Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran kreatif dan menyenangkan di kelas V SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar / Muhamad Khoirur Rifai

 

ata kunci: membaca pemahaman teks, tari bambu Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Guru sering menekankan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menekankan pembelajaran menulis dan berbicara. Oleh sebab itu guru juga harus mengingatkan siswa bahwa kemampuan membaca pemahaman berhungan erat dengan kemampuan berbahasa yang lain misalnya menyimak, berbicara dan menulis. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di kelas V SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan penggunaan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman di kelas V SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Mronjo 01 Kabupaten Blitar pada kelas V karena sebagian besar siswa kurang mampu memahami materi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran yang dilakukan guru mata pelajaran kelas V, dapat diketahui tingkat pemahaman siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil tes menunjukkan hanya 5 siswa yang sudah mencapai KKM dari 12 siswa. Hal ini berarti hanya 41,6% siswa yang tuntas belajar. Setelah penerapan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan metode tari bambu, pemahaman siswa pada observasi awal adalah 41,6% atau 5 anak. Setelah diterapkannya pembelajaran kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan metode tari bambu, tingkat pemahaman siswa yang dicapai pada siklus I adalah 58,3%. Sedangkan pada siklus ke II mengalami peningkatan lagi yaitu mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kreatif dan menyenangkan dengan menggunakan metode tari bambu dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman pada siswa. Dengan demikian, guru hendaknya dapat menerapkan metode pembelajaran inovatif seperti tari bambu, sehingga keterampilan siswa menjadi lebih baik lagi.

Penerapan model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa kelas IIA SDN Kasin Malang / Ika Wahyu Septiana

 

Kata Kunci: penerapan, numbered Heads Together, menulis deskripsi, SDN Kasin Malang Paeramasalahan kelas IIA SDN kasin malang pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi tentang menulis deskripsi ini masinh kurang. Siswa-siswa kelas dua pada umumnya kurang memahami cara menulis deskripsi. Penulisan mereka masih cenderung pada penulisan narasi jika diminta menulis deskripsi. Penggunaan model pembelajaran dalam suatu pembelajaran bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran dalam pendidikan. Model pembelajaran Numbered Haeds Together bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi di kelas IIA SDN kasin Malang. Untuk itu pada dalam pemeblajaran bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan model pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran menjadi lebih baik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan langsung pengamatan kesumber data, wawancara, dokumentasi. Kemudian pelaksanaan pengumpulan data diperlukan intrumen penelitian, sebagai instrumen utama, peneliti menggunakan beberapa alat yang digunakan mengumpulkan data antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pedoman wawancara, dan catatan lapangan yang berisi deskripsi kegiatan belajar berlangsung. Dalam penelitian ini mengguanakan kegiatan-kegiatan siklus PTK yaitu siklus 1 dan siklus 2 yang terdiri dari: (1) perencaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) obsevasi, dan (4) melakukan refleksi. Jika hasilnya belum mencapai target maka dialnjudkan pada siklus 2. Pada kegiatan sikus 1yang telak dilaksanakan siswa yang memenuhi SKM dan nilainya mendapat nilai >71 sebanyak 9 siswa prosentasenya 21%, sedangkan yang siswa yang mendapat nilai 71 seabyak 36 siswa dengan prosentase 80% dan siswa yang mendapat nilai

Peningkatan keterampilan berbciara melalui pendekatan pragmatik di kelas V SDN Tangkil 02 Kabupaten Blitar / Binti Masruroh

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Jigsaw, hasil belajar perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi, Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Dasar. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk : (1) memberikan gambaran dampak penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi dilihat dari suasana belajar dan interaksi belajar siswa kelas IV SD Tulungrejo 03 Kecamatan Gandusari, (2) meningkatkan hasil belajar siswa materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi siswa kelas IV SD Tulungrejo 03 Kecamatan Gandusari. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dua siklus. Masing-masing siklus memiliki tahapan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SDN Tulungrejo 03 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV tahun pelajaran 2008/2009. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan tes. Teknik analisis data dengan menggunakan batas ketuntasan individu 65% dan batas ketuntasan klasikal 85%. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) dampak penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw memberikan suasana pembelajaran lebih menyenangkan, interaksi belajar meningkat baik dari interaksi siswa dan siswa maupun interaksi guru-siswa, (2) hasil belajar berupa konsep pemahaman materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi meningkat secara klasikal dari 20% pada pratindakan menjadi 66% pada siklus I kemudian menjadi 93,33% pada siklus II. Proses aktivitas siswa dalam kerjasama meningkat dari 80 % pada siklus I menjadi 93,33% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi yang diterapkan memberikan suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan interaksi belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa baik dari segi pemahaman konsep materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi maupun hasil belajar proses kerjasama.

Penerapan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Plintahan II Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Pipit Mau Ria

 

Kata kunci: pembelajaran, IPA, model Problem Based Learning Berdasarkan observasi awal di SDN Plintahan II Pandaan, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas V masih relatif rendah. Guru cenderumg menggunakan metode ceramah. Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif dan kurang kreatif sehingga perlu adanya model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif. Selain itu guru tidak pernah memberikan pertanyaan ataupun permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan siswa. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa dan melatih siswa dalam pemecahan masalah salah satunya adalah model pembelajaran Problem Based Learning. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Plintahan II Pandaan dengan Kompetensi Dasar (KD) “Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak, dan energi melaui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran model Problem Based Learnig, 3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model Problem Based Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Problem Based Learning dapat meningkatkan: 1) aktivitas siswa dari pra tindakan ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan ke arah baik (B), yaitu pada tingkat K dari siklus I (9,35%) menjadi (0%) ke siklus II. Tingkat C dari siklus I (22,9%) menjadi (6,25%) ke siklus II, dan tingkat B mengalami kenaikan sebesar 27% yaitu dari siklus I (66,7%) menjadi (93,7%) ke siklus II, dan 2) Ketuntasan belajar siswa dari pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 29,1%, dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hasil belajar siswa sebesar 8,4%, dan dari siklus II ke postest tidak mengalami peningkatan hasil belajar siswa. Jika dibandingkan antara pretest dengan postes, terjadi peningkatan sebesar 37,5%. Dari kegiatan pra tindakan, siklus I, dan ke siklus II dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran model PBL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk perbaikan pembelajaran ini yaitu diharapkan guru lebih memotivasi siswa dalam kegiatan kelompok. Bagi para guru yang akan menggunakan model ini hendaknya perencanaan awal disiapkan secara matang seperti RPP, LKS, soal evaluasi, media, pengaturan kelas, dan lain-lain yang perlu disiapkan.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran yurisprudensi inkuiri di kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri / Asri Indria Hapsari

 

Kata Kunci: hasil belajar, PKn, yurisprudensi inkuiri Sering muncul anggapan bahwa pembelajaran PKn kurang menarik dan monoton, sehingga siswa merasa bosan dan tidak antusias saat mengikuti pembelajaran, yang akhirnya berpengaruh pada rendahnya hasil belajar siswa. Model pembelajaran yurisprudensi inkuiri memberi kesempatan siswa untuk berpikir kritis dalam menyikapi sebuah masalah serta mampu mengungkapkan ide-ide dalam pembelajaran. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran yurisprudensi inkuiri dalam pembelajaran PKn di kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri?; (2) Apakah penerapan model pembelajaran yurisprudensi inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar PKn di kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri? Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru SD. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Banyakan 1 Kabupaten Kediri dengan jumlah 27 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu, observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pratindakan 63 dan ketuntasan belajar klasikal 26%, kemudian pada siklus I pertemuan 1 rata-rata hasil belajar 66 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 41%. Karena belum mencapai standar ketuntasan belajar klasikal yang ditentukan, maka dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II pertemuan 2 diperoleh rata-rata hasil belajar sebesar 71, dengan ketuntasan belajar klasikal 78%, sedangkan siklus II pertemuan 2 rata-rata hasil belajar siswa menjadi 85 dengan ketuntasan klasikal sebesar 93%. Pembelajaran dinyatakan tuntas karena sudah melebihi standar ketuntasan belajar klasikal yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran yurisprudensi inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Banyakan 1 Kab

Peningkatan kemampuan membaca teks bacaan melalui model pakem di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar / Meiditya Fitri Wardhani

 

Kata kunci: membaca teks bacaan, model PAKEM Pembelajaran membaca teks bacaan di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar hanya diberikan sekilas yaitu guru membaca dan siswa menyimak. Selan-jutnya guru memberi tugas membaca dan soal. Tidak adanya pemberian materi menyebabkan banyak siswa mendapat nilai di bawah KKM yang ditetapkan (75). Penelitian ini membahas permasalahan, yaitu (1) bagaimanakah penerapan model PAKEM untuk meningkatkan kemampuan membaca teks bacaan di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar, dan (2) bagaimanakah peningkatan kemam-puan membaca teks bacaan melalui model PAKEM di kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kua-litatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan taha-pan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) re-fleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model PAKEM dapat mening-katkan hasil membaca teks bacaan siswa kelas III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 63, siklus I 74, dan si-klus II 85 . Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 25%, siklus I sebesar 75%, dan siklus II 95%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga me-ningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 70%, dan siklus II 95%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model PAKEM dapat meningkatkan hasil membaca teks bacaan siswa ke-las III SDN Talun 03 Kabupaten Blitar. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan model PAKEM sebagai model pembelajaran di kelas rendah seperti kelas III.

Penerapan model pembelajaran two stay two stray untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang / Ning Wijaya

 

Kata Kunci: model two stay two stray, aktivitas belajar, hasil belajar Pembelajaran IPA apabila pelaksanaannya berpusat pada guru menjadikan siswa pasif dalam belajar. Kurang keterlibatan siswa secara langsung dalam pembelajaran kelompok akan mengakibatkan siswa kurang mampu memahami materi yang dipelajari. Pelaksanaan pembelajaran dengan berkelompok yang kurang efektif dapat menimbulkan ketergantungan siswa kepada temannya dalam penyelesaian tugas kelompok. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray. Keunggulan dari model pembelajaran Two Stay Two Stray siswa dapat aktif dan bekerjasama dalam belajar karena mendapatkan kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok lain, dan meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap tugas yang harus diselesaikan. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tindakan dalam PTK tersebut berupa model pembelajaran Two Stay Two Stray yang terdiri dari lima tahapan yaitu persiapan, presentasi guru, kegiatan kelompok, presentasi kelompok, evaluasi dan penghargaan. PTK ini terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang dan pokok bahasan tanah dan struktur bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray pada siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang, 2) penerapan model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan aktivitas belajar IPA siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang, 3) penerapan model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tanjungrejo 2 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, dokumentasi, tes, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil analisis dapat dilihat peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 20%. Hasil belajar IPA juga menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 25,8%. Peningkatan nilai rata-rata pada setiap siklusnya yang berdampak positif terhadap ketuntasan belajar. Pada akhir siklus II masih terdapat 3 siswa yang belum tuntas dalam belajar (< 70), hal ini disebabkan adanya faktor intern dari diri siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan, sebaiknya model pembelajaran Two Stay Two Stray dijadikan alternatif pembelajaran karena mengandalkan kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan temannya dalam membantu menguasai materi pelajaran, serta dalam pembelajaran Two Stay Two Stray ini guru perlu mempertimbangkan waktu yang direncanakan dengan seksama agar proses pembelajaran IPA berjalan efektif dan efisien.

Penggunaan media flip chart untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV di SDN Bareng 5 Kota Malang / Wahyu Tri Hanani

 

Penerapan metode eksperimen dengan memanfaatkan barang bekas pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karang Pakis II Kabuh Jombang / Neni Widaryanti

 

Kata kunci: Metode Eksperimen, aktivitas, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA di SDN Karang Pakis II Kabuh Jombang, guru masih tampak menggunakan metode ceramah dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa yaitu 52,2 dan masih terdapat 19 siswa atau 61,3% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 60. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, yaitu dengan penerapan metode eksperimen. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Karang Pakis II Kabuh Jombag setelah diterapkannya metode pembelajaran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan metode eksperimen pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas belajar siswa kelas IV, (3) hasil belajar siswa setelah menerapkan metode eksperimen di kelas IV. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri atas 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Sedangkan Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar wawancara, lembar observasi aktivitas siswa dan guru. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah dengan penerapan metode eksperimen maka aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi energi panas dan energi bunyi mengalami peningkatan. Pada siklus I aktivitas siswa mencapai 60% sedangkan pada siklus II mencapai 83,3%. Sedangkan hasil belajar siswa siklus I sebesar 56,7%, sedangkan pada siklus II mencapai 90%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan bagi guru apabila ingin menerapkan metode eksperimen hendaknya memperhatikan segala persiapan yang dibutuhkan mulai dari pengoraganisasian kelompok sampai dengan pengadaan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk percobaan sehingga diharapkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada saat pembelajaran IPA dapat meningkat. Sedangkan bagi peneliti lain, diharapkan dapat mengembangkan penelitian metode eksperimen agar tercipta inovasi yang lebih kaya dalam pembelajaran IPA.

Meningkatkan hasil belajar melalui metode problem solving dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kotes 01 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Erwin Putera Permana

 

Kata kunci: hasil belajar, problem solving, IPS Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa nilai hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Kotes 01 Kabupaten Blitar masih kurang memuaskan, hal ini dapat diketahui dari nilai hasil belajar IPS yaitu hanya 14 siswa dari 33 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Hal ini disebabkan oleh guru menggonakan metode ceramah tanpa ada variasi metode inovatif, siswa kurang aktif, pembelajaran berpusat pada guru, tidak menggunakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), tidak menggunakan media pembelajaran, siswa kurang diberi kesempatan untuk berkreatifitas, siswa tidak diajak untuk menemukan konsep tetapi ditunjukkan konsep yang harus selalu diingat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode problem solving dalam pembelajaran IPS dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam pelaksanaannya melalui empat tahapan tiap siklus yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi, lembar wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian metode problem solving menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Proses peningkatan aktivitas siswa pada pertemuan 1 siklus I adalah 57, pada pertemuan 2 siklus I meningkat menjadi 63, pada pertemuan 3 siklus I meningkat menjadi 63, pada pertemuan 1 siklus II meningkat menjadi 64, pada pertemuan 2 siklus II meningkat menjadi 66 dan pada pertemuan 3 siklus II meningkat menjadi 69. Peningkatan hasil belajar IPS dari pra tindakan berdasarkan persentase yaitu 14 anak atau 42% siswa tuntas, pada siklus I terjadi peningkatan mencapai 21 anak atau 64% siswa tuntas belajar, pada siklus II terjadi peningkatan dengan mencapai 32 atau 97% siswa tuntas belajar dan 1 siswa tidak tuntas belajar karena tergolong siswa lambat belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode problem solving dapat meningkatan aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajar IPS. Dengan demikian, hendaknya dapat menerapkan metode pembelajaran yang lebih inovatif seperti problem solving, sehingga prestasi belajar siswa menjadi lebih baik lagi.

Penerapan media nyata untuk mengatasi kesalahan konsep IPA pada materi gaya terapung, tenggelam dan melayang dalam air di kelas IV SD Negeri Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang / Dwi Sucahyono

 

Kata kunci: media nyata, kesalahan konsep, gaya terapung, tenggelam, dan melayang. Penelitian tindakan kelas ini didasari oleh adanya kesalahan konsep pada kelas IV SDN Oro-oro Dowo yaitu pada materi gaya terapung, tenggelam dan melayang. Data diperoleh dari pratindakan yang dilakukan oleh peneliti. Adapun rincian data tersebut sebagai berikut. Kesalahan konsep terapung pada soal no 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 15 dan 20 secara runtut sebesar 84,21%, 18,42%, 93,36%, 65,78%, 92,1%, 97,36%, 7,89%, 94,73%, 98,42%, dan 92,1%. Pada soal mengenai konsep tenggelam, tertera kesalahan konsep pada no 8, 14, 16, 17, 18, 19, dan 20 secara runtut adalah 44,73%, 44,73%, 47,36%, 55,26%, 5,26%, 94,73%, dan 92,1%. Selanjutnya pemahaman soal konsep melayang yang terdapat pada no 9, 11, 12, 13, dan 20 secara runtut sebesar 23,68%, 36,84%, 86,84%, 73,68%, dan 92,1%, dapat disimpulkan bahwa kesalahan konsep terapung, tenggelam dan melayang sangat besar sekali. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesalahan konsep yang terjadi pada siswa dengan memakai media nyata, menemukan metode yang sesuai untuk meningkatkan pemahaman materi terapung, tenggelam dan melayang. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas.Pengumpulan data mengenai penelitian ini diperoleh dari hasil pratindakan, dan hasil tes evaluasi siklus I dan siklus II, serta dokumen berupa foto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode praktikum. Hasil penelitian penerapan pembelajaran dengan media nyata untuk mengatasi miskonsepsi ini berhasil menurunkanya dari awal pratindakan sampai siklus 2 dengan paparan data sebagi berikut. pada soal no 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 15 dan 20 diperoleh data 21,05%,5,27%, 18,42%, 15,15%, 42,1%, 41,47%, 2,63%, 44,74%, 15,79% dan 28,95%. Gaya tenggelam dideskripsikan penurunannya secara runtut pada no no 8, 14, 16, 17, 18, 19, dan 20 adalah 7,89%, 10,52%, 20,68%, 13,15%, 2,63%, 34,21%, dan 28,95%. Sedangkan gaya melayang pada no 9, 11, 12, 13, dan 20 dirinci sebagai berikut. 2,63%, 0%, 34,21%. 18,42% dan 28,95% Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berhasil dalam menerapkan media nyata dalam pembelajaran, meningkatkan pemahaman konsep dan meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi gaya terapung, tenggelam dan melayang. dari keberhasilan tersebut Penelitian juga disarankan untuk selalu menyiapkan semua yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar dengan media nyata ini dengan sempurna agar penyampaian materi dapat terlaksana dengan baik dan mempercepat pemahaman siswa mengenai materi yang dipelajari.

Pengembangan butir tes pilihan ganda distraktor bermakna untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMA pada materi hukum Newton dan gaya / Januar Anton Firmansyah

 

Kata Kunci : butir tes pilihan ganda distraktor bermakna, miskonsepsi, hukum Newton dan gaya. Miskonsepsi dapat diartikan konsepsi seseorang yang tidak sesuai dengan yang diterima para ilmuan atau pakar. Miskonsepsi dapat mengganggu pemikiran siswa baik ketika siswa mengerjakan soal maupun ketika siswa menerima materi berikutnya. Materi hukum Newton dan gaya merupakan salah satu materi fisika di mana siswa banyak mengalami miskonsepsi. Selama ini usaha untuk mengidentifikasi miskonsepsi fisika jarang dilakukan oleh guru-guru fisika di Indonesia. Alat identifikasi miskonsepsi yang pernah dikembangkan oleh peneliti di dalam dan di luar negeri membutuhkan waktu lama dalam proses analisisnya. Atas dasar kendala tersebut, maka dikembangkan butir tes pilihan ganda distraktor bermakna sebagai alat identifikasi miskonsepsi pada materi hukum Newton dan gaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan butir tes pilihan ganda distraktor bermakna sebagai alat identifikasi miskonsepsi pada materi hukum Newton dan gaya serta mengetahui kelayakan dan karakteristik butir tes pilihan ganda distraktor bermakna yang telah dikembangkan. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan meliputi: studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, uji coba awal, dan revisi produk awal. Penelitian ini menggunakan teknik perhitungan rata-rata untuk validasi isi, analisis dengan program Analisis Tes (Anates), dan analisis dengan program Analisis Asesmen Formatif Fisika (AAFF). Validasi isi dilaksanakan oleh guru dan dosen sebagai validator. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, soal uraian, dan soal pilihan ganda. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan skala Likert dan data kualitatif berupa tanggapan dan saran oleh validator. Produk akhir penelitian dan pengembangan ini adalah butir tes pilihan ganda distraktor bermakna materi hukum Newton dan gaya. Produk tersebut dikembangkan berdasarkan butir tes uraian yang telah diujikan sebelumnya dan berdasarkan deskripsi jawaban siswa pada butir tes uraian. Produk yang dihasilkan memiliki empat alternatif jawaban dengan deskripsi yang berbeda-beda. Deskripsi yang dibuat menggambarkan pemikiran siswa ketika memilih sebuah alternatif jawaban. Berdasarkan hasil analisis data, produk yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak, namun masih perlu ada revisi berdasarkan tanggapan dan saran dari validator. Produk yang dihasilkan telah mampu mengidentifikasi miskonsepsi siswa, dapat memberikan umpan balik pada siswa terhadap kemajuan belajarnya, dan dapat mengelompokkan siswa berdasarkan miskonsepsinya sehingga mudah untuk melakukan program remedial teaching.

Modifikasi media peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang / Feri Mardiyansah Pribadi

 

Kata kunci: Pengembangan, Modifikasi, Pembelajaran, Tolak Peluru, Peluru Kayu Salah satu tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Di dalam dunia pendidikan, pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan satu mata pelajaran yang harus dimasukkan dalam kurikulum di semua jenis dan jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Permainan dan olahraga adalah satu pokok bahasan dari mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang terdapat dalam standart kompetensi Sekolah Menengah Pertama Kelas VII. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu mempraktikkan teknik dasar perorangan lanjutan atletik, serta nilai disiplin, semangat, sportifitas, percaya diri dan kejujuran. Nomor-nomor kejuaraan atletik di atas, nomor lempar biasanya digolongkan menjadi lempar cakram, lempar lembing, lontar martil, dan tolak peluru. Dari keempat golongan di atas yang akan dibahas lebih lanjut adalah tolak peluru. Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran tolak peluru di sekolah, tentunya diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, hal ini biasanya yang menjadi masalah di sekolah. Minimnya sarana dan prasarana di sekolah adalah faktor utama yang menghambat proses pembelajaran tolak peluru. Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru olahraga dan di SMP Negeri 1 Kota Malang, pada saat pembelajaran tolak peluru, peluru yang digunakan adalah peluru yang standar, berhubungan dengan antusiasme siswa terhadap pembelajaran tolak peluru, peluru yang standar di rasa sangat berat. Dan juga dijelaskan bahwa pada pembelajaran tolak peluru diperlukan media atau alat yang bisa digunakan pada saat pembelajaran tolak peluru sehingga siswa bisa lebih antusias dan pembelajaran tolak peluru bisa dilaksanakan dengan optimal. Peneliti juga melakukan wawancara pada seorang siswa, dan siswa tersebut tidak senang terhadap pembelajaran tolak peluru. Salah satu alasan yang dikatakan siswa tersebut adalah peluru yang digunakan terasa sangat berat. Maka dalam hal ini modifikasi pada media (peluru) sangat dibutuhkan. Tujuan penelitian & pengembangan ini adalah mendapatkan peluru yang cocok/sesuai dan ada peluru yang dapat dijadikan alat untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang, sehingga pembelajaran tolak peluru bisa dilaksanakan secara optimal. Model pengembangan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan Borg & Gall yang dimodifikasi menjadi 7 langkah yaitu: (1) Pengumpulan informasi dari observasi dan wawancara (analisis kebutuhan), (2) mengembangkan bentuk persiapan dari rencana produk, (3) proses pembuatan produk dan evaluasi ahli, (4) uji coba (kelompok kecil) menggunakan 9 siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang, (5) revisi rencana produk hasil dari uji coba (kelompok kecil), (6) uji lapangan (kelompok besar) menggunakan 45 siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang, (7) produk akhir hasil pengembangan hasil dari uji lapangan (kelompok besar). Dari penelitian & pengembangan dan prosedur yang dilakukan di atas dihasilkan produk yaitu peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang. Spesifikasi peluru berbahan kayu tersebut ada 2 yaitu: (1) Spesifikasi produk peluru yang pertama atau peluru model A dengan Bahan kayu, Berdiameter 110-130 mm, dan Berat 600-800 gr, (2) Spesifikasi produk peluru yang kedua atau peluru model B dengan Bahan kayu, Berdiameter 95-110 mm, dan Berat 400-600 gr. Berdasarkan hasil uji coba (kelompok kecil) diperoleh hasil bahwa modifikasi media peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang dapat digunakan karena memenuhi kriteria valid dengan persentase 96,67%. Dan hasil uji lapangan (kelompok besar) juga diperoleh hasil valid/digunakan dengan persentase 96,89%. Produk penelitian & pengembangan media peluru berbahan kayu untuk pembelajaran tolak peluru pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Malang ini disarankan dapat dijadikan sarana untuk pembelajaran khususnya tolak peluru oleh guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah. Dalam hal pemanfaatan produk peluru berbahan kayu ini harus diperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Sebagai upaya penyebarluasan produk yang telah dikembangkan ke sasaran yang lebih luas sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Dan disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga hasil pengembangan ini dapat dimanfaatkan dengan baik.

Pengembangan ragam variasi model self assessment mata pelajaran otomatisasi perkantoran pada kurikulum 2013 dengan menggunakan aplikasi adobe flash CS3 / Elma Dinda Puspita Atma Negara

 

ABSTRAK Negara, Elma Dinda Puspita Atma. 2015. Pengembangan Ragam Evaluasi Model Self Assessment Mata Pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada Kurikulum 2013 dengan Menggunakan Aplikasi Adobe Flash CS3. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Agung Winarno, M.M, (II) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd., M.M. Kata Kunci: evaluasi, ragam evaluasi, self assessment. Pendidikan di Indonesia selalu mengalami pembaharuan. Hal dilakukan agar kualitas pendidikan di Indonesia bisa setara dengan pendidikan pada negara-negara maju. Seperti halnya kurikulum yang selalu berubah dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Kurikulum yang baru-baru ini ditetapkan di Indonesia adalah kurikulum 2013. Dalam penelitian dan pengembangan ini yang dikembangkan merupakan instrumen dari evaluasi dalam proses pembelajaran. Instrumen evaluasi ini menggunakan model self assessment yang saat ini sangat populer dalam kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menyusun instrumen evaluasi model self assessment mata pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada kurikulum 2013 dengan berbantuan Adobe Flash CS3; (2) mendeskripsikan tentang cara menggunakan produk berupa alat evaluasi model self assessment mata pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada kurikulum 2013; (3) menguji cobakan ragam evaluasi model self assessment mata pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada kurikulum 2013 yang dikembangkan di sekolah. Penelitian pengembangan ini dirancang untuk memperoleh suatu produk. Produk yang dimaksud adalah instrumen evaluasi model self assessment mata pelajaran otomatisasi perkantoran pada kurikulum 2013 yang terdiri dari dua aspek instrumen yaitu, aspek kognitif dan psikomotor. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang terdiri atas 4 tahap yaitu; (1) define; (2) design; (3) develop; dan (4) disseminate.Lokasi penelitian adalah SMK Negeri 1 Turen dengan subjek penelitian siswa kelas X APK 2. Desain uji coba produk ini melibatkan beberapa ahli dan praktisi yaitu, validasi dari ahli materi. ahli media, dan siswa kelas X APK 2 SMK Negeri 1 Turen. Data yang diperolah dari uji coba produk pengembangan adalah data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian dari pengembangan produk ini menunjukkan bahwa hasil validasi dari ahli materi memiliki jumlah presentase sebesar 100%. Sedangkan, hasil dari validasi ahli media memiliki jumlah presentase sebesar 93,33%. Hasil dari validasi ahli materi dan media ini dapat dinyatakan telah memenuhi kriteria kualifikasi sangat valid (dapat digunakan tanpa revisi). Setelah produk diujicobakan kepada siswa, menunjukkan bahwa hasil penilaian pretest rata-rata nilainya adalah dibawah 75 dan hasil postest rata-rata nilainya berada diatas 75. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa berada diatas KKM yang ditetapkan dan Evaluasi Model Self Assessment Mata Pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada Kurikulum 2013 yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan hasil belajar.Selain itu dalam uji coba peroragan dan uji coba kelompok kecil 98,12% dan 95,62%. Hal ini membuktikan bahwa dengan adanya media Evaluasi Model Self Assessment Mata Pelajaran Otomatisasi Perkantoran pada Kurikulum 2013 ini dapat meningkatkan semangat belajar siswa karena siswa dapat melakukan evaluasi secara mandiri khususnya untuk siswa SMK Negeri 1 Turen. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan tersebut, maka disarankan agar penilaian yang muncul langsung dihubungkan dengan database, sehingga selain siswa dapat mengevaluasi secara mandiri, guru juga dapat melihat hasil evaluasi siswa secara otomatis.

Peningkatan kemampuan menulis cerita pengalaman melalui metode karya wisata di kelas V MI Ta'limusshibyan Karangpandan Rejoso Pasuruan / Fathur Rozi

 

Kata Kunci: menulis cerita, metode karya wisata , Sekolah Dasar (SD). Kemampuan menulis pada hakikatnya merupakan hasil dari sebuah proses. Dengan konsep dasar seperti ini maka kesempatan menulis akan diperoleh siswa melalui proses yaitu dengan pelatihan. Keterampilan menulis sangat dibutuhkan karena merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat atau merekam, melaporkan atau memberitahukan dan mempengaruhi. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikiran dan mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata dan struktur kalimat yang jelas. Berdasarkan hasil observasi di kelas V MI Ta’limussibyan Karangpandan Rejoso Pasuruan, ditemukan permasalahan kemampuan menulis siswa yang masih rendah. Salah satu penyebabnya diduga karena penggunaan metode pembelajaran dan bahan ajar yang kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peningkatan keterampilan menulis cerita pengalaman siswa kelas V melalui metode karya wisata, (2) perilaku siswa kelas V dalam mengikuti pembelajaran menulis cerita pengalaman dengan metode karya wisata. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan 2 siklus. Subyeknya 16 siswa kelas V MI Ta’limussibyan Karangpandan Rejoso Pasuruan. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, lembar penilaian proses, lembar penilaian kemampuan menulis, tes dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan mengelompokkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari instrumen penilaian proses dan wawancara, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari tes, instrumen observasi dan penilaian kemampuan menulis. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Hal ini diketahui dari peningkatan kemampuan menulis siswa yang mencakup unsur cerita (tokoh, latar, alur) dan tata bahasa (ejaan, tanda baca, pengkalimatan) yang dinilai menggunakan deskripsi nilai kemampuan menulis. Siswa dikatakan tuntas jika memperoleh nilai minimal 70 berdasarkan deskripsi nilai tersebut. Dari 16 siswa, yang tuntas pada pra tindakan sebanyak 3 atau 18,8%, meningkat menjadi 9 atau 56,3% pada siklus 1, kemudian meningkat lagi menjadi 13 siswa atau 81,3% pada siklus 2. Secara keseluruhan peningkatan yang diperoleh mulai dari pra tindakan sampai tindakan siklus 2 sebesar 62,5% atau 10 siswa dari yang semula 3 siswa menjadi 13 siswa yang tuntas. Secara umum disimpulkan metode karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas V melalui tahap-tahap dalam proses menulis yaitu menulis draft; merevisi; mengedit; menulis jadi; dan memajangnya. Disarankan kepada guru untuk menjadikan metode karya wisata sebagai alternatif dalam meningkatkan kemampuan menulis di kelas V maupun di kelas yang lain.

Prototype media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis permainan simulasi materi aritmatika sosial untuk siswa SMP kelas VII / Inggit Latih Nilasari

 

Kata Kunci: Prototype, Aritmatika Sosial, Media Pembelajaran, Komputer, Permainan Simulasi. Aritmatika Sosial adalah materi yang penting karena berhubungan dengan kegiatan dalam kehidupan sehari hari. Oleh karena itu, materi Aritmatika Sosial merupakan materi yang seharusnya dalam penyampaian materi membutuhkan suatu simulasi agar siswa dapat memahaminya. Namun, siswa pada umumnya dalam pembelajaran cenderung hanya dihadapkan pada suatu soal yang harus dikerjakan dengan suatu rumus tertentu. Dan ini tentunya membuat siswa bosan sehingga menjadi kurang memahami materi Aritmatika Sosial. Adanya simulasi materi Aritmatika Sosial dalam suatu pembelajaran juga terkadang kurang efektif, hal ini dikarenakan siswa yang aktif belajar dalam simulasi akan memperoleh manfaat dari proses tersebut. Namun siswa yang pasif cenderung untuk tidak mau melakukan simulasi tersebut dan ini tentunya merugikan bagi beberapa siswa. Selain itu dalam mempersiapkan dan melakukan simulasi dalam pembelajaran membutuhkan waktu yang banyak. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya suatu media yang membantu siswa dalam mempelajari materi Aritmatika Sosial yaitu dengan menggunakan media berbantuan komputer. Penulis dalam pengembangan media ini menggunakan 10 langkah pengembangan media yang dikembangkan oleh Stephen M. Alessi dan Stanley R. Trollip yaitu: (1) Menentukan tujuan dan kebutuhan, (2) Mengumpulkan bahan acuan, (3) Mempelajari isi, (4) Mengembangkan ide (brainstorming), (5) Mendesain pembelajaran, (6) Membuat flowchart materi, (7) Membuat Stroryboard, (8) Memprogram materi, (9) Membuat materi pendukung, (10) Evaluasi dan revisi. Media pembelajaran berbantuan komputer ini digunakan oleh siswa secara individu. Media pembelajaran ini berisi materi, latihan soal, permainan simulasi (games), dan petunjuk penggunaan media. Permainan simulasi pada media ini memiliki tema Berburu Emas. Penulis memperoleh hasil rata-rata skor 7,59 untuk validasi kepada para ahli dan rata-rata skor 16,47 untuk validasi kepada pengguna media (siswa). Masing-masing rata-rata skor tersebut lebih besar dari skor netral dan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ini mendapatkan respon positif sehingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran matematika pada siswa SMP kelas VII.

The use of popup pictures to improve vocabulary mastery of the second year students of state elementary school "Gempol 3" at Pasuruan regency / Lustia Ritia Putri

 

Keywords: instructional media, popup pictures, vocabulary. Instructional media are media which are used in the learning process in the classroom. This thesis deals with popup pictures as an instructional medium. The purpose of the use of popup pictures is to improve vocabulary mastery of the second year students of State Elementary School “Gempol 3”. The problem in this study comes up when the researcher did her observation and asked the students in the 2nd grade of State Elementary School “Gempol 3” about the name of an object or some vocabularies, they could not answer without opening their textbook. They are addicted to always opening their textbooks to find the answer. Popup pictures are papers which contain folded cut-out pictures in a form of two dimensional scenes or figures when the papers are opened. These media are suitable for students of elementary schools in learning new English vocabulary. Vocabulary is a list of words that are taught by the teacher and learned by the students. This classroom action research (CAR) method consists of two cycles, and the approach is qualitative approach. Cycle 1 and Cycle 2 were conducted in five meetings. There were three meetings in Cycle 1 and two meetings in Cycle 2. Each cycle consists of four stages; those were planning, implementation, observing, and reflection. Planning the action consists of prepared teaching strategy, lesson plans, research instruments, instructional media, and criteria of success. Next, it was the implementation of the action which describes the way teacher teaches the students based on the lesson plans and instructional media (popup pictures, and popup pictures + clue cards). In observing the action, the observer observed and collected the data based on the activities in the classroom. In reflecting the action, the researcher analyzed the data and determined whether the actions succeed or not. The material or topic which was used in this research was about the means of transportations and the name of toys. The application of popup pictures + clue cards in Cycle 2 was appropriate to use in learning English vocabulary and improving students’ vocabulary mastery because the forms and the colors of popup pictures were interesting, and the clues which stated in the clue cards could make the students easier to learn the new vocabulary by memorizing the characteristics of an object. This finding could be seen from the scores of the students’ vocabulary test which improved in Cycle 2. The mean of scores in Cycle 1 was 77.34, and the mean of scores in Cycle 2 was 95.84. The results of the mean in vocabulary test Cycle 2 increased from the results of the mean in vocabulary test Cycle 1, from 77.34 to 95.84, and all the students’ scores were above the standard. The success of using popup pictures to improve vocabulary mastery of the second year students of State Elementary School “Gempol 3” appeared when the researcher/teacher used popup pictures and clue cards in learning vocabulary in the Cycle 2. The procedures of using popup pictures + clue cards are as follows: (1) the researcher asked the students to take one of the clue cards, (2) she read the clues or characteristics of an object in the clue card, (3) she asked the name of an object which matched with the clues in clue card to the students, (4) after the students knew the answer, the researcher asked them to find the object by opening the pictures, (5) she asked in what number the object was stated. The researcher did this procedure for the next pictures until the last pictures. Based on the results of the research, the researcher has some suggestions: (1) English teachers in primary schools are suggested to use these media to make the teaching and learning process more fun, relieving the students’ boredom, and attracting the students to be more active in learning English. Popup pictures which were used as an instructional medium especially in learning vocabulary were appropriate because these media have interesting forms and colors; these media were cheap; and the teacher can also create their own popup pictures using recycle material at home. (2) Future researchers are suggested to make the popup pictures more interesting than before if these popup pictures are going to be applied again in their research for students in elementary schools. Using an instructional medium in this case popup pictures were suitable and made learning process more varied. These media will be useful if the students were involved to create the popup pictures by themselves and the level of difficulty must be matched.

The teaching of English for tourism class as a local-content subject at SMAN 6 Malang / Desi Puspitasari

 

This study was conducted to describe the teaching of English for Tourism Class at SMA Negeri 6 Malang. There were five sub objectives included in this study. They were to describe (1) the syllabus used, (2) the teaching technique applied, (3) the facilities, media, and materials used, (4) the students’ opinion toward the teaching of English for Tourism Class, and (5) the problems in the teaching of English for Tourism Class. This study employed a descriptive-qualitative design since it was designed to describe the teaching of English for Tourism Class in the form of words rather than numbers. The data were obtained through some instruments, namely interview guide, observation sheet, questionnaire, and relevant documents. They were presented descriptively after being classified into related aspects. The findings showed that the syllabus used in the English for Tourism Class consisted of the compulsory components based on the Board of National Education Standard (BSNP). It was also found that the teacher tended to apply the teacher-centered technique. Related to the facilities were sufficient enough. Most of the time, the teacher used Information and Communication Technologies (ICT) media than others. The materials also were not really varied. Students gave positive responses toward the English for Tourism Class. It provided the students opportunity to improve their abilities, especially in listening and speaking. However, it still needs improvement related to the facilities, media, materials, and the teaching techniques used by the teacher. While the problems in the teaching of English for Tourism Class could be divided into two categories. They were students’ and teacher’s problems. The students’ problems were linguistic and non linguistic problems. Besides, the teacher’s problems were the facilities, media and the classroom management. Some suggestions can be proposed for the improvement of the teaching of English for Tourism Class. The teacher should elaborate the syllabus so that it can be more detail. It is also suggested for the teacher to vary the materials and media used which are suitable with the students’ need and level during the class. He also should vary the teaching techniques to avoid the boredom and support students-centered learning. It is better for the teacher to give more control to the students so that they can be more focused to follow the activities. The school is proposed to provide sufficient facilities in order to create conducive atmosphere in the teaching learning process. The last suggestion is given to the future researchers. It is expected for them to conduct wider scope of study of the English for Tourism Class in order to provide more valid information which can be used by other teachers or institutions as reference to conduct similar program.

Penerapan model mind mapping dalam peningkatan kemampuan mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung / Nira Tri Wulandari

 

Kata kunci: mengarang, mind mapping Pembelajaran mengarang kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung guru masih terfokus pada pencapaian target materi, banyak ceramah, dan tidak menggunakan media pembelajaran, sehingga siswa sangat sedikit yang memiliki kemampuan mengarang. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model mind mapping dalam meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung dan (2) peningkatan kemampuan mengarang dengan model mind mapping siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dan dokumentasi yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel, dianalisis dan ditarik kesimpulan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model mind mapping dapat meningkatkan hasil mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 65, siklus I sebesar 71, dan siklus II sebesar 78. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 36,8%, siklus I sebesar 57,9%, dan siklus II sebesar 84,2%. Nilai aktivitas siswa pada waktu pembelajaran juga meningkat, nilai rata-rata ketuntasan pada siklus I sebesar 79%, dan siklus II sebesar 88%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model mind mapping dilakukan dengan 3 tahap, yaitu pratindakan, siklus I, dan siklus II dimana masing-masing siklus mellui beberapa langkah, yaitu guru menjelaskan langkah membuat mind mapping, siswa menuliskan konsep pengalamannya dengan mind mapping, dan siswa mengarang berdasarkan mind mapping yang telah dibuat. Selain itu, model mind mapping juga meningkatkan hasil belajar siswa dalam mengarang siswa kelas V SDN Suruhan Kidul 2 Tulungagung. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan karakter siswa agar dapat meningkatkan hasil pembelajaran.

Pengaruh stimulasi brain gym terhadap kemampuan membaca permulaan anak kelompok B di TK Sunan Ampel Pujon / Fadilatul Ummah

 

Pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) hingga saat ini dihadapkan pada permasalahan utama mengenai pembelajaran membaca permulaan secara tepat bagi anak, tidak dipungkiri bahwa bagi anak membaca merupakan aktifitas yang tidak mudah. Untuk itu kreatifitas guru sangat diperlukan dalam membantu menstimulasi kemampuan anak dengan berbagai alternatif. Salah satu cara adalah dengan memberikan anak stimulasi berupa gerakan Brain Gym yang merupakan gerakan yang menyenangkan untuk meningkatkan kemampuan belajar seseorang dengan menggunakan keseluruhan otak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah pengaruh stimulasi Brain Gym terhadap kemampuan membaca permulaan pada anak kelompok B di TK Sunan Ampel Pujon, dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan anak usia dini guna meningkatkan pendidikan serta memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan bidang keilmuan selanjutnya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian Pre-Experiment Designs dengan model satu kelompok Pre-test-Post-test (The One Group Pre-test and Post-test). Penelitian dilakukan di TK Sunan Ampel Pujon, pada 10 Maret sampai 5 April, frekuensi perlakuan sebanyak 24 kali dengan durasi 15 menit. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Brain Gym dan membaca permulaan sebagai variabel terikat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes dan observasi. Subyek penelitian adalah anak kelompok B di TK Sunan Ampel Pujon berjumlah 12 anak. Berdasarkan hasil analisis perbedaan pre-test dan post-test dengan menggunakan penghitungan secara manual dengan menggunakan rumus statistik uji t didapatkan didapatkan nilai t hitung 15,36 lebih besar dari nilai t tabel , baik pada taraf signifikan 1% = 3,11 maupun taraf signifikan 5% = 2,20 dengan derajat kebebasan (d.b) = 12-1=11. Maka dapat dikatakan bahwa hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis hipotesis kerja (Ha) diterima. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian stimulasi Brain Gym memberi pengaruh positif terhadap kemampuan membaca permulaan pada anak kelompok B di TK sunan Ampel Pujon. Karena penelitian ini menggunakan metode eksperimen Pre-test-Post-test (The One Group Pre-test and Post-test) yang tidak menyertakan kelompok kontrol, maka perbedaan nilai bukan semata-mata hasil penelitian tetapi dipengaruhi faktor eksternal maupun internal diantaranya adalah motivasi dan keaktifan subyek dalam melakukan gerakan Brain Gym dan kemungkinan adanya pengaruh dari faktor maturasi.

Pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki pada bahan keramik porcelain terhadap penyusutan, porositas, kekerasan dan konstanta dielektrik / Nindha Ayu Berlianti

 

Kata Kunci: Variasi penggantian kuarsa-toseki, penyusutan, porositas , kekerasan, konstanta dielektrik. Kuarsa merupakan salah satu komponen penyusun bahan dasar porcelain, yang memiliki sifat dapat mengurangi penyusutan dan memperkecil pori. Kuarsa memiliki partikel yang kasar bersifat mekanik, yaitu kekerasan. Kuarsa merupakan keramik elektronik yang memiliki sifat dielektrik mampu menyimpan muatan listrik. Sama halnya dengan toseki, toseki merupakan mineral baru yang mempunyai kemiripan sifat seperti kuarsa. Toseki digunakan sebagai bahan pengganti kuarsa dalam pembuat n keramik porcelain yang memiliki keunggulan diantaranya memiliki susut dan pori kecil, bersifat keras dan mampu menyimpan muatan listrik. Diaplikasikan untuk keramik lantai atau sebagai bahan kapasitor keramik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki pada bahan keramik porcelain terhadap penyusutan, porositas, kekerasan dan konstanta dielektrik. Penelitian ini membuat variasi penggantian toseki dengan kuarsa 5 % -30%. Sintering pada suhu 13000C lama penahanan 6 jam, data dianalisis prosentase penyusutan dan porositas, dihitung nilai konstanta dielektriknya, diuji kekerasan menggunakan metode vickers dan uji mikrostruktur dengan SEM yang diambil tiga nilai variasi penggantian kuarsa dengan toseki tertinggi, sedang dan terendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai penyusutan bakar dengan pola y = -0,083x + 3,628, nilai penyusutan kering dengan pola y = -0,042x + 2,806 dan nilai penyusutan jumlah dengan pola y = -0,245x + 9,8 yang linier dengan gradien negatif .(2) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai keporian nyata dengan pola y = -0,466x + 22,02, nilai keporian semu dengan pola y = -0,109x + 8,179, nilai peresapan air dengan pola y = -0,193x + 11,33 yang linier dengan gradien negatif. (3) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai kekerasan dengan pola y = 0,559x + 6,255 yang linier dengan gradien positif. (4) ada pengaruh variasi penggantian kuarsa dengan toseki terhadap nilai konstanta dielektrik dengan pola y = 40,41e0,014x yang eksponensial dengan gradien positif. (5) mikrostruktur pada variasi penggantian kuarsa dengan toseki tertinggi, sedang dan terendah terlihat bahwa semakin banyak variasi penggantian kuarsa dengan toseki maka pori – pori yang terlihat dominan tidak ada.

Evaluasi kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan wisata pesisir di Kabupaten Lamongan / M. Irsyadul Ibad Normansyah

 

Kata kunci: evaluasi kesesuaian lahan, wisata pesisir Kawasan wisata pesisir merupakan kawasan wisata yang terletak di daerah pertemuan antara darat dan laut dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut. Pengembangan objek wisata pesisir di kabupaten Lamongan yang belum terealisasi adalah pada kawasan flood way di desa Sedayulawas yang masuk dalam wilayah IKK Brondong. Kawasan yang direncanakan merupakan lahan yang saat ini di gunakan sebagai sawah dan tambak yang merupakan sudetan sungai Bengawan Solo yang mempengaruhi kondisi fisik lahan tersebut, misalnya memungkinkan terjadinya luapan air dari flood way pada kawasan ini dan akan mempengaruhi materi dasar laut serta kedalaman laut yang berpangaruh terhadap kesusuaian wisata pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan karakteristik lahan pada kawasan yang direncanakan sebagai objek wisata pesisir di desa Sedayulawas kecamatan Brondong kabupaten Lamongan dan mengevaluasi karakteristik lahan untuk pengembangan kawasan wisata pesisir di kabupaten Lamongan berdasarkan kelas kesesuaian lahan untuk pariwisata khususnya rekreasi dan piknik serta persyaratan lahan pesisir sebagai objek wisata. Metode yang digunakan survey dengan pendekatan deskriptif dan evaluatif. Deskriptif yaitu suatu metode pendekatan penelitian yang memberikan penjelasan data yang diperoleh dari pengukuran berdasarkan kriteria-kriteria yang ada, sedangkan evaluatif adalah suatu pendekatan penelitian dengan tujuan untuk memberikan penilaian pada suatu objek yang diteliti. Data primer yang dikumpulkan meliputi: drainase, kemiringan lereng, tekstur, kerikil/kerakal, batu, batuan, genangan/bahaya banjir, kedalaman laut, materi dasar laut, buffer garis pantai, jenis pantai, ketersediaan air tanah, dan aksesibilitas. Data sekunder meliputi: data kependudukan dan data curah hujan. Objek penelitian berada di IKK Brondong. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan peta unit medan yang dihasilkan dari tumpang susun (overlay) empat peta yaitu peta jenis tanah, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan dan peta pengembangan kawasan khusus. Penentuan kelas kesesuaian lahan untuk pariwisata khususnya rekreasi dan piknik serta kelas kesesuaian pesisir untuk objek wisata ditetapkan berdasarkan pembandingan (matching) terhadap parameter-parameter kesesuaian lahan pada satuan medan dan parameter kesesuaian pesisir pada pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian untuk satuan medan A1SwWp adalah sedang, untuk satuan medan M1TbWp dan A1TbWp adalah buruk bagi pengembangan kawasan wisata khususnya rekreasi dan piknik, dan menurut persyaratan lahan pesisir sebagai objek wisata termasuk dalam kelas N (tidak sesuai).

Analisis varian multivariat rancangan acak kelompok pada uji daya lanjutan galur-galur kedelai tahan pengisap polong (studi kasus di Balitkabi - Malang) Kiki Putri Anggraini

 

Kata kunci: analisis varian, multivariat RAK, galur-galur kedelai Analisis varian multivariat merupakan salah satu metode statistika multivariat yang digunakan untuk mengetahui perbedaan dari berbagai perlakuan yang dicobakan terhadap respon ganda. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data pengamatan galur-galur kedelai terhadap jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji yang diperoleh KP Muneng-Probolinggo. Pengujian asumsi pada analisis varian multivariat yaitu antar variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji harus independen, data mengikuti distribusi normal ganda pada variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji, serta memiliki kesamaan matrik varian kovarian antar grup pada variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji. Hasil uji manova rancangan acak kelompok pada data uji daya lanjutan galur-galur kedelai tahan pengisap polong menunjukkan vektor rata-rata dari 23 galur kedelai pada variabel jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji berbeda. Dengan kata lain pada penelitian analisis varian multivariat pada rancangan acak kelompok menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara 23 galur kedelai terhadap hasil jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji.

Penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok untuk meningkatkan kemampuan sosial anak di TK Cita Insani Malang / Farida

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, permainan balok, kemampuan sosial, taman kanak-kanak Kegiatan pembelajaran pada kelompok B TK Cita Insani Malang masih belum bisa berinteraksi dengan temannya, belum dapat bekerjasama mengembalikan mainan pada tempatnya, berebut mainan saat digunakan sehingga menimbulkan pertengkaran. Guru memberikan pembelajaran tidak menarik, bermain individual dan anak kurang dilibatkan dalam pembelajaran kelompok. Permainan balok merupakan salah satu permainan yang bisa dijadikan pembelajaran kelompok yang mampu meningkatkan kemampuan sosial dan aktivitas belajar anak. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan kemampuan sosial anak di kelompok B TK Cita Insani Malang?, (2) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan kemampuan sosial di kelompok B TK Cita Insani Malang?, (3) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan aktivitas belajar anak di kelompok B TK Cita Insani Malang?. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah anak-anak di kelompok B TK Cita Insani Malang. Adapun instrumen pada penelitian ini adalah pedoman observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif melalui permainan balok dapat meningkatkan kemampuan sosial dan aktivitas belajar anak. Kemampuan sosial anak pada siklus II ditandai dengan sikap anak untuk bertanggung jawab melakukan kerjasama dan saling membantu semakin baik. Aktivitas belajar anak dengan kompromi dan rasa senang anak dalam bermain juga semakin baik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan: (1) Guru kelompok B TK Cita Insani Malang untuk menggunakan pembelajaran kooperatif melalui permainan yang lain dalam aktivitas pembelajaran, (2) Kepala TK agar digunakan sebagai kebijakan dalam mengatasi masalah di kelompok B pada taman kanak-kanak yang dipimpinnya, (3) peneliti lain, coba teliti lagi penerapan pembelajaran kooperatif untuk diterapkan kemampuan anak yang lain, seperti: fisik motorik, kognitif dan lain sebagainya.

Penggunaan metode peramalan (forecasting) dalam analisis laju inflasi ekonomi Kabupaten Banyuwangi dengan model general autoregressive conditional heterosvedastic (GARCH) / Denny Merdeka Jaya

 

Kata kunci: inflasi ekonomi, peramalan, GARCH Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut sebagai inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Salah satu analisis deret waktu yang dipakai untuk menentukan model peramalan adalah dengan menggunakan model GARCH. Model GARCH sendiri dapat memodelkan data yang bersifat heteroskedastis, yaitu sebuah konsep tentang ketidakkonstanan variansi dari data acak (volatility) dan perubahan variansi ini dipengaruhi oleh data acak sebelumnya yang tersusun dalam urutan waktu (kondisional). Pendekatan model ini terdiri dari empat tahap utama, yaitu tahap uji heteroskedastik, tahap identifikasi model sementara, tahap pemeriksaan model, dan terakhir adalah tahap peramalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari arsip Badan Pusat Statistik Kabupatan Banyuwangi. Hasil penelitian diperoleh model GARCH yang telah memenuhi asumsi model terbaik adalah GARCH (1,1) dengan persamaan: Xt = 0.001675 – 0.629038 Xt-1 + εt , σt2 = 0.128514 -0.290219 ε2t-1 + 0.863976 σ2t-1 Dari model GARCH (1,1), didapat hasil peramalan laju inflasi Kabupaten Banyuwangi tahun 2011 dengan nilai yang fluktuatif. Inflasi tertinggi sendiri terjadi pada bulan Februari sebesar 0.625, sedangkan inflasi terendah terjadi pada bulan Januari sebesar -0.992. Nilai varians yang rata-rata bernilai 1 menunjukkan bahwa variansi tergolong kecil, sehingga model cukup baik untuk peramalan.

Peningkatan pemahaman konsep volume bangun ruang dengan model pembelajaran Van Hiele pada siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung / Atik Nurul Khusna

 

Kata kunci: pemahaman konsep, volume, model pembelajaran Van Hiele Kemampuan siswa dalam memahami konsep volume bangun ruang berperan penting terhadap keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman konsep merupakan langkah awal yang diambil untuk melangkah pada tahap selanjutnya yaitu aplikasi dalam perhitungan matematika. Tetapi kebanyakan siswa belum menguasai materi prasyarat dari konsep yang diajarkan. Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep siswa dalam belajar matematika adalah kegiatan pembelajaran yang terpusat pada guru. Kondisi tersebut selaras dengan permasalahan yang terjadi di SDN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung. Hal ini membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep volume bangun ruang terutama dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah yang berhubungan dengan konsep volume balok dan kubus. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran Van Hiele pada pembelajaran matematika volume bangun ruang pada siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban Kabupaten Tulungagung?, (2) Apakah penerapan model pembelajaran Van Hiele dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban terhadap konsep volume bangun ruang?, dan (3) Apakah model pembelajaran Van Hiele dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 1 Pucanglaban terhadap konsep volume bangun ruang? Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian berupa proses pembelajaran model Van Hiele dan peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep volume bangun ruang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Kegiatan analisis data dilakukan dengan metode alur meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan prestasi belajar siswa terhadap konsep volume bangun ruang. Peningkatan pemahaman konsep siswa mengacu pada kriteria yang didukung dengan hasil wawancara kepada siswa, dimana 86% siswa telah memahami konsep yang diajarkan dengan dibuktikan kemampuan siswa dalam 1) menyatakan ulang suatu konsep, 2) mengklarifikasikan objek i objek menurut sifat-sifat tertentu, 3) memberi contoh dan non-contoh dari konsep, dan 4) mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata dan prosentase ketuntasan belajar secara klasikal dari data awal, siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada data awal sebesar 51,64 dengan prosentase ketuntasan 36%, 62,14 dengan prosentase ketuntasan 50% pada siklus I, dan pada siklus II 79,29 dengan prosentase ketuntasan 86%

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran word square kelas IV SDN Karangrejo 05 / Istiani

 

Kata kunci: hasil belajar, word square, pembelajaran IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar (SD). Dewasa ini, guru masih menggunakan metode konvensional yaitu dengan menggunakan metode ceramah saja sehingga siswa merasa bosan dan malas untuk belajar pada mata pelajaran IPS. Hal tersebut menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran word square kelas IV. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran model word square dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Karangrejo 05 dan mendeskripsikan model pembelajaran word square dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Karangrejo 05. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Data penelitian yang berupa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan materi koperasi dan kesejahteraan rakyat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, lembar observasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 sangat baik. Pada tahap pratindakan nilai rata-rata kelas 61,05. Siswa yang tuntas belajar pada tahap pratindakan sebanyak 7 siswa (35%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 13 siswa (65%). Nilai tertinggi 93, nilai terendah 26. Pada pelaksanaan pembelajaran siklus I, nilai rata-rata kelas menjadi 66,98. Nilai tertinggi 79 dan nilai terendah 46. Jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa (70%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 6 siswa (30%). Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 69,84. Nilai tertinggi 81 dan nilai terendah 56. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 16 siswa (80%) dan siswa yang tidak tuntas belajar sebanyak 4 siswa (20%). Keempat siswa ini adalah siswa yang sering tinggal kelas, malas belajar, dan tidak serius mengikuti pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran word square terbukti dapat meningkatkan hasil belajar IPS kelas IV SDN Karangrejo 05. Oleh karena itu, disarankan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa guru menguasai dan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran yang tepat dan dapat memotivasi siswa untuk belajar, salah satunya model pembelajaran word square.

Pengembangan paket pelatihan self esteem untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam membentuk pribadi independen / Ais Sasnia A'yun

 

Kata kunci : Self esteem, percaya diri, pribadi independen. Self Esteem (penghargaan diri) perlu ditanamkan sejak dini pada setiap individu. Self esteem tinggi bukanlah sifat bawaan sejak manusia lahir, akan tetapi self esteem tinggi dapat diperoleh melalui proses belajar. Individu yang tidak memiliki self esteem tinggi, mereka akan selalu takut dan ragu untuk bertindak. Mereka selalu tergantung pada orang lain. Dapat disimpulkan bahwa penghargaan diri termasuk salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika setiap siswa sudah memiliki self esteem tinggi, maka mereka akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi saat bertindak. Dengan demikian, rasa takut, malu, dan tergantung pada orang lain akan berubah menjadi rasa percaya diri ,dan individu akan memiliki pribadi yang independen. Namun, BK di SMA Negeri 1 Purwoasri Kediri belum memiliki paket pelaatihan self esteem yang berguna, layak, tepat dan menarik bagi siswa. Tujuan pengembangan paket pelatihan self esteem adalah untuk menghasilkan Paket Pelatihan Self Esteem yang layak, tepat, berguna, dan menarik bagi siswa SMA Negeri 1 Purwoasri, Kediri. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah Paket Pelatihan Self Esteem yang terdiri atas (1) panduan Paket Pelatihan Self Esteem untuk konselor, (2) materi Paket Pelatihan Self Esteem untuk siswa, dan (3) lembar jawaban untuk siswa yang terdiri atas tiga penggalan, yaitu: (I) Konsep dasar self esteem, yang terdiri atas (a) pengertian self esteem, (b)self esteem sebagai kebutuhan, dan (c) karakteristik orang yang memiliki self esteem positif dan negatif; (II) Membangun Self Esteem pada diri sendiri, yang terdiri atas (a) menerima diri sendiri, (b) menanamkan sikap percaya diri; dan (III) Membentuk Pribadi Independen, yang terdiri atas (a) membangun lokus kontrol internal, dan (b) berorientasi pada keberhasilan dan masa depan. Paket ini disusun dengan menggunakan model pembelajaran experiential learning. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan langkah-langkah pengembangan dari Borg & Gall (1983) yang terdiri atas tahap perencanaan, tahap pengembangan produk, dan tahap uji coba. Subyek uji coba adalah ahli bimbingan dan konseling dan ahli bahasa; Subyek uji calon pengguna produk adalah konselor dan subyek uji kelompok kecil adalah siswa SMA Negeri 1 Purwoasri Kediri. Data dikumpulkan melalui angket uji ahli, uji calon pengguna dan uji kelompok kecil yang berupa skala penilaian. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis rerata dan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan penilaian ahli BK, Paket Pelatihan Self Esteem ini sangat berguna dengan rerata 3,4. Dilihat dari aspek kelayakan, paket ini layak diberikan kepada siswa dengan rerata 3,0. Dari aspek ketepatan, paket ini sangat tepat untuk digunakan oleh siswa dan konselor dalam memberikan bimbingan self esteem dengan rerata 3,1. Adapun aspek kemenarikan, paket ini sangat menarik dengan rerata 3,2. Hasil penilaian ahli Bahasa, Paket Pelatihan Self Esteem ini sangat tepat, dilihat dari kejelasan, kesesuaian, hubungan kalimat satu dengan yang lain, dan bahasa yang digunakan untuk siswa dengan rerata 3,2, Sedangkan panduan paket untuk konselor memiliki rerata 3,5 yang berarti sangat tepat, dilihat dari kejelasan, kesesuaian, hubungan kalimat yang satu dengan yang lain, dan bahasa yang digunakan untuk konselor. Berdasarkan uji calon pengguna (konselor), dilihat dari aspek kegunaan, paket ini sangat berguna dengan rerata 3,5, aspek kelayakan paket ini sangat layak dengan rerata 3,2, aspek ketepatan paket ini sangat tepat dengan rerata 3,3, dan aspek kemenarikan paket ini sangat menarik dengan rerata 3,3. Berdasarkan uji kelompok kecil (siswa), Paket Pelatihan Self Esteem ini sangat berguna dengan rerata 3,3, sangat layak dengan rerata 3,4, sangat tepat dengan rerata 3,4, dan sangat menarik dengan rerata 3,5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diberikan adalah: (1) konselor perlu menyampaikan kepada pimpinan sekolah perihal penggandaan paket, agar masing-masing siswa memiliki pegangan paket saat mengikuti bimbingan, (2) konselor harus kreatif dalam mengatur waktu, mengingat minimnya jam tatap muka, sebagai contoh pertemuan dapat dilakukan di luar jam sekolah, (3) bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan uji efektivitas paket pelatihan self esteem untuk mengetahui efektivitas dan kelayakan penerapan paket pelatihan self esteem, (4) isi paket dapat dilakukan revisi berkelanjutan dan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan akan langkah-langkah bimbingan yang lebih terperinci, (5) perlu dikembangkannya paket pelatihan self esteem pada populasi penelitian yang lebih luas mencangkup beberapa sekolah.

Persepsi kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMP Negeri Kecamatan Lowokwaru Malang / Aries Kurniawan

 

Kata Kunci: persepsi, kepala sekolah, guru bidang studi, siswa, bimbingan dan konseling Bimbingan dan konseling mempunyai peranan yang penting dalam membantu setiap pribadi siswa agar berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. Kerjasama dari kepala sekolah, guru dan siswa sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan bimbingan dan konseling. Persepsi yang salah terhadap bimbingan konseling dapat mempengaruhi kerjasama. Kesalahpahaman di sekolah antara lain bahwa bimbingan konseling dianggap sebagai polisi sekolah, BK hanya menangani siswa-siswa yang bermasalah, seperti siswa yang sering tidak masuk sekolah, siswa yang melanggar tata tertib di sekolah. Padahal, tujuan bimbingan konseling di sekolah tidak terbatas bagi siswa yang bermasalah, tetapi siswa yang berprestasi juga perlu mendapatkan bantuan agar dirinya lebih berkembang. Oleh karena itu persepsi yang baik mengenai pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah sangat diharapkan terutama dari kepala sekolah, guru, dan siswa sehingga pelaksanaan bimbingan konseling dapat optimal dan mencapai tujuan. Penelitian ini bertujuann untuk (1) mendeskripsikan persepsi kepala sekolah terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang, (2) mendeskripsikan persepsi guru bidang studi terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang, (3) mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sampel penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa kelas VIII di SMPN 11 Malang, SMPN 13 Malang dan SMPN 18 Malang. Teknik pengambilan sampel kepala sekolah menggunakan teknik sampel total, sedangkan sampel guru dan siswa menggunakan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan analisis yang digunakan adalah analisis persentase. Hasil penelitian mengenai persepsi kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa terhadap pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang, menunjukkan bahwa secara umum kepala sekolah yang memiliki persepsi yang sangat baik terhadap pelaksanaa BK. Sebagian besar guru bidang studi juga mempersepsi sangat baik pelaksanaan BK. Sedangkan sebagian besar siswa mempersepsi cukup baik pelaksanaan BK di SMP Negeri Kec. Lowokwaru Malang. Sedangkan secara khusus terdapat kepala sekolah, guru bidang studi dan siswa mempersepsi kurang baik pada pelaksanaan perencanaan individual. Berdasarkan hasil penelitian ditujukan beberapa saran: (1) Konselor hendaknya lebih menguasai keterampilan penggunaan alat-alat pengumpul data guna mengungkap potensi maupun kelemahan yang ada pada diri siswa sehingga siswa mampu memilih dan mengambil keputusan yang tepat dalam mengembangkan potensinya. Konselor diharapkan pula meningkatkan kolaborasi dengan kepala sekolah dan guru bidang studi, agar pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah terselenggara sesuai dengan harapan; (2) kepala sekolah diharapkan dapat melengkapi sarana dan prasarana untuk kelancaran pelaksanaan BK; (3) Hendaknya peneliti selanjutnya menggunakan jenis angket yang berbeda pada subyek penelitian yang berbeda dalam pengumpulan data. Peneliti selanjutnya diharapkan pula untuk menggunakan teknik wawancara dan observasi untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih komprehensif.

Kemanjuran teknik psikodrama untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi di SMA / Yuanita Dwi Krisphianti

 

Kata Kunci: psikodrama, keterampilan sosial Keterampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri agar bisa diterima dengan baik ditengah-tengah lingkungan dia berada yang nantinya akan mempermudah individu untuk mengapresiasikan diri dan kemampuan yang dimiliki. Keterampilan sosial juga merupakan keterampilan yang dimiliki individu yang ditunjukkan dengan ekspresi emosi, kepekaan emosi, kontrol emosi, ekspresi sosial, kepekaan sosial, dan kontrol sosial. Psikodrama digunakan untuk mengeksploitasi diri melalui tindakan nyata dimana kita hidup, baik internal maupun eksternal. Hal ini memungkinkan untuk mengekspresikan perasaan aman yang kuat, perspektif yang lebih luas pada masalah-masalah individu, sosial, dan juga kesempatan untuk mencoba perilaku yang diinginkan. Penulisan ini bertujuan untuk menguji kemanjuran permainan peran teknik psikodrama melalui bimbingan kelompok untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi di SMA. Rancangan penulisan yang digunakan adalah eksperimen semu dengan menggunakan pre-post test single design. Kelompok eksperimen adalah siswa akselerasi yang memiliki kriteria keterampilan sosial rendah melalui inventori keterampilan sosial. Permainan peran psikodrama dilakukan sebanyak enam kali pertemuan dengan tema yang berbeda-beda. Data penulisan dianalisis dengan teknik analisis Wilcoxon dan Sign. Hasil penulisan menunjukkan bahwa permainan peran psikodrama manjur untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi di SMA yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil pre test dan post test yang telah diberikan. Berdasarkan hasil penulisan diajukan beberapa saran: kepada guru BK sekolah tempat penelitian diharapkan memperhatikan dan membantu untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa akselerasi dalam hal keterampilan ekspresi emosi, kepekaan emosi, kontrol emosi, ekspresi sosial, kepekaan sosial, dan kontrol sosial untuk mencapai perkembangan optimal. Psikodrama bisa digunakan oleh guru BK sebagai perangkat untuk membantu siswa akselerasi meningkatkan keterampilan sosial tapi dengan catatan waktu yang digunakan harus diperhatikan karena psikodrama membutuhkan waktu yang lebih dari satu jam pelajaran, yakni selama 60 menit. Bagi peneliti selanjutnya dapat mencoba penggunaan teknik psikodrama ini sebagai perangkat untuk membantu remaja/siswa menyelesaikan kurangnya keterampilan sosial yang rendah, dengan variabel terikat dan subyek dalam skala yang lebih luas untuk lebih mengetahui kemanjuran teknik psikodrama.

Pelestarian nilai-nilai budaya melalui kegiatan ekstrakurikuler kesenian reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman Tulungagung / Nurna Listya Purnamasari

 

Kata Kunci : Pelestarian Nilai-Nilai budaya,Ekstrakulikuler, Reyog Tulungagung Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung sebagai salah satu aset kebudayaan daerah Tulungagung perlu dilestarikan pada generasi muda terutama siswa yang sedang mengalami kegiatan belajar di sekolahnya. Untuk merealisasi hal itu SMPN 1 Kauman memasukkan kesenian Reyog Kendang sebagai program Ekstarkulikuler. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari himbauan bupati Tulungagung bahwa Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung harus dilestarikan agar budaya bangsa dapat diketahui oleh generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan;(1) proses penyelenggaraan program ekstrakulikuler Reyog kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman;(2) proses pelaksanaan program ekstrakulikuler Reyog kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman; (3) nilai-nilai budaya yang terkandung pada ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman; (4) proses pelestarian nilai-nilai budaya melalui kegiatan ekstrakulikuler Reyog kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi untuk mengamati langsung segala macam gejala sosial yang ada baik proses, situasi, kondisi, dan aktivitas dari yang di teliti. Wawancara untuk mengetahui dan menjawab segala permasalah yang sedang diteliti oleh peneliti. Dokumentasi untuk mendokumentasikan sebagai bukti peneliti dan pendukung hasil penelitian. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut;(1) Kegiatan Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung direncanakan tujuannya untuk menjaga kelestarian kebudayaan kesenian Indonesia, untuk mengenalkan kepada siswa pada kesenian Reyog Tulungagung atau Reyog Kendang,untuk mengasah bakat yang ada pada diri siswa,agar siswa dapat mempelajari sekaligus mendalami gerakan dari Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung,siswa juga dapat memetik makna dari setiap gerakan dari Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan dierencanakan dengan struktur program dan agenda yang jelas, penetapan pelatih ,penjadwalan dan juga perijinan;(2) Pelaksanaan Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman dilaksanakan secara rutin setiap hari sabtu sehabis pulang sekolah dan hari minggu pukul 08.00-11.00 WIB. Pada pelaksanaan Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung diawali dengan pemanasan berupa senam dan dilanjutkan dengan latihan gerakan diiringi dengan gending kemudian diakhiri dengan doa;(3) Nilai-nilai budaya yang terkandung pada Ekstrakulikuler Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung di SMPN 1 Kauman antara lain sebagai berikut:(a)Nilai Religius Nampak pada kegiatan doa;(b) Nilai kerjasama tampak pada saat siswa melakukan persiapan untuk latihan;(c) Nilai kebersamaan tampak pada saat latihan;(d) Nilai kedisiplinan tampak pad ketepatan waktu latihan;(e) Nilai kesopanan tampak pada ucapan dan bersalaman saat datang,selama latihan dan selesai latihan;(4) Proses pelestarian Kesenian Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung terintregasi dengan makna simbol setiap gerakan tari Reyog Kendang atau Reyog Tulungagung mulai gerakan dasar menggambarkan nilai persatuan, gerakan menthokan menggambarkan nilai penghormatan, gerakan kejang symbol nilai kehidupan, gerakan patettan menggambarkan nilai penghormatan, gerakan lilingan menggambarkan nilai kehidupan,gerak ngungak sumur menggambarkan nilai kehidupan, gerak midak kecik menggambarkan nilai kehidupan, gerak andul menggambarkan nilai kehidupan ,gerakan gejoh bumi menggambarkan nilai religius, gerak sundangan menggambarkan nilai religius, gerak gembyangan menggambarkan nilai kehidupan, gerak baris(gerak terakhir) menggambarkan nilai religius.

Nilai-nilai moral dalam tradisi upacara ceprotan pada masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan / Murni Asih

 

Kata Kunci : Tradisi upacara ceprotan, Pelaksanaan, Nilai, Pandangan Masyarakat Tradisi upacara ceprotan merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat desa Sekar Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Tradisi upacara ceprotan dilakukan setiap tahun sekali pada hari senin kliwon pada bulan longkang (kalender Jawa) bulan Dulhizah (kalender Islam). Tradisi upacara ceprotan bertujuan untuk memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah member nikmat dan keberkahan dan untuk meminta keselamatan. Dalam tradisi upacara ceprotan terkandung nilai-nilai moral. Dengan adanya tradisi upacara ceprotan dapat memberikan suatu pembelajaran kepada masyarakat tentang nilai-nilai moral tersebut. Nilai-nilai moral bagi masyarakat untuk mengatur baik buruknya taindakan atau perilaku seseorang, sehingga nilai-nilai moral tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan : (1) sejarah tradisi upacara ceprotan (2) pelaksanaan tradisi upacara ceprotan (3) nilai-nilai moral yang terkandung dalam tradisi upacara ceprotan (4) pandangan masyarakata terhadap tradisi upacara ceprotan. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus, prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi,wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Analisis data dalam penelitian dilakukan dengan model interaktif. Keabsahan temuan dilakukan dengan (1) perpanjangan keikutsertaan (2) ketekunan pengamatan serta (3) triangulasi. Dan penelitian dilakukan di Desa Sekar kecamatan Donorojo kabuapten Pacitan dengan objek penelitian masyarakat desa Sekar kecamatan Donorojo kabupaten Pacitan dan Dinas Pariwisata dan kebudayan kabupaten pacitan. Hasil penelitian dapat dipaparkan sebagai berikut: (1) tradisi upacara ceprotan adalah warisan dari leluhur atu nenek moyang masyarakat desa Sekar . dan sampai sekarang tradisi upacara ceprotan masih tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat desa Sekar karena merupakan tradisi yang sudah turun temurun. (2) Pada pelaksanaan tradisi upacara ceprotan dikelompokan menjadi tiga sesi atau tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan (inti) dan tahap penutupan . (3) nilai-nilai moral yang terkandung dalam tradisi upacara ceprotan adalah nilai religi, nilai ritual, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai keindahan, nilai hiburan atau tontonan dan nilai tuntunan. (4) pandangan-pandangan masyarakat terhadap tradisi ceprotan relative normal karena masyarakat desa Sekar memiliki kesadaran yang tinggi dari keyakinan mereka semua . Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada masayarakat desa sekar hendakanya tetap dilaksanakan dan dilestarikan. Kepada pemerintah daerah khususnya Dinas kebudayaan dan pariwisata lebih memperhatikan dan ikut serta dalam pelestarian adat kebiasaan yang sudah turun temurun.

Penerapan model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tempuran 1 Ngawi / Pratika Tungga Dewi

 

Kata Kunci: pembelajaran IPA, model pembelajaran problem solving, aktivitas belajar, hasil belajar Aktivitas dan hasil belajar siswa pra tindakan rendah. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal pra tindakan 21,05% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 50,63. Peneliti memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran problem solving. Melalui penerapan model pembelajaran problem solving, siswa akan aktif melakukan percobaan untuk memecahkan masalah sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA materi pokok pengungkit di kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA, serta (3) peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif interaktif yang dilakukan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri dari planning, acting and observing, reflecting dan revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain teknik observasi, wawancara, dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Hasil penelitian ini yaitu penerapan model pembelajaran problem solving dapat merubah kegiatan pembelajaran yang bersifat teacher centered menjadi student centered dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar klasikal siklus-1 yaitu 52,63% dengan nilai rata-rata aktivitas belajar kelas 67,76. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar klasikal siklus-2 yaitu 100% dengan nilai rata-rata aktivitas belajar kelas 87,72. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal siklus-1 yaitu 63,16% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 68,11. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal siklus-2 yaitu 100% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 90,04. Penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA materi pokok pengungkit di kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi dapat diterapkan dengan baik sekali. Penerapan model pembelajaran problem solving dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Saran berdasarkan hasil penelitian ini yaitu bagi guru dan peneliti selanjutnya jika menerapkan atau mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran problem solving sebaiknya memperhatikan kesesuaian materi pembelajaran, keluasan materi pembelajaran, alokasi waktu dan memecahkan masalah satu persatu sampai selesai.

Pengembangan bahan ajar kimia SMK kelas X Program Keahlian Teknik Mesin untuk model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok / Siti Faizah

 

Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Subandi, M. Si, (II) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D Kata Kunci: bahan ajar, kimia SMK, teknik mesin, pembelajaran kooperatif, investigasi kelompok. Kimia merupakan mata pelajaran adaptif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di SMK, fungsi pemberian mata pelajaran kimia adalah untuk mendukung mata pelajaran produktif. Permasalahannya adalah bahwa kompetensi siswa dalam mata pelajaran kimia cenderung tidak berhubungan langsung dengan kompetensi mereka dalam mata pelajaran produktif. Salah satu sumber permasalahan adalah tidak tersedianya bahan ajar kimia yang isi materinya berhubungan langsung dengan materi pelajaran produktif. Welding atau pengelasan merupakan materi yang diberikan dalam mata pelajaran produktif. Materi ini dapat dihubungkan dengan materi dalam mata pelajaran kimia seperti rumus kimia material pengelasan dan reaksi pembakaran. Namun, tidak ada buku kimia yang membahas hubungan antara pengelasan dengan rumus kimia material pengelasan serta reaksi pembakarannya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan bahan ajar kimia bagi siswa kelas X program keahlian teknik mesin yang berhubungan dengan pengelasan dan, (2) mengetahui efektivitas bahan ajar kimia yang dikembangkan untuk digunakan dalam model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Pengembangan bahan ajar kimia ini mengadopsi model Dick & Carey (1990) dikombinasikan dengan pengembangan materi pembelajaran dari Paulina dan Purwanto (2001). Penelitian dan pengembangan ini terdiri dari 8 langkah, yaitu: (1) mengidentifikasi tujuan belajar melalui review kurikulum untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar kimia dengan pelajaran produktif; (2) menganalisis bahan ajar kimia yang dibutuhkan oleh mata pelajaran produktif dengan bertanya kepada guru pelajaran produktif menggunakan kuesioner; (3) menganalisis karakteristik siswa untuk mengetahui tingkat perkembangan berpikir dan minat siswa berdasarkan data yang terdapat pada program bimbingan konseling di sekolah; (4) melakukan analisis instruksional untuk menentukan garis-garis besar materi bahan ajar kimia yang diperlukan oleh mata pelajaran produktif; (5) menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai dengan kebutuhan siswa dalam program keahlian teknik mesin; (6) merumuskan indikator ketercapain, (7) pengembangan materi bahan ajar kimia; dan (8) validasi dan revisi materi bahan ajar kimia. Bahan ajar kimia yang dikembangkan divalidasi oleh para ahli yang terdiri dari dua dosen kimia Universitas Negeri Malang, dua orang guru kimia SMKN 1 Singosari, dan seorang guru produktif SMK Negeri 1 Singosari dengan spesialisasi pengelasan. Efektivitas belajar kimia dengan menggunakan materi yang dikembangkan dilakukan pada kelas X dan kelas XI siswa program keahlian teknik mesin SMK Negeri 1 Singosari. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran untuk perbaikan bahan ajar kimia yang dikembangkan yang diberikan oleh para ahli. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian pengembangan bahan ajar berdasarkan penilaian standar materi pembelajaran yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari skor prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam proses pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan. Data ini diperoleh dengan menggunakan tes hasil belajar yang terdiri dari 21 item dengan validitas isi sebesar 84. Bahan ajar kimia yang dikembangkan terdiri dari buku siswa dilengkapi dengan media pembelajaran visual dalam bentuk CD dan petunjuk guru. Hasil penilaian ahli untuk kelayakan isi memiliki nilai 86%, kelayakan penyajian memiliki nilai 88%. Revisi bahan ajar kimia telah dilakukan berdasarkan saran yang diberikan oleh para ahli. Berdasarkan hasil penilaian ahli isi, bahan ajar yang sudah direvisi dianggap layak untuk digunakan dalam proses belajar kimia. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok dengan menggunakan bahan ajar kimia yang dikembangkan menunjukkan bahwa 83% dari siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75, dan skor rata-rata 82,1 . Berdasarkan hasil yang diberikan di atas, dapat dianggap bahwa bahan ajar kimia yang sudah dikembangkan sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya dalam model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan efektivitas dari bahan kimia yang dikembangkan pembelajaran harus dilakukan apabila akan dilakukan penyebaran yang lebih luas.

Kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos / Sayyidatina Al Akhirina

 

Kata kunci: kesantunan, tuturan imperatif, mahasiswa Manusia pada umumnya lebih senang mengungkapkan pendapat-pendapat yang sopan daripada yang tidak sopan. Kesantunan berbahasa bukan semata-mata motif utama bagi penutur untuk berbicara, melainkan merupakan faktor pengatur yang menjaga agar percakapan berlangsung dengan lancar, menyenangkan, dan tidak sia-sia. Tuturan imperatif merupakan tuturan yang mengharuskan mitra tutur untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penuturnya, baik secara tersirat maupun tersurat. Dalam aktivitas kesehariannya di tempat indekos, mahasiswa tidak pernah lepas dari penggunaan tuturan imperatif, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos, dan (2) faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Tujuan penelitian yang telah ditetapkan dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa berbagai macam tuturan dalam praktik berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa keseharian yang berbentuk lisan, yangmengandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Sumber data dalam penelitian ini yakni mahasiswa yang tinggal di tempat indekos dengan latar belakang etnik Jawa. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, dan pencatatan lapangan. Adapun analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kontekstual. Metode analisis kontekstual adalah cara-cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan, memperhitungkan, dan mengaitkan identitas konteks- konteks yang ada. Penelitian ini menghasilkan dua temuan, yakni wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos dan faktor- faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Pertama, wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos diklasifikasikan berdasarkan konstruksi dan maknanya, yang meliputi: (1) konstruksi deklaratif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, permintaan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, mengizinkan, larangan, harapan, dan umpatan; (2) konstruksi imperatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: perintah, permohonan, imbauan, persilaan, dan harapan; (3) konstruksi interogatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: perintah, suruhan, permintaan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, harapan, dan umpatan; (4) konstruksi eksklamatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, desakan, bujukan, ajakan, mengizinkan, larangan, umpatan, dan pemberian ucapan selamat; (5) konstruksi emfatik yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, permintaan, desakan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, mengizinkan, harapan, dan umpatan. Kedua, faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos terdiri dari 5 faktor yang berupa (1) pematuhan maksim, yang terdiri atas maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatisan; (2) skala kerugian dan keuntungan; (3) skala pilihan; (4) skala ketidaklangsungan; (5) skala keotoritasan; serta (5) jarak sosial. Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini yakni yang pertama bagi mahasiswa yang tinggal di tempat indekos, sebaiknya antara mahasiswa satu dan lainnya hendaknya saling menjaga kesantunan dalam bertutur sehari-hari di tempat indekos karena di samping menyampaikan amanat, kebutuhan dan tugas penutur adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur-pendengar. Saran yang kedua ditujukan kepada peneliti selanjutnya untuk menindaklanjuti penelitian ini dengan penelitian lain yang serupa, berancangan sama, namun memiliki ruang lingkup kajian yang lebih luas, yaitu tidak dibatasi pada tempat indekos saja, tetapi bahkan bisa dibandingkan antar kelompok etnik tertentu. Jangkauan penelitian yang demikian diharapkan dapat memiliki tingkat kebermaknaan yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bagi perkembangan linguistik pragmatik Indonesia yang sampai dengan saat ini terbukti masih mendapatkan perhatian yang terbatas.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran group investigation kelas X-E SMA Islam Malang pada mata pelajaran geografi pokok bahasan litosfer dan pedosfer / Reny Budi Prastiwi

 

Kata Kunci: pembelajaran model Group Investigation, aktivitas siswa, hasil belajar Berdasarkan observasi awal terkait aktivitas belajar siswa dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa kelas X-E SMA Islam Malang tanggal 14 Oktober 2010, menunjukkan bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi oleh guru dan siswa cenderung pasif, siswa merasa jenuh jika selama 2 × 45 menit kegiatan pembelajaran tanpa ada aktivitas yang menyenangkan, cara belajar siswa menggunakan metode menghafal, sehingga materi yang telah dihafalkan tersebut mudah untuk di lupakan, dan di luar jam pelajaran di sekolah (di rumah) siswa jarang mempelajari mata pelajaran geografi. Hasil analisis daftar nilai mata pelajaran geografi hanya terdapat 22,22% siswa tuntas belajar, dan pada aktivitas siswa hanya sebesar 19,44% siswa mencapai taraf keberhasilan. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu diterapkan pembelajaran yang mampu mengarahkan siswa untuk menumbuhkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Alternatif pembelajaran tersebut adalah penerapan pembelajaran model Group Investigation. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-E yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, teknik pengumpulan data melalui tes, sedangkan aktivitas siswa menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Aktivitas klasikal pada siklus I mencapai 44,44% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80,55%, sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 55,56% pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-E SMA Islam Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan; 1). Bagi guru geografi, model pembelajaran Group Investigation dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang berguna dalam meningkatankan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga dapat meningkatkan mutu pengajaran di sekolah; 2). Bagi peneliti selanjutnya, model pembelajaran Group Investigation dapat digunakan pada materi yang lainnya selain materi litosfer dan pedosfer, dengan diberikan beberapa inovasi pada tahap- tahap pembelajarannya guna menyiasati kebosanan siswa.

Studi tentang media pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo / Analisa Yohana

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Seni Budaya, Seni Rupa. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Ketepatan penggunaan media pembelajaran dapat memepengaruhi kualitas proses serta hasil yang dicapai. SMP Negeri 1 Probolinggo mengadakan mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa pada semester 1. Sekolah tersebut dianggap memiliki prestasi akademik yang baik oleh banyak pihak. Maka dari itu diadakan penelitian tentang media pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa, karena penggunaan media yang tepat akan sangat berpengaruh pada keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah tersebut Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran apresiasi mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo, (2) Mengetahui penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran ekspresi mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk mengungkap data adalah metode observasi pada perangkat pembelajaran yang digunakan guru, wawancara dengan guru mata pelajaran, serta angket yang diberikan pada siswa untuk triangulasi sumber. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Media-media yang digunakan pada pembelajaran apresiasi adalah media buku teks/buku panduan, media contoh gambar/foto-foto, media model, media hasil karya seni yang dihadirkan langsung pada siswa, serta media elektronik berbasis komputer. Guru selalu menggunakan media pembelajaran pada setiap KD pembelajaran apresiasi. Media yang paling berperan membantu siswa dalam pembelajaran apresiasi adalah media LCD, media video/film, dan media contoh-contoh (seperti patung, lukisan, keramik, dll), sedangkan media yang paling berperan membantu guru adalah media karya yang ditunjukkan secara langsung pada siswa yaitu lukisan, (2) Media yang digunakan pada pembelajaran ekspresi selama ini adalah media buku teks/buku panduan, media model, media contoh gambar/foto, media hasil karya seni, media elektronik berbasis komputer, serta media alat dan bahan untuk berkarya seni. Guru selalu menggunakan media pembelajaran pada setiap KD pembelajaran ekspresi. Media yang paling berperan membantu siswa dalam pembelajaran ekspresi adalah media LCD, media video/film, media contoh-contoh (seperti patung, lukisan, keramik, dll), dan media gambar, sedangkan media yang paling berperan membantu guru adalah media karya yang ditunjukkan secara langsung pada siswa yaitu lukisan.

Peran kepala sekolah dalam pengembangan rintisan sekolah bertaraf internasional (studi multisitus di SMA Negeri 1 Malang dan SMA Negeri 10 Malang) / Faridah Hayati)

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd. Kata kunci: peran kepala sekolah, rintisan sekolah bertaraf internasional Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 50 ayat (3) mengamanat­kan agar pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendi­dikan yang bertaraf internasional. Pada tahun 2008 Depdiknas telah menetapkan 570 SMP/SMA/ SMK menjadi sekolah RSBI. Saat ini di kota Malang terdapat beberapa sekolah yang telah ditetapkan sebagai sekolah RSBI, termasuk SMAN 1 dan SMAN 10 Malang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa RSBI di SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang memiliki beberapa kesamaan, yakni sebagai sekolah RSBI yang pelaksanaannya melibatkan peran serta masyarakat tetapi berbeda dalam hal manajemen dan pendanaannya. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti kedua sekolah tersebut. Peran kepala sekolah sebagai manajer profesional sangat menentukan dalam pengembangan sekolah, maka penelitian akan difokuskan pada peran kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. Dalam Permen­dik­nas Nomor 13 Tahun 2007 dinyatakan bahwa kepala sekolah dipersyaratkan memiliki 5 kompe­tensi, yakni kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Jika sekolah dipimpin oleh kepala sekolah yang memenuhi persyaratan kompetensi kepala sekolah, maka dapat diharapkan bahwa sekolah tersebut dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh Mendiknas tahun 2009 tentang SMA bertaraf internasional. Penelitian ini bertujuan untuk memerikan dan menjelaskan (1) peran kepala sekolah dalam merumuskan dan mensosialisasikan visi dan misi RSBI, (2) peran kepala sekolah dalam pengem­bangan RSBI, dan (3) faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis rancangan studi multisitus (multi-site studies). Penelitian dilakukan di 2 lokasi, yakni SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang. Data penelitian bersumber dari kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, para kepala Tata Usaha, dan dokumen. Untuk menjaring data, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam, angket, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data sampai terselesaikannya laporan penelitian. Analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan secara bersamaan, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam merumuskan dan mensosialisasikan visi dan misi RSBI, kepala SMAN 1 dan SMAN 10 Malang berperan sebagai: manajer dalam mengkoordinasikan kegiatan dengan membentuk tim perumus, inisiator perumusan visi dan misi, fasilitator, pemimpin, dan inspirator dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Dalam pengembangan RSBI, kepala SMAN 1 dan SMAN 10 Malang adalah sebagai berikut; (1) akreditasi sekolah, kepala sekolah berperan sebagai manajer dan motivator; (2) pengembangan kurikulum, kepala sekolah beperan sebagai manajer, leader, pendidik, dan inspirator; (3) proses pembelajaran, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, supervisor, dan fasilitator; (4) peningkatan mutu penilaian, kepala sekolah berperan sebagai pendidik dan fasilitator; (5) peningkatan mutu kompetensi lulusan, kepala sekolah berperan sebagai fasilitator, manajer, dan administrator; (6) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, fasilitator, motivator, dan supervisor; (7) pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, kepala sekolah berperan sebagai manajer dan supervisor; (8) pengelolaan, kepala sekolah berperan sebagai manajer, pendidik, dan fasilitator; (9) pembiayaan, kepala sekolah berperan sebagai manajer; dan (10) kesiswaan, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, inovator, dan manajer. Faktor pendukung dan kendala yang dihadapi kepala SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang dalam pengembangan RSBI meliputi: (1) Faktor pendukung: (a) akreditasi sekolah: kuatnya komitmen dan kekompakan serta koordinasi; (b) pengembangan kurikulum: tingginya semangat guru, adanya pendampingan konsultan ahli kurikulum; (c) proses pembelajaran: intensifnya kepala sekolah dalam memotivasi para guru, intensifnya kegiatan peningkatan profesionalisme guru; (d) penilaian: pemahaman guru terhadap sistem penilaian, tersedianya alat dan bahan penilaian, adanya konsultan; (e) peningkatan mutu kompetensi lulusan: efektifnya sistem pembela­jaran, efektifnya program pembinaan ekstrakurikuler, dan adanya program untuk mema­cu siswa berpretasi; (f) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan: profesionalisme guru, kepemimpinan kepala sekolah yang menerapkan pola saling menghargai; (g) pengembangan sarana dan prasarana: tersedianya sarana dan prasarana menunjang pembelajaran, adanya lembaga donor; (h) penge­lolaan: terlaksananya manajemen berbasis sekolah, tingginya kualitas input; (i) pembiayaan: adanya sistem perencanaan anggaran yang baik, adanya dana tambahan; (j) kesiswaan: adanya program pengembang­an kerja sama dengan berbagai pihak, mapannya sistem penerimaan siswa baru, dan input siswa yang bagus. (2) Kendala yang dihadapi: (a) akreditasi sekolah: terbatasnya waktu, kurang tertibnya sistem administrasi; (b) pengembangan kurikulum: guru masih minim pemahamannya tentang kurikulum baru; (c) proses pembelajaran: rendahnya kemampuan bahasa Inggris para guru dan siswa; (d) penilaian: banyak menyita waktu para guru, kurangnya kemampuan siswa berbahasa Inggris; (e) kompetensi lulusan: belum terealisasinya program pembinaan untuk mengikuti ujian; (f) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan: kemam­puan SDM guru mulai dari nol sehingga merasa berat dalam menghadapi RSBI; (g) pengem­bang­an sarana dan prasarana: minimnya bantuan/subsidi pendanaan dari pemerintah; (h) pengelolaan: belum terciptanya budaya layanan prima berstandar internasional; (i) pembiayaan: keterbatasan anggaran, sistem administrasi keuangan yang rumit; (j) kesiswaan: belum bisa memberikan prioritas dalam penerimaan siswa baru bagi warga tinggal di sekitar sekolah. Berdasarkan temuan penelitian tersebut di atas dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. (1) Faktor pendukung dan kendala yang ada di sekolah hendaknya dijadikan pijakan bagi kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. (2) Untuk menjamin keberhasilan RSBI, guru perlu terus-menerus meningkatkan profesionalismenya melalui training, workshop, seminar, penataran, dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. (3) Komite Sekolah diharapkan dapat berperan dalam hal pendanaan maupun mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak sehingga pengembangan RSBI dapat berjalan dengan lancar. (4) Dinas Pendidikan Kota Malang sebagai pengambil kebijakan yang dapat mendukung pengembangan RSBI, misalnya kebijakan dalam hal peningkatan profesionalisme guru, pengembangan sarana prasarana dan pendanaan. (5) Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur diharapkan dapat mendukung pengembangan RSBI dalam bentuk pemberian dana blockgrant, sarana dan prasarana, peningkatan SDM, kebijakan dalam pengembangan RSBI, sehingga tujuan pendidikan dapat berhasil dengan baik. (6) Peneliti-peneliti lain dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang RSBI, misalnya pengembangan RSBI di sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan.

Pengembangan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD / Nova Kristian

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, membaca dongeng, berbentuk komik Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran membaca dongeng berdasarkan observasi mengalami beberapa hambatan. Hambatan tersebut adalah (1) terdapat indikasi rendahnya minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran membaca dongeng, (2) pembelajaran mem-baca dongeng monoton dan membosankan, dan (3) guru hanya terpaku pada buku teks dan LKS. Padahal buku tersebut terlalu banyak teori, monoton, dan kurang dekat dengan siswa. Pada akhirnya hal tersebut akan membuat siswa mengalami banyak kesulitan dalam memahami materi yang disajikan di dalamnya, sehingga dapat memengaruhi hasil belajar siswa. Agar proses pembelajaran membaca dongeng dapat berlangsung dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan paling tidak guru dituntut mampu menyedia- kan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pemilihan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik diduga cocok dan sesuai dengan siswa SD karena komik adalah bahan bacaan yang dekat dan disukai oleh siswa SD. Jika dongeng dalam bahan ajar disajikan dalam bentuk komik maka siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari dan membaca bahan ajar tersebut. Motivasi yang tinggi ini akan berpengaruh positif terhadap penyampaian materi dan pesan-pesan pembelajaran yang tertuang di dalam buku ajar tersebut. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar dongeng berbentuk komik untuk Siswa kelas III SD. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, (2) mengembangkan organisasi penyajian bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, dan (3) mengembangkan bahasa bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, dan (4) mengembangkan tampilan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk sisw kelas III SD Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model desain sistem pembelajaran Dick dan Carey (1990). Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 4 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui tiga kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli sastra, ahli pembelajaran bahasa Indonesia, dan ahli visualisasi komik, (2) uji praktisi yakni guru kelas III SD, dan (3) uji siswa SD kelas III Oro-oro Dowo Malang yang terdiri dari 37 siswa. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kuantitatif dan teknik kualita-tif. Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif yang dipero-leh dari angket penilaian bahan ajar, sedangkan teknik kualititatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif yang berupa data verbal yang diperoleh dari wawancara dan catatan tertulis berupa komentar, saran, dan masukan yang tertulis pada lembar penilaian. Analisis data verbal dilakukan dengan cara (1) mengum-pulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data ver-bal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) mengana-lisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah sudah layak atau harus direvisi. Dari hasil uji bahan ajar dengan ahli sastra menghasilkan rata-rata kelaya-kan sebesar 80%, ahli pembelajaran 89,2%, ahli visualisasi komik 89,6%, guru Bahasa Indonesia 98%, dan siswa 90%. Hasil uji dengan ahli materi dongeng menunjukkan bahwa bahan ajar harus direvisi karena dari kelima aspek yang diujikan ada satu aspek yang belum layak, sedangkan menurut ahli pembelajaran dongeng produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan dalam pembela-jaran, dari ahli visualisasi komik produk tergolong layak dan dapat diimplemen-tasikan dalam pembelajaran, dan dari guru dan siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar membaca do-ngeng berbentuk komik dari hasil uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi kepala sekolah bahan ajar ini dapat memberikan kesem-patan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar secara mandiri. Bagi guru dapat menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan bahan ajar yang berfungsi sebagai alternatif bahan pembelajaran membaca dongeng berbentuk komik, diharapkan pembelajaran membaca dongeng lebih menarik bagi siswa. Selanjut-nya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Hubungan motivasi kerja dan prestasi kerja pemantau Pemilu Indonesia 2004 pada jaringan pendidikan pemilih untuk rakyat (JPPR) Kecamatan Blimbing, Kota Malang / Yuli Hartini

 

Survei tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah menengah atas negeri (SMAN) se-kabupaten Bangkalan / Soleh Hoddin

 

Model pembelajaran pada pelatihan bagi tuna netra di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra Budi Mulya Malang / Irwan Hadi Yuwono

 

Hubungan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa kelas II SMA Negeri 1 Pamekasan / Evi Kusdiana

 

Perbedaan kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa kelas II MA Islamiyah yang tinggal di pondok dengan siswa yang tinggal di luar pondok pesantren, At-Tanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro / Roikhatul Jannah

 

Analisis tingkat kesehatan perusahaan untuk memprediksi potensi kebangkrutan dengan pendekatan Altman (Z-score) (studi kasus pada perusahaan wholesale and retail yang terdaftar di BEJ) / Zuhrina Puspitasari

 

Pengaruh kualitas layanan terhadap partisipasi anggota KPRI "Praja Mukti" Pemerintah Kabupaten Blitar / Rida Kurnia Hayati

 

Pengujian paritas daya beli relatif di Indonesia tahun 2001-2003 / Binti Nur Cholisiyah

 

Upaya penanggulangan pekerja anak di Indonesia / Dyah Eka Larasati

 

Hubungan antara tingkat partisipasi siswa di koperasi sekolah dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMPNH 1 Wlingi / Wahyu Sari Retno

 

Analisis pembentukan portofolio dengan menggunakan single index market model (studi pada Bursa Efek Jakarta) / Evy Widyaningrum

 

Pengaruh kinerja keuangan perusahaan terhadap return saham pada perusahaan food and beverage di Bursa Efek Jakarta periode tahun 2000-2002 / Medinia Nurul Aini

 

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan pilihan jabatan siswa kelas 2 SMP Negeri se Kota Malang / Ulfatul Millah

 

Analisis keuangan sebagai landasan mengukur kinerja saham pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) / Haris Yohananta

 

Perencanaan program sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah (studi kasus di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo) / Yetty Lindiana

 

Keefektifan pengelolaan pengajaran kepala taman kanak-kanak di Kota Malang / Carmelita Ruthmadona

 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe number head together (NHT) untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V SDN Mlaten I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Kurniawan Ujianegara

 

Kata kunci: kemampuan berbicara, pembelajaran kooperatif tipe NHT, SD Dalam rangka mengembangkan perbaikan paradigma siswa belajar saat ini dikembangkan pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Model kooperatif dirancang agar setiap individu dapat bekerja sama dan saling bergantung satu sama lain dalam suatu struktur dan tujuan. Pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat membentuk keterampilan siswa, dimana siswa dapat berkomunikasi dengan baik dalam mengekspresikan kepada lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil survey terhadap siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan kemampuan berbicara anak masih tergolong rendah, hal itu dapat dilihat dari segi pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kalimat, penguasaan naskah atau materi, dan kesungguhan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Berdasarkan hal tersebut peneliti mengangkat judul "Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Untuk meningkatkan Kemampuan Berbicara pada Siswa Kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Metode penelitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk tindakan kelas dan direncanakan dalam dua siklus. Subyek penelitian siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Instrumen penelitian (1) panduan observasi, (2) panduan wawancara, (3) lembar kerja siswa (LKS), (4) lembar tes/soal, (5) refleksi. Analisis data terdiri dari reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian, adanya peningkatan hasil kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Hal itu dapat dilihat dari presentase ketuntasan pada siklus I sebesar 56%, siswa yang tuntas sebanyak 27 siswa dan 12 siswa belum tuntas, meningkat pada siklus II menjadi 77%, 30 siswa tuntas dan 9 siswa belum tuntas. Kesimpulan implementasi pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Saran bagi guru penelitian pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam teknik pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan hasil belajar siswa di dalam kemampuan berbicara. Bagi peneliti lain dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian yang sejenis dengan permasalahan yang lain.

Pemanfaatan obyek-obyek konkrit untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi bagi siswa kelas V SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang / Santi Sari

 

Kata Kunci: obyek konkrit, menulis puisi, pembelajaran bahasa Indonesia SD Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang ditemukan beberapa masalah dalam pembelajaran menulis puisi anatara lain: (1) guru hanya menggunakan metode konvensional, yaitu tanya jawab kemudian penugasan; (2) guru tidak menggunakan media khusus yang bisa memotivasi siswa agar bisa menulis puisi dengan baik; (3) guru tidak menginformasikan tahap menulis puisi; (4) siswa tidak memperhatikan penggunaan lirik, bait dan ejaan dalam menulis puisi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan implementasi kemampuan siswa kelas V SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang dalam menulis puisi dengan pemanfaatan obyek-obyek konkrit (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas V SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang dalam menulis puisi dengan memanfaatkan obyek-obyek konkrit. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini di laksanakan di SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang dengan dua siklus pembelajaran dan subyek penelitian siswa kelas V sebanyak 44 siswa dengan menggunakan model kolaboratif. Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan obyek-obyek konkrit di lingkungan sekolah, yang berlangsung dalam tiga tahapan menulis, yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap merevisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pratindakan menunjukkan rata-rata 65,1, siklus I hasil belajar siswa menunjukkan rata-rata 74. pada rata-rata pra tindakan dan siklus I mengalami peningkatan nilai sebesar 8,9 atau 13,6 %. Sedangkan pada siklus II dengan nilai rata-rata 80,3 mengalami kenaikan sebesar 6,3 atau 8,5 % dari siklus I. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan pemanfaatan obyek-obyek konkrit dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang baik, maka disarankan agar guru hendaknya memanfaatkan objek-objek konkrit yang ada di lingkungan sekolah sebagai alternatif dalam pembelajaran menulis puisi dan proses pembelajaran bisa dilakukan diluar kelas supaya siswa tidak merasa bosan dengan proses belajar mengajar yang selalu dilakukan di dalam kelas. Bagi sekolah hendaknya sekolah memberikan fasilitas yang baik dalam pemenuhan media pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan siswa mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Penerapan media piramida cerita untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas IV SDN Pagentan 05 Singosari / Frosriana Wahyu Wilujeng

 

Kata Kunci: keterampilan menulis, piramida cerita, Malang Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang wajib diberikan mulai jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Masalah mendasar yang terjadi di kelas IV SDN Pagentan 05 Singosari pada pembelajaran bahasa Indonesia adalah rendahnya kemampuan menulis siswa, terutama menulis cerita. Hal tersebut dikarenakan rendahnya kemampuan siswa menemukan ide yang akan ditulisnya dalam bentuk tulisan. Untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam menulis diperlukan media yang tepat sehingga siswa dapat lebih memacu diri dalam menulis. Piramida cerita merupakan alah satu media yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa dan dapat meningkatkan aktivitas belajar menulis siswa. Rancangan yang digunakan dalam pendekatan ini adalah penelitian tindakan kelas. Data penelitian ini berupa tulisan cerita siswa yang memperhatikan aspek kepaduan antar kalimat, keruntutan cerita, dan penggunaan ejaan. Pengumpulan data yang digunakan adalah berupa tes menulis cerita pada siswa. Metode tes yang digunakan adalah observasi dan tes menulis. Kegiatan analisis data dimulai dari seleksi data, pengoreksian data, pembobotan data, dan penyimpulan data. Pada penelitian ini diperoleh hasil dengan meningkatnya kemampuan menulis cerita dengan memperhatikan kepaduan kalimat, keruntutan cerita, serta penggunaan ejaan. Temuan pada siklus I adalah siswa menghabiskan waktu untuk menggambar dan mewarna sehingga tidak memfokuskan kegiatan menulis ceritanya. Di siklus II hasil menulis siswa lebih meningkat, hal ini dikarenakan siswa membuat piramida cerita di rumah, sehingga waktu untuk menulis cukup lama. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara klasikal meningkatnya kemampuan siswa dalam menulis cerita dengan menggunakan media piramida cerita. Saran dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis sebaiknya menggunakan buku cerita yang didalamnya terdapat gambar yang mudah dibuat agar siswa lebih memfokuskan menulis cerita daripada membuat piramida cerita.

Teaching English for young learners at "TK Negeri Pembina I" Malang / Lepi Leliati

 

English is treated as the first foreign language in Indonesia, and Indonesian people find it important to learn. Some primary schools have treated English as a local content subject even in rural areas since they want to involve themselves in the development of education. Introducing English to young learners should consider their enthusiasm and their interests in learning English; the teacher must motivate the students and be very communicative in teaching English. The purpose of the study is to describe the teaching of English in “TK Negeri Pembina I” Malang in terms of the teaching learning process the classroom, the material used by the teacher, and the techniques of teaching English in the classroom. The design of this study is descriptive qualitative. Related to the result of the study, English teacher is suggested to give simple short stories for the students, in order increase students’ attention in learning English. In telling the story, the teacher may use more interesting media such as: puppets, big books, and picture. The children love listening to stories. Hence, storytelling as part of students’ learning activities will help the teaching and learning process.

Penggunaan model advanced organizer yang dipadu dengan mindmapping untuk meningkatkan pembelajaran IPS di kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso Malang / Amalia Dyah Erviana

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Advanced Organizer, Pembelajaran IPS, Hasil Belajar. Pembelajaran yang dilakukan dalam mata pelajaran IPS harusnya dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Berdasarkan observasi di kelas V di SDN Donowarih 02 pada tanggal 7 januari 2011 ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS. Permasalahan tersebut antara lain (1) Pembalajaran didominasi dengan metode ceramah, (2) guru sering bergantung pada buku teks, (3) siswa kurang memperoleh pengalaman langsung sehingga berpikir kreatif mereka kurang dikembangkan. Oleh karena itu pada penelitian kali ini peneliti ingin mencoba untuk menangani rendahnya hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping dalam pembelajaran IPS, melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk melaksanakan pembelajaran model Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang di kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso Malang. ; 2) Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang siswa kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso Malang; (3) Untuk mengetahui aktivitas siswa terhadap model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping pada mata pelajaran IPS dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang kelas V di SDN Donowarih 02 Karangploso Malang. Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan sejak Januari 2011 sampai dengan Mei 2011. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggrat yang terdiri atas empat fase, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa sebelum tindakan nilai rata-rata siswa 64,65, Diketahui 13 siswa belum mencapai ketuntasan individual. Setelah dilakukan tindakan I hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata 71,2, Selanjutya dilakukan tindakan II dan rata-rata hasil belajar siswa menjadi 80,25. Hal ini menunjukan sudah mencapai KKM yang ditentukan. Terbukti bahwa penerapan model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping dapat meningkatkan hasil belajar IPS dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso. Selanjutnya peneliti menyarankan kepada guru agar dapat menerapkan model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping pada pembelajaran IPS dengan kompetensi dasar lain ataupun mata pelajaran lain, dengan demikian siswa dapat melakukan pembelajaran secara langsung dan mengembangkan proses berpikirnya melalui presentasi materi dengan menggunakan peta konsep.

Pengaruh modernitas individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Dringu-Probolinggo / Rizkah Ulfah

 

Minat wirausaha siswa pada dasarnya merupakan suatu kehendak atau keinginan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan sebagai wirausaha, yang dapat diukur melalui memiliki motif untuk berprestasi, memilki bekal keterampilan untuk berwirausaha, memiliki mental dan jiwa wirausaha. Modernitas individu adalah serangkaian sifat kepribadian (sikap dan tingkah laku) yang dimiliki oleh siswa untuk aktif dalam menerima pengalaman baru dan memanfaatkan pembaharuan yang ada, serta kesanggupan siswa untuk hidup mandiri dan dinamis ditengah masyarakat modern, yang dapat mempengaruhi pola pikir siswa untuk selalu berfikir kreatif dan bertindak inovatif. Latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa merupakan suatu keadaan sosial ekonomi orang tua dengan indikator tingkat pendidikan orang tua, pendapatan orang tua, pekerjaan orang tua, dan Tanggung jawab terhadap keluarga. Dimana ke empat indikator tersebut mempengaruhi pada dukungan eksternal siswa untuk berwirausaha siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh modernitas individu terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMAN 1 Dringu-Probolinggo, (2) pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMAN 1 Dringu-probolinggo, (3) pengaruh modernitas individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMAN 1 Dringu-probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang dilakukan pada 100 siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Dringu-Probolinggo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan bantuan komputer program SPSS 17.0 for windows. Dari hasil pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa : (1) terdapat pengaruh positif yang signifikan modernitas individu terhadap minat wirausaha siswa.(2) terdapat pengaruh positif yang signifikan latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa terhadap minat wirausaha siswa. (3) terdapat pengaruh positif yang signifikan modernitas Individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa. Dan sebesar 60,5% minat wirausaha siswa dipengaruhi oleh modernitas individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua, sedangkan 39,5% minat wirausaha siswa dipengaruhi variabel lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa: (1) Bagi Siswa SMAN 1 Dringu kelas XII IPS untuk selalu mengembangkan sifat kepribadian secara optimal dengan memanfaatkan IPTEK yang ada dan aktif dalam pengembangan diri, agar dapat dijadikan sebagai bekal untuk mencapai kemandirian dizaman modern saat ini, yakni dengan memilih untuk berwirausaha, (2) Bagi pihak SMAN 1 Dringu hendaknya lebih mengoptimalisasi terhadap materi kewirausahaan, yakni mengembangkan program-program sekolah yang berkaitan dengan kewirausahaan, sehingga dengan dukungan dari sekolah diharapkan siswa lebih mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang wirausaha untuk mendukung minat mereka dalam berwirausaha, (3) Bagi guru diharapkan selalu membimbing dan mengarahkan siswa sebagai manusia yang modern untuk selalu berusaha berfikir kreatif dan melakukan inovasi dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan wawasan kepada siswa tentang kewirausahaan,(4)Bagi peneliti lain, diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk menambahkan variabel lain yang mempengaruhi minat wirausaha siswa dengan menggunakan metode analisis yang berbeda pula.

Pembelajaran dengan pendekatan open-ended untuk memahamkan siswa pada materi segiempat kelas VII-I SMP Negeri 1 Singosari / Nur Yuli Asih

 

Kata kunci open-ended open-ended yaitu metode yang menyajikan suatu permasalahan dengan penyelesaian yang tidak tunggal sehingga mengambangkan pola pikir siswa yang kreatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas VII-I SMP Negeri 1 Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pembelajaran openended dalam memahamkan siswa kelas VII I SMP Negeri 1 Singosari pada materi segiempat. Pembelajaran open-ended pada materi segiempat melalui 3 tahap: Pada tahap awal, siswa (a) diberi informasi mengenai materi segiempat meliputi identifikasi sifat-sifat segiempat ditinjau dari sudut, diagonal dan sisi-sisinya, (b) dikelompokkan, (c) diberi motivasi dengan cara memberitahukan kepada mereka bahwa diakhir tindakan mereka akan diberi hadiah dan penghargaan bagi kelompok dan siswa terbaik yang dipilih berdasarkan keaktifan dan skor tes. Pada tahap inti, siswa (a) diberi soal-soal open-ended pada LKS untuk dikerjakan secara berkelompok , (b) diberi waktu untuk mengerjakan LKS dan diskusi kelompok, dan (c) diminta untuk melakukan diskusi kelas hingga membuat kesimpulan. Pada tahap selanjutnya dalam model pembelajaran open-ended adalah tahap akhir. Siswa bersama guru mengadakan refleksi dengan mengulang kembali materi segiempat dan membuat kesimpulan Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran melalui open-ended dengan langkah-langkah yang sudah disebutkan dapat memahamkan siswa didasarkan pada hasil penelusuran soal tes dan LKS. Ratarata hasil tes siklus I sebesar 74,35% dan siklus II sebesar 94,1%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembelajaran matematika melalui open-ended dapat digunakan untuk memahamkan siswa pada materi segiempat. Open-Ended, Memahamkan dan Segiempat matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia, akan tetapi tidak sedikit siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. Pemahaman siswa yang kurang dalam pembelajaran matematika disebabkan siswa tidak dapat mengembangkan pola berpikir kreatif . Tidak berkembangnya pola berpikir kreatif siswa karena guru memandang bahwa pembelajaran matematika sebagai suatu hasil atau produk bukan proses. sehingga mengakibatkan siswa tidak terlibat, baik secara fisik (bekerja) maupun secara mental ( berpikir) dalam kegiatan pembelajaran. Tidak terlibatnya siswa dalam kegiatan pembeajaran menyebabkan siswa menjadi pasif dan cenderung hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Oleh karena itu diperlukannya suatu metode pembelajaran

Simulasi lintasan petir berbasis diffusion limited aggregation menggunakan wolfram mathematica 7.0 / Indro Wicaksono

 

diffusion limited aggregation (DLA) pernah dibuat oleh Endah Wahyuni (2007) dengan memperhatikan probabilitas arah gerak menggunakan program Delphi 7. DLA mensimulasikan perjalanan partikel gerak secara acak (random walk) sampai membentuk suatu kumpulan partikel diam. Simulasi serupa pernah dibuat oleh Hiroki Sayama (2008) dengan menggunakan program Wolfram Mathematica 7.0 tanpa memperhatikan probabilitas arah gerak. Berdasarkan kedua program tersebut, maka dibuat program simulasi lintasan petir berbasis DLA dengan menggunakan Wolfram Mathematica 7.0. Model DLA merupakan cellular automata 2 dimensi yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan partikel gerak yang bergerak secara acak sampai membentuk kumpulan partikel yang menempel pada partikel diam. Aturan penting yang digunakan yaitu aturan arah gerak dan syarat batas. Aturan arah gerak digunakan bergerak ke arah kanan, kiri, atas, dan bawah berdasarkan probabilitas masing-masing gerak. Sedangkan untuk aturan syarat batas digunakan memantul jika partikel mengenai batas kisi. Pada program simulasi ini, dengan mengubah probabilitas arah gerak masing-masing gerak dan nilai urutan acak tertentu menghasilkan simulasi lintasan petir yang sangat mirip dengan lintasan petir yang terjadi di alam. Hasil program simulasi ini adalah simulasi lintasan petir dengan kecenderungan merambat ke segala arah, kecenderungan merambat ke kanan bawah, kecenderungan merambat ke kiri bawah, kecenderungan merambat ke bawah, kecenderungan merambat ke atas, kecenderungan merambat ke kanan atas, kecenderungan merambat ke kiri atas, dan kecenderungan merambat ke kanan kiri. Simulasi, lintasan petir, diffusion limited aggregation, Wolfram Mathematica 7.0 Simulasi lintasan petir dengan model

Pengembangan modul pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk kelas IX semester genap SMP Negeri 18 Malang / Beni Hendarwanto

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran dari isi kurikulum pendidikan. Sumber belajar di SMP Negeri 18 khususnya untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang berbasis buku adalah LKS dan buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional Tahun 2010. Modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan baik siswa maupun guru kelas IX di SMP Negeri 18 Kota Malang untuk membantu proses pembelajaran. Modul ini dikembangkan sesuai dengan KTSP yang terdapat pada SMP Negeri 18 Kota Malang. Pengembangan modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan ini diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah materi yang disajikan dalam modul ini disesuaikan dengan KTSP SMP Negeri 18 Malang. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah sebagai berikut: (a) pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan cara penyebaran angket dan wawancara; (b) membuat rancangan produk; (c) evaluasi 3 orang yang terdiri dari 1 ahli media dan 2 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; (d) revisi produk awal dengan menyesuaikan hasil dari uji kelompok kecil; (e) uji coba lapangan dengan mengujicobakan hasil revisi produk awal; (f) revisi produk akhir dengan menyesuaikan dari hasil uji lapangan; (g) hasil akhir produk, modul mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan untuk siswa kelas IX semester genap SMP Negeri 18 Malang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 9 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 45 orang siswa kelas IX SMP Negeri 18 Kota Malang modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dinyatakan dapat digunakan. Produk pengembangan berupa modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dalam memberikan materi pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

Pengembangan permainan tradisional Jawa untuk menunujang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab / Arini Sadiyah

 

Kata Kunci: pengembangan, permainan tradisional Jawa, kosakata, bahasa Arab untuk anak. Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh pendidikan seorang pendidik. Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan permainan yang ada di lingkungan sekitar. Permainan tradisional daerah juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dipelajari oleh umat Islam khususnya, karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an. Namun pada kenyataannya pembelajaran bahasa Arab masih kurang diminati oleh sebagian besar orang di Indonesia, mereka beranggapan bahwa mempelajari bahasa Arab itu adalah hal yang sulit. Hal tersebut dimungkinkan karena pelafalan dan tulisan yang tidak sama dengan bahasa negara kita Indonesia yang sudah dipelajari dari usia dini. Untuk itu pengembang memilih permainan tradisional Jawa untuk dikembangkan sebagai media yang menyenangkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini disebabkan karena permainan adalah sesuatu yang disukai oleh anak-anak, jika anak-anak sudah merasa senang dengan pembelajaran bahasa Arab, sangat mungkin di waktu mereka dewasa, rasa senang itu akan tetap bersemi pada diri mereka. Tujuan penelitian adalah (a) mendeskripsikan proses pengembangan permainan tradisioal Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran Bahasa Arab dalam bentuk buku dan VCD, (b) memproduksi hasil pengembangan permainan tradisional Jawa dalam bentuk buku dan video untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran Bahasa Arab, (c) menguji kalayakan dan efektivitas penggunaan permainan tradisional Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab. Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Dick and Carey. Untuk menguji kelayakan produk, dilakukan validasi oleh ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran serta dilakukan uji kelompok kecil dan uji lapangan. Hasil akhir dari pengembangan ini adalah berupa buku dan VCD yang diberi nama “Ayo Belajar Babahasa Arab Sambil Dolanan”. Buku berisi 10 macam permainan tradisional Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab yang masing-masing permainan tediri atas enam hingga sepuluh kosakata dengan enam macam tema yaitu: (1) nama-nama buah (2) nama-nama hewan (3) nama-nama profesi (4) peralatan sekolah (5) angka dan (6) kata kerja. Buku digunakan sebagai panduan dalam memainkan permainan tradisional Jawa. Sedangkan VCD digunakan sebagai penunjang buku yang berisikan video siswa siswi yang memainkan 10 permainan tradisional Jawa yang ada dalam buku “Ayo Belajar Bahasa Arab Sambil Dolanan”. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas pengembangan produk buku dan VCD "Ayo Belajar Bahasa Arab Sambil Dolanan" yaitu 83,3%. Untuk hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 87,5%. Berarti media pembelajaran tersebut cukup layak digunakan dalam pembelajaran. Produk buku dan VCD tersebut kemudian diujicobakan kepada siswa. Secara keseluruhan, persentase penilaian yang didapat dari hasil jawaban siswa pada ujicoba kelompok kecil adalah 100% dan untuk ujicoba lapangan adalah 98%. Hal ini berarti, pengembangan permainan tradisional Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab validasinya tinggi dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Dari hasil pengembangan dalam penelitian pengembangan ini, pengembang memberikan saran kepada pengembang selanjutnya agar dapat mengembangkan materi dengan menambah jumlah permainan yang dikembangkan dan tema kosakatanya, karena pada produk pengembangan ini hanya memuat 10 (sepuluh) permainan dan 6 (enam) tema kosakata. Akan lebih baik apabila produk pengembangan dibuat dengan lebih banyak jenis permainan tradisional dan kosakatanya serta dibuat lebih menarik baik dari segi permainan, gambar, atau yang lainnya. Selain itu diharapkan dapat dilakukan ujicoba produk pengembangan kepada subjek yang lebih luas dengan kurun waktu yang lebih lama sehingga didapatkan validitas media yang lebih optimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe group investigation untuk meningkatkan hasil belajar IPS di SDN Pagentan 01 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Dwi Cahyo Rini

 

Kata Kunci: Tipe Group Investigation, hasil belajar, Aktifitas siswa. Pembelajaran IPS dengan menggunakan Tipe Group Investigation untuk meningkatkan aktivitas belajar ini merupakan salah satu pembelajaran dengan tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai bidang pendidikan, tidak hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan sosial, melainkan lebih jauh dari pada itu berupaya membina dan mengembangkan peserta didik menjadi sumber daya manusia yang berketerampilan sosial dan intelektual sebagai warga masyarakat dan warga Negara yang memiliki perhatian, kepedulian sosial yang bertanggung jawab. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa kelas IV semester II SDN Pagentan I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang melalui penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, serta untuk meningkatan hasil belajar IPS kelas IV semester II SDN Pagentan I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang dengan penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation. Dalam penelitian tindakan kelas ini, untuk melakukan pengamatan atau pengumpulan informasi dan data-data yang diperlukan, maka peneliti melakukan tahap-tahap: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi pada tiap-tiap siklusnya yang saling terkait dan berkelanjutan. data yang telah diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa serta mengetahui keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk analisis tingkat keberhasilan atau prosentase ketuntasan belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada tiap siklusnya, dilakukan dengan cara memberikan evaluasi hasil belajar. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data tentang perkembangan prestasi belajar siswa melalui penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation ternyata prestasi belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Pagentan 01 Kecamatan Singosari dapat meningkat. Berdasarkan penilaian prestasi hasil belajar IPS nilai rata-rata tes formatif 69 meningkat 86, jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 ada 21 siswa, dan pada siklus 2 meningkat 31 siswa sedangkan persentase ketuntasan pada siklus 1 mencapai 58% dan pada siklus ke 2 meningkat 83 %, siswa lebih aktif dan responsif dalam melakukan diskusi dengan menggunakan media vidio visual. Perlu adanya pemanfaatan media Video Visual yang optimal untuk pembelajaran ilmu pengetahuan social dengan mempertimbangkan aspek perkembangan siswa. Kelemahan pada penulisan penelitian ini tidak menggunakan media video visual yang lebih bersifat kongkrit/nyata.

Pengembangan computer assisted instruction (CAI) materi fluida dinamis dengan swishmaz untuk siswa SMK kelas X / Muhammad Fajar Prasetia

 

Kata Kunci : Computer Assisted Instruction (CAI), Fluida Dinamis, SwishMax Pesatnya kemajuan teknologi saat ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan peningkatan proses pembelajaran, salah satunya dengan mengembangkan bahan ajar. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk membuat bahan ajar CAI fluida dinamis. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan memanfaatkan modifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Brog dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut adalah sebagai berikut. (1) Studi pendahuluan (studi kepustakaan, survei lapangan), (2) Pengembangan model/produk (penyusunan draf, validasi produk, revisi, uji coba terbatas). Untuk mengetahui kelayakan/kevalidan produk ini, dilakukan uji coba.Desain uji coba dalam penelitian ini adalah uji coba terbatas, yang meliputi uji coba kepada ahli media, ahli materi, audien. Ahli media adalah orang yang berpengalaman dalam bidang multimedia komputer, ahli materi adalah orang yang berpengalaman dalam bidang fisika, sedangkan pengguna adalah siswa SMK. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik persentase. Validator kelompok ahli materi, ahli media, dan pengguna masing-masing memberikan nilai dengan rata-rata sebesar 83,3%, 82,5%, 89,4%. Berdasarkan nilai rata-rata hasil validasi dapat disimpulkan bahwa produk bahan ajar CAI fluida dinamis adalah layak/valid untuk digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di sekolah.

Pengaruh fasilitas belajar dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro tahun ajaran 2010/2011 / Yunita Arifiyanti

 

Fasilitas belajar merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Agar siswa dapat mencapai tujuan secara maksimal, maka siswa perlu pengadaan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah, di rumah dan di masyarakat. Adanya fasilitas belajar akan memunculkan motivasi siswa dalam melakukan aktivitas belajar yang biasa dilakukan oleh siswa atau dalam bahasa sederhana disebut dengan kebiasaan belajar yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan belajar siswa. Kebiasaan ini meliputi kebiasaan belajar di sekolah dan di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui persepsi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo terhadap fasilitas belajar, (2) Mengetahui persepsi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo terhadap kebiasaan belajar, (3) Mengetahui pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo, (4) Mengetahui pengaruh kebiasaan belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo, (5) Mengetahui pengaruh antara fasilitas belajar dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo. Berdasarkan hasil analisis deskripstif diketahui bahwa persepsi siswa terhadap fasilitas belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Sumberrejo 70,69% yang tergolong baik, 27,59% tergolong sangat baik, dan 0,86% tergolong cukup baik, dan 0,86% tergolong kurang baik, dalam fasilitas belajar baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat. Kebiasaan belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Sumberrejo 61,21% yang tergolong baik, 1,72% tergolong sangat baik, 35,34% tergolong cukup baik dan 1,72% tergolong kurang baik, dalam kebiasaan belajar di sekolah maupun di rumah. Hasil belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Sumberrejo 73,28% yang tergolong baik, 17,24% tergolong sangat baik, dan 9,48% tergolong kurang baik. Berdasarkan hasil uji asumsi klasik, data yang diperoleh dari penelitian ini distribusi datanya normal, bebas dari multikolinieritas, bebas dari heterokedastisitas, dan bebas dari autokorelasi. Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa fasilitas belajar berpengaruh terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo dan kebiasaan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo. Secara simultan, fasilitas belajar dan kebiasaan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo. Saran yang diajukan adalah (1) Diharapkan dalam pengadaan fasilitas belajar disekolah hendaknya memperhatikan kelengkapan fasilitas belajar siswa terutama dalam kondisi fasilitas belajar dan memperbaiki fasilitas belajar yang menunjang proses pembelajaran, seperti keadaan penataan ruang kelas serta keadaan laboratorium. (2) Diharapkan guru dapat meningkatkan fasilitas belajar yang telah dimiliki, serta mengetahui bagaimana menghadapi siswa yang memiliki kebiasaan belajar yang berbeda, sehingga guru dapat memberikan motivasi bagi siswa untuk dapat mencapai kesuksesan dalam belajar. (3) Diharapkan siswa mempunyai hasil belajar yang stabil dan tinggi, berani membuka diri kepada para guru agar berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran agar menjadi lebih nyaman dan juga siswa menggunakan fasilitas yang sudah tersedia semaksimal mungkin dan mempunyai kebiasaan belajar yang baik agar mencapai hasil belajar yang lebih optimal.

Pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis teks berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi-Sumenep tahun ajaran 2010/2011 / Riski Agustini

 

Kata Kunci : menulis teks berita, metode STAD, dan pembelajaran menulis Tingkat minat dan kemampuan siswa dalam menulis teks berita masih rendah karena kurang beragam dan menariknya penerapan metode pembelajaran.Oleh karena itu, diperlukan suatu metode yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam menulis teks berita. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah metode STAD. Metode ini menuntun siswa memperoleh pengetahuan melalui kerjasama kelompok yang diterapkan dalam metode STAD. Dalam metode STAD siswa diajak untuk bekerja sama dalam menyusun pengetahuan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan teman. Pola pembelajaran ini siswa berperan aktif dalam proses menemukan dan menyusun informasi berdasarkan kejadian atau peristiwa yang dialami ataupun diimajinasikan. Metode ini menekankan pada siswa untuk mandiri, mau bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran, mau menghargai pendapat orang lain. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis judul berita, (2) mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis teras berita, dan (3) mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis tubuh berita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Masing-masing kelompok berjumlah 30 siswa. Sampel penelitian merupakan siswa yang benar-benar mengikuti seluruh kegiatan penelitian. Dalam penelitian ini, data berupa hasil pretes dan postes menulis teks berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode STAD memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan menulis teks berita pada aspek menulis judul berita dan teras berita siswa SMP Negeri I Saronggi. Kemampuan menulis teks berita kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek menulis judul berita memiliki nilai uji statistik 2,540 lebih besar dari nilai t tabel 2,045 maka H 1 diterima. Dengan demikian, ada pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis judul berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Kemampuan menulis teks berita kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek menulis teras berita memiliki nilai uji statistik 2,505 lebih besar dari nilai t tabel 2,045 maka H 1 diterima. Dengan demikian, ada pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis teras berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Kemampuan menulis teks berita kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek menulis tubuh berita memiliki nilai uji statistik 1,781 lebih kecil dari nilai t tabel 2,045 maka H 1 ditolak. Dengan demikian, tidak ada pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis tubuh berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh positif penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis judul berita dan teras berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi, sedangkan tidak ada pengaruh positif penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis tubuh berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Hal ini disebabkan karena dalam menulis tubuh berita siswa masih belum bisa membedakan mana teras berita dan mana tubuh berita. Mereka mempunyai pemahaman bahwa teras berita dan tubuh berita sama-sama merupakan isi berita keseluruhan kecuali judul berita. Berdasarkan kesimpulan data hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa saran. Saran ini dimaksudkan untuk dapat memberikan masukan pikiran terhadap peningkatan dan pembinaan kemampuan menulis teks berita. Bagi peneliti lain hendaknya penelitian ini dapat dijadikan masukan demi tercapainya penelitian berikutnya. Karena fungsi penelitian eksperimen yang merupakan uji coba suatu produk, maka hasil yang didapat dari penelitian ini bias digunakan sebagai landasan untuk diadakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode STAD. Bagi guru hendaknya penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk menambah pengetahuan dan kreativitas guru dalam mengembangkan metode dan strategi pembelajaran di sekolah. Berdasarkan penelitian ini guru juga dapat mencoba menggunakan metode STAD untuk meningkatkan kemampuan menulis teks berita. Jenis metode STAD yang lain juga dapat digunakan guru di sekolah untuk menambah variasi teknik-teknik menulis teks berita dalam pembelajaran di kelas. Perlu diingat juga agar menanamkan motivasi menulis teks berita dengan menerapkan metode STAD dari dalam diri siswa agar mendapatkan hasil tulisan yang maksimal.

Penggunaan metode shopping post to post untuk meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil pembelajaran menulis makalah siswa kelas XI IPA SMA Widyagama Malang / Ari Dwi Cayanti

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, pembelajaran menulis, metode shopping post to post Pembelajaran keterampilan menulis memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, mengajarkan keterampilan menulis harus dalam porsi yang cukup. Pembelajaran menulis merupakan suatu kegiatan yang harus diajarkan secara terus menerus kepada peserta didik. Tanpa adanya latihan yang terus-menerus, kegiatan menulis tidak dapat berjalan dengan baik. Menulis bukanlah aktivitas yang sekali jadi, melainkan masih membutuhkan perbaikan. Akan tetapi, kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan pembelajaran menulis belum diajarkan sesuai dengan porsi seharusnya. Hasil studi pendahuluan di kelas XI IPA SMA Widyagama Malang menunjukkan keterampilan menulis siswa masih rendah. Hal ini disebabkan rendahnya tingkat motivasi pada diri siswa. Berdasarkan uraian di atas, penggunaan metode shopping post to post dalam menulis makalah siswa kelas XI IPA SMA Widyagama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis. Diharapkan dengan adanya metode shopping post to post dapat merangsang motivasi siswa dan meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang instrumen utamanya adalah peneliti. Instrumen pendukung yang digunakan berupa tes performansi, lembar observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi kegiatan siswa. Sumber data merupakan guru dan siswa kelas XI IPA SMA Widyagama Malang. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan non tes. Data yang diperoleh berupa hasil tulisan siswa dan catatan pada saat kegiatan observasi selama penelitian berlangsung. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian keterampilan menulis makalah yang dilengkapi dengan kutipan, catatan kaki, dan daftar rujukan menggunakan metode shopping post to post pada prasiklus, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada kemampuan siswa menulis makalah prasiklus sebesar 59,8, pada siklus I sebesar 71,6, dan pada siklus II sebesar 79,1. Nilai ratarata kemampuan menulis kutipan pada prasiklus sebesar 52,9, pada siklus I sebesar 70,3, dan pada siklus II sebesar 81,7. Nilai rata-rata kemampuan menulis catatan kaki pada prasiklus sebesar 35,5, pada siklus I sebesar 62,6, pada siklus II sebesar 74,7. Nilai rata-rata pada kemampuan membuat daftar rujukan pada prasiklus sebesar 81,4, pada siklus I sebesar 95,8, dan pada siklus II sebesar 98,3. Peningkatan keterampilan menulis siswa pada tiap siklus diikuti dengan kemajuan sikap siswa yang lebih bertanggung jawab, disiplin, aktif, dan saling membantu. Penerapan metode shopping post to post dengan langkah pembelajaran yang memberikan ruang gerak pada siswa untuk lebih beraktivitas tidak hanya duduk diam di bangku untuk mendengarkan dan menunggu perintah guru. Berdasarkan manfaat dari metode ini disarankan kepada guru untuk menerapkan metode shopping post to post dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan permasalahan yang sama. Bagi peneliti yang akan datang diharapkan meneliti tentang keterampilan menulis menggunakan metode shopping post to post shopping post to post

Penerapan model concept sentence untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas IV mata pelajaran IPS di SDN Lesanpuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Wilhelma Fenanlampir

 

Kata kunci: Model Concept Sentence, Proses dan Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas IV SDN Lesanpuro III ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS materi Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi dan Transportasi, yaitu (1) Proses belajar siswa rendah yang ditandai oleh siswa kurang aktif dalam mencari atau menemukan pengetahuannya sendiri (2) kurangnya kerjasama dalam proses belajar (3) rendahnya hasil belajar siswa pada bidang studi IPS. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan pembaharuan dalam model pembelajaran. model pembelajaran yang sesuai adalah model concept sentence, yaitu model pembelajaran dimana siswa lebih diarahkan dan difokuskan untuk memahami serta menguasai kata kunci dari setiap materi yang disajikan oleh guru. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana penerapan model Concept Sentence dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial; (2)Apakah penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif model "Concept Sentence" dapat meningkatkan proses belajar siswa; (3) hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan, sedangkan siklus II dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan dan observasi, refleksi dan perbaikan rencana. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Lesanpuro III yang berjumlah 42 siswa yang terdiri dari 28 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model concept sentence dapat meningkatkan proses dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Hal ini dilihat dari peningkatan proses belajar siswa dari siklus I pertemuan I ke siklus I pertemuan II, ke siklus II. Perolehan rata-rata post test yang juga meningkat tajam, dari rata-rata sebelumnya (56,43%) mengalami peningkatan pada siklus I pertemuan I dengan rata-rata kelas sebesar (68%) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (54,8%) meningkat pada siklus I pertemuan II dengan rata-rata kelas sebesar (75,6%) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (73,8%) meningkat pada siklus II dengan ratarata kelasnya sebesar (85,6%) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (92,9%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model concept sentence telah sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah direncanakan dan mengalami peningkatan secara bertahap serta penerapan model concept sentence dapat meningkatkan proses dan hasil belajar kelas IV SDN Lesanpuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan suatu variasi dalam pembelajaran dan dapat menerapkan model concept sentence pada materi lain yang sesuai.

Pengaruh pembelajaran berbasis multiple intelligences terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMKN 4 Malang / Arinda Yussanti Ika F.

 

Multiple Intelligences. Pembelajaran ini dapat mengembangkan kecerdasan siswa dan menggali potensi yang ada pada dirinya serta mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam bentuk interaksi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah prestasi belajar fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences lebih baik dari prestasi belajar fisika siswa yang diajar dengan model pembelajaran konven-sional pada kelas X SMKN 4 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan rancangan Pretest-Posttest Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMKN 4 Malang tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 28 kelas, kemudian sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling, kelas yang terpilih yaitu kelas X PS F sebagai kelas eksperimen dan X PD D sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji-t dari hasil prestasi siswa (nilai post-test) yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian ini diperoleh rata-rata prestasi belajar (post-test) siswa pada kelas eksperimen sebesar 74,08 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 66,84. Berdasarkan rata-rata prestasi di atas disimpulkan bahwa prestasi belajar fisika dengan menggunakan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences memiliki rata-rata nilai lebih baik dibandingkan dengan tanpa menggunakan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences. Saran yang dapat disampaikan bagi guru fisika, disarankan dapat menerapkan sekaligus dapat mengembangkan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences dengan lebih baik, sehingga siswa mampu mengembangkan kecerdasan yang dimilikinya dan menggali potensi yang ada pada dirinya serta mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitasnya yang mengarah pada pencapaian prestasi belajar yang lebih baik.: multiple intelligences, prestasi belajar. Mengingat pentingnya prestasi belajar fisika siswa sebagai dasar kenaikan kelas siswa, maka prestasi belajar fisika siswa harus benar-benar baik. Untuk dapat mencapai prestasi belajar fisika secara mantap dan tinggi dalam proses pembelajaran, salah satunya dapat digunakan pembelajaran berbasis

Penerapan metode hanifida pada pelatihan menghafal cepat (studi kasus di Laa Raiba Hanifida Training Center) / Prehaning Yuni Astuti

 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) penerapan metode hanifida untuk menghafal cepat asmaul husna, (2) penerapan metode hanifida untuk menghafal cepat pelajaran, dan (3) penerapan metode hanifida untuk menghafal cepat surat terpopuler Al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif jenis deskriptif dengan rangcangan studi kasus yang adakan di Laa Raiba Hanifida Training Center yaitu di pusat Jombang, Kertosono Kabupaten Nganjuk dan Maron Kabupaten Probolinggo. Pada penggalian data digunakan teknik (1) wawancara, (2) observasi, (3) studi dokumentasi, dan (4) studi literatur. Analisis data yang digunakan (1) reduksi data, (2) display data, dan (3) verifikasi. Pengecekan keabsahan temuan digunakan triangulasi dan ketekunan peneliti. Kesimpulan penelitian ini pertama, metode hanifida merupakan metode yang unik dan ekspresif, cara cepat menghafal asmaul husna, pelajaran, dan surat terpopuler Al-Qur’an. Metode hanifida memiliki ekspresi variatif, cerita lebih merakyat, lucu, aneh dan lebih mengena pada sasaran. Kata kunci lebih kreatif dan dilengkapi dengan buku modul bergambar sebagai penguat imajinasi. Menggunakan sistem belajar verbal yaitu menggunakan visual, auditorial, dan kinestetik. Mengkombinasikan metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan percobaan atau simulasi. Metode hanifida menggunakan otak kiri dan otak kanan. Ada tiga langkah dalam menghafal cepat asmaul husna asmaul husna dengan sistem cantolan, dan memasukkan sistem rumus angka ke dalam materi inti ke dalam asmaul husna . Cara belajar asmaul husna memiliki tiga kunci, yaitu nomor urut, arti, dan asmaul husnanya. Kedua, peserta dapat mengembangkan menghafal cepat dengan metode hanifida pada pelajaran sesuai selera. Ketiga, ada dua hal pelatihan asmaul husna yaitu sudah pernah belajar asmaul husna metode hanifida dan pernah menghafal meskipun masih sering lupa ingat atau minimal pernah membaca surat terpopuler tersebut sehingga membantu pada saat pelatihan. Kata Kunci: Metode Hanifida dan Menghafal Cepat dengan metode hanifida, yaitu sepakat bahwa asmaul husna berjumlah 99, menghafal rumus angka primer dan sekunder untuk mengetahui urutan

Peningkatan keterampilan menyimak dongeng melalui media VCD animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Ike Mega Irawati

 

Kata kunci: Menyimak, dongeng, media, VCD animasi Pembelajaran menyimak di sekolah menengah pertama merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memegang peranan penting. Keterampilan ini merupakan keterampilan pertama yang dikuasai siswa dan memiliki peranan terhadap keterampilan berbahasa serta penguasaan materi pelajaran yang lain. Berdasarkan observasi awal, keterampilan menyimak pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang masih kurang dan belum mencapai standar nilai yang berlaku di sekolah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata klasikal siswa yang kurang dari 70. Pemilihan media pembelajaran yang tepat merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam penelitian ini media yang digunakan adalah media VCD animasi. Dengan media ini siswa belajar menyimak dongeng. Dalam meningkatkan keterampilan menyimak dongeng melalui media VCD animasi dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap memahami isi dongeng dan tahap menemukan hal yang menarik. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini mengangkat dua permasalahan, yaitu (1) Bagaimana peningkatan keterampilan memahami isi dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD Animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011? dan (2) Bagaimana peningkatan keterampilan menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD Animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan memahami isi dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011 dan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menemukan hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) dengan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek umum penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 9 Malang dengan jumlah 38 siswa yang terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan tahun ajaran 2010-2011 dan subyek khusus penelitian ini adalah kelompok siswa yang memperoleh nilai dibawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM). SKM untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah 70. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa data numerikal yang diperoleh dari hasil belajar siswa dengan menggunakan media VCD animasi. Instrumen yang digunakan yaitu tes uraian, Lembar Kerja Siswa (LKS),dan rubrik penilaian. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2011 dan 29 Maret 2011 dalam dua siklus. Data penelitian meliputi data numerikal yang berwujud hasil belajar peningkatan keterampilan menyimak dongeng. Data diperoleh melalui instrumen utama, yaitu tes uraian, LKS (Lembar Kerja Siswa), dan rubrik penilaian untuk mengetahui hasil keterampilan menyimak dongeng yang didukung dengan instrumen penunjang berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan untuk mengetahui proses pada saat kegiatan belajar menyimak dongeng dilaksanakan. Hasil penilitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase keberhasilan hasil belajar siswa pada keterampilan menyimak dongeng dengan menggunakan media VCD animasi. Peningkatan hasil belajar ini dapat dilihat dari siklus I dan siklus II melalui tahap memahami isi dongeng dan tahap menemukan hal menarik. Kegiatan yang dilakukan meliputi menyimak dongeng yang diputar oleh guru, kemudian menganalisis unsur intrinsik dan menenukan hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan. Penggunaan media VCD animasi dapat mempermudah siswa dalam memahami alur cerita sehingga siswa dapat mengapresiasikan kegiatan menyimak dongeng hal ini terbukti bahawa siswa dapat menentukan tema, tokoh dan watak tokoh, setting, dan latar serta dapat menemukan hal yang menarik disertai alasan yang logis. Kedua tahapan ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar keterampilan menyimak dongeng pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang. Peningkatan keterampilan menyimak dongeng pada tahap memahami isi dongeng yang diperdengarkan terlihat dari persentase keberhasilan siswa pada siklus I dan siklus II. Persentase keberhasilan siswa pada siklus I 68,4% atau 5 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70 dan pada siklus II meningkat 18,4 poin menjadi 86,8% atau 12 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70. Dengan rincian 86,8% atau 12 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menyebutkan tokoh, 94,7% atau 15 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menyebutkan watak tokoh, 76,3% atau 8 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menyebutkan jalan cerita atau peristiwa, 84,2% atau 11 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan amanat.Dengan demikian ada peningkatan persentase keberhasilan siswa pada tahap memahami isi dongeng. Peningkatan keterampilan menyimak dongeng pada tahap menemukan hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarkan terlihat dari persentase keberhasilan siswa pada siklus I dan siklus II. Persentase keberhasilan siswa pada siklus I 65,7% atau 4 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70 dan pada siklus II meningkat 26,4 poin menjadi 92,1% atau 14 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70. Dengan rincian 100% atau 17 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari peristiwa, 94,7% atau 15 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari tokoh, 81,5% atau 10 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari latar, 86,8% atau 12 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari gaya bahasa, 71% atau 6 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan amanat. Dengan demikian ada peningkatan persentase keberhasilan siswa pada tahap menemukan hal yang menarik dari dongeng. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru Bahasa dan Sastra Indonesia , hendaknya menggunakan media VCD animasi ini untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng karena berdasarkan hasil penelitian, keterampilan siswa dalam menyimak dongeng mengalami peningkatan. Guru hendaknya memberikan variasi-variasi dalam pembelajaran, yaitu dengan menggunakan media VCD animasi untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng. Pembelajaran menggunakan media VCD animasi dapat dijadikan alternativ bagi guru dalam pembelajaran menyimak dongeng karena terbukti mengarah ke arah positif. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia akan berhasil apabila dikemas dengan menarik dan tidak membosankan. Oleh karena itu, melalui laporan penelitian ini disumbangkan gagasan kepada guru untuk lebih kreatif lagi dengan menerapkan media VCD animasi.Temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam merancang skenario pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan dan mengembangkan media VCD animasi sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain secara lebih kreatif dengan mengembangkan keterampilan berbahasa yang lainnya atau keterampilan berbahasa yang sama namun dengan kompetensi dasar yang berbeda.

Peningkatan kemampuan menanggapi pembacaan puisi menggunakan strategi trial by jury pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Trenggalek / Erlina Yuanita

 

Kata kunci : kemampuan menanggapi, pembacaan puisi, strategi trial by jury Kemampuan menanggapi merupakan salah satu keterampilan menyimak berbicara yang perlu dikuasai oleh siswa. Dengan meningkatkan kemampuan menyimak, berarti juga meningkatkan kemampuan berbicara karena kemampuan menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung (Tarigan, 1986:3). Kemampuan menyimak bisa dinilai dari kemampuan berbicara, yang merupakan salah satu perwujudan hasil pemahaman simakan. Setiap orang yang memilki daya simak tinggi dapat dipastikan bahwa dia akan lebih mudah mempelajari kompetensi berbahasa. Namun adakalanya siswa belum bisa berkonsentrasi menyimak, bahkan ada yang malas kalau disuruh menyimak oleh bosan karena pembelajaran yang kaku dan monoton. Kemampuan menanggapi yang baik akan menunjang aktivitas berkomunikasi siswa, terutama dalam pembelajaran menanggapi. Akan tetapi, masih banyak juga siswa yang takut dan canggung jika menanggapi dalam forum resmi seperti di kelas. Hal itu dikarenakan siswa masih belum terbiasa dan terlatih dengan baik dalam hal menanggapi. Sebenarnya banyak siswa yang berpotensi bagus dalam menanggapi, namun terhambat oleh ketidakpercayaan diri atau masalah teknis seperti strategi pembelajaran yang kaku dan juga monoton. Salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam menguasai kemampuan menanggapi adalah penggunaan strategi yang inovatif dan efisien dalam pembelajarannya. Dalam penelitian ini digunakan strategi trial by jury yang merupakan strategi pembelajaran aktif. Pada strategi trial by jury trial by jury planning),(2) pelaksanaan tindakan (acting) (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflekting). Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, instrument penunjangnya adalah pedoman wawancara, lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa siswi SMPN 3 Trenggalek. Adapun data penelitian ini meliputi data proses dan hasil. Data proses merupakan hasil pengamatan, pencatatan lapangan, dan hasil wawancara terkait proses pembelajaran. Data hasil merupakan hasil tes menanggapi pembacaan puisi siswa dalam mengungkapkan isi tanggapan, penggunaan bahasa Indonesia, dan cara menanggapi. Berdasarkan analisis data penelitian menanggapi pembacaan puisi menggunakan strategi trial by jury pada prasiklus, siklus I, dan siklus II dalam mengungkapkan isi tanggapan, penggunaan bahasa Indonesia, dan cara menanggapi mengalami peningkatan yang signifikan. Nilai rata-rata indikator prasiklus kemampuan mengungkapkan isi tanggapan sebesar 55,1, siklus I sebesar 65,98, siklus II sebesar 80,05. Pada aspek penggunaan bahasa Indonesia, nilai rata-rata indikator prasiklus sebesar 55,06, siklus I sebesar 69,95, siklus II sebesar 81,62. Pada aspek cara menanggapi, nilai rata-rata indikator prasiklus 56,62, siklus I sebesar 67,5, sedangkan siklus II sebesar 81,62. Peningkatan kemampuan menanggapi pembacaan puisi siswa pada tiap siklus diikuti dengan kemampuan peningkatan proses siswa yakni perhatian siswa, keseriusan siswa, keaktifan siswa dan rasa senang siswa ketika pembelajaran berlangsung. Peningkatan perhatian mencapai 93,75% yang perhatian terhadap pembelajaran menanggapi pembacaan puisi. Peningkatan keseriusan siswa mengalami peningkatan secara bertahap hingga mencapai 93,75 % yang telah benar-benar serius dalam belajar. Peningkatan keaktifan siswa mencapai 87,5% siswa yang aktif bertanya jawab pada pembelajaran menanggapi. Peningkatan rasa senang siswa sebesar 93,75%. Keseluruhan rata-rata kelas pada penilaian proses mencapai 92,1% dengan rata-rata peningkatan sebesar 23,92% . Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya bisa menerapkan pembelajaran dengan menggunakan strategi trial by jury karena dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menanggapi. Disarankan kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat mengembangkan strategi trial by jury sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain secara lebih kreatif dengan mengembangkan keterampilan berbahasa yang lainnya. untuk meningkatkan kemampuan menanggapi pembacaan puisi. Penelitian ini dilakukan di SMPN 3 Trenggalek dengan menggunakan siswa kelas VII-A sebagai subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Prosedur penelitian tindakan ini meliputi (1) perencanaan penelitian ( ni siswa dibagi dalam beberapa peran sebagaimana dalam pengadilan. Peran-peran tersebut adalah jaksa, pembela, saksi jaksa, saksi pembela, panitera, dan hakim. Pada strategi ini nanti siswa juga akan termotivasi dan fokus menyimak, karena nanti yang menggunakan media rekaman. Kemampuan menanggapi pembacaan puisi perlu dikuasai dengan baik karena merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa SMP. Oleh karena itu, peneliti tertarik merancang penelitian ini yaitu menggunakan strategi

Studi korelasi kesempatan mengembangkan profesi dan kondisi lingkungan kerja dengan kinerja guru teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Kabupaten Trenggalek / Sonny Triyo Wurianto

 

Kata Kunci: Kesempatan mengembangkan profesi, kondisi lingkungan kerja, kinerja Guru TIK Tugas utama Guru TIK adalah membentuk pola pikir peserta didik yang sistematis, kreatif dan inovatif dalam memecahkan masalah dengan bantuan teknologi. Pada kenyataannya Guru TIK lebih sering mengajarkan cara meng¬ope-ra¬sikan komputer. Hal tersebut disebabkan oleh kesempatan mengembangkan profesi yang diterima Guru TIK belum cukup untuk meningkatkan kinerjanya. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja, sebagian besar sekolah-sekolah di Kabupaten Trenggalek terletak di daerah dataran tinggi yang mengakibatkkan lambatnya pe¬nye¬diaan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran TIK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap hubungan antara kesempatan mengembangkan profesi (X1) dan kondisi lingkungan kerja (X2) dengan kinerja Guru TIK (Y) di Kabupaten Trenggalek baik secara parsial maupun simultan. Serta mendeskripsikan masing-masing variabel X1, X2, dan Y. Penelitian ini menggunakan metode Ex Post Fakto untuk mengungkap hu-bung¬an antara variabel bebas dan variabel terikat secara kuantitatif korelasional. Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah Guru TIK di Kabupaten Trenggalek. Data yang diperoleh diuji dengan uji asumsi klasik untuk menguji pra¬syarat analisis dan uji hipotesis untuk mengungkap hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian: (1) variabel X1 dalam kategori cukup sebesar 35%, (2) variabel X2 dalam kategori cukup kondusif sebesar 29%, (3) variabel Y dalam kategori baik sebesar 33%, (4) Ada hubungan positif dan signifikan antara kesempatan mengembangkan profesi dengan kinerja Guru TIK di Kabupaten Trenggalek, (5) Ada hubungan positif dan signifikan antara kondisi lingkungan kerja dengan kinerja Guru TIK di Kabupaten Trenggalek, (6) Ada hubungan positif dan signifikan antara kesempatan mengem¬bang¬kan profesi dan kondisi lingkungan kerja dengan kinerja Guru TIK di Kabupaten Trenggalek. Kesimpulan: sumbangan prediktor terhadap kriteriumnya sebesar 31,7%, yang dijabarkan sebagai (1) sumbangan efektif variabel X1 sebesar 20,5%, (2) sumbangan efektif variabel X2 sebesar 11,2%. Sedangkan 68,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar faktor yang diteliti.

Pengembangan media interaktif berbantuan komputer pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel untuk siswa kelas VII SMP / Mayang Dintarini

 

Kata Kunci prosedur penyelesaian yang biasa dikatakan “cara cepat” sering kali dilewatkan oleh guru. Oleh karena itu dikembangkanlah media interaktif berbantuan komputer pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel untuk siswa kelas VII. Didalamnya terdapat penjelasan mengenai pengertian kalimat terbuka, perngertian PLSV dan PtLSV, cara menyelesaikan PLSV dan PtLSV, latihan soal dan evaluasi. Media ini dikembangkan dengan 10 tahap, yaitu: (1) menentukan kebutuhan dan tujuan pengembangan program, (2) mengumpulkan referensi, (3) mempelajari isi, (4) membangkitkan ide, (5) merancang pembelajaran, (6) membuat diagram alir program, (7) membuat storyboard program, (8) membuat program media interaktif, (9) membuat bahan pendukung dan (10) evaluasi dan revisi program. Dari hasil analisis data validasi dan uji coba diperoleh angka 79,4% untuk kevalidan dari segi materi, 80,9% untuk kevalidan dari segi PBK, dan 85,9% untuk kevalidan dari segi pengguna. Sehingga berdasarkan data yang diperoleh itu, media interaktif berbantuan komputer pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel untuk kelas VII dikatakan valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran siswa atau pengguna. Media interaktif, komputer, persamaan linier satu variabel dan pertidaksamaan linier satu variabel. Berdasarkan wawancara secara informal dengan seorang guru SMP, pada dasarnya hampir semua materi matematika menjadi masalah bagi sebagian besar siswa di sekolah, termasuk di dalamnya materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel ( PLSV dan PtLSV). Siswa perlu waktu lebih untuk memahami materi ini, dikarenakan materi ini baru diajarkan kepada siswa di sekolah menengah pertama. Kebanyakan guru di sekolah juga hanya menerangkan bagaimana menyelesaikan PLSV dan PtLSV secara prosedur, sedangkan persamaan-persamaan yang ekuivalen sebagai materi yang mendasari adanya

Penggunaan permainan joepardy untuk meningkatkan kemampuan membuat pertanyaan tertulis pada siswa kelas III SDN Kedawungwetan IV Grati-Pasuruan / Ainur Syafrilia

 

Kata Kunci: permainan Joepardy, pertanyaan tertulis, SD. Bahasa Indonesia mencakup empat aspek keterampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan menulis mempunyai tujuan agar siswa dapat menuangkan ide, pikiran dalam bentuk tulisan, dapat membuat pertanyaan tertulis dan karangan dalam sebuah cerita. Penggunaan bahasa gabungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia membuat siswa merasa kesulitan dalam berkomunikasi dengan baik sehingga mempengaruhi gaya tulisan siswa. Kesulitan yang dialami siswa salah satunya adalah membuat pertanyaan tertulis berdasarkan jawaban yang tersedia. Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membuat pertanyaan tertulis dengan menggunakan permainan Joepardy. Media tersebut cocok untuk pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di kelas III di Sekolah Dasar Negeri Kedawungwetan IV, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas, dengan menggunakan model Kemmis dan Tagart (1982). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan 1) perencanaan, 2) tindakan dan observasi, 3) refleksi, dan 4) perbaikan perencanaan. Pada pelaksanaan siklus 1, prosentase siswa masih belum tuntas mencapai 69% atau hanya 39% ketuntasan hasil belajar yang dicapai dengan rata-rata kelas 41,14. Pada siklus 2, prosentase ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 54,28% dengan rata-rata kelas 75,42. Dari hasil pelaksanaan dan observasi dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan kemampuan siswa membuat pertanyaan tertulis berdasarkan jawaban yang tersedia baik dari segi konsep penulisan maupun dari segi karakteristik jawaban yang diberikan dengan menggunakan permaian Joepardy. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran sudah memenuhi apa yang diharapkan yaitu adanya peningkatan hasil belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer berbasis game pada materi segiempat dan segitiga untuk kelas VII / Chezar Andhi Prasetya

 

Kata kunci: game. Ada banyak sekali keuntungan dari pemanfaatan game sebagai media pembelajaran diantaranya adalah dari segi emosional atau motivasi, karena seseorang akan merasa tertantang untuk dapat memenangkan pertandingan atau tantangan yang diberikan di dalam game. Materi yang diambil adalah tentang materi segiempat dan segitiga karena pada umumnya siswa hanya menghafal tentang rumus-rumus yang ada dalam materi tersebut, sehingga perlu adanya suatu pembaharuan dalam cara penyampaian materi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbantuan komputer berbasis game pada materi segiempat dan segitiga untuk kelas VII. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian pengembangan. Langkahlangkah pembuatan game adalah menentukan ide, membuat flowchart, membuat storyboard game ini dikatakan valid dan tidak perlu untuk revisi. Kelebihan dari game game ini merupakan media pemelajaran yang konstruktifis sehingga akan diarahkan ke proses pembentukan rumus dan bukan pemberian rumus secara langsung. Ketiga, game ini dapat dijalankan tanpa pendampingan guru serta dapat dijalankan di komputer manapun tanpa perlu ada program tertentu. Keempat, game ini mengambil cerita kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak perlu membayangkan hal-halyang diluar pemikirannya atau hal yang fiksi. ini adalah sebagai berikut. Pertama, game ini merupakan media embelajaran yang menyenangkan bagi siswa karena ada motivasi tersendiri untuk dapat menyelesaikan cerita sampai selesai. Kedua, , menentukan hardware dan software, dan mencari sumber bahan ebagai materi. Data yang terkumpul berasal dari hasil validasi seorang dosen serta dua orang guru sebagai ahli materi dan seorang dosen sebagai ahli komputer juga uji coba kepada 10 orang siswa smp kelas VII. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh persentase 91,7% untuk ahli materi, 92,9% untuk ahli komputer, dan 96,7% untuk data hasill uji coba. Oleh karena itu, media pembelajaran, game, segitiga dan segiempat. saat ini perkembangan pembuatan media pembelajaran berbantuan komputer telah cukup menarik minat banyak orang untuk mempergunakan sebagai sarana pendidikan. Terobosan baru tentang perkembangan media pembelajaran berbantuan komputer adalah dengan menampilkan sebagai sebuah permainan atau yang lebih dikenal dengan

Penggunaan permainan tazos dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa kelas V MI An-Nur Sawahan Turen Malang / I'is Irnawati

 

Kata kunci Tazos dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis kosakata dapat meningkatan penguasaan kosakata siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi kepala sekolah agar lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menambah fasilitas pembelajaran berupa media – media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam KBM, seperti media Tazos. Bagi pengajar bahasa Arab di MI An-nur Sawahan Turen agar membuat perencanaan sebelum mengajar (RPP), serta memilih metode dan media yang sesuai dengan karakter siswa untuk diterapkan dalam KBM yang akan dilaksanakan. Sedangkan untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis diharapkan agar lebih memperluas cakupannya dengan menambah kosakata yang diajarkan dan dengan kurun waktu yang lebih lama, sehingga hasil penelitian jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guru- guru bahasa Arab untuk meningkatkan pembelajaran di kelas dalam proses KBM. Tazos, pemerolehan kosakata, MI AN-NUR Mengajarkan bahasa Arab untuk anak tidak mudah, diperlukan usaha yang sangat besar dari guru. Selain itu juga dibutuhkan fasilitas yang memadahi, serta pemilihan metode yang sangat tepat bagi mereka. Untuk mengairahkan minat belajar siswa, utamanya untuk anak -anak, guru dapat mengunakan teknik bermain. Salah satu bentuk permaian yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik pembelajaran bahasa Arab oleh guru adalah Tazos. Pemerolehan kosakata bahasa Arab siswa kelas V MI An-Nur Sawahan-Turen masih rendah. Hal ini dikarenakan guru belum mengunakan metode dan media yang sesuai bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab siswa kelas V MI An- nur Sawahan – Turen dengan mengunakan permainan Tazos (2) proses peningkatan pemerolehan kosakata dengan mengunakan perminan Tazos pada siswa kelas V MI An- Nur Sawahan Turen, serta (3) pemerolehan kosakata siswa kelas V MI An- Nur Sawahan Turen dalam pembelajaran bahasa Arab dengan mengunakan permainan Tazos. Penelitian ini dilakukan di MI An-nur Sawahan Turen pada bulan September sampai Oktober tahun pelajaran 2010/2011 pada saat pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas V MI An-Nur Sawahan Turen. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap -tahap penelitian meliputi perencanaan (planning ), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observasion) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) tes, (2) wawancara, (3) observasi. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan,penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ni diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil tes, wawancara, dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab berbasis kosakata dilakukan dengan observasi awal yang meliputi penyebaran angket, wawancara peneliti dengan guru bahasa arab MI An-Nur Sawahan –Turen, dan wawancara dengan siswa yang bersangkutan. Dalam proses KBM yang berlangsung peneliti menyiapakan RPP, media Tazos, serta papan tulis, Power Point dan soal latihan. Kemudian pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan 2 siklus masing-masing siklus terdiri atas 2 pertemuan dengan alokasi waktu 3x 45 menit, setiap akhir pembelajaran siswa diberikan test evaluasi dan dilakukan refleksi antara guru dan peneliti. Dengan adanya permainan Tazospenguasaan kosakata siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan permainan

Pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis WEB pada mata pelajaran fisika SMP kelas VII / Nurma Ayu Puspitarini

 

Kata Kunci: pengembangan, media pembelajaran e-learning, fisika. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran didasarkan pada prinsip bahwa cara mengajar yang terpusat pada guru dapat diperbaiki dengan menggunakan media pembelajaran. Dalam usaha peningkatan kualitas dan kuantitas pembelajaran maka media pembelajaran mempunyai peran yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan tampilan hasil media pembelajaran e-learning berbasis web pada mata pelajaran Fisika SMP kelas VII, (2) mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web pada mata pelajaran Fisika SMP kelas VII. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan Sadiman,dkk yang telah dimodifikasi. Uji lapangan dilaksanakan di SMP Negeri 18 Malang. Prosedur penelitian ini adalah: (1) identifikasi kebutuan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media/produksi, (6) tes/uji coba, (7) revisi produk akhir. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel siswa SMP kelas VII, guru fisika dan ahli media pembelajaran untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web digunakan untuk pembelajaran fisika. Hasil penelitian diperoleh tingkat validasi diantaranya: (1) pada ahli media, dengan hasil 75%, (2) pada ahli materi, materi dikembangkan sendiri yaitu materi (.*pdf) yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang berlaku dan materi (.*swf) dikembangkan dari materi yang sudah ada sebelumnya maka diperoleh hasil 83%, dan (3) pada audien/uji coba lapangan, dengan hasil 90%. Tampilan pada media ini berupa web yang dapat diakses dengan memasukkan url: http://localhost/fisika pada browser. Media pembelajaran elearning berbasis web pada mata pelajaran fisika SMP kelas VII ini mempunyai 4 tampilan utama yang dapat mewakili tampilan media secara keseluruhan, yaitu halaman utama admin, halaman utama siswa, materi dan latihan soal. Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan media pembelajaran e-learning berbasis web selanjutnya untuk lebih dapat mengkaji, memodifikasi dan memperkecil kekurangan pada media pembelajaran e-learning berbasis web ini sehingga media ini dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu media belajar bagi siswa yang tidak dibatasi oleh waktu dan jarak. Selain itu media ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pembelajaran fisika oleh guru yang lebih menarik dan variatif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri (tahun ajaran 2010/2011) / Anggun Dyah Palupi

 

Kata Kunci: Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua, Motivasi Belajar Siswa, Prestasi Belajar Siswa. Peserta didik dituntut aktif dan mampu menangkap dan memahami suatu pelajaran dengan cara yang paling efektif agar prestasi belajar yang diperoleh memuaskan. Berkaitan dengan hal tersebut, ada banyak hal hal yang mempengaruhi prestasi belajar jika dilihat dari faktor-faktornya yaitu eksternal dan internal, dimana kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar merupakan beberapa bagian yang termasuk didalamnya. Dan untuk mencapai prestasi yang memuaskan maka dibutuhkan keterkaitan antara faktor-faktor tesebut. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah kondisi sosial ekonomi orangtua dan motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Kediri pada bulan Maret sampai dengan April 2011 dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPS sejumlah 165 siswa, yang kemudian diambil sampel sejumlah 62 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis data deskriptif dan inferensial. Hasil analisis kondisi sosial ekonomi orang tua siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri tahun pelajaran 2010/2011 memiliki tingkat pendidikan orang tua yang cukup baik, pekerjaan orang tua tergolong cukup baik, pendapatan orang tua yang cukup baik, dan jumlah (anak) yang menjadi tanggungan orang tua tergolong cukup. Artinya siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri tahun ajaran 2010/2011 memiliki kombinasi dari keempat subvariabel kondisi sosial ekonomi orang tua yang tergolong cukup baik. Sedangkan motivasi belajar siswa secara intrinsik tergolong sedang dan motivasi belajar siswa secara ekstrinsik tergolong sedang juga. Artinya siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri tahun ajaran 2010/2011 memiliki kombinasi dari kedua subvariabel motivasi belajar siswa yang tergolong sedang. Hasil analisis kondisi sosial ekonomi orang tua siswa memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar (7,47%). Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 2,278 dengan signifikansi 0,026. Sedangkan motivasi belajar siswa juga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar (19,12%). Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 3.805 dengan signifikansi 0,000. Selain itu diketahui secara simultan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,266 (26,6%). Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 10,697 dengan signifikansi 0,000. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri. Saran yang diajukan dari hasil penelitian adalah (1) SMA Negeri 4 Kediri yaitu sekolah hendaknya memberikan dorongan dan motivasi kepada siswanya untuk dapat berprestasi dengan lebih optimal. (2) Bagi Guru hendaknya tidak membeda-bedakan antara siswa yang kondisi sosial ekonomi orangtuanya baik dengan yang kurang baik, agar siswa tidak merasa di bedakan atau minder sehingga siswa bisa lebih optimal dalam meraih prestasi. Disamping itu, dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan cara mengajar yang lebih efektif dan kreatif dan siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran, sehingga siswapun lebih termotivasi untuk meraih prestasi. (3) Bagi Siswa hendaknya bisa memotivasi dirinya untuk lebih berprestasi, dengan tidak bergantung pada situasi atau keadaan yang ada. Agar siswa bisa lebih kreatif dan mandiri untuk mencapai cita-cita yang lebih baik. (4) Bagi Peneliti Selanjutnya yaitu apabila melakukan penelitian serupa hendaknya menggunakan variabel independen selain kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar, yaitu variabel fasilitas belajar, gaya belajar siswa, minat belajar serta perhatian orang tua. Karena masih ada faktor lain yang lebih mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (studi kasus pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 9 Malang) / Okta Imindia Sari

 

Kata Kunci: Fasilitas Belajar Di Sekolah, Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar Siswa. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang berkat pengalaman dan latihan. Pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, setiap siswa tentu berharap akan mendapatkan prestasi belajar yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor , yang meliputi faktor internal dan eksternal. Diantara semua faktor tersebut terdapat faktor fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua yang turut mempengaruhi prestasi belajar siswa. Fasilitas belajar menyangkut ketersediaan hal-hal yang dapat memberikan kemudahan bagi perolehan pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Pemanfaatan fasilitas belajar yang memadai akan dapat menumbuhkan daya imajinasi siswa untuk berkreasi dan membuat proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar, teratur, dan nyaman, serta dapat menghadapi perkembangan teknologi. Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dikenal oleh anak dan dalam keluarga ini dapat ditanamkan sikap-sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Keluarga bertanggung jawab menyediakan dana untuk kebutuhan pendidikan anak. Tentunya orang tua turut berperan penting dalam meningkatkan prestasi belajar anak. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Malang kelas XI IPS. Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dan instrument yang digunakan berupa kuisioner dan dokumentasi. Jumlah sampel sebanyak 58 siswa yang diambil dari jumlah populasi sebanyak 139 siswa. Teknik analisis ini menggunakan analisis deskriptif , uji asumsi klasik, regresi berganda dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa fasilitas belajar di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 2,421 dengan signifikansi t=0.019 pada tingkat singnifikansi 0.05. latar belakang sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dengan diperoleh nilai t sebesar 10,236 dengan signifikansi t= 0.000 pada tingkat signifikansi 0.05. Diketahui Secara simultan bahwa fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 54,854 dengan signifikansi F = 0.000 pada tingkat signifikansi 0.05. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 9 Malang. Saran yang diajukan dari hasil penelitian adalah (1) bagi SMA Negeri 9 Malang hendaknya memperhatikan kebutuhan belajar siswa, terutama kebersihan ruang sekolah, dan memperbaiki fasilitas belajar yang telah ada, terutama fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran. Bagi siswa yang berprestasi dan latar belakang sosial ekonomi orang tuanya kurang mampu diharapkan sekolah bisa memperhatikannya dengan memberikan beasiswa atau program orang tua asuh yang bersedia membantu memenuhi biaya pendidikan (2) bagi guru utamanya guru mata pelajaran ekonomi hendaknya selalu memperhatikan perkembangan pendidikan anak didiknya dengan cara tidak membeda-bedakan peserta didik dari tingkat status sosial ekonomi keluarganya akan tetapi lebih memperhatikan perkembangan dan mempertahankan minat belajar peserta didik, (3) Bagi siswa yang berprestasi dan latar belakang sosial ekonomi orang tuanya kurang mampu diharapkan bisa tetap termotivasi untuk berprestasi dalam belajar. Fasilitas yang ada di sekolah seharusnya dimanfaatkan lebih maksimal lagi oleh siswa, (4) bagi peneliti selanjutnya apabila melakukan penelitian serupa hendaknya mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua dengan menambah kajian variabel yang lain sekiranya dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Peningkatan kemampuan menulis cerita melalui penggunaan media film pada siswa kelas VB SDN Pagentan 01 Singosari / Retno Mulyaningsih

 

Kata Kunci: Menulis cerita, Media Film, Singosari, SD Pembelajaran bahasa Indonesia di SD mencakup 4 aspek, yaitu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Untuk aspek membaca dan mendengarkan siswa tidak mengalami kendala. Tetapi untuk aspek menulis siswa selalu mengalami kesulitan, khususnya menulis di bidang sastra. Hal ini terlihat ketika evaluasi hasil karya siswa. Sebagian besar siswa kurang mampu membuat cerita yang urut, oleh karenanya dalam pengajaran bahasa Indonesia di SD harus diupayakan penggunaan media yang aplikatif dan menarik . pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus mengikuti pelajaran dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media film dalam pembelajaran menulis cerita. Aspek-aspek yang akan dideskripsikan mencakup penggunaan kata, kelengkapan kalimat, kesesuaian isi, dan keruntutan cerita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, yang dilakukan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Februari sampai dengan April 2011. Data yang digunakan berupa karangan siswa berdasarkan film yang telah diputar. Teknik pengumpulan data meliputi Observasi atau pengamatan dan tes kemampuan menulis. Untuk teknik analisis data menggunakan model alir yang meliputi 3 alir kegiatan meliputi (1) reduksi data; (2) penyajian data; (3) verifikasi data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus 1, kemampuan menulis cerita belum maksimal karena masih banyak siswa yang belum mampu membuat cerita sesuai dengan aspek-aspek yang telah ditentukan. Pada akhir siklus II diperoleh beberapa kesimpulan, Pertama kemampuan siswa dalam menulis cerita meningkat yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata hasil menulis siswa dari pratindakan 51,7, siklus I 61,9 dan siklus II 77,7 . Kedua, mengenai pemilihan kata atau diksi dalam karangan, ketika pratindakan banyak terjadi pengulangan kata dan kesalahan pada kata sambung. Pada saat akhir siklus II siswa telah mampu memilih kata yang tepat dalam menyampaikan pikiran kedalam tulisan, serta pemilihan kata sambung sebagian besar siswa sudah tepat. Begitu juga aspek yang lain, pada akhir siklus II siswa telah mampu menulis kalimat dengan lengkap serta menceritakan dengan urut sesuai dengan jalan cerita film yang telah ditonton. Berdasarkan hasil temuan-temuan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media film dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif , jika pemilihan jenis dan tema film sesuai dengan karakter usia siswa.

Meningkatkan pemahaman konsep menghargai keputusan bersama dalam pembelajaran PKn melalui metode role playing siswa kelas V SDN Glangang I Malang / Erna Kusrini

 

Kata Kunci: menghargai keputusan bersama, PKn SD, dan role playing. Penelitian dilaksanakan berdasarkan pembelajaran yang disampaikan di kelas selama ini sebagian besar diberikan melalui metode ceramah dan tanya jawab sehingga siswa kurang diberi kesempatan untuk berpikir, berpendapat tentang materi yang dipelajari. Sikap siswa dalam pembelajaran di kelas masih tampak individu, pilih-pilih teman dalam menentukan kelompok, kurang menghargai pendapat teman dalam bermusyawarah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman konsep menghargai keputusan bersama pada siswa kelas V SDN Glanggang I Kecamatan Pakisaji Malang dalam pembelajaran PKn melalui metode role playing. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, sedangkan tiap-tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang dialami melalui pengumpulan data. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN Glanggang I Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap siswa kurang antusias untuk mengikuti setiap pembelajaran PKn. Hal ini disebabkan karena mereka merasa takut untuk tampil di depan kelas apalagi bahasa yang mereka pergunakan kurang lancar. Siswa di dalam pergaulan sehari-hari tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehingga mereka kurang lancar dalam berbicara. Siswa dalam pergaulan sehari-hari masih menggunakan bahasa daerah. Pada siklus I siswa sudah mulai berani untuk tampil di depan teman-temannya meskipun bahasa yang dipergunakan masih belum lancar. Siklus II tampak sikap siswa sudah mampu mengadakan suatu musyawarah untuk mencapai mufakat , berani mengemukakan pendapatnya di hadapan teman-temannya, dan mampu menerima pendapat teman yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan bahwa hasil belajar pada tes awal yang memperoleh nilai di bawah KKM (70) sejumlah 20 siswa dengan nilai rata-rata kelas 59,6. Pada siklus I terjadi peningkatan jumlah siswa yang menguasai materi di atas KKM sebanyak 7 dengan nilai rata-rata 67,6. Sedangkan pada siklus II terjadi lagi peningkatan hasil belajar yaitu sebanyak 20 siswa yang mendapat nilai di atas KKM dengan nilai rata-rata 77,7. Berdasarkan temuan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN Glanggang I Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang meningkat setelah mengikuti pembelajaran PKn dengan metode role playing. Disarankan agar guru lain jika menggunakan metode role playing diharapkan dapat memperhatikan kesiapan, keterbatasan waktu, dan penguatan pada siswa.

Perancangan media interaktif dolanan Jawa / Dinny Purwaningsih

 

Dolanan Jawa merupakan merupakan sebuah permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak – anak, remaja maupun orang dewasa. Dolanan Jawa bukan hanya sekedar sebuah permainan tradisional semata, dolanan Jawa merupakan sebuah kebudayaan Indonesia yang harus diapresiasi keberadaannya. Dolanan dolanan Jawa. Jika kepedulian terhadap kekayaan budaya tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, bahkan membiarkan ia terkubur oleh arus modernisasi dan gedung-gedung pencakar langit. Pada suatu waktu nanti ia akan dikenang sebagai sesuatu yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita dan hanya menjadi kajian para sejarawan, budayawan, maupun antropolog (http://permatanusantara/ 2009/03/nuansa-pesona-dolanan-bocah_25.html). Jawa dapat dipisahkan menurut seleksi permainannya, jenis permainan dan manfaat permainannya. Seleksi permainan itu sendiri terdiri dari hompila, kacang panjang, cingkiripit, batu, gunting, kain dan suitan. Sedangkan jenis permainan masih dapat dibagi lagi menurut fungsi kecerdasaannya, ketangkasaannya, ketrampilannya dan kreativitasnya. Contoh jenis permainan menurut kecerdasaannya adalah congklak, kelereng, dam –daman dan galah. Menurut ketangkasannya adalah engklek, egrang, balap karung, tarik tambang. Menurut ketrampilannya adalah loncat tinggi, gasing, beklen dan yoyo. Menurut kreatifannya adalah layang – layang, encrak dan gatrik. Untuk manfaat dari permainan tradisonal ada 3 yaitu manfaat menurut kecerdasan anak, kreativitas anak dan media terapi anak. Menurut kecerdasannya dapat dibagi menjadi 6 bagian yaitu mengembangkan kecerdasan emosi anak, mengembangkan kecerdasan logika anak, mengembangkan kecerdasan kinetis anak, mengembangkan kecerdasan natural anak, mengembangkan kecerdasan musikal anak, mengembangkan kecerdasan spiritual anak. Sebuah kebudayaan harus dapat diapresiasi keberadaannya salah satu contoh adalah Dolanan Jawa Kondisi Indonesia yang bervariasi mulai dari alam pegunungan, sungai, dataran, pulau, sampai suku-suku yang mendiaminya, menjadi cikal bakal lahirnya permainan-permainan kreatif yang diciptakan oleh leluhur bangsa. Permainan inipun sarat dengan nilai-nilai filosofis. Nilai-nilai yang disisipkan pun diharapkan dapat dilaksanakan dalam setiap tindakan dengan penuh kesadaran. Sehingga permainan tradisional ini akan banyak memberi pengaruh bagi masa depan bangsa (http://filsafat.kompasiana.com /2009/11/20/permainan-tradisionaltak-populer-lagi/) Permainan tradisional atau

Perancangan game bertema tanaman langka Indonesia / anisa Aprilia

 

Kata Kunci: Perancangan, Game, Tanaman Langka Tanah air Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan. Kita sebagai warga negara Indonesia tentu saja patut bangga Namun dari sekian banyak keanekaragaman tanaman tersebut, hanya beberapa saja yang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Untuk itu kita sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya meningkatkan rasa kepedulian dan wawasan kita terhadap keanekaragaman tanaman Langka Indonesia. Penyampaian informasi tersebut dapat melalui beberapa cara, salah satunya yaitu melalui aplikasi game interaktif. Penyampaian informasi melalui aplikasi game interaktif terbukti lebih efektif, keunggulan yang menarik inilah menjadi alasan utama bagi penulis dalam menciptakan perancangan game sebagai media dalam menyampaikan pesan tentang Tanaman Langka Indonesia. Aplikasi game tersebut dibuat berdasarkan konsep dan data-data yang telah diuji kebenaranya melalui penelitian dan uji coba. Penelitian dilakukan bersama pihak BPTP Ir. Amik Krismawati,MP untuk mendapatkan data yang benar, sedangkan uji coba dilakukan oleh pihak-pihak yang memahami tentang game dan kalangan biasa sehingga menghasilkan aplikasi yang sesuai konsep. Dengan menggunakan aplikasi game bertema tanaman langka Indonesia sebagai media informasi, rasa kepedulian dan memiliki masyarakat Indonesia dapat meningkat. Aplikasi game Bertema Tanaman Langka Indonesia juga dapat digunakan sebagai basis data informasi tanaman Langka Indonesia bagi pihak pihak yang membutuhkan.

Penggunaan media gambar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pagar II Bangil Pasuruan / Wari Hermiati

 

Kata kunci: media gambar, aktivitas, hasil belajar, PKn, SD. Bentuk keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat dilihat dari perbedaan rumah adat, pakaian, lagu daerah, dan sebagainya. Bangsa Indonesia hidup dalam keanekaragaman, tetapi tetap mengutamakan persatuan. Hal ini sesuai dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Kebhinnekaan merupakan salah satu kekhasan bangsa Indonesia dan harus dibanggakan. Kebanggaan terhadap kekhasan tersebut diwujudkan dalam bentuk cinta tanah air. Cinta tanah air merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Kenyataan di SDN Pogar II setelah diadakan tes hasil belajar pada pembelajaran PKn materi cinta tanah air menunjukkan bahwa sebagian besar nilai siswa di bawah rata-rata kelas yaitu 62,2. Nilai ketuntasan belajar mata pelajaran PKn di SDN Pogar II adalah 65. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) cara penggunaan media gambar untuk meningkatkaan aktivitas dan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II Bangil, (2) penggunaan media gambar yang dapat meningkatkaan aktivitas belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II Bangil, (3) penggunaan media gambar yang dapat meningkatkaan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II Bangil. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III sebanyak 27 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi, wawancara, dan tes. Teknik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) penggunaan media gambar untuk meningkatkaan aktivitas dan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II dilakukan dengan cara: (a) penjelasan guru di awal pembelajaran, (b) kegiatan pembelajaran menggunakan media gambar, (3) pembahasan bersama, (2) penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar PKn siswa kelas III SDN Pogar II dapat dibuktikan dari banyaknya siswa yang melakukan aktivitas belajar. Pada siklus I rata-rata banyaknya siswa yang melakukan aktivitas belajar adalah 54,5 dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 76,9, (3) penggunaan media gambar dapat meningkatkaan hasil belajar PKn siswa kelas III SDN Pogar II. Hal ini berdasarkan nilai rata-rata siswa pada siklus I pertemuan 1 adalah 62,2 dan pertemuan 2 adalah 70,4. Pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa pada petemuan 1 adalah 88,9 dan pertemuan 2 adalah 92,2 Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) media gambar dapat digunakan dengan baik, (2) penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Disarankan: (1) Kepala sekolah hendaknya meningkatkan layanan fasilitas pembelajaran di SD, (2) guru hendaknya menggunakan media gambar dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman materi materi pelajaran PKn, (3) peneliti selanjutnya dalam mengadakan penelitian hendaknya meneliti hal lain yang berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran PKn selain media gambar misalnya benda sebenarnya dan komputer.

Perancangan media pembelajaran interaktif "Sistem pencernaan manusia" untuk siswa kelas VIII SMP / Moh. Aan Sulton

 

Kata Kunci: Perancangan, Media, Pembelajaran, Interaktif, Sistem Pencernaan Manusia Perkembangan dunia komputer telah mencapai perkembangaan yang sangat mengagumkan. Hampir semua bidang pekerjaan di dunia telah dikendalikan oleh komputer. Sama seperti bidang yang lain, komputer juga amat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Dalam bidang pembelajaran, komputer memungkinkan untuk terselenggaranya proses belajar mengajar jarak jauh, atau pembelajaran tanpa tatap muka. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar dalam hal ini, guru yang menguasai materi pelajaran, sebagian besar tidak mampu menghadirkan bentuk pembelajaran dalam komputer, sedangkan ahli komputer yang mampu merealisasikan segala hal dalam komputer biasanya tidak menguasai materi pelajaran. Maka diperlukan suatu perangkat lunak yang dapat membantu pengajar menyampaikan ide-idenya ke dalam komputer. Diperlukan suatu media pengajaran yang berbasis multimedia yang dapat membantu pengajar menyampaikan materi pelajaran yang dikuasainya melalui komputer, sehingga dapat terselenggara pembelajaran mandiri atau pembelajaran jarak jauh. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan sebuah media interaktif berbasis komputer yang efektif dan efisien lebih menarik. Diharapkan dengan adanya media interaktif berbasis komputer tersebut, semangat belajar siswa di SMP khususnya kelas VIII dapat meningkatkan pembelajarannya. Metode perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural, yaitu bersifat deskripsif. Adapun proses produksi media interaktif ini tersusun dalam pengumpulan data dan fakta pendukung (observasi, wawancara dan dokumentasi), analisis data, sintesis, konsep media, konsep perancangan, teknik perancangan, dan hasil karya Produk yang dihasilkan CD media interaktif yang dapat membantu siswa dalam mempelajari materi dan organ-organ sistem pencernaan manusia untuk siswa SMP kelas VIII . Untuk memperkuat pemasaran dari produk ini, maka dibuat juga media promosi meliputi x-banner, poster, stiker, kalender, buku saku dan puzzle.

Analisis karakter directional coupler berbasis bahan polimer lithium niobate (LINbO3) / Ika Rosaria Fathony

 

Kata Kunci : directional coupler, indeks bias efektif, panjang kopling, transfer daya, Lithium Niobate Directional coupler merupakan piranti optik yang tersusun atas dua pandu gelombang sejajar dengan salah satu fungsinya yaitu sebagai pendukung teknologi komunikasi lewat pembuatan komponen optika terpadu yang mampu menjalankan fungsi guided, coupled dan sebagainya. Pada skripsi ini dilakukan analisis karakter directional coupler struktur slab berbasis bahan polimer Lithium Niobate (LiNbO3) dengan jenis film yang digunakan adalah planar graded index berprofil 1/cosh2 untuk panjang gelombang 1,33 μm. Directional coupler hasil analisis melalui pengamatan, lebar film paling kecil adalah 0,5 μm menghasilkan nilai indeks bias efektif ternormalisasi sebesar 0,63, frekuensi normalisasi 1,95 Hz, dan nilai indeks bias efektifnya 2,2. Sedangkan pada analisis panjang kopling ketebalan terkecil yang digunakan adalah 0,5 μm, dari hasil analisis didapatkan panjang kopling Lc=0,32cm lalu divisualisasi menggunakan bantuan bahasa pemrogaman Mathematica 7.1 untuk menggambarkan moda simetri dan asimetri. Setelah itu directional coupler juga dianalisis dari segi kemampuan menransfer daya. Hasil penelitian ini menunjukkan directional coupler memenuhi 3-dB power transfer dalam pentransferan daya yaitu semakin besar lebar gap maka akan semakin besar pula panjang kopling (Lc). Maka makin kecil gelombang cahaya yang bisa ditransmisikan ke pandu gelombang dua. Hal ini menunjukkan bahwa dengan makin bertambahnya lebar gap (s), maka semakin besar panjang kopling (Lc) yang artinya semakin lemah kekuatan koplingnya. Dengan demikian, nilai tetapan propagasi efektif moda asimetri (βa) semakin mendekati nilai tetapan propagasi efektif moda simetri (βs).

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep tatanama senyawa biner dan ion poliatomik siswa SMA Negeri I Malang tahun ajaran 2009/2010 / Hayu Winarsih

 

Kata-kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, tatanama senyawa biner, tatanama senyawa ion poliatomik. Konsep kimia sebagian besar bersifat abstrak, berjenjang dan saling berkaitan satu sama lain sehingga cenderung hanya dapat dipahami dengan baik oleh siswa SMA yang telah mengembangkan pola berfikir formal. Tidak semua siswa SMA sudah berada pada tingkat operasi formal. Hal ini mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep dengan benar sehingga konsep tersebut bisa menjadi sukar bagi siswa. Suatu konsep disebut konsep sukar apabila sebagian besar siswa mengalami kesukaran pada konsep tersebut. Hal ini ditandai dengan jumlah siswa yang menjawab salah pada soal yang berkaitan dengan konsep itu antara 61-100% atau ≥ 61%. Lebih lanjut konsep sukar berpengaruh pada pemahaman siswa, sehingga memungkinkan terjadi kesalahan konsep. Konsep tatanama senyawa biner dan ion poliatomik disusun dari konsep lambang unsur, senyawa, muatan, dan bilangan oksidasi. Aturan tatanama senyawa biner dan ion poliatomik merupakan salah satu konsep penting dalam mempelajari kimia. Jika memahami aturan tatanama senyawa, maka dapat memberi nama dari rumus kimianya dan sebaliknya. Lebih lanjut, jika siswa memahami tatanama senyawa maka siswa dapat menuliskan persamaan reaksi. Jika siswa tidak paham, terhadap salah satu konsep tersebut, maka dapat mengakibatkan kesulitan dalam memahami konsep lain. Di samping itu, juga dapat menimbulkan konsep sukar dan kesalahan konsep. Penelitian konsep tatanama senyawa biner dan ion poliatomik yang dilaksanakan di kelas X dan XI di SMA Negeri I Malang, bertujuan untuk mengidentifikasi: (1) jenis konsep sukar; (2) konsep yang paling sukar berdasarkan Persen Jawaban Salah (PJS); (3) jenis kesalahan konsep; dan (4) kesalahan konsep paling besar yang dialami siswa kelas XI berdasarkan konsistensi jawaban salah (PK). Penelitan tentang konsep sukar dan kesalahan konsep merupakan penelitian deskriptif. Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas X dan XI IPA SMA Negeri I Malang tahun ajaran 2009/2010 semester genap yaitu siswa kelas X6, X7, XI IPA3 dan XI IPA5. Jumlah subyek penelitian di kelas X dan XI IPA berturut-turut adalah 73 dan 76 siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai pembuktian data. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Instrumen yang dipakai dalam penelitian adalah tes diagnostik objektif berupa sejumlah 13 soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban yang diperkuat dengan alasan pemilihan jawaban dan hasil wawancara. Tiap alternatif jawaban mewakili satu konsep yang diukur. Sebelum digunakan, soal terlebih dahulu diujicoba pada mahasiswa kimia OFF GG dan Aru 2009 FMIPA Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Konsep sukar yang dimiliki siswa kelas X dan XI IPA SMA Negeri I Malang tahun ajaran 2009/2010 berdasarkan PJS yaitu: (a) sistem Stock di kelas X,, (b) tatanama anion poliatomik dari asam poliprotik di kelas X dan XI, (c) tatanama anion poliatomik berdasarkan bilangan oksidasi di kelas X dan XI. (2) Konsep yang paling sukar adalah tatanama anion poliatomik dari asam poliprotik di kelas X dengan PJS sebesar 90% dan di kelas XI tatanama anion poliatomik berdasarkan bilangan oksidasi sebesar 94%. (3) Kesalahan konsep yang terjadi pada siswa kelas X dan XI berdasarkan PK adalah: Siswa menganggap lambang unsur diambil dari huruf awal nama unsur dalam bahasa Indonesia dimiliki 3,95% siswa kelas X dan 2,82% siswa kelas XI; (b) Siswa menganggap besar muatan kation sama dengan nomor golongan di kelas X dialami 1,30% siswa; (c) Siswa menganggap anion dengan jumlah atom O lebih sedikit maka besar muatan anion berkurang satu di kelas X dengan PK sebesar 14,50% dan sebesar 2,81% di kelas XI; (d) Siswa menganggap sistem Stock digunakan sesuai indeks pada kation dengan tingkat kekonsistenan pada siswa kelas X 1,31% dan 1,14% pada siswa XI; (e) Siswa menganggap sistem Stock digunakan pada kation monoatomik 1 macam biloks dimiliki 1,31% pada siswa kelas X dan 1,40% siswa kelas XI; (f) Siswa menganggap sistem Stock digunakan sesuai indeks anion pada siswa kelas X dan XI sebesar 3,95% dan 1,40%; (g) Siswa menganggap tatanama anion poliatomik tidak dipengaruhi oleh bilangan oksidasi pada siswa kelas X dan XI masing-masing sebesar 2,63% dan 9,85%; (h) Siswa menganggap senyawa yang mengandung unsur logam-nonlogam menggunakan tatanama senyawa biner nonlogam-nonlogam dengan tingkat kekonsistenan pada siswa kelas X 5,26% dan 4,22% pada siswa XI. (4) Kesalahan konsep yang paling besar pada kelas X adalah muatan anion dengan PK sebesar 14,50% dan bilangan oksidasi pada anion poliatomik tidak mempengaruhi tatanama anion poliatomik sebanyak 9,85%.

Pembelajaran kooperatif TGT untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika pokok bahasan kubus dan balok siswa kelas VIII A SMP Negeri 10 Malang / Joko Kurniawan

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, TGT, motivasi, prestasi Selama ini masih banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran konvensional yaitu ceramah. Berdasarkan hasil observasi di kelas VIII A SMP Negeri 10 Malang pada mata pelajaran matematika, pembelajaran dengan metode ceramah membuat siswa kurang antusias sehingga berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat hasil perolehan nilai tes/ujian siswa. Dari besar nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan oleh guru matematika, yaitu 68 ternyata dari 39 siswa hanya 46,15% (18 siswa) yang mampu mencapai kriteria lulus. Mengingat rendahnya motivasi dan prestasi belajar siswa, maka dirancanglah suatu penelitian tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan perubahan metode pembelajaran dari paradigma teacher center menuju metode pembelajaran dengan paradigma student center. Metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT) merupakan suatu alternatif metode pembelajaran yang berusaha mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus yang diawali dengan kegiatan observasi dan refleksi awal kemudian diikuti dengan tahapan-tahapan pada setiap siklus, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan kelas, pengamatan, dan refleksi. Dalam tahap pelaksanaan tindakan guru menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT yang terdiri dari beberapa kegiatan yang dimulai dengan class presentation, pembentukan kelompok, turnamen, pemberian tugas, tes/kuis, evaluasi, dan diakhiri penutup. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan ternyata pembelajaran kooperatif tipe TGT pada mata pelajaran matematika di SMP Negeri 10 Malang terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam akhir kegiatan penelitian tindakan ini dapat diketahui bahwa rata-rata motivasi belajar meningkat sebesar 7,03% dari 64,98% pada siklus 1 menjadi 72,03% pada siklus 2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa siswa sangat antusias menyelesaikan soal latihan secara kelompok dan aktif bertanya ketika guru menyampaikan materi. Di samping itu pembelajaran kooperatif tipe TGT juga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Persentase ketuntasan belajar siswa aspek kognitif pada pembelajaran tanpa TGT sebesar 46,15% meningkat pada siklus 1 menjadi 76,92% sedangkan siklus 2 mencapai angka 92,30% dan dikategorikan tuntas dari persyaratan sebesar 75%. Siswa mengaku bahwa adanya interaksi antarkelompok dan penghargaan, mampu memotivasi secara individu untuk tekun belajar guna memperoleh nilai yang baik. Berdasarkan data di atas, maka terdapat beberapa saran yang diberikan, yaitu: (1) bagi guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 10 Malang dan guru mata pelajaran lain disarankan untuk senantiasa melakukan pembelajaran kreatif dan inovatif dengan mengacu pada model pembelajaran student center. Salah satu bentuk aplikasinya adalah pembelajaran kooperatif dan khususnya tipe TGT. Pembelajaran jenis ini lebih mengedepankan keaktifan siswa dalam pembelajaran yaitu berupa diskusi kelompok dan pembelajaran teman sejawat sehingga diharapkan siswa mampu mengkonstruk sendiri pemikirannya, (2) hendaknya sekolah-sekolah khususnya SMP Negeri 10 Malang senantiasa mengarahkan kepada tenaga pendidiknya untuk melakukan pembelajaran yang berparadigma student center, yang condong untuk menciptakan keaktifan siswa dalam pembelajaran agar siswa mampu mengeksplorasi pemikirannya, (3) bagi peneliti selanjutnya hendaknya dalam melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas khususnya tentang penerapan model pembelajaran, peneliti memberikan inovasi yang sangat berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu. Hal itu dilakukan dengan harapan dapat memperkaya wawasan bagi tenaga pendidik professional khususnya dalam mengatasi masalah pembelajaran

Karateristik dan prestasi belajar mahasiswa pendidikan tata boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK / Dityas Windi Harto

 

Kata kunci: karakteristik, prestasi belajar, perbedaan Karakteristik setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Karakteristik individu yang terkait dengan pretasi belajar adalah minat dan motivasi. Minat merupakan daya gerak yang mendorong seseorang cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda, atau kegiatan ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri, sedangkan motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk memperoleh kepuasan dalam berprestasi dengan lebih baik dari sebelumnya atau dari orang lain untuk mencapai keberhasilan. Prestasi merupakan gambaran kemampuan memahami isi pelajaran yang biasanya dilambangkan dengan skor atau nilai. Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) Mengetahui karakteristik yang meliputi minat dan motivasi mahasiswa Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK, (2) Mengetahui prestasi belajar yang diungkapkan dengan rata-rata IP (ndeks Prestasi) mahasiswa Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK, dan (3) Mengetahui apakah ada perbedaan karakteristik dan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Tata boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan studi komparatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya menggunakan angket dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2009 yang berjumlah 173 mahasiswa dengan teknik sampel Random Sampling yang menghasilkan sampel 82 mahasiswa. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa minat mahasiswa jalur PMDK, SPMB, dan SPMK tidak ada perbedaan karena diperoleh F hitung = 2,976 dan F tabel = 3,11 sehingga F hitung < F tabel. Hasil analisis data terkait dengan motivasi berprestasi mahasiswa Pendidikan Tata Boga diperoleh F hitung = 0,653 dan F tabel = 3,11 sehingga F hitung < F tabel maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan motivasi berprestasi mahasiswa Pendidikan Tata Boga jalur PMDK, SPMB, dan SPMK. Hasil analisis data mengenai prestasi belajar diperoleh F hitung = 12,915 dan F tabel = 3,11 maka F hitung > F tabel, jadi dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa Pendidikan Tata Boga jalur PMDK, SPMB, dan SPMK.

Penerapan pendekatan whole language dengan teknik reading alouds untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas I SDN Kejayan I Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Vivi Wijayanti

 

Kata Kunci : whole language, reading alouds, membaca pemahaman, SD Keterampilan membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Membaca merupakan jembatan bagi siapa saja yang ingin meraih kesuksesan. Kenyataannya kemampuan membaca siswa kelas I SDN Kejayan I masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat baca pada siswa. Metode mengajar guru yang kurang sesuai mengakibatkan penguasaan bahasa Indonesia terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan pendekatan pembelajaran whole language dengan teknik reading alouds. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran bahasa Indonesia melalui pendekatan whole language dan peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik reading alouds. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, yaitu (1) siklus I, pembelajaran dilakukan dengan menyusun rancangan pembelajaran, kegiatannya menggunakan metose ceramah, tanya jawab, diskusi dan penugasan, (2) siklus II, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media yang lebih bervariasi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Kejayan I Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 30 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat kemampuan membaca siswa masih kurang, (2) pada siklus I hanya 18 siswa (60%) dari 30 siswa yang mencapai ketuntasan belajar, (3) pendekatan whole language mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut sebesar 12 dari siklus I yang tadinya sebesar 72 menjadi 84 dengan ketuntasan belajar 100% dan dikategorikan sangat baik. Saran pada penelitian ini adalah guru diharapkan bias menerapkan pembelajaran dengan pendekatan whole language di sekolah, guru hendaknya lebih kreatif dalam menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.

Model pembelajaran kolaboratif tipe kooperatif learning dapat meningkatkan aktivitas belajar dan berbicara siswa kelas V SDN Bantur Malang / Eni Nur Afidah

 

Kata Kunci: bahasa Indonesia, model kolaboratif Bahasa Indonesia erat kaitannya dengan guru bahasa Indonesia, yakni orang-orang yang tugasnya setiap hari membina pelajaran bahasa Indonesia. Gurulah yang bertanggung jawab akan perkembangan bahasa Indonesia, yang akan selalu dituding oleh masyarakat bila hasil pengajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak memuaskan khususnya di Sekolah Dasar. Berhasil atau tidaknya pengajaran bahasa Indonesia memang di antaranya ditentukan oleh faktor guru, disamping faktor-faktor lainnya, seperti faktor murid, metode pembelajaran, kurikulum (termasuk silabus), bahan pengajaran dan buku, serta yang tidak kalah pentingnya ialah perpustakaan sekolah dengan disertai pengelolaan yang memadai. Ketermpilan berbahasa akan dapat dicapai dengan baik bila dibiasaka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Berdasarkan paparan tersebut, maka dalam penelitian ini diberi judul "Model Pembelajaran Kolaboratif untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SDN BANTUR MALANG Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas, dengan menggunakan model Kemmis dan Tagart (1990)(dalam Arikunto:2007). Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, yang masing-masing siklus terdiri atas 4 kegiatan melalui prosedur: (a) perencanaan, (b) tindakan dan pengamatan, (c) refleksi, dan (d) perbaikan perencanaan. Hasil dari pelaksanaan dan observasi pembelajaran telah menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa dan peningkatan hasil belajar siswa secara kelompok dalam menyelesaikan masalah. Sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran sudah memenuhi apa yang diharapkan yaitu adanya peningkatan kualitas pembelajaran Kesimpulan dari penelitian ini adalah Model Kolaboratif dapat Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa dan Berbicara pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia kelas V SDN Bantur Malang, dan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia.

The Teaching of English in the fifth grade at International laboratory primary school state University of Malang / Emi Faridah

 

Key Words: Teaching of English, International Standard Schools, This study is interesting to describe the process of the teaching of English in the fifth grade at international laboratory primary school State University of Malang. It covers; (1) what kinds of the teaching-learning activities in the classroom, (2) how the teacher selected the materials, (3) what kinds of instructional media are used by the teacher, and (4) how is assessment applied by the teacher. From the findings, the teaching techniques used by the teacher to conduct the teaching-learning activities in the classroom were listen and do, question and answer, in pair or group work, brainstorming, and modeling and demonstration. Next, the materials used by the teacher are worksheet supported other sources namely electronic books (Timesavers Project Work, Timesavers Vocabularies Activities, and Timesavers Reading Lesson) and English articles. Meanwhile, the teacher used ICT media such as LCD, computer, and internet to support her teaching. She also used visual media such as pictures, real objects, and power point slides. Finally, this study also described how the teachers applied the assessments in the teaching of English.

Pengembangan modul trigonometri dengan metode penemuan terbimbing / Widya Saputri

 

Kata Kunci : modul, trigonometri, penemuan terbimbing Suatu upaya inovatif untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memperhatikan perbedaan kecepatan belajar tiap individu adalah menyelenggarakan Sistem Kredit Semester (SKS). Beberapa sekolah terutama sekolah dengan kategori mandiri dan sekolah bertaraf internasional mulai memberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS) dalam kurikulumnya untuk memenuhi kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Berlakunya Sistem Kredit Semester (SKS) maka menimbulkan upaya untuk melaksanakan pembelajaran yang disesuaikan dengan masing-masing siswa. Pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan masing-masing siswa adalah pembelajaran dengan menggunakan modul. Trigonometri merupakan salah satu pokok bahasan yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengkontruksi pengetahuan secara mandiri dengan metode penemuan terbimbing diharapkan menjadi solusi yang dapat memudahkan siswa untuk memahami materi. Tujuan pengembangan ini adalah adanya produk berupa modul trigonometri dengan metode penemuan terbimbing. Model pengembangan modul ini menggunakan model konseptual. Prosedur pengembangan modul dalam penulisan ini didasarkan pada prosedur pengembangan modul menurut Departemen Pendidikan Nasional. Tahap-tahap pengembangan modul yaitu : (1) tahap persiapan, (2) tahap penyusunan, dan (3) tahap validasi dan penyempurnaan. Berdasarkan hasil analisis pengembangan, keseluruhan aspek penilaian modul dinyatakan sangat valid atau valid. Dengan demikian modul berdasarkan metode penemuan terbimbing yang telah disusun layak dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran matematika pada materi trigonometri untuk siswa SMK kelas X.

Pengaruh game educatif terhadap kemampuan matematika anak di TK Mutiara Singosari / Rani Purwaningtyas

 

Kata kunci : kemampuan matematika, angka, bilangan, game edukatif, taman kanak-kanak Matematika telah diberikan kepada siswa taman kanak-kanak sebagai salah satu mata pelajaran . Materi yang umumnya diajarkan adalah mengenai pengenalan angka dan konsep bilangan sederhana. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan matematika anak dengan menggunakan game edukasi matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh game edukatif terhadap kemampuan matematika anak usia masa kanak-kanak awal di TK Mutiara Singosari. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen dengan menggunakan pretest-post test design. Penelitian dilaksanakan di TK Mutiara Singosari Kabupaten Malang, dengan menggunakan 30 siswa sebagai subyek penelitian. Subyek penelitian dibagi ke dalam dua kelompok secara random, 15 subyek sebagai kelompok eksperimen dan 15 subyek sebagai kelompok kontrol. Penelitian dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2010 sampai 3 November 2011. Data dikumpulkan melalui tes prestasi yang menggunakan Lembar Kerja Siswa (pretest dan post-test) dan observasi. Analisis data menggunakan analisis perbedaan melalui uji beda (uji t) dan analisis dekkriptif. Hasil uji beda (t) adalah 5,380 dan nilai signifikansinya 0,000 sehingga 0,000 < 0,05 maka menunjukkan ada perbedaan kemampuan matematika antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Menurut hasil analisis deskriptif dapat diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen 26,8 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 22,6, sehingga menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki kemampuan matematika yang lebih baik dibanding kelompok kontrol. Dari kedua hasil analisis dapat dibuktikan bahwa game edukatif berpengaruh pada kemampuan matematika siswa TK Mutiara Singosari. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada subjek agar lebih memperhatikan ketika guru mengajar, kepada guru agar memberikan variasi dalam metode pembelajaran sehingga meningkatkan minat dan motivasi siswa seperti game edukatif, kepada peneliti selanjutnya agar memperhatikan aspek-aspek psikologis siswa yang lain seperti inteligensi dan bakat siswa untuk memperkecil penyimpangan hasil dan hendaknya lebih selektif dalam menentukan subjek dan mengkomunikasikan dengan baik pada pihak sekolah sehingga treatmen terlaksana dengan baik dan memperkecil penyimpangan hasil serta dapat digeneralisasikan bagi seluruh siswa taman kanak-kanak.

Hubungan antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (Studi kasus pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Kraksan) / Novy Kurniawati

 

Kata kunci: disiplin belajar di sekolah, fasilitas belajar di sekolah, prestasi belajar siswa SMAN 1 Kraksaan telah membuat disiplin belajar di sekolah berupa tata tertib beserta sanksinya yang tegas dengan tujuan untuk menanamkan sikap disiplin dalam diri siswa, sehingga siswa diharapkan dapat lebih siap dalam menerima pelajaran. Dan fasilitas belajar yang dimiliki oleh SMAN 1 Kraksaan tergolong sudah lengkap, seperti adanya gedung sekolah yang nyaman, perpustakaan, laboratorium, dan fasilitas penunjang kegiatan pembelajaran lainnya. Akan tetapi, ditemukan bahwa masih banyak siswa yang melanggar disiplin belajar yang telah ditetapkan oleh sekolah, khususnya pelanggaran yang banyak dilakukan oleh siwa kelas XI IPS, selain itu juga diketahui bahwa siswa disana masih belum sepenuhnya memanfaatkan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah untuk membantu mereka dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada saat pelajaran ekonomi. Jadi dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti ingin mengetahui sejauh mana hubungan dari adanya disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk menjelaskan hubungan antara disiplin belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa, (2) untuk menjelaskan hubungan antara fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa, dan (3) untuk menjelaskan secara bersama-sama bagaimana hubungan antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Metode pengumpulan data menggunakan angket, observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini bersumber dari data manusia dan data non manusia. Data yang bersumber dari manusia berupa ucapan dan tindakan yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan angket. Sedangkan untuk data non manusia adalah dokumen-dokumen yang relevan dengan fokus penelitian yaitu nilai UTS (Ulangan Tengah Semester) pada semester gasal tahun ajaran 2010/2011. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, dapat diketahui bahwa tingkat prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Kraksaan pada mata pelajaran konomi semester gasal tahun ajaran 2010/2011 yang diambil dari nilai UTS (Ulangan Tengah Semester) meliputi 14 siswa (20,9%) memiliki prestasi belajar yang baik. 41 siswa (61,19%) memiliki prestasi belajar yang cukup baik dan 12 siswa (17,91%) memilki prestasi belajar yang kurang. Sedangkan untuk tingkat disiplin belajarnya meliputi 62 siswa (92,54%) memiliki tingkat disiplin belajar yang tinggi dan 5 siswa (7,46%) memiliki tingkat disiplin belajar yang rendah. Dan untuk fasilitas belajar di sekolah meliputi 65 siswa (97,02%) yang berpendapat bahwa ketersediaan fasilitas belajar di sekolah baik dan 2 siswa (2,98%) berpendapat bahwa ketersediaan fasilitas belajar di sekolah dalam katagori kurang. Kedua, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara disiplin belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011 di SMAN 1 Kraksaan, hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi antara disiplin belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa sebesar 0,603 yang signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 0,05. Ketiga, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara Fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011 di SMAN 1 Kraksaan, hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi antara fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa sebesar 0,514 yang signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 0,05. Keempat, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011 di SMAN 1 Kraksaan, hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa sebesar 0,652 yang signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 0,05.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |