Studi tentang desain ornamen keramik di industri keramik rumahan Dinoyo Kota Malang / Yoga Pramudya Susanto

 

Kata Kunci: Desain ornamen, keramik, Industri rumahan, dinoyo Malang Desain Ornamen Keramik di Industri Keramik Rumahan Dinoyo Kota Malang, terdiri dari bentuk geometrik dan non geometrik. Dalam memperindah benda keramik, untuk mendapatkan sebuah kualitas desain yang artistik sangat dibutuhkan keterampilan dan pengalaman yang cukup dalam proses pembuatan benda keramik hias. Subyek penelitian ini adalah benda keramik yang ada di Industri Keramik Rumahan Dinoyo. Manfaat peneliti ini adalah supaya dapat memberikan informasi yang aktual untuk pengembangan kerajian keramik hias. Berdasarkan hal tersebut maka rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah desain motif yang ada di Industri Keramik Rumahan Dinoyo, (2) Bagaimanakah tema ornamen, (3) Apa saja bahan yang digunakan di Industri Keramik Rumahan Dinoyo, (4) Bagaimanakah teknik ornamen ynag ada di Industri Keramik Rumahan Dinoyo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif, sesuai dengan tujuan dari penelitian ini. Pendekatan ini untuk memperoleh data empiris tentang desain ornamen keramik di Industri Keramik Rumahan Dinoyo kota Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara atau interview, dokumentasi dan lokasi penelitian di jalan MT. Hariyono IX Dinoyo Kota Malang. Teknik analisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut (1) Desain motif yang ada motif geometrik non geometrik, (2) Untuk tema ornamen menggunakan flora dan fauna, (3) Bahan ornamen yang dipakai terdiri dari oksida warna, masse, glasir, (4) Untuk teknik ornamen menggunakan teknik celup, teknik semprot,lukis, temple, toreh, krawang, . Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar lebih mengembangkan desain ornamen keramik dengan memanfaatkan media bahan dan alat yang lebih bervariasi untuk menghasilkan tampilan produk baru dengan kualitas yang baik. Untuk penelitian selanjutnya disarankan diadakan penelitian yang sejenis dengan objek yang sama dengan konteks yang berbeda untuk melihat keajegan penelitian ini

Mesin peemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan / Made Agung Kurniawan.

 

Kata Kunci: Pemeras Tebu, Sistem Kontrol, Sensor Tekanan, Inverter. Mesin pemeras tebu pada umumnya mempunyai roll pemeras yang didesain permanen dan kecepatan motor yang stabil, maka dalam tugas akhir ini dibuat mesin pemeras tebu dengan otomatisasi jarak antar roll pemeras yang fleksibel dan kecepatan motor dapat berubah. Tujuan dari mesin pemeras tebu ini yaitu: (1) merancang mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan, (2) merakit mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan, dan (3) mengetahui hasil kinerja sistem kontrol pada mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan. Perancangan mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan meliputi perancangan mesin pemeras tebu dan perancangan sistem kontrol. Perancangan sistem kontrol meliputi perancangan rangkaian kontrol, rangkaian sensor tekanan, dan rangkaian inverter. Perancangan mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan memerlukan roll pemeras, accumulator, silinder pneumatik, sensor tekanan, motor listrik AC. Untuk perakitan hal pertama yang dilakukan yaitu perakitan mesin pemeras tebu kemudian perakitan sistem kontrol mesin pemeras tebu. Hasil kinerja mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol menggunakan sensor tekanan sudah dapat bekerja dengan baik. Hasil dari pengujian mesin pemeras tebu dengan sistem kontrol meng-gunakan sensor tekanan yaitu sensor tekanan menghasilkan tegangan 2,6 – 5 VDC, inverter menghasilkan frekuensi 26 Hz – 50 Hz dan kecepatan putar motor 1528 – 2820 RPM, dan 1 tebu yang berukuran 30 cm menghasilkan sari tebu 15 cc.

Perancangan dan pengembangan aplikasi multimedia untuk media pembelajaran seni rupa pada mata pelajaran seni budaya di SMA kelas XI di Nganjuk / Bima Puji Arga

 

Kata Kunci: Seni Rupa, multimedia, media pembelajaran Seni Rupa merupakan salah satu cabang seni pada mata pelajaran Seni Budaya. Umumnya pembelajaran Seni Rupa yang dilakukan masih secara konvensional. Terutama saat praktik, guru mengajarkan secara khusus sesuai kesulitan masing-masing siswa sehingga menyebabkan waktu yang terpakai kurang efisien. Sehingga menyebabkan hasil karya siswa kurang maksimal. Dengan perkembangan teknologi yang pesat maka dimungkinkan proses pembelajaran Seni Rupa dengan menggunakan bantuan teknologi komputer. Penggunaan media diharapkan dapat untuk membantu tahapan-tahapan proses belajar dengan baik, sehingga program pengajaran Seni Rupa dapat dilaksanakan lebih jelas dan siswa dapat menyerap ilmu yang disampaikan dengan baik untuk dipraktikkan menjadi karya-karya seni. Maka, salah satu solusinya adalah dengan membuat aplikasi multimedia pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran, multimedia diartikan sebagai media yang melibatkan beberapa jenis media dan peralatan secara terintegrasi dalam suatu proses atau kegiatan pembelajaran. Pembelajaran dengan multimedia akan me-libatkan indera penglihatan dan pendengaran melalui media teks, visual diam (gambar), visual gerak (animasi dan video), dan audio serta media interaktif berbasis komputer dan teknologi komunikasi dan informasi. Dengan penggunaan multimedia dalam pembelajaran diharapkan dapat memvisualisasikan materi-materi konsep dan praktek Seni Rupa agar memudahkan siswa dalam memahami konsep tersebut. Model penelitian pengembangan ini berdasarkan model pengembangan yang dinyatakan oleh Sugiyono yang telah dimodifikasi menjadi 8 tahapan untuk menyesuaikan waktu dan biaya.Validasi produk dilakukan oleh beberapa pakar atau tenaga ahli yang berpengalaman untuk menilai produk yang dirancang tersebut. Setiap pakar atau validator diminta untuk menilai produk agar diketahui kekurangan dan keunggulan produk. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam uji coba produk ini berupa angket. Angket yang digunakan terdiri dari dua bagian yaitu berupa angket penilaian dan angket komentar dari validator terhadap produk yang dikembang-kan. Dengan kriteria kelayakan, produk aplikasi multimedia pembelajaran bisa di-katakan berhasil dan sesuai kriteria kelayakan bila skor mencapai 75% lebih. Hasil yang diperoleh adalah produk yang dikembangkan valid, tersedia dan siap digunakan. Produk mendapat nilai rata-rata dari validator media, materi dan guru seni Budaya sebesar 92,33%. Dan nilai rata-rata dari 100 siswa sebesar 90,67%.

Kondisi, pemakaian alat pelindung diri, dan kualifikasi pengajar keselamatan kerja pada bengkel pemesinan SMK Swasta di wilayah pembantu gubernur Malang dan Kediri / Yaminto

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Achmad Tutjik Moechid, M.Sc., Ph.D., (II) Drs. Ahmad Dardiri, M.Pd. Kata kunci: jumlah, kondisi, pemakaian APD oleh siswa dan guru, kualifi¬kasi pengajar Latar belakang permasalahan penelitian ini adalah banyak kejadian ke-celaka¬an yang menimpa siswa dan guru pada waktu melaksanakan praktik bengkel pemesinan. Kejadian tersebut diketahui peneliti pada sekolah-sekolah negeri dan swasta di Malang, sehingga peneliti berasumsi bahwa kejadian tersebut juga terjadi pada sekolah-sekolah didaerah lain. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk men-deskripsikan jumlah, kondisi, dan pemakaian alat pelindung diri oleh siswa dan guru serta mendeskripsikan kualifikasi pengajar. Sampel penelitian ini ialah bengkel pemesinan di SMK swasta yang berlokasi di Wilayah Pembantu Gubernur Malang dan Kediri. Penelitian ini adalah penelitian survey; data pe¬neliti¬¬¬¬an di¬dapat dari angket yang diberikan kepada siswa kelas tiga dan guru¬nya, serta checklist untuk me¬nilai tingkat kelayakan APD di bengkel pemesinan. Data dikumpulkan dan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa: alat pelindung diri di se¬ko¬lah-sekolah tersebut diatas adalah sebagai berikut: (1) jumlah alat pelindung diri yang ter¬sedia di sekolah dikate¬gorikan tidak memenuhi kelayakan keselama¬tan kerja (28.6%); (2) sebagian besar alat pelindung diri dalam kondisi baik atau layak pakai (79.6%); (3) hanya sebagian siswa yang me¬man¬¬faatkan alat pelindung diri sehingga belum memenuhi kelayakan keselamatan kerja (48.4%); (4) jumlah guru yang menggunakan alat pelindung diri dalam praktik bengkel sedikit sehingga belum memenuhi kelayakan keselamatan kerja (43.3%); dan (5) sebagian besar guru dinya¬takan layak mengajar prak¬tik pemesinan (74.3%). Berdasarkan pada temuan penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut, yaitu: (1) guru dalam melak¬sanakan tugas¬nya harus me¬makai alat pe-lindung diri secara benar dan layak, serta selalu me¬ngembangkan diri untuk me-nunjang tugas-tugasnya secara professional; (2) kepala sekolah diharapkan selalu meng¬ada¬kan supervisi agar mengetahui perkembangan situasi dan kondisi praktik beng¬kel pemesinan; dan (3) ketua yayasan pendidikan, sebagai pihak yang ber-kewajiban dalam penge¬lo¬laan sarana dan prasarana sekolah, diharapkan cepat tanggap akan perlu¬nya dana untuk per¬baikan dan pengadaan alat pelindung diri demi kesehatan keselamatan kerja.

Analisa struktur mikro dan patahan kekuatan trik baja St 60 setelah dokorosikan dengan asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2So4) / Muhammad Aji Setiawan

 

Aji, Muhammad. 2014. Analisa Struktur Mikro Patahan dan Kekuatan Tarik Baja St 60 Setelah Dikorosikan dengan Pengkorosi Asam Klorida dan Asam Sulfat. Skripsi. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Tuwoso, Dr.,M.P., (2) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd.,M.T., Ph.D. Kata kunci: Struktur Mikro Patahan, Kekuatan Tarik, Korosi, Asam Sulfat, Asam Klorida, Baja Logam baja merupakan bahan utama yang sering digunakan dalam bidang konstruksi dan produksi permesinan. Kualitas dari bahan tersebut dipengaruhi oleh kekuatan tarik dan pengaruh korosi dari lingkungan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1)kekuatan tarik baja St 60 setelah dikorosikan dengan larutan asam klorida dan asam sulfat yang masing-masing 3M dan 6M selama 120 menit, (2) struktur mikro patahan baja St 60 setelah dikorosikan dengan larutan asam klorida dan asam sulfat yang masing-masing 3M dan 6M selama 120 menit. Metode dalam penelitian ini menggunakan metodekuantitatif dan jenis penelitian adalah penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium. Alat dan bahan yang digunakan berupa alat uji kekuatan tarik, alat foto struktur mikro (SEM), dan baja St 60.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan observasi. Analisis data yang digunakan yakni menjabarkan perbandingan spesimen yang diberi perlakuan dengan tanpa perlakuan menggunakan bantuan sofware microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh terhadap kekuatan tarik baja St 60 setelah dikorosikan dengan arutan HCl dan H2SO4 3M dan 6M selama 120 menit yaitu kekuatan tarik baja mengalami penurunan. Sebelum dikorosikan, kekuatan tarik baja sebesar 111,8 (Kgf/mm^2) dan setelah dikorosikan dengan larutan HCl 3M dan 6M kekuatan tariknya menjadi 110,75 dan 110,15 (Kgf/mm^2). Selain itu, baja yang dikorosikan dengan larutan H2SO4 3M dan 6M juga mengalami penurunan kekuatan tarik yaitu 109,34 dan 109,27 (Kgf/mm^2). Laju korosi baja juga mengalami penurunan sesuai dengan besarnya konsentrasi yaitu 55,00 dan 23,54 gram.m-2.jam-1 untuk media pengkorosi HCl 3M dan 6M serta 52,30 dan 47,30gram.m-2.jam-1 untuk media pengkorosiH2SO4 3M dan 6M. Baja yang dikorosikan dengan larutan HCl dan H2SO43M dan 6M memiliki jenis korosi dan tipe patahan yang hampir sama yaitu sedikit korosi sumuran, korosi uniform, korosi merata dan jenis patahannya yaitu patah ulet dan patah getas. Penelitian ini disarankan supaya memperhatikan variabel lain dalam proses terjadinya pengkorosian, seperti jenis asam, pH, suhu, kelembapan udara, viskositas, geometri dan lain sebagainya. Oleh karena itu perlu adanya penelitian sejenis yang menggunakan berbagai macam zat asam, pH, kemolaran, dan viskositas untuk mengetahui pengaruh korosinya terhadap berbagai jenis logam

Pengaruh penerapan manajemen berbasis sekolah, pertemuan ilmiah guru, dan kelompok kerja guru terhadap kinerja guru SD Negeri di kota Batu / Riyani

 

Tesis. Jurusan Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd., (II) Dr. H. Achmad Supriyanto, M.Pd., M.Si. Kata kunci: penerapan manajemen berbasis sekolah, pertemuan ilmiah, KKG, kinerja guru Upaya peningkatan kinerja guru yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Batu pada tahun 2010, melalui penerapan manajemen berbasis sekolah, pemberdayaan KKG dalam gugus sekolah maupun fasilitasi dalam pertemuan ilmiah seperti workshop guru hingga beasiswa, telah menelan anggaran besar perlu untuk diamati keefektivannya melalui penelitian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan membandingkan pengaruh antara penerapan manajemen berbasis sekolah, pertemuan ilmiah yang diikuti guru dan keaktifan KKG dalam gugus sekolah terhadap kinerja guru SD Negeri di kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan analisis asosiatif kausal berupa regresi sederhana dan regresi ganda. Penentuan sampel menggunakan teknik cluster random sampling, diperoleh responden berjumlah 179 guru pada 40 SD Negeri di 16 guslah. Hasil penelitian menunjukkan: (1) penerapan manajemen berbasis sekolah berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan koefisien determinasi sebesar 0.259, sehingga kontribusi penerapan manajemen berbasis sekolah terhadap kinerja guru sebesar 25,9%; (2) pertemuan ilmiah guru berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan koefisien determinasi sebesar 0.201 sehingga kontribusi pertemuan ilmiah guru terhadap kinerja guru sebesar 20,1%; (3) KKG berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan koefisien determinasi sebesar 0.134, sehingga kontribusi KKG terhadap kinerja guru sebesar 13,4%; (4) penerapan manajemen berbasis sekolah, pertemuan ilmiah yang dikuti guru dan keaktifan KKG dalam gugus sekolah secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan koefesien determinasi sebesar 0,415 sehingga variasi yang terjadi terhadap kinerja guru sebesar 41,5% disebabkan oleh penerapan manajemen berbasis sekolah, pertemuan ilmiah guru, dan KKG, sisanya sebesar 58,5% dipengaruhi oleh faktor lain di luar persamaan ini. Variabel penerapan manajemen berbasis sekolah merupakan variabel yang paling pengaruh terhadap kinerja guru SD Negeri di kota Batu diantara variabel keaktifan KKG dalam gugus sekolah dan pertemuan ilmiah yang dikuti guru. Memperhatikan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan manajemen berbasis sekolah belum optimal, motivasi guru mengikuti pertemuan ilmiah terbatas hanya untuk pengajuan angka kredit dan portofolio sertifikasi serta KKG belum berdaya karena dominasi kepala sekolah dan pengawas sekolah maka saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah (1) sosialisasi secara simultan oleh Dinas Pendidikan Kota Batu kepada stakeholder sekolah yang terdiri dari para guru maupun organisasi walimurid tentang tugas pokok dan ii fungsinya dalam penerapan manajemen berbasis sekolah, yang ditindaklanjuti dengan memberikan otoritas yang riil kepada SD Negeri untuk mengembangkan diri, mencari terobosan ke pihak lain dengan tanpa melepaskan kepentingan kedinasan. (2) Komite sekolah harus proaktif melibatkan masyarakat pemerhati pendidikan untuk banyak memberikan masukan dalam pengembangan pendidikan. (3) Pengawas dan kepala sekolah hendaknya lebih banyak memberikan kesempatan kepada guru dalam pengisian materi kajian KKG guslah, agar guru lebih berdaya dalam mengembangkan kompetensinya. (4) Guru perlu merekonstruksi tujuan dalam berbagai pertemuan ilmiah untuk kepentingan yang lebih luas dan berorientasi jangka panjang daripada sekadar kepentingan kenaikan pangkat maupun portofolio sertifikasi. Bagi peneliti lain diharapkan untuk dapat mengembangkan penelitian pada variabel lain yang lebih kompleks

Kemampuan menulis perencanaan karya ilmiah siswa kel;as XII jurusan bahasa di SMA Negeri 1 Bantur tahun ajaran 2011-2012 / Ririn Ambarwati

 

Kata Kunci: perencanaan karya ilmiah, judul, rumusan masalah, kerangka karangan, pembahasaan kerangka karangan Karya ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium, atau pun kajian pustaka. Perencanaan karya ilmiah merupakan tahapan pramenulis yang kajiannya meliputi kemampuan merumuskan judul, rumusan masalah, kerangka karangan, dan pembahasaan kerangka karangkan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Data penelitian ini berupa skor kemampuan siswa menulis perencanaan karya ilmiah. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Bahasa SMA Negeri 1 Bantur yang berjumlah 17 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes. Pemberian tes yang dilakukan berdasarkan instrumen yang telah dibuat, yakni instrumen pemancing berupa lembar tugas menulis perencanaan karya ilmiah dan pedoman penilaian untuk menjaring data kuantitatif. Analisis data dalam peneltian ini dilakukan dengan proses awal pengecekan kelengkapan data, pengodean, dan penilaian. Penilaian dilakukan dengan teknik analitik agar medapatkan hasil yang objektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan merumuskan judul perencanaan karya ilmiah siswa kelas XII Bahasa SMA Negeri 1 Bantur dikemukakan sebagai berikut: 4 siswa (23,5%) medapat nilai sangat baik, 2 siswa (12%) mendapat nilai baik, 7 siswa (41%) mendapat nilai cukup, dan 4 siswa (23,5%) mendapat nilai sangat kurang. Kemampuan merumuskan masalah perencanaan karya ilmiah menunjukkan hasil; 10 siswa ( 59%) mendapat nilai sangat baik, 5 siswa (29%) mendapat nilai baik, 1 siswa (6%) mendapat nilai cukup, dan 1 siswa (6%) mendapat nilai sangat kurang. Kemampuan menyusun kerangka karangan menunjukkan hasil ; 9 siswa (53%) mendapat nilai sangat baik, 4 siswa (23,5%) mendapat nilai baik, dan 4 siswa (23,5%0 mendapat nilai cukup. Kemampuan pembahasaan kerangka karya ilmiah menunjukkan hasil; 7 siswa (41%) mendapat nilai baik dan 10 siswa (59%) mendapat nilai cukup. Hasil penelitian menujukkan bahwa kemampuan merumuskan judul perencanaan karya ilmiah siswa kelas XII Bahasa SMA Negeri 1 Bantur kurang. Hal tersebut terbukti hanya 6 siswa (35,5%) yang mendapatkan nilai di atas SKM, yaitu 75. Rumusan judul yang dibuat siswa sebagian besar kurang mencerminkan isi dan kurang menarik. Kemampauan merumuskan masalah perencanaan karya ilmiah sangat baik. Hal tersebut terbukti 15 siswa (88%) mendapat nilai di atas SKM, yaitu75 dan hanya 2 siswa (12%) mendapat nilai di bawah 75. Rumusan masalah siswa ii menunjukkan identifikasi masalah yang akurat, subtansi masalah yang dibuat mencerminkan topik, dan membatasi masalah secara spesifik. Kemampuan menyusun kerangka karangan siswa kelas XII Bahasa SMA Negeri 1 Bantur sudah baik. Hal tersebut dibuktikan sebanyak 13 siswa (76,5% ) mendapat nilai di atas SKM, yaitu75 dan sisanya 3 siswa (23,5%) mendapat nilai di bawah 75. Kerangka karangan yang dibuat siswa sudah lengkap, logis, dan sistematis. Kemampuan pembahasaan kerangka karangan siswa kelas XII Bahasa SMA Negeri 1 Bantur kurang. Hal tersebut didasarkan pada nilai yang didapatkan siswa. 41% siswa medapat nilai baik dan 59% mendapat nilai cukup. Kesalahan yang dibuat siswa dalam membuat pengalimatan kerangka karya ilmiah adalah; penggunaan kata tidak baku, penggunaan huruf besar, penggunaan kata depan dan imbuhan, dan pemborosan kata.

Pengaruh suasana kelas terhadap efektivitas pembelajaran bahasa Jerman siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang / Rina Purwati

 

Kata kunci: suasana kelas, pengelolaan kelas, pembelajaran bahasa Jerman. Proses pembelajaran yang baik yaitu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Dalam mewujudkan proses pembelajaran yang baik, perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran di antaranaya faktor guru, siswa, sarana dan prasarana, serta lingkungan sekolah. Pada proses pembelajaran bahasa Jerman di kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang, faktor lingkungan sekolah adalah salah satu faktor yang menghambat kelancaran proses pembelajaran. Kelancaran dan efektivitas dari suatu proses pembelajaran tidak dapat dicapai dengan maksimal, apabila suasana dalam suatu proses pembelajaran tidak berjalan kondusif. Dalam hal ini kemampuan pengelolaan kelas yang baik sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh suasana kelas terhadap efektivitas pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan hasil angket siswa. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. untuk menjaga keabsahan data, dilakukan pengamatan berulang dan kegiatan triangulasi data. Sumber data dalam penelitian ini adalah 38 siswa kelas XI IPS 4 yang mengikuti pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa suasana kelas dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran bahasa Jerman di kelas XI IPS 4. Hal ini terbukti dari hasil observasi dan angket siswa, yaitu sebanyak 53% siswa menjawab setuju bahwa suasana kelas berpengaruh pada efektivitas pembelajaran bahasa. Berdasarkan hasil penelitian, guru disarankan agar memperbaiki kemampuan pengelolaan kelas yang dimiliki. Pada proses pembelajaran hendaknya guru memperhatikan pengaturan tempat duduk siswa, kedisiplinan, kelengkapan sarana dan prasarana, sumber belajar, variasi belajar, serta interaksi yang terjalin di dalam kelas. Hal ini bertujuan menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam pembelajaran keterampilan mendengar dan berbicara, sehingga tujuan dan efektivitas pembelajaran dapat dicapai dengan baik.

Penggunaan media pembelajaran film strip pada pokok bahasan pendudukan Jepang di Indonesia untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Lawang / Nikita Arya Bismadhani

 

Kata kunci: media pembelajaran, film strip, prestasi belajar Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Lawang, Kabupaten Malang. Salah satu kelas yang disorot adalah kelas XI IPS 4. Guru mata pelajaran sejarah yang mengajar di kelas tersebut, Ibu Sukesi Sri, mengeluhkan bahwa nilai prestasi belajar di kelas tersebut pada mata pelajaran sejarah sangat rendah, utamanya pada pokok bahasan pendudukan Jepang di Indonesia, kompetensi dasar proses interaksi Indonesia-Jepang dan dampak pendudukan militer Jepang terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia. Nilai rata-rata siswa pada pokok bahasan ini adalah 60,9. Hasil ini memiliki nilai paling rendah diantara kelas program Ilmu Pengetahuan Sosial yang lain. Guru berkolabirasi dengan peneliti untuk merencanakan kegiatan pembelajaran yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Pemanfaatan media pembelajaran menjadi solusinya. Konsep media pembelajaran yang akan diusung adalah berupa film strip. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mengetahui keadaan awal nilai prestasi belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Lawang pada mata pelajaran sejarah, (2) mengetahui penerapan media pembelajaran film strip pada pokok bahasan pendudukan Jepang di Indonesia untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Lawang, (3) Mengetahui prestasi belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Lawang setelah melaksanakan proses belajar mengajar dengan bantuan media pembelajaran film strip pada pokok bahasan pendudukan Jepang di Indonesia. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan dalam dua siklus. Pada tiap siklus terdapat tindakan utama yang meliputi Perencanaan, Persiapan, Pelaksanaan, Pengamatan ,dan Refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 1 Lawang tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 38 orang. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data melalui observasi kegiatan pembelajaran dan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Sementara analisis data yang digunakan memakai model Miles dan Huberman. Tahap-tahap analisis data tersebut yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prestasi belajar meningkat secara siginifikan. Peningkatan tersebut terjadi karena kegiatan pembelajaran menggunakan media pembelajaran film strip dan interaksi antara guru dan siswa lebih terfokus. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan menghasilkan proses yang positif pada saat kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada siklus 1 dan siklus 2. Nilai prestasi belajar siswa mengalami peningkatan. Pada pre tes pada pertemuan pertama di siklus 1, nilai rata-rata yang dicapai adalah 55. Dalam pre tes ini hanya sebanyak 5 orang siswa yang tuntas KKM (13,15%), sisanya sebanyak 33 orang siswa (86,84%) belum tuntas KKM. Sedangkan dalam pos tes akhir yang dilakukan pada pertemuan kedua pada siklus 2 menunjukan nilai rata-rata yakni 77. Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada peneliti lain yang berminat dalam bidang yang sama dan bersedia melakukan penelitian selanjutnya untuk lebih mengeksplor kembali tentang beberpa bentuk media yang bisa dikembangkan. Jika melakukan penelitian tindakan kelas, hendaknya menyediakan waktu yang lebih lama untuk memberikan hasil yang maksimal. Penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran sejarah hendaknya untuk penelitian selanjutn mengembangkan media yang lebih bervariasi dan berkualitas.

Penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengenal satuan waktu siswa kelas IIB SDN Bandungrejosari I Kecamatan sukun Kota Malang /Syarifah Evi Nurhayati

 

Kata Kunci: Kontekstual, Hasil Belajar, Matematika, SD Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang mengaitkan antara materi dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa adalah materi mengenal satuan waktu. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan kontekstual untuk mengatasinya. Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan kontekstual yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok mengenal waktu siswa kelas IIB SDN Bandungrejosari I kecamatan Sukun Kota Malang, 2) Untuk mengetahui penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika dalam pokok bahasan mengenal waktu siswa kelas IIB SDN Bandungrejosari I kecamatan Sukun Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subjek penelitian adalah siswa kelas II dengan jumlah siswa 42 orang. Lokasi penelitian adalah di SDN Bandungrejosari 1 Kecamatan Sukun Kota Malang. Teknik pengumpulan datanya dengan observasi, dan tes/portofolio. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini mendeskripsikan gambaran selama proses pembelajaran yang meliputi siklus I dan Siklus II yang terdiri tahapan siklus yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil dari tindakan pada siklus I menunjukkan penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok mengenal waktu pada siswa kelas II SDN Bandungrejosari I kecamatan Sukun Kota Malang, meliputi perencanaan, kegiatan awal, inti dan penutup. Dengan menerapkan tujuh komponen pendekatan kontekstual. Penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika dalam pokok bahasan mengenal waktu siswa kelas II SDN Bandungrejosari I kecamatan Sukun Kota Malang, terbukti nilai hasil belajar siklus II dengan hasil nilai rata-rata kelas dari 65 meningkat menjadi 84,4. Hasil penelitian pada siklus I, dan siklus II dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran dengan kontekstual dapat meningkatkan nilai hasil belajar siswa. Dari hasil peneletian disarankan kepada siswa SD untuk lebih aktif baik dalam selama proses belajar berlangsung maupun hal-hal baru yang berkaitan dalam kehidupan nyata, Guru SD sebelum melaksanakan metode pembelajaran kontekstual hendaknya guru lebih kreatif dalam memberikan materi sesuai dengan permasalahan yang terjadi di kehidupan nyata, kepala sekolah dasar mengembangkan pendekatan kontekstual dengan mengikutksertakan guru untuk mengikuti pelatihan, bagi Dinas Pendidikan mengembangkan pendekatan kontekstual dengan mengadakan penataran, bagi penelitian lanjut penelitian ini dapat diterapkan pada penelitian-penelitian lain.

Pembuatan alat peraga pembelajaran untuk mengindentifikasi perangkat sistem dan perbaikan perangkat sistem almari pendingin / Ovim Rianja Styandi

 

Kata kunci: perangkat sistem, almari pendingin, alat peraga peembelajaran. Almari pendingin telah menjadi bagian dari kebutuhan yang cukup vital dalam kehidupan rumah tangga. Dengan demikan, tidak heran jika almari pendingin mengalami perkembangan yang cukup pesat pada waktu sekarang, terutama dari segi desain dan teknologinya. Alat peraga almari pendingin dimaksudkan sebagai modul pembelajaran bagi para siswa maupun tukang reparasi yang ingin membuka usaha servis alat elektronik rumah tangga khusunya perbaikan perangkat sistem lemari pendingin.Perancangan proyek akhir ini membahas tentang alat peraga tentang perangkat sistem dan perbaikan perangkat sistem dari almari pendingin dalam mata kuliah perawatan dan perbaikan, sebagai alat bantu pembelajaran untuk menciptakan proses belajar yang efektif. Sebab dengan adanya alat peraga ini bahan pembelajaran dapat lebih mudah dipahamai oleh para mahasiswa maupun masyarakat yang ingin belajar tentang perbaikan perangkat almari pendingin dan alat peraga dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien. Dalam alat peraga ini almari pendingin utuh dibongkar agar terlihat perangkat-perangkat sistem yang terdapat didalamnya, sehingga para mahasiswa, dosen, serta masyarakat bisa melihat isi dari almari pendingin tersebut dan dapat mengidentifikasi perangkat-perangkat sistem yang ada di dalamnya. Adapun beberapa macam kerusakan dan permasalahan yang biasa terjadi pada perangkat sistem almari pendingin, serta bagai mana cara mengatasi kerusakan tersebut. Berdasarkan hasil pembahasan dapat diambil kesimpulan dari pembuatan alat peraga almari pendingin yaitu: (1) identifikasi perangkat sistem yang terdapat di dalam almari pendingin satu pintu, (2) cara melakukan perbaikan pada perangkat sistem lemari pendingin, dan (3) cara pengujian hasil perbaikan dari perangkat sistem almari pendingin satu pintu.

Rancang bangun mesin pembuat pakan akan air tawar bentuk pelet / Moh. Andiyatno dan Hengki Oky Prayogi

 

Kata kunci : Ikan Air Tawar, Mesin Pembuat Pakan Ikan Dengan pesatnya perkembangan budidaya perikanan Indonesia membuat kebutuhan pakan ikan tersebut menjadi meningkat, sehingga apabila hanya mengandalkan pakan alami saja tidak akan mencukupi kapasitas pakan ikan tersebut. Banyak petani budidaya ikan menggunakan pakan buatan, sebagai tambahan untuk pakan ikan. Tujuan membuat Mesin Pembuat Pakan Ikan Air Tawar Bentuk Pelet yaitu untuk membantu para petani ikan agar dapat memproduksi pakan ikan sendiri, sehingga akan dapat mengurangi beban biaya. Pada Mesin Pembuat Pakan Ikan Air Tawar Bentuk Pelet ini pencetak pelet berupa Piringan terbuat dari besi dengan diameter 108 mm dan tebal 10 mm, lubang pencetak dengan diameter 5 mm. Cara kerjanya yaitu dengan memasukkan adonan yang telah tercampur sedikit demi sedikit sampai lubang pencetak terisi, lalu masukan adonan secara kontinu. Kapasitas tampung dari mesin ini adalah 25 kg/jam. Daya motor yang digunakan 0,5 dalam satuan kuda (HP). Setelah diketahui komponen maka dilanjutkan dengan memasang komponen-komponen yaitu Pecetak Pelet, AS, Roll, Pegas, Penutup, pulley, poros, sabuk V. Hasil dari proses berupa Pelet, namun hasil yang didapat tidak memiliki kepadatan dan kekerasan Pelethal ini dikarenakan pada saat Adonan dicampurkan kebanyakan atau kekurangan air, bahan yang digunakan kasar sehingga pada waktu pencetakan pelet, hasilnya tidak sempurna.

Perancangan alat ukur daya digital untuk rangkaian satu fasa berbasis mikrokontroler / Didiet Heru Prasetya

 

Kata kunci: Alat ukur daya, Mikrokontroler, Pengukuran Daya, Listrik satu Fasa. Perkembangan teknologi khususnya dalam bidang elektronika sangatlah pesat sekali. Berbagai jenis produksi alat elektronika dapat berkembang dengan sangat cepat kecanggihannya. Pada hakekatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terlepas dari bidang elektronika mengingat bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan erat dengan bidang elektronika. Bidang yang terkait dengan bidang elektronika antara lain yaitu dalam bidang alat ukur daya. Karena itu diperlukan suatu rangkaian peralatan elektronika sebagai penghitung daya pemakaian listrik yang terpakai. Pada alat yang sebelumnya adalah penghitung daya sesaat yang terpakai dalam rangkaian 1 fasa dan memakai IC mikrokontroler AT89S51 dimana masih membutuhkan tambahan IC ADC untuk mengubah masukan analog menjadi digital. Dan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, IC mikrokontroler juga mengalami perkembangan dengan munculnya generasi AVR ATMEGA 8535, keunggulan dari AVR ATMEGA 8535 memiliki ADC dan EEPROM internal dan memiliki kapasitas yang lebih besar. Sehingga alat pengukuran daya 1 fasa yang menggunakan AT89S51 dapat diganti dengan ATMEGA 8535 dan perancangan rangkaian alat ukur daya 1 fasa menjadi lebih sederhana. Keunggulan pengukur daya satu fasa ini memiliki tingkat ketelitian yang lebih akurat. Alat ini dapat melengkapi alat ukur daya yang sudah ada serta dapat melakukan pembacaan daya sesaat pada perangkat elektronika rumah tangga.

Pengaruh penggunaan mobile learning terhadap motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa daerah kelas VIII di SMPN 1 Kota Mojokerto / Rizka Lutfia Erinda

 

Erinda, Rizka Lutfia. 2013. Pengaruh Penggunaan Mobile Learning Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Bahasa Daerah Kelas VIII di SMPN 1 Kota Mojokerto. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd, (II) Dr. Agus Wedi, M.Pd. Kata Kunci :Mobile Learning, Bahasa Daerah, Hasil Belajar Pembelajaran bahasa daerah di SMPN 1 Kota Mojokerto selama ini mayoritas gurunya mengajar menggunakan media papan tulis dan metode pendekatan pembelajaran didominasi guru.Selain itu dalam penyampaian materi guru kurang memberikan rangsangan pada siswa karena keterbatasan metode dan media pembelajaran.Sehingga kegiatan belajar mengajar terasa membosankan dan hasil belajarnya rendah serta kurangnya motivasi siswa.Salah satu cara untuk memberikan solusi dari permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media mobile learningyang memanfaatkan kecanggihan suatu handphonesmartphone yang mempunyai sistem operasi android yang telah dikembangkan oleh Pandu, Esteria, Ridho dan Riyan dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Media ini dipilih karena memiliki beberapa kelebihan bisa meningkatkan efektifitas penyampaian materi, bisa menarik perhatian dan motivasi belajar siswa.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari pembelajaran yang menggunakan media mobile learning dengan yang tidak menggunakan media mobile learning terhadap hasil belajar bahasa daerah siswa kelas VIII SMP.Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimental) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas VIII B sebagai kelas kontrol dan kelas VIII H sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa tes untuk pretest dan postest. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t-test.Hasil penelitian dari perhitungan uji hipotesis pada taraf signifikansi 0,05dengan derajat kebebasan (dk = 58) diperoleh nilai probabilitas (sig) adalah 0.000.Nilai signifikansi 0.000< 0.05.makadapat disimpulkan Ho ditolak berarti ada pengaruh yang signifikan dari pembelajaran yang menggunakan media mobile learningdengan yang tidak menggunakan media mobile learning terhadap hasil belajar bahasa daerah siswa kelas VIII SMPN 1 Kota Mojokerto.Saran yang diajukan untuk guru bidang studi bahasa daerahagar mengoptimalkan penggunaan media mobile learning hanacaraka sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar bahasa daerah siswa.

Pengembangan bahan ajar kimia rintisan SMA bertaraf internasional kelas XI pada materi laju reaksi / Inova Putri Carera

 

Kata Kunci: bahan ajar, Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSMA-BI), laju reaksi. Perbandingan konten materi laju reaksi KTSP dan A-Level menunjukkan bahwa materi laju reaksi pada KTSP lebih rendah daripada materi pada A-Level oleh karena itu cakupan materi laju reaksi pada pembelajaran kimia RSMA-BI perlu diperluasdan diperdalam seperti pada A-Level. Adanya perluasan dan pendalaman ini menuntut guru agar lebih kreatif dalam menyusun perangkat pembelajaran khususnya bahan ajar dari berbagai sumber sehingga mampu memenuhi kompetensi yang diharapkan pada kurikulum RSMA-BI. Hasil analisis konsep terhadap empat buku teks yang banyak dipakai di Kota Malang diketahui bahwa terdapat perbedaan keluasan dan kedalaman materi kimia laju reaksi pada buku teks yang dipakai di RSMA-BI. Meskipun demikian, buku A-Level Chemistry For Senior High School Students Volume 2A, penulis Effendy, terbitan Bayumedia (2007)merupakan buku yang layak untuk dipakai dalampembelajaran materi laju reaksi di RSMA-BI meskipun terdapat beberapa kekurangan yang berhubungan dengan keterlibatan IT untuk proses pembelajaran. Untuk itu perlu dikembangkan bahan ajar kimia RSMA-BI kelas XI pada materi Laju Reaksi untuk dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam mengajar di RSMA-BI. Tujuan dari penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar kimia RSMA-BI pada materi Laju Reaksi dan terujinya kelayakan bahan ajar yang telah dikembangkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Model pengembangan bahan ajar yang diacu adalah Model 4D dari Thiagarajan, dkk (1974), yang meliputi empat tahap utama yaitu define, design, develop, dan disseminate. Karena keterbatasan waktu dan pendukung lain, model yang digunakan terbatas pada tahap define, design dan develop. Validasi isi dilakukan dengan memberikan angket penilaian semi terbuka terhadap bahan ajar yang dikembangkan kepada validator yaitu satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia RSMA-BI. Angket penilaian ini mengadaptasi butir instrumen penilaian buku teks yang dikeluarkan oleh BSNP. Jenis data yang diperoleh dari hasil validasi pengembangan bahan ajar ada dua, yaitu data kuantitatif yang diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata hasil validasi ahli untuk mengetahui besarnya kelayakan/kevalidan bahan ajar tersebut dan data kualitatif berupa tanggapan/saran dari validator.Setelah dilakukan validasi isi bahan ajar kemudian dilakukan uji terbatas kepada 20 siswa RSMA-BI. Revisi paket hasil pengembangan dilakukan setelah diperoleh data validasi. Keefektifan bahan ajar dilakukan atas skor tes prestasi belajar dengan menggunakan bahan ajar tersebut. Untuk mengetahui keefektifan dilakukan uji kelompok kecil dengan menggunakan tes pilihan ganda dan uraian. Hasil uji coba soal pilihan ganda diperoleh 27 soal valid dengan validitas dan realibilitas sebesar 0,72 dan 0,58. Sementara, hasil uji coba soal uraian diperoleh 5 soal valid dengan validitas dan realibilitas sebesar 0,70 dan 0,49. Produk dari pengembangan adalah bahan ajar kimia Rintisan SMA Bertaraf Internasional kelas XI pada materi laju reaksi. Bahan ajar laju reaksi yang dihasilkan ditulis dengan pendekatan kontekstual dan menggunakan bahasa Inggris yang secara keseluruhan terdiri dari 54 halaman. Bahan ajar terdiri atas empat bagian utama yaitu pendahuluan, materi, evaluasi dan penutup. Materi tersusun atas tujuh sub materi yaitu ii Reaction Rate Concept, The Rate’s Expressions, Rate Law and Reaction Order, Experimental Determination of a Rate Law, Reaction Mechanism, Theories of Reaction Rate, Factors Affecting Reaction Rate. Hasil validasi bahan ajar yang meliputi validasi isi diperoleh nilai rata-rata 3,56 dari rentang skor 1-4 dengan kriteria valid/baik/layak. Hasil uji terbatas terhadap bahan ajar yang dihasilkan, diperoleh nilai rata-rata 3,35 dari rentang skor 1-4 dengan kriteria valid/baik/layak. Hasil uji keefektifan bahan ajar diperoleh skor sebesar 77,8. Skor ini diatas SKM (Skor Kelulusan Minimal) yaitu 75. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar kimia RSMA-BI kelas XI pada materi laju reaksi sudah layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas.

Efektivitas pembelajaran kooperatif model stad terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari motivasi berprstasi siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang / Budi Nurani

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Wartono, M.Pd (2) Drs. Yudyanto, M.Si Kata Kunci: Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Model STAD, Motivasi Berprestasi, Prestasi Belajar. Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa berinteraksi secara kooperatif, sehingga siswa bisa menjadi sumber belajar bagi sesamanya. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar. Salah satu metode pembelajaran kooperatif adalah model STAD. Pembelajaran kooperatif model STAD yang didukung dengan motivasi berprestasi diyakini mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan pembelajaran konvensional? (2) Bagaimanakah efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan prestasi belajar untuk siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi? (3) Bagaimanakah efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan prestasi belajar untuk siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah? Untuk menjawab permasalahan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan quasi experiment dengan desain faktorial 2 x 2. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Dari keseluruhan siswa yang terbagi menjadi 8 kelas paralel, 4 kelas diambil sebagai sampel. Dari 4 kelas sampel tersebut, 2 kelas digunakan sebagai kelas eksperimen yang belajar dengan pembelajaran kooperatif model STAD, dan 2 kelas sebagai kelas kontrol yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran kooperatif model STAD dan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional, dengan Fhitung (4,780) > Ftabel (3,94), tetapi pembelajaran kooperatif model STAD tidak lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa (Qhitung (3,092) < Qtabel (3,90)), (2) Pembelajaran kooperatif model STAD lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi (Qhitung (4,789) > Qtabel (3,79)), (3) Pembelajaran kooperatif model STAD tidak lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah (Qhitung (0,416) > Qtabel (3,79)). Berdasarkan temuan-temuan tersebut, disarankan sebagai berikut: (1) sekolah sebagai salah satu pemangku kebijakan harus mendukung pelaksanaan pembelajaran kooperatif, (2) guru menggunakan pembelajaran kooperatif di kelasnya, (3) guru fisika perlu penelitian dengan menggunakan pendekatan kooperatif selain model STAD, dan (4) instrumen motivasi menggunakan observasi atau wawancara.

Perancangan buku cerita bergambar berjudul "Ken Arok" untuk anak-anak usia sekolah dasar kelas atas / Anwar Ma'arif

 

Kata kunci: Buku Cerita Bergambar, Ken Arok, Usia Sekolah Dasar Kelas Atas Perancangan ini bertujuan menemukan cara untuk agar kelompok anak kelompok usia Sekolah Dasar kelas atas membaca buku berlatarbelakang sejarah. Sebelum proses perancangan, dilakukan analisis target audience untuk menghasilkan konsep dan tugas yang sesuai. Cerita Ken Arok sebagai cerita setempat akan digunakan sebagai tema utama. Metodologi perancangan ini adalah metodologi perancangan prosedural yang pada akhirnya menghasilkan purwarupa (prototype) hasil perancangan berupa buku cerita bergambar sesuai dengan rentang usia target audience. Proses perancangan dimulai dengan analisis target audience yaitu anakanak usia sekolah dasar kelas atas. Pada usia tersebut telah memiliki kemampuan analisis kritis dan reasoning. Kemudian penentuan karakteristik dan spesifikasi produk yang sesuai sampai perancangan produk yang menghasilkan purwarupa. Purwarupa buku cerita bergambar ini terbagi dalam tiga buku berukuran A4 landscape dengan elemen-elemen meliputi ukuran dan bentuk, sampul, style tulisan, ukuran tulisan, jenis huruf, warna huruf, layout tulisan, warna dan shade ilustrasi, space, tekstur, perspektif, tektur dan layout-nya sehingga menarik target audience.

Pengembangan paket pembelajaran bahasa Arab bagi pemula di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang / Saiful Amien

 

Tesis, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Dr. Punaji Setyosari, M.Pd., M.Ed. dan (II) Prof. Dr. Amat Mukadis, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, paket pembelajaran, bahasa Arab, pemula. Berdasarkan hasil pengamatan di Program Khusus Pengajaran Bahasa Arab – Fakultas Agama Islam UMM, permasalahan pembelajaran yang paling banyak muncul baik dari proses maupun hasil belajar terdapat di kelas Jim (pemula). Pada tataran proses, kebosanan, kejenuhan bahkan keputus-asaan sering menjadi momok tersendiri bagi mereka. Sedangkan dari hasil belajar, juga belum menunjukkan pencapaian tujuan yang optimal. Dari itu, Pengembangan paket pembelajaran ini merupakan salah satu upaya untuk memecahkan masalah belajar bahasa Arab bagi mahasiswa pemula di Fakultas Agama Islam UMM. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran dengan mengadaptasi model Dick & Carey (2001). Prosedur pengembangan model ini terdiri atas sepuluh langkah, namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sembilan langkah, yakni: (1) Mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (2) Melakukan analisis pembelajaran, (3) Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, (4) Merumuskan tujuan pembelajaran khusus, (5) Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, (6) Mengembangkan strategi pembelajaran, (7) Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, (8) Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) Merevisi pembelajaran. Paket pembelajaran yang dikembangkan ini hanya terbatas untuk kelas pemula pada materi marhala ûla (periode pertengahan awal semester ganjil), dan itu terdiri dari 3 bagian yaitu: Kitâbuth Thôlib (Buku Mahasiswa), Kitâbul Mu’allim (Buku Dosen), dan CD-Istimâ’ (Menyimak). Pada setiap buku tersebut diawali dengan pengenalan terhadap buku, panduan belajar, dan prosedur pembelajaran. Dengan begitu, diharapkan pengguna buku dapat memahami apa yang mesti dilakukan dengan media cetak ini agar tujuan belajar/pembelajaran dapat tercapai optimal. ii Hasil validasi ahli isi untuk paket pembelajaran ini berada dalam kategori baik atau layak digunakan (77,8%), begitu juga dengan hasil validasi ahli desain (76,4%) dan ahli media pembelajaran (86,2%). Sedangkan hasil uji coba perorangan (3 orang) menunjukkan angka persentase 78%, yang berarti baik dan produk ini layak digunakan. Demikian pula dengan hasil uji coba kelompok kecil yang melibatkan 9 mahasiswa FAI-UMM, menunjukkan angka persentase 79,7%, dan terakhir uji coba lapangan yang melibatkan 32 responden dari mahasiswa FAI memberikan nilai persentase 81,6%. Walaupun nilai hasil uji coba di atas dikatagorikan baik dan produk pengembangan tidak dituntut untuk perbaikan, namun tetap saja kritik, saran dan masukan dari para ahli dan responden dijadikan pertimbangan untuk merevisi paket pembelajaran ini. Keunggulan paket pembelajaran ini di antaranya adalah: (1) disusun secara sistematis, baik untuk pembelajaran mandiri maupun bersama dosen; (2) melibatkan dan fokus pada seluruh kompetensi berbahasa; dan (3) langsung praktik berbahasa tanpa banyak penjabaran teori/kaedah gramatikal. Sedangkan kelemahannya, di antaranya: 1) paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan karakteristik mahasiswa bahasa Arab tingkat pemula di FAI-UMM, sehingga tidak bisa digunakan untuk semua kalangan; 2) produk ini baru sebatas prototype paket pembelajaran yang telah divalidasi secara formatif, namun belum diuji secara evaluatif untuk melihat tingkat efektifitas dan efisiensinya.

Analisis variasi gen hormon pertumbuhan sapi peranakan ongole di balai besar inseminasi buatan Singosari dan unit perusahaan aliansi sebagai media pembeljaran materi pengenalan teknik analisis biologi molekuler / Mariana Rengkuan

 

Kata Kunci: Sapi PO, variasi gen hormon pertumbuhan, media belajar Upaya penyediaan pejantan dan betina sapi PO unggul sebagai stock parental dalam kaitannya dengan sifat ekonomis seperti pertumbuhan dan produksi, dibutuhkan suatu kajian pada tingkat gen yang mengontrol sifat tersebut. Gen hormon pertumbuhan (GH) merupakan penyandi hormon pertumbuhan yang dihasilkan oleh somatotrop dalam kelenjar hipofisa bagian depan dan berperan dalam pertumbuhan jaringan, reproduksi, laktasi, serta metabolisme. Adanya variasi gen hormon pertumbuhan diharapkan dapat menjadi informasi dasar dalam memperoleh sapi PO unggul secara genetik. Pengalaman dalam proses tersebut, dikembangkan menjadi media belajar pada materi pengenalan teknik analisis biologi molekuler di perguruan tinggi yang memiliki permasalahan dalam membelajarkan materi pengenalan TABM. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi variasi gen hormon pertumbuhan sapi PO pejantan unggul di BBIB Singosari dan induk di UPA Pasuruan dan (2) mengembangkan media pembelajaran audiovisual yang berbasis pengalaman penelitian variasi gen hormon pertumbuhan sapi PO pejantan unggul di BBIB Singosari dan induk betina di UPA Pasuruan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu identifikasi variasi gen hormon pertumbuhan sapi peranakan ongole pejantan unggul di BBIB Singosari dan UPA Pasuruan, tahap kedua merupakan penelitian pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia. Data pada tahap pertama diolah dengan menggunakan program MEGA 5.03 sementara pada tahap kedua menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menujukkan bahwa: (1) primer pertama dapat mengungkap adanya variasi gen hormon pertumbuhan pada 13 sampel penelitian, (2) penggabungan kedua primer menghasilkan hubungan genetik yang sama dengan primer pertama, dimana terdapat 2 kelompok besar yang terdiri atas 3 sampel sapi PO pejantan unggul dari BBIB Singosari dan 7 sampel induk dari UPA Pasuruan, sementara 3 sampel yang lain tidak masuk dalam kelompok tersebut, (3) tujuh sampel induk sapi PO dari UPA Pasuruan dapat direkomendasikan sebagai stock parental di UPA Pasuruan dalam menghasilkan keturunan yang unggul, (4) produk pengembangan berupa multimedia pada materi ii pengenalan teknik analisis biologi molekuler ini dikembangkan dari serangkaian proses kegiatan yang melibatkan teknik-teknik molekuler yang sederhana dan natural, sehingga produk ini lebih original, terperinci dan mudah dipelajari, (5) produk pengembangan berupa multimedia pada materi pengenalan teknik analisis biologi molekuler ini dapat digunakan mahasiswa sebagai sumber atau bahan ajar yang baik, dimana produk ini memaparkan secara gamblang dan jelas tentang materi-materi yang ada dalam materi pengenalan teknik analisis biologi molekuler ini sehingga belajar lebih efisien dan efektif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka disarankan: (1) pada penelitian lanjut, dibutuhkan suatu kajian pada gen hormon pertumbuhan dengan menggunakan primer berbeda, sehingga menghasilkan suatu variasi yang lebih beragam dan komprehensif dalam memperoleh sapi-sapi unggul berdasarkan penciri genetik, (2) dibutuhkan uji coba lapangan untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi dari aspek pengguna (mahasiswa) pada media pembelajaran pengenalan teknik analisis biologi molekuler, (3) bagi pihak-pihak yang ingin mengembangkan produk ini lebih lanjut, diharapkan dapat mengangkat kajian pada organisme yang lain (misalnya: tumbuhan) untuk memperkaya media pembelajaran.

Peningkatan proses dan hasil belajar IPS melalui cooperative learning tipe stad bagi siswa kelas III SDN Tulusrejo II kota malang / Ajeng Berlianing Tyas

 

Kata Kunci: proses belajar, hasil belajar, IPS, cooperative learning, STAD Pembelajaran IPS di sekolah dasar diarahkan agar siswa memahami gejala-gejala sosial dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan hal tersebut dapat terjadi apabila siswa terlibat dan mengalami sendiri pembelajaran di kelas. Tetapi kenyataan yang terjadi di SDN Tulusrejo 2 Malang, siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran IPS dan berpengaruh pula terhadap hasil belajar mereka. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran IPS masih bersifat konvensinal dan didominasi oleh guru. Siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut coba diatasi dengan model pembelajaran cooperative learning tipe STAD yang menuntut siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran dan hal tersebut juga akan berdampak pada hasil belajar siswa. Kegiatan belajarnya berkelompok dengan membahas materi dan soal dari guru. Semua siswa dalam kelompok aktif karena memiliki tugas yang jelas. Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) Menerapkan model cooperative learning tipe STAD pada mata pelajaran IPS siswa kelas III di SDN Tulusrejo II Kota Malang, (2) Menerapkan model cooperative learning tipe STAD untuk meningkatkan proses belajar siswa kelas III pada mata pelajaran IPS, (3) Menerapkan model cooperative learning tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III pada mata pelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari tiga tahap,. Pada siklus satu yang terdiri dari dua pertemuan dan pada siklus dua terdiri satu pertemuan. Subyek penelitian ini adalah 43 siswa kelas III SDN Tulusrejo 2 Kota Malang. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil yaitu: skor postes rata-rata siklus I dapat diketahui bahwa dari 43 siswa sebanyak 22 siswa (31%) telah mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan yaitu 70, sedangkan 21 siswa (46%) belum mencapai ketuntasan belajar. Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ketuntasan belajar klasikal mencapai (86%). Berdasarkan penelitian ini disarankan bagi guru dan peneliti lanjutan diharapkan dapat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran dan mengkombinasikannya dengan beberapa pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran IPS.

Hubungan antara kondisi bengkel kerja bangku dan penerapan K3 dengan prestasi belajar siswa di SMK Negeri 1 Bendo Kabupaten Magetan / Mulyo Adi Susanto

 

Kata kunci: Kondisi Bengkel Kerja Bangku, Penerapan K3, Prestasi Siswa Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian penting yang harus dipahami dan diterapkan di dalam bangku sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu sarana penunjang yang khusus berada di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan diantaranya adalah ruang bengkel pemesinan yaitu suatu tempat yang digunakan untuk sarana praktik kejuruan yang nantinya para pendidik dan peserta didik dapat saling memanfaatkan demi mengembangkan ketrampilan kejuruan teknik pemesinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi bengkel kerja bangku di SMK Negeri 1 Bendo Kabupaten Magetan ditinjau dari penerangan, sirkulasi udara, dan peralatannya, untuk mendeskripsikan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di SMK Negeri 1 Bendo, dan untuk mengetahui signifikansi antara kondisi bengkel kerja bangku dan penerapan K3 di SMK Negeri 1 Bendo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Berdasarkan judul, variabel dalam penelitian ini adalah kondisi bengkel kerja bangku (X1) dan penerapan K3 (X¬2) sebagai variabel bebas, sedangkan Prestasi Belajar Siswa kelas XI dan XII (Y) sebagai variabel terikat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian deskriptif korelasional adalah gambaran tentang sekelompok variabel bebas yang dikorelasikan dengan satu variabel terikat. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa dari siswa yang menjadi sampel penelitian sebanyak 53 orang: 21 siswa (39,62%) memiliki nilai prestasi pada mata diklat kerja bangku baik, 19 siswa (35,84%) memiliki nilai prestasi pada mata diklat kerja bangku cukup, dan 13 siswa (24,54%) memiliki nilai prestasi pada mata diklat kerja bangku kurang di SMK Negeri 1 Bendo. Hal ini berarti, gambaran nilai prestasi belajar pada mata diklat kerja bangku yang dimiliki siswa kelas XI dan XII SMK Negeri 1 Bendo adalah baik. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 53 responden: 16 siswa (30,20%) menjawab tentang kondisi bengkel kerja bangku dalam kondisi baik atau tinggi, 26 siswa (49,05%) menjawab tentang kondisi bengkel kerja bangku yang sedang, dan 11 (20,75%) siswa menjawab tentang kondisi bengkel kerja bangku yang rendah. Pada intinya kondisi bengkel kerja bangku di SMKN 1 Bendo dalam kondisi sedang. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 53 responden: 8 siswa (15,10%) mempunyai pemahaman yang tinggi tentang penerapan dan pemahaman K3, 40 siswa (75,47%) mempunyai pemahaman yang sedang tentang penerapan dan pemahaman K3, dan 5 (9,43%) siswa mempunyai pemahaman yang rendah tentang penerapan dan pemahaman K3. Pada intinya pemahaman siswa tentang penerapan dan pemahaman K3 di SMKN 1 Bendo sedang. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)secara parsial kondisi bengkel kerja bangku mempunyai hubungan yang positif dengan prestasi belajar, (2) secara parsial penerapan K3 mempunyai hubungan yang positif dengan prestasi belajar, dan (3) kondisi bengkel kerja bangku dan penerapan K3 secara simultan mempunyai hubungan yang positif dengan prestasi belajar siswa pada mata diklat praktek kerja bangku di SMK Negei 1 Bendo Kabupaten Magetan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kondisi bengkel kerja bangku dan semakin tinggi pemahaman dan penerapan K3 yang dimiliki siswa maka semakin tinggi pula prestasi belajar siswa.

Pengembangan sumber belajar pembuatan website menggunakan CMS Joomla berbasis moodle pada pendidikan jarak jauh / Warda Isnaini

 

Kata Kunci: Belajar mandiri, pembelajaran berbasis web, Pendidikan Jarak Jauh. Distance Learning atau pendidikan jarak jauh (PJJ) adalah pendidikan dengan karakteristik adanya keterpisahan antara pendidik dan peserta didik. Penerapan PJJ di Indonesia ini dikarenakan secara umum negera Indonesia terdiri dari pulau-pulau sehingga menyebabkan pendidikan tidak merata, selain itu karena adanya keterbatasan pemanfaatan sumber belajar yang selama ini hanya mengacu pada media cetak (buku). Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan sumber belajar yang bisa diakses dari berbagai daerah tanpa adanya keterbatasan tempat, ruang dan waktu sehingga peserta didik dapat belajar lebih mandiri. Oleh sebab itu diperlukan program-program yang mendukung aplikasi e-learning. Moodle adalah salah satu software yang digunakan untuk pembelajaran berbasis web dan dapat dilakukan pembelajaran mandiri. Penelitian ini akan mengembangkan sumber belajar menggunakan Moodle yang memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Dick and Carey yang telah disesuaikan dengan keperluan dan pengembangan. Model ini mengarah pada upaya menambah bahan suplemen belajar dengan urutan-urutan kegiatan pengembangan yang sistematis yang terdiri dari 5 tahap diantaranya: Tahap I dengan menetapkan mata pelajaran yang akan dikembang-kan. Tahap II mengidentifikasi kurikulum mata pelajaran yang akan dikembangkan. Tahap III merumuskan langkah-langkah pengembangan, pada tahap inilah model pengembangan Dick and Carey diterapkan tetapi dalam pengembangan ini tidak semua langkah yang ada di dalam teori pengembangan Dick and Carey di-gunakan, hanya langkah ke-1 sampai langkah ke-7. Tahap IV pengembangan sumber belajar alternatif berbasis website. Tahap V adalah uji coba dan revisi produk pengembangan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan responden. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Sampel uji coba diambil dari peserta didik SMK Negeri 10 Malang dan SMK Negeri 2 Singosari. Sumber belajar yang dihasilkan berbentuk web yang terdiri dari modul berupa teks dalam format Pdf, ilustrasi gambar/foto, audio-video, dan dilengkapi fasilitas penunjang seperti: forum, chat,kuis dan latihan atau penugasan. Sumber belajar menggunakan Moodle ini dapat diakses melalui internet dan dapat digunakan untuk pembelajaran di dalam kelas dan di luar kelas. Hasil validasi sumber belajar dari ahli media menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 84%, ahli materi menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 87,5%, uji coba kelompok kecil memperoleh persentase 85,5% dan uji coba lapangan menyatakan tingkat kelayakan sebagai sumber belajar dengan persentase 85,7%. Sumber belajar yang dikembangkan ini dapat diterapakn pada siswa PJJ, siswa tingkat SMK dan masyarakat umum. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi suplemen untuk pembelajaran , materi Pembuatan Website menggunakan CMS Joomla.

Pengembangan modul litosfer pada kelas X Sekolah Menengah Atas / Siti Wa'Dah

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Achmad Fatchan, M, Si, M, Pd, (2) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M, Si. Kata-kata kunci: litosfer, modul Penelitian ini diawali dengan identifikasi kesalahan yang ada pada buku teks Geografi dan Modul Litosfer. Buku teks yang digunakan oleh siswa terdapat banyak kekurangan. Kekurangan tersebut di antaranya (1) kesalahan bahasa, fakta/data, konsep, generalisasi, (2) kekurang tepatan penyajian gambar, (3) kesalahan objek material dan objek formal, serta (4) sulitnya ketercernaan materi. Kesalahan dalam modul juga ditemukan pada dua Modul Litosfer yang telah diidentifikasi di antaranya adalah (I) bagian pendahuluan modul yang tidak lengkap, (2) uraian materi yang tidak sesuai dengan sajian materi yang diprasyaratkan oleh BSNP 2006, serta (3) kekurang tepatan gambar dengan uraian materi. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pengembangan Modul Litosfer untuk kelas X SMA/MA Setidaknya memiliki kesalahan relatif sedikit jika dibandingkan dengan buku teks dan modul yang ada. Modul dikembangkan berdasarkan KTSP dan BSNP 2006. Tujuan penelitian ini (I) mengembangkan Modul Litosfer untuk siswa kelas X SMA/MA menggunakan model pengembangan Dicky & Carey; (2) menemukan keefektifan modul yang dikembangkan. Pengembangan modul Litosfer dengan model Dicky & Carey (2001) memiliki sepuluh langkah pengembangan, yaitu mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik pembelajaran, merumuskan tujuan khusus pembelajaran, mengembangkan butir-butir tes acuan pokok, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, merancang dan melakukan penilaian formatif, merevisi materi pembelajaran, dan merancang dan melakukan penilaian sumatif. Namun demikian, data penelitian yang dimodifikasi menjadi lima langkah pengembangan yaitu: identifikasi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator; analisis materi; pengembangan dan penulisan modul; validasi dan uji coba produk; dan revisi produk. UJi coba modul dilakukan pada 35 siswa kelas X5 SMA Negeri 1 Lembar. Keefektifan modul didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa setelah dilibatkan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan modul yang dikembangkan, Data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan untuk memperoleh objek penelitian. Data kualitatif meliputi tanggapan dan saran dari siswa terhadap modul hasil pengembangan. Data kuantitatif meliputi pencapaian hasil belajar siswa kelas X5 SMA Negeri 1 Lembar setelah diikutsertakan dalam proses pembelajaran dengan modul. Data yang dikumpulkan itu dianalisis secara deskriftif. Dalam penelitian ini dikembamgkan lima modul, yaitu Modul I (Stuktur Lapisan Litosfer), Modul 2 (Tenaga Endogen), Modul 3 (Tenaga eksogen), Modul 4 (Pedosfer), Modul 5 (Erosi Tanah). Hasil uji coba lapangan yang dilakukan kepada siswa kelas X SMA Negeri 1 Lembar menunjukkan rata-rata hitung terhadap hasil tes penguasaan materi/isi modul sebagai berikut: (1) Modul 1 ( = 8,58), (2) Modul 2 ( = 8,49), (3) Modul 3 ( = 8,61), Modul 4 ( = 8,69), Modul 5 ( = 83). Hal ini menunjukkan bahwa modul hasil pengembangan adalah efektif digunakan dalam pengajaran materi Litosfer. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, modul pembelajaran ini telah berhasil menunjukkan kebermanfaatan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pencapaian siswa terhadap uji coba penguasaan materi (pilihan ganda) yang terpisah dari soal yang diberikan di dalam modul. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa menunjukkkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsep Litosfer lebih baik. Berdasarkan uji coba dilakukan revisi produk. Produk hasil pengembangan yang telah direvisi disarankan untuk dapat digunakan secara lebih luas oleh siswa di SMA/MA dalam mempelajari materi litosfer. Desiminasi produk dapat dilakukan dengan menyebarluaskan produk ini melalui seminar hasil penelitian, MGMP mata pelajaran Geografi, dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Produk hasil pengembangan dapat dijadikan sebagai model untuk mengembangkan produk yang sama. Agar produk ini benar-benar layak digunakan, disarankan perlu adanya penelitian eksperimen dan penelitian pengembangan lebih lanjut.

Pengembangan pedoman sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal siswa kelas VII SMP / Wahyu Arif Bintoro

 

Kata kunci : Pengembangan, Pedoman Sosiodrama, Keterampilan Hubungan Interpersonal. Sosiodrama merupakan suatu teknik dalam bimbingan kelompok yang berbentuk permainan peran dapat digunakan untuk melatih keterampilan hubungan sosial siswa. Siswa SMP termasuk remaja dengan ciri utama perlunya hubungan interpersonal yang baik dengan teman sebaya dan sekitarnya. Oleh karena itu, untuk membantu konselor melatih keterampilan hubungan interpersonal siswa tersebut, perlu dikembangkan pedoman sosiodrama yang berterima secara teoritis dan praktis. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menghasilkan pedoman sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal yang berterima secara teoritis dan praktis. Metode pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural dengan mengadaptasi langkah-langkah dari Borg dan Gall (Sugiyono,2006) yang meliputi: menentukan potensi dan masalah penelitian, mengumpulkan informasi, mendesain produk, validasi desain, dan revisi produk. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 18 Malang. Berdasarkan penilaian para ahli, pedoman sosiodrama ini berterima secara teoritis. Hal ini dapat diketahui dari hasil penilaian ahli bimbingan konseling pada model sosiodrama yang menunjukkan nilai rerata dalam skala 3 dan penilaian pedoman menunjukkan skala 2,88. Penilaian ahli drama pada model sosiodrama menunjukkan nilai skala 3,17 dan penilaian pedoman menunjukkan skala 3,03. Sedangkan penilaian calon pengguna produk (konselor) pada model sosiodrama menunjukkan nilai skala 3 dan penilaian pedoman menunjukkan nilai skala 3. Dari penilaian tersebut, disimpulkan pedoman sosiodrama ini sangat baik. Berdasarkan uji lapangan, permainan sosiodrama telah terlaksana dengan baik sehingga dapat dikatakan baik secara praktis. Dengan demikian, pedoman sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal ini dapat dikatakan dapat berterima secara teori maupun praktis. Saran penelitian ini adalah konselor mempelajari, memahami dan melaksanakan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan hubungan interpersonal dan dilaksanakan secara berulang-ulang dalam layanan bimbingan dan konseling. Bagi peneliti selanjutnya, agar pengembangan ini dilanjutkan ke penelitian eksperimen, sehingga hasil yang dilaksanakan diketahui peningkatannya.

Analisis portofolio optimal selection dengan single index model pada perushaan katagori bisnis 27 pada periode 1-31 Agustus 2011 / Puspita Margareta

 

Kata Kunci: Penentuan Portofolio Optimal Metode Markowitz dan Single Index Model, Expected Return Portoflio, Risk Portofolio Portofolio optimal selection merupakan portofolio yang dipilih oleh seorang investor dari sekian alternatif pilihan yang ada pada kumpulan portofolio efesien. Portofolio yang dipilih sesuai dengan preferensi investor bersangkutan terhadap return maupun terhadap risiko yang bersedia ditanggungnya. Penentuan portofolio optimal dalam penelitian ini menggunakan Single Index Model yang didasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui kondisi return realisasi, return ekspektasi, return pasar, dan return aset bebas risiko; 2) untuk mengetahui saham-saham yang lolos seleksi tahap pertama atas return ekspektasi individu; 3) untuk mengetahui kondisi risiko sistematis dan risiko tidak sistematis; 4) untuk mengetahui saham-saham yang lolos seleksi tahap kedua atas risiko sistematis atau beta; 5) untuk mengetahui kondisi excess return to beta dan cut off point; 6) untuk mengetahui saham yang lolos seleksi tahap ketiga atas excess return to beta; 7) untuk mengetahui proporsi portofolio optimal, return portofolio, dan risiko portofolio dengan menggunakan Single Index Model pada saham perusahaan kategori Bisnis 27 periode 1 – 31 Agustus 2011. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan periode pengamatan selama 19 hari kerja bursa yaitu mulai tanggal 1 sampai dengan 31 Agustus 2011. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi harga saham, Indeks Bisnis 27, dan tingkat suku bunga. Subyek penelitian ini merupakan seluruh perusahaan yang masuk dalam kategori saham Indeks Bisnis 27 selama bulan Agustus 2011 sebanyak 27 saham. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi return saham individu dan return pasar cenderung mengalami penurunan pada periode pengamatan yang menyebabkan kondisi return ekspektasi saham individu dan return ekspektasi pasar juga mengalami penurunan. Pada Single Index Model, terdapat 3 saham perusahaan pembentuk portofolio optimal dengan proporsi masing-masing yaitu PT. Charoen Pokhpand Indonesia, Tbk (CPIN) sebesar 36%, PT. PP London Sumatra, Tbk (LSIP) sebesar 9%, dan PT. Jasa Marga, Tbk (JSMR) sebesar 55%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat return ekspektasi portofolio yang diperoleh adalah sebesar 0,11% dengan tingkat risiko hanya 0,057%.

Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada matakuliah CAD jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Dwi Putra Nuari

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Multimedia Interaktif, Matakuliah CAD, CAD (Computer Aided Design) merupakan salah satu matakuliah inti yang ada pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dengan kode matakuliah PTM 427, memiliki bobot 2 sks 4 js. Matakuliah ini merupakan salah satu matakuliah wajib yang harus dipelajari oleh mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, khususnya program studi S1 Pendidikan Teknik Mesin (PTM). Matakuliah ini ditempuh di semester 4. Dimana matakuliah ini menjadi dasar untuk beberapa penerapan mata kuliah lainnya. Sehingga perlu adanya perhatian khusus pada matakuliah ini. Metode pembelajaran di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang saat ini, lebih banyak dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, dan praktikum. Metode ini cukup efektif, tetapi belum cukup apabila menginginkan pembelajaran yang menuntut mahasiswa untuk lebih aktif dan mandiri. Penggunaan media DVD pembelajaran interaktif sebagai salah satu solusi media pembelajaran yang sangat tepat. Dalam metode ini media pembelajaran yang digunakan pembelajaran yang berbasis teknologi multimedia. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan; (1) menghasilkan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif yang telah dikembangkan dan diujicobakan kelayakan pada mata kuliah CAD pada jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UM. (2) mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada matakuliah CAD Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UM. Pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini menggunakan model pengembangan menurut Sadiman, dkk. perancangan media pembelajaran melalui 10 tahap kegiatan, yaitu: (1) menganalisis kebutuhan; (2) merumuskan tujuan pembelajaran; (3) merumuskan butir-butir materi; (4) menyusun instrumen evaluasi; (5) menulis naskah media; (6) produksi produk media pembelajaran; (7) validasi ahli; (8) uji coba produk; (9) revisi; 10) hasil produk. Berdasarkan hasil validasi materi, diperoleh persentase 100%, dan dari validasi media diperoleh persentase 91,7%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis multimedia interaktif yang dikembangkan masuk pada kriteria sangat menarik/sangat baik dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Selain itu, terdapat hasil uji coba lapangan, diperoleh persentase 86,625%, kesimpulan bahwa media pembelajaran berbasis multimedia interaktif ini sangat menarik dan mudah digunakan baik dari segi materi ataupun pengoperasian program.

Makna simbolisme tokoh wayang topeng Malang dalam bentuk dan warna di dusun Kedungmonggo desa Karang pandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten malang / Yudi Anwar

 

Kata Kunci: makna simbolisme, tokoh Wayang Topeng Malang, bentuk dan warna. Wayang topeng merupakan sebuah pertunjukan berlakon dengan menggunakan penutup muka atau topeng untuk mengetengahkan karakteristik tokoh-tokohnya. Bentuk figur topeng adalah simbolisasi dari karakter manusia yang ditandai oleh bentuk mata, hidung, mulut, ornamen ragam hias serta pewarnaannya. Unsur inilah yang membawa perbedaan karakter serta cara pengapresiasiannya antara satu figur dengan figur lainnya. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai makna simbolisme tokoh Wayang Topeng Malang dalam bentuk dan warna. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal yang mencakup, bentuk dan warna tokoh, serta makna simbolisme tokoh Wayang Topeng Malang dalam bentuk dan warna di Dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Penelitian ini mengunakan penelitiaan deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan bentuk dan warna topeng serta aksesoris yang digunakan oleh tokoh Wayang Topeng Malang, meliputi golongan Sabrang dan golongan Jawa di Dusun Kedungmonggo. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Untuk keabsahan data, dilakukan trianggulasi, member check and audit trial dan peer debriefing. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh dua kesimpulan: pertama bentuk dan warna tokoh Sabrang Klana Sewandana dan Bapang Jayasentika. Warna topeng dan pakaian merah. Bentuk topeng bulat, mata kedelen, alis blarak sinegar, sinom kupu tarung. Bentuk hidung Klana Sewandana pangotan, mulut jambe sinegar setangkep, kumis njlaprang, jenggot brewok, jamang bunga melati ronce. Pada Bapang Jayasentika hidung bapangan, mulut delima pecah, kumis bundeli, jenggot kepelan, jamang hiasan padma. Ragam hias pakaian dan aksesoris adalah ular naga dan burung merak. Tokoh alusan Jawa Panji Asmarabangun, Gunungsari, Sekartaji dan Ragil Kuning. Warna putih untuk Gunungsari dan Sekartaji, warna hijau Panji Asmarabangun dan warna kuning untuk Ragil Kuning. Bentuk topeng oval, mata gabahan, alis blarak sineret, hidung wali miring, kumis kucing anjlog, jenggot udan gremes, mulut delima mletek, sinom wiji wutah, cula bunga wijayakusuma, jamang bunga melati. Hiasan pakaian dan aksesoris bunga matahari dan burung merak. Kedua, makna simbolisme tokoh Wayang Topeng Malang dalam bentuk dan warna. Makna simbolisme bentuk tokoh Sabrang menyimbolkan tokoh berkarakter keras, pemarah, tidak teguh pedirian, dan sombong. Makna simbolisme tokoh alusan Jawa menyimbolkan karakter mulia, jujur, lemah lembut, sabar. Makna simbolisme warna merah adalah nafsu amarah, warna putih nafsu mutmainah, warna hijau nafsu alu-amah, warna kuning nafsu supiyah.

Ragam pendidikan life skill untuk pemberdayaan ekonomi keluarga (stidi kasus pada petani siwalan di Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep) / Mashuri Toha

 

Disertasi Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal., (II) Prof. Dr. Wahjoedi, ME., (III) Dr. Sunaryanto, M. Ed. Kata-kata kunci : Pendidikan life skill, Pemberdayaan ekonomi, Petani siwalan Penelitian ini dilatarbelakangi olek maraknya studi teori human capital investment yang pada tataran empirik mempunyai pengaruh terhadap produktivitas. Mewujudkan produktivitas membutuhkan upaya pemberdayaan melalui pendidikan life skill, pemberdayaan perilaku ekonomi produktif dengan pemanfaatan pohon siwalan sebagai natural resource. Life skill yang diunjukkerjakan oleh petani siwalan merupakan fenomena yang penting untuk dikaji pada aspek pendidikan, karena dalam aktivitas ekonomi petani siwalan terdapat dinamika pembelajaran khususnya kegiatan organisasi ekonomi mulai dari satuan konsumsi, produksi dan distribusi. Pendidikan life skill menjadi gagasan untuk pemberdayaan ekonomi keluarga yang relevan untuk dikaji lebih lanjut, khususnya berdasarkan perspektif emik, yaitu berkenaan dengan (1) konsep pendidikan life skill itu sendiri sesuai dengan pola pemikiran, praktik kebiasaan kerja pada masyarakat petani siwalan, (2) pola pendidikan life skill dalam konteks maksimalisasi ekonomi, dan (3) karakteristik kearifan lokal yang mendorong terjadinya perubahan untuk menemukan teori yang bisa menjelaskan secara memadai fenomena tersebut. Untuk menjawab problematika utama tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada pendidikan life skill dan pemberdayaan ekonomi pada petani siwalan di kecamatan Pragaan kabupaten Sumenep. Serta melalui observasi dan dokumentasi, data-data dianalisis dengan analisis teoritik dengan teknik induktif-konseptualistik, induktif-komparatif, kategorisasi, dan inferensi; analisis hasil wawancara, analisis hasil observasi, dan analisis dokumen. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa; Ragam pendidikan lifeskill yang diinternalisasi dalam keluarga petani siwalan mampu membangun life skill sebagai modal dan model dalam memecahkan masalah secara holistik. Pendidikan life skill sebagai gagasan yang diaktualisasikan untuk pemberdayaan ekonomi keluarga petani siwalan yang secara indigenous disebut baburughan becce’ (pendidikan nilai) yang memiliki interpretasi dan kategorisasi sama dengan pendidikan life skill yang melingkupi ragam pendidikan life skill, antara lain: (1) Baburughan aba’ dhibi’ atau pembelajaran diri sendiri, (2) Baburughan oreng laen atau pembelajaran dari dan atau dengan orang lain, (3) Baburughan se tada’ ketabbha atau pembelajaran kontekstual, (4) Baburughan ketab atau pembelajaran tekstual. Ragam varian pendidikan life skill pada masyarakat petani siwalan dibangun melalui makna ruang pada tanean lanjhang sebagai karakteristik masyarakat setempat, keberadaannya merepresentasikan fungsi pendidikan keluarga yang khas dan efektif dalam menginternalisasikan pendidikan life skill. Pendidikan keluarga dengan pola tanean lanjang menjadi inkubator pendidikan ekonomi dan sosial, posisi kobhung dalam tanean lanjhang mengintegrasikan keberadaan pranata sosial yang dikenal dengan: (1) Bhapa’, (2) Bhabu’, (3) Ghuruh, (4) Ratoh, pranata sosial tersebut dianut oleh masyarakat petani setempat sebagai hirarkhi penghormatan, telah pula dijadikan sebagai pusat kepemimpinan, menjadi sumber dan media pendidikan. Proses internalisasi life skill melalui empat sumber media pendidikan pada hirarkhi bhapa’, bhabu’, ghuruh, dan ratoh menjadi karakteristik masyarakat setempat, keempat hirarkhi tersebut berpengaruh kuat dalam pranata sistem sosial dalam berbagai dimensi termasuk dimensi pendidikan dan ekonomi. Keluarga sebagai sub sistem sosial menjadi sangat menentukan dalam menjalankan peran dan fungsinya. Fungsi edukatif dan ekonomi keluarga memanfaatkan kobhung sebagai media pendidikan yang efektif untuk pemberdayaan ekonomi, fungsi kobhung telah membuka ruang pemberdayaan dengan tiga pola, yaitu; kebersamaan, pelibatan dan pengawasan. Management strategic yang dipilih oleh petani siwalan untuk pemberdayaan ekonomi keluarga, antara lain: motivasi berlomba mengejar pendidikan formal, knowledge sharing, searching information, pelibatan anak dalam kerja, menjadikan keluarga sebagai tim, dan mekanisasi produksi. Prakarsa-prakarsa untuk peningkatan life skill keluarga berimplikasi positif terhadap perubahan; dari pola tradisional ke arah profesionalisasi kerja. Cara kerja masyarakat sudah meningkat pada pilihan mekanisasi dan teknologi yang berbasis pada perkembangan ilmu pengetahuan, pergeseran pola fikir masyarakat dari pola tradisional statis menuju dinamika praktis dengan intensitas teknologi. Perubahan tersebut mendorong produktivitas pengembangan potensi siwalan agar lebih bernilai ekonomi melalui pemberdayaan keluarga. Disarankan untuk melanjutkan kajian lebih spesifik yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat merubah masyarakat dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen. Kajian ini merekomendasikan desain penelitian pengembangan yang dapat membuka dengan terang benderang peluang eksplorasi sumberdaya alam melalui teknopreneurship dan menjadi bukti bahwa masih banyak potensi alam yang selama ini terabaikan yang dapat mensejahterakan kehidupan ekonomi masyarakat.

Penerapan model pembelajaran arias untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas VD SDN Kesatrian 1 kota Malang / Dian Prasma Anggraini

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran ARIAS, aktivitas belajar, hasil belajar, mata pelajaran PKn Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa hasil belajar dan aktivitas siswa kelas VD SDN Kesatrian 1 Kota Malang masih rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil nilai raport siswa pada semester ganjil tahun ajaran 2010-2011 yang masih di bawah rata-rata KKM; (2) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (3) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan; (4) Media pembelajaran hanya terpaku bacaan yang tersedia pada buku pelajaran. Hal ini menyebabkan siswa lebih cepat bosan. Untuk itu, perlu adanya suatu model pembelajaran yang membuat siswa lebih kreatif. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan penerapan model ARIAS dalam pembelajaran PKn kelas VD SDN Kesatrian 1 Kota Malang , (2) mendiskripsikan peningkatan aktivitas belajar PKn siswa kelas VD SDN Ke satrian 1 Kota Malang, dan (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas VD SDN Kesatrian 1 Kota Malang. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa VD SDN Kesatrian 1 Kota Malang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK),menggunakan rancangan Kemmis dan MC.Taggart yang terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.Sedangkan teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan model ARIAS siklus I keberhasilannya mencapai 71,15% sedangkan siklus II meningkat menjadi 92,85%, (2) Keaktifan siswa pada siklus I ketuntasan klasikalnya sebesar 68,55% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80,50%,(3).Hasil Belajar saat pratindakan memiliki rata - rata 63,25 dengan ketuntasan klasikal sebesar 68,42%. Siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa meingkat menjadi 75,39 dengan ketuntasan klasikal 60,5%. Siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 86,32 dan ketuntasan klasikal menjadi 84,4%.Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan model ARIAS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VD SDN Kesatrian 1 Kota Malang.Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan guru menerapkan pembelajaran ARIAS pada mata pelajaran PKn untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pengembangan perangkat pembelajaran realistik materi garis dan sudut kelas VII SMP-RSBI / Asmadi

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasajana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M. Sc., (II) Dr.rer.nat. I Made Sulandra, M. Si Kata kunci: pengembangan, pembelajaran realistik, garis dan sudut Dalam proses pendidikan, kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan paling pokok dan ketercapaian tujuan pendidikan bergantung pada pengalaman belajar yang dialami peserta didik. Banyak kritik ditujukan pada cara guru yang terlalu menekankan pada penguasaan sejumlah informasi atau konsep belaka. Guru seringkali menggunakan tanya jawab dan pemberian tugas dalam menyampaikan materi pembelajaran dengan menggunakan buku teks (berisi pengetahuan yang disampaikan secara naratif) dan lembar kerja peserta didik ( berisi ringkasan materi, beberapa contoh soal dan pembahasan dan latihan soal). Peserta didik kurang dilibatkan dalam kegiatan diskusi. Pemahaman materi garis dan sudut di kelas VII merupakan materi penting untuk dapat memahami materi matematika lainnya, antara lain materi identifikasi sifat-sifat segitiga berdasarkan sisi dan sudut-sudutnya, materi identifikasi sifat-sifat persegi panjang, persegi, trapesium, jajar-genjang, belah ketupat dan layang-layang, pemecahan masalah yang berkaitan dengan besaran-besaran pada lingkaran, dan kesebangunan. Sebagai perwujudan dari salah satu kompetensi profesional peneliti sebagai seorang guru SMP, yaitu untuk mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif, maka peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran realistik yang berupa buku peserta didik (student’s book) yang memberi kesempatan yang cukup bagi peserta didik untuk mendapat pengalaman belajar untuk mengkontruksi pemahaman materi garis dan sudut melalui serangkaian tugas/kegiatan, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan) sebagai pedoman bagi guru dalam merealisasikan pembelajaran dengan menggunakan buku peserta didik. Adapun langkah-langkah pembelajaran realistik yang tercermin dalam buku peserta didik dan rencana pelaksanaan pembelajaran meliputi: (a) memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah riil sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuan peserta didik, (b) peserta didik mengembangkan model-model simbolik terhadap masalah yang diajukan, (c) pembelajaran berlangsung interaktif, (d) Penekanan utama bukan pada langkah-langkah prosedural, tetapi lebih pada pemahaman konsep dan penyelesaian masalah, dengan melibatkan masalah yang tidak rutin dan mungkin jawabannya tidak tunggal,(e) Pembelajaran didesain agar materi pelajaran terkait dengan topik atau bahasan lain sehingga lebih bermakna. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Proses untuk memperoleh hasil pengembangan berdasarkan model pengembangan Plomp, yang meliputi: (1) prototyping stage, meliputi fase investigasi awal, fase desain/perancangan, dan fase pengembangan/konstruksi dan 2) assessment stage, meliputi fase implementasi/uji produk dan fase analisis, evaluasi dan revisi. Uji coba produk menunjukkan persentase skor keterlaksanaan buku peserta didik yang ditunjukkan dari data aktivitas peserta didik adalah 95,25% dengan kriteria sangat baik dan persentase keterlaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran yang ditunjukkan dari data aktivitas guru adalah 96% dengan kriteria sangat baik, dan persentase keefektifan mencapai 88% banyak peserta didik memperoleh skor lebih dari atau sama dengan 75. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian pengembangan ini yang berupa buku peserta didik (students’s book) dan rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan) telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Saran-saran yang disampaikan berkenaan dengan pengembangan dan pemanfaatan perangkat pembelajaran realistik hasil pengembangan ini antara lain adalah (a). Perangkat pembelajaran realistik hasil pengembangan ini, yang berupa buku peserta didik (student’s book) dan rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan) hendaknya digunakan bersamaan agar terealisasi pembelajaran realistic yang tidak sekedar mementingkan hasil, tetapi juga proses, (b) Buku peserta didik ini belum sepenuhnya mengacu pada PMR (Pendidikan Matematika Realistik), terutama pada bagian check understanding, maka pemanfaatan buku peserta didik hendaknya dengan mengadakan perbaikan dengan soal dan tugas sesuai PMR.

Pngaruh reputasi underwriter, reputasi auditor, Return On Asset (ROA), dan financial leverage terhadap tingkat underpricing pada penawaran saham perdana (di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2008-2010) / Faridatul Munawaroh

 

Kata kunci: Reputasi Underwriter, Reputasi Auditor, Return On Asset, Dan Financial Leverage Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh reputasi underwriter, reputasi auditor, return on asset dan financial leverage terhadap tingkat underpricing pada penawaran saham perdana (di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2010). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif kausalitas. Populasi yang digunakan adalah perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2008-2010 yang mengalami underpricing. Dari 44 perusahaan diambil sampel sebanyak 39 perusahaan berdasarkan teknik pusposive sampling. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil analisis secara parsial diketahui bahwa variabel reputasi underwriter berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat underpricing. Tetapi variabel reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing. Sedangkan variabel return on asset berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat underpricing. Serta variabel financial leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing. Sedangkan hasil analisis secara simultan diketahui variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, return on asset, dan financial leverage berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing pada saat penawaran saham perdana/IPO. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) Bagi perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana sebaiknya mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing agar mampu mengurangi kerugian akibat tingginya tingkat underpricing yang terjadi pada saat IPO. (2) Bagi investor sebaiknya sebelum menginvestasikan modalnya di pasar perdana membuat acuan/bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan investasi untuk mendapatkan return yang maksimal. (3) Bagi penelitian selanjutnya diharapkan mampu meneliti variabel-variabel lain yang mempengaruhi tingkat underpricing pada saat IPO, seperti jenis industri, umur perusahaan, serta dengan rentang waktu penelitian yang lebih panjang.  

Pengembangan media pembelajaran audio visual dalam mata pelajaran pekerjaan las dasar teknik pemesinan kelas X SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Budi Riyadi

 

Kata Kunci: pengembangan audio visual, Pengelasan Las Listrik Pembelajaran pengelasan listrik, selama ini berlangsung dengan menggunakan buku manual dan media yang sederhana. Berdasarkan observasi selama praktik pengalaman lapangan mendapati kekurangan yang terdapat pada pembelajaran prosedur pengelasan dengan las listrik di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah: (1) belum ada pengayaan presentasi pengajaran dengan audio video; (2) belum ada fasilitas multimedia untuk membantu pemahaman siswa secara lebih jelas dan nyata; (3) memerlukan banyak tambahan penjelasan sehingga waktu untuk proses belajar mengajar kurang efisien; (4) sajian tampilan media alat yang sebenarnya kurang variatif, sehingga kurang memberi ketertarikan dan kurang memberi keaktifan pada siswa. Pemilihan media audio video sebagai produk teknologi media pengajaran parktek las listrik adalah karena realita bahwa kita berada dalam era teknologi informasi. Penelitian yang dilaksanakan bertujuan mengembangkan produk media audio video untuk mendukung pembelajaran praktik las listrik pada posisi mengelas dibawah tangan, keefektifan media pembelajaran mengelas pada siswa yang menggunakan media audio video, pada siswa kelas X Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Rancangan pengembangan media pembelajaran ini dilakukan tahapan pengembangan melalui prosedur atau langkah yang dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu: (1) Identivikasi kebutuhan, (2) Perumusan tujuan (3) Pengembangan materi (4) Pengembangan alat evaluasi (5) Penyusunan naskah/story board (6) Produksi (7) Petunjuk pemanfaatan (8) Validasi (9) Uji coba lapangan, yang dimaksudkan untuk memperoleh media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dari hasil uji coba produk media kepada para ahli, guru dan siswa menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai, mengenai kesesuaian media dalam pembelajaran terutama kompetensi mengelas sambungan (I) menggunakan las listrik dengan posisi pengelasan dibawah tangan, sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, yang berjumlah 3 siswa untuk uji coba skala kecil/perseorangan dan 20 siswa untuk uji coba lapangan. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah peneliti berhasil membuat/mengembangkan media audio video (keping DVD) dalam pembelajaran praktik las listrik dengan posisi mengelas dibawah tangan dengan durasi 30 menit. Dari hasil uji coba produk media kepada para ahli, guru dan siswa menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai. Sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Dengan menggunakan media dalam pembelajaran akan sangat membantu dan sangat besar keefektifannya dalam mengajar menggunakan media audio-video praktik las terhadap kompetensi mengelas pada siswa kelas X Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Hal ini dibuktikan dengan melihat nilai

The effect of using WEB materials on the ability in writing descriptive texts of the eight graders of State Junior High School 2 of Papar, Kediri Regency / Raka Prastya Bagus Jati Kusuma

 

Key words: Web materials, searching engine, writing descriptive texts, Junior High School Searching engine is a popular search tool used to find any information from huge amounts of websites. It stores this information in a database and searches it by keyword when it receives search request. Searching engine can also be used to find Web Materials related to descriptive texts. Descriptive text is a text that describes what a particular person, place, or thing is like. The researcher thought that the eighth graders should be able to write descriptive texts at their current level. Therefore, the researcher used Web Materials via searching engine to teach writing descriptive texts on the eighth graders of State Junior High School 2 of Papar, Kediri Regency. The purpose of this research is to find out the significant difference of the students’ achievement in writing descriptive texts between the experimental group taught using Web Materials and the control group who is not taught using Web Materials. Then, the researcher will be able to know whether or not the experimental group gain higher achievement. This research used nonequivalent pretest-posttest design in order to measure the result of pre-test and post-test. The researcher used intact group that the school had from the beginning of the semester as the subjects. The subjects were the Class 8A and Class 8B of State Junior High School 2 of Papar, Kediri Regency. The researcher decided Class 8A as experimental group and Class 8B as control group. The data collection was done by giving pre-test at the beginning, and then the researcher gave treatment in the learning process, and post-test at the end. The t-test for independent samples was used to compare the result of pre-test of both groups in order to test whether or not the difference was significant. After finding that there was a significant difference of pre-test scores, the researcher used t-test for independence samples to compare the result of post-test of both groups. Based on the data analysis of pre-test scores, the researcher found that the probability (sig.) 0.902 > 0.05 and the t value (0.1240) < t table (69 ; 0.05) (1.995). It meant that the null hypothesis, there was no significant difference in the result of pre-test scores of both experimental and control groups, could not be rejected. Then, the researcher compared the result of post-test by using t-test for independent samples and found that the probability (sig.) 0.000 < 0.05 and the t value (6.352) > t table (69 ; 0.05) (1.995). It meant that the null hypothesis, there was no significant difference in the result of post-test scores of both experimental and control groups, was rejected. Because of the difference was significant, the researcher concluded that the achievement in writing descriptive texts of the students who used Web Materials via searching engine was higher than the achievement in writing descriptive texts of the students who did not use Web Materials via searching engine. Based on the findings, the researcher suggested that the English teachers should always assist and guide the students by preparing the keywords and materials properly. The school should provide the facilities which support the use of Web Materials so that the students could apply and learn English using Internet. For future researchers who might conduct studies on the similar topic is suggested to develop the teaching strategy using Internet resources, especially Web Materials on the ability in writing descriptive texts of the eight graders.

The effectiveness of British Parliamentary debate system on students' critical thinking ability / Syamdianita

 

Thesis. Graduate Program in English Language Teaching in State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M. Pd, M. A, Ph. D., (II) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M. Pd, M. Ed. Keywords: effectiveness, British Parliamentary Debate System (BPDS), critical thinking ability. Critical thinking is an important element of all professional fields and academic disciplines. Debating is considered to be one activity of problem-solving task (simulation) that encourages thinking skills and also offers motivating contexts for learners to communicate with one another. This study was conducted to examine the effectiveness of British Parliamentary Debate System (BPDS) on students’ critical thinking ability. The problem of the study is “Do the students who are taught using BPDS perform better critical thinking ability than the students who are taught using group discussion in Speaking III class?” As a tentative answer, the null hypothesis is “The students who are taught using BPDS do not perform better critical thinking ability than those who are taught using group discussion”. To answer the question, the researcher conducted a quasi experimental research using nonrandomized control group, pretest-posttest design involving two variables. Teaching strategies were the independent variable, and the dependent variable was the students’ critical thinking ability. The samples were taken from the population of the third semester students of English Department of Mulawarman University in academic year 2011/2012. There were five classes. The two classes are chosen on the basis of the consideration from the lecturer who teaches Speaking III, who is the one who taught in the experimental group. The data of the study were the arguments given by the students when the pretest and posttest were held, in the form of oral performance assessment. The general critical thinking rubric adopted from Northeastern Illinois University was used to grade the students’ critical thinking ability. Two raters were involved in grading the students’ critical thinking ability, the researcher herself and the one who taught in the experimental group. The following were the procedures in carrying out the study. First, prior to the experiment, pretest was administered to both control and experimental groups. A series of treatment, then, was given to experimental group. It means that the experimental group was taught using BPDS while the control group was taught using group discussion. The materials in both groups were the same in terms of the topics. Last, subsequent to the experiment, posttest was administered. The pretest mean scores were analyzed statistically to see the equivalence of the experimental and control groups before the experiment. Levene’s test for homogeinity of variances of pretest scores shows a significant value of .878 which is higher than .05. This indicates that the variances between the experimental and control groups are homogeneous. Therefore, an independent t-test was used to analyze the posttest mean scores. The results of data analysis using independent t-test concluded that the application of BPDS has positive effect on students’ critical thinking ability. Students who are taught using BPDS have better arguments than those who are taught using group discussion. In other words, BPDS is more effective than conventional teaching activities. The t-value of posttest (2.076) is higher than critical t-value of pretest (1.6905). Hence, the research result gives English teachers/lecturers evidence that BPDS is worth considering in the teaching of speaking to improve a better students’ critical thinking ability. To the students, the researcher suggests that sometimes, having ‘forced’ activities in a class are good in terms of mastering the topics. Next, to the teachers/lecturers, the researcher suggests to modificate debate into other subjects beside speaking, as long as there are two sides of a topic. To the future researchers who want to investigate the relationship between debating and critical thinking, the researcher suggests to use other written test critical thinking, since this study only assessed the students’ critical thinking ability by a rubric. Therefore, it is not only the spoken arguments that can be assessed, but also the students’ written test on critical thinking ability. It is also suggested to use other debating systems to prove the positive relationship between debating and critical thinking.

Inventarisasi jenis ikan perairan tawar sebagai langkah awal konservasi ikan di Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang / Anugrah Tesia Pramuktia Juni

 

Kata Kunci : Inventarisasi, Aspek Fisiko-Kimia, Ranu Pakis, Keanekaragaman Ranu Pakis merupakan salah satu dari tiga Ranu yang berada di daerah Lumajang, digunakan sebagai kawasan budidaya perairan darat. Kerusakan badan perairan dapat mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati ikan di indonesia khususnya di ranu pakis. Tujuan penelitian ini untuk menginventarisasi jenis ikan air tawar di Ranu Pakis, mengetahui kondisi aspek fisiko kimia perairan tawar, serta mengetahui tingkat keanekaragaman jenis ikan air tawar Ranu Pakis Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel ikan dilakukan mulai bulan Februari hingga Maret 2011setiap hari sabtu dan minggu sebanyak 4 kali ulangan, di Ranu Pakis Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang. Pengambilan ikan menggunakan jala tebar (mess 1cm) dan untuk menangkap ikan di permukaan dibantu dengan serok persegi ukuran 30x15cm (mess 0.1mm). Setiap stasiun dibagi menjadi 3 bagian titik pengambilan, setiap titik dilakukan pegukuran faktor fisiko-kimia perairan sebanyak 3 kali ulangan. Dilakukan juga wawancara penduduk yang berprofesi sebagai nelayan di perairan Ranu Pakis. Data morphologi diidentifikasi dengan bantuan buku identifikasi dari (Edy & Underhill, 1978) dan (Kottelat, 1993). Hasil pengukuran faktor fisiko-kimia yang di peroleh kemudian dianalisis dengan bantuan baku mutu lingkungan daerah Lumajang, keanekaragaman dianalisis menggunakan indeks shanon wiener, kemerataan dianalisis menggunakan indeks evennes, kekayaan menggunakan dianalisis menggunakan indeks richnes dan data sekunder dari hasil wawancara masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai nelayan di Desa Pakis dianalisis secara deskripstif. Hasil penelitian diperoleh 6 jenis ikan yang berhasil terinventarisasi, yakni Gobionella shufeldti (ikan goby), Oreochromis mosambicus (ikan mujair), Oreochormis niloticus (ikan nila), Clarias batracus (ikan lele), Rasbora argyrotaenia (ikan wader), dan Gambusia affinis (ikan gatul). Aspek fisiko-kimia di Ranu Pakis kadar Do berkisar 8,03 – 11,12 ppm, pH antara 7,5 – 8,7, suhu perairan 26,7 - 28,3oC, kedalaman air terukur dengan keping sacchie 0 – 1,3 m, dan intensitas cahaya 693,7 – 800,1 x 100 Lux. Indeks keanekaragaman jenis ikan berkisar antara 0,51 – 1,31, indeks kemerataan berkisar antara 0 – 0,73, dan indeks kekayaan jenis berkisar antara 1,25 – 1,28 pada stasiun tengah dan stasiun outlet.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian pada konsumen Smartphone Blackberry / Gilang Ayu Anggraini

 

Kata Kunci: Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Pembelian, Smartphone Blackberry Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan penting bagi kehidupan manusia, sehingga seiring perkembangan jaman telah diciptakan berbagai alat komunikasi untuk memudahkan pengiriman informasi jarak jauh maupun dekat. Smartphone Blackberry menjadi alat komunikasi yang digemari konsumen sehingga menciptakan trend di tengah maraknya merk ponsel yang sudah lebih dulu muncul. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian pada konsumen Smartphone Blackberry di Malang, mengetahui besar sumbangan masingmasing faktor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Variabel penelitian ini adalah 19 faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian pada konsumen menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1995). Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa skala yaitu Skala Pengambilan Keputusan Pembelian Smartphone Blackberry. Sample penelitian ini adalah 100 konsumen Smartphone Blackberry di kota Malang. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 2 kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, diketahui terdapat 5 faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian. Meliputi faktor representasi diri, faktor konsep diri, faktor kebutuhan dan kemampuan, faktor budaya dan faktor referensi pergaulan. Kedua, Masing-masing faktor hasil analisis member sumbangan, yaitu faktor representasi diri sebesar 36,155%, faktor kontrol diri sebesar 9,455%, faktor kebutuhan dan kemampuan sebesar 7,175%, faktor budaya sebesar 6,521% dan faktor lingkungan sosial sebesar 5,358%. Disarankan pada konsumen membeli suatu produk komunikasi memerlukan pertimbangan mengenai manfaat produk tersebut serta kondisi keseharian dan keuangan. Dengan membeli produk yang tepat, manfaat yang diperoleh pun akan lebih maksimal. Menggunakan produk komunikasi sebaiknya diimbangi dengan silaturahmi secara langsung untuk menjaga kualitas hubungan dengan siapapun tetap baik. Apabila peneliti selanjutnya tertarik untuk meneliti topik yang sejenis, sebaiknya menggunakan subyek dengan latar belakang sosiokultural yang berbeda serta metode penelitian lain, agar hasilnya dapat dibandingkan dengan penelitian ini.

Makna simbolik bentuk penyajian tari jathilan dalam kesenian reog / Danis Novita Pratiwi

 

Kata Kunci: Makna Simbolik Bentuk Penyajian Tari Jathilan Dalam Kesenian Reog Ponorogo. Berdasarkan himbauan dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Yayasan Reog Ponorogo. Tari Jathilan merupakan salah satu tarian yang wajib diberikan sebagai muatan lokal di wilayah Ponorogo. Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti dilapangan bahwa SMP Negeri 2 Bungkal merupakan sekolah yang banyak mengikuti festival-festival tari baik yang di dalam maupun di luar wilayah Kabupaten Ponorogo dan banyak mendapat penghargaan. Kegiatan pembelajaran tari Jathilan di SMP Negeri 2 Bungkal dilaksanakan dalam ekstrakulikuler. Ekstrakulikuler tersebut dimaksudkan sebagai kegiatan pengembangan diri bagi siswa dan siswi. Dari alasan tersebut di atas maka peneliti memilihnya sebagai topik penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah bentuk tari Jathilan dalam kesenian Reog?, (2) Bagaimanakah makna simbolik bentuk tari Jathilan dalam kesenian Reog?. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menghasilkan data yang deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru seni budaya dan seniman pakar kesenian Reog Ponorogo. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrumen atau alat pengumpul data utama. Dalam teknik pengupulan datanya, peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dirancang. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk tari Jathilan dalam kesenian Reog merupakan bentuk tari berpasangan (2) Makna simbolik tari Jathilan dalam kesenian Reog adalah kepandaian dan ketangkasan seorang prajurit. Hal tersebut dapat dilihat dari segi gerak adalah ungkapan jiwa keprajuritan, dari segi busana adalah penggambaran pakaian seorang prajurit, dari segi property adalah penggambaran sebagai tunggangan, dari segi tat arias adalah simbolisasi seorang prajurit yang gagah dan pemberani, dan dari segi iringan menggambarkan seorang prajurit yang halus dan lemah lembut, namun memiliki jiwa yang kuat, tangguh, dan percaya diri. Dari hasil penelitian ini diharapkan makna simbolik tari Jathilan dalam kesenian Reog sebagai bisa diajarkan pada sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Ponorogo sebagai materi pembelajaran siswa agar lebih dapat memahami makna simbolik yang terkandung dalam tari Jathilan tersebut. Sementara itu bagi guru seni budaya dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagia bahan ajar pembelajaran siswa baik di intra maupun di ekstrakulikuler sekolah.

Developing an English course syllabus for Agribusiness Management Study Program of State Polytechnic of Jember / Enik Rukiati

 

English Language Education Program. The State University of Malang. Advisor :(1) Dr. Monica D.D.Oka, MA., (2) Prof. Dr.Nur Mukminatien,M.Pd Key words: silabus, pembelajaran bahasa Inggris untuk tujuan khusus, program studi manajemen agribisnis Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan silabus mata kuliah bahasa Inggris untuk Program Studi Managemen Agribusinis. Berdasarkan pembelajaran studi awal yang dilakukan oleh peneliti diketemukan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di program studi ini belum mempunyai silabus. Oleh karena itu, memiliki silabus merupakan suatu kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi karena dengan tidak adanya silabus yang dapat dipakai sebagai pedoman mengajar oleh guru menyebabkan pengajaran bahasa Inggris menjadi tidak efektif. Pengembangan silabus yang dilakukan oleh peneliti didasarkan atas saran, informasi dan harapan-harapan dari mahasiswa, guru bahasa Inggris, ketua program studi, pengguna lulusan (stakeholders) dan juga dari kurikulum Program Studi Management Agribisnis. Penelitian ini memakai desain penelitian pengembangan(R and D). Tahapan pengembangan meliputi melakukan analisis kebutuhan, merumuskan tujuan pengajaran, memilih silabus yang sesuai, membuat proto silabus, menulis silabus pengajaran, melakukan evaluasi yang meliputi validasi ahli dan uji coba produk. Tahapan terpenting dalam pengembangan silabus adalah analisis kebutuhan yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan nyata dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan pembelajaran bahasa Inggris sebagai dasar untuk pengembangan silabus. Analisis kebutuhan dilakukan dengan meminta sebanyak tiga puluh tiga mahasiswa Program Studi Manajemen Agribisnis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner. Ketua program studi dan lima staf pengajar Program Studi Manajemen Agribisnis beserta seorang pengajar bahasa Inggris, dan dua pengguna lulusan (stakeholder) diwawancarai dengan tujuan untuk mendapat informasi tentang harapan mereka terhadap pembelajaran bahasa Inggris. Informasi yang berhubungan dengan distribusi mata kuliah, jumlah kredit mata kuliah dan kompetensi lulusan didapat dari kurikulum program Studi Managemen Agribisnis. Mata kuliah bahasa Inggris diberikan sekali dalam seminggu dengan alokasi waktu tiga jam perpertemuan. Profile lulusan dari program studi ini adalah pengusaha dibidang pertanian, supervisor pertanian, asisten manager dibidang pertanian, penyuluh pertanian, and asisten lapang. Observasi kelas juga dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata dari pengajaran bahasa Inggris dikelas. Hasil dari kuesioner, wawancara dan observasi kelas menunjukkan bahwa tujuan dari pengajaran bahasa Inggris adalah membuat siswa mempunyai keterampilan komunikasi dasar dalam bidang managemen agribisnis yang dibutuhkan oleh dunia kerja yang difokuskan pada keterampilan berbicara. Karena silabus yang dikembangkan akan diterapkan di program studi Management Agribisnis, maka perlu dilakukan validasi dengan meminta seorang ahli dibidang perencanaan silabus dan seorang dosen senior di bidang management agribisnis. Ahli design silabus mengecek bahasa yang termuat didalam silabus. Dosen senior mengecek kesesuaian topik-topik dalam silabus. Evaluasi dan revisi dilakukan berdasarkan saran, koreksi, kritik dari para ahli dan kemudian produk ini akan diujicobakan kepada pengajar Bahasa Inggris dengan meminta pengajar bahasa Inggris untuk membuat satu rencana pengajaran (lesson plan) berdasarkan silabus ini. Berdasarkan hasil dari analisa kebutuhan dan hasil akhir dari pengembangan silabus ada beberapa saran untuk menerapan silabus ini. Pertama, silabus yang dikembangkan menggunakan topical-functional silabus yang oleh peneliti dianggap paling sesuai untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Inggris di program studi ini. Kedua, pengajar bahasa Inggris harus selalu bekerjasama dengan pengajar bidang studi dalam menentukan topic-topik yang akan dimuat dalam sillabus. Terakhir, untuk memenuhi tuntutan kemajuan pembelajaran bahasa Inggris untuk tujuan khusus (English for Specific Purposes), silabus ini perlu dievaluasi dan direvisi. Peneliti berharap bagi peneliti selanjutnya untuk menerapkan silabus yang telah disusun ini dalam mengajar bahasa Inggris di program studi managemne Agribisnis untuk melihat ke effektifan dari silabus yang dikembangkan dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa Inggris.

Penggunaan bahan pengisi (filler) fly ash, ditinjau dari parameter Marshall pada lapisan aspal beton (laston) / Muhammad Aris I.

 

Kata kunci : filler, fly ash, parameter marshall, laston Diperlukan alternatif campuran-beraspal (Laston) yang dapat diterapkan sehingga mampu mengatasi dan mengurangi kerusakan-kerusakan akibat melemahnya daya ikat aspal terhadap butiran agregat dan filler, baik karena suhu, cuaca, mutu aspal dan agregat, maupun metode pelaksanaan dilapangan. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengganti bahan dasar filler alternatif yang memiliki fungsi sama dengan kualitas yang lebih baik yaitu dengan menggunakan Fly ash (abu terbang). Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui sifat dan karakteristik aspal; (2) Mengetahui penggunaan fly ash sebagai filler dengan kadar 0%, 80%, 85%, 90%, 95%, 100% mempunyai perbedaan terhadap karakteristik marshall pada campuran aspal beton (laston). Dalam penelitian ini metode penelitian dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahapan pemilihan bahan, tahapan persiapan dan pembuatan benda uji, serta tahapan penelitian dan analisis data. Hasil dari penelitian menyebutkan bahwa: (1) Dengan bertambahnya kadar fly ash maka nilai stabiltas dan nilai Marshall Quotient campuran aspal akan semakin tinggi. Dari uji statistik menunjukan bahwa ada perbedaan nilai stabilitas dan nilai Marshall Quotient pada Lapisan Aspal Beton (Laston) yang signifikan pada kadar fly ash 90%, 95%, 100%; (2) Selain itu bertambahnya kadar fly ash mengakibatkan nilai flow akan naik, namun pada kadar 85% kembali turun seiring bertambahnya kadar fly ash. Namun uji statistik menunjukan bahwa tidak ada perbedaan penggunaan bahan pengisi (filler) fly ash terhadap nilai flow pada Lapisan Aspal Beton (Laston); (3) Sedangkan bertambahnya kadar fly ash menyebabkan nilainya persentase VIM dan VMA semakin turun, serta uji statistik menunjukan bahwa ada perbedaan nilai VIM dan VMA yang signifikan pada kadar penambahan fly ash 80%, 95%.

Hubungan emotional quotient (EQ) dan kelengkapan alat gambar dengan motivasi belajar pada mata diklat membaca gambar teknik di SMK Pekerjaan Umum Malang / Muhammad Hudan Rahmat

 

Kata Kunci: emotional, alat gambar, motivasi, SMK Proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Dalam proses belajar diperlukan adanya motivasi belajar, karena motivasi adalah suatu dorongan yang berasal dari dalam individu peserta didik. Terdapat beberapa faktor yang ikut menyumbang dalam peningkatan motivasi belajar. EQ merupakan salah satu contoh faktor internal yang mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa, sedangkan alat gambar yang dimiliki siswa merupakan sebagian kecil dari fasilitas belajar yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa pada mata diklat membaca gambar teknik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan emotional quotient dengan motivasi belajar, untuk mengetahui hubungan kelengkapan alat gambar yang dimiliki siswa dengan motivasi belajar, dan untuk mengetahui hubungan emotional quotient dan kelengkapan alat gambar dengan motivasi belajar. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dimana gambaran tentang sekelompok variabel bebas yang dikorelasikan secara sendiri-sendiri (parsial) maupun secara bersama-sama (simultan) dengan satu variabel terikat. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional (EQ) dan motivasi belajar yaitu digunakan self inventory EQ dan self inventory motivasi, sedangkan kelengkapan alat gambar digunakan lembar ceklist yang berisi daftar nama alat gambar yang harus dimiliki siswa SMK Pekerjaan Umum Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X kompetensi keahlian Teknik Pemesinan dan kompetensi keahlian Teknik Otomotif di SMK Pekerjaan Umum Malang yang terdiri dari siswa kelas X Tpm, X SPD, X MO1 dan X MO2. Dalam penelitian ini yang dijadikan responden penelitian adalah seluruh siswa pada populasi, yakni sebanyak 78 siswa. Berdasarkan hasil penelitian siswa kelas X di SMK Pekerjaan Umum Malang tahun ajaran 2011/2012 diketahui bahwa mayoritas siswa (88%) mempunyai nilai EQ yang cukup tinggi, mayoritas siswa (63%) memiliki kelengkapan alat gambar yang cukup lengkap dan mayoritas siswa (54%) mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi linier. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) secara parsial EQ mempunyai hubungan yang positif dengan motivasi belajar, (2) secara parsial kelengkapan alat gambar tidak mempunyai hubungan yang positif dengan motivasi belajar, dan (3) EQ dan kelengkapan alat gambar secara simultan mempunyai hubungan yang positif dengan motivasi belajar siswa pada mata diklat membaca gambar teknik di SMK Pekerjaan Umum Malang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat EQ dan kelengkapan alat gambar yang dimiliki siswa maka semakin tinggi pula motivasi belajar siswa.

Pengembangan model pelatihan mediasi sebaya untuk mengurangi perilaku agresi relasi siswa / Hidayat Ma'ruf

 

. Disertasi. Program Studi Bimbingan dan Konseling. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Promotor: Prof. Johana E. Prawitasari, Ph. D. Ko-Promotor: (I) Dr. Dany M. Handarini, MA, (II) Prof. Dr. Marthen Pali, M. Psi\ Kata Kunci: Pelatihan, mediasi sebaya, agresi relasi, siswa. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa dalam mengembangkan berbagai macam potensi yang mereka miliki. Namun, bagi sebagian siswa ternyata lingkungan sekolah tidak selalu nyaman dan menyenangkan. Salah satu penyebabnya adalah adanya konflik yang diwujudkan dalam perilaku agresi relasi. Ketika terjadi konflik, siswa yang beranjak remaja memahami ada alter-natif yang dapat digunakan untuk menyakiti lawannya dalam bentuk non fisik, sehingga mereka tidak terlalu khawatir perbuatannya diketahui orang banyak. Mereka menyakiti lawannya melalui perilaku agresif yang lebih halus bentuknya, seperti pengasingan sosial, menggosip dan menyebarkan rumor. Label yang digunakan untuk menggambarkan bentuk perilaku tersebut adalah agresi relasi. Teman sebaya dipandang lebih dapat memahami teman sebaya lainnya dibandingkan dengan orang dewasa lain seperti konselor, guru dan bahkan orang tuanya sendiri. Oleh sebab itu, orang yang dianggap tepat sebagai penengah dalam membantu menyelesaikan permasalahan agresi relasi di antara sesama siswa adalah teman sebaya mereka sendiri. Siswa penengah perlu pengetahuan dan keterampilan agar dapat menjalankan perannya dengan baik. Namun, di sekolah (SMP) ternyata belum ada model pelatihan yang dapat digunakan untuk membekali siswa penengah tersebut. Untuk membantu para konselor sekolah memberikan pelatihan, maka perlu dibuat model pelatihan mediasi sebaya untuk mengurangi perilaku agresi relasi yang terjadi di antara sesama siswa. Prosedur pengembangan model ini menempuh lima langkah: 1) Penelitian pendahuluan (prasurvei) dan analisis produk yang akan dikembangkan, 2) Mengembangkan produk awal, 3) Validasi ahli dan revisi I, 4) Uji coba kelompok kecil dan revisi II, dan 5) Uji coba lapangan terbatas dan revisi akhir. Penelitian pendahuluan di dua SMP menunjukkan adanya perilaku agresi relasi dalam berbagai bentuknya walau dalam frekuensi yang berbeda-beda, seperti: membicarakan keburukan teman, tidak mau menyapa, menfitnah, dan sengaja memanggil dengan sebutan yang tidak disukai. Hasil kuesioner juga menunjukkan sebagian besar siswa (lebih 60%) menyatakan perilaku agresi relasi tersebut membuat suasana belajar di sekolah menjadi tidak nyaman, dan sebagian besar siswa bersedia berpartisipasi jika ada program atau kegiatan yang dapat membantu mengurangi terjadinya perilaku agresi relasi tersebut. Dengan demi-kian, disimpulkan perlu adanya sebuah model pelatihan mediasi sebaya untuk mengurangi perilaku agresi relasi yang terjadi di antara siswa di sekolah tersebut. Produk awal yang dikembangkan meliputi: 1) Materi Pelatihan, dan 2) Panduan Pelatihan. Penilaian produk dimintakan kepada 2 orang Penilai Ahli, 7 orang Konselor setelah dilakukan simulasi pelatihan, dan siswa peserta pelatihan dari 2 buah SMP yang berjumlah 48 siswa. Hasil penilaian Ahli secara umum menunjukkan mereka setuju dengan produk yang dikembangkan, namun pada Panduan Pelatihan perlu dirinci tujuan, waktu, metode, dan prosedur dalam setiap sesi pelatihan, gambar ilustrasi pada slide dan materi disesuaikan dengan karakteristik peserta pelatihan, metode yang terkesan “Tell, Show, Do” diganti dengan “Do, Show, Tell”. Hasil penilaian konselor menunjukkan mereka setuju, bahkan sebagian sangat setuju dengan produk yang dikembangkan. Namun demikian, mereka menyarankan agar siswa memiliki ringkasan materi dan ringkasan hal-hal yang harus mereka lakukan dalam menjalankan tugasnya sebagai penengah sebaya (seperti Lembar Kerja Siswa) secara tersendiri, agar mudah dibaca ulang, memperjelas dan mempertegas hal-hal yang harus dilakukan. Saran tersebut ditindaklanjuti dengan membuat produk tambahan, yaitu Buku Pegangan untuk Penengah Sebaya, berisi ringkasan penting materi pelatihan, seperti: Tugas penengah sebaya, keterampilan yang harus dikuasai, langkah-langkah mediasi, dan beberapa hal penting yang seharusnya mereka catat/rekam saat melakukan mediasi sebaya. Hasil ujicoba lapangan terbatas menunjukkan semua siswa sangat setuju dan bereaksi positif terhadap berbagai aspek yang terkait dengan pelatihan mediasi sebaya. Namun dalam kesempatan uji coba ini, konselor menyarankan agar lampiran yang terdapat dalam buku Panduan Pelatihan seperti: gambar bebek/kelinci, wanita tua/muda, dan ekspresi wajah, hendaknya juga dilampirkan dalam Materi Pelatihan, hal ini diperlukan sebagai antisipasi jika LCD tidak bisa dioperasionalkan maka siswa cukup diperintahkan untuk membuka apa yang akan ditayangkan tersebut pada buku materi pelatihan masing-masing. Dengan demikian, revisi akhir yang dilakukan adalah dengan memasukkan beberapa gambar yang dilampirkan dalam buku Panduan Pelatihan yang digunakan konselor ke dalam Materi Pelatihan yang dalam proses pelatihannya dibagikan kepada setiap siswa peserta pelatihan. Hasil Penilaian Ahli, penilaian konselor dalam uji coba kelompok kecil, dan penilaian siswa beserta konselor dalam uji coba lapangan terbatas, serta revisi yang sudah dilakukan, menunjukkan bahwa materi dan strategi pelatihan sudah memenuhi aspek ketepatan. Dengan demikian, produk pengembangan model pelatihan mediasi sebaya untuk mengurangi perilaku agresi relasi siswa dapat dinyatakan layak untuk digunakan.

Pengembangan media pembelajaran peta digital berbasis adobe director 11.5 untuk meningkatkan pemahaman materi proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Bululawang / Ferdinan Bashofi

 

Kata Kunci : Media pembelajaran, sejarah, peta digital, pemahaman, adobe director. Media pembelajaran sangat penting dalam proses pembelajaran, karena media dapat digunakan sebagai penyalur pesan dari guru kepada siswa, dengan hasil yang lebih optimal. Persoalan yang sering muncul dalam pembelajaran sejarah antara lain kejenuhan siswa dalam belajar, sehingga siswa kurang tertarik dengan matapelajaran sejarah. Permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran sejarah setidaknya dapat dikurangi dengan mengembangkan media pembelajaran sejarah yang dapat menciptakan lingkungan yang memberi peluang terjadinya proses belajar mengajar yang menuntut keaktifan siswa. Dengan cara ini siswa akan mampu memahami sejarah secara lebih benar, tidak hanya menyebutkan fakta sejarah belaka. Rumusan Masalah dalam penelitian pengembangan ini adalah, 1) bagaimana mengembangkan media pembelajaran sejarah peta digital yang dapat mempersentasikan materi proses masuk, dan berkembangnya Islam di Indonesia, yang nantinya akan diterapkan di kelas XI IPS SMA N 1 Bululawang. 2) bagaimana pengaruh penggunaan media pembelajaran peta digital terhadap peningkatan pemahaman materi proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Media ini dikembangkan dengan menggunakan program presentasi Adobe Director 11.5 yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, video dan suara dalam bentuk animasi presentasi. Rancangan penelitian menggunakan model pengembangan prosedural. Model pengembangan prosedural ini meliputi kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Produk yang telah divalidasi akan diujicobakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. Data penelitian bersifat kuantitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa bahwa media ini “cukup valid”. Hasil validasi produk dari ahli media diperoleh nilai 75%, dari ahli materi diperoleh nilai 80%, sedangkan untuk uji coba produk diperoleh nilai 82.64% dengan kriteria “cukup valid”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk cukup valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran disekolah. Hasil data mengenai tingkat pemahaman siswa setelah menggunakan produk ini adalah rata-rata peningkatan pemahaman siswa sebesar 37.22%. Pemahaman siswa yang awalnya 44.44% dengan kategori rendah menjadi 81.66% dengan kategori tinggi.

Penerapan model pembelajaran example non example untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Lesanpuro 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Furaya Ode Laramba

 

Kata Kunci: Pembelajaran Example Non Example, hasil belajar, IPA SD. Penerapan model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Penerapan model pembelajaran secara tepat dapat membantu dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu contoh model pembelajaran yang dapat di gunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran IPA adalah model pembelajaran Example Non Example. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah penerapan model pembelajaran Example Non Example untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, (2) bagaimanakah keaktifan siswa kelas V SDN Lesanpuro I pada penerapan model pembelajaran Example non Example,(3) apakah Penerapan Model Example non Example dapat meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedung Kandang Kabupaten Kota Malang. Penelitian ini dilakasanakan di SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang pada siswa kelas V Semester 2 bulan Maret-Mei 2011. Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Deskrptif Kualitatif. Jenis penelitian yang akan di terapkan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rancangan penelitian yang di gunakan adalah rancangan penelitian model MC. Kemmis & Taggart. Penelitian ini bersifat kolaboratif karena melibatkan guru kelas V, teman sejawat, dan peneliti selama penelitian berlangsung dan data yang diperoleh dengan menggunakan metode wawancara dan angket. Hasil penelitian menunjukan bahwa, penerapan model Example non Example dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SDN Lesanpuro I Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat di sarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model Example non Example, misalnya untuk meningkatkan aktivitas siswa, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan berpikir kritis.

Pengaruh doping ion Mn pada senyawa spintronik Ti(1-x)MnxO2 terhadap struktur kristal dan magnetodielektrisitasnya / Risfandi

 

Kata kunci: solid state reaction, spintronik, Ti(1-x)MnxO2, dielektrisitas, magnetodielektrik. Spintronik telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam bidang IPTEK. Spintronik merupakan senyawa baru yang disintesis dari bahan semikonduktor yang didoping dengan bahan magnetik. Spintronik merupakan bahan yang sangat menarik karena spintronik merupakan senyawa gabungan yang memiliki sifat berbeda yang digabung menjadi sebuah bahan yang mempunyai fungsi ganda yakni mampu memproses dan menyimpan data. Penambahan bahan ferromagnetik ke dalam bahan semikonduktor sangat berpengaruh pada sifat fisis yang dimiliki oleh bahan tersebut, diantaranya adalah struktur kristal, konstanta dielektrik dan magnetodielektrisitasnya. Pada penelitian ini, TiO2 di doping dengan ion Mn4+ yang berasal dari MnO2 dalam bentuk Ti(1-x)MnxO2 (0,0 ≤ X ≤ 0,1). Bahan dasar yang digunakan adalah TiO2 (99,9%) dan MnO2 (99,9%) dengan metode solid state reaction. Karakterisasi struktur kristal menggunakan XRD dan dielektrisitas menggunakan kapasitansi digital tipe AD 5822. Pembentukan fasa dan struktur kristal dianalisis dengan program GSAS. Ukuran butir kristal dihitung menggunakan persamaan Scherrer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa spintronik Ti(1-x)MnxO2 telah berhasil disintesis. Pencocokan dengan model bahwa senyawa spintronik Ti(1-x)MnxO2 telah terbentuk dengan parameter kisi a = b berkisar antara 4.5867Å - 4.5898 Å dan untuk parameter kisi c berkisar antara 2.9529 Å - 2.9571 Å serta 93.2% fase yang terbentuk dengan perhitungan fraksi volume. Pada konsentrasi molar x = 0 sampai x = 0,1 volume sel cendrung mengalami penurunan kecuali pada x = 0,025 Å. Penerapan medan magnet pada senyawa spintronik Ti(1- x)MnxO2 mengakibatkan konstanta dielektrik berubah. Semakin besar medan magnet yang diberikan maka konstanta dielektriknya juga semakin besar.

Penerapan model pembelajaran problem posing untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan hasil belajar siswa IPS ekonomi kelas VII SMP Negeri 1 Singosari / Evin Murdianti

 

Kata Kunci: Problem Posing, Metode Kooperatif, Kemampuan Bertanya,Hasil Belajar Pembelajaran yang terjadi di sekolah atau khususnya di kelas, masih ada beberapa siswa yang pasif dalam kegiatan pembelajaran, salah satunya pasif dalam bertanya. Dalam meningkatkan hasil belajar ekonomi sebaiknya diarahkan kepadakegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif baik secara fisik, sosial, maupun psikis, oleh karena itu dalam proses pembelajaran ekonomi hendaknya guru menggunakan metode yang membuatsiswa banyak besikap aktif yaitu dengan Problem Posing. Dimana padapembelajaran ini siswa diharapkan dapat mengajukan soal maupun pertanyaan yang berhubungan dengan materi pembelajaran, dan siswa bisa mendapatkan jawaban atau informasi dari guru dan siswa yang lainnya. Dengan demikian banyaknya aktifitas yang dilakukan dapatmenimbulkan antusias siswa dalam belajar sehingga pemahaman tentang ekonomi semakin baik dan hasil belajarnya akan meningkat. Penerapan modelpembelajaran Problem Posing ini akan mempengaruhi cara belajar siswa yangsemula cenderung untuk pasif kearah yang lebih aktif. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah penerapan model pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan kemampuan bertanya,(2) Apakah penerapan model pembelajarn Problem Posingdapat meningkatkan hasil belajar siswa, (3) Bagaimana respon siswa terhadap model pembelajaran Problem Posing. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang terdiri dari 5 tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data kemampuan bertanya adalahdengan lembar observasi yang berdasarkan rubrik kriteria penilaian, hasil belajar diukur melalui soal test, dan untuk mengetahui respon siswa adalah dengan menggunakan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaranProblem Posing dapat meningkatkankemampuan bertanya dan hasil belajar siswa. Kemampuan bertanya pada siklus I sebesar 68,3% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 77,1%. Hasil belajar rata-rata kognitifpada siklus I sebesar76,72% dan pada siklus II meningkat menjadi 79,82%. Saran yang diberikan kepada guru mata pelajaran ekonomi yaitu disarankan untuk mencoba menerapkan model pembelajaran Problem Posing pada proses pembelajaran karena siswa memberikan respon positif terhadap penerapan model pembelajaran tersebut. Saran bagi sekolah adalah diharapkan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam upaya memperbaiki penerapan strategi pembelajarandan saran bagi peneliti adalah untuk selanjutnya yang hendak menelitipembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Posing sebaiknya materi yang diajarkan sesuai dan sangat cocok dengan model pembelajaran tersebut.

A case study of the use of teacher's questioning in the teaching of reading at SMA "Islam" Malang / Veri Hardinansyah Dja'far

 

Key words: teacher’s questioning, teaching reading, active participation The role of teacher is very important to guide and motivate the students in learning English. Reading is an important skill in learning English, but unfortunately the teaching of reading skill has not been developed sufficiently. Questioning is one of the most crucial strategies in the teaching of reading. The effective questioning applied will lead to better reading comprehension of the students. This study was conducted to identify and describe teacher’s questioning in an English class at SMA “Islam” Malang. The subject of the research was the English teacher of grade XI and XII of SMA Islam Malang. In the present study, the researcher is the key instrument because he is the one who collected and analyzed the data. The researcher used field note sheet, observation checklist and tape recorder as the instruments to gain precise data in this study. The main data of the study are the questioning utterances produced by the teacher in teaching reading. The main data were taken during the teaching-learning process in the class. These main data were collected through observation and recording the teacher’s questioning in four meetings. To support the main data, secondary data were also collected through field note sheet. The data analysis was done in four steps, namely: data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing. The result of the research shows that the teacher used three types of techniques of questioning mentioned in the category of questioning defined by Chaudron (1988:128)., i.e. (1) repeating or rephrasing the question (39.4%), (2) giving clues to narrow the question down (34.2%), and (3) modifying questions by giving alternative ‘or-choice’ questions (26.3%). The findings of this study mostly support the existing theories of technique of questioning. As can be seen in the findings, the teacher in this study applied the three kinds of the techniques of questioning as suggested by Chaudron(1988). For the teacher, it is suggested that in questioning during teaching and learning of reading activities, the teacher needs to apply all kinds of techniques of questioning proportionally and be creative in questioning by considering the students’ ability since the students come different backgrounds. For the future researcher(s), it is suggested to investigate the teacher-technique in giving questioning in other skills in the field of English teaching.

Makna implementatif budaya Jawa-Islam pada keberhasilan usaha dagang masyarakat Pendalungan (studi kasus pada pasar tradisional di Kabupaten Probolinggo) / Nanis Hairunisya

 

Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E., (II) Dr. Sunaryanto, M.Ed., (III) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. Kata-kata Kunci: Budaya Jawa-Islam, Perilaku Pedagang, Konsekuensi Usaha, Pendidikan Karakter Kewirausahaan. Fokus dalam penelitian adalah: (1) Bagaimanakah budaya masyarakat Pedagang Pendalungan dalam melaksanakan usaha dagangnya, (2) Bagaimanakah perilaku pedagang masyarakat Pendalungan, (3) Bagaimanakah konsekuensi perilaku bagi keberhasilan usaha dagang masyarakat Pendalungan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi nilai, sikap dan perilaku positif yang digunakan oleh masyarakat pedagang Pendalungan dalam mencapai kesuksesan usaha dagangnya. Hasil penelitian ini diharapkan untuk: (1) Bahan masukan dalam memperbaiki materi kurikulum yang kurang operasional, terutama mengenai nilai-nilai, sikap dan perilaku yang seharusnya diajarkan kepada siswa atau mahasiswa sehingga tidak ada lagi mismatch antara budaya dunia pendidikan dan budaya riil masyarakat (2) Nilai-nilai, sikap dan perilaku budaya Jawa-Islam bisa dijadikan suatu nilai asli Bangsa Indonesia yang bisa digunakan sebagai landasan berperilaku pada semua bidang profesi dan bisa dijadikan pertahanan nilai untuk menghadapi dampak negative dari budaya global (3) Implikasi praktis yang diharapkan adalah untuk memberikan inspirasi pada praktisi pendidikan dalam menerapkan konsep pendidikan karakter kewirausahaan pada program riil yang dilaksanakan secara formal, non formal maupun in formal. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan grounded research method. Penelitian ini berusaha menemukan teori substantive berdasar fakta riil di lapangan. Penelitian ini menggunakan tiga tahap penyampelan dan analisis data. Tahap pertama dilakukan penyampelan terbuka yang dikenakan pada semua pedagang di Lima Pasar Tradisional. Berdasarkan fenomena yang serupa maka dilakukanlah Pelabelan, Penamaan Kategori dan Penyusunan Kategori, kemudian dilakukan analisis open coding. Pada tahap kedua dilakukan penyampelan relasional dan variasional dengan mengambil sampel pada masing-masing pasar sebanyak 30 orang pedagang berdasar perilaku yang menonjol dalam menjalankan budaya Jawa-Islam. Untuk mendapat suatu makna yang mendalam tentang perilaku itu, peneliti mengadakan studi kasus pada lima orang pedagang di lima pasar tersebut. Kemudian data yang didapat dianalisis dengan axial coding. Pada tahap ketiga, dilakukan penyampelan pembeda, yaitu dengan mencari informasi pembanding dan penguji atas kategori yang didapat pada informan ahli. Hasil data pada tahap ketiga ini dianalisis menggunakan selective coding untuk menghasilkan proposisi akhir penelitian. Penelitian ini menemukan bukti bahwa pedagang masyarakat Pendalungan yang sukses dalam usaha dagangnya adalah pedagang yang bisa memaknai dan menjalankan ajaran agama dengan benar, bisa memaknai kegiatan pengajian, selamatan, ritual, ilmu penemoh dengan benar, yang tercermin dalam kepribadian baik dan perilaku yang menunjang/positif. Dari para pedagang yang sukses ini ditemukan nilai dan pola perilaku yang bersifat universal dan bisa diaplikasikan pada profesi lain. Ditemukan pula pedagang yang mempunyai kepribadian buruk yang ditunjukkan dengan perilaku tidak mendukung/negatif, dan hanya sekedar menjalankan budaya Jawa Islam, merupakan pedagang yang tidak sukses dalam usaha dagangnya. Selain itu ditemukan adanya distorsi pada pengajian, yang ikut mendukung ketidakberhasilan pedagang. Jumlah pedagang yang bisa memaknai budaya Jawa-Islam lebih sedikit dari pedagang yang sekedar menjalankan budaya. Ini merupakan temuan yang menjelaskan kenapa para pedagang Masyarakat Pendalungan banyak yang belum sukses. Peneliti menyarankan bahwa pihak-pihak yang berkompeten seperti tokoh agama, kiai, paranormal dengan perannya sebagai tokoh panutan masyarakat, harus bisa mengubah perilaku masyarakat dengan jalan memberi petunjuk dan tauladan yang benar serta tidak membodohi masyarakat dengan informasi yang salah, informasi yang tidak lengkap apalagi sampai ada informasi yang disembunyikan. Perlu langkah konkrit untuk mewujudkan konsep pendidikan karakter. Untuk mewujudkannya perlu kerjasama antara semua pihak baik dari keluarga, masyarakat, sekolah dan pemerintah. Masyarakat dan keluarga perlu mengubah „tolok ukur“ keberhasilan seseorang. Salah satu langkah konkrit untuk pendidikan karakter adalah pada saat liburan tiba, sekolah mewajibkan siswa/mahasiswa bekerja pada home industry yang ada di masyarakat. Untuk ini memang harus ada kerjasama dengan home industry masyarakat agar keberadaaan siswa/mahasisw untuk bekerja pada saat liburan bisa diterima, dibantu dengan pembinaan dan harus diperlakukan seperti karyawan pada umumnya.

Penggunaan strategi bermain jawaban untuk meningkatkan kemampuan menyimak berita siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bendo Magetan / Cerianing Putri Pratiwi

 

Kata kunci: menyimak, berita, strategi bermain jawaban. Keterampilan menyimak berita merupakan salah satu kompetensi yang diajarkan pada tingkat SMP. Melalui pembelajaran tersebut, diharapkan siswa mampu menyimak berita dengan baik. Akan tetapi, pada kenyataannya keterampilan menyimak berita merupakan keterampilan yang belum dikuasai dengan baik oleh siswa. Masih banyak kendala yang terjadi pada pembelajaran menyimak berita. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Bendo Magetan, diketahui bahwa kemampuan menyimak berita pada sekolah tersebut masih rendah. Hal terbut disebabkan strategi yang digunakan pada pembelajaran masih kurang menarik. Dari masalah tersebut, maka diperlukan sebuah strategi yang mampu mengatasi lemahnya kemampuan menyimak berita. Melalui penelitian tindakan kelas ini, siswa dikenalkan dengan pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi bermain jawaban. Pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi bermain jawaban terdiri atas: (1) menemukan pokok-pokok berita, (2) menarik garis keterkaitan antar pokok berita, (3) menemukan pokok terpenting berita, (4) membuat kesimpulan. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendekripsikan: (1) peningkatan kemampuan menentukan pokok-pokok berita dalam pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi bermain jawaban pada siswa kelas VIII SMPN 1 Bendo Magetan, (2) peningkatan kemampuan menarik garis keterkaitan antar pokok berita pada pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi bermain jawaban pada siswa kelas VIII SMPN 1 Bendo Magetan, (3) peningkatan kemampuan menemukan pokok terpenting berita pada pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi bermain jawaban pada siswa kelas VIII SMPN 1 Bendo Magetan, (4) peningkatan kemampuan membuat kesimpulan berita pada pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi bermain jawaban pada siswa kelas VIII SMPN 1 Bendo Magetan. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, tugas, dan pedoman dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Bendo Magetan. Data dalam penelitian ini berupa data verbal dan data non verbal. Data verbal berupa hasil rekaman iii kegiatan guru dan siswa saat pembelajaran berlangsung. Data non verbal berupa skore hasil evaluasi kemampuan menyimak berita siswa kelas VIII B SMP Negeri 1 Bendo Magetan. Hasil penelitian diperoleh bahwa proses dan hasil siklus I belum maksimal. Masih ada beberapa kelompok yang mendapatkan nilai rendah, terutama pada tahap menarik garis keterkaitan. Masih ada 10 siswa yang belum tuntas, sedangkan siswa yang tuntas hanya 21 siswa. Melihat hasil siklus I yang kurang maksimal, maka pada tindakan siklus II dilakukan perbaikan. Setelah dilakukan perbaikan, diketahui bahwa proses dan hasil siklus II mengalami peningkatan. Pada siklus II diketahui bahwa semua siswa memperoleh nilai tuntas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menyimak berita dengan menggunakan strategi Bermain Jawaban mampu meningkatkan kemampuan menyimak berita siswa kelas VIII SMP Negeri Bendo Magetan. Strategi tersebut memudahkan siswa saat pembelajaran sehingga strategi ini mampu meningkatkan kemampuan menyimak siswa.

Penerapan model pembelajaran problem posing untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Tanjungrejo 1 Malang / Isma Nastiti Maharani

 

Kata Kunci : Problem Posing, Motivasi Belajar, dan Hasil Belajar Pembelajaran matematika yang selama ini diterapkan di sekolah yaitu guru hanya memberi contoh dan latihan soal secara rutin tetapi tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan permasalahan – permasalahan yang terkait dengan materi yang disampaikan. Melalui model pembelajaran “problem posing” ini, siswa diberikan kesempatan secara bebas untuk mengemukakan permasalahan-permasalahan terkait dengan materi yang disampaikan guru. Marpaung (dalam Ratumanan, 2003) berpendapat bahwa matematika tidak ada artinya kalau hanya dihafal, tetapi pengalaman-pengalaman belajar yang dialami siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana dan apakah penerapan model pembelajaran “problem posing ”dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas V B SDN Tanjungrejo 1 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengetahui penerapan model pembelajaran “problem posing ”dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas V B SDN Tanjungrejo 1 Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian “Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)”. Penelitian Tindakan Kelas dapat didefinisikan sebagai kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut (Ebbut, 1985 dalam Wiriatmadja, 2005:12). Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa meningkat dari sebelum dan sesudah tindakan. Motivasi belajar siswa sebelum tindakan terdapat 19 siswa yang sudah termotivasi atau sebanyak 76%, motivasi meningkat sesudah tindakan terdapat seluruh siswa sudah termotivasi atau sebanyak 100%. Hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 44,8, pada siklus I meningkat menjadi 51,4 dan pada siklus II meningkat menjadi 67,9. Adapun kesimpulan yang diperoleh yaitu: Penerapan model pembelajaran problem posing dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas V B SDN Tanjungrejo 1 Malang. Disarankan bagi guru dalam menerapkan model pembelajaran “problem posing” terutama pada tahap kegiatan inti agar membimbing siswa dalam mengemukakan pertanyaan-pertanyaan siswa sehingga pertanyaan yang dikemukakan dapat diselesaikan oleh siswa.

Pengembangan modul pembelajaran Al-Qur'an Hadits kelas VII semester 1 Madrasah Tsanawiyah Ma'arif NU Islamiyah Temayang Kab. Bojonegoro tahun 2011 / Moh. Saifudin Zuhri

 

Kata kunci: Pengembangan media pembelajaran, modul, Al-Qur’an Hadits. Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri. Kemenarikan disini menggunakan warna pada teks arab yang menunjukkan maksud dari ayat tersebut sehingga siswa mudah memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits dan menambah semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Tujuan mengembangkan modul ini adalah mengembangkan modul yang efektif dan efisien dalam pembelajaran, sehingga dapat menjadi alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi pokok bahasan Al-Qur’an surah-surah pendek pilihan dalam kehidupan sehari-hari tentang tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah. Subjek uji coba dalam pengembangan modul ini adalah siswa kelas VII Semester I MTs Ma’arif NU Islamiyah Temayang Kab. Bojonegoro. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket validasi kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Analisis data yang digunakan untuk mengolah hasil validasi adalah prosentase. Hasil pengembangan modul pembelajaran ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji coba ahli media mencapai tingkat kevalidan 85,83%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 100%, uji coba kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 82%, dan uji coba kelompok besar mencapai tingkat kevalidan 81,9%. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa modul ini efektif digunakan dalam pembelajaran, serta dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar bagi siswa. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan modul ini adalah diharapkan adanya pengembangan lebih lanjut mengenai efektifitas penggunaan bahan ajar modul yang telah dikembangkan. Sehingga pengembang berikutnya dapat menghasilkan modul yang lebih efektif dan efisien

Dinamika kekuasaan raja Jayakatyang di kerajaan Glang-Glang tahun 1170-1215 caka: tinjauan geopolitik / Novi Bahrul Munib

 

Kata kunci: dinamika, kekuasaan, Jayakatyəng, Glang-Glang, geopolitik. Çri Jayakatyəng adalah raja yang berhasil meruntuhkan Kerajaan Tumapel pada tahun 1214 Çaka. Dalam beberapa literatur susastra kuno disebutkan bahwa ia adalah raja dari Daha. Namun dalam sumber prasasti ia adalah penguasa dari Glang-Glang. Dari kerancuan inilah penulis melakukan penelitian tentang dinamika kekuasaan Raja Jayakatyəng. selain itu kestrategisan wilayah kekuasaan Jayakatyəng tentu berperan dalam eksistensi kerajaannya. Oleh karenanya diperlukan kajian geopolitik untuk mengulas Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyəng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170 - 1215 Çaka. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana setting umum Jawa bagian timur pada abad ke-XII-XIII Masehi, (2) bagaimana kedudukan Raja Jayakatyəng dalam Kerajaan Tumapel, (3) dimana lokasi vasal-vasal utama Kerajaan Tumapel, dan (4) bagaimanakah geopolitik kekuasaan Raja Jayakatyəng di Kerajaan Glang-Glang ketika berpusat di nagara Daha tahun 1214-1215 Çaka. Penelitian ini pada dasarnya adalah metode penelitian sejarah. Penelitian sejarah mempunyai lima tahap, yaitu: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) interpretasi (analisis dan sintesis), dan (5) penulisan. Namun, selain dihadapkan dengan data sejarah, peneliti juga dihadapkan dengan data-data arkeologis. Oleh karena itu, metode penelitian semacam ini disebut arkeologi sejarah (historical archaeology). Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) kondisi geografis Jawa bagian timur mendukung tumbuhnya peradaban besar. Terutama di sekitar lembah Bengawan Solo dan Bengawan Brantas. Kedua bengawan tersebut menjadi penopang kelangsungan pertanian, perdagangan dan ketahanan kerajaan-kerajaan yang berdiri disekitarnya. (2) Çri Jayakatyəng adalah keponakan sekaligus menantu narāryya Sminiŋrāt, yang juga berarti ipar dari Çri Kķtānagara. Karena hubungan tersebut ia menjadi penguasa Kerajaan Glang-Glang, yang pada tahun 1193 Çaka beribukotakan di nagara Daha i bhūmi Kadiri. (3) pusat Kerajaan Janggala berada di Lamongan, nagara Madura berpusat di sekitar Sumenep, nagara Lamajang di Lumajang, nagara Daha di Kediri, nagara Glang-Glang di Madiun, Kerajaan Morono belum dapat diketahui, nagara Hriŋ di Nganjuk, nagara Lwa di Ponorogo dan nagara Tumapel berada di Malang. (4) kebijakan geopolitik yang diterapkan Çri Jayakatyəng dengan merelokasi ibukota kerajaan ke nagara Daha memiliki pertimbangan geografis, geoekonomi, geostrategi, dan pertimbangan historis. Adapun dampak dari relokasi ibukota Kerajaan Glang- Glang ke nagara Daha adalah keruntuhan Kerajaan Tumapel pada tahun 1214 Çaka. Ironisnya strategi geopolitik Çri Jayakatyəng yang pernah diterapkan untuk menghancurkan Tumapel digunakan pula oleh Kerajaan Majapahit yang baru lahir, untuk menghancurkan pusat kekuasaan Jayakatyəng di nagara Daha. ii Kajian geologi dalam sejarah lingkungan sangat diperlukan, terutama sejarah Bengawan Brantas yang telah berulangkali mengalami perpindahan arah alirannya. Berdasarkan hasil tulisan ini alangkah baiknya dilakukan penelitian dan juga penulisan yang lebih fokus kepada eksistensi vasal-vasal Kerajaan Tumapel. Hikmah dari kebijakan politik (Geopolitik) yang diterapkan pada masa Kerajaan Glang-Glang dapatlah diterapkan untuk kebaikan dan eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara.

Analisis kontribusi badan usaha swasta penyelenggara hiburan terhadap penerimaan pajak hiburan di Kabupaten Malang (Januari 2008-November 2010) / Dedy Kurniawan

 

Kata kunci: otonomi daerah, pajak hiburan, badan usaha swasta penyelenggara hiburan Otonomi daerah merupakan suatu konsekuensi reformasi yang harus dibayar oleh setiap daerah di Indonesia, terutama kabupaten dan kota sebagai pelaksana otonomi daerah. Agar lebih siap melaksanakan otonomi daerah, perlu proses pembelajaran bagi masing-masing daerah agar dapat mengubah tantangan menjadi peluang bagi kemajuan masing-masing daerah. Demikian pula dengan pemerintah pusat, sebagai pihak yang mengatur pengembangan konsep otonomi daerah, bertanggung jawab agar konsep otonomi daerah dapat dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan. Pelaksanaan Otonomi daerah di Kabupaten Malang yang merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Timur, tentunya terjadi juga pelimpahan kewenangan dan pembiayaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, maka hal tersebut akan membawa konsekuensi lebih besar serta ruang lingkup pelayanan yang lebih luas sehingga membutuhkan tingkat pelayanan dan pembiayaan yang lebih banyak dengan kualitas yang memadai, efisien dan efektif. Untuk lebih mengoptimalkan potensi keuangan daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah, maka pemerintah daerah diharapkan untuk mampu menggali segenap potensi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Salah satu tolok ukur finansial yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan daerah dalam pelaksanaan otonomi adalah dengan mengukur seberapa jauh suatu daerah menggali sumber-sumber pendapatan daerah yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan potensi dari Pajak hiburan yang dibayarkan oleh badan usaha swasta penyelenggara hiburan di Kabupaten Malang Untuk mengetahui fokus penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimana kontribusi badan usaha swasta penyelenggara hiburan yang membayar pajak hiburan terhadap penerimaan pajak hiburan di Kabupaten Malang? (2) Adakah pengaruh kontribusi badau saha perorangan swasta terhadap penerimaan pajak hiburan di Kabupaten Malang? (3) Adakah pengaruh perseroan terbatas swasta terhadap penerimaan pajak hiburan di Kabupaten Malang? (4) adakah pengaruh kontribusi perusahaan dagang swasta terhadap penerimaan pajak hiburan di Kabupaten Malang (5) bagaimana elastisitas pajak yang dibayarkan badan usaha swasta penyelenggara hiburan terhadap penerimaan pajak hiburan di Kabupaten Malang?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dirancang dengan jenis penelitian kuantitatif. Teknik analisis data menggunakan analisisi kontribusi, elastisitas, dan regresi berganda. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pendapatan Pengelolahan Kekayaan dan Asset (DPPKA) dengan mengambil data dokumentasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Dari Penelitian ini dapat disimpulkan kontribusi yang terbesar dari badan usaha swasta penyelenggara hiburan berasal dari perseroan terbatas, dari tahun 2008 sampai 2010 selalu memberikan lebih dari separuh dari total penerimaan pajak hiburan. Ditempat kedua adalah badan usaha perorangan disusul kemudian perusahaan dagang yang memberikan kontribusi penerimaan pajak hiburan (2) Badan usaha peroramgan kurang signifikan dalam memberikan kontribusi pada penerimaan pajak hiburan, salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah dasar pembayaran yang berdasrkan ketetapan (3) Perseroan Terbatas memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan pajak hiburan ini disebabkan dasar pembayaran yang berdasarkan tiket masuk dan rutinitas penyelenggaraan yang sering (4) Perusahaan dagang memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap penerimaan pajk hiburan dikarenakan rutinitas penyelenggaraan yang jarang dan dasar pembayaran yang berupa ketetapan (5) Pada tahun 2010 perseroan terbatas memiliki nilai elastis, sedangkan badan usaha perorangan dan perusahaan dagang memiliki nilai inelastis. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan potensi penerimaan pajak hiburan yang berasal dari badan usaha swasta penyelenggara hiburan adalah, bagi Pemerintah Kabupaten Malang diharapkan mempermudah pemberian ijin mendirikan usaha hiburan, proses birokrasi dalam pendirian usaha diharapkan tidak diperumit. Penetapan besaran pajak yang tidak terlalu diperumit. Memasukkan semua usaha yang melakukan usaha dibidang hiburan kedalam wajib pajak, kemudian mengenakan pajak tanpa pandang bulu. Pihak Dinas Pendapatan Pengelolahan Kekayaan dan Asset (DPPKA) perlu memberikan penerangan, pengawasan, dan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan wasjib pajak.

Pengaruh kegiatan pengajian Padhang mBulan bagi kehidupan sosial masyarakat desa dan nilai-nilai pendidikannya di Desa Mentoro Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang / Evie Rakhmalia

 

Kata Kunci: Kehidupan Sosial Masyarakat, Pengajian Padhang mBulan, Pengaruh, Nilai Pendidikan Islam adalah agama yang universal. Islam masuk ke sela-sela kehidupan masyarakat dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan cara berkesenian sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kalijogo dan juga melalui media pendidikan pesantren yang cara pengajarannya dikenal sebagai pengajian. Metode pengajian ini digunakan oleh para kyai dalam upayanya untuk memelihara dan mengembangkan keimanan dan ketaqwaan warga masyarakat. Metode seperti ini tentunya sangat mudah diterima dan merasuk ke dalam masyarakat terutama masyarakat desa. Adanya kegiatan pengajian, juga diharapkan memberikan banyak pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat desa, dimana pengaruh pengajian yang dirasakan oleh masyarakat tidak hanya dalam bidang kerohanian, tetapi juga dalam bidang perekonomian. Untuk itulah penelitian ini mengangkat permasalahan mengenai pengaruh kegiatan pengajian Padhang mBulan bagi kehidupan sosial masyarakat. Dengan beberapa permasalahan diantaranya adalah (1) Mengenai kondisi sosial masyarakat Desa Mentoro, (2) Konsep pengajian Padhang mBulan, (3) Nilai-nilai pendidikan yang terkandung pada isi materi pengajian Padhang mBulan, dan (4) Pengaruh apa saja yang dirasakan dari pengajian Padhang mBulan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisa data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Kemudian pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah perpanjangan keikutsertaan, keajegan pengamatan, dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Kondisi sosial masyarakat Desa Mentoro sangatlah unik. Hal ini dapat dilihat dari kultur agama yang dianut antara NU-Muhammadiyah yang tidak saling bersinggungan, kondisi ini mencerminkan bahwa warga Desa Mentoro adalah warga yang guyub dan toleran antar sesama. (2) Konsep pengajian yang diusung Padhang mBulan adalah tafsir Al-Qur’an yang dikaji secara tekstual dan kontekstual dengan memberikan unsur seni musik gamelan sebagai modifikasi metode pengajaran Islam Jawa yang sudah ada dalam penyampaian materinya. (3) Adanya kegiatan pengajian Padhang mBulan di Desa Mentoro telah memberikan banyak nilai pendidikan bagi warga desanya. Diantaranya adalah berbakti kepada orangtua, berfikir kritis dan berpandangan universal, berkata jujur, cinta kepada tanah air, berkata yang baik dan pantas, saling menghormati, bermusyawarah, dan adil. (4) Pengaruh ii yang dirasakan oleh masyarakat adalah meningkatnya perekonomian warga desa, pengaruh lain adalah perubahan sikap masyarakat, bertambahnya ilmu agama, wawasan, serta berubahnya pola pikir masyarakat. Berdasarkan kesimpulan maka disarankan: (1) Pemanfaatan dalam bidang perekonomian, seharusnya bukan hanya dalam bentuk perdagangan pada saat pengajian berlangsung, tapi bisa dimanfaatkan sebagai ajang kerja sama maupun promosi dalam rangka pengembangan produk lokal warga desa. (2) Adanya bantuan dari jamaah Padhang mBulan dapat dimanfaatkan untuk usaha warga Mentoro sehingga usaha perekonomian yang telah ada di Mentoro dapat dikembangkan kembali. (3) Yayasan kembali aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan yayasan berperan sebagai mediator anatara warga desa dan jamaah. (4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan penelitian ini secara lebih menyeluruh dan mendalam tentang pengajian Padhang mBulan dan juga tentang kondisi sosial masyarakat Desa Mentoro.

Analisis pengaruh current ratio, DPR, ROE, dan financial leverage terhadap price earning ratio pada perusahaan [property dan real estate yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010) / Moh. Tohari

 

Kata Kunci: Current Ratio, Dividend Payout Ratio, Return On Equity, Financial Leverage dan Price Earning Ratio Latar belakang penelitian ini dimulai dari kondisi saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia pada saat krisis global. Dimana sebagian besar trend saham perusahaan menunjukkan penurunan, namun hal tersebut tidak terjadi pada saham perusahaan di sektor Property dan Realestate yang menunjukkan trend positif. Melihat lebih jauh tentang penilaian saham pada perusahaan Property dan Real Estate pada rentang krisis global diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna bagi kalayak umum. Dengan menggunakan analisis fundamental melalui pendekatan Price Earning Ratio (PER) penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Current Ratio, Devidend Payout Ratio, Return On Equity dan Financial Leverage terhadap Price Earning Ratio pada Perusahaan Property dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Sampel dalam penelitian ini adalah 10 perusahaan Property dan Real Estate. Periode pengamatan penelitian ini selama 5 tahun, yaitu tahun 2006 sampai tahun 2010. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda serta membandingkan antara PER calculated dengan PER actual untuk mengetahui kondisi harga saham perusahaan. Secara simultan diketahui bahwa variabel Current Ratio (X1), Dividend Payout Ratio (X2), Return On Equity (X3) dan Financial Leverage (X4) memiliki pengaruh signifikan terhadap PER secara simultan. Dengan melihat perbandingan signifikansi F-value dan α, diperoleh hasil signifikansi F-value sebesar 0,000 yang berarti adanya pengaruh keempat variabel bebas terhadap PER secara simultan. Hasil penelitian menunjukkan secara parsial variabel Dividend Payout Ratio, dan Financial Leverage memiliki pengaruh signifikan positif terhadap PER dengan masing-masing nilai signifikansi t sebesar 0,011, dan 0,017 dan Return On Equity yang memiliki pengaruh signifikan negatif dengan nilai signifikansi t sebesar 0,008. Sedangkan variabel Current Ratio menunjukkan adanya pengaruh yang tidak signifikan, dengan nilai signifikansi t sebesar 0,105. Koefisien determinasi (adjusted R2) dalam model regresi yang dibangun adalah 95.8%. Ini menunjukkan variabel bebas dalam model regresi mampu menjelaskan keragaman variabel respon sebesar 95.8%, sedangkan 4,2% sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model regresi. Pegujian nilai PER dalam saham Perusahaan sampel Property dan Real Estate yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010 berada pada posisi tidak wajar (Undervalue sebesar 60% dan Overvalue sebesar 40%).

Penarapan pembelajaran kooperatif perpaduan teknik jigsaw dan investigasi kelompok untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar ekonomi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi Universitas Nusantara PGRI Kediri / Eunike Rose Mita Lukia

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Pasca Sarjana. Pembimbing: (1) Prof. Dr. J.G. Nirbito, M.Pd. (2) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi kelompok, Kemamapuan berpikir kritis, Hasil belajar Afektif, Hasil belajar Kognitif Sebagai calon guru (tenaga pendidik) penguasaan materi pelajaran mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Nusantara PGRI sebagai bahan ajar masih cukup rendah. Rendahnya penguasaan materi terlihat dari observasi peneliti selama kegiatan pembelajaran dan dokumentasi test hasil belajar mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Nusantara PGRI. Dari observasi peneliti selama kegiatan pembelajaran diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Nusantara PGRI masih rendah. Beberapa indikator yang menunjukkan rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Nusantara PGRI diantaranya: 1)Mahasiswa kesulitan untuk menarik rumusan masalah dan kesimpulan, 2)kurang terampil dalam menginterpretasi pertanyaan dan menyampaikan argumen, 3)kesulitan untuk menganalisis persamaan dan perbedaan, 4)kurang terampil dalam menggeneralisasikan suatu pemahaman dalam suatu kasus baru. Rendahnya kemampuan berpikir kritis ini selanjutnya berakibat pada pencapaian hasil belajar yang tidak dapat maksimal. Dalam rangka meningkatkan kompetensi mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri sebagai calon guru, peneliti yang juga sebagai dosen di Universitas Nusantara PGRI Kediri mengembangkan Pembelajaran Kooperatif Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi Kelompok yang bertujuan untuk (1) meningkatkan kemampuan berpikir kritis, (2) meningkatkan hasil belajar aspek afektif (sikap) dan aspek kognitif (pengetahuan) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Nusantara PGRI. Pembelajaran Kooperatif Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi Kelompok adalah salah satu pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) yang mengarahkan peserta didik untuk membangun sendiri pengetahuan, pemahaman, dan sikapnya sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan mendalam (deep learning) seiring dengan keterlibatan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan mengunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus tindakan terdiri dari empat tahap yang diadopsi dari Hopkins yaitu: tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar aspek kognitif (pengetahuan) diperoleh melalui test. Peningkatan kemampuan berpikir kritis diperoleh dengan membandingkan hasil test kemampuan berpikir kritis antara siklus 1 dengan siklus 2, sedangkan peningkatan hasil belajar aspek kognitif (pengetahuan) diperoleh dengan membandingan hasil test sebelum menerapakan pembelajaran Kooperatif perpaduan teknik Jigsaw dan Investigasi kelompok dengan setelah menerapkan pembelajaran Kooperatif perpaduan teknik Jigsaw dan Investigasi kelompok. Untuk hasil belajar aspek afektif (sikap) data diperoleh melalui angket. Angket diberikan pada mahasiswa di tiap akhir siklus yaitu di akhir siklus 1 dan siklus 2. Peningkatan hasil belajar aspek afektif terlihat dengan membandingkan hasil angket antara siklus 1 dan siklus 2 dari penerapan pembelajaran Kooperatif perpaduan teknik Jigsaw dan Investigasi kelompok. Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis dari siklus 1 kepada sikus 2 sebesar 32%, di siklus 1 diketahui bahwa presentase ketuntasan siswa hanya mencapai 68% sedangkan di siklus 2 naik menjadi 100%. Peningkatan hasil belajar afektif (sikap) yang diperoleh melalui angket meningkat sebesar 37,06 % dari siklus 1 sebesar 86,73 naik menjadi 94,14 di siklus 2. Demikian juga dengan hasil belajar kognitif (pengetahuan) meningkat sebesar 93,5%, jika sebelum menerapkan pembelajaran Kooperatif perpaduan teknik Jigsaw dan Investigasi kelompok ada 28 siswa (90,3%) yang memiliki nilai test dibawah 71 sedangkan setelah menerapkan pembelajaran Kooperatif perpaduan teknik Jigsaw dan Investigasi kelompok tidak ada siswa yang memperoleh nilai dibawah 71 (0%). Dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Kooperatif Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi Kelompok dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar aspek kognitif dan afektif pada mahasiswa pendidikan ekonomi akuntansi Universitas Nusantara PGRI Kediri. Saran bagi peneliti selanjutnya yang akan menerapkan pembelajaran Kooperatif Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi Kelompok sebaiknya dapat mengembangkan pembelajaran Kooperatif Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi Kelompok pada materi atau mata kuliah lain dan tidak hanya meningkatkan hasil belajar aspek kognitif dan afektif tetapi juga metakognitif dan psikomotor. Selanjutnya saran bagi pembelajaran Kooperatif Perpaduan Teknik Jigsaw dan Investigasi Kelompok yaitu perlu dikembangkan lebih lanjut menjadi kegiatan investigasi kelompok yang berbasis proyek dan perlu adanya publikasi dari hasil kegiatan investigasi kelompok yang dilakukan peserta didik.

Pengaruh debt to equity ratio, debt to assets ratio, total assets turnover, working capital turnover dan equity multiplier terhadap return on equity pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia di Kota Malang tahun 2010 / Vita Sari Kusuma Wardani

 

Kata Kunci: debt to equity ratio, return on equity, KPRI Pada umumnya badan usaha memiliki tujuan untuk memperoleh laba. Demikian juga dengan koperasi sebagai salah satu bentuk badan usaha. Namun kegiatan usaha koperasi yang tidak bertujuan untuk mengejar keuntungan tersebut diharapkan dapat memperoleh keuntungan untuk berkembang di masa yang akan datang . Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan sebagai alat ukur untuk mengukur tingkat efektivitas badan usaha dalam mendapatkan laba melalui modal sendirinya. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap peroleh ROE pada KPRI di kota Malang, antara lain yaitu debt to equity ratio, debt to assets ratio, total assets turnover, working capital turnover dan equity multiplier. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui kondisi debt to equity ratio, debt to assets ratio, total assets turnover, working capital turnover dan equity multiplier dan pengaruh variabel-variabel tersebut secara parsial dan simultan terhadap ROE. Penelitian ini digolongkan dalam penelitian asosiatif kausalitas, karena penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan data dokumentasi KPRI di kota Malang tahun 2010 terdapat 81 KPRI. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 49 KPRI. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan tingkat alpha sebesar 0.05 dan menggunakan bantuan komputer program SPSS 16.0. Uji Asumsi Klasik yang digunakan yaitu, uji normalitas, multikolinieritas dan heterokedastisitas. Hasil yang didapat adalah bahwa: 1) tingkat return on equity pada KPRI di kota Malang tahun 2010 sedang, tingkat debt to equity ratio, total assets turnover dan equity multiplier rendah, tingkat debt to assets ratio sangat tinggi, dan kondisi working capital turnover sangat rendah, 2) Debt to equity ratio, debt to assets ratio, dan total assets turnover tidak berpengaruh signifikan terhadap return on equity, 3) Working capital turnover dan equity multiplier berpengaruh positif signifikan terhadap return on equity, 4) Secara Simultan debt to equity ratio, debt to assets ratio, total assets turnover, working capital turnover dan equity multiplier berpengaruh terhadap return on equity. Dari hasil penelitian ini diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat meneliti lebih jauh lagi tentang perkoperasian yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas modal sendiri dan sebaiknya meneliti faktor-faktor yang tidak diteliti dalam penelitian ini agar khasanah keilmuan lebih banyak dan menemukan hal yang baru dalam dunia perkoperasian.

Peranan misionaris Ordo Karmel dalam penyebaran Agama Katolik di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang tahun 1934-1990 serta muatan edukasinya / Dionisius Widyatmoko

 

Kata kunci : peranan, misionaris, Ordo Karmel, penyebaran agama Katolik, muatan edukasi Penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh para misionaris Ordo Karmel di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang memiliki keunikan tersendiri. Agama Katolik di Donomulyo diwarnai dengan unsur-unsur tradisi dan budaya lokal, salah satunya adalah adanya kepercayaan bahwa air yang ada di Gua Maria Sendang Purwaningsih dapat membawa berkah dan keselamatan. Gua Maria Sendang Purwaningsih yang terdapat di Kecamatan Donomulyo tersebut merupakan salah satu tempat ziarah terbesar bagi umat Katolik. Latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang peranan misionaris Ordo Karmel dalam penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang tahun 1934-1990 serta muatan edukasinya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana latar belakang penyebaran agama Katolik oleh misionaris Ordo Karmel di Kecamatan Donomulyo?, 2) bagaimana proses penyebaran agama Katolik pada masyarakat di Kecamatan Donomulyo?, 3) bagaimana peranan misionaris Ordo Karmel dalam proses penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo?, 4) bagaimana muatan edukasi yang terkandung dalam proses penyebaran agama Katolik oleh misionaris Ordo Karmel bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan latar belakang penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh misionaris Ordo Karmel di Kecamatan Donomulyo, 2) mendeskripsikan proses penyebaran agama Katolik pada masyarakat di Kecamatan Donomulyo, 3) mendeskripsikan peranan misionaris Ordo Karmel dalam proses penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo, dan 4) mendeskripsikan muatan edukasi yang terkandung dalam proses penyebaran agama Katolik . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian ini berupa paparan data tentang latar belakang, proses dan peran para misionaris Ordo Karmel dalam menyebarkan agama Katolik di Kecamatan Donomulyo serta muatan edukasi yang terdapat dalam penyebaran agama Katolik di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Metode penelitian terdiri dari 5 tahap yaitu 1) pemilihan topik 2) heuristik, 3) verifikasi, 4)interpretasi, 5) historiografi. Hasil penelitian ini adalah penyebaran agama Katolik yang dilakukan oleh para misionaris Ordo Karmel dilatarbelakangi oleh faktor geografis, kondisi sosial dan religius masyarakat Donomulyo serta ajaran agama yang mengharuskan mereka menyebarkan agama Katolik. Proses penyerbaran agama Katolik oleh para misionaris Ordo Karmel dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya dengan

Karateristik karangan argumentasi siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012 / Umroh Mahfudzoh

 

Kata Kunci: karakteristik, karangan argumentasi Karangan argumentasi merupakan jenis karangan yang ditulis untuk membuktikan atau meyakinkan kebenaran pandapat atau gagasan tentang suatu hal dengan menggunakan fakta-fakta atau data-data yang mendukung. Dalam menyusun fakta-fakta, seorang pengarang dituntut menggunakan pikiran kritisnya sehingga nantinya dapat dihasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan logis. Dalam menyusun argumentasi tidaklah lepas dari (1) keutuhan isi argumen, hal ini berkaitan dengan keutuhan atau pokok masalah yang dibahas, dan (2) kelengkapan isi argumen, yang berkaitan dengan struktur atau unsur-unsur yang ada dalam argumen. Dengan melihat hakikat bahwa argumen tidak berdiri sendiri, namun di dalamnya juga terdapat fakta dan beberapa argumen yang memperkuat argumen utama, maka dalam mengorganisasikan argumen tersebut membutuhkan pengembangan. Begitu pula dengan gaya pengungkapan argumen, pengarang dalam mengemukakan argumennya tidak akan lepas dari sebuah gaya atau style yang menjadi khas dari pengungkapannya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh deskripsi karakteristik karangan argumentasi yang ditulis siswa kelas XI SMAN 8 Malang, khususnya tentang (1) isi argumen (2) teknik pengembangan argumen, (3) gaya pengungkapan argumen, karangan argumentasi siswa kelas XI SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa tulisan atau karangan argumentasi siswa kelas XI SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012. Data penelitian ini diklasifikasikan berdasarkan aspek yang diteliti, (1) isi argumen, (2) teknik pengembangan argumen, (3) gaya pengungkapan argumen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi karangan argumentasi siswa. Instrumennya adalah peneliti sendiri dan instrumen tambahan berupa lembar petunjuk pengerjaan karangan argumentasi siswa. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan (1) triangulasi ketekunan pengamatan (2) triangulasi kepakaran yaitu konsultasi dengan dosen pembimbing karena dosen pembimbing yang bersangkutan merupakan pakar kebahasaan. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, karakteristik isi argumen karangan karangan argumentasi siswa kelas XI SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012, dari segi kesatuan isi argumen, secara keseluruhan bagian pendahuluan, tubuh, dan kesimpulan karangan argumentasi siswa kelas XI SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012 berisi satu pokok masalah atau tema di setiap karangannya. Hal ini dimungkinkan argumen-argumen yang dibangun ditujukan untuk membentuk satu tujuan atau membahas satu masalah. Adapun masalahmasalah yang dibahas dalam karangan siswa, yaitu (1) kurangnya siswa-siswi yang memanfaatkan keberadaan perpustakaan sebagai sumber belajar di sekolah, (2) kurangnya fasilitas dalam perpustakaan sebagai salah satu sebab dari surutnya minat baca pelajar, (3) perpustakaan sebagai sarana mulitifungsi, (4) perpustakaan sebagai sumber belajar, (5) adanya penggunaaan laptop di sekolah-sekolah maju, (6) manfaat dari penggunaan laptop, (6) keefektivan laptop sebagai media belajar di sekolah. Dari segi kelengkapan isi argumen karangan argumentasi, argumen yang ditulis siswa bermacam-macam. Pada bagian pendahuluan sebagian besar dari data yang didapatkan terdiri dari unsur claim atau terdiri dari satu pernyataan atau kalimat. Namun ada juga argumen yang berisi gabungan dari dua unsur. Adapun gabungan dari dua unsur tersebut, yaitu (1) unsur ground dan support, (2) claim, ground, support, dan ground. Pada pada bagian tubuh argumen berisi unsur claim, warrant, dan support. Berbeda lagi di bagian kesimpulan atau akhir karangan terdiri dari unsur (1) claim, (2) claim, support dalam paragraf karangannya. Hadirnya unsur-unsur argumen pada karangan argumentasi siswa didasarkan pada informasi atau data-data, dan pengungkapan argumen pada masing-masing siswa. Kedua, karakteristik teknik pengembangan argumen siswa bermacammacam. Pada bagian pendahuluan karangan argumentasi siswa kelas XI SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012, secara keseluruhan teknik pengembangan argumen yang dilakukan oleh siswa adalah (1) metode pengembangan definisi, (2) metode pengembangan definisi dan genus. Berbeda dengan bagain pendahuluan, pada bagian tubuh karangan argumentasi, teknik pengembangan argumen yang digunakan, yaitu (1) metode genus, (2) metode pertentangan, (3) metode sebab akibat, (4) metode definisi dan pertentangan, (5) metode sebab akibat dan genus. Pada bagian kesimpulan karangan argumentasi, metode yang digunakan pada umumnya yaitu, (1) metode sebab akibat, (2) metode genus. Metode pengembangan argumen tersebut didasarkan pada nalar masing-masing pengarang tentang tujuannya memaparkan argumennya. Ketiga, karakteristik gaya pengungkapan argumen siswa kelas XI SMAN 8 Malang tahun pelajaran 2011/2012 bermacam-macam. Gaya yang digunakan sebagian besar berdasarkan struktur kalimat/ pernyataannya, tetapi ada juga penggunaan majas dalam gaya pengungkapan argumennya. Gaya bahasa di bagian pendahuluan secara keseluruhan yang digunakan adalah gaya repetisi dan antitesis. Sedangkan di bagian tubuh argumen adalah antitesis, klimaks, dan repetisi. Berbeda lagi pada bagian kesimpulan, gaya pengungkapan argumen yang digunakan adalah klimaks, repetisi dan penggunaan majas yaitu majas persamaan atau simile. Kemungkinan yang hadir dari penggunaan gaya-gaya tersebut bahwa pengarang ingin menghadirkan kesan indah dalam tulisannya.

Karakteristik pembentukan gel berbahan dasar pati ganyong / oleh Anisa Rahmawati nisa Rahmawati

 

Pengaruh kualitas pelayanan dan harga terhadap loyalitas konsumen (studi kasus pada pengunjung taman rekreasi Sengkaling Malang) / Ari Ardianto

 

Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Harga, dan Loyalitas Konsumen Banyak perusahaan jasa yang berlomba-lomba menciptakan loyalitas konsumen. Hal ini merupakan akibat dari konsumen yang dalam memilih tempat wisata didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti harga, mutu yang tinggi dan kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan jasa. Di Malang terdapat banyak perusahaan jasa yang bergerak dibidang jasa wisata. Setelah tempat wisata yang berkualitas, kualitas pelayanan dan harga merupakan suatu hal yang penting untuk menciptakan loyalitas konsumen. Kualitas pelayanan meliputi berbagai sub variabel antara lain: bukti fisik (tangible), keandalan (reliablility), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy). Harga juga berperan penting dalam menciptakan loyalitas konsumen, melalui strategi penetapan harga yang tepat diharapkan konsumen akan merasa puas dan dapat menciptakan loyalitas bagi perusahaan itu sendiri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: (1) pengaruh antara variabel kualitas pelayanan dan harga secara deskriptif terhadap loyalitas konsumen di Taman Rekreasi Sengkaling Malang, (2) pengaruh langsung yang signifikan secara parsial dan simultan antara kualitas pelayanan terhadap loyalitas konsumen di taman Rekreasi Sengkaling Malang, (3) pengaruh langsung yang signifikan antara harga terhadap loyalitas konsumen di Taman Rekreasi Sengkaling Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan menggunakan instrumen berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis regresi berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengunjung Taman Rekreasi Sengkaling Malang bulan Juni sampai Juli 2011. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel sebesar 100 responden. Sebelum melakukan penelitian, dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas untuk instrumen penelitian melalui try out yang disebarkan ke 30 responden Taman Rekreasi Sengkaling Malang. Hasil try out yang pertama tidak memenuhi validitas dan reliabilitas dikarenakan ada beberapa pertanyaan yang tidak di isi oleh responden sehingga perlu dilakukan try out yang kedua. Hasil try out yang kedua menunjukkan instrumen penelitian memenuhi uji validitas dan uji reliabilitas sehingga dapat dimasukkan dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Uji Asumsi Klasik; (1) Uji Normalitas, dapat diketahui dalam model penelitian ini memenuhi asumsi normalitas, (2) Uji Multikolinieritas, variabel kualitas pelayanan (bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati) dan variabel harga menunjukkan tidak terjadi multikolinieritas, (3) Uji Heteroskedasitas, disimpulkan tidak terjadi Heteroskedasitas pada penelitian ini. Selanjutnya dalam analisis regresi berganda menunjukkan terdapat pengaruh antara variabel kualitas pelayanan (X1) yang terdiri dari bukti langsung (X1.1), keandalan (X1.2), daya tanggap (X1.3), jaminan (X1.4), dan empati (X1.5), serta harga (X2) secara parsial dan simultan terhadap loyalitas konsumen di Taman rekreasi Sengkaling Malang. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa; (1) dimensi kualitas pelayanan (X1) yang terdiri dari: bukti langsung (X1.1), keandalan (X1.2), daya tanggap (X1.3), jaminan (X1.4), dan empati (X1.5) serta variabel harga (X2) secara deskriptif, parsial, dan simultan mempunyai pengaruh terhadap loyalitas konsumen di Taman rekreasi Sengkaling Malang. Oleh karena itu perlu disarankan kepada manajemen Taman Rekreasi Sengkaling Malang untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan dalam melayani pengunjung yang datang dan penetapan harga tiket masuk kepada pengunjung agar sesuai dengan posisi Taman Rekreasi Sengkaling Malang sebagai tempat wisata keluarga. Taman Rekreasi Sengkaling Malang juga perlu menambah wisata hiburan yang lebih banyak tiap tahunnya karena hal ini bertujuan untuk mengurangi kejenuhan dan lebih meningkatkan loyalitas pengunjungnya.

Dari Beatrix Park-Taman Indrakila (studi taman kota di Malang 1931-1990) / Fara karlina

 

Kata Kunci: perubahan fungsi, taman indrakila, Malang Taman Indrakila merupakan salah satu rencana pembangunan infrastruktur dan pengembangan tata kota setelah Malang menjadi kotapraja pada 1 April 1914. Namun seiring dengan meningkatnya taraf hidup manusia maka keinginan manusia terlalu mengarah kepada ekonomi jangka pendek, sejak tahun 1960-an hutan dan taman sebagai peninggalan sebelumnya banyak dialihfungsikan menjadi pemukiman, kawasan industri, perdagangan dan lain-lain. Salah satu taman di Malang yang telah beralih fungsi tersebut adalah Taman Indrakila. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Mengapa terjadi perubahan fungsi taman Indrakila di kota malang pada kurun waktu 1931-1990?, (2) Bagaimana dampak perubahan fungsi taman Indrakila terhadap lingkungan sosial sekitar?. Dari rumusan masalah yang ada, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan perubahan fungsi taman di kota malang pada kurun waktu 1931-1990 dan untuk mengetahui bagaimana dampak perubahan fungsi taman Indrakila terhadap lingkungan sosial sekitar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan lima tahap yaitu: (1) pemilihan topik, (2) heuristik, (3) verifikasi, (4) interpretasi, (5) historiografi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan sarana dan prasarana di kota Malang pada masa Hindia Belanda tidak terlepas dari keinginan orang-orang Belanda yang menginginkan keadaan kota yang ditempati tidak jauh berbeda dari negeri Belanda. Perencanaan kota yang direncanakan Ir. Herman Thomas Karsten dalam bouwplan membuat kota Malang menjadi lebih tertata rapi, menambah keindahan kota terutama dengan adanya ruang terbuka dan juga taman kota. Taman kota sendiri memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai keindahan, tempat penampungan air, berbagai aktivitas sosial seperti tempat berkumpul dan tempat bermain. Salah satu Taman yang dibangun pada masa Hindia Belanda yaitu Beatrix Park yang berada di areal bergenbuurt (jalan gunung-gunung) dan masuk dalam perencanaan kota (bouwplan) yang kelima. Pada masa penjajahan Jepang taman ini berubah nama menjadi Tanaka Park. Setelah masa kemerdekaan Republik Indonesia (RI) taman ini berubah nama menjadi Taman Indrakila. Tepatnya pada tahun 1952 pemerintah kota Malang berencana merubah Taman Indrakila menjadi sebuah taman hiburan dengan beberapa fasilitas penunjang. Sekitar awal tahun 1970-an, air yang berada di kolam taman ini mulai mengering dan tidak ada penjelasan sebab air di taman tersebut mengering hingga akhirnya sekitar akhir tahun 1970-an mulai digunakan sebagai expo dan pameran. Seiring dengan perkembangan kota, ada beberapa gedung atau tempat yang menurut pemerintah kota Malang perlu dipertimbangkan untuk perombakannya. Salah satunya adalah taman Indrakila. Tempat ini menurut pemerintah dinilai sudah tidak menguntungkan dan tidak bermanfaat bagi ii masyarakat. Dan rencananya akan di ruislag (tukar bangun) dengan kompensasinya adalah dibangunnya beberapa tempat di Malang. Perubahan Taman Indrakila menjadi sebuah perumahan setidaknya membawa dampak bagi kota Malang seperti dampak ekonomi, dampak ekologi dan dampak sosial baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pendidikan lingkungan memang sangat minim, seiring dengan perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi yang sangat pesat menyebabkan kemajuan di segala bidang, dan sekaligus kadang menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Oleh karena itu perlu adanya program pendidikan lingkungan, sosialiasi sadar lingkungan dan peduli lingkungan.

Pengaruh model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas VII SMP Darusalam Baureno Bojonegoro pada mata pelajaran fisika / Nurul Afia Zuhairini

 

Kata kunci: model pembelajaran Numbered Head Together (NHT), motivasi, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMP Darussalam Baureno Bojonegoro, ditemukan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa pada pelajaran fisika masih rendah. Motivasi belajar rendah ditandai dengan saat proses pembelajaran berlangsung beberapa siswa tampak kurang memperhatikan dan ribut sendiri terutama siswa yang duduk di belakang. Ketika diberikan tugas, ada yang mengerjakan, mengerjakan tetapi belum selesai, dan ada yang tidak mengerjakan. Hasil belajar yang rendah ditunjukkan dengan nilai rata-rata ujian tengah semester gasal siswa. Nilai-nilai tersebut adalah sebesar 54,82 untuk kelas VIIA, 54,38 untuk kelas VIIB, dan 58,38 untuk kelas VIIC. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan terhadap pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran baru dengan harapan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika siswa. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah mencobakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Rancangan penelitiannya adalah eksperimen semu dan desain penelitian yang digunakan adalah posttest only control group design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Darussalam Baureno Bojonegoro yang terdiri dari tiga kelas sebagai populasi penelitian, sedangkan sampelnya adalah kelas VIIB sebagai kelas eksperimen dan VIIA sebagai kelas pembanding. Setiap kelas yang menjadi subjek penelitian terdiri dari 39 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan berupa RPP dan instrumen pengukuran berupa lembar angket motivasi dan instrumen tes. Berdasarkan hasil analisis terhadap motivasi belajar dengan uji t, diperoleh nilai t = 4.39 yang lebih besar dari 􀝐􀯧􀯔􀯕􀯘=􀯟1.693sehingga H1 diterima atau H0 ditolak. Diterimanya H1 ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa yang diajar dengan menyisipkan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) lebih tinggi daripada motivasi belajar siswa yang diajar tanpa model pembelajaran Numbered Head Together (NHT). Hasil analisis terhadap hasil belajar dilakukan dengan uji U Mann-Whitney, diperoleh nilai z sebesar −0.599 yang lebih kecil dari nilai kritis z yaitu 1.645 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak. Diterimanya H0 ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan menyisipkan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan siswa yang diajar tanpa model pembelajaran Numbered Head Together (NHT).

Analisis geguritan karya siswa kelas VIII Negeri 1 karangploso / Tiwuk Shintia Dewi

 

Kata Kunci: analisis geguritan karya siswa, pengembangan tema, penggunaan diksi, dan penggunaan rima. Menulis geguritan adalah salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa kelas VIII SMP. Tema, diksi, dan rima adalah unsur pembangun geguritan yang harus diperhatikan oleh siswa saat menulis geguritan. Menulis geguritan bukanlah hal yang mudah. Menulis geguritan memerlukan keterampilan khusus karena diperlukan latihan yang berkelanjutan dan terus menerus. Penulisan geguritan yang baik akan didapatkan lewat proses penulisan geguritan yang tepat. Di dalam proses tersebut, akan tampak kendala yang dapat menghambat penciptaan sebuah geguritan. Salah satu kendala tersebut adalah siswa selalu mengalami kesulitan melahirkan dan mengembangkan ide dalam bentuk geguritan. Untuk memperoleh deskripsi tersebut, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Karangploso dengan subjek penelitian siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Karangploso. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan bantuan instrumen pendukung berupa geguritan karya siswa dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengembangan tema, siswa lebih banyak menggunakan tema lingkungan yang menggunakan objek bunga dan binatang. Tema lingkungan yang menggunakan objek keindahan taman bunga hanya digunakan oleh beberapa siswa saja. Siswa kesulitan mengembangkan tema karena yang tampak pada geguritan karya siswa hanya penggambaran tentang fisik bunga dan binatang. Pada penggunaan diksi, siswa lebih banyak menggunakan diksi bermakna denotasi daripada konotasi. Diksi-diksi yang muncul pada geguritan karya siswa adalah diksi bermakna denotasi tentang keindahan bunga, kekuatan binatang, dan keindahan taman bunga. Diksi bermakna konotasi hanya digunakan oleh beberapa siswa saja. Diksi-diksi bermakna konotasi yang muncul pada geguritan karya siswa hanya satu jenis yaitu diksi yang menunjukkan bunga sebagai lambang penyemangat jiwa. Sedangkan pada penggunaan rima, siswa lebih banyak menggunakan rima di akhir baris daripada menggunakan jenis rima yang lain. Rima di akhir baris yang ii muncul pada puisi siswa ada dua jenis. Kedua jenis itu adalah rima di akhir baris dengan persamaan bunyi vokal dan persamaan suku kata. Rima di tengah dan di awal baris hanya ditemui pada sedikit geguritan karya siswa. Rima di tengah baris geguritan yang digunakan oleh siswa ada satu jenis yaitu rima di tengah baris dengan pengulangan kata. Rima di awal baris geguritan digunakan oleh siswa hanya ada satu jenis yaitu rima di awal baris dengan pengulangan kata. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk melakukan beberapa hal berikut. Pertama, guru mengajak siswa untuk membaca dan mendiskusikan geguritan yang bermutu, misalnya kaya akan tema, penggunaan diksi dan rima. Kedua, guru hendaknya mengajarkan pendalaman penguasaan kosa kata, baik yang bermakna denotasi atau yang bermakna konotasi. Ketiga, guru hendaknya member pelajaran pada siswa untuk mendeskripsikan keadaan untuk proses penguasaan kosa kata atau dasanama dalam bahasa Indonesia dengan persamaan bunyi. Keempat, guru bisa mendorong siswa untuk mengikuti lomba menulis geguritan dan mengadakan pameran karya geguritan.

Penggunaan media fragmen pada kompetensi membuat busana pria di SMK Negeri 1 Turen / Rifda Hinda Wati

 

Kata kunci: Studi Penggunaan, Fragmen Media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan. Dalam proses pembelajaran yang menggunakan media apabila dapat digunakan dengan baik dan benar maka akan berdampak positif kepada siswa. Fragmen adalah pecahan, penggalan sedikit-sedikit, memotong, menjadi kepingan. Fragmen yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah fragmen busana pada kompetensi membuat busana pria. Fungsi dari media itu sendiri adalah sebagai penyampai pesan kepada siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana media fragmen tersebut digunakan dengan baik oleh guru pengajar kompetensi membuat busana pria di SMK Negeri I Turen. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) persiapan guru dalam menggunakan media fragmen (2) pelaksanaan guru dalam menggunakan media fragmen. Penelitian ini menggunakan metode angket atau kuesioner sebagai alat pengumpul data. Pengambilan sampel yang digunakan adalah semua guru busana yang sedang mengajar kompetensi membuat busana pria di SMK Negeri I Turen yang berjumlah 3 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum persiapan yang dilakukan guru dalam proses PBM dengan menggunakan media fragmen sudah digunakan dengan sangat baik, hal ini ditunjukkan dengan adanya 5 pertanyaan dari 3 guru hanya ada 1 item guru menggunakan media digunakan dengan baik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa guru mempersiapkan media fragmen untuk kegiatan belajar mengajar, sehingga materi dapat terselesaikan sesuai dengan yang diiginkan. Dari pelaksanaan penggunaan media fragmen ada 26 item guru melaksanakan menggunakan media fragmen dalam proses belajar mengajar, akan tetapi ada beberapa hal yang dirasa kurang sesuai yaitu ada 4 item dimana guru tidak menggunakan media dengan baik. Jumlah terbatasnya media fragmen yang digunakan untuk siswa dengan jumlah siswa 35 orang, sebaiknya guru menggunakan media disesuiakan dengan jumlah kelompok belajar siswa. Sehingga untuk pelaksanaan dapat dikategorikan media digunakan dengan baik di SMK Negeri I Turen.

Penerapan latihan tata bahasa Jerman dengan menggunakan teknik EGRA (Exposure, Generalization, Reinforcemen, Application) pada siswa kelas X-MM 3 SMK Negeri 11Malang / Dewi Aisah

 

Kata Kunci: teknik EGRA, tata bahasa bahasa Jerman Dalam pembelajaran bahasa Jerman terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Untuk dapat menguasai empat keterampilan berbahasa tersebut, maka penguasaan tata bahasa bahasa Jerman sangat diperlukan. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran tata bahasa harus diintegrasikan ke dalam empat keterampilan bahasa tersebut atau minimal integrasi dari 2 keterampilan berbahasa (mendengar – berbicara atau membaca - menulis, dsb). Pada pembelajaran bahasa Jerman di SMK Negeri 11 Malang, banyak siswa yang mengalami kesulitan terutama dalam memahami materi pembelajaran tata bahasa bahasa Jerman. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik EGRA sebagai teknik pembelajaran untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan latihan tata bahasa bahasa Jerman dengan menggunakan teknik EGRA. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-MM 3 SMK Negeri 11 Malang yang berjumlah 39 orang. Data yang dikumpulkan adalah data proses kegiatan pembelajaran dan data hasil kuesioner siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan angket. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik dan triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik EGRA merupakan metode pembelajaran yang efektif digunakan dalam pembelajaran tata bahasa bahasa Jerman. Siswa mampu menemukan sendiri kaidah tata bahasa Jerman dari contoh-contoh yang diberikan sebelumnya dan menggunakannya dalam kegiatan komunikatif. Penerapan metode ini membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Sebagian besar siswa berpendapat bahwa metode ini dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran bahasa Jerman. Oleh karena itu, disarankan pada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menggunakan teknik EGRA sebagai alternatif dalam pembelajaran latihan tata bahasa bahasa Jerman

Pengembangan multimedia pembelajaran berbasis komputer untuk mata pelajaran melakukan persiapan pengolahan di SMK Kartika Malang / Zuan Efendi

 

Kata kunci : pengembangan, multimedia, pembelajaran, berbasis komputer Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, mempengaruhi bidang-bidang yang lain, termasuk pendidikan. Saat ini integrasi komputer dengan pembelajaran menjadi sangat penting. Kolaborasi keduanya dapat mengatasi permasalahan siswa saat belajar. Selama ini kebanyakan siswa beralasan mereka malas belajar karena terlalu jenuh atau bingung dengan metode apa mereka harus belajar. Komputer dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif maupun kolaboratif dalam sebuah proses belajar mengajar. Hadirnya berbagai media memungkinkan pembelajaran disampaikan secara interaktif melalui dukungan visualisasi gambar atau animasi yang memberikan pengalaman baru bagi siswa. Melakukan Persiapan Pengolahan (MPP) merupakan salah satu standar kompetensi yang ada di SMK jurusan Jasa Boga. Mata Pelajaran Melakukan Persiapan Pengolahan (MPP) bersifat praktik seperti potongan sayuran, garnish, metode memasak, dan lipatan daun. Dalam proses pembelajaran MPP menjadi tidak efektif dan efisien apabila hanya dilakukan dengan metode ceramah dan berbasis modul. Pengembangan multimedia pembelajaran berbasis komputer pada materi-materi tersebut diharapkan siswa dapat lebih termotivasi dalam belajar dan membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang telah disampaikan, sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengembangkan multimedia pembelajaran berbasis komputer untuk Mata Pelajaran Melakukan Persiapan Pengolahan di SMK Kartika Malang. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan multimedia pembelajaran berbasis komputer untuk Mata Pelajaran Melakukan Persiapan Pengolahan menggunakan model pengembangan milik Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk mempermudah analisis hasil. Tahap pengembangan yaitu : (1) Analisis kebutuhan , (2) Pengembangan multimedia pembelajaran, (3) Pengembangan produk, (4) Uji kelayakan, (5) Revisi, dan (6) Produk akhir. Uji coba produk dilakukan kepada subjek uji coba yang meliputi tim ahli media, ahli materi, audien yang terdiri dari pelajar SMK. Instrumen angket ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang: (1) Penilaian ahli materi, (2) Penilaian ahli media, (3) Penilaian pengguna/peserta didik. Teknik analisis data yang digunakan dalam menganalisis data kuantitatif berupa skor angket penilaian dengan menghitung persentase jawaban. Diperoleh Validasi dari ahli materi dengan nilai rata-rata persentase sebesar 87,5%, ahli media diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 81,67% dan uji coba lapangan terbatas diperoleh nilai rata-rata persentase sebesar 80%, sehingga diperoleh nilai rata-rata persentase keseluruhan sebesar 80% dan disimpulkan bahwa pengembangan multimedia pembelajaran berbasis komputer untuk Mata Pelajaran Melakukan Persiapan Pengolahan dinyatakan valid dan tidak perlu direvisi.

Analisis deskripsi potensi ekonomi Kabupaten Malang (kajian produk domestik regional bruto tahun 2005-2009) / Erry Gugy Adyatmadja

 

Kata Kunci : Pembangunan ekonomi, Pertumbuhan ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu indikator evaluasi terhadap hasil pembangunan di Kabupaten Malang dari sisi makro ekonomi. Dengan pendekatan analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share (SS), kita dapat mengetahui pertumbuhan hasil pembangunan di Kabupaten Malang dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, sesuai dengan potensi ekonomi Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan sektor basis sebagai indikator pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang. Penentuan sektor potensial dilihat dari sektor basis, pertumbuhan tiap sektor dari tahun ke tahun, serta kemampuan daya saing tiap sektor ekonomi Kabupaten Malang terhadap wilayah yang tingkatannya lebih tinggi yakni Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Data penelitian berupa data sekunder Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Malang dan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jawa Timur. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dengan jenis data time series, dalam kurun waktu lima tahun yaitu pada tahun 2005-2009. Analisis data penilitian ini menggunakan analisis Location Quotient (LQ) dan analisis Shift Share (SS). Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Kabupaten Malang memiliki tiga sektor basis dilihat dari analisis LQ rata-rata yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor jasa-jasa. Dimana sektor penggalian dan sektor jasa-jasa di Kabupaten Malang mempunyai peluang untuk lebih dikembangkan. Kedua, Kabupaten Malang memiliki empat sektor potensial dilihat dari analisis SS rata-rata, yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, dan sektor jasa-jasa. Akan tetapi perbedaan terletak pada dua golongan, yaitu golongan pertama adalah sektor pertanian dan industri pengolahan sebagai sektor yang pertumbuhannya lambat tetapi memiliki kemampuan berdaya saing, dan golongan kedua adalah sektor penggalian dan sektor jasa-jasa sebagai sektor yang pertumbuhannya cepat tetapi kurang memiliki kemampuan berdaya saing. Saran yang diperoleh dari penelitian ini adalah peningkatan perhatian pemerintah dan peranan pihak swasta akan menjadi faktor penting untuk lebih meningkatkan pertumbuhan dan kontribusi sektor potensial terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Malang yang berpeluang untuk dikembangkan di tahun berikutnya.

Penerapan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari Malang / Eva Agustine Yusnita Sari

 

Kata Kunci: Pendekatan kontekstual, aktivitas belajar, hasil belajar, mata pelajaran IPA Permasalahan yang terkait dengan hasil belajar terutama pada mata pelajaran IPA terjadi karena beberapa faktor yaitu minimnya aktivitas siswa. Berdasarkan observasi pendahuluan pada mata pelajaran IPA yang dilakukan peneliti terhadap guru dan siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 menunjukkan bahwa rata-rata kelas baru mencapai 63,3 dan siswa yang nilainya memenuhi Standar Ketuntasan Minimal (SKM) sebanyak 12 dari 33 siswa atau 36,4%. Pencapaian prestasi siswa pada mata pelajaran IPA di bawah SKM yaitu 70. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA, aktivitas siswa selama diterapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual, dan hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa. Dengan diterapkannya pendekatan kontekstual peran siswa lebih lebih dominan daripada peran guru dalam pembelajaran. Dengan 7 komponen yaitu constructivism, inquiry, questioning, learning community, modelling, reflection, authentic assessment. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 33 siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari Malang. Hasil penelitian dengan penerapan pendekatan kontekstual menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa kelas IV meningkat ditandai dengan aspek-aspek yang diamati (construktivism, inquiry, questioning, dan authentic assesment) dari siklus I sebesar 70,9 pada siklus II meningkat menjadi 83,5. Selain itu, peningkatan hasil belajar siswa sebelum penerapan pendekatan kontekstual yang hanya mencapai rata-rata 63,3 dengan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan individu sebanyak 12 siswa. Pada siklus I hasil belajar siswa diperoleh rata-rata sebesar 70,9 sebanyak 19 siswa (57,6%) sudah memenuhi ketuntasan. Kemudian meningkat lagi pada siklus II rata-rata siklus II rata-rata menjadi 83,5 sebanyak 29 (87,9%) siswa sudah memenuhi SKM. Apabila seorang peneliti lain ingin menerapkan model ini, diharapkan bisa memperhatikan hal-hal atau kendala yang mempengaruhi pembelajaran tersebut agar penerapan pendekatan kontekstual dapat berjalan secara optimal

Penerapan metode Ekstempore untuk meningkatkan kemampuan berpidato siswa Kelas IX-A SMP Negeri 3 Tulungagung tahun pelajara 2010/2011 / Vidya Ayu Primanda.

 

Berpidato merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran secara lisan dihadapan orang banyak. Pidato dapat dilakukan oleh siapa saja. Oleh karena itu, orang yang akan berpidato harus dapat menyesuaikan isi pidato dengan peristiwa dan berperan sebagai apa orang tersebut berpidato. Selama ini cara-cara pembelajaran yang diajarkan di sekolah Menengah Pertama umumnya masih menggunkan metode teks atau naskah. Siswa hanya membaca naskah pidato. Cara – cara berpidato seperti ini, akan menghambat kreatifitas siswa untuk mengembangkan idea tau pikirannya. Dalam pidato terpancang pada teks atau naskah yang dipenggangnya, selain itu siswa akan cenderung menghafalkan naskah tersebut. Keadaan seperti ini dialamai para siswa kelas IX SMPN 3 Tulungagung dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek kemampuan berbicara yaitu berpidato. Siswa hanya membaca naskah pidato tersebut, sehingga tanpa naskah siswa akan merasa kesulitan dan tidak lancar dalam berpidato. Berkaitan dengan permasalahan tersebut di atas guru berusaha menerpakan metode ekstempore dalam pembelajaran berpidato. Pada metode ekstempore ini dalam berpidato pembicara membawa catatan- catatan penting yang sekaligus menjadi urutan dalam uruiannya. Dengan menerapkan metode ini diharapan siswa akan dapat mengungkapkan idea tau pikirannya dalam berpidato tanpa terpancang naskah, sehingga kemampuan berpidato meningakat. Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan bahasa. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan produktif, karena dalam perwujudannya keterampilan berbicara menghasilkan berbagai gagasan yang dapat digunakan untuk kegiatan berbahasa ( berkomunikasi ), yakni dalam bentuk lisan dan keterampilan menulis sebagai keterampilan produktif dalam bentuk tulis. Dua keterampilan lain ( menyimak dan membaca ) merupakan keterampilan reseptif atau keterampilan yang tertuju pada pemahaman. Siswa membutuhkan keterampilan dalam interaksi sosialnya. Siswa akan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara efektif jika ia terampil berbicara. Dalam kaitan kreatifitas, keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang perlu mendapat perhatian karena gagasan-gagasan kreatif dapat dihasilkan melalui keterampilan. Kemampuan berbicara siswa juga dipengarui oleh kemampuan komunikatif. Kemampuan komunikatif adalah pengetahuan mengenai bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa terasebut, dan kemapuan untuk menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa. Kemampuan komunikasi adalah kemampuan bertutur dan menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat yang sebenarnya. Kompetensi komunikatif juga berhubungan dengan kemampuan sosial dan menginterprestasikan bentuk-bentuk linguistik. Para siswa tentu sudah memiliki pengetahuan sebagai modal dasar dalam bertutur karena ia berada dalam satu lingkungan sosial yang menuntutnya untuk paham kode-kode bahasa yang digunakan masyarakat. Dalam kaitanya dengan keterampilan berbicara, berikut ada ilustrasi. Ketika kita mendengar kata “ berbicara “ , pikiran kita tertuju pada kegiatan “ berpidato “. Padahal, berpidato hanya merupakan salah satu bagian dari keterampilan berbicara. Tampaknya,dalam mengahapi era globalisasi saat ini keterampilan berbicara tersebut untuk berbagai bidang kehidupan misalnya, berwawancara, berdiskusi, bermain peran, bernegeoisasi, berpendapat dan bertanya sehingga pembelajaran bahasa yang dilaksanakan dapat memenuhi tuntutan zaman, terutama dalam hal pembelajaran berbicara.

Profil usaha Distro (Distribution Store) di Kecamatan Lowokwaru kota Malang / Jora Nilam Judge.

 

Kata Kunci: Profil, Distro Distro (Distribution Store) merupakan usaha busana yang memiliki karakter atau konsep unik yang digemari kawula muda. Distro merupakan singkatan dari distribution store atau distribution outlet, adalah jenis toko yang menjual pakaian, aksesoris dan lain-lain yang dititipkan oleh para pembuat pakaian, atau diproduksi sendiri oleh distro tersebut. Distro pada umumnya merupakan industri kecil dan menengah (IKM) yang bergerak dibidang sandang dengan merk independen yang dikembangkan kalangan muda. Produk yang dihasilkan oleh distro diusahakan untuk tidak diproduksi secara massal, agar mempertahankan sifat eksklusif suatu produk. Populasi penelitian ini adalah Owner Distro yang berada dikecamatan Lowokwaru kota Malang, yang terdiri dari 20 distro yang tersebar di kecamatan Lowokwaru kota Malang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Total Sampling (sensus), sehingga sampelnya berjumlah 20 pengusaha distro. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu Profil usaha distro. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan rumus kolerasi product moment, sedangkan untuk uji reliabilitas menggunakan rumus crobanch alpha dengan bantuan SPSS 19.0 setelah hasil dinyatakan valid dan reliabel, angket dibagikan pada sampel sebenarnya, kemudian menentukan rentang skornya, menentukan panjang kelas interval, menentukan banyaknya persentase dan dari hasil setiap persentase tersebut di deskripsikan. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa persentase tertinggi pada sub variabel konsep usaha distro adalah produk, sedangkan untuk sub variabel manajemen usaha distro, frekuensi tertinggi terletak pada manajemen personalia. Dari semua hasil penelitian persentase terendah terletak pada modal yaitu tentang tidak setujunya bahwa modal usaha distro diperoleh dari modal bersama. Memulai suatu usaha distro diperlukan kreatifitas yang tinggi serta kepekaan gaya trend busana bagi kawula muda, dalam mendirikan suatu usaha distro perlu adanya konsep awal yang inovatif, unik dan berkarakter. Distro merupakan ajang belanja bagi kawula muda yang ingin menciptakan trend mereka dengan gaya independen dan eksklusif, banyak faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam membuka usaha distro, yaitu mulai dari konsep hingga pengelolaan usaha. Ditinjau dari segi konsep, faktor utama dalam mendirikan distro adalah penentuan konsep produk seperti apa yang nantinya akan dipasarkan. Ditinjau dari manajemen usaha, manajemen personalia memiliki peran penting pula dalam keberlangsungan usaha. Selain itu perlu diperhatikan pula modal untuk membuka usaha distro, modal yang diperoleh hendaknya modal individu bukan dari modal bersama guna kelancaran usaha dalam jangka panjang. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah 1)Bagi calon pengusaha distro sebaiknya memulai usaha mereka dengan modal pribadi, apabila modal belum mencukupi untuk membuka toko maka dapat dimulai dengan memproduksi sendiri dengan jumlah terbatas dan mendistribusikannya dengan cara door to door. Selain itu perlu adanya kreatifitas yang selalu up date dan continue dalam menciptakan trend-trend busana agar para konsumen menjadikan toko anda sebagai tempat pilihan berbelanja. Jangan pernah melenceng dari konsep awal serta memproduksi produk yang eksklusif. 2) Bagi distro kampus, lokasi yang strategis hendaknya menjadi pertimbangan dalam membuka usaha, sebaiknya lokasi distro berada diluar kampus untuk mencapai target pasar dan keberlangsungan usaha kedepannya. 3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk menambah variabel penelitian yang lebih variatif, sehingga dapat meneliti lebih dalam dan lebih luas tentang suatu usaha distro.

Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan mutu pembelajaran membaca dan meningkatkan mutu pembelajaran membaca dan menulis paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari / Shinta Dwi Ayuna Adiesti

 

Kata kunci: Model CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), Membaca, Menulis, Paragraf, SD. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi aktif dengan benar baik secara lisan maupun tulis. Tetapi kenyataan yang terjadi di SDN Tamanharjo 1 Singosari, siswa cenderung pasif dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar mereka, khususnya tentang membaca dan menulis paragraf. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran bahasa Indonesia masih bersifat konvensinal dan didominasi oleh guru. Siswa kurang dilibatkan dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut coba diatasi dengan model pembelajaran CIRC yang sesuai untuk mengatasi permasalahan siswa dalam membaca dan menulis paragraf. Kegiatan belajarnya berkelompok dalam menemukan ide pokok paragraf. Semua siswa dalam kelompok aktif karena memiliki tugas yang jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:1) Penerapan model pembelajaran CIRC pada pelajaran membaca dan menulis paragraf siswa kelas IV materi ide pokok paragraf; 2) Peningkatan kemampuan membaca paragraf dan menemukan ide pokok siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari; dan 3) Peningkatan kemampuan menulis paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari. Rancangan penelitian berupa penelitian tindakan kelas. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dan perencana tindakan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tamanharjo 1 Singosari dengan subjek siswa kelas IV jumlah 33 siswa. Data yang dikumpulkan berupa penerapan aktivitas mengajar guru menggunakan model CIRC, kemampuan siswa membaca dan menemukan ide pokok paragraf, kemampuan siswa dalam menulis paragraf. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Data yang dianalisis berupa data tentang penerapan guru dalam mengajar menggunakan model CIRC, kemampuan siswa dalam membaca dan menemukan ide pokok, kemampuan siswa dalam menulis paragraf . Prosedur penelitian dilaksanakan menggunakan model siklus Kemmis dan Taggart. Hasil penelitian setelah menggunakan model pembelajaran CIRC kemampuan siswa menemukan ide pokok paragraf siklus I rata-rata kelas 75 siklus II 82,87. Sedangkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf siklus I rata-rata kelas 65,33, siklus II 77,96. Hal tersebut menunjukkan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan menulis paragraf. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:1) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat dilaksanakan dengan baik sesuai rencana pembelajaran; 2) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari; 3) Penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf siswa kelas IV SDN Tamanharjo 1 Singosari. Saran peneliti ditujukan pada: 1) bagi siswa, agar dapat mengembangkan ketrampilan menulis khusunya kemampuan menulis paragraf berdasarkan ide pokok yang ditemukan dengan bahasa sendiri; 2) bagi guru, agar menerapkan model pembelajaran CIRC dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada matei lain; 3) bagi peneliti lain, mencoba model ini dengan materi lain dan dapat mengembangkan penelitian ini lebih baik lagi.

Pembuatan modul pengujian karakteristik pengaturan generator AC satu fasa / Lutfi Riyadus Sholihin.

 

Kata kunci: modul, generator AC satu fasa, karakteristik luar dan pengaturan Generator merupakan mesin yang digunakan untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Berdasarkan jumlah fasanya dibedakan menjadi dua yaitu: 1) generator satu fasa dan 2) generator tiga fasa. Generator mempunyai beberapa karakteristik diantaranya: a) karakteristik luar dan b) karakteristik pengaturan. Karakteristik generator bermanfaat untuk mengetahui keterkaitan antara arus dan tegangan pada suatu pembangkit tenaga listrik. Untuk menambah ketrampilan yang dimiliki mahasiswa program D-3 Teknik Elektro dalam bidang pembangkitan tenaga listrik dan mesin-mesin listrik perlu mengadakan suatu pengujian. Pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang khususnya D3 Teknik Elektro perlu melakukan pengujian generator AC satu fasa tersebut. Hal ini dikarenakan pada salah satu program study perkuliahan yaitu Mesin Listrik 2 yang membahas tentang generator. Mahasiswa dituntut untuk memahami dan mampu menguasai teori-teori yang diberikan selama perkuliahan. Salah satu kajian teorinya yaitu pengujian karakteristik pengaturan generator AC satu fasa. Karena selain dapat menambah ilmu tentang generator juga dapat menambah ilmu praktikum tentang generator AC satu fasa. Dalam pembuatan modul pengujian karakteristik pengaturan generator alat-alat yang dibutuhkan antara lain: jala-jala listrik, inverter, catu daya DC, motor AC tiga fasa, beban (tahanan air), dan peralatan lainya. Pengujian karakteristik pengaturan generator dibagi menjadi dua pengujian yaitu: (1) pengujian karakteristik luar dan (2) pengujian karakteristik pengaturan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian karakteristik luar adalah sebagai berikut: (a) tegangan jepit berubah hal ini dikarenakan perubahan arus pada beban, (b) arus pada beban berubah-ubah berdasarkan pengaturan pada tahanan air , (c) arus penguatan medan tetap, (d) faktor daya tetap, dan (e) putaran generator konstan. Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian karakteristik pengaturan adalah sebagai berikut: (a) tegangan jepit dipertahankan tetap dengan mengubah nilai arus penguatan medan, (b) arus pada beban berubah-ubah berdasarkan pengaturan pada tahanan air, (c) arus penguatan medan berubah-ubah untuk mengatur nilai tegangan jepit agar tetap konstan, (d) faktor daya tetap, dan (e) putaran generator konstan. Dari hasil pengujian yang dilakukan berdasarkan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pada karakteristik luar generator semakin besar nilai arus beban 〖(I〗_L) yang dihasilkan semakin kecil nilai tegangan jepit (E_k ) yang dihasilkan hal ini dikarenakan terjadi rugi-rugi impedansi dan terdapat flux bocor pada generator. Sedangkan pada karakteristik pengaturan semakin besar nilai arus beban (I_L) yang diberikan maka semakin besar pula nilai arus penguatan medan (I_m) hal ini dikarenakan untuk mempertahankan nilai tegangan jepit (E_k ) agar tetap konstan.

Optimasi fermentasi Hidrolisat Enzimatis ampas tebu dalam produksi Bioetanol menggunakan Khamir saccharomyces cerevisiae / Farina Dwi Rahmawati

 

Kata kunci: bioetanol, hidrolisis, Saccharomyces cerevisiae, dan fermentasi. Bioetanol merupakan salah satu sumber bahan bakar yang dapat diperbarui. Bioetanol dapat dibuat dari bahan yang mengandung selulosa seperti ampas tebu. Selulosa dari ampas tebu dihidrolisis menjadi glukosa. Glukosa yang dihasilkan dari hidrolisis ampas tebu secara enzimatis diubah menjadi bioetanol melalui tahap fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) komposisi dan waktu fermentasi hasil hidrolisat enzimatis ampas tebu dengan biakan khamir Saccharomyces cereviciae, (2) rendemen bioetanol yang dihasilkan pada waktu optimum masing-masing komposisi Saccharomyces cerevisiae, dan (3) karakteristik bioetanol yang dihasilkan dari fermentasi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA UM antara bulan Maret hingga Juni tahun 2010. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (1) perlakuan awal limbah ampas tebu, (2) produksi enzim selulase dari biakan Bacillus circulan, (3) hidrolisis ampas tebu secara enzimatis untuk menghasilkan glukosa, (4) fermentasi untuk menghasilkan bioetanol, dan (5) karakterisasi bioetanol yang dihasilkan. Perlakuan awal dilakukan dengan cara 10 g ampas tebu diautoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit, kemudian direndam dalam 0,25 g H2SO4 selama 2 hari. Enzim selulase diproduksi dari Bacillus circulans dalam media Berg yang telah diinduksi dengan avicel pada pH 9 selama 5 hari. Pada proses hidrolisis, 50 mL ekstrak kasar enzim selulase ditambahkan pada 10 g ampas tebu yang telah mendapatkan perlakuan awal dalam buffer fosfat pH 5. Fermentasi dilakukan dengan menvariasikan penambahan biakan Saccharomyces cerevisiae dalam hasil hidrolisat yaitu sebesar 3%, 10%, 20% dan 30% (v/v) serta waktu fermentasi masing-masing selama 1, 2, 3, 4, dan 5 hari. Rendemen bioetanol yang dihasilkan ditentukan berdasarkan kadar alkohol yang diukur dengan alkoholmeter. Hasil penelitian menunjukkan komposisi Saccharomyces cerevisiae dan waktu fermentasi optimum fermentasi hidrolisat ampas tebu adalah 10% (v/v) (1,7 x 109 jumlah sel/mL hasil hidrolisat) selama 3 hari dengan rendemen bioetanol 164,4 mL etanol/kg ampas tebu. Karakterisasi sampel bioetanol yang dihasilkan menunjukkan bahwa: (1) dengan uji CAN menghasilkan warna kuning kemerahan yang menunjukkan bahwa sampel mengandung gugus hidroksi, (2) dengan uji besi(III) klorida pada sampel tidak menghasilkan perubahan warna menunjukkan bahwa sampel merupakan alkohol rantai lurus, dan (3) dengan pereaksi Lucas sampel tidak bereaksi yang menunjukkan bahwa sampel adalah alkohol primer.

Kinerja guru sejarah dalam pembelajaran IPS sejarah ditinjau dari latar belakang pendidikan (studi kasus di SMPN 1 Pagelaran dan Mts An-nur sawahan turen) / Nurul Ummah

 

Kata kunci: Kinerja Guru, Pendidikan Guru, Pembelajaran IPS Sesuai Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (2005:6) yang menyatakan guru adalah pendidik professional yang harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi, sehat jasmani dan rohani, memiliki latar belakang pendidikan sesuai bidang tugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Penelitian ini mengambil lokasi di SMPN 1 pagelaran dan MTs An-Nur Sawahan Turen. SMPN 1 Pagelaran merupakan salah satu sekolah negeri di Turen yang mempunyai lokasi cukup unik di pertengahan lahan pertanian, sekolah ini memiliki mutu yang cukup bagus walaupun masih berdiri lebih kurang 3 tahun tetapi prestasi-prestasi yang ada tidak kalah bagus dibanding dengan sekolah negeri lainnya di Turen dengan hasil nilai rata-rata UAN Tahun 2009 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia 8,25, Bahasa Inggris 6,82, MAT 8,72 dan IPA 8,33 Tahun 2010 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia 8,11, Bahasa Inggris 7,14, MAT 7,70 dan IPA 6,63 Tahun 2011 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia 7,82, Bahasa Inggris 7,67, MAT 7,43 dan IPA 7,76. MTs An-Nur Sawahan adalah salah satu madrasah swasta di Turen yang terletak di desa Sawahan yang selama 3 tahun terakhir ini mempunyai angka kelulusan tertinggi diantara sekolah swasta lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab semua masalah pokok yang ada dalam penelitian ini, yaitu (1) mengetahui kinerja guru sejarah yang berlatar belakang pendidikan sejarah dan non pendidikan sejarah dalam merencanakan pembelajaran sejarah di SMPN 1 Pagelaran dan MTs An-Nur Sawahan (2) mengetahui kinerja guru sejarah yang berlatar belakang pendidikan sejarah dan non pendidikan sejarah dalam melaksanakan pembelajaran sejarah di SMPN 1 Pagelaran dan MTs An-Nur Sawahan (3) mengetahui kinerja guru sejarah yang berlatar belakang pendidikan sejarah dan non pendidikan sejarah dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran sejarah di SMPN 1 Pagelaran dan MTs An-Nur Sawahan Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi sedangkan analisis datanya menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah guru sejarah SMPN 1 Pagelaran yang berjumlah 2 orang dan guru sejarah MTs An-Nur yang berjumlah 2 orang. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) pembuatan silabus diantara keempat subjek penelitian yang paling lengkap dan hampir sesuai dengan silabus menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 adalah guru sejarah berlatar belakang non pendidikan sejarah di SMPN 1 Pagelaran dan guru sejarah berlatar belakang pendidikan sejarah di MTs An-Nur Sawahan. Didalam penyusunan RPP keempat subjek penelitian dapat diketahui bahwa penulisan RPP guru sejarah berlatar belakang pendidikan sejarah dan non pendidikan sejarah di kedua sekolah sama karena menggunakan RPP yang disusun bersama-sama dalam MGMP (2) Kinerja guru sejarah yang berlatar belakang pendidikan sejarah dan non pendidikan sejarah dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah di SMPN 1 Pagelaran dan MTs An-Nur Sawahan masih terdapat kesenjangan dengan Permendiknas No 41 Tahun 2007 guru belum melaksanakan kegiatan sebagaimana yang telah tercantum didalam RPP dengan baik, SK, KD dan tujuan pembelajaran tidak setiap pertemuan selalu disampaikan oleh guru. Diantara keempat guru kinerja dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah yang sudah bagus adalah guru sejarah berlatar belakang pendidikan sejarah di SMPN 1 Pagelaran (3) Kinerja guru sejarah dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran sejarah di SMPN 1 Pagelaran dan MTs An-Nur Sawahan, diantara keempat guru sejarah yang hampir sesuai dengan Permendiknas No 41 Tahun 2007 adalah guru berlatar belakang pendidikan sejarah dan guru berlatar belakang non pendidikan sejarah di SMPN 1 Pagelaran. Berdasarkan penelitian ini, maka ada beberapa saran yaitu: Bagi Kepala sekolah hendaknya lebih meningkatkan kualitas kinerja guru disekolah dengan lebih mengacu kepada Permendiknas No 41 Tahun 2007, bagi guru sejarah di kedua sekolah diharapkan dapat lebih meningkatkan lagi kualitas kinerjanya dalam pembelajaran sejarah dengan mengacu kepada Permendiknas No 41 Tahun 2007 agar dapat lebih baik dari sebelumnya dan bagi peneliti selanjutnya hendaknya lebih memperluas cakupannya dengan menambah jumlah tempat penelitian sehingga hasil penelitian jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guru-guru sejarah yang berlatar belakang pendidikan sejarah dan non pendidikan sejarah untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, bagi masyarakat agar bisa memilih sekolah untuk anaknya.

Pengembangan media pembelajaran proses pembuatan roda gigi lurus untuk standar kompetensi memfrais kompleks jurusan teknik mesin produksi di SMK Negeri 3 Boyolangu / Dedy Suprayogi.

 

Kata Kunci: media pembelajaran, roda gigi lurus Pendidikan SMK bertujuan meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, serta menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional. Banyak kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajarannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diupayakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih aktif. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar. Produk media pembelajaran ini dikembangkan dan di uji coba di SMK Negeri 3 Boyolangu pada standar kompetensi memfrais kompleks pada materi pembuatan roda gigi lurus. Tujuan dari penelitian ini adalah: Menghasilkan produk multimedia sebagai sarana pembelajaran mata pelajaran memfrais pada materi pembuatan roda gigi lurus terhadap siswa SMKN 3 Boyolangu. Tahapan penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahapan ADDIE yang terdiri dari lima tahapan: (1) analysis, (2) design, (3) development, (4) implementation, dan (5) evaluation. Instrumen pengumpul data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada dua ahli media, ahli materi, uji coba perorangan dengan 2 orang siswa, dan uji coba kelompok kecil dengan 10 orang siswa. Data yang diperoleh berupa data kualitatif hasil wawancara sebagai data awal dan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan kevalidanya. Produk media ini berbentuk software cd interaktif. Hasil validasi isi terhadap kelayakan media media pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 92,5%, validasi ahli materi 88%, uji coba perorangan 81,5%, dan uji coba kelompok kecil 82,2%. Hasil pengembangan media pembelajaran telah direvisi meliputi: (1) video diberi penjelasan berupa tulisan, (2) warna teks yang berwarna kuning pada materi diganti karena warna kuning menunjukkan link atau tombol, (3) menu tujuan pembelajaran disesuaikan, (4) tata tulis digunakan bahasa yang baik, dan (5) tabel usahakan janganditampilkan secara print screen karena tulisan di dalam tabel kurang jelas.

Penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas VIII A SMP NU Lekok Pasuruan / Maria Ulfah

 

Kata Kunci: Metode Pembelajaran Inkuiri, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Pembelajaran biologi akan lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa jika siswa mengadakan pengamatan atau berhadapan langsung dengan hal yang sedang dibahas. Pengetahuan yang didapat dari hasil pengalaman sendiri akan lebih melekat kuat dalam ingatan siswa dari pada pengetahuan yang diperoleh dari hasil pengalaman orang lain. Apalagi biologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup dan kehidupannya. Penelitian ini dilakukan di SMP NU Lekok, hasil observasi awal dengan guru biologi, menunjukkan bahwa proses pembelajaran biologi masih menerapkan pembelajaran yang menekankan pada metode ceramah. Terkait dengan metode mengajar guru, ini menyebabkan rendahnya motivasi dan prestasi belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan hasil observasi awal saat mengikuti pelajaran siswa tampak pasif, siswa sering kali tidak mengerjakan tugas rumah, saat guru menyampaikan materi siswa sering bergurau. Berdasarkan hasil observasi diketahui siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Standar Ketuntasan Minimal yang diterapkan SMP NU Lekok adalah 65. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan motivasi dan prestasi belajar Biologi siswa kelas VIIIA SMP NU Lekok melalui penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri. Pendekatan dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pelaksanaan penelitian ini pada bulan Nopember sampai bulan Desember 2009. Data dari penelitian ini berupa data motivasi dan prestasi belajar siswa. Data motivasi diperoleh dari angket motivasi belajar siswa dan prestasi belajar diperoleh dari skor tes pada tiap akhir siklus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan metode pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIIIA SMP NU Lekok Pasuruan sebesar 3,69%. Demikian juga dengan prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan sebesar 19,35%.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer materi atom, ion, dan molekul untuk smp kelas VIII / Kresnayanti Wahyuning Putri

 

Kata kunci: media pembelajaran berbantuan komputer, atom, ion, dan molekul. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat menuntut adanya peningkatan mutu dalam bidang pendidikan. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan kualitas SDM, salah satu langkahnya adalah dengan melakukan penyempurnaan Kurikulum 2004 menjadi Kurikulum 2006 (KTSP). Salah satu sarana pembelajaran dalam KTSP adalah dengan media pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan media pembelajaran, namun hal itu dirasa masih kurang, apalagi untuk materi atom, ion, dan molekul dalam IPA SMP yang didalamnya terkandung konsep-konsep yang bersifat abstrak. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran berbantuan komputer materi atom, ion, dan molekul dan mengetahui kelayakannya sebagai media pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran dalam penelitian ini digunakan suatu model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4DModel (Define, Design, Develop, and Disseminate). Keempat D dalam 4D-Model merupakan tahap-tahap atau sintak dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Namun pada rancangan penelitian ini diadopsi sampai pada D yang ketiga, yakni hingga tahap develop (pengembangan). Tiga D yang dimaksud adalah: Define, Design, dan Develop. Subyek uji coba atau validator dalam pengembangan ini adalah 2 dosen kimia yang kompeten, 3 guru kimia (IPA) SMP yaitu dari SMP Negeri 18 Malang. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner dan analisisnya menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil pengembangan ini berupa software media pembelajaran untuk materi atom, ion, dan molekul yang dilengkapi dengan 6 menu utama, yaitu menu pendahuluan, menu materi, menu evaluasi, menu rangkuman, menu glosarium, dan menu help serta dilengkapi dengan LKS dalam bentuk cetak. Dalam software tersebut digunakan model tutorial bercabang. Hasil penilaian dari guru IPA SMP terhadap media hasil pengembangan diperoleh persentase rata-rata 89,2% dengan kriteria layak, sedangkan hasil penilaian dari dosen diperoleh persentase rata-rata 89,6% dengan kriteria layak. Jadi penilaian hasil pengembangan secara umum diperoleh persentase rata-rata 89,4% dengan kriteria layak. Berdasarkan persentase rata-rata hasil penilaian terhadap media hasil pengembangan dapat disimpulkan bahwa software pembelajaran dan LKS ini dapat dipergunakan sebagai alat bantu/media pembelajaran untuk materi atom, ion, dan molekul. Namun demi kelanjutan pengembangan ini, disarankan agar software pembelajaran dan LKS diuji secara langsung terhadap siswa untuk mengetahui keefektifannya dalam pembelajaran.

Studi tentang kualitas ruang terbuka hijau pada perumahan di Kota Batu / Didik NUrdiansyah

 

Kata kunci : kualitas ruang terbuka hijau, latarbelakang pendidikan Ruang Terbuka Hijau yang meliputi Taman dan jalur hijau pada kawasan perumahan sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah hunian seperti daerah resapan air, pengontrol polusi udara, tempat bermain, serta penyedia udara dengan kualitas yang baik sebagai antisipasi semua hal tersebut setiap wilayah harus memiliki peraturan dan ketentuan tersendiri bagi para pengembang perumahan untuk mengatur tata ruang perumahan seperti yang telah ditetapkan. Berdasarkan uraian singkat diatas muncullah permasalahan umum adalah bagaiamana caranya untuk mencapai tujuan tersebut di Kota Batu dalam mewujudkan peraturan pemerintah Kota Batu tentang Ruang Terbuka Hijau di perumahan yaitu : 1) Bagaimana perbandingan luas RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang ada dengan luas perumahan pada perumahan di Kota Batu?. 2) Bagaimanakah jenis tanaman dan fasilitas RTH (Ruang Terbuka Hijau) pada lokasi perumahan ditinjau dari pemenuhan standar RTH ? Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif karena metode ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis, serta menginterpretasikan data dan variabel kualitas ruang terbuka hijau. Alat pengumpul data yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah lembar observasi kualitas ruang terbuka hijau. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi atau pengamatan non-partisipan. Analisis data melalui pengecekan, sajian data, penyeleksian dan verifikasi data. Dari penelitian ini dapat ditarik simpulan sebagai berikut : 1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga perumahan yang diteliti semuanya telah memenuhi standar pemenuhan kebutuhan RTH dengan jumlah minimal 30% dari total luas perumahan, yang terdiri dari RTH Privat sebesar 10% dan RTH Publik sebesar 20%. Perumahan no. 1, no. 2 dan no. 3 masing-masing melebihi dari standar minimal pemenuhan RTH yang harus disediakan pengembang perumahan. 2) Vegetasi yang ditanam pada taman pada perumahan sudah sesuai dengan yang diharapkan. Rata-rata setiap perumahan yang memiliki taman menerapkan 8-9 dari 12 kriteria sudah ditetapkan. Hal yang paling dipentingkan adalah keindahannya, bukan fungsi utamanya sebagai paru-paru perumahan. Fasilitas taman masih sangat kurang, tiga perumahan semuanya belum memperhatikan fasilitas taman. Hal ini berpengaruh terhadap kondisi penghuni perumahan. 3) Jalur hijau pada perumahan juga masih belum diperhatikan dengan baik, karena pada satu perumahan tidak semua jalur jalannya diberi vegetasi pelindung. Vegetasi pada jalur hijau juga kurang mendapat perhatian yang seharusnya, karena dari jalur hijau yang diteliti, rata-rata perumahan tidak menerapkan kriteria penting dalam pemilihan pohonnya. Kebanyakan yang ditanam adalah pohon palem dengan pengutamaan unsur keindahan dari pada fungsi utamanya sebagai pereduksi unsur-unsur berbahaya di udara.

Pengaruh interaktif strategi pembelajaran blended (blended learning) dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar Mahasiswa TEP FIP UM / Sihkabuden

 

Disertasi. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Prof. Dr. H. Mohammad Dimyati; Pembimbing II: Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M. Pd; Pembimbing III: Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M. Pd, M. Ed Kata kunci : Pembelajaran Blended (Blended Learning), Motivasi Berprestasi dan Hasil Belajar. Pembelajaran Blended (Blended Learning) menurut Pannen (2005) merupakan kombinasi model pembelajaran yang menggunakan pertemuan tatap muka dan on-line system. Pemanfaatan sumber belajar berbasis Web secara kuantitatif sebesar 70 %. Hal ini berarti dalam proses pembelajaran mahasiswa akan lebih banyak belajar secara kolaboratif dan mandiri dengan memanfaatkan web. Secara kuantitatif sebesar 30 % sisanya adalah tatap muka berupa penjelasan sistem dan refleksi perkuliahan. Metode pembelajaran blended berbasis Web pada matakuliah Media Pembelajaran adalah metode pembelajaran memadukan pembelajaran tatap muka dengan pengembangan pembelajaran berbasis web. Sebuah metode yang dianggap mampu mengaktifkan atau memancing mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, karakteristik mata kuliah, karakteristik mahasiswa, serta sarana dan prasarana baik Web maupun tatap muka agar dapat berinteraksi secara maksimal. Rumusan masalah dalam penelitian ini ialah: (1) apakah ada perbedaan rerata hasil belajar mahasiswa antara yang belajar melalui pembelajaran berbasis Web dengan yang belajar secara tatap muka?, (2) apakah ada pebedaan rerata hasil belajar mahasiswa pada mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi yang berbeda?, (3) apakah ada interaksi antara strategi pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa? Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk menguji ada tidaknya perbedaan hasil belajar mahasiswa antara pembelajaran berbasis Web (Blended Learning) dengan perkuliahan tatap muka; (2) untuk menguji ada tidaknya perbedaan rerata hasil belajar mahasiswa pada mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi yang berbeda; (3) untuk menguji ada tidaknya interaksi antara strategi pembelajaran dan tingkat motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa. Adapun hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) terdapat perbedaan rerata hasil belajar mahasiswa antara yang belajar melalui pembelajaran berbasis Web (Blended Learning) dengan yang belajar melalui perkuliahan tatap muka; (2) terdapat perbedaan rerata hasil belajar mahasiswa pada mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi tinggi dan pada mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi rendah (3) terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan tingkat motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen kuasi, dengan desain faktorial 2 x 2, dengan subyek penelitian mahasiswa S1 Program Studi Teknologi Pendidikan FIP UM angkatan 2010 yang mengikuti mata kuliah Media Pembelajaran. Adapun teknik analisis data untuk menguji hipotesis adalah dengan ANOVA dua iii jalan dengan bantuan analisis statistik SPSS release 14.00 for Windows. Hasilnya penelitian memperlihatkan bahwa: (1) tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar antara kelas eksperimen (Pembelajaran Berbasis Web) dengan kelas kontrol pembelajaran tatap muka/ceramah dengan bantuan power point, (2) tidak terdapat perbedaan signifikan rerata hasil belajar mahasiswa pada mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi tinggi dan pada mahasiswa dengan tingkat motivasi berprestasi rendah, (3) tidak terjadi pengaruh interaktif antara strategi pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mahasiswa. Penerapan pembelajaran dengan Pembelajaran Berbasis Web (Blended Learning) maupun tatap muka dengan Ceramah berbantuan Slide Power Point (FFL= Face to Face Learning) akan memberikan hasil yang lebih baik pada pebelajar dengan motivasi berprestasi tinggi. Disarankan agar dikembangkan strategi interaksi dapat memberikan beragam alternatif alur belajar bagi mahasiswa, sehingga satu babak pembelajaran dapat dipelajari mahasiswa melalui beragam alur. Hal ini sesuai dengan prinsip fleksibilitas dalam pembelajaran berbasis web. Strategi interaksi baik dengan media maupun sumber belajar dalam pengembangan pembelajaran blended dapat berupa : (1) Tanya jawab (Q&A); (2) Forum diskusi; (3) Kegiatan mahasiswa bersama (telecollaboration) dalam bentuk kuliah bersama melalui telekonferensi, mengerjakan proyek atau penelitian bersama ; (4) Project/problem based learning; (5) Simulations; (6) Penelusuran internet; (7) Diskusi dengan nara sumber ahli melalui internet; (8) Studi kasus; (9) Contoh dan analogi; (10) Informasi audiovisual (video, audio, dan lain-lain.); (11) Game; (12) Latihan berjenjang yang makin lama makin sukar; (13) Membuat rangkuman.

Pembelajaran tari sanduk sebagai materi ajar muatan lokal di SMP Arjuno kelas VII Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu / Mieke Depy Setiyorini

 

Kata kunci: Pembelajaran, Tari Sanduk, Muatan Lokal Batu adalah daerah yang memiliki beragam kesenian, dan salah satunya adalah kesenian Sanduk. Kesenian Sanduk terbagi atas tari Sanduk dan musik pengiring. Tari Sanduk berkembang di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Untuk melestarikan kesenian daerah tersebut maka tari Sanduk dipilih sebagai materi ajar muatan lokal di SMP Arjuno Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Dan di SMP Arjuno ini merupakan satu-satunya sekolah yang terdapat mata pelajaran muatan lokal tari Sanduk. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan tentang informasi (1) Bentuk penyajian tari sanduk yang diajarkan di SMP Arjuno kelas VII Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu, (2) Pelaksanaan pembelajaran tari Sanduk di SMP Arjuno kelas VII Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu yang meliputi persiapan dan penyampaian materi ajar tari sanduk pada mata pelajaran muatan lokal tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subyek penelitian guru dan siswa. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis yang digunakan dengan mengorganisasikan data, mengelompokan data serta klasifikasi data, memaparkan data, dan menarik kesimpulan. Dari hasil penelitian ini mencakup dua hal mendasar yaitu: (1) Bentuk Penyajian tari Sanduk yang meliputi: motif gerak, ragam gerak, tata rias dan tata busana, serta musik iringan; (2) Pelaksanaan pembelajaran tari Sanduk yang meliputi; persiapan pembelajaran tari Sanduk dan penyampaian materi ajar tari Sanduk. Persiapan pembelajaran tari Sanduk di SMP Arjuno berlangsung sesuai dengan perangkat yang disusun yaitu SILABUS dan RPP, Penyampaian pembelajaran tari Sanduk terdiri dari (1) Kegiatan pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup; (2) Strategi pembelajaran tari Sanduk menggunakan strategi pengenalan; (3) Metode pembelajaran tari Sanduk menggunakan metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, drill, dan kerja kelompok; (4) Media pembelajaran tari Sanduk berupa video tari sanduk, televisi, VCD Player, gamelan, kaset pita, tape, dan poperty tari serta sarana dan prasarana berupa ruang kesenian; (5) Pengelolaan kelas yang dilaksanakan oleh guru meliputi; (1) Pemberian motivasi dan (2) Menciptakan kelas kondusif dan produktif. Beberapa saran yang diberikan penulis, diharapkan materi muatan lokal di SMP Arjuno sebaiknya menjadi panutan bagi seluruh SMP Se-Kota Batu karena menjadi salah salah satu sekolah yang terdapat mata pelajaran muatan lokal tari Sanduk, agar para siswa dapat melestarikan budaya bangsa. Dan dengan adanya penelitian ini bahwa muatan lokal merupakan suatu bentuk upaya nyata lembaga pendidikan untuk ikut melestarikan kesenian daerah setempat.

Penerapan metode belajar make a match untuk peningkatan hasil belajar mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial(IPS) Kelas IV semester 1 di SDN Ketidur 2 Mojokerto / Siska Milanita

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran Make A Match, Hasil Belajar Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SDN Ketidur 2 selama ini, guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan mengerjakan LKS saja sehingga siswa cenderung berperan pasif. Beberapa variasi metode pembelajaran dan media pembelajaran yang digunakan guru pada saat menyampaikan materi kurang. Hasil tes UTS menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa 64, dengan keterangan 20 siswa mencapai SKM dan 14 siswa belum mencapai SKM. Menurut kriteria hasil tes oleh (Arikunto, 2003:243) bahwa skor rata-rata siswa tersebut berada pada kategori kurang. Hasil wawancara peneliti kepada siswa, rata-rata semua siswa mengaku bosan dengan metode ceramah saja. Untuk menangani masalah tersebut maka guru dan peneliti memutuskan untuk mengembangkan metode pembelajaran Make A Match untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan untuk keterbatasan penelitian, guru dan peneliti memutuskan untuk mengambil pokok bahasan keanekaragaman suku bangsa dan budaya setempat Kabupaten/Kota. Teknik-teknik pembelajaran make a match yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi siswa, untuk itu peneliti berkolaborasi dengan guru dalam merancang pembelajaran. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana yang menjadi ciri khasnya adalah adanya siklus-siklus. Dalam Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari tes hasil belajar siswa yang dilengkapi dengan hasil observasi dan wawancara. Pada penerapan metode pembelajaran make a match siklus 1 diperoleh data bahwa rata-rata skor hasil belajar siswa adalah 57,6 dengan keterangan 17 siswa mencapai SKM dan 17 siswa belum mencapai SKM. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada penerapan metode pembelajaran make a match siklus 1 belum berhasil karena skor hasil belajar siswa dalam kategori kurang, untuk itu perlu adanya tindak lanjut dengan siklus 2. Setelah peneliti dan guru merancang pelaksanaan pembelajaran untuk siklus 2 dengan melihat hasil refleksi siklus 1, akhirnya pada penerapan metode pembelajaran make a match di siklus 2 memperoleh hasil yang lebih baik. Rata-rata skor hasil belajar siswa mencapai 75,1 dengan keterangan 28 siswa mencapai SKM dan 6 siswa belum mencapai SKM. Dengan demikian berdasarkan hipotesis yang peneliti sampaikan diawal, kini telah terjawab bahwa dengan penerapan metode pembelajaran make a match telah berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV mata pelajaran IPS semester 1 di SDN Ketidur 2 Mojokerto.

Pengaruh current Ratio, total asset turnover dan debt to asset ratio terhadap rentabilitas ekonomi koperasi wanita di Kota Malang tahun 2010 / Ratna Dwi Imawati

 

Kata Kunci : Current Ratio, Total Asset Turnover, Debt To Asset Ratio, dan Rentabilitas Ekonomi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi Current Ratio, Total Asset Turnover, Debt To Asset Ratio, dan Rentabilitas Ekonomi Koperasi Wanita di Kota Malang Tahun 2010. Serta untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara Current Ratio, Total Asset Turnover, dan Debt to Asset Ratio terhadap Rentabilitas Ekonomi Koperasi Wanita di Kota Malang Tahun 2010. Dalam penelitian ini menggunakan Koperasi Wanita di Kota Malang tahun 2010 sebagai populasi. Dari 66 populasi koperasi, diambil sampel sebanyak 28 koperasi berdasarkan teknik purposive sampling. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menjelaskan pada tahun 2010 kondisi masing-masing variabel adalah (1) Current Ratio cenderung dalam klasifikasi tidak efektif, (2) Total Asset Turnover cenderung dalam klasifikasi tidak ideal, (3) Debt to Asset ratio cenderung dalam klasifikasi sangat ideal, (4) Rentabilitas Ekonomi cenderung dalam klasifikasi sangat efektif. Hasil pengujian dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda diperoleh hasil bahwa variabel Current Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Rentabilitas Ekonomi. Sedangkan variabel Total Asset Turnover berpengaruh positif signifikan terhadap Rentabilitas Ekonomi dan Debt to Asset Ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap Rentabilitas Ekonomi. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) bagi Dinas Koperasi, sebaiknya memperhatikan pengadaan penyuluhan secara rutin kepada koperasi wanita tentang pentingnya faktor keuangan dan pelaporan pertanggungjawaban, (2) bagi Koperasi Wanita, sebaiknya memperhatikan setiap kebijakan-kebijakan yang dilakukan dalam pencapaian kinerja yang baik dan efisien dan pengelolaan terhadap asset-asset yang dimiliki, (3) bagi peneliti selanjutnya, agar menambah besar variabel dan sampel sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal.

Implementasi direct intruction berbasis modul dan tutor sebaya untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar TIK pokok bahasan membuat lembar kerja(worksheet) menggunakan formula dan grafik program aplikasi pengolahan angka(MS Excel) pada siswa kelas XI IPA 3 di SMAN

 

Kata kunci: direct instruction berbasis modul, tutor sebaya, motivasi belajar, prestasi belajar Siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri Kesamben memiliki motivasi dan prestasi yang rendah. Gejala yang menunjukkan rendahnya motivasi belajar mata pelajaran TIK antara lain: (1) tidak semua siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, (2) tidak semua siswa memperhatikan ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran, bahkan siswa cenderung apatis, sehingga ketertiban kelas menjadi terganggu, (3) jika tidak diberikan sangsi tertentu atau diberi penguatan dalam bentuk punishment, siswa akan melakukan kegiatan lain di dalam kelas, seperti mengerjakan PR matapelajaran lain, tidur, berbicara sendiri, atau bahkan di luar kelas untuk pergi ke kantin di luar jam istirahat. Hal ini dikarenakan kurangnya keterlibatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, sehingga kebanyakan siswa cenderung pasif dan hanya siswa-siswa tertentu saja yang mau dan mampu menjawab pertanyaan. Rendahnya motivasi belajar dan aktivitas siswa tersebut berdampak terhadap hasil belajar yang diperoleh siswa kurang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Bagaimana implementasi direct instruction berbasis modul dan tutor sebaya dalam meningkatkan motivasi belajar TIK pokok bahasan membuat lembar kerja (worksheet) menggunakan formula dan grafik program aplikasi pengolah angka (Ms. Excel) pada siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 1 Kesamben, dan (2) Bagaimana implementasi direct instruction berbasis modul dan tutor sebaya dalam meningkatkan prestasi belajar TIK pokok bahasan membuat lembar kerja (worksheet) menggunakan formula dan grafik program aplikasi pengolah angka (Ms. Excel) pada siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 1 Kesamben. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Instrumen penelitian berupa lembar wawancara, catatan lapangan, lembar penilaian motivasi, lembar penilaian kognitif, lembar penilaian afektif, lembar penilaian psikomotor, dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi direct instruction berbasis modul dan tutor sebaya dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK pokok bahasan membuat lembar kerja (worksheet) menggunakan formula dan grafik program aplikasi pengolah angka (Ms. Excel) pada siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 1 Kesamben. Berdasarkan paparan data, diperoleh nilai skor rata-rata motivasi belajar siswa siklus I adalah 56,36% dengan kategori cukup, sedangkan siklus II skor rata-rata motivasi belajar siswa adalah 71,76% dengan kategori baik. Skor rata-rata motivasi belajar siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan sebesar 15,4%. Berdasarkan paparan data prestasi belajar, menunjukkan bahwa persentase ketuntasan belajar siswa dilihat dari aspek kognitif pada siklus I adalah 80,56%, sedangkan pada siklus II sebesar 88,88%. Aspek afektif pada siklus I sebesar 33,33% dan siklus II sebesar 75%. Aspek psikomotorik pada siklus I sebesar 75% dan siklus II sebesar 86,11%. Persentase ketuntasan belajar siswa dilihat dari ketiga aspek prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Aspek kognitif meningkat sebesar 8,32%, aspek afektif meningkat sebesar 41,67%, sedangkan aspek psikomotorik meningkat sebesar 11,11%.

Peningkatan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan melalui metode karyawisata di kelas VI MI Miftahul Ulum Bajangan Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Yunita Krisnawti

 

Kata Kunci: menulis laporan, metode karya wisata, SD Dalam pola kehidupan modern saat ini, yang ditandai oleh pesatnya perkembangan bahasa tulis menuntut semua orang agar mengembangkan tradisi membaca dan menulis. Tradisi menulis dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan untuk menyatakan gagasan atau pendapat secara tertulis. Kegiatan menulis banyak dilakukan oleh anak-anak sampai orang dewasa, disekolah maupun diluar sekolah. Oleh karena itu kemampuan berkomunikasi melalui bahasa tulis sangat dibutuhkan oleh setiap anggota masyarakat dan perlu diajarkan mulai dari sekolah dasar (SD). Berdasarkan hasil observasi di kelas VI MI Miftahul Ulum Bajangan Gondangwetan Pasuruan, ditemukan permasalahan kemampuan menulis siswa yang masih rendah, hal ini dapat dilihat dari analisis nilai ulangan siswa. Dari 15 siswa hanya 3 siswa yang mencapai SKM, sedangkan 12 siswa belum mencapai SKM. Salah satu penyebabnya diduga karena penggunaan pendekatan pembelajaran, metode yang kurang bervariasi Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan pengamatan siswa kelas VI , (2) hasil implementasi metode karya wisata untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan siswa kelas VI. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Subyeknya 15 siswa kelas VI MI Miftahul Ulum Bajangan Gondangwetan Pasuruan. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, lembar penilaian proses, lembar penilaian kemampuan menulis, tes dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan mengelompokkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari instrumen penilaian proses dan wawancara, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari tes, instrumen observasi dan penilaian kemampuan menulis. Hasil penelitian terhadap penerapan pembelajaran karya wisata baik kemampuan guru dalam menerapkan metode ataupun aktivitas siswa meningkat dari siklus I adalah 60 meningkat menjadi 72 pada siklus II. Sedangkan aktivitas siswa pada siklus I dengan rata-rata mencapai meningkat menjadi 87,5 pada siklus II. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Hal ini diketahui dari nilai mulai dari pra tindakan sebesar 56,11. Setelah dilakukan tindakan siklus 1 menjadi 61,80. Kemudian di siklus 2 meningkat sebesar 73. Secara keseluruhan peningkatan yang diperoleh mulai dari pratindakan sampai tindakan siklus 2 sebesar 12 % v Secara umum disimpulkan bahwa metode karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan siswa kelas VI. Disarankan kepada guru untuk menjadikan metode karya wisata dalam meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan .

Pengaruh return on equity (ROE) dan operating cash flow ratio (OCFR) terhadap return saham melalui earning per share (EPS) (studi pada perusahaan food and baverages tahun 2007-2010) / Muhammad Maisur Amin.

 

Kata kunci: Return on Equity, Operating Cash Flow Ratio, Earning per Share, Return Saham. Return saham merupakan salah satu daya tarik bagi investor yang berinvestasi saham, maka dari itu, investor perlu memperhatikan faktor yang berpengaruh terhadap saham. Salah satunya, informasi yang terkandung dalam laporan keuangan, yaitu diamati dengan menghitung rasio keuangan. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui pengaruh return on equity (ROE) terhadap return saham dan tidak langsung memalui earning per share (EPS) (2) untuk mengetahui pengaruh operating cash flow ratio (OCFR) terhadap return saham dan tidak langsung memalui earning per share (EPS) pada perusahaan Food and Baverages pada tahun 2007-2010. Jenis penelitian ini adalah asosiatif kausalitas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan food and baverages yang listing di BEI tahun 2007-2010. Sampel yang digunakan adalah 8 perusahaan Food and baverages yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Sedangkan teknik analisis data dengan mengunakan teknik analisis jalur (path analysis) untuk melihat pengaruh langsung varibel eksogen, yaitu return on equity (X1) dan operating cash flow ratio (X2) terhadap variabel endogen, yaitu return saham (Y), dan pengaruh tidak langsung melalui variabel intervening, yaitu earning per share (Z). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan Software SPSS 16.0. Hasil penelitian ini adalah return on equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap return saham tetapi ROE berpengaruh signifikan secara tidak langsung melalui earning pershare (EPS). Sedangkan operating cash flow ratio (OCFR) berpengaruh signifikan secara langsung terhadap return saham, tetapi tidak berpengaruh secara tidak langsung melalui earning per share (EPS) pada pada perusahaan Food and Baverages yang listing di BEI tahun 2007-2010. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, penulis menyarankan (1) bagi investor sebaiknya tetap memperhatikan faktor fundamental dalam analisis investasi, antara lain dapat dilihat dari tingkat EPS dan OCFR perusahaan, (2) bagi perusahaan yang ingin meningkatkan nilai perusahaan atau return bagi investor dapat meningkatkan EPS dan OCFR perusahaan, (3) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel selain dalam model penelitian ini, menambah sampel atau memperluas jenis sampel, dan juga memperpanjang periode pengamatan, (4) bagi peneliti sebaiknya menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan analisis investasi saham.

Penggunaan media pohon hitung untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK PKK 1 Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Ninik Novita Sari.

 

Kata Kunci: kemampuan kognitif, media pohon hitung ,TK Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan kognitif anak dalam berhitung dengan menggunakan pohon hitung terutama pada waktu menyebut anagka 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebut penambahan dan pengurangan dengan benda Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan langkah- langkah pengunaan media pohon hitung serta mendeskripsikan penggunaan media pohon hitung dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK PKK I Ngadirejo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di Tk PKK I Ngadirejo dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model Kemiss dan Mc Taggart . Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pohon hitung dalam kegiatan pembelajaran menyebut bilangan 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebutkan penambahan dan pengurangan dengan benda terbukti untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata- rata anak mencapai 69,99 % meningkat menjadi 88,51 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan kognitif melalui menyebut bilangan 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebutkan penambahan dan pengurangan dengan benda . Berdasarkan penelitian ini, menyebut bilangan 1 – 20, memasangkan lambang bilangan dan menyebutkan penambahan dan pengurangan dengan benda dengan menggunakan media pohon hitung dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam berhitung. disarankan untuk mencoba penelitian dengan masalah yang lain dengan menggunakan media yang lain,yaitu pada bidang pengembangan fisik motorik, pembiasaan, seni, dan Bahasa.

Pengetahuan lokal nelayan jukung pantai selatan di Dusun Karangmenjangan desa Bulurejo dalam tahun 2001-2009 / Faris Dwi Ristian

 

Kata Kunci : pengetahuan lokal, nelayan jukong, Dusun Karangmenjangan Pengetahuan lokal adalah sebuah kemampuan yang ada di suatu masyarakat yang dibentuk dari sebuah informasi yang dikombinasikan dengan pemahaman, untuk untuk menghadapi masalah serta solusinya. Sedangkan nelayan merupakan manusia yang memanfaatkan sumberdaya kelautan untuk memenuhi kelangsungan hidupnya. Jukong adalah nama jenis perahu yang mempunyai spesifikasi tertentu. Jadi nelayan jukong adalah nelayan yang dalam melautnya memakai jenis perahu jukong. Dalam kehidupan nelayan tidak lepas dari lingkungan, dibuktikan adaptasi dalam bentuk perahu, alat tangkap, modal, pemasaran hasil tangkapan, pada masa paceklik dan musim ikan serta peran istri nelayan. Dari observasi yang dilakukan di Dusun Karangmenjangan, ini merupakan tempat tinggal nelayan jukong. Terletak di bibir pantai Bulurejo yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Nelayan jukong mengembangkan pengetahuannya untuk menyesuaikan perkembangan yang ada di sekitar lingkungannya agar dapat memenuhi kebutuhannya. Alasan dipilihnya penelitian ini adalah karena kedekatan emosional dan belum adanya karya yang mengangkat tema pengetahuan lokal nelayan jukong pantai selatan di Dusun Karangmenjangan pantai Bulurejo. Sehingga peneliti memilih topik ini. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengambil rumusan masalah: (1) Bagaimana gambaran umum nelayan jukong pantai selatan di Dusun Karangmenjangan Desa Bulurejo? (2) Bagaimana pengetahuan lokal nelayan jukong pantai selatan di Dusun Karangmenjangan Desa Bulurejo dalam tahun 2001-2009? (3) Bagaimana kontribusi terhadap pendidikan sejarah berskala lokal? Latar belakang nelayan yang dalam kegiatan melautnya mengunakan perahu berjenis jukong, ini adalah perahu yang berukuran panjang dari 5-10 meter dan lebar 25-30 cm dan terbuat dari satu batang kayu serta dalam daya jelajahnya hanya pada kisaran bibir pantai. Tujuan penelitian (1) Mendiskripsikan gambaran umum nelayan jukong pantai selatan di Dusun Karangmenjangan Desa Bulurejo. (2) Mendiskripsikan pengetahuan lokal nelayan jukong pantai selatan Dusun Karangmenjangan Desa Bulurejo. (3) Mendiskripsikan kontribusi pendidikan sejarah berskala lokal. iv Peneliti menggunakan metode penelitian sejarah dapat dijelaskan langkahlangkahnya yaitu: pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Dalam literatur mengenai metode penelitian sejarah adalah bagaimana cara membahas tentang masa lalu yang dilakukan dengan sistematis dan objektif yang melibatkan ruang dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan jukong di Dusun Karangmenjangan dalam perkembagan dari tahun 2001-2009 mengalami beberapa hal baik dari segi perubahan teknik pembuatan perahu yang dari satu batang lunas kayu berubah menggunakan papan yang dirakit. Bentuk dan ukuran perahu yang kecil di depan perahunya tipis, ini disebabkan pengaruh karakter dari pantai Bulurejo. Nelayan jukong dalam melaut harus dapat mengetahui karakter ombak, supaya dapat masuk laut selatan begitu juga pada saat keluar laut selatan. Nelayan dalam melaut mempunyai pengetahuan membaca tanda-tanda alam. Dalam segi permodalan nelayan, telah dibuat PEN yang bisa mengatasi segala masalah nelayan, namun tahun 2002 dibubarkan, diakibatkan tidak berjalan dengan lancar karena ada oknum yang tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan amanah. Tahun 2001 mulai adanya jalan penghubung antara Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Pronojiwo mulai banyak orang datang langsung untuk membeli hasil nelayan. Tahun 2003 masyarakat nelayan merespon dengan membuka warung ikan bakar dan menjual ikan dengan strategi siap konsumsi yang dapat memberikan nilai tambah bagi nelayan. Kondisi ini nelayan yang pada musim angin kempit, sudah bisa kerja tambahan menjual jasa angkutan perahu. Namun bagi nelayan buruh tetap mencari kerja serabutan. Peran istri nelayan sangat penting sebagai penopang ekonomi keluarga nelayan. Dari penulisan ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan lokal nelayan jukong pantai selatan di Dusun Karangmenjangan, sebagai suatu proses belajar nelayan. Pengetahuan nelayan jukong terbentuk dari apa yang dihadapi oleh nelayan misal keadaan alam pantai selatan, nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, pengaruh dari luar, menyerap dan menciptakan sesuatu yang dianggap sesuai dengan kebutuhan nelayan jukong. Dengan penelitian ini, disarankan kepada dinas terkait saling sinergi dengan nelayan untuk mengelola sumber daya laut. Bagi nelayan dapat digunakan sebagai pembelajaran untuk memecahkan masalah yang ada dalam nelayan dan menggairahkan kemaritiman. Kepada peneliti lain disarankan untuk lebih memperdalam masalah kearifan lokal nelayan Dusun Karangmenjangan.

Peningkatan kemampuan mengarang narasi siswa kelas IV SDN Oro Oro Malang dengan strategi Playing At Text / Endriana Rahma Widarti.

 

Kata Kunci: Kemampuan mengarang, mengarang narasi, strategi playing at text Kemampuan mengarang narasi merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang diajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia di SD. Mengarang narasi merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas IV SD. Kompetensi dasar ini bertujuan untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaan siswa dalam bentuk tulisan narasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mengarang. Kesulitan tersebut antara lain, siswa tidak aktif bertanya, siswa kurang dalam hal membaca sehingga tulisan siswa banyak mengulang kata, siswa belum mampu mengarang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan kemampuan mengarang narasi siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Malang dengan strategi Playing At Text pada isi karangan, dan (2) meningkatkan kemampuan mengarang narasi siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Malang dengan strategi Playing At Text pada bahasa karangan. Penggunaan strategi ini diharapkan dapat menambah minat dan semangat siswa dalam pembelajaran mengarang narasi sehingga kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan baik. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi pembelajaran tersebut. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti dan guru, dilakukan sebanyak dua siklus yaitu, siklus I dan siklus II. Hasil penilaian proses dan penilaian produk menunjukkan bahwa siswa sudah dapat mengarang narasi dengan baik. Penilaian proses bersumber dari setiap aktivitas yang dilakukan siswa selama kegiatan mengarang narasi berlangsung, meliputi keaktifan siswa dalam bertanya, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan, partisipasi siswa dalam kegiatan mengarang, dan perilaku siswa di kelas selama proses pembelajaran. Penilaian produk bersumber dari karangan yang ditulis siswa, meliputi aspek isi dan penggunaan bahasa. Kemampuan mengarang narasi pada aspek isi, terdiri atas kesesuaian isi cerita dengan isi cerita cerita sebelumnya, keruntutan isi tertata dengan alur yang baik, kepaduan isi dirangkai dengan penanda bahasa yang jelas, setting mendukung isi, tokoh dan penokohan mendukung isi, dan kemenarikan judul. Kemampuan mengarang narasi pada aspek penggunaan bahasa, terdiri atas ejaan, tanda baca, pilihan kata dan keefektifan kalimat. Kemampuan mengarang narasi pada aspek isi dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 13%, sedangkan kemampuan ii mengarang narasi pada aspek penggunaan bahasa mengalami peningkatan sebesar 21%. Sehubungan dengan hasil penelitian ini, disarankan pada guru untuk menggunakan strategi Playing At Text untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengarang narasi. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin menggunakan dan mengembangkan strategi Playing At Text, diharapkan dapat mengembangkan strategi pembelajaran pada kompetensi dasar sastra yang lain.

A study on character building in english subject at laboratory junior high school of state university of Malang / Luh Eka Yulianthi.

 

Key words: implementation, character building, English, Laboratory Junior High School of State University of Malang. In 2010, the government have socialized character building in each education unit. Recently, this program was implemented by all schools in Indonesia starting from elementary level up to universities because some consideration made by the government. One of the considerations was because religion and civic subject were not optimal yet to teach characters. Teacher still focused on the material rather than the process of transmission moral value. In line with the government’s policy to implement character building, the teachers as the educator can support character building by inserting character values into the lesson plan and then, implement the values through many activities in the class. This study was conducted to describe how the teacher develop and implement character building in English subject at Laboratory Junior High School of State University of Malang. Since this school has implemented character building, the researcher decided to conduct the research in this school. The focus of this study was the implementation of character building which conducted by two English teachers at Laboratory Junior High School of State University of Malang. The result of the study was presented descriptively after being classified into related aspects. This study employed a descriptive qualitative design since it was designed to describe the implementation of character building in the form of words rather than numbers. The data was compiled by conducting the interviews, observation and asking for the documents consisted of lesson plan. The document which was asked for was the documents made and used by the English teachers from Laboratory Junior High School of State University of Malang. The result of the study showed that in developing the lesson plan that contains character building, one of the English teachers did not insert the character values. There were no characters put in the lesson plans. He preferred to implement character values directly than develop character values in the lesson plans. Talking about the implementation of character building, both of the teachers could implement character values well in the class. They took characters launched by the government. Since they taught English subject, the values of respect for diversity (menghargai keberagaman), courteousness (sopan santun), confidence (percaya diri), independence (mandiri), cooperation (kerja sama), and obedience (patuh pada aturan social) must be implemented in the class. In the lesson plans of grade VII, the value of obedience (patuh pada aturan social) was not mentioned but that value was found during teaching and learning activity in the class. In the two classes, the researcher also found the additional values, such as honesty, and environmental care. Those values found suddenly when teaching and learning process. Some suggestions were addressed to the teachers and the future researchers. For the teachers, before conducting teaching and learning process, they should be able to develop the lesson plans which contain character building. It is also suggested that they vary the activities that can create character values. Teachers also should understand and develop the technique of assessment for character building. The last suggestion is given for the future researchers. They can investigate other elements about character building. Perhaps, they can observe the technique and material or some approaches used by the teacher in the class toward the implementation of character building. Thus, it will provide more valid information about the implementation of character building in Indonesia which can be used by other researchers as reference to conduct similar topic.

Using role play to improve the speaking ability of the eighth graders at SKB (sanggar kegiatan belajar) Kota Malang / Hernora Indah Septiyana

 

Keywords : role-play, the eighth graders, speaking ability In Indonesia English is taught in all levels of education: kindergarten, elementary school, junior high school, senior high school, and university levels. Having realized the significance of English, the Indonesian government always makes efforts to improve the quality of English teaching. Developing the quality of teachers and other components of education will improve the English teaching quality. One of the improvements on English teaching is closely related to syllabus, a component which is reflected in the materials and method given to the students. The right method results in better achievement; therefore, teachers have to make sure that their teaching methods are based on the goal of the lesson as stated in the related curriculum. Nowadays, curriculum used by most school is Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) or School Level Based Curriculum. It has also been used at SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Kota Malang. SKB is one of government institution that offers non formal education

Kemampuan membaca kritis siswa kelas XI SMA Negeri 1 Wongsorejo-Banyuwangi / Dimas Yatmitraningsih

 

Kata Kunci: kemampuan membaca, membaca kritis, siswa, SMA. Membaca berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membaca seseorang dapat mengetahui sesuatu secara tidak langsung, memperoleh ilmu pengetahuan, dan bahkan melalui membaca sesorang dapat bertambah luas wawasan yang dimilikinya. Membaca adalah suatu proses mengolah bacaan yang berupa simbol-simbol tertulis dengan tujuan pembaca mampu memahami makna secara tersirat maupun tersurat yang disampaikan oleh penulis/pengarang. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan kajian pada kemampuan membaca kritis. Kurangnya minat baca siswa menjadi salah satu faktor diangkatnya penelitian ini. Siswa masih tidak mempunyai kemauan membaca buku-buku ilmiah, artikel, dan karya sastra. Mereka lebih banyak mengandalkan internet dengan sistem copy-paste sehingga tidak ada pemahaman yang intensif dalam kegiatan membaca. Kurangnya minat membaca ini membuat mereka kurang memahami secara maksimal teks-teks bacaan yang dibaca. Agar siswa mampu memahami secara keseluruhan dalam sebuah wacana, siswa harus mampu mengritisi bacaan tersebut. Selain hal tersebut masih banyak siswa yang hanya sekedar membaca tanpa proses pemahaman secara intensif dengan mengritisi sebuah bacaan. Oleh karena itu, informasi yang dideskripsikan penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi guru untuk meningkatkan kemampuan membaca kritis siswa. Beberapa soal UAN bahasa Indonesia tingkat SMA berupa bacaan (artikel atau cuplikan artikel) sehingga sebelum UAN berlangsung siswa hendaknya telah mampu mengritisi sebuah bacaan. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca kritis siswa SMA kelas XI, maka peneliti mengambil judul penelitian Kemampuan Membaca Kritis Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Wongsorejo-Banyuwangi. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang dikumpulkan, dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Berdasarkan analisis data penelitian tentang kemampuan membaca kritis, secara umum ditemukan bahwa siswa SMAN I Wongsorejo, khususnya kelas XI IPA 3 belum mampu mengaplikasikan kemampuan membaca kritis secara maksimal. Hal ini dibuktikan dengan 100% siswa tidak dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal dalam uji kemampuan membaca kritis.

Pengaruh penambahan serbuk arang tempurung kelapa terhadap stabilitas campuran aspal beton (Laston) / Anggun Nadia Krisna

 

Kata Kunci: Stabilitas, Serbuk Arang Tempurung Kelapa, Aspal Beton, Marshall Jalan raya merupakan prasarana transportasi darat yang berperan penting dalam menunjang kelancaran lalu lintas, akan tetapi banyak jalan raya yang mengalami kerusakan. Bentuk-bentuk kerusakan jalan yang biasanya terjadi adalah; alur roda, gelombang, retak, butiran lepas dan munculnya aspal ke permukaan. Untuk itu diperlukan suatu alternatif bahan tambahan campuran aspal agar mampu mengatasi kerusakan-kerusakan tersebut. Arang tempurung kelapa mengandung karbon sebesar 81.9%, sama halnya dengan aspal yang juga memiliki kandungan aspal. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui bagaimana stabilitas campuran pada jumlah penambahan serbuk arang tempurung kelapa sebesar 0%, 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%; (2) mengetahui berapa persen kadar serbuk arang tempurung kelapa yang menghasilkan stabilitas tertinggi; dan (3) mengetahui apakah ada pengaruh penambahan serbuk arang tempurung kelapa terhadap stabilitas campuran aspal beton. Penelitian ini dilakukan dengan membuat benda uji kontrol tanpa bahan tambah serbuk arang tempurung kelapa dengan kadar aspal 4.5%, 5%, 5.5%, 6%, 6.5%, 7% dan 7.5% dibuat 3 buah benda uji. Benda uji penelitian ditambahkan serbuk arang tempurung kalapa sebesar 0%, 2%, 4%, 6%, 8%, 10% pada kadar aspal optimum, semuanya dibuat 10 buah benda uji. Hasil penelitian ini diperoleh: (1) kadar aspal optimum adalah 5.75%, dengan campuran tanpa serbuk arang tempurung kelapa dengan nilai stabilitas 1162.66 kg, Flow 3.59 mm, VIM 4.80%, VMA 18.02%, dan Marshall Quotient 323.83 kg/mm, (2) nilai stabilitas Marshall pada campuran aspal dengan penambahan serbuk arang tempurung kelapa adalah: pada penambahan 2% diperoleh stabilitas Marshall 1124.51 kg, pada penambahan 4% diperoleh

A Study of politeness strategy on speech transcripts: on a new beginning & towards harmony among civilizations / Ayrton Eduardo Aryaprabawa

 

Keywords: Speech function, Face, Positive Politeness, Phatic, S, H. Politeness has always been an important part of human communication. For a speaker to be able to deliver his idea to a hearer, he needs to consider whether or not his language may give certain impacts, both negatively and positively. The study of Pragmatics and Sociolinguistics has developed the theory of speech function and FTA (Face Threatening Act) as part of the discussion of the politeness strategy. Such theories have triggered the researcher to conduct a research on the two speech transcriptions given by two presidents of two different countries, Obama from USA and SBY from Indonesia. The two speeches were chosen based on the fact that they were centering on one idea of upholding world peace in the modern era. This study focuses on the scheme of speech function utilization of both speakers and its implications related to the FTA minimization strategy in establishing politeness. In doing so, there are three objectives to be resolved. The first objective is to find out the kind of speech function of every utterances occurred on both speeches. Both speakers have been found out of employing six kinds of speech function among the nine types of speech function as proposed by Holmes (1997) & Searle (1975). The six functions that were used are Representative, Expressive, Directive, Commisive, Phatic, and Referential function. The three functions that were not used are Poetic, Metalinguistic, and Declarative function. The second objective was to reveal the portion of each speech function used on each of the two speeches. On the case of Obama, it was found that of the total of 409 utterances, 38,63% was Referential function, 18,09% was Expressive function, 16,63% was Phatic function, 14,67% was Directive function, 9,78% was Commisive function, and 2,20% was Representative function. While on the speech of SBY, it was found that from the total of 287 utterances, 61,32% was Referential function, 17,42% was Expressive function, 14,63% was Directive function, 3,83% was Phatic function, 2,09% was Commisive function, and 1,05% was Representative function. The Third objective is to show the comparative utilizations of the speech functions on both speeches. It is also to show the comparison of which speech function occurred more or less on the two speeches. In the speech of Obama, the biggest speech function used is Referential function. The following rank are Expressive, Phatic, Directive, Commisive , and Representative function, respectively. On the speech of SBY, the biggest portion of the speech function used is Referential function. The following rank are Expressive, Directive, Phatic, Commisive, and Representative function, respectively. The significant gaps of the two situations are on the use of Referential speech function and the priority application of Phatic and Directive function. The Referential function in Obama’s speech took a significantly bigger portion than in the speech of SBY. In terms of Phatic function and Directive function, the Obama’s speech used more Phatic function than the Directive function. On the other hand, the SBY’s speech utilized more Directive function than the Phatic function. The last objective to be resolved is to analyze the use of Phatic speech functions related the use of Positive Politeness strategy. A Phatic speech function at the end can be categorized as a form of Positive Politeness strategy that utilizes the scenario of: 1) Exaggeration and gift, 2) Disagreement Avoidance, and 3) Assertion of Common Ground and Integration of S and H in the activity. This finding also proofs that speech function; especially Phatic function can be utilized as a strategy to establish significant politeness stipulation. It is concluded that both, Obama and SBY as the S took benefit on the use of Phatic speech function to express their politeness consciousness to the H. This analysis of Obama’s speech in Cairo and SBY’s speech in Harvard has been a tangible evidence of such hypothesis. Nevertheless, such nonconversational communication situation as studied in this research still needs enrichment by future researchers.

Perbedaan prestasi belajar siswa menggunakan LKS dibanding media kuis interaktif berbasis komputer pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang tahun ajaran 2011/2012 / Anindya Fajarani

 

Kata Kunci: LKS, media kuis interaktif berbasis komputer, prestasi belajar. Penggunaan LKS sebagai media pembelajaran sudah diterapkan sebelumnya di SMA Negeri 6 Malang, namun minat siswa dalam mengikuti pembelajaran masih rendah dan berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari nilai siswa yang masih belum memenuhi KKM yaitu 75. Sehingga diperlukan bantuan media yang lebih interaktif untuk dapat meningkatkan minat, motivasi dan prestasi belajar siswa. Bantuan media yang digunakan pada penelitian ini berupa media kuis interaktif berbasis komputer. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat signifikansi perbedaan antara peningkatan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan media LKS dibanding media kuis interaktif berbasis komputer. Penelitian ini merupakan menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain pretest dan posttest, yang dilaksanakan di SMA Negeri 6 Malang tahun ajaran 2011/2012 semester ganjil. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang yang berjumlah 149 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas yakni kelompok eksperimen yang diwakili kelas XI IPS 4 dengan jumlah 38 siswa dan kelas XI IPS 3 dengan jumlah 37 siswa sebagai kelompok kontrol. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa kelas XI IPS. Variabel bebas adalah penggunaan kuis interaktif berbasis komputer pada kelas eksperimen dan LKS pada kelas kontrol. Untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa dilakukan pengukuran kemampuan awal (pretest) dan pengakuan kemampuan akhir (posttest) pada kedua kelas (eksperimen dan kontrol). Data yang digunakan untuk melihat perbedaan peningkatan prestasi belajar siswa yaitu gainscore (selisih nilai pretest dan posttest). Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) prestasi belajar siswa yang menggunakan LKS meningkat sebesar 46,18%, terlihat dari selisih rerata nilai pretest yaitu 42,31 dan rerata nilai posttest 78,50; (2) prestasi belajar siswa yang menggunakan kuis interaktif berbasis komputer meningkat sebesar 51,01%, terlihat dari selisih rerata nilai pretest yaitu 41,57 dan rerata nilai posttest 84,86; (3) terdapat perbedaan peningkatan prestasi belajar antara kelas yang menggunakan LKS dan kelas yang menggunakan kuis interaktif berbasis komputer, terlihat dari hasil uji-t gainscore prestasi belajar siswa thitung. 4,363 > ttabel 1,667 dengan signifikansi sebesar 0,00 < 0,05. Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar siswa yang menggunakan LKS dengan yang menggunakan media kuis interaktif berbasis komputer. Dengan demikian disarankan diadakan penelitian sejenis dengan pemanfaatan media yang lebih interaktif.

Tinjauan pelaksanaan pengajaran tata kalimat khususnya kalimat luas di SMP Negeri Lumajang
oleh Endang Tjahjawati

 

Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan jiwa berwirausaha siswa kelas XI program keahlian jasa boga SMKN 1 Turen / Sovianita Darmastiti

 

Kata Kunci: Faktor-faktor, Jiwa berwirausaha, Program studi Jasa Boga. Abstrak. SMK Negeri 1 Turen sebagai sekolah kejuruan di Kabupaten Malang diharapkan mampu untuk menghasilkan output yang berkualitas, baik dari segi pengetahuan maupun skill. Ketrampilan dan latihan dalam berwirausaha diaplikasikan dengan adanya pengelolaan usaha boga di kantin SMK Negeri 1 Turen. Pembelajaran yang diperoleh berupa pengalaman melaksanakan wirausaha di kantin sekolah secara tidak langsung dapat mempercepat tumbuhnya jiwa wirausaha siswa. Penelitian ini termasuk penelitian survey yang bertujuan untuk mendata tentang faktor-faktor yang dapat menumbuhkan jiwa berwirausaha siswa kelas XI Jasa Boga SMKN 1 Turen. Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan jiwa berwirausaha dalam penelitian yaitu faktor internal (karakteristik sumber daya manusia, kepribadian) dan faktor eksternal (lingkungan keluarga, lingkungan sekolah). Populasi penelitian ini adalah siswa SMKN 1 Turen, sedangkan sampelnya adalah siswa kelas XI Program Studi Jasa Boga yang berjumlah 71 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup dan wawancara. Data pada penelitian dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dengan persentase. Hasil analisis menunjukkan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan jiwa berwirausaha (karakteristik sumber daya manusia (77,05%), kepribadian (77,04%), lingkungan keluarga (71,77%), lingkungan sekolah (72,76%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi faktor-faktor yang dapat menumbuhkan jiwa berwirausaha siswa kelas XI Program Studi Jasa Boga SMKN 1 Turen termasuk kategori baik.

Identifikasi kesulitan belajar mahasiswa S1 Pendidikan Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang pada matakuliah konstruksi pola dan pecah mode / Wafak

 

Kata kunci: Identifikasi, Kesulitan, Belajar, Pola, Busana Matakuliah konstruksi pola dan pecah mode merupakan matakuliah dasar dalam program studi pendidikan tata busana. Oleh karena itu mahasiswa yang menempuh mata kuliah ini hendaknya menguasai materi demi materi secara benar agar dapat mempelajari materi berikutnya. Namun keadaan dilapangan menunjukan bahwa salah satu mata kuliah yang dianggap sulit oleh mahasiswa adalah mata kuliah konstruksi pola dan pecah model. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikesulitan belajar pada Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang pada Mata Kuliah Konstruksi Pola dan Pecah Mode. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa S1 pendidikan Tata Busana Teknologi Industri Universitas Negeri Malang yang telah lulus matakuliah konstruksi pola dan pecah model. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu stratified random samplingkarena populasi bersifat heterogen, oleh karena itu pada setiap angkatan diambil 25% dari populasi akses. Instrumen penelitian berupa angket terbuka dan tertutup, terdiri dari 3 pertanyaan terbuka dan 15 pertanyaan tertutup dalam bentuk multiple choice. Instrumen diuji validitas konstruk dan isi serta uji realibilitas test-retest dengan menggunakan rumus product moment untuk mengukur perbedaan tes pertama dan kedua dengan taraf signifikansi α = 0,05. Penelitian ini megukur 14 indikator pada sub variabel mencari letak kesulitan belajar matakuliah konstruksi pola dan pecah model, yaitu : (1)mempelajari tanda-tanda pola, (2) pengukuran (3) pembuatan pola dasar badan sistem so-en, (4) pembuatan pola dasar rok sistem so-en (5) pembuatan pola dasar lengan sistem so-en (6) pembuatan lipit pantas (7) pembuatan pecah pola lengan, (8) pembuatan aneka pola krah (9) pembuatan aneka pola rok (10) pecah model blus dan gaun, sebagian besar mahasiswa menganggap sulit pada pembuatan pecah model blus dan gaun, (11)merancang bahan dan harga (12) pembuatan pola busana anak (13) pembuatan pola kemeja, (14) pembuatan pola dasar celana. Dari 14 indikator tesebut, sebagian besar responden merasa sulit pada pembentukan kerung lengan dan lingkar pesak serta pengembangan pola dari pola dasar menjadi pecah pola.Hasil analisis pada sub variabel memahami karakteristik kesulitan belajar dalam hal ini adalah memahami faktor apa saja penyebab kesulitan belajar mahasiswa pada matakuliah konstruksi pola dan pecah model busana adalah(1) faktor internal mahasiswa (2) faktor eksternal yang bersumber dari lingkungankelas, keluarga dan masyarakat. Dari indikator tersebut, faktor dominan yang menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa adalah kurangnya kontrol orang tua, tidak ada teman diskusi, dan fasilitas yang kurang mendukung.Dari hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan sebagian berikut: Kesimpulan penelitian ini adalah letak kesulitan belajar mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana pada matakuliah Konstruksi Pola dan Pecah Mode sebagian besar terletak pada proses membentuk poladan pada proses dimana mahasiswa tersebut harus berfikir logis, menggunakan logikanya untuk memecahkan permasalahan dalam membuat pola. Faktor penyebab kesulitan belajar mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang yang paling dominan adalah kurangnya kontrol dari orang tua,kebiasaan belajar yang kurang baik, serta kurangnya fasilitas (meja pola) dalam proses belajar matakuliah konstruksi pola dan pecah mode.1.Lebih memperbanyak latihan dalam penyajian matakuliah konstruksi pola dan pecah model. 2.Perbaikan dan penyempurnaan fasilitas belajar mahasiswa seperti meja, dan alat bantu lainnya bisa menjadi prioritas lembaga.3.Perlu adanya penelitian sejenis pada matakuliah konsep dasar lainnya seperti pada matakuliah teknik dasar menjhit.4.Penelitian ini menunjukan ternyata faktor ekstern mahasiswa (kurang kontrol dari orang tua) dapat mempengaruhi faktor intern mahasiswa dalam kebiasaan belajar, maka perlu adanya penelitian tentang hal tersebut.

Perancangan pembuatan kain batik tulis kontemporer motif khusus untuk anak-anak usia 6-12 tahun (Usia anak sekolah) / Dewi Latifah Ramadhani

 

Kata kunci: batik tulis, kontemporer, anak-anak usia 6-12 tahun Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya "wax-resist dyeing” (Abdul Azis Sa’du, 2010). Penelitian ini bertujuan untuk merancang pembuatan kain batik tulis kontemporer motif khusus untuk anak-anak usia 6-12 tahun (usia anak sekolah). Pembuatan desain motif didasarkan pada psikologi perkembangan anak-anak usia 6-12 tahun, jenis gambar yang disukai dan banyak dibuat oleh anak-anak, serta prinsip-prinsip dan unsur-unsur desain. Desain motif yang dibuat peneliti terdiri dari 5 gambar berbeda yaitu gambar ikan, gambar rumah, gambar gajah, gambar bunga, dan gambar sponge bob. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan tekhnik observasi, angket dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Penyebaran angket bertujuan untuk memvalidkan desain motif yang dibuat oleh peneliti. Penyebaran angket dilakukan kepada ahli desain, psikolog, pengusaha batik, penjual batik, dan anak-anak SD kelas 1-6. Berdasarkan hasil validasi, gambar rumah mendapatkan penilaian sangat setuju dari ahli desain (100%), psikolog (100%), dan pengusaha batik (100%), penjual batik menilai sangat setuju (75%) dan setuju (25%), sedangkan dari anakanak kelas 1-2 mendapatkan penilaian setuju (100%), kelas 3-4 memberikan penilaian setuju (90%) dan tidak setuju (10%), dan kelas 5-6 memberikan penilaian setuju (75%) dan tidak setuju (25%). Gambar ikan mendapatkan penilaian sangat setuju dari ahli desain (100%), psikolog (100%), dan pengusaha batik (100%), penjual batik menilai sangat setuju (50%) dan setuju (50%), sedangkan dari anak-anak kelas 1-2 mendapatkan penilaian setuju (100%), kelas 3-4 memberikan penilaian setuju (100%), dan kelas 5-6 memberikan penilaian setuju (100%). Gambar gajah mendapatkan penilaian sangat setuju dari ahli desain (100%), psikolog (100%), dan pengusaha batik (100%), penjual batik menilai sangat setuju (50%) dan setuju (50%), sedangkan dari anak-anak kelas 1-2 mendapatkan penilaian setuju (90%) dan tidak setuju (10%), kelas 3-4 memberikan penilaian setuju (100%), dan kelas 5-6 memberikan penilaian setuju (75%) dan tidak setuju (25%). Gambar bunga mendapatkan penilaian sangat setuju dari ahli desain (100%), psikolog (100%), dan pengusaha batik (100%), penjual batik menilai sangat setuju (25%) dan setuju (75%), sedangkan dari anakanak kelas 1-2 mendapatkan penilaian setuju (100%), kelas 3-4 memberikan penilaian setuju (100%), dan kelas 5-6 memberikan penilaian setuju (100%). Gambar sponge bob mendapatkan penilaian sangat setuju dari ahli desain (5%), psikolog (100%), dan pengusaha batik (100%), penjual batik menilai sangat setuju (50%) dan setuju (50%), sedangkan dari anak-anak kelas 1-2 mendapatkan penilaian setuju (100%), kelas 3-4 memberikan penilaian setuju (100%), dan kelas 5-6 memberikan penilaian setuju (75%) dan tidak setuju (25%). Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menyarankan kepada penjual batik, pengusaha batik dan mahasiswa untuk bisa lebih mengembangkan budaya batik dengan menciptakan motif-motif batik modern dan kontemporer yang bisa menarik perhatian konsumen. Motif-motif yang diciptakan bukan hanya motif klasik tetapi juga motif modern tanpa mengurangi ciri khas seni batik khususnya untuk anak-anak. Pengusaha dan penjual batik diharapkan dapat memahami pentingnya suatu motif untuk anak-anak yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak-anak.

Pengembangan media pembelajaran apresiasi karya seni kriya mata pelajaran seni budaya berbasis multimedia interaktif di SMA / Cahyo Wahyu Darmawan

 

Kata Kunci: media pembelajaran, multimedia interaktif, animasi, apresiasi karya seni kriya. Materi Apresiasi karya seni kriya merupakan kajian seni budaya yang mengkaji tentang pengertian seni kriya, teknik, bahan, dan jenis-jenis seni kriya di Nusantara, sehingga dalam penjelasannya tidak cukup hanya dengan cara lisan saja. Kondisi ini menyebabkan kesulitan siswa dalam memahami materi, khususnya jenis-jenis seni kriya, seperti: seni kerajinan kulit, seni kerajinan logam, seni kerajinan ukir, seni kerajinan anyam, seni kerajinan keramik, dan seni kerajinan batik . Hal tersebut disebabkan guru kesulitan untuk menunjukkan secara langsung jenis-jenis tersebut di dalam kelas. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan media pembelajaran yang dapat menunjukkan apresiasi karya seni kriya yang dapat membantu siswa memahami materi tersebut. Pengembangan ini menghasilkan media pembelajaran berupa multimedia interaktif yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, video, dan animasi sehingga apresiasi karya seni kriya dapat dipresentasikan. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif, yang terdiri dari kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Data penelitian bersifat kualitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data hasil uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa media ini ”valid”. Hasil uji coba produk diperoleh nilai 87% dengan kriteria ”layak”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah. Bertitik tolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan manfaat dan pengembangan produk yang akan datang diajukan adalah: (1) guru hendaknya menggunakan media ini dalam pembelajaran di kelas khususnya untuk materi apresiasi karya seni kriya , (2) penggunaan LCD Proyektor untuk memperoleh tampilan yang lebih besar sehingga memudahkan siswa untuk mengamati tayangan media, (3) agar produk digunakan secara luas, guru pengajar mata pelajaran seni budaya, baik tingkat SMP maupun SMA.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |