Kesiapan sumber daya manusia dalam implementasi standar pelayanan publik di Dinas Pendidikan kota Batu / Vininda Sasiani

 

Kata kunci: kesiapan, standar pelayanan publik, sumber daya manusia. Standar pelayanan menurut Lembaga Administrasi Negara (2003) adalah suatu tolok ukur yang dipergunakan untuk acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai komitmen atau janji dari pihak penyedia pelayanan kepada pelanggan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas. Pelayanan Publik merupakan wujud dari penerapan Total Quality Management (TQM). TQM merupakan suatu usaha pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus antara produk, jasa, tenaga kerja, proses, dan lingkungannya (Nasution, 2001: 29). Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dapat diukur melalui faktor kinerja atau produktivitas dari SDM tersebut. Karena jika faktor kinerja atau produktivitas telah dimiliki, maka SDM dianggap berkompeten dalam pelaksanaan kebijakan. Menurut Gomes (2003: 160), produktivitas sangat dipengaruhi oleh faktor knowledge, skills, abilities, attitudes, behaviours. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif, yaitu mendeskripsikan kesiapan sumber daya manusia dalam mengimplementasaikan standar pelayanan publik di Dinas Pendidikan Kota Batu. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner/ angket. Sampel dalam penelitian ini yaitu pegawai Dinas Pendidikan Kota Batu sebanyak 93 orang. Analisis data yang digunakan adalah analisis data pada kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif . Dari penelitian ini, diketahui beberapa data, antara lain: (1) sebanyak 1 orang (1,1%) sangat belum siap untuk mengimplementasikan Standar Pelayanan Publik di Dinas Pendidikan Kota Batu, 3 orang (3,2%) belum siap, 16 orang (17,2%) cukup siap, 16 orang (17,2%) siap, 37 orang (39,8%) sangat siap, dan 20 orang (21,5%) sangat siap sekali; (2) tingkat kesiapan pengetahuan adalah 3 orang (3,3%) di antaranya belum memahami tentang Standar Pelayanan Publik di Dinas Pendidikan Kota Batu, 7 orang (7,5%) sudah memahami, sedangkan 83 orang (89,2%) sangat memahami tentang standar pelayanan publik; (3) tingkat kesiapan keahlian adalah 16 orang (17,2%) yang belum memiliki keahlian yang sesuai dengan pekerjaan yang sekarang sedang diemban di Dinas Pendidikan Kota Batu, 39 orang (41,9%) memiliki keahlian yang sesuai, sedangkan 38 orang (40,9%) yang memiliki keahlian yang sangat sesuai; (4) tingkat kesiapan kemampuan 7 orang (7,5%) belum memiliki kemampuan yang sesuai untuk melaksanakan tugasnya, 18 orang (19,4%) memiliki kemampuan yang sesuai, sedangkan 68 orang (73,1%) memiliki kemampuan yang sangat sesuai untuk melaksanakan tugasnya; (5) tingkat kesiapan sikap adalah, 8 orang (8,6%) belum memiliki sikap yang baik dalam melaksanakan tugasnya, 18 orang (19,4%) memiliki sikap yang baik dalam melaksanakan tugasnya, dan 41 orang (44,1%) ii memiliki sikap yang sangat baik dalam melaksankan tugasnya; (6) tingkat kesiapan perilaku adalah 87 orang pegawai (93,5%) yang memiliki perilaku yang sangat baik dalam menjalankan tugasnya, sedangkan 6 orang sisanya (6,5%) memiliki perilaku yang cukup baik. Peneliti mengemukakan saran sebagai berikut: (1) hendaknya Kepala Dinas lebih memperhatikan kesiapan pegawai pegawai.; (2) hendaknya pegawai Dinas Pendidikan Kota Batu meluruskan niat untuk menjadi PNS yang sebenarnya, yaitu pelayan masyarakat; (3)bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UM, alangkah baiknya jika Pelayanan Publik yang baik juga diterapkan di Jurusan Administrasi Pendidikan, tentunya berimbang dengan biaya perkuliahan yang semakin meningkat; (4) diharapkan dengan dibuatnya skripsi ini, mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan menjadi lebih kritis menanggapi fenomena sosial, terutama di bidang pendidikan; dan (5) untuk peneliti lain, hendaknya untuk penelitian selanjutnya, dapat menambah skala penilaian dan memperluas pertanyaan sehingga lebih bisa dinilai secara jelas dan mendetail

Strategi kepemimpinan sekolah dalam melaksanakan program sekolah cuma-cuma dan memberdayakan partiaipasi masyarakat (Studi kasus di SMP Harapan I Dlangu Mojokerto) / Agus Pramono

 

Tesis, Program Studi Manajemen Pen¬didik¬an, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembim¬bing I: Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, dan Pembimbing II: Dr. H. Kusmintar¬djo, M.Pd. Kata kunci: kepemimpinan sekolah, pro¬gram sekolah cuma-cuma, pemberdayaan partisipasi masyarakat. Adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat salah satu tujuan pendidikan, yaitu pemerataan pendidikan di Indonesia dan terwujudnya tujuan Pro¬¬gram Wajib Belajar 9 Tahun pada tahun 2009 menjadi tertunda. Hal ter¬sebut di atas menjadi salah satu alasan dan latar belakang dilaksana¬kannya pro¬gram seko¬lah cuma-cuma di SMP Harapan I Dlanggu Mojokerto. Namun demikian, keberhasilan program sekolah cuma-cuma tersebut sa-ngat bergantung pada beberapa hal, antara lain, partisipasi orang tua/masyarakat sekitar. Untuk itu, diperlukan kegigihan ke¬pala sekolah dan guru untuk proaktif mengga¬lang dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat, bahwa masyarakat ikut ber¬tanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan anak mereka. Untuk mengungkap dan mendeskripsikan fokus penelitian tentang bagai-ma¬nakah strategi kepemim¬pinan sekolah dalam melaksanakan program sekolah cuma-cuma dan memberdayakan partisipasi masyarakat: studi kasus di SMP Harapan I Dlanggu Mo¬jokerto, maka penelitian ini memiliki sub fokus sebagai berikut: (1) Bagaimana¬kah strategi kepemimpinan sekolah dalam melaksanakan pro¬gram se¬ko¬lah cuma-cuma, dan (2) Bagaimanakah strategi kepemimpinan sekolah dalam memberdayakan partisipasi ma¬sya¬rakat. Untuk menjawab fokus penelitian di atas, maka penelitian ini mengguna-kan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Pe-milihan informan dilakukan dengan teknik bola salju, dan diperoleh informan ke-pala sekolah, wakil kepala sekolah, bendahara sekolah, guru, staf tata usaha, ketua komite sekolah, anggota dewan pendidikan, orang tua/wali murid, dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh temuan bahwa: (1) Dalam pelak-sanaan program sekolah cuma-cuma: (a) Latar belakang dilaksanakannya program sekolah cuma-cuma adalah: kon¬di¬si ekonomi masyarakat sekitar yang kurang mampu, kondi¬si se¬kolah saat itu yang mengalami penu¬run¬an jumlah siswa, dan adanya pem¬berian dana BOS oleh pemerintah untuk mendukung tercapai¬nya pro-gram Wajar 9 Tahun; (b) Tujuan dilaksanakannya program sekolah cuma-cuma adalah se¬bagai wadah un¬tuk menampung siswa kurang mam¬pu yang ingin mengenyam pendidikan/sekolah de¬ngan biaya yang relatif murah, terjangkau dan bahkan gratis; (c) Strategi sekolah dalam pelaksanaan program sekolah cuma-cuma dipilah men¬ja¬di tiga tahapan, yaitu: peren¬canaan dan persiapan, sosi¬alisa¬si dan kebijakan dan stra¬tegi pelaksanaan program; (d) Faktor yang mendukung dan

Pengaruh indeks bursa nasdaq, Ftseng Hang Seng, dan ASX terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) periode tahun 2011 / Lely Erletta

 

Kata Kunci :Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks bursa saham Global, Indeks Nasdaq, Indeks Hang Seng, Indeks FTSE, dan Indeks ASX. Ada banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), diantaranya adalah indeks bursa saham global. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengaruh antara indeks bursa global Nasdaq, Hang Seng, FTSE dan ASX terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia BEI. Indeks bursa Nasdaq merupakan salah satu indeks terbesar Amerika yang sering digunakan sebagai indikator saham teknologi dunia. Sedangkan indeks bursa Hang Seng merupakan salah satu indeks termaju dikawasan Asia hingga sering digunakan sebagai acuan bursa saham dikawasan Asia. Untuk kawasan Eropa diwakili oleh indeks bursa FTSE yang merupakan indeks dengan kapitalisasi tertinggi dikawasan tersebut. Sementara Australia yang merupakan salah satu negara terdekat dengan indonesia memiliki indeks bursa ASX. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks harian bursa global Nasdaq, Hang Seng, FTSE, dan ASX periode 1 Januari sampai dengan 31 Maret 2011. Selama periode pengamatan digambarkan bahwa hubungan antara indeks bursa global Nasdaq, Hang Seng, FTSE, dan ASX tidak sesuai dengan teori yang ada. Hal ini didukung dengan adanya kesenjangan dengan beberapa penelitian terdahulu. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda dengan SPSS 17 dengan syarat pengujian antar variabel dengan tingkat signifikan 5%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel indeks bursa saham global (Nasdaq, Hang Seng, FTSE, dan ASX) secara bersama-sama berpengaruh terhadap IHSG. Sedangkan, secara individual hanya variabel indeks Hang Seng yang berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Sementara indeks Nasdaq, FTSE dan ASX tidak berpengaruh signifikan terhadap IHSG. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka disarankan bagi penelitian selanjutnya perlu menambah jumlah periode pengamatan sehingga akan lebih jelas pola hubungan antar variabel dan kekuatan pengujian dapat ditingkatkan. Menambahkan variabel lain selain indeks bursa global dan regional seperti variabel makro ekonomi. Bagi investor hendaknya memperhatikan beberapa factor yang mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan. Salah satunya adalah indeks bursa saham global dan regional. Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan para investor dalam mengambil keputusan investasi.

Analisis pengaruh arus kas dan laba terhadap return saham perusahaan LQ-45 tahun 2008-2010 / Rizki Yulia Nita Sari

 

Isolasi, karakterisasi, dan indentifikasi komposisi asam lemak minyak biji kacang mete (Anacardium occidentale L) / Sigibertus Pandang Jamad

 

Kata kunci: Anacardium occidentale L, isolasi, karakterisasi, identifikasi, minyak kacang mete Tanaman jambu mete adalah suatu tanaman yang termasuk dalam spesies Anacardium occidentale L. Dalam setiap satu butir biji mete, rata-rata terdiri dari 70% (berat) kulit biji dan 30% (berat) biji kacangnya. Manfaat dari tanaman jambu mete yang belum dikenal masyarakat luas adalah potensi minyak biji kacangnya. Biji kacang mete termasuk salah satu produk kacang-kacangan yang paling banyak diperdagangkan dan dikelompokkan sebagai komoditi "mewah" (luxury) dibandingkan dengan kacang tanah atau almond. Kegunaan utama dari kacang mete adalah kudapan (snacks), campuran pada industri gula-gula dan industri roti. Kacang mete merupakan sumber protein yang baik, oleh karena itu penelitian tentang kandungan kimia pada biji kacang mete perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi minyak biji kacang mete, mengetahui karakter dan komponen minyak biji kacang mete. Penelitian ini bersifat eksperimental dan dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pada penelitian ini ekstraksi minyak biji kacang mete dilakukan dengan soxhlet dengan pelarut n-heksana. Setelah itu campuran minyak dan larutan dievaporasi dengan menggunakan rotavapor. Minyak biji kacang mete yang diperoleh dihitung rendemennya, dikarakterisasi yang meliputi indeks bias, titik leleh, massa jenis, viskositas, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan iod. Identifikasi komposisi asam lemak dilakukan dengan kromatografi gas spektroskopi massa (GC-MS) terhadap campuran metil esternya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak biji kacang mete yang diperoleh berwarna kuning jernih, pada suhu kamar berwujud cairan kental, tidak berbau dengan rendemen 43% terhadap bobot kering. Karakterisasi minyak biji kacang mete adalah sebagai berikut: massa jenis sebesar 0,872 g/mL, indeks bias 1,467 (25 0C), titik leleh 150C, viskositas sebesar 0,04543 Ns/m2, bilangan asam sebesar 0,395, bilangan penyabunan sebesar 225,791, dan bilangan iod sebesar 81,987. Hasil identifikasi komponen utama minyak biji kacang mete adalah sebagai berikut: asam lemak jenuh antara lain asam palmitat (asam heksadekanoat), (15,49%); asam stearat (asam oktadekanoat), (13,27%); asam 9,10,12-trimetoksi-oktadekanoat (3,48%) dan asam eikosanoat (asam arachidat), (1,20%) dan asam lemak tak jenuh antara lain asam oleat (asam 9-oktadekenoat), (47,20%); asam linoleat (asam 9,12-oktadekadienoat), (0,59%) dan asam 12,15- oktadekadienoat (1,24%).

Hubungan antara komunikasi interpersonal dengan komitmen organisasi pada karyawan PG Wringin Anom Situbondo / Winda Pradipta Mastuti

 

Efektivitas pembelajaran berbasis modul pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X MAN 2 Tulungagung / Atik Tri Wahyuni

 

Kata kunci: pembelajaran modul, hasil belajar. Untuk mencapai keberhasilan kualitas belajar mengajar yang diharapkan perlu adanya suatu pendekatan pembelajaran yang relevan sesuai tuntutan kurikulum yang terus berubah. Untuk itu pendekatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar terutama dalam pembelajaran ekonomi, seharusnya siswa diposisikan sebagai pusat perhatian belajar. Sehingga dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut : (1) Adakah penggunaan pembelajaran berbasis modul lebih efektif daripada pembelajaran konvensional pada mata pelajaran ekonomi kelas X MAN 2 Tulungagung?, (2) Adakah perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis modul dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran ekonomi kelas X MAN 2 Tulungagung?. Salah satu strategi belajar mengajar efektif dan efisien adalah melibatkan siswa secara aktif dan kreatif, dalam proses pembelajaran. Proses belajar mengajar efektif dan efisien dengan melibatkan langsung siswa dapat memotivasi siswa untuk belajar aktif dan kreatif yaitu dengan menggunakan pembelajaran berbasis modul dalam setiap pelajaran berlangsung. Dengan demikian siswa akan menemukan konsep yang dipelajari. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan Quasi eksperimental atau eksperimental semu. Populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X MAN 2 Tulungagung, sedangkan sampelnya kelas X-E dan X-H MAN 2 Tulungagung tahun ajaran 2010/2011. Analisis penelitian yang dipakai adalah uji beda dua rata-rata atau “t-test”. Meningkatnya hasil belajar siswa dapat diketahui dari ketuntasan belajar dan hasil kemampuan akhir siswa atau post-test pada matapelajaran ekonomi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dengan menggunakan modul ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa terbukti dengan analisis hasil belajarnya yang dapat dilihat dari ketentuan belajar siswa terdapat perbedaan yang signifikan. Yaitu pada kelas kontrol masih terdapat banyak siswa yang tidak tuntas. Sedangkan kelas eksperimen banyak siswa yang telah tuntas. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode konvensional pada mata pelajaaran ekonomi tidak lebih baik dari kelas eksperimen serta terdapat perbedaan yang signifikan dari pembelajaran modul terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di MAN 2 Tulungagung, dan saran yang bisa diberikan adalah agar dalam mengajar, guru hendaknya menggunakan modul untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar, siswa diharapkan memiliki kreativitas yang tinggi sehingga modul yang dipelajari dapat diselesaikan tepat waktu.

Pengaruh keberadaan perpustakaan dan internet sebagai sumber belajar akuntansi terhadap hasil belajar (Studi pada mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Angkatan 2008-2009) / Amalia Septiani Erikasari

 

Kata kunci: keberadaan perpustakaan, keberadaan internet, hasil belajar mahasiswa. Adanya perpustakaan dan jaringan internet di lingkungan perkuliahan akan memudahkan mahasiswa untuk memperoleh semua informasi yang diinginkan, khususnya bahan perkuliahan. Kemudahan akses informasi ini dapat menambah pengetahuan atau wawasan mahasiswa sehingga dapat memotivasi mahasiswa untuk meningkatkan hasil belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberadaan perpustakaan dan internet sebagai sumber belajar akuntansi terhadap hasil belajar mahasiswa S1 Pendidikan Akuntansi Angkatan 2008-2009. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa program studi S1 Pendidikan Akuntansi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Angkatan 2008-2009. Sampel diambil sebanyak 42 mahasiswa angkatan 2008-2009. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (explanatory research), data yang digunakan adalah data primer yang dijabarkan dalam angket keberadaan perpustakaan dan internet sebagai sumber belajar akuntansi, sedangkan data sekunder berupa nilai rata-rata indeks prestasi akuntansi. Teknik analisis data adalah teknik analisis regresi berganda. Dari hasil analisis diketahui bahwa keberadaan perpustakaan dan internet sebagai sumber belajar akuntansi sebesar 53% yang berarti bahwa perubahan hasil belajar akuntansi dipengaruhi oleh keberadaan perpustakaan dan internet sebagai sumber belajar akuntansi sebesar 53% dan sisanya sebesar 47% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian ini. Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh keberadaan perpustakaan dan internet sebagai sumber belajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa program studi S1 Pendidikan Akuntansi Angkatan 2008-2009. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: (1)Keterbaruan buku-buku yang disediakan di perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang untuk lebih diperbaruhi karena buku-buku yang ada mayoritas adalah buku dengan tahun terbit yang sudah tidak lazim untuk dijadikan kajian pustaka dalam sebuah karya ilmiah. (2) Pada penelitian mendatang yang sejenis diharapkan dapat menggunakan variabel-variabel lain yang diperkirakan dapat mempengaruhi hasil belajar yang tidak diteliti pada penelitian ini. (3) Dalam pengambilan sampel, penelitian sejenis lainnya sebaiknya menggunakan metode random sampling sehingga hasil penelitiannya dapat digeneralisasikan terhadap populasi

Pengaruh penghasilan orang tua dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS kelas VIII di SMP Negeri 2 Sumberpucung Kabupaten Malang tahun pelajaran 2010/2011 / Aristyo fajar Wicaksono

 

Pengembangan profesionalitas berkelanjutan guru bersertifikat pendidik di SMK Rumpun Teknologi se Malang Raya / Sujianto

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Amat Mukhadis, M.Pd., (II) Drs. Isnandar, M.T. Kata kunci: pengembangan profesionalitas berkelanjutan, investasi pengembangan diri, publikasi ilmiah, karya inovatif. Keberadaan Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD) telah mencatat sejarah baru dalam dunia pendidikan, membenahi faktor kualitas guru sebagai faktor penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan “guru sebagai profesi” merupakan langkah transformatif untuk mengubah jabatan guru sebagai profesi yang dapat meningkatkan mutu guru secara sistemik dan berkelanjutan. Di samping mengatur perlindungan terhadap hak-hak guru, Undang-undang Guru juga memberikan peluang dan rangsangan berprestasi bagi guru dalam menjalankan tugasnya. Diharapkan bahwa peningkatan mutu guru berlangsung secara berkelanjutan sebagai faktor kunci dalam peningkatan mutu pendidikan nasional. Oleh sebab itu, dirasa perlu terus mendorong para guru untuk meningkatkan kompetensi pasca sertifikasi. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka dirasakan perlu adanya studi mengenai Pengembangan Profesionalitas Berkelanjutan pada guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bersertifikat pendidik. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan bukti empirik tentang kondisi guru dalam mendukung usaha untuk mencapai pelaksanaan sertifikasi guru yang efektif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan subjek penelitian guru kejuruan yang bersertifikat pendidik se-Malang Raya. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar kuesioner yang berupa angket dan pedoman wawancara. Adapun hasil uji coba tingkat validitas instrumen guru menunjukkan 82,53% valid. Reliabilitas instrumen menunjukkan 0,952 untuk sub variabel investasi pengembangan diri secara mandiri, berkelompok, dan melembaga, 0,951 untuk sub variabel publikasi ilmiah secara mandiri, berkelompok, dan melembaga, 0,970 untuk sub variabel karya inovatif secara mandiri, berkelompok, dan melembaga. Selanjutnya data dianalisis dengan teknik deskriptif dengan menggunakan formula persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan kenyataan bahwa pemberlakuan UU Guru dan Dosen (UU Nomor 14 Tahun 2005) diikuti dengan tunjangan profesi sebenarnya memberikan harapan besar untuk menumbuhkan minat guru untuk selalu mengembangkan profesionalitasnya, namun kenyataanya tidak demikian. Pengembangan profesionalitas berkelanjutan guru bersertifikat pendidik di SMK rumpun teknologi se-Malang Raya melalui investasi pengembangan diri (secara mandiri, berkelompok, dan melembaga) tergolong kategori rendah sebanyak 61,99%, kategori sedang sebanyak 26,49%, dan kategori tinggi sebanyak 11,62%, artinya sebagian besar guru bersertifikat pendidik hanya dalam kategori kadang-kadang melakukan investasi pengembangan diri melalui diklat fungsional guru, kegiatan kolektif guru, melakukan tindakan reflektif, dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pengembangan profesionalitas berkelanjutan guru bersertifikat pendidik di SMK rumpun teknologi se-Malang Raya melalui publikasi ilmiah (secara mandiri, berkelompok, dan melembaga) tergolong kategori rendah sebanyak 89,06%, kategori sedang sebanyak 9,14%, dan kategori tinggi sebanyak 1,80%, artinya sebagian besar guru bersertifikat pendidik hanya dalam kategori kadang-kadang melakukan aktivitas meneliti dan menulis yang dipublikasikan dalam bentuk buku, majalah, jurnal, modul, atau buku pedoman. Pengembangan profesionalitas berkelanjutan guru bersertifikat pendidik di SMK rumpun teknologi se-Malang Raya melalui karya inovatif secara mandiri, berkelompok, dan melembaga tergolong kategori rendah sebanyak 79,41%, kategori sedang sebanyak 14,89%, dan kategori tinggi sebanyak 5,69%, artinya sebagian besar guru bersertifikat pendidik hanya dalam kategori kadang-kadang melakukan karya inovatif dengan menemukan/membuat teknologi tepat guna, menemukan/menciptakan karya seni, membuat/memodifikasi alat pelajaran/ peraga/praktikum, dan mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, atau soal. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan partisipasi guru bersertifikat pendidik dalam pengembangan profesionalitas berkelanjutan, antaralain: 1) Guru bersertifikat pendidik perlu secara berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi sebagai wujud dari tunjangan profesi yang diterima dengan memanfaatkan program-program peningkatan profesionalisme guru melalui organisasi/komunitas pendidikan (MGMP), forum ilmiah guru, dll. 2) Lembaga atau sekolah perlu membuat program pengembangan profesionalitas berkelanjutan bagi guru melalui perencanaan yang matang dan masuk dalam RAPB sekolah, seperti program: academy award untuk guru dengan berbagai kategori, pendampingan dari universitas terdekat atau asosiasi profesi, supervisi kinerja guru dengan memasukkan aspek pengembangan profesionalitas berkelanjutan. 3) Pemerintah melalui dinas pendidikan bersama universitas yang menerbitkan sertifikat pendidik perlu membuat jam wajib bagi guru bersertifikat pendidik untuk melaksanakan pengembangan profesionalitas sebagai pendukung dari program sertifikasi guru, seperti: diklat berjenjang, kuliah dengan Sistem Kredit Semester (SKS), atau melalui pemberkasan portofolio pengembangan profesionalitas. 4) Bagi peneliti, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan: variabel faktor pendukung (model atau alasan guru bersertifikat pendidik belum melaksanakan pengembangan profesionalitas berkelanjutan), data yang lebih banyak, responden yang berasal dari berbagai wilayah, dan deskripsi hasil penelitian berdasarkan otoritas wilayah (Kota dan Kabupaten).

Pengaruh hasil belajar kelompok matakuliah keahlian berkarya terhadap keberhasilan pelaksanaan praktik industri mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga angkatan 2007 Universitas Negeri Malang / Dian Prayogi

 

Kata kunci: pengaruh, Keahlian Berkarya, Praktik Industri Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hasil belajar kelompok matakuliah Keahlian berkarya terhadap keberhasilan pelaksanaan Praktik Industri mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga Angkatan 2007 Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian explanatory dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah populasi dalam penelitian ini kurang dari 100, sehingga seluruh populasi dijadikan objek penelitian. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga yang telah melaksanakan Praktik Industri, jadi jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 47 mahasiswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi analisa persentase, uji normalitas, uji lineraitas, uji homokedastisitas dan regresi ganda dengan menggunakan bantuan program SPSS Ver. 16 For Windows. Berdasarkan hasil analisa persentase didapatkan hasil bahwa sebagian besar mahasiswa mendapatkan nilai cukup baik. Bedasarkan hasil uji normalitas didapatkan hasil bahwa semua variabel X dan Y berdistribusi normal, sehingga analisa data dapat dilanjutkan dengan uji homokedastisitas dan uji linearitas. Bedasarkan uji homokedastisitas didapatkan hasil bahwa semua variabel mempunyai varians yang sama. Bedasarkan uji linearitas didapatkan hasil bahwa semua nilai asymp. Sig (2-tailed) variabel X > 0.005, maka data dapat dinyatakan linear. Dari hasil uji regresi menunjukkan adanya pengaruh antara variabel X terhadap variabel Y sebesar 0,658. Jadi 65,8% variabel keberhasilan pelaksanaan Praktik Industri dipengaruhi oleh kelompok matakuliah Keahlian Berkarya. Bedasarkan hasil perhitungan, hipotesis yang diajukan penulis diterima karena terdapat pengaruh antara hasil belajar kelompok matakuliah Keahlian Berkarya terhadap keberhasilan pelaksanaan Praktik Industri.

Regulasi kanker oleh gen cWNT5A secara in vitro pada sel fibroblas chicken kidney (CK) terinduksi cadmium / Martina Kurnia Rohmah

 

Kata Kunci: regulasi, proliferasi, apoptosis, in vitro Kanker merupakan penyebab kematian utama di dunia setelah penyakit jantung. Pada tahun 2004, terdapat sekitar 7,4 juta kematian akibat kanker atau sekitar 13% dari seluruh total kematian penduduk dunia. Terapi gen merupakan salah satu jenis pengobatan kanker yang mulai banyak dipelajari saat ini. Tujuan aplikatif dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan terapi gen melalui pendekatan pengendalian regulasi gen yang berperan di dalam perkembangan tumor. Protein Wnt merupakan glikoprotein yang disekresikan dan berperan penting dalam beberapa aspek perkembangan hewan dan homeostasis jaringan dewasa. Sinyal Wnt bersifat pleiotropik dengan efek stimulasi mitogenik, spesifitas sel dan differensiasi, serta berimplikasi pada pembentukan tumor. Jalur sinyal Wnt ada 2 macam yaitu jalur sinyal Wnt canonical dan Wnt non-canonical. Jalur Wnt canonical (pada vertebrata) meliputi Wnt-1, Wnt3a, dan Wnt-8, mentransduksi sinyal untuk pembentukan komponen seluler yang evolusioner dan berperan penting di dalam kontrol proliferasi dan differensiasi sel. Pada manusia, ketidaksesuaian aktivitas jalur sinyal Wnt canonical diasosiasikan dengan tingginya frekuensi tumor pada jaringan. Selain Wnt canonical juga terdapat Wnt non-canonical yang memiliki 2 jalur sinyal yaitu Polar Cell Planar (PCP) dan Ca2+. Di antara famili Wnt non-canonical, gen Wnt5a mempunyai aktivitas antagonis dari Wnt-Wnt yang menginduksi kanker (canonical Wnt) melalui jalur -catenin. Cadmium merupakan karsinogen kelas 1 yang dapat menimbulkan efek karsinogenik melalui jalur sinyal Wnt canonical/-catenin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola regulasi gen cWnt5a secara in vitro pada sel fibroblas Chicken Kidney (CK) terinduksi cadmium. Sel CK diinduksi kanker dengan menggunakan cadmium, kemudian ditransfeksi dengan gen cWnt5a dalam virus Replication Competent ALV LRT with a Splice Acceptor (RCAS). Pada penelitian ini, CK normal merupakan kontrol negatif, sedangkan CK kanker (CK + cadmium) dan CK + gen cWnt5a sebagai kontrol positif (1 dan 2). Hasil 3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium bromide 0,5% (MTT) Proliferation Assay menunjukkan bahwa gen cWnt5a dapat menurunkan proliferasi (down regulate) (p < 0,05) secara signifikan pada sel kanker CK terinduksi cadmium. Uji apoptosis menunjukkan bahwa gen cWnt5a dapat menginduksi apoptosis (up regulate) (p < 0,05) secara signifikan pada sel kanker CK terinduksi cadmium.

Problematika dan diagnosis kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini di desa ngabab Kecamatan Pujon Kabupaten Malang / Fajrin Agustina

 

Kata Kunci: tumbuh kembang anak usia dini Anak usia dini berada dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangan manusia. Anak tumbuh dan berkembang dalam lingkup sosial. Lingkup sosial awal yang meletakkan dasar perkembangan anak adalah keluarga. Dengan demikian, orang tua memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak usia dini. Sudah merupakan kewajiban orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak. Namun, potensi tersebut hanya dapat berkembang apabila diberi rangsangan, bimbingan, bantuan, dan perlakuan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang problematika dan diagnosis kebutuhan anak usia dini dalam pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang untuk kehidupannya di Desa Ngabab. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan phenomenologik. Penelitian ini mendeskripsikan kondisi anak usia dini dalam pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini di Desa Ngabab. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Instrumen yang digunakann untuk mengumpulkan data berupa human instrument, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan uji credibility dengan cara perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan dan triangulasi data dan melakukan kegiatan uji confirmability.Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap penyajian data dan tahap menarik kesimpulan data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Secara umum kondisi anak usia dini cukup baik, meskipun ada yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya yaitu mengalami gizi buruk. Kesibukan orang tua setiap hari, menyebabkan perhatian dan kasih sayang kurang terhadap anak dan bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan terhadap anak. Kondisi pendidikan anak usia dini memprihatinkan, hanya anak usia 5-6 tahun yang memperoleh layanan pendidikan. Sedangkan anak dibawah umur lima tahun belum mendapat layanan pendidikan. Kesadaran masyarakat mengenai pendidikan masih sangat kurang, karena latar belakang yang rendah mengakibatkan kebutuhan pendidikan anak belum terpenuhi secara maksimal Masih rendahnya layanan pendidikan, khususnya lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hanya anak yang berusia 5-6 tahun saja yang mendapat layanan pendidikan di lembaga Taman Kanak-Kanak, sedangakan anak di bawah umur lima tahun belum terlayani pendidikannya yang seharusnya memperoleh layanan tersebut, sehingga bisa membantu dalam mengembangkan aspek-aspek perkembangan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan dapat memajukan kehidupan anak di masa yang akan datang menjadi manusia yang berkualitas untuk meningkatkan taraf hidupnya. Berdasarkan simpulan diatas diperoleh saran sebagai berikut. Pertama bagi orang tua atau masyarakat hendaknya sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak sejak dini dan lebih memperhatikan tumbuh kembang anak sejak usia dini, orang tua juga meningkatkan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak melalui berbagai media. Kedua Pemerintah Desa Ngabab, diharapkan lebih memperhatikan pendidikan anak sejak usia dini, dengan cara mendirikan lembaga PAUD dengan begitu diharapkan kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini dapat terpenuhi secara maksimal.

Pengaruh stres kerja terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja karyawan (Studi pada karyawan PT. PLN Persero distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro) / Prisca Nourmanovieta

 

Kata Kunci : Stres Kerja, Kepuasan kerja, dan Komitmen organisasional. Komitmen organisasional merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi organisasi. Ketika seorang mempunyai komitmen organisasional dalam organisasinya tentu karyawan akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mewujudkan tercapainya tujuan organisasi. Kesuksesan tercapainya tujuan organisasi tidak semata-mata karena adanya komitmen organisasi pada diri karyawan tetapi rasa kepuasan dalam bekerja. Karyawan yang memiliki kepuasan kerja akan meredam stres yang terjadi dalam pekerjaan mereka. Sehingga apabila seorang karyawan memiliki kepuasan kerja yang tinggi maka akan mengelola stres kerja dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kerja karyawan yang ada di PT. PLN Persero Distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja. Jumlah sampel adalah 69 responden dengan menggunakan metode Proportionate Stratified Random Sampling dengan berdasarkan level manajemen pada setiap unit. Respondennya adalah karyawan PT. PLN Persero Distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro. Pengambilan data primer dalam penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa angket atau kuesioner. Instrumen penelitian tersebut menggunakan skala Likert dengan 5 skala pengukuran. Tujuan penelitian ini diwujudkan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif guna mengetahui gambaran masing-masing variabel stres kerja, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS for Windows Release 16.0, untuk proses pengolahan data dan analisis jalur (path analysis). Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung negatif yang signifikan stress kerja terhadap kepuasan kerja karyawan; (2) Terdapat pengaruh langsung negatif yang signifikasi stres kerja terhadap komitmen organisasional , (3) terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional, (4) terdapat pengaruh tidak langsung negatif yang signifikan stress kerja terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja. Deskripsi penilitian menyatakan bahwa stres kerja rendah, kepuasan kerja tinggi dan komitmen organisasional tinggi.

Pengaruh status sosial ekonomi orang tua dan pemanfaatan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi melalui minat belajar ekonomi pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas X di MAN 2 Tulungagung / Ika Movitasari

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar, Minat Belajar. Dalam pelaksanaan pendidikan ada tiga unsur yang ikut bertanggung jawab yaitu: Orang Tua, Masyarakat, dan Pemerintah. Dalam dunia pendidikan formal, fenomena belajar mengajar dapat dilihat sebagai suatu proses belajar mengajar dan lebih menekankan pada terciptanya kegiatan pada diri siswa. Dalam mewujudkan lembaga pendidikan orang tua siswa dilibatkan dalam partisipasi swadana, hal ini secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada prestasi siswa. Keadaan sosial ekonomi orang tua menentukan perkembangan dan pendidikan anak disamping sebagai faktor penting bagi kesejahteraan keluarga. penyediaan fasilitas belajar juga sangat penting bagi kelangsungan prestasi belajar siswa di sekolah. Minat belajar merupakan aspek yang sangat penting bagi penentu prestasi belajar siswa. Kondisi sosial ekonomi orang tua, penyediaan fasilitas belajar yang memadai dan minat siswa yang tinggi akan dapat mendukung tercapainya prestasi belajar yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui gambaran status sosial ekonomi orang tuapenyediaan fasilitas belajar, minat belajar dan prestasi belajar siswa kelas X MAN 2 Tulungagung. (2) Mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara status sosial ekonomi orang tuapenyediaan fasilitas belajar, minat belajar dan prestasi belajar siswa kelas X MAN 2 Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan analisis jalur. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan dokumentasi data diperoleh dari sampel penelitian yang diambil dari siswa kelas X MAN 2 Tulungagung. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa termasuk kategori cukup status sosial ekonomi orang tua tergolong tinggi, fasilitas belajar tergolong rendah, serta minat belajar yang rendah. Dari hasil analisis pengujian hipotesis menunjukkan bahwa secara parsial (1) ada Pengaruh Langsung Status Sosial Ekonomi Orang Tua terhadap prestasi belajar siswa sebesar (2) ada Pengaruh Langsung Fasilitas Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa (3) ada Pengaruh Langsung minat belajar siswa terhadap Prestasi Belajar Siswa, (4) Terdapat Pengaruh tidak Langsung Status Sosial Ekonomi Orang Tua dan Fasilitas Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa melalui Minat Belajar Siswa. Sehubungan dengan kesimpulan diatas maka disarankan kepada pihak terkait yaitu siswa untuk lebih berani membuka diri kepada bapak ibu guru agar berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran agar menjadi lebih nyaman dan juga siswa menggunakan fasilitas yang sudah tersedia semaksimal mungkin agar mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis kontekstual untuk rintisan SMA bertaraf internasional kelas XI semester 2 pada materi asam basa / Siti Mushlihatul Ummati

 

Kata kunci: bahan ajar, kontekstual, Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMA- BI), asam basa Materi asam basa adalah salah satu materi yang diajarkan di R-SMA-BI. Materi pokok asam-basa bersifat konseptual dan algoritmik. Pemahaman siswa tentang materi asam basa akan lebih mendalam apabila siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Namun, pada umumnya buku teks kimia yang ada belum memfasilitasi hal tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk merangsang keaktifan siswa adalah pendekatan kontekstual. Dalam pendekatan ini, siswa dituntut untuk dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata sehingga siswa mengalami pembelajaran yang bermakna. Untuk itu, peneliti mengembangkan bahan ajar kimia berbasis kontekstual untuk R-SMA-BI pada materi asam basa agar dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam memilih dan menggunakan bahan ajar. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah diperolehnya bahan ajar kimia pada materi asam basa dengan pendekatan kontekstual dan terujinya kelayakan bahan ajar ditinjau dari hasil validasi isi. Pengembangan bahan ajar dilakukan dengan mengadopsi 10 langkah model pengembangan Dick & Carey, namun pada penelitian ini hanya dilakukan hingga tahap ke sembilan. Langkah-langkah dalam pengembangan bahan ajar ini yakni, (1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (2) menganalisis materi pembelajaran, (3) identifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, (4) penulisan pengalaman belajar siswa, (5) mengembangkan item tes berbasis kriteria, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan bahan ajar, (8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) merevisi bahan ajar. Validasi isi bahan ajar dilakukan oleh validator ahli dan pengguna bahan ajar. Instrumen yang digunakan berupa angket dengan skala Likert. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Angket dianalisis dengan menggunakan teknik analisis nilai rata-rata dan teknik analisis presentase. Produk dari penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar kimia berbasis kontekstual untuk Rintisan SMA Bertaraf Internasional kelas XI semester 2 pada materi asam basa. Hasil validasi bahan ajar oleh validator ahli diperoleh nilai ratarata 3,3 dan persentase 87% untuk aspek kelayakan isi. Aspek kebahasaan memperoleh nilai rata–rata 3,7 dan persentase 93%. Sedangkan aspek penyajian materi memperoleh nilai rata–rata 3,5 dan persentase 88%. Berdasarkan validasi isi oleh pengguna bahan ajar, diperoleh nilai rata-rata 3,4 dan presentase skor sebesar 86%. Berdasarkan hasil validasi, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar kimia berbasis kontekstual R-SMA-BI kelas XI pada materi asam basa yang telah dikembangkan sudah baik dan layak untuk divalidasi empirik di lapangan.

Pengaruh modernitas individu, sikap berprestasi siswa dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang / Ratih Hapsari Wahyu Widarti

 

Kata Kunci: Modernitas Individu, Sikap Berprestasi, Perhatian Orang Tua, Prestasi Belajar. Di dalam proses belajar mengajar keberhasilan siswa dapat dilihat, salah satunya yaitu dengan melihat prestasi belajarnya di sekolah yang tidak hanya ditentukan oleh lingkungan pendidikan saja ada faktor-faktor lain yang mempengaruhinya yaitu faktor intern dan ekstern. Dari jenis klasifikasi faktor tersebut dapat diambil beberapa yaitu bisa berupa modernitas individu yang mana sangat penting mengetahui tingkat prosentase modernitas individu siswa pada perkembangan zaman saat ini,bagaimana siswa bisa memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada untuk meningkatkan prestasi belajar mereka. Selain itu sikap berprestasi juga bisa menentukan tingkat keberhasilan siswa hanya dengan melihat sikap berprestasi siswa,semangat dan keinginan siswa untuk berkembang lebih baik dalam proses belajar mengajar dan ditunjang dengan hasil prestasi belajar yang dimiliki siswa. Serta melalui perhatian orang tua karena sebagian besar waktu siswa dihabiskan di lingkungan keluarga jadi apabila siswa mendapatkan perhatian orang tua yang penuh maka akan membantu siswa dalam proses belajar mengajar sebab ada perhatian orang tua yang akan selalu membantu,berkomunikasi dan memenuhi segala kebutuhan siswa demi meningkatkan prestasi belajarnya. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah modernitas individu, sikap berprestasi, Perhatian Orang Tua sebagai variabel independen dan prestasi belajar sebagai variabel dependen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara modernitas individu, sikap berprestasi dan perhatian orang tua secara parsial dan simultan terhadap prestasi belajar siswa. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Polulasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang, sedangkan sampel diambil sebanyak 63 siswa dengan teknik purposive random sampling. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan analisa data menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa modernitas individu berpengaruh positif terhadap prestasi belajar, sikap berprestasi berpengaruh positif terhadap prestasi belajar, perhatian orang tua berpengaruh positif terhadap prestasi belajar dan secara simultan modernitas individu, sikap berprestasi, dan perhatian orang tua berpengaruh positif terhadap prestasi belajar. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah bagi siswa hendaknya dapat meningkatkan modernitas individu dan sikap berprestasi. Bagi orang tua diharapkan diharapkan dapat memberikan perhatian kepada siswa sehingga dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya. Bagi guru hendaknya dapat memberikan pengarahan kepada siswa mengenai apa pengaruhnya modernitas individu, sikap berprestasi dan perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian diluar variabel pada penelitian ini yang juga berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Pengaruh persepsi guru tentang implementasi sistem manajemen ISO 9001 : 2008 terhadap kinerja profesionalisme guru SMK Swasta di Malang Raya / Santoso Hardiyansah

 

Kata Kunci: persepsi guru, sistem manajemen mutu ISO 9001:2008, kinerja profesionalisme guru. Persepsi guru terhadap implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 menggambarkan tindakan guru dalam melaksanakan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 menggambarkan tindakan guru dalam melaksanakan sistem manajemen mutu dengan baik atau tidak jika guru memiliki persepsi positif terhadap implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 maka guru akan dapat terlibat dalam manajemen peningkatan mutu pendidikan disekolahnya, disamping itu guru akan bekerja dengan rasa tanggung jawab dan profesional. Dari pengamatan peneliti selama ini penelitian sistem manajemen mutu hampir 90 persen dilakukan pada SMK Negeri saja, sedangkan pada sekolah swasta sangat minim diteliti, berkaitan dengan hal tersebut diperlukan penelitian tentang sistem manajemen mutu di SMK swasta dan peneliti memilih SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen dan SMK PGRI 3 Malang, karena SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen dan SMK PGRI 3 Malang merupakan sekolah teknologi swasta yang berstatus sekolah bertaraf internasional yang menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008.. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup persepsi guru, kinerja profesionalisme guru dan pengaruh persepsi guru tentang implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 terhadap kinerja profesionalisme guru pada SMK Swasta di Malang Raya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Penjaringan data untuk guru dilakukan dengan penyebaran angket. Sebelum instrumen digunakan untuk meneliti, maka diuji cobakan dahulu melalui uji pakar, hal ini dilakukan untuk mengetahui layak atau tidaknya instrumen digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Instrumen yang digunakan juga harus diuji dengan uji validitas dan realibilitas agar layak untuk digunakan. Kemudian data yang diperoleh dianalisis untuk menjabarkan penyajian data secara jelas. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 𝑟𝑥1 = 0.371 dan p = 0.001 (p < 0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan sebesar 13.8% antara persepsi guru tentang implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 terhadap kinerja profesionalisme guru pada SMK Swasta di Malang Raya. Saran penelitian antara lain : (1) Bagi Peneliti lain, yang ingin meneliti dengan variabel bebas yang sama, sebaiknya mencoba untuk mengaitkan dengan variabel terikat lain karena banyak faktor-faktor yang dipengaruhi oleh penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008. Sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 merupakan sistem yang banyak diadopsi oleh dunia bisnis dan terbukti i ii memberikan kontribusi yang tinggi bagi perusahaan, sedangkan untuk institusi-institusi khususnya sekolah masih sedikit yang menerapkan sehingga diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk mencoba melakukan penelitian berupa perbandingan tingkat kontribusi yang diberikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 kepada perusahaan dan institusi khususnya sekolah. (2) Bagi Guru, dapat memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh pihak sekolah seoptimal mungkin guna pencapaian peningkatan mutu sekolah dan meningkatkan serta mempertahankan kinerja profesionalismenya. Jika dilihat dari sektor jam kerja guru dapat memanfaatkan alokasi waktu oleh sekolah untuk memperbaiki kualitas siswa agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan persyaratan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 yaitu mnerapkan tindakan yang perlu untuk mencapai hasil yang direncanakan dan peningkatan berkelanjutan dari proses tersebut. (3) Bagi Kepala Sekolah, sebagai manajemen puncak diharapkan meninjau sistem manajemen mutu organisasinya dalam selang waktu yang direcanakan untuk memastikan kebijakan mutu dan sasaran mutu agar lebih meningkatkan kinerja guru hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu sekolah sehingga sekolah tetap dipercaya oleh masyarakat sebagai sekolah yang bermutu. Selain itu diharapkan agar memberikan informasi kepada pelanggan yaitu masyarakat tentang sistem yang di lakukan disekolah agar masyarakat mengerti kelebihan yang dimiliki oleh sekolah dan memberikan jaminan terhadap lulusan berupa informasi lowongan kerja di perusahaan atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar target penempatan lulusan dapat dicapai seoptimal mungkin. (4) Bagi Lulusan, agar lulusan dapat lebih bersaing dalam dunia kerja dan industri maupun dunia pendidikan yang lebih tinggi, sekolah dapat menjamin penyaluran lulusan dan memberikan informasi-informasi tentang dunia kerja dan industri serta informasi jejang pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah juga dapat mempertahankan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dan kinerja profesionalisme guru sehingga tercipta lulusan yang berkompeten. (5) Bagi Komite Sekolah, agar memelihara dokumen-dokumen pedoman mutu dari audit yang telah dilakukan berkala dan memperhatikan kesejahteraan guru kinerja profesionalisme yang telah dicapainya berdasarkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 sehingga guru tidak mencari pekerjaan lain dan tetap fokus dalam dunia pendidikan.

Pengaruh pengumuman pemecahan saham (Stock split) dan pengumuman deviden sebelum dan sesudah ex-devidend date terhadap trading volume activity (TVA) (Studi pada perusahaan yang listing di BEI yang melaksanakan stock split dan pengumuman deviden tahun 2005 - 2010) / Lina

 

Kata kunci: Stock Split, Dividen, Trading Volume Activity (TVA) Keputusan investasi untuk menentukan apakah akan melakukan transaksi dipasar modal ditentukan oleh berbagai informasi yang dimiliki, baik informasi yang tersedia di public maupun informasi private. Informasi tersebut bernilai bagi investor jika keberadaannya menyebabkan investor melakukan transaksi dipasar modal yang tercermin pada perubahan aktivitas volume perdagangan saham. Salah satu bentuk informasi yang mempengaruhi keputusan tersebut adalah stock split dan pengumuman dividen. Sampel yang digunakan sebanyak 30 perusahaan go public yang melakukan pengumuman stock split dan pengumuman dividen. Masalah dalam penelitian ini adalah stock split berpengaruh terhadap trading volume activity dan apakah pengumuman dividen berpengaruh terhadap trading volume activity. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan apakah terdapat perbedaan trading volume activity sebelum dan sesudah stock split dan adakah perbedaan trading volume activity setelah terjadi pengumuman dividen sebelum dan sesudah ex-dividen date. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis uji t sampel berpasangan (paired sample t-test). Agar uji yang dihasilkan valid maka sebelum dilakukan analisis paired sample t-test maka dilakukan uji normalitas menggunakan uji kolmogorof smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan pada volume penjualan saham antara sebelum dan sesudah stock split. Hasil uji secara keseluruhan menunjukkan prob Sig (2 tailed) 0,294>0,05 yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada volume penjualan saham sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Hasil uji adalah nilai Sig (2 tailed) 0,641>0,05 yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan (1) variabel-variabel lain yang mempengaruhi volume penjualan saham, (2) mengelompokkan sampel sesuai dengan jenis industri di BEI sehingga lebih diketahui pengaruh dari tiap variabel, (3) untuk menambah periode penelitian sehingga hasil akan lebih presentatif.

Pengaruh minat memilih program keahlian akuntansi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Program Keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Mojoagung / Auliya Shofwan

 

Kata Kunci: Pengaruh Minat, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Minat merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan prestasi belajar, dimana merupakan salah satu hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih program keahlian di SMK. Motivasi merupakan factor psikologis yang berfungsi menimbulkan, mendasari, dan mengarahkan perbuatan belajar. Prestasi belajar merupakan salah satu dasar dalam menentukan kenaikan kelas, pemilihan program, kelulusan dan penentuan peringkat kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1)Pengaruh positif dan signifikan antara minat memilih program keahlian akuntansi terhadap prestasi belajar. (2)Pengaruh positif dan signifikan antara motivasi belajar siswa program keahlian akuntansi terhadap prestasi belajar. (3)Pengaruh positif dan signifikan antara minat memilih program keahlian dan motivasi belajar akuntansi terhadap prestasi belajar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Penelitian ini disebut penelitian eksplanasi. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi ganda dengan menggunakan bantuan program SPSS 14.00 for Windows. Dalam penelitian ini diambil sampel berjenis propability sampling, sedangkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini mengunakan simple random sampling dan stratified random sampling. Hasil analisis menunjukkan (1) Terdapat pengaruh positif yang signifikan dari minat memilih program keahlian Akuntansi terhadap prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Mojoagung. (2) Terdapat pengaruh positif yang signifikan dari motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Mojoagung. (3) Terdapat pengaruh positif yang signifikan dari minat memilih program keahlian akuntansi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Mojoagung. Saran yang direkomedasikan terkait dengan hasil penelitian adalah: (1) Seorang guru hendaknya dapat menimbulkan minat yang dimiliki oleh siswa yang akan mempenggaruhi peningkatan hasil belajar. (2) Seorang guru hendaknya dapat menumbuhkan motivasi yang dimiliki oleh siswa agar dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik. (3) Sebagai seorang siswa hendaknya dapat menumbuhkan dan mempertahankan minat dalam belajarnya baik disekolah maupun diluar sekolah, sehingga dapat menunjang prestasi belajarnya. (4) Bagi peneliti yang mempunyai keinginan mengadakan penelitian yang sejenis disarankan untuk menambah variabel yang belum diteliti karena masih banyak faktor yang berperan penting dalam pencapaian prestasi belajar secara optimal selain minat dan motivasi.

Identifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami siswa kelas II dalam mempelajari materi termokimia di SMU Negeri I Pamekasan / oleh Zakiyah

 

A Process genre approach to improve the studens' writing ability / Enur Siti Nurjanah

 

Kata-kata kunci: pendekatan genre proses, kemampuan menulis. Temuan awal dalam preliminary study mendorong penulis untuk melakukan penelitian dalam pembelajaran menulis pada siswa kelas sebelas MA Persis Katapang, Bandung. Dari angket yang berisi sepuluh pernyataan ditemukan bahwa sebagian besar siswa mempunyai kesulitan untuk menulis dalam bahasa Inggris. Kesulitan mereka adalah dalam hal mendapatkan ide, menyusun ide dan dalam menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan ide-ide mereka. Untuk memecahkan masalah ini, pendekatan proses genre diterapkan dalam pembelajaran menulis di kelas tersebut. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan kemampuan menulis siswa melalui penerapan pendekatan proses genre. Penulis menggunakan penelitian tindakan kelas kolaboratif, dalam hal ini dia bekerja sama dengan guru bahasa Inggris yang mengajar di kelas tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pelaksanaan strategi ini membutuhkan enam kali dua jam pelajaran. Subjek penelitian terdiri dari 36 siswa kelas sebelas MA Persis Katapang, Bandung, tahun ajaran 2010/2011. Data dikumpulkan melalui penugasan menulis sebelum dan sesudah action, ceklis pengamatan, catatan lapangan dan kuesioner. Penilaian tulisan siswa dalam penugasan sebelum dan sesudah action dilakukan oleh dua orang rater (penilai). Dalam pada itu, reliabilitas antar rater dihitung dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment untuk mengukur tingkat persetujuan dari dua rater tersebut. Nilai reliabilitas antar kedua rater tersebut adalah 87% sebelum action dan 76% sesudah action. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pelaksanaan pendekatan proses genre untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa berhasil secara efektif dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, modeling of text (MoT), dalam hal ini siswa diberikan salah satu jenis teks yang akan mereka tulis setelah itu. Sementara itu, building knowledge of the field (BKoF) dilakukan di tahapan MoT dan JCoT, di awal kegiatan pembelajaran. Kedua, diskusi mengenai ciri-ciri kebahasaan, dalam hal ini para siswa didorong untuk menemukan beberapa ciri kebahasaan dalam teks yang diberikan, para siswa juga mendapat penjelasan mengenai ciri-ciri kebahasaan dalam teks tersebut dan mengerjakan latihan tentang ciri-ciri kebahasaan yang dimaksud. Dalam langkah berikutnya, joint construction of text (JCoT) bagian 1, guru dan siswa bekerja sama untuk menghasilkan sebuah teks. Langkah ini diikuti oleh joint construction of text (JCoT) bagian 2, yang dalam hal ini siswa membuat draf tulisan dengan plan sheet dan expansion sheet, serta merevisi dan mengedit draf tersebut dengan bantuan temannya untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik. Terakhir, dalam independent construction of text (ICoT) siswa membuat teks secara individu. Setiap tahapan prosedur tersebut dilakukan dalam satu kali pertemuan yang terdiri dari dua jam pelajaran, kecuali untuk JCoT 2 yang membutuhkan dua pertemuan. Pendekatan proses genre telah terbukti efektif tidak hanya dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa, akan tetapi efektif juga dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Perolehan nilai rata-rata siswa meningkat dari 47 dalam penugasan sebelum action menjadi 70 dalam penugasan sesudah action, partisipasi siswa juga bisa mencapai 100%. Selain itu, pendekatan ini juga efektif untuk menumbuhkan sikap positif siswa terhadap pelajaran menulis dan menulis dalam bahasa Inggris. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi, disarankan bagi guru bahasa Inggris yang memiliki masalah yang sama untuk menggunakan pendekatan genre proses dalam pembelajaran menulis. Akan tetapi, mereka perlu memperhatikan jangka waktu yang diberikan kepada siswa dalam menulis; sebaiknya diselingi dengan kegiatan yang menyenangkan seperti permainan diantara langkah JCoT dan ICoT sehingga siswa tidak merasa bosan terus menerus menulis. Selanjutnya, dalam diskusi mengenai ciri-ciri kebahasaan, siswa sebaiknya diberikan latihan yang tidak hanya dalam tingkatan kalimat tetapi juga dalam tingkatan paragraf, contohnya paragraf rumpang. Bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian dalam pengimplementasian pendekatan proses genre, disarankan untuk memberikan topik yang berbeda pada tahapan ICoT, sehingga kemampuan siswa dalam menulis sebuah esei dari genre tertentu dapat terukur dengan baik.

Using pattern poems to improve the grammar in the writing products of the students of MA Al-Hidayah Malang / Evi Yusnia Maria Ulfa

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Arwijati Wahjudi, M.Pd, Dip. TESL (II) Dr. Johannes A. Prayogo, M.Pd, M.Ed. Key Words: Pattern Poems, improvement, Grammar, Writing Product Grammar has a special position in writing since it becomes one of the aspects that constructs the genre of the writing. It is expected that the students master grammar in order to produce good writing in English. However, the students in MA al-Hidayah Malang still cannot fulfil this expectation. From the preliminary study conducted, the grammar competence which was reflected in their writing products was still poor because there were still many errors in the sentences. Concerning with this case, Classroom Action Research implementing Pattern Poems was conducted to investigate how pattern poems can improve the grammar in the writing products of the students of MA al-Hidayah Malang. This research is designed to improve the students' grammar in their writing products by using pattern poem strategy. This strategy involves students to learn grammar in more interesting and different way than had been experienced previously. Thus, the problem can be stated as follows: "How can pattern poems improve the grammar in the writing products of the students of MA al-Hidayah Malang?" The subjects of this study were the students of the tenth graders of MA al-Hidayah Malang, 2010/2011 academic year. This study was conducted by following the procedures of the classroom action research, namely: planning, implementing, observing, and reflecting. This research ran for five meetings. The four meetings were allocated for four poems; they were adjective poem, adjective placement poem, adverb poem, and contrast poem. And the last one meeting was used to write the descriptive text. The result of this study shows that pattern poem can improve students’ grammar competence and can be used as one of the ways in improving students' grammar in writing. This research thus brings success to the students because all of the students met the criteria of success in the grammar component. From 38 students, 14 students get the score of 67, 10 students get 75, 5 students get 83, 6 students get 92, and 3 students get 100. From the observation and the questionnaire, the enthusiasm was also shown by the students. This is proven by the fact that more than 50% of the students participated in the activities and were involved actively. From the questionnaire given in the end of the research, the result shows that 56% of the students chose positive response to the strategy applied, 25.5% students chose very positive response, 18.5% students chose negative response, and 0% students chose very negative response. The implementation of the strategy by using pattern poems is firstly begun by introducing the poems to the students. The teacher shows the poems and also the pattern of the poems which consist of some parts of speech. This introduction is done in the poems selected like adjective and adverb poems. Whereas adjective placement and contrast poem are introduced by showing the pattern of the typical sentences in the poems. The second activity is done by modelling to the students of how to write the poems according to the pattern. Thirdly, after the students understand how to write the poems, they should practice writing poems with their groups. The writing may be followed by performing the poems in front of the class. And in the last activity, the students write their own poems individually. Finally, English teachers facing similar problems are suggested to apply Pattern Poem, for it is not only beneficial in improving the grammar but also in motivating the students' enthusiasm in learning. For the students, the exercises will help them to improve their ability in writing the right pattern of English sentences. For future researchers, it is expected that they can conduct the same study but in different type of text genre for example narrative or recount which emphasize the need of writing sentences in the past form.

Studi awal pemanfaatan limbah kertas sebagai membran selulosa asetat dalam pemisahan gas NOx dari asap rokok / Marizka Rahmasari

 

Kata Kunci: membran, selulosa asetat, gas NOx, pemisahan gas Senyawa oksida nitrogen merupakan salah satu senyawa berbentuk gas yang berbahaya bagi kesehatan. Sumber pencemaran gas NOx berasal dari proses industri yang berasal dari cerobong pabrik, gas buangan hasil pembakaran yang keluar dari generator pembangkit listrik, emisi kendaraan bermotor dan asap rokok. Pada penelitian digunakan sampel asap rokok karena sampel lebih mudah didapatkan. Pada penelitian ini, diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat. Apabila membran selulosa asetat dapat mengurangi kadar gas NOx yang terdapat dalam asap rokok, membran dapat dimanfaatkan oleh industri rokok dengan cara memasang membran selulosa asetat pada rokok, sehingga kadar gas NOx yang dihisap oleh pengguna rokok dapat berkurang. Selain itu juga dapat digunakan pada knalpot kendaraan bermotor. Tujuan penelitian adalah (1) Untuk mengetahui kadar gas NOx setelah melewati membran selulosa asetat dengan perbandingan massa selulosa dan volume asam asetat glasial 1 g:4 mL, (2) Untuk mengetahui kadar gas NOx setelah melewati membran selulosa asetat dengan perbandingan massa selulosa dan volume asam asetat glasial 1 g:8 mL, dan (3) Untuk mengetahui karakteristik membran selulosa asetat yang dibuat dengan perbandingan massa selulosa dengan volume asam asetat glasial 1 g:4 mL dan 1 g:8 mL menggunakan analisis FT-IR dan SEM Penelitian merupakan penelitian eksperimental. Tahapan dalam penelitian adalah: (1) tahap delignifikasi untuk menghilangkan komponen dari kertas selain selulosa, (2) pembuatan membran melalui reaksi asetilasi dengan menggunakan asam asetat glasial dengan katalis H2SO4 pekat 98%, (3) penentuan kadar gas oksida nitrogen dari asap rokok sebelum dan sesudah pemasangan membran selulosa asetat, dan (5) karakteristik membran selulosa asetat dianalisis menggunakan FT-IR dan SEM. Hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) Membran selulosa asetat dengan perbandingan 1g:4mL dan 1g:8mL berhasil terasetilasi setelah dianalisis menggunakan FT-IR. Membran selulosa asetat dengan perbandingan 1 g:8 mL mempunyai struktur permukaan yang lebih rapat dibandingkan membran 1 g:4 mL setelah karakterisasi menggunakan SEM dan (2) Kadar oksida nitrogen setelah dilewatkan membran selulosa asetat 1 g:4 mL adalah 54,62% dan setelah dilewatkan membran selulosa asetat 1g:8 mL adalah 51,42%.

Pengintegrasian teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang / Bayu Ariwijanarko

 

Kata kunci: Integrasi TIK, Pembelajaran ekonomi Perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi dan teknologi informasi (TIK), yang telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan tak terkecuali pendidikan, sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk memberikan dukungan terhadap adanya tuntutan reformasi dalam sistem pendidikan. Namun tidak semua Guru mampu memanfaatkan TIK dalam pembelajaran secara optimal. Guru ekonomi kelas X SMA Negeri 6 Malang adalah salah satu dari sekian Guru yang telah mengintegrasikan TIK dalam pembelajarannya. Hanya saja, apakah pengintegrasian TIK dalam pembelajaran tersebut telah sesuai dengan pedoman-pedoman yang ada dan apakah telah memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA Negeri 6 Malang mengenai pengintegrasian TIK pada pembelajaran, kendala yang dihadapi guru ekonomi dalam mengintegrasikan TIK pada, serta mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan pembelajaran ekonomi yang mengintegrasikan TIK di SMA Negeri 6 Malang. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian dipaparkan secara deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner, wawancara ,observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data digunakan triangulasi data. Analisis data menggunakan analisis induktif. Berdasarkan tujuan penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa Guru SMA Negeri 6 Malang yakin pemanfaatan TIK secara optimal, mempunyai banyak manfaat dan dapat membantu dalam penyampaian pembelajaran. Kendala yang dihadapi oleh guru ekonomi SMA Negeri 6 Malang dalam melaksanakan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK adalah kurang lengkapnya sarana TIK yang dimiliki sekolah dan kekurang mampuan guru dalam mengoperasikan TIK. Dalam perencanaan pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, Guru ekonomi menggunakan pendekatan software. Dalam pelaksanaan pembelajaran sendiri, Guru menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa menjadi aktif, serta memanfaatkan program Excel dalam mengolah hasil belajar siswa. Dari hasil kesimpulan, ada beberapa saran yang diajukan peneliti. Diantaranya adalah hendaknya kebijakan Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Malang lebih mengarah kepada pengembangan kemampuan Guru dalam mengoperasikan TIK, serta pemenuhan fasilitas TIK yang dibutuhkan Guru. Kedua, hendaknya Guru lebih meningkatkan kemampuannya dalam mengoperasikan TIK, serta dapat menciptakan dan mempertahankan kreatifitas dan inovasi baru di dalam pembelajaran.

An analysis of speaking materials in developing english competencies for SMA/MA grade XI based on ctl / Refanita

 

Kata Kunci: Materi Berbicara, Buku teks dan pembelajaran kontekstual Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi bahan berbicara pada buku teks yang berjudul Developing English Competencies untuk SMA/ MA Kelas XI berdasarkan CTL dengan melihat ada atau tidaknya ke tujuh komponen CTL yaitu konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar , pemodelan, refleksi dan penilaian autentik. Untuk desain penelitian, peneliti menggunakan analisis isi. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah lembar analisis yang dikembangkan berdasarkan 7 komponen CTL ( konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, model, refleksi dan penilaian yang autentik. Kriteria penilaian digunakan untuk mendeskripsikan aplikasi komponen CTL. Jika skornya berkisar antara 5 sampai 6, dikategorikan baik, bila skornya antara 3 sampai 4, dikategorikan cukup, skor antara 1 sampai 2 dikategorikan buruk dan skor 0 sangat buruk. Temuan menunjukkan bahwa aplikasi komponen CTL dalam buku ini, dalam hal konstruktivisme dikualifikasikan cukup, menemukan kualifasi baik, bertanya dengan kualifikasi sangat buruk, masyarakat belajar dikategorikan baik, model dikategorikan sangat buruk, refleksi dengan kualifikasi cukup and penilaian yang otentik juga berkualifikasi cukup. Diluar permasalahan yang diteliti ada temuan lain. Pertama ada satu kegiatan yang tidak sesuai dengan topik yang dibicarakan. Kedua, tidak adanya pemisahan antara materi yang merespon fungsi bahasa dengan merespon monolog dalam jenis text. Ketiganya ada kesalahan ejaan kata dan kesalahan dalam tata bahasa. Pada intinya, bukunya ini cukup baik untuk digunakan sebagai bahan ajar dengan menambahkan kegiatannya dan mengurangi kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan topic yang dibicarakan. Berkaitan dengan temuan beberapa saran diusulkan untuk para guru dan peneliti yang akan datang. Dalam hal konstruktivisme, gambar dapat diberikan untuk memotivasi para siswa dalam mengingat pengetahuan mereka sebelumnya. Ada beberapa strategi lain yang dapat digunakan untuk mengaktifkan pengetahuan yang sudah mereka miliki seperti tes diagnosa, tabel KWl, berpikir , belajar dengan melakukannya. Dalam hal menemukan, menberikan kegiatan yang bervariasi Dalam hal betanya, memberikan pertanyaan yang membuat siswa berpikir. Dalam hal masyarakat belajar, pengelompokan siswa pada kelompok yang lebih besar dapat difasilitasi agar terbentuknya hubungan yang lebih dekat antar siswa dan berikan kesempatan yang lebih banyak kepada siswa untuk bebicara dan dan berbagi pikiran. Kegiatan pemodelan dapat dilakukan oleh guru sebelum meminta siswa untuk melakukan sesuatu. Refleksi lebih baik diberikan setelah pelajaran selesai dan bisa dalam bentuk jurnal, diskusi, catatan, menceritakan pengalaman langsung tentang pelajaran baru dan hasil karya siswa. Jenis lain dari penilaian seperti wawancara lisan, deskripsi dengan petunjuk gambar atau cerita, kesenjangan informasi, teks cerita / menceritakan kembali, improvisasi / roleplays / simulasi, laporan lisan, dan debat dapat ditambahkan. Untuk peneliti yang akan datang, disarankan bahwa mereka melakukan evaluasi tidak hanya untuk bahan berbicara tetapi juga untuk keterampilan bahasa lain dan mereka dapat menggunakan lembar analisis yang digunakan dalam penelitian ini atau mengembangkan lembar analisis yang lain.

Implementasi manajemen berbasis sekolah dalam penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf internasional (Studi multikasus pada tiga SMP Negeri di kota Buaya dan kota Udang) / Eddy Sutijanto

 

). Desertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd.,(II) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H, M.A., Ph.D,(III) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata kunci : manajemen berbasis sekolah, rintisan sekolah bertaraf internasional, SMP Negeri Munculnya Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi warna/pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia, termasuk sumber daya pendidik sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis dalam pembentukan SDM berkualitas. Sungguh untuk membentuk sumber daya manusia, yang mampu berkompetensi perlu peningkatan mutu pendidikan, melalui Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Untuk mendiskripsikan upaya peningkatan mutu, efisien, relevan, dan memiliki daya saing kuat, dalam penyelenggaraan SMP- RSBI yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 20/2003): Pasal 50 ayat(3)dinyatakan bahwa”pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional”; perlu dilakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan di tiga SMP Negeri 1 RSBI Kota Buaya, SMP Negeri 6 RSBI Kota Buaya, SMP Negeri 1 Kota udang, untuk memenuhi upaya pendidikan bertaraf internasional sebagai upaya menyiapkan peserta didik dalam mempersiapkan daya saing, dan pendidikan juga berkewajiban untuk melestarikan karakter nasional. Kondisi tersebut diiringi dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan otonomi daerah, sektor pendidikan, tuntutan reformasi juga bergulir seiring dengan arus reformasi. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Pemerintah memperkenalkan dan menggalakkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Quality Improvement), atau di sekolah-sekolah terkenal. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multisitus. Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara, observasi peran serta, dan teknik dokumentasi. Informasi dipilih menggunakan teknik purposif, yang dipadukan dengan teknik snowball sampling. Informasi kunci dalam penelitian ini adalah kepala sekolah. Data yang terkumpul melalui teknik tersebut, diperiksa dan dilakukan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Begitu data secara keseluruhan selesai diperiksa, data terkumpul dianalisis dengan analisis dalam situs maupun analisis lintas situs. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan bagaimana proses perumusan visi,misi, tujuan ketiga situs. Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan dan Pemenuhan Indikator Kinerja Kunci Tambahan (IKKT), pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Melalui penelitian ini diperoleh temuan antara lain: (1). Perumusan Visi, misi dan tujuan (2). Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan dan Pemenuhan Indikator-Indikator Kinerja Kunci Tambahan (IKKT), pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (3). Peranan Dinas Pendidikan, Peranan Komite Sekolah, peranan Iklim sekolah, dan peranan pemerhati pendidikan(stakeholders) Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Analisis penelitian, Situs I, Situs II dan Situs III tentang : Manajemen Kepala Sekolah pada pengelolaan rintisan sekolah bertaraf internasional, yang dibangun bukan atas dasar atasan- bawahan, melainkan berdasarkan teamwork, merupakan wujud mengimplementasikan pengembangan program sekolah. Implementasi manajemen berbasis sekolah, Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan dan Pemenuhan Indikator Kinerja Kunci Tambahan (IKKT), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Peranan Dinas Pendidikan, Peranan Komite Sekolah / orang tua, Peranan / pemerhati(stakeholders) pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Berdasarkan temuan-temuan,Pembahasan penelitian Situs I, Situs II dan Situs III, pada :(1).Temuan perumusan Visi, (b) perumusan Misi, c. perumusan tujuan Sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. (2) Temuan Pemenuhan IKKT (Standar Proses, SKL) RSBI (3). Temuan Standar Kurikulum RSBI, (4).Temuan Kegiatan Belajar Mengajar (PBM) (5).Implementasi Pembelajaran MIPA (Matematika, IPA), (6). Temuan implementasi MBS pada Peranan Dinas Pendidikan, Komite Sekolah, dan Pemerhati Pendidikan(stakeholders) RSBI Pada bagian akhir penelitian diuraikan hasil penelitian, terdiri dari: (1) Kesimpulan, (2). Implikasi Teoritis, (a) prinsip belajar mandiri; (b) rinsip belajar sebagai transformasi budaya; (c). prinsip pembelajaran mendorong kreativitas; (d) prinsip selalu saling belajar. (3). Implikasi praktis internasional, (a). implikasi proses pembelajaran Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional; (b) Implikasi Guru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (c) Implikasi bagi Siswa Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional; (d) Implikasi bagi Sarana /Prasaran Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional; (e) Implikasi Perilaku Siswa Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional; (f). Implikasi Perilaku Guru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. (4). Saran-Saran. (5). Kegunaan bagi Peneliti Lanjutan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.

Efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model team games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS (Ekonomi) di SMP Negeri 1 Karangploso Malang / Linda Romadhona

 

Kata kunci: Konvensional, Team Games Tournament (TGT), Hasil Belajar Kurikulum 2004 berbasis kompetensi, yang diperbaharui dengan kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilakukan secara utuh pada setiap sekolah. Cara guru yang mengajar siswa dalam kelas masih tetap saja menggunakan cara lama, yaitu dengan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Sehingga siswa hanya sebagai pendengar setia, dan hasil belajar yang diperoleh dalam nilai ulangan selalu dibawah SKM. Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Games Tournament) adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mempunyai tahap : (1) guru menjelaskan materi sebagai informasi awal, (2) siswa dibagi dalam kelompok, (3) siswa belajar bersama anggota masing-masing kelompok, (4) pelaksanaan turnamen, (5) penskoran dan penghargaan kelompok. Dengan demikian, siswa akan lebih banyak mencurahkan waktunya untuk tugas belajar dengan kelompok, dan dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam, tanpa harus menghafal konsep yang ada di dalam buku. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) pada pokok bahasan Ketenagakerjaan kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso Malang; 2) Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan metode ceramah (konvensional) pada pokok bahasan Ketenagakerjaan kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso Malang; dan 3) Untuk mengetahui Efektivitas belajar siswa yang diajar dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) pada pokok bahasan Ketenagakerjaan kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso Malang. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen, dengan rancangan penelitian adalah Quasi Experimental Design. Populasi pada penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Karangploso Malang. Sedangkan sampel yang diambil terdiri dari dua kelas, dimana satu kelas sebagai kelompok eksperimen yaitu kelas VIII-E dan satu kelas sebagai kelompok kontrol yaitu kelas VIII-F yang diambil dengan teknik Purposive Random Sampling. Data diambil dari dokumentasi, wawancara, dan tes (pre test dan post test). Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, dan uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan awal (t test), kemampuan akhir (t test), dan gain score (t test). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) dengan peningkatan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode ceramah (konvensional). Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan Uji-t diperoleh hasil: 1) Nilai rata-rata pre test dari kelompok kontrol adalah 41,12 dan nilai pre test pada kelompok eksperimen adalah 42,90; 2) Nilai rata-rata post test kelompok kontrol yang diajar dengan metode ceramah (konvensional) sebesar 74,19 dan nilai rata-rata post test kelompok eksperimen yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) sebesar 84,19; dan 3) Rata-rata gain score kelompok kontrol yang diajar dengan metode ceramah (konvensional) 33,06, sedangkan rata-rata gain score kelompok eksperimen yang diajar dengan pembelajaran koopertaif model Team Games Tournament (TGT) sebesar 41,29. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT) lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah (konvensional).

Pengaruh profesionalisme dan pengalaman auditor terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan / Silvi Afindayanti

 

Kata Kunci: Pertimbangan Materialitas, Profesionalisme Auditor, Pengalaman Auditor, Regresi Berganda. Pertimbangan materialitas merupakan pertimbangan yang profesional yang dipengaruhi persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan memadai dan meletakkan kepercayaan pada laporan keuangan (SPAP, 2001). Sesuai dengan standar diatas, maka seorang auditor dituntut untuk memiliki sikap profesionalisme serta pengalman audit yang cukup dalam melakukan pertimbangan materialitas. Fridati (2005) menyatakan ketepatan pertimbangan tingkat materilitas yang dilakukan oleh auditor dipengaruhi oleh profesionalisme auditor yang diproksikan dengan 4 dimensi yaitu pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, dan hubungan dengan rekan seprofesi. Koroy (2005) menyatakan bahwa ketepatan pertimbangan materilitas juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman audit. Auditor yang kurang berpengalaman mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi dalam menghapus persediaan dibanding auditor yang berpengalaman. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, hubungan dengan rekan seprofesi, dan pengalaman auditor terhadap pertimbangan materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan. Pemilihan sampel ditentukan dengan metode berdasarkan kemudahan, sehingga diperoleh sampel sebanyak 35 auditor yang menduduki jabatan sebagai partner, manajer, dan supervisor. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengabdian pada profesi, hubungan dengan rekan, dan pengalaman auditor memiliki nilai sig.< 0,05, sehingga berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan, tetapi variabel kewajiban sosial dan kemadirian memiliki nilai sig.>0,05 yang berarti bahwa kewajiban sosial dan kemandirian seorang auditor tidak berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas dalam pemeriksaan laporan keuangan. Hal ini dikarenakan pengalaman auditor, kondisi dan ukuran perusahaan yang diaudit oleh auditor tersebut berbeda-beda, sehingga dalam menentukan tingkat materialitas tergantung dari pengalaman auditor, ukuran dan kondisi masing-masing perusahaan yang diaudit, selain itu, banyaknya tekanan yang dihadapi oleh auditor pada saat melakukannya audit serta adanya kepentingan keuangan yang cukup besar pada perusahaan yang diaudit juga dapat merusak kemandirian atau independensi seorang auditor dalam melakukan pertimbangan tingkat materialitas pada laporan keuangan.

Pengaruh persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI jurusan IPS pada Mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 3 Malang / Siska Aristiyawati

 

Kata Kunci: Persepsi Siswa Mengenai Variasi Metode Mengajar Guru, Motivasi Belajar, dan Hasil Belajar Siswa Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas baik akan mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas baik pula, maka dari itu kualitas pendidikan senantiasa perlu ditingkatkan. Guru merupakan kunci keberhasilan pendidikan suatu bangsa. Baik atau buruknya perilaku atau cara mengajar guru akan sangat mempengaruhi citra lembaga pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pelajaran berakhir. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi diharapkan tumbuh berbagai kegiatan siswa, yaitu terciptalah interaksi edukatif. Setiap metode mengajar guru yang dipilih dan digunakan oleh guru membawa pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap motivasi dan pencapaian hasil belajar yang diharapkan. Timbulnya motivasi belajar siswa di kelas, dipengaruhi oleh adanya persepsi siswa terhadap kemampuan guru dalam mengajar, termasuk penguasaan guru dalam menggunakan metode mengajar yang bervariasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh secara langsung persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar siswa kelas XI jurusan IPS pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 3 Malang, pengaruh secara langsung motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas XI jurusan IPS pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 3 Malang, dan pengaruh secara tidak langsung persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar siswa kelas XI jurusan IPS Pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS tahun ajaran 2010/2011, yang berjumlah 55 siswa. Dalam pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket dan dokumentasi. Sedangkan untuk pengelolaan datanya, peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif , uji asumsi dan teknik analisis jalur. Berdasarkan analisis jalur/part analisis diperoleh kesimpulan bahwa terdapat pengaruh positif secara langsung antara persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap motivasi belajar. Terdapat pengaruh positif secara langsung motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa. Terdapat pengaruh positif secara tidak langsung persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran group investigation (GI) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (Studi kasus pada siswa kelas X multimedia di SMK Muhammadiyah 3 Singosari) / Wahid Nur Fitrianto

 

Kata Kunci: Model Group Investigation (GI), Motivasi Belajar, hasil belajar. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Berbagai upaya pendidikan telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan kajian-kajian dan pengembangan kurikulum di Indonesia secara bertahap, konsisten, dan disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Salah satu metode pembelajaran yang berkembang pada saat ini adalah pembelajaran kooperatif. Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI), mengetahui motivasi belajar siswa, mengetahui hasil belajar siswa, mengetahui kendala-kendala dan solusi yang dihadapi dan penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada kelas X Multimedia dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar di SMK Muhammadiyah 3 Singosari pada mata pelajaran Kewirausahaan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tidakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Multimedia di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, cacatan lapangan, dan angket motivasi siswa. Teknik analisis data melalui 3 tahap yaitu Data Reduction (Data Reduksi), data display (Penyajian Data) dan conclusion drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I skor tertinggi yang diperoleh adalah 4,45 dari skor maksimalnya adalah 5,00, dan termasuk dalam baik dan mendapatkan poin B. Pada siklus II skor tertinggi yang diperoleh adalah 4,7 termasuk dalam kategori sangat baik dan mendapat poin A. Walaupun peningkatannya kurang signifikan, dan terdapat beberapa siswa yang justru mengalami penurunan, akan tetapi secara keseluruhan pembelajaran ini mampu meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar. Selain itu penelitian ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang terlihat dari perbandingan hasil nilai Pre dan Post Test sebelum dan sesudah penerapan model Group Investigation (GI). Jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 29 siswa( 87,87%) sedangkan yang belum tuntas 4 siswa (12,12%) dari 33 siswa. Hasil siklus II menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan dengan siswa yang tuntas sebanyak 31 siswa ( 93,93%) dan yang belum tuntas sebanyak 2 siswa (6,06%). Walaupun pada

Pengaruh citra produk terhadap proses keputusan konsumen dalam pembelian sepeda motor yamaha (Studi pada pelanggan Dealer UD. Surya Mas Motor Jombang) / Nindyo Kumoro

 

Kata Kunci: Citra Produk, Proses Keputusan Pembelian. Citra merupakan suatu hal yang penting diperhatikan oleh perusahaan, apabila perusahaan memiliki citra yang baik maka produk dari perusahaan tersebut akan dapat pula diterima dengan baik dipasaran. Demikian halnya dengan citra yang dimiliki oleh produk yang dihasilkan apabila produk sebelumnya memiliki citra yang baik maka pada peluncuran produk berikutnya kemungkinan besar akan mendapat sambutan yang baik pula bagi konsumen. Penelitian ini berusaha menjelaskan pengaruh citra produk terhadap proses keputusan pembelian sepeda motor pada UD. Surya Mas Motor Jombang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan lima variabel bebas dan satu variabel terikat, variabel bebas terdiri atas Desain, Warna, Kualitas, Jaminan, dan pelayanan. Sedangkan variabel terikatnya adalah Proses keputusan pembelian sepeda motor Yamaha. Populasi dalam penelitian ini adalah pembeli sepeda motor Yamaha pada UD. Surya Mas Motor. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Acidental sampling. Dalam penelitian jumlah sampel yang menggunakan rumus Slovin dengan hasil 94 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ß1 dari desain produk adalah sebesar 0,426, nilai thitung 3,091 dan signifikan pada level 0,003. Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara desain produk terhadap pengambilan keputusan pembelian karena thitung > ttabel yaitu 3,091>1,987. (2) β2 dari warna adalah sebesar 0,584, nilai thitung 3,326 dan signifikan pada level 0,001. Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara warna terhadap proses keputusan pembelian karena thitung > ttabel yaitu 3,326 > 1,987. (3) β3 dari kualitas produk adalah sebesar 0,803, nilai thitung 4,132 dan signifikan pada level 0,000. Ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara kualitas produk terhadap proses keputusan pembelian thitung > ttabel yaitu 4,132 > 1,987. (4) β4 dari jaminan adalah sebesar 0,524, nilai thitung 3,223 dan signifikan pada level 0,002. Ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara jaminan terhadap proses keputusan pembelian thitung > ttabel yaitu 3,223 > 1,987. (5) β5 dari pelayanan adalah sebesar 0,668, nilai thitung 3,166 dan signifikan pada level 0,002. Ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara jaminan terhadap proses keputusan pembelian thitung > ttabel yaitu 3,166 > 1,987. Berdasarkan hasil uji F yang diperoleh nilai Fhitung sebesar 37,225 > Ftabel sebesar 2,318 dengan signifikan pada level 0,000 hal ini menunjukan bahwa secara simultan kelima variabel bebas berpengaruh positif dan signifikan terhadap proses keputusan pembelian sepeda motor Yamaha. Sedangkan variabel yang paling berpengaruh atau dominan dalam penelitian ini adalah X3 kualitas produk. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian yaitu secara parsial ada pengaruh positif dan signifikan antara citra produk (desain produk, warna produk, kualitas produk, jaminan produk, pelayanan) maupun bersama - sama terhadap proses keputusan pembelian telah terbukti. Sedangkan saran yang bisa dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah sebagai berikut: (1) Citra produk hendaknya diperhatikan, terutama adalah faktor kualitas produk yang memiliki sumbangan efektif tertinggi atau mempunyai pengaruh paling besar pada proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. (2) Lebih meningkatkan citra produk untuk lebih meyakinkan konsumen agar bisa memberikan persepsi bahwa motor Yamaha adalah bagus atau baik. (3) Untuk penelitian selanjutnya penelitian ini bisa dijadikan pembanding dengan perusahaan lainnya.

Pengembangan motorik anak usia dini melalui media puzzle (Studi peserta didik di pos PAUD Melati Bangka Tasikmadu Malang) / Titing Marwati

 

Kata kunci: Pengembangan Motorik, Anak Usia Dini, Media Puzzle Penyelenggaraan pendidikan sejak dini mampu meningkatkan kualitas kehidupan bangsa di masa mendatang. Satuan pendidikan anak usia dini di Indonesia adalah (0-6 tahun) dikatagorikan sebagai PAUD. Metode pembelajaran yang ditetapkan untuk anak usia dini adalah metode belajar melalui bermain, karena dalam bermain anak dapat mengekplorasikan dan mengekspresikan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan yang dimiliki oleh anak seperti kemampuan fisik motorik, dimana perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan peserta didik merupakan hasil kegiatan yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Dalam penelitian ini difokuskan pada anak usia 3,5 – 5,5 tahun, disebutkan dalam undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Pasal 1, Ayat 14, dinyatakan bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Sehingga dalam hal ini, upaya pengembangan motorik anak usia dini adalah melalui media permainan membangun atau biasanya disebut dengan media puzzle. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan 3 cara, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknis analisis data dengan menggunakan cara yaitu, reduksi data, display data dan verifikasi data atau pengambilan kesimpulan tentang perilaku anak usia dini dalam bermain media puzzle, perkembangan motorik pada anak usia dini serta bermain media puzzle untuk mengembangkan motorik pada anak usia dini. Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan adalah pengembangan motorik anak usia dini melalui media puzzle adalah difokuskan pada peserta didik kelompok besar usia 3,5-5,5 berjumlah 15 peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan jenis-jenis media puzzle yang terdapat di Pos PAUD Melati Bangsa Tasikmadu Malang dan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran media puzzle dalam mengembangkan motorik anak usia dini di Pos PAUD Melati Bangsa Tasikmadu Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka ada beberapa saran antara lain: (1) Jenis media puzzle yang digunakan untuk anak usia dini sebaiknya 1-5 potongan gambar dan 5-12 potongan gambar, karena disesuaikan dengan karakteristik, minat serta kebutuhan peserta didik (2) Dalam pelaksanaan iii pembelajaran media puzzle terutama dalam pemilihan gambar untuk pembelajaran media puzzle, sebaiknya pamong memilih gambar harus lebih menarik agar peserta didik di Pos PAUD Melati Bangsa lebih suka dan berminat untuk tetap datang serta mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran media tersebut pamong harus memberikan pengawasan terhadap kemampuan perkembangan anak dan selalu memberikan motivasi kepada anak didik agar peserta didik selalu termotivasi untuk melakukan sesuatu dalam mengerjakaan media yang diberikan oleh pamong tersebut dengan senang.

Studi pelaksanaan kolom dan balok beserta rincian anggaran biaya pada proyek pembangunan sentra bisnis Driyorejo Sidoarjo / Tevit Dwi Septiawan

 

Kata kunci : pelaksanaan, kolom dan balok, anggaran biaya Kolom dan balok adalah elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur bawahnya. Kegagalan dalam merencanakan dan melaksanakannya dapat berakibat langsung pada runtuhnya struktur-struktur lain yang berhubungan dengan kolom dan balok, maka dalam hal ini diperlukan perencanaan yang teliti dan pengawasan yang ketat dalam pelaksanaannya. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok, serta rincian anggaran biaya. Hasil studi ini diharapkan dapat menambah pemahaman cara merencanakan, melaksanakan dan menghitung anggaran biaya pekerjaan kolom dan balok. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mendiskripsikan hasil temuan lapangan kemudian mencocokkan dengan standar perencanaan dan pelaksanaan sehingga dapat diambil kesimpulan. Hasil perencanaan kolom K2 dimensi 20 cm × 40 cm, dengan metode tulangan 2 sisi menggunakan besi beton 6 D13 dengan sengkang Ø10-12,5 cm yang mampu memikul kombinasi beban axial (Pu) sebesar 66,2623 kN dan momen (Mu) sebesar 19.964 kNm. Sedangkan pelaksanaan pekerjaan di lapangan, kolom K2 dimensi 20 cm × 40 cm menggunakan besi beton 12 D13 dengan sengkang Ø10-12,5 cm. Pada perencanaan balok B2-1 dimensi 20 cm × 30 cm, untuk balok B2-1 di daerah tumpuan untuk tulangan tarik menggunakan besi beton 6 D13 dengan sengkang Ø8-15 cm yang mampu memikul momen (Mu) sebesar 41.635 kNm dan untuk tulangan tekan menggunakan besi beton 5 D13 dengan sengkang Ø8-15 cm yang mampu memikul momen (Mu) sebesar 34.573 kNm. Sedangkan perencanaan untuk balok B2-1 dimensi 20 cm × 30 cm di daerah lapangan untuk tulangan tarik dan tekan menggunakan besi beton 3 D13 dengan sengkang Ø8-15 cm yang mampu memikul momen (Mu) sebesar 21.241 kNm. Sedangkan pelaksanaan pekerjaan di lapangan, balok B2-1 dimensi 20 cm × 30 cm di daerah tumpuan untuk tulangan tarik menggunakan besi beton 3 D13 dengan sengkang Ø8-15 cm dan untuk tulangan tekan menggunakan besi beton 2 D13 dengan sengkang Ø8-15 cm. Sedangkan balok B2-1 dimensi 20 cm × 30 cm di daerah lapangan untuk tulangan tarik dan tekan menggunakan besi beton 2 D13 dengan sengkang Ø8-15 cm. Pada tahapan pekerjaan kolom dan balok dimulai dari pekerjaan penulangan, bekisting, pengecoran, pembongkaran bekisting dan perawatan beton umumnya telah sesuai dengan teori. Namun pada pengecoran kolom terjadi beberapa kesalahan yaitu dalam pelaksanaan pengecoran beton tidak memperhitungkan jarak jatuh ke permukaan terdekat, hal ini dapat mengakibatkan penumpukan pada dasar kolom. Pada proyek ini telah terjadi perbedaan perhitungan biaya pekerjaan kolom K2 dan balok B2-1 antara biaya pelaksanaan pekerjaan di lapangan sebesar Rp 2.179.384.301, dengan biaya hasil perencanaan yaitu sebesar Rp 2.223.424.769. Perbedaan hasil biaya terjadi dikarenakan besi beton yang digunakan antara hasil perencanaan dan hasil pada lapangan berbeda Dari angka tersebut telah diketahui bahwa pelaksanaan pekerjaan kolom K2 dan balok B2-1 telah terjadi pembesaran biaya. Perbedaan tersebut dapat diartikan sebagai kerugian dari pelaksana atau pemborong. Berdasarkan hasil studi lapangan dapat disarankan untuk melakukan pengawasan yang lebih teliti terutama pada perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok, sehingga pelaksanaan proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana kerja.

Penerapan pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan metode kooperatif tipe NHT untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII. 7 SMP Negeri 5 Malang / Coryna Nilam Sari

 

Kata Kunci: PBMP, NHT, kemampuan berpikir kritis PBMP merupakan pola pembelajaran yang di dalamnya tidak terjadi kegiatan mengajar secara langsung, melainkan melalui jalinan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka dan saling berhubungan. PBMP dapat me-ningkatkan kemampuan berpikir siswa, sebab siswa akan terasah pikirannya jika diberikan pertanyaan-pertanyaan. Dalam PBMP ini siswa dituntut untuk bekerja secara individu sehingga penguasaan konsep bisa lebih maksimal. Sedangkan disisi lain, perkembangan kurikulum pendidikan menyarankan agar siswa lebih diutamakan untuk berkolaborasi dengan siswa lain agar siswa lebih aktif dan mampu bersosialisasi dengan baik. Oleh karena itu, diterapkannya PBMP dengan metode kooperatif tipe NHT ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis tiap individu siswa namun juga tidak mengesampingkan pentingnya kolaborasi antar siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pendekatan penelitian ini merupakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu menggunakan instrumen berupa lembar acuan penilaian keterampilan ber-pikir kritis siswa, lembar acuan penilaian tes kognitif, lembar keterlaksanaan pem-belajaran oleh guru, dan lembar keterlaksanaan pembelajaran oleh siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII.7 SMP Negeri 5 Malang semester 2 (genap) tahun pelajaran 2010/2011. Jumlah siswa di kelas tersebut adalah 29 orang, terdiri atas 13 orang laki-laki dan 16 orang perempuan. Kemampuan berpikir kritis siswa dalam penelitian ini dilihat dari ketuntasan siswa dalam mengerjakan lembar PBMP dan dilihat dari tes kognitifnya. Ketuntasan klasikal untuk lembar PBMP yaitu 75%, sedangkan ketuntasan klasikal untuk tes kognitif yaitu 85%. Adapun SKM untuk PBMP dan tes adalah 75. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. Kemampuan berpikir kritis siswa dilihat dari ketuntasan siswa mengerjakan lembar PBMP menunjukkan peningkat-an dari 75,9% pada siklus 1 menjadi 100% pada siklus 2. Kemampuan berpikir kritis siswa dilihat dari tes kognitif pada siklus 1 dan 2 juga menunjukkan pe-ningkatan sebesar 7,1% dari 82,6% menjadi 89,7%. Hasil perhitungan taraf ke-sukaran tes kognitif siklus 1 dan 2 menunjukkan hasil yang relatif sama. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang digunakan pada siklus 1 dan 2 memiliki tingkat kesulitan yang relatif sama sehingga pada siklus 2 hasil tes kognitif siswa meng-alami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan PBMP dengan metode kooperatif tipe NHT perlu dikembangkan untuk meningkatkan proses belajar siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Efektivitas penerapan model pembelajaran think pair share (TPS) terhadap hasil belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 9 Malang / Alfian Halid Sofian

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS), Akuntansi, Hasil Belajar Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) adalah model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan penguasaan akademik siswa, dan juga lebih mudah diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 9 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 9 Malang tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah 139 siswa yang terbagi ke dalam 4 kelas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu kelas XI IPS 2 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI IPS 4 sebagai kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS), sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan cara memberikan tes kemampuan akhir pembelajaran akuntansi pada pokok bahasan jurnal umum. Hasil penelitian ini menunjukkan keefektifan dari penerapan model pembelajarn Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar siswa, terbukti dari hasil uji-t yang menunjukkan signifikansi (0,007) < Alpha (0,05). Adapun keterbatasan dari penelitian ini adalah bentuk soal yang digunakan untuk pre test dan post test adalah sama dengan tingkat kesukaran yang sama serta penelitian hanya dilakukan pada satu pokok bahasan saja dikarenakan adanya keterbatasan waktu penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar peneliti lain melakukan penelitian tentang penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) pada materi lain atau lebih dari satu pokok bahasan dengan menambah waktu penelitian sehingga dapat diketahui keefektifan penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh metode penugasan berbasis internet terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI di SMA Negeri 8 Malang / Rara Citra Ayuningtyas

 

Kata kunci: Penugasan Berbasis Internet, Hasil Belajar Pemilihan metode pembelajaran yang tepat dapat berdampak positif terhadap hasil belajar akuntansi siswa. Penerapan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran melalui penugasan berbasis internet. Melalui metode ini siswa dihadapkan oleh suatu permasalahan (berupa tugas yang diberikan) yang dipadukan dengan penggunaan internet untuk penyelesaiannya. Metode ini dapat mendorong siswa untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dicobakan metode pembelajaran melalui penugasan berbasis internet pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pembelajaran dengan menggunakan metode penugasan berbasis internet terhadap hasil belajar siswa. Pembahasan materi pada penelitian ini dibatasi pada laporan keuangan perusahaan jasa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dikembangkan dengan pretest-posttest control group design. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 8 Malang yang berjumlah 28 siswa sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 8 Malang yang berjumlah 28 siswa sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif dan esai. Data hasil belajar siswa diperoleh dari selisih antara nilai post tes dan pre test (gainscore). Gainscore tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, yakni kelas eksperimen 21,43 Sedangkan kelas kontrol 12,04 berdasarkan analisis uji t diperoleh signifikansi (0,04) < (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima yang berarti ada perbedaan positif yang signifikan terhadap hasil belajar melalui metode penugasan berbasis internet. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar melalui penugasan berbasis internet (kelas eksperimen) memiliki hasil belajar yang lebih baik dari siswa yang diajar melalui metode ceramah dan tanya jawab (kelas kontrol). Berdasarkan penelitian ini disarankan bagi guru akuntansi menggunakan metode penugasan berbasis internet sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menambah variasi pembelajaran pada kompetensi dasar menyusun laporan keuangan

Pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, likuiditas dan leverage terhadap manajemen laba (Studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2008-2009) / Iffatur Rosyidah

 

Kata Kunci: Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Likuiditas, Leverage, Manajemen Laba. Laporan keuangan dibuat sebagai bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap, dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepada manajemen. Manajemen laba dilakukan oleh manajer pada faktor-faktor fundamental perusahaan, yaitu dengan intervensi pada penyusunan laporan keuangan berdasarkan akuntansi akrual. Masalah keagenan muncul karena adanya perilaku oportunistik dari agent, yaitu perilaku manajemen untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang berlawanan dengan kepentingan principal. Timbulnya manajemen laba dapat dijelaskan dengan teori agency. Sebagai agen, manajer secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal) dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak Sehingga dibutuhkan suatu manajemen dalam pengaturan laba terhadap perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, likuiditas dan leverage terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data yang digunakan adalah laporan keuangan dan annual report perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008-2009. Dalam penelitian ini menggunakan 22 sampel perusahaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda yaitu: (1) Terdapat pengaruh positif signifikan dari variabel kepemilikan manajerial (X1) dan Leverage (X4) terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-2009, (2) Tidak terdapat pengaruh signifikan dari variabel kepemilikan institusional (X2) dan Likuiditas (X3) terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-2009. Saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu bagi peneliti beserta kalangan akademis agar dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya serta diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur akuntansi.

Pengaruh kemampuan personal selling (Sales) terhadap keputusan pembelian dalam memilih rumah (Studi pada pembeli rumah yang dikembangkan oleh PT. Pancanaka Malang di Tirtasari Recidence Sukun) / Dadang Arfi Permana Putra

 

Kata kunci: personal selling, aktivitas sales, keahlian sales, karakteristik sales, keputusan pembelian Kebutuhan dan keinginan konsumen yang beraneka ragam dan banyaknya produk baru yang bermunculan yang ditawarkan kepada konsumen membuat konsumen sekarang ini menjadi semakin selektif terhadap pembelian barang-barang kebutuhannya, sehingga hal tersebut membuat perusahaan harus selalu berusaha untuk memenuhi selera konsumen dan memuaskan kebutuhan – kebutuhannya. Promosi menunjukkan pada berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan kebaikan produknya, membujuk dan mengingatkan para pelanggan dan konsumen sasaran untuk membeli produk tersebut. Suatu perusahaan harus memutuskan berapa banyak perbedaan (misalnya, manfaat, keistimewaan) yang harus dipromosikan kepada pelanggan sasarannya. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui pengaruh personal selling (aktifitas sales, keahlian sales, karakteristik pribadi sales) yang signifikan secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian rumah di PT. PANCANAKA Malang; 2) mengetahui variabel personal selling yang dominan terhadap keputusan pembelian rumah di PT. PANCANAKA Malang. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasi, karena dalam penelitian ini memiliki tujuan akhir untuk melihat kaitan hubungan antar variabel. bebas X (independen) yang terdiri dari aktivitas sales (X1), keahlian sales (X2), karakteristik sales (X3). Sedangkan keputusan pembelian sebagai variabel terikat Y (dependen). Populasi dalam penelitian ini adalah pembeli rumah yang dikembangkan oleh PT.PANCANAKA Malang khususnya di Tirtasari Residence Sukun. Teknik pengambilan sampel Non Probability Sample diperoleh sampel sejumlah 86 responden. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ke tiga variabel bebas yang berpengaruh secara parsial hanya keahlian sales dan karakteristik sales. Secara simultan variabel aktivitas sales, keahlian sales dan karakteristik sales berpengaruh terhadap keputusan pembelian rumah di perumahan PT. PANCANAKA Malang. Variabel keahlian sales merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian rumah di perumahan PT. PANCANAKA Malang .

Penerapan lesson study untuk meningkatkan kemampuan mengajar mahasiswa program studi pendidikan biologi FMIPA UM dalam praktik pengalaman lapangan (PPL) di SMP 1 Malang / Aprillia Rhamadhany

 

Kata Kunci: lesson study, kemampuan mengajar, mahasiswa pendidikan biologi, praktik pengalaman lapangan, SMPN 1 Malang. Dunia pendidikan akhir-akhir ini tengah mencari solusi atas permasalahan yang dialami dalam proses dan praktik pembelajaran. Salah satu alternatif yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan lesson study. Solusi tersebut diimplementasikan pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan FMIPA UM yang menempuh Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Melalui lesson study guru akan melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan penerapan lesson study dan kemampuan mengajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UMdi SMPN 1 Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kolaboratif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Tindakan yang dimaksud pada penelitian ini adalah tahapan Plan, Do, dan See. Subjek penelitian ini adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM angkatan 2007 dengan jumlah mahasiswa empat orang (selanjutnya disebut GM) dan siswa kelas VIII-A, VIII-C, VIII-F, dan VIII-I. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar penilaian kemampuan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar penilaian kemampuan praktik mengajar, lembar observasi lesson study, dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan lesson study di SMPN 1 Malang secara keseluruhan berada pada kategori terlaksanan dengan persentase rata-rata keterlaksanaan sebesar 80,4 % yang meliputi: tahap plan 88,5%, tahap do 75,4 %, dan tahap see 77,4 %. Kemampuan mengajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UM mengalami peningkatan dan berada pada kategori baik yaitu pada GM I dengan skor rata-rata 82,7, GM II dengan skor rata-rata 81,1, GM III dengan skor rata-rata 79,3, dan GM IV dengan skor rata-rata 78, 4. Rata-rata siswa berpendapat menarik dalam mengikuti proses pembelajaran, hal itu terbukti tingkat kemenarikan siswa mencapai 72,0%. Untuk tingkatan tidak menarik mencapai 0%, cukup menarik mencapai 21,1%, dan sangat menarik mencapai 2,8%. Berdasarkan persentase angka ketuntasan belajar siswa pada UH KD 1 dan KD 2, hampir seluruh kelas yang diteliti mengalami ketuntasan. Pada kelas VIII-A persentase angka ketuntasan yang dicapai sebesar 90,3% dan 100%. Kelas VIII-C sebesar 83,3% dan 100%. Kelas VIII-F sebesar 84,4% dan 75%. Kelas VIII-I sebesar 86,7% dan 96,7%. Melalui lesson study dapat meningkatkan kemampuan mengajar GM dan juga hasil belajar siswa sehingga lesson study dapat dijadikan alternatif baru untuk memperbaiki proses pembelajaran dan keprofesionalan guru.

Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap audit delay (Studi empiris perusahaan real estate property yang terdaftar di BEI tahun 2008-2009) / Ranny Kartika Sari

 

Kata kunci: audit delay, ukuran perusahaan, lama menjadi klien KAP,laba atau rugi, ukuran KAP Ketepatan waktu merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan nilai laporan keuangan dan merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh investor untuk menilai suatu perusahaan.Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan, lamanya menjadi klien KAP, laba/rugi, dan ukuran KAP secara parsial terhadap audit delay . Populasi yang digunakan dalam penelitian ini ada 102 perusahaan berasal dari perusahaan real estate dan property yang terdaftar di BEI tahun 2008 dan 2009 . Total sampel yang ada pada penelitian ini berjumlah 19 perusahaan. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling,Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Metode analisis data yang digunakan yaitu uji asumsi klasik dan analisis regresi linear berganda. Hasil analisis secara parsial menunjukkan bahwa faktor ukuran perusahaan dengan nilai 0.040 berpengaruh signifikan terhadap audit delay. ukuran KAP sebesar 0.047 berpengaruh signifikan terhadap audit delay. Sedangkan lama menjadi klien KAP dengan nilai 0.323 tidak berpengaruh terhadap audit delay, dan laba/rugi sebesar 0.565 juga tidak berpengaruh terhadap audit delay. Dari hasil analisis ukuran perusahaan dan ukuran KAP merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap audit delay. Sedangkan faktor lamanya menjadi klien KAP dan laba/rugi tidak berpengaruh terhadap audit delay. Secara berurutan, faktor yang paling dominan hingga yang tidak dominan adalah ukuran perusahaan, ukuran KAP, lamanya menjadi klien KAP, dan laba/rugi. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya bisa menambah faktor lain yang mempengaruhi audit delay , menambahkan perusahaan, dan tahun yang akan diteliti agar terlihat komparabilitas antara perusahaan satu dengan yang lain dengan industri yang sama atau yang berbeda.

Perkembangan media pembelajaran berbantuan komputer pada mata pelajaran akuntanasi di SMK Negeri 2 Blitar / Mohamad Asnal Mahfud

 

Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Komputer, Mata Pelajaran Akuntansi Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SMK Negeri 2 Blitar khususnya pada mata pelajaran akuntansi terdapat masalah yang berkaitan dengan proses pembelajaran,diantaranya pembelajaran akuntansi yang masih menggunakan metode ceramah atau bersifat satu arah,guru lebih dominan dan siswa mendengarkan,penggunaan media juga sangat kurang, hal ini mengakibatkan minat belajar siswa mengalami penurunan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas hasil belajar. Oleh karena itu dalam mata pelajaran akuntansi diperlukan pengembangan media yang menggabungkan berbagai media untuk proses pembelajaran atau yang disebut dengan multimedia pembelajaran. Penggunaan multimediamedia pembelajaran seperti ini diharapkan dapat membantu siswa maupun guru agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami. Multimedia pembelajaran yang dikembangkan mencakup beberapa komponen yaitu teks, gambar, suara, dan video dengan materi pengelolaan bukti transaksi. Program multimedia pembelajaran ini dirancang dengan bantuan program-program komputer dan digabungkan dengan software Borland Delphi 07. Penelitian ini termasuk dalam penelitian pengembangan. Peneliti menggunakan model pengembangan Borg & Gall yang telah disesuaikan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket dan untuk mengukur efektifitas multimedia pembelajaran menggunakan selisih antara nilai posttest dan nilai pretest (gainscore). Data kuantitatif dari angket dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif persentase untuk menentukan kelayakan multimedia pembelajaran dan data selisih antara nilai posttest dan nilai pretest (gainscore) dianalisis dengan dengan menggunakan metode Mann Whitney U Test untuk menentukan pengaruh dari penggunaan media pembelajaran berbantuan komputer terhadap peningkatan hasil belajar.Data yang diperoleh dari hasil validasi keseluruhan sebesar 78,59% ini berarti multimedia layak digunakan, hasil uji hipotesis dengan menggunakan metode Mann Whitney U Test diperolah probabilitas 0,007 < 0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan dari pemanfaatan multimedia pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbantuan komputer ini layak digunakan dan efektif sebagai media pembelajaran akuntansi.

Pengembangan bahan ajar bilogi materi ekosistem untuk SMA RSBI (Rintisan sekolah bertaraf internasional) kelas X dengan pendekatan salingtemas / Sofia Putri Rahayu

 

Kata kunci: Pengembangan, Bahan Ajar, RSBI, Salingtemas. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah saat ini dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah melakukan perubahan menuju perbaikan dalam sistem pendidikan nasional. Upaya yang dilakukan diantaranya yaitu perbaikan pada KTSP, Mutu Sekolah, Standar Kompetensi Lulusan, serta Sarana dan Prasarana. Perbaikan sarana dan prasarana itu salah satunya dengan menyediakan bahan ajar. Selama ini di sekolah-sekolah RSBI belum tersedia bahan ajar yang mendukung standar sekolah baik dalam hal content maupun bahasa yang digunakan (Bahasa Indonesia). Bahan ajar adalah buku yang berisi bahan pelajaran suatu bidang studi tertentu yang digunakan sebagai buku acuan baik oleh guru maupun siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan bahan ajar biologi materi ekosistem dengan pendekatan salingtemas untuk membantu para guru sebagai alternatif pengembangan proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan bahan ajar. Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar biologi materi ekosistem dengan pendekatan salingtemas. Prosedur penelitian meliputi pengkajian potensi dan masalah, kajian referensi atau literatur, desain bahan ajar, validasi bahan ajar, revisi I bahan ajar, validasi keterbacaan bahan ajar pada siswa, revisi II bahan ajar, dan penyempurnaan bahan ajar. Subyek validasi (validator) bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari dua orang dosen biologi Universitas Negeri Malang dan dua orang guru biologi SMAN 3 Malang. Data yang diperoleh dalam penelitian meliputi (1) data kuantitatif berupa skor angket penilaian validator, dan (2) data kualitatif berupa tanggapan atau saran dari validator dan siswa. Hasil pengembangan berupa bahan ajar yang mempunyai tiga kegiatan materi pokok Peran Komponen Ekosistem dalam Aliran Energi dan Daur Biogeokimia, Keterkaitan antara Kegiatan Manusia dengan Masalah Perusakan/Pencemaran Lingkungan, dan Jenis-jenis Limbah dan Daur Ulang Limbah. Masing-masing kegiatan belajar dilakukan melalui pendekatan salingtemas yang meliputi lima tahap (apersepsi, pembentukan konsep, aplikasi konsep, pemantapan konsep, dan evaluasi). Hasil penilaian validator tentang kelayakan isi sebesar 89,819% yang berarti valid, dan keterbacaan 83,59% yang berarti cukup valid. Validasi keterbacaan bahan ajar pada siswa secara umum sudah terlaksana dan siswa dapat memahami bahan ajar dengan baik. Berdasarkan hasil validasi kelayakan isi dan validasi keterbacaan pada siswa, maka bahan ajar yang dikembangkan telah dapat digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar biologi di SMA RSBI kelas X.

Pengaruh kredit bermasalah, tingkat suku bunga kredit, dan simpanan masyarakat terhadap penyaluran kredit oada PT. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Jatim cabang Blitar / Ryandis Ubaedilah

 

Kata Kunci: Kredit Bermasalah, Tingkat Suku Bunga Kredit, Simpanan Masyarakat dan Penyaluran Kredit BPR berfungsi sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. PT. BPR Jatim Cabang Blitar merupakan salah satu BPR yang ada di kota Blitar melaksanakan fungsinya di daerah Kota dan Kabupaten Blitar. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk menganalisis pengaruh kredit bemasalah terhadap penyaluan kredit (2) Untuk menganalisis pengaruh tingkat suku bunga kredit terhadap penyaluran kredit (3) Untuk menganalisis pengaruh simpanan masyarakat terhadap penyaluran kredit4) Untuk mengnalisis pengaruh kredit bermasalah, tingkat suku bunga kredit , dan simpanan masyarakat secara simultan terhadap penyaluran kredit, tempat yang diteliti adalah PT. BPR Jatim Cabang Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian causal explanatory. Dalam pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan PT. BPR Jatim Cabang Blitar. Peneliti menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression) dengan bantuan SPSS 17 for Windows. Dengan pengujian asumsi klasik,regresi dan uji hipotesis. Berdasarkan pengolahan data atau analisis data ditemukan hasil: (1) Kredit bermasalah berpengaruh secara negatif signifikan terhadap penyaluran kredit (2) Tingkat suku bunga kredit berpengaruh secara negatif signifikan terhadap penyaluran kredit (3) Simpanan masyarakat berpengaruh secara positif signifikan terhadap penyaluran kredit (4) Kredit bermasalah, tingkat suku bunga kredit dan simpanan masyarakat secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap penyaluran kredit. Kredit bermasalah berpengaruh secara negatif signifikan terhadap penyaluran kredit, artinya jika kredit bemasalah meningkat maka penyaluran kredit akan menurun. Tingkat suku bunga kredit berpengaruh secara negatif signifikan terhadap terhadap penyaluran kredit, artinya jika tingkat suku bunga meningkat maka penyaluran kredit akan menurun. Simpanan masyarakat berpengaruh secara positif signifikan terhadap penyaluran kredit, artinya jika simpanan masyarakat meningkat maka penyaluran kredit akan meningkat. PT. BPR Jatim Cabang Blitar diharuskan memiliki manajemen perkreditan yang baik, dengan lebih memperhatikan kelayakan calon peminjam agar tidak terjadi peningkatan kredit macet karena debitur yang kurang bertanggung jawab. Tinggi rendahnya tingkat suku bunga kredit perlu diperhatikan, agar tidak terjadi kredit macet, karena jika tingkat suku bunga kredit tinggi maka tingkat kredit bermasalah akan meningkat. Selain itu jika tingkat suku bunga tinggi, permintaan kredit akan menurun. Perlu dilakukan penghimpunan dana masyarakat secara optimal, hal ini dapat dilakukan dengan program hadiah yang menarik, pelayanan kepada nasabah yang baik, penambahan jaringan yang luas dan mudah diakses, selain itu proses kredit lebih dipercepat, tanpa mengabaikan kelayakan calon debitur.

Efektivitas bibliokonseling melalui bacaan "Kisah Hermawan dan tiga orang Rudi" untuk meningkatkan penerimaan diri siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Malang / Rosyida Mulyasari

 

Remaja membutuhkan kemampuan untuk dapat menerima dirinya. Hal ini dikarenakan penerimaan diri dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku mereka dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Selain itu, penerimaan diri juga merupakan elemen penting bagi remaja untuk mengaktualisasikan diri. Berkembangnya popularitas status bahwa siswa jurusan IPA lebih baik dari jurusan IPS adalah kondisi yang sangat berpengaruh bagi penerimaan diri siswa IPS, khususnya bagi mereka yang mengalami kegagalan masuk jurusan IPA. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas bibliokonseling dalam meningkatkan penerimaan diri bagi siswa SMA khususnya siswa jurusan IPS. Bibliokonseling adalah salah satu teknik yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling dengan menggunakan bahan bacaan sebagai media untuk mencapai suatu tujuan. Dalam penelitian ini, teknik bibliokonseling menggunakan bacaan “Kisah Hermawan dan Tiga Orang Rudi” untuk meningkatkan penerimaan diri siswa kelas XI jurusan IPS. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu, dengan one group pretest posttest design. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI jurusan IPS di SMA Negeri 2 Malang dengan tingkat penerimaan diri sedang. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis statistik nonparametik melalui teknik analisis wilcoxon dengan bantuan program komputer SPSS versi 16.0. Hasil penelitian ini antara lain: (1) penerimaan diri siswa kelas XI jurusan IPS sebelum pemberian treatment berada pada kategori sedang ; (2) penerimaan diri siswa kelas XI jurusan IPS setelah pemberian treatment berada pada kategori tinggi; (3) teknik bibliokonseling melalui bacaan “Kisah Hermawan dan Tiga Orang Rudi” efektif dalam meningkatkan penerimaan diri siswa kelas XI jurusan IPS. Atas dasar hasil penelitian, penulis mengajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) konselor dapat menggunakan teknik bibliokonseling melalui media bacaan “Kisah Hermawan dan Tiga Orang Rudi” sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan penerimaan diri siswa kelas XI IPS; (2) diharapkan peneliti selanjutnya menggunakan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimen, sehingga efektivitas bibliokonseling lebih meyakinkan.

Pengaruh economic value added (EVA), return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) terhadap return saham (Studi pada perusahaan yang tergabung dalam 50 biggest market capitalization tahun 2009) / Aris Yuliono

 

Kata Kunci : Economic Value Added (EVA), Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE), Return saham. Perusahaan yang tergabung 50 Biggest Market Capitalization merupakan perusahaan yang mempunyai kapitalisasi pasar terbesar, selain itu juga mempunyai pangsa pasar besar dan menjadi leader perusahaan sejenisnya. Sehingga hal ini menarik perhatian investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Motif pemodal atau investor menanamkan dananya adalah mendapatkan return (tingkat pengembalian) yang maksimal dengan risiko minimal. Menilai baik buruknya kinerja keuangan suatu perusahaan diperlukan alat untuk mengukurnya. ROA dan ROE merupakan alat ukur yang sering digunakan para investor untuk menilai kinerja keuangan perusahaan, dan sekarang telah berkembang alat ukur baru yaitu EVA. EVA adalah pendekatan baru yang digunakan dalam penelitian pengukuran kinerja keuangan dengan memfokuskan pada penciptaan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari alat-alat ukur tersebut terhadap Return saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang tergabung dalam 50 Biggest Market Capitalization tahun 2009 yang berjumlah 50 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dan dihasilkan 31 perusahaan sebagai sampel yang memenuhi kriteria. Analisis yang digunakan adalah uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Economic Value Added (EVA) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham, (2) Return On Assets (ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham, (3) Return On Equity (ROE) berpengaruh signifikan dan mempunyai hubungan positif terhadap return saham, (4) Economic Value Added (EVA), Return On Assets (ROA), dan Return On Equity (ROE) berpengaruh secara simultan terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi Perusahaan 50 Biggest Market Capitalzation untuk lebih efisien dan efektif lagi dalam pengelolaan aktiva agar menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Karena pada penelitian ini ROA berpengaruh negatif terhadap return saham. Meskipun hasil penelitian untuk EVA tidak signifikan tetapi dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan investasi karena memperhitungkan biaya hutang dan juga biaya ekuitas.

Analisis penyerapan tenaga kerja pada industri rokok di Kecamatan Sukun kota Malang (Studi kasus pada pekerja bagian produksi tahun 2005-2009) / Catur Sugiarto

 

Kata Kunci: Penyerapan Tenaga Kerja, Industri Rokok Permasalahan yang dihadapi oleh Kota Malang pada umumnya dan Kecamatan Sukun kota Malang pada khususnya adalah masih seputar besarnya angkatan kerja dan sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal itu masih diperparah oleh relatif rendahnya kualitas sumber daya manusia sehingga pada akhirnya menyebabkan relatif tingginya angka pengangguran. Sehingga sektor industri khususnya sektor industri rokok diharapkan dapat memecahkan permasalahan ketenagakerjaan tersebut, serta sekaligus diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pendapatan pemerintah Dalam analisis ini peneliti akan menganalis penyerapan tenaga kerja pada sektor industri rokok di wilayah kecamatan Sukun kota Malang, Masalah yang akan dibahas dalam analisis kali ini dapat dirumuskan yaitu: Bagaimana keadaan tenaga kerja industri rokok di wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang dan Seberapa besar tingkat elastisitas penyerapan tenaga kerja pada industri rokok di Kecamatan Sukun Kota Malang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Dengan menggunakan metode ini dan berdasarkan data-data yang diperoleh melalui metode simple random sampling terhadap 10 pabrik rokok yang diambil sebagai sampel selama lima tahun pengamatan dari tahun 2005-2009 serta informasi-informasi yang diperoleh diharapkan dapat lebih mudah menguraikan dan menggambarkan dengan jelas kondisi industri rokok, Selanjutnya hal tersebut akan dianalisa dengan menggunakan konsep elastisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah tenaga kerja pada perusahaan rokok di Kecamatan Sukun dari tahun ke tahun meningkat. Hal ini membuktikan bahwa industri rokok di wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang dapat mengatasi permasalahan ketenagakerjaan. Namun di sisi yang lain terjadi penurunan jumlah produksi dari tahun 2008-2009. Hal ini disebabkan faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahanya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif. Lambatnya pertambahan produksi ini disebakan karena penyediaan dari bahan pelengkap dalam produksi seperti modal, mesin, tenaga listrik, bahan mentah dan sebagainya. Penyerapan tenaga kerja pada perusahaan rokok di Kecamatan Sukun Kota Malang menunjukkan bahwa total produksi relatif tidak peka terhadap penyerapan tenaga kerja. Koefisien yang dihasilkan adalah nilainya inelastis yang artinya total produksi mengalami peningkatan sebesar satu persen, perubahan penyerapan tenaga kerja lebih kecil dari satu persen. Hal ini disebabkan karena perusahaan menuntut peningkatan produktivitas kerja karyawan sehingga pertambahan produksi yang dihasilkan pekerja senilai dengan pertambahan upah yang diterimanya, Perusahaan membebankan kenaikan upah kepada konsumen dengan menaikan harga jual barang, serta kenaikan cukai setiap tahunnya sehingga mengakibatkan perusahaan membebankan pajak kepada konsumen dengan cara menaikkan harga jual per unit barang yang diproduksi. Sebagai masukan bagi Pemerintah dengan melihat fenomena tersebut, pihak pemerintah hendaknya tidak membebani masalah tenaga kerja dengan tidak menaikan cukai setiap tahunnya pada industri rokok. Sedangkan masukan bagi perusahaan seharusnya tidak terlalu membebankan kenaikan upah atau kenaikan cukai kepada konsumen dengan menaikan harga jual barang. Karena dengan menaikan harga jual ini akan menurunkan jumlah permintaan masyarakat akan hasil produksi. Turunnya permintaan masyarakat akan hasil produksi mengakibatkan penurunan pendapatan bagi perusahaan.

Pengaruh variasi suhu kalsinasi pada karakter zeqlit dan pengaruh massa zeolit-ni dalam reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-ni sebagai katalitas pada konversi metanol menjadi hidrokarbon / Tamam Abimanyu

 

Kata kunci : zeolit, hidrokarbon, katalis Zeolit merupakan kristal aluminosilikat terhidrasi yang mempunyai kemampuan sebagai katalis. Hal ini karena zeolit memiliki struktur berpori dalam rongga yang teratur dan situs aktif yang dapat bereaksi dengan reaktan. Pengubahan situs aktif dengan logam transisi Ni pada zeolit mempunyai tujuan meningkatkan stabilitas termal, volume pori dan luas permukaan, sehingga memperbanyak situs aktif. Keadaan ini diharapkan akan mempercepat reaksi antar reaktan dengan katalis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi suhu kalsinasi terhadap rasio Si/Al dan keasaman padatan, dan mengetahui variasi massa zeolit-Ni dalam reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-Ni sebagai katalis. Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu kalsinasi dan massa zeolit-Ni dalam reaktor terhadap aktivitasnya sebagai katalis pada konversi metanol menjadi hidrokarbon. Penelitian uji aktivitas katalis dilakukan pada suhu kalsinasi yang berbeda-beda(6500C, 7500C, 8500C, 9500C) dan massa zeolit alam, zeolit aktif, zeolit-Ni dalam reaktor (2 g, 6 g, 10 g). Untuk mengetahui berbagai faktor yang berpengaruh terhadap aktivitas katalis maka dilakukan pengendalian ukuran zeolit yang digunakan yaitu 8-10 mesh dan suhu konversi yaitu 4000C. Metode penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, meliputi persiapan sampel berupa zeolit, kemudian aktivasi zeolit alam, kalsinasi, impregnasi zeolit aktif dengan menggunakan larutan nikel sulfat (NiSO4) 15%, konversi metanol menjadi hidrokarbon, dan karakterisasi dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan rasio Si/Al dan keasaman padatan dipengaruhi oleh suhu kalsinasi. Hasil penelitian (1) Hasil Si/Al terlihat tertinggi terjadi Z-Ni 750 yaitu sebesar 5,636. (2) Keasaman padatan tertinggi terjadi Z-Ni 750 yaitu sebesar 2,700 mmol/gram. (3) Adapun hasil konversi metanol menjadi hidrokarbon menggunakan katalis zeolit (Z-Alam 2 g, Z-Alam 6 g, Z-Alam 10 g, Z-Aktif 2 g, Z-Aktif 6 g, Z-Aktif 10 g, Z-Ni 2 g, Z-Ni 6 g, dan Z-Ni 10 g) adalah produk yang berupa hidrokarbon dengan produk paling dominan berupa senyawa heksana, dan 1,2,3,4,5-pentametilbenzana, senyawa-senyawa lain dengan presentasi kecil yaitu: 1,2-dimetilbenzena; 1,3-dimetilbenzena; 1,2,3-trimetilbenzena, metilsiklopentana; 1-etil-2-isopropilbenzena, metilbenzena, dan turunan benzena yang lain.

Pengaruh analisis kebangkrutan model altman (Z-Score) terhadap risiko saham (Studi pada perusahaan automotive and allied products yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009) / Agung Ariadi

 

Kata Kunci : kebangkrutan, z-score, risiko saham Kinerja keuangan merupakan suatu prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam periode tertentu yang menunjukkan tingkat kesehatannya. Kemampuan sebuah perusahaan dalam mengelola aset-aset yang dimilikinya akan menjadi senjata utama untuk dapat survive di dalam era persaingan terbuka seperti sekarang ini. Sebuah kondisi persaingan yang menuntut ketangguhan dan kejelian sebuah perusahaan dalam mengambil langkah ke depan agar mampu bersaing dengan para kompetitor. Laporan keuangan merupakan refleksi dari kinerja sebuah perusahaan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan para investor. Salah satu cara mengukur kinerja keuangan perusahaan tersebut adalah dengan menggunakan analisis kebangkrutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat kebangkrutan terhadap tingkat risiko saham sebuah perusahaan. Tingkat risiko saham diasumsikan menjadi perhatian utama setiap investor disaat tingkat kebangkrutan meningkat. Tingkat kebangkrutan diukur dengan Model Altman, sedangkan tingkat risiko saham diukur dengan menggunakan beta saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan Automotive and Allied Products yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2009. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh yaitu penentuan sampel dengan mengambil seluruh populasi yang ada agar hasil penelitian dapat dinilai secara utuh. Data-data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan analisis regresi sederhana dan koefisien korelasi peringkat Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar perusahaan Automotive and Allied Products berada dalam kondisi sehat, (2.a) tingkat kebangkrutan Model Altman kondisi sehat berpengaruh negatif signifikan terhadap risiko saham, (2.b) tingkat kebangkrutan Model Altman kondisi bangkrut dan rawan bangkrut tidak berpengaruh terhadap risiko saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada para perusahaan Automotive and Allied Products untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan secepatnya melakukan langkah antisipatif jika menemui indikasi-indikasi kebangkrutan. Sedangkan bagi investor disarankan untuk menganalisa lebih jeli dengan memperhatikan perbandingan return dan risiko yang akan diperoleh apabila ingin melakukan investasi di perusahaan yang termasuk ke dalam kondisi bangkrut. Penelitian ini dapat dikembangkan bagi peneliti-peneliti berikutnya untuk mengetahui faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat risiko saham.

Efektivitas penerapan model pembelajaran koopeartif konstruktivistik dan pembelajaran kooperatif team assited individualization (TAI) terhadap hasil belajar (Studi eksperimen siswa kelas X di SMA Islam Al-Ma'arif Singosari) / Ardy Oktantyo Putro

 

Kata kunci : pembelaran kooperatif konstruktivistik, pembelaran kooperatif model TAI, hasil belajar. Pada pembelajaran ekonomi di SMA Islam Al Maarif Singosari Malang pada umumnya guru masih menggunakan metode konvensional, LKS dan masih kurang bervariasi. Prestasi belajar yang diperoleh siswa kelas X secara umum kurang memuaskan, sebagian besar nilai siswa yang diperoleh kurang memenuhi standart ketuntasan minimum yang ditetapkan di SMA Islam Al Maarif Singosari Malang yaitu 70. Salah satu strategi belajar mengajar efektif dan efisien adalah melibatkan siswa secara aktif dan kreatif, dalam proses pembelajaran. Proses belajar mengajar efektif dan efisien dengan melibatkan langsung siswa dapat memotivasi siswa untuk belajar aktif dan kreatif yaitu dengan menggunakan pembelajaran kooperatif konstruktivistik dan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization). Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan Quasi eksperimental atau eksperimental semu. Populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X di SMA Islam Al Maarif Singosari Malang. Sedangkan sampelnya kelas X-1 sebagai kelas control dan X-4 sebagai kelas eksperimen yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis penelitian yang dipakai adalah uji beda dua rata-rata atau “t-test”. Meningkatnya hasil belajar siswa dapat diketahui dari ketuntasan belajar dan hasil kemampuan akhir siswa atau post-test pada mata pelajaran ekonomi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif konstruktifistik ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibanding dengan menggunakan pembelajaran kooperatif team assisted individualization (TAI) terbukti dengan analisis hasil belajarnya yang dapat dilihat dari ketentuan belajar siswa terdapat perbedaan yang signifikan. Yaitu pada kelas eksperimen terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 25,7%, sedangkan pada kelas kontrol terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 23,8%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif konstruktifistik pada mata pelajaaran ekonomi lebih baik dari kelas kontrol yang menggunakan metode kooperatif mode TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X di SMA Islam Al Maarif Singosari Malang. Saran yang diberikan berupa Perlu adanya pengondisian bagi masing-masing tingkat satuan pendidikan dan guru mata pelajaran ekonomi khususnya. Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model TAI agar dapat mencapai hasil optimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Penerapan pembelajaran model TAI hendaknya disesuaikan dengan materi yang diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup. Hal ini dikarenakan dengan waktu yang optimal pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan akan mendapat hasil pembelajran yang efektif dan efisien.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli sepeda motor honda (Studi pada pengguna sepeda motor honda di kota Malang) / Clorida Oktarima

 

Kata kunci: perilaku konsumen, keputusan pembelian Perkembangan industri otomotif khususnya roda dua saat ini telah berkembang dengan pesat dan diwarnai dengan persaingan keras antar produsen motor. Persaingan yang sangat ketat ini membuat konsumen yang teliti dulu sebelum membeli. Pengaruh yang mendasari perilaku konsumen ada tiga kategori, yaitu 1) pengaruh lingkungan, 2) perbedaan dan pengaruh individu, 3) proses psikologis. Ketiga kategori ini mendasari perilaku konsumen dalam membeli sepeda motor Honda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang dipertimbangkan konsumen di Kota Malang dalam membeli sepeda motor Honda dan mengetahui faktor mana yang paling besar dipertimbangkan konsumen dalam membeli sepeda motor Honda. Penelitian ini dilakukan Kota Malang. Faktor-faktor dalam penelitian ini meliputi faktor budaya, faktor sub budaya, faktor kelas sosial, faktor kelompok acuan, faktor motivasi, faktor persepsi dan faktor pengetahuan konsumen. Populasi dalam penelitian yaitu pengguna sepeda motor Honda di Kota Malang dengan jumlah sampel sebanyak 207 responden yang dipilih dengan menggunakan accidental sampling dan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis faktor. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: Faktor kelompok acuan memilik kontribusi varian sebesar 13.489% dengan eigen value sebesar 8,093. Faktor kelas sosial memiliki kontribusi varian sebesar 9.938% dengan eigen value sebesar 5.963.. Faktor sub budaya memilik kontribusi varian sebesar 9.185% dengan eigen value sebesar 5.511. Faktor produk memiliki kontribusi varian sebesar 7.392% dengan eigen value sebesar 4.435. Faktor persepsi memiliki kontribusi varian sebesar 6.647% dengan eigen value sebesar 3.988. Faktor pembelian memiliki kontribusi varian sebesar 5.489% dengan eigen value sebesar 3.293. Faktor ekonomis memiliki kontribusi varian sebesar 4.910% dengan eigen value sebesar 2.946. Faktor pengetahuan konsumen memiliki kontribusi varian sebesar 4.377% dengan eigen value sebesar 2.626. Faktor harga memiliki kontribusi varian sebesar 3.824% dengan eigen value sebesar 2.295. Faktor efisien memiliki kontribusi varian sebesar 3.505% dengan eigen value sebesar 2.103. Faktor motivasi memiliki kontribusi varian sebesar 2.750% dengan eigen value sebesar 1.650. Faktor promosi memiliki kontribusi varian sebesar 2.458% dengan eigen value sebesar 1.475. Faktor budaya memiliki kontribusi varian sebesar 1.764% dengan eigen value sebesar 1.058. Dapat disimpulkan bahwa faktor kelompok acuan merupakan faktor yang dominan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang semester genap tahun 2010/2011 / Elina Rodhiyah

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Model TPS (Think Pair Share), hasil belajar. Setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua pelaku aktif, yaitu guru dan peserta didik. Keberhasilan proses pendidikan tidak dapat dilepaskan dari proses belajar di sekolah, sebab sekolah merupakan salah satu pelaksana pendidikan yang dominan dalam keseluruhan organisasi pendidikan disamping keluarga dan masyarakat. Pada umumnya, masyarakat menilai keberhasilan proses belajar di sekolah dengan melihat prestasi belajar siswa. Apabila prestasi belajar baik, maka dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajarnya telah berhasil. Tetapi sebaliknya apabila prestasi belajarnya buruk dan tidak memuaskan, maka dapat dikatakan proses belajarnya belum berhasil. Hasil belajar siswa merupakan suatu puncak proses belajar dimana siswa berhasil dalam menguasai dan memahami materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk angka atau skor. Berdasarkan observasi dan wawancara kepada guru mata pelajaran ekonomi SMA Negeri 1 Tumpang, pada pembelajaran ekonomi guru masih menggunakan model ceramah dimana peran guru lebih dominan dibanding siswa, kemudian siswa mengerjakan LKS. Model pembelajaran yang dilaksanakan di kelas kurang menarik bagi siswa yang mengakibatkan banyak siswa menjadi jenuh, belum sepenuhnya melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, dan kondisi yang cukup ramai jika diajar. Selain itu hasil belajar yang dicapai sebagian siswa pada mata pelajaran ekonomi masih kurang, belum memenuhi KKM yang diterapkan SMA Negeri 1 Tumpang yaitu 75 khususnya pada kelas X.7. Model pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Share) merupakan model pembelajaran dengan keuntungan dan keunggulan yaitu, mudah diterapkan diberbagai jenjang pendidikan dan dalam setiap kesempatan, menyediakan waktu berpikir untuk meningkatkan kualitas respons siswa, siswa menjadi lebih aktif dalam berpikir mengenai konsep dalam mata pelajaran, siswa menjadi lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi, siswa dapat belajar dari siswa lain, setiap siswa dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan selama dua siklus, tiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan dan setiap siklusnya terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan dan pengamatan, refleksi, dan perbaikan rencana. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X.7 SMA Negeri 1 Tumpang yang terdiri dari 36 siswa. Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah think (berpikir), pair (berpasangan), dan share (berbagi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS(Think Pair Share) dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ekonomi siswa kelas X.7. Dibuktikan dengan jumlah siswa yang tuntas pada siklus I sebanyak 27 siswa (75%), yang belum tuntas 9 siswa (25%). Pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 32 siswa (88,9%), yang belum tuntas 4 siswa (11,1%). Kriteria Ketuntasan Minimal adalah 75, sedangkan KKM Klasikal 80% dari jumlah keseluruhan siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kemudian saran dalam menerapkan model TPS(Think Pair Share) dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa, selain itu penerapan model pembelajaran TPS(Think Pair Share) dapat dilakukan pada mata pelajaran yang sama namun pada lokasi yang berbeda. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar tidak hanya menilai hasil belajar tapi juga menilai segala aktivitas atau keaktifan setiap siswa dalam melaksanakan langkah-langkah model ini.

Kajian kandungan kristal kalsium oksalat pada organ segar, serbuk simplisia, air seduhan, serta enapan seduhan dari empat tanaman obat / Wahyu Dwi Arini

 

Kata kunci: kristal kalsium oksalat pada tanaman obat, serbuk simplisia, seduhan Tanaman tapak liman (Elephantopus scaber L.), jambu biji (Psidium guajava L.), pegagan (Centella asiatica (L.) Urban), dan remek daging (Exocaria cochinchinensis Lour.) dapat digunakan sebagai obat tradisional dan telah diketahui mengandung kristal kalsium oksalat. Tanaman obat dapat dimanfaatkan sebagai jamu dalam bentuk serbuk simplisia, air rebusan simplisia, maupun air seduhan serbuk simplisia. Kristal kalsium oksalat yang terdapat pada air dan enapan seduhan serbuk simplisia jika dikonsumsi kemungkinan dapat memicu terbentuknya batu ginjal, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang keberadaan kristal kalsium oksalat pada simplisia daun: tapak liman, jambu biji, pegagan, remek daging, dan akar tapak liman. Penelitian ini bertujuan menentukan ukuran, kerapatan kristal kalsium oksalat pada organ segar tanaman obat, mengetahui keberadaan kristal kalsium oksalat pada serbuk simplisia, air dan enapan seduhan simplisia dari daun: tapak liman, jambu biji, pegagan, remek daging, dan akar tapak liman. Penelitian ini bermanfaat untuk menentukan keamanan konsumsi serbuk simplisia, air beserta enapan seduhan serbuk simplisia daun: tapak liman, jambu biji, pegagan, remek daging, dan akar tapak liman. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif yang dilakukan di Laboratorium Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang pada bulan Oktober 2010-Januari 2011. Sampel penelitian diperoleh dari kebun Balai Materia Medica Batu. Data berupa bentuk dan ukuran kristal kalsium oksalat dianalisis secara deskriptif. Data berupa jumlah dan kerapatan kristal kalsium oksalat dianalisis menggunakan Analisis Varian Tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kristal kalsium oksalat berbentuk prisma terdapat pada akar dan daun tapak liman, serta daun jambu biji. Kristal kalsium oksalat berbentuk druses terdapat pada daun: tapak liman, jambu biji, remek daging, dan pegagan. Ukuran kristal kalsium oksalat bentuk prisma yang terkecil terdapat pada daun tapak liman, sebesar 5-10 μm. Ukuran kristal kalsium oksalat bentuk druses yang terkecil terdapat pada daun tapak liman, sebesar 5-12,5 μm. Rerata kerapatan terendah kristal kalsium oksalat bentuk prisma terdapat pada daun jambu biji, sebesar 1,36/mm2. Rerata kerapatan kristal kalsium oksalat terendah bentuk druses terdapat pada daun pegagan, sebesar 6,12/mm2. Kristal kalsium oksalat masih ditemukan pada serbuk simplisia, dan enapan serta air seduhan serbuk simplisia, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan di organ segar. Masyarakat sebaiknya mengkonsumsi simplisia akar dan daun tapak liman, daun jambu biji, daun pegagan, daun remek daging dalam bentuk air seduhan serbuk simplisia tanpa enapannya atau kapsul yang berasal dari ekstrak simplisia.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal (Studi pada perusahaan food and beverages tang listing di BEI periode 2007-2009) / Benny Kristianto

 

Kata Kunci : Struktur Aktiva, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Pertumbuhan Penjualan, Struktur Modal (DER). Struktur modal menunjukkan perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas. Banyak faktor yang mempengaruhi struktur modal. Dalam penelitian ini diambil empat variabel yang berpengaruh terhadap struktur modal, yaitu struktur aktiva, ukuran perusahaan, profitabilitas, pertumbuhan penjualan. Struktur aktiva adalah perbandingan jumlah aktiva tetap dengan total aktiva. Ukuran perusahaan merupakan cerminan dari besarnya kekayaan perusahaan dihitung dengan logaritma dari total aktiva. Profitabilitas diukur dari tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pemegang saham. pertumbuhan penjualan diukur dengan membandingkan selisih penjualan suatu periode dengan periode sebelumnya dibagi penjualan periode sebelumnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel struktur aktiva, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2007-2009 sebanyak empat belas (14) perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak sepuluh (10) perusahaan. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel struktur aktiva, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial struktur aktiva berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Variabel struktur aktiva, ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur modal karena setiap kenaikan atau penurunan variabel tersebut mengakibatkan perubahan pada struktur modal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel lain yang mempengaruhi struktur modal seperti dividend payout, inflasi, suku bunga, leverage operasi, risiko bisnis, dan menambah periode penelitian agar hasil penelitian lebih baik.

Pengaruh informasi arus kas terhadap volume perdagangan saham dan return saham (Studi empiris pada perusahaan LQ45 yang listing di BEI periode 2007-2009) / Dina Putri Rahayu

 

Kata kunci: Arus Kas, Volume Perdagangan Saham, Return Saham Perkembangan bisnis saat ini semakin menuntut setiap perusahaan untuk mampu bersaing, sehingga dapat mengatur ketersediaan modal. Dalam memperoleh ketersediaan modal perusahaan tidak hanya mengandalkan dari internal tetapi juga harus mencari dari luar perusahaan. Begitu pula dengan seorang investor yang selalu ingin mendapatkan hasil ekonomi dari modal yang telah diinvestasikannya. Maka investor tersebut harus memperoleh informasi yang akurat, tepat waktu dan lengkap. Informasi tersebut salah satunya adalah informasi laporan keuangan arus kas yang dapat menambah preferensi investor tentang risiko dan return yang diharapkan investor. Informasi yang dikeluarkan akan memiliki makna jika menyebabkan investor melakukan transaksi di pasar modal, yang akan tercermin melalui perubahan volume perdagangan saham dan return saham. Penelitian ini adalah jenis penelitian eksplanasi dengan variabel bebas informasi arus kas terhadap variabel terikat volume perdagangan saham dan return saham. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2007-2009 dengan jumlah 135 perusahaan. Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 20 perusahaan dari total populasi, instrumen penelitian ini dengan menggunakan data kuantitatif, teknik analisis dengan menggunakan regresi kanonikal berdasarkan hubungan variabel bebas terhadap dua variabel terikat. Dari hasil penelitian terdapat pengaruh positif antara informasi arus kas (X) terhadap volume perdagangan saham (Y1) dan return saham (Y2) . Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada informasi arus kas akan menyebabkan perubahan pada volume perdagangan saham dan return saham. Semakin baik informasi arus kas akan meningkatkan volume perdagangan saham dan return saham. Pada penelitian yang akan datang hendaknya menambah sampel dalam jumlah lebih besar, rentang waktu yang lebih panjang dan juga menambah variabel independen, agar mendapatkan hasil yang lebih reliabel dan bagi investor diharapkan lebih memantapkan lagi dalam menangkap dan mengelola informasi yang berada di pasar secara efisien, baik itu informasi financial maupun non finansial yang berpengaruh langsung maupun tidak terhadap keputusan berinvestasi, guna mendapatkan investasi yang lebih efektif dan menghasilkan nilai tambah atas investasi yang dilakukan.

Pengaruh persepsi mahasiswa program studi pendidikan akuntansi tentang sertifikasi guru terhadap motivasi mahasiswa menjadi guru ( Studi pada mahasiswa Universitas Negeri Malang 2007-2009) / Deden Irwanto

 

Kata kunci: persepsi mahasiswa, sertifikasi guru, motivasi Pendidikan merupakan investasi dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Peningkatan mutu sumber daya manusia sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterima oleh individu tersebut, sehingga pendidikan berfungsi sebagai pendorong dalam peningkatan kecakapan dan kemampuan manusia agar menjadi masyarakat yang berkualitas. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk selalu meningkatkan profesionalismenya demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka peningkatan kemampuan profesinalisme guru maka pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam undang-undang 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yakni sertifikasi. Tujuan dari program sertifikasi yaitu untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru. Selain itu guru yang telah lolos sertifikasi akan mendapatkan kemudahan fasilitas pengembangan diri dan peningkatan kesejahteraan. Dengan adanya fasilitas pengembangan diri dan peningkatan kesejahteraan tersebut diharapkan akan menambah motivasi mahasiswa terhadap profesi guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi mahasiswa program studi pendidikan akuntasi 2007-2009 tentang sertifikasi guru terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi guru. Penelitian ini adalah jenis penelitian eksplanasi dengan variabel bebas persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap variabel terikat motivasi mahasiswa menjadi guru. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi pendidikan Akuntasi 2007-2009 dengan jumlah 328 mahasiswa, pengambilan sampel dengan mengunakan proporsional random sampling dengan jumlah sampel 80 atau 25% dari total populasi, instrumen penelitian ini dengan mengunakan kuesioner, teknik analisis dengan mengunakan regresi sederhana berdasarkan hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari hasil penelitian terdapat pengaruh positif antara Persepsi Mahasiswa tentang Sertifikasi Guru (X) terhadap Motivasi Mahasiswa Menjadi Guru (Y). Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru akan menyebabkan perubahan pada motivasi mahasiswa menjadi guru dengan arah yang searah. Semakin tinggi persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru akan meningkatkan motivasi mahasiswa menjadi guru. Pada penelitian yang akan datang hendaknya menambahkan variabel-variabel yang lebih bervariasi. Dengan demikian hasil yang diharapkan dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Analisis work sheet mata pelajaran biologi kelas X semester I yang digunakan di SMA Negeri 3 Malang tahun pelajaran 2010/2011 berdasarkan pendekatan pembelajaran inkuiri / Wahyu Dwi Arini

 

Kata kunci: analisis work sheet, pembelajaran inkuiri Pembelajaran menggunakan work sheet diharapkan dapat mendorong siswa aktif melakukaan kegiatan, sehingga memungkinkan siswa untuk menemukan prinsip-prinsip. Petunjuk pada work sheet harus dapat mengarahkan aktivitas belajar siswa dalam memecahkan persoalan dan memantapkan pengalaman belajar siswa setelah akhir proses belajar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan isi work sheet berdasarkan pembelajaran inkuiri. Pembelajaran inkuiri melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan konsep dasar, sehingga siswa lebih mudah memahami konsep dan ingatan siswa terhadap suatu konsep akan bertahan lebih lama. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran dan masukan kepada penyusun work sheet tentang kesesuaian isi work sheet dengan pembelajaran inkuiri. Work sheet yang dianalisis merupakan work sheet biologi kelas X semester 1 SMA Negeri 3 Malang yang diperoleh dari salah satu guru tim penyusun work sheet biologi kelas X semester 1. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2010- Januari 2011. Penelitian yang dilakukan termasuk penelitian deskriptif. Data berupa kesesuaian materi dengan aspek kebenaran materi, sains lingkungan teknologi masyarakat (salingtemas), pemberian contoh dan gambar; dan kesesuaian petunjuk praktikum, petunjuk nonpraktikum, soal latihan dengan pembelajaran inkuiri berdasarkan kurikulum nasional dan kurikulum Cambridge dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian materi pada work sheet dengan aspek kebenaran materi, salingtemas, pemberian contoh dan gambar sebesar 46,76%, sehingga tergolong kriteria kurang baik. Kesesuaian petunjuk kegiatan praktikum pada work sheet dengan pembelajaran inkuiri sebesar 24,7%, sehingga tergolong kriteria sangat kurang baik. Kesesuaian isi work sheet (petunjuk praktikum) berdasarkan penilaian keterampilan dan kemampuan bereksperimen sebesar 21,43%, sehingga tergolong kriteria sangat kurang baik. Kesesuaian petunjuk kegiatan nonpraktikum pada work sheet dengan pembelajaran inkuiri sebesar 29,75%, sehingga tergolong kriteria sangat kurang baik. Kesesuaian soal-soal latihan pada work sheet dengan pembelajaran inkuiri sebesar 14,29%, sehingga tergolong kriteria sangat kurang baik. Peneliti menyarankan jika ingin dikembangkan work sheet berdasarkan pembelajaran inkuiri maka sejak awal penyusunan work sheet harus diperhatikan tuntutan yang ada di dalam pembelajaran inkuiri.

Studi deskriptif ranah afektif siswa program keahlian teknik otomotif di SMK Swasta se kota Malang / Buyung Rudyanto

 

Manajemen kedisiplinan siswa sekolah dasar (Studi multi kasus pada sekolah yang menerapkan model sistem half-day school, full-day school, dan boarding school di MAlang dan Blitar) / Taufiq

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji KH, M.A, Ph. D., (II) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd., (III) Prof. Dr.Willem Mantja, M.Pd Kata-kata kunci: manajemen kedisiplinan, sekolah dasar, sistem regular, full- day school, boarding school, pondok pesantren. Sebuah penelitian dengan temuan menarik dan cukup mengejutkan pernah diselenggarakan oleh dua pakar yaitu Bogdan dan Taylor (1975). Penelitian ini sebenarnya semula dimaksudkan untuk menjawab atau mengetahui tentang kemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan. Ternyata, dalam hasil penelitian yang publikasinya diberi judul ”When the teachers meet technology” ini, problema yang terlebih dulu harus ditangani sebelum menjawab soal kegunaan teknologi pendidikan adalah justru soal tertib dan disiplin peserta didik. Tidak mungkin, menurut Bogdan dan Taylor(1975:30) mengharapkan manfaat tinggi dari teknologi pendidikan tanpa terlebih dulu menangani soal tertib dan disiplin kelas. Dalam penelitian ini dibahas mengenai perencanaan program kedisiplinan siswa, pola pengaturan kedisiplinan siswa, cara penanggulangan masalah disiplin, dan hasil kedisiplinan siswa di sekolah yang menerapkan model sistem regular (half day school), sekolah penuh hari (full day school) , dan sekolah ber asrama (boarding school). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, ob-servasi, dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik trianggulasi, member check, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penelitian dilakukan dengan para pembimbing se-bagai independent auditor untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ke-tiga teknik tersebut diorganisir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus maupun melalui analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, perencanaan program kedisiplinan siswa perlu melibatkan seluruh stake holder sekolah sehingga kendala-kendala yang ada dalam pelaksanaan dapat diatasi dengan efektif. Disamping itu agar perencanaan kedisiplinan siswa berjalan efektif diperlukan untuk membreak down visi dan misi lembaga. Kedua, dasar pengaturan kurikulum dan waktu 6 jam pada sekolah umum atau half day school adalah: berbasis standar kurikulum dari diknas, dan kegiatan ekstra kurikular. Sedangkan pendidikan yang menggunakan waktu 9 jam (full day school), kurikulum yang digunakan adalah kurikulum Diknas, ekstra kurikular dan mulok berupa kegiatan mengaji ilmu agama dan kegiatan kursus bahasa asing. Sementara itu penyenyelenggaraan pendidikan dengan dasar pengaturan waktu 24 jam (boarding school) lebih banyak variabel kurikulum dan kompetensi serta target yang ingin dicapai yang menjadi goal nya bila dibandingkan dua model sistem yang lain. Begitu juga dengan pengaturan personalia yang terlibat didalamnya. Sistem boarding school membutuhkan personalia lebih banyak bila dibanding dengan model sistem regular maupun full day school. Penelitian ini juga menegaskan tidak adanya dampak negatif berlebihan sebagai akibat dari pengaturan kedisiplinan siswa, asalkan lingkungan diciptakan dengan kondusif, pembelajaran yang menyenangkan, dan mempertimbangkan aspek psikologis siswa dalam berbagai aktivitas sekolah. Ketiga, pendekatan penanganan siswa yang melakukan pelanggaran kedisiplinan dilakukan melalui beberapa tahapan. Berdasarkan temuan-temuan penelitian maka dapat diklasifikasikan bahwa ada beberapa pendekatan penanganan masalah disiplin siswa: (1) pendekatan kognitivistik yaitu dengan cara memberikan pengertian terhadap maksud dan tujuan diberlakukannya peraturan sehingga siswa dapat memahami keuntungan dan kerugian dari tindakannya.(2) pendekatan behavioristik yaitu dengan cara diberi hukuman yang bisa menjerakan siswa agar tidak mengulang lagi perbuatan yang sama. (3) pendekatan humanistik yang diterapkan dengan tidak memberikan hukuman pada siswa karena asumsi bahwa anak adalah boss dan mereka perlu betah berada dipesantren untuk tujuan memperdalam ilmu-ilmu agama.(4) pendekatan spiritualistik yaitu dengan penanganan masalah disiplin dengan cara menggugah spiritualitas santri. Sedangkan penyebab prilaku tidak disiplin pada diri siswa, yaitu:(1) faktor keluarga, (2) faktor pergaulan anak, (3) faktor eksternal seperti guru yang tidak menarik, (4) faktor kurang tegasnya pelaksanaan peraturan. (5) kurangnya keteladanan. Keempat, hasil kedisiplinan siswa pada sekolah dapat dilihat dari aspek prilaku berdisiplin seperti mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah dengan Indikator antara lain para siswa berprilaku baik terhadap lingkungan, guru, orang tua, dan juga kepada sesama teman-temanya. Kompetensi dan prestasi yang diraih oleh sekolah berbanding lurus dengan kedisplinan yang mereka terapkan. Artinya semakin disiplin suatu sekolah semakin banyak prestasi yang dapat diraih baik dari faktor akdemik maupun non akademik dan begitu juga sebaliknya. Implikasi teoritis dari penelitian ini adalah menolak pandangan bahwa model sistem full day school hanya memperpanjang waktu, dan berakibat negatif pada psikologis anak. Dan justru penelitian merekomendasikan perlunya keberadaan institusi untuk tercapainya hasil kedisiplinan dan tujuan instructional yang lebih tinggi. Secara teoritis penelitian ini juga menyumbangkan satu pola pendekatan dalam penanganan masalah disiplin yaitu dengan memperhatikan spiritualitas peserta didik. Dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa saran, yaitu antara lain: (1) bagi kepala sekolah dituntut untuk terus meningkatkan kualitas kepemimpinannya terutama dalam mengupayakan peran serta keterlibatan aktif seluruh komponen sekolah dalam manajemen kedisiplinan siswa, (2) bagi orang tua perlu mengontrol penggunaan waktu dan aktivitas anak diluar sekolah yang menerapkan half day school,(3) bagi penyelenggara sekolah dengan model sistem full day school perlu memperhatikan aspek menyenangkan dalam strategi pembelajarannya, menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan iklim belajar yang seperti keluarga agar kecemasan banyak fihak mengenai dampak negatif tersebut tidak terjadi.

Implementasi manajemen strategik dalam mengelola sekolah unggul (Studi multi kasus di Mts. Negeri 1 SMPN 2 Mataram) / M. Ary Irawan

 

Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd. (2) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd. Kata-kata kunci: manajemen strategik, sekolah unggul. Akibat adanya perubahan globalisasi yang semakin pesat menuntut perlunya relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja/industri terhadap mutu lulusan (out-put), selain itu munculnya lembaga pendidikan yang bertaraf internasional. Persaingan kini terjadi pada hampir semua bidang usaha, bukan hanya pada bidang bisnis saja, tetapi persaingan tersebut juga telah merambah ke dunia pendidikan kita, mulai dari Play Group, SD, SLTP, SLTA, Universitas, bahkan ke institusi-institusi pendidikan lainnya. Oleh karena itu tantangan sekolah-sekolah saat ini adalah bagaimana mengelola sekolah unggul sehingga dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada masyarakat. Dengan kata lain, dunia pendidikan khususnya pada sekolah-sekolah kini dituntut untuk mampu mengembangkan strategic management yang pada dasarnya banyak diterapkan dalam dunia usaha, sebagai langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan baru guna mencapai dan mempertahankan posisi bersaingnya, sehingga nantinya dapat dihasilkan manusia-manusia yang memiliki sumber daya manusia berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Fokus penelitian ini tertuju pada 3 (tiga) hal, yaitu: (1) formulasi strategik, (2) implementasi strategik dan (3) proses evaluasi program kegiatan sekolah dalam mengelola sekolah unggul. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, obeservasi, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptip kasus individu dan lintas kasus dengan alur (1) reduksi data (data reduction), (2) penyajian data (data display), dan (3) penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/ verification). Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria yaitu: kepercayaan (credibility), keteralihan (transferbility), ketergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). Temuan-temuan yang diperoleh dalam penelitian adalah: Pertama, formulasi strategik dalam mengelola sekolah unggul meliputi: (1) Memiliki dasar yang kuat dalam penyusunan visi dan misi sekolah, (2) Melakukan analisis lingkungan sekolah baik pada aspek internal maupun eksternal, (3) Merumuskan tujuan sekolah sesuai dengan visi dan misi sekolah, dan (4) Menetapkan strategi secara komprehensip. Kedua, implementasi strategik dalam mengelola sekolah unggul terdiri atas: (1) Pembentukan struktur organisasi sekolah yang jelas, (2) Membuat kebijakan dan program kerja sekolah rasional dan relevan, (3) Pengembangan budaya sekolah yang sehat, (4) Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya sekolah, dan (5) Perlibatan komite sekolah dalam kegiatan pendidikan di sekolah secara efektif. Ketiga, proses evaluasi program dalam mengelola sekolah unggul terdiri dari: (1) Penentuan indikator evaluasi yang berpijak pada rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS), (2) Mengumpulkan informasi dan data melalui: monitoring dan evaluasi (monev), supervisi, pertemuan pribadi, rapat sekolah, audit internal dan eksternal yang dilaksanakan secara sistematis (3) Menganalisis dan mengidentifikasi permasalahan yang menjadi kendala pelaksanaan kegiatan program sekolah, dan (4) Melaksanakan rencana tindak lanjut terhadap rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS) secara berkelanjutan. Dari hasil penelitian, dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut. Pertama, Bagi MTs. Negeri 1 dan SMPN 2 Mataram agar berupaya secara terus-menerus mempertahankan dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Kedua, sekolah lainnya yang sedang berkembang dan belum berprestasi di Kota Mataram pada umumnya: (1) Agar berpegang teguh dan berpedoman pada visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan sekolah; (2) Melibatkan partisipasi aktif orang tua murid, masyarakat, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan (stakeholder) lainnya dalam mendukung penyelenggaraan program kegiatan sekolah; dan (3) Melakukan evaluasi secara sistematis dalam upaya perbaikan program kegiatan sekolah. Ketiga, pemerintah: (1) menyediakan anggaran pendidikan secara berkelanjutan dan tepat waktu; (2) lebih intensif melakukan monitoring dan evaluasi secara objektif, transparan, akuntabel dan demokratis. Keempat, Komite sekolah dan Masyarakat kota Mataram: agar lebih maksimal untuk menjalankan peran dan fungsinya sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency), pendukung (supporting agency), pengontrolan (controlling agency), dan mediator (mediating agency) sehingga tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan bersama. Kelima, Para peneliti lainnya yang ingin meneliti kasus-kasus sejenis, hendaknya melakukan penelitian lanjutan dan mengkaji secara mendalam variabel-variabel yang belum sempat dikaji pada penelitian ini.

Pengembangan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme bertema rokok untuk SMP/MTs kelas VIII semester I / Eka Vasia Anggis

 

Kata Kunci : Paket IPA Terpadu, Konstruktivisme, Tema Rokok, , Siswa SMP Kelas VIII Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA untuk SMP/MTs merupakan IPA terpadu. Pada penelitian sebelumnya oleh Handayanto, dkk., (2009: 32) menyatakan bahwa berdasarkan pelaksanaan pembelajaran IPA di SMP Negeri Wilayah Malang Raya,menunjukkan bahwa hampir semua guru (96,2%) memiliki kemampuan mengajar materi IPA terutama materi seputar KD yang dibelajarkan. Namun demikian, sebagian besar guru (76,9%) jarang mengaitkan materi yang dibahas dengan cabang IPA lain yang relevan. Penemuan ini memberikan alasan yang jelas mengapa sebagian besar guru IPA (35 dari 37 orang atau 94,6%) menyatakan bahwa mereka membutuhkan paket IPA terpadu untuk pembelajaran IPA SMP. Berdasarkan pengamatan buku IPA terpadu untuk SMP/MTs yang dijual di toko-toko buku Kota Malang (Dian Ilmu, Toga Mas, Gramedia), konsep-konsep materi yang diberikan belum menunjukkan adanya IPA terpadu. Berdasarkan kenyataan tersebut, penulis melaksanakan penelitian pengembangan. paket IPA terpadu yang terdiri atas buku siswa dan buku panduan guru. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan tahap-tahap yang telah disesuaikan dengan kebutuhan penulis yaitu (1) tahap pengumpulan informasi dan penelitian, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji lapangan awal tahap pertama, (5) revisi produk pokok tahap pertama, (6) uji lapangan awal tahap kedua, (7) produk akhir paket IPA terpadu. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket uji kelayakan buku siswa dan uji kelayakan buku panduan guru dilakukan oleh validator guru maupun dosen dan uji keterbacaan buku siswa yang dilakukan oleh siswa SMP kelas VIII. Data hasil uji kelayakan diperoleh dari validator-validator yang telah ditetapkan. Data penelitian terdiri dari data skor dan data deskriptif. Data skor berupa data ordinal yang diubah menjadi data interval, salah satunya dapat diubah menjadi bentuk persentase yang dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan rerata persentase kelayakan tahap pertama, menunjukkan buku siswa memiliki kelayakan 92,45% dan buku panduan guru sebesar 92,41% sehingga dapat disimpulkan paket IPA terpadu sudah layak untuk dilakukan validasi ke SMP Negeri 9 Malang. Berdasarkan rerata persentase kelayakan tahap kedua, menunjukkan buku siswa memiliki kelayakan sebesar 99,50% dan buku panduan guru memiliki kelayakan sebesar 88,50% yang berarti layak. penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut dengan melakukan uji coba kelas sehingga diperoleh paket IPA terpadu yang teruji secara empiris. Uji coba dapat dilakukan dengan uji eksperimen maupun Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Penerapan pembelajaran kooperatif TGT (Team Games Tournament) dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII E SMP Negeri 10 Malang / Kartika Dwi Nawasita

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif TGT, pendekatan kontekstual, motivasi belajar siswa, hasil belajar siswa Kurikulum yang digunakan pada saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang operasional, disusun, dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah. Ciri utama KTSP yaitu, (1) berpusat pada siswa, (2) memberikan mata pelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual, dan (3) mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. KTSP memudahkan tiap sekolah untuk menentukan model pembelajaran yang digunakan. Salah satu model yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan kontekstual, (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif TGT dengan pendekatan kontekstual. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan pokok bahasan organisasi makhluk hidup. Data dalam penelitian ini adalah motivasi dan hasil belajar. Instrumen yang digunakan berupa soal tes, lembar observasi, dan catatan lapangan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII E SMP Negeri 10 Malang sebanyak 41 orang siswa dengan jumlah siswa perempuan 17 orang dan 24 orang siswa laki-laki. Waktu pelaksanaan penelitian mulai bulan September 2007 sampai Desember 2008. Hasil penelitian ini adalah (1) motivasi belajar klasikal siswa kelas VII E yang meningkat dari 60,15% di siklus I menjadi 64,65% pada siklus II, 2) penerapan pembelajaran Team Games Tournament (TGT) meningkatkan hasil belajar siswa dari 56,1% pada siklus I menjadi 78,05% di siklus II. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas VII E SMP Negeri 10 Malang. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mengharapkan agar Pembelajaran kooperatif TGT dapat diterapkan pada pokok bahasan selain Organisasi Makhluk Hidup dan tidak hanya diterapkan pada SMP Negeri 10 Malang tetapi dapat diterapkan pada sekolah lainnya karena penerapan pembelajaran tersebut dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa

Penokohan dalam naskah drama akal bulus scapin: Karya Jean Baptiste Poquelin 'Moliere' / Eddita Dwi Gustanto

 

Kata kunci: naskah drama, drama, penokohan Naskah drama merupakan suatu karya sastra yang berbeda dengan karya sastra lainnya. Dalam naskah drama, cerita yang disusun berbentuk dialog yang menggunakan bahasa lisan komunikatif. Penggunaan bahasa sepert ini dimaksutkan untuk memberi unsur keindahan yang mampu mempengarui pembaca. Seperti naskah pada umumnya, naskah drama juga memiliki unsur intrinsik sebagai unsur pembangun yang meliputi tokoh, alur, latar, sudut pandang, tema dan amanat. Unsur ini kemudian disusun dengan memperhatikan penyusunan naskah sebagai naskah drama yang memperhatikan hal seperti, mampu mengangkat cerita tentang kegembiraan dan ketakutan bercampur dengan kegembiraan dan ketakutan yang ada pada diri pembaca, mampu memberikan kekayaan batin, naskah dalam hal ini berarti mampu memberikan sesuatu yang menyenangkan, menghibur, membuat penonton tertawa, dan membuat penonton merasa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, mampu menciptakan imajinasi pembaca serta membahas tentang pandangan kondisi manusia. Sementara itu, drama dapat dikatakan sebagai suatu karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan manusia melalui dialog dan lakuan. Dialog dan lakuan ini merupakan unsur utama dalam sebuah drama, karena selain menggunakan dialog sebagai drama naskah juga memperhatikan lakukan sebagai drama pentas, dengan menggabungkan kedua unsur ini maka drama dapat dikatakan sempurna. Berangkat dari pengertian naskah drama dan drama di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penokohan dalam sebuah naskah drama. Penokohan sendiri memiliki pengertian sebagi cara pengarang menampilkan tokoh dalam cerita. Untuk mengetahui penokohan dalam suatu cerita, dapat dilihat dari jenis, peranan, dan fungsi tokoh, dengan memperhatikan sifat tokoh yang menyertainya. Kemunculan sifat tokoh ini dapat dilihat dari dimensi fisiologis, psikologis dan sosiologis. Berdasarkan jenis tokoh dalam cerita, terdapat tokoh sederhana dan tokoh kompleks, sedangkan dilihat dari perananya, terdapat tokoh antagonis, protagonis dan tokoh tritagonis, sementara itu, dilihat dari fungsinya terdapat utama dan pembantu. Tokoh inilah yang kemudian ditemukan dan hasilnya diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan teori sastra khususnya tokoh dalam sebuah karya sastra drama, serta mampu menambah wawasan bagi pembaca mengenahi kajian karya sastra tentang deskripsi penokohan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif, yang menjelaskan dengan cara menggambarkan penokohan secara apa adanya tidak dimanipulasi keadaanya yang menekankan deskripsi secara alami serta dalam kegiatan penelitian tidak menggunakan angka untuk mengumpulkan data dan memberikan penafsiran kepada hasilnya. Data yang digunakan berupa analisis unit motivasional naskah drama Akal Bulus Scapin dengan menggunakan metode daftar rujukan untuk memperkaya data penelitian. Data penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan instrumen kunci berupa peneliti yang bertindak sebagai instrumen penelitian untuk mengumpulkan data dengan cara menganalisis secara langsung tentang penokohan yang terdapat dalam naskah drama. Dengan menggunakan instrumen tambahan berupa tabel penokohan dilihat dari jenis, peranan, fungsi dan sifat tokoh dilihat dari dimensi fisiologis, psikologis dan sosiologis. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah seperti, melakukan pembacaan awal secara seksama untuk mengetahui kandungan isi dalam naskah terkait unsur penokohan, melakukan interprestasi naskah dengan menemukan penokohan dilihat dari jenis, peranan, fungsi tokoh dalam cerita serta sifat-sifat tokoh dengan melakukan pembacaan secara heuristic, yaitu pembacaan secara bolak-balik mulai dari awal hingga akhir untuk mengetahui peristiwa atau kejadian yang terdapat dalam naskah yang ada hubunganya dengan unsur penokohan. Menemukan dialog, peristiwa dan kejadian yang ada hubungannya dengan tokoh dilihat dari jenis, peranan, fungsi dan sifat-sifat tokoh dalam naskah. Kemudian menarik kesimpulan dengan menemukan tokoh kompleks, sederhana, tokoh protagonis, antagonis, obstacle, tritagonis, tokoh utama, dan tokoh pembantu disertai dengan sifat-sifat tokoh dengan memberikan bukti berupa kutipan dialog dan peristiwa dari naskah Akal Bulus Scapin. Hasil dari penelitian ini berupa tokoh dilihat dari jenis tokoh, berupa tokoh sederhana pembantu protagonis yang diperankan oleh Hyacinte , Zerbinete, Scapin, Silvestre dan Leandre, tokoh sederhana pembantu antagonis yang diperankan oleh tokoh Geronte dan Nerine. Kemudian tokoh kompleks yang diperankan oleh Argante dan Octave. Sementara itu dilihat dari perannya, terdapat tokoh protagonis yang diperankan oleh Octave, tokoh antagonis yang diperankan oleh Argante, tokoh obstacel yang diperankan oleh Scapin, Leandre ,Hyacinte, Zerbinete dan Silvestre, dan tokoh teritagonis diperankan oleh tokoh Geronte. Dilihat dari fungsi tokoh, terdapat tokoh utama yang diperankan oleh Argante dan Octave, tokoh pembantu protagonis yang diperankan oleh Hyacinte, Silvestre,Zerbinette, Scapin, Leandre dan tokoh pembantu antagonis yang diperankan oleh Geronte dan Nerine. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi peneliti lanjutan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang penokohan yang tidak hanya dilihat dari jenis, peranan dan fungsi tokoh dalam cerita.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray guna meningkatkan hasil belajar siswa kelas X PJ A pada mata pelajaran peluang baru dari pelanggan di SMK PGRI 3 Malang / Diana Khomsatul

 

Kata Kunci: Model Two Stay Two Stray, Hasil Belajar Pendidikan merupakan pilar tegaknya bangsa. Melalui pendidikanlah bangsa akan tegak mampu menjaga martabat, tetapi salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran Begitu juga yang terjadi di SMK PGRI 3 Malang. Berdasarkan wawancara dan observasi pada hari kamis tanggal 14 April 2011 dengan guru mata pelajaran Peluang Baru dari Pelanggan kelas X PJ A di SMK PGRI 3 Malang, permasalahan utama yang dihadapi oleh siswa adalah kemampuan rendah yang menyebabkan hasil belajar dari nilai ulangan atau tes ada yang meraih nilai di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) individu yaitu 70. Pada pengamata awal tersebut menunjukkan bahwa guru masih mendominasi atau cenderung berpusat pada guru (teacher centered) pada pembelajaran di kelas yang mana kesemuanya itu membuat siswa merasa jenuh dan kurang ada semangat atau ketertarikan lagi untuk menyukai pelajaran Peluang Baru dari Pelanggan. Salah satu model pembelajaran yang berkembang pada saat ini adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil, secara heterogen. Pembelajaran kooperatif itu sendiri memiliki berbagai macam model pembelajaran beberapa diantaranya adalah model two stay two stray. Model two stay two stray (TSTS) dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar. Pokok pikiran pembelajaran kooperatif model two stay two stray adalah memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Tujuan Penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui keadaan penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray pada mata pelajaran Peluang Baru dari Pelanggan di SMK PGRI 3 Malang. (2) Untuk mengetahui keadaan hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray. (3) Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang muncul selama diterapkannya pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray serta bagaimana solusinya pada mata pelajaran Peluang Baru dari Pelanggan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan pendekatan kualitatif terdiri dari dua siklus. masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan antara lain perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas X PJ A di SMK PGRI 3 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. ii Analisis data yang digunakan melalui 3 tahap yaitu reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada aspek kognitif siklus I menunjukkan 69.41% sedangkan siklus II menunjukkan 77.56%, hal tersebut menjelaskan adanya peningkatan rata-rata sebesar 8.15%. sedangkan pada aspek afektif nilai rata-rata siklus I sebesar 67% dan pada siklus II sebesar 78%. Dengan demikian mengalami peningkatan sebesar 11%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan antara lain: (1) Bagi guru SMK PGRI 3 Malang khususnya guru mata pelajaran Peluang Baru dari Pelanggan, sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran agar hasil belajar siswa meningkat. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah pembelajaran model Two Stay Two Stray sehingga model ini disarankan untuk diterapkan di kelas tetapi disesuaikan dengan materi yang diajarkan, (2) Bagi siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dapat memecahkan suatu permasalahan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (3) Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaraan kooperatif yang lebih bervariasi sehingga kemampuan dan hasil belajar siswa lebih meningkat lagi.Serta pada lembar observasi sebaiknya lebih dispesifikkan lagi berdasarkan frekuensi setiap penilaian karakteristiknya sehingga akan tampak jelas apa yang dinilai pada proses pembelajaran

Pengaruh stres kerja dan ambiguitas peran terhadap komitmen afektif melalui kepuasan kerja (Studi pada karyawan pabrikasi PG Krebet baru Bululawang Malang) / Anis Ulfa Diana

 

Kata Kunci : Stres Kerja, Ambiguitas Peran, Kepuasan Kerja, dan Komitmen Afektif Sumber daya manusia adalah aset organisasi yang penting dan membuat sumber daya organisasi lainnya bekerja. Keberadaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting artinya bagi kemajuan perusahaan. Dengan keberadaan tenaga kerja tentu saja tidak terlepas dengan stres kerja dan ambiguitas peran. Stres kerja adalah reaksi phisik dan psikis berupa perasaan tegang atau tertekan karena tuntutan pekerjaan yang mempengaruhi prestasi kerja sebagai hasil akhir dari pekerjaan yang diperoleh selama periode waktu tertentu, yang mendorong seseorang untuk mempunyai motivasi dalam mengembangkan karir. Sedangkan ambiguitas peran adalah kurangnya informasi tentang pekerjaan yang dilakukan. Faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja pada dasarnya secara praktis dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Kepuasan kerja memiliki pengaruh terhadap komitmen afektif. Kesuksesan sebuah organisasi didukung oleh bagaimana organisasi tersebut menumbuhkan komitmen organisasi yang dipahami sebagai ikatan kejiwaan individu terhadap organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kerja dan ambiguitas peran terhadap komitmen afektif melalui kepuasan kerja yang ada di PG. Krebet Baru I Malang. Penelitian ini dilaksanakan di PG. Krebet Baru I Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan bagian pabrikasi PG. Krebet Baru I Malang yang berjumlah 65 orang. Sedangkan sampelnya diambil sebanyak 56 orang dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu stres kerja (X ) dan ambiguitas peran (X2), variabel interfening yaitu kepuasan kerja (Z) dan variabel terikat yaitu komitmen afektif (Y). Data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain : angket atau kuesioner, wawancara atau interview, dokumentasi dan observasi. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga uji coba kuesioner untuk menguji instrumen tidak perlu dilakukan. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelima hipotesis alternatif yang diajukan adalah diterima. Deskripsi penelitian menyatakan bahwa karyawan mengalami stres kerja sebulan sekali, ambiguitas peran rendah, kepuasan kerja tinggi, dan komitmen afektif tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak PG. Krebet Baru I Malang lebih memperhatikan lagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan antara lain menyangkut faktor ekstrinsik (misalnya Jaminan keselamatan kerja, kondisi fisik (Pencahayaan dan ventilasi), tunjangan, gaji) dan faktor intrinsik (misalnya pengakuan atas pekerjaan, kebebasan dalam pekerjaan, peluang adanya kenaikan posisi/promosi, pekerjaan yang dilakukan).. Dimana apabila faktor-faktor tersebut lebih diperhatikan lebih baik lagi akan dapat menumbuhkan komitmen mereka untuk bekerja lebih keras.

Pengaruh keadilan distributif dan keadilan kepuasan kerja (Studi pada karyawan pabrikasi PG Krebet Baru Malang) / Tegar Rizkika Afthartu

 

Kata Kunci : Keadilan distributif, Keadilan prosedural, Kepuasan kerja, dan Komitmen organisasi. Keadilan berasal dari kata adil yang berarti wajar dan layak atau tidak berat sebelah. Keadilan karyawan di dalam perusahaan atau organisasi biasa disebut dengan keadilan organisasi. Keadilan organisasi dibagi menjadi dua dimensi yaitu keadilan distributif dan keadilan prosedural, keadilan distributif yaitu presepsi karyawan tentang kewajaran yang dirasakan dari hasil yang diterima, sedangkan kedilan prosedural adalah keadilan prosedur atau cara yang digunakan untuk menentukan hasil tersebut. Keadilan sudah menjadi kebutuhan setiap manusia dan disitu terdapat tuntutan yang sama untuk diperlakukan adil, termasuk karyawan untuk diperlakukan adil. Aspek-aspek keadilan dalam kehidupan organisasi harus dipenuhi sehingga karyawan mendapatkan kepuasan kerja dengan terpenuhinya aspek-aspek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja yang ada di PG Krebet Baru Malang. Penelitian ini dilakukan di PG Krebet Baru Malang, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan pabrikasi bagian pabrik tengah pada PG Krebet Baru Malang yang berjumlah 67 karyawan, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 57 karyawan dan teknik pengambilan sampel berupa simple random sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas Keadilan Distributif dan Keadilan Prsedural, variabel intervening Kepuasan Kerja, dan variabel terikat Komitmen Organisasi. Data diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung yang signifikan keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap kepuasan kerja; (2) terdapat pengaruh langsung yang signifikan keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen organisasi; (3) terdapat pengaruh langsung yang signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi; (4) terdapat pengaruh tidak langsung keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja. Deskripsi penelitian menyatakan bahwa keadilan distributif tinggi, keadilan prosedural cukup, kepuasan kerja tinggi dan komitmen organisasi cukup. Saran yang bisa diberikan untuk PG Krebet Baru adalah lebih menguatkan keadilan prosedural dan komitmen organisasi hendaknya perusahaan mengumpulkan informasi yang akurat dan lengkap dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan keterikatan karyawan agar karyawan lebih setia dan tidak segan-segan untuk mengajak kerabat untuk bekerja d PG Krebet Baru Malang

Strategi pembelajaran integrasi iman dan ilmu di lembaga pendidikan kristen kota Malang (Studi kasus penggunaan strategi pembelajaran matematika dan sejarah) / Julia Tanti Raulina Saragi

 

Kata sandi: strategi pembelajaran, integrasi iman dan ilmu Strategi pembelajaran adalah seperangkat tindakan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Cakupan tindakan tersebut substansial yang meliputi variabel: (1) setting (latar) pembelajaran, (2) pengelolaan dan pengorganisasian bahan ajar, (3) pengalokasian waktu, (4) pengaturan pola pembelajaran, (5) metode, teknik,dan prosedur pembelajaran, (6) pengaturan dan pemanfaatan media pembelajaran, (7) penerapan prinsip-prinsip pembelajaran, (8) penerapan pola aktivitas pembelajaran, (9) pengembangan dan pengaturan iklim pembelajaran Di Kota Malang terdapat banyak sekolah Kristen. Namun tidak semua menerapkan integrasi Iman dan Ilmu. Sekolah yang akan dijadikan subjek penelitian adalah sekolah yang memiliki budaya untuk menjadikan Alkitab sebagai dasar dakam penyusunan kurikulum. Integrasi iman dan ilmu berarti menerapkan prinsip-prinsip iman Kristen dalam setiap ilmu pengetahuan. Matematika merupakan mata pelajaran wajib dalam sekolah dasar. Banyak anggapan yang mengatakan bahwa matematika sulit. Begitu pula dengan Sejarah. Mata pelajaran yang sering dianggap membosankan karena peristiwanya yang sudah terjadi beratus tahun yang lampau. Keunikan kedua mata pelajaran ini yang mendorong penulis untuk mengetahui bagaimana kaitan mata pelajaran tersebut dengan Iman Kristen. Penelitian menggunakan penelitian deskriptif dengan rancangan studi kasus. Subjek dalam penelitian adalah 2 guru bidang studi yakni Matematika dan Sejarah. Alat pengumpul data yang digunakan adalah arsip, kuesioner, dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan jalan mengumpulkan data untuk kemudian mengatur, mengurutkan, mengelompokkan data serta mengkategorikan data tersebut. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui 2 metode: (1) triangulasi dan (2) pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada strategi pembelajaran yang khusus yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang terintegrasi iman dan ilmu. Menurut hasil penelitian setting yang digunakan dalam pembelajaran matematika dan sejarah adalah setting pembelajaran yang umum, hanya ditambah dengan ayat-ayat Alkitab yang mendukung materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika dan sejarah yang terintegrasi iman dan ilmu adalah media pembelajaran sederhana yang tidak biasa digunakan dalam pembelajaran sejarah dan matematika. Yang menjadi keunikan atau perbedaan yang signifikan dalam pembelajaran matematika dan sejarah yang terintegrasi iman dan ilmu dari sudut pandang pendidikan Kristen adalah setiap materi pelajaran diberikan ayat pendukung dari Alkitab yang kemudian menjadi dasar untuk mempelajari materi tersebut. Namun dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa penggunaan ayat Alkitab sebagai dasar dalam materi pembelajaran belum sepenuhnya memiliki kaitan. Untuk pembelajaran matematika ada beberapa ayat pendukung yang tidak memiliki kaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Berbeda dengan pembelajaran matematika ayat pendukung yang digunakan dalam pembelajaran sejarah sudah memiliki kaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan hasil penelitian disarankan ditemukan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru matematika dan sejarah dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika dan sejarah yang terintegrasi iman dan ilmu. Yang perlu dipertimbangkan oleh guru matematika adalah penggunaan ayat pendukung dalam materi pelajaran matematika. Adalah baik jika pihak sekolah dapat menyediakan teolog yang dapat menolong guru dalam penggunaan dan penafsiran ayat Alkitab.

Penerapan model pembelajaran problem based instruction (PBI) pada mata pelajaran akuntansi untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Blitar / Fitriana Diyah Rahayuningsih

 

Kata kunci: model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI), keterampilan berpikir kritis. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, pembelajaran Akuntansi di SMA Negeri 1 Blitar menunjukkan bahwa proses pembelajaran berpusat pada guru dengan metode ceramah dan pemberian tugas, guru kurang variatif menggunakan media pembelajaran karena hanya menggunakan buku paket dari dinas pendidikan yang disediakan di perpustakaan sekolah. Pembelajaran yang monoton, kurang variatif, dan berpusat pada guru menyebabkan siswa pasif. Kegiatan belajar mengajar belum menerapkan belajar berpikir logis atau kritis, dialogis, dan argumentatif. Padahal jika dilihat dari taraf kemampuan berpikir, siswa SMA berada pada tahap operasi formal (perkembangan penalaran abstrak), sehingga mampu untuk diajak berpikir ke tingkat penalaran yang lebih tinggi yaitu berpikir kritis. Oleh karena itu, guru perlu menerapkan model pembelajaran yang dapat menyajikan masalah dan dapat melatih keterampilan berpikir siswa yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Penelitian ini bertujuan untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Blitar melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data-data yang dipergunakan selama proses penelitian berlangsung bersumber dari data observasi aktivitas siswa dalam berpikir kritis, hasil wawancara, dan catatan lapangan. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I keterampilan berpikir kritis siswa dengan kategori ”Cukup Kritis” dan mengalami perbaikan pada siklus II dengan kategori ”Kritis”. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) pada mata pelajaran Akuntansi dapat melatih keterampilan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 1 Blitar. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu, (1) Untuk kesempurnaan penerapan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) maka harus disediakan alokasi waktu yang cukup agar tidak mengurangi tahap berpikir dalam kegiatan diskusi siswa, (2) Pemberian motivasi dan arahan pada siswa harus diberikan secara intens untuk memacu semangat dan keberanian siswa dalam proses pembelajaran, serta (3) Guru hendaknya membuat variasi model pembelajaran, dengan memadukan atau mengembangkan model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dengan metode yang lain.

Penerapan model inkuiri terbimbing untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika pokok bahasan listrik dinamis pada siswa kelas X pembangkit SMK PGRI 3 Malang / Luthfi Hakim

 

Kata Kunci: inkuiri terbimbing, motivasi, hasil belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa kelas X Pembangkit Listrik SMK PGRI 3 Malang tahun ajaran 2010-2011 memiliki motivasi belajar yang rendah. Hal ini terbukti selama 3 jam pelajaran hanya 2 pertanyaan yang muncul. Siswa lebih senang menghabiskan waktu ngobrol dengan teman dari pada membaca buku pelajaran. Siswa jarang mengerjakan tugas. Selain itu dari wawancara dengan guru fisika menunjukkan bahwa nilai ulangan siswa masih rendah. Hanya 30% siswa yang mencapai KKM. Hal ini dimungkinkan karena metode mengajar guru yang sebelumnya tidak cocok untuk kelas ini. Oleh karena itu perlu metode atau model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajara siswa. Model pembelajaran yang sesuai adalah inkuiri terbimbing. Model pembelajaran ini terdiri dari lima tahapan yaitu observasi, bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data dan menyimpulkan. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika pokok bahasan lisrik dinamis. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, siklus I dengan pokok bahasan hukum Ohm dan siklus II dengan pokok bahasan hukum I Kirchoff. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing, motivasi dan hasil belajar siswa. Keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Motivasi belajar siswa diperoleh dari angket motivasi yang terdiri dari aspek attentions, relevance, conviddence, dan satisfactions. Hasil belajar diperoleh dari pree-tes dan post-tes dan lembar observasi psikomotorik untuk mengukur keterampilan psikomotorik siswa. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi, diketahui bahwa keterlaksanaan penerapan tindakan telah mengalami peningkatan sebesar 16,29% dari siklus I sebesar 71,89% ke siklus II sebesar 88,18%. Peningkatan itu diiringi dengan meningkatnya motivasi sebesar 11% dari siklus I sebesar 61% ke siklus II sebesar 72%. Peningkatan ini juga terjadi pada hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata post-tes pada siklus I sebesar 70,42 dan nilai rata-rata post-tes siklus II sebesar 77,27 untuk kemampuan kognitifnya, untuk kemampuan psikomotorik siswa mengalami peningkatan sebesar 8,30% dari siklus I sebesar 81,00% ke siklus II sebesar 89,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika pokok bahasan listrik dinamis pada siswa kelas X pembangkit tenaga listrik SMK PGRI 3 Malang.

Pengaruh Pembelajaran Problem Solving Dipadu dengan STAD terhadap Prestasi Belajar Fisika Ditinjau dari Kecerdasan Visual Spasial Siswa SMPN 1 Trenggalek.

 

Program studi IPA TERPADU, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing:(1) Dr. Muhardjito, M.S,. (2) Dr. Markus Diantoro, M.Si. Kata kunci: Problem solving, kecerdasan visual spasial, Prestasi belajar Salah satu tahapan tes untuk siswa baru di RSBI adalah tes kecerdasan. Hasil dari tes kecerdasan menunjukkan kecerdasan ganda yang dimiliki calon siswa. Calon siswa yang diterima di SMPN 1 Trenggalek memiliki nilai tes IQ minimal 100. Dalam perkembangan prestasi siswa ternyata masih ada beberapa siswa yang harus mengikuti remidial untuk mencapai kriteria ketuntasan minimal. Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam pembelajaran. Informasi tingkat kecerdasan dapat dioptimalkan dengan menerapkan pembelajaran yang tepat. Pembelajaran paduan problem solving diyakini dapat mengoptimalkan peningkatan prestasi siswa. Problem solving dan model pembelajaran koperatif tipe STAD telah terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar. Dalam penelitian ini dilakukan pembelajaran paduan problem solving dengan STAD dengan memperhatikan tingkat kecerdasan visual spasial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui apakah prestasi belajar fisika pada siswa yang belajar melalui strategi pembelajaran problem solving dipadu dengan STAD lebih tinggi daripada siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional; (2) Mengetahui apakah prestasi belajar fisika pada siswa yang memiliki memiliki kecerdasan visual spasial tinggi memiliki prestasi belajar fisika lebih tinggi dibanding dengan prestasi belajar fisika siswa yang memiliki kecerdasan visual spasial rendah; (3)Mengetahui apakah terdapat interaksi antara model pembelajaran problem solving dipadu STAD dengan tingkat kecerdasan visual spasial terhadap prestasi belajar fisika pada materi optik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasi eksperimen),menggunakan rancangan faktorial 2x2 dengan pengukuran dua faktor yang memungkinkan dilakukan pengukuran dengan serempak pengaruh dua variabel perlakuan (faktor) terhadap sampel yang telah ditentukan. Sampel penelitian sejumlah 101 siswa terbagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan yang masing-masing kelompok memiliki kriteria tinggi dan rendah untuk tingkat kecerdasan visual spasial. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei sampai Juni 2010. Tes tingkat kecerdasan visual spasial menggunakan instrumen yang diadaptasi dari tes yang dikembangkan oleh Linda K. Silverman. Instrumen tes hasil belajar dikembangkan melalui penyusunan kisi-kisi, penyusunan soal, pengujian validitas konstruk dan diujicobakan untuk dilakukan uji validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis varian dua arah (two ways ANAVA) dengan orde 2 x 2 dan dilanjutkan dengan Least Significance Difference (LSD) dengan bantuan SPSS for Windows versi 16.0. Setelah melalui uji normalitas dan homogenitas, data dinyatakan normal dan berasal dari sampel yang homogen kemudian diuji dengan Anava dua jalur.hasil uji Anava sebagai berikut.(1) Hasil penelitian Faktor Pembelajaran: nilai uji F = 78,670 dengan nilai p=0,000. Karena nilai p=0,000 lebih kecil dari ά = 0,05 maka H0 ditolak dan berarti ada perbedaan pengaruh pembelajaran terhadap prestasi belajar fisika,(2) Faktor kemampuan Visual spasial nilai uji F = 15,574 dengan nilai p=0,000. Karena nilai p=0,000 lebih kecil dari ά = 0,05 maka H0 ditolak dan berarti ada perbedaan pengaruh tingkat kemampuan visual spasial terhadap prestasi belajar, (3)iNilai uji F pada interaksi memperoleh Fh antar AB=20,191>3,15 dengan nilai p=0.000. Karena nilai p=0,000 lebih kecil dari ά = 0,05 maka H0 ditolak dan ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kecerdasan visual spasial. Karena ada interaksi dilanjutkan dengan uji LSD yang mendapatkan kesimpulan bahwa (1) Prestasi belajar fisika pada siswa yang belajar melalui strategi pembelajaran problem solving dipadu dengan STAD lebih tinggi daripada siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional, (2) Prestasi belajar fisika pada siswa memiliki kecerdasan visual spasial tinggi memiliki prestasi belajar fisika yang lebih tinggi jika menggunakan problem solving dipadu dengan STAD daripada siswa yang memiliki kecerdasan visual spasial tinggi belajar secara konvensional, (3) Terdapat interaksi antara dengan model pembelajaran problem solving dipadu STAD dengan tingkat kecerdasan visual spasial terhadap prestasi belajar fisika pada materi optik. Model pembelajaran paduan problem solving dan kooperatif tipe STAD memberikan efek positif terhadap prestasi siswa, namun demikian efek model pembelajaran akan berbeda pada tingkat kecerdasan visual spasial yang berbeda. Kepada sekolah agar dilakukan perencanaan lebih terperinci untuk memanfaatkan data kecerdasan ganda yang dimiliki untuk mengoptimalkan prestasi belajar siswa. Kepada peneliti berikutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan populasi dan topik yang lebih luas, agar data yang diperoleh lebih valid sehingga hasil penelitiannya lebih akurat jika digeneralisasi.

Pengembangan panduan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya (cultural diversity awareness) berbantuan video bagi siswa sekolaj menengah pertama / Silvianingsih

 

Tesis. Program Studi Bimbingan Konseling. Program Pascasarjanan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd. Pembimbing (II) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata Kunci: Kesadaran, keragaman budaya,panduan, video. Diantara sebelas standar kompetensi kemandirian yang harus dicapai oleh peserta didik, terdapat aspek kematangan hubungan dengan teman sebaya dan aspek menampilkan perilaku yang merefleksikan keragaman diri dalam lingkungan. Kedua aspek ini merupakan aspek perkembangan pribadi-sosial peserta didik yang mengarah pada perkembangan fungsi diri secara optimal. Kendala dalam perkembangan kedua aspek tersebut akan memunculkan berbagai permasalahan, antara lain konflik dalam membina hubungan interpersonal dengan orang lain. Konflik interpersonal dapat disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan keragaman budaya. Kesadaran akan keragaman budaya yang rendah akan memunculkan sikap-sikap yang dilandasi oleh prasangka dan stereotipe. Sementara kesadaran akan keragaman budaya yang tinggi akan memunculkan sikap menerima, terbuka, dan memahami perbedaan. Sebagai upaya preventif dan developmental berkenaan dengan kesadaran akan keragaman budaya, maka peserta didik perlu dilatih untuk dapat bersikap menerima, terbuka, dan memahami perbedaan semenjak di bangku pendidikan menengah pertama. Berkenaan dengan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya, maka penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa buku panduan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya yang dapat digunakan konselor sekolah sebagai bahan dan materi acuan dalam meningkatkan kesadaran akan keragaman budaya peserta didik. Penelitian pengembangan dilakukan dengan memodifikasi prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall. Buku panduan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya dikembangkan dengan melewati tiga tahap evaluasi formatif. Pada tahap pertama, panduan yang telah disusun diuji oleh dua orang ahli untuk menilai kesahihan konseptual panduan. Pada tahap kedua, dua orang konselor sebagai calon pengguna produk menilai kemudahan dan kepraktisan terapan panduan. Tahap evaluasi yang ketiga adalah uji efektifitas produk dalam kelompok kecil. Respons subjek penelitian sebagai dampak penerapan buku panduan diukur dengan teknik analisis single subject A-B-A’ dengan menggunakan instrumen perekaman data observasi. Buku panduan pelatihan yang dikembangkan menerapkan tahapan-tahapan dalam teknik videoterapi dengan menggunakan media audio-visual sebagai stimulan. Materi video dikembangkan sesuai dengan topik keragaman budaya yang akan dibahas. Setiap tayangan video merupakan potongan beberapa adegan film layar lebar dan rekaman video yang dilakukan oleh peneliti. Hasil-hasil yang diperoleh sebagai berikut: pada tahap pertama, para ahli menilai bahwa panduan yang disusun perlu untuk mendapatkan beberapa tambahan dan revisian terkait dengan kesesuaian isi hingga kemudian panduan yang dikembangkan memenuhi kriteria akseptabilitas panduan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya. Pada tahap evaluasi kedua, konselor menilai bahwa panduan pelatihan yang dikembangkan perlu mendapatkan sedikit perbaikan terkait dengan kemudahan dan kepraktisan panduan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya siswa SMP. Hasil evaluasi pada tahap ketiga menunjukkan bahwa penerapan panduan pelatihan berbantuan video dapat meningkatkan kesadaran akan keragaman budaya siswa SMP. Hal tersebut menunjukkan bahwa panduan pelatihan kesadaran akan keragaman budaya efektif untuk membantu konselor sekolah memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang bersifat preventif dan developmental. Berdasarkan ketiga hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa panduan kesadaran akan keragaman budaya berbantuan video yang dikembangkan terbukti efektif untuk digunakan sebagai pedoman oleh konselor sekolah dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan kesadaran akan keragaman budaya siswa. Dari penelitian tersebut, maka disarankan agar: 1) konselor sekolah menggunakan panduan kesadaran akan keragaman budaya berbantuan video untuk meningkatkan kesadaran akan keragaman budaya siswa SMP; dan 2) untuk penelitian selanjutnya, peneliti lain dapat mengujicobakan keefektifan penggunaan media video untuk meningkatkan kesadaran akan keragaman budaya siswa dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda, misalnya control-experiment groups.

Efektifitas penerapan metode inkuiri terbimbing untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan sikap ilmiah siswa kelas XI IPA semester I SMA Negeri I Kauman Tulungagung pada materi pokok laju reaksi / Diah Putri Kurniasari

 

Kata Kunci : inkuiri terbimbing, hasil belajar kognitif, sikap ilmiah, laju reaksi Berdasarkan kurikulum KTSP salah satu tujuan mata pelajaran kimia di SMA agar peserta didik mendapatkan pengalaman melalui eksperimen. Pelaksanaan eksperimen merupakan pemberian pengalaman secara langsung dalam mendapatkan konsep. Untuk mencapai tujuan tersebut dapat dilakukan dengan menempuh berbagai upaya, salah satunya dengan menerapkan metode pembelajaran inkuiri. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan keefektifan antara metode inkuiri terbimbing dan konvensional terhadap hasil belajar dan sikap ilmiah siswa pada materi laju reaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) post test only dan rancangan deskriptif. Rancangan eksperimen digunakan untuk mengetahui keefektifan penerapan metode inkuiri terbimbing dalam meningkatkan hasil belajar. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui sikap ilmiah siswa terhadap pembelajaran inkuiri terbimbing. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA semester 1 SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Dari teknik tersebut diperoleh sampel kelas eksperimen dengan metode inkuiri terbimbing dan kelas kontrol mendapatkan metode pembelajaran konvensional (ceramah – praktikum). Instrumen yang digunakan terdiri dari instrument perlakuan berupa silabus, RPP, LKS, hand out dan instrumen pengukuran berupa tes dan angket sikap ilmiah siswa. Instrumen berupa tes subyektif yang terdiri dari 5 butir soal valid dengan tingkat reliabilitas 0,705. Data dikumpulkan oleh peneliti, yang berupa hasil belajar kognitif dan dianalisis secara statistik uji t dengan signifikansi 0,05. Data sikap ilmiah dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi pokok laju reaksi telah berlangsung cukup baik; (2) Metode inkuiri terbimbing lebih efektif dibandingkan metode konvensional dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa; (3) Sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing lebih tinggi dibandingkan siswa yang dibelajarkan dengan konvensional pada materi laju reaksi dengan persentase siswa kelas eksperimen yang memiliki sikap ilmiah sangat baik mencapai 32,6 % sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 13,3%.

Mikrohabitat dan relung ekologi hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) dan laba-laba serigala (Pardosa pseudoannulata) pada tanaman padi varietas IR 64 / Imam Nuruddin Araniri

 

Kata Kunci: Mikrohabitat, Relung Ekologi, Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens), dan Laba-laba Serigala (Pardosa pseudoannulata) Hama wereng batang coklat dan predatornya laba-laba serigala mendiami tempat yang paling sesuai bagi pemenuhan persyaratan hidupnya. Serangga hama Wereng batang coklat yang merupakan mangsa bagi Laba-laba serigala, makan dengan menghisap cairan batang dari tanaman Padi, secara tidak langsung Labalaba serigala juga akan mendiami tempat yang sama dengan Wereng batang coklat. Permasalahan yang dapat dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah mikrohabitat dan relung ekologi hama dan predatornya serta bagaimanakah perkembangan hama Wereng batang coklat dan predator Laba-laba serigala pada tanaman padi selama fase vegetatif dan fase generatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mikrohabitat dan relung ekologi serta mengetahui perkembangan populasi hama Wereng batang coklat dan Laba-laba serigala dalam fase vegetatif dan fase generatif pada tanaman padi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2010. Tempat penelitian di Persawahan desa Sekarjoho, kecamatan Prigen, kabupaten Pasuruan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua jumlah individu wereng batang coklat dan laba-laba serigala yang ada pada areal sawah, dan sampelnya diambil pada individu yang tercuplik pada setiap titik pengamatan, baik pada batang , daun, maupun buahnya. Pengamatan dilakukan pada tanaman padi fase vegetatif dan fase generatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikrohabitat hama wereng batang coklat adalah pada bagian batang dari tanaman padi sedangkan mikrohabitat labalaba serigala juga berada pada bagian batang dari tanaman padi. Relung aktivitas pada serangga hama wereng batang coklat dan laba-laba serigala adalah pada sore hari. Populasi hama wereng batang coklat berkembang pesat pada saat tanaman padi memasuki fase vegetatif, sedangkan populasi laba-laba serigala cenderung stabil baik pada fase vegetatif maupun fase generatif, dikarenakan laba-laba serigala tidak hanya memangsa hama wereng batang coklat.

Penentuan tegangan optimum dan variasi campuran larutan AgNO3, NaCN, (NH4)2SO4 dan H2C2O4 yang efektif untuk elektroplating perak pada besi / Diah Putri Kurniasari

 

Kata Kunci: elektroplating, tegangan, larutan elektrolit, perak, besi Pada proses pelapisan logam yang diharapkan adalah hasil pelapisan yang merata, kuat tidak mudah retak, butirannya halus dan warnanya cerah. Pengontrolan tegangan juga berpengaruh terhadap proses pelapisan. Pelapisan akan mencapai maksimal pada tegangan tertentu yaitu pada tegangan optimum. Selain itu juga dilakukan penambahan masing – masing larutan ammonium sulfat dan larutan asam oksalat ke dalam bak plating yang berisi larutan perak nitrat dan natrium sianida sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap reaksi pengkomplekan dalam elektroplating perak. Penelitian ini bertujuan mengetahui tegangan optimum dan mengetahui campuran larutan elektrolit yang efektif pada proses elektroplating perak terhadap besi ditinjau dari hasil deposit dan efisiensi arus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Katoda yang digunakan dalam penelitian ini berupa besi memiliki panjang 5 cm dan diameter 0,4 cm , sedangkan anoda yang digunakan adalah lempeng perak yang memiliki panjang 5 cm, lebar 0,4 cm dan tebal 0,1 cm. Variasi tegangan yang digunakan 2V, 4V, 6V dan 8V. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan perak nitrat 0,02 M, dan natrium sianida 0,06 M yang dicampur menjadi satu dengan perbandingan 1:1 dan divariasikan dengan penambahan masing – masing larutan ammonium sulfat dan larutan asam oksalat pada bak elektroplating. Elektroplating dilakukan dengan jarak antar elektroda 2 cm dan temperatur 75°C selama 4 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegangan optimum pada proses elektroplating perak terhadap besi ditinjau dari hasil deposit dan efisiensi arus adalah 6 Volt. Campuran larutan elektrolit yang paling efektif pada proses elektroplating perak terhadap besi ditinjau dari hasil deposit dan efisiensi arus adalah campuran larutan elektrolit perak nitrat dan natrium sianida.

Pengaruh pembelajaran kewirausahaan di sekolah, internalisasi nilai kewirausahaan di keluarga dan motivasi terhadap hasil belajar (studi kasus pada siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen tahun ajaran 2010/2011) / Lalu Fathul Farid

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Bambang Banu Siswoyo, MM (2) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si. Kata Kunci: pembelajaran kewirausahaan, internalisasi nilai kewirausahaan, motivasi belajar, dan hasil belajar. Hasil Studi Cepat tentang pendidikan kewirausahaan pada Pendidikan Dasar dan Menengah yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan pada tanggal 27 Mei 2010 diperoleh informasi bahwa pendidikan kewirausahaan mampu menghasilkan persepsi positif akan profesi sebagai wirausaha. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa hasil belajar kewirausahaan siswa di berbagai Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia sejauh ini belum optimal. Masalah tinggi rendahnya hasil belajar siswa menurut para pakar dipengaruhi faktor yang berasal dari dalam dan luar diri siswa. Pada penelitian ini faktor internal difokuskan pada motivasi belajar kewirausahaan siswa, sedangkan faktor eksternal difokuskan pada kualitas pembelajaran kewirausahaan di sekolah dan internalisasi nilai kewirausahaan di keluarga. Kajian tentang pengaruh faktor eksternal ini menjadi bertambah penting mengingat beberapa penelitian terdahulu menunjukkan inkonsistensi temuan tentang pengaruh faktor sekolah dan keluarga terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian deskriptif berbentuk asosiatif kausalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kewirausahaan di sekolah dan internalisasi nilai kewirausahaan di keluarga langsung maupun tidak langsung terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar kewirausahaan siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen yang terdaftar sedang menjalani proses pembelajaran pada semester II Tahun Ajaran 2010/2011. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pembelajaran kewirausahaan di sekolah berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen; (2) internalisasi nilai kewirausahaan di keluarga tidak berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen; (3) pembelajaran kewirausahaan di sekolah tidak berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen; (4) internalisasi nilai kewirausahaan di keluarga tidak berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen; (5) motivasi belajar berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen; (6) pembelajaran kewirausahaan di sekolah berpengaruh secara tidak langsung terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen; dan (7) internalisasi nilai kewirausahaan di keluarga tidak berpengaruh secara tidak langsung terhadap hasil belajar melalui motivasi belajar kewirausahaan siswa kelas II SMKN 1 Mataram Program Studi Bisnis dan Manajemen. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa upaya untuk meningkatkan hasil belajar kewirausahaan siswa dapat dilakukan dengan cara meningkatkan motivasi belajar kewirausahaan siswa. Dengan demikian, disarankan bagi guru kewirausahaan, khususnya di SMKN 1 untuk merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar kewirausahaan siswa karena hal ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap hasil belajar kewirausahaan siswa. Bagi orang tua siswa, disarankan untuk berupaya menumbuhkan motivasi belajar kewirausahaan anak di lingkungan keluarga, misalnya dengan memberi perhatian pada kegiatan belajar anak di rumah, dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak.

Prediksi niat nasabah bank untuk menolak dalam menggunakan internet banking pada Bank Mandiri Kediri berdasarkan perspektif TTA (Theory of Technology Acceptance) / Mochamad Afrizal Permana

 

Kata Kunci: Kemudahan, kemanfaatan, sikap dan niat Penelitian ini bertujuan yaitu (1) untuk mengetahui peranan variabel-variabel dalam konsep Theory Of Technology Acceptance yaitu: Kemanfaatan, Kemudahan, Sikap terhadap Niat dalam menolak atau menggunakan Internet Banking baik secara langsung maupun tidak langsung, dan secara parsial maupun simultan, (2) untuk mengetahui dan menganalisis variabel dari Theory Of Technology Acceptance (sikap, kemanfaatan, kemudahan) yang dominan pengaruhnya terhadap Niat dalam menolak atau menggunakan Internet Banking pada nasabah Bank Mandiri kota Kediri. Dalam penelitian ini menggunakan tiga jenis variabel yaitu variabel Independent (bebas), variabel Dependent (terikat), dan variable Intervening, dimana variabel terikat adalah Niat (BI) atau Y, variabel bebasnya adalah kemanfaatan (U) atau X1 dan kemudahan (EOU) atau X2 dan variable Intervening adalah Sikap (A) atau Z. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Accidental Sampling sedangkan penentuan banyaknya sampel dalam populasi ditentukan dengan menggunakan pendekatan Davis dan Cosenza. Analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis), dan metode yang digunakan untuk menganalisa data adalah uji validitas dan uji reabilitas, analisa regresi linier berganda, uji F, uji t. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis regresi linier berganda bahwa variabel yang mempunyai pengaruh langsung yang paling besar terhadap niat menolak menggunakan Internet banking adalah variabel Kemanfaatan yaitu dengan kontribusi sebesar 0,569. Dan variabel Intervening sikap (Z) mampu mengangkat besaran pengaruh kemudahan tidak langsung sebesar 0,94; dimana sebelumnya kemudahan tidak mampu untuk mempengaruhi variabel niat secara langsung. Berdasarkan pengujian secara bersama-sama di ketahui Fhitung menunjukkan nilai sebesar 25,732 > Ftabel 2,70 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 ≤ 0,05. artinya bahwa secara bersama – sama variabel kemanfaatan (X1), kemudahan (X2), dan sikap (Z) berpengaruh signifikan terhadap Niat (Y). Dari nilai Adjusted R Square menunujkkan nilai sebesar 0,428 atau 42,8%. Artinya bahwa variabel Kemanfaatan dan kemudahan dalam mempengaruhi sikap dalam menolak atau menggunakan Internet Banking sebesar 42,8 % dan sisanya sebesar 57,2 % dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian.

Penerapan model pembelajaran Team Game Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar materi gelombang elektromagnet siswa kelas X-C SMA Negeri 1 Turen / I'im Sahita Zahro

 

Kata Kunci: team game tournament, gelombang elektromagnet, hasil belajar fisika. SMA Negeri 1 Turen adalah salah satu sekolah menengah atas yang diminati oleh sejumlah siswa lulusan SMP di Kabupaten Malang. Proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Turen sejauh ini banyak mengarahkan siswa pada belajar kompetitif dan individualistis. Yang mana proses pembelajarannya cenderung menempatkan siswa pada posisi persaingan antar siswa dengan kata lain dapat menyebabkan kegagalan bagi siswa yang tidak mampu untuk bersaing. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengkaji tentang Penerapan Model Pembelajaran Team Game Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Gelombang Elektromagnet Siswa Kelas X-C SMA Negeri 1 Turen. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-C SMA Negeri 1 Turen dengan model pembelajaran TGT. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Turen dengan menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas. Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti meliputi: (1) observasi, (2) dokumentasi, dan (3) tes. Ketiga metode tersebut di organisir dan dianalisis dengan membandingkan hasil data pada siklus I dengan siklus II. Instumen penelitian yang digunakan peneliti anatara lain: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) lembar observasi dan (3) soal tes. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif yaitu dengan menelaah seluruh data, mereduksi data, membuat kategorisasi, menafsirkan data dan memberikan pemaknaan hasil. Hasil penelitian menunjukkan pada lembar observasi aktivitas siswa terjadi peningkatan, pada siklus I keaktifan siswa sebesar 76,2 % sedangkan pada siklus II sebesar 82,86 %. Hasil ini diperoleh dari perbandingan skor total yang diperoleh siswa dengan skor tertinggi total pada lembar observasi.

Pengaruh kompensasi non finansial terhadap disiplin kerja karyawan melalui komitmen organisasional di Hotel Pelangi Malang / Elsita Khrisnawati Joar

 

Kata Kunci: Kompensasi non finansial, komitmen organisasional, disiplin kerja Kompensasi non finansial dapat dijadikan salah satu faktor utntuk meningkatkan disiplin kerja karyawan melalui komitmen organisasional. Dalam penelitian ini kompensasi non finansial dibagi menjadi 2 yaitu imbalan karir dan imbalan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompensasi non finansial terhadap disiplin kerja karyawan melalui komitmen organisasional. Hipotesis yang diajukan adalah (1) Ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara pemberian kompensasi non finansial yang berupa imbalan karir dan imbalan sosial terhadap komitmen organisasional, (2) Ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara pemberian kompensasi non finansial yang berupa imbalan karir dan imbalan sosial terhadap disiplin kerja karyawan, (3) Ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara komitmen organisasional terhadap disiplin kerja karyawan, 4) Variabel komitmen organisasional memiliki peran yang signifikan untuk menjembatani hubungan antara kompensasi non finansial (karir , sosial) dengan disiplin kerja karyawan. Penelitian ini dilakukan di Hotel Pelangi Malang dengan populasi sebanyak 72 karyawan dan sampel 61 karyawan hotel Pelangi Malang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian in adalah proportional random sampling. Untuk pengukuran skalanya dengan menggunakan skala Likert. Analisis data menggunakan analisis path. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui bagaimanakah kondisi deskriptif kompensasi non finansial yang berupa imbalan karir dan imbalan sosial, komitmen organisasional dan disiplin kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang, (2) Untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara pemberian kompensasi non finansial yang berupa imbalan karir dan imbalan sosial terhadap komitmen organisasional di Hotel Pelangi Malang, (3) Untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara pemberian kompensasi non finansial yang berupa imbalan karir dan imbalan sosial terhadap disiplin kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang, (4) Untuk mengetahui apakah ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara komitmen organisasional terhadap disiplin kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang, (5) Untuk mengetahui apakah variabel komitmen organisasional memiliki peran yang signifikan untuk menjembatani hubungan antara kompensasi non finansial (imbalan karir, imbalan sosial) dengan disiplin kerja karyawan. Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa (1) karyawan merasa puas dengan imbalan karir yang diterima (2) imbalan karir dan imbalan sosial berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasional, (3) imbalan karir dan imbalan sosial berpengaruh secara signifikan terhadap disiplin kerja, (4) komitmen organisasional berpengaruh secara langsung signifikan terhadap disiplin kerja, (5) variabel komitmen organisasional memiliki hubungan yang signifikan dalam menjembatani imbalan karir dengan disiplin kerja. Variabel komitmen organisasional juga memiliki hubungan yang signifikan dalam menjembatani imbalan social dengan disiplin kerja. Dari hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah: (1) Agar Hotel Pelangi Malang mempertahankan pemberian kompensasi non finansial terhadap para karyawan yang berupa imbalan karir (rasa aman, pengembangan diri, peluang kenaikan penghasilan dan fleksibilitas karir). Pemberian kompensasi non finansial yang baik dapat meningkatkan komitmen organisasional dan disiplin kerja karyawan Hotel Pelangi Malang. (2) Agar Hotel Pelangi Malang mempertahankan pemberian kompensasi non finansial yang berupa imbalan sosial. Dengan pemberian imbalan sosial yang baik maka karyawan akan merasa nyaman untuk melaksanakan tugasnya.Hasil yang baik dari penelitian ini semoga dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan kompensasi yang diberikan kepada karyawan, agar para karyawan semakin baik dalam pekerjaan dan semakin setia terhadap Hotel Pelangi Malang. (3) Bagi peneliti selanjutnya yang berminat mengembangkan studi ini disarankan untuk lebih memperdalam kajian melalui pengembangan item-item pernyataan untuk variabel kompensasi non finansial, komitmen organisasional dan disiplin kerja serta variabel-variabel lain yang belum masuk dalam model penelitian ini. Selain itu juga disarankan dalam skala pengukuran tidak menggunakan pilihan netral.

Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru ekonomi akuntansi SMA Negeri se-kota Malang / Kusnadi Waluyo

 

Kata kunci: kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja, kinerja guru. Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran menentukan, sebagai sesuatu kekuatan dan kewibawaan dalam menghimpun dan menggerakkan segala sumber daya manusia, dana serta menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan di instansi penyelenggara pendidikan. Kepala sekolah sebagai orang pertama yang mengemban tugas dan kewajiban yang berat, karena merupakan penyelenggara dan penanggung jawab utama. Motivasi kerja guru tidak terlepas dari peran kepala sekolah sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin kepala sekolah dituntut untuk menunjukkan kepemimpinannya dalam hal bagaimana para guru bisa termotivasi untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka. Namun demikian, motivasi kerja guru tidak hanya bersumber secara eksternal dari kepala sekolah tetapi juga secara internal yang bersumber dari guru itu sendiri. Rancangan penelitian deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian survey. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan motivasi kerja (X2) sedangkan variabel terikat adalah kinerja (Y). Subjek penelitian ini adalah seluruh guru Ekonomi Akuntansi SMA Negeri se-Kota Malang yang berjumlah 38 guru. Data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan dokumentasi diolah dengan teknik analisis variabel dan analisis regresi berganda. Teknik analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis seberapa jauh pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru Ekonomi Akuntansi SMA Negeri se-Kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, yang artinya setiap terjadi kenaikan satu unit skor kepemimpinan kepala sekolah, maka akan diikuti dengan meningkatnya kinerja guru sebesar 0,161 pada konstanta 9,837. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, yang artinya setiap terjadi kenaikan satu unit motivasi kerja, maka akan diikuti dengan meningkatnya kinerja guru sebesar 0,286 pada konstanta 9,837.

Pengembangan modul belajar kimia berorientasi pembelajaran produktif di SMK Program Teknologi / Sunaryo

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D., (II) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. Kata kunci: Modul Kimia, Pembelajaran Produktif, SMK Program Teknologi. Berdasarkan kajian empirik, pembelajaran kimia di SMK kelompok Teknologi dan Industri menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Kegiatan belajar tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Kenyataan ini berpengaruh terhadap kegiatan pembelajaran maupun hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan: (1) tidak ada buku yang terstandar untuk SMK kelompok Teknologi dan Industri, (2) sebagian besar guru masih menyajikan kimia dengan metode yang sama dan monoton, (3) materi kimia yang diajarkan kepada siswa tidak langsung diaplikasikan pada teknologi yang ada di lapangan kerja siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dikembangkan bahan ajar yang relevan dengan tuntutan pembelajaran kimia SMK. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul kimia untuk SMK yang berkolaborasi dengan kegiatan pembelajaran produktif. Panduan dalam merancang dan mengembangkan modul ini adalah model pengembangan R2D2 yang diperbaharui, Willis (2000) dengan titik fokus pada 4 langkah : define, design, develop, dan dessiminate. Prosedur pengembangan modul pembelajaran yang dilakukan hanya tiga tahap yaitu: tahap pendefinisian, tahap perancangan dan tahap pengembangan. Kerangka penyusunan modul dalam pengembangan ini diadaptasi dari model Degeng (2008). Materi kimia yang dikembangkan dalam modul ini adalah Redoks dan Elekrokimia. Serangkaian tahap uji coba yang dilakukan terhadap modul hasil pengembangan, yaitu: validasi ahli, uji coba perorangan, dan uji coba kelompok kecil. Jenis data berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data hasil ujicoba dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis, kajian produk dan pembahasan, diperoleh kesimpulan: 1) dalam pengembangan modul pembelajaran kimia untuk SMK Kelompok teknologi dan industri dihasilkan suatu bentuk modul pembelajaran yang sesuai dengan isi materi pelajaran, kondisi, dan kebutuhan siswa di sekolah dan lapangan kerja; 2) modul kimia yang berorientasi pembelajaran produktif memiliki kegunaan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru kimia; 3) modul dapat meningkatkan kerja sama dan aktivitas siswa di dalam kelas, hal ini didukung oleh hasil penilaian dan tanggapan siswa dalam uji kelompok kecil. Di samping itu, modul juga terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu modul belajar ini dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa sekolah menengah kejuruan program teknologi. Untuk penerapan lebih lanjut, sebaiknya dilakukan evaluasi lagi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi modul, khususnya untuk program-program keahlian yang berbeda.

Kajian tentang pengolahan limbah cair di Rumahs Sakit Umum DR Saiful Anwar Malang / Susanti Indah Lestari

 

Kata Kunci: limbah cair, parameter lingkungan, lumpur aktif Pengolaan air limbah rumah sakit merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya penyehatan lingkungan rumah sakit yang mempunyai tujuan melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan. Pengelolaan semua limbah yang berasal dari rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia, dan radioaktif. Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang, merupakan rumah sakit pemerintah tipe A yang berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat kota Malang sehingga berdampak adanya peningkatan kuantitas dan perubahan kualitas limbah cair. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengolahan limbah cair di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang, selain itu untuk mengetahui kualitas limbah cair di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang secara fisik, kimiawi dan biologis. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif. Pengambilan data dilakukan mulai bulan Maret 2011 sampai dengan bulan April 2011. Data penelitian ini berupa paparan hasil observasi dan pengamatan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pengelolaan limbah cair di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang menggunakan sistem lumpur aktif, yang diawali dengan proses pengumpulan pada control basin dan dilanjutkan pada pretreatment basin, disini bak pre-treatment terdiri dari pre-treatment dapur (gizi), laundry, dan OK(operasi), overflow ke bak in-let, disni terjadi proses pengolahan secara lumpur aktif dan ditampung pada bak out-let untuk bagian akhir. Kedua, Kualitas limbah cair secara fisik telah sesuai dengan nilai baku mutu lingkungan suhu (30􀃛C) dan TSS (30mg/l). Ketiga, Kualitas limbah cair secara kimiawi (pH, TSS, dan COD) telah sesuai dengan nilai baku mutu lingkungan, sedangkan secara kimiawi lainnya (BOD5 dan NH3) belum memenuhi nilai baku mutu lingkungan. Keempat, kualitas limbah cair secara biologis faecal coliform dengan baku mutu 4000MPN/100ml telah memenuhi syarat baku mutu lingkungan.

Pengaruh strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemahaman konsep siswa RSBI SMA Negeri 1 Blitar / Eko Weni

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si., (II) Dr. Umie Lestari, M.Si Kata kunci: strategi pembelajaran, perangkat pembelajaran, kemampuan akademik, kemampuan berpikir, pemahaman konsep. Kenyataan yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita di Indonesia adalah adanya krisis paradigma, berupa kesenjangan dan ketidaksesuaian antara tujuan yang ingin dicapai dengan paradigma yang dipergunakan (Ardana, 2000). Sebagai ilustrasi tentang kesenjangan ini, siswa di sekolah dijejali dengan informasi-informasi yang harus dikuasai siswa, sementara kehidupan di masa depan menuntut pemecahan masalah baru secara inovatif. Pendidikan biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, sehingga pendidikan biologi ditekankan pada pemberian pengalaman secara langsung. Karena itu, siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah ketrampilan proses agar mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar. Pemberian pengalaman belajar secara langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah. Memasuki tahun pelajaran 2007 – 2008, SMA Negeri 1 Blitar mendapat kepercayaan untuk membuka program rintisan sekolah bertaraf Internasional. Oleh karena itu SMA Negeri 1 Blitar mengambil kebijakan untuk melakukan benchmarking dalam menentukan kurikulum Internasional yang diadaptasi dan melakukan pengadaptasian terhadap kedua kurikulum tersebut. Tujuan penting dalam dunia pendidikan adalah membantu siswa belajar bagaimana untuk berpikir lebih produktif dengan pemikiran kritis mereka. Untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah, maka salah satu strategi pembelajaran yang sebaiknya digunakan oleh guru adalah pembelajaran pembelajaran berdasarkan masalah atau Problem-Based Learning. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan penerapan strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemahaman konsep siswa SMA Negeri 1 Blitar. Langkah yang digunakan adalah membandingkan strategi pembelajaran konvensional dengan penerapan strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler. Rancangan penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara nyata mengenai perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemahaman konsep siswa yang menggunakan strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan siswa yang menggunakan strategi pembelajaran konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, 2) ada pengaruh strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler terhadap pemahaman konsep siswa. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang berkemampuan akademik atas maupun siswa berkemampuan akademik bawah, 3) ada pengaruh strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemahaman konsep, 4) ada interaksi antara strategi pembelajaran berdasarkan masalah dengan perangkat pembelajaran struktur dan fungsi sel berbasis molekuler dan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemahaman konsep. Berdasarkan hasil temuan dari penelitian ini, maka dapat diajukan saran yang perlu menjadi pertimbangan bagi semua pihak yang berkepentingan khususnya bagi guru biologi SMA dan peneliti yang berminat adalah sebagai berikut. 1) mengembangkan perangkat pembelajaran sesuai dengan tuntuan perkembangan jaman dan pesatnya ilmu pengetahuan, 3) menguasai berbagai strategi dan model pembelajaran inovatif antara lain pembelajaran berdasarkan masalah. Kemampuan seorang guru menggunakan berbagai macam strategi dan model pembelajaran baru, sehingga dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pembelajaran.

Pengaruh penerapan peta konsep melalui pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep biologi siswa SMP Darul Ulum 1 Jombang / Mistianah

 

Kata kunci: Peta Konsep, TPS, kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, pemahaman konsep Pendidikan merupakan faktor penting dalam menggerakkan roda pembangunan bangsa. Pendidikan yang berkualitas mampu mendorong terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Berpikir merupakan salah satu aspek penting yang harus dikembangkan dan diberdayakan. Selain kemampuan berpikir, kemampuan metakognitif juga masih sangat kurang diperhatikan dalam proses pembelajaran. Strategi yang dapat dipakai untuk memberdayakan kemampuan berpikir dan kemampuan metakognitif siswa antara lain adalah strategi pembelajaran peta konsep melalui Think Pair Share (TPS). Melalui strategi ini siswa dituntut untuk dapat secara bertanggung jawab melaporkan hasil berpikirnya kepada teman sebaya, sehingga dimungkinkan kesadaran mengenai proses kognitifnya dapat ditingkatkan. Penelitian ini dilakukan di SMP Darul Ulum 1 Jombang selama semester genap 2010/2011. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Darul Ulum 1 Jombang Kelas VII tahun ajaran 2010/2011. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII 3 sebagai kelas kontrol dan siswa kelas VII 4 sebagai kelas eksperimen. Siswa kelas VII 3 terdiri atas 30 orang sedangkan siswa kelas VII 4 terdiri dari 35 orang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian control group pre test post test. Data kemampuan metakognitif (yang terdiri dari data kesadaran metakognitif dan keterampilan metakognitif), data kemampuan berpikir, dan data pemahaman konsep dianalisis dengan menggunakan teknik Analisis Anakova. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS memiliki kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep yang lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan strategi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan kesadaran metakognitif siswa sebesar 2,08% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. Strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS juga mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 18,44% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. Strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa sebesar 11,57% lebih tinggi dari strategi pembelajaran ii konvensional. Strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa sebesar 24,76% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, terlihat bahwa strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS dapat diandalkan dalam rangka meningkatkan kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep. Melihat fakta yang telah ditunjukkan, maka diharapkan guru dapat menerapkan penggunaan strategi pembelajaran peta konsep melalui TPS dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Pengembangan media pembelajaran tune up motor bensin di SMK NU Miftahul Huda Kepanjen Malang / Eko Wahyuhono Pasmawan

 

Tesis Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd, (II) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata-kata kunci: pengembangan, media pembelajaran, tune up motor bensin. Pembelajaran di sekolah menengah kejuruan untuk program keahlian Teknik Mekanik Otomotif memerlukan pengetahuan teoritis yang cukup, disertai dengan pengetahuan praktis yang mudah dipahami. Selain itu, siswa juga harus memiliki skill yang khusus sebab lulusan sekolah menengah kejuruan harus memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Oleh karena itu, mata diklat produktif merupakan mata diklat yang sangat memungkinkan untuk membekali siswa dengan kompetensi yang diperlukan sesuai bidang keahliannya. Kesulitan dalam pembelajaran Tune Up Motor Bensin adalah banyak prosedur yang harus dilakukan sehingga rawan menimbulkan kesalahan yang fatal. Agar siswa memahami dan tidak menimbulkan kekeliruan, maka diperlukan kehadiran instruktur yang benar-benar ahli dan tidak melewatkan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Proses pembelajaran Tune Up Motor Bensin di SMK NU Miftahul Huda guru tidak menyampaikan informasi tentang tujuan pembelajaran, remidi, pengayaan, sehingga kurang menarik dan interaktif. Guru belum memanfaatkan komputer sebagai media alternatif pelatihan. Guru sebagai instruktur memiliki sifat pelupa secara manusiawi. Ketika dalam proses pembelajaran instuktur memberi contoh ada beberapa hal yang terlupa. Kejadian semacam ini menjadikan proses belajar harus senantiasa memberikan instuksi lagi, memberi informasi lagi karena saat memberi contoh tadi lupa belum tersampaikan dan baru disadari saat siswa melakukan kesalahan. Atas dasar hal-hal tersebut perlu dikembangkan suatu media pembelajaran yaitu produk software media pembelajaran interaktif yang didasari penerapan teori pembelajaran. Produk software media pembelajaran ini disajikan dalam bentuk gambar bergerak yang diperjelas dengan teks tentang urutan langkah pengerjaan yang sempurna. Media pembelajaran ini bisa di putar berulang-ulang agar siswa dapat memahami materi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang baik dan sempurna. Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan media pembelajaran interaktif berbantuan komputer. Dalam pengembangan ini dititik beratkan pada hal-hal berikut 1) untuk menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang menyenangkan tanpa terikat pada aturan-aturan, tempat, ruang dan waktu, 2) pembelajaran berpusat pada kebutuhan dan minat siswa serta memberdayakan penggunaan sumber belajar yang bisa diakses siswa, 3) dalam bahan pembelajaran, disajikan tantangan yang kompetitif, problematik, diaknostik dan futuristik, dan 4) siswa diberikan keleluasaan belajar secara individu dan kooperatif. Model pembelajaran Dick & Carey dijadikan dasar pengembangan media pembelajaran pada kompetensi Tune Up Motor Bensin pada program keahlian Teknik Mekanik Otomotif. Prosedur pengembangan media pembelajaran interaktif terdiri dari lima tahap, yaitu: tahap pertama menentukan kompetensi yang akan dikembangkan, tahap kedua mengidentifikasi silabus kompetensi yang akan dikembangkan, tahap ketiga pengembangan media pembelajaran, tahap keempat mengembangkan software media pembelajaran, tahap kelima sebagai tahapan ujicoba media pembelajaran yang terdiri dari tinjauan ahli dan siswa sebagai user. Hasil ujicoba kepada ahli mata diklat dan pembelajaran dijadikan dasar merevisi tahap pertama. Hasil ujicoba perorangan kepada siswa dijadikan dasar merevisi tahap kedua. Hasil ujicoba kelompok kecil dijadikan dasar merevisi tahap ketiga. Hasil ujicoba lapangan dijadikan dasar merevisi tahap terakhir. Dari hasil pengembangan ini: secara umum ahli isi dan pembelajaran memberikan penilaian (74%) dengan kriteria baik, uji coba perorangan memberikan penilaian (79,8%), uji coba kelompok kecil memberikan penilaian (78,6%), dan uji coba lapangan memerikan penilaian (81%). Hal ini berarti bahwa media ini telah memenuhi syarat dalam memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. Kesimpulan pengembangan menunjukkan bahwa media pembelajaran Tune Up Motor Bensin ini sangat menarik, menambah motivasi belajar siswa, memudahkan belajar, dan dapat mengurangi dominasi guru di kelas. Guru dan siswa berpendapat bahwa pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran semacam ini dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Hal ini terjadi karena siswa dapat melihat berbagai bentuk data baik gambar, teks, suara, gerak dan peragaan mengenai prosedur pelaksaan Tune Up Motor Bensin. Pada akhirnya, hal ini dapat memungkinkan siswa lebih menguasai materi pelajaran. Berdasarkan hasil pengembangan tersebut diajukan beberapa saran sebagai berikut 1) kepada guru SMK NU Miftahul Huda Kepanjen Malang yang mengajar mata diklat Tune Up Motor Bensin dalam memanfaatkan produk media pembelajaran ini agar pemanfaatannya bisa maksimal harus memperhatikan spesifikasi peralatan, dan program pendukung yang perlu disediakan, 2) kepada Sekolah Menengah Kejuruan lain yang hendak memanfaatkan media pembelajaran ini juga perlu memperhatikan bahwa peralatan praktik yang berbeda pada tiap sekolah maka kepada guru mata diklat perlu memberikan penjelasan kepada siswa tentang perbedaan peralatan yang ditampilkan.

Kekerabatan lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di pusat konservasi lutung Jawa, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, berdasarkan sekuen gen cytochrome B / Miftahul Mushlih

 

Kata Kunci: Kekerabatan, Lutung Jawa (T. auratus), Gen Cytochrome-b, Pusat Konservasi Lutung Jawa. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu spesies endemik Indonesia yang keberadaannnya dinyatakan rentan (vurnerable) terhadap kepunahan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Di Pusat Konservasi Lutung Jawa, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, diduga ada dua subspesies yaitu Trachypithecus auratus auratus (bernama Rus) dan Trachypithecus auratus mauritius (Bernama Ijem). Identifikasi kekerabatan Lutung Jawa yang selama ini dilakukan di Pusat Konservasi Lutung Jawa terbatas pada pengamatan morfologi dan daerah asalnya saja, sehingga menghasilkan informasi yang terbatas. Analisis menggunakan DNA dianggap mampu menghasilkan informasi yang lebih akurat. Identifikasi kekerabatan Lutung Jawa diperlukan untuk memetakan kelompok Lutung Jawa sebelum dikembalikan kehabitat asalnya. Dari hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer Forward hasil modifikasi dari (Wangchuk, 2005), 5’-CTTCC ATGAGGACAAATATC-3’ dan Primer Reverse Rmuc1, 5’-GTGGAGTATAGGT ATGATTGC-3’ diperoleh sekuen gen cyt-b sepanjang 500 bp pada Rus dan 501 bp pada Ijem. Hasil analisis topologi filogenetik dengan metode Maximum-likelihood (ML) dan pairwise distance dengan menggunakan software MEGA5 menunjukkan bahwa Rus dan Ijem berkerabat sangat dekat dan merupakan satu jenis T. a. auratus. Nilai pairwise distance kedua sampel 0,4% ± 0,0027. Topologi pohon filogenetik menggunakan metode ML menunjukkan kedua sampel berkerabat dekat dengan T. a. auratus haplotype aaJ ǀEF465117.1ǀ, T. a. auratus haplotype aaG ǀEF465115.1ǀ, dan T. a. auratus haplotype aaB ǀEF465110.1ǀ, serta berada dalam satu kelompok dengan anggota T. auratus lainnya.Kata Kunci: Kekerabatan, Lutung Jawa (T. auratus), Gen Cytochrome-b, Pusat Konservasi Lutung Jawa. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu spesies endemik Indonesia yang keberadaannnya dinyatakan rentan (vurnerable) terhadap kepunahan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Di Pusat Konservasi Lutung Jawa, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, diduga ada dua subspesies yaitu Trachypithecus auratus auratus (bernama Rus) dan Trachypithecus auratus mauritius (Bernama Ijem). Identifikasi kekerabatan Lutung Jawa yang selama ini dilakukan di Pusat Konservasi Lutung Jawa terbatas pada pengamatan morfologi dan daerah asalnya saja, sehingga menghasilkan informasi yang terbatas. Analisis menggunakan DNA dianggap mampu menghasilkan informasi yang lebih akurat. Identifikasi kekerabatan Lutung Jawa diperlukan untuk memetakan kelompok Lutung Jawa sebelum dikembalikan kehabitat asalnya. Dari hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer Forward hasil modifikasi dari (Wangchuk, 2005), 5’-CTTCC ATGAGGACAAATATC-3’ dan Primer Reverse Rmuc1, 5’-GTGGAGTATAGGT ATGATTGC-3’ diperoleh sekuen gen cyt-b sepanjang 500 bp pada Rus dan 501 bp pada Ijem. Hasil analisis topologi filogenetik dengan metode Maximum-likelihood (ML) dan pairwise distance dengan menggunakan software MEGA5 menunjukkan bahwa Rus dan Ijem berkerabat sangat dekat dan merupakan satu jenis T. a. auratus. Nilai pairwise distance kedua sampel 0,4% ± 0,0027. Topologi pohon filogenetik menggunakan metode ML menunjukkan kedua sampel berkerabat dekat dengan T. a. auratus haplotype aaJ ǀEF465117.1ǀ, T. a. auratus haplotype aaG ǀEF465115.1ǀ, dan T. a. auratus haplotype aaB ǀEF465110.1ǀ, serta berada dalam satu kelompok dengan anggota T. auratus lainnya.

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan teknik diagram roundhouse melalui diskusi panel untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi ekosistem kelas X SMA Negeri 9 Malang / Arga Triyandana

 

Kata kunci: diagram Roundhouse, diskusi panel, motivasi belajar, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 9 Malang, diketahui bahwa siswa kelas X4 memiliki motivasi belajar yang rendah. Motivasi belajar terdiri atas perhatian, irama perasaan, eksistensi, usaha, penampilan, dan waktu belajar. Rendahnya motivasi belajar siswa kelas X4 SMA Negeri 9 Malang tersebut dibuktikan dengan sering terlambatnya siswa dalam mengumpulkan tugas, umumya siswa mengandalkan Lembar Kerja Siswa yang diberikan oleh guru, beberapa siswa hanya mengandalkan hasil kerja siswa yang rajin, siswa sering ramai dan bercanda di dalam kelas ketika proses pembelajaran. Motivasi belajar yang rendah menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi siswa kelas X4 sampai dengan X 7 di SMA Negeri 9 Malang, dapat diketahui bahwa siswa kelas X4 memiliki hasil belajar biologi yang paling rendah di antara siswa kelas X. Upaya mengatasi rendahnya motivasi belajar belum pernah dilakukan oleh guru terhadap siswa kelas X4, khususnya guru biologi. Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan tersebut, dilakukan penerapan pembelajaran inovatif yaitu pembelajaran kooperatif dengan teknik Diagram Roundhouse melalui Diskusi Panel. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X4 SMA Negeri 9 Malang, Tahun ajaran 2010/2011 berjumlah 35 orang siswa, yang terdiri atas 14 orang siswa laki-laki dan 21 orang siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011 mulai bulan Mei sampai dengan Juni 2011 di SMA Negeri 9 Malang. Pelaksanaan tindakan dilakukan pada bulan Mei 2011, dengan materi Ekosistem. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar keterlaksanaan sintaks pembelajaran, lembar catatan lapangan, lembar observasi motivasi belajar siswa, tes tulis hasil belajar kognitif, lembar penilaian Diagram Roundhouse secara kelompok, angket hasil belajar afektif, dan lembar penilaian hasil belajar psikomotor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan teknik Diagram Roundhouse melalui Diskusi Panel dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Pada Siklus I, ketuntasan klasikal motivasi belajar siswa adalah 65,70%, sedangkan pada Siklus II mengalami peningkatan menjadi 71,40%. Hasil analisis data penelitian mengenai hasil belajar kognitif siswa menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal yang dicapai siswa pada Siklus I adalah 65,70%, dan pada Siklus II adalah 65,70%. Hasil analisis data ii penelitian mengenai hasil belajar afektif siswa menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal yang dicapai siswa pada Siklus I adalah 34,30%, sedangkan pada Siklus II adalah 57,1%. Berdasarkan hasil analisis data penelitian mengenai hasil belajar psikomotor siswa, diketahui bahwa ketuntasan klasikal yang dicapai siswa pada Siklus I adalah 62,9%, sedangkan pada Siklus II adalah 100%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan teknik Diagram Roundhouse melalui Diskusi Panel dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X4 SMA Negeri 9 Malang.

Pembiayaan program paket C di PKBM Tambo Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang / Dedy Widiyanto

 

Kata Kunci: Pembiayaan, Paket C, PKBM, Komponen pembiayaan ini perlu dikelola sebaik-baiknya agar dana yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. adalah sangat penting bagi PKBM untuk mencari dan memanfaatkan berbagai sumber dana sesuai dengan keperluan masing-masing program, karena pada umumnya dunia pendidikan selalu dihadapkan pada masalah keterbatasan dana. Dalam konteks penelitian tentang pembiayaan program pendidikan ini, peneliti akan mengkhususkan diri pada lembaga pendidikan masyarakat, yaitu, PKBM Tambo yang berada di Jalan Tegir No 5. RT 5 RW 5 Dusun Kebonan Desa Pasirian, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Propinsi Jawa Timur. Hal yang melandasi peneliti melakukan penelitian di PKBM Tambo adalah dikarenakan PKBM Tambo merupakan Lembaga Masyarakat yang tergolong lembaga yang baru berdiri. PKBM Tambo berdiri pada tahun2006. Dari Hasil Peneltian ditemukan bahwa: 1) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tambo didirikan di Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, bertujuan untuk mengelola potensi pendidikan. 2) Program Paket C yang dikelola PKBM Tambo berasal dari Swadana yang berasal dari pemerintah desa dan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) yang berasal dari mitra Kerja LPM UM dan Dinas Pendidikan. 3) Strategi penjaringan yang paling utama adalah menghimpun informasi mengenai calon pendonor terhadap program yang terkait dengan visi misi PKBM. 4) Komponen kepembiayaan program paket C PKBM Tambo terdiri dari: (1) Bahan. (2) Alat. (3) Tenaga. Dari Penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat dijadikan masukan, antara lain : 1) Bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah adanya tambahan informasi melalui kuliah atau seminar yang membahas tentang pembiayaan Lembaga Satuan Pendidikan Luar Sekolah yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan mensosialisasikan pengembangan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat secara mandiri dalam menyelengarakan lembaga satuan Pendidikan Luar Sekolah. 2) Bagi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Hendaknya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tambo bisa membantu PKBM di kecamatan lain untuk memberikan informasi terkait tentang sistem pelaksanaan program sesuai dengan prosedur yang dianjurkan oleh pemerintah. 3) Bagi Peneliti lain. Diharapkan bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode serta fokus yang lain, sehingga dapat secara berkelanjutan berpartisipasi aktif dalam program-program Pendidikan Luar Sekolah. 4) Bagi Pemerintah Daerah. Diharapkan lebih berperan aktif dalam mendukung dan menjebatani program-program Pendidikan Luar Sekolah yang diselenggarakan oleh PKBM Tambo untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat setempat.

Pengaruh varietas, kondisi, bentuk, dan waktu tunda giling tebu terhadap kualitas tebu giling / Fawait Afnani

 

Kata kunci: varietas tebu, kondisi tebu, bentuk tebu, waktu tunda giling, kualitas tebu. Tebu giling merupakan tebu yang siap atau segera digiling lalu diperas menjadi nira. Jika tebu giling dikenakan suatu perlakuan maka akan menimbulkan suatu pengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas nira yang akan diproses menjadi gula. Nira tebu yang mengandung sukrosa diperoleh dari tebu yang diperah oleh unit penggilingan setelah melalui proses yang ada didalam unit pencacah tebu. Pada proses pembuatan gula, mutu nira harus diperhatikan agar diperoleh kualitas gula yang baik. Hal ini harus didukung oleh pemilihan varietas yang unggul untuk penyesuaian terhadap iklim, kesuburan tanah, dan topografi. Varietas tebu (PS 864, PSJT 941, dan PS 862) adalah varietas yang sering digunakan untuk pulau Jawa khususnya Jawa Timur. Dengan berkembangnya metode pemanenan tebu secara mekanis yang disertai dengan pembakaran tebu, tebu dipotong-potong dan waktu tunda penggilingan yang lama akan membentuk polisakarida antara lain dekstran yang diikuti dengan naiknya vikositas dan perubahan bentuk hablur sehingga menyulitkan pengelolahan dan analisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh (1) varietas tebu (PS 864, PSJT 941, dan PS 862) terhadap kualitas tebu giling, (2) kondisi tebu (hijau dan dibakar) terhadap kualitas tebu giling, (3) bentuk tebu (lonjoran dan potongan) terhadap kualitas tebu giling, (4) waktu tunda giling (0, 5, dan 12 hari) terhadap kualitas tebu giling, (5) interaksi antar perlakuan (varietas tebu, kondisi tebu, bentuk tebu, waktu tunda giling) terhadap parameter (susut berat tebu, KNPP, brix, pol, sukrosa, gula reduksi, dan dekstran). Penelitian ini dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan. Desain penelitian adalah eksperimental laboratories, dimana variabel bebas dalam penelitian ini adalah varietas tebu, kondisi tebu, bentuk tebu dan waktu tunda giling. Sedangkan variabel terikat yaitu (susut berat tebu, KNPP, brix, pol, sukrosa, gula reduksi, dan dekstran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) varietas PSJT 941 paling tahan terhadap susut berat dan kenaikan kadar dekstran, sedangkan PS 862 mempunyai KNPP, % brix, pol (% brix), sukrosa (% brix), dan gula reduksi (% brix) paling tinggi, (2) tebu bakar mengalami penurunan kualitas dibandingkan tebu hijau. Tebu bakar mengalami penurunan KNPP, % brix, pol (% brix), sukrosa (% brix), gula reduksi (% brix), dan dekstran (% brix), (3) tebu yang dipotong-potong mengalami penurunan susut berat tebu, KNPP, % brix, gula reduksi (% brix), tetapi mengalami kenaikan untuk pol (% brix), sukrosa (% brix), dan dekstran (% brix) dibanding tebu yang tidak dipotong (lonjoran), (4) semakin lama waktu tunda, maka tebu akan mengalami penurunan berat, KNPP, % brix, pol (% brix), sukrosa (% brix), dekstran (% brix), tetapi gula reduksi (% brix) yang semakin tinggi, (5) susut berat tebu dan dekstran (% brix) dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi dan waktu tunda giling, kadar KNPP dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi dan waktu tunda giling serta juga dipengaruhi oleh interaksi antara bentuk tebu dan waktu tunda giling, % brix, pol (% brix), dan sukrosa (% brix) dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi dan varietas tebu. Kadar gula reduksi (% brix) dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi dan varietas tebu serta juga interaksi antara varietas dan waktu tunda giling.

Pengembangan media pembelajaran interaktif materi gymnospermae di kelas X SMA Negeri 1 Jombang / Roisatulainiyah

 

Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Media Pembelajaran Interaktif, Gymnospermae Proses belajar mengajar hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari saluran/sumber pesan melalui media tertentu kepada penerima pesan. Proses belajar mengajar merupakan tahap terpenting dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kegiatan pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat berjalan optimal. Dalam perancangan kegiatan pembelajaran seorang guru perlu menerapkan metode pembelajaran yang tidak terlepas dari media pembelajaran. Pengadaan media pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan bantuan komputer. Komputer membantu mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan cara memvisualisasikan objek yang sulit diamati secara langsung. Komputer memiliki kemampuan multimedia, yaitu kemampuan memadukan prinsip audio dan visual secara bersamaan dalam satu sistem. Dengan kemampuan ini komputer dimanfaatkan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi kelas X SMA Negeri I Jombang menunjukkan bahwa beberapa materi mata pelajaran biologi sulit untuk disampaikan kepada siswa termasuk materi gymnospermae. Hal ini dikarenakan sulit menemukan tumbuhan yang tergolong gymnospermae karena termasuk tumbuhan langka, proses reproduksinya lama dan sulit diamati secara langsung. Dari uraian diatas pengembang mencoba melakukan penelitian pengembangan dengan tujuan mengembangkan media pembelajaran interaktif materi gymnospermae di kelas X SMA Negeri I Jombang. Penelitian ini tergolong penelitian pengembangan yang dikembangkan dengan model prosedural yang didasarkan pada tahapan pengembangan media pembelajaran oleh Sadiman (2008) dengan langkah-langkah: (1) analisis Kebutuhan dan karakteristik siswa; (2) merumuskan tujuan instruksional dengan operasional dan khas; (3) merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan; (4) mengembangkan alat evaluasi; (5) menulis naskah media; dan (6) mengadakan tes dan revisi. Hasil pengembangan media pembelajaran interaktif ini secara keseluruhan memenuhi kriteria valid dengan prosentase penilaian validator ahli media 97,06%, validator ahli materi 100%, dan hasil uji coba produk 94,55%. Sedangkan berdasarkan analisis data hasil pretes dan postes dengan uji t menunjukkan nilai signifikansi 0.00 < 0.05 yang berarti media interaktif ini efektif digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran interktif ini dapat digunakan oleh siswa untuk belajar secara individual, mampu meningkatkan motivasi dan perhatian siswa, hemat ii waktu, dan sebagai media pembelajaran alternatif ketika kegiatan pembelajaran yang semestinya tidak dapat dilakukan. Tetapi media interaktif ini juga memiliki kekurangan, seperti hanya bisa diterapakan di sekolah yang memiliki laboraturium komputer atau ruang multimedia yang memadai dan memungkinkan siswa tidak melakukan pengamatan terhadap tumbuhan yang tergolong gymnospermae secara langsung (pembelajaran kontekstual yang seharusnya dilakukan). Adapun saran yang diajukan dari pengembangan media interaktif ini adalah hendaknya media ini hanya digunakan sebagai media alternatif ketika kegiatan pembelajaran yang semestinya tidak dapat dilakukan, kegiatan validasi dilakukan kepada lebih dari satu ahli, uji coba produk dapat dilakukan dengan skala yang besar, dapat menggunakan observer, dilakukan sekaligus bersamaan dengan penerapannya dalam kegiatan pembelajaran dipadukan dengan sintak metode pembelajaran tertentu, dan pretes dan postes dalam media pembelajaran interaktif tidak hanya digunakan untuk mengukur efektivitas media tetapi juga digunakan untuk menilai hasil belajar kognitif siswa.

Pengembangan media pembelajaran audiovisual pada pokok bahasan laporan keuangan perusahaan jasa di SMA Negeri 3 Blitar / Bisrul Miftachul Asror

 

Kata kunci: Media pembelajaran, AudioVisual Media ] pembelajaran digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dalam kelas. Siswa belajar dengan senang sehingga dapat mengetahui, dan memahami ilmu yang ditransformasikan oleh guru. Penggunaan media yang variatif akan meningkatkan motivasi pembelajaran dan akan meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Pokok bahasan laporan keuangan perusahaan jasa merupakan materi yang harus dikuasai siswa baik konsep maupun praktek penyusunan atau sistematika. Materi tersebut dianggap sulit oleh siswa sehingga memerlukan media pendukung untuk mengatasi masalah tersebut. Visi sekolah dan sarana prasarana sekolah yang dapat mendukung dalam pengembangan media sehingga dapat meningkatkan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, pengembangan ini mengangkat judul pengembangan media pembelajaran audiovisual pada pokok bahasan laporan keuangan perusahaan jasa. Adapun tujuan pengembangan 1) untuk menghasilkan bentuk pengembangan media audiovisual yang baik dan menarik untuk mempermudah pembelajaran akuntansi dalam pokok bahasan laporan keuangan di Kelas XI IPS SMAN 3 Blitar, 2) mengetahui proses pembelajaran dengan Media audiovisual pada Pokok Bahasan Laporan Keuangan Perusahaan Jasa di Kelas XI IPS SMAN 3 Blitar, 3) mendiskripsikan hasil belajar siswa XI IPS yang memanfaatkan media audiovisual pada pokok bahasan laporan keuangan di SMAN 3 Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model Dick and Carey. Tahapan yang digunakan meliputi 1) analisis situasi awal, 2) pengembangan rancangan bahan ajar, 3) membuat bahan ajar, 4) uji kelayakan, 5) revisi bahan ajar dan 6) produk akhir. Validasi media audiovisual dilakukan oleh tiga subyek yaitu ahli materi, ahli media dan pengguna (siswa). Hasil validasi oleh ahli materi, Media dan pengguna (siswa) secara keseluruhan memperoleh rata-rata73,86% . Hal ini menunjukkan media audiovisual yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran akuntansi. Hasil tersebut juga didukung rata-rata nilai kelas eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol, yakni 90.17 kelas eksperimen dan 82.40 kelas kontrol. Hasil analisis uji T-test independent sample memperoleh nilai 0,000 lebih kecil daripada 0,05. Berdasarkan hasil validasi dan uji T-test independent sample bahwa media audiovisual yang dikembangkan layak digunakan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada guru khususnya,untuk memanfaatkan media audiovisual dalam proses pembelajaran. Sarana dan prasarana di kelas hendaknya memadai untuk menunjang proses pemanfaatan media secara optimal. Lebih jauh, agar dapat dikembangkan media audiovisual pada materi lain dan inovasi baru agar dapat meningkatkan pembelajaran.

Penerapan Realistic Mathematic Education (RME) untuk meningkatkan hasil belajar segitiga dan segiempat siswa kelas VII MTs. Surya Buana Malang / Benny Banyu Nan Nirmala

 

Kata kunci: Realistic Mathematics Education (RME), Segitiga dan Segiempat, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di MTs. Surya Buana Malang, diketahui bahwa siswa kelas VII B cenderung kesulitan dalam memahami materi segitiga dan segiempat, hal ini ditunjukkan dengan adanya fakta yaitu rata-rata ujian matematika siswa pada tahun sebelumnya yang rendah yaitu 69,85 dan presentase ketuntasan belajar klasikal hanya mencapai 55,44%. Lebih lanjut diperoleh informasi bahwa pembelajaran yang dilakukan di kelas masih berpusat pada guru, sehingga siswa cepat merasa bosan dan kurang antusias saat mengikuti pembelajaran, bahkan siswa lebih fokus menghafalkan rumus secara instan daripada proses pembelajaran itu sendiri. Memahami adanya masalah tersebut, perlu kiranya dilakukan perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga siswa lebih aktif dan senang dalam belajar serta tidak hanya memahami materi sebatas rumus yang tertulis di buku teks saja, dalam hal ini peneliti menerapkan Realistic Mathematics Education (RME). RME merupakan suatu pendekatan yang memfasilitasi siswa dengan kegiatan-kegiatan yang mengarahkan siswa untuk menemukan ide matematika melalui permasalahan sehari-hari. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah mendeskripsikan pendekatan pembelajaran Realistic Mathematic Education untuk meningkatkan hasil belajar segitiga dan segiempat siswa kelas VII MTs. Surya Buana Malang. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 April 2011 hingga 19 April 2011 dengan subyek penelitian adalah kelas siswa kelas VII B MTs. Surya Buana Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Penerapan RME pada pembelajaran bangun ruang prisma dan limas dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I terdiri dari 3 pertemuan dan dilakukan pembelajaran luas permukaan prisma dan limas. Setelah dilakukan refleksi dari pembelajaran pada Siklus I, dilaksanakan Siklus II (2 pertemuan) dengan materi yaitu segitiga dan segiempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran segitiga dan segiempat menggunakan RME telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai tes dan ketuntasan klasikal pada siklus II yaitu berturut-turut adalah 81,13 dan 90,32%. Respon siswa terhadap pembelajaran segitiga dan segiempat menggunakan RME adalah positif. Siswa senang dan antusias dalam belajar. Saran yang dapat diberikan adalah RME layak dipertimbangkan untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di sekolah dan dalam pelaksanaannya hendaknya guru/peneliti memperhatikan pengelolaan waktu.

Kontribusi objek wisata air merambat Roro Kuning terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Bajulan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk / Gandar Listya Tristiana

 

Kata Kunci: konstribusi, kondisi sosial, kondisi ekonomi. Pengembangan objek wisata di Kabupaten Nganjuk hingga kini dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan. Salah satu objek wisata yang sedang dikembangkan yaitu objek wisata Air Merambat Roro Kuning, masyarakat sekitar objek wisata Air Merambat Roro Kuning mempunyai pekerjaan sebagai petani. Tingkat penghasilan masyarakat sekitar tergolong rendah, hal ini disebabkan masyarakat sekitar mayoritas hanay bekerja pada sektor pertanian, sebagian besar lahan yang ada di Desa Bajulan digunakan sebagai lahan pertanian. Dengan dikembangkannya objek wisata Air Merambat Roro Kuning dapat membuka peluang kerja dan usaha masyarakat sekitar sehingga dapat memberi konstribusi sosial ekonomi masyarakat Desa Bajulan Kecamatan Loceret. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendiskripsikan konstribusi objek wisata Air Merambat Roro Kuning terhadap kondisi sosial masyarakat Desa Bajulan Kecamatan Loceret. 2) Mendiskripsikan konstribusi objek wisata Air Merambat Roro Kuning terhadap kondisi ekonomi masyarakat Desa Bajulan Kecamtan Loceret. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang terkait langsungdengan objek wisata Air Merambat Roro Kuning. Teknik penganbilan data dengan menggunakan pedoman wawancara. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data statistik deskriptif dengan menggunakan tabel persentase. Hasil penelitian menunjukkan 1) Masyarakat Desa Bajulan yang tamat SD sebanyak 32,5%, tisak tamat SD 8,1%, tamat SMP 23%, tidak tamat SMP 2,7%, tamat SMA 27%, tidak tamat SMA 6,2%, 2) Objek wisata Air Merambat Roro Kuning dapat membuka lapangan pekerjaan baru sebagai pedagang, tukang ojek, tukang parkir, keamanan, dan penjaga kolam renang dengan penghasilan tambahan Rp. 250.000 sampai Rp. 1.050.000. Bersadarkan hasil penelitian ini diharapkan Besa Bajulan membentuk pengelolah wisata tingkat desa untuk berkerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk mengadakan sosialisasi kepada pengelolah dan masyarakat tentang mengelolah, cara berinteraksi, dan mempromosikan dengan harapan dapat mengembangkan objek wisata Air Merambat Roro Kuning untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan desa.

Analisis perbedaan tingkat kesehatan bank sebelum dan sesudah merger dengan metode Camel / Niken Wulandari

 

Kata Kunci : Tingkat Kesehatan, Merger, CAMELS Lembaga perbankan masih memegang peranan penting dalam suatu sistem perekonomian negara. Namun krisis ekonomi yang melanda indonesia pada tahun 1990 an membuat banyak bank-bank menjadi tidak sehat. Pemerintah mengambil kebijakan restrukturisasi dengan cara penggabungan bank atau sering disebut dengan istilah merger bank. Diharapkan dengan adanya merger bank-bank hasil penggabungan akan lebih sehat. Kesehatan bank diukur dengan peraturan yang sesuai dengan Bank Indonesia meliputi penilaian terhadap kecukupan modal, kualitas aset, manajemen bank, rentabilitas, likuiditas dan resiko pasar, atau yang dikenal dengan istilah analisis CAMELS. Subyek penelitian ini, adalah bank-bank yang melakukan merger. Jenis penelitian ini adalah event study dengan menggunakan metode purposive sampling, terdapat 5 bank sebagai sampel. Periode penelitian selama 4 tahun sebelum dan sesudah merger. pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji normalitas data dan teknik pengujian statistik non parametrik dengan menggunakan Wilcoxon Rank Test. Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa (1) Dalam permodalan bank sebelum dan sesudah merger tidak menampakkan perbedaan yang signifikan. (2) Dalam kualitas aset bank sebelum dan sesudah merger tidak menampakkan perbedaan yang signifikan. (3) Dalam manajemen bank sebelum dan sesudah merger tidak berbeda secara signifikan. (4) Dalam rentabilitas bank sebelum dan sesudah merger tidak jauh berbeda secara signifikan. (5) Dalam likuiditas bank sebelum dan sesudah merger tidak menampakkan perbedaan yang signifikan. (6) Dalam kesehatan bank sebelum dan sesudah merger tidak menampakkan perbedaan yang signifikan. Dalam penelitian ini dapat disarankan bagi pemerintah agar diperhatikan bank yang akan diperhatikan bank yang akan dimerger,kepada bank yang sudah dimerger agar dapat mengoptimalkan aset yang telah dihasilkan, dan bagi pihak investor agar menganalisis dengan menggunakan metode CAMELS

Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pengembangan kecerdasan spiritual anak di PAUD Restu Bunda Lawang Kabupaten Malang / Kristina Yuliani

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi, Kecerdasan Spiritual Kualitas kehidupan bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan, karena melalui pendidikan tercipta sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, beriman, dan memiliki daya saing tinggi. Untuk meningkatkan sistem pendidikan nasional, pemerintah telah melakukan banyak usaha, antara lain peningkatan mutu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dampak dari upaya pengembangan sistem pendidikan nasional itu telah dirasakan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, namun disisi lain masih terdapat permasalahan antara lain menyangkut pemerataan, relevansi, efisiensi dan kualitas pendidikan yang memerlukan solusi pemecahan. untuk membentuk calon generasi penerus bangsa yang berkualitas, maka cara pembinaan pada anak usia dini harus ditempuh melalui multi cara yaitu pembinaan di sekolah, di rumah, dan lingkungan masyarakat. Salah satu pembinaan anak usia dini adalah dirumah dan aspek ini tidak akan lepas dari peranan orang tua. Orang tua dapat melakukan melakukan pembinaan dari kebiasaan anak beribadah secara berjamaah, tata karma dengan orang yang lebih tua, sopan santun, dan cara beretika yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (2) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (3) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan etika sosial anak, (4) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (5) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (6) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan etika sosial anak, (7) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (8) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (9) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan etika sosial anak. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 responden. Hasil penelitian ini adah (1) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini dengan r hitung 0.610 (2) terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pendidikan orang tua dengan sosial keagamaan pada anak usia dini dengan r hitung = 0.527, (3) Terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pendidikan orang tua dengan etika sosial pada kecerdasan spiritual anak usia dini r hitung = 0.638, (4) jenis pekerjaan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik= 23,38 (5) jenis pekerjaan orang tua dengan sosial keagamaan anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik 43,065 (6) jenis pekerjaan orang tua dengan etika sosial anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik 35,179 (7) Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah penghasilan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini dengan r hitung = 0.582 (8) Terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan sosial keagamaan anak usia dini dengan r hitung = 0.524 (9) Terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan etika sosial anak usia dini r hitung = 0.551. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang peneliti ajukan adalah: (1) Diharapkan orang tua lebih memperhatikan pengembangan kecerdasan spiritual anak. Tidak ada kemungkinan orang tua yang status sosial ekonomi tinggi keserdasan spiritual anak tinggi pula. Atau orang tua yang status sosialnya rendah kecerdasan spiritual anak bias tinggi pula. Semua itu bisa terjadi karena faktor lingkungan juga, (2) Lingkungan sekolah sangatlah mempengaruhi semua itu dilihat dari segi pembelajaran, tutor. Dan media belajar. Oleh sebab itu diharapkan lembaga dapat memberikan fasilitas yang bagus, seperti menyediakan media yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan belajar, standar tutor yang setara dengan ahli dibidang PAUD, serta memberikan situasi pembelajaran yang nyaman, aman, serta tidak membuat anak bosan atau jenuh, (3). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan mutu PAUD salah satunya mengoreksi, memperkaya, bahkan memperkuat teori tentang status sosial ekonomi dengan kecerdasan spiritual yang ada pada lingkungan masyarakat, (4) Diharapkan peneliti selanjutnya untuk melengkapi kekurangan yang ada untuk mengembangkan ilmu tentang Pendidikan Anak Usia Dini khususnya tentang pengembangan kecerdasan spritual anak usia dinisegi status sosial orang tua dan dapat digunakan untuk penelitia-penelitian lanjutan.

Pengaruh kepuasan kerja dan motivasi karyawan terhadap kinerja karyawan (studi kasus pada karyawan Bagian Produksi PR. Djagung Padi) / Ratih Febrianti

 

Kata kunci : kepuasan kerja, motivasi, kinerja. Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapat hasil kerja yang optimal. Ketika seseorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Motivasi yang ada pada setiap karyawan tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh karyawan dalam organisasi. Kinerja karyawan yang prima secara langsung akan meningkatkan kinerja perusahaan dalam menghasilkan produk rokok yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kepuasan kerja dan motivasi kerja karyawan kinerja karyawan di PR. Djagung Padi, mengetahui kepuasan kerja dan motivasi kerja karyawan berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan di PR. Djagung Padi, mengetahui kepuasan kerja dan motivasi kerja berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan di PR. Djagung Padi, dan mengetahui variabel manakah yang berpengaruh dominan terhadap kinerja karyawan di PR. Djagung Padi. Penelitian ini penelitian eksplanasi, karena bermaksud untuk menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Dalam penelitian ini populasinya adalah pada seluruh karyawan bagian produksi di PR. Jagung Padi yang berjumlah 180 karyawan, sedangkan sampelnya berjumlah 64 orang. Pengukuran variabel menggunakan skala likert. Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi berganda, uji F dan uji t. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi deskripsi kepuasan kerja karyawan tergolong dalam kriteria puas, kondisi deskripsi motivasi kerja tergolong dalam kategori cukup tinggi, dan kondisi deskripsi kinerja karyawan tergolong dalam kategori tinggi. Ada pengaruh kepuasan kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan secara parsial dan signifikan. Ada pengaruh kepuasan kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan secara simultan dan signifikan. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda kepuasan kerja merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja karyawan. Guna lebih meningkatkan kinerja karyawan, sebaiknya pimpinan PR. Djagung Padi tetap memotivasi karyawan, karena terbukti bahwa dengan motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, hal ini diharapkan agar motivasi kerja dan kinerjanya tinggi, serta sebaiknya perusahaan tetap mempertahankan dan meningkatkan motivasi yang sudah baik agar kinerja karyawan dapat meningkat. Selain itu untuk lebih meningkatkan kinerja dan kepuasan dari para karyawan hendaknya pimpinan perusahaan memperhatikan apa yang menjadi penyebab kepuasan dan kinerja karyawan menurun, kemudian mencari solusi terbaik untuk kelancaran kerja dari para karyawan.

Efektivitas pelatihan self-management untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa SMP / Nurul Qomariyah

 

Kata kunci: Self-Management, Motivasi berprestasi Motivasi berprestasi merupakan salah satu kondisi psikologis yang positif. Oleh karena itu, perlu diperhatikan oleh setiap individu termasuk para siswa di sekolah. Proses belajar siswa yang dilandasi motivasi berprestasi yang rendah kurang menunjukkan hasil yang maksimal bagi siswa itu sendiri, Namun jika dilakukan berdasarkan motivasi berprestasi yang tinggi, maka siswa akan memperoleh hasil belajar yang maksimal atau menggembirakan. Berkaitan dengan hal motivasi berprestasi, terdapat salah satu kondisi internal siswa yang dipandang berpengaruh terhadap tinggi-rendahnya motivasi berprestasi siswa yakni faktor self-management. self-management merupakan kemampuan individu mengelola diri untuk memenuhi harapan, keinginan dan kebutuhannya. Siswa diharapkan mampu mengelola diri agar dapat memiliki “motivasi berpretasi” yang tinggi dalam proses belajarnya. Berkaitan dengan hal ini, konselor dapat berperan memfasilitasi siswa agar dapat memilki motivasi berprestasi yang tinggi. Upaya peningkatan motivasi berprestasi para siswa dapat dilakukan antara lain melalui penerapan self-management. Dalam penelitian ini, self-management merupakan salah satu faktor internal siswa yang dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Permasalahan penelitian ini yaitu apakah self-management efektif meningkatkan motivasi berprestasi siswa di sekolah? Penelitian ini dilakukan berdasar pada hipotesis bahwa “motivasi berprestasi siswa ‘tinggi’ atau meningkat disebabkan oleh faktor Self-Management”. Variabel penelitian ini terdiri atas variabel bebas (X): Self-Management, terdiri dari tiga sub variabel meliputi: (a) Self-Monitoring atau pencatan diri secara rutin, (b) Self-Instruction atau mengarahkan diri sendiri, (c) Self-Reinforcement atau memberi reward pada diri sendiri; dan variabel terikat (Y): Motivasi Berprestasi, terdiri atas tiga sub variabel yakni (a) konsentrasi (b) Kerja keras dalam belajar dan (c) Menyukai Tantangan. Pengujian efektivitas Self-Management terhadap peningkatan Motivasi Berprestasi siswa, berdasar pada rancangan penelitian eksperimen kasus tunggal atau Single Subject Design, model A-B. Hal ini berarti terdapat dua kondisi atau fase penelitian yakni fase atau kondisi ”A” baseline (tanpa perlakuan) dan fase “B” treatment (ada perlakuan). Observasi yang dilakukan pada fase “A” atau baseline selama tiga sesi menunjukkan adanya “motivasi berprestasi” yang rendah. Hal ini terlihat pada indikator rendah atau kurang pada unsur konsentrasi, kerja keras dan menyukai tantangan. Berdasarkan kondisi tersebut diberikan treatment berupa penerapan Self-Mangement dengan tujuan membantu siswa untuk meningkatkan motivasi berprestasi dalam proses belajarnya di sekolah. Penerapan Self-Management berupa memfasiltasi siswa agar dapat melakukan pencatatan diri secara rutin (Self-Monitoring), mengarahkan diri (Self-Instruction) serta memberi reward pada diri sendiri (Self-Reinforcement) secara tepat dan benar. Treatment berupa penerapan Self-Management dilakukan selama 9 (Sembilan) sesi.

Perbedaan hasil belajar model jigsaw dan grup investigasi dengan model konvensional (studi pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kademangan Blitar) / Roberto Fajar Gita Arisandi

 

Kata kunci: metode pembelajaran, teknik jigsaw, grup investigasi, konvensional. Pembelajaran konstruktivis adalah suatu pembelajaran yang terdiri atas tahap pendahuluan, tahap aktivitas dan tahap konsolidasi. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Metode Jigsaw dan Grup Investigasi merupakan beberapa model dari pembelajaran kooperatif. Metode ceramah atau konvensional merupakan suatu cara untuk menyampaikan idea tau memberikan informasi dengan berbicara. Penelitian bertujuan mengetahui perbedaan hasil belajar model Jigsaw dan Grup Investigasi dengan model Konvensional. Penelitian bersifat eksperimental yang dilakukan di SMP Negeri 2 Kademangan Blitar. Pemberlakuan pembelajaran dilakukan pada tiga kelas yang berbeda untuk mengetahui sejauh mana perbedaan hasil belajar akibat dari pembedaan metode pembelajaran. Kelas IX A diberikan treatment metode teknik Jigsaw, kelas IX B diberikan treatment metode Grup Investigasi dan kelas IX C diberikan metode pembelajaran Konvensional yakni ceramah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara metode pembelajaran model Jigsaw dengan metode pembelajaran model Grup Investigasi tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Dari hasil uji-t hitung untuk yang diajar dengan Jigsaw dan Grup Investigasi dengan equal variance assumed (diasumsikan kedua varians sama) adalah -0,084. Perbandingan antara metode pembelajaran model Jigsaw dengan metode pembelajaran model Konvensional terjadi perbedaan yang signifikan. Bahwa t hitung untuk yang diajar dengan Jigsaw dan Konvensional dengan equal variance assumed adalah 3,363 dengan probabilitas 0,001. Perbandingan antara model Grup Investigasi dengan model Konvensional terjadi perbedaan signifikan. t hitung untuk metode Grup Investigasi dan Konvensional dengan equal variance assumed adalah 3,818 dengan probabilitas 0,000. Oleh karena probabilitasnya <0,05, maka H0 ditolak, dalam artian nilai rata-rata ekonomi yang diajar dengan metode Grup Investigasi dan Konvensional berbeda secara signifikan.

Strategi implementasi Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL-MP) biologi dalam usaha perbaikan pembelajaran biologi kelas X semester 2 di SMA Negeri 1 Kepanjen / Muhamad Khoirul Anwar

 

Kata kunci: strategi implementasi SKL-MP biologi, hasil refleksi siswa, SMA Negeri 1 Kepanjen. Berdasarkan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti di SMA Negeri 1 Kepanjen, diketahui bahwa peneliti kurang menerapkan SKL-MP biologi. Hal ini terlihat dari kemunculan keterampilan proses yang terdapat di dalam SKL-MP biologi butir 1 yaitu mengamati, mengolah data, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan data dalam kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mencapai SKL-MP butir 2 dan 3 sangat sedikit sehingga pembelajaran hanya mengacu pada isi dari materi dan mengabaikan proses belajar siswa. Dalam usaha perbaikan pembelajaran, peneliti menggunakan strategi implementasi SKL–MP biologi untuk menerapkan SKL-MP biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi implementasi SKL-MP biologi dan refleksi siswa terhadap penerapan strategi tersebut dalam pembelajaran biologi kelas X semester 2 di SMA Negeri 1 Kepanjen. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 siklus pembelajaran dengan subjek penelitian adalah siswa kelas X. 5 SMA Negeri 1 Kepanjen. Jumlah siswa sebanyak 30 orang dengan rincian siswa lakilaki sebanyak 9 orang dan siswa perempuan sebanyak 21 orang. Pembelajaran menerapkan keterampilan proses yang terdapat pada SKL-MP butir satu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi implementasi SKL-MP biologi dapat dilaksanakan dengan baik. Strategi pembelajaran yang digunakan untuk menerapkan keterampilan proses yang terdapat pada SKL-MP butir 1 untuk mencapai isi yang terdapat SKL-MP butir 2 dan 3 tercapai. Strategi implementasi SKL-MP biologi dalam setiap pembelajaran dapat berjalan baik jika siswa dibimbing dalam setiap kegiatan yang dilakukan, mulai dari kegiatan mengamati, mengolah data, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan data. Peneliti juga melakukan perhitungan hasil refleksi siswa. Hasil refleksi siswa adalah kecenderungan siswa untuk memberikan tanggapan terhadap setiap kegiatan pembelajaran yang mencerminkan SKL-MP butir 1 yaitu kegiatan mengamati, mengolah data, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan data untuk memahami isi dari pembelajaran biologi yang terdapat pada SKL-MP butir 2 dan 3, serta dilakukan langsung setelah pembelajaran. Selama siklus I hasil refleksi siswa terhadap strategi implementasi SKL-MP biologi pada kegiatan mengamati (kegiatan 1) 90%, mengolah data I (kegiatan 2) 70%, mengolah data II (kegiatan 3) 73,33%, menafsirkan data (kegiatan 4) 83,33%, dan mengkomunikasikan data (kegiatan 5) 86,66%. Hasil refleksi siswa pada kegiatan mengolah data yaitu kegiatan 2 dan 3 dikatagorikan cukup. Perbaikan yang dilakukan adalah peneliti membimbing siswa dalam melakukan kegiatan mengolah data. Pada siklus II, hasil refleksi siswa terhadap strategi implementasi SKL-MP biologi pada kegiatan ii mengamati (kegiatan 1) 82,75%, mengolah data I (kegiatan 2) 86,20%, mengolah data II (kegiatan 3) 86,20%, menafsirkan data (kegiatan 4) 86,20%, dan mengkomunikasikan data (kegiatan 5) pada kegiatan 1 (a), kegiatan 2 (b), kegiatan 3 (c), dan kegiatan 4 (d) sebesar 65,51%. Hasil refleksi siswa yang cukup pada siklus I yaitu pada kegiatan mengolah data dapat ditingkatkan, sedangkan pada kegiatan mengamati dan mengkomunikasikan data, hasil refleksi siswa mengalami penurunan dan dikatagorikan cukup. Pada siklus III, hasil refleksi siswa terhadap strategi implementasi SKL-MP pada setiap kegiatan mengamati (kegiatan 1) 100%, mengolah data I (kegiatan 2) 100%, mengolah data II (kegiatan 3) 89,65%, menafsirkan data (kegiatan 4) 96,55%, dan mengkomunikasikan data (kegiatan 5) pada kegiatan 1 (a), kegiatan 2 (b), kegiatan 3 (c), dan kegiatan 4 (d) sebesar 93,10%, dapat dikatakan hasil refleksi siswa meningkat pada setiap kegiatan. Pada kegiatan siklus IV peneliti dapat mempertahankan hasil refleksi siswa yang baik yaitu pada kegiatan mengamati (kegiatan 1)100 %, mengolah data I (kegiatan 2) 100%, mengolah data II (kegiatan 2) 92,59%, menafsirkan data (kegiatan 4) 96,29%, dan mengkomunikasikan data (kegiatan 5) pada kegiatan 1 (a), kegiatan 2 (b), kegiatan 3 (c), dan kegiatan 4 (d) sebesar 96,29%.

Pengaruh hasil belajar ekonomi, status sosial ekonomi orang tua, dan respon pada iklan terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang / Lucien Meytasari

 

Kata kunci : Hasil Belajar Ekonomi, Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Respon pada Iklan, Sikap Perilaku Konsumtif. Di dalam memenuhi kebutuhannya, konsumen seringkali didorong oleh motif tertentu di dalam mendapatkan produk/jasa yang dibutuhkannya. Motif konsumsi yang berkembang pada masyarakat modern saat ini adalah lebih banyak berdasarkan emosional motif daripada rasional motif. Fenomena yang dihadapi masyarakat modern dalam kehidupan sehari-hari adalah diwarnai dengan maraknya kegiatan konsumsi. Fenomena ini nyatanya tidak hanya dialami oleh masyarakat dewasa saja, melainkan juga dialami oleh para remaja. Remaja memiliki sifat diantaranya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Adanya hal-hal tersebut maka dapat mendorong siswa berperilaku konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial maupun simultan hasil belajar ekonomi, status sosial ekonomi orang tua dan respon pada iklan terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh negatif hasil belajar ekonomi terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang, (2) terdapat pengaruh positif status sosial ekonomi orang tua terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang, (3) terdapat pengaruh positif respon pada iklan terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang dan (4) terdapat pengaruh secara simultan hasil belajar ekonomi, status sosial ekonomi orang tua dan respon iklan terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang. Sumbangan efektif dari masing-masing variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap sikap perilaku konsumtif siswa adalah variabel respon pada iklan. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) semakin tinggi hasil belajar ekonomi maka semakin rendah sikap perilaku konsumtif siswa, (2) semakin tinggi status sosial ekonomi orang tua maka semakin tinggi sikap perilaku konsumtif siswa, (3) semakin tinggi respon pada iklan maka semakin tinggi sikap perilaku konsumtif, (4) hasil belajar ekonomi, status sosial ekonomi, dan respon pada iklan berpengaruh secara simultan terhadap sikap perilaku konsumtif siswa kelas X IPS SMA Negeri 2 Malang. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti adalah siswa disarankan dapat mengendalikan kecenderungan dalam berperilaku konsumtif. Sebaiknya perlu diberikan penghargaan bagi siswa yang dapat meminimalisir sikap perilaku konsumtif, dan diberikan penyadaran bagi siswa yang berperilaku konsumtif.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 |