Pengembangan media video pembelajaran keterampilan dasar mengajar matakuliah kemampuan dasar mengajar mahasiswa semester VI Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Mincewati Silalahi

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Video Pembelajaran, Keterampilan Dasar Mengajar . Media video Pembelajaran Kemampuan Dasar Mengajar adalah adalah rekaman gambar hidup atau gambar bergerak yang saling berurutan yang mengkaji karakteristik performansi guru dan kompetensi guru, ketrampilan dasar mengajar: ketrampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilam menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman penulis yang pernah mengikuti matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, mengalami kurangnya waktu untuk mengkaji keterampilan dasar mengajar secara visual dan mengembangkannya secara praktis. Media-media video pembelajaran yang pernah diproduksi di Jurusan Teknologi Pendidikan berisi materi delapan ketrampilan mengajar secara terpisah atau tidak integral. Tujuan pengembangan ini adalah : (1)Menghasilkan produk video pembelajaran matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar yang dapat dijadikan sebagai media dalam pencapaian tujuan perkuliahan yang titentukan. (2)Memvalidasi produk video pembelajaran yang dikembangkan. Video pembelajaran ini divalidasi oleh ahli media, ahli materi dan audiens. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi dan observasi kemampuan dasar mengajar mahasiswa. Adapun hasil uji coba yang telah dilakukan sebagai berikut : (1) ahli media didapatkan skor persentase sebesar 90,5%(2) ahli materi didapatkan skor persentase sebesar 97,5 % (3) Uji coba perseorangan didapatkan skor persentase sebesar 92,25% (4) Uji coba kelompok kecil didapatkan skor persentase sebesar 90,5 % (5) Uji coba lapangan didapatkan skor persentase sebesar 86,7% . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa video pembelajaran keterampilan dasar mengajar matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar termasuk kriteria valid. Media video pembelajaran ini mempunyai kelebihan yaitu, (1) dapat digunakan secara klasikal untuk pembelajaran di kelas maupun secara individual di luar kelas perkuliahan (2) tidak memerlukan waktu yang lama untuk mempelajari materi (3) background frame dan soundeffect bervariasi menambah motivasi mahasiswa untuk memperhatikan materi (4) di awal setiap segmen terdapat narasi dalam bentuk audio dan caption yang menjelaskan mengenai pengertian masing- masing keterampilan dasar mengajar (5) materi yang divisualisasikan adalah mata pelajaran Teknik Informasi untuk mendukung keterampilan mahasiswa jurusan Teknologi pendidikan untuk memenuhi prospek lapangan kerja yang membutuhkan guru-guru Teknik Informasi (6) terdapat narasi yang ditampilkan dalam bentuk audio dan caption yang menyebutkan komponen-komponen dan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menerapkan masing- masing keterampilan dasar mengajar. Sedangkan kelemahan dari media ini yaitu : (1) Materi yang divisualisasikan pemeran dalam video terbatas hanya materi guru TIK sekolah Dasar (2) harus ada komputer atau laptop untuk melihat tayangan dari media ini. Berdasarkan hasil pengembangan dan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media video pembelajaran keterampilan dasar mengajar matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran. Beberapa saran pemanfaatan media ini agar dapat digunakan secara maksimal untuk perkuliahan yaitu; (1) bagi dosen, pada saat dosen memanfaatkan media ini dalam proses perkuliahan perlu memperhatikan petunjuk pemanfaatan untuk mengoptimalkan proses perkuliahan (2)bagi mahasiswa, dalam penggunaan media ini saat melihat tayangan hendaknya disertai dengan membuka buku yang berkaitan dengan materi sehingga apa yang dilihat dapat disesuaikan dengan materi yang ada di buku. (3)bagi Pengembang Selanjutnya, pengembang selajutnya hendaknya lebih memperhatikan sumber materi supaya lebih banyak referensi sebagai pembanding untuk menghasilkan visualisai materi yang lebih bervariasi dalam video.

Penerapan model pembelajaran kooperatif student team achievement division (STAD) berdasarkan masalah untuk meningkatkan keaktifan belajar geografi siswa kelas VIIC SMPN 1 Gampengrejo-Kediri / Arini Octaviasari

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model STAD, keaktifan belajar siswa Hasil observasi pada tanggal 2 dan 5 Februari 2011 di kelas VIIC SMPN 1 Gampengrejo diketahui bahwa sebagian besar kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru, sedangkan siswa hanya duduk, mendengarkan, mencatat bahkan ada yang dalam keadaan mengantuk. Setelah penerapan metode belajar diskusi didapatkan data yaitu siswa yang aktif melakukan diskusi mencapai 39,6%, aktif berbagi tugas mencapai 21,6%, aktif bertanya 11,7%, dan aktif merespon guru mencapai 63,1% dari 37 siswa, frekuensi bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru hanya mencapai 1 sampai 2 kali saja, sedangkan kualitas pertanyaannya hanya mencapai tahap C1 sampai C2. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini direncanakan dalam beberapa siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tulis. Penelitian dilaksanakan di kelas VIIC SMPN 1 Gampengrejo dengan jumlah siswa 37 orang, pada materi Menganalisis Atmosfer dan Hidrosfer Serta Dampaknya Bagi Kehidupan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan keaktifan belajar individu dan keaktifan belajar kelompok kelas yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase keaktifan belajar individu sebesar 57,31% pada siklus I meningkat menjadi 76,69% pada siklus II. Sedangkan keaktifan belajar kelompok pada siklus I sebesar 52,64% meningkat menjadi 85,87% pada siklus II. Berdasarkan dari penelitian ini, beberapa saran yaitu: (1) guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD sebagai salah satu metode alternatif dalam kegiatan pembelajaran, (2) Sekolah disarankan agar menganjurkan kepada guru-guru untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD berdasarkan masalah ketika ditemukan permasalahan keaktifan belajar dalam pembelajaran, (3) bagi peneliti lanjut dapat melakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dalam pembelajaran Geografi pada materi Geografi fisik lain untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model integrated pada siswa kelas IV SDN Turi 2 Kota Blitar / Pipit Rochmawati

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pendidikan Kewarganegaraan, Model Integrated Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran PKn di SD Negeri Turi 2 Kota Blitar ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya 1) kesulitan siswa dalam memahami materi dan soal; 2) penggunaan model pembelajaran yang konvensional; 3) kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered); 4) kurangnya pemanfaatan lingkungan sekolah; 5) keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang sangat kurang, serta 6) nilai mata pelajaran PKn sebagian besar siswa dibawah Standar Kriteria Minimal (SKM) yang ditetapkan sekolah. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal mencapai 17.4% dan yang belum tuntas mencapai 82.6%. Berdasar hasil wawancara dengan guru dan beberapa siswa ditemukan beberapa permasalahan yaitu kesulitan guru dalam meningkatkan motifasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dan kesulitan siswa dalam memahami soal. Kegiatan penelitian ini bertujuan (1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran model integrated pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bagi siswa kelas IV SDN Turi 2 Kota Blitar, (2) untuk menjelaskan peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui model integrated bagi siswa kelas IV SDN Turi 2 Kota Blitar. Kegiatan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan (action research), yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam kegiatan ini, peneliti berperan sebagai observer, guru, penanggungjawab penuh penelitian, pengumpul dan penganalisis data, dan penyusunan laporan penelitian. Analisis data penelitian dilakukan menggunakan analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil observasi pratindakan pembelajaran PKn, ketuntasan belajar siswa mencapai 17.4% dan siswa belum tuntas mencapai 82.6%. Hasil ini menunjukkan belum tercapainya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan sekolah yaitu 7.00. Secara klasikal ketuntasan belajar siswa siklus I pertemuan 1 mencapai 39.13%, pertemuan 2 mencapai 47.82%, dan pertemuan 3 mencapai 82.61%. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa pertemuan 1 mencapai 73.91%, pertemuan 2 mencapai 78.26%, dan pertemuan 3 mencapai 82.60%. Dengan menerapkan pembelajaran terpadu model Integrated dalam pembelajaran PKn, secara bertahap siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, dengan menerapkan pembelajaran terpadu model Integrated dalam pembelajaran PKn, hasil belajar siswa dapat meningkat dan mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah.

Penerapan model pembelajaran kooperatif make a match untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas VIII-A SMP Negeri 2 Diwek Jombang / Ayu Rahmaningtias

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, Model Make A Match, Hasil belajar Berdasarkan hasil observasi di kelas VIII-A SMP Negeri 2 Diwek Jombang diketahui bahwa nilai siswa untuk mata pelajaran IPS masih banyak yang berada di bawah standar ketuntasan belajar minimal (SKBM). Standar ketuntasan belajar minimal untuk mata pelajaran IPS adalah 68. Sejumlah 23 siswa mendapat nilai di bawah SKBM pada ulangan harian Standar Kompetensi Memahami Permasalahan Sosial Berkaitan dengan Pertumbuhan Jumlah Penduduk. Ketuntasan belajar secara klasikal juga belum terpenuhi karena hanya 41% siswa dalam kelas yang tuntas dari 80% yang disyaratkan. Dari hasil observasi juga diketahui bahwa sebagian besar kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru sedangkan siswa hanya duduk, mendengarkan, mencatat bahkan ada sebagian siswa yang diam dengan keadaan mengantuk. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembelajaran kooperatif make a match dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 2 Diwek Jombang semester genap tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di kelas VIII-A SMP Negeri 2 Diwek Jombang dengan jumlah siswa 39 orang, pada Standar Kompetensi: Memahami pranata dan penyimpangan sosial. Hasil belajar siswa diperoleh dari skor pra tindakan, setelah Siklus 1, dan setelah siklus 2 serta ketuntasan belajar klasikal pada masing-masing siklus. Data ini kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes dan format catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas VIII-A SMP Negeri 2 Diwek Jombang. Rata-rata nilai sebelum tindakan adalah 66,9 mengalami peningkatan pada Siklus 1 menjadi 73,2 dan meningkat lagi pada Siklus 2 menjadi 83,7. Ketuntasan belajar klasikal sebelum tindakan adalah sebesar 41,0%, meningkat pada Siklus 1 menjadi 61,5 %, dan meningkat lagi pada Siklus 2 menjadi 89,7 %. Model make a match yang efektif meningkatkan hasil belajar adalah model pada siklus 2.

Pembiayaan program pendidikan nonformal (studi kasus oada pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Tambo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang) / Imanusrin Busyairi Muslim

 

Kata kunci: Pembiayaan, Program Pendidikan Masyarakat, PKBM Manajemen Lembaga Nonformal merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan sebuah Lembaga Nonformal. Sedangkan, pembiayaan merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen yang turut menentukan keberlangsungan lembaga maupun program. Adapun Program Pendidikan Masyarakat adalah program yang dilaksanakan berdasarkan identifikasi potensi lokal. Program ini diselenggarakan untuk memberikan peningkatan kualitas masyarakat dari yang belum berdaya menjadi berdaya, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak mampu menjadi mampu, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan pembiayaan program pendidikan masyarakat yang diselenggarakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Penelitian ini dilaksanakan di PKBM Tambo Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang pada tanggal 2 Juli sampai dengan 25 November 2010. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Sumber data berasal dari Program Pendidikan Masyarakat yang diselenggarakan pada tahun 2010, yakni Program Kursus Wirausaha Desa (KWD) dan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Subyek penelitian adalah pengurus PKBM Tambo, Tutor Program dan Warga Belajar. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah wawancara dan studi dokumentasi. Deskripsi analisis hasil penelitian dengan cara reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat ditemukan bahwa : (1) Sumber Pembiayaan bagi Program Kursus Wirausaha Desa (KWD) yang diselenggarakan PKBM Tambo adalah BPPNFI Regional IV Surabaya. Sedangkan, Program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) bersumber dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PNFI Kementrian Pendidikan Nasional ; (2) Strategi penjaringan calon pendonor program yang diterapkan oleh PKBM Tambo melalui beberapa tahap, yaitu : (a) menghimpun informasi mengenai program dari Calon Lembaga Pendonor, (b) pengidentifikasian potensi lokal, (c) merumuskan proposal program, (d) meminta rekomendasi dari pemerintah daerah setempat untuk legalisasi proposal, (e) diserahkan dan dikomunikasikan secara jelas mengenai teknis penyelenggaran program tersebut kepada Lembaga Calon Pendonor, (f) Seleksi tahap administrasi, (g) tahap visitasi oleh lembaga calon pendonor program, (h). Pengumuman penerima BOP dari Lembaga Pendonor Program ; (4) Rincian Penggunaan Dana Program KWD (a) 50 % untuk Biaya Operasional, meliputi untuk rekrutmen peserta didik, honorarium pengelola dan pendidik, bahan dan peralatan praktek, biaya evaluasi hasil belajar, laporan, bahan habis pakai termasuk ATK, dan biaya operasional tidak langsung seperti biaya daya dan jasa, pemeliharaan peralatan serta biaya operasional lainnya yang menunjang proses pembelajaran ; (b) 40 % untuk Biaya Personal, dipergunakan untuk kepentingan peserta didik, misalnya: dana stimulant wirausaha ; dan (c) 10 % untuk Biaya Manajemen, dipergunakan untuk keperluan manajemen penyelenggaraan program, misalnya: penyusunan proposal, biaya rapat-rapat, dan biaya-biaya lain yang menunjang kelancaran penyelenggaraan program. Sedangkan Rincian Penggunaan Dana Program KUM meliputi (a) 5 % untuk Identifikasi Calon WB, (b) 7 % untuk ATK WB dan penyelenggaraan, (c) 35 % Pembelajaran dan Pelatihan Keterampilan, (d) 10 % untuk Penyelenggaraan Program, (e) 40 % untuk tranport Tutor atau pelatih keterampilan, dan (f) 3 % untuk penilaian pembelajaran pelatihan keterampilan ; (5) PKBM Tambo menerapkan dua sistem Administrasi Laporan Keuangan, antara lain : (a) Administrasi Laporan Keuangan Pembelian Jasa, meliputi honorarium, identifikasi warga belajar, transport, dan lain sebagainya ; dan (b) Administrasi Laporan Keuangan Pembelian Barang, meliputi ATK, penyusunan proposal, penyusunan laporan, sertifikat dan lain sebagainya. Untuk pelaporan kepada Lembaga Mitra, PKBM Tambo selalu mematuhi segala prosedur yang ditentukan oleh Lembaga Mitra ; dan (6) Efektivitas Pembiayaan Program Pendidikan PKBM Tambo sudah baik, karena memenuhi Indikator Keberhasilan Program yang ditentukan oleh Lembaga Mitra. Pembiayaan Program Pendidikan PKBM Tambo sudah efektif bila dikaji dari aspek efektivitas. Efisiensi Internal (Analisis Keefektivitasan Biaya/Cost Effectiveness Analysis) dan Efisiensi Eksternal (Analisis Biaya Manfaat/Cost Benefit Analysis). Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat dijadikan masukan, antara lain : (1) bagi PKBM Tambo untuk tetap menjaga kinerjanya dalam mempertahankan eksistensi lembaga melalui program-program yang diselenggarakan tanpa melupakan efektivitas dan efisiensi dari program-program tersebut, (2) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah berorientasi meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang manajemen lembaga non formal, (3) Bagi Warga Belajar untuk meningkatkan hasil pembelajaran agar terjaga kualitasnya, (4) Bagi Pemerintah dan Lembaga Mitra untuk tetap mendukung berbagai satuan pendidikan dalam memberdayakan masyarakat.

Pengaruh perilaku merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok / Dwita Ayuningtyas

 

Kata kunci: perilaku merokok, memori jangka panjang, perokok Banyak perokok mengatakan mereka tidak dapat berfikir kalau tidak sambil merokok. Ingatan yang kacau tiba-tiba menjadi cerah ketika mereka mulai menghisap rokok. Padahal secara biofisiologi, kadar nikotin yang ada di dalam darah akan mengurangi catu oksigen ke otak, yang berarti kinerja otak akan terganggu, bukan sebaliknya kinerja otak menjadi lebih lancar. Penelitian ini akan mencoba membuktikan pengaruh merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Pretest-Posttest Control Group Design. Desain ini melakukan pengukuran sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) pemberian treatment. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pemberian tes. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah naskah cerita, lembar soal, blangko (lembar jawaban), dan rokok. Subjek penelitian diminta menjawab soal berdasarkan cerita, dimana nantinya subjek penelitian akan dilihat skor ingatannya melalui tes materi tersebut. Setelah skor ingatan didapat, maka selanjutnya dilakukan proses analsis data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh perilaku merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok, yaitu ingatan perokok ketika di tes sambil merokok lebih rendah dibandingkan dengan ingatan tanpa merokok. Kedua, ada perbedaan antara ingatan jangka panjang pada perokok dan non-perokok, yaitu ingatan pada perokok lebih rendah dibandingkan ingatan non-perokok. Ketiga, ada hubungan antara lamanya menjadi perokok (dalam tahun) dengan ingatan jangka panjang pada perokok, dimana terjadi korelasi yang negative antara keduanya yaitu semkain lama seseorang menjadi perokok maka semakin rendah ingatannya. Keempat, ada hubungan antara jumlah rata-rata merokok perhari (dalam batang) dengan ingatan jangka panjang, dimana terjadi korelasi yang negative juga diantara keduanya, yaitu semakin banyak jumlah rata-rata merokok perhari (dalam batang) maka semakin rendah ingatannya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka sarannya sebagai berikut: (1) bagi para perokok, diharapkan untuk berhenti merokok, karena efek negatif yang dimunculkan oleh rokok secara perlahan dapat sangat membahayakan diri dan orang-orang disekitarnya, (2) bagi para orang tua, diharapkan dapat membantu dan mengambil peran dalam proses sosialisasi anak dengan lingkungan, terutama ketika anak menginjak masa remaja karena kebanyakan pada masa inilah seorang anak mulai mengenal rokok dari pergaulannya. Orang tua sebagai publik figure juga harus memberi contoh tidak merokok dan menjaga supaya anak-anaknya tidak merokok, (3) bagi masyarakat, diharapkan dapat ikut berpartisipasi membantu pemerintah dalam rangka menertibkan perokok yang merokok di tempat-tempat yang tidak semestinya , misalnya di Rumah Sakit, lingkungan kantor pemerintahan, atau tempat umum lainnya yang dapat mengganggu orang di sekitarnya dengan lebih menggalakkan kampanye anti merokok, (4) bagi peneliti selanjutnya, diharapkan informasi-informasi yang ditanyakan dalam tes materi penelitian ini dibuat lebih jelas dan spesifik, agar tidak terjadi perbedaan persepsi diantara subjek penelitian, (5) bagi peneliti selanjutnya, sebelum penelitian diadakan peneliti tidak melakukan pengukuran IQ terhadap subjek penelitian karena keterbatasan waktu sehingga diharapkan peneliti selanjutnya melakukan pengukuran tingkat IQ subjek penelitian, dan mengambil subjek berdasarkan tingkatan IQ yang sama, sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih baik, (6) bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini hanya menggunakan 30 orang untuk kelompok eksperimen, dan 30 orang untuk kelompok kontrol, dimana jumlah ini dirasa masih kurang untuk penelitian semacam ini, sehingga akan jauh lebih baik jika jumlah subjek yang dipakai dalam penelitian selanjutnya ditambah.

Modul IC TTL checker berbasis mikrokontroler / Aji Setyo Retnawan

 

Kata kunci: Mikrokontroler, IC TTL, Tester. Kampus maupun sekolah merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menuntut ilmu. Dijurusan teknik, khususnya teknik elektronika, mahasiswa maupun siswa pasti akan belajar elektronika digital. Pastinya akan digunakan IC TTL (Integrated Circuit Transistor Transistor Logic) untuk praktikum. Ketika praktikum pastinya dibutuhkan komponen yang baik, sehingga proses praktikum akan berjalan secara lancar. Kondisi IC TTL dapat diketahui dengan cara pengecekkan. Untuk melakukan pengecekkan IC TTL masih sangat kesulitan jika dilakukan oleh pemula. Menyebabkan proses belajar elektronika digital menjadi terhambat. Untuk itu dibutuhkan alat yang dapat memastikan kondisi dari sebuah IC TTL, yaitu sebuah modul tester IC TTL. Tujuan pembuatan Tugas Akhir, untuk menciptakan modul tester ic digital berbasis mikrokontroler. Tujuannya untuk menggantikan tester ic digital yang sudah ada, tester ic digital yang hanya dapat mengecek satu buah tipe ic digital saja untuk satu buah tester. Sehingga dengan adanya alat ini membantu mahasiswa maupun siswa agar lebih efektif dan efisien dalam melakukan kegiatan praktikum elektronika digital. Metode perancangan meliputi: (1) perancangan perangkat keras (hardware) meliputi rangkaian soket ic digital, rangkaian keypad, rangkaian LCD, dan rangkaian minimum sistem Atmega 32, (2) perancangan perangkat lunak (software), (3) perancangan box. Hasil yang didapat adalah mengetahui kondisi setiap gerbang dari ic digital untuk jenis AND, OR, NOT, NOR, NAND, EXOR, dan EXNOR. Dan juga mengetahui kondisi dari ic digital jenis counter, baik counter up maupun counter up/down. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir adalah (1) perancangan modul tester ic digital agar dapat bekerja secara efektif dan efisien adalah (a) menentukan sistem kerja alat yang akan dibuat, (b) menentukan tipe IC yang diuji (c) mengetahui karakteristik IC yang akan diuji, (d) menentukan blok diagram alat (e) menghasilkan skema rangkaian tester ic digital. (2) dalam pembuatan modul tester ic digital agar dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan adalah (a) menentukan komponen yang akan dipakai, (b) membuat skema rangkaian, (c) membuat layout PCB (Printed Circuit Board), (d) membuat PCB (e) melakukan pengeboran PCB dan (f) penyolderan komponen (3) pengujian tester ic digital berbasis mikrokontroler dilakukan berdasarkan perbandingan antara hasil perhitungan teori dan pengukuran. Pengujian awal yang dilakukan yaitu (a) menguji perbagian atau perblok, (b) melakukan pengujian secara keseluruhan. Hasil perbandingan menunjukkan sistem yang telah dibuat dapat bekerja dan hasilnya mendekati kesamaan antara teori dengan pengukuran.

Studi pelaksanaan dan analisis biaya untuk pekerjaan kolom pada proyek pembangunan laboratorium kimia Politeknik Negeri Malang / Mochammad Roni Firdaus

 

Kata kunci: studi, pelaksanaan, analisis, biaya, dan kolom. Bangunan memegang peranan penting dalam kehidupan. Permasalahannya adalah bagaimana cara mendirikan suatu bangunan dengan prosedur yang benar. Kolom merupakan komponen struktrur bangunan yang berfungsi untuk menyangga beban momen. Dalam pelaksanaanya, kolom harus tepat vertikal dan sentris, ujung bagian atas kolom dihubungkan dengan balok dan bagian bawahnya dihubungkan dengan sloof. Fungsi dari kolom adalah untuk meneruskan beban dari struktur atas ke struktur yang ada dibawahnya. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode pelaksanaan kolom, tahapan-tahapan pekerjaan kolom, beserta perbedaan biaya yang terjadi pada laporan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan biaya menurut kajian teori SNI 2008. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan beton pada umunnya dan pada khususnya pekerjaan kolom bertulang Pada Proyek Pembangunan Laboratorium Kimia Politeknik Negeri Malang. Metode pengumpulan data yaitu dokumentasi dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil studi pelaksanaan kolom adalah sebagai berikut. Tahapan pekerjaan kolom dimulai dari pekerjaan pekerjaan penulangan, bekisting, pengecoran, pembongkaran bekisting dan perawatan beton umumnya telah sesuai dengan teori. Namun terjadi ketidaksesuaian pelaksanaan kolom beton bertulang dari segi pelaksanaan. Dimisalkan pada pelaksanaaan pembengkokan tulangan D10 s/d D19 hanya 4d dan pelaksanaan pengecoran penuangannya langsung ± 3 meter. Untuk analisa biaya terdapat selisih antara yang ada pada Rencana Anggaran Biaya yang berdasarkan Kontraktor dengan Analisa Biaya menurut kajian teori SK SNI 2008. Berdasarkan studi ini dapat disarankan dalam pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok beton bertulang agar dilakukan pengawasan yang lebih teliti, begitu juga dengan penggunaan biayanya, sehingga pelaksanaan proyek dapat mencapai kualitas beton yang baik dengan biaya yang efisien.

Kontrol publik terhadap kinerja aparatur pemerintahan desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Tri Hartati

 

Kata Kunci: Kontrol Publik, Kinerja, Aparatur Pemerintah Desa, Pelayanan Umum Aparatur Pemerintah Desa merupakan unsur yang harus ada dalam penyelenggara pemerintahan di desa yang meliputi Kepala Desa dan Perangkat Desa (Sekretaris Desa, Kepala Urusan dan Kepala Dusun). Salah satu tugas Aparatur Pemerintah Desa adalah memberikan pelayanan umum khususnya dalam bidang administrasi seperti : pelayanan Buku Kartu Tanda Penduduk, Buku Kartu Keluarga, dan sebagainya. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum diperlukan suatu kontrol oleh publik (masyarakat). Kontrol publik merupakan pengawasan yang dilakukan oleh warga masyarakat baik tertulis maupun lisan yang bersifat membangun yang berupa saran, gagasan ataupun keluhan agar tidak terjadi penyelewengan-penyelewengan oleh pemerintah. Sehingga dengan adanya kontrol publik ini diharapkan dapat terwujud hubungan yang baik antara warga dan Aparatur Pemerintah Desanya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu tugas dan fungsi pokok Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling, persepsi masyarakat terhadap kinerja Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling dan mekanisme kontrol publik terhadap kinerja Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling. Penelitian ini menggunakan menggunakan pendekatan gabungan kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan gabungan pendekatan penelitian dilakukan dengan memadukan prosedur pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan. Pendekatan gabungan ini digunakan untuk menguji berbagai pendekatan pengumpulan data dalam suatu studi, kemudian pendekatan ini disosialisasikan dengan menggabungkan metode lapangan seperti observasi dan wawancara (data kualitatif) dengan survei dan kuesioner (data kuantitatif). Sedangkan untuk analisis data menggunakan analisis data kualitatif yang tidak menutup diri peneliti terhadap kemungkinan penggunaan data kuantitatif, karena data ini sebenarnya bermanfaat bagi pengembangan analisis data kualitatif itu sendiri. Lokasi penelitian ini di Desa Nguling Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Data penelitian berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan informan kunci seperti Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Urusan, BPD, tokoh masyarakat dan masyarakat di Desa Nguling. Hasil penelitian menunjukkan: (1) tugas pokok Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum adalah untuk menyediakan pelayanan umum yang dibutuhkan masyarakat. Sedangkan fungsi pokok Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum, yaitu untuk melayani, membimbing, dan memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya pada pelayanan umum, (2) Persepsi masyarakat terhadap kinerja Aparatur Pemerintah Desa di Desa Nguling masyarakat mengatakan baik karena prosentase sebesar 71, 74%, sisanya 28, 26 responden mengatakan bahwa kinerja Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling adalah kurang baik. Dari hasil prosentase yang telah diperoleh maka secara umum dapat disimpulkan bahwa kinerja Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling sudah baik; (3) Mekanisme kontrol publik terhadap kinerja Aparatur Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan umum di Desa Nguling dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Mekanisme kontrol publik secara langsung dilakukan dengan cara penyampaian pendapat, saran dan kritik kepada Aparatur Pemerintah Desa langsung disampaikan kepada Aparatur Pemerintah Desa dengan langsung datang ke Kantor Kepala Desa, kerumah Aparatur Pemerintah Desa. Sementara kontrol publik secara tidak langsung masyarakat memanfaatkan BPD (Badan Permusyawaratan Desa) sebagai penyalur pendapat, saran dan kritik dari masyarakat. Masyarakat menyampaikan pendapat, saran dan kritik yang ditujukan kepada Aparatur Pemerintah Desa melalui BPD.

Pola penyelesaian konflik tanah blangguan antara Korps Marinir Baluran dan warga masyarakat Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo / Lailatul Jamila

 

Kata Kunci: Pola Penyelesaian Konflik, Konflik Tanah, Korps Marinir. Konflik tanah Blangguan adalah konflik tanah yang terjadi antara Korps Marinir Baluran dan warga masyarakat Blangguan untuk mendapatkan tanah di dusun Blangguan. Realitas konflik tanah Blangguan terjadi dari zaman orde baru dan sampai pada era reformasi. Konflik ini terjadi dalam waktu kurun waktu yang cukup lama. Apabila konflik tanah Blangguan tidak diselesaikan dengan segera akan menambah potensi konflik yang berkepanjangan sehingga berdampak masyarakat menjadi kacau-balau. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, (1) faktor penyebab tejadinya konflik tanah Blangguan antara Korps Marinir Baluran dan Warga Masyarakat Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo, (2) pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tanah Blangguan, (3) kronologi konflik tanah Blangguan antara Korps Marinir Baluran dan Warga Masyarakat Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo dan (4) cara penyelesaian konflik tanah Blangguan antara Korps Marinir Baluran dan Warga Masyarakat Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo. Penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Data penelitian dikumpulkan dari hasil observasi peneliti di desa Sumberwaru kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo, hasil wawancara dengan para informan dan temuan peneliti di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap sumber tertulis dan foto yang ada dilokasi penelitian. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri, untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi data, tahap penyajian data, tahap dan tahap mengambil kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut: Pertama, Faktor penyebab konflik tanah Blangguan yaitu; (1) adanya perbedaan persepsi antara Korps Marinir Baluran dan warga masyarakat Blangguan mengenai kepemilikan tanah Blangguan di daerah Timur bukit; (2) pembebasan tanah Blangguan oleh Korps Marinir Baluran; (3) warga Blangguan mengajukan SHM atas tanah di barat bukit yang diberikan oleh Marinir; (4) penutupan akses jalan menuju dusun Blangguan sebagai dampak dilakukannya tukar guling tanah Blangguan dan tanah Kopian. Kedua, pihak-pihak yang terlibat konflik tanah Blangguan adalah Korps Marinir Baluran dan warga masyarakat desa Sumberwaru khususnya dusun Blangguan. Masing-masing pihak bersikeras dengan pendirian dan persepsi mereka berkaitan dengan tanah Blangguan. Ketiga, Konflik tanah Blangguan berawal dari pembebasan tanah Blangguan di timur bukit yang dilakukan oleh Korps Marinir Baluran dan masyarakat mendapat tanah pengganti di daerah Kopian. Akan tetapi, warga masyarakat Blangguan tidak mau pindah ke daerah Kopian, sehingga Korps Marinir Baluran memberikan tanah Blangguan di Barat bukit untuk ditempati warga. Pada tahun 2003, Bapak Juhato atas nama warga Blangguan mengajukan permohonan SHM atas tanah di Barat bukit yang mereka tempati ke pihak Desa Sumberwaru. Kemudian dibuat kesepakatan untuk melakukan tukar guling antara tanah Blangguan dengan tanah Kopian. Setelah dilakukan tukar guling tanah tersebut, pihak Korps Marinir Baluran melakukan penutupan akses jalan menuju Blangguan yang mengakibatkan warga Blangguan mengalami kesulitan untuk masuk dan keluar Blangguan terutama untuk kendaraan roda empat. Keempat, Konflik tanah Blangguan diselesaikan dengan beberapa cara, yaitu: (1) pembebasan tanah Blangguan di Timur bukit sebagai solusi perbedaan persepsi antara warga Blangguan dan Korps Marinir Baluran mengenai kepemilikan tanah; (2) pemberian tanah pengganti untuk ditempati masyarakat Blangguan di daerah Barat bukit sebagai solusi pembebasan tanah yang dilakukan oleh Korps Marinir Baluran; (3) tukar guling antara tanah Blangguan dengan tanah Kopian sebagai syarat penerbitan SHM tanah Blangguan Barat; (4) pembuatan kesepakatan antara Korps Marinir Baluran dan warga masyarakat Blangguan sebagai solusi penutupan akses jalan menuju Blangguan oleh Korps Marinir Baluran. Mengamati dan memperhatikan hasil penelitian tentang Pola Penyelesaian Konflik Tanah Blangguan antara Korps Marinir Baluran dan Warga Masyarakat Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo, maka diajukan beberapa saran, yaitu: (1) agar dapat membantu untuk memecahkan konflik yang terjadi di masyarakat dan bisa mencegah adanya kekerasan selama konflik itu terjadi, pemerintah desa seyogyanya mempelajari konflik yang terjadi di masyarakat; (2) agar penyelesaian konflik bisa menguntungkan bagi kedua belah pihak dan konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah tanpa ada kekerasan, warga Blangguan sebaiknya lebih peduli dengan hal-hal yang dapat menyebabkan konflik; (3) agar tidak terjadi kesalahpahaman antara warga dan Korps Marinir Baluran yang dapat menyebabkan konflik, pihak Korps Marinir seyogyanya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada warga jika akan mengammbil suatu keputusan yang berkaitan dengan warga; (4) agar warga Blangguan paham tentang status tanah yang ditempatinya seyogyanya BPN memberikan sosialisasi tentang tanah Blangguan sehingga warga Blangguan tidak menuntut tanah yang bukan haknya.

Kebijakan asimilasi pada Orde Baru (studi kasus: akulturasi budaya Cina-Jawa di Pesarean Gunung Kawi Malang 1967-1998) / Kolipah

 

Kata Kunci : Kebijakan Asimilasi, akulturasi budaya, Pesarean Gunung Kawi Malang Penulis mengangkat skripsi mengenai Kebijakan Asimilasi Pada Masa Orde Baru ( Studi Kasus : Akulturasi Budaya Cina-Jawa di Pesarean Gunung Kawi Malang 1967-1998) dikarenakan pada masa pemerintahan Orde Baru, Pemerintah tengah mengefektifkan kebijakan asimilasi masyarakat Tionghoa untuk menjadi Indonesia sepenuhnya, sehingga lepas dari identitas aslinya sebagai orang Tionghoa. Disisi lain, fenomena di Pesarean Gunung Kawi Malang telah membuka mata kita, bahwa dengan saling berinteraksi dan berakulturasi, dapat menciptakan budaya yang khas di tempat tersebut. Skripsi ini membahas tiga permasalahan, yaitu : (1) Bagaimana kondisi umum Pesarean Gunung Kawi Malang (2) Bagaimana implementasi pelaksanaan Kebijakan Asimilasi di wilayah Pesarean Gunung Kawi, (3) Bagaimana akulturasi budaya Cina-Jawa di Pesarean Gunung Kawi Malang. Penelitian ini bertujuan : (1) Untuk mengetahui kondisi umum Pesarean Gunung Kawi Malang (2) Untuk mengetahui implementasi pelaksanaan Kebijakan asimilasi di wilayah Pesarean Gunung Kawi, (3) Untuk mengetahui akulturasi budaya Cina-Jawa di Pesarean Gunung Kawi Malang. Penelitian ini merupakan penelitian historis yang meliputi proses pemilihan topik, pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan lingkup spasial Pesarean Gunung Kawi Malang dan lingkup temporal antara tahun 1967-1998. Data-data yang digunakan berupa arsip tentang Kebijakan Asimilasi Orde Baru, wawancara dengan beberapa nara sumber dan buku-buku yang membahas mengenai Kebijakan Asimilasi dan konflik dengan Tionghoa. Hasil penelitian ini mendeskripsikan tentang (1) Kondisi umum Pesarean Gunung Kawi Malang yang menyebabkan banyaknya orang Tionghoa berkunjung ke sana (2) Implementasi Kebijakan Asimilasi di Pesarean Gunung Kawi Malang tidak berjalan seperti yang diharapkan, malah yang terjadi sebaliknya, orang Tionghoa dan penduduk setempat saling berinteraksi, saling bekerja sama dan berakulturasi sehingga menciptakan budaya yang khas dan identitas orang Tionghoa tetap bertahan. (3) Akulturasi yang terjadi di Pesarean Gunung Kawi mampu menciptakan integrasi dalam masyarakat. Hal ini turut menjadikan Pesarean Gunung Kawi Malang menjadi salah satu tujuan wisata religi. Berdasarkan penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan yang baik dan akulturasi juga mampu menciptakan integrasi dalam masyarakat tanpa harus menghilangkan identitas dari salah satu etnis seperti yang diharapkan dalam kebijakan asimilasi yang dikeluarkan pemerintahan Orde Baru. Fenomena yang terjadi di Pesarean Gunung Kawi Malang patut dijadikan salah satu contoh yang paling nyata. Saran yang bisa diberikan adalah Pemerintah Daerah lebih memperhatikan potensi Pesarean Gunung Kawi Malang yang bisa memperkaya budaya bangsa. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan bisa memperdalam beberapa pokok permasalahan yang belum dijelaskan lebih rinci mengenai Pesarean Gunung Kawi Malang dan Kebijakan Asimilasi.

Monitoring pelanggar lalu lintas di traffic light berbasis PLC dilengkapi dengan CCTV (closed circuit television) dan alarm / Navil Yasjudan

 

Kata Kunci: Traffic Light, Cctv,Alarm, PLC. Lampu lalu lintas atau traffic light sering kita jumpai di jalan raya yang padat lalu lintasnya, pada umumnya setiap persimpangan jalan diberi traffic light untuk mengatur kendaraan yang melewati persimpangan jalan, baik persimpangan tiga maupun persimpangan empat). Pembuatan sistem monitoring pelanggar lalu lintas di traffic light berbasis PLC dilengkapi dengan CCTV (Closed Circuit Television) dan alarm yang bisa mendeteksi pelanggar lalu lintas khususnya di traffic light dengan cara membunyikan alarm yang ada dipos polisi sehingga polisi dapat langsung melihat dan mengejar langsung para pelanggar traffic light tersebut, sehingga pelanggaran yang terjadi di traffic light dapat diminimalkan Pada saat kondisi ON maka komputer juga akan dinyalakan sehingga cctv juga akan menyala sehingga akan merekam semua kejadian yang ada pada traffc light, kemudian hasil dari perkaman itu akan disimpan dalam PC untuk dijadikan barang bukti jika terjadi pelanggran yang terjadi pada traffic light. sensor akan aktif pada saat lampu merah ON. Sensor infra red akan berlogika 0 (mati) pada saat sinar pancaran dari led infra red ditangkap oleh photodiode. Sensor infra red akan berlogika 1 (hidup) pada saat sinar pancaran dari led infra red terhalang oleh kendaraan sehingga photodiode tidak berhasil menangkap sinar dari led infra red. Pada saat sensor infra red yang berada pada garis batas zebra croos mempunyai logika 1(hidup), maka sistem akan membunyikan alarm. Semua kontak PLC jika tidak diberi tegangan 24 VDC maka output tidak akan mengeluarkan 220 VAC, maupun 24 VDC, Jika kontak 002 aktif dengan tegangan 24 VDC, maka akan memberikan tegangan output 24VDC pada lampu indictor ON, 220 VAC pada lampu merah perempatan 1-3 dan lampu hijau 2-4, Jika kontak 000 aktif dengan tegangan 24 VDC, maka akan memberikan tegangan output 24 VDC pada sirine, Jika kontak 001 aktif dengan tegangan 24 VDC, maka akan memberikan tegangan output 24 VDC pada sirine, Jika kontak 003 aktif dengan tegangan 24 VDC, maka akan memberikan tegangan output 24VDC pada lampu indikator OFF.Dalam tampilan cctv di monitor camera cctv yang menyala hanya 2 dari 4 kamera yang dipakai tetapi bisa dinyalakan secara bergantian.

Peranan Bung Tomo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya tahun 1945 / Agung Ari Widodo

 

Kata Kunci: Bung Tomo, Kemerdekaan Indonesia, Surabaya Bung Tomo merupakan salah satu tokoh dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pasca Proklamasi Kemerdekaan Bung Tomo berhasil mengajak rakyat Surabaya untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan pasukan Sekutu dan NICA. Kedekatan dengan rakyat inilah yang membuat Bung Tomo populer. Bung Tomo mempunyai cara yang berbeda dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya Ulasan tentang peranan Bung Tomo masih sedikit, oleh karena itulah penulis mengangkat judul Peranan Bung Tomo Dalam Mempertahankan Kemerdekaan di Surabaya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana riwayat hidup Bung Tomo, (2) bagaimana situasi politik kota Surabaya pasca Proklamasi Kemerdekaan, dan (3) bagaimana peranan Bung Tomo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya pada tahun 1945. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan riwayat hidup Bung Tomo, (2) mendeskripsikan situasi politik kota Surabaya pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan (3) mendeskripsikan peranan Bung Tomo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Surabaya pada tahun 1945. i Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang antara lain meliputi pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah Bung Tomo lahir dalam lingkungan kampung Surabaya, tepatnya di daerah Blauran. Akibat depresi ekonomi pada tahun 1930-an, keluarga Bung Tomo harus berjuang hidup dibawah tekanan. Bung Tomo sendiri ikut bekerja membantu orang tuanya. Jiwa kebangsaan Bung Tomo terasah ketika ikut dalam KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Prestasi terbaik Bung Tomo dalam KBI adalah memperoleh lencana elang. Prestasi ini membuat Bung Tomo menjadi terkenal di kampungnya. Ditambah lagi Bung Tomo mempunyai kemampuan dalam hal tulis-menulis yang mengantarkannya menjadi wartawan Domei. Daya tarik inilah yang membuat PRI (Pemuda Republik Indonesia) merekrut Bung Tomo dan menempatkannya dalam seksi penerangan. Berita Proklamasi Kemerdekaan pertama kali diketahui oleh Bung Tomo, Yacob, dan R. Sumadi. Bung Tomo kemudian membuat pengumuman yang ditempel di depan kantor berita Domei dan bisa dibaca oleh rakyat. Pasca menerima berita Proklamasi dengan segera di Surabaya diadakan peralihan pemerintahan dan perebutan senjata dari Jepang. Bung Tomo turut serta dalam perundingan dengan pihak Jepang dalam rangka mendapatkan persenjataan dari Jepang. Bung Tomo ikut andil dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Bung Tomo membentuk BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) yang bertujuan menampung para rakyat untuk bersiap menghadapi datangnya pasukan Inggris dan NICA. Pembentukan BPRI ini berawal dari rasa kecewa Bung Tomo ketika melihat kondisi Ibukota Jakarta, dimana orang-orang Belanda maupun Sekutu bebas berkeliaran di jalanan Ibukota. BPRI mempunyai senjata ampuh dalam menggerakkan massa, yaitu Radio Pemberontakan. Pidato Bung Tomo di Radio Pemberontakan berhasil memberikan semangat kepada rakyat untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Memang Bung Tomo seringkali melakukan kesalahan dalam memberikan informasi melalui radio, tapi berkat Radio Pemberontakan ini pula terjalin komunikasi antar laskar pejuang. Bagi rekan-rekan mahasiswa yang berminat pada periode revolusi, penelitian tentang Bung Tomo bisa dikaji lebih lanjut. Penulisan tentang Bung Tomo ini bisa dilajutkan dari periode pasca revolusi. Pada peristiwa pertempuran Surabaya 10 November 1945 masih ada tokoh-tokoh yang belum dikaji, seperti Dul Arnowo, Residen Sudirman, drg. Murtopo yang juga mempunyai peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.

Peranan yayasan lembaga konsumen malang (YLKM) dalam memberikan perlindungan kepada konsumen di Kota Malang / Daddy adi Bahtiar

 

Kata kunci: YLKM, Perlindungan, Konsumen Yayasan Lembaga Konsumen Malang adalah lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang terbuka untuk umum, lembaga organisasi sosial non pemerintahan bergerak dalam bidang perlindungan konsumen baik melalui advokasi litigasi maupun advokasi nonlitigasi dalam proses penyelesaian sengketa konsumen dengan pelaku usaha, menjadi perwakilan konsumen yang merasa dikecewakan dan dirugikan oleh penyedia barang dan penyedia layanan jasa yang berada di Kota Malang khususnya. Beragam persoalan diadukan pada YLKM, mulai dari pembelian barang, tarif angkutan, tarif dan pelayanan listrik, tarif dan pelayanan PDAM, biaya pendidikan, sambungan telepon, persoalan jual beli kendaraan, hingga persoalan kesehatan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan YLKM dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, yang mencakup program Yayasan Lembaga Konsumen Malang dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, pelaksanaan program Yayasan Lembaga Konsumen Malang dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, kendala yang dihadapi Yayasan Lembaga Konsumen Malang dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, upaya mengatasi kendala yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Malang dalam memberikan perlindungan kepada konsumen. Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah melalui pendekatan kualitatif. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan berupa pengamatan, wawancara, dokumentasi. Sedangkan teknis analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini meliputi: (1) Program yang dijalankan oleh YLKM adalah Program pendidikan konsumen, Program pelayanan dan perlindungan konsumen, Program memperluas dan meningkatkan kerjasama, Program penelitian, survey dan pengujian mutu barang dan jasa, (2) Pelaksanaan program pendidikan konsumen: YLKM berdialog interaktif di Radio Citra Pro 3 FM masalah susu formula yang mengandung zat kimia berbahaya bagi bayi, Penyuluhan pemasangan tabung gas LPG pertamina yang benar di Balai Kota Malang, Pelaksanaan program pelayanan dan perlindungan konsumen: YLKM melakukan advokasi terhadap adira finance Kota Malang, Penyelesaian kasus melalui mediasi atas nama Bapak Edy Handoyo tentang adanya kotoran/kertas di dalam galon 19 liter yang dibelinya, Pelaksanaan program memperluas dan meningkatkan kerjasama: YLKM telah mengadakan kerjasama Mou dengan Fakultas Hukum UMM Malang, YLKM melakukan kerjasama dengan RRI Malang, Andalus FM dan Radio Mas FM 104,5, Pelaksanaan program penelitian, survey dan pengujian mutu barang: Pemantauan serta pengawasan peredaran migas di pasaran Kota Malang, YLKM mengadakan penelitian ilmiah terkait produk haram yang menggunakan label halal seperti dendeng sapi yang berisi daging babi, termasuk krupuk rambak yang diindikasikan menggunakan kulit babi, (3) Kendala yang dihadapi Yayasan Lembaga Konsumen Malang adalah tidak adanya kepastiaan jumlah dana kas yang masuk di kantor YLKM, kurangnya kesadaran dari pelaku usaha, kurangnya kesadaran konsumen akan hak dan kewajibannya, kurangnya sosialisasi dari YLKM tentang profil YLKM di Kota Malang, siaran radionya untuk YLKM tidak tetap, pelaku usaha enggan menyebarkan informasi kualitas, staf ahli YLKM kurang aktif dalam melakukan kinerjanya, (4) Upaya mengatasi kendala yang dilakukan YLKM adalah lebih meningkatkan jumlah pemasukan ke kas YLKM, lebih meningkatkan taktik dan strategi adavokasi yang jitu, gencar melakukan pendidikan konsumen melalui media massa/elektonik, meningkatkan sosialisasi dan lobi ke kampus hukum tentang profil YLKM, lebih memperluas kerjasama dengan pihak radio di seluruh Kota Malang, lebih meningkatkan lobi kerjasama dengan pemda dan pelaku usaha, berusaha meluangkan waktu dalam melaksanakan kegiatan di YLKM.

Penerapan model pembelajaran two stay two stray untuk meningkatkan keaktifan belajar geografi siswa kelas XI IPs-2 SMA Islam a Maarif Singosari / Esi Maulida Fatimah

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray, keaktifan belajar siswa. Observasi awal diketahui bahwa keaktifan belajar geografi siswa kelas XI IPS-2 SMA Islam Al Maarif Singosari masih kurang hanya sebesar 35,10%. Guru hanya menerapkan model ceramah dan tidak pernah menerapkan diskusi kecil, sehingga kurang melibatkan aktivitas siswa secara langsung dan cenderung hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan belajar Geografi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS). Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari 2 kali pertemuan yang dilaksanakan pada bulan Maret dan April 2011. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keaktifan belajar siswa dari 35,10% menjadi 64% pada siklus I dan 77%pada siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan keaktifan belajar Geografi setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS). Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi guru geografi agar menggunakan model Two Stay Two Stray (TSTS) sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) dengan subjek penelitian yang berbeda yang nantinya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan model pembelajaran talking stick untuk meningkatkan hasil belajar IPS geografi pada materi hidrosfer kelas VII semester 2 di SMP Negeri 1 Bangil Pasuruan / Debby Adecandra

 

Kata kunci: Talking Stick, Hasil Belajar. Observasi awal diketahui bahwa metode pembelajaran Geografi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Bangil Pasuruan adalah ceramah, dan kerja kelompok. Siswa kurang antusias dalam pembelajaran geografi, 41% siswa asik bermain sendiri ketika pembelajaran berlangsung, Pada saat kegiatan kerja kelompok siswa yang memiliki kemampuan yang tergolong sedang dan rendah hanya pasif dan tidak berani berpendapat. Hal itu menyebabkan setiap siswa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mengemukakan pendapat dalam menjawab tugas kelompok tersebut dan proses belajar bersama belum tercapai secara optimal. Hal itu terlihat dari hasil belajar siswa dengan ketuntasan klasikal sebesar 26% dan rata-rata kelasnya sebesar 67,6. Jumlah ketuntasan belajar siswa itu kurang dari standar ketuntasan minimal (SKM) untuk mata pelajaran Geografi sebesar > 75 dan ketuntasan belajar klasikalnya sebesar > 85%. Hasil belajar tersebut perlu diperbaiki dengan menerapkan model pembelajaran Talking Stick, karena model ini mengajak siswa untuk lebih aktif dan model pembelajaran Talking Stick tidak hanya mengajak siswa belajar tapi juga bermain yang dapat memotivasi siswa untuk mengikuti materi yang disampaikan guru, diharapkan pengetahuan siswa akan bertambah, dan hasil belajarnya juga meningkat. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Februari 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas VII-B yang berjumlah 43 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, Instrumen pengumpulan data melalui tes tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan ke siklus I yaitu dari rata-rata hasil belajar 67,6 dengan persentase ketuntasan belajar 26% menjadi 71,6 dengan persentase ketuntasan belajar 53%. Pada siklus II terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar dari 71,6 menjadi 78,9 dengan persentase ketuntasan belajar 88%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar IPS Geografi pada materi hidrosfer siswa kelas VII semester 2 di SMP Negeri 1 Bangil Pasuruan. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model Talking Stick untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran dengan model Talking Stick dengan pokok bahasan yang berbeda.

Hubungan kemampuan guru dalam mengelola kelas dan kelengkapan peralatan praktik dengan pencapaian kompetensi dasar menginstalasi perangkat jaringan lokal (local area network) di SMK Negeri 5 Malang / Galuh Aulia Pratiwi

 

Kata Kunci: kemampuan mengelola kelas, peralatan praktik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang menghasilkan SDM siap kerja diharapkan dapat berkembang menjadi Pusat Pendidikan Pelatihan dan Kejuruan Terpadu yang mampu menghasilkan calon tenaga kerja produktif. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan sumber daya manusia tenaga kependidikan (guru) yang bermutu sebagai salah satu penentu kualitas pendidikan, disamping itu juga didukung oleh sarana pembelajaran yang memadai yang dapat menunjang keberhasilan pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kemampuan guru mengelola kelas dan kelengkapan peralatan praktik dengan pencapaian kompetensi dasar siswa dalam menginstalasi LAN. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang dirancang sebagai penelitian deskriptif korelasional. Variabel penelitian, yaitu kemampuan guru dalam mengelola kelas, kelengkapan peralatan praktik serta pencapaian kompetensi dasar siswa. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas XI TKJ SMK Negeri 5 Malang sebanyak 134 siswa. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu sebanyak 66 siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket dan dokumen. Teknik analisa data yang dipergunakan adalah teknik analisis korelasi parsial dan regresi linier berganda. Hasil analisis menyatakan bahwa nilai koefisien parsial antara X1 dengan Y sebesar 0,471 dengan nilai probabilitas phitung < pstandar, yaitu 0,000 < 0,05 serta nilai koefisien parsial antara X2 dengan Y sebesar 0,505 dengan nilai probabilitas phitung < pstandar, yaitu 0,000 < 0,05. Sedangkan untuk koefisien korelasi antara X1,X2 dan Y sebesar 0,729 dengan nilai probabilitas phitung < pstandar, yaitu 0,000 < 0,05 dengan nilai R square sebesar 0,531, yang berarti bahwa sumbangan yang diberikan oleh X1, X2 terhadap Y sebesar 53,1% Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan guru dalam mengelola kelas dengan pencapaian kompetensi dasar siswa dalam menginstalasi LAN siswa SMK Negeri 5 Malang. (2) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kelengkapan peralatan praktik dengan pencapaian kompetensi dasar siswa (3) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan guru dalam mengelola kelas dan kelengkapan peralatan praktik secara simultan dengan pencapaian kompetensi dasar siswa dalam menginstalasi LAN di SMK Negeri 5 Malang. (4) Terdapat sumbangan antara kemampuan guru dalam mengelola kelas dan kelengkapan peralatan praktik secara simultan tehadap pencapaian kompetensi dasar siswa dalam menginstalasi LAN.

Struktur visual gambar anak TK Laboratorium Universitas Negeri Malang / Yuni Indah Suryani

 

Kata Kunci: Struktur Visual, gambar anak Masa anak-anak merupakan awal perkembangan kreativitas anak. Pendidikan anak usia dini khususnya pedidikan formal diselenggarakan pada lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak. Pendidikan kesenian di TK merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan kreativitas anak. Dengan menggambar, anak bisa mengungkapkan pikirannya dengan bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan gambar anak bila ditinjau dari struktur visualnya. Diharapkan melalui penelitian ini dapat diketahui kecenderungan struktur bentuk dan struktur warna gambarnya, sehingga dapat membantu para pendidik khususnya pendidik di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang dalam mengetahui dan mengoptimalkan kemampuan ekspresi dan kreativitas anak. Penelitian ini dilakukan di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang, pada tanggal 11 April 2011 dan 18 April 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen non tes yaitu studi dokumentasi dan observasi. Studi dokumentasi menggunakan alat dokumentasi dan observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi. Analisis hasil penelitian menggunakan statistika deskriptif. Yang diteliti adalah struktur visual gambar terdiri dari struktur bentuk dan struktur warna. Struktur bentuk meliputi bentuk, tema dan gaya. Sedangkan struktur warna meliputi variasi warna, sifat warna,intensitas warna dan atmosfer warna. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya variasi pada struktur visual gambar anak di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang. Pada struktur bentuk yaitu bentuk yang dibuat pada gambar, yang membuat bentuk rumah (82,60%), tumbuhan (82,60%) dan matahari (82,60%). Tema yang banyak digunakan yaitu tema lingkungan rumah (39,13%). Gaya gambar yang banyak dimiliki yaitu gaya gambar structural form dengan presentase (26,08%). Sedangkan pada struktur warna, variasi warna yang digunakan meliputi warna primer, sekunder, tersier dan komplementer. Warna primer yang digunakan sebanyak (75,36%), warna sekunder yang digunakan sebanyak (66,66%), dan warna tersier sebanyak (52,17%) serta warna komplementer sebanyak (39,4%). Sifat warna yang ada pada gambar yaitu bersifat harmonis ada (60,86%) dan kontras ada (39,13%). Intensitas warna pada gambar yaitu terang (95,65%),redup (4,35%) dan gelap (0%). Atmosfer warna pada gambar yaitu beratmosfer panas dan dingin. Gambar yang beratmosfer panas sebanyak (52,17%) dan gambar yang beratmosfer dingin sebanyak (47,83%). Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan misalnya mengenai struktur visual gambar berdasarkan gender, struktur visual gambar ditinjau dari usianya dan struktur visual gambar berdasarkan kecerdasannya.

Pengaruh pembuangan limbah pengolahan emas pada pertambangan emas ilegal (pertambangan rakyat) terhadap kualitas air sungai Mama di Kecamatan Lopok Kabupaten Sumbawa / Sarita Ratulanis

 

Kata Kunci: kualitas, limbah, air sungai Di desa-desa Kecamatan Lopok, air sungai Mama digunakan oleh penduduk untuk kebutuhan MCK dan untuk irigasi usaha pertanian. Air yang digunakan adalah air yang telah tercampur oleh bahan logam berat yang tidak sehat dan sangat berbahaya jika digunakan secara terus menerus. Untuk mencari bukti tentang pengaruh pembuangan limbah pengolahan emas terhadap kualitas air Sungai Mama maka diadakan penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mengetahui kualitas limbah pengolahan emas rakyat, 2) mengetahui kualitas air Sungai Mama di Kecamatan Lopok Kabupaten Sumbawa masih memenuhi standar baku mutu air kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah No.28 tahun 2001, dan 3) mengetahui sebaran vertikal (permukaan, tengah, dan dasar) kualitas air Sungai Mama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang meliputi kandungan limbah pengolahan emas, kualitas air dan pengaruh pembuangan limbah pengolahan emas terhadap kualitas air di Sungai Mama dengan menggunakan teknik uji laboratorium. Peneliti menentukan titik sampel dengan metode purposive sampling, pengambilan sampel air sungai dan limbah menggunakan metode random sampling. Setelah sampel diambil kemudian dibawa ke laboratorium. Analisis dalam penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan analisis deskriptif. Pelaksanaan analisis dilakukan pada (1) air limbah untuk parameter temperatur, warna, kekeruhan, bau, pH, BOD, COD, Hg, dan TSS, (2) kualitas air Sungai Mama untuk parameter temperatur, warna, kekeruhan, bau, pH, BOD, COD, Hg, dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) limbah pengolahan emas mengandung air raksa yaitu sebanyak 0,436 µg/l, kekeruhan sampai 7200 NTU, temperatur 28,2 0C dan residu tersuspensinya sebanyak 2552 mg/l. Dari hasil uji laboratorium, limbah ini tidak berbau dengan warna yaitu 50 TCU, nilai pH yaitu 7,54, nilai BOD dan COD berturut-turut yaitu 0,72 mg/l dan 64 mg/l. (2) Unsur raksa pada air Sungai Mama adalah berturut-turut di titik 1 pada air permukaan sungai, tengah dan air dasar sungai yaitu 0,015, 0,83, dan 0,90. Pada titik 2 di air permukaan hingga dasar sungai 0,062, 0,097, dan 0,106. Pada titik 3 di air permukaan hingga dasar sungai yaitu 0,067, 0,070 dan 0,085. Unsur air raksa di titik terakhir pada air permukaan hingga dasar sungai berturut-turut yaitu 0,057, 0,060, dan 0,080. (3) Unsur TSS dan COD pada semua titik melebihi standar baku mutu kualitas air kelas II yaitu 50 mg/l dan 25 mg/l. (4) Pada tiap titik, semakin ke dasar sungai tingkat pencemaran atau kandungan air raksa semakin tinggi, meskipun pada air permukaan Sungai Mama yang terlihat jernih.

Pengembangan modul materi pokok lingkaran untuk siswa kelas VIII SMP dengan pendekatan realistic mathematics education (RME) / Sulfiya Handayani

 

Kata kunci: Modul, Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), Lingkaran Salah satu usaha pembaruan sistem pembelajaran dapat dilakukan dengan memperbaiki strategi pembelajaran. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan modul dalam kegiatan pembelajaran, hal ini akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu (1) penguasaan kompetensi secara menyeluruh, (2) mengarahkan siswa belajar secara mandiri, dan (3) proses pembelajaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pengajaran dengan modul ditekankan pada sistem belajar tuntas. Materi yang dipilih dalam pengembangan modul ini adalah Lingkaran. Modul yang dikembangkan guna menunjang kegiatan pembelajaran ini sesuai dengan pendekatan RME, karena materi yang diperoleh selama proses pembelajaran memiliki makna dan manfaat yang langsung dapat dirasakan oleh siswa sehingga siswa akan menjadi lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung dan materi yang disampaikan akan lebih mudah dipahami oleh siswa. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan modul materi pokok lingkaran untuk kelas VIII SMP dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Adapun karakteristik modul dengan pendekatan RME yang telah dikembangkan yaitu: (1) adanya petunjuk penggunaan modul untuk guru dan siswa, (2) memuat tujuan pembelajaran yang akan dicapai untuk menentukan kegiatan belajar yang akan direncanakan, (3) adanya pembelajaran secara indivudu maupun kelompok dalam menemukan konsep baru, (4) adanya aktifitas dalam modul mengarahkan siswa untuk berperan aktif dalam proses penemuan konsep baru melalui eksplorasi masalah nyata sehingga dapat membimbing siswa dari level matematika informal menuju matematika formal, (5) materi yang disampaikan dan contoh soal yang diberikan berdasarkan pada masalah nyata atau masalah yang dapat dibayangkan oleh siswa, dan (6) modul memuat alat pengukuran pencapaian hasil belajar berupa lembar latihan soal, lembar evaluasi dan lembar remidi dimana pemberian soal-soal yang diberikan merupakan soal-soal penerapan konsep. Prosedur yang digunakan dalam mengembangkan modul yaitu: (1) tahap persiapan, (2) tahap penyusunan, dan (3) tahap validasi dan revisi. Modul yang dihasilkan sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Selanjutnya modul divalidasi oleh seorang dosen Pendidikan Matematika FMIPA UM serta dua orang guru Matematika SMP. Selain itu modul juga diujicobakan pada 6 orag siswa SMP. Hasil penilaian pada seluruh aspek validasi memiliki rata-rata nilai 3,26, hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan layak digunakan sebagai bahan ajar untuk membantu siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Akan tetapi masih dilakukan perbaikan berdasarkan saran dan komentar validator untuk memperoleh modul yang baik. Saran yang diterima penulis untuk memperbaiki modul sehingga diperoleh modul yang baik yaitu: (1) mengubah letak definisi pada unit 1 modul, (2) memeperbaiki penulisan satuan ukuran dan simbol, (3) memeperbaiki kalimat dalam soal latihan yang dianggap sulit, dan (4) memberi gambar pada soal latihan sehingga lebih mudah dipahami

Persepsi guru terhadap implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMP Negeri 1 Srengat / Pungky Choirunnisa Nugroho Wati

 

Kata kunci: persepsi, implementasi KTSP. Peningkatan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan, baik secara konvensional maupun inovatif. Dalam pembaharuan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, salah satu diantaranya adalah pembaharuan kurikulum, dan kurikulum pengganti yang dianggap lebih baik yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam KTSP,kemampuan guru sangatlah penting dalam mengembangkan silabus, mengembangkan RPP, mengembangkan program, melaksanakan evaluasi, mengetahui faktor pendukung dan penghambat, dan upaya mengatasi faktor penghambat. Oleh karena itu, persepsi guru tentang berbagai hal terkait KTSP perlu di ungkap. Permasalahan yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi guru terhadap KTSP. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan persepsi guru tentang pengembangan silabus dalam KTSP, (2) mendeskripsikan persepsi guru tentang pengembangan RPP dalam KTSP, (3) mendeskripsikan persepsi guru tentang pengembangan program dalam KTSP, (4) mendeskripsikan persepsi guru tentang evaluasi pembelajaran, (5) mendeskripsikan persepsi guru tentang faktor pendukung dan penghambat implementasi KTSP, (6) mendeskripsikan persepsi guru tentang upaya untuk mengatasi faktor penghambat implementasi KTSP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Subjek penelitian adalah guru SMPN 1 Srengat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: reduksi data, narasi deskriptif, dan narasi abstraksi sementara dan narasi abstraksi akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1)persepsi guru tentang pengembangan silabus adalah guru yang tergabung dalam MGMP merupakan guru yang mengembangkan silabus; (2)persepsi guru tentang pengembangan RPP adalah sesuai dengan format RPP dalam KTSP; (3)pengembangan program yang biasa dipergunakan oleh guru meliputi promes, prota, remidi dan pengayaan; (4) evaluasi pembelajaran sesuai dengan bidang studi mata pelajaran; (5)faktor penghambat dan pendukung implementasi adalah keberagaman siswa,sarana dan prasarana; (6)untuk mengatasi hambatan yang dihadapi adalah dengan pemberian motivasi terhadap siswa,dan pemakaian metode pembelajaran yang tepat. Adapun saran yang diajukan adalah: (1)peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran; (2)pemberian motivasi kepada siswa untuk peningkatan prestasi; (3)bagi penelitian selanjutnya diharapkan adanya variasi variabel yang beragam.

Studi tentang perbedaan wujud wayang kulit purwa gaya Surakarta dengan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta pada tokoh Anoman / Khoiron Mahfudzi

 

Kata kunci: studi, perbedaan wujud, wayang kulit purwa, tokoh Anoman Wayang adalah salah satu unsur kebudayaan Indonesia yang mengandung nilai-nilai seni, pendidikan dan nilai pengetahuan yang tinggi, Wayang kulit adalah salah satu kesenian yang berasal dari Suku Jawa dan merupakan salah satu seni pertunjukkan yang paling tua. Pada penelitian ini peneliti akan membandingkan dua obyek gaya wayang kulit purwa yaitu wayang kulit purwa gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta pada tokoh Anoman. Dipilihnya kedua gaya tersebut karena kedua daerah memiliki kultur yang hampir sama tetapi memiliki perbedaan yang cukup menonjol pada wujud wayang kulitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan wujud antara wayang kulit purwa gaya Surakarta dengan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta pada tokoh Anoman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan dalang dan budayawan sebagai narasumber. Penelitan dilakukan di rumah Ki Yul Ardhiantono di Jl. Raya Telogomas gang II No. 48 A Malang, yang merupakan seorang dalang dan sebagai narasumber dalam penelitian ini. Perbedaan wayang gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta pada tokoh Anoman yang paling menonjol terletak pada bentuk mata, pada gaya Surakarta wayang bermata satu sedangkan gaya Yogyakarta bermata dua. Hal lain yang dapat dicermati adalah wayang Anoman gaya Yogyakarta terkesan lebih menunduk dengan pundak bagian belakang yang lebih naik ke atas sedang wayang Anoman gaya Surakarta yang terlihat lebih mendangak namun pundak belakangnya terlihat datar sehingga gelung supit urangnya terlihat lebih tinggi. Hal lain yang sering kita jumpai adalah adanya kalung atau ulur-ulur yang sering kita jumpai pada wayang-wayang Anoman dari Surakarta, sedangkan dari Yogyakarta terlihat lebih sederhana dan sangat jarang di jumpai wayang Anoman dengan kalung ataupun ulur-ulur terkadang wayang Anoman gaya Yogyakarta memakai kalung tanaman rambat. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa banyak sekali keragaman kebudayaan di Jawa meskipun berada dalam satu lingkup daerah contohnya Surakarta dan Yogyakarta. Selain itu disarankan bagi para peneliti kedepanya agar lebih mengutamakan penelitian mengenai kebudayaan Indonesia, sehingga dapat memberikan ruang bagi umum untuk lebih mengerti tentang kebudayaan murni Indonesia.

Using comic strips to improve the eight grade students' ability in writing narrative texts at SMPN 9 Malang / Norma Indah Lutfifati

 

Keywords: comic strips, writing ability, narrative text Writing may be considered as the most difficult and complex skill among the four language skills, especially for junior high school students. The writing ability of the eighth grade students of SMP N 9 Malang was poor. According to the questionnaires given to the students in the preliminary study, it was found that the main problems that they faced were how to write sentences grammatically, how to choose appropriate words with the correct spelling, and how to develop ideas. Therefore, less than 50% of the students reached a minimum score 3 within the range score 1- 4. To overcome the problems, comic strip was proposed as an alternative strategy in teaching writing narrative text. Comic Strips are series of pictures that show a set of actions chronologically to form a story and sometimes use dialogs in the form of script or writing. This study was aimed to find out whether or not the implementation of comic strips strategy could create positive responses for 8th grade students and improve their ability in writing narrative texts. In this study, the researcher expected that 100% of the students scored 3 within a range of 1- 4 because that value represented the minimum criterion standard which is 70 point for language use, spelling, and organization. The research design of this study was a collaborative classroom action research. The classroom English teacher acted as the observer during the teaching and learning process, while the researcher acted as an English teacher taught in the class. The research was conducted in two cycles. Each cycle consisted of three meetings and had four steps namely: planning an action, acting on the plan, observing the action, and reflecting on the observation. The subjects were 26 students of VIII-D in SMP N 9 Malang in 2010/ 2011 academic year. The instruments used to collect the data were interview guides, questionnaires, observation checklist, field notes, scoring rubric, and students' final product. The result of the research showed that comic strips successfully improved the students' ability in writing narrative texts. All of the students had reached the minimum score of 3. Moreover, the majority of the students gave positive responses toward the implementation of comic strips and they said that comic strip was interesting and easy to understand because there were some dialogues related to the topic. In addition, it helped them to organize paragraphs and develop ideas in writing narrative texts. The scores of the students' writing products improved significantly from preliminary study to Cycle I and from Cycle I to Cycle II in terms of organization, language use, and spelling. The students' mean scores on organization improved from 2.1 in preliminary study to 3.2 in Cycle I and reached 3.6 in Cycle II. Furthermore, the students' mean scores on language use improved from 1.8 in preliminary study to 2.8 in Cycle I and 3.1 in Cycle II. Meanwhile, on spelling, the students' mean scores also improved from 2.3 in preliminary study to 3.1 in Cycle I and 3.4 in Cycle II. In conclusion, comic strips can be implemented to create positive responses for 8th grade students at SMP N 9 Malang and improve their ability in writing narrative texts. Moreover, comic strips are very helpful to develop the students' ideas and creativity. Based on the result of this study, the English teachers are suggested to use comic strips in teaching writing narrative and other genres because it could solve students' problems in writing. For future researchers, they are suggested to conduct further research using comic strips in other skills and genres on different grades and levels of education to see whether or not this media was effective to solve the problems of writing.

"Interlanguage: English for Senior High School Students XI" as a communicative coursebook / Endah Wijayanti

 

Keywords: communicative courseboook, coursebook evaluation Many kinds of coursebooks are available in the markets. Coursebook evaluation is very important due to the fact that there are many coursebook which are not appropriate to be used in the teaching and learning activities. Nowadays, there are already electronic school books (Buku Sekolah Elektronik) provided by the government that can be accessed by downloading them from certain websites or buying the printed form. One of them is "Interlanguage: English for Senior High School Students XI" for language study program. This courseboook was selected to be analyzed in this study because the introduction section of the book states that it was designed based on communicative approach. Based on that, the researcher is interested in examining how communicative the coursebook is in terms of communicative components and of communicative activities. This study used descriptive method in picturing the content of the book and explaining the quality of the book in terms of communicative components and communicative activities. The object is the book, "Interlanguage: English for Senior High School Students XI". The instrument used in this study was the communicative coursebook evaluation checklist which was developed by the researcher from five checklists proposed by McDonough and Shaw (1993 in White, 2001), Cunningsworth (1995), Ansary and Babaii (2002), Litz (2005), and Jahangard (2007). The data were collected by identifying the content of the book with criteria on the communicative coursebook evaluation checklist. The researcher described which of the criteria are already met by the book. The result of the analysis in the form of the level of suitability will determine the quality of the book in terms of communicative components and communicative activities. The result showed that the level of suitability for communicative components criteria was 9.7 of the 0-10 score range. Based on that, the quality of "Interlanguage: English for Senior High School Students XI" in terms of communicative components is excellent. Meanwhile, the level of suitability for communicative activities criteria is 8.6 of the 0-10 score range which indicates the quality of "Interlanguage: English for Senior High School Students XI" in terms of communicative activities is excellent. In short, this coursebook is an excellent communicative coursebook.

Pengembanganb VCD pembelajaran senam bangku Swedia pada mahasiswa pendidikan jasmani dan kesehatan (PJK) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang / Ricky Yohanes Funay

 

Kata kunci: pengembangan, VCD pembelajaran, Senam bangku Swedia. Teori dan Praktik Senam merupakan salah satu Matakuliah Keahlian Berkarya Wajib yang masuk sebagai beban studi bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Salah satu kompetensi yang disajikan pada perkuliahan tersebut adalah tentang keterampilan senam pembentukan menggunakan bangku Swedia. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan terhadap Kepala Laboratorium Fakultas Ilmu Keolahragaan, diperoleh informasi bahwa Fakultas Ilmu Keolahragaan memiliki 6 buah bangku Swedia, digunakan sebagai tempat duduk di ruang aerobik dan sebagian disimpan di gudang, sedangkan hasil angket terhadap bapak Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd, selaku dosen senam FIK UM, diperoleh data bahwa materi senam bangku Swedia diberikan pada perkuliahan Teori dan Praktik Senam I dan Teori dan Praktik Senam II yang masing-masing diberikan sebanyak 4 kali pertemuan sebagai selingan ketika perkuliahan senam lantai berlangsung. Penelitian juga dilakukan terhadap bapak Drs. Heru Widijoto, M.S dan bapak Drs. Lokananta Teguh Hari W., M.Kes selaku dosen senam FIK UM dan diperoleh data bahwa kompetensi senam bangku Swedia diberikan sebanyak 2 kali pertemuan pada perkuliahan Teori dan Praktik Senam I. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan model pengembangan dari Borg and Gall. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket kuesioner. Angket kuesioner diberikan pada ahli media, ahli senam, ahli pembelajaran, uji coba (kelompok kecil) terhadap mahasiswa PJK FIK Universitas Negeri Malang sebanyak 8 orang dan uji lapangan (kelompok besar) terhadap mahasiswa PJK FIK Universitas Negeri Malang sebanyak 80 orang. Teknik yang digunakan dalam menentukan subyek uji produk adalah random sampling. Hasil tinjauan para ahli, dari ahli media menyatakan bahwa secara keseluruhan, suara narator, intensitas cahaya dan kejelasan gambar sudah baik, namun penggunaan font (tulisan) sebaiknya memilih yang standar dan mudah dibaca. Tinjauan ahli senam menyatakan bahwa seluruh aktivitas dan konsep materi dalam tayangan sudah sesuai dengan konsep yang sebenarnya dan yang terakhir yaitu tinjauan ahli pembelajaran menyatakan bahwa aktivitas/gerakan-gerakan yang terdapat dalam tayangan sudah sesuai dengan sistematika dari sistem Austria serta mudah dan menarik untuk dilakukan. Dari seluruh hasil tinjauan para ahli tersebut, maka dinyatakan bahwa produk yang dikembangkan sudah baik dan dapat digunakan untuk uji produk. Dari hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan VCD pembelajaran senam bangku Swedia pada mahasiswa PJK FIK Universitas Negeri Malang tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%. Sedangkan hasil uji lapangan (kelompok besar) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan VCD pembelajaran senam bangku Swedia pada mahasiswa PJK FIK Universitas Negeri Malang tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar), maka diperoleh bahwa produk pengembangan VCD pembelajaran senam bangku Swedia pada mahasiswa PJK FIK Universitas Negeri Malang tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 80-100%, sehingga dapat digunakan. Hasil penelitian dan pengembangan ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Hubungan faktor-faktor yang melatarbelakangi pemilihan program keahlian teknik mesin dengan hasil belajar siswa kelas X di SMK se-kota Malang / Sudarmanto Wibowo

 

Kata Kunci: program keahlian, faktor internal, faktor eksternal, hasil belajar, SMK. Pemilihan program keahlian merupakan suatu proses dalam keputusan siswa yang berkaitan dengan pekerjaan yang dicita-citakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam memilih program keahlian teknik mesin yaitu faktor internal terdiri dari minat dan motivasi, sedangkan faktor eksternal terdiri dari orangtua dan teman sebaya. Faktor-faktor tersebut juga akan mempengaruhi hasil belajar pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor internal dalam pemilihan program keahlian dan hasil belajar, untuk mengetahui hubungan faktor eksternal dalam pemilihan program keahlian dan hasil belajar, untuk mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal dalam pemilihan program keahlian dengan hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional di mana gambaran tentang sekelompok variable bebas yang dikorelasikan secara sendiri-sendiri (parsial) maupun secara bersama-sama (simultan) dengan satu variabel terikat. Instrumen yang digunakan untuk mengukur faktor internal yaitu digunakan self inventory minat dan self inventory motivasi, sedangkan faktor eksternal digunakan instrument self inventory orangtua dan self inventory teman sebaya. Untuk hasil belajar berupa nilai raport pengambilan datanya dengan cara dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian Teknik Mesin se-Kota Malang yang terdiri dari SMKN 6 Malang, SMK PGRI 3 Malang, SMK Nasional, SMK Muhammadiyah 1 dan SMK YP 17-1. Dengan jumlah populasi 340 siswa, dari populasi tersebut kemudian digunakan metode disproportionate stratified random sampling untuk menentukan jumlah sampel yang akan diambil. Dalam penelitian ada 184 siswa yang dijadikan sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada hubungan yang positif signifikan antara faktor internal (minat dan motivasi) yang melatarbelakangi pemilihan program keahlian Teknik Mesin dan hasil belajar siswa kelas X di SMK se-Kota Malang, (2) ada hubungan yang positif signifikan antara faktor eksternal (peran orangtua) dan hubungan yang negatif signifikan antara faktor eksternal (teman sebaya) yang melatarbelakangi pemilihan program keahlian Teknik Mesin dan hasil belajar siswa kelas X di SMK se-Kota Malang, dan (3) ada hubungan yang positif signifikan antara faktor internal (minat dan motivasi) dan faktor eksternal (peran orangtua) secara bersama-sama yang melatarbelakangi pemilihan program keahlian Teknik Mesin dengan hasil belajar siswa kelas X di SMK se-Kota Malang.

Implementasi strategi dan pemanfaatan media pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia untuk kelas V SD di SDn Tanjung Rejo 5 Malang / Yulia Andriani

 

Kata Kunci : Strategi, Pemanfatan Media Pembelajaran, Strategi adalah pendekatan yang dipakai oleh guru untuk menentukan cara penyajian pelajaran, pemilihan sumber belajar, penentuan kegiatan peserta didik, serta langkah-langkahnya yang akan ditempuh dalam mencapai tujuan instruksional. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V di SDN Tanjung Rejo 5 Malang, strategi yang digunakan guru selama pembelajaran berlangsung, menggunakan strategi PAKEM dengan memanfaatkan media cetak (buku teks cerita anak). Strategi PAKEM sudah ditetapkan sekolah melalui surat pernyataan dari kepala sekolah SDN Tanjung Rejo 5 Malang (terlampir). Penelitian dilaksanakan dengan tujuan (1) Mendeskripsikan implementasi strategi PAKEM pada pembelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas V di SDN Tanjung Rejo 5 Malang, (2) Mendeskripsikan implementasi pemanfaatan media cetak pada pembelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas V di SDN Tanjung Rejo 5 Malang Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang dirancang dalam bentuk studi kasus dengan obyek penelitian SDN Tanjung Rejo 5 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara partisipasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, display data, mengambil kesimpulan/verifikasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan ketekunan penelitian, dan trianggulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Implementasi strategi PAKEM yang terdiri dari 3 tahap yaitu sebelum, selama, sesudah. Tahap sebelum, guru memberikan stimulus kepada peserta didik dengan menunjuk salah satu peserta didik untuk bercerita di depan teman-temannya. Tahap selama, peserta didik membentuk diskusi kelompok dengan memanfaatkan buku cerita SERIAL TOTI. Tahap sesudah, peserta didik mengerjaan soal evaluasi secara berkelompok dan individu. (2) Pemanfaatan media cetak terdiri dari tiga tahap. Tahap sebelum, peserta didik memanfaatkan perpustakaan sekolah untuk meminjam buku SERIAL TOTI. Tahap selama (pembukaan, inti/pengembangan), peserta didik mendiskusikan cerita untuk menentukan unsur cerita dengan membaca dari awal hingga akhir, setelah itu ditutup kembali tanpa membacanya lagi. Tahap sesudah, peserta didik mengembalikan media yang dimanfaatkan pada tempat semula, kemudian hasil kerjanya di pajang di kantong file yang ada di belakang kelas. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada (1) SDN Tanjung Rejo 5 Malang, inventarisasi media pembelajaran yang dapat diperoleh dari paguyupan orang tua murid, (2) Guru, melibatkan peserta didik untuk aktif belajar tidak hanya di kelas namun diluar kelas, (3) Peneliti, untuk menindak lanjuti penelitian lanjutan.

Manajemen pembelajaran pendidikan kewirausahaan (studi kasus di SMK Negeri 1 Malang) / Umi Kulsum

 

Kata Kunci: manajemen pembelajaran, pendidikan kewirausahaan Manajemen pembelajaran diharapkan dapat membantu agar proses kegiatan yang berlangsung dapat berjalan lancar. Dalam kondisi saat ini, pendidikan kewirausahaan memainkan peranan yang penting di mana hal tersebut masuk dalam komponen adatif, dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan membuka lapangan pekerjaan sehingga mengurangi jumlah pengganguran yang ada. Berkaitan dengan hal tersebut, maka lembaga pendidikan membutuhkan suatu manajemen pembelajaran yang dapat mengatur bagaimana agar sekolah dalam menerapkan pendidikan kewirausahaan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam konteks ini adalah tentang bagaimana manajemen pembelajaran pendidikan kewirausahaan dilakukan di sekolah. SMK Negeri 1 Malang merupakan salah satu sekolah yang juga menerapkan pendidikan kewirausahaan yang memiliki sentra bisnis (kharisma) sebagai laboratorium pendidikan kewirausahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen pembelajaran pendidikan kewirausahaan di SMK Negeri 1 Malang yaitu (1) jenis pendidikan kewirausahaan, (2) perencanaan pembelajaran pendidikan kewirausahaan, (3) pelaksanaan pembelajaran pendidikan kewirausahaan, dan (4) evaluasi pembelajaran pendidikan kewirausahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah studi kasus. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh di lapangan dilakukan analisis data untuk mendapatkan temuan penelitian. Keabsahan data diuji dengan menggunakan ketekunan pengamatan, teknik triangulasi, dan kecukupan referensi. Berdasarkan hasil data di lapangan ditemukan sebagai berikut: (1) jenis pendidikan kewirausahaanya SMK Negeri 1 ini lebih menekankan pada penjualan di mana dalam hal ini jenis bidang keahlian bisnis dan manajemen pemasaran (marketing). Untuk pendidikan kewirausahaan ini seperti membuat kue, membuat kerajinan tangan (bantal, taplak meja), dan menjual barang yang ada di sentra bisnis, (2) perencanaan pembelajaran pendidikan kewirausahaan mengacu pada KTSP disesuaikan dengan potensi sekolah. Pengembangan tersebut dilakukan dengan tim kerja di mana mereka menyusun silabus dan rpp, dan adanya sosialisasi pada pihak sekolah dimana Direktorat Jenderal mensosialisasikan pentingnya pendidikan kewirausahaan, (3) pelaksanaan pembelajaran pendidikan kewirausahaan yaitu guru menyiapkan perangkat yaitu silabus dan rpp, dan sumber belajarnya di kelas menggunakan modul kewirausahaan, buku paket kewirausahaan, dan buku penunjang kewirausahaan di mana dalam pendidikan kewirausahaan di kelas lebih terstruktur. Sedangkan dalam praktik di luar kelas menggunakan sentra bisnis (kharisma) sebagai laboratorium kewirausahaan di mana dalam hal ini peserta didik belajarnya secara mandiri, (4) evaluasinya pembelajaran dengan memperhatikan semua aspek baik itu dari perkembangan dari guru dalam melaksanakan pembelajaran, dan hasil peserta didik dalam pembelajarannya pada saat belajar di kelas dan di luar kelas. Perkembangan dari guru dalam melaksanakan pembelajaran dilihat dengan bagaimana kreativitas guru dalam menerapkan pembelajaranya. Sedangkan dalam hasil peserta didik SMK Negeri 1 Malang ini adalah dengan melihat nilai mereka sesuai target yang diinginkan atau tidak. Dalam hal ini evaluasi pembelajaran pendidikan kewirausahaan terdapat 3 aspek yaitu aspek kognitif dilihat dari hasil diskusi dan belajar mandiri, afektif yaitu dilihat pada saat diskusi berlangsung, kemudian pada psikomotor yaitu berdasarkan hasil tugas atau latihan. Hanya saja untuk praktik di luar kelas dalam hal ini lebih menekankan omset yang diraih peserta didik selama per minggu, apakah mereka memenuhi target yang telah ditentukan. Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut, dapat disarankan bagi (1) kepala sekolah diharapkan membuat perbaikan jenis pendidikanyang lebih bervariatif dan memperhatikan dukungan pemerintah, masyarakat, sekolah sebagai pelaksana dan kebutuhan sekolah dalam hal mengembangkan pendidikan kewirausahaan, (2) diharapkan guru dan peserta didik dapat saling bekerjasama dengan baik dan guru menerapkan metode atau bahan pembelajaran yang lebih kreatif lagi, (3) peserta didik diharapkan lebih antusias dalam pembelajaran dan berusaha untuk menjadi generasi yang dapat menciptakan peluang atau kesempatan kerja, dan (4) ketua jurusan diharapkan menjadi salah satu referensi untuk bagaimana manajemen pembelajaran diterapkan dalam pendidikan kewirausahaan, dan mensosialiasikan bahwa pendidikan kewirausahaan juga penting; (5) peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai jenjang pendidikan serta penelitian pengembangan untuk mengetahui manajemen pembelajaran pendidikan kewirausahaan.

Penerapan metode proyek untuk meningkatkan kemampuan seni dalam menggambar anak kelompok B di TK Negeri Pembina Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Tutik Rahayu

 

Kata Kunci : metode proyek, menggambar bebas, kemampuan seni. Pembelajaran di bidang seni menggambar sangat penting untuk menuangkan ide-ide dan perasaan anak melalui coretan, namun keberhasilan pembelajaran seni menggambar anak TK Negeri Pembina Gondangwetan masih rendah. Berdasarkan pengamatan , dari 31 peserta didik yang ada di TK ditemukan bahwa 19 anak yang belum mampu menggambar bebas sehingga mendapatkan bintang 1. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan penerapan metode proyek supaya dapat meningkatkan kemampuan seni menggambar anak kelompok B, di TK Negeri Pembina Kecamatan Gondangwetan (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan seni menggambar anak kelompok B dengan penerapan metode proyek di TK Negeri Pembina Kecamatan Gondangwetan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses siklus dalam setiap siklus terdiri dari tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan metode proyek melalui menggambar bebas untuk meningkatkan kemampuan seni anak kelompok B TK Negeri Pembina, sedangkan yang menjadi subyek penelitian adalah anak didik kelompok B dengan jumlah 31 anak dan 2 orang kolaburator (teman sejawat). Hasil penelitian menunjukkan kemampuan bahwa penerapan metode proyek dapat meningkatkan kemampuan seni menggambar anak. Pada siklus I kemampuan seni anak mencapai 57,25 meningkat menjadi 79.03 pada siklus II. Peningkatan kemampuan seni menggambar anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan menggambar bebas dari bentuk lingkaran, serta mewarnai gambar. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada pendidik PAUD untuk menerapkan metode proyek pada pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan seni menggambar anak TK.

Hubungan antara minat, aktivitas belajar seni budaya dengan hasil gambar bentuk siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Pakel Kabupaten Tulungagung / Endika Ngala Jusanto

 

Kata kunci: minat belajar, aktivitas belajar, seni budaya, hasil gambar bentuk. Minat belajar merupakan suatu perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam belajar sehingga daya-daya yang dimiliki seseorang menjadi berkembang. Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara awal dengan guru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pakel, diperoleh data sementara bahwa, kesiapan, kedisiplinan dan konsentrasi siswa dalam kegiatan pembelajaran gambar bentuk masih rendah dan kurang sesuai dengan indikator yang direncanakan. Sementara minat merupakan faktor penting yang akan berpengaruh terhadap hasil gambar bentuk, dimungkinkan bahwa rendahnya minat yang ditunjukkan melalui aktivitas siswa di atas, berhubungan dengan hasil gambar bentuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pakel Kabupaten Tulungagung. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan: (1) minat siswa pada pembelajaran gambar bentuk kelas VII SMP Negeri 1 Pakel; (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran gambar bentuk kelas VII SMP Negeri 1 Pakel; (3) hubungan antara minat pada pembelajaran gambar bentuk dengan hasil gambar bentuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pakel; (4) hubungan antara aktivitas siswa dalam pembelajaran gambar bentuk dengan hasil gambar bentuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pakel; (5) hubungan antara minat dan aktivitas siswa dalam pembelajaran gambar bentuk dengan hasil gambar bentuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pakel. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif, dengan rancangan deskriptif korelasional, untuk Populasi sebanyak 208 siswa. Teknik pengambilan sampel memakai probability sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 120 siswa. Teknik pengumpulan data memakai angket/kuesioner. Pada teknik analisis data memakai analisis deskriptif dan regresi berganda menggunakan program komputer SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat siswa pada pembelajaran gambar bentuk dikategorikan tinggi yaitu sebasar 54%, aktivitas siswa dalam pembelajaran gambar bentuk dikategorikan tinggi yaitu sebesar 57%, dan hasil gambar bentuk siswa dikategorikan tinggi sebesar 52%. Hasil regresi secara parsial menunjukkan bahwa hubungan variabel minat siswa pada pembelajaran gambar bentuk dengan hasil gambar bentuk sebesar 0,000 > 0,05 (5%) atau 5,806 > 1,980, dan hubungan variabel aktivitas siswa dengan hasil gambar bentuk sebesar 0,02 > 0.05 (5%) atau 2,558 > 1,980. Dengan demikian mempunyai hubungan signifikan antara minat dan aktivitas siswa dengan hasil gambar bentuk siswa. Sedangkan basarnya hubungan/pengaruh antara minat dan aktivitas siswa dalam pembalajaran gambar bentuk dengan hasil gambar bentuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pakel Kabupaten Tulungagung yaitu cukup kuat sebesar 50,1%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka disarankan kepada orang tua maupun pihak sekolah hendaknya selalu meningkatkan minat anak/siswanya, supaya hasil belajar siswa tercapai dengan baik.

Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII E SMP Negeri 8 Malang dengan pembelajaran kooperatif tipe think pair square share / Yuniar Ika Putri Pranyata

 

Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah, pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square Share Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang strategis untuk mengetahui kompetensi siswa dalam menerapkan 4 tahapan pemecahan masalah. Masalah yang dimaksudkan adalah suatu persoalan matematika dengan penyelesaian yang beragam dan memuat empat tahap pemecahan masalah yaitu memahami, merencanakan, menyelesaikan dan mengecek solusi yang didapatkan. Menurut tes kemampuan awal yang dilakukan di SMP Negeri 8 Malang, sebagian besar siswa kelas VIII E memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lemah ditunjukkan dengan skor tes yang rendah. Think Pair Square Share adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif dengan tingkat berpikir yang bertahap sehingga dapat mengakomodasi siswa untuk berpikir secara mandiri memahami masalah sampai pada tahap mengkomunisasikan rencana dan solusi dari permasalahan pada teman atau guru. Proses pembelajaran menuntut siswa untuk dapat menyelesaikan masalah secara individu dan secara kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tindakan guru dalam langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square Share yang meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII E SMP Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2011 dengan materi pembelajaran lingkaran. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tindakan guru dalam langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe think pair square share yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah (1) guru mengelompokkan siswa dengan kemampuan yang heterogen menurut hasil tes kemampuan awal, langkah ini dapat meningkatkan sikap siswa saat merencanakan solusi, (2) tahap think, guru memberikan suatu permasalahan dalam bentuk LKS dan meminta siswa mengerjakan secara individu. Guru menekankan kepada siswa untuk mengerjakan sendiri dengan membuka buku sumber. Langkah ini terbukti meningkatkan sikap siswa dalam memahami permasalahan, (3) tahap pair, guru meminta siswa berdiskusi untuk bertukar ide dengan teman sebangku. Guru mengarahkan pasangan siswa untuk bekerjasama secara positif guna merencanakan penyelesaian masalah, (4) tahap square, guru meminta siswa berdiskusi tetapi dengan pasangan lain sehingga membentuk kelompok berempat. Guru membimbing kelompok siswa yang masih belum bisa memecahkan masalah. Tahap ini meningkatkan sikap penyelesaian masalah siswa, (5) tahap share, guru meminta siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok yang telah dilakukan. Siswa lain diminta guru berperan menjadi pengamat serta penanya guna memperoleh solusi yang paling efektif dan benar. Siswa yang aktif dan kooperatif akan mendapat penghargaan berupa tambahan nilai. Penambahan kuantitas soal pemecahan masalah dan pengkonstruksian materi yang jelas akan mempermudah siswa untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

Penerapan model think pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas X A di SMAN 1 Gondanlegi / Nurmauladina Oktorina

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS), hasil belajar Berdasarkan hasil observasi awal pada bulan Oktober 2010 dalam proses pembelajaran geografi di kelas XA SMAN 1 Gondanglegi tahun ajaran 2010/2011 terdapat beberapa kelemahan yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu: (1) Kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi pembelajaran menganalisis masih kurang dikarenakan metode yang dilakukan di dalam kelas monoton yng membuat siswa bosan sehingga hasil belajar rendah (2) Hasil belajar siswa masih rendah diketahui dari hasil analisis data hasil belajar pratindakan belum ada siswa yang mempunyai nilai dengan kriteria sangat baik, kriteria nilai siswa yang terbanyak adalah baik 38% dan cukup 38%, juga masih tedapat kriteria kurang dan sangat kurang, bila dihubungkan dengan belajar tuntas ketuntasan belajar siswa masih rendah yaitu hanya 38% saja siswa yang dinyatakan tuntas dalam belajar. (3) Dalam kegiatan diskusi kelompok yang selama ini dilakukan di dalam kelas cenderung gaduh dan tidak efektif dikarenakan anggota kelompok yang berlebihan (5-6 orang). Tujuan penelitian ini meningkatkan hasil belajar geografi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TPS . Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan, dilakukan di kelas X A SMAN 1 Gondanglegi pada bulan Januari-Februari 2011. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan tabel persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar geografi siswa mengalami peningkatan. Siklus I hasil belajarnya sebagian besar baik yaitu 56% dari semua, namun masih ada nilai sisiwa dengan kriteria kurang yaitu 32% dari semua siswa, dan ketuntasan belajarnya mengalami peningkatan 59%. Siklus II hasil belajarnya mengalami peningkatan sebagian besar nilai siswa mendapat kriteria sangat baik yaitu 62% dari semua siswa, 32% lainnya dengan kriteria baik dan untuk kategori kurang sudah tidak ada, dalam hal ketuntasan belajar siklus II mengalami peningkatan dari siklus I yaitu 94%. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa Siswa dapat lebih siap untuk memperoleh pembelajaran bila LKS diberikan sebelum pembelajaran dimulai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar geografi setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model TPS. Disarankan kepada para guru geografi untuk mencoba menerapkan model TPS agar kualitas pembelajaran geografi semakin meningkat dan memberikan tugas sebelum pembelajaran agar siswa lebih siap. Kepada pihak sekolah disarankan agar memberikan fasilitas yang menunjang keberhasilan penerapan model tersebut di sekolah, seperti media belajar geografi yang memadai dan menerapkan beberapa model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pemanfaatan surat kabar sebagai media media pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Pandanwangi 4 Malang / Agus Irawan

 

Kata kunci: pemanfaatan surat kabar, media pembelajaran, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan pembelajaran IPS di kelas IV SDN Pandanwangi 4 Malang. Selama ini pembelajaran IPS yang diterapkan oleh guru kelas IV belum terlaksana dengan optimal. Guru tidak menggunakan media pembelajaran. Selain itu aktivitas dan hasil belajar siswa juga masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa sebelum penelitian. Diantara 24 siswa, hanya terdapat 12 (50%) siswa yang tuntas belajar atau memenuhi KKM yang ditetapkan. Tujuan dari penelitian ini antara lain; (1) mendeskripsikan pembelajaran IPS dengan memanfaatan surat kabar sebagai media pembelajaran kelas IV di SDN Pandanwangi 4 Malang, (2) mendeskripsikan pemanfaatkan surat kabar sebagai media pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV di SDN Pandanwangi 4 Malang, dan (3) mendeskripsikan pemanfaatkan surat kabar sebagai media pembelajaran IPS untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Pandanwangi 4 Malang. Materi yang dibahas dalam penelitian ini adalah permasalahan sosial di daerah sekitar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif interaktif. Dalam penelitian ini. peneliti melakukan kolaborasi dengan guru kelas IV. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari; wawancara, kuisioner, tes, dan dokumentasi. Jenis data yang akan dikumpulkan berupa data hasil pengamatan penyusunan RPP, hasil pengamatan tindakan peneliti pada saat pembelajaran, aktivitas belajar siswa, dan hasil belajar siswa. Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif, baik deskriptif kualitatif maupun deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus. Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan MC. Taggart. Kendala yang dialami dalam penelitian ini adalah menentukan bacaan dari surat kabar yang berhubungan dengan materi "masalah sosial". Kesimpulan dari penelitian ini antara lain; (1) pembelajaran dengan memanfaatkan surat kabar sebagai media pembelajaran dinilai efektif untuk pemahaman materi IPS bagi siswa, (2) pembelajaran dengan memanfaatkan surat kabar sebagai media pembelajaran ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, dan (3) pembelajaran dengan memanfaatkan surat kabar sebagai media pembelajaran ini juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I (40,91%) mengalami peningkatan pada siklus II (84,79%). Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut, disarankan guru hendaknya menggunakan media pembelajaran yang lebih variatif dan inovatif dalam pembelajaran IPS yang sesuai dengan karakteristik dan tingkat pemikiran siswa.

Hubungan stres terhadap burnout (kejenuhan) mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2008 / Ayu Kurniawati

 

Kata Kunci : Stres, Burnout, Mahasiswa Stres yang ditimbulkan oleh kondisi di kampus yang kurang bagus, seperti tugas yang banyak, dimarahi dosen, telah diidentifikasi sebagai penyebab utama terjadinya burnout di kalangan mahasiswa Stres yang dialami oleh individu dalam jangka waktu yang lama dengan intensitas yang cukup tinggi akan mengakibatkan individu yang bersangkutan menderita kelelahan fisik, emosional, maupun mental, keadaan seperti ini disebut burnout. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) stres mahasiswa Psikologi, (2) Burnout mahasiswa Psikologi, (3) Pengaruh Stres Terhadap Burnout Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2008. Subyek penelitian Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2008 yang berjumlah 83 orang dengan menggunakan skala stres dan burnout. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik analisis deskriptif korelasional. Hasil penelitian terhadap 83 orang mahasiswa psikologi angkatan 2008 menunjukkan bahwa: (1) stres 33 mahasiswa Psikologi (39,8%) berada pada tingkatan sedang, (2 Burnout 31 mahasiswa Psikologi (37,3%) berada pada tingkatan sedang, (3) Terdapat Hubungan Stres Terhadap Burnout Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2008. rxy = 0,258 Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi Mahasiswa untuk menyusun jadwal untuk menyelesaikan tugas sehingga mengurangi stres, berolahraga, melakukan relaksasi, mencari rasa nyaman dari orang lain, atau mencari dukungan emosional dari orang-orang di sekitar. Memberikan perhatian, pemahaman, dan mengadakan program atau kegiatan pelatihan cara menghadapi stres yang adaptif, sehingga para remaja mampu menghadapi stres dengan hal-hal positif dan tidak menghadapinya dengan perilaku-perilaku yang kurang bermanfaat.

Pengembangan media blog layanan informasi dunia kerja bagi siswa SMALB-B di Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB) Malang / Devi Permatasari

 

Kata Kunci: Media Blog, Informasi Dunia Kerja, Siswa SMALB-B Layanan informasi karier merupakan salah satu alat yang digunakan siswa dalam memperoleh pengetahuan dan pandangan mengenai dunia kerja secara umum. Layanan informasi karier yang dibutuhkan siswa SMALB-B adalah informasi dunia kerja, guru SMALB-B wajib memberikan layanan informasi dunia kerja secara komperhensif. Adanya keterbatasan yang dimiliki siswa tunarungu, maka media blog sebagai pengoptimal layanan informasi dunia kerja. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan media blog layanan informasi dunia kerja bagi siswa SMALB-B yang dapat diterima dari segi kepraktisan dan kemenarikan. Media tersebut dibuat untuk memenuhi syarat akseptabilitas atau keberterimaan, yaitu tingkat kegunaan, kelayakan dan ketepatan media blog layanan informasi dunia kerja bagi siswa SMALB-B. Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan media blog layanan informasi dunia kerja bagi siswa SMALB-B di YPTB Malang ini diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall, yaitu sebagai berikut: (1) tahap I prapengembangan, bagian ini melakukan observasi, wawancara, need assessment untuk menetapkan informasi dan menentukan prioritas kebutuhan, (2) tahap II pengembangan, bagian ini merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, menentukan model dan teknik penyusunan produk (persiapan, pelaksanaan dan editing), dan prototipe media blog , (3) tahap III pascapengembangan, bagian ini melakukan uji ahli materi bimbingan dan konseling, uji ahli media bimbingan, uji praktisi dan uji lapangan. Metode analisis pengembangan ini untuk data kuantitatif menggunakan analisis mode sedangkan untuk kualitatif menggunakan analisis isi. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa media blog layanan informasi dunia kerja bagi siswa SMALB-B YPTB Malang memiliki tingkat akseptabilitas dari segi teoritis dan praktis, sehingga media layanan informasi dunia kerja sesuai bagi siswa SMALB-B. Hasil uji praktisi dan uji lapangan menunjukkan bahwa media blog layanan informasi dunia kerja sangat sesuai bagi siswa SMALB-B YPTB Malang dari segi kemenarikan dan kepraktisan. Berdasarkan hasil validasi dan uji lapangan dapat dikatakan bahwa media blog layanan informasi dunia kerja telah memenuhi syarat akseptabilitas dari segi kemenarikan dan kepraktisan. Berdasarkan hasil pengembangan, disarankan: (1) media blog layanan informasi dunia kerja perlu digunakan guru di SMALB-B dalam memberikan bimbingan karier kepada siswa SMALB-B, (2) media blog perlu ditambahkan jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan siswa tunarungu dan meneliti tingkat keefektifan media blog layanan informasi dunia kerja bagi siswa SMALB-B dengan menggunakan rancangan experimen.

Pengembangan perangkat pembelajaran dengan pendekatan inkuiri pada pokok bahasan prisma dan limas untuk siswa SMP kelas VIII / Ines Purbasari

 

Kata Kunci: perangkat pembelajaran, pendekatan inkuiri, prisma dan limas. Perangkat pembelajaran berperan penting dalam mengoptimalkan interaksi belajar mengajar. Guru akan lebih mudah dalam mengelola kelas, sedangkan siswa akan terbantu dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Perangkat pembelajaran yang baik mampu membawa siswa pada pengalaman belajar yang berlangsung dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran mutlak diperlukan oleh seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan model pembelajaran dengan aktivitas investigasi untuk menemukan kembali suatu bentuk konsep berdasarkan pada data yang teramati. Aktivitas investigasi dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan rasa keingintahuan siswa dalam memperoleh pemahaman terhadap suatu konsep atau pemecahan masalah. Siswa tidak hanya sekedar belajar menghafal, tetapi juga mampu mengalami proses belajar bermakna dengan jalan merekonstruksi pengetahuan. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri memberi ruang kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang aktif. Prisma dan limas merupakan sub pokok bahasan geometri yang dipelajari di tingkat SMP. Pokok bahasan tersebut mempelajari tentang unsur-unsur dan sifat-sifat, jaring-jaring, luas permukaan, serta volume prisma dan limas. Dari hasil penelitian sebelumnya dan hasil wawancara dengan beberapa siswa kelas VIII menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap volume limas dan prisma masih rendah. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Model pengembangan mengacu pada model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel,dan Semmel (1974) yang telah dimodifikasi. Modifikasi dilakukan dengan menyederhanakan tahap yang dilakukan menjadi 3D, yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop). Penulis tidak melakukan tahap penyebaran (disseminate) karena keterbatasan waktu dan dana. Proses validasi produk RPP dan LKS melibatkan 2 orang validator ahli, 2 orang validator praktisi, dan 6 orang validator pengguna. Berdasarkan hasil validasi yang diuraikan pada Bab IV, secara keseluruhan produk yang dikembangkan dinyatakan valid. Namun, penyempurnaan RPP dan LKS tetap dilakukan dengan memperhatikan saran dari validator. Disarankan kepada guru untuk memanfaatkan hasil pengembangan ini sebagai acuan alternatif pembelajaran materi prisma dan limas. Pengembang lain diharapkan melakukan tindak lanjut pengembangan perangkat pembelajaran dengan pendekatan inkuiri untuk jenjang pendidikan dan materi yang lain.

Meningkatkan kemampuan operasi hitung satuan waktu melalui model think pair share dengan bermain kartu bilangan pada siswa kelas V SDN Galih II / Linawati

 

Kata Kunci: Think Pair Share, Kartu Bilangan, Satuan Waktu. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari Sekolah Dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Realita di lapangan masih banyak masalah yang dihadapi di kelas baik dari guru, siswa, metode, strategi, media pembelajaran, sarana dan prasarana. Dengan demikian penelitian ini dilakukan untuk (1) Mendeskripsikan cara penerapan pembelajaran model Think Pair Share untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung satuan waktu melalui media bermain kartu bilangan pada matematika di kelas V SDN Galih I; (2) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran model Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pengerjaan operasi hitung satuan waktu pada matematika kelas V SDN Galih II. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah PTK, tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini yaitu siswa kelas V SDN Galih II Pasrepan-Pasuruan semester 2 tahun ajaran 2010/2011. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1) observasi, 2) tes, 3) Wawancara, 4) dokumentasi. Penelitian ini dilakukan secara bersiklus. Tiap Siklus dilakukan dalam tiga kali pertemuan. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 21, 22, 23, Maret 2011. Siklus II dilaksanakan pada tanggal 24, 28, 29, Maret 2011 dan siklus III dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2011. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pada siklus I skor rata-rata kelas meningkat menjadi 57,08 dengan tingkat ketuntasan mencapai 39,46%. Pada siklus II skor rata- rata kelas meningkat menjadi 65,42 dengan tingkat ketuntasan mencapai 75%. dan siklus II skor rata- rata kelas meningkat menjadi 75,83 dengan tingkat ketuntasan mencapai 91,67%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Think Pair Share dengan bermain kartu bilangan mengalami keberhasilan. Dari penelitian ini diharapkan agar guru dapat menggunakan media permainan untuk meningkatkan keterampilan berhitung siswa.

Penerapan model pembelajaran generatif untuk meningkatkan minat belajar fisika dan prestasi belajar fisika siswa kelas X.6 SMA N 1 Kepanjen / Sri Wahyuni

 

Kata kunci : Model pembelajaran Generatif, minat belajar fisika, prestasi belajar fisika Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas X.6 SMAN 1 Kepanjen, diperoleh informasi bahwa guru sudah pernah menerapkan beberapa metode pembelajaran inovatif tetapi masih belum menampakkan hasil, guru masih sering menggunakan metode klasikal dengan proses pembelajaran berpusat pada guru, berdasarkan data awal diperoleh nilai ulangan harian sebelum tindakan sebe-sar 50,17 dan memenuhi KKM (75) hanya 20% siswa yang lulus. Guru menyam-paikan materi menggunakan tayangan slide, sedangkan siswa hanya mendengar-kan sambil mencatat dan pada akhir pembelajaran mengkopi slide tayangan guru. Metode klasikal yang diterapkan oleh guru dapat membuat minat belajar fisika siswa berkurang dan mempengaruhi hasil prestasi belajar fisika. Model pembela-jaran menurut peneliti yang cocok diterapkan untuk dapat menumbuhkan minat siswa adalah Model Pembelajaran Generatif. Model ini memung-kinkan siswa untuk mengintegrasikan secara aktif pengetahuan barunya dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Model Pembe-lajaran Generatif sehingga dapat meningkatkan minat belajar fisika dan prestasi belajar fisika siswa kelas X.6 di SMAN 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan meng-gunakan pendekatan kualitatif. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, tes, angket dan catatan lapangan. Penelitian dilaksanakan di kelas X.6 SMAN 1 Kepanjen dengan jumlah 30 siswa. Hasil analisis pada siklus I dan siklus II menunjukkan minat belajar fisika dan prestasi belajar fisika siswa kelas X.6 SMAN 1 Kepanjen mengalami pening-katan. Minat belajar fisika berdasarkan angket mengalami peningkatan dari sebe-lum tindakan dan sesudah tindakan sebesar 2,453 menjadi 2,928. Hasil minat ber-dasarkan hasil lembar observasi pada siklus I sebesar 64,59% menjadi 85,42% pada siklus II. Peningkatan Prestasi belajar fisika siswa dapat dilihat dari mening-katnya aspek kognitif dari skor 83 pada siklus I menjadi skor 94 atau meningkat sebesar 13,3% pada siklus II. Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran generatif mampu meningkatkan minat belajar fisika dan prestasi belajar fisika siswa.

Pengembangan CD interaktif untuk pembelajaran baca tulis huruf Arab untuk anak prasekolah dengan metode shoutiyah tarkibiyah / Fathin Mahsunah

 

Kata kunci: cd Interaktif, baca tulis huruf arab, anak prasekolah, metode shoutiyah tarkibiyah. Salah satu alternatif untuk mendukung proses pembelajaran adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi berbasis komputer. Salah satunya adalah CD interaktif. CD interaktif dipandang sebagai media pembelajaran yang dapat mempercepat penyimpanan dan pemanggilan informasi, sehingga kegiatan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab dapat lebih praktis, efesien, dan menyenangkan, sehingga kebutuhan siswa dari berbagai tipe belajar akan terlayani. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan produk cd interaktif yang meliputi (1) proses pengembangan CD Interaktif untuk pembelajaran baca tulis huruf arab untuk anak prasekolah dengan metode shoutiyah tarkibiyah, (2) tampilan hasil produk media CD Interaktif Untuk Pembelajaran Baca Tulis Huruf Arab untuk Anak Prasekolah dengan Metode Shoutiyah Tarkibiyah, (3) petunjuk penggunaan CD Interaktif Untuk Pembelajaran Baca Tulis Huruf Arab untuk Anak Prasekolah dengan Metode Shoutiyah Tarkibiyah. Rancangan penelitian ini adalah pengembangan. Pengembangan CD interaktif ini, dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: melakukan studi literatur, melakukan proses produksi, uji validasi, revisi, dan uji lapangan. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media Cd interaktif untuk pembelajaran baca tulis huruf Arab untuk anak prasekolah dengan metode shoutiyah tarkibiyah dan juga buku latihan menulis huruf Arab sebagai penunjang terhadap pemahaman siswa tentang materi yang ada pada CD interaktif yaitu materi tentang cara membaca dan menulis harokat dan huruf hijaiyyah. Selain itu, buku latihan menulis huruf hijaiyyah ini juga sebagai bentuk praktek secara nyata oleh siswa dalam kemahiran membaca dan menulis huruf hijaiyyah (huruf Arab), khususnya pada kemahiran menulis huruf hijaiyyah (huruf Arab). Produk CD interaktif ini dibuat menggunakan program Macromedia Director yang dibantu oleh programer. Penggunaan CD interaktif ini bukan merupakan media untuk penyampaian materi melainkan media yang berfungsi sebagai media pembelajaran mandiri yang bisa digunakan dimana pun berada dan kapanpun waktunya. Saran untuk pengembangan produk lebih lanjut adalah (1) perlu adanya pengembangan materi lainnya baik berupa pengembangan media pembelajaran atau media pengayaan, (2) peningkatan keinteraktifan media pembelajaran dengan menyediakan fitur-fitur sederhana yang dapat diakses otomatis, dan (3) pengembangan media pembelajaran berbasis WEB (World Wide Web).

Pembelajaran berbicara bahasa Jawa di kelas VII SMP Negeri 10 Malang tahun ajaran 2010-2011 / Furri Adhe Ermawaty

 

Kata kunci: pembelajaran, berbicara bahasa Jawa Pembelajaran muatan lokal yang diberlakukan di sekolah dasar dan menengah merupakan salah satu kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. Pembelajaran bahasa Jawa mencakup empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di antara keempat aspek berbahasa tersebut, keterampilan berbicara dihadapkan pada berbagai kendala dalam pembelajaran. Kesulitan dan variasi tingkat tutur bahasa Jawa mengakibatkan pembelajaran berbicara bahasa Jawa lebih sulit dibandingkan dengan pembelajaran lainnya. Selain itu, keberagaman latar sosial budaya peserta didik mengakibatkan munculnya kendala kebahasaan yang berupa dialek. Perbedaan wilayah geografis di Jawa Timur menyebabkan munculnya variasi dialek bahasa Jawa yang turut berpengaruh pula dalam pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran berbicara bahasa Jawa, (2) pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Jawa, (3) penilaian pembelajaran berbicara Bahasa Jawa, serta (3) kendala yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa di kelas VII SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa data kualitatif berwujud catatan lapangan mengenai perencanaan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran berbicara bahasa Jawa, serta kendala pembelajaran berbicara bahasa Jawa yang diperoleh melalui wawancara. Data mengenai kendala siswa dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa diperoleh melalui kuesioner. Data pelaksanaan dan kendala pembelajaran diperoleh melalui observasi. Data perencanaan dan penilaian pembelajaran diperoleh melalui dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia atau peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap klasifikasi data, penafsiran data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian pembelajaran berbicara bahasa Jawa di SMP Negeri 10 Malang tahun ajaran 2010-2011 meliputi: (1) Guru tidak menyusun sendiri perencanaan pembelajaran berbicara bahasa Jawa. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang digunakan guru merupakan rencana pembelajaran tim MGMP Bahasa Daerah Kota Malang. Rencana pembelajaran tersebut tidak diubah oleh guru maupun disesuaikan dengan potensi sekolah dan potensi siswa. Komponen rencana pelaksanaan pembelajaran yang digunakan oleh guru meliputi hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi ajar, strategi pembelajaran, serta perencanaan pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran yang digunakan oleh guru tidak memuat perencanaan penilaian pembelajaran, baik penilaian proses maupun penilaian hasil; (2) Pelaksanaan pembelajaran berbicara bahasa Jawa dilaksanakan dalam dua pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran di kelas tidak sesuai dengan perencanaan langkah-langkah pembelajaran dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran pertemuan pertama belummencerminkan pembelajaran keterampilan berbicara. Kegiatan pendahuluan dilakukan guru dengan salam, pengecekan tugas rumah, penyampaian tujuan pembelajaran, serta penyampaian materi pembelajaran. Guru meminta siswa untuk menulis teks dialog secara berpasangan pada kegiatan inti. Kegiatan penutup dilakukan guru dengan memberi siswa tugas rumah dan merencanakan pertemuan berikutnya. Pembelajaran pada pertemuan kedua terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan terdiri dari salam dan penyampaian tujuan pembelajaran. Kegiatan inti diarahkan pada performansi siswa menampilkan dialog. Kegiatan penutup dilakukan guru dengan memberi tugas lanjutan pada siswa; (3) Penilaian proses meliputi minat dan perhatian siswa mengikuti pembelajaran dan keaktifan siswa. Penilaian hasil diperoleh melalui performansi siswa berdialog namun guru tidak menggunakan pedoman penilaian dalam melakukan penilaian proses maupun penilaian hasil; (4) Kendala guru yang dihadapi dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa di kelas VII adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun, pengadaan bahan ajar, penggunaan media pembelajaran, serta latar belakang budaya siswa yang menggunakan bahasa Jawa dialek Malang dalam komunikasi sehari-hari. Kendala pembelajaran yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa adalah kurangnya pemahaman siswa pada ragam bahasa Jawa dialek standar dan kurangnya pemahaman siswa dalam menggunakan ragam bahasa Jawa sesuai dengan situasi dan kondisi. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dikemukakan simpulan penelitian sebagai berikut (1) perencanaan penilaian belum menggambarkan fungsi pembelajaran berbicara. Perencanaan penilaian pembelajaran dinilai kurang karena tidak terdapat perencanaan penilaian proses maupun penilaian hasil belajar berbicara Bahasa Jawa; (2) pembelajaran berbicara bahasa Jawa di kelas tidak dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk memudahkan siswa mempelajari unggah-ungguh basa Jawa adalah transliterasi dan kuis; (3) Guru tidak memiliki catatan lapangan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa tetapi guru mengetahui kendala utama yang dihadapi siswa dalam pembelajaran. Guru menilai performansi siswa tanpa mengggunakan pedoman penilaian tetapi guru mampu menentukan kualitas hasil belajar siswa; (4) Kendala guru yang dihadapi dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa di kelas VII adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusun. Guru kesulitan menemukan model pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang siswa. Kemampuan siswa terbatas pada menentukan ragam bahasa yang digunakan oleh seorang penutur kepada mitra tutur. Tetapi siswa tidak dapat mewujudkan hal tersebut dalam konteks komunikasi nyata. Melalui gambaran kendala pembelajaran berbicara bahasa Jawa, diharapkan pembelajaran berbicara bahasa Jawa diajarkan dengan menggunakan strategi yang memudahkan siswa mempelajari unggah-ungguh basa. Guru disarankan melakukan penelitian pengembangan yang berkaitan dengan penilaian pembelajaran berbicara bahasa Jawa serta media pembelajaran yang sesuai guna menunjang pembelajaran berbicara bahasa Jawa melalui inovasi baru maupun komunikasi dengan narasumber di perguruan tinggi.

Mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang / Nofi Sri Utami

 

Kata Kunci : Mediasi, Persidangan Izin Poligami, Pengadilan Agama Kota Malang Mediasi merupakan proses penyelesaian sengketa yang dapat memberikan akses yang lebih besar kepada para pihak menemukan penyelesaian yang memuaskan dan memenuhi rasa keadilan. Sebelum dilakukan pelaksaanaan mediasi maka pelaku harus memenuhi persyaratan mediasi yang ditentukan oleh pengadilan, dalam pelaksanaan mediasi masih banyak pelaku izin poligami yang belum mengerti akan keefektifan dilakukanya mediasi. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai mediasi dalam persidangan izin poligami. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup Faktor-faktor yang mendorong seorang suami untuk melakukan izin poligami, keefektifan mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang, pelaksanaan mediasi dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Kota Malang, keberhasilan mediasi dalam proses persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan data permohonan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang tahun 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaah data, tahap identifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah Faktor-faktor yang mendorong seorang suami untuk melakukan izin poligami. Banyak faktor yang mendorong seorang melakukan poligami meliputi istri tidak mau dicerai, suami merasa mampu secara materi, negara membolehkan poligami serta dalam islam tidak dilarang. Dengan faktor tersebut maka seorang suami melakukan poligami. Kedua, masalah keefektifan mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang. Mediasi yang dilakukan di Pengadilan Agama Kota Malang sangatlah efektif. Dimana keefektifan ini ditunjukan dengan kejelasan para pihak mengenai hak dan kewajiban yang harus dilakukan saat melakukan poligami sehingga para pihak yang melakukan izin poligami tidakada yang dirugikan karena sama-sama mengetahui kemauan masin-masing. Ketiga, masalah pelaksanaan mediasi dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Kota Malang. Pelaksanaan mediasi ada 2 tahap yaitu tahap pramediasi dan pelaksanaan mediasi. Dimana pramediasi merupakan tahap dimana pelaku izin poligami mendapatkan tawaran mediator dari pengadilan serta melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan dalam melakukan izin poligami sedangan pelaksanaan mediasi merupakan tahap dimana pelaku izin poligami bertemu secara langsung yang dipimpin oleh seorang mediator yang telah dipilih oleh pelaku izin poligami maupun ditentukan oleh pengadilan. Keempat, masalah keberhasilan mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang. Mediasi dikatakan berhasil jika pelaku-pelaku poligami tidakada yang keberatan dengan dilakukanya poligami dan hakim telah melaksanakan tugasnya menjadi mediator dengan memberikan nasehat-nasehat yang baik kepada pelaku poligami. Jika mediasi dinyatakan berhasil maka Pengadilan Agama akan membuatkan akta perdamaian yang disetujui oleh para pihak izin poligami kemdian digunakan sebagai bukti untuk menikah lagi. Sedangkan jika gagal maka akan dilanjutkan ke tahap persidangan.

Studi tentang hasil gambar anak tuna grahita pada pembelajaran seni budaya di SLB-C Pembina Malang / Ika Hendrati

 

Kata Kunci: hasil gambar, tuna grahita, SLB Pembina, Malang. Setiap anak harus mendapatkan pendidikan yang layak karena merupakan tulang punggung negara. Terdapat anak yang lahir dengan hambatan perkembangan bahasa, interaksi sosial dan intelegensi yang memiliki kecerdasan dibawah rata-rata yaitu anak tuna grahita. SLB-C Pembina Malang merupakan lembaga pendidikan khusus yang menangani pendidikan bagi anak tuna grahita. Menggambar selain sebagai media ekspresi emosi anak juga sebagai media terapi serta melatih koordinasi mata dan tangan pada anak tuna grahita. Karena menggambar adalah kegiatan merealisasikan pengalaman mental dan intelektual dan terkait dengan persepsi terhadap lingkungan sekitar, maka dilakukan penelitian terhadap visualisasi gambar anak tuna grahita pada pembelajaran Seni Budaya berdasarkan corak garis, corak bentuk, corak warna, gaya gambar, dan tema gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil gambar anak tuna grahita di SLB-C Pembina Malang berdasarkan corak garis, corak bentuk, corak warna, gaya gambar, dan tema gambar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Proses pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi hasil gambar anak tuna grahita di tingkat SD, SMP, dan SMA dengan jumlah 30 orang anak. Analisa data melalui tahap (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi data. Tahap pengecekan keabsahan data dengan Trianggulasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, mengenai corak garis pada gambar anak SD, SMP, dan SMA cenderung menggunakan garis nyata kaligrafis, garis semu struktural dan bentuk lengkung. Namun ditemukan garis imajiner pada gambar anak SD yang terbentuk dari hubungan antar objek yang berulang. Kedua, corak bentuk pada anak tuna grahita SD cenderung non geometris dan berupa perulangan bentuk. Sedangkan pada anak SMP dan SMA bentuk geometris dan non geometris cenderung seimbang. Ketiga, corak warna pada gambar anak SD, SMP, dan SMA cenderung menggunakan warna primer dan sekunder. Pada anak SD warna lebih subjektif dan warna cenderung mencolok sedangkan pada anak SMP dan SMA warna lebih objektif dan mencerminkan warna dari objek aslinya. Keempat, gaya gambar pada gambar anak SD cenderung rhythmical pattern sedangkan pada gambar anak SMP dan SMA cenderung lyrical. Kelima. tema hasil gambar anak SD cenderung bertema pemandangan dan bangunan, gambar anak SMP cenderung bertema pemandangan, sedangkan gambar anak SMA cenderung bertema bangunan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan penelitian lebih dalam tentang gambar anak tuna grahita dan penggunaan variasi media dalam proses pembelajaran menggambar.

Perbedaan metode pembelajaran problem solving berbantuan media pembelajaran dengan metode pembelajaran langsung terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pemrograman visual basic siswa kelas X SMK Negeri 6 Malang / Tita Sari Rahmawati

 

Kata Kunci: problem solving, media pembelajaran, prestasi belajar Pembelajaran di kelas cenderung membuat siswa kurang kreatif dan pasif dalam memecahkan masalah. Kesulitan memecahkan masalah dikarenakan metode pembelajaran yang digunakan masih membuat siswa kurang antusias dalam memperhatikan materi pembelajaran yang disampaikan guru. Selain itu guru tidak memberikan contoh penyelesaian masalah sebelum siswa melakukan pemecahan masalah. Hal ini menyebabkan prestasi belajar siswa rendah. Penelitian dengan penerapan Metode Problem solving ini dilakukan dalam upaya meningkatkan motivasi, pemahaman dan kemampuan memecahkan masalah pada pemrograman array dan teknik sorting. Metode problem solving melatih siswa dalam menghadapi masalah. Siswa dipacu untuk kreatif, aktif, dan tanggap dalam menghadapi berbagai masalah pada pemrograman. Sedangkan guru memotivasi, memberikan arahan dan menjadi fasilitator. Untuk membantu guru dalam menguatkan konsep dengan simulasi/tahap-tahap pemecahan masalah guru menggunakan bantuan media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi ekperimental design tipe Nonequivalent Control Group Design . Sampel yang digunakan sebanyak dua kelas yaitu kelas X RPL-3 sebagai kelompok eksperimen (kelompok yang diberi perlakuan menggunakan metode problem solving berbantuan media pembelajaran dan kelas X RPL 2 sebagai kelompok kontrol digunakan metode pengajaran langsung. Teknik analisis data menggunakan uji hipotesis dengan teknik uji-t dua pihak yang digunakan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa serta menggunakan analisa regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh metode problem solving terhadap prestasi belajar pemrograman Visual Basic. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) prestasi belajar metode problem solving berbantuan media pembelajaran telah terjadi peningkatan prestasi belajar, hal ini dapat dilihat pada nilai kemampuan awal siswa dengan nilai rata-rata sebesar 56,56, setelah diadakan perlakuan nilai rata-ratanya menjadi sebesar 87,47, sedangkan prestasi belajar menggunakan metode pengajaran langsung hanya 80,98 dari kemampuan awal 53,56. (2) adanya perbedaan prestasi belajar pada kelas kontrol dan eksperimen. Hal ini dibuktikan dari nilai Sig < 0,05 pada uji-t dua pihak. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata antara kelas eksperimen dibanding kelas kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran problem solving berbantuan media pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada kompetensi dasar memahami pemrograman visual berbasis desktop.

Improving eight graders' reading comprehension through autonomous learning strategy / Ida Fitri Rahmawati

 

Keywords : autonomous learning strategy, reading comprehension, narrative text, narrative pyramid, classroom action research. This study was aimed at improving the eighth graders' reading comprehension using autonomous learning strategy at SMPN 1 Singosari, Malang. Among the four language skills, reading is considered as the most important skill to be mastered. Reading skill is believed to be useful to improve the students' mastery of other skills and to support academic success. However, in its reality, the students' reading ability is still far from the expectation. Many students have difficulties in understanding English texts. Based on the questionnaire distributed among 8E students of SMPN 1 Singosari in the preliminary study, the students' insufficient reading practice both inside and outside the classroom cause them to have low reading comprehension. In addition, the teacher dominated most of the reading activities. As a result, the students were passive and dependent on the teacher in the process of comprehension. Relevant to the background, this study used classroom action research design that encompasses two cycle and four stages (planning, implementing, observing, and reflecting). The classroom English teacher and an assistant acted as the observer during the teaching and learning process. The subjects were 32 students of 8E in SMP Negeri 1 Singosari, Malang in 2010/2011 academic year. The instruments used to collect the data were interview guides, questionnaires, observation checklists, field notes, and the students' final reading score. The finding showed that autonomous strategy successfully improved the students' narrative comprehension. The students' reading score improved significantly from preliminary study to Cycle 1 and from Cycle 1 to Cycle 2. The students' mean score improved from 73.06 in the preliminary study to 80.96 in Cycle 1 and reached 83.95 in Cycle 2. Furthermore, the students' attitude towards reading activities was good after the implementation of the study. Most of the students showed their active participation and good motivation during the implementation of the strategy. Regarding these findings, it is suggested that English teachers implement autonomous learning strategy in teaching reading of narrative text type and other text types too. The English teachers were also recommended to give more interesting texts. In assisting the students to master reading skill, it is strongly recommended that the school adds more various collections of English reading materials. In addition, further researchers are suggested to apply this strategy for different text types on different grades and levels of education to see if the strategy can be used to help the students to improve their English ability well.

Penerapan pembelajaran CTL model role playing untuk meningkatkan kemahiran berbicara bahasa Arab siswa kelas XI di Madrasah Aliyah Negeri Malang II Batu / Ary Utami

 

Kata Kunci : CTL, role playing, keterampilan berbicara, MAN Malang II Batu. Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dengan menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Kaitannya dengan belajar Bahasa Arab adalah membantu siswa untuk menemukan makna pentingnya bahasa Arab dalam kehidupannya, sehingga ia merasa memerlukan bahasa tersebut untuk hidup, sosial dan memperoleh harga dirinya yang lebih baik untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Pembelajaran bahasa Arab di MAN Malang II masih didominasi dengan metode ceramah (classical). Pembelajaran bahasa Arab (PBA) dengan metode ceramah membuat siswa merasa bosan dan jenuh sehingga guru dituntut untuk menggunakan metode yang lebih bervariasi, agar siswa lebih termotivasi dan antusias dalam belajar bahasa Arab. Metode tersebut berupa pembelajaran CTL model role playing untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan tindakan kelas. Data yang dihasilkan berupa data kuantitatif berupa nilai/skor hasil belajar siswa selama berlangsungnya pembelajaran CTL model role playing yang diterapkan oleh peneliti. Dan data kualitatif berupa aktivitas guru dan siswa dalam proses pengajaran bahasa Arab menggunakan pembelajaran CTL model role playing untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa. Data penelitian ini sebagai berikut: penilaian pre tes, penilaian dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Data diperoleh dari siswa dan guru bahasa Arab MAN Malang II BATU. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara dan tes. Teknik analisi data dilakukan dengan (1) mereduksi data, (2) menyajikan data, dan (3) mengambil kesimpulan kemudian direvikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab dengan pembelajaran CTL model role playing dilakukan dengan menyiapkan RPP, lembar observasi guru dan siswa, rubrik penilaian kognitif untuk keterampilan berbicara siswa. Setelah diterapkan pembelajaran CTL model role playing untuk kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian keterampilan berbicara siswa pra tindakan 186 dengan persentase 55,35%. Pada siklus I mendapatkan nilai 226 dengan persentase 67,26%, kemudian siklus II mendapatkan nilai 250 dengan persentase 74,40%. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada kepala sekolah untuk mensosialisasikan pembelajaran CTL model role playing kepada semua guru MAN Malang II tanpa terkecuali agar menerapkan pembelajaran CTL model role playing di kelas masing-masing pada saat KBM berlangsung. Bagi guru mitra dapat menjadikan pembelajaran CTL model role playing ini sebagai model pembelajaran ketika mengajar pelajaran bahasa Arab di kelas agar siswa tidak merasa bosan. Model pembelajaran ini khususnya dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara, dan siswa tidak hanya memperoleh keterampilan berbicara saja tetapi juga memperoleh pengalaman baru ketika memerankan sebagai tokoh. Diharapkan untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis lebih memperluas cakupannya dengan mengembangkan materi yang diajarkan dengan waktu yang lebih lama, agar hasil penelitiannya jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guru-guru bahasa Arab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di kelas.

Pelaksanaan pengelolaan kelas sebagai upaya pembinaan moral siswa di SMA Negeri 1 Pamekasan / Fitriyatus Solehah

 

Kata Kunci: Pengelolaan Kelas, Pembinaan Moral Siswa Sekolah merupakan salah satu tempat untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan siswa untuk berperilaku baik. Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang tiap hari dilakukan, salah satunya dengan cara mengelola kelas. Sementara itu masih ada sebagian guru yang belum bisa melaksanakan pengelolaan kelas. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan kelas sebagai upaya pembinaan moral siswa di SMA Negeri I Pamekasan adalah: (1) Bagaimana pelaksanaan pengelolaan kelas di SMA Negeri I Pamekasan; (2) Apakah nilai-nilai moral yang terkandung dalam pelaksanaan pengelolaan kelas di SMA Negeri I Pamekasan; (3) Apakah kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengelolaan kelas sebagai upaya pembinaan moral siswa di SMA Negeri I Pamekasan; (4) Apakah strategi yang digunakan guru dalam mengatasi kendala-kendala dalam pengelolaan kelas di SMA Negeri I Pamekasan. Pendekatan dan jenis penelitian ini adalah pendekatan deskriptif-kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru-guru pengajar di SMA Negeri I Pamekasan. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada teknik analisis data interaktif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan pengelolaan kelas di SMA Negeri I Pamekasan dilakukan melalui kegiatan kerja kelompok, pengaturan tempat duduk siswa, dalam kegiatan belajar mengajar guru memvariasikan media pembelajaran, mengatasi masalah disiplin, mengembangkan kemampuan bertanya agar siswa lebih aktif, dan mengembangkan pemetaan bahan ; (2) Nilai moral yang terkandung dalam pelaksanaan pengelolaan kelas di SMA Negeri I Pamekasan antara lain dalam kegiatan kelompok siswa dilatih untuk peka terhadap sesama, saling menghargai pendapat, saling menghormati dan saling membantu, selain itu nilai moral yang terkandung dalam kegiatan pengelolaan kelas adalah melatih kedisiplinan siswa; (3) Kendala yang ditemui dalam pelaksanaan pengelolaan kelas di SMA Negeri I Pamekasan yaitu berasal dari individu siswa dan kelompok. Masalah yang berasal dari individu antara lain siswa suka melucu di kelas, bersikap pasif di kelas, hal ini karena siswa berusaha mencari perhatian orang lain atau temannya, sedangkan masalah kelompok misalnya terjadinya kekurang kompakan dalam kegiatan kelompok, saling meremehkan pendapat, bahkan bisa juga saling melecehkan antar kelompok; (4) Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi hambatan yang muncul dalam pelaksanaan pengelolaan kelas yaitu dengan cara pendekatan terhadap siswa yaitu melalui pendekatan kerja kelompok dan pendekatan perubahan tingkah laku, dalam mengajar guru memvariasikan media pembelajaran agar siswa tidak bosan di kelas, selain itu juga guru tidak bersikap otoriter terhadap siswa. Berdasarkan temuan penelitian disarankan agar: (1) Pengelolaan kelas di sekolah ini tetap dilaksanakan dengan baik dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengelolaan kelas hendaknya bisa dihindari. (2) untuk kedepannya, disarankan kepada guru untuk lebih meningkatkan kemampuan mengajar yang kreatif agar siswa bisa belajar dengan nyaman.

Peran kepala Sekolah Dasar Negeri Tembokrejo II Pasuruan dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat (studi kasus di SDN Tembokrejo II Pasuruan) / Yogi Adi Prasetyo

 

Kata kunci: peran kepala sekolah, kerjasama dan masyarakat Kepala sekolah merupakan pemimpin yang bertanggung jawab atas sekolah yang dipimpinnya. Sekolah sebagai tempat dimana pendidikan itu berlangsung tidak lepas hubungannya dengan masyarakat dalam mengembangkan dan memajukan pendidikan. Penelitian ini berguna untuk mengetahui seberapa besar peran kepala sekolah dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat dalam mengembangkan dan memajukan pendidikan. Ada lima fokus dalam penelitian ini, yaitu: bagaimana peran Kepala SDN Tembokrejo II dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat,siapa mitra kerjasama dan bagaimana bentuk kerjasamanya?apa manfaat dari kerjasama itu?apa hambatan dan cara mengatasi kerjasama?dan apa faktor pendukung kerjasama? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (observasi, interview dan dokumentasi). Informan kunci dari penelitian ini adalah kepala sekolah. Data tersebut diorganisasikan, ditafsirkan, dan dianalisis guna penyusunan abstraksi temuan lapangan, kredibilitas data dicek dengan teknik trianggulasi dan kecukupan referensial. Peran kepala sekolah dalam penyusunan perencanaan kerjasama berperan sebagai innovator yang mencetuskan ide bekerjasama dengan mitra kerjasama dan sebagai manajer pendidikan yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas kerjasama yang disepakati. Mitra kerjasama SDN Tembokrejo II Pasuruan adalah Madrasah Diniyah An Nur yang bentuk kerjasamanya adalah melakukan pengajaran baca tulis Al Quran, sedangkan dengan Sanggar Tari Kenari Pasuruan (STKP) ialah kerjasama di bidang akademik pada pembelajaran ektrakurikuler tari. Manfaat kerjasama ini dirasakan oleh sekolah, mitra kerjasama, siswa dan orangtua siswa. Hambatan yang ditemui dalam kerjasama ini, antara lain orangtua siswa yang kurang setuju dengan waktu pembelajaran yang dilaksanakan pada pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai dan kesulitan para siswa untuk bisa datang tepat waktu karena terlalu pagi. Faktor pendukung pada kerjasama ini ialah kedekatan lokasi dengan mitra kerjasama dan juga baiknya hubungan antara kedua belah pihak. Dari Analisis data disimpulkan: (1) Peran kepala sekolah dalam menyusun rencana menjalin kerjasama dengan masyarakat, yaitu sebagai innovator, dan manajer. Peran kepala sekolah dalam implementasi menjalin kerjasama dengan masyarakat, yaitu sebagai motivator dan fasilitator. Peran kepala sekolah dalam mengevaluasi kerjasama dengan masyarakat yaitu sebagai evaluator dan supervisor, (2) Mitra Kerjasama SDN Tembokrejo, yaitu Madrasah Diniyah An Nur dan Sanggar Tari Kenari Pasuruan, (3) Bentuk Kerjasama dengan Madrasah i Diniyah An Nur untuk pembelajaran baca tulis al Qur an pada awal jam pembelajaran berlangsung. Sedangkan kerjasama dengan Sanggar Tari Kenari Pasuruan mengisi ekstrakurikuler menari untuk siswa-siswi SDN Tembokrejo, (4) Manfaat Kerjasama dirasakan sekolah, mitra kerjasama, orangtua siswa, serta siswa SDN Tembokrejo II Pasuruan, (5) Hambatan dalam kerjasama datang dari orangtua siswa yang kurang setuju dengan waktu pembelajaran yang dilaksanakan pada pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai dan kesulitan para siswa untuk bisa datang tepat waktu karena terlalu pagi. Dari hasil penelitian, diajukan beberapa saran, yaitu: (1) Bagi kepala sekolah,disarankan untuk membentuk tim yang bergerak di bidang humas, (2) Bagi Peneliti lain disarankan untuk menggunakan penelitian ini sebagai pijakan untuk melakukan penelitian selanjutnya mengenai kelanjutan peran kepala sekolah dalam menjalin kerjasama dengan masyarakat. Hal tersebut akan dapat mengukur besarnya peran kepala sekolah dalam mengembangkan pendidikan, (3) Bagi Sekolah Lain, penelitian ini memperlihatkan bagaimana seharusnya kepala sekolah berperan dalam menjalin hubungan kerja sama dengan masyarakat. Dengan adanya penelitian ini diharapkan sekolah lain dapat merujuk hasilnya untuk mengembangkan sekolah.

The implementation of beyond centers and circle time (BCCT) at bilingual playgroup "Dunia Anak" Probolinggo: a case study / Anis Rizki Rostanti

 

Keywords: Beyond Centers and Circle Time, bilingual, playgroup. The increasing of English mastery both in spoken and written forms supports Indonesian government to issue the decree on the requirement for the teaching of English from the primary school that is in the fourth grade. Many playgroups and kindergarten also offer English programs and claim to implement a bilingual program. The bilingual program involves the use of two languages during the teaching and learning activities. Beyond Centers and Circle Time (BCCT) is a teaching approach that is applied by a number of playgroups in Indonesia nowadays. It supports very young learners to learn through playing activities that are supported by the teacher in several centers, such as sensory motor, alphabetic, nature, socio-drama, block, art and creativity, and technology centers. The knowledge is not transferred from the teacher but teacher is only the facilitator, motivator and evaluator. The research design was descriptive qualitative. The instruments used were checklist, interview, recording, field notes, and documentation. This research studies the syllabus, the teaching-learning activities, the materials, and the assessment at Bilingual Playgroup “Dunia Anak” Probolinggo. The subjects were the students and the teachers there. The observations were conducted on 9th February till 4th March 2011. The first finding was that the syllabus was created based on generic learning menu. Second, the teaching-learning activities consisted of some activities which can be generally classified into pre-activities, main activities, and closing activities. These activities used BCCT focusing on several centers. The use of English as the medium of instruction occurs in 80% in teacher’s instruction and 50% in students’ communication with the teachers. Third, the materials were created by the teacher by considering the proximity with the students, students’ interest and needs, and the readiness of the teacher. The last is the assessment which is informal assessment that is on going emphasizing the process of students’ learning. According to the findings, several suggestions were offered. For example the teachers should try to maximize the use of English as the classroom language, the teachers should improve the quality in teaching very young learners especially in bilingual school, and the teachers should not treat the students the same way because every student has their own characteristics in learning a particular thing. It is also expected that other researchers conduct the study on Beyond Centers and Circle Time (BCCT) focusing on other issues.

Penerapan model pembelajaran team games tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada pembelajaran IPS di SDN Jatimulyo 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Dwi Mariza Mustikasari

 

Kata Kunci: Penerapan Team Games Tournament (TGT), hasil belajar, IPS SD. Permasalahan pada pembelajaran IPS di SDN Jatimulyo 1 Malang adalah bahwa siswa merasa jenuh dalam pembelajaran IPS serta kurang adanya interaksi antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa. Guru ma­sih menggunakan pembelajaran yang konvensional. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan pelaksanaan model pembelajaran TGT dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang (2) Mendeskrip­sikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang pada pembelajaran IPS dengan menggunakan model TGT. TGT merupakan model pembelajaran kooperatif yang didalamnya terdapat unsur permainan. Dalam penerapannya, melalui beberapa tahap yaitu, penyajian materi; belajar kelompok; permainan; dan penghargaan kelompok. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskritif kualitatif dan jenis penelitian kualitatif. Model PTK yang dijadikan acuan adalah model siklus Kemmis dan Taggart yang merupakan bentuk praktis yang dilaksanakan oleh guru untuk menemukan solusi dari perma­salahan yang timbul dari kelasnya agar dapat meningkatkan hasil bela­jar dikelas. Penelitian ini menggunakan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari atas tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Instrument yang digunakan pada penelitian ini yaitu pedoman observasi, pedoman wawancara, soal test, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS yang dilakukan melalui model pembelajaran TGT pada kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata hasil belajar siswa sebelum tindakan sangat rendah dibawah KKM yaitu dengan rata-rata kelas 45,44; pada siklus I sebesar 69,64 dan pada siklus II sebesar 83,003. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa (1) Model pembelajaran TGT pada pembelajaran IPS dapat diterapkan dengan efektif pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang (2) Penerapan model TGT pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang. Peningkatan hasil belajar siswa SDN Jatimulyo 1 Malang perlu ditingkatkan lagi melalui upaya-upaya yang berkesinambungan. Saran untuk guru yaitu agar dapat menerapkan model pembelajaran TGT atau model pembelajaran yang bervariasi lainnya pada mata pelajaran IPS ataupun mata pelajaran yang lainnya. Model pembelajaran ini dapat digunakan dalam penelitian-penelitian yang lain sebagai bahan perbandingan sehingga dapat menjadi lebih baik.

Analisis kontribusi masyarakat terhadap biaya pendidikan dan alokasi anggaran pendidikan menurut anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2010 Kabupaten Lumajang / Nenniarfa Diah Anggraeni

 

Kata Kunci: kontribusi masyarakat, biaya pendidikan, APBD Pendidikan merupakan tanggungjawab pemerintah, masyarakat, dan orangtua dalam mendidik seseorang agar memiliki perilaku, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam membangun suatu bangsa. Pendidikan dipandang sebagai sektor publik yang dapat melayani masyarakat dengan berbagai pengajaran, bimbingan dan latihan yang dibutuhkan oleh peserta didik. Pendidikan juga dapat menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi setiap perubahan di lingkungan kerja. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah memiliki tanggungjawab yang besar baik dalam hal pembiayaan, tenaga dan fasilitas. Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomer. 20 Tahun 2003 (UU RI No.20/2003), bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan dialokasikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD. Dengan adanya pengalokasian sebesar 20% diharapkan seluruh masyarakat menikmati pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan populasi 1380 sekolah se-Kabupaten Lumajang, jumlah siswa: 92.410 siswa, jumlah sampel sekolah: 138 sekolah, jumlah sampel dengan penentuan karakteristik sampel: 60 sekolah, dan jumlah siswa menurut karakteristik sampel: 22.419 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik sampel rumpun (cluster sample) karena sampel ini merupakan sampel yang berbentuk rumpun atau kelompok sekolah TK/RA/SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA. Anggaran pendidikan di Kabupaten Lumajang diperoleh dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lumajang yang sudah dianggarkan dalam APBD Tahun 2010 dan Kontribusi Masyarakat. Besarnya kontribusi adalah: (1) anggaran APBD pendidikan tahun 2010 adalah Rp 320.726.938.277,00 dan (2) kontribusi masyarakat tahun 2010 adalah Rp 119.909.836.333,33. Perbandingan antara anggaran dari pemerintah dan masyarakat adalah 73% dan 27%. Dari hasil penelitian, maka peneliti memberikan saran kepada pihak-pihak yang bersangkutan dengan tujuan dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada pemerintah Kabupaten Lumajang, sebagai berikut: (1) Kepala Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) khususnya DPRD II Komisi D yang mengatur kebijakan-kebijakan pendidikan di Kabupaten Lumajang, hendaknya lebih mempertahankan atau meningkatkan mutu pendidikan yang ada di Kabupaten Lumajang; (2) Kepala Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lumajang, supaya memberikan kebebasan dalam meminta bantuan kepada masyarakat dengan ketentuan atau kebijakan yang sudah ditentukan oleh Bupati di Kabupaten Lumajang; (3) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, supaya memperhatikan sekolah dan tenaga pendidik yang berstatus sekolah swasta, agar pendidikan terlihat serentak berkembang khususnya di Kabupaten Lumajang; (4) Kepala Sekolah, agar lebih terbuka dalam pelaporan yang berasal dari masyarakat kepada pemerintah sehingga pemerintah dapat mengetahui dan memahami besarnya seluruh anggaran untuk pendidikan di Kabupaten Lumajang dan kepala sekolah harus bisa membuka peluang usaha untuk mendapatkan tambahan dana; (5) Masyarakat Lumajang, hendaknya ikut serta dalam mengontrol pendapatan maupun pengeluaran yang sudah dianggarkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKA-S) melalui kepengurusan komite sekolah apakah program yang direncanakan sekolah sudah dijalankan atau belum berjalan; (6) Peneliti Selanjutnya, hendaknya lebih melengkapi berbagai sumber dana yang ada dalam pendidikan, sumber dana pendidikan tidak hanya batuan dari pemerintah pusat maupun daerah dan masyarakat melainkan masih ada beberapa sumber dana yang belum terungkap dalam penelitian ini, yaitu: Dana Perimbangan, Dana Bantuan Asing/Luar Negeri, Living Cost anak, dan Opportunity Cost.

Pemerah madu berbasis centrifugal menggunakan mikrokontroler / Bagus Prasetyo

 

Kata Kunci: Mikrohidro, Evaluasi, Jaringan Distribusi, Sistem Informasi Tegangan. Penyaluran tenaga listrik dengan kapasitas daya yang kecil seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang berada di Desa Temas Kota Batu yang memakai generator sinkron 1 fasa dengan daya 10 kVA memiliki kekurangan, dari kekurangan sistem distribusi PLTMh di Desa Temas Kota Batu ini yaitu ukuran kabel yang tidak sesuai standart, tidak ketersediaannya MCB pada masing-masing group dan pentanahan untuk titik netral dan bodi peralatan yang terbuat dari logam seperti besi, sistem informasi pendeteksi jika tegangan naik maupun turun diluar batas standart seperti alarm atau indikator lampu, oleh karena itu perlu diadakannya evaluasi terhadap jaringan distribusi listrik PLTMh serta perancangan ulang dari hasil evaluasi. Adapun tujuan dari evaluasi sistem ini yaitu: mengevaluasi penghantar saluran dari output generator sampai ke jaringan penerangan jalan umum (PJU), mengevaluasi besar arus miniatur circuit breaker (MCB) utama dan saluran yang terdapat pada panel pemutus hubung bagi (PHB), merancang sistem grounding pada titik netral dan body peralatan listrik dan membuat Sistem Informasi Tegangan naik dan tegangan turun diluar batas standart. Dari hasil evaluasi didapat besar arus MCB telah rancang ulang sesuai PUIL 2000, yaitu untuk besar arus MCB utama pada penerangan dan tenaga sebesar 10A, untuk besar arus MCB utama pada penerangan sebesar 2A, sedangkan group instalasi motor pompa sebesar 6A, untuk penerangan jalan umum sebesar 2A dan group instalasi power house digunakan MCB 2A, untuk kuat hantar arus (KHA) pada output generator ke PHB menggunakan kabel NYM ukuran 2x2,5mm2, sedangkan KHA instalasi motor pompa menggunakan kabel NYM ukuran 3x1,5mm2, untuk KHA instalasi penerangan jalan umum menggunakan kabel NFA ukuran 2x6mm2, untuk resistansi pentanahan didapat nilai memilki 2Ω, pada pengujian hubung singkat MCB, besar MCB sebesar 2A akan trip pada waktu 22 detik, MCB 4A trip pada waktu 0,50 detik, MCB 6A trip pada waktu 0,42 detik dan MCB 10A trip pada waktu 0,30 detik, untuk sistem informasi tegangan akan mengeluarkan sinyal untuk memerintahkan relai jika sistem informasi mendeteksi tegangan diatas 230V untuk menghidupkan lampu merah disertai alarm dan dibawah 200V untuk menghidupkan lampu hijau disertai alarm.

Hubungan status sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Kras Kabupaten Kediri / Suryo Brahmantyoso

 

Kata kunci : status sosial ekonomi, motivasi belajar, prestasi belajar Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor tersebut antara lain status sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: a) gambaran status sosial ekonomi orang tua siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras, b) gambaran motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras, c) gambaran prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras, dan d) hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras tahun ajaran 2010/2011. Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik proportional random sampling. Metode pengambilan data menggunakan angket dan studi dokumenter. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa: a) sebagian besar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras berasal dari orang tua dengan status sosial ekonomi yang tergolong sedang, b) sebagian besar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras memiliki motivasi belajar yang tergolong sedang, c) pada umumnya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras memiliki prestasi belajar yang tergolong baik, dan d) ada hubungan positif dan signifikan antara status sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kras dengan sumbangan efektif 25,4%. Saran dalam penelitian ini adalah a) orang tua hendaknya memberikan perhatian, kasih sayang, motivasi belajar, dan membuat perencanaan pendidikan bagi anaknya agar memperoleh prestasi belajar yang tinggi, b) konselor diharapkan dapat memasukkan materi tentang motivasi belajar ke dalam program dan layanan-layanan bimbingan dan konseling, c) guru mata pelajaran hendaknya dapat memberikan motivasi belajar yang tepat sesuai dengan perilaku belajar siswa di kelas pada saat proses belajar mengajar, d) kepala sekolah hendaknya aktif dalam menemukan inovasi dalam dunia pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan jalan mengusahakan fasilitas-fasilitas pembelajaran yang dapat menjadikan siswa merasa betah di sekolah serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa selama di sekolah, dan e) peneliti selanjutnya dapat mengidentifikasi variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, sehingga diperoleh hasil yang komprehensif.

Fenomena pendidikan anak tenaga kerja wanita (TKW) di Desa Ploso Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar tahun 2010-2011 / Nur Chasanah

 

Kata Kunci: pendidikan, anak TKW, Desa Ploso Mayoritas penduduk Desa Ploso mata pencahariannya bertani, maka peningkatan dari hasil panen menjadi tujuan utama. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan hasil panen dengan mengubah sistem tanam menjadi tiga kali dalam satu tahun. Dari upaya yang dilakukan ternyata tidak membawa hasil dan mengalami gagal total. Masyarakat menjadi resah karena penghasilan utama adalah dari hasil panen yang sebagian disimpan dan lainnya dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Keadaan ini diperparah dengan krisis ekonomi yang sedang melanda, apalagi beban tanggungan biaya pendidikan anak juga mahal. Mereka menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang amat penting dalam kehidupan manusia. Agar anak dapat mengenyam pendidikan yang baik, para orang tua melakukan berbagai cara demi tercapainya pendidikan anak. Untuk dapat bertahan hidup dan segala kebutuhan tercukupi, maka adanya informasi pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri besar-besaran tanpa biaya membuat para wanita tertarik. Sesuai dengan fenomena di Desa Ploso, terlihat peran istri sebagai ibu rumah tangga sangat besar. Mereka membantu suami mendapatkan penghasilan dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Sehingga, pilihan tersebut berdampak pada pendidikan anaknya yang ditinggalkan dan berada pada asuhan anggota keluarga yang lain di rumah. Dengan demikian, peneliti mengambil judul "Fenomena Pendidikan Anak Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Desa Ploso Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar Tahun 2010-2011" dengan tujuan mendeskripsikan fenomena pendidikan anak TKW dan dampak yang dialami anak TKW dengan kepergian ibunya ke luar negeri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Sementara pendekatan yang dilakukan adalah fenomenologi dimana peneliti melakukan pengamatan terhadap fenomena-fenomena berdasarkan kenyataan lapangan sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi dan metode dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yakni dengan Model Interaktif meliputi pengumpulan data, reduksi data, display/penyajian data, dan verifikasi/kesimpulan. Berdasarkan analisis data tersebut diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Fenomena pendidikan anak TKW di Desa Ploso pada umumnya mengalami hambatan terutama karena kurangnya motivasi langsung dari ibunya. Pendidikan mereka dipengaruhi oleh anggota keluarga di rumah dan kesadaran anak TKW sendiri. (2) Dampak menjadi anak TKW ada yang positif dan juga negatif. Sehingga, untuk mengurangi dampak negatifnya, suami di rumah harus mampu berperan ganda menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Perancangan media profil SMk Negeri 3 Batu berbasis animasi / Sujud Winardi

 

Media profil merupakan sarana yang digunakan untuk mengenalkan bentuk dan isi sebuah lembaga, baik komersial maupun non komersial, kepada kalangan yang menjadi tujuannya. Pemanfaatan media cetak untuk menyampaikan informasi SMK Negeri 3 Batu kepada pihak luar sekolah dirasa kurang maksimal karena media cetak tidak mampu menampilkan karya-karya audio visual siswa. Media profil ini dirancang sebagai alternatif untuk mengemas karya-karya siswa dalam sebuah sajian film profil animasi. Penggunakan teknik animasi yang ditunjang dengan teknologi komputer animasi, diharapkan bisa menyajikan objekobjek grafis, teks dan video menjadi lebih menarik sehingga akan menimbulkan kepercayaan masyarakat kepada sebagi sekolah multimedia, broadcasting dan animasi. Proses perancangan dilakukan dengan mengikuti prosedur perancangan prosedural yang bersifat dekriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Langkah-langkah tersebut diawali dari perumusan latar belakang masalah, ide, pra produksi, produksi dan paska produksi film animasi. Karya-karya siswa, baik berupa interaktif multimedia, film dokumenter dan film animasi, dan gambar-gambar dokumentasi sekolah diolah untuk menjadi konten media ini. Ikon-ikon jurusan dianimasikan sehingga tampak lebih hidup. Produk yang dihasilkan adalah sebuah film animasi yang berisi profil SMK Negeri 3 Batu dengan durasi 3 menit 43 detik dan film untuk iklan televisi dengan durasi 15 detik. Media profil ini disimpan dalam sebuah keping DVD yang didukung oleh desain grafis untuk label dan kemasan serta dilengkapi dengan sebuah buku katalog kecil yang berisi visi dan misi sekolah serta komptensi keahlian yang diajarkan. Media profil berbasis animasi ini bisa digunakan untuk mendukung kegiatan sosialisasi sekolah kepada siswa SLTP, dinas pemerintahan terkait maupun masyarakat luas terutama dunia usaha dan industri.

Hubungan tingkat pendidikan, tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan siswa SMA Negeri 3 Blitar / Nurul Ratnawati

 

Kata kunci : tingkat pendidikan orang tua, tingkat pendapatan orang tua, kebiasaan belajar. SMA Negeri 3 Blitar merupakan salah satu sekolah favorit di kota Blitar. Sekolah tersebut mempunyai siswa dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda, serta mempunyai fasilitas belajar yang cukup lengkap seperti perpustakaan, LCD, OHP, laboratorium IPA, laboratorium komputer, dan sebagainya. Sedangkan ketersediaan fasilitas belajar di rumah, tergantung kemampuan orang tua untuk memenuhinya. Hal ini tergantung pada seberapa besar perhatian orang tua untuk memotivasi anaknya dalam bentuk memenuhi ketersediaan fasilitas belajar dengan baik serta dorongan positif dari orang tua dalam membimbing anaknya untuk giat belajar. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian tentang hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar mata pelajaran PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tingkat pendidikan orang tua siswa SMA Negeri 3 Blitar; (2) mendeskripsikan tingkat pendapatan orang tua siswa SMA Negeri 3 Blitar; (3) mendeskripsikan kebiasaan belajar mata pelajaran PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar; (4) mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebiasaan belajar mata pelajaran PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar; (5) mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar mata pelajaran PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian di SMA Negeri 3 Blitar. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 3 Blitar yang berjumlah 20 kelas (641 siswa), dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dengan kriteria sampel sebanyak 6 kelas (194 siswa). Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis statistik korelasi koefisien kontingensi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pendidikan orang tua siswa SMA Negeri 3 Blitar tergolong tinggi, yaitu sebesar 47,94% merupakan tamatan Perguruan Tinggi; (2) tingkat pendapatan orang tua siswa SMA Negeri 3 Blitar tergolong tinggi, yaitu sebesar 40,72% berpendapatan antara Rp. 3.500.001,00 s/d Rp. 4.500.000,00 per bulan; (3) Kebiasaan belajar mata pelajaran PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar, meliputi: (a) kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi waktu, sebagian besar yaitu 73,71% siswa belajar saat ada PR atau akan ada pelajaran; (b) kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi tempat belajar, sebagian besar yaitu sebesar 35,05% siswa sering belajar di ruang belajar; (c) kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi teman belajar , sebagian besar yaitu sebesar 72,68% siswa belajar sendiri; (d) kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi bahan belajar, sebagian besar yaitu sebesar 36,60% siswa belajar dengan catatan PKn dan LKS PKn. (4) Hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan kebiasaan belajar siswa SMA Negeri 3 Blitar, berdasarkan uji hipotesis dengan analisis statistik korelasi koefisien kontingensi (a) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi waktu belajar (0,413); (b) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi tempat belajar (0,51); (c) tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi teman belajar (0,209); (d) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi bahan belajar (0,44); (5) Hubungan tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar siswa SMA Negeri 3 Blitar, berdasarkan uji hipotesis dengan analisis statistik korelasi koefisien kontingensi (a) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi waktu belajar (0,372); (b) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi tempat belajar (0,66); (c) tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi teman belajar (0,208); (d) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan orang tua dengan kebiasaan belajar PKn siswa SMA Negeri 3 Blitar dilihat dari segi bahan belajar (0,582). Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan adalah sebagai berikut: (1) diharapkan siswa dapat membiasakan diri untuk belajar secara teratur dan berkesinambungan; (2) bagi guru, agar siswa dapat mempertahankan kebiasaan belajar yang baik, maka guru perlu memberikan tugas-tugas belajar secara rutin; (3) bagi orang tua, diharapkan setiap orang tua selalu memantau, memberikan dorongan berupa motivasi, perhatian, dan bimbingan kepada anaknya, serta memberikan fasilitas yang dapat menunjang keberhasilan belajar anak, (4) bagi peneliti lain, diharapkan apabila melakukan penelitian lain yang sejenis diharapkan dapat lebih memperdalam dan mempertajam pembahasan pada pokok permasalahan serta variabelnya, misalnya dengan menambahkan variabel perhatian orang tua, fasilitas belajar, maupun variabel lain yang dianggap relevan.

Pengaruh project based learning dengan teknik murder (Mood Understand Recall Digest Expand Review) terhadap prestasi belajar menggunakan perangkat lunak pembuat presentasi TIK siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kesamben / Rachmawati

 

Kata Kunci: Project Based Learning, MURDER, prestasi belajar Dunia kerja memerlukan orang yang dapat mengambil inisiatif, berpikir kritis, kreatif, dan cakap memecahkan masalah dalam pembuatan produk. Oleh karena itu diperlukan suatu model belajar yang dapat memberikan kesempatan siswa bekerjasama dalam kelompok untuk membuat sebuak produk nyata dari berbagai sumber. Disamping itu menurut Clair Wistein pembelajaran yang baik meliputi pengajaran siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotifasi diri mereka sendiri. Berdasarkan kenyataan diatas, dalam penelitian ini diterapkan kolaborasi model pembelajaran antara project based learning (PBL) dengan teknik MURDER. PBL merupakan suatu model memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja. MURDER merupakan gabungan dari Mood (Suasana Hati), Understand (Pemahaman), Recall (Pengulangan), Digest (Penelaahan), Expand (Pengembangan), Review (Pelajari Kembali). MURDER adalah salah satu model kooperatif yang berfokus pada bagaimana manusia memperoleh, menyimpan, dan memproses apa yang dipelajarinya, dan bagaimana proses berpikir dan belajar itu terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa antara penerapan kolaborasi PBL dengan MURDER dan PBL tanpa MURDER. Selain itu untuk mengetahui pengaruh penerapan model PBL dengan teknik MURDER terhadap prestasi belajar. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasy experimental design) dengan pola pretest-posttest control group design. Populasi adalah seluruh siswa kelas XII SMAN1 Kesamben Blitar semester genap tahun ajaran 2010/2011, sedangkan sampel penelitian adalah kelas XII IPA2 (kontrol) l dan XII IPA1(eksperimen). Instrumen penelitian berupa RPP, Silabus, Modul, soal tes dan rubrik observasi. Uji hipotesis menggunakan uji t dan regresi linier sederhana. Hasil uji-t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan, model pembelajaran PBL dengan teknik MURDER yang diterapkan di kelas eksperimen menunjukkan prestasi belajar yang lebih tinggi dengan rata-rata 89,99 daripada kelas kontrol yang menerapkan PBL biasa dengan rata-rata 85,05. Hasil uji regresi liniear sederhana menunjukkan terdapat pengaruh signifikan sebesar 57,1% antara penerapan project based learning dengan teknik MURDER terhadap prestasi belajar TIK menggunakan perangkat lunak pembuat presentasi.

Pola pelayanan publik dalam pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk / Erika Nur Ubay

 

Kata kunci: pelayanan publik, pengujian kendaraan bermotor Pelayanan publik merupakan upaya negara untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hak-hak sipil setiap warga negara atas barang, jasa, dan pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Lebih khusus, pelayanan publik yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk melalui UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor yang diberi kewenangan untuk menguji kendaraan bermotor yang wajib uji. Fungsi dari pengujian kendaraan bemotor yaitu untuk keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi para pengguna jalan. Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor merupakan langkah yang baik untuk menghindari kecelakaaan akibat kendaraan yang tidak layak jalan. Tetapi pada kenyataannya bahwa masih cukup banyak kendaraan umum yang telah lulus pengujian, masih bisa terjadi kecelakaan. Pelayanan pengujian kendaraan bermotor pada Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk nampak belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari jumlah tenaga penguji dan tenaga administrasi yang ada dengan jumlah masyarakat yang meminta pelayanan tidak seimbang, dan alat pemeriksa uji kendaraan kurang terawat sehingga memperlambat waktu pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan bagaimana pelayanan publik yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk dalam pengujian kendaraan bermotor. (2) mendiskripsikan faktor pendukung yang ditemui oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk dalam pelayanan publik pada pengujian kendaraan bermotor. (3) mendeskripsikan hambatan-hambatan yang ditemui oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk dalam pelayanan publik pada pengujian kendaraan bermotor. (4) mendeskripsikan upaya untuk mengatasi hambatan yang ditemui oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk dalam pelayanan publik pada pengujian kendaraan bermotor. (5) mendiskripsikan respon pemilik kendaraan bermotor terhadap pelayanan publik dalam pengujian kendaraan bermotor oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif diskriptif dan kuantitatif deskriptif, kualitatif deskriftif digunakan untuk menganalisis data tentang pelayanan publik dalam pengujian kendaraan bermotor, faktor pendukung, hambatan, dan upaya menagatasi hambatan. Sedangkan kuantitatif digunakan untuk menganalisis respon masyarakat terhadap pelayanan pengujian kendaraan bermotor. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman. Teknis analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis persentase, data diperoleh dari hasil wawancara kepada petugas dan pemohon (pemilik kendaraan bermotor), angket, dan dokumen milik dinas. Hasil temuan penelitian ini adalah: (1) Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Daerah Kabupaten Nganjuk dalam melakukan pengujian kendaraan bermotor menggunakan pola pelayanan terpadu satu pintu. Dalam pratiknya mekanisme pengujian kendaraan bermotor telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada. Sedangkan untuk proses administrasi yang menyangkut biaya pengujian, UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor kurang memberikan informasi yang jelas kepada pemilik kendaraan, karena pemilik kendaraan harus membayar sejumlah biaya yang kurang sesuai dengan yang ada pada rincian biaya yang ditetapkan oleh UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor. (2) Faktor-faktor yang mendukung diselenggarakannya pelayanan publik pengujian kendaraan bermotor oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika terdiri dari tiga faktor, yakni faktor eksternal, faktor petugas yang berkualitas, dan faktor fasilitas yang memadai. (3) Hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan pelayanan publik pengujian kendaraan bermotor adalah kerusakan peralatan, petugas yang kurang tegas dalam mengatur antrian, terbatasnya petugas pengujian yang professional yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang diujikan, dan belum optimalnya penggunaan sistem komputer dalam pelayanan administrasi. (4) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan pelayanan pengujian kendaraaan bermotor adalah dengan mengontrol dan memperbaiki alat-alat uji kelayakan kendaraan bermotor dengan memanggil teknisi untuk memperbaikinya, melakukan recruitment pegawai yang professional di bidang pengujian kendaraan bermotor, dan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk berinovasi dalam bidang teknologi, melakukan recruitment karyawan yang mempunyai keterampilan komputer. (5) Respon masyarakat terhadap pola pelayanan publik pengujian kendaraan bermotor bersifat sangat positif karena 84,4% masyarakat yang melakukan pengujian kendaraan bermotor telah memberikan tanggapan sangat bagus dan hanya 15,6% masyarakat memberikan tanggapan kurang bagus. Dari penelitian di atas maka disarankan: (1) UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor hendaknya lebih memperhatikan kepuasaan masyarakat dengan menerapkan teori dasar antrian First In First Out (FIFO). (2) Dalam penggunaan sistem komputer yang belum optimal sebaiknya memperbaiki sistem komputer dengan mengubah cara lama (sistem komputer manual) dengan cara baru (software SIM PKB) untuk memudahkan pegawai dalam melaksanakan mekanisme pelayanan admistrasi dan menjaga keakuratan data serta mempercepat proses pelayanan. (3) UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor hendaknya lebih transparansi dalam melakukan mekanisme baik pada proses administrasi maupun pengujian kendaraan bermotor. (4) Pemerintah Daerah Kabupaten Nganjuk hendaknya memberikan himbauan kepada masyarakat yang pada umumnya belum paham tentang peran penting pengujian kendaraan bermotor, untuk menjaga keselamatan pengguna jalan, kebersihan lingkungan dan mencegah kemacetan lalu lintas. (5) Masyarakat hendaknya mampu mengubah mainset tentang pentingnya pengujian kendaraan bermotor bagi dirinya, orang lain, dan lingkungan sekitarnya.

Pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa di SMP Negeri 1 Durenan Trenggalek / Sari Triningtyas

 

Kata kunci: sikap sopan santun, mengembangkan kepribadian. Nilai-nilai budaya bangsa yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia akan dapat memberi pengaruh negatif itu kini telah tampak di kalangan generasi muda terutama di kota-kota besar Indonesia. Misalnya berbagai perilaku menyimpang seperti perkelahian pelajar, pemerkosaan, kelahian di luar nikah, perilaku brutal, penyalahgunaa obat terlarang. Gejala-gejala negatif tersebut merupakan tantangan bagi pendidikan untuk lebih memperhatikan sikap dan perilaku anak-anak dan remaja khususnya lembaga pendidikan formal. Sekolah hendaknya bisa mulai mendidik siswanya untuk bersikap sopan dan santun dalam berinteraksi dengan orang lain guna melatih dan membentuk kepribadian siswa yang baik dan bertanggung jawab dalam melakukan suatu hal. Sikap sopan santun bisa dilakukan dimana saja dan kapanpun itu. Seperti di dalam kelas harus memperhatikan seseorang yang ada di depan kita. Dengan menunjukkan sikap yang memperhatikan, mendengarkan dengan baik, bila bertanyapun harus dengan yang baik, kekurangan individu seseorang secara fisik akan tertutup rapi dan tidak terlihat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang: (1) perencanaan program pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa, (2) bentuk-bentuk program pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa, (3) pelaksanaan pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa, (4) faktor kendala dalam pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa, (5) cara mengatasi kendala pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa di SMPN I Durenan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Hal ini dimaksud untuk mendapatkan data asli dan alamiah, serta subyek penelitian yang bersifat sempit berupa lembaga pendidikan, yaitu SMPN I Durenan. Penggunaan pendekatan ini, menuntut kehadiran peneliti secara langsung dalam pengumpulan data di lokasi penelitian. Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber data primer meliputi informan dan peristiwa. Sumber data sekunder berupa sumber tertulis dan foto yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kualiatif. Cek keabsahan data dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, ketekunan pengamatan dan trianggulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: perencanaan pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa mempunyai tujuan membentuk pribadi sikap dan prilaku yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila, metode yang digunakan pembiasaan pendidikan di luar kelas dan di dalam kelas, urutan struktur pembina Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru PKn dan Bahasa Jawa, Guru BK. Bentuk-bentuk program pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa ada dua yaitu program pembinaan sikap sopan santun di dalam kelas contohnya berdoa sebelum memulai pelajaran, adanya peraturan tata tertib sekolah, pembinaan sikap sopan santun di luar kelas melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan Siraman Kerohanian Islam (SKI) serta istigosah. Slogan-slogan yang dipasang pada dinding setiap kelas. Adanya buku raport kepribadian siswa untuk mengendalikan tindakan siswa yang menyimpang dari aturan. Pelaksanaan pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa dilaksanakan dengan membudayakan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa dilaksanakan dengan membudayakan sikap sopan santun dan membiasakan siswa berbudi pekerti yang baik, mengadakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan SKI secara bergantian menurut jadwal yang ditentukan oleh sekolah, memberlakukan adanya buku kepribadian siswa untuk menulis segala perilaku siswa yang menyimpang. Faktor kendala pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa yaitu latar belakang siswa yang berasal dari keluarga yang berbeda-beda status sosialnya sehingga karakteristik siswa berbeda-beda, adanya siswa yang nakal sejak dari rumah karena kurangnya perhatian orang tua yang bekerja sebagai TKI maupun TKW. Cara mengatasi pembinaan sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadian siswa di SMPN I Durenan dilakukan dengan memberikan keteladanan dan pembiasaan yang nantinya diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pada diri dan jiwa siswa tentang pentingnya berperilaku yang sopan santun bagi kehidupannya, memberikan teguran pada taraf pelanggaran masih ringan, pemanggilan orang tua siswa dan sanksi yang terakhir dikeluarkan dari sekolah apabila pihak sekolah memang sudah tidak mampu membina dan mendidik siswa bersangkutan. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat diajukan, yaitu: (1) agar siswa terbiasa berperilaku sopan santun yang sesuai dengan nilai-nilai moral, sebaiknya guru selalu menanamkan pembiasaan-pembiasaan perilaku yang baik pada saat proses belajar mengajar maupun di luar kelas; (2) sebelum menyuruh siswa supaya berperilaku sopan santun sebaiknya guru merubah perilaku diri sendiri yang kurang baik menjadi baik terlebih dahulu; (3) sebaiknya guru selalu membiasakan siswa senantiasa secara sadar menerapkan perilaku sikap sopan santun dalam rangka mengembangkan kepribadiannya sesuai yang telah diajarkan oleh guru.

Membangun toko online dengan HP dan MySQL pada Sisley Boutique / Cahyo Septian Nugroho

 

Kata kunci: Toko Online, PHP dan MySQL, Sisley Boutique. Salah satu pemanfaatan kemajuan teknologi dan informasi yakni penggunaan jaringan internet sebagai sarana pengembangan bisnis , namun Sesley Boutique sejak berdiri yaitu tahun 2000 sampai sekarang masih belum memanfaatkan jaringan internet dalam pemasaran barang dagangannya. Sesley Boutique yang terletak di Jl. Trunoyojoyo No.10, Batu, Malang ini masih memanfaatkan MMS dan SMS dalam proses transaksi penjualannya. Kiranya pembangunan ­ toko online pada Sisley Boutique dapat membantu meningkatkan perkembangkan bisnis butik tersebut untuk ke depannya. Tujuan pembangunan toko online ini yaitu untuk memudahkan pemilik Sisley Boutique dalam mengembangkan dan memperkenalkan barang dagangannya pada customer. Sehingga Sisley Boutique bisa menambah customer, tidak sebatas di daerah Malang saja, melainkan dari daerah manapun. Dan transaksi pemesanan cukup dengan melakukan transaksi online tanpa harus bertatap muka antara pemilik Sisley Boutique dan customer. Metode pembangunan toko online pada Sisley Boutique difokuskan pada dua hal yaitu: pertama, perancangan suatu sistem e-Commerce Sisley Boutique dan item-itemnya yang berbasis website, dan yang kedua, pengiplementasian sistem e-Commerce Sisley Boutique dengan pemrograman PHP dan MySQL secara interaktif dan dinamis. Hasil yang didapat adalah dalam perancangan aplikasi web ini, dapat diidentifikasi delapan entitas pembentuk sistem, yaitu: admin, barang , costumer, jenis, pemesanan_header, pemesanan_detail, pengiriman_detail, dan transaksi_pembayaran. Kesemua entitas tersebut saling berelasi, sehingga saling berhubungan, dari sinilah proses transaksi online dapat dilakukan. Dan dalam pengimplementasian sistem e-Commerce Sisley Boutique dengan menggunakan pemrograman PHP dan MySQL ini, website Sisley Boutique bersifat interaktif (maksudnya antara penjual dan customer bisa melakukan transaksi secara online) dan bersifat dinamis (maksudnya website Sisley Boutique masih dapat dikembangakan lagi). Untuk pengembangan selanjutnya penulis menyarankan beberapa hal, yaitu: perlu dilakukan update data secara berkala, misalnya jika ada barang/produk baru yang dijual di Sesley Boutique, sehingga customer bisa cepat mengetahui produk baru di butik tersebut. Dan perlu adanya pengelolah website yang khusus bertugas untuk memantau website tersebut, sehingga ketika ada customer yang meng-order dapat segera dilayani.

Penerapan pembelajaran problem solving model Polya untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Kalirejo 01 Lawang / Sofie Marwia

 

Kata kunci: problem solving model Polya, hasil belajar Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 6 dan 7 Desember 2010, hasil belajar siswa kelas V SDN Kalirejo 01 Lawang masih kurang khususnya jika diberikan soal yang termasuk ke dalam kategori problem solving. Siswa yang tuntas belajar hanya 47,73 %. Hal itu disebabkan karena siswa kurang mengerti bahasa soal, dengan kata lain kemampuan siswa dalam memahami masalah masih kurang. Pembelajaran problem solving model Polya yang terdiri dari empat langkah Polya memudahkan siswa untuk menyelesaikan suatu masalah (soal) yang diberikan dengan lebih baik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji mengenai pembelajaran dengan pendekatan problem solving model Polya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran problem solving model Polya yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SDN Kalirejo 01 Lawang pada bulan Desember 2010 dengan rancangan penelitian berupa penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Kegiatan–kegiatan yang dilakukan pada masing-masing siklus meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Kalirejo 01 Lawang tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 44 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah tes di akhir siklus yang berupa soal problem solving. Pembelajaran problem solving model Polya dilaksanakan dengan: (1) pembentukan kelompok masing-masing beranggotakan 2 orang, (2) Langkah memahami masalah, siswa membaca permasalahan (soal) mengenai luas trapesium dan layang-layang, menuliskan yang diketahui dan ditanyakan, (3) Langkah merencanakan penyelesaian, siswa memilih strategi yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan dengan bimbingan dari guru, (4) Langkah menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana, siswa menyelesaikan masalah sesuai dengan strategi yang telah ditentukan pada langkah merencanakan penyelesaian, (4) Langkah pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan, siswa memeriksa kebenaran cara dan hasil perhitungan langkah perlangkah dan guru menanyakan adanya kemungkinan cara lain, siswa membuat kesimpulan. Rata-rata nilai siswa pada siklus I adalah 61,7 dengan ketuntasan belajar 75%. Setelah siklus II, menjadi 67,2 dengan ketuntasan belajar sebesar 81,8%. Pembelajaran problem solving model Polya memberikan hasil yang positif bagi peningkatan hasil belajar siswa sehingga dapat dijadikan alternatif pembelajaran di sekolah dengan materi dan soal problem solving yang lebih bervariasi dan perencanaan waktu yang lebih efektif.

Perancangan content download handphone wallpaper grafis produk Mocoplus.com / Harfrida Ervie Septiantika

 

Kata Kunci: perancangan, content download handphone, wallpaper grafis. Maraknya penggunaan handphone di masyarakat menyebabkan perlu adanya sebuah perusahaan yang menyediakan isi layanan (content) untuk handphone. Dengan adanya Content Provider, secara langsung telah memberikan nilai tambah bagi handphone, karena industri ini akan memberikan warna baru pada handphone masyarakat dengan berbagai layanan yang mereka tawarkan. Mocoplus.com merupakan perusahaan multimedia yang bergerak di bidang Content Provider atau penyedia jasa SMS mobile, salah satunya berupa wallpaper. Perancangan wallpaper grafis ini menjawab fenomena yang merebak di masyarakat, dimana masyarakat dituntut untuk selektif dalam mendapatkan sebuah wallpaper yang sesuai dengan resolusi handphone yang mereka miliki. Tujuan dari perancangan wallpaper grafis ini adalah menjawab kebutuhan masyarakat dengan merancang content download handphone berupa wallpaper grafis yang unik dan menarik dalam beragam kategori dan ukuran, yang dikemas secara eksklusif dengan berbasiskan teknik pengolahan gambar digital, sehingga konsumen tertarik dan bereaksi dengan suatu tindakan, sehingga dapat tercipta suatu kerjasama yang saling menguntungkan secara berkelanjutan. Perancangan ini menggunakan model prosedural dengan pendekatan yang berorientasi proses-produk. Secara garis besar kegiatan perancangan dipilah menjadi tiga tahapan yaitu: 1) pendefinisian masalah, tujuan, dan konsep perancangan, 2) pengumpulan, analisis, dan sintesis data referensi dan data lapangan, serta perumusan konsep perancangan, 3) penjabaran konsep perancangan dalam program visual mulai dari rough layout sampai dengan final design. Hasil perancangan yang berwujud content download wallpaper grafis Mocoplus.com ini terdiri dari beberapa kategori, yaitu: 1) Wallpaper Birthday (4 buah), 2) Wallpaper Wedding (4 buah), dan 3) Wallpaper Karikatur (14 buah). Pada setiap kategori menampilkan 4-6 wallpaper, yang kemudian masing-masing di-resize pada 12 ukuran sesuai resolusi layar handphone. Hasil perancangan ini direkomendasikan untuk didistribusikan kepada Mocoplus.com selaku Klien dan para calon pelanggan yang menjadi target market Mocoplus.com. Selain itu, hasil perancangan dapat dipergunakan untuk melengkapi content download wallpaper Mocoplus.com.

Pengembangan software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya / Dwi Silvia Hidayati

 

Kata Kunci: software, pengendalian diri, pergaulan sebaya Pengendalian diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah dan mengatur sikap, perilaku serta keinginannya, atau dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Pengendalian diri diperlukan bagi tiap individu dalam bergaul dengan teman sebayanya. Oleh karena itu, individu perlu untuk mengetahui tingkat pengendalian dirinya. Berkaitan dengan perlunya individu untuk mengetahui tingkat pengendalian diri maka diperlukan media inventori mengenai pengukuran pengendalian diri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya yang memenuhi syarat akseptabilitas dari segi kelayakan, isi, bentuk, kemampuan dan keterampilan bagi konselor dan siswa di SMK Negeri 5 Malang. Software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya dikembangkan dengan menggunakan rancangan penelitian pengembangan Borg dan Gall yang telah disederhanakan menjadi empat tahap yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan penelitian. Tahapan penelitian dimulai dari tahap pra pengembangan, tahap pengembangan, tahap uji coba produk kemudian tahap revisi produk. Software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya diuji validitas oleh ahli materi, ahli media dan kelompok kecil. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya. Hasil akhir menunjukkan bahwa software yang dihasilkan telah memenuhi syarat ketepatan dan kelayakan baik dari segi isi, bentuk, kemampuan dan keterampilan konselor maupun siswa. Saran pengembangan software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya adalah untuk dijadikan alat pengumpulan data tingkat pengendalian diri dalam pergaulan sebaya pada siswa SMK Negeri 5 Malang dan sebagai alat evaluasi pengendalian diri dalam pergaulan sebaya. Saran diseminasi adalah produk bisa bisa dimanfaatkan lebih luas sebagai alat untuk mengevaluasi pengendalian diri siswa dalam pergaulan sebayanya. Saran untuk pengembangan produk lebih lanjut adalah untuk mengembangkan software yang didalamnya terdapat menu tentang upaya tindak lanjut setelah mengetahui tingkat pengendalian diri siswa dalam pergaulan sebaya dan sisi kemenarikan tampilan software lebih dikembangkan lagi.

Pengembangan instrumen pemahaman kepribadian dalam bentuk kartu bridge di sekolah menengah pertama / Muwakhidah

 

Kata Kunci: instrumen, kartu Bridge, kepribadian Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada tahap perkembangan remaja. Tugas perkembangan utama remaja adalah membentuk identitas. Dalam membentuk suatu identitas, siswa terlebih dahulu harus mampu memahami kecenderungan kepribadian yang dimiliki. Selama ini di sekolah-sekolah untuk memahami kepribadian dilakukan dengan tes psikologi. Namun karena mahalnya biaya tes, maka tidak semua sekolah mampu menyelenggarakan tes psikologi tersebut. Selain itu inventori yang dikembangkan untuk mengungkap kepibadian kurang memiliki keefektifan dan efesien dalam penggunaan. Disisi lain belum tersedianya alat ungkap kepribadian yang menyerupai tes psikologi yang dapat dipergunakan konselor SMP. Oleh karena itu melalui penelitian ini dikembangkan alat ungkap kepribadian dengan media kartu Bridge. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan instrumen pemahaman kepribadian dalam bentuk kartu Bridge di SMP yang berterima secara teoritis dan praktis yang dapat digunakan oleh konselor SMP sebagai alat untuk membantu mengetahui arah kecenderungan kepribadian siswa. Pengembangan media kartu Bridge ini mengadaptasi langkah-langkah model Borg and Gall (1983) yang terdiri atas 10 tahap dan dilakukan semuanya. Subjek uji coba produk adalah ahli konstruk, ahli media, siswa kelas VIII SMP LAB UM dan SMPN 4 Malang (tiap sekolah diambil 40 siswa). Penilaian dilakukan oleh ahli BK, ahli media dan uji kelompok kecil. Hasil pengembangan menunjukkan tingkat kevalidan instrumen pemahaman kepribadian dalam bentuk kartu Bridge dengan validitas masing-masing tipe kepribadian di atas 0,127 serta reliabilitas diatas 0,60. Hasil penilaian ahli konstruk pada aspek kesesuaian sub variabel dengan indikator, indikator dengan deskriptor dan deskriptor dengan butir pernyataan diperoleh rata-rata skor 3. Hasil penilaian ahli media pada aspek kegunaan, ketepatan, kejelasan, keefektifan, kemenarikan masing-masing tipe kepribadian diperoleh rata-rata skor 3. Demikian hasil implementasi produk dengan 20 siswa, didapatkan tingkat keberterimaan penggunaan pada kategori "Baik". Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang diajukan adalah: (1) konselor hendaknya terampil menggunakan media kartu Bridge, serta mampu memahami dan melakukan tiap tahapan dalam media kartu Bridge sebagai pemahaman kepribadian siswa SMP, (2) Peneliti selanjutnya disarankan meneliti dengan kriteria validitas eksternal (membandingkan dengan tes yang sejenis, misalnya tes Myers-Briggs Type Indicator) dari media kartu Bridge yang dikembangkan, penormaan, dan memperbanyak keragaman populasi dan wilayah penelitian

Pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan / Hesy Herlianika Hedir

 

Kata kunci: KTSP, pembelajaran TIK, SMP Negeri Perjalanan penerapan KBK pada matapelajaran TIK belum optimal, dilanjutkan dengan penyelenggaraan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) yang mengandung beberapa ketentuan.Permasalahan pelaksanaan KTSP di Pamekasan pada matapelajaran TIK yaitu mulai dari kualitas guru yang kurang kompeten, kesiapan peserta didik, dan kelengkapan sarana dan prasarana di bidang TIK.Sejauh ini sekolah di Pamekasan dalam menyusun dokumen KTSP masih berpedoman pada BSNP dari Depdiknas Kabupaten Pamekasan.Dalam rangka mengetahui pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMPNegeri se Kabupaten Pamekasan perlu dilakukan suatu penelitian mengenai pelaksanaan KTSP.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan : (1) tingkat pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari segi perencanaan, (2) tingkat pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari segi pelaksanaan pembelajaran,dan (3) tingkat pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari segi evaluasi. Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan pembelajaran, dan (3) evaluasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru TIK SMP Negeri di pamekasan yang berjumlah 64 orang yang tersebar di 26 sekolah. Instrumen penelitian menggunakan angket dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari segi perencanaan pembelajaran tergolong sangat tinggi, (2) pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari segi pelaksanaan pembelajaran cenderung tinggi, dan (3) pelaksanaan KTSP pada pengembangan pembelajaran TIK di SMP Negeri se Kabupaten Pamekasan ditinjau dari segi evaluasi pembelajaran cenderung tinggi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bahwa : (1) agar guru TIK meningkatkan hasil karya dokumen perangkat pembelajaran,(2) kepada sekolah agar mengusahakan pengadaan kelengkapan sarana dan prasarana yang berbasis IT, (3) kepada Depdiknas Kabupaten Pamekasan agar sesering mungkin melakukan evaluasi terhadap implementasi KTSP dan memberikan bantuan sekolah pengadaan sarana prasarana belajar, dan (4) kepada peneliti lain, agar hendaknya mengadakan penelitian yang mencakup variabel yang lebih luas serta mencari pengaruh atau hubungan tiap variabel.

Hubungan keaktifan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang / Santi Anggraini

 

Kata Kunci: kegiatan ekstrakurikuler, kebiasaan belajar, prestasi belajar Kegiatan ekstrakurikuler atau pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/ madrasah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan bakat dan minat peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah/ madrasah. Banyak siswa yang kurang mengetahui bakat dan minat yang ada pada dirinya sehingga siswa juga kurang maksimal dalam pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Dalam hal ini konselor mempunyai peran yang sangat penting yaitu dalam pelaksanaan layanan penempatan dan penyaluran yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan ciri-ciri pribadinya, selain kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung peningkatan hasil belajar siswa, kebiasaan belajar juga memiliki hubungan yang erat dalam hal peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian untuk memperoleh hasil belajar yang baik maka diperlukan pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar yang baik pula. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang, selain itu juga untuk mengetahui apakah terdapat hubungan keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi belajar siswa, hubungan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa serta hubungan keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tahun pelajaran 2010/2011. Sampel penelitian ini diambil dengan menggunakan Proporsional Random sampling (sampel acak sesuai proporsi tertentu). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket penilaian. Analisis data dilakukan dengan teknik statistika deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, product moment, uji F dan uji asumsi klasik. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh enam kesimpulan yaitu (1) Rata-rata siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang cukup aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. (2) Rata-rata siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang memiliki kebiasaan belajar yang baik. (3) Rata-rata siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang memiliki prestasi belajar yang cukup tinggi. (4) Ada hubungan yang signifikan antara keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. (5) Ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. (6) Ada hubungan yang signifikan antara keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini diajukan beberapa saran yaitu: (1) Dengan melihat hasil penelitian ini pihak sekolah diharapkan dapat membantu memperbaiki kebiasaan belajar siswa agar prestasi yang diperoleh lebih baik lagi (2) Dari hasil penelitian ini diharapkan konselor lebih meningkatkan perannya dalam membantu permasalahan yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa (3) Bagi siswa diharapkan dapat mengetahui lebih banyak lagi berbagai informasi mengenai pentingnya mengembangkan kebiasaan belajar dan kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan prestasi belajar. (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan variabel-variabel yang lain.

Penerapan permainan "Say Hike" untuk meningkatkan kemampuan membedakan dua kumpulan benda pada anak kelompok A di TK PGRI 03 Wagir / Suniayah Lianah

 

Kata Kunci: permainan"Say Hike" , dua kumpulan benda, tk kelompok A. Anak kelompok A Di TK PGRI 03 Wagir - Malang memiliki permasalahan tentang rendahnya kemampuan membilang yang meliputi menyebut lambang bilangan, menyebut urutan bilangan, dan memasangkan lambang. Dan rendahnya kemampuan menyebut perbedaan dua benda yaitu berdasarkan warna, bentuk dan ukuran. Dari hasil observasi hanya 6 anak (37,5%) yang dapat menjawab dan mendapat bintang 3, 10 anak (62,5%) menjawab kurang tepat dan mendapat bintang 2. Hal ini disebabkan karena guru menggunaan metode bercakap-cakap dan media kartu angka dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga anak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan permasalahan tersebut , maka Guru Kelompok A di TK PGRI 03 Wagir - Malang melakukan upaya perbaikan pembelajaran dengan melakukan penelitian tentang penerapan permainan "Say Hike" untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam membedakan dua kumpulan benda . Penelitian dilakukan bersiklus dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan MC Taggart (1990). Dalam pengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Sedangkan dalam melakukan analisa data temuan penelitian, peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif . Penerapan permainan "Say Hike" di TK PGRI 03 Wagir Malang dilaksanakan dengan mengajak anak untuk bermain dengan menggunakan media bentuk-bentuk geometri dan Leggo. Setiap anak mengelompokkan berdasarkan warna, bentuk dan ukuran secara bergiliran kemudian menghitung dan mencari angka yang sesuai pada kartu angka. Dan setiap anak mengingat warna atau jumlah yang diambilnya, kemudian membandingkan dengan milik temannya, untuk mengetahui milik siapa yang lebih banyak-lebih sedikit, lebih besar-lebih kecil/ lebih tinggi-lebih rendah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan permainan "Say Hike" dapat meningkatkan kemampuan anak dalam bermain dan membedakan dua kumpulan benda dari 61,4% pada pra penelitian menjadi 92,2%. Hal ini menunjukkan, bahwa penerapan permainan "Say Hike" mampu meningkatkan kemampuan anak dalam membedakan dua kumpulan benda pada anak kelompok A di TK PGRI 03 Wagir - Malang. Saran dalam penelitian ini adalah permainan "Say Hike" dapat dikembangkan dan dijadikan koleksi pembelajaran inovatif dan menyenangkan di TK bagi guru PAUD, lembaga dan penelitian lain yang sejenis

Hubungan antara lingkungan kerja dan semangat kerja pegawai dengan produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo / Kholiq Kariyanto

 

Kata kunci: lingkungan kerja, semangat kerja, produktivitas kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) di suatu lembaga pemerintahan bukan hanya sebagai pegawai negara melainkan juga sebagai abdi masyarakat yang bekerja untuk kepentingan masyarakat. Sebagai aparatur negara, pegawai merupakan tulang punggung penyelenggaraan roda pemerintahan. Untuk mendukung hal tersebut kantor harus mempunyai lingkungan kerja yang baik dan kondusif. Bukan hanya lingkungan kerja fisik yang berupa sarana kantor yang harus diperbaiki melainkan juga lingkungan kerja non fisik yang berupa hubungan sosial dalam kantor. Dengan adanya lingkungan kerja yang baik, akan mempengaruhi semangat kerja pegawai sehingga apa yang dihasilkan akan semakin baik, dengan hasil yang baik dari kerja pegawai maka lembaga pendidikan akan senantiasa dipuji dan dijadikan panutan buat lembaga-lembaga yang dinaunginya. Setiap lembaga dituntut untuk menangani dengan serius mengelola sumber daya manusia dengan berusaha meningkatkan performa pegawai tersebut. Maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Hubungan Lingkungan Kerja dan Semagat Kerja Pegawai dengan Produktivitas Kerja Pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo". Tujuan penelitian ini adalah selain untuk mendeskripsikan tentang lingkungan kerja, semangat kerja dan produktivitas kerja, juga mengetahui adanya hubungan secara langsung yang signifikan antara lingkungan kerja dengan semangat kerja pegawai, hubungan secara langsung yang signifikan antara lingkungan kerja dengan produktivitas kerja pegawai, hubungan secara langsung yang signifikan antara semangat kerja pegawai dengan produktivitas kerja pegawai, hubungan secara tidak langsung yang signifikan antara lingkungan kerja dengan produktivitas kerja pegawai melalui semangat kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif korelasional karena untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara lingkungan kerja dan semangat kerja pegawai dengan produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Dalam penelitian ini pengambilan data menggunakan angket yang diketahui populasi penelitian berjumlah 117 pegawai yang bekerja di Dinas Pendidikan Kota dengan jumlah sampel 54 pegawai. Untuk menganalisis data penelitian, peneliti menggunakan metode analisis jalur (path analysis) karena untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa lingkungan kerja fisik lengkap dan lingkungan kerja non fisik juga sangat baik. Jadi dapat disimpulkan lingkungan kerja dalam keadaan sangat baik. Hal ini menandakan lingkungan kerja di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo sudah dalam keadaan sangat baik; (2) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa semangat kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dalam keadaan sangat tinggi, karena responden dengan skor rata-rata menyatakan sangat tinggi dengan semangat kerjanya; (3) berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dalam keadaan sangat tinggi, karena pegawai dengan skor rata-rata menyatakan sangat tinggi dengan produktivitas kerjanya; (4) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan antara lingkungan kerja dengan semangat kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berarti semakin baik keadaan lingkungan kerja pegawai, maka akan semakin tinggi pula semangat kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo; (5) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan antara lingkungan kerja dengan produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berarti semakin baik keadaan lingkungan kerja pegawai, maka akan semakin tinggi pula produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo; (6) terdapat hubungan secara langsung yang signifikan antara semangat kerja dengan produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berarti semakin meningkat semangat kerja pegawai, maka akan semakin meningkat pula produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo; dan (7) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara lingkungan kerja dengan produktivitas kerja melalui semangat kerja pada pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Hal ini berarti semakin baik keadaan lingkungan kerja semakin tinggi pula semangat kerja pegawai dan semangat kerja pegawai yang tinggi akan menimbulkan produktivitas kerja pegawai yang tinggi pula di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Dari penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa lingkungan kerja di Dinas Pendidikan sudah sangat baik, semangat kerja pegawai dan produktivitas kerja pegawai juga dalam keadaan tinggi. Dalam penelitian ini ditemukan ada hubungan yang signifikan antara lingkungan kerja, semangat kerja pegawai dan produktivitas kerja pegawai di Dinas Pendidikan Kota Probolinggo. Dalam penelitian ini penulis juga memberikan saran bagi: (1) Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, Kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo selaku atasan para pegawai di kantor harus menjaga agar keadaan lingkungan kerja yang berupa lingkungan kerja fisik dan non fisik terus tetap dipertahankan dalam keadaan baik; (2) Jurusan Administrasi Pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi jurusan tentang hubungan lingkungan kerja dan semangat kerja dengan produktivitas kerja yang dapat dijadikan referensi untuk penelitian yang sama dan untuk menambah pembendaharaan kepustakaan jurusan; dan (3) Peneliti lain, sebagai bahan informasi bagi peneliti lainnya yang ingin lebih mendalami tentang hubungan lingkungan kerja dan semangat kerja pegawai dengan produktivitas kerja pegawai dan juga bisa digunakan sebagai bahan kajian untuk menelitian selanjutnya dalam meneliti masalah yang sepadan.

Pelaksanaan pembelajaran perkalian bilangan 6-10 menggunakan jarimatika kelas IV MI Miftahul Ulum Kota Batu semester gasal tahun ajaran 2010/2011 / Afriliana Rakhmawati

 

Kata kunci: pembelajaran perkalian, bilangan 6 - 10, jarimatika Sebagian ahli menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku berdasarkan pengalaman. Perubahan tingkah laku yang terjadi dapat disebabkan karena siswa telah melakukan kegiatan langsung, seperti praktek atau latihan. Sedangkan pengertian belajar menurut siswa Sekolah Dasar (SD) pada umumnya, belajar hanya berkaitan dengan membaca, menulis, menghafal, dan mengerjakan soal. Semua hal ini dilakukan oleh siswa setiap hari, tanpa adanya pengertian apa yang dimaksud belajar dan bagaimana seharusnya belajar dengan menyenangkan. Jika pembelajaran menyenangkan, maka siswa akan lebih mudah untuk menerima pembelajaran. Salah satu strategi untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan memilih metode yang tepat. Metode mengajar, baru dapat dikatakan relevan, jika mampu mengantar siswa ke tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Kendala yang dihadapi siswa dalam memahami matematika khususnya konsep perkalian berasal dari persepsi yang salah dalam perkalian yaitu menghafal dan kendala lainnya adalah kelemahan guru dalam penggunan variasi metode dan media dalam pembelajaran. Selain itu, khususnya di sekolah yang diteliti, berdasarkan survey, masih banyak siswa yang belum menghafal perkalian di kelas yang lebih tinggi khususnya di kelas IV. Banyaknya siswa kelas IV yang belum menghafal dikarenakan ketidaktuntasan belajar di kelas sebelumnya. Serta motivasi siswa untuk menghafal perkalian sangatlah rendah. Semua anggapan dan fakta yang telah dipaparkan, dapat dipatahkan dengan berkembangnya metode belajar yang menyenangkan, sehingga siswa semakin gemar belajar matematika khususnya pelajaran berhitung. Salah satu metode belajar matematika yang menyenangkan adalah dengan metode jarimatika. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran perkalian dengan menggunakan jarimatika kelas IV di MI Miftahul Ulum Kota Batu semester gasal tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran perkalian dengan menggunakan jarimatika di MI Miftahul Ulum Kota Batu. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, digunakan untuk mengumpulkan, kemudian memaparkan informasi tentang perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi metode jarimatika dalam pembelajaran perkalian. Sumber data dalam penelitian ini adalah RPP, guru dan siswa. Instrumen pengumpulan data menggunakan dokumentasi, observasi dan skor tes hasil belajar. Kesimpulan penelitian yaitu pelaksanaan pembelajaran perkalian dengan menggunakan jarimatika efektif, dibuktikan dengan hasil tes belajar yang menunjukkan 29 siswa dari 38 siswa telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh guru. Kemampuan siswa dalam menghitung perkalian menggunakan jarimatika dapat dilihat dari hasil tes belajar. Saran ditujukan untuk kepala madrasah, guru, siswa, dan peneliti selanjutnya adalah: (1) kepala madrasah dapat mengembangkan jarimatika untuk di kelas rendah dan kelas tinggi, (2) pembuatan RPP oleh guru bisa lebih baik, pengelolaan kelas yang baik, dan pengembangan metode yang lebih variatif dan inovatif , (3) siswa lebih termotivasi lagi untuk belajar banyak tentang perkalian, dan (4) dapat dijadikann dasar pertimbangan dalam melakukan penelitian lebih lanjut dan sejenis dengan materi atau cakupan yang lebih luas.

Penerapan model pakem untuk peningkatan kualitas pembelajaran IPS kelas V SDN Tegalweru Kecamatan Dau Kabupaten Malang / Emi Zamzami

 

Kata Kunci: model PAKEM, kualitas pembelajaran, IPS SD Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS kelas V di SDN Tegalweru, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan yang menyebabkan lemahnya kualitas pembelajaran IPS di kelas V. Permasalahan tersebut antara lain, rendahnya aktivitas belajar siswa ditandai dengan siswa kurang berperan aktif dalam kegiatan belajarnya, pembelajaran yang kurang menarik dan membosankan, serta diperolehnya hasil belajar siswa sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran masih bersifat teacher centered yaitu guru lebih sering menggunakan metode ceramah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu perlu memilih model pembelajaran yang tepat. Salah satunya dengan menerapkan model PAKEM. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model PAKEM pada mata pelajaran IPS pokok bahasan keanekaragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia kelas V SDN Tegalweru Malang; (2) mendeskripsikan peningkatan kualitas pembalajaran IPS pokok bahasan keanekaragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia siswa kelas V SDN Tegalweru Malang melalui model PAKEM. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Tegalweru yang berjumlah sebanyak 29 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan tes. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PAKEM dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS siswa kelas V SDN Tegalweru. Hal ini dapat dilihat dari perolehan hasil belajar siswa yang terus meningkat. Dari rata-rata hasil belajar sebelumnya hanya sebesar 63,55 meningkat menjadi 74,48 pada siklus I, dan 83,21 pada siklus II. Sedangkan peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 8.63% (visual activities), 29.31% (oral activities), 13.80% (listening activities), 6.90% (writing activities), 6,92% (motor activities), 20,69% (mental activities) dan 12.07% (emotional activities). Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai diatas 75 % sehingga siklus dihentikan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru dapat menerapkan dan mengembangkan model PAKEM pada pokok bahasan yang lain atau pada tingkatan kelas yang lain dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran IPS di SD dan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Upacara grebeg Pancasila dalam upaya pengembangan nilai-nilai nasionalisme di Kota Blitar / Kusnul Khotimah

 

Kata Kunci: Kebudayaan, Nilai-Nilai Nasionalisme, dan Upacara Grebeg Pancasila Upacara Grebeg Pancasila merupakan acara peringatan Hari Lahir Pancasila, yang didesain menjadi peristiwa budaya. Dilaksanakan oleh seniman-seniman Blitar, dengan sentuhan dan piranti etik dan estetika tanpa meninggalkan kekhidmadan dan makna sebuah upacara. Upacara ini dilaksanakan di Aloon-aloon Kota Blitar setiap tanggal 1 di bulan Juni. Berkaitan dengan itu maka dilakukan penelitian mengenai Upacara Grebeg Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) Sejarah Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar; 2) Pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar; 3) Nilai-nilai nasionalisme yang terkandung pada tiap-tiap acara pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar; 4) Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila yang diadakan di Kota Blitar; 5) Prospektif dalam pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila yang diadakan di Kota Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari hasil observasi proses pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila yang diadakan di Kota Blitar, wawancara dari informan didukung dokumen sekitar, dan temuan penelitian Upacara Grebeg Pancasila di lapangan. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa, 1) Sejarah Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar ini merupakan sebuah peringatan Hari Lahir Pancasila yang didesain sebagai peristiwa budaya, dan dilaksanakan oleh seniman-seniman Blitar dengan sentuhan dan piranti etnik serta estetika, tanpa meninggalkan kekhidmatan dan makna sebuah upacara. Upacara Grebeg Pancasila sebuah acara yang diselenggarakan di Aloon-aloon Kota Blitar setiap tanggal 1 Juni, selain sebagai Hari Peringatan Lahirnya Pancasila, 2) Pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar ada tahapannya meliputi: Tahap Persiapan seperti a) Tanggal pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila yakni tanggal 1 Juni, b) Tempat dilaksanakannya Upacara Grebeg Pancasila di Aloon-aloon Kota Blitar kemudian Kirab Gunungan Limo dilaksanakan dengan rute Aloon-aloon Kota Blitar, Jalan Timur Aloon-aloon Kota Blitar, Jalan Merdeka, Jalan A. Yani/ Gedung DPR keutara, Jalan Ir. Soekarno, Jalan Slamet Riyadi dan rute terakhir Makam Bung Karno untuk Selamatan, c) Panitia Grebeg Pancasila Tahun 2010. Kemudian Tahap Pelaksanaan ini terdiri dari lima macam prosesi yakni Bedholan Grebeg, Tirakatan, Upacara Budaya, Kirab Gunungan Limo, dan Kenduri Pancasila, 3) Nilai-Nilai nasionalisme yang terkandung pada tiap-tiap acara pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila di Kota Blitar Rela Berkorban Tanpa Pamrih, Kesetiaan Kepada Bangsa dan Negara, Kesatuan Dan Kerukunan, Semangat Membangun, Kesadaran Berbangsa Dan Bernegara, dan Mencintai Warisan Budaya Lokal, 4) Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila yang diadakan di Kota Blitar adanya sebagian orang yang mengangap bahwa pelaksanaan Upacara tersebut sebagai perbuatan syirik, 5) Prospektif dalam pelaksanaan Upacara Grebeg Pancasila yang diadakan di Kota Blitar yakni menjadikan Upacara Grebeg Pancasila dapat dijadikan sebagai Hari Besar Daerah.

Manajemen pengembangan kerjasama antara sekolah dan dunia usaha dalam upaya peningkatan mutu pendidikan (studi kasus di SMKN 3 Boyolangu, Tulungagung) / Nikko Edistya Purnanto

 

Kata kunci : manajemen, kerjasama sekolah dan dunia usaha, mutu pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dan taraf hidup bangsa Indonesia dalam persaingan global agar tidak tertinggal jauh dengan bangsa lain. Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah khususnya Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Boyolangu sebagai lembaga penyelenggara pendidikan, haruslah mampu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak khususnya dengan dunia usaha yang bersifat saling menguntungkan, sehingga peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat tercapai secara optimal dan berkualitas. Agar proses kerjasama tersebut dapat berjalan dengan baik, tentunya diperlukan suatu pengelolaan yang baik agar kedepan, kerjasama ini senantiasa berkembang. Berkaitan dengan itu, diperlukan pembahasan mengenai manajemen pengembangan kerjasama antara sekolah dan dunia usaha dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup manajemen pengembangan kerjasama antara sekolah dan dunia usaha terhadap peningkatan mutu pendidikan, kendala yang timbul dan penanggulangannya, keuntungan dan kerugian, aspek-aspek yang dikerjasamakan, dan konflik-konflik serta pemecahan dalam pengembangan kerjasama. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian studi kasus, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mengamati dan menggali data-data dari objek penelitian secara langsung. Data penelitian yang diperoleh berupa kata-kata dan tindakan yang diperoleh dari informan dengan menggunakan teknik sample purposif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Ada tiga tahapan dalam penelitian ini, meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan. Analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, dalam manajemen pengembangan kerjasama di SMKN 3 Boyolangu terdapat struktur organisasi, 7 sasaran mutu, 6 strategi pencapaian mutu, 21 dunia usaha/industri (DU/DI) yang bersedia berkerjasama, 525 siswa melaksanakan Praktik Kerja Industri (Prakerin), alur pelaksanaan Prakerin, dan alur penyaluran tamatan ke dunia usaha/industri. Kedua, kendala yang timbul dalam kerjasama, seperti sulit mencari DU/DI yang bersedia membuat perjanjian tertulis dengan sekolah, kurangnya minat dunia usaha untuk menjalin kemitraan dengan sekolah, hal tersebut ditanggulangi dengan merevisi bentuk kerjasama, melakukan analisis kegiatan, dan meyakinkan DU/DI dengan cara promosi yang lebih meyakinkan. Ketiga, keuntungan dan kerugian yang timbul dalam kerjasama ini, misalnya sekolah terbantu dalam penyaluran tamatan, penyediaan tempat praktik, sedangkan DU/DI, terbantu dalam pencarian tenaga kerja dan sebagai sarana promosi. Keempat, aspek-aspek yang dikerjasamakan, misalnya pelaksanaan Prakerin, penyusunan program sekolah, dan penyaluran lulusan. Kelima, konflik-konflik dan pemecahan dalam kerjasama sekolah dengan DU/DI ini, misalnya sulit mengatur jadwal Prakerin dan upaya pemecahan yang dilakukan dengan sekolah melakukan sosialisasi yang lebih baik, diskusi bersama, dan melakukan perbaikan secara berkala. Berdasarkan penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan, keuntungan dan kerugian yang timbul selama ini masih bisa diselesaikan dengan berbagai upaya yang dilakukan, sehingga hasilnya berdampak positif atau saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, berbagai aspek yang dikerjasamakan antara sekolah dengan DU/DI sangat berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah, dan untuk menghindari konflik yang timbul dalam kerjasama ini, kedua belah pihak mengikatkan diri pada kerjasama sesuai nota kesepakatan kerja yang telah dibuat. Sekolah, khususnya Wakil Kepala Sekolah bagian Hubungan Masyarakat (Wakasek Humas), hendaknya selalu mencari terobosan baru dalam pengembangan kerjasama ini, sedangkan bagi DU/DI, khususnya Kepala DU/DI hendaknya bersikap terbuka terhadap pihak sekolah mengenai masalah-masalah yang terkait dengan kerjasama ini, sehingga dapat dicari solusi terbaik dalam penyelesaiannya.

Strategi pengorganisasian program kerja organisasi siswa intra sekolah: studi multi situs di SMAN 1 dan SMAN 3 Kota Malang / Vidya Ayu Tyagita Putri Irawati

 

Kata kunci: strategi pengorganisasian, program kerja OSIS Menurut Hadari (2003:43) menjelaskan bahwa "Strategi dapat diartikan sebagai siasat, teknik dan taktik utama dalam menggempur atau menghadapi musuh untuk memenangkan sebuah peperangan sebagai tujuan". Pembinaan kesiswaan merupakan kondisi sekolah dan masyarakat dewasa yang pada umumnya masih dalam taraf perkembangan, maka upaya pembinaan kesiswaan perlu diselenggarakan untuk menunjang perwujudan sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala. Strategi pengorganisasian program kerja OSIS merupakan suatu teknik atau taktik dari kegiatan OSIS untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Kegiatan OSIS merupakan suatu kegiatan yang berguna dalam mengembangkan bakat dan minat siswa dalam berorganisasi di setiap kegiatan yang diselenggarakan dan mengembangkan jiwa sosial yang lebih baik lagi di lingkungan sekolah serta lingkungan masyarakat sekitar. Kegiatan OSIS menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler unggulan yang ada di SMAN 1 dan SMAN 3 Kota Malang, hal tersebut dapat dilihat dari tingginya partisipasi setiap siswa dari kedua sekolah itu untuk mengikuti kegiatan OSIS di masing-masing sekolah tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui strategi pengorganisasian program kerja OSIS di SMAN 1 dan SMAN 3 Kota Malang. Fokus penelitian untuk mengetahui tentang strategi pengorganisasian program kerja OSIS, pelaksanaan pengorganisasian program kerja OSIS, kendala pengorganisasian program kerja OSIS, dan mengatasi kendala pengorganisasian program kerja OSIS. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku untuk diamati yang diperoleh dari beberapa informan yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, ketua umum OSIS serta guru yang membina dan mengikuti kegiatan OSIS dan informan lain yang terlibat dalam manajemen kegiatan OSIS di kedua lembaga tersebut dengan menggunakan alat bantu berupa catatan lapangan, alat rekam, maupun dokumentasi yang diarahkan pada latar dan individu terhadap fenomena sosial. Jenis rancangan penelitian ini sesuai dengan fokus penelitian yang mencari informasi berdasarkan objek yang diteliti adalah multi situs. Multi situs adalah suatu kasus yang sama dalam suatu penelitian, tetapi lokasi penelitian yang berbeda namun memiliki persamaan dalam penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan OSIS. Temuan penelitian di SMAN 1 Malang yaitu: (1) strategi penyusunan program kerja OSIS yang ada dilaksanakan sesuai dengan struktur organisasi dan dibuat oleh tim (Pembina OSIS dan Pengurus OSIS), (2) pelaksanaannya terdapat faktor-faktor yang mendukung dan menghambat serta dilakukannya pendekatan pengurus OSIS terhadap warga sekolah (siswa), hal tersebut dilakukan bertujuan untuk dapat mempermudah mereka berkoordinasi dan berkomunikasi antar anggota OSIS maupun dengan Pembina OSIS serta dengan pihak sekolah agar kegiatan OSIS ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, (3) kendala dalam kegiatan pengorganisasian program kerja OSIS hanya masalah finansial untuk kegiatan OSIS, (4) program kerja OSIS ini tidak ada kesulitan dalam mengatasi kendala. Karena, pengurus OSIS sendiri masih mampu menghadapi kendala yang ada. Sehingga, pihak sekolah tidak terlalu ikut terlibat dalam penyelesaian kendala tersebut. SMAN 3 Malang: (1) program kerja OSIS terstruktur atau terencana dalam proses penyusunan program kerja OSIS yang dilakukan pengurus OSIS yang kemudian dikonsultasikan dengan Pembina OSIS, setelah itu rancangan kegiatan tersebut diajukan kepada wakil kepala sekolah bagian kesiswaan yang kemudian di ajukan kepada kepala sekolah, (2) pelaksanaannya dilakukan pendekatan secara kolektif dan kolegial artinya kegiatan dirumuskan atau dicetuskan, ditawarkan ke anggota melalui sharing, dirapatkan bersama dengan pengurus OSIS, dimasukkan ke dalam kegiatan OSIS, kemudian memberikan informasi atau publikasi kepada para siswa, (3) kendala yang dialami kebanyakan tentang waktu pelaksanaan kegiatan, sedangkan kendala yang lain hanya masalah sponsor atau dana dalam mengadakan suatu kegiatan, dan (4) mengatasi kendala dengan cara mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah strategi pengorganisasian program kerja OSIS SMAN 1 Malang: (1) perumusan program kerja OSIS secara terstruktur dan dibuat oleh tim (Pembina OSIS dan Pengurus OSIS). Tujuannya agar kegiatannya bisa sukses dan lancar untuk ke depannya, (2) pelaksanaan kegiatannya, mekanisme atau tata aliran yang dilakukan adalah siswa membuat proposal kemudian diketahui oleh Pembina OSIS, Waka Kesiswaan dan Kepala Sekolah. (3) kendalanya masalah finansial atau sumber dana untuk pelaksanaan kegiatan OSIS dari sekolah dan sponsor, dan (4) jika tidak bisa mengatasi finansial, pihak sekolah ikut turun dan akhirnya dibantu sekolah untuk mengantisipasi. SMAN 3 Malang: (1) program kerja OSIS Terstruktur atau terencana setiap tahunnya dilakukan laporan pertanggungjawaban serta dilakukan evaluasi sebelumnya untuk penambahan program kerja pada kegiatan OSIS yang akan datang, (2) pelaksanaannya dilakukan pendekatan secara kolektif dan kolegial artinya kegiatan dirumuskan atau dicetuskan, ditawarkan ke anggota melalui sharing, dirapatkan bersama dengan pengurus OSIS, dimasukkan ke dalam kegiatan OSIS, kemudian memberikan informasi atau publikasi kepada para siswa, (3) kendala yang dialami kebanyakan tentang waktu pelaksanaan kegiatan, sedangkan kendala yang lain hanya masalah sponsor atau dana dalam mengadakan suatu kegiatan, dan (4) mengatasi kendala dengan cara mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah.

Penerapan lesson study pada pembelajaran matematika bilingual untuk meningkatkan motivasi belajar siswa / Andika Wahyu Ferdiansyah

 

Kata Kunci: lesson study, matematika, bilingual, motivasi belajar siswa, STAD. Menurut siswa pembelajaran matematika menggunakan gabungan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris merupakan sesuatu yang tidak mereka minati. Hal ini tentu berakibat pada motivasi belajar siswa. Lesson study, dengan tiga tahapan utama yaitu plan, do, dan see dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan di kelas bilingual VIII-F SMP Laboratorium UM dengan tujuan untuk mendeskripsikan proses lesson study yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Penelitian ini dilakukan di SMP Laboratorium UM karena di sekolah tersebut terdapat kelas khusus yang menggunakan dua bahasa pengantar (bilingual). Data diperoleh dengan menggunakan angket, pedoman observasi, dan catatan lapangan. Data tersebut dianalisis selanjutnya dibahas dan pada akhirnya ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari pelaksanaan lesson study dengan cooperative learning tipe STAD dalam pembelajaran matematika bilingual selama empat pertemuan memberikan dampak positif berupa peningkatan motivasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari persentase rata-rata skor motivasi belajar siswa sebelum tindakan adalah 60,46% siswa sedangkan setelah pelaksanaan tindakan adalah 79%. Peningkatan skor motivasi belajar ini terjadi 86,96% siswa (20 siswa) di kelas penelitian. Hasil ini juga diperkuat dengan catatan observer mengenai kegiatan yang menunjukkan peningkatan motivasi siswa selama empat pertemuan. Persentase rata-rata skor kegiatan siswa di kelas penelitian, secara berurutan, pada pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan keempat adalah 59,83%, 64,45%, 72,91 , dan 81,05%. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan lesson study adalah pemilihan materi yang sesuai, manajemen waktu yang tepat, dan pengendalian kelas yang bijaksana.

Peranan lembaga pemasyarakatan dalam membina narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru Kota Malang / Indra Andi Wirayani

 

Kata Kunci: Peranan Lembaga Pemasyarakatan, Pembinaan, Narapidana Lembaga pemasyarakatan merupakan tempat melaksanakan pembinaan narapidana, dan anak didik pemasyarakatan. Di lembaga pemasyarakatan terdapat narapidana yaitu orang yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di lembaga pemasyarakatan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Bagaimanakah program pembinaan yang diberikan lembaga pemasyarakatan Lowokwaru kepada narapidana, (2) Bagaimanakah pelaksanaan program pembinaan yang diberikan lembaga pemasyarakatan Lowokwaru kepada narapidana (3) Apakah faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program pembinaan terhadap narapidana, (4) Bagaimanakah upaya lembaga pemasyarakatan Lowokwaru dalam mengatasi hambatan dalam melaksanakan program pembinaan terhadap narapidana Untuk mencapai tujuan tersebut maka peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dalam mencari data dari informan yang terdiri dari pimpinan dan staf lembaga pemasyarakatan Lowokwaru kota Malang, serta narapidana di lembaga pemasyarakatan lowokwaru kota malang. Pengumpulan data dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data yang ditemukan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan data sebagai berikut: perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian menyatakan program pembinaan narapidana dibedakan menjadi tahap pembinaan tahap awal, dan pembinaan tahap lanjutan. Pembinaan tahap awal meliputi pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Pembinaan kepribadian mencakup pembinaan kesadaran hukum, pembinaan kesadaran berbangsa, dan pembinaan kemampuan intelektual, Pembinaan kemandirian meliputi pembinaan kemandirian yang terdiri dari program pendidikan keterampilan, keterampilan untuk mendukung usaha industri, keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan bakat masing-masing, keterampilan untuk mendukung usaha pertanian. Pembinaan lanjutan meliputi cuti bersyarat, cuti menjelang bebas, pembebasan bersyarat, cuti menengok keluarga, cuti alasan penting, asimilasi dan remisi. Pelaksanaan program pembinaan terhadap narapidana yaitu dalam pembinaan awal maka narapidana akan memperoleh pembinaan melalui kegiatan penyuluhan tentang arti penting hukum, kegiatan pramuka, program pendidikan melalui program paket A, paket B, dan paket C, pendidikan keterampilan yang meliputi keahlian las, pengecatan mobil, berbagai kerajinan tangan, pengolahan rotan, dan keahlian mengolah kayu. Pelaksanaan program pembinaan lanjutan yaitu dengan diberikannya hak kepada narapidana untuk memperoleh cuti bersyarat, cuti menjelang bebas, pembebasan bersyarat, cuti menengok keluarga, cuti alasan penting, asimilasi dengan persyaratan yang telah ditentukan. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan program pembinaan terhadap narapidana meliputi faktor yang mendukung program pembinaan yaitu adanya kemauan individu narapidana untuk mengikuti program pembinaan, adanya kerjasama dengan instansi pemerintah yang lain, adanya dukungan dari pihak keluarga, petugas pemasyarakatan dan penasehat hukum. Faktor penghambat dalam membina narapidana adalah antusias warga binaan yang masih rendah untuk mengikuti program pembinaan, over capasity/ terlalu penuhnya warga binaan didalam lembaga pemasyarakatan yang mengakibatkan pembinaan kurang intensif Upaya mengatasi hambatan dalam program pembinaan adalah memberi motivasi terhadap narapidana untuk lebih antusias dalam menjalani program pembinaan, memberikan tindak lanjut terhadap pembinaan yang dilakukan lembaga pemasyarakatan kepada mantan narapidana agar tidak mengulangi tindak kejahatan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan pelaksanaan program pembinaan yang diberikan kepada narapidana, maka pihak lembaga pemasyarakatan harus melaksanakan pembinaan secara baik dan intensif sejak narapidana masuk kedalam lembaga pemasyarakatan hingga keluar dari lembaga pemasyarakatan, serta pihak lembaga pemasyarakatan harus berusaha menggali bakat yang dimiliki oleh narapidana, sehingga dengan demikian narapidana dapat menentukan pembinaan yang akan dijalani sesuai keterampilan yang dimiliki, selain itu juga pihak lembaga pemasyarakatan harus mengasah berbagai keterampilan lain yang harus dikuasai oleh narapidana. Saran selanjutnya yaitu berdasarkan faktor yang mempengaruhi pembinaan utamanya faktor penghambat dalam melaksanakan program pembinaan, maka upaya pembinaan yang dilakukan melalui program pembinaan harus dilaksanakan secara berkesinambungan, mengakomodasi pendapat narapidana dalam menentukan program pembinaan dan pihak lembaga pemasyarakatan harus memberikan tindak lanjut terhadap pembinaan yang telah diberikan. Saran yang terakhir berdasarkan upaya mengatasi hambatan dalam melaksanakan program pembinaan, pihak lembaga pemasyarakatan harus mengupayakan agar mantan narapidana tidak melakukan tindak pidana lagi dikemudian hari, dengan memberikan tindak lanjut terhadap pembinaan yang telah diberikan kepada narapidana.

Pemanfaatan media rekaman televisi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III di SDN Kiduldalem 2 Malang pada mata pelajaran IPS / Mahallisa Dyah Pristanti

 

Kata kunci: media rekaman televisi, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru kepada siswa, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses terjadi. Dengan demikian dalam proses belajar, mengajar, media sangat diperlukan agar siswa bisa menerima pesan dengan baik dan benar. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) memanfaatkan media rekaman televisi; 2) meningkatkan aktivitas belajar siswa; dan 3) meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran IPS. Televisi sebagai salah satu media pembelajaran akan dapat memberikan banyak informasi bagi dunia pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, maka guru dapat membawa perhatian anak misalnya dengan mengajak siswa belajar dengan menyaksikan tayangan televisi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif interaktif. Jenis data yang akan dikumpulkan berupa data pengamatan tindakan peneliti, aktivitas siswa, dan hasil evaluasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari tiga hal yaitu observasi, tes, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan MC. Taggart yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan sekaligus observasi, refleksi, dan revisi rencana. Aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, dan segala kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar. Sedangkan hasil belajar merupakan kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: a) pembelajaran dengan memanfaatkan media rekaman televisi sangat efektif digunakan dalam kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran IPS; b) pemanfaatan media rekaman televisi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Siswa yang belajar dengan media rekaman televisi, memiliki aktivitas yang sangat baik dibandingkan sebelum belajar dengan memanfaatkan media rekaman televisi; c) hasil belajar siswa setelah belajar dengan media rekaman televisi juga ikut meningkat. Saran bagi guru yaitu diharapkan dalam pelaksanaan pembelajaran guru menggunakan media pembelajaran yang bervariatif.

Hambatan belajar mahasiswa dalam menempuh mata kuliah perencanaan mesin produksi (PTM447) pada Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / M. Izarul Haq Hannan

 

Kata lunci: hambatan, belajar, Perencanaan Mesin Produksi Secara umum kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi sudah dibatasi oleh waktu secara ketat. Contohnya, untuk program sarjana strata 1 diberi waktu selama 4 tahun (8 semester). Namun pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang belum mampu lulus dengan tepat waktu. Salah satunya yaitu di Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Mesin. Hal ini disebabkan oleh mata kuliah yang dianggap sulit oleh mahasiswa. Mata kuliah yang dimaksud adalah mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi (PTM 447). Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa program studi Pendidikan Teknik Mesin, hal ini terbukti bahwa di buku panduan Katalog dari angkatan-angkatan sebelumnya mata kuliah ini selalu disajikan oleh Jurusan Teknik Mesin dan waktunya pun dibatasi hanya satu semester, tapi pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang tidak dapat menyelesaikan mata kuliah ini dalam waktu satu semester. Mahasiswa program studi S1 Pendidikan Teknik Mesin berjumlah 51 mahasiswa yang dapat menyelesaikan mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi ini dengan tepat waktu sejumlah 2 mahasiswa atau sekitar 3,9%, sedangkan yang belum lulus sejumlah 49 mahasiswa atau sekitar 96,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hambatan belajar internal dan external mahasiswa yang bersifat akademis dan non akademis yang dialami mahasiswa Teknik Mesin dalam menempuh mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Malang program studi Pendidikan Teknik Mesin yang telah menempuh atau mengambil mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi. sampel penelitian ini adalah 51 mahasiswa yang terdiri dari 20 mahasiswa offering A dan 31 mahasiswa offering B. Pengambilan data menggunakan angket, diperkuat dengan wawancara dan survey yang berkaitan dengan hambatan belajar mahasiswa terhadap mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi. Data dianalisis dengan statistik deskriptif yang meliputi frekuensi, persentase, diagram dan transkrip wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa masih mengalami hambatan belajar baik secara internal maupun secara eksternal. Hambatan internal mahasiswa meliputi penguasaan materi, minat mahasiswa, emosi jiwa mahasiswa, kehadiran mahasiswa, penguasaan bahasa mahasiswa, pengaturan waktu belajar, dan cacat tubuh. Hambatan belajar mahasiswa secara eksternal meliputi metode pembelajaran (proses pembimbingan mahasiswa dengan dosen), beban kerja (perencanaan studi), sarana dan prasarana, kegiatan mahasiswa dalam masyarakat (organisasi), dan belajar sambil bekerja, Berdasarkan penelitian tersebut disarankan (1) Mahasiswa yang akan menempuh mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi harapannya secara aktif mencari informasi kepada jurusan tentang tatacara dan alur pengerjaannya sehingga tidak terjadi buta informasi yang bisa menyebabkan kemoloran, (2) Mahasiswa sebaiknya bisa membuat jadwal yang sifatnya terus-menerus/kontinyu terhadap proses pengerjaan Perencanaan Mesin Produksi, (3) Bagi mahasiswa yang menglami kesulitan atau hambatan harapannya selalu aktif berkonsultasi dan melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing, dan (4) Apabila terdapat permasalahan dengan dosen pembimbing yang sifatnya merugikan mahasiswa misalnya dosennya tidak dapat atau sulit ditemui bahkan sering ke luar kota maka mahasiswa segera melapor kepada koordinator mata kuliah Perencanaan Mesin Produksi dalam hal ini sekertaris Jurusan untuk memohon pergantian dosen pembimbing agar tidak menghambat penyelesaian Perencanaan anda.

Upaya polisi dalam menanggulangi kecelakaan lalu lintas berdasarkan UU No. 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan di wilayah kepolisian resort Sumenep / Mila Ekawati

 

Kata Kunci: Lembaga Kepolisian, Penanggulangan, Kecelakaan Lalu Lintas, Dengan semakin meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas di kabupaten Sumenep dan adanya upaya lembaga kepolisian dalam meminimalkan angka kecelakaan lalu lintas yang sesuai dengan peraturan lalu lintas. Pelaksanaan upaya lembaga kepolisian ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan di bidang keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis latar belakang terjadinya kecelakaan Lalu Lintas di Wilayah Kepolisian Resort Sumenep (2) menganalisis program Polisi dalam menanggulangi kecelakaan Lalu Lintas di Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Wilayah Kepolisian Resort Sumenep (3) menganalisis pelaksanaan program Polisi dalam menanggulangi kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Wilayah Kepolisian Resort Sumenep (4) menganalisis faktor yang menghambat upaya Polisi dalam menanggulangi kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Wilayah Kepolisian Resort Sumenep (5) menganalisis upaya Polisi untuk mengatasi hambatan dalam penanggulangan kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di Wilayah Kepolisian Resort Sumenep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni: observasi, wawancara, dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari para informan, hasil observasi proses pelaksanaan program Lembaga Kepolisian menanggulangi kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian membawa perolehan kesimpulan bahwa Kesatuan Polres Sumenep terbentuk pada tahun 1947 dan sampai saat ini. Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa yang tidak disangka-sangka dan tidak sengaja, dimana sebuah kendaraan bermotor bertabrakan dengan benda lain dan menyebabkan kerusakan, latar belakang terjadinya kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Sumenep terbagi dalam empat faktor penyebab kecelakaan lalu lintas yaitu: faktor manusia, faktor kendaraan, faktor jalan, dan faktor cuaca. Untuk mengatasi kecelakaan lalu lintas Lembaga Kepolisian memiliki program dalam menanggulangi kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Sumenep disebut dengan program partnership yang terbagi menjadi tiga tahap yaitu: tahap I program jangka pendek, tahap II program jangka menengah, tahap III program jangka panjang. Lembaga Kepolisian dalam menanggulangi kecelakaan lalu lintas memiliki beberapa kesulitan yaitu, faktor utama yang menghambat adalah dari anggota polisi yang kurang disiplin. Selain itu sarana dan prasarana lalu lintas di Kabupaten Sumenep yang kurang memadai juga merupakan faktor penghambat lainnya dalam pelaksanaan program penanggulangan kecelakaan lalu lintas karena bertambahnya pengguna jalan yang tidak diiringi dengan bertambahnya sarana dan prasarana lalu lintas. Sarana dan prasarana lalu lintas yang disediakan adalah fasilitas jalan, rambu-rambu dan tanda lalu lintas. dan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahaminya peraturan lalu lintas yang baru, oleh karena itu masih banyak pelanggaran yang sering terjadi. Upaya Lembaga Kepolisian untuk mengatasi hambatan dalam penanggulangan kecelakaan lalu lintas yaitu dengan diadakannya penyuluhan-penyuluhan kepada anggota kepolisian agar lebih patuh terhadap peraturan yang ada, dapat menjadi panutan bagi masyarakat luas dan memberikan pelayanan yang baik untuk masyarakat. Sarana dan prasarana yang kurang memadai, upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan survey sarana dan prasarana apa saja yang kurang dan perlu perbaikan. Dengan menambah sarana dan prasarana seperti menambahkan rambu-rambu lalu lintas di jalan yang sudah mulai ramai dan memperbaiki jalan yang sudah rusak atau berlubang sehingga dapat mewujudkan lalu lintas yang tertib. Masih banyaknya masyarakat kurang paham atau mengerti mengenai peraturan lalu lintas yang baru maka sangat diharapkan kepada lembaga kepolisian untuk lebih intensif dalam melakukan penyuluhan ataupun sosialisasi kepada masyarakat mengenai peraturan lalu lintas yang ada.

Pelaksanaan pembelajaran PKn kelas tinggi di SDN Karangrejo 03 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Yogi Hermawan

 

Kata Kunci: Pembelajaran, PKn, Sekolah Dasar, Kelas Tinggi Aspek pembelajaran memegang peran penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Dalam hal ini, bahan ajar,metode, dan media mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap guru harus mampu menguasai kelas belajar yang dtunjukkan melalui penerapan metode-metode yang ada dan dapat memilih metode maupun media yang relevan agar bisa mencapai tujuan belajar. Adanya kendala dalam aspek pembelajaran diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Guru, tidak menguasai bahan ajar materi dan cara penyampaian; (2) Siswa, tidak mempunyai kemauan, kemampuan, kesiapan dan kondisi belajar yang baik; (3) Sekolah, sarana dan prasarana untuk belajar mengajar kurang termasuk juga sumber belajar berupa buku panduan. Penilaian dimanfaatkan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menuntaskan materi.Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran serta bertanggung jawab dalam hasil belajar anak didiknya. Guru kelas melakukan persiapan berupa perencanaan dalam bentuk perangkat pembelajaran, pengembangan motivasi, dan pengelolaan kelas. Pelaksanaan KBM berpedoman dari RPP dengan catatan menyesuaikan dengan kondisi (fleksibel). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mengetahui pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mengetahui hambatan yang dihadapi guru kelas dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SDN Karangrejo 03, mengetahui alternatif solusi dalam mengatasi hambatan pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SDN Karangrejo 03. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Disebut pendekatan kualitatif karena data yang dihasilkan bukan dalam bentuk angka-angka tetapi berupa kata-kata tertulis atau lisan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu suatu penelitian yang detail atas satu latar atau satu subyek atau satu tempat penyimpanan data atau satu peristiwa tertentu. Informan terdiri dari guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data maka dilakukan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pembelajaran PKn pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, dalam pelaksanaan pembelajaran PKn terutama untuk kelas tinggi difokuskan pada persiapan perangkat pembelajaran. Dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa kematangan suatu perencanaan berpengaruh cukup besar pada kelangsungan dan kelancaran KBM (2) Pelaksanaan pembelajaran PKn pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, khususnya di gugus V untuk kelas tinggi diajarkan oleh guru kelas, sesuai dengan kurikulum, berpedoman pada perangkat pembelajaran tetapi bersifat fleksibel/kondisional dalam penerapannya, menggunakan media pembelajaran sederhana dan metode ceramah variasi, dikte/mencatat, tanya jawab, diskusi kelompok, dan penugasan. Pembelajaran terdiri dari tahap awal (kegiatan apersepsi), tahap inti (penerapan metode dan pemanfaatan media), serta tahap akhir (penutup) (3) Hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran PKn pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mencakup aspek pembelajaran meliputi bahan ajar, pelaksanaan KBM (4) Upaya guru untuk mengatasi hambatan yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran PKn pada siswa kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mengutamakan perencanaan meliputi persiapan pembelajaran (RPP dan penguasaan materi) disertai memperbaiki kekurangan yang ada seperti model maupun media pembelajaran, meningkatkan pengelolaan kelas seperti upaya memotivasi siswa melalui pendekatan sosial, serta membina hubungan yang baik dengan pihak yang terkait dalam KBM Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti dapat memberi saran bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional.

Pengembangan bahan ajar menulis puisi untuk SMA dengan pendekatan kontekstual / Saif Al Hadi

 

Pembelajaran menulis puisi merupakan salah satu bentuk pembelajaran apresiasi sastra yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman, penghayatan, dan sikap positif terhadap karya sastra Indonesia sebagai khasanah kekayaan bangsa. Kegiatan menulis tidak dapat menghasilkan sebuah tulisan secara spontan, tetapi membutuhkan sebuah proses. Namun, pembelajaran menulis puisi masih kurang berjalan baik karena kurangnya fasilitas yang mendukung dan tidak sesuainya strategi pembelajaran yang dipilih. Untuk menyikapi hal tersebut, solusi yang ditawarkan adalah mengembangkan bahan ajar menulis puisi dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual ini dipilih karena dinilai sesuai untuk pembelajaran menulis puisi. Untuk mengembangkan bahan ajar yang layak, landasan teori yang digunakan adalah teori pengembangan bahan ajar, pengembangan keterampilan menulis puisi mengembangkan aspek (1) isi, (2) penyajian, (3) bahasa, dan (4) tampilan bahan ajar. Teori pengembangan bahan ajar menajdi pedoman dalam merancang dan mengembangkan bahan ajar yang layak. Teori tentang keterampilan menulis puisi dianalisis untuk dapat menghasilkan bahan ajar yang sesuai dengan materi menulis puisi, sedangkan aspek isi, penyajian, bahasa, dan tampilan menjadi tolak ukur atau batasan dalam mengembangkan bahan ajar yang layak. Penelitian ini dilakukan dengan teknik penelitian dan pengembangan yang bersifat analisis deskriptif kuantitatif. Pengembangan bahan ajar ini disesuaikan untuk siswa SMA. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pengembangan ini terdiri atas (1) penelitian pendahuluan, (2) pengembangan awal, dan (3) pengembangan akhir. Kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian pendahuluan adalaha mengidentifikasi kurikulum dan siswa, merumuskan tujuan, dan menentukan spesifikasi bahan ajar. Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengembangan awal adalah menyusun draft bahan ajar, mengembangkan bahan ajar, menguji kelayakan bahan ajar pada pakar, dan merevisi bahan ajar. Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengembangan akhir adalah uji lapangan, dan revisi kahir bahan ajar. Dari kegiatan uji kelayakan oleh ahli penulisan puisi, diperoleh kesimpulan bahwa bahan ajar yang dihasilkan memiliki rata-rata persentase kelayakan isi 87,5% dengan kategori sangat layak, penyajian 75% dengan kategori layak, bahasa 87,58% dengan kategori sangat layak, tampilan 87,5% dengan kategori sangat layak. Dari kegiatan uji kelayakan oleh praktisi (guru), diperoleh kesimpulan bahwa bahan ajar yang dihasilkan memiliki rata-rata persentase kelayakan isi 93,7% dengan kategori sangat layak, penyajian 100% dengan kategori sangat layak, bahasa 87,5% dengan kategori sangat layak, tampilan 95,3% dengan kategori sangat layak. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikebangkan dikategorikan sangat layak untuk digunakan. Sementara itu, dari penjaringan data kepada peserta didik yang dilaksanakan pada tangaal diperoleh kesimpulan bahwa bahan ajar yang dihasilkan memiliki rata-rata persentase kelayakan isi 85% dengan kategori sangat layak, penyajian 84,1% dengan kategori sangat layak, bahasa 86,2% dengan kategori sangat layak, tampilan 89,3% dengan kategori sangat layak. Dari data ini disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dikategorikan layak untuk digunakan. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah dihasilkannya bahan ajar menulis puisi dengan pendekatan kontekstual. Spesifikasi bahan ajar tersebut adalah memiliki materi yang luas dan dalam dengan penerapan konsep yang akurat, memiliki sajian yang sistematis dan berpusat pada pengembangan keterampilan proses, memiliki bahasa yang komunikatif dan sesuai dengan perkembangan siswa, dan memiliki tampilan yang menarik. Bahan ajar ini memiliki tiga bab yang terdiri dari materi puisi lama, materi puisi baru dan materi pengayaan tentang unsur-unsur pembentuk puisi.

Upaya peningkatan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran geografi materi lingkungan hidup melalui penggunaan model pembelajaran berbasis masalah di SMAN I Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Machmudi

 

Kata kunci: model pembelajaran berbasis masalah, keaktifan belajar siswa Hasil observasi SMAN 1 Gondangwetan diketahui bahwa sebagian besar kegiatan belajar mengajar (KBM) masih didominasi oleh guru (Teacher Center) sedangkan siswa hanya duduk diam, mendengarkan, bahkan ada sebagian siswa yang berbicara sendiri dengan teman sebangkunya. Pada saat pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan metode diskusi tampak sebagian besar siswa kurang aktif yaitu siswa yang tergolong sangat aktif dan aktif hanya mencapai 6%, siswa yang kurang aktif 30%, siswa yang sangat kurang aktif 6%, dan siswa yang pasif masih dominan yakni sebesar 58%. Jenis penelitian ini dirancang menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan di kelas XI IS 2 SMAN 1 Gondangwetan. Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa siklus, tiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Hasil refleksi pada siklus I digunakan untuk penyempurnaan tindakan pada siklus II. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IS 2 SMAN 1 Gondangwetan dengan jumlah siswa 37 orang, pada materi menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup. Oleh karena pada siklus I jumlah siswa yang hadir 33 orang, maka dalam analisis data keaktifan belajar siswa jumlah siswa yang digunakan adalah 33 orang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat peningkatan keaktifan belajar sebesar 24.2% pada siklus I dan menjadi 57.5% pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Berdasarkan kesimpulan dapat dikemukakan saran sebagai berikut: (1) guru hendaknya menerapkan model pembelajaran berbasis masalah sebagai usaha meningkatankan keaktifan belajar siswa bahasan lingkungan hidup yang berupa permasalahan lingkungan, (2) bagi peneliti lanjut dapat menambahkan variabel lain seperti misalnya hasil belajar, motivasi belajar dan lain-lain serta dapat menerapkan pada materi geografi selain lingkungan hidup, yaitu materi-materi geografi yang mengandung masalah/problem yang benar-benar terjadi dan perlu pemecahan dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya materi kependudukan, pemanfatan sumber daya alam

Peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini di Desa Banjarejo Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang / Romiatin

 

Kata Kunci : Peran Orang tua, Nilai-nilai Demokrasi, Anak Usia dini. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala Desa Banjarejo Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang diperoleh informasi bahwa orang tua di desa tersebut sudah memahami konsep demokrasi. Dari 7.215 jumlah penduduk yang berada di Desa Banjarejo5.898 penduduk telah ikut berperan serta dalam pemilihan kepala desa. Masyarakat di desa tersebut hidup dengan rukun dan saling tolong-menolong, anak-anak di Desa Banjarejo juga patuh kepada orang tua. Kepatuhan anak terhadap orang tua dapat dilihat dari perilaku anak yang selalu mengikuti keinginan orang tua, seperti rajin sekolah, selalu membantu orang tua membersihkan rumah, tidak berkelahi dengan teman dan selalu merapikan barang miliknya sendiri dengan teratur. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan anak terhadap peraturan yang berlaku adalah peran orang tua dalam menanamkan nilai demokrasi pada anak usia dini. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana upaya yang dilakukan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini, (2) Faktor apa yang menghambat proses penanaman nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini, (3) Upaya apa yang dilakukan orang tua untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam penanaman nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu pendekatan yang menekankan pada usaha untuk menelaah suatu fenomena sosial secara wajar dan alami melalui pengamatan, wawancara atau metode penggalian data kualitatif lainnya secara mendalam. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah para orangtua di Desa Banjarejo yang memiliki anak usia 5-6 tahun, yaitu Bapak dan Ibu Wandi, Bapak dan Ibu Slamet, Bapak dan Ibu Hariyanto, Bapak dan Ibu Suwani, Bapak dan Ibu Misman, Bapak dan Ibu Safari, Bapak dan Ibu Wariadi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) upaya yang dilakukan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi bagi anak usia dini di lingkungan keluarga sudah cukup maksimal, penanaman nilai menyelesaikan pertikaian secara damai pada anak usia dini dilakukan dengan melerai anak agar tidak bertengkar kemudian menasehati dan membujuk anak agar berbaikan menyuruh anak untuk segera minta maaf dan tidak bertengkar lagi, penanaman nilai penggunaan paksaan sesedikit mungkin pada anak usia dini dilakukan dengan cara membujuk dan merayu anak agar tidak memaksakan kehendaknya segera dipenuhi, penanaman nilai persatuan pada anak usia dini dilakukan dengan dengan menasehati agar dalam bermain tidak memilih-milih teman dan memberikan pemahaman pada anak bahwa sesama manusia harus hidup rukun, penanaman nilai musyawarah pada anak usia dini dilakukan dengan dengan mengajak anak berdialog dan berkomunikasi meminta pendapat mengenai keinginan atau masalah-masalah yang dihadapi anak, penanaman nilai keadilan pada anak usia dini menjelaskan alasan orang tua memberikan tugas yang berbeda antara tugasnya dengan tugas anggota keluarga lain dan melarang anak untuk iri pada kasih sayang yang diberikan orang tua pada anak-anaknya, penanaman nilai memajukan ilmu pengetahuan pada anak usia dini dilakukan dengan menyuruh anak menonton tayangan berita di televisi dan menanyakan hal yang tidak dimengerti oleh anak kepada orang tua. Apabila anak sudah cukup umur untuk memasuki usia sekolah, maka orang tua akan memasukkan anak ke lembaga pendidikan, penanaman nilai menghormati kebebasan orang lain pada anak usia dini dilakukan dengan menasehati agar anak tidak mengganggu orang lain, (2) Faktor penghambat penanaman nilai demokrasi pada anak usia dini adalah kurangnya kerjasama antara ayah dan ibu dalam menasehati anak, kurangnya contoh/teladan yang baik dari orang tua dan kurangnya ketegasan orang tua dalam menasehati anak, (3) Upaya yang dilakukan orang tua dalam mengatasi hambatan penanaman nila-nilai demokrasi pada anak usia dini adalah dengan menjalin hubungan kerjasama antara ayah dan ibu dalam menasehati dan mendidik anak, memberi contoh/teladan yang baik bagi anak, dan bersikap tegas kepada anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan saran: (1) Bagi jurusan Hkn disarankan untuk mengadakan program yang menunjang pendidikan demokrasi, (2) Para Orang tua disarankan untuk meningkatkan perannya sebagai pendidik dalam keluarga supaya dapat mendidik anaknya menjadi lebih baik, dengan cara mempertahankan dan lebih mengoptimalkan upaya penanaman nilai-nilai demokrasi pada anak yang telah dilakukan, selain itu orangtua harus membiasakan diri bersikap sesuai dengan nilai-nilai demokrasi sehingga akan ditiru anak, (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melengkapi kekurangan yang telah ada untuk mengembangkan ilmu tentang pendidikan demokrasi di lingkungan keluarga dan melaksanakan penelitian selanjutnya untuk meneliti masalah yang sama dengan menggunakan rancangan penelitian yang lain, serta menambah rumusan masalahnya.

Manajemen kegiatan humas dalam prakerin SMK Negeri 1 Malang / Dewi Apriliyanti

 

Kata Kunci: manajemen humas, prakerin (praktik kerja industri) Manajemen personalia dalam sebuah lembaga pendidikan mutlak diperlukan untuk menunjang setiap kegiatan sekolah. Kegiatan-kegiatan dalam manajemen personalia dalam hal ini mengenai kegiatan humas, di mana humas sebagai salah satu unsur pendukung dalam mempublikasi kepada masyarakat. Kegiatan humas dalam mempublikasikan kegiatannya kepada masyarkat salah satunya adalah dengan kegiatan prakerin . Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perencanaan kegiatan humas dalam prakerin di SMK Negeri 1 Malang, (2) pengorganisasian kegiatan humas dalam prakerin di SMK Negeri 1 Malang, (3) pelaksanaan kegiatan humas dalam prakerin di SMK Negeri 1 Malang, (4) dampak pengelolaan kegiatan humas dalam prakerin di SMK Negeri 1 Malang, serta (5) pelaporan kegiatan humas dalam prakerin di SMK Negeri 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah studi kasus. Instrumen kunci adalah peneliti sendiri. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang humas, anggota pokja PSG, guru, dan peserta didik . Data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang telah didapatkan dianalisis selama pengumpulan data, kemudian diklasifikasikan, disaring dan ditarik sebuah kesimpulan. Keabsahan data yang telah dianalisis menggunakan kecukupan referensial serta triangulasi dengan sumber. Hasil penelitian perencanaan kegiatan humas yaitu (1) perencanaan kegiatan humas meliputi siapa saja yang terlibat dalam kegiatan humas yaitu pihak internal dan pihak eksternal, (2) menyiapkan administrasi, penentuan jumlah peserta setiap DU/DI, pencarian tempat PSG, jadwal pembekalan prakerin, jadwal pelaksanaan prakerin, jadwal penyerahan siswa, jadwal monitoring, jadwal penjemputan siswa PSG serta jadwal evaluasi pelaksanaan kegiatan prakerin, serta (3) merencanakan pembiayaan kegiatan humas dalam prakerin. Pengorganisasian kegiatan humas yaitu (1) Waka Humas; mengkoordinir pelaksanaan prakerin, membuat rincian kebutuhan prakerin, mengawasi pelaksanaan prakerin, menyiapkan dokumen, membuat laporan; (2) Sekretaris Humas; menyiapkan administrasi, menyiapkan jadwal prakerin, membagia pengelompokan siswa prakerin, menyiapkan dokumen, menyiapkan tanda peserta siswa prakerin; (3) Anggota Sekretariat; membagi menempatkan siswa prakerin sesuai program keahliannya, menempatkan siswa yang disetujui oleh pihak DU/DI, mengawasi dalam pelaksanaan prakerin. Pelaksanaan kegiatan humas yaitu (1) memberitahukan pelaksanaan prakerin melalui surat pemberitahuan pelaksanaan kegiatan prakerin dan membuat presensi bagi siswa dalam pelaksanaan prakerin di tempat magangnya; (2) memperkenalkan kegiatan yang akan dan sedang diselenggarakan lembaga pendidikan kepada pihak DU/DI; (3) mencari dukungan masyarakat akan program-program SMK Negeri 1 Malang terutama kegiatan prakerin. Dampak pengelolaan kegiatan humas; (1) kerjasama yang diterima SMK Negeri 1 Malang dengan pihak DU/DI semakin harmonis; (2) jalinan relasi SMK Negeri 1 Malang semakin luas; serta (3) kualitas input yang dimiliki SMK Negeri 1 Malang bagus dan berkualitas. Serta pelaporan kegiatan humas dalam prakerin (1) laporan tertulis berupa laporan kegiatan humas; serta (2) laporan kegiatan secara lisan. Adapun saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu (1) Kepala SMK Negeri 1 Malang diharapkan lebih meningkatkan lagi dalam membina personel-personel SMK Negeri 1 Malang terutama personel humas, (2) Humas SMK Negeri 1 Malang diharapkan dapat terus membina dan mengelola program-program kerja humas dengan lebih baik lagi dari tahun ke tahun, (3) Peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan penelitian yang sejenis di berbagai aspek humas pada sekolah-sekolah serta penelitian pengembangan untuk mengetahui pengembangan kegiatan humas di masa yang akan datang dengan memperdalam topik dan kajian teori humas, (4) Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan lebih memperbanyak pengembangan ilmu dan mengadakan sosialisasi mengenai pentingnya humas di sekolah terutama sekolah kejuruhan.

Peningkatan kemampuan menceritakan kembali dongeng melalui teknim grab bag pada siswa kelas V SD Negeri Pisang Candi 2 Kecamatan Sukun Kota Malang / Zahrul Amin

 

Kata Kunci: Teknik Grab Bag, Kemampuan Menceritakan Dongeng, SD Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran bahasa Indonesia kelas V di SD Negeri Pisang Candi 2 Kecamatan Sukun Kota Malang, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada aspek bercerita di kelas V. Permasalahan tersebut antara lain: (1) menunjukkan sikap kurang berminat saat proses pembelajaran, hal ini ditunjukkan dengan adanya siswa yang tidak memperhatikan saat guru menjelaskan; (2) rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran; (3) iklim pembelajaran masih bersifat teacher centered. Hal tersebut disebabkan karena metode yang digunakan lebih banyak ceramah, untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah teknik grab bag, yaitu model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa untuk berani menceritakan kembali dongeng dengan runtut dan menggunakan bahasa yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan teknik grab bag pada pembelajaran menceritakan kembali dongeng siswa kelas V SD Negeri Pisang Candi 2 Kecamatan Sukun Kota Malang; (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa melalui penerapan teknik grab bag. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Adapun rancangan PTK yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model kolaborasi. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus berikutnya. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Pisang Candi 2 Kecamatan Sukun Kota Malang dengan jumlah siswa 32 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik grab bag pada Pembelajaran bahasa Indonesia telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa dalam menceritakan kembali dongeng. Hal ini dilihat dari hasil perolehan observasi tentang kemampuan siswa yang terus meningkat. Berdasarkan hasil observasi, kemampuan siswa mengalami peningkatan pada siklus II, yang paling tampak yaitu sebagian besar siswa sudah berani bercerita di depan kelas serta melaporkan hasil diskusi. Kemampuan bercerita siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (52,19) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (56,25) dan skor rata-rata belajar menceritakan dongeng yaitu (68,75%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (81,25) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (81,25%). Berdasarkan temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik grab bag pada pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menceritakan kembali dongeng. Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki pembelajaran yang mencakup pendekatan, metode, dan teknik yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin, sehingga dari penelitian ini disarankan agar para guru memilih dan menerapkan model pembelajaran yang lebih inovatif, menarik dan komunikatif agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

Peningkatan pembelajaran IPA siswa kelas V MI Miftahul Ulum Puntir Purwosari Pasuruan melalui model keliling kelas / Lina Maskhulin

 

Kata kunci: IPA, Pembelajaran, Model Keliling Kelas Berdasarkan hasil observasi awal di MI Miftahul Ulum Puntir Purwosari ditemukan (1) Guru lebih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan, (2) Siswa dalam merespon pembelajaran IPA selama ini cenderung sebagai pendengar, sehingga siswa menjadi pasif dan mengalami kejenuhan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk (1) Mendeskripsikan penerapan model keliling kelas, (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa melalui model keliling kelas, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa setelah penerapan model keliling kelas. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptis kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan dengan data yang diperoleh saat penelitian. Secara umum proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari observasi awal, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi siklus I. kemudian ditarik kesimpulan untuk selanjutnya dilakukan tindakan pada siklus II. Dari hasil penelitian diperoleh data hasil belajar siswa dalam menerapkan model keliling kelas pada siklus I pertemuan 1 menunjukkan rata-rata nilai (62,8%), pertemuan 2 menunujukkan rata-rata nilai (70%), siklus II pertemuan 1 menunjukkan nilai rata-rata (80,8%), pada pertemuan II menunjukkan nilai rata-rata (84,3%). Dari hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model keliling kelas dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V MI Miftahul Ulum Puntir. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan kepada guru untuk memperhatikan hal-hal yang berkaiatan dengan penerapan model keliling kelas dan bagi kepala sekolah hendaknya membantu menyediakan sarana pembelajaran yang tidak memungkinkan siswa untuk membawanya.

Penerapan pembelajaran tematik berbasis lingkungan untuk meningkatkan kemampuan kognitif sains pada anak didik ATK PGRI 2 Wagir - MAlang kelompok B / Alpita

 

Kata Kunci: pembelajaran tematik, kognitif sains TK, kelompok B. TK PGRI 2 Wagir - Malang dihadapkan pada adanya permasalahan tentang rendahnya kemampuan anak didik Kelompok B dalam memahami beberapa konsep sains sederhana, yang meliputi: 1) mengelompokkan/ menyebutkan benda-benda yang dapat mengapung dan tenggelam di air; 2) mengelompokkan/menyebutkan benda-benda yang dapat berubah warna, berubah bentuk, dan tidak berubah apabila dipanaskan/dibakar; 3) menyebutkan warna yang dihasilkan oleh adanya proses pencampuran warna-warna dasar (merah, kuning, biru); dan 4) menceritakan mengapa terjadi benda dapat mengapung atau tenggelam dalam air, mengapa benda dapat berubah warna atau bentuk jika dipanaskan/dibakar (mengungkap proses terjadinya arang, abu, dan sebagainya), dan apakah yang terjadi (warna apa yang muncul) jika warna-warna tertentu dicampur. Penelitian dilakukan bersiklus dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan MC Taggart (1990). Dalam pengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Sedangkan dalam melakukan analisa data temuan penelitian, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dan hasil analisa data yang dilakukan dapat disimpulkan, bahwa penerapan pembelajaran tematik berbasis lingkungan di TK PGRI 2 Wagir - Malang dilaksanakan dengan cara membawa anak dalam suasana sesungguhnya dan belajar pada lingkungan alam sekitar yang nyata, yaitu dengan mengajak anak melakukan kegiatan belajar di luar ruangan kelas atau menghadirkan suasana lingkungan di luar ruangan kelas pada kegiatan anak di dalam kelas (misalnya: menggambar pemandangan dan berhitung dengan menggunakan biji-bijian). Dengan pembelajaran tematik berbasis lingkungan, kemampuan kognitif sains anak didik TK PGRI 2 Wagir - Malang Kelompok B mengalami peningkatan. Skor atau jumlah nilai kemampuan kognitif sains anak didik secara keseluruhan meningkat sebesar 30 poin dari 104 poin pada siklus I menjadi 134 poin pada siklus II yang diikuti dengan peningkatan rata-rata kemampuan sebesar 0,75 poin dari 2,60 poin pada siklus I menjadi 3,35 poin pada siklus II. Bagi guru dan lembaga pendidikan TK, pembelajaran tematik berbasis lingkungan dapat diterapkan sebagai sarana peningkatan kemampuan kognitif sains anak didik dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan anak melalui sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi penelitian lain yang sejenis dan dapat digunakan sebagai sumber inspirasi untuk penelitian lanjutan yang sejenis.

Penampil informasi 3 warna menggunakan rotating led / M. Ma'ruf Asyhari

 

Kata kunci: Rotating LED, Informasi, Mikrokontroler. Penampilan informasi secara elektronik banyak dibutuhkan untuk menarik perhatian orang. Penampilan informasi yang umum digunakan adalah meng-gunakan sekumpulan LED yang sering disebut dengan dot matrix. Penampilan informasi menggunakan dot matrix sering dijumpai pada tempat-tempat layanan umum seperti bank, perpustakaan, dan mall. Tampilan informasi pada dot matrix sering berbentuk text yang berjalan dan berganti secara horizontal. Inovasi baru pada penampilan informasi diperlukan untuk lebih menarik perhatian orang. Bentuk inovasi baru dalam tampilan informasi secara elektronik antara lain yaitu dengan menggunakan tampilan secara rotasi. Pada tugas akhir ini, 3 buah kolom LED akan digerakkan secara rotasi dengan kecepatan konstan. Alat ini terdiri dari 2 buah bagian yaitu mekanik pemutar dan catu daya. Mekanik pemutar terdiri dari motor DC 12V dan papan rangkaian. Prinsip kerja alat ini yaitu ketika papan rangkaian diputar secara konstan, maka dapat dihasilkan sekumpulan karakter dengan cara mengatur penyalaan LED sesuai dengan waktu yang diinginkan. Agar karakter yang dihasilkan tidak bergoyang-goyang dan tidak ada penggandaan tampilan maka program akan dijalankan setiap sensor photodiode terkena cahaya. Dimana ketika photodiode terkena cahaya, nilai keluaran rangkaian komparator adalah 4,8V dan selanjutnya akan dibaca mikrokontroler sebagai logika 1. Sedangkan pada saat photodiode tidak terkena cahaya, maka nilai keluaran rangkaian komparator adalah 0,1V dan selanjutnya akan dibaca mikrokontroler sebagai logika 0. Pada saat masukan mikrokontroler berlogika 0 maka semua LED dimatikan sehingga tidak terjadi penampilan. Mikrokontroler ATmega16 sebagai komponen utama mengatur pola-pola karakter yang ditampilkan pada papan LED. Untuk menghasilkan tampilan LED 3 warna, maka dibutuhkan 21 output dari mikrokontroler, 7 digunakan untuk LED warna kuning, 7 untuk LED warna hijau dan 7 untuk LED warna biru. Masing-masing penyalaan dan pergantian LED diatur dengan program pada mikrokontroler. Tampilan tulisan yang dihasilkan antara lain "SELAMAT", "DATANG", "DI", "TEKNIK", "ELEKTRO", "UNIVERSITAS", "NEGERI", "MALANG".

Kesenian janger sebagai salah satu media kritik sosial di Desa Bomo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi / Nita Wahyuningsih

 

Kata Kunci: Kesenian Janger, Media, Kritik Sosial Kesenian Janger Banyuwangi merupakan sebuah drama atau teater sejenis ketoprak yang dilengkapi dengan pentas atau panggung, peralatan musik, lagu-lagu, lawakan dan tarian-tarian yang memiliki keunikan perpaduan antara kebudayaan bali dan jawa yang mengandung kritikan-kritikan sosial yang dijadikan sebagai salah satu media penyampaian yang kreatif dan inovatif dalam membangkitkan minat masyarakat dalam memahami isi pesan-pesan moral dan kritik sosial yang disampaikan dalam setiap cerita atau lakon yang dipertunjukkan dengan adanya pembagian cerita dalam babak-babak yang dimulai dari setelah isya hingga menjelang subuh. Sebuah kesenian yang menampilkan lakon atau cerita yang diambil dari kisah legenda maupun cerita rakyat lainnya. Kesenian Janger bisa dijadikan sebagai "pintu masuk" informasi serta pengetahuan tentang kondisi bangsa dan negara Indonesia terutama dalam bidang sosial, hukum, politik dan budaya serta hankam. Penelitian ini bertujuan (1) menganalisis sejarah lahirnya Kesenian Janger, (2) menganalisis kronologis pelaksanaan Kesenian Janger, (3) menganalisis Kesenian Janger sebagai salah satu media kritik sosial di Desa Bomo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi, (4) tanggapan masyarakat terhadap kesenian Janger sebagai salah satu media kritik sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni: observasi, wawancara, dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari para informan, hasil observasi proses pelaksaan Kesenian Janger tertulis berupa dokumentasi desa. Hasil penelitian membawa perolehan kesimpulan bahwa Kesenian Janger lahir pada abad ke 19 oleh Mbah Darji asal Dusun Klembon, Singonegaran Kecamatan Banyuwangi. Pelaksanaan Kesenian Janger terbagi dalam tiga tahap yaitu tahap pra acara atau persiapan, acara inti, dan tahap akhir atau penutup. Cerita atau lakon dan lawakan dalam kesenian Janger dijadikan sebagai salah satu media kritik sosial di Desa Bomo Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Kritik sosial yang disampaikan banyak menggambarkan tentang kondisi atau keadaan pemerintahan sekarang ini. Kritik sosial yang disampaikan banyak mengandung kritikan yang bersifat membangun dan ada kalanya kritik sosial yang ditujukan bersifat sindiran untuk pemerintah sehingga menimbulkan tanggapan beberapa kalangan masyarakat baik dari pejabat hingga masyarakat biasa menyatakan bahwa sesuai dengan perkembangannya, kesenian Janger akan terus mengikuti dan menampilkan ide-ide kreatif dan inovatif bagi pengembangan lakon atau cerita dan lawakan agar sesuai dengan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi saat ini. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa Kesenian Janger sebagai salah satu media kritik sosial perlu dikembangkan, misalnya dengan mengembangkan cerita atau lakon dalam kesenian Janger dengan permasalah atau konflik yang sedang terjadi di daerah tersebut khususnya bagi pemerintah daerah. Bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi harus lebih memaksimalkan kinerja yang dilakukan demi kelangsungan kesenian Janger. Bagi masyarakat lebih peduli dan mencintai kesenian daerahnya sendiri. Bagi guru PKn hendaknya dapat memberikan pemahaman yang lebik baik terhadap materi kebudayaan Indonesia kepada muridnya, agar mereka memiliki kesadaran yang tinggi dan kecintaan terhadap kebudayaan Indonesia. Bagi mahasiswa yang ingin mengkaji atau menindaklanjuti gagasan atau ide lain yang berkaitan dengan karya tulis ini sebaiknya menggunakan objek yang lebih luas dan materi yang lebih mendalam tentang kebudayaan Indonesia. Akan lebih bermanfaat pula jika penelitian dilakukan pada kesenian-kesenian yang lain yang ada di daerah masing-masing.

Pengembangan modul berbasis mind map pda standar kompetensi menggunakan sistem operasi untuk siswa kelas X sekolah menengah atas / Aria Indah Susanti

 

Kata kunci : modul, mind map, sistem operasi. Berdasarkan wawancara, metode mengajar yang digunakan pada kelas X SMA Negeri 3 Bangkalan pada mata pelajaran TIK adalah metode ceramah. Selain itu siswa tidak memiliki buku pegangan atau sumber lainnya untuk dijadikan sumber belajar. Jadi guru berperan sebagai sumber belajar di kelas. Modul merupakan salah satu jenis bahan ajar yang banyak digunakan dalam proses pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar. Mind map merupakan salah satu teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya. Mind map sering diterapkan sebagai model pembelajaran Dari alasan tersebut, dikembangkan modul berbasis mind map sebagai bahan ajar siswa. Modul ini telah melalui 2 tahap uji coba. Dari hasil uji coba tahap I atau validasi isi disimpulkan bahwa modul dinyatakan valid karena semua komponen dalam tiap aspek penilaian bahan ajar (aspek kelayakan isi, aspek penemuan terbimbing, keterbacaan, sajian, dan tampilan) dinyatakan valid atau sangat valid dan juga dinyatakan bahwa bahan ajar yang dikembangkan cukup bagus. Sedangkan dari hasil uji coba tahap II atau validasi empirik disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan sudah cukup baik, menarik, dan memotivasi siswa, sehingga layak digunakan oleh siswa sebagai sumber belajar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design) bentuk nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 3 Bangkalan semester 2 tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari 8 kelas dan masing-masing kelas berisi 40 siswa kecuali kelas X-2, X-6, dan X-7 berisi 39 siswa. Sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas X-2 sebagai kelas kontrol dan X-6 sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa di ranah kognitif dan variabel bebas adalah penerapan modul. Dari hasil Uji-t diperoleh hasil yaitu thitung. 4,124> ttabel 1,665. Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar siswa di ranah kognitif antara siswa yang diajar dengan modul berbasis mind map dengan siswa yang diajar tanpa modul berbasis mind map. Peningkatan prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen dikarenakan penyajian materi dalam modul ini lebih menarik bagi siswa dan disertai dengan soal latihan sehingga menambah minat baca dan belajar siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor untuk meningkatkan pemahaman keliling dan luas daerah lingkaran bagi siswa kels VIII SMP Negeri 7 Malang / Yunita Prima Rohmawati

 

Kata kunci: penerapan, kepala bernomor, pemahaman. Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia sudah dilakukan sejak lama. Namun masih banyak ditemukan kesulitan belajar yang dialami siswa di Indonesia terutama pada mata pelajaran matematika. Berdasarkan hasil observasi, ketuntasan klasikal pemahaman matematika di kelas VIII C SMP Negeri 7 Malang hanya mencapai 21,05% . Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi keliling dan luas daerah lingkaran masih sangat rendah. Rendahnya pemahaman siswa disebabkan oleh kurang optimalnya proses pembelajaran. Dengan pemberian tugas pada setiap siswa diharapkan siswa lebih antusias dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor adalah pembelajaran kooperatif yang dipakai untuk memudahkan dalam pembagian tugas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor yang dapat meningkatkan pemahaman keliling dan luas daerah lingkaran siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 1 siklus pembelajaran yang terdiri dari dua sub siklus, masing-masing sub siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan bulan Maret 2011 sampai April 2011, dan data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor yang dapat meningkatkan pemahaman keliling dan luas daerah lingkaran terdiri dari empat tahap, yaitu (1) tahap penomoran, yaitu tahap saat siswa dibagi kedalam beberapa kelompok heterogen yang terdiri dari 1-6 siswa kemudian setiap siswa dalam kelompok mendapatkan nomor 1-5, (2) tahap penugasan, yaitu tahap saat masing-masing kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan LKS yang terdiri dari kegiatan 1 dan kegiatan 2, (3) tahap diskusi, yaitu tahap saat kelompok berdiskusi untuk mengerjakan LKS kegiatan 1 yang diberikan, saat siswa bernomor sama dari masing-masing kelompok dapat bekerja sama untuk mengerjakan LKS kegiatan 2, dan (4) tahap pelaporan, yaitu tahap saat siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas dan mengumpulkan hasil kerja kelompok.

Pengembangan paket bimbingan aktualisasi diri siswa SMP / Vivi Yusiana Yusuf

 

Kata Kunci: paket bimbingan, aktualisasi diri, siswa SMP Banyak siswa SMP yang tidak mengenal potensi atau kemampuan yang mereka miliki, mereka cenderung menyerah dan mengikuti bagaimana teman sebaya mereka berbuat sehingga siswa tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Aktualisasi diri merupakan salah satu aspek psikologis individu yang perlu dikembangkan dalam setiap kehidupan individu. Setiap orang mempunyai potensi dan kemampuan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Remaja yang tidak berhasil mengaktualisasikan seluruh potensi dan kemampuan yang ada pada diri mereka maka dapat menimbulkan gelisah dan frustrasi dalam perkembangan kepribadian remaja tersebut. Selama ini belum ada media bimbingan berupa paket yang dapat digunakan konselor untuk memberikan bimbingan aktualisasi diri. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket bimbingan aktualisai diri untuk siswa SMP beserta panduan penggunaannya yang dapat diterima konselor maupun siswa secara teoritis maupun praktis. Produk pengembangan yang dihasilkan terdiri atas dua jenis yaitu (1) paket bimbingan aktualisasi diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gurah untuk siswa, dan (2) panduan penggunaan paket bimbingan aktualisasi diri untuk konselor. Pengembangan paket bimbingan ini mengikuti langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: (1) need assesment; (2) menentukan prioritas kebutuhan; (3) merumuskan tujuan; (4) menyusun prototipe paket bimbingan; (5) penilaian uji ahli; (6) revisi produk dari ahli; (7) penilaian uji calon pengguna produk; (8) uji coba kelompok kecil; (9) revisi produk; (10) produk akhir. Untuk mengetahui paket bimbingan yang diterima secara teoritik maupun praktis dilakukan uji validitas produk kepada ahli BK, ahli media pembelajaran, calon pengguna produk, dan kelompok kecil. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah angket format penilaian. Adapun hasil pengisian angket oleh ahli, calon pengguna produk, dan uji kelompok kecil kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif rating scale dan kualitatif deskriptif. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa paket bimbingan aktualisasi diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gurah Kediri menurut ahli dan pengguna produk memiliki skor 204 untuk aspek ketepatan yang berarti paket memiliki karakteristik tepat serta memiliki skor 146 untuk aspek kegunaan, 88 untuk aspek kemudahan, dan73 untuk aspek kemenarikan yang berarti paket sangat berguna, mudah, dan sangat menarik. Menurut siswa dapat disimpulkan bahwa paket bimbingan aktualisasi diri ini telah memenuhi kriteria kelayakan dengan skor 320 yang sangat layak. Berdasarkan hasil pengembangan paket bimbingan aktualisasi diri siswa SMP, maka (1) konselor hendaknya memahami prosedur bimbingan dan materi bimbingan aktualisasi diri; (2) melengkapi paket bimbingan dengan media tampilan power point; (3) merevisi isi paket secara berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan; (4) melakukan adaptasi jika paket digunakan oleh selain siswa SMP NEGERI 1 Gurah Kediri; (5) menindaklanjuti skor aktualisasi diri siswa dengan layanan konseling individual maupun kleompok. Saran desiminasi adalah konselor hendaknya mempublikasikan paket bimbingan aktualisasi diri pada kepala sekolah dan guru agar kepala sekolah dan guru dapat membantu membangun aktualisasi diri siswa melalui kegiatan di sekolah. Saran bagi pengembang selanjutnya adalah: (1) hendaknya dilakukan uji lapangan utama; (2) dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas penggunaan paket bimbingan aktualisasi diri terhadap pemahaman siswa.

Coping stres mahasiswa putus cinta (suatu kajian fenomenologi terhadap pemudi dewasa awal) / Asmaul Chusna

 

Kata kunci: coping stres, mahasiswa, putus cinta. Mahasiswa tergolong dalam masa dewasa awal pada rentang kehidupannya. Salah satu tugas perkembangan yang khas dalam masa dewasa awal ini adalah orientasi pada pernikahan. Sebagai upaya pemenuhan tugas-tugas perkembangan tersebut dilakukan oleh mahasiswa salah satunya melalui jalinan hubungan pacaran (courtship). Dalam menjalani hubungan pacaran itu tidak selalu berjalan dengan baik, seringkali hubungan cinta itu kandas. Mahasiswa yang mengalami putus cinta karena diputuskan oleh pacar inilah yang menghadapi berbagai konflik intrapersonal maupun konflik interpersonal. Untuk mempertahankan kelangsungan diri dan kehidupannya, individu tersebut perlu melakukan usaha coping terhadap stressor yang menekannya. Berdasarkan fenomena tersebut, fokus penelitian ini meliputi: (1) permasalahan-permasalahan apa saja yang dialami mahasiswa putus cinta. Hal ini diteliti karena adanya asumsi yang didapat setelah diadakannya studi pendahuluan, bahwa permasalahan yang dihadapi tersebut akan melatarbelakangi dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari usaha coping yang dimunculkan. (2) coping stres mahasiswa putus cinta itu dimunculkan bagaimana dalam deskriptifnya. Hal ini diteliti karena belum adanya gambaran yang spesifik dari usaha coping mahasiswa putus cinta terhadap stressornya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi. Kehadiran peneliti sebagai pengamat berperan serta yang memanfaatkan sumber lain/informan untuk memperkuat data. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik sampling purposive. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan telaah dokumen pribadi (life history). Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu reduksi fenomenal, reduksi eidetis, dan reduksi transedental. Teknik pemeriksaan keabsahan datanya menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi (triangulasi teknik dan triangulasi sumber). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1) permasalahan yang dialami oleh mahasiswa putus cinta merupakan suatu bagian dari proses coping terhadap stressor yang dilakukan secara terus-menerus hingga mencapai suatu kondisi yang aman baik secara intrapersonal maupun interpersonal dalam diri mahasiswa yang mengalami putus cinta tersebut, 2) coping stres yang dilakukan oleh mahasiswa putus cinta meliputi coping stres melalui perasaan, coping stres melalui pikiran, dan coping stres melalui perilaku yang mana kesemua coping tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam upaya mencapai keseimbangan intrapersonal maupun interpersonal dalam diri mahasiswa yang mengalami putus cinta tersebut. Saran dari penelitian ini ditujukan kepada peneliti selanjutnya agar diadakan penelitian terhadap fenomena mahasiswa putus cinta dengan tidak hanya melibatkan satu gender subjek penelitian saja, sehingga didapatkan pemahaman mengenai dinamika kepribadian pada mahasiswa putus cinta secara komprehensif. Juga ditujukan kepada konselor di UPT BK (Unit Pelaksana Teknis Bimbingan dan Konseling) di perguruan tinggi agar dari hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah wacana konselor yang mendukung optimalisasi pemberian usaha bantuan khususnya kepada mahasiswa yang mengalami putus cinta.

Penerapan lesson study pada pembelajaran matematika bilingual untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa / Mochammad Hafiizh

 

Kata kunci: aktivitas, belajar, bilingual, lesson study, think-pair-share. Dari pengalaman peneliti selama melakukan praktik pengalaman lapangan sebagai guru matematika di sekolah, masih ditemukan siswa yang tidak aktif, terutama dengan adanya kendala penyampaian ide atau gagasan dalam bahasa Inggris. Hasil observasi awal peneliti di kelas bilingual VII F SMP Laboratorium UM juga menunjukkan keadaan yang tidak jauh berbeda. Siswa masih belum aktif secara optimal. Oleh sebab itu, perlu disusun suatu pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Peneliti berasumsi bahwa salah satu cara untuk membuat siswa lebih aktif adalah dengan melakukan pengkajian terhadap proses pembelajaran secara bersama-sama atau yang lebih dikenal dengan lesson study. Selain itu, agar peningkatan aktivitas belajar siswa lebih optimal, pada pembelajaran diterapkan model cooperative learning tipe Think-Pair-Share (TPS). Pembelajaran ini terdiri dari tiga tahap, yakni tahap think, tahap pair, dan tahap share. Dari uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika bilingual. Lesson study adalah suatu pendekatan untuk melakukan perbaikan pembelajaran danmelakukan pengkajian terhadap proses pelajaran oleh suatu tim (tim lesson study). Lesson Study terdiri dari 3 tahapan, yakni tahap plan, do, dan see. Pada tahap plan, tim lesson study menyusun perangkat pembelajaran, metode dan model pembelajaran sehingga siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran di kelas. Tahap do adalah tahap pelaksanaan dari hasil yang telah disusun. Tahap see digunakan untuk merefleksi dan memperbaiki perangkat pembelajaran, metode dan model pembelajaran yang telah dilakukan. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang didisain terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pada tahap perencanaan dari penelitian ini, di dalamnya juga termasuk tahap plan. Tahap pelaksanaan dari penelitian ini, terdiri dari tahap do dan tahap see. Pada tahap pengamatan, observasi dilakukan terhadap tahap do dan see. Pada tahap refleksi pada penelitian ini digunakan untuk merefleksi atau mengevaluasi penelitian ini, terutama bagaimana peningkatan keaktifan siswa. Dari penelitian yang dilakukan dalam 4 pertemuan ini diperoleh data rata-rata skor aktivitas belajar siswa adalah pada dua pertemuan pertama kurang aktif (skornya 1,32 dan 1,58 dengan skor maksimum 3) dan pada dua pertemuan berikutnya cukup aktif (skornya 2,01 dan 2,20). Skor aktivitas guru selama 4 pertemuan itu juga menunjukkan hasil yang cukup baik. Sehingga hasil penelitian ini adalah penerapan lesson study dan penerapan model cooperative learning tipe TPS dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

Penggunaan adverbia dalam karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen / Sucik Novitasari

 

Kata kunci: adverbia, karangan siswa Adverbia merupakan salah satu kategori kata yang disajikan dalam materi bahasa Indonesia. Adverbia berfungsi menjadi penjelas kategori verba, nomina, adjektiva, numeralia, dan adverbia lain dalam membentuk frasa untuk menduduki fungsi sintaktis dalam kalimat atau menjelaskan klausa dalam kalimat. Adverbia merupakan salah satu kategori kata yang digunakan dalam membuat karangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui, (1) penggunaan bentuk adverbia dalam karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen, dan (2) ketepatan penggunaan adverbia dalam karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa adverbia yang diperoleh dari sumber data yang berupa karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama denganmenggunakan instrument pendukung yang berupa tugas tertulis dengan tema yangditentukan oleh siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) bentuk adverbia yang digunakan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen adverbia berupa bentuk tunggal dan adver-bia bentuk gabungan, adverbia bentuk tunggal berupa adverbia bentuk tunggal kata dasar, adverbia bentuk tunggal berafiks,yang berupa afiks se-nya, nya dan ter dan adverbia bentuk tunggal kata ulang (reduplikasi) yang berupa kata ulang kata dasar dan kata ulang berafiks, dan (2) ketepatan penggunaan adverbia dalam kara- ngan siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen diketahui adverbia bentuk tunggal dan gabungan digunakan dengan tepat, dan pengguanaan yang tidak tepat dapat diketahui adverbia bentuk tunggal kata dasar dan adverbia bentuk gabungan yang berdampingan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru bahasa Indonesia agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu sumber rujukan pelajaran bahasa Indonesia dalam pembahasan materi kosa kata. Selain itu, perlu bagi guru bahasa Indonesia untuk memberikan bekal pengetahuan tentang bentuk adverbia yang lebih memadai dan memberikan contoh penerapan penggunaan adverbia yang tepat. Bagi peneliti selanjutnya disarankan supaya melakukan penelitian se- jenis dengan cakupan masalah, dan subjek penelitian yang lebih luas serta sumber pustaka yang lebih lengkap misalnya penggunaan adverbia yang dilihat dari segiperilaku sintaktis ataupun dilihat dari segi semantisnya. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu sumber rujukan dalam penelitian selanjutnya yang sejenis.

Perencanaan dan pelaksanaan konsol pendek sebagai tumpuan balok WF pada proyek pembangunan Balai Diklat Sidogiri / Muhammad Sandy Fauzi

 

Kata kunci : konsol pendek, perencanaan, dan pelaksanaan. Konsol pendek adalah kantilever yang mempunyai rasio bentang geser terhadap tinggi efektif tidak lebih besar dari satu, yang cenderung bekerja pada rangka batang (truss) sederhana atau balok tinggi, daripada komponen struktur lentur yang didesain untuk geser. Pada bangunan Balai Diklat Santri Profesional Sidogiri ini untuk penyambungan antara kolom dengan balok menggunakan konsol pendek. Konsol pendek ini nantinya yang akan menyalurkan beban balok pada kolom. Konsol pendek ini digunakan karena terdapat perbedaan material antara kolom dengan balok. Untuk kolom gedung ini menggunakan kolom beton sedangkan balok menggunakan baja WF. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan konsol pendek. Hasil studi ini diharapkan dapat menambah pemahaman cara perencanakan dan pelaksanakan pekerjaan konsol pendek (bracket). Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mendiskripsikan hasil temuan lapangan kemudian mencocokkan dengan standar perencanaan dan pelaksanaan sehingga dapat diambil kesimpulan. Dalam proyek akhir ini penulis membandingkan antara perencanaan sesuai dengan SNI-03-2947-2002 dengan kondisi yang ada pada proyek pembangunan Balai Diklat Santri Profesional Sidogiri. Berdasarkan hasil perencanaan menurut SNI-03-2487-2002 untuk tulangan yang diperlukan 3D12 untuk menahan beban geser Vu sebesar 145,975 kN serta gaya tarik Nuc sebesar 30,65 kN. Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, tulangan yang dipakai adalah 5D19. Ini berbeda jauh dengan perencanaan SNI -2847-2002. Ini disebabkan karena konsultan perencana tidak melakukan perhitungan. Akan tetapi perencana mengandalkan pengalaman. Untuk studi pelaksanaan konsol pendek ini, penulis mengamati secara langsung pekerjaan pelaksanaan konsol pendek ini di lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan penulis, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian, yaitu mengenai pembuatan mortar beton. Pada pembuatan mortar beton untuk konsol pendek ini menggunakan beton yang dibuat di lapangan dengan menggunakan mesin pengaduk beton. Seringkali untuk campuran yang dilakukan perbandingan material di lapangan berbeda dengan perencanaan. Selain itu dalam penambahan air juga dilakukan di luar proses pengadukan beton. Ini ditakutkan akan mempengaruhi mutu beton yang digunakan. Selain itu dalam hal perawatan juga perlu diberikan perhatian. Pada proyek pembangunan gedung ini perawatan tidak dilakukan. Kontraktor beranggapan perawatan tidak perlu dilakukan karena pada saat pelaksanaan pekerjaan tejadi musim hujan. Meskipun dalam cuaca hujan, akan tetapi penguapan air pada beton berpotensi terjadi secara cepat. Ini karena cuaca pada siang hari pada lokasi pembangunan gedung ini cuaca sangat panas. Sehingga seharusnya pekerjaan perawatan tetap harus dilakukan.

Penerapan model pembelajaran talking stick untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN 2 Pringapus Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek / Winda Sustyanita Mutarto

 

Kata Kunci: Talking Stick, Pembelajaran IPA SD Berdasarkan observasi diketahui bahwa pembelajaran IPA kelas IV SDN 2 Pringapus Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek masih berpusat pada guru. Hal ini terlihat dari metode yang digunakan guru yaitu ceramah, pemberian tugas, dan drill soal-soal. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran tergolong rendah, terlihat dari rendahnya kemauan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, tidak berani mengemukakan pendapat, maupun bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti. Hal ini berdampak pada 53,85% siswa memperoleh hasil belajar kurang dari KKM yang ditentukan, yaitu 64. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model talking stick, aktivitas siswa ketika diterapkan model talking stick, dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model talking stick. Model talking stick adalah model pembelajaran yang dirancang dalam bentuk permainan dengan menggunakan tongkat yang bertujuan mendorong siswa untuk berani mengungkapkan pendapat. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam dua siklus. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan. Instrumen pengumpulan data tentang penerapan model talking stick dan aktivitas siswa menggunakan lembar observasi penyusunan RPP dan penerapan model talking stick, lembar observasi aktivitas siswa, teknik dokumentasi dengan kamera. Untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan instrumen soal tes. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model talking stick dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV, kompetensi dasar "mendeskripsikan perubahan kenampakan bumi" SDN 2 Pringapus Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek. Penerapan model pada siklus I dan II memperoleh nilai 89,59 dan 95. Aktivitas belajar siswa meningkat ketika diterapkan model talking stick, pada sikus I dan II diperoleh nilai rata-rata 73,72 dan 87,05. Siswa yang mendapat kriteria tuntas belajar meningkat dari siklus I ke siklus II setelah diterapkan model talking stick, yaitu 57,69% menjadi 88,81%. Sedangkan rata-rata ketuntasan klasikal kelas siklus I dan II sebesar 73,08%. Skor tersebut telah mencapai skor ketuntasan klasikal yang ditetapkan oleh peneliti, yaitu 70%. Berdasarkan hasil penelian dapat disimpulkan bahwa penerapan model talking stick dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV. Dengan demikian disarankan agar guru menerapkan model talking stick yang dipadukan dengan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA, karena model talking stick sangat tepat diterapkan untuk pemantapan materi pelajaran kepada siswa.

Pengembangan media permainan lauhah sya:thiroh untuk pembelajaran bahasa Arab kelas IX di MTs Attaraqqie Putri Malang / Endah Ayusolicha

 

Kata Kunci : media permainan, Lauhah Sya:thiroh, pembelajaran bahasa arab. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dituntut untuk menguasai keterampilan mengajar yang bervariasi dan keterampilan dalam menciptakan kreasi-kreasi baru dalam pembelajaran. Hal ini dapat menjadikan siswa tidak merasa bosan dan selalu bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Dengan munculnya minat dan keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, diharapkan siswa dapat menguasai materi yang disampaikan. Kekurangmampuan guru dalam menciptakan kreasi-kreasi baru dalam kegiatan pembelajaran menyebabkan kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga menyebabkan pembelajaran kurang maksimal. Untuk itu perlu dikembangkan media pembelajaran, khususya dalam bentuk permainan, misalnya media permainan Lauhah Sya:thiroh untuk pembelajaran bahasa Arab kelas IX di MTs At Taraqqie Putri Malang. Tujuan penelitian ini secara umum, adalah mengembangkan media permainan Lauhah Sya:thiroh untuk pembelajaran bahasa Arab kelas IX di MTs At Taraqqie Putri Malang. Adapun tujuan khusus dai penelitian ini adalah untuk: 1) ,engembangkan media permainan Lauhah Sya:thiroh; 2) menggunakan media permainan Lauhah Sya:thiroh untuk pembelajaran bahasa Arab kelas IX di MTs At Taraqqie Putri Malang. Rancangan penelitian ini adalah pengembangan dan menggunakan model pengembangan R & D (research and development) dari Borg dan Gall. Prosedur penelitian 1) analisi kebutuhan, 2) pengembangan produk, 3) tinjauan ahli media dan ahli materi, 4) revisi produk, 5) uji ahli pembelajaran dan uji lapangan, 6) penyempurnaan produk akhir. Media permainan ini mengembangkan permainan Clever Board untuk dijadikan sebagai media pembelajaran. Dalam pembuatannya, pengembangan media permainan inin menggunakan program Adobe Photoshop CS2 dan menghasilkan satu set media permainan Lauhah Sya:thiroh, yang terdiri dari satu papan Lauhah Sya:thiroh, 23 kartu, 16 bidak, dua buah dadu, buku petunjuk penggunaan permainan dan kemasan permainan. Untuk penggunaannya, media permainan ini tidak digunakan sebagai penyampaian materi, melainkan untuk kegiatan evaluasi atau untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Berdasarkan hasil validasi dari ahli media, dapat diketahui bahwa tingkat validitas media adalah 77,8%. Untuk hasil validasi dari ahli materi, diketahui bahwa tingkat validitas materi yaitu 75%. Berdasarkan hasil validasi tersebut, media ini masuk pada kategori valid. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan pada media maka dilakukan revisi produk. Kemudian media dinilai oleh ahli pembelajaran dan diujicobakan kepada siswi kelas IX di MTs At Taraqqie Putri Malang yang berjumlah 35 siswi. Berdasarkan hsil uji coba tersebut dapat diketahui bahwa tingkat validitasnya menurut ahli pembelajaran adalah 85%, sedangkan pada uji coba lapangan diperoleh nilai 80%. Ahkirnya dapat diambil kesimpulan bahwa media permainan Lauhah Sya:thiroh valid dan layak untuk digunakan sebagai media permainan utntuk pembelajaran bahasas Arab.

Penerapan model pembelajaran preview, question, read, reflecty, recite, review (PQ4R) pada pembelajaran _PKn untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Rangge Pasuruan / Novi Prabawanti

 

Kata Kunci: Strategi Pembelajaran PQ4R, Pembelajaran, PKn, SD. Bedasarkan wawancara pada tanggal 15 September 2010 dengan guru kelas SDN Rangge tentang penerapan strategi belajar PQ4R, hasilnya adalah penerapan strategi pembelajaran PQ4R ini belum pernah digunakan dalam proses belajar mengajar, Strategi belajar PQ4R adalah strategi belajar yang bertujuan untuk membentuk siswa agar dapat memahami dan mengingat materi yang mereka baca. Selain itu peneliti menemukan beberapa masalah, diantaranya guru masih cenderung menggunakan model pembelajaran konvensional. Sehingga hasil evalusasi siswa kurang baik, yaitu tidak mencapai standar ketuntasan mata pelajaran PKn yang ditetapkan di SDN Rangge yaitu 70. Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan masalah Penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses penerapan strategi belajar PQ4R pada pembelajaran PKn kelas III SDN Rangge Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan, (2) Bagaimana aktifitas siswa kelas III SDN Rangge Kecamatan Gondangwetan Kabupaten setelah diterapkannya strategi belajar PQ4R, (3) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa kelas III SDN Rangge Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan setelah menerapakan strategi belajar PQ4R. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Deskriptif Kualitatif. Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) langkah-langkahnya diadopsi dari model Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Rangge Pasuruan sebanyak 18 siswa. Sedangkan instumen yang digunakan adalah kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci, lembar observasi, soal test tulis dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Strategi Pembelajaran PQ4R meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Rangge Pasuruan. Hal ini terjadi karena guru telah menerapkan Strategi Pembelaran PQ4R sesuai dengan tahap-tahap dalam Strategi tersebut. Untuk aktifitas siswa pada siklus I menunjukkan nilai (73,33) sedangkan pada siklus II meningkat menjadi (76,11). Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai dari sebelum dilakukannya tindakan (58,89), dilakunnya tindakan pada siklus I (75,0), selanjutnya tindakan pada siklus II (78,89) Berdsarkan hasil penelitian disarankan: (1) Dalam melaksanaakan KBM dengan strategi tertentu seorang guru harus mengetahui dengan jelas seperti apa langkah-langkahnya. (2) Karena aktifitas siswa hal yang sangat mendasar, maka peneliti menyarankan kepada guru untuk memilih strategi belajar yang memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam KBM. (3) Peneliti sarankan pada guru agar melakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa setelah dilakukannya proses belajar mengajar

Analisis buku pelajaran geografi kelas X SMA/Ma terbitan Erlangga pada kompetensi dasar menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi / Rindu Alam Rinjani

 

Kata kunci: analisis buku, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, fungsi gambar, hidrosfer Buku pelajaran khususnya buku teks merupakan sumber belajar yang memiliki peran penting dalam pembelajaran di sekolah terutama bagi siswa yang cenderung menggunakan buku sebagai sumber belajarnya. Buku teks diharapkan benar-benar memiliki kualitas isi yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku baik dari segi standar kurikuler, isi, maupun dari segi mudah atau tidaknya dicerna oleh guru dan para peserta didik agar benar-benar layak digunakan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian isi dengan kurikulum, tingkat kebenaran konsep, tingkat kebenaran bahasa, dan fungsi media yang terdapat dalam buku pelajaran Geografi SMA Kelas X Terbitan Erlangga oleh K. Wardiyatmoko. Rancangan penelitian menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Populasi dalam penelitian ini adalah semua buku pelajaran geografi SMA/MA kelas X yang telah beredar di Kabupaten Blitar. Penentuan sampel menggunakan Purposive Sampling yaitu dengan pertimbangan bahwa buku ajar tersebut banyak digunakan di SMA/MA Negeri di Kabupaten Blitar yaitu buku teks terbitan Erlangga dengan pengarang K. Wardiyatmoko. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian buku berupa kriteria kesesuaian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan rubrik penilaian buku ajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian isi materi Hidrosfer dalam buku ajar geografi SMA kelas X terbitan Erlangga oleh K. Wardiyatmoko tergolong tidak sesuai (beberapa materi tidak ada, keluar dari hakikat pembelajaran geografi, dan tidak runtut), kebenaran konsep yang terdiri dari konsep terdefinisi dan konsep konkrit dikategorikan salah, kebenaran bahasa dalam buku ajar tersebut juga tergolong rendah (dari segi ejaan, kosakata, kalimat, dan paragraf), sedangkan media yang terdapat dalam buku ajar sudah bagus dengan arti bermanfaat bagi pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. Beberapa temuan tambahan yaitu masih terdapat materi yang penjelasannya kurang lengkap, penyajian materi yang tidak runtut, serta gambar yang kurang menarik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa buku ajar geografi SMA kelas X terbitan Erlangga oleh K. Wardiyatmoko masih memiliki banyak kesalahan terutama dari segi kesesuaian isi dengan kurikulum, konsep, dan bahasa. Dari hasil kesimpulan disarankan beberapa hal yaitu: (1) sebaiknya buku ajar geografi SMA kelas X terbitan Erlangga oleh K. Wardiyatmoko direvisi agar layak digunakan dalam proses pembelajaran sesuai dengan KTSP, (2) dilakukan telaah terlebih dahulu sebelum penggunaan buku ajar agar kesalahan dapat diperbaiki,terutama bagi seorang guru seharusnya membuat bahan ajar sendiri seperti modul pembelajaran, (3) penulis buku harus memperhatikan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar agar terbentuk buku yang berkualitas.

Kendala guru seni budaya dalam pembelajaran standar kompeensi ekspresi seni rupa di SMP Negeri se Kabupaten Madiun / Dwi Ana Romlah

 

Kata kunci: kendala, guru, pembelajaran, ekspresi, seni rupa. Di Kabupaten Madiun masih ada beberapa kompetensi dasar ekspresi seni rupa tingkat SMP yang belum dapat diberikan oleh guru seni budaya bidang seni rupa. Beberapa hambatan dialami oleh guru untuk membelajarkan kompetensi dasar tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran permasalahan atau kesulitan yang dialami guru dalam pembelajaran ekspresi seni rupa, meliputi kondisi guru mata pelajaran seni budaya, perencanaan pembelajaran oleh guru, sarana dan prasarana penunjang kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, strategi pembelajaran, penilaian pembelajaran, minat dan motivasi siswa, dan dukungan dari kepala sekolah. Rancangan penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Deskriptif karena bertujuan untuk menggambarkan keadaan yang menjadi penyebab terhambatnya pembelajaran ekspresi seni rupa, dan kuantitatif karena data yang diolah berupa angka. Metode yang digunakan adalah kuosiner dengan instrument angket. Angket ini diberikan pada responden yang dipilih dengan teknik sampel area, dari 28 SMP Negeri di Kabupaten Madiun diperoleh 20 responden dari 20 sekolah berbeda. Data diolah dengan rumus prosentase, baik untuk pertanyaan berskala maupun tidak berskala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru seni budaya di SMP Negeri di Kabupaten Madiun mengalami beberapa hambatan dalam pembelajaran standar ekspresi seni rupa, diantaranya pada kompetensi dasar mempersiapkan dan mengadakan pameran. Faktor penghambat diantaranya adalah tidak tersedianya sarana seperti ruang pembelajaran khusus dan media pembelajaran seni rupa. Selain itu, diketahui bahwa guru seni budaya bidang seni rupa bukanlah guru yang memiliki latar belakang pendidikan seni. Para guru tersebut cukup mengalami kesulitan dalam menentukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan mengembangkan materi bahan ajar sesuai dengan KTSP. Namun demikian menurut guru seni budaya sebagian besar karya yang dihasilkan siswa memiliki kualitas yang bagus, dikerjakan tepat waktu, dan siswa memiliki antusiasme yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran ekspresi seni rupa. Instrumen penilaian yang digunakan guru untuk menilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekspresi seni rupa adalah pedoman pengamatan dan rubrik penilaian, namun masih ada guru yang menggunakan soal uraian. Saran-saran yang diajukan untuk mengatasi kendala tersebut diantaranya adalah bahwa guru seni rupa harus lebih kreatif dalam usahanya untuk membelajarkan kompetensi dasar seni rupa kepada siswa, sehingga siswa tidak merasa terbebani oleh pembelajaran ekspresi seni. Kepala sekolah selain memberikan dukungan moral juga sebaiknya memberikan dukungan material.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 |