Efektivitas penggunaan buku tarbawi dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang / Listia Anis Hanavia

 

Kata kunci: Pembelajaran membaca Al-Qur'an, Buku Tarbawi, Efektivitas. Kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Perhatian terhadap pembelajaran membaca Al-Qur'an di Indonesia hingga saat ini semakin nampak, karena telah banyak dijumpai fasilitas panduan membaca Al-Qur'an khususnya dalam bentuk buku teks, diantaranya adalah turutan (Qo'idah Baghdadiah), Iqra', Qira'ati, Al-Barqy, Tilawati, dan Ummi. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata adalah salah satu dari sekian banyak Sekolah Dasar Islam yang menerapkan konsep keterpaduan dan integralitas dalam proses pendidikan. Keterpaduan pendidikan itu tergambar dalam 12 jaminan mutu (Quality Assurance) yang salah satunya adalah menjamin lulusannya mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.Untuk merealisasikan jaminan mutu tersebut maka dibuatlah sistem pembelajaran Al-Qur'an sendiri dan mandiri dengan harapan bisa leluasa dalam penerapan, pengelolaan dan pengembangan sesuai dengan kondisi SDM yang ada di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan secara objektif tentang (1) tingkat efektivitas penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kelancaran membaca huruf hijaiyah siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar, (2) mendeskripsikan tingkat efektivitas penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu tajwid siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar. Dipilihnya siswa kelas III di sekolah tersebut sebagai subjek penelitian, berdasarkan alasan karena pada jenjang kelas ini merupakan kesempatan yang baik untuk mempersiapkan kemampuan siswa dalam membaca huruf hijaiyah yang berguna ketika mereka memasuki jenjang kelas berikutnya, yaitu kelas IV yang sudah mulai diajarkan bahasa Arab Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif kuantitatif dengan desain metode pra eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tekhnik wawancara, observasi dan pemberian tes. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa tes kemampuan membaca Al-Qur'an, pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Untuk menjaga keabsahan data, maka dilakukan kegiatan analisis data yang meliputi pra analisis dan tekhnis analisis data. Pra analisis dimulai dari verifikasi data, penyekoran data, tabulasi data,dan uji normalitas data. Selanjutnya dilakukan tekhnis analisis data dengan melihat rata-rata hasil dan membandingkan dengan standar yang diinginkan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa dari segi efektivitas, (a) penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kelancaran membaca huruf hijaiyah siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar pada tingkat efektif. (b) penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan penguasaan ilmu tajwid siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar juga pada tingkat efektif.

Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun / Wahyu Trisnaning Dewi

 

Kata Kunci: Lingkungan sekitar, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun pada waktu pembelajaran IPS di dapatkan fakta bahwa siswa kurang tertarik pada pembelajaran, siswa terlihat pasif, merasa bosan selama pembelajaran, dan rendahnya hasil belajar siswa. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran tidak menggunakan media pembelajaran dan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga guru berperan aktif selama pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran pada materi kegiatan jual beli, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi kegiatan jual beli dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pada materi kegiatan jual beli dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3), refleksi, (4) perbaikan rencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa hal ini ditandai dengan peningkatan rata-rata aktivitas siswa dari siklus I dengan nilai 62,09 meningkat pada siklus II dengan nilai 80,2, (2) pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun hal ini ditandai dengan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan 62,8 dengan ketuntasan belajar 31,8% meningkat menjadi 72,73 dengan ketuntasan belajar 63,64%, dan pada siklus II meningkat menjadi 83,6 dengan ketuntasan belajar 86,4%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun. Disarankan agar guru dapat melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, menciptakan suatu variasi pembelajaran yaitu dengan cara penggunaan media pembelajaran untuk menghindari kejenuhan siswa, lebih giat memantau jalannya diskusi kelompok agar supaya siswa tidak bicara di luar materi pelajaran dan bercanda dengan temannya, serta bagi peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan cara meminimalisir siswa atau kelompok yang ramai selama pembelajaran di luar kelas.

Hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar matapelajaran IPA pada siswa kelas IV SD dengan strategi pembelajaran jigsaw dan think pair share (TPS) / Abdul Basith

 

Kata kunci: keterampilan metakognitif, hasil belajar, strategi pembelajaran jigsaw, strategi pembelajaran TPS. Metakognitif ialah kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Apabila kesadaran ini terwujud maka seseorang dapat memulai pemikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Keterampilan metakognitif berhubungan dengan hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada suatu materi pelajaran. Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar mengajar. Suatu proses belajar dikatakan berlangsung efektif apabila hasil belajar yang dicapai siswa dapat mencapai indikator yang telah ditetapkan. Coutinho (2007) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara prestasi belajar dengan metakognisi. Strategi pembelajaran kooperatif terbukti dapat memberdayakan keterampilan metakognitif dan meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran kooperatif yang sering diterapkan adalah jigsaw dan TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada siswa kelas IV SD dengan strategi pembelajaran jigsaw dan TPS. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada strategi pembelajaran jigsaw dan TPS sehingga dapat diketahui strategi mana yang lebih efektif dalam memberdayakan keterampilan metakognitif dan meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV SD di SDN Ketawanggede I Malang dan SDN Ketawanggede II Malang pada semester 1 tahun ajaran 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada penerapan strategi pembelajaran jigsaw dengan nilai keterandalan 66,6% dan ada hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada penerapan strategi pembelajaran TPS dengan nilai keterandalan 82,4%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa strategi pembelajaran TPS lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan metakognitif siswa dibandingkan dengan strategi pembelajaran jigsaw. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk menerapkan strategi pembelajaran TPS pada mata pelajaran IPA. Berdasarkan nilai keterandalan penerapan strategi pembelajaran jigsaw, maka dapat disimpulkan bahwa sumbangan keterampilan metakognitif terhadap hasil belajar adalah 66,6%, sedangkan 33,3% adalah sumbangan faktor-faktor lain. Pada penelitian selanjutnya perlu dikaji faktor-faktor lain tersebut.

Pengaruh penerapan metode PBL (Project Based Learning) menggunakan pendekatan brain storming terhadap hasil belajar siswa kelas X AK SMK Islam Batu dalam pembelajaran KKPI menggunakan software presentasi / Ahmad Mursyidun Nidhom

 

Kata kunci: Project Based Learning, Brain Storming, hasil belajar Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran KKPI seperti yang diamanahkan oleh kurikulum. Penelitian ini dilakukan di SMK Islam Kota Batu pada materi menggunakan software presentasi dengan menggunakan model PBL (Project Based Learning) dengan pendekatan Brain Storming. Dengan kolaborasi antara PBL yang merupakan pembelajaran inovatif yang melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah, memberi peluang siswa bekerja secara kelompok dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa yang bernilai serta pendekatan Brain Storming yang berfokus pada penggalian ide-ide kreatif, studi banding (pengamatan informasi-informasi dari berbagai sumber yang dapat dipakai sebagai ide baru), siswa dihadapkan dalam pembelajaran yang lebih aktif, sehingga dengan diterapkannya model ini dapat meningkatkan hasil belajar KKPI. Selain itu kolaborasi antara PBL dan pendekatan Brain Storming juga memberikan keleluasaan siswa untuk menggali ide-ide kreatif sebanyak-banyaknya tanpa harus takut salah, hal ini mendukung siswa berfikir inovatif dan kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan PBL dengan pendekatan Brain Storming terhadap hasil belajar KKPI siswa kelompok eksperimen. Rancangan penelitian menggunakan desain eksperimental yang menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi exsperiment) dengan pola pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas X SMK Islam Batu tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 153 siswa.Sampel yang digunakan adalah dua kelas yaitu X AK1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X AK2 sebagai kelompok kontrol, kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model PBL pendekatan Brain Storming sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung demonstrasi. Instrumen yang digunakan adalah silabus, RPP, lembar angket, lembar afektif siswa, penilaian proyek, dan tes tulis. Uji hipotesis menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Hasil uji t menghasilkan nilai Sig (p) = 0,007 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar KKPI antara kelompok eksperimen dan kontrol. Hasil uji regresi linear sederhana diperoleh nilai Sig (p) = 0,001 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan PBL dengan pendekatan Brain Storming terhadap hasil belajar KKPI pada kelompok eksperimen yang pengaruhnya dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y = 27,883 + 0,863 X.

Sumbangan faktor abiotik terhadap kandungan gula reduksi ubi jalar varietas Cilembu (Iponema Batatas L. Var. Cilembu) / Diyah Nove Kurniawati

 

Kata kunci: faktor abiotik, gula reduksi, ubi jalar, Cilembu Ubi jalar merupakan salah satu komoditas penghasil karbohidrat yang dapat menjadi pengganti padi dan jagung. Beberapa varietas ubi jalar memiliki produktivitas tinggi, yaitu varietas Borobudur, varietas cilembu, varietas daya, varietas prambanan, varietas kalasan, varietas mendut, dan varietas genjah rente. Kultivar ubi cilembu merupakan ras lokal asal Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Jenis Cilembu ini memiliki kekhasan yakni akan mengeluarkan sejenis cairan lengket gula madu yang manis rasanya bila dioven atau dibakar. Ubi ini juga memiliki nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan jenis ubi jalar yang lainnya. Faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan ubi meliputi suhu udara, sinar matahari, kelembaban, dan angin. Faktor pengaruh terhadap pertumbuhan dan kandungan ubi tersebut tergantung pada ketinggian tempatnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu dengan menganalisis kandungan gula reduksi pada ubi jalar varietas Cilembu. Ubi jalar varietas Cilembu yang digunakan adalah berdasarkan pengaruh ketinggian tempat yang berbeda terhadap kandungan gula reduksi. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Tempat pengambilan sampel adalah di desa Ponggok Kabupaten Blitar dan di desa Gangsiran Putuk Kabupaten Malang. Kemudian sampel diteliti di laboratorium Biologi FMIPA UM di ruang 203. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor abiotik yang paling banyak memberikan sumbangan terhadap kandungan gula reduksi adalah faktor ketinggian tempat yakni sebesar 87,6%. Hasil lain yang sangat menonjol dari penelitian ini adalah ringan atau berat umbi yang dipanen dari kedua lokasi, pada daerah Gangsiran Putuk memiliki berat umbi yang lebih banyak dibandingkan umbi yang dihasilkan pada daerah Ponggok.Saran terhadap petani ubi jalar var. Cilembu adalah sebaiknya ditanam pada ketinggian 500 m dari permukaan laut dengan pH 4,5-7,5; temperatur 21°C-27°C, dan kelembaban 50%-60% supaya bias mendapatkan hasil umbi yang maksimal. Sedangkan rekomendasi terhadap peneliti selanjutnya sebaiknya dalam penelitian selanjutnya menggunakan varian ubi lebih banyak agar dapat terlihat dengan jelas perbedaan yang ditimbulkan pada jenis ubi jalar yang lain.

Penggunaan media bobeka tangan untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada siswa kelas II SDN Bareng 1 Kota Malang / Nurhidayati

 

Kata kunci: Media boneka tangan, kemampuan bercerita, BI, SD. Media boneka tangan merupakan media dalam pembelajaran bercerita yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas II yang berada pada tahap praoperasional konkret. Pembelajaran bercerita di kelas IIA kurang menarik perhatian siswa. Akibatnya banyak siswa yang malu dan tidak mau bercerita ke depan kelas. Selain itu kualitas pembelajaran bercerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas II A SDN Bareng 1 Kota Malang, masih rendah yakni nilai rata-rata siswa kelas II A dalam tes kemampuan bercerita pada semester I hanya mencapai 65. Hasil pretest menunjukkan bahwa hanya 32% dari siswa yang hadir pada saat pre-tes yang memenuhi standar ketuntasan minimal. Siswa yang hadir pada saat pretes sebanyak 22 siswa, sedangkan yang tidak masuk 2 orang siswa karena sakit. Sehingga dari 22 siswa yang mengikuti pre-tes, 10 siswa memiliki kemampuan bercerita yang cukup baik dan 12 siswa memiliki kemampuan bercerita yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 Kota Malang dengan menggunakan media boneka tangan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIA SDN Bareng 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media boneka tangan dalam pembelajaran bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 dengan standar kompetensi "Mendengarkan kembali cerita anak yang didengarkan dengan kata-kata sendiri" dapat dilaksanakan dengan efektif. Aktivitas guru dalam mengajar, meningkat dari 83,25 pada siklus I meningkat menjadi 94 pada siklus II. Aktivitas belajar siswa meningkat dari 67 pada siklus I menjadi 72 pada siklus II. Hasil kemampuan bercerita siswa juga meningkat dari rata-rata 66,5 pada siklus I meningkat menjadi 73,5pada siklus II dan ketuntasan kelas 39% pada awal siklus I meningkat menjadi 92% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam penggunaan media boneka tangan, sebaiknya dilaksanakan pada kelas kecil agar perhatian guru dapat menyeluruh dan siswa mendapat waktu lebih lama untuk menggunakan boneka tangan, memperhatikan penggunaan panggung boneka, dan sebaiknya menggunakan cerita yang tidak terlalu panjang dan jenis ceritanya adalah cerita fabel.

Pola pewarisan ketahanan kedelai (Glycine max (L.) Merr.) / Irfan Prihatmaya

 

Kata kunci: kedelai, pola pewarisan, waktu skoring. Pola pewarisan sifat ketahanan terhadap CPMMV merupakan hal penting untuk diketahui dalam rangka pengembangan kultivar melalui pemuliaan tanaman. Uji visual dilakukan untuk penilaian ketahanan dengan menilai skor serangan dan intensitas serangan pada populasi dasar yang telah terbentuk atau lebih dikenal dengan skoring. Skoring pada penelitian sebelumnya dilakukan sekali pada umur tanaman sekitar 35 hari, namun pada pengembangannya penilaian ketahanan dicoba dilakukan tiga kali pada saat umur tanaman 21, 28, dan 35 hari setelah tanam (hst). Ketahanan tanaman kedelai bervariasi pada ketiga waktu skoring tersebut dan belum diungkap mengenai pola pewarisannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pola pewarisan ketahanan kedelai (G. max) berdasarkan waktu skoring, dan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan dan perbandingan waktu skoring, pola pewarisan ketahanan pada kedelai (G. max), serta dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian sejenis untuk menghasilkan kultivar unggul kedelai tahan virus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang pada bulan Agustus 2009 sampai dengan Maret 2010. Kedelai yang digunakan adalah generasi F3 kedelai hasil persilangan (galur) Argopuro x MLGG 0268, Argopuro x MLGG 0021, Anjasmoro x MLGG 0268, Anjasmoro x MLGG 0021, Gumitir x MLGG 0268, Gumitir x MLGG 0021, Mahameru x MLGG 0268, dan Mahameru x MLGG 0021. Analisis data yang dipakai adalah analisis chi-kuadrat. Analisis dilakukan berdasarkan distribusi frekuensi intensitas serangan pada kedelai. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan pola pewarisan ketahanan kedelai pada ketiga waktu skoring. Pola pewarisan ketahanan kedelai pada skoring I, skoring II, dan skoring III adalah poligenik, artinya pewarisan sifat tahan pada kedelai diatur oleh banyak gen. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian yang sejenis dengan koreksi terhadap beberapa kesalahan yang terdapat dalam penelitian ini untuk menghasilkan kultivar unggul kedelai tahan virus.

Penerapan metode "paired storytelling" untuk meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SDN Bareng 3 Kota Malang / Fitri Cahyo Arini

 

Kata Kunci: Metode, Paired storytelling, ketrampilan berbicara, SD Negeri Bareng 3 kota Malang. Masalah yang ada di kelas V SD Negeri Bareng 3 kota malang ini, salah satunya yaitu dalam mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada aspek berbicara. Hal ini terlihat dari pernyataan guru bahwa beliau sangat jarang melakukan pembelajaran bahasa aspek berbicara karena alas an waktu yang terbatas, kemudian dilihat dari nilai siswa pada aspek berbicara masih rendah dan keberanian siswa dalam berbicara di depan teman-temanya juga rendah, masih banyak siswa yang kurang percaya diri dan cenderung diam. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti ingin menerapkan metode paired storytelling. metode tersebut adalah metode bercerita berpasangan, metode dipilih karena dengan menerapkan metode tersebut kendala waktu dapat sedikit teratasi, kemudian siswa yang memiliki ketrampilan berbicara kurang dapat termotivasi oleh pasanganya yang memiliki ketrampilan berbicara lebih dan sebaliknya, siswa yang memiliki ketrampilan berbicara lebih dapat membantu dan memotivasi siswa yang memiliki ketrampilan berbicara kurang. Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: (1) bagaimana penerapa metode paired storytelling untuk meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang, (2) apakah ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang dapat meningkat setelah menerapkan metode paired storytelling. Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian yang diinginkan peneliti adalah untuk mendiskripsikan penerapan metode paired storytelling dalam meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang dan mendiskripsikan peningkatan ketrampilan berbicara melalui metode paired storytelling pada siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan satu cara yaitu analisis kulitatif untuk kualitas proses pembelajaran, prestasi belajar siswa, daya serap klasikal. Nilai rata-rata mengalami peningkatan pada setiap siklus, yaitu pada siklus I sebesar 74,19 dengan 1 siswa mendapatkan nilai D(kurang), 14 siswa mendapatkan nilai C(cukup), dan 21 siswa mendapatkan nilai B (baik). Kemudian pada siklus II, nilai rata-rata siswa sebesar 86,48 dengan 1 siswa mendapatkan nilai C(cukup), 7 siswa mendapatkan nilai C(cukup), dan 28 siswa mendapatkan nilai A(sangat baik). Metode paired storytelling dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam aspek pembelajaran berbahasa. Aktivitas siswa terlihat pada kegiatan belajar siswa, terjadi kerjasama, keaktifan serta keberanian yang positif. Rata-rata skor aktivitas siswa meningkat, pada siklus I yakni 71,09 kemudian rata-rata pada siklus II yakni 78,80. Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah penerapan metode paired storytelling dapat berjalan dengan baik, dengan menerapkan metode ini siswa lebih berani dan percaya diri dalam berbicara di depan teman-temanya dan penerapan metode paired storytelling dapat meningkatkan ketrampilan berbicara. Hal ini, dapat dilihat dari nilai siswa yang semakin meningkat dari belum adanya tindakan hingga dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II. Sebagai seorang guru, sebaiknya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan menerapan dengan sesuai, lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun rencana pelaksanaan tersebut, misalnya menentukan serta menerakan metode atau model yang berfariasi, menarik, tidak membosankan dan yang paling penting sesuai dengan materi yang akan disampaikan.

Pengaruh faktor internal terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek Aqua pada konsumen di wilayah RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Rizki Maulina

 

Kata kunci: faktor internal, keputusan pembelian. Perkembangan zaman telah menuntun bergulirnya era globalisasi. Dunia persaingan saat ini, banyak produsen terus berupaya untuk berinovasi dalam pengembangan produknya. Salah satu merek air miunum kemasan yang termuka di Indonesia adalah merek AQUA yang di produksi oleh PT Tirta Investama. AQUA merupakan pelopor air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia. Persaingan yang kian ketat diantara produsen air minum dalam kemasan merek sejenis, menuntut AQUA untuk menganalisis perilaku keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) kondisi faktor internal konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (2) kondisi proses keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (3) pengaruh faktor internal secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (4) pengaruh faktor internal secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (5) serta untuk mengetahui elemen faktor internal yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepribadian dan konsep diri (X4), sikap (X5) serta variabel terikatnya adalah keputusan pembelian (Y). Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala keluarga di RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang berjumlah 127 kepala keluarga (rumah). Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 56 kepala keluarga (rumah). Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan (simple random sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini adalah: Terdapat pengaruh motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepribadian dan konsep diri (X4), sikap (X5) secara simultan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA berdasarkan nilai Fhitung sebesar 14,530 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari faktor internal yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah pembelajaran dengan nilai sumbangan efektif sebesar 16,2%. Selain itu, diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,552, ini berarti bahwa variabel motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian dan konsep diri, sikap secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA sebesar 55,2% sedangkan sisanya sebesar 44,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) rata-rata sebagian responden memiliki motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian dan konsep diri, sikap sudah baik terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (2) motivasi tidak berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (3) persepsi tidak berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (4) pembelajaran berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (5) kepribadian dan konsep diri berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (6) sikap berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (7) faktor internal secara simultan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, dan (8) variabel faktor internal yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah pembelajaran. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) konsumen air minum dalam kemasan galon merek AQUA banyak tersebar di seluruh Indonesia harus bisa mempertahankan kualitas produknya. (2) Produsen AQUA harus tetap menjaga faktor internal yang telah dimiliki konsumennya termasuk di wilayah RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, agar keputusan pembelian tetap terjaga sehingga meminimalkan kemungkinan konsumen berpindah ke merek lain. (3) Untuk penelitian selanjutnya, objek penelitian diambil lebih baik agar data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas. (4) Untuk penelitian selanjutnya, jumlah variabel ditambah selain variabel dalam penelitian ini dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam penelitian ini.

Penentuan struktur dengan metode difraksi sinar-X senyawa kompleks perak (I) dan tembaga (I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina / Dwi Prapti Asih

 

Kata Kunci: senyawa kompleks, perak(I) bromida, tembaga(I) bromida, difenil-2,4,6-trimetoksifenifosfina Reaksi antara perak(I) bromida atau tembaga(I) bromida dengan ligan fenilfosfina dan turunannya yang telah dilaporkan mempunyai stoikiometri 1:1, 1:2, 1:3. Senyawa kompleks perak(I) dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 dalam pelarut asetonitril telah berhasil disintesis, tetapi strukturnya belum ditentukan. Senyawa kompleks yang mungkin terjadi adalah berupa kompleks monomer, dimer, atau polimer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur senyawa kompleks dari perak(I) dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenifosfina dengan stoikiometri 1:1. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang terdiri dari dua tahap yaitu sintesis dan penentuan struktur senyawa kompleks. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan cara mereaksikan perak(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dalam pelarut piridina dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dalam pelarut asetonitril dengan stoikiometri 1:1. Senyawa kompleks yang diperoleh dikarakterisasi dengan menggunakan metode difraksi sinar-X, sedangkan penentuan struktur senyawa kompleks dilakukan dengan menggunakan program XTAL 3.7. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) senyawa kompleks perak(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 adalah [AgBr{PPh2(2,4,6-MeO)3Ph}(Py)]2 yang merupakan senyawa kompleks dimer dengan geometri disekitar atom pusat adalah tetrahedral terdistorsi. Kompleks ini mengkristal dalam kisi triklinik dalam kelompok ruang Pī. Parameter sel satuannya adalah a = 9,0754(6) Ĺ, b = 9,2555(6) Ĺ, c = 15,5767(1) Ĺ, α = 98,877(3)°, β = 101,281(3)°, γ = 98,059(3)°, V = 1248,000(1) Ĺ3, dan R = 0,043 untuk 24766 refleksi independen; (2) senyawa kompleks dari tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 adalah [CuBr{PPh2(2,4,6-MeO)3Ph}]2 yang merupakan senyawa kompleks dimer dengan geometri disekitar atom pusat adalah trigonal planar terdistorsi. Kompleks ini mengkristal dalam kisi triklinik dengan kelompok ruang Pī. Parameter sel satuannya adalah a = 9,6592(5) Ĺ, b = 10,9130(6) Ĺ, c = 11,3354(7) Ĺ, α = 68,694(2)°, β = 84,603(3)°, γ = 69,891(2)°, V = 1044,697(1) Ĺ3, R = 0,027 untuk 20757 refleksi independen.

Penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SDN Purwantoro 8 Malang / Yunita Mardianingrum

 

Kata Kunci : Matematika, SD, Metode demonstrasi, Operasi hitung bilangan bulat Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SDN Purwantoro 8 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika materi "Operasi bilangan bulat" guru menggunakan metode ceramah dan menggunakan satu media pembelajaran berupa gambar garis bilangan dimana guru langsung memberi tahu tentang bagaimana cara menghitung menggunakan garis bilangan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IV, mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IV, mendeskripsikan peningkatan keaktivan siswa kelas IV saat berlangsungnya pembelajaran matematika menggunakan matode demonstrasi pada siswa kelas IV SDN Purwantoro 8. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dalam 3 hari dan 2 hari. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan sebesar 75% dari jumlah keseluruhan subyek penelitian dengan rata-rata skor minimal 75. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Purwantoro 8 Kecamatan Blimbing Kota Malang yang berjumlah 36 anak. Pada penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa : lembar Observasi ( pengamatan ) untuk mengamati kegiatan siswa, catatan lapangan, LKS, studi dokumentasi dengan hasil tes dan foto-foto pada saat pembelajaran, serta lembar evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan : (a) Pelaksanaan pembelajaran demonstrasi pada siklus I masih banyak kekurangan, yaitu ada beberapa siswa yang belum paham cara kerja metode demonstrasi menggunakan media wayang-wayangan. (b) Metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep operasi hitung bilangan bulat dari skor rata-rata prates 58,89 menjadi 67,14 pada siklus I dan pada siklus II menjadi 80,28; (c) Metode pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan keaktifan, siswa dalam belajar. Jumlah siswa yang konsentrasi dalam belajar meningkat dari 56,11% pada siklus I menjadi 68,33% pada siklus II. Kerjasama siswa dari 56,67% pada siklus I meningkat menjadi 65,56% pada siklus II. Keberanian siswa dalam bertanya ataupun berpendapat juga mengalami peningkatan dari 58,89% pada siklus I menjadi 66,11% pada siklus II. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pertama pembelajaran dengan metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengajarkan tentang konsep operasi hitung bilangan bulat. Yang kedua penggunaaan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas IV di SDN Purwantoro 8, dan ketiga adalah dampak penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan konsentrasi, kerjasama, keberanian bertanya dan berpendapat siswa dalam belajar.

Pengembangan bahan ajar reaksi redoks dan elektrokimia berdasarkan model 4D dari Thiagarajan untuk blended learning / Marthania Dian Primasari

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Prof Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D. Kata kunci: redoks, elektrokimia, bahan ajar, blended learning Mengajar kimia untuk siswa sekolah menengah memberikan tantangan besar bagi guru karena sejumlah besar bahan ajar harus diajarkan kepada siswa. Beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran kimia di sekolah menengah adalah: (1) sebagian besar konsep belajar bersifat abstrak, (2) keterbatasan waktu yang tersedia untuk mengajarkan materi kimia, (3) kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Masalah pertama dapat diatasi dengan menggunakan model konkret bahan ajar dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas dalam bentuk media flash. Masalah kedua dapat diatasi dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menciptakan situasi ini adalah pembelajaran kooperatif. Pemanfaatan internet sebagai alat komunikasi siswa, sehingga dapat memaksimalkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran melalui komunikasi antara guru dan siswa, dan antar siswa lain di luar kelas, sehingga keterbatasan kendala waktu dapat diatasi. Masalah ketiga dapat diatasi dengan menyediakan bahan ajar yang dapat dipelajari secara individual oleh siswa di luar kelas. Kombinasi pembelajaran kooperatif, penggunaan model konkret dari bahan ajar dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas sebagai media flash, dan aplikasi internet sebagai alat komunikasi antara siswa dan guru, siswa dan siswa dapat dianggap sebagai blended learning. Blended learning memerlukan bahan ajar dengan desain tertentu. Bahan ajar ini dapat di-upload di internet dan dapat diakses oleh siswa di mana dan kapan saja. Redoks dan elektrokimia adalah bahan ajar kimia yang banyak mengandung konsep-konsep abstrak seperti pergerakan elektron, oksidasi, dan reduksi. Alokasi waktu yang diberikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk pengajaran ini sudah cukup, akan tetapi partisipasi siswa dalam proses pembelajaran cenderung sangat terbatas, sehingga penguasaan siswa pada topik ini cenderung rendah. Pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran ini diharapkan dapat mengatasi masalah yang terjadi. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengetahui: (1) kelayakan bahan ajar redoks dan elektrokimia yang telah dikembangkan, (2) keefektifan bahan ajar yang dikembangkan untuk blended learning, dan (3) persepsi siswa tentang pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran redoks dan elektrokimia. Pengembangan bahan ajar redoks dan elektrokimia mengadopsi model 4-D dari Thiagarajan dkk, yang terdiri dari 4 langkah. Langkah pertama terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu: (1) analisis akhir depan atau analisis kompetensi dasar dan standar kompetensi untuk topik redoks dan elektrokimia, (2) analisis kebutuhan siswa, dan (3) penyusunan indikator hasil belajar. Langkah kedua adalah desain bahan ajar yang akan dikembangkan. Langkah ketiga adalah pengembangan bahan ajar. Langkah keempat adalah penyebaran bahan ajar yang dikembangkan. Sebelum langkah keempat bahan ajar yang dikembangkan ditelaah oleh beberapa ahli yang terdiri dari dua dosen kimia Universitas Negeri Malang (UM) dan satu guru kimia. Validasi ini digunakan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar yang telah dikembangkan berdasarkan isi, bahasa, dan penyajiannya. Keefektifan bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada prestasi belajar 20 siswa MA Manbaul Hikam Sidoarjo yang terlibat dalam blended learning. Keefektifan bahan ajar yang digunakan dalam blended learning didasarkan pada hasil belajar siswa. Data pengembangan yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran oleh para ahli untuk perbaikan bahan ajar yang telah dikembangkan. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan penilaian standar bahan ajar yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari jawaban dari angket tentang persepsi siswa tentang penerapan blended learning dan prestasi belajar siswa. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket dan tes prestasi belajar siswa. Tes prestasi belajar siswa terdiri dari 20 item dengan validitas isi sebesar 0,87 dan koefisien reliabilitas dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product moment sebesar 0,52. Bahan ajar redoks dan elektrokimia yang dikembangkan berisi tujuan pembelajaran, indikator, bahan ajar, ringkasan, evaluasi, glosarium, dan indeks. Penilaian bahan ajar oleh beberapa ahli menunjukkan kelayakan isi sebesar 86,9%, kesesuaian bahasa sebesar 89,2%, dan komponen penyajian sebesar 88,9%. Revisi bahan ajar telah dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh beberapa ahli. Penerapan bahan ajar yang telah direvisi dalam blended learning menghasilkan 100% siswa memiliki prestasi belajar lebih tinggi dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Semua siswa memiliki persepsi positif tentang penerapan blended learning dalam pengajaran redoks dan elektrokimia. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas dianggap bahwa bahan ajar redoks dan elektrokimia yang telah dikembangkan adalah sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan keefektifan bahan ajar yang dikembangkan harus dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Pengembangan media audio pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas IV di MI. Miftahul Huda Bandulan Malang / Rurin Fatmawati

 

Kata kunci : Pengembangan, Media Audio Pembelajaran, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Media Audio Pembelajaran merupakan sebuah media yang hanya mengandalkan bunyi dan suara untuk menyampaikan informasi dan pesan. Dengan media audio informasi yang disampaikan menjadi indah, menarik, dan dapat merangsang pendengar untuk menggunakan imajinasinya, sehingga siswa mampu memvisualisasikan pesan-pesan yang diterimanya. Berdasarkan hasil penelitian di MI. Miftahul Huda Bandulan Malang pembelajaran pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) guru menggunakan metode ceramah biasa yang dibantu dengan papan tulis dan buku teks sebagai pegangan. Kegiatan seperti itu terkadang membuat siswa merasa bosan dan kurang bersemangat, sehingga siswa menjadi kurang paham terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Pengembang membuat media sebagai alternatif yang dapat meningkatkan semangat siswa dalam belajar baik di kelas maupun di luar kelas dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Tujuan pengembangan media audio pembelajaran adalah Menghasilkan sebuah produk berupa media audio pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat belajar bagi siswa-siswi dan juga membantu mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Pengembangan media audio pembelajaran ini diuji cobakan kepada siswa kelas IV MI. Miftahul Huda Bandulan Malang pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pengumpulan data dilakukan melalui instrument angket ahli media, ahli materi, dan audiens/ siswa. Untuk hasil belajar siswa digunakan evaluasi bentuk tes, yaitu pre-test dan post-test. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi, dan audiens/ siswa adalah persentase, sedangkan untuk mengolah hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah memanfaatkan media audio pembelajaran. Hasil uji coba dari ahli media pada materi ke-1 diperoleh 95% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 98,75% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 96,25% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba dari ahli materi pada materi ke-1 diperoleh 91,25% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 80% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 87,5% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba dari audiens/ siswa pada uji coba satu lawan satu pada materi ke-1 diperoleh 90% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 90% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 91,66% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil uji coba kelompok kecil pada materi ke-1 diperoleh 88,5% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 89,33% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 93,2% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Sedangkan hasil uji coba kelompok besar atau lapangan pada materi ke-1 diperoleh 94,4% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; materi ke-2 diperoleh 94,33% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran; dan materi ke-3 diperoleh 96,7% yang berarti valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Hasil tes sebelum (pre-tes) dan sesudah (post-tes) menggunakan media audio pembelajaran pada audiens/ siswa satu lawan satu pada materi ke-1, 2, dan 3 masing-masing mengalami peningkatan 10%. Hasil tes kelompok kecil pada materi ke-1 mengalami peningkatan 25%, materi ke-2 mengalami peningkatan 26%, dan materi ke-3 mengalami peningkatan 11%. Sedangkan pada kelompok besar atau lapangan pada materi ke-1 mengalami peningkatan 16,7%, materi ke-2 mengalami peningkatan 16%, dan materi ke-3 mengalami peningkatan 12,7%. Maka dari hasil peningkatan-peningkatan tersebut dapat diinterprestasikan bahwa media audio pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas IV dapat meningkatkan semangat belajar siswa dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan media audio pembelajaran yang dikembangkan yaitu media audio pembelajaran yang dikembangkan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran individu, kelompok kecil, dan kelompok besar yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa, meningkatkan semangat belajar siswa, dan juga dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya hasil produk media audio pembelajaran yang telah dikembangkan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk pembelajaran, baik di kelas maupun di rumah yang dapat meningkatkan semangat belajar siswa dan mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran deep dialpgue critical thinking untuk meningkatkan hasil belajar PKn dan keaktifan siswa kelas IV SDN Randumerak Probolinggo / Fitka Nuria Dewanti

 

Kata kunci: Deep Dialogue Critical Thinking, hasil belajar, keaktifan, PKn, SD. Berdasarkan observasi di kelas IV SDN Randumerak Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn, diantaranya adalah siswa cenderung pasif dan siswa merasa bosan dalam pembelajaran PKn. Nilai mata pelajaran PKn terutama pada materi globalisasi masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan metode yang dipergunakan pada pembelajaran PKn adalah konvensional. Oleh karena itu, pada penelitian ini dicoba untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menerapakan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Deep Dialogue Critical Thinking pada kelas IV SDN Randumerak. (2) mendeskripsikan peningkatan keaktifan siswa melalui model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking pada kelas IV SDN Randumerak. (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pada pembelajaran PKn dengan menggunakan Deep Dialogue Critical Thinking pada kelas IV SDN Randumerak. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri dari: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan (observasi), (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Randumerak yang berjumlah 20 siswa terdiri atas 11 siswa perempuan dan 9 siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Hal ini ditandai dengan keberanian siswa bertanya dan mengemukakan pendapat dengan argumen yang tepat. Peningkatan rerata keaktifan siswa dari siklus I dengan nilai 67,5 ke siklus II dengan nilai 81,5.Sedangkan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 55 meningkat menjadi dengan nilai 68 dan pada siklus II meningkat dengan nilai 74 dengan persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 35% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 10% . Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa: (1) penerapan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas IV SDN Randumerak. (2) menerapkan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan saran antara lain: (1) Bagi guru kelas disarankan untuk menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking sebagai suatu alternatif proses pembelajaran siswa di kelas, karena hasil penelitian membuktikan bahwa model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran PKn di SD, (2) Bagi peneliti selanjutnya, mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai pokok bahasa, maka untuk mengetahui lebih jelas tentang model pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking dalam pembelajaran PKn maka perlu dilakukan penelitian pada pokok bahasan PKn yang lain, (3) Penerapan Deep Dialogue Critical Thinking dalam pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini dapat diterapkan pada peneliti-peneliti selanjutnya sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.

Pengembangan bahan ajar gaya antarmolekul berdasarkan model 4D dari Thiagarajan untuk blended learning / Rizka Noraharja

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Prof Drs. Effendy, M.Pd., Ph.D. Kata kunci: gaya antarmolekul, bahan ajar, blended learning Beberapa masalah yang terjadi dalam pengajaran kimia di sekolah menengah atas adalah: (1) sebagian besar konsep belajar bersifat abstrak, (2) kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, (3) keterbatasan waktu yang tersedia untuk mengajarkan materi kimia. Masalah pertama dapat diatasi dengan menggunakan model konkret bahan ajar dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas dalam bentuk media flash. Masalah kedua dapat diatasi dengan menerapkankan pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menciptakan situasi ini adalah pembelajaran kooperatif. Pemanfaatan internet sebagai alat komunikasi, dapat memaksimalkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran melalui komunikasi antara guru dan antara siswa lain di luar kelas, sehingga kendala waktu dapat diatasi. Masalah ketiga dapat diatasi dengan menyediakan bahan ajar yang dapat dipelajari secara individual oleh siswa di luar kelas. Kombinasi pembelajaran kooperatif, penggunaan model konkret dari bahan ajar yang dikemas dalam bentuk gambar, animasi atau video yang dikemas sebagai media flash, dan aplikasi internet sebagai alat komunikasi antara siswa dengan guru dan antar siswa dapat dianggap sebagai blended learning. Blended learning memerlukan bahan ajar dengan desain tertentu. Bahan ajar ini dapat di-upload di internet dan dapat diakses oleh siswa di mana dan kapan saja. Topik gaya antarmolekul adalah topik kimia yang mendasari banyak topik lain seperti produk kelarutan dan sifat koligatif larutan. Topik ini terdiri dari banyak konsep-konsep abstrak seperti gaya London, dipol-induksian, gaya dipol, gaya dipol-dipol, dan ikatan hidrogen. Sayangnya, buku kimia yang digunakan di sekolah menengah atas cenderung sangat terbatas dalam membahas materi ini. Alokasi Waktu diberikan oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk pengajaran topik ini juga sangat terbatas. Oleh karena itu penguasaan siswa pada topik ini cenderung rendah. Pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran materi ini mungkin dapat mengatasi masalah yang ada. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengetahui: (1) kelayakan bahan ajar gaya antarmolekul yang telah dikembangkan, (2) keefektifan bahan ajar yang dikembangkan untuk blended learning, dan (3) persepsi siswa tentang pelaksanaan blended learning dalam pembelajaran gaya antarmolekul. Pengembangan bahan ajar gaya antarmolekul mengadopsi model 4-D dari Thiagarajan dkk, yang terdiri dari 4 langkah. Langkah pertama terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu: (1) analisis akhir depan atau analisis kompetensi dasar dan standar kompetensi untuk topik gaya antarmolekul, (2) analisis kebutuhan siswa, dan (3) penyusunan indikator hasil belajar. Langkah kedua adalah desain bahan ajar yang akan dikembangkan. Langkah ketiga adalah pengembangan bahan ajar. Langkah keempat adalah penyebaran bahan ajar yang dikembangkan. Sebelum langkah keempat materi pembelajaran yang dikembangkan ditelaah oleh dua dosen kimia Universitas Negeri Malang (UM), satu guru kimia, dan 15 mahasiswa program studi pendidikan kimia Universitas Negeri Padang. Validasi ini digunakan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar yangh telah dikembangkan berdasarkan isi, bahasa, dan penyajiannya. Keefektifan bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada prestasi belajar 20 siswa SMA Negeri 3 Solok yang terlibat dalam blended learning. Keefektifan bahan ajar yang digunakan dalam blended learning didasarkan pada hasil belajar siswa. Data pengembangan yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran untuk perbaikan materi pembelajaran yang dikembangkan diberikan oleh dosen kimia, guru kimia, dan mahasiswa program studi kimia. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan penilaian standar materi pembelajaran yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari jawaban angket tentang persepsi siswa tentang penerapan blended learning dan prestasi belajar siswa. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket dan tes prestasi belajar siswa. Tes prestasi belajar siswa terdiri dari 20 item dengan validitas isi sebesar 0,90. Materi pembelajaran gaya antarmolekul yang dikembangkan terdiri darai tujuan pembelajaran, indikator, materi pembelajaran, ringkasan, evaluasi, glosarium, dan indeks. Penilaian bahan ajar oleh beberapa ahli menunjukkan kelayakan sebesar 90,5% dari isi, sebesar 94,4% kesesuaian bahasa, dan sebesar 86,7% dari penyajian. Revisi bahan ajar telah dilakukan berdasarkan saran-saran yang diberikan oleh dosen kimia, guru, dan siswa. Penerapan bahan ajar yang telah direvisi dalam blended learning menghasilkan 100% siswa mencapai kriteria kelulusan minimal (KKM). 85,0% Siswa menyatakan bahwa memahami materi dengan menggunakan blended learning mudah dipahami. 90,0% siswa merasa senang mempelajari materi pembelajaran , dan 80% siswa memberikan persepsi positif tentang penerapan blended learning. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas dianggap bahwa bahan ajar gaya antarmolekul yang telah dikembangkan adalah sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan efektivitas dari bahan ajar ini harus dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Analisis kesalahan sintaksis bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas VI SDN Sedarum II Nguling Pasuruan yang berbahasa ibu bahasa Madura / Deny Setyawan

 

Kata Kunci: Kesalahan, sintaksis, bahasa Indonesia. Kesalahan merupakan penyebab utama kesulitan dalam belajar bahasa kedua. Penelitian ini didasari asumsi bahwa siswa kelas VI SD dalam penguasaan kosa kata sudah bisa dikatakan banyak, sehingga kegiatan mengarang bagi siswa kelas VI SD merupakan hal yang mudah. Selain itu, penguasaan bahasa Madura lebih baik dibandingkan dengan penguasaan bahasa Indonesia. Selanjutnya diajukan pertanyaan, yaitu bagaimanakah wujud kesalahan sintaksis bahasa Indonesia pada (1) kalimat tunggal dan (2) kalimat majemuk dalam karangan siswa kelas VI SD. Bertolak dari pertanyaan di atas, maka untuk menjawabnya digunakan beberapa teori yang dapat memberi gambaran jelas tentang wujud-wujud kesalahan. Teori-teori yang dimaksud yaitu penjelasan tentang kesalahan berbahasa dan jenis-jenis kesalahan, dwibahasawan dan tipe-tipe dwibahasawan, dan analisis kesalahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Dengan metode ini, kesalahan bahasa yang dibuat oleh siswa dapat dijelaskan. Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu dengan panduan identifikasi dan analisis data sebagai instrumen pembantu. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Sedarum II Nguling Pasuruan yang berbahasa ibu bahasa Madura dengan jumlah 19 siswa, sumber data penelitian ini adalah hasil karangan siswa kelas VI SD, dan data penelitian ini adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia yang melanggar bahasa pada tataran sintaksis yang terdapat dalam karangan bebas siswa kelas VI SD. Sekolah yang dijadikan sebagai sumber data penelitian ini adalah SDN Sedarum II Nguling Pasuruan. Penganalisisan data dilakukan dengan cara pemberian garis bawah pada kesalahan sintaksis dalam hasil karangan siswa, kemudian diklasifikasikan atau dikelompokkan sesuai dengan jenis kalimatnya. Jenis kalimat yang dimaksud adalah kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 dari 19 siswa atau 72 % siswa melakukan kesalahan dalam karangannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesalahan sintaksis pada kalimat tunggal yang dilakukan oleh siswa kelas VI SDN Sedarum II Nguling Pasuruan yang berbahasa ibu bahasa Madura. Kesalahan tersebut adalah (1) kalimat tunggal yang tidak gramatikal, (2) kalimat tunggal yang tidak padu, (3) kalimat tunggal yang tidak efektif, dan (4) kalimat tunggal yang dipengaruhi oleh bahasa Madura. Kesalahan sintaksis pada kalimat majemuk setara adalah (1) kalimat majemuk setara yang tidak gramatikal, (2) kalimat majemuk setara yang tidak padu, (3) kalimat majemuk setara yang tidak efektif, dan (4) kalimat majemuk setara yang dipengaruhi oleh bahasa Madura. Kesalahan sintaksis pada kalimat majemuk bertingkat adalah (1) kalimat majemuk bertingkat yang tidak gramatikal, (2) kalimat majemuk bertingkat yang tidak padu, (3) kalimat majemuk bertingkat yang tidak efektif, dan (4) kalimat majemuk bertingkat yang tidak jelas. Kesalahan sintaksis pada kalimat majemuk campuran adalah (1) kalimat majemuk campuran yang tidak gramatikal dan (2) kalimat majemuk campuran yang tidak efektif. Oleh karena itu, pihak guru SDN Sedarum II Nguling Pasuruan diharapkan selalu membelajarkan bahasa yang baik dan sesuai dengan kaidah bahasa yang benar. Pembelajaran bahasa seharusnya bukan merupakan tanggung jawab guru bahasa Indonesia atau guru kelas saja, tetapi juga guru mata pelajaran yang lain juga ikut ambil bagian dalam pembelajaran bahasa. Pembiasaan berbahasa yang baik dan benar perlu dibudayakan setiap hari, setidaknya dalam berkomunikasi setiap hari di lingkungan sekolah baik dalam berkomunikasi formal maupun informal.

Penerapan collaborative learning melalui permainan mencari gambar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Cepokomulyo 2 Kepanjen / Rahmawati

 

Kata kunci : pembelajaran IPA, collaborative learning, permainan mencari gambar Model collaborative learning yang diterapkan melalui permainan mencari gambar dapat membantu siswa untuk aktif dan bekerjasama dalam belajar karena mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan permainan secara kelompok dan meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap tugas yang harus diselesaikan. Pembelajaran IPA dengan menggunakan metode ceramah akan membuat siswa pasif dalam belajar. Kurang terbiasanya siswa untuk melakukan kegiatan kelompok membuat siswa kurang memiliki rasa kerjasama. Pelaksanaan kegiatan kelompok yang kurang efektif dapat menimbulkan ketergantungan siswa kepada temannya untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya diselesaikan secara berkelompok. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran cenderung pasif dan hasil belajar siswa hanya mencapai nilai rata-rata 63,33. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan collaborative learning melalui permainan mencari gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan collaborative learning melalui permainan mencari gambar dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Cepokomulyo 2 Kepanjen, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa kelas III, serta (3) peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Cepokomulyo 2 Kepanjen setelah dibelajarkan menerapkan collaborative learning melalui permainan mencari gambar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III sebanyak 30 siswa, yang terdiri dari 25 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK yang digunakan meliputi empat tahapan, yaitu: 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting, dan 4) revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalahobservasi, dokumentasi, tes, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan collaborative learning melalui permainan mencari gambar dalam pembelajaran IPA mampu merubah cara belajar siswa dari menerima pengetahuan menjadi aktif membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian tahapan pembelajaran, selain itu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 43,33%, dengan nilai rata-rata 68,13 dan pada siklus II prosentase meningkat menjadi 100% , dengan nilai rata-rata 85,03. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 63,33% dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa 67,9 dan pada siklus II prosentase meningkatan menjadi 80% dengan nilai rata-rata 73,55. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala sekolah dan guru untuk dapat menerapkan collaborative learning melalui permainan mencari gambar yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, dengan berusaha memperbaiki kekurangan yang terdapat pada penelitian ini, seperti pembentukan kelompok dan pengelolaan kelas. Bagi peneliti lain dengan penelitian yang sejenis dapat mengembangkan penelitian dengan menerapkan model collaborative learning melalui permainan mencari gambar yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar IPA siswa.

Studi epidemologi malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep - Jawa Timur / Melly Ratlina Sari

 

Kata kunci: epidemiologi, malformasi kongenital, Kabupaten Sumenep Malformasi kongenital merupakan kelainan bawaan lahir karena selama di dalam rahim mengalami gangguan, baik gangguan oleh faktor genetik, faktor lingkungan, maupun faktor genetik dan faktor lingkungan. Secara medis, usia muda merupakan usia yang belum matang untuk melakukan perkawinan. Kabupaten Sumenep memiliki angka kawin muda tertinggi di antara kabupaten lain di Pulau Madura. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis malformasi kongenital, persentase kejadian malformasi kongenital, dan faktor- faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep. Jenis penelitian adalah penelitian historis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2010 di Kabupaten Sumenep. Obyek penelitian berupa ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital di RSUD dr. H. Moh. Anwar; Rumah Sakit Islam Kalianget, dan Puskesmas, serta rumah bersalin. Prosedur penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data penderita malformasi kongenital pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2009 yang terdapat di rumah sakit, puskesmas, dan rumah bersalin, memberikan angket dan melakukan wawancara dengan ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital, mendokumentasikan bayi yang menyandang malformasi kongenital. Data primer berupa usia ibu saat melahirkan, berat bayi saat lahir, jenis kelamin bayi, urutan kelahiran bayi, status bayi (hidup atau mati), dan jenis kelainan yang disandang. Data sekunder merupakan jawaban dari angket dan wawancara. Instrumen penelitian antara lain tabel data primer, tabel data sekunder, angket, dan butir-butir pertanyaan pada wawancara. Data primer dianalisis menggunakan analisis korelasi, dan data sekunder dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,25, berarti tidak terjadi korelasi antara usia ibu saat melahirkan dan jumlah bayi yang lahir dengan menyandang malformasi kongenital. Tidak ada ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital pada usia di bawah 16 tahun. Persentase ibu yang melahirkan bayi dengan malformasi kongenital pada usia 16-17 tahun sebanyak 0,32%, pada usia 18-29 tahun sebanyak 0,56%, pada usia 30-34 tahun sebanyak 0,64%, dan pada usia di atas 35 tahun sebanyak 0,77%. Jenis kelainan di Kabupaten Sumenep dikelompokkan menjadi kelainan morfologi, kelainan anatomi, sindrom down, dan kelainan multipel. Persentase kejadian malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep pada Januari 2008 sampai dengan Desember 2009 adalah sebesar 0,57%. Usia ibu saat melahirkan bukan satu-satunya penyebab bayi lahir dengan menyandang malformasi kongenital, namun malformasi kongenital disebabkan oleh faktor yang kompleks. Faktor resiko terbesar yang mempengaruhi terjadinya malformasi kongenital di Kabupaten Sumenep adalah kekurangan nutrisi.

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui pendekatan paikem pada siswa kelas IV di SDN Karangsari 1 Kota Blitar / Rohmi Zunaida

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, PKn, Pendekatan PAKEM Dari hasil observasi yang dilakukan pada pembelajaran PKn kelas IV di SDN Karangsari 1 kota Blitar, guru menggunakan pembelajaran tradisional. Dalam pembelajaran PKn yang selama ini berlangsung guru hanya menjelaskan materi yang ada pada buku paket kemudian guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal evaluasi. Selama pembelajaran berlangsung kondisi yang ada dalam kelas tidak kondusif untuk siswa belajar, siswa ramai, dan tidak terfokus pada apa yang disampaikan oleh guru. Akibat dari hal tersebut hasil belajar yang diperoleh dari hasil observasi dalam kegiatan pra tindakan adalah 65, padahal KKM kelas yang seharusnya adalah 70. Dari hal tersebut memberikan informasi bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn belum maksimal.Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran dalam matapelajaran PKn perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan PAIKEM. Hal ini karena dengan pendekatan PAIKEM siswa akan dapat mencari sendiri pengertian dari materi yang akan dicapai tujuan pembelajarannya, sehingga diharapkan dengan penggunaan PAIKEM ini akan dapat menignkatkan hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. Selain hal tersebut dengan digunakannya pendekatan PAIKEM dalam pembelajaran siswa diharapkan akan dapat menikmati pembelajaran selayaknya dia bermain permainan yang menyenangkan tetapi juga memeproleh informasi tentang materi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)mengetahui dan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan PAIKEM pada pembelajaran PKn kelas IV di SDN Karangsari 1 Kota Blitar, (2) mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn di Kelas IV dengan menggunakan pendekatan PAIKEM pada SDN Karangsari 1 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas dengan model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan PAIKEM pada matapelajaran PKn di kelas IV sudah sangat baik. Hal ini didukung dengan sudah munculnya semua aspek/komponen PAIKEM pada saat pembelajaran berlangsung. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. siklus I, dan siklus II yaitu 58, 5, 62, dan 86. Dan ketuntasan belajar siswa pada pra siklus 45%, siklus I 60%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan kepada guru kelas IV SDN Karangsari 1 untuk menggunakan pendekatan PAIKEM pada pembelajaran PKn agar hasil belajar siswa optimal dan siswa aktif dalam pembelajaran.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran inkuiri nilai pada siswa kelas IV SDN Beru 1 Wlingi Kabupaten Blitar / Ike Lyvia Rose Malasari

 

Kata Kunci: hasil belajar, pendidikan kewarganegaraan, dan inkuiri nilai. Berdasarkan hasil observasi awal dalam proses pembelajaran PKn, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn. Siswa menganggap mata pelajaran PKn sebagai pelajaran hafalan karena kurang menekankan pada aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa masih kurang. Selain itu guru masih meng-gunakan model konvensional yaitu masih terpusat pada guru (teacher center) sehingga membuat siswa bosan dalam proses pembelajaran PKn. Tujuan diadakannya penelitian di SDN Beru 01 Wlingi Kabupaten Blitar adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inkuiri nilai pada siswa kelas IV. Diharapkan dengan model pembelajaran ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kuali-tatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpul-an data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan. Analisis data hasil observasi siswa yaitu dengan mencari prosentase banyak siswa yang menda-pat skor dibagi jumlah siswa dan dikalikan 100%. Apabila hasilnya 70% ke atas maka kegiatan yang dilakukan siswa sudah baik. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap pra hanya 5 siswa atau 14,7% dari 34 siswa yang tuntas belajar. Setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri nilai pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 50% dari 14,7% menjadi 64,7%. Sedangkan untuk peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 35,3% dari 64,7% menjadi 100%. Peningkatan hasil belajar siswa ini dikarenakan peneliti menggunakan metode pembelajaran inkuiri nilai (value inquiry). Siswa yang awalnya bosan dan tidak bersemangat, setelah diterapkannya model pembelajaran inkuiri nilai menjadi lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri nilai menunjukkan peningkatan hasil belajar PKn. Untuk itu disarankan hendaknya para guru menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sesuai situasi dan kondisi siswa. Dengan demikian pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna.

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA melalui model pembelajaran ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction) pada siswa kelas IV SDN Jatimuluo 1 Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung / Widha Bhinartika

 

Kata kunci: IPA, Pembelajaran, Model ARCS Model ARCS adalah model pembelajaran yang mengutamakan pengelolaan motivasi siswa selama pembelajaran. Pengelolaan motivasi dapat diukur dari ketercapaian indikator pada ARCS yaitu perhatian siswa (Attention), keterkaitan pembelajaran dengan pengalaman siswa (Relevance), kepercayaan diri siswa (Confidence), kepuasan siswa selama pembelajaran (Satisfaction). Berdasarkan hasil observasi didapatkan fakta bahwa pembelajaran berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif. Dari nilai tes menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 61,67 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 41,6 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65 untuk hasil belajar dan 70% untuk ketuntasan kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model ARCS untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model ARCS, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model ARCS, (4) tanggapan siswa selama pembelajaran dengan model ARCS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model ARCS, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, pedoman wawancara, lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model ARCS untuk pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 dengan kompetensi dasar "menjelaskan perubahan energi bunyi melalui penggunaan alat musik" dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam penerapan model ARCS pada siklus I yaitu 82,22% dan meningkat pada siklus II menjadi 92,22%. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 69,7 menjadi 84,5 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 71 dengan ketuntasan 64% pada siklus I menjadi rata-rata 88,27 dengan ketuntasan kelas mencapai 82% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam menerapkan model ARCS ini hendaknya guru mempersiapkan permasalahan dengan matang sehingga tidak akan kehabisan permasalahan yang harus didiskusikan siswa. Agar mudah dalam mengkondisikan dan mengorganisasikan kelas dengan baik, guru diharapkan memberikan penguatan yang baik untuk mamacu keaktifan siswa, juga dapat memberikan penghargaan berupa hadiah.

Peningkatan keterampilan menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang di kelas IV SDN Bendosari 02 Kabupaten Blitar / Dolid Zahroeni

 

Kata Kunci: menulis narasi, cerita rumpang, sekolah dasar Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Berbagai kompetensi tersebut diberikan agar siswa mampu menerapkan konsep bahasa dalam memecahkan masalah yang erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Menulis karangan narasi merupakan salah satu materi dalam bahasa Indonesia. Dalam menulis karangan narasi, siswa kelas IV SDN Bendosari 02 mengalami kesulitan sehingga hasil belajar siswa pada keterampilan menulis narasi sangat rendah dengan rata-rata 56,29. Karena itulah peneliti melakukan penelitian untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi. Tindakan yang dilakukan adalah menerapkan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang. Melalui penelitian ini dapat diketahui bagaimana penerapan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang dan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa dengan menerapkan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu jenis penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian dilakukan sesuai tahap yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart. Subjek peneliti berjumlah 14 siswa. Data yang diambil adalah data tentang hasil belajar siswa, keterlaksanaan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang, kegiatan guru dalam mengajar dan respon siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan angket. Teknik analisa data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Analisa data merupakan proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, dan mengorganisasi data secara sistematik dan rasional untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian. Untuk hasil belajar digunakan SKM sebagai standar ketuntasan siswa dalam belajar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil belajar siswa menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang mengalami peningkatan dari hasil tes akhir diperoleh prosentase ketuntasan belajar pada pra tindakan 35,71% dengan kategori sangat kurang, siklus I 78,57% dengan kategori baik dan siklus II 100% dengan kategori sangat baik. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan pembelajaran menulis narasi dengan melengkapi cerita rumpang untuk mengatasi kesulitan siswa menulis karangan narasi, sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Analisis kinerja guru bersertifikasi pada sekolah dasar negeri dalam menyusun perencanaan pembelajaran se-kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang / Uma Fadhila Trisnawati

 

Kata Kunci: kinerja guru, guru bersertifikasi, rencana pembelajaran Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut dapat diwujudkan melalui kinerja guru, salah satunya kinerja guru dalam menyusun rencana pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kinerja guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo dalam menyusun perencanaan pembelajaran dan untuk mendeskripsikan kualitas rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang yang berjumlah 85 guru. Sampel penelitian berjumlah 65 guru yang diperoleh dengan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan instrumen berupa angket dan dokumentasi RPP yang dibuat oleh guru. Data yang terkumpul dianalisis dengan statistik deskriptif yang disajikan dengan tabel dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua guru bersertifikasi memiliki RPP dan dalam penyusunan RPP sebagian besar komponen sudah dilengkapi oleh guru. Aspek yang hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru yaitu menyusun RPP dengan memperhatikan perbedaan karakteristik peserta didik; mempertimbangkan penerapan teknologi, informasi, dan komunikasi; merumuskan tujuan pembelajaran yang mengandung unsur ABCD; merencanakan model pembelajaran yang bervariasi; membuat rangkuman materi; memilih sumber belajar dari internet dan majalah; dan membuat LKS sendiri. Ditinjau dari kualitas RPP yang dibuat oleh guru, terdapat 57% guru yang sudah membuat RPP dengan baik dan memenuhi kelengkapan seluruh komponen RPP yang sesuai dengan standar proses. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa kinerja guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo dalam menyusun rencana pembelajaran dapat dikategorikan baik. Selanjutnya, ditinjau dari kualitas RPP yang dibuat oleh guru terdapat sebagian besar guru bersertifikasi yang mengajar di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Poncokusumo memiliki kualitas RPP yang baik. Saran yang diberikan antara lain kepada guru agar dalam menyusun RPP melengkapi semua komponen dan kepada Dinas Pendidikan agar menindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan pembuatan RPP yang lengkap dan sistematis.

Peningkatan kemampuan membaca aksara Jawa menggunakan flashcard bagi siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang / Anik Miftakhul Jannah

 

Kata Kunci : Flashcard, Membaca Aksara Jawa, Sekolah Dasar Bahasa Jawa merupakan salah satu ragam bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur dan pengguna paling besar di Indonesia. Rendahnya penguasaan dalam membaca aksara Jawa mengundang keprihatinan berbagai pihak. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ditemukan banyak siswa mengalami kesulitan dalam membaca aksara Jawa, sehingga mengakibatkan kemampuan membaca aksara Jawa siswa kelas 3 rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penggunaan flashcard yang dapat meningkatkan kemampuan membaca aksara Jawa bagi siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang, (2) peningkatan kemampuan membaca aksara Jawa menggunakan flashcard bagi siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang. Penelitian menggunakan rancangan PTK, subyek penelitian ini adalah siswa kelas 3 SDN Gadingkasri Malang dengan banyak siswa 41 anak. Lokasi penelitian di SDN Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Analisis data dilakukan dengan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) penggunaan flashcard sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca aksara Jawa dan suasana pembelajaran lebih menyenangkan, (2) kemampuan siswa membaca aksara Jawa menggunakan flashcard mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 62 pada siklus ke-1 dan 70 pada siklus ke-2. Peneliti menyarankan bagi (1) guru dalam menyampaikan materi pelajaran hendaknya menggunakan berbagai variasi media pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas, (2) peneliti lain, peneliti menyadari hasil penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan, tetapi dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian lebih lanjut.

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan metode pengamatan objek pada siswa kelas V SDN Mojolangu 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Sudarti

 

Kata Kunci: Menulis, Puisi, Metode Pengamatan Objek. Kemampuan menulis puisi adalah kesanggupan atau kecakapan yang dimiliki oleh siswa kelas V SDN Mojolangu 5 untuk mengekspresikan pengalaman batin secara tertulis dalam bentuk larik dan bait dengan memperhatikan tema, amanat, diksi, rima, dan tipografi. Dengan penguasan keterampilan menulis, diharapkan siswa dapat mengungkapkan, pikiran, perasaan yang dimilikinya setelah menjalani proses pembelajaran dalam berbagai tulisan. Namun kenyataannya, di kelas tinggi siswa masih merasa kesulitan bila hendak menulis puisi. Beberapa faktor penghambat yang dialami siswa kelas V dalam kemampuan menulis puisi di SDN Mojolangu 5, yaitu (1) ketertarikan siswa dalam membuat puisi kurang karena siswa masih malas untuk membuat puisi dan ramai sendiri saat berlangsungnya pelajaran, (2) kurangnya buku-buku mata pelajaran puisi dan kumpulan puisi yang dibaca siswa, (3) siswa kurang mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya secara efektif karena suasana kelas yang kurang kondusif, (4) kurangnya penguasaan kosa kata yang dimiliki siswa, (5) guru cenderung menggunakan metode ceramah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti mencoba untuk menerapkan metode pengamatan objek dalam penulisan puisi. Metode pengamatan objek adalah metode yang dilakukan dengan mencermati suatu peristiwa secara langsung dengan prosedural meliputi: siswa mengamati objek, mendeskripsikan objek yang diamati, menuangkan ke dalam bahasa puitis. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik tes digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan siswa dalam menulis puisi. Tes dilakukan dengan pemberian tugas menulis puisi dengan metode pengamatan objek. Teknik non tes dilakukan untuk mengetahui keadaan yang terjadi sebenarnya selama proses pembelajaran di dalam kelas. Dalam melakukan teknik ini, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan jurnal. Data penelitian berupa peningkatan interaksi dan aktivitas siswa yang diamati berdasarkan lima apek yaitu: (1) keaktifan siswa alam bertanya, (2) keaktifan siswa alam menjawab, (3) Keantusiasan siswa mengikuti pembelajaran, (4) partisipai siswa dalam menulis puisi, (5) perilaku siswa. Kemampuan menulis puisi di ukur dari struktur fisik dan batin meliputi; (1) tema, (2) amanat, (3) diksi, (4) rima, (5) tipografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi dengan metode pengamatan objek, aktivitas dan kemampuan siswa dalam menulis puisi mengalami peningkatan. Kemampuan menulis puisi dari siklus I pertemuan pertama ke pertemuan kedua mengalami peningkatan sebesar 42,9%. Sedangkan dari siklus I pertemuan kedua ke Siklus II mengalami peningkatan sebesar 35,7%. Untuk aktivitas siswa dari siklus I pertemuan pertama ke pertemuan kedua mengalami peningkatan 10%. Sedangkan dari pertemuan kedua ke siklus II mengalami peningkatan 9%. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pengamatan objek dapat meningkatkan aktivitas yang positif sehingga siswa lebih tertarik dan antusias dalam pembelajaran menulis puisi dan kemampuan menulis puisi juga meningkat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pengamatan objek dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi bebas siswa kelas V SDN Mojolangu 5 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan sekolah supaya lebih termotivasi dan lebih semangat dalam memberikan pengajaran yang bermutu, bervariasi dan berinovasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemecahan masalah (Problem solving) di kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar / Zusnita

 

Kata kunci: pembelajaran IPS, metode pemecahan masalah, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran yang tepat harus dilakukan sebagai upaya meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Selama ini guru hanya meng-gunakan metode ceramah sehingga pembelajaran hanya berpusat pada guru. Hal itu terjadi pada mata pelajaran IPS terbukti dari 23 siswa terdapat 18 siswa (78,26%) mendapat nilai di bawah nilai KKM kelas yaitu nilai 65. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan metode pemecahan masalah dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemecahan masalah di kelas IV SDN krisik 03 Kabupaten Blitar. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus, siklus I dua pertemuan, siklus II tiga pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini adalah: lembar observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru, tes, dan kamera. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus II diketahui persentase peningkatan aktivitas siswa, aktivitas guru, dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar. Persentase aktivitas siswa dari pratindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 18,28% dari 37,05% menjadi 55,33%. Pada siklus II persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 20,67% dari 55,33% menjadi 76%. Aktivitas guru dari pra-tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 28%, yaitu dari nilai 5 (28%) menjadi nilai 11 (62%). Dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 17% yaitu dari nilai 11 (62%) menjadi skor 15 (82%). Persentase ketuntasan belajar siswa pada tahap pratindakan adalah 34,78% dengan nilai rata-rata 57,82. Persen-tase ketuntasan hasil belajar siswa dari pratindakan ke siklus I mengalami pening-katan sebesar 8,72%, dari 34,78% menjadi 43,5% dengan nilai rata-rata 58,82. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 43,5%, dari 43,5% menjadi 87% dengan nilai rata-rata 72,2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Krisik 03 Kabupaten Blitar. Dari 23 siswa terdapat 3 siswa yang belum tuntas karena siswa belum mampu melaksanakan langkah-langkah pembelajaran dalam metode peme-cahan masalah.

Peningkatan keterampilan menulis narasi ekspositoris melalui penglaman pribadi siswa kelas V di SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar / Kusnul Khotimah

 

Kata kunci: menulis narasi ekspositoris, pengalaman pribadi siswa. Kenyataan di lapangan, siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar memiliki ketrerampilan dalam menulis narasi ekspositoris yang masih rendah. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan tujuan penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan penerapan pengalaman pribadi dalam pembelajaran menulis narasi ekspositoris pada kelas siswa V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan melalui pengalaman pribadi dapat meningkatkan ketrampilan menulis narasi ekspositoris pada siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis narasi ekspositoris melalui pengalaman pribadi dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi ekspositoris siswa kelas V SDN Ngeni 08 yang ditunjukkan dengan hasil belajar pada pra tindakan dengan nilai rata-rata 65, siklus dengan nilai rata-rata I 73, dan siklus II dengan nilai rata-rata 88 . Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 36%, siklus I sebesar 64%, dan siklus II 91%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis narasi ekspositoris berdasarkan pengalaman siswa dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi ekspositoris siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan dan memanfaatkan pengalaman pribadi siswa sebagai bahan untuk menulis narasi ekspositoris

Peningkatan pengetahuan konsep teknologi melalui model pembelajaran tujuh bintang siswa kelas IV SDN Suruhwadang 03 Kabupaten Blitar / Rohmad Setyo Wibowo

 

Kata kunci: Peningkatan pengetahuan, IPS, model pembelajaran tujuh bintang Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang mengajarkan seperangkat konsep dari ilmu-ilmu sosial. Konsep-konsep tersebut diberikan secara berkaitan antara konsep satu dengan yang lain sehingga mudah dipahami dan mengingatnya. Kenyataan di Sekolah Dasar tidak demikian, dalam pembelajarannya, guru banyak ceramah sehingga siswa pasif dan bosan. Hal ini berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang mengarah pada rendahnya pengetahuan siswa terhadap suatu konsep materi. Hal ini tampak pada nilai yang diperoleh dari 22 siswa hanya 5 siswa yang tuntas dan 17 siswa tidak tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran tujuh bintang pada pembelajaran IPS, dan (2) mendeskripsikan peningkatan pengetahuan konsep teknologi dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Suruhwadang 03 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, jenisnya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitiannya 22 siswa kelas IV SDN Suruhwadang 03 Kabupaten Blitar. Instrumen penelitian ini meliputi lembar observasi dan lembar tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data secara kualitatif. Penelitian ini dilakukan dua siklus dengan tahapan penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam satu siklus ada tiga kali pertemuan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa terhadap konsep teknologi. Terlihat dari hasil belajar secara individu maupun klasikal dalam pembelajaran IPS melalui model pembelajaran tujuh bintang. Peningkatan rata-rata hasil belajar secara individu pada siklus I adalah 75,90 % meningkat menjadi 83,90 % pada siklus II. Sedangkan secara klasikal peningkatan rata-rata hasil belajar 72,27% meningkat menjadi 81,81 % pada siklus II. Sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan judul lainnya. Disarankan guru dalam pembelajaran mampu menentukan model atau metode yang tepat sehingga tercipta proses belajar yang bermakna bagi siswa.

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran talking stick di kelas V SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk / Arina Tri Mariyanti

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, PKn, Talking Stick Mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran yang membentuk siswa menjadi manusia yang berakhlak mulia, berguna bagi nusa dan bangsa, serta mampu mengikuti perkembangan IPTEK. Dalam pembelajaran PKn guru selalu mendominasi pembelajaran dengan ceramah, tanya jawab, dan memberikan tugas saja. Sehingga membuat siswa bosan dan bahkan mempengaruhi hasil belajar siswa. Karena guru mendominasi pembelajaran sehingga siswa pasif dan kurang memahami materi yang diajarkan guru dan hasil belajar mereka menurun. Untuk itu diperlukan pembaharauan mengenai hal itu. Misalnya dengan menggunakan Model Pembelajaran Talking Stick. Penelitian tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal, yang mencakup pelaksanaan model pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas V SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk, dan meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Talking Stick kelas V SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas / Classroom Action Research (CAR). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik Observasi, Tes, dan Dokumentasi. Data proses pembelajaran (penerapan model Talking Stick) bersumber dari peneliti dan siswa kelas V SDN Dawuhan I. Data keaktifan siswa diperoleh dari hasil observasi pada proses pembelajaran pada awal siklus sampai dengan akhir siklus yang direncanakan dalam kelas. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Talking stick juga meningkat yaitu pada siklus I pertemuan I jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sebanyak 3 siswa (15%) kemudian naik pada pertemuan II menjadi 8 siswa (40%). Sedangkan pada siklus II pertemuan I jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sebanyak 16 siswa (76%) kemudian naik pada pertemuan II sebanyak 19 siswa (90,5%). Dari hasil penelitian ini disarankan kepada guru seharusnya guru mau mencoba model pembelajaran Talking Stick pada mata pelajaran lainnya agar siswa lebih senang dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran lain juga meningkat, bagi siswa seharusnya siswa dapat belajar lebih giat lagi dan lebih aktif dalam pembelajaran agar mereka mendapat hasil belajar atau nilai yang lebih baik lagi.

Peningkatan kemampuan membaca teks bacaan dengan teknik Tri Fokus Steve Snyder di kelas V SDN Manisrenggo kota Blitar / Anggit Prasetyo

 

Kata kunci: kemampuan membaca, teknik Tri Foku Steve Snyder, sekolah dasar Kemampuan membaca merupakan aspek yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Untuk itu diperlukan teknik yang tepat untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa, salah satunya menggunakan teknik Tri Fokus Steve Snyder. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik Tri Fokus Steve Snyder di kelas V dan mendeskripsikan penggunaan teknik Tri Fokus Steve Snyde yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Teknik yag digunakan dalam penelitian ini adalah Tri Fokus Steve Snyder dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Manisrenggo Kota Kediri. Teknik analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dari data yang didapatkan menunjukkan bahwa penerapan teknik Tri Fokus Steve Snyder dapat berjalan baik dan dapat meningkatkan kemampuan membaca teks bacaan siswa kelas V SDN Manisrenggo Kota Kediri. terbukti pada kegiatan pra siklus menunjukkan bahwa rata-rata perolehan nilai belajar siswa adalah 67,27 pada siklus I rata-rata perolehan nilai siswa adalah 78,33, pada siklus II dengan nilai rata-rata 91,36. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik Tri Fokus Steve Snyder berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kemampuan membaca teks bacaan siswa kelas V SDN Manisrenggo Kota Kediri. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar guru aktif mencari informasi mengenai teknik pembelajaran inovatif agar menambah pengetahuannya mengenai teknik pembelajaran serta dapat memilih teknik pembelajaran yang sesuai untuk masalah pembelajaran yang sedang dihadapi, memiliki inovasi dan kreativitas dalam menciptakan iklim pembelajaran, mengelola kelas sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa, serta memilih strategi yang sesuai dengan karakter materi yang diajarkan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata diklat melakukan prosedur administrasi kelas X APK 4 SMK Negeri 2 Pacitan / Lissa Marwina

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, hasil belajar Berdasarkan pra penelitian yang telah dilakukan di SMKN 2 Pacitan, diproleh informasi bahwa pembelajaran pada mata diklat Melakukan Prosedur Administrasi masih didominasi oleh metode ceramah sehingga hasil belajar belum maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti menerapkan model pembelajaran Group Investigation untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kritis, aktif dalam pembelajaran, bertanggung jawab, meningkatkan pemahaman dan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran. Penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation dilaksanakan dalam dua siklus selama empat pertemuan. Jenis penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dokumentasi, wawancara, angket dan catatan lapangan. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMKN 2 Pacitan dengan subyek penelitian adalah siswa kelas X APk 4 yang berjumlah 33 siswa. Mata diklat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mata diklat Melakukan Prosedur Administrasi. Untuk mengetahui kegiatan siswa selama proses pembelajaran maka dilakukan observasi dengan menggunakan instrumen lembar aktivitas. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar maka digunakan pre test dan post test. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Nilai rata-rata pre test pada siklus I sebesar 6%, sedangkan nilai rata-rata post test siklus I sebesar 60%. Hal ini mengalami kenaikan sebesar 54%. Demikian juga pada siklus II nilai rata-rata pre test siklus sebesar 90%, sedangkan nilai rata-rata post test siklus II sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil post test siklus II mengalami peningkatan sebesar 10% dari post test siklus I. (2) Tanggapan yang diberikan siswa terhadap pembelajaran kooperatif model Group Investigation sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya sikap siswa yang merasa senang dengan pembelajaran ini karena menuntut siswa untuk aktif sehingga kegiatan pembelajaran tidak monoton. (3) Tanggapan yang diberikan guru terhadap pembelajaran kooperatif model Group Investigation adalah model pembelajaran kooperatif memang sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Namun guru masih berpikir bahwa model pembelajaran kooperatif tidak harus diterapkan dalam proses belajar mengajar karena siswa masih perlu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Jika penerapan ingin berhasil masih diperlukan pembiasaan bagi siswa. Semua guru sebaiknya menerapkan beragam model pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diberikan oleh peneliti yaitu: (1) Bagi guru, model pembelajaran kooperatif selayaknya lebih diterapkan untuk berbagai mata diklat. Khususnya pembelajaran kooperatif model Group Investigation dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas untuk meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. (2) Bagi siswa, perlu memahami setiap tata cara saat mengikuti pembelajaran kooperatif model Group Investigation agar pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan meningkatkan keberanian dalam mengajukan pertanyaan maupun berargumentasi guna lebih memahami terhadap materi yang dipelajari.

Manajemen pembelajaran outbond di sekolah alam (studi kasus sekolah alam bilingual SD Islam Surya Buana Malang) / Della Olivia Wijayanti

 

Kata Kunci: manajemen pembelajaran, outbond, sekolah alam Secara umum, sekolah alam mengembangkan dua jenis pembelajaran, yaitu pembelajaran dalam kelas dan pembelajaran di luar kelas. Pembelajaran di luar kelas ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan psikomotorik anak, sehingga siswa tidak hanya cerdas dalam bidang kognitifnya saja, namun juga tanggap terhadap lingkungan sosial. Pembelajaran di luar kelas, dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pembelajaran di dalam sekolah yang dilaksanakan satu kali dalam satu minggu dan pembelajaran di luar wilayah sekolah yang disebut dengan kegiatan outbond. Penelitian dalam bidang manajemen kegiatan outbond sangat penting, sebab pada hakikatnya pendidikan itu harus bersifat terbuka. Artinya, pendidikan itu harus dapat menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan yang ada. Saat ini, kebutuhan akan pembelajaran tidak terpenuhi apabila aktivitas siswa hanya berada di dalam kelas saja. Oleh karena itu, sekolah juga harus dapat menyediakan fasilitas pembelajaran di luar kelas. Hal tersebut dapat terwakili oleh adanya kegiatan outbond. Penelitian tentang kegiatan outbond akan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah yang menerapkan kegiatan outbond. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi sekolah lain yang belum mengadakan kegiatan outbond sebagai agenda rutin. Kegiatan outbond sangat penting dalam usaha memupuk jiwa kepemimpinan, kemandirian, keberanian, percaya dir, tanggung jawab, empati, serta dapat memacu siswa untuk lebih kreatif dalam mengatasi permasalahan belajar di kelas. Oleh karena itu, sekolah harus benar-benar mengelola kegiatan outbond dengan baik agar mendapatkan hasil yang optimal. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perencanaan pembelajaran outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang, bagaimana pelaksanaan kegiatan outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang, apa saja manfaat adanya kegiatan outbond bagi siswa Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang serta bagaimana dampak adanya kegiatan outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data penelitian berupa hasil dari wawancara dengan narasumber, observasi terhadap lapangan, dan beberapa dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Instrumen yang digunakan adalah panduan wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil temuan penelitian, ditemukan empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama, perencanaan pembelajaran kegiatan outbond di Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang diwujudkan dalam pembentukan panitia yang terdiri atas direktur, kepala sekolah, seluruh guru, dan orang tua siswa yang terbentuk dalam paguyuban kelas. Kedua, pelaksanaan outbond diwujudkan melalui pemberdayaan guru dan orang tua siswa sebagai fasilitator dan pengawas kegiatan serta untuk pengevaluasiannya diwujudkan melalui pemberian tugas berupa pembuatan laporan oleh siswa tentang pengalaman kegiatan outbondnya yang berfungsi sebagai salah satu pertimbangan guru dalam pemberian nilai. Ketiga, kegiatan outbond sangat bermanfaat bagi siswa, sebab melalui outbond, siswa dapat menyegarkan kembali jasmani dan pikiran mereka setelah sehari-hari lelah belajar di sekolah. Selain itu, outbond juga merupakan media belajar sambil bermain yang membuat siswa dapat mengaplikasikan teori pembelajaran yang sudah dipelajari secara langsung pada alam. Keempat, kegiatan outbond berdampak pada citra positif yang melekat pada SD Islam Surya Buana Malang sebagai sekolah alam yang menerapkan outbond sebagai program unggulan. Hal ini mempengaruhi input siswa yang setiap tahunnya meningkat. Adapun saran yang diajukan dalam penelitian ini antara lain ditujukan kepada peneliti lain, khususnya peneliti Administrasi Pendidikan sebaiknya lebih memfokuskan pada manajemen kegiatan outbond terutama kegiatan dan fungsi guru dalam kegiatan outbond tersebut, bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan dapat mengembangkan pelaksanaan manajemen pembelajaran sekolah sekaligus memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang penelitian pembelajaran outbond, kepala sekolah Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang ada baiknya mengembangkan dan melaksanakan kegiatan outbond yang mengacu pada teori-teori yang telah dipaparkan, guru diharapkan mampu membuat program perbaikan/remidial bagi siswa agar saat terdapat siswa yang pasif saat outbond, siswa tersebut dapat memperbaikinya, siswa Sekolah Alam Bilingual SD Islam Surya Buana Malang diharapkan dapat mengikuti pembelajaran outbond dengan benar sehingga mampu menggali pengalaman di lokasi outbond, serta bagi orang tua siswa saat mengikuti kegiatan outbond, hendaknya mengamati minat dan bakat putra-putrinya, sehingga orang tua dapat menyalurkan bakat tersebut dengan benar.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi menggunakan gambar seri siswa kelas III SDN Bacem 03 kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar / Deni Puspitasari

 

Kata kunci: menulis deskripsi, gambar seri, sekolah dasar Pembelajaran menulis deskripsi kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar masih berpusat pada guru dengan menggunakan metode ceramah tentang materi menulis deskripsi dan tidak ada media yang mendukung dan sesuai materi yang ada. Hal ini menjadi faktor kemampuan menulis deskripsi siswa menjadi rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan 1) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi menggunakan gambar seri siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar? 2) Apakah dengan menggunakan gambar seri dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar? Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui gambar seri dapat meningkatkan hasil menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 62, siklus I 70, dan siklus II 85 . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 40%, siklus I sebesar 80%, dan siklus II 100%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 60%, dan siklus II 94%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis deskripsi melalui gambar seri dapat meningkatkan hasil belajar menulis deskripsi siswa serta dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan gambar seri sebagai media pembelajaran menulis deskripsi.

Model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V di SDI Al-Yasini Ngabar Kraton Pasuruan / Saidah

 

ata kunci: Pembelajaran IPS, Model Pembelajaran Jigsaw, Hasil belajar. Pendidikan Ilmu Pengetahuan sosial (IPS) bertujuan membentuk watak siswa agar memiliki kemampuan dasar untuk berfikir kritis, rasa ingin tahu, menemukan, memecahkan permasalahan dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Selain itu siswa juga dituntut mampu berkomunikasi dan bersaing sehat dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, maupun global. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa SDI Al-Yasini belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah yaitu 70 ketuntasan individu. Hal ini, terbukti dari nilai-nilai UAS (ujian akhir semester) tahun ajaran 2009/2010 dengan rata-rata 5,8. Permasalahan yang terjadi di kelas V adalah rendahnya hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran jigsaw yaitu model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDI Al-Yasini sebanyak 20 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil analisis data setelah penerapan model pembelajaran jigsaw menunjukkan bahwa: 1) Kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS sesuai dengan RPP dengan model pembelajaran jigsaw mencapai nilai 86,9 dengan kategori A; 2) Untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai 82,5 % dengan kategori tuntas; 3) Hasil belajar siswa mencapai nilai 72,5 dengan ketuntasan belajar 80%. Hasil penelitian ini menunjukkan model pembelajaran jigsaw dalam pembelajaran IPS siswa kelas V SDI Al-Yasini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa dapat dilihat dari rata-rata hasil tes mulai dari pre tes (59,75) dengan prosentase (40%), meningkat siklus I (68,15) dengan prosentase (60%), dan meningkat lagi siklus II (72,5) dengan prosentase (80%) yang terus mengalami peningkatan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu lebih profesional dalam menjalankan tugas mengajar untuk merangsang minat belajar siswanya, serta melibatkannya secara utuh dalam pembelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model cooperative integrated reading and composition (CIRC) untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran komunikasi bisnis (studi pada siswa kelas X Pemasaran di SMK PGRI 6 Malang tahun ajaran 2010/2011) /

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC), Keaktifan, Prestasi Belajar Siswa Dunia pendidikan saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat baik dalam hal teknologi maupun metode pembelajaran. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna memajukan kualitas pendidikan adalah dengan menyempurnakan kurikulum yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini menuntut guru agar tidak selalu menggunakan metode konvensional, tetapi juga menggunakan metode pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk selalu aktif. Kesediaan pendidik untuk mempelajari dan menerapkan suatu hal yang baru dalam hal ini metode pembelajaran baru, akan berguna untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran secara maksimal Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Komunikasi Bisnis Kelas X Pemasaran di SMK PGRI 6 Malang menunjukkan bahwa guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional atau guru yang lebih banyak mendominasi proses pembelajaran. Dengan metode ini mayoritas siswa cenderung bosan dan pasif, hal ini karena mereka terbiasa bergantung pada materi yang disampaikan guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa dalam memahami materi pembelajaran yang terdapat pada mata pelajaran Komunikasi Bisnis dengan penerapan model pembelajaran CIRC. CIRC yang diterapkan terdiri atas 6 tahap, yaitu pembagian kelompok, pemberian wacana yang sesuai dengan topik pembelajaran, bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok, mempresentasikan, membuat kesimpulan dan evaluasi. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian ini adalah (1) sebelum diberikan tindakan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal pre-test Siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 7 siswa (16,7%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 35 siswa (83,3%). Sedangkan setelah tindakan diberikan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal post-test Siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 19 siswa (43,18%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 25 siswa (56,82%). (2) Sebelum diberikan tindakan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal pre-test Siklus II, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 16 siswa (38,09%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 26 siswa (61,90%). Sedangkan setelah tindakan diberikan atau pada saat siswa sudah mengerjakan soal pos-test Siklus II, jumlah siswa yang tuntas belajar adalah 39 siswa (88,63%) dan siswa yang belum tuntas belajar adalah 5 siswa (11,36%). Nilai rata-rata kelas pada aspek kognitif mengalami kenaikan, yaitu dari 64,43 di siklus I menjadi 75,21 di siklus II. Hal ini berarti terjadi kenaikan sekitar 10,78 yang berarti peningkatan ini cukup signifikan. Sedangkan nilai rata-rata kelas pada aspek afektif juga mengalami kenaikan. Terjadi kenaikan persentase hasil belajar aspek afektif dari siklus I ke siklus II. Di siklus I rata-rata kelas sebesar 65,72 sedangkan di siklus II sebesar 82,38. Berarti terjadi kenaikan sebesar 16,66. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah agar pihak SMK PGRI 6 Malang tidak hanya memakai metode konvensional dalam pembelajaran sehari-hari, tetapi juga memakai metode kooperatif agar siswa lebih aktif. Dalam penerapan model pembelajaran tersebut hendaknya guru memperhatikan alokasi waktu sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, serta guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas keterampilan, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Penerapan model learning cycle (LC) 5 face untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V-B SDN Bareng 01 Kecamatan Klojen kota Malang / Setiyani Eka Ningsih

 

Kata Kunci : Pembelajaran IPA, Model Learning Cycle (LC) 5 fase. Pembelajaran IPA pada siswa kelas V-B SDN Bareng 01 masih rendah, berdasarkan observasi awal ditemukan bahwa dalam pembelajaran guru selalu menyampaikan informasi materi dengan berceramah. Aktivitas siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru kemudian mengerjakan soal-soal. Pembelajaran tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa rendah. Ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 54℅ dengan rata-rata kelas mencapai 55,3. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) bagaimana penerapan pembelajaran dengan model Learning Cycle (LC) 5 Fase untuk meningkatkan pembelajaran IPA Siswa kelas V-B SDN Bareng 01, (2) aktivitas siswa kelas V-B SDN Bareng 01 setelah diterapkan model Learning Cycle 5 Fase, (3) hasil belajar siswa kelas V-B SDN Bareng 01 setelah diterapkan model Learning Cycle 5 Fase. Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif sedangkan jenis penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Untuk mengumpulkan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan serta tes. Sedangkan instrumennya berupa lembar observasi penyusunan RPP dengan model LC 5Fase, Lembar observasi Penerapan Model LC 5 Fase, Lembar observasi aktivitas siswa, Lembar catatan lapangan serta lembar soal tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Model Learning Cycle (LC) 5 Fase dapat meningkatkan pembelajaran IPA. Terbukti pada pembelajaran yang sudah dilaksanakan, siswa terlibat langsung dalam pembelajaran sedangkan guru sebagai fasilitator. Prosentase Keberhasilan penyusunan RPP pada siklus 1 mencapai 97,2℅ meningkat pada siklus 2 menjadi 100℅ sedangkan Prosentase untuk keberhasilan guru dalam menerapkan model pada siklus 1 mencapai 85,1℅ dan meningkat pada siklus 2 menjadi 96,3℅. Aktivitas Siswa Kelas V-B setelah diterapkan model LC 5 Fase pada pembelajaran IPA meningkat. Hal ini terbukti dengan skor rata-rata kelas dari siklus 1 yang hanya mencapai 68 meningkat pada siklus 2 menjadi 73,2. Dan Hasil belajar Siswa Kelas V-B setelah diterapkan model LC 5 Fase pada pembelajaran IPA meningkat. Hal ini dapat dilihat hasil belajar pada siklus 1 skor rata-rata kelas mencapai 65,5 sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 72,8. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru (1) dalam melaksanakan pembelajaran dengan model LC 5 Fase memerlukan persiapan yang matang, (2) sebaiknya guru lebih dapat mengelola kelompok dan kelas, (3) guru lebih menguasai materi dan waktu dalam pembelajaran.

Peningkatan hasil belajar operasi penjumlahan pecahan satuan melalui media blok pecahan di kelas IV SDN Mergosono 1 Kota Malang / Fenty Wulandari

 

Kata kunci : Blok Pecahan, Konsep Penjumlahan Pecahan, Hasil Belajar, Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pada umumnya alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran kurang tepat sehingga mengakibatkan tidak lancarnya pencapaian tuntutan kurikulum pembelajaran matematika. Kekurang lancaran tersebut dikarenakan pembelajaran matematika yang ada di sekolah dasar cenderung monoton tanpa melihat proses, sehingga hakikat siswa sekolah dasar yang berkembang secara universal baik minat, kognitif, fisik, emosi dan sosialnya tidak didasari oleh guru dan cenderung diabaikan. Guru tidak memperdulikan konsep yang dimiliki siswa, sehingga siswa cenderung hanya hafal lambang bilangan dan operasinya tanpa tahu atau dilandasi pemahaman konsep lambang bilangan secara mantap. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan keterlaksanaan media blok pecahan pada materi operasi penjumlahan pecahan satuan di kelas IVB SDN Mergosono 1 kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika materi operasi penjumlahan pecahan satuan di kelas IVB SDN Mergosono 1 kecamatan Kedung Kandang Kota Malang. Dalam pelaksanaannya penelitian ini melibatkan teman lain sebagai pengamat dan berkolaborasi dengan teman sejawat lainnya. Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan dengan dua siklus tindakan dan fokus yang berbeda. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IVB SDN Mergosono I dengan jumlah siswa 39. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa pembelajaran melalui media blok pecahan mampu meningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Pada siklus I aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung sebesar 68,8%, meningkat pada siklus 2 menjadi 74,2%, dan prestasi belajar pada siklus I mempunyai rata-rata kelas sebesar 68,8 meningkat pada siklus II menjadi 74,2. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa guru Matematika hendaknya menerapkan media blok pecahan pada mata pelajaran Matematika sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas dengan menyesuaikan materi yang diajarkan.

Penggunaan gambar berseri untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas VIII MTs Nurul Huda Malang / Evi Nur Izzah

 

Kata Kunci: peningkatan, keterampilan menulis, gambar berseri, MTs Dalam pembelajaran bahasa Arab terdapat empat keterampilan berbahasa, salah satu dari keterampilan tersebut adalah keterampilan menulis bahasa Arab. Keterampilan menulis merupakan tahap yang paling akhir diantara keterampilan yang lainnya. Dalam keterampilan menulis ini banyak siswa yang merasa kesulitan baik dalam hal penemuan gagasan, koherensi antar kalimat dalam satu paragraf maupun isi dari paragraf tersebut. Untuk itu guru dituntut untuk lebih kreatif dalam penyampaian materi. Salah satu media yang sesuai untuk meningkatakan keterampilan siswa dalam menulis adalah gambar berseri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Pembelajaran keterampilan menulis siswa kelas VIII MTs Nurul Huda Malang dengan menggunakan gambar berseri, dan (2) Peningkatan keterampilan menulis siswa kelas VIII MTs Nurul Huda Malang setelah dilaksanakan pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan gambar berseri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitiannya meliputi: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (action), (3) pengamatan (observation), dan (4) refleksi (reflektion). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) tes, (2) wawancara, (3) observasi, dan (4) angket. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif mulai dari pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Validasi data dalam penelitian ini dengan cara trianggulasi dengan membandingkan validasi data hasil tes, hasil wawancara dan hasil observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis yang dimulai dari persiapan media dan RPP. Proses peningkatan pada siklus 1 ditemukan beberapa masalah yaitu guru masih belum bisa menguasai kelas dengan baik, siswa masih suka bermain sendiri di dalam kelas sehingga ketika diadakan tes keterampilan menulis, dan dari segi penggunaan dlomir masih banyak salah. Tetapi secara umum mereka sudah bisa merangkai antara kalimat yang satu dengan yang lain menjadi satu paragraf yang utuh. Pada siklus 2, sebagian besar siswa sudah bisa menulis dengan baik dan benar, kesalahan dlomir juga sudah berkurang. Selain itu perhatian siswa sudah terpusat pada materi yang disampaikan. (2) Peningkatan keterampilan menulis siswa kelas VIII MTs Nurul Huda Malang setelah pembelajaran keterampilan menulis dengan menggunakan gambar berseri ini meningkat, hal ini terbukti dari nilai rata-rata hasil pre tes dan post tes mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari nilai pra tindakan yaitu 59,6. Nilai siklus 1 yaitu 65,7. Pada siklus 1 ini hanya 10 orang (38%) yang nilainya mencapai SKM. Sedangkan nilai siklus 2 mengalami peningkatan yaitu 77,7 dan hanya 3 orang (12%) saja yang mendapatkan nilai di bawah SKM. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada kepala sekolah hendaknya lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menambah sarana dan prasarana pembelajaran berupa media-media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk mempermudah siswa mengikuti proses belajaran mengajar. Kepada guru agar lebih meningkatkan profesionalismenya dengan menggunakan strategi, metode maupun media yang lebih bervariasi untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran terutama pembelajaran keterampilan menulis dengan menggunakan gambar berseri. Sementara peneliti yang mengadakan penelitian yang sejenis diharapkan lebih mengembangkan lagi sehingga bisa memberikan masukan kepada para guru dan kualitas pembelajaran bisa ditingkatkan menjadi lebih baik.

Pelaksanaan kurikulum muatan lokal bahasa Using di kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi / Ekaning Pambudi Sari

 

Kata Kunci: muatan lokal, bahasa Using, SD Muatan Lokal (mulok) yang diajarkan di Kabupaten Banyuwangi adalah bahasa Using. Pembelajaran bahasa Using wajib dilaksanakan pada seluruh pendidikan dasar sejak tahun 2007, termasuk di SDN 1 Mojopanggung Kecamatan Giri. Namun sampai saat ini belum pernah ada penelitian tentang pelaksanaan mulok tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan mulok bahasa Using di kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung yaitu: (1) perencanaan yang dilakukan oleh guru, (2) pelaksanaan pembelajaran bahasa Using, (3) penilaian pembelajaranbahasa Using, dan (4) kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum mulok bahasa Using. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yaitu informan, tempat, dan dokumen.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi dengan sumber (guru dan siswa) dan teknik (wawancara, observasi, dokumentasi). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Perencanaan dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Using pada siswa kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung dilakukan oleh guru dengan kolaborasi bersama guru bahasa Using lain dalam Paguyuban Guru Bahasa Using (PGBU). Persiapan sumber dan media belajar bagi siswa tergantung tema dan bahan kajian/materi yang akan dipelajari; (2) Pelaksanaan pembelajaran bahasa Using pada siswa kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi mencakup: (a) bahasa pengantar yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Using adalah bahasa Using dan bahasa Indonesia, (b) sumber belajar yang digunakan adalah buku Lancar Basa Using, cerita rakyat dan lingkungan sekitar siswa, (c) bahan kajian yang diajarkan dalam pembelajaran bahasa Using di kelas tinggi yaitu mengenai penguasaan bahasa Using (aspek membaca, mendengarkan, menulis, berbicara) dan sastra Using (drama, puisi Using, lagu Using, basanan, wangsalan) (d) Metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Using beragam tergantung pada kompetensi yang akan dicapai siswa. (e) Alokasi waktu pembelajaran bahasa Using di kelas adalah 2 jam pelajaran atau 70 menit setiap pertemuan satu kali dalam seminggu; (3) Penilaian pembelajaran bahasa Using di kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung dilakukan melalui penilaian proses dan produk. Penilaian dilakukan di setiap pembelajaran, di tengah semester (UTS), dan di akhir semester (UAS); (4) Kesulitan dalam pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Using pada siswa kelas tinggi SDN 1 Mojopanggung Kabupaten Banyuwangi yaitu (a) kesulitan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, penyediaan sumber dan media belajar, dan penguasaan materi bahasa Using, (b) kesulitan siswa dalam penguasaan bahasa Using dan ketersediaan sumber dan media belajar bahasa Using yang masih terbatas. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: (1) Sekolah yang bersangkutan hendaknya juga menyediakan sarana dan prasarana bagi pembelajaran bahasa Using; (2) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hendaknya mendukung pelaksanaan dan pengembangan kurikulum mulok bahasa Using di sekolah yang berada di Kabupaten Banyuwangi melalui penyediaan sumber belajar berupa buku dan pelatihan bagi guru untuk melaksanakan mulok bahasa Using; (3) Jurusan sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) sekolah dasar hendaknya dapat memotivasi, merangsang aktivitas dan kreativitas mahasiswa serta kemampuan berpikir mahasiswa agar pengetahuan mahasiswa menjadi lebih berkembang dalam kaitannya dengan program pendidikan muatan lokal yang selama ini diterapkan di sekolah di masing-masing daerah; (4) Peneliti atau mahasiswa yang akan datang hendaknya dapat meneliti pelaksanaanpembelajaran bahasa Using yang diterapkan di dalam kelas SD di Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Pengembangan buku teks geografi SMA/MA kelas X pada materi dinamika litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan dengan menggunakan model Dick & Carey / Maulidariah

 

Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd., (II) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si. Kata kunci: pengembangan, buku teks geografi, model Dick & Carey. Buku teks memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Bagi guru, buku teks merupakan sumber informasi yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengajar. Bagi siswa, buku teks merupakan salah satu sumber belajar utama yang dapat meningkatkan kemampuannya memahami bidang studi tertentu. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa buku teks yang beredar di pasaran memiliki berbagai permasalahan. Minimal ada tiga masalah mendasar yang berhubungan dengan buku teks, yakni; 1) kebenaran kebahasaan, 2) kebenaran isi/materi, dan 3) kemenarikan penyajian. Salah satu jenis buku teks yang dinilai bermasalah adalah buku teks geografi untuk siswa SMA/MA. Buku teks geografi yang memiliki ciri khas dibandingkan dengan mata pelajaran lain ditulis tanpa memperhatikan hakikat ilmu geografi. Hasil analisis dari buku teks geografi SMA/MA yang ditulis oleh Sugara (2006) pada materi litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan menunjukkan adanya permasalahan serius yang berhubungan dengan ciri khas kajian geografi ditinjau berdasarkan aspek kebahasaan, materi, dan penyajian. Solusi terhadap permasalahan kebahasaan, materi/isi, dan penyajian buku teks geografi, maka penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian dan pengembangan. Produk buku teks yang dikembangkan berdasarkan kaidah keilmuan geografi dan kurikulum KTSP melalui modifikasi model Dick & Carey (2001). Prosedur pengembangan ini model ini terdiri atas sepuluh langkah namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan lima langkah, yakni: (1) mengidentifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator berdasarkan konsep BSNP, (2) melakukan analisis materi pelajaran, (3) menyusun dan penulisan buku teks, (4) memvalidasi buku teks, (5) merevisi produk akhir hasil pengembangan buku teks. Uji coba produk hasil pengembangan meliputi: (1) rancangan uji coba untuk mengetahui mengetahui tingkat validitas dan kualitas produk. Tingkat validitas dilaksanakan melalui 2 tahap, yakni: (a) review oleh ahli isi/materi, ahli desain pembelajaran, dan ahli bahasa, dan (b) uji coba lapangan. Kelayakan buku teks diketahui melalui hasil tanggapan ahli, siswa, dan guru melalui hasil saran dan tanggapan dalam angket; (2) subjek coba yang terdiri dari siswa SMA kelas X dan guru mata pelajaran Geografi di SMAN 1 Matang Kuli dan SMAN 1 Tanah Luas. Pada tahap uji coba lapangan melibatkan dua kelas pada dua sekolah dengan jumlah yang sesuai dengan keadaan siswa di tempat uji coba lapangan dilakukan; (3) jenis data, terdiri dari data data kualitatif dan data kuantitatif. Data tersebut diperoleh dari ujicoba lapangan melalui angket tanggapan dari siswa dan guru, serta dari soal-soal latihan yang dikerjakan siswa; (4) instrumen pengumpulan data berupa instrumen angket dan soal/evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa; dan (5) teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Buku teks yang dikembangkan berupa mata pelajaran Geografi SMA/MA Kelas X pada materi Dinamika Litosfer dan Pedosfer serta Dampaknya terhadap Kehidupan. Pengembangan ini diharapkan dapat menghasilkan buku teks yang sesuai dengan kaidah keilmuan geografi. Hasil uji coba lapangan yang dilakukan di SMAN 1 Tanah Luas dan SMAN 1 Matang Kuli menunjukkan: 1) hasil tanggapan siswa di kedua sekolah adalah 83,97% dari yang diharapkan 100%, apabila dikonversi dengan tabel skala kelayakan produk, persentase tingkat pencapaian 83,97% berada pada kualifikasi efisien dan tidak perlu direvisi, 2) tingkat pemahaman siswa terhadap buku teks yang dikembangkan adalah baik, hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata tingkat pemahaman siswa 77,64 (lebih besar dari KKM, yaitu 70) dan persentase tingkat pemahaman siswa 84,29%, apabila dikonversi dengan tabel kriteria tingkat pemahaman, tingkat pemahaman siswa berada pada kategori baik yaitu pada persentase 80% - 89%, 3) nilai hasil tanggapan guru diperoleh skor angket 172 dari 200 skor ideal kriterium atau 80,33% dari yang diharapkan 100%. Saran pemanfaatan: (a) Bagi guru dan siswa harus memperhatikan ”tentang buku ini” yang pada bagian awal dari buku teks yang dikembangkan, (b) sebelum mempelajari buku teks ini, baca dan pahamilah abstraksi isi buku teks yang diwakili oleh pohon materi yang tersedia, (c) untuk membantu memahami setiap uraian materi, guru dan siswa dapat melihat kata kunci yang tersedia di tiap permulaan uraian materi, (d) dalam setiap uraian materi, jangan lewatkan latihan/tugas yang telah disediakan, (e) bila terdapat istilah asing yang kurang di mengerti, siswa dapat melihat lembar glosarium yang terdapat di dalam buku teks. Saran desiminasi: pelaksanaan seminar, penyebarluasan melalui wadah MGMP, dan pemuatan dalam bentuk e-book merupakan suatu upaya diseminasi buku teks hasil pengembangan secara meluas kepada para pihak (guru, siswa, pemerintah, dan akademisi). Penyebarluasan itu penting dilakukan untuk memperoleh tanggapan meluas dari masyarakat pengguna dan pemerintah sebagai penentu kebijakan khusus tentang kurikulum. Saran pengembangan selanjutnya: (a) karena uji coba produk hanya berasal dari data hasil tanggapan siswa dan guru terhadap kemenarikan dan kelayakan materi yang ada dalam buku teks geografi yang dikembangkan, dan tes pemahaman siswa, serta belum sampai pada tahapan penggunaan buku teks tersebut dalam proses pembelajaran sesungguhnya, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas penggunaan produk dalam pembelajaran sesungguhnya, (2) uji coba buku teks ini terbatas di Kabupaten Aceh Utara. Untuk menghasilkan buku teks yang berlaku secara nasional sebaiknya dilakukan uji coba lapangan dengan mengambil sampel yang diperluas di wilayah Indonesia.

Peningkatan kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan melalui penerapan model discovery di kelas IVB SDN Ketawang Gede 1 Malang / Frita Devi Asriyanti

 

Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Memahami Isi Bacaan, Discovery, Membaca pemahaman merupakan proses memahami kata-kata atau konsep ketatabahasaan baik dengan cara dibaca secara nyaring, dalam hati ataupun yang lain, dimana kemampuan anak atau siswa berbeda-beda dan bervariasi, maka dari itu pemahaman isi bacaan dari masing-masing siswa pun juga berbeda-beda dalam menentukan gagasan utama atau ide pokok pada tiap paragraf. Di dalam membaca ada beberapa tujuan, yang salah satunya adalah untuk memahami isi bacaan. Memahami isi bacaan adalah salah satu cara utama yang ditempuh oleh seorang siswa untuk menemukan kalimat utama pada tiap-tiap paragraf. Pemahaman bacaan juga berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lainnya, tergantung bagaimana orang tersebut dapat memahami dan menjelaskan arti pada masing-masing kata dan kalimat. Model pembelajaran discovery merupakan suatu model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar, dimana siswa diminta mengamati, menggolongkan, menjelaskan, dan menarik kesimpulan. Memahami isi bacaan dengan menggunakan model pembelajaran discovery merupakan suatu proses pemahaman teks bacaan yang menggunakan model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktifitas siswa dalam belajar, dimana siswa diminta mengamati, menggolongkan, menjelaskan, dan menarik kesimpulan atas bacaan yang telah dibacanya tersebut.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn dengan metode core (connecting, organizing, refleting, extending) pada siswa kelas IV SDN Polehan 2 Malang / Puspa Dewi Setyawati

 

Kata Kunci: Metode CORE , Aktivitas, Hasil Belajar, PKn, SD. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran PKn kelas IV di SDN Polehan 2, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn di kelas IV. Permasalah tersebut antara lain: (1) terjadi kejenuhan pada siswa saat pembelajaran berlangsung, hal tersebut menandakan lemahnya minat belajar siswa; (2) rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran; (3) iklim pembelajaran masih bersifat teacher centered. Hal tersebut disebabkan karena metode yang digunakan lebih banyak ceramah. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah metode CORE, yaitu metode pembelajaran yang bertujuan mengajak siswa untuk terlibat secara langsung dalam mendalami, menggali, mengembangkan, memperluas, menggunakan dan menemukan hasil materi yang sedang dipelajarinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode CORE pada pembelajaran PKn siswa kelas IV SDN Polehan 2; (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa melalui penerapan metode CORE; (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode CORE. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Polehan 2 Kota Malang dengan jumlah siswa 30 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode CORE pada Pembelajaran PKn telah berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Polehan 2. Hal ini dilihat dari perolehan observasi tentang aktivitas siswa serta nilai postes yang terus meningkat. Berdasarkan hasil observasi, aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus II yang paling tampak yaitu sebagian besar siswa sudah berani mengeluarkan ige/gagasan dan bertanya/menjawab serta melaporkan hasil diskusi. Hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (63,67) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (74,5) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (56,67%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (83) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (83,33%). Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan - kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Implementing donoking strategy to improve the writing skill of the eleventh graders of SMA Sunan Kalijogo Jabung Malang / Maswi

 

Kemampuan berbicara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang / Iswahyuni Wati

 

Kata Kunci: kemampuan berbicara, siswa, ekstrakurikuler pramuka, SD Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan formal paling dasar bagi seorang siswa. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar adalah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mencakup empat aspek keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa. Salah satu aspek keterampilan tersebut adalah berbicara. Di dalam kurikulum sekolah dasar termuat berbagai kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa terkait aspek berbicara ini. Upaya untuk mencapai kompetensi tersebut salah satunya adalah dengan mencantumkan kompetensi berbicara pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Untuk memaksimalkan upaya tersebut bisa dilakukan dengan mengadakan suatu kegiatan di luar pembelajaran di kelas yang dapat melatih kemampuan berbicara siswa. Pramuka sebagai salah satu ekstrakurikuler di sekolah secara implisit ikut berperan dalam melatih kemampuan berbicara siswa. Hal ini dapat dilihat dari adanya komunikasi selama kegiatan kepramukaan berlangsung. Pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk (1) mendeskripsikan kejelasan ucapan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (2) mendeskripsikan penggunaan pola kalimat lisan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (3) mendeskripsikan keberanian siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (4) mendeskripsikan kelancaran siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan; (5) mendeskripsikan kenyaringan suara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan, dan (6) mendeskripsikan relevansi gagasan yang disampaikan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang ketika menyampaikan gagasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dasar teori fenomenologis. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu berusaha mengungkapkan dan menelaah kemampuan berbicara siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang. Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, studi dokumentasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap yaitu tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap analisis data, dan tahap penulisan laporan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa gagasan yang disampaikan oleh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler pramuka di SDN Bunulrejo 2 Malang dapat terdengar dengan jelas. Siswa juga telah mampu menggunakan pola kalimat yang benar ketika menyampaikan gagasan. Namun kadang-kadang pola kalimatnya ada yang kurang efektif. Selain itu, siswa memiliki tingkat keberanian yang bervariasi dalam menyampaikan gagasan. Bervariasi disini maksudnya ada yang ketika mengungkapkan gagasannya tanpa ragu-ragu tapi ada juga yang masih disertai keraguan, ada yang berani melihat lawan bicara saat menyampaikan gagasan, dan ada pula yang tidak berani melihat lawan bicaranya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian siswa dapat menyampaikan gagasan dengan lancar dan komunikatif. Akan tetapi sebagian yang lain masih kurang lancar meskipun komunikatif. Masih sebagian kecil saja siswa yang dapat menyampaikan gagasannya dengan nyaring, lantang, dan dapat terdengar dengan jelas dalam ruang pembicaraan. Sedangkan sebagian besar lainnya meskipun dapat menyampaikan gagasannya dengan nyaring dan lantang tetapi belum terdengar dengan jelas dalam ruang pembicaraan. Mengenai relevansi gagasan siswa, diketahui bahwa sebagaian besar gagasan yang disampaikan siswa berhubungan dengan topik pembicaraan yang sedang dibahas dan logis. Hanya sebagian kecil saja yang meskipun gagasannya berhubungan dengan topik yang sedang dibicarakan namun kurang logis. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang diajukan oleh peneliti, yaitu (1) kepala sekolah diharapkan dapat mengupayakan terciptanya kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan keterampilan siswa dalam berbicara serta mengarahkan guru kelas maupun penanggungjawab kegiatan ekstrakurikuler untuk memupuk dan melatih kemampuan berbicara siswa; (2) guru sebagai pembina kegiatan pembelajaran di kelas diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat melatih dan mengembangkan kemampuan berbicara siswa; (3) pembina pramuka diharapkan dapat menciptakan kegiatan kepramukaan yang dapat membentuk karakter yang positif pada diri siswa, salah satunya dengan mengadakan permainan yang dapat melatih kemampuan berbicara siswa; dan (4) perlu adanya pengarahan dan pemantauan oleh orang tua supaya anak memiliki kualitas kemampuan berbicara yang maksimal;

Isti'malulu'bah "Man Ana" litarqiyati maharatil kalam littholabatisshaffi Al'syir filmadrasah almutawassithah mubtadiin bi Singosari / Muhammad Nashrulloh

 

نصرال، ممد. 2011 م . استعمال لعبة "من أنا" لترقية مهارة الكلم لتلميذ الصف السابع ف مدرسة هداية البتدئي التوسطة بسنجاسري. بث علمي. قسم الدب العرب كلية ممد (II) ، الدكتور خالصي الاجستي (I) : الداب بامعة مالنج الكومية. الشرف أحسن الدين الاجستي. الكلمات الفتاح: الستعمال، لعبة "من أنا"، تدريس اللغة. كان تدريس الكلم ف مادة اللغة العربية بالدرسة التوسطة يعان من مشاكل عدة وقصور شت وليزال المر مستمرا إل هذه الونة الخية، ومن تلك الشاكل هي مشكلة الدرسي ف اختيار طريقة تتناسب مع هوية مواد تدريس اللغة العربية. الطريقة الت يستخدمها مدرسوا اللغة العربية ف تعليم الكلم ينقصها التنوع وعدم النذاب، حت لتذب رغبة التلميذ ف متابعة عملية تدريس الكلم. والطريقة الفرحة للتلميذ الت تستطيع أن تضر الفرحة ف الفصل هي طريقة اللعبة.و من اللعاب الت يكن أن يطبقها الدرس ف تدريس الكلم لعبة "من أنا". لعبة "من أنا" هي لعبة تستخدم بطاقات الصور، أو بطاقات الكلمات، أوالواد الوجودة ف الفصل. يهدف هذا البحث إل وصف ( 1) تطيط تعليم مهارة الكلم باستعمال لعبة "من أنا" لتلميذ الصف السابع ف مدرسة "هداية البتدئي" التوسطة بسنجاسري، ( 2) تطبيق لعبة "من أنا" ف تعليم الكلم لتلميذ الصف السابع ف مدرسة "هداية البتدئي" التوسطة بسنجاسري، ( 3) نتيجة التلميذ ف درس الكلم بعد استعمال لعبة "من أنا". إجراء هذا البحث ف الدورين و لكل v يستخدم هذا البحث اتاها صفيا إجرائيا، ت دور أربع خطوات، وهي ( 1) تطيط الجراءات، و ( 2) تطبيق الجراءات، و ( 3) اللحظة و جع البيانات، و ( 4) التحليل والنعكاس. لتحليل البيانات استخدم الباحث طريقة التحليل الكمي والكيفي. وللحصول على صحة نتائج التحليل يستخدم الباحث طريقة التصحيح و هي اللحظة الستمرة ف كل تطبيق الجراءات والناقشة مع الشرف على البيانات الت ت الصول عليها ومقارنة نتائج الختبار والقابلة واللحظة والوثائق. نتائج هذا اليحث كما يلي ( 1) يتوي تطيط تعليم مهارة الكلم باستعمال لعبة "من أنا" على ثلث نقط وهي، الواد الدراسية لدرس اللغة العربية الت تناسب النهج الدراسي، والطريقة الستخدمة لتدريس اللغة العربية هي لعبة "من أنا" ، و تركيز تدريس اللغة العربية ف مهارة الكلم، ( 2) أن تطبيق لعبة"من أنا" لترقية مهارة الكلم لتلميذ الصف السابع ف الدورين بثلثة لقاءات ف كل الدور v ف مدرسة "هداية البتدئي" التوسطة بسنجاسري ت وبالوضوعي الختلفي. سار كل الدور سيا جيدا و تسك بطة الدراسة. تطبيق لعبة "من أنا" ف الدور الول لتدريب التلميذ على الكلم الر و التقليل من خوفهم فيه ولبعث فرحتهم ف تدريس الكلم. وأما تطبيق لعبة"من أنا" ف الدور الثان فهو لزيادة شجاعة التلميذ ف التعبي عن الفكار شفويا و تعويد أنفسهم على الكلم الر، ( 3) أن نتيجة التلميذ ف درس الكلم بعد استعمال لعبة "من أنا" ترتقي تدرييا وتبلغ معيار النجاح القل. دلت نتائج الختبار القبلي على أن 7 تلميذ ناجحون و 14 تلميذا فاشلون، ومتوسط النتيجة ف هذا الختبار 60 . وأما ف الدور الول 15 تلميذا ناجحون و 6 تلميذ فاشلون ، ومتوسط النتيجة ف الدور الول هو 76،66 . وأما ف الدور الثان والختبار البعدي فجميعهم ناجحون. متوسط النتيجة ف الدور . الثان هو 81،8 و أما ف الختبار البعدي فهو 85،3 اعتمادا على نتائج البحث هناك اقتراحات وهي ( 1) ترقية مهارة كلم التلميذ الضعيفة ليست أمرا سهل، فلذلك يب على الدرسي أن يكثروا من الفرص لتدريب التلميذ على الكلم وأن ينوعوا طريقة تدريس الكلم لبعث حاسة التلميذ للشتراك فيه حت يستطع التلميذ أن يستفدوا فوائد كثية من تكثي فرص التدريبات وتنويع الساليب، ( 2) إذا أراد الدرسون أن يطبقوا لعبة "من أنا" ف تدريس الكلم فعليهم أن يقوموا بالعداد الكامل حت يصلوا على النتيجة اليدة، ( 3) على الباحثي اللحقي أن يطوروا نتائج هذا البحث، ويكنهم أن يقوموا بالبحث عن استعمال لعبة "من أنا" للمهارات اللغوية الخرى.

Pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan metode ceramah bervariasi terhadap hasil belajar TIK siswa kelas VII di SMP Negeri 13 Malang / oleh Nona Puspadini

 

Kata Kunci: kontekstual berbasis kooperatif, ceramah bervariasi, hasil belajar. Pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif merupakan pembelajaran yang menuntut siswa menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran, serta siswa diharapkan mampu bekerjasama dan memiliki tanggung jawab terhadap tugas kelompok demi terselesaikannya tugas bersama, sehingga hasil akhirnya mendapat nilai afektif yang baik. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif terhadap hasil belajar TIK, untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran metode ceramah bervariasi terhadap hasil belajar TIK, serta untuk mendeskripsikan kemampuan penerapan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan metode ceramah bervariasi untuk meningkatkan SKM hasil belajar TIK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan teknik purposive sampling, sampel yang digunakan adalah kelas VII-C sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII-B sebagai kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan yaitu RPP, silabus, kisi-kisi soal beserta soal dan kunci jawaban, buku, dan LKS serta instrumen pengukuran variabel X berupa angket dan variabel Y berupa tes tulis dan check list. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian nilai rata-rata hasil belajar siswa kelompok eksperimen adalah 84,23 dan kelompok kontrol adalah 78,72 serta hasil respon siswa terhadap pembelajaran diperoleh rata-rata skor perolehan pada kelompok eksperimen adalah 86,9 dan kelompok kontrol 76,21. Data hasil belajar dari masing-masing kelompok diuji hipotesis meggunakan uji-t serta data hasil belajar dan data respon siswa diuji hipotesis menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil perhitungan uji-t diperoleh hasil yaitu thitung (5,559)> ttabel(1,990). Kesimpulan dari hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan menggunakan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan yang belajar dengan menggunakan metode ceramah bervariasi. Selanjutnya hasil perhitungan uji regresi linear sederhana pada kelompok eksperimen nilai Sig.(0,000) < 0,05 serta untuk kelompok kontrol nilai Sig.(0,016) < 0,05. Kesimpulan dari analisis uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif dan metode ceramah bervariasi terhadap hasil belajar TIK. Serta dari data hasil belajar kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh hasil bahwa SKM pada mata pelajaran TIK dapat dinaikkan menjadi 80 dengan menerapkan pembelajaran kontekstual berbasis kooperatif, sedangkan jika menerapkan metode ceramah bervariasi, SKM pada mata pelajaran TIK tetap 70 sesuai yang ditetapkan di sekolah.

Penerapan model pembelajaran deep dialogue/critical thinking dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bareng 03 Kecamatan Klojen kota Malang / Silvia Fransisca Sukma

 

Kata Kunci: Model Deep Dialogue/Critical Thinking, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn. Salah satu tujuan mata pelajaran PKn adalah melatih siswa untuk berfikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas IV-A di SDN Bareng 03 Malang, diperoleh informasi tentang pelaksanaan pembelajaran di sekolah tersebut yaitu: (1) Beberapa siswa terlihat mengantuk, bermain sendiri dan mengobrol dengan temannya sebangku saat pembelajaran berlangsung; (2) Saat guru memberikan pertanyaan sebagian besar siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dengan kritis; (3) Sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah SKM. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu model pembelajaran yang dapat melatih berfikir kritis siswa yaitu model Deep Dialogue/Critical Thinking. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan: (1) Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model Deep Dialogue/Critical Thinking; (2) Peningkatan aktivitas belajar PKn siswa; dan (3) Peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model Deep Dialogue/Critical Thinking. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang dilaksanakan dalam 2 siklus masing-masing 2 pertemuan. Data aktivitas siswa dikumpulkan dengan teknik observasi sedangkan hasil belajar siswa dikumpulkan melalui tes di setiap akhir pertemuan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan lembar observasi siswa dan tes pada setiap akhir pertemuan. Aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model Deep Dialogue/Critical Thinking mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Dari 38 siswa kelas IV-A, terdapat peningkatan aktivitas siswa dari aspek komunikasi multiarah, memberi yang terbaik pada orang lain, menjalin hubungan kesederajatan, demokratis dan mampu menghargai perbedaan, mengandalkan empati yang tinggi, keberanian bertanya siswa, berfikir kritis dalam menjawab dan bertanya. Skor rata-rata aktivitas yang diperoleh siswa juga meningkat. Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari pretes ke siklus I, dari siklus I ke II dan dari pretes ke siklus II. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa model Deep Dialogue/Critical Thinking dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya disarankan dalam menerapkan model DD/CT sebaiknya dipertimbangkan dalam pengaturan alokasi waktu, pertanyaan dalam Lembar Kegiatan Siswa (LKS) harus dapat mendorong siswa untuk bisa berfikir kritis dan sebaiknya diratakan kepada semua siswa sehingga tidak ada lagi siswa yang pasif, untuk melatih empati dan rasa saling menghargai pada siswa, hendaknya guru menerapkan metode bertukar peran sehingga siswa dapat ikut merasakan apa yang dirasakan temannya dan jika pada proses cooperative learning tidak dapat disatukan maka pelu dilakukan penilaian kelompok berdasarkan rata-rata nilai anggota kelompok sehingga akhirnya terbentuk tim yang solid.

Pembelajaran matematika melalui model problem solving di kelas V SDN Ngeni 04 Kabupaten Blitar / Fenita Friska Anggari

 

Kata kunci: hasil belajar, pembelajaran matematika, Problem Solving Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model problem solving dalam pembelajaran matematika di kelas V SDN Ngeni 04 Kabupaten Blitar. Dengan penerapan model problem solving ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan selama 2 siklus, tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Ngeni 04 yang berjumlah 12 siswa. Data-data dikumpulkan melalui observasi, angket, tes, dan dokumentasi. Sedangkan instrumen yang digunakan berupa lembar observasi, lembar angket, dan soal evaluasi. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model problem solving dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Ngeni 04 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar pratindakan 50, siklus I 68,75 dan siklus II 81,25. Ketuntasan belajar pada pratindakan 33%, siklus I sebesar 58,3% dan siklus II sebesar 83%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model problem solving dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Ngeni 04 Kabupaten Blitar, oleh karena itu diharapkan guru mencoba menerapkan model ini untuk membantu mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan pemecahan masalah sekaligus sebagai motivasi guru untuk dapat menciptakan inovasi dalam pembelajaran.

Peningkatan hasil belajar melalui metode penemuan terbimbing (Discovery) dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Turi 02 kecamatan Sukorejo kota Blitar / Alipiana Manfaatiyas

 

Kata Kunci: Pembelajaran IPS, Metode Penemuan Terbimbing (Discovery), Hasil Belajar. Pemilihan metode sangat penting dalam pembelajaran. Selama ini guru hanya mendominasi dengan penggunaan metode ceramah, sehingga pembelajaran kurang kondusif, siswa kurang aktif dalam mengemukakan ide ataupun mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Hal itu terbukti dari nilai rata-rata ulangan akhir semester 2 siswa kelas IV SDN Turi 02 adalah 60. Nilai tersebut masih jauh dengan yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan metode penemuan terbimbing dalam pembelajaran IPS SD, (2) Mendeskripsikan metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode penelitian ini adalah kualitatif jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus. Di setiap siklus terdiri dari empat fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.Instrumen yang digunakan lembar observasi,tes dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan analisis secara diskritif Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus II diketahui adanya peningkatan aktivitas siswa dan peningkatan hasil belajar siswa. Persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan dari pratindakan 51,79% sebesar 18,54% pada siklus I 70,33% dan siklus II sebesar 81,43% atau meningkat sebesar 11,1%. Sedangkan peningkatan persentase hasil belajar siswa yang tuntas belajar dari siklus I 63,33 ke siklus II 83,33% menjadi naik sebesar 29,19%, yaitu dari persentase ketuntasan siklus I 54,14% naik menjadi 83,33% siswa yang tuntas belajar pada siklus II (dari 24 siswa, 22 tuntas belajar) dan yang belum tuntas ada 2 siswa, karena kemampuannya sanagt rendah. Kesimpulannya dengan menerapkan metode penemauan terbimbing dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui strategi pembelajaran kemampuan berpikir (SPKB) siswa kelas III SDN Sumberdiren 1 Kabupaten Blitar / Fibri Erik Sumantri Yahya

 

Kata kunci: Strategi Pembelajaran Kemampuan Berpikir (SPKB), bahasa lisan, keterampilan berbicara Berdasarkan studi pendahuluan, ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia tentang keterampilan berbicara (lisan) melalui bahasa petunjuk di SDN Sumberdiren 1 Kecamatan Garum kabupaten Blitar, diantaranya; (1) siswa tidak terbiasa menuangkan gagasannya melalui proses berpikir secara lisan, dalam hal ini siswa pasif dalam pembelajaran, (2) penguasaan materi oleh siswa hanya bersifat hafalan, (3) kurangnya kreatifitas guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat menarik minat belajar siswa, (4) suasana pembelajaran yang kurang kondusif karena kurang didukung oleh media pembelajaran yang tepat dan menarik, dan (5) lemahnya bimbingan guru terhadap keterampilan berbicara siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan strategi pembelajaran kemampuan berpikir (SPKB) dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas III. Sehingga nantinya dapat dilihat sejauh mana penerapan strategi pembelajaran kemampuan berpikir dapat meningkatkan keterampilan berbicara. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jenis penelitian ini bersifat siklis artinya penelitian tindakan kelas terikat siklus sebagai prosedur baku penelitian. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini juga menerapkan tahapan Strategi Pembelajaran kemampuan Berpikir, yaitu (1) tahap orientasi, (2) tahap pelacakan, (3) tahap konfrontasi, (4) tahap inkuiri (5) tahap akomodasi, dan (6) tahap transfer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia keterampilan berbicara dengan menerapkan strategi pembelajaran kemampuan berpikir dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Berdasarkan rekapitulasi persentase hasil belajar pada pratindakan nilai rata-rata siswa 68,90%, 45% siswa tuntas dan 55% siswa tidak tuntas. Pada siklus I menunjukkan peningkatan persentase hasil belajar sebesar 73,32%, yaitu sebanyak 67,50% siswa tuntas dan 32,50% siswa belum tuntas. Hal tersebut belum menunjukkan ketuntasan belajar secara klasikal. Sedangkan pada siklus II, hasil belajar dalam keterampilan berbicara siswa memperoleh nilai rata-rata sebesar 75,15% yaitu sebanyak 85% siswa tuntas dan15% siswa belum tuntas. Hal tersebut tersebut telah memenuhi kriteria ketuntasan belajar secara klasikal.

Hubungan pola asuh orang tua dengan kedisiplinan anak di sekolah TK Aisyiayah Bustanul Athfal 24 Malang / Indah Lestari

 

Kata kunci: Pola Asuh, Kedisplinan, Anak Taman Kanak-Kanak. Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku disiplin anak didik. Pengasuhan yang baik harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis dengan unsur-unsur kejujuran, empati, mengendalikan diri sendiri, kebaikan hati kerja sama, pengendalian diri dan kebahagiaan. Perbedaan pola asuh orang tua menyebabkan adanya perbedaan kedisiplinan anak. Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kedisiplinan anak didik di sekolah maka dilakukan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bentuk pola asuh orang tua di rumah, (2) kedisiplinan anak di sekolah dan (3) hubungan pola asuh orang tua dengan kedisiplinan anak di sekolah. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak didik Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal 24 Malang sampel penelitian keseluruhan berjumlah 70 siswa. Untuk mengukur pola asuh orang tua dengan menggunakan angket yang diisi orang tua sedangkan untuk mengukur kedisiplinan digunakan pedoman observasi yang diisi oleh guru. Hasil uji reabilitas yang dihitung menggunakan rumus alpha cronbach (SPSS seri 15), menunjukkan bahwa untuk pola asuh orang tua diperoleh nilai alpha cronbach sebesar 0,856 sedangkan untuk kedisiplinan anak di sekolah nilai yang diperoleh sebesar 0,912. Kedua nilai tersebut berada di atas batas minimal yaitu 0,70 sehingga dapat disimpulkan bahwa skala pengukuran pola asuh dan kedisiplinan mempunyai reliabilitas yang baik. Data yang diperoleh perlu diuji normalitas datanya. Setelah dilakukan uji normalitas untuk pola asuh orang tua memiliki P-value = 0,037untuk uji normalitas Liliefors dan P-value = 0,001 untuk uji normalitas Shapiro-Wilk sehingga data tersebut di tolak karena tidak terdistribusi secara normal. Sedangkan untuk kedisiplinan anak di sekolah memiliki P-value = 0,007 untuk uji normalitas Liliefors dan P-value = 0,001 untuk uji normalitas Shapiro-Wilk sehingga data tersebut di tolak karena tidak terdistribusi secara normal. Berdasarkan analisis data pola asuh orang tua dan kediplinan menggunakan korelasi Spearman Rho (SPSS seri 15) ditemukan hasil analisis korelasi spearman rho yaitu rs = 0,028, P-value = 0,815 lebih besar dari ⍺ = 0,05 maka H0 : ⍴s = 0 diterima. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kedisiplinan anak di sekolah Berdasarkan hasil korelasi biserial yang menguji item dari pola asuh otoriter dan demokratis ditemukan bahwa untuk pola asuh otoriter 0,82 sedangkan pola asuh demokratis 0,593. Hal ini menunjukan bahwa pola asuh otoriter lebih besar hubungannya pada kedisiplinan anak di rumah. Saran-saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan penelitian ini adalah hendaknya guru dalam mendisiplinkan anak didik mengetahui bahwa pola asuh orang tua yang otoriter kadang sama dengan pola asuh demokratis, anak didik kadang di rumah disiplin, tetapi di sekolah tidak disiplin disebabkan lingkungan yang berbeda. Apabila ada penelitian lanjut dengan judul yang sama sebaiknya memperhatikan instrumen penelitian, memperluas sampel, wilayah penelitian, dan jenjang pendidikan.

Peningkatan hasil belajar bilangan pecahan melalui model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) pada siswa kelas IV SDN Jimbe 03 Kabupaten Blitar / Yayuk Sri Rahayu

 

Kata Kunci : hasil belajar, bilangan pecahan, pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT). Hasil observasi awal di SDN Jimbe 03 Kabupaten Blitar, pada pembelajaran matematika kelas IV materi bilangan pecahan diperoleh data bahwa siswa masih belum mengusai materi bilangan pecahan. Hal ini dibuktikan dengan nilai hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran yaitu hanya 29% siswa yang mencapai KKM yaitu 65. 71% siswa belum mencapai KKM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu perbaikan pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam pembelajaran bilangan pecahan di kelas IV (2) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar bilangan pecahan di kelas IV. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Jimbe 03 Kabupaten Blitar pada kelas IV dengan jumlah siswa 24 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi bilangan pecahan. Hal tersebut dapat dilihat pada peningkatan proses belajar siswa pada siklus I yaitu 66% dan meningkat pada siklus II menjadi 92%, dan pada hasil belajar yaitu diperoleh rata-rata presentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan yaitu 29% dan meningkat menjadi 63% pada siklus I, dan pada siklus II jumlah ini terus meningkat menjadi 87%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi bilangan pecahan. Dengan demikian, hendaknya guru dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT agar pembelajaran matematika khususnya materi bilangan pecahan yang dilakukan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Pengaruh penambahan fruktosa dan lama inkubasi terhadap kualitas spermatozoa sapi fries holland hasil swim UP / Dewi Wulan Khudhoifah

 

Kata kunci: Fruktosa, Lama inkubasi, Kualitas Spermatozoa Sapi. Fruktosa merupakan senyawa kelompok monosakarida dan turunan dari keton. Fruktosa dapat digunakan sebagai sumber energi untuk pergerakan dan mudah dimetabolisme oleh spermatozoa. Komposisi fruktosa yang dimiliki oleh plasma semen memiliki fungsi sebagai medium cair yang dapat membantu pergerakan spermatozoa dan sebagai pelindung untuk mempertahankan daya hidup spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan fruktosa terhadap kualitas spermatozoa sapi Fries Holland hasil Swim Up, pengaruh lama inkubasi terhadap kualitas spermatozoa sapi Fries Holland hasil Swim Up, dan pengaruh interaksi antara penambahan fruktosa dan lama inkubasi terhadap kualitas spermatozoa sapi Fries Holland hasil Swim Up. Penelitian ini dilakukan di labolatorium Zoologi FMIPA Universitas Negeri Malang bulan Pebruari-April 2010. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah RAK (Rancangan Acak Kelompok). Perlakuan berupa pemberian fruktosa dengan 5 taraf konsentrasi yaitu 0 %(kontrol), 1%, 2%, 3%, 4% dan lama inkubasi selama 0 menit (kontrol), 30, 40, dan 50 menit masing-masing diulang 5 kali. Setelah pengambilan semen di BBIB Singosari maka semen tersebut diperlakukan dengan Metode Swim Up. Mengambil 1 µL semen dari metode Swim Up kemudian dilakukan 2 kali pengenceran, selanjutnya mengambil 5 µL dan ditambahkan 1 µL fruktosa dengan masing-masing konsentrasi dan diinkubasi pada suhu 370C selama 0 menit (kontrol), 30, 40 dan 50 menit. Pengamatan motilitas dilakukan dengan menghitung jumlah spermatozoa yang bergerak. Pengamatan viabilitas dilakukan dengan menghitung spermatozoa hidup (tidak menyerap warna) dari 100 spermatozoa. Pengamatan morfologi spermatozoa dilakukan dengan menghitung spermatozoa yang mengalami abnormalitas dari 100 spermatozoa. Data kualitas spermatozoa dianalisis dengan Anava Ganda dan jika berpengaruh maka dilanjutkan uji Duncan dengan taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fruktosa dan lama inkubasi berpengaruh terhadap kualitas spermatozoa sapi. Penambahan fruktosa dengan berbagi konsentrasi berpengaruh meningkatkan kualitas spermatozoa sapi yang meliputi motilitas, viabilitas dan morfologi abnormalitas. Lama penyimpanan berpengaruh menurunkan motilitas dan viabilitas spermatozoa sapi, sedangkan morfologi abnormalitas spermatozoa sapi Fries Holland meningkat. Interaksi penambahan fruktosa dan lama inkubasi berpengaruh meningkatkan kualitas spermatozoa yang meliputi viabilitas spermatozoa sapi.

Pengaruh Bid-Ask spread dan trading volume activity terhadap abnormal return pada Bank Konvensional yang listing di BEI tahun 2009 / Sukma Waedhana Wahyuning Widi

 

Kata kunci: Overreaction Market, Abnormal Return, Bid-Ask Spread, Trading Volume Activity Pasar modal layaknya pasar pada umumnya. Perdagangan di pasar modal dipengaruhi informasi sesuai dengan hipotesis efisiensi pasar. Pelaku di pasar modal bertindak berdasarkan informasi akan tetapi reaksi pelaku atau investor berbeda-beda sesuai dengan overreaction market dimana para pelaku atau investor bereaksi berlebihan yang berimplikasi abnormal return, hal ini terkait dengan behavioral finance. Faktor-faktor yang diduga memiliki pengaruh yaitu bid-ask spread dan trading volume activity. Bid-ask spread dalam beberapa penelitian digunakan untuk memproksikan disclosure atau pengungkapan informasi oleh perusahaan yang listing di BEI dan trading volume activity dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi melalui pergerakan aktivitas volume perdagangan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menguji pengaruh bid-ask spread dan trading volume activity terhadap abnormal return pada bank konvensional yang listing di BEI tahun 2009. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Rancangan penelitian ini menggunakan studi kausalitas. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dengan instrumen penelitian berupa format dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi berganda. Berdasarkan analisis data tersebut diperoleh simpulan hasil penelitian sebagai berikut, Trading volume activity berpengaruh terhadap abnormal return pada bank konvensional yang listing di BEI tahun 2009 sedangkan bid-ask spread tidak berpengaruh. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan investor dalam menentukan keputusan investasi yang menguntungkan dengan mempertimbangkan aktivitas volume perdagangan dan untuk peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel berupa risiko sistematis dan firm size atau ukuran perusahaan serta menggunakan data harian.

Penerapan pendekatan kooperatif problem posing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V Sdit Insan Permata Malang / Diana Fitriani

 

Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah pendekatan pembelajaran kooperatif problem posing. Model pembelajaran kooperatif problem posing adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan pemikiran siswa untuk mengembangkan pemahaman melalui pembuatan pertanyaan. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah semua siswa kelas V yang terdiri dari 11 siswa putra dan 10 siswa putri. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Oktober 2010 dan direncanakan berakhir pada bulan Januari 2011. Data aktivitas siswa diperoleh melalui lembar observasi pengamatan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, skor pertanyaan siswa dalam LPP (Lembar Problem Posing) I dan II selama pembelajaran berlangsung, dan skor jawaban siswa selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan data hasil belajar diperoleh melalui tes akhir siklus yang dinilai setelah pemberian tindakan model pembelajaran kooperatif problem posing. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah: (1) skor aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, (2) skor pertanyaan siswa dalam LPP (Lembar Problem Posing) I dan II selama pembelajaran berlangsung, (3) skor jawaban siswa selama pembelajaran berlangsung, (4) skor tes akhir siklus, dan (5) skor hasil observasi keterlaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran. Penerapan pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan kooperatif problem posing dapat meningkatkan hasil belajar, hal ini terbukti bahwa masingmasing kegiatan meningkat. Kegiatan pada siklus I dipeoleh hasil 15 siswa (71%) yang termasuk kategori tuntas belajarnya, yaitu hasil belajar siswa sudah mencapai di atas KKM, sedangkan 6 siswa (29%) yang termasuk kategori belum tuntas belajarnya, yaitu hasil belajar siswa masih di bawah. Rata-rata hasil belajar dari 21 siswa adalah 82,6 (82,6%). Pada siklus II diperoleh hasil semua siswa sudah tuntas dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 70. Rata-rata hasil belajar dari 20 siswa adalah 90. Bedasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran untuk memperhatikan aspek psikis anak saat membentuk kelompok. Karena hal tersebut akan berpengaruh pada jalannya proses belajar mengajar.

Penerapan mind mapping melalui kartu kata bergambar untuk meningkatkan kemampuan membaca awal pada anak kelompok B di TK ABA 24 Malang / Muhayati

 

Kata Kunci: Penerapan Mind Mapping, kartu kata bergambar, membaca awal, TK Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan membaca pada anak kelompok B TK ABA 24 Malang. Hal ini disebabkan karena dalam teknik pembelajaran dan media yang digunakan belum mampu mengembangkan kemampuan membaca, dan kurang menarik minat anak. Mengajar anak untuk dapat membaca merupakan kegiatan yang sulit dilakukan. Apalagi untuk mengajar membaca awal pada anak-anak usia kelas awal yang masih berada dalam usia bermain. Tugas guru adalah berupaya agar proses pembelajaran yang terjadi dan berpusat pada anak dapat berlangsung secara efektif dan efesien misalnya dengan media yang sesuai dengan materi pembelajaran yang akan diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca anak, dengan penerapan Mind Mapping melalui kartu kata bergambar pada anak kelompok B di TK ABA 24 Malang. Untuk mencapai tujuan diatas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan tindakan kelas (PTK) dengan model guru sebagai peneliti. Peneliti dibantu guru pendamping kelompok B TK ABA 24 Malang sebagai kolaborator, mulai dari tahap identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Mind Mapping melalui kartu kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca pada anak TK ABA 24 Malang. Peningkatan kualitas pembelajaran ditandai dengan penerapan Mind Mapping melalui kartu kata bergambar sesuai desain yang disusun oleh peneliti dan guru pendamping sebagai kolaborator. Dikatakan berhasil apabila pada siklus II lebih baik dari siklus I. Keberhasilan ini ditandai dengan: (1) Pada kemampuan membaca aspek kognitif, anak mampu menceritakan isi gambar, menceritakan ciri gambar, dan menyebutkan nama gambar, (2) Pada aspek afektif, sikap anak waktu membaca, keberanian, dan keaktifan dalam membaca, (3) Pada aspek psikomotor, anak mampu membaca huruf, suku kata, dan kata dengan ketepatan lafal, intonasi, keindahan bunyi. Disarankan bahwa dalam meningkatkan kemampuan membaca guru kelompok B TK ABA 24 Malang menerapakan Mind Mapping melalui kartu kata bergambar. Hasil penelitian ini sangat mungkin diterapkan di TK lain jika kondisinya relative sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menerapkan Mind Mapping dalam upaya peningkatan kemampuan lainnya.

Meningkatkan hasil belajar melalui inquiring mind whats to know dalam pembelajaran IPS pada kelas V SDN Kepanjenlor 02 kota Blitar / Faizal Mahmud

 

Kata kunci: hasil belajar, model Inquiring mind whats to know, pembelajaran IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang materinya berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya dengan cakupan materi yang luas. Namun guru IPS saat melaksanakan pembelajaran didominasi menggunakan model pembelajaran konvensional dengan menggunakan metode yaitu ceramah dan pemberian tugas dan guru tidak memanfaatkan media pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang searah menyebabkan motivasi dan minat belajar siswa rendah, siswa kurang aktif yang berdampak pada proses dan hasil belajar siswa yang hanya mengalami ketuntasan belajar 41% dari KKM sekolah 70% yaitu 21 siswa yang belum tuntas belajar dari 36 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) pembelajaran inquiring mind whats to know (membangkitkan rasa ingin tahu siswa melalui penyelidikan), dan (2) peningkatan hasil belajar IPS pada kelas VB di SDN Kepanjenlor 02 kota Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif . Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) terdiri 2 siklus tiap siklus 3 pertemuan. Penelitian tindakan kelas ini diawali dengan tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar observasi baik untuk aktivitas siswa maupun kemampuan guru, catatan lapangan, hasil tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan model inquiring mind whats to know dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Ini terbukti dengan peningkatan aktivitas dan hasil belajar, Peningkatan pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan guru dari siklus 1 yang masih ada beberapa hambatan dalam pembelajaran dapat teratasi pada siklus 2 dengan presentase 66% keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran pada siklus 1naik menjadi 94% pada siklus 2. Pada aktivitas pembelajaran nilai siswa pada pratindakan 0 karena tidak ada penilaian proses. Siklus 1 nilai rata-rata siswa 66 dengan persentase ketuntasan klasikal 53% yaitu 19 siswa. Sedangkan siklus 2 nilai rata-rata siswa adalah 79 dengan ketuntasan klasikal 89% yaitu 32 siswa. siswa yang tuntas belajar pada pra tindakan 41% dari 36 siswa yaitu 15 siswa meningkat menjadi 53% atau 19 siswa pada siklus1. Persentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan yaitu 70% atau 25 siswa meskipun telah mengalami peningkatan, maka dilanjutkan pada siklus 2. Pada siklus 2 persentase siswa yang tuntas belajar naik menjadi 83% yaitu 30 siswa. Sedangan 17% dari 36 siswa yaitu 6 siswa belum tuntas belajar karena lemah dalam pengetahuannya dan kurang aktif mengikuti pembelajaran. Disimpulkan bahwa pembelajaran IPS dengan menggunakan model inquiring mind whats to know bila dilaksanakan terus menerus dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Disarankan bagi guru untuk menerapkan model pembelajaran inquiring mind whats to know dalam pembelajaran IPS agar aktivitas dan hasil belajar dapat meningkat.

Peningkatan hasil belajar soal cerita melalui scaffolding pada siswa kelas IV SDN Kauman 1 kota Blitar / Nanik Febrianawati

 

Kata kunci : hasil belajar, soal cerita, scaffolding. Pembelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari Sekolah Dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Hal ini dikarenakan pelajaran Matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami konsep matematika, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan di lapangan masih banyak siswa Sekolah Dasar (SD) yang kurang tertarik mempelajari matematika, mereka menganggap bahwa matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit. Hal ini muncul karena siswa kurang memahami materi yang diberikan. Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran Matematika di SDN Kauman 1 Kota Blitar diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita, yaitu masih banyak siswa yang belum memahami langkah-langkah dalam menyelesaikan soal cerita. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendiskripsikan penerapan Scaffolding dalam meningkatkan hasi belajar soal cerita pada siswa kelas IV SDN Kauman 1 Kota Blitar dan mendiskripsikan peningkatan hasil belajar soal cerita melalui Scaffolding pada siswa kelas IV SDN Kauman 1 Kota Blitar. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran melalui Scaffolding dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang soal cerita. Peningkatan tersebut diketahui dari nilai tes siswa, pada pra tindakan skor rerata hasil belajar adalah 50 dan daya serap klasikal 33% dengan 6 siswa memperoleh nilai dibawah KKM, pada siklus I rerata 64 dan daya serap klasikal 67% dengan 3 siswa memperoleh nilai di bawah KKM, dan pada siklus II rerata 83 dan daya serap klasikal mengalami peningkatan yaitu 100% dimana siswa memperoleh nilai diatas KKM. Dari penelitian tindakan kelas ini dapat disimpulkan bahwa melalui Scaffolding dalam pembelajaran matematika soal cerita dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Penerapan pembelajaran melalui Scaffolding, yaitu guru memberikan bantuan berupa pertanyaan yang mengarahkan, petunjuk, peringatan, media, motivasi, serta tindakan-tindakan lain agar siswa dapat memahami dan menyelesaikan soal cerita dengan langkah-langkah yang runtut dan benar, yaitu menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, menuliskan kalimat/model matematika dengan benar, mencari jawaban, dan memeriksa kebenaran jawaban dari soal cerita. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan saran yaitu bagi peneliti diharapkan untuk dapat mengidentifikasi kesulitan masing-masing siswa dengan cermat agar dapat memilih dan memberikan bantuan seperlunya sesuai dengan kesulitan yang mereka hadapi tanpa memberikan jawaban secara langsung. Dan bagi siswa dalam menyelesaikan soal cerita diharapkan menuliskan langkah-langkah penyelesaian secara runtut dan benar. Sedangkan bagi guru SD agar menggunakan Scaffolding dalam pembelajaran matematika lainnya.

Penggunaan model mnemonik untuk meningkatkan kemampuan menghafal dengan efektif dan menyenangkan dalam pelajaran PKn kelas IV SDN Sumbersari 1 Malang / Patricia Anjani Sari

 

Kata Kunci: PKn SD, Model Mnemonik, Kemampuan Menghafal Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SD adalah mata pelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan wawasan bagi siswa SD akan status hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia. Didalam penelitian ini penulis menemukan berbagai masalah dengan pembelajaran PKn khususnya dalam kemampuan menghafal, siswa kurang senang dengan kegiatan menghafal, karena bagi mereka menghafal adalah hal yang membosankan. Oleh sebab itu peneliti menggunakan model mnemonik Model mnemonik adalah teknik menghafalkan sesuatu dengan "bantuan". Bantuan tersebut bisa berupa singkatan, pengandaian dengan benda, atau "linking" (mengingat sesuatu berdasarkan hubungan dengan suatu hal lain), sehingga dapat membantu siswa dalam penghafalan materi pelajaran PKn yang diberikan oleh guru. Teknik tersebut diuji dengan lagu yang didalamnya terdapat materi pelajaran, berupa rangkaian cerita yang terdapat kata kunci berdasarkan materi atau bahkan berupa gambar yang dapat membangkitkan memori anak terhadap materi tertentu. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Mendeskripsikan penggunaan Model Mnemonik siswa kelas IV SDN Sumbersari 1 pada pelajaran PKn; (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa kelas IV SD Sumbersari 1 dalam pelajaran PKn dengan menggunakan model mnemonik; (3) Mendeskripsikan kemampuan menghafal siswa dengan penggunaan model mnemonik dalam pelajaran PKn siswa kelas IV SDN Sumbersari 1 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Sumbersari 1 Malang. Data diperoleh dengan menggunakan metode pengamatan langsung, wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah Lembar observasi aktivitas belajar siswa dengan model mnemonik, pedoman wawancara dan dokumentasi. Sumber data diperoleh dari guru dan siswa. Dalam penelitian ini dapat ditemukan bahwa pengunaan model mnemonik dapat meningkatkan kemampuan menhafal siswa kelas IV SDN Sumbersari 1 Malang. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata kemampuan menghafal siswa dapat meningkatkan dari 65,58, pada siklus 1 meningkat menjadi 65,88, dan akhirnya pada siklus 2 meningkat menjadi 75,29. Guru harus lebih kreatif dalam proses belajar mengajar agar siswa mendapatkan hasil yang lebih bagus lagi. Pengunaan model Mnemonik akan memudahkan siswa dalam melakukan proses menghafal dengan efektif dan menyenangkan, Model Mnemonik ternyata mampu meningkatkan kemampuan menghafal siswa dengan efektif dan menyenangkan. Dari uraian diatas dapatlah dikatakan bahwa terdapat pengaruh positif dalam penggunaan model mnemonik. Sebagai saran kepada guru dan sekolah, sebaiknya lebih kreatif dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) , terutama dalam proses menghafal siswa.

Peningkatan hasil belajar bilangan pecahan melalui model pembelajaran tutor sebaya pada siswa kelas V SDN Kauman 01 kecamatan Kepanjenkidul kota Blitar / Husnul Fitriah

 

Kata Kunci: bilangan pecahan, tutor sebaya, hasil belajar Pembelajaran matematika di SDN Kauman 01 pada umumnya masih menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Siswa kurang bisa memahami materi, karena bahasa yang digunakan guru dalam menjelaskan materi sulit difahami siswa. Selain itu, media yang sesuai dengan materi tersebut belum ada, sehingga siswa kurang tertarik dan terlihat bosan dalam mengikuti pelajaran matematika. Akibatnya, hasil belajar matematika pada pra tindakan sangat rendah yaitu dari 12 siswa hanya 25% siswa yang tuntas belajar. Untuk mengatasi hal tersebut, dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model tutor sebaya. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) bagaimanakah penerapan model pembelajaran tutor sebaya pada bilangan pecahan di kelas V SDN Kauman 01 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar? (2) bagaimanakah peningkatan hasil belajar bilangan pecahan melalui model pembelajaran tutor sebaya pada kelas V SDN Kauman 01 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksa-naan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Data dan sumber data yang dibutuh-kan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang meliputi produk dan keterlaksanaan model pembelajaran tutor sebaya. Teknik pengumpulan data di-lakukan dengan cara, (1) teknik observasi, (2) teknik tes, (3) teknik angket, dan (4) dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa (1) lembar observasi, (2) tes, (3) lembar angket, dan (4) foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran tutor sebaya pada kelas V menunjukkan keberhasilan. Hal ini ditunjukkan oleh terpenu-hinya semua kriteria dalam prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan model tutor sebaya. Pada akhir siklus II, semua kriteria sudah terpenuhi dan mencapai skor maksimal yaitu empat, kecuali untuk sikap masih perlu ditingkatkan lagi, karena skor belum mencapai maksimal. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pra tin-dakan adalah 25%, pada siklus I adalah 66,67% dan pada siklus II adalah 83,33%. Kesimpulan berdasarkan temuan dari penelitian ini adalah pembelajaran matematika dengan model pembelajaran tutor sebaya dapat dilaksanakan, karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Oleh karena itu, disarankan kepada semua pihak yang berkaitan dengan kelas V khususnya, maupun pihak lain di bidang pendidikan untuk menerapkan model pembelajaran tutor sebaya ini dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun, dalam penerapan model ini guru harus terlebih dahulu mempersiapkannya baik pengaturan kelas maupun sikap siswanya, sehingga kekurangan yang terjadi dapat dihindari.

Pola interaksi mahasiswa dalam pembelajaran online, ditinjau dari gender, self-efficacy dan gaya belajar: Studi pada pembelajaran online Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Munzil

 

Program studi Teknologi Pembelajaran , Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. M. Dimyati, (II) Prof, Dr. H. Punadji S.,M.Ed.,M.Pd. dan (III) Dr. H. Moh Sulton, M.Pd Kata Kunci: Pembelajaran online, e-learning, self-efficacy, gaya belajar, pola interaksi Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak pada semua kehidupan manusia, termasuk juga terhadap dunia pendidikan. Lahirnya komputer dan berkembangnya dunia internet sebagai sarana interaksi antar manusia, membawa dampak pada perkembangan sistem pembelajaran pada semua jenjang. Kemajuan fenomenal adalah dengan lahirnya pembelajaran online yang sering dikenal sebagai e-learning. Penggunaan pembelajaran online telah berkembang pesat pada beberapa perguruan tinggi di negara maju, termasuk juga dalam bidang penelitian pembelajaran online. Indonesia sebagai negara berkembang, ikut mengadopsi pemanfaatan e-learning untuk pembelajaran, terutama di perguruan tinggi. Namun demikian sampai saat ini (tahun 2011), penelitian yang mengarah pada karateristik dan budaya belajar pebelajar masih sangat sedikit. Berdasarkan hal tersebutlah, penelitian ini mengangkat tema utama “ Pola Interaksi Mahasiswa dalam Pembelajaran Online, studi pada Jurusan Teknologi Pendidikan (TEP) Universitas Negeri Malang. Untuk menghasilkan kajian yang mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang karakteristik mahasiswa (gaya belajar dan self-efficacy) dan kecenderungan interaksi yang dilakukan mahasiswa selama pembelajaran online. Sedangkan pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam tentang apa dan bagaimana pola interaksi mahasiswa dalam pembelajaran online. Subyek penelitian berjumlah 55 mahasiswa yang terlibat aktif mulai dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Tingkat self-efficacy mahasiswa terhadap komputer berada dalam kategori tinggi dan sedang, sehingga dengan demikian mahasiswa yang sedang menempuh pembelajaran online, memiliki bekal yang cukup untuk menggunakan komputer dan internet sebagai sarana belajar online. Gaya belajar dikategorikan menurut gaya belajar Kolb, terdiri dari 9% mahasiswa memiliki gaya belajar accomodating, 20% diverging, 29% converging dan 42% assimilating. Pola interaksi mahasiswa dalam pembelajaran online ditemukan pola interaksi terlebih dahulu adalah dengan sesama mahasiswa melalui forum diskusi online, kemudian interaksi dengan dosen pembina, dan terakhir interaksi dengan konten. Mahasiswa merasa dengan membaca transkrip diskusi online sesama mahasiswa, mendapatkan pokok-pokok materi perkuliahan, jika mahasiswa kurang mengerti, mahasiswa menanyakan pada dosen melalui interaksi online, setelah itu untuk semakin memahami materi perkuliahan, baru mereka berinteraksi dengan konten. Mahasiswa yang memiliki self-efficacy tinggi mempunyai kecendrungan interaksi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki self-efficacy sedang.Kecenderungan tersebut berlaku untuk gender, gaya belajar dan interaksi pada semua fitur pembelajaran online. Mahasiswa yang memiliki gaya belajar accomodating dengan self-efficacy tinggi memiliki tingkat frekwensi yang lebih tinggi dari mahasiswa dengan gaya belajar yang lain. Kecenderungan tersebut berlaku untuk gender dan interaksi pada semua fitur yang ada dalam sistem pembelajaran online. Pada forum diskusi antara mahasiswa dengan dosen dan antar sesama mahasiswa ditemukan tiga pola, yaitu: 1) pola tertutup, 2) pola semi tertutup, dan 3) pola terbuka. Pada pola tertutup dosen memberikan topik utama dan sub topik yang harus dibahas dalam diskusi, pada pola semi terbuka, dosen memberi topik utama saja, sedangkan sub topik diberikan pada mahasiswa, dan pada pola terbuka, dosen hanya memberi gambaran umum tentang topik yang dibahas, setelah itu mahasiswa sendiri yang menentukan topik dan sub topik. Tingkat interaksi pada masing-masing pola diskusi dari yang paling tinggi adalah, pola tertutup, kemudian terbuka, dan terakhir pola semi terbuka. Efek samping yang dirasakan mahasiswa selama pembelajaran online adalah kemampuan mahasiswa untuk menelusuri bahan pustaka untuk kepentingan pembelajaran matakuliah yang lain, kemampuan mahasiswa untuk mengemukakan pendapat tanpa merasa malu, karena merasa tidak bertatap muka langsung dengan dosen dan sesama teman mahasiswa.

Penerapan model talking stick untuk meningkatkan pembelajaran IPS siswa kelas V SDN Pandanwangi 4 kecamatan Blimbing kota Malang / Heppi Sasmoko

 

Kata Kunci: Talking Stick, Pembelajaran IPS SD Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa, pembelajaran yang dilakukan di SDN Pandanwangi 4 Kecamatan Blimbing Kota Malang kelas V masih berpusat pada guru. Hal ini dapat dilihat dari metode yang digunakan yaitu ceramah, pemberian tugas dan drill, disamping itu guru hanya menggunakan satu sumber belajar dan tidak menggunakan media. Aktivitas belajar siswa pada saat pembelajaran tegolong rendah, hal ini terlihat dari rendahnya kemauan siswa untuk mengerjakan latihan-latihan yang diberikan guru. Hasil ulangan harian siswa hanya mencapai rata-rata 60 dan hanya ada 9 siswa (40,9%) dari 22 siswa yang mencapai KKM yang ditentukan yaitu 65. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Talking Stick, aktivitas siswa ketika diterapkan model Talking Stick, dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model Talking Stick. Model Talking Stick adalah salah satu model pembelajaran koperatif yang dirancang dalam bentuk permainan dengan menggunakan bantuan tongkat yang bertujuan mendorong siswa untuk berani mengungkapkan pendapat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Instrumen pengumpulan data tentang penerapan model Talking Stick dan aktivitas siswa menggunakan lembar observasi penyusunan RPP dan penerapan model Talking Stick, lembar observasi aktivitas siswa, teknik dokumentasi dengan kamera.Untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan instrument soal tes. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Talking Stick dapat meningkatkan pembelajran IPS, kompetensi dasar "menghargai jasa dan peranan tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia" SDN Pandanwangi 4 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Penerapan model berturut-turut dari siklus I dan II memperoleh nilai 90,3 dan 93,4. Aktivitas belajar siswa kelas V dalam belajar IPS meningkat ketika diterapkan model Talking Stick aktivitas belajar siswa pada sikus I dan II memperoleh nilai rata-rata 64,8 dan 74,7. Hasil belajar siswa kelas V dalam belajar IPS meningkat setelah diterapkan model Talking Stick. Siswa yang mendapat Kriteria tuntas belajar berturut-turut pada siklus I pertemuan 1 sampai siklus II pertemuan 2 sebanyak 15 siswa atau 68,1%, 16 siswa atau 72,7%, 19 siswa atau 86,3% dan 21 siswa atau 95,5%. Berdasarkan hasil penelian dapat disimpulkan bahwa penerapan model Talking Stick dapat meningkatkan pembelajaran IPS siswa kelas V, untuk itu disarankan agar guru menerapkan model Talking Stick dalam pembelajaran IPS.

Perbedaan prestasi belajar TIK antara metode pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together (NHT) dengan metode pembelajaran ekspositori pada siswa kelas X di SMA Negeri 7 Malang / Retno Wulandari

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Numbered Heads Together, Prestasi Belajar Pada saat ini proses pembelajaran di SMA Negeri 7 Malang kelas X dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran ekspositori. Pembelajaran dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, salah satunya peran guru dalam proses pembelajaran TIK masih sangat dominan sehingga proses pembelajaran yang berlangsung kurang melibatkan peran dan aktivitas siswa secara langsung. Hal ini mengakibatkan prestasi belajar siswa semakin menurun, terbukti dengan rata-rata hasil ujian TIK pada materi fungsi dan proses kerja peralatan TIK masih di bawah SKM (standar ketuntasan minimal) yaitu 7,2. Padahal siswa dikatakan lulus mata pelajaran TIK jika nilainya minimal 7,5. Agar prestasi belajar siswa tidak lagi menurun karena kurangnya pemahaman konsep, maka perlu diadakan variasi dalam proses pembelajaran. Salah satunya dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Dengan metode pembelajaran ini siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran. Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini dilakukan pada semester 1 tahun ajaran 2010/2011 dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi ekperimental design) tipe Nonrandomized Pre-test Post-test Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA dengan jumlah siswa sebanyak 380 siswa yang terbagi menjadi 10 kelas. Data penelitan diambil dari siswa X9 dan X7 berupa pre-test dan prestasi belajar yang terdiri dari ranah afektif dan kognitif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai prestasi belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol, berdasarkan hasil uji-t yang memperoleh thitung. (7,135) > ttabel (1,993) dan nilai signifikansi (0,000 < 0,05). Prestasi belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari prestasi belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar kelas eksperimen (83,52) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas kontrol (76,47) dengan selisih sebesar 7,05 poin dan selisih tingkat ketuntasan sebesar 30%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada standar kompetensi memahami ketentuan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Penggunaan hyperlink pada mind mapping untuk meningkatkan proses dan hasil belajar IPS kelas V di SD Negeri Karang Besuki 1 Kecamatan Sukun kota malang / Praharisti Kurniasari

 

Kata kunci: Hyperlink Mind Mapping, Proses Belajar, Hasil Belajar, Pembelajaran IPS SD. Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti pada di SDN Karang Besuki 1 Kota Malang terhadap proses pembelajaran IPS telah ditemukan permasalahan yaitu guru menggunakan pembelajaran tradisional dan hanya mengejar target terselesainya materi pelajaran. Guru monoton dalam mengajar, masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan presentasi berdasarkan LKS, sehingga siswa cenderung pasif pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini ditunjukkan oleh nilai yang diperoleh siswa. Dari nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 58, ternyata hanya 6 siswa yang memenuhi standar ketuntasan belajar dan 32 siswa yang belum tuntas. Artinya ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, hanya 16% siswa tuntas belajar dan yang belum tuntas 84%. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penggunaan hyperlink pada mind mapping dan mendeskripsikan penggunaan hyperlink pada mind mapping dalam meningkatakan proses dan hasil belajar IPS SD di SDN Karangbesuki 1 Malang. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK oleh Kemmis dan Taggart meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik penilaian hasil karya siswa, teknik angket, skala sikap, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan dengan menggunakan hyperlink pada mind mapping, hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari rekapitulasi hasil belajar siswa. Peningkatan nilai rata-rata hasil karya siswa pada pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan dari 39,55 menjadi 60,69 dan pada siklus II menjadi 76,92. Hasil tes akhir juga mengalami peningkatan. Nilai rata-rata hasil tes akhir dari pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan dari 38,93 menjadi 57,89 dan pada siklus II menjadi 73,76. Sedangkan aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan. Nilai rata-rata hasil observasi aktivitas siswa dari pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan dari 39,90 menjadi 76,76 dan pada siklus II meningkat menjadi 81,05. Sedangkan hasil skala sikap juga mengalami peningkatan. Nilai rata-rata hasil skala sikap siswa dari pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan dari 16,05 menjadi 25,65 (dari rendah menjadi tinggi) dan pada siklus II meningkat menjadi 31,21 (dari tinggi menjadi sangat tinggi). Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah sedapat mungkin menyediakan sumber bacaan lebih lengkap dan bervariasi jenisnya (bukan buku saja) baik di perpustakaan maupun sudut baca di kelas. Selain itu, untuk menunjang pembelajaran yang menggunakan hyperlink diharapkan sekolah mempunyai alat-alat yang menunjang untuk pembelajaran tersebut, misalnya computer dan LCD. Bagi guru hendaknya mampu mengoperasikan komputer dan menguasai program aplikasi pendukung mind mapping sehingga dapat menggunakan hyperlink pada mind mapping dalam pembelajaran. Bagi peneliti lain hendaknya hendaknya perlu dikembangkan untuk memperbaiki kekurangan agar memperoleh hasil yang lebih baik lagi. Peneliti lain dapat menguji atau meneliti pada pokok bahasan yang lain atau bidang studi yang lain.

Manajemen moving class (Studi kasus di SD Laboratorium UM Universitas Negeri Malang) / Nanik Irmawati

 

Kata kunci: manajemen, moving class. Moving class adalah salah satu sistem perpindahan kelas dimana setiap guru mata pelajaran sudah siap mengajar di ruang kelas yang telah ditentukan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarnya sehingga setiap mata pelajaran memiliki ruangan atau kelas sendiri- sendiri. Sistem moving class dapat membawa banyak dampak positif bagi perkembangan sekolah. Sistem pembelajaran dengan menggunakan moving class dapat menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab siswa, karena siswa harus mencari ruang kelasnya pada setiap pergantian pelajaran. Selain itu dapat melatih peserta didik dan guru untuk menggunakan waktu sebaik mungkin agar waktu pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Penerapkan moving class ini diharapkan dapat memperoleh suasana belajar yang terasa lebih nyaman dan kondusif karena selain didukung oleh fasilitas kelas yang memadai juga didukung oleh kesiapan guru dalam mengajar menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu dengan menerapkan sistem moving class, siswa tidak akan merasa jenuh untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, karena siswa tidak akan belajar di kelas yang sama untuk semua mata pelajaran. Siswa akan merasakan suasana yang berbeda untuk setiap mata pelajaran dan peserta didik akan lebih mudah menerima pelajaran karena di dalam kelas telah dilengkapi dengan fasilitas keilmuan sesuai dengan mata pelajaran. Penelitian ini memfokuskan kajian tentang manajemen moving class di SD Laboratorium UM Malang, antara lain: (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3) pelaksanaan, (4) pengontrolan/ evaluasi, (5) faktor pendukung, dan (6) faktor penghambat dan upaya untuk mengatasi manajemen moving class di SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kegiatan tentang: (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3) pelaksanaan, (4) pengontrolan/evaluasi, (5) faktor pendukung, dan (6) faktor penghambat dan upaya untuk mengatasi manajemen moving class di SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian yang digunakan yakni penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dilapangan dilakukan analisis data untuk mendapatkan temuan penelitian. Keabsahan data diuji dengan menggunakan perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan dan teknik triangulasi. Temuan penelitian yaitu: pertama perencanaan moving class yang terdiri dari persiapan tenaga guru (team teaching) untuk masing-masing kelas dan mata pelajaran, persiapan sarana dan prasarana, persiapan kelengkapan administrasi kelas/rombongan belajar, dan persiapan pembiayaan. Kedua engorganisasian moving class mengikuti struktur organisasi sekolah yaitu dengan tanggung jawab penuh dipegang oleh kepala sekolah. Pekerjaan yang menjadi fokus moving class yaitu pembagian jam mengajar guru dan ketersediaan ruang, pekerjaan tersebut biasanya dikerjakan oleh koordinator program. Jadi tim yang bekerja yaitu koordinator program tiga orang dan kepala sekolah. Ketiga pelaksanaan moving class ini dilakukan setiap hari oleh siswa, mulai dari siswa kelas IV sampai pada siswa kelas VI dengan cara berpindah ruangan dari kelas yang satu ke kelas yang lain yang sesuai jadwal mata pelajarannya sedangkan guru menunggu siswa di ruang masing-masing. Guru mata pelajaran memiliki ruangan masing-masing. Jadi guru memiliki tanggung jawab penuh pada kelas mereka masing-masing. Ruang mata pelajaran didesain sesuai dengan mata pelajaran serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif bagi siswa. Guru menyusun mata pelajaran agar tidak bentrok dengan mata pelajaran lain, dan ini dilaksanakan setiap awal ajaran baru. Guru menyusun modul untuk pembelajarannya, modul disusun dalam bentuk penggalan-penggalan yang waktunya disusun dalam bentuk sistem kredit semester (SKS) sesuai yang diprogramkan dalam kurikulum. Keempat pengontrolan/ evaluasi moving class dilakukan oleh Tim Pengembang Dosen Ahli dari Universitas Negeri Malang evaluasi ini dilakukan kurang lebih tiga bulan sekali. Dalam mengevaluasi sekolah yang dievaluasi sesuai dengan pemenuhan Sekolah Standar Nasional yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Evaluasi setiap kelas juga dilaksanakan kepala sekolah dan koordinator sarana prasarana apabila ada kerusakan atau pemenuhan yang kurang, guru juga terlibat dalam hal ini. Kelima faktor pendukung moving class yaitu: biaya yang hemat karena sarana dan media pembelajarannya menyesuaikan dengan mata pelajaran di setiap ruangan, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan membuat siswa lebih fress karena olahraga ringan, tidak capek, anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab, lebih mandiri, dan tidak cepat bosan; Jumlah tenaga pengajar banyak (team teaching); kesiapan guru di kelas yang menjadikan guru lebih siap mengajar di kelas karena tidak harus berpindah-pindah ruangan, sehingga waktu menjadi lebih efektif. Keenam faktor penghambat prasarana yang belum cukup terpenuhi yaitu ruangan guru dan kelas yang kurang dan ada waktu yang tersita karena saat pergantian pelajaran siswa belum sampai datang ke ruang mata pelajaran. Berdasarkan kesimpulan, penelitian ini disarankan sebagai berikut: (1) bagi kepala sekolah hendaknya lebih melakukan pengawasan terhadap proses manajemen moving class agar mengetahui hambatan apa saja yang menjadi kendala dalam pelaksanaan moving class, (2) bagi guru untuk lebih memaksimalkan lagi dalam hal pengelolaan kelasnya, (3) bagi jurusan Administrasi Pendidikan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan bahan kajian pengembangan ilmu Manajemen Pendidikan. (4) bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui proses manajemen moving class disekolah dengan memperdalam permasalahan- permasalahan yang ada di pendidikan. Sehingga penelitian yang sudah ada menjadi lebih sempurna dan dapat bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan.

Penerapan model problem based learning (PBL)-cooperative learning tipe teams tournaments (TGT) dalam pembelajaran materi perbaikan peripheral kelas X TKJ SMK Negeri 6 Malang / Abdul Majidin Mas'ud

 

Kata Kunci : Problem Based Learning, TGT, Hasil Belajar, Peripheral Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotor. Akan tetapi faktanya tiga hal ini belum bisa diwujudkan karena proses pembelajaran di lapangan masih memakai model pembelajaran yang konvensional. Untuk itu digunakan Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan model Team Games Tournament (TGT) dalam pembelajaran peripheral. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen, untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran terhadap hasil belajar, serta mengetahui hasil keterlaksanaan TGT di dalam di dalam kelas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment dengan teknik purposive sampling, adapun sampel penelitian adalah siswa kelas X TKJ 7 sebagai kelas kontrol dan X TKJ 1 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan yaitu RPP, silabus, kisi-kisi soal tes beserta soal tes dan kunci jawaban, handout, dan jobsheet. Instrumen pengukuran menggunakan rubrik psikomotorik dan afektif serta untuk mengukur variabel X berupa angket dan variabel Y. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS dan analisis kualitatif. Hasil penelitian rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen adalah 79,75 dan pada kelompok kontrol adalah 80,21 serta hasil respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan angket diperoleh rata-rata skor perolehan respon siswa pada kelompok eksperimen adalah 83,64. Data hasil belajar dari masing-masing kelompok diuji hipotesis menggunakan uji-t serta data hasil belajar dan data respon siswa diuji hipotesis menggunakan uji regresi linear sederhana. Dari uji-t diperoleh hasil yaitu thitung (0,407) < ttabel (2,000). Kesimpulan dari analisis uji-t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa kelas kontrol dan eksperimen. Namun jika dianalisis dengan uji-t paired sample antara pre test dan post test kelas kontrol maupun kelas eksperimen maka ada perbedaan antara rata-rata nilai. Selanjutnya uji regresi linear sederhana diperoleh hasil yaitu Sig. (0,969) > 0,05 sehingga dapat disimpulan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran PBL-CL-TGT terhadap hasil belajar materi perbaikan Peripheral. Terakhir yaitu keterlaksanaan TGT didalam kelas, untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaannya dapat diketahui dari hasil angket, diketahui bahwa respon siswa terhadap keterlaksanaan metode pembelajaran sangatlah baik namun tidak berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Hubungan pengetahuan dan sikap petani terhadap pelaksanaan konservasi lahan di Junggo desa Tulungrejo Kec. Bumiaji kota batu / Yeni Mayangsari

 

Kata Kunci: pengetahuan konservasi lahan, sikap terhadap konservasi lahan, pelaksanaan konservasi lahan, petani Kawasan hutan adalah bagian lingkungan hidup yang berupa kawasan lindung. Kawasan hutan di daerah Junggo merupakan kawasan hutan yang dekat dengan pemukiman penduduk. Pemukiman penduduk yang dekat dengan kawasan hutan berimplikasi terhadap kondisi hutan yaitu hutan mengalami alih fungsi lahan. Pengetahuan dan sikap penduduk tentang upaya untuk tetap melestarikan fungsi lahan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan konservasi lahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara pengetahuan dan sikap petani terhadap pelaksanaan konservasi lahan serta sumbangan efektif antara pengetahuan dan sikap petani terhadap pelaksanaan konservasi lahan. Jenis penelitian ini adalah survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan responden sebanyak 42 orang. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah regresi berganda dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS version 16 for windows. Hasil penelitian diperoleh bahwa (1) ada hubungan positif secara signifikan antara pengetahuan konservasi lahan dengan pelaksanaan konservasi lahan dengan nilai t hitung sebesar 0,946 dengan nilai signifikan 0,000. (2) ada hubungan positif secara signifikan antara sikap terhadap konservasi lahan dengan pelaksanaan konservasi lahan t hitung sebesar 4,520 dengan nilai signifikan 0,000. (3) ada sumbangan efektif dari pengetahuan sebesar 25,4% dan sikap memberikan sumbangan efektif sebesar 48,48% terhadap pelaksanaan konservasi lahan. (4) sumbangan efektif pengetahuan dan sikap sebesar 73,9 %, sedangkan sisanya sebesar 26,1% ditentukan oleh variabel lain selain pengetahuan dan sikap. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan perlunya meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam konservasi lahan dengan mengintensifkan program penyuluhan pertanian untuk pengetahuan dan pemberian pelatihan khusus untuk meningkatkan sikap dalam konservasi lahan.

Identifikasi pemahaman salah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 6 Malang dalam materi kesetimbangan kimia / Dewi Erly Ferdiana

 

Kata kunci: pemahamn salah, kesalahan konsep, kesetimbangan kimia Ilmu kimia merupakan pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa SMA. Hal itu disebabkan oleh konsep kimia yang bersifat abstrak. Konsep-konsep kimia, pada dasarnya adalah konsep berjenjang, konsep tersebut akan berkembang dari yang sederhana ke arah yang lebih kompleks, dimana konsep tersebut saling berhubungan dan saling menunjang. Bila siswa mengalami pemahaman salah dalam konsep yang sederhana, maka siswa akan mengalami kesulitann dalam memahami konsep yang lebih kompleks. Hal tersebut mungkin disebabkan siswa mengalami pemahaman salah dalam mengaplikasikan konsep-konsep, aturan-aturan serta rumus-rumus dalam menyelesaikan masalah-masalah kimia. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) siswa yang mengalami pemahaman salah dalam memahami dan menjelaskan kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan, (2) siswa yang mengalami pemahaman salah dalam menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dengan hasil reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan, (3) siswa yang mengalami pemahaman salah dalam memahami dan menjelaskan penerapan prinsip kesetimbangan dalam kehidupan sehari-hari dan industri, (4) letak pemahaman salah yang paling tinggi dialami oleh siswa, serta (5) pemahaman salah yang masih banyak sdimiliki siswa. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 6 Malang. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan penunjukkan oleh Kepala Sekolah dan guru kimia kelas XI (Available sampling) yang ditunjuk sebagai sampel 2 kelas dari 3 kelas yang ada yaitu siswa kelas XI-IPA 2 dan XI-IPA 3 SMA Negeri 6 Malang sebagai sampel. Penunjukkan oleh Kepala sekolah didasarkan pada kenyataan bahwa ketiga kelas merupakan kelas homogen yang berkemampuan sama. Instrumen yang digunakan adalah tes obyektif dengan empat pilihan jawaban dan terdiri dari 20 soal. Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pemberian skor, (2) pengelompokan butir soal ke dalam konsep berdasarkan kisi-kisi soal, (3) menghitung persentase jumlah siswa yang menjawab salah untuk penentuan pemahaman salah siswa, (4) menghitung persentase tiap butir pilihan jawaban salah. Hasil penelitian menggambarkan bahwa (1) Siswa yang mengalami pemahaman salah dalam menjelaskan kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan pada materi kesetimbangan dinamis sebanyak 30 siswa; menjelaskan kesetimbangan homogen dan heterogen sebanyak 7 siswa; menjelaskan tetapan kesetimbangan sebanyak 44 siswa; meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas Le Chatelier sebanyak 32 siswa; menganalisis pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan, dan volume pada pergeseran kesetimbangan sebanyak 37 siswa,(2) Pemahaman salah dalam menentukan hubungan kuantitatif antara pereaksi dengan hasil reaksi dari suatu reaksi kesetimbangan pada materi menentukan derajat dissosiasi sebanyak 45 siswa; perubahan konsentrasi gas pada keadaan setimbang berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi dan hasil reaksi sebanyak 53 siswa; menentukan hubungan tetapan kesetimbangan untuk penjumlahan reaksi-reaksi kesetimbangan atau sebaliknya sebanyak 21 siswa, (3) Pemahaman salah dalam memahami dan menjelaskan penerapan prinsip kesetimbangan dalam kehidupan sehari-hari dan industri pada materi menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahan-bahan kimia di industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan sebanyak 49 siswa, (4) Letak pemahaman salah siswa paling tinggi terjadi pada materi perubahan konsentrasi gas pada keadaan setimbang berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi dan hasil reaksi sebanyak 53 siswa, (5) Pemahaman salah yang masih banyak dimiliki siswa adalah pemahaman tentang; a) Keadaan setimbang akan tercapai saat konsentrasi pereaksi sama dengan konsentrasi zat hasil reaksi sebanyak 43 siswa; b) Rumus tetapan kesetimbangan selalu produk dibagi reaksi sebanyak 56 siswa; c) Pergeseran arah kesetimbangan yaitu jika semua tekanan diperbesar maka kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah koefisisen zat yang besar sebanyak 23 siswa; d) Derajat dissosiasi selalu ditentukan dengan membagi mol zat terurai dengan mol zat mula-mula sebanyak 27 siswa; f) Pergeseran arah kesetimbangan dimana jika tekanan diperbesar maka jumlah molekul CO2 juga akan semakin bertambah sebanyak 31 siswa; g) Salah satu tahapan dalam pembuatan amoniak dalam proses Haber Bosch menggunakan katalisator serbuk besi dengan campuran sebanyak 29 siswa.

Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe stad yang dipadu dengan peta konsep terhadap kualitas proses dan hasil belajar konsep mol pada SMK "Putra Indonesia" malang prodi keahlian kimia industri / Wahyu Wuryandari

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D., (II) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed. Kata Kunci: STAD, peta konsep, proses belajar, hasil belajar Kimia merupakan mata pelajaran adaptif di SMK “Putra Indonesia” Malang Prodi Kimia Industri. Selama ini pembelajaran kimia di sekolah ini masih cenderung terpusat pada guru, sehingga siswa kurang mendapat kesempatan untuk teribat dalam proses pembelajaran. Penerapan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Salah satu topik dalam kimia yang diberikan pada siswa adalah konsep mol. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui keterterapan pembelajaran kooperatif STAD dan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep dalam pengajaran kimia, (2) Mengetahui perbedaan kualitas proses belajar dalam pengajaran konsep mol dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STAD dan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep, (3) mengetahui perbedaan hasil belajar dalam pengajaran konsep mol dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STAD dan pembelajaran kooperatif STAD yag dipadu dengan peta konsep, dan (4) mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dan rancangan deskriptif. Rancangan eksperimen semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelompok yang terlibat dalam pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep dan kelompok yang terlibat dalam pembelajaran kooperatif STAD. Rancangan deskriptif digunakan untuk menggambarkan kualitas proses pembelajaran antara dua kelompok. Kedua kelompok terdiri dari 72 siswa kelas X di SMK “Putra Indonesia” Malang Program Studi Kimia Industri tahun pelajaran 2009/1010. Instrumen yang digunakan meliputi instrumen perlakuan, lembar observasi, tes prestasi belajar siswa, dan angket. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran. Tes prestasi belajar siswa digunakan untuk mengukur hasil belajar sementara angket digunakan untuk mengetahui persepsi siswa tentang penerapan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep dalam pengajaran konsep mol. Validitas isi instrument perlakuan sebesar 0,97 sementara validitas isi tes prestasi belajar sebesar 0,96 dan koefisien reliabilitas yang dihitung dengan Pearson correlation sebesar 0,72. Pengumpulan data hasil belajar dari kedua kelompok dianalisis dengan menggunakan two tails t-test, sedangkan data proses belajar dan persepsi siswa dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterterapan pembelajaran kooperatif STAD dan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep dalam pengajaran konsep mol cukup baik, (2) kualitas proses pembelajaran dalam pengajaran konsep mol dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran kooperatif STAD, (3) pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep memberikan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran kooperatif STAD, dan (4) siswa memberikan persepsi yang positif terhadap penggunaan pembelajaran kooperatif STAD yang dipadu dengan peta konsep.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui metode mind mapping pada siswa kelas V SDN Ngaringan 4 Dandusari kabupaten Blitar / Wulan Febrianti

 

Kata Kunci: PKn, hasil belajar, metode mind mapping Berdasarkan hasil observasi pada siswa kelas V SDN Ngaringan 4 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar diketahui bahwa dalam pembelajaran guru terlalu banyak menggunakan metode ceramah, hafalan, mencatat, dan pemberian tugas, sehingga siswa terlihat bosan, mengantuk, dan tidak aktif dalam pembelajaran. Akibatnya, hasil belajar yang diperoleh siswa rendah yaitu siswa mendapat nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70. Perlu adanya penyelesaian dalam permasalahan tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran mind mapping (peta pikiran). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran PKn melalui metode pembelajaran mind mapping bagi siswa kelas V SDN Ngaringan 4 Gandusari Kabupaten Blitar, dan (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran mind mapping pada pembelajaran PKn di kelas V SDN Ngaringan 4 Gandusari Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Dalam pelaksanaan peneliti dibantu oleh mitra peneliti yaitu guru kelas V SDN Ngaringan 4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Ngaringan 4. Hal ini dapat diketahui dengan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari pra tindakan sampai siklus II. Nilai rata-rata 22 siswa pada tahap pra tindakan hanya 47 dengan persentase ketuntasan 27%. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata siswa yaitu 67 dengan persentase ketuntasan 41%. Pada siklus I ini dinyatakan belum tuntas sebab nilai rata-rata dan persentase ketuntasan klasikal masih di bawah 70. Oleh sebab itu, pembelajaran dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa yaitu 84 dengan persentase ketuntasan 91%. Hanya ada dua anak yang tidak tuntas belajar. Nilai yang diperoleh pada siklus II sudah mencapai kriteria ketuntasan dan dapat dikatakan berhasil. Peningkatan hasil belajar siswa sebesar 46% yaitu dari 14% menjadi 91%. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Ngaringan 4. Oleh karena itu, guru kelas V sebaiknya menerapkan metode pembelajaran mind mapping ini sebagai variasi metode pembelajaran. Hal ini dikarenakan metode pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa, kreativitas, dan kerja sama siswa

Meningkatkan hasil belajar IPS melalui pendekatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar bagi siswa kelas II di SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar / Nur Aminatus Sa'diyah

 

Kata kunci: hasil belajar, IPS, pendekatan lingkungan, sumber belajar Nilai hasil belajar IPS siswa kelas II SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar masih kurang memuaskan, yaitu hanya 8 siswa dari 28 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 65. Hal ini berarti hanya 32% siswa yang tuntas belajar. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran yang bersifat klasikal dan berpusat pada buku pegangan siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya tindakan pembelajaran yang mengupayakan siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam belajar agar hasil belajar siswa terhadap materi yang dipelajari meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa setelah dilaksanakan penerapan pembelajaran menggunakan pendekatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar pada kelas II. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan dengan menggunakan instrumen pedoman observasi guru, pedoman observasi siswa, lembar tes akhir dan lembar catatan lapangan. Setelah menggunakan pendekatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS, aktivitas siswa meningkat 17% dari siklus 1 ke siklus 2, yaitu mencapai 86%. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan 33% dari pra tindakan ke siklus 1 dan meningkat 17% dari siklus 1 ke siklus 2, yaitu mencapai 79%. Tapi pada akhir siklus terdapat 7 siswa yang tidak tuntas dalam mengerjakan tes akhir. Hal ini karena siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, sering bermain pada saat dijelaskan, mengalami keterlambatan belajar (slow learner), dan guru kurang tegas kepada siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar IPS dan aktivitas siswa. Berdasarkan hal tersebut, hendaknya guru lebih memanfaatkan lingkungan untuk membantu proses pelaksanaan pembelajaran agar siswa lebih mudah dalam memahami materi.

Peningkatan kemampuan menulis narasi berbahasa jawa melalui media gambar kartun berseri siswa kelas V SDN Pacewetan II Kabupaten Nganjuk / Agnes Nur Zahara

 

Kata kunci: peningkatan kemampuan menulis, gambar kartun berseri, SD Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pelajaran bahasa Jawa di kelas V SDN Pacewetan II Kabupaten Nganjuk aspek menulis ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa yaitu: 1) mengungkapkan gagasan dalam bentuk tulisan, 2) menggunakan ejaan bahasa Jawa, 3) membuat alur cerita yang runtut, 4) menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan 5) kurang memperhatikan tanda baca. Tingkat kemampuan menulis siswa masih rendah, hal ini terbukti berdasarkan hasil belajar yang diperoleh siswa masih banyak dibawah SKM yang ditentukan oleh sekolah. Tujuan diadakannya penelitian ini untuk: 1) Mendeskripsikan penggunaan media gambar kartun berseri dalam meningkatkan kemampuan menulis dan 2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis narasi berbahasa Jawa melalui media gambar kartun berseri. Subyek penelitian yaitu siswa kelas V SDN Pacewetan II Kabupaten Nganjuk pada semester genap tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 22 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK yang digunakan meliputi empat tahapan, yaitu: 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting, dan 4) revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, dokumentasi, tes, wawancara, dan catatan lapangan. Data dalam penelitian ini berupa hasil interaksi proses pembelajaran yang dilakukan siswa dan guru, kerangka cerpen siswa, dan hasil cerpen siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan mengorganisasi, mengelompokkan, mengklasifikasi, memaparkan, dan menarik kesimpulan. Penerapan media gambar kartun berseri untuk meningkatkan kemampuan menulis narasi berbahasa Jawa yaitu:(a) guru memberikan pengantar singkat tentang teknik penulisan karangan narasi; (b) guru memasang media gambar kartun berseri dengan acak; (c) guru meminta siswa mengurutkan gambar; (d) guru meminta siswa membuat kerangka karangan; (e) setelah siswa selesai membuat kerangka karangan, guru meminta siswa membuat buram (draft) karangan; (f) kemudian siswa menukarkan buram yang dibuat untuk mengkoreksi karangan milik teman; (g) setelah dikoreksi, karangan ditulis ulang menjadi karangan yang benar; (h) siswa membaca hasil karangan yang telah dibuat di depan teman-temannya; (i) guru melaksanakan refleksi atas semua kegiatan yang telah dilakukan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media gambar kartun berseri dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi berbahasa Jawa siswa. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I 42,11% dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa 67 (berkualifikasi “cukup”) dan pada siklus II prosentase meningkatan menjadi 76,19% dengan nilai rata-rata 73 (berkualifikasi “baik”). Dari hasil wawancara, guru mengungkapkan penggunaan gambar kartun berseri mempermudah siswa dalam menulis narasi berbahasa Jawa. Siswa juga mengungkapkan adanya media gambar kartun berseri membuatnya lebih mudah dalam menulis narasi berbahasa Jawa. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah hendaknya memotivasi dan mengarahkan guru agar lebih fokus dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis salah satunya dengan media gambar kartun berseri. Guru diharapkan dapat menggunakan media gambar kartun berseri pada pembelajaran menulis karangan narasi. Serta bagi peneliti lain dengan penelitian yang sejenis dapat mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan minat dan keterampilan menulis siswa melalui penggunan media gambar kartun berseri.

Peningkatan hasil belajar IPS kelas V dengan menerapkan model pembelajaran make a match di SDN Kidul dalem 2 Malang / Rifka Isnaini

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, Make A Match, Model Pembelajaran Hasil observasi menunjukkan bahwa nilai hasil belajar siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Dominasi guru dalam proses pembelajaran tersebut dapat menyebabkan siswa lebih bersifat pasif; (2) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari, menemukan sendiri pengetahuan atau sikap dalam pembelajaran IPS. Untuk itu, perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu Make A Match. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Make A Match pada mata pelajaran IPS pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang dan (2) Mendeskripsikan model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Menggunakan empat cara dalam pengumulan data, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran model Make A Match pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang dengan materi Menghargai Peranan Para Tokoh Pejuang dan Masyarakat dalam Mempersiapkan dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam setiap siklus ketuntasan hasil belajar pada aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yaitu pada tahap tindakan pada siklus I 61,1% dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 100%. Ketuntasan hasil belajar pada aktivitas belajar siswa dari siklus I naik 38,9% ke siklus II. Dalam setiap siklus ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa mengalami peningkatan yaitu pada nilai awal sebelum tindakan adalah 13,7%, pada siklus I ada 48,3% dan pada siklus II ini mengalami kenaikan cukup tinggi yaitu 100%. Ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa dari nilai awal ke siklus I naik 34,6% dan dari siklus I ke siklus II naik 51,7%. Saran yang diberikan hendaknya guru menggunakan strategi dan model pembelajaran yang menarik, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran Make A Match untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran PKN siswa kelas V melalui pembelajaran kooperatif model talking stick di SDN Kidul Dalem 2 kota Malang / Priya Dwi Atmaja

 

Kata Kunci : PKn, Aktivitas, Hasil Belajar, Model Talking Stick. Hasil observasi menunjukkan bahwa nilai hasil belajar siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Dominasi gurudalam proses pembelajaran tersebut dapat menyebabkan siswa lebih bersifat pasif; (2) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (3) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan.Sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari, menemukan sendiri pengetahuan atau sikap dalam pembelajaran PKn. Untuk itu, perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu model talking stick. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan model talking stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Kidul Dalem 2 dan (2) Mendeskripsikan penerapan model talking stick untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Kidul Dalem 2. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Menggunakan empat cara dalam pengumulan data, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi. Analisi data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran model talking stick pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang dengan materi kebebasan berorganisasi terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dalam setiap siklus ketuntasan hasil belajar pada aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yaitu pada tahap tindakan pada siklus I 86,2% dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 100%. Ketuntasan hasil belajar pada aktivitas belajar siswa dari siklus I naik 13,8% ke siklus II. Dalam setiap siklus ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa mengalami peningkatan yaitu pada nilai awal sebelum tindakan adalah 51,7%, pada siklus I ada 75,8% dan pada siklus II ini mengalami kenaikan cukup tinggi yaitu 100%. Ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa dari nilai awal ke siklus I naik 24,1% dan dari siklus I ke siklus II naik 24,2%. Kendala dari penggunaan model ini adalah membutuhkan pengkoordinasian kelas yang bagus. Saran yang diberikan hendaknya guru menggunakan strategi dan model pembelajaran yang menarik, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran talking stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran broken shapes untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS SDN Sumbersari 2 Malang / Endah Nurhayati

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Broken Shapes, aktivitas, hasil belajar, IPS. Dari hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran IPS Kelas V SDN Sumbersari 2 Malang, diperoleh data tentang permasalahan dalam pembelajaran IPS yaitu penerapan pembelajaran inovatif belum maksimal, aktivitas siswa dalam pembelajaran kurang, dan hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilaksanakan sebuah penelitian, sebagai upaya perbaikan pembelajaran, dengan menerapkan Model Pembelajaran Broken Shapes pada mata pelajaran IPS di kelas V SDN Sumbersari 2. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu tentang penerapan Model Pembelajaran Broken Shapes, peningkatan aktivitas siswa, dan peningkatan hasil belajar Siswa Kelas V SDN Sumbersari 2 Malang pada mata pelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis PTK. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sumbersari 2 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 18. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik tes dan nontest. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar catatan lapangan.Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data secara kualitatif. Penelitian ini direncanakan dan dilaksanakan dalam dua siklus, terdiri dari empat kali pertemuan pembelajaran pada mata pelajaran IPS. Adapun model yang dipilih dalam penelitian ini adalah menggunakan model PTK “kolaboratif” dengan acuan model siklus Kemis & McTaggart yang terdiri dari perencanaan, tindakan dan observasi, refleksi, dan rencana perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan langkah Model Pembelajaran Broken Shapes, aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat. Pada siklus 1 nilai aktivitas siswa secara klasikal yaitu 81,84 dan pada siklus 2 nilai aktivitas siswa secara klasikal yaitu 86,12. Dari siklus 1 ke siklus 2 nilai aktivitas siswa secara klasikal mengalami peningkatan sebanyak 4,28. Nilai rata-rata siswa secara klasikal pada pra tindakan yaitu 49,62, pada siklus 1 nilai rata-rata siswa secara klasikal yaitu 68,53, pada siklus 2 nilai rata-rata siswa secara klasikal yaitu 83,38. Dari data tersebut diketahui bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 14,85. Disarankan Model Pembelajaran Broken Shapes diterapkan dalam mata pelajaran IPS maupun mata pelajaran lain dengan materi yang berbeda sesuai dengan langkah pelaksanaan Model Pembelajaran Broken Shapes, sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa kelas V SDN Pendem 02 Kecamatan Junrejo kota Batu / Didit Yulian Kasdriyanto

 

Kata Kunci : menulis puisi, metode karya wisata, Bahasa Indonesia, Sekolah Dasar Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan menulis puisi siswa kelas V SDN Pendem 02. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, siswa kurang bisa mengembangkan ide pengimajian untuk dituangkan ke dalam karyanya, di samping itu kemampuan siswa dalam penggunaan kata dalam penulisan puisi juga kurang. oleh sebab itu diperlukan adanya metode yang lebih baik dalam pembelajaran, diantaranya adalah peneraan metode karya wisata. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran menulis puisi melalui metode karya wisata pada siswa kelas V SDN Pendem 02 Kecamatan Junrejo Kota Batu, (2) Mendekripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi kelas V SDN Pendem 02 Kecamatan Junrejo Kota Batu melalui metode karya wisata. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus dan setiap tindakan terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penerapan metode karya wisata dalam pembelajaran yaitu (a) siswa melakukan pengamatan terhadap objek wisata (b) siswa membuat puisi dengan tema bebas berdasarkan metode karya wisata melalui pengamatan objek langsung (c) siswa mengumpulkan kosakata dari pengamatan objek secara langsung(d) siswa melanjutkan membuat kumpulan kalimat dari kosakata yang diperoleh sesuai dengan hasil pengamatan siswa, dan seterusnya sampai menjadi puisi utuh. Kesimpulan penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menulis puisi sebelum tindakan memperoleh nilai rata-rata 56,8. Setelah diberikan tindakan pada siklus I, rata-rata kemampuan menulis puisi siswa kelas V meningkat menjadi 59,1 peningkatan nilai rata-ratanya adalah 2,3 (4,04%). Setelah itu dilaksanakan siklus II, hasilnya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata menjadi 81,2, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke Siklus II adalah 22,1 (37,3%). Dapat disimpulkan bahwa penerapan metode karya wisata dapat meningkatkan kemampuan siswa Kelas V SDN Pendem 02 dalam menulis puisi. Saran yang diberikan peneliti kepada para guru dan peneliti lain adalah (1) Guru hendaknya didalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran dan metode yang bervariasi supaya tidak membosankan siswa, guru seharusnya dapat membiasakan siswanya untuk mempelajari lingkungan sekitar sebagai pelengkap belajar bahasa Indonesia atau mata pelajaran lainnya. (2) penerapan metode karya wisata perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan agar memperoleh hasil yang maksimal.

Pengaruh penggunaan media pembelajaran CD interaktif terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Bandungrejosari 1 kota Malang / Allisya Risna Cgotrunada

 

Kata Kunci: Media pembelajaran CD Interaktif, hasil belajar. Materi pecahan merupakan salah satu materi dalam matematika yang memuat prinsip dan hitungan, sehingga tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam memahaminya. Salah satu cara inovatif untuk mengatasi keadaan tersebut adalah dengan menggunakan media pembelajaran CD Interaktif. Media ini digunakan karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat mengasah daya imajinasi siswa, yang nantinya akan lebih meningkatkan pemahaman materi, daripada kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan media pembelajaran CD Interaktif. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa kelas IV yang tidak menggunakan media pembelajaran CD Interaktif kemudian bagaimana hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa kelas IV yang menggunakan media pembelajaran CD Interaktif dan pengaruh penggunaan media pembelajaran CD Interaktif terhadap hasil belajar matematika materi pecahan siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas IV A sebagai kelas kontrol dan kelas IV C sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa tes untuk pre-test dan post-test. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 17,0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara nilai ratarata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis data diketahui bahwa ratarata hasil belajar siswa kelas eksperimen sebesar 44, 13 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 28,63 dengan nilai probabilitas (sig) pada t hitung adalah 0,000. Berdasarkan analisis data diambil kesimpulan bahwa hasil belajar matematika pada kelas yang menggunakan media pembelajaran CD Interaktif lebih tinggi dari pada kelas yang tidak menggunakan media pembelajaran CD Interaktif. Merujuk hasil analisis data maka dapat disimpulkan penggunaan media pembelajaran CD Interaktif pada materi pecahan berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang. Saran yang diajukan untuk guru bidang studi matematika adalah menjadikan media pembelajaran CD Interaktif sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan media pembelajaran CD Interaktif pada materi selain pecahan atau menggunakan metode dan media yang berbeda serta aspek yang diukur adalah aspek yang lainnya.

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pringapus 2 kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek / Linda Rachmawati

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model Problem Based Laerning (PBL) PBL merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berdasarkan hasil observasi dilakukan oleh peneliti pada kelas V SDN Pringapus 2 Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek, pada waktu pembelajaran IPA aktivitas didominasi oleh guru, siswa masih ramai sendiri, guru kurang mengarahkan siswa dalam kelompok. Akibatnya hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana masih rendah. Diperoleh data rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 49,24 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 24,24 %, sedangkan SKBM (Standart Ketuntasan Belajar Minimal) yang ditentukan adalah. Agar dapat meningkatkan pembelajaran IPA perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran PBL. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model PBL untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model PBL, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model PBL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Jenis Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model PBL, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, dan lembar catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran PBL untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pringapus 2 dapat dilaksanakan sesuai harapan peneliti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya skor keberhasilan guru dalam penerapan model PBL, pada siklus I yaitu 76,65 dan meningkat pada siklus II menjadi 93,3. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 58,6 dan pada siklus II menjadi 71,4. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 63,4 pada siklus I menjadi rata-rata 80,94. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penerapan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di SDN Pringapus 2. Hasil penelitian ini memiliki saran agar model PBL dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam penilaian untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPA di SD.

Penerapan strategi pembelajaran index card match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 kota Batu / Ervan Yopi Putranto

 

Kata kunci: index card match, aktivitas, hasil belajar, IPS, SD. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas 5 SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu pada waktu pembelajaran IPS didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi dan siswa terlihat kurang aktif. Siswa kurang memahami materi proklamasi kemerdekaan Indonesia karena siswa hanya mendengarkan penjelasan guru didepan kelas yang mengakibatkan ingatan siswa yang bersifat sementara. Dari nilai siswa pada materi proklamasi kemerdekaan Indonesia menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 63 dengan ketuntasan kelas 36,84%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65.00 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman materi proklamasi kemerdekaan Indonesia yaitu dengan penerapan strategi pembelajaran Index Card Match melalui pencarian kartu indeks yang terdiri dari dua bagian yaitu kartu soal dan kartu jawaban. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan strategi pembelajaran index card match dalam pembelajaran IPS tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Selain itu mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan strategi pembelajaran Index Card Match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam pembelajaran IPS tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis & MC. Taggart. Subjek dalam penelitian ini yaitu seorang guru kelas V dan seluruh siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan penilaian, (4) refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara, (3) dokumentasi, dan (4) soal-soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan strategi pembelajaran Index Card Match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditandai dengan keberanian mencocokan kartu soal dan jawaban. Peningkatan rerata aktivitas siswa dari siklus I dengan nilai 62,13 ke siklus II dengan nilai 85,03 sebesar 22,09%. Sedangkan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 63 meningkat menjadi dengan nilai 66,97 dan pada siklus II meningkat dengan nilai 84,21 dengan prosentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 3,97% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 17,24%, sehingga prosentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus II sebesar 21,21%.

Penerapan model pembelajaran kooperatif time token arends untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Jatimulyo 01 Malang / Muhammad Fitra Rasyadianto

 

Kata Kunci: Kooperatif Time Token Arends , Aktifitas, Hasil Belajar, PKn. Berdasarkan Hasil observasi awal ditemukan bahwa di SDN Jatimulyo 01 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, khususnya pada kelas IV belum pernah menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Time Token Arends dalam pembelajaran PKn. Guru dalam melaksanakan proses pembelajaran cenderung menggunakan cara lama yaitu dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Kooperatif Time Token Arends; 2) mendeskripsikan penerapan pembelajaran Kooperatif Time Token Arends terhadap peningkatan aktivitas siswa; 3) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Kooperatif Time Token Arends terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang pada matapelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 (dua) siklus. Subyek penelitian ini adalah 16 siswa kelas IV SDN Jatimulyo 01. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Adapun teknik untuk menganalisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model Kooperatif Time Token Arends pada pokok bahasan globalisasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 01. Untuk aktivitas siswa dapat terlihat dari skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa disiklus I sebesar 73,5 dan pada siklus II skor rata-rata yang diperoleh meningkat menjadi 81,1. Selain itu keaktifan siswa dapat dilihat saat melakukan diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pra tindakan yaitu 57,37 dengan ketuntasan belajar kelas 31,25%, dan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif time token arends pada siklus I rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 72,12 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 75%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan rata-rata hasil belajar menjadi 76,9 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 87,5% meskipun ada 2 siswa atau (12,5%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 87,5%. Peneliti menyarankan kepada guru agar menerapkan model pembelajaran kooperatif time token arends pada mata pelajaran PKn dengan kompetensi yang lain. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan bandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas V SD melalui model numbered heads together (NHT) dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SDN Karangbesuki 01 kota Malang / Rochma Arini

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, Numbered Heads Together (NHT), SD Penerapan model Numbered Heads Together setidaknya dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa karena siswa dituntut komunikatif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN Karangbesuki 01 Malang, guru masih menggunakan metode konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 60,3 dan masih terdapat 20 siswa atau 55,6% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 60 sehingga masih jauh dari KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Numbered Heads Together yang terdiri dari tahap penomoran dengan memberikan topi kepala bernomor dan memberikan penamaan pada setiap kelompok, tahap pengajuan pertanyaan dilakukan dengan memberikan Lembar Kegiatan Kelompok (LKK) untuk didiskusikan, tahap berpikir bersama merupakan proses siswa bersama kelompok untuk diskusi LKK dan tahap pemberian jawaban merupakan langkah terakhir dimana seriap individu mampu memberikan jawaban atau mengomentari suatu persoalan faktual, (2) peningkatan keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia setelah menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) di kelas V SDN Karangbesuki 01 . Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 38 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 24 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK oleh Iskandar meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari pembuatan rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembelajaran dengan menggunakan model tersebut. Hasil observasi aktivitas guru selama pembelajaran dengan menggunakan model Numbered heads Together (NHT) menunjukan prosentase pada siklus I sebesar 88,05 % meningkat ke siklus II dengan prosentase sebesar 97,6% dan hasil observasi dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan model Numbered Heads Together (NHT) pada siklus I memperoleh prosentase 74,9% meningkat pada siklus II memperoleh prosentase sebesar 100%. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap siswa yang meliputi aktivitas dan keterampilan siswa dalam berbicara dengan materi persoalan faktual dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang diharapkan mampu merubah cara belajar siswa dari siswa yang cenderung pasif dalam berpendapat menjadi komunikatif. Selain itu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada aspek keterampilan berbicara siswa. Aktivitas siswa yang diskor dari keaktifan, keberanian dan ketepatan jawaban, dari hasil observasi dapat terlihat dari skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa disiklus I sebesar 74,9 dan pada siklus II skor rata-rata yang diperoleh meningkat menjadi 82,9. Hasil belajar siswa pada aspek keterampilan berbicara juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil dari keterampilan berbicara yaitu 60,3 dengan ketuntasan belajar kelas 44,4%, pada siklus I meningkat menjadi 71,8 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 72,2%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 81,1 meskipun ada 3 siswa atau (11,6%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 88,6%. Berdasarkan hasil wawancara siswa dan guru dapat disimpulkan bahwa siswa sedikit demi sedikit mengalami peningkatan keterampilan berbicara khususnya dalam mengomentari persoalan faktual dengan baik daripada sebelum menerapkan model Numbered Heads Togeher (NHT). Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah hendaknya memotivasi agar meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Bagi Guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada pelajaran Bahasa Indonesia dengan Kompetensi Dasar yang sama dengan tema yang berbeda agar siswa lebih komunikatif dalam mengomentari persoalan faktual dengan jelas. Bagi peneliti yang lain mengingat pada penelitian ini masih terdapat kekurangan, diantaranya belum bisa menuntaskan hasil belajar siswa seluruhnya, maka disarankan untuk mengkombinasikan penggunaan media pembelajaran lain yang lebih relevan , sekiranya mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek berbicara.

Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi melalui penggunaan benda konkrit di kelas IV SDN Karangbesuki 1 Kecamatan kota Malang / Ellys Nur Aini

 

Kata Kunci: Benda konkret, Kemampuan menulis, Karangan Deskripsi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SDN Karangbesuki 1 diketahui bahwa; 1) Pembelajaran sering tidak menggunakan media pembelajaran; 2) Tingkat penguasaan siswa terhadap materi masih rendah, hal ini terbukti berdasarkan hasil belajar yang diperoleh siswa masih banyak dibawah KKM yang ditentukan oleh sekolah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan alternatif pembelajaran yang mampu meningkatkan penguasaan atau kemampuan siswa. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah penggunaan media pembelajaran yang dapat menjadi solusi permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan benda konkret dalam menulis karangan Deskripsi. Tujuan diadakannya penelitian ini untuk: 1) Mendeskripsikan Jenis-jenis karangan; 2) Membuat karangan deskripsi melalui benda konkrit sesuai dengan teknik penulisan karangan yang baik ; 3) Membuat karangan Deskripsi melalui benda konkrit sesuai dengan teknik penulisan karangan yang baik. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan sebanyak 2 Siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SDN Karangbesuki 1, Kecamatan Sukun Kota Malang pada semester gasal tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 37 siswa. Berdasarkan analisis data hasil penelitian setelah diterapkan benda konkret dalam penulisan karangan deskripsi, diketahui bahwa: Rata-rata nilai hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 60,37 dan siklus II meningkat menjadi 72,11 dengan prosentase peningkatan 31,72% Data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan benda konkret dapat meningkatakan kemampuan menulis karangan deskripsi. Dari data-data yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan benda konkret dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Perbedaan prestasi belajar KKPI dengan metode pembelajaran tutor sebaya dan ceramah bermakna pada siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Tanggul Kabupaten Jember / Mahsun Huda

 

Penerapan model QWH-Chart untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Merjosari I Malang / Feni Handayani

 

Kata Kunci: QWH-Chart , aktivitas, hasil belajar. QWH-Chart adalah model pembelajaran yang menekankan pada keaktivan siswa untuk membangun pengetahuan mereka sendiri melalui kegiatan membaca, memahami, dan menemukan hal penting untuk kemudian mengajukan suatu masalah dalam bentuk pertanyaan yang sebelumya siswa diajak untuk melakukan kegiatan pengamatan. Hasil observasi awal ditemukan fakta bahwa pembelajaran IPA yang dilakukan di SDN Merjosari I selama ini masih menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang pasif, tidak mampu mengingat konsep yang telah dipelajari sehingga siswa tidak mampu menjawab pertanyaan karena selama pembelajarannya guru melakukan ceramah. Hal ini disebabkan karena kurang tersedianya media pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan model QWH-Chart pada pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Merjosari 1 Malang, penerapan model QWH-Chart yang dapat meningkatkan aktivitas siswa pada pembelajaran IPA kelas III SDN Merjosari 1 Malang, dan penerapan model QWH-Chart yang dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Merjosari 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan adalah data mengenai aktivitas guru dalam menerapkan model QWH- Chart, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, catatan lapangan dan tes. Instrumen yang digunakan berupa RPP, LKK, evaluasi, lembar observasi guru dan siswa dalam menerapkan QWH-Chart, dan format penilaian hasil belajar siswa. Kegiatan analisi data dimulai dari tahap pemaparan data, reduksi data, kategorisasi data, pemaknaan dan penyimpulan hasil analisis. Berdasarkan hasil analisis, penerapan model QWH-Chart dalam pembelajaran IPA kelas III SDN Merjosari 1, pada siklus I aktivitas belajar siswa adalah 22,63% dan pada siklus II adalah 56,67%. Pada hasil belajar, didapatkan hasil ketuntasan klasikal 58,06% pada siklus I dan 60% pada siklus II. Model QWH-Chart belum dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Merjosari 1 Malang secara maksimal. Maka disarankan pada peneliti lain jika ingin menggunakan model QWH-Chart dalam pembelajaran IPA, akan lebih baik jika diiringi dengan kegiatan eksperimen agar aktivitas dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan secara maksimal.

Pengembangan media informasi karier berbasis permainan puzzle pada peserta didik taman kanak-kanak kelompok B / Happy Devitasari

 

Kata Kunci: Media, informasi karier, permainan puzzle, Taman Kanak-kanak. Pada masa Taman Kanak-kanak media permainan puzzle dalam pemberian informasi karier belum pernah diberikan oleh guru kepada peserta didiknya, sehingga pemberian informasi karier perlu dilakukan sejak dini untuk itu diperlukan media yang tepat untuk peserta didik TK. Salah satu media yang cocok untuk anak TK adalah media permainan puzzle, karena itu maka perlu dikembangkan media informasi karier berbasis permainan puzzle pada peserta didik TK. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan media informasi karier berbasis permainan puzzle untuk peserta didik TK yang diterima secara teoritis maupun praktis yang dapat digunakan oleh guru TK dalam membantu peserta didik TK mengenal jenis-jenis pekerjaan yang ada di sekitarnya. Rancangan yang digunakan dalam penelitian media informasi karier berbasis permainan puzzle pada peserta didik TK ini adalah adaptasi penelitian pengembangan model Borg dan Gall (1983). Adapun langkah-langkah pengembangannya adalah (1) melakukan kajian pustaka, (2) melakukan need assessment, (3) menganalisis dan menentukan prioritas kebutuhan, (4) merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus permainan puzzle, (5) menyusun produk awal permainan puzzle, (6) memvalidasi produk (uji ahli dan uji pengguna produk), (7) menyempurnakan produk akhir. Subjek penelitian adalah ahli bimbingan konseling, ahli media bimbingan, dan calon pengguna produk. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan angket untuk penilaian uji ahli dan calon pengguna produk. Hasil dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media informasi karier berbasis permainan puzzle pada peserta didik Taman Kanak-kanak berterima secara teoretis dan praktis. Media tersebut sangat tepat, sangat berguna, sangat mudah, dan sangat menarik digunakan sebagai media informasi karier bagi anak TK. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan adalah (1) media permainan puzzle dapat digunakan oleh guru TK dalam rangka memberikan informasi karier kepada peserta didik TK, (2) peneliti selanjutnya perlu menambah informasi karier mengenai jenis-jenis pekerjaan karena peneliti hanya menggunakan sepuluh jenis-jenis pekerjaan dan meneliti tingkat keefektivan media informasi karier berbasis permainan puzzle terhadap peserta didik TK dengan menggunakan rancangan experimental, dan (3) untuk memudahkan penggunaan media hasil penelitian ini maka perlu dikembangkan software interaktif untuk lebih meningkatkan keefektivan penggunaan bagi peserta didik.

Peningkatan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas IV melalui pendekatan contextual teaching learning di SD NU Bahrul Ulum kota Malang / Erie Saptaniastuti

 

Kata Kunci: IPA, pembelajaran, CTL Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik (Slameto, 2010:1). Berdasarkan hasil Observasi awal di SD NU Bahrul Ulum Kota Malang ditemukan bahwa pembelajaran IPA kelas IV pada materi “Daur Hidup Hewan” masih dilakukan guru secara konvensional. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai ulangan siswa, bahwa masih terdapat 18 siswa (82%) belum mencapai KKM yang telah ditetapkan yaitu 63. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pembelajaran dengan menerapkan pendekatan CTL di Kelas IV SD NU Bahrul Ulum dalam pembelajaran IPA, (2) peningkatan aktivitas siswa kelas IV SD NU Bahrul Ulum dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan pendekatan CTL, (3) peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD NU Bahrul Ulum dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan pendekatan CTL. Penelitian ini dilakukan di SD NU Bahrul Ulum Kota Malang dengan subyek siswa kelas IV sebanyak 22 siswa yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan CTL pada pembelajaran IPA siswa kelas IV mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I skor rata-rata keberhasilan tindakan adalah 82 dan pada siklus II adalah 94. Hasil aktivitas belajar siswa juga meningkat dari siklus I yang masih ada beberapa siswa yang berada pada kategori D dan C, pada siklus II hampir semua siswa berada pada kategori B dan A. Hal ini dapat dibuktikan dari skor rata-rata hasil aktivitas siswa pada siklus I adalah 74 dan pada siklus II adalah 90. Selain meningkatkan aktivitas belajar juga meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa sebelumnya yaitu 72 pada siklus I meningkat menjadi 79 pada siklus II. Dari kegiatan siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti siswa ramai atau bermain sendiri, guru harus lebih merata dalam mengelola kelas supaya seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama. Selain itu, guru sebaiknya lebih membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil penemuannya sehingga konsep yang ditemukan siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Perbedaan aktivitas dan hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dan simulasi siswa kelas IV SDN Tlogomas 2 kota Malang / Vitalis Prihatin

 

Kata Kunci: Aktivitas, Hasil belajar siswa, Model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dan Simulasi Sistem Pendidikan Nasional sampai saat ini menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada sekolah-sekolah sebagai penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang cenderung teacher-oriented dalam proses belajar mengajar, sehingga diperlukan strategi atau model pembelajaran yang menyenangkan dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah mampu menguasai materi pelajaran dan memilih metode dan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan: 1) untuk menjelaskan perbedaan antara metode pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) dan simulasi pada mata pelajaran IPS terhadap aktivitas belajar siswa kelas IV SD Negeri Tlogomas 2 Malang. 2) Untuk menjelaskan perbedaan antara metode pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) dan simulasi pada mata pelajaran IPS terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Tlogomas 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Tlogomas Malang, yang berlangsung selama dua kali pertemuan dengan materi koperasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV A sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model TGT, dan siswa kelas IV B sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan model simulasi. Teknik pengumpulan data melalui tes (pre-test dan post-test), dan lembar observasi. Data yang dianalisis dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu 1) data aktivitas belajar, dan 2) data hasil belajar. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas varian, uji kesamaan rata-rata, dan uji hipotesis. Data aktivitas belajar dianalisis dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran TGT dan model pembelajaran simulasi pada materi koperasi. aktivitas siswa kelas eksperimen sebesar 65% dengan kategori sangat baik dan baik. Dari 40 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran, terdapat 6 siswa yang nilai aktivitasnya terkategori sangat kurang. Sedangkan siswa yang nilai aktivitasnya terkategori baik berjumlah 12 orang, dan yang terkategori sangat baik berjumlah 14 orang. Sedangkan aktivitas siswa kelas kontrol sebesar 42,5% dengan kategori sangat baik dan baik. Dari 40 siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran, terdapat 18 siswa yang nilai aktivitasnya terkategori sangat kurang. Sedangkan siswa yang nilai aktivitasnya terkategori baik berjumlah 7orang, dan yang terkategori sangat baik berjumlah 10 orang. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas dan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran IPS pada pembelajaran model TGT (Teams Games Tournament) dan simulasi. Di mana penggunaan metode pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) di SD Negeri Tlogomas Malang lebih efektif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran kooperatif model simulasi. Saran sebagai berikut: 1) Guru kelas IV diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dan simulasi sebagai salah satu alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa, serta dapat mengalokasikan waktu dengan sebaik mungkin agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, 2) SD Negeri Tlogomas Malang diharapkan dapat menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektifitas pembelajaran model TGT (Teams Games Tournament) dan simulasi, seperti bahan ajar, sebagai buku pegangan siswa agar mereka dapat belajar dengan baik, tidak hanya mengandalkan catatan yang setiap kali pertemuan ditulis di papan tulis, 3) Bagi peneliti lain diharapkan lebih mampu mengembangkan hasil penelitian ini, dengan materi yang berbeda dan sebaiknya dilakukan dengan waktu yang cukup sehingga diperoleh hasil yang maksimal, serta penelitian ini digunakan sebagai acuan, landasan atau bahan literatur untuk penelitian lebih lanjut.

Penerapan model pembelajaran generatif untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Oro-Oro Dowo Malang / Elminawati Sutomo

 

Kata Kunci: Model pembelajaran Generatif, hasil belajar IPA, aktivitas siswa Berdasarkan hasil observasi awal, proses pembelajaran masih didominasi oleh guru, aktivitas siswa sangat rendah karena siswa cenderung pasif, dan hasil belajar siswa masih rendah yang dibuktikan dengan 32 siswa masih di bawah standar yang ditentukan. Untuk itu model Generatif ini dimungkinkan dapat mengatasi masalah tersebut.Pembelajaran generatif merupakan model pembelajaran yang menuntut pamaduan konsep awal siswa dengan pengetahuan baru yang diperoleh siswa setelah siswa melakukan percobaan untuk membuktikannya. Melalui model pembelajaran generatif ini siswa akan aktif untuk melakukan percobaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran generatif pada pembelajaran IPA, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa kelas V melalui penerapan modelpembelajaran generatif, serta (3) peningkatan hasil belajar IPA. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Penelitian dilaksanakan di kelas V SDN Oro-oro Dowo Malang dengan jumlah siswa 41 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran generatif dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Analisis dari siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat. Pada siklus I aktivitas siswa masih dibawah 70% yang mendapat kriteria baik sampai sangat baik yaitu 40,3%. Sedangkan pada siklus II hasil aktivitas siswa mencapai 78,7% dengan. Untuk hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 60,5%. Sedangkan pada siklus II hasil belajar siswa meningkat menjadi 77% dengan nilai di atas 70. Aktivitas guru dan juga keterlaksanaan pembelajaran juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran generatif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Untuk itu, ada saran diberikan oleh peneliti kepada guru dan juga teman sejawat agar selalu teliti dalam mengatur alokasi waktu pembelajaran dan pengelolaan kelas serta langkah-langkah pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Perbedaan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS antara sebelum dan sesudah menggunakan model problem based learning di SDN 1 Siwalan kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo / Sri Wahyu Handayani

 

Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran Problem Based Learning, IPS, SD. Hasil tes awal penelitian dalam pemahaman mata pelajaran IPS kelas IV semester II dengan materi pokok permasalahan sosial yang diujikan kepada siswa kelas IV SDN 1 Siwalan kec. Mlarak kab. Ponorogo menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa dalam memahami masalah sosial mendapatkan nilai terendah. Siswa kurang memahami materi permasalahan sosial karena kejenuhan siswa terhadap pelajaran dan guru mengharuskan siswa untuk mendengarkan penjelasan guru. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman materi permasalahan sosial yaitu berdasarkan model pembelajaran kontruktivisme tipe problem based learning melalui tahap (1) Mendefinisikan masalah, (2) Mendiagnosis masalah, (3) Melakukan alternatif strategi, (4) Menentukan dan menetapkan strategi pilihan, dan (5) Melakukan evaluasi. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan Perbedaan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran IPS antara Sebelum dan Sesudah Menggunakan Model Problem Based Learning pada siswa kelas IV SDN 1 Siwalan Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo. Selain itu mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan model pembelajaran kontruktivisme tipe problem based learning untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar dalam pembelajaran IPS tentang permasalahan sosial siswa kelas IV SDN 1 Siwalan Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini memilih siswa SDN 1 Siwalan Ponorogo sebagai populasinya. Sampel yang dipilih adalah satu kelas eksperimen yaitu kelas IV. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah penetapan. Instrumen pelaksanaan yang dipakai dalam penelitian ini berupa RPP dan LKS. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data kemampuan awal siswa sebelum diberi perlakuan dan data hasil belajar siswa. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu, dengan uji asumsi yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis yang menggunakan uji-t dan compare Means dengan One-Sampel T Test, dari hasil analisis uji normalitas pada pretes (sebelum menggunakan model) menyatakan hasil yang tidak normal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, hasil belajar IPS siswa yang diberi pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning lebih tinggi dari pada siswa yang diberi pembelajaran sebelum menggunakan model Problem Based Learning. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai sebelum menggunakan model PBL (kemampuan awal) nilainya 80,00 sedangkan rata-rata nilai setelah menggunakan model PBL (hasil belajar) nilainya 80,83.

Peningkatan kualitas pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya melalui penerapan pendekatan kontekstual pada siswa kelas V di SDN Pesanggrahan 02 kota Batu / Laras Wulandari

 

Kata Kunci: Peningkatan, Hasil Belajar, IPA, Pendekatan kontekstual Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu pada waktu pembelajaran IPA di dapatkan fakta bahwa siswa kurang tertarik pada pembelajaran, siswa terlihat pasif, tanpa adanya pengamatan, percobaan, diskusi kelompok selama pembelajaran, dan rendahnya hasil belajar siswa. Guru hanya menggunakan metode ceramah, dan penugasan sehingga guru yang berperan aktif menyampaikan materi dalam pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan melalui penerapan pendekatan kontekstual materi Sifat-sifat cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya siswa kelas V di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, (2) Mendiskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajarn IPA materi sifat-sifat cahaya kelas V di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, (3) Mendiskripsikan hasil belajar siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya siswa kelas V di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2011 sampai 17 Maret 2011. Subyek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu dapat dilihat pada siklus I rata-rata nilai 88,53 pada siklus II rata-rata nilai 94,15. Hal ini ditandai dengan keberanian siswa bertanya, mengemukakan pendapat dan dapat membuat kesimpulan pembelajaran. Peningkatan rata-rata aktivitas siswa dari siklus I dengan rata-rata nilai 55 meningkat pada siklus II dengan rata-rata nilai 78. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II yaitu dari nilai pra tindakan 60, dengan ketuntasan belajar 25% meningkat pada siklus I 66,25 dengan ketuntasan 30%, dan pada siklus II meningkat menjadi 77,5 dengan ketuntasan belajar 85%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari- hari siswa dengan kegiatan pengamatan, percobaan, diskusi kelompok, membuat karya sederhana sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan kemampuan membuat hiasan teknik mozaik pada pembelajaran SBK kelas IV SDN Dampit 02 Kabupaten Malang / Aminnatul Widyana

 

Kata Kunci: Metode demonstrasi, hiasan mozaik, SD Pembelajaran SBK di SDN Dampit 02 kurang berkembang khususnya di bidang keterampilan berolah seni rupa. Selama ini pembelajaran belum memenuhi SK dan KD berdasarkan kurikulum yang hendak dicapai. Sehingga kemampuan siswa dalam bidang keterampilan kurang berkembang. Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan siswa tersebut adalah melalui penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran SBK. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan; (1) penerapan metode demonstrasi dalam pembuatan hiasan dengan teknik mozaik pada matapelajaran SBK; (2) peningkatan kemampuan dalam pembuatan hiasan dengan teknik mozaik melalui penerapan metode demonstrasi di kelas IV SDN Dampit 02 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian siswa kelas IV di SDN Dampit 02 sebanyak 38 siswa, dan guru yang melaksanakan pembelajaran. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan dengan menggunakan instrumen penelitian. Hasil penelitian berupa paparan data mengenai proses dan hasil kerajinan pembuatan hiasan mozaik sesudah diadakan tindakan. Teknik analisis data menggunakan analisis data kualitatif. Hasil penelitian:penerapan metode demonstrasi mempermudah mengajarkan proses pembuatan hiasan mozaik pada siswa dari mendemonstrasikan merancang gambar pada bidang, mendemonstrasikan memberi lem, mendemonstrasikan menempel biji-bijian dan kertas berwarna sampai merapikannya. Ada peningkatan keaktifan siswa dengan mencoba membuat karya sendiri, siswa juga telah mampu mengkreasikan karyanya sesuai keinginan masing-masing pada waktu membuat hiasan mozaik pada bidang dan kerajinan untuk tempat pensil, serta kejelasan materi yang menjadikan kemampuan siswa meningkat. Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan kemampuan proses dan hasil siswa dalam membuat hiasan dengan teknik mozaik. Peningkatan kemampuan proses dan hasil dapat diamati mulai dari pratindakan sampai siklus 1 dan siklus 2. Peningkatan aspek kemampuan proses dari tahap pratindakan ke siklus 1 sebesar 2,5% (82,5%-85%) dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 6% (85%-91%). Peningkatan aspek kemampuan hasil dari tahap pratindakan ke siklus 1 sebesar 2% (75%-77%) dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 7,5% (77%-84,5%). Disarankan sebaiknya guru menerapkan metode demonstrasi untuk mengajarkan materi yang membutuhkan banyak kegiatan praktik. Hendaknya guru juga memperhatikan pengelolaan kelas terutama saat mendemonstrasikan materi agar seluruh siswa dapat meningkatkan kemampuan hasil mereka.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model inkuiri yurisprudensi pada siswa kelas V SDN Sidodadi 02 Kabupaten Blitar / Imam Safii

 

Kata Kunci: hasil belajar, PKn, model Inkuiri Yurisprudensi Penelitian ini berlakang belakang adanya kualitas pembelajaran di kelas VA SDN Sidodadi 02 Kabupaten Blitar yang relatif rendah. Pembelajaran yang masih terpusat pada guru, guru masih tergantung pada buku teks, guru masih banyak menggunakan cara-cara lama, dan keaktivan siswa dalam belajar juga masih rendah. Hal ini terlihat dari 18 siswa yang mendapatkan nilai di atas 70 hanya 7 siswa (39%). Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas VA yang ditandai dengan pembelajaran yang menerapkan model Inkuiri Yurisprudensi, pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa, guru tidak tergantung pada buku teks, situasi pembelajaran yang kondusif, dan terjadi peningkatan keaktivan dan kreatifitas siswa. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model spiral. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sidodadi 02 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar dengan subjek penelitian siswa kelas VA. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, angket, dokumentasi, dan tes. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, diperoleh peningkatan kualitas proses dan hasil belajar PKn di kelas VA. Peningkatan kualitas proses terlihat dari nilai rata-rata aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dari siklus 1 yaitu 64,5 meningkat menjadi 96 atau presentase ketuntasan 28% meningkat menjadi 83% pada siklus 2. Dari 5 siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 meningkat menjadi 15 siswa. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 yaitu 74 meningkat menjadi 97 atau presentase ketuntasan 55% meningkat menjadi 100% pada siklus 2. Dari 12 siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 meningkat menjadi 18 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Inkuiri Yurisprudensi dapat meningkatkn kualitas proses dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn pada Standar Kompetensi 4, yaitu menghargai keputusan bersama. Untuk itu, hendaknya para guru menerapkan model Inkuiri Yurisprudensi kepada siswa supaya hasil yang diperoleh dapat maksimal/meningkat.

Pengembangan bahan ajar interaktif kimia berdasarkan metode penemuan terbimbing dan model plomp untuk mata pelajaran kosmetika pada kelas X SMK Program Keahlian Tata Kecantikan / Sri Endang Hidajati

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof Suhadi Ibnu, MA, Ph.D., (2) Dr Subandi, M.Si. Kata kunci: bahan ajar interaktif kimia, penemuan terbimbing, model Plomp, program keahlian tata kecantikan. Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam, dan termasuk mata pelajaran kelompok adaptif yang berfungsi untuk memberikan dasar pengetahuan dalam memahami mata pelajaran produktif. Dalam program keahlian tata kecantikan, kimia diperlukan dalam mata pelajaran kosmetik. Permasalahannya adalah bahwa pembelajaran kimia yang selama ini berlangsung tidak terkait dengan kompetensi keahlian siswa. Disamping itu, belum ada bahan ajar kimia yang memadai dari segi keluasan, penyajian, kedalaman, dan kesesuaian dengan kompetensi keahlian Tata Kecantikan. Situasi ini menyebabkan minat belajar siswa terhadap kimia menjadi rendah dan mereka beranggapan bahwa belajar kimia tidak memberikan manfaat. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk: (1) menghasilkan bahan ajar interaktif kimia yang berhubungan dengan mata pelajaran kosmetika berdasarkan metode penemuan terbimbing dan model Plomp untuk kelas X SMK program keahlian Tata Kecantikan, (2) mengetahui kelayakan bahan ajar yang dikembangkan, (3) mengetahui keefektifan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan pencapaian hasil belajar siswa, dan (4) mengetahui persepsi siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar yang dikembangkan adalah kimia larutan. Materi ini penting dalam mata pelajaran kosmetika. Pengembangan bahan ajar interaktif kimia didasarkan pada metode penemuan terbimbing dan model Plomp yang terdiri dari lima tahap, yaitu: (1) tahap investigasi awal, (2) tahap desain, (3) tahap realisasi/konstruksi, (4) tahap evaluasi dan revisi, dan (5) tahap implementasi. Kelayakan bahan ajar yang dikembangkan dinilai oleh beberapa pakar yang terdiri dari dua dosen kimia, satu guru IPA, dan satu guru produktif. Penilaian didasarkan pada kelayakan isi, penyajian, dan bahasa. Efektivitas bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa kelas X program keahlian Tata Kecantikan Kulit SMKN 3 Malang. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dan saran yang diberikan oleh para ahli untuk perbaikan bahan ajar yang dikembangkan. Data kuantitatif terdiri dari skor hasil belajar siswa dan skor hasil validasi bahan ajar berdasarkan standar instrumen validasi yang dirumuskan oleh BNSP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes hasil belajar yang terdiri dari 70 item dengan validitas isi 0,99. Persepsi siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner. Hasil pengembangan ini menunjukkan bahwa: (1) bahan ajar kimia yang dikembangkan terdiri dari dua kegiatan belajar di mana masing-masing kegiatan terdiri dari pendahuluan, pembelajaran dan penutup. Bahan ajar ini dirancang seperti tampilan web dan dikemas dalam CD autorun, (2) bahan ajar kimia yang dikembangkan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran, (3) bahan belajar kimia yang dikembangkan adalah efektif berdasarkan pencapaian hasil belajar siswa karena 94,7% siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selain itu pencapaian hasil belajar kelompok siswa yang menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan lebih tinggi dari pada kelompok siswa yang tidak menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan, (4) siswa memberikan persepsi positif tentang bahan ajar yang dikembangkan. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas bahwa bahan ajar interaktif kimia yang dikembangkan berdasarkan metode penemuan terbimbing dan model Plomp adalah layak untuk digunakan dalam pembelajaran pada siswa kelas X program keahlian Tata Kecantikan. Evaluasi lebih lanjut terhadap kelayakan dan keefektifan bahan ajar sebaiknya dilakukan untuk diseminasi yang lebih luas.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui pendekatan CTL materi sumber daya alam siswa kelas IV SDN Wonorejo I Lumbang Pasuruan / Khusnul Khotimah

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, IPS, CTL. Dalam pembelajaran IPS diharapkan guru menggunakan pendekatan yang memberi peluang kepada siswa untuk mengembangkan aspek kognitif juga meningkatkan sikap sosial dan keterampilan siswa. Gejala yang ada di SD adalah siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari materi pokok tentang sumber daya alam. Pembelajaran IPS seharusnya menggunakan pendekatan pembelajaran yang mampu mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata yang dialami siswa. Sehingga siswa mampu menerapkan hasil pembelajaran ke dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Salah satu pendekatan yang diprediksi marnpu mengembangkan potensi siswa tersebut adalah dengan CTL (Contextual Teaching and Learning). Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan penerapan pendekatan CTL pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Wonorejo I Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Wonorejo I Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan dengan menggunakan pendekatan CTL. Jenis rancangan penelitian ini adalah PTK model Kemmis dan Taggart dengan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan 2 siklus, setiap siklus 2 pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Wonorejo I sebanyak 17 siswa. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi, wawancara, test tertulis, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa penerapan pendekatan CTL pada mata pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Wonorejo I Lumbang Pasuruan. Hal ini terbukti pada pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa 55,3 (cukup), siklus I rata-rata hasil belajar siswa 66,8 (baik) sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 73,4 (baik). Dapat dinyatakan bahwa terdapat 15 dari 17 siswa yang telah mencapai KKM atau sebesar 80% siswa telah mencapai ketuntasan klasikal. Berdasarkan hasil temuan di lapangan selama penelitian dilaksanakan, disarankan hendaknya guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran. Dengan penerapan pembelajaran yang baik dan sesuai, maka hasil belajar siswa dapat ditingkatkan secara optimal.

Peningkatan kemampuan bercerita dengan media boneka tangan pada siswa kelas II SDN Karangbesuki 4 Kecamatan Sukun kota Malang / Endah Kusumawati

 

Kata Kunci : kemampuan bercerita, media boneka tangan, penggunaan media boneka tangan. Hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Karangbesuki 4 Kecamatan Sukun Kota Malang rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil penilaian kemampuan bercerita yang dilakukan oleh guru pada mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya mencapai rata-rata 49,63; (2) Siswa kurang berani bercerita di depan umum; (3) Sebagian besar siswa merasa takut, malu-malu dan enggan ketika ditunjuk bercerita di depan kelas; dan (4) Siswa merasa kesulitan memilih kata-kata yang menarik pada saat bercerita dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pada pembelajaran bercerita guru tidak menggunakan media yang dapat memotivasi siswa dalam bercerita. Hal ini menyebabkan kemampuan bercerita siswa rendah. Untuk itu, perlu adanya media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa yaitu boneka tangan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penggunaan media boneka tangan dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Karangbesuki 4 Kecamatan Sukun Kota Malang. (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Karangbesuki 4 Kecamatan Sukun Kota Malang dengan menggunakan media boneka tangan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Karangbesuki 4 Kecamatan Sukun Kota Malang. Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi, dan (5) Catatan Lapangan. Analisi data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media boneka tangan dapat meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Karangbesuki 4 Kecamatan Sukun Kota Malang. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kemampuan awal siswa dalam bercerita adalah 49,63 dengan kriteria kurang. Setelah dilaksanakan siklus I, nilai rata-rata kemampuan bercerita siswa meningkat menjadi 63,26 dengan kriteria cukup. Selanjutnya pada siklus II, nilai rata-rata kemampuan bercerita siswa mengalami peningkatan menjadi 70,57 dengan kriteria baik. Saran yang diberikan adalah hendaknya: (1) guru dapat mengembangkan penggunaan media boneka tangan sebagai variasi strategi pembelajaran bercerita, (2) Kepala Sekolah dapat mensosialisasikan hasil penelitian ini kepada guru-guru dan menyediakan media boneka tangan yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa

Makna pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosio emosi anak di PAUD Taman Ceria Karangkates / Indah Tri Widiana

 

Kata Kunci: pola asuh orang tua, perkembangan emosi anak. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak. Dalam kehidupan anak tentunya keluarga merupakan tempat yang sangat vital. Anak-anak memperoleh pengalaman pertamanya dari keluarga. Dalam keluarga peranan orang tua sangatlah penting. Mereka merupakan model bagi anak. Ketika orang tua melakukan sesuatu anak-anak akan mengikuti prang tua mereka. Hal ini disebabkan anak dalam masa meniru. Orang tua yang satu dengan orang tua yang lainnya dalam mendidik anak-anak tentunya juga berbeda. Mereka mempunyai suatu gaya atau tipe-tipe tersendiri. Dan tentunya gaya-gaya tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Terutama perkembangan sosio-emosinya. Untuk itu fokus penelitian ini adalah bagaimana karakteristik pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak, Bagaimana perkembangan emosi anak dari pengaruh pola asuh orang tua, serta bagaimanakah makna pola asuh orang tua terhadap perkembangan emosi anak. Untuk mendukung kegiatan tersebut, maka penulis juga memberikan kajian teori tentang hakekat keluarga, hakekat pola asuh orang tua, perkembangan emosi anak, serta makna pola asuh orang tua terhadap perkembangan emosi anak. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dimana dalam penelitian ini mengutamakan kata-kata dalam pelaporannya. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak-anak PAUD Taman Ceria Karangkates yang berjumlah 4 anak. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sistem keabsahan data yang digunakan adalah trianggulasi. Hasil dari penelitian ini adalah dari subyek pertama ditemukan bahwa orang tua dari subyek pertama cenderung bersikap otoriter, hal ini mempengaruhi perkembangan emosinya anak pada subyek pertama mudah marah, mudah cemburu dll. Pada subyek kedua, orang tua cenderung bersikap permisif, hal ini mengakibatkan anaknya sulit bersosialisasi, sulit berkonsentrasi, serta sulit mengendalikan emosinya, dan semaunya sendiri. Pada subyek ketiga orang tua cenderung bersikap demokratis mengakibatkan anaknya mudah mengendalikan emosinya, dan pada subyek yang keempat orang tua sering mengancam anak dan memaksa anaknya untuk melakukan kemauan orang tua, hal ini mengakibatkan bahwa anak menjadi anak yang penakut, pendiam, tetapi disiplin. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak terutama perkembangan emosi anak-anak. Hal ini disebabkan orang tua merupakan model bagi anak, serta pada masa anak-anak, mereka masih berada dalam fase meniru. Dan yang paling sering ditiru anak adalah orang tuanya. Adapun saran dari peneliti adalah Kepada orang tua hendaknya kita menjadi seseorang yang bisa menerima emosi-emosi anak Dan kita harus mengajari anak-anak kita bagaimana emosi yang baik dan bagaimana emosi yang harus kita kendalikan. Dengan begitu emosi-emosi anak kita dapat terbentuk dengan baik. Bagi sekolah PAUD hendaknya sekolah mempunyai program parenting agar orang tua bisa mengerti tentang perkembangan anak dan bagaimana cara mengembangkannya.Bagi Institusi terkait (Dinas Pendidikan), hendaknya memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada orang tua agar mengerti tentang pola asuh yang bermakna terhadap perkembangan anak. Bagi peneliti lanjutan, dari hasil yang diperoleh peneliti diharapkan untuk memperdalam lagi tentang makna pola asuh terhadap perkembangan-perkembangan yang lainnya. Serta memperlebar lagi daerah penelitian. Sehingga diperoleh data yang lebih sempurna.

Pengembangan modul pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi berbantuan video interaktif di SMP Islam Fatahillah kecamatan Singosari Kabupaten malang / Erna Winarti

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Video Interaktif. Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas VIII SMPI Fatahillah Singosari diperoleh beberapa temuan, yaitu materi program pengolah angka Microsoft Excel 2003 merupakan materi yang kompleks dan tidak mudah untuk dimengerti/dipahami siswa, ditambah permasalahan sarana pembelajaran mata pelajaran TIK di SMPI Fatahillah kurang memadai dengan jumlah siswa yang ada. Penyampaian materi cenderung diajarkan dengan metode klasikal, serta hanya menggunakan buku paket dan lembar kerja siswa (LKS) untuk bahan ajar. Hal ini lebih kepada aktivitas mengajar bukan proses belajar sehingga kurang bermakna bagi siswa, karena siswa kurang mendapatkan keterampilan sekaligus pemahaman konsep secara proporsional. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pengembang mencoba mengembangkan modul pembelajaran TIK berbantuan video interaktif sebagai usaha agar siswa mendapatkan keterampilan sekaligus pemahaman konsep secara proposional dan menjadikan pembelajaran TIK yang cenderung kepada aktivitas mengajar menjadi proses belajar di SMPI Fatahillah Singosari. Tujuan pengembangan ini untuk menghasilkan produk berupa Modul Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi Berbantuan Video Interaktif yang telah tervalidasi untuk Kelas VIII Semester 2 di SMPI Fatahillah Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Modul pembelajaran TIK berbantuan video interaktif dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan pembelajaran Courseware Development Process (CDP) yang terdiri dari 6 langkah, yaitu (1) analisis, (2) perancangan, (3) pengembangan, (4) evaluasi formatif, (5) implementasi, (6) evaluasi sumatif. Karena keterbatasan waktu pengembangan maka pengembang hanya melakukan pengembangan sampai langkah implementasi. Subjek uji coba dalam pengembangan ini adalah dua orang ahli media (pengkaji modul dan pengkaji video interaktif), satu orang ahli desain, satu orang ahli materi yaitu guru mata pelajaran TIK, dan siswa kelas VIII A SMPI Fatahillah Singosari yang terbagi menjadi kelompok perorangan sebanyak 2 siswa dan kelompok kecil sebanyak 20 siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa angket uji coba produk dan evaluasi formatif (pre test dan pos test) untuk siswa. Angket uji coba digunakan untuk mengetahui kevalidan produk pada kegiatan uji coba ahli media, ahli desain, ahli materi, dan siswa, angket yang digunakan berbentuk ceklist (√). Evaluasi formatif (pre test dan pos test) digunakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran, soal tes berbentuk pilihan ganda dengan jumlah soal sebanyak 10 butir. Jawaban benar diberi nilai 10 dan salah 0. Hasil validasi oleh ahli media modul diperoleh hasil sebesar 72,7%, ahli media video interaktif diperoleh hasil sebesar 97,6%, ahli desain diperoleh hasil sebesar 100%, ahli materi diperoleh hasil sebesar 81,7%, siswa dalam uji coba perorangan diperoleh hasil sebesar 61,6%, siswa dalam uji coba kelompok kecil diperoleh hasil sebesar 75,4%, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa modul pembelajaran TIK berbantuan video interaktif yang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid untuk digunakan sebagai bahan ajar TIK kelas VIII semester 2 di SMPI Fatahillah Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Kemudian dari tes hasil belajar baik pre test maupun post test menunjukkan persentase peningkatan hasil belajar pada uji coba perseorangan sebesar 25% dan uji coba kelompok kecil sebesar 28,1%, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa modul pembelajaran TIK berbantuan video interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan dapat membantu guru menyampaikan materi dalam proses pembelajaran TIK. Berdasarkan saran dari hasil validasi dilakukan revisi untuk menyempurnakan modul di antaranya memperbesar ukuran huruf judul pada cover modul, memberi nomor dan judul pada tabel-tabel dalam modul, mengganti warna pada peta konsep dengan kombinasi warna yang tepat, dan mengganti background tema agar sesuai dengan tema bahasan dalam video interaktif.

Pengembangan multimedia interaktif pembelajaran aksara Lampung berbasis pemrograman visual untuk kelas IV smester 2 SDN 1 Bratasena Adiwarna Tulang Bawang / Joko Singgih

 

Kata kunci: Multimedia Interaktif, Media Pembelajaran, Aksara Lampung Kehadiran teknologi multimedia bukan lagi menjadi barang mewah karena semakin lama harganya bias dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat untuk memiliki dan menikmatinya, sehingga sekolah sebagai lembaga pendidikan diharapkan mampu memiliki teknologi tersebut agar bias menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik,interaktif dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara maksimal dalam kemampuan kecakapan, kognitif, afektif,psikomotorik, emosional dan spiritual. Hal ini sangat memungkinkan, ketika ruang belajar diluar gedung sekolah,telah menghasilkan berbagai produk audio visual yang bernilai educative, mulai dari mata pelajaran yang disajikan dalam bentuk kuis ataupun dalam bentuk penceritaan dan berbagai permainan yang memukai (Ariyani dan Hryanto, 2010:33) Dalam pengembangan media Multimedia Interaktif ini pengembang berpedoman pada tujuanpembelajaran yang terdapat pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model pengembangan yang dilakukan oleh Sadiman, karena sesuai dengan tahap pengembangan media multimedia interaktif dan kemudahan dalam validasi (Evaluasi satu lawan satu, evaluasi kelompok kecil dan evaluasi lapangan). Berdasarkan hasil analisis data ahli siswa uji lapangan diperoleh hasil 97,4%, sehingga dapat diinterprestasikan bahwa multimedia interaktif pembelajaran aksara lampung kelas IV smester 2 yang dikembangkan termasuk dalan kriteria Valid untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Pengembang menyarankan agar multimediai teraktif pembelajran aksara lampung ini digunakan juga pada proses pembelajaran padasemua kelas, karena materi pelajaran dan contoh-contoh yang ada dalam multimedia interaktif pembelajaran aksara lampung ini dapat digunakan dalam memenuhi standar kompetensi pembelajaran pada semua kelas Untuk pengembang berikutnya agar menambah jumlah soal yang terdapat pada kuis, agar siswa dapat melakukan lebih banyak lagi latihan soal sehingga siswalebih memahami materi pelajaran.

Analisis isi buku teks ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas 4 SD Negeri se-kota Malang / Nana Rahayuningtyas

 

Kata kunci: Analisis, Buku teks, Ilmu Pengetahuan Sosial SD. Bahan ajar merupakan bahan pembelajaran yang digunakan untuk membantu siswa belajar. Bahan ajar yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis (Permendiknas no. 2 tahun 2008). Buku teks merupakan salah satu bahan ajar tertulis. Buku teks merupakan bagian yang penting dalam kegiatan belajar mengajar, terlebih lagi bagi guru yang tidak mampu atau tidak siap membuat bahan ajar sendiri berdasarkan Standar Kompetensi dalam kurikulum yang berlaku. Buku teks yang baik ialah buku teks yang isinya tidak lepas dari kurikulum karena buku teks memang mengacu pada kurikulum. Berdasarkan hasil observasi terhadap buku IPS kelas 4 karangan Tantya Hisnu P. dan Winardi pada pokok bahasan peta pada minggu ke-4 di bulan januari ditemukan terdapat indikator yang belum muncul dalam buku teks. Indikator tesebut yaitu mendeskripsikan jenis-jenis peta, maka ketika siswa membaca buku tersebut pengetahuan yang didapat siswa tidak menyeluruh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif dalam penelitian ini bermaksud untuk mengetahui prosentase kesesuaian indikator yang termuat dalam kurikulum dengan materi yang terdapat dalam buku teks. Peneliti ingin mengetahui kesesuaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang termuat dalam kurikulum dengan materi yang terdapat dalam buku teks. Setelah itu dilanjutkan dengan mengkaji tentang kesesuaian isi buku teks dilihat dari aspek kognitif yang meliputi adanya fakta, konsep, dan generalisasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 6 buku IPS kelas 4 Sekolah Dasar Negeri di kota Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah buku IPS kelas 4 Sekolah Dasar karangan Tantya Hisnu P. dan Winardi. Berdasarkan hasil analisis terhadap buku karangan Tantya Hisnu P dan Winardi diketahui kesesuaian cakupan yang terangkum dalam buku teks IPS SD kelas 4 karangan Tantya Hisnu P. dan Winardi berdasarkan aspek kognitif yang berupa fakta, konsep, dan generalisasi dapat dikatakan telah sesuai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis terdapat 64 fakta, 67 konsep, dan 35 generalisasi yang ingin dicapai. Dari data tersebut fakta yang telah muncul ada 45 atau 70,3%, konsep yang telah muncul ada 29 atau 43,3%, dan generalisasi yang telah muncul berjumlah 24 atau 68,6%. Dalam analisis selanjutnya diketahui ada kesesuaian isi buku teks IPS SD kelas 4 karangan Tantya Hisnu P. dan Winardi berdasarkan kurikulum dapat dikatakan telah sesuai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis dari Kompetensi Dasar 1.1 Sampai Kompetensi Dasar 2.4 terdapat 52 materi pokok yang ingin dicapai. Materi pokok yang belum muncul ada 15 atau 28,8% dan yang telah muncul berjumlah 37 materi pokok atau 71,2%. Saran dalam penelitian ini yaitu peneliti diharapkan lebih banyak belajar supaya wawasan yang diperoleh lebih luas sehingga dalam melakukan analisis terhadap bahan ajar khususnya buku teks dapat lebih luas cakupannya. Selain itu nantinya peneliti sebagai calon guru hendaknya dapat menyusun bahan ajar yang baik yang sesuai dengan kurikulum yang ada. Dan guru sebagai pengajar hendaknya lebih selektif dalam memilih bahan ajar khususnya buku teks yang sesuai dengan kurikulum yang ada dan juga disesuaikan dengan karakteristik peserta didik sehingga informasi yang terangkum dalam buku teks dapat dengan mudah dipahami oleh siswa sehingga membantu dalam belajar, serta peneliti menyarankan agar peneliti lain dapat melakukan penelitian yang sejenis namun cakupan analisisnya bisa lebih luas misalkan dari aspek bahasa dan media dalam buku teks.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |