Penerapan pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek / Asih Kurniawati

 

Kata kunci: Pemecahan Masalah, Hasil Belajar, Operasi Hitung Campuran. Bersamaan dengan kegiatan observasi dan identifikasi masalah yang peneliti lakukan di SDN Ngulankulon I Kabupaten Trenggalek pada hari Senin 4 Oktober 2010, Kepala Sekolah memberikan ijin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di kelas IV B. Berdasarkan hasil observasi dan tes awal diketahui bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika terutama dalam menyelesaikan soal cerita materi operasi hitung campuran. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi operasi hitung campuran yaitu dengan menerapkan pemecahan masalah dengan langkah-langkah: tahap memahami masalah, tahap menyusun rencana penyelesaian, tahap melaksanakan rencana penyelesaian masalah, dan tahap meninjau ulang hasil pelaksanaan.. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Selain itu mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tidakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan bersiklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika siswa kelas IV mengalami peningkatan. Pada siklus I skor rata-rata keberhasilan tindakan adalah 80 dan pada siklus II adalah 91. Selain itu hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 78 dan meningkat menjadi 89 pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah berhasil diterapkan dan dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan sebaiknya guru menerapkan pemecahan masalah dalam praktik pembelajaran di kelas. Selain itu penelitian ini dapat digunakan oleh Kepala Sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dan kualitas guru di sekolah. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan pemecahan masalah pada tempat yang berbeda.

Pengembangan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif pada sekolah dasar inklusi / Sri Joeda Andajani

 

Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr I Nyoman S Degeng, M.Pd, (II) Prof Dr I Wayan Ardhana, M.A, (III) Prof. Dr H Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed. Kata Kunci: Classroom Resources, Memfasilitasi Belajar Hasil observasi dari studi lapangan, menunjukkan bahwa permasalahan yang mendasar dalam kelas untuk anak hiperaktif bersama anak normal pada SD Inklusi, adalah (a) guru belum mempersiapkan diri dalam pemberian pelayanan pembelajaran, (b) persiapan perencanaan pembelajaran terfokus pada kelas dengan siswa yang homogen, (c) pemanfaatan sumber belajar sebagai media pembelajaran yang terbatas menjadikan kurang maksimal dalam pencapaian kemajuan belajar, (d) mengelola pembelajaran kelompok belum mencapai hasil terhadap perubahan perilaku belajar, dan (e) pelaksanaan penilaian yang aktif autentik masih bersifat penilaian umum dengan menyamaratakan semua siswa. Tujuan penelitian ini secara khusus, adalah (1) untuk menghasilkan prototipe model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi, (2) menguji ketepatan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif, dan (3) menguji tingkat efektivitas dan efisiensi pengelolaan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif. Penelitian pengembangan yang diterapkan adalah model Borg & Gall (1983) melalui 9 langkah-langkah siklus. Data yang diperoleh melalui pelaksanaan evaluasi dikelompokkan menjadi 3 bagian: (1) hasil uji ahli teknologi pembelajaran dan ahli Pendidikan Luar Biasa, (2) hasil uji coba lapangan utama atau skala kecil, (3) hasil uji coba lapangan nyata atau skala besar. Pengukuran tingkat efektivitas dari hasil 2 ujicoba tersebut diperoleh data kuantitatif dan dianalisis dengan menggunakan teknik presentase. Kemudian mengukur efektivitas untuk mengetahui perubahan kemampuan sosial dan emosi dianalisis menggunakan teknik penskoran. Pengukuran tingkat efisiensi produk pengembangan model pembelajaran classroom resources, menunjukkan suatu keberhasilan apabila adanya kesesuaian untuk target yang diharapkan dengan tersedianya fasilitas belajar anak hiperaktif kelas I di sekolah dasar inklusi. Peroleh hasil pengembangan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif ini proses pengembangan, antara lain (1) desain penataan kelas yang interaktif inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi, (2) melakukan perencanaan pembelajaran, (3) tersedianya sumber belajar berbasis media video dan audio pembelajaran, (4) pembelajaran kooperatif tipe TAI dan guru pendamping PLB dan tutor teman sebaya, serta (5) bentuk pengembangan topik pembelajaran baik dengan pendekatan tematik maupun mata pelajaran dikemas melalui program video dan audio. Tingkat efektivitas hasil ujicoba lapangan utama atau skala kecil dalam pengelolaan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif, dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran pada tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh”, hasil analisis data diperoleh 91,22%. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah”, hasil analisis data diperoleh 92,57%. Untuk mata pelajaran ”Bahasa Inggris” judul program ”Cardinal Number” hasil analisis data diperoleh 91,22%. Hasil ujicoba lapangan utama atau skala kecil pada 3 judul program video dan audio pembelajaran, menunjukkan bahwa anak hiperaktif mengalami perubahan perilaku belajar dalam kegiatan pembelajaran kelas. Pada perubahan kemampuan sosial dan emosi, menunjukkan hasil dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran untuk tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh” hasil analisis data diperoleh skor 24. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah” hasil analisis data diperoleh skor 25. Program video dan audio pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Inggris, judul program ”Cardinal Number”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Hasil ujicoba lapangan nyata atau skala besar, dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran pada tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh”, hasil analisis data diperoleh 93,24%. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah”, hasil analisis data diperoleh 93,92%, Pada mata pelajaran bahasa Inggris, judul program ”Cardinal Number”, hasil analisis data diperoleh 91,89%. Hasil ujicoba lapangan nyata atau skala besar pada 3 judul program video dan audio pembelajaran, menunjukkan bahwa anak hiperaktif mengalami perubahan perilaku belajar dalam kegiatan pembelajaran kelas. Pada perubahan kemampuan sosial dan emosi anak hiperaktif, menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran dengan tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Pada mata pelajaran bahasa Inggris, judul program ”Cardinal Number”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Berdasar tingkat efektivitas pengelolaan model pembelajaran classroom resources, menunjukkan peningkatan dalam perubahan perilaku belajar dan kemampuan sosial maupun emosinya. Tingkat efisiensi, menunjukkan hasil bahwa ketersedianya model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar adanya kesesuaian dengan target yang diharapkan pada anak hiperaktif di sekolah dasar inklusi. Dengan demikian,model pembelajaran classroom resources untuk memfasiltasi belajar anak hiperaktif yang secara interaktif inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi telah berhasil dilaksanakan oleh guru kelas bersama guru pendamping PLB. Artinya, pemberian pelayanan pembelajaran difasilitasi bentuk ruangan kelas yang dilengkapi berbagai sumber belajar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak hiperaktif bersama anak normal, sehingga semua siswa mudah bersosialisasi antar teman tanpa membeda-bedakan dengan cara saling berkomunikasi, persahabatan, bekerjasama dan tolong menolong.

Penerapan media sound slide pada pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VB SDN Bandungrejosari I kota Malang / Rufi' Nur Rahmawati

 

Kata kunci: Sound Slide, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS, SD Penggunaan media yang menunjang dapat mengurangi kecenderungan pembelajaran IPS yang dibelajarkan dengan menekankan pada hafalan dan verbalisme. Namun pada pembelajaran IPS kelas VB di SDN Bandungrejosari 1 pemanfaatan media masih kurang dioptimalkan. Sehingga pembelajaran cenderung pada hafalan. Hal itu terbukti dari hasil persebaran angket tentang “pembelajaran IPS” menunjukkan 60% siswa menyatakan kesulitan untuk menghafal. Sejalan dengan apa yang dikemukakan guru bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menghafal dan memahami materi IPS dengan muatan sejarah. Sedangkan hasil belajar siswa pada tes pra tindakan menunjukkan nilai rata-rata siswa mencapai 45,60 dengan prosentase ketuntasan 7,89% yang masih belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: (1) penerapan media Sound Slide pada pembelajaran IPS kelas VB SDN Bandungrejosari 1 kota Malang, (2) penerapan media Sound Slide untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa VB di SDN Bandungrejosari 1 kota Malang, (3) penerapan media Sound Slide untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa VB SDN Bandungrejosari 1 kota Malang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VB SDN Bandungrejosari 1 kota Malang meliputi: (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3) refleksi dan (4) perbaikan rencana di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara, (3) angket, (4) soal-soal tes dan (5) pedoman dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan media Sound Slide dinilai cukup baik mengurangi kecenderungan pembelajaran IPS yang menekankan pada hafalan dan verbalisme. Peningkatan aktivitas belajar siswa dibuktikan dengan meningkatnya keberagaman jenis aktivitas siswa. Nilai rata-rata aktivitas siswa mencapai prosentase ketuntasan klasikal 31,57% pada siklus I dan 94,73% pada siklus II. Begitu juga rata-rata klasikalnya dari 67,21 pada siklus I dan 79,44 pada siklus II. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari prosentase ketuntasan klasikal 7,89% pada pra tindakan meningkat menjadi 10,52% pada siklus I dan 73,68% pada siklus II. Begitu juga rata-rata klasikalnya dari 45,60 pada pra tindakan meningkat menjadi 54,14 pada siklus I dan 76,97 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penerapan media Sound Slide dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan di kelas VB SDN Bandungrejosari 1 kota Malang. Saran yang diberikan yaitu: bagi guru diantaranya (a) menerapkan media Sound Slide sebagai alternative media pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran, (b) melakukan persiapan yang matang sebelum penerapan media Sound Slide pada pembelajaran (c) memilih media pembelajaran yang sesuai dan efektif agar pembelajaran IPS dapat terlaksana dengan optimal. Bagi kepala sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan penelitian ini sebagai inspirasi bagi guru-guru dalam penerapan media Sound Slide. Bagi peneliti lain diharapkan bisa menindaklanjuti penelitian ini pada penelitian berikutnya.

Penerapan pendekatan CTL untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Wonorejo I kecamatan Lumbang / Nur Aisah

 

Kata Kunci : CTL, Hasil Belajar, IPA CTL merupakan konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari‑hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi diri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Dari hasil observasi ditemukan bahwa siswa di SDN Wonorejo I Kecamatan Lmbang, jarang menerapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Sebagian siswa merasa bosan dan kurang bersemangat dalam pembelajaran, sehingga siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan belajar di kelas 70%. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL sangat tepat dan dianjurkan sebagai alternatif proses belajar mengajar. Tujuan dalam penelitian ini untuk: 1) Memaparkan proses penerapan pendekatan CTL pada pembelajaran IPA di kelas IV. 2) Memaparkan aktivitas belajar siswa kelas IV selama penerapan pendekatan CTL. 3) Memaparkan hasil belajar IPA siswa kelas IV melali pendekatan CTL. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas(PTK) kolaboratif dan bersiklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Wonorejo I. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu: observasi, tes evaluasi. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa pengamatan guru, tes evaluasi. Hasil dari penelitian setelah dilakukan Tindakan Kelas, data menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pra tindakan rata- rata 57. Pada siklus I mencapai 75,65, sedangkan pada siklus II mencapai rata-rata 94, sehingga ketuntasan belajar mencapai 100%. Kesimpulan isi penelitian ini yaitu penggunaan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa serta hasil belajar siswa dari pra tindakan mendapat rata- rata 57 menjadi 75,65 pada siklus I. Kemudian mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus II menjadi 94 dengan ketuntasan belajar 100%. Dengan menerapkan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Selanjutnya peneliti menyarankan kepada guru, supaya dapat menggunakan pendekatan CTL dalam pembelajaran IPA, dengan begitu siswa dapat mengembangkan potensi diri dan sikap ilmiah. Pembelajaran dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian- penelitian lain sebagai bahan perbandingan, sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran numbered head together pada siswa kelas IV SDN Ngaringan 4 Gandusari Kabupaten Blitar / Galindra Widi Saputra

 

Kata Kunci: PKn, model numbered head together, hasil belajar. Hasil observasi yang dilakukan di kelas IV SDN Ngaringan 4 Gandusari Kabupaten Blitar menunjukkan bahwa dalam mengajar guru masih menggunakan pembelajaran yang konvensional, metode ceramah dan menghafal. Sehingga siswa tidak aktif, mengantuk dan terlihat bosan dengan demikian, hasil belajar siswa rendah yaitu hanya ada 5 siswa yang mendapat nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70, sedangkan 15 siswa mendapat nilai di bawah KKM. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran numbered head together pada mata pelajaran PKn, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Ngaringan 4 Gandusari Kabupaten Blitar melalui model pembelajaran numbered head together. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahap pelaksanaan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, catatan lapangan, dan tes. Sedangkan instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Pada pra tindakan nilai rata-rata siswa adalah 58,90 dengan persentase ketuntasan 25%. Pada siklus I nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 62,34 dengan persentase ketuntasan 40%. Dari nilai tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran belum tuntas, sehingga dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata siswa diatas kriteria ketuntasan minimal yaitu mendapat 74,59 dengan persentase ketuntasan 90%. Terdapat 2 siswa yang belum tuntas belajar karena kurang aktif dan tidak pernah mengerjakan tugas dari guru. Dengan demikian pelaksanaan tindakan pada siklus II berhasil dan meningkat mulai dari pra tindakan sampai pelaksanaan tindakan penelitian. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model numbered head together dapat meningkatkan aktivitas dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ngaringan 4 Gandusari Blitar.

Penerapan model peta konsep untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Pandanwangi 04 Kecamatan Blimbing kota Malang / Dhian Dwi Nur Wenda

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model Peta Konsep Berdasarkan hasil observasi dilakukan oleh peneliti pada kelas IV SDN Pandanwangi 04 kecamatan Blimbing Kota Malang pada waktu pembelajaran IPA didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru dan masih menggunakan cara konvensional, sehingga siswa mengalami kebosanan dan siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Dari hasil ulangan harian siswa pada materi energi panas dan bunyi menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 59,1 dan hanya ada 13 siswa (54,1%) dari 24 siswa yang mencapai KKM yang ditentukan yaitu 65. Untuk itu agar dapat meningkatkan pembelajaran IPA perlu diadakan perbaikan yaitu dengan menerapkan model pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model Peta Konsep untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model Peta Konsep, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model Peta Konsep. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif interaktif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Jenis Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi penyusunan RPP, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran model peta konsep, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, lembar catatan lapangan. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran Peta Konsep untuk meningkatkan pembelajaran ipa siswa kelas iv sdn pandanwangi 04 dengan kompetensi dasar “menjelaskan hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan” dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perolehan keberhasilan guru dalam penerapan model Peta Konsep, pada siklus I yaitu 85 dan meningkat pada siklus II menjadi 95. Aktivitas siswa meningkat, siklus I diperoleh 70 menjadi 82,9 pada siklus II. Hasil belajar siswa juga meningkat dari rata-rata 66,6 pada siklus I menjadi rata-rata 75 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi peneliti lain yang akan menerapkan model Peta Konsep, agar memberikan bimbingan pada siswa dalam memahami isi bacaan yang akan dibuat peta konsepnya serta menjelaskan pembagian tugas dalam bekerja secara kelompok.

Peningkatan hasil belajar melalui model picture and picture dalam pembelajaran IPS kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar / Rahajeng Kismaningsih

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran IPS, Model Picture and Picture Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas pembelajaran di kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar yang masih rendah. Karena proses pembelajaran guru sangat tergantung pada penggunaan buku paket, terpusat pada guru, disamping itu keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga masih rendah. Hal tersebut ditunjukkan dari sikap siswa yang pasif, kurang bersemangat, karena siswa hanya duduk, dengar dan catat sehingga timbul kejenuhan pada siswa yang berdampak pada hasil belajar siswa. Dari 23 siswa yang mencapai ketuntasan hanya 7 siswa (30%) Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penerapan model picture and picture dalam peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS bagi kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS bagi kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflektion) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar dengan jumlah siswa sebanyak 23 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi: 1) tes, 2) observasi, dan 3) dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan, Penerapan model Picture and Picture dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatanaktivitas siswa pada pratindakan adalah 50% naik sebesar 21% pada siklus I dan 14% pada siklus II. Pada hasil belajar siswa peningkatan keberhasilan pratindakan sebesar 31% pada siklus I dan 30% pada siklus II Berdasarkan hal tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Picture and Picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari 23 siswa yang tuntas sebesar 21 siswa atau 91% dan 2 siswa atau 9% tidak tuntas karena kelainan berfikir yang dialami.

Peningkatan hasil belajar matematika bangun ruang melalui model pembelajaran investigasi kelompok di kelas IV SDN Pagerwojo 03 kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar / Rika Kristina

 

Kata Kunci : Peningkatan hasil belajar, bangun ruang, Model pembelajaran investigasi kelompok. Proses pembelajaran matematika di SDN Pagerwojo 03 berjalan sesuai dengan rencana pelakasanaan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Namun kebanyakan siswa mengalami kesulitan belajar dalam memahami materi bangun ruang. Siswa masih kebingungan dalam menentukan rusuk, sisi, titik sudut, jaring-jaring. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode investigasi kelompok pada materi bangun ruang di kelas IV SDN Pagerwojo 03 Kecamatan Kesamben, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Pagerwojo 03 Kecamatan Kesamben dalam menyeleseikan soal-soal yang terkait dengan bangun ruang dengan menggunakan metode investigasi kelompok Pendekatan yang digunakan peneliti ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek peneliti ini adalah kelas IV SDN Pagerwojo 03 dengan jumlah siswa 19 anak. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : (1) observasi, (2) wawancara, (3) tes, dan (4) dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode investigasi kelompok dilakukan dengan langkah-langkah : a)Seleksi topic, b)Merencanakan kerjasama, c)Implementasi, d) Analisis dan sintesis, e) Penyajian hasil akhir, dan f) Evaluasi. Penerapan model pembelajaran dengan menggunakan metode investigasi kelompok digunakan untuk meningkatkan penilaian proses dan hasil belajar siswa. Penilaian proses dari siklus I 63% dan siklus II 83,4 % hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 21,3%. Dengan hasil yang diperoleh tersebut, yaitu sebaiknya para guru menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang optimal.

Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler (Studi kasus: Madrasah Ibtida'iyah Ma'arif desa Pagerwojo kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo) / Yuniawati Ningsih

 

Kata kunci: pengelolaan ekstrakurikuler, faktor penghambat, faktor pendukung Keberadaan kegiatan ekstrakurikuler diperlukan siswa sebagai media untuk mengembangkan potensi diri, selain itu diharapkan mampu mengangkat dan mengharumkan nama sekolah dengan prestasinya, khususnya prestasi non akademik. Kenyataan di lapangan, menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mendapat proporsi yang tidak seimbang, kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung disepelekan. Perhatian sekolah-sekolah juga masih kurang serius, hal ini terlihat dari kurangnya dukungan yang memadai baik dari segi dana, perencanaan, dan pelaksanaan, serta perannya sebagai bagian dari evaluasi keberhasilan siswa. Selain itu kecerdasan manusia tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual saja, tetapi juga dilihat emosionalnya, kreativitasnya,religiusnya. Keberagaman kecerdasan ini sangat mungkin tidak terakomodasi selama proses pembelajaran. Sekolah hanya mengutamakan pencapaian logicaldan mathematical intelegence. Padahal potensi anak beragam dan sangat memungkinkan kecerdasan tersebut dapat diasah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian pemahaman dan pengelolaan ektrakurikuler yang baik akan membentuk siswa yang kreatif, inovatif, dan beradab. Fokus penelitian yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler MI Ma'arif Pagerwojo yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta pengawasan, (2) faktor penghambat kegiatan ekstrakurikuler MI Ma'arif Pagerwojo dan cara mengatasinya, (3) faktor pendukung kegiatan ekstrakurikuler MI Ma'arif Pagerwojo dan cara memaksimalkannya. Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, sedangkan desain yang digunakan adalah desain studi kasus. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi berperanserta, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, perpanjangan keikutsertaan, dan pemeriksaan teman sejawat. Berdasarkan analisis data yang sudah dilakukan, diperoleh empat simpulan sebagai berikut: (1) Perencanaan kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pengambilan keputusan diadakan ekstrakurikuler adalah berdasarkan keputusan rapat, dan banyaknya siswa yang berminat. Tujuan dan program kerja difokuskan pada kegiatan perlombaan. Pengadaan sarana dilakukan secara bertahap, apabila dana utama tidak mencukupi tambahan dananya harus mengajukan proposal dulu ke yayasan. Berkaitan dengan sumber dana utama berasal dari BOS dan infaq. Anggaran dana setiap ekstrakurikuler berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan yang diikuti ekstrakurikuler tersebut. (2) Pengorganisasian yang berkaitan dengan pemilihan personil diputuskan berdasarkan rapat dengan kriteriatertentu. Peran masing-masing personil sesuai dengan struktur organisasinya. Yayasan sebagai pelindung, kepala Madrasah sebagai penanggungjawab, Waka Kesiswaan sebagai perantara antara Kepala Madrasah dengan koordinator dan pelatih, koordinator yang menjalankan ekstrakurikuler dan pelatih membantu tugas koordinator sebagai pelaksana dalam hal memberikan pengajaran dan pelatihan. (3) Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler secara umum dilakukan rutin tiap minggu sekali, kecuali ekstrakurikuler drumband dua minggu sekali. Target pelaksanaannya secara umum difokuskan pada pencapaian prestasi non akademik melalui perlombaan yang diikutinya. Secara umum hambatan dalam pelaksanaannya dikarenakan minimnya dana, kurangnya minat siswa jika tidak ada perlombaan, dan kurangnya dukungan orangtua. Sedangkan faktor pendukung diantaranya adalah siswa yang bersemangat jika ada perlombaan atau event yang dihadiri, sarana yang memadai, dan pelatih yang profesional. (4) Pengawasan kegiatan ekstrakurikuler berkaitan dengan penilaian dari semua personil yang terlibat. Kinerja koordinator diawasi oleh Waka Kesiswaan, kinerja pelatih diawasi oleh Koordinator, dan perkembangan siswa diawasi oleh Pelatih. Semua pengawasan tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda dan pengawasannya dilakukan secara langsung namun belum ada instrumennya. Saran yang dapat dikemukakan adalah kepada Kepala MI Ma'arif Pagerwojo, hendaknya lebih meningkatkan perhatiannya terhadap pelaksanaan ekstrakurikuler, misalnya dengan turut serta melakukan pengawasan secara langsung terhadap pelaksanaan ekstrakurikuler, ikut serta memberikan masukan tentang pembuatan program kerja ekstrakurikuler. Kepada Guru Pembina Ekstrakurikuler (Koordinator), hendaknya membuat program kerja yang lebih rinci, membuat tata tertib bagi siswa dan pelatih ekstrakurikuler, serta membuat instrumen untuk pengawasan. Kepada Organisasi Ma'arif, hendaknya memberikan anggaran dana khusus bagi pelaksanaannya. Kepada Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya turut membantu pihak-pihak sekolah yang lain berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikulernya dengan melakukan penelitian di sekolah yang lain sehingga bisa membandingkan keadaan di lapangan dengan teori yang pernah diterima di perkuliahan. Kepada Peneliti berikutnya, hendaknya melakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler yang akan datang dengan menambah situs penelitian. Kepada Kepala Sekolah pada umumnya, hendaknya bisa mengambil hal-hal yang positif mengenai pengelolaan ekstrakurikuler di MI Ma'arif Pagerwojo yang sekiranya dapat menunjang kemajuan ekstrakurikuler di sekolahnya. Kepada Pengawas Sekolah, hendaknya turut membantu peningkatan kegiatan ekstrakurikuler dengan secara terprogram melakukan pengawasan terhadap kegiatan ekstrakurikuler pula, tidak hanya masalah pembelajaran saja.Kepada Kepala Dinas Pendidikan, hendaknya memberikan penghargaan bagi sekolah yang memiliki prestasi non akademik yang baik, sehingga bisa memotivasi sekolah untuk selalu melakukan peningkatan kegiatan ekstrakurikulernya.

Pengaruh penggunaan LKS terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Penanggungan Malang / Siwi Khasanah

 

Kata kunci: Penggunaan LKS, Hasil Belajar. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengetahuan, dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Sekolah memiliki tugas untuk memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak-anak didiknya supaya menjadi orang yang berguna bagi dirinya, orang tua, agama, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara. Interaksi yang baik antara guru dan siswa sangat diperlukan dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang berkualitas. Adapun salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan memanfaatkan media pendidikan dalam proses belajar mengajar. Selain media pembelajaran juga dibutuhkan perangkat pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Salah satu perangkat pembelajaran yang sangat penting adalah penggunaan lembar kegiatan siswa (LKS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan LKS terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Penanggungan Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas IVA sebagai kelas eksperimen dan kelas IVB sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes untuk pretest dan posttest. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t independent diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari analisis data diketahui bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sebesar 75,64 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 59,10 dengan nilai probabilitas (sig) 0,000. Dengan demikian nilai probabilitas 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan LKS berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Penanggungan Malang. Disarankan bagi guru IPA dapat dijadikan alternatif untuk merencanakan pembelajaran serta membuat atau menyusun lembar kegiatan siswa yang kreatif dan didalamnya terdapat kegiatan pemecahan masalah karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan penngunaan LKS pada materi selain kenampakan bumi dan benda langit.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model investigasi kelompok pada siswa kelas IV SDN 02 Bangunmulyo pakel Kabupaten Tulungagung / Santi Retoningtyas

 

Kata Kunci: Peningktan hasil belajar, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), model pembelajaran Investigasi kelompok. Hasil belajar PKn dikelas IV SDN 02 Bangunmulyo kurang memuaskan, dari 20 siswa hanya 9 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran Investigasi Kelompok untuk meningkatkan aktivitas siswa sehingga mencapai nilai yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran PKn melalui metode pembelajaran Investigasi Kelompok bagi siswa kelas IV SDN 02 Bangunmulyo Kabupaten Tulungagung, dan (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran Investigasi Kelompok pada pembelajaran PKn di kelas IV SDN 2 Bangunmulyo Kabupaten Tulungagung. Pendekatan yang dilakukan ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan. Analisis data hasil observasi siswa yaitu dengan mencari persentase banyaknya siswa yang mendapat skor dibagi jumlah siswa dan dikalikan 100%. Apabila hasilnaya 70% maka kegiatan yang dilakukan siswa sudah baik. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap pratindakan hanya 9 siswa atau 45% dari 20 siswa yang tuntas belajar. Setelah diterapkan model pembelajaran Investigasi kelompok pada siklus I pertemuan I meningkat 13 atau 65% siswa dari 20 siswa yang tuntas belajar. Lalu pada siklus I pertemuan II meningkat menjadi 16 atau 80% siswa yang tuntas belajar. Namun hasil tersebut masih belum sesuai dengan harapan peneliti sehingga dilakukan siklus II. Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar mengalami kenaikan yaitu sebanyak 18 atau 90% siswa yang tuntas belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Investigasi Kelompok menunjukkan hasil belajar siswa lebih baik dan mengalami peningkatan daripada hasil sebelummya dalam pembelajaran PKn. Untuk itu, disarankan hendaknya para guru lebih sering menerapkan model pembelajaran yang bervariasi. Dengan demikian pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa.

Peningkatan pemahaman konsep pecahan melalui model pembelajaran kooperatif team assisted individualization (TAI) pada matematika kelas V SDN Gembongan 07 Kabupaten Blitar / Fajar Habib Maulana

 

Kata Kunci : Pemahaman konsep, Pecahan, Model Pembelajaran Kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V pada waktu pembelajaran Matematika terdapat: (1) Siswa belum memahami konsep dasar pecahan dan mengaku tidak tahu bahwa dalam menyamakan penyebut sebenarnya menggunakan konsep KPK. (2) Siswa mengalami kesalahan mendasar sebelum melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan yakni pemahaman konsep tentang mengubah dari pecahan campuran menjadi pecahan biasa. (3) Siswa kurang mampu mengerjakan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan, desimal dan persen. Dalam pembelajaran guru hanya masuk membahas PR kemudian siswa ditugasi mengerjakan soal di LKS, kemudian dibahas, dan yang terakhir siswa diberi tugas individu 4 soal, hasil belajar yang diperoleh yaitu nilai ≤ 59 ada 20 siswa dan nilai ≥ 60 ada 3 siswa. Pada pembelajaran matematika KKM yang ditentukan yaitu 60, sehingga ada 20 siswa yang hasil belajarnya di bawah KKM dan belum tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk:(1) untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) pada pembelajaran matematika tentang pecahan di kelas V SDN Gembongan 07 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, (2) untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep matematika tentang pecahan melalui model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) di kelas V SDN Gembongan 07 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. (3) untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika tentang pecahan melalui model pembelajaran kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) di kelas V SDN Gembongan 07 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas dengan model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas V. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) pada matematika di kelas V sudah sangat baik. Hal ini didukung dengan sudah munculnya semua aspek/komponen model pembelajaran Kooperatif Team Assisted Individualization (TAI)pada saat pembelajaran berlangsung. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 13,04%, pada siklus I adalah 65,22% dan pada siklus II adalah 91,3%. Berdasarkan hasil kesimpulan, disarankan kepada guru kelas V SDN Gembongan 07 untuk menggunakan model Pembelajaran Kooperatif Team Assisted Individualization (TAI) yang menyajikan pembelajaran yang berangkat dari siswa dan guru bertindak sebagai fasilitator menciptakan suasana yang menyenagkan agar siswa dapat mengembangkan konsep yang diterima secara berdiskusi.

Hubungan antara pembelajaran guru dengan sikap guru terhadap ujian nasional pada guru SMA / Febrina Dian Mariana

 

Kata Kunci : Pembelajaran Guru, Sikap Guru, Ujian Nasional. Ujian Nasional menjadi kontroversi karena (UN) dipandang sebagai sarana evaluasi kinerja pembelajaran guru dan pelayanan sekolah. tekanan psikologis yang dihadapi oleh guru SMA. enghadapi kebijakan UN menimbulkan reaksi poditif dan negative. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Apakah ada hubungan antara pembelajaran guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional; (2) Apakah usia, pengalaman mengajar, dan mata pelajaran yang diajarkan guru membedakan sikapnya terhadap ujian nasional. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripstif korelasional. Teknik sampel yang digunakan adalah adalah quota random. Besarnya sampel adalah 35 orang guru SMAN 1 Malang. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari angket persepsi siswa tentang pembelajaran guru di kelas, dan skala sikap guru terhadap Ujian Nasional. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis korelasional,analisis regresi, dan uji t-test. Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Terdapat hubungan yang positif anatara pembelajaran guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional. Nilai rxy = 0,699, signifikan pada 0,000. (2) Terdapat variasi sikap guru terhadap Ujian Nasional antara : a). guru yang usianya >48 tahun dengan guru yang usianya ≤ 48 tahun; b). guru yang masa kerjanya >15 tahun dengan guru yang masa mengajarnya ≤ 15 tahun; c). guru yang mata pelajarannya diujikan dengan guru yang mata pelajarannya tidak diujikan dalam Ujian Nasional. Klasifikasi guru yang disebut lebih dahulu bersikap lebih positif terhadap ujian nasional dibanding klasifikasi guru yang disebut belakangan. Guru hendaknya meningkatkan kemampuan pembelajarannya, sehingga Ujian nasional tidak menjadi beban psikologis bagi yang bersangkutan. Guru hendaknya menyadari bahwa sikap negatif terhadap ujian nasional tidak produktif, karena kebijakan itu mau tidak mau harus dilaksanakan. Ujian Nasional seharusnya ditanggapi guru dengan kerja keras dan peningkatan profesionalisme pembelajarannya.. Bagi peneliti selanjutnya dapat memasukkan variabel-variabel yang lebih komprehensif untuk meneliti sikap guru terhadap ujian nasional, seperti ,variabel status favorit sekolah, model kepemimpinan kepala sekolah, dan lokasi/daerah di mana sekolah itu berada.

Peningkatan kemampuan kognitif anak TK menggunakan Beyond Center and Circlas Time (BCCT) di TK ABA 01 Kebonagung Malang / Setyorini

 

Kata kunci: kemampuan kognitif anak , metode Beyond Centers And Cirles Time (BCCT), Taman Kanak –kanak. Dari hasil pengamatan penulis pada kegiatan pembelajaran bidang pengembangan kognitif di TK ABA 01 Kebunagung Malang di temukan beberapa masalah, diantaranya minat dalam hal pengembangan kognitif dan keaktifan masih rendah serta anak merasa bosan dalam pembelajaran. Padahal pembelajarnnya menggunakan Sentra Atau mneggunakan BCCT, namun kenyataannya pembelajaran tersebut tidak diolah sedemikian rupa sehingga kelihatan tidak terkontrol dan terarah dalam pengembangan pembelajarannya. Tujuan penelitian 1). Untuk mendeskripsikan pembelajaran pengembangan kemampuan kognitif melalui Beyond Center and Circle Time ( BCCT) di TK ABA 01 Kebonagung Malang; 2). Untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif melalui Beyond Centers and Cirle Time (BCCT) di TK ABA 01 Kebonagung Malang; 3). Untuk mendeskripsikan peningkatan keaktifan anak dalam Beyond Centers and Cirles Time (BCCT) di TK ABA Metode dalam penelitian ini menggunakan: (1) Rancangan penelitian Tindakan kelas, melalui (a) Tahap perencanaan yaitu menentukan indikator, menjabarkan indikator, merumuskan KBM, dan menentukan media dan perlatan permainan; (b) Tahap pelaksanaan yang sesuai tahap perencanaan; (c) Observasi kegiatan; (d) Refleksi; (2) Latar dan subjek penelitian ini di TK ABA 01 Kebonagung Malang dengan jumlah 12 siswa; (3) Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dari proses observasi; (4) Instrumen penelitian diisi ketika observasi berlangsung; (5) Analisis data pada penelitian ini mengacu pada keaktivan anak dan keberhasilan anak pada sentra. Hasil dari penelitian pembelajaran BCCT untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak di TK ABA 01 Kebonagung Malang dilakukan dengan dua siklus dimana setiap siklusnya terdiri dari 4 kali pertemuan dimana 1 harinya mengambil dua sentra untuk di kembangkan. yaitu untuk indikator keberhasilan mencapai 92, 63 % dan indikator kemempuan kognitif mencapai 86,23 % pada siklus I sedangkan pada siklus II indikator keberhasilan mencapai 96,47 % dan indikator kemampuan kognitif mencapai 98,17 %. Dari hasil perbandingan siklus I dan Siklus II di peroleh peningkatan. Kesimpulan dari penelitian ini pembelajaran dengan metode BCCT dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak yaitu mencapai 98,17 % dan meningkatkan indikator keberhasilan yang ditentukan penulis seperti tingkat keaktifan anak, dan tingkat rasa senang anak dalam kegiatn di sentra yaitu mencapai 96,47 %. Saran dari peneliti adalah diharapkan para pendidik khususnya taman kanak –kanak senantiasa meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA melalui penerapan model pembelajaran Savi (Somatis Auditori Visual Intelektual) pada siswa kelas III SDN Pesanggrahan 02 kota Batu / Evi Aulia Rizka

 

Kata kunci: Model Pembelajaran SAVI, Pembelajaran IPA. Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan di kelas III SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, didapatkan fakta bahwa pada saat pembelajaran IPA guru mayoritas menggunakan metode ceramah dan penugasan, tanpa adanya kegiatan pengamatan, percobaan serta diskusi kelompok selama pembelajaran. Hal ini menyebabkan aktivitas belajar siswa cenderung pasif. Selain itu Hasil belajar siswa rata-rata 58,33. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) penerapan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, (2) peningkatan aktivitas belajar IPA siswa kelas III SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, serta (3) peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu setelah dibelajarkan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual). Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subyek penelitian siswa kelas III SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Pelaksanaan PTK yang digunakan peneliti meliputi empat tahapan, 1) Perencanaan, 2) Tindakan, 3) Observasi, 4) Refleksi Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) dapat meningkatkan pembelajaran IPA pada siswa kelas III di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan guru dalam menerapkan model pembelajaran SAVI, pada siklus I sebesar 94,46% dan meningkat pada siklus II sebesar 98,61%. Aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I sebesar 71,42% dengan nilai rata-rata 74,5 dan pada siklus II prosentase meningkat menjadi 100%, dengan nilai rata-rata 87,68. Hasil belajar siswa pada saat pra tindakan sebesar 50% dengan rata-rata 68,93, siklus I sebesar 64,29% dengan nilai rata-rata 74,26 dan pada siklus II prosentase meningkat 92,86% dengan nilai rata- rata 80,50. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) dapat meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Disarankan agar guru menerapkan model pembelajaran SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) dalam pembelajaran IPA.

Peningkatan pembelajaran IPA melalui pendekatan kontruktivisme dengan kooperatif model inside outside circle pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 02 kota Malang / Nurul Hasanah

 

Kata Kunci : Kooperatif Inside Outside Circle, Pendekatan Kontruktivisme, Pembelajaran IPA SD Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa kekurangan dalam pembelajaran pada kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Kekurangan tersebut sebagai berikut. (1) metode-metode ini tidak diterapkan dengan suatu model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga siswa mudah merasa bosan, (2) kondisi siswa sebenarnya cukup aktif dalam proses pembelajaran, tapi keaktifan itu tidak berjalan dengan efektif, (3) dominasi guru masih tinggi sehingga aktivitas siswa kurang optimal, dan (4) hasil belajar siswa yang sangat tidak memenuhi standar ketuntasan minimal. Tujuan penelitian ini sebagai berikut, mendiskripsikan penerapan pendekatan kontruktivisme kooperatif model Inside Outside Circle, mendiskripsikan peningkatan aktifitas dan mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa pada pendekatan kontruktivisme kooperatif Inside Outside Circle pada mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana pada siswa kelas V, serta mendeskripsikan tanggapan siswa kelas V terhadap pembelajaran IPA materi pesawat sederhana dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme kooperatif Inside Outside Circle. Subyek penelitian yaitu siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, tes, dokumentasi, dan angket. Analisis data menggunakan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontruktivisme dengan kooperatif model Inside Outside Circle dapat meningkatkan yaitu: (1) penerapan pendekatan kontruktivisme dengan kooperatif model Inside Outside Circle siklus I keberhasilan mencapai 85,7% sedangkan siklus II meningkat menjadi 96,4%, (2) keaktifan siswa pada siklus I ketuntasan klasikal sebesar 67,5%, pada siklus II meningkat menjadi 88,3%, (3) hasil belajar saat pratindakan dan siklus I nilai rata-rata meningkat 6,2 dengan ketuntasan klasikal meningkat 20,7%. Sedangkan pada siklus I dan siklus II nilai rata-rata meningkat 9,4 dan ketuntasan klasikal meningkat 31%. Sedangkan respon siswa setelah pembelajaran menggunakan pendekatan kontruktivisme dengan kooperatif model Inside Outside Circle mayoritas siswa menyukai pendekatan kontruktivisme dengan kooperatif model Inside Outside Circle. Saran yang diberikan peneliti adalah guru hendaknya menggunakan pembelajaran yang efektif bagi siswa dalam menyampaikan materi pelajaran IPA, yaitu menggunakan model pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa.

Penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas V SDN Karang Besuki 4 Malang / Arisita Widuri

 

Berdasarkan hasil observasi permasalahan yang timbul di SDN Karangbesuki 4 Malang yaitu rendahnya hasil belajar siswa yang disebabkan oleh pembelajaran PKn yang kurang berani berkreatif, guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menyebabkan siswa menjadi bosan dan tidak menyukai mata pelajaran PKn. Peneliti mengupayakan suatu metode yang dapat membuat siswa menyukai mata pelajaran PKn dan juga dapat meningkatkan hasil belajar PKn yaitu dengan penerapan metode karya wisata. Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki kondisi belajar tersebut dengan metode karya wisata.Salah satu upaya perbaikan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan akan baik apabila semua materi pelajaran dapat terserap oleh siswa dengan baik. Pembelajaran PKn di sekolah dasar merupakan pembelajaran dasar PKn sebelum ada pada jenjang selanjutnya dan ini akan berjalan sesuai tujuan apabila dilaksanakan dengan gembira dan memiliki aktifitas yang membuat anak-anak merasa terpanggil untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Aktifitas yang menyenangkan itu akan membuat siswa dapat menyerap secara optimal tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik. Metode ini lebih menekankan pada pembelajaran di luar kelas dan langsung mencari informasi yang diinginkan di tempat kunjungan. Ciri-ciri metode karya wisata antara lain adanya objek yang akan dipelajari, misal Balaikota, Objeknya berada di luar kelas dan hasil belajar PKn. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Karangbesuki 4, Malang tahun ajaran 2010/2011. Penelitian tindakan kelas berangkat dari permasalahan yang timbul pada subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument wawancara, tes,dokumentasi, catatan lapangan dan observasi. Berdasarkan hasil analisis data dari penerapan metode karya wisata yang telah dilaksananan maka kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode karya wisata dapat meningkatnya keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa.

Penerapan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan aktivitas da hasil belajar siswa kelas V SDN Karangbesuki 4 Malang materi pokok sifat-sifat cahaya / Erni Pujayanti

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Learning Cycle, Aktivitas, Hasil Belajar Model pembelajaran learning cycle adalah suatu proses pembelajaran yang bersifat konstrutivistik, yaitu siswa secara aktif membangun sendiri pengetahuannya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Pada hasil observasi ditemukan fakta pembelajaran guru di kelas pada materi pesawat sederhana menunjukkan sebagian besar aktivitas guru adalah menjelaskan materi pelajaran. Hal pertama yang dilakukan guru setelah masuk ke dalam kelas yaitu mempresensi siswa kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan materi. Setelah itu guru meminta siswa mengerjakan soal yang ada di LKS dan dilakukan pembahasan. Siswa kurang aktif karena kegiatan yang dilakukan hanya mencatat, mendengar, dan mengerjakan soal di LKS. Data hasil belajar IPA siswa juga masih tergolong kurang memuaskan dengan rata-rata nilai semester 1 yang hanya mencapai 62 dengan KKM 58 dan ketuntasan klasikal 91,89%. KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah tersebut dirasa peneliti tergolong rendah, maka peneliti menawarkan KKM 65 dengan persetujuan guru kelas V dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan: 1) penerapan model pembelajaran learning cycle, 2) aktivitas belajar siswa, dan 3) hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklusnya terdiri dari dua pertemuan. Data diambil dari lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. Setiap akhir pertemuan dilakukan tes untuk mengukur hasil belajar siswa. Penerapan model pembelajaran learning cycle dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Peningkatan ini terlihat dari aktivitas belajar siswa siklus I sebesar 65,22% dalam kategori baik dan siklus II sebesar 84,19% dalam kategori baik sekali. Peningkatan ini terlihat dari hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 91,89% dengan KKM 58, siklus I sebesar 65,22% dan siklus II sebesar 84,19% dengan KKM 65. Guru dapat menggunakan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa dengan memperbaiki kekurangan pada fase elaborate.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui bermain drama pada siswa kelas V SDN Kedungrejo 02 Kecamatan Balerejo Madiun / Sri Ernawati

 

Kata kunci: Keterampilan Berbicara, bermain drama, SD. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Kedungrejo 02 Kecamatan Balerejo Madiun didapatkan fakta: (a) materi yang diajarkan kurang sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai, dan (b) belum semua siswa mampu berbicara untuk mengungkapkan pikiran melalui lisan. Agar dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan bermain drama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) penerapan bermain drama untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Kedungrejo 02, Kecamatan Balerejo, Madiun, dan (2) peningkatan hasil belajar keterampilan berbicara melalui bermain drama siswa kelas V SDN Kedungrejo 02, Kecamatan Balerejo, Madiun. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap meliputi: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi di seyiap siklusnya. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru kelas V dan seluruh siswa kelas V SDN Kedungrejo 02 Kecamatan Balerejo Madiun. Instrumen berupa: pedoman wawancara, lembar penilaian keterampilan berbicara siswa, lembar penilaian kemampuan guru dalam pembelajaran, lembar penilaian RPP, dan dokumentasi. Hasil belajar keterampilan berbicara melalui bermain drama siswa kelas V SDN Kedungrejo 02 sudah baik. Siswa sudah baik dalam menguasai aspek-aspek keterampilan berbicara dalam bermain drama. Intonasi siswa sudah baik, tinggi rendah suara siswa dalam berbicara sudah baik namun masih ada beberapa siswa yang masih monoton atau datar. Siswa sudah tidak terlihat gugup, takut, dan kurang percaya diri lagi. Namun siswa masih kesulitan dalam berekspresi dan masih ada rasa malu. Peningkatan nilai rata-rata kelas hasil belajar keterampilan berbicara siswa melalui bermain drama dari pra tindakan ke siklus 1 sebesar 14,68%, sedangkan peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 13,19%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam meningkatkan keterampilan berbicara dalam bermain drama aspek-aspek yang belum mendapatkan nilai yang memuaskan yaitu pada aspek berekspresi menggunakan mimik wajah dan gerak tubuh. Oleh karena itu guru harus lebih memberikan penekanan pelatihan pada aspek tersebut. Agar siswa mampu berekspresi dengan baik.

Peningkatan keterampilan menulis narasi ekspositori melalui media audio visual siswa kelas IV SDN Beru 01 Kabupaten Blitar / Ratna Prastiwi

 

Kata Kunci: menulis narasi ekspositori, media audio visual Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran melalui media audio visual dalam peningkatan keterampilan menulis narasi ekspositori siswa kelas IV SDN Beru 01 kabupaten Blitar dan mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis narasi ekspositori melalui media audio visual siswa kelas IV SDN Beru 01 kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan melalui jenis Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Setiap siklus dengan dua kali pertemuan yang masing-masing terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas IV SDN Beru 01 kabupaten Blitar semester II tahun pelajaran 2010/ 2011. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar observasi kegiatan belajar mengajar (aktivitas guru dan siswa di dalam kegiatan pembelajaran), dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran melalui media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi ekspositori siswa kelas IV SDN Beru 01 kabupaten Blitar. Pada hasil tes pra tindakan menunjukkan bahwa rata-rata hasil perolehan siswa adalah 61, pada siklus I rata-rata hasil perolehan siswa adalah 76, dan pada siklus II rata-rata hasil perolehan siswa adalah 84. Ketuntasan belajar pada pra tindakan sebesar 35%, siklus I 76%, dan siklus II 84%. Hasil skor pencapaian hasil rata-rata kelas tersebut sudah dikatakan baik. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 70% dan siklus II sebesar 89%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis narasi ekspositori melalui media audio visual dapat membantu siswa untuk lebih aktif dan menemukan ide terhadap karangan yang akan mereka tulis. Pembelajaran menulis narasi ekspositori dapat tercapai dengan menerapkan media audio visual dalam pelaksanaan pembelajaran. Untuk itu diharapkan guru selalu menggunakan media dalam pelaksanaan pembelajaran khususnya media audio visual karena akan menarik minat siswa untuk belajar.

Penerapan bermain label untuk meningkatkan kemampuan membaca awal anak kelompok A di TKN Pembina 3 Malang / Chicha Henny Damayanthi

 

Kata kunci: Penerapan, Membaca Awal, Bermain Label, Peningkatan Penelitian ini berlatar belakang pada tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya untuk bisa membaca pada usia dini (mulai kelompok A).Kemampuan membaca awal merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dimiliki anak. Hasil belajar anak pada kemampuan membaca awal masih belum sesuai yang diharapkan, dalam hal; 1) menyebutkan bunyi huruf, 2) menyusun huruf , dan 3) menceritakan gambar, dari 20 siswa 70 % masih berada pada rata-rata nilai ☆☆. Bermain label adalah kegiatan memperkenalkan membaca awal dengan menggunakan label yang ada pada pembungkus makanan/ minuman. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan kegiatan bermain label untuk meningkatkan kemampuan membaca awal dan mendiskripsikan peningkatan kemampuan membaca awal anak kelompok A di TK Pembina 3 Malang dengan kegiatan bermain label. Rancangan penelitian menggunakan acuan model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di TK Pembina 3 Malang. Proses peningkatan kemampuan membaca awal anak dengan kegiatan Bermain Label dinyatakan berhasil apabila kemampuan anak mencapai prosentase minimal 75% sesuai dengan panduan penilaian pada kurikulum pendidikan anak usia dini, dan dikatakan berhasil jika terjadi peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Keberhasilan ini ditandai dengan: (1) anak mampu menyebutkan dan melafalkan berbagai bunyi huruf dari kata pada label, (2) anak mampu menyusun huruf sesuai kata pada label, dan (3) anak mampu membaca gambar yang memiliki kata (bercerita) secara sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan Bermain Label terbukti dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca awal pada anak TK kelompok A. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan kegiatan Bermain Label dapat meningkatkan kemampuan membaca awal anak kelompok A. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kemampuan membaca awal dari pra siklus 23,33%, siklus I mencapai 43,33% dan siklus II mencapai 86,66%. Sedangkan dari aspek keberhasilan pada prasiklus 11,25%, siklus I 23,3% dan pada siklus II meningkat menjadi 77,91%.

Pengembangan kecerdasan emosional anak melalui bermain galasin di Taman Kanak-Kanak Muslimat NU Masyithoh 12 Kejapanan-Gempol / Jumrotin Azizah

 

Kata Kunci: Bermain Galasin, Kecerdasan Emosional Usia dini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, seni, sosial emosional dan konsep disiplin kemandirian, moral dan nilai nilai agama. Salah satu aspek perkembangan yang dapat menjadikan anak dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan teman maupun orang dewasa dengan baik serta menolong dirinya dalam rangka kecakapan hidup adalah perkembangan emosional. Dari observasi yang dilakukan, siswa kelompok A emosinya masih kurang terkendali, sehingga tidak mampu mengendalikan emosinya. Sedangkan pada proses pembelajaran menunjukkan di awal belajar anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi atau beradaptasi dengan lingkungan barunya. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mendeskripsikan penerapan bermain galasin dalam mengembangkan kecerdasan emosional pada anak kelompok A Taman Kanak-kanak Muslimat NU Masyithoh 12, 2) untuk mendeskripsikan pengembangan kecerdasan emosional pada anak kelompok A Taman Kanak-kanak Muslimat NU Masyithoh 12 melalui bermain galasin. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-kanak Muslimat NU Masyithoh 12 Kejapanan Gempol dengan subjek penelitian sebanyak 24 anak. Metode yang digunakan yaitu PTK dengan menggunakan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data observasi dan instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bermain galasin terbukti dapat mengembangkan kecerdasan emosional anak. Pengembangan kecerdasan ini ditandai dengan meningkatnya kecerdasan emosional anak dilihat dari: mengenal emosi (70,8%), mengelola emosi (83,3%), motivasi diri (62,5%), empati (87,5%) dan membina hubungan (87,5%). Penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa melalui bermain galasin dapat mengembangkan kecerdasan emosional anak kelompok A Taman Kanak-kanak Muslimat NU Masyithoh 12 Kejapanan Gempol. Beberapa saran yang dapat peneliti kemukakan adalah agar guru menggunakan permainan galasin untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak, bagi lembaga yang ingin mengubah pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada anak, pembelajaran ke arah yang lebih bervariatif, maka disarankan untuk menggunakan bermain galasin.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran simulasi sosial pada siswa kelas V SDN Kalipare 06 Kabupaten Malang / Veryda Eva Ernita

 

Penerapan model pembelajaran sains teknologi masyarakat untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V di SDN Bumiayu 3 Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Eva Chandra Qodarsih

 

Kata kunci: Sains Teknologi Masyarakat, Pembelajaran IPA, Hasil Belajar Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menuntut guru agar dapat membelajarkan siswa untuk memahami, mengaplikasikan, dan mengembangkan konsep, menguasai ketrampilan proses, memiliki wawasan kealaman, memiliki sikap positif terhadap alam sekitarnya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas V di SDN Bumiayu 3 tentang pembelajaran IPA ada beberapa permasalahan yang dihadapi, diantaranya: (1) Keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPA masih rendah ditandai oleh siswa kurang aktif dalam menemukan pengetahuannya sendiri, (2) Dalam proses pembelajaran guru masih terlalu terpaku buku paket, (3) Hasil belajar IPA siswa kelas V masih rendah. Ada 26 siswa (76%) yang mendapat nilai kurang dari 70 (KKM Sekolah) dan 8 siswa (24%) yang mendapat nilai 70 ke atas. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dilakukan penerapan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran STM dalam meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Bumiayu 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang , (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa kelas V SDN Bumiayu 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dalam pembelajaran IPA setelah dibelajarkan dengan model pembelajaran STM, (3) Mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar IPA dalam penggunaan model pembelajaran STM pada siswa kelas V SDN Bumiayu 3 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. (4) Mendeskripsikan tanggapan guru dan siswa terhadap penerapan model pembelajaran STM pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif partisipatoris dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 34 siswa kelas 5 SDN Bumiayu 3 Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran STM membuat siswa menjadi aktif. Hasil observasi penerapan model pembelajaran STM siklus I prosentase rata-ratanya adalah 90,0% dan mengalami peningkatan prosentase rata-rata pada siklus II menjadi 94,3%. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I prosentase rata-ratanya adalah 72,7% dan mengalami peningkatan prosentase rata-rata pada siklus II menjadi 84,0%. Hasil belajar siswa juga terjadi peningkatan dari rata-rata kelas 46,9 pada observasi awal, pada siklus I skor rata-rata kelas menjadi 71,6 dan skor rata-rata kelas siklus II meningkat menjadi 82,3. Guru dan siswa merasa senang dengan penerapan model pembelajaran STM ini karena siswa lebih aktif, terampil dan lebih suka bekerja sama dalam melakukan percobaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran STM dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bumiayu 3 Kota Malang materi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan guru menerapkan pembelajaran STM pada mata pelajaran IPA sehingga hasil belajar siswa meningkat dan siswa dapat belajar dengan lebih bermakna

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui ,edia VCD pada siswa kelas V SDN Ngeni 03 Kabupaten Blitar / Mujiati

 

Kata kunci: keterampilan menulis, narasi, media VCD Berdasarkan hasil observasi siswa kelas V SDN Ngeni 03 Kabupaten Blitar banyak yang mengalami kesulitan ketika belajar tentang menulis khususnya karangan narasi. Rendahnya penguasaan siswa tentang materi menulis membuat nilai hasil belajar pun kurang dari standar yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis narasi melalui media VCD pada siswa kelas V SDN Ngeni 03 Kabupaten Blitar dan hasil pelaksanaan pembelajaran menulis narasi melalui media VCD pada siswa kelas V SDN Ngeni 03 Kabupaten Blitar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Rancangan penelitian yang digu-nakan adalah dua siklus. Di mana dalam satu siklus tersebut terdiri dari (1) peren-canaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sebelum dilaksanakan tahap siklus, terlebih dahulu dilakukan pratindakan sebagai awal identifikasi masalah. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V dalam pembelajaran menulis narasi melalui media VCD. Peningkatan aktifitas siswa, nilai rata-rata pada siklus I sebesar 75 menjadi 84,5 pada siklus II. Terjadi peningkatan sebesar 9,5 dari siklus I ke siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa, nilai rata-rata dari pra tindakan ke siklus I yaitu dari 56 menjadi 68 pada siklus I dan 85 pada siklus II. Ketuntasan klasikal pada pratindakan sebesar 25% meningkat pada siklus I menjadi 56% dan pada siklus II menjadi 94%. Terjadi peningkatan sebesar 12 dari pra tindakan ke siklus I dan 17 dari siklus I ke siklus II. Peningkatan persentase ketuntasan klasikal ini sebesar 31% dari pratindakan ke siklus I dan 38% dari siklus I ke siklus II. Persentase ketuntasan tersebut di atas sudah memenuhi bahkan melebihi PAP yaitu 75 % untuk ketuntasan individu, dan 80 % untuk ketuntasan klasikal. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis narasi melalui media VCD dapat meningkatkan hasil bela-jar menulis karangan narasi siswa dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SDN Ngeni 03 Kabupaten Blitar, oleh karena itu guru disa-rankan untuk menerapkan pemanfaatan VCD sebagai media pembelajaran menu-lis karangan narasi dan lebih selektif dalam memilih media dengan memperhati-kan kelebihan dan kelamahan sehingga bisa meminimalisir kelemahan demi tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal.

Pengembangan media game pembelajaran dengan model permainan ular tangga mata pelajaran bahasa inggris di SMP Negeri 4 Tulungagung / Sumarni

 

Kata kunci : Pengembangan Media Game, Permainan ular Tangga, Bahasa Inggris, Descriptive Teks, Procedure Teks, Simple Present Tense. Media game pembelajaran ular tangga dikembangkan karena untuk memberikan variasi dalam pembelajaran kelas agar pembelajaran tidak membosankan. Selain itu, siswa dapat belajar sambil bermain.Salah satu sekolah yang menjadi tempat penelitian pengembangan adalah SMP Negeri 4 Tulungagung, dalam pembelajarannya masih cenderung menggunakan metode ceramah dan menggunakan media konvensional. Salah satu mata pelajaran yang masuk dalam ujian nasional yaitu bahasa Inggris, masih belum menggunakan media berbasis komputer dan pemanfaatan komputer untuk pembelajaran masih jarang digunakan untuk mata pelajaran bahasa Inggris selain Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Selama pembelajaran bahasa Inggris, siswa masih kesulitan dalam hal kosakata, menulis kembali dalam bahasa Inggris dan mengartikan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan produk media game pembelajaran ular tangga mata pelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 4 Tulungagung untuk : (1) Meningkatkan kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata bahasa Inggris, (2) Meningkatkan kemampuan dalam menulis kembali teks dalam bahasa Inggris, (3) Meningkatkan kemampuan dalam menerjemahkan kata atau kalimat dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya. Metode pengembangan yang digunakan adalah model ADDIE dengan prosedure pengembangan yang terdiri dari 5 tahap yaitu : (1) Analyse (analisis) (2) Design (desain), (3) Development(pengembangan), (4)Implementation (implementasi), (5) Evaluation (evaluasi). Media game pembelajaran siap digunakan dalam kegiatan pembelajaran kepada siswa SMP kelas VII. Sampel yang diambil adalah siswa SMP kelas VII A dan VIIB dalam pembelajaran bahasa Inggris diSMP Negeri 4 Tulungagung. Sumber data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam Pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (pre-test dan post-test). Teknik analisis data yang digunakan antara lain: analisis angket, interpretasi data dengan kriteria tingkat validitas dan mengolah tes hasil belajar siswa dengan menggunakan kriteria keberhasilan media game ular tangga dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media game ular tangga. Hasil pengembangan media game pembelajaran ular tangga mata pelajaran bahasa Inggris yang telah diujicobakan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi ahli media diperoleh 94,5%, ahli materi diperoleh 100%, siswa dalam uji coba individu diperoleh hasil sebesar 87,5%, siswa dalam uji coba terbatas ( kelompok kecil) diperoleh hasil sebesar 87,8%, siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh hasil sebesar 87,5%, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa media game ular tangga yang dikembangkan termasuk dalam kriteria Valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran bahasa Inggris pada materi descriptive teks, procedure teks dan simple present tense di SMP Negeri 4 Tulungagung. Hasil tes belajar baik pre- test maupun post- test yang diberikan kepada siswa kelas VII di SMP Negeri 4 Tulungagung, pembelajaran dengan menggunakan media game pembelajaran ular tangga ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan media game pembelajaran ular tangga, persentase peningkatan hasil belajar pada uji coba individu sebesar 11,1%, uji coba terbatas (kelompok kecil) sebesar 10,4% dan uji coba lapangan sebesar 10,6 % . Berdasarkan hasil penelitian pengembangan tersebut, perlu dikembangkan media game untuk mata pelajaran yang lainnya dan disesuaikan dengan identifikasi kebutuhan dalam pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV B di SDN Bareng 1 Kecamatan Klojen kota Malang / Arif Budi Saputra

 

Kata kunci: IPS SD, Problem Based Learning, Hasil Belajar. Hasil wawancara dan observasi awal di SDN Bareng 1 Malang ditemukan bahwa dalam pembelajaran guru jarang melibatkan siswa. Hasil belajar siswa pada semester 1 rata-rata masih tergolong rendah dan di bawah KKM. Rata-rata kelas pada mata pelajaran IPS pada semester 1 yaitu 56. Penelitian dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS Kelas IV B SDN Bareng 1 Malang. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran model PBL; (2) untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diadakan pembelajaran dengan menggunakan model PBL pada mata pelajaran IPS. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah kelas IV B SDN Bareng 1 Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa rata-rata hasil belajar kognitif siswa pada siklus I adalah 66,32 dan hanya 20 siswa saja yang tuntas belajar dengan mencapai angka 70 sesuai dengan KKM yang telah ditentukan, sedangkan 14 siswa yang lain belum tuntas belajar (belum berhasil). Ketuntasan klasikal yang diperoleh dari siklus I ini sebesar 59% saja. Rata-rata kelas pada siklus II adalah 74,71 dan 27 siswa yang tuntas belajar sedangkan 7 siswa yang lainnya belum tuntas belajar (belum berhasil). Ketuntasan klasikal yang diperoleh pada siklus II adalah sebesar 79%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan PBL dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV B SDN Bareng 1 Malang. Saran-saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini diantaranya: (1) Guru mata pelajaran IPS disarankan agar dalam proses pembelajaran mampu mengaktifkkan siswa dalam belajar yang salah satunya adalah PBL dan untuk materi pelajaran yang lain untuk meningkatkan aspek afektif, kognitif, dan psikomotor siswa.

Peningkatan pembelajaran menulis terbimbing melalui pendekatan whole language siswa kelas IV SDN Wonokerto 03 Kabupaten Malang / Fitriyah Hanim

 

Kata Kunci: pembelajaran, menulis terbimbing, pendekatan whole language Berdasarkan observasi lapangan ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran menulis yaitu kemampuan menulis siswa masih rendah. Hal ini dapat diketahui pada saat pelaksanaan Ulangan Tengah Semester (UTS) semester II tahun ajaran 2010/2011. Sebanyak 13 dari 20 siswa (65%) belum dapat menyusun karangan dengan baik. Hal ini disebabkan karena siswa tidak dapat menyusun kalimat dengan baik, pemahaman terhadap penggunaan tanda baca yang masih kurang dan guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia cenderung menggunakan metode ceramah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan pendekatan whole language pada siswa kelas IV?, dan (2) apakah penerapan pendekatan whole language dapat meningkatkan pembelajaran menulis terbimbing siswa kelas IV?. Agar pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan dipilihlah pendekatan whole language Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi dua siklus masing-masing terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada penelitian ini masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IV dengan jumlah 20 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Sedangkan instrumen penilaian yang digunakan adalah observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian dengan penerapan pendekatan whole language dapat meningkatkan pembelajaran dan kemampuan menulis siswa kelas IV. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan kemampuan menulis siswa di kelas IV dari sebelum siklus adalah 72,40 mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 76,35, siklus II dengan nilai rata-rata 80,75. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan paparan data bahwa penerapan pendekatn whole language dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa dan disarankan agar guru menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakter bahasa Indonesia seperti whole language sehingga sekolah dapat meningkatkan kinerja guru dan kualitas pembelajaran di lembaga yang dibimbingnya. Guru juga menerapkan karakteristik kelas whole language sebagai langkah kreatifitas guru.

Penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Kromengan 02 Kabupaten Malang / Noviana Maulidina

 

Kata kunci: aktivitas belajar, hasil belajar, model pembelajaran make a match Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas IV SDN Kromengan 02 Kabupaten Malang, ditemukan permasalahan pada pembelajaran IPS materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi, yaitu pembelajaran IPS masih terpusat pada guru.Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Kromengan 2 Kabupaten Malang; (2) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan aktivitas siswa kelas IV SDN Kromengan 2 kabupaten Malang; (3) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kromengan 2 Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Kromengan 2 Kabupaten Malang. Perolehan rata-rata hasil belajar siswa meningkat, dari siklus I ke siklus II sebesar 17% dengan ketuntasan belajar 98%. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 11%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa kelas IV SDN Kromengan 2 Kabupaten Malang.

Implementasi model peta konsep (Concept Mapping) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas III pada pembelajaran PKn di SDN Pandanwangi 4 kota Malang / Diana Saridewi

 

Kata Kunci: model peta konsep, aktivitas belajar, hasil belajar, pembelajaran PKn SD. Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar seharusnya bukan menjadi pembelajaran yang menakutkan dan menyulitkan siswa. Namun pada kenyataannya aktivitas dan hasil belajar siswa masih kurang memuaskan. Hasil belajar siswa berada di bawah ketuntasan belajar yaitu 64,0 dan hanya 17% yang memperoleh nilai diatas 70. Hal ini dikarenakan kurangnya motivasi siswa untuk mempelajari materi PKn yang lebih menekankan pada pemahaman. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengimplementasikan model peta konsep (concept mapping) pada materi kekhasan bangsa Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) penerapan peta konsep, (2) peningkatan aktivitas belajar, (3) peningkatan hasil belajar siswa dengan model peta konsep. Peta konsep adalah suatu model pembelajaran berupa bagan yang disusun secara sistematis untuk menunjukkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Taggart. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas III SDN Pandanwangi 4 Kota Malang, dengan prosedur penelitian (1) perencanaan,(2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) lembar pengamatan aktivitas belajar, (2) soal tes formatif dan tes membuat peta konsep, (3) dokumentasi, (4) catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan model peta konsep dilakukan dengan langkah-langkah (1) memilih topik atau bacaan untuk dibuat peta konsep, (2) menemukan konsep-konsep utama pada topik yang dipilih, (3) menyusun konsep-konsep tersebut mulai dari konsep yang paling umum ke yang paling sederhana, (4) menghubungkan konsep-konsep dengan kata penghubung, (5) siswa diberi tugas melengkapi contoh peta konsep, (6) siswa diberi tugas membuat peta konsep sesuai dengan materi kekhasan bangsa Indonesia. Model peta konsep dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, berdasarkan pengamatan aktivitas siswa menunjukkan bahwa aktivitas siswa meningkat 5,4% dari siklus I ke siklus II. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa diketahui dari perolehan penilaian tes membuat peta konsep dan tes formatif. Ketuntasan siswa sebelum tindakan adalah 17% dengan rata-rata 64,0 meningkat menjadi 62% rata-rata 69,6 pada siklus I, kemudian meningkat menjadi 76% dengan rata-rata 78, 2 pada siklus II. Implementasi model peta konsep pada pembelajaran PKn ini perlu dikembangkan, namun tidak semua materi dapat dipilih untuk dibuat peta konsep. Karena itu guru perlu lebih selektif dalam pemilihan model pembelajaran PKn.

Perbedaan hasil belajar perawatan PC dan respon belajar karena pengaruh penerapan model CTL dibandingkan dengan model pembelajaran TPS pada siswa kelas X TKJ SMK Negeri 3 Malang / Atan Pramana

 

Kata Kunci : Model CTL (Contextual Teaching and Learning), TPS (Think Pair Share), hasil belajar, dan respon belajar. Keberhasilan dalam proses pembelajaran dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain model dan metode pembelajaran yang dipilih oleh guru. Sehingga pemilihan guru dalam menggunakan model pembelajaran berdampak positif dalam peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa. Model pembelajaran yang dapat digunakan adalah CTL dan TPS merupakan model pembelajaran yang mengupayakan pada kegiatan belajar yang bermakna melalui strategi pembelajaran, diskusi, bekerja kelompok, dan memecahkan masalah serta menyimpulkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagai berikutperbedaan hasil belajar perawatan PC dan respon belajar karena pengaruh penerapan model CTL dibandingkan dengan TPS. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Negeri 3 Malang tahun ajaran 2010/2011. Sampel dengan tujuan, ditentukan kelas X TKJ 3 sebagai kelas eksperimen dengan perlakuan model CTL dan kelas X TKJ 1 sebagai kelas kontrol dengan perlakuan model pembelajaran TPS. Instrumen perlakuan RPP, sedangkan instrumen pengukuran hasil belajar meliputi penilaian test, rubrik afektif, rubrik psikomotor, dan respon belajar. Teknik analisis data dengan bantuan SPSS 17 yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar, respon siswa, dan sumbangan respon belajar terhadap hasil belajar yaitu dengan uji t untuk mengetahui adanya perbedaan dan regresi linear sederhana untuk mengetahui besar sumbangan. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan. Terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar perawatan PC antara kelas yang diajar menggunakan model CTL dan kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran TPS diperoleh nilai Sig.(0,029) < 0,05. Perbedaan rata-rata respon belajar perawatan PC antara kelas yang diajar menggunakan model CTL dan kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran TPS diperoleh nilai Sig.(0,003) < 0,05. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima pada uji hipotesis perbedaan menggunakan uji t. Sumbangan respon belajar penerapan model CTL terhadap hasil belajar perawatan PC sebesar 71,5%, sedangkan sumbangan respon belajar penerapan model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar perawatan PC sebesar 67,8%. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima pada uji hipotesis sumbangan respon belajar menggunakan uji regresi linear sederhana. Dari besarnya persentase diketahui bahwa respon belajar siswa terhadap penerapan model CTL lebih tinggi dari pada respon belajar siswa terhadap penerapan model pembelajaran TPS.

Efektivitas pelatihan asertivitas (Assertive Trainning) untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung / Amalia Fitriana

 

Kata Kunci : pelatihan asertivitas, perilaku asertif, teknik konseling Keterampilan asertif perlu dimiliki oleh siswa SMA. Namun kenyataannya banyak diantara siswa yang tidak berani untuk mengambil sikap secara tegas, mengungkapkan suatu pernyataan, pendapat, pikiran dan perasaannya secara lugas. Mereka sering bimbang dan ragu-ragu dalam memilih cara berperilaku sebagai ciri keasertifan. Salah satu pelatihan yang efektif untuk meningkatkan perilaku asertif adalah menggunakan pelatihan asertivitas. Sejauh mana keefektifannya diperlukan uji empirik melalui penelitian. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pelatihan asertivitas (assertive training) untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung. Sedangkan hipotesis yang digunakan adalah pelatihan asertivitas (assertive training) efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Populasi siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung tahun ajaran 2010/2011. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Jumlah subjek yang diambil sebanyak 60 siswa yang dibagi dalam 2 kelompok, kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data diperoleh melalui subjek, menggunakan inventori perilaku asertif yang telah diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir dan uji reliabilitas dengan didapatkan r alpha sebesar 0.911>r tabel 0.04 dengan tingkat kepercayaan 95% . Analisis hasil penelitian adalah dengan menggunakan signifikansi statistik. Signifikansi statistik menggunakan uji t. Dari hasil penghitungan didapatkan nilai mean skor peningkatan perilaku asertif kelompok eksperimen sebesar 4,93 lebih tinggi dari pada kelompok kontrol sedangkan berdasarkan hasil uji beda (t-test) antar kelompok didapatkan nilai thitung sebesar 4,356 dengan signifikansi 0,000. Dari hasil analisis tersebut nilai thitung mempunyai signifikansi thitung kurang dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan perilaku asertif antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen, sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan asertivitas efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) Bagi konselor, diharapkan dapat menggunakan pelatihan asertivitas sebagai salah satu teknik untuk memberikan layanan bimbingan kepada siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan serupa dengan menggunakan desain eksperimen yang berbeda sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan. Dalam penelitian ini juga hanya melakukan satu kali post test, sehingga tidak diketahui secara pasti berapa lama efek pemberian treatment. Ada baiknya jika dilakukan lebih dari satu kali pemberian post test untuk melihat tingkat efektivitas jangka panjang treatment pelatihan asertivitas terhadap peningkatan perilaku asertif subjek penelitian

Kecanduan game online siswa sekolah menengah pertama di kota Malang / Muhammad Asrori

 

Kata Kunci: Sekolah Menengah Pertama, kecanduan, game online Berdasarkan hasil observasi awal, banyak siswa Sekolah Menengah Pertama yang bermain game online. Dari keterangan subjek awal yaitu Alen diketahui bahwa penggunaan game online terbanyak adalah siswa Sekolah Menengah Pertama. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian mengenai kecanduan game online siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan jenis game online yang dimainkan, faktor-faktor yang membuat siswa sulit untuk melepaskan aktifitas tersebut, ciri-ciri siswa yang mengalami kecanduan game online, dan pengaruh game online bagi siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Subjek peneliti adalah siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang yang kecanduan game online.Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan reduction dan display. Hasil penelitian menghasilkan: banyak siswa yang memilih game jenis FPS (First Person Shooter) untuk dimainkan karena lebih menantang dan memacu adrenalin, bermain game online sebagai bentuk pelarian dari masalah-masalah yang dihadapi, bermain game online untuk mencari kepuasan, bermain game online mempengaruhi tingkah laku pemainnya, seperti agresivitas. Hasil temuan penelitian sebagai berikut: (1) jenis game online yang biasa dimainkan siswa adalah jenis FPS (First Person Shooter ) yang berisi peperangan, (2) faktor-faktor yang membuat siswa sulit untuk melepaskan aktifitas bermain game online adalah subjek merasa sudah ketagihan atau kecanduan memainkan game online, (3) ciri-ciri siswa yang mengalami kecanduan game online terbagi menjadi: salience, tolerance, withdrawal, mood modification or escape, chasing, conflic, problem dan bailout. (4) Bermain game online mempengaruhi tingkah laku pemainnya, seperti agresivitas yang semakin tinggi, kenakalan remaja, pergaulan yang semakin menyempit. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi siswa untuk tidak berlebihan dalam bermain game, siswa diharapkan menahan diri untuk bermain game online, menghindari ajakan bermain game online, mengubah perilaku bermain game online ke hal-hal yang lebih positif, mampu memilih alternatif terbaik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Konselor hendaknya mencegah siswa agar tidak kecanduan game online dengan memberikan informasi tentang game online kepada siswa yang belum mengalami kecanduan game online, konselor juga mampu memberikan layanan bimbingan kepada siswa yang telah mengalami kecanduan game online agar bisa mengurangi tingkat kecanduan yang dialami.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model cooperative integreted reading and composition pada siswa kelas IV di SDN Klampok kota Blitar / Dwi Astuti

 

Kata kunci: menulis deskripsi, kooperatif, circ. Pada observasi awal diperoleh data bahwa pada saat pembelajaran guru masih menggunakan metode yang konvensional sehingga pembelajaran terkesan monotondan siswa menjadi bosan. Selain itu,dari data hasil belajar bahasa Indonesia menunjukkan bahwa siswa belum memahami pelajaran yang berkenaan dengan menulis deskripsi. Kemampuan menulis siswa yang rendah ini, pada umumnya siswa tidak dapat membuat kalimat yang baik dan sesuai dengan perintah soal yang dimaksud. Hal ini mengakibatkan 62% siswa tidak mencapai KKM yang talah ditetapkan yaitu 72. Berdasarkan hal tersebut maka, perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimanakah penerapan pembelajaran menulis karangan deskripsi melalui Model Cooperative Integreted Reading And Composition pada siswa kelas IV SDN Klampok Kota Blitar? 2) apakah penerapan Model Cooperative Integreted Reading And Composition dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SDN Klampok Kota Blitar? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, catatan lapangan, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui model CIRC dapat meningkatkan hasil menulis deskripsi siswa kelas IV SDN Klampok yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 64, siklus I 71, dan siklus II 77. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 38%, siklus I sebesar 59%, dan siklus II 90%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi guru dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif model CIRC karena selain dapat meningkatkan hasil belajar siswa, kegiatan kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan permainan bola tangan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Mangliawan Pakis Malang / Siti Alkomah

 

Kata Kunci: Kemampuan, Kognitif, Bermain Bola Latar belakang penelitian ini adalah kecenderungan yang tampak adalah anak-anak kelompok B TK Dharma Wanita Mangliawan Pakis Malang banyak mengalami kesulitan ketika belajar memahami konsep bilangan dan media pembelajaran yang diberikan kepada anak kurang,menarik perhatian anak dan ukuran media sangat kecil untuk digunakan secara klasikal, dan proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan kurang menyenangkan dan membosankan bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan bagaimana penerapan bermain bola untuk meningkatkan kemampuan kognitif pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Mangliawan Pakis Malang, 2) Mendeskripsikan penerapan bermain bola yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif tentang konsep bilangan pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Mangliawan Pakis Malang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2011 di Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Mangliawan Pakis Malang dengan subjek penelitian sebanyak 20 anak. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data observasi dan instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kognitif yaitu bermain bola dapat meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran kemampuan kognitif yang dilihat dengan terjadinya peningkatan : membilang/menyebut urutan bilangan dari 1 sampai 20 (1,0), membilang (mengenal konsep bilangan dengan benda-benda) sampai 10 (0,55), membuat urutan bilangan 1-10 dengan benda-benda (0,4), dan menyebutkan hasil penambahan dan pengurangan dengan benda sampai 10 (0,5). Rata-rata kemampuan kognitif anak yaitu 0,6. Penelitian ini dapat disimpulkan dalam pelaksanaan kegiatan bermain bola anak merasa sangat senang dan gembira. Dan ada beberapa saran-saran dari penulis untuk guru, sekolah TK, dan penelitian lanjutan. Saran untuk guru yaitu untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak. Saran untuk sekolah TK yaitu upaya peningkatan mutu pembelajaran yang PAKEMI (Pembelajaran Aktif, Kreatif , Efektif, menyenangkan dan Inovatif). Dan penelitian lanjutan yaitu mencoba teliti lagi dalam aktivitas bermain bola.

Pengembangan multimedia presentasi pelajaran IPA SD kelas IV semester 1 DI SDN Tanjungrejo 3 Malang / Firdausul Hikmah

 

Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia, Presentasi, Ilmu Pengetahuan Alam SDN Tanjungrejo 3 merupakan salah satu sekolah yang memiliki potensi dikembangkannya multimedia presentasi, karena di sekolah tersebut tersedia sarana belajar yang memadai yakni laboratorium yang dilengkapi perlengkapan multimedia seperti komputer, LCD Proyektor, dan speaker. Selain itu guru di SD tersebut juga memiliki kemampuan untuk mengoperasikan perlengkapan multimedia. Namun pada mata pelajaran IPA Kelas IV Semester 1 yang membahas beberapa materi pokok antara lain: (1) penggolongan hewan berdasarkan jenis makanan, (2) daur hidup makhluk hidup dan pemeliharaan hewan, dan (3) saling ketergantungan antar makhluk hidup, sekolah hanya memberikan sumber belajar dari buku cetak dan LKS, berdasarkan wawancara dengan guru IPA kelas IV hal ini dapat membuat kelas menjadi kurang kondusif, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan baik, untuk itu perlu media yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Ketiga materi pokok tersebut termasuk dalam tujuan pembelajaran kognitif dan jenis materi fakta, konsep, dan prosedur. Untuk mencapai tujuan pembelajaran dari materi pokok tersebut diperlukan media yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran, dan pengalaman belajar siswa maka media yang dapat dijadikan alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran pada materi pokok tersebut adalah multimedia presentasi. Kelebihan media ini adalah menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, gambar, dan suara menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Program ini dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif maupun kinestetik. Selain itu, media ini dapat menggantikan kegiatan guru yang ceramah di depan kelas karena dalam menggunakan media ini guru hanya mengoperasikan media sesuai dengan petunjuk pemanfaatan media. Namun, media ini memiliki keterbatasan karena media ini memerlukan perangkat multimedia, maka apabila alat pendukung tidak ada maka media tidak dapat digunakan. Selain itu karena media ini memerlukan peralatan elektronik maka apabila listrik padam maka media ini tidak dapat digunakan. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan multimedia presentasi pelajaran IPA pada materi pokok: (1) penggolongan hewan berdasarkan jenis makanan, (2) daur hidup makhluk hidup dan pemeliharaan hewan, dan (3) saling ketergantungan antar makhluk hidup yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SD Negeri Tanjungrejo 3 kota Malang kelas IV. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dari validasi ahli media, ahli materi dan siswa dan dari hasil pretest dan posttest. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa CD Multimedia Presentasi Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Dasar Kelas IV Semester 1 yang disertai buku petunjuk pemanfaatannya. Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah (1) data ahli media pada kriteria kelayakan media dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 97,5%, (2) data ahli materi pada kriteria kelayakan media dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 95%, (3) data siswa perseorangan hasil persentase yang diperoleh adalah 93% sehingga pada kriteria kelayakan media dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, (4) data siswa kelompok kecil hasil yang diperoleh adalah 91% sehingga pada kriteria kelayakan media dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, (5) data siswa lapangan hasil yang diperoleh adalah 91,2% sehingga pada kriteria kelayakan media dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, (6) pada data hasil pretest dan posttest perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata 28%, (7) pada data hasil pretest dan posttest kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata 21%, (8) pada data hasil pretest dan posttest lapangan terjadi peningkatan hasil belajar rata-rata 16% . Dengan demikian menurut kriteria kelayakan multimedia presentasi yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah multimedia presentasi yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: (1) bagi guru mata pelajaran hendaknya mulai menggunakan multimedia presentasi dan harus mempelajari petunjuk pemanfaatan agar pemanfaatan dapat berjalan dengan lancar, (2) bagi siswa dalam menggunakan media pembelajaran ini harus dapat mengondisikan diri sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar, (3) bagi pengembang selanjutnya, multimedia presentasi ini hendaknya dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Peningkatan kemampuan membaca awal melalui metode bermain kata di kelompok B TK Satu Atap Polehan 2 kota Malang / Riyati

 

Kata kunci : Kemampuan membaca, bermain kata, TK Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan mebaca awal di Kelompok B TK Satu Atap Polehan 2 Malang. Wawasan dan kemampuan guru dalam mengelola sarana dan prasarana yang ada untuk pembelajaran membaca awal masih rendah yaitu dalam hal penyusunan program, penggunaan metode dan pengembangan media. Di samping itu kemampuan kemampuan kognitif, kemampuan afektif dan kemampuan psikomotor dalam membaca masih rendah. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan membaca awal dengan metode bermain kata di kelompok B TK Satu Atap Polehan 2 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kemis & MC Taggart, dalam (Ahbar 2009 : 27 - 28). Penelitian dilakukan dalam 2 siklus tindakan, tiap siklus tindakan terdiri dari empat kegiatan : (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Pengamatan (4) Refleksi subyek penelitian kelompok B TK Satu Atap Polehan 2 Malang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain kata dapat meningkatkan kemampuan membaca awal dikelompok B TK Satu Atap Polehan 2 Malang. Kemampuan yang meningkat (1) Kemampuan kognitif dalam membaca (2) Kemampuan afektif dalam membaca (3) Kemampuan psikomotor dalam membaca. Berdasarkan hasil penmelitian disarankan agar sekolah yang ingin mengatasi masalah rendahnya kemampuan membaca awal berkenan dengan peningkatan kemampuan kognitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotor dalam membaca disarankan untuk menerapkan metode bermain kata dalam pembelajaran.

Peningkatan kemampuan menulis siswa kelas II melalui pemanfaatan perpustakaan sekolah di SDN Polehan 2 Malang / Deasy Amy Trisnayanti

 

Kata-kata kunci : Kemampuan menulis, Pemanfaatan perpustakaan sekolah, Sekolah Dasar Berdasarkan observasi dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia kelas II SDN Polehan 2 Malang, peneliti menemukan fakta bahwa peserta didik mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan menulis melengkapi cerita. Guru dalam pelaksanaan pembelajaran hanya menggunakan metode konvensional (ceramah) yang membuat peserta didik merasa jenuh dan tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu data menunjukkan bahwa kemampuan rata-rata menulis melengkapi cerita peserta didik SDN Polehan 2 kurang dari 65. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan penerapan pemanfaatan perpustakaan sekolah dalam meningkatkan keterampilan menulis peserta didik kelas II SDN Polehan 2 Malang ; 2) Untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis peserta didik kelas II SDN Polehan 2 Malang dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah peserta didik kelas II SDN Polehan 2 Malang sebanyak 30 anak. Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan tes keaktifan peserta didik. Teknik analisa data yang digunakan adalah aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran dan hasil keterampilan peserta didik dalam menulis. Pembelajaran berbasis perpustakaan diawali dengan kegiatan membaca, mendengarkan, atau melihat semua bahan-bahan yang ada di perpustakaan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal menulis melengkapi cerita peserta didik rata-rata adalah 60,00. Setelah diberikan tindakan pada siklus I rata-rata kemampuan menulis peserta didik menjadi 67,00. Dari hasil pelaksanaan siklus I menunjukkan peningkatan rata-rata 7,00%. Sedangkan pada pelaksanaan siklus II, rata-rata kemampuan menulis peserta didik meningkat menjadi 77,13. Peningkatan skor rata-rata dari siklus I ke siklus II adalah 10,13%. Jadi, penerapan pemanfaatan perpustakaan sekolah dapat meningkatkan keterampilan menulis melengkapi cerita peserta didik. Peningkatan kemampuan peserta didik dalam menulis melengkapi cerita dapat dilihat dari kenaikan rata-rata yang diperoleh. Saran yang diberikan kepada para guru dan peneliti lain antara lain 1) Guru dapat mengembangkan penerapan pemanfaatan perpustakaan sekolah pada pokok bahasan lain; 2) Penerapan pemanfaatan perpustakaan sekolah perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan (baik masalah waktu yang digunakan, media pembelajaran yang maksimal) dan memperoleh hasil yang maksimal, dan 3) Dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam melakukan penelitian yang sejenis dengan memperbaiki kekurangan pada penelitian sebelumnya.

Pengaruh capital adequacy ratio (CAR), biaya operasional atas pendapatan operasional (BOPO) dan loan to doposite ratio (LDR) terhadap profitabilitas Bank (Studi Kasus pada sepulah Bank Terbesar yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2006-2008) / Mohammad Habib

 

Kata kunci: CAR, BOPO, LDR, dan Profitabilitas Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variabel CAR (Capital Adequacy Ratio), BOPO (Biaya Operasional atas Pendapatan Operasional), dan LDR (Loan to Deposit Ratio) terhadap profitabilitas. Jenis penelitian ini adalah kausalitas dan teknik purposive sampling, dimana pengambilan elemen-elemen yang dimasukkan dalam sampel yang dilakukan dengan sengaja, dalam hal ini sampel yang diambil berdasarkan tujuan atau kepentingan penelitian, dengan catatan bahwa sampel tersebut representatif atau mewakili populasi digunakan dalam pengambilan sampel. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data di Bursa Efek Indonesia. Ada 30 populasi perusahaan perbankan yang listing di BEI selama tahun 2006-2008. Dimana 10 perusahaan perbankan terbesar di BEI dijadikan sampel penelitian. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda dan uji asumsi klasik. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas bank karena koefisien variabel CAR yang bertanda negatif menunjukkan bahwa peningkatan modal akan berdampak pada penurunan nilai profitabilitas bank. Sedangkan dari hasil pengujian diperoleh variabel BOPO memiliki koefisien negatif. Hal ini berarti bahwa variabel BOPO secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas bank yang menjadi sampel dalam penelitian Adapun Loan to Deposit Ratio (LDR) secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas sepuluh bank teratas yang listing di BEI tahun 2006-2008. Koefisien variabel LDR yang bertanda positif menunjukkan bahwa kenaikan LDR akan berdampak pada kenaikan nilai ROA. Hal ini disebabkan tingkat likuiditas sepuluh bank terbesar yang listing di BEI tahun 2006-2008 semakin meningkat sehingga tingkat profitabilitas bank yang diukur dengan nilai ROA meningkat. Variabel CAR, BOPO, dan LDR secara simultan (serentak) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas sepuluh bank terbesar yang listing di BEI tahun 2006-2008. Beberapa saran untuk peneliti selanjutnya adalah: menambah atau mengganti variabel penelitian yang dirasa lebih dominan mempengaruhi profitabilitas bank, sampelnya diambil sesuai dengan kriteria bank (bank besar, sedang dan kecil) supaya dapat mewakili kondisi dari keseluruhan bank yang listing di BEI, akan lebih baik lagi jika periode penelitian ditambah (terkini) dengan data pada tahun terbaru signifikan tentang variabel yang mempengaruhi profitabilitas bank yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga dapat diketahui hasil yang lebih signifikan tentang variabel yang mempengaruhi profitabilitas pada perusahaan perbankan.

Peningkatan kemampuan pemahaman isi bacaan melalui model pembelajaran quantum learning pada siswa kelas V di SDN Gandusari 02 Kabupaten Blitar / Risalatur Rohmah

 

Kata Kunci: pemahaman, isi bacaan, quantum learning, sekolah dasar Faktor sentral dalam membaca adalah pemahaman. Pemahaman isi bacaan adalah kegiatan membaca yang tujuannya untuk memahami bacaan secara cepat dan tepat (Kamidjan, 1996: 8). Rumusan masalah utama penelitian ini adalah apakah penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan pemahaman dan juga ke-mampuan mengungkapkan isi bacaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Gandusari 02 Kabupaten Blitar. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan pemahaman terhadap isi bacaan dan kemampuan mengungkapkan isi bacaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Gandusari 02 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan rancangan PTK. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) tes, (2) observasi, (3) dokumentasi, (4) catatan lapangan. Instrument yang digunakan adalah (1) pedoman observasi guru dengan model pembelajaran quantum learning, (2) pedoman observasi siswa dengan model pembelajaran quantum learning Hasil analisis data menunjukkan bahwa: peningkatan aktivitas siswa dalam hal kerjasama dengan semua teman tanpa membeda-bedakan pada siklus I sebesar 71% dan pada siklus II sebesar 73%, dalam hal keaktifan siswa selama pembelajaran pada siklus I sebesar 78% dan pada siklus II 83%, dan ketepatan siswa dalam menjawab pertanyaan guru pada siklus I sebesar 73% dan pada siklus II sebesar 81%. Hasil nilai akhirs dengan skor rata-rata 62,21% (pratindakan), 79,71% (siklus I) dan 82,26% (siklus II). Dengan tingkat ketuntasan 38,09% (pratindakan), 76,2% (siklus I), dan 85,72% (siklus II). Sedangakan dari ketuntas-an belajar maka terjadi penurunan jumlah dengan siswa yang berkriteria belajar rendah 13 siswa (pratindakan), 5 siswa (siklus I), dan 3 siswa (siklus II). Kesimpulan dari Penilaian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan pemahaman terhadap isi bacaan dan juga kemampuan mengungkapkan kembali isi bacaan siswa kelas V SDN Gandusari 02. Disarankan guru bahasa Indonesia dan juga mata pelajaran lain tidak hanya monoton menggunakan metode ceramah atau teacher centered namun perlu mempergunakan sebuah model yang mampu membuat siswa lebih aktif (student centered), rileks dan juga konsentrasi. Sehingga siswa lebih semangat dalam pembelajaran. Guru hendaknya perlu mencoba salah satu model yang mampu mengaktifkan siswa, membuat rileks dan juga konsentrasi yaitu quantum learning.

Penerapan permainan outbound untuk meningkatkan proses dan hasil belajar dalam tema kerjasama siswa kelas I SDN Bareng 5 Malang / Suci Wilujeng Widiati

 

Kata Kunci : Permainan Outbound, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, SD Pembelajaran tematik pada kelas I di SDN Bareng 5 masih kurang efektif dan kurang dimengerti bagi siswa. Karena beberapa siswa tidak fokus dan terpusat pada saat guru menerangkan pembelajaran di depan kelas, hanya siswa yang duduk di depan dan tengah yang begitu antusias mendengarkan guru saat menerangkan pelajaran. Akibatnya beberapa siswa hasil pre test siswa kelas I siswa yang mampu mencapai ketuntasan minimal hanya 11 siswa dan yang mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal ada 25 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan permainan outbound untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam tema kerjasama siswa kelas I SDN Bareng 5 Malang; (2) Peningkatan aktivitas belajar pembelajaran PKn, Bahasa Indonesia dan matematika dalam tema kerjasama di kelas I SDN Bareng 5 Malang; (3) Peningkatan hasil belajar pembelajaran PKn, Bahasa Indonesia, dan matematika dalam tema kerjasama di kelas I SDN Bareng 5 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Kehadiran dan peran peneliti bertindak sebagai instrumen utama, perencana tindakan, dan pelaksana tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDN Bareng 5 Kota Malang. Langkah-langkah penelitian ini adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi dan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan outbound dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Permainan outbound yang diterapkan ada empat permainan yaitu permainan human scrable, karet gelang estafet pada siklus I dan permainan kotak kerjasama dan permainan angka pada siklus II. Permainan human scrable adalah permainanan yang mencari dan menempelkan huruf sesuai gambar yang ada. Permainan karet gelang estafet adalah permainan yang mengoper karet gelang dari satu siswa ke siswa yang lainnya. Permainan kotak kerjasama adalah permainan yang mencari potongan gambar (puzzle) dan potongan huruf pada kotak kemudian ditempelkan pada sterofom. Sedangkan permainan angka adalah permainan yang menghitung banyaknya gambar dan mencari huruf dan angka sesuai banyak gambar yang ada. Dalam permainan outbound terdapat keberanian, keaktifan dan kerjasama untuk melakukannya. Keberanian terlihat saat siswa mengacungkan tangan untk menjawab pertanyaan guru. Sedangkan keaktivan dan kerjasama terlihat saat siswa mencari dan menempelkan gambar, huruf dan angka. Aktivitas belajar siswa dalam tema kerjasama pembelajaran PKn, Bahasa Indonesia dan matematika dengan menggunakan permainan outbound semakin meningkat. Hal ini terbukti saat selama proses pembelajaran yaitu dari 6,33 menjadi 7,03 pada siklus I dan 7,5 menjadi 7,83 pada siklus II. Siswa yang biasanya tidak mau mendengarkan guru saat mengikuti pelajaran menjadi senang saat mengikuti pembelajaran dengan bermain outbound. Hasil belajar rata-rata kelas pada pra tindakan sebesar 55 menjadi 75,83 pada siklus I meningkat lagi menjadi 90,28 pada siklus II. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan permainan outbound dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam tema kerjasama siswa kelas I SDN Bareng 5 Malang. Saran yang dapat diberikan agar permainan outbound dapat diterapkan pada tema lainnya di kelas rendah dan pada mata pelajaran di kelas tinggi.

Peningkatan kemampuan berpikir fisika dengan model pencapaian konsep berbasis inkuiri pada siswa kelas VII E SMP Islam Almaarif 01 Singosari Malang / Angga Kurniawan

 

Kata Kunci: penerapan, numbered Heads Together, menulis deskripsi, SDN Kasin Malang Paeramasalahan kelas IIA SDN kasin malang pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi tentang menulis deskripsi ini masinh kurang. Siswa-siswa kelas dua pada umumnya kurang memahami cara menulis deskripsi. Penulisan mereka masih cenderung pada penulisan narasi jika diminta menulis deskripsi. Penggunaan model pembelajaran dalam suatu pembelajaran bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran dalam pendidikan. Model pembelajaran Numbered Haeds Together bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi di kelas IIA SDN kasin Malang. Untuk itu pada dalam pemeblajaran bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran menjadi lebih baik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan langsung pengamatan kesumber data, wawancara, dokumentasi. Kemudian pelaksanaan pengumpulan data diperlukan intrumen penelitian, sebagai instrumen utama, peneliti menggunakan beberapa alat yang digunakan mengumpulkan data antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pedoman wawancara, dan catatan lapangan yang berisi deskripsi kegiatan belajar berlangsung. Dalam penelitian ini mengguanakan kegiatan-kegiatan siklus PTK yaitu siklus 1 dan siklus 2 yang terdiri dari: (1) perencaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) obsevasi, dan (4) melakukan refleksi. Jika hasilnya belum mencapai target maka dialnjudkan pada siklus 2. Pada kegiatan sikus 1yang telak dilaksanakan siswa yang memenuhi SKM dan nilainya mendapat nilai >71 sebanyak 9 siswa prosentasenya 21%, sedangkan yang siswa yang mendapat nilai 71 seabyak 36 siswa dengan prosentase 80% dan siswa yang mendapat nilai

Hubungan prokrastinasi akademik dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang / Fitri Amaliah

 

Kata Kunci: Prokrastinasi Akademik, prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. Prestasi belajar yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam diri peserta didik maupun faktor-faktor lain di luar peserta didik, prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan juga dapat menjadi salah satu kendala siswa dalam meraih prestasi belajar yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan prokrastinasi akademik dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik stratified proportional random sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah skala prokrastinasi akademik dan nilai rapor semester I tahun ajaran 2010-2011. Pada penelitian ini, subjek diminta untuk mengisi skala prokrastinasi akademik kemudian skornya dikorelasikan dengan nilai rata-rata semester I. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang sebagian besar dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58,23% dan prestasi belajar siswa sebagian besar dalam kategori sangat tinggi sebesar 96,20%. Uji hipotesis menyimpulkan terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara prokrastinasi akademik dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang (rxy= -0,619; p= 0,000

Penerapan model quantum writing untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi pada siswa kelas IV A SDN Bareng I Malang / Heny Retnowati

 

Kata kunci: Quantum Writing, Bahasa Indonesia di SD, Menulis Narasi Pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas empat aspek keterampilan berbahasa, yakni berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Menulis merupakan aspek berbahasa yang rumit dan kompleks tingkatannya karena menyangkut keterampilan yang lebih khusus dalam pemakaian ejaan, struktur, kalimat, kosakata serta penyusunan paragraf. Keterampilan menulis diajarkan sejak jenjang pendidikan sekolah dasar. Hasil observasi menunjukkan bahwa dalam menulis siswa cenderung terpaku pada buku atau contoh dari guru, sehingga siswa mengalami kesulitan untuk mengembangkan tulisan tersebut. Permasalahan lainnya siswa diberi kebebasan untuk menulis, namun seringkali tidak ditindak lanjuti. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan penelitian untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi di SD dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang menarik, yaitu dengan model Quantum Writing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Quantum Writing dalam pembelajaran menulis narasi siswa kelas IVA SDN Bareng I; (2) peningkatan keterampilan menulis narasi siswa kelas IVA SDN Bareng I menggunakan model Quantum Writing. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek peneltian dibatasi pada siswa kelas IVA SDN Bareng I yang berjumlah 34 siswa. Instrumen yang digunakan yaitu peneliti sendiri, pedoman observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pra tindakan adalah 43,10, nilai rata-rata siklus I adalah 64,24 dan nilai rata-rata siklus II adalah 78,24. Hasil keterampilan menulis narasi siswa kelas IVA SDN Bareng I mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan hasil karangan siswa pada pra tindakan yang hanya terdiri dari 4-5 kalimat saja dengan penggunaan pilihan kata, ejaan, dan tanda baca yang kurang tepat, namun pada siklus II karangan siswa sudah mulai berkembang, terdiri lebih dari 5 kalimat, dengan pilihan kata, ejaan, dan tanda baca yang tepat. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model Quantum Writing dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa serta memberikan nuansa belajar yang menyenangkan. Siswa lebih mudah dalam mengembangkan kalimat narasi dengan pilihan kata, ejaan serta tanda baca yang tepat. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan karena model Quantum Writing ini termasuk model yang tergolong baru, hendaknya guru mengenalkan dulu model ini kepada siswa, baik pengertian serta langkah-langkahnya agar pada proses pembelajaran siswa tidak mengalami kesulitan. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penerapan model Quantum Writing dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi pada siswa kelas IVA SDN Bareng I Malang, maka disarankan agar dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, guru menerapkan model Quantum Writing untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi pada siswa

Pemanfaatan media lingkungan sekitar pada penjumlahan dan pengurangan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas I SDN Ketawanggede 1 kota Malang / Khusnul Khotimah

 

Kata kunci: PTK, Media Lingkungan Sekitar, Pembelajaran Matematika, Penjumlahan dan Pengurangan, Hasil Belajar. SDN Ketawanggede 1 Kota malang merupakan sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya penguasaan materi dikarenakan penggunaan media pembelajaran yang dipakai di SDN Ketawanggede 1 Kota malang ini yaitu media sedotan. Siswa cenderung terlihat jenuh setiap kali pembelajaran hanya menggunakan media sedotan. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan penggunaan media lingkungan sekitar seperti daun dan kerikil serta mencoba pembelajaran yang dilakukan di luar kelas untuk meningkatkan keaktifan siswa sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep matematika. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : 1) penggunaan media lingkungan sekitar pembelajaran matematika kelas 1 dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan asli; 2) Peningkatan hasil belajar siswa Kelas 1 SDN Ketawanggede 1 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas I SDN Ketawanggede 1 Kota Malang, dengan banyaknya siswa 35 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010-2011, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai Matematika, LKS, soal test akhir sebanyak 10 soal, lembar observasi penguasaan materi siswa dan lembar observasi aktivitas siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Penggunaan media lingkungan sekitar dapat meningkatkan keaktifan siswa SDN Ketawanggede 1 Kota Malang pada pelajaran matematika; 2) Setelah diterapkannya media lingkungan sekitar pada siklus I materi penjumlahan nilai rata-rata siswa naik sebesar12,28 dari rata-rata hasil pra tindakan, rata-rata siswa menjadi 71,71, pada siklus I materi pengurangan rata-rata nilai siswa naik sebesar 16 dari rata-rata hasil pra kegiatan, rata-rata siswa menjadi 66,86, sedangkan pada siklus II materi penjumlahan rata-rata nilai siswa naik sebesar 14,29 dari siklus I, rata-rana nilai siswa menjadi 86, dan pada siklus II materi pengurangan rata-rata nilai siswa naik sebesar 9,43 dari siklus pertama, rata-rata nilai siswa menjadi 76,29. Media lingkungan sekitar sangat dekat dengan anak sehingga siswa dapat memperolehnya dengan mudah. Pembelajaran di luar kelas membantu siswa karena membuat siswa lebih aktif dan tidak jenuh saat pembelajaran berlangsung.

Meningkatkan keterampilan berbicara melalui metode role playing pada siswa kelas III SDN Turi 01 Kodya Blitar / Ika Fitrikuslina Dewi

 

Kata kunci: berbicara, metode role playing. Hasil observasi menunjukkan bahwa masalah yang terjadi di SDN Turi 01 dalam mengajar keterampilan berbicara guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan sehingga siswa merasa bosan dan tidak ada ketertarikan untuk belajar. Pemilihan metode dalam mengajar sangatlah menentukan hasil belajar siswa. Jika guru dalam pembelajaran menggunakan metode yang tepat maka hasil belajar siswa akan baik. Begitu juga sebaliknya, jika guru dalam mengajar tidak menggunakan metode yang tepat maka dalam pembelajaran tidak akan berhasil. Berdasarkan latar belakang dalam pembelajaran di kelas III maka masalah yang muncul adalah bagaimana penerapan metode role playing siswa kelas III, dan apakah penerapan metode role playing dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas III SDN Turi 01 Kodya Blitar. Teknik analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode role playing dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa, yaitu pada penggunaan lafal, intonasi dan ekspresi hasil yang diperoleh pada tahap pratindakan rata-rata nilai siswa 71,71%, pada siklus I naik menjadi 86,64%, pada siklus II naik menjadi 94,10%. Pada aspek keruntutan dan kelancaran berbicara hasil yang diperoleh pada tahap pra tindakan rata-rata nilai siswa 69,50%, pada siklus I naik menjadi 84,54%, pada siklus II naik menjadi 93,93%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran role playing berjalan baik dan dapat meningkatkan keterampilan berbicara Kelas III MI SDN Turi 01 Kodya Blitar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar guru menerapkan metode pembelajaran inovatif role playing dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Selain itu, guru juga harus aktif mencari informasi mengenai metode pembelajaran inovatif yang lain agar menambah pengetahuannya mengenai metode pembelajaran serta dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai untuk masalah pembelajaran yang sedang dihadapi.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui metode discovery learning siswa kelas X Multimedia SMK Kosgoro 01 Lawang / Yanuar Sinatra

 

Kata kunci: Metode Discovery Learning, hasil belajar Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa pembelajaran yang diterapkan di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang menunjukkan metode pembelajaran mata pelajaran Matematika masih cenderung menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas mandiri. Dengan menggunakan metode ceramah kebanyakan siswa merasa bosan dan siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diberikan oleh guru sehingga hanya 40% hasil belajar siswa yang mencapai KKM, KKM untuk pelajaran matematika yaitu 75. Salah satu metode pembelajaran yang bisa digunakan guru dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa adalah metode Discovery Learning. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode Discovery Learning. Discovery Learning adalah metode pembelajaran yang dalam prosesnya siswa berusaha menemukan sendiri dan memahami konsep dan definisi materi pembelajaran. Metode ini memajukan cara belajar aktif yang berorientasi pada proses, mengarah sendiri dan reflektif. Lokasi penelitian ini di SMK Kosgoro 01 Lawang dengan mengambil subyek penelitian siswa kelas X Multimedia dengan jmlah sebanyak 3 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan selama 2 siklus dengan masing-masing siklus memiliki tahapan: (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan, (3) Observasi, (4) Analisis dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, test, angket, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa siklus 1 menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 72,92 dengan nilai teringgi 91,67 dan nilai terendah 50 siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 7 siswa dan yang sudah mencapai KKM sebanyak 9 siswa dengan presentase 56,25%, sedangkan pada siklus 2 hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus 1, hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata siswa sebesar 80,73 dengan nilai teringgi 100 dan nilai terendah 66,67 siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 4 siswa dan yang sudah mencapai KKM sebanyak 12 siswa dengan presentase 75%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disimpulkan bahwa penerapan metode Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika serta peneliti menyimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dikatakan berhasil

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode numbered heads together untuk meningkatkan prestasi siswa kelas X Program Keahlian Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang / Imam Hanafi

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, metode struktural numbered headstogether, hasil belajar. Proses pembelajaran di kelas memiliki peranan sangat penting dalam upaya penerapan tujuan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar. Guru hendaknya memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa. Pemilihan dan penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi atau bahan ajar yang akan diajarkan diharapkan akan memudahkan siswa untuk memahami materi yang diajarkan dan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa yang diajar. Oleh karena itu diterapkan metode numbered heads together pada mata diklat Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa guna meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran dengan metode numbered heads together merupakan struktur yang dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan akademik serta digunakan untuk memberikan penguatan kepada konsep dan me-review sebelum dilakukan tes. Selain itu dalam pembelajaran metode ini adanya sikap ketergantungan positif, siswa yang berkemampuan lebih membantu siswa yang berkemampuan rendah dalam memahami materi mengelola buku besar mata diklat Siklus Akuntasi Perusahaan jasa untuk mencapai hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode numbered heads together pada materi mengelola buku besar mata diklat siklus akuntansi perusahaan jasa yang dapat meningkatkan hasil belajar, 2) mengetahui peningkatan hasil belajar setelah diterapkan metode numbered heads together pada materi mengelola buku besar. Data penelitian ini dikumpulkan melalui: 1) tes, 2) observasi, 3) wawancara, 4) angket, 5) rubrik, 6) dokumentasi, 7) catatan lapangan. Penelitian tindakan yang dilaksanakan terdiri dari 2 siklus. Model pembelajaran kooperatif tersebut dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir. Tahap awal mencakup: (1) kegiatan pendahuluan, yaitu penyampaian kompetensi dasar, pemberian motivasi berupa informasi pentingnya materi dan pemberian hadiah kepada kelompok dan individu yang memperoleh nilai rata-rata post test tertinggi yang akan diberikan pada akhir pertemuan dan mengingatkan kembali tentang pengetahuan prasyarat (mengelola jurnal); (2) membentuk kelompok disertai dengan pemberian nomor. Kegiatan pada tahap ini terdiri dari: (1) pengajuan pertanyaan yang sifatnya mengarahkan siswa pada pemahaman konsep baik secara lisan maupun tertulis; (2) berpikir bersama yang ditandai adanya kerja sama, saling membantu mengatasi kesulitan, dan diskusi; (3) pemberian jawaban, ditandai dengan pelaporan hasil diskusi yang disampaikan oleh siswa dengan nomor yang ditunjuk oleh guru. Kegiatan pada tahap akhir mencakup (1) melakukan refleksi dan evaluasi bersama, (2) menutup seperti meminta siswa mengatur tempat duduk ke tempat semula dan mengucapkan salam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif numbered heads together dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi di SMK Ardjuna 2 Malang mengenai materi mengelola buku besar pada mata diklat siklus akuntansi perusahaan jasa. Hal ini didukung oleh hasil belajar dan respon siswa yang positif. Semua siswa merasa senang dengan pendekatan struktural numbered heads together dan lebih mudah memahami materi mengelola buku besar. Data hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan perolehan nilai ratarata siswa untuk aspek kognitif dan aspek afektif. Untuk aspek kognitif nilai ratarata pretes siswa sebelum diberi tindakan adalah 66,35 setelah siswa di beri tindakan numbered head together pada post tes siklus 1nilai rata - rata siswa 73,08 pada siklus II hasil belajar siswa semakin meningkat terlihat dari nilai rata rata pre test meningkat 83,07 sedangkan post test 85,96. Untuk ketuntasan belajar secara klaksikal dari aspek kognitif mengalami peningkatan persentase yaitu dari 69,22% pada siklus I menjadi 92,30% pada siklus II. Nilai rata-rata aspek afektif mengalami peningkatan persentase yaitu 30,78% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan berbagai hal yang patut menjadi perhatian berbagai pihak, yaitu: (1) Guru hendaknya menyediakan alokasi waktu yang cukup agar tidak mengurangi tahap berpikir bersama dan menjawab siswa; (2) pembelajaran numbered heads together sebagai metode alternatif untuk meningkatkan keaktifan siswa hendaknya mulai diterapkan pada mata diklat lain; (3) Membuat variasi metode pembelajaran numbered heads together dengan metode yang lain seperti metode pembelajaran berpikir melalui pertanyaan sehingga siswa mengalami perkembangan dalam pemberdayaan penalaran yang berbasis pertanyaan.

Peningkatan kemampuan motorik anak kelompok A melalui permainan lompat lari pada area pembelajaran di RA 05 Syarif Hidayatullah Batu / Sri Wahyuningsih

 

Kata Kunci : kemampuan motorik, permainan lompat lari, TK Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan motorik anak. Hal ini disebabkan oleh kegiatan pembelajaran cenderung dilakukan secara klasikal, sehingga anak-anak kurang memahami apa yang dimaksudkan oleh guru dan anak- anak kurang bebas bergerak apabila dilakukan di dalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan, yang mencakup penerapan permainan lompat lari pada area pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan motorik anak dan mendeskripsikan kemampuan motorik anak melalui permainan lompat lari pada area pembelajaran kelompok A RA 05 Syarif Hidayatullah Batu. Penelitian ini dilakukan di RA 05 Syarif Hidayatullah Batu, pada tanggal 12 dan 16 Maret 2011. Rancangan penelitian menggunakan penelitan tindakan kelas, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas A2. Instrumen yang digunakan observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa permainan lompat lari pada area pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan motorik anak TK. Permainan lompat lari pada area pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan motorik anak. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan motorik anak dalam hal melompat ke berbagai arah, berlari kemudian melompat dengan seimbang, berjalan dengan berbagai variasi. Disarankan bahwa dalam pembelajaran bidang kemampuan motorik dapat juga menerapkan permainan lompat lari pada area pembelajaran dan disarankan juga agar dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan masalah yang lain dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bidang pengembangan selain motorik yaitu bidang pengembangan seni, kognitif, dan bahasa.

Penggunaan media papan isyarat vokal untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B di TK Pertiwi IV Desa Tanjungpuro Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan / Lia Agustina

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, media papan isyarat vokal Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dimasa kanak-kanak adalah usia yang paling tepat untuk mengembangkan bahasa, sehingga dimasa ini disebut dengan masa “golden age”. Anak sangat peka mendapatkan rangsangan-rangsangan baik yang berkaitan dengan aspek fisik motorik, intelektual, sosial, emosi, maupun bahasa. Pembelajaran meningkatkan kemampuan bahasa anak telah dilakukan di Taman Kanak-Kanak Pertiwi IV Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Pembelajaran tersebut dilakukan melalui beberapa macam kegiatan namun kemampuan bahasanya dianggap rendah dalam (1) ketepatan melengkapi huruf pada kata 25%; (2) kelancaran membaca setiap kata sesuai gambar yang melambangkannya 12,5%; (3) kemampuan mengurutkan tiap kata bergambar sesuai kelompoknya 25%. Hasil pengamatan terhadap anak menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam bidang bahasanya belum maksimal. Dari 24 anak yang dapat mengembangkan kemampuan bahasanya hanya 2 anak (8,3%). Hal ini dikarenakan kurangnya media pembelajaran yang memadai, pembelajaran yang hanya di kelola oleh satu guru kelas saja hal ini menyebabkan kurang maksimalnya pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan bahasa anak TK melalui penggunaan Media Papan Isyarat Vokal, (2) Mendiskripsikan penggunaan Media Papan Isyarat Vokal dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak di TK Pertiwi IV Desa Tanjungpuro Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dirancang melalui siklus-siklus. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B TK Pertiwi IV dengan jumlah anak 24. Intrumen penelitian pada penelitian ini menggunakan lembar observasi aktifitas-aktifitas siswa, untuk mengetahui kemampuan bahasa anak. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kuantitatif. Hal yang dapat disimpulkan dari penggunaan media papan isyarat vokal yaitu telah terjadi peningkatan bahasa dalam (1) ketepatan dalam melengkapi huruf pada kata 75%;(2) kelancaran membaca setiap kata sesuai gambar yang melambangkannya 87,5%;(3) kemampuan anak dalam mengurutkan tiap kata bergambar sesuai jenis kelompoknya 75%, telah terjadi peningkatan hingga mencapai skor maksimal 100% pada siklus II disarankan kepada guru dan pendidik agar lebih kreatif menciptakan media pembelajaran yang edukatif

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Bareng 5 Malang / Rica Indriani

 

Kata Kunci: model Two Stay Two Stray, Aktivitas siswa, hasil belajar, IPS SD. Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Bareng 5 Malang pada pelajaran IPS sangat rendah, yakni dengan rata- rata kelas hanya 48,9 dan hanya 6 dari 22 siswa (27,3%) yang tuntas pada ulangan harian terakhir. Salah satu penyebabnya yaitu kurangnya ketepatan guru dalam memilih model pembelajaran IPS yang hanya menekankan pada ceramah dan hafalan. Apalagi dengan materi IPS yang sebagian besar uraian panjang sehingga semakin membuat siswa bosan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yakni dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992), yaitu suatu model yang memberi kesempatan berbagi informasi antar kelompok dengan cara saling bertamu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui penerapan model Two Stay Two Stray pada pelajaran IPS, (2) mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dengan model Two Stay Two Stray, (3) mengetahui hasil belajar IPS siswa setelah penerapan model Two Stay Two Stray. Rancangan penelitian yang digunakan yakni penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subjek 18 siswa kelas IV SDN Bareng 5 Malang. Materi pokok yang diterapkan yakni kemajuan teknologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Siklus PTK yang digunakan yaitu model siklus Kemmis dan Taggart (1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan model Two Stay Two Stray pada pelajaran IPS dikelas IV SDN Bareng 5 Malang dapat berjalan baik dilihat dari peningkatan ketepatan pembelajaran sebesar 15,5% dari siklus I 77% menjadi 92,5% pada siklus II; (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS juga meningkat sebesar 11,4% dari 62% pada siklus I menjadi 73,4% pada siklus II; serta (3) hasil belajar IPS siswa meningkat setelah diajarkan dengan model Two Stay Two Stray yang dilihat dari jumlah siswa yang tuntas pada setiap siklus. Pada pretest jumlah siswa yang tuntas hanya 5 siswa atau 23% kemudian meningkat menjadi 50% pada siklus I dan pada siklus II meningkat lagi mencapai 77%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 5 Malang. Oleh karena itu, model Two Stay Two Stray hendaknya dijadikan alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan mengorganisasi waktu, materi dan siswa dalam perencanaan yang matang. Pada penelitian ini, hasil belajar hanya ditekankan pada penilaian kognitif, diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat mencakup penilaian afektif dan psikomotor dengan menjadikan penelitian ini sebagai referensi guna lebih mengetahui efektifitas model Two Stay Two Stray.

Penerapan pembelajaran tematik untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas II tema lingkungan SDN Pandanwangi 04 Kecamatan Blimbing kota Malang / Rohmatul Maulidiah

 

Kata kunci: Pembelajaran tematik, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas II SDN Pandanwangi 04 Kecamatan Blimbing Kota Malang, ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran di kelas terutama IPA dengan materi sumber energi, yaitu: (1) Belum diterapkannya pembelajaran tematik di kelas rendah; (2) nilai yang diperoleh siswa masih rendah; (3) kurangnya variasi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Untuk itu perlu diadakan pembahasan dalam hal model pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang sesuai adalah pembelajaran tematik yaitu pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk : (1 Untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan pembelajaran tematik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di Kelas II SDN Pandanwangi 04 Kecamatan Blimbing Kota Malang; (2) Untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SDN Pandanwangi 04 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemis & Taggart. Langkah Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan & observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Pandanwangi 04 Kota Malang dengan jumlah siswa 36 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas II SDN Pandanwangi 04 Kota Malang. Perolehan rata-rata hasil belajar siswa meningkat, dari rata-rata pretes ke siklus I sebesar 33% dari siklus I ke siklus II sebesar 31% dengan ketuntasan belajar 90%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa kelas II SDN Pandanwangi 04 Kota Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menerapkan pembelajaran tematik pada pembelajaran selanjutnya khususnya pada kelas rendah

Penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC) untuk meningkatkan kemampuan menemukan kalimat utama pada siswa kelas IV SDN Karang besuki IV kota MAlang / Nurul Khoiriyah

 

Kemampuan siswa kelas IV SDN Karangbesuki IV Kota Malang dalam materi menemukan kalimat utama dalam paragraf sangat rendah. Hasil belajar dari 33 siswa, hanya ada 8 (24,2%)siswa yang memiliki taraf penguasaan menemukan kalimat utama pada paragaraf yaitu > 70, sedangkan 25 (75,8%) siswa lainnya belum memiliki taraf penguasaan menemukan kalimat utama dalam paragraf, masih mencapai nilai 70, sedangkan 25 (75,8%) siswa lainnya belum memiliki taraf penguasaan menemukan kalimat utama dalam paragraf, masih mencapai nilai < 70. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Arikunto (2009:3) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan guru yang dilakukan oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa (kemampuan membaca pemahaman). Penelitian 3 ini dilakukan dengan 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada saat pelaksanaan pembelajaran CIRC siklus I, siswa masih terlihat bingung dengan situasi pembelajaran sehingga mereka tidak mengetahui apa tugas masing-masing dalam kelompoknya ini. Meskipun demikian aktivitas belajar siswa dalam kelompok mulai menunjukkan adanya perbaikan daripada pada saat penerapan pembelajaran konvensional. Pada siklus II terlihat adanya peningkatan aktivitas siswa dalam kelompok. Siswa sudah dapat bekerjasama dengan baik dan mau menerima pendapat dari temannya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IV SDN Karangbesuki IV Kota Malang dalam menemukan kalimat utama dalam paragraf dilaksanakan melalui 7 tahap, yaitu: (1) pembentukan kelompok, yaitu guru membagi kelompok secara heterogen, (2) pemberian wacana kepada masing- masing kelompok, (3) antar anggota kelompok saling membacakan dan menemukan kalimat utama, di sini guru menginstruksikan kepada siswa untuk membacakan wacana kepda anggota kelompok secara bergantian kemudian 10 menemukan kalimat utamanya pada tiap paragraf yang terdapat dalam wacana tersebut, (4) yaitu presentasi, di sini perwakilan dari anggota kelompok membacakan hasil diskusinya, (5) tanggapan, dimana siswa harus memberikan tanggapan dari hasil diskusi yang telah dibacakan oleh kelompok lain, (6) membuat kesimpulan, bersama dengan guru siswa menyimpulkan materi yang telah diajarkan. Dan (7) penutup, siswa mengerjakan soal evaluasi, tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana siswa memahami materi yang sudah diajarkan

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran murder di kelas IV SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri / Titik Sulistyowati

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, STAD, Menulis Narasi, hasil belajar Menulis narasi merupakan salah satu kemampuan yang diberikan kepada siswa mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, namun kenyataannya masih banyak siswa yang belum mampu menulis narasi secara benar. Mereka masih kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah paragraf yang utuh dan padu, siswa kurang paham dengan penggunaan ejaan dan tanda baca dan siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan sebuah kejadian atau peristiwa secara runtut berdasarkan pengalaman. Berdasarkan uraian tersebut peneliti memilih menulis narasi sebagai bahan pertimbangan ini. Salah satu materi dalam menulis narasi sebagai pengalaman pribadi. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis lebih banyak membahas tentang menulis pengalaman pribadi tujuannya agar siswa dapat menulis narasi dengan baik. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : 1) penerapan menulis narasi dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Malang; 2) Peningkatan hasil belajar siswa Kelas IV SDN Ketawanggede 1 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus melalui tahapan-tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan dalam siklus tersebut dituangkan dalam tiap tahapan proses penulisan, yang terdiri dari prapenulisan, penulisan, dan penyuntingan. Dalam penerapan pelaksanaan tindakan diterapkan tahapan-tahapan model STAD yang terdiri dari presentasi, kerja kelompok, tes, penentuan skor dan penghargaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran kooperatif kemampuan siswa dalam mengembangkan isi, penyusunan kalimat secara runtut, dan ketepatan penulisan EYD dalam menulis narasi semakin meningkat dari siklus ke siklus berikutnya, Siklus I yang menunjukkan ketuntasan klasikal 61% dan Siklus II yang menunjukkan 95% mengalami ketuntasan menulis. Narasi yang ditulis siswa menjadi lebih baik, lengkap, susunan paragrafnya beruntun dari kalimat satu ke kalimat yang lain, serta pola pengembangan isinya tepat. Peningkatan kemampuan siswa tersebut dilakukan dengan cara menerapkan bentuk-bentuk belajar yang efektif, menyenangkan, dan saling bekerja sama.

Perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II dengan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Penanggungan Malang / Raras Setyowati

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw II, PKn SD, dan hasil belajar. Pendidikan adalah suatu proses interaksi antara pendidik dengan subyek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup Negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu cara untuk membangkitkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw tipe II. Model pembelajaran kooperati tipe Jigsaw II adalah adaptasi dari teka-teki Eliiot Aronson pada tahun 1978. Dalam tenik ini, siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama, yaitu empat orang, dengan latar belakang yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif jigsaw II dengan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran PKn kelas IV SDN Penanggungan Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas IV-A sebagai kelas kontrol dan kelas IV-B sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa tes untuk pretest dan post-test. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 17.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari analisis data diketahui bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sebesar 72,63 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 66,38 dengan nilai probabilitas (sig) 0,04. Dengan demikian nilai probabilitas 0,04 < 0,05, maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran koopertif tipe jigsaw II dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SDN Penangungan Malang. Disarankan bagi guru PKn dapat menggunakan model pembelajaran Jigsaw II sebagai alternatif dalam merencanakan proses pembalajaran karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan buku paket pembelajaran IPA terpadu model webbed dengan strategi react pada tema laut sebagai sumber kehidupan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMP kelas VII / Yuli Winanti

 

Winanti, Yuli. 2014. Pengembangan Buku Paket Pembelajaran IPA Terpadu Model Webbed dengan Strategi REACT Pada Tema “Laut Sebagai Sumber Kehidupan” untuk Meningkatkan Prestasi Belajar. Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi IPA. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr.Supriyono Koes Handayanto, M.Pd, Pembimbing (II) M.A (II) Dr. Lia Yuliati, M.Pd Kata kunci : paket pembelajaran, IPA terpadu, Webbed, REACT, prestasi belajar     Pemberlakuan kurikulum 2013 menuntut beberapa penyesuaian. Penyesuaian utama terletak pada penetapan delapan tingkat kompetensi yang berjenjang dan berkesinambungan yang berimplikasi langsung pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran di kelas mengisyaratkan perlunya buku siswa dan panduan guru kontekstual berdasarkan kurikulum 2013 yang mudah dipahami oleh siswa sebagai penunjang pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil observasi terhadap implementasi kurikulum 2013 pada satuan pendidikan SMP di Kota Pasuruan dan Malang terdapat ketidaksiapan terhadap implementasi kurikulum 2013 terutama pada pengembangan bahan ajar. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan paket pembelajaran IPA terpadu dengan model Webbed dan tata urut (sequencing) strategi REACT pada tema Laut Sebagai Sumber Kehidupan yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP/MTs .     Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan Borg and Gall (1983) dengan beberapa penyesuaian. Prosedur pengembangan yang dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu : tahap studi pendahuluan, tahap pengembangan produk, dan tahap uji coba produk. Validasi isi/materi dan penyajian dilakukan oleh ahli dan praktisi dari kalangan dosen dan guru. Uji coba skala kecil untuk mengetahui keterbacaan siswa terhadap paket pembelajaran sedangkan uji coba skala luas merupakan metode kuasi eksperimen dengan desain pre-test-posttest control group design. Instrumen yang digunakan telah melalui validasi isi dan empirik dan layak untuk digunakan. Analisis data dibedakan menjadi dua, yaitu analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran perbaikan dari dosen, siswa dan guru. Data kuantitatif berupa hasil penilaian subjek uji coba terhadap buku yang telah dikembangkan yang diperoleh dari jawaban angket, data pre-test dan post-test.    Berdasarkan hasil uji validasi produk pengembangan diperoleh nilai rata-rata dari validator ahli dan praktisi sebesar 87,95 dengan kualifikasi ‘sangat tinggi’.Berdasarkan hasil analisis deskriptif kualitatif yakni komentar dan saran yang diberikan ahli dan pengguna, maka revisi dilakukan untuk perbaikan bahan ajar. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif uji normalitas dan homogenitas menunjukan bahwa data gain ternormalisasi terdistribusi normal dan homogen, maka uji beda yang digunakan adalah uji-t. Uji t pada nilai gain ternormalisasi antara kelas kontrol dan kelas eksperimen diperoleh nilai Sig. (2-tailed)(0,000) < α 0,05 dan thitung = 7,321 > ttabel= 2,667, yang berarti bahwa terdapat perbedaan peningkatan prestasi belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Berdasarkan nilai mean pada kelas kontrol sebesar 0,7138 dan pada kelas eksperimen sebesar 0,8514 dapat disimpulkan bahwa pada taraf kepercayaan 5% peningkatan prestasi belajar pada kelas eksperimen secara signifikan lebih besar dari pada peningkatan prestasi belajar pada kelas kontrol.Beberapa keunggulan produk hasil pengembangan yaitu:1) produk penelitian merupakan dokumen pendukung kurikulum 2013 yang saat ini masih belum banyak tersedia di lapangan; 2) memberikan pemahaman yang lebih utuh terhadap konsep yang saling berhubungan, menarik dan kontekstual, 3) membuka wawasan tentang kelautan lebih dalam; 4) Penggunaan Sequencing REACT, sehingga bahan ajar lebih mudah dipahami. Beberapa kelemahan produk ini yaitu: 1) layout yang memerlukan jumlah halaman lebih banyak, 2) bahan ajar kurang optimal bila dibelajarkan pada pembelajaran berbasis masalah, 3)peningkatan pada ranah psikomototrik dan afektif kurang optimal untuk dikembangkan. Berdasarkan kelemahan produk maka disarankan pada pengembangan produk lebih lanjut adalah: 1) perlunya uji coba pada keseluruhan sub tema yang telah dibuat demi perbaikan produk yang lebih baik, 2) dalam pengembangan bahan ajar di tahun tahun berikutnya perlu memperhatikan perkembangan produk terbaru tentang pengolahan hasil kelautan, agar bahan ajar yang dikembangkan tidak ketinggalan jaman     

Penerapan model pembelajaran the power of two untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IVA SDN 1 Moyoketen Kabupaten Tulungagung / Septin Dwi Elianasari

 

Kata Kunci: Model The Power Of Two, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar IPS kelas IVA SDN 1 Moyoketen masih rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) hasil nilai evaluasi siswa pada materi kegiatan ekonomi; (2) siswa kesulitan dalam memecahkan masalah secara individu; (3) siswa kurang aktif bekerja sama dengan teman selama pembelajaran, sehingga siswa cenderung bekerja sendiri. Untuk itu, perlu adanya suatu model pembelajaran yang membuat siswa lebih aktif dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model The Power of Two dalam pembelajaran IPS; (2) peningkatan aktivitas belajar IPS melalui penerapan model The Power of Two; (3) peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan model The Power of Two. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas IVA SDN 1 Moyoketen Kabupaten Tulungagung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model The Power of Two dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IVA SDN 1 Moyoketen, antara lain: (1) keberhasilan guru dalam penerapan model The Power of Two pada siklus I diperoleh 86,50% dan pada siklus II keberhasilan guru dalam penerapan model The Power Of Two meningkat menjadi 92,85%, (2) rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 71,12 dan pada siklus II rata-rata aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 77,91; (3) rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan diperoleh 64,6 dengan ketuntasan klasikal sebesar 53,3%. Pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 69,52 dengan ketuntasan klasikal 71,15%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 84,16 dan ketuntasan klasikal menjadi 100%. Kesimpulan penelitian menyatakan bahwa penerapan model The Power of Two dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IVA SDN 1 Moyoketen. Saran dari penelitian ini, guru hendaknya mengembangkan penerapan model The Power of Two sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran IPS di SD. Bagi peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini berdasarkan keterbatasan yang ada pada peneliti.

Metode pembelajaran image streaming untuk meningkatkan kemampuan mengarang bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN Tulus Rejo 2 MAlang / Mochammad Hedi Prasetyo

 

Kata kunci: Image Streaming, kemampuan mengarang, Bahasa Indonesia Penelitian ini diambil dari permasalahan yang timbul di SDN Tulus Rejo 2 Malang pada kelas V, masalah yang timbul pada kelas V adalah minimnya nilai mengarang siswa, yang berakibat pada miskinnya kosa kata siswa pada saat menulis nantinya. Hal ini dikarenakan guru masih menggunakan konsistensi pada produk mengarang saja, bukan bagaimana cara mengembangkan kerangka karangan yang menarik, sesuai dengan EYD, dan mampu menumbuhkan daya imajinasi siswa yang sedang berkembang. Maka penelitian ini mengambil salah satu metode baru yang bernama Image Streaming. Metode Image Streaming adalah suatu bentuk pembelajaran melalui daya imajinasi, bayangan, dan pencitraan hasil buah pikiran yang nantinya dibubuhkan kedalam kertas dalam bentuk tulisan atau kalimat, yang nantinya metode ini dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa, yaitu peningkatan kemampuan untuk menguasai aspek-aspek isi karangan, organisasi, kosakata, bahasa, dan penulisan agar bisa membantu siswa mengembangkan imajinya dengan baik. Penelitian ini untuk medeskripsikan penerapan pembelajaran mengarang dengan menggunakan metode Image Streaming dalam Pelajaran Bahasa Indonesia yang meningkatkan ketrampilan mengarang siswadan untuk mendeskripsikan peningkatan ketrampilan mengarang setelah diterapkannya pembelajaran dengan menggunakan metode Image Streaming pada siswa kelas V SDN Tulus Rejo 2 Malang.Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Tulus Rejo 2 Malang, tanggal 1 Februari sampai 16 April 2011. Rancangan penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan Penerapan metode Image Streaming dapat meningkatkan ketrampilan mengarang siswa kelas V SD Negeri Tulus Rejo 2 Malang dalam melakukan aktivitas mengarang. Ini ditunjukkan dari meningkatnya prosentase jumlah siswa yang memenuhi kriteria pada indikator tersebut, baik dari siklus I ke siklus II. Peningkatan kualitas kerangka karangan, judul, hasil revisi, serta hasil karangan juga mengindikasikan adanya peningkatan kualitas proses pembelajaran.Penerapan metode Image Streaming dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran mengarang. Ini ditunjukkan dari adanya peningkatan persentase jumlah siswa yang mendapatkan nilai minimal 70. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagipihak-pihak lain yang inginmenelitilebihlanjut, disarankanuntukmengembangkanpenerapanmetode Image Streaming denganmendayagunakan media lain, seperti variasi instrumen musik dan alat untuk membantu pengheningan agar dihasilkan daya imajinasi yang mengalir sesuai dengan konsep pertanyaan yang diinginkan.

Penerapan model pembelajaran numbered heads together dan talking stick untuk meningkatkan aktivitas, hasil belajar dan harga diri siswa (Siswa pada siswa kelas XII.APK-1 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen mata pelajaran kearsipan) / Wiwin Indriana

 

Kata Kunci: Numbered Heads Together, Talking Stick, Aktivitas, Hasil Belajar, Harga Diri Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together dan Talking Stick merupakan penerapan model pembelajaran dalam satu siklus tetapi dilaksanakan dalam pertemuan yang berbeda. Pertemuan pertama pada tiap-tiap siklus menerapakan model Numbered Heads Together. Sedangkan pada pertemuan kedua tiap-tiap siklus menerapkan Talking Stick. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, catatan lapangan, angket, wawancara dan tes. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas XII APk-1 yang berjumlah 40 siswa. Mata pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah mata pelajaran Kearsipan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Numbered Heads Together dan Talking Stick pada mata pelajaran Kearsipan sudah berjalan lancar. Aktivitas siswa dilihat dari elemen saling ketergantungan, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual dan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi mengalami peningkatan. (2) Numbered Heads Together dan Talking Stick efektif untuk meningkatkan hasil belajar. Rata-rata hasil belajar dari nilai test mengalami peningkatan dari 63,57 (pre test siklus I) menjadi 66,83 (pre test siklus II), kemudian dari 73,65 (pre test siklus I) menjadi 83,03 (post test siklus II). (3) Hasil angket harga diri pada siklus pertama diklasifikasikan dalam kategory cukup baik. Sedangkan pada siklus II tergolong dalam kategori baik. Untuk hasil angket harga diri pada siklus I tergolong dalam kategori cukup dihargai dan pada siklus II tergolong kategori dihargai. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together dan Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas, hasil belajar dan harga diri siswa XII APk-1 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata pelajaran Kearsipan. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diberikan oleh peneliti yaitu: (1) Bagi guru mata pelajaran Kearsipan di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen dapat menggunakan berbagai macam model pembelajaran yang disesuaikan dengan pokok bahasan, (2) Bagi peneliti lain diharapkan bisa menggunakan model pembelajaran yang lain tetapi pada mata pelajaran yang sama, (3) Bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan kreativitas untuk berfikir serta lebih berani untuk menyampaikan pendapat.

Penerapan cat minyak terapung di air dalam upaya meningkatkan kemampuan seni dan motorik anak di TK Plus Al-Kautsar MAlang / Yuli Setyorini

 

Kata Kunci: Cat Minyak Terapung, Kemampuan, Seni dan motorik Penerapan cat minyak terapung di air merupakan kegiatan membuat kreasi gambar bebas (gambar ekspresi bercorak abstrak) yang dilakukan dengan cara menuang cat minyak ke dalam wadah yang berisi air sebagai sarana berekspresi, ungkapan perasaan sesuai dengan imajinasinya. Dari observasi yang telah dilakukan, kemampuan menggambar bebas pada anak kelompok B masih mencapai 47% dari kemampuan yang diharapkan. Anak kurang tertarik terhadap kegiatan menggambar bebas karena pembelajaran yang sering digunakan selama ini kebanyakan adalah melipat, menempel dan menggunting sehingga anak kurang mampu mengekspresikan perasaan, emosi, dan pengalamannya ke dalam bentuk gambar dan dalam diri anak muncul perasaan bahwa tidak pandai menggambar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti memilih penggunaan cat minyak terapung di air dengan tujuan anak bisa menciptakan gambar dengan warna-warna yang menyenagkan sehingga mereka merasa bangga akan keberhasilannya dalam kegiatan membuat kreasi gambar bebas yang bercorak abstrak. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan tujuan penelitian yaitu 1) untuk mendeskripsikan penerapan menggambar bebas dengan cat minyak terapung di air, 2) untuk mendeskripsikan motorik halus anak yang dibelajarkan dengan kegiatan menggambar bebas dengan cat minyak terapung di air, 3)mendeskrpsikan apakah kegiatan menggambar bebas dengan cat minyak terapung di air mampu meningkatkan kemampuan seni anak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2010 di TK Plus Al-Kautsar Malang dengan subjek penelitian sebanyak 24 anak. Metode yang digunakan yaitu PTK dengan menggunakan dua siklus. Pada setiap siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa diskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan menggambar bebas sejumlah 7% dengan skor rata-rata sebesar 53% pada siklus I, selanjutnya pada siklus II meningkat lagi sejumlah 32% dengan skor rata-rata sebesar 85%. Dengan terselesaikannya penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan cat minyak terpaung di air di rasa cukup untuk memfasilitasi anak dalam kegiatan berkreasi seni melalui kegiatan menggambar secara bebas bercorak abstrak sesuai dengan keinginan anak utamanya kelompok B TK Plus Al-Kautsar Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan 1) guru hendaknya menggunakan cat minyak dalam kegiatan berkreasi seni dalam menggambar bebas, 2) bagi sekolah hendaknya memfasilitasi kebutuhan anak dengan menggunakan berbagai media sesuai dengan perkembangan anak dalam kegiatan menggambar bebas untuk menumbuhkan kretivitas anak.

Studi fenomenologi faktor-faktor penyebab gangguan jiwa di desa Panjul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri / Rinda Nurniati

 

Kata Kunci: gangguan jiwa, penyebab gangguan jiwa, Desa Punjul Desa Punjul merupakan salah satu desa yang masuk dalam Kabupaten Kediri. Desa ini masih belum banyak dijejali dengan teknologi modern dan pengaruh budaya dari barat. Akan tetapi di desa ini banyak sekali ditemui fenomena penduduk yang menderita gangguan jiwa, bahkan RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang Malang memperkirakan bahwa Desa Punjul yang masuk dalam Kecamatan Plosoklaten ini sebagai penduduk bergangguan jiwa terbanyak se-Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan penduduk yang tinggal di Desa Punjul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri banyak yang menderita gangguan jiwa. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi. Subyek dalam penelitian ini adalah keluarga dari obyek yang mengalami gangguan jiwa. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara dan observasi. Terdapat enam obyek fenomena dalam penelitian ini, dengan kriteria (1) penduduk yang bertempat tinggal di Desa Punjul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri yang mengalami gangguan jiwa, (2) obyek sudah beberapa kali berobat (mempunyai riwayat berobat, baik pada pihak medis maupun nonmedis), (3) obyek pernah dipasung/dirantai, (4) obyek meresahkan/membahayakan orang lain, (5) obyek pernah membuat kasus yang cukup menggemparkan. Prosedur analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara (1) menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dengan jalan mengolah data dari hasil wawancara, (2) reduksi data dari hasil wawancara, (3) menyusun dalam satuan-satuan, (4) pemeriksaan keabsahan data melalui triangulasi sumber, (5) menafsirkan data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa terdapat empat faktor penyebab gangguan jiwa di Desa Punjul Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, yaitu: (1) faktor reinforcement (penguatan) pada penderita gangguan jiwa. Obyek fenomena menderita gangguan jiwa karena dengan bergangguan jiwa obyek merasa lebih diperhatikan, tidak lagi dimarahi/dipersalahkan, tidak lagi harus melakukan kewajiban/tuntutan untuk bekerja, serta keinginan-keinginannya dipenuhi; (2) faktor kepercayaan penduduk Desa Punjul yang masih cukup kuat mengenai unsur magis yang menjadi penyebab banyaknya gangguan jiwa di Desa Punjul; (3) faktor proses belajar sosial yang patologis/keliru; (4) banyaknya gangguan jiwa di Desa Punjul juga disebabkan karena adanya faktor keturunan, hubungan dalam keluarga serta pengaruh lingkungan tempat tinggal.

Peningkatan hasil belajar siswa melalui model mind mapping dalam pembelajaran IPS kelas III SDN Kamulan 02 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Nourma Oktaviarini

 

Kata kunci: Mind Mapping, hasil belajar, pembelajaran IPS, sekolah dasar Peneliti mengambil judul tersebut berdasarkan latar belakang beberapa hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di SDN Kamulan 02 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar antara lain: pelaksanaan pembelajaran bersifat konvensional dan kurang menarik minat siswa, siswa bosan menghafalkan konsep pembelajaran dan hasil belajar siswa pada ulangan harian semester II masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas III SDN Kamulan 02 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar dengan menggunakan model pembelajaran Mind Mapping. Metode penelitian yang digunakan adalah PTK dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Langkah-langkah penelitian berupa perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar observasi dan dokumentasi. Analisis data diawali dengan mengumpulkan data, menyajikan dan mendeskripsikan data kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan penerapan model Mind Mapping diperoleh peningkatan hasil belajar. Hasil belajar siswa dimulai dari pra tindakan sampai dengan tindakan penelitian pada siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada pratindakan adalah 59.16 dengan ketuntasan klasikal 37%. Pada siklus I nilai rata-rata siswa 69.4 dengan persentase ketuntasan klasikal 51.3%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata siswa adalah 79.6 dengan ketuntasan klasikal 92.3%. Dengan demikian dapat dikatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Mind Mapping dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas III SDN Kamulan 02 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Oleh karena itu, disarankan bagi guru agar menerapkan model pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif problem posing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang pada mata pelajaran IPS / Vicky Dwi Wicaksono

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Problem Posing, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, IPS. Hasil observasi awal di SDN Jatimulyo 1 Malang Kecamatan Lowokwaru Kota Malang belum pernah menerapkan pembelajaran kooperatif problem posing dalam pembelajaran IPS. Dominasi guru dalam pembelajaran menyebabkan siswa lebih banyak menunggu sajian guru. Akibat hasil belajar siswa sebesar 62,5% belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang di tetapkan oleh sekolah yaitu 60. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran kooperatif problem posing perlu digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran, karena dapat mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif problem posing pada mata pelajaran IPS siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang pokok bahasan koperasi, 2) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang dengan pembelajaran kooperatif problem posing pokok bahasan koperasi, 3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang dengan pembelajaran kooperatif problem posing pokok bahasan koperasi. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah 16 siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, catatan lapangan dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif problem posing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti aktivitas belajar siswa meningkat di setiap siklus, komponen yang meningkat meliputi sikap, kerjasama, keaktifan, perumusan soal, dan pemahaman tingkat lanjut. Pada hasil belajar siswa rata-rata siklus I yaitu 72,03 dengan ketuntasan belajar kalsikal 56,25%. Rata-rata hasil tes siklus II yaitu 82,5 dengan ketuntasan belajar klasikal mencapai 93,75%. Kesimpulan penelitian yaitu penerapan pembelajaran kooperatif problem posing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 pada mata pelajaran IPS. Saran dalam penelitian ini yaitu: (1) Seyogyanya guru menggunakan pembelajaran kooperatif problem posing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada materi pokok koperasi, (2) Peneliti lain dapat mengembangkan penelitian dengan pembelajaran kooperatif problem posing yang menitikberatkan pada sikap belajar, karena dalam peneletian ini masih belum terlihat secara jelas.

Peningkatan hasil belajar melalui metode pembelajaran mind mapping dalam pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Ngaglik 03 Kabupaten Blitar / Wahyuni Mustisari

 

Kata kunci: hasil belajar, pembelajaran IPS, Mind Mapping. Pembelajaran IPS seharusnya mengaitkan antara konsep satu dengan yang lain dari ilmu-ilmu sosial, tetapi kenyataannya tidak seperti itu atau tidak terpadu. Kenyataannya pembelajaran IPS masih menggunakan metode ceramah dimana guru lebih dominan dalam pembelajaran, siswa kurang diberi kesempatan dalam mengembangkan ide/gagasan sehingga pembelajaran membosankan. Hal ini mempengaruhi terhadap hasil belajar siswa. Dari 20 siswa, terdapat 5 siswa yang mendapat nilai ≥ 60, dan 15 siswa mendapat nilai < 60 dan nilai rata-rata kelas adalah 50,25. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan metode pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa mengingat materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pembelajaran IPS melalui metode pembelajaran Mind Mapping kelas IV SDN Ngaglik 03 Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Ngaglik 03 dengan menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian ini adalah 20 siswa. Instrumen penelitian ini meliputi lembar observasi dan lembar tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data secara kualitatif. Penelitian ini dilakukan 2 siklus dengan tahapan penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan terhadap pelaksanaan pembelajaran dari pra tindakan ke siklus I peningkatannya mencapai 41,6% dan dari siklus I ke siklus II peningkatannya mencapai 17,6%. Hasil belajar siswa dari pratindakan 35% siswa tuntas meningkat pada siklus I menjadi 65% siswa tuntas dan siklus II menjadi 100% siswa tuntas belajar dari 20 orang siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Mind Mapping dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran, dan pelaksanaan metode Mind Mapping juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga 20 siswa dapat tuntas dalam belajar.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran mind mapping pada siswa kelas IV SDN Ringinrejo I Kabupaten Kediri / Lisa Lina Wati

 

Kata kunci: hasil belajar, pembelajaran PKn, Mind Mapping. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Sekolah Dasar selama ini disajikan dengan konsep yang terpisah. Konsep pembelajaran disajikan dengan mengutamakan otak kiri dan cenderung mengabaikan otak kanan sehingga siswa sulit mengingat materi. Hal ini mempengaruhi terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil belajar PKn pada tahap pra tindakan masih banyak siswa kelas IV SDN Ringinrejo I yang mendapat nilai di bawah KKM yaitu nilai 65. Dari 34 siswa, terdapat 16 siswa yang mendapat nilai ≥ 65, dan 18 siswa mendapat nilai < 65 dan nilai rata-rata kelas adalah 61,3. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa mengingat materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran mind mapping dalam pembelajaran PKn di Kelas IV SDN Ringinrejo I Kabupaten Kediri, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ringinrejo I Kabupaten Kediri melalui model pembelajaran mind mapping. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian ini adalah 34 siswa kelas IV SDN Ringinrejo I. Instrumen penelitian ini meliputi lembar observasi, lembar tes, dan lembar angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data secara kualitatif. Penelitian ini dilakukan 2 siklus dengan tahapan penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari pra tindakan terdapat 47,1% siswa yang tuntas, siklus I tahap pertama terdapat 73,5% siswa yang tuntas belajar, siklus I tahap kedua menjadi 85,2% dan pada siklus II tahap pertama 88,2% menjadi 97% siswa yang tuntas belajar dari jumlah siswa 34. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru menerapkan model pembelajaran Mind Mapping ini untuk materi pelajaran yang lain agar siswa senang dalam mengikuti pembelajaran. Guru hendaknya juga menciptakan pembelajaran yang inovatif dengan model pembelajaran Mind Mapping ini agar hasil belajar siswa dapat meningkat.

Penerapan model quantum learning untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Turus Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri / Hanik Aida

 

Kata Kunci: Quantum Learning, pembelajaran, IPA Pembelajaran guru kelas V SDN Turus Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri ketika mengajarkan materi "Sifat-Sifat Cahaya" masih banyak menggunakan cara-cara lama yaitu dengan lebih banyak ceramah, tanya jawab, dan penugasan (PR), sehingga pembelajaran kurang bermakna bagi siswa. Aktivitas siswa saat pembelajaran IPA mengindikasikan rendahnya kinerja belajar siswa yang mengakibatkan kurangnya pemahaman terhadap materi "Sifat-Sifat Cahaya", hal ini nampak ketika dalam suasana pembelajaran sebagian siswa tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Hasil dari pre-test yang diberikan pada 26 siswa menunjukkan bahwa hanya ada 3 siswa (12%) yang mencapai KKM yang ditentukan 75,00. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Quantum Learning, aktivitas siswa ketika diterapkan model Quantum Learning, dan hasil belajar siswa setelah diterapkan model Quantum Learning. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan dengan dua siklus masing-masing dua kali pertemuan. Pengumpulan data penerapan model dan aktivitas siswa dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Pengumpulan data hasil belajar siswa dilakukan dengan memberikan tes pada setiap akhir pertemuan. Analisis data penerapan model mengguanakan lembar observasi penerapan model, data aktivitas siswa didanalisis menggunakan lembar pengamatan siswa, dan data hasil belajar siswa dianalisis menggunakan tes pada setiap akhir pertemuan. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh tiga simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, penerapan model Quantum Learning dapat meningkatkan pembelajaran IPA materi "Sifat-sifat cahaya" siswa kelas VA SDN Turus. Penerapan model berturut-turut dari siklus I pertemuan ke-1 sampai siklus II pertemuan ke-2 memperoleh skor 65 atau 86%, 68 atau 91%, 64 atau 85%, 70 atau 94% dari skor maksimal keberhasilan model. Kedua, aktivitas siswa kelas VA dalam belajar IPA materi "Sifat-sifat cahaya" meningkat ketika diterapkan model Quantum Learning. Siswa yang mendapat kriteria aktiv berturut-turut dari siklus I pertemuan ke-1 sampai siklus II pertemuan ke-2 sebanyak 11 siswa atau 42%, 19 siswa atau 73%, 22 siswa atau 85%, dan 22 siswa atau 85%. Ketiga, hasil belajar siswa kelas V dalam belajar IPA materi "Sifat-sifat cahaya" meningkat setelah diterapkan model Quantum Learning. Siswa yang mendapat kriteria tuntas belajar berturut-turut dari siklus I pertemuan ke-1 sampai siklus II pertemuan ke-2 sebanyak 21 siswa atau 81%, 14 siswa atau 54%, 18 siswa atau 69%, dan 23 siswa atau 88%.

Penggunaan media audio visual untuk meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa dalam menyimak bahasa Indonesia di kelas V SDN Bareng 5 Malang / Listiana

 

Kata Kunci : media audio visual, aktifitas, kemampuan menyimak Permasalahan pada matapelajaran Bahasa Indonesia kelas V SDN Bareng 5 Kota Malang, yaitu: (1) keterampilan menyimak metode ceramah, (2) peserta didik kesulitan dalam menentukan unsur-unsur cerita (3) siswa kurang bergairah dan antusias dalam pembelajaran menyimak cerita, , dan (4) kurangnya media yang inovatif dalam meningkatkan kemampuan menyimak cerita. Berdasarkan masalah tersebut maka perlu diadakan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan pelaksanaan penggunaan media audio visual untuk meningkatkan aktivitas dan kemampuan siswa dalam menyimak bahasa Indonesia di kelas V SDN Bareng 5 Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa melalui penggunaa media audio visual, dan (3) mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menyimak melalui penggunakan media audio visual.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemis & Taggart. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual dapat meningkatkan aktifitas dan kemampuan siswa dalam menyimak Bahasa Indonesia Kota Malang. Perolehan rata-rata aktifitas belajar siswa meningkat, dari rata-rata pratindakan ke siklus I sebesar 67%, dari siklus I ke siklus II sebesar 2% dan dari pratindakan ke siklus-2 mengalami peningkatan sebanyak 73%. Perolehan rata-rata kemampuan menyimak cerita meningkat, dari rata-rata pratindakan ke siklus I sebesar 49% dari siklus I ke siklus II sebesar 13%, dan dari pratindakan ke siklus-2 mengalami peningkatan sebanyak 68%.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penggunaan media audio visual dapat meningkatkan aktifitas dan kemampuan siswa dalam menyimak Bahasa Indonesia kelas V SDN Bareng 5 Kota Malang.

Pengaruh multimedia interaktif (Macromedia 4 Flash) terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas V SDN Penanggungan Malang / Elsinora Mahananingtyas

 

Kata kunci: Multimedia Interaktif (Macromedia Flash) dan hasil belajar, IPS SD. Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa. Dalam pembelajaran terjadi proses komunikasi, yaitu menyampaikan informasi dari sumber kepada penerima informasi. Pembelajaran yaitu suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Dalam proses komunikasi sering tidak berjalan dengan lancar karena mengalami suatu hambatan yang berbentuk verbalisme, keterbatasan bahan ajar, perhatian yang tidak terpusat sehingga siswa kurang serius dalam pembelajaran dan tidak ada tanggapan yang menyeluruh. Salah satu cara untuk mengatasi hambatan tersebut adalah dengan memanfaatkan Multimedia Interaktif menggunakan Macromedia Flash. Media ini dipilih karena memiliki beberapa kelebihan, di antaranya mampu menampilkan animasi bergerak, dilengkapi dengan audio dan gambar-gambar yang tampilannya menarik. Media ini juga dapat membuat cara berpikir siswa lebih konkrit yang nantinya akan lebih meningkatkan pemahaman materi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Multimedia Interaktif (Macromedia Flash) terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas V SDN Penanggungan Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas V-A sebagai kelas eksperimen dan kelas V-B sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes pre-test dan post-test. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 17.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari analisis data diketahui bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen sebesar 12,71 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 7,42 dengan nilai Gain Score thitung > ttabel df=68 hasil ttabel adalah ∞ = 1,645 sehingga 3,365 > 1,645. Dengan demikian nilai probabilitas 0,001 < 0,05, maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran Multimedia Interaktif (Macromedia Flash) berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Penanggungan Malang. Disarankan bagi guru IPS dapat menggunakan Multimedia Interaktif (Macromedia Flash) sebagai alternatif dalam merencanakan proses pembalajaran karena dapat meningkatkan hasil balajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan Multimedia Interaktif (Macromedia Flash) pada materi selain Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia.

Penerapan model problem solving untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang / Gita Septyanna Wulandari

 

Kata kunci: Problem Solving, Hasil Belajar IPA, Sekolah Dasar Dari hasil observasi terhadap siswa dan guru diketahui bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, sehingga siswa kurang bersemangat dalam belajar. Guru kurang kreatif dalam menyampaikan materi, siswa hanya membayangkan apa yang sisampaikan guru tanpa memperoleh pengalaman langsung Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Penerapan model Problem Solving dalam pembelajaran IPA materi pesawat sederhana siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang; (2) Peningkatan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana Kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang menggunakan model Problem Solving. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang yang berjumlah 38 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan penggunaan model Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana kelas V SDN Tulusrejo 2 Malang. Dalam menerapkan model Problem Solving pada materi pesawat sederhana terdapat langkah-langkah yang sistematis sehingga siswa menjadi terus termotivasi dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa telah meningkat dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 2.. Peningkatan hasil belajar IPA tersebut, terlihat hasil belajar dari pra tindakan dengan siklus 1 dan siklus 2. Hasil belajar tersebut terbukti bahwa pada pra tindakan siswa yang tuntas dengan nilai 75 adalah 13,1%, sedangkan 78,3% siswa tidak tuntas. Pada siklus 1 dengan penerapan model problem solving terlihat adanya peningkatan hasil belajar yaitu dari 38 siswa dengan nilai 75 adalah 31% siswa tuntas, sedangkan 60,4% tidak tuntas, dan pada siklus 2 dengan nilai 75 adalah 10,5% siswa tidak tuntas dan 86,9% siswa tuntas. Dari ketuntasan klasikal hasil belajar siswa yang peneliti inginkan adalah >75% dari jumlah siswa dalam kelas tuntas, tetapi dalam penerapannya pada akhir siklus 2 siswa yang tuntas dalam kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang adalah 86,9% tuntas. Peningkatan hasil belajar dari pra tindakan sebesar ke siklus 1 adalah 17,9%, sedangkan dari pra tindakan ke siklus 2 adalah 73,8%, dari peningkatan yang dapat dikatakan cukup besar itu, maka penerapan model problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang dan model problem solving sudah cocok untuk diterapkan dikelas V SDN Tulusrejo 02 Malang dengan materi pesawat sederhana.. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian adalah sebaiknya guru kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang untuk dapat menggunakan beberapa model pembelajaran agar siswa lebih tertarik, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA. Untuk kepala sekolah SDN Tulusrejo 02 Malang agar dapat memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran dan untuk penelit lanjutan sebaiknya untuk penerapan model problem solving disiapkan lembar observasi aktivitas siswa yang terkait dengan model yang digunakan, hal ini dimaksudkan agar penelitian lebih berjalan dengan baik dan peneliti dapat mengetahui keberhasilan penerapan model yang digunakan.

Penerapan model talking stick untuk meningkatkan keterampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas V SDN Jatimulyo 1 kota Malang / Putri Dwi Cahyaningsih

 

Kata Kunci: Talking Stick, Keterampilan Berbicara SD Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Jatimulyo 1 Kota Malang pada saat itu masalah yang terlihat adalah siswa kesulitan untuk mengungkapkan permasalahan, memberikan komentar dan mengungkapkan kembali permasalahan yang ada dalam sebuah bacaan. Maka peneliti akan berupaya untuk meningkatkan keterampilan dan memperbaiki cara belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terutama keterampilan berbicara mengungkapkan permasalahan yang ada dalam bacaan dan menceritakan kembali permasalahan yang terjadi dengan menerapkan model Talking Stick yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian dilakukan di SDN Jatimulyo 1 Kota Malang, pada tanggal 3 Februari 2011 sampai dengan 5 April 2011. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masingmasing siklus terdiri dari empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus I membahas topik persitiwa faktual yang pernah dialami dan yang telah dibaca di koran, sedangkan siklus II membahas topik gambar persitiwa faktual. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Jatimulyo 1 Kota Malang. Analisis data dilaksanakan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan mengkaji semua data yang diperoleh. Setelah pembelajaran dengan menerapkan model Talking stick , diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan proses dan keterampilan berbicara siswa. Setelah menerapkan model Talking Stick peningkatan aktivitas siswa pada siklus 1 ada 1 siswa yang masuk kategori kurang dan nilai rata-rata aktivitas siswa yaitu 71,52 , pada siklus 2 semua siswa masuk kategori baik dan rata-rata aktivitas siswa meningkat menjadi 82,8. Siswa tampak senang dengan penerapan model ini. Hal ini terlihat dari antusiasme siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Penerapan model Talking Stick nyatanya dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Hal ini tampak dari siklus 1 yang memperoleh ratarata nilai 60 dan aspek yang perlu diperbaiki meliputi, kejelasan suara, penguasaan topik, dan pilihan kata. Sedangkan pada siklus 2 terjadi peningkatan menjadi 78, keempat aspek yang menjadi kriteria penilaian siswa sudah dikuasai siswa. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk guru agar melibatkan siswa untuk menentukan topik dan media yang disenangi siswa, saran bagi kepala sekolah agar ikut serta menyediakan media dan memberikan dukungan penuh kepada guru dalam menerapkan model pembelajaran yang bervariasi, serta untuk peneliti lain agar melakukan penelitian dengan model Talking Stick dengan topik dan materi pokok pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang lain.

Peningkatan kemampuan menemukan konsep luas bangun datar trapesium melalui penerapan model penemuan terbimbing pada kelas VA SDN Kasin Malang / Nova Guruh Sulistyo

 

Kata Kunci: luas, bangun datar trapesium, model penemuan terbimbing, sekolah dasar, matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai siswa agar kelak dapat memecahkan permasalahan-permasalahan terkait hitungmenghitung dalam kehidupan sehari-hari. Dalam membelajarkan matematika juga tidak sembarangan, pada setiap jenjang pendidikan memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda-beda. Agar pembelajaran tidak berpusat pada guru, makadiperlukan suatu model pembelajaran yang mengoptimalkan kinerja serta kognitif siswa, namun peran guru tetap mengawasi serta mengarahkannya agar pembelajaran tetap mengarah pada tujuan pembelajaran. Model yang sesuai dengan pendapat di atas yaitu, model penemuan terbimbing. Dalam model tersebut guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa pada penemuan konsep diiringi dengan bimbingan-bimbingan yang bertahap, tujuannya agar siswa merasa bahwa merekalah yang menemukan pengetahuannya sendiri. Penelitian dilaksanakan di SDN Kasin Malang, dimulai pada tanggal 16 Februari 2011 sampai dengan tanggal 16 April 2011. Penelitian dilaksanakan dalam rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berdasarkan penerapan model penemuan terbimbing pada pembelajaran bangun datar trapesium di kelas VA SDN Kasin Malang, diketahui aktivitas dan kemampuan siswa mengalami peningkatan. Peningkatan aktivitas belajar siswa yang diperoleh dari hasil penyekoran kerja kelompok penemuan dari siklus I menuju siklus II sebesar 0,49. Pada setiap siklus pembelajaran juga ditemukan skor siswa yang menurun atau tetap (stabil) setelah penerapan pembelajaran penemuan terbimbing. Untuk rata-rata nilai hasil belajar siswa kelas VA SDN Kasin Malang mengalami peningkatan, jika dilihat dari pra tindakan menuju siklus I kemudian menuju siklus II, maka rata-rata nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan menuju siklus I meningkat sebesar 50,39. Sedangkan dari siklus I menuju siklus II rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat sebesar 2,06. Selanjutnya, sesuai KKM SDN Kasin Malang, rata-rata hasil belajar luas bangun trapesium siswa kelas VA melalui penerapan model penemuan terbimbing sudah tuntas 89,79% dari jumlah seluruh siswa VA. Berdasarkan hasil penelitian di atas diperoleh simpulan penelitian sebagai berikut. Penerapan model penemuan terbimbing pada pembelajaran luas bangun datar trapesium terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa serta dapat meningkatkan hasil belajar penemuan. Dalam keterlaksanaan model penemuan terbimbing juga harus benar-benar memperhatikan beberapa faktor selain langkah-langkah penerapan model, yaitu motivasi, variasi dan banyaknya media serta bimbingan yang merata pada seluruh siswa dalam pembelajaran

Penerapan model pembelajaran arias untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa IIIA SDN Purwantoro 2 kota Malang / Rifqi Dian Agustin

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran ARIAS, aktivitas belajar, hasil belajar, mata pelajaran IPS Permasalahan yang terkait dengan hasil belajar terutama pada mata pelajaran IPS terjadi karena beberapa faktor yaitu minimnya keaktivan siswa. Berdasarkan observasi pendahuluan pada mata pelajaran IPS yang dilakukan peneliti terhadap guru dan siswa kelas III A SDN Purwantoro 2 Malang menunjukkan bahwa, rata-rata kelas baru mencapai 65,85% penguasaan materinya dan siswa yang nilainya memenuhi Standar Ketuntasan Minimal(SKM) sebanyak 27 dari 41 siswa atau 65,85%. Pencapaian prestasi siswa pada mata pelajaran IPS di bawah SKM yaitu 74,0. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup penerapan model ARIAS yaitu peningkatan aktivitas dan hasil belajar setelah menggunakan model ARIAS. Model pembelajaran ARIAS adalah model pembelajaran yang usaha pertama dalam kegiatan pembelajarannya menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 41 siswa kelas III A SDN Purwantoro 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran ARIAS menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa kelas IIIA meningkat ditandai dengan aspek-aspek yang diamati (keaktifan siswa, kerjasama siswa, rasa percaya diri dan kemampuan menyimpulkan) dari siklus I sebesar 66,63 pada siklus II meningkat menjadi 76,08. Selain itu, peningkatan hasil belajar siswa sebelum penerapan model ARIAS yang hanya mencapai rata-rata 61,28 dengan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan individu sebanyak 14 siswa. Pada siklus I hasil belajar siswa diperoleh rata-rata sebesar 73,95 sebanyak 26 siswa (68,42%) sudah memenuhi ketuntasan. Kemudian meningkat lagi pada siklus II rata-rata siklus II rata-rata menjadi 86,32 sebanyak 32 (84,21%) siswa sudah memenuhi SKM. Apabila seorang peneliti lain ingin menerapkan model ini, diharapkan bisa memperhatikan hal-hal atau kendala yang mempengaruhi pembelajaran tersebut agar penerapan model pembelajaran ARIAS dapat berjalan secara optimal.

Pemanfaat benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan hasil belajar menggambar ekspresi siswa kelas 2 SDN Kasin MAlang / Winda Dyah Puspitasari

 

Kata kunci: benda-benda di lingkungan kelas, menggambar ekspresi, SD. Hasil observasi pada awal Maret tahun 2011 yang dilakukan peneliti di SDN Kasin Kota Malang serta berdasarkan hasil belajar siswa sebelumnya, ditemukan kondisi tentang rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa kelas II, khususnya pada mata pelajaran SBK materi menggambar ekspresi. Pada proses pembelajaran siswa cenderung ramai sendiri, tidak adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru dan siswa kesulitan dalam membuat gambar. Menggambar ekspresi dengan memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas akan membantu siswa dalam menentukan gambar. Tujuan penelitian ini adalah (1) memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan proses menggambar ekspresi siswa kelas II SDN Kasin Malang dan (2) memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan hasil belajar menggambar ekspresi siswa kelas II SDN Kasin Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan benda-benda di lingkungan kelas telah berhasil meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pada proses pembelajaran siswa lebih bersemangat dalam membuat gambar ekspresi begitu pula yang terlihat pada hasil gambar siswa yang menunjukkan peningkatan dari pewarnaan, kreasi dan kerapian. Pada proses belajar terjadi peningkatan dari tahap pratindakan ke siklus 1 sebesar 8,33% dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18,75%. Peningkatan hasil belajar (karya siswa) dari tahap pratindakan ke siklus 1 sebesar 4,12% dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 29,22%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru memanfaatkan benda-benda di lingkungan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menggambar ekspresi dan penelitian ini dapat dijadikan langkah awal untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa dalam menggambar ekspresi lebih menyenangkan.

Peningkatan kemampuan memahami isi cerita melalui teknik directed reading thinking activities (DRTA) di kelas IV SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar / Rofiq Alfa Humaida

 

Kata kunci: Membaca pemahaman, siswa, teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA). Pembelajaran memahami isi cerita di SD pada saat ini masih dirasakan belum memenuhi tuntutan kurikulum yang diberlakukan sekarang yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Guru dalam membelajarkan membaca pemahaman masih memiliki kecenderungan memusatkan kegiatannya agar siswa dapat membaca dan kurang memanfaatkan membaca untuk belajar lebih lanjut.Tujuan penelitian pelaksanaan pembelajaran kemampuan memahami isi cerita di kelas IV SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar adalah mendeskripsikan pelaksanaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) dalam upaya meningkatkan kemampuan memahami isi cerita siswa di kelas IV SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami isi cerita siswa kelas IV dengan penggunaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) di SDN Gondangtapen Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penggunaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) untuk siswa kelas IV di SDN Gondangtapen ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan memahami isi cerita. Rekapitulasi hasil dari ketiga tahap memahami isi cerita diperoleh penilaian tahap pratindakan, tingkat ketuntasan belajar siswa sebesar 18,75%, pada siklus I pertemuan pertama naik menjadi 25%, pada siklus I pertemuan kedua naik menjadi 43,75%, pada siklus II pertemuan pertama menjadi 81,25%, dan pada siklus II pertemuan kedua naik menjadi 93,75%. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu dengan menggunaan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) dalam pembelajaran memahami isi cerita terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Maka disarankan menggunakan teknik Directed Reading Thinking Activities (DRTA) dalam pembelajaran memahami isi cerita untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan model project-based learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang / Dewi Nofita Sari

 

Kata kunci: Model Project-Based Learning, Aktivitas, Hasil belajar, IPA. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pemebalajaran IPA dan guru masih menggunakan metode ceramah. Hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan pada ulangan harian yaitu 59, jauh dari ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 67. Oleh karena itu peneliti menerapkan model Project-Based Learning untuk mengatasi permasalahan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)penerapan model proyek pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas belajar siswa kelas IV, (3) hasil belajar IPA setelah menerapkan model pembelajaran proyek di kelas IV. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 23 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan model proyek pada pembelajaran IPA siswa kelas IV dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat. Guru memfasilitasi dan memotivasi siswa sehingga siswa dapat membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian aktivitas/kegiatan. Penggunaan model ini dapat meningkatkan aktivitas. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa sebelumnya yaitu 81 pada siklus I meningkat menjadi 91,6 di siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pratindakan pada materi "energi dan perubahannya” adalah 59 yang tuntas hanya 6 orang (26%), pada siklus I meningkat menjadi 74,5 yang tuntas 16 siswa (69,6%). Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 89,2 yang tuntas 22 siswa (95,6%). Kesimpulannya penerapana model proyek dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN ketawanggede 2 Malang. Saran bagi Kepala Sekolah agar memotivasi guru untuk lebih terfokus dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model proyek. Untuk guru dan peneliti lain dalam menerapkan model proyek tidak terpisah-pisah, sebaiknya 1 proyek minimal di selesaikan 1 siklus dan untuk siklus berikutnya diupayakan mengganti dengan kegiatan proyek lain yang sesuai dengan proyek sebelumnya.

Penggunaan media kartu angka dengan pasangan gambar untuk meningkatkan pengembangan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK Budi Rahayu Wonorejo / Rahayu

 

Kata Kunci : Kartu angka, Kemampuan kognitif, Memasangkan kartu pada gambar. Penelitian ini berlatar belakang membangun kemampuan kognitif anak dalam memahami konsep bilangan 1 – 10 melalui kartu angka dan pasangan gambar sebagai salah satu upaya mengembangkan matematika dasar hasil pengamatan dan observasi pembelajaran di dapat bahwa sebagian siswa kelompok B TK Budi Rahayu, masih ada yang belum mampu mengenal konsep bilangan. Berdasarkan refleksi guna didapat bahwa pengorganisasian kurikulum masih bersifat subjed. Dari 20 peserta didik yang ada di TK, ditemukan bahwa 14 anak yang belum tepat untuk menghubungkan angka, sehingga mendapatkan bintang 1. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain kartu angka, 2) Mendiskripsikan peningkatan pengembangan siswa dalam kemampuan memasangkan kartu angka dengan pasangan gambar di kelompok B TK Budi Rahayu Wonorejo. Untuk rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Arikunto,Suharsimi yang tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan observasi, refleksi. Penelitian ini menggunakan metode bermain kartu angka dengan pasangan gambar untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Budi Rahayu Wonorejo. Untuk rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Arikunto, Suharsimi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peneliti dapat membantu mengatasi masalah pembelajaran dan dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak melalui kegiatan bermain kartu angka dengan pasangan gambar. Penelitian ini berlatar belakang membangun meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam memahami konsep bilangan 1 – 10. Dengan bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain kartu angka dengan pasangan gambar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peneliti dapat membantu mengatasi masalah pembelajaran. Disarankan untuk pembelajaran bidang pengembangan kognitif di TK hendaknya menunjukkan bahwa pelaksanaan metode bermain kartu angka dengan pasangan gambar dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa secara sederhana, khususnya siswa kelompok B TK Budi Rahayu Wonorejo.

Penerapan model pembelajaran guided note talking (GNT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang / Arini Ilma

 

Kata Kunci : Model Guided Note Taking (GNT), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Pembelajaran IPS pada kelas IVA di SDN Bareng 3 masih menggunakan model konvensional. Akibatnya hasil ulangan harian siswa kelas IVA siswa yang mampu mencapai ketuntasan minimal hanya 20 siswa dan yang mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal ada 18 siswa. Selain itu, siswa menjadi bosen sehingga membuat siswa pasif, bermain sendiri, ramai, dan tidak konsentrasi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang; (2) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang; (3) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Kehadiran dan peran peneliti bertindak sebagai instrumen utama, perencana tindakan, dan pelaksana tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas IVA SDN Bareng 3 Kota Malang. Langkah-langkah penelitian tindakan kelas menggunakan model Kemmis Taggart yang tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan; (2) Pelaksanaan; (3) Pengamatan; (4) Refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) semakin meningkat. Hal ini terbukti saat selama proses pembelajaran. Siswa yang biasanya takut mengeluarkan pendapat menjadi berani dan siswa yang tidak mau bekerjasama menjadi mau. Hasil belajar rata-rata kelas pada siklus I pertemuan 1 sebesar 73,63. Nilai rata-rata kelas siklus I pertemuan 2 sebesar 78,94. Hasil belajar siklus I pertemuan 1 sampai pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 5,31. Nilai rata-rata siklus II pertemuan 1 sebesar 84,07, Hasil belajar siklus I pertemuan 2 sampai siklus II pertemuan 1 mengalami peningkatan sebesar 5,13. Nilai rata-rata siklus II pertemuan 2 sebesar 89,81. Hasil belajar siklus II pertemuan1 sampai pertemuan 2 mengalami peningkatan sebesar 5,74. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan model pembelajaran Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Bareng 3 Malang. Saran yang dapat diberikan agar peneliti selanjutnya: (a) Dalam menerapkan model Guided Note Taking (GNT) hendaknya guru memvariasikan dengan model lain agar siswa tidak cenderung monoton, (b) Dengan menggunakan model Guided Note Taking (GNT) diharapkan siswa harus berani mengeluarkan pendapat, bertanya kepada teman atau guru dan bisa menjawab pertanyaan dari guru serta konsentrasi dengan baik. Sehingga akhirnya penerapan model Guided Note Taking (GNT) dapat meningkatkan aktivitas siswa; (c) Hendaknya guru memberikan soal evaluasi sesuai dengan model Guided Note Taking (GNT) agar siswa paham sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan media alam sekitar pada siswa kelas IV SDN Ngadipuro 01 Kabupaten Blitar / Yulia Novitasari

 

Kata Kunci: keterampilan menulis, karangan deskripsi, alam sekitar Proses pembelajaran menulis terutama menulis karangan deskripsi akan berlangsung optimal apabila guru dapat memanfaatkan dan menggunakan media pembelajaran secara tepat sesuai dengan keadaan siswa yang dihadapi. Di SDN Ngadipuro 01 kabupaten Blitar pada pembelajaran bahasa Indonesia guru tidak menggunakan media pembelajaran yan tepat akibatnya keterampilan menulis karangan deskripsi siswa sangat rendah. Penelitian ini bertujuan : (1) mendeskrip-sikan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan deskripsi melalui media alam sekitar pada siswa kelas IV SDN Ngadipuro 01 kabupaten Blitar, dan (2) mendeskrip-sikan peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi melalui media alam sekitar pada siswa kelas IV SDN Ngadipuro 01 kabupaten Blitar. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas. Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaan menulis karangan deskripsi, siswa belum mencapai ketuntasan yang ditentukan sekolah. Dengan kriteria ketuntasan minimal mencapai 75%. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh rata-rata nilai siswa tahap pratindakan 47,4 dengan persentase ketuntasan 0%. Pada akhir siklus I nilai rata-rata 68,9 dengan persentase ketuntasan 45,5% dan pada akhir siklus II nilai rata-rata naik menjadi 85,5 dengan persentase ketuntasan 90,9%. Dengan menggunakan media alam sekitar, siswa mampu mencapai ketuntasan klasikal 90,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media alam sekitar dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa khususnya karangan deskripsi, yaitu pada aspek kelengkapan penggambaran, keutuhan karangan, dan ketepatan penulisan. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu dengan menggunaan media alam sekitar dalam pembelajaran terbukti dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa. Maka disarankan menggunakan media alam sekitar dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa.

Hubungan antara pemberian bimbingan belajar oleh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Kecamatan Sukun kota Malang / Ike Rinnata Septiana

 

Kata Kunci : Bimbingan Belajar Oleh Orang Tua, Prestasi Belajar Turunnya nilai UASBN pada siswa kelas VI menjadi tolok ukur sekolah dan orang tua dalam menilai prestasi belajar siswa di sekolah. Salah satu penyebab turunnya prestasi siswa di sekolah adalah kurang adanya bimbingan belajar yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam proses belajar di rumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemberian bimbingan belajar oleh orang tua, mengetahui hasil belajar siswa dan untuk mengetahui hubungan antara bimbingan belajar oleh orang tua dengan prestasi belajar siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Manfaat penelitian ini bagi orang tua sebagai bahan masukan untuk memberikan informasi pentingnya pemberian bimbingan belajar pada anak yang berdampak pada prestasi belajarnya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi yang dipakai adalah semua siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 semester gasal sebanyak 143 siswa. Teknik sampling menggunakan metode stratified random sampling untuk menentukan jumlah sampel yang diambil yaitu sebanyak 37 siswa. Pemberian bimbingan belajar oleh orang tua diukur menggunakan metode angket dan hasil prestasi belajar siswa diperoleh dari nilai raport siswa pada semester gasal. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi sederhana yang pengolahan datanya dibantu dengan menggunakan SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian siswa kelas V tidak ada (0%) siswa yang mendapatkan bimbingan belajar oleh orang tua dengan klasifikasi rendah, 18 siswa (48,65%) mendapakan bimbingan belajar oleh orang tua dengan klasifikasi sedang, dan 19 siswa (51,35%) mendapatkan bimbingan belajar oleh orang tua dengan klasifikasi tinggi. Berdasarkan hasil penelitian prestasi belajar diketahui bahwa dari 37 siswa yang menjadi sampel penelitian, 15 siswa (40,54%) yang mendapatkan prestasi belajar dengan klasifikasi rendah, 11 siswa (29,73%) mendapakan prestasi belajar dengan klasifikasi sedang, dan 11 siswa (29,73%) mendapatkan prestasi belajar dengan klasifikasi tinggi. Hasil uji normalitas diketahui bahwa variabel independen dan dependen memiliki distribusi normal. Sedangkan dari pengujian hipotesis diperoleh nilai sig. (0,000) 0,05 dan thitung (4,703) > ttabel (2,030) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Adapun saran dari penelitian ini ditujukan kepada guru Sekolah Dasar agar dapat memberikan masukan untuk dapat melakukan kerjasama dengan orang tua siswa dalam rangka meningkatkan prestasi belajar. Selain itu juga ditujukan bagi peneliti lanjutan disarankan untuk menambah jumlah variabel yang akan diteliti.

Pengaruh motivasi, pembelajaran, dan sikap terhadap keputusan pembelian sepeda motor Honda (Studi pada konsumen sepeda motor honda di kalangan mahasiswa psikologi Universitas Negeri Malang) / Ugik Oktavianto

 

Pertumbuhan konsumen sepeda motor meningkat luar biasa. Sepeda motor Honda yang sudah lama berada di Indonesia, dengan segala keunggulannya tetap mendominasi pasar dan sekaligus memenuhi kebutuhan angkutan yang tangguh, irit dan ekonomis di tengah-tengah persaingan yang begitu tajam akibat banyaknya merek pendatang baru. Untuk menghadapi persaingan tersebut produk Honda selalu menciptakan penemuan-penemuan baru yang mana disesuaikan dengan perkembangan jaman dan keinginan dari masyarakat agar produknya tetap laku terjual. Jika berbicara tentang penjualan tentu saja berkaitan dengan konsumen dan perilakunya. Perusahaan tentu akan berusaha meningkatkan penjualan dengan berbagai cara, diantaranya memperhatikan faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Motivasi, pembelajaran, dan sikap adalah determinan penting bagi keputusan pembelian suatu produk. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Subjek penelitian adalah mahasiswa psikologi Universitas Negeri Malang yang berjumlah 40 orang, dengan teknik pengambilan subyek purposive. Instrumen pengambilan data berupa skala motivasi, pembelajaran, sikap, dan keputusan pembelian. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis korelasi dan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan positif antara motivasi dan keputusan pembelian. Motivasi berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel motivasi memberikan Pengaruh sebesar 32% terhadap keputusan pembelian; (2) ada hubungan positif antara pembelajaran dan keputusan pembelian. Pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel pembelajaran memberikan Pengaruh sebesar 13,06% terhadap keputusan pembelian; (3) ada hubungan positif antara sikap dan keputusan pembelian. Sikap berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel sikap memberikan Pengaruh sebesar 23,64% terhadap keputusan pembelian; (4) motivasi, pembelajaran, dan sikap berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Variabel motivasi, pembelajaran, dan sikap secara simultan mampu menjelaskan variabel keputusan pembelian sebesar 68,7%, selebihnya sebesar 31,3% di jelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Namun ketika secara bersama-sama, variabel motivasi yang lebih berpengaruh terhadap keputusan pembelian dari pada pembelajaran dan sikap. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1) kepada perusahaaan untuk lebih memperhatikan faktor motivasi, dengan demikian perusahaan diharapkan dapat meningkatkan motivasi konsumennya yang saat ini berada di tingkat sedang. Karena jika diperhatikan dengan baik maka motivasi meningkat dan pada akhirnya membuat keputusan pembelian naik menjadi lebih kompleks; (2) sedangkan bagi peneliti selanjutnya yang berminat membahas keputusan pembelian disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif dengan cara menambah variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan pembelian

Pebelajaran konseptual dan prosedural untuk meningkatkan hasil belajar penjumlahan pecahan siswa kelas IV SDN Kasin Malang / Aulia Eva

 

Kata kunci: Pembelajaran konseptual, pembelajaran prosedural, penjumlahan pecahan. Hasil observasi pada awal Februari tahun 2011 yang dilakukan peneliti di SDN Kasin Malang serta berdasarkan hasil belajar siswa sebelumnya, ditemukan kondisi tentang hasil belajar siswa kelas IV, khususnya pada mata pelajaran Matematika pada materi perkalian. Perkalian merupakan prasyarat untuk dapat melakukan operasi penjumlahan pecahan. Untuk dapat melakukan operasi penjumlahan pecahan siswa harus menguasai perkalian. Pada proses pembelajaran siswa cenderung kesulitan untuk mengalikan bilangan. Oleh krena itu peneliti mencoba memperbaiki hasil belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran konseptual dan prosedural pada materi penjumlahan pecahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pembelajaran matematika kelas IV pada materi penjumlahan pecahan setelah menerapkan pembelajaran konseptual dan prosedural. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas pada pembelajaran matematika yang diselenggarakan di semester genap. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kasin Malang tahun ajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Ketuntasan pada siklus I sebesar 83,33 % dan ketuntasan pada siklus II meningkat menjadi 84,61 %, peningkatan disini sebesar 0,77%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru menggunakan pembelajaran konseptual dan prosedural untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan penelitian ini dapat dijadikan langkah awal untuk penelitian lebih lanjut. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa, sehingga kegiatan siswa menemukan sendiri suatu konsep dan prosedur pada pembelajaran matematika.

Pelaksanaan Pilkada langsung Kabupaten Pasuruan ditinjau dari aspek politik hukum / Ujang Mansur

 

Amandemen terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan warna baru dalam tatanan politik dan sistem politik di Indonesia, terutama berkaitan dengan seluruh proses politik di daerah. Salah satu yang mewarnai perubahan dalam menegakkan demokrasi tersebut ialah Pilkada Langsung. Pilkada Langsung adalah suatu proses pemilihan untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang memenuhi syarat. Pada dasarnya Pilkada langsung itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari aspek Politik Hukum. Politik hukum diartikan sebagai kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan telah berlaku, bersumber dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat untuk mencapai tujuan negara yang dicita-citakan. Nilai-nilai yang hendak dicapai dalam hal ini ialah nilai-nilai demokratis yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat. Penelitian berjudul Pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan ditinjau dari Aspek Politik Hukum, bertujuan untuk, (1) mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (2) mengetahui tahapan pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (3) mengetahui pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (4) mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan,(5) mengetahui upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (6) mengetahui pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan ditinjau dari aspek politik hukum. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskritif, yakni dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Ketua KPUD Kabupaten Pasuruan, Anggota KPUD Kabupaten Pasuruan dan Masyarakat Kabupaten Pasuruan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan, (1) pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan terdiri atas, KPUD Kabupaten Pasuruan, Panitia Pengawas Pilkada Kabupaten Pasuruan, PPK,PPS dan KPPS, pasangan calon, pemilih, aparat keamanan dan Lembaga Swadaya Masyarakat, (2) tahapan pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan terdiri atas, tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, (3) pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan mengacu pada tahapan yang telah di rencanakan sebelumnya sesuai dengan Keputusan KPUD Kabupaten Pasuruan No. 01 Tahun 2007 tentangii Tahapan dan Program Pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan, (4) Kendala-kendala dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan terdiri atas, Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) KPUD Kabupaten Pasuruan dalam pembuatan regulasi/aturan dalam pembuatan Undang-Undang, terbatasnya dana Pilkada Langsung, rendahnya pemahaman masyarakat tentang Pilkada, adanya budaya politik masyarakat yang bersifat apatisme dan memilih golput, (5) upaya untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan ialah mengangkat ahli hukum untuk membuat aturan-aturan Pilkada di Kabupaten Pasuruan, menambah dana Pilkada Langsung dari APBD dan sumbangan donatur, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, memberikan pemahaman secara mendalam kepada masyarakat yang memiliki sifat apatisme dan memilih golput, KPUD Kabupaten Pasuruan berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Pasuruan, dinas kependudukan, PPK dan PPS setempat, (6) ditinjau dari aspek politik hukum pelaksanaan Pilkada Langsung Kabupaten Pasuruan yang merupakan bentuk dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor 06 Tahun 2005 belum sepenuhnya menciptakan nilai-nilai demokratis yang semestinya. Hal ini disebabkan oleh rendahnya partisipasi politik masyarakat yang hanya mencapai 704.968 atau 70,5% dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) yang berjumlah 1.076.747 jiwa, serta kurangnya kepatuhan hukum dari masyarakat Kabupaten Pasuruan

Pengembangan buku bergambar mata pelajaran IPA kelas 3 semester 2 materi pokok cuaca dan pengruhnya bagi manusia di SDN Kebonagung PAsuruan / Dian Agustin Purnamasari

 

Kata kunci: Media, Buku Bergambar, IPA, Cuaca dan Pengaruhnya bagi Manusia, Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya visualisasi grafis (gambar) yang mutlak dipergunakan, oleh karena itu keberadaanya memiliki fungsi antara lain sebagai berikut : (1) menarik perhatian, (2) mempertinggi kesukaan, (3) memberi kemudahan mempelajari teks, (4) memperbaiki pemahaman dan retensi, (5) mengakomodasi pembaca lemah. Nyoto (1993). Salah satu contoh media visualisasi grafis adalah media cetak berupa buku bergambar. Penggunaan media dalam pembelajaran merupakan usaha untuk meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, penelitian ini akan menghasilkan media Buku Bergambar yang digunakan untuk pembelajaran IPA. Khususnya materi yang tidak dapat dijangkau oleh mata telanjang diantaranya Cuaca dan pengaruhnya Bagi Manusia. Tujuan dari Pengembangan ini, adalah : (1) memproduksi media buku bergambar dengan menggunakan program software corel draw menjadi buku bergambar yang diterapkan pada pembelajaran IPA kelas 3 semester 2 di SD Kebonagung Kota Pasuruan untuk mencapai tujuan pada pembelajaran IPA secara efektif, (2) mendeskripsikan validitas Media buku bergambar pada siswa kelas III SD Kebonagung Pasuruan. Model pengembangan media diadopsi dari langkah-langkah oleh Sadiman ( 2009:101) yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) merumuskan butir-butir materi, (4) mengembangkan alat pengukur keberhasilan, (5) menulis naskah media, (6) produksi media buku bergambar, (7) menyusun petunjuk pemanfaatan, (8) validasi oleh ahli media, ahli materi dan Audiens di bagi menjadi 3 kelompok uji coba, dan (9) revisi. Sumber data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam Pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (Pre Test dan Post Test). Hasil data kualitatif dan kuatitatif berasal dari validasi angket . Aspek-aspek yang divalidasi a) kualitas teknik dari ahli media, ahli materi, audiens, b) Pemanfaatan, c) hasil belajar siswa Dalam pengembangan media buku bergambar ini terdapat revisi antara lain : (1) warna difokuskan tiap halaman selalu lebih menonjol daripada komponen-komponen yang lain, (2) Jenis huruf diganti dengan jenis times new roman atau arial, (3) satu teks menggunakan satu jenis huruf agar lebih menjadi konsisten. Hasil data kulitatif dan kuantitutatif untuk media buku bergambar sebagai berikut : (1) hasil validasi angket dari ahli media sebesar 75% dan dikategorikan cukup valid, (2) hasil validasi angket dari ahli materi sebesar 82,5% dan dikategorikan valid, (3) siswa dalam uji coba individu diperoleh hasil sebesar 95,3%, (4) siswa dalam uji coba terbatas ( kelompok kecil) diperoleh hasil sebesar 95,3%, (5) siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh hasil sebesar 95,3% sehingga dapat diinterpretasikan bahwa media buku bergambar yang dikembangkan termasuk dalam kriteria Valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran IPA pada materi cuaca dan pengaruhnya bagi manusia di SDN Kebonagung Pasuruan. Selain itu hasil data kuantitatif berupa hasil belajar Postest dari (1) siswa dalam uji coba individu diperoleh skor posttest 75, (2) siswa dalam uji coba terbatas (kelompok kecil) diperoleh skor posttest 75, (3) siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh skor posttest 80,3 Berdasarkan hasil pengembangan di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar siswa diatas maka media buku bergambar dikategorikan baik dan efektif digunakan dalam pembelajaran IPA khususnya materi cuaca dan pengaruhnya bagi manusia.

Peran kader pos pelayanan terpadu (Posyandu) dalam usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) (Studi kasus di desa Tambak Asri Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang) / Anita Rima Silvia

 

Kata kunci: Peran, Kader, POSYANDU, Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) Posyandu merupakan suatu program yang dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) dalam upaya penggembangan sumber daya manusia (SDM) sejak dini. Posyandu memiliki banyak program diantaranya pelayanan gizi dan pelayanan kesehatan yang dapat memberikan pendidikan bagi masyarakat sebagai salah satu bentuk dari penggembangan masyarakat. Posyandu juga dapat disebut sebagai satuan pendidikan non formal di mana posyandu juga merupakan kelompok belajar dalam masyarakat, kelompok belajar tersebut dapat terjadi pada saat kegiatan posyandu berlangsung, kader posyandu disebut sebagai fasilitator dan anggota posyandu sebagai peserta didik, fasilitaor berfungsi sebagai pemberi motivator, pentugas penyuluhan, dan pelayanan kesehatan. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kader posyandu melaksanakan perananya dalam usaha perbaikan gizi keluarga di Desa Tambak Asri Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang. Dan mengetahui uasaha-usaha apa yang telah dilakukan oleh para anggota posyandu dalam usaha memperbaiki gizi dalam keluarganya. Sumber data penelitian adalah 11 kader posyandu dan 64 anggota posyandu yang terdapat di dua kelompok posyandu. Prosedur pengumpulan data menggunakan wawancara dan kuisioner. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus satu situs dimana bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat penelitian dilakukan dan untuk memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu. Demikian pula Winarno Surakhmad (dalam Febrianti,2006:42) mengemukakan bahwa "studi kasus memusatkan perhatian pada satu orang, satu lembaga, satu keluarga, satu desa, ataupun satu kelompok manusia dan kelompok obyek lain-lain yang cukup terbatas, yang dipandang sebagai kesatuan" Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa fungsi peran kader posyandu dalam melaksanakan kegiataannya, peran kader sebagai motivator meliputi tugas-tugas yang dilakukan oleh kader posyandu antara lain: a). Mengerakkan masyarakat untuk menghadiri dan ikut serta dalam kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), b). Memberikan materi tentang informasi tentang pemanfaatkan pakarangan untuk meningkatkan gizi keluarga pada saat kegiatan POSYANDU berlangsung, c). Memberikan informasi seputar kesehatan dan menanamkan perilaku-perilaku yang mendukung perbaikan gizi keluarga, d). Memberikan materi tentang perawatan dini bagi ibu baru melahirkan dan bayi baru lahir, e). Memberikan kritik, teguran, dan pujian pada anggota POSYANDU yang dapat memenuhi target maupun yang tidak, f). Menberikan informasi kepada anggota POSYANDU tentang hari buka POSYANDU, g). Menyediakan sarana dan prasarana dalam kegiatan POSYANDU. Selanjutnya peran kader posyandu sebagai petugas penyuluhan, meliputi tugas-tugas yang dilakuakn oleh kader posyandu antara lain: a). Menjelaskan materi tentang konsep perawatan dini bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, b). Memberikan atau menyampaikan informasi tentang pemanfaatan pakarangan rumah, c). Memberikan pengarahan kepada balita yang mengalami permasalahan, d). Memeriksa dan memberikan pengarahan kepada rumah-rumah yang tidak layak huni, e). Memberikan materi dan mempraktekkan prilaku-prilaku yang mendukung dalam perbaikan gizi keluarga, f). Melakukan kunjungan rumah terhadap bayi-bayi yang belum mendapatkan imunisasi, g). Memberikan pelatihan Juru Pemantau Jentik (JUMANTIK), h). Melakukan kunjungan rumah dalam kegiatan JUMANTIK. Dan yang terakhir adalah peran kader posyandu sebagai pelayanan kesehatan, meliputi tugas-tugas yang dilakuakn oleh kader posyandu antara lain: a). Memberikan informasi-informasi tentang imunisasi dan pemberian vitamin bagi anak, b). Melakukan pendaftaran kepada para anggota POSYANDU, c). Melakukan pencatatan tentang perkembangan BALITA, d). Melakukan pengisian kepada buku kesehatan ibu dan anak tentang perkembangan BALITA, e). Melakukan penimbangan pada BALITA, f). Melakukan pendataan ulang anggota POSYANDU, g). Pemberian kapsul vitamin kepada para anggota POSYANDU, h). Penyuntikan imunisasi kepada anggota pada saat hari buka POSYANDU, i). Menilai tentang kualitas kader sebagai pemberi materi pada anggota POSYANDU. Berdasarkan hasil penelitian dapat pula disimpulkan bahwa Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) di Desa Tambakasri Kec. Sumbermanjing Kab. Malang kegiatan yang dilakukan oleh para anggota antara lain: a). Pemenuhan kebutuhan kalori sehari-hari, b). Pemenuhan kebutuhan protein sehari-hari, c). Pemenuhan kebutuhan vitamin sehari-hari, d). Pemenuhan kebutuhan mineral sehari-hari Saran-saran yang dapat dikemukakan adalah: a). Dari hasil penelitian tentang peranan kader Posyandu dalam UPGK yang berfungsi sebagai motivator, petugas penyuluhan, dan petugas pelayanan kesehatan di Tambak Asri Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam mengembangkan dan menjalankan perananya sebagai kader Posyandu, b). Sebagai kader Posyandu yang bertugas memberikan informasi-informasi kepada masyarakat diharapkan lebih meningkatkan sumber daya yang telah dimilikinya agar menjadi kader Posyandu yang berkualitas dan profesional. c). Untuk lebih meningkatkan pelayanan dan pelaksanaan kegiatan Posyandu, maka sangat diperlukan peranan secara aktif dari masyarakat dan kader untuk memperlancar kegiatan pelaksanaan kegiatan posyandu.

Pengembangan media pembelajaran audio/radio mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII Sekolah Menengah Pertama di SMPN 4 Probolinggo / Wulan Rahmahdani

 

Kata Kunci : Pengembangan media pembelajaran, Media Audio/Radio, Bahasa Indonesia Perubahan dan perkembangan di beberapa bidang dalam kehidupan selalu terjadi dari masa ke masa, terutama dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat perlu diimbangi dengan pembaharuan dibidang-bidang lain termasuk dalam bidang Pendidikan. Selain itu, Anderson, ( dalam Munadi 2008:65) mencoba menghubungkan program audio dengan tujuan pembelajaran kognitif, psikomotorik dan afektif. Untuk tujuan kognitif, audio dapat digunakan untuk mengajar pengenalan kembali atau pembedaan rangsang audio yang relevan, contohnya : 1) memperdengarkan suara-suara tanda bahaya tertentu atau alat-alat lain sehingga siswa dapat mengambil tindakan tertentu. 2) mengajarkan pengenalan kembali dialek dan istilah yang berhubungan dengan pekerjaan atau untuk memperdengarkan suara lapangan disertai suara latar belakangnya. 3) memberikan latihan pendengaran, untuk belajar mengingat dan mengucapkan kata-kata. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan produk media audio/radio pembelajaran khusus untuk pembelajaran Bahasa Indonesia pokok materi drama kelas VIII di SMPN 4 Probolinggo berupa CD pembelajaran. Metode pengembangan yang diambil oleh penulis adalah metode R&D, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat diuji keefektifannya serta dapat dipertanggungjawabkan. Hasil pengembangan diperoleh dari 3 ahli media, 2 ahli materi, uji coba kelompok kecil berjumlah 5 orang siswa, kelompok klasikal berjumlah 15 orang siswa, serta uji coba individu berjumlah 3 orang siswa. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan terhadap ahli media diperoleh rata-rata 75%, ahli materi rata-rata 73%, siswa/audiens perorangan74.4%, siswa/audiens kelompok kecil 70% yang dapat diinterpretasikan dalam kriteria valid, sedangkan siswa/audiens kelompok klasikal diperoleh rata-rata 83% dapat diinterpretasikan dalam kriteria sangat valid. Hasil belajar siswa individu mendapat peningkatan rata-rata 72.5%, kelompok kecil rata-rata 73.5% dan kelompok klasikal diperoleh rata-rata 70%. Untuk mendapatkan penelitian yang lebih akurat, disarankan untuk meneliti dan membandingkan beberapa media yang dikenal selama ini, sehingga guru dapat memilih media pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar selain itu, Waktu yang disediakan harus cukup, pemilihan karakter suara harus sesuai dan tepat, lebih menguasai program pembuatan media audio/radio, persiapan saat pembuatan dan penelitian harus maksimal serta saat pemutaran media harus fokus.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI Ipa 1 MAN 3 Malang / Diana Kusumaningrum

 

Kata kunci: TAI, motivasi, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2010 di kelas XI IPA 1 MAN 3 Malang diketahui motivasi siswa dalam pelajaran biologi masih kurang. Kurangnya motivasi ditunjukkan oleh kejadian sebagai berikut: 1) kurang aktifnya siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru, 2) sedikitnya siswa yang bertanya kepada guru apabila mengalami kesulitan dalam materi yang dipelajari, 3) ketidaktepatan mengumpulkan tugas serta 4) sifat menggantungkan pekerjaan kelompok kepada salah satu anggota kelompoknya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, yaitu dengan penerapan pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization). Melalui penerapan pembelajaran TAI diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 1 di MAN 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan, setiap siklus terdiri atas tiga pertemuan (6 jam pelajaran). Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI IPA 1 semester ganjil tahun ajaran 2010/2011 MAN 3 Malang yang berjumlah 33 siswa, terdiri 14 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa motivasi dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa wawancara guru beserta siswa dan catatan lapangan. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan dari skor angket motivasi belajar siswa sebelum tindakan dibandingkan dengan skor angket motivasi belajar setelah pemberian tindakan serta peningkatan persentase motivasi yang diketahui berdasarkan lembar observasi yang diisi oleh observer selama proses pembelajaran berlangsung, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan rata-rata skor tes akhir siklus secara klasikal serta ketuntasan belajar siswa pada masing- masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes, lembar observasi motivasi siswa, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif TAI: 1) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI MAN 3 Malang. Peningkatan motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan sebesar 24,55% untuk attention; 34,15% untuk relevance; 31,55% untuk confidence; dan 16,42% untuk satisfactio; sedangkan peningkatan motivasi berdasarkan angket sebesar 0,55 untuk attention; 0,69 unuk relevance; 0,6 untuk confidence dan 0,46 untuk satisfaction; 2) belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa XI IPA 1 MAN 3 Malang. Rata-rata hasil belajar siswa siklus I adalah 86,56 dan rata-rata hasil belajar secara siklus II adalah 80,54. Persentase ketuntasan siswa siklus I adalah 90,90 % sedangkan persentase ketuntasan siswa siklus II adalah 63,64%. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan:1) guru mata pelajaran biologi di MAN 3 Malang dapat menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, 2) hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kecermatan pengelolaan waktu, ketepatan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran serta variasi kegiatan pembelajaran dalam Team Assisted Individualization.

Penerapan model pembelajaran kolaboratif untuk meningkatkan kualitas hasil belajar IPA siswa kelas V SD Ma'arif Jogosari Pandaan PAsuruan / Diana Johartono

 

Kata Kunci: pembelajaran, kolaboratif, hasil belajar. Pembelajaran kolaboratif adalah suatu aktifitas pembelajaran dimana siswa terlibat dalam kerja tim untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dalam aktifitas pembelajaran tersebut terdapat elemen-elemen yang merupakan ciri pokok pembelajaran kolaborasi, meliputi: adanya saling ketergantungan yang positif, akuntabilitas individual, memajukan interaksi tatap muka, penggunaan ketrampilan kolaborasi yang sesuai dan adanya proses kelompok. Pembelajaran kolaboratif memiliki ciri-ciri yaitu struktur tujuan, tugas dan penghargaannya bersifat kolaboratif yang berbeda dengan pembelajaran yang bersifat individualistik dan kompetitif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang digunakan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa-peristiwa yang nampak dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan di SD Ma arif Jogosari Pandaan melalui dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Data yang diambil meliputi: (1)Penerapan pembelajaran kolaboratif, (2)Partisipasi siswa selama diskusi dan presentasi kelompok melaui observasi, (3)Kualitas hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pre tes dan post tes, (4)Angket mengenai respon siswa terhadap Mata pelajaran IPA setelah diterapkan model pembelajaran kolaboratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan diterapkannya pembelajaran kolaboratif pada Mata Pelajaran IPA di kelas V hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Adapun penerapan model pembelajaran kolaboratif dilakukan dilakukan melalui tahap-tahap: 1) Menentukan tujuan belajar 2) Membagi siswa ke dalam kelompok yang heterogen berdasarkan hasil pre tes dan jenis kelamin 3) Melakukan diskusi kelompok dan mencatat hasil diskusi tersebut 4) Laporan dikumpulkan kemudian dikoreksi dan dikomentari, selanjutnya dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Respon siswa terhadap pembelajaran kolaboratif sangat baik dimana siswa merasa senang belajar IPA karena berguna bagi kehidupan kelak. Siswa berusaha membeli buku-buku IPA sehingga bisa mempelajari terlebih dahulu di rumah. Siswa menayakan pada guru atau teman jika ada materi yang belum dimengerti dan siswa mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran. Siswa merasa senang belajar IPA menggunakan model kolaboratif dari pada ceramah karena siswa lebih bersemangat mempelajari materi. Hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran kolaboratif yang tuntas belajar pada siklus I sebesar 61,5% (24 siswa) dan sebesar 82,05(32 siswa) pada siklus II.

Penerapan model pembelajaran controversial issues untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas IVB di SDN Kasin kota MAlang / Novita Verdiantika

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Controversial Issues, motivasi belajar, hasil belajar, IPS Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS yang dilakukan peneliti di kelas IVB SDN Kasin Kota Malang, menunjukkan bahwa motivasi belajar dan hasil belajar siswa masih rendah sebesar 55,96% sehingga belum mencapai KKM yang ditentukan oleh SDN Kasin Kota Malang yaitu 76 pada mata pelajaran IPS. Rendahnya motivasi ditunjukkan pada kurangnya keaktifan siswa pada saat kegiatan pembelajaran. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran Controversial Issues dimana materi pelajaran berupa isu-isu kontroversial yang terkait dengan kehidupan lingkungan sekitar siswa akan lebih membantu siswa dalam memahami materi yang diberikan oleh guru. Sehingga siswa akan termotivasi dalam belajarnya dan akan meningkatkan hasil belajarnya pula. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, jenis penelitiannya kualitatif, sedangkan rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemmis dan M.CTaggart. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 taap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi tindakan, refleksi tindakan, dan perbaikan rencana. Subyek penelitian adalah siswa kelas IVB SDN Kasin Kota Malang sebanyak 47 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Controversial Issues pada pembelajaran IPS telah berhasil meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IVB SDN Kasin Kota Malang. Hal ini dilihat dari perolehan observasi tentang motivasi dan hasil belajar siswa yang terus meningkat. Hasil rata-rata motivasi siswa pada siklus I sebesar 59,37 % dan pada siklus II menjadi 81,7%. Sementara untuk hasil belajar siswa, ketuntasan pada siklus I sebesar 69,66% dan ketuntasan pada siklus II meningkat menjadi 81,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Controversial Issues dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IVB SDN Kasin Kota Malang pada mata pelajaran IPS. Selain itu disarankan dalam menerapkan model pembelajaran Controversial Issues, sebaiknya menyajikan isu-isu kontroversial yang mudah dipahami siswa, kemudian isu-isu yang berbeda dan menarik. Hal ini bertujuan agar siswa lebih berminat dan termotivasi untuk membahas isu-isu kontroversial tersebut. Selain itu sebaiknya menggunakan media dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi agar siswa dapat lebih mudah dalam memahami materi yang sedang dipelajarinya. Sumber belajar yang digunakan tidak hanya dari buku penunjang, tetapi bisa dengan menggunakan media elektronik maupun media cetak.

Penerapan CTL (Contextual Teaching and Learning) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada pembelajaran sains "Sifat-sifat cahaya" di SDN Pohsangit ngisor Kabupaten Probolinggo / Rilvan Uzwardani

 

Kata Kunci : Penerapan CTL, Aktivitas, Hasil Belajar. Pendidikan saat ini dalam peranan pemerintah mengupayakan agar pendidikan lebih memiliki makna yang berfungsi, dan lebih maju untuk perkembangan zaman, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya proses belajar mengajar pada pembelajaran sains di SDN Pohsangit Ngisor, peran siswa hanya terikat dengan apa yang guru inginkan dalam pembelajaran bukan dari pengetahuan siswa sendiri yang muncul. Sehingga hal itu akan mempengaruhi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Maka diperlukan konsep belajar mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu melalui pembelajaran kontekstual. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) melalui penerapan CTL diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran Sains. (2) melalui penerapan CTL diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dalam pelaksanaan pembelajaran Sains. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam penerapan CTL pada pembelajaran sains siswa kelas V dengan pokok bahasan sifat-sifat cahaya yang dilaksanakan pada 2 siklus. Dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan test. Dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011. Dalam pelaksanaan tindakan siklus I terdapat kekurangan yang peneliti temukan yaitu pada aspek appersepsi atau motivasi, pengelolaan kelas yang dilakukan guru belum maksimal, waktu yang kurang efisien, siswa kurang aktif dalam bertanya dan menjawab, pemodelan pembelajaran oleh guru yang kurang. Maka dilakukan perbaikan yaitu guru harus lebih kreatif, guru harus lebih memperhatikan lingkungan kelas yang kondusif dengan membimbing siswa agar siswa berani bertanya dan menjawab. Sehingga pada pelaksanaan tindakan siklus II proses belajar mengajar sudah lebih baik dengan didapatkan hasil belajar lebih baik pula. Berikut data penilaian aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Pohsangit Ngisor Kabupaten Probolinggo dalam pembelajaran sains pokok bahasan sifat-sifat cahaya (1) aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar berlangsung pada siklus I aktivitas belajar siswa dengan penilaian kriteria siswa yang sangat aktif 11,1 %, aktif 55,5%, cukup aktif 22,2%, kurang aktif 11,1; (2) penilaian sikap aktivitas siswa dalam diskusi kelompok menununjukkan nilai rata-rata baik 53,7%, cukup 40 %, kurang 6,2%; (3) mengalami peningkatan pada pelaksanaan siklus II menjadi siswa yang sangat aktif 22,2 %, aktif 66,6 %, cukup aktif 11,1%, kurang aktif tidak ada; (4) penilaian sikap aktivitas siswa dalam diskusi kelompok menunjukkan nilai rata-rata baik 72,5%, cukup 25,7 %, kurang 1,7%; (5) hasil belajar siswa selama proses belajar mengajar berlangsung menunjukkan peningkatan pada siklus I menunjukkan ketuntasan siswa 74,3%; (6) ketidaktuntasan 25,7%; (7) pelaksanaan siklus II menunjukkan 88,6%. Dengan ketidaktuntasan siswa 11,4%. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut : (1) dalam proses pembelajaran CTL diharapkan peran guru lebih kreatif dalam memotivasi siswa (2) proses pembelajaran yang baik diperlukan media pembelajaran yang menarik (3) perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan pembelajaran CTL sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pengembangan modul pembelajaran biologi semester 2 untuk siswa kelas XI IPA di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung / Rebkly Kurnia

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul Pembelajaran, Pembelajaran Individual, Pembelajaran tuntas, Biologi Pendidikan mempunyai peranan untuk mengembangkan sumber daya manusia terdidik dan profesional. Untuk menyikapi rendahnya kualitas pendidikan, Indonesia berupaya memperbaiki kualitas pendidikan. Upaya peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan guru, peningkatan kesejahteraan guru, dan perbaikan metode pembelajaran. Oleh karena itu guru dituntut untuk memberikan inovasi dalam proses pembelajaran. Inovasi dapat meliputi metode dan media yang digunakan. Dengan adanya inovasi yang dilakukan oleh guru diharapkan dapat merubah proses pembelajaran. Untuk itu perlu adanya perubahan dalam segi media yaitu dengan menggunakan modul. Pembelajaran dengan modul dapat melatih siswa untuk belajar mandiri sesuai dengan kecepatannya sendiri. Berdasarkan kegiatan observasi yang telah dilakukan di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung diketahui bahwa proses pembelajaran masih menggunakan metode konvensional. Dan hasil wawancara yang dilakukan di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung proses pembelajaran pada mata pelajaran Biologi masih menggunakan metode konvensional, diskusi, presentasi, dan praktikum. Dengan ini, pengembang mengembangkan modul pembelajaran Biologi. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media modul pembelajaran, yang telah melalui validasi pada mata pelajaran Biologi di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung. Modul merupakan suatu program pembelajaran yang dipelajari oleh siswa secara mandiri yang menjelaskan tentang tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, pokok materi, kegiatan belajar, lembar kerja dan evaluasi. Modul mempunyai karakteristik yaitu: (1) paket pembelajaran sendiri, (2) mempertimbangkan adanya perbedaan individual, (3) tujuan pembelajaran, (4) adanya kaitan, struktur dan urutan pengetahuan yang disajikan, (5) penggunaan multimedia, (6) peran aktif siswa, (7) reinforcement secara langsung, dan (8) kontrol terhadap cara evaluasi. Modul pembelajaran digunakan untuk pembelajaran individual karena berpusat pada siswa. Model pengembangan yang digunakan menggunakan model Sadiman yang meliputi: (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan pembelajaran, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat-alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media, (6) uji validasi, (7) revisi, dan (8) naskah siap diproduksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi ahli materi, ahli media, dan angket siswa. Selain itu juga dilakukan pre-test dan post-test pada siswa untuk mengetahui ketuntasan belajar dilihat dari skor post-test. Hasil pengembangan modul pembelajaran Biologi di SMA Katolik "Santo Thomas Aquino" Tulungagung didapatkan hasil penilaian berupa angket dari ahli materi dengan persentase 93,6% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, ahli media dengan persentase 95% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, uji coba perseorangan dengan persentase 83,9% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, uji coba kelompok kecil dengan persentase 79,4% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid, dan uji coba lapangan/kelas dengan persentase 81,8% yang berarti termasuk dalam klasifikasi valid. Sedangkan skor rata-rata hasil post-test yang dilakukan pada uji coba perseorangan untuk penggalan III sebesar 84 dan penggalan IV sebesar 74,7, uji coba kelompok kecil untuk penggalan III sebesar 90 dan penggalan IV sebesar 74,7, dan uji coba lapangan/kelas untuk penggalan III sebesar 84,7 dan penggalan IV sebesar 73,2. Berdasarkan data ini disimpulkan bahwa skor post-test mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Untuk skor post-test untuk penggalan III dan penggalan IV semua siswa mencapai SKM, sehingga disimpulkan bahwa media modul pembelajaran valid. Berdasarkan hasil pengembangan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran Biologi ini layak digunakan dalam proses pembelajaran efektif dan efisien. Berdasarkan hal tersebut dapat disarankan sebagai berikut: (1) modul pembelajaran Biologi dapat dijadikan media baru dalam proses pembelajaran, (2) dapat melatih siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, dan (3) modul pembelajaran Biologi dapat digunakan dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan juga eksperimen.

Penerapan SQ3R untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V di SDN Ketawanggede 2 MAlang / Fitri Setyorini

 

Kata kunci: Metode SQ3R, Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Bahasa Indonesia salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia salah satu penyebabnya karena kemampuan membaca mereka dalam memahami bacaan yang masih rendah. Bahasa Indonesia sering dianggap mudah padahal ppada kenyataannya kemampuan memahami bacaan masih kurang, terutama dalam menyelesaikan soal yang disertai dengan bacaan. Peneliti berpendapat bahwa dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Ketawanggede 2, (2) hasil kemampuan membaca pemahaman setelah menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) di kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK terdiri dari 2 siklus. Instrument yang digunakan adalah tes dan lembar observasi aktivitas siswa. Tehnik analisis yang dipakai rata-rata dan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang dengan menerapkan metode SQ3R memberikan dampak positif bagi siswa. Hal tersebut antara lain memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan. (2) Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang melalui penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) mengalami peningkatan yaitu dari peningkatan pada pratindakan hasil belajar siswa terdapat 4 siswa yang berkualifikasi sangat baik, 12 siswa mendapat kualifikasi baik, dan 10 siswa dengan kualifikasi cukup. Kemudian pada siklus I meningkat yaitu terdapat 7 siswa berkualifikasi sangat baik, 13 siswa mendapat kualifikasi baik, 6 siswa dengan kualifikasi cukup. Pada siklus II berdasarkan standar kualifikasi penilaian terdapat 14 siswa yaitu 53,8% siswa dengan kriteria sangat baik dan sisanya 12 siswa yaitu 46,2% siswa dengan kriteria baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini: (1) penerapan SQ3R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V yaitu memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan, (2) telah terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang yang ditunjukkan dari kualifikasi siklus I yaitu 7 siswa mendapatkan kriteria sangat baik, 13 siswa mendapatkan kriteria baik, 6 siswa mendapatkan kriteria cukup dan pada siklus II meningkat menjadi 53,8% siswa mendapatkan kriteria sangat baik dan 46,2% siswa mendapatkan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) Kepala Sekolah hendaknya memotivasi dan mengarahkan guru agar lebih terfokus dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa yang salah satunya dapat dilakukan dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review), (2) guru bahasa Indonesia agar dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dapat menggunakan pembelajaran dengan metode SQ3R(Survey, Question, Read, Recite, Review) untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, (3) peneliti yang lain untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan menggunakan metode SQ3R yang mencakup jenis-jenis membaca lain, karena penelitian ini masih terbatas pada membaca pemahaman.

Penerapan model inductive thinking untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang / Risma Lusi Santi

 

Kata kunci: Metode SQ3R, Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Bahasa Indonesia salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia salah satu penyebabnya karena kemampuan membaca mereka dalam memahami bacaan yang masih rendah. Bahasa Indonesia sering dianggap mudah padahal ppada kenyataannya kemampuan memahami bacaan masih kurang, terutama dalam menyelesaikan soal yang disertai dengan bacaan. Peneliti berpendapat bahwa dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Ketawanggede 2, (2) hasil kemampuan membaca pemahaman setelah menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) di kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK terdiri dari 2 siklus. Instrument yang digunakan adalah tes dan lembar observasi aktivitas siswa. Tehnik analisis yang dipakai rata-rata dan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang dengan menerapkan metode SQ3R memberikan dampak positif bagi siswa. Hal tersebut antara lain memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan. (2) Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang melalui penerapan SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) mengalami peningkatan yaitu dari peningkatan pada pratindakan hasil belajar siswa terdapat 4 siswa yang berkualifikasi sangat baik, 12 siswa mendapat kualifikasi baik, dan 10 siswa dengan kualifikasi cukup. Kemudian pada siklus I meningkat yaitu terdapat 7 siswa berkualifikasi sangat baik, 13 siswa mendapat kualifikasi baik, 6 siswa dengan kualifikasi cukup. Pada siklus II berdasarkan standar kualifikasi penilaian terdapat 14 siswa yaitu 53,8% siswa dengan kriteria sangat baik dan sisanya 12 siswa yaitu 46,2% siswa dengan kriteria baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini: (1) penerapan SQ3R dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V yaitu memudahkan pemahaman siswa membaca isi bacaan, perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia siswa bertambah, lebih terampil merangkai kata dalam kalimat, mampu mengerjakan evaluasi dengan benar, menjawab pertanyaan guru dan mampu menceritakan kembali isi bacaan, (2) telah terjadi peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang yang ditunjukkan dari kualifikasi siklus I yaitu 7 siswa mendapatkan kriteria sangat baik, 13 siswa mendapatkan kriteria baik, 6 siswa mendapatkan kriteria cukup dan pada siklus II meningkat menjadi 53,8% siswa mendapatkan kriteria sangat baik dan 46,2% siswa mendapatkan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) Kepala Sekolah hendaknya memotivasi dan mengarahkan guru agar lebih terfokus dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa yang salah satunya dapat dilakukan dengan menerapkan metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review), (2) guru bahasa Indonesia agar dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dapat menggunakan pembelajaran dengan metode SQ3R(Survey, Question, Read, Recite, Review) untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, (3) peneliti yang lain untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan menggunakan metode SQ3R yang mencakup jenis-jenis membaca lain, karena penelitian ini masih terbatas pada membaca pemahaman.

Penerapan model sinektik untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang / Suhartini

 

Kata Kunci: Model Sinektik, IPS SD, Aktivitas dan Hasil Belajar Berdasarkan observasi di kelas V diketahui bahwa terdapat permasalahan aktivitas dan hasil belajar IPS yang masih kurang optimal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model Sinektik pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, mendeskripsikan penerapan model Sinektik pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang dan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Penelitian ini menggunakan model Siklus PTK Kemmis dan MC. Taggart dengan 2 siklus, yang tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dimana tiap pertemuan lamanya 3x35 menit, dengan standar nilai kelulusan minimal 60. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan dan observasi (acting and observing), refleksi (reflecting), dan revisi (revise). Tehnik pengumpulan data penilaian ini adalah: Observasi, Tes, Wawancara, dan Dokumentasi. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan mulai akhir bulan Maret sampai pertengahan bulan April. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, yang berjumlah 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Model Sinektik pada pembelajaran IPS, rata-rata hasil belajar siswa siklus I dan siklus II meningkat dari 52,9 menjadi 75,89. Sedangkan rata-rata nilai aktivitas siswa siklus I dan siklus II meningkat dari 62,9 menjadi 78,85. Ketuntasan klasikal yang dicapai pada siklus I dan II juga mengalami peningkatan dari 23,1% menjadi 100%. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan guru pada pembelajaran IPS hendaknya menggunakan pembelajaran yang bervariasi yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar.Pada penerapan model Sinektik mengalami kendala yaitu pada awal penerapan siswa masih bingung dengan prosedur pembelajaran sinektik karena masih asing bagi siswa. Untuk mengatasi kendala tersebut, diharapkan guru memberikan penjelasan kepada siswa sebelum pembelajaran dimulai sampai siswa mengerti sehingga pembelajaran dapat berjalan optimal. Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Sinektik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial mengenai materi “Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan” melalui analogi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Penerapan model inductive thinking dengan menggunakan kliping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 kota Malang / Nirmala Puspita Sari

 

Kata kunci: Model Inductive Thinking, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran PKn kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pembelajaran PKn. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk mencari sumber sendiri yang berkaitan dengan materi pelajaran PKn. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 40,38, jauh dari ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan 69. Oleh karena itu peneliti menerapkan model inductive thinking dengan menggunakan kliping untuk mengatasi permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)penerapan model Inductive Thinking dengan menggunakan kliping dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn pada materi”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang. (2)penerapan model Inductive Thinking dengan menggunakan kliping dapat meningkatkan aktivitas belajar PKn pada materi”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang. (3)penerapan model Inductive Thinking dengan menggunakan kliping dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada materi”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif dengan pendekatan kualitatif, untuk memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa meningkat. Prosedur tindakan kelas (PTK) terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus menggunakan langkah-langkah: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) observasi dan; (4) refleksi. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes tulis, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyimpulkan dengan menerapkan model inductive thinking menggunakan kliping dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn materi pokok ”Kebebasan Berorganisasi” siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Aktivitas belajar siswa dilihat dari prosentase dari siklus I yaitu 85% meningkat menjadi 94,5% di siklus II. Hasil belajar siswa yang dapat di tunjukkan dari adanya peningkatan pada pratindakan nilai rata-rata 40,38 meningkat menjadi 57,48 di siklus I dan siklus II nilai rata-rata meningkat sebesar 82. Saran untuk kepala sekolah adalah agar dapat memotivasi guru untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Bagi guru agar menerapkan model inductive thinking dalam pembelajaran khususnya PKn. Untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kekurangan yang ada pada penelitian sebelumnya sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Peningkatan kemampuan menulis tegak bersambung melalui media lembar balik kelas II Mi Miftahul Ulum Kejayan Pasuruan / Tri Widiastuti

 

Kata kunci: Media lembar balik, menulis tegak bersambumg, Sekolah Dasar. Menulis merupakan ketrampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif arena penulis harus trampil menggunakan grafologi, struktur bahasa dan memiliki pengetahuan bahasa yang memadai. Permasalahan yang terjadi dikelas adalah siswa belum mampu menulis tegak bersambung yang baik dan benar, sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu peningkatan hasil belajar menulis tegak bersambung siswa kelas II MI Miftahul Ulum Kejayan yang mencakup, kelengkapan tulisan, kerapian tulisan, tebal tipisnya huruf, pemakaian huruf kapital. Penelitian menerapkan penggunaan media lembar balik dengan tujuan : (1) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas II MI Miftahul Ulum Kejayan Kabupaten Pasuruan (2) Untuk mendiskripsikan media lembar balik dapat peningkatan kemampuan menulis tegak bersambung dikelas II MI Miftahul Ulum Kejayan Kabupaten Pasuruan. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas II MI Miftahul Ulum Kejayan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah 10 siswa. Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus setiap siklus terdiri dari : (1) Penggunaan media lembar balik dalam pembelajaran menulis tegak bersambung, (2) Hasil belajar dalam pembelajaran menulis tegak bersambung, (3) Hasil analisis (4) Refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penggunaan media lembar balik mengalami peningkatan dari 43% pada pra tindakan menjadi 53,8%pada silkus I. Selanjutnya menjadi 83,6% pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah penbelajaran dengan menggunakan media lembar balik. Hal ini disimpulkan bahwa penggunaan media lembar balik telah berhasil meningkatkan kemampuan menulis tegak bersambung siswa. Dari hasil penelitian ini diharapan guru menerapkan pembelajaran dengan media lembar balik dalam mengajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis tegak bersambung. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan media lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran disekolah.

Penerapan permainan kooperatif untuk meningkatkan kmampuan sosial emosional anak TK Kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling / Sulistyowati

 

Kata Kunci: Permainan Kooperatif, Kemampuan sosial emosional Emosional, Anak TK Dari hasil observasi di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling, diketahui adanya permasalahan tentang rendahnya kemampuan sosial emosional anak TK Kelompok A yang meliputi: 1) kurangnya kemandirian anak, dari 35 anak yang ada 14 anak juga masih sering minta ditunggu di dalam kelas dan kalau ditinggal keluar masih menangis mencari ibunya atau pengasuhnya, 2) kurangnya rasa percaya diri dan keberanian anak, dari 35 anak hanya 10 anak yang berani ke depan untuk bercerita kepada teman-temannya, 3) belum mau berbagi dengan teman dan masih sering berebut mainan dengan teman 4) kurangnya antusiasme dalam mengikuti kegiatan dan permainan, ogah-ogahan dan kurang semangat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan sosial emosional anak TK Kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling, melalui penerapan permainan kooperatif yang dilaksanakan dengan cara membentuk kelompok kelompok kecil dalam kelas secara heterogen agar interaksi sosial anak lebih banyak. Penelitian dilakukan bersiklus dengan menggunakan model penelitian tindakan kelas dari Kemmis dan MC Taggart (1990). Setiap siklusnya dua kali pertemuan. Subyek penelitiannya adalah anak TK kelompok A yang berusia 4-5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Sengkaling Kecamatan Dau Kabupaten Malang sejumlah 35 anak. Dalam pengumpulan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan dalam melakukan analisa data temuan penelitian, peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif maupun deskriptif kualitatif. Hasil analisa data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: Pertama, pada skor awal kemampuan sosial emosional anak hanya 394 poin (70%), setelah dilakukan tindakan pada Siklus I meningkat sebesar 473 poin (84 %), dilanjutkan dengan siklus ke II, juga meningkat menjadi 516 poin (92,1 %). Hal ini membuktikan bahwa permainan yang dilakukan bersama teman yang lain membuat anak-anak merasa senang dan berani untuk melakukan kegi atan sendiri dan tidak tergantung kepada ibunya. Kedua, kemampuan sosial emosional anak dalam kemandirian dan bekerjasama dengan temannya menjadi lebih meningkat. Ketiga, menambah kepercayaan diri anak yang dibuktikan dengan komunikasi yang terjalin semakin baik, dan yang keempat, karena interaksi dengan temannya semakin banyak dan komunikasinya juga semakin baik membuat antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan dan permainan juga meningkat. Hal ini menunjukkan, bahwa penerapan metode permainan kooperatif efektif untuk meningkatkan kemampuan sosial emosional anak Kelompok A TK Dharma Wanita Sengkaling Dau Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan tersebut, disarankan guru melakukan pembelajaran dengan penerapan permainan kooperatif agar kemampuan sosial emosional anak lebih optimal khususnya pada indikator kemandirian, keberanian, kepercayaan diri dan kemauan berbagi dengan teman serta antusiasme terhadap kegiatan dan permainan yang dilakukan.

Penerapan permainan hitung langkah untuk mengembangkan kemampuan mengenal konsep ukuran pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang / Sri Ismi Muhawwin

 

Kata Kunci: Konsep Ukuran, Permainan Hitung Langkah. Latar belakang penelitian ini adalah kecenderungan yang tampak pada anak-anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang banyak mengalami kesulitan ketika belajar memahami konsep bilangan dan media pembelajaran yang diberikan kepada anak kurang,menarik perhatian anak dan ukuran media sangat kecil untuk digunakan secara klasikal, dan proses belajar mengajar yang selama ini dilakukan kurang menyenangkan dan membosankan bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan bagaimana penerapan Mendeskripsikan proses penerapan permainan hitung langkah yang dapat mengembangkan kemampuan mengenal konsep ukuran pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang, 2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif melalui penerapan permainan hitung langkah tentang konsep ukuran pada anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang, Penelitian ini dilakukan di TK Dharma Wanita Persatuan 02 Pakisaji Malang dengan subjek penelitian sebanyak 14 anak. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data observasi dan instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kognitif yaitu pemainan hitung langkah dapat meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran kemampuan kognitif yang ditlihat dengan terjadinya peningkatan : mengukur panjang dengan menggunakan langkah mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,6; mengukur panjang dengan menggunakan jengkal mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,5; mengukur panjang dengan menggunakan batang korek api mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,3; mengukur panjang dengan menggunakan meteran mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,8; dan mengukur panjang dengan menggunakan penggaris mencapai nilai rata-rata perkembangan 0,4. Sehingga nilai rata-rata kemampuan kognitif konsep ukuran secara keseluruhan mencapai peningkatan adalah 0,5. Penelitian ini dapat disimpulkan Dalam pelaksanaan kegiatan bermain permainan hitung langkah anak merasa sangat senang dan gembira. Dan ada beberapa saran-saran dari penulis untuk guru, sekolah TK, dan penelitian lanjutan. Saran untuk guru yaitu untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak konsep ukuran. Saran untuk sekolah TK yaitu upaya peningkatan mutu pembelajaran yang PAKEMI (Pembelajaran Aktif, Kreatif , Efektif, menyenangkan dan Inovatif). Dan penelitian lanjutan yaitu mencoba teliti lagi dalam aktivitas bermain permainan hitung langkah.

Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB pada matapelajaran sejarah kelas VII semester 2 SMP Negeri 1 Kertosono Kb. Nganjuk / Yanita Kartikasari Subiyanto

 

Kata kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Berbasis Web, Sejarah. Media pembelajaran berbasis Web adalah media pembelajaran yang disiapkan, dijalankan dan dimanfaatkan dengan media web. Pengembangan media pembelajaran Sejarah berbasis web adalah suatu media yang dibuat atau dikembangkan dengan menggunakan web pada mata pelajaran Sejarah dan dijalankan menggunakan jaringan Local Area Network (LAN). Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Kertosono diperoleh hasil bahwa SMP Negeri 1 Kertosono sekarang telah memenuhi Rint isan Sekolah Bertaraf International dan telah memiliki ruang kelas yang mernenuhi syarat penyelenggaraan proses belajar mengajar serta keterbiasaan siswa menggunakan internet. Namun pada pelajaran Sejarah metode pembelajaran masih secara tradisional yaitu menggunakan bahan ajar cetak sehingga terkadang timbul rasa bosan dan kurang memotivasi siswa dalam belajar Sejarah. Dengan ini pengembang mengembangkan Media Pembelajaran Berbasis Web Matapelajaran Sejarah Kelas VII Semester II SMP Negeri 1 Kertosono sebagai inovasi pembelajaran Sejarah di sekolah tersebut. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah dan mengetahui validitas media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah di SMP Negeri 1 Kertosono. Media pembelajaran berbasis web ini mempunyai kelebihan dan kelemahan yaitu, (1) dapat digunakan secara individu sehingga siswa lebih leluasa dalam memanfaatkan pengerjaannya, (2) tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengerjakan media ini, (3) web yang menjadi media pembelajaran ini bersifat dinamis dapat diubah dan dikelola sesuai kebutuhan dan dapat digunakan secara berulang, (4) dilengkapi materi-materi dan informasi tentang pelajaran materi Sejarah. Sedangkan kelemahan dari media ini adalah (1) media pembelajaran berbasis web ini dibutuhkan pembuatan ulang saat materi pada buku ajar Sejarah acuan SMP Negeri 1 Kertosono berubah, (2) hanya dapat digunakan pada sekolah yang mempunyai fasilitas internet, (3) kelemahan dalam mengakses web dikarenakan masih menggunakan hostingan free, (4) lemahnya animasi yang digunakan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi, pre test dan post test, pengembangan media pembelajaran berbasis web kepada ahli media, ahli desain, ahli isi, dan responden (siswa) kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah. Hasil pengembangan media pembelajaran berbasis web matapelajaran Sejarah pokok bahasan Masa Perkembangan Islam di Indonesia di SMP Negeri 1 Kertosono ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 85,22 % dengan tingkat keefektifitasan 82,14%, keefisiensian 82,14%, dan kemenarikan 78,57%; ahli desain mencapai tingkat kevalidan77,5 % dengan tingkat keefektifitasan 67%, keefisiensian 91,6%, dan kemenarikan 85%; ahli isi mencapai tingkat kevalidan 84,37% dengan tingkat keefektifitasan 85%, keefisiensian 80%, dan kemenarikan 85%; uji responden (siswa) perseorangan mencapai tingkat kevalidan 72,91%, uji responden kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 82,70%, dan uji responden lapangan mencapai tingkat kevalidan 80% dengan tingkat keefektifitasan 81,77%, keefisiensian 81,50% dan kemenarikan 76,60%. Disamping itu, nilai peningkatan hasil belajar siswa pada uji coba perseorangan mencapai 60%, uji coba kelompok kecil mencapai 59% dan uji coba lapangan mencapai 60%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Media Pembelajaran Berbasis Web Matapelajaran Sejarah Kelas VII Semester 2 SMP Negeri 1 Kertosono, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Korelasi antara kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar matapelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas VIII SMPN 3 Blitar / Dedy Ariyanto

 

Kata Kunci: Kondisi Lingkungan Keluarga, Teman Sebaya, Kondisi Lingkungan Sekitar, Kondisi Lingkungan Sosial, Hasil Belajar Kondisi lingkungan sosial yang baik akan dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh siswa. Dalam penelitian ini kondisi lingkungan sosial dibagi menjadi tiga indikator yaitu keadaan keluarga, teman sebaya, kondisi lingkungan sekitar siswa. Keadaan keluarga adalah keadaan keluarga dimana siswa tersebut tinggal serumah, teman sebaya adalah teman sepermainan siswa sehari-hari baik di rumah maupun disekolah, kondisi lingkungan sekitar siswa adalah kondisi-kondisi disekitar siswa yang mempengaruhi proses belajarnya. Kondisi lingkungan sosial yang baik akan dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh siswa. .Kondisi lingkungan sosial disini adalah kondisi lingkungan tempat tinggal siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui hubungan antara keadaan keluarga siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, (2) Mengetahui hubungan antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, (3) Mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan sekitar siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK, (4) Mengetahui kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar mata pelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar. Untuk mencapai tujuan penelitian, rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mendeskripsikan ada atau tidaknya korelasi antara kondisi lingkungan sosial siswa denngan hasil belajar mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Variabel bebas penelitian ini adalah kondisi lingkungan sosial (X) dan variabel terikatnya adalah hasil belajar (Y) . Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri 3 Blitar tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 60 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen kuesioner dan hasil ujian tengah semester (UTS) mata pelajaran TIK. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase dan korelasi Tata Jenjang dari Spearman yang dioperasikan dengan program SPSS 15,0 for windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) antara kondisi lingkungan keluarga dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, bernilai sebesar 0,305 dengan probabilitaas (Sig.) 0,018. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan keluarga dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak, dan H1 yang berbunyi "terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan keluarga dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima ; (2) antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, sebesar 0,422 dengan probabilitas (Sig.) 0,001. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak dan H1 yang berbunyi " terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi teman sebaya dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima; (3) antara kondisi lingkungan sekitar dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, bernilai sebesar 0,483 dengan probabilitas (Sig.) 0,000. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sekitar dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak dan H1 yang berbunyi terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sekitar dengan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima; (4) ) antara kondisi kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar siswa pada matapelajaran TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar, bernilai sebesar 0,414dengan probabilitaas (Sig.) 0,001. Berdasar nilai probabilitas (Sig.) < 0,05, maka H0 yang berbunyi "tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" ditolak, dan H1 yang berbunyi "terdapat korelasi yang signifikan antara kondisi lingkungan sosial siswa dengan hasil belajar dalam matapelajaran TIK siswa kelas VIII SMPN 3 Blitar" diterima. Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel yaitu kondisi keluarga, teman sebaya, kondisi lingkungan sekitar, dan kondisi lingkungan sosial siswa memiliki korelasi yang signifikan terhadap hasil belajar TIK kelas VIII SMPN 3 Blitar. Kondisi lingkungan sosial siswa merupakan keadaan dimana siswa tersebut hidup bermasyarakat, belajar, dan melakukan kontak sosial dengan sekitar. Keberhasilan studi siswa juga dipengaruhi keadaan sekitar, jika keadaan sekitar kondusif untuk belajar maka kemungkinan besar siswa akan berhasil, tapi jika tidak kondusif kemungkinan besar siswa akan gagal dalam belajar. Perkembangan teknologi yang begitu pesat perlu adanya kontrol dari masyarakat agar siswa bisa menggunakan teknologi tersebut secara positif. Berdasarkan temuan penelitian, ada beberapa saran yang akan disampaikan sebagai berikut: (1) untuk orang tua agar dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dirumah, (2) untuk siswa agar siswa-siswi dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya, (3) untuk masyarakat agar membantu untuk menyediakan suasana kondusif untuk belajar di lingkungan sekitar, (4) untuk sekolah harus menyadari bahwa siswanya berasal dari lingkungan yang berbeda-beda, sehingga harus bisa memberikan cara pengajaran yang mencakup untuk keseluruhan siswa, (5) untuk guru bisa memiliki metode pengajaran yang bisa membuat siswa mampu mengikuti pelajaran dengan sempurna, (6) untuk peneliti selanjutnya agar menggunakan instrumen yang lainnya selain kondisi keluarga, teman sebaya, dan kondisi lingkungan sekitar.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |