaknya 27 siswa yang terdiri dari 8 siswi dan 19 siswa. Teknik pengumpulan data yakni obsevasi, tes, dan dokumentasi, sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa lembar observasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan SAVI untuk pembelajaran matematika siswa kelas II SDN Sumbersari 2 Kota Malang dengan standar kompetensi "Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka" dapat dilaksanakan sesuai dengan tahap persiapan,penampilan, pelatihan, dan penyampaian hasil. Keaktifan siswa meningkat dari 40,74 pada awal siklus I menjadi 74,81 pada akhir siklus II. Peningkatan aktivitas sebesar 44,27%. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 55,83 dan ketuntasan kelas 25,93% sebelum tindakan menjadi rata-rata 76,3 dan ketuntasan kelas mencapai 82,14% pada akhir siklus II. Peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 19,22%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi peneliti lanjutan dalam melakukan pendekatan SAVI pada mata pelajaran Matematika perlu didukung dengan model pembelajaran yang lain untuk hasil yang lebih optimal

Pengembangan media pembelajaran dengan aplikasi adobe flash pada mata pelajaran geografi kelas X untuk topik litosfer di MAN 3 Malang / Nurria Susanti

 

Kata Kunci: media pembelajaran, flash, animasi, litosfer Litosfer merupakan salah satu materi yang diajarkan pada mata pelajaran geografi SMA kelas X pada semester kedua. Materi tersebut mengkaji proses- proses alam dan objek-objek alam seperti: bentuk-bentuk muka bumi akibat tenaga pembentuknya. Proses-proses pembentukan muka bumi yang sulit diamati secara langsung membuat kegiatan pembelajaran untuk materi ini lebih sering bersifat verbalisme. Kegiatan seperti ini akan memberikan pengalaman yang juga sebatas verbal kepada siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk me- ngatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media pembelajaran. Tujuan pengembangan media pembelajaran ini menciptakan produk dengan aplikasi adobe flash sebagai media pembelajaran yang dapat menghadir- kan objek nyata ke dalam kelas dalam bentuk tampilan flash yang dapat diguna- kan guru utuk menyampaikan materi ataupun digunakan secara mandiri oleh sis- wa agar dapat mengatasi keterbatasan dalam menghadirkan objek nyata di lapa- ngan dalam bentuk konkrit pada topik litosfer. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, yang terdiri dari kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Data penelitian bersifat kuantitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data hasil uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa media ini ”valid”. Hasil uji coba produk diperoleh nilai 87% dengan kriteria ”layak”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah. Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan manfaat dan pengembangan produk yang akan datang diajukan adalah: (1) guru hendaknya menggunakan media ini dalam pembelajaran di kelas khususnya untuk materi litosfer, (2) penggunaan LCD Proyektor untuk mempe- roleh tampilan yang lebih besar sehingga memudahkan siswa untuk mengamati ta- yangan media, (3) agar produk digunakan secara luas, guru pengajar mata pelaja- ran geografi, baik tingkat SMP maupun SMA dapat mengakses produk ini di Juru- san Geografi Universitas Negeri Malang, (4) pengembang produk yang akan da- tang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lain, seperti: atmosfer, laut dan pesisir, dan pedosfer.

Improving the speaking ability of the eleventh graders of Madrasah Aliyah 'Al-Islam' Kapas Sukomoro Nganjuk through the role-playing technique / Muhammad Lukman Syafii

 

Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Sri Rachmajanti, Dip.TESL., M.Pd. (II) Prof. Dr. M. Soenardi Djiwandono. Key words: speaking ability, role-playing technique. The objective of this research is to improve the speaking ability of the eleventh graders of Madrasah Aliyah Al-Islam Kapas, Sukomoro, Nganjuk through the role-playing technique. Based on the preliminary study, the researcher found some problems related to the English instructional activities of the eleventh grade of this school. Those are the students’ low speaking ability, the students’ low motivation in learning English, and the inappropriate teaching techniques used by the teacher. Therefore, the researcher is greatly motivated to overcome the problems by implementing role-playing technique in teaching speaking. The researcher employed collaborative classroom action research design, in which he was assisted by a collaborative teacher (a colleague) in conducting the study. The research is conducted in a single class that consists of ten students, in which all of the students are taken as the subjects of the study. The procedure of the research consists of four main steps: planning, implementation, observation and reflection. To collect the data, he uses some instruments i.e. observation sheet of the students’ involvement, field notes, questionnaire, video recorder, and speaking ability test. The findings of this research showed that the students’ speaking ability was improved from one cycle to the following cycle. This can be seen from the result of each cycle. First, the degree of the students’ involvement throughout the implementation of the strategy achieved 83% measured using observation sheet. Second, the students’ responses measured using questionnaire throughout the implementation of this strategy achieved 70% students who wanted in order this technique could be implemented in the next speaking class. Fourth, the students’ attitude measured using questionnaire throughout the implementation of this strategy achieved 80% of them who felt enthusiastic enough. Fifth, based on the pretest result, the students’ speaking scores were improved that 40 % students could reach the minimum acceptable score (criteria of success), and in the posttest result of cycle 1, 60 % students could reach the minimum acceptable score. Sixth, based on the posttest result of cycle 2, 90 % students could reach the minimum acceptable score. The role-playing procedures implemented by the researcher in this study consist of 10 major steps. Those are 1) deciding on the teaching materials, 2) asking the students some leading questions related to the topic, 3) giving and drilling the examples of the expressions of embarrassment, anger, and annoyance to the students, 4) providing the cloze dialogue, 5) organizing the students in pairs, 6) giving the example of the dialogue sheets containing those expressions, 7) providing the two role-playing cards or cue cards, 8) explaining the simulation in the cue cards, 9) having the students modify and design the role-playing cards or cue cards to create a short dialogue, and 10) having the students perform their own dialogue in pairs. Based on the improvement of the students’ speaking skill after the implementation of role-playing technique in teaching speaking, it is suggested that the English teachers who have similar classroom problems, characteristics and situations to the eleventh graders of Madrasah Aliyah Al-Islam Kapas, Sukomoro, Nganjuk use role-playing technique as an alternative technique to teach speaking skill at SMA/MA level. Eventually, a recommendation is also addressed to the future researchers, particularly those who are interested in applying the role-playing technique. The future researchers are recommended to prepare a more deliberate and meticulous planning before conducting a similar study in order to gain a more extensive and applicable result of research. There were some obstacles faced by the researcher during the instructional process, namely the time allotment and the dictions. First, with the time allotment, fifteen minutes to modify the simulation in the role-playing cards to create the interpersonal dialogue were too short that the students could not do the task perfectly. Therefore, it is suggested that the future researchers give more than fifteen minutes for the students to do that kind of task. Second, based on the dictions provided in the materials, for example, cranky, peevish, indignant, and resentful, the students got difficult to identify the dialogue text comprehensively. Therefore, it is suggested that the future researchers use the familiar words to the students in order that they can identify the dialogue text comprehensively.

Analisis keragaman genetik tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) aksesi unggul persilangan berbasis RAPD sebagai sumber belajar mata kuliah teknik analisis biomolekuler / Baiq Muli Harisanti

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Yusuf Abdurrajak, (II) Dr. agr. Mohamad Amin, S. Pd., M. Si. Kata kunci: jarak pagar (Jatropha curcas L.), RAPD, keragaman genetik Jarak Pagar (Jatropha curcas L) merupakan tanaman yang berpotensi menghasilkan minyak sehingga dapat menjadi pilihan tepat sebagai bahan baku biodiesel. Namun, permasalahan yang masih dihadapi adalah belum banyak tersedia varietas unggul serta teknik budidaya yang memadai, oleh karena itu perlu dilakukan eksplorasi dengan harapan akan terjaring alel-alel baru yang belum terdapat dalam koleksi plasmanutfah yang ada. Alel-alel baru tersebut dapat muncul salah satunya dengan cara melakukan persilangan antara tanaman dari berbagai aksesi koleksi plasmanutfah yang ada. Oleh karena itu diharapkan dari penelitian ini dapat dilakukan analisis molekuler dengan teknik RAPD untuk mengetahui keragaman genetik tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) unggul hasil persilangan. Sampel dalam penelitian ini adalah jarak pagar (Jatropha curcas L.) hasil persilangan pada nomor-nomor unggul yang meliputi 4 nomor tanaman hasil persilangan yang berasal dari Kalipare, Jawa Timur. Kode tanaman sampel adalah nomor 5 dengan persilangan tetua SP 8 X SP 16, nomor 6 dengan tetua SP 8 X SP 38, nomor 7 dengan tetua SP 33 X HS 49, dan nomor 18 dengan tetua SM 35 X SP 38. Proses PCR-RAPD menggunakan 8 primer, yaitu: OPF1, OPF2, OPF3, OPF4, OPF5, OPF6, OPF 14, dan OPA 12. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan hasil analisis pola pita sidik jari DNA dari genom jarak pagar dengan menggunakan teknik RAPD. Pola pita DNA diperoleh melalui proses pemisahan produk PCR dengan elektroforesis gel agarose. Pola pita yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk deteksi polimorfisme alel-alel DNA. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan delapan jenis primer didapatkan total pita DNA sebanyak 81 pita dari empat aksesi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) unggul hasil persilangan. Jenis alel dan frekuensi alel pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) unggul hasil persilangan dari hasil RAPD menggunakan delapan primer (OPF-1, OPF-2, OPF-3, OPF-4, OPF-5, OPF-6, OPF-14, dan OPA-12) menunjukkan bahwa dari semua jenis alel RAPD yang terdeteksi pada empat aksesi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) pada penelitian ini, frekuensi alel tertinggi mencapai 0,57 (57%) dan terendah adalah 0,06 (6%). Analisis kekerabatan menggunakan penanda RAPD yang terwujud dalam bentuk dendogram dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) unggul hasil persilangan menunjukkan bahwa aksesi dengan tetua SM 35 X SP 38 dan SP 8 X SP 38 memiliki tingkat kemiripan genetik lebih kecil, yaitu 56,8% dibandingkan dengan tingkat kemiripan genetik antara aksesi dengan tetua SP 33 X HS 49 dan SP 8 X SP 16 sebesar 76,3%. Hasil penelitian ini selanjutnya dapat disusun sebagai sumber belajar pada mata kuliah teknik analisis biologi molekuler yang dikemas dalam bentuk modul perkuliahan. Berdasarkan hasil validasi ahli dan analisis terhadap bahan ajar (modul) diperoleh tingkat kelayakan bahan ajar sebesar 82,69% yang berarti bahwa modul tersebut sangat baik dan tidak perlu direvisi. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tingkat kekerabatan antara keempat aksesi jarak pagar unggul hasil persilangan masih dekat. Sebaiknya dilakukan juga penelitian sejenis dengan menggunakan sampel-sampel jarak pagar (Jatropha curcas L.) dari beberapa aksesi yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia, dapat berupa tanaman-tanaman jarak pagar liar dengan harapan dapat terjaring calon-calon tetua persilangan yang dapat dimanfaatkan dalam seleksi tanaman unggul.

Pengaruh kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru ekonomi akuntansi terhadap pemahaman Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di SMAN se-kota Malang / Riska Silviana Zenny

 

Kata Kunci: kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, dan pemahaman KTSP. Peran guru dalam meningkatkan mutu pendidikan sangat penting sehingga guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana yang kondusif dapat tercapai jika guru memiliki keahlian dan kompetensi-kompetensi yang diperlukan atas tugas yang diemban agar pembelajaran dapat mencapai kurikulum yang ditetapkan Penelitian ini, bertujuan: (1) untuk menjelaskan pengaruh kompetensi profesional guru ekonomi akuntansi terhadap pemahaman KTSP di SMAN se-Kota Malang; (2) untuk menjelaskan pengaruh kompetensi pedagogik guru ekonomi akuntansi terhadap pemahaman KTSP di SMAN se-Kota Malang; (3) untuk mengetahui pengaruh secara simultan kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru ekonomi akuntansi terhadap pemahaman KTSP di SMAN se-Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan menggunakan teknik analisis regresi ganda. Variabel penelitian ini antara lain: variabel bebas (x1) kompetensi profesional, (x2) kompetensi pedagogik dan variabel terikat (y) Pemahaman KTSP. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru ekonomi akuntansi di SMAN se-Kota Malang yang berjumlah 38 guru yang tersebar dalam 10 SMAN. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) kompetensi profesional guru ekonomi akuntansi berpengaruh positif yang signifikan terhadap pemahaman KTSP dengan B 0,774 dengan nilai t 3,598 dan signifikan t 0,001; (2) kompetensi profesional guru ekonomi akuntansi berpengaruh secara positif tetapi tidak signifikan terhadap pemahaman KTSP dengan B 0,138 dengan nilai t 0,610 dan signifikan t 0,547; (3) kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru ekonomi akuntansi berpengaruh secara simultan terhadap pemahaman KTSP dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dengan R square 0,477 yang artinya memberikan kontribusi 47,7%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan:(1) Bagi guru ekonomi akuntansi agar mampu menerapkan pengajaran sesuai dengan KTSP; (2) Peneliti lain yang dapat mengembangkan penelitian ini dengan menambah variabel lain dan jumlah populasi penelitian; (3) Bagi kepala sekolah sekolah hendaknya lebih memfasilitasi sarana dan prasarana yang bisa mendukung guru untuk meningkatkan kompetensinya dengan pengadaan buku referensi dan peningkatan mutu guru.

Penerapan pembelajaran model guided writing proces untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III di SDN Tulusrejo 2 Malang / Rozsaniar Prasti Eny

 

Kata kunci: Guided Writing Proces, Menulis Narasi SD. Dalam pembelajaran menulis masih banyak kesulitan yang dialami oleh siswa. Kenyataan di lapangan menunjukkan kecenderungan pembelajaran menulis siswa hanya terpaku pada buku contoh dari guru sehingga siswa mengalami kesulitan untuk mengembangkan tulisannya tersebut, permasalahan lainnya siswa diberi kebebasan untuk menulis namun seringkali tidak ditindaklanjuti sehingga karangan siswa kebanyakan belum sesuai dengan ejaan dan struktur karangan yang benar. Untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi di SD perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang menarik, yaitu dengan model guided writing process. Penelitian ini bertujuan untuk mennarasikan: (1) Penerapan model Quided Writing Proces dalam pembelajaran menulis karangan narasi siswa kelas III SDN Tulusrejo II; (2) Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi siswa Kelas III SDN Tulusrejo II menggunakan model Quided Writing Proces. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas III SDN Tulusrejo II Malang yang berjumlah 39 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pra tindakan adalah 40,6 , nilai rata-rata siklus I adalah 60,2 dan nilai rata-rata siklus II adalah 75,05. Hasil keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas III SDN Tulusrejo II mengalami peningkatan dari kegiatan pembelajaran siklus I dan kegiatan pembelajaran siklus II. Peningkatan skor keterampilan menulis karangan narasi siswa dari pra tindakan, siklus I dan siklus II adalah 17,3 dengan prosentase peningkatan rata-rata sebesar 90,3%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model quided writing proces dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa serta memberikan nuansa belajar yang menyenangkan dan membuat siswa aktif, antusias dan bersemangat dalam menulis. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian adalah bahwa pada setiap kesempatan guru sebagai pembelajar hendaknya menyajikan materi yang lebih variatif lagi, agar siswa tidak cepat merasa bosan, Dengan demikian, kompetensi siswa dapat meningkat secara optimal.

Penerapan strategi produk sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan volume penjualan pada toko buku Gramedia Basuki Rahmat Malang / Tri Mukti Wibowo

 

Kata Kunci : strategi produk, peningkatan penjualan Dalam menghadapi persaingan ekonomi yang semakin tinggi para pemasar dituntut mempunyai kompetensi lebih untuk bersaing agar tetap eksis dalam dunia usahanya. Diperlukan kombinasi strategi pemasaran yang tepat dan sesuai kebutuhan perusahaan untuk mencapai keberhasilan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat penjualan adalah strategi produk. Strategi produk ditujukan untuk menetapkan cara dan penyediaan produk yang tepat bagi pasar yang dituju sehingga dapat memuaskan konsumen dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang melalui peningkatan penjualan dan pasar. Seperti halnya yang dilakukan oleh Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang yang merupakan salah satu toko buku yang menyediakan produk buku, alat tulis, sekolah dan kantor serta produk multimedia lainnya. Hal inilah yang melatar belakangi penilis untuk membahas lebih dalam tentang strategi produk yang diterapkan pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. Sedangkan tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah: (1) Mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang dalam malaksanakan strategi produk, (2) Mengetahui strategi produk yang dilakukan Toko Buku Gramedia Malang, (3) Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan strategi produk Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang, (4) Mengetahui pengaruh strategi produk terhadap volume penjualan pada Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang. Dengan stategi produk yang dilakukan diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang heterogen dan dinamis. Yang pada akhirnya dapat menarik minat dan meningkatkan permintaan konsumen secara agresif sehingga akan memberikan keuntungan yang maksimal. Berdasarkan hasil kegiatan praktek kerja lapangan yang dilakukan, ada beberapa faktor yang melatar belakangi Toko Buku Gramedia melakukan strategi produk diantaranya: (1) Kebutuhan konsumen yang heterogen dan dinamis, (2) Persaingan pasar yang semakin ketat, (3) Pengadaan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan (4) peluang untuk memperluas pasar. Sedangkan strategi produk yang dilikukan pada Toko Buku Gramedia meliputi: (1) Cara pengadaan produk, (2) Pengelolaan produk, (3) Display dan Lay-out produk, (4) Diversifikasi produk. Selain itu ada beberapa faktor yang ikut mendukung pelaksanaan strategi produk pada Toko Buku Gramedia diantaranya store image, kerjasama supplier, display, fasilitas komputer, lokasi, diversifikasi dan diskon pada produk tertentu.

Penerapan pembelajaran model bermain peran (role playing) untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi pada siswa mata pelajaran kewirausahaan kelas X Pemasaran A SMK PGRI 3 Malang) / Beni Andrianto

 

Kata Kunci: Model Belajar bermain peran (role playing), hasil belajar Salah satu upaya yang terus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah melalui perbaikan kurikulum. Dengan perbaikan kurikulum, diharapkan kualitas proses pembelajaran akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan teknik bermain peran (role playing), untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan, untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan teknik bermain peran (role playing), serta untuk mengetahui respon siswa kelas X Pemasaran A SMK PGRI 3 Malang terhadap Model Pembelajaran role playing pada mata pelajaran kewirausahaan.. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan siklus II, yang masing-masing siklus dilakukan dalam 2 kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan (observasi) serta tahap analisis dan refleksi. Sebagai subyek penelitian, peneliti memilih siswa kelas X PM A di SMK PGRI 3 Malang. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menunjukkan sikap pantang menyerah dan ulet dan mengelola konflik dan membangun visi dan misi perusahaan. Data yang diperoleh meliputi pengelolaan pembelajaran guru, penilaian kinerja kelompok, hasil belajar siswa didik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, respon peserta didik dan guru terhadap proses pembelajaran. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, wawancara, tes, dan pengamatan partisipan. Pada penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap kegiatan yaitu: menentukan kelompok bermain peran, merencanakan kegiatan belajar teknik role playing, dan merencanakan diskusi antar kelompok Dengan penerapan teknik bermain peran (role playing) pada mata pelajajaran kewirausahaan nilai siswa meningkat cukup signifikan terlihat pada hasil nilai pre-test dan post-test pada siklus I dan siklus II. Dalam siklus I nilai rata-rata pre-test dan post-test meningkat dari 63,52 menjadi 75,11 sebesar 18,24 %. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata pre-test dan post-test meningkat dari 75,23 menjadi 87,84 dengan persentase kenaikan 16,76%. Sedangkan nilai ratarata post test pada siklus I sebesar 75,11 meningkat menjadi 87,84 pada siklus II.

Study pelaksanaan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan tiang pancang dan pile cap pada pembangunan tahap 1 gedung kuliah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang / Nurul Hamidah

 

Kata Kunci: pelaksanaan, RAB, pondasi tiang pancang, pile cap Pondasi adalah struktur perantara yang memiliki fungsi meneruskan beban bangunan di atasnya(termasuk berat sendiri), kepada tanah tempat pondasi tersebut berpijak, tanpa mengakibatkan kerusakan tanah atau tanpa mengakibatkan penurunan bangunan di luar batas toleransinya. Proyek Akhir ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang pancang dan pile cap serta perbandingan antara RAB dengan RAPnya. Studi Proyek Akhir ini dilakukan pada proyek Pembangunan Tahap 1 Gedung Pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Batu. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan observasi, interview (wawancara) dan dokumentasi. Dari data-data tersebut dilakukan analisa melalui pembandingan antara teori dan pelaksanaan dari masing-masing komponen kemudian menyimpulkan hasil penelitian. Dari hasil studi proyek diperoleh bahwa pelaksanaan pondasi tiang pancang dilakukan dalam beberapa tahap yaitu penentuan titik, pengangkatan tiang pancang, pengecekan tiang, pemancangan dan penyambungan tiang pancang, untuk pekerjaan pile cap juga dilakukan dalam beberapa tahap yaitu pekerjaan penggalian tanah, pemasangan lantai kerja, pemasangan begisting, pembesian dan pengecoran. Dari hasil pembahasan pelaksanaan tiang pancang dan pile cap dengan kajian teori dapat disimpulkan bahwa secara garis besar pelaksanaan pondasi tiang pancang sudah sesuai dengan teori, sedangkan pelaksanaan pile cap kurang sesuai dengan kajian teori dan terdapat perbedaan harga antara RAB Pondasi tiang pancang dan pile cap hitungan penulis (berdasarkan SNI 2002) dengan RAP yaitu Rp 33.273.232,61 lebih besar RAB.

Using POD English movie to improve the speaking skill of the first semester students of English Department Brawijaya University / Devinta Puspita Ratri

 

Thesis. Graduate program in English Language Teaching. University of Malang. Advisors: (I) Prof. Utami Widiati, M.A, Ph. D., (II) Dr. Arwijati Wahjudi, M. Pd, Dip. TESL. Key words: Pod English movie, speaking ability According to the preliminary study which was conducted in three ways (interview, observation, and test), it was found out that class H of Basic Oral and Auditory Course of English Department Brawijaya University performed the lowest in speaking skill. The teacher mentioned that students’ speaking performance in her class is not satisfactory. Most of the students delivered speeches with a lot of errors and made a lot of pauses in delivering their speech. To cope with the problem, the researcher employed Pod English movie. This study was designed to improve the students’ speaking skill of the first semester students of English Department Brawijaya University. The study was collaborative action research classroom based in which the researcher and the collaborator worked together: the researcher observed the students during the implementation of the strategy while the collaborator acted as the teacher. This study was conducted in one cycle consisting of three meetings using the following procedures: planning, implementing, observing, and reflecting. The data of the study were collected through the observation checklist, observation sheets, field notes, pictures, and questionnaire. The subjects were 24 students of the first semester of class H of Basic Oral and Auditory Course of English Department Brawijaya University. The findings of the study showed that Pod English movie can help the students to improve their speaking skill if it follows several procedures: (1) the students brainstorm about the topic at the beginning of the lesson led by the teacher, (2) the students watch the Pod English movie once and discuss what they have learnt from the movie, (3) the students watch the movie once more, the teacher pauses the movie in ‘learn’ part, then the teacher asks the students about what they have learnt from the movie, (4) the teacher shows the students ‘watch’ part of the movie, (5) the teacher shows the part ‘try’ and stops in each part of the drilling by native speaker in the movie then the students repeat what the native speaker says, (6) the students work in group and prepare a dialog they want to perform in front of the class, (7) the students carry out role play they have prepared in front of the class, (8) the teacher gives feedback toward students’ role play after each performance, (9) the teacher gives reinforcement toward the lesson that students have learnt. In addition, the findings of the study indicated that Pod English movie was successful in improving students’ speaking skill. Based on the analytic scoring rubric to assess speaking assessment held in three meetings, it is figured out that students’ speaking performance had improved from the previous data taken in the preliminary data; which only reached 2.26. From the analytic scoring rubric in three meetings, it was found out that the students’ speaking performance achieved 3.43. It is suggested that the English teacher who teach speaking of first semester of college students need to improve speaking skill of English learners by using Pod English movie. It is also suggested to the Head of English Department of Culture Studies Faculty Brawijaya University to provide facility to develop Pod English movie for aiding the first semester students who take Basic Oral and Auditory course.

Modifikasi overalls dan hiasan smock pada busana remaja / Muryati Suryaning Pungkasari

 

Kata Kunci: Busana remaja, overalls dan hiasan smock Busana merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi, karena fungsi dasarnya yang melindungi tubuh dan terpenuhinya unsur kesusilaan. Busana remaja terus mengalami perkembangan, oleh karena itu Remaja yang memiliki pengertian yaitu masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Busana remaja yang dipilih penulis yaitu modifikasi overalls dan hiasan smock. Overalls ialah celana yang menyatu dengan pakaian (menyerupai baju montir) yang mulai popular tahun1960-an. Penulis memodifikasi overalls dengan menggunakan camisole yang menyatu dengan culottes. Kamisol adalah sebuah kaos tanpa lengan untuk wanita, biasanya memanjang ke pinggang. kamisol biasanya terbuat dari satin, nilon, atau katun. Kamisol disatukan dengan kulot yang memiliki pengertian celana rok. Penulis menambahkan hiasan yang memiliki pengertian barang yang dipakai untuk menghiasi sesuatu. Hiasan dibuat menyerupai gelembung-gelembung air dengan menggunakan smock yang dibentuk menyerupai bolero. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menjelaskan tentang pembuatan modifikasi overalls dan hiasan smock pada busana remaja. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menambah pengetahuan dan inspirasi bagi pembaca untuk membuat modifikasi overalls dan hiasan smock pada busana remaja. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat modifikasi overalls dan hiasan smock pada busana remaja adalah Rp. 319.950,00. Hasil yang diperoleh dari modifikasi overalls dan hiasan smock pada busana remaja adalah busana pesta semi formal yang memiliki kamisol yang menyatu dengan kulot dan hiasan smock jepang pada bagain dada, yang terbuat dari kain satin gradasi warna merah. Saran yang dapat diberikan adalah Corak kain menentukan letak motif, sehingga dibutuhkan ketelitian dalam menata bahan serta memotongnya satu per satu agar bagian kanan dan kiri memiliki motif yang sama. Serta sebaiknya pada saat proses membuat hiasan smock dibuat perhitungan bahan terlebih dahulu agar mendapat ukuran yang tepat dengan lebar dada.

Pembuatan busana pesta dengan draperi / Rosidah

 

Kata Kunci: Busana Pesta, Draperi Salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting adalah kebutuhan berbusana, dimana hal tersebut merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Kebutuhan berbusana bagi setiap individu mempunyai perjalanan sejarah yang awalnya hanya bertujuan sebagai pelindung dan penutup tubuh, kemudian berkembang menjadi fashion. Fashion memiliki siklus yang berputar, dimana gaya berbusana akan mengalami perubahan dari masa ke masa. Di dalam perubahan tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa gaya berbusana pada era masa lalu akan kembali menjadi trend di waktu yang akan datang. Terkait dengan adanya perputaran trend fashion, busana dengan draperi merupakan salah satu contoh yang kembali menjadi trend saat ini. Busana dengan draperi menjadi pilihan yang banyak diminati oleh pecinta mode, mulai dari busana formal, busana semi formal, maupun busana muslim. Busana pesta dengan draperi ini dilengkapi dengan draperi dan merupakan mode busana dengan garis leher out off shoulder. Draperi terletak pada bagian tengah muka busana yang tersambung langsung pada bagian tengah belakang busana, sehingga draperi tampak menjuntai pada kedua sisi bagian panggul, yaitu sisi kanan dan kiri. Dress form digunakan sebagai alat pembantu untuk membentuk draperi. Bahan yang digunakan untuk pembuatan busana pesta dengan draperi adalah kain shantung strech berwarna biru tosca untuk bagian mini dress dan kain sifon berwarna biru laut untuk bagian draperi dan lengan, serta untuk bagian vuring menggunakan kain vuring kaos dengan jenis kaos spandex. Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk menjelaskan tentang proses pembuatan busana pesta dengan draperi. Sedangkan manfaat dari penulisan Tugas Akhir ini adalah menambah pengetahuan mengenai pokok bahasan yang ada. Proses pembuatannya meliputi, pembuatan desain, pola, memotong bahan, menjahit, proses pengepasan, dan menghias busana. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta dengan draperi ini adalah busana pesta yang terbuat dari bahan shantung stretch dan sifon terlihat mewah karena sifat dari kedua bahan tersebut berkilau, dengan hiasan manik-manik. Bahan shantung stretch dapat mengikuti bentuk tubuh, sehingga terlihat pressbody, sedangkan bahan sifon yang melangsai dapat menghasilkan susunan kain yang lembut (tidak kaku).

Pengaruh suhu nitridasi terhadap karakteristik fasa dan mikrostruktur biomaterial (penyangga) tulang / Noer Arie Rachman

 

Kata Kunci: biomaterial, stainless steel, nitridasi, mikrostruktur, kekerasan. Biomaterial adalah material buatan yang digunakan untuk membuat alat yang berfungsi menggantikan bagian tubuh secara aman. Material yang digunakan dalam biomaterial adalah memiliki biokompatibilitas tinggi seperti baja tahan karat austenitik, paduan kobalt-kromium atau titanium. Bahan biomaterial yang digunakan memiliki karakteristik yang sama dengan baja tahan karat AISI 316L. Sampel yang digunakan mendapat perlakuan nitridasi yaitu pemanasan sampel pada media gas amoniak (NH3) selama 3 jam. Sampel mendapat perlakuan uji kekerasan, mikrostruktur dan fase untuk dilakukan pembandingan hasil dari sampel yang dinitridasi dengan sampel yang tidak dinitridasi. Hasil penelitian menunjukkan sampel biomaterial yang dinitridasi terbentuk senyawa baru yang terdifusi ke permukaan sampel membentuk senyawa nitrit dengan jumlah komposisi berat 0,10 % dalam 0,38% atom pada nitridasi dengan suhu 560˚C dan jumlah komposisi berat 0,22 % dalam 0,76% atom pada nitridasi dengan suhu 490˚C. Hasil komposisi mikro struktur terdapat Oksidasi yang terbentuk akibat proses pendinginan pada udara bebas. Besarnya jumlah oksigen menyebabkan terjadinya oksidasi yang menyebabkan berkurangnya nilai kekerasan pada sampel yang dinitridasi. Hasil kekerasan dengan metode Rockwell B menggunakan skala pengukuran Hardness Rockwell B atau HRB. Sampel yang dinitridasi dengan suhu 350˚C, 420˚C, 490˚C dan 560˚C didapatkan nilai berturut-turut 83HR; 88 HRB; 103 HRB dan110 HRB berbeda dengan sampel yang tidak dinitridasi nilainya 108 HRB.

Pengembangan video pembelajaran cuaca dan pengaruhnya bagi manusia pelajaran IPA kelas 3 SDN Sentul 2 Blitar / Shofia Hattarina

 

Tesis, Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd, M.Kes (II) Dr. Anselmus J.E. Toenlioe, M.Pd Kata kunci: pengembangan, video pembelajaran, IPA, kelas 3 SD Tujuan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan video pembelajaran IPA kelas 3 pokok bahasan Cuaca dan Pengaruhnya bagi Manusia di SDN Sentul 2 Blitar yang telah tervalidasi. Pengembangan media video pembelajaran ini menggunakan model Borg and Gall. Subyek uji coba pengembangan video pembelajaran ini adalah siswa kelas 3 SDN Sentul 2 Blitar. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah Angket dan tes hasil belajar siswa berupa soal-soal pretest dan posttest. Analisis data yang digunakan adalah untuk pretest dan postet menggunakan teknik persentase yang dihitung dengan SPSS 17.0. sedangkan data angket dari ahli isi, ahli media, dan angket uji coba perorangan, kelompok kecil dan perorangan dihitung dengan teknik persentase. Hasil penelitian pengembang ini menunjukkan bahwa (1) Data dari ahli isi menyatakan bahwa media video pembelajaran cuaca dan pengaruhnya bagi manusia ini dari kriteria efektifitas telah mencapai 92,5% yang masuk kategori valid. Kriteria efisiensi mencapai 90% yang berarti masuk kategori valid. Kriteria daya tarik telah mencapai 86,6% yang berarti termasuk kategori valid (2) data dari ahli media pembelajaran I menyatakan bahwa untuk kriteria efektifitas, efisiensi dan desain pesan mencapai skor 87,5 % yang berarti valid. Kriteria keterbacaan pesan mencapai 80% yang masuk dalam kategori valid. Kriteria tingkat kemenarikan presentasi mencapai skor 86,6% yang termasuk kategori valid (3) data dari ahli media pembelajaran II menyatakan bahwa untuk kriteria efektifitas, efisiensi dan ddesain pesan mencapai skor 95% yang berarti valid. Kriteria keterbacaan pesan mencapai 86,6% yang masuk dalam kategori valid. Kriteria tingkat kemenarikan presentasi mencapai skor 80% yang termasuk kategori valid. (4) hasil dari uji angket perseorangan menunjukkan rata-rata keseluruhan dari komponen yang dinilai adalah 88%, yang masuk kategori Valid (5) dari hasil angket uji coba kelompok kecil menunjukkan hasil dari rata-rata keseluruhan komponen yang dinilai mencapai nilai 92%, yang masuk dalam kategori valid (6) hasil angket uji coba kelompok besar menunjukkan bahwa hasil pencapaian sebanyak 90% yang masuk dalam kategori valid (7) data dari hasil pretest kelompok kecil hanya mencapai rata-rata 33,8% dan pada posttest skor rata-rata naik menjadi 52,5%. Hal ini menunjukkan bahwa dari hasil pretest dan hasil posttest mengalami kenaikan skor rata-rata sebanyak 18, 5% (8) Data dari hasil pretest kelompok besar hanya mencapai rata-rata 52,375% dan pada posttest skor rata-rata naik menjadi 80,1%. Hal ini menunjukkan bahwa dari hasil pretest dan hasil posttest mengalami kenaikan skor rata-rata sebanyak 27,7%.

Role-play using eurotalk in modeling stage strategy to improve speaking skill of the tenth graders of MAN Pacet / Wildan Arifin

 

Thesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Prof. M.Adnan Latief, M.A., Ph.D (II) Dr. Arwijati W. Murdibjono, Dip TESL. M.Pd. Key words: role-play, EuroTalk, speaking skill The objective of this research was intended to describe how role-play using EuroTalk in modeling stage strategy improve speaking skill of the tenth graders of MAN Pacet. It was believed the strategy could improve students’ speaking skill and motivation in teaching and learning process. The design of this research was Collaborative Classroom Action Research (CCAR). The researcher was assisted by two English teachers as collaborators to observe students’ speaking development and the increase of their motivation.The research was conducted in two cycles with five meetings for each. The subjects of this research were the students of the tenth grade of class ten one (X-1) for the first cycle and class ten seven (X-7) for the second cycle at MAN Pacet, Cianjur. The research intrument for students’ speaking skill was speaking scoring rubric, and for their motivation were questionaire, observation check list and field notes.This research was considered successful if it met three criteria: (1) the average of the students’ speaking scores achieved at least sixty (60), (2) the lowest score of the students’ performance score was not less than fifty, and (3) the average of the students’ involvement reached at least on the active (A) position. The procedure of the implementation of Role-play using EuroTalk in Modeling stage strategy in speaking class covers four main steps: modeling, drafting, rehearsing and performing. Modeling includes, (1) eliciting the target vocabulary to be used in the model and drilling them with the help of power point slide shows, (2) elaborating the target vocabulary with the target expression used in the model, (3) telling students what they are going to study, (4) assigning students to watch and listen to a model on power point slide shows, (5) running interactive CD ROM from EuroTalk, (6) engaging the students to follow the model under the program control, (7) assigning the students to practice focusing on vocabulary, pronunciation and expression used in the model, and (8) equiping the students with ISO file or MP3 file of the programs to practice out class hours.The second is drafting covering, (1) having the students sit in pairs or groups, (2) providing students with a sheet of conversation text and asking them to identify typical expressions relevant to the topic, (3) providing students with prompts to make a draft of conversation for role-play with similar topic, and (4) checking the students’ work. The third is rehearsing, (1) letting the students rehearse the role play, (2) checking their grammar and pronunciation. The last is performing, (1) assigning the students to act out the role-play in pairs or group, and (2) giving feedback and correction for the students’ performance. The findings shows that strategy of Role-play using EuroTalk in modeling stage improved the students’ speaking skill and the students’ involvement during the teaching and learning process. The improvement could be seen from the average of students speaking performance that achieved 67.92 and met the criteria of success. Therefore, suggestion is addressed to teachers to use the program on the role-play strategy in teaching speaking as alternative. Suggestion is also addressed to the school principle of MAN Pacet and other stakeholders to facilitate the school with more instructional multimedia so that the teachers in the school will be far from technical restrictions during the implementation of the strategy. For further researchers, particularly those who are interested in EuroTalk, it is suggested to conduct the study on the use of EuroTalk on other strategy for a particular skill or integrated skills, for example, to improve students’ listening skill.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi kasus pada siswa kelas X Administrasi Perkantoran SMK Ardjuna 2 Malang) / Diah Mei Listriyaningsih

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), Keaktifan, Hasil Belajar Siswa Pendidikan merupakan salah satu faktor utama dalam proses pembangunan nasional. Sesuai dengan UU No. 20 Th 2003, tiap warga negara Republik Indonesia memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan sesuai dengan kemajuan dan perkembangan teknologi. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran dalam kelas. Dalam hal ini para siswa diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan, keahlian dan kompetensi atau potensi dirinya untuk menjadi suatu warga negara yang memiliki kecerdasan, akhlak mulia dan kemampuan untuk mengembangkan keahliannya baik bagi kemajuan diri, masyarakat, bangsa dan negara. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam memahami materi pembelajaran yang terdapat pada mata pelajaran Kewirausahaan dengan penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). TSTS yang diterapkan terdiri atas 6 tahap, yaitu pembagian kelompok, pemberian wacana yang sesuai dengan topik pembelajaran, bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok, mempresentasikan, membuat kesimpulan dan evaluasi. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif karena data yang diperoleh dinyatakan bersifat deskriptif. Dan jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian ini adalah (1) sebelum diberikan tindakan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal Pre-Test Siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 5 orang siswa (19,23%) dan siswa yang tidak tuntas belajar adalah siswa 21 orang siswa (80,77%). Sedangkan setelah tindakan diberikan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal Post-Test Siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 19 orang siswa (73,08%) dan yang belum tuntas 7 orang siswa (26,92%). (2) Sebelum diberikan tindakan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal Pre-Test Siklus II, jumlah Siswa yang tuntas belajar adalah 20 siswa (76,92%) dan siswa yang tidak tuntas belajar adalah 6 siswa (23,08%). Sedangkan setelah tindakan diberikan atau ii pada saat siswa sudah mengerjakan soal Pos-Test Siklus II, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 23 siswa (88,47%) dan yang belum tuntas 3 siswa (11,53%). Nilai rata-rata kelas pada aspek kognitif mengalami kenaikan, yaitu dari 61,54% di siklus I menjadi 88,47% di siklus II. Hal ini berarti terjadi kenaikan sekitar 26,93% yang berarti peningkatan ini cukup signifikan. Sedangkan nilai rata-rata kelas pada aspek afektif juga mengalami kenaikan. Terjadi kenaikan persentase hasil belajar aspek afektif dari siklus I ke siklus II. Di siklus I rata-rata kelas sebesar 62,08 sedangkan di siklus II sebesar 80,79. Berarti terjadi kenaikan sebesar 18.71. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah agar pihak SMK Ardjuna 2 Malang tidak hanya memakai metode konvensional dalam pembelajaran sehari-hari, tetapi juga memakai metode kooperatif agar siswa lebih aktif. Dalam penerapan model pembelajaran tersebut hendaknya guru memperhatikan alokasi waktu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, serta guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas keterampilan, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan multimedia pembelajaran interaktif berbasis komputer untuk mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi kelas VII di SMPN I Jogoroto Jombang / Ahdanil Farikhi

 

Tesis. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd, M. Kes., (II) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kunci: Pengembangan, Multimedia Pembelajaran, Interaktif, Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, Model Kemp dan Dayton Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah mata pelajaran yang diajarkan pada seluruh siswa SMP kelas VII. Pembelajaran dalam mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi ini membahas tentang pengenalan operasi dasar peralatan komputer di dalamnya meliputi melihat visualisasi perangkat keras komputer dan mengamati serta menemukan perangkat keras yang berfungsi sebagai alat input, proses, storage dan output. Sehingga diharapkan setelah mengikuti pembelajaran mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi siswa akan memiliki pengetahuan dasar tentang perangkat keras komputer. Tujuan pengembangan Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif berbasis Komputer Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VII Di SMPN 1 Jogoroto Jombang ini adalah untuk membantu siswa SMP dalam memvisualisasikan, mengamati dan menemukan perangkat keras keras yang berfungsi sebagai alat input, proses, storage dan output. Metode pengembangan multimedia pembelajaran interaktif ini mengunakan model Kemp dan Dyton. Dimana tahap-tahap dalam pengembangan media interaktif oleh Kemp dan Dayton secara berurutan adalah: (1) ide atau tujuan umum pembelajaran, (2) tujuan khusus pembelajaran, (3) karakteristik audiens, (4) isi materi, (5) treatment, (6) storyboard, (7) naskah, (8) developing, editing and mixing (9) testing and revising. Dari hasil uji validasi produk pengembangan didapat data sebagai berikut: ahli isi atau materi dan Ahli media pembelajaran menyatakan produk mencapai kualifikasi “tinggi” dengan presentase jawaban 84% dan 83%. Dari hasil uji coba perorangan mengenai produk didapat rata-rata persentase 90% yang berarti produk berada pada kualifikasi “sangat tinggi”. Kemudian dari uji coba kelompok kecil didapat rata-rata persentase 87% yang berarti produk berada pada kualifikasi “tinggi”. Langkah terakhir pada uji coba kelompok besar didapat rata-rata persentase jawaban 88% yang berarti produk berada pada kualifikasi “tinggi”. Saran desiminasi produk pengembangan ini adalah agar produk ini dapat disebarluaskan dan digunakan oleh siswa SMP secara luas, khususnya siswa SMP kelas VII. Namun penyebaran produk juga harus disertai dengan penyediaan fasilitas-fasilitas teknologi yang memadai seperti komputer atau laptop, sound system dan proyektor untuk memfasilitasi penggunaan produk ini.

The effect of students pre-translation text analysis on their translation quality / Umi Rohimah

 

Thesis, English Language Teaching of Post-graduate Program, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Monica D. D. Oka, M.A., (2) Prof. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Key words: pre-translation text analysis, informative text, operative text, translation quality Translation teaching approach can be broadly classified into performance magistrale, process-oriented, skill-oriented, and function-oriented (or also called translation-oriented text analysis) approaches. The reported experiment here is related to the last approach. This topic was selected because generally in Indonesia the approach used is the first approach. One of the important features of the last approach is pre-translation text analysis. This current research was conducted to see whether students’ pre-translation text analysis affect their translation quality. The translation quality could be further identified as informative text and operative text translation quality. The study employed quasi-experimental design with 48 sample size, 24 of whom were included in the experimental group and the other 24 in the control group. The experimental group did pre-translation text analysis before doing the post test; but the control group did not do pre-translation text analysis before doing the test. For four weeks before the post test, the experimental group was trained to do pre-translation text analysis before doing the translation assignment. In contrast, the control group was not trained to do pre-translation text-analysis; they were taught using the conventional "read-and-translate" technique. The result of the pre-test showed that the mean score of the translation quality for the control group was 48.0833 and that for the experimental group was 45.7500. Analyzed using t-test, the t-value was 1.245, which was significant at the level of .220. Thus, it showed no significant difference. Therefore, the translation quality of the control group and the experimental group were equal prior to the study. The result of the post-test showed that the mean score of the control group (50.6250) was lower than that of the experimental group (54.4583). However, after the t-value calculation, it was found that they were not significantly different. The t-value was -1.768, which was only significant at the level of 0.84. It can be stated that pre-translation text analysis does not have significant effect on the translation quality. The reasonable interpretation of the finding were: (a) the pre-translation text analysis and non-pre-translation analysis techniques both do not influence the students’ translation quality because another variable is much more influential, and (b) pre-translation text analysis actually influences the students’ translation quality, but the study limitation has made the study unable to show the relation. The study limitations attributable to the finding were: not-random sampling is used, limited number of subjects, and non-ideal test construction due to non-standard readability level. Based on the finding, it is suggested that the teaching of Translation be given in the late semesters (sixth, seventh and/or eight semesters) because whatever the method of teaching, it probably would not improve the students’ translation skills if the English skills is not high. The result of this current research was not very convincing for several weaknesses in the research methodological aspects, e.g. sampling procedure, number of subjects and test difficulty level. Therefore, it is recommended other research is done with bigger number of subjects and random sampling procedure and texts with more appropriate level of difficulty be used in the test construction. Finally, it is also recommended that “English skills” be included in the future research design so that the interpretation on the superiority of this variable over other related independent variable can be studied.

Efektivitas model pembelajaran Numbered Head Together dan Reciprocal Teaching untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar (studi kasus pembelajaran IPS terpadu pada kompetensi dasar ketenagakerjaan siswa kelas VIII semester dua MTs Al-Fauzul Kabir Kota Jantho Aceh Bes

 

Tesis Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (2) Dr. H. Tuhardjo, SE, M. Si, Ak Kata kunci: Numbered Heads Together, Reciprocal Teaching, Motivasi, Hasil Belajar. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) dan reciprocal teaching (RT). Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji apakah ada perbedaan motivasi belajar yang diajar dengan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan reciprocal teaching (RT) dan apakah ada perbedaan hasil belajar yang diajar dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan reciprocal teaching (RT) siswa kelas VIII pada kompetensi dasar ketenagakerjaan di MTs Al Fauzul Kabir kota Jantho? Hipotesis yang diuji dalam penelitian, yaitu (1) ada perbedaan motivasi belajar yang diajar dengan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan reciprocal teaching (RT) siswa kelas VIII pada kompetensi dasar ketenagakerjaan di MTs Al Fauzul Kabir kota Jantho Aceh Besar (2) Ada perbedaan hasil belajar yang dicapai dari model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan reciprocal teaching (RT) pada kompetensi dasar ketenagakerjaan Siswa Kelas VIII Semester Dua MTs Al-Fauzul Kabir Kota Jantho Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan rancangan kuasi eksperimen (Nonequivalent the Pretest-Postest control Group Design). Subjek penelitian adalah seluruh siswa Kelas VIII semester dua MTs Al-Fauzul Kabir Kota Jantho Aceh Besar yang berjumlah 44 siswa yang dibagi atas dua kelompok yang mempunyai kemampuan awal yang sama atau relatif sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tidak ada perbedaan motivasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dengan model pembelajaran reciprocal teaching (RT) dengan tingkat signifikansinya 0,078. Namun jika dilihat dari indikatornya ada perbedaan motivasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dengan model pembelajaran reciprocal teaching (RT). Perbedaan tersebut antara lain pada indikator perhatian dengan signifikansinya 0,031, kepuasan sebesar 0,049, dan indikator keyakinan sebesar 0,046, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran reciprocal teaching (RT) lebih efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, dan (2) ada perbedaan hasil belajar yang diajar dengan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan model pembelajaran reciprocal teaching (RT) dengan tingkat signifikansinya sebesar 0,001. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan rata-rata hasil belajar antara kelompok NHT (8,05) dan kelompok RT (9,95), sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran reciprocal teaching (RT) lebih efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, Hasil analisis data menunjukkan bahwa model pembelajaran reciprocal teaching (RT) lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar ketenagakerjaan. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah (1) Sekolah disarankan untuk menggunakan model pembelajaran koperatif numbered heads together dan reciprocal reaching untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar tidak hanya pada pelajaran IPS Terpadu juga mata pelajaran lainnya, (2) guru disarankan untuk menggunakan model pembelajaran koperatif numbered heads together (NHT) dan reciprocal teaching (RT) tidak hanya pada kompetensi dasar ketenagakerjaan dan dapat digunakan pada kompetensi lainnya, (3) Bagi peneliti lainnya, hendaknya melakukan eksperimen lanjutan dengan menggabungkan atau mengkolaborasikan dua model pembelajaran ter-sebut yang telah terbukti efektif dalam belajar.

Pengaruh kepuasan dan public relations perception terhadap loyalitas mahasiswa melalui reputasi universitas (studi pada mahasiswa Univesitas Negeri Malang) / Saiful Anwar

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M., (II) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si. Kata kunci: kepuasan mahasiswa, public relations, reputasi universitas, loyalitas mahasiswa. Globalisasi pendidikan mendorong terciptanya struktur pasar lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Indonesia lebih kompetitif. Konsekuensi bagi pelaku bisnis didunia pendidikan harus berusaha menyusun strategi agar mampu bersaing dan bertahan hidup di persaingan bisnis. Salah satu solusi untuk meme-nangkan persaingan adalah dengan menciptakan loyalitas bagi mahasiswa. Beberapa faktor yang menentukan loyalitas mahasiswa adalah kepuasan mahasis-wa, public relations dan reputasi universitas. Dengan adanya mahasiswa yang loyal terhadap universitas maka keberlangsungan sebuah universitas tersebut dapat terjamin. Seorang mahasiswa yang loyal terhadap universitasnya akan memiliki perilaku yang positif terhadap universitas, perilaku loyal tersebut minimal tercermin tatkala mahasiswa tersebut merekomendasikan universitas kepada orang lain, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di universitas yang sama, mengambil kursus maupun program-program yang diselenggarakan oleh universitas atau bahkan memberikan donasi ataupun beasiswa kepada universitas dimana mereka dulu mengenyam pendidikan. pendidikan ekonomi sekarang tidak hanya relevan pada bagaimana menyampaikan mata pelajaran ekonomi di kelas saja, tetapi kegiatan di luar kelas, loyalitas mahasiswa sebagai bagian dari kompetensi ekonomi umum, tentu saja merupakan topik pendidikan ekonomi karena loyalitas mahasiswa adalah situasi kehidupan yang secara inheren ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) pengaruh langsung kepuasan mahasiswa terhadap reputasi Universitas Negeri Malang, (2) pengaruh langsung kepuasan terhadap loyalitas mahasiwa Universitas Negeri Malang, (3) pengaruh langsung Public Relations Perception terhadap reputasi Universitas Negeri Malang, (4) pengaruh langsung Public Relations Perception terhadap loyalitas mahasiwa Universitas Negeri Malang, (5) pengaruh langsung reputasi universitas terhadap loyalitas mahasiwa Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian survei. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang dengan sampel sebanyak 200 mahasiswa. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik propotionate random sampling. Data dikumpulkan dengan instrumen berupa kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) Hasil penelitian dapat dipaparkan secara singkat sebagai berikut: (1) terdapat pengaruh langsung positif signifikan kepuasan mahasiswa terhadap reputasi universitas hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi kepuasan mahasiswa maka semakin baik pula reputasi Universitas Negeri Malang, (2) terdapat pengaruh langsung positif signifikan kepuasan terhadap loyalitas mahasiswa hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi kepuasan mahasiswa maka semakin tinggi pula loyalitas mahasiswa yang bersangkutan terhadap Universitas Negeri Malang, (3) terdapat pengaruh langsung positif signifikan public relations terhadap reputasi universitas hal ini dapat diartikan bahwa semakin baik kegiatan public relations yang dilakukan oleh pihak universitas maka semakin baik pula reputasi Universitas Negeri Malang, (4) terdapat pengaruh langsung positif signifikan public relations terhadap loyalitas mahasiswa hal ini dapat diartikan bahwa semakin baik kegiatan pu-blic relations yang dilakukan oleh pihak universitas maka semakin tinggi pula loyalitas mahasiswa yang bersangkutan terhadap Universitas Negeri Malang, (5) terdapat pengaruh langsung positif signifikan reputasi Universitas Negeri Malang terhadap loyalitas mahasiswa hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi reputasi Universitas Negeri Malang maka semakin tinggi pula loyalitas mahasiswa yang bersangkutan terhadap Universitas Negeri Malang, (6) terdapat pengaruh positif signifikan kepuasan terhadap loyalitas mahasiswa Universitas Negeri Malang. pengaruh tersebut tidak dimediasi oleh reputasi Universitas Negeri Malang, sehingga upaya-upaya universitas dalam menciptakan loyalitas mahasiswa yang dipengaruhi oleh kepuasan mahasiswa tidak perlu memperhatikan reputasi Universitas Negeri Malang., (7) Kegiatan public relations yang dilakukan Universitas Negeri Malang tidak hanya difokuskan untuk meraih loyalitas mahasiswa saja tetapi juga difokuskan untuk meningkatkan reputasi Universitas Negeri Malang. Terkait dengan hasil penelitian ini Universitas Negeri Malang sebagai penyedia jasa pendidikan harus mengoptimalkan peran layanan layanan administratif untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa Universitas Negeri Malang. kegiatan-kegiatan public relations Universitas Negeri Malang yang dilakukan oleh bagian Sistem Infomasi dan Humas harus difokuskan tidak hanya untuk meraih loyalitas mahasiswa tetapi juga untuk menjaga dan meningkatkan reputasi Universitas Negeri Malang, sedangkan bagi peneliti selanjutnya, disarankan mengkaji lebih lanjut anteseden-anteseden loyalitas mahasiswa dengan menggunakan teknik analisis data yang sesuai dengan rancangan penelitian yang lebih kompleks. uji beda koefisien dengan measurement model dan SEM (Structural Equation Modelling) dapat dijadikan pilihan dalam melakukan analisis data

Aplikasi sistem informasi geografi (SIG) untuk pemetaan daerah kemacetan lalu lintas di Kota Malang / Rizki Amalia

 

Kata Kunci : Daerah kemacetan lalu lintas, kemacetan lalu lintas, karakteristik kemacetan lalu lintas. Saat ini kota Malang telah menjadi kota terbesar ke 2 di Jawa Timur setelah Surabaya. Hal ini memicu adanya pembangunan di berbagai sektor dan diikuti dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Jumlah penduduk kota Malang pada tahun tahun 2006 meningkat mencapai 789.907 (BPS 2006). Jumlah penduduk yang terus meningkat dan dengan luas lahan yang terbatas tentunya menjadi permasalahan baru yang dihadapi pemerintah kota Malang khususnya masalah transportasi yang menimbulkan kemacetan lalu lintas. Permasalahan kemacetan lalu lintas di kota Malang diantaranya dapat dilihat di jl.Soekarno Hatta, jl.MT.Haryono, jl.Simpang 3 Borobudur, jl. Simpang 3 LA Sucipto, dan jl.Gatot Subroto. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik kemacetan lalu lintas masing-masing titik, dan mengatahui titik lain yang memiliki karakter sama dengan titik lokasi penelitian agar kemacetan lalu lintas tidak menular pada titik lain tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah survey yang bersifat deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah semua jenis kendaraan yang melintas di tiap ruas jalan. Jenis kendaraan tersebut yaitu bermotor dan tidak bermotor. Kendaraan bermotor dalam skripsi ini meliputi motor, mobil pribadi, bus, truk, dan MPU. Sedangkan kendaraan tidak bermotor berupa sepeda dan becak. Setelah diklasifikasikan berdasarkan jenis kendaraan dihitung jumlah kendaraan yang melintas pada ruas jalan tersebut. Selanjutnya dipersentase jumlah kendaraan berdasarkan jenisnya, menghitung volume kendaraan, dan mencari nilai level of Service (LOS) atau tingkat pelayanan jalan. Analisis pengembangan Bagian Wilayah Kota (BWK) dilakukan untuk mengetahui perbedaan karakter kemacetan lalu lintas dari tiap-tiap titik kemacetan lalu lintas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian bahwa karakteristik kemacetan lalu lintas di kota Malang dipengaruhi oleh penggunaan lahan serta kelas/fungsi dari jalan tersebut. Persentase jumlah kendaraan berdasarkan jenis kendaraannya di jl.Soekarno Hatta adalah : motor 54,6 %, mobil pribadi 44,2 %, truk 0,1 %, bus 0,03 %, MPU 0,8 %, sepeda 0,1 %, dan becak 0.03 %. Volume kendaraan di jl.Soekarno Hatta motor 4802 smp/jam, mobil pribadi 3887 smp/jam, truk 10 smp/jam, bus 2 smp/jam, MPU 71 smp/jam, sepeda 12 smp/jam, becak 3 smp/jam dan untuk nilai LOS di jl.Soekarno Hatta sebesar 1,13. Persentase jumlah kendaraan berdasarkan jenis kendaraannya di jl.MT.Haryono adalah : motor 62,3 %, mobil pribadi 35,4 %, truk 0,1 %, bus 0,03 %, MPU 1,9 %, sepeda 0,07 %, dan becak 0,1 %. Volume kendaraan di jl.MT.Haryono motor 3811 smp/jam, mobil pribadi 2165 smp/jam, ii truk 8 smp/jam, bus 2 smp/jam, MPU 116 smp/jam, sepeda 5 smp/jam, becak 7 smp/jam, dan untuk nilai LOS di jl.MT.Haryono adalah 1,6. Persentase jumlah kendaraan berdasarkan jenis kendaraannya di jl.Simpang 3 Borobudur adalah : motor 55,4 %, mobil pribadi 40,9 %, truk 0,1 %, bus 0,02 %, MPU 3,3 %, sepeda 0,08 %, dan becak 0,09 %. Volume kendaraan di jl.Simpang 3 Borobudur motor 3025 smp/jam, mobil pribadi 2335 smp/jam, truk 7 smp/jam, bus 1 smp/jam, MPU 190 smp/jam, sepeda 5 smp/jam, becak 5 smp/jam dan untuk nilai LOS di jl.Simpang 3 Borobudur sebesar 1,16. Persentase jumlah kendaraan berdasarkan jenis kendaraannya di jl.LA.Sucipto adalah : motor 47,7 %, mobil pribadi 46,8 %, truk 0,3 %, bus 0,06 %, MPU 4,8 %, sepeda 0,1 %, dan becak 0,2 %. Volume kendaraan di jl.LA.Sucipto motor 1584 smp/jam, mobil pribadi 1557 smp/jam, truk 10 smp/jam, bus 2 smp/jam, MPU 161 smp/jam, sepeda 5 smp/jam, becak 6 smp/jam dan untuk nilai LOS di jl.LA.Sucipto sebesar 1,4. Persentase jumlah kendaraan berdasarkan jenis kendaraannya di jl.Gatot Subroto adalah : motor 53,2 %, mobil pribadi 42,1 %, truk 0,7 %, bus 0,2 %, MPU 3,2 %, sepeda 0,1 %, dan becak 0.2 %. Volume kendaraan di jl.Gatot Subroto motor 2342 smp/jam, mobil pribadi 1853 smp/jam, truk 32 smp/jam, bus 11 smp/jam, MPU 142 smp/jam, sepeda 6 smp/jam, becak 9 smp/jam dan untuk nilai LOS di jl.Gatot Subroto sebesar 1,2 Sedangkan titik-titik kemacetan lain yang memiliki karakter yang sama dengan titik pengamatan adalah, jl.Gajayana dan jl.Sumbersari merupakan titik yang memiliki karakter yang sama dengan jl.Soekarno Hatta dan jl.MT.Haryono, jl.Raden Intan dan jl.Panji Suroso merupakan titik kemacetan yang memiliki karakter yang sama dengan jl.LA.Sucipto dan jl.Borobudur, jl.Panglima Sudirman dan jl.Zaenal Zekse merupakan jalan yang memiliki karakter yang sama dengan jl.Gatot Subroto.

Meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika melalui tindakan guru berdasarkan tahapan Newman pada siswa kelas VIII bilingual di SMP Laboratorium UM Malang / Dian Kristanti

 

Kata kunci: Meningkatkan, soal cerita matematika, tindakan guru, Tahapan Newman, bilingual. Kelas bilingual saat ini telah menjadi incaran para orang tua untuk memajukan pendidikan putra-putrinya. Siswa kelas bilingual dianggap memiliki kemampuan lebih dibandingkan siswa lain. Namun hasil wawancara informal terhadap beberapa guru matematika bilingual diketahui bahwa kemampuan siswa dalam matematika, khususnya dalam menyelesaikan soal cerita materi kubus dan balok masih cukup rendah. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena adanya kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal tersebut. Fakta menunjukkan bahwa rata-rata skor ulangan harian dengan topik menyelesaikan soal cerita materi kubus dan balok di kelas VIII bilingual SMP Laboratorium UM masih belum mencapai SKM yang ditentukan sekolah dan lebih dari 50% siswa belum mencapai SKM. Salah satu cara meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa bilingual adalah dengan pemberian tindakan oleh guru berdasarkan tahapan Newman. Tahapan Newman diadaptasi dari metode Analisis Kesalahan Newman, dimana dalam menyelesaikan soal cerita melalui lima tahapan yaitu membaca (reading), memahami (comprehension), metode (transformation), prosedur (process skill) dan penulisan jawaban akhir (encoding). Rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain: (1) Apakah kesalahankesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika berdasarkan Tahapan Newman, dan (2) Apakah tindakan guru berdasarkan Tahapan Newman yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa kelas VIIIF SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Diharapkan penelitian ini nantinya akan bermanfaat bagi dunia pendidikan, terutama guru sebagai bahan pertimbangan untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas karena dilakukan berdasarkan masalah yang ada dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian ini yaitu siswa kelas VIIIF sebagai kelas bilingual di SMP Laboratoriun Universitas Negeri Malang berjumlah 23 siswa. Pengambilan data dilakukan melalui tes dan wawancara. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari analisis statistik sederhana dan analisis deskriptif terhadap data kemampuan menyelesaikan soal cerita Data hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa melakukan berbagai kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita matematika, antara lain: tidak mengerti arti kata sulit, tidak menuliskan yang diketahui dan ditanyakan secara lengkap, tidak menuliskan atau salah dalam menuliskan metode yang digunakan untuk menyelesaikan soal cerita, salah dan tidak teliti dalam melakukan perhitungan, serta tidak menuliskan jawaban akhir secara lengkap. Bantuan yang diberikan guru yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa antara lain: meminta siswa membaca kembali soal dengan cermat, meminta siswa mengartikan soal dalam Bahasa Indonesia, menanyakan yang diketahui dan ditanyakan secara lengkap, menanyakan konsep dan nama rumus atau formula yang digunakan untuk menyelesaikan soal, meminta siswa lebih teliti, meminta siswa menuliskan arti simbol yang ditulis, meminta siswa memeriksa kembali jawabannya. Berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dan hasil penelitiam, diperoleh fakta bahwa penelitian ini dapat disimpulkan berhasil. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tindakan guru berdasarkan Tahapan Newman dapat meningkatkan kemampuan siswa bilingual dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Kesalahan terbanyak siswa terjadi pada tahap process skills. Beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, antara lain: siswa mengerti konteks tetapi tidak tidak dapat menuliskan arti/representasi dengan tepat, tidak melihat konteks kalimat dan salah dalam struktur kalimat representasi, kesalahan konsep matematika, kurang lengkap dalam menuliskan jawaban akhir. Tindakan guru sesuai dengan kesalahan yang dilakukan siswa, diantaranya adalah: meminta siswa membaca kembali soal dengan cermat, memahami konsep yang dipelajari, dan meminta siswa memeriksa kembali jawabannya. Beberapa saran yang diajukan terhadap penelitian ini adalah: (1) Menerapkan pembelajaran dengan tindakan guru berdasarkan tahapan Newman untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita; (2) Memperhatikan dan meminimalisir berbagai kendala dalam pembelajaran dengan Tahapan Newman.

Efektivitas pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan prestasi belajar, kemampuan berpikir kritis, dan berpikir kreatif siswa kelas VIII SMPI Sabilillah Malang / Yulia Agustin Surya Juita

 

Kata kunci: PBL, Prestasi Belajar, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Berpikir Kreatif Perkembangan sains yang begitu pesat mengharuskan pendidik untuk merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah pada penguasaan konsep sains. Para ahli pembelajaran telah menyarankan penggunaan paradigma pembelajaran konstruktivistik dan kegiatan pembelajaran hendaknya mempersiapkan peserta didik yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah, kritis dan kreatif dalam kondisi yang berwawasan nasional, regional, dan global. Pembelajaran PBL merupakan suatu model pembelajaran konstruktistik. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui efektifitas pembelajaran PBL dalam meningkatkan prestasi belajar, kemampuan berpikir kritis, dan berpikir kreatif siswa kelas VIII SMPI Sabilillah. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, sampel yang digunakan berasal dari dua kelas yaitu kelas VIIIA sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII B sebagai kelompok kontrol. Penentuan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan model PBL sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar secara konvensional. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Data yang ingin diteliti adalah prestasi belajar, kemampuan berpikir kritis, dan kreatif siswa. Data prestasi belajar dianalaisis dengan uji t sedangkan data kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa dianalaisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 73,29 dan pada kelas kontrol adalah 74,40. Nilai rata-rata ini kemudian diuji hipotesis meggunakan Uji-t fihak kanan. Uji-t fihak kanan digunakan untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa yang diajar dengan PBL lebih tinggi dibandingkan nilai yang diajar secara konvensional. Melalui Uji-t dengan bantuan SPSS diperoleh hasil thitung 0,514 < ttabel 1,670. Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa kelas eksperimen lebih kecil atau sama dengan kelas kontrol . Hal ini disebabkan oleh tidak maksimalnya peneliti dalam melakukan proses penelitian. Data kemampuan berpikir kritis dan kreatif diuji dengan analisis nonparametris tepatnya adalah uji Mann-Whitney karena data tidak terdistribusi normal. Melalui analisis Mann-Whitney dengan bantuan SPSS diperoleh nilai z untuk kemampuan berpikir kritis adalah 4,907 > 1,65 dan 5,608 > 1,65 untuk data kemampuan berpikir kreatif. Hal ini mengandung makna bahwa kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa yang diajar PBL lebih tinggi dibanding siswa yang diajar secara konvensional.

Pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas I sekolah dasar / Effi Two Indri Setyowati Sugirin

 

Kata kunci: Pengembangan, Multimedia Interaktif, Menerapkan Budaya Hidup Sehat. Pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan siswa maupun guru yang mengajar kesehatan di sekolah dasar untuk membantu proses pembelajaran kesehatan. Berdasarkan analisis kebutuhan awal dari tiga sekolah dasar yaitu SDN Percobaan I Malang, SDN Klojen Malang, dan SDN Madyopuro 5 belum pernah menggunakan media pembelajaran dalam bentuk multimedia interaktif. Diharapkan dengan adanya multimedia interaktif tersebut siswa dapat aktif mengikuti proses belajar mengajar dan memperoleh pengetahuan dari isi multimedia interaktif. Tujuan dari pengembangan ini adalah mengembangkan media pembelajaran mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan dalam bentuk multimedia interaktif berbasis komputer yang berisi bahan ajar menerapkan budaya hidup sehat untuk siswa kelas I sekolah dasar. Metode dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas I sekolah dasar adalah sebagai berikut: 1) Penelitian dan pengumpulan informasi dalam melakukan analisis kebutuhan melalui pengisian angket. 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas I sekolah dasar. Hasil pengembangan berupa produk multimedia interaktif berbasis komputer dengan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat untuk siswa kelas I sekolah dasar. Pengembangan standar kompetensi menerapkan budaya hidup sehat melalui multimedia interaktif berbasis komputer untuk siswa kelas I sekolah dasar menggunakan aplikasi Microsoft Office Powerpoint dengan jumlah slide 43 untuk kompetensi dasar kebersihan gigi dan mulut serta 37 slide untuk kompetensi dasar mengenal makanan sehat.

Pengaruh penggunaan media pembelajaran audiovisual bahasa Inggris terhadap prestasi belajar bahasa Inggris siswa TK Islam Bani Hasyim Singosari Malang / Dianita Permata Sari

 

Kata Kunci: media pembelajaran audiovisual, prestasi belajar bahasa Inggris, Taman kanak-kanak. Media pembelajaran merupakan faktor penunjang penting dalam proses bela- jar mengajar. Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, banyak ber-munculan media pembelajaran diantaranya media pembelajaran audiovisual. Me-lalui media pembelajaran audiovisual, siswa dapat memahami materi pembelajar-an dengan lebih mudah, menarik dan dapat membuat siswa merasakan kejadian nyata melalui simulasi, sehingga siswa mampu mendapatkan bekal dasar pengeta-huan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan harapan. Berdasarkan hasil pe-nelitian tersebut, penelitian ini bertujuan (1) untuk mendeskripsikan prestasi bel-ajar bahasa Inggris siswa yang belajar menggunakan media audiovisual, (2) un-tuk mendeskripsikan prestasi belajar bahasa Inggis siswa yang belajar tanpa menggunakan media audiovisual, (3) untuk mengungkap pengaruh penggunaan media audiovisual bahasa Inggris terhadap prestasi belajar bahasa Inggris. Desain yang digunakan adalah static group design yang disebut juga non-equivalent post-test only design. Populasinya adalah siswa Taman kanak-kanak Islam Bani Hasyim Singosari Malang. Sampel yang diambil berjumlah 43 siswa yaitu 22 siswa dari kelas B2 sebagai kelas kontrol dan 21 siswa dari kelas B1 se-bagai kelas eksperimen. Variabel yang digunakan adalah media pembelajaran au-diovisual dan prestasi belajar bahasa Inggris siswa. Eksperimen dilakukan di ru-ang laboratorium audiovisual untuk kelompok eksperimen, sedangkan untuk ke-lompok kontrol dilakukan di dalam kelas. Jenis data yang digunakan adalah data primer yaitu data mengenai prestasi belajar bahasa Inggris yang diperoleh melalui tes prestasi belajar dan data sekunder yang berupa data siswa. Instrumen yang di- gunakan adalah tes prestasi belajar bahasa Inggris berupa kumpulan pertanyaan yang diajukan pada siswa secara lisan dan siswa memberikan jawaban secara li-san. Analisis hasil penelitian menggunakan uji beda independent sample t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh penggunaan media audiovisu-al terhadap prestasi belajar bahasa Inggris, terbukti dengan adanya perbedaan skor prestasi belajar bahasa Inggris yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen, t = 2,062, Sig. 0,046<0,05. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran audiovisual berpengaruh terhadap prestasi belajar bahasa Inggris yang dimiliki siswa Taman kanak-kanak, sehingga media pembelajaran audiovi-sual ini dapat dijadikan pertimbangan untuk guru Taman kanak-kanak Islam Bani Hasyim Singosari Malang sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat memberikan hasil lebih efektif dan efisien terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memberikan perlakuan pre test terlebih dahulu.

Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Net Profit Margin dan transaksi usaha koperasi dengan usaha anggota terhadap perubahan sisa hasil usaha pada KPRI di Kota Malang tahun 2010 / Mochammad Syahroni

 

Kata Kunci: Perubahan Sisa Hasil Usaha, CR, DER, NPM dan Transaksi Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota. Perubahan sisa hasil usaha adalah besarnya prosentase kenaikan sisa hasil usaha yang dimiliki koperasi dari satu periode ke periode berikutnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 06/Per/M.KUKM/V/2006 Tentang Pedoman Penilaian Koperasi Berprestasi/Koperasi Award, maka untuk mengetahui tingkat produktivitas koperasi khususnya dalam menghasilkan Perubahan Sisa Hasil Usaha, dapat dihitung dengan menggunakan rasio-rasio keuangan di antaranya yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin dan Transaksi Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan pengaruh dari Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin dan Transaksi Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha KPRI di Kota Malang Tahun 2010. Data yang digunakan bersumber dari laporan tahunan KPRI yang diperoleh peneliti dari PKPRI Kota Malang. Sampel penelitian ini sebanyak 43 KPRI. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik statistik parametrik dengan metode uji statistik t, uji statistik F dan menentukan koefisien determinasi (R2) pada program SPSS 16.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tidak terdapat pengaruh signifikan positif dari Current Ratio terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha, (2) terdapat pengaruh signifikan positif dari Debt to Equity Ratio terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha, (3) tidak terdapat pengaruh signifikan positif dari Net Profit Margin terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha, (4) terdapat pengaruh signifikan positif dari Transaksi Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha, (5) terdapat pengaruh secara simultan dari Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Net Profit Margin, Transaksi Usaha Koperasi dengan Usaha Anggota terhadap Perubahan Sisa Hasil Usaha. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada pengurus KPRI di Kota Malang untuk menetapkan besarnya Debt to Equity Ratio agar tidak melebihi standar nilai yang ditetapkan dan memotivasi anggota untuk meningkatkan transaksi usahanya terhadap koperasi. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan kembali dengan menggunakan periode waktu penelitian yang lebih lama dan menambahkan faktor-faktor lain yang belum diteliti misalnya rentabilitas modal sendiri, Return on Asset, Asset Turn Over, Total Hutang terhadap Total Aset dan Perputaran Piutang.

Pengaruh bid-ask spread dan trading volume activity terhadap abnormal return pada perusahaan manufaktor yang listing di BEI tahun 2010 / Dwinanda Pria Kharisma

 

Kata Kunci : Bid-Ask Spread, Trading Volume Activity, Abnormal Return Bid-ask spread merupakan selisih antara harga yang diminta untuk membeli (bid) dengan harga yang ditawarkan untuk menjual (ask) sedangkan trading volume activity (TVA) merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar terhadap suatu informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar dengan membandingkan jumlah saham yang diperdagangkan dalam satu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham beredar di perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama. Keduanya dapat mempengaruhi abnormal return yang merupakan selisih antara return sesungguhnya dengan return ekpektasian. Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang mengolah bahan mentah menjadi produk jadi sekaligus memiliki posisi yang dominan dalam perekonomian Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh bid-ask spread dan trading volume activity terhadap abnormal return pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2010. Penelitian ini termasuk penelitian asosiatif. Populasi penelitian ini adalah 196 Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2010. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling sehingga sampel seluruhnya berjumlah 10 perusahaan. Instrumen yang digunakan untuk merekam data hasil penghitungan tiap variabel berupa tabel dokumentasi. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari ICMD 2010 dan ICMD 2011 yang dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa bid-ask spread dan trading volume activity tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2010. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan kepada investor agar dalam pengambilan keputusan investasi hendaknya lebih memperhatikan kandungan informasi dalam harga dan volume perdagangan agar mengurangi risiko kerugian akibat kurangnya keterbukaan informasi yang tersedia di pasar. Selain itu, bagi peniliti selanjutnya disarankan agar menambah variabel lain yang memiliki potensi mempengaruhi abnormal return serta mengelompokkan perusahaan berdasarkan sektor industri.

Memahamkan siswa tentang materi bangun datar di kelas V SD Negeri Binangun 01 dengan media papan berpaku / Deni Lucky Lestari

 

Kata kunci : pemahaman, media papan berpaku, bangun datar. Berdasarkan dialog informal dengan Bapak Sutomo selaku guru kelas V di SD Negeri Binangun 01, diperoleh informasi bahwa pembelajaran matematika dengan media papan berpaku belum pernah diterapkan pada pembelajaran matematika. Bapak Sutomo menyatakan bahwa materi yang berkaitan dengan geometri misalnya pokok bahasan luas trapesium dan layang-layang serta volume kubus dan balok yang telah diajarkan pada semester gasal belum dapat sepenuhnya dipahami oleh siswa. Banyak siswa yang kesulitan dalam memahami materi, misalnya (1) siswa belum dapat membedakan bentuk-bentuk segiempat, contohnya membedakan layang-layang dengan belah ketupat, (2) siswa sudah mengerti bagaimana mencari luas layang-layang ketika panjang diagonalnya diketahui, namun terkadang siswa belum dapat menentukan panjang diagonal ketika luas panjang salah satu diagonalnya diketahui. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri Binangun 01 yang bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran matematika untuk memahamkan siswa tentang materi bangun datar dengan media papan berpaku di kelas tersebut. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian siswa kelas V-A semester genap tahun ajaran 2010/2011. Data diperoleh dari data nilai UAS siswa, hasil pekerjaan siswa, hasil pengamatan, dan hasil wawancara. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pembelajaran matematika dengan bantuan media papan berpaku dapat memahamkan siswa tentang materi bangun datar. Hal ini dapat dilihat dari pencapaian ketuntasan klasikal pada siklus II yang mencapai 91,13% dengan rata-rata nilai tes siswa 88,13 dan kesalahan konsep hanya sedikit. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah (1) jika guru yang menggunakan media papan berpaku dalam pembelajaran dan membuat sendiri media tersebut, hendaknya mempertimbangkan hal-hal yang menyangkut keamanan serta keefektifan penggunaannya, (2) hendaknya guru dapat memilih papan berpaku yang relevan dengan materi yang akan diajarkan (menggunakan papan berpaku persegi, papan berpaku segitiga, atau papan berpaku bundar), (3) hendaknya menggunakan karet yang berwarna-warni, terbuat dari bahan yang tidak mudah putus, dan ukuran yang beraneka ragam, (4) hendaknya guru mengatur waktu dengan cermat dan mempersiapkan segala keperluan agar pembelajaran terlaksana dengan baik.

Analisis motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kepanjen Kabupaten Malang terhadap pembelajaran quantum teaching-mind mapping pada materi sistem koloid / Nanda Elok Mayangsari

 

Kata Kunci: Pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Dalam proses belajar mengajar segala sesuatunya berarti, mulai dari setiap kata, pikiran dan asosiasi, serta sampai sejauh mana lingkungan itu dirubah, presentasi dan rancangan pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Guru perlu mendalami keadaan siswa-siswanya dengan berusaha memahami berbagai kebutuhan yang diperlukan oleh siswanya. Kegiatan yang dilakukan siswa dipengaruhi oleh motivasi. Motivasi dapat diinterpretasikan dari tingkah laku yang dapat diketahui dari hasil belajar. Guru perlu menciptakan pembelajaran aktif yang dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa agar siswa mempunyai prestasi yang optimal. Pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping merupakan perpaduan pembelajaran dimana kegiatan dengan peran dan fungsinya yang saling mendukung untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang lebih variatif dan bermakna. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana motivasi belajar dan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping dibandingkan siswa yang diajar dengan pembelajaran Quantum Teaching pada materi sistem koloid. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Kelas eksperimen menggunakan pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping dan kelas kontrol menggunakan pembelajaran Quantum Teaching. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik tidak acak dengan pertimbangan penyamaan beban kelas, yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan (silabus, RPP, hand out, dan worksheet) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar, angket motivasi dan lembar observasi). Instrumen tes hasil belajar terdiri dari 30 butir soal valid dengan nilai reliabilitas sebesar 0,73. Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik berupa uji t dan uji Mann Whitney dengan taraf signifikansi α = 0,050. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Window. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran Quantum Teaching-Mind Mapping dapat berjalan dengan baik. Motivasi belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan motivasi belajar kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, persentase keseluruhan siswa yang sangat termotivasi sebesar 72% sedangkan pada kelas kontrol hanya 56%. Berdasarkan uji t diperoleh nilai thitung sebesar 1,907 dan ttabel sebesar 1,670, sehingga motivasi belajar kelas eksperimen terbukti lebih baik dari kelas kontrol. Hasil belajar kognitif kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 82,4 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 79,2. Hasil belajar afektif kelas eksperimen juga lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 78 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 71. Hasil belajar psikomotor kelas eksperimen juga lebih baik dari pada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 82 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 77. Berdasarkan uji Mann Whitney pada hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor membuktikan bahwa hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol.

Pengaruh kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan dan profitabilitas terhadap kebijakan hutang (studi pada perusahaan real estate & property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2000-2009) / Erlin Febriyanti

 

Kata kunci: kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan, profitabilitas, kebijakan hutang. Kebijakan hutang merupakan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan perimbangan hutang dan ekuitas. Keputusan pengambilan hutang merupakan sebuah keputusan yang penting bagi perusahaan. Penggunaan hutang yang tinggi dapat menyebabkan beberapa dampak sehingga penggunaan hutang harus pada tingkat yang optimal. Berdasarkan Agency theory, adanya kepemilikan manajerial menyebabkan manajer lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pendanaan. Selain kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan dan profitabilitas merupakan faktor lain yang mempengaruhi kebijakan hutang melalui pecking order theory. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan dan profitabilitas terhadap kebijakan hutang. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan real estate & property yang terdaftar di BEI tahun 2000-2009. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda.Berdasarkan hasil uji t (parsial) menunjukkan bahwa variabel independen yaitu kepemilikan manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan hutang, sedangkan ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh signifikan dan berhubungan positif dengan kebijakan hutang.Nilai adjusted R Square sebesar 0,285 menunjukkan bahwa variabel dari kebijakan hutang yang dapat dijelaskan oleh variabel independen hanya sebesar 28,5% sedangkan sisanya sebesar 71,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Variabel lain tersebut dapat berupa set kesempatan investasi,free cash flow, kepemilikan institusional, tingkat suku bunga, pertumbuhan penjualan dan diduga masih terdapat variabel lain yang mempengaruhi kebijakan hutang perusahaan. Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) manajer dapat mengambil langkah-langkah yang terarah dalam menentukan kebijakan hutang, (2) untuk peneliti berikutnya diharapkan dapat menambah variabel bebas, (3) penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan sampel dari seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasil penelitian lebih representasif.

Studi tentang pemahaman konfigurasi elektron dan sifat periodik unsur siswa kelas XI SMA Negeri 1 Loceret Kabupaten Nganjuk / Doron Prabowo Juwono

 

Kata Kunci : Pemahaman konsep konfigurasi elektron, pemahaman sifat periodik unsur, hubungan pemahaman konsep konfigurasi elektron dan sifat periodik unsur Konsep-konsep kimia secara garis besar sangat berkaitan antara satu dengan lainnya. Konsep konfigurasi elektron sangat berkaitan dengan sifat periodik unsur. Pemahaman konfigurasi elektron mendasari untuk memahami sifat periodik unsur, sehingga diperkirakan apabila siswa kurang menguasai konsep konfigurasi elektron, maka siswa juga kurang menguasai sifat periodik unsur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat pemahaman konfigurasi elektron siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Loceret, (2) tingkat pemahaman sifat periodik unsur siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Loceret, (3) hubungan antara tingkat pemahaman konfigurasi elektron dengan tingkat pemahaman sifat periodik unsur siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Loceret. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Loceret yang terdiri atas 2 kelas. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Loceret tahun ajaran 2010-2011 yang berjumlah 40 orang, diambil dengan teknik sampling kelompok (cluster). Untuk memperoleh data penelitian digunakan tes konsep konfigurasi elektron dan tes pemahaman sifat periodik unsur. Data diambil dengan tes sendiri sebanyak 25 soal pilihan ganda yang terdiri dari 10 soal untuk pemahaman konsep konfigurasi elektron dan 15 soal untuk pemahaman sifat periodik unsur dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,84. Analisis data yang digunakan yaitu uji normalitas, uji linearitas dan uji korelasi koefisien. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman konsep konfigurasi elektron siswa kelas XI SMA Negeri 1 Loceret tergolong cukup dengan nilai rata-rata 72. Tingkat pemahaman sifat periodik unsur tergolong cukup dengan nilai rata-rata sebesar 73,2. Nilai rxy sebesar 0,417 pada taraf signifikansi 0,05, nilai positif menunjukkan terdapat hubungan yang cukup signifikan antara pemahaman konsep konfigurasi elektron terhadap pemahaman sifat periodik unsur siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Loceret sehingga konsep konfigurasi elektron harus diajarkan terlebih dahulu dibandingkan sifat periodik unsur. Hal ini menunjukkan pemahaman konsep konfigurasi elektron mempengaruh terhadap pemahaman sifat periodik unsur.

Pengembangan multimedia interaktif pelajaran aksara Jawa untuk siswa kelas III semester II di SDI Ma'arif Kota Blitar / Akhmad Fauzi

 

Kata Kunci : Pengembangan, Multimedia interaktif, Bahasa jawa Multimedia interaktif merupakan salah satu media pembelajaran yang saat ini banyak digunakan dalam proses belajara-mengajar. Multimedia pada dasarnya merupakan perpaduan dua atau lebih media yang terintregasi. Dapat disajikan dengan perpaduan gambar, tulisan dan suara. Dalam pemanfaatanya yang menggunakan Komputer menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa-siswi untuk mempelajari aksara jawa. Berdasarkan observasi di SDI ma’arif Kota Blitar, dalam matapelajaran bahasa jawa guru hanya menggunakan metode ceramah dengan sesekali menggunakan papan tulis untuk menyampaikan materi. Ini bisa membuat persepsi antar siswa satu dengan yang lain berbeda-beda, karena materi yang disampaikan kurang mendetail. Adapun dengan media buku teks, siswa belum bisa memahami sepenuhnya materi dengan kemampuan tertinggi yaitu menyalin huruf jawa kedalam huruf latin. Cara penulisan atau gerak penulisan aksara jawa yang rumit membutuhkan visualisasi gerak untuk disampaikan dalam pembelajaran. Untuk itu dalam pembelajaran ini memerlukan multimedia interaktif ini, karena dengan menggunakan multimedia interaktif berbasis komputer ini bisa menimbulkan daya tarik siswa terhadap pengenalan aksara jawa sehingga pemahaman siswa terhadap aksara jawa bisa menjadi maksimal dan tujuan pembelajaran pun dapat tercapai. . Pengembangan ini bertujuan mengembangkan produk sajian dalam bentuk multimedia interaktif pembelajaran, yang didalamnya terdapat spesifikasi gambar, teks, suara, dan visualisasi gerak. Sedangkan materi yang tertuang dalam multimedia interaktif pembelajaran ini adalah materi tentang aksara Jawa dasar pada mata pelajaran bahasa Jawa kelas III semester II di SDI Ma’arif Kota Blitar. Multimedia interaktif ini dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan Sadiman yang terdiri dari 9 langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis yang tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi, (9) produk siap dimanfaatkan. Pengembangan yang dilaksanakan di kelas III di SDI Ma’arif Kota Blitar ini, pengambilan datanya meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens, serta pre-test dan post-test untuk subyek penelitian. Hasil pengembangan multimedia interaktif pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Jawa untuk kelas III di SDI Ma’arif ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 85%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 65%, dan uji responden (siswa) Uji satu lawan satu mencapai tingkat kevalidan 81,25%,uji kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 90%, uji lapangan mencapai tingkat kevalidan 88,6%. ii Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif pembelajaran aksara Jawa untuk siswa kelas III Semester 2 di SDI Ma’arif, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya produk multimedia interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media variasi pada penyampaian mata pelajaran, dan dapat dijadikan media pembelajaran individual bagi siswa.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi di SMK PGRI 6 Malang / Dewi Sri Wahyuni

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model Two Stay Two Stray (TS-TS), Hasil belajar Berdasarkan hasil observasi, metode pembelajaran yang diterapkan di SMK PGRI 6 Malang selama ini adalah metode konvensional melalui ceramah dan tanya jawab. Dengan metode itu menyebabkan siswa menjadi pasif dan kurang mandiri dalam belajar. Oleh karena itu perlu adanya sebuah pembaharuan pembelajaran untuk mengubah paradigma tersebut yaitu dengan penerapan pembelajaran kooperatif sehingga suasana belajar lebih kondusif dan tidak monoton. Pembelajaran kooperatif mengarahkan siswa untuk belajar hidup bermasyarakat. Karena dalam pembelajaran kooperatif secara tidak langsung siswa dihadapkan pada kondisi-kondisi yang menggambarkan kehidupan di masyarakat, diantaranya melalui diskusi kelompok. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tidakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi di SMK PGRI 6 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, catatan lapangan, dan angket belajar afektif siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Berdasarkan hasil dari penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan nilai kognitif, afektif, dan psikomotor dari siklus I ke siklus II. Ranah kognitif meningkat dari 65,85% menjadi 87,80%. Ranah afektif menunjukkan adanya peningkatan sebesar 73,17% menjadi 87,80%. Ranah Psikomotor meningkat dari 69,30% menjadi 88%. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TS-TS) pada pengajaran mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lainnya di tempat yang berbeda untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran, hendaknya memakai media atau kartu nomor yang dipakai siswa pada lengan kanan atau dada agar memudahkan penelili atau observer dalam mengamati aktivitas belajar siswa, dan dalam penelitian hendaknya satu kelompok diamati oleh satu observer agar data yang dianggap penting tidak terlewati.

Penerapan model pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita siswa kelas III SDN Toyomarto 01 Singosari Kabupaten Malang / Rahmawati

 

Kata Kunci : Model Think Pair Share (TPS), Menulis cerita, SD Siswa Sekolah Dasar (SD), khususnya siswa kelas III diharapkan dapat memiliki keterampilan menulis cerita dengan ejaan yang benar. Berdasarkan hasil penelitian awal tentang keterampilan siswa siswa kelas III SDN Toyomarto 01 dalam menulis cerita sangat rendah. Hal ini disebabkan karena guru kurang menerapkan metode, strategi dan model pembelajaran yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Think Pair Share dalam menulis cerita mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas III SDN Toyomarto 01 Singosari Kabupaten Malang, (2) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan keterampilan menulis cerita dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas III SDN Toyomarto 01 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Toyomarto 01 Singosari yang berjumlah 32 siswa, dengan rincian laki-laki 16 anak dan perempuan 16 anak. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pedoman observasi, soal tes, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan menulis cerita siswa melalui penerapan model pembelajaran Think Pair Share pada siswa kelas III SDN Toyomarto 01 Singosari mengalami peningkatan. Pada siklus I pertemuan 1 mencapai rata-rata 66 Nilai tersebut masuk dalam kategori ‘Cukup” atau “C” dengan kriteria ketuntasan dapat dikatakan “Tuntas”. Sebanyak 20 siswa dari 32 siswa yang mengalami ketuntasan belajar, sedangkan 12 siswa belum mencapai ketuntasan belajar, pada pertemuan 2 rata-rata nilai kelas III naik menjadi 69. Nilai tersebut masuk dalam kategori ‘Cukup” atau “C” dengan kriteria ketuntasan dapat dikatakan “Tuntas”. Sebanyak 23 siswa dari 32 siswa yang mengalami ketuntasan belajar, sedangkan 9 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus II rata-rata nilai keterampilan menulis cerita meningkat menjadi 73. Nilai tersebut masuk dalam kategori “B” dengan kriteria ketuntasan dapat dikatakan “Tuntas”. Sebanyak 28 siswa dari 32 siswa yang mengalami ketuntasan belajar, sedangkan 4 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah ditentukan oleh SDN Toyomarto 01 Singosari adalah 65. Ini berarti sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditentukan. Pada penelitian ini nilai rata-rata siswa mencapai 73, ini berarti secara klasikal telah mengalami peningkatan keterampilan menulis cerita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan keterampilan menulis cerita di SDN Toyomarto 01 Singosari. Keterampilan siswa dalam menulis cerita mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan sampai siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian juga dapat disarankan agar penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik, yaitu dengan memperbaiki kekurangan yang ada dalam penerapan model pembelajaran Think Pair Share.

Hubungan antara kemampuan beraksara dengan keberdayaan diri warga belajar program keaksaraan tingkat dasar Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Wiesky Aryo Wibowo

 

Kata Kunci : kemampuan beraksara, keberdayaan diri, Desa Karangduren Kemampuan beraksara dalam masyarakat di anggap mempunyai peranan yang penting guna pembangunan suatu daerah. Hal ini karena kemampuan beraksara yang meliputi membaca, menulis, dan berhitung bukan sekedar kemampuan mekanis semata, tetapi juga merupakan kemampuan intelektual yang dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan nilai-nilai dan sikap, serta mengembangkan keterampilan dan perilaku orang atau masyarakat yang menguasainya. Dengan kemampuan beraksara seorang dan masyarakat akan memiliki tingkat keberdayaan yang lebih baik dari mereka yang masih buta aksara. Keberdayaan adalah suatu kondisi dimana masyarakat mampu memandirikan dirinya, melalui perwujutan yang nyata dengan potensi yang ada dalam dirinya sendiri dan berdasarkan kemampuan yang mereka miliki, dalam penelitian ini keberdayaan adalah kemampuan seseorang dalam mendapatkan informasi, rasa kepercayaan diri, dan mengutarakan pendapat. Rancangan penelitian ini berupa penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui tingkat hubungan antara kemampuan beraksara yang meliputi kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dengan tingkat keberdayaan yang meliputi mendapatkan informasi, percaya diri, dan mengutarakan pendapat pada warga belajar program keaksaraan fungsional di Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang dengan jumlah populasi keseluruhan yaitu 100 orang warga belajar. Untuk penentuan pengambilan sampel digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, sedangkan cara untuk menentukan jumlah sampel peneliti mengambil berdasarkan tabel sampel random dengan taraf kepercayaan 95%, maka dengan dasar pemikiran tersebut terpilih 80 orang warga belajar yang akan menjadi reponden penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang di teliti. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: (1) Praktek sehari-hari dalam penggunaaan kemampuan beraksara agar terus ditingkatkan agar kemampuan tersebut dapat berkembang dan tidak hilang begitu saja, (2) Desa Karangduren sebagai sebagai penentu kebijakan harus bisa memberikan kebijakan yang mendukung dan memfasilitasi agar dalam menuju masyarakat yang bebas buta aksara dapat terlaksana dengan baik, (3) sebagai lembaga pendidikan yang bergerak dibidang nonformal, diharapkan jurusan Pendidikan Luar Sekolah bisa memberikan layanan dan pendampingan terhadap pendidikan nonformal khususnya layanan dalam penuntasan buta aksara, (4) Dinas Pendidikan Kabupaten Malang sebagai pengayom dan lembaga pelaksana dilapangan agar dapat mendukung dan lebih giat dalam memberikan sosialisasi tentang program-program non formal.

Kualitas prasarana, sarana dan pengelolaan ruang praktik busana Sekolah Menengah Kejuruan di Propinsi Bali / Made Diah Angendari

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Haris A. Syafrudie, M.Pd., Pembimbing II: Dr. H. Subandi, M.Si. Kata kunci: Sarana, Prasarana, Pengelolaan, Ruang Praktik Busana Sekolah Menengah Kejuruan selayaknya mempunyai ruang praktik busana yang memiliki kualitas prasarana, sarana dan pengelolaan yang memenuhi standar nasional sesuai dengan Permendiknas No 40 tahun 2008. Selama ini belum ada penelitian yang telah mengungkap kualitas prasarana, sarana, dan pengelolaan ruang praktik busana khususnya di Propinsi Bali. Padahal data tersebut sangat penting untuk menentukan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas ruang praktik, sehingga mampu menopang jenis-jenis pembelajaran yang memerlukan prasarana, sarana, prosedur pengelolaan ruang praktik busana. Apalagi dalam Program keahlian Busana lebih banyak mata pelajaran praktik, di mana 65-58% terdiri dari mata pelajaran produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kualitas prasarana ruang praktik busana SMK di Propinsi Bali, (2) kualitas sarana ruang praktik busana SMK di Propinsi Bali, (3) kualitas pengelolaan ruang praktik busana SMK di Propinsi Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan obyek semua SMK yang memiliki program Keahlian Tata Busana di Propinsi Bali yang berjumlah 6 SMK. Instrumen penelitian yang digunakan berupa (1) lembar observasi, dengan 60 butir pertanyaan, dan setelah diuji coba hanya 57 butir pertanyaan yang valid dengan realibilitas 0,94, dan (2) kamera untuk mendokumentasikan prasarana, sarana, dan bukti pengelolaan. Butir pertanyaan tersebut diadopsi dari Permendiknas no 40 tahun 2008 tentang standar prasarana, sarana dan pengelolaan ruang praktik SMK dan berisi tentang kualitas prasarana (18), kualitas sarana (20) dan kualitas pengelolaan (19). Data penelitian yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh Permendiknas no 40 tahun 2008 dan dianalisis statistik deskriptif untuk menentukan kategori kualitas yaitu, sangat kurang baik, kurang baik, cukup baik, baik, dan sangat baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kualitas prasarana ruang praktik busana Sekolah Menengah Kejuruan di Propinsi Bali adalah sangat baik yang ditunjukkan oleh skor guru tentang kualitas prasarana ruang praktik busana dengan mean 15,33 dari skor ideal 18,00 dan standar deviasi 1,63, sementara skor siswa dengan mean 15,14 dari skor ideal 18,00 dan standar deviasi 2,38, (2) kualitas sarana ruang praktik busana Sekolah Menengah Kejuruan di Propinsi Bali adalah baik yang ditunjukkan oleh skor guru dengan mean 13,30 dari skor ideal 20,00 dan standar deviasi 3,89, sementara skor siswa dengan mean 14,37 dari skor ideal 20,00 dan standar deviasi 2,97, (3) kualitas pengelolaan ruang praktik busana Sekolah Menengah Kejuruan di Propinsi Bali adalah sangat baik. yang ditunjukkan oleh skor guru dengan mean 16,57 dari skor ideal 19,00 dan standar deviasi 2,78, sementara skor siswa dengan mean 16,00 dari skor ideal 19,00 dan standar deviasi 2,97.

Purple yam sagnarelli yang disubstitusi tepung uwi wungu dengan persentase berbeda / Batsyeba Festi Maharani

 

Kata Kunci : Purple yam, sagnarelli, tepung uwi ungu Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yaitu membuat purple yam sagnarelli dengan subtitusi tepung uwi ungu dengan persentase berbeda. Penggunaan tepung uwi ungu bertujuan untuk mengetahui sifat organoleptik dan tingkat kesukaan yang meliputi warna dan tekstur purple yam sagnarelli tersebut. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Sidik Ragam, apabila ada perbedaan nyata dilanjutkan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada taraf 5% terhadap warna purple yam sagnarelli, perbedaan yang signifikan pada taraf 1% terhadap tektur purple yam sagnarelli dengan subtitusi tepung uwi ungu sebanyak 15%, 30%, dan 45%. Hasil uji mutu hedonik purple yam sagnarelli dengan subtitusi tepung uwi ungu sebanyak 45% menghasilkan tekstur yang agak kenyal, sedangkan purple yam sagnarelli dengan subtitusi tepung uwi ungu sebanyak 15% menghasilkan purple yam sagnarelli dengan warna yang cerah. Hasil uji hedonik purple yam sagnarelli dengan subtitusi tepung uwi ungu menunjukkan semakin besar penggunaan tepung uwi ungu maka panelis semakin banyak menyukai warna purple yam sagnarelli dan semakin sedikit jumlah tepung uwi ungu yang digunakan dalam pembuatan purple yam sagnarelli maka panelis semakin menyukai tekstur purple yam sagnarelli. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin besar subtitusi tepung uwi ungu pada purple yam sagnarelli maka kecerahan warna yang dihasilkan semakin gelap dan tekstur semakin tidak kenyal. Sebaliknya semakin sedikit subtitusi tepung uwi ungu kecerahan warna yang dihasilkan semakin cerah dan tekstur semakin kenyal. Sedangkan uji hedonik menunjukkan bahwa warna purple yam sagnarelli dengan subtitusi 45% yang disukai dan tekstur purple yam sagnarelli dengan subtitusi 15% yang disukai. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu perlu diteliti mengenai pengemasan dan masa simpan purple yam sagnarelli serta produk inovasi dari uwi ungu.

Pembuatan burger bun dari tepung ubi jalar / Rika Frismania

 

Pembuatan tortilla berbahan dasar labu kuning / Dwi Lulut Nur Fatima

 

Kata Kunci: Labu Kuning, Tortilla, Tortilla Labu Kuning. Labu kuning merupakan jenis tanaman menjalar dari golongan cucurbicacea, yang pada umumnya diolah sebagai sayur, dodol dan manisan. Labu kuning juga mengandung banyak ß-karoten, selain itu labu kuning juga memiliki pati yang hampir sama dengan jagung sehingga labu kuning juga berpotensial diolah sebagai tortilla. Tortilla merupakan salah satu makanan ringan yang pada umumnya terbuat dari jagung, dan rasanya gurih. Tortilla banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat. Inovasi produk olahan labu kuning sebagai tortilla ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis labu kuning di masyarakat. Labu kuning yang digunakan sebagai bahan pembuatan tortilla yaitu labu kuning lokal jenis bokor. Uji coba resep dilakukan empat kali uji coba untuk mendapatkan produk yang baik. Formulasi awal yang digunakan adalah resep dasar tortilla dengan mengganti bahan dasar, yang awalnya menggunakan 100 g jagung diganti dengan 100 g labu kuning. Formulasi resep yang kedua menambahkan jintan dan mengganti teknik pengeringan dengan menggunakan mesin pengering dan menghilangkan proses nixtamal. Formulasi yang ketiga menambahkan jagung giling ampok (Bahasa Jawa) dan mengganti proses pematangan dengan cara dioven. Formulasi yang keempat mengganti ampok dengan tepung terigu dan tepung tapioka. Setelah uji coba resep, dilakukan uji kesukan produk kepada responden, dalam hal ini responden yang digunakan untuk menguji adalah masyarakat umum. Uji coba ini bertujuan untuk mengetahui kesukaan responden terhadap produk tortilla labu kuning. Formulasi resep keempat tidak bisa dijadikan sebagai resep tortilla, tetapi resep tersebut merupakan resep dari kripik simulasi labu kuning. Produk yang dihasilkan memiliki tekstur agak keras, warna kuning dan memiliki rasa gurih. Hasil uji kesukaan menunjukkan 73,33% responden suka terhadap tekstur kripik simulasi, 77,78% suka akan warna kripik simulasi dan 76,67% suka terhadap rasa kripik simulasi. Saran untuk uji coba selanjutnya perlu dilakukan uji coba pembuatan tortilla dengan cara labu kuning dimatangkan terlebih dahulu, produk kripik simulasi labu kuning dapat dijadikan sebagai peluang berwirausaha, sebagai tambahan variasi produk olahan dari labu kuning dan dapat dijadikan sebagai pengetahuan untuk materi mata kuliah Teknologi Pengolahan Makanan industri.

Analisis kesalahan siswa kelas XI MAN Malang 1 dalam menyelesaikan soal peluang dengan menggunakan metode newman / Siti Aisyah

 

Aisyah, Siti.2014. Analisis Kesalahan Siswa Kelas XI MAN MALANG I dalam Menyelesaikan Soal Peluang Menggunakan Metode Newman.Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing Drs. Askury, M.Pd. Kata Kunci: Analisis Kesalahan Siswa, Metode Newman      Dalam belajar matematika kesulitan yang dialami siswa yaitu pada saat mengerjakan soal cerita. Hal ini terjadi karena siswa kesulitan dalam memahami makna dari soal cerita tersebut. Siswa yang mengalami kesulitan tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah dengan baik, sehingga siswa melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal. Untuk mengidentifikasi kesalahan siswa digunakan analisis kesalahan yang dilakukan siswa. Analisis tersebut diharapkan dapat mengetahui letak kesalahan siswa dalam mengerjakan soal cerita. Salah satu metode unutuk menganalisis kesalahan siswa adalah metode analisis kesalahan Newman.     Metode Newman merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Metode ini diperkenalkan oleh Anne Newman pada tahun 1977 dengan mencakup 5 aspek yaitu: (1) membaca masalah (reading), (2) pemahaman (comprehension), (3) tranformasi (transformation), (4) keterampilan proses (process skill), (5) Penulisan jawaban akhir (encoding).     Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pada tahap mana dalam Analisis Kesalahan Newman siswa melakukan kesalahan , penyebab siswa melakukan kesalahan tersebut, dan solusi apa yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI MAN Malang 1 tahun ajaran 2013/2014.     Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa sebanyak 4, 93% siswa melakukan kesalahan membaca, 46, 62% siswa melakukan kesalahan pemahaman Soal, 37, 62% kesalahan dalam mentransformasi ke bentuk kalimat matematika, 31, 82% siswa melakukan kesalahan Ketrampilan Proses, dan 14, 06% siswa melakukan kesalahan Penulisan Jawaban Akhir. Dari analisis data juga diperoleh faktor penyebab kesalahan siswa yaitu tidak bisa menyusun makna kata yang dipikirkan kedalam bentuk kalimat matematika, kurang teliti, lupa, kurang latihan mengerjakan soal-soal bentuk cerita dengan yang bervariasi, dan kurang memahami soal.

Hubungan panjang tungkai, kekuatan otot tungkai dan tinggi badan terhadap tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan / Fathol Bari

 

Kata Kunci: Panjang Tungkai, Kekuatan Otot Tungkai, Tinggi Badan dan Tendangan Longpass Pada Tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan banyak terlihat untuk melakukan operan jarak jauh (Tendangan Longpass) sangat sulit dilakukan apalagi yang belum menguasai teknik menendang dengan benar. Kebanyakan anak-anak apabila melakukan operan jarak jauh (Tendangan Longpass) sangat sulit kalau tidak mencapai sasaran pasti bola tidak jauh. Tendangan Longpass (Operan jarak jauh) sebagai salah satu teknik dasar dalam permainan sepakbola yang dilakukan dengan cara menendang bola ke sasaran yang telah ditentukan, harus dikuasai oleh seorang pemain, karena keterampilan tersebut membantu dalam membangun serangan ke arah pertahanan lawan dan sekaligus menciptakan peluang untuk terjadinya gol. Tujuan diadakan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui hubungan antara panjang tungkai dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. (2) Untuk mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. (3) Untuk mengetahui hubungan antara tinggi badan dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. (4) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara panjang tungkai dan tinggi badan dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Rancangan penelitian yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara panjang tungkai, kekuatan otot tungkai dan tinggi badan dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan ini dirancang menggunakan penelitian kuantitatif. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh anggota tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan pada periode 2011 yang berjumlah 38 orang. Sementara yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 orang, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunkan analisis statistik dengan metode regresi linier berganda (multiple regression), uji F dan Uji t. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa (1) Ada hubungan antara panjang tungkai dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan secara signifikan dengan memiliki hubungan yang lemah. (2) Ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan secara signifikan dengan memiliki hubungan yang lemah (3) Ada hubungan antara tinggi badan dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan secara signifikan dengan memiliki hubungan yang lemah. (4) Ada hubungan antara panjang tungkai, tinggi badan dengan jauhnya tendangan longpass di tim sepakbola Singanala Putra Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan secara signifikan dengan memiliki hubungan yang lemah. Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut : (1) Panjang tungkai, kekuatan otot tungkai dan tinggi badan dalam permaian sepak bola berhubungan dengan jauhya tendangan longpass sehingga komponen tersebut tidak boleh dikesampingkan dalam membina permainan sepak bola, (2) Dalam penyusunan program latihan sepak bola melakukan tendangan, hendaknya seorang pelatih perlu memperhatikan faktor fisik yang berhubungan dengan peningkatan prestasinya. (3) Bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan variabel yang lebih banyak yang berhubungan dengan jauhnya tendangan longpass (4) Hasil penelitian masih aktual sehingga diperlukan untuk mengkaji lebih lanjut faktor-faktor lain yang termasuk dalam penelitian ini.

Hubungan peran agen perubahan, komunikasi empatik, dan kredibilitas pengelola dengan keberhasilan pendidikan kecakapan hidup pada lembaga kursus dan pelatihan di Jawa Timur / Didik Tri Yuswanto

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (III) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd. Kata kunci: peran agen perubahan, komunikasi empatik, kredibilitas, keberhasilan pendidikan kecakapan hidup (PKH) Pada tahun 2002, pemerintah telah mencanangkan inovasi di bidang pendidikan yang disebut dengan life skills atau pendidikan kecakapan hidup (PKH). Untuk menunjang implementasi PKH melalui jalur PNF, sejak tahun 2003 pemerintah telah memberikan dana bantuan sosial (blockgrant) kepada lembaga penyelenggara PKH-PNF, dan salah satunya adalah Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). Sebagai inovasi, keberhasilan PKH berhubungan erat dengan peran agen perubahan. Dalam penyelenggaraan PKH oleh LKP, yang diharapkan berperan sebagai agen perubahan adalah pengelola LKP. Secara teoretis, keberhasilan peran agen perubahan berhubungan erat dengan komunikasi empatik dan kredibilitasnya di hadapan warga belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan antara peran agen perubahan, komunikasi empatik, dan kredibilitas pengelola LKP dengan keberhasilan PKH yang diselenggarakan oleh LKP di Jawa Timur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah 1.503 orang warga belajar PKH yang diselenggarakan oleh LKP di Jawa Timur. Jumlah sampel sebanyak 176 orang yang ditentukan dengan formula Cohen (Tabel 9.4.2) dan teknik proportional random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Teknik analisis data menggunakan statistik analisis deskriptif dan inferensial. Statistik inferensial menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan bantuan program Analysis of Moment Structures (AMOS) versi 4,0. Hasil analisis deskriptif menggambarkan bahwa peran agen perubahan, komunikasi empatik, dan kredibilitas pengelola LKP dalam kategori cukup. Demikian pula dengan keberhasilan PKH dalam kategori cukup. Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan langsung antara komunikasi empatik dengan peran agen perubahan pengelola LKP di Jawa Timur; (2) terdapat hubungan langsung antara kredibilitas dengan peran agen perubahan pengelola LKP di Jawa Timur; (3) terdapat hubungan langsung antara kredibilitas dengan komunikasi empatik pengelola LKP di Jawa Timur; (4) terdapat hubungan langsung antara peran agen perubahan pengelola dengan keberhasilan PKH yang diselenggarakan LKP di Jawa Timur; (5) terdapat hubungan langsung antara komunikasi empatik pengelola dengan keberhasilan PKH yang diselenggarakan LKP di Jawa Timur; (6) terdapat hubungan langsung antara kredibilitas pengelola dengan keberhasilan PKH yang diselenggarakan LKP di Jawa Timur; (7) terdapat hubungan tidak langsung antara komunikasi empatik pengelola dengan keberhasilan PKH yang diselenggarakan LKP di Jawa Timur melalui peran agen perubahan; (8) terdapat hubungan tidak langsung antara kredibilitas pengelola dengan keberhasilan PKH yang diselenggarakan LKP di Jawa Timur melalui peran agen perubahan; dan (9) terdapat kecocokan antara model struktural (model teoretis) yang dibangun dengan data empirik. Berdasarkan analisis pengaruh langsung diketahui bahwa kredibilitas pengelola LKP memiliki pengaruh paling besar terhadap keberhasilan PKH yang diselenggarakan oleh LKP di Jawa Timur, baru kemudian diikuti oleh peran agen perubahan dan komunikasi empatik. Berdasarkan analisis pengaruh tidak langsung diketahui bahwa pengaruh kredibilitas pengelola LKP terhadap keberhasilan PKH yang diselenggarakan oleh LKP di Jawa Timur melalui peran agen perubahan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan pengaruh komunikasi empatik terhadap keberhasilan PKH yang diselenggarakan oleh LKP di Jawa Timur melalui peran agen perubahan. Berdasarkan temuan penelitian ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: (1) kepada para pengelola LKP agar lebih meningkatkan: pemahaman tentang perannya sebagai agen perubahan; penguasaannya tentang teknik-teknik komunikasi, khususnya teknik komunikasi empatik; dan berusaha meningkatkan kredibilitasnya, antara lain dengan cara meningkatkan kompetensi, sikap, tujuan, kepribadian, dan dinamikanya; (2) kepada pimpinan LKP agar merancang dan memfasilitasi terlaksananya program peningkatan kompetensi para pengelola LKP, dan merencanakan dengan cermat tindak lanjut pembelajaran PKH; (3) kepada jajaran Pembina LKP (Dinas Pendidikan, Jajaran Pendidikan Nonformal Kemdiknas di semua tingkatan, Pengurus HIPKI, Pengurus HISPPI) agar merancang program peningkatan kompetensi teknis para pengelola LKP, merancang program peningkatan kemampuan manajemen pengelola LKP, dan melaksanakan bimbingan secara lebih intensif; (4) kepada Pengambil Kebijakan Pendidikan Nonformal agar memperhatikan masalah manajemen program PNF; (5) kepada Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen PAUDNI Kemdiknas agar memasukkan kredibilitas ke dalam indikator penilaian kinerja LKP dan penilaian terhadap usulan dana blockgrant PKH-LKP, meningkatkan anggaran untuk program-program PKH khusus bagi LKP secara berkelanjutan maupun program peningkatan kompetensi para pengelola LKP, serta melaksanakan supervisi, monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program PKH yang diselenggarakan oleh LKP secara lebih intensif, dan (6) kepada para peneliti yang berminat meneliti tentang keberhasilan PKH oleh LKP agar melakukan penelitian tentang PKH dengan menggunakan pendekatan ataupun variabel yang lebih luas.

The teaching of English in acceleration class grade X at SMA Negeri 3 Malang / Nila Silviana

 

Key words: the teaching of English, acceleration class, senior high school Based on the Government Regulation No. 19/2005 on Standard of National Education article 7 verse 7, English is taught as a compulsory subject in junior and senior high schools. The curriculum being implemented is the School-Based Curriculum (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP). In this curriculum, though the basic line is set by the government, the development and arrangement of the curriculum are managed by the schools themselves to meet the students' needs and interest. The society's concern nowadays is to ensure not only the quality of the education their children obtain but also the time spent to finish the study. Therefore, the idea of having acceleration opportunities in education attracts people very much. Besides that, the government also allows schools to provide acceleration opportunities for gifted students. However, not so many schools have been successful in implementing the acceleration class program, especially in Malang. SMA Negeri 3 Malang, which is a Pioneering International Standardized School (Rintisan Sekolah Bertaraf International/RSBI) that is currently accredited as the 6th best public senior high school in Indonesia, has implemented the acceleration class program since 2004. Therefore, it is interesting to investigate the teaching of English in the acceleration class at this school. This research is intended to investigate the teaching of English in the acceleration class grade X at SMA Negeri 3 Malang to describe (1) the syllabus used in the acceleration class, (2) the lesson plans used in the acceleration class, (3) the teaching techniques implemented in the acceleration class, (4) the teaching materials used in the acceleration class, and (5) the teaching media used in the acceleration class. This study employed a descriptive qualitative design. The subjects of this study were the English teacher of the acceleration class and 14 students of the acceleration class. The instruments used to collect the data were observation sheet, field note, interview guide, questionnaire, documentation, and cell phone. All the data gained from the instruments were collected and analyzed qualitatively, in which the researcher explained the data in a descriptive explanation. The findings of this study were as follows. First, the English syllabus used for the acceleration class was the syllabus used for the regular classes, without any revision of any of the components. Second, the English teacher only made lesson plans when there were observers in her class. Since the researcher was to observe her class, the teacher made the lesson plans. The lesson plans she made fulfilled the criteria of a good lesson plan. Third, the teaching techniques used by the English teacher were pair works, group discussions, games, and role play. Fourth, the instructional materials used by the English teacher are mostly worksheets which she developed by herself from many sources and workbook (LKS). Lastly, the media mostly used by the teacher were her laptop, speakers, and the LCD projectors in the classrooms. Based on the result of the study, the teacher is suggested to always develop a special syllabus for the acceleration class in order to avoid any condition which may hamper the teaching and learning process, develop her lesson plans before teaching, vary her teaching techniques, use more varied materials such as authentic materials, use more kinds of instructional media which are suitable for the students and the teaching-learning process in the acceleration class.

Upaya guru dalam mengelola kelas pada pelaksanaan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMP Negeri 13 Malang / Khristyan Arie Yuwoko

 

Kata kunci: Pengelolaan Kelas, Pembelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan. Pada proses belajar Pendidikan Kewarganegaraan terjadi aktifitas pembelajaran dimana peran guru sangat penting. Guru dan siswa berinteraksi dan berpadu dalam menciptakan suasana belajar yang efektif. Guru memotifasi siswa agar belajar dengan baik. Untuk itu, kelas harus dikelola secara profesional agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana kondisi belajar Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 13 Malang, (2) bagaimana upaya guru dalam mengelola kelas di SMP Negeri 13 Malang pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, (3) apa saja hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam mengelola kelas pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 13 Malang, (4) apa upaya-upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan dalam mengelola kelas pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 13 Malang. Dengan tujuan penelitian ingin memperoleh informasi tentang : (1) keinginan peneliti untuk mengadakan penelitian tentang upaya guru dalam mengelola kelas, (2) mengetahui kondisi pengelolaan kelas di SMP Negeri 13 Malang. Sedangkan penelitian ini difokuskan pada upaya guru dalam mengelola kelas pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 13 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, dengan alasan peneliti tidak melakukan hipotesis. Subyek penelitian ini adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan, dan sebagian siswa SMP Negeri 13 Malang untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi mendalam, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang, ketekunan pengamatan, triangulasi. Berdasarkan hasil penelitian “Upaya Guru dalam Mengelola Kelas pada Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 13 Malang” dapat dikatakan baik. Hal ini terlihat dari usaha guru dalam mengatur kegiatan belajar dan mengajar, sehingga terwujud suasana yang efektif dan menyenangkan serta memotivasi siswa untuk belajar dengan baik. Faktor yang menghambat guru dalam mengelola kelas pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah masalah siswa dan fasilitas. Masalah siswa yaitu kekurang sadaran siswa dalam memenuhi tugas dan haknya di kelas/ di sekolah. Sedangkan masalah fasilitas adalah minimnya alat peraga sebagai media dalam pembelajaran. Cara mengatasi masalah tersebut adalah guru memberikan penjelasan dan kesadaran pada siswa tentang hak kewajiban dan keharusan menghormati orang lain yaitu teman sekelasnya. Siswa harus sadar bahwa kalau mengganggu temannya yang sedang belajar berarti tidak melaksanakan kewajiban sebagai masyarakat kelas dan tidak menghormati hak siswa lain untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan belajar dan mengajar. Untuk ketersediaan alat peraga yang belum lengkap, guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat alat-alat sederhana yang dapat digunakan sebagai peraga dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Saran yang diberikan penulis yaitu sebaiknya siswa memperhatikan dan tidak membuat ramai pada saat proses pembelajaran berlangsung, agar suasana pembelajaran dapat diciptakan sedemikian rupa untuk menciptakan kelas sihingga dapat mewujudkan masyarakat belajar. Sekolah hendaknya melengkapi atas kurangnya fasilitas belajar pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan demi terciptanya pembelajaran yang efektif dan efisien. Guru dan siswa seyogyanya dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif yang merupakan salah satu cara terciptanya hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa.

Pengembangan bahan ajar optik geometri berbasis multimedia interaktif dalam bentuk buku digital / Romeo Galistra

 

Kata kunci: Bahan Ajar, Multimedia Pembelajaran Interaktif, Buku Digital Siswa mempelajari optik geometri menggunakan buku, dan kit optik. Media kit optik belum bisa memperlihatkan proses terjadinya bayangan karena jalannya sinar tidak dapat diamati, sedangkan media buku sudah menggambarkan jalannya sinar tetapi siswa tidak dapat mengamati fenomena yang terjadi dan tampilannya tidak menarik. Para pengembang teknologi pembelajaran telah mengembangkan multimedia animasi untuk menutupi kelemahan media buku ataupun kit optik. Multimedia animasi yang berkembang saat ini masih berupa sistem windows panel. Media dengan sistem windows panel seperti powerpoint atau flash sudah mampu menganimasikan berkas sinar dan menampilkan fenomena fisika dengan cukup baik. Media tersebut didukung desain panel interface yang bersifat WYSWYG (What You See What You Get), namun media tersebut belum bisa mengintregasikan fenomena fisika, animasi gambar, dan teks dalam bentuk buku digital (PageFlip). Diperlukan sebuah bahan ajar yang bisa memenuhi kelemahan kit optik, dan buku, serta mampu mengintegrasikan fenomena fisika, animasi gambar, dan teks dalam bentuk buku digital. Pengembangan bahan ajar dalam bentuk buku digital bertujuan untuk memproduksi sebuah bahan ajar dalam bentuk baru yang kemampuannya dapat menutupi kelemahan kit optik dan buku biasa. Untuk mengetahui keefektifan bahan ajar baik secara materi maupun sebagai media pembelajara dan seberapa besar bahan ajar ini meningkatkan hasil belajar siswa, bahan dalam bentuk digital juga divalidasi oleh ahli materi dan ahli media masing–masing satu orang. Bahan ajar ini juga diujicobakan pada siswa pengguna sebanyak 10 orang. Bahan ajar dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 89,3% dan ahli materi 77,5%. Uji coba siswa pengguna menghasilkan tingkat ketertarikan siswa dengan skor 75,5%. Berdasarkan hasil tersebut dinyatakan bahan ajar dalam bentuk buku digital yang dihasilkan valid dan menarik sebagai media pembelajaran Produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah dihasilkan produk bahan ajar optik geometri dalam bentuk buku digital berformat flash dan exe. Bahan ajar yang dikembangkan dapat menutupi kelemahan buku dan kit optik. Kelemahan dari bahan ajar ini adalah belum mempunyai fasilitas zoom dan print disetiap halamannya.

Prototype pencampur warna melalui USB port memanfaatkan powerswitch USB berbasis mikrokontroler at TINY 2313 / Romeo Galistra

 

Using numbered heads together to improve the reading ability of the eight graders of MTs Al-Amin Mojokerto / Shofwan Hadi

 

Keywords: Numbered Heads Together, reading, Classroom Action Research Many junior-high-students find reading hard to master. Based on a preliminary study in MTs Al-Amin Mojokerto, it was identified that eighth graders found it hard to comprehend texts, especially narrative texts. As the result, they had difficulty in answering questions following reading texts. To solve this problem, the researcher proposed Numbered Heads Together (NHT) to be implemented in reading class because many researchers have proven that this technique can effectively help the students comprehend the materials and actively participate in class activities. This study is aimed at helping the eighth graders of MTs Al-amin Mojokerto to improve their reading ability by using Numbered Heads Together in learning reading. This study was classroom action research (CAR). The instruments used to collect the data were reading test (pre-test and post-test), interview guide, field notes, observation checklist and questionnaires. The criteria of success of this CAR was that if more than 80% of the students achieve score equal to or above 70 (Minimum degree of achievement) and more than 80% gave positive responses toward the implementation of NHT. The basic procedure of Numbered Heads Together is as follows. First, students number off within the team. Second, the teacher asks them some questions. Third, students put their heads together or discussed the questions to make sure that everyone on the team knows the answer. Finally, the teacher calls a number at random, and students with that number raise their hands to be called upon to answer the question and earn points for their teams. This study was conducted to the eighth graders of MTs Al-Amin in academic year 2010-2011. The subjects were one class of the grade eight, VIII-B. The class consisted of 25 students. All of them are boys. The finding shows that the students achieved better score after the implementation of NHT technique in reading class. In preliminary study (pre-test), ten (40%) out of 25 students got score below 70, the minimum degree of achievement (Standar Ketercapaian Minimum/SKM). In post test, only one student (4%) out of 25 students achieved score below 70. Besides, in preliminary study, only three out of 25 students were active or gave positive responses toward the teaching reading activities, while in Cycle 1, 20 students were active and 24 (96%) students gave positive response toward the implementation of NHT in reading class. They were interested, motivated, confident, and cooperative with their classmates. In conclusion, the finding of the research shows that the NHT can help the students improve their reading ability and their attitude. Thus the writer suggests that NHT be used in teaching and learning reading in junior high schools.

Pengembangan bahan ajar mata pelajaran perawatan sepeda motor berbasis tabloid otomotif pada siswa kelas X SMK Negeri 1 Wonomerto / Kurniawan Agus Syufianto

 

Kata Kunci: Pengembangan Bahan Ajar,Perawatan Sepeda Motor , Berbasis Tabloid Otomotif. Pengembangan bahan ajar ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar cetak jenis Handout berdasarkan referensi tabloid otomotif dengan mata pelajaran “Perawatan Sepeda Motor” yang materi pembelajaranya disesuaikan dengan kompetensi dasar pada silabus. Handout yang dikembangkan nantinya akan dijadikan salah satu sumber bahan ajar di SMK Negeri 1 Wonomerto guna menciptakan kreativitas belajar mandiri siswa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi model pengembangan Dick & Carey (1987). Pengembangan model Dick & Carey adalah pengembangan yang bersifat prosedural yang meliputi ; 1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, 2) analisis pembelajaran, 3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik peserta didik, 4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, 8) merancang dan melakukan penilaian formatif, 9) merevisi materi pembelajaran, 10) merancang dan melakukan penilaian sumatif. Sedangkan untuk mengetahui tingkat kevalidan, kelayakan keterpakaian produk yang dihasilkan dilakukan uji kelayakan produk dalam 2 tahap, yaitu tahap uji ahli dan uji kelompok kecil. Data diambil dengan menggunakan angket, kemudian dianalisis menggunakan deskriftif kualitatif dalam bentuk persentase. Hasil pengembangan bahan ajar ini menghasilkan bahan ajar cetak jenis handout yang materi pembelajaranya disesuaikan dengan kompetensi dasar pada silabus. Produk bahan ajar di uji coba melalui dua tahap yaitu : 1) uji coba ahli yang meliputi ahli bidang studi dan ahli pembelajaran, 2) uji coba kelompok kecil. Hasil penilai/tanggapan digunakan untuk merevisi produk sebagai bagian dari proses penyempurnaan produk bahan ajar. Hasil uji coba pada tahap ahli bidang studi memperoleh skor total 83% dengan kreteria valid, sedangkan dari ahli pembelajaran memperoleh skor 83% dengan kreteria valid. Kemudian tahap uji coba kelompok kecil memperoleh skor total 86% dengan kreteria sangat valid, sehingga dari uji coba yang dilakukan handout layak digunakan sebagai sumber belajar di SMK Negeri 1 Wonomerto. Dari serangkaian uji coba dapat diketahui kelebihan dan keterbatasan bahan ajar yang telah dikembangkan. Kelebihannya yaitu 1) bahan ajar dirancang sesuai karakteristik dan kebutuhan siswa, 2) bahan ajar disesuaikan dengan menggunakan prinsip pengetahuan yang bersifat fakta, konsep dan procedural, 3) vi model pengembangan yang disesuaikan adalah Dick & Carey (1987) yang sistematis dan sesuai untuk merancang pembelajaran lebih terarah Sedangkan kelemahan bahan ajar ini adalah disusun berdasarkan karakteristik dan kebutuhan siswa di SMK Negeri 1 Wonomerto pada kompetensi perawatan sepeda motor, sehingga bila bahan ajar digunakan secara luas perlu menyempurnakan atau revisi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pengguna yang luas.

Perbedaan konsentrasi siswa kelas X ditinjau dari kebisingan lingkungan kelas di Madrasah Aliyah Negeri Wlingi / Richa Selfi Andriana

 

Rancangbangun rangkaian magnetik pengukur tebal lapisan dempul permukaan besi menggunakan perubahan induktansi magnetik berbasis mikrokontroler / Syaiful Anwar

 

Kata Kunci: intstrumen, induktansi, mikrokontroler. Besi yang berkualitas adalah tidak keropos, tidak pernah dilas (disambung), tidak pernah ditambal dengan besi lain dan sebagainya. Besi yang digunakan untuk membuat suatu benda akan cenderung dilapisi dengan bahan lain seperti dempul atau cat agar terlihat menarik atau tidak korosif. Setelah terlapisi dempul atau cat secara kasat mata besi tersebut tidak dapat dibedakan antara yang baik dan yang buruk, atas dasar itulah sangat berguna jika ada alat yang mampu mendeteksi tebal lapisan yang melapisi besi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang bangun rangkaian magnetik bersama pengolah sinyal berbasis mikrokontroler ATmega8535 yang dapat mengetahui tebal dempul pada permukaan besi. Rangkaian magnetik yang digunakan adalah jenis induktor, karena dengan memanfaakan nilai induktansi induktor yang berubah ketika didekatkan dengan plat besi atau bahan logam tertentu maka akan diketahui kualitas besi tersebut. Prinsip alat pendeteksi tebal lapisan dempul ini adalah dengan memberikan osilator sinus dengan frekuensi dan tegangan tertentu pada induktor yang diseri dengan resistor. Ketika nilai induktansi induktor berubah maka tegangan jepit antara kaki-kakinya juga mengalami perubahan. Perubahan tegangan jepit ini akan diperkuat agar dapat disearahkan oleh penyearah gelombang, selanjutnya dikuatkan lagi sehingga mencapai nilai tertentu untuk dapat dibaca dan diterjemahkan oleh mikrokontroler. Hasil dari penelitian ini adalah didapatkan perangkat pengukur tebal lapisan dempul permukaan besi dengan kemampuan mendeteksi dari 0mm- 5,9mm dan memiliki ralat relatif ± 27%.

Penerapan model pembelajaran role playing pada mata pelajaran menemukan peluang baru pelanggan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar (studi pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu Malang) / Franu Wijaya

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Role Playing, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan generasi muda bangsa agar mampu untuk menghadapi dan mengatasi segala macam akibat dari adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Pemerintah dalam hal ini selalu memperbaiki kualitas pendidikan melalui UU Sisdiknas Nomor: 20 tahun 2003. Sampai hari ini dan seterusnya upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti, pemerintah selalu mengupayakan agar kualitas pendidikan Indonesia semakin baik. Salah satunya melalui pembenahan di taraf pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk mempersiapkan siswa pada dunia kerja, serta tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, sekolah senantiasa berusaha menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) yang tinggi setiap tahunnya, akan tetapi lulusan yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Untuk mewujudkannya seorang guru dituntut untuk dapat membawa dirinya sebagai pembawa informasi dengan baik. Guru yang kreatif selalu mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton. Dalam memilih model pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran. Pada dasarnya tak ada model pembelajaran yang ampuh, sebab setiap model pembelajaran yang digunakan pasti punya kelebihan atau kelemahan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bisa digunakan berbagai model, sesuai dengan materi yang diajarkan. Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan oleh peneliti, yang menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah masih banyak menggunakan metode ceramah dan kelompok diskusi dalam menyampaikan materi dan memberikan penugasan kepada peserta didik. Kondisi aktivitas dan hasil belajar siswa yang rendah merupakan masalah dalam kelas yang harus segera dipecahkan melalui tindakan nyata. Hal ini membutuhkan strategi agar siswa menjadi aktif di kelas, baik bertanya maupun menjawab pertanyaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, model pembelajaran yang menyenangkan dan memenuhi kriteria untuk meningkatkannya dan mampu mengatasi kepasifan siswa adalah model pembelajaran Role Playing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Role Playing, aktivitas belajar siswa setelah dilaksanakan model pembelajaran Role Playing, hasil belajar siswa pada mata pelajaran menemukan peluang baru pelanggan serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model pembelajaran Role Playing. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X pemasaran SMK Islam Batu yang berjumlah 28 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan analisi data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi, catatan lapangan, wawancara dan dokumentasi. Dengan penerapan model pembelajaran Role Playing pada mata pelajaran menemukan peluang baru pelanggan, Hasil belajar siswa meningkat cukup signifikan terbukti dari hasil nilai pre-test dan post-test pada siklus I dan siklus II. Hasil belajar pada siklus I nilai rata-rata untuk pre-test 64,28 menjadi 72,14 pada siklus II dan post-test dari 71,78 pada siklus I meningkat menjadi 77,14 pada siklus II. Hasil Aktivitas belajar siswa menunjukkan hasil positif dari para siswa kelas X pemasaran SMK Islam Batu, siswa lebih mudah memahami materi karena proses pembelajaran yang aktif dan juga kemampuan belajar siswa untuk mengungkapkan ide dan pendapat terjadi peningkatan dari siklus I dan II. Hal ini ditunjukkan dengan nilai observasi hasil aktivitas yang meningkat dari 74,33% (kategori C) di siklus I menjadi 91,66% (kategori A) pada siklus II. Dari uraian diatas menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran SMK Islam Batu pada mata pelajaran menemukan peluang baru pelanggan sebelum dan setelah pelaksanaan model pembelajaran Role Playing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat diberikan saran yaitu: (1) Guru mata Pelajaran Menemukan Peluang Baru Pelanggan disarankan untuk mulai mencoba menerapkan model pembelajaran Role Playing dalam proses pembelajaran di kelas, dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Akan tetapi perlu juga ditunjang dengan pengelolaan waktu dan penggunaan model pembelajaran lainnya agar siswa tidak lagi kesulitan dalam pelaksanaannya, (2) Perlu adanya pemberian motivasi untuk meningkatkan keberanian dalam mengungkapkan pendapat, aktivitas dan motivasi siswa untuk mencapai peningkatan hasil belajar yang berkelanjutan, (3) Untuk penelitian selanjutnya disarankan dalam pengelolaan waktu harus lebih cermat dan penggunaan media pembelajaran yaitu skenario harus benar-benar diperhatikan demi mencakupi semua materi.

Dampak pelaksanaan sunset policy pajak tahun 2008 di wilayah KPP Pratama Malang Selatan / Intan Megasari Ceisar

 

Kata Kunci: Sunset Policy, Pajak Pajak menjadi penyumbang terbesar dalam APBN hampir 70% dari total penerimaan. Untuk meningkatkan keterbukaan Wajib Pajak, Direktorat Jenderal Pajak melakukan Reformasi Perpajakan yaitu dilakukannya perubahan mendasar di segala aspek perpajakan. Ini dilandasi karena belum semua Wajib Pajak memenuhi kewajiban secara penuh, dilihat dari rendahnya rasio perpajakan, rendahnya keterbukaan perpajakan Wajib Pajak, serta rendahnya kepatuhan sukarela. Dalam rangka reformasi pajak, salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah indonesia untuk mengungkapkan keterbukaan wajib pajak adalah sunset policy. Melalui sunset policy pasal 37 A ayat 2 UU No. 28 tahun 2007, pemerintah memberikan fasilitas berupa penghapusan sanksi bunga atas pajak yang belum dan atau kurang dibayar pada tahun 2007 atau sebelumnya.Fokus penelitian ini adalah melihat bagaimana dampak yang terjadi setelah pelaksanaan sunset policy tersebut diterapkan. Dilihat dari perubahan yang terjadi pada jumlah Wajib Pajak dan penerimaan pajak saat dan setelah sunset policy serta persepsi wajib pajak mengenai sunset policy. Penelitian ini dilakukan di KPP Pratama Malang Selatan selama 2 bulan. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Data penelitian berupa data primer dan sekunder yang diperoleh langsung oleh peneliti di KPP Pratama Malang Selatan. Data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara sedangkan data sekunder berupa data nominal dalam bentuk tertulis yang diperoleh dari pihak KPP Pratama Malang Selatan. Dampak yang terjadi, pertama pada jumlah Wajib Pajak di KPP Pratama Malang Selatan per tahunnya mengalami peningkatan. Surat Pemberitahuan Tahunan yang masuk mengalami peningkatan sebesar 20%. Ini mengindikasikan bahwa kebijakan sunset policy dapat meningkatkan jumlah Wajib Pajak dan sunset policy telah memberi rangsangan yang cukup baik bagi Wajib Pajak. Kedua,dampak sunset policy dilihat dari segi penerimaan pajak di KPP Pratama Malang Selatan pada tahun 2007 hingga 2009 mengalami penurunan. Hal ini tidak dapat dilihat hanya dari sudut pandang searah bahwa sunset policy tidak berpengaruh pada penerimaan pajak. Karena menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat faktor lain yang menyebabkan penurunan tersebut terjadi. Ketiga, persepsi Wajib Pajak mengenai sunset policy adalah baik. Saran yang diberikan kebijakan yang telah diterapkan harus diimbangi dengan kesiapan Direktorat Jenderal Pajak dan pemerintah. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan lingkup secara lebih luas agar diperoleh hasil penelitian yang lebih baik.

Penerapan pembelajaran kolaboratif model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dan problem solving untuk meningkatkan prestasi belajar siswa (studi pada mata pelajaran menata produk di kelas XI PM4 SMKN 1 Malang tahun ajaran 2010/2011) / Dana Permata Dam

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kolaboratif Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) dan Problem Solving (PS), Prestasi Belajar Siswa Upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna memajukan kualitas pendidikan adalah dengan menyempurnakan kurikulum yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini menuntut guru agar tidak selalu menggunakan metode konvensional, tetapi juga menggunakan metode pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk selalu aktif. Kesediaan pendidik untuk mempelajari suatu hal yang baru dalam hal ini metode pembelajaran baru, akan berguna untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran secara maksimal Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Menata Produk menunjukkan bahwa guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional atau guru yang lebih banyak mendominasi proses pembelajaran. Dengan metode ini mayoritas siswa cenderung bosan dan pasif ini karena mereka terbiasa bergantung pada materi yang disampaikan guru. Siswa juga tidak aktif dalam mengikuti pelajaran. Salah satu metode yang dapat dijadikan alternatif dalam meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa adalah model pembelajaran Kolaboratif CIRC dan PS. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan prestasi belajar siswa dalam memahami materi pembelajaran dan memecahkan masalah yang terdapat pada mata pelajaran Komunikasi Bisnis. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan pembelajaran yang dapat memahami materi pembelajaran dengan baik yaitu kolaborasi model CIRC dan PS. Metode ini diterapkan terdiri atas 8 tahap, yaitu pembagian kelompok, pemberian wacana yang sesuai dengan topik pembelajaran, bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok, mencari jawaban sementara pemecahan masalah yang diberikan, mengumpulkan referensi pendukung dari jawaban, mempresentasikan, membuat kesimpulan dan evaluasi. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kolaboratif model CIRC dan PS pada mata pelajaran Menata Produk berjalan dengan lancar, walaupun pada saat pelaksanaan masih terdapat beberapa kekurangan. Selain itu, prestasi belajar siswa juga terjadi peningkatan prestasi belajar. Peningkatan prestasi belajar siswa tersebut dapat dilihat dari antusiasme dan kerjasama siswa dalam belajar kelompok. Di samping itu, siswa tampak aktif, kreatif, dan produktif dalam belajar. Kemampuan siswa dalam memhami materi secara cepat dan tepat pada mata pelajaran Menata Produk juga mengalami peningkatan. Dari 36 orang siswa yang menjadi subyek penelitian, sebanyak 80,55% (29 orang) sudah tuntas belajar. Sebelumnya, siswa yang tuntas di siklus I hanya 17 siswa (47,2%). Nilai rata-rata kelas pada aspek kognitif mengalami kenaikan, yaitu dari 58,2 di siklus I menjadi 79,86 di siklus II. Hal ini berarti terjadi kenaikan sekitar 21,66 yang berarti peningkatan ini cukup signifikan. Sedangkan nilai rata-rata kelas pada aspek afektif juga mengalami kenaikan. Terjadi kenaikan persentase hasil belajar aspek afektif dari siklus I ke siklus II. Di siklus I rata-rata kelas sebesar 70,67 sedangkan di siklus II sebesar 80. Berarti terjadi kenaikan sebesar 9,33. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah agar pihak SMK Negeri 1 Malang tidak hanya memakai metode konvensional dalam pembelajaran sehari-hari, tetapi juga memakai metode kooperatif agar siswa lebih aktif. Berdasarkan kecenderungan peningkatan yang terjadi pada setiap siklus, apabila siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya secara rutin, maka dapat diyakini kemampuannya akan bisa lebih ditingkatkan. Dalam penerapan model pembelajaran tersebut hendaknya guru memperhatikan alokasi waktu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, serta guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas keterampilan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap abnormal return saham sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI / Ananji Wiyastomo

 

Kata Kunci: Abnormal Return Saham, Dividend Payout Ratio, Leverage, Return On Equity (ROE), Price Book Value (PBV), Return On Asset (ROA). Dengan semakin berkembangnya perekonomian dan persaingan bisnis yang ketat, perusahaan akan semakin cenderung untuk berinvestasi di pasar modal. Pasar modal di Indonesia mempunyai perkembangan yang baik, terutama sejak memasuki tahun 1990-an. Oleh karena itu kebutuhan akan analisis perdagangan sekuritas, terutama saham akan semakin dibutuhkan. Analisis fundamental dengan rasio keuangan merupakan suatu cara dalam upaya pemilihan jenis saham yang layak untuk dijadikan lahan investasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental yang diwakili oleh dividend payout ratio, leverage, return on equity (ROE), price book value (PBV), dan return on asset (ROA) terhadap abnormal return saham sebelum dan sesudah stock split baik secara simultan maupun parsial. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional kausalitas untuk mengetahui pengaruh dividend payout ratio, leverage, return on equity (ROE), price book value (PBV), dan return on asset (ROA) terhadap abnormal return saham sebelum dan sesudah stock split. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2003. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu dengan cara mengambil subjek berdasarkan kriteria atau tujuan tertentu. Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini meliputi: perusahaan yang diteliti adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI dan melakukan kebijakan stock split selama tahun 2003 dan telah melaporkan laporan keuangannya serta tidak mengalami kerugian kumulatif yang melebihi ekuitasnya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu laporan keuangan perusahaan sampel, harga saham penutupan (closing price) bulanan, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bulanan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan variabel dividend payout ratio, leverage, return on equity (ROE), price book value (PBV), dan return on asset (ROA) berpengaruh signifikan terhadap abnormal return saham baik pada periode sebelum dan sesudah stock split. Sedangkan secara parsial pada periode sebelum stock split hanya variabel dividend payout ratio yang berpengaruh signifkan positif terhadap abnormal return saham serta variabel price book value (PBV) yang berpengaruh signifikan negatif terhadap abnormal return saham. Pada periode sesudah stock split hanya variabel return on equity (ROE) yang berpengaruh signifikan positif terhadap abnormal return saham serta variabel price book value (PBV) yang berpengaruh signifikan negatif terhadap abnormal return saham. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa variasi nilai variabel abnormal return saham pada periode sebelum stock split yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel bebas adalah sebesar 39,3% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian. Dan variasi nilai variabel abnormal return saham pada periode sesudah stock split yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel bebas adalah sebesar 48,2% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian.

Teori kinetik gas dan penerapannya pada molekul udara / Leberthina Apalem

 

Kata Kunci : Teori kinetik gas, penerapan pada molekul udara. Gas merupakan satu dari tiga wujud zat dan walaupun wujud ini merupakan bagian tak terpisahkan dari studi kimia, pada skripsi ini hanya akan membahas hubungan antara volume, temperatur dan tekanan baik dalam gas ideal maupun dalam gas nyata, dan teori kinetik molekular gas, dan penerapannya pada molekul udara. Bahasan utamanya terutama tentang perubahan fisika, dan reaksi kimianya. Namun, sifat fisik gas bergantung pada struktur molekul gasnya dan sifat kimia gas juga bergantung pada strukturnya. Perilaku gas yang ada sebagai molekul tunggal adalah contoh yang baik kebergantungan sifat makroskopik pada struktur mikroskopik. Gas ideal adalah gas yang secara tepat memenuhi persamaan gas ideal (tiada gas yang benar-benar ideal ). Gas ideal merupakan zat pada tekanan gas( P) pada setiap temperatur terhadap tekanan gas. Pada titik tripelnya ( Ptp), ketika kedua tekanan itu mendekati nol, menghampiri suatu harga yang tidak bergantung pada jenis gas. Teori Kinetik Gas merupakan setiap zat yang terdiri dari atom-atom atau molekul-molekul dan bergerak terus menerus secara sembarangan. Teori kinetik gas didasari atas 3 hukum utama yakni hukum Charles, hukum Boyle dan hukum Gay-Lussac.

Implementasi orangtua asuh sebagai program komite madrasah (studi kasus di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Malang) / Rike Ismoyowati

 

Kata kunci: Komite Madrasah, Orangtua Asuh Fakta yang ada di masyarakat menyatakan bahwa pendidikan belum mampu dirasakan oleh seluruh warga Indonesia. Faktor penyebabnya di antaranya adalah kemiskinan dan bantuan pemerintah yang belum mampu menjangkau kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan. Agar penyelenggaraan lembaga pendidikan bisa maksimal maka keterlibatan semua pihak baik pemerintah, keluarga, swasta dan masyarakat pada umumnya sangat dibutuhkan oleh sekolah. Disinilah terlihat bahwa ide adanya komite madrasah menjadi sebuah solusi yang tepat, dimana terjadi sebuah kolaborasi antar berbagai unsur (masyarakat madrasah, masyarakat umum dan pemerintah) yang menciptakan sebuah sinergi yang kuat dan strategis. Berbagai program kerja komite madrasah diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dari madrasah, tanpa harus menunggu bantuan dari luar untuk menyelesaikan permasalahan itu. Fokus dari penelitian ini adalah bagaimana profil, pengorganisasian, dan pelaksanaan program orangtua asuh di MIN 2 Malang. Tiap fokus penelitian dibagi menjadi sub fokus. Fokus profil dibagi menjadi latar belakang pembentukan program orangtua asuh dan program orangtua asuh MIN 2 Malang. Fokus pengorganisasian dibagi menjadi kepengurusan program orangtua asuh dan peran masing-masing pihak yang terlibat dalam program orangtua asuh. Fokus pelaksanaan program orangtua asuh dibagi menjadi (1) kerja program orangtua asuh, (2) hubungan timbal balik antara pemberi bantuan dan penerima bantuan, dan (3) faktor pendukung dan faktor penghambat program orangtua asuh. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan ini dipilih agar dapat memperoleh data secara alami dan komprehensif mengenai masalah yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument kunci yang merencanakan, melaksanakan, mengumpulkan data, menganalisis, menafsirkan data dan melaporkan hasil penelitian. Data yang diperoleh melalui (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi. Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu saat pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Analisis tersebut melalui langkah-langkah yaitu reduksi data, display data, dan verivikasi data. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah mengadakan pengamatan lebih tekun dan menguji triangulasi. Temuan penelitian ini adalah program orangtua asuh MIN 2 Malang yang merupakan sebuah program komite MIN 2 Malang yang pelaksanaannya bekerjasama dengan MIN 2 Malang. Tujuan program ini adalah untuk mencarikan orangtua asuh sebagai penyumbang dana pendidikan bagi siswa-siswi madrasah yang kesulitan dalam biaya pendidikan. Terbentuknya program ini dilatar belakangi oleh beberapa hal yaitu, masih terbatasnya bantuan yang diberikan oleh pemerintah, banyaknya wali murid yang mengajukan keringanan biaya pendidikan ii kepada madrasah, kepedulian komite madrasah terhadap nasib putra-putri bangsa yang kesulitan biaya untuk menempuh pendidikan. Kepengurusan program orangtua asuh ini di bawah naungan Komite MIN 2 Malang. Pihak-pihak yang ikut berperan dalam program ini meliputi Komite MIN 2 Malang, MIN 2 Malang, orangtua asuh (masyarakat), dan orangtua kandung (masyarakat). MIN 2 Malang memiliki 3 orang anak asuh dan 3 orang orangtua asuh. Siklus penyerahan bantuan dari orangtua asuh kepada anak asuh dilakukan secara sederhana. Pertama, orangtua asuh akan menyerahkan kepada pengurus program orangtua asuh. Langkah selanjutnya pengurus program akan menyerahkannya kepada staff tata usaha MIN 2 Malang untuk segera dibayarkan uang komite anak asuh tersebut. Anak asuh diperoleh dari tindak lanjut pengajuan keringanan wali murid kepada madrasah. Surat pengajuan keringanan yang sudah masuk di madrasah nantinya akan ditindak lanjuti dengan home visit. Aspek yang dilihat oleh madrasah dalam menentukan anak asuh meliputi dua aspek yaitu latar belakang keluarga dan latar belakang perekonomian. Orangtua asuh diperoleh melalui dua cara, yaitu menawari seseorang yang dianggap mampu dan mau untuk menjadi orang tua asuh melalui pendekatan kekeluargaan dan dengan mengajukan proposal kepada lembaga lembaga tertentu yang dipandang mau untuk membantu. Dalam pelaksanaan program terdapat berbagai faktor pendukung dan penghambat. Adapun saran yang dapat diberikan di antaranya: (1) Kepala MIN 2 Malang, diharapkan lebih mendukung kerja dari komite madrasah. Bisa dengan cara menyediakan ruang untuk pengurus komite, sehingga arsip arsip dari komite bisa disimpan di ruangan tersebut, (2) Ketua komite MIN 2 Malang, diharapkan membuat manajemen yang baik dalam setiap melaksanakan program kerja, (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan mengkaji peran komite madrasah yang lain, karena peran komite ini sangat membantu sekali dalam kelancaran pelaksanaan pendidikan, (4) masyarakat, diharapkan agar lebih aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan melalui pemberian ide, saran maupun finansial sebagai upaya meningkatan mutu pendidikan, dan (5) peneliti lain, agar dilakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui bentuk program orangtua asuh pada lembaga-lembaga pendidikan lain.

Pengaruh karakteristik celebrity endorser pada website Petersaysdenim terhadap brand image (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Muwarik Riski Kubro

 

Kata kunci: Karakteristik Endorser, Brand Image Pemakaian endorser merupakan salah satu bentuk strategi komunikasi pemasaran di dalam periklanan. Tujuan pemakaian endorser tersebut adalah untuk menarik perhatian konsumen dan meningkatkan awareness serta brand image produk yang diiklankan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui deskripsi karakteristik endorser terhadap brand image Petersaysdenim pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, (2) untuk mengetahui pengaruh karakteristik endorser (expertise, trustworthiness, attractiveness, likeability, dan meaningfulness) secara parsial terhadap brand image Petersaysdenim pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas negeri Malang, (3) untuk mengetahui pengaruh karakteristik endorser (expertise, trustworthiness, attractiveness, likeability, dan meaningfulness) secara simultan terhadap brand image Petersaysdenim pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas negeri Malang, dan (4) untuk mengetahui sub variabel karakteristik endorser yang dominan mempengaruhi brand image. Variabel dalam penelitian ini, meliputi variabel bebas yaitu Karakteristik Celebrity Endorser (X) dengan subvariabel Expertise (X1), Trustworthiness (X2), Attractiveness (X3), Likeability (X4), dan Meaningfulness (X5), sedangkan variabel terikat (Y) adalah Brand Image. Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang mengetahui produk Petersaysdenim dan mengetahui/pernah mengunjungi Website Petersaysdenim. Penentuan sampel menggunakan rumus infinite population dengan menggunakan α = 5%, sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan multy stage sampling (proportional sampling dan snowball sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan Skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa Expertise (X1), Trustworthiness (X2), Attractiveness (X3), Likeability (X4), dan Meaningfulness (X5) mempunyai nilai thitung masing-masing (2.573; 2.824; 3.158; 2.290; 3.308) sedangkan nilai Fhitung sebesar 38.757 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa: (1) keadaan karakteristik endorser dapat dikatakan baik karena mayoritas responden memberikan penilaian sangat setuju dan setuju terhadap variabel (X) yang terdiri dari expertise, trustworthiness, attractiveness, likeability, dan meaningfulness), serta keadaan (Y) brand image, (2) karakteristik endoser yang terdiri dari expertise, trustworthiness, attractiveness, likeability, dan meaningfulness berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Petersaysdenim secara parsial, (3) karakteristik endoser yang terdiri dari expertise, trustworthiness, attractiveness, likeability, dan Meaningfulness berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand image Petersaysdenim secara simultan. (4) Sedangkan faktor yang berpengaruh dominan terhadap brand image Petersaysdenim adalah Meaningfulness (X5). Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian ini, yaitu: (1) hendaknya dalam mengkomunikasikan produk selanjutnya perusahaan dapat lebih memfokuskan pemilihan endorser pada faktor meaningfulness sesuai dengan hasil penelitian ini, (2) perusahaan diharapkan juga melakukan kegiatan promosi diluar Website seperti di televisi atau media massa, (3) Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang hendaknya mempertimbangkan apakah harga yang ditawarkan oleh Petersaysdenim sebanding dengan kualitas yang diberikan, karena sebagai Mahasiswa Fakultas Ekonomi hendaknya mengetahui strategi pemasaran yang dilakukan oleh Petersaysdenim, (4) ditujukan kepada masyarakat luas, hendaknya lebih menghargai produk dalam negeri.

Perbedaan prestasi belajar siswa antara model REACT dengan model inquiry training pada pembelajaran fisika kelas X SMA Brawijaya Smart School / Lis Suswati

 

Pengembangan bahan ajar suhu dan kalor untuk siswa Madrasah Aliyah (MA) kelas X semester II berorientasi konstruktivisme dan pendidikan karakter / Humaidillah Kurniadi Wardana

 

Kata kunci: Pengembangan, Bahan Ajar, Konstruktivisme, Pendidikan Karakter, Suhu dan Kalor. Permasalahan yang sering muncul di berbagai media informasi mengenai pencurian, tawuran antar pelajar, kejahatan, korupsi, dan perusakan membuktikan adanya kemerosotan moral dan karakter manusia Indonesia. Lemahnya bimbingan dan pengajaran akhlak di sekolah serta pengawasan orang tua merupakan salah satu penyebab merosotnya karakter dan martabat manusia Indonesia dari tahun ke tahun. Mengingat pentingnya permasalahan tersebut, diperlukan pemecahan masalah atau alternatif penyelesaian. Proses pengembangan dan penanaman nilai-nilai karakter dilakukan salah satunya melalui bahan ajar. Bahan ajar digunakan sebagai media untuk mengembangkan nilai-nilai karakter yang harus diketahui dan dipahami oleh peserta didik. Menurut observasi yang dilakukan oleh peneliti bahan ajar dan buku yang beredar di MA saat ini adalah bahan ajar yang berlaku secara umum, masih belum ada bahan ajar yang mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai karakter, dan sedikit mengajak siswa untuk memahami konsep fisika serta membuktikannya dalam praktikum. Selain itu, yang paling utama adalah bahan ajar yang digunakan menerapkan model tertentu yang sesuai dengan karakteristik konsep yang diajarkan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pengembangan bahan ajar Suhu dan kalor berorientasi konstruktivisme dan pendidikan karakter, dan mendeskripsikan kelayakan bahan ajar Suhu dan kalor berorientasi konstruktivisme dan pendidikan karakter. Pengembangan bahan ajar dilakukan dengan menggunakan model pengembangan 4D yang mencakup tahap-tahap: define, design, develop, dan disseminate. Pengembangan ini hanya sampai pada tahap develop karena hasil pengembangan bahan ajar tidak diuji cobakan ke sekolah. Uji kelayakan dilakukan oleh dua ahli dosen fisika UM dan tiga guru MAN Sumenep. Uji keterbacaan dilakukan oleh enam siswa MAN Sumenep. Hasil pengembangan bahan ajar Suhu dan Kalor terdiri dari bahan ajar untuk siswa dan panduan guru. Bahan ajar untuk siswa terdiri dari uraian materi (bahan ajar), soal latihan dan LKS. Panduan guru terdiri dari uraian materi, strategi pembelajaran, teknik penilaian, soal latihan, silabus, RPP, format laporan hasil praktikum, dan format penilaian pratikum. Hasil dari uji kelayakan oleh para ahli untuk komponen isi dan komponen penyajian bahan ajar adalah valid sebesar 3,68 dengan persentase 91,75% dan sebesar 3,7 dengan persentase 92,67%. Untuk aspek konstruktivisme dan pendidikan karakter pada bahan ajar adalah valid sebesar 3,6 dengan persentase 91% dan 3,3 dengan persentase 83%. Uji keterbacaan siswa bahan ajar Suhu dan Kalor sebesar 3,57 dengan persentase 89,27%.

Digital analyzer berbasis personal computer / Rifki Ranuharja

 

Kata Kunci: Digital Analyzer, Personal Computer Dalam beberapa pembelajaran, seperti dalam mempelajari rangkaian kontrol mahasiswa juga diharuskan memonitor tegangan input dan output dari suatu komponen dalam suatu rangkaian dalam kurun waktu yang tertentu kususnya pada data yang beranalogi digital, selain untuk mengetahui cara kerja alat juga bertujuan untuk melihat apakah sistem atau rangkaian tersebut bekerja sesuai dengan apa yang di harapkan atau tidak. Untuk hal tersebut diperlukan alat yang bisa menganalisa logika dan dapat mengkonversi data yang ada pada sistem ke dalam diagram waktu dengan perangkat lunak yang berkaitan dengan level logika. Alat tersebut diharapkan dapat memberikan data sample dari suatu sisem atau rangkaian dan menampilkannya kedalam bentuk grafik dan tabel agar mahasiswa dapat menganalisa data pada sistem tersebut dengan melihat pada layout yang ada pada layar monitor. Dalam perancangan sistem ini terdiri dari beberapa rangkaian yaitu: (1) Rangkaian counter sebagai alat tester yang akan digunakan untuk mengeluarkan data sample. (2) Rangkaian Mikrokontroler AT89S51 yang digunakan sebagai masukan data biner yang akan di jadikan data sample. (3) Rangkaian MAX232 yang digunakan untuk mengirimkan data ke PC sebagai penampil data. Berdasakan pengujian dari keseluruhan sistem dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) Tampilan pada alat yang berupa tabel dan grafik yang berbanding lurus dengan waktu akan memudahkan mahasiswa untuk menganalisa data sample dan memahami logika dari rangkaian tersebut. (2) Pada program tampilan data tabel akan bisa di simpan untuk selanjutnya diharapkan bisa di analisa oleh mahasiswa. (3) Rancangan program pada PC terdapat 8 input yang akan menunjukkan data sampling yang diambil dari modul counter yang telah dibuat

Pengaruh atribut produk dan faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda (studi pada masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu) / Hendrik D. Wijayanto

 

ABSTRAK Wijayanto, Hendrik D. 2011. Pengaruh Atribut Produk dan Faktor Psikologis Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Sepeda Motor Merek Honda (Studi Pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si., (II) Drs. H. Gatot Isnani, M.Si. Kata kunci: atribut produk, faktor psikologis, keputusan pembelian. Persaingan industri otomotif yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk terus menerus meningkatkan daya tarik produk yang dihasilkan. Indonesia sebagai pangsa pasar besar dalam hal pemasaran sepeda motor terdapat kelompok merek sepeda motor yang mendominasi pasar dan saling bersaing di dalam pemasarannya, yaitu: Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki. Meskipun demikian, Honda yang sudah lama berada di Indonesia dengan segala keunggulan yang dimilikinya tetap mampu bersaing dan sekaligus memenuhi kebutuhan angkutan yang tangguh dan ekonomis. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) Deskripsi atribut produk, faktor psikologis dan keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. (2) Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. (3) Pengaruh faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. (4) Variabel lebih kuat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu yang memiliki sepeda motor merek Honda, yang jumlahnya telah diketahui dari hasil survei yang dilakukan oleh peneliti sebanyak 179 orang. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 124 responden. Teknik sampling menggunakan sampel multi tahap (Multy Stage Sampling). Tahapan teknik sampel multi tahap sebagai berikut: Teknik pengambilan sampel proporsi (proportional sampling) dilakukan untuk menentukan jumlah sampel dari banyaknya subjek di setiap RW, Selanjutnya dilakukan dengan teknik simple random sampling melalui proses pengundian. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini adalah: (1) 17 responden (13,71%) menjawab sangat setuju, 107 responden (86,29%) menjawab setuju tentang atribut produk pada sepeda motor merek Honda, (2) 27 responden (21,77%) menjawab sangat setuju, 97 responden (78,23%) menjawab setuju tentang faktor psikologis konsumen sepeda motor merek Honda, (3) 94 responden (75,81%) menjawab sangat setuju, 28 responden (22,58%) menjawab setuju, 2 responden (1,61%) menjawab cukup setuju tentang keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu dengan nilai B = 0,310 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu dengan nilai B = 0,282 dan sig t = 0,000, variabel atribut produk memberi pengaruh lebih kuat terhadap variabel keputusan pembelian konsumen dengan nilai R sebesar 0,649. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini, yaitu: (1) Berdasarkan analisis statistik deskriptif dapat diketahui kondisi atribut produk, faktor psikologis dan keputusan pembelian yaitu sebagai berikut: (a) Sebagian besar responden menyatakan setuju dengan kondisi atribut probuk sepeda motor merek Honda. (b) Sebagian besar responden menyatakan setuju dengan kondisi faktor psikologis konsumen sepeda motor merek Honda. (c) Sebagian besar responden menyatakan sangat setuju dengan kondisi keputusan pembelian sepeda motor merek Honda. (2) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. (3) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. (4) Variabel atribut produk memberi pengaruh lebih kuat daripada faktor psikologis terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda motor merek Honda pada Masyarakat Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu. Saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Kepada pihak perusahaan PT. Astra Honda Motor: (a) Mengingat persaingan industri otomotif di Indonesia sangatlah ketat, sebaiknya pihak perusahaan terus berinovasi dan meningkatkan kecanggihan teknologi pada sepeda motor merek Honda agar dapat menciptakan desain yang futuristik sesuai dengan kemajuan zaman, serta menghasilkan sepeda motor dengan mesin tangguh, hemat dalam pemakaian bahan bakar dan ramah lingkungan. (b) Selain meningkatkan atribut produk sebagai daya tarik utama, pihak perusahaan harus lebih mendalami tentang psikologis konsumen agar produk sepeda motor Honda sesuai dengan keinginan pasar. (2) Peneliti lain sebaiknya melakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang juga dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian, seperti iklan, selebriti endorser, layanan purnajual, dan lain sebagainya.

Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Lawang, Kabupaten Malang / Kartika Kusumawati

 

Kata Kunci: Team Assisted Individualization (TAI), Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada pertengahan bulan Januari 2011, proses pembelajaran geografi di SMA Negeri 1 Lawang selama ini masih menggunakan metode ceramah dan penugasan kepada siswa. Selain itu diketahui bahwa mata pelajaran geografi di kelas X-9 masih menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga mempunyai beberapa kekurangan seperti: Konsentrasi siswa kurang fokus pada mata pelajaran geografi, kurangnya minat siswa dalam mata pelajaran geografi, dan terdapat beberapa siswa yang bosan dalam mengikuti pembelajaran geografi, karena siswa tersebut tidak fokus dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Akibatnya dari 36 siswa hanya 10 siswa yang tuntas atau ketuntasan klasikalnya sebesar 27,77 % siswa yang dapat mencapai KKM, sedangkan sisanya 26 siswa belum tuntas atau ketuntasan klasikalnya sebesar 72,22 % siswa yang belum mencapai KKM. Maka dari itu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Lawang pada materi hidrosfer. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan berupa penerapan model pembelajaran TAI. Penelitian ini terdiri atas dua siklus. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Lawang dengan jumlah 36 siswa. Instrumen penelitian meliputi instrumen tindakan yaitu dokumentasi, lembar observasi, lembar catatan lapangan dan tes akhir belajar di setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TAI dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Lawang. Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 60,58 pada siklus 1 meningkat menjadi 67,78 dan pada siklus II meningkat menjadi 88,19. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan sebesar 27,78 %, siklus 1 sebesar 30,56 %, dan pada siklus II sebesar 91,66 %. Sehingga ketuntasan belajar dari pra tindaka ke siklus I mengalami peningkatan 2,78 %, dan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan 61,1 %.

Pengembangan media pembelajaran interaktif berbantuan komputer pada materi turunan SMA kelas XI IPA / Ifhnani Rizeky Amalia

 

Kata Kunci : pengembangan media, media pembelajaran interaktif, pembelajaran interaktif berbantuan komputer, turunan. Salah satu topik matematika yang kurang dipahami oleh siswa SMA, khususnya siswa kelas XI dan XII IPA adalah turunan (differential). Pada materi turunan, siswa cenderung hanya menghafalkan rumus dari turunan kemudian mencoba latihan soal. Hal ini akan menghambat kemampuan siswa memahami materi secara konstruktivis. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu alternatif agar pembelajaran materi turunan tidak hanya dengan menghafal dan latihan soal. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan produk (software) multimedia pembelajaran interaktif yang berkualitas (valid) dalam materi Turunan untuk siswa kelas XI IPA SMA. Model pengembangan media/desain media pembelajaran komputer ini merujuk pada model pengembangan media menurut Alessi dan Trolip (1991, 245-248) yang meliputi (1) menentukan kebutuhan dan tujuan, (2) mengumpulkan sumber, (3) mempelajari materi, (4) menghasilkan gagasan, (5) mendesain pembelajaran, (6) membuat flowchart, (7) membuat storyboard secara tertulis, (8) memprogram materi, (9) membuat materi pendukung, (10) mengevaluasi dan meninjau kembali. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data berbentuk kuantitatif yang diubah menjadi bentuk kualitatif. Teknik pengolahan data penelitian ini menggunakan cara deskriptif kualitatif persentase. Data hasil analisis yang diperoleh menggambarkan apakah media yang dikembangkan telah valid dan layak pakai. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi berupa angket/kuisioner berisikan aspek-aspek yang perlu dievaluasi dalam media. Lembar validasi tersebut ditujukan untuk ahli materi, ahli media, dan subjek uji coba. Hasil analisis adalah sebagai berikut. Analisis validitas oleh ahli materi menghasilkan skor akhir P 85,83%, yang menunjukkan bahwa dari segi materi telah valid. Analisis validitas oleh ahli media menghasilkan skor akhir P 82,29%, yang menunjukkan bahwa dari segi materi media telah valid. Hasil angket uji coba oleh ahli siswa menghasilkan skor akhir P 81,55%, yang menunjukkan bahwa dari media telah layak digunakan dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media yang dikembangkan telah memenuhi kriteria validitas dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Saran untuk pengembangan lebih lanjut adalah diharapkan selanjutnya akan ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut pada media pembelajaran interaktif, seperti penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan penggunaan DifPlet dalam pembelajaran yang sebenarnya.

Identifikasi pande besi Gedog Kota Blitar dalam kaitannya menjadi salah satu bentuk pendidikan informal / Nurhayadi

 

Kata kunci: informal, pande besi Gedog, Blitar Bangsa Indonesia adalah bangsa agraris, sehingga kebutuhan akan produk berupa alat-alat pertanian sangat dibutuhkan. Kebutuhan akan produk-produk pertanian dicukupi melalui industri, baik yang sudah maju yaitu produk keluaran pabrik, dan industri tradisional, yaitu pande besi. Pande besi, dalam bahasa lokal masyarakat Desa Gedog, kota Blitar biasa disebut tukang pandhe, adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Keberadaan pandhe Gedog tidak diketahui kapan awal mulanya kerajinan ini ada. Pentingnya kelangsungan pandhe untuk tetap bertahan karena pandhe merupakan warisan leluhur dan dan merupakan bentuk pendidikan informal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, produk yang dihasilkan, saingan pandhe Gedog, alih keterampilan yang terjadi dan perkembangan pandhe Gedog dalam beberapa tahun ke depan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara diperoleh dari sentra pandhe Gedhog. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, diadakan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi, dan klasifikasi data Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah jenis produk yang dihasilkan oleh pandhe Gedog adalah produk cangkul tradisional. Pandhe Gedog hanya memproduksi cangkul untuk pertanian, tidak memproduksi barang pandhe lainnya misalnya arit, linggis, dll. Produk pandhe Gedog mendapat saingan dari wilayahnya sendiri, yaitu dari Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, dan Solo, Jawa Tengah Kedua, masalah alih keterampilan di pandhe Gedog, tidak terjadi alih generasi tua kepada generasi muda, hal itu karena: a) generasi muda merasa pekerjaan pandhe adalah pekerjaan yang sara, tetapi hasile ra sepira (sengsara, tetapi hasilnya tidak seberapa), b) orang tua, yang saat ini menjadi empu atau panjak melarang anaknya untuk berprofesi sama seperti orang tuanya. Ketiga, masalah perkembangan pandhe Gedog ke depan, pandhe Gedhog dalam beberapa tahun ke depan akan hilang, yang sebelumnya pernah ada sekitar 20an, sekarang tinggal 6 unit. Dalam beberapa tahun ke depan, mungkin tinggal namanya saja, terlihat dari usia rata-rata pekerjanya yang saat ini sekitar 57 tahun ditambah lagi dengan tidak ada pekerja baru golongan usia muda yang belajar mandhe. Penelitian ini merekomendasikan Disperindag untuk segera membina IKM pande besi Gedog, dan kerjasama dengan pihak SMK untuk menambahkannya pada silabus SMK, dan dijadikan materi muatan lokal.

Pengaruh faktor eksternal terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy) siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Malang / Kharisma Eva Roslia

 

Kata Kunci : Faktor eksternal, pengertian dasar ekonomi (economic literacy) Kemampuan untuk mengerti dan memahami makna serta arti tentang ilmu ekonomi, yaitu tentang tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak bervariasi dan berkembang dengbaik masa sekarang maupun masa yang akan datang dan sumber daya yang ada melalui pilihan – pilihan kegiatan produksi , konsumsi atau distribusi yang diwujudkan dengan efisiensi dalam tindakan berkonsumsi. Economi literacy merupakan tolak ukur seberapa jauh seorang menyadari tentang adanya kekuatan yang berpengaruh terhadap kualitas hidup bermasyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan seseorang agar mempunyai economic literacy adalah dengan belajar ilmu ekonomi. Dalam belajar ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Diantara faktor tersebut adalah faktor eksternal belajar yaitu faktor yang mempengaruhi belajar yang berasal dari luar diri siswa. Faktor eksternal belajar ada tiga, yaitu faktor keluarga , faktor sekolah dan faktor masyarakat. Ketiga faktor tersenut saling berhungungan untuk menciptakan kondisi belajar yang baik.Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan pengaruh faktor keluarga terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy) ekonomi siswa diSMA Negeri 1 Malang. (2) Untuk mendeskripsikan pengaruh faktor sekolah terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy) siswa diSMA Negeri 1 Malang. (3) Untuk mendeskripsikan pengaruh faktor lingkungan masyarakat terhadap pengertian dasar ekonomi i (economic literacy) siswa di SMA Negeri 1 Malang. (4) Untuk mendeskripsikan lingkungan keluarga,sekolah dan masyarakat terhadap pengertian dasar ekonomi i (economic literacy) siswa diSMA Negeri 1 Malang Metode penelitian deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Xl IPS SMA Negeri 1 Malang yang berjumlah 93 siswa. Jumlah populasi kurang dari 100, maka penelitian ini termasuk penelitian populasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis regresi linier berganda dengan uji –t untuk mengetahui pengaruh variabel bebas faktor keluarga, sekolah dan masyarakat (X1,X2,X3) secara parsial terhadap variabel terikat economic literacy (Y) dan uji f untuk mengetahui secara silmutan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor eksternal yang meliputi : faktor lingkungan keluarga di SMA Negeri 1 Malang tergolong tinggi dengan persentase 65,60%, faktor lingkungan sekolah diSMA Negeri 1 Malang tergolong tinggi dengan preentase 72,04% dan faktor lingkungan masyarakat di SMA Negeri 1 Malang juga tergolong tinggi dengan persentase 55,91% economic literacy di SMA Negeri 1 Malang juga tergolong tinngi dengan presentase 73,12%. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor lingkungan keluarga terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy). Terdapat pengaruh yang signifikan anatara faktor sekolah terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy). Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor lingkungan masyarakat terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy). Terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor keluarga, sekolah dan masyarakat terhadap pengertian dasar ekonomi (economic literacy) diSMA Negeri 1 Malang. Saran yang dapat dikemukakan adalah ada banyak faktor yang mempengaruhi economic literacy. Oleh karena itu untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih menggali dan meneliti faktor - faktor eksternal yang lain demi kesempurnaan skripsi ini.

Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berbasis lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran biologi siswa kelas X SMA Negeri 1 Purwosari / Syafa'atul Udhmah

 

Kata kunci: lesson study, kualitas pembelajaran Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan kulminasi pengalaman belajar secara teoritis dan praktis yang dilaksanakan secara terprogram, terpadu, dan terbimbing melalui kegiatan magang di sekolah atau lembaga yang sesuai dengan bidang keahliannya. PPL terdiri atas PPL Kependidikan dan PPL Nonkependidikan. PPL yang dilaksanakan oleh mahasiswa program studi pendidikan Biologi adalah PPL kependidikan keguruan. PPL ini mempersiapkan mahasiswa calon guru untuk menjadi guru profesional. Seorang calon guru tentunya akan sangat sulit menguasai berbagai kompetensi untuk meningkatkan keprofesionalan dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keefektifan PPL harus ada inovasi dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini, lesson study dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan keefektifan PPL serta meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitan ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan keterlaksanaan implementasi PPL berbasis lesson study serta implikasinya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Biologi siswa di kelas X SMA Negeri 1 Purwosari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Lembar observasi keterlaksanaan kegiatan plan, do, dan see dalam lesson study, angket lesson study untuk peserta didik, lembar observasi kemampuan membelajarkan siswa, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran pada kegiatan lesson study, dan lembar penilaian hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berbasis lesson study meningkat. Rata-rata keterlaksanaan lesson study adalah 78,6%. Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berbasis lesson study juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dari segi proses yang diperoleh dari kemampuan membelajarkan siswa oleh guru model dan segi hasil yang diperoleh dari hasil belajar siswa ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Kemampuan membelajarkan oleh tiap guru model meningkat dari siklus pertama hingga siklus keempat. Hasil belajar siswa ranah kognitif pun meningkat pada tiap kelas dari lesson study pertama ke lesson study kedua. Hasil belajar ranah afektif berada pada kategori baik pada tiap lesson study, sedangkan hasil belajar ranah psikomotor meningkat dari lesson study pertama dan kedua ke lesson study ketiga. ii ABSTRACT Udhmah, Syafa'atul. 2011. The Implementation of Lesson Study based teaching practice to improve the Quality of Biology Learning of Grade X Students SMA Negeri 1 Purwosari. Thesis, Department of Biological Science, State University of Malang. Supervisors: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D, (II) Drs. Sarwono, M.Pd. Key words: lesson study, the quality of biology learning Teaching practice is the culmination of the theoretical and practical learning experience implemented programmatically, integrated, and guided through an internship at school. Teaching practice conducted here in in teaching Biology. Teaching practice prepare the prospective student teacher to become professional teacher. A prospective teacher should master a variety of competencies to enhance her professionalism. Therefore, in this case, the lesson study is used as an alternative to improve the effectiveness of the PPL and to improve the quality of student learning. This research was conducted with the aim of describing the implementation of lesson study based teaching practice and its implications in improving the quality of student Biology learning in grade X SMA Negeri 1 Purwosari. This research used descriptive qualitative research methods. The instruments are observation sheet for plan, do, and see in lesson study, questionnaire for students, observation sheet of the ability to guide student learned, observation sheet in the teaching and learning prosesses, and the assessment sheet of students learning result. The results showed that the implementation of lesson study based teaching practice increases. The average of lesson study activities was 78.6%. Implementation lesson study based teaching practice can also improve the quality of learning in terms of processes derived from the ability of students by teachers and the learning results obtained in terms of students' cognitive, affective, and psychomotor. The ability to teach by teachers increased from the first cycle until the fourth cycle. Cognitive learning outcomes of students has increased in each class from the first lesson study to the second lesson study. Affective domain of learning outcomes is good in both categories in each lesson study, whereas the psychomotor domain of learning results improved from the first lesson study and the second to the third lesson study. iii KATA PENGANTAR Bismillahhirohmanirrohim..... Alhamdulillah, segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan bimbingan-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Berbasis Lesson Study untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Purwosari” dengan baik dan lancar. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di Jurusan Biologi Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D selaku dosen pembimbing I, dan Drs. Sarwono, M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan, masukan, dan motivasi bagi penulis selama mengerjakan skripsi ini. 2. Dr. Ibrohim, M.Si selaku penguji yang telah memberikan kritik, saran dan bantuan kepada penulis sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. 3. Dr. H. Abdul Gofur, M.Si selaku Ketua Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang yang telah memberikan bantuan dalam proses pelaksanaan studi dan skripsi ini. 4. Dr. H. Istamar Syamsuri, M.Pd selaku Dekan Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang.

Penerapan model pembelajaran quantum teaching untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar matematika siswa kelas VIII B SMP Negeri 7 Malang / Wulan Silviani

 

Berdasarkan hasil pengamatan dan dialog dengan guru matematika SMP Negeri 7 Malang, diperoleh informasi bahwa sebagian besar siswa kurang termotivasi dalam mengikuti pelajaran matematika di kelas. Banyak siswa yang kurang bersemangat ketika pelajaran berlangsung, kemauan untuk berusaha dan bertanya bila ada tugas maupun soal yang sulit juga kurang, banyak siswa yang merasa bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan berhubungan dengan banyak rumus sehingga sulit untuk dimengerti. Hal ini dikarenakan kecenderungan guru menyajikan materi secara final, sehingga siswa tidak terlibat aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan. Dari beberapa permasalahan tersebut, maka dalam penelitian ini diterapkan model Quantum Teaching dengan harapan dapat menjadikan belajar matematika lebih bermakna dan menyenangkan. Sehingga dapat membuat siswa termotivasi untuk terlibat secara aktif selama proses pembelajaran matematika di kelas dengan interaksi antara guru dan siswa terjalin dengan baik. Penelitian ini mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran Quantum Teaching untuk melihat motivasi dan aktivitas belajar matematika siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII B yang terdiri dari 43 siswa. Desain penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2011. Data yang diambil adalah data motivasi belajar yang diperoleh melalui angket/kuisioner dan data aktivitas belajar melalui observasi selama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Quantum Teaching dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar matematika siswa. Peningkatan ini ditunjukkan dari data hasil angket motivasi siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. Skor rata-rata motivasi awal siswa sebelum diberi tindakan sebesar 2,88 dan setelah diberi tindakan pada siklus I 3,48, siklus II 3,74. Persentase aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 63,28% dan siklus II 82,03%. Dengan demikian pembelajaran Quantum Teaching dapat dikembangkan dalam pembelajaran matematika.

Implementasi penyetoran, penagihan, dan pengawasan pajak di KPP Pratama Malang Selatan / Jerry Lusiana

 

Kata Kunci: Penyetoran Pajak, Penagihan Pajak, Pengawasan Pajak. Pajak merupakan sumber penerimaan negara yang terbesar. Peranan pajak baik sebagai sumber penerimaan dalam negeri maupun sebagai penyelaras kegiatan ekonomi pada masa-masa yang akan datang sangat penting bagi negara. Untuk mewujudkannya pemerintahan melakukan upaya-upaya dibidang perpajakan mengenai kesadaran atas peran serta masyarakat sebagai Wajib Pajak dalam memenihi kewajibannya membayar pajak. Mengingat berbagai masalah dalam perpajakan sering terjadi, maka penulisan laporan TA ini dimaksudkan untuk membahas mekanisme penyetoran, penagihan dan pengawasan pajak guna mengoptimalkan penerimaan negara. Hasil analisis menunjukkan mekanisme penyetoran, penagihan dan pengawasan pajak di KPP Pratama Malang Selatan dilakukan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh Undang-undang perpajakan. Kendala yang dihadapi KPP Pratama Malang Selatan berasal dari dua sumber yaitu dari Wajib Pajak dan dari aparatur di KPP. Kendala dari Wajib Pajak yaitu (1) Kurangnya pengetahuan WP di bidang perpajakn. (2) WP tidak memberikan keterangan yang sebenarnya dan (3) Masih rendahnya kesadaran WP untuk membayar pajak. Sedangkan kendala yang berasal dari aparatur KPP adalah (1) Minimnya jumlah petugas yang mampu memberikan penyuluhan pajak, sehingga penyuluhan pajak belum maksimal dan (2) Kurang maksimalnya kualitas pelayanan yang diberikan oleh petugas di KPP Pratama Malang Selatan, sehingga beberapa Wajib Pajak mengaku kurang puas atas pelayanan mereka. Usaha-usaha yang dilakukan KPP Pratama Malang Selatan untuk menghadapi kendala yang muncul dalam penyetoran, penagihan dan pengawasan pajak adalah dengan cara (1) Penyuluhan kepada segenap Wajib Pajak. (2) Menetapkan sanksi yang tegas kepada Wajib Pajak yang kesadaran atau kepatuhannya yang masih rendah. (3) Meningkatkan kualitas aparat perpajakan baik kualitas pengetahuan mengenaiperpajakan dan pelayanan pajak serta kualitas moral aparatur pajak melalui kegiatan kerohanian. Terkait dengan permasalahan yang timbul disarankan kepada KPP Pratama Malang Selatan (1) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) harus lebih aktif melakukan penyuluhan perpajakan kepada masyarakat. (2) Untuk meningkatkan kesadaran WP dalam membayar pajak, KPP bisa memberikan rangsangan misalnya berupa hadiah yang diberikan kepada WP yang patuh membayar pajak. (3) Untuk mengatasi minimnya jumlah pegawai yang mampu memberikan penyuluhan pajak, KPP sebaiknya meningkatkankualitas dan kuantitas pelatihan maupun pendidikan perpajakan yang diberikan pada para aparatur.

Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Tumpang / Miftakhu Syifa'

 

Kata kunci: problem based learning (PBL), kemampuan berpikir kritis Berdasarkan observasi awal diperoleh bahwa proses pembelajaran fisika di kelas X-9 SMA Negeri 1 Tumpang belum maksimal, hal ini ditunjukkan dengan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran, siswa jarang bertanya dan hanya sesekali menjawab pertanyaan dari guru. Siswa sulit memahami suatu masalah dan meramalkan apa yang mungkin terjadi dari suatu gejala, siswa kesulitan membuat kesimpulan. Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini bersifat teacher center dan apa yang diajarkan bersifat prosedural tanpa upaya membangkitkan kepekaan siswa dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik berlatih memecahkan masalah adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Tumpang dengan model pembelajaran PBL. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus. Siklus I dengan pokok bahasan GLB dan GLBB dan siklus II dengan pokok bahasan gerak jatuh bebas dan gerak vertikal atas. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun ajaran 2010/2011 dengan pengambilan data di kelas X-9 SMA Negeri 1 Tumpang yang berjumlah 31 siswa. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan orientasi siswa kepada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbing dalam penyelidikan individual maupun kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi serta refleksi.Berdasarkan hasil analisis dan refleksi, diketahui bahwa setelah diterapkan model pembelajaran Problem based Learning, terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor kemampuan berpikir kritis siswa dari siklus I ke siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas X-9 SMA Negeri 1 Tumpang Malang tahun ajaran 2010/2011.

Studi deskriptif tentang efektivitas pengelolaan kearsipan pada Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar / Corry Rahmawati

 

Kata kunci: efektivitas pengelolaan arsip Arsip adalah naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Lembaga-Lembaga Negara dan Badan-Badan Pemerintah/Swasta/Perorangan dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan kehidupan kebangsaan. Pengelolaan arsip adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka penataan arsip yang meliputi pemberkasan, penyimpanan, penemuan kembali, peminjaman/penggunaan, layanan dan pengamanan. Sedangkan kearsipan adalah suatu proses mulai dari penciptaan, penerimaan, pengumpulan, pengaturan, pengendalian, pemeliharaan dan perawatan serta penyimpanan warkat menurut sistem tertentu. Saat dibutuhkan dapat dengan cepat dan tepat ditemukan. Apabila arsip-arsip tersebut tidak bernilai guna lagi, maka harus dimusnahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan arsip dan kendala-kendala yang dihadapi pada Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar. Adapun permasalahan-permasalahan yang akan diteliti yaitu: (1) Sistem penyimpanan arsip, (2) Azas penyimpanan arsip, (3) Jenis-jenis arsip, (4) Pemusnahan arsip, (5) Prosedur penyusutan arsip, (6) Peralatan dan perlengkapan arsip, (7) Prosedur penemuan kembali arsip, (8) Tingkat kecermatan penemuan kembali arsip, (9) Pemeliharaan dan perawatan arsip, (10) Kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar yang beralamat di Jl. Mastrip 83. Telp. (0342) 805858 Blitar mulai bulan Mei sampai Juli 2011. Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Seksi Kearsipan Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Analisis data yang penulis gunakan adalah reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini adalah: (1) Sistem penyimpanan arsip yang digunakan di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar yaitu berdasarkan sistem subyek/pokok masalah dan berdasarkan kesamaan jenis berkas, (2) Azas yang digunakan di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar adalah azas desentralisasi, dimana setiap pencipta arsip, dalam hal ini masing-masing seksi dan sub bagian di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar melaksanakan penyimpanan dan penataan berkas masing-masing, (3) Jenis-jenis arsip yang disimpan di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar meliputi arsip tekstual (arsip kertas) dan arsip inaktif, (4) Pemusnahan arsip di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar dapat dilakukan dengan mesin penghancur kertas. Arsip yang dimusnahkan adalah arsip yang berdasarkan jadwal retensi yang telah habis masa retensinya, (5) Penyusutan arsip di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan tujuan kerasipan, nilai guna arsip dan Jadwal Retensi Arsip (JRA). Sedangkan arsip yang dapat disusutkan adalah arsip-arsip yang telah melewati jangka simpannya sesuai dengan Jadwal Retensi Arsip (JRA), (6) Peralatan dan perlengkapan arsip yang digunakan di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar meliputi sarana penyimpanan arsip aktif; sarana penyimpanan arsip inaktif; sarana penyimpanan arsip vital; sarana pelengkap dan; sarana pengolahan data dan penemuan kembali (finding aid), (7) Prosedur penemuan kembali arsip yang dilakukan di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar yaitu dengan cara melihat Daftar Arsip atau Daftar Pertelaan Arsip (DPA). Selain itu dapat juga menggunakan kata tangkap kemudian mencari sesuai dengan kode simpan serta dapat juga memanfaatkan fasilitas find and replace, (8) Tingkat kecermatan penemuan kembali arsip di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar tergolong “Sangat Cermat” karena hasil penghitungannya menunjukkan kurang dari 3 %, (9) Pemeliharaan dan perawatan arsip di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar dilaksanakan dengan cara pembersihan debu dengan menggunakan vacuum cleaner, pemberian kapur barus, dan melaksanakan kontrol lingkungan (pengaturan kestabilan suhu dan intensitas cahaya yang masuk ke ruang arsip), (10) Kendala yang dihadapi dalam mengelola arsip di Kantor Pengelola Arsip dan Barang Daerah Kota Blitar antara lain adalah adanya sumber daya manusia serta sarana dan prasarana yang sangat terbatas. Saran penelitian ini adalah: (1) Untuk memperlancar sistem pengelolaan arsip, maka perlu adanya penambahan jumlah pegawai kearsipan dan perlu adanya pembelajaran tentang kearsipan kepada pegawai kearsipan, (2) Perlu adanya penambahan fasilitas kearsipan agar pengelolaan arsip dapat berjalan lebih baik lagi, (3) Dalam pengelolaan arsip khususnya dalam prosedur penemuan kembali arsip perlu diberlakukan angka kecermatan arsip dan tes kecepatan penemuan kembali arsip untuk mengetahui seberapa baik tingkat kecermatan arsip.

Penerapan metode pemberian tugas dengan menyanyi untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok A di Taman Kanak-kanak KH. A. Wahid Hasyim Bangil Pasuruan / Mahmudah

 

Kata kunci : metode pemberian tugas, menyanyi, berbahasa, PAUD. Latar belakang penelitian ini adalah kecenderungan yang tampak yaitu anak-anak Kelompok A1 TK KH. A. Wahid Hasyim Bangil Pasuruan banyak mengalami kesulitan ketika belajar menyanyi disebabkan strategi pembelajaran yang diberikan kurang menarik perhatian anak dan proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan kurang menyenangkan dan membosankan bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendiskripsikan penerapan metode pemberian tugas dengan menyanyi dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak, 2) Mendiskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa anak TK A melalui penerapan metode pemberian tugas dengan menyanyi di TK KH. A. Wahid Hasyim Bangil Pasuruan. Penelitian dilakukan di TK KH. A. Wahid Hasyim Bangil Pasuruan, tanggal 14 Mei 2011 dan 16 Mei 2011 dengan metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan 2 siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, yaitu berupa catatan lapangan dan pedoman penilaian. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan adalah dengan menggunakan nilai rata-rata dari siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dari penerapan metode pemberian tugas dengan menyanyi terdapat peningkatan yang signifikan, yaitu pada siklus I diperoleh hasil rata-rata dan hasil observasi kemampuan berbahasa anak mendapat bintang 2, sedangkan pada siklus II mencapai bintang 3, sehingga hal ini dapat mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok A di TK KH. A. Wahid Hasyim Bangil Pasuruan. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan metode pemberian tugas dengan menyanyi dapat membuat anak merasa senang dan gembira. Ada beberapa saran dari penulis untuk guru, lembaga TK atau RA, dan penelitian lanjutan. Saran untuk guru yaitu untuk meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan metode pemberian tugas. Saran untuk lembaga TK atau RA yaitu sebagai salah satu masukan dalam memperkaya variasi metode pembelajaran. Dan untuk penelitian lanjutan yaitu agar dapat dijadikan sumbangsih dan pengembangan khasanah keilmuan sebagai kajian teoritis penulisan karya ilmiah.

Studi penulangan kolom dan pondasi pada proyek pembangunan Hotel dan Resto Jatim Park 2 Malang / Kurnia Bayu Ridwan

 

Kata Kunci : Penulangan, Kolom Pondasi, Gedung 6 Lantai Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, semakin banyak pula penemuan-penemuan baru di bidang teknologi, tidak kecuali aplikasi dibidang Teknik Sipil. Untuk mengetahui dan mempelajari aplikasi tersebut, dalam hal ini diadakan kerjasama antar lingkup perguruan tinggi dengan perusahaan tertentu yang bergerak di bidang Teknik Sipil. Pemilihan Proyek Pembangunan Hotel dan Resto Jatim Park 2 Malang sebagai Tugas Akhir dikarenakan struktur gedung yang memiliki 6 (enam) lantai dan sebagai pertimbangan lain belum adanya Tugas Akhir dari teman satu angkatan dengan struktur yang berlantai banyak. Suatu kontruksi beton bertulang merupakan suatu kombinasi dari balok-balok, kolom-kolom,pelat-pelat dan dinding-dinding, dihubungkan bersama secara tegar untuk membentuk suatu kerangka monolik. Setiap bagian secara tersendiri harus mampu menahan gaya yang bekerja padanya, maka dari itu, penentuan gaya-gaya tersebut merupakan bagian yang penting dalam proses perencanaan. Kolom dalam sebuah kontruksi meneruskan beban dari balok dan pelat kebawah sampai ke pondasi, banyak prinsip-prisip yang dipakai dalam perencanaan kolom yang dapat pula diterapkan dalam cara yang sama pada tipe-tipe lain dari bagian-bagian kontruksi yang juga menahan beban aksial ditambah momen lentur.(W. H. Mosley, 1989:22) Tujuan dari proyek akhir ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembe-banan struktur Kolom dan Pondasi, juga bagaimana perencanaan tulangan kolom dan Pondasi. Perhitungan yang dilakukan menggunakan bantuan software untuk memudahkan perhitungan. Software yang digunakan adalah STAAD Pro 2004. Adapun hasil dari perancangan adalah sebagai berikut: Dari hasil perencanaan untuk kolom lantai 1 memakai tulangan 18 D 22, lantai 2 memakai tulangan 12 D22, dan tulangan begel ø 10-150. Dari hasil perencanaan pondasi didapat 7 tiang pancang, daya dukung 1 tiang pancang = 38,160 ton, daya dukung izin = 194,997 ton ≥ N1 (178,943 ton), beban yang dipikul 1 tiang pancang = 32,18 ton. Untuk penulangan poer memakai tulangan D19 – 100. Untuk menghitung BQ tulangan terlebih dahulu harus dicari diameter tulangan yang dibutuhkan setelah itu lalu mencari kebutuhan tulangannya, total kebutuhan tulangan pokok untuk kolom lantai 1 sampai lantai 6 = 1060 Lonjor besi D22, dan 760 lonjor besi Ø10 untuk begel. Untuk poer pondasi dibutuhkan 13,5 lonjor besi D19.

Pola kerjasama konselor, wali kelas, dan orang tua siswa dalam menangani siswa SMA yang bermasalah / Yuliana Rohmawati

 

Kata kunci: Kerjasama, Konselor, Wali Kelas, Orangtua, Siswa Bermasalah. Dalam membantu peserta didik mengatasi masalah konselor tidak dapat bekerja sendiri. Konselor perlu melakukan kerjasama dengan berbagai pihak antara lain: wali kelas dan orangtua siswa. Orangtua siswa turut dilibatkan dalam membantu menangani masalah siswa, karena dalam penyelesaian masalah anak peran orangtua tidak bisa lepas begitu saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kerjasama konselor, wali kelas, dan orangtua siswa dalam menangani siswa SMA bermasalah. Penelitian ini mengungkapkan dan memaparkan: (1) tugas konselor, wali kelas, dan orangtua siswa dalam menangani siswa SMA yang bermasalah, (2) pola kerjasama konselor, wali kelas, dan orangtua siswa dalam menangani siswa SMA bermasalah, (3) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kerjasama kon-selor, wali kelas, dan orangtua siswa dalam menangani siswa SMA bermasalah, (4) harapan konselor terhadap dukungan sekolah pada pelaksanaan bimbingan dan konseling. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuali-tatif, jenis fenomenologi. Peneliti sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penyimpul dan pada akhirnya pelapor hasil penelitian. Penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data guna menjawab fokus penelitian, maka digunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan dokumenta-si-dokumentasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: (1) tugas konselor dalam me-nangani siswa SMA yang bermasalah adalah mengumpulan data-data siswa yang bermasalah dan memberikan layanan konseling. Konselor melakukan pemantauan pada perkembangan tingkah laku siswa, serta menjalin kerjasama dengan seluruh personil sekolah dan orangtua siswa. Tugas wali kelas dalam menangani siswa bermasalah dilaksanakan selaras dengan tugas dan fungsi wali kelas yang ada pa-da uraian tugas staf SMA Asem Bagus, termasuk dalam menangani siswa ber-masalah dengan pengumpulan data, memanggil siswa guna membantu penyelesaian masalah siswa dan memberi nasihat pada siswa. Tugas orangtua siswa dalam menangani siswa bermasalah adalah membantu memberikan per-hatian lebih pada anak, mengawasi anak dan memantau tingkah laku dan perkembangan anak di rumah dan di sekolah. (2) Pola kerjasama antara konselor, wali kelas, dan orangtua siswa dalam menangani siswa bermasalah adalah ker-jasama formal yaitu kerjasama yang dilakukan sesuai ketentuan dari sekolah. Ker-jasama informal adalah kerjasama yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan, kunjungan rumah tanpa surat pengantar dan tanpa persetujuan siswa. Kerjasama langsung yaitu pertemuan antara konselor, wali kelas, dan orangtua siswa yang ii dilakukan secara bertatap muka langsung (face to face). Kerjasama individual atau pribadi adalah pertemuan yang dilakukan antara konselor, wali kelas, dan hanya dihadiri satu orangtua siswa. Selanjutnya kerjasama kelompok yang dilakukan melalui rapat kasus. (3) Faktor pendukung kerjasama yaitu orangtua yang bersedia diajak bekerjasama. Orangtua yang aktif memantau perkembangan anak di sekolah. Komunikasi yang baik antara konselor wali kelas dan orangtua siswa. Konselor sekolah memiliki data diri siswa yang lengkap. Kerjasama yang baik dengan personil sekolah lainnya. Faktor penghambat kerjasama yaitu siswa tidak tinggal serumah dengan orangtuanya, siswa tinggal dengan saudara yang menjadi wali siswa, sehingga yang datang ke sekolah adalah saudara atau wali siswa. Orangtua siswa tidak datang memenuhi undangan sekolah, karena siswa tidak menyampaikan surat panggilan pada orangtua. Orangtua yang tidak percaya laporan yang diberikan oleh konselor dan wali kelas. Kesibukan konselor dari tu-gas tambahan yang diberikan sekolah, sehingga penanganan masalah siswa ter-tunda. (4) Harapan konselor terhadap dukungan sekolah pada pelaksanaan bimb-ingan dan konseling agar pihak sekolah menyediakan kurir untuk mengatar surat panggilan dan menambah tenaga konselor untuk membantu dalam pengadmin-istrasian bimbingan. Saran dalam penelitian ini adalah (1) untuk kepala sekolah, maka dapat di-jadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan dalam mengambil keputusan mengenai kerjasama antara komponen di sekolah dengan pihak orangtua. Sekolah memberikan sarana dan prasana yang diperlukan oleh bimbingan dan konseling, (2) Konselor hendaknya melaksanakan tugas-tugasnya dalam bimbingan dan kon-seling sesuai dengan ketentuan bimbingan. Dalam hal ini pelaksanaan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan ketentuan bimbingan

Perkembangan sekolah periode dekolonisasi di Kota Madiun (1940-1951) / Bayu Pamungkas

 

Kata Kunci: sekolah, dekolonisasi, Madiun Madiun merupakan kota yang berkembang sebagai hasil kebijakan desentralisasi pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Salah satu dampak kebijakan kolonial Belanda adalah pembukaan sekolah modern. Keberadaan sekolah ini dalam perkembangannya mengalami masa pasang surut. Proses dekolonisasi di Indonesia yang diwarnai dengan pergantian tampuk penguasa, berimbas pada sekolah-sekolah yang berada di Kota Madiun. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mengetahui perkembangan sekolah periode dekolonisasi di Kota Madiun, (2) menjelaskan dampak dekolonisasi terhadap perkembangan sekolah selama periode di Kota Madiun. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, karena objek kajiannya tentang perkembangan sekolah pada tahun 1940-1951. Empat tahap metode sejarah adalah: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Untuk menganalisa permasalahan pendidikan pada periode ini, digunakan pendekatan ilmu sosial. Sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah arsip, peta, suratkabar, sumber lisan serta kepustakaan berupa artikel, buku dan tesis. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, perkembangan sekolah di Kota Madiun antara tahun 1940-1949 yang diwarnai dengan perpindahan kekuasaan dari Belanda, Jepang dan Republik Indonesia, menunjukkan sekolah sebagai arena nyata implementasi kebijakan masing-masing. Dari segi jumlah sekolah yang ada menunjukkan fluktuasi sebagai efek dari kondisi politik, sosial dan ekonomi yang sedang tidak menentu. Dari segi sosial politik, sekolah dijadikan arena penegakan supremasi dari setiap penguasa untuk saling menghancurkan sistem yang telah dibangun oleh penguasa sebelumnya. Kedua, pasca perjanjian KMB, pemerintah Indonesia mulai menata kebijakan pendidikannya dengan mengeluarkan beberapa peraturan baru. Untuk sistem persekolahan disesuaikan dengan UU No 4 Tahun 1950 dimana penjenjangan sekolah yang diberlakukan adalah Sekolah Rakyat 6 tahun, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 3 tahun, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas 3 tahun. Keberadaan sekolah-sekolah di Kota Madiun telah menimbulkan fenomena baru serta merubah Kota Madiun. Perubahan tata kelola sekolah yang penting di Kota Madiun pada awal tahun 1950 adalah jumlah infrastruktur sekolah mengalami peningkatan dari segi jumlah gedung sekolah, siswa dan guru. Lalu, pemberlakuan otonomi pendidikan yang membuat Kota Madiun hanya mendapat kewenangan dalam mengelola kursus-kursus pemberantasan buta huruf, serta sekolah yang berfungsi ganda sebagai tempat menuntut ilmu dan juga sarana pembentukan klas masyarakat kota dengan gaya hidup modern.

Keberlanjutan program life skill sebagai kelompok usaha bersama (studi kasus kelompok usaha pembuatan tas di Dusun Amburan, Desa Kandangan, Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik) / Suratminingsih

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Sanapiah S.Faisal. (II) Prof. Dr. Supriyono, M.Pd Kata Kunci : Program Life Skill, Kelompok Usaha Bersama Program Life skill diharapkan program yang memberikan bekal keterampilan hidup fungsional, praktis, kreatif dan bermuatan kewirausahaan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas sektor industri berbasis potensi sumber daya lokal. Tujuan penelitian ini adalah: (1) memperoleh gambaran tentang karakteristik penyelenggaraan program life skill di dusun Amburan, desa Kandangan, kecamatan Cerme, (2) mengetahui penyebab program life skill tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi kelompok usaha bersama. Sesuai dengan fenomena tersebut, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Untuk kelompok sasaran dipilih secara personal dan wawancara kelompok terfokus (Focus Group Interviewing/FGI). Dalam pengumpulan data penelitian ini menggunakan pendekatan wawancara mendalam (Indepth Interview) dan dokumenter serta melakukan triangulasi dan mengecek keabsahan data. Data dihasilkan dari wawancara dan pengamatan lapangan. Teknik analisa data dilakukan secara kualitatif yaitu melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Analisa dilakukan dengan bertumpu pada hasil-hasil temuan data yang telah dikumpulkan setelah berhasil dikumpulkan, serta berbagai informasi yang relevan dari daftar pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa implementasi program life skill yang telah berjalan dalam kurun waktu tiga bulan di kelompok usaha pembuatan tas di lokasi penelitian ini mengalami penurunan jumlah peserta dan peran anggota kelompok tidak berfungsi sesuai harapan, sehingga usaha kelompok berubah menjadi usaha individu/perorangan, peserta beraktivitas sebagai buruh, bahkan beraktivitas di luar usaha pembuatan tas. Hal ini disebabkan dua hal yaitu : (1). kondisi kelompok yang tidak sehat yaitu: (a) tidak adanya keterbukaan dan kejujuran , (b) tidak saling mendukung dan mempercayai (c) kurangnya kerja sama, (d) pengambilan secara musyawarah tidak dilakukan.dan (e) tujuan kelompok belum terpenuhi, (2). Pendampingan yang kurang efektif, hal ini pada kenyataannya; (a) belum dilakukan secara maksimal, (b) pendamping kurang memahami sepenuhnya tentang tugas dan fungsi pendampingan. Program belajar usaha bersama dari program life skill tidak dapat berkembang lebih lanjut menjadi kelompok usaha bersama dan tidak tampak adanya kemandirian kelompok namun menjadi aktivitas usaha kelompok yang berubah menjadi usaha sendiri-sendiri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyelenggara program dalam meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan program life skill. Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini dapat diketahui bagaimana sebaiknya pengelola program melaksanakan program life skills dan memperbaiki faktor-faktor yang menjadi penghambat implementasi program life skills. Untuk itu disarankan penyelenggara program hendaknya melakukan pembinaan secara kontinyu, berkesinambungan sesuai dengan prinsip-prinsip pendampingan sehingga mengarah pada tujuan utama pendampingan yaitu adanya kemandirian kelompok program life skill.

Penggunaan materi landeskunde pada tahap apersepsi dalam pembelajaran bahasa Jerman di kelas X-3 SMA Negeri 8 Malang / Mahardhika Dwi Atmaja

 

Kata Kunci: tahap apersepsi, sikap belajar, pembelajaran Bahasa Jerman, Landeskunde Tahap apersepsi merupakan tahap paling awal yang singkat dalam kegiatan pembelajaran di kelas, di mana guru memulai pelajaran dengan memasuki dan memacu pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk dikaitkan dengan isi materi pelajaran. Kegiatan pembelajaran tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan sikap belajar siswa yang sejak tahap aperspesi telah mengalami penurunan. Metode mengajar guru Bahasa Jerman di SMA Negeri 8 Malang dalam memulai pelajaran selama ini tidak cukup untuk mempersiapkan sikap belajar siswa, karena guru hanya menanyakan materi yang telah lalu, dan bahkan terkadang langsung kepada inti pembelajaran. Pelaksanaan penelitian bertujuan untuk memaksimalkan tahap apersepsi tersebut dengan sajian materi yang menarik sehingga dapat meningkatkan sikap belajar dalam bentuk perhatian dan motivasi siswa untuk belajar Bahasa Jerman. Materi tersebut adalah materi Landeksunde yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan kognitif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 8 Malang dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif-kualitatif. Siswa kelas X-3 yang bertindak sebagai subjek penelitian dan sekaligus sumber data adalah sebanyak 30 siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket siswa dan pedoman observasi penelitian. Data dianalisis secara kualitatif dengan cara mendeskripsikan kegiatan pembelajaran pada tahap apersepsi dengan materi Landeskunde berikut nuansa belajar siswa. Triangulasi dengan teknik pemerolehan data digunakan sebagai sarana untuk menjaga keabsahan data dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diambil kesimpulan bahwa materi Landeskunde dapat dijadikan sebagai materi pada tahap apersepsi dalam pelajaran Bahasa Jerman karena dapat memacu pengetahuan yang telah dimiliki siswa terkait isi materi pelajaran. Di samping itu, sikap belajar dari sebagian besar siswa dapat meningkat dengan timbulnya perhatian dan motivasi belajar. Meskipun demikian, masih terdapat kekurangan dalam penelitian ini, yaitu waktu penyampaian materi Landeskunde ini 5 menit lebih lama dari alokasi waktu yang direncanakan. Dengan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru bidang studi Bahasa Jerman di sekolah agar menggunakan materi Landeskunde sebagai materi pada tahap apersepsi untuk kegiatan belajar-mengajar Bahasa Jerman di kelas. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan agar dapat menemukan cara yang lebih efektif dalam mempergunakan tahap apersepsi pembelajaran Bahasa Jerman supaya sikap belajar siswa dapat meningkat.

Analisa karakteristik komik Mahabharata karangan R.A. Kosasih tentang unsur visualisasi dan tema cerita / Bunga Paramita

 

Kata Kunci : Karakteristik Komik, Komik Mahabharata, Unsur Visualisasi dan Tema Cerita Komik Mahabharata karangan R.A. Kosasih adalah komik Indonesia yang muncul sekitar tahun 1953 yang merupakan legenda komik wayang yang menceritakan konflik antara Pandawa dan Kurawa. Komik Mahabharata tercipta karena adanya penolakan oleh pendidik dan pemerhati budaya yang menentang cerita adaptasi sehingga muncul inisiatif pembuatan komik yang berorientasi tentang budaya Indonesia. sebagai hasil pencarian itu maka cerita Mahabharata pun menjadi komik wayang yang sangat di gemari pada jamannya hingga sekarang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup proses penciptaan, unsur visualisasi dan tema cerita pada karakteristik komik Mahabharata karangan R.A. Kosasih. Karakteristik komik terdiri dari proporsi, action ( gerakan ), perspektif, bayangan siluet, sound lettering, frame,dan style ( gaya aliran komik ). Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian yang berupa paparan tentang visualisasi 5 tokoh karakter komik Mahabharata yaitu Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu peneliti itu sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis mencakup kegiatan mengorganisir data, memilah – milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 3 kesimpulan yaitu seperti berikut. Pertama, sejarah proses penciptaan komik Mahabharata karangan R.A. Kosasih merupakan visualisasi unsur wayang golek Sunda. Kedua, komik Mahabharata karangan R.A. Kosasih memiliki visualisasi karakter dan ornamen yang merupakan penggabungan dari visualisasi Wayang Golek Sunda dan proporsi tokoh komik realis menurut gaya R.A. Kosasih. Ketiga, Tema cerita dari komik Mahabharata karangan R.A. Kosasih adalah tema cerita Pewayangan yang mengarah pada kehidupan kesusilaan yaitu kebajikan akan selalu membasmi sifat kejahatan.

Penerapan skrip kooperatif untuk meningkatkan keaktivan dan hasil belajar dalam menyusun percakapan pada siswa kelas VI SDN Jimbaran II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan / Khafid

 

Kata Kunci: Skrip Kooperatif, Keaktifan, hasil belajar, naskah percakapan, SD. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi secara lisan dan tulisan serta menghidupkan karya cipta bangsa Indonesia.Pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari empat aspek keterampilan utama yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.Pada Kurikulum Tingkat Satuan (KTSP) salah satu Kompetensi Dasar yang diajarkan adalah menyusun naskah percakapan/dialog. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) Mendeskripsikan proses pembelajaran melalui penerapan skrip kooperatif, (2) Mendeskripsikan peningkatan keaktifan belajar siswa dalam menyusun naskah percakapan/dialog melalui penerapan skrip kooperatif, (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan skrip kooperatif dalam menyusun naskah percakapan/dialog pada siswa kelas VI SDN Jimbaran II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus.Masing-masing siklus dilaksanakan dua kali pertemuan dengan durasi waktu 2 x 35 menit.Subyek penelitian siswa kelas VI yang berjumlah 29 orang, terdiri dari 13 laki-laki dan 16 perempuan.Instrumen pengumpul data utama adalah lembar observasi dan panduan wawancara untuk guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menyusun percakapan siswa kelas VI SDN Jimbaran II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan.Pada siklus I hasil yang diperoleh mencapai rata-rata 69%.Dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan rata-rata 81%. Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis penelitian yaitu jika siswa kelas VI SDN Jimbaran II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan dibelajarkan menyusun percakapan atau dialog menerapkan skrip kooperatif maka keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan hasil dan temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan skrip kooperatif dalam menyusun naskah percakapan/dialog mengalami peningkatan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam menyusun percakapan/dialog, di sarankan hendaknya dalam pembelajaran menggunakan metode dan model yang dapat menyampaikan pesan dan yang bersifat menyenangkan bagi siswa.Bagi peneliti, penelitian ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk melanjutkan penelitian serupa.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |