Korelasi antara fasilitas perkuliahan dan motivasi belajar dengan indeks prestasi mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan offering A angkatan 2008 semester gasal tahun akademik 2009/2010 Universitas Negeri Malang / Shoviyul Himami

 

Kata Kunci: Fasilitas Perkuliahan, Motivasi Belajar, Motivasi Intrinsik, Motivasi Ekstrinsik, Indeks Prestasi Pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Setiap mahasiswa tentu berharap untuk mecapai hasil yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah mereka lakukan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa dalam mencapai prestasi belajar yang diharapkan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Namun demikian, hal ini tidak hanya penting bagi mahasiswa, tetapi juga dosen yang mengatur dan mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, agar dapat terjadi proses belajar mengajar yang optimal. Untuk mencapai prestasi yang memuaskan, harus didukung dengan usaha yang maksimal. Misalnya, pengadaan fasilitas yang disediakan oleh pihak lembaga dalam hal ini adalah pihak Perguruan Tinggi sebagai salah satu penyelenggara pendidikan. Keberadaan fasilitas kampus dalam hal ini pihak Jurusan terkait memiliki arti yang sangat penting, karena dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar mahasiswa. Oleh karena itu, keberadaan fasilitas perkuliahan harus dimanfaatkan oleh mahasiswa secara maksimal. Fasilitas yang dimaksud diantaranya adalah laboratorium, perpustakaan, dan ruang media. Tersedianya fasilitas perkuliahan yang lengkap dan memadai harus didukung beberapa faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam pencapaian prestasi belajar yang tinggi yaitu motivasi belajar dari diri individu mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah ada korelasi antara fasilitas perkuliahan dan motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa jurusan teknologi pendidikan offering A angkatan 2008 semester gasal tahun akademik 2009/2010 Universitas Negeri Malang. Variabel penelitian adalah Fasilitas perkuliahan(X1), dan Motivasi belajar mahasiswa(X2). Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa (Y). Penelitian ini adalah Penelitian Korelasional. Subyek penelitian adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi pendidikan offering A Angkatan 2008 semester gasal Tahun Akademik 2009/2010 Universitas Negeri Malang yang berjumlah 40 orang (18 perempuan dan 22 laki - laki). Instrumen yang digunakan adalah angket atau kuisioner.Teknik analisis data dalam penelitian ini analisis korelasi rank order (spearman rho), diolah dengan bantuan komputer program SPSS for Windows Versi 15,00. Hasil pengujian hipotesis membuktikan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak. Hal ini menyatakan bahwa terjadi hubungan yang signifikan antara fasilitas perkuliahan (X1) dan Motivasi belajar mahasiswa (X2) dengan indeks prestasi (Y) dan hubungan antara keduanya positif. Artinya jika fasilitas perkuliahan (X1) dan Motivasi belajar mahasiswa (X2) mengalami peningkatan, akan terjadi kecenderungan peningkatan indeks prestasi (Y) dan demikian pula sebaliknya. Hasil ini memperlihatkan bahwa variabel fasilitas perkuliahan (X1) dan Motivasi belajar mahasiswa (X2) berhubungan secara signifikan dengan indeks prestasi (Y) pada level 5 %. Adanya korelasi positif yang signifikan berarti, semakin lengkap fasilitas perkuliahan dan semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa maka akan semakin tinggi pula Indeks Prestasi yang akan diperoleh. Penelitian ini hanya meneliti beberapa faktor yang berkaitan dengan fasilitas saja, belum menggali dan meneliti faktor-faktor lain yang berpengaruh. Oleh karena itu, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan cara pengembangan variabel yang lain dan lingkup yang lebih luas sehingga dapat mencapai keberhasilan proses perkuliahan yang optimal.

Pengembangan program belajar siswa berbasis kontekstual pada materi perbandingan untuk rintisan SMP bertaraf internasional / Dewi Noviyanti

 

Kata kunci: program belajar siswa, kontekstual, perbandingan, RSBI. Perkembangan dalam dunia pendidikan semakin pesat, ditandai dengan semakin banyaknya sekolah yang menamakan dirinya sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Proses belajar mengajar di rintisan sekolah bertaraf internasional tidak luput dari masalah yang dihadapi baik oleh siswa maupun oleh guru. Masalah yang dihadapi oleh siswa berupa kesulitan memahami materi, salah satunya bagi siswa kelas VII SMP adalah kesulitan memahami materi perbandingan, terutama perbandingan senilai dan berbalik nilai. Pada umumnya, bahan ajar yang digunakan kurang membantu siswa dalam menemukan pemahamannya sendiri. Selain diperlukan bahan ajar yang sesuai, juga diperlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai agar siswa dapat mencapai pemahamannya secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan suatu program belajar siswa yang efektif untuk membantu siswa dalam mencapai pemahaman secara optimal. Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah menghasilkan program belajar siswa berbasis kontekstual pada materi perbandingan untuk rintisan SMP bertaraf internasional. Istilah program belajar muncul dilandasi oleh pengertian Kurikulum Eksperiensial yang dikemukakan oleh Goodlad, Klein, & Tye, 1979, yang ditulis dalam buku yang berjudul Design Approaches and Tools in Education and Training oleh Jan van den Akker, yaitu kurikulum yang direfleksikan sebagaimana siswa mengalaminya. Pendekatan yang sesuai dengan gagasan kurikulum eksperiensial adalah kontekstual. Program belajar ini berupa langkah-langkah belajar siswa yang tertuang dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Model penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah model penelitian 4-D oleh Thiagarajan, yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Tetapi penelitian ini hanya sampai pada tahap Develop. Tahap Define dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan yang ada di lapangan untuk membantu pengembangan. Kemudian dilanjutkan dengan pendefinisian produk yang dikembangkan, yaitu program belajar siswa. Tahap Design dilakukan dengan merancang bentuk dasar dari produk yang akan dikembangkan. Sedangkan tahap Develop dilakukan dengan validasi dan uji coba produk untuk memperoleh produk yang valid, praktis, dan efektif. Hasil validasi dan uji coba di lapangan menunjukkan respon yang positif. Sehingga program belajar siswa yang dihasilkan dapat digunakan di Rintisan SMP Bertaraf Internasional dalam pembelajaran materi perbandingan di kelas VII. Hal ini dikarenakan uji coba yang dilakukan dalam pengembangan ini masih pada kelompok kecil, maka para calon guru dapat melanjutkan penelitian ini hingga tahap Disseminate dan uji coba di kelas sebenarnya.

Analisis jalur model ketidakpuasan bentuk tubuh pada remaja putri / Syilviantia Najma

 

Kata Kunci : Ketidakpuasan Bentuk Tubuh, Remaja, Citra Tubuh Ketidakpuasan bentuk tubuh (body dissatisfaction) merupakan evaluasi subjektif yang negatif pada bentuk tubuh ditunjukkan dengan adanya perasaan malu pada penampilan secara keseluruhan saat berada di lingkungan sosial serta adanya ketidaksesuaian antara gambaran tentang tubuh ideal dengan gambaran tubuh yang sebenarnya dan lebih banyak dialami oleh remaja putri. Status berat badan (weight status) adalah kondisi berat badan aktual yang ditentukan oleh indeks massa tubuh. Citra tubuh ideal adalah gambaran tentang karakteristik tubuh baik secara perseptual maupun subjektif yang diharapkan oleh seseorang untuk dimiliki. Sedangkan persepsi teman sebaya mengenai penampilan merupakan hasil pengolahan informasi yang memberi pengetahuan atau pandangan tersendiri dari teman sebaya mengenai gambaran tubuh ideal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara ketidakpuasan bentuk tubuh pada remaja putri dengan status berat badan, citra tubuh ideal dan persepsi teman sebaya mengenai penampilan dalam suatu model ketidakpuasan bentuk tubuh pada remaja putri. Rancangan penelitian yang digunakan disesuaikan dengan rancangan model teoritik. Populasi penelitian terdiri dari seluruh siswi kelas X dan XI di SMAN 1 dan SMAN 3 Malang dengan pengambilan sampel menggunakan cluster sampling. Sampel seluruhnya berjumlah 66 orang. Instrumen yang digunakan berupa alat ukur tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status berat badan, sedangkan variabel ketidakpuasan bentuk tubuh, citra tubuh ideal, dan persepsi teman sebaya mengenai penampilan. Skala persepsi teman sebaya diisi oleh lima orang teman dari subjek penelitian. Hasil analisis jalur terhadap pengaruh antar variabel menunjukkan bahwa pada remaja putri status berat badan, citra tubuh ideal, dan persepsi teman sebaya mempengaruhi ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh. Status berat badan mempengaruhi citra tubuh ideal dan kemudian membentuk ketidakpuasan bentuk tubuh. Selain itu, status berat badan mempengaruhi persepi teman sebaya dan kemudian membentuk ketidakpuasan bentuk tubuh. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi para remaja putri untuk tidak membuat standar penampilan menurut diri yang terlalu tinggi sehingga sulit untuk dicapai dan lebih menerima kondisi fisik aktualnya dengan memandang bahwa tubuh yang baik adalah tubuh yang sehat dan seimbang bukan hanya sekedar kurus dan ramping.

Problemtika pelestarian wayang kulit di kalangan generasi muda (studi kasus di Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri) / Mifdal Zusron Alfaqi

 

Kata Kunci: Problematika Pelestarian, Wayang Kulit, Generasi muda Melestarikan kebudayaan perlu dan mendesak di lakukan, sebab kebudayaan merupakan ciri dari suatu bangsa. Salah satu yang perlu di lestarikan adalah wayang kulit. Dalam melestarikan wayang kulit memiliki banyak sekali problematika yang terjadi khususnya di kalangan generasi muda. Maka dari itu penulis ingin mencari apa yang menjadikan problematika dalam melestarikan wayang kulit di kalangan generasi muda. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Sejarah wayang kulit, (2) Kronologis pertunjukan kesenian wayang kulit, (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian wayang kulit, (4) Pelestarian wayang kulit di Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri, (5) Problematika pelestarian wayang kulit di kalangan generasi muda. Untuk mengumpulkan data peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, informan terdiri dari pemerintah Kecamatan Ringinrejo, dalang wayang kulit, dan generasi muda lima desa yang ada di Kecamatan Ringinrejo yaitu, Desa Jemekan, Desa Susuh Bango, Desa Selodono, Desa Dawung, dan Desa Ringinrejo. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis data tema kultural (componential analysis). Untuk menjamin keabsahan data yang ditemukan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan data sebagai berikut: (1), Ketekunan pengamatan (2). Triangulasi. Hasil penelitian dapat di deskripsikan sebagai berikut: (1) Sejarah wayang kulit ada dua versi. Versi yang pertama yaitu wayang kulit merupakan sebuah kebudayaan dan kesenian yang berasal dari India. Versi ini tokoh-tokoh dalam wayang kulit adalah Ramayana dan Mahabarata. Versi yang ke dua adalah wayang kulit berasal dari Indonesia khususnya Jawa, wayang kulit dari jawa ini di ciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk di jadikan alat penyebaran agama Islam. tokoh-tokoh yang ada dalam wayang kulit di tambahkan tokoh "punokawan" Semar, Petruk, Gareng, Bagong serta Limbuk dan Cangek. (2) Kronologis pertunjukan kesenian wayang kulit melalui tiga tahapan: a. Pathet Nem (Jejer), b. Pathet Nyanga, c. Pathet Manyuro. (3) Nilai-nilai wayang kulit sangatlah kaya: a. Nilai gotong royong, b. Nilai kebersamaan dan kesatuan, c. Nilai budi pekerti, d. Nilai kesenian, e. Nilai pendidikan, f. Nilai politik, g. Nilai tanggung jawab, h. Nilai kemandirian. (4) Pemerintah dan para pelaku pelestarian (dalang) berusaha untuk melestarikan wayang kulit dengan sering di gelarnya pertunjukan wayang kulit terutama pada hari-hari besar. (5) Problematika pelestarian wayang kulit terkendala masalah mendasar: a. Generasi muda tidak faham dengan cerita yang di bawakan oleh dalang. b. Generasi muda tidak faham dengan bahasa yang di gunakan dalang. c. Generasi muda merasa jenuh atau bosan di karenakan wayang kulit yang kurang terpadu dengan kebudayaan modern. d. Waktu pertunjukan wayang kulit yang lama. e. Generasi muda beranggapan wayang kulit merupakan kebudayaan yang kuno. f. Generasi muda kurang mengenal dan mengerti tentang wayang kulit. g. Belum adanya perkumpulan dalang wayang di Kecamatan Ringinrejo dan sampai sekarang perkumpulan dalang langsung di bawah PEPADI, sehingga kurang terjalinnya hubungan antara pelaku pelestarian di Kecamatan Ringinrejo. Berdasarkan hasil penelitian disarankan sebagai berikut: a. Dalang lebih mendekatkan wayang kulit dengan generasi muda. b. Pemerintah Kecamatan Ringinrejo sebagai lembaga tertinggi harus mendorong dan memfasilitasi para pelaku pelestarian wayang kulit. c. Perkumpulan dalang perlu di adakan di Kecamatan Ringinrejo. d. Sering di adakannya pagelaran wayang. e. Bahasa pada wayang kulit di padukan dengan bahasa Indonesia, ada perpaduan kebudayaan lama dengan yang baru. Sehingga adanya sebuah pembaharuan wayang kulit tanpa mengurangi nilai-nilai lakon cerita wayang kulit.

Pengembangan multimedia interaktif pembelajaran fotografi untuk kelas XI Jurusan Multimedia di SMK Negeri 5 Malang / Abiyoga Patriawan

 

Kata Kunci : Pengembangan, Multimedia interaktif, Fotografi Multimedia Interaktif perpaduan antara dua medius atau lebih yang dirancang secara khusus agar tampilannya memenuhi fungsi menginformasikan pesan dan memiliki hubungan dua arah pada penggunanya. Pengembangan ini bertujuan merancang dan membuat produk sajian dalam bentuk Multimedia interaktif pembelajaran, sedangkan materi yang tertuang dalam Multimedia interaktif pembelajaran yang dikembangkan ini adalah materi tentang fotografi dasar pada matapelajaran Fotografi jurusan Multimedia SMK Negeri 5 Malang khususnya kelas XI. Pengembangan yang dilaksanakan di Jurusan Multimedia SMK Negeri 5 Malang pada siswa kelas XI. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens, serta pre-test dan post-test untuk subyek penelitian. Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis yang tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi, pre test dan post test, pengembangan Multimedia Interaktif kepada ahli media dan ahli materi, kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan Multimedia Interaktif pembelajaran Fotografi. Hasil pengembangan Multimedia Interaktif pembelajaran untuk mata pelajaran Fotografi di SMK Negeri 5 Malang Jurusan Multimedia ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 80%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 85%, dan uji responden (siswa) Uji satu lawan satu mencapai tingkat kevalidan 82,5%,uji kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 80,25%, uji lapangan mencapai tingkat kevalidan 83,3%. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif pembelajaran Fotografi untuk siswa kelas XI Semester I Jurusan Multimedia SMK Negeri 5 Malang, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya produk Multimedia interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media variasi pada penyampaian matapelajaran, dapat dijadikan media pembelajaran individual bagi siswa.

Eksperimen pilihan kelekatan terhadap ibu pengganti pada bayi kera / Dewi Ayu Risky Mustika

 

Kata kunci: attachment, eksperimen Harlow, kera Kebanyakan orang berpendapat, perasaan cinta anak kepada ibunya bersumber atau berlatar belakang refleks bayi untuk mempertahankan hidupnya memperoleh nutrisi. Banyak ibu menyalah-artikan apa dan bagaimana tingkah laku lekat/kedekatan anak dan ibu dapat terbentuk. Oleh karena itu, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran dan penjelasan agar para ibu atau orang tua mengetahui bahwa apa yang dialami seseorang ketika bayi akan mempengaruhi perkembangannya. Bayi menjadi manusia berkat kelembutan dan kasih sayang yang diterima dari pemeran keibuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan anak kera akan lebih memilih berada di dekat ibu pengganti rancangan kawat botol susu atau ibu pengganti kain hangat atau ibu pengganti kain dingin. Hipotesis penelitian ini adalah "Tidak ada perbedaan waktu dalam memilih berada didekat ibu pengganti kain hangat, ibu pengganti rancangan kawat botol susu dan atau ibu pengganti kain dingin." Variabel dalam penelitian ini adalah boneka kawat botol susu sebagai pengganti peran ibu yang memberikan ASI kepada bayinya. Bayi membutuhkan nutrisi, dan nutrisi tersebut didapat dari ASI; boneka kawat kain hangat sebagai pengganti peran ibu yang memberikan kehangatan. Bayi yang baru lahir membutuhkan kehangatan seperti dalam kandungan. Kehangatan yang diberikan bayi dapat berupa sentuhan maupun gendongan dari seorang ibu; dan boneka kawat kain dingin sebagai pengganti peran ibu yang memberikan kelembutan namun tidak memberikan kehangatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 45 menit diletakkan pada sangkar eksperimen, selama ± 10 menit kera berada pada botol susu, ± 30 menit menit kera berada pada kain hangat, dan ± 5 menit kera berada pada kain dingin. Pada menit-menit tersebut, tidak secara berurutan dan menetap monyet berada pada salah satu sisi tersebut, melainkan sambil berlari-larian dan berpindah-pindah. Dilihat dari hasil penelitian bahwa monyet bayi lebih banyak menghabiskan waktu dalam kain hangat, hal ini mungkin dapat juga diartikan bahwa bayi manusia pun memilih hal yang sama. Bayi memerlukan kualitas hubungan kehangatan fisiologis, kasih sayang, rasa aman, dan tempat bergantung yang baik dengan ibunya.

Efektivitas penggunaan konseling kelompok rational emotive behavior untuk menurunkan stres dalam belajar siswa kelas X SMAN 10 Malang Sampoerna Academy / Eka Widyaningsih

 

Kata Kunci: Stres dalam Belajar, Konseling Kelompok, REBT Kegiatan belajar dan pembelajaran di sekolah yang terlalu padat dapat menimbulkan stres dalam kadar tinggi pada siswa. Stres yang tinggi dapat menghambat perkembangan individu dalam belajar. Salah satu teknik yang diduga efektif untuk menurunkan stres dalam belajar siswa kelas X SMAN 10 Malang Sampoerna Academy adalah konseling kelompok Rational Emotive Behavior. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas konseling kelompok Rational Emotive Behavior untuk menurunkan stres dalam belajar siswa kelas X SMAN 10 Malang Sampoerna Academy. Rancangan penelitian yang digunakan adalah true eksperiment (eksperimen murni). Desain eksperimen dalam penelitian ini adalah pretes dan postes dengan menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 10 Malang Sampoerna Academy. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan sampel sebanyak 10 orang subjek yang terbagi atas 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen 5 subjek dan kelompok kontrol 5 subjek. Data dikumpulkan dengan menggunakan inventori pengukuran stres dalam belajar. Data selanjutnya dianalisis menggunakan two independent samples test Mann Whitney U untuk mengetahui perbedaan tingkat stres dalam belajar siswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan konseling kelompok Rational Emotive Behavior efektif untuk menurunkan stres dalam belajar siswa kelas X SMAN 10 Malang Sampoerna Academy. Konselor sekolah hendaknya menggunakan konseling kelompok Rational Emotive Behavior untuk menurunkan stres dalam belajar siswa. Peneliti selanjutnya hendaknya membandingkan konseling kelompok Rational Emotive Behavior dengan ancangan konseling yang lain untuk menurunkan stres dalam belajar siswa.

Identifikasi kesulitan belajar matematika siswa SMK Negeri 1 Kediri pada materi persamaan dan pertidaksamaan kuadrat / Ratna Widyastuti

 

Kata Kunci: Identifikasi, Kesulitan Belajar Matematika, Persamaan Kuadrat, Pertidaksamaan kuadrat. Hasil belajar antara siswa satu dengan yang lain tidaklah sama. Perbedaan hasil belajar ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: faktor internal yang bersifat psikologis dan faktor eksternal: proses belajar mengajar di sekolah, sosial dan situasional. Dari hasil wawancara dengan salah satu guru mata pelajaran matematika di SMK Negeri 1 Kediri diperoleh keterangan bahwa siswa SMK cenderung mengalami banyak kesulitan dalam belajar matematika antara lain pada materi persamaan dan pertidaksamaan kuadrat. Penelitian ini dilakukan untuk menngidentifikasi kesulitan- kesulitan yang dialami siswa pada materi persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat sehingga diharapkan guru pengajar matematika SMK sederajat dapat menentukan langkah antisipasi sedini mungkin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Kesulitan belajar yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah (1) kesulitan dalam memahami dan menggunakan konsep yang berkaitan dengan materi persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat, (2) kesulitan dalam menyelesaikan soal bentuk verbal yang berkaitan dengan aplikasi soal persamaan kuadrat, dan (3) kesulitan dalam melakukan operasi aritmetika terutama operasi pada bentuk pecahan dan tanda akar. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah identifikasi kesulitan perlu dilakukan sedini mungkin setelah materi tersebut diajarkan sampai dengan diperoleh sebuah kesimpulan sehingga dapat dijadikan pertimbangan bagi guru untuk mengantisipasi kesulitan pada bagian-bagian tertentu.

Perancangan jurnal harian Ramadhan bergambar untuk anak usia 7 - 10 tahun / Dyestari Dyan Utami

 

Kata kunci: jurnal harian, anak, usia 7-10 tahun. Sebagian besar orang tua mengalami kesulitan untuk mengajarkan puasa pada anak-anak. Karena itu diperlukan media yang bisa menemani aktivitas berpuasa anak. Dalam lingkup Desain Komunikasi Visual, solusi media yang ditawarkan adalah jurnal harian bergambar. Yang dimaksud dengan anak-anak adalah yang berada pada rentang usia 7-10 tahun. Rentang ini dipilih sebagai target audiens karena usia ini dianggap paling sesuai untuk mulai belajar berpuasa dan mendapat pendidikan lebih terperinci. Tujuan perancangan ini adalah memudahkan anak mendapatkan informasi mengenai ibadah puasa. Jurnal harian memiliki ukuran A5 (14,85 x 21 cm), tebal 140 halaman, dicetak full color di atas kertas HVS 100 gram dan dijilid hardcover. Perancangan dilakukan tanggal 1 Februari sampai 29 April 2011. Hasil dari perancangan menunjukkan bahwa jurnal harian bergambar dapat menjadi alternatif solusi untuk masalah kesulitan orang tua mengajarkan ibadah puasa pada anak. Jurnal harian bergambar nantinya dipasarkan dengan metode berbeda dari kompetitornya. Tidak adanya kompetitor identik, menjadikan poduk ini memiliki pasar sendiri yang berpotensi tinggi. Produk hasil perancangan direkomendasikan untuk direalisasikan secara komersial, sedangkan proses pendekatan ilmiah perancangan direkomendasikan sebagai bahan acuan maupun perbandingan bagi peneliti lainnya untuk membuat penelitian sejenis. Hal ini dikarenakan masih minimnya judul penelitian dan perancangan yang secara spesifik mengangkat tema jurnal.

Sebuah studi deskriptif terhadap proses berkarya dan hasil gambar anak di TKLB Sinar Harapan Probolinggo / Meinawati Nofitasari

 

Kata kunci : Gambar Anak, dan TKLB. Gambar anak-anak merupakan gambar visual yang mengungkapkan perasaan yang ada di dalam diri mereka (ekspresi). Anak-anak berkebutuhan khusus di TKLB Sinar Harapan Probolinggo juga melakukan kegiatan menggambar dimana proses berkarya dan hasil gambar mereka memiliki keunikan tersendiri. Oleh karena itu peneliti ingin mengungkapkan bagaimana proses berkarya dan hasil gambar anak dibagi dari segi proses, gaya gambar, teknik warna dan tema gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang proses berkarya dan hasil gambar anak-anak berkebutuhan khusus meliputi proses, gaya, teknik warna dan tema gambar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif emik. Proses pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan triangulasi data. Berdasarkan hasil penelitian pada anak TKLB Sinar Harapan Probolinggo diperoleh empat simpulan: Pertama, proses berkarya; (1) pada anak autis cenderung aktif dalam bergerak dan bermain, sehingga sulit untuk mendapatkan hasil gambar yang baik dan guru harus lebih sabar, (2) anak ADHD saat proses berkarya terlihat sangat antusias dan bersemangat, sehingga anak dapat menghasilkan beberapa karya dan disamping berkarya mereka bercerita, (3) anak tuna grahita saat proses berkarya mereka selalu ingin diperhatikan guru, didampingi guru, diberikan motivasi dan ada beberapa anak sebelum menggambar meminta foto terlebih dahulu, (4) sedang pada anak tuna rungu saat proses berkarya sangat antusias. Kedua, gaya gambar ditemukan; (1) anak autis hasil gambar masih masa mencoreng, (2) ADHD (Attention Deficit Disorder with Hyperactive) hasil gambar berbentuk corengan-corengan tegas dan berani, (3) tuna grahita hasil gambar corengan-corengan bebas, bentuk melingkar-lingkar yang berakhir dengan corengan-corengan dan ada juga bentuk-bentuk lingkaran, segitiga, persegi yang belum sempurna, (4) sedang anak tuna rungu ditemukan pada hasil gambarnya gaya stereotipe dan gaya romantic. Ketiga, teknik mewarna dan warna: (1) anak autis teknik mewarna dengan teknik blok, dalam proses pemakaian warna masih dibantu oleh guru, (2) anak ADHD (Attention Deficit Disorder with Hyperactive) diperoleh teknik mewarna dengan teknik bloking yang belum rapi, dan warna yang digunakan cenderung kearah alamiah, (3) anak tuna grahita diperoleh teknik pewarnaan dengan teknik blok belum rapi dan beberapa dari siswa masih dibantu dalam mewarnai gambar, (4) anak tuna rungu ditemukan teknik mewarna bloking yang baik dan warna yang digunakan cenderung kearah alamiah. Keempat, tema: (1) anak autis gambar non tematik, (2) anak ADHD (Attention Deficit Disorder with Hyperactive) ditemukan tema robot dilihat dari segi proses pembuatan gambar bukan dari segi hasil gambar, (3) anak tuna grahita gambar non tematik, (4) anak tuna rungu ditemukan tema gambar yang sama antara siswa satu dengan siswa yang lain yaitu "lingkungan rumah" dan "Pemandangan Alam". Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan 1) kepada sekolah perlu melengkapi komponen-komponen mengajar dalam pelajaran menggambar, dan 2) memperbaiki metode yang digunakan oleh guru dalam membimbing siswa dalam berkarya seni dengan melakukan peningkatan pemahaman tentang prinsip-prinsip berkarya seni yang benar.

Pengaruh pelatihan terhadap kinerja melalui motivasi kerja (studi pada karyawan sub bagian kolektor PT. Sasana Artha Finance Malang) / Septian Ari Dewanta

 

Kata kunci: Pelatihan, Motivasi Kerja, Kinerja Sumber daya manusia merupakan faktor produksi yang hidup, memiliki keinginan, rasio, emosi dan akal. Dengan demikian sudah sepantasnya perusahaan memperhatikan kualitas sumber daya manusianya agar kinerja yang dicapai tinggi. Kinerja karyawan dapat diartikan sebagai hasil kerja dari kemampuan karyawan dalam melaksanakan keseluruhan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Kinerja dipengaruhi oleh kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Kemampuan mencakup kemampuan potensi.Perusahaan dapat meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya dengan mengadakan pelatihan kerja. Pelatihan juga dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research), sehingga dengan demikian tujuan penelitian dan hipotesis yang diajukan akan dapat dicapai. Populasi yang diambil adalah karyawan sub bagian kolektor PT. Sasana Artha Finance Malang sebanyak 40 orang yang sekaligus menjadi objek penelitian. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitias dengan sampel uji coba sebanyak 30 responden. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, observasi/pengamatan dan wawancara. Data responden melalui kuesioner/angket tertutup diukur menggunakan skala Likert dengan skala lima. Sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis jalur untuk mengetahui pengaruh pelatihan terhadap kinerja melalui motivasi kerja karyawan sub bagian kolektor PT. Sasana Artha Finance Malang yang diolah menggunakan SPSS 16.0 For Windows. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pengaruh Pelatihan terhadap Kinerja mempunyai β = 0,302 dengan nilai signifikan t = 0,036 < signifikansi Alpha (α = 0,05), sehingga pelatihan mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja karyawan sub bagian kolektor PT. Sasana artha Finance Malang; (2) Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja mempunyai β = 0,497 dengan signifikan t = 0,001 < signifikansi Alpha (α= 0,05), sehingga motivasi kerja mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja karyawan sub bagian kolektor PT. Sasana artha Finance Malang; (3) Pengaruh Pelatihan terhadap Motivasi mempunyai β = 0,554 dengan nilai signifikan t = 0,000 < signifikansi Alpha (α = 0,05), sehingga pelatihan mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi kerja karyawan sub bagian kolektor PT. Sasana artha Finance Malang; (4) Pengaruh tidak langsung Pelatihan terhadap Kinerja melalui Motivasi sebesar 0,275. i Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan pada perusahaan untuk terus dapat mengontrol kinerja karyawan, terutama faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan tersebut sehingga kinerja karyawan akan tetap baik, diantaranya yaitu faktor motivasi. Oleh karena pelatihan dapat berpengaruh dalam peningkatan motivasi kerja karyawan, diharapkan manajemen benar-benar memperhatikan pelatihan karyawan. Latar belakang pendidikan karyawan yang berasal dari berbagai macam tingkatan dan bidang membuat skill karyawan berbeda-beda. Perkembangan zaman yang makin pesat dan berbagai macam karakter debitur membuat perusahaan harus benar-benar memperhatikan pelatihan karyawan. Dengan adanya pelatihan, maka kinerja karyawan akan menjadi lebih baik serta dapat meningkatkan motivasi kerja karyawan yang bisa dilakukan dengan melakukan pelatihan.

Penggunaan metode problem solving yang kontekstual untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada kajian pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup di kelas XI-IPS SMA Widyagama Malang / Tri Agustin

 

Kata kunci: problem solving, kemampuan memecahkan masalah Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas XI - IPS SMA Widyagama Malang pada tanggal 23 dan 30 Oktober 2010, diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru telah menggunakan beberapa metode pembelajaran, tetapi siswa masih kurang aktif. Dari kegiatan wawancara dengan siswa, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran geografi selama ini siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu untuk menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa. Salah satunya dengan penggunaan metode problem solving. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan selama 2 jam pelajaran. Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI-IPS semester genap tahun ajaran 2010-2011 SMA Widyagama Malang dengan jumlah 36 siswa, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa kemampuan memecahkan masalah siswa. Kemampuan memecahkan masalah siswa diukur berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI-IPS SMA Widyagama Malang pada siklus I dan pada siklus II. Aktivitas siswa yang menunjukkan indikator kemampuan memecahkan masalah semakin meningkat setelah dibentuk dua kelompok dengan topik yang sama, kelompok pertama sebagai penyaji dan kelompok kedua sebagai pembanding. Siswa dapat saling bertukar pendapat untuk pemilihan solusi yang tepat dalam diskusi kelas. Dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan metode problem solving yang kontekstual dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI-IPS khususnya pada kajian pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup di SMA Widyagama Malang. Disarankan pada guru geografi untuk menggunakan metode problem solving pada materi lain dengan memunculkan permasalahan kontekstual yang dapat diungkap dan didiskusikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

Studi tentang penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran seni rupa di MAN Kembangsawit Kabupaten Madiun / Averroes Imadudin

 

Kata Kunci: Media, pembelajaran, seni rupa, MAN, Madiun MAN Kembangsawit adalah madrasah unggulan di Kabupaten Madiun yang memiliki prestrasi di bidang seni, media pembelajarannya ada yang yang dirancang sendiri secara unik, yaitu menggunakan media wayang sekolah dari kertas, penggunaan media tersebut dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan dan sangat menarik perhatian siswa. Penggunaan media tersebut dapat memberi motivasi siswa untuk lebih nyata dalam berapresiasi dan berekspresi karya seni rupa secara langsung. Berdasarkan hal tersebut maka rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Apakah peranan media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran seni rupa di MAN Kembangsawit, (2) Bagaimana upaya guru dalam membuat dan pengadaan media pembelajaran, (3) Media pembelajaran apa saja yang digunakan, (4) Bagaimana penggunaan media pembelajaran tersebut di MAN Kembangsawit. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek yang diteliti meliputi guru mata pelajaran seni rupa, wali kelas X dan koordinator sarana dan prasarana. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan penyajian data, reduksi data dan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut (1) Media pembelajaran berperan untuk menarik perhatian siswa, siswa lebih antusias dan banyak bertanya, mengajak siswa untuk berkarya dan siswa lebih mudah berapresiasi dengan melihat karya langsung, (2) Untuk membuat media pembelajaran, guru berupaya merancang media pembelajaran sendiri berupa wayang sekolah, selain itu guru menugasi siswa untuk membuat media sendiri seperti topeng dan relief dari bubur kertas, (3) Jenis media pembelajaran yang digunakan terdiri dari media visual, media lingkungan dan media dialog seni, (4) Penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran seni rupa di MAN Kembangsawit digunakan oleh guru sendiri dan digunakan juga oleh siswa secara individu atau berkelompok. Media pembelajaran yang telah digunakan hendaknya dikembangkan lagi dengan mempertimbangkan aspek untuk meningkatkan sikap kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Dan lebih dikembangkan berdasarkan jenis media pembelajaran lainnya. Walaupun media memang sangat membantu dalam pembelajaran, akan tetapi guru tetap menjadi pembimbing utama, sehingga guru harus meningkatkan pengetahuannya, bukan hanya medianya saja. Penelitian selanjutnya disarankan diadakan penelitian yang sejenis dengan objek yang sama dengan konteks yang berbeda untuk melihat keajekan penelitian ini.

Hubungan strategi penyelesaian konflik dan komunikasi organisasi dengan produktivitas kerja guru Program Keahlian Informatika SMK se-kabupaten Lumajang / Yogy Ro'idah S.M.

 

Kata Kunci: hubungan, penyelesaian konflik, komunikasi organisasi, produktivitas Komunikasi dalam suatu organisasi sangat penting karena dengan komunikasi yang baik, organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil. Sebaliknya kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet dan tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehinga menyebabkan konflik. Sehubungan dengan itu, setiap organisasi harus mampu menangani dan mengelola, serta mengurangi konflik agar memberikan dampak positif, dan meningkatkan prestasi, karena konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan prestasi dan kinerja organisasi. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) kondisi strategi penyelesaian konflik, komunikasi organisasi, dan produktivitas guru program keahlian informatika SMK se-Kabupaten Lumajang, (2) hubungan antara strategi penyelesaian konflik dengan produktivitas guru program keahlian informatika SMK se-Kabupaten Lumajang, (3) hubungan antara komunikasi organisasi dengan produktivitas guru program keahlian informatika SMK se-Kabupaten Lumajang, dan (4) hubungan antara strategi penyelesaian konflik dan komunikasi organisasi dengan produktivitas guru program keahlian informatika SMK se-Kabupaten Lumajang Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dapat diketahui bahwa guru program keahlian informatika di SMK se-Kabupaten Lumajang menjawab strategi penyelesaian konflik dalam penggunaan yang baik yaitu sebanyak 20 responden atau sebesar 62,5%, 22 responden atau sebesar 68,8% menjawab bahwa komunikasi organisasi dalam keadaan baik. Sedangkan produktivitas kerja guru program keahlian informatika di SMK se-Kabupaten Lumajang sebanyak 16 responden (50%) menyatakan memiliki produktivitas kerja yang tinggi. Strategi penyelesaian konflik tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap produktivitas kerja guru program keahlian informatika di SMK se-Kabupaten Lumajang. Komunikasi organisasi mempunyai hubungan yang signifikan terhadap produktivitas kerja guru program keahlian informatika di SMK se-Kabupaten Lumajang. Strategi penyelesaian konflik dan komunikasi organisasi mempunyai hubungan yang signifikan secara simultan terhadap produktivitas kerja guru program keahlian informatika di SMK se-Kabupaten Lumajang dengan memberikan kontribusi sebesar 45,9% sedangkan 54,1% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share berbantuan blog terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran peripheral kelas X TKJ di SMK Negeri 6 Malang / Aldina Ramayumanti

 

Kata Kunci: Think Pair Share, Blog, Hasil Belajar Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Iklim pembelajaran yang dikembangkan oleh guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan kegairahan belajar siswa. Namun umumnya sampai saat ini kegiatan pembelajaran hanya dilaksanakan secara konvensional, pembelajaran masih didominasi oleh guru (teacher centered), dan meminimalkan keterlibatan siswa. Sehingga dalam penelitian ini, diterapkan sebuah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sebagai variasi pembelajaran sehingga tercipta suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Manfaat Blog ini digunakan untuk membantu siswa memperoleh materi pelajaran yang sedang dipelajari. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berbantuan Blog, dan pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berbantuan Blog terhadap hasil belajar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasy experimental design dengan pola pretest-posttest control group design. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sample, yaitu kelas X TKJ 2 sebagai kelas eksperimen (diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berbantuan Blog), dan kelas X TKJ 3 sebagai kelas kontrol (digunakan metode ceramah bermakna). Teknik analisa data yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kedua kelas yaitu dengan uji-t dua pihak serta menggunakan analisa regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Think Pair Share berbantuan Blog. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan pembelajaran model Think Pair Share berbantuan Blog dapat meningkatkan aktivitas siswa. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model Think Pair Share berbantuan Blog mengalami peningkatan pada setiap pertemuan, yaitu pertemuan pertama 48,5%, pertemuan kedua 72,72%, dan pertemuan ketiga 87,87%. (2) Adanya perbedaan hasil belajar pada kelas eksperimen dan kontrol. Hal ini dibuktikan nilai Sig. (0,000) < 0,05 pada uji-t dua pihak. Kesimpulan dari analisis uji-t menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar antara siswa kelas kontrol dan eksperimen. Dari hasil analisis regresi sederhana menghasilkan R2 (0,331), artinya sumbangan model pembelajaran terhadap hasil belajar sebesar 33,1%, dari persamaan regresi Y = 31,246 + 0,631X, dan diperoleh hasil yaitu Sig. (0,001) < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan penerapan model pembelajaran Think Pair Share berbantuan Blog terhadap hasil belajar pada mata pelajaran Peripheral.

Pengembangan modul pembelajaran IPA topik perubahan kenampakan benda-benda langit di SDN Percobaan 1 Malang kelas IV / Helda Kusuma Wardani

 

Kata kunci : IPA, modul pembelajaran, pengembangan Pebelajar seharusnya mendapatkan pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai potensi, tahap perkembangan, dan kondisi pebelajar. Dimensi keindividuan yang layak diperhatikan, dapat direalisasikan dengan penerapan pendekatan konstruktivistik kognitif. IPA menghendaki terbentuk sikap ilmiah, salah satu upaya adalah membaca. Modul pembelajaran melayani keindividuan dan aktivitas membaca. Untuk mendapatkan modul pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dirasa penting melaksanakan penelitian & pengembangan modul pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran IPA topik perubahan kenampakan benda-benda langit yang telah divalidasikan di SDN Percobaan 1 Malang Kelas IV semester 2. Validasi meliputi validasi isi pembelajaran, narasi isi pembelajaran, dan ilustrasi modul pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian & pengembangan. Data penelitian berupa hasil penilaian ahli matapelajaran, ahli bahasa, ahli media sesuai dengan keahlian masing-masing. Instrumen untuk mengumpulkan data berupa instrumen skala nilai dan angket juga digunakan untuk mengumpulkan data dari pembelajar dan pebelajar setelah pemanfaatannya. Teknik wawancara digunakan untuk menggali data dan informasi lebih lanjut tentang saran dan catatan kesalahan yang diberikan oleh konsultan ahli. Analisis data dilaksanakan dengan dua cara, yakni analisis skala nilai dikuantifikasi menjadi persentase dan analisis terhadap saran dan catatan kesalahan oleh para ahli. Hasil skor persentase digunakan untuk menetapkan validitas isi pembelajaran, narasi isi pembelajaran, dan ilustrasi isi pembelajaran. Kemudian dicari penyebab adanya persentase kurang dari 100% yang dijadikan dasar pelaksanaan revisi produk. Dari analisis persentase, semuanya valid atau sangat valid. Seharusnya sesuai kriteria validitas modul pembelajaran, produk tidak perlu direvisi. Modul pembelajaran tetap direvisi, disesuaikan dengan saran dan catatan kesalahan. Dari penelitian pengembangan modul pembelajaran ini diperoleh kesimpulan: (1) berdasarkan penilaian ahli mata pelajaran diperoleh Skor persentase Validitas Isi Pembelajaran (SVIP) sebesar 87,5% dengan kriteria sangat valid; (2) Skor persentase Validitas Narasi Isi Pembelajaran (SVNIP) dari ahli matapelajaran sebesar 79,01% dengan kriteria valid, dari penilaian ahli bahasa diperoleh SVNIP 90,83% dengan kriteria sangat valid, dan penilaian ahli media diperoleh SVNIP 82,81% dengan kriteria sangat valid, dari ketiga ahli rerata SVNIP sebesar 84,22% dengan kriteria sangat valid; dan (3) Skor persentase Validitas Ilustrasi Isi Pembelajaran (SVIIP) penilaian ahli matapelajaran 79,17% dengan kriteria valid dan diperoleh dari penialain ahli media SVIIP sebesar 87,5% dengan kriteria sangat valid, dari kedua ahli diperoleh SVIIP rerata sebesar 83,34% dengan kriteria sangat valid. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran IPA kelas IV SD sangat valid isi pembelajarannya, narasi isi pembelajaran maupun ilustrasi isi pembelajarannya. Namun demikian, para ahli memberikan catatan kesalahan sebagai berikut: (1) isi pembelajaran terjadi kesalahan penggunaan istilah gaya gravitasi disarankan diganti gaya tarik menarik, (2) narasi isi pembelajaran terjadi kesalahan penggunaan kata atau kalimat yang tidak baku; dan (3) ilustrasi isi pembelajaran kesalahan utamanya adalah penomoran dan penamaan gambar ilustrasi. Revisi produk terutama berdasarkan data dan catatan kesalahan. Uji coba lapangan menghasilkan data bahwa modul pembelajaran mempunyai validitas isi pembelajaran (SVIP) 87,5% dengan kriteria sangat valid. SVNIP sebesar 88,34% dengan kriteria sangat valid dan SVIIP sebesar 88,80% dengan kriteria sangat valid. Validitas modul pembelajaran berdasarkan uji coba lapangan secara keseluruhan sebesar 87,92% dengan kriteria sangat valid. Validitas modul pembelajaran dengan kriteria sangat valid ini berbanding lurus dengan perolehan tes akhir yang menunjukkan 93,33% dari banyaknya pebelajar atau 42 orang pebelajar mencapai KKM. Hasil akhir dari penelitian&pengembangan ini adalah prototype modul pembelajaran IPA kelas IV Sekolah Dasar.

Penerapan pembelajaran perkalian dan pembagian bilangan cacah dengan problem solving untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Insan Amanah Malang / Marta Adiprayitno

 

Kata kunci: Prestasi Belajar, Perkalian dan Pembagian bilangan cacah, Pembelajaran Problem Solving Berdasarkan hasil observasi peneliti pada bulan Juli-Agustus 2010, diketahui bahwa selama proses pembelajaran matematika di kelas III B SD Insan Amanah Malang, siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Mereka hanya mendengar dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru. Hal tersebut disebabkan sebagian besar guru di SD Insan Amanah Malang menerapkan metode pembelajaran konvensional dalam setiap proses belajar mengajar. Sampai saat ini mereka belum menemukan suatu metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang umum terjadi pada siswa dalam rangka upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran yang secara teoritis dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dialami siswa SD Insan Amanah Malang khususnya untuk materi perkalian dan pembagian bilangan cacah adalah menerapkan pembelajaran dengan problem solving. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan problem solving model Polya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar perkalian dan pembagian bilangan cacah pada siswa kelas III B SD Insan Amanah Malang tahun ajaran 2010/2011. Proses pelaksanaan pembelajaran diawali dengan memberikan masalah, memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana yang telah disusun , dan kemudian diakhiri dengan memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus belajar. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas III B SD Insan Amanah Malang tahun pelajaran 2010/2011. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus I presentase banyak siswa yang tuntas belajar pada materi perkalian adalah 56%, artinya pembelajaran belum berhasil karena belum mencapai taraf ketuntasan 75% dari jumlah siswa. Sedangkan pada siklus II, presentase banyak siswa yang tuntas belajar pada materi pembagian adalah 76%, artinya bahwa pembelajaran dengan problem solving model Polya pada siklus II terjadi peningkatan prestasi belajar matematika siswa karena telah mencapai taraf keberhasilan lebih dari 75%. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil observasi aktivitas guru dan siswa yang masuk dalam kategori “Sangat baik” pada siklus I maupun siklus II, serta hasil wawancara terhadap siswa yang menunjukkan bahwa secara umum siswa senang dan memberikan respons yang positif terhadap pembelajaran dengan problem solving model Polya.

Analisis lintasan (path analysis) untuk mengetahui kontribusi kompetensi guru profesional dan motivasi kerja terhadap kinerja guru (studi kasus pada MAN Kota Kediri 3) / Elok Fitriani Rafikasari

 

Kata Kunci: analisis lintasan (path analysis), kompetensi guru profesional, motivasi kerja, kinerja guru, MAN Kota Kediri 3 Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan modal dasar yang sekaligus juga menjadi kunci dan parameter keberhasilan pembangunan nasional yang menjadi ujung tombak kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif. Hal ini dapat menjadikan suatu negara menjadi negara yang maju dan berkembang pesat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada hakekatnya keberhasilan pelaksanaan pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja para pelaku pendidikan, yang dalam penelitian ini adalah guru selaku ujung tombak pengelola pendidikan dan pengajaran. Guru merupakan jabatan fungsional yang harus memiliki kompetensi profesional yang meliputi kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian serta motivasi kerja dalam menjalankan kewenangan keprofesiannya. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui kontribusi kompetensi guru profesional dan motivasi kerja terhadap kinerja guru MAN Kota Kediri 3. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis lintasan (path analysis). Dalam analisis ini terlebih dahulu dibuat model diagram jalur awal sebagai hipotesis yang selanjutnya diuji kesesuaian modelnya dengan menggunakan statistik uji chi-square dan diuji parameternya menggunakan uji t. Dari analisis ini diketahui bahwa secara individu, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja guru MAN Kota Kediri 3. Sedangkan kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan motivasi kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja guru MAN Kota Kediri 3 dengan persamaan struktural dan berkontribusi sebesar 45%.

Penyelenggaraan program akselerasi ditinjau dari substansi manajemen pendidikan (studi multi kasus di SMA Negeri 5 Malang dan MAN Malang 1) / Denok Dwi Anggraini

 

Kata kunci: manajemen pendidikan, program akselerasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 Ayat 4 yaitu "Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus", hal ini berarti pemerintah harus memberikan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi dan kecerdasan istimewa, agar potensi yang ada pada peserta didik dapat berkembang secara optimal dan pada gilirannya memberikan kesempatan kepada peserta didik dapat tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Dalam menyelenggarakan program akselerasi, sekolah penyelenggara harus dapat mengoptimalkan dan mengimplementasikan manajemen pendidikan yang meliputi manajemen kurikulum, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, keuangan, serta humas. SMA Negeri 5 Malang dan MAN Malang 1 telah menyelenggarakan program akselerasi dan sudah meluluskan satu angkatan. Oleh karena itu perlu mempertanyakan penyelenggaraan program akselerasi yang ditinjau dari substansi manajemen pendidikan kedua sekolah tersebut. Fokus penelitian bagaimanakah penyelenggaraan program akselerasi yang ditinjau dari (1) manajemen kurikulum; (2) manajemen peserta didik; (3) manajemen pendidik; (4) manajemen sarana dan prasarana; (5) manajemen keuangan; serta (6) manajemen humas. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan rancangan studi multikasus, dengan menggunakan metode komparatif konstan (constant comparative method )dikarenakan setiap temuan di lapangan secara konsisten ada perbedaan yaitu perbedaan terlihat dari kurikulum yang digunakan di masing-masing sekolah. Data yang diperoleh melalui: (1) observasi; (2) wawancara; dan (3) dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah (1) ketekunan pengamatan ; (2) triangulasi; dan (3) pengecekan anggota (member check). Kesimpulan penelitian ini, ditemukan bahwa bentuk kegiatan substansi manajemen pendidikan dalam penyelenggaraan program akselerasi di SMA Negeri 5 Malang dan MAN Malang 1 meliputi: (1) manajemen kurikulum yaitu penggunaan KTSP yang dimodifikasi oleh masing-masing sekolah dengan dikembangkan secara berdiferensiasi, dan tetap mengacu pada pemerintah pusat, hampir semua guru menggunakan bahasa bilingual dalam pembelajaran untuk mata pelajaran hard science, sedangkan MAN 1 hanya beberapa guru yang menggunakan bahasa bilingual, serta kedua sekolah menerapkan sistem pembelajaran di luar dan juga outbond; (2) manajemen peserta didik meliputi: penerimaan peserta didik dilakukan secara objektif, dan transparan, jumlah siswa masing-masing sekolah tidak sama, tergantung dari hasil tes penerimaan siswa baru yang dilaksanakan oleh masing-masing sekolah, dan kedua sekolah mempunyai standar penilaian tersendiri, standar KKM SMAN 5 yaitu 8,0, sedangkan standar KKM MAN 1 yaitu 7,5, jika nilai siswa belum memenuhi standar, maka akan dikembalikan ke program reguler; (3) manajemen pendidik meliputi: perekrutan guru program akselerasi berdasarkan kriteria tertentu, jumlah guru akselerasi di SMAN 5 sebanyak 30 orang guru dan 3 orang dilibatkan sebagai staf pengelola, guru yang mengajar di kelas X, XI, dan XII dibedakan, sedangkan jumlah guru akselerasi di MAN 1 sebanyak 25 orang guru dengan 5 orang sekaligus sebagai staf pengelola, guru yang mengajar di kelas X, XI, dan XII tidak dibedakan, tetapi jika prestasi rendah, maka akan dipindah mengajar di reguler, peningkatan mutu guru dengan cara pelatihan dan memberikan tambahan insentif, untuk SMAN 5 insentif diberikan secara langsung setiap bulan, serta evaluasi guru dilihat dari nilai siswa; (4) manajemen sarana dan prasarana, perencanaan sarpras dengan mengadakan rapat, dan penataan lingkungan belajar menyesuaikan kebutuhan guru dan materi, sarana program akselerasi lebih lengkap dari pada program reguler, sarana dan prasarana program akselerasi di SMAN 5 dan MAN 1 relatif sama, hanya di MAN 1 ada tambahan TV dan CCTV; (5) manajemen keuangan, sumber dana berasal dari pemerintah, komite, dan SPP. SPP lebih mahal daripada regular, di SMAN 5 besarnya SPP semmua siswa aksaelerasi sama yaitu Rp 400.000,00 setiap bulan, SPP sedangkan MAN 1 besarnya SPP setiap siswa akselerasi tidak sama antara Rp 0 - Rp 400.000,00 setiap bulan, tergantung dari kemampuan orang tua, serta masing-masing sekolah memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu dan siswa berprestasi; (6) manajemen humas, senantiasa melibatkan orang tua dalam rangka meningkatkan program dan mutu sekolah, dengan frekuensi pertemuan minimal 3 kali dalam satu tahun, SMAN 5 menjadi anggota asosiasi akselerasi nasional, sedangkan MAN 1 menjadi ketua asosiasi akselerasi madrasah se Jawa Timur dan anggota asosiasi akselerasi nasional, serta kedua sekolah menjalin kerjasama dengan UMM dalam bidang psikologi, UB bidang MIPA, dan UM pengembangan kemampuan guru. Saran yang dapat diberikan diantaranya: (1) bagi Kepala SMAN 5, hendaknya lebih memantapkan program yang dibuat, sedangkan bagi Kepala MAN 1 hendaknya lebih memperhatikan manajemen program akselerasi sehingga dapat menjadi sekolah yang berkualitas; (2) bagi Ketua Program Akselerasi SMAN 5, hendaknya senantiasa melakukan perbaikan dalam kegiatan pelaksanaan semua substansi manajemen pendidikan terutama dalam sarana prasarana, sedangkan bagi Ketua Program Akselerasi MAN 1, hendaknya senantiasa melakukan evaluasi kegiatan substansi manajemen pendidikan; (3) bagi guru dan staf pengelola, hendaknya melakukan perbaikan tugas sebagai pengajar dan staf pengelola; (4) bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan agar menambah kajian ilmu manajemen pendidikan khususnya program akselerasi; (5) bagi peneliti lain, hendaknya melakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui substansi manajemen program akselerasi yang akan datang, dengan memperdalam fokus penelitian dan kajian teorinya.

Perancangan video pelatihan emergency care at home dalam upaya meningkatkan kualitas pelatih Palang Merah Indonesia Kota Malang / Aditya Dwi Putra Bhakti

 

Kata kunci: emergencycare at home, video, pelatih PMI KotaMalang Emergency care at home (perawatan kedaruratan di rumah) adalah materi yang dimiliki oleh Palang Merah Indonesia yang berkaitan dengan masalah kesehatan yang ada di masyarakat, bagaimana melakukan suatu tindakan perawatan bagi anggota keluarga yang sakit (Sarana, 2009:2). Beberapa tahun belakangan ini materi ini kurang mendapatkan perhatian dari PMI, dalam hal ini PMI Kota Malang. Untuk itu saat ini dibutuhkan suatu media pelatihan tentang emergency care at home yang kreatif untuk mengembalikan perhatian terhadap materi ini. Media kreatif yang akan dirancang tersebut berbentuk video, mengingat pada dasarnya media video mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media teks. Proses perancangan video ini dimulai dari proses pra produksi (sinopsis; treatment; narasi; storyboard; perencanaan; persiapan), produksi (pengambilan gambar), dan pasca produksi (editing; rendering). Model perancangan yang digunakan dalam perancangan ini adalah model perancangan prosedural, sehingga dalam menyusunnya arah berfikir menjadi jelas. Model perancangan prosedural ini digunakan karena dirasa sesuai dengan karakteristik produk yang dihasilkan. Adanya media kreatif berupa Video Pelatihan Emergency Care at Home yang dimiliki oleh PMI Kota Malang dapat digunakan sebagai media pelatihan bagi pelatih emergency care at home PMI Kota Malang, sehingga dapat menambah ketrampilan pelatih-pelatih emergency care at home PMI Kota Malang.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dan TPS (Think Pair Share) untuk meningkatkan prestasi belajar perangkat lunak pembuat grafis siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang / Rahmania Sri Untari

 

Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization), pembelajaran TPS (Think Pair Share), dan prestasi belajar Berdasarkan observasi lapangan yang dilaksanakan peneliti selama melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 2 Malang pada bulan Agustus 2010, diketahui bahwa SMA Negeri 2 Malang telah menerapkan sistem sks (sistem kredit semester). Di SMA Negeri 2 Malang khususnya pada mata pelajaran TIK yaitu bahasan perangkat lunak pembuat grafis masih diterapkan metode konvensional sehingga hasil yang diperoleh kurang maksimal. Peneliti melihat bahwa kondisi pada proses pembelajaran berlangsung dengan baik, tetapi persentase ketuntasan belajar siswa kelas X-B1 masih 63,1%. Kebanyakan siswa masih merasa takut jika bertanya kepada gurunya, sehingga dibutuhkan teman atau tutor yang mampu memberikan bimbingan untuk menyelesaikan masalah jika ada yang mengalami kesulitan dan membantu selama proses pembelajaran berlangsung. Peneliti mengidentifikasi adanya beberapa masalah yaitu: 1) aktivitas belajar baik secara individual maupun kelompok rendah; dan 2) keterlibatan berfikir secara individual maupun kelompok rendah. TAI merupakan salah satu metode yang pernah diterapkan di SMA Negeri 2 Malang pada saat peneliti melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan hasilnya adalah siswa cukup tertarik dan siswa terlihat lebih aktif selama proses pembelajaran. Namun penggunaan metode ini masih kurang memaksimalkan pemahaman setiap siswa. Oleh karena itu peneliti mengkombinasikan metode TAI dan TPS. Dalam TPS setiap kelompok yang berpasangan diharuskan untuk dapat memberdayakan kemampuan berpikirnya ketika pasangan itu berdiskusi dan antar pasangan saling bertukar informasi lebih dalam. Sehingga jika TAI dan TPS dikombinasikan maka akan menjadi sebuah metode yang bagus dalam pembentukan kelompok untuk menyelesaikan permasalahan atau latihan yang diberikan. Implementasi metode pembelajaran TAI dan TPS terdiri dari sembilan tahap yaitu: teaching group, think, pair (team TPS), share, team TAI, team study, whole class units, post test, dan team scores and team recognition. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dan TPS (Think Pair Share) dalam meningkatkan prestasi belajar perangkat lunak pembuat grafis siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dirancang dalam dua siklus. Masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu: perancangan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-B1 SMA Negeri 2 Malang yang berjumlah 19 siswa. Teknik pengumpulan data aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung melalui 1) lembar keterlaksanaan aktivitas guru, 2) lembar pedoman aktivitas guru, 3) lembar pedoman aktivitas siswa, 4) prestasi belajar, 5) angket respon siswa, 6) wawancara, dan 7) post test. Data tersebut dianalisis dengan perhitungan rata-rata dan persentase yang kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penerapan pembelajaran kooperatif TAI dan TPS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Diukur dengan skor rata-rata yaitu skor awal rata-rata sebelum perlakuan sebesar 75,7, skor rata-rata siklus I sebesar 80, dan skor rata-rata siklus II 83,1. Diukur dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal SKM sebelum perlakuan sebesar 36,8%, pada siklus I sebesar 78,9%, dan siklus II sebesar 94,7%. Pembelajaran kooperatif TAI dan TPS dapat diterapkan pada pokok bahasan perangkat lunak pembuat grafis dengan melakukan teams teaching agar waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.

Etos kerja rumah tangga miskin dalam mempertahankan kehidupan sosial-ekonomi di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Ririn Wahyuningsih

 

Kata Kunci: kehidupan sosial-ekonomi, etos kerja, upaya mempertahankan hidup Berdasarkan hasil observasi dokumen di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang data kemiskinan dari tahun 2006-2010 jumlah rumah tangga miskin di Desa Sukoanyar lebih banyak dibandingkan dengan jumlah rumah tangga miskin di 14 desa lainnya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti di Desa Sukoanyar, rumah tangga miskin di Desa Sukoanyar umumnya bermata pencaharian sebagai buruh harian lepas, buruh tani, kuli bangunan, pembantu rumah tangga, dan pedagang kaki lima. Selain dari pekerjaan utama tesebut umtuk menambah penghasilan mereka mencari pekerjaan sampingan agar kebutuhan hidup terpenuhi. Dari permasalahan tersebut maka peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul "Etos Kerja Rumah Tangga Miskin Dalam Mempertahankan Kehidupan Sosial- Ekonomi Di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang". Rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimana keadaan sosial-ekonomi masyarakat Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, (2) Bagaimana gambaran rumah tangga miskin di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, (3) Apa saja faktor penyebab terjadinya kemiskinan di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, (4) Bagaimana upaya kelompok masyarakat miskin untuk mempertahankan hidup di Desa Sukoanyar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, (5) Apa saja kendala yang dihadapi kelompok masyarakat miskin dalam mempertahankan hidup di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, (6) Bagaimana upaya kelompok masyarakat miskin mengatasi kendala yang dihadapi dalam mempertahankan hidup di Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif-deskriptif. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian ini adalah rumah tangga miskin di Desa Sukoanyar, kecamatan Pakis kabupaten Malang. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keadaan sosial-ekonomi masyarakat Desa Sukoanyar dapat ditunjukkan dengan kegiatan yang ada yaitu: kelompok tani, arisan, dan simpan pinjam. Kriteria yang menentukan rumah tangga miskin golongan prasejahtera, keluarga sejahtera 1, dan keluarga sejahtera 2 adalah keadaan rumah, pendapatan, pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Faktor yang mempengaruhi kemiskinan adalah tingkat pendidikan, tidak seimbangnya antara pemasukan dengan pengeluaran, dan yang terakhir modal. Upaya kelompok masyarakat miskin dalam mempertahankan hidup adalah bekerja dengan rajin, ulet dan penuh tanggung jawab. Kendala yang dihadapi rumah tangga miskin dalam mempertahankan hidup adalah cuaca yang tidak menentu terutama saat hujan kesulitan bagi pekerja yang berada di luar ruangan, dan tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga tidak memiliki penghasilan tetap. Dan untuk mengatasi kendala tersebut kelompok masyarakat miskin berusaha mencoba alternatif lain untuk mendapatkan penghasilan, memanfaatkan pekerjaan sampingan, hidup hemat dan yang terakhir berhutang. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu: (1) pemerintah desa, dapat dijadikan ukuran dalam melaksanakan program pemberantasan kemiskinan; (2) kelompok masyarakat miskin, hendaknya mempertahankan etos kerja yang dimiliki dan tidak kenal putus asa untuk mempertahankan hidup; (3) peneliti selanjutnya, melengkapi penelitian dengan membandingkan cara bekerja antara rumah tangga miskin satu dengan yang lainnya.

Aspek pendidikan dalam dinamika sosial budaya masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang / Ryan Singgih Prabowo

 

Kata kunci: pendidikan, dinamika sosial budaya, masyarakat Tengger. Proses dinamika sosial budaya di Indonesia khususnya di pedesaan, telah menyebabkan perubahan wujud-wujud kebudayaan tradisional. Peneliti memilih aspek pendidikan dalam dinamika sosial budaya masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani karena ada yang berubah dari sebelumnya sebagai pengaruh dari modernisasi dalam segala aspek kehidupan terutama modernisasi dibidang pendidikan. Akan tetapi dinamika sosial budaya pada masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani saat ini cenderung mengarah ke perilaku yang negatif. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kurang maksimalnya peran pendidikan formal dalam menjaga dan melestarikan adat dan budaya Tengger. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kondisi pendidikan tradisional masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani sebelum masuknya pendidikan formal tahun 1982? (2) Bagaimana dinamika sosial budaya masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani setelah masuknya pendidikan formal? (3) Bagaimana model konstruksi pendidikan yang relevan dengan dinamika sosial budaya masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tentang dinamika sosial budaya masyarakat Tengger dengan rincian: (1) kondisi pendidikan tradisional masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani sebelum masuknya pendidikan formal tahun 1982; (2) Paparan tentang dinamika sosial budaya masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani setelah masuknya pendidikan formal; serta (3) Paparan model konstruksi pendidikan yang relevan dengan dinamika sosial budaya masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui tahap observasi partisipatoris dengan peneliti sebagai instrumen utama, wawancara mendalam dengan berbagai informan, dan dokumentasi berupa foto. Instrumen lain berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, tape recorder, kamera, dan buku catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif yang di dalamnya mencakup tiga hal, yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika sosial budaya pada masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani disebabkan oleh pembangunan dan modernisasi yang dilakukan pemerintah. Akibat dari kurang berhasilnya modernisasi dalam bidang pendidikan menyebabkan warga Ranu Pani tidak siap menghadapi arus modernisasi di era globalisasi ini. Kondisi tersebut membuat masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani seolah tercerabut dari akar budayanya.

Implementasi model LRD (Listen-Read-Discuss) untuk meningkatkan keterampilan berbicara dalam pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Sumbersari 2 Malang / Yusni Dian Rakhmawati

 

Kata Kunci: Model Listen-Read-Discuss, Keterampilan Berbicara, Sekolah Dasar Untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa, guru sebaiknya menggunakan model pembelajaran yang relevan dengan kompetensi yang dicapai. Untuk keterampilan berbicara peneliti mengimplementasikan model Listen-Read-Discuss, karena LRD menjembatani siswa dan guru untuk lebih interaktif, siswa melakukan 3 tahap yaitu menyimak, membaca, dan membahas. Dari 3 tahap tersebut siswa akan lebih memahami teks dan mempermudah mereka untuk menyampaikan teks yang diterima. Permasalahan yang terungkap selama melakukan penelitian: (1) Siswa kesulitan dalam berbicara yaitu dalam lafal/ucapan saat berbicara, (2) Siswa kurang dalam intonasi dan modulasi saat berbicara (3) Siswa belum banyak dalam menggunakan kosa kata dan pemilihan kalimat (4) Siswa kurang dalam hal penampilan atau ekspresi saat berbicara, dan (5) Kesesuaian dengan teks juga masih kurang saat berbicara. Penelitian ini merupakan penelitian berbasis kelas. Dengan demikian peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi 2 siklus. Tiap siklusnya terdiri dari atas empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Data penelitian diambil melalui tes dan non tes. Alat pengambilan data tes yang digunakan berupa instrument tes perbuatan yang berisi aspek-aspek criteria penilaian keterampilan berbicara. alat pengambilan non tes yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi (foto). Selanjutnya, data dianalisis secara kalitatif dan kuantitatif. Kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian ini berdasarkan langkah-langkah: (1) menyimak, (2) membaca, (3) Membahas, dan (4) berbicara. Berdasarkan hasil penelitian bahwa hasil proses belajar pada pembelajaran berbicara melalui model LRD mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan sebelumnya. Nilai keterampilan berbicara pra tindakan rata-rata kelas 65, pada siklus I rata-rata kelas 70, pada siklus 2 rata-rata kelas 78. Dengan demikian keterampilan berbicara melalui model Listen-Read-Discuss dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas IV SDN Sumbersari 2 Malang

Peningkatan kemampuan membaca isi dongeng melalui pembelajaran tematik siswa kelas III di SDN Tepas 02 Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar / Rudi Nurdianto

 

Kata kunci : kemampuan membaca, siswa, pembelajaran tematik, isi dongeng. Hasil pengamatan di SDN Tepas 02 tentang pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam aspek membaca masih belum mendapat perhatian dan belum maksimal, siswa terlihat belum aktif dalam pembelajaran dan hanya mengerjakan soal-soal saja. Apabila ada siswa disuruh ke depan untuk membaca, meskipun dengan tema yang ada kaitannya dengan pengalaman siswa, sebagian besar siswa belum lancar membaca dan cenderung malu apabila di depan kelas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan pembelajaran tematik. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) untuk menerapkan pembelajaran tematik terhadap kemampuan membaca isi dongeng pada siswa kelas III SDN Tepas 02, dan 2) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan kemampuan membaca isi dongeng pada siswa kelas III SDN Tepas 02 Pendekatan yang digunakan penelitian ini adalah pendekatan diskriptif kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Pelaksanaan penelitian dilakukan 2 siklus, tiap siklus ada 2 kali pertemuan. Tahapan tiap siklus meliputi: 1) pe-rencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : 1) observasi, 2) wawancara, 3) tes, dan 4) dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa membaca isi dongeng melalui pembelajaran tematik dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa menunjukkan ketuntasan klasikal terbukti pada pratindakan 37%, siklus I 58%, dan pada siklus II 84%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran tematik dapat meningkatkan kemampuan membaca isi dongeng siswa kelas III SDN Tepas 02 kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Guru seharusnya menggunakan berbagai macam metode, media pembelajaran serta memahami kemampuan dan karakteristik siswanya, karena setiap siswa memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda dengan lainnya, sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai.

Pengembangan inventori keterampilan komunikasi interpersonal berbasis WEB bagi siswa SMA / Dian Prima Norberta

 

Kata kunci: web, keterampilan komunikasi interpersonal, inventori Keterampilan komunikasi interpersonal adalah keterampilan untuk berinteraksi, saling menukar informasi yang memungkinkan setiap peserta dapat menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non verbal sehingga dapat terjadi saling pengertian dan empati satu dengan lainnya. Inventori merupakan alat pengumpul data yang berisi sejumlah pernyataan yang harus dipilih dan diisi oleh individu sesuai dengan keadaan dirinya (Oppenheim, 1966). Inventori keterampilan komunikasi interpersonal adalah suatu instrumen yang terdiri atas beberapa pernyataan mengenai keterampilan komunikasi interpersonal yang harus dipilih sesuai dengan keadaan diri siswa. Inventori ini disusun untuk siswa SMA, karena siswa SMA berada pada masa remaja antara 16 -18 tahun. Pada masa remaja seseorang harus bisa menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Penyesuaian diri remaja sering kali membuat remaja kurang bisa asertif dan susah memulai pembicaraan, karena merasa takut ditolak kelompoknya. Untuk itu diperlukan keterampilan komunikasi interpersonal agar siswa asertif dan dapat memulai pembicaraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan inventori keterampilan komunikasi interpersonal berbasis web bagi siswa SMA yang berterima baik (memenuhi aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kepraktisan). Prosedur yang digunakan dalam mengembangkan inventori keterampilan komunikasi interpersonal berbasis web bagi siswa SMA merujuk pada model pengembangan yang diadaptasi dari Borg dan Gall (2003) yang terdiri atas tahap perencanaan, tahap pengembangan produk dan tahap uji coba. Subjek uji coba adalah ahli BK, ahli media, konselor, dan siswa. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dengan analisis persentase dan data kualitatif dengan analisis deskriptif. Hasil uji coba diperoleh dari hasil analisis reliabilitas, dan konsistensi internal yaitu dari 35 item pernyataan terdapat lima (5) item yang tidak valid, selanjutnya pernyataan tersebut direvisi agar pernyataan inventori keterampilan komunikasi interpersonal berbasis web bagi siswa SMA lebih komprehensif. Hasil analisis reliabilitas dengan menggunakan formula alpha menunjukkan koefisien alpha sebesar 0,885 dinyatakan tinggi, yang berarti produk yang dikembangkan sangat reliabel. Hasil uji coba inventori keterampilan komunikasi interpersonal berbasis web bagi siswa SMA pada aspek kegunaan memiliki kriteria interpretasi terterima dengan skor 4 (hasil uji ahli media) dan skor 3,6 (hasil uji calon pengguna produk). Pada aspek kelayakan hasilnya terterima dengan skor 4 (hasil uji ahli media) dan skor rata-rata 3,2 (hasil uji calon pengguna produk). Pada aspek ketepatan diperoleh skor rata-rata 4 (hasil uji ahli media) dan 3,2 (hasil uji calon pengguna produk). Pada aspek kepraktisan diperoleh skor rata-rata 4 (hasil uji ahli media) dan 3,2 (hasil uji calon pengguna produk). Hasil uji ahli BK menunjukkan bahwa kesesuaian deskriptor dengan indikator mendapatkan skor 1,9 dengan kriteria interpretasi terterima, dan kesesuaian pernyataan dengan indikator mendapatkan skor 1,9 dengan kriteria interpretasi terterima. Hasil analisis uji kelompok kecil (produk software) menunjukkan bahwa aspek keterampilan menyampaikan pesan dengan persentase rata-rata 65% berada pada kriteria sedang, dan aspek keterampilan menerima pesan, secara umum siswa memiliki persentase 70% dengan kriteria sedang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang diberikan bagi konselor: (1) diharapkan memiliki keterampilan dalam mengoperasikan web dan mensosialisasikannya ke siswa agar selanjutnya siswa dapat mengakses web tersebut secara online tanpa panduan konselor, dan (2) konselor selalu menjamin kerahasiaan data siswa yaitu dengan tidak mempublikasikan password kepada pihak lain. Saran bagi Kepala Sekolah: (1) diharapkan kepala sekolah bersedia menyediakan jaringan internet yang stabil agar konselor dan siswa dapat mengakses web inventori keterampilan komunikasi interpersonal, dan (2) kepala sekolah bersama dengan konselor dalam mensosialisasikan web inventori keterampilan komunikasi interpersonal. Untuk pengembang lebih lanjut yaitu (1) bisa mengembangkan isi software online yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan; (2) diharapkan juga menambahkan materi keterampilan komunikasi interpersonal yang lebih lengkap dan menambahkan animasi yang lebih menarik pada produk yang dihasilkan untuk meminimalkan kebosanan; dan (3) produk diharapkan dapat diujicobakan kepada seluruh konselor dan siswa SMA di kota Malang. Apabila memungkinkan juga dapat diujicobakan kepada seluruh konselor dan siswa SMA yang ada di beberapa daerah atau seluruh Indonesia.

Penerapan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA kelas III di SDN Ketawanggede 2 Malang / Ira Indrianika

 

Kata kunci: Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir Masalah yang ditemukan oleh peneliti berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA kelas III SDN Ketawanggede 2 Malang, guru masih menggunakan pembelajaran konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Selain itu, hasil dan ketuntasan belajar siswa masih rendah yang dapat dilihat dari hasil pratindakan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan SPPKB, dan aktivitas siswa selama penerapan SPPKB, mendeskripsikan aktivitas siswa selama diterapkannya SPPKB, dan hasil belajar IPA siswa kelas III di SDN Ketawanggede 2 Malang setelah diterapkannya SPPKB. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kurt Lewin, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting, 3) observing dan 4) reflecting. Subjek dari penelitian adalah siswa kelas III semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SDN Ketawanggede 2 Malang. Subjek penelitian sebanyak 26 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SPPKB pada pembelajaran IPA kelas III di SDN Ketawanggede 2 Malang melalui beberapa tahapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Pada orientasi pada siklus I rata-rata mendapat skor 2,05, siklus II mendapat 2,25. Pelacakan siklus I mendapat skor 2,75, siklus II mendapat skor 2,55. Tahap konfrontasi mendapat skor 1,95 pada siklus I, sedangkan siklus II mendapat 2,35. Tahap inkuiri siklus I mendapat skor 2,6, dan siklus II mendapat skor rata-rata 2,3. Tahap akomodasi skor siklus I 2,2 dan 2,35 siklus II. Tahap transfer siklus I mendapat 1,95 dan siklus II mendapat skor 2,1. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan SPPKB dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA pada kelas III di SDN Ketawanggede 2 Malang. Hal ini dapat dibuktikan dengan terjadinya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA yang menggunakan strategi pembelajaran tersebut. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD yaitu Kepala Sekolah hendaknya memotivasi agar meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menerapkan SPPKB. Guru dan peneliti yang lain disarankan mengkombinasikan penggunaan media pembelajaran lain, serta mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar siswa melalui penggunaan SPPKB.

penggunaan media abakus (dekak-dekak) untuk meningkatkan kemampuan "menyelesaikan soal pengurangan dua bilangan dengan meminjam" pada siswa kelas 2 SDI Nurul Izzah Kota Malang / Dewi Kinanti Puspasari

 

Kata kunci: Abakus, Kemampuan, Mengurang. Hasil wawancara dengan guru kelas II SDI Nurul Izzah Malang, peneliti menyimpulkan bahwa penguasaan konsep siswa terhadap materi pengurangan bilangan dengan meminjam belum maksimal. Pembelajaran masih bersifat konvensional hanya ceramah dan latihan soal saja, sehingga siswa cenderung pasif. Selain itu guru belum menggunakan media konkret sehingga siswa kurang bersemangat dalam pembelajaran. Hasil pre tes menunjukkan ada 14 siswa dari 21 siswa atau 67% yang masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sedangkan siswa yang telah mencapai standar ketuntasan yaitu 7 siswa atau 33%. Nilai rata-rata hanya mencapai 55 sedangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran matematika yaitu 67,55. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran pengurangan bilangan dengan meminjam dengan menggunakan media abakus (dekak-dekak). Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas II SDI Nurul Izzah Kota Malang sebanyak 21 siswa.. Tahap dalam penelitian ini adala: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan penilaian, (4) refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa: (1) soal-soal tes, (2) pedoman observasi dan (3) pedoman wawancara (4) angket. (5) catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan menggunakan abakus (dekak-dekak) pada kelas I SDI Nurul Izzah Malang dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan siswa dalam pengurangan dua bilangan dengan meminjam. Peneliti melakukan 2 siklus tindakan, dimana setiap siklusnya dilakukan 3 kali pertemuan. Setelah pembelajaran dengan menggunakan media abakus (dekak-dekak) siswa mampu mencapai ketuntasan belajar yang ditentukan. Siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 18 siswa, sedangkan 3 siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tentang pengurangan dua bilangan dengan meminjam dengan menggunakan media abakus (dekak-dekak) dapat mengoptimalkan semua komponen dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan, siklus I ke siklus II sebesar 55 meningkat menjadi 65 meningkat menjadi 84. Persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari pra tindakan ke siklus I sebesar 18,18%, persentase peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II sebesar 29,23%. Keaktifan siswa juga meningkat dari 66 menjadi 82, meningkat lagi menjadi 83. Dari hasil penelitian ini, diharapkan guru dapat meningkatkan keaktifan siswa serta kemampuan siswa.

Speaking assessment as conducted by an English teacher at SMA Negeri 3 Malang / Bunga Aruma Nirmatika

 

Key words: speaking assessment, SMA Negeri 3 Malang. Assessment has gained more attention since the change of education curriculum affects one of education focuses from a question what must be taught to the students to a question what competence must be possessed by the students. Speaking assessment has become an important issue since the role of speaking become more central in language teaching with the invention of communicative language teaching. Assessing speaking as part of teaching speaking is more difficult than assessing the other skills especially in terms of how to score the students’ speaking ability. This is because there are a lot of aspects of speaking that must be considered by the teacher. In relation to the importance of assessing students’ speaking ability, this study is intended to describe how an English teacher conducts speaking assessment. The focus of this study is speaking assessment as conducted by an English teacher at SMA Negeri 3 Malang. The discussion covers the instruments used by the teacher in speaking assessment, the techniques and procedures applied in speaking assessment, and the students’ opinion about the speaking assessment conducted by the teacher. The design of this study was descriptive qualitative since this study tried to describe speaking assessments conducted by an English teacher at SMA Negeri 3 Malang. The data were collected from the English teacher and the students. One class, X7, was chosen to be observed to get the description of how the teacher conducts speaking assessment in class. To collect data, some instruments were used such as observation, interview, documentary study, and questionnaires. The findings show that the teacher used speaking scoring rubrics and speaking scoring sheets as instruments in speaking assessment. The speaking scoring rubrics used by the teacher were in the form of analytic scoring rubrics. The teacher made the scoring rubrics by adopting, adapting, and combining scoring rubrics from some sources. The teacher also used speaking scoring sheets to write the students’ speaking scores. The teacher used many variations of techniques and procedures in her speaking assessment. The teacher usually started to construct speaking assessment by looking at the standard competence and basic competence. All of the speaking tasks given to the students belong to interactive speaking since the speaking tasks require the students to perform speaking in longer and complicated interaction. The speaking tasks covered activities to become a reporter and sources of news, performing dialogues containing expressions of congratulation, gratitude, and compliment, and performing announcements. The speaking tasks made by the teacher reflected authentic tasks which involved real-life situation that applied continuous assessment since the teacher assessed the students’ speaking performance regularly in the classroom. Besides, it was found that the teacher had implemented three stages of assessment including assessment in the pre-instruction, during instruction, and post-instruction. In general, the students argued that speaking assessment conducted by the teacher was good. They also liked her speaking assessment. There were some reasons why the students liked speaking assessment conducted by the teacher. First, the scoring of speaking ability was transparent and clear. Second, the speaking assessment was fair and objective. Third, the speaking assessment was simple and effective. Fourth, the speaking tasks usually were done in groups. Based on the findings, some suggestions can be given to follow up the findings of the study. First, the English teacher is recommended to continue developing techniques and procedures applied in speaking assessment to find better techniques and procedures in the future. Second, it is suggested for the school principal to pay attention to the management of lesson schedule by giving two or three days as distance between the first and second meeting of English subject since at the English subject schedule there is no distance between meeting first and second meeting. Third, the future researchers could investigate how the teacher converts the raw speaking scores into the final speaking scores by using a formula.

Pelaksanaan komunikasi politik dalam kampanye pemilihan ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang / Devi Tri Anita

 

Kata kunci : komunikasi politik, BEM, komunikator, sasaran, isi, pesan, media, lokasi, proses kampanye, sikap Komunikasi politik telah ditanamkan melalui jalur-jalur pendidikan. Di Universitas Negeri Malang penanaman pendidikan politik tidak hanya dilaksanakan melalui teori-teori dalam perkuliahan, namun melalui kegiatan dalam Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPM) sebagai miniatur organisasi negara. Kegiatan politik dalam pemilihan ketua OPM yang dalam hal ini adalah BEM tidak lepas dari adanya komunikasi politik, yang salah satu bentuknya adalah berupa kampanye. Sebagai bentuk komunikasi poltik, kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial tentunya harus memenuhi unsur-unsur yang ada di dalam komunikasi politk yaitu unsur komunikator politik, pesan politik, media politik, dan sasaran politik. Dari komunikasi poltik tersebut akan timbul tanggapan atau sikap dari komunikan. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) untuk mendeskripsikan penentuan komunikator dalam pelaksanaan kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, (2) untuk mendeskripsikan penentuan sasaran pelaksanaan kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, (3) untuk mendeskripsikan penentuan isi/pesan kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, (4) untuk mendeskripsikan penggunaan media dalam pelaksanaan kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, (5) untuk mendeskripsikan penentuan lokasi kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, (6) untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial, (7) untuk mendeskripsikan sikap mahasiswa terhadap kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam mengumpulkan data-data di lapangan mengenai pelaksanaan komunikasi politik melalui kampanye pemilihan ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Prosedur pengumpulan data meliputi tahap memasuki lokasi, tahap ketika di lokasi dan tahap pengumpulan data yang terdiri dari observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperloleh dari penelitian ini adalah: (1) Penentuan komunikator kampanye terdiri dari tahap penentuan persyaratan, pendaftaran dan penentuan calon yang lulus persyaratan administrasi. Komunikator dalam kampanye adalah pasangan calon ketua BEM dalam kampanye lisan, dan pasangan calon ketua BEM dibantu 3 tim sukses dalam kampanye tulis. Penentuan calon ketua BEM ini berarti telah memenuhi salah satu unsur komunikasi politik yaitu komunikator, (2) yang menjadi sasaran kampanye adalah mahasiswa yang masih aktif sebagai mahasiswa FIS. Sehingga penentuan sasaran bagi pelaksanaan kampanye ketua BEM FIS ini berarti telah memenuhi salah satu unsur komunikasi politik yaitu unsur komunikan, (3) Penentuan isi atau pesan kampanye adalah oleh DMF dan KPU FIS melalui rapat anggota dan disahkan oleh pembantu dekan FIS. Penentuan isi kampanye ini telah memenuhi unsur komunikasi politik yaitu unsur isi atau pesan, (4) Media kampanye langsung dilakukan secara lisan dengan media pengeras suara (microphone) dan yang kampanye tidak langsung (tulis) menggunakan media berupa pamflet. Sehingga, dengan adanya media tersebut telah memenuhi salah satu unsur komunikasi politik yaitu unsur media, (5) Lokasi kampanye tulis ditempelkan di mading-mading jurusan geografi, sejarah dan jurusan Hukum dan Kewarganegaraan yaitu di gedung I3, I4 dan I5 dan di mading Fakultas. Dan untuk kampanye lisan dilaksanakan areal parkir gedung I.5 atau di teras depan Fakultas Ilmu Sosial, (6) Proses penyampaian kampanye ketua BEM berdasarkan pada nomor urut calon. Materi kampanye adalah berupa penyampaian visi dan misi ketua BEM FIS. Maksimal 2 mahasiswa diberi kesempatan untuk bertanya kepada masing-masing calon, dan kandidat diberi kesempatan untuk menjawabnya. Sedangkan kampanye tulis menggunakan media berupa pamflet berukuran A4 yang dipasang di mading jurusan dan mading fakultas. Kampanye pemilihan ketua BEM FIS tersebut telah memenuhi unsur dari komunikasi politik yaitu komunikator, pesan, komunikan, media, dan sikap mahasiswa, (7) Sikap mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang awalnya tidak mengetahui atau tidak mengenal menjadi mengenali pasangan calon ketua BEM sebagai efek sikap dari pelaksanaan kampanye. Dari penelitian ini saran yang diajukan peneliti yaitu Dalam pelaksanaan kampanye, khususnya dalam kampanye lisan, alangkah lebih baik apabila dalam kampanye tersebut ditambah alokasi waktunya dan dalam pelaksanaan kampanye selain dilakukan secara terbuka, hendaknya ada pula kampanye indoor yang dilakukan di kelas. Sehingga mahasiswa lebih menangkap materi visi dan misi yang disampaikan oleh kandidat dengan baik dan dalam melaksanakan tanya jawab akan bisa lebih maksimal.

Hubungan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dalam mata pelajaran PKn dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Kota Malang / Eko Afidin

 

Kata kunci: Hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi, partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS. Mata pelajaran PKn di terima siswa mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi. Namun materi yang disajikan juga disesuaikan dengan jenjang yang ada. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang didapat materi yang diperoleh juga semakin komplek seperti yang terdapat pada jenjang pendidikan menengah atas (SMA). Tujuannya adalah untuk membekali siswa agar menjadi warga negara yang baik, demokratis, dan bertanggung jawab. Indikator untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam pembelajaran PKn dapat dilihat dari hasil belajarnya. Budaya politik dan demokrasi. Materi ini sangat penting untuk bekal kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga dalam mengukur hasil belajar tersebut harus dilihat secara komprehensif antara teori dan praktek. Untuk mendukung tercapainya semua itu dalam lembaga pendidikan formal. Sekolah membelajarkan siswa melalui 2 kegiatan yaitu proses pembelajaran (intra kurikuler) dan kegiatan organisasi (ekstra kurikuler). Organisasi siswa intra sekolah yang ada di sekolah disebut OSIS yang merupakan wadah kegiatan siswa dalam belajar berorganisasi. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian tentang hubungan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dalam mata pelajaran PKn dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi pada siswa SMAN 3 Kota Malang (2) mendiskripsikan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Kota Malang (3) menjelaskan hubungan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMA 3 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian di SMAN 3 Kota Malang. Responden dalam penelitian ini adalah siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang berjumlah 727, pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling dengan kriteria sampel sebesar 11% dari jumlah populasi yaitu sebanyak 80 siswa. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriktif dan korelasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) materi budaya politik dan budaya demokrasi yang sangat baik 92,5%, dan 7,5% baik; (2) Kegiatan Pondok Romadhon, selalu mengikuti kegiatan Sebanyak siswa 63,6%, siswa 24,6% sering dan siswa 11,8% kadang-kadang. Kegiatan kepedulian sosial, selalu mengikuti Kegiatan Sebanyak siswa 45,6%, 41,7% sering dan 12,7% kadang-kadang. Kegiatan Bedhol Bhiwikarsu, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 25,7%, 58,6% sering dan 15,7% kadang-kadang. Kegiatan memperingati hari besar Nasional, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa (33,6%), 54,7% sering dan 10,7% kadang-kadang. Kegiatan upacara tiap bulan, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 44,7%, 37,6% sering dan 17,7% kadang- kadang. Kegiatan B-Art, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 49,6%, 37,7% sering dan 11,7% kadang-kadang. (k) Pelaksanaan Kantin Kejujuran, selalu mengikuti pelaksanaan sebanyak siswa 26,7%, 55,6% sering dan 17,7% kadang- kadang. Kegiatan Classmeeting, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 37,7%, 50,6% sering dan 11,7% kadang- kadang. Kegiatan Bunkasai, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 30,7%, 42,6% sering dan 26,7% kadang -kadang. Kegiatan PSCS, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 36%, 38% sering dan 20% kadang -kadang, 6% jarang mengikuti. Kegiatan English Day, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 42,6%, 33,7% sering dan 23,7% kadang- kadang. (3) Ada hubungan yang signifikan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dalam mata pelajaran PKn dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Malang, berdasarkan uji hipotesis dengan uji f sebesar 2,741 dengan signifikansi sebesar 0,002 sehingga sig f

Studi tentang seni kerajinan miniatur reog Ponorogo pada usaha kerajinan Bapak Misdi di Kelurahan Surodikraman Kabupaten Ponorogo / Bintari Agung

 

Kata kunci: Kerajinan miniatur Reog Ponorogo, Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Kesenian Reog merupakan ciri khas dari Kabupaten Ponorogo, sehingga sudah selayaknya dilestarikan. Untuk bersaing dipasaran, perajin Reog Ponorogo mulai membuat alternatif lainnya, yaitu tidak hanya membuat kerajinan Reog Ponorogo yang berasal dari bahan kayu saja, namun membuat suatu inovasi dengan memakai bahan dasar tepung gipsum. Peralihan ini dirasa sangat menguntungkan karena mudah pembuatannya, ekonomis, dan juga mampu bersaing dipasaran. Selain itu dapat mengetahui proses pembuatan dan desain dari Seni Kerajinan Miniatur Reog Ponorogo serta upaya pemerintah dalam melestarikannya Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembuatan, desain pembuatan, dan upaya dalam melestarikan kerajinan miniatur Reog Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode observasi atau pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Dilakukan di Kabupaten Ponorogo, di rumah Bapak Misdi selaku perajin, dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga selaku pihak dari Pemerintah Daerah Ponorogo. Hasil penelitian pembuatan miniatur Reog Ponorogo ini, pengerjaannya melalui beberapa tahapan yang sistematis. Dimulai dari pembuatan cetakan, pembuatan dengan bahan gipsum, pencetakan miniatur Reog Ponorogo, setelah kering baru dilanjutkan ke tahap pewarnaan, kemudian proses akhir yaitu pengemasan ke dalam bingkai/pigura. Pemerintah Kabupaten Ponorogo sebagai pengayom bagi para perajin mengadakan pembinaan dan penyuluhan kepada para pengrajin Reog Ponorogo, Serta memberikan bantuan pinjaman modal pada para pengrajin melalui koperasi dan kesempatan untuk mengikuti berbagai pameran yang dilaksanakan oleh kabupaten Ponorogo maupun di luar daerah bahkan di Luar Negeri. Pemerintah juga menetapkan agenda kegiatan daerah yaitu pentas Reog Ponorogo secara rutin setiap malam bulan purnama (malam tanggal 15 H) dan Festival Reog Ponorogo pada setiap menjelang 1 Muharram, yang bertempat di depan Paseban Alun-Alun Ponorogo atau yang lebih dikenal masyarakat dengan "Panggung Singo". Dengan pementasan Reog Ponorogo bulan purnama dan Festival Reog Nasional para pengrajin bisa mendapatkan tempat untuk menjual karya kerajinan mereka. Berdasarkan Hasil penelitian ini, disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut yang nantinya dapat dikembangkan menjadi penelitian yang lebih baik. Selain itu bisa dijadikan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

The discrepancies between teacher's beliefs and the implementation of KTSP in the teaching of English at two private Junior High Schools in Lawang / Fitri Auliya Rahmi

 

Keyword: Discrepancies, beliefs, implementation, English, Private Junior High Schools. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan is the operational curriculum which is made by every level of education. This curriculum has been used in Indonesia since 2006. Although this curriculum has been used in Indonesia since 2006, not all of the schools were able to implement this curriculum. It was proved by the way the teacher developed their syllabus and lesson plan which were different from their beliefs in implementing this curriculum. This study attempted to give a description of the discrepancies between teachers’ beliefs and the implementation of KTSP in the teaching of English at two private junior high schools in Lawang This study was conducted in two private junior high schools in Lawang, SMP PGRI 02 Lawang and SMP MAARIF 01 Lawang. Each English teacher from two schools was taken as the subject of the study. The design of this study was descriptive qualitative study because the data used in this study were in the two forms, oral and written. The data was compiled by conducting the interviews and asking for the documents consisted of syllabus, lesson plan, and teaching material. The document which was asked for was the documents made and used by the English teachers from SMP PGRI 02 Lawang and SMP Maarif 01 Lawang. The result of the study showed the beliefs of English teachers from SMP PGRI 02 Lawang and SMP Maarif 01 Lawang about the implementation of KTSP was in line with BSNP while the implementation of KTSP was different from their beliefs. Some suggestions were addressed to the teachers, principals, and the future researchers. For the teachers, their beliefs in implementing KTSP should be in line with BSNP. Besides, they also should implement KTSP based on their beliefs. For the principals, they should know the quality of their teachers. Besides, they should control their teachers in implementing KTSP. The last for the future researchers, who study about the implementation of KTSP, they should make sure the principals allow them to conduct the observation in the class.

Illusion of superiority in soft drink advertisement found in people magazine / Siti Alfiyah

 

Keywords: Illusion of Superiority, Soft Drink, Advertisements, People Magazine, Verbal Element, Visual Element In this global economic era, a lot of products with similar type and quality are produced. In order to persuade the potential consumers to buy a certain product over others, the advertisers create Illusion of Superiority through their products' advertisements, which promote the products being advertised are better than the others. The advertisers use the verbal and the visual elements of the advertisements to realize it. This research study analyzes Illusion of Superiority in soft drink advertisements found in People magazine. The advertisements which are analyzed are: Izze Sparkling Juice, Diet Coke plus, and Glaceau Vitaminwater XXX. These three advertisements claim that their products are healthy and different from others. This thesis analyzes about how the advertisers create Illusion of Superiority through the verbal elements of the advertisements, how the visual elements support the verbal messages in creating the Illusion of Superiority, and what interplay which are created by both the verbal and the visual elements of the advertisements to construct the illusion of superiority. The effectiveness of the advertisement communication or message in persuading the consumers to believe the superiority claim is the focus of this thesis not the cultural side. Thus, Multimodal Discourse Analysis is used in this thesis in which the researcher combines Roman Jakobson's Stylistics Analysis and Kress and van Leeuween's Analysis of Visual image as the approach in analyzing the advertisements' texts. The former is used in analyzing the verbal element while the latter is for analyzing the visual element. Semiotics analysis, in addition, is also used to analyze some important lexis in the advertisements' text to reveal why such lexis is used and its effectiveness in persuading the consumers to believe the superiority claim. The analysis of the verbal and the visual elements of the advertisements found out that besides using Schrank' techniques to create Illusion of Superiority such as unfinished claim (the use of comparative adjective "better"), vague claim (colorful but meaningless claim), and rhetorical question, the three advertisements also use health-related words, rethorics (elliptical sentence and soft sell imperative) and witty phonological devices (alliteration, rhyme, and sound repetition) to attract the consumers' attention and to imply the products' Illusion of Superiority. It is also found out that the visual images which imply the products are healthy and different from others are able to assist the verbal message in realizing those two marketing purposes. Finally, it is found out that both the advertisements' verbal and the visual element create interplay that lead the consumers to the purchase intention. Both of them imply that the products are healthy and different from the competitors' product.

Analisis kesalahan dan perbaikan penyajian objek matematika pada buku teks matematika SMA kelas XII IPA / Indri Dewi Sri Wulandari

 

Kata kunci: buku teks, penyajian objek matematika, perbaikan. Beberapa faktor yang menunjang suatu pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik adalah peserta didik, pengajar serta sarana dan prasarana. Buku teks merupakan salah satu sarana untuk menunjang suatu pembelajaran. Buku teks dapat membantu siswa dalam proses belajar mandiri, dalam proses tersebut siswa dituntut untuk dapat memahami suatu materi dengan baik. Dalam buku teks terdapat objek matematika yang berupa fakta, konsep, prinsip dan ketrampilan yang dapat diamati langsung dalam penyajian materi matematika. Oleh karena itu dalam proses belajar mandiri penyajian objek matematika yang baik dan benar diperlukan agar siswa dapat memahami suatu materi dengan baik dan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan-kesalahan penyajian objek matematika yang ada pada buku teks matematika SMA kelas XII. Selain itu penelitian ini memberikan alternatif perbaikan terhadap kesalahan tersebut agar dapat menjadi bahan revisi bagi penulis buku teks maupun bagi pembaca. Perbaikan dari masing-masing kesalahan yang ditemukan didasarkan pada buku Kalkulus (Purcell, 2003) dan Elementary Linear Algebra (Anton, 2005) serta berdasarkan pembuktian matematika. Buku teks yang dianalisis adalah buku teks matematika SMA kelas XII yaitu DP, ER1 dan ER2. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu 1) kesalahan penyajian fakta sebanyak 16 data, 13 data dari buku DP, 2 data dari buku ER1 dan 1 data dari buku ER2. 2) kesalahan penyajian konsep sebanyak 4 data, 1 data dari buku DP, 1 data dari buku ER1 dan 2 data dari buku ER2. 3) kesalahan penyajian prinsip sebanyak 8 data, 5 data dari buku DP, 2 data dari buku ER1 dan 1 data dari buku ER2. 4) kesalahan penyajian ketrampilan sebanyak 11 data, 9 data dari buku DP, 2 data dari buku ER1 dan tidak ditemukan kesalahan penyajian ketrampilan pada buku ER2. Total keseluruhan kesalahan yang ditemukan pada ketiga buku adalah sebanyak 39 data dengan perincian 28 data dari buku DP, 7 data dari buku ER1 dan 4 data dari buku ER2.

Hubungan antara persepsi terhadap dukungan sosial dengan depresi pasca melahirkan pada ibu / Dewi Latifah

 

Kata kunci: persepsi dukungan sosial, depresi pasca melahirkan Masa kehamilan dan melahirkan merupakan masa yang penuh stress. Depresi pasca melahirkan merupakan masalah yang signifikan dan menjadi perhatian masyarakat sejak lama. Penelitian menyebutkan bahwa sekitar 10% - 30% wanita yang melahirkan menderita depresi. Wanita lebih rentan mengalami depresi dibandingkan dengan laki-laki. Besarnya persepsi terhadap dukungan sosial dapat mempengaruhi terjadinya depresi pasca melahirkan. Apabila persepsi terhadap dukungan sosial rendah akan menyebabkan tingginya tingkat depresi pasca melahirkan, dan demikian pula sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap dukungan sosial dengan depresi pasca melahirkan. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Kedung Kandang kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penilitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah skala depresi dari Beck (Beck Depression Inventory), wawancara dan skala persepsi dukungan sosial. Analisis korelasional menggunakan teknik analisis korelasi product moment. Validitas skala persepsi dukungan sosial berkisar antara 0,318-0,840 dengan reliabilitas sebesar 0,852. Hasil menunjukkan tingkat persepsi dukungan sosial di kecamatan Kedung Kandang kota Malang rata-rata masuk dalam kategori sedang yaitu sebanyak 32 orang atau sebesar 80%, persepsi dukungan sosial tinggi sebanyak 3 orang atau sebesar 7,5%, dan perespsi dukungan sosial rendah sebanyak 5 orang atau sebesar 12,5%. Tingkat depresi pasca melahirkan rata-rata masuk dalam kategori normal yaitu sebanyak 28 orang atau 70%, depresi pasca melahirkan ringan sebanyak 6 orang atau 15%, sedang yang termasuk kategori depresi depresi pasca melahirkan sedang sebanyak 6 orang atau 15% dan tidak ada yang termasuk depresi pasca melahirkan berat. Terdapat hubungan negatif antara persepsi terhadap dukungan sosial dengan depresi pasca melahirkan pada ibu di kecamatan Kedung Kandang kota Malang, dengan koefisien korelasi sebesar = -0,778 (p= 0,000 < 0,05). Jadi persepsi terhadap dukungan sosial berpengaruh terhadap tingkat depresi pasca melahirkan.

Pengembangan media komputer interaktif sesuai standar kompetensi "menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah" untuk siswa SMA kelas XII / Eka Nurmala Sari Agustina

 

Kata Kunci: Media Komputer Interaktif, Barisan dan Deret, Pemecahan Masalah,SMA Kelas XII Pada tingkat SMA, terdapat beberapa materi yang menurut siswa masih membingungkan bagi siswa. Salah satunya adalah barisan dan deret. Walaupun materi yang diajarkan terkesan mudah dan sederhana, namun masih ada siswa yang mengalami kesulitan terutama dalam hal memodelkan dan menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan barisan dan deret. Kesulitan ini dikarenakan siswa masih bingung harus menggunakan rumus yang mana untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan barisan dan deret. Salah satu solusinya adalah mengembangkan media komputer interaktif yang membantu siswa untuk dapat memodelkan permasalahan yang terkait dengan barisan dan deret. Pembelajaran tentang pemodelan masalah barisan dan deret dilakukan agar siswa dapat menyelesaikan masalah yang muncul dengan tepat. Oleh karena itu, skripsi ini bertujuan mengembangkan media komputer interaktif sesuai dengan standar kompetensi “Menggunakan Konsep Barisan dan Deret dalam Pemecahan Masalah” untuk Siswa SMA Kelas XII. Untuk mendapatkan media komputer interaktif yang diinginkan, media ini dikembangkan dengan 10 tahapan, yaitu: 1) menentukan kebutuhan dan tujuan pengembangan program, 2) mengumpulkan referensi, 3) mempelajari materi, 4) perancangan awal, 5) perancangan dan pembuatan diagram alir program, 6) perancangan dan pembuatan struktur program media interaktif, 7) pembuatan storyboard program, 8) pembuatan program media interaktif, 9) membuat bahan pendukung, dan 10) evaluasi dan revisi program. Berdasarkan hasil validasi materi, diperoleh persentase 86,46%, dan dari validasi pembelajaran berbantuan komputer (PBK), diperoleh persentase 90,625%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media komputer interaktif yang dikembangkan masuk pada kriteria valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Selaian itu, terdapat hasil uji coba prduk kepada pengguna diperoleh persentase 89% dan diperoleh kesimpulan bahwa media komputer interaktif ini menarik dan mudah digunakan baik dari segi materi ataupun pengoperasian program.

Identifikasi kesalahan yang dilakukan siswa kelas VIII semester I dalam menyelesaikan soal-soal matematika pokok bahasan persamaan garis lurus di SMPN 24 Malang / Intan Dwi Hastuti

 

Kata kunci: Identifikasi, kesalahan, soal matematika, persamaan garis lurus. Untuk mencegah atau paling tidak meminimalisasi kesalahan yang dilakukan siswa diharapkan guru mampu menganalisis langkah-langkah yang digunakan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika, sehingga dari hasil analisis ini dapat dideteksi konsep-konsep mana yang kurang atau belum dipahami oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan siswa dan mendeskripsikan kecenderungan yang dilakukan siswa kelas VIII SMPN 24 Malang dalam meyelesaikan soal-soal matematika pokok bahasan persamaan garis lurus. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang terkumpul berasal dari hasil tes siswa berupa 10 soal uraian dan hasil wawancara dengan siswa. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama jenis-jenis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal persamaan garis lurus diklasifikasikan menjadi kesalahan konsep dan prosedur. Jenis kesalahan konsep yang dilakukan adalah 1) salah menggunakan rumus, 2) salah menafsirkan konsep, 3) salah tulis rumus, dan 4) tidak menuliskan rumus untuk menjawab soal. Sedangkan jenis kesalahan prosedur yang dilakukan siswa meliputi: 1) tidak mampu melakukan prosedur untuk menggambarkan suatu garis, 2) tidak mengerti maksud soal, 3) salah dalam mensubstitusikan nilai variabel ke dalam rumus, 4) kesalahan karena siswa kurang terampil dalam menggunakan ide aljabar, 5) salah dalam melakukan operasi hitung, 6) kesalahan karena siswa tidak melanjutkan proses pengerjaan, dan 7) menyimpulkan tanpa alasan yang benar. Kedua, kecenderungan siswa dalam menyelesaikan soal persamaan garis lurus meliputi : 1) siswa cenderung menentukan koordinat titik yang salah pada bidang koordinat cartesius, 2) salah dalam mensubstitusikan nilai ke dalam variabel, 3) cenderung menuliskan rumus yang menyimpang jauh dari rumus sebenarnya, 4) tidak melanjutkan proses pengerjaan yang melibatkan bentuk aljabar, 5) cenderung tidak dapat menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan sehingga sebagian besar dari mereka tidak melanjutkan proses pengerjaan, 6) cenderung tidak teliti dalam melakukan operasi hitung yang melibatkan bilangan negatif.

Pemanfaatan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam kelas IV SDN Bluuran 1 Sampang / Imam Hidayaturrahman

 

Kata Kunci: Pemanfaatan, Media Pembelajaran Interaktif, ilmu pengetahuan alam Keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh banyaknya faktor yang saling terkait yaitu : guru, siswa, metode, saran dan prasarana, situasi, dan lingkungan. Dalam proses pembelajaran sistem penyampaian materi apapun yang digunakan pada prinsipnya guru harus berusaha meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada masa sekarang ini telah banyak sekolah yang mempunyai laboratorium komputer. Guru sebagai pendidik hendaknya dapat memanfaatkan komputer tersebut sebagai media pembelajaran untuk peserta didik. Media pembelajaran dapat membantu siswa dalam memahami materi yang dijelaskan guru serta mengurangi tingkat keverbalan yang dilakukan oleh guru. Karena penggunaan media pembelajaran yang ketat menjadikan siswa lebih tertarik dan tidak pernah bosan dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu media pembelajaran diharapkan dapat memberikan motivasi belajar terhadap peserta didik. Sehingga dengan adanya kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran dapat menunjang efektivitas, efisiensi, dan daya tarik bagi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dari permasalahan yang dimunculkan ada empat permasalahan yang perlu dkaji yaitu : (1) tanggapan guru dan siswa twerhapa pemanfaatan media pembelajaran interaktif, (2) hambatan dalam pemanfaatan media pembelajaran interaktif, (3) usaha untuk mengatasi hambatan-hambatan dan meningkatkan efektiitas media pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Dengan instrumen pengambilan data melalui observasi, wawancara,dan angket. Data penelitian diperoleh dari 30 siswa dengan rincian satu orang guru IPA.data yang diperoleh dari anagket dianalisis dengan menggunakan analisis presentase sedangkan hasil wawancara dan observasi secara kuantitatif sehingga berbentuk rangkaian kalimat yang semuanya secara sistematis. Hasil dari penelitian yang diperoleh adalah alasan yang medasari pemanfaatan media pembelajaran interaktif bahwa media ini sangat menarik yang mempermudah siswa dalam pembelajaran.media ini berbentuk drill and practice yang disajikan berupa materi dan soal-soal yang di disertai gambar,suara,dan teks. Sehingga proses pembelajaran menyenangkan. Hambatan yang ditemui adalah terbatasnya perangkat keras dan seringnya mengalami gangguan serta guru yang kurang memahami dalam pengoperasian media pembelajaran. Dan usaha yang ditempuh untuk mengatasinya dengan cara memanfaatkan media secara klasikal. Dan peningkatan pegadaan software serta mengirim guru bidang multimedia untuk mengikuti pelatihan. Darihasil tersebut disarankan kepada guru untuk memanfaatkan media secara individual dan dan memanfaatknsoftware yang mendukung dalam pembelajaran yang sekaligus dapat mengukur hasil belajar siswa.

Evaluasi proses pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang berdasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses / Admaja Dwi Herlambang

 

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses yang berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai kontrol kualitas standar pendidikan. Didalamnya dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk me­nentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mengungkap kondisi perencanaan proses, pelaksanaan proses, dan penilaian hasil pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang ke dalam 5 kategori. Kategori tersebut antara lain: Sangat Baik, Baik, Cukup Baik, Kurang Baik, Sangat Kurang Baik. Lokasi penelitian dilakukan di SMA Negeri se-Kota Malang yang berjumlah 10 sekolah. Kemudian diambil sampel sejumlah 5 SMA Negeri dengan menggunakan teknik Purposive Sample. SMA tersebut antara lain: SMAN 3, 4, 5, 6 dan 8 Malang. Setiap sekolah diwakili oleh seorang guru TIK dan 30 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar penilaian silabus, lembar penilaian RPP, angket siswa, dan lembar penilaian perangkat penilaian hasil belajar TIK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi perencanaan proses pembelajaran TIK di SMAN 3, 4, 6, dan 8 Malang termasuk dalam kategori Baik. Sedangkan SMAN 5 Malang termasuk dalam kategori Cukup Baik. Kondisi pelaksanaan proses pembelajaran TIK di SMAN 8 Malang termasuk dalam kategori Baik. SMAN 3, 4, 5, dan 6 Malang termasuk dalam kategori Cukup Baik. Kondisi penilaian hasil pembelajaran TIK, SMAN 4, 5, dan 8 Malang termasuk dalam kategori Sangat Baik. SMAN 3 Malang termasuk dalam kategori Baik dan SMAN 6 Malang termasuk dalam kategori Cukup Baik.

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran tandur berbantuan WEB interaktif terhadap hasil belajar teknologi informasi dan komunikasi siswa kelas VII SMPN 3 Malang / Wahyu Nur Hidayat

 

Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat perlu diupayakan guru untuk memudahkan proses terbentuknya pengetahuan pada siswa. Salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara optimal adalah strategi pembelajaran TANDUR. Strategi pembelajaran ini merupakan kerangka pembelajaran quantum teaching dengan metode belajar yang menyenangkan dan memberdayakan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar pokok bahasan identifikasi perangkat keras komputer dan respon siswa terhadap keterlaksanaan strategi pembelajaran TANDUR berbantuan web interaktif kaitannya dengan hasil belajar. Penelitian eksperimen semu ini dilakukan di SMP Negeri 3 Malang pada semester 1 tahun ajaran 2010/2011. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII reguler dengan sampel penelitian adalah kelas VII-2 sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII-3 sebagai kelompok kontrol. Pada kelas eksperimen diterapkan strategi pembelajaran TANDUR, sedangkan pada kelas kontrol diterapkan strategi pembelajaran inquiry. Instrumen perlakuan berupa RPP, sedangkan instrumen pengukuran hasil belajar meliputi penilaian test, rubrik afektif, rubrik psikomotor, dan respon belajar. Teknik analisis data digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa dengan uji-t, dan respon siswa terhadap keterlaksanaan strategi pembelajaran kaitannya dengan sumbangan terhadap hasil belajar dengan uji regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian. Pertama, terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar antara kelas ekperimen dan kelas kontrol dibuktikan dengan thitung (6,538) > ttabel (1,992) dan sig (p) = 0,000 < 0,05 (sangat signifikan). Kedua, respon siswa terhadap keterlaksanaan strategi pembelajaran TANDUR berbantuan web interaktif sangat baik dan mempunyai keterkaitan dengan hasil belajar siswa dengan sumbangsih sebesar 51,9%. Ketiga, dengan adanya indikasi peningkatan rata-rata kemampuan awal dan hasil belajar siswa kelas eksperimen, maka dapat diambil suatu kesimpulan adanya pengaruh penerapan strategi pembelajaran TANDUR berbantuan web interaktif terhadap hasil belajar siswa.

Hubungan antara efikasi diri dan kecemasan terhadap ujian nasional pada siswa kelas XII SMK PGRI 6 Malang / Rakhmaditya Dewi N.

 

Kata kunci: efikasi diri, kecemasan terhadap ujian nasional, siswa. Ujian Nasional merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkn pada beberapa mata pelajaran. Ujian Nasional merupakan syarat kelulusan untuk siswa tingkat akhir. Tes yang berperan menentukan lulus atau tidak lulusnya seseorang untuk jenjang pendidikan tertentu berpotensi besar membuat cemas peserta yang mengikutinya. Bayangan buruk seperti tanggapan dari lingkungan sosial, malu dan kehilangan muka memperparah efek kecemasan menghadapi tes tersebut. Efikasi memiliki peran yang besar dalam menghadapi masalah, supaya kecemasan tidak berlanjut. Efikasi diri dalam belajar adalah penilaian siswa terhadap kemampuan yang dimilikinya dalam mengerjakan tugas sekolah. Siswa dengan efikasi diri tinggi memiliki keyakinan yang besar terhadap kemampuan yang dimilikinya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan kecemasan terhadap Ujian Nasional pada siswa kelas XII SMK PGRI 6 Malang. Penelitian ini berjenis deskriptif dan korelasional, pengambilan sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling. Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah skala efikasi diri dan skala kecemasan terhadap Ujian Nasional. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, sebagian besar siswa kelas XII SMK PGRI 6 Malang memiliki efikasi diri tinggi yang rendah dan kecemasan terhadap Ujian Nasional yang sedang. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi sebesar rxy = -0,462 dengan nilai p = 0,002 (p< 0,05). Ini berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara efikasi diri dan kecemasan terhadap Ujian Nasional. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada orang tua agar dapat meningkatkan efikasi putra-putrinya dengan cara selalu memberikan penghargaan bila memang diperlukan dan mengurangi tuntutan yang berlebihan agar tingkat kecemasan terhadap Ujian Nasional berkurang. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut dengan memperluas dengan pelatihan efikasi diri siswa untuk mengurangi kecemasan terhadap Ujian Nasional. Bagi pihak sekolah diharapkan agar dapat lebih menignkatkan efikasi diri siswanya engan mengadakan pelatihan efikasi diri.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer dengan pendekatan kontekstual pada materi permutasi dan kombinasi di rintisan sekolah menengah atas bertaraf internasional / Devi Swaningrum

 

Kata Kunci: media pembelajaran, permutasi, kombinasi, pendekatan kontekstual, RSBI Pengembangan ini dilatarbelakangi oleh adanya siswa SMA Negeri 1 Boyolangu kelas XI yang mengalami kesulitan dalam mempelajari permutasi dan kombinasi. Khususnya dalam membedakan masalah yang harus diselesaikan dengan permutasi dan yang harus diselesaikan dengan kombinasi. Hal tersebut diduga disebabkan oleh model pembelajaran yang masih menitikberatkan pada pendekatan komputasi. Seiring dengan semakin bertambahnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan perkembangan fungsi komputer, peneliti mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer dengan pendekatan kontekstual pada materi permutasi dan kombinasi di Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional (RSMABI). Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) mendeskripsikan proses perancangan dan pengembangan media pembelajaran permutasi dan kombinasi berbantuan komputer dengan pendekatan kontekstual yang efektif dan memiliki daya tarik serta (2) menghasilkan media pembelajaran permutasi dan kombinasi berbantuan komputer dengan pendekatan kontekstual yang efektif dan memiliki daya tarik. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan model pengembangan media Alessi dan Trollip, yang terdiri dari 10 langkah, yaitu (1) menentukan kebutuhan dan tujuan, (2) mengumpulkan bahan acuan, (3) mempelajari isi, (4) membangkitkan ide, (5) mendesain pembelajaran, (6) membuat flowchart materi, (7) membuat storyboard pada kertas, (8) memprogram materi, (9) membuat materi pendukung, dan (10) mengevaluasi dan merevisi. Berdasarkan analisis data dari lembar validasi dan angket uji coba, media pembelajaran dinyatakan sangat valid, efektif, memiliki daya tarik yang sangat tinggi, dan tidak perlu direvisi. Dengan demikian media pembelajaran yang telah dikembangkan layak dijadikan sebagai media pembelajaran pada materi permutasi dan kombinasi di RSMABI. Namun demikian, sebagai penyempurnaan media pembelajaran, ada beberapa revisi yang dilakukan oleh peneliti berdasarkan kritik, saran, dan komentar yang diberikan oleh validator serta siswa. Sampai pada akhirnya, dihasilkan produk akhir yang dikemas pada Compact Disc (CD) bersama dengan master aplikasi Macromedia Flash 8, dan dapat dijalankan pada komputer yang memiliki Random Access Memory (RAM) minimal 512 Mega Bytes (MB). Dengan demikian, diharapkan media pembelajaran yang dihasilkan pada pengembangan ini dapat digunakan sebagai variasi dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).a

Penerapan model guided note taking untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVB SDN Tanjungrejo 5 Malang / Lita Kristiani

 

Kata Kunci: Model Guided Note Taking, aktivitas belajar, hasil belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di SDN Tanjungrejo 5 Malang pada waktu pembelajaran IPS di dapatkan fakta bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran, siswa merasa bosan, aktivitas siswa dalam pembelajaran kurang, dan hasil belajar siswa rendah. Hal tersebut dikarenakan model pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang tepat, sehingga siswa tidak konsentrasi dan merasa bosan saat pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan dengan menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran Guided Note Taking. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Guided Note Taking untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa melalui penggunaan model Guided Note Taking, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model Guided Note Taking. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis Taggart yang terdiri dari 4 tahapan yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan observasi, tahap refleksi, dan tahap perbaikan rencana . Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang, yang terdiri dari 22 siswa dengan rincian 10 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Guided Note Taking dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang. Hal ini ditandai dengan siswa semakin berkonsentrasi saat guru menjelaskan materi, keberanian bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru, serta siswa dapat bekerjasama dengan temannya saat pembelajaran berlangsung. Peningkatan rata-rata aktivitas siswa dari siklus I dengan nilai 83,5 meningkat pada siklus II dengan nilai 93. Sedangkan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan 62,4 meningkat pada siklus I menjadi 65,3, dan pada siklus II meningkat menjadi 68,5. Prosentase ketuntasan belajar siswa juga meningkat, yaitu pada siklus I mencapai 68,5% , meningkat pada siklus II dengan ketuntasan belajar 77,3% Berdasarkan penelitian di ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model Guided Note Taking dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Tanjungrejo 5 Malang. Disarankan agar guru menggunakan model pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran, menggunakan media pembelajaran yang menarik dan sering memantau aktivitas belajar siswa.

Penggunaan permainan tradisional engklek untuk meningkatkan pemerolehan kosa kata bahasa Arab siswa MI Roudlatul Muta'alimin Sawahan Turen Kabupaten Malang / Alfiatus Syahdiah

 

Kata Kunci: : permainan tradisional, pembelajaran bahasa Arab, kosa kata Permainan tradisional engklek merupakan permainan tradisional lompa-lompatan pada bidang datar yang digambar di atas tanah atau bidang datar. Permainan ini berbentuk petak-petak dan menggunakan alat bantu berupa potongan genteng atau batu ampar yang disebut dengan engklek. Dalam proses pembelajaran, tidak terbatas pada permainan modern yang dapat digunakan sebagai media. Permainan tradisional juga dapat digunakan untuk mengajarkan materi pelajaran. Salah satunya adalah permainan tradisional gacok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan pemerolehan kosa kata siswasetelah diterapkannya permainan tradisional engklek dalam pembelajaran bahasa Arab. Penelitian ini dilakukan di MI Raudlatul Muta'alimin Sawahan Turen (selanjutnya disingkat MI RM-ST) Kabupaten Malang, pada tanggal 21 Oktober 2010 sampai 9 Desember 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas, dengan siswa kelas VI MI RM-ST sebagai subjek penelitian. Data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yaitu aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan permainan tradisional engklek. Sedangkan data kuantitatif yaitu nilai yang penguasaan kosa kata siswa setelah permainan engklek digunakan. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah human instrument. Artinya, penelitilah yang mengumpulkan data, menyajikan data, mengorganisasi data, memaknai data dan menyimpulkan hasil penelitian. Instrumen bantu yang digunakan berupa tes, panduan wawancara dan panduan observasi. Hasil penelitian ini dideskripsikan tentang pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab dan peningkatan pemerolehan kosa kata siswa kelas VI MI RM-ST Kabupaten Malang pada pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan permainan tradisional engklek.Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisional engklek dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga pertemuan. Pada pertemuan pertama peneliti mengedrilkan kosa kata kepada siswa dengan menggunakan bantuan kartu kata. Pada pertemuan kedua peneliti menggunakan permainan tradisional engklek untuk pembelajaran kosa kata. Pada pertemuan ketiga, peneliti menyampaikan penjelasan mengenai kalimat yang berpola fi'il+fa'il+maf'ul bih dan dilanjutkan dengan tes siklus I. Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan permainan tradisional engklek, diketahui adanya peningkatan pemerolehan kosa kata dan nilai yang diperoleh siswa kelas VI MI RM-ST Kabupaten Malang. Pada saat pre tes nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 46. Pada saat pos tes, nilai rata-rata yang diperoleh siswa mengalami peningkatan, yaitu 77,5. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai permainan tradisional engklek ataupun permainan tradisional lainnya yang dapat diterapkan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Arab. Kepala MI RM-ST hendaknya bersama-sama dengan guru meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan permainan yang sesuai dengan karakter anak didik, misalnya dengan menggunakan permainan tradisional engklek atau permainan tradisional yang lain dalam pembelajaran bahasa Arab.

Implementing picture series to improve the ability of the 8th grade students of SMPN 21 Malang in writing a recount text / Ritche Adriana Agustina

 

Key words: writing ability, recount text, picture series Writing skill is one of language skills that should be mastered by the students of Junior High School. One type of texts that 8th graders must be able to write is recount text. Based on the result of the students’ writing product in the preliminary study, only 30.96% of the students could reach the score 3 and 4 in terms of content and 26.19% in terms of organization. Based on the problem above, this research wanted to overcome the problem by using picture series in guiding the students in generating and organizing the ideas when they make a recount text. In addition, the using of picture series strategy has never been used in teaching writing skill, especially in teaching recount text. The research was conducted at SMPN 21 Malang, Jalan Danau Tigi Malang. The subject of the research was class of 8.6 2010/2011 academic year which consisted of 42 students, 22 females and 20 males. The research used collaborative Classroom Action Research (CAR) methodology. The data comprised the students‘ attitudes during the teaching and learning process and students‘ writing scores. The data were collected through interview guides, questionnaires, observation checklists, field notes, and the students‘ final writings. The research was conducted in two cycles. The first cycle consisted of three meetings and the second cycle consisted of two meetings. The result of the first cycle was 71.43% of the students could reach score at least 3 in terms of content and 54.76% of the students could reach score at least 3 in terms of organization. It was much better than the score of the preliminary study. The students also showed the better attitude towards writing ability. They did not feel confused anymore to write a recount text and they did not get stuck in the middle of their writing. The motivation of the students also increased, it was because the usage of picture could attract their attention. Continuing in the second cycle, the researcher got a better result of their motivation and writing products. The last result showed that 83.33% of the students reached score at least 3 in terms of content and 88.10% of the student succeeded in getting score at least 3 in terms of organization. After conducting the second cycle, the criteria of success which was at least 60% of the students could reach score at least 3 in terms of content and organization has been achieved. Overall, 31 students felt that their ability in writing a recount text was much improved than before using picture series. Therefore, the researcher stopped the action. Based on the result in this research, it could be concluded that the implementation of picture series through writing process was succeeded to help the students in generating and organizing the ideas in writing a recount text. The English teachers are suggested to apply the picture series strategy in teaching writing skill in order to get the better improvement of the students’ writing products. For the Principals, they should facilitate the English teacher in finding or making the picture series and also provide LCD in order to show the picture series. For the further researcher, it is also suggested to explore the research by using picture series in different text types and level of educations in order to know whether or not the strategy works well in improving the students’ writing skill especially in organizing and generating the ideas.

Pengaruh pH hujan asam terhadap kandungan senyawa biokimia daun murbei Morus multicaulis Perr, mortalitas larva, kualitas kokon dan serat sutera Bombyx mori L. serta pemanfaatannya dalam penyusunan buku persuteraan / Jekti Prihatin

 

Program Studi Setingkat Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd., (II) Prof. Dr. Ir. Ariffin, M.S, (III) Dr. Abdul Gofur, M.Si. Kata kunci: hujan asam, daun murbei, mortalitas, kokon, serat sutera. Hujan asam merupakan manifestasi dari banyaknya polutan sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang ada di atmosfer yang akhirnya membentuk asam sulfat dan asam nitrat dan jatuh ke bumi berupa hujan yang asam. Pengaruhnya yang merugikan terhadap tanaman menyebabkan topik ini banyak diteliti pada berbagai tanaman hutan dan tanaman budi daya, akan tetapi penelitian pengaruh langsung hujan asam terhadap tanaman murbei dan pengaruh tidak langsungnya terhadap budidaya ulat sutera belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan pH hujan asam terhadap: (1) kandungan biokimia, yaitu protein total, gula total, sukrosa, vitamin C, klorofil, pH dan kadar air daun murbei Morus multicaulis Perr., (2) mortalitas larva, (3) kualitas kokon, (4) kualitas serat sutera Bombyx mori L. Hasil kajian digunakan untuk menyusun buku sains polusi pada budi daya ulat sutera. Penelitian ini terdiri atas penelitian I dan penelitian II. Penelitian I menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama, derajad keasaman, terdiri atas 5 level, yaitu pemaparan hujan asam pH 5,6; 4,6; 3;6; kontrol hujan buatan pH 6,2 dan air sumur pH 7,0. Faktor kedua, lama pemaparan, terdiri atas pemaparan 2, 4, 6, dan 8 minggu. Pada penelitian I, tanaman murbei sebanyak 180 tanaman dipapar hujan asam selama 2, 4, 6, dan 8 minggu dengan berbagai derajad keasaman. Kandungan senyawa biokimia daun muda dan daun tua diukur menggunakan standar AOAC. Data dianalisis menggunakan multivariate anova yang dilanjutkan ke uji lanjut LSD 5% dan 1%. Untuk mengetahui besarnya pengaruh perlakuan terhadap kandungan senyawa biokimia daun digunakan analisis regresi linier ganda. Penelitian II menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor derajad keasaman dan jenis ras ulat sutera Bombyx mori L. Pada penelitian ini, hujan buatan disusun menggunakan air demineralisasi yang ditambah berbagai mineral yang ada pada hujan terpolusi di Sidoarjo Jawa Timur dan ditambah dengan asam sulfat. Tanaman murbei sebanyak 1500 polybag sebagai pakan ulat sutera disiram menggunakan hujan buatan dengan pH 6,2; 4,6; dan kontrol air sumur (pH 7,0) selama 5 minggu. Seluruh tanaman berada di bawah naungan plastik agar tidak terkena air hujan dari alam. Ras ulat sutera yang digunakan yaitu ras C-301 dan ras BS-09 yang merupakan F1 hasil persilangan double cross ras China dan Jepang. Ulat sutera yang baru menetas sebanyak 720 individu digunakan pada awal penelitian. Diamati mortalitas tiap instar, kualitas kokon dan serat sutera yang dihasilkan. Sebagai data pendukung diukur pula kandungan senyawa biokimia daun muda dan daun tua murbei pada pemaparan 5 minggu. Data biokimia daun dianalisis menggunakan one-way anova yang jika berbeda nyata dilanjutkan dengan LSD 5% dan 1%. Data mortalitas, kualitas kokon, dan serat sutera dianalisis menggunakan multivariate anova yang jika berbeda nyata dilanjutkan dengan LSD 5%. Hasil penelitian I perlakuan derajad keasaman dan lama pemaparan hujan asam berpengaruh sangat signifikan (P0,05). Akan tetapi, pemaparan hujan asam tidak mempengaruhi kuantitas daun yang dihasilkan. Kandungan biokimia daun murbei dari yang terendah berturut-turut pada perlakuan hujan asam adalah pH 3,6; pH 4,6; pH 5,6; kontrol air sumur pH 7,0 dan hujan buatan pH 6,2, sedangkan pada perlakuan lama pemaparan adalah lama penyiraman 8 minggu, 6 minggu, 2 minggu, dan 4 minggu. Daun murbei yang terpapar hujan asam mempengaruhi penurunan mortalitas larva (P0,05). Mortalitas larva ras C-301 akibat pengaruh tidak langsung hujan buatan pH 6,2 dan hujan asam pH 4,6 masing-masing sebesar 4,16%, lebih kecil dibandingkan kontrol sebesar 19,16%, sedangkan pada ras BS-09 pada perlakuan yang sama sebesar 1,67%, 3,33%, dan kontrol 13,33%. Perlakuan penyiraman hujan asam pada tanaman murbei memperlihatkan pengaruh yang signifikan (P

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA melalui model somatic auditory visualization intellectualy pada siswa kelas V SDN Sumberagung I Kecamatan Plosoklaten / Amalia Rohmatu Mafida

 

Kata Kunci: Pembelajaran IPA, Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI) Berdasarkan hasil observasi awal pada kelas V di SDN Sumberagung I Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, siswa pasif dan jenuh selama pembelajaran dan guru masih menggunakan metode ceramah sebagai dominasi dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pra tindakan yaitu 56,8 dan terdapat 22 siswa atau 62,9% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 65. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan Model Pembelajaran (2) aktivitas belajar siswa (3) hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Sumberagung I Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri setelah menerapkan Model Pembelajaran Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI). Penelitian ini dilakukan di SDN Sumberagung I Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri dengan subyek siswa kelas V sebanyak 34 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Jenis penelitian yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggrat, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI) pada pembelajaran IPA kelas V dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan setiap indikatornya telah mengalami peningkatan, hal tersebut dapat dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh yaitu 94 pada siklus pertama dan meningkat menjadi 99 pada siklus kedua. Selain itu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti untuk aktivitas belajar siswa pada siklus I skor rata-rata aktivitas siswa sebesar 61,35 dan meningkat pada siklus II dengan memperoleh skor rata-rata aktivitas siswa sebesar 80,4. Selain itu, hasil belajar juga mengalami peningkatan. Hal tersebut terbukti dari rata-rata hasil belajar pada pra tindakan yaitu 55 dengan ketuntasan belajar kelas 32,3%, pada siklus I rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 63 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 55,8% dan pada siklus II rata-rata hasil belajar mengalami peningkatan lagi menjadi 74 meskipun ada 4 siswa (11,8%) yang belum mencapai ketuntasan belajar individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 88,2%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI) dapat meningkatkan pembelajaran IPA pada Standar Kompetensi “Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model” dan Kompetensi Dasar “Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya”, begitu pula aktivitas belajar dan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam melaksanakan model pembelajaran SAVI antara lain model pembelajaran SAVI membutuhkan waktu yang lama maka guru harus menyiapkan dengan matang sebelum menggunakan model ini dan guru hendaknya mempersiapkan media pembelajaran agar mendukung pelaksanaan model pembelajaran SAVI sehingga memperoleh hasil yang maksimal. Dan untuk meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran dengan model pembelajaran SAVI ini guru hendaknya harus memperharikan karakteristik siswa sabar dalam memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Selain itu, juga perlu diperhatikan dalam pembagian kelompok agar dalam satu kelompok heterogen yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan akademik yang berbeda agar tidak terjadi kesenjangan dalam kelompok. Mengingat masih adanya siswa yang belum bisa menuntaskan hasil belajarnya maka peneliti menyarankan agar guru memperhatikan karakteristik siswa dan lebih sabar dalam membimbing siswa. Guru dapat memberikan motivasi kepada siswa yang ditunjukkan dengan cara memberikan hadiah atau penghargaan pada siswa dengan nilai yang terbaik.

Memahamkan konsep sudut pada lingkaran dengan menggunakan media manipulatif dalam pembelajaran kooperatif pada siswa kelas VIII-A SMPN 1 Ringinrejo Kediri / Tsania Hidayatur Rohmah

 

Kata Kunci: Media manipulatif, pembelajaran kooperatif, pemahaman siswa Berdasarkan hasil wawancara dengan guru pada tanggal 4 Desember 2010, analisis hasil raport semester I, dan hasil pengamatan kelas di SMP Negeri 1 Ringinrejo pada tanggal 7 Januari 2011, diketahui bahwa pemahaman siswa kelas VIII-A lebih rendah dibandingkan dengan kelas lain. Pembelajaran yang dilakukan guru adalah dengan metode ceramah dan pemberian tugas pada siswa melalui buku paket. Pada akhir pembelajaran diperoleh nilai siswa yang kurang memuaskan karena siswa kurang memperhatikan penjelasan guru dan mereka lebih tertarik untuk berbicara dengan teman sebangku. Berdasarkan permasalahan ini, peneliti melakukan upaya perbaikan dengan menerapkan suatu pembelajaran yang telah disepakati bersama dengan guru berpengalaman yaitu pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media manipulatif. Pembelajaran kooperatif adalah tipe pembelajaran yang membagi kelas kedalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 siswa heterogen secara kemampuan akademik dan jenis kelamin. Tujuan utama pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media manipulatif adalah memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk aktif membangun pengetahuan matematika secara bermakna dengan cara bekerja sama memanipulasikan media konkret. Ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media manipulatif. Pertama, siswa menumbuhkan pemahaman mereka terhadap materi secara bermakna karena menemukan sendiri konsepnya. Kedua, siswa belajar dalam lingkungan kehidupan sosial dengan saling membantu teman kelompok yang lain ketika memahami konsep. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan. Subjek pembelajaran adalah kelas VIII-A. Penelitian diadakan pada tanggal 28 Januari 2011 sampai 28 Februari 2011. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Analisis data diperoleh dari hasil dokumen nilai siswa pada semester sebelumnya, hasil pengamatan, dan hasil evaluasi siswa. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan media manipulatif dalam konteks belajar kooperatif untuk memahamkan konsep sudut pada lingkaran pada siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Ringinrejo Kabupaten Kediri tahun ajaran 2010/2011, 2)mendeskripsikan bagaimanakah pemahaman siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Ringinrejo Kabupaten Kediri setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif dengan menggunakan media manipulatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus I rata-rata kelas sebesar 73.33333, untuk siklus II sebesar 74.15789, dan untuk siklus III sebesar 75.40936. Meskipun hasil rata-rata tiap siklus di atas KKM, ternyata pada siklus I siswa belum dikatakan memiliki pemahaman yang diharapkan dan pembelajaran belum dikatakan berhasil karena ketuntasan klasikal belum mencapai sekurang-kurangnya 80% dari keseluruhan siswa . Diadakannya siklus II adalah sebagai upaya perbaikan dari siklus I. Pada siklus II diperoleh ketuntasan klasikal lebih dari 80% dari keseluruhan siswa sehingga diakatakan pembelajaran telah berhasil memahamkan siswa. Selanjutnya diadakan siklus III untuk memberikan materi kelanjutan dari siklus I atau II tentang sudut-sudut pada lingkaran. Hasil siklus III telah mencapai indikator keberhasilan tindakan. Berdasar hasil penemuan pada penelitian ini, beberapa saran ditujukan untuk meningkatkan pembelajaran sebagai berikut (1) menggunakan media manipulatif dalam pengaturan pembelajaran kooperatif sebagai alternatif pembelajaran untuk memahamkan konsep pada siswa (2) menggunakan waktu secara efektif dan hati-hati karena pada saat diskusi kelompok membutuhkan waktu yang sangat lama (3) mempersiapkan lembar kerja secara rinci sehingga mampu membimbing siswa dalam menemukan konsep.

Pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran pada siswa kelas V SD / Sri Hartatik

 

Kata kunci: pemecahan masalah, operasi hitung campuran, bilangan, SD Hasil pre test matematika kelas V untuk materi semester I yang diujikan kepada siswa kelas V SDN Kromengan 04 menunjukkan bahwa kemampuan siswa pada operasi hitung campuran mendapatkan nilai terendah. Siswa tidak terampil dalam mengerjakan soal operasi hitung campuran. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran berdasarkan pendekatan pemecahan masalah yaitu dengan tahap pemahaman terhadap masalah, perencanaan pemecahan masalah, melaksanakan perencanaan pemecahan masalah dan melihat kembali kelengkapan pemecahan masalah, Tujuan penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan keterlaksanaan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran pada siswa kelas V SDN Kromengan 04 Kabupaten Malang, 2) mendeskripsikan aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah, 3) mendeskripsikan hasil belajar siswa pada materi operasi hitung campuran setelah diterapkan pendekatan pemecahan masalah. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan pada setiap siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: 1) penyusunan rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Subyek penelitian yaitu siswa kelas V SDN Kromengan 04 Kabupaten Malang pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 sebanyak 25 siswa. Berdasarkan tes pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa masih jauh dari harapan yaitu 55,04 dibawah standar KKM yang ditetapkan SDN Kromengan 04 yaitu 65. Hasil pre tes menunjukkan 0% siswa dengan nilai 81-100 kategori A, 24% siswa dengan nilai 61-80 kategori B, 72% siswa dengan nilai 41-60 kategori C, 4% siswa dengan nilai 21-40 kategori D dan 0% siswa dengan nilai 0-20 kategori E. Berdasarkan analisis data hasil penelitian setelah diterapkan pendekatan pemecahan masalah, diketahui bahwa: rata-rata aktivitas siswa siklus I sebesar 77,97 dan siklus II meningkat menjadi 81,70; 2) rata-rata hasil belajar siswa sebelum tindakan sebesar 55,04, pada siklus I meningkat 52% menjadi 67,36 dan pada siklus II meningkat 16% menjadi 85,16. Data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran siswa kelas V SDN Kromengan 04 Kabupaten Malang. Dari data-data yang telah dipaparkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran siswa kelas V SDN Kromengan 04 Kabupaten Malang.

Pengaruh penerapan permainan pair coupon exchange terhadap hasil belajar TIK siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Malang / Dila Umnia Soraya

 

Kata kunci: pair coupon exchange, teknik bertukar pasangan, hasil belajar, pengolah kata. Secara teoritis, TIK memainkan peran penting untuk mendukung proses belajar aktif, konstruktif, kolaboratif, intensif, konversif, kontekstual, dan reflektif. Sehingga, pembelajaran TIK membutuhkan suatu model belajar yang dapat memberi kesempatan siswa bekerjasama dalam kelompok, meningkatkan antusiasme, memberi peluang, motivasi, dan kesenangan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan dari berbagai sumber belajar. Namun, pada kenyataannya masih banyak guru yang kurang memperhatikan penggunaan metode belajar yang tepat dalam pembelajaran TIK. Sumber belajar yang disediakan masih sangat terbatas. Metode berkelompok yang digunakan oleh guru belum memberi kesempatan siswa untuk saling bertukar informasi dengan teman kelompok lain, sehingga terjadi kesenjangan antar kelompok. Pembelajaran seperti ini dapat menciptakan suasana kelas yang membosankan, siswa mengalami kesulitan belajar, serta menyebabkan kesenjangan antar kelompok yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Melihat kenyataan di atas, diterapkan sebuah model pembelajaran TIK pokok bahasan membuat dokumen pengolah kata yaitu permainan pair coupon exchenge. Pair coupon exchange merupakan modifikasi dari metode Belajar Beraneka Sumber (BEBAS) dengan teknik bertukar pasangan yang dikemas dalam bentuk permainan menggunakan kupon berwarna berpasangan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa kelompok eksperimen dan kontrol serta untuk mengetahui pengaruh penerapan permainan pair coupon exchange terhadap hasil belajar TIK siswa kelompok eksperimen. Rancangan penelitian menggunakan desain eksperimen semu dengan pola pretest-posttest control group design. Variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan variabel terikat yaitu hasil belajar. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling, yaitu kelas VIII-D sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII-H sebagai kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan adalah silabus, RPP, lembar angket, lembar pengamatan, portofolio, dan tes tulis. Uji hipotesis menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Hasil uji t menghasilkan nilai Sig (p) = 0,000 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar TIK antara kelompok eksperimen dan kontrol. Hasil uji regresi linear sederhana diperoleh nilai Sig (p) = 0,000 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan permainan pair coupon exchange terhadap hasil belajar TIK pada kelompok eksperimen yang pengaruhnya dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y = 63,722 + 0,312 X.

Perbedaan kompetensi instalasi sistem operasi antara penerapan CTL berbantuan media interaktif dengan pembelajaran konvensional berbantuan media interaktif pada siswa kelas X di SMK Negeri 12 Malang / Arumantika Eko Yuliapriliyanti

 

CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran CTL yang digunakan dalam penelitian ini adalah model REACT. Penelitian ini mengolaborasikan antara CTL dengan media interaktif sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Tujuan dari penelitian adalah: (1) Untuk merancang media interaktif yang valid dan sesuai dengan kaidah media pembelajaran yang baik; (2) Untuk membuat media interaktif yang valid dan sesuai dengan kaidah media pembelajaran yang baik; (3) Untuk mendeskripsikan kompetensi Instalasi Sistem Operasi yang diajar menggunakan penerapan contextual teaching and learning (CTL) berbantuan media interaktif; (4) Untuk mendeskripsikan kompetensi Instalasi Sistem Operasi yang diajar menggunakan strategi konvensional berbantuan media interaktif; dan (5) Untuk mengungkap perbedaan kompetensi Instalsi Sistem Operasi antara penerapan CTL berbantuan media interaktif dengan pembelajaran konvensional berbantuan media interaktif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment design). Dengan rancangan Post test-Only Control Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Multimedia di SMK Negeri 12 Malang tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 123 siswa. Sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas X MM 2 (41 siswa) sebagai kelas kontrol dan kelas X MM 1 (41 siswa) sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling cluster random. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kompetensi Instalasi Sistem Operasi dan variabel bebas adalah penerapan CTL berbantuan media interaktif. Hasil validasi media interaktif dari uji coba terbatas adalah media siap layak digunakan dengan presentasi 93,87%. Dari hasil Uji-t diperoleh hasil yaitu thitung. 3,150 > ttabel 1,664. Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata nilai kompetensi belajar antara siswa yang diajar dengan penerapan CTL berbantuan media interaktif dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional berbantuan media interaktif. Penerapan CTL yang dikolaborasikan dengan penggunaan media interaktif sebagai alat bantu dalam pembelajaran memberikan pengaruh yang positif terhadap kelas X MM 1, dengan penerapan CTL berbantuan media interaktif siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga kompetensi belajar kelas X MM 1 (eksperimen) lebih tinggi dari pada kelas X MM 2 (kontrol).

Perbedaan prestasi belajar matematika dengan pembelajaran geometri Van Hiele dan konvensional pada materi kubus dan balok kelas VIII SMP Negeri 2 Malang / Sriningsih

 

Kata Kunci: prestasi belajar, pembelajaran geometri van Hiele, pembelajaran konvensional, kubus dan balok Geometri merupakan salah satu cabang matematika yang penting untuk dipelajari. Menurut Standar Isi, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, salah satu materi geometri yang diajarkan pada siswa SMP atau MTs kelas VIII adalah kubus dan balok. Hasil wawancara dengan salah satu guru matapelajaran matematika SMP Negeri 2 Malang diperoleh informasi bahwa prestasi belajar geometri menempati posisi yang paling rendah terutama materi bangun ruang termasuk kubus dan balok. Berdasarkan hasil observasi, proses pembelajaran matematika yang sering diterapkan di SMP Negeri 2 Malang adalah pembelajaran konvensional yang pelaksanaanya lebih banyak menggunakan ceramah. Pembelajaran konvensional tidak memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa sehingga mengakibatkan siswa mengalami kesulitan memahami konsep geometri. Berdasarkan permasalahan tersebut, dalam penelitian ini dicobakan pembelajaran yang bisa mengatasi masalah geometri yaitu pembelajaran geometri van Hiele. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah prestasi belajar matematika dengan pembelajaran geometri van Hiele lebih baik dibanding dengan pembelajaran konvensional pada materi kubus dan balok kelas VIII SMP Negeri 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Rancangan penelitian yang dipilih adalah Posttest Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2010/2011. Pemilihan sampel dilakukan dengan menganalisis data kemampuan awal siswa. Berdasarkan hasil analisis data kemampuan awal, kelas VIII E yang terdiri dari 40 siswa terpilih sebagai kelompok kontrol dan kelas VIII F yang terdiri dari 38 siswa terpilih sebagai kelompok eksperimen karena kedua kelas tersebut mempunyai rata-rata kemampuan awal yang sama. Dengan demikian jumlah sampel adalah 78 siswa. Uji prasyarat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan rata-rata menggunakan uji Anova. Sedangkan uji hipotesisnya menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh thitung > ttabel yaitu 3,457 > 1,658. Jadi hipotesis nol (H0) ditolak, dengan kata lain H1 diterima yang berarti prestasi belajar matematika dengan pembelajaran geometri van Hiele lebih baik dibanding dengan pembelajaran konvensional pada materi kubus dan balok kelas VIII SMP Negeri 2 Malang.

Pengukuran diameter dan kedalaman kawah Copernicus di bulan dengan menggunakan Microsoft Visio Premium 2010 di Laboratorium Astronomi Universitas Negeri Malang / Ide Hardiana Santi

 

Kata Kunci: Pengukuran, Diameter, Kedalaman, Kawah Copernicus, Bulan Bulan merupakan benda langit yang paling dekat dengan bumi. (Bayong,2003:25) Permukaan bulan yang menghadap bumi selalu sama. Hal itu dikarenakan bulan selain berevolusi terhadap bumi bulan juga berotasi pada pusatnya. Permukaan bulan terlihat bercak-bercak, bopeng penuh dengan kawah. Salah satu kawah besar di permukaan bulan adalah Copernicus. Kawah Copernicus merupakan salah satu kawah yang menonjol dan tergolong muda dipermukaan bulan. Kawah ini berada di sebelah barat Oceanus Procellarum, sebelah selatnanya terdapat Mare Insularum, dan disebelah barat daya dari kawah Copernicus terdapat kawah Reinhold Imbrium. (Bussey,2004) Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui diameter dan kedalaman kawah Copernicus di Bulan. Diameter kawah dapat dihitung dengan menarik garis dari rim ke rim pada Microsoft visio premium 2010, kemudian mengalikan hasilnya dengan nilai kalibrasi. Sedangkan untuk pengukuran kedalaman dapat dihitung dengan mengukur panjang bayangan yang terbentuk (l), kemudian menghitung jarak kawah dari terminator (d). Hasilnya dikalikan dengan kalibrasi kemudian dihitung dengan persamaan h=l·d/R. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh diameter kawah Copernicus adalah (94,977±1,483) Km dengan tingkat kesalahan dari standar sebesar 0,02%, hasil tersebut sudah mendekati diameter kawah Copernicus yang sebenarnya yaitu sebesar 95 Km dalam Virtual Moon Atlas. Sedangkan untuk pengukuran kedalaman kawah Copernicus diperoleh nilai (3,707±0,627) Km dengan tingkat kesalahan dari standar sebesar 1,4%. Nilai tersebut juga sudah mendekati nilai kedalaman yang sebenarnya yaitu 3,760 Km. Hal ini menunjukkan bahwa perhitungan dengan teknik kalibrasi ini benar dan dapat digunakan untuk perhitungan jarak jauh tanpa harus terjun ke lapangan untuk melakukan pengukuran secara langsung.

Penerapan metode kumon untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan siswa kelas-3 dalam menyelesaikan soal pembagian bersusun di MI terpadu Ar Roihan Lawang / Ema Fitriya

 

Kata Kunci: metode kumon, motivasi, pembagian bersusun. Sekolah Dasar (SD) merupakan salah satu jenjang pendidikan terpenting untuk memperoleh pengetahuan dasar sebagai penunjang dalam memperoleh pengetahuan berikutnya di jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu, agar mudah dalam memperoleh pengetahuan di jenjang yang tinggi siswa SD harus mempunyai pengetahuan dasar yang kuat. Pengetahuan dasar yang kuat akan diperoleh apabila pembelajaran dilakukan sesuai dengan karakteristik dan kemampuan siswa, namun guru mengalami kesulitan dalam melakukan hal tersebut. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan klasikal yang terdiri dari banyak siswa dalam satu kelas (30-40 siswa) yang mengakibatkan perhatian guru tidak merata sehingga motivasi siswa menurun dalam pembelajaran matematika dan hasil belajar siswa pun masih di bawah KKM terutama pada materi pembagian bersusun yang menuntut keterampilan masing masing individu bukan kelompok. Untuk mengatasi masalah di atas, maka dilakukanlah pembelajaran dengan menggunakan metode kumon yang bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kumon yang mampu meningkatkan motivasi belajar dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pembagian bersusun siswa kelas 3 di MI Terpadu Ar Roihan Lawang. Penelitian ini dilaksanakan di kelas 3 MI Terpadu Ar Roihan Lawang dengan jumlah siswa 30 anak. Untuk mengumpulkan data, digunakan tekhnik wawancara, observasi, tes dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan rumus prosentase dan pedoman ketuntasan belajar siswa. Hasil penelitian ini adalah diperoleh adanya peningkatan motivasi siswa terhadap pembelajaran matematika yaitu 93% dengan kriteria sangat tinggi. Selain itu pada peningkatan hasil belajar siswa diperoleh nilai rata-rata 92,0 dan prosentase ketuntasan siswa 93% dengan kriteria sangat baik. Penerapan metode kumon di kelas terbukti mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Namun dalam pelaksanaan di sekolah-sekolah lain, guru dapat mengkreasikan sesuai dengan karakteristik dan kondisi sekolahnya masing-masing.

Pengembangan media permainan bithoqoh dzakiyah untuk menunjang pembelajaran kosa kata bahasa Arab bagi siswa kelas IV MI Perwanida Blitar / Ana Tri Lestari

 

Kata kunci: media pembelajaran, permainan bithoqoh dzakiyah, kosa kata. Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa Asing di Indonesia. Dalam mempelajari bahasa asing diperlukan suasana yang menyenangkan bagi siswa. Sehingga siswa lebih bersemangat dalam belajar. Salah satu teknik yang dapat digunakan yaitu teknik bermain. Permainan bithoqoh dzakiyah merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) proses pengembangan media permainan bithoqoh dzakiyah dalam pembelajaran kosa kata bahasa Arab untuk siswa kelas IV MI, (2) penggunaan bithoqoh dzakiyah dalam pembelajaran kosa kata bahasa Arab untuk siswa kelas IV MI. Rancangan penelitian ini adalah pengembangan. Pengembangan media bithoqoh dzakiyah ini, melalui beberapa tahap yaitu: Melakukan analisis kebutuhan, Pengembangan produk dengan melakukan perencanaan dalam bentuk persiapan produk dan materi, Uji ahli, Uji kelompok kecil dan uji lapangan, Penyempurnaan produk akhir. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media permainan bithoqoh dzakiyah untuk menunjang pembelajaran kosa kata bahasa Arab bagi siswa kelas IV MI yang telah tervalidasi. Media permainan tersebut merupakan suatu media yang dibuat khusus untuk menunjang pembelajaran kosa kata bahasa Arab kelas IV MI yang bertujuan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Desain pembuatan media bithoqoh dzakiyah ini menggunakan program adobe photoshop CS4. Dengan menggunakan program tersebut, peneliti mendesain gambar dan kosa kata dalam tema َﻤﻟا ُتاَوَدَﻷاﺔﱠﯿِﺳَرْﺪ sehingga menjadi satu kesatuan bithoqoh dzakiyah yang menarik dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sebagai media permainan. Penggunaan bithoqoh dzakiyah ini diarahkan sebagai media yang digunakan untuk evaluasi pembelajaran kosa kata bahasa Arab dan juga dapat digunakan sebagai pembelajaran mandiri untuk menunjang penguasaan kosa kata bahasa Arab bagi anak.

Pengembangan software media CD interaktif berbasis powerpoint pada mata pelajaran PKn di kelas II SDN Kauman 2 / Eva Rianingsih

 

Kata kunci: pembelajaran PKn, CD Interaktif, PowerPoint Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada guru kelas II B SDN Kauman 2 Malang, diketahui bahwa dalam pembelajaran sehari-hari guru dalam mengajar mata pelajaran PKn materi hidup gotong-royong, pemeliharaan lingkungan, sikap demokratis, dan nilai-nilai Pancasila sudah menggunakan media laptop yang materi dari buku BSE tersebut diproyeksikan dengan LCD tetapi masih bersifat satu arah saja,tidak memberikan variasi dalam pembelajaran karena siswa hanya melihat tampilan buku BSE tersebut. Untuk menarik perhatian, perlu diciptakan situasi kelas yang membuat siswa termotivasi untuk belajar. Salah satunya adalah penggunaan PowerPoint bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) membuat langkah-langkah pembuatan software media CD interaktif berbasis PowerPoint pada mata pelajaran PKn di kelas II SDN Kauman 2 , (b) membuat software media CD interaktif berbasis PowerPoint pada mata pelajaran PKn di kelas II SDN Kauman 2, (c) mengembangkan materi yang disajikan dalam software media CD interaktif berbasis PowerPoint pada mata pelajaran PKn di kelas II SDN Kauman 2. Jenis penelitian ini adalah Penelitian dan Pengembangan (Research and Development/R&D) yang diadaptasi dari model Sugiyono yang telah dimodifikasi yang terdiri dari 9 langkah yaitu: (1) mengidentifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) ujicoba produk, (7) revisi produk, (8) ujicoba pemakaian, (9) revisi produk. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa produk software media CD interaktif berbasis PowerPoint pada mata pelajaran Pkn di kelas II yang telah divalidasi oleh ahli media, materi, guru kelas II, dan telah diujicobakan pada siswa kelas II B SDN Kauman 2 Malang. Media ini mencapai tingkat kelayakan 100% dari ahli media, 89,6% dari ahli materi, 85% dari guru SD, 92,8% dari wawancara dengan siswa kelas II B, dan dari tes yang diberikan kepada siswa setelah menggunakan software media CD interaktif berbasis PowerPoint ini seluruh siswa kelas II B telah tuntas belajar dengan nilai keseluruhan siswa di atas standar ketuntasan minimun (SKM) yaitu di atas 75 . Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa software CD interaktif berbasis PowerPoint layak digunakan dalam pembelajaran PKn kelas II SD. Adapun saran yang dapat dikemukakan yaitu diharapakan guru SD mencoba menggunakan media dalam pembelajaran PKn SD agar siswa lebih aktif dan termotivasi dalam belajar. Selain itu, produk pengembangan media ini dapat dijadikan sebagai salah satu masukan bagi pengembang dengan membuat media yang lebih lengkap dan menarik untuk anak usia SD.

Penerapan algoritma backtracking untuk menyelesaikan masalah knight's tour menggunakan Borland Delphi / Farid Ahmadi

 

Kata Kunci: catur, knight’s tour, algoritma backtracking, flowchart, Borland Delphi Catur merupakan suatu permainan yang unik dan membutuhkan logika berfikir tinggi. Dalam permainan catur terdapat beberapa bidak. Kuda (knight) merupakan bidak yang mempunyai langkah yang unik yaitu membentuk huruf L. Dari langkah kuda yang unik, dapat dikembangkan permainan knight’s tour. Dalam permainan ini, kuda dituntut untuk melewati semua persegi dari papan catur tanpa melewati persegi yang telah dilewati. Algoritma backtracking merupakan salah satu algoritma yang dapat dipakai untuk menyelesaikan permasalahan ini. Permasalahan ini dapat juga diselesaikan dengan membuat suatu aplikasi pada komputer. Dengan memanfaatkan Borland Delphi, dapat dibuat suatu aplikasi sederhana yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah membuat program knight’s tour menggunakan algoritma backtracking dan menerapkannya pada Borland Delphi. Software yang digunakan dalam pembuatan program ini adalah Borland Delphi 7. Pembuatan program dengan langkah studi literatur, perencanaan dasar, perancangan dasar, dan hasil program. Dalam pembuatan program tersebut, dibuat suatu diagram alir (flowchart) untuk mempermudah dalam pembuatan program.. Dari pembahasan ini menghasilkan program untuk mencari solusi masalah knight’s tour yang terdiri dari knight’s tour terbuka dan knight’s tour tertutup. Program ini dapat digunakan untuk mencari solusi dari masalah knight’s tour pada papan berbentuk persegi dan persegi panjang. Solusi yang diperoleh dari program ini ditampilkan dalam bentuk urutan secara tertulis, urutan langkah dalam bentuk papan, dan dalam bentuk gambar. Program tersebut telah diuji coba menggunakan komputer dengan spesifikasi prosessor Intel Core2 duo 2,1 GHz, memory 2 GB, dan hard disk 250 GB. Papan terkecil yang mempunyai solusi dari knight’s tour terbuka adalah papan berukuran 3 x 4, sedangkan papan terkecil yang mempunyai solusi knight’s tour tertutup adalah papan berukuran 6 x 6.

Pengembangan multimedia pembelajaran interaktif materi kubus dan balok untuk siswa kelas VIII SMP / Shandi Pratama

 

Dalam pembelajaran matematika, beberapa topik yang sulit disampaikan secara konvensional dapat dilaksanakan dengan bantuan teknologi komputer (multimedia). Pada mata pelajaran matematika tingkat SMP, salah satu aspek yang harus dikuasai siswa adalah geometri dan pengukuran. Aspek geometri khususnya materi kubus dan balok sebenarnya telah diajarkan sejak SD, namun ternyata kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal dimensi tiga seperti kubus dan balok masih rendah. Oleh karena itu, tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk (software) multimedia pembelajaran interaktif yang berkualitas (valid, praktis, efektif) materi kubus dan balok untuk siswa kelas VIII SMP. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan terdiri dari konsep, analisis, desain, pengumpulan bahan, pembuatan, evaluasi, uji coba, dan revisi serta distribusi. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif. Data penelitian ini dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif. Data hasil analisis yang diperoleh menggambarkan apakah multimedia pembelajaran interaktif yang telah dikembangkan memenuhi ketiga aspek kualitas, yaitu valid, praktis, dan efektif. Instrumen pengumpulan data terdiri dari lembar validasi untuk ahli materi dan lembar validasi untuk ahli media serta kuesioner untuk validator dan subjek coba. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis validitas, kepraktisan, dan keefektifan. Hasil analisis adalah sebagai berikut. Analisis validitas menghasilkan rata-rata skor Va sebesar 3,51 yang menunjukkan bahwa dari segi materi maupun media (tampilan) multimedia telah valid. Analisis kepraktisan menghasilkan pernyataan dari para validator bahwa multimedia dapat digunakan dengan sedikit revisi. Tambahan pula, data jawaban benar siswa menunjukkan bahwa multimedia dapat digunakan dengan tanpa atau sedikit revisi. Sehingga, dapat dikatakan multimedia telah praktis. Analisis keefektifan menunjukkan bahwa 80% dari seluruh subjek coba yang menggunakan multimedia telah memenuhi kriteria ketuntasan pembelajaran dengan multimedia Tambahan pula, untuk analisis kepraktisan, rata-rata prosentase respon siswa (RS) untuk semua pertanyaan sebesar 88,93% yang menunjukkan bahwa respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan multimedia sangat positif. Sehingga, multimedia dapat dikatakan telah efektif. Saran untuk pengembangan lebih lanjut adalah sebagai berikut. Diharapkan selanjutnya akan ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut pada materi kubus dan balok ini. Seperti penelitian eksperimen untuk mengetahui keefektifan penggunaan KuBal dalam pembelajaran yang sebenarnya.

The effectiveness of using picture cards in teaching vocabulary used in descriptive text for seventh graders at SMP 1 Pakisaji / Anggi Mutia Marsaulina

 

Keywords: picture cards, teaching vocabulary This study is aimed at examining whether there is a significant difference in the vocabulary mastery of students who are taught using picture cards as a medium in teaching and learning and those who are taught without using them. This study was conducted to the seventh grade students of SMP 1 Pakisaji of academic year 2010/2011. The population of the study was the seventh year students of SMP 1 Pakisaji in the academic year of 2010/2011. And the number of the population is approximately 186 students. The samples were two classes of the seventh grade; one class was used as the experimental group and the other one was the control group. The samples were selected based on the same level of competence in English. Each class consisted of 31 students. So, the total number was 62 students. The instrument used to get the data was the vocabulary test consisting of 20 test items in the form of multiple choice with four options. Each of the test items were considered valid from the view of test content and the representation of the materials tested since the test used content validity. The reliability was found to be 0.96; it meant that the reliability of the test was very high. This study was a quasi experimental design with the procedures including the pre-experimental stage, the experimental stage, and the post-experimental stage. The finding shows that the mean score of the pretest of the experimental group is 11.12 and 11.92 for the control group. And the experimental group got better mean score than the control group. The mean score of the posttest for the experimental group was 19.32 and 15.48 for the control group. Based on the Independent samples t test with the help of the SPSS 16.0 program, it was found that the t value was -13.345 at 0.05 level of significance. It means that there is a significant difference in the vocabulary mastery of the students taught using picture cards and those taught without using picture cards. That sample test is a comparison between the mean scores of the posttest of the both groups. And for the mean score of the pretest and the mean score of the posttest from the control group the t value was -5.904. It means that there is significant difference between the pretest and the posttest of the control group. And for the experimental group, it was found that the t value was -12.047. It means that there is significant difference between the pretest and the posttest of the experimental group. The findings showed that the different treatment used for the experimental group and the control group gave a significant different result in the students’ mastery of vocabulary. Therefore, the Null hypothesis is rejected. In conclusion, the finding of the research shows that picture cards are effective to be used in teaching and learning of vocabulary. Thus, the researcher suggests that picture cards can be used in teaching and learning of vocabulary at the Junior High School.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered head together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS-3 SMA Negeri 1 Kesamben Kabupaten Blitar / Nur Ahlakul Nurvensia

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT), hasil belajar. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dala kegiatan pembelajaran Geografi harus memperhatikan tingkat perkembangan intelektual dan perkembangan mental siswa, oleh karena itu harus disesuaikan bahan ajar apa yang hendak dibelajarkan serta bagaimana cara membelajarkannya. Pembelajaran Geografi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kesamben memiliki Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) lebih besar atau sama dengan 75. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Geografi dan observasi diketahui bahwa daya serap klasikal mata pelajaran Geografi di kelas XI IPS-3 belum mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM). Dari kriteria ketuntasan minimum (KKM) yang telah ditetapkan, tidak ada siswa yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 75 pada ulangan harian pertama. 40 siswa mendapatkan nilai kurang dari 75. Dengan demikian tidak ada siswa XI IPS-3 yang tuntas. Rata-rata nilai yang diperoleh siswa kelas XI IPS-3 adalah 47,425. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Geografi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan pada bulan Januari 2011. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas yaitu sebesar 52,5% pada siklus I dan sebesar 87,5% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar Geografi setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT). Disarankan kepada para guru Geografi untuk mencoba menerapkan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran khususnya Geografi agar kualitas pembelajaran Geografi semakin meningkat. Kepada pihak sekolah disarankan agar memberikan fasilitas yang menunjang keberhasilan penerapan model pembelajaran tersebut di sekolah.

Analisis kualitas LKS geografi tingkat SMA/MA kelas X semester I pada materi pendekatan dan prinsip geografi / Novarina Arliani

 

Kata kunci: LKS Geografi SMA/MA, Materi Pendekatan dan Prinsip Geografi Saat ini sebagian besar sekolah pada tingkat SMA/MA tidak mewajibkan siswanya untuk membeli buku teks. Siswa hanya diwajibkan membeli buku pendamping belajar siswa yaitu LKS. Masalah yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran saat ini adalah memilih dan menentukan LKS yang berkualitas. Hasil analisis awal pada LKS Geografi kelas X yang banyak digunakan di SMA/MA Kota Blitar, terdapat beberapa kesalahan seperti konsep yang disajikan dalam LKS tersebut tidak benar, latihan soal yang disajikan tidak sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai siswa, serta bahasa yang digunakan kurang efektif. Berdasarkan hasil analisis awal tersebut diasumsikan bahwa LKS Geografi kelas X terdapat kesalahan, sehingga diperlukan analisis LKS untuk mengetahui kualitas, mengingat pentingnya LKS dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui kualitas LKS, rumusan masalah penelitian sebagai berikut: (1) bagaimana kualitas kelengkapan komponen dalam LKS Geografi? (2) bagaimana kualitas kebenaran konsep dalam LKS Geografi pada materi Pendekatan dan Prinsip Geografi? (3) bagaimana kualitas kesesuaian soal dalam LKS Geografi pada materi Pendekatan dan Prinsip Geografi? (4) bagaimana kualitas kebenaran bahasa dalam LKS Geografi pada materi Pendekatan dan Prinsip Geografi?. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan teknik analisis isi. Sumber data penelitian ini adalah LKS Geografi kelas X semester 1 pada materi Pendekatan dan Prinsip Geografi, yang digunakan oleh SMA/MA Negeri se-Kota Blitar pada tahun ajaran 2010/2011 terbitan CV. Viva Pakarindo. Data hasil analisis dikumpulkan dengan menggunakan instrumen berupa format analisis. Hasil penelitian sebagai berikut: pertama, kelengkapan komponen LKS Geografi tergolong tinggi, ini menunjukkan kualitas LKS dari aspek komponen LKS tergolong baik; kedua, kualitas LKS dari aspek kebenaran konsep tergolong tinggi; ketiga, kualitas LKS Geografi pada aspek kesesuaian soal tergolong sedang, terdapat beberapa kesalahan seperti penggunaan bahasa dalam soal masih sulit dipahami; keempat, kualitas LKS dari aspek kebenaran bahasa untuk kebenaran tanda baca tergolong tinggi, kebenaran kosa kata tergolong tinggi, dan kebenaran bahasa tergolong sedang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diajukan saran-saran: pertama, bagi penerbit dan penulis, sebaiknya LKS Geografi kelas X semester I terbitan CV. Viva Pakarindo direvisi; kedua, bagi guru pengajar atau calon guru, hendaknya menulis LKS sendiri.

Pengukuran diameter dan kedalaman kawah pegunungan Archimedes pada fase bulan waxing qibbous di Laboratorium Astronomi Universitas Negeri Malang / Novia Tita Liliani

 

Kata Kunci: Waxing Qibbous, Kawah Archimedes, Diameter, Kedalaman. Bulan merupakan satelit alami bumi, bulan merupakan benda langit yang mempunyai jarak paling dekat dengan bumi. Oleh karena itu, banyak sekali fenomena-fenomena alam yang terjadi di bumi dipengaruhi oleh aktivitas bulan, misalnya pasang surut air laut. Bulan apabila diamati dari bumi mempunyai beberapa fase diantaranya bulan baru, sabit, perempatan, cembung, dan purnama. Bentuk muka bulan yang terlihat selalu sama dikarenakan karena kala revolusi dan rotasi bulan yang hampir sama. Bentuk muka bulan yang tidak rata disebabkan karena bombademen atau hantaman dari meteor-meteor dan benda-benda langit lain yang jatuh ke permukaan bulan. Meteor bisa sampai dibulan dikarenakan bulan tidak mempunyai atmosfer. Sehingga di permukaan bulan banyak sekali terdapat kawah-kawah dan pegunungan. Salah satunya adalah kawah Archimedes. Sehingga dalam penelitian ini ditujukan untuk menentukan diameter dan kedalaman kawah pegunungan Archimedes. Penelitian ini dilakukan pada saat bulan dalam fase cembung lebih tepatnya fase Waxing Qibbous atau bulan dengan kenampakan cembung sebelum fase purnama. Dalam penelitian pengukuran diameter dihitung jarak antar rim, sedangkan dalam perhitungan kedalaman kawah pegunungan harus diketahui dulu sudut pembentuk bayangan, didapatkan sudut pembentuk bayangan dalam perhitungan kedalaman pegunungan kawah Archimedes < 10o. yaitu sebesar (0,783 ± 0,006)˚. Sudut ini digunakan sebagai penguji saja. Selain sudut pembentuk bayangan diperlukan juga perhitungan jarak kawah dengan terminator dan panjang bayangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan Microsoft Visio Profesional 2002 dan Virtual Moon Atlas sebagai pembanding, didapatkan bahwa dengan menggunakan Microsoft Visio Profesional 2002 didapatkan diameter dan kedalaman kawah pegunungan Archimedes sebesar (83,29 ± 2,897) km dan (2,5821 ± 0.39) km atau 2582,1 m, sedangkan dengan menggunakan Virtual Moon Atlas didapatkan hasil sebesar 85 km dan 2150 m. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan sudah mendekati kebenaran. Dengan ralat masing-masing kurang dari 5%. Selain itu kawah Archimedes termasuk kedalam kawah yang besar dalam kawasan Imbrium Mare dan terdapat di daerah pegunungan.

Pengembangan video instruksional teknik jatuhan pencak silat untuk siswa tingkat sabuk putih persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Malang / Wahyu Prabowo

 

Kata kunci: pengembangan, media video, jatuhan pencak silat, siswa tingkat sabuk putih Persaudaraan Setia Hati Terate Pencak silat merupakan salah satu hasil budaya bangsa Indonesia yang memiliki unsur seni, beladiri, olahraga, dan unsur mental spiritual. Salah organisasi pencak silat yaitu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Dalam organisasi PSHT ini, anggota yang belum menjadi anggota tetap (siswa) harus dapat menguasai materi dalam jangka waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kurikulum PSHT sedangkan anggota yang sudah ditetapkan disebut sebagai (warga). Dari hasil observasi dan wawancara kepada siswa tingkat sabuk putih, siswa merasa kesulitan ketika mempelajari teknik jatuhan, belaan kuncian, belaan belati, jurus toya dan pola langkah. Dari materi-materi tersebut bahwa siswa lebih senang dengan materi jatuhan, karena ketika sabung (diadu) selain teknik tendangan dan pukulan teknik jatuhan bisa digunakan dan mempunyai nilai yang paling tinggi diantara teknik-teknik yang lain yang boleh digunakan dalam peraturan saat sabung, selain itu siswa juga berpikir bawah materi jatuhan bisa digunakan pada pencak silat prestasi. Untuk menunjang keberhasilan tersebut salah satu alternatif adalah dengan memanfaatkan media belajar/media berlatih dalam mempercepat penguasaan materi. Yaitu dengan menggunakan media video instruksional teknik jatuhan pencak silat yang dikemas dalam bentuk Digital Versatile Disc (DVD) Berdasarkan uraian di atas, peneliti ini bertujuan untuk mengembangkan media video instruksional untuk pengembangan materi teknik jatuhan pencak silat siswa tingkat sabuk putih Persaudaraan Setia Hati Terate, diharapkan dengan adanya media video instruksional ini siswa tingkat sabuk putih dapat lebih cepat dalam menguasai teknik jatuhan. Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan Research and Development yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Prosedur penelitian pengembangannya adalah sebagai berikut: (1) kegiatan pengumpulan informasi yakni, dengan wawancara dan observasi, (2) pembuatan produk benar, (3) evaluasi ahli media dan ahli pencak silat, (4) revisi produk awal, revisi berdasarkan evaluasi para ahli dan (5) kegiatan uji coba tahap I (kelompok kecil) dengan melibatkan 10 subyek, (6) revisi produk kedua berdasarkan hasil uji coba tahap I (kelompok kecil), (7) kegiatan uji coba tahap II (kelompok besar) dengan melibatkan 30 subyek, (8) revisi produk ketiga berdasarkan hasil uji coba tahap II (kelompok besar). Pengumpulan data untuk data evaluasi ahli berupa instrumen untuk: (1) dua orang ahli pencak silat dan (2) satu orang ahli media. Untuk mendapatkan data uji coba kelompok kecil subyeknya 10 siswa dan uji coba kelompok besar subyeknya 30 siswa, peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa kuisioner yang disajikan dalam bentuk instrumen. Pada pengembangan media video instruksional teknik jatuhan teknik yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian adalah teknik persentase. Hasil penelitian pengembangan media video materi teknik jatuhan pencak silat siswa tingkat sabuk putih Peraudaraan Setia Hati Terate cabang Malang diperoleh data sebagai berikut: (1) ahli pencak silat 87,5% (valid), (2) ahli media yaitu 85,42% (valid), (3) Uji coba tahap I (kelompok kecil) yaitu 90,4% (valid), (4) Uji coba tahap II (kelompok besar) yaitu 89,47% (valid). Hasil penelitian ini berupa pengembangan media video instruksional untuk mempercepat penguasaan teknik jatuhan pencak silat siswa tingkat sabuk putih Persaudaraan Setia Hati Terate cabang Malang. Produk pengembangan ini tentang teknik jatuhan pencak silat siswa tingkat sabuk putih PSHT, contoh yang baik dan bentuk latihan teknik dasar jatuhan yang disajikan dalam bentuk video dan bentuk fisik dari pengembangan ini hasilnya disimpan atau dikemas dalam bentuk CD/DVD (Compact Disc/ Digital Versatile Disc). Isi dari video ini adalah gambar bisa bergerak, sehingga ketika dilihat/diputar berulang-ulang akan mudah dipahami, keras lemahnya suara juga bisa diatur, gerakan ada yang dibuat secara lambat, langkah-langkah teknik jatuhan dibuat dari mudah ke sulit, sederhana ke rumit dan dibuat secara menarik dengan adanya iringan musik selama proses penayangan video instruksional agar siswa lebih termotivasi untuk melakukan latihan.

Meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan melalui penerapan teknik guided reading pada siswa kelas IV SDN Toyomarto 02 Kecamatan Singosari / Novi Mauludyah

 

Kata Kunci: Membaca, wacana bahasa Indonesia, teknik Guided Reading, kemampuan memahami isi bacaan, SD Membaca merupakan kegiatan yang tidak hanya melafalkan simbol tulisan, tetapi juga memahami isi dari bacaan. Dalam pembelajaran membaca, guru seharusnya menerapkan teknik yang tepat agar tujuan membaca tercapai. Kenyataannya, guru belum menerapkan teknik pembelajaran yang tepat sehingga mempengaruhi kemampuan siswa memahami isi bacaan. Dengan demikian perlu tindakan untuk meningkatkan kemampuan siswa memahami isi bacaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik Guided Reading dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan peningkatan kemampuan memahami isi bacaan pada siswa kelas IV SDN Toyomarto 02 Kecamatan Singosari dengan teknik guided reading. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Toyomarto 02 yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif dengan pendekatan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar soal evaluasi, lembar observasi, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data yang dikumpulkan digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan prosentase. Pembelajaran guided reading berjalan dengan baik, kegiatan pra baca, inti baca dan pasca baca telah dilakukan oleh guru. Pada pra baca, diawali dengan pemberian gambaran awal tentang teks bacaan melalui apersepsi, dan penjelasan langkah kegiatan pembelajaran guided reading. Pada inti baca, muncul langkah guided reading mulai dari kegiatan membaca bergiliran, pemberian pertanyaan lisan, membaca intensif, dan diskusi kelompok mengenai teks bacaan yang telah dibaca. Pada pasca baca, siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok, serta pemberian tindak lanjut berupa pesan pembelajaran dan moral. Pembelajaran guided reading menyajikan pembelajaran secara utuh dan terpadu. Keterampilan membaca, manulis, menyimak, dan berbicara disajikan secara terpadu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prosentase penerapan teknik guided reading sebesar 12%. Pada siklus I skor menunjukkan prosentase 85% dengan kategori ”baik”, sedangkan pada siklus II skor menunjukkan 97% menjadi kategori ”sangat baik”. Pada siklus 1, terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Hasil evaluasi siswa dalam menjawab pertanyaan berdasarkan teks bacaan memperoleh nilai rata-rata 75, yang artinya terjadi peningkatan sebesar 7% dari pra tindakan. Tingkatan pertanyaan pemahaman juga mengalami peningkatan, yang semula hanya menyelesaikan pertanyaan literal saja, meningkat dengan pertanyaan inferensial dan evaluasi. Pada siklus 2, memperoleh nilai rata-rata 81, yang artinya terjadi peningkatan sebesar 12% dari siklus 1. Tingkatan pertanyaan pemahaman juga meningkat, 5 tingkatan pertanyaan Taksonomi Barret dapat diselesaikan oleh siswa, mulai dari literal, reorganisasi, inferensial, evaluasi, dan apresiasi. Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa teknik guided reading merupakan teknik membaca terbimbing antara guru dengan siswa, langkah kegiatan meliputi pra baca, inti baca, dan pasca baca. Diawali dengan membaca bergiliran, pemberian pertanyaan lisan, membaca intensif, diskusi kelompok, dan presentasi. Kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan juga mengalami peningkatan mulai dari pa tindakan hingga tindakan siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian juga dapat disarankan agar penjelasan langkah-langkah pembelajaran lebih jelas dan rinci, pemberian apersepsi lebih kreatif dan dikaitkan dengan bacaan agar siswa antusias pada teks bacaan, pembagian kelompok yang dapat memberikan kesempatan siswa untuk melaksanakan tutor sebaya serta perlunya pemberian motivasi dan penguatan yang terus-menerus.

Peningkatan hasil belajar IPA melalui pendekatan discovery di kelas IV SDN Talangagung 02 Kepanjen Kabupaten Malang / Ratna Yuanita Irma Irianti

 

Kata kunci: IPA, Hasil Belajar, Pendekatan Discovery Pendekatan discovery merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan mengajak kepada siswa untuk belajar menemukan dan memecahkan permasalahan yang terjadi di sekitarnya serta membelajarkan siswa untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman siswa dengan alam sekitar, sekaligus mengajak siwa bereksperimen untuk menemukan fakta-fakta dan menyimpulkan temuannya. Hasil observasi awal di SDN Talangagung 02 Kepanjen Kabupaten Malang, ditemukan bahwa pembelajaran IPA kelas IV materi “Gaya”, guru masih menggunakan metode konvensional dan tidak pernah menggunakan pola pembelajaran yang lain. Rata-rata hasil belajar siswa masih tergolong kurang memenuhi standar KKM. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 66,72 dan masih terdapat 17 siswa (47,2%) belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 64. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) penerapan pendekatan discovery pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Talangagung 02, 2) aktivitas siswa selama pembelajaran IPA di kelas IV SDN Talangagung 02, 3) hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Talangagung 02 melalui pendekatan discovery. Penelitian ini dilakukan di SDN Talangagung 02 dengan subjek siswa kelas IV sebanyak 36 siswa yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi 4 tahap yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembelajaran IPA menggunakan pendekatan discovery kelas IV SDN Talangagung 02 Kepanjen Kabupaten Malang berlangsung efektif. Dari hasil penelitian juga didapatkan bahwa penggunaan pendekatan discovery dalam pembelajaran IPA kelas IV di SDN Talangagung 02 dapat meningkatkan aktivitas siswa selama pembelajaran IPA berlangsung, selain itu pendekatan discovery mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pernyataan ini terbukti dari rata-rata hasil belajar sebelumnya yaitu pada saat pratindakan rata-rata nilai hanya mencapai 66,72 meningkat menjadi 72,35 pada siklus I meningkat kembali menjadi 77,15 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini secara klasikal pembelajaran IPA menggunakan pendekatan discovery dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa untuk itu disarankan bagi peneliti lain yang melakukan pendekatan discovery dalam pembelajaran IPA, mengingat dalam pendekatan discovery ini banyak melakukan percobaan dan penemuan, maka untuk mengefektifkan waktu dalam pembentukan kelompok dapat dilakukan diluar jam pelajaran.

Pengembangan media game animasi interaktif untuk anak usia kanak-kanak di TK Muslimat NU 12 Blimbing Malang / Permadi Nugroho Haryo Prayogo

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media Animasi Interaktif, Taman Kanak-Kanak Pengembangan media animasi interaktif untuk usia kanak-kanak ini merupakan suatu media yang dapat menjadi salah satu alternatif pilihan lain dalam memberikan suatu pembelajaran, yang dulunya hanya memakai benda-benda 2 dan 3 dimensi. Pembelajaran yang hanya memakai benda 2 atau 3 dimensi membuat anak merasa bosan karena bertemu dan menggunakan media yang selalu sama. Hal ini membuat anak kurang konsentrasi dalam mengkap pelajaran yang diberikan oleh guru. Kondisi nyata di TK Muslimat NU 12 Blimbing Malang memiliki fasilitas seperti komputer, namun fasilitas tersebut belum maksimal pemanfaatannya dalam pembelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran berbasis komputer ini dapat menjadi salah satu pilihan guru dalam memberikan materi tentang puzzle, maze, berhitung 1-10 dan mengenal warna dalam bahasa inggris. Dengan begitu anak-anak akan merasa senang dan lebih terpacu dalam belajar dengan menggunakan media pembelajaran ini. Tujuan dari pengembangan ini adalah membuat media game animasi interaktif yang berbasis komputer di TK Muslimat NU 12 Malang dan membantu tingkat pemahaman siswa taman kanak-kanak terhadap pelajaran maze, puzzle, perbedaan warna, serta menghitung benda. Subyek uji coba dalam pengembangan ini adalah siswa TK Muslimat NU 12 Blimbing Malang kelompok B dengan jumlah siswa sebanyak 25 siswa. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif yang bersumber dari angket yang diisi oleh ahli media, ahli materi, serta tabel pengamatan. Hasil pengembangan ini berupa CD pembelajaran animasi interaktif. Media pembelajaran ini telah divalidasikan kepada ahli media, ahli materi, dan hasil dari pengamatan terhadap siswa yang memakai media ini. Adapun hasil uji coba yang telah dilakukan yaitu (1) ahli media didapatkan skor persentase sebesar 85% berdasarkan pada kriteria kelayakan, media ini dikatakan sangat valid (2) ahli materi didapatkan skor persentase sebesar 87.5% berdasarkan pada kriteria kelayakan, media ini dikatakan sangat valid (3) uji coba perseorangan didapatkan skor persentase sebesar 75% berdasarkan pada kriteria kelayakan media ini dikatakan valid (4) uji coba kelompok kecil didapatkan skor persentase sebesar 84% berdasarkan pada kriteria kelayakan media ini dikatakan sangat valid (5) uji coba lapangan didapatkan skor persentase sebesar 75.45% berdasarkan pada kriteria kelayakan media ini dikatakan valid. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah media game animasi interaktif untuk anak usia kanak-kanak dapat digunakan dalam pembelajaran dan ddapat membantu siswa dalam memahami puzzle, maze, berhitung 1-10, serta dapat menyebutkan 12 warna dalam bahasa inggris. Saran pengembangan ini adalah (1) bagi sekolah, dengan adanya media berbasis komputer ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk menambah media lainnya sehingga dapat menunjang kegiatan belajar siswa. (2) bagi guru, sebelum menggunakan media berbasis komputer ini, guru diharapkan memahami terlebih dahulu petunjuk pemanfaatan yang telah disediakan agar proses belajar dapat berjalan lancar. (3) bagi siswa, sebelum menggunakan media berbasis komputer ini diharapkan siswa memperhatikan guru dengan seksama dalam memberikan perintah-perintah yang berhubungan dengan media ini. (4) bagi pengembang selanjutnya, hendaklah lebih memperhatikan pemilihan materi, pemilihan software, komposisi warna dan gambar, kejelasan gambar, pemilihan backsound serta soundeffect, dan penggunaan animasi agar dapat menghasilkan media yang layak untuk disajikan.

Penerapan permainan pita bilangan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SD Hasanuddin Dilem 02 Kepanjen / Alfiah

 

Kata Kunci: permainan pita bilangan, pembelajaran, matematika Peneliti melakukan observasi awal dengan melihat langsung pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru matematika SD NU Hasanuddin Dilem 02 Kota Kepanjen. Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru, peneliti menemukan kelemahan dari pembelajaran yang dilakukan oleh guru yaitu: (1) pembelajaran yang dilakukan guru kurang variatif, dan (2) siswa pasif dalam pembelajaran. Kelemahan tersebut menyebabkan nilai rata-rata hasil evaluasi mata pelajaran matematika yaitu 45. Tiga sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu (1) Mendeskripsikan penerapan permainan pita bilangan yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02, (2) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 dalam pembelajaran matematika saat diterapkan permainan pita bilangan, (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 saat diterapkan permainan pita bilangan. Penelitian ini difokuskan pada peningkatan pembelajaran matematika siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Kota Kepanjen melalui permainan pita bilangan. Metode penelitian yang digunakan adalah tindakan kelas dengan menggunakan alur penelitian Kemmis dan MC. Taggart (dalam Susilo:2009). Tahapan dalam setiap siklusnya terdiri atas: planning-perencanaan, acting-tindakan, observing-observasi atau pengamatan, reflecting-refleksi. Teknik pengumpulan data yang disajikan berupa data observasi, tes dan dokumentasi. Penelitian telah dilaksanakan sesuai rancangan penelitian. Dalam pembelajaran matematika siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Kota Kepanjen, guru telah menerapkan permainan pita bilangan. Kemampuan guru dalam menerapkan permainan pita bilangan juga semakin meningkat dari tiap pertemuan pada masing-masing siklus. Pembelajaran dengan menerapkan permainan pita bilangan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 40,06 meningkat menjadi 58,96 pada siklus II. Pembelajaran dengan menerapkan permainan pita bilangan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I diperoleh rata-rata nilai evaluasi siswa yaitu 57,17 meningkat menjadi 72,01 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa permainan pita bilangan dapat meningkatkan pembelajaran matematika selain itu juga meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Kota Kepanjen serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD NU Hasanuddin Dilem 02 Kota Kepanjen kompetensi dasar ” melakukan operasi hitung bilangan bulat termasuk penggunaan sifat-sifatnya, pembulatan, dan penaksiran”.

Hubungan antara intensitas mengakses erotika media internet dengan sikap terhadap seks bebas remaja / Erza Noniken

 

Kata kunci : intensitas mengakses erotika media internet, sikap seks bebas Media internet menjadi salah satu alat komunikasi modern yang diminati oleh masyarakat pada saat ini, sehingga masyarakat mulai menggunakan fasilitas internet sebagai kebutuhan sehari - hari dan media internet lebih banyak dikonsumsi oleh anak remaja. Hal itu terjadi kemungkinan semakin maraknya jumlah warung internet (warnet), serta tidak adanya aturan khusus dalam memasuki warung internet, sehingga semakin memudahkan remaja dalam mengakses situs-situs erotika. Jika membicarakan erotika media internet maka kita akan melihat mata rantai dari perilaku seks bebas, aborsi, kehamilan remaja yang sangat berkaitan. Penelitian ini bertujuan(1) Untuk mengetahui seberapa besar intesitas remaja dalam mengakses erotika media internet. (2) Untuk mengetahui sikap terhadap seks bebas pada remaja SMA, (3) Untuk mengetahui hubungan antara intensitas mengakses erotika media massa dengan sikap terhadap seks bebas pada remaja SMA.Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah SMA 8 Malang, SMA Panjura Malang, SMK 2 Malang, dan SMK Bina Cendika. Subyek penelitian memiliki ciri-ciri (1) Remaja usia 15-18 tahun(2) Berjenis kelamin laki - laki maupun perempuan. Data intensitas mengakses erotika media internet diperoleh dengan angket dan data sikap terhadap seks bebas diperoleh dengan skala sikap. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara Intensitas Mengakses Erotika Media Internet terhadap Sikap Terhadap Seks Bebas Remaja SMA, (rxy= 0,584 ; p = 0,000 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas mengakses erotika media internet maka akan diikuti dengan semakin mendukung sikap terhadap seks bebas pada remaja . Sejumlah 64 orang (53,33%) sangat tidak mendukung. Sejumlah 100 orang (83,33 %) memiliki tingkat intensitas mengakses erotika media internet sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) Bagi remaja, sebaiknya para remaja diberikan wadah yang positif sehingga remaja saat ini tidak hanya bergerak dalam dunia maya apalagi khususnya terhadap situs - situs yang menampilkan erotika maupun pornografi sehingga remaja memiliki kegiatan yang lebih positif,serta memiliki pengetahuan yang lebih mengenai dampak seks bebas sehingga remaja memiliki sikap yang tepat terhadap seks bebas. (2)Bagi orang tua, hendaknya para orang tua menjadi teman yang baik bagi anak-anak mereka sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan baik mengenai hal-hal yang bersifat seksual maupun mengenai hal situs - situs menampilkan sisi erotika yang dapat memberikan dampak yang tidak baik terhadap perkembangan remaja,(3)Bagi sekolah, diharapkan sekolah memberikan pelayanan BK yang baik dengan memberikan materi - materi seperti masalah seksual yang masih awam untuk dibicarakan padahal remaja sangat rentan terdapat masalah ini., (4) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih lengkap hasilnya dapat mewakili seluruh populasi remaja di SMA di Malang.

Peranan dosen tamu pada matakuliah kewirausahaan terhadap cita-cita profesi nonkeguruan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2007 / Admiral Dicky F.

 

Kata kunci: cita-cita profesi nonkeguruan, dosen tamu. Dalam kurikulum Jurusan Satra Jerman terdapat matakuliah Kewirausahaan. Matakuliah ini bertujuan agar mahasiswa memahami dan mampu membuat perencanaan dan mengelola kegiatan operasional bidang usaha industri pariwisata, penerjemahan, pendidikan bahasa Jerman nonformal. Untuk menambah pengetahuan mahasiswa di bidang kewirausahaan dan dunia kerja, Jurusan Sastra Jerman mengundang dosen tamu sebagai pemateri pada matakuliah Kewirausahaan dalam beberapa kesempatan. Berdasarkan fakta di lapangan, keberadaan dosen tamu memberikan suatu pengaruh terhadap cita-cita mahasiswa. Mahasiswa yang mempunyai cita-cita guru pada awalnya, setelah kedatangan dosen tamu mereka mempunyai dua cita-cita yakni menjadi guru dan memiliki pekerjaan di bidang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dosen tamu pada matakuliah Kewirausahaan terhadap cita-cita profesi nonkeguruan mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah hasil angket mahasiswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket, sedangkan sumber data pelitian ini adalah seluruh mahasiswa angkatan 2007 reguler yang berjumlah 24 orang. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan, bahwa pekerjaan yang tidak berhubungan dengan bahasa Jerman yang dimiliki oleh mahasiswa angkatan 2007 yaitu, pekerjaan di bidang kewirausahaan, karyawan di perusahaan asing selain Jerman dan PNS. Mahasiswa tersebut berpendapat, bahwa hal itu tidak menjadi masalah, jika pada akhirnya mereka bekerja tidak sesuai dengan program studi bahasa Jerman. Walaupun mereka mempunyai kemampuan dan potensi kebahasajermanan, mereka lebih berminat pada bidang kewirausahaan, karyawan di perusahaan asing selain Jerman dan PNS. Bidang- bidang wirausaha yang mereka minati meliputi usaha salon, fashion, travel agent, musik dan desain grafis. Adapun bidang yang berhubungan dengan bahasa Jerman yang diminati mahasiswa angkatan 2007 yaitu, guru, bidang terjemahan dan bidang pariwisata. Alasan mereka bekerja di bidang-bidang tersebut karena dapat menerapkan kemampuan bahasa Jerman yang mereka miliki. Dosen tamu berperan penting memberikan motivasi menumbuhkan jiwa berwirausaha dan wawasan baru tentang dunia kerja terutama bidang nonkeguruan. Menurut sebagian besar mahasiswa, dosen tamu tidak hanya berperan memberikan wawasan seputar dunia kerja, melainkan juga memberikan pengaruh yang positif terhadap pemilihan karir nonkeguruan. Keberadaan dosen tamu memberikan efek yang besar terhadap cita-cita pekerjaan yang dimiliki mahasiswa. Bagi mahasiswa yang awalnya bercita-cita menjadi guru, setelah kedatangan dosen tamu akhirnya mereka memiliki dua cita-cita yakni guru dan bidang-bidang lainnya seperti bidang terjemahan, bidang pariwisata atau bidang wirausaha. Mahasiswa yang mulai awal ingin berprofesi sebagai guru, sekarang menjadikan bidang kewirausahaan sebagai pekerjaan alternatif kedua, jika pada akhirnya tidak menjadi guru. Sedangkan, mahasiswa yang sebelum masuk Jurusan Sastra Jerman sudah berminat pada bidang nonkeguruan, berpendapat bahwa keberadaan dosen tamu menambah kemantapan mereka untuk menjalani karir di bidang nonkeguruan.

Analisis hasil belajar bahasa Jerman siswa kelas XI IPA dan XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen / Hasta Invarian Wijanarko

 

Kata Kunci: hasil belajar, bahasa Jerman, IPA, IPS Penggunaan bahasa asing sangat diperlukan di dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja. Pemilihan bahasa asing kedua dijalankan sesuai kebijakan masing-masing SMA. Secara umum setiap SMA memiliki tiga jenis kelas untuk kelas XI dan XII. Kelas-kelas tersebut yaitu IPA, IPS, Bahasa. Siswa kelas XI IPA dan XI IPS memiliki tingkat pemahaman dan sikap yang berbeda dalam mengikuti proses pembelajaran bahasa Jerman. Hal ini menimbulkan perbedaan pada hasil belajar bahasa Jerman siswa kelas XI IPA dan XI IPS, dan peneliti tertarik untuk meneliti hasil belajar bahasa Jerman siswa kelas XI IPA dan siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar bahasa Jerman siswa kelas XI IPA dan XI IPS di SMA Negeri 1 Kepanjen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian komparatif.Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Sampling yang dilakukan dengan cara mengundi untuk mendapatkan sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPS 1. Data diperoleh dari nilai UAS semester ganjil tahun ajaran 2010-2011. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, dengan instrumen penelitian berupa tabel dokumentasi. Analisis data statistik yang digunakan adalah ANAVA dengan bantuan program bantuan program SPSS 17,0 for Windows. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kedua rata-rata populasi adalah tidak identik, dan terdapat perbedaan yang signifikan yaitu kelas XI IPA lebih baik dibandingkan kelas XI IPS. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata kelas dan hasil uji ANAVA. Rata-rata kelas siswa XI IPA adalah 56,31 dan siswa XI IPS adalah 54,67. Hasil perhitungan ANAVA diketahui bahwa Fhitung sebesar 3,067 dan Ftabel sebesar 2,45 dengan taraf signifikansi 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai bahasa Jerman antara siswa kelas XI IPA dan XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen dimana siswa kelas XI IPA lebih baik dibandingkan siswa kelas XI IPS. Disarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Jerman menggunakan metode dan media yang bervariasi. Guru juga disarankan untuk melihat kekurangan siswa- siswanya, dan memberikan bantuan yang dibutuhkan, sehingga tidak ada perbedaan diantara kelas XI IPA dan XI IPS.

Implementasi kebijakan sekolah hijau dalam pembentukan sikap dan perilaku siswa terhadap pelestarian lingkungan hidup di SMP Negeri 5 Kota Malang / Ulfi Andrian Sari

 

Kata Kunci: Implementasi kebijakan sekolah hijau, sikap, perilaku, pelestarian lingkungan hidup. Fenomena-fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan terjadinya kerusakan ekosistem antara lain pencemaran lingkungan, banjir, tanah longsor dan pemanasan global. Rusaknya ekosistem ini terutama diakibatkan oleh aktivitas manusia yang kurang ramah terhadap lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui jalur pendidikan dengan membuat sekolah hijau. Sekolah hijau diyakini sebagai solusi yang efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kuantitatif dan kualitatif, yang bertujuan untuk (a) Mendeskripsikan implementasi kebijakan sekolah hijau di SMP Negeri 5 Kota Malang. (b) Mendeskripsikan sikap siswa terhadap pelestarian lingkungan hidup di SMP Negeri 5 Kota Malang. (c) Mendeskripsikan perilaku siswa terhadap pelestarian lingkungan hidup di SMP Negeri 5 Kota Malang. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah implementasi kebijakan sekolah hijau, sikap dan perilaku siswa terhadap pelestarian lingkungan hidup. Pengambilan data penelitian menggunakan angket yang akan diisi oleh responden, lembar observasi dan wawancara. Implementasi kebijakan sekolah hijau diukur dengan lembar observasi dan wawancara, sedangkan sikap siswa terhadap pelestarian lingkungan hidup diukur dengan menggunakan skala sikap yaitu Skala Likert dan perilaku siswa terhadap pelestarian lingkungan hidup diukur dengan menggunakan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan sekolah hijau di SMP Negeri 5 Kota Malang sudah terlaksana dengan baik. Kurikulum di SMP Negeri 5 Kota Malang dilaksanakan secara integrasi dan monolitik. Sedangkan pelaksanaan kegiatan lingkungan hidup berbasis partisipatif di SMP Negeri 5 Kota Malang dilakukan dengan penghematan energi, SDA dan adanya peran serta seluruh warga sekolah dalam mewujudkan sekolah bersih dan sehat. SMP Negeri 5 Kota Malang telah menerapkan konsep pengelolaan dan pemanfaatan sarana untuk mendukung terciptanya sekolah hijau melalui pemanfaatan barang bekas untuk media pembelajaran, peningkatan kualitas makanan sehat, serta pengelolaan sampah dengan 3 R dan pengomposan. Siswa-siswi SMP Negeri 5 Kota Malang memiliki sikap dan perilaku yang sangat baik terhadap pelestarian lingkungan hidup.

Profil upaya perubahan perilaku pada anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang / Uke Afriyanti

 

Kata Kunci : Upaya Perubahan Perilaku, Anak Autis Anak autis memiliki perilaku yang dianggap menyimpang dari perilaku anak normal. Perilaku- perilaku tersebut dianggap sangat mengganggu. Di SDN Sumbersari 1 Malang telah dilakukan upaya perubahan perilaku yaitu dengan menggunakan terapi perilaku. Terapi perilaku yang pernah digunakan di SDN Sumbersari 1 Malang yaitu Terapi Perilaku Applied Behaviour Analysis (ABA) yang bertujuan agar perilaku- perilaku anak autis yang yang dianggap mengganggu tersebut dapat berkurang. ABA merupakan metode khusus untuk terapi perilaku anak autis dan sudah sudah digunakan selama bertahun- tahun. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik perilaku anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang, (2) mendeskripsikan upaya perubahan perilaku pada anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang , dan (3) mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat upaya perubahan perilaku pada anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang. Subyek Penelitian ini adalah karakteristik perilaku anak autis, dan upaya perubahan perilaku pada anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang dengan sumber data yaitu: Kepala SDN Sumbersari 1 Malang, Guru Kelas, Guru Pembimbing Khusus, shadow (pendamping anak berkebutuhan khusus), dan siswa normal. Penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan studi kasus. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa karakteristik anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang antara lain kegagalan bertatap mata dengan orang lain, kurangnya rasa empati terhadap orang lain, temperamen tantrum, kurangnya kemampuan berkomunikasi. Upaya perubahan perilaku yang telah dilakukan pada anak autis di SDN Sumbersari 1 Malang dilakukan dengan menggunakan terapi perilaku Applied Behaviour Analysis (ABA) namun pelaksanaannya belum intensif dan sering dilakukan hanya pada saat anak autis mengalami tantrum secara tiba- tiba dan penanganannya dilakukan langsung oleh Guru Pembimbing Khusus di Ruang ABK. Selain itu juga dikarenakan berbagai faktor, salah satunya belum adanya jadwal bimbingan khusus secara intensif dari pihak sekolah, dikarenakan jadwal pelajaran yang padat dan keterbatasan jumlah GPK yang hanya 3 orang dan harus menangani sebanyak 24 orang anak berkebutuhan khusus, yang 17 diantaranya adalah autis. Faktor- faktor pendukung upaya perubahan perilaku tersebut antara lain tingkatan autis dari anak yang ringan, kemampuan dan kualitas guru yang berkompeten dan sering diikutkan dalam pelatihan- pelatihan penanganan tentang anak berkebutuhan khusus, sikap kooperatif dari shadow, sarana dan prasarana sekolah yang memadai, lingkungan sekolah yang kondusif. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu konsentrasi dari anak autis yang berbeda- beda, sering munculnya perilaku tantrum pada anak yang sulit dikendalikan, dan belum adanya waktu bimbingan khusus yang intensif. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada Kepala Sekolah, sebagai pihak yang berwenang dalam mengambil kebijakan di sekolah diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai salah satu pertimbangan dalam meningkatkan bimbingan layanan khusus anak autis yang sesuai dan mengarah pada peningkatan perilaku positif anak autis tersebut. Sedangkan kepada guru, baik Guru Kelas maupun Guru Pembimbing Khusus (GPK) dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai salah satu pertimbangan dalam menyusun kurikulum pembelajaran bagi anak autis yang disesuaikan dengan karakteristik anak tersebut.

Using fotonovela and guiding questions to improve the ability in writing narrative texts of grade VIII students of SMP Negeri 21 Malang / Khoiruddin Yanuar Syam

 

Key words: writing, fotonovela, guiding questions, narrative texts One of the objectives of the teaching of English in junior high school particularly in the eight grades is that students are expected to be able to write narrative texts. In SMP Negeri 21 Malang, even though the teacher had tried to teach the four skills proportionally interms of time and portion, the result of students’ writing products in narrative texts were still poor or could not meet the minimum standard of passing scores (SKM: Standar Kelulusan Minimal). The interview with the teacher and the result of the preliminary study revealed that students faced some different problems in writing but considered generating and organizing ideas the most difficult problems. Thus, the use of fotonovela and guiding questions in writing process was proposed to be implemented in the teaching of writing especially narrative texts to help students solve the problems. The technique was chosen because it had some advantages better than using picture series or comic strips. Using the technique, the students could generate and organize their ideas taken from their own personal experience and imagination through fotonovela and guiding questions to organize text according to the rhetorical structure of narrative texts (orientation, complications, climax and resolution). This study aimed at improving students’ writing ability in writing narrative texts particularly in generating and organizing their ideas through writing process and strategy. Classroom Action Research was used in this study. Since the researcher did not have his own class, the research was done collaboratively with the English teacher responsible for the particular class. With the assistance of the classroom English teacher, the researcher designed the lesson plans and set the criteria of success. The classroom English teacher acted as the observer during the teaching and learning process while the researcher acted as the teacher. The research was conducted in two cycles, each of which covered planning the action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. The subjects of this study were 42 students of grade VIII Class 6 in SMP Negeri 21 Malang in 2010/2011 academic year. The data comprised the students’ attitudes during the teaching and learning process and students’ writing scores. The data were collected through interview, observation, field notes, and the students’ writings. Conducted in two cycles, the research reached the criteria of success successfully and satisfactorily. In terms of product, students’ writing scores were improved and better compared to their scores in the preliminary study. Indeed, students’ attitudes during the teaching and learning process were also better during the implementation of the technique. Based on the result of this study, it is suggested that English teachers apply the use of fotonovela and guiding questions through writing process in their teaching writing narrative texts in particular and other text types in general. Besides, they are also expected to recommend that students use fotonovela to relate to their own experience or imagination, and use guiding questions in generating and organizing their ideas in writing narrative texts independently. Indeed, further researchers are also expected to explore the use of fotonovela and guiding questions in writing process for different text types and different levels of education to see whether or not the technique can be implemented effectively and successfully in helping students writing an English composition regarding their problems in generating and organizing ideas.

Partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini di PAUD Tunas Harapan Karangduren Pakisaji Kabupaten Malang / Dyah Galuh Ayu Savitri

 

Kata Kunci: partisipasi orang tua, aktivitas pembelajaran, pendidikan anak usia dini (PAUD) Dalam penelitian ini akan dideskripsikan mengenai partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran berbasis minat anak di rumah, partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran tematik anak di rumah, partisipasi orang tua dalam aktivitas pengisi waktu luang anak di rumah, partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran berbasis minat anak di sekolah, partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran tematik anak di sekolah, dan partisipasi orang tua dalam aktivitas pengisi waktu luang anak di sekolah di PAUD Tunas Harapan Karangduren Pakisaji Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Instrumen yang digunakan yaitu angket dan dokumentasi. Angket berisi 30 pertanyaan dan diberikan kepada 30 orang tua murid dengan mengambil semua populasi yang ada. Selanjutnya data dianalisis dengan statistik deskriptif menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a) partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini yang meliputi partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran berbasis minat anak di rumah memiliki skor total 537 dengan persentase 74,58% maka dapat dikategorikan baik, b) partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran tematik anak di rumah memiliki skor total 497 dengan persentase 82,83% maka dapat dikategorikan sangat baik, c) partisipasi orang tua dalam aktivitas pengisi waktu luang anak di rumah memiliki skor total 606 dengan persentase 84,17% maka dapat dikategorikan sangat baik, d) partisipasi orang tua dalam aktivityas pembelajaran berbasis minat anak di sekolah memiliki skor total 390 dengan persentase 65% maka dapat dikategorikan baik, e) partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran tematik anak di sekolah memiliki skor total 228 dengan persentase 63,33% maka dapat dikategorikan baik, dan f) partisipasi orang tua dalam aktivitas pengisi waktu luang anak di sekolah memiliki skor total 360 dengan persentase 60% maka dapat dikategorikan baik. Jadi secara keseluruhan partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini memiliki skor total sebesar 2618 dengan persentase 72,22% maka dapat dikategorikan baik. Bertolak dari keseluruhan proses hasil penelitian ini, direkomendasikan hal-hal meliputi (1) dari hasil penelitian tentang partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini menunjukkan bahwa para orang tua berpartisipasi dengan baik dalam mendampingi anak ketika proses belajar sambil bermain. Berkaitan dengan hal tersebut, maka orang tua dapat mejadikan penelitian ini sebagai salah satu alternatif untuk menjadi pedoman dalam meningkatkan mutu pengetahuan anak usia dini, (2) hasil penelitian tentang partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini menunjukkan bahwa para orang tua berpartisipasi dengan baik dalam mendampingi anak ketika proses belajar sambil bermain. Berkaitan dengan hal di atas, maka bagi lembaga PAUD Tunas Harapan dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan kepada penyelenggara program dan guru PAUD Tunas Harapan dalam melakukan pembinaan kepada orang tua anak usia dini mengenai pentingnya partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini dalam kaitannya dengan perkembangan anak, (3) hasil penelitian tentang partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini menunjukkan bahwa para orang tua berpartisipasi dengan baik dalam mendampingi anak ketika proses belajar sambil bermain. Berkaitan dengan hal di atas, maka hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan informasi mengenai partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini bagi pengembangan program konsentrasi PAUD. Sehingga jurusan PLS UM dapat menjalin hubungan kerja sama dengan lembaga lain untuk mengadakan pelatihan-pelatihan kepada orang tua anak usia din yang terkait dengan aktivitas pembelajaran anak usia dini tersebut, dan (4) diharapkan ada penelitian lanjutan mengenai partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini untuk melengkapi kekurangan yang ada, yaitu aktivitas pembelajaran anak usia dini yang belum dibahas dalam penelitian ini yaitu aktivitas pembelajaran bermain kreatif dan aktivitas pengasuhan bersama pada rentang usia lahir sampai 2 tahun. Oleh karena itu, diperlukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan partisipasi orang tua dalam aktivitas pembelajaran anak usia dini.

Perbedaan prestasi belajar siswa kelas XI pada pembelajaran jaringan komputer antara kelas yang menggunakan media pembelajaran simulasi packet tracer dengan kelas yang menggunakan perangkat jaringan langsung di SMA Negeri 1 Tumpang / Ria Anisaa

 

Kata kunci :Prestasi belajar,Media pembelajaran simulasipacket tracer, Perangkatjaringanlangsung. Keterbatasan media pembelajaranperangkatjaringanlangsung di sekolahdapatmengakibatkankurangoptimalnyakegiatanbelajardanpembelajaran.Hal inijugaterjadi di SMA Negeri 1 Tumpang, dimanasiswahanyamempelajarisecarateorisajatanpamempraktikkansecaralangsung.Kondisiiniberdampakpadanilai yang dicapaiyaitu rata-rata sebesar 72, kurangdari SKM (StandarKelulusan Minimal) yang ditetapkansebesar 75.Olehkarenaitudibutuhkan media pembelajaranbantuangunamengatasipermasalahan yang ada, salahsatunyaadalah media pembelajaransimulasipacket tracer.Penelitianinibertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Tumpang pada pembelajaran jaringan komputer yang diberi perlakuan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran simulasi packet tracer dan dengan menggunakan perangkat jaringan langsung. Penelitianinimerupakanpenelitianeksperimentalsemu.Variabeldalampenelitianiniyaituvariabelbebasdanvariabelterikat.Variabelbebasberupapembelajarandenganmenggunakan media simulasipacket tracer danperangkatjaringanlangsung, sedangkanvariabelterikatberupaprestasibelajarsiswa.Populasidalampenelitianiniadalahseluruhsiswakelas XI di SMA Negeri 1 Tumpangtahunajaran 2010/2011.Sampelpenelitianiniadalahkelas XI IPA 1 untukkelaskontroldanXI IPA 2 untukkelaseksperimen yang diambildenganteknikpurposive sampling.Instrumen yang digunakanyaituinstrumenperlakuan, berupasilabusdan RPP.Sedangkanuntukinstrumenpengukuran, yaitusoaltes, lembarpenilaianafektif, danlembarpenilaianpsikomotorik.Teknikanalisis data yang digunakanadalahanalisisstatistikkuantitatifdenganbantuan SPSS. Dalampenelitianinididapatkan rata-rata hasilbelajarkognitifsiswapadakelaskontrolsebesar 71,21dankelaseksperimensebesar 76,06. Hasilbelajarafektifsiswakelaskontrolsebesar 73 dankelaseksperimensebesar 82,42. Serta hasilbelajarpsikomotoriksiswakelaskontrolsebesar 68,33dankelaseksperimensebesar70,91.Sedangkanuntukhasilbelajarsiswakeseluruhanpadakelaskontrolsebesar 70,82dankelaseksperimensebesar 76,46. Data hasilbelajarsiswadarimasing-masingkelasdiujianalisisdarinormalitas, homogenitas, danhipotesismenggunakanuji-t.Kesimpulannyaadalahterdapatperbedaanhasilbelajarkognitif, afektif, dan hasilbelajarsiswakeseluruhan.Sedangkanuntukhasilbelajarpsikomotoriktidakterdapatperbedaanuntukkeduakelassampel.

Pemanfaatan APE dan pendapat orang tua dalam mengembangkan kemampuan motorik anak di PAUD Tunas Harapan Karangduren Pakisaji Malang / Ratna Widyastutik

 

Kata Kunci : pemanfaatan APE, pendapat orang tua, kemampuan motorik anak usia dini APE (Alat Permainan Edukatif) merupakan salah satu alat penunjang dalam kegiatan belajar mengajar yang bersifat mendidik khususnya bagi peserta didik PAUD. Dalam pembelajaran di PAUD Tunas Harapan menggunakan metode Sentra Lingkaran (Selling), yang menekankan pada pembelajaran sentra dan lingkaran. Di dalam pembelajaran ini guru tidak bisa lepas dari penggunaan APE dalam membantu proses kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan jenis-jenis APE yang dapat digunakan dalam membantu perkembangan motorik anak usia dini dalam pembelajaran dan pemanfaatan APE serta pendapat orang tua mengenai seberapa tingkat perkembangan kemampuan motorik anak di PAUD Tunas Harapan. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif dengan menggunakan metode kuantitatif. Dengan mengambil populasi sebanyak 30 yang terdiri dari orang tua anak usia dini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah editing, coding, tabulasi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa APE yang digunakan dalam mengembangkan kemampuan motorik kasar dan kemampuan motorik halus sudah sesuai dengan penggunaanya. Dengan rincian perkembangan kemampuan motorik halus menurut pendapat orang tua yaitu (1) yang termasuk dalam kategori sangat baik yaitu memegang kertas dengan satu tangan dengan persentase (85%), menyusun menara/balok 3-7 balok dengan persentase (75,8%), makan sendiri dengan sendok dengan persentase (83,3%), (2) yang termasuk dalam kategori baik yaitu mempergunakan gerakan-gerakan jemari saat selama permainan jari dengan persentase (71,7%), membedakan 5 jenis benda melalui perabaan dengan persentase (57,5%), menuang (biji-bijian, air) tanpa tumpah dengan persentase (61,7%), memegang benda kecil dengan telunjuk dan ibu jari dengan persentase (61,7%), menggunting sembarang dengan persentase (74,2%), menjiplak gambar kotak persentase (61,7%), membuat garis lurus, vertikal dan melengkung dengan persentase (54,2%), (3) yang termasuk dalam kategori kurang baik yaitu melipat kertas mengikuti garis dengan persentase (52,5%), menulis beberapa huruf dengan persentase (51,7%). Sedangkan rincian kemampuan motorik kasarnya yaitu (1) yang termasuk dalam kategori sangat baik yaitu berjalan dengan persentase (90,8%), naik turun tangga dengan persentase (81,25%), menirukan gaya binatang dengan persentase (87,5%), menendang, melempar, menangkap bola dengan persentase (81,3%), melompat dengan satu kaki bergantian dengan persentase (84,4%), mendorong, menarik mainan beroda dengan persentase (88,3%), bersalto atau berguling ke depan dengan persentase (85% ), (2) yang termasuk dalam kategori baik yaitu memanjat dengan persentase (61,7%), berlari dengan stabil dengan persentase (70%), merayap dan merangkak lurus ke depan dengan persentase (61,7%), melompat ke depan dengan dua kaki dengan persentase (75%), (3) yang termasuk dalam kategori kurang baik yaitu berjalan di atas papan titian dengan persentase (51,7%), melompat ke belakang dengan persentase (53,3%), berjingkat dengan persentase 55% sehingga termasuk kategori kurang baik. Penggunaan APE dalam proses kegiatan belajar dapat membantu dalam perkembangan anak khususnya perkembangan motorik anak usia dini di PAUD Tunas Harapan, perkembangan motorik anak menurut pendapat orang tua masing-masing peserta didik pada umumnya adalah baik. Hal ini ditunjukkan dengan tercapainya seluruh indikator kemampuan motorik anak usia dini, baik motorik kasar ataupun motorik halus perkembangannya masuk dalam kategori baik. Namun tidak semua perkembangan anak sama antara satu dengan yang lain. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan : (1) bagi orang tua sebagai pendidik yang pertama dan paling utama dalam perkembangan anak khususnya perkembangan kemampuan motorik anak. Terutama bagi orang tua yang kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman, supaya tidak enggan untuk menambah pengetahuan tentang PAUD terkait dengan pemanfaatan APE dalam mengembangkan kemampuan motorik anak. (2) bagi PAUD Tunas Harapan dengan adanya penelitian ini dalam keterkaitannya dengan perkembangan motorik anak baik motorik kasar maupun motorik halus dapat dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi agar pemanfaatan APE dalam mengembangkan kemampuan motorik anak menjadi sangat baik, (3) bagi jurusan PLS FIP UM dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam kajian PAUD kaitannya dengan pemanfaatan APE dalam mengembangkan kemampuan motorik anak baik motorik kasar maupun motorik halus, (4) bagi peneliti lanjut disarankan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mengembangkan kemampuan motorik anak usia dini, serta disarankan menggunakan metode penelitian kualitatif.

Peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar ilustratif siswa kelas IV SDN Sebalong Kec. Nguling Kab. Pasuruan / Fatma Setyomurti

 

Kata Kunci: Menulis Karangan Deskripsi, Media Gambar, SD Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas IV di SDN Sebalong, diperoleh informasi bahwa hasil belajar sebagian besar siswa masih rendah dan proses pembelajaran masih terpusat pada guru dengan menggunakan metode ceramah kemudian siswa mengerjakan soal. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang belum mencapai persentase ketuntasan belajar klasikal yaitu 85% dari jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 75. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal (1) peningkatan kemampuan menulis karangan dengan penggunaan gambar ilustratif dalam menulis karangan, (2) penggunaan media gambar ilustratif dalam proses menulis karangan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis PTK kolaboratif. Subjek penelitiannya semua siswa kelas IV SDN Sebalong Kec. Nguling Kab. Pasuruan sebanyak 19 siswa. Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan memanfaatkan media gambar ilustratif, yang berlangsung dalam lima tahapan menulis, yaitu pramenulis, menulis, merevisi, mengedit, dan mempublikasi. Melalui media gambar ini, siswa dihadapkan dengan keadaan yang ada dalam gambar sehingga siswa seolah-olah mengalami sendiri dan mencari pengalaman sendiri dengan bimbingan guru. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Pada siklus I hasil belajar siswa menunjukkan rata-rata 65,31 dan pada siklus II meningkat menjadi 81,42. Selain itu ketuntasan belajar pada siklus I masih 26,31% dan meningkat menjadi 68,42% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi dan peningkatan hasil keterampilan menulis karangan siswa. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang baik, maka disarankan: (1) Guru menggunakan media dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi dan proses pembelajaran bisa dilakukan di luar kelas supaya siswa tidak bosan dengan proses belajar mengajar yang selalu di dalam kelas; (2) Sekolah memberikan fasilitas yang baik dalam pemenuhan media pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan hasil belajar yang maksimal; (3) Siswa lebih sering berlatih menulis karangan deskripsi di mana saja dan kapan saja.

Studi pelaksanaan konstruksi dinding penahan tanah pada pembangunan apartemen menara Soekarno Hatta Malang / Alvian Nur Rahman

 

Kata Kunci: Pelaksanaan, dinding penahan tanah Dinding penahan tanah merupakan suatu konstruksi untuk mencegah suatu kelongsoran pada daerah yang miring. Studi pelaksanaan ini bertujuan mengetahui cara pembuatan konstruksi dinding penahan tanah yaitu tentang metode penulangan, bekisting, pengecoran dan perawatan beton. Manfaat dari studi pelaksanaan ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pengajaran dalam bidang Teknik Sipil tentang dinding penahan tanah. Dinding penahan tanah dapat ditinjau dari 4 kategori dasar yaitu Dinding Gravitasi (Gravity Wall), Dinding rusuk penguat (Counterfoart Wall), Dinding Konsol (Cantilever Wall), dan Soil nailing. Studi pelaksanaan ini dilaksanakan pada proyek pembangunan Apartemen Menara Soekarno Hatta Malang, jl. Soekarno Hatta No.2 Malang. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, tanya jawab, dan dokumentasi. Dari hasil studi pelaksanaan disimpulkan jenis dinding penahan tanah pada proyek ini dilihat dari fungsi dan ukuran merupakan dinding penahan tanah jenis soil nailing. Pada pekerjaan penulangan dinding penahan tanah ini dilaksanakan di lapangan. Tulangan yang dipakai untuk dinding penahan tanah ini pada bagian balok penahan dan paku menggunakan tulangan ulir D 19 mm serta tulangan polos Ø 8 mm untuk beugel atau sengkang. Pelaksanaan bekisting menggunakan bahan meliputi; kayu dengan ukuran 5/7 dan 2/3 serta multiplek ukuran 10 mm. Alat yang digunakan antara lain adalah; palu, paku, pensil, benang, meteran, gergaji. Pada proyek ini pengecoran ini dilakukan dengan menggunakan Readymix yang langsung didatangkan dari perusahaan SPU Mix dengan mutu beton K 300. Teknis pengecoran dengan menggunakan bucket yang diangkat menggunakan Tower Crane. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa ketidaksesuaian pelaksanaan dinding penahan tanah dari segi pelaksanaan dengan kajian teori. Pada pelaksanaaan perangkaian tulangan tidak diberi penahan jarak (beton tahu) serta tidak adanya lantai kerja, pemadatan dilakukan tidak sempurna, dan tidak adanya perawatan khusus pada beton. Berdasarkan studi ini disarankan dalam pelaksanaan dinding penahan tanah dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan dalam kajian teori yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan proyek. Pada akhirnya dapat mencapai kualitas beton yang baik.

Perbedaan kejenuhan belajar ditinjau dari sistem pembelajaran full day school dan half day school pada siswa SD / Bagus Adi Permana

 

Kata kunci: kejenuhan belajar, full day school, half day school Setiap individu tentunya mengalami proses belajar untuk dapat menyesuaikan hidup di masyarakat, dan dalam era modern telah dibentuk sistem sekolah, dimana manusia akan diberikan ilmu pengetahuan dalam tahapan dan minat tertentu. Dalam proses belajar tersebut individu akan mengalami yang disebut kejenuhan belajar, dimana individu merasakan bahwa pengetahuannya tidak bertambah meskipun telah menjalani belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:(1) kejenuhan belajar siswa-siswi full day school, (2) kejenuhan belajar siswa-siswi half day school, (3) perbedaan kejenuhan belajar siswa-siswi sistem pembelajaran full day school dan half day school SD di kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 5 full day school (SD Islam Terpadu Insan Permata) yang berjumlah 43 siswa, dan siswa-siswi kelas 5 half day school (SDN Karang Besuki 1 Malang) berjumlah 38 siswa yang keseluruan digunakan sebagai subjek penelitian. Instrumen yang digunakan adalah angket kejenuhan belajar yang diisi oleh guru sebagai panel penilai. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik analisis komparatif (t-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejenuhan belajar siswa-siswi sistem pembelajaran half day school lebih tinggi daripada full day school, hal ini diketahui pada Analisis Komparatif (Uji-t) yang menunjukkan bahwa mean pada full day school 121,07 dan mean half day school 159,11, dan t Hitung = 4,993 > tTabel = 1,99 dengan p = 0,000 < 0,05. Terdapat perbedaan kejenuhan belajar siswa-siswi sistem pembelajaran full day school dan siswa-siswi half day school SD di kota Malang. Kejenuhan belajar tinggi lebih banyak dialami oleh siswa di half day school, hal ini dikarenakan kegiatan belajar mengajar hanya dilaksanakan di ruang kelas yang tetap, pembelajaran yang terus-menerus dengan waktu istirahat yang sebentar, tekanan adanya standar nilai kelulusan dalam UASBN yang berdampak pada ditambahkannya jam belajar oleh sekolah sebagai upaya agar seluruh siswanya dapat lulus pada UASBN, kemudian guru menjadi satu-satunya sumber informasi dalam belajar. Disarankan bagi pengelola sekolah dengan sistem half day school, pembelajaran di kelas perlu diimbangi dengan kegiatan yang rekreatif. Bagi orangtua dan guru untuk lebih meningkatkan komunikasi efektif dengan anak untuk mendeteksi kejenuhan belajar yang dialami anaknya.

Pelaksanaan dan kendala dalam pembelajaran standar kompetensi apresiasi seni rupa kelas IX di SMP Negeri 1 Tlanakan Pamekasan / Maulidiyanto

 

Kata kunci: pembelajaran, apresiasi, seni rupa Apresiasi merupakan salah satu standar kompetensi dari pendidikan seni di sekolah. Kompetensi apresiasi seni akan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi peserta didik. Apresiasi seni juga dimaksudkan untuk melatih pengamatan dan perasaan siswa agar memiliki kepekaan dan kesensitifan terhadap karya seni, sehingga siswa akan mampu untuk mengamati, memahami, menghayati, dan menghargai karya seni. Oleh sebab itu pembelajaran apresiasi sangatlah penting karena berfokus pada pengembangan pembinaan aspek afektif (sikap, kepekaan rasa). Namun, dalam prakteknya kegiatan di sekolah-sekolah banyak didominasi oleh pembelajaran kreasi sedangkan pembelajaran apresiasi terabaikan, kadangkala menjadi kegiatan yang tidak penting dan dianggap subordinasi, bahkan banyak menjelaskan teori dan tidak membahas hasil suatu karya seni dan kehadirannya kadang tidak pernah dilakukan dengan alasan kurangnya waktu. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi tentang: (1) Pelaksanaan pembelajaran standar kompetensi apresiasi seni rupa kelas IX di SMP Negeri 1 Tlanakan Pamekasan; (2) Kendala dalam pembelajaran standar kompetensi apresiasi seni rupa kelas IX di SMP Negeri 1 Tlanakan Pamekasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diambil dari guru, siswa, serta sarana dan prasarana. Intrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar wawancara, observasi, dokumentasi, dan angket. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis isi dengan menggunakan kategorisasi. Dalam pengecekan keabsahan temuan menggunakan cara berdasarkan teknik trianggulasi sumber dan metode. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa: Pertama, pelaksanaan dalam pembelajaran standar kompetensi apresiasi seni rupa meliputi: a) kompetensi guru bahwa Guru memiliki latar belakang pendidikan DII Keterampilan(Tata Busana dan Kerajinan) dan S1 Bimbingan Konseling. Guru selalu menyusun perangkat pembelajaran sesuai dengan standar kurikulum KTSP; b) Metode yang digunakan bervariasi dan menerapkan pembelajaran kontekstual; c) Media pembelajaran yang digunakan untuk penunjang kegiatan apresiasi yaitu media visual, untuk sumber pembelajaran yang digunakan berupa media cetak; d) Penilaian dalam pembelajaran apresiasi seni rupa dilakukan dengan teknik penilaian tes dan non tes; e) Sedangkan sarana dan prasarana SMP Negeri 1 Tlanakan dalam pembelajaran apresiasi seni rupa hanya menggunakan ruangan kelas. Kedua, kendala dalam pembelajaran standar kompetensi apresiasi seni rupa meliputi: a) Kendala yang berasal dari guru berdasarkan faktor internal yaitu kesulitan dalam mengembangkan komponen-komponen silabus, kurangnya pengalaman dalam mengikuti seminar bidang seni rupa dan kurangnya pengalaman dalam berkarya seni rupa. Sedangkan berdasarkan faktor eksternal yaitu pelaksanaan pembelajaran masih menggunakan metode konvensional. Pada media dan sumber pembelajaran yang digunakan masih kurang bervariasi; b) Kendala yang berasal dari siswa berasal dari faktor eksternal yaitu kurangnya aktifitas di luar jam sekolah dan kurangnya dukungan orang tua; c) Kendala yang berasal dari sarana dan prasarana bahwa SMP Negeri 1 Tlanakan, tidak memiliki ruangan khusus seni rupa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar lebih meningkatkan lagi pengetahuan di bidang kesenirupaan dan juga penyediaan media dan sumber pembelajaran serta sarana dan prasarana yang menunjang sehingga tujuan pelaksanaan kegiatan apresiasi seni bisa berjalan lebih baik.

Penerapan metode self-pacing dalam pembelajaran bahasa Jerman kelas XI Bahasa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Indah Purnamasari

 

Kata Kunci: keterampilan membaca cepat, metode self-pacing. Kemampuan membaca sangat penting dimiliki para siswa yang setiap hari dituntut membaca. Kemampuan membaca adalah kecakapan atau potensi siswa menguasai suatu keahlian yaitu membaca. Melalui pembelajaran membaca, siswa diharapkan dapat memberikan tanggapan yang tepat pada informasi yang telah dibaca. Membaca cepat adalah suatu kegiatan membaca dengan mengutamakan kecepatan tanpa meninggalkan pemahamannya. Berdasarkan pengalaman peneliti pada saat Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Laboratorium UM khususnya di kelas XI Bahasa, peneliti melihat minat siswa pada pembelajaran membaca bahasa Jerman kurang. Kurangnya minat baca ini kemungkinan besar disebabkan oleh kurang tepatnya metode atau strategi yang digunakan guru pada saat pembelajaran membaca. Oleh karena itu, peneliti berinisiatif menerapkan metode Self-pacing. Metode Self-pacing adalah salah satu metode yang biasa diterapkan dalam pembelajaran membaca cepat yang bertujuan untuk menumbuhkan kesenangan dan kemauan siswa dalam membaca teks. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode self-pacing pada pembelajaran keterampilan membaca cepat Bahasa Jerman di SMA Laboratorium UM, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Instrument penelitiannya adalah lembar tes, kuesioner atau angket, dan dokumentasi. Subjek penelitiannya adalah siswa SMA Laboratorium UM kelas XI Bahasa tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 25 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode self-pacing ini cukup mampu menumbuhkan semangat siswa untuk ikut aktif dalam membaca, serta dapat melatih siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca cepatnya tanpa mengabaikan pemahamannya. Berdasarkan hasil tes yang yang telah dilakukan, siswa mampu membaca dengan cepat, namun nilai yang didapatkan sebagian besar siswa masih berada pada tingkatan nilai C, yaitu nilai yang didapatkan antara 101-150 Kpm. Nilai terbaik yang diperoleh siswa yaitu 209 Kpm. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan metode self-pacing ini siswa mampu membaca dengan cepat dan mampu menumbuhkan minat siswa. Disarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk dapat menemukan metode pembelajaran lain yang dapat lebih membantu siswa dalam membaca cepat dan tetap memperhatikan ketepatan pengucapan dan intonasi. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan dampak, yaitu berupa tertariknya siswa pada pembelajaran membaca cepat khususnya dan bahasa Jerman umumnya. Bagi peneliti yang lain diharapkan agar dapat mengembangkan metode self-pacing ini, karena peneliti hanya menggunakan metode self-pacing the card dalam penelitian ini, maka masih ada empat cara lagi menurut Doyle (2007), yaitu the hand, the sweep, the hoop, dan the zig-zag or loop.

Pengaruh model pembelajaran cooperative script terhadap hasil belajar geografi pada topik hidrosfer kelas X MAN 1 Tulungagung / Imam Muhajirin

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Cooperative Script, hasil belajar geografi. Berdasarkan pengamatan yang dilaksanakan di MAN 1 Tulungagung menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut terjadi karena pola pembelajaran yang diterapkan masih kurang bervariasi, sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif model Cooperative Script terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X MAN 1 Tulungagung. Penelitian ini dirancang menggunakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas X G sebagai kelas eksperimen dan kelas X B sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes untuk prates dan pascates. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan (Independent Samples Test) yang dapat diselesaikan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar geografi siswa di MAN 1 Tulungagung. Dari hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar siswa pada kelas yang menggunakan model pembelajaran Cooperative Script memiliki rata-rata sebesar 17,56 sedangkan pada kelas yang menggunakan pembalajaran konvensional memiliki rata-rata 9,06 dengan nilai taraf signifikansi dua ekor 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penerapan model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar Geografi siswa pada topik Hidrosfer. Disarankan bagi sekolah untuk mengadakan pelatihan terhadap guru-guru tentang model pembelajaran kooperatif, khususnya Cooperative Script dalam kegiatan pembelajaran. Bagi guru Geografi untuk menggunakan model pembelajaran Cooperative Script sebagai alternatif model pembelajaran dengan cara menyelipkan atau mengganti model pembelajaran yang terdapat dalam RPP yang diberikan sekolah sesuai dengan kurikulum KTSP, karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti lanjut yang meneliti tentang model pembelajaran Cooperative Script disarankan untuk mengelola waktu dengan baik agar model pembelajaran Cooperative Script terlaksana dengan baik.

Kinerja birokrasi desa dalam meningkatkan pelayanan umum di Desa Cukurgondang Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan / Mega Clara Lulita

 

Kata Kunci: Kinerja Birokrasi Desa, pelayanan umum Pelayanan umum adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah, dan di lingkungan badan usaha milik negara atau daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Birokrasi pemerintah sebelum era reformasi telah membangun budaya birokrasi yang kental dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Akan tetapi, pemerintahan pascareformasi pun tidak menjamin keberlangsungan reformasi birokrasi terealisasi dengan baik. Berdasarkan percakapan yang dilakukan peneliti dengan masyarakat Desa Cukurgondang, sebagian masyarakat memberikan cap negatif terhadap komitmen pemerintah pascareformasi terhadap reformasi birokrasi. Tuntutan adanya pelayanan yang berkualitas di tiap-tiap daerah, mendorong peneliti untuk melihat lagi bagaimana kinerja birokrasi desa dalam meningkatkan pelayanan umum yang ada di Desa Cukurgondang Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan saat ini. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja birokrasi desa dalam meningkatkan pelayanan umum, kinerja birokrasi desa dalam meningkatkan pelayanan umum di Desa Cukurgondang Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Desa dan upaya yang dilakukan Pemerintah Desa dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan kinerja birokrasi desa dalam meningkatkan pelayanan umum dapat dilihat dari tugas dan wewenangnya serta pelayanan yang ada di dalam Pemerintahan Desa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan telaah dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi, ketekunan penelitian dan perpanjangan kehadiran. kegiatan analisis, dimulai dari tahap reduksi data kemudian penyajian data dan terakhir penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja birokrasi desa dalam meningkatkan pelayanan umum di Desa Cukurgondang dapat dilihat dari adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah). Ciri-cirinya meliputi: Efektif, Sederhana, Kejelasan dan kepastian, Keterbukaan (transparan), dan Efisiensi. Kedua, Pelayanan umum yang telah diberikan oleh Aparat Birokrasi Desa Cukurgondang dapat dilihat dari perwujudan dalam pelayanan di bidang administratif dan non administratif, meliputi; Pelayanan bidang administrasi umum, administrasi penduduk, administrasi keuangan, administrasi pembangunan dan administrasi Badan Permusyawaratan Desa. Pelayanan yang ada sudah menunjukkan optimal, hal itu dapat dilihat dari bagaimana cara mengatur dan menyelenggarakan pencatatan buku-buku yang ada secara sistematis, teratur dan tertib. Sumber daya Aparat Pemerintah Desa Cukurgondang juga mampu ditingkatkan melalui pelatihan dan program peningkatan pelayanan administrasi desa oleh aparat yang berwenang dari Pemerintah Kabupaten. Selain itu juga terdapat kedekatan dan kemudahan untuk berhubungan dengan pelaksana layanan, informasi tentang pelayanan yang diberikan, dan Pemerintah Desa juga mampu untuk selalu memahami masyarakat. Ketiga, Adapun permasalahan-permasalahan yang dihadapi Aparat Birokrasi Desa dalam mengoptimalkan kegiatan Pemerintahan Desa meliputi permasalahan internal yang berupa ketatalaksanaan, sumber daya manusia atau kompetensi Aparat Pemerintah Desa, ketatalaksanaan, penggunaan teknologi administrasi yang masih kurang, dan manajemen birokrasi itu sendiri. Sedangkan masalah eksternal berupa dinamika masyarakat dan tumbuh kembangnya masalah yang dihadapi masyarakat. Keempat, Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Desa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dimaksud secara umum berkisar pada upaya Pemerintah Desa untuk memiliki kompetensi dan profesionalisme melalui pelatihan-pelatihan dan peningkatan program administrasi yang diselenggarakan oleh aparat yang berwenang, visi yang jelas dalam pelaksanaannya, sikap dan perilaku yang baik dalam melayani masyarakat, serta memiliki manajemen yang andal untuk meningkatkan pelayanan umum

Penerapan model pembelajaran student teams achievement divisions (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS-1 SMA Muhammadiyah 2 Genteng Banyuwangi / Yuli Rohmah Fitriani

 

Kata kunci: model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD), hasil belajar. Observasi awal diketahui bahwa metode pembelajaran Geografi yang dilakukan di SMA Muhammadiyah 2 Genteng Banyuwangi adalah ceramah. Metode yang digunakan ini masih kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa cenderung hanya menerima apa yang diberikan oleh guru, sehingga hasil belajar siswa yang kurang maksimal. Hal itu terlihat dari hasil belajar siswa dengan persentase siswa yang lulus SKM dan yang tidak lulus sangat mencolok khususnya di kelas XI IPS-1 yang berjumlah 46 siswa, yakni sekitar 85% siswa yang berada di bawah SKM dan hanya 15% siswa yang lulus SKM. Hasil belajar siswa tersebut perlu diperbaiki dengan menerapkan model pembelajaran STAD, karena model ini mengajak siswa untuk lebih aktif dalam membangun pengembangan pengetahuan siswa, sehingga dengan diskusi yang membangun pengembangan pengetahuan siswa, diharapkan pengetahuan siswa akan bertambah, dan hasil belajar siswa juga meningkat. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Februari 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IPS-1 yang berjumlah 46 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 1 ke siklus 2. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 55,8 pada siklus 1 meningkat menjadi 75,1 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 83,4. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan sebesar 15%, siklus 1 sebesar 65%, dan pada siklus 2 menjadi 93%. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru bidang studi Geografi agar menjadikan model STAD sebagai salah satu alternatif penerapan model pembelajaran Geografi di kelas. (2) Bagi siswa dengan dilaksakannya model STAD dapat meningkatkan peran aktif siswa selama proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat saat diskusi berlangsung serta melatih siswa untuk bekerjasama. (3) Bagi sekolah disarankan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran geografi dengan menerapkan metode pembelajaran yang lebih tepat. (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model STAD.

Stimulus guru danrespon siswa kelas XII Bahasa dalam pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 8 Malang / Alfiyatus Sholichah

 

Kata kunci: stimulus guru, respon siswa Sebuah pembelajaran berlangsung antara dua pihak yaitu pengajar (guru) dan pebelajar (siswa). Agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik, siswa hendaknya ikut aktif dalam pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan jika guru dapat memberikan stimulus-stimulus yang tepat sehingga siswa mampu memberikan respon dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Begitu pula dalam proses pembelajaran bahasa Jerman. Salah satu keterampilan berbahasa yang dipelajari dalam pembelajaran bahasa Jerman adalah keterampilan berbicara. Pelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 8 Malang telah diberikan sejak kelas X. Akan tetapi para siswa kelas XII Bahasa di SMA Negeri 8 Malang masih menghadapi beberapa kesulitan dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman. Oleh karena itu perlu diketahui stimulus apa sajakah yang diberikan oleh guru serta respon dari siswa dalam pembelajaran ketrampilan berbicara bahasa Jerman, sehingga mengurangi kesulitan siswa dalam berbicara bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stimulus yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran keterampilan berbicara, serta untuk mengetahui respon yang ditunjukkan oleh siswa terhadap stimuls guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan dilakukan di kelas XII Bahasa SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan lembar observasi, angket, dokumentasi dan catatan lapangan sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Dari hasil penelitian diketahui bahwa jenis-jenis stimulus yang diberikan oleh guru sesuai dengan teori Operant Conditioning adalah positive reinforcement, punishment, dan modifikasi tingkah laku guru. Stimulus ini terwujud dalam penggunaan metode dan media pembelajaran, pemberian hukuman, pemberian pujian, dan pemberian nilai. Adapun jenis-jenis respon yang ditunjukkan oleh siswa adalah respondent responds, dan operant responds. Dari penelitian ini pula diketahui bahwa penyebab siswa mengalami kesulitan berbicara adalah kurangnya kosakata bahasa Jerman yang mereka kuasai dan rasa takut membuat kesalahan ketika berbicara bahasa Jerman. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru memberikan latihanlatihan kosakata tambahan untuk menambah perbendaharaan kata bahasa Jerman siswa. Guru juga disarankan agar membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan lagi agar siswa tidak merasa takut jika melakukan kesalahan dalam berbicara bahasa Jerman, misalnya dengan menggunakan media da metode yang lebih bervariasi lagi dapat melibatkan seluruh siswa dan memotivasi siswa untuk berbicara bahasa Jerman dengan baik dan lancar.

Validasi soal ujian akhir semester 2 mata pelajaran geografi kelas X di SMA Negeri 1 Blitar tahun ajaran 2009/2010 / Puspitasari

 

Kata kunci: validitas soal, tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, analisis opsi. Kondisi di SMA Negeri 1 Blitar dalam pembuatan soal dengan cara mengambil dari buku paket, terutama untuk soal bilingual karean guru takut terjadi kesalahan bahasa. Perbandingan jumlah soal yang berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris yaitu 50 : 50, sehingga nilai siswa mayoritas kurang memenuhi KKM, sebesar 75. Siswa yang nilainya di atas KKM hanya mencapai 12%, sedangkan target guru sebesar 75%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran belum berhasil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui validitas soal yang meliputi validitas kurikuler, validitas, bahasa, dan validitas item, serta tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, dan analisis opsi pilihan ganda. Manfaat penelitian adalah untuk memperbaiki kualitas pembuatan soal terutama untuk soal ujian Geografi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif untuk menentukan tingkat validitas soal, tingkat kesukaran, daya beda, reliabilitas, dan analisis opsi pilihan ganda. Sumber data dari penelitian ini diambil dari guru Geografi di SMA Negeri 1 Blitar. Data yang digunakan adalah soal dan skor jawaban siswa UAS Geografi semester 2 kelas X di SMA Negeri 1 Blitar tahun ajaran 2009/2010. Jumlah populasi pada penelitian ini yaitu sejumlah 314 siswa. Sedangkan sampel diambil dengan teknik Cluster Sampel dan diperoleh sebanyak 170 siswa. Metode pengumpulan data yaitu dokumentasi yang berupa silabus mata pelajaran geografi SMA kelas X semester 2 tahun ajaran 2009/2010, lembar soal dan kunci jawaban, lembar jawaban siswa, dan skor jawaban siswa yang digandakan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa soal UAS Geografi kelas X semester 2 tahun ajaran 2009/2010 di SMA Negeri 1 Blitar tergolong valid 88% dari segi validitas kurikuler. Soal UAS ini bila ditinjau dari segi validitas bahasa, tergolong valid 48% dan kurang valid 64%. Soal UAS ini memiliki tingkat kesukaran yang jelek, karena soal terlalu mudah, dan memiliki daya beda yang jelek. Soal UAS ini tergolong valid dari segi validitas item sebesar 82%, sehingga soal UAS ini memiliki reliabilitas yang tinggi sebesar 0,786. Soal UAS Geografi ini memiliki fungsi opsi yang jelek pada tiap-tiap item soal, karena soal terlalu mudah sehingga distraktor tidak berfungsi.

Penelitian tentang media pembelajaran seni budaya dan keterampilan serta metode penerapannya di SDN Banjararum 1 Singosari kelas V / Samunir

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Metode Penerapan, Seni Budaya dan Keterampilan Media pembelajaran dan metode penerapannya merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar, kedua komponen ini saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, sehingga tidak dapat dipisahkan. Dalam mewujudkan suatu pembelajaran inovatif, seorang guru kelas harus mampu menggunakan media pembelajaran dan metode penerapannya yang bervariasi, tujuannya agar peserta didik tidak merasa bosan dan cendrung lebih nyaman dalam belajar. Selain itu pembelajaran di sekolah dasar konteksnya dengan matapelajaran Seni Budaya dan Keterampilan sangat membutuhkan perencanaan dalam menentukan kegiatan pembelajaran, karena guru di sekolah dasar merupakan guru kelas yang terkadang tidak mempunyai dasar pendidikan seni, sehingga dalam menentukan kegiatan pembelajaran masih membutuhkan beberapa sumber dan penjelasan yang bisa membantu dalam merencanakan kegiatan pembelajaran, meliputi penggunaan dan penerapan metode dan media pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan, pertama untuk medeskripsikan media-media pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang digunakan oleh guru kelas SDN Banjararum I Singosari kelas V, kedua untuk medeskripsikan metode penerapan dalam pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang digunakan oleh guru kelas SDN Banjararum I Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif, data penelitian yang berupa paparan kebahasaan dalam bentuk audio dan visual yang terdapat dalam kegiatan belajar mengajar pada matapelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang dilakukan oleh guru dan siswa kelas V. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia dan benda, yaitu peneliti sendiri, guru kelas V yang sekaligus guru Seni Budaya dan Keterampilan, siswa siswi kelas V serta dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data, kegiatan analisis data dilakukan mulai dari mencatat, mengidentifikasi, dan menyimpulkan data. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh beberapa simpulan hasil penelitian tentang media pembelajaran dan metode penerapannya yang digunakan guru kelas V dalam pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. Pertama, jenis-jenis media yang digunakan oleh guru kelas V ialah sebagai berukut: untuk apresiasi seni, media yang digunakan oleh guru kelas V SDN Banjararum I Singosari dalam matapelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk aprsiasi seni yaitu: a) buku paket Seni Budaya dan Keterampilan, b) contoh gambar. Untuk ekspresi media yang digunakan ialah: a) buku paket Seni Budaya dan Keterampilan, b) majalah, c) buku cerita, d) kaset tape/CD. Media-media ini bisa dikatakan cukup bervariasi dan inovatif. Kedua, jenis-jenis metode yang digunakan: a) ceramah, b) merangkum, c) tanya jawab, sedangkan ekspresi seni menggunakan metode: a) ceramah, b) mencontoh, c) demontrasi, d) ekspresi bebas. Metode-metode ini bisa dikatakan cukup bervariasi, untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang inovatif kita harus membuat siswa lebih aktif dan guru sebagai fasilitator dan motifator.

Pengembangan pembelajaran permainan bola voli mini di kelas V SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar / Tegar Bayu Kharisma

 

Kata kunci: pembelajaran, bolavoli mini, kelas V SD Bolavoli mini adalah modifikasi dari permainan bolavoli standar yang mengembangkan peraturan-peraturan agar menarik dan lebih mudah dipahami serta ditujukan untuk siswa SD. Service merupakan awalan untuk memulai suatu permainan bolavoli. Keterampilan melakukan passing dengan baik merupakan modal utama dalam bermain bolavoli. Oleh karena itu teknik dasar yang diajarkan pertama kali adalah passing bawah dan service bawah. Pembelajaran yang dilakukan di SDN Babadan 2 yaitu guru hanya memberikan contoh, kemudian siswa mempraktekkannya. Pembelajaran dilakukan seperti itu tanpa adanya variasi latihan ataupun permainan, sehingga siswa memerlukan adanya variasi atihan yang menarik dan dapat meningkatkan keterampilan passing bawah dan service bawah dalam pembelajaran bolavoli mini.Untuk itu perlu dikembangkan buku pembelajaran bolavoli mini kelas V SD sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini. Tujuan pengembangan produk ini adalah menghasilkan buku pembelajaran permainan bolavoli mini gerakan passing bawah dan service bawah di kelas V SDN Babadan 2 Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini. Pengembangan menggunakan model pengembangan Borg dan Gall yang diadaptasi menjadi model yang sederhana yaitu: (1) menentukan potensi dan masalah penelitian; (2) mengumpulkan informasi, (a) mengkaji bahan pustaka, (b) analisis kebutuhan; (3) mendesain produk; (4) validasi desain, (a) uji ahli bolavoli mini (1 orang), (b) uji ahli pembelajaran di SD (1 orang); (5) perbaikan atau revisi desain; (6) uji coba tahap I (kelompok kecil 1 orang guru Pendidikan Jasmani SDN Babadan 2); (7) revisi II; (8) uji coba tahap II (kelompok besar sejumlah 25 siswa); (9) produk akhir pengembangan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Berdasarkan hasil validasi desain, uji coba tahap I (kelompok kecil) uji coba tahap II (kelompok besar), produk pengembangan pembelajaran permainan bolavoli mini memiliki kelebihan ditinjau dari empat kriteria yaitu kegunaan, kemudahan, kemenarikan, dan keakuratan. Buku pembelajaran bolavoli mini di kelas V SDN Babadan 2 sebagai buku pegangan guru Pendidikan Jasmani dalam memberikan pembelajaran bolavoli mini ini memiliki beberapa kelebihan ain yakni produk ini sangat mudah digunakan oleh siswa karena produk ini dilengkapi dengan petunjuk penggunaan serta bagian-bagian yang sudah tersusun dengan baik. Produk ini telah melalui uji ahli, sehingga banyak masukan untuk perbaikan produk untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Produk sangat menarik karena dilengkapi dengan warna dan gambar-gambar. Selain beberapa kelebihan, produk pengembangan ini memiliki beberapa kelemahan yakni produk ini masih memerlukan evaluasi dan uji coba pada subyek yang lebih besar atau lebih luas. Demi perbaikan pengembangan pembelajaran permainan bolavoli mini ini disarankan perlu adanya tindak lanjut oleh peneliti lain yang sesuai dengan pengembangan ini, yaitu mengadakan uji lapangan dengan jumlah kelompok yang lebih besar, sehingga pengembangan ini dapat terlihat manfaatnya.

Penerapan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas V MI. Roudlotul Falah Rembang Pasuruan / Siti Khasbiah

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran Inkuiri, Aktivitas, Hasil Belajar PKn SD PKn merupakan pelajaran yang memegang peranan penting karena berhubungan dengan sikap atau mental anak dimasa datang. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran PKn harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa MI Roudlotul Falah Rembang Pasuruan belum menerapkan model pembelajaran inkuiry. Sebagian siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan kelas 80% dan ketuntasan individu 75 dari materi. Berdasarkan hal ini, model pembelajaran inkuiry sangat tepat digunakan sebagai alternative dalam proses pembelajaran, karena dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inkuiry dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas V MI Roudlotul Falah Rembang Paruruan; 2) Mendeskripsikan dampak penerapan model pembelajaran inkuiry terhadap aktivitas dan partisipasi siswa kelas V MI Roudlotul Falah Rembang Paruruan; 3) Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar PKn pada pokok bahasan NKRI melalui model pembelajaran inkuiry. Penelitian ini menggunakan jenis deskriptif melalui dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahapan: Perencanaan, Pelaksanaan, observasi, dan Refleksi. Standar nilai ketuntasan minimal 75 dengan ketuntasan belajar siswa 80% dari jumlah subyek penelitian. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V MI Roudlotul Falah Rembang Paruruan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan tes dokumentasi. Instrument pengumpulan data yang digunakan berupa pedoman wawancara, APKG II, alat penilaian aktivitas belajar siswa, pedoman observasi partisipasi siswa dalam inkuiry dan post test. Hasil analisis data setelah penerapan model pembelajaran inkuiry menunjukkan bahwa: 1) Pembelajaran PKn dengan penerapan model pembelajaran inkuiry, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP mencapai skor 97 dengan prosentase keberhasilan 97%; 2) untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai rata-rata kelas 86,92dan partisipasi siswa dalan inkuiri mencapai rata-rata kelas 87 ; 3)hasil belajar siswa mencapai nilai rata-rata 87,30 dengan ketuntasan belajar kelas sudah tercapai 88,46%. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan model pembelajaran inkuiri pada pembelajaran PKn siswa kelas V MI Roudlotul Falah dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran inkuiry, post test siklus I dan post test siklus II yang terus mengalami peningkatan saran yag disampaikan kepada guru yaitu agar dapat menerapkan model pembelajaran inkuiry pada pembelajaran PKn dengan kompetensi lain ataupun mata pelajaran lain. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini dapat juga digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga kemudian hari menjadi lebih baik.

Studi tentang implementasi pembelajaran keselamatan dan kesehatan kerja bidang studi teknik mesin di bengkel Departemen Mesin/CNC PPPPTK/VEDC Malang / Basuki

 

Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana, Universita Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mardji, M.Kes; (II) Drs. Sumarli, M.Pd, MT. Kata kunci: keselamatan dan kesehatan kerja, implementasi pembelajaran, kondisi bengkel. Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan elemen penting yang harus selalu diperhatikan, dibina dan diprioritaskan setiap melakukan pekerjaan kapanpun dan dimanapun. Dimana setiap pekerjaan yang berhubungan dengan permesinan dan alat bantu lain yang digunakan, selalu berhubungan dengan resiko kecelakaan. Maka dari itu bagi Lembaga, Perusahaan, Industri dan Pengelola Bengkel Mesin, wajib mengimplementasikan Undang-Undang No. 1 Th.1970 tentang Keselamatan Kerja. Tujuan penelitian, (1) Mendeskripsikan implementasi pembelajaran keselamatan kerja. (2) Mendeskripsikan implementasi pembelajaran kesehatan kerja. (3) Mendeskripsikan kondisi bengkel teknik mesin ditinjau dari keselamatan dan kesehatan kerja. Sampel dalam penelitian ini adalah semua populasi/total sampel. Teknik pengumpulan data penelitian dengan cara membagikan angket dan observasi. Jenis penelitian adalah kuantitatif, dengan pendekatan analisis data statistik deskriptif yaitu, dengan mencari komulatif nilai mean/rata-rata skor tiap item pada tiap variabel dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS ver.10. Hasil penelitian dan pembahasan, (1) Penyajian materi keselamatan kerja integrasi dengan lembar tugas kerja praktek dan 100% Instruktur selalu memberi peringatan lisan kepada praktikan, tentang tindakan keselamatan kerja sebelum pelaksanaan praktek dan komulatif nilai mean sebesar 4,09. (2) Penyajian materi kesehatan kerja integrasi dengan lembar tugas kerja praktek dan 100% Instruktur selalu memberi peringatan lisan kepada praktikan, tentang tindakan kesehatan kerja sebelum pelaksanaan praktek dan komulatif nilai mean sebesar 4,20. (3) Kondisi bengkel teknik mesin berdasarkan observasi, sudah sesuai dengan persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, dan komulatif nilai mean sebesar 4,18. Kesimpulan hasil penelitian, (1) Implementasi pembelajaran keselamatan kerja terintegrasi dalam lembar tugas kerja praktek, disamping itu semua Instruktur selalu memberi peringatan lisan kepada praktikan, tentang tindakan keselamatan kerja sebelum pelaksanaan praktek, agar praktikan terhindar dari kecelakaan akibat kerja. Artinya semua Instruktur berusaha mematuhi Undang undang No.1, Th. 1970 tentang Keselamatan Kerja. (2) Implementasi pembelajaran kesehatan kerja terintegrasi dalam lembar tugas kerja praktek, disamping itu semua Instruktur selalu memberi peringatan lisan kepada praktikan, tentang tindakan kesehatan kerja sebelum pelaksanaan praktek, agar praktikan terhindar dari sakit akibat kerja. Artinya semua Instruktur berupaya mematuhi Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405, Th. 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri. (4) Kondisi Bengkel Teknik Mesin sudah sesuai persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, artinya aman bagi praktikan dalam melaksanakan praktek dari bahaya kecelakaan akibat kerja maupun sakit akibat kerja. Saran penulis, (1) Agar semua Instruktur konsisten mengimplementasikan pembelajaran keselamatan kerja yang sudah sesuai dengan persyaratan undang-undang keselamatan kerja. (2) Agar semua Instruktur konsisten mengimplementasikan pembelajaran kesehatan kerja yang sudah sesuai dengan persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan. (3) Bagi penegelola bengkel Departemen Mesin VEDC Malang, agar selalu menjaga dan mempertahankan kodisi bengkel yang sudah sesuai dengan persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja.

Penerapan model pembelajaran teams games tournament (TGT) untuk meningkatkan keaktifan belajar geografi siswa kelas XI SMA Alternatif Lab. PLS Universitas Negeri Malang / Dian Indira Wahyunita

 

Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa kelas XI pada tanggal 15 Agustus 2010, diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru, dan siswa cenderung pasif. Hasil observasi menunjukkan bahwa dari 100% jumlah siswa diketahui12,5% siswa aktif baik bertanya, menjawab pertanyaan guru,maupun saat diskusi, 50% siswa diketahui tidak aktif dan tidak menunjukkan keantusiasan, 18,75% siswa ijin tidak masuk, 6,25% siswa meninggalkan kelas karena ijin, dan 12,5% siswa mengobrol dan tidak memperhatikan penjelasan guru.Rendahnya keaktifan siswa berdampak pada rendahnya keaktifan belajar siswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan menggunakan model Teams Games Tournament (TGT) pada matapelajaran geografi. Penelitian yang dilaksanakan di SMA Alternatif Lab PLS UM ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data keaktifan belajar siswa menggunakan lembar observasi keaktifan belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Keaktifan klasikal pada siklus I mencapai 50% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 93,75%, sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 70, 31% pada siklus II meningkat menjadi 85,30%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan diantaranya:(1) Bagi guru geografi, model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran dalam meningkatankan keaktifan belajar siswa (2) Bagi sekolah, sebagai sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran geografi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, (3) Bagi peneliti selanjutnya, model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dapat digunakan pada materi yang lainnya selain materi Antroposfer, dengan diberikan beberapa inovasi pada tahap- tahap pembelajarannya guna menyiasati kebosanan siswa.

Penerapan model pembelajaran think pair share untuk meningkatkan kompetensi mendeskripsikan siswa pada materi keterikatan unsur-unsur geografis dan penduduk Asia Tenggara di SMP Negeri 17 Malang / Ika Meviana

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif model TPS, kompetensi mendeskripsikan siswa Hasil observasi yang dilakukan bulan Agustus sampai bulan Oktober di kelas IX B SMP Negeri 7 Malang menunjukkan bahwa pembelajaran yang berlangsung belum mengembangkan kemampuan mendeskripsikan siswa secara baik. Hal tersebut diperkuat dengan bentuk soal ulangan berupa pilihan ganda yang tidak dapat menggali kompetensi mendeskripsikan siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan penerapan model pembelajaran TPS dapat meningkatkan kompetensi mendeskripsikan siswa kelas IX B SMP Negeri 7 Malang pada Materi Mendeskripsikan Keterkaitan Unsur-unsur Geografis dan Penduduk di Kawasan Asia Tenggara. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang menggunakan metode deskriptif. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tulis. Penelitian dilaksanakan pada materi Mendeskripsikan Keterkaitan Unsur-unsur Geografis dan Penduduk di Kawasan Asia Tenggara Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi mendeskripsikan siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Kompetensi mendeskripsikan siswa pada siklus I mencapai 21,30% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 71,45%. Sedangkan kompetensi membuat outline pada siklus I mencapai 23,03% pada siklus II meningkat menjadi 71,67%. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini disarankan: (1) bagi guru geografi, model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi mendeskripsikan siswa, (2) bagi sekolah, sebagai sumbangan perbaikan pembelajaran geografi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Peningkatan kemampuan menemukan kalimat utama dalam membaca paragraf melalui model cooperative integrated reading and composition (CIRC) pada siswa kelas IVA SDN Purwodadi 1 Malang / Siti Musyarofah

 

Kata kunci: model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), menemukan kalimat utama, SD. Pembelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca sangat penting, karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi. Seperti halnya, di SDN Purwodadi 1 Malang diperoleh informasi bahwa kemampuan siswa kelas IVA dalam menemukan kalimat utama masih rendah. Hal itu, dikarenakan siswa kurang memahami bacaan, metode pembelajaran yang digunakan guru masih monoton. Dengan adanya hal tersebut, maka peneliti perlu melakukan variasi dalam pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Indonesia pada materi kalimat utama. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk meningkatkan kemampuan menemukan kalimat utama dalam membaca paragraf pada siswa kelas IVA di SDN Purwodadi 1 Malang dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menemukan kalimat utama dalam membaca paragraf pada siswa kelas IVA SDN Purwodadi 1 Malang melalui model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Purwodadi 1 Malang pada siswa kelas IVA. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian model Kemmis & MC. Taggart. Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan dengan menerapkan model CIRC menyatakan bahwa terjadi peningkatan terhadap aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa dalam menemukan kalimat utama selama pembelajaran berlangsung mulai dari siklus 1 sampai siklus 2. Model pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan kegiatan menulis dan membaca. Simpulan dari penelitian ini adalah model CIRC sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya membaca dan menulis, karena model CIRC dapat melatih siswa dalam bekerjasama dengan kelompok yaitu saling membacakan dan saling bertukar pikiran dalam menemukan kalimat utama. Saran peneliti adalah bagi kepala sekolah agar dapat memotivasi para guru untuk meningkatkan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran. Bagi guru hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran CIRC pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi yang lain. Sedangkan, bagi peneliti lain disarankan dapat mengembangkan penelitian ini menjadi lebih baik lagi.

Analisis pengorganisasian materi pada buku teks matematika kelas X bilingual berdasarkan desain pembelajaran model SOI (selecting, organizing, and integrating) / Lilik Muzdalifah

 

Kata kunci: analisis, pengorganisasian, buku teks, bilingual, model SOI Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. Hal ini melandasi berkembangnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Indonesia. Dalam prakteknya, RSBI membutuhkan buku teks matematika yang dapat membimbing siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan. Santyasa (2004) telah membuktikan bahwa desain pembelajaran model SOI (Selecting, Organizing, and Integrating) dapat mempercepat proses kognitif dalam konstruksi pengetahuan, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan buku teks yang dibutuhkan RSBI. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kesesuaian pengorganisasian materi pada buku teks matematika kelas X bilingual berdasarkan desain pembelajaran model SOI? Penelitian ini menganalisis kesesuaian pengorganisasian materi pada buku teks Mar dan Ach berdasarkan desain pembelajaran model SOI secara deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan dalam beberapa aspek, yaitu (i) analisis data pada aspek selecting, (ii) analisis data pada aspek organizing, dan (iii) analisis data pada aspek integrating. Dari hasil analisis, ditentukan tingkat keterdukungan percepatan proses kognitif pada masing-masing aspek, kemudian ditentukan tingkat kesesuaian pengorganisasian materi pada masing-masing buku teks dengan desain pembelajaran model SOI untuk ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengorganisasian materi pada buku teks Mar mendukung, sangat mendukung, dan kurang mendukung percepatan proses kognitif, berturut-turut pada aspek selecting, organizing, dan integrating. Di pihak lain, pengorganisasian materi pada buku teks Ach sangat mendukung, mendukung, dan mendukung percepatan proses kognitif, berturut-turut pada aspek selecting, organizing, dan integrating. Persentase tingkat kesesuaian pengorganisasian materi pada buku teks Mar dan Ach, secara berturut-turut mencapai 66,67% dan 77,78%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian materi pada kedua buku teks sesuai dengan desain pembelajaran model SOI. Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan kepada guru dan siswa kelas bilingual untuk menggunakan buku teks matematika dengan pengorganisasian materi yang sesuai dengan desain pembelajaran model SOI. Selain itu, disarankan bagi para penulis buku teks matematika untuk siswa kelas bilingual, agar menyusun buku teks dengan pengorganisasian materi yang lebih sesuai dengan desain pembelajaran model SOI.

Pengaruh matakuliah tourismus, kewirausahaan, dan praktik kerja lapangan (PPL) terhadap pilihan kerja pada sektor industri pariwisata mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2007 / Widhi Nova Prasetya

 

Kata Kunci: kepariwisataan, kewirausahaan, praktik kerja lapangan, pilihan kerja Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang merupakan jurusan pengembang ilmu kependidikan dalam bidang Bahasa dan Sastra Jerman yang berperan dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi pendidik profesional. Dalam pelaksanaannya, tidak semua mahasiswa Jurusan Sastra Jerman berkeinginan menjadi seorang tenaga pendidik, dan bahkan sebagian dari mahasiswa tersebut menginginkan pekerjaan di luar institusi pendidikan. Dengan adanya Matakuliah Tourismus, Kewirausahaan, dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang diajarkan kepada mahasiswa Jurusan Sastra Jerman, diharapkan dapat memberikan gambaran kepada mahasiswa tersebut tentang alternatif pilihan kerja di luar institusi pendidikan, khususnya pada sektor industri pariwisata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara: (1) Matakuliah Tourismus dan Kewirausahaan terhadap Praktik Kerja Lapangan (PKL) secara simultan, (2) Matakuliah Tourismus dan Kewirausahaan terhadap Praktik Kerja Lapangan (PKL) secara parsial, (3) Matakuliah Tourismus, Kewirausahaan, dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) terhadap Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata secara simultan, dan (4) Matakuliah Tourismus, Kewirausahaan, dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) terhadap Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata secara parsial. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2007 yang telah teregistrasi secara akademik pada semester VIII tahun ajaran 2010/2011. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Oleh karena itu, peneliti mengambil sampel mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2007 yang telah menempuh Matakuliah Tourismus pada semester V, Matakuliah Kewirausahaan pada semester VI, dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada semester VII. Data diperoleh dari hasil pengolahan angket tertutup tentang peran Matakuliah Tourismus, peran Matakuliah Kewirausahaan, peran Praktik Kerja Lapangan (PKL), dan Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata, dan dianalisis dengan menggunakan teknik Analisis Regresi Linear. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Matakuliah Tourismus dan Kewirausahaan berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan nilai Sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, (2) Matakuliah Tourismus berpengaruh secara signifikan terhadap Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan nilai Sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, (3) Matakuliah Kewirausahaan berpengaruh secara signifikan terhadap Praktik Kerja Lapangan (PKL) dengan nilai Sig 0,014 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, (4) Matakuliah Tourismus, Kewirausahaan, dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata dengan nilai Sig 0,002 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, (5) Matakuliah Tourismus berpengaruh secara signifikan terhadap Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata dengan nilai Sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05, (6) Matakuliah Kewirausahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata dengan nilai Sig 0,093 lebih besar dari nilai probabilitas 0,05, dan (7) Praktik Kerja Lapangan (PKL) berpengaruh secara signifikan terhadap Pilihan Kerja pada Sektor Industri Pariwisata dengan nilai Sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Matakuliah Tourismus, Kewirausahaan, dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) memiliki peran dan manfaat yang sangat besar. Kini mahasiswa memiliki pandangan yang luas tentang berbagai macam pilihan kerja ke depan dari ilmu yang sedang dipelajarinya, khususnya pada sektor industri pariwisata. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2007, khususnya bagi mahasiswa yang kurang berminat bekerja di suatu instansi pendidikan supaya memilih sektor industri pariwisata sebagai tempat meniti karir masa depan.

Pengembangan bahan ajar matematika realistik untuk siswa rintisan sekolah menengah pertama bertaraf internasional / Lilis Widayanti

 

Kata kunci: bahan ajar, Realistic Mathematics Education, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Pengembangan bahan ajar matematika realistik dilatarbelakangi oleh adanya upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan yang diungkapkan pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pada pasal 50 ayat 3 tentang sekolah bertaraf internasional demi mencapai sumber daya manusia yang mampu bersaing di dunia global dan adanya masalah rendahnya hasil belajar siswa di dunia pendidikan. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar matematika realistik yang valid, praktis, dan efektif untuk siswa RSMPBI. Buku siswa yang dikembangkan diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar dengan pendekatan realistik untuk siswa RSMPBI. Buku Siswa matematika realistik memuat masalah-masalah kontekstual yang dapat dibayangkan oleh siswa dan siswa didorong mengonstruksi pengetahuannya melalui berbagai kegiatan konstruksi pengetahuan. Buku siswa dikatakan valid jika disusun sesuai dengan kriteria pendekatan yang digunakan yaitu Realistic Mathematics Education (RME) dan diuji kevalidan oleh para ahli. Sedangkan dalam praktiknya buku siswa yang praktis, mudah dalam pemakaiannya dan disusun semenarik mungkin. Buku siswa yang efektif dapat mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah rencanakan. Kriteria keefektifan berkaitan dengan dampak buku siswa terhadap hasil belajar matematika. Model penelitian dan pengembangan yang dipakai adalah model prosedural yang diungkapkan oleh Suhartono. Prosedur pengembangan bahan ajar melalui tahap-tahap yaitu (1) tahap analisis situasi awal, (2) tahap pengembangan rancangan bahan ajar, (3) tahap penulisan bahan ajar, (4) tahap penilaian bahan ajar (Suhartono dalam Rosidah, 2009). Pada tahap penilaian dilakukan uji kevalidan, uji kepraktisan dan uji keefektifan bahan ajar. Berdasarkan perolehan data untuk masing-masing uji yaitu, persentase untuk uji kevalidan memperoleh 85,67%, uji kepraktisan oleh guru 90,28%, uji kepraktisan oleh siswa memperoleh 85,58% dan uji keefektifan memperoleh 81,17% maka dapat disimpulkan bahan ajar yang dikembangkan memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Bahan ajar yang dihasilkan pada pengembangan ini dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan menarik. Oleh karena itu disarankan kepada guru matematika RSMPBI dapat menerapkan produk pengembangan ini di kelas dan melakukan inovasi pembelajaran menggunakan bahan ajar matematika realistik sehingga siswa lebih tertarik, senang dan aktif dalam belajar. Selain itu diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan bahan ajar matematika realistik yang lebih inovatif dilengkapi dengan buku guru sebagai pedoman untuk guru.

Penerapan pembelajaran kooperatif model make a match untuk meningkatkan hasil belajar IPS geografi pada kompetensi dasar mendiskripsikan kondisi geografis dan penduduk siswa kelas VII B SMP Lab. UM / Binti Maslukanah

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif model Make A Match, hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap hasil belajar siswa kelas VII B SMP LAB UM, ketuntasan hasil belajar IPS Geografi hanya mencapai 42% dan 44% sehingga belum memenuhi standar ketuntasan minimum 65%. Hasil pengamatan pendahuluan menunjukkan bahwa pembelajaran di kelas belum melibatkan siswa, siswa cenderung melakukan aktivitas diluar kegiatan pembelajaran dan siswa kurang teliti serta cermat ketika mengerjakan tugas secara kelompok. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Pebruari-Maret 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas VII B yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, catatan lapangan, tes dan angket serta dokumentasi. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model Make A Match dengan variasi pada sintaksnya. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Rata-rata kelas hasil belajar ranah kognitif sebelum tindakan adalah 65 pada siklus I meningkat menjadi 70 dan pada siklus II meningkat menjadi 76. Ketuntasan klasikal hasil belajar siswa ranah kognitif juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan 42%, siklus I 64% dan siklus II 89%. Untuk peningkatan skor rata-rata kelas hasil belajar ranah afektif adalah 28 pada pra tindakan meningkat 30 pada siklus I dan 32 pada siklus II. Ketuntasan klasikal hasil belajar siswa ranah afektif juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan 44%, siklus I 69% dan siklus II 94%. Disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar IPS Geografi setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Make A Match yang pada tahap pelaksanaannya menggunakan kartu soal bergambar yang sesuai kondisi nyata di lingkungan kehidupan masyarakat, diskusi kelompok dan presentasi kelas. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan diantaranya: (1) Bagi sekolah, menganjurkan guru-guru untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model Make A Match ketika ditemukan permasalahan hasil belajar siswa yang rendah (2) Bagi guru geografi, menyelipkan atau mengganti model pembelajaran dalam RPP yang telah diberikan sekolah sesuai dengan kurikulum KTSP. (3) Bagi peneliti lanjut, mengubah atau menambahkan tahapan kegiatan pembelajaran (sintaks) sesuai dengan kondisi kelas dan karakterisktik siswa.

Penerapan model pembelajaran student teams achievement divisions (STAD) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar geografi pada materi litosfer dan pedosfer siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Blitar / Deni Kristanti

 

Berdasarkan observasi dan wawancara diketahui bahwa keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Blitar masih rendah. Siswa yang aktif dalam bertanya sebanyak 5 siswa (15,15%), berpendapat sebanyak 4 siswa (12,12%), dan menjawab pertanyaan sebanyak 4 siswa (12,12%) sedangkan untuk hasil belajar siswa yang tidak mencapai KKM 63,64%. Hal ini diperkuat dengan pernyataan siswa bahwa bidang studi Geografi sangat membosankan karena terlalu banyak konsep yang harus dihafalkan oleh siswa, siswa juga banyak yang kurang memahami tentang kegunaan, manfaat, dan penerapan ilmu geografi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dalam penelitian diterapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk bekerjasama dan memungkinkan mereka lebih aktif dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran STAD. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tertulis. Penelitian dilaksanakan di kelas X-3 SMA Negeri 2 Blitar dengan jumlah siswa 33 orang, pada materi pokok Litosfer dan Pedosfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat bahwa rata-rata keaktifan belajar siswa siklus I mencapai 76,52% meningkat menjadi 82,14% pada siklus II. Keaktifan belajar ini ndapat menunjang meningkatnya hasil belajar siswa yakni pada siklus I rata-rata hasil belajar 79,67 meningkat menjadi 83,06 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Dengan demikian disarankan (1) Bagi sekolah hendaknya pihak sekolah memfasilitasi dan mendukung guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas agar masalah pembelajaran dapat diatasi, (2) Bagi Guru Geografi hendaknya menerapkan pembelajaran model STAD minimal 1 bulan sekali untuk mengatasi kebosanan siswa, (3) Bagi peneliti selanjutnya hendaknya menerapkan model pembelajaran STAD menggunakan materi selain litosfer dan pedosfer ddengan memberikan beberapa inovasi pada tahap-tahap pembelajarannya.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 |