Identifikasi materi pembelajaran matakuliah komputer teknik prodi pendidikan teknik bangunan jurusan teknik sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Eka Dwiningsih

 

Kata Kunci: Identifikasi, Materi Pembelajaran, Matakuliah Komputer Teknik Pesatnya perkembangan teknologi informasi di dunia pendidikan dan industri khusunya komputer saat ini, menuntut individu untuk mengenal, memahami, dan menguasainya. Oleh karena itu kurikulum Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang menyediakan mata kuliah Komputer Teknik dimaksudkanuntuk menyiapkan mahasiswa agar mampu menjawab tantangan tersebut. Matakuliah Komputer Teknik tersebut kemudian dirinci dalam Satuan Acara Perkuliah (SAP) DUE-LIKE 2002. Menu materiyang disajikan meliputipengetahuandasar komputer dan bahasa pemrograman, antara lain: Mocrosoft Excel, MicrosoftWord, Microsoft PowerPoint, Foltran, danV-Basic. Agar output yang dihasilkan berkualitas maka semua materi-materi tersebut harus disampaikan oleh dosen kepada mahasiswa. Rumusan masalah penelitian ini adalahbagaimanakah materi pembelajaran matakuliahKomputer Teknik S1 PTB UM menurut kurikulum dan SAP DUE-LIKE 2002 disampaikan oleh dosen kepada mahasiswa. Sedangkan tujuan dari pe-nelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa lengkap materi matakuliah Komputer Teknik yang disampikan oleh dosen kepada mahasiswa sebagaimana tersaji dalam kurikulum dan SAP DUE-LIKE 2002. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait untuk penyempurnaan materi matakuliah Komputer Teknik. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa S1PTB UM angkatan 2007, 2008, 2009, dan 2010. Instrumen penelitian berbentuk kuesioner tertutup. Sebelum disebarkan instrumen diujicoba validitasisinyadengan cara memberikan kuesioner kepada pembimbing I untuk diperiksa dan disempurnakan. Setelah itu, dilakukan penghitungankoevisien validitas dan reabilitas butir dengan cara memberikan koesioner kepada 30 mahasiswa yang pernah menempuh matakuliah Komputer Teknik. Koevisien validitas dan reabilitas dihitung menggunakan software SPSS 16.00 for Windows. Hasil perhitungan koevisien reabilitas butir sebesar 0,834. Sedangkan nilai validitas butir dari delapan pertanyaan masing-masing sebesar 0,493; 0,503; 0,671; 0,681; 0,488; 0,691; 0,748; dan 0, 499. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden dengan dibantu tiga teman sejawat. Selanjutnya data yang terkumpul dimasukkan ke dalam lembar transfer kemudian dianalisis dengan menggunakanstatistik distribusi frekwensi, range, dan prosentase. Kesimpulan yang dapat ditarikdari penelitian ini bahwa dosen tidak mengajarkan atau hannya sebagian materi Komputer Teknik yang diajarkan. Adapun rerata presentasenya yaitu: 1) sedikitnya 31,5% mahasiswa menjawab diajar sebagian materi Dasar-dasar Operasi komputer. Materi yang kurang disampaikan yaitu materi pengenalan sistem operation dan materi pengenalan fungsi-fungsi pada operasi Windows masing-masing 50%; 2) sebesar 45,7% mahasiswa menjawab diajar sebagian materi aplikasi olah kata dengan Mc. Word. Pada materi koreksi teks, template, mencetak naskah, cetak gabung, dan membuat halaman Webtidak semua disampaikan kepada mahasiswa. Menurut angkatan 2007 rerata sebesar 13,34% diajarkan, menurut angkatan 2008 sebesar 27,06%, menurut angkatan 2009 sebesar 16,28% dan menurut angkatan 2010 sebesar 19,98% yang diajarkan; 3) sekitar 46,8% mahasiswa menjawab diajar sebagian materi aplikasi olah data dengan Mc. Excel. Pada materi mencetak dan memformat halaman, lembar kerja majemuk, proteksi dan bekerja bersama database, gambar Objek Linking and Embedding (OLE), dan ekspor Operasi file dan Windows Explorer, penggunaan rumus differensial dan integral Fungsi-fungsi enginering, persamaan differensial dan anilisis toolpak, pemakaian Excel di laboratorium tidak semua diajarkan. Menurut angkatan 2007 rerata materi di atas diajarkan sebesar 18,19%, menurut angkatan 2008 sebesar 28,35%, menurut angkatan 2009 sebesar 25%, dan menurut angkatan 2010 sebesar 32,68% yang diajarkan; 4) sementara itu 31,4% mahasiswa menjawab diajar sebagian materi program presentasi dengan Mc. PowerPoint. Menurut mahasiswa angkatan 2007, 2008, 2009, dan 2010 materi yang tidak diajarkan yaitu mate-ri menggunakan different views dan printing optionsdengan rerata sebesar 26,95%. Sementara itu, materi memasukkan presentasi ke dalam World Wide Websedikitnya 3% yang diajarkan; 5) sebanyak 48% mahasiswa menjawab diajarkansebagian materi bahasa pemrograman; 6) sedangkan 53% mahasiswa menjawab tidak diajarmeteri dasar fortran; 7) sebesar 59,4% mahasiswa menjawab tidak diajarmateri Fortran Terstruktur; dan 8) sebesar 42,8% mahasiswa menjawab tidak diajar materi Visual Basic 6.0. Oleh karena itu, disarankan kepada Ketua Jurusan dan dosen pengajar untuk membaharui materi matakuliah Komputer Teknik. Selain itu, disarankan kepada pe-neliti lanjutan untuk melakukan penelitian tentang pembuatan modul materi Komputer Teknik. disarankan juga untuk melakukan penelitian tentang pengembangan laboratorium penelitian guna mengevaluasi matakuliah yang bersangkutan dan mengidentivikasi masalah dosen dalam mengajar materi Komputer Teknik.Pelakukan penelitian serupa dengan populasi yang lebih luas, dan penelitian yang ditujukan kepada mahasiswa baru guna mengetahui pengetahuan dasar yang mereka miliki tentang materi Komputer Teknik.

Analisis sektor basis dan sektor non basis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota Malang tahun 2005-2009 (Metode lacation quotient, metode shift share, metode klassen tipology) / Imam Bagus Budiarto

 

Kata Kunci: Potensi Pertumbuhan Ekonomi, Sektor unggulan, Klassen Typology, Location Quotient dan Shift Share. Pembangunan daerah merupakan sub-sistem dari pembangunan nasional dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pembangunan nasional. Salah satu tolak ukur adanya pembangunan ekonomi daerah yaitu adanya pertumbuhan ekonomi daerah. Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mengetahui potensi-potensi daerah yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Kota Malang selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, dan seberapa besar sumbangan kontribusi sektoral terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Data tersebut diperoleh dari survei sekunder, yaitu dengan memanfaatkan data yang telah tersedia pada instansi terkait. Dalam skripsi ini digunakan model basis ekonomi yang tercermin pada analisis Location Quotient (LQ) yang dilengkapi analisis Shift Share, yang berguna untuk mengetahui sektor-sektor unggulan di Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Location Quotient, sektor yang memiliki indeks LQ lebih besar dari satu dan merupakan sektor basis ekonomi adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan dengan indeks LQ rata-rata sebesar 1,66, Sektor basis terbesar kedua dengan indeks LQ rata-rata sebesar 1,52 adalah sektor Jasa-jasa/ service, Sektor ke tiga yang juga merupakan sektor basis adalah sektor industri pengolahan dengan nilai rata-rata LQ sebesar 1,26, . Adapaun sektor basis yang ke empat yaitu sektor peragangan, hotel, dan restaurant sebesar 1,21. Hasil metode analisis Shift Share menggunakan komponen pertumbuhan differential (D) menunjukkan terdapat 4 sektor dengan rata-rata D positif, yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai rata-rata D sebesar 42.681,7; sektor Bangunan dengan nilai rata-rata sebesar 10.018,91; sektor industri pengolahan dengan nilai rata-rata sebesar 6.153,98; sektor jasa-jasa dengan nilai rata-rata sebesar 42.600,42. hal tersebut mengindikasikan bahwa ke-4 sektor tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor ekonomi yang sama dengan Propinsi Jawa Timur sehingga ke-4 sektor tersebut memiliki daya saing tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kota Malang, sedangkan komponen pertumbuhan proportional (P) menunjukkan bahwa terdapat 4 sektor yang memiliki nilai rata-rata positif yaitu sektor pertambangan, sektor listrik, gas dan air minum; sektor angkutan dan komunikasi; sektor bangunan dan konstruksi; dan sektor bank dan lembaga keuangan lainnya; sektor perdagangan, hotel, dan restaurant.

Pengaruh kemampuan guru dan minat belajar siswa terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 9 malang / Imam Bagus Budiarto

 

Kata Kunci : Kemampuan Guru, Minat Belajar Siswa, Prestasi Belajar Guru memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Karena guru memegang kunci dalam pendidikan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Guru adalah pihak yang paling dekat berhubungan dengan siswa dalam pelaksanaan pendidikanbsehari-hari, dan guru merupakan pihak yang paling besar peranannya dalam menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan terhadap guru merupakan hal mendasar dalam proses pendidikan. Saat ini guru di anggap sebuah profesi yang sejajar dengan profesi yang lain, Sehingga seorang guru di tuntut bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesional adalah guru yang mempunyai sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya yang meliputi kompetensi pendagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial maupun kompetensi pribadi. Dari kompetensi tersebut guru dapat menciptakan suasana dalam belajar menjadi nyamman dan optimal sehingga menumbuhkan perepsi siswa yang positif. Minat harus diperhatikan karena minat merupakan variabel yang berpengaruh terhadap tercapainya suatu tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai dalam belajar. Seorang guru harus menumbuhkan motivasi dan minat siswa agar dapat meningkatkan prestasi para siswa, karena minat merupakan peran penting yang ada di dalam diri setiap siswa dan merupakan faktor intenal yang yang harus di tingkatkan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui : (1) Untuk mengetahui pengaruh kemampuan guru terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN 9 Malang (2) Untuk mengetahui pengaruh minat belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMAN 9 Malang (3) Untuk mengetahui pengaruh kemampuan guru dan minat belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN 9 Malang. Dalam penelitian ini menggunakan analisis deskripsi untuk menggambarkan tentang kondisi persepsi siswa tentang kemampuan guru (X1), minat belajar(X2), dan prestasi belajar siswa(Y). Sedangkan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui besarnya pengaruh antara persepsi siswa tentang kemampuan guru dan minat belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 9 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang yang berjumlah 319 siswa dan sampelnya sebesar 64 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Proportional Random Sampling. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar pada persepsi siswa tentang kemampuan guru dan minat belajar siswa. Sedangkan secara simultan dari hasil uji F diketahui besaran probabilitas menunjukkan bahwa kemampuan guru dan minat belajar siswa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat di ajukan adalah (1) Kemampuan guru sudah baik, dan kemampuan guru tersebut harus di tingkatkan lagi supaya bisa meningkatkan prestasi siswa secara keseluruhan dan dapan memberikan nama baik pada SMA Negeri 9 Malang. Untuk itu bagi para guru yang memiliki kemampuan baik maupun yang cukup baik, agar sering mengikuti pelatihan-pelatihan guru yang di adakan oleh kementrian pendidikan setempat maupun pelatihan yang di lakukan oleh lembaga lain. (2) Minat belajar sudah baik, agar dapat terus dipertahankan guru harus selalu menghimbau siswa agar tetap mempertahankan minat yang telah dimiliki sehingga minat yang telah dimiliki akan terus bertambah. Maka dari itu, Para guru di sarankan menggunakan metode dan model-model pembelajaran yang bervariasi dan menarik. Sehingga para siswa memiliki motinasi dan semangat yang tinggi dalam mengikuti pelajaran di sekolah, khususnya pelajaran ekonomi. (3) Untuk peneliti yang akan datang, apabila akan menggunakan variabel yang sama dalam penelitiannya disarankan agar mengambil jumlah sampel yang lebih besar sehingga hasil penelitian tersebut bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Di sisi lain variabel-variabel dalam penelitian dapat di tambah pula

Implementasi metode Course Review Honary (DRH) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika kelas IV semester 1. SDN Tumpak Kepuh 02 Blitar / Tety Nur Cholifah

 

Cholifah, T.N. 2013. Implementasi Metode Course Review Horay (CRH) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Pelajaran Matematika Kelas IV Semester 1, SDN Tumpakkepuh 02 Blitar. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Sulton, M.Pd (2) Eka Pramono Adi, S.IP., M.Si Kata Kunci : Penerapan Metode CRH, Aktivitas, Hasil Belajar. Pendidikan saat ini dalam peranan pemerintah mengupayakan agar pendidikan di Indonesia lebih memiliki makna dan lebih maju. Tetapi pada kenyataannya proses belajar mengajar pada pembelajaran Matematika di SDN Tumpakkepuh 02 Blitar, peran siswa hanya terikat dengan apa yang guru inginkan dalam pembelajaran bukan dari siswa sendiri yang muncul. Sehingga hal itu akan mempengaruhi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Maka diperlukan metode pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa atau digunakan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan penerapan metode CRH dan aktivitas belajar siswa yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa dalam dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika, (2) melalui penerapan metode CRH diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam penerapan metode CRH pada pembelajaran Matematika kelas IV semester 1 dengan kompetensi dasar “Menentukan besar sudut dengan satuan tidak baku dan satuan derajat” yang dilaksanakan 2 siklus. Dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer.     Dalam pelaksanaan siklus 2 dengan menggunakan metode CRH penerapan yang dilakukan guru di kelas sudah baik yaitu pada pada indikator pra kegiatan dan kegiatan awal yaitu guru sudah melaksanakannya dengan baik, pada indikator penggunaan media pembelajaran yaitu sudah menggunakan media yang menarik agar siswa tidak bosan, pada indikator pelaksanan kegiatan CRH yaitu sudah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan langkah-langkah metode CRH, pada indikator kegiatan akhir pembelajaran yaitu sudah dilaksanakan dengan baik dengan menyimpulkan materi yang telah dibahas serta mengevaluasi pembelajaran yang telah disampaikan sesuai dengan lembar observasi yang telah dibuat. Pada aktivitas siswa ditemukan pada indikator kedisiplinan kebanyakan siswa bersikap sopan, berdo’a, memberikan salam, dan masuk tepat waktu sudah dilakukan siswa tanpa diperintah, pada indikator keberanian siswa berani membacakan jawabannya di depan kelas tanpa perintah guru, pada indikator keaktifan siswa aktif bertanya, menjawab pertanyaan guru, dan melaksanakan tugas tanpa diperintah guru, pada indikator ketepatan jawaban siswa berteriak “hore” atau yel-yel 6-8 kali dalam kegiatan CRH, pada indikator kekompakan siswa kompak menampilkan yel-yel tanpa diperinta, dan pada indikator kegiatan akhir pembelajaran siswa cenderung sudah tidak pasif lagi akantetapi kebanyakan siswa menarik kesimpulan atau refleksi dari pelajaran saat itu setelah diperintah guru.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode CRH pada pembelajaran Matematika siswa kelas IV SDN Tumpakkepuh 02 Blitar dengan kompetensi dasar “Menentukan besar sudut dengan satuan tidak baku dan satuan derajat” dapat dilaksanakan sesuai dengan langkah metode CRH 65,27 pada awal siklus 1 menjadi 87,23 pada akhir siklus 2. Hasil belajar siswa juga meningkat dari rata-rata siklus 1 69,50 dan ketuntasan kelas mencapai 45% pada ke siklus 2 menjadi 86,95 dan ketuntasan kelas mencapai 85%. Dengan demikian penerapan metode CRH dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melakukan metode CRH ini, hendaknya guru mempersiakan matang-matang alat yang akan digunakan utuk mengajar di kelas dengan menggunakan metode CRH.

Peranan sektor potensial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lumajang tahun 2006-2010 / Dwi Candra Septya Jaya

 

Kata kunci: Sektor potensial, Pertumbuhan ekonomi Salah satu tolak ukur adanya pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi disuatu daerah. Dalam usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi perlu diketahui terlebih dahulu sumberdaya atau potensi suatu daerah yang diharapkan berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sektor potensial di kabupaten Lumajang sebagai bahan informasi dan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan ekonomi. Penelitian ini menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten Lumajang dan Propinsi Jawa Timur Tahun 2006-2010. Data tersebut berupa data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam skripsi ini menggunakan analisis Location Quotient (LQ), Shif Share dan Tipologi Klassen untuk mengklasifikasi sektor yang tergolong sektor potensial. Hasil analisis yang telah dilakukan ditemukan bahwa sektor pertanian; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor industri pengolahan berperan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kabupaten Lumajang dengan memiliki nilai sumbangan tertinggi terhadap PDRB kabupaten Lumajang. Selain itu sektor pertanian merupakan sektor basis ekonomi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah kabupaten lumajang karena memiliki nilai LQ sebesar 2,29. Sektor jasa-jasa dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kabupaten Lumajang yaitu menambah arus pendapatan wilayah, karena banyaknya ekspor ke wilayah lain yang selanjutnya akan menambah permintaan terhadap barang dan jasa di dalam wilayah. Dengan adanya arus pendapatan dari luar wilayah mengakibatkan terjadinya kenaikan konsumsi dan investasi di kabupaten Lumajang dan pada akhirnya akan menaikan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja baru. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian, sektor sektor listrik, gas dan air, sektor bangunan, sektor angkutan dan komunikasi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan berperan kecil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kabupaten Lumajang sehingga tidak memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi regional di Kabupaten Lumajang. Sektor ekonomi yang potensial di kabupaten Lumajang adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa, dimana sektor tersebut merupakan sektor basis sekaligus pertumbuhannya cepat sehingga dapat menjadi sektor yang strategis untuk dikembangkan lebih lanjut. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran bagi pemerintah kabupaten Lumajang diharapkan penetapan kebijakan pembangunan dan pengembangan sektoral perekonomian daerah hendaknya lebih memprioritaskan sektor yang potensial di Kabupaten Lumajang untuk dikembangkan sebagai lokomotif pendorong pertumbuhan perekonomian daerah.

Identifikasi profil mahasiswa program tata busana Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Angkatan 2008/2009 s/d 2010/2011 / Retno Dwi Nursamsi

 

Kata Kunci: profil, mahasiswa. Profil mahasiswa adalah pandangan sosok/ orang yang sedang mendalami ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Profil mahasiswa melingkupi kehidupan mahasiswa yang ditinjau dari berbagai aspek, meliputi latar belakang pendidikan mahasiswa sebelum masuk perguruan tinggi, keadaan sosial ekonomi orang tua mahasiswa, asal daerah mahasiswa, serta kesesuaian minat mahasiswa. Penelitian profil mahasiswa program tata busana bertujuan untuk mendeskripsikan profil mahasiswa program Tata Busana angkatan 2008-2010. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari satu variabel yaitu profil mahasiswa Program Tata Busana Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa D3 dan S1 yang berjumlah 182 responden. Uji validitas instrumen menggunakan uji vaiditas konstruk. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari jawaban responden dari pertanyaan dalam angket dan berasal dari data sekunder. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa mahasiswa program tata busana yang berasal dari input SMK sebesar 52% sedangkan mahasiswa input SMA dan MA sebesar 48%. Pendidikan terakhir orang tua mayoritas adalah SMA sedangkan pekerjaan ayah yang paling dominan adalah sebagai wiraswasta, dan ibu mayoritas tidak bekerja. Untuk rata-rata pendapatan orang tua adalah Rp. 2.802.585/ bulan, sedangkan pengeluaran keluarga mayoritas Rp.750.000 – Rp.1.750.000. Tanggungan orang tua sebagian besar hanya 2 orang. Mahasiswa program tata busana sebagian besar berasal dari kota. Mahasiswa program tata busana sebagian besar juga memiliki minat untuk masuk program tata busana. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa tata busana antara input SMK dan input SMA memiliki jumlah yang hampir seimbang. Tingkat sosial ekonomi mahasiswa juga termasuk dalam kategori sosial ekonomi atas (sejahtera) karena pendapatan orang tua mereka lebih besar dari pengeluaran keluarga dengan jumlah tanggungan yang tidak banyak. Mahasiswa juga lebih fashioneble dan bisa mengaktualisasikan diri dalam pembuatan busana karena mereka sebagian besar berasal dari kota. Minat yang tinggi untuk masuk program tata busana bisa mendorong mahasiswa untuk menyukai dan menekuni bidang busana yang dipilihnya.

Minat mahasiswa program studi D3 Tata Busana dalam berwirausaha di bidang busana / Anita Fitriningsih

 

Kata Kunci: minat, wirausaha. Minat adalah suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan ber-tindak terhadap orang, aktivitas atau sesuatu yang menjadi objek dari minat ter-sebut dengan disertai perasaan senang. Minat berawal dari kesenangan yang ber-dampak pada kepuasan. Apabila seseorang merasa senang pada suatu hal maka akan menimbulkan kepuasan. Kesenangan dan kepuasan seseorang akan sesuatu hal mampu meningkatkan minat seseorang. Setelah berminat pada sesuatu hal maka akan diwujudkan dalam bentuk tindakan. Berwirausaha juga merupakan suatu bentuk dari minat seseorang dalam memilih pekerjaan. Wirausaha adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya un-tuk mencari peluang menuju sukses. Minat berwirausaha adalah keinginan dan kemauan bekerja keras untuk menanggung segala resiko dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup serta memajukan usahanya. Wirausaha busana adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk memulai dan menjalankan berbagai usaha yang berkaitan dengan bidang busana. Busana tidak hanya terbatas pada pakaian seper-ti rok, blus atau celana saja, tetapi merupakan kesatuan dari keseluruhan yang di-pakai mulai dari kepala sampai ujung kaki, baik sifatnya pokok maupun sebagai pelengkap yang bernilai guna atau untuk perhiasan. Penelitian minat berwirausaha ini bertujuan untuk mendeskripsikan minat mahasiswa Program Studi D3 Tata Busana dalam berwirausaha dibidang busana. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari satu variabel yaitu minat mahasiswa Program Studi D3 Tata Busana dalam berwirausaha dibidang busana. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa D3 Tata Busana semester III dan V yang berjumlah 19 responden. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket. Uji validitas instrumen menggunakan rumus korelasi product moment dan uji reliabilitas instrumen de-ngan rumus cronbach’s alpha, analisis dengan menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS 16 for windows. Sumber data yang digunakan dalam pe-nelitian ini diambil dari jawaban responden dari pernyataan dalam angket. Anali-sis data menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, ada dua faktor yang mempengaruhi minat berwirausaha mahasiswa yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal ter-diri dari perasaan, motivasi, cita-cita, pengalaman dan harga diri. Sedangkan fak-tor eksternal terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat, pen-didikan dan peluang. Masing-masing faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap minat berwirausaha mahasiswa dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. Faktor yang memiliki pengaruh dengan kategori sangat tinggi adalah faktor internal cita-cita dengan prosentase (52,6%). Sedangkan faktor lingkungan sosial masyarakat memiliki pengaruh dengan prosentase paling rendah (42,1%) dalam kategori ting-gi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa minat mahasiswa Program Studi D3 Tata Busana dalam berwirausaha dibidang busana adalah sangat tinggi dengan prosentase (52,6%). Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa D3 Tata Bu-sana yang memiliki minat berwirausaha yang sangat tinggi agar dapat mulai me-wujudkan minatnya sejak dini dengan cara merintis sebuah usaha dibidang bu-sana. Program Studi D3 Tata Busana yang telah melaksanakan program pembela-jaran dengan baik agar dapat ditingkatkan lagi dengan cara melaksanakan pembe-lajaran yang lebih menekankan pada praktik berwirausaha sehingga dapat men-dorong mahasiswanya dalam mewujudkan minat berwirausahanya. Peneliti selan-jutnya dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang hubungan minat mahasiswa dalam berwirausaha dengan perwujudan minat tersebut melalui se-buah usaha busana.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif pelajaran bahasa inggris di kelas V semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 di SDLB Pertiwi Ponorogo / Tonang Baskoro

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media, CD interaktif, Bahasa Inggris Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran dan pelatihan, menempati posisi yang penting dan akan turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Dari hasil observasi yang dilakukan di SDLB Pertiwi Ponorogo pembelajaran yang di gunakan selama ini terbilang konservatif yaitu masih dengan tatap muka dan penggunaan media papan dengan metode SIBI. Dengan media pembelajaran maka pembelajaran dan pelatihan akan berjalan lebih efektif dan efisien. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru mengalami kesulitan untuk menyampaikan materi tentang mendengarkan. Selama ini siswa hanya diminta untuk membaca, sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan belum tercapai dengan baik dan pembelajaran menjadi menjenuhkan bagi siswa. Untuk itu pengembang membuat alternatif pemecahan masalah melalui upaya merancang dan membuat produk sajian dalam bentuk CD interaktif pembelajaran, sedangkan materi yang tertuang dalam CD interaktif pembelajaran yang dikembangkan ini adalah materi tentang pelajaran Bahasa Inggris pada SDLB kelas V. Pengembangan dilaksanakan di SDLB Pertiwi Ponorogo. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens, serta uji hasil belajar untuk subyek penelitian. Metode pengembangan yang digunakan adalah Model Sadiman dengan prosedur pengembangan terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis yang tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi. Berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran CD Interaktif pelajaran Bahasa Inggris diuji cobakan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh hasil sebesar 93,75%, ahli materi diperoleh hasil sebesar 95%, siswa dalam uji coba perseorangan diperoleh hasil sebesar 94%, hasil uji coba lapangan dengan nilai rata-rata 80,8 sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran CD Interaktif yang dikembangkan efektif dan termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya produk CD interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media alternatif kebutuhan sumber belajar bagi SDLB Pertiwi Ponorogo. Dapat dijadikan media pembelajaran individu bagi siswa ataupun sebagai media presentasi bagi guru pengajar dalam proses pembelajaran di ruang kelas. Bagi pengembang berikutnya diharapkan dapat terus mengupdate materi yang ada dalam CD interaktif pembelajaran tersebut.

Pembelajaran tari reyog dhodhog pada kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 1 Boyolangu / Ayu Ratri Pratiwi

 

Kata kunci: Pembelajaran, Tari Reyog Tulungagung, Ekstrakurikuler Pembelajaran diartikan sebagai suatu proses menciptakan lingkungan sebaik- baiknya agar terjadi kegiatan belajar yang berdayaguna. Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang sejalan dengan pendidikan formal, maksudnya kegiatan yang diselenggarakan di sekolah tetapi di luar jam pelajaran pedidikan formal. Kegiatan ekstrakurikuler yang dipilih sebagai obyek penelitian adalah seni tari dimana di dalamnya diajarkan satu kesenian khas daerah setempat yaitu Reyog Dhodhog. Instansi yang dipilih sebagai objek penelitian adalah SMPN 1 Boyolangu yang memiliki banyak prestasi diberbagai bidang salah satunya seni tari. Selain itu juga banyak siswa yang berbakat dan berminat di bidang kesenian, baik siswa putra maupun siswa putri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) tari Reyog Dhodhog di Tulungagung, (2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler, (3) faktor pendukung dan penghambat kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan secara bersamaan pada saat penelitian dengan tahap-tahap penelitian sebagai berikut: tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, tahap penarikan kesimpulan/verifikasi. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah seniman dan guru kegiatan ekstrakurikuler. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tari Reyog Dhodhog yang diajarkan sesuai dengan yang berkembang di kalangan seniman dan masyarakat, (2) kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler menggunakan metode demonstrasi, ceramah, tanya jawab, dan penugasan, (3) faktor pendukung kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler adalah sarana dan prasarana dapat menunjang kegiatan, faktor penghambat kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler adalah guru ekstrakurikuler tari hanya satu orang. Kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler dilakukan dengan beberapa persiapan meliputi: rancangan kegiatan, materi, metode, media, teknik evaluasi. Dari hasil penelitian ini, kiranya pihak sekolah menambah tenaga pengajar ekstrakurikuler seni tari agar kegiatan ekstrakurikuler dapat berjalan lebih optimal sehingga dapat memberikan prestasi yang lebih membanggakan bagi sekolah.

Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Kandat / Wahyuni

 

Kata Kunci: Implementasi, Kurikulum, IPS Terpadu, KTSP Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing. KTSP sebagai inovasi terbaru dalam rangka peningkatan kualitas kurikulum tidaklah mudah diterapkan secara universal dan instant, bahkan Kementrian Pendidikan Nasional menargetkan paling lambat tahun 2010/2011 semua sekolah telah melaksanakan KTSP secara menyeluruh. Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Kandat? (2) kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam mengimplementasikan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 1 Kandat? Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif pasif (passive participation), wawancara mendalam (in dept interview), studi dokumentasi. Menguji objektivitas dan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaksi (interactive analysis models) Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) dalam kegiatan pembelajaran guru IPS Terpadu telah menyusun program-program sesuai dengan acuan dalam KTSP, program tersebut seperti program tahunan, program semester, program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program pengembangan diri. (2) pengembangan silabus oleh guru IPS Terpadu masih mengadopsi model silabus dari Kemendiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah (3) dalam penyusunan silabus guru IPS Terpadu tidak mengalami hambatan yang berarti karena dalam penyusunannya dikerjakan secara bersama-sama dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah (4) dalam hal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru IPS Terpadu diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan silabus dengan kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik (5) penyusunan RPP oleh guru IPS Terpadu dilakukan secara sekaligus untuk beberapa pertemuan, hal ini disebabkan adanya kesibukan (6) pada awal pembelajaran guru IPS Terpadu melakukan kegiatan apersepsi, namun tidak pernah mengadakan pre-test, guru masih sering menggunakan metode ceramah, namun hanya untuk membantu siswa dalam memahami (7) dalam pembelajaran guru telah menerapkan berbagai metode dan media yang variatif ii (8) evaluasi hasil belajar dilakukan guru melalui (10) penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam aspek penguasaan konsep dan penerapan konsep. Guru telah menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas dengan mengadakan program remidi dan program pengayaan. Kendala dalam implementasi KTSP pada pembelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Kandat antara lain lemahnya kemampuan guru dalam melakukan penilaian secara mandiri, terbatasnya waktu, biaya serta tenaga dalam penggunaan metode-metode pembelajaran, terjadinya integrasi (penggabungan) pada mata pelajaran ilmu-ilmu sosial menjadi IPS terpadu, kurangnya kesiapan siswa untuk belajar mandiri. Dari hasil penelitian tersebut maka disarankan (1) guru yang belum menguasai materi yang bukan bidangnya harus belajar kepada guru lain yang sesuai dengan bidangnya agar mampu menyampaikan semua materi yang terintregasi dalam IPS Terpadu (2) guru hendaknya dapat mengembangkan kreatifitasnya sendiri dalam menyusun silabus dengan menyesuaikan kondisi dan potensi sekolah (3) guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam penggunaan metode pembelajaran (4) bagi pihak sekolah hendaknya secara berkala mengadakan kegiatan seminar, workshop serta rapat kerja mengenai KTSP, sehingga pemahaman guru tentang KTSP akan semakin meningkat.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIII C semester I SMP laboratorium Universitas Negeri Malang pada kompetensi dasar mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penangg

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model GI, Aktivitas, Hasil Belajar Geografi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2011 di kelas VIII C SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang diketahui bahwa 75% kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru mata pelajaran, siswa hanya duduk untuk mencatat dan mendengarkan ceramah guru sedangkan untuk kegiatan tindak lanjut, siswa harus mengerjakan modul yang telah dibuat oleh guru mata pelajaran. Hasil wawancara diketahui bahwa hanya 9 dari 32 siswa yang mampu tuntas dan memenuhi KKM di sekolah yaitu 70. Tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VIII C SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Siswa yang mempunyai nilai rendah diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya melalui model pembelajaran yang diterapkan pada penelitian ini. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom action research). Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dan diberlakukan pada kelas VIII C semester I di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang dan pada pokok bahasan mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penanggulangannya dalam pembangunan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi kelas VIII C SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang setelah pelaksanaan proses pembelajaran GI siklus I dan siklus II. Tes hasil belajar diperoleh peningkatan ketuntasan dari siklus satu yaitu 66% naik menjadi 84% pada siklus dua dari jumlah keseluruhan siswa. Dengan rata-rata nilai hasil belajar pada siklus satu yaitu 66,25 menjadi 78,59 pada siklus dua. Persentase peningkatan pada penelitian ini sebanyak 18,53%. Sedangkan aktivitas belajar pada siklus I yaitu 50% dan siklus II yaitu 88% dengan presentase peningkatan sebesar 20,80%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan yaitu model pembelajaran Group Investigation dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang berguna dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah

Penerapan media tutorial melalui pembelajaran kooperatif model stad untuk meningkatkan prestasi belajar instalasi sistem operasi jaringan bebasis GUI dan teks siswa kelas XI teknik komputer dan jaringan SMP Negeri 1 Mojokerto / Choirul Anwar

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. H. Syaad Patmanthara, M.Pd., (II) Dr. H. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd. Kata kunci: media tutorial, prestasi belajar, sistem operasi jaringan berbasis GUI dan Teks, pembelajaran kooperatif model STAD. Tingkat kelulusan siswa SMK Negeri 1 Kota Mojokerto dua tahun terakhir (tahun pelajaran 2008/2009 dan 2009/2010) mencapai 100 %, sehingga dapat diartikan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan selama ini sudah baik. Namun tetap perlu meningkatkan kualitas pembelajaran setiap kompetensi kejuruan untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Pada kompetensi instalasi sistem operasi jaringan berbasis GUI (Graphical User Interface) dan Teks, masih terdapat beberapa siswa yang diberikan remidi untuk mencapai ketuntasan belajar (kompeten). Hal ini terjadi karena proses pembelajaran kurang bervariasi dan pemanfaatan media yang tidak maksimal. Untuk meningkatkan hasil belajar tersebut maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan video tutorial dan menggunakan metode pembelaaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) Tujuan penelitian tindakan kelas adalah: (1) mendiskripsikan apakah penerapan media tutorial melalui metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kompetensi instalasi sistem operasi jaringan berbasis GUI dan Teks (2) mendiskripsikan apakah penerapan media tutorial melalui metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada kompetensi instalasi sistem operasi jaringan berbasis GUI dan Teks. Peneliti melakukan penelitian tindakan kelas ini di SMK Negeri 1 Kota Mojokerto. Sasaran penelitian adalah siswa kelas XI TKJ-3. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, hasil observasi kegiatan siswa, hasil observasi keterampilan kooperatif siswa, dan hasil angket siswa. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa prestasi belajar siswa pada siklus I ketuntasan siswa mencapai 36,84%, siklus II 57,89%, siklus IIIi 81,58%, dan siklus IV 94,74%. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran meningkat pada setiap siklus. Simpulan penelitian ini adalah penerapan media tutorial melalui metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI TKJ-3 kompetensi instalasi sistem operasi jaringan berbasis GUI dan Teks

Pengaruh motivasi belajar, minat belajar, dan lingkungan belajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akutansi di SMK Ardjuna 2 Malang / Wiratmoko

 

Kata Kunci: motivasi belajar, minat belajar, lingkungan belajar, prestasi belajar siswa Prestasi belajar merupakan suatu pencapaian dari proses belajar siswa. Belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal dan eksternal yang mempunyai peranan penting dalam belajar siswa diantaranya motivasi belajar, minat belajar, dan lingkungan belajar. Motivasi belajar dan minat belajar merupakan faktor intern yang dapat mendorong siswa dalam belajar, sedangkan lingkungan belajar merupakan faktor eksternal yang dapat mendukung belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar, minat belajar, dan lingkungan belajar terhadap prestasi belajar siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa program studi akuntansi SMK Ardjuna 2 Malang tahun pelajaran 2011/2012, dengan sampel yang digunakan adalah siswa kelas XI dan XII. Pengambilan sampel ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh secara parsial motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK Ardjuna 2 Malang, minat belajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK Ardjuna 2 Malang, lingkungan belajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK Ardjuna 2 Malang. Sedangkan secara simultan, terdapat pengaruh motivasi belajar, minat belajar, dan lingkungan balajar terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK Ardjuna 2 Malang. Berdasarkan uraian di atas, terdapat pengaruh motivasi belajar, minat belajar, dan lingkungan belajar terhadap prestasi belajar siswa, baik secara parsial maupun simultan. Saran yang dapat diberikan adalah hendaknya siswa meningkatkan motivasi dan minat dalam belajarnya, dan juga semua pihak untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik, sehingga prestasi belajar siswa menjadi lebih baik.

Perancangan katalog wisata religi sebagai media promosi wisata di Kediri / Kukuh Prayogo

 

Kata Kunci: Perancangan, Katalog, Wisata Religi, Fotografi, Kediri Kediri memiliki potensi luar biasa dalam bidang pariwisata, khususnya wisata religi. Potensi wisata Religi yang dimiliki Kediri antara lain Pura Penataran Agung Kilisuci, Masjid Aulia Sentono Gedong, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Gereja Puhsarang, dan Petilasan Sri Aji Jayabaya. Kurangnya media promosi menjadi alasan mengapa perancangan katalog wisata religi ini dibuat. Sehingga akan menghasilkan media komunikasi visual berupa katalog wisata religi sebagai media promosi wisata di Kediri yang berisi informasi dan menggambarkan suasana tempat-tempat religi di Kediri Perancangan katalog wisata religi sebagai media promosi di Kediri ini disusun dengan model perancangan pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Hal ini dipilih berdasarkan keefektifan model ini dalam merangkum proses perancangan yang dilakukan. Model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Perancangan katalog ini menggunakan teknik fotografi yang merekam gambar setiap detail kejadian penting yang ada pada tempat wisata religi tersebut. Dalam buku katalog ini foto-foto yang disajikan adalah lima tempat wisata religi beserta upacara ritual yang diadakan oleh tempat wisata religi tersebut, yang di dampingi narasi singkat yang menjelaskan setiap foto. Media pendukung yang digunakan x-banner, poster, dan pembatas buku. Kelemahan dari katalog ini biaya produksi yang mahal, proses pembuatan sedikit rumit. Kelebihan sasaran yang terkontrol, hasil cetakan bagus. Diharapkan dengan adanya buku katalog ini dapat dijadikan sebagai salah satu media promosi Kediri sehingga membuka wawasan bagi masyarakat tentang wisata religi di Kediri dan dapat menimbulkan kepedulian terhadap wisata religi di Kediri.

Hubungan antara gaya pengasuhan otoritatif dan self esteem pada siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Elis Annisa

 

Kata Kunci : Gaya Pengasuhan Otoritatif, Self Esteem Siswa menunjukkan sikap mudah putus asa terhadap kesulitan yang dihadapi saat belajar. Hal ini menandakan self esteem yang rendah. Gaya pengasuhan otoritatif memiliki peran dalam membentuk self esteem siswa. Penelitian pada subjek 170 siswa SMA Laboratorium UM bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat gaya pengasuhan otoritatif dari orang tua siswa SMA Laboratorium UM, (2) tingkat self esteem siswa SMA Laboratorium UM, dan (3) hubungan antara gaya pengasuhan otoritatif dan,self esteem pada siswa SMA Laboratorium UM. Penelitian ini bersifat deskriptif dan korelasional dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Gaya pengasuhan otoritatif diukur dengan Skala Gaya Pengasuhan Otoritatif model Likert dan self esteem diukur menggunakan Coopersmith Self Esteem Inventory yang telah diadaptasi. Dari perhitungan reliabilitas Skala Gaya Pengasuhan Otoritatif diperoleh hasil sebesar 0,947dan reliabilitas Skala Self Esteem sebesar 0,922. Perhitungan reliabilitas menggunakan formula reliabilitas internal Alpha Cronbach. Data dianalisis menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar siswa diasuh dengan tingkat gaya pengasuhan otoritatif yang tinggi (61,77%), (2) sebagian besar siswa memiliki tingkat self esteem yang tinggi (56,47%), (3) ada hubungan positif dan signifikan antara gaya pengasuhan otoritatif dengan self esteem pada siswa SMA Laboratorium UM dengan tingkat hubungan cukup (rxy = 0,523 dan p=0,000<0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan: (1) siswa mencari tahu potensi yang dimiliki, hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan tes bakat dan minat, (2) guru dan orang tua mendukung dan memfasilitasi bakat dan minat siswa, (3) guru dan siswa menggunakan kata-kata positif dalam berkomunikasi dengan siswa, (4) bagi peneliti selanjutnya agar memasukkan penilaian orang tua terhadap gaya pengasuhan yang diterapkan.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika siswa VII SMP Aisyiyah Muhammadiyah Malang / Diana Akhlaqul Karimah

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Jigsaw, Hasil Belajar berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa siswa kelas vii SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang, lebih dari 50% siswa dari 26 orang belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditentukan oleh sekolah, yaitu 60 ketuntasan individu. hal ini terlihat dari nilai-nilai ujian yang masih rendah. Permasalahan yang terjadi pada kelas vii adalah rendahnya hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secerea heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggungjawab secara mandiri. Pnelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), subyak penelitian ini adalah siswa kelas vii SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang sebanyak 26 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan wawancara. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitaf. Hasil analisis data setelah penerapan model jigsaw menunjukkan bahwa 1) jumlah siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah 16 anak, dengan prosentase 62% dan jumlah siswa yang cukup aktif ada 10 anak dengan prosentase 38%, tidak ada satupun siswa yang tidak aktif dengan prosentase 0%. 2) Hasil belajar siswa mencapai rata-rata 68,07 dengan prosentase 88% siswa tuntas. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan model pembelajaran jigsaw dapat dijadikan alternatif model pembelajaran dalam kegiatan pembelajajaran matematika kelas vii SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh brand image terhadap proses keputusan konsumen dalam membeli motor honda (Studi pada mahasiswa jurusan manajemen fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang) / Muhammad Andan Permadi

 

Kata Kunci : brand image (citra merek), proses keputusan pembelian Persaingan di dunia bisnis yang semakin ketat membuat konsumen semakin mudah dalam memilih produk karena banyaknya variasi produk yang tersedia. Dalam memilih produk, tentunya konsumen mempertimbangkan terlebih dahulu kualitas dan manfaat bagi produk serta menentukan merek apa yang akan mereka beli. Brand image yang baik dari sebuah produk akan mudah dikenal oleh konsumen karena manfaat serta kesan kualitas yang telah mereka tangkap. Sehingga konsumen akan memilih untuk membeli produk yang citra mereknya baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui variabelvariabel brand image yang mempengaruhi proses keputusan pembelian. Penelitian ini mempuyai dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas (X) terdiri dari sub variabel, yaitu jenis-jenis asosiasi merek (X1), dukungan asosiasi merek (X2), kekuatan asosiasi merek (X3), dan keunikan asosiasi merek (X4), sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah proses keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang pernah membeli motor merek Honda tahun produksi 2006-2011. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik incidental sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi linear berganda, uji asumsi klasik, dan uji t. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa: (1) ada pengaruh positif yang signifikan jenis-jenis asosiasi merek secara parsial terhadap proses keputusan konsumen dalam membeli motor Honda dengan nilai B=0,315; thitung=5,675; dan Sig t=0,000; (2) ada pengaruh positif yang signifikan dukungan asosiasi merek secara parsial terhadap proses keputusan konsumen dalam membeli motor Honda dengan nilai B=0,334; thitung=2,475; dan Sig t=0,015; (3) ada pengaruh positif yang signifikan kekuatan asosiasi merek secara parsial terhadap proses keputusan konsumen dalam membeli motor Honda dengan nilai B=0,416; thitung=3,591; dan Sig t=0,001; (4) ada pengaruh positif yang signifikan keunikan asosiasi merek secara parsial terhadap proses keputusan konsumen dalam membeli motor Honda dengan nilai B=0,398; thitung=3,417; dan Sig t=0,001;. Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa jenis-jenis asosiasi merek, dukungan asosiasi merek, kekuatan asosiasi merek, dan keunikan asosiasi merek mempengaruhi proses keputusan mahasiswa jurusan manajemen fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli motor Honda sebesar 71%, sedangkan sisanya 29,% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar penelitian.

Pengaruh self efficacy, status ekonomi orang tua, dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi SI Pendidikan Akuntansi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Septim Martina Habibie

 

Kata Kunci: Self Efficacy, Status Ekonomi Orang Tua, Motivasi Belajar, dan Prestasi Belajar Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategis untuk mencapai tujuan individual bagi yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal. Orang-orang yang belajar di perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mempunyai kemampuan kognitif tetapi juga harus mempunyai self efficacy yang merupakan bagian dari sikap (attitude) dan motivasi yang kuat untuk bisa mencapai prestasi belajar yang diinginkan. Kemampuan ekonomi orang tua juga sangat menentukan keberhasilan dalam belajar. Mahasiswa harus benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk dapat menjadi mahasiswa yang berkualitas karena pendidikan di perguruan tinggi membutuhkan biaya yang cukup banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel self efficacy, status ekonomi orang tua, dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Penelitian menggunakan populasi mahasiswa program studi pendidikan akuntansi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebanyak 70 mahasiswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif sedangkan data primer berupa hasil angket untuk variabel self efficacy, status ekonomi orang tua, dan motivasi belajar, sedangkan data sekunder berupa IPK mahasiswa. Teknik analisis adalah analisis regresi berganda. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa self efficacy, status ekonomi orang tua dan motivasi belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar. Dari hasil penelitian juga dapat diketahui bahwa variabel self efficacy mempunyai pengaruh dominan terhadap prestasi belajar. Bagi mahasiswa disarankan dapat menumbuhkan semangat untuk belajar meskipun memiliki status sosial ekonomi yang rendah karena hal itu tidak bisa dijadikan patokan orang tua yang memiliki status sosial ekonomi yang rendah, prestasinya juga akan rendah dan sebaliknya. Mahasiswa juga diharapkan dapat menumbuhkan semangat melalui motivasi mereka belajar dan memupuk self efficacy untuk menjadi lebih tinggi. Bagi pendidik diharapkan mampu menumbuhkan self efficacy mahasiswa serta motivasi belajar para mahasiswa karena peranan pendidik dalam proses pembelajaran sangat penting sehingga prestasi belajar akan maksimal. Bagi peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel-variabel di luar penelitian ini yang bisa untuk menentukan faktor-faktor yang bisa mempengaruhi prestasi belajar yang bersifat internal (kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, bakat) atau faktor eksternal (perhatian orang tua, sosial budaya, dan kegiatan ekstrakurikuler)

Style - shift in Harry Potter series / Meilia Hardianti

 

Keywords: Language, Style-shifting, Conversational Discourse, Types of Sentence Language utilized in a novel series entitled Harry Potter seems to shift along with the advance of the stories. The question that appears afterwards is “how does the language in Harry Potter shift?” This question is tried to be answered by using the theory of Stylistics accompanied by its variation the so called style-shifting. Style-shifting in Harry Potter series is scrutinized through the conversational discourse, which is the representation of what others have said (“reported speech”) as dialogue (“direct speech” or “direct quotation”) rather than third-person report (“indirect speech”), and that “direct speech” is more vivid, more effective, utilized by Harry Potter and the types of sentence employed in Harry’s direct speech in the stories. The result of this study shows that the language in Harry Potter novel indeed shifts along with the development of the series. It is seen from the use of conversational discourse and the types of sentence deployed in Harry’s direct speeches. In conversational discourse, the development can be viewed from the use of indirect discourse that progressively changes to direct discourse. It can be seen through the percentage of the conversational discourse utilized. It portrays that Harry’s chances to speak get bigger and bigger along with the advance of the series. In the types of sentence utilized, Harry uses simple sentences in the very beginning of the series; this deployment then shifts to the more complex sentence structures, which are compound and complex sentences, and then to the most complex one that is compound-complex sentence. These shifts are affected by the change of Harry’s experience and environmental factors along with his growth in the story and can be seen through the percentage presented. This study highlights the style shifting of language deployed by the main character in a novel series entitled Harry Potter seen in the utilization of Harry Potter’s conversational discourse and types of sentence Harry uses in his direct speeches. This study has not been perfect. There are still mistakes and errors that need improving. As a consequence, other studies are still necessary to improve the results of this study and the finding about language development in other novels or series so that the knowledge about the issues scrutinized here is improved and updated.

Pengembangan bahan ajar menulis surat dinas untuk Siswa SMP kelas VIII / Ririn Anggara Setiawati

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, menulis surat dinas Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Banyak orang yang menganggap bahwa kompetensi dasar menulis surat dinas merupakan salah satu materi yang mudah untuk dipelajari. Dari anggapan tersebut, kegiatan pembelajaran menulis surat dinas menjadi tidak maksimal dan cenderung disepelekan. Oleh karena itu, kemampuan siswa dalam menulis surat dinas masih kurang. Guru dituntut mampu menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa agar proses pembelajaran menulis surat dinas dapat berlangsung dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan. Pemilihan bahan ajar menulis surat dinas sesuai dengan siswa SMP karena bahan ajar menyajikan materi dan contoh secara nyata dan lengkap sesuai dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan deskripsi isi bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII, (2) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan sistematika penyajian bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII, (3) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan penggunaan bahasa bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII dan (4) mengembangkan bahan ajar sesuai dengan tampilan dan tata letak bahan ajar menulis surat dinas untuk siswa SMP kelas VIII. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Model pengembangan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model pengembangan 4-D. Model pengembangan ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Dessiminate atau diadaptasikan menjadi model 4-P, yaitu Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran. Model pengembangan ini dipilih karena semua kegiatan dalam penelitian diamati, dianalisis, dan direvisi setiap saat sehingga dapat menghasilkan produk bahan ajar menulis surat dinas yang layak dan sesuai dengan kebutuhan. Produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui tiga kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli materi menulis surat dinas dan ahli pembelajaran menulis surat dinas (2) uji praktisi yakni guru kelas VIII SMP Negeri 1 Badegan, dan (3) uji kelompok kecil siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Badegan yang terdiri dari 15 siswa. Hasil pengembangan dari isi bahan ajar diperoleh dari uji coba dengan dengan ahli materi bermain peran, ahli pembelajaran menulis surat dinas, praktisi, dan siswa. Berdasarkan uji coba dengan ahli materi diperoleh skor 91,6%, uji coba dengan ahli pembelajaran menulis diperoleh skor 66,7%, uji coba dengan praktisi diperoleh diperoleh skor 91,6%, dan uji coba dengan siswa diperoleh skor 91,2%. Berdasarkan analisis data di atas, disimpulkan bahwa dari segi isi bahan ajar tergolong layak dan dapat digunakan dengan melakukan revisi kecil.

Analisis media pembelajaran CD interaktif topik "Air Permukaan dan Pemanfaatannya Bagi Aktivitas Manusia" karya Sulton / Dwi Kurniawati

 

Kata Kunci: Pembelajaran CD Interaktif, Analisis Media Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar berperan sangat penting dan turut menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar sehingga berdam-pak pula pada peningkatan prestasi belajarnya, maka dibutuhkan sebuah media pembelajaran yang dapat menampilkan penyajian materi secara menarik dan informatif dibandingkan dengan membaca media cetak, buku teks, LKS, dan modul atau mendengarkan dari guru saja. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui fungsi media, tampilan media, kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran dan nilai estetika media yang terdapat dalam media pembelajaran CD interaktif topik "Air Pemuka-an dan Pemanfaatannya bagi Aktivitas Manusia" karya Sulton. Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi yang bertujuan untuk membuat referensi-referensi yang dapat ditiru dan sahih data dalam konteknya. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penilaian media pembelajaran berupa pedoman analisis. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan rubrik penilaian media pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran CD interaktif topik "Air Pemukaan dan Pemanfaatannya bagi Aktivitas Manusia" karya Sulton yang terdiri dari fungsi media sebagai konsep yang terdiri dari konsep terdefinisi dan konsep konkrit masih dikategorikan salah, tampilan media sudah cukup baik yang terdiri dari suara, warna, dan animasi tetapi tampilan mengenai teks masih terdapat banyak kesalahan yaitu tentang kebenaran bahasa masih tergolong rendah (dari segi ejaan, kosakata, dan kalimat), kesesuaian isi media pembelajaran de-ngan tujuan pembelajarannya masih banyak yang kurang. Sedangkan nilai estetika media pembelajaran secara keseluruhan sudah bagus Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media pembelaja-ran CD interaktif topik "Air Pemukaan dan Pemanfaatannya bagi Aktivitas Manu-sia" karya Sulton masih memiliki banyak kesalahan terutama dari segi fungsi media sebagai konsep, bahasa, dan tujuan pembelajarannya. Dari hasil kesimpulan disarankan beberapa hal yaitu: (1) guru dapat menjadikan media pembelajaran CD interaktif ini sebagai bahan pembelajaran dengan beberapa catatan yang harus diperhatikan, (2) media pembelajaran CD interaktif karya Sulton perlu direvisi agar layak digunakan dalam proses pembelajaran (3) peneliti lain dapat meng-gunakan media pembelajaran CD interaktif ini untuk dijadikan penelitian ekspe-rimen yang berusahamenguji efektivitasnya dibanding dengan media lain.

Penggunaan media lingkungan untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat berita transitif bahasa Indonesia di kelas II SDN Arjosari 1 Malang / Siti Amzah

 

M.Pd. Kata kunci : Media Lingkungan, Keterampilan Menulis, Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Pembelajaran adalah proses mengontruksi pengetahuan pada diri siswa, kontruksi dalam pembelajaran adalah sesuatu yang sangat kontributif. Pada proses pembelajaran yang aktif, siswa dipandang sebagai subyek bukan sebagai obyek dan kegiatan belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Selain itu siswa berpartisipasi ikut mencoba dan melakukannya sendiri apa yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, fungsi guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal. Salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah media lingkungan, dimana lingkungan yang dimaksud adalah sekitar tempat siswa belajar. Media ini memberikan gambaran yang nyata dan kongkrit dalam proses belajar bagi siswa, sehingga memudahkan bagi mereka untuk memahami konsep-konsep dari mata pelajaran yang sedang dipelajari Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penggunaan media lingkungan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis kalimat berita transitif di kelas II SDN Arjosari I Kota Malang, (2) Mendeskripsikan keterampilan siswa dalam menulis kalimat berita transitif melalui penggunaan media lingkungan di kelas II SDN Arjosari I Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media lingkungan dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat berita transitif siswa kelas II SDN Arjosari I Kecamatan Blimbing Kota Malang Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan tahapan-tahapan adalah: (1) melakukan persiapan bahan, peralatan, petunjuk, dan aturan-aturannya, (2) pelaksanaan dengan menghindari kejadian-kejadian yang dapat mengganggu ketenangan, (3) tindak lanjut dilaksanakan dengan diskusi materi pelajaran, melakukan tes untuk melatih keterampilan, menulis laporan dan memberikan balikan terkait materi. Penggunaan Media Lingkungan dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan siswa menulis kalimat berita transitif siklus I dan II pada siswa kelas II SDN Arjosari I Kecamatan Blimbing Kota Malang Tahun Pelajaran 2010/2011. Peningkatan prestasi ditunjukkan dari nilai rata-rata pada siklus I sebesar 67,03 meningkat pada siklus II dengan rata-rata 85,36. Berdasarkan hal tersebut maka pembelajaran dengan menggunakan Media Lingkungan dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II.

Pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada ibu - ibu PKK konsumen tupperware di RW XIII Sawojajar Malang / Rahmania Wijayanti

 

Kata Kunci: bauran promosi, keputusan pembelian Di era globalisasi, perkembangan teknologi dan informasi berjalan dengan cepat sehingga mempengaruhi konsumen dalam memilih suatu produk menjadi semakin kritis. Salah satu produk yang berkembang saat ini adalah peralatan makan berbahan dasar plastik yang aman untuk digunakan. Perkembangan teknologi dan informasi sekarang ini membuat kesadaran konsumen akan kesehatan semakin meningkat. Selain itu, permintaan konsumen akan produk yang praktis dan inovatif juga akan meningkat. Tupperware Corporation merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi serta memasarkan produk peralatan makan berbahan dasar plastik yang inovatif,praktis, dan aman untuk digunakan. Tupperware Corporation merupakan salah satu perusahaan yang menggunakan strategi bauran promosi. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian adalah pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pembelian konsumen pada Ibu-ibu PKK konsumen Tupperware di RW XIII Sawojajar Malang. Variabel yang berkaitan dengan penelitian ini adalah variabel bebas, dalam penelitian ini adalah bauran promosi yang terdiri dari promosi penjualan (X1), penjualan personal (X2), pemasaran langsungt (X3). Variabel terikat, dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian konsumen ibu-ibu PKK di RW XIII Sawojajar Malang. Populasi pada penelitian ini adalah ibu-ibu PKK di RW XIII Sawojajar Malang yang melakukan tindakan pembelian terhadap produk Tupperware dalam bulan Mei sampai dengan Juni 2011. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode proportional random sampling dimana besarkecilnya sub sample mengikuti perbandingan (proporsi) besar-kecilnya subpopulasi, dan individu-individu yang ditugaskan tiap-tiap sub-populasi diambil secara random dari subpopulasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan ada pengaruh signifikan positif dari variabel promosi penjualan terhadap keputusan pembelian Ibu-ibu PKK konsumen Tupperware di RW XIII Sawojajar Malang, ada pengaruh signifikan positif dari variabel penjualan personal terhadap keputusan pembelian Ibu-ibu PKK konsumen Tupperware di RW XIII Sawojajar Malang, ada pengaruh signifikan positif dari variabel pemasaran langsung terhadap keputusan pembelian Ibu-ibu PKK konsumen Tupperware di RW XIII Sawojajar Malang. Dari hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran untuk Tupperware Corporation untuk menggunakan bauran promosi berupa periklanan dan hubungan masyarakat secara maksimal. Dengan menggunakan seluruh kombinasi bauran promosi secara maksimal, maka perusahaan dapat memaksimalkan pencapaian tujuan penjualannya secara maksimal.

Profil kerja ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan fisika dasar di Universitas Negeri Surabaya / Riza Nurvita Rahmawati

 

Kata Kunci : Kerja Ilmiah, Prestasi Belajar, Fisika Dasar Mata kuliah Fisika Dasar memberikan pemahaman konsep dasar fisika sebagai dasar dalam menempuh mata kuliah selanjutnya yang lebih kompleks. Berdasarkan laporan dosen-dosen fisika banyak mahasiswa yang mengambil mata kuliah Fisika Dasar yang diselenggarakan melalui ceramah dan kegiatan laboratorium tradisional mengalami beberapa kesulitan. Kesulitan tersebut salah satunya adalah pemahaman yang lemah terhadap konsep-konsep Fisika Dasar. Kesulitan belajar yang dialami dapat mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa. Jadi penting untuk mengkaji profil kerja ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan Fisika Dasar di Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika off R dan off NR yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi perkuliahan Fisika Dasar, pedoman wawancara mahasiswa, pedoman wawancara dosen, tes prestasi belajar, dan tes kerja ilmiah yang telah dikembangkan oleh tim pengembang. Sebelum instrumen digunakan, instrumen telah diujicoba dan divalidasi sehingga menghasilkan reliabilitas 0,734 untuk tes prestasi belajar dan 0,832 untuk tes kerja ilmiah. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi perkuliahan Fisika Dasar, wawancara dengan 10 mahasiswa dan wawancara dengan 4 dosen, dan tes prestasi belajar serta tes kerja ilmiah. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu presentase, rerata, dan modus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuliahan Fisika Dasar telah terlaksana dengan baik dan prestasi belajar yang dihasilkan juga dalam kategori cukup baik tetapi semua mahasiswa menyatakan merasa kesulitan dalam perkuliahan Fisika Dasar karena hampir semua mahasiswa belum dapat mencapai ketuntasan dalam semua materi Fisika Dasar. Hal ini juga didukung oleh hasil wawancara dengan 4 dosen yang menginformasikan bahwa sekitar 10% - 40% mahasiswa masih mengalami kesulitan yang tersebar dalam semua sub topik. Untuk mengatasi hal ini, dosen fisika Unesa pada khususnya telah memberikan bantuan yang berupa pemberian hand-out, LKM, dan praktikum tetapi mahasiswa menyatakan lebih senang meminta bantuan kepada teman yang lebih pintar. Sejalan dengan hasil wawancara dengan mahasiswa yang juga membenarkan bahwa dosen telah memberikan bantuan namun belum dapat secara optimal mengatasi kesulitan.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian konsumen (Studi pada Bali Cafe Malang Town Square) / Widowati Dian Pambudi

 

Kata Kunci: bauran pemasaran, keputusan pembelian Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang, dan mendapatkan laba. Sebuah perusahaan dikatakan berhasil menjalankan fungsinya apabila mampu menjual produknya pada konsumen dan memperoleh profit semaksimal mungkin. Keadaan tersebut tentunya menuntut para pemasar untuk mampu mengenali dan memenuhi keinginan konsumen, menciptakan produk-produk yang memiliki daya saing, menentukan pasar sasaran mana yang dapat dilayani dengan sebaik-baiknya oleh perusahaan, merancang produk, jasa dan program yang tepat untuk melayani pasar tersebut. Bali Café Malang Town Square bukanlah satu-satunya pelaku bisnis café di Malang. Terrace Café dan Coffee Toffee adalah café yang juga memiliki kemampuan sepadan dengan Bali Café, meski mereka tetap menonjolkan kekhasan masing-masing, sehingga bisa menjadi media pembeda oleh konsumen. Dengan demikian perusahaan dituntut untuk mampu menyelenggarakan pemasaran yang mampu menarik konsumen dari waktu ke waktu. Bali Café merupakan salah satu dari beberapa café di Kota Malang yang memiliki konsumen loyal. Bali Café merupakan café yang menjalankan strategi bauran pemasaran. Produk yang ditawarkan oleh café ini dapat dikatakan memiliki varian item kopi yang beraneka ragam namun tidak meninggalkan rasa khas kopi. Kelebihan Bali Café bila dibandingkan dengan café lainnya adalah harga yang ditawarkan Bali Café relatif lebih murah. Harga dimulai dari Rp 8.500,00 – Rp 18.500,00. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian adalah pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian konsumen pada Bali Café Malang Town Square. Variabel yang berkaitan dengan penelitian ini adalah variabel bebas, dalam penelitian ini adalah bauran pemasaran yang terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), promosi (X4). Variabel terikat, dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian konsumen pada Bali Café Malang Town Square. Populasi pada penelitian ini adalah konsumen Bali Café yang melakukan tindakan pembelian di Bali Café Malang Town Square tersebut. Dimana penelitian yang dilakukan peneliti pada bulan Oktober 2010 selama 7 hari. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode simple random sampling yang artinya pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan ada pengaruh signifikan positif dari variabel produk terhadap keputusan pembelian konsumen pada Bali Café Malang Town Square, ada pengaruh signifikan positif dari variabel harga terhadap keputusan pembelian konsumen pada Bali Café Malang Town Square, ada pengaruh signifikan negatif dari variabel tempat terhadap keputusan pembelian konsumen pada Bali Café Malang Town Square, ada pengaruh signifikan positif dari variabel promosi terhadap keputusan pembelian konsumen pada Bali Café Malang Town Square.Dari hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran untuk Bali Café Malang Town Square yaitu sebaiknya Bali Café Malang Town Square meningkatkan kualitas produk dan keanekaragaman produk dari Bali Café dan juga memberikan cara promosi yang lebih bervariasi daripada hanya lewat media cetak dan potongan harga pada member sehingga pengetahuan masyarakat mengenai produk Bali Café tidak hanya terbatas melalui media cetak yang tanpa memperlihatkan bentuk produk dari Bali Café.

Perancangan desain web maxx organizer di Malang / Bryan Andhika Mayadharma

 

Kata kunci: Perancangan, Desain Web, Maxx Organizer. Maxx Organizer merupakan perusahaan yang sudah 5 tahun berkembang. Perusahaan tersebut merupakan perusahaan lokal yang memiliki potensi strategis. Maxx Organizer memiliki pasar utama lokal daerah, dimana lokasi perusahaan berada. Segmen yang dipilih juga memiliki batas tertentu, memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas.Tujuannya untuk menghasilkan konsep media promosi yang dapat mengkomunikasikan keberadaan perusahaan beserta produk yang dihasilkan perusahaan tersebut dan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural atau model perancangan yang bersifat deskriptif. Hal tersebut meliputi kegiatan identifikasi masalah, analisa dan sintesa serta pengumpulan data, gagasan desain, keputusan desain, prototype, tes pengujian, produksi, dan promosi. Berdasarkan data yang terkumpul, baik melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, diketahui bahwa website “Maxx Organizer” memerlukan sebuah media untuk menyampaikan pesan keberadaan dan produk yang dihasilkan berupa website yang memiliki kelanjutan setiap tahunnya beserta booklet sebagai media pendukungnya yang memiliki kelanjutan setiap tahunnya Dalam perancangan desain web Perusahaan Maxx Organizer memiliki konsep berbeda pada tiap tahunnya, yaitu web tahun 2012 dengan konsep memories, web tahun 2013 dengan konsep classic elegant minimalis, dan web tahun 2014 dengan konsep tampilan minimalis. Media pendukung yang digunakan booklet. Kelemahan dari media yang relatif baru, dan penguna rendah di beberapa negara. Kelebihan dari web selektifitas tinggi, dan biaya relatif rendah. Diharapkan dengan adanya web ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk memperkenalkan Perusahaan Maxx Organizer di masyarakat luas, dan sebagai salah satu media promosi yang berguna bagi Perusahaan Maxx Organizer dimasa yang akan datang.

Pengembangan Learning Content Managemen System (LCMS) mata pelajaran geografi kelas X SMA Negeri 1 Ngadirojo Pacitan / Dhimas Rony Wijanarko

 

Kata kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Web, Geografi Kemajuan teknologi modern telah berpengaruh besar terhadap perubaha- perubahan yang mendasar diberbagai kehidupan. Termasuk dunia pendidikan yang terus mengalami perkembangan dan peningkatan. Seiring dengan laju perkembangan teknologi, pendidikan sekarang ini melakukan perubahan dan pembenahan terhadap seluruh komponen sistem pendidikan. Sistem pendidikan tidak hanya membutuhkan metode pembelajaran namun juga media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan sehingga untuk memilih salah satu metode belajar tertentu, akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai. Pemilihan media harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan memperhatikan karakteristik media yang bersangkutan. Berdasarkan observasi di SMA Negeri I Ngadirojo Pacitan, salah satu mata pelajaran yang sedang berkembang adalah Mata Pelajaran Geografi. Mata pelajaran tersebut mempunyai materi-materi yang lengkap dengan metode mengajarnya. Namun, pada SMA Negeri I Ngadirojo Pacitan tersebut, mata pelajaran Geografi masih diajarkan dengan metode tradisional yaitu dengan menggunakan buku ajar. Dengan ini, pengembang mengembangkan sebuah media yang berfungsi untuk media pembelajaran Geografi di SMA Negeri I Ngadirojo Pacitan tersebut. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran berupa web pembelajaran yang telah melalui validasi pada mata pelajaran Geografi di SMA Negeri I Ngadirojo Pacitan Kelas X Media Pembelajaran berbasis Web ini mempunyai kelebihan dan kelemahan, yaitu (1)berubahnya peran siswa dari pasif menjadi aktif, (2) tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu, (3)guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari, (4) siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer., (5) guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.Sedangkan kelemahan dari media ini adalah (1) siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang   tinggi cenderung gagal., (2) semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer), (3) kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal internet,dan komputer Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi,dan tes hasil belajar, pengembangan media pembelajaran berbasis web kepada ahli media dan ahli materi, kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan media pembelajaran berbasis web. Hasil pengembangan media pembelajaran untuk mata pelajaran Geografi kelas X di SMA Negeri I Ngadirojo Pacitan ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 88,75%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 92,5%, uji responden sebagai calon user (siswa) kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 88% dan uji responden sebagai calon user (siswa) uji kelompok besar mencapai tingkat kevalidan 86%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis web untuk mata pelajaran Geografi kelas X di SMA Negeri I Ngadirojo Pacitan, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation dalam meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS-Ekonomi siswa kelas VIII-5 SMP Negeri 14 Malang tahun pelajaran 2011/2012 / Binar Dwiyanto Pamungkas

 

Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif, Group Investigation, Hasil belajar Menurut hasil pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat Praktek Perkuliahan Lapangan (PPL) dan wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi kelas VIII(5) semester genap di SMP Negeri 14 Malang tahun pelajaran 2010/2011 menunjukkan bahwa pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal. Asumsi dasar yang menyebabkan pencapaian kompetensi mata pelajaran ekonomi siswa kurang optimal adalah pemilihan metode pembelajaran dan kurangnya peran serta (keaktifan) siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).Pada tahun ajaran 2010/2011 SMP Negeri 14 Malang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),namun pelaksanaannya belum optimal.Metode mengajar guru masih secara konvensional. Proses belajar mengajar ekonomi masih terfokus pada guru dan kurang terfokus pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan lebih didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Peran serta siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan diskriminasi dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang aktif dalam KBM cenderung lebih aktif dalam bertanya dan menggali informasi dari guru maupun sumber belajar yang lain sehingga cenderung memiliki pencapaian kompetensi belajar yang lebih tinggi. Siswa yang kurang aktif cenderung pasif dalam KBM, mereka hanya menerima pengetahuan yang datang padanya sehingga memiliki pencapaian kompetensi yang lebih rendah. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dikembangkan suatu metode pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Selain itu, melalui pemilihan metode pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama mata pelajaran ekonomi. Jenis penelitian ini adalah penelotian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini direncanakan dua siklus pembelajaran. Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran kooperatif Group Investigation. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas kooperatif serta hasil belajar siswa. Peneliti ii terlibat langsung dalam proses penelitian dari awal hingga akhir pembelajaran. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan mengevaluasi seluruh kegiatan selama pembelajaran berlangsung. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 14 Malang dengan subyek kelas VIII-5 dengan jumlah siswa 42 orang, materi pasar sebagai pokok bahasan. Proses pembelajaran yang digunakan meliputi kegiatan persiapan, perencanaan tindakan, kegiatan kelompok, presentasi kelas, dan evaluasi. Temuan penelitian dalam siklus I dan siklus II adalah (a) langkah pembelajaran pada siklus I mencapai prosentase 70,809% dan pada siklus II adalah 79,833%,dari hasil post test siklus I dan post test siklus 2 terlihat bahwa terjadi peningkatan 12,743% hasil belajar siswa kelas VIII-5 SMP Negeri 14 Malang. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan beberapa hal sebagai berikut. Pembelajaran kooperatif model Group Investigation baik untuk diterapkan karena disamping mengandalkan kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan temannya dalam membantu menguasai materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif model Group Investigation juga membantu siswa untuk memiliki beberapa keterampilan sosial seperti bekerjasama, berbagi tugas, mendengarkan pendapat orang lain, menghargai pendapat orang lain, kemampuan bertanya dan lain-lain yang sangat jarang diberikan dalam penerapan pembelajaran tradisional. Hendaknya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk model Group Investigation dengan materi pelajaran yang berbeda serupa dengan materi yang telah diambil penulis, juga dalam pembelajaran Group Investigation ini guru perlu merencanakan waktu pembelajaran dengan tepat agar proses pembelajaran ekonomi berjalan efektif dan efisien.

Penerapan pembelajaran LC 5E dengan pendekatan sets untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan motifasi belajar fisika siswa kelas VIII - I SMPN 10 Malang / Imroatul Maghfiroh

 

Kata Kunci : pembelajaran LC 5E dengan pendekatan SETS , kemampuan kerja ilmiah, motivasi belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII-I SMPN 10 Malang diperoleh informasi bahwa: 1)siswa memiliki motivasi yang rendah, hal ini terbukti pada saat guru menerangkan hampir 60% siswa masih belum siap dengan pembelajaran, pada saat guru memberikan pertanyaan kurang dari 15% siswa yang mengacungkan tangan, siswa tidak perhatian terhadap tugas yang diberikan oleh guru, tugas yang dikumpulkan tidak tepat waktu, suasana kelas yang tidak kondusif dan ramai saat pembelajaran, siswa juga kurang percaya diri dalam mengungkapkan ide dalam kegiatan diskusi kelas, 2) guru kurang menghubungkan pelajaran fisika dengan fenomena kehidupan sehari-hari, 3) kegiatan praktikum sudah dilaksanakan tetapi masih jarang sekali, 4) penilaian terhadap kerja ilmiah belum pernah dilakukan, sehingga sulit untuk memperoleh informasi komponen kerja ilmiah yang belum terlaksana dengan baik. Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa dan motivasi belajar fisika siswa adalah pembelajaran LC 5E dengan pendekatan SETS. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan motivasi belajar fisika siswa kelas VIII-I SMPN 10 Malang melalui penerapan pembelajaran LC 5E dengan pendekatan SETS. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tindakan yang diberikan adalah penerapan pembelajaran LC 5E dengan pendekatan SETS. Penelitian dilakukan di SMPN 10 Malang dengan subjek penelitian kelas VIII-I dengan jumlah 42 siswa, terdiri dari 18 siswa perempuan dan 24 siswa laki-laki. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi kemampuan kerja ilmiah, lembar observasi motivasi, dan angket motivasi belajar siswa. Kemampuan kerja ilmiah dan motivasi belajar dikatakan berhasil jika tiap aspek telah mencapai kriteria baik (70%) dari skor maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran LC 5E dengan pendekatan SETS dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan motivasi belajar fisika siswa kelas VIII-I SMPN 10 Malang. Keterlaksanaan pembelajaran LC 5E dengan pendekatan SETS meningkat dari Siklus I ke siklus II sebesar 19,12%. Kemampuan kerja ilmiah siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 9,14%. Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 9,14 %.

Pengembangan media video pembelajaran konduktor dan isolator panas kelas VI semester 1 tahun ajaran 2011/2012 SDN Tanjungrejo 1 Malang / Anastasia Windarinii

 

Kata kunci: Pengembangan, Media Video Pembelajaran, Konduktor dan Isolator Panas. Media video mempunyai kemampuan untuk memperluas wawasan pengetahuan pemirsa dengan menampilkan informasi dan pengetahuan baru dan pengalaman belajar yang sulit diperoleh secara langsung oleh pemirsa. Penggunaan media video dalam proses belajar akan mampu mengarahkan terjadinya respon tertentu dari pemirsa sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal dengan kepala sekolah dan guru kelas VI SDN Tanjungrejo 1 Malang tanggal 28 April 2011, didapatkan bahwa kebanyakan pembelajaran IPA, masih menggunakan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah dan pemberian LKS (Lembar Kerja Siswa). Di sekolah ini motivasi belajar siswa juga masih tergolong rendah karena kurangnya variasi dalam metode pembelajaran yang diberikan oleh guru sehingga siswa terkadang merasa jenuh dan kurang adanya kenyamanan dalam belajar. Pengembang merasakan perlunya kegiatan belajar yang dapat menarik perhatian siswa, memberikan kenyamanan belajar dan membantu agar siswa tidak merasa jenuh di dalam kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket dan tes hasil belajar. Media video pembelajaran ini divalidasikan kepada ahli media, ahli materi, dan siswa/audiens. Hasil persentase validasi ahli media sebesar 97,5% berdasarkan kriteria, media video pembelajaran konduktor dan isolator panas termasuk kualifikasi valid, sedangkan ahli materi didapatkan skor presentase sebesar 95% berdasarkan kriteria, media video pembelajaran konduktor dan isolator panas termasuk kualifikasi valid, dari audiens/ siswa satu lawan satu didapatkan skor presentase sebesar 95% berdasarkan kriteria, media video pembelajaran konduktor dan isolator panas termasuk kualifikasi valid, dari audien/ siswa kelompok kecil didapatkan skor presentase sebesar 99,5% berdasarkan kriteria, media video pembelajaran konduktor dan isolator panas termasuk kualifikasi valid. Untuk Tes Hasil Belajar, dari 39 siswa 37 siswa telah memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Hasil persentase untuk tingkat keefektifan penggunaan, media video pembelajaran konduktor dan isolator panas ini mencapai 95%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media video ini bisa dikatakan efektif, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran konduktor dan isolator panas.

Model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif pada pelajaran IPA siswa kelas VII semester 1 SMP PGRI 1 Ngraho Bojonegoro / Nindha Ayu Berlianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran berbasis masalah, Kemampuan berpikir kritis, Kemampuan berpikir kreatif. Observasi awal yang dilakukan di kelas VII-A SMP PGRI 1 Ngraho Bojonegoro menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa masih kurang dalam hal mengenal dan memecahkan masalah, membuat hipotesis, membuat kesimpulan dan mengembangkan pendapat, dengan persentase rata – rata kemampuan berpikir kritis sebesar 53.2 %. Keterampilan berpikir kreatif siswa masih kurang dalam hal dalam kelancaran (sifat – sifat yang sama dan menyusun kata), keluwesan dan kemampuan untuk berpikir asli (penggunaan luar biasa), dengan persentase rata – rata kemampuan berpikir kreatif sebesar 51.2 %. Berdasarkan kenyataan tersebut perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat membangun keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif yaitu model pembelajaran berbasis masalah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dampak penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif siswa. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang terdiri atas dua siklus dengan 8 kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-A SMP PGRI 1 Ngraho Bojonegoro dengan jumlah 30 siswa. Pokok bahasan yang digunakan pada penelitian ini adalah besaran dan pengukuran. Instrumen penelitian berupa RPP, LKS, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran berbasis masalah, lembar observasi keterampilan berpikir kritis, catatan lapangan, tes keterampilan berpikir kreatif. Teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan rata – rata persentase kemampuan berpikir kritis dari 53.2 % pada observasi awal meningkat menjadi 58.5 % pada siklus satu dan 73.3 % pada siklus II. Keterampilan berpikir kreatif siswa 51.2 % pada observasi awal meningkat menjadi 58.3 % pada siklus I dan 65.1 % pada siklus II. Keterlaksanaan pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah meningkat 71 % pada siklus I dan 86 % pada siklus II

Peningkatan kompetensi menggambar peta situasi melalui latihan menggambar garis kontur bagi siswa kelas X di SMK Negeri 1 Singosari dan SMK Pekerjaan Umum Malang / Suharto

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Ke-juruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Achmad Tutjik Moechid, M.Sc, Ph.D; (II) Drs. H. Ahmad Dardiri, M.Pd. Kata kunci: kompetensi, peta situasi, survai dan pemetaan, garis kontur. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan peningkatan kompetensi siswa pada penggambaran Peta Situasi di Kelas X Program Keahlian Survai dan Pemetaan di SMK Negeri 1 Singosari dan SMK Pekerjaan Umum Malang melalui latihan meng-gambar garis kontur dan pengukuran beda tinggi dengan kisi-kisi. Metode yang digunakan adalah metode latihan/drill menggambar garis kontur dan pengukuran beda tinggi dengan kisi-kisi. Tiga siklus pembelajaran yang diguna-kan yaitu: Siklus 1) Perhitungan interpolasi dan latihan/drill menarik garis kontur; Siklus 2) Latihan/drill menarik garis kontur; dan Siklus 3) Praktik pengukuran peta situasi dilanjutkan dengan perhitungan ketinggian titik dan menggambar peta situasi dilengkapi dengan garis kontur dengan skala yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pada akhir siklus 1, dari sejumlah 32 sis-wa SMK Negeri 1 Singosari, 21 siswa (65,63%) telah kompeten dengan nilai di atas Kritria Ketuntasan Minimal (KKM) 7,00 dengan rerata 7,19; selebihnya 11 siswa (34,37%) belum kompeten dengan nilai rerata 6,23. Diantara siswa yang belum kom-peten 5 siswa (15,63%) memerlukan tambahan waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Sedangkan di SMK Pekerjaan Umum Malang, dari 12 siswa didapatkan 7 siswa (58,33%) telah kompeten menarik garis kontur dengan nilai rerata 7,07 dan 5 siswa (41,67%) belum kompeten dengan nilai rerata 5,90 diantara ke lima siswa tersebut 3 siswa memerlukan tambahan waktu penyelesaian tugas. Pada Siklus 2 hasilnya me-nunjukkan bahwa ada peningkatan nilai hasil belajar siswa. Di SMK Negeri 1 Singo-sari didapatkan 26 siswa (81,25%) dinyatakan kompeten menarik garis kontur dengan nilai rerata 7,23 dan 6 siswa (18,75%) belum kompeten dengan nilai rerata 6,17. Diantara 6 siswa tersebut 3 siswa (9,38%) memerlukan tambahan waktu penyelesaian tugas. Sedangkan di SMK Pekerjaan Umum Malang didapatkan 9 siswa (75,00%) telah kompeten dengan nilai rerata 7,33 dan 3 siswa (25%) dinyatakan belum kom-peten dengan nilai rerata 6,00 serta 2 siswa (16,67%) memerlukan tambahan waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Pada siklus 3 dilaksanakan praktik pengukuran situasi dilanjutkan dengan menghitung ketinggian titik dan menggambar peta situasi lengkap dengan garis kontur. Hasil akhir menunjukkan bahwa semua siswa di SMK Negeri 1 Singosari (32 siswa) dan di SMK Pekerjaan Umum Malang (12 siswa) atau 100% telah kompeten atau memperoleh nilai akhir di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai rerata di SMK Negeri 1 Singosari 8,36 sedangkan di SMK Pekerjaan Umum Malang 7,82. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, maka saran yang diajukan adalah se-bagai berikut: (1) guru seharusnya memberikan latihan/drill menggambar garis kontur sampai tarikan garisnya halus dan ketebalan garisnya rata; (2) pengukuran peta situasi hendaknya menggunakan metode kisi-kisi dan dilaksanakan di lokasi yang terdapat bangunan lain misalnya jalan dan saluran; dan (3) latihan menggambar peta situasi dengan komputer hendaknya dimulai sejak siswa duduk di kelas XI sebelum siswa melaksanakan praktik kerja industri.

Identifikasi rongga septic tank dengan menggunakan metode geolistrik sounding mapping konfigurasi wenner di desa Glanggang Pakisaji Malang / Iva Sa'id Dwi Febri Anita

 

Kata Kunci : Geolistrik, Konfigurasi Wenner, Sounding mapping , Rongga Septic Tank, Res2ndiv. Telah dilakukan penelitian tentang lapisan tanah berongga di desa Glanggang Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi rongga septic tank dengan daerah yang tidak terdapat rongga. Daerah penelitian merupakan sebuah perumahan yang mana lokasi penelitian berada di belakang rumah penduduk di desa tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner. Pengambilan data dilakukan pada dua lintasan. Lintasan pertama pada daerah berongga yang memiliki posisi bentang 42 meter dan lintasan kedua pada daerah tidak berongga yang posisi bentangnya 36 meter. Data yang didapat dari lapangan berupa arus dan beda potensial. Hasil inverse menggunakan software Res2div menunjukkan bahwa nilai resistivitas lapisan bawah permukaan pada daerah rongga dengan panjang bentangan 42 meter, anomali rongganya terdapat pada bentangan 16 m – 18 m dan 22 m – 24 m dengan lebar rongga masing-masing 2 meter, yang dibuktikan dengan nilai resistivitas tinggi pada kedalaman 1,5 m – 3,7 m yaitu sebesar 234 Ωm. Pada anomali rongga I didapatkan resistivitas tinggi pada kedalaman 1,5 m – 2,55 m. Pada anomali rongga II didapatkan pada resistivitas tinggi pada kedalaman 1,55 m – 3,70 m. Ini telihat jelas bahwa harga resistivitas maupun kedalaman anomali rongga II tampak lebih besar daripada anomali rongga I. Sebenarnya resistivitas pada daerah rongga bisa mencapai nilai yang besar, namun pada kenyataannya anomali rongga hanya bisa mencapai nilai resistivitas sebesar 234 Ωm. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor – faktor alam yang ada pada daerah penelitian. Faktor – faktor yang mempengaruhinya ialah air yang ada di bawah permukaan yang merembes sampai ke lapisan paling atas sehingga menyebabkan rongga menjadi lembab. Pada daerah tidak berongga semakin kedalam harga resistivitasnya semakin rendah daripada dengan yang ada pada daerah berongga. Ini membuktikan bahwa batuan porous yang berisi air atau air asin tentu lebih konduktif karena resistivitas-nya rendah jika dibandingkan dengan batuan yang sama yang pori- porinya hanya berisi udara (kosong).

Pengaruh penerapan model pembelajaran answered questions stick terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas 8 SMP Laboratorium UM Malang / Elok Tridiyanti Rachma

 

Kata Kunci: Answered Questions Stick, hasil belajar geografi Melalui pembaharuan di bidang kurikulum dan pembelajaran yang semula berpusat pada guru beralih berpusat pada murid, mengubah sistem pembelajaran yang awalnya lebih menekankan pada penguasaan materi menjadi sistem pembelajaran yang lebih menekankan pada keterampilan proses dan kemampuan siswa dalam menemukan dan memahami materi pembelajaran yang dipelajari. Dalam pembaharuan sistem pembelajaran tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa serta dapat menciptakan suasana pembelajaran menjadi menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan sehingga siswa dapat menerima materi pembelajaran dengan baik adalah model pembelajaran Answered Questions Stick. Keunggulan model ini adalah menguji kesiapan siswa, melatih siswa untuk mengungkapkan gagasan, meningkatkan motivasi belajar siswa, dan menjadikan siswa lebih giat belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Answered Questions Stick terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas 8 SMP Laboratorium UM Malang materi Permasalahan Kependudukan dan Dampaknya terhadap Pembangunan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dikembangkan dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian ini yakni kelas 8 D sebagai kelas eksperimen dan kelas 8 E sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes subjektif. Data pada penelitian ini terdiri dari data prates (kemampuan awal siswa), data pascates (kemampuan akhir siswa), dan data hasil belajar IPS Geografi siswa. Data hasil belajar siswa diperoleh dari selisih antara skor pascates dan skor prates (gain score). Gain score tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan uji-t dua sampel tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata gain score kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, yakni 18,97 untuk kelas eksperimen dan 13,73 untuk kelas kontrol. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,015 < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Answered Questions Stick terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas 8 SMP Laboratorium UM Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru IPS Geografi untuk menggunakan model pembelajaran Answered Questions Stick sebagai variasi model pembelajaran karena dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain, penelitian ini hanya terbatas pada materi Permasalahan Kependudukan dan Dampaknya terhadap Pembangunan, untuk itu disarankan untuk dilakukan pada materi yang lain.

Pengaruh doping Mn dan variasi lama high energy milling terhadap pembentukan fase kristal kekerasan dan dielektrisitas nano partikel Fe3-xMnxO4 / Riza Nurvita Rahmawati

 

Kata Kunci: High Energy Milling, Doping Mn, Fe3O4, Kekerasan Bahan, Dielektrisitas. Magnetit (Fe3O4) telah menjadi perhatian ilmu dan tekhnologi selama beberapa dekade terakhir. Sifat magnet, optis dan katalitiknya yang menarik sehingga menjadikan magnetit merupakan oksida besi yang paling banyak dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi. Luasnya aplikasi material ini menuntut adanya metode sintesis yang relatif cepat. Pada penelitian ini menawarkan metode High Energy Milling (HEM), yang hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat dengan jumlah yang relatif banyak, suhu rendah, peralatan yang sederhana dan dapat mereduksi ukuran partikel. Metode HEM merupakan teknik unik dengan menggunakan energi tumbukan antara bola-bola penghancur dan dinding chamber yang digerakkan dengan cara tertentu, metode HEM ini mampu mereduksi ukuran material sampai dibawah 10 nm. Bahan dasar untuk mensintesis senyawa Fe3O4 adalah pasir besi yang ada di Tulungagung. Pada awalnya pasir besi digerus dengan penggerus elektrik kemudian dicuci berulang-ulang dengan aquades sampai bersih dari pengotornya kemudian pasir besi diekstrak dengan menggunakan magnet permanen untuk meningkatkan kemurnian bahan dengan menghilangkan bahan pengotor. Bahan yang telah diekstrak kemudian digerus kembali menggunakan HEM dengan lama penggerusan divariasi dan penambahan konsentrasi Mn yang berbeda-beda. Setelah itu bahan di kompaksi dengan tekanan 90 Kg/Cm2 dan di sintering dengan suhu 11000C. Fase dan struktur kristal sampel diuji menggunakan XRD, kekerasan bahan dikarakterisasi menggunakan Mikro Vikers, dan dielektrisitas dikarakterisasi menggunakan kapasitansimeter digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar puncak yang terdapat pada semua sampel merupakan puncak-pucak yang dimiliki oleh fase magnetit. Lebih lanjut, nilai parameter kisi bertambah naik seiring dengan bertambahnya jumlah konsentrasi Mn. Sama halnya yang terjadi pada volume kisi Pada saat dilakukan uji kekerasan bahan menunjukkan bahwa semakin banyak konsentrasi Mn dan semakin lama HEM dapat meningkatkan karakteristik kekerasan senyawa Fe3O4. Konstanta dielektrik dipengaruhi oleh variasi konsentrasi Mn dan lama HEM.

Pengaruh varietas stroberi (Fragaria vesca) dan kadar gula terhadap kualitas nata berdasarkan tebal,berat dan kadar serat nata dari stroberi sebagai bahan ajar biologi di SMA / Tri Sakti Andayani

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S. Kata Kunci: nata dari stroberi, diversifikasi pangan, bahan ajar, Bioteknologi. Stroberi merupakan salah satu jenis buah-buahan yang disukai oleh masyarakat. Daya pikatnya terletak pada bentuk dan warna buahnya yang merah mencolok dan rasanya manis masam menyegarkan. Masyarakat pada umumnya memanfaatkan buah stroberi sebagai buah meja, sirup, dodol, juice, selai, atau manisan. Sebagai salah satu daerah pariwisata di Jawa Timur, Kota Wisata Batu mempunyai dua macam buah unggulan yaitu buah apel dan buah stroberi. Stroberi termasuk jenis buah yang sensitif dan cepat rusak, serta umur masa simpannya relatif singkat. Hal ini disebabkan oleh kulit buahnya yang sangat tipis sehingga kulit buah mudah terluka dan cepat rusak akibat benturan fisik ataupun karena terkontaminasi oleh mikroorganisme bakteri maupun kapang. Stroberi merupakan buah tahunan yang dapat dipanen sepanjang tahun. Namun selama musim panen di dapat kurang lebih 20% buah stroberi rusak atau busuk dan dapat mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Oleh karena itu buah yang rusak atau busuk, bahkan yang bentuk buahnya jelek dapat dibuat menjadi bahan olahan baru melalui diversifikasi pangan menjadi produk olahan baru sebagai bahan baku nata dari stroberi dengan cara membuang bagian yang busuk atau rusak sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah 1) menguji perbedaan kualitas nata antara stroberi varietas California dan varietas Sweet charlie terhadap tebal, berat, dan kadar serat nata dari stroberi, 2) menguji perbedaan kualitas nata berdasarkan kadar gula antara 50 gram, 100 gram, 150 gram, dan 200 gram terhadap tebal, berat, dan kadar serat nata dari stroberi, 3) mengetahui pengaruh interaksi antara varietas stroberi dan kadar gula terhadap kualitas nata dari stroberi berdasarkan tebal, berat, dan kadar serat nata dari stroberi, 4) merancang hasil penelitian tentang pengaruh varietas stroberi dan kadar gula terhadap kualitas nata dari stroberi menjadi bahan ajar Biologi di SMA. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen untuk menguji perbedaan varietas stroberi dan kadar gula terhadap kualitas nata berdasarkan tebal, berat, dan kadar serat nata dari stroberi sebagai bahan ajar Bioteknologi di SMA. Data yang diambil dalam penelitian ini meliputi hasil pengukuran tebal, berat, dan kadar serat lapisan nata dari stroberi yang diperlakuan dengan variasi varietas stroberi dan variasi penambahan kadar gula 50 gram, 100 gram, 150 gram, dan 200 gram dalam setiap 1000 ml sari buah stroberi dan diperam selama 14 hari. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama ada perbedaan kualitas nata antara varietas California dan varietas Sweet charlie terhadap tebal, berat, dan kadar serat lapisan nata dari stroberi. Varietas Sweet charlie memberikan pengaruh paling tinggi terhadap tebal, berat, dan kadar serat lapisan nata dari stroberi dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan varietas California. Kedua ada perbedaan kualitas nata berdasarkan kadar gula antar 50 gram, 100 gram, 150 gram, dan 200 gram terhadap tebal, berat, dan kadar serat lapisan nata dari stroberi. Penambahan kadar gula sebanyak 150 gram memberikan pengaruh paling tinggi terhadap tebal lapisan nata dari stroberi dan hasilnya tidak berbeda nyata dengan penambahan kadar gula sebanyak 200 gram, tetapi berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan kadar gula sebanyak 50 gram dan 100 gram, sedangkan penambahan kadar gula sebanyak 200 gram memberikan pengaruh paling tinggi terhadap berat dan kadar serat lapisan nata dari stroberi dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan kadar gula sebanyak 50 gram, 100 gram, dan 150 gram. Ketiga ada pengaruh interaksi antara kadar gula dan varietas stroberi terhadap tebal, berat, dan kadar serat lapisan nata dari stroberi. Penambahan kadar gula sebanyak 200 gram terhadap varietas Sweet charlie memberikan pengaruh yang paling tinggi terhadap tebal, berat, dan kadar serat lapisan nata dari stroberi dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan kadar gula sebanyak 50 gram, 100 gram, ataupun 150 gram. Untuk varietas California, penambahan kadar gula sebanyak 150 gram berpengaruh paling tinggi terhadap tebal dan berat lapisan nata dari stroberi dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan kadar gula sebanyak 50 gram, 100 gram, ataupun 200 gram, sedangkan penambahan kadar gula sebanyak 200 gram memberikan pengaruh paling tinggi terhadap kadar serat lapisan nata dari stroberi dan hasilnya berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan kadar gula sebanyak 50 gram, 100 gram, dan 150 gram. Hasil penelitian ini selanjutnya dapat digunakan untuk merancang bahan ajar Biologi di SMA pada kompetensi dasar 5.2, yaitu: Mendeskripsikan implikasi bioteknologi pada sains, lingkungan,teknologi, dan masyarakat.

Materi pembelajaran ketermpilan membaca dalam buku sekolah elektronik bahasa indonesia untuk siswa SMP kelas VIII / Ahsin Nosafia Rini

 

Kata kunci: keterampilan membaca, Buku Sekolah Elektronik, materi, penggunaan bahasa Penelitian mengenai materi pembelajaran keterampilan membaca dalam Buku Sekolah Elektronik (BSE) bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII ini bertujuan mendeskripsikan isi materi tersebut dari segi kesesuaian dengan KD dalam kurikulum serta keakuratan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahasa dalam materi pembelajaran keterampilan membaca dari segi kekomunikatifan dan pemakaian bahasa yang memenuhi syarat keruntutan dan keterpaduan alur berpikir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini meliputi skor isi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dan skor penggunaan bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia tersebut. Sumber data penelitian ini ialah materi pembelajaran keterampilan membaca yang diambil dari BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII terbitan Depdiknas dan diunduh melalui situs Depdiknas http://bse.depdiknas.go.id/. Instrumen penelitian yang digunakan berupa panduan penskoran sebagai landasan penentuan skor isi materi keterampilan membaca dalam BSE Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII serta penggunaan bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan memberi skor terhadap isi materi dan penggunaan bahasa sesuai dengan pedoman penskoran. Analisis data dilakukan dengan menghitung skor kumulatif hasil penskoran data yang telah dikelompokkan berdasarkan kompetensi dasar dan butir instrumen. Hasil penghitungan skor secara keseluruhan pada masing-masing aspek ialah sebagai berikut. Dari segi keluasan materi, materi yang dikategorikan luas berjumlah 40.00%, materi yang kurang luas berjumlah 50.00%, sedangkan materi yang sempit berjumlah 10.00%. Secara umum keluasan isi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (76.67%). Dari segi kedalaman materi, penjelasan uraian materi yang telah memadai berjumlah 20.00%, penjelasan yang kurang memadai berjumlah 70.00%, sedangkan penjelasan yang tidak memadai berjumlah 10.00%. Secara umum kedalaman materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (70.00%). Dari segi akurasi prosedur, uraian prosedur yang dikategorikan akurat sebanyak 60.00%, sedangkan yang dikategorikan tidak akurat berjumlah 40.00%. Secara umum akurasi prosedur isi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (80.00%). Dari segi akurasi contoh/ilustrasi, uraian contoh/ilustrasi yang akurat berjumlah (90.00%), sedangkan yang tidak akurat berjumlah (10.00 %). Secara umum akurasi contoh/ilustrasi materi keterampilan membaca dalam BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan cukup baik (90.00 %). Dari segi keterbacaan pesan, penggunaan bahasa yang memenuhi kriteria keterbacaan pesan sebanyak 80.00%, sedangkan yang tidak memenuhi kriteria sebanyak 20.00%. Secara umum keterbacaan pesan dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan baik (90.00%). Dari segi ketepatan kaidah bahasa, penggunaan bahasa yang memenuhi kriteria ketepatan kaidah bahasa berjumlah 70.00%, sedangkan penggunaan bahasa yang belum memenuhi kriteria berjumlah 30.00%. Secara umum ketepatan kaidah bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan baik (85.00%). Dari segi keruntutan dan keterpaduan antarparagraf, penggunaan bahasa yang memenuhi kriteria keruntutan dan keterpaduan antarparagraf sebanyak 85.00%, sedangkan penggunaan bahasa yang belum memenuhi kriteria berjumlah 15.00%. Secara umum keruntutan dan keterpaduan antarparagraf dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII dapat dikategorikan baik (93.33%). Dari segi keruntutan dan keterpaduan antarkalimat, penggunaan bahasa dalam materi keterampilan membaca BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII seluruhnya telah memenuhi kriteria keruntutan dan keterpaduan antarkalimat, sehingga dapat dikategorikan baik (100%). Berdasarkan penelitian ini, saran yang disampaikan penulis di antaranya adalah sebagai berikut. (1) Guru mata pelajaran bahasa Indonesia dapat menggunakan BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VIII sebagai sarana pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran membaca. (2) Penulis perlu meningkatkan kualitas buku teksnya agar diperoleh hasil yang lebih baik jika digunakan dalam pembelajaran. (3) Peneliti selanjutnya perlu mengadakan penelitian dengan fokus yang berbeda, misalnya mengenai keterampilan berbahasa lainnya (menyimak, berbicara, dan menulis), bersastra, atau jenjang yang lain.

Penerapan model pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) untuk meninkatkan hasil belajar siswa kelas X-5 di SMAN 1 Purwodadi Kabupaten Pasuruan / Yustina Wahyu Purbaningsih

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan di SMA N 1 Purwosari, didapatkan suatu keadaan bahwa proses pembelajaran di kelas X-5 masih belum maksimal. Model pembelajaran yang digunakan oleh guru geografi hanya menggunakan model ceramah tanpa melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga siswa cenderung hanya menerima apa yang diberikan oleh guru, dan jarang secara mandiri berupaya memperoleh pengetahuan tersebut. Sebagai dampaknya interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru dalam menguasai kompetensi yang dipelajari belum optimal. Hasil belajar Geografi siswa kelas X-5 tergolong rendah dimana sebagian besar siswa nilainya masih di bawah SKM yang telah ditentukan oleh sekolah. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti mengajukan alternatif model pembelajaran, yaitu dengan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) sebagai salah satu alternative untuk mengembangkan potensi serta kompetensi yang dimiliki siswa, baik potensi kognitif, afektif maupun psikomotor. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan November 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-5 yang berjumlah 40 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa selama pelaksanaan pembelajaran model Numbered Heads Together (NHT) antara lain: pada observasi awal hasil belajar siswa rendah, masih banyak siswa yang nilainya di bawah SKM. Pada siklus I, bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Pada siklus II, bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan dari pada siklus I. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini bahwa penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-5 SMA Negeri Purwosari

Peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran memvoli bola pada kelas IV SDN Welulang I Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan menggunakan metode bermain / Purnomo

 

Kata kunci: peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran memvoli bola, menggunakan metode bermain Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah. Proses pembelajaran pendidikan jasmani dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila dilaksanakan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: “(1) Antusias anak dalam mengikuti pelajaran, (2) Tampak kesungguhannya, (3) Siswa merasa gembira, (4) Aktivitas fisik yang dilakukan siswa terjadi pada ambang yang memadai dan sesuai dengan kemampuan fisik mereka, dan (5) Siswa merasa telah memperoleh keterampilan gerak baru” menurut syarifudin (dalam Setyawan, 2009: 2). Permainan dan olahraga merupakan salah satu ruang lingkup dari mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan untuk Sekolah Dasar Kelas IV Semester Gasal. Salah satu materi pembelajaran dari permainan dan olahraga yaitu memvoli bola. Memvoli adalah sebuah permainan yang dimainkan dengan memukul atau mendorong bola sebelum bola jatuh ke tanah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat terhadap peneliti pada tanggal 27 Oktober 2011 di SDN Welulang I kelas IV semester gasal, terhadap proses pembelajaran memvoli bola keaktifan siswa tidak baik yaitu 36,9%, disamping itu terjadi kekurangan pada pembelajaran guru. Kekurangan-kekurangan tersebut terdapat pada keterampilan dasar mengajar, pengelolaan kelas, dan strategi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran memvoli bola pada kelas IV SDN Welulang I. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan catatan lapangan. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan 4 tahap yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, ahli pembelajaran Pendidikan Jasmani, guru Pendidikan Jasmani lain dan siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada observasi awal presentasi keaktifan siswa tidak baik yaitu 36,9%. Pada siklus I keaktifan siswa meningkat 19,5% menjadi 56,4%. Pada siklus II keaktifan siswa meningkat 28,6% menjadi 85%% dengan kategori baik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa metode bermain yang diberikan oleh guru dalam penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran memvoli bola pada kelas IV SDN Welulang I Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan

Meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran lempar lembing menggunakan pendekatan permainan siswa kelas VIII B SMPK Sang Timur Malang / Omeg Adyan Susanto

 

Kata kunci: meningkatkan keaktifan, pembelajaran, pendekatan permainan, lempar lembing. Di dalam dunia pendidikan, untuk mencapai kualitas pembelajaran yang baik, maka diperlukan juga manajemen kurikulum yang baik pula. Salah satu kurikulum yang dipakai akhir-akhir ini adalah kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Salah satu materi dalam kurikulum tersebut adalah Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan yang merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan terpilih secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pada materi Pendidikan Jasmani terdapat materi yang berisi tentang keterampilan peserta didik dalam melaksanakan olahraga cabang atletik, salah satunya adalah lempar lembing. Demikian juga dengan kurikulum KTSP di SMPK Sang Timur yang menekankan siswa agar siswa dapat menemukan jati diri dengan belajar secara aktif, mandiri, dan kreatif. Salah satu materinya, yaitu pembelajaran lempar lembing, masalah praktis yang dihadapi adalah bahwa peserta didik belum belajar secara aktif dan mandiri. Keaktifan peserta didik kelas VIII B SMPK Sang Timur yang masih kurang dan masih dalam kategori kurang aktif, sehingga peneliti ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan permainan yang digunakan untuk membantu meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VIII B SMPK Sang Timur Malang. Pembelajaran lempar lembing menggunakan lembing standar, mengharuskan siswa belajar di tempat yang jauh dan mengurangi aktivitas siswa yang berakibat pada tingkat keaktifan siswa SMPK Sang Timur yang hanya sebesar 46,56% dengan penjelasan pada masing-masing indikator sebagai berikut: 1) sportivitas dalam bermain sebesar 36,25%, 2) memberi saran pada teman sebesar 48,75%, 3) memperhatikan saran dari teman atau guru sebesar 38,75%, 4) saat pemanasan sebesar 67,50%, dan pada saat materi inti sebesar 46,25%, 5) semangat sebesar 43,75%, kesenangan saat belajar sebesar 45,00%, dan tetap beraktivitas sebesar 46,25%, . Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Dimana pada penelitian ini terdapat empat tahap yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, 4) refleksi yang kemudian bila ternyata belum mencapai target maka diadakan siklus selanjutnya sampai persyaratan belajar terpenuhi. Tindakan dilakukan dengan memodifikasi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan

Perkembangan kreatifitas pada murid SMP dengan sarana pendidikan menggambar hiasan / oleh Sutrisno Dwi Saputro

 

Pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa kelas X SMAN 6 Malang pada materi pencemaran lingkungan / Oktavia Astiana

 

Pengaruh varietas anggur (Vitis sp) dan macam gula terhadap kualitas nata berdasarkan berat, tebal, dan kadar serat sebagai bahan ajar biologi di SMA / Endah Sudarwati

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, dan Pembimbing (II) Prof. Dr. Hj.Mimien Henie Irawati, M.S. Kata Kunci : varietas anggur, macam gula, berat lapisan, tebal lapisan, kadar serat, bahan ajar biologi. Anggur ( Vitis vinifera) adalah jenis buah local di Indonesia dan merupakan produk unggulan kota Probolinggo serta salah satu bahan makanan berserat yang dianjurkan untuk dikonsumsi. Serat yang terkandung dalam buah sangat penting bagi tubuh, karena berpengaruh terhadap penurunan resiko penyakit kanker, melancarkan pencernaan, dan menjaga atau meningkatkan daya tahan tubuh. Masyarakat pada umumnya memanfaatkan tanaman anggur hanya sebagai buah meja, kismis, sari buah (juice), dan sirup minuman. Salah satu cara pemanfaatan anggur yang melimpah untuk diversifikasi pangan yaitu sari buah anggur dapat diolah sebagai bahan untuk pembuatan nata dengan bantuan mikroorganisme, yaitu dapat memperpanjang masa simpan (lebih awet), lebih menarik, juga dapat meningkatkan harga jualnya dan dapat membuka lapangan kerja serta digunakan dalam penerapan konsep life skill di sekolah yaitu kecakapan hidup yang perlu diberikan pada peserta didk sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) perbedaan kualitas nata antara anggur varietas Probolinggo 81 dan anggur varietas BS 11 terhadap berat, tebal, dan kadar serat nata, (2) perbedaan kualitas nata berdasarkan macam gula antara gula tebu, gula aren serta campuran gula tebu dan gula aren terhadap berat, tebal, dan kadar serat nata, dan (3) menganalisis pengaruh interaksi antara varietas anggur dan macam gula terhadap kualitas nata dari anggur berdasarkan berat, tebal, dan kadar serat nata, serta (4) menyusun hasil penelitian tentang Pengaruh Varietas Anggur dan Macam Gula terhadap Kualitas Nata dari Anggur Berdasarkan Berat, Tebal, dan Kadar Serat Nata menjadi bahan ajar Biologi di SMA. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2011 sampai dengan Januari 2012, di laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pendekatan faktorial 2 X 3 variabel bebas berupa varietas anggur, yaitu varietas Probolinggo 81 dan varietas BS, variabel moderator berupa macam gula, yaitu gula tebu, gula aren, serta campuran gula tebu dan gula aren, masing-masing perlakuan diulang lima kali. Data dalam penelitian ini adalah berat, tebal dan kadar serat lapisan nata. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Analisis Varians dua arah, apabila F hitung lebih besar daripada F 0,05 maka dilanjutkan dengan uji DMRT 0,05. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) ada perbedaan varietas anggur Probolinggo 81 dan varietas anggur BS 11 terhadap kualitas nata berdasarkan berat lapisan nata; (2) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan BS 11 memberikan hasil dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan tebal lapisan nata.; (3) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan BS 11 memberikan hasil dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan kadar serat lapisan nata; (4) ada perbedaan penambahan gula tebu, gula aren, serta campuran antara gula tebu dan gula aren terhadap kualitas nata berdasarkan berat lapisan nata; (5) ada perbedaan penambahan gula tebu, gula aren, serta campuran antara gula tebu dan gula aren terhadap kualitas nata berdasarkan tebal lapisan nata; (6) ada perbedaan penambahan gula tebu,gula aren, serta campuran antara gula tebu dan gula aren terhadap kualitas nata berdasarkan kadar serat lapisan nata; (7) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan BS 11 memberikan pengaruh hasil interaksi antara varietas anggur dan macam gula dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan berat lapisan nata; (8) ada perbedaan interaksi antara varietas anggur dan macam gula terhadap kualitas nata berdasarkan tebal lapisan nata; (9) Kedua varietas anggur Probolinggo 81 dan varietas anggur BS 11 memberikan hasil interaksi antara varietas anggur dan macam gula dengan tingkat kualitas nata yang sama berdasarkan kadar serat lapisan nata.

Peningkatan kemampuan menggambar ekspresi melalui penerapan model pembelajaran kreatif -produktif pada kelas II SDN Pagentan 02 Kecamatan Singosari / Vivi Fatmawati

 

Kata Kunci:, menggambar ekspresi, model pembelajaran kreatif-produktif, SD Pembelajaran menggambar sangat penting untuk diberikan di SD karena dapat meningkatkan daya kreativitas serta menumbuhkan rasa percaya terhadap potensi yang dimiliki karena siswa mempunyai kesempatan untuk berekspresi secara optimal melalui seni. Menggambar ekspresi obyek binatang adalah menggambar binatang dengan bentuk dan warna yang sesuai dengan pengalaman anak. Kemampuan siswa dalam menggambar masih kurang oleh karena itu guru seharusnya menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar ekspresi. Kenyataannya guru masih menerapkan pembelajaran konvensional, oleh karena itu perlu tindakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar ekspresi. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran Kreatif-Produktif dalam menggambar ekspresi, 2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menggambar ekspresi pada siswa kelas II SDN Pagentan 02 Kecamatan Singosari dengan penerapan pembelajaran kreatif-produktif. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif dengan pendekatan PTK, subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN Pagentan 02 yang berjumlah 30 siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah hasil/produk gambar siswa, lembar observasi, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data yang dikumpulkan digunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) penerapan pembelajaran kreatif-produktif yang dilakukan guru mengalami peningkatan, pada siklus 1 skor menunjukkan prosentase dengan kategori “baik”, sedangkan pada siklus 2 menjadi kategori “sangat baik”, 2) kemampuan siswa dalam menggambar mengalami peningkatan, gambar yang dihasilkan lebih bervariasi, siswa lebih aktif dan bersungguh-sungguh dalam kegiatan menggambar sehingga semua siswa dapat menyelesaikan gambarnya, dan nilai produk gambar siswa mengalami peningkatan, pada pra tindakan mencapai 31,25% kemudian mengalami peningkatan sebesar 28,75% menjadi 60% pada siklus 1 dan mengalami peningkatan sebesar 26,67% pada siklus 2 menjadi 86,67%. Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kreatif-produktif merupakan model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran menggambar ekspresi, langkah-langkah pembelajarannya terdiri dari orientasi, menggali ide (eksplorasi dan interpretasi), re-kreasi, dan evaluasi. Disarankan agar: 1) pemberian orientasi lebih kreatif dan dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari agar siswa antusias pada kegiatan pembelajaran, 2) perlunya pemberian motivasi dan penguatan yang terus-menerus.

Pengaruh iklan televisi terhadap keputusan pembelian sepeda motor yamaha (Studi khusus pada konsumen dealer Blimbing motor Malang) / Beny Alif Ayu Wijaya

 

Kata kunci: Iklan Televisi, Keputusan Pembelian. Semakin pesatnya persaingan dalam industri sepeda motor di Indonesia, sehingga membuat perusahaan harus dapat menentukan strategi pemasaran yang tepat agar usahanya dapat bertahan dan memenangi persaingan. Para ATPM, termasuk Yamaha melakukan promosi dengan periklanan melalui media televisi yang masih dipercaya mampu menjangkau segmen pasar yang luas walaupun dengan biaya yang sangat mahal. Perusahaan dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan promosi iklan. Disisi lain, banyak faktor yang juga menjadi pertimbangan konsumen sebelum membeli suatu produk karena konsumen nantinya akan dihadapkan pada berbagai macam pilihan produk. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian adalah pengaruh iklan televisi terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha pada konsumen Dealer Blimbing Motor Malang. Variabel yang berkaitan dengan penelitian ini adalah variabel bebas, yang terdiri dari isi pesan (X1), struktur pesan (X2), format pesan (X3), sumber pesan (X4). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian sepeda motor Yamaha. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional. Populasinya adalah konsumen Dealer Blimbing Motor Malang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh sampel sebanyak 110 orang. Data diperoleh melalui responden dengan menggunakan alat pengumpul data berupa angket tertutup dan diukur dengan menggunakan skala Likert. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan ada pengaruh positif yang signifikan dari variabel isi pesan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha, ada pengaruh positif yang signifikan dari variabel struktur pesan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha, ada pengaruh positif yang signifikan dari variabel format pesan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha, ada pengaruh positif yang signifikan dari variabel sumber pesan terhadap keputusan pembelian sepeda motor Yamaha. Dan variabel yang paling dominan di antara variabel bebas tersebut adalah struktur pesan. Saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian ini yaitu Dealer Blimbing Motor Malang harus mampu mempertahankan dan lebih mengembangkan inovasi-inovasi atas kegiatan iklan yang telah dilakukan, harus lebih bervariasi lagi dalam melakukan iklan melalui media televisi dan untuk peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel lainnya agar dapat memperluas wawasan.

Kajian pelaksanaan pelatihan teknologi hasil pangan di sekolah menengah kejuruan negeri 2 Batu / Alfaida Nisya

 

Kata Kunci: kajian pelaksanaan, pelatihan, teknologi hasil pangan Pelatihan Teknologi Hasil Pangan (THP) di SMKN 2 Batu bertujuan agar peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pemilihan bahan, pengolahan, pengemasan dan pemasaran hasil produksi. Pelatihan ini ditujukan bagi alumni dan masyarakat umumnya. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui pelaksanaan pelatihan, faktor pendukung dan penghambatnya serta tindak lanjut pasca pelatihan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pelatihan THP di SMKN 2 Batu terbagi pada tahap perencanaan, pembelajaran dan evaluasi. Perencanaan, meliputi penyiapan fasilitas pembelajaran. Pembelajaran, berjalan dengan lancar karena ketersediaan media serta keterampilan pemateri dalam penggunaan metode pembelajaran. Evaluasi dilakukan terkait: (1) evaluasi peserta, mengenai penguasaan peserta, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan; (2) evaluasi pemateri, dilakukan untuk mengamati performa pemateri; dan (3) evaluasi penyelenggaraan berguna untuk mengukur keberhasilan penyelenggaraan pelatihan. Faktor pendukung pelaksanaan pelatihan THP adalah antusiasme guru, peserta dan staf sekolah serta ketersediaan peralatan yang memadai. Faktor penghambatnya adalah ketidakpatuhan peserta terhadap jadwal dan munculnya beberapa kasus kerusakan peralatan praktek. Para peserta merasakan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang menambah kepercayaan diri, dalam mengelola wirausaha sebagai tindak lanjut pasca pelatihan. Saran-saran penelitian yang diajukan yaitu: (1) bagi SMKN 2 Batu, disarankan untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan pelatihan demi peningkatan kualitas pelatihan THP berikutnya; (2) bagi Peserta Pelatihan, disarankan agar mampu merancang, mengelola dan mengembangkan usaha mandiri sesuai hasil pelatihan; (3) bagi Program Studi Pendidikan Tata Boga, disarankan untuk dijadikan sebagai tambahan kajian terkait peningkatan dan pengembangan usaha berbasis tanaman hasil pangan; (4) bagi SMK Lain, disarankan sebagai inspirasi dan perbandingan dalam penyelenggaraan pelatihan guna membantu masyarakat untuk membangun usaha berbasis tanaman hasil pertanian; dan (5) bagi Pemerintah Kota Batu/ Dinas Pendidikan, disarankan agar ini dapat digunakan sebagai masukan dalam pengambilan kebijakan terkait dengan pendidikan masyarakat dalam bidang ekonomi dan pemanfaatan hasil pertanian.

Rantai markov dan analisis biplot terhadap perilaku konsumen kartu seluler mahasiswa di jurusan matematika FMIPA Universitas Negeri Malang / Eka Nastiti Rahayu

 

kata kunci: Rantai Markov, Analisis Biplot, Perpindahan Merek, Persepsi Konsumen, Kartu Seluler Perpindahan merek kartu seluler akibat persaingan antar provider kartu seluler di pasar sering kali terjadi, salah satu penyebabnya adalah persepsi konsumen yang merasa terpenuhi kebutuhannya dalam komunikasi dengan menggunakan kartu seluler lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi perpindahan dan pangsa pasar kartu seluler di waktu yang akan datang, serta mengetahui persepsi konsumen/pengguna kartu seluler terhadap atribut-atribut kartu seluler. Perpindahan merek dan pangsa pasar dianalisis menggunakan Rantai Markov, serta persepsi pengguna/konsumen kartu seluler terhadap atribut-atribut kartu seluler dianalisis menggunakan Metode Biplot. Pada penelitian ini, data yang digunakan berupa data perpindahan merek dan persepsi terhadap atribut-atribut kartu seluler. Kartu seluler yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu seluler GSM yang digunakan oleh mahasiswa Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, yaitu Simpati, As, IM3, Mentari, XL, Three dan Axis. Sedangkan atribut-atribut kartu seluler yang digunakan yaitu : harga paket perdana, harga voucher pulsa, harga sesuai daya beli, tarif telepon murah, tarif sms murah, kinerja tinggi, tampilan, memenuhi standar internasional, estetika, kualitas terbaik, manfaat sesuai harapan, merek terkenal, mencerminkan budaya masa kini, jangkauan luas (menerima panggilan lokal), bebas roaming, kelengkapan layanan, waktu aktif dan tenggang sesuai harapan, promo atau diskon menarik dan iklan. Pangsa pasar dikuasai oleh kartu seluler IM3. Hal ini tercermin dari besarnya pangsa pasar IM3 dibanding kartu seluler yang lain, baik sebelum maupun setelah terjadi perpindahan merek. Peluang transisi yang besar dari kartu seluler Simpati, As, XL, Three ke IM3 dan memiliki keunggulan atribut yang hampir sama, hal ini menunjukkan bahwa kartu-kartu seluler tersebut dapat saling menggantikan. Begitu pula dengan kartu seluler Mentari, dari peluang transisi yang yang menyebabkan turunnya jumlah konsumen menunjukkan bahwa atribut-atribut dari Mentari tidak berpengaruh besar terhadap konsumen. Pada periode yang akan datang, Axis akan diperkirakan kehilangan pangsa pasar dan dilihat dari posisinya pada gambar juga tidak baik dan letaknya berlawanan dari sebagian besar atribut.

Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sambung melalui pendekatan Play and Games siswa kelas VI SD Negeri Watulumbung III Kecamatan Lumbang / Adi Wiyarso

 

Kata kunci: Metode play and games, siswa aktif, pembelajaran lari sambung Lari sambung merupakan salah satu cabang atletik yang diajarkan di sekolah dasar. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di SD Negeri Watulumbung III Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan masih sering menggunakan metode ceramah untuk menyampaikan materi dan modelling untuk memberikan contoh kepada siswa. Peneliti menyadari adanya perbedaan tingkat pemahaman dan tingkat penerapan informasi pada setiap siswa yang nantinya akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran dengan menggunakan metode play and games. Salah satu ciri pembelajaran dengan menggunakan metode play and games adalah siswa senang dan banyak bergerak. Dengan proses pembelajaran tersebut siswa diharapkan dapat lebih aktif dalam pembelajaran lari sambung sehingga hasil belajar meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran lari sambung kelas VI SD Negeri Watulumbung III Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan menggunakan metode play and games. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan 4 tahap yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, ahli pembelajaran Pendidikan Jasmani, guru Pendidikan Jasmani lain dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus 1, persentase siswa yang tidak tekun dalam pembelajaran sangat tinggi yaitu 41,16%. Pada siklus 2 siswa yang tidak tekun turun menjadi 12,5%, sehingga siswa mengalami peningkatan dalam aspek ketekunan yaitu dari 58,33% pada siklus 1 meningkat menjadi 87,5% pada siklus 2. Secara umum keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sambung pada siklus 1 meningkat pada sikus 2, dari 64,58% meningkat menjadi 94,79%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa metode play and games dan variasi pembelajaran yang diberikan oleh guru dalam penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lari sambung kelas VI SD Negeri watulumbung III Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan.

Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran gerak dasar atletik dengan menggunakan metode bermain pada siswa kelas IV SD Negeri Karangjati II Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan / Donny Subekti Setiawan

 

Kata kunci: Peningkatan, Keaktifan, Pembelajaran Gerak Dasar Atletik, Metode Bermain. Pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran yang wajib diikuti semua siswa. Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan. Namun, dalam pelaksanaannya pengajaran pendidikan jasmani berjalan belum efektif seperti yang diharapkan. Pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional. Model pembelajaran pendidikan jasmani tidak harus terpusat pada guru tetap pada siswa. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, isi dan urusan materi serta cara penyampaian harus disesuaikan sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi pada perkembangan pribadi anak seutuhnya. Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pengajaran pendidikan jasmani yang efektif perlu dipahami oleh mereka yang hendak mengajar pendidikan jasmani. Atletik merupakan salah satu materi pembelajaran yang terdapat dalam standar kompetensi Sekolah Dasar kelas IV. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu Mempraktikkan gerak dasar atletik sederhana, serta nilai semangat, percaya diri dan disiplin. Berdasarkan Observasi awal, diperoleh hasil bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran gerak dasar atletik masih kurang aktif. Hal ini terlihat dari jumlah siswa dari 24 siswa, 16 siswa tidak antusias, 17 siswa tidak semangat, dan 17 siswa tidak menarik mengikuti pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran gerak dasar atletik melalui metode bermain siswa kelas IV SD Negeri Karangjati II Pasuruan. Dalam keaktivan siswa masing-masing indikator harus diperhatikan untuk dapat memberikan penilaian terhadap keaktifan masing siswa dalam pembelajaran. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan 4 tahap yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, ahli pembelajaran Pendidikan Jasmani, guru Pendidikan Jasmani lain dan siswa. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Dengan pemakaian metode bermain, keaktifan dalam pembelajaran gerak dasar atletik meningkat dari variabel antusias yang awalnya 47,5% siswa yang aktif kemudian naik menjadi 92%. Dari variabel semangat yang awalnya hanya 40% siswa yang aktif kemudian naik menjadi 91%, sedangkan dari variabel kemenarikan yang awalnya hanya 41% siswa yang aktif kemudian naik menjadi 96%. Selain hasil persentasi mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran, diperoleh pula hasil dari pengamatan sikap siswa pada saat proses pembelajaran, pada siklus 1 ada siswa yang tidak berpakaian lengkap, ada siswa yang tidak serius waktu melakukan pemanasan, ada siswa yang tidak memperhatikan saat guru menjelaskan materi pembelajaran, ada siswa yang masih bingung dengan permainan. Namun pada siklus 2 sudah terlihat peningkatan yang cukup baik dibandingkan dengan siklus 1, pada siklus 2 ini semua siswa sudah berpakaian lengkap, semua siswa sudah semangat melakukan pemanasan, siswa melakukan proses belajar dengan baik, dan semua siswa senang melakukan variasi permainan. Selain itu diperoleh pula dari sikap guru yaitu guru kurang memperhatikan siswa saat pembelajaran berlangsung, guru masih kurang dalam pengaturan waktu, dan koreksi gerakan yang salah tidak segera dilakukan. Namun pada siklus 2, guru sudah memperhatikan siswa saat pembelajaran, guru sudah mengatur waktu dengan cukup baik, dan koreksi gerakan yang salah dilakukan saat itu juga. Peneliti menyarankan, bagi guru dapat memperkaya pengetahuan tentang metode-meode pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Bagi siswa dapat digunakan sebagai pedoman belajar, bagi sekolah dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan jasmani dan bagi peneliti dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian yang berkaitan dengan materi pada skripsi ini.

Survei kesulitan pembuatan kemeja batik motif sambung pada matakuliah tailoring,mahasiswa S1 program studi tata busana 2009 /2010 / Lya Daryani

 

Kata kunci : survei, kesulitan pembuatan kemeja batik motif sambung, Mata kuliah Tailoring merupakan salah satu mata kuliah praktek pada mahasiswa Program Studi S1 Tata Busana jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pada mata kuliah ini mahasiswa dituntut untuk membuat kemeja batik motif sambung, celana dengan pola diatas kain, dan pembuatan jas jas. Salah satu dari materi mata kuliah tersebut yaitu kemeja batik motif sambung. Kesulitan pada Kemeja Batik Motif Sambung inilah yang peneliti angkat untuk di jadikan penelitian, karena mahasiswa dituntut untuk menyambung motif, serta melewati tahapan – tahapan penyelesaian yang sangat banyak sehingga, membuat hasil akhir yang kurang maksimal. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah tingkat kesulitan di dalam mengikuti mata kuliah tailoring pada praktek pembuatan kemeja batik motif sambung Tujuan dari penelitian ini adalah: mendeskripsikan tingkat kesulitan mahasiswa Tata Busana angakatan 2009-2010 dalam membuat kemeja batik motif sambung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripstif dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian adalah mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket/kuesioner tingkat kesulitan pembuatan kemeja batik motif sambung. Hasi peneltiian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar mahasiswa Tata Basana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan pembuatan pola kemeja batik motif sambung berada pada tingkatan mudah (38,71%), (2) sebagian besar mahasiswa Tata Busana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan cutting dalam pembuatan kemeja batik motif sambung berada pada tingkatan sulit (54,84%), (3) sebagian besar mahasiswa Tata busana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan pressing interlining dalam pembuatan pola kemeja batik motif sambung berada pada tingkatan mudah (53,23%), (4) sebagian besar mahasiswa Tata Basana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa sewing dalam pembuatan pola kemeja batik motif sambung berada pada tingkatan sulit (69,35%). (5) sebagian besar mahasiswa Tata Basana angkatan 2009-2010 menyatakan bahwa kesulitan finishing dalam pembuatan pola kemeja batik motif sambung berada pada tingkatan mudah (54,84%). Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran-saran yang diajukan antara lain: (1) disarankan agar penyajian matakuliah Tailoring, khususnya pembuatan kemeja batik motif sambung sub-bab sewing yang lebih inovatif agar dapat memberikan motivasi yang lebih kuat kepada mahasiswa sehingga dapat mengatasi kesulitan pembuatan kemeja batik motif sambung pada matakuliah tersebut, (2) disarankan kepada mahasiswa yang memprogram matakuliah Tailoring agar dalam praktik pembuatan kemeja batik motif sambung melakukannya tahap-tahapnya secara tepat waktu agar tidak menghambat praktek lainnya, (3) disarankan kepada peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema penelitian ini agar mengadakan penelitian lanjutan pada sub-sub matakuliah yang lain.

Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) pada mata pelajaran Geografi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 8 Malang / Ardina Kusumastuti

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), keaktifan, hasil belajar Memperbaiki kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas proses pembelajaran, sehingga terwujud proses pembelajaran yang aktif, kreatif,efektif, dan bermakna. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada awal bulan Desember 2010, proses pembelajaran Geografi di SMA Negeri 8 Malang selama ini masih memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah siswa kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran Geografi, rata-rata skor keaktifan belajar siswa masih rendah, hanya mencapai 11,05. Rendahnya keaktifan belajar siswa tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa di kelas tersebut rendah, nilai rata-rata siswa hanya sebesar 58,65. Selain itu, dari 37 siswa, hanya 35% siswa yang telah mencapai KKM, sehingga belum dapat dikatakan tuntas secara klasikal. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran TSTS. Jenis penelitian ini adalah PTK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi Kompetensi Dasar: “Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi” dengan penerapan model pembelajaran TSTS. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 8 Malang dengan subjek penelitian siswa kelas X-1 SMA Negeri 8 Malang dengan jumlah 38 siswa. Data dalam penelitian ini adalah keaktifan dan hasil belajar siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, dokumentasi, dan tes. Data yang diperoleh dianalisis dengan cara membandingkan hasil observasi awal, Siklus I, Siklus II dan siklus selanjutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TSTS dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, rata-rata skor keaktifan belajar siswa pada observasi awal sebesar 11,05 menjadi 16,83 pada Siklus I, dan meningkat menjadi 21,05 pada Siklus II. Penerapan model pembelajaran TSTS juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, nilai rata-rata pra-tindakan sebesar 58,65 meningkat menjadi 73,11 pada Siklus I dan meningkat menjadi 85,00 pada Siklus II. Ketuntasan belajar klasikal pra-tindakan sebesar 35% meningkat menjadi 65% pada Siklus I dan meningkat menjadi 92% pada Siklus II. Berdasarkan paparan tersebut dapat dikatakan bahwa pemberian tindakan berhasil, karena dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa hingga mencapai ketuntasan secara klasikal. Disarankan kepada guru Geografi SMA Negeri 8 Malang untuk menerapkan model pembelajaran TSTS agar lebih mudah dalam penyampaian materi pembelajaran Geografi, sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Sustained silent reading with intervention for improving the fourth semester students' reading skill of staima AL-Hikam Malang / Handoko

 

Thesis, Graduate Program of English Language Teaching Department, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Johannes A. Prayogo, M. Pd., M. Ed. (II) Drs. Fachrurrazy, M. A., Ph. D. Key words: sustained silent reading, reading ability. Asumsi umum bahwa meningkatnya kemampuan membaca siswa dengan banyak membaca mendapatkan pembenarannya, terlebih proses aktivitas membacanya melalui sustained silent reading. Sebuah program membaca ekstensif yang diharapkan bisa mencapai secara signifikan prestasi membaca siswa, sebagaimana program ini sering diasumsikan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa ke dua / bahasa asing, memperbanyak capaian kosakata, serta menaikkan kecepatan membaca. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan penggunaan sustained silent reading di kelas membaca dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana penerapannya mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa. Penelitian Tindakan Kelas yang memberi perhatian pada penanganan permasalahan siswa, digunakan guna menjawab permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini, tujuh belas mahasiswa semester empat STAIMA Al-Hikam dilibatkan. Data penelitian ini berkait erat dengan partisipasi mahasiswa dan kemajuan membaca mereka yang bisa dilihat di laporan membaca mereka: ringkasan terucap dan tertulis, pemahaman membaca, serta penguasaan kosakata. Dalam memperoleh data melalui lembar observasi, catatan lapangan, dan wawancara. Dalam penelitian ini, triangulasi sumber data digunakan untuk memperoleh validasinya. . Strategi disusun dalam bentuk kesinambungan membaca. Mahasiswa didorong untuk membaca sebanyak-banyaknya baik di dalam maupun di luar kelas. Kelas membaca dilaksanakan dalam Sustained Silent Reading dimana intervensi dosen mengharuskan mahasiswa untuk menindaklanjuti bacaan mereka dalam bentuk laporan membaca seperti menceritakan ulang atau meringkas bacaan. Dalam prosedure ini, mahasiswa dirangsang untuk membaca secara aktif materi bacaan yang mereka pilih. Tetapi mereka tetap disarankan dan di pandu untuk membaca bacan-bacan ringan. Temuan-temuan yang ada mengindikasikan bahwa penerapan penggunaan Sustained Silent Reading bisa meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa. Capaian ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca mahasiswa meningkat melalui cara pembacaan yang terus menerus di dalam maupun di luar kelas. Pemahaman membaca mahasiswa yang diukur melalui tes pun menghasilkan hanya satu skor mahasiswa yang memenuhi batasan terendah criteria sukses. Ini berarti bahwa semua mahasiswa mampu memahami buku yang mereka baca. Fakta lain menunjukkan bahwa mahasiswa menikmati membaca. Satu hal penting yang dapat dilaporkan di sini adalah rasa ingin tahu mahasiswa. Keingintahuan mereka yang tinggi menjadi alasan mengapa mereka melanjutkan membaca bacaan yang sama meski mereka sadar materi bacaan tidaklah mudah. Semua mahasiswa mengakui dalam catatan harian mereka bahwa materi bacaan tidak hanya menarik tapi juga menantang untuk dibaca. Rasa percaya diri mahasiswa juga muncul sewaktu mereka diminta untuk menulis sekaligus menceritakan ulang apa yang mereka baca dan bahkan dengan peringkasan dan penceritaan ulang, mahasiswa merasa dihargai sebagai pembaca. Apresiasi ini secara tidak langsung membantu meningkatkan rasa suka membaca mereka. Berdasarkan temuan-temuan ini, saran dan anjuran ditawarkan kepada dosen dan peneliti berikutnya, terkait erat dengan ketersediaan materi bacaan, kesempatan membaca dan dorongan bagi mahasiswa untuk membaca secara mandiri.

Pengaruh likuiditas dan frofitabilitas terhadap kebijakan kas pada perusahaan keuangan yang go publik di bursa efek Indonesia (Studi tahun 2007-2009) / Lia Retnaning Rahayu

 

Kata kunci : Profitabilitas, Likuiditas, Dividen Tunai Kebijakan Dividen pada dasarnya adalah penentuan seberapa besar peran keuntungan yang akan ditahan sebagai Retained Earnings. Untuk menilai kinerja keuangan perusahaan digunakan rasio-rasio keuangan seperti profitabilitas, dan likuiditas. Karena rasio keuangan ini merupakan suatu alat analisis yang diperlukan untuk mengukur kondisi dan efisiensi operasi operasi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu laba bersih, sehingga melalui alat analisis ini para investor dapat memprediksi besar kecilnya dividen yang akan diperolehnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh-pengaruh variabel profitabilitas dan likuiditas terhadap kebijkan dividen baik secara simultan maupun persial. Data yang digunakan bersumber dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory) tahun 2007-2010. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 51 perusahaan keuangan. Dan sampel yang digunakan adalah perusahaan yang membagikan dividen sebanyak 14 perusahaan. Analisi data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara Current Ratio, Cash Ratio, TALTA dan Return On Investment terhadap variabel kebijakan dividen kas baik secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel TALTA yang tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen kas. Sedangkan secara simultan variabel likuiditas dan profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen kas. Adanya pengaruh ini mendukung keberlakuan dari agency cost theory yang menggunakan dividen untuk mengharmoniskan hubungan antara manajemen dengan pemegang saham khususnya pada perusahaan jasa keuangan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang potensial memberikan kontribusi terhadap pembayaran dividen kas, menembah jumlah periode penelitian,dan jumlah sampel penelitian.

Penerapan model pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan keaktifan belajar Geografi siswa kelas XI IPS 2 MAN Kandat Kediri / Afif Nur Ardhyanawati

 

Kata Kunci: Model Think Pair Share, Keaktifan belajar siswa Pembelajaran merupakan kegiatan untuk membelajarkan siswa agar belajar dengan baik, sehingga dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Pembelajaran geografi di kelas XI IPS 2 MAN Kandat Kediri masih menggunakan metode tradisional sehingga siswa kurang aktif yang disebabkan sebagian besar pembelajaran masih didominasi oleh guru sehingga berdasarkan observasi siswa yang terlihat kurang aktif belajar mencapai 14 orang atau 67% dari 21 siswa, sedangkan siswa yang aktif belajar mencapai 7 orang atau 33% dari 21 siswa dalam kelas. Faktor ini disebabkan kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak mendorong keaktifan siswa dalam belajar, karena guru sering menggunakan model ceramah dalam kegiatan pembelajaran dan jarang menggunakan model - model pembelajaran yang bervaiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair and Share (TPS) dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam bidang geografi. Berdasarkan tujuan yang dirumuskan, maka penelitian ini menggunakan penelitian Classroom Action Research (Penelitian Tindakan Kelas). Pelaksanan tindakan kelas ini akan dilakukan minimal dalam dua siklus, jika belum mengalami peningkatan maka dilanjutkan ke siklus berikutnya untuk mencapai taraf keberhasilan tindakan. Dalam setiap siklusnya terdiri empat tahap kegiatan. Tahapan tersebut meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan aktifitas belajar selama pelaksanaan pembelajaran model Think Pair Share (TPS) antara lain: pada observasi awal keaktifan belajar siswa mencapai 33 %. Pada siklus I, bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari sebesar 65%. Pada siklus II, bahwa keaktifan belajar siswa meningkat sebesar 86%. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XI IPS 2 MAN Kandat Kediri. Saran yang diajukan dalam penelelitian ini yaitu: (1) Bagi Sekolah hendaknya pihak sekolah memotivasi guru untuk menerapkan pembelajaran model Think Pair Share atau pembelajaran lainagar permasalahan pembelajaran dapat diatasi. (2) Bagi Guru hendaknya mulai mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif baik model Think Pair Share maupun model lainnya di dalam pembelajaran, karena model tersebut terbukti efektif untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. (3) Siswa disarankan untuk memanfaatkan waktu dengan baik, sehingga setiap tahapan yang ada dalam proses pembelajaran Think Pair Share dapat terlaksana dengan baik.

Peranan badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP-7) Kotamadya Pasuruan dalam upaya pembudayaan Pancasila di Kotamadya Pasuruan / oleh Mei Andriani Hidayat

 

Pengaruh penggunaan alat peraga terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN Kauman 3 Kota Blitar / Didit Amir Mahmud

 

Mahmud, Didit Amir. 2015. Pengaruh Penggunaan Alat Paraga Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Kauman 3 Kota Blitar. Skripsi, Program Studi PGSD, Jurusan KSDP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Widayati, M.H, (2) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si Kata kunci: alat peraga, hasil belajar, sekolah dasar Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas V SDN Kauman 3 Kota Blitar, pembelajaran Tema 4 Sehat itu Penting Subtema 3 Lingkungan Sehat pembelajaran I dan II belum mencakup semua indikator hasil belajar. Hal ini disebabkan: (1) guru hanya mengajarkan pengertian lingkungan sehat, mengenalkan bentuk-bentuk gangguan kesehatan (penyakit) pada manusia melalui bacaan, memberikan penjelasan pengertian kesimpulan, menjelaskan sistem pernapasan manusia dan penyakit pada alat pernapasan manusia dan memberikan contoh soal relasi dari buku siswa, (2) pada saat pembelajaran guru banyak menggunakan metode ceramah, (3) siswa pasif dalam pembelajaran sehingga hanya mendengarkan penjelasan dari guru, (4) guru tidak menggunakan media atau alat peraga pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran I dan II. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan media atau alat peraga pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran I dan II. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) hasil belajar pada pembelajaran I dengan tidak menggunakan alat peraga, (2) hasil belajar pada pembelajaran II dengan menggunakan alat peraga, (3) mengetahui pengaruh pembelajaran yang menggunakan alat peraga terhadap hasil belajar pada pembelajaran II pada siswa kelas V SDN Kauman 3 Kota Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experimental). Desain penelitian ini adalah nonequivalent control group design. Pada desain ini terdapat dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dipilih pada satu kelompok siswa. Dua kelompok tersebut diberi pretes, kemudian diberikan perlakuan dan terakhir diberikan postes. Penelitian ini diuji dengan menggunakan independent sample t-test yang menunjukkan hasil nilai signifikansi sebesar 0,00 lebih kecil dari 0,05. Dari hasil tersebut maka Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) tidak terdapat peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar pada pembelajaran I dengan tidak menggunakan alat peraga, (2) terdapat peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar pada pembelajaran II dengan menggunakan alat peraga, (3) penggunaan alat peraga dalam pembelajaran II mempengaruhi hasil belajar siswa. Disarankan untuk guru hendaknya menggunakan alat peraga ini, karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk peneliti selanjutnya agar menggunakan kelas paralel sehingga tidak membagi satu kelas menjadi dua, untuk dijadikan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran IPS Geografi kelas VII E di SMP Negeri 9 Malang / Hapsari DWI Sulaksmi

 

Kata Kunci: model Teams Games Tournament, keaktifan belajar siswa Hasil observasi yang dilakukan di kelas VII E SMP Negeri 9 Malang menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa masih tergolong rendah. Diketahui 70% siswa terlihat pasif. Pada saat pembelajaran siswa kurang mendengarkan penjelasan guru. Ketika guru memberi pertanyaan, siswa tidak menjawab dan kurang merespon. Selain itu, siswa melakukan kegiatan yang bertentangan dengan keaktifan dalam pembelajaran yakni, bermain sendiri dan mengganggu teman yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran TGT untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dua kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII E semester gasal tahun ajaran 2011-2012 dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi dan catatan lapangan. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi keaktifan siswa dan format catatan lapangan. Analisis data pada lembar observasi keaktifan terdiri dari 6 indikator keaktifan antara lain: visual activities, oral activities, listening activities, writing activities, mental activities, dan emotional activities. Penilaian keaktifan belajar siswa diukur dengan rentangan skor 1-3 pada tiap indikatornya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa dari siklus I ke siklus II meningkat. Keaktifan belajar siswa secara klasikal pada siklus I mencapai 65% dan pada siklus II mencapai 85%. Dari hasil penelitian ini, disarankan bagi guru IPS geografi untuk menerapkan model pembelajaran TGT sebagai alternatif model pembelajaran dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melaksanakan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki ataupun memberikan inovasi baru pada penelitian yang sudah pernah dilaksanakan dengan subjek yang berbeda.

Perencanaan pompa sentrifugal multistage tiga tingkat / oleh Hari Susanto

 

Kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah (studi multikasus di SMA Negeri 1 Kupang dan SMA Katolik Giovanni Kupang) / Yes Matheos Lasarus Malaikosa

 

ABSTRAK Malaikosa, Yes M.L. 2015. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Studi Multikasus di SMA Negeri 1 Kupang dan SMA Katolik Giovanni Kupang). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd., (II) Prof. Dr. H. Ali Imron, M.Pd, M.Si Kata kunci: manajemen berbasis sekolah, implementasi, SWOT, evaluasi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, dimana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja. Selanjutnya adanya perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No. 2 Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih menjadi tanggung jawab sekolah dengan diberlakunya MBS, sejalan dengan era otonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam undang-undang SISDIKNAS 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun paradikma baru pendidikan di Indonesia. Berdasarkan konteks tersebut, peneliti merumuskan fokus penelitian yang terdiri dari: (1) proses kepemimpinan dalam merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah, (2) proses kepemimpinan dalam analisis SWOT, (3) proses kepemimpinan dalam implementasi MBS, (4) proses kepemimpinan dalam evaluasi program MBS di SMAN 1 Kupang dan SMAK Giovanni. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan kualitatif sehingga terungkap data deskriptif dan dapat menemukan makna dari sebuah fenomena yang terjadi pada peelitian secara alami. Rancangan penelitian ini menggunakan studi multikasus, bertujuan untuk mendeskripsikan proses kepemimpinan dalam implementasi MBS pada dua situs yaitu di SMAN 1 Kupang dan SMAK Giovanni Kupang. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yakni: (1) wawancara, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan alur (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan, (d) analisis data kasus individu, dan (e) analisis data lintas kasus. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan tiga kriteria: (1) triangulasi, (2) pengecekan anggota, dan (3) pengecekan kecakupan referensi. Temuan hasil penelitian kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi MBS pada SMAN 1 Kupang dan SMAK Giovanni sebagai berikut: Pertama, Proses kepemimpinan dalam merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah, yaitu: (1) kepala sekolah sebagai penentu kebijakan, selalu memposisikan diri sebagai pemimpin dalam perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah, serta memberikan kepercayaan dan pendelegasian wewenang kepada wakil dan Guru untuk mentukan kegiatan sesuai tugas dan tanggung jawabnya, dan (2) kepala sekolah dan yayasan sebagai penggung jawab kegiatan selalu melibatkan guru, orang tua, dan komite dalam proses perumusan visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis sekolah. Kedua, peroses kepemimpinan dalam analisis SWOT, yaitu: (1) menentukan program strategis berkaitan dengan visi, misi, dan tujuan sekolah dengan melibatkan guru, alumni, yayasan dan stakeholder dalam menganalisis SWOT agar dapat diperoleh ukuran kesiapan yang tepat dan (2) kepemimpinan kepala sekolah yang jujur, demokratis, bertanggung jawab, dan berjiwa besar dalam membangun komunikasi yang baik antara guru, pegawai TU, peserta didik, orang tua, yayasan dan komite dalam mengambil sebuah keputusan. Ketiga, proses kepemimpinan dalam implementasi MBS, yaitu: (1) kepala sekolah secara transparan dan akuntabel, melakukan supervisi secara rutin dan memberikan kesempatan kepada guru untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajara, (2) kepala sekolah memberikan reward kepada guru, pegawai, orang tua wali dan komite yang berkontribusi dalam implementasi MBS, dan (3) kepala sekolah memberikan panishment kepada siswa dan guru yang melanggar aturan sekolah. Keempat, proses kepemimpinan dalam evaluasi, yaitu: kepala sekolah menggunakan RPS untuk melakukan evaluasi secara obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan terhadap program jangka pendek tiap 3 bulan sekali, satu semester dan jangka panjang tiap akhir tahun, mengirim laporan teknis menyangkut pelaksanaan program dan hasil MBS kepada pengawas, dinas pendidikan, komite, dan orangtua siswa sedangkan SMA Kt. Giovanni dilaporkan kepada yayasan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan secara umum kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi MBS di sekolah dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) kepala sekolah sebagai penentu kebijakan, selalu memberikan kepercayaan dan melibatkan guru, orang tua wali, dan komite sekoah dalam proses perumusan visi, misi, tujuan, sasaran dan strategis, (2) kepala sekolah selalu jujur, demokratis, bertanggung jawab, dan berjiwa besar dalam merumuskan program sekolah strategis berkaitan dengan visi, misi, dan tujuan sekolah, serta membangun komunikasi yang baik dan melibatkan guru, alumni, yayasan dan stakeholder dalam melakukan analisis SWOT, (3) kepala sekolah secara transparan dan akuntabel, selalu melakukan supervisi dan memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan kualitas pembelajara, dan (4) kepala sekolah menggunakan RPS untuk melakukan evaluasi secara obyektif, bertanggung jawab dan berkelanjutan terhadap program jangka pendek tiap 3 bulan, akhir semester dan jangka panjang tiap akhir tahun dan selalu mengirim laporan teknis pelaksanaan program kepada pengawas, dinas pendidikan, yayasan, komite, dan orangtua. Didasarkan pada pembahasan dan kesimpulan penelitian, maka disarankan sebagai berikut: (1) kepala dinas pendidikan kota Kupang, agar meningkatkan pengawasan dan motivasi kepada kepala sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan, (2) ketua yayasan swasti sari, sebagai masukkan untuk memotivasi dan memfasilitasi guru-guru dalam meningkatkan prestasi siswa, (3) kepala sekolah SMAN 1 Kupang dan SMAK Giovanni, perlu memrpertahankan dan terus meningkatkan kemampuan guna meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam mengimplementasi MBS, dan (4) peneliti lain, dapat dijadikan bahan rujukan untuk melakukan penelitian lebih kompleks tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi MBS.

Pengembangan modul pembelajaran matematika kelas XI yang bercirikan kontekstual pada program keahlian jasa boga SMK Negeri 2 Malang /Tri Candra Wulandari

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D . Kata Kunci : Pengembangan, Modul SMK, Program Linier Kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif tidak semata-mata langsung muncul pada diri siswa, tetapi perlu proses yang harus senantiasa ditanamkan sejak dini, seperti cara berfikir kritis dan kreatif. Menurut Traherne (dalam NCTM, 2000:31), berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpendapat dengan cara yang terorganisasi. Berpikir kreatif adalah kegiatan mental yang memupuk ide-ide asli dan pemahaman-pemahaman baru. Berpikir kreatif dan kritis memungkinkan siswa untuk mempelajari masalah secara sistematis, menghadapi berjuta tantangan dengan cara yang terorganisasi, merumuskan pertanyaan inovatif, dan merancang solusi yang asli. Menurut Hudojo (2001:23 ), ketrampilan memecahkan masalah harus dimiliki siswa. Dalam pelajaran matematika masalah yang dihadapi siswa berupa pertanyaan yang diberikan kepada siswa yang biasanya disebut soal. Menurut Polya (dalam Hudojo, 2001:31), ada dua macam masalah matematika, yaitu (1) masalah untuk menemukan, dapat teoritis atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk teka-teki. (2) masalah untuk membuktikan, yaitu untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah. Namun, untuk matematika elementer masalah untuk menemukan lebih ditekankan (Polya dalam Hudojo, 2001:34) Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan siswa di SMK Negeri 2 Malang, masalah-masalah matematika elementer banyak ditemukan pada siswa. Masalah tersebut terjadi disebabkan siswa merasa kesulitan dalam belajar matematika, antara lain (1) siswa tidak mandiri dalam belajar, (2) siswa hanya mencatat materi dan contoh soal yang terbatas, (3) siswa tidak tahu kemampuan diri sendiri. Salah satu kesulitan siswa adalah pada pokok bahasan Program Linier. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan bahan ajar. Menurut National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training (dalam depdiknas, 2004) bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas baik berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar disusun dengan tujuan: (a) Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai ii dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa, (b) Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh, (c) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran (Depdiknas, 2008). Paket pembelajaran telah dinilai oleh ahli materi, ahli teknologi pembelajaran, ahli pemrograman dan guru matematika. Setelah dilakukan revisi, selanjutnya diujicobakan ke siswa SMKN 2 Malang. Berdasarkan hasil angket penilaian Ahli modul dengan persentase rata-rata 87,5%, hal ini berarti pada tahap format modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi, (2) Isi modul dengan persentase rata-rata 92,86%, hal ini berarti pada tahap isi modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi, (3) Bahasa dengan persentase rata-rata 91,67% hal ini berarti bahasa yang digunakan pada modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu revisi, (4) tampilan, tata letak tabel, diagram dan gambar dengan persentase rata-rata 87,5%, hal ini berarti pada tahap format modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi, (5) manfaat modul dengan persentase rata-rata 87,5%, hal ini berarti pada tahap format modul berada pada kualifikasi sangat baik, sehingga modul tidak perlu direvisi. Sedangkan dari hasil uji coba kepada siswa diperoleh Rerata persentase modul pembelajaran sebesar 82,05% menunjukkan bahwa modul pembelajaran berada dalam kualifikasi baik. Spesifikasi produk yang diharapkan telah tercapai yaitu : modul Program Linier bercirikan Kontekstual yang dicetak dalam format book fold dengan tujuan mudah dibawa dan digunakan dimanapun dan kapanpun.

Analisis dana perimbangan dari pusat dan PAD terhadap APBD (studi kasus di Kabupaten Madiun 2006-2011) / Ayu Pradipta Pramana Putri

 

Kata Kunci : Dana perimbangan, PAD, dan APBD Dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah, PAD seharusnya merupakan sumber utama keuangan daerah dalam membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan, sedangkan kekurangan pendanaan ditunjang dari dana perimbangan. Namun dalam kenyataannya, dana perimbangan merupakan sumber dana utama pemerintah daerah, sehingga masalah dalam penelitan ini adalah: (1) Menganalisis perkembangan kontribusi pendapatan asli daerah terhadap APBD Kabupaten Madiun Tahun 2006-2011. (2) Menganalisis perkembangan kontribusi dana perimbangan terhadap APBD Kabupaten Madiun Tahun 2006 -2011. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permasalahan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriftif. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini adalah laporan realisasi APBD Kabupaten Madiun tahun 2006-2011. Variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah PAD, dana perimbangan dan APBD. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriftif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penerimaan PAD Kabupaten Madiun yang memberikan kontribusi paling besar bersumber dari retribusi daerah dengan kontribusi rata-rata pertahunnya sebesar 37,95 persen termasuk dalam kriteria cukup besar. Kedua diperoleh dari laba usaha daerah dengan kontribusi rata-rata pertahunnya sebesar 34,61persen termasuk dalam kriteria cukup. Ketiga dari pajak daerah dengan kontribusi rata-rata pertahunnya sebesar 23,21 persen termasuk dalam kriteria kurang. Keempat dari bagian lain-lain PAD yang sah dengan kontribusi rata-rata pertahunnya sebesar 3,92 persen termasuk dalam kriteria kecil. (2) Penerimaan dana perimbangan yang memberikan kontribusi paling besar bersumber dari Dana Alokasi Umum dengan kontribusi rata-rata pertahunnya sebesar 83 persen termasuk dalam kriteria besar sekali. Sedangkan sumber dana perimbangan yang lainnya seperti Dana Bagi Hasil pajak dan bukan pajak, Dana Alokasi Khusus termasuk dalam kriteria kecil karena kontribusinya kurang dari 14 persen. Saran dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah hendaknya perlu meningkatkan penerimaan PAD, misalnya dengan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan mutu pelayanan dan memberi kemudahan fasilitas, sarana dan prasarana umum yang mendukung, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak dan cara-cara lainnya yang dapat meningkatkan penerimaan PAD.

Perancangan buku panduan nostalgia wisata kuliner Malang / Ary Bagus Wicaksono

 

Kata Kunci: Buku Panduan, Nostalgia, WisataKuliner Kota Malang merupakan sebuah kota pariwisata yang sudah dikenal masyarakat luas. Kota Malang memiliki banyak potensi wisata kuliner yang melimpah. Berbagai kuliner khas Kota Malang merupakan perpaduan atau akulturasi dari berbagai budaya yang dibawa oleh bangsa pendatang dan sudah menempati Kota Malang puluhan tahun. Tujuan dari perancangan ini adalah merancang buku panduan nostalgia wisata kuliner Malang dalam upaya melestarikan dan mengenalkan ragam kuliner khas Kota Malang yang kini mulai dilupakan oleh masyarakat dan beralih ke kuliner luar negeri ataupun masakan cepat saji. Kuliner yang dibahas khususnya adalah tempat kuliner yang sudah berdiri sebelum tahun 1980 dan bertahan sampai sekarang. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari klien, target market, target audience, kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi. Perancangan dilakukan pada buku panduan nostalgia wisata kuliner Malang yang berfungsi untuk mengenalkan serta melestarikan warisan kuliner Kota Malang. Buku ini dikhususkan membahas beberapa tempat kuliner khas Malang yang sudah berdiri sebelum tahun 1980 serta mengenalkan masakan khas yang ditawarkan, buku ini memiliki kelemahan yakni masakan yang ditampilkan terlalu kuno ataupun sudah tidak dikenal bahkan kurang diminati oleh masyarakat masa kini.

Pengembangan media stimulasi berbasis kebutuhan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar / Riska Amalia

 

Kata kunci: Media stimulasi, binder, media audio, kartu perintah bergambar, cerita anak. Pembelajaran keterampilan berbahasa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berbahasa siswa. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengembangkan media stimulasi berbasis kebutuhan untuk siswa sekolah dasar, khususnya kelas V, mendeskripsikan wujud dan hasil pengembangan, memaparkan kemenarikan hasil pengembangan, dan memaparkan efektivitas penggunaan media stimulasi hasil pengembangan. Dalam hal ini, wujud media yang dirancang oleh peneliti adalah binder berisi kumpulan cerita anak, kartu perintah bergambar, dan VCD rekaman cerita. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan dan bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan pembelajaran berbicara, membaca, dan menyimak, kemudian mengembangkannya dalam bentuk media stimulasi pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SD/MI kelas V. Materi dalam media stimulasi berupa cerita anak yang diambil dari berbagai sumber dan telah melalui tahap penyuntingan. Model pengembangan bahan ajar ini dirumuskan dengan tahapan analisis pendahuluan, analisis kurikulum, penyusunan RPP, penyusunan dan perancangan media stimulasi, uji coba, revisi, dan dihasilkan produk akhir. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan penyebaran angket. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman wawancara dan angket. Data verbal berupa catatan, komentar, saran, dan kritik langsung dituliskan pada angket maupun media stimulasi. Untuk mengetahui kesahihan/validitas data, dilakukan uji coba produk kepada dua pakar, dua guru, dan siswa. Berdasarkan analisis data diambil kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, isi materi dalam media stimulasi seyogyanya melalui tahap penyuntingan terlebih dahulu oleh peneliti, karena meskipun telah diterbitkan atau diambil dari sumber terpercaya, masih ada kemungkinan terjadi kesalahan, baik dari segi ejaan maupun isi. Kedua, penyajian media stimulasi meliputi binder, kartu perintah bergambar, dan VCD audio menarik untuk diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar kelas V. ii Ketiga, aspek kelayakan bahasa yang digunakan dalam media stimulasi ini mudah dipahami oleh siswa kelas V SD/MI karena bahasa yang digunakan dalam media stimulasi ini sederhana dan telah disesuaikan dengan tingkat pengetahuan siswa dalam memahami bahasa.

Implementasi kurikulum muatan lokal pada sekolah menengah di pondok pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang / Septy Rizqiah

 

Kata kunci: implementasi, muatan lokal, sekolah menengah,Pondok Pesantren Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, keunggulan daerah, termasuk Bahasa Daerah. Melalui kurikulum muatan lokal dapat dikembangkan kompetensi sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah. Substansi muatan lokal dapat ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. Hal ini yang mendasari Pondok Pesantren Darul Ulum sebagai satuan pendidikan dalam menentukan Kurikulum Pondok sebagai kurikulum muatan lokal disekolah menengah. Penelitian implementasi muatan lokal ini mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi hasil belajar dan kendala serta solusi dalam implementasi kurikulum muatan lokal. Penelitian dalam implementasi kurikulum muatan lokal pada Sekolah Menengah di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini menggunakan deskripsi kualitatif dengan menggunakan metode survei. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober sampai November 2011 pada Sekolah Menengah di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Analisis hasil penelitian diambil dari hasil prosentase dari jawaban yang diperoleh dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya, dengan menggunakan instrumen angket yang diberikan kepada guru muatan lokal., teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis data penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan perencanaan muatan lokal telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan pada Sekolah Menengah di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Kurikulum Pondok berupa Baca Kitab, Fiqih, Aqidah Akhlak, Bahasa Arab, nahwu Shorof, dan Qur’an Hadist merupakan muatan lokal yang ditetapkan oleh komite pesantren dan wajib diberikan. Dalam pelaksanaan muatan lokal hampir seluruh sekolah telah melaksanakan aspek-aspek proses KBM sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Sedangkan dalam penilaian hasil belajar muatan local, untuk menentukan hasil belajar siswa ditentukan menggunakan penilaian acuan norma, dan kriteria ketuntasan minimal dalam penilaian hasil belajar muatan lokal diseluruh sekolah adalah 75. Namun Dari hasil penelitian diketahui bahwa pihak sekolah mengalami kesulitan dalam penentuan waktu pembelajaran yang kurang membuat pelaksanaan muatan lokal disekolah tidak bisa optimal, biasanya untuk mengatasi hal tersebut guru memberikan tugas untuk dikerjakan di pesantren. Selain itu latar belakang siswa yang berbeda-beda dengan bahasa yang berbeda membuat pelaksanaan kurikulum muatan lokal sedikit terhambat, solusi yang diambil adalah memberikan intensif kepada siswa-siswa yang tidak mengerti bahasa jawa dan siswa-siswa yang berkemampuan rendah. Untuk mengatasi ketersediaan waktu yang sedikit, perlu dipertimbangkan adannya perencanaan waktu dan materi mana yang perlu disampaikan dan materi mana yang tidak perlu disampaikan.

Peningkatan keterampilan senam lantai guling ke belakang melalui penerapan part - whole methods pada siswa kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang / Aditya Bangun Septiohadi

 

Kata kunci: Peningkatan keterampilan, senam lantai guling ke belakang, part-whole methods dan KKM. Senam lantai merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang diberlakukan di Sekolah Menengah Pertama. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dengan guru pendidikan jasmani saat pembelajaran senam lantai guling ke belakang yang dilakukan terhadap siswa kelas IX-F di SMP Negeri 10 Malang, didapatkan hasil penguasaan senam lantai guling ke belakang kurang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang diberlakukan di sekolah tersebut. Hal itu tentunya menuntut peningkatan keterampilan lebih ditingkatkan lagi, untuk memenuhi hasil belajar yang lebih baik lagi diterapkan part-whole methods. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan senam lantai guling ke belakang melalui penerapan part-whole methods pada siswa kelas IX-F di SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Peneliti berkolaborasi dengan Bapak Suyono selaku guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang mengajar di kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui penerapan part-whole methods pada siswa kelas IX-F SMP Negeri 10 Malang terjadi peningkatan hasil pada keterampilan guling ke belakang. Hasil observasi awal dari sikap awal dengan tingkat kesalahan 15,63%, posisi tangan dengan tingkat kesalahan 59,37%, posisi tungkai dengan tingkat kesalahan 34,37%, dan sikap akhir dengan tingkat kesalahan 18,75%. Hasil tindakan siklus 1 dari sikap awal dengan tingkat kesalahan 6,25%, posisi tangan dengan tingkat kesalahan 12,5%, posisi tungkai dengan tingkat kesalahan 9,37%, dan sikap akhir dengan tingkat kesalahan 0%. Hasil tindakan siklus 2 dari sikap awal tingkat kesalahannya 0%, posisi tangan dengan tingkat kesalahan 3,13%, posisi tungkai dengan tingkat kesalahan 3,13%, dan sikap akhir tingkat kesalahannya 0%. Simpulan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas melalui penerapan part-whole methods di SMP Negeri 10 Malang pada siswa kelas IX-F dapat meningkatkan keterampilan senam lantai guling ke belakang. Saran dari penelitian ini adalah metode bagian-keseluruhan (part-whole methods) sebaiknya diterapkan juga dalam pembelajaran yang lain.

Penggunaan rumput laut sebagai stabilizer terhadap kualitas produk es krim susu sari kedelai / Aviani Violisa

 

Kata kunci: es krim, susu sari kedelai, stabilizer, rumput laut. Permasalahan utama dari produk es krim, yang merupakan produk olahan dari lemak susu atau krim hewani atau nabati, adalah kecepatan leleh yang relatif cepat, sehingga perlu penambahan bahan penstabil untuk menjaga kondisi es krim agar tidak cepat meleleh. Salah satu jenis penstabil yang dapat digunakan adalah rumput laut yang berdaya guna tinggi namun masih jarang dimanfaatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat kimia, fisik, dan organoleptik dari es krim susu sari kedelai dengan rumput laut sebagai stabilizer. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Dalam penelitian ini digunakan rumput laut sebagai stabilizer pada es krim berbahan susu sari kedelai dengan konsentrasi 0,3%, 0,4% dan 0,5% dengan pengujian dilakukan sebanyak dua kali pengulangan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan ANOVA, jika terdapat perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut berkonsentrasi 0,5% memiliki kadar lemak tertinggi (1,97%), kadar protein tertinggi ( 5,909%), viskositas tertinggi (7,5 d pass), dan waktu kecepatan meleleh yang paling lama (8.765 menit/10 g), dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. Es krim susu kedelai dengan total padatan tertinggi (51.932%) diperoleh dari stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0.4%. Overrun tertinggi (27.39%) terdapat pada es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0,3%. Untuk nilai parameter mutu hedonik, es krim dengan stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0,5% menghasilkan rata-rata aroma tertinggi (3,6/tidak langu) dan rata-rata tekstur paling lembut (3,24), sedangkan es krim dengan stabilizer 0,3% rumput laut rata-rata rasa tertinggi (3,56/sangat manis). Untuk parameter hedonik yang lain, es krim susu sari kedelai dengan stabilizer rumput laut pada konsentrasi 0,4% memiliki kesukaan aroma tertinggi (2,92/suka) dan kesukaan rasa tertinggi yaitu (3/suka), sedangkan untuk kesukaan tekstur tertinggi (2,96/suka) didapat dari es krim susu keledai dengan stabilizer rumput laut dengan konsentrasi 0,4% dan 0,5%.Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa penggunaan rumput laut sebagai stabilizer menghasilkan perbedaan terhadap sifat kimia (kadar lemak dan total padatan), sifat fisik (viskositas, overrun dan kecepatan meleleh) dan sifat organoleptik (mutu hedonik aroma, mutu hedonik tekstur) pada es krim susu sari kedelai. Namun penggunaan rumput laut sebagai stabilizer tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap kadar protein, mutu hedonik rasa, kesukaan aroma, kesukaan rasa dan kesukaan tekstur pada es krim susu sari kedelai.

Pemanfaatan aplikasi e-learning dalam meningkatkan mutu pembelajaran pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di MAN 3 Malang / Yuni Arianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), E-Learning, Mutu Pembelajaran Pada masa sekarang ini telah banyak sekolah yang sudah banyak menggunakan E-Learning untuk menunjang proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pemanfaatan E-Learning dalam pembelajaran sudah mulai dilakukan meskipun belum secara menyeluruh dan kurang dimanfaatkan dengan baik. Padahal apabila E-Learning dimanfaatkan dengan baik dapat digunakan secara langsung untuk menyampaikan informasi pada siswa dan memberikan latihan mengetes kemampuan belajar siswa apabila guru tidak bisa hadir saat pembelajaran. Dengan adanya E-Learning materi yang diberikan oleh guru dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja dan di mana saja. Rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaiman pemanfaatan aplikasi E-Leraning untuk meningkatkan mutu pembelajaran, dilihat dari segi pembangunan intranet untuk mendukung input data website, pembelajaran, guru, siswa dan sumber belajar yang menunjang pemanfaatan E-Learning. Serta untuk mengetahui berbagai pertimbangan yang mendasari pemanfaatn E-learning , hambatan- hambatan dalam pemanfaatan E-Learning, serta upaya untuk meningkatkan pemanfaatan E-Learning dalam meningkatkan mutu pembelajaran pada mata pelajaran TIK. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pemanfaatan aplikasi E-Learnig untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan membangun sistem intranet untuk mendukung input data website di MAN 3 Malang telah baik, dimana aplikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi ke siswa memiliki isi yang sangat lengkap serta sumber belajar yang memadai. Pertimbangan pengembangan E-Learning di MAN 3 Malang karena adanya ICT yang memadai. Namun dalam pelaksanaan setiap sekolah pasti menemui hambatan-hambatan yang dialami diantaranya pemanfaatan E-Learning masih belum secara menyeluruh dalam waktu dekat ini akan diadakan sosialisasi ke guru dan siswa tentang pentingnya ICT untuk meningkatkan mutu pembelajaran, serta apabila listrik mati pembelajaran tidak dapat dilaksanakan sehingga harus dilanjutkan dengan tatap muka di kelas. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan pemanfaatan aplikasi E-Learning adalah meningkatkan sosialisasi tentang pentingya ICT ke guru dan siswa dan mengejak siswa untuk belajar secara sungguh- sungguh, bertanggung jawab serta percaya diri.Akan tetapi harapan ke depan pembangunan sistem intranet ini akan sinkronkan dengan website online MAN 3 Malang, sehingga dapat di akses dimana saja dan kapan saja.

Kebutuhan dan motivasi dalam disiplin belajar siswa di SMP Negeri 1 Karangploso / Nurmalita Ramadhani

 

Kata kunci : kebutuhan, motivasi, disiplin belajar Kebutuhan dan motivasi siswa tidak dapat dipisahkan dengan hal belajar, artinya seorang siswa melakukan aktifitas belajar tertentu karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan. Setiap siswa memiliki tingkatan-tingkatan variasi kebutuhan dalam disiplin belajar dan variasi motivasi dalam disiplin belajar. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana variasi kebutuhan dalam disiplin belajar siswa SMP Negeri 1 Karangploso (2) Bagaimana variasi motivasi dalam disiplin belajar siswa SMP Negeri 1 Karangploso. Subyek penelitian sebanyak 60 orang siswa, diambil dengan teknik random sampling dari populasi sasaran sebanyak 516 siswa di SMPN 1 Karangploso Malang. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yang diolah dengan metode kuantitatif deskriptif, dan diketahui hasilnya berdasar prosentase yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) variasi kebutuhan dalam disiplin belajar sangat tinggi adalah kebutuhan akan harga diri, tinggi adalah kebutuhan akan aktualisasi diri, cukup adalah kebutuhan akan rasa aman dan kebutuhan untuk mendapat pujian, dan kurang adalah kebutuhan untuk menghindari kritik dan celaan, (2) variasi motivasi dalam disiplin belajar sangat tinggi adalah motivasi pengembangan diri, tinggi adalah motivasi untuk hidup teratur, cukup adalah motivasi berprestasi, dan kurang adalah motivasi diterima kelompok. Jadi variasi kebutuhan dalam disiplin belajar dan motivasi dalam disiplin belajar siswa SMPN 1 Karangploso Malang adalah sangat tinggi, tinggi, cukup dan kurang. Disarankan kepada: (1) siswa menyeimbangkan antara kebutuhan dan motivasi serta tidak melupakan variasi kebutuhan dan variasi motivasi dalam disiplin belajar yang kurang yaitu kebutuhan untuk menghindari kritik dan celaan serta motivasi untuk diterima kelompok, (2) orang tua dapat menerapkan variasi kebutuhan serta variasi motivasi untuk membentuk kedisiplinan anak dalam belajar dirumah, sehingga anak dapat mengembangkan kemampuannya yang lain pada bidang non akademik, (3) variasi kebutuhan dan variasi motivasi dapat diterapkan oleh guru disekolah untuk lebih memotivasi semangat siswa dalam belajar agar lebih disiplin lagi dalam kegiatan belajar disekolah, terutama bagi konselor sekolah dapat menggunakan variasi kebutuhan dan variasi motivasi disiplin dalam belajar dalam proses konseling untuk dapat mengetahui seberapa tinggi siswa tersebut memiliki kedisiplinan belajar baik disekolah maupun dirumah.

Perbedaan antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT (numbered heads together) dengan model pembelajaran PBL(project based learning) terhadap hasil pembelajaran siswa pada pembelajaran web desain (mulok 1) di SMK Mahardika Malang / Risky Herdy Wardana

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Head Together) Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), Hasil Belajar Model pembelajaran dalam proses belajar mengajar sangat berperan dalam keberhasilan belajar siswa. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan memperbesar peluang pencapaian keberhasilan belajar. Langkah yang dapat diupayakan oleh seorang guru adalah dengan melakukan pendekatan-pendekatan secara individu kepada siswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata untuk memberikan bantuan dalam pemahaman materi agar tidak tertinggal oleh siswa lain dan memberikan motivasi agar siswa yang bersangkutan mau berusaha seperti siswa lain. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan: (1) Perbedaan hasil belajar siswa antara yang kegiatan pembelajaranya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan model pembelajaran PBL (Project Based Learning). Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment dengan teknik purposive sampling, adapun sampel penelitian adalah siswa kelas X TKJ 2 sebagai kelas kontrol dan X TKJ 1 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen permbelajaran yaitu silabus, rpp, dan instrumen pengukuran menggunakan rubrik afektif, unjuk kerja, jobsheet, tes formatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen adalah 74,8 dan pada kelompok kontrol adalah 74,7. Data hasil belajar dari masing-masing kelas diuji hipotesis menggunakan uji-t. Dari uji-t diperoleh hasil yaitu thitung (0,086) > ttabel (2,000) sehingga tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kesimpulan penelitian ini: (1) Tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas yang kegiatan pembelajaranya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan model PBL (Projct Baseed Learning)

Penerapan analisis regresi logistik biner untuk mengetahui kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen (Studi kasus di Matahari Departement Store Malang Town Square) / Septa Paramita

 

Kata kunci: kepuasan konsumen, regresi logistik biner, jaminan, empati. Kualitas mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan konsumen. Kualitas memberikan suatu dorongan kepada konsumen untuk menjalin hubungan yang kuat dengan perusahaan. Kepuasan konsumen merupakan respon pelanggan terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual yang dirasakannya setelah pemakaian. Kepuasan konsumen dipengaruhi oleh kualitas jasa, kualitas produk, harga dan faktor-faktor yang bersifat pribadi. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen di Matahari departement store Malang Town Square. Ada lima variabel prediktor yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: keandalan (X1), daya tanggap (X2), jaminan (X3), empati (X4) dan bukti fisik (X5). Sedangkan variabel responnya adalah kepuasan konsumen (Y). Dari variabel-variabel tersebut dilakukan uji individu menggunakan analisis regresi logistik biner untuk mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi kepuasan konsumen. Berdasarkan uji tersebut, diketahui bahwa variabel jaminan (X3) dan empati (X4) adalah variabel yang mempengaruhi kepuasan konsumen (Y) secara individu Dari analisis regresi logistik biner multivariat dengan menggunakan metode backward Wald diperoleh kesimpulan bahwa yang mempengaruhi kepuasan konsumen (Y) adalah jaminan (X3) dan dengan kontribusi sebesar 1,974 dan empati (X4) dengan kontribusi sebesar 1,683 serta ketepatan klasifikasinya sebesar 76%.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV melalui penerapan model clis di SDN Kemirisewu 2 Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Dedy Meyga Saputra

 

Kata kunci: PTK, Aktivitas belajar, Hasil belajar, Pembelajaran IPA, Model CLIS (Children Learning In Science). SDN Kemirisewu 2 Kec. Pandaan Kab. Pasuruan merupakan sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya penguasaan materi dikarenakan kurang menggunakan model pembelajaran inovatif. Siswa cenderung terlihat jenuh setiap kali pembelajaran, karena hanya mendengarkan ceramah dari guru. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan penggunaan model CLIS untuk meningkatkan keaktifan siswa, sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep IPA. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan: 1) penerapan model CLIS pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV SDN Kemirisewu 2 Kec. Pandaan Kab. Pasuruan; 2) peningkatan aktivitas belajar siswa setelah diterapkan model CLIS pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV SDN Kemirisewu 2 Kec. Pandaan Kab. Pasuruan; 3) peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model CLIS pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV SDN Kemirisewu 2 Kec. Pandaan Kab. Pasuruan. Penelitian ini menggunakan jenis PTK yang meliputi beberapa tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IV SDN Kemirisewu 2 Kec. Pandaan Kab. Pasuruan, dengan banyaknya siswa 37 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2011-2012, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai IPA, LKS, soal test akhir sebanyak 15 soal, lembar observasi penguasaan materi siswa dan lembar observasi aktivitas siswa. Hasil Penelitian penerapan model CLIS meliputi tahap orientasi, pemunculan gagasan, kontruksi gagasan, penerapan gagasan, kajian ulang perubahan gagasan. Penerapan model CLIS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pelajaran IPA siswa kelas IV SDN Kemirisewu 2 Kec. Pandaan Kab. Pasuruan. Hal itu ditunjukan rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 66,29% meningkat menjadi 93,04% pada siklus II. Sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa sebelum tindakan sebesar 35,13%, pada siklus I sebesar 64,86% dan meningkat menjadi 89,18 pada siklus II. Karena ketuntasan hasil belajar lebih dari 70%, maka kegiatan penelitian dihentikan. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada guru menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran, Bagi Kepala sekolah agar mensosialisasikan hasil penelitian kepada guru-guru yang lain.

Perbedaan faktor sosial budaya, pengetahuan ibu, dan keadaan lingkungan perumahan yang berpengaruh terhadap perbedaan morbiditas diare pada balita antara dusun Jumput dan dusun Bunder desa Ampeldento Kecamatan Karangploso / Zaimatus Sa'ida

 

Analisis SWOT untuk pengembangan objek wisata Pantai Dlodo Kabupaten Tulungagung / Nahrowi

 

ABSTRAK Nahrowi. 2015. Analisis SWOT untuk Pengembangan Objek Wisata Pantai Dlodo Kabupaten Tulungagung. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Komang Astina, M.S., Ph.D. (2) Drs. Yusuf Suharto, M.Pd. Kata Kunci: Parameter Kesesuaian Lahan, Klasifikasi Kesesuaian Lahan, Analisis SWOT Pantai Dlodo merupakan objek wisata yang terletak ± 35 km arah selatan dari pusat Kota Tulungagung. Pantai Dlodo termasuk salah satu pantai yang belum dikembangkan namun menjadi prioritas pengembangan dalam RTRW Kabupaten Tulungagung tahun 2012-2032. Terdapat beberapa permasalahan di Pantai Dlodo untuk dijadikan sebagai tempat wisata seperti sedimentasi muara sungai, aksesibilitas yang sulit dan menjadi daerah rawan bencana Tsunami. Penelitian terhadap objek wisata Pantai Dlodo dilakukan untuk dapat mengetahui klasifikasi kesesuaian lahan dan strategi pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan parameter kesesuaian lahan yang terdapat pada objek wisata Pantai Dlodo 2) Melakukan klasifikasi sesuaian lahan untuk mengetahui kelayakan pengembangan objek wisata Pantai Dlodo 3) Melakukan analisis SWOT untuk menentukan strategi pengembangan dalam upaya mendukung pengembangan objek wisata Pantai Dlodo Kabupaten Tulungagung. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei. Objek yang diteliti adalah objek wisata Pantai Dlodo di Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Data yang digunakan berupa data primer dari hasil pengukuran, observasi dan wawancara serta data sekunder dari kutipan instansi-instansi terkait. Teknik pengambilan data berupa pengukuran, observasi, wawancara dan dokumantasi. Teknik analisis data berupa analisis deskriptif, analisis kesesuaian lahan dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata Pantai Dlodo memiliki parameter kesesuaian lahan yang mendukung pengembangan pariwisata. Parameter tersebut adalah kemiringan pantai, mineral penyusun, relief, drainase, vegetasi/tutupan lahan, aksesibilitas, suhu, dinamika pantai, kecepatan angin, ketersediaan air tawar, tinggi gelombang, biota berbahaya dan lebar pantai. Hasil analisis kesesuaian lahan wisata menunjukkan bahwa Pantai Dlodo memiliki persentase sebesar 73,21%. Nilai tersebut termasuk dalam kategori S2 karena berada pada rentang nilai 62,52 – 81,25%. Berdasarkan indeks kesesuaian wisata, Pantai Dlodo termasuk dalam kategori sesuai untuk dikembangkan menjadi daerah wisata pantai. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa objek wisata Pantai Dlodo terletak pada kuadran III. Hal ini menunjukkan bahwa objek wisata Pantai Dlodo menghadapi beberapa kendala atau kelemahan internal, namun memiliki peluang besar untuk dikembangakan. Alternatif strategi yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan semaksimal mungkin peluang yang ada.

Hubungan antara penalaran moral dengan sikap terhadap perilaku seks pranikah pada remaja putri / Angelita Pricylia

 

Kata kunci : penalaran moral, sikap terhadap perilaku seks pranikah, , remaja putri Sebagai remaja usia 16-17 tahun, siswi kelas X dan XI IPA SMAN 7 Malang mulai menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenis dan mulai menjalin hubungan, sehingga mereka diperlukan informasi yang bertanggung jawab mengenai reproduksi sehat. Atas dasar pertimbangan dari pengamatan ini, banyak siswa dipandang perlu mendapatkan tambahan wawasan yang lebih detail tentang hubungan antara laki-laki dengan perempuan, dan mengenai bagaimana pergaulan atau pacaran yang sehat. Dari hasil survei yang dilakukan BKKBN tahun 2008 menyatakan 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia telah melakukan seks pranikah. Semua ini dapat terjadi karena kepribadian dan tingkat penalaran moral siswa yang kurang baik. Keberhasilan perkembangan penalaran moral remaja di masyarakat ikut menentukan keberhasilan remaja dalam menentukan pola pergaulannya di masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional. Analisis penelitian menggunakan korelasi Spearman karena kedua datanya ordinal. Populasi penelitian adalah siswi kelas X dan XI IPA SMAN 7 Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berusia 16-17 tahun, dan sedang berpacaran. Populasi yang ada dalam penelitian ini berjumlah 88 siswi yang dibagi menjadi dua ; subyek Try Out sebanyak 30 siswi dan sampel sebanyak 58 siswi. Penelitian ini mengggunakan keseluruan populasi. Alat pengumpul data yang digunakan adalah angket pengungkap pendapat tentang masalah-masalah sosial dan skala sikap terhadap perilaku seks pranikah. Dari hasil penelitian diketahui subyek berada pada tahapan keempat yaitu berorientasi pada hukum dan kepatuhan, sedangkan sikap terhadap perilaku seks pranikah berada pada tingkatan sangt rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh nilai Koefisien Korelasi -0,168; p > 0,05, dengan signifikansi 0,209 yang berarti tidak signifikan. Berdasarkan perhitungan korelasi tersebut dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara penalaran moral dengan sikap remaja terhadap perilaku seks pranikah pada siswi kelas X dan XI jurusan IPA SMAN 7 Malang tahun ajaran 2011/2012 Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan beberapa saran : Tingkat penalaran moral pada subyek termasuk kategori sedang dan perilaku seks pranikah termasuk dalam kategori sangat rendah. Dengan demikian siswa harus bisa mempertahankan sikap negatif terhadap perilaku seks pranikah dan meningkatkan penalaran moral yang dimiliki. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kesadaran dalam menentukkan sikap terhadap perilaku seks pranikah sesuai dengan ajaran agama, dan tidak terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan

Pengaruh persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi dan lingkungan sekolah yang baik terhadap hasil belajar siswa jurusan IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negri 1 Talun tahun ajaran 2011/2012 / Yebi Trisnawati

 

Kata Kunci: persepsi, profesionalitas guru, lingkungan sekolah, hasil belajar Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi faktor kesehatan, psikologis, dan kelelahan, serta faktor eksternal yaitu faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Adapun faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah faktor sekolah yang meliputi profesionalitas guru dan lingkungan sekolah. Guru memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran, hal ini dikarenakan guru berinteraksi langsung dengan siswa, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Seorang guru dikatakan profesional apabila memiliki kemampuan atau kompetensi yaitu seperangkat kemampuan sehingga dapat mewujudkan kinerja profesionalnya. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Selain itu, lingkungan sekolah yang baik juga memegang peranan penting bagi perkembangan belajar para siswa. Lingkungan tersebut meliputi sarana pembelajaran, prasarana pembelajaran, kurikulum sekolah, standar mata pelajaran, disiplin sekolah, waktu sekolah, dan relasi siswa dengan warga sekolah. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi terhadap hasil belajar siswa Jurusan IPS di SMA Negeri 1 Talun pada mata pelajaran ekonomi. (2) Ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang lingkungan sekolah terhadap hasil belajar siswa Jurusan IPS di SMA Negeri 1 Talun pada mata pelajaran ekonomi. (3) Ada pengaruh yang signifikan antara persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi dan lingkungan sekolah terhadap hasil belajar siswa Jurusan IPS di SMA Negeri 1 Talun pada mata pelajaran ekonomi. Asumsi penelitian yaitu (1) profesionalitas guru mata pelajaran ekonomi dianggap berbeda, (2) maisng-masing siswa memiliki kemampuan berbeda, dan (3) nilai siswa dalam mata pelajaran ekonomi yang tercantum dalam nilai ulangan harian; tugas; dan UTS benar-benar mencerminkan haisl belajar siswa yang bersangkutan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI dan XII Jurusan IPS di SMA Negeri 1 Talun tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 167 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini berdasarkan rumus Slovin dengan menggunakan teknik “random sampling”, dan diperoleh 63 responden. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanasi, dengan teknis analisis regresi linear berganda. Variabel penelitian antara lain: persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi (X1), persepsi siswa tentang lingkungan sekolah yang baik (X2), dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (Y). Teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner, observasi lapangan, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa (1) profesionalitas guru ekonomi dipersepsikan baik oleh siswa sebesar 28,57%, cukup baik sebesar 68,25%, dan kurang baik sebesar 3,18%. (2) Lingkungan sekolah dipersepsikan sangat baik oleh siswa sebesar 12,70%, baik sebesar 60,32%, cukup baik sebesar 26,98%. (3) hasil belajar siswa klasifikasi baik sebesar 80,95% dan cukup baik sebesar 19,05%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa (1) pengaruh persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi (X1) terhadap hasil belajar siswa (Y) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < α = 0,05. (2) Pengaruh persepsi siswa tentang lingkungan sekolah (X2) terhadap hasil belajar siswa (Y) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < α = 0,05. (3) Pengaruh persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi dan lingkungan sekolah (X) terhadap hasil belajar siswa diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < α = 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa Jurusan IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Talun. (2) Persepsi siswa tentang lingkungan sekolah berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa Jurusan IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Talun. (3) Persepsi siswa tentang profesionalitas guru ekonomi dan lingkungan sekolah berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa Jurusan IPS di SMA Negeri 1 Talun. Saran yang diajukan adalah (1) bagi guru ekonomi diharapkan dapat meningkatkan profesionalitas kerja melalui berbagai pelatihan dan seminar. (2) Bagi SMA Negeri 1 Talun, diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas lingkungan sekolah baik dari segi fisik maupun non fisik demi tercapainya lingkungan sekolah yang kondusif dan akademis untuk mendorong siswa berprestasi. (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan variabel penelitian sehingga hasil penelitiannya lebih representatif dengan perkembangan jaman.

Analisis pengaruh variabel makro terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008-2010 / Ary Prayoga

 

Kata Kunci : variabel makro, harga saham perbankan. Pasar modal memiliki fungsi sebagai sarana perusahaan dalam peningkatan peningkatan kebutuhan jangka dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi akan dipengaruhi beberapa faktor dari internal (mikro) maupun eksternal (makro). Fluktuasi harga saham harga yang mampu mencerminkan kemajuan suatu negara dapat diihat dari perubahan faktor lingkungan makro. Dengan kata lain mengestimasi aliran kas, bunga ataupun premi resiko dari suatu sekuritas. Inflasi, suku bunga dan kurs dollar adalah faktor dalam perekonomian yang memberikan pengaruh dalam aktivitas pasar modal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk hubungan dan faktor yang dominan antara inflasi, suku bunga SBI dan kurs rupiah terhadap dollar dengan harga saham perbankan yang terdaftar di BEI.Perusahaan perbankan dipilih kaena dalam kurun 2008-2010 pergerakan saham-saham jenis perbankan termasuk cukup tinggi dengan peningatan yang stabil sehingga mampu merefleksikan perekonomian Indonesia. Pengambilan data diperoleh dari data sekunder dengan model yang digunakan dalam menganalisis hubungan variabel-variabel diatas tersebut adalah model korelasi dengan alat uji regresi linier berganda.Popolasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI pada periode 2008-2010. Sampel dalam penelitian ini harga saham bank BNI, BRI dan Mandiri. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode purposive sampling Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga variabel yakni tingkat suku bunga SBI memiliki hubungan yang negative dengan harga saham perbankan namun hanya tingkat suku bunga SBI yang memiliki tingkat kekuatan yang tinggi.Hal itu dipengaruhi oleh perpidahan investasi dari pasar modal ke investasi bunga, untuk mendapakan selisih bunga yang tinggi atas naiknya tingkat SBI yang dikeluarkan pemrintah dalam menyikapi krisis finansial global. Sedangkan inflasi dan kurs dollar tidak memiliki hubungan dengan harga saham perbankan.Namun dalam hubungan secara bersama-sama, tiga variabel tersebut memiliki hubungan yang kuat terhadap harga saham perbankan.Sehingga berdasarkan penenlitian ini, dapat disarankan bagi para investor pasar modal untuk mempertimbangkan flutuasi variabel makro selain melihat dari sisi intern perusahaan.

Penerapan model group investigation untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang / Citra Rusanti

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Group Investigation, Pembelajaran, IPA. Pembelajaran harus dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Berdasarkan observasi di SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang, pembelajaran cenderung monoton dan tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan pendapatnya. Kegiatan siswa terlihat pasif, hanya mencatat apa yang disampaikan oleh guru dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini menyebabkan siswa kurang bisa membangun konsep pengetahuannya sendiri dan bertukar pikiran dengan guru maupun teman sekelasnya sehingga pembelajaran IPA dari segi proses dan hasil masih belum maksimal. Hasil belajar yang diperoleh siswa pun belum mencapai KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penerapan model Group Investigation dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang; (2) meningkatkan aktivitas siswa kelas IV dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model Group Investigation siswa kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang; (3) meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA setelah menerapkan model Group Investigation di kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 30 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK yang meliputi empat tahap yaitu: 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Group Investigation di kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti dengan tercapainya seluruh indikator dalam RPP dengan baik, yang dibuat berorientasi pada keaktifan siswa. Pada setiap siklus indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat yaitu 82,61 pada siklus I dan meningkat menjadi 93,48 pada siklus II. Penerapan model Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini terbukti dengan skor rata-rata siswa pada siklus I yang mencapai 40,67 dan meningkat pada siklus II dengan memperoleh skor rata-rata 69. Selain aktivitas juga dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yang mendapat nilai 62,93 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 48,33% meningkat menjadi 76,27 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 80% pada siklus II. Hal ini berarti dengan menerapkan model Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di kelas IV SDN Blayu 01 Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan sebelum melaksanakan pembelajaran dengan model Group Investigation, sebaiknya dilakukan perencanaan yang matang terlebih dahulu untuk menghindari kekacauan dalam kelas dan lebih teliti dalam menilai aktivitas siswa.

Al-munasabah baina an-nidhom ash-shontiyyi fil-mufrodati al-akhiroti min surat at-takwir wa makho ayatina
oleh Siti Faridah

 

Studi sarana prasarana laboratorium pada mata pelajaran dasar teknologi menjahit di SMK Kartika IV-1 Malang / Siti Nur Kalimah

 

ABSTRAK Kalimah, Siti Nur. 2015. Studi Sarana Prasarana Laboratorium pada Mata Pelajaran Dasar Teknologi Menjahit di SMK Kartika IV-1 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Idah Hadijah, M.Pd. (II) Agus Sunandar, S.Pd, M.Sn. Kata Kunci :Sarana, Prasarana, Dasar Teknologi Menjahit (DTM) SMK adalah sekolah yang menyiapkan kelulusan sebagai tenaga kerja tingkat menengah profesional dengan presentase terbesar pada pelajaran praktik di laboratorium. SMK Kartika IV-1 Malang mempunyai ruang laboratorium yang kurang memadai baik dari segi sarana maupun prasarananya, ruang gerak siswa terbatas dan siswa memakai mesin jahit secara bergantian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sarana dan prasarana laboratorium pada mata pelajaran DTM di SMK Kartika IV-1 Malang. Penelitian ini menggunakan 1 variabel yaitu sarana prasarana pada mata pelajaran DTM. Populasi terdiri dari 19 siswa kelas XI Busana, sedangkan sampelnya terdiri dari 5 responden yang diambil dari 19 siswa kelas XII Busana. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah proposional random sampling. Pengumpulan data menggunakan metode angket dan observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif, fungsinya untuk mengetahui, menganalisis hasil penelitian dan memaparkan hasil penelitian kondisi sarana dan prasarana laboratorium pada mata pelajaran DTM di SMK Kartika IV-1 Malang. Sarana mata pelajaran DTM di SMK Kartika IV-1 Malang dalam kondisisesuai kebutuhan siswa dengan persentase 57,9%. Jumlahsarana yang dimiliki laboratorium mata pelajaran DTM ini sebanyak 89 item, kondisi yang bisa digunakan sebanyak 76,4% dan kondisi yang tidak bisa digunakan sebanyak 23,6%. Prasarana mata pelajaran DTM di SMK Kartika IV-1 Malang dalam kondisi kurang sesuaidan tidaksesuai kebutuhan siswa dengan persentase 36,8%. Jumlahprasarana yang dimiliki sebanyak 222 item,kondisi yang bisa digunakan sebanyak 61,9% dan tidak bisa digunakan sebanyak 38,1%. Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulakan bahwa kondisisarana mata pelajaran DTM dalam kondisisesuai dengan kebutuhan siswa. Prasarana mata pelajaran DTM dalam kondisi kurang sesuaidan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Pihak sekolah disarankan untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan serta menyajikan sarana dan prasarana sesuai dengan standar umum pendidikan kejuruan, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.Guru pengajar dan siswa diharapkan dapat menjaga, merawat dan menggunakan fasilitas yang ada dengan baik sehingga fasilitas yang ada dapat bertahan lama dan berfungsi dengan baik. Mengatasi sarana dan prasarana yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa dan standar, diharapkan guru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dan memiliki inisiatif untuk mengganti ataupun membagi sarana dan prasarana yang ada, sehingga proses pembelajaran praktik tetap berjalan dengan lancar sesuai tujuan pendidikan kejuruan.

Pengaruh return on assets (ROA) return on equity (ROE) terhadap return saham melalui trading vulume activity (TVA) pada perusahaan automotive and allied product yang listing di BEI periode 2008-2010 / Dewi Rifqiyati Sari

 

Kata Kunci :Return on Asset, Return on Equity, Trading Volume Activity, Return Investasi pada asset keuangan mengandung banyak ketidakpastian, sehingga investor perlu melakukan penilaian terhadap saham yang akan dipilihnya. Para investor hendaknya mampu menganalisa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk memberikan return kepada investor. Kemampuan atau kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan, yang dapat diukur dengan menggunakan rasio. Rasio tersebut antara lain rasio (ROA, ROE), dan TVA. Oleh karena itu penting untuk mengetahui ada atau tidak ada pengaruh rasio profitabilitas terhadap return saham melalui TVA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara ROA, ROE, terhadap return saham, yang diperkuat oleh TVA. Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif kausalitas (sebab-akibat). Populasi dalam penelitian ini adalah 19 perusahaan automotive and allied product yang listing di BEI periode 2008-2010. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 10 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis), dan analisa data menggunakan bantuan SPSS 17.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ROA dan ROE berpengaruh signifikan terhadap TVA. Sedangkan untuk pengaruh terhadap return, variabel ROA, ROE, tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return dan TVA bukan merupakan variabel mediator maupun moderator karena tidak terdapat pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung variabel ROA dan ROE terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan yaitu : (1) Bagi investor atau calon investor yang melakukan investasi di pasar modal hendaknya investor memperhatikan faktor-faktor makro seperti inflasi, tingkat suku bunga, kurs rupiah, IHSG, rumors, dll dalam menentukan investasi selanjutnya sebagai acuan dalam pengambilan keputusan investasi, (2) Bagi perusahaan atau emiten, Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi manajer dalam menentukan strategi pengambilan keputusan investasi di pasar moda (3) Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menggunakan periode waktu penelitian yang lebih panjang dan menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dan dapat menambahkan variabel-variabel makro seperti (Inflasi, Kurs Rupiah, IHSG, Rumors, dll).

Aplikasi analisis CAMEL (capital, assets, management, earnings, liquidity) untuk menilai kerja keuangan pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode 2006-2008 / Amiroh Thayyiba

 

Kata Kunci: Kesehatan dan Kinerja Bank, Analisis CAMEL Perbankan merupakan salah satu sektor ekonomi yang penting peranannya. Kegiatan pokok bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat serta mempunyai fungsi sebagai intermediary service. Dasar operasi bank adalah kepercayaan karena suatu kepercayaan merupakan modal utama dari kegiatan usaha bank. Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode mencakup aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menganalisa dan mengevaluasi laporan keuangan. Penilaian kinerja atau kesehatan bank umum bertujuan untuk mengetahui kesehatan dan masa depan bank secara keseluruhan. Kesehatan suatu bank merupakan modal utama dari sebuah bank karena apabila bank tersebut dikatakan sehat maka masyarakat akan percaya pada bank tersebut dan kemudian masyarakat mau untuk menyimpan uang di bank tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan pada Bank BRI melalui analisis CAMEL. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk peningkatan kinerja keuangan perbankan dan juga sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan melakukan investasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder dan menggunakan metode pengumpulan data yaitu teknik dokumentasi. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data laporan keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk di BEI periode Desember 2006 dan Desember 2008. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa Bank BRI yakni dalam kategori predikat sehat sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Disamping itu, fokus usaha Bank BRI adalah melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah uuntuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat. Dari hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan untuk Bank BRI adalah kedepannya Bank BRI dapat selalu menjaga likuiditas dan kesehatannya serta dapat mempertahankan predikat yang didapat dengan memberikan pelayanan yang baik sehingga membuat nasabah merasa nyaman.

Pengaruh motivasi belajar dan persepsi mahasiswa tentang metode mengajar dosen terhadap prestasi akademik mahasiswa jurusan S1 Akuntansi Falkultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Media Lestika Sari

 

Kata Kunci: Motivasi Belajar, Metode Mengajar Dosen, Prestasi Akademik Keberhasilan belajar mahasiswa dapat ditentukan oleh motivasi belajar yang dimilikinya (Sanjaya, 2008:249) dan metode mengajar dapat mempengaruhi keberhasilan belajar mahasiswa (Slameto, 2003:65). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar dan persepsi mahasiswa tentang metode mengajar dosen terhadap prestasi akademik mahasiswa jurusan S1 akuntansi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan S1 akuntansi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Seluruh sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 mahasiswa. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan angket untuk variabel motivasi belajar dan persepsi mahasiswa tentang metode mengajar dosen serta dokumentasi untuk prestasi akademik berupa Indeks Prestasi matakuliah pengantar akuntansi I dan pengantar akuntansi II. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi berganda. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan motivasi belajar terhadap prestasi akademik dengan tingkat signifikansi sebesar 0,028<0,05 dan nilai t hitung sebesar 2,260> t tabel sebesar 2,001 dan tidak terdapat pengaruh persepsi mahasiswa tentang metode mengajar dosen terhadap prestasi akademik mahasiswa jurusan S1 akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan beberapa hal diantaranya adalah: (1) Mahasiswadiharapkan lebih meningkatkan motivasi belajarnya, karena motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar akuntansi sehingga prestasi belajar akuntansi akan terus meningkat, (2) Dosen dalam mengajar diharapkan menggunakan metode mengajar yang menarik dan bervariasi agar mahasiswa tidak merasa bosan dan selalu memberikandukungan dan motivasi kepada mahasiswa agar lebih bersemangat dan memiliki antusias yang tinggi dalam belajar akuntansi, (3) Penelitian selanjutnaya diharapkan menambah variabel selain variabel motivasi dan persepsi mahasiswa tentang metode mengajar dosen, selain variabel yang telah diteliti yaitu kebiasaan belajar, intelektual skill, fasilitas belajar mahasiswa dan memperluas populasi penelitian tidak terbatas pada angkatan 2009.

Inovasi kroket beku berbahan dasar umbi ganyong / Primasita Safitri

 

Kata kunci: Kroket, umbi ganyong, uji kesukaan Kroket adalah makanan berbahan dasar gumpalan puree kentang yang berisi daging yang dibumbui dan dicampur dengan sayuran dan dilapisi dengan telur dan tepung pelapis. Umbi ganyong putih sebagai bahan dasar pembuatan produk kroket memiliki kandungan karbohidrat tinggi sehingga berpeluang untuk diversifikasi bahan baku pangan sumber sumber karbohidrat. Uji coba pembuatan produk kroket ganyong dilakukan sebanyak tiga kali, dengan formulasi yang berbeda. Formulasi resep kroket yang diuji cobakan kepada konsumen adalah formulasi resep ketiga yang menghasilkan kroket dengan tekstur yang padat, warna kuning kecoklatan dan flavour ganyong yang masih bisa dirasakan. Penelitian ini adalah penelitian uji kesukaan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap warna, tekstur dan flavour kroket ganyong. Analisis data yang digunakan dalam penelitian uji kesukaan ini adalah persentase. Hasil dari uji kesukaan terhadap warna kroket ganyong menunjukkan bahwa konsumen yang menyukai produk kroket ganyong, yaitu sebesar 94,56%. Hasil dari uji kesukaan terhadap tekstur kroket ganyong yang dapat diterima oleh konsumen, yaitu sebesar 83,68%. Hasil dari uji kesukaan terhadap flavour kroket ganyong menunjukkan bahwa konsumen yang menyukai, yaitu sebesar 63,04%. Kesimpulan dari penelitian uji kesukaan ini adalah secara keseluruhan produk kroket ganyong dapat diterima oleh konsumen dari kalangan remaja dan dewasa dari warna, tekstur dan flavour yang dihasilkan. Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu perlu diteliti mengenai jenis kemasan yang cocok untuk produk kroket agar mempunyai daya simpan yang lebih lama serta produk inovasi berbahan dasar umbi ganyong.

Pengaruh current ratio, account receivable turnover, asset turnover terhadap rentabilitas koperasi pegawai Republik Indonesia (KPRI) di kota Malang tahun 2010 / Putri Oktavia

 

Kata Kunci: current ratio, account receivable turnover, assets turnover, rentabilitas, KPRI, Malang Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) merupakan koperasi kumpulan para pegawai negeri. Tujuan KPRI adalah mensejahterahkan anggotanya dan meningkatkan Rentabilitas. Banyak faktor yang mempengaruhi rentabilitas KPRI di antaranya dalam penelitian ini ada tiga faktor yaitu, current ratio, account receivable turnover, dan assets turnover. Semakin tinggi current ratio maka semakin tinggi pula tingkat rentabilitasnya. Untuk account receivable turnover, semakin tinggi account receivable turnover maka semakin rendah lama pengembaliannya sehingga rentabilitas dapat meningkat. Sedangkan assets turnover, semakin tinggi assets turnover maka semakin tinggi pula penjualan yang dihasilkan dengan menggunakan aktivanya sehingga rentabilitas yang dihasilkan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi current ratio, Account receivable turnover, assets turnover, dan rentabilitas KPRI di Kota Malang tahun 2010, serta untuk mengetahui apakah current ratio, account receivable turnover, assets turnover secara parsial dan simultan berpengaruh terhadap rentabilitas KPRI di kota Malang tahun 2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausalitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda dengan α (0.05). populasi sebanyak 65 KPRI yang aktif di kota Malang dan sampel yang digunakan adalah 30 KPRI di kota Malang tahun 2010 dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian diperoleh dari laporan keuangan berupa neraca KPRI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat current ratio mengindikasikan kondisi yang over likuid, account receivable turnover menunjukkan kondisi yang cukup efisien, dan assets turnover menunjukkan kondisi yang kurang efisien. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa current ratio tidak berpengaruh signifikan, account receivable turnover berpengaruh positif signifikan, assets turnover berpengaruh positif signifikan terhadap rentabilitas KPRI di kota Malang tahun 2010. Secara simultan current ratio, account receivable turnover dan assets turnover berpengaruh positif signifikan terhadap rentabilitas KPRI di kota Malang tahun 2010. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh disarankan kepada pihak manajemen KPRI untuk dapat mengelola aktiva lancarnya dengan menjaga tingkat likuiditas agar current ratio tidak melebihi 200% sehingga tidak mengalami over likuid. dan dapat memutar aktivanya menjadi modal kerja sehingga dapat meningkatkan efektifitas kegiatan operasionalnya, dan saran yang lain dapat lebih selektif menyeleksi anggota atau konsumen yang mengajukan kredit.

Pengaruh kualifikasi akademik, pelatihan, pengalaman mengajar, dan persepsi guru tentang penerapan pembelajaran IPS secara terpadu terhadap kinerja guru IPS terpadu di SMP Negeri Se-kota Blitar / Afni Tri Rahayu

 

Kata kunci: kinerja guru, kualifikasi akademik, pelatihan, pengalaman mengajar, persepsi, IPS Terpadu. Pendidikan mempunyai peranan penting di dalam pembinaan dan pembangunan suatu bangsa. Oleh karena itu tujuan pendidikan nasional dari suatu bangsa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan nasional dan filsafat hidup dari suatu bangsa tersebut. Untuk mencapai keberhasilan dari tujuan pendidikan tersebut pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi, antara lain adalah guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan dan kurikulum. Dalam faktor tersebut, guru dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah menempati kedudukan yang sangat penting dan tanpa mengabaikan faktor penunjang yang lain, guru sebagai subyek pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Mengingat guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, maka perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat, profesional, dan memiliki kinerja yang baik. Untuk pencapaian kinerja guru yang baik banyak faktor yang mempengaruhi antara lain guru harus memiliki kualifikasi akademik yang sesuai dengan ketentuan dan bidangnya, sering mengikuti pelatihan, memiliki pengalaman mengajar yang baik, dan memiliki persepsi dan pemahaman yang baik tentang penerapan pembelajaran IPS secara terpadu. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui (1) pengaruh antara kualifikasi akademik terhadap kinerja guru IPS Terpadu di SMP Negeri se-Kota Blitar, (2) pengaruh antara pelatihan terhadap kinerja guru IPS Terpadu di SMP Negeri se-Kota Blitar, (3) pengaruh antara pengalaman mengajar terhadap kinerja guru IPS Terpadu di SMP Negeri se-Kota Blitar, (5) pengaruh antara persepsi guru tentang penerapan pembelajaran IPS secara terpadu terhadap kinerja guru IPS Terpadu di SMP Negeri se-Kota Blitar, (6) pengaruh antara kualifikasi akademik, pelatihan pengalaman mengajar, dan persepsi guru tentang penerapan pembelajaran IPS secara Terpadu secara simultan terhadap kinerja guru IPS Terpadu di SMP Negeri se-Kota Blitar. Penelitian dilakukan pada guru IPS Terpadu di SMP negeri se-Kota Blitar. Populasi dalam penelitian ini adalah guru IPS Terpadu se-Kota Blitar yang berjumlah 56 guru, kepala sekolah berjumlah 10 orang, dan sampel siswa yang diajar oleh guru IPS Terpadu yang berjumlah 280 siswa. Pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda.

Peranan sektor pariwisata dalam meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Lamongan / Risa Eka Febrianti

 

Kata Kunci: Potensi pariwisata, Upaya, Pendapatan Asli Daerah Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan tidak terlepas dari peran serta daerah dalam turut mewujudkan tujuan pembangunan daerah secara utuh dan terpadu. Setiap pemerintah daerah berupaya keras meningkatkan perekonomian daerahnya sendiri termasuk meningkatkan perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu upaya untuk meningkatkan penerimaan daerah yaitu dengan mengoptimalkan potensi dalam sektor pariwisata. Pembangunan kepariwisata dilanjutkan dan ditingkatkan dengan mengembangkan dan mendayagunakan sumber dan potensi kepariwisataan nasional menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan untuk memperbesar penerimaan devisa, memperluas dan meratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja bagi daerah setempat, mendorong pembangunan, serta memperkenalkan nilai budaya bangsa. Rumusan masalah dalam peneitian ini adalah: Apa saja sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah, Bagaimanakah peranan sektor pariwisata dalam meningkatkan PAD, dan Bagaimanakah upaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam pembangunan sektor pariwisata di Kabupaten Lamongan. Jenis Penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan, beberapa obyek wisata di Kabupaten Lamongan dengan teknik survei lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan : Sektor pariwisata di Kabupaten Lamongan menunjukkan perkembangan yang cukup baik, terutama setelah adanya Obyek wisata Wisata Bahari Lamongan, Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah yaitu berasal dari Pajak daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, Retribusi Daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, serta Lain-lain pendapatan asli daerah sah. Upaya dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam pembangunan sektor pariwisata agar dapat menarik pengunjung obyek wisata yang lebih banyak yaitu kegiatan marketing dan promosi, mengadakan riset pemasaran wisata, sehingga perlu meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan potensi dan peluang pariwisata dalam kaitannya dengan PAD Kabupaten Lamongan adalah: Pentingnya untuk mensosialisasikan Program Sadar Wisata pada semua warga Kabupaten Lamongan sehingga diharapkan POKDARWIS tiap desa akan bisa memaksimalkan potensi-potensi di desanya masing-masing dengan keunikan yang mereka miliki. Serta di dukung dengan Faktor keamanan yang mutlak diperlukan karena bisa menjamin rasa aman wisatawan di Kabupaten Lamongan.

Pengaruh model pembelajaran Snowballing terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Batu / Asviana Fildasari

 

Kata kunci: hasil belajar, model pembelajaran snowballing Model pembelajaran merupakan bagian penting yang digunakan dalam upaya pencapaian hasil belajar yang maksimal. Dengan adanya model pembelajaran yang tepat, proses pembelajaran dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan mencapai tujuan pembelajaran serta hasil belajar yang optimal. Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran yang diharapkan, upaya yang dilakukan seorang guru adalah dengan cara memperhatikan pola belajar siswa, menguasai materi pelajaran, memilih metode dan model pembelajaran yang tepat dan tidak membosankan serta melakukan proses pembelajaran yang efektif. Dewasa ini terdapat berbagai model pembelajaran yang telah dikembangkan dalam rangka meningkatkan keterlibatan siswa. salah satu model pembelajaran berpusat pada siswa dan dapat menumbuhkan keaktifan belajar siswa adalah snowballing, Model ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi siswa secara bertingkat. Diskusi mulai dari kelompok kecil secara berpasangan kemudian dilanjutkan dengan kelompok besar yang pada akhirnya akan memunculkan jawaban-jawaban yang telah disepakati oleh seluruh anggota kelompok. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran snowballing berpengaruh terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Batu. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu model pembelajaran snowballing sebagai variabel bebas dan hasil belajar geografi sebagai variabel terikat. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 3 Batu semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 bidang studi IPS Geografi Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment), menggunakan rancangan Pretest-posttest Control Group Design. Subjek penelitian terdiri dari satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Batu. Instrumen penelitian berupa tes yang terdiri dari pretes dan postes. Teknik analisis data menggunakan uji-t dengan SPSS 16.00 for Windows. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar IPS Geografi siswa yang menggunakan Model Snowballing lebih baik dari pada siswa yang menggunakan Model Direct Instructional, dibuktikan dari nilai rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih besar dari nilai rata-rata siswa kelas eksperimen. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa penggunaan Model Snowballing berpengaruh pada hasil belajar IPS Geografi siswa. Saran yang diajukan untuk guru bidang studi Geografi Disarankan untuk menggunakan model pembelajaran Snowballing sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengujicobakan Model Snowballing pada materi yang berbeda dalam bidang studi geografi dan jenjang kelas atau sekolah yang lebih tinggi.

Perancangan game 3D dengan karakter punakawan sebagai media pengenalan Aksara Jawa / Freddie Prihantono

 

Kata kunci : Perancangan, Game 3D, Karakter Punakawan, Pengenalan Aksara Jawa Masih banyak remaja mengalami kesulitan dalam menghafal aksara Jawa. Hal ini dikarenakan terjadinya kurangnya pemanfaatan dan penggunaan akasara Jawa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ilmu tersebut lambat laun akan sirna. Selain itu, aktifitas remaja sekarang ini mayoritas lebih banyak menyenangi bermain game daripada belajar, apalagi game yang banyak disajikan adalah game yang berlatarbelakang dan berkarakter budaya asing. Game 3D pengenalan aksara Jawa ini dirancang sebagai media alternatif pengenalan dan pelestarian kebudayaan Jawa kepada kalangan remaja. Sehingga dapat menarik minat penggunanya. Perancangan game 3D pengenalan aksara jawa ini bertujuan untuk mengetahui cara membuat Game 3D dengan karakter Punakawan sebagai Media pengenalan Aksara Jawa. Proses perancangan dilakukan dengan mengikuti prosedur perancangan prosedural yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Langkah-langkah tersebut diawali dari perusumusan latar belakang masalah, ide, praproduksi, produksi, dan paska produksi game 3D. Data-data berupa gambar aksara Jawa, gambar latar belakang, gambar karakter punakawan, gambar pendukung, serta suara diolah untuk menjadi sebuah game dengan ditambahkan logika pada alur game sesusai dengan sipnopsis yang telah dibuat. Produk yang dihasilkan adalah sebuah game 3D dengan karakter Semar sebagai gambar latarbelakang menu dan picture slide yang ditampilkan pada saat player kalah dan menang dengan alur cerita mengumpulkan aksara Jawa yang terdapat pada peta. Hasil perancangan ini menunjukkan bahwa merancang game animasi berbasis grafis 3 dimensi membutuhkan langkah-langkah yang runtun agar dapat menghasilkan game yang menarik serta memudahkan dalam proses perancangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lanjut misalnya, pengembangan sipnopsis game, animasi karakter, mapping pada objek, serta memperkaya pembendaraan script python untuk menciptakan game yang lebih realistis dengan karakter yang mempunyai AI (artifact intellenge).

Upaya meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan menggunakan metode part-whole untuk siswa kelas X-c di SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar

 

Kata kunci: Keterampilan, Senam Lantai Guling Depan, Metode Part-Whole. Senam lantai guling depan adalah gerakan berguling ke arah depan melalui bagian belakang badan (tengkuk), punggung, pinggang dan panggul bagian belakang. Berdasarkan hasil data observasi awal, diketahui bahwa keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Garum masih kurang optimal. Oleh karena itu perlu adanya metode baru dalam penyampaian materi pembelajaran, agar materi yang disampaikan dapat tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Garum dengan menggunakan metode part-whole. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-C SMA Negeri 1 Garum. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan). Hasil penelitian penggunaan metode part-whole dalam proses pembelajaran keterampilan senam lantai guling depan untuk siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Garum setelah diberi tindakan pada siklus 1 dan siklus 2 adalah sebagai berikut: dari 37 siswa ada 36 siswa atau sejumlah 97,29% yang mampu melakukan gerakan benar pada teknik tumpuan tangan pada matras kedua lutut tetap dipertahankan lurus, 32 siswa atau sejumlah 86,48% yang mampu melakukan gerakan benar pada gerakan berguling ke depan hingga bagian badan mulai dari tengkuk, punggung, pinggang, panggul bagian belakang, dan 36 siswa atau sejumlah 97,29% yang mampu melakukan gerakan benar pada sikap akhir posisi jongkok, posisi kedua lengan lurus ke depan dada, dan dilanjutkan sikap berdiri dengan kedua kaki rapat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian metode part-whole dapat meningkatkan keterampilan senam lantai guing depan siswa kelas X-C di SMA Negeri 1 Garum. Saran berdasarkan penelitian ini: (1) Guru pendidikan jasmani diharapkan lebih kreatif dan lebih bervariasi lagi dalam memberikan pembelajaran, (2) Guru pendidikan jasmani diharapkan peka terhadap apa yang dibutuhkan oleh siswa, kesulitan yang dialami oleh siswa, serta bisa mencari solusi untuk memecahkan masalah yang dialami oleh siswa

Meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran lompat dan loncat melalui metode permainan siswa kelas II SDN Panditan 1 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan

 

Kata kunci: Peningkatan, Keaktifan, Pembelajaran Lompat dan Loncat, Metode Bermain. Permainan dan olahraga merupakan salah satu ruang lingkup dari mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan untuk Sekolah Dasar Semester Gasal. Salah satu materi pokok dari permainan dan olahraga yaitu Senam Ketangkasan, dan pada kelas II Semester Gasal salah satu kegiatan pembelajarannya adalah lompat dan loncat. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh sejawat terhadap peneliti di SDN Panditan 1 Lumbang Pasuruan. Berdasarkan Observasi awal, diperoleh hasil bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran gerak dasar atletik masih kurang aktif. Hal ini terlihat dari jumlah siswa dari 24 siswa, siswa mengikuti dengan antusias, 6 siswa bermain sendiri, dan 11 siswa tidak memperhatikan guru dan duduk-duduk dipinggir lapangan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran gerak dasar lompat dan loncat melalui metode bermain siswa kelas II SD Negeri Panditan 1 Lumbang Pasuruan. Dalam keaktifan siswa masing-masing indikator harus diperhatikan untuk dapat memberikan penilaian terhadap keaktifan masing siswa dalam pembelajaran. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan 4 tahap yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara peneliti, ahli pembelajaran Pendidikan Jasmani, guru Pendidikan Jasmani lain dan siswa. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Dengan pemakaian metode bermain, keaktifan dalam pembelajaran gerak dasar lompat dan loncat meningkat dari variabel antusias yang awalnya 48% siswa yang aktif kemudian naik menjadi 92%. Dari variabel semangat yang awalnya hanya 45% siswa yang aktif kemudian naik menjadi 93%, sedangkan dari variabel kemenarikan yang awalnya hanya 46% siswa yang aktif kemudian naik menjadi 96%. Selain hasil persentasi mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran, diperoleh pula hasil dari pengamatan sikap siswa pada saat proses pembelajaran, pada siklus 1 ada siswa yang tidak berpakaian lengkap, ada siswa yang tidak serius waktu melakukan pemanasan, ada siswa yang tidak memperhatikan saat guru menjelaskan materi pembelajaran, ada siswa yang masih bingung dengan permainan. Namun pada siklus 2 sudah terlihat peningkatan yang cukup baik dibandingkan dengan siklus 1, pada siklus 2 ini semua siswa sudah berpakaian lengkap, semua siswa sudah semangat melakukan pemanasan, siswa melakukan proses belajar dengan baik, dan semua siswa senang melakukan variasi permainan. Selain itu diperoleh pula

Perilaku kestabilan sistem persamaan lorenz / Aldila Sakinah Putri

 

Kata kunci: Metode Linierisasi, Metode Lyapunov Kedua, Kestabilan Sistem, Persamaan Lorenz, Titik Kesetimbangan, Bifurkasi Hopf Skripsi ini membahas tentang bagaimana menentukan kestabilan dan potret fase dari sistem persamaan Lorenz yang termasuk dalam sistem tak linier tiga dimensi yang mempunyai tiga parameter. Metode yang digunakan untuk menganalisa kestabilan suatu sistem persamaan diferensial tak linier adalah melalui kestabilan lokal dengan menggunakan metode linierisasi dan melalui kestabilan global dengan menggunakan metode Lyapunov kedua. Kestabilan lokal pada sistem persamaan Lorenz berubah-ubah sesuai dengan parameter yang diberikan. Sedangkan kestabilan global sistem persamaan Lorenz belum dapat ditentukan kestabilannya. Jika solusi kestabilan global tidak berada pada sepanjang waktu t , maka ada solusi terbatas r sedemikian sehingga x(t)  untuk tr, pada kestabilan lokal sistem persamaan. Jadi perilaku kestabilan sistem persamaan Lorenz pada kestabilan global didasarkan pada kestabilan lokal dengan parameter r tertentu.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa R-SMA BI kelas XI topik gerak dan gaya menggunakan analisis vektor / Kharisma Riski Andita

 

Kata Kunci: bahan ajar berbasis masalah, berpikir kritis, dan R-SMA BI. Bahan ajar yang tersedia di pasaran dan biasanya digunakan dalam pembelajaran di kelas R-SMA BI sebagian besar menggunakan dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Padahal seharusnya hanya menggunakan bahasa Inggris. Namun bahan ajar yang berbahasa Inggris dapat menurunkan minat baca siswa oleh karena itu bahan ajar sebaiknya mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sehingga siswa termotivasi untuk membacanya. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah dengan menyajikan permasalahan nyata dan dekat dengan kehidupan siswa dalam bahan ajar untuk mengawali pembelajaran. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka diperlukan penelitian dan pengembangan suatu bahan ajar fisika berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa RSMA BI. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar fisika berbasis masalah untuk siswa R-SMA BI kelas XI. Setelah produk dihasilkan kemudian diuji kelayakanya. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan (Research and Development) menurut Borg and Gall yang telah dimodifikasi hingga tahap uji coba terbatas. Dalam uji coba terbatas dilakukan uji kelayakan dan keterbacaan bahan ajar. Uji kelayakan dilakukan pada empat ahli materi dan pembelajaran fisika dengan instrumen berupa angket. Pada uji keterbacaan tidak menggunakan instrumen khusus melainkan hanya menggunakan draf bahan ajar. Uji keterbacaan dilakukan pada 6 siswa dengan meminta mereka untuk menandai kata-kata yang tidak mereka mengerti dan memberikan tambahan ide agar bahan ajar menjadi lebih menarik. Produk akhir dari penelitian dan pengembangan ini adalah bahan ajar ini adalah sebuah bahan ajar berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa R-SMA BI kelas XI topik gerak dan gaya menggunakan analisis vektor yang telah diuji hingga tahap uji coba awal dan telah direvisi berdasarkan uji coba awal. Karena tahap uji coba hanya sampai pada tahap uji coba awal maka bahan ajar masih perlu diuji secara lebih lanjut bahan ajar dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe stad untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V SD Negeri Bandulan 05 Malang / Andri Hermawan

 

Kata kunci: Model Pembelajaran Kooperatif, STAD, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas V SDN Bandulan 05 Malang pada kegiatan pembelajaran IPS dan wawancara dengan guru kelas V SDN Bandulan 05 Malang, dapat diketahui beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS, di antaranya adalah siswa cenderung pasif saat kegiatan pembelajaran berlangsung, siswa juga kesulitan dalam menentukan letak suku bangsa dalam peta. Selain itu metode pembelajaran yang sering digunakan adalah metode ceramah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: mendeskripsikan proses pembelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V di SDN Bandulan 05 Malang dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini mengacu pada rancangan penelitian model Kemmis dan Taggart, (Sa’dun Akbar, 2010:30) yang terdiri dari: (1) perencanaan tindakan, ( 2) pelaksanaan tindakan dan pengamatan (observasi), (3) refleksi, (4) revisi.. Untuk mengumpulkan data, instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa: 1) lembar observasi; 2) soal tes; 3) RPP dan APKG. Seorang siswa dinyatakan tuntas belajarnya apabila telah mencapai skor 70. Pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu (a) perencanaan; (b) pelaksanaan tindakan dan observasi; (c) refleksi; (d) revisi. Kemudian setiap penelitian ada 2 kali pertemuan. Yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Bandulan 05 kota Malang. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Dilihat dari proses pembelajaran pada pra tindakan nilai rata-rata siswa 40,4 %, pada pelaksanaan siklus I pertemuan ke-1 meningkat menjadi 44,5 % sedangkan pelaksanaan siklus I pertemuan kedua meningkat menjadi 61,81 dan siklus II pertemuan pertama hasil belajar siswa mencapai 67,5 % dan pada siklus II pertemuan kedua hasil belajar siswa meningkat menjadi 73,3 %. Kesimpulan:1) Pembelajaran menggunakan model pembelajaran STAD dapat diterapkan pada mata pelajaran IPS kelas V materi keanekaragaman suku bangsa. Pada kegiatan pembelajaran siswa melakukan diskusi kelompok untuk memecahkan masalah yang diberikan guru, setelah itu siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok sedangkan kelompok lain memberi tanggapan. Pada awal penerapan model pembelajaran STAD siswa agak sulit dikondisikan untuk kerja kelompok, tetapi pada akhirnya siswa dapat dikondisikan untuk melakukan kegiatan kerja kelompok. 2) Penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari siklus I dan siklus II yang dilakukan dengan pengamatan hasil belajar siswa melalui tes formatif maka diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa diatas KKM. Pada tahap pra tindakan nilai rata-rata hasil belajar siswa 40,4 kemudian pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 61,81 dan pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 73,3.

Interaksi sosial anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi: studi interaksionisme simbolik mengenai komunikasi siswa di SMK Negeri 2 Malang / Uswatun Khasanah

 

Kata kunci: Interaksi sosial, komunikasi, siswa ABK, kelas inklusi Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara orang perorang, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Interaksi sosial juga terjadi di kelas inklusi. Di dalam kelas inklusi, interaksi melibatkan siswa ABK, siswa reguler dan guru. Dalam berinteraksi dengan lingkungaannya, siswa ABK memiliki karakteristik khas, yang berbeda dengan interaksi pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kesamaan paham siswa ABK di kelas inklusi SMKN 2 Malang, (1) perbedaan paham siswa ABK di kelas Inklusi, (3) koneksitas karakteristik khas siswa ABK dengan perbedaan paham yang terjadi di kelas inklusi, (4) konsekuensi interaksional yang muncul di kelas inklusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis interaksionisme simbolik; dilakukan di SMKN 2 Malang dengan subjek siswa ABK di kelas inklusi APH 1. Teknik pengumpulan data: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dideskripsikan, dimaknai, dikatagorisasikan dan dibuat koneksitas antar data yang telah ditemukan. Keabsahan data diuji dengan, (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, dan (3) trianggulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesamaan paham dalam berinteraksi di kelas inklusi terjadi ketika pengirim pesan mengkomunikasikan obyek yang konkrit. Sedangkan perbedaan paham dalam berinteraksi di kelas inklusi terjadi ketika pengirim pesan mengkomunikasikan obyek yang abstrak. Kesalahpahaman terjadi dalam interaksi sosial di kelas inklusi pada siswa ABK yang mempunyai karakteristik sensitif dan spontan. Diterima atau ditolaknya siswa ABK di kelas inklusi bukan karena kesalahpahaman yang terjadi dalam proses berkomunikasi, akan tetapi karena karakteristik masing-masing siswa ABK di kelas inklusi. Siswa ABK yang pendiam, spontan, lucu, apa adanya cenderung bisa diterima dan disenangi di kelas inklusi. Sedangkan siswa ABK yang sensitif, mudah tersinggung, percaya diri yang berlebihan, suka berbohong, cenderung kurang diterima dan dijauhi oleh teman di kelas inklusi. Saran: (1) konselor hendaknya memberikan bimbingan mengenai cara berempati terhadap sesama siswa di kelas inklusi; (2) Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi hendaknya memasukkan kelompok mata kuliah ABK dalam mata kuliah wajib, bukan mata kuliah pilihan; (3) peneliti lanjut disarankan untuk mengadakan penelitian lanjut terhadap fenomena serupa dengan latar yang berbeda dan dengan multi subjek.

Penerapan grafik pengendali MEWMA pada analisa harian kualitas air produksi di Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) Ngagel II Kota Surabaya / Dewi Setiastuti

 

Kata kunci: MEWMA (Multivariate Exponentially Weighted Moving Average), grafik pengendali MEWMA, kualitas air produksi. Air merupakan salah satu unsur penting yang sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia. Pelayanan air bersih di Indonesia dalam skala besar masih terpusat di daerah perkotaan, dan dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kota yang bersangkutan. Agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi maka perlu diperhatikan masalah kualitas dan kuantitasnya. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas air produksi yaitu suhu, kekeruhan, daya hantar listrik (DHL), ph, alkalinitas, CO2 bebas, zat organik, dan klorin bebas. Pada penelitian ini, untuk mengetahui kualitas air produksi di Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) Ngagel II Kota Surabaya digunakan grafik pengendali Multivariate Exponentially Weighted Moving Average (MEWMA). Grafik pengendali MEWMA adalah grafik pengendali yang digunakan untuk mendeteksi terjadinya perubahan mean kecil dalam proses. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) memberikan nilai pembobot tiap variabel yang digunakan sebagai pembobotan untuk grafik pengendali MEWMA yaitu variabel suhu dengan nilai pembobot 0,077, variabel kekeruhan dengan nilai pembobot 0,294, variabel daya hantar listrik dengan nilai pembobot 0,231, variabel ph dengan nilai pembobot 0,122, variabel alkalinitas dengan nilai pembobot 0,090, dan variabel CO2 bebas dengan nilai pembobot 0,187. Hasil grafik pengendali Multivariate Exponentially Weighted Moving Average (MEWMA) pada analisa harian kualitas air produksi di Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) Ngagel II Kota Surabaya terdapat data pengamatan yang keluar dari batas pengendali atas yaitu pada pengamatan ke-8 dengan nilai 19,891. Karena ada nilai pencilan pada data ke-8 yaitu pada variabel kekeruhan dengan nilai 2,22. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan grafik pengendali Multivariate Exponentially Weighted Moving Average (MEWMA) pada analisa harian kualitas air produksi di Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) Ngagel II Kota Surabaya tidak terkendali secara statistik.

Pengaruh net profit margin, return on asset, return on equity, dan earning per share terhadap harga saham pada, perusahaan real estate dan properti yang listing di bursa efek Indonesia tahun 2006-2008 / Jono Susanto

 

Kata Kunci: Net Profit Margin, Return on Asset, Return on Equity, Earning Per Share, dan Harga Saham. Semakin majunya perekonomian saat ini dimana objek investasi juga semakin banyak ragamnya. Oleh karena itu diperlukan suatu pengetahuan atau analisis agar dalam berinvestasi seorang investor dapat mencapai tujuan yang diharapkan secara maksimal. Profitabilitas merupakan salah satu pertimbangan sebelum melakukan investasi. Profitabilitas menunjukkan seberapa besar perusahaan mampu memberi kesejahteraan terhadap pemegang saham dan menjaga kelangsungan hidup perusahaannya. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa profitabiliatas merupakan aspek untuk mendorong investasi, going concern, dan kemakmuran baik untuk manajemen, karyawan, pemegang saham dan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan rasio keuangan yang diukur dengan Net Profit Margin, Return on Asset, Return on Equity, dan Earning Per Share Terhadap Harga Saham pada, Perusahaan Real Estate dan Properti yang Listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006 -2008. Populasi yang digunakan adalah 10 perusahaan Real Estate dan Properti, dimana dari populasi tersebut terpilih berdasarkan metode purposive sampling dengan pooled data menggunakan laporan keuangan tahunan perusahaan diperoleh jumlah sampel sebanyak 30 data observasi. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahan yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel Net Profit Margin, Return on Asset dan Return on Equity tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Sedangkan Earning Per Share terdapat pengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara simultan semua variabel berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya yaitu dapat menambah periode penelitian dan mengganti objek penelitian, misal semua perusahaan yang go publik di BEJ agar hasil penelitian lebih mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.

Pengembangan pembelajaran modul untuk meningkatkan partisipasi aktif dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X Ma. Ma'arif Ambulu Jember tahun 2011/2012 / Khozin Mu'tamar

 

Kata Kunci: pengembangan, pembelajaran modul, partisipasi aktif, hasil belajar. Pembelajaran dengan modul merupakan perubahan dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pembelajarn modul dapat menuntun siswa agar mampu belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pembelajaran konvensional beralih kepada pembelajaran Ekonomi berbasis modul. Dengan menggunakan metode pengembangan data kuantitatif yang diperoleh berupa skor validasi modul dan penilaian siswa serta data kualitatif berupa deskripsi keterlaksanaan uji coba modul. Uji efektifitas penggunaan modul menggunakan desain eksperimen Nonequivalent Control Group Desain untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan modul dengan siswa pada kelas yang tidak menggunakan modul. Validasi terhadap pengembangan modul dilakukan oleh tiga orang validator yang terdiri dari dua orang dosen Fakultas Ekonomi sebagai ahli materi dan ahli desain media pembelajaran pada tanggal 19 dan 22 Oktober 2011 serta satu orang guru ekonomi sebagai ahli keterbacaan materi pada tanggal 24 Oktober 2011. Penelitian terhadap keterlaksanaan uji coba modul dilaksanakan pada tanggal 1-19 November 2011di kelas X MA. Ma’arif Ambulu Jember. Penilaian juga diberikan oleh siswa terhadap penggunaan modul ini. Rerata skor hasil validasi yang diperoleh dari ahli materi sebesar 93,29%, ahli desain media pembelajaran sebesar 92,69% dan keterbacaan materi sebesar 94,09%. Dengan rerata skor validasi oleh para validator sebesar 94,19% maka modul tidak perlu revisi. Akan tetapi berdasarkan saran dari ahli desain media pembelajaran dilakukan revisi pada beberapa bagian untuk menyempurnakan modul yang dikembangkan. Rerata skor penilaian yang diberikan oleh siswa sebesar 81,18% yang berarti cukup valid. Dalam penelitian ini juga diperoleh data bahwa frekuensi aktivitas siswa pada kelas yang menggunakan modul lebih banyak daripada siswa pada kelas yang tidak menggunakan modul. Dengan kemampuan awal yang sama hasil belajar siswa pada kelas yang menggunakan modul juga lebih baik daripada siswa pada kelas yang tidak menggunakan modul. Dari hasil penelitian pengembangan ini dapat disarankan agar dilakukan pengembangan lebih lanjut dan lebih luas terhadap materi-materi yang lain dengan model pembelajaran konstruktivis yang dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam penerapan pembelajaran konstruktivisme.

The effect of 4/3/2 technique on the students' oral fluency at SMPN 5 Malang / by Charisudin Suryawira

 

Key Words: fluency, 4/3/2 technique Fluency is one of the most important aspect in speaking. At every level of language proficiency language learners need to be fluent. Even they are in very beginner level that just know several words, they need to speak it fluently in order to be able to communicate. Moreover, to be able to speak fluently is also the aspect that students should achieve as described in Basic Competence for the teaching of English in the secondary level of education such as junior and senior high school. A technique that can be used in order to develop the students’ fluency is 4/3/2 technique. This technique was found to improve the fluency of college students and adult learners. It is necessary to investigate the effect of this technique on the development of fluency at school levels. It is because fluency needs to be developed from when the students started to learn to speak English. This study is intended to investigate whether 4/3/2 technique has a significant effect on the development of fluency at junior high school level. This study used preexperimental design. This study has no control group to be compared with the experimental group. In this study the students are forced to speak three times under the time constraint, namely 4 minutes, 3 minutes, and 2 minutes respectively. When students were speaking, they were recorded. Those recordings then were transcribed and analysed. The data were analyzed by comparing the words per minute and hesitation that speaker made among those three deliveries. In short, in this technique the students are compared to themselves. Therefore, this technique has no control group to be compared with the experimental group. The subject of the study were ten students of class VIII-B of the first semester in the 2011/2012 at SMPN 5 Malang. This study took a week for collecting the data. The research findings indicated that the 4/3/2 technique has significant effect on the students’ fluency. The improvement of fluency can be measured from the words per minute and hesitation per 100 words that students made. On average, there was an increase in words per minute (51.02 %) from the 4 minute version to the 2 minute version. There was also reduction in the number of hesitation. On average, there was a decrease of 31.5 % from the first delivery to the third delivery. Regarding the research findings, it was evident that 4/3/2 technique has significant effect on the development of fluency of junior high school students. Therefore, this technique can be used as an alternative technique for teachers in developing students oral fluency in Indonesia.

Penerapan pembelajaran problem based learning (PBL) dengan setting kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi peluang siswa kelas XI SMAN 1 Tumpang / Sholahuddin Azmi

 

Kata kunci:problem based learning, kooperatif, hasil belajar, peluang. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2010 dengan seorang guru matematika kelas XI IPA2 SMAN 1 Tumpang diketahui bahwa pembelajaran masih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Hal tersebut membuat siswa menjadi pasif dalam belajar sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa bisa lebih maksimal. Model pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan setting Kooperatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Tumpang, dengan subjek siswa kelas XI IPA2 yang berjumlah 38 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Data penelitian berupa aktivitas siswa dan aktivitas guru yang diperoleh melalui observasi selama penelitian, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah penerapan pembelajaran Problem Based Learning dengan setting Kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMAN 1 Tumpang pada materi peluang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah pembelajaran model Problem Based Learning (PBL) dengan setting Kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu: 1) orientasi siswa pada masalah, 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, 3) membimbing kelompok belajar dan bekerja, 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya ,5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I sebesar 73,68% siswa mendapat nilai ≥75. Sedangkan pada siklus II sebesar 86,48% siswa mendapat nilai ≥75. Skor rata-rata aktivitas siswa selama pembelajaran dengan PBL dengan setting kooperatif pada siklus I adalah 49,33, termasuk kategori “baik” dan pada siklus II adalah 56,17, termasuk kategori “sangat baik”. Skor rata-rata aktivitas guru selama pembelajaran dengan PBL dengan setting kooperatif pada siklus I adalah 51,5, termasuk kategori “baik” dan pada siklus II adalah 57,16, termasuk kategori “sangat baik”. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan SMAN 1 Tumpang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai minimal 75, sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) dengan setting Kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA2 SMAN 1 Tumpang pada materi peluang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |