Kerajinan batik tulis Madura karya Haji Sadili di Desa Pagendingan Kecamatan Galis Gede kabupaten Pamekasan / Deka Perdana Putra

 

Kata Kunci: batik tulis, Pamekasan, Haji Sadili. Batik tulis Madura merupakan batik tulis yang memiliki keunikannya sendiri. Antara batik di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Pamekasan juga memiliki ciri khasnya masing-masing. Ciri khas ini dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, maupun tradisi. Biasanya, antara batik yang dihasilkan dari daerah pedalaman akan berbeda dengan batik dari daerah pesisir. Karakter masyarakat tersebut memiliki pengaruh besar pada hasil akhir dari sebuah batik. Salah satu bentuk kerajinan batik tulis yang memiliki kekhasan adalah kerajinan batik tulis Madura karya Haji Sadili di Desa Pagendingan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan ciri khas dari batik tulis Madura milik Haji Sadili dengan cara mengungkap latar belakang Haji Sadili dalam menekuni kerajinan batik tulis Madura, alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan batik tulis Madura karya Haji Sadili, proses pembuatan batik tulis Madura karya Haji Sadili, bentuk motif dan warna batik tulis Madura karya Haji Sadili, makna simbolik dalam bentuk motif batik tulis Madura karya Haji Sadili, dan fungsi yang dihasilkan dari kerajinan batik tulis Madura karya Haji Sadili. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, dengan sumber data produk kerajinan batik karya Haji Sadili digali dari informan yakni Haji Sadili sebagai pemilik industridan ahli batik lain/tokoh masyarakat. Pengumpulan data melalui observasi dan wawancara yang dianalisis melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yaitu (1) Haji Sadili mengembangkan industri rumah tangga keluarganya menjadi pabrik pada tahun 1981 dengan nama perusahaan “Tunas Harapan”. (2) Alat yang digunakan yakni canting (canteng), tungku (tomang), bak, wajan, dan kipas. Bahan yang digunakan yakni kain mori, kain sutra, malam, pewarna, abu merang dan minyak camplong, dan tepung kanji. (3) Proses pembuatan batik tulis karya Haji Sadili sama dengan proses pembuatan batik yang lain, perbedaannya hanya pada tahapan kettle. (4) Bentuk motif dan warna batik tulis Madura karya Bapak Haji Sadili beragam namun setiap motif kelopak bunga dalam batik tulis Madura karya Bapak Haji Sadili selalu berwarna merah. Merah di sini melambangkan ketegasan dan keberanian orang Madura. (5) Makna simbolik dalam bentuk dan motif batik tulis Madura karya Bapak Haji Sadili. Beras tumpah melambangkan pedoman-pedoman hidup.(6) Fungsi yang dihasilkan dari kerajinan batik tulis Madura karya Bapak Haji Sadili dapat diklasifikasikan menjadi fungsi praktis, adat, ekonomi, pendidikan masyarakat, bahasa (komunikasi) dan pendidikan sekolah.

Analisa hasil pewarnaan enceng gondok menggunakan pewarna naphtol dan direk / Sistiyani Tiska Sari

 

Kata Kunci: Pewarnaan, Enceng Gondok, Naphtol, Direk Enceng Gondok merupakan tanaman air yang tergolong dalam serat selulosa. Naphtol dan direk merupakan zat pewarna buatan yang dapat digunakan untuk mewarnai serat selulosa. Oleh sebab itu bagaimana hasil pewarnaan enceng gondok menggunakan pewarna naphtol dan direk jika kriteria penilaiannya dilihat dari tingkat ketajaman dan kerataan warna primer. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil pewarnaan enceng gondok menggunakan zat warna naphtol dan direk dilihat dari kerataan dan ketajaman warna primer.Rancangan penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian zat warna naphtol dan zat warna direk yang digunakan sebagai bahan pewarna pada enceng gondok. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan metode pengamatan langsung terhadap hasil pewarnaan enceng gondok dan metode dokumantasi. Metode pengamatan dilakukan oleh panelis ahli sebagai pengamat dan penilai sifat berdasarkan kesan subyektifitas untuk menguji sampel penelitian. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung tentang proses pewarnaan enceng gondok menggunakan naphtol dan direk dengan jenis warna merah, kuning dan biru Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada perbandingan 1:40 tercapai persentase 100% untuk ketajaman warna merah, kuning dan biru. Sedangkan hasil penelitian tingkat kerataaan terbaik yaitu perbandingan 1:40 dengan persentase 100% untuk semua jenis warna. Penilaian tingkat ketajaman dan kerataan warna pada pewarnaan enceng gondok menggunakan zat warna direk pada tingkat ketajaman terbaik dengan perbandingan 1:40 tercapai persentase 66,67% untuk warna merah dan kuning serta 100% untuk ketajaman warna biru. Untuk hasil penelitian dengan kriteria kerataaan warna primer terbaik menggunakan zat warna direk didapatkan pada perbandingan 1:20 dengan persentase 66,67% untuk kerataan warna merah. Perbandingan 1:30 dengan persentase kerataan 66,67% untuk kerataan warna kuning dan perbandingan 1 : 40 dengan persentase kerataan 100% untuk kerataan warna biru. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada peneliti berikutnya untuk dapat memperdalam dan mengembangkan penelitian ini dengan kriteria penilaian atau subyek penelitian yang lain seperti tingkat kelunturan warna atau menggunakan zat warna lain. Selain itu disarankan agar pada saat melakukan penelitian yang sama lebih memperhatikan proses persiapan dan pelaksanaan pencelupan sehingga dapat menghasilkan penelitian sesuai dengan yang diharapkan.

Pengaruh suhu sintering pada keramik berpori dengan komposisi bahan aditif karbon sekam padi (10% & 30%) terhadap nilai porositas, kekerasan dan mikrostruktur / Rinta Mustikasari

 

Kata kunci : Keramik berpori, karbon sekam padi , sintering, kekerasan, porositas, mikrostruktur Keramik berpori merupakan keramik yang memiliki pori-pori berukuran mikro dan dapat dimanfaatkan sebagai filter gas buang. Pembuatan keramik berpori ini menggunakan aditif karbon sekam padi, karena sekam padi mengandung silika yang dapat mengisi ruang antar partikel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu sintering terhadap nilai porositas, nilai kekerasan dan mikrostruktur pada bahan keramik yang di tambahkan bahan aditif berupa sekam padi. Pada penelitian ini metode yang di gunakan adalah eksperimen. Bahan keramik di buat dengan metode die pressing, dimana bahan dicampur kemudian di cetak dan dipress. Bahan keramik yang digunakan dengan komposisi (feld spar 20%, kaolin 30%, clay 30% serta kwarsa 20% ) ditambah bahan aditif karbon sekam padi sebanyak 10% dan 30%.kemudian di sintering pada suhu 1000 °C, , dan 1100 °C, dan 1200°C. Setelah sampel jadi kemudian dikarakterisasi dengan uji kekerasan menggunakan shorescleroscope, menguji porositas dan mikrostruktur. Pengujian mikrostruktur diambil dari nilai kekerasan tertinggi dan nilai kekerasan terendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Bertambahnya suhu sintering pada suhu 1000°C-1200°C dapat menurunkan nilai porositas. (2) Bertambahnya suhu sintering pada suhu 1000°C-1200°C dapat meningkatkan nilai kekerasan. (3) Penambahan komposisi aditif karbon sekam padi pada komposisi 10% dan 30% dapat menurunkan nilai kekerasan. (4) Penambahan komposisi aditif karbon sekam padi pada komposisi 10% dan 30% dapat meningkatkan nilai porositas. (5) Nilai kekerasan cenderung naik apabila pada mikrostruktur jumlah pori – pori yang muncul semakin berkurang. Pada sampel yang memiliki nilai kekerasan tertinggi sebesar 30,3Hs terdapat luasan 5,81 μm2 dan fraksi pori-pori sebesar 1,73%. Sedangkan untuk nilai kekerasan terendah sebesar 13,6Hs terdapat luasan 32,08 μm2 dan fraksi pori-pori sebesar 10,09%. (6) Sampel yang efektif digunakan untuk filter gas buang adalah sampel yang disintering pada suhu 11000C dengan komposisi karbon sekam padi 10%.

Peningkatan kemampuan bercerita dengan penggunaan teknik complete sentence pada kelas III SDN Purwodadi 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang / Rizki Kholidah Inayati

 

Kata kunci: berbicara, teknik Complete Sentence Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penggunaan teknik pembelajaran Complete Sentence untuk meningkatkan Keterampilan berbicara siswa kelas III di SDN Purwodadi 2, (2) Mendeskripsikan apakah teknik pembelajaran Complete Sentence untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas III di SDN Purwodadi 2. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan teknik Complete Sentence dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa, yaitu pada aspek kelancaran berbicara pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 69,33%, pada siklus I naik menjadi 75,67%, dan pada siklus II naik menjadi 86%, sedangkan siswa yang tuntas dalam belajar pada pra tindakan 30%, pada siklus I ada 60%, dan pada siklus II mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu 100%. Hal ini dapat dikatakan dari siswa yang tergagap-gagap menjadi hanya kurang lebih 5 kali tergagap-gagap berubah lagi menjadi kurang lebih 3 kali tergagap-gagap dan pada akhirnya sudah dapat berbicara dengan lancar. Pada aspek kejelasan berbicara pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 72,67%, pada siklus I naik menjadi 81%, dan pada siklus II naik menjadi 87,33%, sedangkan siswa yang tuntas dalam belajar pada pra tindakan 46,67%, pada siklus I ada 73,33%, dan pada siklus II mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu 100%. Hal ini dapat dikatakan dari siswa yang tidak jelas menjadi hanya kurang lebih 5 kali tidak jelas berubah lagi menjadi kurang lebih 3 kali tidak jelas dan pada akhirnya sudah dapat berbicara dengan jelas. Pada aspek ketepatan berbicara pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 71,33%, pada siklus I naik menjadi 78%, dan pada siklus II naik menjadi 87%, sedangkan siswa yang tuntas dalam belajar pada pra tindakan 40%, pada siklus I ada 73,33%, dan pada siklus II mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu 100%. Hal ini dapat dikatakan dari siswa yang tidak tepat menjadi hanya kurang lebih 5 kali tidak tepat berubah lagi menjadi kurang lebih 3 kali tidak tepat dan pada akhirnya sudah dapat berbicara dengan tepat. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu dengan teknik Complete Centence dalam pembelajaran terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Maka disarankan menggunakan teknik Complete Sentence dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hasil dari penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran yang menarik melalui teknik Complete Sentence namun hendaknya diperkirakan waktu dan pengelolaan kelas agar tercipta suasana belajar yang kondusif.

Perancangan game 3 D permainan tradisional balapan kulit jeruk sebagai pelestarian permainan tradisional anak-anak / pinanggya Trisuwito

 

Kata kunci: Perancangan game 3D, permainan tradisional balapan kulit jeruk, anak usia sekolah.

Pengaruh komposisi magnesium oksida (MgO) terhadap konstanta dielektrik, kekerasan dan mikrostruktur komposit keramik AI2O3-MgO / Noralisa Yulita Putri Utami

 

Kata Kunci: Alumina, Magnesium oksida, Kekerasan, Konstanta Dielektrik, Mikrostruktur Alumina merupakan salah satu keramik oksida yang telah banyak digunakan dalam industri elektronik terutama kegunaan keramik alumina pada kehidupan sehari – hari misalnya sebagai bahan pelapis alat – alat elektronik. Pada penelitian ini, akan dibuat komposit keramik alumina yang ditambahkan bahan aditif magnesium oksida (MgO ). Penambahan secara bervarisi bahan aditif magnesium oksida (MgO) sebesar 0%, 2%, 3%, 4% dan 5% dimaksudkan agar sifat dasar alumina tidak berkurang, seperti yang telah diketahui bahwa penggunaan pada suhu tinggi diatas 1200oC dapat mengurangi sifat kekerasan bahan dan sifat insulator listrik. Sintesis pada penelitian ini menggunakan metode solid state reaction (reaksi padatan), dan di sintering pada suhu 1250oC. Dari hasil sintering dilakukan beberapa pengujian lebih lanjut yaitu pengujian konstanta dielektrik menggunakan kapasitansimeter dan kekerasan yang menggunakan alat Vickers Hardness Tester. Selain itu dilakukan pengamatan mikrostruktur dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa magnesium oksida (MgO) mempengaruhi nilai kekerasan dan nilai konstanta dielektrik komposit keramik Al2O3-MgO. Kecenderungan mikrostruktur alumina terhadap kekerasan yaitu bahwa semakin sedikit jumlah pori pada mikrostruktur maka nilai kekerasannya semakin tinggi. Dari semua sampel penelitian, nilai kekerasan yang paling tinggi terdapat pada sampel dengan penambahan magnesium oksida 5% dengan nilai kekerasan sebesar 48,90 HV. Nilai konstanta dielektrik alumina tertinggi juga terdapat pada penambahan magnesium oksida (MgO) sebesar 5% dengan nilai sebesar 1051,96. Jadi penambahan magnesium oksida (MgO) dalam pembuatan komposit keramik Al2O3-MgO dapat menguatkan sifat dasar dari alumina.

Pengembangan permainan air untuk menunjang pembelajaran keterampilan gerak dasar renang gaya dada di SMA NEGERI 1 Sambit Kabupaten Ponorogo/ Hendi Arnanda Ristianto

 

Kata kunci: pengembangan, Permainan air, dan renang gaya dada. Ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani antara lain adalah: 1) permainan dan olah raga, 2) aktifitas pengembangan, 3) Aktivitas senam, 4) aktivitas ritmik, 5) aktivitas air, 6) pendidikan luar kelas, kesehatan (BNSP). Renang adalah mata pelajaran yang tertera di dalam kurikulum sesuai standar kopetensi sesuai tingkatan kelas yang harus dilaksanakan untuk memperoleh nilai akhir melalui proses pembelajaran. Renang adalah suatu cabang olahraga yang dilakukan di air dengan menggerakkan anggota badan dengan mengapung di air, dan seluruh anggota badan bergerak dengan bebas (Roeswan dan Soekarno, 1979:23).. Tetapi hal tersebut berbeda dengan keadaan yang terjadi di lapangan, seperti yang dialami siswa SMA Negeri 1 Sambit. Siswa menganggap mata pelajaran renang merupakan kegiatan rekreasi, setiap pelajaran renang, siswa datang kemudian bermain dengan teman-temannya, apabila guru menyuruh melakukan teknik sesuai standar kompetensi yang diajarkan, siswa enggan dan malas untuk melakukannya. Melihat fenomena tersebut, peneliti ingin mengembangkan sebuah produk berupa model permainan di air yang representatife melalui penelitian untuk melatih gerak dasar pernafasan, lengan, dan tungkai. Metode yang digunakan dari Sugiyono (2008:298). Langkah yang digunakan adalah berikut: 1) Potensi Masalah (Menganalisa apa yang menjadi masalah di SMA Negeri 1 Sambit), 2) Pengumpulan informasi (kajian pustaka, observasi ke sekolah, dan analisis kebutuhan), 3) Desain produk (penyiapan materi permainan, buku petunjuk yang akan digunakan, dan perlengkapan evaluasi), 4) Validasi desain (Menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 2 ahli renang, dan 1 ahli media), 5) Perbaikan desain (Data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, kemudian melakukan revisi produk), 6) Uji coba Produk (uji coba kelompok kecil dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Sambit dengan menggunakan 10 subyek yang di ambil 1 kelas, kemudian data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, 7) Revisi produk berdasarkan dari hasil kuesioner uji coba (kelompok kecil), 8) Uji coba pemakaian (kelompok besar) yang dilakukan pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Sambit dengan menggunakan 40 subyek yang di ambil 4 kelas masing-masing berjumlah 10 siswa dari masing- masing kelas, kemudian data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, 9) Melakukan revisi berdasarkan dari hasil kuesioner, sehingga menjadi produk akhir pengembangan, 10) Produksi masal, setelah direvisi permainan dapat diproduksi dengan cara dikemas dalam sebuah buku panduan permainan air untuk melatih gerak dasar pernafasan, lengan, dan tungkai di SMA 1 Sambit. . Berdasarkan hasil analisis data uji coba (kelompok besar) diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan permainan air untuk melatih gerak dasar pernafasan, lengan, dan tungkai telah memenuhi kreteria baik yaitu antara 80% – 100%. Hasil pengembangan ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan dan hasil penelitian dan pengembangan ini, diharapkan dapat diuji cobakan pada lingkup yang lebih luas.

Kajian metode pembelajaran role playing terhadap kemampuan praktik dan teori American service (studi kasus pada mata pelajaran pelayanan makan dan minum di SMK Kartika IV -I Malang) / Rahadita Kurnia Sari

 

Kata Kunci: Kajian, role playing, teori, praktik, American service. Mata Pelajaran Pelayanan Makan dan Minum untuk Kompetensi Dasar (KD) menyediakan layanan makanan dan minuman di restaurant, jenis layanan makan dan minum yang dipraktikan oleh siswa kelas X Jasa Boga di SMK Kartika IV-1 Malang adalah American service. Kompetensi yang diharapkan atas kegiatan belajar mengajar tersebut yaitu a) siswa dapat terampil melayani atau menyediakan layanan makan dan minum; b) siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan benar kepada para tamu; c) serta siswa dapat memberi kepuasan kepada pelanggan melalui pelayanan makan dan minum. Untuk mewujudkan kompetensi tersebut diperlukan metode pembelajaran yang aktif dan mandiri. Namun terdapat kelemahan metode pembelajaran yang selama ini digunakan untuk mata pelajaran pelayanan makan dan minum khususnya American service. Maka digunakan metode pembelajaran role playing yaitu metode pembelajaran bermain peran. Peran tersebut yaitu menjadi tamu restaurant dan waiter atau waiters. Jenis penelitian ini yaitu quasi eksperimen sederhana, dengan rancangan eksperimen sederhana penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kemampuan praktik dan teori American service sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran role playing, kemudian dianalisis perbedaan kemampuan praktik dan teori American service sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran role playing. Sampel penelitian menetapkan (purposive sample) adalah siswa kelas X dengan jumlah 39 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman observasi dan kusioner. Teknik Analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif dan dilanjutkan dengan analisis uji t dengan satu sampel. Dari hasil penelitian diketahui bahwa (1) Sebelum menggunakan metode pembelajaran role playing nilai rata-rata pada kemampuan praktik American service 72,45 dengan kriteria cukup. Pada kemampuan teori American service nilai rata-rata adalah 69,15 dengan kriteria angka cukup. (2) Sesudah menggunakan metode pembelajaran role playing nilai rata-rata pada kemampuan praktik American service meningkat menjadi 81,08 dengan kriteria angka baik. Pada kemampuan teori American service nilai meningkat menjadi 81,51 dengan kriteria angka baik. (3) Hasil uji t satu sampel menunjukan perbedaan hasil yang signifikan yaitu nilai rata-rata praktik American service sebelum metode pembelajaran role playing adalah 72,378 dengan kriteria angka cukup, kemudian nilai rata-rata praktik American service meningkat menjadi 81,086 dengan kriteria angka baik. Nilai rata-rata teori American service sebelum menggunakan metode pembelajaran role playing adalah 69,153 dengan kriteria angka cukup kemudian meningkat menjadi 81,512 dengan kriteria angka baik.

Studi komparasi model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) dan expert group untuk membandingkan hasil belajar / M Sulis Teguh M

 

Kata kunci: Two Stay Two Stray (TSTS), Expert Group, Hasil Belajar, Model pembelajaran yang dilakukan di SMP Negeri 3 Jombang, sudah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group, hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan Expert Group terhadap hasil belajar siswa kelas IX pada mata pelajaran TIK di SMP Negeri 3 Jombang; (2) mendeskripsikan perbedaan hasil belajar model pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan Expert Group mata pelajaran TIK di SMP Negeri 3 Jombang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian eksperimen kuasi (Quasi Experimental Design) dengan pendekatan kuantitatif yang bersifat komparasi kausal. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IX-F dan IX-G. Data hasil belajar diperoleh dari tes hasil belajar pada materi identifikasi sistem akses internet melalui jaringan LAN (Local Area Network) dan WAN (Wide Area Network). Setelah data dianalisis dapat diketahui bahwa kedua kelas berdistribusi normal dan memiliki varian yang identik baik untuk data kemampuan awal maupun data hasil belajar serta kemampuan awal kelas eksperimen dan pembanding sama. Sedangkan pada uji hipotesis dapat diketahui bahwa ada perbedaan hasil belajar pada model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stary (TSTS) dengan Expert Group. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Expert group tidak mengalami kendala saat proses belajar mengajar berlangsung. Semua siswa memahami dan menjalankan langkah-langkah dalam pembelajaran berkelompok seperti yang di perintahkan guru. Siswa merasa senang untuk mengikuti pelajaran, ini terbukti dari data tabulasi angket dimana 97,5% responden merepon dengan sangat bagus model pembelajaran ini, sehingga berpengaruh pada hasi belajar. Hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray pada mata pelajaran TIK di kelas IX berjalan dengan lancar, sama halnya dengan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group. Karena siswa menyukai model pembelajaran kooperatif tipe ini, maka akan berpengaruh kepada peningkatan hasil belajar siswa, ini terbukti dari data tabulasi angket dimana 97,5% responden merepon dengan sangat bagus model pembelajaran ini; (2) Dari hasil penelitian yang telah ii dijabarkan dan dibahas pada bab IV dan V, dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan rumus Independent sample t-Test diketahui ada perbedaan hasil belajar antara model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dengan model pembelajaran kooperatif tipe Expert Group hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,000, dengan ketentuan sig(p)<0,05 H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan hasil belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dan Expert Group.

Komparasi country branding dalam poster country tourism campaign Negara Indonesia dan Singapura 2007-2011 (se4buah kajian semiotika) / Imelda Yessy Pamungkas

 

Kata Kunci: komparasi, poster, destination branding, country branding, semiotika Citra suatu negara memiliki pengaruh terhadap asosiasi suatu brand, kekhasan dan kesetiaan. Salah satu media yang digunakan adalah poster country tourism campaign, merupakan sebuah media yang terseleksi dan terkontrol dalam penyebarannya. Tujuan penelitian ini adalah deskripsi dari komparasi poster country tourism campaign pada country branding antara negara Indonesia dan Singapura. Objek yang diteliti adalah poster country tourism campaign Indonesia dan Singapura dalam kurun waktu 2007-2011 melalui kajian semiotika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskripsi kuantitatif. Dari hasil penelitian didapatkan beberapa simpulan antara lain deskripsi tanda dan makna yang membentuk teks poster country branding negara Indonesia dan Singapura dalam kurun waktu 2007-2011. Serta deskripsi persamaan dan perbedaan karakter poster country tourism campaign pada country branding antara negara Indonesia dan Singapura. Saran untuk penelitian lanjutan disarankan pada penelitian lanjutan untuk melakukan berbagai eksplorasi pendekatan guna memperoleh hasil yang lebih variatif. Saatnya praktisi desain untuk mengkaji poster country tourism campaign pada country branding sebagai salah satu media komunikasi visual yang berfungsi mengkampanyekan produk wisata dalam suatu negara sehingga dapat memajukan pariwisata dalam suatu negara.

Using comic strips to improve the recount writing ability of eighth graders in SMPN 21 Malang /Anggun Angel Rosalina G.S

 

Kata Kunci: menulis, komik strip. Ketrampilanmenulismerupakansalahsatuketerampilan yang tergolongsulitterutamabagisiswaSekolahMenengahPertama.Berdasarkanhasil PengamatanPendahuluan di kelas 8 di SMPN 21 Malang, siswamengalami beberapamasalahpadakegiatanmenulis. Hasildaripengamatanpendahuluan tersebutdiketahuibahwatingkatkemampuanmenulissiswaberadapadatingkat “fair”. Hal inidikarenakanolehkegiatanbelajarmengajar yang monotondan rendahnyamotivasisiswapadapelajaranBahasaInggris, terutamakegiatan menulis. Pengaplikasiankomik strips dipilihuntukmengatasimasalahsiswadalamkegiatanmenulis. PenelitianinimengadopsidesainPenelitianTindakanKelas (PTK).Penelitianinidilakukandalamduasiklus.Empatpertemuanpadasiklus 1 danlimapertemuanpadasiklus 2. Subyekpenelitianiniadalahsiswakelas VIII.1 SMPN 21 Malang tahunajaran2010/2011.Fokuspadapenelitianiniadalahnilaimenulissiswadanperilaku siswapadasaatpengaplikasiankomik strips. Instrumenyang dipakaidalampenelitianiniadalahrubrikpenilaianmenulis, catatanlapangan, ceklispengamatan, panduanwawancara, dankuisioner. Data yangdiperolehdianalisamelaluimetodekualitatif, diinterpretasikanberdasarkan kriteriakesuksesan, dandisajikansecaradeskriptif. Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwapengaplikasiankomik strips padakegiatanmenulismencapaikriteriakesuksesan. Nilai rata–rata kelaspadakegiatanmenulismeningkatdarisiklus 1 kesiklus 2.Berdasarkannilai rata– rata padakegiatanmenulis, tingkatkemampuansiswadalamhalmenulismeningkatdaritingkat “fair” ketingkat “good”. Dan bahkanadabeberapasiswa yang mencapaitingkat “excellent”.Media yang digunakandalampenelitianiniadalahkomik strips. Berdasarkanhasilpadapenelitianini, disimpulkanbahwapengaplikasiankomik strips dalamkegiatanmenulisdapatmeningkatkankemampuanmenulissiswadalamhalrelev ansiisi, organisasidandiksi. Para siswajugamenunjukkanperilaku yang positifterhadappengaplikasiankomik strips padakegiatanmenulis. Di sampingitu, pengaplikasiankomik strips padakegiatanmenulisjugamendapatkanrespon yang baikdarisiswamaupun guru kelasBahasaInggris. Disarankankepada guru BahasaInggrisuntukmenggunakankomik strips untukmeningkatkankemampuanmenulissiswa. Selainitu, penelitiselanjutnyadiharapkanuntukmenggunakankomik strips padakelas yang berbedadanmenggunakan genre teksyang berbedauntukmengetahuiapakah strategy inidapatdigunakanuntukmeningkatkankemampuansiswadalambelajarbahasaInggris

Manajemen penyelenggaraan supervisi akademik (study kasus di Dinas Pendidikan Kabupaten Bahari) / Asmaun Saleh

 

Disertasi, Program Pascasarjana (S3) Program Studi Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd, (II): Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M. Pd, dan (III): Prof. Dr. Ahmad Sonhadji, K.H, MA. Ph. D. Kata kunci: manajemen pendidikan, supervisi akademik, dinas pendidikan kabu-paten. Manajemen supervisi akademik mengambil dari konsep manajemen secara umum, yaitu kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya meliputi: peren-canaan, pengorganisasian, pengaktifan, pengawasan. Fungsi-fungsi tersebut sekaligus menjadi tujuan dari proses pembimbingan dari pihak yang berkom-peten kepada guru-guru dan para personalia sekolah lainnya yang langsung menangani belajar para siswa, untuk memperbaiki situasi proses belajar mengajar. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan dan menjelaskan (1) penyusunan program kerja yang meliputi: proses perencanaan, dan sistem perencanan pembinaan dalam bentuk supervisi, (2) pembagian tugas yaitu mekanisme ker-ja antar pengawas yang meliputi : komponen organisasi, uraian tugas dan pro-sedur kerja, (3) sosialisasi program supervisi pembinaan yang meliputi : sosia-lisasi oleh Kepala Dinas, dan materi sosialisasi pembinaan dalam bentuk su-pervisi, (4) pengaktifan, yang meliputi : persiapan pelaksanaan, dan tindak lanjut hasil supervisi, dan (5) pengendalian/ pengawasan yang meliputi : pe-mantauan/ monitoring, dan pengolahan hasil data pemantauan/ monitoring untuk perbaikan atau peningkatan. Penelitian dilakukan pada dinas pendidikan kabupaten Bahari dengan menggunakan pendekatan kualitatif, serta dirancang berdasarkan rancangan studi kasus observasional, teknik pengumpulan data meliputi: pengamatan berperan serta, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Sedangkan informan dipilih dengan menggunakan teknik purposif yang dipadukan de-ngan snowball sampling. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis interaktif yang dilakukan, baik pada saat maupun setelah pengumpulan data. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas dengan jalan: (1) perpanjangan waktu tinggal di setting penelitian (prolonged engagement), (2) pengamatan terus-menerus (persistent observation), (3) pengecekan ang-gota (member chek), (4) diskusi teman sejawat (peer debrifing), dan (5) tri-angulasi. Hasil-hasil penelitian berupa temuan-temuan yaitu: (1) perencanaan super-visi akademik dilakukan berdasarkan perencanaan dari bawah (bottom up planning) dengan sistem partisipatif, (2) proses perencanaan dimulai dari pe-ngawas bidang studi, pengawas sekolah binaan, korwas dan akhirnya koor-dinator pengawas, (3) perencaaan terdiri dari program semester dan tahunan, (4) pengorganisasian tertata dengan baik, uraian pekerjaan didasarkan kepada PERDA No.28 Tahun 2008 tentang pedoman penyelenggaraan pendidikan dan PERBUP No.41 Tahun 2008 tentang organisasi dan tata kerja di Dinas Pendidikan serta Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan No.420/134/ 434.101/2009 tentang petunjuk teknis pelaksanaan jabatan fungsional penga-was sekolah, (5) pengaktifan (khususnya penyelenggara supervisi) dilakukan dengan pengarahan kepada pengawas sekolah, kepala sekolah, guru-guru serta pegawai tata usaha untuk melaksanakan tugas. Untuk meningkatkan kemam-puannya, pengawas sekolah diikutksertakan dalam penataran/ seminar, (6) fungsi pengendalian/ pengawasan dengan meminta pertanggungjawaban pe-ngawas sekolah melalui laporan-laporan yang bersifat terjadwal maupun temporer, (7) evaluasi program dilakukan berupa kegiatan monitoring atau pe-mantauan terhadap kinerja pengawas sekolah, tindak lanjut dari evaluasi prog-ram supervisi adalah dengan penyusunan program-program baru yang bisa dilaksanakan atau menyusun ulang program yang telah dilakukan selama per-iode program, (8) pelaksanaan sosialisasi berupa penyampaian pengertian, tu-juan, prinsip, pendekatan, serta teknik-teknik supervisi kepada pengawas, ke-pala sekolah, guru dan semua pihak yang terkait, melalui rapat-rapat dan atau melalui surat edaran. Selain itu terdapat temuan-temuan teori substantif berdasarkan data yaitu: (1) proses perencanaan berdasarkan sistem perencanaan dari bawah (bottom up planning) dapat mendorong peningkatan peranan serta partisispasi penga-was sekolah dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan khususnya pembinan pe-ningkatan profesionalisme, (2) sub organisasi supervisi satu jalur dan bersifat monistis serta pengorganisasiannya menekankan pada pendekatan non direk-tif, dapat mendorong peningkatan aktifitas, kerjasama, koordinasi, dan partisi-pasi aktif pada pembinan dalam bentuk supervisi, (3) penggunaan pola pen-dekatan kolaboratif dalam memobilisasi kegiatan supervisi dapat menciptakan iklim dan kondisi kerja yang sehat dan kondusif, (4) pengawasan dengan menggunakan pendekatan auto control mampu mempertahankan sistem pe-ngawasan dalam jangka panjang serta pengawas sekolah terbiasa untuk berini-siatif sekaligus melakukan koreksi terhadap diri sendiri dari berbagai penyim-pangan yang mungkin dilakukannya. Berdasarkan temuan-temuan tersebut dikemukakan saran agar: (1) Kepala Dinas lebih meningkatkan penggunaan sistem perencanaan dari bawah dalam perencanaan pembinaan dalam benuk supervisi, (2) Kepala Dinas lebih me-ningkatkan penggunaan pola pendekatan kolaboratif dalam pengorganisasian sumber-sumber daya manusia dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan dalam bentuk supervisi, (3) Kepala Dinas lebih meningkatkan pola pendekatan auto control dalam pengembangan manajerial, (4) Kepala Dinas lebih mening-katkan pendekatan pola auto control dalam pelaksanaan pengawasannya, (5) Kepala Dinas lebih meningkatkan frekwensi sosialisasi supervisi agar tujuan supervisi dapat dipahami, (6) pemerintah memberikan kesempatan kearah pe-ningkatan profesionalisme pengawas sekolah dengan melalui pendidikan khusus untuk calon pengawas, dan (7) dilanjutkan penelitian mengenai aspek-aspek manajemen supervisi akademik dengan kasus yang sama di instansi lain.

Pemetaan skripsi mahasiswa program studi S1 PGSD reguler dan non reguler input D2 jurusan KSDP FIP UM periode lulusan tahun 2008-2010 / Wahyu Kristanto

 

Kata Kunci: Pemetaan, Skripsi, S1 PGSD Reguler dan Nonreguler. Skripsi adalah karya tulis ilmiah hasil penelitian yang dilaksanakan secara mandiri untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar sarjana. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan skripsi mahasiswa program studi S1 PGSD reguler dan nonreguler periode lulusan tahun 2008-2010 ditinjau dari bidang studi yang dipilih, jenis strategi/model, pendekatan yang digunakan, lama studi, jenis kelamin, serta beban pembimbingan setiap dosen yang lulus pada periode 2008-2010. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah skripsi mahasiswa program studi S1 PGSD reguler dan nonreguler input D2 periode lulusan tahun 2008-2010. Data penelitian ini berupa dokumentasi skripsi mahasiswa program studi S1 PGSD reguler dan nonreguler input D2 periode lulusan tahun 2008-2010. Penelitian ini menggunakan penelitian total sampling karena yang diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh skripsi mahasiswa program studi S1 PGSD reguler dan nonreguler input D2 periode lulusan tahun 2008-2010.data yang terkumpul dianalisis secara deskripstif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bidang studi yang paling banyak diminati oleh mahasiswa adalah bidang studi Matematika 84 (24,1%), Bahasa Indonesia (24,1%), IPS (16,9%), IPA (16,6%), dan yang paling sedikit diminati adalah SBK (0,85%). (2) Strategi/model yang paling sering digunakan dalam skripsi adalah model cooperative learning dengan persentase 65,5% (Pemanfaatan Media dan Alat 22,12%, Bermain dan Permainan 6,03%, STAD 5,6%, Role Playing 3,73%, PLAS 2,9%, TGT 2,6%), sedangkan yang jarang digunakan model critical thinking 0,3%, (3) Sebagian besar pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitative (96, 93%), pendekatan kuantitative hanya (3,07%), (4) Berdasarkan tahun lulus skripsi tahun 2008 memperoleh persentase 12,2%, tahun 2009 32,6%, tahun 2010 55,2%, (5) Berdasarkan jenis kelamin mahasiswa perempuan sejumlah 293 (81,6%,) dan mahasiswa laki-laki 66 (18,4%), (6) Berdasarkan beban pembimbingan setiap dosen yang lulus pada periode 2008- 2010 paling banyak membimbing 32 skripsi dan paling sedikit membimbing 1 skripsi. Rata-rata beban pembimbingan setiap dosen selama tiga periode sebanyak 4 bimbingan skripsi pertahun Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa skripsi mahasiswa S1 PGSD reguler dan nonreguler input D2 mayoritas menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun saran dari penelitian dengan data ini penentu pembimbingan diharuskan menyesuaikan agar tidak terjadi kesenjangan sosial.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model kooperatif tipe picture and picture materi hidrosfer siswa kelas X3 SMA Laboratorium UM Malang / Inge Devi Anitasari

 

Kata Kunci: Picture And Picture, aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa. Salah satu penyebab rendahnya kualitas pembelajaran adalah proses pembelajaran yang kurang maksimal. Hal tersebut disebabkan karena pemilihan model pembelajaran yang kurang sesuai dengan karakter siswa dan materi pelajaran, sehingga menyebabkan siswa tidak begitu antusias dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Permasalahan tersebut dapat menyebabkan aktivitas dan hasil belajar siswa menurun. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas X3 didapatkan data bahwa skor rata-rata aktivitas belajar siswa sebelum penelitian yaitu 6,9. Rendahnya aktivitas belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Pada hasil belajar, nilai rata-rata siswa sebesar 53,01. Sehingga, perlu upaya untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menerapkan model pembelajaran Picture And Picture. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X3 SMA Laboratorium UM Malang pada mata pelajaran Geografi materi “Hidrosfer dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan” dengan model pembelajaran Picture And Picture. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Mei 2011. Data dalam penelitian ini terdiri dari data aktivitas dan hasil belajar siswa. Instrument penelitian yang digunakan terdiri dari lembar observasi dan soal tes. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, dokumentasi dan tes tulis. Data nilai aktivitas dan hasil belajar siswa yang diperoleh kemudian dianalisis dengan cara membandingkan nilai keaktifan dan hasil belajar ranah kognitif siswa pada saat Observasi Awal, Siklus I, Siklus II, dan siklus berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada saat observasi awal hanya 6,9, sedangkan pada Siklus I meningkat menjadi 9,95. Setelah dilakukan Siklus II, nilai rata-rata aktivitas belajar siswa meningkat sebesar 12,41. Penerapan model pembelajaran Picture And Picture tidak hanya dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa melainkan juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan dokumen nilai siswa pada saat observasi awal, nilai rata-rata siswa sebesar 53,01. Pada Siklus I nilai rata-rata meningkat sebesar 75,56 dan pada Siklus II meningkat menjadi 83,37. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Picture And Picture dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Disarankan kepada guru Geografi di SMA Laboratorium UM Malang agar menggunakan model pembelajaran Picture And Picture sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, agar kualitas pembelajaran semakin meningkat.

Pengaruh pembelajaran kolaboratif terhadap hasil belajar pendidikan pancasila dan ketrampilan kerja sama pada mahasiswa yang memiliki tingkat motivasi belajar berbeda / Djoko Apriono

 

Program Studi Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang Pembimbing (1) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Pd, M.Ed, dan (III) Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd. M.Kes Kata kunci: pembelajaran, kolaboratif, motivasi belajar, hasil belajar, dan keterampilan kerjasama Implementasi pembelajaran Pendidikan Pancasila cenderung bersifat konvensional (tradisional), dosen-dosen lebih suka menggunakan pembelajaran yang hanya mendasarkan pada tujuan pokok bahasan semata, tanpa ada pengembangan atau usaha menumbuhkan kerjasama antar mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan belajar.Mahasiswa lebih banyak mendapatkan hasil belajar yang bersifat kognitif tingkat rendah, sedangkan aspek afektif dan psikomotor belum nampak pada diri mahasiswa, sehingga tidak tampak hasilnya dalam implementasi kehidupan riil di masyarakat. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ideal, harus ada upaya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di atas. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pembelajaran kolaboratif. Pembelajaran kolaboratif merupakansuatu pembelajaran yang melibatkan beberapa mahasiswa secara bersama-sama tergabung dalam kelompok yang mengakui adanya perbedaan kemampuan dan sumbangan pemikiran tiap-tiap individu. Pembelajaran ini digunakan untuk memecahkan masalah dalam meteri pembelajaran yang dilakukan melalui kerja kolaborasi, yakni ditunjukkan dengan (1) kemampuan tim untuk secara konstan menguji proses mereka agar terjadi perbaikan, dan (2) adanya persyaratan yang disepakati untuk saling percaya dan terbuka dalam komunikasi. Selain faktor strategi pembelajaran, masih banyak faktor lain yang juga mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Salah satu faktor tersebut adalah karakteristik mahasiswa. Di antara beberapa karakteristik mahasiswa tersebut yang dipilih dan diduga mempengaruhi hubungan strategi pembelajaran terhadap hasil belajar dan keterampilan kerjasama adalah motivasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pembelajaran (kolaboratif dan konvensional), tingkat motivasi belajar terhadap hasil belajar dan keterampilan kerjasama mahasiswa pada mata kuliah Pendidikan Pancasila. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh utama (main effect) dan pengaruh interaksi (interaction effect) variabel perlakuan dan moderator terhadap hasil belajar dan keterampilan kerjasama pada mata kuliah Pendidikan Pancasila.Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut dilakukan penelitian kuasi eksperimen.Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan desain faktorial versi non-equivalent pretest-posttest control group design. Penelitian ini dilaksanakan di UNIROW (Universitas PGRI Ronggolawe) Tuban, Subjek penelitian adalah mahasiswa di program studi Pendidikan Matematika FKIP UNIROW sebanyak 5 kelas, dengan jumlah mahasiswa setiap kelas 34- 40mahasiswa. Dari 5 kelas yang ada diambil secara acak (undian), dua kelas yang akan dijadikan sampel penelitian, yaitu kelas A berjumlah 31 mahasiswa dan kelas B berjumlah 34 mahasiswa. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan dengan tes hasil belajar dalam bentuk uraian, angket motivasi belajar. Data yang terkumpul di olah secara statistik dengan menggunakan teknik analisis varians (anava) dua jalur dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukan (1) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar Pendidikan Pancasila antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan pembelajaran kolaboratif dan konvensional, (2) ada perbedaan yang signifikan hasil belajar Pendidikan Pancasila antara kelompok mahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggidan rendah, (3)adapengaruh interaksi antara pembelajaran (kolaboratif dan konvensional) dan motivasi belajar mahasiswa terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila, (4) ada perbedaan yang signifikan keterampilan kerjasama antara kelompok mahasiswa yang belajar dengan pembelajaran kolaboratif dan konvensional, (5) ada perbedaan yang signifikan keterampilan kerjasama antara kelompokmahasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggidan rendah, dan (6) tidak ada pengaruh interaksi antara pembelajaran (kolaboratif dan konvensional) dan motivasi belajar mahasiswaterhadap keterampilan kerjasama mahasiswa. Hasil statistik deskriptif menunjukan bahwa 1) hasil belajar melalui penerapan pembelajaran kolaboratif (rerata, 79,76) memberikan pengaruh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pembelajaran konvensional (rerata, 71,03), 2) hasil keterampilan kerjasama melalui penerapan pembelajaran kolaboratif (rerata, 39,24) memberikan pengaruh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pembelajaran konvensional (rerata, 35,55) Berdasarkan temuan penelitian disarankan sebagai berikut: 1) penerapan pembalajaran kolaboratif perlu dilengkapi perangkat pembelajaran secara terprogram dengan memperhatikan karakteristik mahasiswa (motivasi belajar), sehingga pembelajaran kolaboratif dapat dilakukan mahasiswa dengan lancar; 2) memilih permasalahan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mudah dipahami mahasiswa; dan 3) dosen perlu memahami perbedaan kepribadian, karakteristik dan identitas mahasiswa, kemampuan mahasiswa, agar dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mahasiswa.

Pengembangan buku ajar pembelajaran teknik renang gaya bebas untuk kelas VIII di SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep / Adi Molyono

 

Kata Kunci:Pengembangan, buku ajar pembelajaran, teknik renang gaya bebas. Olahraga renang ada empat gaya umum yang digunakan, diantaranya adalah gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya punggung, dan gaya dada. Dilihat dari segi manfaatnya renang juga bisa menjadi sarana penunjang bagi siswa untuk bergerak dengan bebas dengan tujuan utamanya adalah untuk membekali siswa dengan sebuah keterampilan hidup, atau keterampilan untuk mengisi waktu senggang dengan renang yang menyehatkan. Kemudian dilihat dari aspek psikologis dan segi sosialnya berenang banyak bermanfaat bagi kehidupan anak. Dilihat dari aspek psikologis, berenang bagi anak memiliki nilai yang khas dan meluas cakupannya, yaitu memupuk keberanian dan perasaan mampu serta percaya diri, disamping untuk membangkitkan suasana kegembiraan yang tidak dijumpai dalam aktifitas jasmani lainnya, “dari segi sosial, yakni manakala ada orang yang memerlukan pertolongan akibat kecelakaan dalam air ( karena banjir, perahu tenggelam) maka orang yang terampil berenang akan dapat membantunya. Diketahui bahwa di SMP telah ada meteri renang. Guru renang di SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep menerapkan pembelajaran renang dengan 4 gaya yang diajarkan, yaitu gaya bebas, gaya punggung, gaya kupu-kupu, dan gaya dada. Namun pada prakteknya, untuk melakukan teknik renang, terutama gaya bebas siswa masih mengalami kesulitan, khususnya siswa kelas VIII. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor pembelajaran yang diajarkan kurang variatif. Untuk itu peneliti perlu melakukan suatu cara agar siswa kelas VIII bisa lebih mudah menguasai teknik renang gaya bebas. Dan peneliti melakukan suatu cara berupa “Pengembangan Buku Ajar Pembelajaran Teknik Renang Gaya Bebas Untuk SMP Kelas VIII di SMP Negeri 2 Saronggi Kabupaten Sumenep ”, dan diharapkan dengan adanya buku ajar pembelajaran teknik renang gaya bebas, siswa bisa lebih cepat menguasai cara renang gaya bebas dengan benar. Penelitian ini teknik pengembangan yang digunakan adalah teknik pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall (1983:775). Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara kuesioner berupa angket yang diberikan kepada 1 orang ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 orang ahli renang dan 1 orang ahli media serta siswa yang berisipertanyaantentangisiBuku Ajar PembelajaranTeknikRenang Gaya Bebasdenganmengacupadametodeatauprosedur yang telahditentukan. Data Pengembangan Buku Ajar Pembelajaran Teknik Renang Gaya Bebas ini adalah data kuantitatif, karena data yang diperoleh dinyatakan dengan angka bukan kalimat. Data analisis tersebut diperoleh dengan cara memberi skor pada kuesioner yang diberikan., dimana hasil data uji coba kelompok kecil adalah 95,05% dan untuk uji lapangan (kelompok besar) adalah 90,75%. Serta untuk klasifikasi persentase secara keseluruhan pada pengembangan buku ajar pembelajaran teknik renang gaya bebas adalah dengan hasil yang terbaik.

Peningkatan hasil belajar siswa melalui metode eksperimen pada mata pelajaran di kelas IV SDN Sukoharjo 1 Kecamatan Klojen Kota Malang / Rajuna Watafuhan

 

Kata kunci : Hasil Belajar, Metode Eksperimen, Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya hasil belajar siswa yang belum tuntas sesuai dengan ketuntasan belajar secara klasikal atau standar ketuntasan belajar minimal 65%. Hal tersebut disebabkan karena kegiatan pembelajaran kurang bermakna. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan bergantung pada buku teks. Selain itu guru cenderung untuk menekankan penguasaan konsep dari pada proses. Siswa tidak diarahkan pada suatu kegiatan atau aktivitas belajar seperti pengamatan, percobaan atau aktivitas lainnya dan siswa cenderung pasif, tidak ada keinginan untuk mencari pengetahuan sendiri. Siswa hanya duduk, diam dan menunggu penjelasan materi dari guru, siswa berbicara dengan teman ketika guru menjelaskan materi pelajaran Proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan atau proses sesuatu. Peran guru dalam metode eksperimen ini sangant penting, khususnya berkaitan dengan ketelitian dan kecermatan sehingga tidak terjadi kekliruan dan kesalahan dalam memaknai kegiatan eksperimen dalam kegiatan belajar dan mengajar. Kancah penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sukoharjo 1 dengan jumlah siswa 26. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Mc. Taggart melalui dua siklus (siklus I dan siklus II). Hasil penelitian siklus I menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode eksperimen mampu meningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pada siklus I aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung sebesar 62,6%, meningkat pada siklus 2 menjadi 74,8%, dan hasil belajar pada siklus I mempunyai rata-rata kelas sebesar 66,3 dengan ketuntasan kalsikalnya 49,3%, meningkat pada siklus II menjadi 75,9 dengan ketuntasan klasikalnya 66,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa guru IPA hendaknya menerapkan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas dengan menyesuaikan materi yang diajarkan.

Perancangan Website dan media promosi website pembudidayaaan anggrek beauty garden orchids Malang / Muhammad Rifani Aulia

 

Kata kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, Media Promosi, Nursery, Anggrek, Beauty Garden Orchids, Website ‘Beauty Garden Orchids’merupakan salah satu tempat pembudidyaan dan penjualan anggrek (Nursery). ‘Beauty Garden Orchids’ kurang melakukan kegiatan promosi yang mampu menarik konsumen. Perancangan ini bertujuan menciptakan media promosi ‘Beauty Garden Orchids’ melalui website beserta media promosinya. Metode perancangan diawali dengan perumusan latar belakang masalah, metode pengumpulan data, metode analisis data, metode konsep perancangan, dan metode visualisasi desain. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan pustaka. Hasil perancangan berbentuk Website dan media komunikasi visual untuk mempromosikan Website ’Beauty Garden Orchids’ tersebut, yang terdiri dari: Iklan Surat Kabar, Poster, Leaflet, dan X-Banner. Pengembangan ragam dan alternatif pelayanan bagi konsumen tetap dan calon konsumen diharapkan menjadi perhatian utama bagi ‘Beauty Garden Orchids’. Perancangan ini juga diharapkan dapat menjadi acuan untuk perancangan media promosi lain, khususnya yang berhubungan dengan website.

Faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam pembelian produk PASTRY (kue basah) di Desa Sambi Kecamatan Ringin Rejo Kabupaten Kediri / Ilma Nim Atussa'fina

 

Kata Kunci: faktor eksternal, keputusan pembelian, produkpastry Persaingan berwirausaha terlihat dari banyaknya wirausahawan yang berlomba-lomba dalam memenangkan persaingan bidang jasa boga serta keinginan manusia yang beranekaragam, oleh karena itu suatu hal yangdapat dilakukan oleh wirausahawan yaitu dengan meningkatkan kualitas produknyaagar produk yang dijual dapat bersaing dan bertahan di pasaran walaupun banyak produk yang sejenis dijual.Halinipenting bagi wirausahawan untuk mempelajari bagaimana perilaku konsumen tersebut dalam pengambilan keputusan pembelian terutama dari faktor eksternal yang berasal dari lingkungan konsumen. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan faktor eksternal konsumen dankeputusan pembelian pada produkpastry(kue basah) di Desa Sambi, serta mengetahuipengaruh faktor eksternal terhadap keputusan konsumen dalam pembelian produk pastry (kue basah) di Desa Sambi secara parsial (sendiri-sendiri)maupun simultan(bersama-sama). Penelitian ini menggunaka rancanganpenelitianEksplanatory Research. Instrumen dalam penelitian ini adalahclosed questionaredan menggunakanskala likert dengan empat alternatifjawaban. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan teknik accidental sampling, dan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis regresi berganda.Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa (1) Faktor eksternal yang terdiri dari faktor budaya, kelas sosial, kelompok anutan, keluarga, situasi konsumentermasuk klasifikasi tinggi, terhadap pengaruh pembelian produkpastry(kue basah), (2) Keputusan pembelian konsumen pada produk pastry (kue basah) termasuk klasifikasi tinggi, (3) Ada pengaruhyang signifikan secara parsial antara faktor eksternal terhadap keputusan konsumen dalam pembelian produkpastry(kue basah) di Desa Sambi dengan nilai t hitung X1 = 4.022 sig. 0.000, thitung X2 = 9.787 sig. 0.000, thitung X3 = 2,071 sig. 0.041, thitung X4 = 2.112 sig. 0.037, thitung X5 = 2,149 sig. 0.034, (4) Ada pengaruh yang signifikan antara faktor eksternal terhadap keputusan konsumen dalam pembelian produk pastry (kue basah) di Desa Sambi Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri secara simultan dengan nilai F = 58.306 sig. = 0.000. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara faktor eksternal terhadap keputusan konsumen dalam pembelian produk pastry (kue basah) di Desa Sambisecara parsial maupun simultan dan termasuk dalam klasifikasi tinggi. Adapun saran yang dapat diberikan kepada wirausahawanjasa boga yaitu lebih memperhatikan bagaimana faktor eksternal konsumen dapat mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli, sehingga dapat meningkatkan penjualandan dapat bertahan di tengah persaingan usaha semakin ketat.

Pengaruh kurs rupiah pada US dolar dan Euro terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rade melalui IHSG periode september-oktober 2011 / Wulan Aji Rachmawati

 

Kata kunci: Kurs Rupiah, IHSG, dan Yield Obligasi, Pasar modal pada dasarnya adalah pasar yang tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional, dimana ada pedagang, pembeli, tawar menawar harga. Pasar modal bisa juga diartikan sebagai tempat bertemunya defisit unit (pihak yang membutuhkan dana) dengan surplus unit (pihak yang meyediakan dana). Pasar modal memiliki hubungan yang erat dengan perekonomian suatu negara. Jika suatu negara memiliki kestabilan pada pasar modalnya maka bisa disebut juga negara tersebut perekonomian dalam keadaan baik. Obligasi pemerintah merupakan salah satu alternatif pembiayaan defisit negara. Penerbitan obligasi ditujukan untuk menutup pendanaan yang tidak dapat tertutupi oleh pajak. Obligasi pemerintah merupakan obligasi yang bebas dari resiko gagal bayar (default). Obligasi dengan bunga tetap (fixed rate) merupakan obligasi yang memiliki banyak minat dari para investor. Obligasi pemerintah dikala krisis global menjadi salah satu alternatif investasi para investor, karena negara memberikan jaminan terhadap pendapatannya. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui nilai kurs Rupiah pada USD dan Euro, IHSG, dan yield obligasi pemerintah seri fixed rate periode September-Oktober 2011. (2) Untuk menguji pengaruh kurs Rupiah pada USD terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rate periode September-Oktober 2011 (3) Untuk menguji pengaruh pengaruh kurs Rupiah pada Euro terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rate periode September- Oktober 2011 (4) Untuk menguji pengaruh kurs Rupiah pada USD terhadap IHSG periode September-Oktober 2011 (5) untuk menguji pengaruh kurs Rupiah pada Euro terhadap IHSG periode September-Oktober 2011 (6) Untuk menguji pengaruh IHSG terhadap Yield obligasi pemerintah seri fixed rate periode September-Oktober 2011. (7) Untuk menguji pengaruh kurs Rupiah pada USD terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rate melalui IHSG periode September-Oktober 2011 (8) pengaruh kurs Rupiah pada Euro terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rate melalui IHSG periode September-Oktober 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausalitas melalui pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan yaitu obligasi pemerintah yang berturut-turut dan diperdagangan di Bursa Efek Indonesia sampai Oktober 2011. Sampel yang diambil menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih obligasi pemerintah seri fixed rate yang listing terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang aktif dalam memperdagangkannya serta memiliki jangka waktu tempo lebih dari 10 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa, data harian obligasi yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Koran Harian Bisnis Indonesia dan Website Bursa Efek Indonesia. Pada penelitian ini menggunakan path analisis dalam menguji menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda dimana variabel bebasnya yakni kurs Rp/USD dan Rp/Euro mempengaruhi variabel terikatnya yakni yield obligasi tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung melalui IHSG Dari hasil penelitian terbukti bahwa terdapat pengaruh kurs Rupiah pada USD dan Euro terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rate melalui IHSG. Adapun IHSG mampu menjadi variabel mediator antara variabel kurs Rupiah pada USD & Euro terhadap yield obligasi pemerintah seri fixed rate. Hal ini disebabkan sebelum melakukan keputusan untuk berinvestasi dalam bentuk obligasi, investor memperhatikan faktor fundamental yang menjadi dasar dalam berinvestasi seperti mempertimbangkan bagaimana keadaan kurs rupiah terhadap mata uang asing dan juga nilai IHSG. Dari hasil penelitian dapat disarankan bagi investor bahwasannya analisa faktor fundamental penting bagi investor dan juga calon investor karena sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan investasi yang mana nantinya akan berhubungan dengan hasil yang akan diperoleh dari investasi dan juga resiko yang harus dihadapi investor.

Penerapan model pembeljaran MAKE A MATCH untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari Malang / Eurika Adinda

 

Kata-kata kunci : model pembelajaran Make A Match, aktivitas, hasil belajar. Dalam kegiatan KBM peneliti melakukan observasi awal dengan mengamati aktivitas siswa dan aktivitas guru. Ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS yaitu (1) pembelajaran IPS masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan, (2) guru jarang menggunakan media pembelajaran, (3) kurangnya aktivitas siswa untuk bertanya atau menjawab tentang materi yang diberikan. Untuk itu diperlukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai yaitu model pembelajaran Make A Match. Model Make A Match adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam menemukan kartu soal dan kartu jawaban yang sesuai dan tepat dengan batas waktu yang ditentukan. Siswa yang mendapatkan pasangan dengan waktu yang cepat dan tepat akan mendapatkan poin dan bintang penghargaan agar pembelajaran di kelas menjadi menarik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Make A Match dalam pembelajaran IPS, (2) mendeskripsikan model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari, (3) mendeskripsikan model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian yang dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun pendekatan penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah 33 siswa kelas IV SDN Ardimulyo 03 Singosari Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Make A Match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV. Ini terbukti pada siklus I skor rata-rata aktivitas siswa sebesar 63 dan pada siklus II skor rata-rata aktivitas siswa meningkat menjadi 91. Pada hasil belajar siklus I, skor rata-rata hasil belajar siswa 68% dengan 19 (46%) siswa yang mengalami tuntas belajar dan 14(22%) siswa yang belajar. Siklus II mengalami peningkatan pada skor rata-rata siswa yaitu 87% dengan 33(87%) siswa mengalami tuntas belajar secara klasikal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan aktivitas siswa di dalam kelas dan hasil belajar siswa juga meningkat. Disarankan agar guru melakukan kegiatan belajar yang menyenangkan, menarik minat siswa untuk belajar, dan dapat menerapkan model pembelajaran Make A Match pada materi lain.

Personality change and developing career guidance and counseling: a literature review / Chea Lim

 

Tesis, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Triyono, M.Pd, (II) Dr. H. M. Ramli, M.A. Kata kunci: perubahan kepribadian, karier, bimbingan karier, konseling karier Ketika memutuskan untuk memilih sebuah karier, seseorang seharusnya mempelajari dan menemukan karier yang sesuai dengan tipe kepribadiannya. Hal yang sering terjadi adalah kita memilih karier tanpa mendeteksi tipe kepribadian yang kita miliki sebelumnya. Dengan kata lain, kita memilih karier tanpa memikirkan apakah karier tersebut memiliki kesesuaian dengan tipe kepribadian yang dimiliki. Idealnya adalah ketika kita sudah memilih karier atau yang diharapkan untuk memiliki suatu karier tertentu dan sesuai dengan tipe kepribadian kita. Bagaimana jika tipe kepribadian kita tidak cocok dengan kariernya? Apakah kita harus mengubah karier yang sudah dipilih atau dicita-citakan, atau mengubah tipe kepribadian kita agar keduanya memiliki kesesuaian? Hal di atas menjadi tujuan dalam kajian pustaka ini yaitu tentang perubahan kepribadian yang disesuaikan dengan karier. Praktik bimbingan dan konseling karier adalah untuk menyediakan informasi tentang diri seseorang dan informasi tentang karier sehingga tipe kepribadian individu dapat ditunjukkan apakah tipe kepribadaian sesuai dengan karier yang sudah dipilih maupun yang dicita-citakan. Tetapi isu dalam kajian pustaka ini adalah “Dapatkah kepribadian berubah?” Beberapa orang berasumsi bahwa kepribadian dapat berubah, namun dari sudut pandang lain mengasumsikan bahwa sebagian orang percaya kalau kepribadian tidak dapat berubah. Sebagai hasil dari kontradiksi asumsi tersebut, tujuan utama penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan tersebut dan dua pertanyaan berikutnya: “Mengapa ada banyak pengembangan teori-teori bimbingan dan konseling karier?” dan “Apakah pengembangan teori-teori tersebut disebabkan oleh pengembangan konsep kepribadian?” Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, peneliti tidak melakukan penelitian melalui eksperimen melainkan melalui kajian pustaka untuk mengumpulkan data awal dan mensintesiskan apakah kepribadian dapat berubah atau tidak; dan untuk menjawab dua isu sebagaimana yang telah dikemukakan oleh peneliti, metode yang digunakan dalam kajian pustaka ini adalah tinjauan narasi. Kajian pustaka ini akan dipaparkan sebagai berikut. Isu mengapa ada banyak teori bimbingan dan konseling karier itu lebih banyak disebabkan adanya variasi pengertian konsep kepribadian. Fokus teori-teori bimbangan dan konseling karier sudah mengalami perubahan tiga trends—teori kepribadian menjadi teori pengembangan dan selanjutnya ke teori pembelajaran. Meskipun ada sedikit bukti yang memperlihatkan bahwa perkembangan bimbingan dan konseling karier dipengaruhi oleh evolusi teori-teori kepribadian, tetapi hal tersebut berpengaruh juga terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling karier. Borchert (2002) memaparkan bahwa di antara tiga faktor, yaitu faktor kepribadian yang memiliki peran berkontribusi secara signifikan terhadap pemilihan karier, dibandingkan dengan dua faktor lain, yaitu lingkungan dan kesempatan. Ketika kita mendefinisikan kepribadian dengan cara yang berbeda, akan terdapat perbedaan teori yang mengarah pada variasi perkembangan teori bimbingan dan konseling karier. Penelitian ini menemukan jawaban atas pertanyaan “Dapatkah kepribadian berubah?” Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Bergantung pada beberapa hal” yaitu: (a) bergantung pada bagaimana seseorang mendefinisikan “kepribadian” dan bagaimana seseorang mendefinisikan “perubahan”; (b) ber-gantung apakah seseorang memandang konstelasi tingkah laku menghubungkan dengan karakteristik atau sifat bawaan dan watak; (c) bergantung kapan dan sesering apa seseorang melihat fenomena yang disebut “kepribadian”; dan (d) bergantung bagaimana seseorang memahami stabilitas dan proses perubahan. Jawaban ini lebih merefleksikan kompleksitas pertanyaan dari pada usaha untuk menghindari sebuah jawaban yang definitif. Meskipun kurang jelas, jawaban sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya menunjukkan dukungan terhadap konsep “Kepribadian dapat berubah.” Peneliti percaya bahwa, jika dilaksanakan secara wajar, behaviorsme dan konsep blank slate dapat mengubah kepribadian pada wilayah bimbingan dan konseling karier. Ketika kepribadian dapat dibentuk untuk menyesuaikan dengan karier, jutaan pekerja dapat terbantu. Disamping itu, bagi konselor sekolah dapat membantu siswa dalam memilih karier yang sesuai dengan tipe kepribadian mereka demikian pula konselor dapat membantu mereka mengubah tipe kepribadian agar sesuai dengan pilihan karier. Maka kita berhenti menjadi korban kepribadian kita sendiri. Kita bisa memilih mau jadi apa kita begitu kita bisa mengubah diri kita.

Isolasi, karakterisasi dan identifikasi poli galaktan sulfat pada Eucheuma alvarezil Dety dari perairan ARU-Maluku / Elias Agus Huninhatu

 

Identifikasi kapang kontaminan dan spesies kapang dominan pada simplisia jamu tradisional yang di jual di pasar kota Malang / Mariyanti

 

Kata Kunci : Kapang Kontaminan, Simplisia Jamu Tradisional Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan dalam pembuatan obat tradisional yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dikeringkan. Simplisia dapat dimanfaatkan terutama untuk pembuatan jamu serbuk, jamu gen-dong atau jamu ramuan pribadi yang dikonsumsi dengan cara diseduh atau dire-bus. Simplisia dapat terkontaminasi oleh kapang karena bahan telah terkontami-nasi, dan proses pembuatan yang kurang higienis. Penelitian ini bertujuan untuk; 1) mengetahui spesies kapang kontaminan pada simplisia jamu tradisional yang diteliti; 2) mengetahui spesies kapang yang dominan pada simplisia jamu tradi-sional yang diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, mulai bulan januari 2011 sampai dengan bulan April 2011. Sam-pel yang digunakan ialah simplisia temulawak dan simplisia daun senna yang dijual di tiga pasar Kota Malang. Sampel simplisia sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1%, and diencerkan hingga tingkat pengenceran 10-6. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium Cazpek Agar (CA) sebanyak 0,1 ml dan diinkuba-sikan pada suhu 250C selama 7 x 24 jam. Perlakuan sampel dilakukan dalam 3 ulangan. Masing-masing koloni yang tumbuh dalam medium diisolasi, dan dideskripsi. Kemudian kapang diidentifikasi. Masing-masing jumlah koloni tiap spesies dihitung untuk mengetahui spesies kapang dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kapang kontaminan yang ditemukan dalam sampel simplisia temulawak dan daun senna yang telah diteliti dalam penelitian ini sebanyak 16 spesies kapang yaitu A. parasiticus Spear, A. niger van Tieghem, P.citrinum Tom., A. flavus Link, P. purpurogenum Stoll., Myselia sterilia (a), A. fumigates Fres, A. terreus Thom, Trichoderma harsianum Rifai, Verticillium lecanii (Zimm.) Viegas, Myselia sterilia (b), Cladosporium herbarum (Pres.) Link ex Gray, Myselia sterilia (c), A. oryzae (Ahlburg) Cohn, Sirosporium antenniforme Bubak dan Serebrianikov, dan Chrysonilia sitophila (Mont.) v. Arx; 2) Spesies kapang dominan yang terdapat pada simplisia temulawak ialah Verticillium lecanii (Zimm.) Viegas dengan jumlah rerata koloni 5,5 x 105 cfu/g. Pada simplisia daun Senna ada tiga spesies kapang yang mendominasi yaitu Verticillium lecanii (Zimm.) Viegas, Chrysonilia sitophila (Mont.) v. Arx, dan Cladosporium herbarum (Pres.) Link ex Gray dengan jumlah rerata koloni dari ketiga spesies kapang tersebut ialah 5,5 x 105 cfu/g.

Pengggunaan kalimat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kompas / Felly Fitriani Supriyadi

 

Kata-kata Kunci: penggunaan kalimat, tajuk rencana, surat kabar Tajuk rencana adalah pendapat dan sikap resmi suatu media terhadap persoalan aktual, fenomenal, dan atau kontroversial yang berkembang. Tajuk rencana dalam surat kabar berusaha untuk mempengaruhi dan meyakinkan pembaca atas suatu berita penting sehingga pembaca menyimak pentingnya arti berita yang ditonjolkan. Pendapat yang dituangkan dalam tajuk rencana bersifat logis dan realistis sehingga gaya penulisannya relatif tetap dan spesifik. Gaya penulisannya tertuang dalam argumen yang ditulis secara menarik dan berpijak pada data maupun fakta. Oleh sebab itu, penggunaan kalimat dalam tajuk rencana surat kabar tetap berpegang pada kaidah bahasa baku bahasa Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh deskripsi yang objektif tentang penggunaan kalimat dalam tajuk rencana surat kabar harian Kompas berdasarkan (1) kategori frasa yang menjadi predikat, (2) hadir tidaknya objek, dan (3) jumlah klausanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan disusun dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah teks tajuk rencana surat kabar harian Kompas edisi Maret 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul berupa kalimat yang terdapat dalam teks tajuk rencana surat kabar Kompas dianalisis berdasarkan model alir Miles dan Huberman berupa tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data disertai analisis, dan penarikan simpulan. Pengecekan data dilakukan dengan ketukanan pengamatan dan pemeriksaan kepada ahli. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggunaan kalimat tunggal berdasarkan kategori frasa yang menjadi predikatnya terdiri atas kalimat nominal, kalimat verbal, kalimat adjektival, kalimat numeral, dan kalimat preposisional. Pada temuan pertama, kalimat verbal lebih banyak digunakan dengan persentase 73%. Kedua, penggunaan kalimat tunggal berdasarkan hadir tidaknya objek terdiri atas kalimat transitif, kalimat semitransitif, dan kalimat intransitif. Kalimat intransitif terbagi menjadi kalimat intransitif tak lengkap, kalimat intransitif lengkap, dan kalimat intransitif semilengkap. Kalimat intransitif lengkap lebih banyak digunakan dengan persentase sebesar 41%. Ketiga, penggunaan kalimat berdasarkan jumlah klausa terdiri atas kalimat sederhana dan kalimat luas. Kalimat luas terbagi menjadi kalimat luas setara, kalimat luas tidak setara, dan kalimat luas campuran. Kalimat luas setara lebih banyak digunakan dengan persentase 51%. Saran penelitian ini disampaikan pada peneliti dan pengajar bahasa Indonesia. Bagi peneliti bahasa Indonesia disarankan agar melakukan penelitian serupa lebih mendalam lagi terkait masalah kebahasaan, khususnya yang berkaitan dengan kalimat. Bagi pengajar bahasa Indonesia disarankan untuk melakukan pertimbangan penentuan bahan ajar, terutama yang berkaitan dengan penggunaan kalimat dan tajuk rencana.

Penggunaan media audio visual untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan 1 kecamatan Sukun kota Malang / Eni Arifatun Ni'mah

 

Kata Kunci: media audio visual, proses belajar, hasil belajar, IPS SD. Hakikat belajar adalah proses komunikasi menyampaikan pesan dari sumber pesan melalui perantara ke penerima pesan dalam kegiatan belajar. Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dibutuhkan alat bantu mengajar berupa media audio visual. Berdasarkan observasi pra tindakan mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan I, menunjukkan bahwa proses belajar siswa kurang aktif, minat terhadap materi pelajaran kurang dan guru minim menggunakan media pembelajaran. Permasalahan tersebut menyebabkan hasil belajar siswa rendah yaitu terdapat 15 anak (35%) mencapai KKM dan 28 anak (65%) di bawah KKM dari Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan 60. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan media audio visual dalam proses dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan I Kecamatan Sukun Kota Malang, (2) mendeskripsikan peningkatkan proses belajar, (3) mendeskripsikan peningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif rancangan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian siswa kelas V SDN Bakalan Krajan I Kecamatan Sukun Kota Malang. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, tes dan catatan lapangan. Sumber data yaitu siswa, guru, proses dan hasil belajar. Prosedur penelitian mulai dari pra tindakan, siklus I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan media audio visual proses belajar siswa lebih efektif dan menyenangkan. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata aspek pengamatan proses belajar pra tindakan 57,56 menjadi 79,36 dan 95,35. Sedangkan hasil belajar siswa dari nilai rata-rata pra tindakan 48,14 menjadi 63,49 dan 80,93 pada siklus I, II. Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat peningkatan proses belajar sebanyak 21,80 pada siklus I dan 15,99 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar siswa sebanyak 15,35 pada siklus I dan 17,44 pada siklus II. Jadi penerapan penggunaan media audio visual dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Bakalan Krajan I Kecamatan Sukun Kota Malang. Saran peneliti kepada kepala sekolah adalah mendukung guru yang mempunyai inovasi pembelajaran. Guru diharapkan mampu menggunakan media audio visual pada mata pelajaran lain, serta bagi peneliti lain melakukan penelitian lebih lanjut terhadap siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.

Pengaruh kinerja keuangan dengan menggunakan metode Dupont (Roa, Leverage, Roe) terhadap harga saham dan return saham pada perusahaan food and deverage yang listing di bei pada tahun 2006-2009 / Ayuningtyas Sitaresmi Nurinasari

 

Kata Kunci: Metode DuPont, Harga Saham, Return Saham Sebelum melakukan suatu investasi pada perusahaan seorang investor harus melakukan analisis yang tercermin dari laporan keuangan perusahaan. Salah satu metode yang dapat dilakukan dalam analisis ini adalah metode DuPont yang terdiri dari ROA, Leverage, ROE. Dimana metode ini dapat digunakan untuk melihat apakah perusahaan dalam keadaan baik atau tidak. Metode DuPontini bertujuan untuk memisahkan ROA dalam dua bagian yaitu perputaran asset dan profit margin yang dapat dikembangkan lebih lanjut dengan memasukkan utang atau modal untuk menghitung ROE.Return On Asset (ROA) adalah suatu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Leverage adalah suatu kemampuan perusahaan dalam menggunakan asset yang dibiayai oleh utang. Return On Equity (ROE) adalah suatu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang dilihat dari tingkat ekuitas saham. Dari metode inilah investor dapat melihat bagaimana pengaruhnya terhadap harga saham perusahaan dan return yang nantinya diperoleh investor atas investasi yang dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kinerja keuangan dengan metode DuPont (ROA, Leverage, ROE) terhadap harga saham dan return saham pada perusahaan food and beverage yang listing di BEI pada tahun 2006-2009. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan food and beverage yang listing di BEI yaitu sebanyak 18 perusahaan, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 15 perusahaan dengan periode pengamatan 2006-2009. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana dengan menggunakan program SPSS 16. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ROA berpengaruh terhadap harga saham karena setiap kenaikan ROA sebesar satu persen maka harga saham akan mengalami kenaikan sebesar 597%, leverage berpengaruh negatif terhadap harga saham karena setiap kenaiakn leverage sebesar satu persen maka harga saham akan mengalami penurunan sebesar 522,7%, dan ROE tidak berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan secara simultan ROA, leverage, ROE berpengaruh terhadap harga saham. ROA, leverage, ROE tidak berpengaruh terhadap return saham baik secara parsial maupun simultan. Karena return saham dipengaruhi oleh variabel lain diluar model. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menghubungkan antara variabel harga saham dan return saham dan menambah variabel lain untuk mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham dan return saham.

Sistem pengendalian peralatan pada proyek pembangunan hotel prasasti Pacitan / Nugroho Widyo Yuwono

 

Taman peristirahatan terakhir sejarah makam Sentong di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, tahun 1997-2009 / Arti Utomo

 

Kata kunci: Makam Sentong, Peristirahatan Terakhir, Desa Wonorejo Keragaman etnis di Indonesia turut memberikan pengaruh besar terhadap sejarah Indonesia. Begitu pula dengan etnis Cina yang juga turut menorehkan jejak peninggalan sejarah bagi Indonesia. Terdapat bangunan milik warga Cina di Indonesia khususnya di Kecamatan Lawang menandakan keberadaan warga Cina sejak masa kolonial Belanda. Salah satu bangunan milik warga Cina yaitu bangunan makam. Berdasarkan observasi awal, Desa Wonorejo merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Lawang yang memiliki lahan pemakaman Cina terbesar di Kabupaten Malang. Makam Cina pertama muncul pada tahun 1977. Kemudian, muncul makam Sentong Baru dan Sentong Raya di Desa Wonorejo. Desa Wonorejo merupakan desa yang memiliki letak di dataran tinggi (gunung Arjuna), sehingga sangat potensial untuk dibangun sebuah makam bagi warga Cina. Dalam tradisi warga Cina pemakaman jenazah pada lereng gunung dipandang sesuai dengan kepercayaan yang mereka anut, dimana meletakkan sebuah bangunan bersandar pada suatu bukit seperti orang duduk di bangku yang merupakan lambang dari sikap kenyaman dan ketenangan yang menghadap ke arah lebih rendah. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu memaparkan : (1) kondisi umum kecamatan Lawang pada tahun 1977-2009, (2) latar belakang hadirnya Makam Cina Sentong di Desa Wonorejo 1977-2009, dan (3) aspek sosial-budaya pada perkembangan Makam Cina Sentong di Desa Wonorejo mulai tahun 1977-2009. Penelitian ini juga memiliki tujuan yaitu mendeskripsikan : (1) kondisi umum Kabupaten Malang 1977-2009, (2) latar belakang hadirnya Makam Tionghoa Sentong di Desa Wonorejo 1977-2009. (3) aspek sosial-budaya pada perkembangan Makam Cina Sentong di Desa Wonorejo mulai tahun 1977-2009. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan meliputi beberapa tahap yaitu, pemilihan topik, pengumpulan sumber (Heuristik), kritik sumber, interpretasi, historiografi. Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Wonorejo Kecamatan Lawang khususnya pada tahun 1977 sampai dengan tahun 2009. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa wilayah Kecamatan Lawang merupakan perbatasan antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang. Wilayah Lawang juga merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan warga Cina pada masa kolonial. Terdapat beberapa peninggalan berupa bangunan-bangunan milik warga Cina ataupun Eropa, misalnya Hotel Niagara, stasiun, dan bangunan-bangunan bercorak belanda lainnnya. Selain untuk persinggahan, wilayah juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi warga Cina. Tempat peristirahatan terakhir itu disebut juga dengan istilah makam, yang diantaranya yaitu makam Sentong Turirejo, makam Sentong Wonorejo, dan Makam Taman Asri Abadi Sidodadi. Makam Sentong di desa Wonorejo terbagi menjadi empat kelompok diantaranya yaitu makam Sentong PGL, makam Kristen Sentong PGL, Sentong Baru, dan makam Sentong Raya. Makam Sentong di Desa Wonorejo didirikan pada tahun 1977, Dari keempat makam tersebut satu diantaranya merupakan makam khusus milik jemaat Gereja kristen di kecamatan Lawang. Makam Sentong pertama kali didirikan pada tahun 1977. Pada tahun 1983 mulai didirikan makam sentong baru di sebelah makam PGL oleh bapak John Simon dengan bantuan yayasan Sinoman Kaliaman Surabaya. Sedangkan pada tahun 2002 makam Sentong Raya milik bapak Sutrisno mulai didirikan yang diawali dengan makam milik orang tua bapak Sutrisno. Sejak tahun 2002 hingga 2009, makam ini berlatar belakang bangunan Cina tradisional dan berlatar belakang Kristen-Katolik dengan jumlah total 157 makam. Warga Cina memilih makam Sentong menjadi tempat peristirahatan terakhir karena terletak di wilayah dataran tinggi di desa Wonorejo, yang mereka anggap bahwa dataran tinggi merupakan tempat yang ideal untuk dijadikan makam menurut kepercayaan orang Cina. Makam Sentong di desa Wonorejo juga memberikan kontribusi terhadap masyarakat desa Wonorejo, terutama kontribusi pada aspek sosial dan budaya. Makam Sentong memberikan pengaruh besar terhadap pola mata pencaharian warga sekitar makam tersebut, terutama dalam bidang pemakaman. Selain aspek sosial, terdapat pula aspek budaya, dimana masuknya budaya kerajinan Cina di desa Wonorejo, misalnya banyak warga desa wonorejo yang mulai mengenal serta membuat kerajinan ukir batu nisan (Bongpai) yang bercorak budaya Cina seperti ukiran naga, burung hong, ukiran anak sayang orang tua dan lain sebagainya. Banyak warga Wonorejo yang mendapatkan keuntungan secara ekonomi dari masuknya budaya Cina di desa Wonorejo. Penelitian ini memberikan wawasan lebih luas terutama bagi peneliti, dimana peninggalan warga Cina di Indonesia tidak hanya berupa peninggalan kronik-kronik berasal dari negeri Cina, atau makanan, kesenian, dan ekonomi, tetapi juga peninggalan berupa pemakaman. Makam Cina memberikan gambaran tentang status sosial, ekonomi dan asal-usul bagi bagi warga Cina di Indonesia.

Minat Siswa terhadap mata pelajaran seni budaya pada sub pokok mata pelajaran seni rupa kelas VIII C di SMP Negeri 2 Glagah Banyuwangi / Nira Rusanti

 

Kata Kunci : Minat, Proses Pembelajaran, Metode Pembelajaran. Pendidikan Seni Budaya di sekolah, diharapkan dapat membentuk kepribadian yang mencintai seni budaya bangsa Indonesia, menghargai, menghayati serta menjaga karya seni dari budaya bangsa Indonesia. Sementara masyarakat menganggap pelajaran Seni Budaya khususnya senirupa, bukanlah pelajaran penting. Pelajaran Seni Budaya mengajarkan kepada siswa untuk menghargai karya seni bangsa ini, di dalam pelajaran Seni Budaya siswa diajak untuk mengapresiasi dan berekspresi. Apresiasi berarti kegiatan memahami dan menyadari sepenuhnya tentang karya seni serta menjadikan siswa lebih sensitif terhadap karya yang bernilai estetis dan artistik, sehingga mampu menikmati dan menilai karya Seni Budaya. Penelitian ini mendeskripsikan minat siswa terhadap mata pelajaran Seni Budaya pada sub pokok pelajaran Seni Rupa di SMPN 2 Glagah dengan populasi semua kelas VIII dan sampel VIII C. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menyebarkan angket pada responden dengan teknik analisis data dengan teknik prosentase . Hasil penelitian menunjukkkan bahwa minat siswa kelas VIII di SMPN 2 Glagah sangat rendah hal ini dapat dilihat dari hasil prosen tase tiap indikator. Indikator tentang frekuensi melihat pameran seni, terdapat (9,5%) siswa yang kurang berminat (33,3%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang keaktifan pada kegiatan seni , terdapat (66,6%) siswa yang kurang berminat (7,14%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang lingkungan keluarga , terdapat (9,5%) siswa yang kurang berminat (33,3%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang lingkungan masyarakat , terdapat (30,9%) siswa yang kurang berminat (0%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang lingkungan sekolah , terdapat (69%) siswa yang kurang berminat (9,5%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang prestasi , terdapat (52,38%) siswa yang kurang berminat (2,38%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang interaksi mata pelajaran Seni Budaya , terdapat (73,8%) siswa yang kurang berminat (7,14%) siswa yang sangat berminat. Indikator tentang tugas di kelas , terdapat (57,14%) siswa yang kurang berminat (4,79%) siswa yang sangat berminat. Prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 2 Glagah pada mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) sangat rendah hal ini dikarenakan minat siswa yang kurang terhadap mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) juga sangat kurang. Jadi seharusnya guru dapat membuat siswa lebih tertarik dan berminat terhadap pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa), dengan mengajak siswa lebih mengenal seni lebih dalam dari lingkungan sekitar.

Perancangan buku Esai Pondok Pesantren Tebuireng berbasis fotografi / Akhya' Muhammad Khadzir

 

Kata Kunci : Perancangan, buku esai, pondok pesantren, fotografi. Pesantren memiliki ciri khas, tradisi dan budayanya sendiri. Pondok pesantren Tebuireng merupakan pesantren di Kabupaten Jombang. Namun terbatasnya media yang mengangkat dunia pondok pesantren, menyebabkan masyarakat beranggapan bahwa pondok pesantren berkesan kuno, statis tidak merespon perkembangan zaman. Hasil produk berupa buku esai. Buku esai foto dipilih sebagai media yang berisi kumpulan foto aktifitas proses belajar santri maupun kondisi sebenarnya yang terjadi di lingkungan pesantren Tebuireng. Model perancangan yang digunakan adalah prosedural yang bersifat deskriptif yang menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam proses pembuatan buku esai foto. Meliputi kegiatan identifikasi masalah, analisa, hingga proses perancangan media. Data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Buku ini diharapkan menjadi media komunikasi visual yang efektif untuk menyampaikan pesan media kepada target audience. Agar masyarakat mengetahui dan bisa membangun citra yang positif tentang pondok pesantren

Perancangan buku pengayaan pencahayaan fotografi / Eny Erawati

 

Kata Kunci: perancangan, pembelajaran, buku, pengayaan, fotografi, lighting Beragamnya penyelenggara pembelajaran fotografi baik formal maupun informal menstimulasi maraknya kebutuhan akan buku sebagai materi belajar. Akan tetapi buku-buku yang memberi informasi tentang pembelajaran fotografi masih sangat terbatas. Tujuan perancangan ini ialah menghasilkan buku pembelajaran fotografi. Obyek perancangan ialah buku berjenis pengayaan tentang pencahayaan fotografi dengan target audiens para pebelajar fotografi yang telah menguasai tatacara dasar fotografi, terutama exposure. Model perancangan yang digunakan ialah model 3D. Prosedur perancangan dimulai dengan mendefinisikan masalah yaitu kebutuhan di lapangan, menetapkan solusi, merumuskan masalah perancangan, dan menetapkan ruang lingkup perancangan. Selanjutnya dilakukan kajian data lapangan dan data pustaka. Berdasarkan konsep perancangan dilakukan perancangan visual berdasarkan naskah yang telah ditetapkan. Perancangan ini menggunakan pendekatan yang berorientasi pada proses dan produk. Teknik perancangan berbasiskan fotografi dan komputer, baik pada tahap sketching, image processing, lay out, maupun finishing. Software yang digunakan ialah Adobe Indesign, Adobe Fireworks, Nik Capture NX dan Adobe Acrobat. Perancangan ini telah menghasilkan sebuah buku berjenis buku pengayaan di bidang fotografi berjudul “Self Learning Photography – Lighting”. Menggunakan dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia, demi menghindarkan kerancuan pada pengetahuan pebelajar sebelumnya (prior knowledge). Buku dicetak di kertas 190gr berjumlah 76 halaman, diketik dengan tipe huruf Miso berukuran 12 point, setiap halaman memuat ilustrasi grafis dan/atau fotografis full colour. Buku ini terdiri dari 4 bab berturut-turut (1) Photography, (2) Tentang Cahaya, (3) Bahasa Cahaya, (4) Menata Cahaya. Ilustrasi dalam buku ini dilakukan dengan teknik fotografi. Dibandingkan dengan buku sejenis, buku hasil perancangan ini lebih deskriptif secara visual, terstruktur, menimbulkan keingintahuan untuk menggali lebih dalam, dan memberi keleluasaan batasan bahasan bagi pengguna buku yang akan memakainya sebagai materi ajar. Diharapkan obyek perancangan beserta seluruh catatan prosesnya bisa dikembangkan menjadi obyek perancangan lanjutan yang lebih baik lagi di masa mendatang, demi pembelajaran fotografi di Indonesia.

Nilai-nilai moral dalam legenda Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri / Titin Arie Purnaning Ratri

 

Kata kunci: nilai, moral, legenda Kajian nilai moral dalam sebuah karya sastra adalah sebuah kajian yang menitikberatkan pembaca sebagai penikmat karya sastra agar memperoleh pengajaran yang bermanfaat dalam kehidupan. Adapun pengajaran yang bermanfaat bagi kehidupan yaitu berupa nilai-nilai moral. Moral berkaitan dengan tindakan atau perilaku baik dan buruk. Penilaian moral didasarkan pada suara hati atau nurani. Oleh sebab itu, subjek dan objek kajian moral yaitu manusia. Kajian moral dalam legenda ini bertolak dari pendapat bahwa karya sastra yang baik adalah karya sastra yang tidak hanya memberikan nilai estetis saja, tetapi mampu memberikan manfaat kepada para pembacanya. Dalam hal ini, karya sastra bersifat dulce dan utile. Artinya, karya sastra mampu menghibur dan memberikan manfaat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam legenda Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Nilai-nilai moral tersebut meliputi: (1) nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri atau nilai moral individu, (2) nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain atau nilai moral sosial, dan (3) nilai moral yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menghasilkan data deskripsi yang berupa kata-kata tertulis. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan moral. Pendekatan ini memandang bahwa sebuah karya sastra yang baik dan bernilai tinggi harus mengandung nilai moral yang tinggi. Dengan kata lain, sebuah karya sastra yang hanya mengutamakan nilai seni saja tanpa memperhatikan nilai moralnya dianggap tidak bermutu. Adapun karya sastra yang dikaji adalah legenda yang merupakan salah satu bentuk sastra lisan. Legenda Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo adalah legenda yang berasal dari desa Menang kecamatan Pagu kabupaten Kediri. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) penggunaan kuesioner, dan (2) penggunaan metode wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara: (1) pemrosesan satuan, (2) kategorisasi, dan (3) penafsiran data. Deskripsi yang diperoleh dari hasil analisis adalah: (1) nilai moral individual dalam Legenda Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo yaitu: kesetiaan, keberanian, kejujuran, kerendahan hati, pemaaf, dan adil dan bijaksana; (2) nilai moral sosial dalam Legenda Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo yaitu: mengasihi dan menyayangi, menjaga kerukunan, dan mengutamakan kepentingan bersama; dan (3) nilai moral religi dalam Legenda Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo yaitu: percaya adanya Tuhan, percaya kekuasaan Tuhan, bertawakal kepada Tuhan, dan percaya kesempurnaan Tuhan.

Perbedaan keperyaan diri remaja yang aktif dan tidak aktif Osis di SMA Negeri se Kota Malang / Angga Guriang Gautama Putra

 

Kata Kunci : kepercayaan diri, remaja, OSIS. Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Kepercayaan diri merupakan permasalahan yang dialami oleh para remaja pada umumnya. Remaja berusaha untuk menemukan jati dirinya dengan kata lain individu mengalami krisis identitas, remaja membutuhkan interaksi dengan orang lain dalam proses pencarian jati diri, yaitu teman sebaya, sekolah, orang tua maupun masyarakat. Bentuk interaksi remaja di sekolah salah satunya dengan mengikuti organisasi yang ada di sekolah, salah satunya melalui OSIS. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perbedaan kepercayaan diri pada remaja SMA yang aktif dan yang tidak aktif dalam organisasi OSIS. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Sampel penelitian sebanyak 228 siswa, diambil dengan teknik cluster random sampling dari populasi sasaran dalam penelitian ini sebanyak 4808 siswa yang berada di SMAN 4, 2, 8, 7, dan 10 Malang. Data kepercayaan diri diambil dengan metode likert. Reliabilitas skala kepercayaan diri sebesar 0,864. Data hasil penelitian dianalisis dengan teknik independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Remaja aktif dan tidak aktif OSIS di SMA Negeri se-Kota Malang memiliki kepercayaan diri yang cenderung tinggi. (2) Dari hasil keseluruhan penelitian, ditemukan hasil ”ada perbedaan kepercayaan diri remaja yang akif dan yang tidak aktif OSIS di SMA Negeri Se-Kota Malang”. Disarankan kepada : (1) sekolah agar dapat memberikan fasilitas yang dapat meningkatkan kepercayaan diri pada siswa dengan mengembangkan kegiatan OSIS serta ekstrakulikuler dan mengadakan kegiatan outbound. (2) remaja hendaknya lebih meningkatkan kepercayaan dirinya agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya dan di lingkungan sekolah yaitu dengan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang terdapat di sekolahnya, serta mengikuti seminar-seminar yang berhubungan dengan penigkatan kepercayaan diri. (3) untuk peneliti selanjutnya hendaknya menumbuhkan atau lebih mengembangkan teori mengenai kepercayaan diri sehingga hasil penelitian menjadi lebih detail dan akurat, serta membuat instrumen penelitian dengan pernyataan-pernyataan yang lebih cermat agar hasil peneltian yang diperoleh sesuai dengan tujuan dan harapan.

Rancang bangun mesin pengayak pasir sistem otomatis / Irba Fitrah Rizaldi, Yanuar Pribadi

 

Kata kunci : Pasir, Otomatis Pasir merupakan bahan pokok dalam proses pembangunan. Selain itu, material pasir juga tidak dapat dipisahkan penggunaannya dalam dunia industri. Seringkali dalam dunia industri dibutuhkan material pasir yang telah diproses. Dalam hal ini material pasir yang dimaksud adalah material pasir yang sudah siap dipakai. Tujuan pembuatan mesin pengayak pasir sistem otomatis yaitu untuk meringankan pekerjaan dalam proses pengayakan pasir serta mengefisiensikan waktu dan juga tenaga pekerja. Mesin pengayak pasir sistem otomatis ini bisa digunakan di berbagai jenis pasir, tapi dengan syarat penggantian mess untuk penyesuaian ukuran pasir. Cara kerjanya yaitu pasir dimasukkan kedalam hopper yang akan menyentuh limit switch yang kemudian menyalakan motor, setelah pasir tersisa di bak ayakan, timer yang sebelumnya di set akan mematikan motor secara otomatis. Setingan timer ini mengacu pada waktu yang dibutuhkan pasir kasar berjalan dari pangkal bak menuju ujung bak. Pembuatan Mesin pengayak pasir sistem otomatis ini dimulai dari proses desain gambar. Dilanjutkan dengan perhitungan dan perencanaan mesin. Ini dimaksudkan agar diketahui bahan dan ukuran komponen mesin, mesin pengayak pasir sistem otomatis ini menggunakan daya motor sebesar 0,5 HP. Setelah diketahui komponen mesin maka dilanjutkan dengan pemasangan komponen mesin yaitu meliputi poros, puli, sabuk, motor, bak, dan hopper. Perawatan dan pemeliharaan mesin pengayak pasir ini dilakukan pada setiap komponen, yaitu dengan pemberian pelumas pada bantalan, pembersihan pasir-pasir yang menempel pada komponen-komponen mesin serta pengecekan berkala pada setiap komponen meliputi baut-baut pengikat, kesejajaran puli serta keausan sabuk-V.

Studi penerapan flash cards sebagai media pembelajaran paikem pada mata pelajaran fashion drawing di kelas X jurusan tata busana SMK Negeri 3 Malang / Endah Murdianingsih

 

Kata Kunci: Penerapan Flash Cards, PAIKEM, Fashion Drawing Flash cards termasuk jenis media pembelajaran visual yang membawa pesan berupa bentuk atau rupa yang dapat dilihat. Flash cards seringkali digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris dan pengenalan konsep matematika, tapi bukan berarti tidak dapat digunakan dalam bidang yang lain. Bidang studi apapun dapat memanfaatkan media ini. Pendapat tersebut, memunculkan pertanyaan dan gagasan baru mengenai penerapan flash cards sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran kelompok produktif yang sifatnya praktek. Mata pelajaran kelompok produktif menjadi salah satu substansi pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), selain mata pelajaran normatif dan adaptif. SMK Negeri 3 Malang, diketahui telah menerapkan Flash cards sebagai media pembelajaran PAIKEM pada mata pelajaran kelompok produktif, menggambar busana (fashion drawing) di kelas X jurusan Tata Busana. Flash cards digunakan Sebagai media pembelajaran PAIKEM, untuk memenuhi kelima unsur PAIKEM. Penerapan flash cards pada jurusan Tata Busana, khususnya mata pelajaran fashion drawing merupakan hal baru yang inovatif sehingga menarik untuk dilakukan study mendalam, mengingat pentingnya peranan media pendidikan dan kelebihan flash cards itu sendiri yang dapat memberikan pengaruh positif bagi pembelajaran fashion drawing. Jenis penelitian ini, adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, studi dokumentasi dan angket. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Validitas data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pembelajaran menggunakan flash cards sebagai media pembelajaran PAIKEM pada mata pelajaran fashion drawing dikelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang dilakukan dengan mengembangkan komponen-komponen pembelajaran yang dirancang sesuai kebutuhan dan karakteristik siswa: (2) Penggunaan flash cards sebagai media pembelajaran PAIKEM pada proses belajar-mengajar fashion drawing di kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang digunakan untuk membantu guru menyampaikan materi pengantar variasi saku yang banyak dan beragam, dengan cara menyenangkan yaitu belajar sambil bermain game flash cards antar kelompok: (3) Unsur-unsur PAIKEM hasil penerapan media flash cards pada mata pelajaran fashion drawing di kelas X jurusan Tata Busana SMK Negeri 3 Malang dapat tercapai dengan baik.

Analisis lembar kerja siswa(LKS) Maestro mata pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SD semester II penerbit CV Hasan Pratama / Elen Nurjanah

 

Kata kunci: Lembar Kegiatan Siswa (LKS), isi/materi, kevariasian kegiatan, penilaian, bahasa Lembar Kegiatan Siswa (LKS) merupakan bentuk bahan ajar cetak yang sekarang ini banyak dan hampir digunakan di setiap sekolah. Keuntungan adanya lembar kegiatan adalah (1) bagi guru, memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, (2) bagi siswa akan belajar secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis. Sehingga salah satu cara yang banyak ditempuh oleh guru-guru dalam mengaktifkan siswa adalah dengan menggunakan LKS. Kesadaran akan banyaknya permintaan terhadap LKS menyebabkan banyak penerbit swasta menyusun dan menerbitkan LKS. LKS yang dipakai di sekolahsekolah sebagian besar belum dianalisis kualitasnya oleh guru mata pelajaran termasuk guru bahasa Indonesia. Tujuan penelitian secara rinci adalah (1) mendeskripsikan isi/materi yang terdapat dalam LKS, (2) mendeskripsikan kevariasian kegiatan yang terdapat dalam LKS, (3) mendeskripsikan penilaian yang terdapat dalam LKS, dan (4) mendeskripsikan penggunaan bahasa dalam LKS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini antara lain (1) isi/materi, (2) kevariasian kegiatan, (3) penilaian, serta (4) penggunaan bahasa. Sumber data penelitian ini adalah berupa LKS Maestro Kelas V SD mata pelajaran Bahasa Indonesia, Penerbit CV Hasan Pratama yang digunakan di SDN Kasembon 1. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri, dalam hal ini peneliti adalah alat atau instrumen kunci dalam penelitian. Secara langsung peneliti terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyeleksian, serta pada pengana-lisisan data penelitian. Selain itu, peneliti dibantu dengan instrumen pendukung yakni daftar check list. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah teknik dokumenter. Adapun prosedur pengumpulan datanya adalah (1) peneliti mengumpulkan data, yaitu dengan meminjam LKS di SDN yang LKS-nya diteliti, (2) setelah itu peneliti mengelompokkan bab dan sub bab dalam buku tersebut berdasarkan keterampilan berbahasanya, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara, dan (3) langkah selanjutnya adalah mengelompokkan bagian-bagian sub bab. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Pengecekan keabsahan data banyak terjadi pada saat penyeleksian data yang layak dipakai sesuai dengan masalah penelitian. Keabsahan temuan perlu diteliti kredibilitasnya dengan menggunakan teknik presistent dan peerderieting. Ditinjau dari isi/materi: (1) materi LKS kurang sesuai dengan kurikulum, (2) materi LKS relevan ditinjau dari segi tujuan pendidikan, (3) sarana penyajian materi (wacana) benar dilihat dari konteks pembelajaran, (4) jenis materi kurang sesuai dengan kompetensi dasar, dan (5) materi pokok kurang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Ditinjau dari aspek kevariasian kegiatan, kegiatan dalam LKS bermacam-macam atau bervariasi. Kegiatan tersebut antara lain membaca cepat, menanggapi, mengomentari, menulis laporan, menulis puisi, bermain peran, menjawab tes dan menceritakan kembali. Sebagian besar penilaian dalam LKS tidak sesuai dengan kompetensi dasar. Banyak pertanyaan yang isinya bukan pada mata pelajaran bahasa Indonesia, namun mata pelajaran lain misalnya pertanyaan mengenai perdagangan pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dimasukkan dalam LKS. Sesuai dengan ragam bahasa yang digunakan, LKS menggunakan ragam bahasa formal dan bahasa tulis. Terdapat beberapa penulisan ejaan, dan penggunaan kalimat yang tidak tepat. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah materi perlu diperbaiki, kegiatan sudah bervariasi, penilaian kurang sesuai dengan kompetensi dasar, dan masih banyak kesalahan penggunaan bahasa. Adapun saran yang bisa diberikan, untuk para guru dan pengguna buku supaya lebih teliti dalam memilih LKS yang akan dijadikan sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar, untuk penyusun hendaknya melakukan perbaikan terutama menyangkut penilaian, karena banyak pertanyaan yang isinya bukan pada mata pelajaran bahasa Indonesia, melainkan mata pelajaran lain. Selain itu, penulisan ejaan perlu diperbaiki.

Pengaruh strategi pembelajaran berbasis masalah terhadap hasil belajar fisika ditinjau dari kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo / Ratmanto

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Arif Hidayat, M.Si, (II) Drs. Agus Suyudi, M.Pd. Kata Kunci: pembelajaran berbasis masalah, hasil belajar, kemampuan memecahkan masalah. Penelitian ini berdasarkan fakta bahwa sebagian besar siswa SMK menganggap bahwa pelajaran fisika adalah sangat sulit. Untuk menghapus fakta ini, diusulkan suatu strategi mengajar yang cocok yaitu pendekatan pemecahan masalah. Selain itu, penelitian-penelitian sebelumnya mengenai strategi pembelajaran berbasis masalah menunjukkan bahwa strategi ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan kemampuan memecahkan masalah. Tujuan dari penelitian ini, ialah: (1) menguji efektifitas pembelajaran berbasis masalah dibandingkan pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo, (2) menguji efektifitas pembelajaran berbasis masalah dibandingkan pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar fisika ditinjau dari kemampuan memecahkan masalah untuk kelompok tinggi dan rendah siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo, (3) menguji interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo. Penelitian dilaksanakan di SMK 2 Probolinggo. Rancangan penelitian adalah post-test-only control group design. Dalam desain ini, terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak. Kelompok pertama yang diperlakukan dengan pembelajaran berbasis masalah sebagai kelompok eksperimen, dan kelompok kedua yang diperlakukan dengan pembelajaran konvensional sebagai kelompok kontrol. Sesudah perlakuan, masing-masing kelompok diberi post-test. Instrumen penelitian terdiri dari RPP pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional, tes hasil belajar fisika berbentuk pilihan ganda dan tes kemampuan memecahkan masalah berbentuk uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar fisika siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo yang belajar strategi pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dibandingkan dengan strategi pembelajaran konvensional, (2) hasil belajar fisika siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo yang belajar strategi pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dibandingkan dengan strategi pembelajaran konvensional ditinjau dari kemampuan memecahkan masalah untuk kelompok tinggi dan rendah, (3) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI SMKN 2 Probolinggo. Saran-saran dari hasil penelitian ini: (1) pembelajaran berbasis masalah dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik yang berkemampuan memecahkan masalah tinggi maupun yang rendah, (2) aplikasi pembelajaran berbasis masalah hendaknya didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai agar pembelajaran menjadi lebih baik.

Analisa penerapan pola draping pada blus pas badan ukuran standar S, M, dan L / Alvi Astutik

 

Kata Kunci: Pola Draping, Blus Pas Badan, Ukuran Standart. Pola draping (draping pattern) adalah teknik membuat pola dengan cara menyampirkan (to drape) dengan tujuan untuk membuat pola dasar, pola busana, dan menciptakan busana. Blus pas badan merupakan salah satu jenis busana yang dapat diterapkan dengan teknik draping. Blus pas badan pada prinsipnya adalah busan wanita yang merupakan cetakan tubuh wanita bagian atas. Dengan demikian, blus pas badan merupakan media akurat yang dapat digunakan untuk menentukakn kesesuaian sistem pola yang dipergunakan. Untuk pengendalian ukuran pakaian wanita dewasa di Indonesia, Standart Nasional Indonesia (SNI) mengklasifikasikan ukuran tersebut beberapa kategori di antaranya ukuran small (S), medium (M), dan large (L) Untuk membuat pola draping blus pas badan dengan sempurna, maka diperlukan proses yang dinamakan dengan fitting factor. Bila hasil pemeriksaan seesuai dengan kriteria yang disyaratkan, maka fitting factor tersebut tepat bagi tubuh pemakai. Pengkajian Analisa Penerapan Pola Draping Pada Blus Pas BadanUkuran Standart S, M dan L bermanfaat untuk mengetahui kesesuaian sistem pola draping pada pembuatan blus pas badan ukuran S, M dan L, karena setiap ukuran S akan berbeda baik proporsi maupun bentuknya, begitu pula dengan ukuran M dan L. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian penggunaan pola draping pada blus pas badan ukuran S, M dan L. Sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk para pelaku bisnis yang berada pada bidang produksi busana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dan merupakan jenis penelitian populasi yaitu denagn membuat sejumlah tiga blus pas badan sesuai dengan dressform ukuran SNI. Tiap tingkatan ukuran dilakukan penelitian masing-masing satu blus yang dipakai oleh dressform. Variabel penelitian adalah sistem pola draping blus pas badan. Busana wanita yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu blus pas badan tanpa lengan dan krah. Sesuai dengan jenis data yang akan dikumpulkan, dalam penelitian ini instrumen yang dipakai adalah kuisioner/angket dan sumber data menggunakan uji panelis. Sedangkan teknik analisanya menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil persentase setiap jenis ukuran S, M dan L, adalah sebagai berikut. (1) Tingkat kesesuaian pada ukuran S memiliki frekuensi tingkat kesesuaian dengan kriteria kurang sesuai. (2) Tingkat kesesuaian pada ukuran M memiliki frekuensi dengan kriteria sesuai. (3) Tingkat kesesuaian pada ukuran L memiliki frekuensi dengan krieria kurang sesuai. Kesimpulan hasil penelitian Analisa Penerapan Pola Draping Pada Blus Pas Badan Ukuran Standar S dan L memiliki tingkat kesesuaian yang berada pada level kurang sesuai sedangkan Penerapan Pola Draping Pada Blus Pas Badan Ukuran Standar M memiliki tingkat kesesuaian yang berada pada level sesuai. Adapun faktor yang membedakan tingkatan kesesuaian tiap ukuran yaitu terletak pada perolehan nilai pada kriteria titik pas yang meliputi: kerung leher, garis bahu, lingkar badan, lingkar pinggang, kerung lengan, lipitkup, sisi pakaian, panjang punggung, lebar punggung dan lingkar panggul. Saran bagi praktisi busana yang akan menerapkan blus pas badan dengan sistem draping, hendaknya lebih teliti dalam membuat pola draping bagian panggul pada semua jenis ukuran. Karena bentuk proporsi yang besar serta posisi yang dekat dengan lingkar pinggang yang relatif kecil cukup sulit untuk dibuat pola dengan sitem draping ini.

The effectiveness of the KWLM technique in the teaching of reading comprehension in the non-English Departments / Ive Emaliana

 

Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (I)Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL.,M.Pd. (II)Dr. ArwijatiWahjudiMurdbjono, Dip. TESL.,M.Pd. Key words:effectiveness, reading comprehension, KWLM technique, conventional technique This study was conducted to investigate whether the use of the KWLM technique in the teaching of reading is effective. The objective of the study is to investigate the effectiveness ofthe KWLMtechnique in teaching reading comprehension in the non-English department students. The hypothesis for this study is stated as follows: “The reading comprehension score of students who are taught using the KWLM technique is significantly higher than those who are taught using the conventional technique.” The design of the study was quasi-experimental with non-randomized pre-test post-test. The samples of this study were taken from the population of the first semester students of the faculty of Fisheries and Marine Science in Brawijaya University in the 2011/2012 academic year. The populations were 550 students; distributed in 11 classes.Each of the group basically had the same possibility to be the sample of the research. In the present study, classes B and D were chosen because in this semester, the researcher was assignedby the faculty to teach these two classes. The result of the lottery showed that class B was the experimental group, while class D was the control group. In collecting data, the instruments used were test (major data), students’ questionnaires and observation sheet (minor data). The test was in the form of multiple choice which covered the subject matter of reading comprehension. Pre-test was administered to both groups at the same day before treatment. The same test was also used in the post-test which was administered after the treatment to both groups in the same day. The experimental group was then taught using the KWLM technique in the treatment. Meanwhile, the control group was taught using the conventional technique, DRA in the treatment. The minor data, the student questionnaire was used to explain the students’ motivation in learning English language before the treatment (for experimental and control groups). The questionnaire on students’ attitude in the teaching of English in general was given only to the experimental group to support the description of the students’ active participation as the effect of the KWLM technique.The students’ opinion was used to know the students’ attitude in the implementation of the KWLM technique. The observation sheet was used to assure that the teaching and learning process was appropriate based on the lesson plans made. The pre-test means of both groups were analyzed statistically using a Levene’s test, and it was revealed that the significant value was .537 that was higher than the level of significance 0.05. This result indicates that the difference between variances is not significant. It means the subjects of the experimental and control groups are not significantly different before the experiment in their pre-test scoresof reading comprehension test. Therefore, an independent t-test was used to analyze the pre-test means. On the statistical computation for post-test by using independent t-test revealed that t-value for df 98is 2.34.The value is bigger than t-critical value 2.27 at the level of significance of 0.05 for a one tailed test (t-value>t-critical value: 2.34>2.27). This indicates that there is a significant difference of means scores between students who are taught using KWLM technique and those who are taught using conventional technique in teaching reading comprehension. The gain of reading comprehension means score of experimental group is significantly higher than the gain of reading comprehension means score of control group. Therefore, Ho was rejected and the H1 works. Based on the result of research findings, it can be concluded that using the KWLM in teaching reading comprehension proved to be effective in increasing the students’ reading comprehension achievement. Thus, it is suggested that English lecturer to utilize the KWLM technique in teaching reading comprehension, for it was proven that this teaching technique can improve the students’ achievement in reading comprehension. Besides, for future researchers are suggested to investigate the gain of micro-skills and to consider the subject characteristics like learning style, genders, learning strategies, or learning motivation when they are going to conduct research on the effectiveness of the KWLM technique in the teaching of reading in other than non-English departments

Prancangan Corporate identity untuk kelompok industri sekarjaya dalam rangka menuju industri kreatif di Kota Blitar / Taufan Gatut Surya Wiyata

 

Kata Kunci: Perancangan, Corporate Identity, Kelompok Industri Sekar Jaya, Industri Kreatif. Industri Sekar Jaya salah satu Kelompok industri pengolahan belimbing di desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kelompok Industri Sekar jaya belum memiliki identitas usaha yang jelas namun telah memiliki izin sebagai Industri Rumah Tangga. Perancangan corporate Identity untuk Kelompok Industri Sekar Jaya, menggabungkan beberapa metode perancangan corporate identity, salah satunya metode Surianto Rustan yang telah dimodifikasi. Dalam konsep perancangan, diciptakan gaya desain dekoratif bernuansa alam yang mendukung citra produk dari Sekar jaya sebagai produsen makanan dan minuman herbal. serta aplikasi warna yang melambangkan keorisinilan, feminim dan juga nilai-nilai budaya. corporate identity ini diharapkan dapat meningkatkan citra positif perusahaan, termasuk di dalamnya berupa stationery set dan promotional item. Sehingga mampu mempresentasikan suatu image perusahaan yang baik.. Perancangan ini menghasilkan suatu produk berupa identitas visual baru perusahaan seperti logo baru yang lebih mempresentasikan citra positif perusahaan dan diaplikasikan pada atribut perusahaan guna meningkatkan citra positif perusahaan. Hasil dari perancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan atau tolak ukur dalam mengadakan redesain suatu corporate identity, baik bagi mahasiswa, desainer pemula, pengajar, dan lain sebagainya.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian produk Shampoo Sunsilk (Studi pada Mahasiswa Strata-I Jurusan Psikolagi angkatan 2007-2010 Universitas Negeri Malang) / Eva Kristya Anggraeni

 

Kata Kunci: atribut produk, keputusan pembelian Seiring dengan berkembangnya kegiatan pemasaran serta dalam rangka memasuki era perdagangan bebas, telah terjadi perkembangan yang cukup besar di Indonesia. Perkembangan dalam usaha ini bisa dilihat dari semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha. Salah satu jenis usaha yang mulai marak adalah usaha di bidang toiletris yaitu shampoo. PT Unilever menciptakan produk Shampoo Sunsilk. Sunsilk merupakan salah satu dari beberapa produk shampoo yang ada di pasaran dan mengembangkan produknya melalui atribut produk yang terkandung di dalamnya untuk semua segmen pasar, yaitu dari remaja sampai dewasa dan menawarkan lebih banyak varian untuk kecantikan rambut kepada konsumen. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian adalah Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Shampoo Sunsilk (Studi Pada Mahasiswa Strata-1 Jurusan Psikologi Angkatan 2007-2010 Universitas Negeri Malang). Variabel yang berkaitan dengan penelitian ini adalah variabel bebas, dalam penelitian ini adalah atribut yang terdiri dari merek (X1), kemasan (X2), label (X3), kualitas (X4). Variabel terikat, dalam penelitian ini adalah keputusan pembelian Shampoo Sunsilk Mahasiswa Psikologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dan analisis data bersifat kuantitatif. Teknik sampel menggunakan multy stage sampling sebanyak 62 responden sebagai populasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan ada pengaruh signifikan positif dari variabel merek terhadap keputusan pembelian mahasiswa psikologi, ada pengaruh signifikan positif dari variabel kemasan terhadap keputusan pembelian mahasiswa psikologi, ada pengaruh signifikan positif dari variabel label terhadap keputusan pembelian mahasiswa psikologi, ada pengaruh signifikan positif dari variabel kualitas terhadap keputusan pembelian mahasiswa psikologi. Dari hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran kepada produsen Sunsilk untuk mengembangkan inovasi produknya melalui atribut produk yang meliputi merek, kemasan, label, dan kualitas. Sehingga produk Sunsilk mampu bersaing dengan produk yang lainnya dan pada akhirnya mampu menjadi market leader dalam bidang toiletris, khususnya sebagai shampoo beauty atau shampoo kecantikan. Dengan peningkatan yang dilakukan oleh Sunsilk melalui atribut produknya dan peneliti selanjutnya dapat menambah variabel lainnya dan periode waktu yang lebih lama sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat dan valid.

Implementasi upacara ritual I Suro di Gunung Puji Lumajang dalam karya seni tari kelompok berjudul Tuwuhan / Patricia Dwi Septianti

 

Kata kunci : Implementasi, Upacara Ritual 1 Suro, Gunung Puji Lumajang, Penciptaan Karya Seni Tari Kelompok. Berjudul Tuwuhan. Masyarakat daerah gunung Puji-Lamongan Lumajang selalu melakukan upacara ritual untuk memperingati 1 Suro atau tahun baru Jawa. Dalam upacara 1 Suro ini masyarakat percaya dengan sebuah benda yang dinamakan sesaji Tuwuhan. Tuwuhan adalah benda pajangan yang ditempeli tumbuh-tumbuhan yang memiliki makna dan harapan. Pada masyarakat Jawa umumnya, Tuwuhan dikenal dalam upacara manten, tetapi pada masyarakat gunung Puji Lumajang ini, Tuwuhan digunakan sebagai sesaji dalam upacara 1 Suro. Kepercayaan masyarakat terhadap sesaji Tuwuhan serta rangkaian kegiatan upacara tersebut membuat peneliti ingin menciptakan sebuah karya tari kelompok. Selain itu, belum banyak masyarakat kota lain yang tahu tentang upacara ini, sehingga perlu upaya memperkenalkannya melalui karya tari. Materi gerak dalam karya tari ini bersumber dari rangsang kinestetis dan rangsang kinetic. Sumber rangsang kinestetis yaitu mengambil beberapa sumber gerak tari tradisional dan tari modern. Sumber dari rangsang kinetik yaitu gerak yang didapat dari gerak-gerak yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan upacara tersebut. Dan untuk sumber musik tarian ini adalah musik kreasi yang disesuaikan dengan gerak dan suasana yang ingin dibangun dengan memadukan alat musik kulintang, bonang, gong, saron, dan alat perkusi. Karya tari Tuwuhan berdurasi 8 menit yang dibagi dalam 3 adegan dan disajikan dalam tari kelompok yang menarik dengan menggunakan 7 penari, dikemas secara dramatik dan bentuk tarinya adalah tari kreasi. Mode Penyajian karya tari ini merupakan gabungan dari mode penyajian simbolis (non representasional) dan mode penyajian representasional. Karya tari kelompok ini ditampilkan dalam panggung proscenium yang lengkap dengan setting dan tata sinar. Penari menggunakan rias panggung, tata busana, dan property yang disesuaikan dengan tema. Upacara ritual dapat diangkat menjadi sebuah karya tari dengan melihat rangkaian kegiatan, peralatan, dan busananya. Peneliti berharap, peneliti lanjut dan mahasiswa program studi pendidikan seni tari dan musik dapat mengembangkan upacara ritual atau adat tradisi menjadi karya seni tari. Sebagai usaha untuk melestarikan budaya bangsa serta dapat menjadi salah satu cara mempromosikan pariwisata daerah setempat. Karya tari ini kemudian didokumentasikan dalam bentuk video agar dapat digunakan sebagai bahan apresiasi masyarakat dan siswa SMA.

Perancangan promosi CV.Galaxi Solusindo dalam rangka pengenalan produk Laptop lokal Indonesia (Forsa, Axioo, Zyrex) / Tunggul Krisna Mukti

 

Kata kunci : Perancangan, Promosi, CV. Galaxy Solusindo, Produk, Laptop, Lokal. Kurangnya minat masyarakat terhadap produk lokal mengakibatkan sulitnya pasaran produk lokal untuk menembus pasar dunia. Oleh karena itu sangat penting sekali dibuatnya media promosi guna mengangkat citra produk lokal di masyarakat. CV. Galaxy Solusindo adalah salah satu distributor yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI), yang dalam hal ini ingin merancang media promosi dengan tujuan untuk memperkenalkan produk laptop lokal Indonesia (FORSA,AXIOO,ZYREX). Perancangan ini menggunakan metode perancangan dengan model prosedural, yaitu menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media disertai deskripsi konseptual. Langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi: (1) paparan latar belakang/kebutuhan & perumusan masalah, (2) pengumpulan data, (3) analisa data, (4) menentukan konsep kreatif desain, (5) visualisasi desain, (6) hasil desain (7) revisi dalam bentuk paparan deskriptif. Perancangan ini menghasilkan beberapa media diantaranya iklan surat kabar, iklan majalah, brosur, X-Banner, poster, billboard, transportation advertising, flag chain, kartu nama, stationery set, merchandise. Media komunikasi visual yang dirancang di harapkan dapat memperkenalkan atau mempublikasikan produk laptop lokal Indonesia di CV. Galaxy Solusindo kepada masyarakat guna meningkatkan citra produk. Kesimpulan, secara khusus perancangan ini adalah bagaimana memperkenalkan sebuah merek lokal melalui tahapan-tahapan sehingga menghasilkan beberapa media komunikasi visual yang dapat di terima oleh target audience. Untuk membuat sebuah media promosi perlu perencanaan yang sesuai dengan latar belakang permasalahan sehingga media yang dibuat mampu mengatasi masalah yang dihadapi.

Citra tokoh dalam roman salah asuhan karya Abdoel Moeis dengan pendekatan poskolonialisme / Desy Proklawati

 

Kata Kunci: citra, roman, poskolonial. Roman merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk prosa. Cerita dalam roman merupakan hasil imajinasi pengarang. Roman sebagai karya fiksi merupakan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsik seperti tema, plot, penokohan, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa. Kajian poskolonial terhadap karya sastra membicarakan bagaimana teks sastra mengungkapkan jejak-jejak kolonial. Dalam hal ini permasalahan yang dibahas menyangkut mimikri, hibriditas, dan ambivalensi tokoh Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang citra tokoh dalam roman Salah Asuhan karya Abdoel Moies. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan wujud mimikri tokoh, wujud hibriditas tokoh, dan wujud ambivalensi tokoh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks roman Salah Asuhan karya Abdoel Moies. Data berupa unit-unit teks yang berisi deskripsi tentang pencitraan tokoh melalui pendekatan poskolonialisme yang berupa monolog, dialog, dan narasi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data dan peneliti berperan sebagai instrumen (human instrument). Peneliti melakukan identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data berdasarkan permasalahan yang dikaji. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menyeleksi, mengklasifikasi, menafsirkan, dan memaknai data kemudian mengambil kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, pencitraan mimikri pada tokoh dominan tampak pada tokoh Hanafi yang selalu meniru gaya hidup ala Eropa. Kedua, pencitraan hibriditas pada tokoh dominan tampak pada tokoh Corrie yang merupakan keturunan Indo-Prancis. Ketiga, pencitraan ambivalensi pada tokoh dominan tampak pada tokoh Ibu Hanafi dan Tuan De Busse. Ambivalensi ini berupa pola pikir, tingkah laku dan sikap yang terombang-ambing diantara dua kekuaasaan secara bersamaan. Penelitian ini dapat digunakan pembaca sebagai salah satu referensi dalam memahami sekaligus menambah pengetahuan tentang gejala kultural yang ditimbulkan setelah masa penjajahan. Peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi tambahan disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dalam menemukan dan meneliti penggunaan teori poskolonial yang terdapat dalam karya sastra. Karena teori ini belum banyak digunakan dalam penelitian karya sastra.

Persuasi dalam iklan artikel produk barang dan jasa dalam rubrik komunikasi bisnis dalam harian jawa pos edisi Maret-Agustus 2011 / Gilang Widya Pramana

 

Kata Kunci: iklan, iklan artikel, persuasi Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk memperkenalkan produk barang dan jasa yang didasarkan pada kebutuhan dan keinginan para konsumen. Iklan lebih diarahkan untuk membujuk orang supaya membeli. Oleh karena itu, pengiklan menggunakan persuasi dalam menawarkan produknya. Di dalam iklan, daya persuasi terletak pada penggunaan bahasa. Persuasi dalam sebuah iklan bertujuan untuk memengaruhi konsumen agar tertarik dan kemudian tergerak untuk membeli produk yang ditawarkan. Salah satu media yang digunakan oleh pengiklan dalam mengenalkan produknya adalah melalui surat kabar, Harian Jawa Pos. Pemilihan surat kabar Jawa Pos Rubrik Komunikasi Bisnis, didasarkan pada (1) surat kabar Jawa Pos memiliki wilayah publikasi yang luas; (2) harga surat kabar Jawa Pos relatif murah sehingga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat; dan (3) dalam surat kabar Jawa Pos terdapat Rubrik Komunikasi Bisnis yang memuat iklan artikel. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti Harian Jawa Pos, terutama pada Rubrik Komunikasi Bisnis yang memuat iklan artikel di dalamnya. Peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan teknik-teknik persuasi dan bentuk-bentuk persuasi yang didayagunakan dalam rubrik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana. Penelitian ini berusaha untuk memerikan data secara objektif tentang persuasi dalam iklan artikel dalam Harian Jawa Pos dalam rubrik Komunikasi Bisnis. Pendekatan analisis wacana dalam penelitian ini diarahkan untuk menyusun interpretasi yang komprehensif tentang bentuk-bentuk persuasi dan teknik-teknik persuasi dalam iklan artikel dalam Harian Jawa Pos dalam rubrik Komunikasi Bisnis. Data penelitian ini adalah berupa satuan bahasa, yaitu frasa, klausa, kalimat, dan wacana yang menunjukkan persuasi dalam iklan artikel produk barang dan jasa yang terdapat dalam Rubrik Komunikasi Bisnis, Harian Jawa Pos. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrument. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah identifikasi data, kodifikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Triangulasi yang digunakan oleh peneliti adalah triangulasi data, triangulasi teman sejawat, dan triangulasi ahli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam iklan artikel dalam Rubrik Komunikasi Bisnis dalam Harian Jawa Pos, terdapat dua bentuk penggunaan persuasi, yaitu persuasi dengan mendayagunakan bentuk-bentuk kalimat tertentu dan persuasi dengan mendayagunakan bentuk-bentuk gaya bahasa. Dalam iklan artikel dalam Rubrik Komunikasi Bisnis dalam Harian Jawa Pos, terdapat dua bentuk penggunaan persuasi, yaitu persuasi dengan mendayagunakan bentuk-bentuk kalimat dan persuasi dengan mendayagunakan bentuk-bentuk gaya bahasa.

Proses pencapaian sukses pelaku usaha di Pasuruan / Mochamad Tufiq

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mit Witjaksono, MS.Ed., (II) Dr. Bambang Pranowo, M.Pd Kata kunci: Sukses, Proses Usaha, Pengalaman Usaha, Lingkungan Keluarga Kesuksesan pelaku usaha biasanya diartikan dengan membesarnya skala usaha yang dimiliki, dana usahanya bertambah, hasil produksi meningkat, keuntungan bertambah, perputaran dan berkembang cepat serta penghasilan anggota dari perusahaan tersebut bertambah. Disamping itu usaha yang mampu bertahan dan mencapai tujuan dalam bidang usahanya. Penelitian ini mengkaji secara mendalam tentang Proses Pencapaian Sukses Pelaku Usaha di Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif, dalam hal ini peneliti adalah sebagai instrumen utama. Data penelitian ini adalah ujaran-ujaran yang dihasilkan informan kunci dalam wawancara mendalam/narative interviewing. Adapun subjek penelitian ini adalah pelaku usaha sukses di Pasuruan. Dalam pengumpulan data, dipergunakan voice recorder, pedoman wawancara dan catatan lapangan. Temuan penelitian menunjukkan hal-hal berikut: (1) pengalaman upaya dalam merealisasikan rencana: satu pelaku usaha yang dipengaruhi oleh faktor ini, karena juga di dukung oleh lingkungan keluarga yang mempunyai bisnis. Alasan mengapa tidak dipengaruhi faktor ini (cita-cita sejak kecil) adalah bahwa menjadi pengusaha dengan mengalir saja. (2) lingkungan terkait dan terdekat: merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi kesuksesan usaha, karena dari keenam informan kunci di besarkan dari pengusaha, dan di besarkan di lingkungan masyarakat bisnis, sehingga sikap, jiwa dan karakteristik di bentuk dari faktor tersebut. (3) pengalaman pendidikan dan pembelajaran: temuan pada faktor pendidikan dan pembelajaran berada pada urutan ke dua, ini menunjukkan bahwa pada kenyataannya kesuksesan pelaku usaha lebih meiliki streetsmart dari pada booksmart. (4) temuan selanjutnya refleksi kesuksesan pelaku usaha: (a) kiat: pengusaha harus mempunyai rasa tanggung jawab, pelayanan yang baik, pembeli adalah raja, kerja keras dan tidak putus asa, promosi, kreatif dan inovatif, mempunyai target penjualan, mengambil laba sedikit, berani ambil risiko, networking, komunikasi yang baik, modal. (b) teori: pengusaha harus menjaga kualitas, tempat strategis, penekanan pada masa pertumbuhan, masa berkembang, masa kemunduran, pengelolaan keuangan, orderan yang banyak, sifat sederhana. (c) filosofis: dalam menjalankan usaha lebih banyak doa, sodaqoh, bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha, pendekatan vertikal, rizki sudah ada ketetapan dari tuhan, image nama perusahaan, lingkungan bisnis mendukung.

Kekaryaan ABRI sebagai perwujudan dwifungsi ABRI dalam rangka menjaga eksistensi sistem politik demokrasi pancasila di Indonesia
oleh Agustin Ardiyanti

 

Kesalahan penggunaan konjungsi ........... oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2013 Universitas Negeri Malang / Gery Winda Nabella

 

Nabella, Gery Winda. 2015. Kesalahan Penggunaan Konjungsi 以后 yǐhòu, 后来 hòulái, 然后 ránhòu oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin Angkatan 2013 Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Tiksno Widyatmoko, M.A. (2) Iwa Sobara, S.Pd, M.A. Kata Kunci: Kesalahan penggunaan konjungsi,以后 yǐhòu, 后来 hòulái, dan然后 ránhòu Dalam pembelajaran bahasa Mandarin terdapat beberapa materi yang dianggap sulit oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2013 Universitas Negeri Malang dalam matakuliah Gramatika, salah satunya adalah materi penggunaan konjungsi以后 yǐhòu, 后来 hòulái, 然后 ránhòu. Konjungsi-konjungsi tersebut sering digunakan saat berkomunikasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa dan faktor yang menyebabkan mahasiswa melakukan kesalahan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Adapun instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data adalah tes, sedangkan instrumen pendukung adalah wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa bentuk kesalahan penggunaan konjungsi yang dilakukan oleh mahasiswa, yaitu (1) kesalahan pemilihan konjungsi, sebanyak 198 kesalahan, (2) tidak menggunakan konjungsi dalam kalimat, sebanyak 14 kesalahan, (3) penempatan konjungsi yang tidak sesuai aturan, sebanyak 117 kesalahan, dan (4) tidak menentukan jawaban dan membiarkan kosong, sebanyak 56 kesalahan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, juga ditemukan faktor yang menyebabkan mahasiswa melakukan kesalahan adalah: (1) pemahaman yang kurang terhadap penjelasan yang diberikan oleh dosen, (2) kurangnya kemampuan untuk membedakan penggunaan konjungsi, (3) kurangnya kemampuan untuk menempatkan konjungsi di tempat yang benar, dan (4) tidak memiliki kemauan untuk belajar lebih keras.

Kajian keragaman spesies burung pada tiga Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang / Akhmad Sulthon Wahyudi

 

Kata kunci: keragaman, spesies burung, Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kota Malang. Spesies burung selama ini telah digunakan sebagai indikator keanekaragaman hayati dan perubahan lingkungan. Burung juga memiliki fungsi yang penting dalam komponen ekosistem yaitu sebagai pengontrol populasi serangga dan membantu penyerbukan bunga serta penyebaran biji (melalui feces). Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang (yang di dalamnya terdapat ruang terbuka hijau) merupakan rumah bagi berbagai spesies burung yang hidup menetap dan mencari makan di sekitar wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) spesies burung yang ditemukan pada tiga PTN di Kota Malang, (2) keanekaragaman spesies burung pada tiga PTN di Kota Malang, dan (3) status tiap spesies burung yang ditemukan pada tiga PTN di Kota Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dan metode pengambilan data menggunakan metode point count method atau metode titik. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan Desember 2010 hingga bulan Februari 2011 di UM, UB, dan UIN. Pengamatan burung dilakukan sebanyak 10 kali ulangan pada masing-masing titik dengan bantuan teropong binokuler dan buku berjudul Burung-Burung di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan oleh Mac Kinnon tahun 2000. Keragaman spesies burung ditentukan dengan menentukan jenis spesies, menghitung frekuensi perjumpaan, menghitung kelimpahan dan menghitung nilai Indeks Keanekaragaman (IKR) spesies yang berada pada tiga PTN di Kota Malang. Perhitungan nilai Indeks Keanekaragaman (IKR) dengan rumus, IKR = (Jumlah individu suatu spesies/ Jumlah total individu yang ditemukan) x 100%. Sedangkan status spesies burung berdasarkan pada Peraturan Pemerintah PP no.7 Tahun 1999. Hasil penelitian ini meliputi: (1) terdapat 25 spesies burung dari 19 famili pada tiga PTN di Kota Malang; (2) keragaman spesies burung pada masingmasing perguruan tinggi berbeda, spesies burung yang memiliki kelimpahan terbesar adalah burung Gereja Erasia dan terkecil adalah Caladi Tilik, Cabak Kota, dan Empuloh Janggut; (3) dari 25 spesies yang teramati, terdapat 3 spesies burung yang termasuk kategori dilindungi dan 22 spesies burung yang tidak dilindungi menurut PP no 7 tahun 1999. Tiga spesies burung yang dilindungi yaitu Burung Madu Sriganti, Cekakak Sungai, dan Cekakak Jawa, sedangkan 22 spesies burung yang tidak dilindungi yaitu Bondol Jawa, Bondol Haji, Bondol Peking, burung Gereja Erasia, Cucak Kutilang, Walet Palem Asia, Walet Linci, burung Cabe Jawa, Prenjak Jawa, Kareo Padi, burung Kacamata Biasa, Tekukur Biasa, Cipoh Kacat, Wiwik Kelabu, Serak Jawa, Celadi Tilik, Cinenen Kelabu, Kerak Kerbau, Kapinis Rumah, Layang-layang Loreng, Empuloh Janggut, dan Cabak Kota.

Perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan pembelajaran kooperatif STAD menggunakan pendekatan pemecahan masalah dengan penerapan pembelajaran ekspositori / Innayatul Azizah

 

Kata kunci: hasil belajar, pembelajaran kooperatif STAD, pemecahan masalah, dan pembelajaran ekspositori Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) salah satu kemampuan yang harus dimiliki siswa adalah kemampuan memecahkan masalah. Guru bidang studi harus memiliki kemampuan memilih pembelajaran yang cocok untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah siswa guna memenuhi tuntutan tersebut. Pembelajaran yang digunakan oleh guru matematika kelas X MA Al Ma’arif Singosari adalah penyajian materi dengan ceramah, pemberian contoh soal, dan pengerjaan soal. Pembelajaran ini membuat siswa menjadi pasif. Pembelajaran Kooperatif STAD dengan pendekatan pemecahan masalah merupakan alternatif solusi untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Oleh sebab itu, penelitian ini menerapkan pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan pemecahan masalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan pembelajaran kooperatif STAD menggunakan pemecahan masalah dengan pembelajaran ekspositori. Penelitian ini dilakukan di MA Al Ma’arif Singosari Malang. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X MA Al Ma’arif Singosari. Sampel penelitian terdiri atas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar dengan pembelajaran ekspositori sedangkan kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Data kemampuan awal diperoleh dari tes awal pokok bahasan pangkat, akar dan logaritma. Data hasil belajar diperoleh dari tes akhir sub pokok bahasan persamaan kuadrat. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan program SPSS dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil uji hipotesis menunjukkan p-value = 0,000. Nilai ini lebih kecil dari  = 0,05 sehingga  ditolak. Berdasarkan hasil tersebut maka diambil kesimpulan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan pemecahan masalah lebih baik daripada hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran ekspositori. Rata-rata skor hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan pemecahan masalah adalah 75,06 dan siswa yang menggunakan pembelajaran ekspositori adalah 68,96.

Desain karakter dan lingkungan untuk film animasi tentang kisah Panji Reni / Made Saresky Sardjono

 

Kata kunci: Desain, Karakter, Lingkungan, Kisah Panji Reni Karakter dalam animasi adalah ciri bentuk atau sifat yang menempel pada seseorang atau sebuah objek. Tokoh atau karakter berfungsi untuk menjalankan peran dalam sebuah film sehingga menarik untuk ditonton. Perancangan ini mengadopsi karakter-karakter pada salah satu cerita dalam pertunjukkan Wayang Topeng Malang yaitu tentang kisah Panji Reni untuk mengembangkan serta menciptakan karakter imajinatif yang akan digunakan untuk pembuatan film animasi. Proses perancangan desain karakter dan lingkungan untuk film animasi tentang kisah Panji Reni ini terdiri dari 3 tahap yaitu: (1) praproduksi yang merupakan tahap awal dalam perancangan sebuah produk; terdiri dari kegiatan penyusunan konsep karya serta pengumpulan data dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah karya, (2) produksi yang merupakan proses pengerjaan dengan mengolah bahan-bahan yang telah dikonsep sebelumnya hingga menghasilkan suatu produk jadi, dan (3) pascaproduksi yang merupakan tahap visualisasi desain yang telah dikerjakan pada proses produksi. Hasil perancangan ini berupa desain karakter dan desain lingkungan untuk keperluan pembuatan film animasi. Karakter-karakter yang dihasilkan sebanyak 10 tokoh, yaitu Panji Asmara Bangun, Prabu Lembu Amiluhur, Udapati Kertala, Prabu Jayengtilam, Dewi Angreni, Dewi Kilisuci, Dewi Sekartaji, Dewi Tejaswara, Prajurit Jenggala dan Prajurit Bali. Sedangkan tempat-tempat yang diangkat menjadi desain lingkungan berjumlah tiga, yaitu kediaman Panji Asmara Bangun, pelataran Kerajaan Jenggala Manik, dan Kerajaan Bali.

Penyalaan lampu dan kipas menggunakan sensor PIR(Passive Infra Red) sebagai pendeteksi keberadaan orang di dalam ruang kelas / Okix Anggi Pratama

 

Kata kunci: PIR(Passive Infra Red), LM35, LDR. Pemakaian energi listrik dewasa ini sudah sangat luas, bahkan manusia sangat sulit melepaskan diri dari kebutuhan dengan energi listrik. Kehidupan modern memungkinkan manusia hidup dalam suasana yang nyaman dan serba praktis. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dan menumbuhkan sikap hemat energi listrik di rumah tangga, perkantoran, lingkungan industri, lingkungan pendidikan dan lain-lain. Peralatan listrik rumah tangga, perkantoran, lingkungan industri, lingkungan pendidikan dan lain-lain pada umumnya sudah dirancang untuk pemakaian listrik yang hemat, namun pada prakteknya masih ditemukan pemborosan energi listrik. Tujuan pembuatan tugas akhir ini adalah untuk melakukan penghematan peralatan listrik rumah tangga, perkantoran, lingkungan industri, lingkungan pendidikan dan lain-lain yang membutuhkan energi listrik. Metode perancangan meliputi: (A) perancangan dan pembuatan mekanik, (B) blok diagram perangkat keras (hardware), (C) perancangan dan pembuatan perangkat keras (hardware), meliputi: rangkaian pendeteksi orang yang masuk atau keluar ruangan, rangkaian sensor cahaya, rangkaian pengkondisi sinyal sensor suhu, rangkaian sensor PIR, mikrokontroler ATmega16, rangkaian seven-segment, indikator buzzer, pengontrol lampu dan pengontrol kipas, (D) perangkat lunak (software), meliputi: diagram alir utama, diagram alir pengontrol lampu dan diagram alir pengontrol kipas, (E) uji coba rangkaian dan pembahasan, meliputi: rangkaian pendeteksi orang yang masuk atau keluar ruangan, rangkaian sensor cahaya, rangkaian pengkondisi sinyal sensor suhu, rangkaian sensor PIR, mikrokontroler ATmega16, rangkaian seven-segment, rangkaian indikator buzzer, rangkaian pengontrol lampu dan rangkaian pengontrol kipas. Hasil yang didapat adalah penyalaan lampu secara otomatis sesuai dengan keadaan intensitas cahaya serta pendeteksi keberadaan manusia dan penyalaan kipas secara otomatis sesuai dengan keadaan suhu ruang kelas serta pendeteksi keberadaan manusia. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah perancangan sensor pendeteksi orang masuk dan keluar, perancangan kontrol lampu yang dapat menyala sendiri serta perancangan kontrol kipas dapat bekerja atau berfungsi sesuai yang diinginkan. Dalam pengembangan selanjutnya dapat dilakukan penambahan untuk kesempurnaan alat yang berkaitan dengan Penyalaan Lampu dan Kipas Menggunakan Sensor PIR (Passive Infra Red) sebagai Pendeteksi Keberadaan Orang di Dalam Ruang Kelas antara lain: Sebaiknya menggunakan modul sensor PIR yang disertai PWM, agar pada saat pendeteksian gerakan manusia dapat di atur langsung dari modul sensor PIR, Untuk pengembangan selanjutnya demi penyempurnaan alat sebaiknya ditampilkan berapa suhu ruangan saat ini.

Penerapan teknik imajinasi pada pembelaran menulis paragraf sederhana bahasa Jerman siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 7 Malang / Miftakhul Jannah Aghfira

 

Kata kunci: teknik imajinasi, keterampilan menulis, paragraf sederhana Pembelajaran bahasa Jerman terdiri dari empat keterampilan berbahasa,yaitu membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa Jerman dianggap keterampilan yang paling rumit. Di SMA Negeri 7 Malang, siswa kelas XII IPS merasa kesulitan dalam menulis bahasa Jerman, khususnya menulis sebuah paragraf sederhana bahasa Jerman. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah siswa kurang menguasai kosakata bahasa Jerman, sedangkan faktor eksternal yaitu guru bidang studi bahasa Jerman di sekolah tersebut jarang menggunakan media, metode, dan teknik pengajaran dalam proses pembelajaran bahasa Jerman di dalam kelas. Peneliti menggunakan teknik imajinasi sebagai teknik pembelajaran pada keterampilan menulis paragraf sederhana bahasa Jerman. Teknik ini dipilih karena belum pernah diterapkan dalam pembelajaran bahasa Jerman di SMAN 7 Malang. Teknik imajinasi ini juga dinilai dapat menanggulangi masalah-masalah yang muncul dalam pembelajaran menulis paragraf sederhana bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pembelajaran menulis paragraf sederhana bahasa Jerman dengan menggunakan teknik imajinasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan instrumen observasi, tes menulis siswa, dan kuesioner, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Data berupa paparan hasil observasi, hasil nilai tes menulis siswa, dan hasil kuesioner. Sumber data yang digunakan adalah siswa kelas XII IPS 1 di SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 29 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik imajinasi merupakan teknik pembelajaran yang efektif digunakan dalam pembelajaran menulis paragraf sederhana bahasa Jerman. Siswa mampu menulis paragraf sederhana bahasa Jerman sesuai imajinasi mereka sendiri dengan baik. Penerapan teknik pembelajaran ini membuat siswa lebih berminat dalam menulis dan lebih aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut terbukti dari hasil tes menulis siswa yang memperoleh nilai rata-rata 80,17 dan nilai tersebut masuk dalam kategori baik.

Implementasi metode pembelajaran kooperatif model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada siswa kelas XI penjualan SMK Wisnuwardhana Malang ) / Rafika Mahfud Ramadani


 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model numbered head together, aktivitas belajar, hasil belajar. Berdasarkan hasil kajian teoritis dan empiris peneliti yang telah dilaksanakan di SMK Wisnuwardhana Malang, ditemukan beberapa kendala yang menghambat proses pembelajaran pada mata pelajaran Pemasaran Barang dan Jasa di kelas XIPJ. Hambatan yang ditemui antara lain sarana dan prasarana belajar kurang mendukung, kelas selalu pasif, rendahnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran yang ditunjukkan dari dominasi yang banyak dari guru, sehingga sangat sulit untuk menimbulkan interaksi baik antara siswa dengan siswa satu sama lain maupun antara siswa dengan guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XIPJ pada mata pelajaran Pemasaran Barang dan Jasa di SMK Wisnuwardhana Malang. Untuk mencapai tujuan penelitian, maka dilakukan kegiatan pembelajaran dengan implementasi metode pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together yang dilaksanakan melalui dua siklus. Setiap siklusnya terdapat beberapa tindakan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus I dilaksanakan berdasarkan studi pendahuluan, sedangkan Siklus II dilaksanakan berdasarkan rencana dari hasil refleksi Siklus I. Subyek penelitian ini adalah siswa progam keahlian Penjualan kelas XIPJ mata pelajaran Pemasaran Barang dan Jasa yang berjumlah 20 orang, terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Variabel dalam penelitian ini ada 3 yaitu metode pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together yang merupakan variabel bebas, aktivitas dan hasil belajar siswa merupakan variabel terikat. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I skor yang diperoleh adalah 15 dan skor maksimalnya 24, dengan persentase nilai rata-rata 62,5% dan termasuk dalam kategori kurang baik. Pada siklus II skor yang diperoleh adalah18 dan skor maksimalnya 24, dengan persentase nilai rata-rata 74,5% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Walaupun peningkatannya kurang signifikan, dan terdapat beberapa siswa yang justru mengalami penurunan, akan tetapi secara keseluruhan pembelajaran ini mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Selain itu penilitian ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat pra tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada saat akhir penerapan. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada saat pre-test sebanyak 5 siswa (14,8%) sedangkan yang belum tuntas sebanyak 15 siswa (85%). Hasil post-test siklus I menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan siswa yang tuntas sebanyak 12 siswa (34,03%) dan yang belum tuntas sebanyak 8 siswa (66%). Untuk hasil post-test siklus II juga menunjukkan peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan siklus I yaitu dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 18 siswa (93,75%) dan yang belum tuntas sebanyak 2 siswa (6,25%). Walaupun pada post-test siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah hal yang wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada peneliti berikutnya agar dapat menggunakan metode kooperatif dengan model-model pembelajaran inovatif yang lainnya seperti Cooperative Script, Examples Non Examples, Jigsaw, Problem Based Introduction, Student Teams-Achievement Divisions, Think Pair and Share dan lain sebagainya.

Konstruksi model program pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi: pendekatan sequential exploratory mixed research design berbasis multi kasus / Susilaningsih

 

Kata kunci: konstruksi; program pendidikan kewirausahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) menjelaskan model program pendidikan kewirausahaan yang diterapkan di tiga Perguruan Tinggi di Indonesia; (2) menjelaskan keberhasilan program pendidikan kewirausahaan dengan model program pendidikan kewirausahaan di tiga Perguruan Tinggi di Indonesia; (3) menjelaskan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan pengembangan program pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi; (4) mengonstruksi model program pendidikan kewirausahaan sebagai sebuah alternatif model yang dapat meningkatkan daya saing lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia. Mempertimbangkan permasalahan penelitian yang dikaji, maka pendekatan penelitian yang digunakan adalah sequential exploratory mixed research design berbasis multi kasus. Penelitian diawali dengan mengeksplor model program pendidikan kewirausahaan di tiga perguruan tinggi sebagai best practices; dilanjutkan dengan memverifikasi faktor-faktor yang melingkupi variabel-variabel pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi yang mewakili perguruan tinggi negeri dan swasta di wilayah Indonesia Timur, Tengah dan Barat yang melaksanakan program pendidikan kewirausahaan. Tahap selanjutnya adalah menyusun konsep model program pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi di Indonesia; melakukan uji pakar dan revisi; dan mengonstruksi alternatif model program pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model program pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi yang dikaji sebagai kasus dalam penelitian ini dilihat dari dimensi organisasi dan menejemen memiliki komitmen mengembangkan budaya kewirausahaan; perguruan tinggi memiliki program kegiatan utama untuk merubah mindset mahasiswa; ditindak lanjuti dengan program kegiatan pendukung (lanjutan); didukung oleh sarana prasarana; dan perguruan tinggi menjalin kerjasama dengan institusi lain untuk meningkatkan program pendidikan kewirausahaan. Dengan model semacam itu (2) perguruan tinggi memiliki keberhasilan di tingkat nasional dan internasional, bahkan salah satu perguruan tinggi dalam kasus penelitian ini diakui oleh UNESCO sebagai perguruan tinggi swasta dunia model private entrepreneur. (3) faktor-faktor yang melingkupi keberhasilan program pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi di Indonesia adalah komitmen perguruan tinggi; iklim kewirausahaan; kegiatan utama; kegiatan pendukung (lanjutan); dan sarana prasarana. Dengan memenuhi faktor-faktor tersebut, konstruksi model program pendidikan kewirausahaan yang diusulkan adalah (4) melaksanakan program secara bertahap dimulai dengan tahap pemicu sadar kewirausahaan; tahap dasar; tahap kesadaran kebutuhan kompetensi; tahap aplikasi kreatifitas dan inovasi; tahap start-up; dan tahap pertumbuhan.

Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan Guru (Studi kasus pada Dinas Pendidikan Kota Ternate Maluku Utara) / Irsan Marsaoly

 

Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd., (II) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D. Kata kunci: kebijakan, pemerintah daerah, peningkatan kesejahteraan guru. Peningkatan kualitas suatu bangsa dapat dilakukan melalui sektor pendidikan, sedangkan peningkatan kualitas pendidikan salah satunya dapat dilakukan melalui peningkatan kesejahteraan guru. Dalam dunia pendidikan, keberadaan, peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat urgen. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam setiap kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan, tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi guru itu sendiri, termasuk meningkatkan kesejahteraannya. Yang menjadi fokus dari penelitian ini adalah: (1) kebijakan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru di kota Ternate propinsi Maluku Utara, meliputi: a) Pemberian biaya tambahan penghasilan kepada guru, b) tunjangan untuk tenaga guru dikecamatan dan kelurahan daerah terpencil, (2) prosedur implementasi kebijakan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru, meliputi: a) Pemberian biaya tambahan penghasilan kepada guru, b) tunjangan untuk tenaga guru, dikecamatan dan kelurahan daerah terpencil, (3) prosedur evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru, meliputi: a) pemberian biaya tambahan penghasilan kepada guru, b) tunjangan untuk tenaga guru, dikecamatan dan kelurahan daerah terpencil. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus dengan mengembangkan konsep dilapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Pemilihan informan penelitian dilakukan secara snowball sampling. data yang terkumpul dianalisis secara deskreptif dengan alur: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan melalui: (1) uji kredibilitas yang terdiri dari Triangulasi, Member cek, dan Pendapat para ahli; (2) dependabilitas; dan (3) konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan: pertama kebijakan pemerintah kota Ternate dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru mengacu pada Surat keputusan walikota Ternate No 157 tahun 2008 tentang pemberian biaya tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil dilingkungan pemerintah kota Terante dan Surat keputusan walikota Terate No. 800/1821/2008 tentang penetapan besarnya tunjangan untuk tenaga guru, tenaga kesehatan dan pegawai negeri sipil umum di kecamatan dan kelurahan daerah terpencil dalam wilayah pemerintah kota Ternate. Kedua implementasi kebijakan pemerintah kota dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru bersifat (top-down) yakni dasar hukum dari adanya pencairan dana tersebut mengacu pada Surat keputusan walikota Ternate No 157 tahun 2008 dan surat keputusan walikota Ternate No. 800/1821/2008 yang dilanjutkan oleh Sekda kota, dan bagian hukum. kemudian dari Sekda kota dilanjutkan ke badan pencatat kekayaan dan keuangan serta aset daerah, selanjutnya ke bendahara pemda kota, bendahara dinas pendidikan, bendahara Sekolah selanjutnya di distribusikan kepada guru/pegawai negeri sipil umum secara langsung jika sekolah tersebut statusnya negeri. Sedangkan bagi guru/pegawai yang bertugas di sekolah swasta dapat menerima langsung di bendahara dinas pendidikan kota Ternate karena di sekolah swasta tidak memiliki bendahara sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah kota. Adapun prosedur implementasi kebijakan dalam rangka upaya peningkatan kesejahteraan guru di kota Ternate diawali dengan: (1) sosialisasi kebijakan kepada jajaran terkait, (2) pendataan jumlah guru/pegawai negeri sipil umum lainnya, dan (3) pelaksanaan kebijakan dimaksud. Ketiga, evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintah kota Ternate dalam upaya peningkatan kesejahteraan guru sudah sesuai dengan prosedur yang telah disusun anatara lain tahapannya sebagai berikut: (1) pengamatan, (2) wawancara, (3) pemeriksaan dokumen, (4) pengisian kuisioner, dan (5) pelaporan hasil evaluasi program. Dari hasil penelitian dapat direkomendasikan sebagai berikut: (1) Bagi pemerintah kota Ternate, perlu adanya kebijakan yang mengarah ke upaya peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil akan tetapi kebijakannya lebih khusus kepada guru dan tenaga kependidikan. (2) Bagi dinas pendidikan kota Terante, agar berkoordinasi yang insentif dengan walikota untuk merumuskan kebijakan yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan sehingga dapat mendorong semangat para guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam tugas sehari-hari guna peningkatan mutu pendidikan di kota Ternate. (3) Bagi guru, agar mengevaluasi dan meningkatkan kinerjanya karena guru sebagai manusia menjadi sorotan utama dalam berbagai kesempatan dan forum. Sehingga guru yang memiliki pekerjaan sampingan di luar jam mengajarnya di sekolah hendaknya dapat mempertahankan eksistensi dirinya sebagai sosok guru yang dinamis, inovatif, dan kreatif selama pemerintah belum mampu memenuhi standar kesejahteraan guru yang diharapkan, (4) Bagi peneliti selanjutnya, dapat dijadikan acuan dalam rangka upaya perbaikan kedepan, jika metodologi dan temuan penelitian ini dinilai kredibel dan relevan, maka dapat dimanfaatkan sebagai referensi dalam meneliti kasus sejenis dengan fokus lebih mendalam atau pada lembaga lain.

Pelaksanaan metode pembelajaran team teaching pada program keahlian teknik gambar bangunan di SMK Negeri 1 Singosari / Ifa Maulidia

 

Kata Kunci: metode pembelajaran, team teaching, gambar bangunan. Pemerintah senantiasa meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas siswa yang nantinya bisa sejajar dengan negara lain dan akhirnya mampu bersaing di era global. Berbagai metode digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu metode yang disajikan guna meningkatkan kemampuan siswa di sini adalah Team Teaching. Metode inilah yang saat ini diterapkan di SMK Negeri 1 Singosari untuk meningkatkan kemampuan siswa. Selain untuk meningkatkan mutu , over load tenaga pengajar di sekolah merupakan alasan diberlakukannnya team teaching . Khususnya saat sekarang ini adalah terkumpulnya tenaga pengajar pada disiplin ilmu yang sama di satu sekolah, dalam konteks ini adalah sekolah negeri. Team teaching adalah suatu kegiatan yang melibatkan beberapa orang guru (kolaborasi) yang bertujuan untuk peningkatan mutu. Metode ini juga digunakan untuk menagani suatu persoalan yang dihadapi siswa pada saat kegiatan pembelajaran di kelas. Tujuan SMK Negeri 1 Singosari menerapkan metode pembelajaran team teaching yaitu dengan tersedianya lebih dari satu guru dalam satu kelas, akan membuat siswa bebas meminta pelayanan dalam memecahkan masalah dan mendiskusikannya tanpa adanya batasan-batasan yang biasa mereka temui dalam kegiatan belajar reguler Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode team teaching pada program keahlian gambar bangunan SMKN 1 Singosari, (2) hambatan-hambatan yang terjadi serta (3)upaya yang dilakukan untuk menanggulangi hambatan yang terjadi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Data penelitian yang dipaparkan berupa hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan terhadap 2 macam sumber yaitu terhadap guru dan siswa. Sedangkan untuk metode observasi, peneliti mengguanakan metode observasi partisipasi (participant observation). Observasi partisipasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden. Analisis data dalam penelitian ini meliputi: 1.Reduksi Data, yang terdiri dari proses identifikasi satuan, koding yaitu pemberian kode pada setiap satuan terkecil, 2.Kategorisasi, 3.Sintesisasi. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi tahap pra lapangan, tahap lapangan dan pengolaan data. Untuk menjaga keabsahan data digunakan triangulasi data. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan metode perbandingan tetap (Constant Comparative Method) karena membandingkan satu datum dengan datum lain, dan kemudian secara tetap membandingkan kategori dengan kategori lain. Uji keabsahan data menggunakan uji kredibilitas yang meliputi : (1) Perpanjangan Pengamatan, (2) Peningkatan Ketekunan dan (3) Triangulasi Paparan data dan hasil temuan yang didapat yaitu berupa profil SMKN 1 Singosari, data responden, hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dikorelasikan dalam tabel triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut maka disimpulkan 3 kesimpulan yaitu: (1) Pelaksanaan metode pembelajaran team teaching pada SMK Negeri 1 Singosari dilaksanakan oleh dua guru yang mengajar dalam satu kelas, pada hampir semua mata pelajaran dan dapat meningkatkan prestasi siswa., (2) hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan team teaching adalah terjadinya dominasi mengajar, kebosanan dalam mengajar, perbedaan penyampaian materi. (3) upaya dalam menganggulangi hambatan tersebut adalah koordinasi dalam mengajar, mencari aktifitas lain untuk guru yang tidak menerangkan materi., pembagian bab yang akan diajarkan kepada siswa

Pengembangan media pembelajaran game edukasi untuk anak usia Taman Kanak-Kanak(TK) di TK Aba 1 Probolinggo / Muhammad Chusni Agus

 

Kata Kunci: pengembangan media Dalam proses perkembangannyaadaciri-ciri yang melekatdanmenyertaianak- anaktersebut. Secaragarisbesarciri-cirianak-anak TK seperti.Anak TK umumnyaaktif.Merekatelahmemilikipenguasaanataukontrolterhadaptubuhnyadansangatmenyukaikegiatan yang dilakukansendiri.Setelahanakmelakukanberbagaikegiatan, anakmembutuhkanistirahat yang cukup, seringkalianaktidakmenyadaribahwamerekaharusberistirahatcukup.Jadwalaktivitas yang tenangdiperlukananak.Anakprasekolahumumnyaterampildalamberbahasa.Sebagiandarimerekasenangberbicara, khususnyadalamkelompoknya, sebaiknyaanakdiberikesempatanuntukberbicara, sebagiandarimerekadilatihuntukmenjadipendengar yang baik.Kompetensianakperludikembangkanmelaluiinteraksi, minat, kesempatan, mengagumidankasihsayang. Untukmemberikanpengajaran yang baikkepadaanak TK diperlukansuatu media yang cocokdengankarakteranak TK, media yang memanfaatkanteknologi.Perkembanganteknologidi bidang pendidikanakansangatbergunauntukmembantuterciptanyasuatu media pembelajaran yang dapatmembantuuntukmenyampaikanmateridenganbaik, denganmenggunakansaranadariteknologi yang ada, sepertipenggunaankomputersebagai media pengajaran, pendidikdapatmemberikanmateri yang digabungkandengansuatupermainanedukatif petualangan dalamsebuah media. Suatu media yang menarikdanatraktifdapatmembuatanak-anaklebihsenanguntukmenerimapelajaran, jikaanak-anaksudahmempunyaiperasaansenangdalammenerimapelajaran, anak-anaktidakakancepatbosanuntukmenerimapelajaran. Dari paparantersebutmakaperluadanyapengembangan media pembelajarandenganmenggunakanmetodepembelajaraninteraktif. Metode yang dipakaiadalahmetodepengembanganBorg and Gall yang berisi 10 tahappengembanganyaitu, analisiskebutuhan, perencanaan media, pengembanganproduk, ujicobaperseorangan, revisi, ujicobakelompokkecil, revisi, ujicobalapangan, revisisertapenyebarandanpelaporan. Hasil yang telahdicapaidariahli media menunjukkanpresentase87.5 % sehinggadapatdikatakan media layakdigunakan, dariahlimaterimenunjukkanpresentase 96 % sehinggadapatdikatakan media layakdigunakan, dandarisiswamenunjukkanpresentase 93.8 % untukujikelompokkecildan 92.5% untukujilapangansehinggadapatdikatakan media layakdigunakanpadapembelajaran.

Perbedaan kemampuan menyusun program karya ilmiah dan hasil belajar dengan stategi pembelajaran inkuiri melalui observasi lapangan dan diskusi kelompok mahasiswa geografi FKIP Universitas Tadulako / Nurvita

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., (2) Prof. Dr. Ach. Fatchan, M.Pd. Kata Kunci: Kemampuan Menyusun Laporan Karya Ilmiah, Hasil Belajar, Strategi Pembelajaran Inkuiri. Proses pembelajaran mata kuliah Geografi Pariwisata di Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Tadulako yang dilakukan selama ini cenderung terpusat pada dosen (teacher oriented), kurangnya kesempatan bagi mahasiswa untuk menemukan sendiri ide, konsep, maupun generalisasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran membuat mahasiswa merasa bosan, jenuh dan menganggap mata kuliah Geografi pariwista tidak menarik. Strategi pembelajaran inkuiri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru, dengan menggunakan seluruh indera baik fisik maupun mental secara langsung dengan lingkungan atau objek belajarnya, kegiatan pembelajaran ini mendukung pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Salah satu inovasi pembelajaran dengan pendekatan tersebut adalah strategi pembelajaran inkuiri yang memberikan kesempatan mahasiswa untuk menemukan sendiri ide, konsep, maupun generelisasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran dengan mengkaitkan materi dengan kehidupan nyata dilakukan dengan kegiatan observasi pada objek belajar langsung di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan: (1) kemampuan menyusun laporan karya ilmiah, dan (2) hasil belajar mahasiswa geografi FKIP Universitas Tadulako pada mata kuliah Geografi Pariwisata antara yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran inkuiri dan yang dibelajarkan dengan pembelajaran diskusi kelompok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (kuasi), model control-group design, karena ada faktor eksternal yang berpengaruh pada kemampuan menyusun laporan dan hasil belajar mahasiswa yang tidak dapat dikontrol oleh peneliti. Subjek penelitian adalah mahasiswa angkatan 2008 yang memprogram mata kuliah Geogarfi Pariwisata pada semester V tahun ajaran 2010/2011, yang berjumlah 62 mahasiswa dan dibagi menjadi dua kelompok dengan kemampuan yang sama berdasarkan nilai semester sebelumnya. Kelompok pertama Geo A (31 mahasiswa) sebagai kelas eksperimen yang menggunakan strategi pembelajaran inkuiri melalui observasi lapangan dan kelompok kedua Geo B sebagai kelompok kontrol dengan menggunakan pembelajaran diskusi kelompok. Data yang dikumpulkan diolah dengan meggunakan statistik inferensial dengan menggunakan uji t (t-test). Hasil penelitian menunjukkan: (1) ada perbedaan kemampuan menyusun laporan karya ilmiah antara mahasiswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran inkuiri melalui metode observasi lapangan dan mahasiswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran diskusi kelompok. Kemampuan menyusun laporan karya ilmiah mahasiswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran inkuiri melalui observasi lapangan sedikit lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran diskusi kelompok, dengan perolehan rata-rata kelas eksperimen (63,746) lebih tinggi dibanding kelas kontrol (47,742), dan (2) ada perbedaan hasil belajar kognitif antara mahasiswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran inkuiri melalui metode observasi lapangan dan mahasiswa yang dibelajarkan dengan diskusi kelompok. Hasil belajar kognitif mahasiswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran inkuiri melalui observasi lapangan lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran diskusi kelompok, dengan perolehan nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi (85,6129) daripada kelas kontrol (74,6371). Sejalan dengan temuan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka dalam upaya meningkatkan kemampuan menyusun laporan karya ilmiah dan hasil belajar, disarankan mempertimbangkan penerapan startegi pembelajaran inkuiri melalui observasi lapangan pada kompetensi tertentu yang disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran. Ini bertujuan memberikan banyak kesempatan dan pengalaman belajar bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan menyusun laporan karya ilmiah dan hasil belajarnya.

Analisis perbandingan faktor likuiditas, kemandirian dan pertumbuhan koperasi (studi pada KPRI UM dan KPRI UB) Periode 2001-2010 / Ida Nur Wahyuningsih

 

Kata Kunci: Faktor Likuiditas, Faktor kemandirian dan Pertumbuhan, Rasio Kas, Rasio Pinjaman, Rentabilitas Aset, Rentabilitas Modal Sendiri, Kemandirian Operasional Pelayanan. Koperasi di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan di akhir tahun 2011. Hal ini merupakan bukti bahwa koperasi mampu mengelola kinerjanya dengan baik, terutama dalam hal kinerja keuangan. Beberapa faktor yang dapat digunakan untuk menilai kinerja keuangan koperasi adalah faktor likuiditas yang terbagi menjadi dua yaitu rasio kas dan rasio pinjaman diberikan. Serta faktor kemandirian dan pertumbuhan yang terbagi menjadi rentabilitas asset, rentabilitas modal sendiri, dan rasio kemandirian operasional pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan KPRI UM dan KPRI UB pada periode 2001-2010, serta untuk menguji apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan KPRI UM dan KPRI UB jika dilihat dari faktor likuiditas serta kemandirian dan pertumbuhan. Rancangan penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang bersifat komparatif. Hasil penelitian berdasarkan lima variabel yang digunakan, yaitu rasio kas, rasio pinjaman diberikan, rentabilitas asset, rentabilitas modal sendiri dan rasio kemandirian operasional pelayanan. Menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara KPRI UM dan KPRI UB berdasarkan rasio pinjaman diberikan, rasio rentabilitas aset, rentabilitas modal sendiri, dan rasio kemandirian operasional pelayanan yang disebabkan oleh perbedaan jumlah anggota, tahun pendirian, tingkat pendapatan masing-masing koperasi, pemberian prosentase bunga pinjaman, dan tingkat pemberian SHU bagian anggota. Sedangkan rasio kas KPRI UM dan KPRI UB menunjukan tidak ada perbedaan signifikan yang disebabkan karena kedua KPRI sama-sama memyediakan kas dalam jumlah besar untuk mengantisipasi transaksi/pinjaman yang mendadak dari anggota. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan KPRI UM dan KPRI UB dapat lebih meningkatkan kinerja keuangannya, serta diharapkan agar kedua KPRI tersebut lebih memperhatikan terkait faktor-faktor yang sangat berpengaruh pada peningkatan nilai faktor likuiditas serta kemandirian dan pertumbuhan koperasi, yaitu sumber perolehan dana, peningkatan partisipasi anggota, besarnya bunga pinjaman dan prosentase pembagian SHU bagian anggota yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kedua KPRI di masa yang akan datang.

Kalibrasi sistem pengukuran kadar hemoglobin dalam darah non invasive dengan metode sistem pakar / Rohul Hayati

 

Kata kunci : non-invasive ,hemoglobin ,metode sistem pakar. Hemoglobin adalah molekul utama dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh. Pada umumnya pengukuran kadar Hb dilakukan di laboratorium patologi klinis dengan cara mengambil sampel darah pasien dengan cara melukai jari pasien, kemudian digunakan alat Hbmeter untuk mengetahui kadar Hb-nya. Hasil dari pengukuran HB dicatat, dikumpulkan, dan direkapitulasi di komputer. Proses yang demikian itu sudah cepat tapi menyebabkan rasa sakit karena pengambilan sampel dilakukan dengan cara dilukai (invasive). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai hasil kalibrasi dari sistem pengukur kadar Hb dalam darah non invasive, hal ini dilakukan guna mengetahui kelayakan dari sistem tersebut. Metode pengukuran ini sendiri menggunakan 3 sinar LED yang dilewatkan daerah telinga yang tidak bertulang. Sinar akan diserap oleh darah tergantung kosentrasi darah (kepekatan darah), dengan mengetahui intensitas sinar yang diserap oleh darah dapat diketahui pula konsentrasi Hb dalam darah. Sinar yang melewati telinga akan ditangkap oleh 3 photodioda. Intensitas cahaya oleh photodioda akan diubah menjadi tegangan, besar tegangan yang dikeluarkan photodioda tergantung besar intensitas cahaya yang ditangkap (intensitas cahaya dan besar tegangan berbanding lurus). Keluaran dari sensor ini berupa sinyal analog yang membentuk pola yaitu tegangan keluaran Vo1, Vo2, dan Vo3. Tegangan keluaran ini diperkuat 10 kali dan dikopling ke ADC untuk diubah dalam bentuk digital supaya datanya dapat ditampilkan dalam komputer serta diolah menggunakan program sistem pakar. Dari penelitian yang dilakukan waktu yang diperlukan agar alat stabil adalah 25 s ,yang artinya data akan diambil setelah 25 s sampai detik kelima. Setelah dilakukan kalibrasi dari sistem ini didapatkan bahwa pada pengukuran Hb awal yang menggunakan persamaan karakterisasi keluaran yang didapatkan pada penelitian tahun sebelumnya dimana ralat dari data yang menggunakan karakterisasi ini sebesar 4.74% sedangkan ralat dari data yang menggunakan karakterisasi keluaran pada penelitian ini sebesar 2.37 %. Sehingga dapat disimpulkan dari kalibrasi ini bahwa sistem sudah layak digunakan pada karakterisasi keluaran yang didapatkan pada penelitian ini.

Motivasi tokoh utama dalam novel sang pemimpi karya Andrea Hirata / Lu'luul Faizah

 

Kata kunci: motivasi, tokoh, novel Motivasi adalah daya dorong yang mengakibatkan seseorang mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan –dalam bentuk keahlian atau ketrampilan— tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan. Macam motivasi ada dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah suatu kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang keberadaannya karena pengaruh rangsangan dari luar. Tokoh Ikal dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata memiliki semangat dalam menempuh hidup dan dalam menggapai mimpinya. Semangat tersebut berasal dari motivasi yang dimiliki Ikal, yang bersumber dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Oleh sebab itu, pengkajian motivasi tokoh dilakukan. Kajian motivasi tokoh adalah sebuah bagian kajian psikologi sastra yang dimiliki oleh tokoh dalam sebuah cerita. Novel sebagai suatu bentuk representasi kehidupan nyata yang dituangkan pengarang dalam bentuk karya indah yang bersifat fiktif. Kehidupan nyata yang dialami seorang tokoh dalam novel menjadi acuan dalam penelitian. Hal ini disebabkan motivasi tokoh merupakan cerminan perilaku dari tindakan seseorang. Tindakan seseorang tersebut selalu didasari kekuatan yang dapat berasal dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya. Kekuatan tersebut merupakan sebuah dorongan untuk berperilaku. Jadi yang menjadi tolok ukur dalam penelitian ini adalah tindakan manusia yang mendapatkan dorongan dari luar dirinya dan dorongan dari dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi motivasi tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Identifikasi motivasi tokoh utama tersebut meliputi: (1) motivasi intrinsik apa sajakah yang terdapat dalam diri tokoh utama; (2) motivasi ekstrinsik apa sajakah yang terdapat dalam diri tokoh utama. Tujuan motivasi tokoh utama di atas dalam penelitian ini yaitu mengarahkan tingkah laku tokoh utama yang memberikan dampak terhadap perkembangan karakter tokoh utama. Selanjutnya, tujuan motivasi juga memberikan dampak terhadap perkembangan alur peristiwa. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menghasilkan data deskripstif yang berupa kata-kata tertulis. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan psikologi sastra karena penelitian ini berusaha untuk mengaji motivasi yang dimiliki tokoh dalam cerita sekaligus menghubungkan ke dalam cerita. Data dalam penelitian ini adalah kutipan novel yang berupa paparan narasi dan dialog tentang motivasi tokoh dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata tersebut. Novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka Yogyakarta pada tahun 2009. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah (1) membaca secara kromprehensif dan kritis novel Sang Pemimpi, (2) mengidentifikasi kata-kata yang mengandung motivasi tokoh utama, (3) kodifikasi setiap kata yang ditemukan, dan (4) klasifikasi sesuai rumusan masalah yang disusun. Analisis data dilakukan dengan cara kodifikasi, reduksi data, analisis interpretasi kemudian terdapat hasil temuan. Deskripsi yang diperoleh dari hasil analisis adalah (1) motivasi ekstrinsik yang terdapat dalam diri tokoh utama, meliputi (a) kebutuhan yang berupa fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri; (b) dorongan yang berupa motivasi dari orang tua, motivasi dari A Ling, motivasi dari guru, dan motivasi dari sahabat; (c) tujuan yaitu membanggakan orang tua dan bertemu dengan A Ling; (2) motivasi intrinsik yang terdapat dalam diri tokoh utama, meliputi (a) kebutuhan, yang berupa cita-cita, minat, dan potensi; (b) dorongan yang berupa sukses dan keluar dari kemiskinan; (c) tujuan yang berupa membanggakan orang tua dan bertemu dengan A Ling. Dari kedua motivasi di atas, memberikan dampak terhadap perkembangan karakter tokoh dan perkembangan alur peristiwa. Motivasi ekstrinsik yang dimiliki Ikal di atas mempengaruhi motivasi intrinsiknya, karena motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan atau dapat berubah menjadi motivasi intrinsik. Awalnya,segala sesuatu yang Ikal kerjakan khususnya yang berhubungan dengan sekolah, ia lakukan karena dorongan dari luar yaitu ayahnya sebagai motivasi terkuatnya. Namun, seiring Ikal melakukan kegiatannya, Ikal merasa tertarik dan berminat misalnya, Ikal menjadi senang membaca buku dan Ikal sangat tertarik dengan pengetahuan tentang luar negeri.

Pengaruh motivasi dan lingkungan belajar terhadap minat belajar siswa MTs Surya Buana Malang dalam mata pelajaran IPS Geografi / Dewi Husnul Amalina

 

Kata kunci: motivasi belajar, lingkungan belajar, minat belajar. Pembelajaran geografi merupakan pembelajaran yang memberikan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah. Namun pada kenyataanya mata pelajaran geografi sering dianggap siswa sebagai mata pelajaran yang membosankan dan kurang menyenangkan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru geografi di MTs Surya Buana Malang pada tanggal 12 Juli 2011 menyatakan bahwa “saat proses pembelajaran geografi, siswa terlihat kurang memiliki antusias atau perhatian lebih dalam menerima materi pelajaran geografi”. Dengan demikian motivasi dan lingkungan belajar sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam suatu mata pelajaran. Oleh sebab itu peneliti ingin mengetahui ”Pengaruh Motivasi dan Lingkungan Belajar terhadap Minat Belajar Siswa MTS Surya Buana Malang Dalam Mata Pelajaran IPS Geografi”. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui pengaruh motivasi belajar terhadap minat siswa MTs Surya Buana Malang dalam mata pelajaran IPS geografi, 2) mengetahui pengaruh lingkungan belajar terhadap minat siswa MTs Surya Buana Malang dalam mata pelajaran IPS geografi 3) mengetahui pengaruh motivasi dan lingkungan belajar terhadap minat siswa MTs Surya Buana Malang dalam mata pelajaran IPS geografi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Subjek penelitian yaitu siswa MTs Surya Buana Malang dengan sampel berjumlah 64 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket. Analisis data menggunakan analisis statistik korelasional untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap minat dengan nilai sig t (0,000) < 0,05 dan lingkungan belajar berpengaruh signifikan terhadap minat dengan nilai sig t (0,001) < 0,05 serta secara simultan motivasi belajar dan lingkungan belajar berpengaruh signifikan terhadap minat dengan nilai sig F (0,000) < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) bagi guru mata pelajaran geografi khususnya dan bagi guru pada umumnya, diharapkan mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar lebih giat lagi bukan hanya berorentasi pada SKM, serta menghimbau siswanya untuk memanfaatkan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya guna menunjang proses pembelajaran, (2) bagi siswa hendaknya dapat memotivasi dirinya sendiri untuk berprestasi dan dapat mengatur waktu sebaik mungkin untuk belajar, (3) bagi peneliti lain, diharapkan dapat menggali lagi variabel-variabel lain selain motivasi belajar dan lingkungan belajar yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa dalam suatu mata pelajaran tertentu.

Pengaruh fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 2 Lumajang / Reviani Erfika Setyorini

 

Kata Kunci: fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat, motivasi, prestasi Kesejahteraan bangsa tidak lagi didasarkan pada Sumber Daya Alam (SDA) dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial, budaya, dan kredibilitas, sehingga tuntutan pengetahuan yang terus-menerus menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup diukur dengan standar lokal karena perubahan global telah berpengaruh sangat besar terhadap ekonomi suatu bangsa, hingga terdapat istilah bangsa yang besar adalah bangsa yang berpendidikan dengan standar mutu yang tinggi. Sekolah menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan sebagai salah satu lingkungan dimana seseorang menempuh proses pendidikan. Sekolah yang menyediakan fasilitas yang memadai bagi siswa dapat mempermudah pengelolaan belajar bagi siswa. Hal ini akan ikut meningkatkan motivasi dan minat siswa untuk belajar. Akan tetapi, hal lain yang tidak kalah penting adalah proses belajar mengajar yang merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif. Penelitan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat dan motivasi belajar siswa serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa di SMA Negeri 2 Lumajang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitan deskriptif korelasional. Data penelitian yang dikumpulkan berupa paparan data tentang fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat, motivasi dan prestasi belajar siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket dan dokumentasi. Angket berasal dari fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat dan motivasi belajar siswa. Sedangkan prestasi berasal dari dokumentasi nilai rapor siswa. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh beberapa hasil kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kondisi fasilitas sekolah dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Menurut persepsi siswa, kondisi fasilitas sekolah rata-rata diatas cukup bagus. 39.73% siswa menilai fasilitas sekolah bagus, dan 47.94% siswa menilai fasilitas sekolah cukup bagus. Hal ini tentu berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Secara parsial, diperoleh nilai r hitung fasilitas sekolah sebesar 0.635. Artinya, fasilitas sekolah mempengaruhi prestasi belajar siswa sebesar 63.5%. Kedua, tentang kondisi proses belajar mengajar dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa persepsi siswa terhadap proses belajar mengajar terbilang bagus yaitu sebesar 61.64% sedangkan prestasi tergolong baik yaitu sebesar 50.68%. Dalam hipotesis secara parsial diperoleh r hitung proses belajar mengajar sebesar 0.724. Artinya, prestasi belajar dipengaruhi oleh proses belajar mengajar sebesar 72.4% atau fasilitas sekolah mempengaruhi prestasi belajar sebesar 72.4%. Ketiga, tentang kondisi minat belajar siswa dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa minat belajar siswa SMA Negeri 2 Lumajang yaitu pada kelas X termasuk dalam kategori tinggi yaitu rata-rata sebesar 41,09%, sedangkan prestasi tergolong baik yaitu rata-rata sebesar 50,68%. Dalam hipotesis secara parsial diperoleh r hitung minat belajar sebesar 0,749 atau 74.9%. Artinya prestasi belajar dipengaruhi minat belajar sebesar 74.9% atau dengan kata lain minat belajar mempengaruhi prestasi belajar sebesar 74.9%. Keempat, tentang kondisi motivasi belajar siswa dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Dari hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa motivasi belajar siswa SMA Negeri 2 Lumajang yaitu pada kelas X termasuk dalam kategori tinggi yaitu rata-rata sebesar 53,42%, sedangkan prestasi tergolong baik yaitu rata-rata sebesar 50,68%. Dalam hipotesis secara parsial diperoleh r hitung motivasi belajar sebesar 0,692 atau 69.2%. Artinya prestasi belajar dipengaruhi motivasi belajar sebesar 69.2% atau dengan kata lain motivasi belajar mempengaruhi prestasi belajar sebesar 69.2%. Kelima, tentang pengaruh secara simultan antara fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil deskriptif diperoleh bahwa fasilitas sekolah termasuk dalam kategori cukup bagus yaitu rata-rata 47.94%, proses belajar mengajar termasuk dalam kategori bagus yaitu rata-rata 46.57%, minat belajar termasuk dalam kategori tinggi yaitu rata-rata 41,09% dan motivasi belajar termasuk dalam kategori 53,42%, sedangkan prestasi belajar siswa tergolong baik yaitu rata-rata 50,68%. Dalam uji hipotesis secara simultan diperoleh nilai R square sebesar 0,654 atau 65.4%. Artinya fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat belajar dan motivasi belajar mempengaruhi prestasi belajar sebesar 65.4% dan sisanya 34.6% dipengaruhi oleh faktor yang lain. Antara fasilitas sekolah, proses belajar mengajar, minat belajar dan motivasi belajar tidak dapat bekerja sendiri-sendiri karena bisa dipastikan berjalan kurang efektif. Jika fasilitas sekolah memadai maka harus didukung dengan proses belajar mengajar, minat belajar, dan motivasi belajar yang tinggi sehingga prestasi belajar siswa tinggi. Begitu sebaliknya, jika fasilitas sekolah tidak memadai tetapi proses belajar mengajar, minat belajar, dan motivasi belajar tinggi maka prestasi belajar siswa belum tentu rendah.

The use of authentic videos taken from youtube in the teaching of english to the ninth graders of SMP Negeri 12 Jember / Pramudhia Savitrie

 

Key words: Authentic videos, YouTube, the teaching of English Teaching English as a foreign language in Indonesia is considered challenging since it is often found that the teachers are faced by the situation in which they cannot make the students actively involved in the learning process. Therefore, English teachers in Indonesia have to become more creative and innovative in their teaching in order to make the students interested in learning English. Accordingly, teachers are highly advised to expand their knowledge related to the development of English teaching. One of the most important developments with regard to English teaching is the use of technology. The Internet is one of the most important and popular technological advancements in modern society and offers a lot of things to explore to support TEFL including materials to browse which vary from printed, audio, and visual materials.YouTube is one of the most popular sites on the Internet which offers many authentic materials in the form of videos which can be used in English classes. This research aimed to investigate how YouTube videos can be used in an English classroom by answering the research questions:What kinds of YouTube videos are used for teaching and learning process?What are the reasons of choosing the videos that were used?What kinds of teaching and learning activities were conducted using the videos? What facilities are used?How do the students respond to the use of videos? This research used a descriptive qualitative design. The researcher used a natural setting: one class with one teacher in grade IX at SMPN 12 Jember as the source of the data and the researcher herself is the key instrument. The data collected is in the form of field notes, pictures, video recording, students’ questionnaires, and interview scripts. The result of the study described the use of authentic video taken from YouTube in the teaching of English to the ninth graders of SMPNegeri 12 Jember. Overall, the results of this research shows thatvideos provided on YouTube are of different categories that can be used as materials for teaching English as long as they are suitable to the topic being taught. It was also found that the authentic videos used were chosen based on some important considerations, such as visualizations or imagery, the language use, the relevance of the videos to the topic and content, and the popularity of the content for most of the students. The videos were used for two major purposes that is to motivate the students at the beginning of the lesson to introduce the topic, also for the main part of the lesson to facilitate the students to learn the topic. In utilizing the videos, the teacher in this study, Mrs

Pengaruh pemberian fungisida benlate serta campuran herbisida gesapax 80 wp dan DMA-6 terhadap pertumbuhan jamur trichoderma harzianum, trichoderma viride, dan sclerotium rolfsii / Nurul Istiqomah

 

Kata kunci: Trichoderma harzianum, Trichoderma viride, dan Sclerotium rolfsii. Produksi gula sampai saat ini masih belum mencukupi kebutuhan gula nasional. Kurangnya bahan baku menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan produksi gula nasional. Oleh karena itu, pengembangan tanaman bit gula (Beta vulgaris L.) sebagai tanaman penghasil gula selain tebu perlu dikaji lebih lanjut. Penyakit busuk akar yang diakibatkan oleh jamur S. rolfsii termasuk penyakit yang dominan menyerang tanaman bit gula di lapangan. Pengendalian hayati merupakan salah satu cara pengendalian alami yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit busuk akar. Potensi jamur antagonis dalam pengendalian hayati perlu dikaji untuk mengetahui ketahanan hidupnya pada kondisi yang tidak sesuai dengan syarat tumbuhnya, terutama pengaruh residu pestisida yang telah mencemari tanah perkebunan yang ada pada saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari tentang pertumbuhan koloni jamur T. harzianum, T. viride, S. rolfsii, serta hasil daya antagonisme jamur T. harzianum dan T. viride terhadap pertumbuhan jamur patogen S. rolfsii pada media PDA, PDA yang ditambah fungisida (Benlate), PDA yang ditambah campuran herbisida (Gesapax 80 WP dan DMA-6), dan PDA yang ditambah fungisida (Benlate) dan campuran herbisida (Gesapax 80 WP dan DMA-6). Penelitian eksperimental ini menggunakan RAK, dengan 4 ulangan untuk setiap perlakuan. Pengamatan hasil perlakuan dilakukan selama 14 hari. Variabel bebas dalam penelitian ini ialah macam media (media PDA, PDA yang ditambahkan Benlate, PDA yang ditambahakan Gesapax 80 WP dan DMA-6, serta media yang ditambahkan Benlate dan Gesapax 80 WP serta DMA-6). Varibel terikat yang digunakan dalam penelitian ini ialah pengukuran diameter koloni jamur dan pengukuran daya antagonisme yang menggunakan rumus persentase penghambatan Yeh dan Sinclair. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kelti Proteksi P3GI Pasuruan dan Laboratorium Mikrobilogi Jurusan Biologi, FMIPA UM. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Maret–Mei 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari keempat macam komposisi media terhadap pertumbuhan koloni jamur T. harzianum, T. viride dan S. rolfsii. Komposisi media yang paling mempengaruhi pertumbuhan koloni ketiga jamur tersebut adalah media PDA yang ditambah campuran herbisida. Analisis daya antagonisme hanya dapat dilakukan pada media PDA karena pada media yang lain jamur S. rolfsii tidak dapat tumbuh. Penelitian lanjutan mengenai pengaruh pemberian fungisida dan herbisida yang digunakan dalam penelitian ini perlu dilakukan pada berbagai macam jamur antagonis dan jamur parasit lainnya

Identifikasi pemilihan gaya busana pada mahasiswa prodi SI Tata Busana jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Lilis Suryani

 

Kata Kunci: Pemilihan, gaya busana. Gaya berbusana merupakan ekspresi kehidupan masyarakat sehari-hari, ada 4 macam gaya busana yang dapat dipilih atau dianut oleh masyarakat, yaitu Classic, New Classic,Trend dan New Waves. Gaya busana Mahasiswa Tata Busana merupakan fenomena yang menarik perhatian peneliti untuk melakukan kajian tentang Pemilihan Gaya Busana Pada Mahasiswa Prodi S1 Tata Busana Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Indikator pemilihan gaya busana yang akan diteliti dalam penelitian ini meliputi mode, warna, jenis busana dan accessories dan millinaries. Hasil penelitian yang tertingi pada indikator mode sebanyak 35,6% lebih cenderung memilih mode aliran trend untuk pemilihan gaya busananya, pada indikator warna sebanyak 38,4% lebih cenderung memilih warna aliran clasic untuk pemilihan gaya busananya, pada indikator jenis busana sebanyak 28,8% lebih cenderung memilih jenis busana aliran new clasic untuk pemilihan gaya busananya dan pada indikator accessories dan millinaries sebanyak 45,6% lebih cenderung memilih accessories dan millinaries aliran trend untuk pemilihan gaya busananya. Sedangkan untuk yang terendah pada indikator mode sebanyak 17% memilih mode aliran clasic untuk pemilihan gaya busananya, pada indikator warna sebanyak 8,1% memilih warna aliran new waves untuk pemilihan gaya busananya, pada indikator jenis busana sebanyak 17% memilih jenis busana aliran clasic untuk pemilihan gaya busananya dan pada indikator accessories dan millinaries sebanyak 9,3% memilih accessories dan millinaries aliran clasic untuk pemilihan gaya busananya. Kesimpulan yang diperoleh dari pemilihan gaya busana adalah mahasiswa cenderung memilih mode dari aliran trend untuk gaya busananya, pada warna mahasiswa cenderung memilih warna dari aliran classic untuk gaya busananya, pada jenis busana mahasiswa cenderung memilih jenis busana dari aliran new classic untuk gaya busananya dan pada accessories dan millinaries mahasiswa cenderung memilih accessories dan millinariesdari aliran trend untuk gaya busananya.

Peningkatan kreativitas desain keramik teknik pilin melalui majalah seni pada siswa kelas VIII-A SMP Negeri 2 Ngoro Mojokerto / Chory Febrina

 

Kata Kunci: Kreativitas, Teknik Pilin, Media Majalah Seni Pendidikan seni merupakan wahana bermuatan edukatif dan membangun kreatifitas siswa. Kreativitas siswa dapat dibangun atau dipancing melalui pengalaman langsung, ransangan, benda seni, dan Majalah Seni, serta pengalaman prbadi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 2 Ngoro Mojokerto, kreativitas siswa dalam menciptakan desain seni keramik dengan teknik pilin. Teknik pilin merupakan teknik membentuk tanah liat menjadi benda keramik bagi pemula, yang memiliki tekstur ornamen yang unik di antara teknik pembuatan keramik yang lain. Karena penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran seni budaya dirasa belum optimal, maka mengatasi permasalahan ini, dipilih media Majalah Seni sebagai media penunjang dalam proses pembelajaran seni keramik dengan teknik pilin. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: Bagaimana teknik dan prosedur penerapan pembelajaran karya keramik teknik pilin menggunakan Majalah Seni yang dapat meningkatkan kreativitas desain siswa kelas VIII-A di SMP Negeri 2 Ngoro Mojokerto? Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Observasi, Catatan Lapangan dan Dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media pembelajaran berupa Majalah Seni dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menciptakan desain seni kriya keramik dengan teknik pilin pada siklus I sebesar 79,41% dan pada siklus II dengan ketuntasan belajar sebesar 94,11% siklus I ke siklus II meningat 14,7% .dimana sebelum dilakukan PTK ketuntasan siswa hanya sebesar 40%.

Perancangan film animasi 2D tentang penyerbukan pada bunga / Ninis Wahyu Puspita

 

Kata Kunci: Animasi, penyerbukan, anak Sekolah Dasar Saat ini animasi telah menjadi kebutuhan hiburan bagi anak-anak. Ada banyak film animasi yang telah menarik perhatian lebih dari anak-anak daripada buku pelajaran atau bahkan buku bacaan bergambar yang sebelumnya disukai anak. Kenyataan ini melahirkan ide untuk menyisipkan materi pengetahuan dalam film animasi yang menjadi konsumsi anak. Ide tentang sebuah film pengetahuan yang membahas tentang penyerbukan secara umum pada bunga. Perancangan animasi ini bertujuan sebagai media alternatif untuk anak sekolah dasar mempelajari tentang penyerbukan secara umum pada bunga. Dengan hal ini pula diharap para guru dan orang tua dapat berfikir kembali mengenai ketepatan media, metode, maupun proses belajar anak yang lebih efisien. Metode pengumpulan data dilakukan melalui pengambilan materi pengetahuan dari buku pengetahuan umum tentang penyerbukan yang biasanya digunakan dalam proses belajar mengajar dan dari beberapa website yang membahas tentang penyerbukan. Pengerjaan film sendiri dimulai dari ide dan perancangan konsep cerita,diteruskan dengan desain karakter dalam film, pembuatan naskah, pembuatan storyboard, animating, dubbing, editing, dan yang terakhir adalah proses rendering. Perancangan film animasi ini menghasilkan sebuah film animasi 2D yang bersifat hiburan namun mengandung unsur pengetahuan tentang penyerbukan secara umum pada bunga, serta beberapa merchandise seperti mug gelas, stiker dan penggaris, kaos, jadwal pelajaran, dan pembatas buku yang menggunakan desain karakter dalam film. Kesimpulannya film ini diharapkan dapat menjadi alternatif media belajar bagi anak dan pemerintah dapat ikut serta dan berperan aktif untuk bekerjasama mewujudkan media belajar yang lebih efektif untuk meningkatkan minat anak dalam belajar.

Persepsi orang tua pekerja anak tentang pendidikan (studi fenomenologi di Kelurahan Panggung, Kecamatan Bugulkidul Kota Pasuruan) / Agus Rahmat Iswanto

 

Kata Kunci: Persepsi, Pendidikan, Pekerja Anak Pendidikan adalah suatu kebutuhan utama yang harus dimiliki oleh setiap manusia, karena pendidikan adalah sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Sekalipun pengaruh kemiskinan sangat besar terhadap anak-anak yang tida bersekolah, kemiskinan bukanlah satu-satunya faktor yang berpengaruh. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah pola pikir yang pendek dan sederhana akibat rendahnya pendidikan. Dalam budaya indonesia, kepala rumah tangga terutama seorang ayah, mempunyai peranan besar dalam rumah tangga termasuk dalam pengambil keputusan boleh atau tidaknya seorang anak untuk mendapatkan pendidikan. Untuk memperoleh keputusan tersebut tentunya akan sangat tergantung kepada bagaimana persepsi atau pandangan orang tua terhadap pendidikan. Di Kelurahan Panggung umumnya anak ikut membantu orang tua bekerja, pada awalnya mereka tetap bersekolah, namun pada akhirnya banyak diantara ank-anak yang putus sekolah. Maka dari ketertarikan ini maka peneliti mencoba menegetahui bagaimana sebenarnya persepsi orang tua pekerja anak tentang pendidikan, yang pada akhirnya bisa menggambarkan seperti apa pengetahuan mereka tentang pendidikan, tujuan pendidikan buat mereka, serta harapan-harapan mereka kelak tentang pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif studi kasus. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, pengamatan atau observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Persepsi orang tua pekerja anak tentang pendidikan menunjukkan bahwa, pendidikan penting untuk masa depan anak-anak nantinya. Pendidikan yang diberikan bukan hanya pendidikan yang bersifat formal, akan tetapi pendidikan informal juga perlu ditanamkan kepada anak-anak seperti bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, disiplin, dan pantang menyerah. Tujuan pendidikan bagi mereka adalah menciptakan manusia yang cerdas, pintar dan berkepribadian baik dengan harapan dimasa yang akan datang anak dapat merubah status keluarganya menjadi keluarga yang kehidupan ekonominya lebih baik dari sebelumnya.

Peran guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKN di SMP Negeri kota Malang / A-A' Pakar Jagat Alam Akbar

 

Kata Kunci: Peran Guru, Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Guru yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan merupakan salah satu komponen penting dalam upaya meningkatkaan mutu pendidikan nasional. Peran guru tidak hanya sebagai pengajar, namun guru juga pendidik, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pengevaluasi peserta didik. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen salah satu peran guru adalah merencanakan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran merupakan persiapan yang penting dan dilakukan secara operasional oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru diwujudkan dalam bentuk perangkat pembelajaran yang ada di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) keberadaan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang; (2) proses pengembangan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang; (3) guru mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang; (4) hambatan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang; (5) upaya mengatasi hambatan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian di SMP Negeri 5 Malang, SMP Negeri 4 Malang, SMP Negeri Terbuka 4 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru PKn SMP Negeri Kota Malang, peristiwa dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen kunci yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah peneliti sendiri. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan cara reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan conclution drawing/varification. Temuan penelitian sebagai berikut: (1) Keberadaan perangkat pembelajaran benar adanya, dan dalam proses pembelajaran dipergunakan. Perangkat pembelajaran merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboraturium, atau lapangan untuk setiap kompetensi dasar. Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar mengajar berupa: buku siswa, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Instrumen Evaluasi atau Tes Hasil Belajar (THB), serta media pembelajaran; (2) Proses pengembangan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang adalah pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran; (3) Peran guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran adalah sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator, dinamisator, evaluator dan facilitator. (4) Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota Malang sebagai berikut: pertama, kemajuan tekhnologi; kedua, pemikiran yang guru miliki kadang-kadang melenceng dari tujuan semula, menyamakan persepsi, masalah waktu; ketiga, kebutuhan akan materi yang terus berkembang, materi yang tersedia sudah lama dan minim; keempat, ketika guru menyusun peta kebutuhan waktu dan tenaga terkuras; kelima, perlu pemikiran lebih mendalam; keenam, cara mengoperasikan media. (5) Upaya mengantisipasi hambatan yang ditemukan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran PKn di SMP Negeri Kota adalah sebagai berikut: pertama, belajar autodidak, mengikuti workshop, mencari di internet, memperhatikan kebutuhan siswa. Kedua, memperhatikan dasar pengembangan silabus, guru mengambil suara terbanyak, ikut MGMP, diskusi dengan teman-teman guru, dan melihat silabus yang telah dikembangkan terdahulu untuk dijadikan contoh. Ketiga, melalui internet, koran segala macam media yang mengupas berita terkini, tukar pemikiran antar guru, inten mengikuti mgmp karena biasanya di MGMP itu guru mendiskusikan hal-hal baru yang berkaitan dengan mata pelajaran. Keempat, mengobservasi, peta konsepnya cukup guru angan-angan saja, biaya sendiri, tenaga sendiri, semuanya dilakukan sendiri, selain itu guru harus pintar-pintar menyaring segala bahan semacam LKS. Kelima, melihat lagi materi yang sudah pernah disampaikan kepada siswa, guru mengadakan tes hanya pada waktu-waktu tertentu, mengikut percetakan yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, guru harus menganalisis tes tersebut. Keenam, mengikuti workshop yang diadakan intern sekolah, belajar autodidak, sering ikut workshop serta aktif dalam MGMP, perbaikan sistem sekolah sehingga masalah waktu bukanlah halangan lagi bagi guru sebagai tenaga pendidik, dan menyesuaikan baik kondisi siswa maupun waktu yang sangat terbatas. Berdasarkan temuan di atas, saran yang diajukan sebagai berikut; (1) Perlu meningkatkan pengetahuan guru pengajar dalam tekhnologi, sehingga guru dapat mengikuti perkembangan zaman untuk dapat meningkatkan kinerja serta motivasi yang dimiliki dirinya. (2) Guru harus lebih pintar mengelola waktu sehingga waktu, agar kendala waktu yang menjadi kendala bisa di atasi dan tidak menjadi beban. (3) Guru harus mencari fasilitas lain untuk dapat mencari jalan keluar agar masalah dalam mengembangkan perangkat pembelajaran tentang keterbatasan sekolah dalam membiayai kebutuhan siswa dapat terselesaikan.

Makna tata busana tari gandrung Banyuwangi / Dewi Atma Negara

 

Kata kunci: Tari Gandrung, Makna, Tata Busana Tari Gandrung merupakan kesenian asli masyarakat Osing Banyuwangi. Kata Gandrung yang berarti tergila-gila atau terpesona. Maksudnya adalah terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri yaitu Dewi padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Ungkapan rasa syukur masyarakat setiap habis panen mewujudkan suatu bentuk kegembiraan sebagaimana penampilan Gandrung. Yang menarik dalam Gandrung, selain ragam gerak adalah tata busana tarinya, karena tata busana dalam Gandrung memiliki ciri dan makna yang bisa dicermati dari bentuk ragam hias dan makna warna dasar busana. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui Makna dari struktur bentuk ragam hias yang ada dalam busana tari Gandrung Banyuwangi mengekspresikan keadaan batin masyarakat Banyuwangi pada masa penjajahan, (2) Untuk mengetahui Makna dari warna ragam hias yang ada dalam busana tari Gandrung Banyuwangi, (3) Untuk mengetahui Makna dari warna dasar dalam busana tari Gandrung Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Seluruh data dideskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Nara sumber dalam penelitian ini seniman tradisi Banyuwangi. Analisis data dilakukan secara bersamaan pada saat penelitian dengan tahap-tahap penelitian sebagai berikut (1) Tahap Pengumpulan Data, (2) Tahap Reduksi, (3) Tahap Penyajian Data, (4) Penarik Simpulan dan Saran. Peneliti mengambil lokasi penelitian di jalan Banterang Melayu, Kampung Melayu Kabupaten Banyuwangi dan di Desa Tapan Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan memperpanjang waktu penelitian, ketekunan/keajegan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Makna dari struktur bentuk ragam hias yang ada dalam busana tari Gandrung Banyuwangi mengekspresikan keadaan batin masyarakat Banyuwangi pada masa penjajahan, (2) Makna dari warna ragam hias yang ada dalam busana tari Gandrung Banyuwangi memiliki ornamen atau ragam hias yang mempunyai makna dalam busana Gandrung tersebut, (3) Makna warna dasar dalam busana tari Gandrung Banyuwangi mempunyai warna pakem yang memiliki makna atau suatu identitas masyarakat Banyuwangi itu sendiri. Dengan adanya judul ini, bahwa Makna Tata Busana Tari Gandrung Banyuwangi, sekiranya masyarakat Banyuwangi melestarikan dan mengetahui keberadaan makna tata busana gandrung diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai pembelajaran bagi dunia pendidikan khususnya masyarakat Banyuwangi.

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan model group investigation untuk meningkatkan aktivits dan hasil belajar seni tari materi ekspresi pada siswa kelas VII-D SMP 2 Tumpang Kab. Malang / Elis Yuliani

 

Kata Kunci : pembelajaran kooperatif model Group Investigation, aktivitas siswa, dan hasil belajar Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas VII-D SMPN 2 Tumpang Kab. Malang cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata kelas VII-D untuk mata pelajaran Seni Budaya sebesar 73,4 di bawah Standart Ketuntasan Minimal (SKM) yaitu 75. Hasil belajar yang rendah ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain model pembelajaran yang masih didominasi oleh guru, metode pembelajaran kurang bervariasi, dan kelas yang sering kosong. Akibatnya siswa menjadi pasif dan minat siswa cenderung bosan dalam mengikuti proses pembelajaran. Pada saat proses belajar mengajar siswa sering tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka mengobrol dengan teman. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada penelitian melalui penerapan model pembelajaran Group Investigation. Model Group Investigation (GI) merupakan perencanaan pengaturan kelas yang umum di mana para siswa bekerja dalam kelompok untuk menginformasikan hasil investigasi masalah kepada kelompok lain. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar seni tari materi ekspresi dengan model pembelajaran Group Investigation. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu observasi, perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Pengumpulan data menggunakan observasi tidak langsung, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Pengumpulan data menggunakan tes praktek, dokumen daftar nilai dan lembar observasi. Penelitian tindakan kelas ini, peneliti terlibat langsung pada proses penelitian dari awal hingga berakhirnya penelitian dan pelaporan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari presentase ketercapaian aktivitas belajar siswa pada siklus I rata-rata 40,8% dan meningkat menjadi 67,8% pada siklus II yang mengalami peningkatan sebesar 27%. Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari presentase nilai rata-rata tes akhir setiap siklus yaitu dari siklus I ke siklus II masing-masing nilai rata-ratanya 73,43 dan 77,86. Selisih rata-rata kelas siklus I ke siklus II sebesar 4, 43. Berdasarkan data yang diolah menggunakan rumus persentase peningkatan, diketahui peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 6, 03%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi ekspresi seni tari. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru menggunakan berbagai macam variasi model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penerapan pembelajaran kooperatif dengan model Group Investigation dapat dijadikan alternatif pertimbangan dalam penggunaan variasi model pembelajaran.

Smart wastafel menggunakan kendali mikrokontroler AT89S51 / Lukman Heru Andriawan

 

Kata Kunci: Mikrokontroler, Sensor, Wastafel. Wastafel merupakan salah satu perlengkapan kamar mandi rumah yang berfungsi untuk mencuci tangan atau hanya sekedar membersihkan muka. Umumnya wastafel dirancang dengan menggunakan kran air yang digerakkan secara manual oleh penggunanya. Penggunaan kran seperti itu mudah rusak karena sering diputar-putar dan dapat menyebabkan pemborosan air karena pengguna lupa menutup kran. Selain terdapat kran air, pada wastafel juga terdapat sabun cuci dan tisu. Sabun digunakan untuk membersihkan tangan agar tidak ada kotoran atau kuman yang tersisa pada tangan. Sedangkan tisu digunakan untuk mengeringkan tangan setelah mencuci tangan. Penggunaan tisu sebagai pengering tangan dinilai kurang efisien. Seringkali pengguna menggunakan berlembar-lembar tisu hanya untuk mengeringkan tangan. Oleh karena itu diperlukan sebuah alat untuk mengeringkan tangan setelah mencuci tangan. Wastafel dirancang untuk mengalirkan air dan sabun secara otomatis tanpa harus memutar atau menekan kran. Sistem ini juga dilengkapi dengan dryer untuk mengeringkan tangan setelah mencuci tangan. Selain itu, wastafel ini juga dapat mendeteksi banyaknya pengguna yang mengantre. Jika pengguna yang mengantre lebih dari dua orang, maka aliran air yang keluar dari kran akan lebih deras dan dryer akan lebih cepat panas. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah :(1) Merancang sebuah smart wastafel menggunakan kendali mikrokontroller AT89S51.(2) Membuat smart wastafel menggunakan kendali mikrokontroller AT89S51. (3) Menguji unjuk kerja smart wastafel menggunakan kendali mikrokontroller AT89S51. Metode perancangan meliputi: (1) perancangan dan pembuatan mekanik meliputi perancangan wastafel, perancangan penyangga wastafel, dan perancangan tempat antrean. (2) perancangan dan pembuatan perangkat keras (hardware). Hasil dari analisis tersebut adalah sistem bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat sensor kran mendeteksi, maka pompa akan bekerja. Pada saat sensor sabun mendeteksi, maka motor penggerak kran sabun akan bekerja. Pada saat sensor dryer mendeteksi, maka dryer akan bekerja. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) Wastafel dirancang dengan menggunakan kran air, kran sabun, dan dryer yang bekerja secara otomatis. Selain itu wastafel juga dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi antrean. (2) Sensor yang digunakan digunakan ada dua jenis, yaitu sensor IR dan sensor laser. Sensor IR digunakan untuk mendeteksi adanya pengguna yang menggunakan wastafel, dan sensor laser digunakan untuk mendeteksi antrean. (3) Hasil perancangan keseluruhan, wastafel dapat bekerja sesuai yang diharapkan karena dapat menyesuaikan dengan banyaknya antrean yang dideteksi. Untuk pengembangan lebih lanjut disarankan (1) Agar dapat menambahkan indikator untuk mengetahui sabun cair yang masih tersisa. (2) Agar debit air yang mengalir lebih deras, disarankan menggunakan pompa air yang lebih besar.

Analisis kesesuain buku kegiatan siswa (BKS) forum mata pelajaran bahasa Jawa kelas V SD dengan SK dan KD ditinjau dari komponen tujuan Pembelajaran, materi pembelajaran dan latihan soal / Ratih Dwi Rusdianawati

 

Kata kunci: Tujuan pembelajaran, Materi pembelajaran, Latihan soal. LKS atau BKS (Buku Kegiatan Siswa) adalah sebagai sumber belajar dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran dan lebih mudah atau lebih cepat memahami materi yang dijelaskan dalam pengajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian tentang analisis LKS masih sedikit, khususnya pada pelajaran bahasa jawa dan belum ada penelitian yang membahas mengenai analisis LKS dari segi kelayakan yang di tinjau dari tujuan pembelajaran, isi atau materi dan latihan soal. Buku teks pelajaran atau LKS yang sudah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran oleh Permendiknas, bukan berarti lebih berkualitas dan memenuhi syarat kelayakan. Hal ini masih banyak adanya kesalahan konsep pada penyajian materi yang telah dinyatakan memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran oleh Permendiknas misalnya pada lembar kerja siswa Forum, pada LKS tersebut disajikan bagan proses inspirasi dan ekspirasi pada manusia dengan arah tanda panah yang salah, bukan berarti kualitas buku tersebut jelek dan tidak boleh dipakai, dengan demikian perlu untuk menganalisis kesesuaian antara buku teks pelajaran bahasa Jawa jenjang Sekolah Dasar dengan standar isi ditinjau dari komponen isi.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kesesuaian antara SK dan KD dengan Buku Kegiatan Siswa (BKS) ditinjau dari tujuan pembelajaran, kesesuaian materi pembelajaran, latihan soal Buku Kegiatan Siswa (BKS) Forum. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripsi kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah LKS atau BKS (Buku Kegiatan Siswa) forum mata pelajaran Bahasa Daerah kelas V SD. Adapun identitas buku tersebut secara lengkap adalah Forum peningkatan profesi guru. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik dokumenter, karena seluruh data yang terkumpul berupa dokumen yang bersumber dari Lembar Kerja Siswa forum mata pelajaran Bahasa Daerah kelas V SD. Instrumen utama yaitu peneliti adalah alat atau instrumen kunci dalam penelitian, secara langsung peneliti terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyeleksian, serta pada penganalisisan data penelitian. Untuk menjaga keabsahan data Pertama, peneliti membaca dan menelaah sumber data secara berulang-ulang sehingga menjadi wujud dari perpanjangan pengamatan. Kedua, peneliti membaca intensif dan mengamati secara teliti dan mendalam seluruh LKS atau BKS kemudian menyamakan dengan SK dan KD yang terdapat pada korpus data. Ketiga, peneliti menggunakan teknik diskusi dengan teman sejahwat dengan cara meminta pendapat teman-teman tentang temuan peneliti untuk memeriksa keabsahan data ini sebagai wujud pengecekan teman sejahwat. Teknik analis dalam penelitian ini adalah (1) Penyeleksian data yang layak dipakai sesuai dengan masalah penelitian, (2) Pengklasifikasian data pada tujuan pembelajaran, aspek materi dan lembar soal, (3)Pemberian kode-kode terhadap data yang telah ditemukan agar mempermudah dalam penganalisisan, (4) Penganalisisan serta pencocokan data dengan kurikulum. Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah menganalisis SK dan KD yang ada dalam Lembar Kerja Siswa dan mencocokan dengan SK dan KD yang ada dalam kurikulum KTSP, dan (5) Menyimpulkan data. Pada tabel instrument analisis data (dalam lampiran). Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kesesuaian standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dengan buku kegiatan siswa (BKS) ditinjau dari tujuan pembelajaran. Hasil penelitian kesesuaian tujuan pembelajaran pada standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ada dalam kurikulum Bahasa Jawa dengan tujuan pembelajaran dalam buku kegiatan siswa (BKS) Forum tidak sesuai. Kedua, kesesuaian standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dengan buku kegiatan siswa (BKS) ditinjau dari materi pembelajaran. Hasil penelitian kesesuaian materi pembelajaran pada standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ada dalam kurikulum bahasa Jawa dengan materi pembelajaran dalam buku kegiatan siswa (BKS) Forum tidak sesuai. Ketiga, kesesuaian standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dengan buku kegiatan siswa (BKS) ditinjau dari latihan soal. Hasil penelitian kesesuaian pada standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ada dalam kurikulum Bahasa Jawa ditijau dari latihan soal dalam buku kegiatan siswa (BKS) Forum sebagian sesuai

Studi pemahaman, persepsi, dan sikap siswa kelas XI ipa sma Negeri 6 Malang terhadap fenomena pemanasan global ( global warning ) / Daniatul Lutfiah

 

Kata kunci: pemahaman, persepsi, sikap, pemanasan global (global warming) Ilmu kimia memegang peranan penting dalam mempelajari lingkungan hidup, karena dalam lingkungan hidup selalu ada bahan-bahan dan peristiwa-peristiwa kimia. Selain berguna untuk meningkatkan terpenuhinya kebutuhan hidup manusia dan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, kehadiran bahan-bahan kimia dalam lingkungan juga dapat menimbulkan masalah, salah satunya adalah masalah pemanasan global. Berbagai media seperti internet, televisi, surat kabar, dan radio marak membicarakan hal ini, akan tetapi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) masalah pemanasan global tidak dibahas secara rinci. Bahkan dalam beberapa buku pelajaran kimia, materi pemanasan global tidak dibahas sama sekali. Dengan minimnya pembahasan materi pemanasan global dalam buku pelajaran kimia SMA, kemungkinan akan berdampak terhadap kurangnya pemahaman, persepsi, dan sikap siswa terhadap pemanasan global yang selanjutnya akan mengakibatkan kurangnya kepedulian siswa terhadap masalah pemanasan global. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pemahaman siswa terhadap gas rumah kaca, efek rumah kaca, penyebab pemanasan global, dampak pemanasan global, dan penanggulangan pemanasan global, (2) persepsi siswa terhadap penyebab pemanasan global dan penanggulangannya, (3) sikap siswa terhadap penyebab pemanasan global dan penanggulangannya, (4) hubungan antara pemahaman dengan persepsi siswa mengenai pemanasan global, dan (5) hubungan antara persepsi dengan sikap siswa mengenai pemanasan global. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-korelasional. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 6 Malang tahun ajaran 2010/2011 yang terdiri dari tiga kelas yang homogen. Sampel penelitian adalah 38 siswa kelas XI IPA-3 yang diambil secara “purposive random sampling”. Instrumen penelitian berupa tes tertulis yang berjumlah 24 butir soal dengan materi meliputi gas rumah kaca, efek rumah kaca, penyebab, dampak, serta penanggulangan pemanasan global. Selain itu instrumen penelitian berupa angket persepsi dan sikap siswa mengenai penyebab dan penanggulangan pemanasan global sebanyak 23 butir angket. Berdasarkan hasil uji coba, diperoleh validitas isi instrumen tes sebesar 96,0% dan validitas isi angket sebesar 91,0%. Reliabilitas instrumen tes dan angket, dihitung menggunakan rumus KR-20, berturut-turut sebesar 0,63 dan 0,62. Data dikumpulkan dengan teknik tes dan angket, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui persentase jawaban benar siswa mengenai tes pemanasan global serta persentase siswa yang mempunyai persepsi dan sikap positif terhadap pemanasan global. Koefisien korelasi (r) dihitung menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson. Berdasarkan perhitungan taraf korelasi hubungan antara pemahaman dengan persepsi siswa kelas atas dan bawah mengenai pemanasan global berturut-turut sebesar 0,97 dan 0,55 serta taraf korelasi hubungan antara persepsi dan sikap siswa kelas atas dan bawah mengenai pemanasan global berturut-turut sebesar 0,96 dan 0,77. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman siswa terhadap gas rumah kaca, penyebab, serta dampak pemanasan global termasuk dalam kategori sangat tinggi, dan pemahaman siswa terhadap efek rumah kaca serta penanggulangan pemanasan global termasuk dalam kategori tinggi, (2) persepsi siswa terhadap penyebab pemanasan global termasuk positif dengan kategori tinggi dan persepsi siswa terhadap penanggulangan pemanasan global termasuk positif dengan kategori sangat tinggi, (3) sikap siswa terhadap penyebab pemanasan global termasuk positif dengan kategori tinggi dan sikap siswa terhadap penanggulangan pemanasan global termasuk positif dengan kategori sangat tinggi, (4) untuk siswa kelompok atas, terdapat hubungan linear positif yang sangat kuat sekali antara pemahaman dengan persepsi mengenai fenomena pemanasan global (r = 0,97) sedangkan untuk siswa kelompok bawah, terdapat hubungan linear positif yang kuat antara pemahaman dengan persepsi mengenai fenomena pemanasan global (r = 0,55), dan (5) untuk siswa kelompok atas, terdapat hubungan linear positif yang sangat kuat sekali antara persepsi dengan sikap mengenai fenomena pemanasan global (r = 0,96) sedangkan untuk siswa kelompok bawah, terdapat hubungan linear positif yang sangat kuat antara persepsi dengan sikap mengenai fenomena pemanasan global (r = 0,77).

Pengembangan sumber belajar dengan materi mengoperasikan sofware penyunting suara adobe audition 1.5 untuk SMK Negeri 10 Malang / Nanang Triwahyudi

 

Kata kunci: sumber belajar, Penyunting Suara Teknologi Internet dapat menjadi terobosan yang efektif untuk mengatasi masalah hubungan antara guru dan peserta didik dalam mengolah informasi bahan pelajaran. Penggunaan fasilitas Internet dalam dunia pendidikan sangat besar manfaatnya, khususnya bagi kaum intelektual dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara mudah . Keberadaan sumber belajar yang terkoneksi dengan internet dapat menjadi solusi terbaik bagi guru yang mempunyai jam mengajar yang padat dan lama. Media ini juga dapat mengurangi kebosanan siswa di dalam kelas. Dengan bantuan internet, kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan tanpa batasan waktu dan tempat. Siswa maupun guru dapat mengakses media tersebut kapanpun dan dimanapun mereka berada. Pendidikan ini sebagai alternatif pemerataan kesempatan belajar yang memungkinkan peserta didik dapat mengakses sendiri materi atau bahan yang dibelajarkan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sumber belajar penyunting suara berbasis website menggunakan software Moodle yang memiliki berbagai fitur yang menarik, efisien, interaktif, mudah dipahami oleh peserta didik. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan media yang diadaptasi dari model pengembangan Dick and Carey. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan siswa. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas XI Multimedia SMK Negeri 10 Malang tahun pelajaran 2010-2011. Hasil validasi sumber belajar dari ahli media mendapat persentase 84%, dari ahli materi mendapat persentase 93%, dan dari responden 90%. Berdasarkan hasil validasi tersebut, sumber belajar berbasis website pada materi penyunting suara dapat disimpulkan valid/layak dan efektif digunakan sebagai sumber belajar untuk pembelajaran di SMKN 10 Malang. Pengembangan sumber belajar lebih lanjut dapat ditambahkan materi lain dan dapat dikemas secara offline.

Pengaruh penggunaan media komik buta terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas X SMA Negeri 4 Sidoarjo / Galuh Fifiyanti

 

Kata kunci: pembelajaran menulis, cerita pendek, media komik buta. Menulis cerita pendek merupakan kegiatan ekspresi sastra yang perlu diajarkan kepada siswa. Selain bermanfaat sebagai kegiatan untuk melatih siswa dalam menuangkan gagasan dan mengembangkan imajinasi, menulis cerita pendek juga dapat mengembangkan kreativitas siswa ke dalam sebuah tulisan. Dalam pembelajaran menulis cerita pendek, siswa cenderung kesulitan untuk menentukan tema dan mengembangkan isi cerita. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah media yang mampu mengoptimalkan kemampuan bercerita siswa. Salah satu media yang dapat digunakan adalah Komik Buta. Media komik buta dapat merangsang kreatifitas siswa dalam menentukan tema dan mengembangkan isi cerita. Komik buta yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis komik indie buatan orang Indonesia. Isi cerita dalam komik tersebut dipilih yang bertemakan kehidupan remaja dan di-„buta‟-kan (kotak dialog dan penanda peristiwa kosong) agar siswa tertantang dan lebih kreatif mengembangkan isi cerita. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan media komik buta terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas X SMAN 4 Sidoarjo Tahun Ajaran 2011/2012, ditinjau dari judul, isi, alur, dan latar cerita. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan penggunaan pretes dan postes. Seluruh siswa kelas X SMAN 4 Sidoarjo berlaku sebagai populasi. Sementara sampel yang digunakan adalah kelas X-6 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X-3 sebagai kelas kontrol. Pengambilan kedua kelas sebagai sampel tersebut menggunakan teknik random sampling. Setelah dilakukan tes menulis cerita pendek, data sampel diolah menggunakan analisis statistik uji-t pada program komputer SPSS (Statistical Package for the Scientist)16.0 for Windows dengan taraf signifikansi 0,05. Uji-t bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara kelas eksperimen yang diberikan perlakuan berupa media komik buta dan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan dalam pembelajaran menulis cerita pendek. Hasil penelitian ini dijabarkan sebagai berikut. Pertama, kemampuan menulis cerita pendek siswa dari segi judul cerita memiliki thitung lebih besar daripada t tabel (3,919>2,001). Kedua, kemampuan menulis cerita pendek siswa dari segi isi cerita memiliki thitung lebih besar daripada t tabel (3,051>2,001). Ketiga, kemampuan menulis cerita pendek siswa dari segi alur cerita memiliki thitung lebih besar daripada t tabel (4,097>2,001). Keempat, kemampuan menulis cerita pendek siswa dari segi latar cerita memiliki thitung lebih besar daripada t tabel (4,352>2,001). iii Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik buta terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas X SMAN 4 Sidoarjo dari aspek judul cerita. Kedua, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik buta terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas X SMAN 4 Sidoarjo dari aspek isi cerita. Ketiga, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik buta terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas X SMAN 4 Sidoarjo dari aspek alur cerita. Keempat, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik buta terhadap kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas X SMAN 4 Sidoarjo dari aspek latar cerita.

Peningkatan kemampuan berbicara dengan menggunakan metode diskusi pada pelajaran bahasa Indonesia di kelas IV SDN Purwodadi 2 Kota Malang / Siska Rahayu Dianti

 

Kata kunci : Metode Diskusi, Berbicara, SD. Berbicara adalah salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif. Dalam konteks komunikasi pembicara berlaku sebagai pengirim pesan,sedangkan penerima adalah penerima warta. Hakikat berbicara merupakan pengetahuan yang sangat fungsional dalam memahami seluk beluk berbicara. Manusia hidup selalu berkelompok mulai dari kelompok kecil, misalnya keluarga, sampai kelompok yang besar seperti organisasi sosial. Dalam kelompok itu mereka berinteraksi satu dengan yang lainnya. Di mana ada kelompok baru manusia, di situ pasti ada bahasa. Kenyataan ini berlaku baik pada masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Dalam setiap masyarakat diperlukan komunikasi lisan dan tulisan. Dari penelitian yang diangkat ini peneliti berharap agar siswa dalam kemampuan berbicaranya lebih meningkat lagi dengan menggunakan metode Diskusi. Karena kemampuan siswa dalam berbicara kurang dan untuk berbicara siswa kurang percaya diri dalam dan sulit untuk mengutarakan apa yang dirasakan di depan teman- temannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Diskusi. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) melalui perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penilaian sebanyak 31 orang siswa di SDN Purwodadi 2 kecamatan Blimbing kota Malang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini metode diskusi diterapkan dalam matapelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SDN Purwodadi 2. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; . Pada pra tindakan rata-rata nilai siswa 60,32 %, Pada siklus I rata-rata nilai siswa 66,77 %, dan Pada siklus II rata-rata nilai siswa 79,35 %, Dengan kata lain pada siklus II ini sudah mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Dapat disimpulkan dari tindakan- tindakan yang menggunakan metode Diskusi dapat dilihat di atas pembelajaran mulai dari pra tindakan sampai siklus I dan siklus II selalu meningkat. Sehingga dikatakan peneliti menggunakan metode Diskusi ini dikatakan berhasil. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi dalam mengajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada kemampuan berbicara. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Pengaruh tingkat inflasi, tingkat suku bunga, dan jumlah uang beredar terhadap nilai tukar antara Indonesia dengan Jepang periode waktu 2006-2010 / Dedi Suselo

 

Kata kunci: purchasing power parity, nilai tukar, tingkat inflasi, tingkat suku bunga, jumlah uang beredar (M2) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi nilai tukar, tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar rupiah terhadap Yen Jepang tahun 2006−2010. Serta untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar terhadap nilai tukar rupiah tahun 2006−2010. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan adalah laporan nilai tukar, tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar periode 2006−2010. Data penelitian kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian memperlihatkan pada tahun 2006−2010 kondisi masing-masing variabel adalah (1) tingkat inflasi memiliki trend yang negatif, (2) tingkat suku bunga memiliki trend yang negatif, (3) jumlah uang beredar memiliki trend yang positif, (4) nilai tukar memiliki trend yang positif. Hasil pengujian dengan menggunakan analisis regresi linear berganda diperoleh hasil bahwa variabel tingkat inflasi dan tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar, sedangkan variabel jumlah uang beredar tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) upaya menstabilkan nilai tukar rupiah diharapkan pemerintah memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya nilai tukar untuk pembuatan kebijakan yang tepat sasaran, (2) upaya mengendalikan inflasi diharapkan pemerintah mampu melakukan kebijakan moneter dengan lebih berhati-hati khususnya dalam mengurangi penawaran uang dan menaikkan tingkat suku bunga, (3) dalam penetapan tingkat suku bunga diharapkan pemerintah melakukannya secara berkala dengan memperhatikan tingkat inflasi yang terjadi, (4) mengendalikan jumlah uang beredar diharapkan pemerintah lebih memperhatikan kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk memperkecil dampak buruk dari penurunan nilai tukar.

Penerapan problem based learning untuk meningkatkan ketrampilan pemecahan masalah dan efikasi diri / Shanti Nugroho Sulistyowati

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed, M.Si, (II) Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M Kata Kunci: Problem Based Learning, Keterampilan Pemecahan Masalah, Efikasi Diri Untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan efikasi diri siswa, perlu adanya proses pembelajaran yang diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan efikasi diri. Untuk tujuan ini penulis menerapkan problem based learning untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan efikasi diri. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menjelaskan pelaksanaan penerapan problem based learning (PBL); (2) menganalisis apakah penerapan problem based learning (PBL) dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah; (3) menganalisis apakah penerapan problem based learning (PBL) dapat meningkatkan efikasi diri. Penelitian ini dilaksanakan di SMK PGRI 3 Nganjuk, subjek penelitian sebanyak 38 siswa putri kelas XI program keahlian administrasi perkantoran pada stndar kompetensi menangani surat/dokumen kantor. Instrumen pengumpulan da-ta yang digunakan adalah tes, angket, skala keterampilan pemecahan masalah, skala efikasi diri, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar observasi. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) pelaksanaan pembelajaran ber-jalan dengan lancar dan siswa sangat menyukai pelaksanaan proses pembelajaran; (2) proses pembelajaran ini dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa; (3) proses pembelajaran ini dapat meningkatkan efikasi diri siswa. Ada beberapa saran yang peneliti sampaikan yaitu: (1) bagi siswa kelas XI program keahlian administrasi perkantoran SMK PGRI 3 Nganjuk diharapkan dapat selalu meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan efikasi diri; (2) bagi rekan kerja guru diharapkan dapat menerapkan problem based learning pada mata pelajaran lain dalam usaha menigkatkan keterampilan pemecahan masalah dan efikasi diri; (3) agar siswa terbiasa dalam kegiatan belajar kelompok, seha-rusnya guru selalu membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang heterogen; (4) guru hendaknya berperan aktif sebagai fasilitator dan mediator selama proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai

Pengaruh penerapan pola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dipadu think pair share (TPS) terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Peterongan / Retna Dwi Nofitasari

 

Kata kunci: PBMP, TPS, Kemampuan Metakognitif, Kemampuan Berpikir, Pemahaman Konsep. Belajar merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Proses belajar dimulai sejak manusia lahir dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang menyertainya. Proses belajar akan menjadi sangat penting bagi siapa saja dan dimana saja. Seiring dengan berkembangnya belajar manusia, maka kemampuan berpikir mereka juga akan bertambah. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir adalah kemampuan metakognitif. Strategi yang dipilih adalah dengan pola PBMP pada pelaksanaannya dapat digabungkan dengan metode kooperatif, salah satunya adalah TPS. Strategi TPS dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar dan dapat membuat siswa dapat berpikir lebih terarah (dengan PBMP) serta dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar karena siswa dituntut melaporkan hasil berpikirnya pada teman-temannya. Pada strategi ini siswa dituntut untuk dapat bekerja secara bersama-sama dengan teman sebayanya. Kegiatan ini dapat meningkatkan kegiatan sosial siswa. Selain metode pembelajaran yang dipilih, hasil belajar siswa juga dipengaruhi oleh kondisi awal siswa, sehingga perlu juga dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Peterongan. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII A sebagai kelas kontrol (pengajaran dengan strategi konvensional) dan kelas VIII B sebagai kelas eksperimen (pengajaran dengan pola PBMP dipadu TPS). Analisis yang digunakan adalah anakova untuk mengetahui pengaruh penerapan pola PBMP dipadu TPS terhadap kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan dengan pemberian pola PBMP dipadu TPS pada keterampilan metakognitif siswa, sedangkan tidak adanya pengaruh signifikan pada kesadaran yang menggunakan inventori. Penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh pemberian pola PBMP dipadu TPS terhadap kemampuan berpikir dan pemahaman konsep siswa. Melihat dari hasil penelitian tersebut diatas, beberapa saran diajukan oleh peneliti untuk calon peneliti atau guru yaitu agar melakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai kemampuan metakognitif, kemampuan berpikir, dan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran terkait di sekolah.

Pengembangan skala self esteem berbasis software bagi siswa SMP / Oky Ridho Syaifiudin

 

Kata Kunci : Skala self esteem, software. Self esteem adalah evaluasi diri didasarkan pada pertimbangan guna mempertahankan penghargaan terhadap diri disertai keyakinan bahwa dirinya adalah orang yang mempunyai kemampuan, penting, berguna dan sukses. Terdapat empat aspek dalam self esteem yaitu: kekuatan, signifikansi, kebajikan, dan kompetensi. Skala self esteem adalah instrumen untuk mengukur tingkat self esteem seseorang. Sampai saat ini masih jarang sekolah yang mempunyai skala self esteem. Kalaupun ada sekolah yang mempunyai skala self esteem, pelaksanaannya masih dilakukan secara manual yaitu menggunakan media kertas yang berisi sejumlah pertanyaan yang membuat siswa merasa jenuh pada saat pengisian skala tersebut. Perkembangan teknologi yang semakin pesat dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan program BK di sekolah. Oleh karena itu perlu dikembangkan skala self esteem berbasis software agar siswa tidak merasa jenuh saat mengisi skala self esteem dan memudahkan konselor dalam menganalisis dan mengumpulkan data secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan software skala self esteem bagi siswa SMP. Model pengembangan skala self esteem ini menggunakan langkah dasar penyusunan skala psikologi dari Cronbach (1970) yang telah disesuaikan atau diadaptasi. Pengembangan skala self esteem berbasis software dilaksanakan sebagai berikut: (1) menentukan bidang yang dikembangkan, (2) perencanaan, (3) menjabarkan variabel, indikator, deskriptor, (4) mengembangkan butir-butir pernyataan, (5) uji ahli bimbingan dan konseling, (6) uji instrumen, (7) analisis data, (8) input data ke dalam software, (9) uji ahli media, (10) uji ahli lapangan dan calon pengguna produk. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa skala self esteem telah memenuhi syarat sebagai instrumen karena telah melalui uji validitas konstruk, uji validitas internal dan uji reliabilitas. Sedangkan hasil pengembangan software skala self esteem yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu: (1) mempunyai ketepatan yang tinggi sebagai instrumen dalam mengukur tingkat self esteem siswa SMP, (2) mempunyai tingkat kegunaan yang tinggi, (3) pengoperasiannya mudah digunakan oleh konselor dan siswa, dan (4) mempunyai tingkat kepraktisan yang tinggi. Dari hasil penelitian pengembangan ini, maka disarankan kepada (1) Konselor: sebagai pembimbing utama dalam pelaksanaan penggunaan software skala self esteem, hendaknya menguasai software skala self esteem, (2) Kepala Sekolah: ii    hendaknya kepala sekolah berkoordinasi dengan konselor dan guru TIK yang bertanggung jawab dalam penggunaan laboratorium agar pelaksanaan bimbingan konseling berjalan lancar, termasuk dalam melaksanakan pengukuran self esteem siswa menggunakan aplikasi software ini, selain itu kepala sekolah perlu membeli printer untuk laboratorium agar siswa bisa langsung mengetahui hasil analisisnya (3) Peneliti: peneliti hendaknya melakukan uji coba software skala self esteem kepada beberapa siswa SMP untuk mengetahui tingkat keefektifannya.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis masalah untuk menunjang pembelajaran fisika di SMA kelas XI semester I program SBI/R-SBI / Muhammad Rizqi Adi Pradana

 

Kata Kunci: bahan ajar fisika berbasis masalah, SMA R-SBI Seiring dengan perkembangan jaman, pada abad ke-21 ini inovasi pendidikan semakin maju. Di Indonesia, banyak Sekolah yang belum siap untuk menghadapi perubahan ini, khususnya SMA program SBI/R-SBI. Salah satu masalah di SMA program SBI/RSBI adalah kesulitan Guru memperoleh bahan ajar Fisika yang sesuai dengan kriteria. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian untuk mengembangkan bahan ajar Fisika yang sesuai dengan kriteria SMA program SBI/R-SBI. Produk yang dihasilkan dari penelitian ini yaitu bahan ajar Fisika berbasis masalah untuk siswa SMA kelas XI program SBI. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar Fisika berbasis masalah serta menguji kelayakanya. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan (Research and Development) menurut Borg and Gall yang telah dimodifikasi. Instrumen pengumpulan data dari penelitian ini adalah Angket dan lembar kritik dan saran terhadap produk. Data yang didapatkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif untuk penilaian kelayakan dan penyajian isi diperoleh melalui hasil pengisian angket yang dilakukan oleh ahli (Guru dan Dosen), untuk penilaian keterbacaan bahan ajar dilakukan oleh Siswa. Analisis data kuantitatif dalam penelitian ini menggunakan metode analisis rata-rata untuk data kualitatif tidak dilakukan suatu analisis secara detail, namun peneliti langsung merevisi produk berdasarkan kritik dan saran. Berdasarkan analisis data kuantitatif, bahan ajar ini mendapatkan kategori layak dan sangat layak. Sedangkan berdasarkan data kualitatif, bahan ajar ini perlu direvisi pada bagian tertentu. Meskipun Bahan ajar hasil pengembangan termasuk pada kategori layak, bahan ajar ini perlu diuji secara lebih lanjut dengan cara menerapkan bahan ajar ini dalam pembelajaran di kelas.

Pengaruh variasi komposisi SiO2 - AL2O3 pada komposit matrik keramik SiO2 - AI2O3/ AI terhadap kekerasan, mikrostruktur dan konstanta dielektrik

 

Kata Kunci : Al2O3 / Al, Silika - Alumina, Kekerasan, Mikrostruktur, Konstanta Dielektrik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi SiO2 – Al2O3 sebagai matriks dalam bahan komposit matriks keramik Al2O3/Al. Bahan silika terkenal akan kekerasannya, selain itu silika dapat mengurangi keplastisan dan susut kering. Al2O3 merupakan bahan keramik teknik yang digunakan sebagai bahan insulator listrik, sehingga baik untuk pembuatan bahan dielektrik. Penambahan silika bertujuan untuk meningkatkan kekerasan bahan yang dapat digunakan sebagai cutting tools, meningkatkan nilai konstanta dielektrik yang dapat dikembangkan menjadi insulator listrik. Penelitian ini terdapat 8 sampel yang terdiri dari variasi komposisi silika – alumina. Sintering dilakukan selama 12 jam, dengan suhu 1100oC. Penggerusan dan pencampuran dilakukan selama 3 jam. Bahan yang telah jadi diuji konstanta dielektrik, dan kekerasan dengan menggunakan Vickers hardness. Sampel yang telah diuji kekerasan diambil tiga nilai kekerasan yaitu rendah, sedang dan tinggi untuk diuji mikrostruktur dengan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Komposisi SiO2 - Al2O3 meningkatkan nilai kekerasan komposit matrik keramik Al2O3 / Al secara linear, dengan nilai maksimum diperoleh pada komposisi SiO2 : Al2O3 = 60 : 40 yaitu sebesar 119,5 Hv. (2) Komposisi SiO2 - Al2O3 mempengaruhi mikrostruktur, komposit matrik keramik Al2O3 / Al, dengan kekrasan yang diperoleh semakin bagus, maka mikrostruktur permukaannya pun diperoleh foto SEM yang semakin bagus (3) Semakin besar komposisi silika atau semakin menurunnya komposisi alumina, nilai konstanta dielektrik bahan Al2O3 / Al menjadi lebih kecil.

Analisis soal-soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP negeri Krian tahun ajaran 2010/2011 / Rochma Niyah

 

Kata Kunci : Analisis, Soal UKK Bahasa Indonesia, SMP. UKK merupakan bagian dari bentuk evaluasi yang bertujuan untuk mengukur dan menilai kompetensi peserta didik sehingga guru bisa menentukan apakah siswa dapat melanjutkan pembelajaran pada tingkat yang lebih tinggi atau perlu adanya pengulangan. Keberhasilan proses belajar akan tampak pada skor yang muncul dalam penilaian hasil UKK siswa sehingga guru dapat mengetahui apakah nilai-nilai tersebut sudah atau lebih dari Standar Kelulusan Minimum (SKM). Beberapa guru di sekolah mengatakan bahwa guru-guru kurang teliti ketika menganalisis soal sebelum diujikan kepada siswa. Soal ujian yang baik adalah soal yang sesuai dengan validitas kurikuler dan kaidah penyusunan soal, baik itu soal pilihan ganda maupun soal uraian. Ranah kognitif Bloom yang baru sangat membantu dalam pembuatan soal UKK. Guru-guru di sekolah menjadikan acuan ranah kognitif ini untuk mengukur kemampuan siswa dari mulai tingkatan mengingat, pemahaman, aplikasi, analisis, evaluasi, dan kreatif. Adapun tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan: (1) kesesuaian soal-soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP berdasarkan validitas kurikuler, (2) kesesuaian butir soal-soal pada UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP berdasarkan dengan kaidah penyusunan soal, dan (3) sebaran ranah kognitif soal-soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dokumen-dokumen soal-soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP tahun ajaran 2010/2011 di SMP Negeri Krian yang dibuat oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Krian, SMP Negeri 2 Krian, dan SMP Negeri 3 Krian. Berdasarkan hasil analisis, kesesuaian butir soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VII dan kelas VIII dengan validitas kurikuler pada sekolahsekolah yang diteliti terdapat beberapa butir soal yang kurang sesuai dengan kriteriakriteria kesesuaian, antara lain: (1) ketidaksesuaian butir soal dengan materi-materi yang terdapat pada KD dengan persentase tertinggi sebesar 60%, (2) ketidaksesuaian butir soal karena butir soal disusun dari indikator yang tidak representatif (esensial) sehingga tidak mewakili KD dengan persentase tertinggi sebesar 64%, (3) terdapat butir soal yang berasal dari KD dan pokok bahasan materi diluar KD pada semester II dengan persentase tertinggi sebesar 53%, (4) ketidaksesuaian butir soal dengan tingkat berpikir yang terdapat pada KD dengan persentase tertinggi sebesar 77%, (5) ketidaksesuaian butir soal dengan validitas konstruk (tidak sesuai dengan keterampilan berbahasa) dengan persentase tertinggi sebesar 73%, dan (6) ditemukan KD-KD yang tidak terdapat pada butir soal UKK dengan persentase tertinggi sebesar 53%. Hasil analisis kesesuaian soal pilihan ganda pada soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII berdasarkan kaidah penyusunan pilihan ganda, kaidahkaidah yang paling banyak ditemukan ketidaksesuaian pada kelas VII maupun kelas ii VIII adalah kaidah nomor 15 (soal menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia) dengan persentase tertinggi sebesar 88%. Disusul oleh kaidah nomor 9 (panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama) dengan persentase tertinggi sebesar 68%. Sementara itu kaidah-kaidah yang dipenuhi seluruh butir soal UKK dengan persentase sempurna yaitu 100%, baik kelas VII maupun kelas VIII terdapat 6 kaidah yaitu kaidah nomor 6 (pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar), kaidah nomor 7 (pokok soal bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda), kaidah 10 (pilihan jawaban tidak mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar"), kaidah 11 (pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis), kaidah nomor 13 (rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti), dan kaidah nomor 17 (pilihan jawaban tidak mengulang-ulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian). Kesesuaian butir soal dengan kaidah-kaidah penyusunan soal uraian yang paling banyak ditemukan ketidaksesuaian, baik pada kelas VII dan kelas VIII adalah kaidah 10 (menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar) dengan persentase sebesar 100%. Disusul dengan kaidah nomor 1 (soal sesuai dengan indikator) dan kaidah nomor 3 (materi yang ditanyakan sesuai dengan tujuan pengukuran). Persentase kedua kaidah tersebut sebesar 80%. Sementara itu, kaidah-kaidah penyusunan soal uraian yang dipenuhi oleh seluruh buitr soal, baik kelas VII maupun kelas VIII dengan persentase 100% sebanyak 5 kaidah yaitu kaidah nomor 5 (menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut jawaban terurai), kaidah nomor 6 (ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal, kaidah nomor 8 yaitu tabel, gambar, grafik, peta, atau yang sejenisnya disajikan dengan jelas, terbaca, dan berfungsi), kaidah nomor 12 (tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu), dan kaidah nomor 13 (tidak mengandung kata/ungkapan yang menyinggung perasaan peserta didik). Sebaran ranah kognitif pada soal UKK mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VII pada masing-masing sekolah sebagai berikut. Pada SMP Negeri 1 Krian sebaran ranah kognitifnya, antara lain: tingkat pemahaman (6,67%), aplikasi (36,67%), analisis (46,67%), dan kreatif (10%). Selanjutnya pada SMP Negeri 2 sebaran ranah kognitifnya, antara lain: tingkat menghafal (6,67%), pemahaman (3,33%), aplikasi (20%), dan analisis (70%). Pada SMP negeri 3 sebaran ranah kognitifnya, antara lain: tingkat menghafal (3,13%), aplikasi (21,87%), dan analisis (75%). Sementara itu, pada kelas VIII SMP Negeri 1 sebaran ranah kognitifnya, antara lain: tingkat menghafal (10%), pemahaman (26,67%), aplikasi (16,67%), analisis (33,33%), dan kreatif (13,33%). Selanjutnya pada SMP Negeri 2 sebaran ranah kognitifnya, antara lain: tingkat pemahaman (3,33%), aplikasi (50%), analisis (43,33), dan kreatif (3,33%). Pada SMP negeri 3 sebaran ranah kognitifnya, antara lain: tingkat berupa tingkat menghafal (8,57%), pemahaman (2,86%), aplikasi (25,71%), analisis (54,29%), dan evaluasi (8,57%). Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada guru selaku pengevaluasi pelaksana dilingkup sekolah, dalam penyusunan soal, baik UAS maupun UKK perlu dimantapkan dengan mengujikan validitas isi, dan valididitas konstruk, serta perlu memperhatikan kaidah penulisan soal yang baik sehingga dapat menghasilkan butir soal yang baik.

Pengembangan bahan ajar modul elektrokimia untuk siswa SMA kelas XII IPA dengan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing / Lilik Fatmawati

 

. Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Subandi, M. Si., (2) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D Kata kunci: inkuiri terbimbing, modul elektrokimia, sekolah menengah atas Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siswa cenderung kesulitan dalam mempelajari materi elektrokimia karena materinya bersifat abstrak. Hal itu ditunjukkan oleh kesalahan konsep yang terjadi pada siswa dan rendahnya pencapaian hasil belajar. Masalah ini dapat diatasi dengan menggunakan modul elektrokimia dengan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing. Penggunaan modul ini memungkinkan siswa terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga konsep elektrokimia dapat dipahami dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kelayakan modul elektrokimia menggunakan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing untuk siswa SMA Kelas XII IPA SMA yang dikembangkan, dan (2) efektifitas modul yand dikembangkan setelah digunakan dalam proses pembelajaran. Pengembangan bahan ajar modul elektrokimia dengan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing ini menggunakan model pengembangan 4-D (four-D model) oleh Thiagarajan dan Semmel (1974) yang terdiri dari 4 tahap yaitu Define (Pendefinisian), Design (perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran). Kelayakan modul dinilai menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan standar evaluasi materi pembelajaran yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Penilaian meliputi kelayakan isi, kelayakan penyajian, dan kelayakan kebahasaan. Modul yang dikembangkan dinilai oleh dua dosen kimia Universitas Negeri Malang dan dua guru kimia kelas XII sebagai ahli isi/materi, dan enam siswa kelas XII IPA SMA yang telah mempelajari materi elektrokimia. Keefektifan modul didasarkan pada hasil belajar siswa Kelas XII IPA SMA Negeri 1 Talun setelah dilibatkan dalam proses pembelajaran menggunakan modul yang dikembangkan. Hasil belajar siswa terdiri dari hasil belajar kognitif, affektif, dan psikomotorik. Data dalam penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif meliputi tanggapan dan saran dari dosen, guru dan siswa terhadap modul yang dikembangkan. Data kuantitatif terdiri dari jawaban angket yang diberikan oleh guru, dosen, siswa, dan nilai hasil belajar siswa. Hasil belajar kognitif siswa diperoleh dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 25 item soal dengan validitas isi 89,5%, dan koefisien reliabilitas 0,80 yang diukur dengan SPSS 16 for windows. Hasil belajar afektif siswa diperoleh dengan menggunakan angket, sedangkan hasil belajar psikomotorik siswa diperoleh dengan menggunakan lembar observasi. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Modul Elektrokimia yang dikembangkan terdiri dari dua kegiatan belajar, yaitu sel Volta dan sel elektrolisis. Skor rata-rata dari kelayakan isi, kelayakan penyajian, dan kelayakan kebahasaan yang diberikan dosen dan guru adalah 92,1 dari skor total 100 sementara yang diberikan siswa adalah 83,7. Berdasarkan hasil ini, modul yang dikembangkan dianggap layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran elektrokimia. Hasil belajar kognitif siswa adalah 83,3% siswa telah mencapai Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 76. Hasil belajar afektif siswa adalah 82,3 termasuk kriteria sangat baik. Hasil belajar psikomotorik siswa adalah 83,8 termasuk kriteria sangat baik. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas dapat disimpulkan bahwa modul elektrokimia menggunakan pendekatan pembelajaran inkuiri terbimbing efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran elektrokimia di SMA. Penilaian lebih lanjut tentang kelayakan dan efektifitas modul yang dikembangkan harus dilakukan untuk penyebaran yang lebih luas.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri melalui strategi mind mapping siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun / Ika Novianti Pararuk

 

Kata kunci: menulis cerpen, pengalaman diri sendiri, strategi mind mapping. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X, terdapat kompetensi dasar (KD) tentang kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri. Melalui KD ini, dimaksudkan siswa dapat menulis cerpen dengan ide dasar pengalaman diri sendiri. Untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri adalah strategi mind mapping. Dengan strategi mind mapping ini, siswa dibimbing untuk mengkreasikan pengalaman yang pernah dialami sebagai sumber penulisan cerpen. Dalam penelitian ini, siswa diminta untuk membuat suatu peta pikiran yang berwarna dan bergambar untuk memudahkan siswa dalam mengingat pengalaman yang pernah mereka alami dan memudahkan siswa dalam mengembangkannya menjadi sebuah cerpen. Secara umum, penelitian ini berupaya menjawab masalah tentang proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri dengan strategi mind mapping pada siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun. Strategi mind mapping diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa berdasarkan pengalaman diri sendiri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Sesuai dengan rancangan itu, penelitian disusun dalam siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, hasil tindakan, dan refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan. Subjek yang diberi tindakan adalah seluruh siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun yang berjumlah 30 orang. Dalam penelitian ini, peneliti sebagai intrumen kunci yang didukung oleh instrumen penunjang berupa pedoman wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri dengan menggunakan strategi mind mapping mengalami peningkatan. Siswa lebih terlihat antusias dan bersemangat dalam menulis cerpen, karena penggunaan strategi mind mapping dapat meningkatan daya imajinasi dan kreativitas siswa. Berdasarkan hasil analisis, kemampuan siswa dalam memilih pengalaman diri sendiri mengalami peningkatan, siswa dapat mengembangkan tokoh, latar, ii dan alur dengan baik. Siswa juga terlihat antusias dalam proses pembelajaran, hal ini terlihat dari keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini diantaranya adalah kemampuan menulis cerpen siswa kelas X-6 SMA Negeri 1 Talun bisa ditingkatkan dengan penerapan strategi mind mapping, sehingga KKM bisa tercapai. Mengingat manfaat yang dapat diperoleh siswa, maka disarankan bagi guru untuk menerapkan strategi mind mapping untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen berdasarkan pengalaman diri sendiri, berusaha memotifasi siswa dan meningkatkan minat siswa pada kompetensi dasar yang diteliti, serta mengembangkan media maupun strategi pembelajaran menulis cerpen. Bagi peneliti yang akan datang diharapkan untuk meneliti tentang peningkatan keterampilan lain dengan strategi mind mapping.

Pengaruh graffiti "Komunitas ngaco" di kota Malang terhadap pembentukan pendidikan karakter remaja / Mahfud

 

Kata Kunci: Pengaruh, graffiti, komunitas Ngaco, kota Malang NGACO adalah sebuah komunitas graffiti tertua sejak terbentuknya tahun 2006-an dan yang paling eksis di kota Malang, keberadaan komunitas ini kurang begitu dipahami oleh masyarakat umum, namun karya-karyanya dapat dinikmati oleh masyarakat kota Malang. Untuk mengetahui kreativitas seniman graffiti komunitas Ngaco dalam menciptakan karya maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang penciptaan karya graffiti, (2) Bagaimana proses penciptaan graffiti, (3) Visualisasi karya graffiti komunitas Ngaco, (4) Pengaruh terhadap karakter remaja di kota Malang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, subyek yang diteliti adalah seniman graffiti komunitas Ngaco. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan reduksi data, membuat abstraksi, merangkum inti, proses, pernyataan, dan diorganisasi berdasarkan kategori-kategori yang di tentukan. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut (1) Latar belakang tersebut meliputi latar belakang pendidikan yaitu mereka tidak pernah menempuh pendidikan akademik tentang bidang graffiti melainkan mereka belajar secara otodidak, proses pembelajaran membuat graffiti didapat dari nyantrik. Latar belakang lingkungan mereka adalah lingkungan perkotaan dan lebih sering menghabiskan waktu di jalanan. Latar belakang keluarga seniman graffiti dalam komunitas Ngaco kebanyakan dari keluarga yang mempunyai kesibukan cukup padat sehingga kurang mengontrol kehidupan anaknya, (2) Proses penciptaan yang dilakukan diawali dengan pencarian ide yang didasari oleh penginderaan terhadap karya graffiti dari seniman graffiti internasional yang melandasi ide mereka, teknik dasar adalah teknik membuat tagging dengan cepat, material yang sering digunakan ialah cat semprot, cat tembok, kuas/roll dan caps, (3) Visualisasi yang tampak dari karya komunitas Ngaco ialah dari jenis aliran dan jenis tema. Aliran graffiti yaitu meliputi wildstyle, 3D, throwup, flava dan tagging. Kemudian visualisasi tema yang merupakan sebuah apresiasi dari komunitas Ngaco terhadap keadaan sekitar, (4) Memberikan pengaruh transfer budaya dari generasi yang tua ke generasi yang muda, dengan adanya peniruan kegiatan membuat graffiti secara otodidak yaitu belajar membuat sketsa-sketsa pada buku tulis, ataupun membuat tagging nama mereka yang terinspirasi oleh karya-karya graffiti yang pernah mereka lihat disekitar kota Malang.

Perancangan pop-up book "lovely kids" tentang pengenalan hewan pada anak TK / Dian Purnamasari

 

Kata kunci : Perancangan, Pop-Up Book, Hewan, Taman Kanak-Kanak. Anak-anak senang sekali melihat hewan-hewan yang ada di kebun binatang. Namun anak-anak sering lupa nama-nama hewan, apabila sudah meninggalkan kebun binatang. Dibutuhkan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan, agar anak bisa mengingat hewan-hewan yang telah dilihat. Salah satu solusinya adalah memperkenalkan nama-nama hewan melalui media bacaan.. Media tiga dimensi sangat cocok untuk anak-anak. Bahasa inggris juga dapat diterapkan dalam media tiga dimensi ini, untuk anak-anak belajar mengenal nama hewan karena bahasa Inggris merupakan bahasa internasional. Perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural yang menggariskan langkah-langkah untuk menghasilkan produk, diawali dengan latar belakang, identifikasi Masalah, dilanjutkan dengan pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi, perancangan konsep hingga pembuatan karya final. Data-data yang menjadi acuan adalah data yang bersumber dari hasil observasi dan berbagai macam buku literatur. Media tiga dimensi yang dihasilkan dari perancangan ini adalah buku pop up. Buku pop up adalah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak dengan unsur tiga dimensi. Buku ini mempunyai kata kunci “Ayo, Kenali Siapa Aku “yang mengandung makna ajakan untuk mengenal hewan-hewan tersebut. Penggunaan bahasa Inggris merupakan nilai tambah pada buku pop up, karena selain anak dapat mengenal nama hewan, mereka juga dapat belajar bahasa Inggris. Buku ini menggunakan gaya ilustrasi kartun yang dapat menarik minat anak-anak untuk membaca. Diharapkan dengan adanya inovasi ini, anak-anak semakin mengenal hewan- hewan yang ada di sekitarnya, serta membangkitkan minat membaca dan belajar bahasa Inggris

Perancangan buku cerita rakyat bergambar tentang pemandian Tirtajati / Novi Pradana Putra

 

Kata Kunci : Perancangan, Buku Bergambar, Cerita Rakyat, Pemandian Tirtajati Cerita rakyat merupakan bagian dari hasil budaya bangsa Indonesia yang mulai tergusur oleh perkembangan zaman. Sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia, cerita rakyat perlu dijaga dan dilestarikan. Salah satunya adalah Legenda Pemandian Tirtajati. Pemandian Tirtajati merupakan salah satu objek wisata unggulan Blitar. Sayangnya, Legenda Pemandian Tirtajati ini kurang dikenal secara baik, sehingga tidak di ketahui oleh masyarakat. Berangkat dari permasalahan tersebut maka dibutuhkan inovasi untuk melestarikan cerita rakyat tentang Pemandian Tirtajati, Salah satunya adalah melalui media buku cerita bergambar. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan buku cerita rakyat bergambar tentang Pemandian Tirtajati dan menanamkan nilai budi pekerti yang terdapat di dalamnya. Jenis cerita rakyat dalam perancangan ini adalah Legenda. Legenda merupakan cerita mengenai asal-usul suatu tempat. Model Perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural, dengan melakukan langkah-langkah yang ditempuh meliputi Identifikasi masalah, pengumpulan data, analisa, sintesis, konsep desain, hingga hasil akhir berupa buku cerita rakyat bergambar dan media promosi. Dalam analisis data dilakukan pengkajian mengenai kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman dari produk yang dirancang. Selain itu, dalam analisis data juga dilakukan pengkajian terhadap target audience, target market, potensi pasar, dan jangkauan media. Konsep perancangan buku cerita rakyat tentang Pemandian Tirtajati disesuaikan dengan target audience. Targer audience perancangan ini adalah anak-anak. Dilakukan penyesuaian bentuk pesan verbal dengan memperhalus jalan cerita yang mengandung unsur kekerasan. Dalam perancangan ini juga dilakukan penyesuaian bentuk pesan visual dengan penggunaan gaya ilustrasi, desain karakter, tipografi, dan background yang disesuaikan dengan karakteristik anak-anak. Dengan adanya perancangan buku cerita rakyat bergambar tentang Legenda Pemandian Tirtajati ini, diharapkan nantinya dapat untuk melestarikan cerita rakyat yang merupakan hasil budaya Indonesia dan Menanamkan nilai budi pekerti yang terkandung dalam cerita rakyat Legenda Pemandian Tirtajati.

Kemampuan menulis aksara Jawa siswa kelas IV SDK Santa Maria Pare tahun pelajaran 2010/2011 / Vincencia Dini Pawitra

 

Kata kunci : aksara Jawa, menulis aksara Jawa, Pare Kompetensi menulis aksara Jawa merupakan kompetensi yang dianggap rumit oleh siswa sekolah dasar. Aksara Jawa memang memiliki unsur-unsur yang sangat kompleks, antara lain aksara carakan, sandhangan, pasangan, aksara ganten, pada/tanda baca, angka Jawa, aksara murda dan aksara swara. Pada sisi-sisi di mana kompetensi menulis aksara Jawa yang dianggap rumit oleh siswa belum dilakukan penelitian secara menyeluruh.. Secara khusus penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandangan wignyan pada tembung dwipurwa dan panambang –a. Penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDK Santa Maria Pare. Sedangkan data dalam penelitian ini adalah hasil tes instrumen kemampuan menulis aksara Jawa siswa kelas IV SDK Santa Maria yang dites setelah diverivikasi dan dianalisis dengan statistika. Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut. Siswa kelas IV SDK Santa Maria mempunyai kemampuan yang cukup/belum tuntas/belum mampu dalam menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandangan panyigeg wanda dalam tembung dwipurwa dan panambang –a. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru dipandang masih lemah dalam memberikan pembelajaran menulis aksara Jawa, sehingga disarankan kepada guru agar lebih pandai memilih materi pembelajaran menulis aksara Jawa yang menarik misal dengan media bergambar agar siswa lebih bersemangat dalam berlatih menulis aksara Jawa dan memberikan bimbingan kepada siswa secara optimal agar siswa lebih mudah dalam menyerap materi tentang menulis aksara Jawa dengan menggunakan sandangan panyigeg wanda pada tembung dwipurwa dan panambang –a. Penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai referensi penelitian selanjutnya, misalnya penelitian pengembangan bahan ajar membaca dan penelitian tindakan kelas untuk menciptakan strategi-strategi yang cepat dan mudah dalam menulis aksara Jawa. Dengan harapan, melalui penelitian-penelitian tersebut mampu meningkatkan kualitas menulis aksara Jawa. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti kasus-kasus sejenis mengenai kemampuan menulis aksara Jawa diharapkan memiliki waktu yang relatif lama dalam melaksanakan penelitian, agar segala informasi tentang pembelajaran dapat diperoleh peneliti secara mendetail

Pengaruh faktor internal dan eksternal perusahaan terhadap nilai perusahaan (studi kasus perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2011) / Mutiara Norma Rini

 

Rini, Mutiara Norma. 2013.Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2009-2011). Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Eka Ananta Sidharta, S.E., M.M.Ak. (II) Dr. Dyah Aju Wardhani, M.Si. Ak. Kata Kunci: Faktor Internal Perusahaan, Faktor Eksternal Perusahaan, Nilai Perusahaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor internal dan eksternal perusahaan terhadap nilai perusahaan pada periode penelitian tahun 2009-2011. Dalam penelitian ini faktor internal perusahaan yaitu pertumbuhan aset, keputusan pendanaan, dan kebijakan deviden. Sedangkan faktor eksternal perusahaan yaitu tingkat inflasi.     Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis menggunakan uji t untuk menguji koefisien regresi secara parsial dengan signifikansi level 0,05 (α = 5%). Selain itu juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokkorelasi dengan program SPSS. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara purposive sampling. Dari 128 perusahaan, telah didapatkan 11 selama 3 tahun berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan aset dan kebijakan dividen berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan, keputusan pendanaan berpengaruh negatif signifikan terhadapn nilai perusahaan dan tingkat inflasi negatif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Pembelajaran membaca pemahaman teks berbahasa jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Paciran Kabupaten Lamongan Tahun Pelajaran 2010/2011 / Laila Tri Lestari

 

Kata kunci: pembelajaran membaca pemahaman, teks berbahasa Jawa. Kualitas pembelajaran mata pelajaran Bahasa Daerah tergolong kurang maksimal. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor misalnya banyak sekolah yang mengabaikan bahasa daerah khususnya bahasa Jawa karena merupakan bahasa sehari-hari atau bahasa ibu yang dianggap mudah untuk dipelajari. Dari penelitian yang dilakukan oleh Widyanti (2004) yaitu Pembelajaran Muatan Lokal Bahasa Jawa di SMPN 6 Malang yang membahas tentang proses pembelajaran muatan lokal bahasa Jawa mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi dari berbagai aspek dapat diketahui pembelajaran mata pelajaran Bahasa Daerah kurang maksimal. Secara umum penelitian ini bertujuan mengkaji pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman teks berbahasa Jawa siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Paciran Kabupaten Lamongan. Secara khusus penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran membaca pemahaman teks berbahasa Jawa yang disusun dan dilakukan oleh guru. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran membaca kelas VIII SMP Negeri 2 Paciran, dengan subjek penelitian guru bidang studi Bahasa Daerah dan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Paciran. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu dengan catatan lapangan yang diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan angket yang kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran diperoleh tiga simpulan sebagai berikut. Pertama, masalah perencanaan yang disusun oleh guru kurang lengkap. Terdapat beberapa komponen yang tidak dicantumkan dalam pembelajaran, seperti tidak mencantumkan media pembelajaran membaca pemahaman, materi yang disusun tidak lengkap, serta tidak dilengkapi setiap langkah-langkah pembelajaran dengan metode dan alokasi waktu. Ketidaklengkapan penyusunan alat evaluasi kurang memenuhi kriteria penilaian membaca yang baik, langkah-langkah pembelajaran yang disusun kurang jelas. Kedua, masalah pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman, secara umum pembelajaran yang dilakukan oleh guru telah mengarah pada pembelajaran membaca, tetapi secara khusus langkah pembelajaran membaca pemahaman yang dimulai pada tahap prabaca, saat baca, dan pascabaca masih belum dilakukan secara maksimal. Hal ini disebabkan guru kurang memiliki kekreatifan untuk menggunakan strategi membaca pemahaman. Lemahnya guru dalam membelajarkan membaca pemahaman disebabkan oleh beberapa faktor meliputi: (1) faktor latar belakang pendidikan guru, dan (2) sikap guru dalam membelajarkan membaca pemahaman. Ketiga, masalah evaluasi dalam pembelajaran membaca pemahaman, guru sudah mampu mengukur kemampuan membaca pemahaman siswa secara tepat. Hal ini disebabkan sudah sesuai dengan tujuan yang dicapai, tetapi pada tahap tindak proses evaluasi, guru tidak memberi tugas terstruktur untuk dikerjakan di rumah sebagai bentuk aplikasi dari materi yang diterimanya. Alat evaluasi yang disusun guru sudah mencapai tujuan yang dicapai. Tindak lanjut yang dilakukan guru secara intensif dan berkesinambungan wujudnya dengan mengadakan remidi bagi siswa yang belum tuntas pada pertemuan berikutnya. Berkaitan dengan hasil penelitian di atas, disarankan kepada guru (1) mempelajari dengan teliti cara menyusun RPP membaca pemahaman yang lengkap dan tepat berdasarkan teori yang berlaku, (2) mengikuti workshop, lokakarya, diklat, atau seminar tentang pengembangan RPP, (3) memperdalam ilmu atau teori tentang membaca, khususnya membaca pemahaman teks berbahasa Jawa, (4) menggunakan metode atau strategi yang mampu menumbuhkan keaktifan siswa di kelas, misalnya dengan metode inkuiri atau kooperatif, dan (5) melatih siswa membaca dalam hati dengan menggunakan teknik yang bervariasi, misalnya teknik skimming,point, dan SQ3R. Penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai referensi penelitian selanjutnya, misalnya penelitian pengembangan bahan ajar membaca dan penelitian tindakan kelas untuk menciptakan strategi-strategi membaca pemahaman teks berbahasa Jawa yang baru. Dengan harapan, melalui penelitian tersebut mampu meningkatkan kualitas membaca pemahaman siswa.

Pengaruh lama stirring terhadap struktur kristal dan magnetodielektrisitas partikel nano Fe3O4 berbasis pasir besi / Mukhammad Dana Zulfikar Fauzi

 

Kata kunci: lama stirring, partikel nano, pasir besi, struktur kristal, magnetodielektrik. Pasir besi tersedia sangat melimpah hampir di seluruh penjuru Indonesia. Hal ini merupakan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut dalam berbagai bidang, khususnya bidang biosains dan bioteknologi. Pasir besi pada umumnya mempunyai komposisi utama berupa magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), dan maghemit (FeO). Salah satu komposisi utama pasir besi, yaitu magnetit (Fe3O4) yang disintesis menjadi partikel nano akan menjadi material yang menarik untuk dikaji karena material ini memiliki sifat–sifat fisis dan kimia yang khas, sehingga memiliki potensi aplikasi yang sangat luas. Penelitian ini menggunakan metode kopresipitasi yang dapat dilakukan pada suhu (70oC-90oC) dengan proses yang relatif mudah dan cepat. Bahan dasar yang digunakan adalah pasir besi Lumajang, HCL (12M) dan NH4OH (6,5M, PA). Karakterisasi struktur kristal menggunakan XRD dan magnetodielektrisitas menggunakan kapasitansi digital tipe AD 5822. Pembentukan fasa dan struktur kristal dianalisis dengan program Celref. Ukuran butir kristal dihitung menggunakan persamaan Scherrer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partikel nano Fe3O4 telah berhasil disintesis dan Fe3O4 telah terbentuk dengan parameter kisi a = b = c berkisar antara 8.3692 Å – 8.3902 Å. Pada lama stirring t = 20 menit, 60 menit dan 240 menit volume sel cenderung mengalami kenaikan kecuali pada t = 120 menit dan 360 menit yang mengalami penurunan. Pemberian medan magnet pada partikel nanol Fe3O4 mengakibatkan konstanta dielektrik semakin besar seiring dengan bertambahnya pemberian medan magnet.

Penerapan model pembelajaran active learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Tulusrejo 2 Kota Malang / Astri Yuanita Budiarti

 

Kata Kunci: model active learning, aktivitas belajar, hasil belajar, Ilmu Pengetahuan Sosial Berdasarkan fakta yang ditemukan peneliti terdapat permasalahan yang terjadi dikelas IV SDN Tulusrejo II Kota Malang dalam aktvitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Berdasarkan hasil wawacara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru kelas IV di SDN Tulusrejo II Kota Malang, menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran masih mengandalkan guru sepenuhnya atau masih teacher centered. Guru lebih sering meggunakan ceramah, penugasan yang dilakukan secara individu sehingga siswa merasa cepat bosan dalam pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini, yaitu: (1) menerapkan model pembelajaran active learning untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Tulusrejo II Kota Malang, (2) menerapkan model pembelajaran active learning untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Tulusrejo II Kota Malang. Penelitian ini menggunakan desain PTK yang terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus mempunyai 4 tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan dan pengamatan, (3) refleksi, dan (4) perbaikan rencana. Pelaksanaan siklus II sama dengan siklus I yang terdiri atas 4 (empat) tahapan. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil yaitu: (1) Dengan menggunakan langkah-langkah active learning, terjadi peningkatan dalam aktivitas dan hasil belajar siswa, (2) Berdasarkan hasil analisis data, aktivitas belajar siswa kelas IV setelah diberi tindakan pada siklus I menunjukkan 1) visual activities: 1.1) memperhatikan apa yang disampaikan guru 70%, 1.2) melihat media gambar atau demonstrasi 83% ; 2) oral activities: 2.1) mengajukan pertanyaan kepada guru 30%, 2.2) melaporkan hasil kerja kelompok 24%; 3) listening activities: 3.1) mendengarkan penjelasan guru 54%, 3.2) mendengarkan diskusi kelompok 43%; 4) writing activities: 4.1 mengerjakan LKSyang diberikan guru 63%, 4.2) merangkum materi yang diajarkan 47%; 5) motor activities: 5.1) mnyelenggarakan permainan 79%, 5.2) melaksanakan papan pajangan 40% ; 6) mental activities: 6.1 merespon jawaban teman 38%, 6.2) mengambil keputusan dari semua jawaban yang dianggap paling benar 25%; 7) emotional activities: 7.1) mau menerima pendapat temannya 29%, 7.2) perasaan senang dalam belajar IPS 56%. Pada siklus II 1) visual activities: 1.1) memperhatikan apa yang disampaikan guru 61%, 1.2) melihat media gambar atau demonstrasi 57% ; 2) oral activities: 2.1) mengajukan pertanyaan kepada guru 39%, 2.2) melaporkan hasil kerja kelompok 29%; 3) listening activities: 3.1) mendengarkan penjelasan guru 71%, 3.2) mendengarkan diskusi kelompok 54%; 4) writing activities : 4.1) mengerjakan LKS yang diberikan guru 82%, 4.2) merangkum materi yang diajarkan 54%; 5) motor activities: 5.1) mnyelenggarakan permainan 86%, 5.2) melaksanakan papan pajangan 54% ; 6) mental activities: 6.1) merespon jawaban teman 64%, 6.2) mengambil keputusan dari semua jawaban yang dianggap paling benar 29%; 7) emotional activities: 7.1) mau menerima pendapat temannya 43%, 7.2) perasaan senang dalam belajar IPS 68%, (3) Penerapan model active learning pada pembelajarn IPS kelas IV SDN Tulusrejo 2 terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya perolehan skor rata-rata postes siswa yang meningkat secara bertahap, dari rata-rata pra tindakan 63,07 (25%) pada siklus I menjadi 70,79 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 61% dan p siklus II meningkat lagi menjadi 85,68 dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 86%. Pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal di atas 70%. Berdasarkan penelitian ini disarankan bagi guru dan peneliti lanjutan diharapkan dapat menciptakan suatu inovasi dalam pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran dan mengkombinasikannya dengan beberapa metode pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran IPS.

Perancangan corporate identity perusahaan perlebahan "Asyraf" Blitar / Agung Dwi Nugroho

 

Kata kunci : Perancangan, Corporate Identity, Perusahaan Perlebahan , ASYRAF, Blitar Perusahaan Perlebahan ASYRAF adalah perusahaan yang bergerak di bidang perlebahan. Kegiatan perusahaan adalah mengumpulkan hasil produk alami lebah, menyeleksi kualitas, mengemas dan mendistribusikannya. Dengan berbagai dorongan dari pasar yang semakin berkembang, kompetitor yang semakin gencar mempromosikan produk dan keadaan intern perusahaan yang semakin kuat, perusahaan berencana untuk mengembangkan usaha dengan citra yang lebih baik dan mengembangkan daerah pemasaran yang lebih luas. Cara untuk mewujudkan rencana ini salah satunya adalah dengan menciptakan suatu citra perusahaan yang diawali dengan perancangan corporate identity (CI). Dalam mencapai tujuan di atas, diperlukan sebuah perancangan CI yang baik, yang akan diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual perusahaan. Kegiatan ini diangkat dalam tugas akhir yang berjudul ”Perancangan Corporate Identity Perusahaan Perlebahan ASYRAF, Blitar.” Model perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural yang deskriptif, dimana menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Perancangan ini ditujukan agar menghasilkan sebuah CI yang kemudian diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual dengan penampilan yang kosisten dan profesional. Penampilan yang konsisten dan profesional tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perusahaan perlebahan ASYRAF. Data yang diperoleh dalam perancangan ini diambil dengan metode observasi data, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi data terdiri dari data perusahaan, data pustaka dan survey target audience. Hasil karya dalam perancangan ini adalah berupa CI perusahaan yang terstandarisasi yang mengandung jati diri perusahaan yang kemudian diaplikasikan pada media-media komunikasi visual perusahaan.

Analisis tentang visualisasi iklan layanan masyarakat worldwide found for nature versi"emergency rescue" : analisis pada iklan cetak dengan pendekatan semiotika / Desy Sari Adiyanti

 

Kata Kunci:Visualisasi, Iklan Cetak, Iklan Layanan Masyarakat, Semiotika, Worldwide Fund for Nature, Emergency Rescue Analisis ini merupakan analisis terhadap Iklan Cetak Layanan Masyarakat Worldwide Fund for Nature versi “Emergency Rescue”. Tujuan dari analisis ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan tentang iklan cetak layanan masyarakat Worldwide Fund for Nature versi “Emergency Rescue” dengan menggunakan pendekatan semiotika yang terkait dengan ikon, indeks, simbol. Analisis ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa gambar iklan cetak layanan masyarakat Worldwide Fund for Nature versi “Emergency Rescue” yang diperoleh dari situs internet. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan cara studi dokumentasi dan studi literatur. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah instrument manusia, yaitu peneliti sendiri. Kegiatan analisis dimulai dengan tahap pengumpulan data, tahap penyeleksian data, tahap identifikasi data, tahap klasifikasi data, dan tahap interpretasi. Berdasarkan hasil analisis semiotika tersebut, diperoleh kesimpulan tentang visualisasi iklan cetak layanan masyarakat Worldwide Fund for Nature adalah berdasarkan ikon, indeks, simbol, ikon Dalam visualisasi iklan cetak layanan masyarakat Worldwide Fund for Nature telah teridentifikasi tipe tanda ikon, indeks, dan simbol. Tipe tanda ikon menampilkan tim “Emergency Rescue”. Tim “Emergency Rescue” dalam visual iklan ini terdiri dari tim pemadam kebakaran, tim medis, dan tim penyelamat perairan. Seluruh anggota penyelamat tersebut merupakan lambang dari manusia yang lambat dalam menghadapi bumi yang sedang kritis.Tipe indeks divisualkan dengan berbagai indeks yang menunjukkan tanda-tanda terjadinya keadaan darurat yang dimaksud. Misalnya asap karena kebakaran, mobil yang terbalik karena kecelakaan, kapal yang meluncurkan kembang api tanda darurat karena akan tenggelam. Semua merupakan indeks dari keadaan darurat yang memperlukan pertolongan segera. Namun visual tersebut hanya simbolisasi dari keadaan darurat bumi yang sama daruratnya dengan kejadian yang divisualkan. Tanda tipe simbol yang teridentifikasi berupa simbol bahasa dan simbol isyarat, atau gerakan. Simbol bahasa terdapat pada headline dan subheadline, sedangkan simbol gerakan berupa pose tim penyelamat dalam iklan dimana sesuai dengan hasil interpretasi bahwa iklan layanan masyarakat ini mengajak masyarakat untuk segera melakukan sesuatu untuk planet bumi, dan manusia tidak boleh lambat dalam mengatasi hal ini seperti yang dilakukan oleh tim penyelamat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |