Pengaruh suhu nitridasi terhadap fase kristal, struktur mikro dan kekerasan biomaterial paduan CoCrMo modifikasi ASTM F75 / Annafiyah

 

Kata Kunci: Biomaterial, CoCrMo, Nitridasi, Fase, Struktur Mikro, Kekerasan. Telah dilakukan penelitian tentang paduan CoCrMo modifikasi ASTM F75 sebagai salah satu bahan biomaterial yang digunakan sebagai bahan implan tulang. Sejauh ini biokompatibilitas logam Co untuk endoprostetik masih dibawah kualitas paduan Titanium, namun lebih baik dari Stainless Steel. Selain itu, harga bahan dasar paduan Co lebih murah, serta sifat mekaniknya lebih baik dibandingkan Titanium. Oleh karena itu paduan berbasis Co menjadi alternatif sebagai bahan implan tulang. Biomaterial paduan CoCrMo disintesis dengan pelelehan menggunakan Tri Arc Melting Furnace, yang dilanjutkan dengan nitridasi untuk menumbuhkan fase kristal serta meningkatkan nilai kekerasan. Variasi suhu nitridasi yang digunakan adalah 350○ C, 420○ C, 490○ C, dan 560○ C serta satu sampel yang tidak dinitridasi. Pada penelitian ini proses penimbangan dan penyiapan bahan dilakukan di laboratorium Material Fisika PTBIN BATAN Serpong, sintesis dan karakterisasi bahan yang meliputi pengamatan struktur mikro, difraksi sinar-X dan pengujian SEM-EDAX dilakukan di laboratorium Fisika Material Universitas Negeri Malang. Pengujian kekerasan dilakukan di laboratorium Material Institut Teknologi Nasional Malang. Hasil difraksi sinar-X dianalisis menggunakan pencocokan fase (phase matching) untuk mengetahui fase yang terbentuk pada paduan CoCrMo modifikasi ASTM F75. Pengamatan struktur mikro dilakukan dengan analisis kualitatif hasil SEM. Tahap selanjutnya dilakukan pengujian kekerasan paduan CoCrMo modifikasi ASTM F75. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa setiap paduan CoCrMo modifikasi ASTM F75 menunjukkan kehadiran fase ε, σ, serta γ (fcc). Dengan meningkatnya suhu nitridasi, persentase fase γ meningkat pada masing-masing paduan dengan suhu nitridasi yang berbeda. Analisis struktur mikro menujukkan bahwa semakin meningkatnya suhu nitridasi maka ukuran butir semakin besar dan ukuran pori semakin kecil. Kekerasan paduan CoCrMo paduan meningkat seiring meningkatnya suhu nitridasi, Kekerasan meningkat tajam dari suhu nitridasi 420°C sampai 560°C. Nilai kekerasan maksimun sebesar 3085,72 N/mm2 dan minimum sebesar 1117,73 N/mm2

Studi keanekaragaman lichen di daerah Batu-Malang / Wawan Hermanto

 

Pengembangan sumber belajar pembenihan lele dumbo berbasis web untuk pembelajaran jarak jauh / Ulandari

 

Kata kunci: sumber belajar, pembenihan lele dumbo, web, pembelajaran jarak jauh Sumber belajar memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi membawa dampak yang cukup besar pada bidang pendidikan. Perkembangan teknologi informasi tersebut semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan salah satu teknologi jaringan belajar, maka keberadaan sumber belajar berbasis web banyak digunakan sebagai alternatif sumber belajar untuk pembelajaran jarak jauh. Web merupakan salah satu fasilitas di internet yang memiliki kemampuan untuk menampilkan berbagai jenis data berupa teks, gambar, video dan data lainnya. Hal inilah yang menjadikan web lebih banyak dipakai sebagai sarana untuk memberikan informasi maupun berkomunikasi oleh berbagai kalangan termasuk kalangan pendidikan. Seiring dengan teknologi yang berkembang saat ini, maka peneliti mengembangkan sumber belajar pembenihan lele berbasis web menggunakan software moodle untuk pembelajaran jarak jauh. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Sadiman yang terdiri dari: identifikasi kebutuhan, analisis tujuan, pengembangan materi, pengembangan alat evaluasi, menyusun naskah, produksi, petunjuk pemanfaatan, uji coba produk, revisi dan media siap dimanfaatkan. Sumber belajar yang dihasilkan memiliki beberapa karakteristik antara lai: modul berupa teks berbentuk Portable Document Format (PDF), ilustrasi gambar/foto, audio-video, forum, chat. Sumber belajar ini dapat diakses melalui internet dan modul yang ada di dalamnya dapat di-download secara langsung. Pengambilan data validasi sumber belajar dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa angket dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media, ahli materi dan masyarakat/audiens. Hasil uji coba produk yang dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media menyatakan produk ini valid dengan persentase 85%, ahli materi menyatakan produk ini valid dengan persentase 97,6%, masyarakat Kelurahan Jatirejo menyatakan produk ini valid dengan persentase 91,3% dan masyarakat Kelurahan Kramat menyatakan produk ini valid dengan persentase 90,1%.

Penggunaan media gambar dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di MTs negeri Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar / Tria Yulianto

 

Kata kunci: Penggunaan Media Gambar, Pembelajaran Penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn merupakan wadah dalam penjelasan konsep-konsep materi pelajaran PKn. Selaras dengan tujuan pemanfaatan media gambar yakni untuk menyederhanakan kompleksitas materi, maka pembelajaran PKn dengan media gambar akan membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Mengacu pada kelebihan media gambar maka dapat dimungkinkan pemanfaatan media gambar dalam pembelajaran PKn akan meningkatkan pemahaman terhadap siswa. Media gambar bukan hanya menjadikan siswa tertarik akan materi pelajaran yang dijelaskan guru, namun media gambar menjadi media pembelajaran yang mampu mengatasi perbedaan pemahaman antar pribadi siswa dan menyederhanakan kompleksitas materi. Materi dalam pembelajaran PKn yang komplek tersebut akan tersederhanakan. Hal tersebut akan menjadikan materi yang terdapat dalam pembelajaran PKn akan dimengerti, lebih mudah dipahami dan setiap siswa akan memiliki konsep yang sama terhadap suatu materi yang diajarkan. Selebihnya penggunaan media gambar menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna sejalan dengan pendekatan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Tujuan Penelitian, (1) Mendiskripsikan jenis media gambar apa saja yang digunakan dalam pembelajaran PKn di MTs Negeri Selorejo-Blitar. (2) Mendiskripsikan penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn di MTs Negeri Selorejo-Blitar. (3) Mendiskripsikan faktor-faktor pendorong dalam penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn di MTs Negeri Selorejo-Blitar. (4) Mendiskripsikan faktor-faktor penghambat dalam penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn di MTs Negeri Selorejo-Blitar. (5) Mendiskripsikan upaya untuk mengatasi hambatan penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn di MTs Negeri Selorejo-Blitar. Adapun metode yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: observasi, wawancara, dokumentasi. Jadi data yang digunakan berasal dari para informan, hasil observasi penggunaan media gambar berupa dokumentasi langkahlangkah penggunaan media gambar. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa (1) Jenis media gambar yang digunakan dalam pembelajaran PKn di MTs Negeri Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar yaitu (a) Gambar Demonstrasi, (b) Gambar mengenai kenaikan BBM, (c) Gambar demo mahasiswa menuntut pemerintah menuntaskan kasus pelanggaran HAM, (d) Gambar demo menuntut agar koruptor segera dipenjara. (2) Penggunaan media gambar sebagai media pembelajaran yaitu (a) Pendahuluan: Salam, Presensi, Apersepsi, Informasi materi, Informasi Tujuan. (b) Kegiatan Inti: Guru menempel gambar di papan tulis, Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, Setiap kelompok mendiskusikan gambar yang diberikan oleh guru, Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas. (c) Penutup: Kesimpulan, Tindak Lanjut, Salam Penutup. (3) Faktor yang menjadi pendorong penggunaan media gambar yaitu (a) bahwa mengingat sesuatu yang pernah kita lihat dan dengar lebih mudah dipahami dari pada mengingat apa yang pernah didengar saja, (b) Bahwa media gambar mudah dipahami oleh siswa dan mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya. (c) Materi yang disampaikan mendukung dengan diterapkannya media gambar untuk menunjang pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.(d) Bahwa sebagian besar siswa sangat setuju dengan penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn. (4) Faktor pendorong juga terdapat faktor penghambat penggunaan media gambar di MTs Negeri Selorejo yaitu (a) Terbatasnya gambar yang sesuai dengan materi yang diajarkan, (b) Dalam hal ukuran, ukuran menjadi masalah utama dalam penerapan media gambar dalam pembelajaran. Ukuran gambar yang terdapat dalam internet printoutnya kurang besar, sehingga dalam menyajikan didepan kelas tidak terlalu kelihatan. (5) Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan penggunaan media gambar dalam pembelajaran yaitu gambar difotocopy agar dapat dibagikan pada setiap kelompok selain itu upaya yang dilakukan guru yaitu menggunakan sosiodrama. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru agar penggunaan media gambar dalam pembelajaran PKn bisa tercapai dengan baik, maka yang harus dilakukan guru yaitu menyiasati bagaimana menampilkan gambar agar dapat dilihat oleh semua siswa dan gambar yang ditampilkan harus sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

Inovasi pembelajaran PKn sebagai upaya menemukan paikem di SMPN 2 Malang / Darul Makasin

 

Kata Kunci : inovasi pembelajaran PKn, PAIKEM. Pendidikan sebagai bagian integral kehidupan masyarakat di era global diharapkan dapat memberi dan memfasilitasi bagi tumbuh dan berkembangnya ketrampilan intelektual, sosial, dan personal. Pendidikan harus menumbuhkan berbagai kompetensi peserta didik. Ketrampilan intelektual, sosial, dan personal dibangun tidak hanya dengan landasan rasio dan logika saja, tetapi juga inspirasi, kreativitas, moral, intuisi (emosi) dan spiritual. Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan kebutuhan era global. Salah satu upaya yang dapat dikembangkan oleh sekolah adalah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Proses pembelajran inovatif mengadaptasi model pembelajaran yang menyenangkan. Jika siswa sudah menanamkan hal ini dipikirannya, tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggang waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan dan rasa bosan. Dalam proses ini guru dan siswa saling memberikan pengetahuan tentang bagaimana hasil belajarnya bagi siswa. Dan guru menerapkan kegiatan mengajar belajar dan bukan kegiatan belajar mengajar. Karena proses pembelajaran ini mengutamakan kreativitas siswa. Siswa menjadi subyek belajar, bukan obyek belajar. Tujuan umum penulisan ini untuk (1) mendeskripsikan bentuk dan proses inovasi pembelajaran PKn sebagai upaya menemukan PAIKEM di SMPN 2 Malang, (2) mendeskripsikan hasil dalam inovasi pembelajaran PKn sebagai upaya menemukan PAIKEM di SMPN 2 Malang, (3) mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam inovasi pembelajaran PKn sebagai upaya menemukan PAIKEM di SMPN 2 Malang, (4) mendeskripsikan dampak inovasi pembelajaran PKn sebagai upaya menemukan PAIKEM di SMPN 2 Malang. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan secara intensif dan terinci terhadap Inovasi pembelajaran PKn sebagai upaya menemukan PAIKEM di SMPN 2 Malang. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah (1) Tahap Memasuki Lokasi Penelitian (getting in), (2) Tahap ketika berada di lokasi Penelitian (getting along), (3) Tahap Pengumpulan Data (logging the data) dalam tahap ini menggunakan tiga tahap pengumpulan data yaitu (1) Wawancara Mendalam (in-dept interview), (2) observasi kelas, dan (3)Studi Dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa (1) peran guru dalam inovasi pembelajaran adalah guru dituntut mampu mewujudkan PAIKEM dalam kelas sehingga proses pembelajaran dapat tersampaikan dengan mudah dan maksimal, penggunaan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, penggunaan media pembelajaran harus memperhatikan fungsi dari media tersebut, guru juga harus mempunyai ketrampilan untuk mensiasati media ke alat yang lebih sederhana tanpa hanya mengandalkan fasilitas dari sekolah, kegiatan mengajar belajar semestinya dapat diimplementasikan dalam realitas kehidupan, evaluasi pembelajaran saat ini menuntut tidak hanya penilaian terhadap akademis peserta didik, akan tetapi juga penilaian melalui pendekatan afektif atau perkembangan sikap siswa; (2) hasil dalam inovasi pembelajaran dijabarkan ke dalam tiga hal yaitu motivasi belajar siswa menjadi bertambah, perubahan perilaku siswa menjadi lebih antusias dalam belajar, dan hasil belajar siswa yang meningkat; (3) kendala dalam inovasi pembelajaran dirasakan oleh guru dan murid, guru merasa takut dan tidak percaya dengan kemampuannya sedangkan murid harus merubah cara belajar mereka dari pasif menjadi aktif, dukungan dari sekolah terwakili dengan adaya budaya sekolah yang mencerminkan aplikasi dari pelajaran PKn yaitu sikap toleransi dan saling menghargai dan kebijakan sekolah yang memberi kebebasan kepada guru guna terwujudnya pembelajaran inovatif; (4) dampak dari inovasi pembelajaran berimbas kepada guru dan siswa, guru meninggalkan pembelajaran konvensional menuju pembelajaran inovatif, guru menjadi bertambah inovatif dalam melakukan pembelajaran dan bagi siswa telah merubah siswa menjadi subyek belajar yang aktif dalam kegiatan mengajar belajar. Bertolak dari temuan penelitian ini beberapa saran yang dapat peneliti ajukan guna mendukung pelaksanaan inovasi pembelajaran PKn, yaitu: (1) terkait dalam bentuk dan proses inovasi pembelajaran, disini guru menjadi faktor utama penentu keberhasilannya, guru harus profesional di bidangnya, lebih kreatif, mempunyai wawasan luas, dan mengikuti perkembangan pendidikan; (2) untuk hasil dalam inovasi pembelajaran, dibutuhkan keterpaduan semua komponen pendidikan guna tercapainya hasil yang diharapkan dari siswa; (3) untuk kendala dalam inovasi pembelajaran, perlunya peningkatan sosialisasi tentang inovasi pembelajaran dengan harapan guru dan murid sebagai pelaku pembelajaran lebih memahami dengan baik adanya inovasi pembelajaran; (4) dan untuk dampak dari inovasi pembelajaran ialah lebih ditingkatkannya lagi pengaplikasian inovasi pembelajaran dengan baik sehingga para guru dan murid dapat memainkan perannya dengan baik pula.

Pembelajaran pemecahan masalah materi persamaan linear satu variabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pasuruan / Achmad Choliq

 

Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd. (2) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata kunci: Masalah, Pemecahan Masalah, Persamaan Linear Satu Variabel Keberhasilan guru akan terjamin, jika guru dapat mengajak muridnya mengerti suatu masalah melalui semua tahap proses belajar, karena dengan cara tersebut murid akan memahami hal yang diajarkan (Rooijakkers, dalam Sagala, 2009:174) Pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika merupakan hal yang sering terjadi. Agar peserta didik mampu dalam memecahkan masalah perlu dikembangkan kemampuan berfikir logis, analitis sistematis, kritis, dan kreatif. Penelitian ini difokus pada “Bagaimana pembelajaran pemecahan masalah materi persamaan linear satu variabel pada siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Pasuruan”. Sesuai dengan pertanyaan penelitian, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran pemecahan masalah untuk memahamkan siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Pasuruan pada materi persamaan linear satu variabel. Pemecahan masalah yang dimaksud dalam penelitian ini merujuk pada tahap-tahap yang dikembangkan oleh Polya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Pasuruan . Hasil penelitian diperoleh ketuntasan hasil belajar siswa pada kriteria paham (87%), aktivitas guru baik (88%), aktivitas siswa baik (84%) dan respon siswa sangat baik (91%) Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran pemecahan masalah model Polya dapat memahamkan siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Pasuruan terhadap materi persamaan linear satu variabel. Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan tiga tahap. Tahap awal yang meliputi: memberikan tujuan pembelajaran, memberikan materi apersepsi, memotivas siswa,dan meminta siswa menempati kelompok asal. Tahap inti yaitu memberikan permasalahan kepada siswa dikemas dalam lembar kerja yang dikerjakan secara berkelompok. Soal permasalahan dikerjakan sesuai dengan pertanyaan yang terstruktur yang mengarahkan siswa pada tujuan pembelajaran dengan menggunakan tahap-tahap: memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali jawaban, sedangkan tahap akhir memberi tes akhir tindakan yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan yang lebih baik, maka disarankan bila ada peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian pembelajaran pemecahan masalah dengan model Polya hendaknya dilakukan pada sekolah lain atau materi lain, agar diperoleh gambaran lebih lanjut tentang penelitian ini.

Hubungan antara persepsi tentang sertifikasi guru, komunikasi organisasi, strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja dengan produktivitas kerja guru pada sekolah menengah kejuruan negeri di Malang Raya / Tri Atmadji Sutikno

 

Program Studi Ma-najemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pem-bimbing: (1) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A. Ph.D; (2) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd; (3) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E Kata kunci: produktivitas kerja, persepsi sertifikasi, strategi konflik, motivasi kerja. Guru menduduki posisi strategis un¬tuk meningkatkan sumber daya manusia yang cerdas, karena guru sebagai tenaga pendi¬dik terlibat langsung dalam aktivitas proses pembelajaran di kelas dan selu¬ruh proses pendidikan di sekolah. Agar tujuan tersebut dapat tercapai guru harus selalu meningkatkan produktivitas kerjanya. Produktivitas kerja guru dapat diukur dari perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, pembimbingan, penelitian dan penulisan artikel, penggunaan media pembelajaran, dan ketercapaian kenaikan dan kelulusan, serta pelatihan yang diikuti. Tinggi rendahnya produktivitas kerja guru dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya persepsei tentang sertifikasi guru, komunikasi organisasi, strategi penyelesaian konflik, dan motivasi kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variabel-variabel: persepsi tentang sertifikasi guru, komunikasi organisasi, strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja, dan produktivitas kerja guru SMKN di Malang Raya. Disamping itu penelitian ini juga untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan variabel terikat. Penelitian menggunakan rancangan analisis deskriptif dan korelasional, dengan populasi guru SMKN di Malang Raya yang berjumlah 830 orang dan diambil sampel 264 orang. Instrumen yang mencakup variabel-variabel persepsi tentang sertifikasi guru, komunikasi organisasi, strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja, dan produktivitas kerja dikembangkan dengan menggunakan skala Likert. Data dikumpul-kan dengan teknik proporsional random sampling, yang dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis multivariat SEM-PLS dengan bantuan program SmartPLS 2. Hasil analisis ditemukan: (1) persepsi tentang sertifikasi guru pada kategori baik, komunikasi organisasi dalam kategori sangat baik, strategi penyelesaian konflik pada kategori baik, motivasi kerja pada kategori baik, dan produktivitas kerja pada kategori baik; (2) ada hubungan langsung yang signifikan antara persepsi tentang sertifikasi guru dengan motivasi kerja; (3) ada hubungan langsung yang signifikan antara komunikasi organisasi dengan motivasi kerja, (4) ada hubungan langsung yang signifikan antara strategi penyelesaian konflik dengan motivasi kerja; (5) tidak ada hubungan langsung yang signifikan antara persepsi tentang sertifikasi guru dengan produktivitas kerja; (6) ada hubungan langsung yang signifikan antara komunikasi organisasi dengan produktivitas kerja; (7) ada hubungan langsung yang signifikan antara strategi penye¬¬lesaian konflik dengan produktivitas kerja; (8) ada hubungan langsung yang signifikan antara motivasi dengan produktivitas kerja; (9) ada hubungan tidak lang-sung yang signifikan antara persepsi tentang sertifikasi guru, komunikasi organisasi, strategi penyelesaian konflik, dengan produktivitas kerja melalui motivasi kerja; (10) ada hubungan langsung secara simultan antara persepsi tentang sertifikasi guru, komu-nikasi organisasi, strategi penyelesaian konflik, dengan motivasi kerja; dan (11) ada hubungan langsung secara simultan antara komunikasi organisasi, strategi penyelesa-ian konflik, motivasi dengan produktivitas kerja. Berdasar temuan penelitian disarankan sebagai berikut: (1) untuk kepala sekolah, hasil penelitian ini sebagai acuan dalam menentukan kebijakan dan strategi dalam mengelola organisasi sekolah, khususnya dalam memotivasi guru untuk meningkatkan produktivitas kerjanya; (2) untuk guru-guru, hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan khususnya tentang produktivitas kerja; (3) untuk pengawas sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk membina guru dan kepala sekolah diwilayahnya dalam meningkatkan produkti¬vitas kerjanya dan kemampuan profe-sionalnya; (4) untuk Kepala Dinas Pendi¬dikan di Malang Raya, temuan penelitian ini dapat sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam memotivasi dan meningkatkan produktivitas kerja guru, dan (5) untuk peneliti lain dibidang manajemen pendidikan hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan, khususnya yang berhubungan dengan produktivitas kerja guru.

Berpikir kreatif untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Malang / Ainin Meilia Romdhiani

 

Kata kunci: kreativitas, hasil belajar, penjumlahan dan pengurangan, bilangan bulat, berpikir kreatif, SD. Hasil wawancara dengan guru kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Malang, peneliti menyimpulkan bahwa penguasaan konsep siswa terhadap materi operasi hitung bilangan bulat masih belum maksimal. Konsep yang telah diberikan kepada siswa dan belum dikuasai siswa yaitu tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Sedangkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD Kelas V, konsepnya seharusnya sampai pada operasi hitung campuran bilangan bulat namun guru kelas belum menyampaikan hingga materi tersebut. Selain itu guru belum menggunakan media pembelajaran yang konkret sehingga siswa belum mampu mengembangkan kreativitasnya melalui berpikir kreatif dalam pembelajaran matematika.Tujuan penelitian ini mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui pengembangan berpikir kreatif, peningkatan kreativitas dan hasil belajar siswa kelas V SD NU Hassanuddin Dilem 02 Malang pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui pola berpikir kreatif. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V Malang. Penelitian ini dilakukan dengan prosedur (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi dan Penilaian, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara (4) catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan melalui pengembangan berpikir kreatif pada kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Malang dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas siswa yang dapat dilihat dari hasil observasi selama pembelajaran yang menunjukkan kreativitas siswa. Selain itu, mellaui berpikir kreatif siswa dapat meningkatkan kreativitas dab hasil belajar siswa sehingga mampu mencapai ketuntasan belajar yang telah telah ditentukan. Siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Malang yang mencapai kriteria ketuntasan minimal sebanyak 26 siswa, sedangkan 4 siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Adapun 4 siswa yang belum tuntas belajar dikarenakan siswa tersebut kurang memanfaatkan waktu yang dimiliki dengan baik, kurang aktif bertanya dan memberikan ide dalam berdiskusi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat setelah pengembangan berpikir kreatif dapat mengoptimalkan semua komponen dalam pembelajaran. Pembelajaran melalui berpikir kreatif dapat digunakan karena telah memenuhi kriteria keberhasilan tindakan. Dengan pembelajaran melalui pengembangan berpikir kreatif hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan, siklus I ke siklus II sebesar 42,2 meningkat menjadi 60,89 meningkat menjadi 80,38. Persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 18,89%, persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II sebesar 19,52%, dan persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus II sebesar 38,18%. Dari hasil penelitian ini, diharapkan agar guru dapat melatih kreativitas siswa dalam mencari alternatif penyelesaian dari berbagai permasalahan melalui berpikir kreatif.

Pemetaan kompetensi profesional guru teknologi informasi dan komunikasi di SMA negeri se-kota Malang / Arif Nurul Hadi

 

Kata Kunci: Pemetaan, Kompetensi Professional, Guru TIK. Kurikulum pendidikan yang diterapkan di Indonesia sejak tahun 2006 hingga saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Salah satu bidang studi yang ditetapkan dalam KTSP adalah mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pada kenyataannya, saat kebijakan mata pelajaran TIK ini dikeluarkan oleh pemerintah, ternyata belum ada kesiapan SDM (dalam hal ini tenaga pengajar/guru) di sekolah-sekolah. Akhirnya siapapun yang bisa belajar materi TIK dan bersedia mengajar mata pelajaran TIK dapat secara otomatis menjadi guru TIK. Pemilihan guru mata pelajaran TIK juga mengabaikan latar belakang pendidikan dan kesesuaian kualifikasi akademik guru. Data dari Direktorat Tenaga Kependidikan Dikdasmen Depdiknas, pada tahun 2004 menunjukkan terdapat 927.947 (43,02 %) guru SD, SMP, dan SMA yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan nasional. Permasalahan pendidikan yang telah diuraikan di atas terjadi di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali kota Malang. Sekalipun di kota Malang jumlah tenaga pendidik secara kuantitatif sudah cukup, tetapi mutu dan profesionalisme belum sesuai dengan harapan. Berdasarkan uraian di atas peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan dan memetakan kompetensi profesional guru TIK di SMA Negeri se-Kota Malang. Variabel dalam penelitian ini adalah kompetensi profesional guru yang dijabarkan menjadi 16 sub variabel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru TIK di SMA Negeri se-Kota Malang. Karena jumlah populasi penelitian kurang dari 100, maka seluruh guru sebanyak 27 orang yang merupakan populasi penelitian juga dijadikan sebagai sampel penelitian. Pada penelitian ini, untuk mengungkap variabel kompetensi profesional guru digunakan tiga macam instrumen penelitian, yaitu: angket/kuisioner, studi wawancara, dan check list dokumen. Angket yang digunakan dalam penelitian ini diisi oleh siswa. Studi wawancara dan check list dokumen ditujukan untuk guru. Hasil dari analisis data untuk variabel kompetensi profesional guru dengan 16 sub variabel adalah: penguasaan materi standar dikategorikan sangat baik, pengelolaan program pembelajaran dikategorikan baik, pengelolaan kelas dikategorikan baik, penggunaan media dan sumber pembelajaran dikategorikan baik, pemahaman dan pelaksanaan pengembangan peserta didik dikategorikan sedang, keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran dikategorikan baik, pemahaman dan pelaksanaan konsep pembelajaran individual dikategorikan sedang.

Analisis hubungan ketinggian terhadap nilai konsentrasi ozon di ekuator dalam observasi ozon vertikal dan SPD Lapan Kototabang Sumatera Barat / Bagus Arif Prasetya

 

Kata kunci : konsentrasi Ozon, Ekuator,dan Ozon Vertikal. Sejak permulaan industrialisasi, kebutuhan akan energi meningkat terus.Pada saat yang sama energi yang digunakan berubah dari kayu dan batubara beralih ke minyak bumi dan gas alam.Minyak bumi merupakan energi primadona, pemakaiannya meningkat karena berkembangnya penduduk dan meningkatnya ekonomi. Hasil pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi, batubara) yang antara lain terdiri dari aerosol, CO 2 , NO X , CH 4 , SO X , O 3 permukaan, nonmetan hidrokarbon diemisikan ke atmosfer.Hal ini akan mempengaruhi lingkungan sehingga dapat menyebabkan perubahan iklim global, perubahan komposisi atmosfer, adanya hujan asam. Kototabang merupakan salah satu daerah yang berada pada garis ekuator.Di ekuator berpotensi terjadi fenomena parameter klimatologi.Observasi ozon vertical di ekuator berguna untuk meneliti sebesar mana proses absorbs yang terjadi di ozon terhadap sinar UV.Dengan adanya lapisan ozon ,sinar UV yang masuk ke bumi menjadi berkurang jumlah dan intensitasnya,karena sinar UV dalam jumlah yang besar akan membahayakan kehidupan makhluk hidup di bumi. Berdasarkan data dan hasil dari analisis data maka dapat di ketahui konsentrasi ozon rata-rata tiap parameter ketinggian.Konsentrasi ozon rata-rata pada ketinggian 0,8-5 km adalah 1.427 mPa.Konsentrasi ozon rata-rata pada ketinggian 5,1-10 km adalah 1.313 mPa. Konsentrasi ozon rata-rata pada ketinggian 10,1-15 km adalah 0.659 mPa. Konsentrasi ozon rata-rata pada ketinggian 15,1-20 km adalah 1.718 mPa. Konsentrasi ozon rata-rata pada ketinggian 20,1-25 km adalah 8.780 mPa. Konsentrasi ozon rata-rata pada ketinggian 25,1-31,1 km adalah 12.224 mPa

Kepemimpinan transformasional kepala sekolah (studi multikasus pada dua SMA negeri dan satu MA negeri berprestasi di Kota Banda Aceh) / Fauzuddin

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji KH, M.A, Ph. D., (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M. Pd (III) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: kepala sekolah, kepemimpinan transformasional, sekolah menengah atas, madrasah aliyah. Pendidikan merupakan usaha membantu anak didik mencapai kedewasaan, diselenggarakan dalam suatu kesatuan organisasi sehingga usaha yang satu de-ngan lainnya saling berhubungan dan saling mengisi. Pengelolaan pendidikan dengan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif serta berkelanjutan meru-pakan komitmen dalam pemenuhan janji sebagai pemimpin pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam memberi arah kepada sebuah sekolah yang sukses. Sangat erat hu-bungannya antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin sekolah, iklim budaya sekolah dan juga termasuk perilaku negatif peserta didik. Dalam pada itu kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembela-jaran di sekolah. Sebagimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP Nomor 28 tahun 1990 bahwa: "Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan ke-giatan pendidikan, administrasi sekolah, Pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana". Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan lebih mendalam tentang kepemimpian kepala sekolah pada dua Sekolah Menengah Atas dan satu Madrasah Aliyah Negeri berprestasi di Kota Banda Aceh. Tegasnya bahwa, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kepala sekolah dalam melakukan perubahan di sekolahnya sehingga menjadi sebuah sekolah yang berprestasi, baik dalam perannya dalam membangun visi dan misi sekolah, upaya yang dilakukan-nya dalam mengelola perubahan di sekolah, dan dukungan atau bantuannya terha-dap transformasi individu guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multikasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, ob-servasi partisipasi, dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik trianggulasi, member check, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penelitian dilakukan dengan para pembimbing se-bagai independent auditor untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ke-tiga teknik tersebut diorganisir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus maupun melalui analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transfor-masional yang diterapkan oleh kepala sekolah sangat efektif dalam menciptakan sebuah sekolah menjadi berprestasi, yaitu melalui upaya-upaya yang dilakukan kepala sekolah, seperti: Pertama, dalam mengembangkan visi dan misi sekolah, kepala sekolah terlebih dahulu melakukan observasi dan mendalami budaya sekolah, mempelajari kekuatan dan kelemahan sekolah, melibatkan semua unsur sekolah dalam menciptaka visi dan misi sekolah, mensosialisasikan visi dan misi sekolah yang ingin dicapai, dan visi tersebut kemudian dioperasionalkan ke dalam misi dan diterjemahkan ke dalam tujuan yang jelas, serta dikomunikasikan kepada seluruh warga sekolah. Kedua, dalam melakukan berbagai perubahan disekolah kepala sekolah (1) menerapkan pola kepemimpinan yang demokratis, (2) mampu membangun jaring-an kerjasama dengan seluruh personil sekolah dan pihak luar baik dalam upaya peningkatan prestasi siswa maupun dalam upaya peningkatan kualitas profesiona-lisme guru, (3) pelibatan staf dalam pengambilan keputusan, (4) memiliki keung-gulan dalam membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak, (5) memba-ngun tim kerja (team-work) yang kuat, (6) mampu menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, (7) menfasilitasi bawahannya dalam bekerja dan pengemba-ngan diri, (8) memotivasi para guru dan siswa agar memiliki minat dan semangat untuk berkembang dan belajar lebih giat, (9) menciptakan atmosfir yang mendo-rong para siswa untuk belajar dengan suasana yang nyaman melalui penyediaan fasilitas belajar yang nyaman, layanan khusus, inovasi pembelajaran, penyeleng-garaan kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang menyenangkan, dan (10) melaku-kan analisis SWOT dan sasaran strategis dengan cara melibatkan pihak-pihak yang terkait secara proporsional. Ketiga, dalam mendukung/membantu transformasi individu guru, kepala sekolah (1) melakukan pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru mela-lui program MGMP, (2) mendorong guru untuk mau mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan workshop, (3) mengajak guru untuk melakukan penelitian dan suka menulis sebagai tujuan dalam meningkatkan kualitas individu guru, (4) memberi kesempatan kepada guru untuk melanjutkan pendidikan, (5) memberi kesempatan guru untuk membimbing kelompok kreativitas siswa, (6) menciptakan strategi atau kebijakan untuk mensukseskan pikiran-pikiran yang inovatif, (7) bersama-sama guru mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode mengajar sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku, (8) melakukan perencanaan kebutuhan anggaran untuk pembinaan guru, dan melakukan supervisi. Kepala sekolah diharapkan untuk tetap meningkatkan kualitas kepemim-pinannya dan tetap mempertahankan image masyarakat tentang sekolah favorit dan berprestasi terhadap ketiga sekolah tersebut dengan terus meningkatkan prestasi akademik dan non akademik siswa, dan senantiasa mempertahankan dukungan atau pembinaan kepada guru untuk mengembangkan kualitas diri mereka melalui kegiatan-kegiatan pendidikan dan pelatihan, seminar, workshop, kursus-kursus dan juga memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan lanjut, khususnya bagi guru-guru yang memiliki minat dan berpotensi.

Respon seleksi karakter agronomi delapan populasi kedelai (Glycine max (L.) Merill) / Littuhayu Widesbi

 

Kata kunci: respon seleksi, karakter agronomi, kedelai. Peningkatkan produksi kedelai dapat dicapai melalui suatu kegiatan pemuliaan tanaman dengan mengembangkan varietas unggul kedelai berdaya hasil tinggi. Varietas unggul tanaman kedelai berdaya hasil tinggi dapat diperoleh melalui hibridisasi tetua terpilih dan seleksi. Seleksi pada suatu populasi tanaman diharapkan dapat merubah nilai tengah populasi tanaman generasi F2 (populasi tanaman yang diseleksi) ke generasi F3 (populasi turunan hasil seleksi) pada karakter agronomi, perubahan tersebut dikenal sebagai respon terhadap seleksi (kemajuan seleksi), yang nilainya dapat diketahui dengan mengalikan nilai heritabilitas dan nilai diferensial seleksi masing-masing karakter dan pada tiap-tiap populasi kombinasi persilangan kedelai filial ketiga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai heritabilitas, nilai diferensial seleksi, dan nilai respon seleksi dari masing-masing karakter agronomi tanaman kedelai delapan populasi generasi F3. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Sampel yang digunakan adalah 8 populasi tanaman kedelai generasi F3 yang merupakan hasil persilangan antara Argopuro x MLGG 0268 (populasi A), Argopuro x MLGG 0021 (populasi B), Anjasmoro x MLGG 0021 (populasi C), Anjasmoro x MLGG 0268 (populasi D), Gumitir x MLGG 0268 (populasi E), Gumitir x MLGG 0021 (populasi F), Mahameru x MLGG 0268 (populasi G), dan Mahameru x MLGG 0021 (populasi H). Karakter agronomi kedelai generasi F3 yang dimati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buku subur, jumlah polong isi, jumlah polong hampa jumlah biji per tanaman, berat biji per tanaman, dan berat 100 biji. Penghitungan nilai heritabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi, yang dilanjutkan dengan penghitungan nilai respon seleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengaruh faktor lingkungan dalam mengendalikan suatu sifat lebih besar dibandingkan faktor genetik, ditunjukkan dengan nilai heritabilitas karakter agronomi pada delapan populasi yang sebagian besar bernilai rendah, (2) seleksi yang dilakukan pada populasi awal (generasi F2) memberikan pengaruh yang kecil, bahkan pada beberapa karakter agronomi populasi tertentu seleksi tidak memberikan pengaruh terhadap suatu kemajuan seleksi, hal ini ditunjukkan dengan nilai tengah tanaman terseleksi yang tidak berbeda jauh dengan nilai tengah populasi awal, dan selisih nilai tengah tanaman terseleksi yang lebih kecil daripada nilai tengah populasi awalnya pada beberapa karakter pada populasi tertentu, (3) Sebagian besar karakter agronomi pada delapan populasi kedelai dikendalikan oleh tindak gen bukan aditif, hal ini ditunjukkan oleh nilai respon seleksi yang rendah hampir pada semua karakter dan populasi.

Penerapan evaluasi model Stake (countenance evaluation model) pada program pembelajaran sejarah di MTs Attaraqqie Putri Malang kelas VIII semester ganjil tahun ajaran 2010/2011 / Maria Kurnianing Rizki

 

Kata kunci: evaluasi model stake, program pembelajaran sejarah Evaluasi memiliki peranan yang penting dalam sebuah kegiatan termasuk pada kegiatan pembelajaran. Saat ini, kegiatan evaluasi yang biasa dilakukan hanya untuk mengetahui hasil belajar siswa saja tanpa memerhatikan pada perencanaan dan pelaksanaan program pembelajaran tersebut padahal hasil evaluasi tersebut tidak bisa terlepas dari perencanaan dan proses pelaksanaannya. Penelitian ini dilaksanakan untuk menerapkan evaluasi model stake pada program pembelajaran sejarah yang mencakup evaluasi perencanaan, evaluasi proses, dan evaluasi hasil. Model ini dipilih untuk diterapkan karena merupakan satu-satunya model evaluasi yang terstruktur dalam arti memiliki tahapan evaluasi yang jelas mulai dari tahap perencanaan sampai dengan tahap pemberian pertimbangan setelah melalui tahap observasi terlebih dahulu. Dalam evaluasi model ini, pertimbangan yang diberikan harus sesuai dengan kriteria atau standar yang ditetapkan oleh peneliti sebagai evaluator. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Attaraqqie Putri Malang kelas VIII. Guru mengalami kesulitan dalam peningkatan hasil belajar siswa terutama nilai pada kelas VIII. Dibandingkan dengan tiga kelas lainnya, nilai siswa kelas VIII masih di bawah KKM. KKM yang ditetapkan di sekolah yaitu 70, sedangkan nilai rata-rata siswa kelas VIII hanya 61,16. Menurut penuturan guru sejarah di sekolah tersebut, ketidaktuntasan siswa disebabkan oleh ketidaksungguhan siswa kelas VIII dalam mengikuti pelajaran sejarah dan kurangnya sumber belajar yang dimiliki siswa karena satu-satunya sumber belajar yang mereka gunakan adalah LKS. Selain itu, dalam dokumen perencanaan pembelajaran, guru masih menggunakan metode ceramah murni tanpa adanya suatu variasi. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) evaluatif yang menggunakan pendekatan kualitatif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisa dokumen, observasi, wawancara, dan catatan lapangan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik evaluasi model stake. Standar atau kriteria yang digunakan untuk menganalisa data dari perencanaan dan proses pembelajaran diambil dari Analisa Penilaian Kemampuan Guru (APKG) sedangkan untuk hasil belajar siswa, standar atau kriteria yang digunakan adalah Kriteria Kelulusan Minimum yang ditetapkan oleh pihak sekolah. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan peneliti, (2) ketekunan pengamatan, dan (3) teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) setelah evaluasi dilakukan pada siklus I dapat diketahui bahwa program pembelajaran sejarah yang berjalan masih belum memenuhi kriteria yang telah diterapkan. Untuk itu perlu adanya suatu perbaikan dalam program pembelajaran sejarah pada tahap perencanaan dan proses pembelajaran sehingga dapat memberikan hasil yang baik.; (2) evaluasi model stake pada tahap II menunjukkan adanya peningkatan hasil analisa pada program pembelajaran sejarah. Guru sudah hampir memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan sehingga hasil belajar juga mengalami peningkatan. Hal tersebut dikarenakan adanya proses judgment atau pemberian pertimbangan pada teknik evaluasi program model stake untuk perbaikan suatu program pembelajaran sesuai dengan standar atau kriteria yang dijadikan acuan. Dari hasil penelitian tersebut peneliti menyarankan: (1) pihak sekolah diharapkan dapat mengadakan kegiatan evaluasi secara berkala sehingga dapat mengetahui kemampuan guru dari waktu ke waktu dan perkembangan hasil belajar siswa; (2) guru diharapkan dapat mengevaluasi kemampuannya sendiri dan dapat mengetahui kebutuhan siswa demi peningkatan kemampuan pribadi dan peningkatan kualitas pembelajaran; (3) siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar dengan menambah informasi dari berbagai sumber; (4) jurusan sejarah diharapkan dapat memberikan bimbingan dan tambahan informasi mengenai pendidikan sehingga kemudian dapat mencetak guru-guru sejarah yang professional; (5) pelaksana penelitian berikutnya diharapkan dapat menerapkan evaluasi model stake dengan kriteria yang beragam dan dapat menerapkan model evaluasi yang lain pada program pembelajaran sejarah.

Pengembangan media audio pembelajaran bahasa Indonesia kelas II semester 2 pada materi pokok dongeng di SD Negeri Bareng 3 Malang / Lilik Andriani

 

Kata kunci : Pengembangan, Media Audio, Bahasa Indonesia, Dongeng. Salah satu materi pokok bahasa Indonesia kelas II semester 2 adalah dongeng. Kegiatan mendengarkan dongeng menjadi membosankan, ketika guru hanya menyampaikan dongeng dengan membacakan isi dongeng di depan kelas. Maka dengan menggunakan media audio dapat menjadi alternatif pemecahan masalah di atas. Kegiatan pembelajaran di SD Negeri Bareng 3 Malang terutama media audio tidak pernah digunakan dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia, karena belum tersedianya media tersebut. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah tersebut sering menggunakan metode ceramah, terutama pada materi pokok dongeng, sehingga beberapa siswa merasa bosan, mengantuk dan kurang memusatkan perhatian dalam mendengarkan dongeng yang dibacakan guru didepan kelas. Disamping itu, guru sering menggunakan media papan tulis dan Lembar Kerja Siswa (LKS) saja dalam proses pembelajaran. Maka pengembang akan berupaya melakukan pengembangan media audio pembelajaran bahasa Indonesia kelas II pada semester 2 pada materi pokok dongeng di SD Negeri Bareng 3 Malang, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, membantu guru menyampaikan materi pokok dongeng dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan suatu produk berupa media audio pembelajaran bahasa Indonesia kelas II semester 2 pada materi pokok dongeng di SD Negeri Bareng 3 Malang untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, dan dapat membantu guru menyampaikan materi pokok dongeng dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Metode pengembangan yang digunakan adalah Model Sadiman dengan prosedur pengembangan yang terdiri dari: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat-alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media (produksi), (6) tes/uji coba, (7) revisi. Pengembangan media audio ini di uji cobakan kepada siswa kelas II dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD Negeri Bareng 3 Malang pada materi pokok dongeng. Jenis data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam Pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (Pre Test dan Post Test). Teknik analisis data yang dgunakan antara lain: tanggapan ahli media, materi dan siswa dengan menggunakan kriteria keberhasilan media audio dan hasil belajar siswa dengan menggunakan Pre Test dan Post Test untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media audio. Hasil pengembangan media audio pembelajaran bahasa Indonesia kelas II semester 2 pada materi pokok dongeng telah diuji cobakan kepada ahli media, iiahli materi dan siswa. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh hasil sebesar 85,8%, ahli materi diperoleh hasil sebesar 95,8%, siswa dalam uji coba perseorangan diperoleh hasil sebesar 92,5%, siswa dalam uji coba kelompok kecil diperoleh hasil sebesar 96,2%, siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh hasil sebesar 98,1%, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa media audio yang dikembangkan termasuk dalam kriteria Valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia kelas II semester 2 pada materi pokok dongeng di SD Negeri Bareng 3 Malang. Hasil tes belajar baik pre test maupun post test yang diberikan kepada siswa kelas II di SD Negeri Bareng 3 Malang, pembelajaran dengan menggunakan media audio ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan media audio, persentase peningkatan hasil belajar pada uji coba perseorangan sebesar 47,3%, uji coba kelompok kecil sebesar 23% dan uji coba lapangan sebesar 23,6% sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa setelah menggunakan media audio lebih baik dibandingkan sebelum menggunakan media audio, maka dari hasil belajar siswa dapat diinterpretasikan bahwa media audio dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dan dapat membantu guru menyampaikan materi pokok dongeng dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil pengembangan tersebut, maka dapdapat direkomendasikan bahwa media audio pembelajaran bahasa Indonesia kelas II semester 2 pada materi pokok dongeng dapat digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan membantu guru dalam menyampaikan materi dongeng sesuai tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.

Persepsi wali murid, siswa dan guru terhadap kualitas layanan jasa pada SMPN 1 Sukodono Lumajang atas penerapan sistem RSBI / Masyrufah Jamil

 

Kata Kunci: Persepsi, Kualitas Layanan Jasa Pada SMPN 1 Sukodono Lumajang. Persepsi adalah tanggapan wali murid, siswa dan guru terhadap kualitas layanan jasa pada SMPN 1 Sukodono Lumajang atas penerapan sistem RSBI, di mana tanggapan dari responden yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, tergantung pada pandangan dan penilaiannya terhadap sekolah, yang nantinya akan timbul persepsi sangat baik, baik, cukup baik, tidak baik dan sangat tidak baik. Kualitas layanan jasa pada sekolah adalah sesuatu yang dinilai oleh masyarakat atau anggota sekolah yang mana mereka berpersepsi bahwa sekolah tersebut bernilai baik. RSBI merupakan kemajuan di dunia pendidikan dengan memperhatikan tingkat kependidikannya, secara awam ditafsirkan sekolah dengan kualitas lulusan yang mampu menggunakan Bahasa Inggris. Khususnya yang sampai saat ini atau bahkan untuk tahun ke depanpun merupakan tolak ukur utama siswa atau seseorang dikatakan mempunyai kemampuan lebih di dunia pendidikan. Sekolah yang berkualitas baik adalah yang berstandar Internasional. Berkaitan dengan kualitas layanan jasa pada SMPN 1 Sukodono Lumajang, maka penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi wali murid, siswa dan guru terhadap kualitas layanan jasa pada SMPN 1 Sukodono Lumajang yang memiliki pengaruh besar terhadap penilaian sekolah. Penelitian ini menggunakan metode noneksperimen dengan pendekatan kuantitatif, sedang analisis yang digunakan dalam skripsi ini adalah analisis deskriptif. Variabel dalam penelitian ini adalah persepsi wali murid, siswa dan guru terhadap layanan jasa pada kualitas SMPN 1 Sukodono Lumajang. Populasi Penelitian ini berjumlah 1.196 responden yang diambil dari jumlah wali murid sebanyak 569, siswa sebanyak 569 dan guru sebanyak 58, sedangkan sampel penelitian ini berjumlah 168 responden yang diambil dari 10% jumlah wali murid dan siswa, 58 dari jumlah guru. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik probability sampling dan simpel random sampling dan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa angket atau kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan pengujian validitas dan reliabilitas. Skala pengukuran yang digunakan pada instrumen penelitian ini menggunakan skala likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari jawaban responden dari pernyataan dalam angket dan dokumentasi data. Analisis data diolah dengan menggunakan bantuan program SPSS 13 for windows. Berdasarkan hasil penelitian terdapat perbedaan persepsi antara wali murid, siswa dan guru tehadap kualitas layanan jasa pada SMPN 1 Sukodono Lumajang. Pada variabel persepsi terhadap kualitas layanan jasa pada sekolah, terdapat indikator-indikator yang terdiri dari: bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati, layanan bagi pelanggan, kepemimpinan, pembelajaran efektif, dan standar-standar. Wali murid mempersepsikan bahwa kualitas layanan jasa pada sekolah sangat baik dengan nilai 156,46, siswa mempersepsikan baik dengan nilai 146,71 dan guru mempersepsikan baik dengan nilai 127,55. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan persepsi wali murid, siswa dan guru dapat diketahui bahwa sekolah tersebut memiliki kualitas yang baik dengan nilai 143,58. Kepala SMPN 1 Sukodono Lumajang hendaknya dalam usaha peningkatan kualitas layanan pendidikan diharapkan untuk melakukan suatu evaluasi secara mendalam atas penerapan Sistem RSBI yang telah dilakukan. Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi tambahan untuk jurusan dalam pengembangan perkuliahan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui penerapan program RSBI. Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menanbahkan variabel-variabel lain dan lebih mengulas tentang standar-standar RSBI yang berdasarkan atau memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Upaya peningkatan pembelajaran IPA kelas V melalui model pembelajaran snowball throwing di SDI Al Hikmah Gadang Malang / Indra Wahyuny

 

Kata kunci: IPA, Snowball Throwing Hasil observasi awal di SDI Al Hikmah Gadang Malang ditemukan bahwa pembelajaran IPA kelas V materi Organ Pencernaan Manusia, guru masih menggunakan metode konvensional dan tidak pernah menggunakan model pembelajaran yang lain. Rata-rata hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 60, 3 dan masih terdapat 9 siswa (60%) belum mencapai ketuntasan beljar individu yang telah ditetapkan yaitu 65. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada pembelajaran IPA di kelas V SDI Al Hikmah Gadang, 2) keaktifan siswa selama penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada pembelajaran IPA di kelas V SDI Al Hikmah Gadang, 3) hasil belajar IPA siswa kelas V SDI Al Hikmah Gadang melalui penerapan model pembelajaran Snowball Throwing, 4) tanggapan siswa kelas V SDI Al Hikmah Gadang terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA melalui model pembelajaran Snowball Throwing. Penelitian ini dilakukan di SDI Al Hikmah Gadang dengan subjek siswa kelas V sebanyak 15 siswa yang terdiri dari 9 siswi dan 6 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart, meliputi 4 tahap yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan dan pengamatan, 3) observasi, dan refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dimana dalam satu siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada pembelajaran IPA kelas V SDI Al Hikmah Gadang Malang berlangsung efektif. Dari hasil penelitian juga didapatkan bahwa penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing dalam pembelajaran IPA kelas V di SDI Al Hikmah Gadang dapat meningkatkan keaktifan siswa selama pembelajaran IPA berlangsung, selain itu penerapan model Pembelajaran Snowball Throwing mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pernyataan ini terbukti dari rata-rata hasil belajar sebelumnya yaitu 72,3 dengan ketuntasan 66% pada siklus I meningkat menjadi 82,0 dengan ketuntasan 80% pada siklus II. Tanggapan siswa tentang penerapan model pembelajaran Snowball Throwingpun positif, yaitu mereka merasa senang dalam mengikuti pembelajaran dan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi peneliti lain yang melakukan model pembelajaran ini, agar dalam membentuk kelompok tidak terlalu banyak anggota kelompoknya, agar pelaksanaan pembelajaran obtimal.

Peningkatan keterampilan menyimak dongeng melalui penggunaan wayang kartun dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas II SDN Kauman 3 Malang / Suryati

 

Kata kunci: peningkatan, keterampilan menyimak, wayang kartun. Hasil tes awal penelitian dalam pemahaman mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II semester II diketahui bahwa keterampilan menyimak dongeng siswa kelas II SDN Kauman 3 Malang menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyimak dongeng masih rendah yang disebabkan oleh metode dan teknik yang digunakan guru kurang tepat serta tidak ada media yang digunakan dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng digunakan media yang menarik dan dekat dengan dunia siswa yaitu wayang kartun. Tujuan penelitian ini, mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan menggunakan wayang kartun dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ,mendeskripsikan peningkatan keterampilan menyimak dongeng dengan menggunakan wayang kartun dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas II SDN Kauman 3 Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seorang guru kelas II dan seluruh siswa kelas II SDN Kauman 3 Malang, dengan prosedur (1) Perencanaan, (2) Tindakan dan Observasi (3) Refleksi, (4) Perbaikan Rencana. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan wayang kartun meningkatkan antusias siswa dalam belajar dan memahami materi baik ketika menyimak maupun saat menceritakan kembali serta tertarik mengikuti pembelajaran. Peningkatan rata-rata keterampilan menyimak dongeng dari siklus I dengan nilai 73,19 ke siklus II dengan nilai 79,66 sebesar 6,47%. Sedangkan peningkatan rata-rata menceritakan kembali secara lisan dari siklus I dengan nilai 73,4 ke siklus II dengan nilai 81,81 sebesar 8,41% serta peningkatan hasil belajar dari sebelum tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas sebelum tindakan 62,29 meningkat menjadi 69,97 dan pada siklus II meningkat dengan nilai 82,42, persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari sebelum tindakan ke siklus I sebesar 7,68% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 12,45%, sehingga persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus II sebesar 20,13 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pelaksanaan pembelajaran dengan wayang kartun dengan langkah menunjukkan wayang katun, tanya jawab, memodelkan, siswa menirukan. Penggunaan wayang kartun dapat meningkatkan hasil belajar siswa meliputi ketrampilan menyimak, menceritakan kembali dan penguasaan materi. Saran kepada guru agar menggunakan wayang kartun dalam pembelajaran menyimak dongeng.

Pengembangan bahan ajar digital dalam bentuk website pada materi struktur atom untuk siswa SMA kelas X semester 1 / Riki Yakob

 

Kata kunci : Kimia, media pembelajaran, website. Salah satu materi kimia adalah struktur atom. Dalam materi ini terdapat konsep-konsep yang bersifat abstrak, misalnya konsep model atom. Konsep ini tidak dapat dipahami oleh siswa dengan benar, hanya melalui penjelasan secara tertulis tetapi harus disampaikan melalui gambar maupun animasi. Untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan media yang mampu menampilkan konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkrit. Adapun tujuan penelitian ini adalah mewujudkan media pembelajaran atau bahan ajar digital dalam bentuk website untuk materi struktur atom yang sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), disamping itu juga untuk mengetahui kelayakan media yang dikembangkan. Pengembangan media pembelajaran kimia ini menggunakan pengembangan Model 4D Tutorial dari Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define (pendefinisian) dengan melakukan analisis awal, analisis siswa, analisis konsep, dan perumusan tujuan; Design (perancangan) dengan melakukan penyusunan tes, pemilihan format, dan desain awal media; Develop (pengembangan) dengan melakukan validasi, revisi, uji coba, revisi kedua; dan Disseminate (penyebaran) dengan mengunakan media dalam pembelajaran sebenarnya. Tahap Disseminate belum dilakukan karena keterbatasan waktu penelitian. Validasi produk media yang dihasilkan dilakukan oleh 2 orang dosen kimia dan 2 orang guru kimia yang berkompeten dalam media dan materi struktur atom. Setelah dilakukan validasi, media kemudian di revisi dan dilanjutkan dengan uji coba terbatas kepada 5 orang siswa. Instrumen penelitian menggunakan angket (skala linkert) yang menggambarkan data kuantitatif dan kualitatif. Media pembelajaran yang telah di revisi, kemudian dimasukkan kedalam blog dalam bentuk website dengan alamat http//:www.kimia.totalcc.co.cc. Dalam media pembalajaran ini ada tiga bagian utama yaitu home, materi dan soal latihan. Dalam tampilan materi secara garis besar dibedakan menjadi perkembangan teori atom, 3 partikel penyusun atom, konfigurasi elektron, nomor massa dan nomor atom, dan latihan soal. Hasil validasi menunjukkan bahwa persentase rata-rata kelayakan sebesar 83.4% dengan kriteria layak sebagai media pembelajaran. Setelah dilakukan revisi pada media dan dilakukan uji coba terbatas kepada 5 siswa diperoleh persentase sebesar 84% dengan kriteria layak. Namun uji coba(tahap Disseminate) belum dilakukan karena keterbatasan waktu penelitian.

Masalah-masalah pembelajaran tematik tema lingkungan di kelas II SDN Purwosari II Pasuruan / Mar'atus Sholichah

 

Kata kunci: masalah pembelajaran tematik, tema lingkungan, siswa SD Kelas II Pada penelitian yang penulis lakukan di kelas II SDN Purwosari II Pasuruan tentang pembelajaran tematik yang bertemakan lingkungan, ternyata guru masih mengalami kesulitan mulai dari penyusunan silabus, penyusunan RPP, implementasi pembelajaran, hingga penilaian tematik tema lingkungan. Oleh karena itu permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) apa saja masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam menganalisis kurikulum menjadi silabus tematik yang bertemakan lingkungan?, 2) apa saja masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam menyusun RPP tematik yang bertemakan lingkungan?, 3) apa saja masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik yang bertemakan lingkungan?, 4) apa saja masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam menentukan penilaian pembelajaran tematik yang bertemakan lingkungan?, dan bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam menganalisis kurikulum menjadi silabus tematik yang bertemakan lingkungan, 2) untuk mendeskripsikan masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam menyusun RPP tematik yang bertemakan lingkungan, 3) untuk mendeskripsikan masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik yang bertemakan lingkungan, 4) untuk mendeskripsikan masalah yang dialami guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan dalam menentukan penilaian pembelajaran tematik yang bertemakan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini berupa angket, observasi, wawancara, dokumentasi untuk mengkaji permasalahan dalam pembelajaran tematik di kelas II SDN Purwosari II Pasuruan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa guru kelas II SDN Purwosari II Pasuruan mengalami permasalahan dalam hal menganalisis kurikulum menjadi silabus tematik yang bertemakan lingkungan, menyusun RPP tematik yang bertemakan lingkungan, implementasi pembelajaran tematik yang bertema lingkungan, penilaian tematik yang bertemakan lingkungan. Bertitik tolak dari hasil penemuan, maka disarankan agar Sekolah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan mengusahakan pelatihan-pelatihan tentang pembelajaran tematik. Selain itu guru kelas II harus berpedoman pada: ketentuan-ketentuan pembelajaran tematik, silabus tematik, program pelaksanaan, tingkat perkembangan siswa, dan lingkungan sekitar siswa.

Peningkatan kemampuan memahami teks bacaan melalui model kooperatif two stay two stray (TSTS) pada siswa kelas IV MI Hasanuddin Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang / Ana Nurhasanah

 

Kata kunci: memahami teks bacaan, model kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS). Hasil wawancara dengan guru kelas IV MI Hasanuddin Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang, peneliti menyimpulkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi membaca teks bacaan belum maksimal. Hal itu disebabkan karena kurang minatnya siswa dalam kegiatan membaca. Selain itu, guru menyampaikan pembelajaran membaca secara monoton, yaitu siswa hanya disuruh membaca teks bacaan dalam hati kemudian guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan teks bacaan secara klasikal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran memahami teks bacaan menggunakan model kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS), yaitu suatu model pembelajaran menggunakan sistem kerja kelompok. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas IV MI Hasanuddin Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Tahap dalam penelitian ini (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi dan Penilaian, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) wawancara, (2) pedoman observasi guru dan siswa, (3) soal tes, dan (4) dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan secara sistematis dan utuh yang meliputi 5 tahap model Two Stay Two Stray (TSTS), dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tentang memahami teks bacaan setelah menggunakan model kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) dapat mengoptimalkan pembelajaran di kelas salah satunya meningkatkan keaktifan siswa. Dengan pembelajaran melalui model kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari pra tindakan, siklus I ke siklus II sebesar 66,09 meningkat menjadi 70,29 meningkat menjadi 81,43. Persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 4,20%, persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II sebesar 11,14%, dan persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus II sebesar 15,34%. Dari hasil penelitian ini, diharapkan guru dapat meningkatkan pembelajaran memahami teks bacaan dengan kreatifitas penerapan model pembelajaran. Dalam penerapan model Two Stay Two Stray (TSTS) guru harus benar-benar mengelola kelas dengan baik dan menjelaskan lebih terperinci langkah-langkah pembelajarannya agar pelaksanaan pembelajaran dapat terorganisasi dengan baik.

Penggunaan media kartu bilangan untuk meningkatkan kemampuan menentukan kelipatan suatu bilangan kelas IV SDN Satriyan 03 Kanigoro Blitar / Wahyu Tri Setiani

 

Kata Kunci : Kemampuan, Media, Kartu Bilangan, Kelipatan, Bilangan Guru merupakan faktor utama yang memiliki peranan sebagai pengelola dan pengembang pembelajaran yang di tuntut aktif dan kreatif dalam mengajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi awal ditemukan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Satriyan 03 Kanigoro Blitar yang diperoleh 55% dari 20 siswa nilai hasil belajarnya masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mendeskripsikan gambaran tentang penggunaan media kartu bilangan siswa kelas IV SDN Satriyan 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. (2) Untuk mendeskripsikan gambaran tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan kartu bilangan pada siswa kelas IV SDN Satriyan 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. (3) Untuk mengetahui peningkatan kemampuan menentukan kelipatan suatu bilangan dengan penggunaan media kartu bilangan pada siswa kelas IV SDN Satriyan 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), melalui empat tahapan: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga kali pertemuan. Dalam satu kali pertemuan meliputi: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Satriyan 03 Kanigoro Blitar. Subyek penelitian ini siswa kelas IV, sebanyak 20 orang siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan meliputi lembar tes soal,. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data kualitatif, yang meliputi mereduksi data, memaparkan data, dan menyimpulkan data. Hasil penelitian pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran kartu bilangan ini dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas IV SDN Satriyan 03 Kanigoro Blitar. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil formatif yang meningkat yaitu dari pra tindakan mencapai rata-rata 55%, pada siklus I ke 51.7% pada siklus II. Pada siklus II ini sudah mencapai ketuntasan belajar diatas 70%, bahkan mencapai 100%, sehingga kegiatan penelitian dihentikan. Dampak dari penggunaan media kartu bilangan ini dapat meningkatkan tingkat aktivitas proses belajar siswa, hasil belajar siswa, standar nilai ketuntasan belajar siswa, dan cara menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media kartu bilangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk dapat menggunakan media benda kongkret pada saat menanamkan konsep materi KPK. Bagi siswa agar lebih meningkatkan aktivitas dalam belajar. Bagi peneliti selanjutnya dapat memberi informasi, wawasan serta dapat meningkatkan lagi hasil dari penelitian ini, dan pada penelitian tentang media kartu bilangan dapat terlaksana lebih sempurna lagi.

Pengerjaan soal cerita lima langkah untuk meningkatkan hasil belajar penjumlahan dan pengurangan pecahan siswa kelas V SDN Sumberkembar 02 Blitar / Erik Dwi Widowati

 

Kata Kunci : Soal cerita, pecahan, hasil belajar Pada kenyataan di lapangan, siswa kelas V SDN Sumberkembar 02 Kabupaten Blitar memperoleh nilai di bawah KKM. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimanakah keterlaksanaan penerapan pengerjaan soal cerita lima langkah untuk meningkatkan hasil belajar penjumlahan dan pengurangan pecahan siswa kelas V SDN Sumberkembar 02 Blitar? 2) Apakah ada peningkatan hasil belajar penjumlahan dan pengurangan pecahan kelas V SDN Sumberkembar 02 Blitar melalui penerapan pengerjaan soal cerita lima langkah? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran penjumlahan dan pengurangan pecahan melalui penerapan pengerjaan soal cerita lima langkah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumberkembar 02 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 47,25, siklus I 54,29, dan siklus II 79,83. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 62,5%, siklus I sebesar 37,65%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pengerjaan soal cerita lima langkah dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas V SDN Sumberkembar 02 Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model quantum learning di kelas IV SDN Mangunan 01 Kabupaten Blitar / Yuli Ariningsih

 

Kata Kunci: hasil belajar, IPS, Quantum Learning. Hasil observasi pratindakan yang telah dilakukan di SDN Mangunan 01 pada mata pelajaran IPS, diperoleh data bahwa siswa belum menguasai materi. Hal ini ditandai dengan hasil belajar siswa pada tes akhir pembelajaran hanya 37% siswa sudah mencapai nilai diatas KKM dan 63% siswa masih dibawah KKM. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan suatu perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran model Quantum Learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model Quantum Learning pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Mangunan 01 kabupaten Blitar dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Mangunan 01 setelah menggunakan model Quantum Learning. Model Quantum Learning merupakan model yang digunakan dalam pembelajaran IPS yang dapat membawa siswa belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Siswa akan mendapatkan pengalaman belajar saat pembelajaran berlangsung. Siswa akan lebih aktif dalam berinteraksi dengan situasi belajarnya. Pembelajaran IPS di kelas IV SDN Mangunan 01 melalui langkah-langkah TANDUR yang ada dalam Quantum Learning. Pembelajaran diawali dengan mempersiapkan dan merencanakan materi, selanjutnya menumbuhkan minat belajar siswa. Siswa kemudian diajak melakukan pengamatan secara langsung sehingga siswa alami melakukan sendiri. Langkah berikutnya siswa memberikan nama atau mendefinisikan sebuah konsep dari apa yang sudah mereka amati, dan mendemontrasikan hasil pengamatan yang diperoleh. Dilanjutkan ulangi dengan memberikan tes akhir sebagai hasil belajar yang akan digunakan untuk mengukur pemahaman siswa, dan yang terakhir rayakan keberhasilan siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Setiap siklus dengan dua kali pertemuan yang masing-masing terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas IV SDN Mangunan 01 kabupaten Blitar. Data yang diperoleh berupa hasil tes dan lembar observasi (aktivitas siswa dan guru di dalam kegiatan pembelajaran). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh peningkatan rata-rata persentase hasil belajar siswa di kelas IV dari sebelum siklus adalah 37% mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 70%, sehingga terjadi peningkatan sebesar 33%. Sedangkan siklus II mencapai 89%, hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar sebesar 19%. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penerapan model Quantum Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Mangunan 01 kabupaten Blitar.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan menggunakan surat kabar pada siswa kelas V-C SD Negeri Bareng 3 Kota Malang / Lia Shinta Asmawati

 

Kata Kunci : Membaca Pemahaman, Surat Kabar, SD. Hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V-C SD Negeri Bareng 3 rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil penilaian membaca yang dilaksanakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa belum mampu menjawab pertanyaan tanpa penjelasan terlebih dahulu dari guru; (2) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (3) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan; (4) Media pembelajaran hanya terpaku bacaan yang tersedia pada buku pelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh guru terutama ketika pembelajaran membaca pemahaman terkadang membuat siswa mengalami kesulitan dalam menangkap materi yang disampaikan. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan media. Hal ini menyebabkan siswa lebih sering berfikir secara abstrak. Untuk itu, perlu adanya media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa yaitu surat kabar. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penggunaan surat kabar untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 Malang dan (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 setelah menggunakan surat kabar. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V-C SD Negeri Bareng 3 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Menggunakan empat cara dalam pengumulan data, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi. Analisi data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Penerapan penggunaan surat kabar pada pembelajaran membaca pemahaman dimulai dengan setiap kelompok dipersilakan memilih salah satu bacaan yang terdapat pada surat kabar dan bersama-sama mendiskusikan tentang isi bacaan tersebut. Pada kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran dan siswa melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman. Siswa merasa sangat senang dan aktif ketika melaksanakan pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan surat kabar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan surat kabar dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas V-C SD Negeri Bareng 3 Malang. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kemampuan awal siswa dalam membaca pemahaman adalah 33,06 dengan ketuntasan klasikal sebesar 8,33%. Setelah dilaksanakan siklus I, nilai rata-rata kemampuan membaca pemahaman siswa meningkat menjadi 63,75 dengan ketuntasan klasikal sebesar 47,22%. Selanjutnya pada siklus II, nilai rata-rata kemampuan membaca pemahaman siswa kembali mengalami peningkatan menjadi 83,06 dengan ketuntasan klasikal sebesar 88,89%. Saran yang diberikan hendaknya guru dapat mengembangkan penggunaan surat kabar dengan lebih bervariasi, bagi peneliti lain dapat disajikan sebagai dasar pertimbangan dalam melakukan penelitian lebih lanjut dan sejenis dengan materi cakupan yang lebih luas, siswa diharapkan untuk meningkatkan kegemaran membaca agar semakin terlatih dalam memahami isi bacaan.

Peningkatan hasil belajar operasi hitung satuan waktu dengan pembelajaran matematika realistik Indonesia (PMRI) di kelas V SDN Kebonsari 02 Kademangan / Aula Fatayati Adha

 

Kata kunci: hasil belajar, matematika, model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia Pembelajaran Matematika di sekolah dasar membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Hal ini dikarenakan pelajaran Matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami konsep matematika, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran Matematika di SDN Kebonsari 02 Kademangan Kabupaten Blitar diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran yaitu siswa belum memahami notasi waktu 24 jam dan kurang mampu menyelesaikan operasi hitung satuan waktu. Pembelajaran Matematika pada pra tindakan, yang dilaksanakan di kelas V SDN Kebonsari 02 Kademangan Kabupaten Blitar pada materi satuan waktu menggunakan metode konvensional dan monoton, sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa masih banyak yang belum memenuhi standar yang ditetapkan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah penerapan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dan ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan PMRI dan peningkatan hasil belajar matematika pada siswa kelas V pada bahasan waktu melalui model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) di SDN Kebonsari 02 Kademangan. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah peneliti dan siswa kelas V SDN Kebonsari 02 Kademangan Kabupaten Blitar dengan jumlah 15 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi proses belajar mengajar, angket respon siswa terhadap pembelajaran dengan PMRI, dan tes. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada setiap siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V dalam pengerjaan hitung campuran melalui model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut diketahui dari nilai tes siswa, pada pra tindakan siswa yang mencapai KKM 33%, pada siklus I 75,33%, dan pada siklus II 100%. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada siklus I kriteria dominan yang muncul cukup, dan pada siklus II baik, yang teramati pada kegiatan siswa sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI) yaitu: (1) memahami dan menjelaskan masalah kontekstual, (2) menyelesaikan masalah kontekstual (3) mendiskusikan masalah kontekstual (4) melakukan refleksi, dan (5) Menyimpulkan.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui problem based learning (PBL) pada siswa kelas V SDN Garum 03 Kabupaten Blitar / Ika Dian Rahmawati

 

Kata kunci: hasil belajar, pkn, problem based learning (pbl) Penelitian ini bertolak dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan peneliti sehingga ditemukan adanya permasalahan mengenai rendahnya hasil belajar dalam mata pelajaran PKn di SDN Garum 03 Kabupaten Blitar khususnya kelas V. Salah satunya dapat dilihat dari LKS (Lembar Kerja Siswa) yang biasa digunakan siswa sebagai penuntun kegiatan untuk menguji konsep dalam buku atau informasi yang disampaikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dengan menerapkan Problem Based Learning (PBL) dalam mata pelajaran PKn di SDN Garum 03 Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus. Subyek dari penelitian ini adalah kelas V di SDN garum 03 Kabupaten Blitar dengan jumlah 21 siswa. Setiap siklus PTK terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar wawancara, lembar laporan, catatan lapangan, soal tes, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase ketercapaian PBL dan hasil belajar siswa (ranah kognitif). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase pada hasil belajar setelah tindakan PBL dilakukan dari siklus I sampai siklus II. Persentase pada hasil karya siswa (laporan) mengalami peningkatan sebesar 7,95% dari siklus I sebesar 75,05% ke siklus II sebesar 83%. Hasil belajar siswa untuk ranah kognitif juga mengalami peningkatan sebesar 10,47%. Persentase hasil belajar pada siklus I sebesar 80% dan pada siklus II sebesar 90,47%. Daya serap klasikal siswa juga mengalami peningkatan sebesar 2,66%. Pada siklus I daya serap klasikal sebesar 84% dan siklus II sebesar 86,66%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Garum 03 Kabupaten Blitar.

Penggunaan kartu kata dan gambar untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Banjarimbo 02 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan / Herlina

 

Kata kunci: membaca permulaan, kartu kata, gambar, SD Pendidikan di sekolah dasar bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan dasar yang sangat berguna bagi kelanjutan studi serta dalam kehidupan di masyarakat. Agar terwujud tujuan tersebut, maka ditetapkan beberapa mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa SD. Mata pelajaran di SD antara lain bahasa Indonesia dan mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil observasi di kelas I SDN Banjarimbo 02 Lumbang menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) penggunaan kartu kata dan gambar untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Banjarimbo 02 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan, (2) penggunaan kartu kata dan gambar dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Banjarimbo 02 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I sebanyak 20 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi, wawancara, dan tes. Teknik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kartu kata dan gambar untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Banjarimbo 02 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan dilakukan dengan langkah-langkah: (1) pembelajaran oleh guru, (2) pembagian kelompok belajar, (3) pelaksanaan belajar membaca bersama teman dalam kelompok dengan bimbingan guru, (4) pemberian nilai, dan (5) refleksi. Penggunaan kartu kata dan gambar dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Banjarimbo 02 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan dapat dari nilai rata-rata tes kemampuan membaca permulaan siswa, yaitu pada siklus I adalah 65,25. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata tes kemampuan membaca siswa meningkat menjadi 86,60. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: sekolah dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia hendaknya melengkapi media dan buku-buku yang sesuai dengan kebutuhan siswa, baik buku pelajaran maupun bacaan lain, sehingga dapat menunjang kelancaran siswa dalam membaca. Guru dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan media gambar dan suku kata hendaknya memperhatikan kemampuan membaca setiap siswa, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam membedakan setiap huruf waktu membaca dan membacanya menjadi lebih lancar. Peneliti selanjutnya dalam mengadakan penelitian hendaknya meneliti hal lain yang berkaitan dengan media pembelajaran bahasa Indonesia selain menggunakan media gambar dan suku kata untuk membaca permulaan.

Penerapan model pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Oro-oro Dowo Malang / Azaika Hafiidyaningtyas

 

Kata Kunci: Model Snowball Throwing, aktivitas belajar, dan hasil belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IV SDN Oro-oro Dowo Malang, peneliti menyimpulkan bahwa penguasaan konsep siswa terhadap materi perkembangan teknologi transportasi darat, air, dan udara, kelebihan dan kekurangan serta pengalaman menggunakannya belum maksimal. Selain itu siswa cenderung merasa bosan bila pembelajaran hanya menggunakan metode konvensional. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran perkembangan teknologi transportasi melalui model snowball throwing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan MC.Taggart, sedangkan jenis penelitiannya adalah kualitatif. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas IV SDN Oro-oro Dowo Malang. Tahap dalam penelitian ini (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Observasi dan Penilaian, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan melalui model snowball throwing pada kelas IV SDN Oro-oro Dowo Malang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada perkembangan teknologi transportasi darat, udara, dan air serta pengalaman menggunakannya. Melalui model snowball throwing siswa dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya sehingga mampu mencapai ketuntasan belajar yang ditentukan. Siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal sebanyak 34 siswa, sedangkan 4 siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tentang perkembangan teknologi transportasi darat, udara, dan air serta pengalaman menggunakannya setelah menggunakan model snowball throwing dapat mengoptimalkan semua komponen dalam pembelajaran. Dengan pembelajaran melalui model tersebut, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan, siklus I ke siklus II. Rata-rata kelas pada pra tindakan yaitu 64,55, sedangkan rata-rata kelas pada siklus I yaitu 81,60 dan rata-rata kelas pada siklus II yaitu 92,44. Terdapat peningkatan antara pra tindakan dan tindakan siklus I sebanyak 17,05%. Antara rata-rata siklus I dan siklus II juga ada peningkatan sebanyak 10,84%. Jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat 32%. Dari hasil penelitian ini, diharapkan guru dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mencari alternatif penyelesaian dari berbagai permasalahan melalui model snowball throwing.

Penerapan metode drill untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman puisi bagi siswa kelas V SDN Kayoman Purwosari Pasuruan / Anik Wijiati

 

Kata kunci : Metode Drill, Pemahaman Puisi. Salah satu tujuan pembelajaran apresiasi puisi adalah siswa mampu menikmati dan memanfaatkan puisi untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Guna mencapai tujuan tersebut, pembelajaran puisi perlu disesuaikan dengan psikologi tingkat perkembangan siswa, pemilihan bahan pembelajaran yang relevan dengan tingkat perkembangan siswa, pemilihan bahan pembelajaran puisi perlu disesuaikan dengan kriteria keterbacaan puisi dan kesesuaian dengan usia dan lingkungan siswa. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan metode drill untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca pemahaman puisi di kelas V SDN Kayoman Purwosari Pasuruan, serta untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami puisi melalui pembelajaran dengan Metode Drill. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kayoman Purwosari Pasuruan yang berjumlah 25 yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar observasi, soal evaluasi, pedoman wawancara, catatan lapangan serta rencana pelaksanaan tindakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Metode Drill yang berlangsung secara efektif dan seksama dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai hasil belajar siswa yang pada pra tindakan rata-rata kelas 62,9, meningkat menjadi 64,8 pada siklus I, dan mengalami peningkatan kembali pada siklus II yaitu sebesar 78,4. . Dari hasil yang ada dapat disimpulkan bahwa Metode Drill dapat diterapkan guna untuk meningkatkan hasil prestasi belajar siswa, meskipun masih terdapat kelemahan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru menerapkan Metode Drill, sehingga prestasi belajar anak didik akan ikut meningkat sesuai dengan apa yang diharapkan.

Penerapan teknik learning by doing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Purwantoro 2 Kota Malang / Eni Widiyati

 

Kata kunci: teknik Learning By Doing, aktivitas, hasil belajar, IPS SD. Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman tentang materi-materi yang terdapat didalam konsep IPS. Hal ini disebabkan karena materi yang ada pada mata pelajran IPS merupakan dasar untuk diterapakan dalam kehidupan di lingkungan sosialnya. Sementara pada observasi yang dilakukan peneliti di SDN Purwantoro 2 Kota Malang, ditemukan bahwa proses pembelajarannya masih didominasi siswa dengan membaca dan menghafal saja. Pada proses pembelajaran siswa cenderung ramai sendiri, tidak adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Hasil belajar yang diperoleh siswa pun masih belum mencapai KKM yang ditentukan. Penenlitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran teknik Learning By Doing pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Purwantoro II Kota Malang; (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Purwantoro II Kota Malang. (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Purwantoro II Kota Malang. Kegiatan belajar dengan berbuat akan mengaktifkan siswa dan pada akhirnya hasil belajar siswa akan meningkat. Pembelajaran dengan menggunakan teknik Learning By Doing adalah suatu pembelajaran yang kegiatannya tidak hanya mendengar dan membaca melainkan harus aktif membuat ringkasan, gambar maupun membuat adegan dengan benda-benda konkrit atau sambil berpraktek. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas model spiral dari Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Purwantoro 2 Kota Malang, pada semeser genap tahun ajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai aktivitas siswa pada siklus I sebesar 57,36 % dan pada siklus II menjadi 79,57, peningkatan disini mencapai 22,21 %. Sementara untuk hasil belajar siswa, ketuntasan pada siklus I sebesar 64% dan ketuntasan pada siklus II meningkat menjadi 87,3 %, peningkatan disini sebesar 20,62 %. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru menggunakan teknik Learning By Doing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dan penelitian ini dapat dijadikan langkah awal untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa mengahafal semakin berkurang diganti dengan berbuat dan hasilnya bisa diaplikasikan siswa dalam kehidupan.

Hubungan antara inteligensi dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 10 Malang / Fandy Fitrianto Kurniawan

 

Kata kunci : Inteligensi, kebiasaan belajar, prestasi belajar Prestasi Belajar sampai saat ini menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasian siswa dalam proses belajar. Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan inteligensi. Semakin tinggi tingkat inteligensi seseorang maka akan semakin tinggi prestasi belajar yang dicapai. Pada dasarnya inteligensi mempunyai hubungan yang sangat besar dengan keberhasilan seseorang dalam mempelajari sesuatu. Di samping inteligensi, kebiasaaan belajar juga mempunyai hubungan terhadap prestasi belajar siswa karena kebiasaan belajar merupakan tolak ukur seseorang untuk memperoleh prestasi yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan setiap variabel penelitian dan menemukan hubungan antara tiap variabel bebas dengan variabel terikat, serta menemukan hubungan secara bersama-sama antara inteligensi dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 10 Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif dan korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 10 Malang dengan jumlah sampel sebanyak 75 orang. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Cluster Random Sampling. Teknik pengumpulan data berupa kuesioner dan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik regresi berganda. Berdasarkan hasil analisi diperoleh penghitungan sebagai berikut: (a) Sangat banyak siswa (76%) kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang yang memiliki inteligensi superior, (b) Banyak siswa (65,33%) kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang yang memiliki kebiasaan belajar yang baik, (c) Sangat banyak siswa (85,33%) kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang yang memiliki prestasi belajar yang baik, (d) Ada hubungan antara inteligensi dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang dengan nilai rx =2,167 ; (e) Ada hubungan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang dengan nilai rx = 5,457; (f) Ada hubungan antara inteligensi dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 10 Malang dengan sumbangan efektif 64% dan sumbangan relatifnya 25, 280. Berdasarkan hasil penelitian ini diajukan beberapa saran, yaitu : (1) Bagi konselor diharapkan dapat lebih meningkatkan perannya dalam membantu siswa dalam mengatasi permasalahan yang terkait dengan prestasi belajar yang dicapainya. (2) Bagi guru dan staf sekolah juga diharapkan dapat membantu siswa dalam memperbaiki kebiasaan belajar sehingga prestasi yang diperoleh siswa memuaskan. (3) Bagi peneliti lain yang tertarik dengan penelitian yang berhubungan dengan inteligensi dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar, untuk meneliti sekolah yang memiliki karakteristik agak berbeda dengan siswa SMA, misalnya pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) dimana dalam sekolah tersebut, sebagian besar siswa memiliki karakteristik agak berbeda dengan siswa SMA seperti dalam hal mata pelajaran. Seperti yang kita ketahui bahwa mata pelajaran antara SMA dengan SMK dan MAN banyak perbedaanya.

Penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang / Rita Dwi Anggraini

 

Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran make a match Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang, ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn materi keanekaragaman budaya daerah setempat, yaitu: (1) pembelajaran PKn masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab,penugasan; (2) kurangnya kemampuan siswa untuk bertanya tentang materi yang dipelajari; (3)ketika guru memberikan soal-soal latihan terdapat siswa yang duduk-duduk sambil tiduran tampak kurang semangat dalam belajar ; (4) nilai yang diperoleh siswa masih rendah. Untuk itu perlu diadakan pembahasan dalam hal model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang sesuai adalah make a match yaitu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam menemukan kartu jawaban maupun soal yang dipegang pasangannya dengan batas waktu tertentu secara cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match pada mata pelajaran PKn kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang; (2) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan hasil belajar Pkn siswa kelasIII SDN Bareng 5kota Malang; (3) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan aktivitas siswa kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemis & Taggart. Langkah Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan & observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang dengan jumlah siswa 18 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang. Perolehan rata-rata hasil belajar siswa meningkat, dari rata-rata pretes ke siklus I sebesar 39% dari siklus I ke siklus II sebesar 31% dengan ketuntasan belajar 89%. Aktivitas belajar siswa juga meningkat dari 54 pada siklus I menjadi 78 pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 44%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa kelas III SDN Bareng 5 Kota Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menerapkan model pembelajaran make a match pada materi lain yang sesuai.

Pengaruh kualitas layanan koperasi terhadap partisipasi anggota KPRI "MES" Bantur Kecamatan Bantur Kabupaten Malang / Rara Ajeng D.M.Y.

 

Kata Kunci: Kualitas Layanan, Partisipasi Anggota Koperasi sebagai suatu gerakan ekonomi rakyat mempunyai peranan yang besar bagi bangsa Indonesia dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, terutama bagi masyarakat yang menjadi anggota koperasi yang secara otomatis memiliki kepentingan untuk memanfaatkan koperasi. Keikutsertaan anggota dalam memanfaatkan koperasi sangat dibutuhkan oleh koperasi, karena partisipasi anggota mempunyai peran yang cukup besar terhadap pengembangan dan pertumbuhan koperasi.Pelayanan yang baik diharapkan akan dapat meningkatkan partisipasi anggota yang berperan sebagai pemilik dan sebagai pelanggan koperasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas layanan terhadap partsipasi anggota KPRI MES Kecamatan Bantur Kabupaten Malang, Untuk mengetahui bagaimana kualitas layanan kredit pada unit usaha simpan pinjam KPRI MES Kecamatan Bantur Kabupaten Malang, dan untuk mengetahui tingkat partisipasi anggota koperasi dalam bertransaksi pada unit usaha simpan pinjam KPRI MES Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan di KPRI MES Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Populasi dalam penelitian ini sebesar 355 anggota dengan menggunakan teknik pengambilan sampel dan diambil sampel 20% sehingga didapat 71 responden. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah kualitas layanan (X), sedangkan variabel terikatnya adalah partisipasi anggota (Y). Untuk mengetahui besarnya kualitas layanan dan besarnya partisipasi anggota maka digunakan analisis deskriptif dan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara kualitas layanan dengan partisipasi anggota maka digunakan analisis regresi sederhana. Hasil diperoleh dari analisis dengan bantuan SPSS 16.00 for windows.Dari analisis deskriptif diketahui bahwa 54 responden (76%) menyatakan bahwa tingkat kualitas layanan koperasi adalah baik. Sedangkan partisipasi anggota adalah tinggi yang ditunjukkan oleh 35 responden (49%) menjawab partisipasi anggota adalah tinggi.Untuk pengaruh antara kualitas layanan terhadap partisipasi anggota diperoleh besarnya nilai t = 2.708 dengan taraf kepercayaan 5% dan nilai signifikansi t= 0.009.Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara kualitas layanan terhadap partisipasi anggota. 1. Dari hasil penelitian maka disarankan: (1) Mengatur kembali sistem pengawasan terhadap pemberian pinjaman pada anggota dengan benar- benar memperhatikan kondisi ekonomi anggota. (2) Meningkatkan kinerja pengurus dalam mengelola bidang usaha simpan pinjam KPRI. (3) Mempertahankan dan meningkatkan kualitas karyawan. (4) Partisipasi anggota yang relatif sudah baik hendaknya harus lebih ditingkatkan kembali.(5) Bagi peneliti lanjutan , penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian selanjutnya dengan Variabel dan subyek yang lebih luas.

Penerapan model pembelajaran kooperatif talking stick untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas 3 SDN Tanjungrejo 5 Malang / B. Shinta Marga Astarina

 

Kata Kunci : PKn SD, Model talking stick , hasil belajar Berdasarkan hasil observasi awal pada pembelajaran PKn di kelas 3 A SDN Tanjungrejo 5 Malang, siswa seringkali terlihat malas dan tidak antusias dalam pembelajaran karena dalam pembelajaran guru belum menerapkan model pembelajaran yang inovatif dan menarik siswa untuk semangat belajar. Hasil belajar siswa pada pratindakan rata-rata 5,9 dengan persentase ketuntasan 34% belum mencapai Standar Ketuntasan Minimal yang ditetapkan yaitu 6,0. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif talking stick dalam pembelajaran PKn materi mengenal kekhasan bangsa Indonesia seperti kebhinekaan, kekayaan alam, dan keramahtamahan di kelas 3A SDN Tanjungrejo 5 Malang (2) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif talking stick dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi mengenal kekhasan bangsa Indonesia seperti kebhinekaan, kekayaan alam, dan keramahtamahan pada siswa kelas 3A SDN Tanjungrejo 5 Malang. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif serta bentuk penelitian kolaboratif, dimana peneliti bertindak sebagai guru, guru mata pelajaran bertindak sebagai pengamat (observer). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas 3 SDN Tanjungrejo 5 Malang. Penelitian tindakan kelas ini diawali dengan tahap perencanaantindakan(planing),pelaksanaaantindakan(action),pengamatan(observation), dan melakukan refleksi(reflecting). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran ini dapat terbukti hasil belajar siswa meningkat. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari 5.9 dengan persentase ketuntasan 34% kemudian mengalami peningkatan pada akhir siklus -1 yaitu 67,13 dengan persentase ketuntasan 43% dan meningkat lagi pada akhir siklus -2 yaitu 76,70 dengan persentase ketuntasan 91%. Kesimpulan dari penelitian adalah penerapan model pembelajaran kooperatif talking stick dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas 3A SDN Tanjungrejo 5 Malang. Diharapkan dalam menerapkan model ini pada pengorganisasian kelas sebaiknya dilakukan guru sebelum pembelajaran, model ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas 3 sehingga dapat menjadi alternatif pembelajaran yang inovatif dan menarik siswa antusias belajar.

Pengaruh penerapan pendidikan matematika realistik Indonesia terhadap hasil belajar operasi pecahan pada siswa kelas IV di SDN Lesanpuro 3 Kota Malang / Dian Wahyu Kurniasih

 

Kata Kunci : Giro Wajib Minimum, Loan to Deposit Ratio (LDR), Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Penyaluran Kredit Bank. Pemberian kredit merupakan salah satu kegiatan utama perbankan. Besarnya jumlah kredit yang disalurkan akan menentukan keuntungan bank. Jika bank tidak mampu menyalurkan kredit sementara dana yang terhimpun dari simpanan banyak maka akan menyebabkan bank tersebut rugi. Bank wajib menerapkan prinsip kehati-hatian untuk mengurangi potensi kegagalan usaha sebagai akibat dari konsentrasi penyediaan dana. Penetapan Giro Wajib Minimum merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi penyaluran kredit. Sedangkan faktor internalnya dapat dilihat melalui Loan to deposit ratio (LDR) dan Capital Adequacy Ratio (CAR). Loan to deposit ratio berpengaruh terhadap jumlah penyaluran kredit bank. Hal tersebut dikarenakan LDR merupakan faktor untuk mengukur tingkat kesehatan bank pada bagian likuiditas. CAR sebagai faktor internal bank juga dapat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank yang diwakili dengan kecukupan modal bank. Modal yang cukup akan membantu jalannya kegiatan operasional bank. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Giro Wajib Minimum, Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap kredit pada bank pemerintah periode 2008-2010. Data diperoleh dari Laporan Keuangan Publikasi yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan periode waktu tahun 2008 hingga 2010. Teknik analisa yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data panel untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Program yang digunakan adalah Eviews 6.1 dengan model estimasi Fixed Effect. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GWM berpengaruh tidak signifikan terhadap jumlah penyaluran kredit pada bank. Hal itu dikarenakan jumlah GWM yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia tidak membuat perbankan lebih ekspansif dalam penyaluran kredit, khususnya pada kredit investasi karena resiko kredit investasi sangat besar. LDR memiliki pengaruh positif signifikan terhadap jumlah penyaluran kredit pada bank. CAR memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap jumlah pnyaluran kredit. Namun, secara simultan Giro Wajib Minimum, Loan to Deposit Ratio, dan Capital Adequacy Ratio memiliki pengaruh positif signifikan terhadap jumlah penyaluran kredit pada bank pemerintah. Saran dalam penelitian ini adalah bagi peneliti selanjutnya diharapkan menambah variabel yang diteliti sehingga memperoleh hasil yang lebih baik lagi serta meneliti bank milik swasta yang kemungkinan status bank dapat berpengaruh pada hasil penelitian.

Penerapan metode bercerita outing class untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol / Izzul Fitriyah

 

Kata Kunci : Penerapan Metode Bercerita, Kegiatan Outing Class, Media Bukiba Karyaku, PAUD. Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari. Orang dewasa, orang tua, terutama anak-anak sangat memerlukan kemampuan berbahasa. Segala gerak-gerik, keinginan, ide, informasi, dapat diungkapkan melalui bahasa. Bahasa memberi kemudahan untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Untuk stimulasi dan mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak usia dini, sangat tepat apabila diterapkan dengan metode bercerita melalui kegiatan outing class dengan menggunakan media buku cerita bergambar dalam pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan penerapan metode bercerita melalui kegiatan outing class dengan menggunakan media BUKIBA KARYAKU dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol, 2) untuk mendeskripsikan pengembangan kemampuan berbahasa anak melalui penerapan metode bercerita pada kegiatan outing class dengan menggunakan media BUKIBA KARYAKU pada anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B di TK Tunas Cendekia Kejapanan Gempol sebanyak 12 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi (lembar tugas) Data analisis dengan memberikan nilai pada lembar observasi dan tes pertanyaan, peneliti memberikan reward berupa binatang sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Anak dikatakan mengalami perkembangan dalam belajar, jika anak dapat menguasai aspek-aspek yang dinilai dalam penelitian, mulai dari pra tindakan dan siklus I, jika pelaksanaan tindakan pada siklus I belum menunjukkan hasil yang optimal, maka dilanjutkan pengembangan perencanaan tindakan pada siklus II. Hasil dari skor rata-rata indikator bahasa yang diperoleh seluruh anak pada pra tindakan didapat 585, kemudian dicari rata-rata kelas yaitu skor yang diperoleh dibagi jumlah siswa di dapat rata-rata 48,75 dengan kriteria cukup. Pada siklus-1 pertemuan ke 1 di dapat jumlah keseluruhan 700 dibagi jumlah siswa di dapat rata-rata 58,33, pada siklus-1 pertemuan ke 2 jumlah keseluruhan 715 rata-rata 59,58. Sedangkan pada siklus II didapat 975, kemudian dicari rata-rata kelas yaitu skor yang diperoleh dibagi jumlah siswa di dapat rata-rata 81,25 dengan kategori sangat baik. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu agar dapat memperbaiki proses kegiatan pembelajaran dengan banyak melakukan kegiatan yang inovatif dan kegiatan tidak selalu berada di dalam kelas, sehingga pengalaman anak lebih luas, dan pengalaman itu dapat diungkapkan melalui bercerita. Sedangkan bagi bagi peneliti lanjutan disarankan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak melalui kegiatan bercerita dengan menggunakan media selain buku cerita bergambar. Dengan kata lain, peneliti harus membuat inovasi baru untuk menciptakan media selain buku cerita bergambar.

Analisis buku sekolah elektronik (BSE) IPS SD kelas IV semester II terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional / Siti Syamsiatin Ayuningtyas

 

Kata Kunci: Analisis BSE, IPS SD, Kelas IV semester II. Buku ajar merupakan salah satu bahan ajar tertulis yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan penyebaran angket yang dilakukan di sepuluh SDN di Kota Malang, didapatkan hasil bahwa buku yang paling banyak digunakan adalah buku BSE. Perlu adanya analisis yang mendalam untuk mengkaji kekurangan dan kelebihan BSE yang beredar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran dan ketepatan bahasa, serta kesesuaian media yang terdapat dalam buku ajar BSE IPS SD kelas IV semester II. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi, karena yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini adalah dokumen yang berupa buku IPS SD kelas IV semester II. Aspek yang dikaji dalam penelitian ini adalah kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran dan ketepatan bahasa, serta kesesuaian media yang terdapat dalam buku IPS SD kelas IV semester II. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pedoman analisis. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: pertama, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, dengan rincian: (1) dari 99 materi yang ada, terrdapat 53 materi yang urutannya sesuai dengan jabaran indikator, (2) dari 99 materi yang ada, terdapat 57 materi yang lingkupnya sesuai dengan jabaran indikator. Kedua: dari 79 konsep yang ada, terdapat 69 konsep yang benar. Ketiga: Kebenaran dan ketepatan bahasa, dengan rincian (1) dari 758 tanda baca yang ada, terdapat 12 kesalahan penempatan tanda baca, (2) dari 532 kalimat yang ada, terdapat 18 kalimat yang salah, (3) dari 118 paragraf yang ada, terdapat 4 paragraf yang tergolong sebagai paragraf yang salah, (4) tidak ditemukan kesalahan pemilihan kata. Keempat: Dari 20 media yang ada, terdapat 1 media yang tidak sesuai dengan materi yang dibahas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesesuaian urutan isi materi dengan kurikulum tergolong kurang sesuai, kesesuaian lingkup isi materi dengan kurikulum tergolong cukup sesuai, kebenaran konsep tergolong baik, kebenaran dan ketepatan bahasa tergolong baik, kesesuaian media tergolong baik. Dari hasil kesimpulan tersebut diajukan saran-saran: pertama, bagi guru dan pengguna buku, sebaiknya sebelum mempergunakan BSE IPS SD kelas IV semester II haruslah ditelaah terlebih dahulu apakah buku teks tersebut sudah layak digunakan atau masih ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Kedua, bagi penulis buku, sebaiknya memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan kesempurnaan buku.

Meningkatkan pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Ampenan Kota Mataram Nusa Tenggara Barat / Imam Suryadi

 

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar, Program Pascasarjana-Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Fachrurrazy, M.A.,Ph.D., (II) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran, membaca intensif, strategi skemata. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, khususnya di kelas IV Sekolah Dasar (SD) ditemukan bahwa pembelajaran membaca intensif perlu ditingkatkan agar kemampuan membaca siswa dapat lebih baik. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan karena strategi pembelajaran yang digunakan guru di kelas belum sepenuhnya memberdayakan potensi siswa dalam proses membaca intensif. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah strategi skemata. Tujuan umum penelitian ini, yaitu meningkatkan pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata pada siswa kelas IV SD Negeri 23 Ampenan Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB). Tujuan khusus yaitu (1) mendeskripsikan peningkatan proses pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata dan (2) mendeskripsikan peningkatan hasil pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik wawancara, dokumentasi, observasi, catatan lapangan, penilaian proses dan penilaian hasil. Sumber data penelitian ini adalah interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung dari tanggal 1 s.d. 22 September 2010 di kelas IV SD Negeri 23 Ampenan Kota Mataram NTB. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, catatan lapangan, dan pedoman penilaian pembelajaran. Analisis data menggunakan analisis model mengalir yang meliputi reduksi data melalui kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan data yang diperoleh sesuai kebutuhan, dan penyajian data serta penarikan simpulan. Untuk menguji keabsahan simpulan data, digunakan teknik ketekunan pengamatan dan pengecekan sejawat. Penggunaan strategi skemata pada penelitian ini terbukti meningkatkan kinerja pembelajaran membaca intensif, baik dalam proses maupun hasilnya. Proses pembelajaran membaca intensif dengan strategi skemata dilaksanakan dalam tiga tahap: prabaca, saat baca, dan pascabaca. Proses tersebut dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, yakni (1) penggunaan skemata lebih diperhatikan dan dimaksimalkan, (2) waktu yang digunakan untuk membaca semakin efisien, dan (3) minat membaca siswa lebih meningkat. Selain itu juga ditemukan peningkatan hasil pembelajaran yang terlihat dalam hal: (1) pemahaman siswa terhadap bacaan semakin meningkat, (2) prediksi siswa terhadap isi bacaan semakin baik, dan (3) keterampilan siswa dalam membaca semakin tinggi. Secara kualitatif, proses pembelajaran lebih meningkat yaitu pada siklus 1 nilai rerata siswa terteliti adalah 70,56 dan pada siklus 2 adalah 86,11, sehingga terjadi peningkatan sejumlah 15,55 (22%). Secara kuantitatif, peningkatan kemampuan membaca intensif siswa terteliti terlihat dari skor pada setiap tes formatif pada akhir siklus. Hasil rerata kemampuan siswa terteliti pada tes awal adalah 56, pada siklus 1 adalah 70,56 (kualifikasi baik), dan pada siklus 2 adalah 86,11 (kualifikasi sangat baik). Terjadi peningkatan nilai rerata antara nilai tes awal dengan siklus 2 sejumlah 30,11 (54%). Jumlah siswa terteliti adalah 9 dan berdasarkan hasil tes awal, siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar berjumlah 7 siswa. Peningkatan terjadi berdasarkan hasil siklus 2 yang menunjukkan bahwa seluruh siswa terteliti mencapai ketuntasan belajar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru sudah melaksanakan pembelajaran membaca intensif melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang terdapat pada rambu-rambu atau formulasi strategi skemata. Berdasarkan analisis hasil, strategi skemata dapat meningkatkan kemampuan membaca intensif para siswa. Oleh karena itu, disarankan kepada guru-guru kelas IV dengan siswa berlatar belakang sama atau mirip dengan kelas terteliti untuk menggunakan strategi skemata dalam pembelajaran membaca intensif, baik pada tahap proses pelaksanaan, maupun tahap penilaian. Kepada Kepala Sekolah disarankan agar memberi keleluasaan kepada guru untuk mengelola kelas secara lebih mandiri dan senantiasa memberikan motivasi kepada guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan strategi yang lebih inovatf dan kreatif, misalnya dengan cara memfasilitasi penggunaan strategi skemata dalam belajar membaca intensif. Kepada peneliti lain atau mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian sejenis atau lanjutan, disarankan agar dapat menyempurnakan kekurangan yang terdapat dalam penelitian tindakan ini sehingga menjadi lebih baik.

Pengembangan modul pembelajaran trigonometri beracuan pada standar proses untuk siswa SMA kelas XI IPA / Wardatul Faridiyah

 

Kata kunci : modul, standar proses, trigonometri. Modul adalah suatu bahan ajar yang memuat materi tertentu, disusun secara sistematis dengan serangkaian kegiatan siswa untuk belajar mandiri. Kegiatan ini berisi pemahaman konsep dan evaluasi. Dengan adanya modul, siswa dapat lebih mudah dalam memahami konsep dan dapat belajar secara mandiri. Kegiatan pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan suatu modul pembelajaran trigonometri yang beracuan pada standar proses (Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah). Modul yang beracuan pada standar proses adalah modul yang memuat proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada proses eksplorasi, siswa dilibatkan secara aktif dalam menggali dan mengumpulkan informasi yang luas untuk memahami materi yang dipelajari. Pada proses elaborasi, siswa diberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis dan menyelesaikan masalah secara mandiri, kemudian berkolaborasi dengan siswa lain. Pada proses konfirmasi, siswa diberikan kegiatan mengecek hasil yang diperoleh pada proses elaborasi, kemudian diberikan penguatan atas hasil kerjanya. Modul yang dikembangkan telah melalui dua tahap uji coba. Hasil uji coba tahap I atau validasi isi menyatakan bahwa semua komponen modul yang meliputi aspek kelayakan isi, standar proses, keterbacaan, sajian, dan tampilan telah valid. Hasil uji coba tahap II atau validasi empirik menyatakan bahwa modul yang dikembangkan sudah sesuai dan bagus. Disarankan bahan ajar ini dapat digunakan oleh guru sebagai alternatif sumber belajar. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan untuk mengujicobakan hasil pengembangan pada kelompok sedang dan besar.

Penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V di SDN Bandulan 5 Malang / Arni Gemilang Harsanti

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, bermain peran, Bahasa Indonesia SD Pembelajaran Bahasa Indonesia memuat empat aspek, yaitu berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Berdasarkan hasil pengamatan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Bandulan 5 Malang ditemukan aspek berbicara belum berhasil. Hal ini karena siswa belum diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya maka perlu diterapkan matode bermain peran. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa, (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas melalui metode bermain peran. Penelitian ini adalah bentuk Penelitian Tindakan Kelas dengan model siklus yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti sebagai instrumen utama. Data penelitian ini adalah berupa kata-kata. Pengumpulan data menggunakan pedoman observasi, pedoman wawancara dan portofolio. Hasil yang diperoleh pada tahap pra tindakan sebagian besar keterampilan berbicara siswa masih kurang. Dibuktikan dengan hasil ketuntasan belajar yang hanya mencapai 23,5 % dari jumlah keseluruhan sebanyak 17 siswa. Pada siklus I, persentase siswa sebesar 47,1 % sudah mampu memerankan drama dengan lafal dan intonasi yang hampir tepat namun ekspresinya masih kurang sesuai dengan tokoh yang diperankan. Setelah diadakan perbaikan terjadi peningkatan yang cukup drastis. Sebanyak 100 % siswa sudah mencapai batas ketuntasan (nilai 70-90). Siswa memerankan drama dengan lafal jelas, intonasi tepat, dan ekspesi sesuai dengan tokoh yang mereka perankan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode bermain peran dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dengan demikian disarankan kepada guru sebelum siswa bermain peran supaya memberikan bimbingan yang benar dan mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan bermain peran tersebut supaya berjalan optimal untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

Proses berpikir siswa dalam pemecahalan masalah dengan pemberian scaffolding / Anik Sujiati

 

Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M. Si., (II) Dr. Hery Susanto, M. Si. Kata kunci: proses berpikir, pemecahan masalah, pemberian scaffolding. Kemampuan pemecahan masalah merupakan hal penting yang harus dilatihkan kepada siswa. Vygotsky (Lambas 2004:21) menyatakan, bahwa seseorang akan dapat menyelesaikan masalah yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari kemampuan dasarnya apabila mendapat bantuan dari orang yang lebih mampu (scaffolding). Banyak penelitian tentang upaya peningkatan kemampuan pemecahan masalah, namun belum menyentuh bagaimana proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah. Penelitian ini mengkaji proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah ketika mendapatkan scaffolding. Masalah yang digunakan untuk mengkaji proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah adalah dua soal, yaitu masalah yang terkait dengan Bangun Datar, Teorema Pythagoras, dan Bangun Ruang. Pemberian scaffolding dalam penelitian ini mengacu pada tiga tingkat scaffolding yang dikemukakan Anghileri (2006). Selanjutnya dikaji perkembangan proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah dengan berfokus pada kesulitan yang dialami oleh siswa pada empat langkah pemecahan masalah, yaitu kesulitan dalam hal: (1) pemahaman masalah; (2) menyatakan fakta dalam kalimat matematika; (3) menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya; dan (4) memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah bersifat unik, dan secara umum proses berpikir tersebut dapat berkembang dengan pemberian scaffolding. Kesulitan pada langkah pemahaman masalah hanya dialami oleh kelompok siswa berkemampuan matematika rendah. Kelompok siswa berkemampuan tinggi mengalami kesulitan pada langkah memeriksa kembali hasil perhitungan dan mengkomunikasikan jawaban. Akibatnya kelompok siswa ini tidak menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya secara lengkap dalam menyelesaikan masalah nomor 1. Banyaknya scaffolding yang diperlukan tergantung pada masing-masing individu. Setelah mendapatkan scaffolding, untuk masalah nomor 1 beberapa siswa proses berpikirnya tidak dapat berkembang hingga struktur berpikir yang sesuai dengan struktur masalah. Sedangkan untuk masalah nomor 2, proses berpikir semua siswa dapat berkembang hingga struktur berpikirnya sesuai dengan struktur masalah setelah mendapatkan scaffolding sesuai dengan keperluannya. Dengan dasar temuan pada penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru pada umumnya untuk memahami proses berpikir siswa dalam pemecahan masalah, sehingga dapat memberikan bantuan yang diperlukan siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam pemecahan masalah. Kajian proses berpikir siswa dalam penelitian ini masih terbatas, untuk itu perlu adanya penelitian dengan kajian yang lebih mendalam dengan masalah yang lain.

Penerapan keterampilan mengajar pada pelaksanaan praktek pengalaman lapangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Awan Panti Basunondo

 

Kata Kunci : penerapan, ketrampilan mengajar, PPL Mahasiswa calon guru harus benar-benar menguasai keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar yang harus dikuasai oleh guru adalah keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya (dasar dan lanjut), keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi dan keterampilan mengelola kelas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan fakta tentang penerapan keterampilan mengajar pada pelaksanaan PPL mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Data penelitian berasal dari penyebaran angket, yang isinya pernyataan-pernyataan tentang penerapan ketrampilan mengajar dengan pilihan jawaban (Selalu) dan (Tidak Pernah) dilakukan pada saat PPL. Angket diisi sendiri oleh mahasiswa Seni Rupa UM yang sudah menempuh PPL. Kemudian tahap analisa data dimulai pada tahap penelaahan data yang dilanjutkan dengan tahap klasifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan. Pertama, kualitas keterampilan mengajar yang diterapkan mahasiswa pada saat pelaksanaan PPL (a) keterampilan membuka pelajaran sebesar 87,5% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, dan keterampilan menutup pelajaran sebesar 92,5% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan” (b) keterampilan menjelaskan sebesar 78,33% yang termasuk dalam klasifikasi “Sebagian Diterapkan”, (c) keterampilan bertanya (dasar dan lanjut) sebesar 88,12% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, (d) keterampilan memberi penguatan sebesar 81,67% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, (e) keterampilan mengadakan variasi sebesar 83,75% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”, (f) keterampilan mengelola kelas sebesar 96% yang termasuk dalam klasifikasi “Semua Diterapkan”. Kedua, Semua mahasiswa menerapkan keterampilan mengajar pada saat pelaksanaan PPL kecuali untuk keterampilan mengadakan variasi, dalam penerapan indikator (1) keterampilan guru menggunakan variasi dalam penyampiaan materi mengajar, pada item pernyataan (e) saat mengajar posisi guru bervariasi (berubah-ubah), yang termasuk dalam klsifikasi “Sebagian Mahasiswa”.

Validitas soal UN (ujian nasional) SMP mata pelajaran bahasa Indonesia tahun 2007 / Novi Istina

 

Kata kunci: tes UN (Ujian Nasional), validitas isi, dan validitas konstruk UN (Ujian Nasional) sebagai salah satu alat ukur evalusai harus dapat mengukur hasil belajar yang dicapai siswa secara akurat. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang tinggi validitasnya. Untuk mengetahui validitas suatu tes yang berupa butir-butir soal dapat dilakukan melalui analisis rasional dan analisis empirik. Analisis rasional menyangkut validitas isi dan validitas konstruk, sedangkan analisis empirik menyangkut validitas empiris dan validitas bandingan. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran (deskripsi) tentang validitas isi dan validitas konstruk UN (Ujian Nasional) bidang studi Bahasa Indonesia untuk SMP tahun 2007. Sesuai dengan tujuan penelitian, pada penelitian ini hanya dilakukan analisis rasional. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari paparan verbal tentang validitas isi dan validitas konstruk tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia untuk SMP 2007 dengan peneliti sendiri sebagai instrumen utama. Sedangkan sumber data diperoleh dari tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia yang diperoleh dari setting alamiah dengan menggunakan teknik dokumenter sebagai teknik pengumpul data. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan secara umum dan khusus. Kesimpulan secara umum menunjukkan bahwa tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia tidak valid karena hanya menguji sebagian aspek keterampilan berbahasa (keterampilan membaca dan menulis) saja dari beberapa aspek keterampilan berbahasa yang ada. Sedangkan secara khusus hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. (1) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan membaca terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 dan SK Kurikulum 2004 adalah rendah sedangkan terhadap bahan dalam SKL UN BI untuk SMP 2007 tinggi, (2) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan menulis terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 dan SKL UN BI untuk SMP 2007 tinggi sedangkan terhadap bahan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sedang, (3) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan mendengarkan (menyimak) terhadap GBPP BI untuk SMP 1994 dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sangat rendah, , (4) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek keterampilan berbicara terhadap GBPP BI untuk SMP 1994 dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sangat rendah, (5) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek kebahasaan terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 sedang dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 sangat rendah, (6) validitas isi tes UN (Ujian Nasional) pada aspek apresiasi bahasa dan sastra Indonesia (ABSI) terhadap bahan dalam GBPP BI untuk SMP 1994 sedang dan SK Kurikulum BI untuk SMP 2004 tinggi. Sedangkan, hasil penelitian validitas konstruk pada tes UN (Ujian Nasional) bidang studi bahasa Indonesia yakni, (1) validitas konstruk pada aspek keterampilan membaca redah, (2) validitas konstruk pada aspek keterampilan menulis tinggi, (3) validitas konstruk pada aspek keterampilan mendengarkan (menyimak) rendah, (4) validitas konstruk pada aspek keterampilan berbicara rendah, (5) validitas konstruk pada aspek kebahasaan tinggi, (6) validitas konstruk pada apresiasi bahasa dan sastra Indonesia rendah. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada pihak pembuat soal untuk lebih memperhatikan validitas isi dan validitas konstruk dalam pembuatan soal tes UN (Ujian Nasional), selain itu juga disarankan untuk pihak sekolah yang mengadakan UN (Ujian Nasional) diharapkan bisa mengadakan ujian sendiri untuk aspek keterampilan berbahasa yang belum diujikan dalam tes UN (Ujian Nasional).

Kajian analisis korelasi kanonik hubungan antara hasil belajar mahasiswa dengan indeks prestasi dan skor tes masuk perguruan tinggi / Wardatul Faridiyah

 

Kata Kunci: Multivariat, Korelasi Kanonik. Korelasi kanonik merupakan salah satu metode dalam statistik multivariat yang mempelajari hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Korelasi kanonik adalah ukuran kuat lemahnya hubungan antara sekelompok variabel peramal dan sekelompok variabel tanggapan. Tujuan dilaksanakan analisis korelasi kanonik adalah untuk membentuk kombinasi linier (fungsi kanonik). Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data hubungan antara indeks prestasi kumulatif dan skor tes masuk perguruan tinggi dengan skor tes tengah semester ke-1, skor tes tengah semester ke-2, dan skor tes akhir semester (final). Fungsi kanonik yang terbentuk sebanyak dua fungsi tetapi hanya satu fungsi yang berarti, yaitu -0,49979 Y1 – 0,45495 Y2 – 0,17599 Y3 = -0,75704 X1 – 0,38999 X2. Terdapat hubungan/korelasi secara nyata antara indeks prestasi kumulatif dan skor tes masuk perguruan tinggi dengan skor tes tengah semester ke-1, skor tes tengah semester ke-2, dan skor tes akhir (final).

Penerapan model numbered heads together (NHT) dengan metode demonstrasi untuk meningkatkan motivasi dan hasil beajar biologi materi sistem gerak manusia siswa kelas XI IPA 1 SMA Sejahtera Prigen Pasuruan / Anis Mugi Rahayu

 

Kata Kunci: Model Numbered Heads Together (NHT), Metode Demonstrasi, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi mulai tanggal 19 Juli 2010 sampai 30 Agustus 2010 di kelas XI IPA 1 SMA Sejahtera Prigen Pasuruan, diperoleh data pola pembelajaran masih terpusat pada guru (teacher centered). Metode ceramah yang digunakan di kelas kurang menarik minat belajar siswa pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung (membahas materi sel) siswa terlihat pasif. Hanya 3 orang saja dari 38 siswa yang aktif menjawab dan bertanya pada guru, yang lain hanya diam, siswa yang duduk di bangku belakang berbicara di luar materi, ada yang memainkan alat-alat tulis dan tidak mencatat penjelasan dari guru. Hal tersebut menunjukkan rendahnya motivasi belajar biologi siswa yang berdampak pada rendahnya hasil belajar biologi siswa. Hal ini terlihat dari daftar skor tes pokok bahasan sel yang diperoleh peneliti dari guru bidang studi, diketahui bahwa sebanyak 20 siswa dari 38 siswa satu kelas yang nilainya belum memenuhi Standar Kelulusan Minimal (SKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Tujuan penelitian untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi materi sistem gerak manusia siswa kelas XI IPA 1 SMA Sejahtera Prigen Pasuruan melalui penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dengan metode demonstrasi. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam II siklus. Data penelitian adalah motivasi belajar siswa yang diperoleh dari lembar observasi motivasi, hasil belajar siswa diperoleh dari tes pada tiap akhir siklus, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model NHT: 1) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, terlihat dari persentase rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 67,62 dengan kategori taraf keberhasilan cukup sedangkan pada siklus II sebesar 86,93 dengan kategori taraf keberhasilan sangat baik, 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa, peningkatan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 52,63% dari siklus I ke siklus II sebesar 86,84%. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan model NHT dengan metode demonstrasi dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi materi selain sistem gerak manusia.

Pengembangan modul belajar kimia berorientasi daur belajar (LC 5-E) untuk SMK teknik / Miyatiwi

 

Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D., (II) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D. Kata Kunci: daur belajar, modul kimia, SMK teknik, belajar mandiri Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2006, tujuan penyelenggaraan SMK adalah “meningkatkan kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya”. Sebagai implementasi dari tujuan tersebut, SMK memiliki kewajiban untuk membekali setiap siswa dengan ilmu dan teknologi serta keterampilan kerja yang sesuai dengan bidangnya. Pembekalan keterampilan kerja dapat diraih para siswa melalui program praktek kerja industri (Prakerin). Selama prakerin, aktivitas pembelajaran di sekolah, terutama kimia, tidak dapat dijalankan dengan maksimal. Agar pembelajaran kimia tidak terhenti selama program prakerin, diperlukan sebuah media pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembang kan bahan pembelajaran dalam bentuk modul berorientasi daur belajar agar para siswa dapat belajar secara mandiri selama prakerin. Pengembangan modul ini menggunakan model pengembangan 4-D dari Thiagarajan (1974), yang terdiri dari 4 langkah: define, design, develop, dan disseminate. Hanya tiga langkah pertama yang dipakai dalam pembuatan modul. Modul ini juga dikembangkan berdasarkan kriteria pengembangan modul yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional (2006). Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif yang terkait dengan kesesuaian dan efektivitas modul yang dikembangkan. Data kualitatif terdiri dari umpan balik serta saran pengembangan modul yang diberikan oleh dosen dan guru kimia. Data kualitatif didapat dengan menggunakan instrumen penilaian modul yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian buku dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari jawaban kuesioner dan pencapaian nilai dari para siswa kelas XI SMKN 1 Glagah Banyuwangi yang sedang menempuh prakerin. Data kuantitatif dikumpulkan menggunakan kuesioner dan tes hasil belajar siswa. Tes hasil belajar siswa terdiri dari 30 butir dengan validitas isi 87.2%. Analisis deskriptif dan analisis statistik digunakan untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan. Modul belajar kimia yang dikembangkan terdiri dari 4 aktivitas belajar dan 90 halaman. Setiap aktivitas belajar terdiri dari tujuan pembelajaran, pembukaan, studi kasus dengan langkah-langkah penyelesaian, materi belajar, kesimpulan, evaluasi, dan umpan balik. Glosarium, kunci jawaban, dan daftar pustaka diberikan di bagian akhir dari modul. Penilaian ahli isi dan materi memberi nilai 86,2%. Revisi modul telah dilakukan berdasarkan saran yang diberikan oleh para ahli. Berdasarkan hasil penilaian ahli, modul yang telah direvisi sesuai dan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran kimia selama prakerin. Tes hasil belajar siswa yang menggunakan modul yang dikembangkan menunjukkan bahwa 83,3% siswa dapat meraih Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Selain itu, terdapat peningkatan signifikan dari rata-rata nilai tes siswa sebelum menggunakan modul (40,6) dan setelah menggunakan modul(80,2). 100% siswa berpendapat bahwa modul tersebut sangat menarik. Berdasarkan hasil-hasil yang dipaparkan di atas, Modul Belajar Kimia Berorientasi Daur Belajar untuk SMK Teknik yang telah dikembang kan dapat dianggap baik untuk digunakan. Evaluasi lebih jauh tentang kesesuaian dan efektivitas modul harus dilakukan sebelum disebarkan.

Perbedaan hasil belajar pembelajaran tipe numbered heads together dan pembelajaran konvensional siswa kelas IV semester genap pokok bahasan energi bunyi di SDN Bareng 3 Malang / Bekti Triani

 

Kata Kunci : Pembelajaran Tipe Numbered Heads Together, Pembelajaran Konvensional, Hasil Belajar Siswa Menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, maka seseorang dituntut untuk mampu memanfaatkan informasi dengan baik dan cepat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendidikan nasional, khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah melalui penyempurnaan proses belajar mengajar. Kualitas keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah perlu adanya perubahan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher-centered) menjadi pembelajaran berorientasi pada siswa (student-centered). Metode pembelajaran yang dapat melibatkan peran aktif siswa dalam memaksimalkan kondisi belajar adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Metode pembelajaran yang diterapkan di SDN Bareng 3 Malang masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hal tersebut menyebabkan siswa cenderung pasif, merasa bosan dan cenderung meremehkan guru dengan ramai sendiri bersama teman sebangkunya. Maka dari itu peneliti akan mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan siswa dari penerapan metode pembelajaran konvensional mata pelajaran IPA pada bahasan Energi Bunyi kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka jenis penilitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan membagi 2 kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang mendapatkan penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) sedangkan kelas kontrol kelas yang mendapatkan penerapan pembelajaran konvensional (ceramah). Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent Control Group Design dengan pre test dan pos test, serta membagi sasaran penelitian menjadi 2 kelompok sampel, yaitu kelas eksperimen (IV A) dan kelas kontrol (IV B) dengan cara purposive sampling yakni mengambil subyek penelitian bukan dari strata atau random melainkan karena tujuan tertentu. Berdasarkan hasil analisis hipotesis yang dirumuskan dapat disimpulkan bahwa “Terdapat perbedaan signifikan score hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan kelas kontrol yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional ”. Dengan kata lain bahwa rata-rata gainscore hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan menerapkan metode pembelajaran konvensional dengan nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0,031<0,05 dengan thitung=2,195>ttabel=1,9948. Nilai rata-rata gain score untuk kelas eksperimen adalah 25,26 dan kelas kontrol adalah 20,55, sehingga terdapat perbedaan nilai rata-rata gain score antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 4,71.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas bagi siswa kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung / Muslikah

 

Kata kunci: pembelajaran IPS, metode pemberian tugas, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran sangat penting untuk dipertimbangkan oleh guru karena metode pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam mempelajari materi. Berdasarkan hasil observasi metode yang digunakan oleh guru adalah ceramah, siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, hal itu diperkuat dengan rata-rata nilai Ulangan Akhir Semester siswa kelas IV SDN IV Rejotangan adalah 50,3. Alternatif pemecahan masalah tersebut yaitu menggunakan metode pemberian tugas dalam pembelajaran IPS. Tujuan penelitian ini: 1) Mendeskripsikan penerapan metode pemberian tugas pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas di kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini yaitu lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas guru, tes, angket, dan kamera. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus II pertemuan 2 diketahui persentase peningkatan aktivitas siswa, peningkatan aktivitas guru, dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN IV Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Aktivitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I pertemuan 1 mengalami peningkatan sebesar 27%, kemudian pada siklus I pertemuan 2 mengalami peningkatan 6%, dan pada siklus II pertemuan 1 mengalami peningkatan sebesar 4%, dan pada siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 6%. Persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 9,16% pada siklus I pertemuan 1, pada siklus I pertemuan 2 mengalami peningkatan 10,25%, pada siklus II pertemuan 1 mengalalami peningkatan sebesar 9,59%, dan pada siklus II pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 11,41%. Hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 mengalami penurunan sebesar 1,16%, pada siklus I pertemuan 2 terjadi peningkatan sebesar 3,55%, pada siklus II pertemuan 1 terjadi peningkatan 10,78%, dan pada siklus II pertemuan 2 terjadi peningkatan sebesar 8,5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa.

Pemanfaatan gelombang ultrasonik untuk peningkatan efisiensi ekstraksi minyak dari alga Spirogyra sp. / Nur Farida Alfiati

 

Kata Kunci: alga Spirogyra sp., ekstraksi, minyak, gelombang ultrasonik Eksplorasi minyak bumi yang terus-menerus akan mengakibatkan cadangan minyak bumi akan habis, sehingga diperlukan energi pengganti yang bersifat terbarukan. Salah satunya adalah biodiesel dari minyak alga. Alga Spirogyra sp. berpeluang sebagai bahan baku biodiesel. Hal ini karena alga Spirogyra sp. memiliki kandungan minyak nabati yang cukup banyak, laju pertumbuhan tinggi, kelimpahan di alam sangat banyak, dan tidak membutuhkan lahan luas dalam pembiakan. Namun, umumnya ekstraksi minyak yang menggunakan pelarut memerlukan waktu cukup lama. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gelombang ultrasonik dapat mempercepat pemisahan fase gliserin dari fase biodiesel pada sintesis biodiesel, maka dalam penelitian ini digunakan gelombang ultrasonik untuk peningkatan efisiensi ekstraksi minyak dari alga Spirogyra sp. Penelitian ini bertujuan: (1) memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi minyak dari alga Spirogyra sp.; (2) mengetahui karakter minyak alga Spirogyra sp. yang diperoleh. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Alga Spirogyra sp. yang telah dikeringkan, digerus hingga diperoleh serbuk alga. Sejumlah serbuk alga yang sama beratnya (± 20 gram), diekstraksi minyaknya menggunakan pelarut n-heksana dengan tiga metode, yaitu ekstraksi ultrasonik, Soxhletasi, dan maserasi. Variasi waktu pada ekstraksi ultrasonik adalah 10, 30, 50, 70, 90, 110, dan 130 menit. Pada Soxhletasi, ekstraksi dilakukan hingga pelarut n-heksana tidak lagi membawa ekstrak. Begitu pula pada maserasi, ekstraksi dilakukan dengan dibantu pengadukan berkecepatan 200 rpm dan penggantian pelarut tiap 1 jam hingga pelarut tidak lagi membawa ekstrak. Pada perolehan yield minyak alga hasil ekstraksi yang setara, dibandingkan waktu ekstraksi dari ketiga metode ekstraksi tersebut. Semakin singkat waktu ekstraksi maka semakin efisien ekstraksi minyak alga. Minyak alga yang diperoleh selanjutnya dikarakterisasi meliputi densitas, indeks bias, bilangan asam, bilangan penyabunan, dan bilangan iod. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pada yield minyak alga hasil ekstraksi yang setara (± 0,35 %), metode ekstraksi ultrasonik hanya memerlukan waktu ekstraksi 70 menit, sedangkan Soxhletasi memerlukan 5400 menit dan maserasi memerlukan 3600 menit. Dengan demikian, dari segi waktu, metode ekstraksi ultrasonik mampu meningkatkan efisiensi ekstraksi sampai 77 kali dibanding Soxhletasi dan 51 kali dibanding maserasi; (2) minyak hasil ekstraksi dari alga Spirogyra sp. mempunyai densitas 0,934 g/mL; indeks bias 1,474; bilangan asam 70,7256 mg KOH/1 g minyak; bilangan penyabunan 493,98 mg KOH/1 g minyak; dan bilangan iod 3,4153 g I2/100 g minyak.

Peningkatan kemampuan mencari ide pkok paragraf melalui pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Purwodadi 1 Kota Malang / Wisda Miftakhul Ulum

 

Kata- kata kunci : Pembelajaran Bahasa Indonesia, ide pokok paragraf, pendekatan konstruktivistik, SDN Purwodadi 1 Malang. Mencari ide pokok/kalimat utama paragraf merupakan salah satu kompetensi yang selalu ada dalam soal UASBN Bahasa Indonesia. Untuk memberikan pembelajaran mencari ide pokok paragraf lebih bermakna salah satu pilihan menggunakan pendekatan konstuktivistik. Tujuan Penelitian ini adalah 1) Mendiskripsikan implementasi pendekatan konstruktivistik pada pembelajaran mencari ide pokok paragraf. 2) Mendiskripsikan peningkatan kemampuan siswa mencari ide pokok paragraf melalui pendekatan konstruktivistik. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Purwodadi 1 Malang. Hasil penelitian pra tindakan 28 siswa (100%) belum tuntas. Siswa yang mendapat nilai 44 sebanyak 6 anak (21,4%). Siswa yang mendapat 37 sebanyak 8 anak (28,5%). Siswa yang mendapat 30 sebanyak 14 anak (50,1%). Pada siklus I dari 28 siswa, 20 anak (71,4%) dinyatakan tuntas, yang masih belum tuntas 8 anak (28,6%). Siswa yang mendapat 31 sebanyak 1 anak, 39 sebanyak 1 anak, 53 sebanyak 1 anak, 55 sebnyak 2 anak, 57 sebanyak 1 anak, 58 sebanyak 1 anak, 60 sebanyak 2 anak, 62 sebanyak 3 anak, 67 sebanyak 2 anak, 69 sebanyak 4 anak, 71 sebanyak 1 anak, 72 sebanyak 2 anak, 74 sebanyak 1 anak, 75 sebanyak 1 anak, 78 sebanyak 2 anak, 79 sebanyak 1 anak, 95 sebanyak 1 anak, tidak hadir 1. Pada siklus II dari 28 anak, sebanyak 22 anak (78,6%) dinyatakan tuntas, yang masih belum tuntas 6 anak (21,6%. Siswa yang mendapat 90 sebanyak 4 anak, 80 sebanyak 9 anak, 70 sebanyak 6 anak, 60 sebanyak 3 anak, 50 sebanyak 3 anak, 30 sebanyak 2 anak, tidak hadir 1. Penilaian proses belajar siswa siklus I pertemuan 1 sebanyak 17 anak (60,7%) dinyatakn tuntas. Siswa yang mendapat nilai 100 sebanyak 1 anak, 95 sebanyak 1 anak, 90 sebanyak 3 anak, 85 sebanyak 3 anak, 80 sebanyak 2 anak, 75 sebanyak 3 anak, 70 sebanyak 2 anak, 60 sebanyak 2 anak, 55 sebanyak 1 anak, 50 sebanyak 5 anak, 45 sebanyak 1 anak, 40 sebanyak 3 anak, 35 sebanyak 1 anak. Pertemuan 2 sebanyak 19 anak (67,9%) dinyatakan tuntas. Siswa yang mendapat nilai 90 sebanyak 3 anak, 85 sebanyak 1 anak, 80 sebanyak 2 anak, 75 sebanyak 2 anak, 70 sebanyak 4 anak, 65 sebanyak 5 anak, 60 sebanyak 2 anak, 55 sebanyak 1 anak, 50 sebanyak 4 anak, 45 sebanyak 1 anak, 40 sebanyak 2 anak, tidak hadir 1. Pertemuan di siklus II ditemukan 24 anak (85,7%) dinyatak tuntas. Siswa yang mendapat nilai 95 sebanyak 2 anak, 90 sebanyak 3 anak, 85 sebanyak 3 anak, 80 sebanyak 1 anak, 75 sebanyak 2 anak, 70 sebanyak 1 anak, 65 sebanyak 5 anak, 60 sebanyak 7 anak, 55 sebnyak 1 anak, 50 sebanyak 2 anak, tidak hadir 1. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan konstruktivistik dapat meningkatkan hasil belajar mencari ide pokok paragraf dan kualitas proses belajar siswa kelas V SDN Purwodadi 1 Malang. Untuk penelitian yang selanjutnya disarankan mengembangkan pendekatan konstruktivistik lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan dengan memperbaiki penggunaaan media.

Pola suksesi internal pada perusahaan keluarga (studi pada tiga perusahaan keluarga etnis Jawa, Cina, dan Pendalungan di Jawa Timur) / Sentot Imam Wahjono

 

Program Studi Pendidikan Ekonomi. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahjoedi, ME, (II) Prof. Dr. M. Syafi’ie Idrus, M.Ec., (III) Prof. Dr. JG. Nirbito. Kata-kata kunci: suksesi internal, perusahaan keluarga, budaya bisnis. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola yang terjadi dalam proses alih kepemimpinan antar generasi dalam perusahaan keluarga (suksesi internal). Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini menggunakan beberapa informan kunci untuk memperoleh data pada tiga perusahaan keluarga terpilih. Untuk membangun profil data yang lebih kaya, digunakan teknik wawancara mendalam dan pengamatan luar. Informan kunci adalah para pemangku kepentingan di tiga perusahaan keluarga yang mewakili masing-masing etnis Jawa, Pendalungan, dan Cina. Pola suksesi internal yang terjadi di tiga etnis Jawa, Pendalungan, dan Cina mempunyai karakter yang berbeda dikarenakan adanya perbedaan praktek budaya. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk membuat perencanaan suksesi dan/atau saat pengumuman suksesi. Temuan ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan keluarga setelah proses suksesi berlangsung. Originalitas/nilai dari penelitian ini adalah menyumbangkan pola suksesi internal yang didesain dari perusahaan keluarga dengan latar budaya Jawa, Pendalungan, dan Cina di Jawa Timur. Implikasi praktis atas penelitian ini adalah bahwa budaya lokal yang melingkupi budaya organisasi hendaknya menjadi pertimbangan utama dalam melakukan suksesi internal agar kinerja perusahaan keluarga dapat dipelihara dan ditingkatkan. Sifat hubungan yang hierarkis, tidak individualis, proaktif, memandang orang lain baik dan tidak jahat yang bersumber pada ajaran agama hendaknya dijadikan dasar bagi pembentukan budaya organisasi. Implikasi teori bagi Pendidikan Ekonomi dari hasil temuan penelitian ini adalah bahwa pendidikan ekonomi bisa berlangsung di masyarakat dan keluarga tidak hanya di sekolah saja. Pendidikan ekonomi di keluarga menjadi strategis karena keluarga merupakan tempat pengembangan yang paling baik atas tata nilai, sikap, dan perilaku ekonomis.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student team achievement divisions (STAD) dengan menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial, keterampilan proses, dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII A SMP Islam Paiton Probolinggo / Fad

 

Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, model STAD, Metode Eksperimen, Kemampuan Berinteraksi Sosial, Keterampilan Proses, dan Prestasi Belajar. Hasil observasi awal kemampuan interaksi sosial siswa masih rendah, Keterampilan Proses Siswa juga masih rendah, dan prestasi belajar fisika siswa masih rendah. Ketuntasan belajar fisika siswa hanya mencapai 37,04 %. Menurut hasil wawancara informal dengan guru fisika kelas VII A SMP Islam Paiton Probolinggo menunjukkan bahwa pembelajaran fisika masih sering dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan jarang guru melakukan praktikum maupun diskusi kelompok. Pembelajaran Model STAD memiliki empat tahap penelitian meliputi tahap presentasi kelas, studi kelompok, tes individu, dan penghargaan. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen, kemampuan berinteraksi sosial, keterampilan proses, dan prestasi belajar yang terdiri dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosial, keterampilan proses, dan prestasi belajar siswa. Pada Siklus I pencapaian indikator interaksi sosial siswa mencapai 65,01% dengan kriteria cukup baik dan pada Siklus II meningkat menjadi 77,85% dengan kriteria baik. Pencapaian indikator keterampilan proses siswa dalam aspek kognitif pada Siklus I mencapai 70,74% dengan kriteria cukup baik dan pada Siklus II meningkat menjadi 85,74% dengan kriteria baik sekali. Sedangkan dalam aspek psikomotorik pada Siklus I mencapai 64,44% dengan kriteria cukup baik meningkat menjadi 85,92% dengan kriteria baik sekali. Nilai rerata fisika siswa pada Siklus I mencapai 66,67 dengan persentase ketuntasan 59,26 % dan meningkat menjadi 71,48 dengan persentase ketuntasan 70,37 % pada Siklus II.

Implementasi model pembelajaran make a match untuk meninhkatkan keaktifan belajar IPS geografi materi atmosfer pada siswa kelas VII C di MTs Negeri Jetis Ponorogo semester genap tahun ajaran 2010/2011 / Ata Najdatul Luthfiana

 

Kata Kunci: model pembelajaran Make A Match, keaktifan belajar Berdasarkan observasi selama proses pembelajaran di kelas berlangsung pada tanggal 27 dan 29 Januari 2011 diperoleh kesimpulan bahwa keaktifan belajar siswa secara klasikal berada dalam kategori cukup dengan perolehan persentase 50,91% saja. Keberhasilan tindakan siswa secara individu dari 34 siswa seluruhnya berada dalam kategori cukup. Penyebab siswa kurang aktif selama proses pembelajaran dikarenakan model pembelajaran yang dipergunakan tidak bervariasi masih berupa metode tradisonal yaitu ceramah yang berujung pada siswa akan mudah mengalami kebosanan, tidak bersemangat yang akhirnya akan melakukan kegiatan lain di luar kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Keaktifan siswa di dalam kelas yang minim ini berdampak terhadap hasil belajar yang dicapai siswa kelas VII C, yaitu sebanyak 83% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ada di MTs Negeri Jetis yaitu 70. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan implementasi model pembelajaran Make A Match. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri Jetis pada bulan Februari 2011, dengan subjek siswa kelas VII C yang berjumlah 34 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data keaktifan belajar siswa menggunakan lembar observasi keaktifan belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I keaktifan belajar siswa telah berada dalam taraf keberhasilan baik yaitu 69,21%, sedangkan keaktifan siswa secara individu sebanyak 31 siswa sudah berada dalam kategori baik. Pada siklus II terjadi peningkatan keaktifan belajar siswa sebesar 15,32% yakni dari 69,21% menjadi 79,86% dengan keaktifan siswa secara individu sebanyak 17 siswa berada dalam kategori baik dan sisanya 17 siswa berada dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan keaktifan belajar IPS geografi materi atmosfer pada siswa kelas VII C di MTs Negeri Jetis Ponorogo, sehingga disarankan kepada para guru geografi untuk mencoba menerapkan model pembelajaran Make A Match agar kualitas pembelajaran geografi semakin meningkat. Kepada pihak sekolah disarankan agar memberikan fasilitas yang menunjang keberhasilan penerapan model pembelajaran tersebut di dalam kelas.

Implementasi pembelajaran kontekstual strategi pembelajaran inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran melakukan prosedur administrasi (studi pada siswa kelas X APK di SMK Muhammadiyah 02 Malang) / Suprapti Ningsih

 

Kata Kunci : pembelajaran kontekstual, strategi pembelajaran inquiry, hasil belajar siswa Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Peran pendidikan yaitu untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Pemilihan strategi dalam penerapan pembelajaran juga sangat menentukan kualitas pembelajaran dalam proses belajar-mengajar di kelas. Oleh karena itu diperlukan pembaharuan dalam pendidikan, yaitu yang tidak mengharuskan siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan yang ada pada diri siswa sendiri. Dengan pembelajaran Kontekstual siswa bukan hanya mengetahui apa yang dipelajari tetapi siswa juga akan mengalami apa yang dipelajari sehingga belajar siswa lebih bermakna. Dalam strategi belajar ini siswa dituntut untuk lebih belajar mandiri dan guru hanya sebagai fasilitator. Strategi Pembelajaran Inquiry merupakan bagian atau komponen inti dari pelaksanaan pendekatan pembelajaran kontekstual. Dalam strategi ini siswa belajar menemukan sesuatu dan mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah dengan cara atau melalui pertanyaan baik kepada guru maupun kepada sesama teman. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi dan observasi di kelas X APK SMK Muhammadiyah 02 Malang, diketahui bahwa siswa cenderung pasif dalam mengikuti mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi. Selain itu interaksi belajar siswa kurang, serta siswa tidak dapat belajar mandiri yaitu dalam proses belajar-mengajar siswa hanya mencatat dan hanya sebagian kecil siswa yang berani bertanya atau menjawab pertanyaan. Hal tersebut merupakan merupakan factor yang menyebabkan guru mata pelajaran masih menggunakan pembelajaran konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran Kontekstual Strategi Pembelajaran Inquiry untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi siswa kelas X jurusan APK SMK Muhammadiyah 02 Malang. Dari hasil analisis data dan refleksi dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran Kontekstual Strategi Pembelajaran Inquiry yang diterapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai post test pada sebelum pelaksanaan pembelajaran Kontekstual pada Siklus I diperoleh rata-rata nilai 78,43 dan Siklus II diperoleh nilai rata-rata 85,77. Disamping itu indikator lain adalah siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar dan dalam menjawab pertanyaan, memberikan tanggapan, serta sanggahan. Dengan demikian hasil yang diperoleh sesuai dengan hipotesis tindakan yang diajukan, yaitu benar bahwa pembelajaran Kontekstual Strategi Pembelajaran Inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 02 Malang.

Penerapan model pembelajaran non direktif untuk meningkatkan hasil belajar PKn kelas III MI Yaspuri Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Samsul Anam

 

Kata Kunci : Model pembelajaran, Non Direktif, Hasil belajar Hasil observasi awal di MI Yaspuri Malang ditemukan bahwa pembelajaran PKn kelas III materi norma yang ada di Masyarakat masih kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru mendominasi pembelajaran, melalui kegiatan ceramah dan mencatat. Hasil belajar siswa rata-rata 60 atau masih dibawah SKBM yang telah ditentukan oleh pihak sekolah yakni 70. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran non direktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Penerapan model pembelajaran non direktif, (2) Hasil belajar PKn siswa kelas III menggunakan model pembelajaran non direktif. Penelitian ini dilakukan di MI Yaspuri Kota Malang dengan subyek siswa kelas III sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 15 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Tanggart. meliputi (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflecting).Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dan tes. Penerapan model non direktif telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan Langkah-langkahnya, yaitu 1) menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas, 2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya 3) pengembangan pemahaman 4) perencanaan dan penentuan keputusan, 5) integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif, pada umumnya semua aspek pembelajaran mendapat skor 4 dan 3 dengan kriteria A dan B, artinya guru telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan model non direktif. Kesimpulan hasil penelitian ini pada siklus I guru dalam menerapkan model non direktif ini mendapatkan skor 38 dengan prosentase keberhasilan 86%, artinya penerapan model non direktif ini sudah dapat berjalan dengan baik, dan pada siklus II terjadi peningkatan perolehan skor oleh guru yaitu 41 dengan prosentase keberhasilan sebesar 94%, artinya terjadi peningkatan sebesar 10% dari siklus I ke siklus II. Dengan perolehan skor 41 dengan prosentase keberhasilan 94% dapat dikatakan bahwa penerapan model non direktif yang dilakukan oleh guru semakin meningkat.Hasil belajar siswa juga meningkat dari pratindakan ke akhir siklus II. Nilai rata-rata siswa pada pratindakan adalah 49,2 pada siklus I adalah 76,6 dan pada akhir siklus II adalah 83,3. Ketuntasan belajar klasikal pada pratindakan adalah 24%, pada akhir siklus I adalah 65,5% dan pada akhir siklus II adalah 93,1% siswa telah mencapai SKBM.

Peningkatan kemampuan menyimak melalui metode latihan (drill) pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang / Wirardharani Putriwibowo

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, metode latihan (drill), bahasa Indonesia, SD. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil kesusastraan manusia Indonesia. Namun, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang pada waktu pembelajaran bahasa Indonesia didapatkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih kurang optimal dalam pengembangan kemampuan aspek berbahasa siswa, dan terlebih siswa kurang dapat menangkap materi pembelajaran dengan baik. Kesimpulan ini diperoleh dari hasil pre tes pada pra tindakan menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa masih minim, disamping itu sedikitnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran membuat siswa kurang aktif serta tanggap dalam pembelajaran, terlebih dimana dalam pembelajaran bahasa Indonesia idealnya diajarkan dengan mencakup keseluruhan aspek berbahasa seperti menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dari data observasi siswa yang didapat pada pra tindakan menunjukkan rata-rata hasil evalusi siswa hanya mencapai 63,75 dengan ketuntasan klasikal sebesar 31,25 %.Untuk itu agar dapat meningkatkan kemampuan siswa pada aspek bahasa terutama menyimak perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode latihan (drill), dengan memperhitungkan keruntutan (sequence) pada saat pembelajaran berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pengimplementasian metode latihan (drill) untuk meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas IV SDN Jatimulyo1 Kota Malang dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyimak melalui metode latihan (drill) pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui peningkatan kemampuan menyimak siswa melalui metode latihan (drill ) pada siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang pada materi menyampaikan kembali pengumuman, dapat dilaksanakan dengan efektif. Kemampuan menyimak siswa yang diukur lewat lembar penilaian menyimak siswa meningkat dari 60,41 pada awal siklus I menjadi 75,52 pada akhir siklus II. Hasil evaluasi belajar juga meningkat dari rata-rata 63,75 dan ketuntasan kelas 31,25% sebelum tindakan menjadi rata-rata 85,62 dan ketuntasan kelas mencapai 81,25% pada akhir siklus II selain itu kemampuan menyimak siswa dengan yang diukur dengan lembar pengamatan pembelajaran melalui metode latihan (drill) pada siklus I yang hanya 83,33 meningkat menjadi 95,83 pada akhir siklus II. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa metode latihan (drill) dapat meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Kota Malang.

Rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah / Willy Bayu Erlangga

 

Kata Kunci: Timbangan Digital, Sensor, Mikrokontroler, LCD. Penggunaan timbangan mulai dari timbangan jenis konvensional, digital sampai pada jenis timbangan dinamis. Timbangan digital merupakan salah satu jenis timbangan yang memiliki nilai keakuarasian lebih tinggi dari pada jenis timbangan konvensional (mekanik). Dalam rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah ini, diperlukan beberapa perangkat diantaranya ialah perangkat keras dan perangkat lunak. Perancangan dan pembuatan sistem perangkat keras meliputi 5 unit rangkaian elektronik, yaitu meliputi perancangan rangkaian sensor berat (Load Cell), dengan berat maksimal 5kg rangkaian minimum sistem mikrokontroler Atmega16, dan rangkaian LCD, dan keypad. Sedangkan perancangan untuk perangkat lunak meliputi pemrograman bahasa C (codevivsion AVR). Dalam rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah, didapatkan hasil pengujian yang menunjukkan karakteristik sensor ketika diberi beban mulai dari 0,5kg – 5kg bersifat linier. Maksud dari sifat liner adalah perubahan keluaran sensor yang konstan terhadap beban yang diberikan. Pada hasil pengujian didapatkan error sebesar 1,2%, dan memilki ketelitian penimbangan 100/gram. Dari rancang bangun timbangan digital dengan pemilihan jenis buah didapatkan bahwa harga satuan buah dapat diubah mulai dari Rp.0000 – Rp.9999. Harga akumulasi merupakan perkalian dari berat buah terhadap harga satuan. Sedangkan untuk kerja dari sensor berat dapat bekerja sesuai dengan karakteristik kerja dari 0kg-5kg. Dari hasil pengujian dan analisis didapatkan bahwa timbangan digital dengan pemilihan jenis buah dapat bekerja dengan baik, ketika diberi masukkan tegangan 5VDC, dan Keluaran sinyal listrik dari sensor akan mengalami kenaikan apabila mendapatkan beban dan akan mengalami penurunan apabila beban dikurangi.

Pengembangan multimedia pelajaran matematika bangun datar untuk kelas VII SMPN 13 Malang / Feri Norsyati

 

Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia, Matematika Bangun Datar Pengembangan multimedia untuk matematika bangun datar ini merupakan media yang dapat membuat siswa termotivasi dalam belajar secara klasikal. Pada kondisi nyata pembelajaran matematika di SMPN 13 Malang yang memiliki laboratorium matematika dengan fasilitas yang mendukung seperti LCD, TV, VCD, komputer dll namun pemanfaatannya belum maksimal untuk pembelajaran maka dengan adanya media pembelajaran ini dapat membuat pembelajaran matematika menjadi menarik dan menjadi tambahan koleksi di laboratorium matematika. Selain itu proses belajar mengajar sering terjadi di dalam kelas dengan sumber dari buku dan LKS maka diharapkan dengan adanya media ini maka dapat membuat pembelajaran matematika lebih bervariasi dan dapat menjadi media yang menarik bagi siswa. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan suatu produk yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di SMPN 13 Malang dan memvalidasi media yang berupa pengembangan multimedia matematika bangun datar di SMPN 13 Malang. Subyek uji coba dalam pengembangan ini adalah siswa SMPN 13 Malang kelas VII semester 2 kelas VII D dengan jumlah siswa sebanyak 38 siswa. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif bersumber dari angket yang diisi oleh ahli media, ahli materi dan audien sedangkan kuantitaif bersumber dari pre test dan post test yang diberikan kepada siswa. Hasil dari pengembangan ini berupa CD pembelajaran matematika bangun datar. Multimedia ini divalidasikan kepada ahli media, ahli materi dan audien. Adapun hasil uji coba yang telah dilakukan yaitu (1) ahli media didapatkan skor persentase sebesar 92,5% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid (2) ahli materi didapatkan skor persentase sebesar 90% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid (3) uji coba perseorangan didapatkan skor persentase sebesar 78,3% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid (4) uji coba kelompok kecil didapatkan skor persentase sebesar 74% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan valid (5) uji coba lapangan didapatkan skor persentase sebesar 76% berdasarkan pada kriteria kelayakan multimedia ini dikatakan sangat valid. Pada data hasil pre test dan post test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar terlihat dengan adanya skor rata-rata pre test 65 sedangkan skor rata-rata post test 90, untuk data hasil belajar kelompok kecil skor rata-rata pre test 68 sedangkan skor rata-rata post test 88 dan untuk data hasil belajar lapangan skor rata-rata pre test 67 sedangkan skor rata-rata post test 87. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa yang belajar dengan menggunakan multimedia pelajaran matematika bangun datar hasil belajarnya lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa sebelum menggunakan multimedia tersebut. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah multimedia pelajaran matematika bangun datar yang dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Saran pengembangan ini adalah (1) bagi sekolah, dengan adanya CD multimedia ini diharapkan dapat dijadikan masukan untuk memperbanyak media multimedia sehingga dapat menunjang proses pembelajaran (2) bagi guru, pada saat guru memanfaatkan multimedia ini guru harus mempelajari petunjuk pemanfaatan dan melaksanakannya sesuai dengan petunjuk agar pemanfaatan dapat berjalan dengan lancar (3) bagi siswa, saat melihat tayangan hendaknya disertai dengan membuka buku yang berkaitan dengan materi sehingga apa yang dilihat dapat disesuaikan dengan materi yang ada dibuku (4) bagi pengembang selanjutnya, lebih memperhatikan pemilihan materi, pemilihan software yang digunakan, komposisi warna dan gambar, dan animasi agar dapat menghasilkan media yang layak untuk disajikan.

Analisis anggaran pendapatan jasa pelayanan dalam upaya perencanaan dan pengendalian pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang / Lissa Bela Candra Adi Putri

 

Kata Kunci : analisis anggaran pendapatan jasa, perencanaan dan pengendalian. Anggaran adalah suatu hal yang sangat penting bagi operasional perusahaan, karena melalui anggaran perusahaan dapat memperkirakan besarnya penerimaan dan pengeluaran yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Terkait dengan hal tersebut, pihak manajer perlu mempersiapkan anggaran secara komprehensif berupa pendapatan dan biaya. Untuk menyusun anggaran yang baik, diperlukan teknik-teknik forecast sehingga penyusunan anggaran tesebut sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui anggaran pendapatan jasa pelayanan serta untuk mengetahui perkembangan pendapatan jasa pelayanan pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 dengan menggunakan metode trend moment. Disamping itu, penulisan ini untuk mengetahui peranan anggaran sebagai alat perencanaan dan pengendalian pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data laporan tugas akhir ini adalah Studi Pustaka dan Studi Lapangan sedangkan teknik yang digunakan adalah Wawancara atau Interview dan Dokumentasi atau Documentation. Metode dan teknik pemecahan masalah yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif yaitu dengan menggunakan metode trend moment untuk menghitung proyeksi pendapatan jasa untuk tahun yang akan datang dan analisis selisih (varians) dilakukan untuk mengetahui penyimpangan yang terjadi antara realisasi dan anggaran yang telah ditetapkan dalam upaya perencanaan dan pengendalian perusahaan. Hasil analisis ini adalah penyusunan anggaran pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang dirasa kurang efektif sebagai alat perencanaan dan pengendalian karena terdapat varians yang sangat besar terhadap realisasi pendapatan jasa. Hal ini disebabkan karena penyusunan target yang ditetapkan terlalu tinggi, perusahaan hanya menggunakan perkiraan tanpa memperhatikan realisasi tahun sebelumnya atau teknik-teknik dalam forecast dan ketidakefektifan kinerja perusahaan akibat keluarnya beberapa karyawan yang bergerak di bidang pemasaran. Karena itu, untuk tahun selanjutnya sebaiknya PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang dalam menentukan target pendapatan jasa juga harus memperhatikan teknik-teknik dalam forecast misalnya saja dengan menggunakan metode trend moment serta tanpa meninggalkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada agar hasil atau target yang dibuat mendekati realisasi pendapatan jasa.

Penggunaan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik untuk meningkatkan kemahiran menulis bahasa Arab siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang / Ita Maurina Islami

 

Kata Kunci: Kalimat tanya (5W+1H), gambar tematik, kemahiran menulis. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar sangatlah penting untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, sehingga hasil yang diperolehnya pun akan meningkat. Penggunaan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik adalah salah satu model pembelajaran menulis bahasa Arab yang menggunakan media gambar tematik. Gambar tematik merupakan gambar tunggal yang mempunyai tema tertentu yang terdiri atas unsur-unsur yang berkaitan dengan gambar dan berukuran besar. Kalimat tanya (5W+1H) yang terdiri atas madza, man, aina, mata, limadza dan kaifa berfungsi untuk mendorong dan mengarahkan siswa untuk berfikir dan mengungkapkan idenya dalam bentuk tulisan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang dan mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kulitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan non tes. Teknik tes dilakukan melalui pre tes, post tes siklus I, dan post tes siklus II, sedangkan teknik non tes dilakukan dengan wawancara, penyebaran angket, observasi dan dokumentasi.Untuk melakukan analisis hasil validasi temuan, peneliti melakukan pengumpulan dan pengecekan data, mereduksi data, menyajikan data dan menyimpulkan data. Penelitian ini dilakukan dua siklus dengan dua kali pertemuan dalam tiap siklusnya, yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pertemuan pertama untuk pembelajaran qira'ah dan pengedrillan kosa kata sedangkan pertemuan kedua untuk pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik. Pembelajaran menulis dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik pada siklus I sudah mulai tampak antusiasme siswa dalam belajar. Disisi lain, sebaiknya guru terlebih dahulu mengedrillkan kosa kata yang berhubungan dengan tema materi, agar siswa tidak menanyakan secara terus menerus mufrodat yang akan mereka tulis. Hasil pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik siswa kelas XI SMA Darul Ulum Agung Malang meningkat, hal ini terlihat pada hasil pos tes siklus I yang menunjukkan jumlah skor rata-rata nilai 70 dengan 54% siswa dikategorikan tuntas dan 46% belum mencapai nilai standar. Penerapan pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan kalimat tanya (5W+1H) pada gambar tematik pada siklus II siswa sudah berani mengungkapkan dan mengembangkan idenya dalam tulisan sehingga hasilnya pun memuaskan, hal ini dapat pada pos tes silkus II jumlah skor rata-rata nilai 79 dengan 75% siswa dikategorikan tuntas dan 25% siswa dikategorikan belum tuntas sedangkan standar ketuntasan minimal (SKM) yang yang digunakan 75. Oleh karena itu, disarankan kepada guru bahasa Arab untuk menerapkan dan mengembangkan pembelajaran berbasis media gambar sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil pembelajaran menulis bahasa Arab siswa. Agar peneliti lain untuk mengembangkan dan memperluas cakupan penelitian dengan subjek yang berbeda dan paparan yang lebih luas dan lebih baik.

Penerapan model pembelajaran advance organizer untuk meningkatkan proses dan hasil belajar pembelajaran PKn pada siswa kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Titik Puspitasari

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Advance Organizer, Proses dan Hasil Belajar . Berdasarkan observasi awal di SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan rata-rata prestasi belajar siswa kelas V untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah 67 , nilai tersebut masih di bawah SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan adalah 70. Dengan mempelajari pendapat peneliti terdahulu yang melakukan penerapan model pembelajaran Advance organizer dalam Penelitian Tindakan Kelas ternyata dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan pada akhirnya juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan yang diharapkan dari penelitian adalah:1) Mendiskripsikan peningkatan proses pembelajaran PKn pada siswa kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan setelah menerapkan model pembelajaran Advance Organizer. 2) Mendiskripsikan peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan setelah menerapkan model pembelajaran Advance Organizer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). yang dikembangkan oleh Kemmis dam Mc Tanggart.meliputi empat jalur (langkah), yaitu: 1) Planning/perencanaan; 2) acting/ tindakan , 3) observing/pengamatan; 4) reflecting /perefleksian.Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan sebanyak 29 siswa. Teknik pengumpulan data akan dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Advance organizer dapat meningkatkan proses dan hasil belajar Siswa Kelas V SDN Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Hal tersebut terbukti pada pra tindakan nilai rata – rata 64,8 pada siklus I hasil nilai rata-rata meningkat 73,8 dan pada siklus II rata-rata 80. Berdasarkan lembar observasi kegiatan siswa dan guru memperoleh skor 75 % dengan kategori cukup, pada siklus berikutnya meningkat 95,8 % dengan kategori A. Untuk lebih meningkatkan aktivitas siswa, diharapkan dalam penerapan Model pembelajaran Advance organizer divariasikan atau disertai dengan penggunaan metode-metode pembelajaran yang lainnya yang berorientasi pada aktivitas siswa. Contohnya penggunaan model pembelajaran Advance organizer dipadukan dengan metode discovery.

Pengaruh persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia terhadap minat belajarnya / Irma Kurniawati

 

Kata kunci: persepsi, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), minat belajar Persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia adalah proses penilaian atau cara pandang siswa mengenai keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah mereka yang meliputi persepsi tentang sikap dan praktik mengajar guru PPL di dalam kelas. Minat belajar siswa merupakan keseluruhan daya pendorong atau penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi tercapainya suatu tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia, (2) persepsi siswa tentang cara mengajar guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia, (3) persepsi siswa tentang sikap guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia, (4) minat belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia setelah menerima pelajaran dari guru PPL, (3) pengaruh persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL terhadap minat belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner (angket). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah stratified random sampling dengan jumlah sampel 400 responden. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persepsi siswa tentang keberadaan guru PPL mata pelajaran bahasa Indonesia berpengaruh terhadap minat belajarnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai R Squere ke empat sekolah yang menunjukkan angka 0.285 artinya hubungan kedua variabel tersebut sebesar 28,5%, dimana hubungan kedua variabel tersebut relatif rendah/tidak terlalu kuat. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) pihak-pihak sekolah hendaknya lebih membimbing dan membina guru-guru PPL, karena hal tersebut berpengaruh pada minat belajar siswa, (2) mahasiswa (guru PPL) hendaknya meningkatkan kemampuan mengajar dan faktor-faktor lainnya agar siswa lebih berminat untuk belajar dan tidak cepat merasa jenuh dengan mata pelajaran yang dihadapinya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan (3) bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian sejenis, hendaknya hasil penelitian ini lebih dikembangkan mengingat keterbatasan penelitian, dengan mengembangkan indikator dan teknik pengumpulan data sehingga variabel-variabel dapat diukur lebih luas. Akan lebih baik pula jika pengumpulan data kuesioner dikombinasikan dengan teknik wawancara atau observasi.

Penerapan model TSTS untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Bandungrejosari 1 Kota Malang / Zulfa Nur Urida

 

Kata kunci: Model TSTS (Two Stay Two Stray), pembelajaran, IPA Berdasarkan hasil observasi dilakukan oleh peneliti pada kelas 5B SDN Bandungrejosari 1 Kota Malang pada waktu pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru masih berpusat pada guru dan masih menggunakan cara konvensional, sehingga siswa mengalami kebosanan dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Dari nilai siswa pada materi sistem pencernaan manusia menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 55 dengan ketuntasan kelas 12,5%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keaktivan dan hasil belajar siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model TSTS (Two Stay Two Stray). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model TSTS, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa melalui penggunaan model TSTS, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model TSTS. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5B SDN Bandungrejosari 1 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model TSTS untuk pembelajaran IPA siswa kelas 5B SDN Bandungrejosari 1 dengan standar kompetensi "Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model" dapat dilaksanakan sesuai dengan langkah model TSTS. Penerapan model TSTS oleh guru mendapat nilai rata-rata 82,5 pada siklus I dan meningkat menjadi 93,5 pada siklus II. Aktivitas siswa pada pembelajaran dengan penerapan model TSTS meningkat dari 51,5 pada awal siklus I menjadi 79,8 pada akhir siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 55 dan ketuntasan kelas 12,5% sebelum tindakan menjadi rata-rata 82,2 dan ketuntasan kelas mencapai 80% pada akhir siklus II.

Penerapan model quantum teaching untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Kota Malang / Murti Yuni Wulandari

 

Kata Kunci : model quantum teaching, Ilmu Pengetahuan Sosial, aktivitas belajar, hasil belajar. Berdasarkan fakta yang ditemukan peneliti terdapat pemasalahan yang terjadi di kelas IVA SDN Ketawanggede I Kota Malang dalam aktivitas dan hasil belajar pada siswa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas IV di SDN Ketawanggede I Kota Malang, menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih mengandalkan guru sepenuhnya atau masih teacher centered. Guru lebih sering menggunakan ceramah dalam kegiatan belajarnya. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) mendeskripsikan penerapan model quantum teaching pada mata pelajaran IPS siswa kelas IVA di SDN Ketawanggede I Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa kelas IVA pada mata pelajaran IPS melalui penerapan model quantum teaching, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IVA pada mata pelajaran IPS melalui model quantum teaching. Penelitian ini menggunakan desain PTK yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu: (1) planning (perencanaan), (2) acting and observing (tindakan dan pengamatan), (3) reflecting (refleksi), dan (4) revise plan (perbaikan rencana). Pelaksanaan siklus II sama dengan siklus I yang terdiri atas 4 (empat) tahapan. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil yaitu: (1) Melalui penerapan model quantum teaching dalam pembelajaran IPS dikelas IVA siswa lebih aktif dan tidak bosan dalam belajar IPS, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I dan siklus II diperoleh rata-rata aktivitas belajar pada siklus I sebesar 45,61%, siklus II 90,26% (3) peningkatan hasil belajar siswa diperoleh perolehan skor rata-rata postes siswa yang meningkat secara bertahap, dari rata-rata sebelum tindakan 53,08 (3,85%) menjadi 72,48 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 46,15% dan meningkat lagi menjadi 85,02 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 86,54% pada siklus II. Pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal diatas 75%. Berdasarkan penelitian ini disarankan bagi: (1) guru diharapkan dapat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran seperti penggunaan model pembelajaran dan mengkombinasikannya dengan beberapa metode pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) penelitian lanjutan semoga dapat mengembangkan penelitian tentang pembelajaran model quantum teaching serta memperbaiki keterbatasan penelitian ini seperti halnya guru agak sulit mengendalikan keramaian anak pada saat proses pembelajaran serta kesulitan mengalokasikan waktu, maka pada penelitian lanjutan untuk menerapkan model quantum teaching dengan menggunakan team teaching

Peningkatan keaktifan dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Bandungrejosari 1 Malang dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw / Jauharotul Mufidah

 

Kata kunci: Model Kooperatif jigsaw, hasil belajar, keaktifan, IPA, SD. Model kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan interaksi sosial antar siswa dan juga dapat melatih rasa tanggung jawab siswa, karena disini siswa dituntut untuk bisa memahamkan temannya mengenai materi yang telah dipelajarinya. Dengan begitu, kualitas pembelajaran akan dapat meningkat. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas 5 SDN Bandungrejosari 1 Malang pada waktu pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi, siswa terlihat kurang aktif dan banyak yang mengantuk. Dari nilai siswa pada materi bahan penyusun benda menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 55,35 dengan ketuntasan kelas 30%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65.00 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif jigsaw. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, (2) mendeskripsikan peningkatan keaktifan siswa melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif jigsaw. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif.Subjek penelitian adalah siswa kelas 5A SDN Bandungrejosari 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk pembelajaran IPA siswa kelas 5A SDN Bandungrejosari 1 dengan standar kompetensi “Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model” dapat dilaksanakan dengan efektif. Keaktifan siswa meningkat dari 49,45 pada awal siklus I menjadi 77,49 pada akhir siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 55,35 dan ketuntasan kelas 30% sebelum tindakan menjadi rata-rata 71,90 dan ketuntasan kelas mencapai 65% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melakukan model pembelajaran kooperatif jigsaw, sebaiknya guru melakukan persiapan yang matang dalam pembagian kelompok ahli maupun kelompok asal untuk menghindari kekacauan dalam pengorganisasian kelompok, guru dapat menggunakan stiker penanda kelompok baik dalam kelompok ahli maupun pada kelompok asalnya agar tidak terjadi kebingungan pada siswa saat harus berkumpul ke kelompok ahli maupun kembali ke kelompok asal.dan tidak terlalu banyak dalam membagi anggota dalam kelompok (4-6 siswa).

Pengembangan virtual praktikum IPA berbasis inquiry terbimbing kelas VII semester II di SMPN 1 Suruh Kab. Trenggalek / Dwi Hertanti

 

Kata Kunci: Pengembangan, Virtual praktikum, Inquiry Terbimbing, Ilmu Pengetahuan Alam Virtual Praktikum merupakan kegiatan praktikum yang dilakukan seperti sesungguhnya. Virtual Praktikum dilakukan di komputer bukan di laboratorium yang sebenarnya. Virtual Praktikum ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam penggunaannya, praktikum yang tersaji dalam media ini berbasis inquiry terbimbing. Praktikum berbasis inquiry terbimbing merupakan kegiatan praktikum yang diarahkan untuk memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan percobaan. Praktikum ini memerlukan bimbingan selangkah demi selangkah.serta bantuan untuk mengembangkan pengetahuan baru. Pada pengembangan ini, penulis mengambil subyek penelitian kelas VII dan mengambil salah satu kelas yaitu kelas VIIE. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal di SMPN 1 Suruh, proses pembelajaran masih dilakukan secara konvensional. Laboratorium IPA juga belum berfungsi secara optimal sehingga siswa tidak pernah melakukan kegiatan praktikum. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan kegiatan praktikum yang berupa virtual praktikum IPA yang didesain dalam bentuk CD Interaktif. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk berupa virtual praktikum IPA berbasis inquiry terbimbing untuk SMP kelas VII semester II sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SMPN 1 Suruh Kabupaten Trenggalek kelas VII semester II. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari validasi ahli media, ahli materi dan audiens/ siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Terdapat petunjuk guru dan siswa. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa virtual praktikum IPA yang dikemas dalam bentuk CD interaktif kelas VII Semester II . Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan audiens/ siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) Ahli media, didapatkan skor persentase sebesar 88,75% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 2) Ahli materi, didapatkan skor presentase 80 % berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid , 3) Uji Coba perseorangan, didapatkan skor persentase sebesar 85% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 4) Uji Coba kelompok kecil, didapatkan skor persentase sebesar 82,5% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 5) Uji Coba lapangan, didapatkan skor persentase sebesar 82,5% berdasarkan pada kriteria kelayakan virtual praktikum IPA ini dikatakan valid, 6) Data hasil pre-test dan post-test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 16,6 dengan peningkatan nilai terendah 0 dan tertinggi 40. Data hasil pre-test dan post-test kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 8 dengan peningkatan nilai terendah 0 dan tertinggi 20. Data hasil pre-test dan post-test lapangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 10 dengan peningkatan nilai terendah 0 dan tertinggi 40. Dengan demikian menurut kriteria kelayakan virtual praktikum IPA yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran Kesimpulan dari pengembangan ini adalah virtual praktikum IPA yang dikembangkan termasuk valid digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: 1) Bagi Kepala Sekolah, dengan adanya virtual praktikum IPA ini diharapkan dijadikan masukan untuk lebih mengoptimalkan sarana dan prasarana laboratorium IPA untuk menunjang proses pembelajaran IPA 2) Bagi Guru, diharapkan mampu menguasai teknik pembuatan sehingga guru mampu untuk memproduksi sendiri virtual praktikum IPA tersebut 3) Bagi siswa, siswa harus mempunyai keterampilan dasar dalam pengoperasian komputer dan beberapa kemampuan dan keterampilan lainnya untuk mendukung penggunaan media virtual praktikum IPA ini 4) Bagi pengembang selanjutnya, virtual Praktikum IPA ini hendaknya dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Dalam Pengembangan virtual praktikum IPA perlu ada perbaikan dalam hal petunjuk untuk user lebih diperjelas dan belum ada profil pembuat program, tetapi secara keseluruhan visualnya sudah cukup baik.

Bersih desa dalam tradisi masyarakat Osing di kawasan Banyuwangi kajian etnografi / Novia Nurlatifasari

 

Kata Kunci: bersih desa, masyarakat Osing, kajian etnografi Bersih desa merupakan salah satu tradisi turun temurun kebudayaan masyarakat Osing. Kegiatan bersih desa digunakan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup kondisi Desa Kemiren dan Desa Alasmalang sebagai konteks daerah penelitian, latar belakang (history) bersih desa, perbedaan dan persamaan bersih desa, dan hubungan bersih desa dengan upaya kebersihan lingkungan alam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data penelitian berupa paparan wawancara dan temuan observasi dalam bentuk kata-kata audio, dan visual. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar observasi, format catatan lapangan, daftar wawancara, dan daftar dokumen. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data, member-check, dan ketekunan pengamatan. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan, yaitu: Pertama, bersih desa dilaksanakan di setiap daerah yang memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Bagian Utara yaitu Desa Kemiren berupa daerah yang subur dan cocok untuk daerah pertanian. Sedangkan bagian Barat yaitu Desa Alasmalang berupa daerah yang subur pula dan cocok untuk pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan. Kedua, setiap bersih desa mempunyai latar belakang (history) yang berbeda sesuai dengan simbol media bersih desa yang dilaksanakan dalam kawasan masyarakat Osing. Bertujuan untuk menghormati atau membantu mengirim do'a untuk penjaga desa yang tidak nyata. Untuk rasa syukur kepada Tuhan YME atas berkah yang diberikan selama ini dan sebagai ritual tolak bala agar terhindar dari mara bahaya. Ketiga, setiap bersih desa di berbagai daerah yang berbeda mempunyai persamaan dan perbedaan. Perbedaan tersebut antara lain dikarenakan faktor kondisi fisik, atraksi yang ditampilkan, pengakuan desa adat oleh pemerintah, penggunaan symbol yang digunakan sebagai media dalam bersih desa, dan waktu pelaksanaannya. Sedangkan persamaannya antara lain setiap bersih desa yang ada mendapatkan dukungan sepenuhnya oleh pemerintah, tujuan yang sama dari kegiatan bersih desa, dan bersih desa di masyarakat etnik osing seluruhnya menggunakan tumpeng, kesenian barong, dan tarian gandrung. Keempat, bersih desa mempunyai hubungan dengan upaya kebersihan lingkungan alam. Melalui pola-pola kebudayaan ini manusia menafsirkan lingkungan alam dengan seluruh isinya, sebagai wujud bersatunya manusia dengan alam. Kerja bakti dengan seluruh warga dalam salah satu kegiatan bersih desa merupakan contoh salah satu upaya yang harus dilakukan.

Penggunaan flash card untuk meningkatkan hasil belajar mufrodat siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah Al-Ma'arif 02 Singosari Malang / Alfa Himmatul Khoiriyyah

 

Kata Kunci: flash card, hasil belajar, mufrodat, MI Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pada kenyataan di lapangan, penggunaan media masih sering terabaikan disebabkan beberapa hal seperti terbatasnya waktu untuk membuat persiapan, tidak tersedianya biaya, dan lain sebagainya. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru/fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran. Oleh karena itu, guru/fasilitator diupayakan menggunakan beberapa media untuk meningkatkan minat serta hasil belajar peserta didik. Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah flash card. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan flash card dalam pembelajaran mufrodat pada siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah al-Ma’arif 02 Singosari Malang, dan (2) penggunaan flash card berpengaruh pada hasil belajar mufrodat siswa kelas II Madrasah Ibtidaiyah al-Ma’arif 02 Singosari Malang. Penelitian ini dilakukan di MI Al-ma’arif 02 Singosari Malang, tanggal 19 Oktober sampai 30 Nopember 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, yang dilakukan melalui tiga siklus dan terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II MI A 02 Singosari. Adapun instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen penunjangnya berupa lembar observasi tingkat penguasaan tindakan guru dalam menerapkan flash card, lembar tingkat responsif siswa, catatan lapangan, dan tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media flash card dalam pembelajaran mufrodat bahasa Arab dapat meningkatkan hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan. Nilai rata-rata kelas yang dicapai pada siklus I sebesar 79,23, nilai rata-rata kelas yang dicapai pada siklus II sebesar 91,3, dan nilai rata-rata kelas yang dicapai pada siklus III adalah sebesar 97,5. Nilai rata-rata tersebut selalu meningkat pada tiap siklus dan tergolong sangat memuaskan dibandingkan dengan nilai rata-rata sebelum tindakan (sebelum penggunaan flash card). Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disarankan kepada pihak madrasah untuk menjadikan flash card sebagai media dalam pembelajaran bahasa Arab, terutama pada pembelajaran mufrodat bahasa Arab siswa kelas I-III. Metode yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab hendaknya lebih bervariasi agar siswa tidak mudah bosan dan jenuh dengan pembelajaran bahasa Arab. Adapun saran bagi penelitian lanjutan yang serupa adalah hendaknya menggunakan semua jenis flash card, yaitu kartu gambar, kartu kata, dan kartu kata dan gambar sebagai media pembelajaran mufrodat bahasa Arab agar media yang digunakan dalam proses pembelajaran lebih bervariasi.

Pengembangan instrumen asesmen berpikir kritis dalam pebelajaran kimia pada materi laju reaksi untuk siswa SMA kelas XI / Lailatul Badria

 

Badria, Lailatul. 2014. Pengembangan Instrumen Asesmen Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Kimia pada Materi Laju Reaksi untuk Siswa SMA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D, (2) Drs. Prayitno, M.Pd. Kata kunci: Berpikir kritis, instrumen asesmen, laju reaksi     Pengembangan atau peningkatan kemampuan berpikir kritis telah menjadi salah satu tujuan utama dan dimensi penting dalam pendidikan termasuk pendidikan sains. Berpikir kritis ini penting untuk dikembangkan dalam pembelajaran terutama pembelajaran kimia. Namun, fakta di lapangan masih banyak ditemukan pembelajaran yang tidak menekankan pada keterampilan berpikir kritis melainkan pembelajaran masih cenderung mengkondisikan siswa dalam belajar menghafal (rote learning), dimana siswa masih menyerap informasi secara pasif dan mengingat kembali informasi tersebut saat ujian atau tes. Selain itu, pengukuran keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran kimia juga masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan suatu instrumen asesmen yang dapat melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen berpikir kritis atau instrumen yang membutuhkan berpikir kritis untuk memecahkannya dan memperoleh instrumen asesmen dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang memadai.     Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini mengacu pada lima tahap pertama dari model research and development menurut Borg dan Gall yaitu penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan draf produk, uji produk awal (uji terbatas) dan revisi hasil uji coba. Draf produk yang dihasilkan divalidasi isi dan divalidasi konstruk untuk mengetahui tingkat kelayakan produk dan kesesuaian instrumen dengan aspek berpikir kritis sebelum dilakukan uji coba terbatas kepada siswa SMA kelas XI. Berdasarkan hasil uji coba terbatas dapat diketahui tingkat validitas butir soal dan reliabilitas. Berdasarkan hasil validasi isi oleh tiga dosen dan tiga guru kimia diperoleh nilai rata-rata sebesar 81,55% dengan kriteria sangat layak dan dari hasil validasi konstruk diketahui bahwa instrumen asesmen yang dikembangkan sudah sesuai dengan aspek berpikir kritis. Sedangkan dari hasil uji coba terbatas dan analisis butir soal diperoleh 20 soal valid pilihan ganda dan 11 soal valid untuk uraian dengan kriteria reliabilitas tinggi. Oleh karena itu, instrumen asesmen berpikir kritis pada materi laju reaksi ini layak diterapkan dalam pembelajaran untuk menilai dan mengukur tingkat keterampilan berpikir siswa.

Pembelajaran konseptual da prosedural untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar / Lely Mayasari

 

Kata kunci: konsep, prosedur, perkalian bersusun. Kenyataan di lapangan, siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar memiliki pemahaman konsep perkalian dan prosedur pengerjaan perkalian bersusun yang rendah. Maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Bagaimana penerapan pelaksanaan pembelajaran konseptual dan prosedural untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun pada siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar? 2) Apakah pembelajaran konseptual dan prosedural dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV dalam menyelesaikan perkalian bersusun di SDN Tumpang 02 Blitar? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran perkalian bersusun melalui pembelajaran konseptual dan prosedural dapat meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun siswa kelas IV SDN Tumpang 02 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan 59, siklus I 73, dan siklus II 86 . Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 31%, siklus I sebesar 65%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran perkalian bersusun melalui pembelajaran konseptual dan prosedural dapat meningkatkan hasil belajar perkalian bersusun siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan dan memahami pembelajaran konseptual dan prosedural sebagai salah satu pertimbangan untuk membelajarkan dan memotivasi siswa dalam memberikan konsep-konsep dan prosedur matematika, karena kedua hal tersebut sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika

Peningkatan keterampilan menulis puisi melalui model mind mapping siswa kelas V SDN Pojok 02 Kabupaten Blitar / Reffy Yhanna

 

Kata kunci: keterampilan menulis, puisi, mind mapping. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model mind mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas V SDN Pojok 02 kabupaten Blitar, dan mendeskripsikan hasil peningkatan keteram-pilan menulis puisi melalui model mind mapping pada siswa kelas V SDN Pojok 02 kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian ini adalah 27 siswa kelas V SDN Pojok 02. Instrumen penelitian ini meliputi dokumentasi, lembar observasi, dan lembar tes. Pendekatan penelitian yang digu-nakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan, dengan tahapan penelitian meliputi peren-canaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model mind mapping dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis puisi antara lain, nilai rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 68, dan siklus II sebesar 86. Sedangkan hasil keterampilan menulis puisi siswa meningkat ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratinda-kan 65, siklus I 73, dan siklus II 87. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 30%, siklus I sebesar 70%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru menerapkan model mind mapping untuk materi pelajaran yang lain agar siswa senang dalam mengikuti pembelajaran. Guru hendaknya menciptakan pembelajaran yang inovatif agar hasil belajar siswa dapat meningkat. Bagi siswa disarankan agar aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dan selalu berlatih menulis terutama menulis puisi.

Korelasi antara kemampuan membaca pemahaman dengan ketepatan menjawab perintah soal cerita siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang / Angga Dewi Safitri

 

Kata Kunci: membaca pemahaman, soal cerita, siswa sekolah dasar Keterampilan membaca mutlak dimiliki siswa karena keterampilan membaca besar manfaatnya untuk mempelajari bidang studi lain. Dalam membaca terkandung prinsip yaitu memahami inti yang dibaca atau menemukan isi bacaan. Hal ini sesuai dengan salah satu komponen pembelajaran di SD khususnya tingkat tinggi (kelas IV-VI) yaitu membaca pemahaman. Kemampuan membaca pemahaman adalah kesanggupan siswa untuk memahami suatu bacaan yang meliputi kesanggupan memahami makna kata, makna kalimat, isi pokok paragraf, dan isi bacaan. Kemampuan membaca pemahaman bermanfaat pada Mata Pelajaran Matematika, khususnya soal cerita yang disajikan dalam bentuk kalimat-kalimat verbal dan menanyakan kuantitas-kuantitas tertentu. Untuk itu diperlukan kemampuan memahami bacaan dari soal cerita. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) tingkat kemampuan siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang dalam memahami bacaan, (2) tingkat ketepatan siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang dalam menjawab perintah soal cerita, dan (3) ada tidaknya hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan ketepatan menjawab perintah soal cerita siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa SDN Bareng 3 Malang yang berjumlah 90 orang dan semuanya diteliti, sehingga disebut sampel total. Data dikumpulkan menggunakan tes tulis untuk mengungkap tingkat kemampuan membaca pemahaman dan ketepatan dalam menjawab perintah soal cerita siswa. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan korelasional yang menggunakan teknik korelasi product moment. Instrumen sebelum digunakan untuk mengumpulkan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil analisis validitas dan reliabilitas semua soal dinyatakan valid dan reliabel. Hasil analisis deskriptif terhadap kemampuan membaca pemahaman menunjukkan rata-rata sebesar 75,40, dengan 38 siswa nilainya di bawah rata-rata dan 52 siswa nilainya di atas rata-rata. Nilai minimum membaca pemahaman siswa sebesar 54, sedangkan nilai maksimum sebesar 92. Sedangkan untuk menjawab perintah soal cerita menunjukkan rata-rata sebesar 71,57, dengan 41 siswa nilainya di bawah rata-rata dan 49 siswa nilainya di atas rata-rata. Nilai minimum menjawab perintah soal cerita sebesar 52,14, sedangkan nilai maksimum sebesar 90. Analisis korelasi dengan jumlah 90 siswa dan taraf signifikansi 1% menunjukkan rhitung > rtabel (0,908 > 0,270). Menurut ketentuan tabel nilai indek koefisien korelasi rhitung penelitian sebesar 0,908 termasuk dalam kategori korelasi yang tinggi. Kesimpulannya terjadi korelasi yang positif dan signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan ketepatan menjawab perintah soal cerita siswa. Berdasarkan temuan hasil penelitian, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) kemampuan membaca pemahaman hendaknya dilatih sejak dini karena pelajaran membaca bermanfaat untuk pelajaran lain, (2) penelitian selanjutnya tentang membaca pemahaman hendaknya dilakukan sesuai dengan taksonomi Barett, dan (3) penelitian ini hanya dilaksanakan di SDN Bareng 3 Kota Malang. Penelitian selanjutnya yang sejenis ini hendaknya dilakukan pada wilayah yang lebih luas dan variabelnya lebih beragam.

Penerapan model pembelajaran time token arends untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang / Rata Sari Dewi

 

Kata kunci: Pembelajaran Bahasa Indonesia, Keterampilan Berbicara, Time Token Aremds Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan Model Time Token Arends diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, guru masih menggunakan metode konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 66 dan masih terdapat 14 siswa atau 54% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 71 sehingga masih jauh dari KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Time Token Arends pada pembelajaran Bahasa Indonesia, (2) hasil belajar Bahasa Indonesia setelah menerapkan model pembelajaran Time Token Arends di kelas V. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan dan tes dalam bentuk lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Time Token Arends pada pembelajaran Bahasa Indonesia mampu merubah cara belajar siswa dari menerima pengetahuan menjadi membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian kegiatan berbicara. Selain itu dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pra tindakan yaitu 66 dengan ketuntasan belajar kelas 46%, pada siklus I meningkat menjadi 78 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 65%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 88 meskipun ada 1 siswa atau (4%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 96%. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah hendaknya memotivasi agar meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran Time Token Arends. Untuk guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran Time Token Arends pada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya keteerampilan berbicara dengan Kompetensi Dasar yang berbeda agar siswa lebih terampil dalam berbahasa Indonesia. Bagi peneliti yang lain mengingat pada penelitian ini masih terdapat kekurangan, maka disarankan untuk mengkombinasikan penggunaan media pembelajaran lain, lebih relevan yang sekiranya mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Disarankan juga untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar siswa melalui penggunaan model pembelajaran Time Token Arends.

Peningkatan keterampilan membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar siswa kelas II SDN Popoh 02 Kabupaten Blitar / Imam Baihaki

 

Kata kunci: membaca permulaan, media cerita bergambar. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimanakah pelaksanaan membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar siswa kelas II SDN Popoh 02 Kabupaten Blitar, dan 2) bagaimanakah peningkatan penerapan keterampilan membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar siswa kelas II SDN Popoh 02 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar dapat meningkatkan hasil membaca permulaan siswa ditunjukkan dengan nilai rata-rata siklus I 73, dan siklus II 84 . Ketuntasan belajar siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran membaca permulaan melalui pemanfaatan media cerita bergambar dapat meningkatkan hasil belajar membaca permulaan siswa kelas II SDN Popoh 02 Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan pemanfaatan media cerita bergambar sebagai media pembelajaran membaca permulaan.

Peningkatan keterampilan membaca teks melalui metode permainan bahasa di kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar / Deti Ningtyas

 

Kata Kunci: membaca teks, metode permainan bahasa Pembelajaran membaca teks di SDN Kalitengah 01 masih dilaksanakan dengan metode lama yaitu hanya menggunakan buku paket sebagai alat bantu mengajar. Sehingga, menyebabkan pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa dan memperngaruhi nilai keterampilan membaca teks siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan (1) bagaimanakah penerapan metode permainan bahasa untuk meningkatkan keterampilan membaca teks di Kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar? (2) bagaimanakah hasil penerapan metode permainan bahasa untuk meningkatkan keterampilan membaca teks di Kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar? Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Kalitengah 01 Kabupaten Blitar semester I tahun pelajaran 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh peningkatan keterampilan membaca teks siswa di kelas I dari sebelum siklus dan setelah siklus. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari persentase rata-rata aspek suara yaitu 90%, aspek pelafalan yaitu 92%, aspek intonasi yaitu 90%, dan aspek kelancaran adalah 92%. Dengan presentase ketuntasan belajar mengalami peningkatan yaitu 14% pada pratindakan menjadi 48% pada pertemuan 1 siklus I, 67% pada pertemuan 2 siklus I menjadi 81% pada pertemuan 1 siklus II, dan pada pertemuan 2 siklus II menjadi 95%. Disimpulkan bahwa penelitian penggunaan metode permainan bahasa dapat meningkatkan aktivitas dalam belajar dan keterampilan membaca teks siswa. Oleh karena itu, disarankan agar guru menggunakan metode ini dalam pembelajaran membaca teks.

Peningkatan hasil belajar IPS menggunakan model snowball throwing bagi siswa kelas IV di SDN Kedungwungu 02 Kabupaten Blitar / Dian Kristanti

 

Kata kunci : pembelajaran IPS, model Snowball Throwing, hasil belajar Pembelajaran IPS sebetulnya merupakan pembelajaran yang menyenangkan karena mempelajari aspek-aspek kehidupan manusia, tetapi pembelajaran ini membosankan karena guru hanya menggunakan model ceramah sehingga hasil belajar siswapun menjadi rendah. Dari hasil ulangan harian Ilmu Pengetahuan Sosial anak yang mendapat nilai di bawah KKM dari 24 siswa ada 19 anak atau 79,17 % dan anak yang mendapat nilai diatas KKM hanya ada 5 anak atau 20,83%. Hal ini merupakan latar belakang dalam penelitian ini. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah: Mendeskripsikan penerapan model Snowball Throwing pada pembelajaran IPS dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungwungu 02 Kabupaten Blitar. dan erupakan latar belakang dalam penelitian ini. ya menggunakan metode ceramah Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan 2 siklus tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, tes dan dokumentasi. Instrument penelitian lembar observasi, lembar angket, lembar tes dan dokumen foto. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus 2 pertemuan II diketahui persentase peningkatan aktifitas siswa, peningkatan aktifitas guru, dan hasil belajar siswa Aktifitas guru dari siklus 1 sampai siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 5,56%. Aktifitas siswa dari siklus 1 sampai siklus 2 pada aspek kerjasama meningkat 58,34%, aspek keaktifan meningkat 54,16%, aspek menjawab pertanyaan meningkat 54,16%. Hasil belajar siswa dari siklus 1 sampai siklus 2 mengalami peningkatan 50%. Sehingga dari jumlah siswa 24 yang belum tuntas ada 2 siswa karena siswa ini mengalami lambat dalam belajar dan memerlukan perhatian yang khusus dari guru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Snowball Throwing dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa .

Penerapan model paikem untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Sokosari 02 Tuban / Widya Wahyuni

 

Kata kunci: model PAIKEM, pembelajaran IPA. Hasil Observasi awal di SDN Sokosari 02 Tuban ditemukan bahwa pembelajaran IPA kelas V pada materi "penyesuaian hewan dan tumbuhan terhadap lingkungan" guru masih dilakukan secara konvensional. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil pra tindakan yaitu 55 dan masih terdapat 19 siswa (90,5%) belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 70. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran PAIKEM di Kelas V SDN Sokosari 02 Tuban, (2) aktivitas siswa kelas V SDN Sokosari 02 Tuban, (3) hasil belajar siswa kelas V SDN Sokosari 02 Tuban. Penelitian ini dilakukan di SDN Sokosari 02 Tuban dengan subyek siswa kelas V sebanyak 21 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggrat, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi, kamera, dan soal evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran PAIKEM pada pembelajaran IPA siswa kelas V dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan setiap indikatornya telah mengalami peningkatan dari 92 dan meningkat menjadi 97. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa sebelumnya yaitu 47,5 pada siklus I meningkat menjadi 77,5 pada siklus II. Selain meningkatkan aktivitas belajar juga meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa sebelumnya yaitu 77 pada siklus I meningkat menjadi 84 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini antara lain: pelaksanaan model PAIKEM terbukti telah dapat meningkatkan pembelajaran IPA pada materi"penyesuaian hewan dan tumbuhan terhadap lingkungan", aktivitas siswa juga meningkat serta hasil belajar siswa pun meningkat. Saran yang ingin diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar adalah peneliti lain dapat menggunakan model pembelajaran PAIKEM pada mata pelajaran IPA materi "penyesuaian hewan dan tumbuhan terhadap lingkungan. Dengan memperhatikan kendalan-kendala yang ditemukan oleh peneliti. Sehingga peneliti lain dapat memperoleh tujuan pembelajaran yang lebih optimal.

Analisis teks buku sekolah elektronik (BSE) geografi kelas XII SMA/MA pada kompetensi dasar menjelaskan pemanfaatan citra pengideraan jauh / Vina Wahyu Rusyana

 

Kata kunci: Analisis Teks, BSE, Penginderaan Jauh. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar yang penting dalam kegiatan pembelajaran, terlebih lagi bagi guru yang tidak mampu atau tidak siap membuat bahan ajar sendiri berdasarkan standar kompetensi dalam kurikulum yang berlaku. Buku teks juga perlu mengalami pengembangan baik dari segi kurikuler, isi, maupun bahasa yang digunakan baik berupa analisis bahan ajar maupun validasi bahan ajar. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perlu dilakukan analisis untuk mengetahui tingkat kesesuaian isi dengan kurikulum, tingkat kebenaran konsep, tingkat kebenaran bahasa, dan fungsi media yang terdapat dalam buku ajar BSE Geografi Kelas XII SMA/MA. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran keadaan sebenarnya dari objek penelitian. Rancangan penelitian menggunakan teknik analisis isi (content analysis) untuk mendiskripsikan dan menyimpulkan sebuah buku atau dokumen secara objektif, sistematis, dan komunikatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Buku Sekolah Elektronik IPS Geografi Kelas XII SMA/MA yang telah beredar. Penentuan sampel dengan cara mempertimbangkan buku ajar yang banyak dipakai di SMA Negeri di Kota Malang yaitu BSE dengan pengarang Eni Anjayani dan Tri Haryanto. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian buku untuk tiap indikator. Hasil yang telah didapatkan, kemudian dianalisis dengan menggunakan rubrik penilaian buku ajar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian materi dalam BSE tidak sesuai dengan indikator, kebenaran konsep (konsep terdefinisi dan konsep konkrit) masih rendah, kebenaran bahasa dalam buku ajar BSE Geografi juga tergolong rendah (ditinjau dari segi penggunaan tanda baca, kosakata, kalimat, dan paragraf), dan media yang digunakan dalam buku ajar sudah cukup bagus dan cukup inovatif. Terdapat beberapa temuan tambahan yaitu masih ada materi yang penjelasannya kurang lengkap dan penyajian materi yang tidak runtut. Berdasarkan standarisasi dari BSNP, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa buku ajar BSE Geografi masih memiliki banyak kesalahan ditinjau dari segi kesesuaian isi dengan kerikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, dan fungsi media.Dari hasil kesimpulan disarankan apabila menggunakan buku teks yang sudah ada hendaknya ditelaah terlebih dahulu agar kesalahan yang ada dalam buku ajar tersebut tidak disajikan dalam pembelajaran. Lebih baik lagi apabila dalam mengajar seorang guru mampu membuat bahan ajar sendiri sesuai dengan ketentuan ilmiah yang ada.

Upaya peningkatan kemampuan berfikir kritis dengan menggunakan pertanyaan tingkat tinggi pada siswa kelas XA SMA Islam Hasanudin Kesamben Blitar / Mareta Dyah Pangesti

 

Kata Kunci: kemampuan berpikir kritis, pertanyaan tingkat tinggi Fakta pembelajaran geografi diSMA Islam Hasanudin Kesamben menunjukkan bahwa siswa kelas X-A belum mampu berpikir kritis. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran geografi yang ditekankan pada ranah kognotif tingkat pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3). Sedangkan pada ranah kognitif analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6) yang dapat merangsang kemampuan berpikir kritis siswa belum dilaksanakan dalam pembelajaran. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa juga terlihat dari siswa belum mampu untuk membuat rumusan masalah, dalam menjawab pertanyaan siswa tidak dapat memberikan argument. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-A SMA Islam Hasanudin Kesamben, Blitar pada semester II tahun ajaran 2010/2011. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti terlibat langsung dalam proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengumpulan data. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus dengan empat kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klasikal terjadi peningkatan pencapaian aspek kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus 1 dan 2. Pada siklus 1 terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada aspek membuat rumusan masalah sebesar 32.58%, aspek memberikan argument sebesar 16.29%, melakukan evaluasi sebesar 11.85%, memberikan solusi dan tindakan sebesar 15.64%, melakukan deduksi sebesar 13.85%, dan melakukan induksi sebesar 18.89%. Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan tingkat tinggi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kelas X-A SMA Islam Hasanudin Kesamben dapat dinyatakan berhasil pada sikus 2 karena rata-rata pencapaian aspek kemampuan berpikir kritis siswa adalah 84.47% dan termasuk dalam kategori baik sekali. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa penggunaan pertanyaan tingkat tinggi pada materi atmosfer dan dampaknya bagi kehidupan di muka bumi dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada pelaksanaan tindakan dikelas apabila siswa dikondisikan dan guru memfasilitasi.

Model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran geografi materi pedosfer siswa kelas XB SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar / Mitasari

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Cooperative Script dan hasil belajar Berdasarkan observasi yang dilakukan pada bulan Oktober 2011 di kelas XB, bahwa hasil belajar siswa kelas XB SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar pada pembelajaran geografi belum maksimal. Nilai rata-rata pembelajaran geografi adalah 66,23 dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 43%, belum memenuhi Standart Ketuntasan Minimal (SKM) geografi di SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar yaitu 70. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XB semester genap tahun ajaran 2010/2011 SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar yang berjumlah 21 siswa terdiri 7 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan selisih tes pada siklus I dengan tes pada siklus II. Instrumen yang digunakan yaitu lembar kerja siswa, soal tes, lembar observasi aktivitas siswa, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas XB SMA Islam Hasanudin Kesamben Kabupaten Blitar ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata kelas dari rata-rata awal dengan nilai 66,23 menjadi 72,52. Dengan ketuntasan klasikalnya pada siklus I sebesar 66%. Jumlah ini telah mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan data awal yaitu 43%, hal itu berarti ketuntasan klasikal telah meningkat sebesar 23%. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 78,23 Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata nilai tes sebesar 72,52 pada siklus I dan meningkat menjadi 78,23 pada siklus II. Pada siklus II ketuntasan klasikalnya juga mengalami peningkatan dari 66% menjadi 90%. Hal ini berarti terjadi kenaikan ketuntasan klasikal sebesar 24%. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dari rata-rata nilai tes sebesar 72,52 pada siklus I dan meningkat menjadi 78,23 pada siklus II, sedangkan ketuntasan belajar siswa mengalami penigkatan pada siklus I sebesar 66% kemudian meningkat lagi menjadi 90% pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model Cooperative Script untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model Cooperative Script dengan subjek penelitian yang berbeda.

Pengembangan media computer-assisted instruction (CAI) untuk meta pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Sekolah Menengah Pertama Islam Malang / Vita Ari Susanti

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Computer Assisted-Instructional(CAI), Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) Media Computer Assisted-Instructional(CAI) merupakan suatu pembelajaran berbantuan komputer untuk menunjang suatu pembelajaran. Pembelajaran yang dibidik adalah pada mata pelajaran TIK SMP kelas IX. Pengembangan media kemudian diaplikasikan dalam CD Pembelajaran. Penggunaan media dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan manfaat atau nilai tertentu dari segi penggunaanya, karena siswa dapat mengerti dengan lebih jelas dan menyeluruh tentang materi yang diajarkan dan juga dapat mengulang pembelajaran secara langsung dengan arahan dari guru. Berdasarkan observasi awal dilapangan diketahui bahwa di sekolah yang bersangkutan masih menggunakan media sederhana saja dalam proses pembelajaran meskipun tersedia sarana belajar yang memadahi dan diketahui pula belum memaksimalkan peralatan yang tersedia. Apalagi dengan banyaknya materi yang harus dipelajari oleh siswa-siswi kelas IX yang dipersiapkan untuk mengikuti UAN sehingga masalah keterbatasan waktu belajar maka dikembangkan media CAI dalam bentuk CD Pembelajaran yang didesain dengan seefektif dan efisien mungkin, agar dapat digunakan dengan mudah. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk CD pembelajaran TIK kelas IX semester 2 pokok bahasan Email, Dunia Blogger dan Wiki yang digunakan secara klasikal atau masal di dalam kelas dengan arahan dari guru pengajar mata pelajaran TIK kelas IX dan juga diharapkan dapat mengefektif dan efisienkan pembelajaran di kelas. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SMP Islam Malang kelas 3. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari validasi ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa CD Pembelajaran mata pelajaran TIK kelas IX semester 2 pokok bahasan Email, Dunia Blogger dan Wiki. media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media pada kriteria kelayakan dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 92,5%, 2) data ahli materi pada kriteria kelayakan dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 95%, 3) data siswa diperoleh adalah 82,2% sehingga pada kriteria kelayakan dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) pada data hasil pre-test dan post-test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata dengan nilai 18% dengan peningkatan nilai terendah 10 dan tertinggi 30. Dengan demikian menurut kriteria kelayakan Media CAI dalam CD Pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah Media CAI yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: 1) Bagi Guru, guru mata pelajaran hendaknya mulai menggunakan Media CAI dalam pembelajaran dikelas dan lebih terampil dalam menggunakan dengan cara berlatih. 2) Bagi Siswa, siswa dalam menggunakan media pembelajaran ini harus mempunyai keterampilan dasar dalam pengoperasian komputer, dan beberapa kemampuan dan keterampilan lainnya untuk mendukung penggunaan media ini. 3) Bagi Pengembang selanjutnya, Media CAI ini hendaknya dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Peningkatan kemampuan menulis deskripsi melalui pemanfaatan lingkungan siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar / Nur Indasah

 

Kata kunci: menulis deskripsi, lingkungan, sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan media lingkungan siswa kelas V SDN Kaligambir 04 kabupaten Blitar dan hasil pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan media lingkungan siswa kelas V SDN Kaligambir 04 kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan lingkungan alam sekitar dapat meningkatkan hasil menulis deskripsi siswa kelas V SDN Kaligambir 04 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 65, siklus I 73, dan siklus II 84 . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 15%, siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 75%, dan siklus II 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis deskripsi melalui pemanfaatan lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar menulis deskripsi siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas V SDN Kaligambir 04 kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran menulis deskripsi.

Penerapan pendekatan konstruktivisme dengan model pembelajaran peta konsep untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Bantur 06 Kec. Bantur Kab. Malang / Ika Faridaningrum

 

Kata kunci: Pendekatan Konstruktivisme, Model Peta Konsep, hasil belajar, IPA Model pembelajaran peta konsep dapat membantu siswa melihat makna materi pembelajaran secara komprehensif dalam setiap komponen konsep-konsep dan mengenali hubungan antara konsep-konsep tersebut. Hasil Observasi awal di SDN Bantur 6 kec. Bantur Kab. Malang ditemukan bahwa pembelajaran IPA di kelas IV, dalam kegiatan belajar siswa masih mendengar, dan mencatat materi yang diberikan oleh guru (pembelajaran berpusat pada guru). Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil pra tindakan yaitu 59,23 dan masih terdapat 18 siswa (69,24%) belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 70. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan pembelajaran, (2) peningkatan aktivitas, (3) peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan Pendekatan Konstruktivisme dengan model pembelajaran Peta Konsep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dilakukan atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Rancangan yang dilakukan adalah PTK dengan dua siklus. Penelitian ini dilakukan di SDN Bantur 6 kec. Bantur Kab. Malang dengan subyek siswa kelas IV sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan prosedur (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Konstruktivisme dengan model pembelajaran Peta Konsep pada pembelajaran IPA siswa kelas IV dalam dua siklus. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat. Penggunaan model ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 68,65 pada siklus I meningkat menjadi 76,11 pada siklus II. Selain itu juga meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa yaitu 72,42 pada siklus I meningkat menjadi 77,84 pada siklus II. Saran sebagai upaya peningkatan pembelajaran pendekatan konstruktivisme dengan model peta konsep adalah memberikan kejelasan tentang langkah-langkah membuat peta konsep, agar memudahkan siswa memahami peta konsepnya. Sehingga dapat memperoleh tujuan pembelajaran yang lebih optimal.

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V SDN Jatimulyo 1 Kota Malang / Willis Rahayuningtyas

 

Kata Kunci: Problem Based Learning (PBL), Motivasi, Hasil Belajar, PKn SD. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Guru Mata Pelajaran PKn di SDN Jatimulyo 1 Kota Malang diketahui bahwa motivasi siswa relatif rendah, sehingga hasil belajar siswa juga rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat, sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang akan dihadapi. Masalah-masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Penelitian dilakukan di SDN Jatimulyo 1 Kota Malang, pada tanggal 3 Februari 2011 sampai dengan 10 Maret 2011. Penelitian dilaksanakan dalam rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I membahas tentang organisasi di lingkungan sekolah, sedangkan siklus II membahas tentang organisasi di lingkungan masyarakat. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Jatimulyo 1 Kota Malang berjumlah 12 siswa yakni 7 siswa perempuan dan 5 siswa laki-laki. Setelah model Problem Based Learning (PBL) diterapkan , diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan model PBL cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan motivasi serta hasil belajar siswa. Peningkatan nilai motivasi belajar siswa, menunjukkan peningkatan yang cukup signifkan dari setiap aspeknya yaitu dari aspek attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction. Hasil belajar yang terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor juga mengalami peningkatan. Pada aspek afektif terjadi peningkatan dari siklus I 2,89 menjadi 3,67 pada siklus II . Pada aspek psikomotor juga terjadi peningkatan dari siklus I 3,33 menjadi 3,72 pada siklus II. Dalam aspek kognitif terjadi peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I yaitu 83,3% menjadi 100% pada siklus II. Dari penerapan model PBL yang dirasa cukup efektif yang dibuktikan dengan adanya peningkatan pada motivasi dan hasil belajar siswa maka perlu untuk dipertahankan. Namun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik maka pada saat guru menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), guru lebih membimbing siswa pada saat menentukan sub topik dan pengorganisasiannya ke dalam kelompok agar siswa tidak merasa kesulitan.

Pengaruh corporate governance dan leverage terhadap kinerja perusahaan pada perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan corporate governance perception index periode tahun 2008 / Ganis Samsidar

 

Kata Kunci: Corporate Governance, Leverage dan Kinerja Perusahaan. Corporate governance merupakan suatu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan direksi dan komisaris perusahaan, para pemegang saham dan stakeholder lainnya, sedangkan Leverage merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya sehingga dapat menunjukkan seberapa besar aktiva atau modal perusahaan dibiayai oleh hutang. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Corporate Governance dan Leverage dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan Corporate Governance dan Leverage terhadap Kinerja Perusahaan pada perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan Corporate Governance Perception Index periode tahun 2008. Populasi yang digunakan adalah perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan Corporate Governance Perception Index tahun 2006-2008, dimana dari populasi tersebut terpilih 15 perusahaan berdasarkan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahan yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS 16 for windows, dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel corporate governace mempunyai hubungan searah dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA). Leverage secara parsial mempunyai hubungan berlawanan arah dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA).Corporate governance dan leverage memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA) pada perusahaan yang terdaftar dalam pemeringkatan Corporate Governace Perception Index tahun 2008.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match untuk meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Malang / Syahrita Rochmah

 

Kata kunci: penguasaan kosa kata, kooperatif, make a match Adanya perubahan-perubahan kurikulum yang terjadi dalam dunia pendidikan menuntut adanya inovasi dan variasi metode-metode pembelajaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil belajar dimana hal tersebut merupakan tujuan pembelajaran. Karena salah satu kunci tercapainya tujuan pembelajaran adalah dengan memperbaiki metode yang digunakan. Hasil survei lapangan menyebutkan metode pembelajaran yang digunakan di SD Muhammadiyah 1 Malang dinialai kurang memicu motivasi siswa, khususnya dalam pembelajaran kosa kata bahasa Arab. Akibatnya hasil penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa rendah. Salah satu metode pembelajaran yang bisa diterapkan adalah metode pembelajaran yang bersifat kooperatif yang dapat menimbulkan semangat dan mempermudah siswa untuk memahami makna kosa kata bahasa Arab. Tujuan penelitian ini secara umum adalah meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa dengan pendekatan kooperatif model make a match. Tujuan khusus penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran kosa kata bahasa Arab dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan penguasaan kosa kata bahasa Arab setelah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah 1 Malang yang sedang menempuh semester ganjil 2010/2011. Data dalam penelitian ini berupa informasi tentang aktifitas guru dan siswa serta hasil nilai tes awal dan tes akhir dalam tiap siklusnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Langkah-langkah yang ditempuh peneliti adalah: mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Adapun tahap-tahap penelitian adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian dari penerapan pembelajaran kosa kata dengan metode cooperative learning tipe make a match menyebutkan bahwa, ada peningkatan hasil belajar yang terkait dengan penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa yang berarti dari tiap siklusnya dan juga dari tes awal sebelum tindakan. Rata-rata hasil tes awal pra tindakan adalah 49. Hasil tes pada siklus I 80 dan tes pada siklus II 88. Dari hasil tes tersebut maka dapat diketahui peningkatan terhadap penguasaan kosa kata bahasa Arab siswa dari siklus I ke siklus II. Disarankan kepada guru bahasa Arab SD Muhammadiyah 1 Malang, hendaknya meningkatkan profesionalisme dan kualitas PBA dengan menciptakan inovasi dan variasi metode maupun media PBA. Kepala Sekolah, hendaknya mengikutsertakan guru bahasa Arab dalam pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan keahlian guru dalam PBA berbasis metode kooperatif. Siswa, hendaknya lebih disiplin dan teratur dalam melaksanakan proses pembelajaran model make a match dan lebih bersemangat dalam belajar bahasa Arab. Peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar dengan diaplikasikan pada keterampilan bahasa Arab yang lainnya. Jurusan Sastra Arab, untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan berbagai macam metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif.

Keefektifan kalimat dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bantur / M. Zainal Abidin

 

Kata kunci: keefektifan kalimat, karangan bahasa Jawa Pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa diajarkan pada tingkat SMP. Pada pelajaran muatan lokal bahasa Jawa terdapat empat kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pada kelas VIII SMP terdapat kompetensi menulis berbahasa Jawa. Pada penelitian ini ditekankan pada kompetensi menulis prosa atau karangan bebas berdasarkan pengalaman yang paling mengesankan. Pembelajaran mengarang bebas menggunakan bahasa Jawa bertujuan agar siswa terampil menulis dalam bahasa Jawa dengan menggunakan huruf latin. Kesulitan yang dihadapi siswa tersebut sangat beragam, salah satunya yaitu menulis dengan menggunakan kalimat yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilaksanakan untuk mengetahui gambaran sesungguhnya tentang keefektifan kalimat bahasa Jawa yang ditulis oleh siswa. Keefektifan kalimat bahasa Jawa berdasarkan pada empat ciri kalimat efektif, meliputi ciri gramatikal, pilihan kata, penalaran dan keserasian. Ciri gramatikal berhubungan dengan sistem morfologi dan sistem sintaksis. Pilihan kata berhubungan dengan kesesuaian kata, ketepatan kata dan kelaziman. Penalaran berhubungan dengan kalimat yang mudah dipahami, dan kelogisan hubungan antara unsur-unsur subyek, predikat, dan objek. Keserasian berhubungan dengan tingkat tutur bahasa Jawa yaitu undha usuk basa Jawa. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bantur. Masalah yang diteliti adalah keefektifan kalimat berdasarkan (1) ciri gramatikal, (2) pilihan kata, (3) penalaran, dan (4) keserasian. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Sifat dari penelitian kualitatif yaitu naturalistik. Dalam penelitian ini peneliti menjadi instrumen dengan menggunakan alat bantu berupa tabel pengumpul data. Data penelitian ini berupa data lunak, yaitu kalimat-kalimat yang terdapat dalam karangan siswa, dan tidak berupa angka-angka maupun statistik. Hasil penelitian tentang keefektifan kalimat menunjukkan bahwa dalam karangan dalam siswa terdapat kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Pertama, ciri gramatikal kalimat berdasarkan pada kaidah sintaksis dan morfologis, dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII kedua kaidah tersebut sebagian sudah muncul dan tepat pemakaiannya dalam kalimat sehingga menjadikan kalimat efektif. Namun, ada pula penggunaan kaidah morfologis dan kaidah sintaksis yang salah dalam kalimat sehingga menjadikan kalimat tidak efektif. Kedua, keefektifan kalimat berdasarkan pilihan kata harus memenuhi tiga aspek yaitu kesesuaian, ketepatan dan kelaziman kata. Dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII pilihan katanya ada yang efektif dan tidak efektif. Pilihan kata yang tidak efektif disebabkan oleh banyaknya kata yang digunakan siswa berasal dari bahasa Indonesia, kata yang tidak sesuai dengan makna yang diinginkan dalam kalimat dan kata yang tidak lazim digunakan pada situasi tertentu. Ketiga, keefektifan kalimat berdasarkan penalaran harus logis dan mudah dipahami. Dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII sebagian besar kalimat-kalimat yang dihasilkan sudah logis, dan mudah dipahami. Keempat, keefektifan kalimat berdasarkan keserasian penggunaannya harus sesuai dengan ragam bahasa yang dibutuhkan dalam komunikasi. Dalam karangan bahasa Jawa siswa kelas VIII sebagian besar ada yang serasi dan tidak serasi. Ketidakserasian tersebut disebabkan oleh tidak tepatnya penggunaan undha usuk basa Jawa dalam kalimat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada siswa untuk selalu giat berlatih menulis dalam bahasa Jawa agar kompetensi menulis kalimat efektif dapat menjadi lebih baik. Kepada guru bahasa Jawa disarankan untuk selalu menggunakan bahasa Jawa yang sesuai dengan undha usuk saat mengajar agar siswa terbiasa menggunakan bahasa Jawa yang sesuai dengan undha usuk. Kepada peneliti lanjutan, disarankan mengadakan penelitian untuk meningkatkan ketrampilan siswa dalam menulis karangan berbahasa Jawa dengan menggunakan kalimat yang efektif.

Pengaruh leverage terhadap return saham melalui profitabilitas pada perusahaan automotyive and allied products yang listing di BEI tahun 2006-2008 / Harianto

 

Kata Kunci: Leverage (DER), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Return saham Seiring dengan berkembangnya teknologi, perekonomian pun semakin maju. Hal ini mengakibatkan adanya persaingan yang semakin ketat, utamanya dalam dunia bisnis. Pada umumnya masalah keuangan khususnya pendanaan baik dari pinjaman maupun penerbitan saham, merupakan masalah utama perusahaan. Dengan modal yang besar diharapkan mampu meningkatkan profit yang besar dan dapat menaikkan harga saham dan return saham. Dengan munculnya masalah tersebut maka keberadaaan pasar modal sangat berarti bagi kepentingan perekonomian Indonesia. Salah satu daya tarik investor dan calon investor untuk membeli dan menjual saham adalah salah satunya dilihat dari return saham dan hasil analisis fundamental yang ada pada perusahaan yang bersangkutan. Pembelian saham merupakan salah satu bentuk investasi yang banyak dipilih oleh investor. Prestasi perusahaan salah satunya dapat dilihat dari kinerja keuangan yang tercermin dari rasio-rasio keuangan serta laba yang dihasilkan dengan menggunakan modal yang dipunyai perusahaan maupun modal yang disetorkan investor. Penilaian return saham dapat dilakukan dengan menggunakan analisis fundamental yang berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan khususnya dalam melakukan utang (leverage) dalam mendanai perusahaan untuk menghasilkan profitabilitas yang tinggi sehingga berpengaruh pada return saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat Leverage (DER) terhadap return saham secara langsung maupun tidak langsung yang diperkuat oleh profitabiltas baik Return on Asset (ROA), dan Return on Equity (ROE) pada perusahaan Automotive and allied steel yang listing di BEI tahun 2006-2008. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Sedangkan tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara tekhnik dokumentasi yang diperoleh dari data sekunder Indonesia Capital Market Directory (ICMD), laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia, dan data pergerakan saham harian yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). dan Analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) karena penelitian ini ingin melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung hubungan antar variabel X1 terhadap Y melalui X1 dan X2 . Hasil penelitian untuk menjawab hipotesis mayor I menunjukkan bahwa secara parsial variabel leverage (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, ROA tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dan DER tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap return saham. Sedangkan hasil penelitian untuk menjawab hipotesis mayor II menunjukan bahwa secara parsial leverage (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE, ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dan DER tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu: (1) diharapkan investor perlu memperhatikan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi leverage (2) diharapkan agar perusahaan selalu meningkatkan kinerjanya sehingga dapat meningkatkan tingkat pengembalian saham (return saham), dan profitabiltasnya baik ROA mupun ROE (3) diharapkan bagi peneliti selanjutnya menggunakan lebih banyak variabel-variabel fundamental dalam menilai kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, sampel yang digunakan juga lebih banyak dan memperpanjang periode pengamatan sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih baik karena dengan penambahan pengamatan dan memperpanjang periode pengatan maka sampel yang tercangkup dari populasi akan semakin besar sehingga diperoleh data yang akurat.

Efektivitas penggunaan buku tarbawi dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang / Listia Anis Hanavia

 

Kata kunci: Pembelajaran membaca Al-Qur'an, Buku Tarbawi, Efektivitas. Kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Perhatian terhadap pembelajaran membaca Al-Qur'an di Indonesia hingga saat ini semakin nampak, karena telah banyak dijumpai fasilitas panduan membaca Al-Qur'an khususnya dalam bentuk buku teks, diantaranya adalah turutan (Qo'idah Baghdadiah), Iqra', Qira'ati, Al-Barqy, Tilawati, dan Ummi. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata adalah salah satu dari sekian banyak Sekolah Dasar Islam yang menerapkan konsep keterpaduan dan integralitas dalam proses pendidikan. Keterpaduan pendidikan itu tergambar dalam 12 jaminan mutu (Quality Assurance) yang salah satunya adalah menjamin lulusannya mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.Untuk merealisasikan jaminan mutu tersebut maka dibuatlah sistem pembelajaran Al-Qur'an sendiri dan mandiri dengan harapan bisa leluasa dalam penerapan, pengelolaan dan pengembangan sesuai dengan kondisi SDM yang ada di sekolah. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan secara objektif tentang (1) tingkat efektivitas penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kelancaran membaca huruf hijaiyah siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar, (2) mendeskripsikan tingkat efektivitas penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu tajwid siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar. Dipilihnya siswa kelas III di sekolah tersebut sebagai subjek penelitian, berdasarkan alasan karena pada jenjang kelas ini merupakan kesempatan yang baik untuk mempersiapkan kemampuan siswa dalam membaca huruf hijaiyah yang berguna ketika mereka memasuki jenjang kelas berikutnya, yaitu kelas IV yang sudah mulai diajarkan bahasa Arab Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif kuantitatif dengan desain metode pra eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tekhnik wawancara, observasi dan pemberian tes. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa tes kemampuan membaca Al-Qur'an, pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Untuk menjaga keabsahan data, maka dilakukan kegiatan analisis data yang meliputi pra analisis dan tekhnis analisis data. Pra analisis dimulai dari verifikasi data, penyekoran data, tabulasi data,dan uji normalitas data. Selanjutnya dilakukan tekhnis analisis data dengan melihat rata-rata hasil dan membandingkan dengan standar yang diinginkan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa dari segi efektivitas, (a) penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan kelancaran membaca huruf hijaiyah siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar pada tingkat efektif. (b) penggunaan buku Tarbawi dalam meningkatkan penguasaan ilmu tajwid siswa kelas III SDIT Insan Permata Malang yang sesuai dengan target kompetensi dasar juga pada tingkat efektif.

Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun / Wahyu Trisnaning Dewi

 

Kata Kunci: Lingkungan sekitar, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun pada waktu pembelajaran IPS di dapatkan fakta bahwa siswa kurang tertarik pada pembelajaran, siswa terlihat pasif, merasa bosan selama pembelajaran, dan rendahnya hasil belajar siswa. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran tidak menggunakan media pembelajaran dan guru hanya menggunakan metode ceramah sehingga guru berperan aktif selama pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran pada materi kegiatan jual beli, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi kegiatan jual beli dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pada materi kegiatan jual beli dengan pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3), refleksi, (4) perbaikan rencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa hal ini ditandai dengan peningkatan rata-rata aktivitas siswa dari siklus I dengan nilai 62,09 meningkat pada siklus II dengan nilai 80,2, (2) pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun hal ini ditandai dengan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan 62,8 dengan ketuntasan belajar 31,8% meningkat menjadi 72,73 dengan ketuntasan belajar 63,64%, dan pada siklus II meningkat menjadi 83,6 dengan ketuntasan belajar 86,4%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III SDN Wonorejo 02 Madiun. Disarankan agar guru dapat melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, menciptakan suatu variasi pembelajaran yaitu dengan cara penggunaan media pembelajaran untuk menghindari kejenuhan siswa, lebih giat memantau jalannya diskusi kelompok agar supaya siswa tidak bicara di luar materi pelajaran dan bercanda dengan temannya, serta bagi peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan cara meminimalisir siswa atau kelompok yang ramai selama pembelajaran di luar kelas.

Hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar matapelajaran IPA pada siswa kelas IV SD dengan strategi pembelajaran jigsaw dan think pair share (TPS) / Abdul Basith

 

Kata kunci: keterampilan metakognitif, hasil belajar, strategi pembelajaran jigsaw, strategi pembelajaran TPS. Metakognitif ialah kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Apabila kesadaran ini terwujud maka seseorang dapat memulai pemikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Keterampilan metakognitif berhubungan dengan hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada suatu materi pelajaran. Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar mengajar. Suatu proses belajar dikatakan berlangsung efektif apabila hasil belajar yang dicapai siswa dapat mencapai indikator yang telah ditetapkan. Coutinho (2007) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara prestasi belajar dengan metakognisi. Strategi pembelajaran kooperatif terbukti dapat memberdayakan keterampilan metakognitif dan meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran kooperatif yang sering diterapkan adalah jigsaw dan TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada siswa kelas IV SD dengan strategi pembelajaran jigsaw dan TPS. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada strategi pembelajaran jigsaw dan TPS sehingga dapat diketahui strategi mana yang lebih efektif dalam memberdayakan keterampilan metakognitif dan meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV SD di SDN Ketawanggede I Malang dan SDN Ketawanggede II Malang pada semester 1 tahun ajaran 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada penerapan strategi pembelajaran jigsaw dengan nilai keterandalan 66,6% dan ada hubungan keterampilan metakognitif dan hasil belajar pada penerapan strategi pembelajaran TPS dengan nilai keterandalan 82,4%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa strategi pembelajaran TPS lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan metakognitif siswa dibandingkan dengan strategi pembelajaran jigsaw. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk menerapkan strategi pembelajaran TPS pada mata pelajaran IPA. Berdasarkan nilai keterandalan penerapan strategi pembelajaran jigsaw, maka dapat disimpulkan bahwa sumbangan keterampilan metakognitif terhadap hasil belajar adalah 66,6%, sedangkan 33,3% adalah sumbangan faktor-faktor lain. Pada penelitian selanjutnya perlu dikaji faktor-faktor lain tersebut.

Pengaruh penerapan metode PBL (Project Based Learning) menggunakan pendekatan brain storming terhadap hasil belajar siswa kelas X AK SMK Islam Batu dalam pembelajaran KKPI menggunakan software presentasi / Ahmad Mursyidun Nidhom

 

Kata kunci: Project Based Learning, Brain Storming, hasil belajar Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran KKPI seperti yang diamanahkan oleh kurikulum. Penelitian ini dilakukan di SMK Islam Kota Batu pada materi menggunakan software presentasi dengan menggunakan model PBL (Project Based Learning) dengan pendekatan Brain Storming. Dengan kolaborasi antara PBL yang merupakan pembelajaran inovatif yang melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah, memberi peluang siswa bekerja secara kelompok dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa yang bernilai serta pendekatan Brain Storming yang berfokus pada penggalian ide-ide kreatif, studi banding (pengamatan informasi-informasi dari berbagai sumber yang dapat dipakai sebagai ide baru), siswa dihadapkan dalam pembelajaran yang lebih aktif, sehingga dengan diterapkannya model ini dapat meningkatkan hasil belajar KKPI. Selain itu kolaborasi antara PBL dan pendekatan Brain Storming juga memberikan keleluasaan siswa untuk menggali ide-ide kreatif sebanyak-banyaknya tanpa harus takut salah, hal ini mendukung siswa berfikir inovatif dan kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan PBL dengan pendekatan Brain Storming terhadap hasil belajar KKPI siswa kelompok eksperimen. Rancangan penelitian menggunakan desain eksperimental yang menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi exsperiment) dengan pola pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas X SMK Islam Batu tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 153 siswa.Sampel yang digunakan adalah dua kelas yaitu X AK1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X AK2 sebagai kelompok kontrol, kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan model PBL pendekatan Brain Storming sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran langsung demonstrasi. Instrumen yang digunakan adalah silabus, RPP, lembar angket, lembar afektif siswa, penilaian proyek, dan tes tulis. Uji hipotesis menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Hasil uji t menghasilkan nilai Sig (p) = 0,007 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar KKPI antara kelompok eksperimen dan kontrol. Hasil uji regresi linear sederhana diperoleh nilai Sig (p) = 0,001 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan PBL dengan pendekatan Brain Storming terhadap hasil belajar KKPI pada kelompok eksperimen yang pengaruhnya dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y = 27,883 + 0,863 X.

Sumbangan faktor abiotik terhadap kandungan gula reduksi ubi jalar varietas Cilembu (Iponema Batatas L. Var. Cilembu) / Diyah Nove Kurniawati

 

Kata kunci: faktor abiotik, gula reduksi, ubi jalar, Cilembu Ubi jalar merupakan salah satu komoditas penghasil karbohidrat yang dapat menjadi pengganti padi dan jagung. Beberapa varietas ubi jalar memiliki produktivitas tinggi, yaitu varietas Borobudur, varietas cilembu, varietas daya, varietas prambanan, varietas kalasan, varietas mendut, dan varietas genjah rente. Kultivar ubi cilembu merupakan ras lokal asal Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Jenis Cilembu ini memiliki kekhasan yakni akan mengeluarkan sejenis cairan lengket gula madu yang manis rasanya bila dioven atau dibakar. Ubi ini juga memiliki nilai jual yang tinggi dibandingkan dengan jenis ubi jalar yang lainnya. Faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan ubi meliputi suhu udara, sinar matahari, kelembaban, dan angin. Faktor pengaruh terhadap pertumbuhan dan kandungan ubi tersebut tergantung pada ketinggian tempatnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yaitu dengan menganalisis kandungan gula reduksi pada ubi jalar varietas Cilembu. Ubi jalar varietas Cilembu yang digunakan adalah berdasarkan pengaruh ketinggian tempat yang berbeda terhadap kandungan gula reduksi. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Tempat pengambilan sampel adalah di desa Ponggok Kabupaten Blitar dan di desa Gangsiran Putuk Kabupaten Malang. Kemudian sampel diteliti di laboratorium Biologi FMIPA UM di ruang 203. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor abiotik yang paling banyak memberikan sumbangan terhadap kandungan gula reduksi adalah faktor ketinggian tempat yakni sebesar 87,6%. Hasil lain yang sangat menonjol dari penelitian ini adalah ringan atau berat umbi yang dipanen dari kedua lokasi, pada daerah Gangsiran Putuk memiliki berat umbi yang lebih banyak dibandingkan umbi yang dihasilkan pada daerah Ponggok.Saran terhadap petani ubi jalar var. Cilembu adalah sebaiknya ditanam pada ketinggian 500 m dari permukaan laut dengan pH 4,5-7,5; temperatur 21°C-27°C, dan kelembaban 50%-60% supaya bias mendapatkan hasil umbi yang maksimal. Sedangkan rekomendasi terhadap peneliti selanjutnya sebaiknya dalam penelitian selanjutnya menggunakan varian ubi lebih banyak agar dapat terlihat dengan jelas perbedaan yang ditimbulkan pada jenis ubi jalar yang lain.

Penggunaan media bobeka tangan untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada siswa kelas II SDN Bareng 1 Kota Malang / Nurhidayati

 

Kata kunci: Media boneka tangan, kemampuan bercerita, BI, SD. Media boneka tangan merupakan media dalam pembelajaran bercerita yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas II yang berada pada tahap praoperasional konkret. Pembelajaran bercerita di kelas IIA kurang menarik perhatian siswa. Akibatnya banyak siswa yang malu dan tidak mau bercerita ke depan kelas. Selain itu kualitas pembelajaran bercerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas II A SDN Bareng 1 Kota Malang, masih rendah yakni nilai rata-rata siswa kelas II A dalam tes kemampuan bercerita pada semester I hanya mencapai 65. Hasil pretest menunjukkan bahwa hanya 32% dari siswa yang hadir pada saat pre-tes yang memenuhi standar ketuntasan minimal. Siswa yang hadir pada saat pretes sebanyak 22 siswa, sedangkan yang tidak masuk 2 orang siswa karena sakit. Sehingga dari 22 siswa yang mengikuti pre-tes, 10 siswa memiliki kemampuan bercerita yang cukup baik dan 12 siswa memiliki kemampuan bercerita yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media boneka tangan dalam meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 Kota Malang dengan menggunakan media boneka tangan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIA SDN Bareng 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media boneka tangan dalam pembelajaran bercerita siswa kelas II SDN Bareng 1 dengan standar kompetensi "Mendengarkan kembali cerita anak yang didengarkan dengan kata-kata sendiri" dapat dilaksanakan dengan efektif. Aktivitas guru dalam mengajar, meningkat dari 83,25 pada siklus I meningkat menjadi 94 pada siklus II. Aktivitas belajar siswa meningkat dari 67 pada siklus I menjadi 72 pada siklus II. Hasil kemampuan bercerita siswa juga meningkat dari rata-rata 66,5 pada siklus I meningkat menjadi 73,5pada siklus II dan ketuntasan kelas 39% pada awal siklus I meningkat menjadi 92% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam penggunaan media boneka tangan, sebaiknya dilaksanakan pada kelas kecil agar perhatian guru dapat menyeluruh dan siswa mendapat waktu lebih lama untuk menggunakan boneka tangan, memperhatikan penggunaan panggung boneka, dan sebaiknya menggunakan cerita yang tidak terlalu panjang dan jenis ceritanya adalah cerita fabel.

Pola pewarisan ketahanan kedelai (Glycine max (L.) Merr.) / Irfan Prihatmaya

 

Kata kunci: kedelai, pola pewarisan, waktu skoring. Pola pewarisan sifat ketahanan terhadap CPMMV merupakan hal penting untuk diketahui dalam rangka pengembangan kultivar melalui pemuliaan tanaman. Uji visual dilakukan untuk penilaian ketahanan dengan menilai skor serangan dan intensitas serangan pada populasi dasar yang telah terbentuk atau lebih dikenal dengan skoring. Skoring pada penelitian sebelumnya dilakukan sekali pada umur tanaman sekitar 35 hari, namun pada pengembangannya penilaian ketahanan dicoba dilakukan tiga kali pada saat umur tanaman 21, 28, dan 35 hari setelah tanam (hst). Ketahanan tanaman kedelai bervariasi pada ketiga waktu skoring tersebut dan belum diungkap mengenai pola pewarisannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pola pewarisan ketahanan kedelai (G. max) berdasarkan waktu skoring, dan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan dan perbandingan waktu skoring, pola pewarisan ketahanan pada kedelai (G. max), serta dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian sejenis untuk menghasilkan kultivar unggul kedelai tahan virus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang pada bulan Agustus 2009 sampai dengan Maret 2010. Kedelai yang digunakan adalah generasi F3 kedelai hasil persilangan (galur) Argopuro x MLGG 0268, Argopuro x MLGG 0021, Anjasmoro x MLGG 0268, Anjasmoro x MLGG 0021, Gumitir x MLGG 0268, Gumitir x MLGG 0021, Mahameru x MLGG 0268, dan Mahameru x MLGG 0021. Analisis data yang dipakai adalah analisis chi-kuadrat. Analisis dilakukan berdasarkan distribusi frekuensi intensitas serangan pada kedelai. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan pola pewarisan ketahanan kedelai pada ketiga waktu skoring. Pola pewarisan ketahanan kedelai pada skoring I, skoring II, dan skoring III adalah poligenik, artinya pewarisan sifat tahan pada kedelai diatur oleh banyak gen. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian yang sejenis dengan koreksi terhadap beberapa kesalahan yang terdapat dalam penelitian ini untuk menghasilkan kultivar unggul kedelai tahan virus.

Penerapan metode "paired storytelling" untuk meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SDN Bareng 3 Kota Malang / Fitri Cahyo Arini

 

Kata Kunci: Metode, Paired storytelling, ketrampilan berbicara, SD Negeri Bareng 3 kota Malang. Masalah yang ada di kelas V SD Negeri Bareng 3 kota malang ini, salah satunya yaitu dalam mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada aspek berbicara. Hal ini terlihat dari pernyataan guru bahwa beliau sangat jarang melakukan pembelajaran bahasa aspek berbicara karena alas an waktu yang terbatas, kemudian dilihat dari nilai siswa pada aspek berbicara masih rendah dan keberanian siswa dalam berbicara di depan teman-temanya juga rendah, masih banyak siswa yang kurang percaya diri dan cenderung diam. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti ingin menerapkan metode paired storytelling. metode tersebut adalah metode bercerita berpasangan, metode dipilih karena dengan menerapkan metode tersebut kendala waktu dapat sedikit teratasi, kemudian siswa yang memiliki ketrampilan berbicara kurang dapat termotivasi oleh pasanganya yang memiliki ketrampilan berbicara lebih dan sebaliknya, siswa yang memiliki ketrampilan berbicara lebih dapat membantu dan memotivasi siswa yang memiliki ketrampilan berbicara kurang. Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: (1) bagaimana penerapa metode paired storytelling untuk meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang, (2) apakah ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang dapat meningkat setelah menerapkan metode paired storytelling. Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian yang diinginkan peneliti adalah untuk mendiskripsikan penerapan metode paired storytelling dalam meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang dan mendiskripsikan peningkatan ketrampilan berbicara melalui metode paired storytelling pada siswa kelas V SD Negeri Bareng 3 kota Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan satu cara yaitu analisis kulitatif untuk kualitas proses pembelajaran, prestasi belajar siswa, daya serap klasikal. Nilai rata-rata mengalami peningkatan pada setiap siklus, yaitu pada siklus I sebesar 74,19 dengan 1 siswa mendapatkan nilai D(kurang), 14 siswa mendapatkan nilai C(cukup), dan 21 siswa mendapatkan nilai B (baik). Kemudian pada siklus II, nilai rata-rata siswa sebesar 86,48 dengan 1 siswa mendapatkan nilai C(cukup), 7 siswa mendapatkan nilai C(cukup), dan 28 siswa mendapatkan nilai A(sangat baik). Metode paired storytelling dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam aspek pembelajaran berbahasa. Aktivitas siswa terlihat pada kegiatan belajar siswa, terjadi kerjasama, keaktifan serta keberanian yang positif. Rata-rata skor aktivitas siswa meningkat, pada siklus I yakni 71,09 kemudian rata-rata pada siklus II yakni 78,80. Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah penerapan metode paired storytelling dapat berjalan dengan baik, dengan menerapkan metode ini siswa lebih berani dan percaya diri dalam berbicara di depan teman-temanya dan penerapan metode paired storytelling dapat meningkatkan ketrampilan berbicara. Hal ini, dapat dilihat dari nilai siswa yang semakin meningkat dari belum adanya tindakan hingga dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II. Sebagai seorang guru, sebaiknya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan menerapan dengan sesuai, lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun rencana pelaksanaan tersebut, misalnya menentukan serta menerakan metode atau model yang berfariasi, menarik, tidak membosankan dan yang paling penting sesuai dengan materi yang akan disampaikan.

Pengaruh faktor internal terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek Aqua pada konsumen di wilayah RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Rizki Maulina

 

Kata kunci: faktor internal, keputusan pembelian. Perkembangan zaman telah menuntun bergulirnya era globalisasi. Dunia persaingan saat ini, banyak produsen terus berupaya untuk berinovasi dalam pengembangan produknya. Salah satu merek air miunum kemasan yang termuka di Indonesia adalah merek AQUA yang di produksi oleh PT Tirta Investama. AQUA merupakan pelopor air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia. Persaingan yang kian ketat diantara produsen air minum dalam kemasan merek sejenis, menuntut AQUA untuk menganalisis perilaku keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) kondisi faktor internal konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (2) kondisi proses keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (3) pengaruh faktor internal secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (4) pengaruh faktor internal secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (5) serta untuk mengetahui elemen faktor internal yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepribadian dan konsep diri (X4), sikap (X5) serta variabel terikatnya adalah keputusan pembelian (Y). Jenis dari penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala keluarga di RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang berjumlah 127 kepala keluarga (rumah). Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 56 kepala keluarga (rumah). Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan (simple random sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert 5 pilihan jawaban. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini adalah: Terdapat pengaruh motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), kepribadian dan konsep diri (X4), sikap (X5) secara simultan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA berdasarkan nilai Fhitung sebesar 14,530 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari faktor internal yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah pembelajaran dengan nilai sumbangan efektif sebesar 16,2%. Selain itu, diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,552, ini berarti bahwa variabel motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian dan konsep diri, sikap secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA sebesar 55,2% sedangkan sisanya sebesar 44,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) rata-rata sebagian responden memiliki motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian dan konsep diri, sikap sudah baik terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (2) motivasi tidak berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (3) persepsi tidak berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (4) pembelajaran berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (5) kepribadian dan konsep diri berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (6) sikap berpengaruh secara positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, (7) faktor internal secara simultan mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian air minum dalam kemasan galon merek AQUA, dan (8) variabel faktor internal yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah pembelajaran. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) konsumen air minum dalam kemasan galon merek AQUA banyak tersebar di seluruh Indonesia harus bisa mempertahankan kualitas produknya. (2) Produsen AQUA harus tetap menjaga faktor internal yang telah dimiliki konsumennya termasuk di wilayah RW 11 Kelurahan Tulusrejo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, agar keputusan pembelian tetap terjaga sehingga meminimalkan kemungkinan konsumen berpindah ke merek lain. (3) Untuk penelitian selanjutnya, objek penelitian diambil lebih baik agar data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas. (4) Untuk penelitian selanjutnya, jumlah variabel ditambah selain variabel dalam penelitian ini dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam penelitian ini.

Penentuan struktur dengan metode difraksi sinar-X senyawa kompleks perak (I) dan tembaga (I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina / Dwi Prapti Asih

 

Kata Kunci: senyawa kompleks, perak(I) bromida, tembaga(I) bromida, difenil-2,4,6-trimetoksifenifosfina Reaksi antara perak(I) bromida atau tembaga(I) bromida dengan ligan fenilfosfina dan turunannya yang telah dilaporkan mempunyai stoikiometri 1:1, 1:2, 1:3. Senyawa kompleks perak(I) dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 dalam pelarut asetonitril telah berhasil disintesis, tetapi strukturnya belum ditentukan. Senyawa kompleks yang mungkin terjadi adalah berupa kompleks monomer, dimer, atau polimer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur senyawa kompleks dari perak(I) dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenifosfina dengan stoikiometri 1:1. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang terdiri dari dua tahap yaitu sintesis dan penentuan struktur senyawa kompleks. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan cara mereaksikan perak(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dalam pelarut piridina dan tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dalam pelarut asetonitril dengan stoikiometri 1:1. Senyawa kompleks yang diperoleh dikarakterisasi dengan menggunakan metode difraksi sinar-X, sedangkan penentuan struktur senyawa kompleks dilakukan dengan menggunakan program XTAL 3.7. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) senyawa kompleks perak(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 adalah [AgBr{PPh2(2,4,6-MeO)3Ph}(Py)]2 yang merupakan senyawa kompleks dimer dengan geometri disekitar atom pusat adalah tetrahedral terdistorsi. Kompleks ini mengkristal dalam kisi triklinik dalam kelompok ruang Pī. Parameter sel satuannya adalah a = 9,0754(6) Å, b = 9,2555(6) Å, c = 15,5767(1) Å, α = 98,877(3)°, β = 101,281(3)°, γ = 98,059(3)°, V = 1248,000(1) Å3, dan R = 0,043 untuk 24766 refleksi independen; (2) senyawa kompleks dari tembaga(I) bromida dengan ligan difenil-2,4,6-trimetoksifenilfosfina dengan stoikiometri 1:1 adalah [CuBr{PPh2(2,4,6-MeO)3Ph}]2 yang merupakan senyawa kompleks dimer dengan geometri disekitar atom pusat adalah trigonal planar terdistorsi. Kompleks ini mengkristal dalam kisi triklinik dengan kelompok ruang Pī. Parameter sel satuannya adalah a = 9,6592(5) Å, b = 10,9130(6) Å, c = 11,3354(7) Å, α = 68,694(2)°, β = 84,603(3)°, γ = 69,891(2)°, V = 1044,697(1) Å3, R = 0,027 untuk 20757 refleksi independen.

Penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SDN Purwantoro 8 Malang / Yunita Mardianingrum

 

Kata Kunci : Matematika, SD, Metode demonstrasi, Operasi hitung bilangan bulat Hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SDN Purwantoro 8 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika materi "Operasi bilangan bulat" guru menggunakan metode ceramah dan menggunakan satu media pembelajaran berupa gambar garis bilangan dimana guru langsung memberi tahu tentang bagaimana cara menghitung menggunakan garis bilangan tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : mendeskripsikan penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas IV, mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IV, mendeskripsikan peningkatan keaktivan siswa kelas IV saat berlangsungnya pembelajaran matematika menggunakan matode demonstrasi pada siswa kelas IV SDN Purwantoro 8. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, masing-masing siklus dilaksanakan dalam 3 hari dan 2 hari. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan sebesar 75% dari jumlah keseluruhan subyek penelitian dengan rata-rata skor minimal 75. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Purwantoro 8 Kecamatan Blimbing Kota Malang yang berjumlah 36 anak. Pada penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa : lembar Observasi ( pengamatan ) untuk mengamati kegiatan siswa, catatan lapangan, LKS, studi dokumentasi dengan hasil tes dan foto-foto pada saat pembelajaran, serta lembar evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan : (a) Pelaksanaan pembelajaran demonstrasi pada siklus I masih banyak kekurangan, yaitu ada beberapa siswa yang belum paham cara kerja metode demonstrasi menggunakan media wayang-wayangan. (b) Metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep operasi hitung bilangan bulat dari skor rata-rata prates 58,89 menjadi 67,14 pada siklus I dan pada siklus II menjadi 80,28; (c) Metode pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan keaktifan, siswa dalam belajar. Jumlah siswa yang konsentrasi dalam belajar meningkat dari 56,11% pada siklus I menjadi 68,33% pada siklus II. Kerjasama siswa dari 56,67% pada siklus I meningkat menjadi 65,56% pada siklus II. Keberanian siswa dalam bertanya ataupun berpendapat juga mengalami peningkatan dari 58,89% pada siklus I menjadi 66,11% pada siklus II. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pertama pembelajaran dengan metode demonstrasi dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengajarkan tentang konsep operasi hitung bilangan bulat. Yang kedua penggunaaan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas IV di SDN Purwantoro 8, dan ketiga adalah dampak penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan konsentrasi, kerjasama, keberanian bertanya dan berpendapat siswa dalam belajar.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |