Penerapan metode bercerita outing class untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol / Izzul Fitriyah

 

Kata Kunci : Penerapan Metode Bercerita, Kegiatan Outing Class, Media Bukiba Karyaku, PAUD. Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari. Orang dewasa, orang tua, terutama anak-anak sangat memerlukan kemampuan berbahasa. Segala gerak-gerik, keinginan, ide, informasi, dapat diungkapkan melalui bahasa. Bahasa memberi kemudahan untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Untuk stimulasi dan mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak usia dini, sangat tepat apabila diterapkan dengan metode bercerita melalui kegiatan outing class dengan menggunakan media buku cerita bergambar dalam pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan penerapan metode bercerita melalui kegiatan outing class dengan menggunakan media BUKIBA KARYAKU dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol, 2) untuk mendeskripsikan pengembangan kemampuan berbahasa anak melalui penerapan metode bercerita pada kegiatan outing class dengan menggunakan media BUKIBA KARYAKU pada anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol sebanyak 12 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi (lembar tugas) Data analisis dengan memberikan nilai pada lembar observasi dan tes pertanyaan, peneliti memberikan reward berupa binatang sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Anak dikatakan mengalami perkembangan dalam belajar, jika anak dapat menguasai aspek-aspek yang dinilai dalam penelitian, mulai dari pra tindakan dan siklus I, jika pelaksanaan tindakan pada siklus I belum menunjukkan hasil yang optimal, maka dilanjutkan pengembangan perencanaan tindakan pada siklus II. Hasil dari skor rata-rata indikator bahasa yang diperoleh seluruh anak pada pra tindakan didapat 585, kemudian dicari rata-rata kelas yaitu skor yang diperoleh dibagi jumlah siswa di dapat rata-rata 48,75 dengan kriteria cukup. Pada siklus-1 pertemuan ke 1 di dapat jumlah keseluruhan 700 dibagi jumlah siswa di dapat rata-rata 58,33, pada siklus-1 pertemuan ke 2 jumlah keseluruhan 715 rata-rata 59,58. Sedangkan pada siklus II didapat 975, kemudian dicari rata-rata kelas yaitu skor yang diperoleh dibagi jumlah siswa di dapat rata-rata 81,25 dengan kategori sangat baik. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu agar dapat memperbaiki proses kegiatan pembelajaran dengan banyak melakukan kegiatan yang inovatif dan kegiatan tidak selalu berada di dalam kelas, sehingga pengalaman anak lebih luas, dan pengalaman itu dapat diungkapkan melalui bercerita. Sedangkan bagi bagi peneliti lanjutan disarankan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak melalui kegiatan bercerita dengan menggunakan media selain buku cerita bergambar. Dengan kata lain, peneliti harus membuat inovasi baru untuk menciptakan media selain buku cerita bergambar.

Analisis buku sekolah elektronik (BSE) IPS SD kelas IV semester II terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional / Siti Syamsiatin Ayuningtyas

 

Kata Kunci: Analisis BSE, IPS SD, Kelas IV semester II. Buku ajar merupakan salah satu bahan ajar tertulis yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan penyebaran angket yang dilakukan di sepuluh SDN di Kota Malang, didapatkan hasil bahwa buku yang paling banyak digunakan adalah buku BSE. Perlu adanya analisis yang mendalam untuk mengkaji kekurangan dan kelebihan BSE yang beredar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran dan ketepatan bahasa, serta kesesuaian media yang terdapat dalam buku ajar BSE IPS SD kelas IV semester II. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi, karena yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini adalah dokumen yang berupa buku IPS SD kelas IV semester II. Aspek yang dikaji dalam penelitian ini adalah kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran dan ketepatan bahasa, serta kesesuaian media yang terdapat dalam buku IPS SD kelas IV semester II. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pedoman analisis. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: pertama, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, dengan rincian: (1) dari 99 materi yang ada, terrdapat 53 materi yang urutannya sesuai dengan jabaran indikator, (2) dari 99 materi yang ada, terdapat 57 materi yang lingkupnya sesuai dengan jabaran indikator. Kedua: dari 79 konsep yang ada, terdapat 69 konsep yang benar. Ketiga: Kebenaran dan ketepatan bahasa, dengan rincian (1) dari 758 tanda baca yang ada, terdapat 12 kesalahan penempatan tanda baca, (2) dari 532 kalimat yang ada, terdapat 18 kalimat yang salah, (3) dari 118 paragraf yang ada, terdapat 4 paragraf yang tergolong sebagai paragraf yang salah, (4) tidak ditemukan kesalahan pemilihan kata. Keempat: Dari 20 media yang ada, terdapat 1 media yang tidak sesuai dengan materi yang dibahas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesesuaian urutan isi materi dengan kurikulum tergolong kurang sesuai, kesesuaian lingkup isi materi dengan kurikulum tergolong cukup sesuai, kebenaran konsep tergolong baik, kebenaran dan ketepatan bahasa tergolong baik, kesesuaian media tergolong baik. Dari hasil kesimpulan tersebut diajukan saran-saran: pertama, bagi guru dan pengguna buku, sebaiknya sebelum mempergunakan BSE IPS SD kelas IV semester II haruslah ditelaah terlebih dahulu apakah buku teks tersebut sudah layak digunakan atau masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Kedua, bagi penulis buku, sebaiknya memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan kesempurnaan buku.

Meningkatkan pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Ampenan Kota Mataram Nusa Tenggara Barat / Imam Suryadi

 

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana-Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Fachrurrazy, M.A.,Ph.D., (II) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran, membaca intensif, strategi skemata. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, khususnya di kelas IV Sekolah Dasar (SD) ditemukan bahwa pembelajaran membaca intensif perlu ditingkatkan agar kemampuan membaca siswa dapat lebih baik. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan karena strategi pembelajaran yang digunakan guru di kelas belum sepenuhnya memberdayakan potensi siswa dalam proses membaca intensif. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah strategi skemata. Tujuan umum penelitian ini, yaitu meningkatkan pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata pada siswa kelas IV SD Negeri 23 Ampenan Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB). Tujuan khusus yaitu (1) mendeskripsikan peningkatan proses pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata dan (2) mendeskripsikan peningkatan hasil pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik wawancara, dokumentasi, observasi, catatan lapangan, penilaian proses dan penilaian hasil. Sumber data penelitian ini adalah interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung dari tanggal 1 s.d. 22 September 2010 di kelas IV SD Negeri 23 Ampenan Kota Mataram NTB. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, catatan lapangan, dan pedoman penilaian pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis model mengalir yang meliputi reduksi data melalui kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan data yang diperoleh sesuai kebutuhan, dan penyajian data serta penarikan simpulan. Untuk menguji keabsahan simpulan data, digunakan teknik ketekunan pengamatan dan pengecekan sejawat. Penggunaan strategi skemata pada penelitian ini terbukti meningkatkan kinerja pembelajaran membaca intensif, baik dalam proses maupun hasilnya. Proses pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata dilaksanakan dalam tiga tahap: prabaca, saat baca, dan pascabaca. Proses tersebut dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, yakni (1) penggunaan skemata lebih diperhatikan dan dimaksimalkan, (2) waktu yang digunakan untuk membaca semakin efisien, dan (3) minat membaca siswa lebih meningkat. Selain itu juga ditemukan peningkatan hasil pembelajaran yang terlihat dalam hal: (1) pemahaman siswa terhadap bacaan semakin meningkat, (2) prediksi siswa terhadap isi bacaan semakin baik, dan (3) keterampilan siswa dalam membaca semakin tinggi. Secara kualitatif, proses pembelajaran lebih meningkat yaitu pada siklus 1 nilai rerata siswa terteliti adalah 70,56 dan pada siklus 2 adalah 86,11, sehingga terjadi peningkatan sejumlah 15,55 (22%). Secara kuantitatif, peningkatan kemampuan membaca intensif siswa terteliti terlihat dari skor pada setiap tes formatif pada akhir siklus. Hasil rerata kemampuan siswa terteliti pada tes awal adalah 56, pada siklus 1 adalah 70,56 (kualifikasi baik), dan pada siklus 2 adalah 86,11 (kualifikasi sangat baik). Terjadi peningkatan nilai rerata antara nilai tes awal dengan siklus 2 sejumlah 30,11 (54%). Jumlah siswa terteliti adalah 9 dan berdasarkan hasil tes awal, siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar berjumlah 7 siswa. Peningkatan terjadi berdasarkan hasil siklus 2 yang menunjukkan bahwa seluruh siswa terteliti mencapai ketuntasan belajar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru sudah melaksanakan pembelajaran membaca intensif melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang terdapat pada rambu-rambu atau formulasi strategi skemata. Berdasarkan analisis hasil, strategi skemata dapat meningkatkan kemampuan membaca intensif para siswa. Oleh karena itu, disarankan kepada guru-guru kelas IV dengan siswa berlatar belakang sama atau mirip dengan kelas terteliti untuk menggunakan strategi skemata dalam pembelajaran membaca intensif, baik pada tahap proses pelaksanaan, maupun tahap penilaian. Kepada Kepala Sekolah disarankan agar memberi keleluasaan kepada guru untuk mengelola kelas secara lebih mandiri dan senantiasa memberikan motivasi kepada guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan strategi yang lebih inovatf dan kreatif, misalnya dengan cara memfasilitasi penggunaan strategi skemata dalam belajar membaca intensif. Kepada peneliti lain atau mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian sejenis atau lanjutan, disarankan agar dapat menyempurnakan kekurangan yang terdapat dalam penelitian tindakan ini sehingga menjadi lebih baik.

Pengembangan modul pembelajaran trigonometri beracuan pada standar proses untuk siswa SMA kelas XI IPA / Wardatul Faridiyah

 

Kata kunci : modul, standar proses, trigonometri. Modul adalah suatu bahan ajar yang memuat materi tertentu, disusun secara sistematis dengan serangkaian kegiatan siswa untuk belajar mandiri. Kegiatan ini berisi pemahaman konsep dan evaluasi. Dengan adanya modul, siswa dapat lebih mudah dalam memahami konsep dan dapat belajar secara mandiri. Kegiatan pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan suatu modul pembelajaran trigonometri yang beracuan pada standar proses (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah). Modul yang beracuan pada standar proses adalah modul yang memuat proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada proses eksplorasi, siswa dilibatkan secara aktif dalam menggali dan mengumpulkan informasi yang luas untuk memahami materi yang dipelajari. Pada proses elaborasi, siswa diberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis dan menyelesaikan masalah secara mandiri, kemudian berkolaborasi dengan siswa lain. Pada proses konfirmasi, siswa diberikan kegiatan mengecek hasil yang diperoleh pada proses elaborasi, kemudian diberikan penguatan atas hasil kerjanya. Modul yang dikembangkan telah melalui dua tahap uji coba. Hasil uji coba tahap I atau validasi isi menyatakan bahwa semua komponen modul yang meliputi aspek kelayakan isi, standar proses, keterbacaan, sajian, dan tampilan telah valid. Hasil uji coba tahap II atau validasi empirik menyatakan bahwa modul yang dikembangkan sudah sesuai dan bagus. Disarankan bahan ajar ini dapat digunakan oleh guru sebagai alternatif sumber belajar. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan untuk mengujicobakan hasil pengembangan pada kelompok sedang dan besar.

Penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V di SDN Bandulan 5 Malang / Arni Gemilang Harsanti

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, bermain peran, Bahasa Indonesia SD Pembelajaran Bahasa Indonesia memuat empat aspek, yaitu berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Berdasarkan hasil pengamatan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Bandulan 5 Malang ditemukan aspek berbicara belum berhasil. Hal ini karena siswa belum diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya maka perlu diterapkan matode bermain peran. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa, (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas melalui metode bermain peran. Penelitian ini adalah bentuk Penelitian Tindakan Kelas dengan model siklus yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti sebagai instrumen utama. Data penelitian ini adalah berupa kata-kata. Pengumpulan data menggunakan pedoman observasi, pedoman wawancara dan portofolio. Hasil yang diperoleh pada tahap pra tindakan sebagian besar keterampilan berbicara siswa masih kurang. Dibuktikan dengan hasil ketuntasan belajar yang hanya mencapai 23,5 % dari jumlah keseluruhan sebanyak 17 siswa. Pada siklus I, persentase siswa sebesar 47,1 % sudah mampu memerankan drama dengan lafal dan intonasi yang hampir tepat namun ekspresinya masih kurang sesuai dengan tokoh yang diperankan. Setelah diadakan perbaikan terjadi peningkatan yang cukup drastis. Sebanyak 100 % siswa sudah mencapai batas ketuntasan (nilai 70-90). Siswa memerankan drama dengan lafal jelas, intonasi tepat, dan ekspesi sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode bermain peran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dengan demikian disarankan kepada guru sebelum siswa bermain peran supaya memberikan bimbingan yang benar dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan bermain peran tersebut supaya berjalan optimal untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

Proses berpikir siswa dalam pemecahalan masalah dengan pemberian scaffolding / Anik Sujiati

 

Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M. Si., (II) Dr. Hery Susanto, M. Si. Kata kunci: proses berpikir, pemecahan masalah, pemberian scaffolding. Kemampuan pemecahan masalah merupakan hal penting yang harus dilatihkan kepada siswa. Vygotsky (Lambas 2004:21) menyatakan, bahwa seseorang akan dapat menyelesaikan masalah yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari kemampuan dasarnya apabila mendapat bantuan dari orang yang lebih mampu (scaffolding). Banyak penelitian tentang upaya peningkatan kemampuan pemecahan masalah, namun belum menyentuh bagaimana proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah. Penelitian ini mengkaji proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah ketika mendapatkan scaffolding. Masalah yang digunakan untuk mengkaji proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah adalah dua soal, yaitu masalah yang terkait dengan Bangun Datar, Teorema Pythagoras, dan Bangun Ruang. Pemberian scaffolding dalam penelitian ini mengacu pada tiga tingkat scaffolding yang dikemukakan Anghileri (2006). Selanjutnya dikaji perkembangan proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah dengan berfokus pada kesulitan yang dialami oleh siswa pada empat langkah pemecahan masalah, yaitu kesulitan dalam hal: (1) pemahaman masalah; (2) menyatakan fakta dalam kalimat matematika; (3) menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya; dan (4) memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah bersifat unik, dan secara umum proses berpikir tersebut dapat berkembang dengan pemberian scaffolding. Kesulitan pada langkah pemahaman masalah hanya dialami oleh kelompok siswa berkemampuan matematika rendah. Kelompok siswa berkemampuan tinggi mengalami kesulitan pada langkah memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Akibatnya kelompok siswa ini tidak menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya secara lengkap dalam menyelesaikan masalah nomor 1. Banyaknya scaffolding yang diperlukan tergantung pada masing-masing individu. Setelah mendapatkan scaffolding, untuk masalah nomor 1 beberapa siswa proses berpikirnya tidak dapat berkembang hingga struktur berpikir yang sesuai dengan struktur masalah. Sedangkan untuk masalah nomor 2, proses berpikir semua siswa dapat berkembang hingga struktur berpikirnya sesuai dengan struktur masalah setelah mendapatkan scaffolding sesuai dengan keperluannya. Dengan dasar temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru pada umumnya untuk memahami proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah, sehingga dapat memberikan bantuan yang diperlukan siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah. Kajian proses berpikir siswa dalam penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya penelitian dengan kajian yang lebih mendalam dengan masalah yang lain.

Penerapan keterampilan mengajar pada pelaksanaan praktek pengalaman lapangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Awan Panti Basunondo

 

Kata Kunci : penerapan, ketrampilan mengajar, PPL Mahasiswa calon guru harus benar-benar menguasai keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya (dasar dan lanjut), keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi dan keterampilan mengelola kelas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan fakta tentang penerapan keterampilan mengajar pada pelaksanaan PPL mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Data penelitian berasal dari penyebaran angket, yang isinya pernyataan-pernyataan tentang penerapan ketrampilan mengajar dengan pilihan jawaban (Selalu) dan (Tidak Pernah) dilakukan pada saat PPL. Angket diisi sendiri oleh mahasiswa Seni Rupa UM yang sudah menempuh PPL. Kemudian tahap analisa data dimulai pada tahap penelaahan data yang dilanjutkan dengan tahap klasifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan. Pertama, kualitas keterampilan mengajar yang diterapkan mahasiswa pada saat pelaksanaan PPL (a) keterampilan membuka pelajaran sebesar 87,5% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, dan keterampilan menutup pelajaran sebesar 92,5% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan” (b) keterampilan menjelaskan sebesar 78,33% yang termasuk dalam klasifikasi “Sebagian Diterapkan”, (c) keterampilan bertanya (dasar dan lanjut) sebesar 88,12% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, (d) keterampilan memberi penguatan sebesar 81,67% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, (e) keterampilan mengadakan variasi sebesar 83,75% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, (f) keterampilan mengelola kelas sebesar 96% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”. Kedua, Semua mahasiswa menerapkan keterampilan mengajar pada saat pelaksanaan PPL kecuali untuk keterampilan mengadakan variasi, dalam penerapan indikator (1) keterampilan guru menggunakan variasi dalam penyampiaan materi mengajar, pada item pernyataan (e) saat mengajar posisi guru bervariasi (berubah-ubah), yang termasuk dalam klsifikasi “Sebagian Mahasiswa”.

Validitas soal UN (ujian nasional) SMP mata pelajaran bahasa Indonesia tahun 2007 / Novi Istina

 

Kata kunci: tes UN (Ujian Nasional), validitas isi, dan validitas konstruk UN (Ujian Nasional) sebagai salah satu alat ukur evalusai harus dapat mengukur hasil belajar yang dicapai siswa secara akurat. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang tinggi validitasnya. Untuk mengetahui validitas suatu tes yang berupa butir-butir soal dapat dilakukan melalui analisis rasional dan analisis empirik. Analisis rasional menyangkut validitas isi dan validitas konstruk, sedangkan analisis empirik menyangkut validitas empiris dan validitas bandingan. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran (deskripsi) tentang validitas isi dan validitas konstruk UN (Ujian Nasional) bidang studi Bahasa Indonesia untuk SMP tahun 2007. Sesuai dengan tujuan penelitian, pada penelitian ini hanya dilakukan analisis rasional. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari paparan verbal tentang validitas isi dan validitas konstruk tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia untuk SMP 2007 dengan peneliti sendiri sebagai instrumen utama. Sedangkan sumber data diperoleh dari tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia yang diperoleh dari setting alamiah dengan menggunakan teknik dokumenter sebagai teknik pengumpul data. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan secara umum dan khusus. Kesimpulan secara umum menunjukkan bahwa tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia tidak valid karena hanya menguji sebagian aspek keterampilan berbahasa (keterampilan membaca dan menulis) saja dari beberapa aspek keterampilan berbahasa yang ada. Sedangkan secara khusus hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan membaca terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 dan SK Kurikulum 2004 adalah rendah sedangkan terhadap bahan dalam SKL UN BI untuk SMP 2007 tinggi, (2) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan menulis terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 dan SKL UN BI untuk SMP 2007 tinggi sedangkan terhadap bahan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sedang, (3) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan mendengarkan (menyimak) terhadap GBPP BI untuk SMP 1994 dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sangat rendah, , (4) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan berbicara terhadap GBPP BI untuk SMP 1994 dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sangat rendah, (5) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek kebahasaan terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 sedang dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sangat rendah, (6) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek apresiasi bahasa dan sastra Indonesia (ABSI) terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 sedang dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 tinggi. Sedangkan, hasil penelitian validitas konstruk pada tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia yakni, (1) validitas konstruk pada aspek keterampilan membaca redah, (2) validitas konstruk pada aspek keterampilan menulis tinggi, (3) validitas konstruk pada aspek keterampilan mendengarkan (menyimak) rendah, (4) validitas konstruk pada aspek keterampilan berbicara rendah, (5) validitas konstruk pada aspek kebahasaan tinggi, (6) validitas konstruk pada apresiasi bahasa dan sastra Indonesia rendah. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada pihak pembuat soal untuk lebih memperhatikan validitas isi dan validitas konstruk dalam pembuatan soal tes UN (Ujian Nasional), selain itu juga disarankan untuk pihak sekolah yang mengadakan UN (Ujian Nasional) diharapkan bisa mengadakan ujian sendiri untuk aspek keterampilan berbahasa yang belum diujikan dalam tes UN (Ujian Nasional).

Kajian analisis korelasi kanonik hubungan antara hasil belajar mahasiswa dengan indeks prestasi dan skor tes masuk perguruan tinggi / Wardatul Faridiyah

 

Kata Kunci: Multivariat, Korelasi Kanonik. Korelasi kanonik merupakan salah satu metode dalam statistik multivariat yang mempelajari hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Korelasi kanonik adalah ukuran kuat lemahnya hubungan antara sekelompok variabel peramal dan sekelompok variabel tanggapan. Tujuan dilaksanakan analisis korelasi kanonik adalah untuk membentuk kombinasi linier (fungsi kanonik). Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data hubungan antara indeks prestasi kumulatif dan skor tes masuk perguruan tinggi dengan skor tes tengah semester ke-1, skor tes tengah semester ke-2, dan skor tes akhir semester (final). Fungsi kanonik yang terbentuk sebanyak dua fungsi tetapi hanya satu fungsi yang berarti, yaitu -0,49979 Y1 – 0,45495 Y2 – 0,17599 Y3 = -0,75704 X1 – 0,38999 X2. Terdapat hubungan/korelasi secara nyata antara indeks prestasi kumulatif dan skor tes masuk perguruan tinggi dengan skor tes tengah semester ke-1, skor tes tengah semester ke-2, dan skor tes akhir (final).

Penerapan model numbered heads together (NHT) dengan metode demonstrasi untuk meningkatkan motivasi dan hasil beajar biologi materi sistem gerak manusia siswa kelas XI IPA 1 SMA Sejahtera Prigen Pasuruan / Anis Mugi Rahayu

 

Kata Kunci: Model Numbered Heads Together (NHT), Metode Demonstrasi, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi mulai tanggal 19 Juli 2010 sampai 30 Agustus 2010 di kelas XI IPA 1 SMA Sejahtera Prigen Pasuruan, diperoleh data pola pembelajaran masih terpusat pada guru (teacher centered). Metode ceramah yang digunakan di kelas kurang menarik minat belajar siswa pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung (membahas materi sel) siswa terlihat pasif. Hanya 3 orang saja dari 38 siswa yang aktif menjawab dan bertanya pada guru, yang lain hanya diam, siswa yang duduk di bangku belakang berbicara di luar materi, ada yang memainkan alat-alat tulis dan tidak mencatat penjelasan dari guru. Hal tersebut menunjukkan rendahnya motivasi belajar biologi siswa yang berdampak pada rendahnya hasil belajar biologi siswa. Hal ini terlihat dari daftar skor tes pokok bahasan sel yang diperoleh peneliti dari guru bidang studi, diketahui bahwa sebanyak 20 siswa dari 38 siswa satu kelas yang nilainya belum memenuhi Standar Kelulusan Minimal (SKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Tujuan penelitian untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi materi sistem gerak manusia siswa kelas XI IPA 1 SMA Sejahtera Prigen Pasuruan melalui penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dengan metode demonstrasi. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam II siklus. Data penelitian adalah motivasi belajar siswa yang diperoleh dari lembar observasi motivasi, hasil belajar siswa diperoleh dari tes pada tiap akhir siklus, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model NHT: 1) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, terlihat dari persentase rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 67,62 dengan kategori taraf keberhasilan cukup sedangkan pada siklus II sebesar 86,93 dengan kategori taraf keberhasilan sangat baik, 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa, peningkatan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 52,63% dari siklus I ke siklus II sebesar 86,84%. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan model NHT dengan metode demonstrasi dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi materi selain sistem gerak manusia.

Pengembangan modul belajar kimia berorientasi daur belajar (LC 5-E) untuk SMK teknik / Miyatiwi

 

Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D., (II) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D. Kata Kunci: daur belajar, modul kimia, SMK teknik, belajar mandiri Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2006, tujuan penyelenggaraan SMK adalah “meningkatkan kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya”. Sebagai implementasi dari tujuan tersebut, SMK memiliki kewajiban untuk membekali setiap siswa dengan ilmu dan teknologi serta keterampilan kerja yang sesuai dengan bidangnya. Pembekalan keterampilan kerja dapat diraih para siswa melalui program praktek kerja industri (Prakerin). Selama prakerin, aktivitas pembelajaran di sekolah, terutama kimia, tidak dapat dijalankan dengan maksimal. Agar pembelajaran kimia tidak terhenti selama program prakerin, diperlukan sebuah media pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembang kan bahan pembelajaran dalam bentuk modul berorientasi daur belajar agar para siswa dapat belajar secara mandiri selama prakerin. Pengembangan modul ini menggunakan model pengembangan 4-D dari Thiagarajan (1974), yang terdiri dari 4 langkah: define, design, develop, dan disseminate. Hanya tiga langkah pertama yang dipakai dalam pembuatan modul. Modul ini juga dikembangkan berdasarkan kriteria pengembangan modul yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional (2006). Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif yang terkait dengan kesesuaian dan efektivitas modul yang dikembangkan. Data kualitatif terdiri dari umpan balik serta saran pengembangan modul yang diberikan oleh dosen dan guru kimia. Data kualitatif didapat dengan menggunakan instrumen penilaian modul yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian buku dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari jawaban kuesioner dan pencapaian nilai dari para siswa kelas XI SMKN 1 Glagah Banyuwangi yang sedang menempuh prakerin. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan kuesioner dan tes hasil belajar siswa. Tes hasil belajar siswa terdiri dari 30 butir dengan validitas isi 87.2%. Analisis deskriptif dan analisis statistik digunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan. Modul belajar kimia yang dikembangkan terdiri dari 4 aktivitas belajar dan 90 halaman. Setiap aktivitas belajar terdiri dari tujuan pembelajaran, pembukaan, studi kasus dengan langkah-langkah penyelesaian, materi belajar, kesimpulan, evaluasi, dan umpan balik. Glosarium, kunci jawaban, dan daftar pustaka diberikan di bagian akhir dari modul. Penilaian ahli isi dan materi memberi nilai 86,2%. Revisi modul telah dilakukan berdasarkan saran yang diberikan oleh para ahli. Berdasarkan hasil penilaian ahli, modul yang telah direvisi sesuai dan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran kimia selama prakerin. Tes hasil belajar siswa yang menggunakan modul yang dikembangkan menunjukkan bahwa 83,3% siswa dapat meraih Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Selain itu, terdapat peningkatan signifikan dari rata-rata nilai tes siswa sebelum menggunakan modul (40,6) dan setelah menggunakan modul(80,2). 100% siswa berpendapat bahwa modul tersebut sangat menarik. Berdasarkan hasil-hasil yang dipaparkan di atas, Modul Belajar Kimia Berorientasi Daur Belajar untuk SMK Teknik yang telah dikembang kan dapat dianggap baik untuk digunakan. Evaluasi lebih jauh tentang kesesuaian dan efektivitas modul harus dilakukan sebelum disebarkan.

Perbedaan hasil belajar pembelajaran tipe numbered heads together dan pembelajaran konvensional siswa kelas IV semester genap pokok bahasan energi bunyi di SDN Bareng 3 Malang / Bekti Triani

 

Kata Kunci : Pembelajaran Tipe Numbered Heads Together, Pembelajaran Konvensional, Hasil Belajar Siswa Menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, maka seseorang dituntut untuk mampu memanfaatkan informasi dengan baik dan cepat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan nasional, khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah melalui penyempurnaan proses belajar mengajar. Kualitas keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah perlu adanya perubahan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher-centered) menjadi pembelajaran berorientasi pada siswa (student-centered). Metode pembelajaran yang dapat melibatkan peran aktif siswa dalam memaksimalkan kondisi belajar adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Metode pembelajaran yang diterapkan di SDN Bareng 3 Malang masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hal tersebut menyebabkan siswa cenderung pasif, merasa bosan dan cenderung meremehkan guru dengan ramai sendiri bersama teman sebangkunya. Maka dari itu peneliti akan mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan siswa dari penerapan metode pembelajaran konvensional mata pelajaran IPA pada bahasan Energi Bunyi kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka jenis penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan membagi 2 kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang mendapatkan penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) sedangkan kelas kontrol kelas yang mendapatkan penerapan pembelajaran konvensional (ceramah). Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent Control Group Design dengan pre test dan pos test, serta membagi sasaran penelitian menjadi 2 kelompok sampel, yaitu kelas eksperimen (IV A) dan kelas kontrol (IV B) dengan cara purposive sampling yakni mengambil subyek penelitian bukan dari strata atau random melainkan karena tujuan tertentu. Berdasarkan hasil analisis hipotesis yang dirumuskan dapat disimpulkan bahwa “Terdapat perbedaan signifikan score hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan kelas kontrol yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional ”. Dengan kata lain bahwa rata-rata gainscore hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan metode pembelajaran konvensional dengan nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0,031<0,05 dengan thitung=2,195>ttabel=1,9948. Nilai rata-rata gain score untuk kelas eksperimen adalah 25,26 dan kelas kontrol adalah 20,55, sehingga terdapat perbedaan nilai rata-rata gain score antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 4,71.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas bagi siswa kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung / Muslikah

 

Kata kunci: pembelajaran IPS, metode pemberian tugas, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran sangat penting untuk dipertimbangkan oleh guru karena metode pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam mempelajari materi. Berdasarkan hasil observasi metode yang digunakan oleh guru adalah ceramah, siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, hal itu diperkuat dengan rata-rata nilai Ulangan Akhir Semester siswa kelas IV SDN IV Rejotangan adalah 50,3. Alternatif pemecahan masalah tersebut yaitu menggunakan metode pemberian tugas dalam pembelajaran IPS. Tujuan penelitian ini: 1) Mendeskripsikan penerapan metode pemberian tugas pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas di kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini yaitu lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas guru, tes, angket, dan kamera. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus II pertemuan 2 diketahui persentase peningkatan aktivitas siswa, peningkatan aktivitas guru, dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Aktivitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan 1 mengalami peningkatan sebesar 27%, kemudian pada siklus I pertemuan 2 mengalami peningkatan 6%, dan pada siklus II pertemuan 1 mengalami peningkatan sebesar 4%, dan pada siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 6%. Persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 9,16% pada siklus I pertemuan 1, pada siklus I pertemuan 2 mengalami peningkatan 10,25%, pada siklus II pertemuan 1 mengalalami peningkatan sebesar 9,59%, dan pada siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 11,41%. Hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 mengalami penurunan sebesar 1,16%, pada siklus I pertemuan 2 terjadi peningkatan sebesar 3,55%, pada siklus II pertemuan 1 terjadi peningkatan 10,78%, dan pada siklus II pertemuan 2 terjadi peningkatan sebesar 8,5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa.

Pemanfaatan gelombang ultrasonik untuk peningkatan efisiensi ekstraksi minyak dari alga Spirogyra sp. / Nur Farida Alfiati

 

Kata Kunci: alga Spirogyra sp., ekstraksi, minyak, gelombang ultrasonik Eksplorasi minyak bumi yang terus-menerus akan mengakibatkan cadangan minyak bumi akan habis, sehingga diperlukan energi pengganti yang bersifat terbarukan. Salah satunya adalah biodiesel dari minyak alga. Alga Spirogyra sp. berpeluang sebagai bahan baku biodiesel. Hal ini karena alga Spirogyra sp. memiliki kandungan minyak nabati yang cukup banyak, laju pertumbuhan tinggi, kelimpahan di alam sangat banyak, dan tidak membutuhkan lahan luas dalam pembiakan. Namun, umumnya ekstraksi minyak yang menggunakan pelarut memerlukan waktu cukup lama. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gelombang ultrasonik dapat mempercepat pemisahan fase gliserin dari fase biodiesel pada sintesis biodiesel, maka dalam penelitian ini digunakan gelombang ultrasonik untuk peningkatan efisiensi ekstraksi minyak dari alga Spirogyra sp. Penelitian ini bertujuan: (1) memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi minyak dari alga Spirogyra sp.; (2) mengetahui karakter minyak alga Spirogyra sp. yang diperoleh. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Alga Spirogyra sp. yang telah dikeringkan, digerus hingga diperoleh serbuk alga. Sejumlah serbuk alga yang sama beratnya (± 20 gram), diekstraksi minyaknya menggunakan pelarut n-heksana dengan tiga metode, yaitu ekstraksi ultrasonik, Soxhletasi, dan maserasi. Variasi waktu pada ekstraksi ultrasonik adalah 10, 30, 50, 70, 90, 110, dan 130 menit. Pada Soxhletasi, ekstraksi dilakukan hingga pelarut n-heksana tidak lagi membawa ekstrak. Begitu pula pada maserasi, ekstraksi dilakukan dengan dibantu pengadukan berkecepatan 200 rpm dan penggantian pelarut tiap 1 jam hingga pelarut tidak lagi membawa ekstrak. Pada perolehan yield minyak alga hasil ekstraksi yang setara, dibandingkan waktu ekstraksi dari ketiga metode ekstraksi tersebut. Semakin singkat waktu ekstraksi maka semakin efisien ekstraksi minyak alga. Minyak alga yang diperoleh selanjutnya dikarakterisasi meliputi densitas, indeks bias, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan iod. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pada yield minyak alga hasil ekstraksi yang setara (± 0,35 %), metode ekstraksi ultrasonik hanya memerlukan waktu ekstraksi 70 menit, sedangkan Soxhletasi memerlukan 5400 menit dan maserasi memerlukan 3600 menit. Dengan demikian, dari segi waktu, metode ekstraksi ultrasonik mampu meningkatkan efisiensi ekstraksi sampai 77 kali dibanding Soxhletasi dan 51 kali dibanding maserasi; (2) minyak hasil ekstraksi dari alga Spirogyra sp. mempunyai densitas 0,934 g/mL; indeks bias 1,474; bilangan asam 70,7256 mg KOH/1 g minyak; bilangan penyabunan 493,98 mg KOH/1 g minyak; dan bilangan iod 3,4153 g I2/100 g minyak.

Peningkatan kemampuan mencari ide pkok paragraf melalui pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Purwodadi 1 Kota Malang / Wisda Miftakhul Ulum

 

Kata- kata kunci : Pembelajaran Bahasa Indonesia, ide pokok paragraf, pendekatan konstruktivistik, SDN Purwodadi 1 Malang. Mencari ide pokok/kalimat utama paragraf merupakan salah satu kompetensi yang selalu ada dalam soal UASBN Bahasa Indonesia. Untuk memberikan pembelajaran mencari ide pokok paragraf lebih bermakna salah satu pilihan menggunakan pendekatan konstuktivistik. Tujuan Penelitian ini adalah 1) Mendiskripsikan implementasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran mencari ide pokok paragraf. 2) Mendiskripsikan peningkatan kemampuan siswa mencari ide pokok paragraf melalui pendekatan konstruktivistik. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Purwodadi 1 Malang. Hasil penelitian pra tindakan 28 siswa (100%) belum tuntas. Siswa yang mendapat nilai 44 sebanyak 6 anak (21,4%). Siswa yang mendapat 37 sebanyak 8 anak (28,5%). Siswa yang mendapat 30 sebanyak 14 anak (50,1%). Pada siklus I dari 28 siswa, 20 anak (71,4%) dinyatakan tuntas, yang masih belum tuntas 8 anak (28,6%). Siswa yang mendapat 31 sebanyak 1 anak, 39 sebanyak 1 anak, 53 sebanyak 1 anak, 55 sebnyak 2 anak, 57 sebanyak 1 anak, 58 sebanyak 1 anak, 60 sebanyak 2 anak, 62 sebanyak 3 anak, 67 sebanyak 2 anak, 69 sebanyak 4 anak, 71 sebanyak 1 anak, 72 sebanyak 2 anak, 74 sebanyak 1 anak, 75 sebanyak 1 anak, 78 sebanyak 2 anak, 79 sebanyak 1 anak, 95 sebanyak 1 anak, tidak hadir 1. Pada siklus II dari 28 anak, sebanyak 22 anak (78,6%) dinyatakan tuntas, yang masih belum tuntas 6 anak (21,6%. Siswa yang mendapat 90 sebanyak 4 anak, 80 sebanyak 9 anak, 70 sebanyak 6 anak, 60 sebanyak 3 anak, 50 sebanyak 3 anak, 30 sebanyak 2 anak, tidak hadir 1. Penilaian proses belajar siswa siklus I pertemuan 1 sebanyak 17 anak (60,7%) dinyatakn tuntas. Siswa yang mendapat nilai 100 sebanyak 1 anak, 95 sebanyak 1 anak, 90 sebanyak 3 anak, 85 sebanyak 3 anak, 80 sebanyak 2 anak, 75 sebanyak 3 anak, 70 sebanyak 2 anak, 60 sebanyak 2 anak, 55 sebanyak 1 anak, 50 sebanyak 5 anak, 45 sebanyak 1 anak, 40 sebanyak 3 anak, 35 sebanyak 1 anak. Pertemuan 2 sebanyak 19 anak (67,9%) dinyatakan tuntas. Siswa yang mendapat nilai 90 sebanyak 3 anak, 85 sebanyak 1 anak, 80 sebanyak 2 anak, 75 sebanyak 2 anak, 70 sebanyak 4 anak, 65 sebanyak 5 anak, 60 sebanyak 2 anak, 55 sebanyak 1 anak, 50 sebanyak 4 anak, 45 sebanyak 1 anak, 40 sebanyak 2 anak, tidak hadir 1. Pertemuan di siklus II ditemukan 24 anak (85,7%) dinyatak tuntas. Siswa yang mendapat nilai 95 sebanyak 2 anak, 90 sebanyak 3 anak, 85 sebanyak 3 anak, 80 sebanyak 1 anak, 75 sebanyak 2 anak, 70 sebanyak 1 anak, 65 sebanyak 5 anak, 60 sebanyak 7 anak, 55 sebnyak 1 anak, 50 sebanyak 2 anak, tidak hadir 1. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan konstruktivistik dapat meningkatkan hasil belajar mencari ide pokok paragraf dan kualitas proses belajar siswa kelas V SDN Purwodadi 1 Malang. Untuk penelitian yang selanjutnya disarankan mengembangkan pendekatan konstruktivistik lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan dengan memperbaiki penggunaaan media.

Pola suksesi internal pada perusahaan keluarga (studi pada tiga perusahaan keluarga etnis Jawa, Cina, dan Pendalungan di Jawa Timur) / Sentot Imam Wahjono

 

Program Studi Pendidikan Ekonomi. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, ME, (II) Prof. Dr. M. Syafi’ie Idrus, M.Ec., (III) Prof. Dr. JG. Nirbito. Kata-kata kunci: suksesi internal, perusahaan keluarga, budaya bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola yang terjadi dalam proses alih kepemimpinan antar generasi dalam perusahaan keluarga (suksesi internal). Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini menggunakan beberapa informan kunci untuk memperoleh data pada tiga perusahaan keluarga terpilih. Untuk membangun profil data yang lebih kaya, digunakan teknik wawancara mendalam dan pengamatan luar. Informan kunci adalah para pemangku kepentingan di tiga perusahaan keluarga yang mewakili masing-masing etnis Jawa, Pendalungan, dan Cina. Pola suksesi internal yang terjadi di tiga etnis Jawa, Pendalungan, dan Cina mempunyai karakter yang berbeda dikarenakan adanya perbedaan praktek budaya. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk membuat perencanaan suksesi dan/atau saat pengumuman suksesi. Temuan ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan keluarga setelah proses suksesi berlangsung. Originalitas/nilai dari penelitian ini adalah menyumbangkan pola suksesi internal yang didesain dari perusahaan keluarga dengan latar budaya Jawa, Pendalungan, dan Cina di Jawa Timur. Implikasi praktis atas penelitian ini adalah bahwa budaya lokal yang melingkupi budaya organisasi hendaknya menjadi pertimbangan utama dalam melakukan suksesi internal agar kinerja perusahaan keluarga dapat dipelihara dan ditingkatkan. Sifat hubungan yang hierarkis, tidak individualis, proaktif, memandang orang lain baik dan tidak jahat yang bersumber pada ajaran agama hendaknya dijadikan dasar bagi pembentukan budaya organisasi. Implikasi teori bagi Pendidikan Ekonomi dari hasil temuan penelitian ini adalah bahwa pendidikan ekonomi bisa berlangsung di masyarakat dan keluarga tidak hanya di sekolah saja. Pendidikan ekonomi di keluarga menjadi strategis karena keluarga merupakan tempat pengembangan yang paling baik atas tata nilai, sikap, dan perilaku ekonomis.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student team achievement divisions (STAD) dengan menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial, keterampilan proses, dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII A SMP Islam Paiton Probolinggo / Fad

 

Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, model STAD, Metode Eksperimen, Kemampuan Berinteraksi Sosial, Keterampilan Proses, dan Prestasi Belajar. Hasil observasi awal kemampuan interaksi sosial siswa masih rendah, Keterampilan Proses Siswa juga masih rendah, dan prestasi belajar fisika siswa masih rendah. Ketuntasan belajar fisika siswa hanya mencapai 37,04 %. Menurut hasil wawancara informal dengan guru fisika kelas VII A SMP Islam Paiton Probolinggo menunjukkan bahwa pembelajaran fisika masih sering dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan jarang guru melakukan praktikum maupun diskusi kelompok. Pembelajaran Model STAD memiliki empat tahap penelitian meliputi tahap presentasi kelas, studi kelompok, tes individu, dan penghargaan. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen, kemampuan berinteraksi sosial, keterampilan proses, dan prestasi belajar yang terdiri dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosial, keterampilan proses, dan prestasi belajar siswa. Pada Siklus I pencapaian indikator interaksi sosial siswa mencapai 65,01% dengan kriteria cukup baik dan pada Siklus II meningkat menjadi 77,85% dengan kriteria baik. Pencapaian indikator keterampilan proses siswa dalam aspek kognitif pada Siklus I mencapai 70,74% dengan kriteria cukup baik dan pada Siklus II meningkat menjadi 85,74% dengan kriteria baik sekali. Sedangkan dalam aspek psikomotorik pada Siklus I mencapai 64,44% dengan kriteria cukup baik meningkat menjadi 85,92% dengan kriteria baik sekali. Nilai rerata fisika siswa pada Siklus I mencapai 66,67 dengan persentase ketuntasan 59,26 % dan meningkat menjadi 71,48 dengan persentase ketuntasan 70,37 % pada Siklus II.

Implementasi model pembelajaran make a match untuk meninhkatkan keaktifan belajar IPS geografi materi atmosfer pada siswa kelas VII C di MTs Negeri Jetis Ponorogo semester genap tahun ajaran 2010/2011 / Ata Najdatul Luthfiana

 

Kata Kunci: model pembelajaran Make A Match, keaktifan belajar Berdasarkan observasi selama proses pembelajaran di kelas berlangsung pada tanggal 27 dan 29 Januari 2011 diperoleh kesimpulan bahwa keaktifan belajar siswa secara klasikal berada dalam kategori cukup dengan perolehan persentase 50,91% saja. Keberhasilan tindakan siswa secara individu dari 34 siswa seluruhnya berada dalam kategori cukup. Penyebab siswa kurang aktif selama proses pembelajaran dikarenakan model pembelajaran yang dipergunakan tidak bervariasi masih berupa metode tradisonal yaitu ceramah yang berujung pada siswa akan mudah mengalami kebosanan, tidak bersemangat yang akhirnya akan melakukan kegiatan lain di luar kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Keaktifan siswa di dalam kelas yang minim ini berdampak terhadap hasil belajar yang dicapai siswa kelas VII C, yaitu sebanyak 83% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ada di MTs Negeri Jetis yaitu 70. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan implementasi model pembelajaran Make A Match. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri Jetis pada bulan Februari 2011, dengan subjek siswa kelas VII C yang berjumlah 34 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data keaktifan belajar siswa menggunakan lembar observasi keaktifan belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I keaktifan belajar siswa telah berada dalam taraf keberhasilan baik yaitu 69,21%, sedangkan keaktifan siswa secara individu sebanyak 31 siswa sudah berada dalam kategori baik. Pada siklus II terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa sebesar 15,32% yakni dari 69,21% menjadi 79,86% dengan keaktifan siswa secara individu sebanyak 17 siswa berada dalam kategori baik dan sisanya 17 siswa berada dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan keaktifan belajar IPS geografi materi atmosfer pada siswa kelas VII C di MTs Negeri Jetis Ponorogo, sehingga disarankan kepada para guru geografi untuk mencoba menerapkan model pembelajaran Make A Match agar kualitas pembelajaran geografi semakin meningkat. Kepada pihak sekolah disarankan agar memberikan fasilitas yang menunjang keberhasilan penerapan model pembelajaran tersebut di dalam kelas.

Implementasi pembelajaran kontekstual strategi pembelajaran inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran melakukan prosedur administrasi (studi pada siswa kelas X APK di SMK Muhammadiyah 02 Malang) / Suprapti Ningsih

 

Kata Kunci : pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran inquiry, hasil belajar siswa Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Peran pendidikan yaitu untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Pemilihan strategi dalam penerapan pembelajaran juga sangat menentukan kualitas pembelajaran dalam proses belajar-mengajar di kelas. Oleh karena itu diperlukan pembaharuan dalam pendidikan, yaitu yang tidak mengharuskan siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan yang ada pada diri siswa sendiri. Dengan pembelajaran Kontekstual siswa bukan hanya mengetahui apa yang dipelajari tetapi siswa juga akan mengalami apa yang dipelajari sehingga belajar siswa lebih bermakna. Dalam strategi belajar ini siswa dituntut untuk lebih belajar mandiri dan guru hanya sebagai fasilitator. Strategi Pembelajaran Inquiry merupakan bagian atau komponen inti dari pelaksanaan pendekatan pembelajaran kontekstual. Dalam strategi ini siswa belajar menemukan sesuatu dan mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah dengan cara atau melalui pertanyaan baik kepada guru maupun kepada sesama teman. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi dan observasi di kelas X APK SMK Muhammadiyah 02 Malang, diketahui bahwa siswa cenderung pasif dalam mengikuti mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi. Selain itu interaksi belajar siswa kurang, serta siswa tidak dapat belajar mandiri yaitu dalam proses belajar-mengajar siswa hanya mencatat dan hanya sebagian kecil siswa yang berani bertanya atau menjawab pertanyaan. Hal tersebut merupakan merupakan factor yang menyebabkan guru mata pelajaran masih menggunakan pembelajaran konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran Kontekstual Strategi Pembelajaran Inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi siswa kelas X jurusan APK SMK Muhammadiyah 02 Malang. Dari hasil analisis data dan refleksi dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran Kontekstual Strategi Pembelajaran Inquiry yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai post test pada sebelum pelaksanaan pembelajaran Kontekstual pada Siklus I diperoleh rata-rata nilai 78,43 dan Siklus II diperoleh nilai rata-rata 85,77. Disamping itu indikator lain adalah siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar dan dalam menjawab pertanyaan, memberikan tanggapan, serta sanggahan. Dengan demikian hasil yang diperoleh sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan, yaitu benar bahwa pembelajaran Kontekstual Strategi Pembelajaran Inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 02 Malang.

Penerapan model pembelajaran non direktif untuk meningkatkan hasil belajar PKn kelas III MI Yaspuri Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Samsul Anam

 

Kata Kunci : Model pembelajaran, Non Direktif, Hasil belajar Hasil observasi awal di MI Yaspuri Malang ditemukan bahwa pembelajaran PKn kelas III materi norma yang ada di Masyarakat masih kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru mendominasi pembelajaran, melalui kegiatan ceramah dan mencatat. Hasil belajar siswa rata-rata 60 atau masih dibawah SKBM yang telah ditentukan oleh pihak sekolah yakni 70. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran non direktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Penerapan model pembelajaran non direktif, (2) Hasil belajar PKn siswa kelas III menggunakan model pembelajaran non direktif. Penelitian ini dilakukan di MI Yaspuri Kota Malang dengan subyek siswa kelas III sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 15 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Tanggart. meliputi (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflecting).Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dan tes. Penerapan model non direktif telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan Langkah-langkahnya, yaitu 1) menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas, 2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya 3) pengembangan pemahaman 4) perencanaan dan penentuan keputusan, 5) integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif, pada umumnya semua aspek pembelajaran mendapat skor 4 dan 3 dengan kriteria A dan B, artinya guru telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan model non direktif. Kesimpulan hasil penelitian ini pada siklus I guru dalam menerapkan model non direktif ini mendapatkan skor 38 dengan prosentase keberhasilan 86%, artinya penerapan model non direktif ini sudah dapat berjalan dengan baik, dan pada siklus II terjadi peningkatan perolehan skor oleh guru yaitu 41 dengan prosentase keberhasilan sebesar 94%, artinya terjadi peningkatan sebesar 10% dari siklus I ke siklus II. Dengan perolehan skor 41 dengan prosentase keberhasilan 94% dapat dikatakan bahwa penerapan model non direktif yang dilakukan oleh guru semakin meningkat.Hasil belajar siswa juga meningkat dari pratindakan ke akhir siklus II. Nilai rata-rata siswa pada pratindakan adalah 49,2 pada siklus I adalah 76,6 dan pada akhir siklus II adalah 83,3. Ketuntasan belajar klasikal pada pratindakan adalah 24%, pada akhir siklus I adalah 65,5% dan pada akhir siklus II adalah 93,1% siswa telah mencapai SKBM.

Peningkatan kemampuan menyimak melalui metode latihan (drill) pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang / Wirardharani Putriwibowo

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, metode latihan (drill), bahasa Indonesia, SD. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil kesusastraan manusia Indonesia. Namun, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang pada waktu pembelajaran bahasa Indonesia didapatkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih kurang optimal dalam pengembangan kemampuan aspek berbahasa siswa, dan terlebih siswa kurang dapat menangkap materi pembelajaran dengan baik. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil pre tes pada pra tindakan menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa masih minim, disamping itu sedikitnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran membuat siswa kurang aktif serta tanggap dalam pembelajaran, terlebih dimana dalam pembelajaran bahasa Indonesia idealnya diajarkan dengan mencakup keseluruhan aspek berbahasa seperti menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dari data observasi siswa yang didapat pada pra tindakan menunjukkan rata-rata hasil evalusi siswa hanya mencapai 63,75 dengan ketuntasan klasikal sebesar 31,25 %.Untuk itu agar dapat meningkatkan kemampuan siswa pada aspek bahasa terutama menyimak perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode latihan (drill), dengan memperhitungkan keruntutan (sequence) pada saat pembelajaran berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pengimplementasian metode latihan (drill) untuk meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas IV SDN Jatimulyo1 Kota Malang dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyimak melalui metode latihan (drill) pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui peningkatan kemampuan menyimak siswa melalui metode latihan (drill ) pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang pada materi menyampaikan kembali pengumuman, dapat dilaksanakan dengan efektif. Kemampuan menyimak siswa yang diukur lewat lembar penilaian menyimak siswa meningkat dari 60,41 pada awal siklus I menjadi 75,52 pada akhir siklus II. Hasil evaluasi belajar juga meningkat dari rata-rata 63,75 dan ketuntasan kelas 31,25% sebelum tindakan menjadi rata-rata 85,62 dan ketuntasan kelas mencapai 81,25% pada akhir siklus II selain itu kemampuan menyimak siswa dengan yang diukur dengan lembar pengamatan pembelajaran melalui metode latihan (drill) pada siklus I yang hanya 83,33 meningkat menjadi 95,83 pada akhir siklus II. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa metode latihan (drill) dapat meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang.

Rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah / Willy Bayu Erlangga

 

Kata Kunci: Timbangan Digital, Sensor, Mikrokontroler, LCD. Penggunaan timbangan mulai dari timbangan jenis konvensional, digital sampai pada jenis timbangan dinamis. Timbangan digital merupakan salah satu jenis timbangan yang memiliki nilai keakuarasian lebih tinggi dari pada jenis timbangan konvensional (mekanik). Dalam rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah ini, diperlukan beberapa perangkat diantaranya ialah perangkat keras dan perangkat lunak. Perancangan dan pembuatan sistem perangkat keras meliputi 5 unit rangkaian elektronik, yaitu meliputi perancangan rangkaian sensor berat (Load Cell), dengan berat maksimal 5kg rangkaian minimum sistem mikrokontroler Atmega16, dan rangkaian LCD, dan keypad. Sedangkan perancangan untuk perangkat lunak meliputi pemrograman bahasa C (codevivsion AVR). Dalam rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah, didapatkan hasil pengujian yang menunjukkan karakteristik sensor ketika diberi beban mulai dari 0,5kg – 5kg bersifat linier. Maksud dari sifat liner adalah perubahan keluaran sensor yang konstan terhadap beban yang diberikan. Pada hasil pengujian didapatkan error sebesar 1,2%, dan memilki ketelitian penimbangan 100/gram. Dari rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah didapatkan bahwa harga satuan buah dapat diubah mulai dari Rp.0000 – Rp.9999. Harga akumulasi merupakan perkalian dari berat buah terhadap harga satuan. Sedangkan untuk kerja dari sensor berat dapat bekerja sesuai dengan karakteristik kerja dari 0kg-5kg. Dari hasil pengujian dan analisis didapatkan bahwa timbangan digital dengan pemilihan jenis buah dapat bekerja dengan baik, ketika diberi masukkan tegangan 5VDC, dan Keluaran sinyal listrik dari sensor akan mengalami kenaikan apabila mendapatkan beban dan akan mengalami penurunan apabila beban dikurangi.

Pengembangan multimedia pelajaran matematika bangun datar untuk kelas VII SMPN 13 Malang / Feri Norsyati

 

Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia, Matematika Bangun Datar Pengembangan multimedia untuk matematika bangun datar ini merupakan media yang dapat membuat siswa termotivasi dalam belajar secara klasikal. Pada kondisi nyata pembelajaran matematika di SMPN 13 Malang yang memiliki laboratorium matematika dengan fasilitas yang mendukung seperti LCD, TV, VCD, komputer dll namun pemanfaatannya belum maksimal untuk pembelajaran maka dengan adanya media pembelajaran ini dapat membuat pembelajaran matematika menjadi menarik dan menjadi tambahan koleksi di laboratorium matematika. Selain itu proses belajar mengajar sering terjadi di dalam kelas dengan sumber dari buku dan LKS maka diharapkan dengan adanya media ini maka dapat membuat pembelajaran matematika lebih bervariasi dan dapat menjadi media yang menarik bagi siswa. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan suatu produk yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di SMPN 13 Malang dan memvalidasi media yang berupa pengembangan multimedia matematika bangun datar di SMPN 13 Malang. Subyek uji coba dalam pengembangan ini adalah siswa SMPN 13 Malang kelas VII semester 2 kelas VII D dengan jumlah siswa sebanyak 38 siswa. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif bersumber dari angket yang diisi oleh ahli media, ahli materi dan audien sedangkan kuantitaif bersumber dari pre test dan post test yang diberikan kepada siswa. Hasil dari pengembangan ini berupa CD pembelajaran matematika bangun datar. Multimedia ini divalidasikan kepada ahli media, ahli materi dan audien. Adapun hasil uji coba yang telah dilakukan yaitu (1) ahli media didapatkan skor persentase sebesar 92,5% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid (2) ahli materi didapatkan skor persentase sebesar 90% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid (3) uji coba perseorangan didapatkan skor persentase sebesar 78,3% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid (4) uji coba kelompok kecil didapatkan skor persentase sebesar 74% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan valid (5) uji coba lapangan didapatkan skor persentase sebesar 76% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid. Pada data hasil pre test dan post test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar terlihat dengan adanya skor rata-rata pre test 65 sedangkan skor rata-rata post test 90, untuk data hasil belajar kelompok kecil skor rata-rata pre test 68 sedangkan skor rata-rata post test 88 dan untuk data hasil belajar lapangan skor rata-rata pre test 67 sedangkan skor rata-rata post test 87. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa yang belajar dengan menggunakan multimedia pelajaran matematika bangun datar hasil belajarnya lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa sebelum menggunakan multimedia tersebut. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah multimedia pelajaran matematika bangun datar yang dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Saran pengembangan ini adalah (1) bagi sekolah, dengan adanya CD multimedia ini diharapkan dapat dijadikan masukan untuk memperbanyak media multimedia sehingga dapat menunjang proses pembelajaran (2) bagi guru, pada saat guru memanfaatkan multimedia ini guru harus mempelajari petunjuk pemanfaatan dan melaksanakannya sesuai dengan petunjuk agar pemanfaatan dapat berjalan dengan lancar (3) bagi siswa, saat melihat tayangan hendaknya disertai dengan membuka buku yang berkaitan dengan materi sehingga apa yang dilihat dapat disesuaikan dengan materi yang ada dibuku (4) bagi pengembang selanjutnya, lebih memperhatikan pemilihan materi, pemilihan software yang digunakan, komposisi warna dan gambar, dan animasi agar dapat menghasilkan media yang layak untuk disajikan.

Analisis anggaran pendapatan jasa pelayanan dalam upaya perencanaan dan pengendalian pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang / Lissa Bela Candra Adi Putri

 

Kata Kunci : analisis anggaran pendapatan jasa, perencanaan dan pengendalian. Anggaran adalah suatu hal yang sangat penting bagi operasional perusahaan, karena melalui anggaran perusahaan dapat memperkirakan besarnya penerimaan dan pengeluaran yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Terkait dengan hal tersebut, pihak manajer perlu mempersiapkan anggaran secara komprehensif berupa pendapatan dan biaya. Untuk menyusun anggaran yang baik, diperlukan teknik-teknik forecast sehingga penyusunan anggaran tesebut sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui anggaran pendapatan jasa pelayanan serta untuk mengetahui perkembangan pendapatan jasa pelayanan pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 dengan menggunakan metode trend moment. Disamping itu, penulisan ini untuk mengetahui peranan anggaran sebagai alat perencanaan dan pengendalian pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data laporan tugas akhir ini adalah Studi Pustaka dan Studi Lapangan sedangkan teknik yang digunakan adalah Wawancara atau Interview dan Dokumentasi atau Documentation. Metode dan teknik pemecahan masalah yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif yaitu dengan menggunakan metode trend moment untuk menghitung proyeksi pendapatan jasa untuk tahun yang akan datang dan analisis selisih (varians) dilakukan untuk mengetahui penyimpangan yang terjadi antara realisasi dan anggaran yang telah ditetapkan dalam upaya perencanaan dan pengendalian perusahaan. Hasil analisis ini adalah penyusunan anggaran pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang dirasa kurang efektif sebagai alat perencanaan dan pengendalian karena terdapat varians yang sangat besar terhadap realisasi pendapatan jasa. Hal ini disebabkan karena penyusunan target yang ditetapkan terlalu tinggi, perusahaan hanya menggunakan perkiraan tanpa memperhatikan realisasi tahun sebelumnya atau teknik-teknik dalam forecast dan ketidakefektifan kinerja perusahaan akibat keluarnya beberapa karyawan yang bergerak di bidang pemasaran. Karena itu, untuk tahun selanjutnya sebaiknya PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang dalam menentukan target pendapatan jasa juga harus memperhatikan teknik-teknik dalam forecast misalnya saja dengan menggunakan metode trend moment serta tanpa meninggalkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada agar hasil atau target yang dibuat mendekati realisasi pendapatan jasa.

Penggunaan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik untuk meningkatkan kemahiran menulis bahasa Arab siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang / Ita Maurina Islami

 

Kata Kunci: Kalimat tanya (5W+1H), gambar tematik, kemahiran menulis. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangatlah penting untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, sehingga hasil yang diperolehnya pun akan meningkat. Penggunaan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik adalah salah satu model pembelajaran menulis bahasa Arab yang menggunakan media gambar tematik. Gambar tematik merupakan gambar tunggal yang mempunyai tema tertentu yang terdiri atas unsur-unsur yang berkaitan dengan gambar dan berukuran besar. Kalimat tanya (5W+1H) yang terdiri atas madza, man, aina, mata, limadza dan kaifa berfungsi untuk mendorong dan mengarahkan siswa untuk berfikir dan mengungkapkan idenya dalam bentuk tulisan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang dan mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kulitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan non tes. Teknik tes dilakukan melalui pre tes, post tes siklus I, dan post tes siklus II, sedangkan teknik non tes dilakukan dengan wawancara, penyebaran angket, observasi dan dokumentasi.Untuk melakukan analisis hasil validasi temuan, peneliti melakukan pengumpulan dan pengecekan data, mereduksi data, menyajikan data dan menyimpulkan data. Penelitian ini dilakukan dua siklus dengan dua kali pertemuan dalam tiap siklusnya, yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pertemuan pertama untuk pembelajaran qira'ah dan pengedrillan kosa kata sedangkan pertemuan kedua untuk pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik. Pembelajaran menulis dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik pada siklus I sudah mulai tampak antusiasme siswa dalam belajar. Disisi lain, sebaiknya guru terlebih dahulu mengedrillkan kosa kata yang berhubungan dengan tema materi, agar siswa tidak menanyakan secara terus menerus mufrodat yang akan mereka tulis. Hasil pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang meningkat, hal ini terlihat pada hasil pos tes siklus I yang menunjukkan jumlah skor rata-rata nilai 70 dengan 54% siswa dikategorikan tuntas dan 46% belum mencapai nilai standar. Penerapan pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik pada siklus II siswa sudah berani mengungkapkan dan mengembangkan idenya dalam tulisan sehingga hasilnya pun memuaskan, hal ini dapat pada pos tes silkus II jumlah skor rata-rata nilai 79 dengan 75% siswa dikategorikan tuntas dan 25% siswa dikategorikan belum tuntas sedangkan standar ketuntasan minimal (SKM) yang yang digunakan 75. Oleh karena itu, disarankan kepada guru bahasa Arab untuk menerapkan dan mengembangkan pembelajaran berbasis media gambar sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil pembelajaran menulis bahasa Arab siswa. Agar peneliti lain untuk mengembangkan dan memperluas cakupan penelitian dengan subjek yang berbeda dan paparan yang lebih luas dan lebih baik.

Penerapan model pembelajaran advance organizer untuk meningkatkan proses dan hasil belajar pembelajaran PKn pada siswa kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Titik Puspitasari

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Advance Organizer, Proses dan Hasil Belajar . Berdasarkan observasi awal di SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan rata-rata prestasi belajar siswa kelas V untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah 67 , nilai tersebut masih di bawah SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan adalah 70. Dengan mempelajari pendapat peneliti terdahulu yang melakukan penerapan model pembelajaran Advance organizer dalam Penelitian Tindakan Kelas ternyata dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan pada akhirnya juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan yang diharapkan dari penelitian adalah:1) Mendiskripsikan peningkatan proses pembelajaran PKn pada siswa kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan setelah menerapkan model pembelajaran Advance Organizer. 2) Mendiskripsikan peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan setelah menerapkan model pembelajaran Advance Organizer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). yang dikembangkan oleh Kemmis dam Mc Tanggart.meliputi empat jalur (langkah), yaitu: 1) Planning/perencanaan; 2) acting/ tindakan , 3) observing/pengamatan; 4) reflecting /perefleksian.Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan sebanyak 29 siswa. Teknik pengumpulan data akan dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Advance organizer dapat meningkatkan proses dan hasil belajar Siswa Kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Hal tersebut terbukti pada pra tindakan nilai rata – rata 64,8 pada siklus I hasil nilai rata-rata meningkat 73,8 dan pada siklus II rata-rata 80. Berdasarkan lembar observasi kegiatan siswa dan guru memperoleh skor 75 % dengan kategori cukup, pada siklus berikutnya meningkat 95,8 % dengan kategori A. Untuk lebih meningkatkan aktivitas siswa, diharapkan dalam penerapan Model pembelajaran Advance organizer divariasikan atau disertai dengan penggunaan metode-metode pembelajaran yang lainnya yang berorientasi pada aktivitas siswa. Contohnya penggunaan model pembelajaran Advance organizer dipadukan dengan metode discovery.

Pengaruh persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia terhadap minat belajarnya / Irma Kurniawati

 

Kata kunci: persepsi, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), minat belajar Persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia adalah proses penilaian atau cara pandang siswa mengenai keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah mereka yang meliputi persepsi tentang sikap dan praktik mengajar guru PPL di dalam kelas. Minat belajar siswa merupakan keseluruhan daya pendorong atau penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi tercapainya suatu tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia, (2) persepsi siswa tentang cara mengajar guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia, (3) persepsi siswa tentang sikap guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia, (4) minat belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia setelah menerima pelajaran dari guru PPL, (3) pengaruh persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner (angket). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah stratified random sampling dengan jumlah sampel 400 responden. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia berpengaruh terhadap minat belajarnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai R Squere ke empat sekolah yang menunjukkan angka 0.285 artinya hubungan kedua variabel tersebut sebesar 28,5%, dimana hubungan kedua variabel tersebut relatif rendah/tidak terlalu kuat. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) pihak-pihak sekolah hendaknya lebih membimbing dan membina guru-guru PPL, karena hal tersebut berpengaruh pada minat belajar siswa, (2) mahasiswa (guru PPL) hendaknya meningkatkan kemampuan mengajar dan faktor-faktor lainnya agar siswa lebih berminat untuk belajar dan tidak cepat merasa jenuh dengan mata pelajaran yang dihadapinya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan (3) bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian sejenis, hendaknya hasil penelitian ini lebih dikembangkan mengingat keterbatasan penelitian, dengan mengembangkan indikator dan teknik pengumpulan data sehingga variabel-variabel dapat diukur lebih luas. Akan lebih baik pula jika pengumpulan data kuesioner dikombinasikan dengan teknik wawancara atau observasi.

Penerapan model TSTS untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Bandungrejosari 1 Kota Malang / Zulfa Nur Urida

 

Kata kunci: Model TSTS (Two Stay Two Stray), pembelajaran, IPA Berdasarkan hasil observasi dilakukan oleh peneliti pada kelas 5B SDN Bandungrejosari 1 Kota Malang pada waktu pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih berpusat pada guru dan masih menggunakan cara konvensional, sehingga siswa mengalami kebosanan dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Dari nilai siswa pada materi sistem pencernaan manusia menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 55 dengan ketuntasan kelas 12,5%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keaktivan dan hasil belajar siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model TSTS (Two Stay Two Stray). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model TSTS, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa melalui penggunaan model TSTS, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model TSTS. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5B SDN Bandungrejosari 1 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model TSTS untuk pembelajaran IPA siswa kelas 5B SDN Bandungrejosari 1 dengan standar kompetensi "Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model" dapat dilaksanakan sesuai dengan langkah model TSTS. Penerapan model TSTS oleh guru mendapat nilai rata-rata 82,5 pada siklus I dan meningkat menjadi 93,5 pada siklus II. Aktivitas siswa pada pembelajaran dengan penerapan model TSTS meningkat dari 51,5 pada awal siklus I menjadi 79,8 pada akhir siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 55 dan ketuntasan kelas 12,5% sebelum tindakan menjadi rata-rata 82,2 dan ketuntasan kelas mencapai 80% pada akhir siklus II.

Penerapan model quantum teaching untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Kota Malang / Murti Yuni Wulandari

 

Kata Kunci : model quantum teaching, Ilmu Pengetahuan Sosial, aktivitas belajar, hasil belajar. Berdasarkan fakta yang ditemukan peneliti terdapat pemasalahan yang terjadi di kelas IVA SDN Ketawanggede I Kota Malang dalam aktivitas dan hasil belajar pada siswa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas IV di SDN Ketawanggede I Kota Malang, menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih mengandalkan guru sepenuhnya atau masih teacher centered. Guru lebih sering menggunakan ceramah dalam kegiatan belajarnya. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) mendeskripsikan penerapan model quantum teaching pada mata pelajaran IPS siswa kelas IVA di SDN Ketawanggede I Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa kelas IVA pada mata pelajaran IPS melalui penerapan model quantum teaching, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IVA pada mata pelajaran IPS melalui model quantum teaching. Penelitian ini menggunakan desain PTK yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu: (1) planning (perencanaan), (2) acting and observing (tindakan dan pengamatan), (3) reflecting (refleksi), dan (4) revise plan (perbaikan rencana). Pelaksanaan siklus II sama dengan siklus I yang terdiri atas 4 (empat) tahapan. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil yaitu: (1) Melalui penerapan model quantum teaching dalam pembelajaran IPS dikelas IVA siswa lebih aktif dan tidak bosan dalam belajar IPS, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II diperoleh rata-rata aktivitas belajar pada siklus I sebesar 45,61%, siklus II 90,26% (3) peningkatan hasil belajar siswa diperoleh perolehan skor rata-rata postes siswa yang meningkat secara bertahap, dari rata-rata sebelum tindakan 53,08 (3,85%) menjadi 72,48 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 46,15% dan meningkat lagi menjadi 85,02 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 86,54% pada siklus II. Pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal diatas 75%. Berdasarkan penelitian ini disarankan bagi: (1) guru diharapkan dapat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran seperti penggunaan model pembelajaran dan mengkombinasikannya dengan beberapa metode pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) penelitian lanjutan semoga dapat mengembangkan penelitian tentang pembelajaran model quantum teaching serta memperbaiki keterbatasan penelitian ini seperti halnya guru agak sulit mengendalikan keramaian anak pada saat proses pembelajaran serta kesulitan mengalokasikan waktu, maka pada penelitian lanjutan untuk menerapkan model quantum teaching dengan menggunakan team teaching

Peningkatan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Bandungrejosari 1 Malang dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw / Jauharotul Mufidah

 

Kata kunci: Model Kooperatif jigsaw, hasil belajar, keaktifan, IPA, SD. Model kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan interaksi sosial antar siswa dan juga dapat melatih rasa tanggung jawab siswa, karena disini siswa dituntut untuk bisa memahamkan temannya mengenai materi yang telah dipelajarinya. Dengan begitu, kualitas pembelajaran akan dapat meningkat. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas 5 SDN Bandungrejosari 1 Malang pada waktu pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi, siswa terlihat kurang aktif dan banyak yang mengantuk. Dari nilai siswa pada materi bahan penyusun benda menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 55,35 dengan ketuntasan kelas 30%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65.00 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, (2) mendeskripsikan peningkatan keaktifan siswa melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif.Subjek penelitian adalah siswa kelas 5A SDN Bandungrejosari 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk pembelajaran IPA siswa kelas 5A SDN Bandungrejosari 1 dengan standar kompetensi “Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model” dapat dilaksanakan dengan efektif. Keaktifan siswa meningkat dari 49,45 pada awal siklus I menjadi 77,49 pada akhir siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 55,35 dan ketuntasan kelas 30% sebelum tindakan menjadi rata-rata 71,90 dan ketuntasan kelas mencapai 65% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melakukan model pembelajaran kooperatif jigsaw, sebaiknya guru melakukan persiapan yang matang dalam pembagian kelompok ahli maupun kelompok asal untuk menghindari kekacauan dalam pengorganisasian kelompok, guru dapat menggunakan stiker penanda kelompok baik dalam kelompok ahli maupun pada kelompok asalnya agar tidak terjadi kebingungan pada siswa saat harus berkumpul ke kelompok ahli maupun kembali ke kelompok asal.dan tidak terlalu banyak dalam membagi anggota dalam kelompok (4-6 siswa).

Pengembangan virtual praktikum IPA berbasis inquiry terbimbing kelas VII semester II di SMPN 1 Suruh Kab. Trenggalek / Dwi Hertanti

 

Kata Kunci: Pengembangan, Virtual praktikum, Inquiry Terbimbing, Ilmu Pengetahuan Alam Virtual Praktikum merupakan kegiatan praktikum yang dilakukan seperti sesungguhnya. Virtual Praktikum dilakukan di komputer bukan di laboratorium yang sebenarnya. Virtual Praktikum ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam penggunaannya, praktikum yang tersaji dalam media ini berbasis inquiry terbimbing. Praktikum berbasis inquiry terbimbing merupakan kegiatan praktikum yang diarahkan untuk memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan percobaan. Praktikum ini memerlukan bimbingan selangkah demi selangkah.serta bantuan untuk mengembangkan pengetahuan baru. Pada pengembangan ini, penulis mengambil subyek penelitian kelas VII dan mengambil salah satu kelas yaitu kelas VIIE. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal di SMPN 1 Suruh, proses pembelajaran masih dilakukan secara konvensional. Laboratorium IPA juga belum berfungsi secara optimal sehingga siswa tidak pernah melakukan kegiatan praktikum. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan kegiatan praktikum yang berupa virtual praktikum IPA yang didesain dalam bentuk CD Interaktif. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk berupa virtual praktikum IPA berbasis inquiry terbimbing untuk SMP kelas VII semester II sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SMPN 1 Suruh Kabupaten Trenggalek kelas VII semester II. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari validasi ahli media, ahli materi dan audiens/ siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Terdapat petunjuk guru dan siswa. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa virtual praktikum IPA yang dikemas dalam bentuk CD interaktif kelas VII Semester II . Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan audiens/ siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) Ahli media, didapatkan skor persentase sebesar 88,75% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 2) Ahli materi, didapatkan skor presentase 80 % berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid , 3) Uji Coba perseorangan, didapatkan skor persentase sebesar 85% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 4) Uji Coba kelompok kecil, didapatkan skor persentase sebesar 82,5% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 5) Uji Coba lapangan, didapatkan skor persentase sebesar 82,5% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 6) Data hasil pre-test dan post-test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 16,6 dengan peningkatan nilai terendah 0 dan tertinggi 40. Data hasil pre-test dan post-test kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 8 dengan peningkatan nilai terendah 0 dan tertinggi 20. Data hasil pre-test dan post-test lapangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 10 dengan peningkatan nilai terendah 0 dan tertinggi 40. Dengan demikian menurut kriteria kelayakan virtual praktikum IPA yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran Kesimpulan dari pengembangan ini adalah virtual praktikum IPA yang dikembangkan termasuk valid digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: 1) Bagi Kepala Sekolah, dengan adanya virtual praktikum IPA ini diharapkan dijadikan masukan untuk lebih mengoptimalkan sarana dan prasarana laboratorium IPA untuk menunjang proses pembelajaran IPA 2) Bagi Guru, diharapkan mampu menguasai teknik pembuatan sehingga guru mampu untuk memproduksi sendiri virtual praktikum IPA tersebut 3) Bagi siswa, siswa harus mempunyai keterampilan dasar dalam pengoperasian komputer dan beberapa kemampuan dan keterampilan lainnya untuk mendukung penggunaan media virtual praktikum IPA ini 4) Bagi pengembang selanjutnya, virtual Praktikum IPA ini hendaknya dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dalam Pengembangan virtual praktikum IPA perlu ada perbaikan dalam hal petunjuk untuk user lebih diperjelas dan belum ada profil pembuat program, tetapi secara keseluruhan visualnya sudah cukup baik.

Bersih desa dalam tradisi masyarakat Osing di kawasan Banyuwangi kajian etnografi / Novia Nurlatifasari

 

Kata Kunci: bersih desa, masyarakat Osing, kajian etnografi Bersih desa merupakan salah satu tradisi turun temurun kebudayaan masyarakat Osing. Kegiatan bersih desa digunakan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup kondisi Desa Kemiren dan Desa Alasmalang sebagai konteks daerah penelitian, latar belakang (history) bersih desa, perbedaan dan persamaan bersih desa, dan hubungan bersih desa dengan upaya kebersihan lingkungan alam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data penelitian berupa paparan wawancara dan temuan observasi dalam bentuk kata-kata audio, dan visual. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar observasi, format catatan lapangan, daftar wawancara, dan daftar dokumen. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data, member-check, dan ketekunan pengamatan. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan, yaitu: Pertama, bersih desa dilaksanakan di setiap daerah yang memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Bagian Utara yaitu Desa Kemiren berupa daerah yang subur dan cocok untuk daerah pertanian. Sedangkan bagian Barat yaitu Desa Alasmalang berupa daerah yang subur pula dan cocok untuk pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan. Kedua, setiap bersih desa mempunyai latar belakang (history) yang berbeda sesuai dengan simbol media bersih desa yang dilaksanakan dalam kawasan masyarakat Osing. Bertujuan untuk menghormati atau membantu mengirim do'a untuk penjaga desa yang tidak nyata. Untuk rasa syukur kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama ini dan sebagai ritual tolak bala agar terhindar dari mara bahaya. Ketiga, setiap bersih desa di berbagai daerah yang berbeda mempunyai persamaan dan perbedaan. Perbedaan tersebut antara lain dikarenakan faktor kondisi fisik, atraksi yang ditampilkan, pengakuan desa adat oleh pemerintah, penggunaan symbol yang digunakan sebagai media dalam bersih desa, dan waktu pelaksanaannya. Sedangkan persamaannya antara lain setiap bersih desa yang ada mendapatkan dukungan sepenuhnya oleh pemerintah, tujuan yang sama dari kegiatan bersih desa, dan bersih desa di masyarakat etnik osing seluruhnya menggunakan tumpeng, kesenian barong, dan tarian gandrung. Keempat, bersih desa mempunyai hubungan dengan upaya kebersihan lingkungan alam. Melalui pola-pola kebudayaan ini manusia menafsirkan lingkungan alam dengan seluruh isinya, sebagai wujud bersatunya manusia dengan alam. Kerja bakti dengan seluruh warga dalam salah satu kegiatan bersih desa merupakan contoh salah satu upaya yang harus dilakukan.

Penggunaan flash card untuk meningkatkan hasil belajar mufrodat siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Al-Ma'arif 02 Singosari Malang / Alfa Himmatul Khoiriyyah

 

Kata Kunci: flash card, hasil belajar, mufrodat, MI Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pada kenyataan di lapangan, penggunaan media masih sering terabaikan disebabkan beberapa hal seperti terbatasnya waktu untuk membuat persiapan, tidak tersedianya biaya, dan lain sebagainya. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru/fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran. Oleh karena itu, guru/fasilitator diupayakan menggunakan beberapa media untuk meningkatkan minat serta hasil belajar peserta didik. Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah flash card. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan flash card dalam pembelajaran mufrodat pada siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah al-Ma’arif 02 Singosari Malang, dan (2) penggunaan flash card berpengaruh pada hasil belajar mufrodat siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah al-Ma’arif 02 Singosari Malang. Penelitian ini dilakukan di MI Al-ma’arif 02 Singosari Malang, tanggal 19 Oktober sampai 30 Nopember 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, yang dilakukan melalui tiga siklus dan terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II MI A 02 Singosari. Adapun instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen penunjangnya berupa lembar observasi tingkat penguasaan tindakan guru dalam menerapkan flash card, lembar tingkat responsif siswa, catatan lapangan, dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media flash card dalam pembelajaran mufrodat bahasa Arab dapat meningkatkan hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan. Nilai rata-rata kelas yang dicapai pada siklus I sebesar 79,23, nilai rata-rata kelas yang dicapai pada siklus II sebesar 91,3, dan nilai rata-rata kelas yang dicapai pada siklus III adalah sebesar 97,5. Nilai rata-rata tersebut selalu meningkat pada tiap siklus dan tergolong sangat memuaskan dibandingkan dengan nilai rata-rata sebelum tindakan (sebelum penggunaan flash card). Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disarankan kepada pihak madrasah untuk menjadikan flash card sebagai media dalam pembelajaran bahasa Arab, terutama pada pembelajaran mufrodat bahasa Arab siswa kelas I-III. Metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab hendaknya lebih bervariasi agar siswa tidak mudah bosan dan jenuh dengan pembelajaran bahasa Arab. Adapun saran bagi penelitian lanjutan yang serupa adalah hendaknya menggunakan semua jenis flash card, yaitu kartu gambar, kartu kata, dan kartu kata dan gambar sebagai media pembelajaran mufrodat bahasa Arab agar media yang digunakan dalam proses pembelajaran lebih bervariasi.

Pengembangan instrumen asesmen berpikir kritis dalam pebelajaran kimia pada materi laju reaksi untuk siswa SMA kelas XI / Lailatul Badria

 

Badria, Lailatul. 2014. Pengembangan Instrumen Asesmen Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Kimia pada Materi Laju Reaksi untuk Siswa SMA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D, (2) Drs. Prayitno, M.Pd. Kata kunci: Berpikir kritis, instrumen asesmen, laju reaksi     Pengembangan atau peningkatan kemampuan berpikir kritis telah menjadi salah satu tujuan utama dan dimensi penting dalam pendidikan termasuk pendidikan sains. Berpikir kritis ini penting untuk dikembangkan dalam pembelajaran terutama pembelajaran kimia. Namun, fakta di lapangan masih banyak ditemukan pembelajaran yang tidak menekankan pada keterampilan berpikir kritis melainkan pembelajaran masih cenderung mengkondisikan siswa dalam belajar menghafal (rote learning), dimana siswa masih menyerap informasi secara pasif dan mengingat kembali informasi tersebut saat ujian atau tes. Selain itu, pengukuran keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran kimia juga masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan suatu instrumen asesmen yang dapat melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen berpikir kritis atau instrumen yang membutuhkan berpikir kritis untuk memecahkannya dan memperoleh instrumen asesmen dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang memadai.     Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini mengacu pada lima tahap pertama dari model research and development menurut Borg dan Gall yaitu penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan draf produk, uji produk awal (uji terbatas) dan revisi hasil uji coba. Draf produk yang dihasilkan divalidasi isi dan divalidasi konstruk untuk mengetahui tingkat kelayakan produk dan kesesuaian instrumen dengan aspek berpikir kritis sebelum dilakukan uji coba terbatas kepada siswa SMA kelas XI. Berdasarkan hasil uji coba terbatas dapat diketahui tingkat validitas butir soal dan reliabilitas. Berdasarkan hasil validasi isi oleh tiga dosen dan tiga guru kimia diperoleh nilai rata-rata sebesar 81,55% dengan kriteria sangat layak dan dari hasil validasi konstruk diketahui bahwa instrumen asesmen yang dikembangkan sudah sesuai dengan aspek berpikir kritis. Sedangkan dari hasil uji coba terbatas dan analisis butir soal diperoleh 20 soal valid pilihan ganda dan 11 soal valid untuk uraian dengan kriteria reliabilitas tinggi. Oleh karena itu, instrumen asesmen berpikir kritis pada materi laju reaksi ini layak diterapkan dalam pembelajaran untuk menilai dan mengukur tingkat keterampilan berpikir siswa.

Pembelajaran konseptual da prosedural untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar / Lely Mayasari

 

Kata kunci: konsep, prosedur, perkalian bersusun. Kenyataan di lapangan, siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar memiliki pemahaman konsep perkalian dan prosedur pengerjaan perkalian bersusun yang rendah. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimana penerapan pelaksanaan pembelajaran konseptual dan prosedural untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun pada siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar? 2) Apakah pembelajaran konseptual dan prosedural dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV dalam menyelesaikan perkalian bersusun di SDN Tumpang 02 Blitar? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran perkalian bersusun melalui pembelajaran konseptual dan prosedural dapat meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun siswa kelas IV SDN Tumpang 02 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan 59, siklus I 73, dan siklus II 86 . Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 31%, siklus I sebesar 65%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran perkalian bersusun melalui pembelajaran konseptual dan prosedural dapat meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan dan memahami pembelajaran konseptual dan prosedural sebagai salah satu pertimbangan untuk membelajarkan dan memotivasi siswa dalam memberikan konsep-konsep dan prosedur matematika, karena kedua hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika

Peningkatan keterampilan menulis puisi melalui model mind mapping siswa kelas V SDN Pojok 02 Kabupaten Blitar / Reffy Yhanna

 

Kata kunci: keterampilan menulis, puisi, mind mapping. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model mind mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas V SDN Pojok 02 kabupaten Blitar, dan mendeskripsikan hasil peningkatan keteram-pilan menulis puisi melalui model mind mapping pada siswa kelas V SDN Pojok 02 kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian ini adalah 27 siswa kelas V SDN Pojok 02. Instrumen penelitian ini meliputi dokumentasi, lembar observasi, dan lembar tes. Pendekatan penelitian yang digu-nakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan, dengan tahapan penelitian meliputi peren-canaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model mind mapping dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis puisi antara lain, nilai rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 68, dan siklus II sebesar 86. Sedangkan hasil keterampilan menulis puisi siswa meningkat ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratinda-kan 65, siklus I 73, dan siklus II 87. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 30%, siklus I sebesar 70%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru menerapkan model mind mapping untuk materi pelajaran yang lain agar siswa senang dalam mengikuti pembelajaran. Guru hendaknya menciptakan pembelajaran yang inovatif agar hasil belajar siswa dapat meningkat. Bagi siswa disarankan agar aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dan selalu berlatih menulis terutama menulis puisi.

Korelasi antara kemampuan membaca pemahaman dengan ketepatan menjawab perintah soal cerita siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang / Angga Dewi Safitri

 

Kata Kunci: membaca pemahaman, soal cerita, siswa sekolah dasar Keterampilan membaca mutlak dimiliki siswa karena keterampilan membaca besar manfaatnya untuk mempelajari bidang studi lain. Dalam membaca terkandung prinsip yaitu memahami inti yang dibaca atau menemukan isi bacaan. Hal ini sesuai dengan salah satu komponen pembelajaran di SD khususnya tingkat tinggi (kelas IV-VI) yaitu membaca pemahaman. Kemampuan membaca pemahaman adalah kesanggupan siswa untuk memahami suatu bacaan yang meliputi kesanggupan memahami makna kata, makna kalimat, isi pokok paragraf, dan isi bacaan. Kemampuan membaca pemahaman bermanfaat pada Mata Pelajaran Matematika, khususnya soal cerita yang disajikan dalam bentuk kalimat-kalimat verbal dan menanyakan kuantitas-kuantitas tertentu. Untuk itu diperlukan kemampuan memahami bacaan dari soal cerita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) tingkat kemampuan siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang dalam memahami bacaan, (2) tingkat ketepatan siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang dalam menjawab perintah soal cerita, dan (3) ada tidaknya hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan ketepatan menjawab perintah soal cerita siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa SDN Bareng 3 Malang yang berjumlah 90 orang dan semuanya diteliti, sehingga disebut sampel total. Data dikumpulkan menggunakan tes tulis untuk mengungkap tingkat kemampuan membaca pemahaman dan ketepatan dalam menjawab perintah soal cerita siswa. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan korelasional yang menggunakan teknik korelasi product moment. Instrumen sebelum digunakan untuk mengumpulkan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil analisis validitas dan reliabilitas semua soal dinyatakan valid dan reliabel. Hasil analisis deskriptif terhadap kemampuan membaca pemahaman menunjukkan rata-rata sebesar 75,40, dengan 38 siswa nilainya di bawah rata-rata dan 52 siswa nilainya di atas rata-rata. Nilai minimum membaca pemahaman siswa sebesar 54, sedangkan nilai maksimum sebesar 92. Sedangkan untuk menjawab perintah soal cerita menunjukkan rata-rata sebesar 71,57, dengan 41 siswa nilainya di bawah rata-rata dan 49 siswa nilainya di atas rata-rata. Nilai minimum menjawab perintah soal cerita sebesar 52,14, sedangkan nilai maksimum sebesar 90. Analisis korelasi dengan jumlah 90 siswa dan taraf signifikansi 1% menunjukkan rhitung > rtabel (0,908 > 0,270). Menurut ketentuan tabel nilai indek koefisien korelasi rhitung penelitian sebesar 0,908 termasuk dalam kategori korelasi yang tinggi. Kesimpulannya terjadi korelasi yang positif dan signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan ketepatan menjawab perintah soal cerita siswa. Berdasarkan temuan hasil penelitian, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) kemampuan membaca pemahaman hendaknya dilatih sejak dini karena pelajaran membaca bermanfaat untuk pelajaran lain, (2) penelitian selanjutnya tentang membaca pemahaman hendaknya dilakukan sesuai dengan taksonomi Barett, dan (3) penelitian ini hanya dilaksanakan di SDN Bareng 3 Kota Malang. Penelitian selanjutnya yang sejenis ini hendaknya dilakukan pada wilayah yang lebih luas dan variabelnya lebih beragam.

Penerapan model pembelajaran time token arends untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang / Rata Sari Dewi

 

Kata kunci: Pembelajaran Bahasa Indonesia, Keterampilan Berbicara, Time Token Aremds Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan Model Time Token Arends diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, guru masih menggunakan metode konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 66 dan masih terdapat 14 siswa atau 54% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 71 sehingga masih jauh dari KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Time Token Arends pada pembelajaran Bahasa Indonesia, (2) hasil belajar Bahasa Indonesia setelah menerapkan model pembelajaran Time Token Arends di kelas V. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan dan tes dalam bentuk lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Time Token Arends pada pembelajaran Bahasa Indonesia mampu merubah cara belajar siswa dari menerima pengetahuan menjadi membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian kegiatan berbicara. Selain itu dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pra tindakan yaitu 66 dengan ketuntasan belajar kelas 46%, pada siklus I meningkat menjadi 78 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 65%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 88 meskipun ada 1 siswa atau (4%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 96%. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah hendaknya memotivasi agar meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran Time Token Arends. Untuk guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran Time Token Arends pada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya keteerampilan berbicara dengan Kompetensi Dasar yang berbeda agar siswa lebih terampil dalam berbahasa Indonesia. Bagi peneliti yang lain mengingat pada penelitian ini masih terdapat kekurangan, maka disarankan untuk mengkombinasikan penggunaan media pembelajaran lain, lebih relevan yang sekiranya mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Disarankan juga untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran Time Token Arends.

Peningkatan keterampilan membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar siswa kelas II SDN Popoh 02 Kabupaten Blitar / Imam Baihaki

 

Kata kunci: membaca permulaan, media cerita bergambar. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimanakah pelaksanaan membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar siswa kelas II SDN Popoh 02 Kabupaten Blitar, dan 2) bagaimanakah peningkatan penerapan keterampilan membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar siswa kelas II SDN Popoh 02 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar dapat meningkatkan hasil membaca permulaan siswa ditunjukkan dengan nilai rata-rata siklus I 73, dan siklus II 84 . Ketuntasan belajar siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar dapat meningkatkan hasil belajar membaca permulaan siswa kelas II SDN Popoh 02 Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan pemanfaatan media cerita bergambar sebagai media pembelajaran membaca permulaan.

Peningkatan keterampilan membaca teks melalui metode permainan bahasa di kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar / Deti Ningtyas

 

Kata Kunci: membaca teks, metode permainan bahasa Pembelajaran membaca teks di SDN Kalitengah 01 masih dilaksanakan dengan metode lama yaitu hanya menggunakan buku paket sebagai alat bantu mengajar. Sehingga, menyebabkan pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa dan memperngaruhi nilai keterampilan membaca teks siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan (1) bagaimanakah penerapan metode permainan bahasa untuk meningkatkan keterampilan membaca teks di Kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar? (2) bagaimanakah hasil penerapan metode permainan bahasa untuk meningkatkan keterampilan membaca teks di Kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar? Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar semester I tahun pelajaran 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh peningkatan keterampilan membaca teks siswa di kelas I dari sebelum siklus dan setelah siklus. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari persentase rata-rata aspek suara yaitu 90%, aspek pelafalan yaitu 92%, aspek intonasi yaitu 90%, dan aspek kelancaran adalah 92%. Dengan presentase ketuntasan belajar mengalami peningkatan yaitu 14% pada pratindakan menjadi 48% pada pertemuan 1 siklus I, 67% pada pertemuan 2 siklus I menjadi 81% pada pertemuan 1 siklus II, dan pada pertemuan 2 siklus II menjadi 95%. Disimpulkan bahwa penelitian penggunaan metode permainan bahasa dapat meningkatkan aktivitas dalam belajar dan keterampilan membaca teks siswa. Oleh karena itu, disarankan agar guru menggunakan metode ini dalam pembelajaran membaca teks.

Peningkatan hasil belajar IPS menggunakan model snowball throwing bagi siswa kelas IV di SDN Kedungwungu 02 Kabupaten Blitar / Dian Kristanti

 

Kata kunci : pembelajaran IPS, model Snowball Throwing, hasil belajar Pembelajaran IPS sebetulnya merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia, tetapi pembelajaran ini membosankan karena guru hanya menggunakan model ceramah sehingga hasil belajar siswapun menjadi rendah. Dari hasil ulangan harian Ilmu Pengetahuan Sosial anak yang mendapat nilai di bawah KKM dari 24 siswa ada 19 anak atau 79,17 % dan anak yang mendapat nilai diatas KKM hanya ada 5 anak atau 20,83%. Hal ini merupakan latar belakang dalam penelitian ini. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah: Mendeskripsikan penerapan model Snowball Throwing pada pembelajaran IPS dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungwungu 02 Kabupaten Blitar. dan erupakan latar belakang dalam penelitian ini. ya menggunakan metode ceramah Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan 2 siklus tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, tes dan dokumentasi. Instrument penelitian lembar observasi, lembar angket, lembar tes dan dokumen foto. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus 2 pertemuan II diketahui persentase peningkatan aktifitas siswa, peningkatan aktifitas guru, dan hasil belajar siswa Aktifitas guru dari siklus 1 sampai siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 5,56%. Aktifitas siswa dari siklus 1 sampai siklus 2 pada aspek kerjasama meningkat 58,34%, aspek keaktifan meningkat 54,16%, aspek menjawab pertanyaan meningkat 54,16%. Hasil belajar siswa dari siklus 1 sampai siklus 2 mengalami peningkatan 50%. Sehingga dari jumlah siswa 24 yang belum tuntas ada 2 siswa karena siswa ini mengalami lambat dalam belajar dan memerlukan perhatian yang khusus dari guru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Snowball Throwing dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa .

Penerapan model paikem untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Sokosari 02 Tuban / Widya Wahyuni

 

Kata kunci: model PAIKEM, pembelajaran IPA. Hasil Observasi awal di SDN Sokosari 02 Tuban ditemukan bahwa pembelajaran IPA kelas V pada materi "penyesuaian hewan dan tumbuhan terhadap lingkungan" guru masih dilakukan secara konvensional. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil pra tindakan yaitu 55 dan masih terdapat 19 siswa (90,5%) belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 70. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran PAIKEM di Kelas V SDN Sokosari 02 Tuban, (2) aktivitas siswa kelas V SDN Sokosari 02 Tuban, (3) hasil belajar siswa kelas V SDN Sokosari 02 Tuban. Penelitian ini dilakukan di SDN Sokosari 02 Tuban dengan subyek siswa kelas V sebanyak 21 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggrat, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi, kamera, dan soal evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran PAIKEM pada pembelajaran IPA siswa kelas V dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan setiap indikatornya telah mengalami peningkatan dari 92 dan meningkat menjadi 97. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa sebelumnya yaitu 47,5 pada siklus I meningkat menjadi 77,5 pada siklus II. Selain meningkatkan aktivitas belajar juga meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa sebelumnya yaitu 77 pada siklus I meningkat menjadi 84 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini antara lain: pelaksanaan model PAIKEM terbukti telah dapat meningkatkan pembelajaran IPA pada materi"penyesuaian hewan dan tumbuhan terhadap lingkungan", aktivitas siswa juga meningkat serta hasil belajar siswa pun meningkat. Saran yang ingin diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar adalah peneliti lain dapat menggunakan model pembelajaran PAIKEM pada mata pelajaran IPA materi "penyesuaian hewan dan tumbuhan terhadap lingkungan. Dengan memperhatikan kendalan-kendala yang ditemukan oleh peneliti. Sehingga peneliti lain dapat memperoleh tujuan pembelajaran yang lebih optimal.

Analisis teks buku sekolah elektronik (BSE) geografi kelas XII SMA/MA pada kompetensi dasar menjelaskan pemanfaatan citra pengideraan jauh / Vina Wahyu Rusyana

 

Kata kunci: Analisis Teks, BSE, Penginderaan Jauh. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar yang penting dalam kegiatan pembelajaran, terlebih lagi bagi guru yang tidak mampu atau tidak siap membuat bahan ajar sendiri berdasarkan standar kompetensi dalam kurikulum yang berlaku. Buku teks juga perlu mengalami pengembangan baik dari segi kurikuler, isi, maupun bahasa yang digunakan baik berupa analisis bahan ajar maupun validasi bahan ajar. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan analisis untuk mengetahui tingkat kesesuaian isi dengan kurikulum, tingkat kebenaran konsep, tingkat kebenaran bahasa, dan fungsi media yang terdapat dalam buku ajar BSE Geografi Kelas XII SMA/MA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran keadaan sebenarnya dari objek penelitian. Rancangan penelitian menggunakan teknik analisis isi (content analysis) untuk mendiskripsikan dan menyimpulkan sebuah buku atau dokumen secara objektif, sistematis, dan komunikatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Buku Sekolah Elektronik IPS Geografi Kelas XII SMA/MA yang telah beredar. Penentuan sampel dengan cara mempertimbangkan buku ajar yang banyak dipakai di SMA Negeri di Kota Malang yaitu BSE dengan pengarang Eni Anjayani dan Tri Haryanto. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian buku untuk tiap indikator. Hasil yang telah didapatkan, kemudian dianalisis dengan menggunakan rubrik penilaian buku ajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian materi dalam BSE tidak sesuai dengan indikator, kebenaran konsep (konsep terdefinisi dan konsep konkrit) masih rendah, kebenaran bahasa dalam buku ajar BSE Geografi juga tergolong rendah (ditinjau dari segi penggunaan tanda baca, kosakata, kalimat, dan paragraf), dan media yang digunakan dalam buku ajar sudah cukup bagus dan cukup inovatif. Terdapat beberapa temuan tambahan yaitu masih ada materi yang penjelasannya kurang lengkap dan penyajian materi yang tidak runtut. Berdasarkan standarisasi dari BSNP, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa buku ajar BSE Geografi masih memiliki banyak kesalahan ditinjau dari segi kesesuaian isi dengan kerikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, dan fungsi media.Dari hasil kesimpulan disarankan apabila menggunakan buku teks yang sudah ada hendaknya ditelaah terlebih dahulu agar kesalahan yang ada dalam buku ajar tersebut tidak disajikan dalam pembelajaran. Lebih baik lagi apabila dalam mengajar seorang guru mampu membuat bahan ajar sendiri sesuai dengan ketentuan ilmiah yang ada.

Upaya peningkatan kemampuan berfikir kritis dengan menggunakan pertanyaan tingkat tinggi pada siswa kelas XA SMA Islam Hasanudin Kesamben Blitar / Mareta Dyah Pangesti

 

Kata Kunci: kemampuan berpikir kritis, pertanyaan tingkat tinggi Fakta pembelajaran geografi diSMA Islam Hasanudin Kesamben menunjukkan bahwa siswa kelas X-A belum mampu berpikir kritis. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran geografi yang ditekankan pada ranah kognotif tingkat pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Sedangkan pada ranah kognitif analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6) yang dapat merangsang kemampuan berpikir kritis siswa belum dilaksanakan dalam pembelajaran. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa juga terlihat dari siswa belum mampu untuk membuat rumusan masalah, dalam menjawab pertanyaan siswa tidak dapat memberikan argument. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-A SMA Islam Hasanudin Kesamben, Blitar pada semester II tahun ajaran 2010/2011. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengumpulan data. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus dengan empat kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klasikal terjadi peningkatan pencapaian aspek kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus 1 dan 2. Pada siklus 1 terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada aspek membuat rumusan masalah sebesar 32.58%, aspek memberikan argument sebesar 16.29%, melakukan evaluasi sebesar 11.85%, memberikan solusi dan tindakan sebesar 15.64%, melakukan deduksi sebesar 13.85%, dan melakukan induksi sebesar 18.89%. Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan tingkat tinggi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kelas X-A SMA Islam Hasanudin Kesamben dapat dinyatakan berhasil pada sikus 2 karena rata-rata pencapaian aspek kemampuan berpikir kritis siswa adalah 84.47% dan termasuk dalam kategori baik sekali. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa penggunaan pertanyaan tingkat tinggi pada materi atmosfer dan dampaknya bagi kehidupan di muka bumi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada pelaksanaan tindakan dikelas apabila siswa dikondisikan dan guru memfasilitasi.

Model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran geografi materi pedosfer siswa kelas XB SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar / Mitasari

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Cooperative Script dan hasil belajar Berdasarkan observasi yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 di kelas XB, bahwa hasil belajar siswa kelas XB SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar pada pembelajaran geografi belum maksimal. Nilai rata-rata pembelajaran geografi adalah 66,23 dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 43%, belum memenuhi Standart Ketuntasan Minimal (SKM) geografi di SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar yaitu 70. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XB semester genap tahun ajaran 2010/2011 SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar yang berjumlah 21 siswa terdiri 7 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih tes pada siklus I dengan tes pada siklus II. Instrumen yang digunakan yaitu lembar kerja siswa, soal tes, lembar observasi aktivitas siswa, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas XB SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata kelas dari rata-rata awal dengan nilai 66,23 menjadi 72,52. Dengan ketuntasan klasikalnya pada siklus I sebesar 66%. Jumlah ini telah mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan data awal yaitu 43%, hal itu berarti ketuntasan klasikal telah meningkat sebesar 23%. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 78,23 Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata nilai tes sebesar 72,52 pada siklus I dan meningkat menjadi 78,23 pada siklus II. Pada siklus II ketuntasan klasikalnya juga mengalami peningkatan dari 66% menjadi 90%. Hal ini berarti terjadi kenaikan ketuntasan klasikal sebesar 24%. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata nilai tes sebesar 72,52 pada siklus I dan meningkat menjadi 78,23 pada siklus II, sedangkan ketuntasan belajar siswa mengalami penigkatan pada siklus I sebesar 66% kemudian meningkat lagi menjadi 90% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model Cooperative Script untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model Cooperative Script dengan subjek penelitian yang berbeda.

Pengembangan media computer-assisted instruction (CAI) untuk meta pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Sekolah Menengah Pertama Islam Malang / Vita Ari Susanti

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Computer Assisted-Instructional(CAI), Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) Media Computer Assisted-Instructional(CAI) merupakan suatu pembelajaran berbantuan komputer untuk menunjang suatu pembelajaran. Pembelajaran yang dibidik adalah pada mata pelajaran TIK SMP kelas IX. Pengembangan media kemudian diaplikasikan dalam CD Pembelajaran. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan manfaat atau nilai tertentu dari segi penggunaanya, karena siswa dapat mengerti dengan lebih jelas dan menyeluruh tentang materi yang diajarkan dan juga dapat mengulang pembelajaran secara langsung dengan arahan dari guru. Berdasarkan observasi awal dilapangan diketahui bahwa di sekolah yang bersangkutan masih menggunakan media sederhana saja dalam proses pembelajaran meskipun tersedia sarana belajar yang memadahi dan diketahui pula belum memaksimalkan peralatan yang tersedia. Apalagi dengan banyaknya materi yang harus dipelajari oleh siswa-siswi kelas IX yang dipersiapkan untuk mengikuti UAN sehingga masalah keterbatasan waktu belajar maka dikembangkan media CAI dalam bentuk CD Pembelajaran yang didesain dengan seefektif dan efisien mungkin, agar dapat digunakan dengan mudah. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk CD pembelajaran TIK kelas IX semester 2 pokok bahasan Email, Dunia Blogger dan Wiki yang digunakan secara klasikal atau masal di dalam kelas dengan arahan dari guru pengajar mata pelajaran TIK kelas IX dan juga diharapkan dapat mengefektif dan efisienkan pembelajaran di kelas. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SMP Islam Malang kelas 3. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari validasi ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa CD Pembelajaran mata pelajaran TIK kelas IX semester 2 pokok bahasan Email, Dunia Blogger dan Wiki. media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media pada kriteria kelayakan dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 92,5%, 2) data ahli materi pada kriteria kelayakan dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 95%, 3) data siswa diperoleh adalah 82,2% sehingga pada kriteria kelayakan dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) pada data hasil pre-test dan post-test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 18% dengan peningkatan nilai terendah 10 dan tertinggi 30. Dengan demikian menurut kriteria kelayakan Media CAI dalam CD Pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah Media CAI yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: 1) Bagi Guru, guru mata pelajaran hendaknya mulai menggunakan Media CAI dalam pembelajaran dikelas dan lebih terampil dalam menggunakan dengan cara berlatih. 2) Bagi Siswa, siswa dalam menggunakan media pembelajaran ini harus mempunyai keterampilan dasar dalam pengoperasian komputer, dan beberapa kemampuan dan keterampilan lainnya untuk mendukung penggunaan media ini. 3) Bagi Pengembang selanjutnya, Media CAI ini hendaknya dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Peningkatan kemampuan menulis deskripsi melalui pemanfaatan lingkungan siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar / Nur Indasah

 

Kata kunci: menulis deskripsi, lingkungan, sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan media lingkungan siswa kelas V SDN Kaligambir 04 kabupaten Blitar dan hasil pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan media lingkungan siswa kelas V SDN Kaligambir 04 kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan lingkungan alam sekitar dapat meningkatkan hasil menulis deskripsi siswa kelas V SDN Kaligambir 04 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 65, siklus I 73, dan siklus II 84 . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 15%, siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar menulis deskripsi siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas V SDN Kaligambir 04 kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran menulis deskripsi.

Penerapan pendekatan konstruktivisme dengan model pembelajaran peta konsep untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Bantur 06 Kec. Bantur Kab. Malang / Ika Faridaningrum

 

Kata kunci: Pendekatan Konstruktivisme, Model Peta Konsep, hasil belajar, IPA Model pembelajaran peta konsep dapat membantu siswa melihat makna materi pembelajaran secara komprehensif dalam setiap komponen konsep-konsep dan mengenali hubungan antara konsep-konsep tersebut. Hasil Observasi awal di SDN Bantur 6 kec. Bantur Kab. Malang ditemukan bahwa pembelajaran IPA di kelas IV, dalam kegiatan belajar siswa masih mendengar, dan mencatat materi yang diberikan oleh guru (pembelajaran berpusat pada guru). Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil pra tindakan yaitu 59,23 dan masih terdapat 18 siswa (69,24%) belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 70. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan pembelajaran, (2) peningkatan aktivitas, (3) peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan Pendekatan Konstruktivisme dengan model pembelajaran Peta Konsep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dilakukan atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Rancangan yang dilakukan adalah PTK dengan dua siklus. Penelitian ini dilakukan di SDN Bantur 6 kec. Bantur Kab. Malang dengan subyek siswa kelas IV sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan prosedur (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Konstruktivisme dengan model pembelajaran Peta Konsep pada pembelajaran IPA siswa kelas IV dalam dua siklus. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat. Penggunaan model ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 68,65 pada siklus I meningkat menjadi 76,11 pada siklus II. Selain itu juga meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa yaitu 72,42 pada siklus I meningkat menjadi 77,84 pada siklus II. Saran sebagai upaya peningkatan pembelajaran pendekatan konstruktivisme dengan model peta konsep adalah memberikan kejelasan tentang langkah-langkah membuat peta konsep, agar memudahkan siswa memahami peta konsepnya. Sehingga dapat memperoleh tujuan pembelajaran yang lebih optimal.

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Jatimulyo 1 Kota Malang / Willis Rahayuningtyas

 

Kata Kunci: Problem Based Learning (PBL), Motivasi, Hasil Belajar, PKn SD. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Guru Mata Pelajaran PKn di SDN Jatimulyo 1 Kota Malang diketahui bahwa motivasi siswa relatif rendah, sehingga hasil belajar siswa juga rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat, sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang akan dihadapi. Masalah-masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Penelitian dilakukan di SDN Jatimulyo 1 Kota Malang, pada tanggal 3 Februari 2011 sampai dengan 10 Maret 2011. Penelitian dilaksanakan dalam rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I membahas tentang organisasi di lingkungan sekolah, sedangkan siklus II membahas tentang organisasi di lingkungan masyarakat. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Jatimulyo 1 Kota Malang berjumlah 12 siswa yakni 7 siswa perempuan dan 5 siswa laki-laki. Setelah model Problem Based Learning (PBL) diterapkan , diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan model PBL cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan motivasi serta hasil belajar siswa. Peningkatan nilai motivasi belajar siswa, menunjukkan peningkatan yang cukup signifkan dari setiap aspeknya yaitu dari aspek attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction. Hasil belajar yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor juga mengalami peningkatan. Pada aspek afektif terjadi peningkatan dari siklus I 2,89 menjadi 3,67 pada siklus II . Pada aspek psikomotor juga terjadi peningkatan dari siklus I 3,33 menjadi 3,72 pada siklus II. Dalam aspek kognitif terjadi peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I yaitu 83,3% menjadi 100% pada siklus II. Dari penerapan model PBL yang dirasa cukup efektif yang dibuktikan dengan adanya peningkatan pada motivasi dan hasil belajar siswa maka perlu untuk dipertahankan. Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik maka pada saat guru menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), guru lebih membimbing siswa pada saat menentukan sub topik dan pengorganisasiannya ke dalam kelompok agar siswa tidak merasa kesulitan.

Pengaruh corporate governance dan leverage terhadap kinerja perusahaan pada perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan corporate governance perception index periode tahun 2008 / Ganis Samsidar

 

Kata Kunci: Corporate Governance, Leverage dan Kinerja Perusahaan. Corporate governance merupakan suatu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan direksi dan komisaris perusahaan, para pemegang saham dan stakeholder lainnya, sedangkan Leverage merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya sehingga dapat menunjukkan seberapa besar aktiva atau modal perusahaan dibiayai oleh hutang. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Corporate Governance dan Leverage dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan Corporate Governance dan Leverage terhadap Kinerja Perusahaan pada perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan Corporate Governance Perception Index periode tahun 2008. Populasi yang digunakan adalah perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan Corporate Governance Perception Index tahun 2006-2008, dimana dari populasi tersebut terpilih 15 perusahaan berdasarkan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahan yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS 16 for windows, dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel corporate governace mempunyai hubungan searah dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA). Leverage secara parsial mempunyai hubungan berlawanan arah dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA).Corporate governance dan leverage memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA) pada perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan Corporate Governace Perception Index tahun 2008.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Malang / Syahrita Rochmah

 

Kata kunci: penguasaan kosa kata, kooperatif, make a match Adanya perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi dalam dunia pendidikan menuntut adanya inovasi dan variasi metode-metode pembelajaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil belajar dimana hal tersebut merupakan tujuan pembelajaran. Karena salah satu kunci tercapainya tujuan pembelajaran adalah dengan memperbaiki metode yang digunakan. Hasil survei lapangan menyebutkan metode pembelajaran yang digunakan di SD Muhammadiyah 1 Malang dinialai kurang memicu motivasi siswa, khususnya dalam pembelajaran kosa kata bahasa Arab. Akibatnya hasil penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa rendah. Salah satu metode pembelajaran yang bisa diterapkan adalah metode pembelajaran yang bersifat kooperatif yang dapat menimbulkan semangat dan mempermudah siswa untuk memahami makna kosa kata bahasa Arab. Tujuan penelitian ini secara umum adalah meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa dengan pendekatan kooperatif model make a match. Tujuan khusus penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran kosa kata bahasa Arab dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan penguasaan kosa kata bahasa Arab setelah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Malang yang sedang menempuh semester ganjil 2010/2011. Data dalam penelitian ini berupa informasi tentang aktifitas guru dan siswa serta hasil nilai tes awal dan tes akhir dalam tiap siklusnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Langkah-langkah yang ditempuh peneliti adalah: mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Adapun tahap-tahap penelitian adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian dari penerapan pembelajaran kosa kata dengan metode cooperative learning tipe make a match menyebutkan bahwa, ada peningkatan hasil belajar yang terkait dengan penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa yang berarti dari tiap siklusnya dan juga dari tes awal sebelum tindakan. Rata-rata hasil tes awal pra tindakan adalah 49. Hasil tes pada siklus I 80 dan tes pada siklus II 88. Dari hasil tes tersebut maka dapat diketahui peningkatan terhadap penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa dari siklus I ke siklus II. Disarankan kepada guru bahasa Arab SD Muhammadiyah 1 Malang, hendaknya meningkatkan profesionalisme dan kualitas PBA dengan menciptakan inovasi dan variasi metode maupun media PBA. Kepala Sekolah, hendaknya mengikutsertakan guru bahasa Arab dalam pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan keahlian guru dalam PBA berbasis metode kooperatif. Siswa, hendaknya lebih disiplin dan teratur dalam melaksanakan proses pembelajaran model make a match dan lebih bersemangat dalam belajar bahasa Arab. Peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar dengan diaplikasikan pada keterampilan bahasa Arab yang lainnya. Jurusan Sastra Arab, untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan berbagai macam metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif.

Keefektifan kalimat dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bantur / M. Zainal Abidin

 

Kata kunci: keefektifan kalimat, karangan bahasa Jawa Pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa diajarkan pada tingkat SMP. Pada pelajaran muatan lokal bahasa Jawa terdapat empat kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pada kelas VIII SMP terdapat kompetensi menulis berbahasa Jawa. Pada penelitian ini ditekankan pada kompetensi menulis prosa atau karangan bebas berdasarkan pengalaman yang paling mengesankan. Pembelajaran mengarang bebas menggunakan bahasa Jawa bertujuan agar siswa terampil menulis dalam bahasa Jawa dengan menggunakan huruf latin. Kesulitan yang dihadapi siswa tersebut sangat beragam, salah satunya yaitu menulis dengan menggunakan kalimat yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilaksanakan untuk mengetahui gambaran sesungguhnya tentang keefektifan kalimat bahasa Jawa yang ditulis oleh siswa. Keefektifan kalimat bahasa Jawa berdasarkan pada empat ciri kalimat efektif, meliputi ciri gramatikal, pilihan kata, penalaran dan keserasian. Ciri gramatikal berhubungan dengan sistem morfologi dan sistem sintaksis. Pilihan kata berhubungan dengan kesesuaian kata, ketepatan kata dan kelaziman. Penalaran berhubungan dengan kalimat yang mudah dipahami, dan kelogisan hubungan antara unsur-unsur subyek, predikat, dan objek. Keserasian berhubungan dengan tingkat tutur bahasa Jawa yaitu undha usuk basa Jawa. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bantur. Masalah yang diteliti adalah keefektifan kalimat berdasarkan (1) ciri gramatikal, (2) pilihan kata, (3) penalaran, dan (4) keserasian. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Sifat dari penelitian kualitatif yaitu naturalistik. Dalam penelitian ini peneliti menjadi instrumen dengan menggunakan alat bantu berupa tabel pengumpul data. Data penelitian ini berupa data lunak, yaitu kalimat-kalimat yang terdapat dalam karangan siswa, dan tidak berupa angka-angka maupun statistik. Hasil penelitian tentang keefektifan kalimat menunjukkan bahwa dalam karangan dalam siswa terdapat kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Pertama, ciri gramatikal kalimat berdasarkan pada kaidah sintaksis dan morfologis, dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII kedua kaidah tersebut sebagian sudah muncul dan tepat pemakaiannya dalam kalimat sehingga menjadikan kalimat efektif. Namun, ada pula penggunaan kaidah morfologis dan kaidah sintaksis yang salah dalam kalimat sehingga menjadikan kalimat tidak efektif. Kedua, keefektifan kalimat berdasarkan pilihan kata harus memenuhi tiga aspek yaitu kesesuaian, ketepatan dan kelaziman kata. Dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII pilihan katanya ada yang efektif dan tidak efektif. Pilihan kata yang tidak efektif disebabkan oleh banyaknya kata yang digunakan siswa berasal dari bahasa Indonesia, kata yang tidak sesuai dengan makna yang diinginkan dalam kalimat dan kata yang tidak lazim digunakan pada situasi tertentu. Ketiga, keefektifan kalimat berdasarkan penalaran harus logis dan mudah dipahami. Dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII sebagian besar kalimat-kalimat yang dihasilkan sudah logis, dan mudah dipahami. Keempat, keefektifan kalimat berdasarkan keserasian penggunaannya harus sesuai dengan ragam bahasa yang dibutuhkan dalam komunikasi. Dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII sebagian besar ada yang serasi dan tidak serasi. Ketidakserasian tersebut disebabkan oleh tidak tepatnya penggunaan undha usuk basa Jawa dalam kalimat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada siswa untuk selalu giat berlatih menulis dalam bahasa Jawa agar kompetensi menulis kalimat efektif dapat menjadi lebih baik. Kepada guru bahasa Jawa disarankan untuk selalu menggunakan bahasa Jawa yang sesuai dengan undha usuk saat mengajar agar siswa terbiasa menggunakan bahasa Jawa yang sesuai dengan undha usuk. Kepada peneliti lanjutan, disarankan mengadakan penelitian untuk meningkatkan ketrampilan siswa dalam menulis karangan berbahasa Jawa dengan menggunakan kalimat yang efektif.

Pengaruh leverage terhadap return saham melalui profitabilitas pada perusahaan automotyive and allied products yang listing di BEI tahun 2006-2008 / Harianto

 

Kata Kunci: Leverage (DER), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Return saham Seiring dengan berkembangnya teknologi, perekonomian pun semakin maju. Hal ini mengakibatkan adanya persaingan yang semakin ketat, utamanya dalam dunia bisnis. Pada umumnya masalah keuangan khususnya pendanaan baik dari pinjaman maupun penerbitan saham, merupakan masalah utama perusahaan. Dengan modal yang besar diharapkan mampu meningkatkan profit yang besar dan dapat menaikkan harga saham dan return saham. Dengan munculnya masalah tersebut maka keberadaaan pasar modal sangat berarti bagi kepentingan perekonomian Indonesia. Salah satu daya tarik investor dan calon investor untuk membeli dan menjual saham adalah salah satunya dilihat dari return saham dan hasil analisis fundamental yang ada pada perusahaan yang bersangkutan. Pembelian saham merupakan salah satu bentuk investasi yang banyak dipilih oleh investor. Prestasi perusahaan salah satunya dapat dilihat dari kinerja keuangan yang tercermin dari rasio-rasio keuangan serta laba yang dihasilkan dengan menggunakan modal yang dipunyai perusahaan maupun modal yang disetorkan investor. Penilaian return saham dapat dilakukan dengan menggunakan analisis fundamental yang berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan khususnya dalam melakukan utang (leverage) dalam mendanai perusahaan untuk menghasilkan profitabilitas yang tinggi sehingga berpengaruh pada return saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat Leverage (DER) terhadap return saham secara langsung maupun tidak langsung yang diperkuat oleh profitabiltas baik Return on Asset (ROA), dan Return on Equity (ROE) pada perusahaan Automotive and allied steel yang listing di BEI tahun 2006-2008. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Sedangkan tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara tekhnik dokumentasi yang diperoleh dari data sekunder Indonesia Capital Market Directory (ICMD), laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia, dan data pergerakan saham harian yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). dan Analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) karena penelitian ini ingin melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung hubungan antar variabel X1 terhadap Y melalui X1 dan X2 . Hasil penelitian untuk menjawab hipotesis mayor I menunjukkan bahwa secara parsial variabel leverage (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dan DER tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap return saham. Sedangkan hasil penelitian untuk menjawab hipotesis mayor II menunjukan bahwa secara parsial leverage (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE, ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dan DER tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu: (1) diharapkan investor perlu memperhatikan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi leverage (2) diharapkan agar perusahaan selalu meningkatkan kinerjanya sehingga dapat meningkatkan tingkat pengembalian saham (return saham), dan profitabiltasnya baik ROA mupun ROE (3) diharapkan bagi peneliti selanjutnya menggunakan lebih banyak variabel-variabel fundamental dalam menilai kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, sampel yang digunakan juga lebih banyak dan memperpanjang periode pengamatan sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih baik karena dengan penambahan pengamatan dan memperpanjang periode pengatan maka sampel yang tercangkup dari populasi akan semakin besar sehingga diperoleh data yang akurat.

Efektivitas penggunaan buku tarbawi dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang / Listia Anis Hanavia

 

Kata kunci: Pembelajaran membaca Al-Qur'an, Buku Tarbawi, Efektivitas. Kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Perhatian terhadap pembelajaran membaca Al-Qur'an di Indonesia hingga saat ini semakin nampak, karena telah banyak dijumpai fasilitas panduan membaca Al-Qur'an khususnya dalam bentuk buku teks, diantaranya adalah turutan (Qo'idah Baghdadiah), Iqra', Qira'ati, Al-Barqy, Tilawati, dan Ummi. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata adalah salah satu dari sekian banyak Sekolah Dasar Islam yang menerapkan konsep keterpaduan dan integralitas dalam proses pendidikan. Keterpaduan pendidikan itu tergambar dalam 12 jaminan mutu (Quality Assurance) yang salah satunya adalah menjamin lulusannya mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.Untuk merealisasikan jaminan mutu tersebut maka dibuatlah sistem pembelajaran Al-Qur'an sendiri dan mandiri dengan harapan bisa leluasa dalam penerapan, pengelolaan dan pengembangan sesuai dengan kondisi SDM yang ada di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan secara objektif tentang (1) tingkat efektivitas penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kelancaran membaca huruf hijaiyah siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar, (2) mendeskripsikan tingkat efektivitas penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu tajwid siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar. Dipilihnya siswa kelas III di sekolah tersebut sebagai subjek penelitian, berdasarkan alasan karena pada jenjang kelas ini merupakan kesempatan yang baik untuk mempersiapkan kemampuan siswa dalam membaca huruf hijaiyah yang berguna ketika mereka memasuki jenjang kelas berikutnya, yaitu kelas IV yang sudah mulai diajarkan bahasa Arab Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif kuantitatif dengan desain metode pra eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tekhnik wawancara, observasi dan pemberian tes. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa tes kemampuan membaca Al-Qur'an, pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Untuk menjaga keabsahan data, maka dilakukan kegiatan analisis data yang meliputi pra analisis dan tekhnis analisis data. Pra analisis dimulai dari verifikasi data, penyekoran data, tabulasi data,dan uji normalitas data. Selanjutnya dilakukan tekhnis analisis data dengan melihat rata-rata hasil dan membandingkan dengan standar yang diinginkan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa dari segi efektivitas, (a) penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kelancaran membaca huruf hijaiyah siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar pada tingkat efektif. (b) penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan penguasaan ilmu tajwid siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar juga pada tingkat efektif.

Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun / Wahyu Trisnaning Dewi

 

Kata Kunci: Lingkungan sekitar, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun pada waktu pembelajaran IPS di dapatkan fakta bahwa siswa kurang tertarik pada pembelajaran, siswa terlihat pasif, merasa bosan selama pembelajaran, dan rendahnya hasil belajar siswa. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran tidak menggunakan media pembelajaran dan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga guru berperan aktif selama pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran pada materi kegiatan jual beli, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi kegiatan jual beli dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pada materi kegiatan jual beli dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3), refleksi, (4) perbaikan rencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa hal ini ditandai dengan peningkatan rata-rata aktivitas siswa dari siklus I dengan nilai 62,09 meningkat pada siklus II dengan nilai 80,2, (2) pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun hal ini ditandai dengan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan 62,8 dengan ketuntasan belajar 31,8% meningkat menjadi 72,73 dengan ketuntasan belajar 63,64%, dan pada siklus II meningkat menjadi 83,6 dengan ketuntasan belajar 86,4%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun. Disarankan agar guru dapat melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, menciptakan suatu variasi pembelajaran yaitu dengan cara penggunaan media pembelajaran untuk menghindari kejenuhan siswa, lebih giat memantau jalannya diskusi kelompok agar supaya siswa tidak bicara di luar materi pelajaran dan bercanda dengan temannya, serta bagi peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan cara meminimalisir siswa atau kelompok yang ramai selama pembelajaran di luar kelas.

Hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar matapelajaran IPA pada siswa kelas IV SD dengan strategi pembelajaran jigsaw dan think pair share (TPS) / Abdul Basith

 

Kata kunci: keterampilan metakognitif, hasil belajar, strategi pembelajaran jigsaw, strategi pembelajaran TPS. Metakognitif ialah kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Apabila kesadaran ini terwujud maka seseorang dapat memulai pemikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Keterampilan metakognitif berhubungan dengan hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada suatu materi pelajaran. Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar mengajar. Suatu proses belajar dikatakan berlangsung efektif apabila hasil belajar yang dicapai siswa dapat mencapai indikator yang telah ditetapkan. Coutinho (2007) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara prestasi belajar dengan metakognisi. Strategi pembelajaran kooperatif terbukti dapat memberdayakan keterampilan metakognitif dan meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran kooperatif yang sering diterapkan adalah jigsaw dan TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada siswa kelas IV SD dengan strategi pembelajaran jigsaw dan TPS. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada strategi pembelajaran jigsaw dan TPS sehingga dapat diketahui strategi mana yang lebih efektif dalam memberdayakan keterampilan metakognitif dan meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV SD di SDN Ketawanggede I Malang dan SDN Ketawanggede II Malang pada semester 1 tahun ajaran 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada penerapan strategi pembelajaran jigsaw dengan nilai keterandalan 66,6% dan ada hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada penerapan strategi pembelajaran TPS dengan nilai keterandalan 82,4%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa strategi pembelajaran TPS lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan metakognitif siswa dibandingkan dengan strategi pembelajaran jigsaw. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk menerapkan strategi pembelajaran TPS pada mata pelajaran IPA. Berdasarkan nilai keterandalan penerapan strategi pembelajaran jigsaw, maka dapat disimpulkan bahwa sumbangan keterampilan metakognitif terhadap hasil belajar adalah 66,6%, sedangkan 33,3% adalah sumbangan faktor-faktor lain. Pada penelitian selanjutnya perlu dikaji faktor-faktor lain tersebut.

Pengaruh penerapan metode PBL (Project Based Learning) menggunakan pendekatan brain storming terhadap hasil belajar siswa kelas X AK SMK Islam Batu dalam pembelajaran KKPI menggunakan software presentasi / Ahmad Mursyidun Nidhom

 

Kata kunci: Project Based Learning, Brain Storming, hasil belajar Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran KKPI seperti yang diamanahkan oleh kurikulum. Penelitian ini dilakukan di SMK Islam Kota Batu pada materi menggunakan software presentasi dengan menggunakan model PBL (Project Based Learning) dengan pendekatan Brain Storming. Dengan kolaborasi antara PBL yang merupakan pembelajaran inovatif yang melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah, memberi peluang siswa bekerja secara kelompok dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa yang bernilai serta pendekatan Brain Storming yang berfokus pada penggalian ide-ide kreatif, studi banding (pengamatan informasi-informasi dari berbagai sumber yang dapat dipakai sebagai ide baru), siswa dihadapkan dalam pembelajaran yang lebih aktif, sehingga dengan diterapkannya model ini dapat meningkatkan hasil belajar KKPI. Selain itu kolaborasi antara PBL dan pendekatan Brain Storming juga memberikan keleluasaan siswa untuk menggali ide-ide kreatif sebanyak-banyaknya tanpa harus takut salah, hal ini mendukung siswa berfikir inovatif dan kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan PBL dengan pendekatan Brain Storming terhadap hasil belajar KKPI siswa kelompok eksperimen. Rancangan penelitian menggunakan desain eksperimental yang menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi exsperiment) dengan pola pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas X SMK Islam Batu tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 153 siswa.Sampel yang digunakan adalah dua kelas yaitu X AK1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X AK2 sebagai kelompok kontrol, kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model PBL pendekatan Brain Storming sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung demonstrasi. Instrumen yang digunakan adalah silabus, RPP, lembar angket, lembar afektif siswa, penilaian proyek, dan tes tulis. Uji hipotesis menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Hasil uji t menghasilkan nilai Sig (p) = 0,007 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar KKPI antara kelompok eksperimen dan kontrol. Hasil uji regresi linear sederhana diperoleh nilai Sig (p) = 0,001 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan PBL dengan pendekatan Brain Storming terhadap hasil belajar KKPI pada kelompok eksperimen yang pengaruhnya dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y = 27,883 + 0,863 X.

Sumbangan faktor abiotik terhadap kandungan gula reduksi ubi jalar varietas Cilembu (Iponema Batatas L. Var. Cilembu) / Diyah Nove Kurniawati

 

Kata kunci: faktor abiotik, gula reduksi, ubi jalar, Cilembu Ubi jalar merupakan salah satu komoditas penghasil karbohidrat yang dapat menjadi pengganti padi dan jagung. Beberapa varietas ubi jalar memiliki produktivitas tinggi, yaitu varietas Borobudur, varietas cilembu, varietas daya, varietas prambanan, varietas kalasan, varietas mendut, dan varietas genjah rente. Kultivar ubi cilembu merupakan ras lokal asal Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Jenis Cilembu ini memiliki kekhasan yakni akan mengeluarkan sejenis cairan lengket gula madu yang manis rasanya bila dioven atau dibakar. Ubi ini juga memiliki nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan jenis ubi jalar yang lainnya. Faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan ubi meliputi suhu udara, sinar matahari, kelembaban, dan angin. Faktor pengaruh terhadap pertumbuhan dan kandungan ubi tersebut tergantung pada ketinggian tempatnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu dengan menganalisis kandungan gula reduksi pada ubi jalar varietas Cilembu. Ubi jalar varietas Cilembu yang digunakan adalah berdasarkan pengaruh ketinggian tempat yang berbeda terhadap kandungan gula reduksi. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Tempat pengambilan sampel adalah di desa Ponggok Kabupaten Blitar dan di desa Gangsiran Putuk Kabupaten Malang. Kemudian sampel diteliti di laboratorium Biologi FMIPA UM di ruang 203. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor abiotik yang paling banyak memberikan sumbangan terhadap kandungan gula reduksi adalah faktor ketinggian tempat yakni sebesar 87,6%. Hasil lain yang sangat menonjol dari penelitian ini adalah ringan atau berat umbi yang dipanen dari kedua lokasi, pada daerah Gangsiran Putuk memiliki berat umbi yang lebih banyak dibandingkan umbi yang dihasilkan pada daerah Ponggok.Saran terhadap petani ubi jalar var. Cilembu adalah sebaiknya ditanam pada ketinggian 500 m dari permukaan laut dengan pH 4,5-7,5; temperatur 21°C-27°C, dan kelembaban 50%-60% supaya bias mendapatkan hasil umbi yang maksimal. Sedangkan rekomendasi terhadap peneliti selanjutnya sebaiknya dalam penelitian selanjutnya menggunakan varian ubi lebih banyak agar dapat terlihat dengan jelas perbedaan yang ditimbulkan pada jenis ubi jalar yang lain.

Penggunaan media bobeka tangan untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada siswa kelas II SDN Bareng 1 Kota Malang / Nurhidayati

 

Kata kunci: Media boneka tangan, kemampuan bercerita, BI, SD. Media boneka tangan merupakan media dalam pembelajaran bercerita yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas II yang berada pada tahap praoperasional konkret. Pembelajaran bercerita di kelas IIA kurang menarik perhatian siswa. Akibatnya banyak siswa yang malu dan tidak mau bercerita ke depan kelas. Selain itu kualitas pembelajaran bercerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas II A SDN Bareng 1 Kota Malang, masih rendah yakni nilai rata-rata siswa kelas II A dalam tes kemampuan bercerita pada semester I hanya mencapai 65. Hasil pretest menunjukkan bahwa hanya 32% dari siswa yang hadir pada saat pre-tes yang memenuhi standar ketuntasan minimal. Siswa yang hadir pada saat pretes sebanyak 22 siswa, sedangkan yang tidak masuk 2 orang siswa karena sakit. Sehingga dari 22 siswa yang mengikuti pre-tes, 10 siswa memiliki kemampuan bercerita yang cukup baik dan 12 siswa memiliki kemampuan bercerita yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 Kota Malang dengan menggunakan media boneka tangan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIA SDN Bareng 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media boneka tangan dalam pembelajaran bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 dengan standar kompetensi "Mendengarkan kembali cerita anak yang didengarkan dengan kata-kata sendiri" dapat dilaksanakan dengan efektif. Aktivitas guru dalam mengajar, meningkat dari 83,25 pada siklus I meningkat menjadi 94 pada siklus II. Aktivitas belajar siswa meningkat dari 67 pada siklus I menjadi 72 pada siklus II. Hasil kemampuan bercerita siswa juga meningkat dari rata-rata 66,5 pada siklus I meningkat menjadi 73,5pada siklus II dan ketuntasan kelas 39% pada awal siklus I meningkat menjadi 92% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam penggunaan media boneka tangan, sebaiknya dilaksanakan pada kelas kecil agar perhatian guru dapat menyeluruh dan siswa mendapat waktu lebih lama untuk menggunakan boneka tangan, memperhatikan penggunaan panggung boneka, dan sebaiknya menggunakan cerita yang tidak terlalu panjang dan jenis ceritanya adalah cerita fabel.

Pola pewarisan ketahanan kedelai (Glycine max (L.) Merr.) / Irfan Prihatmaya

 

Kata kunci: kedelai, pola pewarisan, waktu skoring. Pola pewarisan sifat ketahanan terhadap CPMMV merupakan hal penting untuk diketahui dalam rangka pengembangan kultivar melalui pemuliaan tanaman. Uji visual dilakukan untuk penilaian ketahanan dengan menilai skor serangan dan intensitas serangan pada populasi dasar yang telah terbentuk atau lebih dikenal dengan skoring. Skoring pada penelitian sebelumnya dilakukan sekali pada umur tanaman sekitar 35 hari, namun pada pengembangannya penilaian ketahanan dicoba dilakukan tiga kali pada saat umur tanaman 21, 28, dan 35 hari setelah tanam (hst). Ketahanan tanaman kedelai bervariasi pada ketiga waktu skoring tersebut dan belum diungkap mengenai pola pewarisannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pola pewarisan ketahanan kedelai (G. max) berdasarkan waktu skoring, dan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan dan perbandingan waktu skoring, pola pewarisan ketahanan pada kedelai (G. max), serta dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian sejenis untuk menghasilkan kultivar unggul kedelai tahan virus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang pada bulan Agustus 2009 sampai dengan Maret 2010. Kedelai yang digunakan adalah generasi F3 kedelai hasil persilangan (galur) Argopuro x MLGG 0268, Argopuro x MLGG 0021, Anjasmoro x MLGG 0268, Anjasmoro x MLGG 0021, Gumitir x MLGG 0268, Gumitir x MLGG 0021, Mahameru x MLGG 0268, dan Mahameru x MLGG 0021. Analisis data yang dipakai adalah analisis chi-kuadrat. Analisis dilakukan berdasarkan distribusi frekuensi intensitas serangan pada kedelai. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan pola pewarisan ketahanan kedelai pada ketiga waktu skoring. Pola pewarisan ketahanan kedelai pada skoring I, skoring II, dan skoring III adalah poligenik, artinya pewarisan sifat tahan pada kedelai diatur oleh banyak gen. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian yang sejenis dengan koreksi terhadap beberapa kesalahan yang terdapat dalam penelitian ini untuk menghasilkan kultivar unggul kedelai tahan virus.

Penerapan metode "paired storytelling" untuk meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SDN Bareng 3 Kota Malang / Fitri Cahyo Arini

 

Kata Kunci: Metode, Paired storytelling, ketrampilan berbicara, SD Negeri Bareng 3 kota Malang. Masalah yang ada di kelas V SD Negeri Bareng 3 kota malang ini, salah satunya yaitu dalam mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada aspek berbicara. Hal ini terlihat dari pernyataan guru bahwa beliau sangat jarang melakukan pembelajaran bahasa aspek berbicara karena alas an waktu yang terbatas, kemudian dilihat dari nilai siswa pada aspek berbicara masih rendah dan keberanian siswa dalam berbicara di depan teman-temanya juga rendah, masih banyak siswa yang kurang percaya diri dan cenderung diam. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti ingin menerapkan metode paired storytelling. metode tersebut adalah metode bercerita berpasangan, metode dipilih karena dengan menerapkan metode tersebut kendala waktu dapat sedikit teratasi, kemudian siswa yang memiliki ketrampilan berbicara kurang dapat termotivasi oleh pasanganya yang memiliki ketrampilan berbicara lebih dan sebaliknya, siswa yang memiliki ketrampilan berbicara lebih dapat membantu dan memotivasi siswa yang memiliki ketrampilan berbicara kurang. Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: (1) bagaimana penerapa metode paired storytelling untuk meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang, (2) apakah ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang dapat meningkat setelah menerapkan metode paired storytelling. Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian yang diinginkan peneliti adalah untuk mendiskripsikan penerapan metode paired storytelling dalam meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang dan mendiskripsikan peningkatan ketrampilan berbicara melalui metode paired storytelling pada siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan satu cara yaitu analisis kulitatif untuk kualitas proses pembelajaran, prestasi belajar siswa, daya serap klasikal. Nilai rata-rata mengalami peningkatan pada setiap siklus, yaitu pada siklus I sebesar 74,19 dengan 1 siswa mendapatkan nilai D(kurang), 14 siswa mendapatkan nilai C(cukup), dan 21 siswa mendapatkan nilai B (baik). Kemudian pada siklus II, nilai rata-rata siswa sebesar 86,48 dengan 1 siswa mendapatkan nilai C(cukup), 7 siswa mendapatkan nilai C(cukup), dan 28 siswa mendapatkan nilai A(sangat baik). Metode paired storytelling dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam aspek pembelajaran berbahasa. Aktivitas siswa terlihat pada kegiatan belajar siswa, terjadi kerjasama, keaktifan serta keberanian yang positif. Rata-rata skor aktivitas siswa meningkat, pada siklus I yakni 71,09 kemudian rata-rata pada siklus II yakni 78,80. Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah penerapan metode paired storytelling dapat berjalan dengan baik, dengan menerapkan metode ini siswa lebih berani dan percaya diri dalam berbicara di depan teman-temanya dan penerapan metode paired storytelling dapat meningkatkan ketrampilan berbicara. Hal ini, dapat dilihat dari nilai siswa yang semakin meningkat dari belum adanya tindakan hingga dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II. Sebagai seorang guru, sebaiknya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan menerapan dengan sesuai, lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun rencana pelaksanaan tersebut, misalnya menentukan serta menerakan metode atau model yang berfariasi, menarik, tidak membosankan dan yang paling penting sesuai dengan materi yang akan disampaikan.

Pengaruh faktor internal terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek Aqua pada konsumen di wilayah RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Rizki Maulina

 

Kata kunci: faktor internal, keputusan pembelian. Perkembangan zaman telah menuntun bergulirnya era globalisasi. Dunia persaingan saat ini, banyak produsen terus berupaya untuk berinovasi dalam pengembangan produknya. Salah satu merek air miunum kemasan yang termuka di Indonesia adalah merek AQUA yang di produksi oleh PT Tirta Investama. AQUA merupakan pelopor air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia. Persaingan yang kian ketat diantara produsen air minum dalam kemasan merek sejenis, menuntut AQUA untuk menganalisis perilaku keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) kondisi faktor internal konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (2) kondisi proses keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (3) pengaruh faktor internal secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (4) pengaruh faktor internal secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (5) serta untuk mengetahui elemen faktor internal yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepribadian dan konsep diri (X4), sikap (X5) serta variabel terikatnya adalah keputusan pembelian (Y). Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala keluarga di RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang berjumlah 127 kepala keluarga (rumah). Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 56 kepala keluarga (rumah). Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan (simple random sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini adalah: Terdapat pengaruh motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepribadian dan konsep diri (X4), sikap (X5) secara simultan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA berdasarkan nilai Fhitung sebesar 14,530 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari faktor internal yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah pembelajaran dengan nilai sumbangan efektif sebesar 16,2%. Selain itu, diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,552, ini berarti bahwa variabel motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian dan konsep diri, sikap secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA sebesar 55,2% sedangkan sisanya sebesar 44,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) rata-rata sebagian responden memiliki motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian dan konsep diri, sikap sudah baik terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (2) motivasi tidak berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (3) persepsi tidak berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (4) pembelajaran berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (5) kepribadian dan konsep diri berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (6) sikap berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (7) faktor internal secara simultan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, dan (8) variabel faktor internal yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah pembelajaran. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) konsumen air minum dalam kemasan galon merek AQUA banyak tersebar di seluruh Indonesia harus bisa mempertahankan kualitas produknya. (2) Produsen AQUA harus tetap menjaga faktor internal yang telah dimiliki konsumennya termasuk di wilayah RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, agar keputusan pembelian tetap terjaga sehingga meminimalkan kemungkinan konsumen berpindah ke merek lain. (3) Untuk penelitian selanjutnya, objek penelitian diambil lebih baik agar data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas. (4) Untuk penelitian selanjutnya, jumlah variabel ditambah selain variabel dalam penelitian ini dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam penelitian ini.

Penentuan struktur dengan metode difraksi sinar-X senyawa kompleks perak (I) dan tembaga (I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina / Dwi Prapti Asih

 

Kata Kunci: senyawa kompleks, perak(I) bromida, tembaga(I) bromida, difenil-2,4,6-trimetoksifenifosfina Reaksi antara perak(I) bromida atau tembaga(I) bromida dengan ligan fenilfosfina dan turunannya yang telah dilaporkan mempunyai stoikiometri 1:1, 1:2, 1:3. Senyawa kompleks perak(I) dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 dalam pelarut asetonitril telah berhasil disintesis, tetapi strukturnya belum ditentukan. Senyawa kompleks yang mungkin terjadi adalah berupa kompleks monomer, dimer, atau polimer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur senyawa kompleks dari perak(I) dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenifosfina dengan stoikiometri 1:1. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang terdiri dari dua tahap yaitu sintesis dan penentuan struktur senyawa kompleks. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan cara mereaksikan perak(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dalam pelarut piridina dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dalam pelarut asetonitril dengan stoikiometri 1:1. Senyawa kompleks yang diperoleh dikarakterisasi dengan menggunakan metode difraksi sinar-X, sedangkan penentuan struktur senyawa kompleks dilakukan dengan menggunakan program XTAL 3.7. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) senyawa kompleks perak(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 adalah [AgBr{PPh2(2,4,6-MeO)3Ph}(Py)]2 yang merupakan senyawa kompleks dimer dengan geometri disekitar atom pusat adalah tetrahedral terdistorsi. Kompleks ini mengkristal dalam kisi triklinik dalam kelompok ruang Pī. Parameter sel satuannya adalah a = 9,0754(6) Å, b = 9,2555(6) Å, c = 15,5767(1) Å, α = 98,877(3)°, β = 101,281(3)°, γ = 98,059(3)°, V = 1248,000(1) Å3, dan R = 0,043 untuk 24766 refleksi independen; (2) senyawa kompleks dari tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 adalah [CuBr{PPh2(2,4,6-MeO)3Ph}]2 yang merupakan senyawa kompleks dimer dengan geometri disekitar atom pusat adalah trigonal planar terdistorsi. Kompleks ini mengkristal dalam kisi triklinik dengan kelompok ruang Pī. Parameter sel satuannya adalah a = 9,6592(5) Å, b = 10,9130(6) Å, c = 11,3354(7) Å, α = 68,694(2)°, β = 84,603(3)°, γ = 69,891(2)°, V = 1044,697(1) Å3, R = 0,027 untuk 20757 refleksi independen.

Penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SDN Purwantoro 8 Malang / Yunita Mardianingrum

 

Kata Kunci : Matematika, SD, Metode demonstrasi, Operasi hitung bilangan bulat Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SDN Purwantoro 8 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika materi "Operasi bilangan bulat" guru menggunakan metode ceramah dan menggunakan satu media pembelajaran berupa gambar garis bilangan dimana guru langsung memberi tahu tentang bagaimana cara menghitung menggunakan garis bilangan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IV, mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IV, mendeskripsikan peningkatan keaktivan siswa kelas IV saat berlangsungnya pembelajaran matematika menggunakan matode demonstrasi pada siswa kelas IV SDN Purwantoro 8. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dalam 3 hari dan 2 hari. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan sebesar 75% dari jumlah keseluruhan subyek penelitian dengan rata-rata skor minimal 75. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Purwantoro 8 Kecamatan Blimbing Kota Malang yang berjumlah 36 anak. Pada penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa : lembar Observasi ( pengamatan ) untuk mengamati kegiatan siswa, catatan lapangan, LKS, studi dokumentasi dengan hasil tes dan foto-foto pada saat pembelajaran, serta lembar evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan : (a) Pelaksanaan pembelajaran demonstrasi pada siklus I masih banyak kekurangan, yaitu ada beberapa siswa yang belum paham cara kerja metode demonstrasi menggunakan media wayang-wayangan. (b) Metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep operasi hitung bilangan bulat dari skor rata-rata prates 58,89 menjadi 67,14 pada siklus I dan pada siklus II menjadi 80,28; (c) Metode pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan keaktifan, siswa dalam belajar. Jumlah siswa yang konsentrasi dalam belajar meningkat dari 56,11% pada siklus I menjadi 68,33% pada siklus II. Kerjasama siswa dari 56,67% pada siklus I meningkat menjadi 65,56% pada siklus II. Keberanian siswa dalam bertanya ataupun berpendapat juga mengalami peningkatan dari 58,89% pada siklus I menjadi 66,11% pada siklus II. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pertama pembelajaran dengan metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengajarkan tentang konsep operasi hitung bilangan bulat. Yang kedua penggunaaan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas IV di SDN Purwantoro 8, dan ketiga adalah dampak penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan konsentrasi, kerjasama, keberanian bertanya dan berpendapat siswa dalam belajar.

Pengembangan bahan ajar reaksi redoks dan elektrokimia berdasarkan model 4D dari Thiagarajan untuk blended learning / Marthania Dian Primasari

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Prof Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D. Kata kunci: redoks, elektrokimia, bahan ajar, blended learning Mengajar kimia untuk siswa sekolah menengah memberikan tantangan besar bagi guru karena sejumlah besar bahan ajar harus diajarkan kepada siswa. Beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran kimia di sekolah menengah adalah: (1) sebagian besar konsep belajar bersifat abstrak, (2) keterbatasan waktu yang tersedia untuk mengajarkan materi kimia, (3) kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Masalah pertama dapat diatasi dengan menggunakan model konkret bahan ajar dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas dalam bentuk media flash. Masalah kedua dapat diatasi dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menciptakan situasi ini adalah pembelajaran kooperatif. Pemanfaatan internet sebagai alat komunikasi siswa, sehingga dapat memaksimalkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran melalui komunikasi antara guru dan siswa, dan antar siswa lain di luar kelas, sehingga keterbatasan kendala waktu dapat diatasi. Masalah ketiga dapat diatasi dengan menyediakan bahan ajar yang dapat dipelajari secara individual oleh siswa di luar kelas. Kombinasi pembelajaran kooperatif, penggunaan model konkret dari bahan ajar dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas sebagai media flash, dan aplikasi internet sebagai alat komunikasi antara siswa dan guru, siswa dan siswa dapat dianggap sebagai blended learning. Blended learning memerlukan bahan ajar dengan desain tertentu. Bahan ajar ini dapat di-upload di internet dan dapat diakses oleh siswa di mana dan kapan saja. Redoks dan elektrokimia adalah bahan ajar kimia yang banyak mengandung konsep-konsep abstrak seperti pergerakan elektron, oksidasi, dan reduksi. Alokasi waktu yang diberikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk pengajaran ini sudah cukup, akan tetapi partisipasi siswa dalam proses pembelajaran cenderung sangat terbatas, sehingga penguasaan siswa pada topik ini cenderung rendah. Pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran ini diharapkan dapat mengatasi masalah yang terjadi. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengetahui: (1) kelayakan bahan ajar redoks dan elektrokimia yang telah dikembangkan, (2) keefektifan bahan ajar yang dikembangkan untuk blended learning, dan (3) persepsi siswa tentang pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran redoks dan elektrokimia. Pengembangan bahan ajar redoks dan elektrokimia mengadopsi model 4-D dari Thiagarajan dkk, yang terdiri dari 4 langkah. Langkah pertama terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu: (1) analisis akhir depan atau analisis kompetensi dasar dan standar kompetensi untuk topik redoks dan elektrokimia, (2) analisis kebutuhan siswa, dan (3) penyusunan indikator hasil belajar. Langkah kedua adalah desain bahan ajar yang akan dikembangkan. Langkah ketiga adalah pengembangan bahan ajar. Langkah keempat adalah penyebaran bahan ajar yang dikembangkan. Sebelum langkah keempat bahan ajar yang dikembangkan ditelaah oleh beberapa ahli yang terdiri dari dua dosen kimia Universitas Negeri Malang (UM) dan satu guru kimia. Validasi ini digunakan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar yang telah dikembangkan berdasarkan isi, bahasa, dan penyajiannya. Keefektifan bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada prestasi belajar 20 siswa MA Manbaul Hikam Sidoarjo yang terlibat dalam blended learning. Keefektifan bahan ajar yang digunakan dalam blended learning didasarkan pada hasil belajar siswa. Data pengembangan yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran oleh para ahli untuk perbaikan bahan ajar yang telah dikembangkan. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan penilaian standar bahan ajar yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari jawaban dari angket tentang persepsi siswa tentang penerapan blended learning dan prestasi belajar siswa. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket dan tes prestasi belajar siswa. Tes prestasi belajar siswa terdiri dari 20 item dengan validitas isi sebesar 0,87 dan koefisien reliabilitas dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment sebesar 0,52. Bahan ajar redoks dan elektrokimia yang dikembangkan berisi tujuan pembelajaran, indikator, bahan ajar, ringkasan, evaluasi, glosarium, dan indeks. Penilaian bahan ajar oleh beberapa ahli menunjukkan kelayakan isi sebesar 86,9%, kesesuaian bahasa sebesar 89,2%, dan komponen penyajian sebesar 88,9%. Revisi bahan ajar telah dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh beberapa ahli. Penerapan bahan ajar yang telah direvisi dalam blended learning menghasilkan 100% siswa memiliki prestasi belajar lebih tinggi dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Semua siswa memiliki persepsi positif tentang penerapan blended learning dalam pengajaran redoks dan elektrokimia. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas dianggap bahwa bahan ajar redoks dan elektrokimia yang telah dikembangkan adalah sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan keefektifan bahan ajar yang dikembangkan harus dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Pengembangan media audio pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas IV di MI. Miftahul Huda Bandulan Malang / Rurin Fatmawati

 

Kata kunci : Pengembangan, Media Audio Pembelajaran, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Media Audio Pembelajaran merupakan sebuah media yang hanya mengandalkan bunyi dan suara untuk menyampaikan informasi dan pesan. Dengan media audio informasi yang disampaikan menjadi indah, menarik, dan dapat merangsang pendengar untuk menggunakan imajinasinya, sehingga siswa mampu memvisualisasikan pesan-pesan yang diterimanya. Berdasarkan hasil penelitian di MI. Miftahul Huda Bandulan Malang pembelajaran pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) guru menggunakan metode ceramah biasa yang dibantu dengan papan tulis dan buku teks sebagai pegangan. Kegiatan seperti itu terkadang membuat siswa merasa bosan dan kurang bersemangat, sehingga siswa menjadi kurang paham terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Pengembang membuat media sebagai alternatif yang dapat meningkatkan semangat siswa dalam belajar baik di kelas maupun di luar kelas dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Tujuan pengembangan media audio pembelajaran adalah Menghasilkan sebuah produk berupa media audio pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat belajar bagi siswa-siswi dan juga membantu mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Pengembangan media audio pembelajaran ini diuji cobakan kepada siswa kelas IV MI. Miftahul Huda Bandulan Malang pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pengumpulan data dilakukan melalui instrument angket ahli media, ahli materi, dan audiens/ siswa. Untuk hasil belajar siswa digunakan evaluasi bentuk tes, yaitu pre-test dan post-test. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi, dan audiens/ siswa adalah persentase, sedangkan untuk mengolah hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah memanfaatkan media audio pembelajaran. Hasil uji coba dari ahli media pada materi ke-1 diperoleh 95% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 98,75% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 96,25% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba dari ahli materi pada materi ke-1 diperoleh 91,25% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 80% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 87,5% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba dari audiens/ siswa pada uji coba satu lawan satu pada materi ke-1 diperoleh 90% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 90% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 91,66% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba kelompok kecil pada materi ke-1 diperoleh 88,5% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 89,33% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 93,2% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Sedangkan hasil uji coba kelompok besar atau lapangan pada materi ke-1 diperoleh 94,4% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 94,33% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 96,7% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil tes sebelum (pre-tes) dan sesudah (post-tes) menggunakan media audio pembelajaran pada audiens/ siswa satu lawan satu pada materi ke-1, 2, dan 3 masing-masing mengalami peningkatan 10%. Hasil tes kelompok kecil pada materi ke-1 mengalami peningkatan 25%, materi ke-2 mengalami peningkatan 26%, dan materi ke-3 mengalami peningkatan 11%. Sedangkan pada kelompok besar atau lapangan pada materi ke-1 mengalami peningkatan 16,7%, materi ke-2 mengalami peningkatan 16%, dan materi ke-3 mengalami peningkatan 12,7%. Maka dari hasil peningkatan-peningkatan tersebut dapat diinterprestasikan bahwa media audio pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas IV dapat meningkatkan semangat belajar siswa dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan media audio pembelajaran yang dikembangkan yaitu media audio pembelajaran yang dikembangkan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran individu, kelompok kecil, dan kelompok besar yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa, meningkatkan semangat belajar siswa, dan juga dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk media audio pembelajaran yang telah dikembangkan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk pembelajaran, baik di kelas maupun di rumah yang dapat meningkatkan semangat belajar siswa dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran deep dialpgue critical thinking untuk meningkatkan hasil belajar PKn dan keaktifan siswa kelas IV SDN Randumerak Probolinggo / Fitka Nuria Dewanti

 

Kata kunci: Deep Dialogue Critical Thinking, hasil belajar, keaktifan, PKn, SD. Berdasarkan observasi di kelas IV SDN Randumerak Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn, diantaranya adalah siswa cenderung pasif dan siswa merasa bosan dalam pembelajaran PKn. Nilai mata pelajaran PKn terutama pada materi globalisasi masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan metode yang dipergunakan pada pembelajaran PKn adalah konvensional. Oleh karena itu, pada penelitian ini dicoba untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menerapakan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Deep Dialogue Critical Thinking pada kelas IV SDN Randumerak. (2) mendeskripsikan peningkatan keaktifan siswa melalui model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking pada kelas IV SDN Randumerak. (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pada pembelajaran PKn dengan menggunakan Deep Dialogue Critical Thinking pada kelas IV SDN Randumerak. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri dari: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan (observasi), (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Randumerak yang berjumlah 20 siswa terdiri atas 11 siswa perempuan dan 9 siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Hal ini ditandai dengan keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat dengan argumen yang tepat. Peningkatan rerata keaktifan siswa dari siklus I dengan nilai 67,5 ke siklus II dengan nilai 81,5.Sedangkan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 55 meningkat menjadi dengan nilai 68 dan pada siklus II meningkat dengan nilai 74 dengan persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 35% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 10% . Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa: (1) penerapan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas IV SDN Randumerak. (2) menerapkan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan saran antara lain: (1) Bagi guru kelas disarankan untuk menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking sebagai suatu alternatif proses pembelajaran siswa di kelas, karena hasil penelitian membuktikan bahwa model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran PKn di SD, (2) Bagi peneliti selanjutnya, mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai pokok bahasa, maka untuk mengetahui lebih jelas tentang model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dalam pembelajaran PKn maka perlu dilakukan penelitian pada pokok bahasan PKn yang lain, (3) Penerapan Deep Dialogue Critical Thinking dalam pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini dapat diterapkan pada peneliti-peneliti selanjutnya sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.

Pengembangan bahan ajar gaya antarmolekul berdasarkan model 4D dari Thiagarajan untuk blended learning / Rizka Noraharja

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Prof Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D. Kata kunci: gaya antarmolekul, bahan ajar, blended learning Beberapa masalah yang terjadi dalam pengajaran kimia di sekolah menengah atas adalah: (1) sebagian besar konsep belajar bersifat abstrak, (2) kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, (3) keterbatasan waktu yang tersedia untuk mengajarkan materi kimia. Masalah pertama dapat diatasi dengan menggunakan model konkret bahan ajar dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas dalam bentuk media flash. Masalah kedua dapat diatasi dengan menerapkankan pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menciptakan situasi ini adalah pembelajaran kooperatif. Pemanfaatan internet sebagai alat komunikasi, dapat memaksimalkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran melalui komunikasi antara guru dan antara siswa lain di luar kelas, sehingga kendala waktu dapat diatasi. Masalah ketiga dapat diatasi dengan menyediakan bahan ajar yang dapat dipelajari secara individual oleh siswa di luar kelas. Kombinasi pembelajaran kooperatif, penggunaan model konkret dari bahan ajar yang dikemas dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas sebagai media flash, dan aplikasi internet sebagai alat komunikasi antara siswa dengan guru dan antar siswa dapat dianggap sebagai blended learning. Blended learning memerlukan bahan ajar dengan desain tertentu. Bahan ajar ini dapat di-upload di internet dan dapat diakses oleh siswa di mana dan kapan saja. Topik gaya antarmolekul adalah topik kimia yang mendasari banyak topik lain seperti produk kelarutan dan sifat koligatif larutan. Topik ini terdiri dari banyak konsep-konsep abstrak seperti gaya London, dipol-induksian, gaya dipol, gaya dipol-dipol, dan ikatan hidrogen. Sayangnya, buku kimia yang digunakan di sekolah menengah atas cenderung sangat terbatas dalam membahas materi ini. Alokasi Waktu diberikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk pengajaran topik ini juga sangat terbatas. Oleh karena itu penguasaan siswa pada topik ini cenderung rendah. Pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran materi ini mungkin dapat mengatasi masalah yang ada. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengetahui: (1) kelayakan bahan ajar gaya antarmolekul yang telah dikembangkan, (2) keefektifan bahan ajar yang dikembangkan untuk blended learning, dan (3) persepsi siswa tentang pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran gaya antarmolekul. Pengembangan bahan ajar gaya antarmolekul mengadopsi model 4-D dari Thiagarajan dkk, yang terdiri dari 4 langkah. Langkah pertama terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu: (1) analisis akhir depan atau analisis kompetensi dasar dan standar kompetensi untuk topik gaya antarmolekul, (2) analisis kebutuhan siswa, dan (3) penyusunan indikator hasil belajar. Langkah kedua adalah desain bahan ajar yang akan dikembangkan. Langkah ketiga adalah pengembangan bahan ajar. Langkah keempat adalah penyebaran bahan ajar yang dikembangkan. Sebelum langkah keempat materi pembelajaran yang dikembangkan ditelaah oleh dua dosen kimia Universitas Negeri Malang (UM), satu guru kimia, dan 15 mahasiswa program studi pendidikan kimia Universitas Negeri Padang. Validasi ini digunakan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar yangh telah dikembangkan berdasarkan isi, bahasa, dan penyajiannya. Keefektifan bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada prestasi belajar 20 siswa SMA Negeri 3 Solok yang terlibat dalam blended learning. Keefektifan bahan ajar yang digunakan dalam blended learning didasarkan pada hasil belajar siswa. Data pengembangan yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran untuk perbaikan materi pembelajaran yang dikembangkan diberikan oleh dosen kimia, guru kimia, dan mahasiswa program studi kimia. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan penilaian standar materi pembelajaran yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari jawaban angket tentang persepsi siswa tentang penerapan blended learning dan prestasi belajar siswa. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket dan tes prestasi belajar siswa. Tes prestasi belajar siswa terdiri dari 20 item dengan validitas isi sebesar 0,90. Materi pembelajaran gaya antarmolekul yang dikembangkan terdiri darai tujuan pembelajaran, indikator, materi pembelajaran, ringkasan, evaluasi, glosarium, dan indeks. Penilaian bahan ajar oleh beberapa ahli menunjukkan kelayakan sebesar 90,5% dari isi, sebesar 94,4% kesesuaian bahasa, dan sebesar 86,7% dari penyajian. Revisi bahan ajar telah dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh dosen kimia, guru, dan siswa. Penerapan bahan ajar yang telah direvisi dalam blended learning menghasilkan 100% siswa mencapai kriteria kelulusan minimal (KKM). 85,0% Siswa menyatakan bahwa memahami materi dengan menggunakan blended learning mudah dipahami. 90,0% siswa merasa senang mempelajari materi pembelajaran , dan 80% siswa memberikan persepsi positif tentang penerapan blended learning. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas dianggap bahwa bahan ajar gaya antarmolekul yang telah dikembangkan adalah sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan efektivitas dari bahan ajar ini harus dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Analisis kesalahan sintaksis bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VI SDN Sedarum II Nguling Pasuruan yang berbahasa ibu bahasa Madura / Deny Setyawan

 

Kata Kunci: Kesalahan, sintaksis, bahasa Indonesia. Kesalahan merupakan penyebab utama kesulitan dalam belajar bahasa kedua. Penelitian ini didasari asumsi bahwa siswa kelas VI SD dalam penguasaan kosa kata sudah bisa dikatakan banyak, sehingga kegiatan mengarang bagi siswa kelas VI SD merupakan hal yang mudah. Selain itu, penguasaan bahasa Madura lebih baik dibandingkan dengan penguasaan bahasa Indonesia. Selanjutnya diajukan pertanyaan, yaitu bagaimanakah wujud kesalahan sintaksis bahasa Indonesia pada (1) kalimat tunggal dan (2) kalimat majemuk dalam karangan siswa kelas VI SD. Bertolak dari pertanyaan di atas, maka untuk menjawabnya digunakan beberapa teori yang dapat memberi gambaran jelas tentang wujud-wujud kesalahan. Teori-teori yang dimaksud yaitu penjelasan tentang kesalahan berbahasa dan jenis-jenis kesalahan, dwibahasawan dan tipe-tipe dwibahasawan, dan analisis kesalahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Dengan metode ini, kesalahan bahasa yang dibuat oleh siswa dapat dijelaskan. Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu dengan panduan identifikasi dan analisis data sebagai instrumen pembantu. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Sedarum II Nguling Pasuruan yang berbahasa ibu bahasa Madura dengan jumlah 19 siswa, sumber data penelitian ini adalah hasil karangan siswa kelas VI SD, dan data penelitian ini adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia yang melanggar bahasa pada tataran sintaksis yang terdapat dalam karangan bebas siswa kelas VI SD. Sekolah yang dijadikan sebagai sumber data penelitian ini adalah SDN Sedarum II Nguling Pasuruan. Penganalisisan data dilakukan dengan cara pemberian garis bawah pada kesalahan sintaksis dalam hasil karangan siswa, kemudian diklasifikasikan atau dikelompokkan sesuai dengan jenis kalimatnya. Jenis kalimat yang dimaksud adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 dari 19 siswa atau 72 % siswa melakukan kesalahan dalam karangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesalahan sintaksis pada kalimat tunggal yang dilakukan oleh siswa kelas VI SDN Sedarum II Nguling Pasuruan yang berbahasa ibu bahasa Madura. Kesalahan tersebut adalah (1) kalimat tunggal yang tidak gramatikal, (2) kalimat tunggal yang tidak padu, (3) kalimat tunggal yang tidak efektif, dan (4) kalimat tunggal yang dipengaruhi oleh bahasa Madura. Kesalahan sintaksis pada kalimat majemuk setara adalah (1) kalimat majemuk setara yang tidak gramatikal, (2) kalimat majemuk setara yang tidak padu, (3) kalimat majemuk setara yang tidak efektif, dan (4) kalimat majemuk setara yang dipengaruhi oleh bahasa Madura. Kesalahan sintaksis pada kalimat majemuk bertingkat adalah (1) kalimat majemuk bertingkat yang tidak gramatikal, (2) kalimat majemuk bertingkat yang tidak padu, (3) kalimat majemuk bertingkat yang tidak efektif, dan (4) kalimat majemuk bertingkat yang tidak jelas. Kesalahan sintaksis pada kalimat majemuk campuran adalah (1) kalimat majemuk campuran yang tidak gramatikal dan (2) kalimat majemuk campuran yang tidak efektif. Oleh karena itu, pihak guru SDN Sedarum II Nguling Pasuruan diharapkan selalu membelajarkan bahasa yang baik dan sesuai dengan kaidah bahasa yang benar. Pembelajaran bahasa seharusnya bukan merupakan tanggung jawab guru bahasa Indonesia atau guru kelas saja, tetapi juga guru mata pelajaran yang lain juga ikut ambil bagian dalam pembelajaran bahasa. Pembiasaan berbahasa yang baik dan benar perlu dibudayakan setiap hari, setidaknya dalam berkomunikasi setiap hari di lingkungan sekolah baik dalam berkomunikasi formal maupun informal.

Penerapan collaborative learning melalui permainan mencari gambar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Cepokomulyo 2 Kepanjen / Rahmawati

 

Kata kunci : pembelajaran IPA, collaborative learning, permainan mencari gambar Model collaborative learning yang diterapkan melalui permainan mencari gambar dapat membantu siswa untuk aktif dan bekerjasama dalam belajar karena mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan permainan secara kelompok dan meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap tugas yang harus diselesaikan. Pembelajaran IPA dengan menggunakan metode ceramah akan membuat siswa pasif dalam belajar. Kurang terbiasanya siswa untuk melakukan kegiatan kelompok membuat siswa kurang memiliki rasa kerjasama. Pelaksanaan kegiatan kelompok yang kurang efektif dapat menimbulkan ketergantungan siswa kepada temannya untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya diselesaikan secara berkelompok. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran cenderung pasif dan hasil belajar siswa hanya mencapai nilai rata-rata 63,33. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan collaborative learning melalui permainan mencari gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan collaborative learning melalui permainan mencari gambar dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Cepokomulyo 2 Kepanjen, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa kelas III, serta (3) peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Cepokomulyo 2 Kepanjen setelah dibelajarkan menerapkan collaborative learning melalui permainan mencari gambar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III sebanyak 30 siswa, yang terdiri dari 25 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK yang digunakan meliputi empat tahapan, yaitu: 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting, dan 4) revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalahobservasi, dokumentasi, tes, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan collaborative learning melalui permainan mencari gambar dalam pembelajaran IPA mampu merubah cara belajar siswa dari menerima pengetahuan menjadi aktif membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian tahapan pembelajaran, selain itu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 43,33%, dengan nilai rata-rata 68,13 dan pada siklus II prosentase meningkat menjadi 100% , dengan nilai rata-rata 85,03. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 63,33% dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa 67,9 dan pada siklus II prosentase meningkatan menjadi 80% dengan nilai rata-rata 73,55. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala sekolah dan guru untuk dapat menerapkan collaborative learning melalui permainan mencari gambar yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, dengan berusaha memperbaiki kekurangan yang terdapat pada penelitian ini, seperti pembentukan kelompok dan pengelolaan kelas. Bagi peneliti lain dengan penelitian yang sejenis dapat mengembangkan penelitian dengan menerapkan model collaborative learning melalui permainan mencari gambar yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar IPA siswa.

Studi epidemologi malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep - Jawa Timur / Melly Ratlina Sari

 

Kata kunci: epidemiologi, malformasi kongenital, Kabupaten Sumenep Malformasi kongenital merupakan kelainan bawaan lahir karena selama di dalam rahim mengalami gangguan, baik gangguan oleh faktor genetik, faktor lingkungan, maupun faktor genetik dan faktor lingkungan. Secara medis, usia muda merupakan usia yang belum matang untuk melakukan perkawinan. Kabupaten Sumenep memiliki angka kawin muda tertinggi di antara kabupaten lain di Pulau Madura. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis malformasi kongenital, persentase kejadian malformasi kongenital, dan faktor- faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep. Jenis penelitian adalah penelitian historis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2010 di Kabupaten Sumenep. Obyek penelitian berupa ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital di RSUD dr. H. Moh. Anwar; Rumah Sakit Islam Kalianget, dan Puskesmas, serta rumah bersalin. Prosedur penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data penderita malformasi kongenital pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2009 yang terdapat di rumah sakit, puskesmas, dan rumah bersalin, memberikan angket dan melakukan wawancara dengan ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital, mendokumentasikan bayi yang menyandang malformasi kongenital. Data primer berupa usia ibu saat melahirkan, berat bayi saat lahir, jenis kelamin bayi, urutan kelahiran bayi, status bayi (hidup atau mati), dan jenis kelainan yang disandang. Data sekunder merupakan jawaban dari angket dan wawancara. Instrumen penelitian antara lain tabel data primer, tabel data sekunder, angket, dan butir-butir pertanyaan pada wawancara. Data primer dianalisis menggunakan analisis korelasi, dan data sekunder dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,25, berarti tidak terjadi korelasi antara usia ibu saat melahirkan dan jumlah bayi yang lahir dengan menyandang malformasi kongenital. Tidak ada ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital pada usia di bawah 16 tahun. Persentase ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital pada usia 16-17 tahun sebanyak 0,32%, pada usia 18-29 tahun sebanyak 0,56%, pada usia 30-34 tahun sebanyak 0,64%, dan pada usia di atas 35 tahun sebanyak 0,77%. Jenis kelainan di Kabupaten Sumenep dikelompokkan menjadi kelainan morfologi, kelainan anatomi, sindrom down, dan kelainan multipel. Persentase kejadian malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2009 adalah sebesar 0,57%. Usia ibu saat melahirkan bukan satu-satunya penyebab bayi lahir dengan menyandang malformasi kongenital, namun malformasi kongenital disebabkan oleh faktor yang kompleks. Faktor resiko terbesar yang mempengaruhi terjadinya malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep adalah kekurangan nutrisi.

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui pendekatan paikem pada siswa kelas IV di SDN Karangsari 1 Kota Blitar / Rohmi Zunaida

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, PKn, Pendekatan PAKEM Dari hasil observasi yang dilakukan pada pembelajaran PKn kelas IV di SDN Karangsari 1 kota Blitar, guru menggunakan pembelajaran tradisional. Dalam pembelajaran PKn yang selama ini berlangsung guru hanya menjelaskan materi yang ada pada buku paket kemudian guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal evaluasi. Selama pembelajaran berlangsung kondisi yang ada dalam kelas tidak kondusif untuk siswa belajar, siswa ramai, dan tidak terfokus pada apa yang disampaikan oleh guru. Akibat dari hal tersebut hasil belajar yang diperoleh dari hasil observasi dalam kegiatan pra tindakan adalah 65, padahal KKM kelas yang seharusnya adalah 70. Dari hal tersebut memberikan informasi bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn belum maksimal.Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran dalam matapelajaran PKn perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan PAIKEM. Hal ini karena dengan pendekatan PAIKEM siswa akan dapat mencari sendiri pengertian dari materi yang akan dicapai tujuan pembelajarannya, sehingga diharapkan dengan penggunaan PAIKEM ini akan dapat menignkatkan hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. Selain hal tersebut dengan digunakannya pendekatan PAIKEM dalam pembelajaran siswa diharapkan akan dapat menikmati pembelajaran selayaknya dia bermain permainan yang menyenangkan tetapi juga memeproleh informasi tentang materi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)mengetahui dan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan PAIKEM pada pembelajaran PKn kelas IV di SDN Karangsari 1 Kota Blitar, (2) mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn di Kelas IV dengan menggunakan pendekatan PAIKEM pada SDN Karangsari 1 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas dengan model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan PAIKEM pada matapelajaran PKn di kelas IV sudah sangat baik. Hal ini didukung dengan sudah munculnya semua aspek/komponen PAIKEM pada saat pembelajaran berlangsung. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. siklus I, dan siklus II yaitu 58, 5, 62, dan 86. Dan ketuntasan belajar siswa pada pra siklus 45%, siklus I 60%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan kepada guru kelas IV SDN Karangsari 1 untuk menggunakan pendekatan PAIKEM pada pembelajaran PKn agar hasil belajar siswa optimal dan siswa aktif dalam pembelajaran.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran inkuiri nilai pada siswa kelas IV SDN Beru 1 Wlingi Kabupaten Blitar / Ike Lyvia Rose Malasari

 

Kata Kunci: hasil belajar, pendidikan kewarganegaraan, dan inkuiri nilai. Berdasarkan hasil observasi awal dalam proses pembelajaran PKn, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn. Siswa menganggap mata pelajaran PKn sebagai pelajaran hafalan karena kurang menekankan pada aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa masih kurang. Selain itu guru masih meng-gunakan model konvensional yaitu masih terpusat pada guru (teacher center) sehingga membuat siswa bosan dalam proses pembelajaran PKn. Tujuan diadakannya penelitian di SDN Beru 01 Wlingi Kabupaten Blitar adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inkuiri nilai pada siswa kelas IV. Diharapkan dengan model pembelajaran ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kuali-tatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpul-an data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan. Analisis data hasil observasi siswa yaitu dengan mencari prosentase banyak siswa yang menda-pat skor dibagi jumlah siswa dan dikalikan 100%. Apabila hasilnya 70% ke atas maka kegiatan yang dilakukan siswa sudah baik. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap pra hanya 5 siswa atau 14,7% dari 34 siswa yang tuntas belajar. Setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri nilai pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 50% dari 14,7% menjadi 64,7%. Sedangkan untuk peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 35,3% dari 64,7% menjadi 100%. Peningkatan hasil belajar siswa ini dikarenakan peneliti menggunakan metode pembelajaran inkuiri nilai (value inquiry). Siswa yang awalnya bosan dan tidak bersemangat, setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri nilai menjadi lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri nilai menunjukkan peningkatan hasil belajar PKn. Untuk itu disarankan hendaknya para guru menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sesuai situasi dan kondisi siswa. Dengan demikian pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna.

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA melalui model pembelajaran ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction) pada siswa kelas IV SDN Jatimuluo 1 Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung / Widha Bhinartika

 

Kata kunci: IPA, Pembelajaran, Model ARCS Model ARCS adalah model pembelajaran yang mengutamakan pengelolaan motivasi siswa selama pembelajaran. Pengelolaan motivasi dapat diukur dari ketercapaian indikator pada ARCS yaitu perhatian siswa (Attention), keterkaitan pembelajaran dengan pengalaman siswa (Relevance), kepercayaan diri siswa (Confidence), kepuasan siswa selama pembelajaran (Satisfaction). Berdasarkan hasil observasi didapatkan fakta bahwa pembelajaran berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif. Dari nilai tes menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 61,67 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 41,6 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65 untuk hasil belajar dan 70% untuk ketuntasan kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model ARCS untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model ARCS, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model ARCS, (4) tanggapan siswa selama pembelajaran dengan model ARCS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model ARCS, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, pedoman wawancara, lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model ARCS untuk pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 dengan kompetensi dasar "menjelaskan perubahan energi bunyi melalui penggunaan alat musik" dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam penerapan model ARCS pada siklus I yaitu 82,22% dan meningkat pada siklus II menjadi 92,22%. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 69,7 menjadi 84,5 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 71 dengan ketuntasan 64% pada siklus I menjadi rata-rata 88,27 dengan ketuntasan kelas mencapai 82% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam menerapkan model ARCS ini hendaknya guru mempersiapkan permasalahan dengan matang sehingga tidak akan kehabisan permasalahan yang harus didiskusikan siswa. Agar mudah dalam mengkondisikan dan mengorganisasikan kelas dengan baik, guru diharapkan memberikan penguatan yang baik untuk mamacu keaktifan siswa, juga dapat memberikan penghargaan berupa hadiah.

Peningkatan keterampilan menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang di kelas IV SDN Bendosari 02 Kabupaten Blitar / Dolid Zahroeni

 

Kata Kunci: menulis narasi, cerita rumpang, sekolah dasar Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Berbagai kompetensi tersebut diberikan agar siswa mampu menerapkan konsep bahasa dalam memecahkan masalah yang erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Menulis karangan narasi merupakan salah satu materi dalam bahasa Indonesia. Dalam menulis karangan narasi, siswa kelas IV SDN Bendosari 02 mengalami kesulitan sehingga hasil belajar siswa pada keterampilan menulis narasi sangat rendah dengan rata-rata 56,29. Karena itulah peneliti melakukan penelitian untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi. Tindakan yang dilakukan adalah menerapkan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang. Melalui penelitian ini dapat diketahui bagaimana penerapan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang dan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa dengan menerapkan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu jenis penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian dilakukan sesuai tahap yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart. Subjek peneliti berjumlah 14 siswa. Data yang diambil adalah data tentang hasil belajar siswa, keterlaksanaan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang, kegiatan guru dalam mengajar dan respon siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan angket. Teknik analisa data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Analisa data merupakan proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, dan mengorganisasi data secara sistematik dan rasional untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian. Untuk hasil belajar digunakan SKM sebagai standar ketuntasan siswa dalam belajar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil belajar siswa menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang mengalami peningkatan dari hasil tes akhir diperoleh prosentase ketuntasan belajar pada pra tindakan 35,71% dengan kategori sangat kurang, siklus I 78,57% dengan kategori baik dan siklus II 100% dengan kategori sangat baik. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang untuk mengatasi kesulitan siswa menulis karangan narasi, sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Analisis kinerja guru bersertifikasi pada sekolah dasar negeri dalam menyusun perencanaan pembelajaran se-kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang / Uma Fadhila Trisnawati

 

Kata Kunci: kinerja guru, guru bersertifikasi, rencana pembelajaran Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut dapat diwujudkan melalui kinerja guru, salah satunya kinerja guru dalam menyusun rencana pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kinerja guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo dalam menyusun perencanaan pembelajaran dan untuk mendeskripsikan kualitas rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang yang berjumlah 85 guru. Sampel penelitian berjumlah 65 guru yang diperoleh dengan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan instrumen berupa angket dan dokumentasi RPP yang dibuat oleh guru. Data yang terkumpul dianalisis dengan statistik deskriptif yang disajikan dengan tabel dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua guru bersertifikasi memiliki RPP dan dalam penyusunan RPP sebagian besar komponen sudah dilengkapi oleh guru. Aspek yang hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru yaitu menyusun RPP dengan memperhatikan perbedaan karakteristik peserta didik; mempertimbangkan penerapan teknologi, informasi, dan komunikasi; merumuskan tujuan pembelajaran yang mengandung unsur ABCD; merencanakan model pembelajaran yang bervariasi; membuat rangkuman materi; memilih sumber belajar dari internet dan majalah; dan membuat LKS sendiri. Ditinjau dari kualitas RPP yang dibuat oleh guru, terdapat 57% guru yang sudah membuat RPP dengan baik dan memenuhi kelengkapan seluruh komponen RPP yang sesuai dengan standar proses. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa kinerja guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo dalam menyusun rencana pembelajaran dapat dikategorikan baik. Selanjutnya, ditinjau dari kualitas RPP yang dibuat oleh guru terdapat sebagian besar guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo memiliki kualitas RPP yang baik. Saran yang diberikan antara lain kepada guru agar dalam menyusun RPP melengkapi semua komponen dan kepada Dinas Pendidikan agar menindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis.

Peningkatan kemampuan membaca aksara Jawa menggunakan flashcard bagi siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang / Anik Miftakhul Jannah

 

Kata Kunci : Flashcard, Membaca Aksara Jawa, Sekolah Dasar Bahasa Jawa merupakan salah satu ragam bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur dan pengguna paling besar di Indonesia. Rendahnya penguasaan dalam membaca aksara Jawa mengundang keprihatinan berbagai pihak. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ditemukan banyak siswa mengalami kesulitan dalam membaca aksara Jawa, sehingga mengakibatkan kemampuan membaca aksara Jawa siswa kelas 3 rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penggunaan flashcard yang dapat meningkatkan kemampuan membaca aksara Jawa bagi siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang, (2) peningkatan kemampuan membaca aksara Jawa menggunakan flashcard bagi siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang. Penelitian menggunakan rancangan PTK, subyek penelitian ini adalah siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang dengan banyak siswa 41 anak. Lokasi penelitian di SDN Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Analisis data dilakukan dengan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) penggunaan flashcard sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca aksara Jawa dan suasana pembelajaran lebih menyenangkan, (2) kemampuan siswa membaca aksara Jawa menggunakan flashcard mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 62 pada siklus ke-1 dan 70 pada siklus ke-2. Peneliti menyarankan bagi (1) guru dalam menyampaikan materi pelajaran hendaknya menggunakan berbagai variasi media pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas, (2) peneliti lain, peneliti menyadari hasil penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan, tetapi dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian lebih lanjut.

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan metode pengamatan objek pada siswa kelas V SDN Mojolangu 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Sudarti

 

Kata Kunci: Menulis, Puisi, Metode Pengamatan Objek. Kemampuan menulis puisi adalah kesanggupan atau kecakapan yang dimiliki oleh siswa kelas V SDN Mojolangu 5 untuk mengekspresikan pengalaman batin secara tertulis dalam bentuk larik dan bait dengan memperhatikan tema, amanat, diksi, rima, dan tipografi. Dengan penguasan keterampilan menulis, diharapkan siswa dapat mengungkapkan, pikiran, perasaan yang dimilikinya setelah menjalani proses pembelajaran dalam berbagai tulisan. Namun kenyataannya, di kelas tinggi siswa masih merasa kesulitan bila hendak menulis puisi. Beberapa faktor penghambat yang dialami siswa kelas V dalam kemampuan menulis puisi di SDN Mojolangu 5, yaitu (1) ketertarikan siswa dalam membuat puisi kurang karena siswa masih malas untuk membuat puisi dan ramai sendiri saat berlangsungnya pelajaran, (2) kurangnya buku-buku mata pelajaran puisi dan kumpulan puisi yang dibaca siswa, (3) siswa kurang mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya secara efektif karena suasana kelas yang kurang kondusif, (4) kurangnya penguasaan kosa kata yang dimiliki siswa, (5) guru cenderung menggunakan metode ceramah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti mencoba untuk menerapkan metode pengamatan objek dalam penulisan puisi. Metode pengamatan objek adalah metode yang dilakukan dengan mencermati suatu peristiwa secara langsung dengan prosedural meliputi: siswa mengamati objek, mendeskripsikan objek yang diamati, menuangkan ke dalam bahasa puitis. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan siswa dalam menulis puisi. Tes dilakukan dengan pemberian tugas menulis puisi dengan metode pengamatan objek. Teknik non tes dilakukan untuk mengetahui keadaan yang terjadi sebenarnya selama proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam melakukan teknik ini, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan jurnal. Data penelitian berupa peningkatan interaksi dan aktivitas siswa yang diamati berdasarkan lima apek yaitu: (1) keaktifan siswa alam bertanya, (2) keaktifan siswa alam menjawab, (3) Keantusiasan siswa mengikuti pembelajaran, (4) partisipai siswa dalam menulis puisi, (5) perilaku siswa. Kemampuan menulis puisi di ukur dari struktur fisik dan batin meliputi; (1) tema, (2) amanat, (3) diksi, (4) rima, (5) tipografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi dengan metode pengamatan objek, aktivitas dan kemampuan siswa dalam menulis puisi mengalami peningkatan. Kemampuan menulis puisi dari siklus I pertemuan pertama ke pertemuan kedua mengalami peningkatan sebesar 42,9%. Sedangkan dari siklus I pertemuan kedua ke Siklus II mengalami peningkatan sebesar 35,7%. Untuk aktivitas siswa dari siklus I pertemuan pertama ke pertemuan kedua mengalami peningkatan 10%. Sedangkan dari pertemuan kedua ke siklus II mengalami peningkatan 9%. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pengamatan objek dapat meningkatkan aktivitas yang positif sehingga siswa lebih tertarik dan antusias dalam pembelajaran menulis puisi dan kemampuan menulis puisi juga meningkat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pengamatan objek dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa kelas V SDN Mojolangu 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan sekolah supaya lebih termotivasi dan lebih semangat dalam memberikan pengajaran yang bermutu, bervariasi dan berinovasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemecahan masalah (Problem solving) di kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar / Zusnita

 

Kata kunci: pembelajaran IPS, metode pemecahan masalah, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran yang tepat harus dilakukan sebagai upaya meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Selama ini guru hanya meng-gunakan metode ceramah sehingga pembelajaran hanya berpusat pada guru. Hal itu terjadi pada mata pelajaran IPS terbukti dari 23 siswa terdapat 18 siswa (78,26%) mendapat nilai di bawah nilai KKM kelas yaitu nilai 65. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemecahan masalah di kelas IV SDN krisik 03 Kabupaten Blitar. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus, siklus I dua pertemuan, siklus II tiga pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini adalah: lembar observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru, tes, dan kamera. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus II diketahui persentase peningkatan aktivitas siswa, aktivitas guru, dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar. Persentase aktivitas siswa dari pratindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 18,28% dari 37,05% menjadi 55,33%. Pada siklus II persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 20,67% dari 55,33% menjadi 76%. Aktivitas guru dari pra-tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 28%, yaitu dari nilai 5 (28%) menjadi nilai 11 (62%). Dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 17% yaitu dari nilai 11 (62%) menjadi skor 15 (82%). Persentase ketuntasan belajar siswa pada tahap pratindakan adalah 34,78% dengan nilai rata-rata 57,82. Persen-tase ketuntasan hasil belajar siswa dari pratindakan ke siklus I mengalami pening-katan sebesar 8,72%, dari 34,78% menjadi 43,5% dengan nilai rata-rata 58,82. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 43,5%, dari 43,5% menjadi 87% dengan nilai rata-rata 72,2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar. Dari 23 siswa terdapat 3 siswa yang belum tuntas karena siswa belum mampu melaksanakan langkah-langkah pembelajaran dalam metode peme-cahan masalah.

Peningkatan keterampilan menulis narasi ekspositoris melalui penglaman pribadi siswa kelas V di SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar / Kusnul Khotimah

 

Kata kunci: menulis narasi ekspositoris, pengalaman pribadi siswa. Kenyataan di lapangan, siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar memiliki ketrerampilan dalam menulis narasi ekspositoris yang masih rendah. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan tujuan penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan penerapan pengalaman pribadi dalam pembelajaran menulis narasi ekspositoris pada kelas siswa V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan melalui pengalaman pribadi dapat meningkatkan ketrampilan menulis narasi ekspositoris pada siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis narasi ekspositoris melalui pengalaman pribadi dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi ekspositoris siswa kelas V SDN Ngeni 08 yang ditunjukkan dengan hasil belajar pada pra tindakan dengan nilai rata-rata 65, siklus dengan nilai rata-rata I 73, dan siklus II dengan nilai rata-rata 88 . Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 36%, siklus I sebesar 64%, dan siklus II 91%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis narasi ekspositoris berdasarkan pengalaman siswa dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi ekspositoris siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan dan memanfaatkan pengalaman pribadi siswa sebagai bahan untuk menulis narasi ekspositoris

Peningkatan pengetahuan konsep teknologi melalui model pembelajaran tujuh bintang siswa kelas IV SDN Suruhwadang 03 Kabupaten Blitar / Rohmad Setyo Wibowo

 

Kata kunci: Peningkatan pengetahuan, IPS, model pembelajaran tujuh bintang Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang mengajarkan seperangkat konsep dari ilmu-ilmu sosial. Konsep-konsep tersebut diberikan secara berkaitan antara konsep satu dengan yang lain sehingga mudah dipahami dan mengingatnya. Kenyataan di Sekolah Dasar tidak demikian, dalam pembelajarannya, guru banyak ceramah sehingga siswa pasif dan bosan. Hal ini berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang mengarah pada rendahnya pengetahuan siswa terhadap suatu konsep materi. Hal ini tampak pada nilai yang diperoleh dari 22 siswa hanya 5 siswa yang tuntas dan 17 siswa tidak tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran tujuh bintang pada pembelajaran IPS, dan (2) mendeskripsikan peningkatan pengetahuan konsep teknologi dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Suruhwadang 03 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, jenisnya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitiannya 22 siswa kelas IV SDN Suruhwadang 03 Kabupaten Blitar. Instrumen penelitian ini meliputi lembar observasi dan lembar tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data secara kualitatif. Penelitian ini dilakukan dua siklus dengan tahapan penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam satu siklus ada tiga kali pertemuan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa terhadap konsep teknologi. Terlihat dari hasil belajar secara individu maupun klasikal dalam pembelajaran IPS melalui model pembelajaran tujuh bintang. Peningkatan rata-rata hasil belajar secara individu pada siklus I adalah 75,90 % meningkat menjadi 83,90 % pada siklus II. Sedangkan secara klasikal peningkatan rata-rata hasil belajar 72,27% meningkat menjadi 81,81 % pada siklus II. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan judul lainnya. Disarankan guru dalam pembelajaran mampu menentukan model atau metode yang tepat sehingga tercipta proses belajar yang bermakna bagi siswa.

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran talking stick di kelas V SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk / Arina Tri Mariyanti

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, PKn, Talking Stick Mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran yang membentuk siswa menjadi manusia yang berakhlak mulia, berguna bagi nusa dan bangsa, serta mampu mengikuti perkembangan IPTEK. Dalam pembelajaran PKn guru selalu mendominasi pembelajaran dengan ceramah, tanya jawab, dan memberikan tugas saja. Sehingga membuat siswa bosan dan bahkan mempengaruhi hasil belajar siswa. Karena guru mendominasi pembelajaran sehingga siswa pasif dan kurang memahami materi yang diajarkan guru dan hasil belajar mereka menurun. Untuk itu diperlukan pembaharauan mengenai hal itu. Misalnya dengan menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick. Penelitian tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal, yang mencakup pelaksanaan model pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas V SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk, dan meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick kelas V SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas / Classroom Action Research (CAR). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik Observasi, Tes, dan Dokumentasi. Data proses pembelajaran (penerapan model Talking Stick) bersumber dari peneliti dan siswa kelas V SDN Dawuhan I. Data keaktifan siswa diperoleh dari hasil observasi pada proses pembelajaran pada awal siklus sampai dengan akhir siklus yang direncanakan dalam kelas. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Talking stick juga meningkat yaitu pada siklus I pertemuan I jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sebanyak 3 siswa (15%) kemudian naik pada pertemuan II menjadi 8 siswa (40%). Sedangkan pada siklus II pertemuan I jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sebanyak 16 siswa (76%) kemudian naik pada pertemuan II sebanyak 19 siswa (90,5%). Dari hasil penelitian ini disarankan kepada guru seharusnya guru mau mencoba model pembelajaran Talking Stick pada mata pelajaran lainnya agar siswa lebih senang dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran lain juga meningkat, bagi siswa seharusnya siswa dapat belajar lebih giat lagi dan lebih aktif dalam pembelajaran agar mereka mendapat hasil belajar atau nilai yang lebih baik lagi.

Peningkatan kemampuan membaca teks bacaan dengan teknik Tri Fokus Steve Snyder di kelas V SDN Manisrenggo kota Blitar / Anggit Prasetyo

 

Kata kunci: kemampuan membaca, teknik Tri Foku Steve Snyder, sekolah dasar Kemampuan membaca merupakan aspek yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Untuk itu diperlukan teknik yang tepat untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa, salah satunya menggunakan teknik Tri Fokus Steve Snyder. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik Tri Fokus Steve Snyder di kelas V dan mendeskripsikan penggunaan teknik Tri Fokus Steve Snyde yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Teknik yag digunakan dalam penelitian ini adalah Tri Fokus Steve Snyder dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Manisrenggo Kota Kediri. Teknik analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dari data yang didapatkan menunjukkan bahwa penerapan teknik Tri Fokus Steve Snyder dapat berjalan baik dan dapat meningkatkan kemampuan membaca teks bacaan siswa kelas V SDN Manisrenggo Kota Kediri. terbukti pada kegiatan pra siklus menunjukkan bahwa rata-rata perolehan nilai belajar siswa adalah 67,27 pada siklus I rata-rata perolehan nilai siswa adalah 78,33, pada siklus II dengan nilai rata-rata 91,36. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik Tri Fokus Steve Snyder berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kemampuan membaca teks bacaan siswa kelas V SDN Manisrenggo Kota Kediri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar guru aktif mencari informasi mengenai teknik pembelajaran inovatif agar menambah pengetahuannya mengenai teknik pembelajaran serta dapat memilih teknik pembelajaran yang sesuai untuk masalah pembelajaran yang sedang dihadapi, memiliki inovasi dan kreativitas dalam menciptakan iklim pembelajaran, mengelola kelas sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, serta memilih strategi yang sesuai dengan karakter materi yang diajarkan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata diklat melakukan prosedur administrasi kelas X APK 4 SMK Negeri 2 Pacitan / Lissa Marwina

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, hasil belajar Berdasarkan pra penelitian yang telah dilakukan di SMKN 2 Pacitan, diproleh informasi bahwa pembelajaran pada mata diklat Melakukan Prosedur Administrasi masih didominasi oleh metode ceramah sehingga hasil belajar belum maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti menerapkan model pembelajaran Group Investigation untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kritis, aktif dalam pembelajaran, bertanggung jawab, meningkatkan pemahaman dan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran. Penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation dilaksanakan dalam dua siklus selama empat pertemuan. Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dokumentasi, wawancara, angket dan catatan lapangan. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMKN 2 Pacitan dengan subyek penelitian adalah siswa kelas X APk 4 yang berjumlah 33 siswa. Mata diklat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mata diklat Melakukan Prosedur Administrasi. Untuk mengetahui kegiatan siswa selama proses pembelajaran maka dilakukan observasi dengan menggunakan instrumen lembar aktivitas. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar maka digunakan pre test dan post test. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Nilai rata-rata pre test pada siklus I sebesar 6%, sedangkan nilai rata-rata post test siklus I sebesar 60%. Hal ini mengalami kenaikan sebesar 54%. Demikian juga pada siklus II nilai rata-rata pre test siklus sebesar 90%, sedangkan nilai rata-rata post test siklus II sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil post test siklus II mengalami peningkatan sebesar 10% dari post test siklus I. (2) Tanggapan yang diberikan siswa terhadap pembelajaran kooperatif model Group Investigation sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya sikap siswa yang merasa senang dengan pembelajaran ini karena menuntut siswa untuk aktif sehingga kegiatan pembelajaran tidak monoton. (3) Tanggapan yang diberikan guru terhadap pembelajaran kooperatif model Group Investigation adalah model pembelajaran kooperatif memang sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Namun guru masih berpikir bahwa model pembelajaran kooperatif tidak harus diterapkan dalam proses belajar mengajar karena siswa masih perlu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Jika penerapan ingin berhasil masih diperlukan pembiasaan bagi siswa. Semua guru sebaiknya menerapkan beragam model pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diberikan oleh peneliti yaitu: (1) Bagi guru, model pembelajaran kooperatif selayaknya lebih diterapkan untuk berbagai mata diklat. Khususnya pembelajaran kooperatif model Group Investigation dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas untuk meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. (2) Bagi siswa, perlu memahami setiap tata cara saat mengikuti pembelajaran kooperatif model Group Investigation agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan meningkatkan keberanian dalam mengajukan pertanyaan maupun berargumentasi guna lebih memahami terhadap materi yang dipelajari.

Manajemen pembelajaran outbond di sekolah alam (studi kasus sekolah alam bilingual SD Islam Surya Buana Malang) / Della Olivia Wijayanti

 

Kata Kunci: manajemen pembelajaran, outbond, sekolah alam Secara umum, sekolah alam mengembangkan dua jenis pembelajaran, yaitu pembelajaran dalam kelas dan pembelajaran di luar kelas. Pembelajaran di luar kelas ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan psikomotorik anak, sehingga siswa tidak hanya cerdas dalam bidang kognitifnya saja, namun juga tanggap terhadap lingkungan sosial. Pembelajaran di luar kelas, dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pembelajaran di dalam sekolah yang dilaksanakan satu kali dalam satu minggu dan pembelajaran di luar wilayah sekolah yang disebut dengan kegiatan outbond. Penelitian dalam bidang manajemen kegiatan outbond sangat penting, sebab pada hakikatnya pendidikan itu harus bersifat terbuka. Artinya, pendidikan itu harus dapat menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan yang ada. Saat ini, kebutuhan akan pembelajaran tidak terpenuhi apabila aktivitas siswa hanya berada di dalam kelas saja. Oleh karena itu, sekolah juga harus dapat menyediakan fasilitas pembelajaran di luar kelas. Hal tersebut dapat terwakili oleh adanya kegiatan outbond. Penelitian tentang kegiatan outbond akan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah yang menerapkan kegiatan outbond. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi sekolah lain yang belum mengadakan kegiatan outbond sebagai agenda rutin. Kegiatan outbond sangat penting dalam usaha memupuk jiwa kepemimpinan, kemandirian, keberanian, percaya dir, tanggung jawab, empati, serta dapat memacu siswa untuk lebih kreatif dalam mengatasi permasalahan belajar di kelas. Oleh karena itu, sekolah harus benar-benar mengelola kegiatan outbond dengan baik agar mendapatkan hasil yang optimal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perencanaan pembelajaran outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang, bagaimana pelaksanaan kegiatan outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang, apa saja manfaat adanya kegiatan outbond bagi siswa Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang serta bagaimana dampak adanya kegiatan outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data penelitian berupa hasil dari wawancara dengan narasumber, observasi terhadap lapangan, dan beberapa dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Instrumen yang digunakan adalah panduan wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil temuan penelitian, ditemukan empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, perencanaan pembelajaran kegiatan outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang diwujudkan dalam pembentukan panitia yang terdiri atas direktur, kepala sekolah, seluruh guru, dan orang tua siswa yang terbentuk dalam paguyuban kelas. Kedua, pelaksanaan outbond diwujudkan melalui pemberdayaan guru dan orang tua siswa sebagai fasilitator dan pengawas kegiatan serta untuk pengevaluasiannya diwujudkan melalui pemberian tugas berupa pembuatan laporan oleh siswa tentang pengalaman kegiatan outbondnya yang berfungsi sebagai salah satu pertimbangan guru dalam pemberian nilai. Ketiga, kegiatan outbond sangat bermanfaat bagi siswa, sebab melalui outbond, siswa dapat menyegarkan kembali jasmani dan pikiran mereka setelah sehari-hari lelah belajar di sekolah. Selain itu, outbond juga merupakan media belajar sambil bermain yang membuat siswa dapat mengaplikasikan teori pembelajaran yang sudah dipelajari secara langsung pada alam. Keempat, kegiatan outbond berdampak pada citra positif yang melekat pada SD Islam Surya Buana Malang sebagai sekolah alam yang menerapkan outbond sebagai program unggulan. Hal ini mempengaruhi input siswa yang setiap tahunnya meningkat. Adapun saran yang diajukan dalam penelitian ini antara lain ditujukan kepada peneliti lain, khususnya peneliti Administrasi Pendidikan sebaiknya lebih memfokuskan pada manajemen kegiatan outbond terutama kegiatan dan fungsi guru dalam kegiatan outbond tersebut, bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan dapat mengembangkan pelaksanaan manajemen pembelajaran sekolah sekaligus memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang penelitian pembelajaran outbond, kepala sekolah Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang ada baiknya mengembangkan dan melaksanakan kegiatan outbond yang mengacu pada teori-teori yang telah dipaparkan, guru diharapkan mampu membuat program perbaikan/remidial bagi siswa agar saat terdapat siswa yang pasif saat outbond, siswa tersebut dapat memperbaikinya, siswa Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang diharapkan dapat mengikuti pembelajaran outbond dengan benar sehingga mampu menggali pengalaman di lokasi outbond, serta bagi orang tua siswa saat mengikuti kegiatan outbond, hendaknya mengamati minat dan bakat putra-putrinya, sehingga orang tua dapat menyalurkan bakat tersebut dengan benar.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi menggunakan gambar seri siswa kelas III SDN Bacem 03 kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar / Deni Puspitasari

 

Kata kunci: menulis deskripsi, gambar seri, sekolah dasar Pembelajaran menulis deskripsi kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar masih berpusat pada guru dengan menggunakan metode ceramah tentang materi menulis deskripsi dan tidak ada media yang mendukung dan sesuai materi yang ada. Hal ini menjadi faktor kemampuan menulis deskripsi siswa menjadi rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan 1) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi menggunakan gambar seri siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar? 2) Apakah dengan menggunakan gambar seri dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar? Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui gambar seri dapat meningkatkan hasil menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 62, siklus I 70, dan siklus II 85 . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 40%, siklus I sebesar 80%, dan siklus II 100%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 60%, dan siklus II 94%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis deskripsi melalui gambar seri dapat meningkatkan hasil belajar menulis deskripsi siswa serta dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan gambar seri sebagai media pembelajaran menulis deskripsi.

Model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V di SDI Al-Yasini Ngabar Kraton Pasuruan / Saidah

 

ata kunci: Pembelajaran IPS, Model Pembelajaran Jigsaw, Hasil belajar. Pendidikan Ilmu Pengetahuan sosial (IPS) bertujuan membentuk watak siswa agar memiliki kemampuan dasar untuk berfikir kritis, rasa ingin tahu, menemukan, memecahkan permasalahan dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Selain itu siswa juga dituntut mampu berkomunikasi dan bersaing sehat dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, maupun global. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa SDI Al-Yasini belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah yaitu 70 ketuntasan individu. Hal ini, terbukti dari nilai-nilai UAS (ujian akhir semester) tahun ajaran 2009/2010 dengan rata-rata 5,8. Permasalahan yang terjadi di kelas V adalah rendahnya hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran jigsaw yaitu model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDI Al-Yasini sebanyak 20 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil analisis data setelah penerapan model pembelajaran jigsaw menunjukkan bahwa: 1) Kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS sesuai dengan RPP dengan model pembelajaran jigsaw mencapai nilai 86,9 dengan kategori A; 2) Untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai 82,5 % dengan kategori tuntas; 3) Hasil belajar siswa mencapai nilai 72,5 dengan ketuntasan belajar 80%. Hasil penelitian ini menunjukkan model pembelajaran jigsaw dalam pembelajaran IPS siswa kelas V SDI Al-Yasini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa dapat dilihat dari rata-rata hasil tes mulai dari pre tes (59,75) dengan prosentase (40%), meningkat siklus I (68,15) dengan prosentase (60%), dan meningkat lagi siklus II (72,5) dengan prosentase (80%) yang terus mengalami peningkatan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu lebih profesional dalam menjalankan tugas mengajar untuk merangsang minat belajar siswanya, serta melibatkannya secara utuh dalam pembelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model cooperative integrated reading and composition (CIRC) untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran komunikasi bisnis (studi pada siswa kelas X Pemasaran di SMK PGRI 6 Malang tahun ajaran 2010/2011) /

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC), Keaktifan, Prestasi Belajar Siswa Dunia pendidikan saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat baik dalam hal teknologi maupun metode pembelajaran. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna memajukan kualitas pendidikan adalah dengan menyempurnakan kurikulum yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini menuntut guru agar tidak selalu menggunakan metode konvensional, tetapi juga menggunakan metode pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk selalu aktif. Kesediaan pendidik untuk mempelajari dan menerapkan suatu hal yang baru dalam hal ini metode pembelajaran baru, akan berguna untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran secara maksimal Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Komunikasi Bisnis Kelas X Pemasaran di SMK PGRI 6 Malang menunjukkan bahwa guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional atau guru yang lebih banyak mendominasi proses pembelajaran. Dengan metode ini mayoritas siswa cenderung bosan dan pasif, hal ini karena mereka terbiasa bergantung pada materi yang disampaikan guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa dalam memahami materi pembelajaran yang terdapat pada mata pelajaran Komunikasi Bisnis dengan penerapan model pembelajaran CIRC. CIRC yang diterapkan terdiri atas 6 tahap, yaitu pembagian kelompok, pemberian wacana yang sesuai dengan topik pembelajaran, bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok, mempresentasikan, membuat kesimpulan dan evaluasi. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian ini adalah (1) sebelum diberikan tindakan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal pre-test Siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 7 siswa (16,7%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 35 siswa (83,3%). Sedangkan setelah tindakan diberikan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal post-test Siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 19 siswa (43,18%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 25 siswa (56,82%). (2) Sebelum diberikan tindakan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal pre-test Siklus II, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 16 siswa (38,09%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 26 siswa (61,90%). Sedangkan setelah tindakan diberikan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal pos-test Siklus II, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 39 siswa (88,63%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 5 siswa (11,36%). Nilai rata-rata kelas pada aspek kognitif mengalami kenaikan, yaitu dari 64,43 di siklus I menjadi 75,21 di siklus II. Hal ini berarti terjadi kenaikan sekitar 10,78 yang berarti peningkatan ini cukup signifikan. Sedangkan nilai rata-rata kelas pada aspek afektif juga mengalami kenaikan. Terjadi kenaikan persentase hasil belajar aspek afektif dari siklus I ke siklus II. Di siklus I rata-rata kelas sebesar 65,72 sedangkan di siklus II sebesar 82,38. Berarti terjadi kenaikan sebesar 16,66. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah agar pihak SMK PGRI 6 Malang tidak hanya memakai metode konvensional dalam pembelajaran sehari-hari, tetapi juga memakai metode kooperatif agar siswa lebih aktif. Dalam penerapan model pembelajaran tersebut hendaknya guru memperhatikan alokasi waktu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, serta guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas keterampilan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Penerapan model learning cycle (LC) 5 face untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V-B SDN Bareng 01 Kecamatan Klojen kota Malang / Setiyani Eka Ningsih

 

Kata Kunci : Pembelajaran IPA, Model Learning Cycle (LC) 5 fase. Pembelajaran IPA pada siswa kelas V-B SDN Bareng 01 masih rendah, berdasarkan observasi awal ditemukan bahwa dalam pembelajaran guru selalu menyampaikan informasi materi dengan berceramah. Aktivitas siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru kemudian mengerjakan soal-soal. Pembelajaran tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 54℅ dengan rata-rata kelas mencapai 55,3. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) bagaimana penerapan pembelajaran dengan model Learning Cycle (LC) 5 Fase untuk meningkatkan pembelajaran IPA Siswa kelas V-B SDN Bareng 01, (2) aktivitas siswa kelas V-B SDN Bareng 01 setelah diterapkan model Learning Cycle 5 Fase, (3) hasil belajar siswa kelas V-B SDN Bareng 01 setelah diterapkan model Learning Cycle 5 Fase. Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif sedangkan jenis penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Untuk mengumpulkan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan serta tes. Sedangkan instrumennya berupa lembar observasi penyusunan RPP dengan model LC 5Fase, Lembar observasi Penerapan Model LC 5 Fase, Lembar observasi aktivitas siswa, Lembar catatan lapangan serta lembar soal tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Model Learning Cycle (LC) 5 Fase dapat meningkatkan pembelajaran IPA. Terbukti pada pembelajaran yang sudah dilaksanakan, siswa terlibat langsung dalam pembelajaran sedangkan guru sebagai fasilitator. Prosentase Keberhasilan penyusunan RPP pada siklus 1 mencapai 97,2℅ meningkat pada siklus 2 menjadi 100℅ sedangkan Prosentase untuk keberhasilan guru dalam menerapkan model pada siklus 1 mencapai 85,1℅ dan meningkat pada siklus 2 menjadi 96,3℅. Aktivitas Siswa Kelas V-B setelah diterapkan model LC 5 Fase pada pembelajaran IPA meningkat. Hal ini terbukti dengan skor rata-rata kelas dari siklus 1 yang hanya mencapai 68 meningkat pada siklus 2 menjadi 73,2. Dan Hasil belajar Siswa Kelas V-B setelah diterapkan model LC 5 Fase pada pembelajaran IPA meningkat. Hal ini dapat dilihat hasil belajar pada siklus 1 skor rata-rata kelas mencapai 65,5 sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 72,8. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru (1) dalam melaksanakan pembelajaran dengan model LC 5 Fase memerlukan persiapan yang matang, (2) sebaiknya guru lebih dapat mengelola kelompok dan kelas, (3) guru lebih menguasai materi dan waktu dalam pembelajaran.

Peningkatan hasil belajar operasi penjumlahan pecahan satuan melalui media blok pecahan di kelas IV SDN Mergosono 1 Kota Malang / Fenty Wulandari

 

Kata kunci : Blok Pecahan, Konsep Penjumlahan Pecahan, Hasil Belajar, Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pada umumnya alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran kurang tepat sehingga mengakibatkan tidak lancarnya pencapaian tuntutan kurikulum pembelajaran matematika. Kekurang lancaran tersebut dikarenakan pembelajaran matematika yang ada di sekolah dasar cenderung monoton tanpa melihat proses, sehingga hakikat siswa sekolah dasar yang berkembang secara universal baik minat, kognitif, fisik, emosi dan sosialnya tidak didasari oleh guru dan cenderung diabaikan. Guru tidak memperdulikan konsep yang dimiliki siswa, sehingga siswa cenderung hanya hafal lambang bilangan dan operasinya tanpa tahu atau dilandasi pemahaman konsep lambang bilangan secara mantap. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan keterlaksanaan media blok pecahan pada materi operasi penjumlahan pecahan satuan di kelas IVB SDN Mergosono 1 kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika materi operasi penjumlahan pecahan satuan di kelas IVB SDN Mergosono 1 kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. Dalam pelaksanaannya penelitian ini melibatkan teman lain sebagai pengamat dan berkolaborasi dengan teman sejawat lainnya. Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan dengan dua siklus tindakan dan fokus yang berbeda. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IVB SDN Mergosono I dengan jumlah siswa 39. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa pembelajaran melalui media blok pecahan mampu meningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Pada siklus I aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung sebesar 68,8%, meningkat pada siklus 2 menjadi 74,2%, dan prestasi belajar pada siklus I mempunyai rata-rata kelas sebesar 68,8 meningkat pada siklus II menjadi 74,2. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa guru Matematika hendaknya menerapkan media blok pecahan pada mata pelajaran Matematika sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas dengan menyesuaikan materi yang diajarkan.

Pelaksanaan kurikulum muatan lokal bahasa Using di kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi / Ekaning Pambudi Sari

 

Kata Kunci: muatan lokal, bahasa Using, SD Muatan Lokal (mulok) yang diajarkan di Kabupaten Banyuwangi adalah bahasa Using. Pembelajaran bahasa Using wajib dilaksanakan pada seluruh pendidikan dasar sejak tahun 2007, termasuk di SDN 1 Mojopanggung Kecamatan Giri. Namun sampai saat ini belum pernah ada penelitian tentang pelaksanaan mulok tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan mulok bahasa Using di kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung yaitu: (1) perencanaan yang dilakukan oleh guru, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Using, (3) penilaian pembelajaranbahasa Using, dan (4) kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum mulok bahasa Using. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yaitu informan, tempat, dan dokumen.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi dengan sumber (guru dan siswa) dan teknik (wawancara, observasi, dokumentasi). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Perencanaan dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Using pada siswa kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung dilakukan oleh guru dengan kolaborasi bersama guru bahasa Using lain dalam Paguyuban Guru Bahasa Using (PGBU). Persiapan sumber dan media belajar bagi siswa tergantung tema dan bahan kajian/materi yang akan dipelajari; (2) Pelaksanaan pembelajaran bahasa Using pada siswa kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi mencakup: (a) bahasa pengantar yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Using adalah bahasa Using dan bahasa Indonesia, (b) sumber belajar yang digunakan adalah buku Lancar Basa Using, cerita rakyat dan lingkungan sekitar siswa, (c) bahan kajian yang diajarkan dalam pembelajaran bahasa Using di kelas tinggi yaitu mengenai penguasaan bahasa Using (aspek membaca, mendengarkan, menulis, berbicara) dan sastra Using (drama, puisi Using, lagu Using, basanan, wangsalan) (d) Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Using beragam tergantung pada kompetensi yang akan dicapai siswa. (e) Alokasi waktu pembelajaran bahasa Using di kelas adalah 2 jam pelajaran atau 70 menit setiap pertemuan satu kali dalam seminggu; (3) Penilaian pembelajaran bahasa Using di kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung dilakukan melalui penilaian proses dan produk. Penilaian dilakukan di setiap pembelajaran, di tengah semester (UTS), dan di akhir semester (UAS); (4) Kesulitan dalam pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Using pada siswa kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung Kabupaten Banyuwangi yaitu (a) kesulitan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, penyediaan sumber dan media belajar, dan penguasaan materi bahasa Using, (b) kesulitan siswa dalam penguasaan bahasa Using dan ketersediaan sumber dan media belajar bahasa Using yang masih terbatas. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: (1) Sekolah yang bersangkutan hendaknya juga menyediakan sarana dan prasarana bagi pembelajaran bahasa Using; (2) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hendaknya mendukung pelaksanaan dan pengembangan kurikulum mulok bahasa Using di sekolah yang berada di Kabupaten Banyuwangi melalui penyediaan sumber belajar berupa buku dan pelatihan bagi guru untuk melaksanakan mulok bahasa Using; (3) Jurusan sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) sekolah dasar hendaknya dapat memotivasi, merangsang aktivitas dan kreativitas mahasiswa serta kemampuan berpikir mahasiswa agar pengetahuan mahasiswa menjadi lebih berkembang dalam kaitannya dengan program pendidikan muatan lokal yang selama ini diterapkan di sekolah di masing-masing daerah; (4) Peneliti atau mahasiswa yang akan datang hendaknya dapat meneliti pelaksanaanpembelajaran bahasa Using yang diterapkan di dalam kelas SD di Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Pengembangan buku teks geografi SMA/MA kelas X pada materi dinamika litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan dengan menggunakan model Dick & Carey / Maulidariah

 

Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd., (II) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si. Kata kunci: pengembangan, buku teks geografi, model Dick & Carey. Buku teks memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Bagi guru, buku teks merupakan sumber informasi yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengajar. Bagi siswa, buku teks merupakan salah satu sumber belajar utama yang dapat meningkatkan kemampuannya memahami bidang studi tertentu. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa buku teks yang beredar di pasaran memiliki berbagai permasalahan. Minimal ada tiga masalah mendasar yang berhubungan dengan buku teks, yakni; 1) kebenaran kebahasaan, 2) kebenaran isi/materi, dan 3) kemenarikan penyajian. Salah satu jenis buku teks yang dinilai bermasalah adalah buku teks geografi untuk siswa SMA/MA. Buku teks geografi yang memiliki ciri khas dibandingkan dengan mata pelajaran lain ditulis tanpa memperhatikan hakikat ilmu geografi. Hasil analisis dari buku teks geografi SMA/MA yang ditulis oleh Sugara (2006) pada materi litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan menunjukkan adanya permasalahan serius yang berhubungan dengan ciri khas kajian geografi ditinjau berdasarkan aspek kebahasaan, materi, dan penyajian. Solusi terhadap permasalahan kebahasaan, materi/isi, dan penyajian buku teks geografi, maka penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian dan pengembangan. Produk buku teks yang dikembangkan berdasarkan kaidah keilmuan geografi dan kurikulum KTSP melalui modifikasi model Dick & Carey (2001). Prosedur pengembangan ini model ini terdiri atas sepuluh langkah namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan lima langkah, yakni: (1) mengidentifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator berdasarkan konsep BSNP, (2) melakukan analisis materi pelajaran, (3) menyusun dan penulisan buku teks, (4) memvalidasi buku teks, (5) merevisi produk akhir hasil pengembangan buku teks. Uji coba produk hasil pengembangan meliputi: (1) rancangan uji coba untuk mengetahui mengetahui tingkat validitas dan kualitas produk. Tingkat validitas dilaksanakan melalui 2 tahap, yakni: (a) review oleh ahli isi/materi, ahli desain pembelajaran, dan ahli bahasa, dan (b) uji coba lapangan. Kelayakan buku teks diketahui melalui hasil tanggapan ahli, siswa, dan guru melalui hasil saran dan tanggapan dalam angket; (2) subjek coba yang terdiri dari siswa SMA kelas X dan guru mata pelajaran Geografi di SMAN 1 Matang Kuli dan SMAN 1 Tanah Luas. Pada tahap uji coba lapangan melibatkan dua kelas pada dua sekolah dengan jumlah yang sesuai dengan keadaan siswa di tempat uji coba lapangan dilakukan; (3) jenis data, terdiri dari data data kualitatif dan data kuantitatif. Data tersebut diperoleh dari ujicoba lapangan melalui angket tanggapan dari siswa dan guru, serta dari soal-soal latihan yang dikerjakan siswa; (4) instrumen pengumpulan data berupa instrumen angket dan soal/evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa; dan (5) teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Buku teks yang dikembangkan berupa mata pelajaran Geografi SMA/MA Kelas X pada materi Dinamika Litosfer dan Pedosfer serta Dampaknya terhadap Kehidupan. Pengembangan ini diharapkan dapat menghasilkan buku teks yang sesuai dengan kaidah keilmuan geografi. Hasil uji coba lapangan yang dilakukan di SMAN 1 Tanah Luas dan SMAN 1 Matang Kuli menunjukkan: 1) hasil tanggapan siswa di kedua sekolah adalah 83,97% dari yang diharapkan 100%, apabila dikonversi dengan tabel skala kelayakan produk, persentase tingkat pencapaian 83,97% berada pada kualifikasi efisien dan tidak perlu direvisi, 2) tingkat pemahaman siswa terhadap buku teks yang dikembangkan adalah baik, hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata tingkat pemahaman siswa 77,64 (lebih besar dari KKM, yaitu 70) dan persentase tingkat pemahaman siswa 84,29%, apabila dikonversi dengan tabel kriteria tingkat pemahaman, tingkat pemahaman siswa berada pada kategori baik yaitu pada persentase 80% - 89%, 3) nilai hasil tanggapan guru diperoleh skor angket 172 dari 200 skor ideal kriterium atau 80,33% dari yang diharapkan 100%. Saran pemanfaatan: (a) Bagi guru dan siswa harus memperhatikan ”tentang buku ini” yang pada bagian awal dari buku teks yang dikembangkan, (b) sebelum mempelajari buku teks ini, baca dan pahamilah abstraksi isi buku teks yang diwakili oleh pohon materi yang tersedia, (c) untuk membantu memahami setiap uraian materi, guru dan siswa dapat melihat kata kunci yang tersedia di tiap permulaan uraian materi, (d) dalam setiap uraian materi, jangan lewatkan latihan/tugas yang telah disediakan, (e) bila terdapat istilah asing yang kurang di mengerti, siswa dapat melihat lembar glosarium yang terdapat di dalam buku teks. Saran desiminasi: pelaksanaan seminar, penyebarluasan melalui wadah MGMP, dan pemuatan dalam bentuk e-book merupakan suatu upaya diseminasi buku teks hasil pengembangan secara meluas kepada para pihak (guru, siswa, pemerintah, dan akademisi). Penyebarluasan itu penting dilakukan untuk memperoleh tanggapan meluas dari masyarakat pengguna dan pemerintah sebagai penentu kebijakan khusus tentang kurikulum. Saran pengembangan selanjutnya: (a) karena uji coba produk hanya berasal dari data hasil tanggapan siswa dan guru terhadap kemenarikan dan kelayakan materi yang ada dalam buku teks geografi yang dikembangkan, dan tes pemahaman siswa, serta belum sampai pada tahapan penggunaan buku teks tersebut dalam proses pembelajaran sesungguhnya, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas penggunaan produk dalam pembelajaran sesungguhnya, (2) uji coba buku teks ini terbatas di Kabupaten Aceh Utara. Untuk menghasilkan buku teks yang berlaku secara nasional sebaiknya dilakukan uji coba lapangan dengan mengambil sampel yang diperluas di wilayah Indonesia.

Peningkatan kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan melalui penerapan model discovery di kelas IVB SDN Ketawang Gede 1 Malang / Frita Devi Asriyanti

 

Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Memahami Isi Bacaan, Discovery, Membaca pemahaman merupakan proses memahami kata-kata atau konsep ketatabahasaan baik dengan cara dibaca secara nyaring, dalam hati ataupun yang lain, dimana kemampuan anak atau siswa berbeda-beda dan bervariasi, maka dari itu pemahaman isi bacaan dari masing-masing siswa pun juga berbeda-beda dalam menentukan gagasan utama atau ide pokok pada tiap paragraf. Di dalam membaca ada beberapa tujuan, yang salah satunya adalah untuk memahami isi bacaan. Memahami isi bacaan adalah salah satu cara utama yang ditempuh oleh seorang siswa untuk menemukan kalimat utama pada tiap-tiap paragraf. Pemahaman bacaan juga berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lainnya, tergantung bagaimana orang tersebut dapat memahami dan menjelaskan arti pada masing-masing kata dan kalimat. Model pembelajaran discovery merupakan suatu model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar, dimana siswa diminta mengamati, menggolongkan, menjelaskan, dan menarik kesimpulan. Memahami isi bacaan dengan menggunakan model pembelajaran discovery merupakan suatu proses pemahaman teks bacaan yang menggunakan model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar, dimana siswa diminta mengamati, menggolongkan, menjelaskan, dan menarik kesimpulan atas bacaan yang telah dibacanya tersebut.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn dengan metode core (connecting, organizing, refleting, extending) pada siswa kelas IV SDN Polehan 2 Malang / Puspa Dewi Setyawati

 

Kata Kunci: Metode CORE , Aktivitas, Hasil Belajar, PKn, SD. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran PKn kelas IV di SDN Polehan 2, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn di kelas IV. Permasalah tersebut antara lain: (1) terjadi kejenuhan pada siswa saat pembelajaran berlangsung, hal tersebut menandakan lemahnya minat belajar siswa; (2) rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran; (3) iklim pembelajaran masih bersifat teacher centered. Hal tersebut disebabkan karena metode yang digunakan lebih banyak ceramah. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah metode CORE, yaitu metode pembelajaran yang bertujuan mengajak siswa untuk terlibat secara langsung dalam mendalami, menggali, mengembangkan, memperluas, menggunakan dan menemukan hasil materi yang sedang dipelajarinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode CORE pada pembelajaran PKn siswa kelas IV SDN Polehan 2; (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa melalui penerapan metode CORE; (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode CORE. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Polehan 2 Kota Malang dengan jumlah siswa 30 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode CORE pada Pembelajaran PKn telah berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Polehan 2. Hal ini dilihat dari perolehan observasi tentang aktivitas siswa serta nilai postes yang terus meningkat. Berdasarkan hasil observasi, aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus II yang paling tampak yaitu sebagian besar siswa sudah berani mengeluarkan ige/gagasan dan bertanya/menjawab serta melaporkan hasil diskusi. Hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (63,67) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (74,5) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (56,67%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (83) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (83,33%). Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan - kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Implementing donoking strategy to improve the writing skill of the eleventh graders of SMA Sunan Kalijogo Jabung Malang / Maswi

 

Kemampuan berbicara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang / Iswahyuni Wati

 

Kata Kunci: kemampuan berbicara, siswa, ekstrakurikuler pramuka, SD Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan formal paling dasar bagi seorang siswa. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mencakup empat aspek keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa. Salah satu aspek keterampilan tersebut adalah berbicara. Di dalam kurikulum sekolah dasar termuat berbagai kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa terkait aspek berbicara ini. Upaya untuk mencapai kompetensi tersebut salah satunya adalah dengan mencantumkan kompetensi berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Untuk memaksimalkan upaya tersebut bisa dilakukan dengan mengadakan suatu kegiatan di luar pembelajaran di kelas yang dapat melatih kemampuan berbicara siswa. Pramuka sebagai salah satu ekstrakurikuler di sekolah secara implisit ikut berperan dalam melatih kemampuan berbicara siswa. Hal ini dapat dilihat dari adanya komunikasi selama kegiatan kepramukaan berlangsung. Pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk (1) mendeskripsikan kejelasan ucapan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (2) mendeskripsikan penggunaan pola kalimat lisan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (3) mendeskripsikan keberanian siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (4) mendeskripsikan kelancaran siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (5) mendeskripsikan kenyaringan suara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan, dan (6) mendeskripsikan relevansi gagasan yang disampaikan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dasar teori fenomenologis. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu berusaha mengungkapkan dan menelaah kemampuan berbicara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang. Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, studi dokumentasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap yaitu tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa gagasan yang disampaikan oleh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang dapat terdengar dengan jelas. Siswa juga telah mampu menggunakan pola kalimat yang benar ketika menyampaikan gagasan. Namun kadang-kadang pola kalimatnya ada yang kurang efektif. Selain itu, siswa memiliki tingkat keberanian yang bervariasi dalam menyampaikan gagasan. Bervariasi disini maksudnya ada yang ketika mengungkapkan gagasannya tanpa ragu-ragu tapi ada juga yang masih disertai keraguan, ada yang berani melihat lawan bicara saat menyampaikan gagasan, dan ada pula yang tidak berani melihat lawan bicaranya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian siswa dapat menyampaikan gagasan dengan lancar dan komunikatif. Akan tetapi sebagian yang lain masih kurang lancar meskipun komunikatif. Masih sebagian kecil saja siswa yang dapat menyampaikan gagasannya dengan nyaring, lantang, dan dapat terdengar dengan jelas dalam ruang pembicaraan. Sedangkan sebagian besar lainnya meskipun dapat menyampaikan gagasannya dengan nyaring dan lantang tetapi belum terdengar dengan jelas dalam ruang pembicaraan. Mengenai relevansi gagasan siswa, diketahui bahwa sebagaian besar gagasan yang disampaikan siswa berhubungan dengan topik pembicaraan yang sedang dibahas dan logis. Hanya sebagian kecil saja yang meskipun gagasannya berhubungan dengan topik yang sedang dibicarakan namun kurang logis. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang diajukan oleh peneliti, yaitu (1) kepala sekolah diharapkan dapat mengupayakan terciptanya kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan keterampilan siswa dalam berbicara serta mengarahkan guru kelas maupun penanggungjawab kegiatan ekstrakurikuler untuk memupuk dan melatih kemampuan berbicara siswa; (2) guru sebagai pembina kegiatan pembelajaran di kelas diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat melatih dan mengembangkan kemampuan berbicara siswa; (3) pembina pramuka diharapkan dapat menciptakan kegiatan kepramukaan yang dapat membentuk karakter yang positif pada diri siswa, salah satunya dengan mengadakan permainan yang dapat melatih kemampuan berbicara siswa; dan (4) perlu adanya pengarahan dan pemantauan oleh orang tua supaya anak memiliki kualitas kemampuan berbicara yang maksimal;

Isti'malulu'bah "Man Ana" litarqiyati maharatil kalam littholabatisshaffi Al'syir filmadrasah almutawassithah mubtadiin bi Singosari / Muhammad Nashrulloh

 

نصرال، ممد. 2011 م . استعمال لعبة "من أنا" لترقية مهارة الكلم لتلميذ الصف السابع ف مدرسة هداية البتدئي التوسطة بسنجاسري. بث علمي. قسم الدب العرب كلية ممد (II) ، الدكتور خالصي الاجستي (I) : الداب بامعة مالنج الكومية. الشرف أحسن الدين الاجستي. الكلمات الفتاح: الستعمال، لعبة "من أنا"، تدريس اللغة. كان تدريس الكلم ف مادة اللغة العربية بالدرسة التوسطة يعان من مشاكل عدة وقصور شت وليزال المر مستمرا إل هذه الونة الخية، ومن تلك الشاكل هي مشكلة الدرسي ف اختيار طريقة تتناسب مع هوية مواد تدريس اللغة العربية. الطريقة الت يستخدمها مدرسوا اللغة العربية ف تعليم الكلم ينقصها التنوع وعدم النذاب، حت لتذب رغبة التلميذ ف متابعة عملية تدريس الكلم. والطريقة الفرحة للتلميذ الت تستطيع أن تضر الفرحة ف الفصل هي طريقة اللعبة.و من اللعاب الت يكن أن يطبقها الدرس ف تدريس الكلم لعبة "من أنا". لعبة "من أنا" هي لعبة تستخدم بطاقات الصور، أو بطاقات الكلمات، أوالواد الوجودة ف الفصل. يهدف هذا البحث إل وصف ( 1) تطيط تعليم مهارة الكلم باستعمال لعبة "من أنا" لتلميذ الصف السابع ف مدرسة "هداية البتدئي" التوسطة بسنجاسري، ( 2) تطبيق لعبة "من أنا" ف تعليم الكلم لتلميذ الصف السابع ف مدرسة "هداية البتدئي" التوسطة بسنجاسري، ( 3) نتيجة التلميذ ف درس الكلم بعد استعمال لعبة "من أنا". إجراء هذا البحث ف الدورين و لكل v يستخدم هذا البحث اتاها صفيا إجرائيا، ت دور أربع خطوات، وهي ( 1) تطيط الجراءات، و ( 2) تطبيق الجراءات، و ( 3) اللحظة و جع البيانات، و ( 4) التحليل والنعكاس. لتحليل البيانات استخدم الباحث طريقة التحليل الكمي والكيفي. وللحصول على صحة نتائج التحليل يستخدم الباحث طريقة التصحيح و هي اللحظة الستمرة ف كل تطبيق الجراءات والناقشة مع الشرف على البيانات الت ت الصول عليها ومقارنة نتائج الختبار والقابلة واللحظة والوثائق. نتائج هذا اليحث كما يلي ( 1) يتوي تطيط تعليم مهارة الكلم باستعمال لعبة "من أنا" على ثلث نقط وهي، الواد الدراسية لدرس اللغة العربية الت تناسب النهج الدراسي، والطريقة الستخدمة لتدريس اللغة العربية هي لعبة "من أنا" ، و تركيز تدريس اللغة العربية ف مهارة الكلم، ( 2) أن تطبيق لعبة"من أنا" لترقية مهارة الكلم لتلميذ الصف السابع ف الدورين بثلثة لقاءات ف كل الدور v ف مدرسة "هداية البتدئي" التوسطة بسنجاسري ت وبالوضوعي الختلفي. سار كل الدور سيا جيدا و تسك بطة الدراسة. تطبيق لعبة "من أنا" ف الدور الول لتدريب التلميذ على الكلم الر و التقليل من خوفهم فيه ولبعث فرحتهم ف تدريس الكلم. وأما تطبيق لعبة"من أنا" ف الدور الثان فهو لزيادة شجاعة التلميذ ف التعبي عن الفكار شفويا و تعويد أنفسهم على الكلم الر، ( 3) أن نتيجة التلميذ ف درس الكلم بعد استعمال لعبة "من أنا" ترتقي تدرييا وتبلغ معيار النجاح القل. دلت نتائج الختبار القبلي على أن 7 تلميذ ناجحون و 14 تلميذا فاشلون، ومتوسط النتيجة ف هذا الختبار 60 . وأما ف الدور الول 15 تلميذا ناجحون و 6 تلميذ فاشلون ، ومتوسط النتيجة ف الدور الول هو 76،66 . وأما ف الدور الثان والختبار البعدي فجميعهم ناجحون. متوسط النتيجة ف الدور . الثان هو 81،8 و أما ف الختبار البعدي فهو 85،3 اعتمادا على نتائج البحث هناك اقتراحات وهي ( 1) ترقية مهارة كلم التلميذ الضعيفة ليست أمرا سهل، فلذلك يب على الدرسي أن يكثروا من الفرص لتدريب التلميذ على الكلم وأن ينوعوا طريقة تدريس الكلم لبعث حاسة التلميذ للشتراك فيه حت يستطع التلميذ أن يستفدوا فوائد كثية من تكثي فرص التدريبات وتنويع الساليب، ( 2) إذا أراد الدرسون أن يطبقوا لعبة "من أنا" ف تدريس الكلم فعليهم أن يقوموا بالعداد الكامل حت يصلوا على النتيجة اليدة، ( 3) على الباحثي اللحقي أن يطوروا نتائج هذا البحث، ويكنهم أن يقوموا بالبحث عن استعمال لعبة "من أنا" للمهارات اللغوية الخرى.

Pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan metode ceramah bervariasi terhadap hasil belajar TIK siswa kelas VII di SMP Negeri 13 Malang / oleh Nona Puspadini

 

Kata Kunci: kontekstual berbasis kooperatif, ceramah bervariasi, hasil belajar. Pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif merupakan pembelajaran yang menuntut siswa menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran, serta siswa diharapkan mampu bekerjasama dan memiliki tanggung jawab terhadap tugas kelompok demi terselesaikannya tugas bersama, sehingga hasil akhirnya mendapat nilai afektif yang baik. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif terhadap hasil belajar TIK, untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran metode ceramah bervariasi terhadap hasil belajar TIK, serta untuk mendeskripsikan kemampuan penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan metode ceramah bervariasi untuk meningkatkan SKM hasil belajar TIK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan teknik purposive sampling, sampel yang digunakan adalah kelas VII-C sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII-B sebagai kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan yaitu RPP, silabus, kisi-kisi soal beserta soal dan kunci jawaban, buku, dan LKS serta instrumen pengukuran variabel X berupa angket dan variabel Y berupa tes tulis dan check list. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian nilai rata-rata hasil belajar siswa kelompok eksperimen adalah 84,23 dan kelompok kontrol adalah 78,72 serta hasil respon siswa terhadap pembelajaran diperoleh rata-rata skor perolehan pada kelompok eksperimen adalah 86,9 dan kelompok kontrol 76,21. Data hasil belajar dari masing-masing kelompok diuji hipotesis meggunakan uji-t serta data hasil belajar dan data respon siswa diuji hipotesis menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil perhitungan uji-t diperoleh hasil yaitu thitung (5,559)> ttabel(1,990). Kesimpulan dari hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan menggunakan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan yang belajar dengan menggunakan metode ceramah bervariasi. Selanjutnya hasil perhitungan uji regresi linear sederhana pada kelompok eksperimen nilai Sig.(0,000) < 0,05 serta untuk kelompok kontrol nilai Sig.(0,016) < 0,05. Kesimpulan dari analisis uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan metode ceramah bervariasi terhadap hasil belajar TIK. Serta dari data hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh hasil bahwa SKM pada mata pelajaran TIK dapat dinaikkan menjadi 80 dengan menerapkan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif, sedangkan jika menerapkan metode ceramah bervariasi, SKM pada mata pelajaran TIK tetap 70 sesuai yang ditetapkan di sekolah.

Penerapan model pembelajaran deep dialogue/critical thinking dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bareng 03 Kecamatan Klojen kota Malang / Silvia Fransisca Sukma

 

Kata Kunci: Model Deep Dialogue/Critical Thinking, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn. Salah satu tujuan mata pelajaran PKn adalah melatih siswa untuk berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas IV-A di SDN Bareng 03 Malang, diperoleh informasi tentang pelaksanaan pembelajaran di sekolah tersebut yaitu: (1) Beberapa siswa terlihat mengantuk, bermain sendiri dan mengobrol dengan temannya sebangku saat pembelajaran berlangsung; (2) Saat guru memberikan pertanyaan sebagian besar siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dengan kritis; (3) Sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah SKM. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu model pembelajaran yang dapat melatih berfikir kritis siswa yaitu model Deep Dialogue/Critical Thinking. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan: (1) Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Deep Dialogue/Critical Thinking; (2) Peningkatan aktivitas belajar PKn siswa; dan (3) Peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model Deep Dialogue/Critical Thinking. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang dilaksanakan dalam 2 siklus masing-masing 2 pertemuan. Data aktivitas siswa dikumpulkan dengan teknik observasi sedangkan hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes di setiap akhir pertemuan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan lembar observasi siswa dan tes pada setiap akhir pertemuan. Aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model Deep Dialogue/Critical Thinking mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Dari 38 siswa kelas IV-A, terdapat peningkatan aktivitas siswa dari aspek komunikasi multiarah, memberi yang terbaik pada orang lain, menjalin hubungan kesederajatan, demokratis dan mampu menghargai perbedaan, mengandalkan empati yang tinggi, keberanian bertanya siswa, berfikir kritis dalam menjawab dan bertanya. Skor rata-rata aktivitas yang diperoleh siswa juga meningkat. Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari pretes ke siklus I, dari siklus I ke II dan dari pretes ke siklus II. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa model Deep Dialogue/Critical Thinking dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya disarankan dalam menerapkan model DD/CT sebaiknya dipertimbangkan dalam pengaturan alokasi waktu, pertanyaan dalam Lembar Kegiatan Siswa (LKS) harus dapat mendorong siswa untuk bisa berfikir kritis dan sebaiknya diratakan kepada semua siswa sehingga tidak ada lagi siswa yang pasif, untuk melatih empati dan rasa saling menghargai pada siswa, hendaknya guru menerapkan metode bertukar peran sehingga siswa dapat ikut merasakan apa yang dirasakan temannya dan jika pada proses cooperative learning tidak dapat disatukan maka pelu dilakukan penilaian kelompok berdasarkan rata-rata nilai anggota kelompok sehingga akhirnya terbentuk tim yang solid.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 |