Nilai-nilai moral dalam tradisi upacara ceprotan pada masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan / Murni Asih

 

Kata Kunci : Tradisi upacara ceprotan, Pelaksanaan, Nilai, Pandangan Masyarakat Tradisi upacara ceprotan merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat desa Sekar Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Tradisi upacara ceprotan dilakukan setiap tahun sekali pada hari senin kliwon pada bulan longkang (kalender Jawa) bulan Dulhizah (kalender Islam). Tradisi upacara ceprotan bertujuan untuk memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah member nikmat dan keberkahan dan untuk meminta keselamatan. Dalam tradisi upacara ceprotan terkandung nilai-nilai moral. Dengan adanya tradisi upacara ceprotan dapat memberikan suatu pembelajaran kepada masyarakat tentang nilai-nilai moral tersebut. Nilai-nilai moral bagi masyarakat untuk mengatur baik buruknya taindakan atau perilaku seseorang, sehingga nilai-nilai moral tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan : (1) sejarah tradisi upacara ceprotan (2) pelaksanaan tradisi upacara ceprotan (3) nilai-nilai moral yang terkandung dalam tradisi upacara ceprotan (4) pandangan masyarakata terhadap tradisi upacara ceprotan. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus, prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi,wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Analisis data dalam penelitian dilakukan dengan model interaktif. Keabsahan temuan dilakukan dengan (1) perpanjangan keikutsertaan (2) ketekunan pengamatan serta (3) triangulasi. Dan penelitian dilakukan di Desa Sekar kecamatan Donorojo kabuapten Pacitan dengan objek penelitian masyarakat desa Sekar kecamatan Donorojo kabupaten Pacitan dan Dinas Pariwisata dan kebudayan kabupaten pacitan. Hasil penelitian dapat dipaparkan sebagai berikut: (1) tradisi upacara ceprotan adalah warisan dari leluhur atu nenek moyang masyarakat desa Sekar . dan sampai sekarang tradisi upacara ceprotan masih tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat desa Sekar karena merupakan tradisi yang sudah turun temurun. (2) Pada pelaksanaan tradisi upacara ceprotan dikelompokan menjadi tiga sesi atau tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan (inti) dan tahap penutupan . (3) nilai-nilai moral yang terkandung dalam tradisi upacara ceprotan adalah nilai religi, nilai ritual, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai keindahan, nilai hiburan atau tontonan dan nilai tuntunan. (4) pandangan-pandangan masyarakat terhadap tradisi ceprotan relative normal karena masyarakat desa Sekar memiliki kesadaran yang tinggi dari keyakinan mereka semua . Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada masayarakat desa sekar hendakanya tetap dilaksanakan dan dilestarikan. Kepada pemerintah daerah khususnya Dinas kebudayaan dan pariwisata lebih memperhatikan dan ikut serta dalam pelestarian adat kebiasaan yang sudah turun temurun.

Penerapan model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tempuran 1 Ngawi / Pratika Tungga Dewi

 

Kata Kunci: pembelajaran IPA, model pembelajaran problem solving, aktivitas belajar, hasil belajar Aktivitas dan hasil belajar siswa pra tindakan rendah. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal pra tindakan 21,05% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 50,63. Peneliti memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran problem solving. Melalui penerapan model pembelajaran problem solving, siswa akan aktif melakukan percobaan untuk memecahkan masalah sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA materi pokok pengungkit di kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA, serta (3) peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif interaktif yang dilakukan secara bersiklus. Setiap siklus terdiri dari planning, acting and observing, reflecting dan revise plan. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain teknik observasi, wawancara, dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Hasil penelitian ini yaitu penerapan model pembelajaran problem solving dapat merubah kegiatan pembelajaran yang bersifat teacher centered menjadi student centered dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar klasikal siklus-1 yaitu 52,63% dengan nilai rata-rata aktivitas belajar kelas 67,76. Prosentase ketuntasan aktivitas belajar klasikal siklus-2 yaitu 100% dengan nilai rata-rata aktivitas belajar kelas 87,72. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal siklus-1 yaitu 63,16% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 68,11. Prosentase ketuntasan hasil belajar klasikal siklus-2 yaitu 100% dengan nilai rata-rata hasil belajar kelas 90,04. Penerapan model pembelajaran problem solving pada pembelajaran IPA materi pokok pengungkit di kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi dapat diterapkan dengan baik sekali. Penerapan model pembelajaran problem solving dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Tempuran 1 Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Saran berdasarkan hasil penelitian ini yaitu bagi guru dan peneliti selanjutnya jika menerapkan atau mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran problem solving sebaiknya memperhatikan kesesuaian materi pembelajaran, keluasan materi pembelajaran, alokasi waktu dan memecahkan masalah satu persatu sampai selesai.

Pengembangan bahan ajar kimia SMK kelas X Program Keahlian Teknik Mesin untuk model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok / Siti Faizah

 

Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Subandi, M. Si, (II) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D Kata Kunci: bahan ajar, kimia SMK, teknik mesin, pembelajaran kooperatif, investigasi kelompok. Kimia merupakan mata pelajaran adaptif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di SMK, fungsi pemberian mata pelajaran kimia adalah untuk mendukung mata pelajaran produktif. Permasalahannya adalah bahwa kompetensi siswa dalam mata pelajaran kimia cenderung tidak berhubungan langsung dengan kompetensi mereka dalam mata pelajaran produktif. Salah satu sumber permasalahan adalah tidak tersedianya bahan ajar kimia yang isi materinya berhubungan langsung dengan materi pelajaran produktif. Welding atau pengelasan merupakan materi yang diberikan dalam mata pelajaran produktif. Materi ini dapat dihubungkan dengan materi dalam mata pelajaran kimia seperti rumus kimia material pengelasan dan reaksi pembakaran. Namun, tidak ada buku kimia yang membahas hubungan antara pengelasan dengan rumus kimia material pengelasan serta reaksi pembakarannya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan bahan ajar kimia bagi siswa kelas X program keahlian teknik mesin yang berhubungan dengan pengelasan dan, (2) mengetahui efektivitas bahan ajar kimia yang dikembangkan untuk digunakan dalam model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Pengembangan bahan ajar kimia ini mengadopsi model Dick & Carey (1990) dikombinasikan dengan pengembangan materi pembelajaran dari Paulina dan Purwanto (2001). Penelitian dan pengembangan ini terdiri dari 8 langkah, yaitu: (1) mengidentifikasi tujuan belajar melalui review kurikulum untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar kimia dengan pelajaran produktif; (2) menganalisis bahan ajar kimia yang dibutuhkan oleh mata pelajaran produktif dengan bertanya kepada guru pelajaran produktif menggunakan kuesioner; (3) menganalisis karakteristik siswa untuk mengetahui tingkat perkembangan berpikir dan minat siswa berdasarkan data yang terdapat pada program bimbingan konseling di sekolah; (4) melakukan analisis instruksional untuk menentukan garis-garis besar materi bahan ajar kimia yang diperlukan oleh mata pelajaran produktif; (5) menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai dengan kebutuhan siswa dalam program keahlian teknik mesin; (6) merumuskan indikator ketercapain, (7) pengembangan materi bahan ajar kimia; dan (8) validasi dan revisi materi bahan ajar kimia. Bahan ajar kimia yang dikembangkan divalidasi oleh para ahli yang terdiri dari dua dosen kimia Universitas Negeri Malang, dua orang guru kimia SMKN 1 Singosari, dan seorang guru produktif SMK Negeri 1 Singosari dengan spesialisasi pengelasan. Efektivitas belajar kimia dengan menggunakan materi yang dikembangkan dilakukan pada kelas X dan kelas XI siswa program keahlian teknik mesin SMK Negeri 1 Singosari. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif terdiri dari masukan dan saran untuk perbaikan bahan ajar kimia yang dikembangkan yang diberikan oleh para ahli. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penilaian pengembangan bahan ajar berdasarkan penilaian standar materi pembelajaran yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data kuantitatif terdiri dari skor prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam proses pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan. Data ini diperoleh dengan menggunakan tes hasil belajar yang terdiri dari 21 item dengan validitas isi sebesar 84. Bahan ajar kimia yang dikembangkan terdiri dari buku siswa dilengkapi dengan media pembelajaran visual dalam bentuk CD dan petunjuk guru. Hasil penilaian ahli untuk kelayakan isi memiliki nilai 86%, kelayakan penyajian memiliki nilai 88%. Revisi bahan ajar kimia telah dilakukan berdasarkan saran yang diberikan oleh para ahli. Berdasarkan hasil penilaian ahli isi, bahan ajar yang sudah direvisi dianggap layak untuk digunakan dalam proses belajar kimia. Hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok dengan menggunakan bahan ajar kimia yang dikembangkan menunjukkan bahwa 83% dari siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75, dan skor rata-rata 82,1 . Berdasarkan hasil yang diberikan di atas, dapat dianggap bahwa bahan ajar kimia yang sudah dikembangkan sesuai untuk digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya dalam model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Evaluasi lebih lanjut tentang kesesuaian dan efektivitas dari bahan kimia yang dikembangkan pembelajaran harus dilakukan apabila akan dilakukan penyebaran yang lebih luas.

Kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos / Sayyidatina Al Akhirina

 

Kata kunci: kesantunan, tuturan imperatif, mahasiswa Manusia pada umumnya lebih senang mengungkapkan pendapat-pendapat yang sopan daripada yang tidak sopan. Kesantunan berbahasa bukan semata-mata motif utama bagi penutur untuk berbicara, melainkan merupakan faktor pengatur yang menjaga agar percakapan berlangsung dengan lancar, menyenangkan, dan tidak sia-sia. Tuturan imperatif merupakan tuturan yang mengharuskan mitra tutur untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penuturnya, baik secara tersirat maupun tersurat. Dalam aktivitas kesehariannya di tempat indekos, mahasiswa tidak pernah lepas dari penggunaan tuturan imperatif, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos, dan (2) faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Tujuan penelitian yang telah ditetapkan dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berupa berbagai macam tuturan dalam praktik berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa keseharian yang berbentuk lisan, yangmengandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Sumber data dalam penelitian ini yakni mahasiswa yang tinggal di tempat indekos dengan latar belakang etnik Jawa. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen pengumpul data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, dan pencatatan lapangan. Adapun analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kontekstual. Metode analisis kontekstual adalah cara-cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan, memperhitungkan, dan mengaitkan identitas konteks- konteks yang ada. Penelitian ini menghasilkan dua temuan, yakni wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos dan faktor- faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos. Pertama, wujud pragmatik kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos diklasifikasikan berdasarkan konstruksi dan maknanya, yang meliputi: (1) konstruksi deklaratif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, permintaan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, mengizinkan, larangan, harapan, dan umpatan; (2) konstruksi imperatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: perintah, permohonan, imbauan, persilaan, dan harapan; (3) konstruksi interogatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: perintah, suruhan, permintaan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, harapan, dan umpatan; (4) konstruksi eksklamatif, yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, desakan, bujukan, ajakan, mengizinkan, larangan, umpatan, dan pemberian ucapan selamat; (5) konstruksi emfatik yang memiliki makna pragmatik imperatif: suruhan, permintaan, desakan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, mengizinkan, harapan, dan umpatan. Kedua, faktor-faktor yang memengaruhi munculnya kesantunan pemakaian tuturan imperatif mahasiswa di tempat indekos terdiri dari 5 faktor yang berupa (1) pematuhan maksim, yang terdiri atas maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatisan; (2) skala kerugian dan keuntungan; (3) skala pilihan; (4) skala ketidaklangsungan; (5) skala keotoritasan; serta (5) jarak sosial. Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian ini yakni yang pertama bagi mahasiswa yang tinggal di tempat indekos, sebaiknya antara mahasiswa satu dan lainnya hendaknya saling menjaga kesantunan dalam bertutur sehari-hari di tempat indekos karena di samping menyampaikan amanat, kebutuhan dan tugas penutur adalah menjaga atau memelihara hubungan sosial penutur-pendengar. Saran yang kedua ditujukan kepada peneliti selanjutnya untuk menindaklanjuti penelitian ini dengan penelitian lain yang serupa, berancangan sama, namun memiliki ruang lingkup kajian yang lebih luas, yaitu tidak dibatasi pada tempat indekos saja, tetapi bahkan bisa dibandingkan antar kelompok etnik tertentu. Jangkauan penelitian yang demikian diharapkan dapat memiliki tingkat kebermaknaan yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bagi perkembangan linguistik pragmatik Indonesia yang sampai dengan saat ini terbukti masih mendapatkan perhatian yang terbatas.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran group investigation kelas X-E SMA Islam Malang pada mata pelajaran geografi pokok bahasan litosfer dan pedosfer / Reny Budi Prastiwi

 

Kata Kunci: pembelajaran model Group Investigation, aktivitas siswa, hasil belajar Berdasarkan observasi awal terkait aktivitas belajar siswa dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa kelas X-E SMA Islam Malang tanggal 14 Oktober 2010, menunjukkan bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi oleh guru dan siswa cenderung pasif, siswa merasa jenuh jika selama 2 × 45 menit kegiatan pembelajaran tanpa ada aktivitas yang menyenangkan, cara belajar siswa menggunakan metode menghafal, sehingga materi yang telah dihafalkan tersebut mudah untuk di lupakan, dan di luar jam pelajaran di sekolah (di rumah) siswa jarang mempelajari mata pelajaran geografi. Hasil analisis daftar nilai mata pelajaran geografi hanya terdapat 22,22% siswa tuntas belajar, dan pada aktivitas siswa hanya sebesar 19,44% siswa mencapai taraf keberhasilan. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu diterapkan pembelajaran yang mampu mengarahkan siswa untuk menumbuhkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Alternatif pembelajaran tersebut adalah penerapan pembelajaran model Group Investigation. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2011. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-E yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, teknik pengumpulan data melalui tes, sedangkan aktivitas siswa menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Aktivitas klasikal pada siklus I mencapai 44,44% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80,55%, sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 55,56% pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-E SMA Islam Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan; 1). Bagi guru geografi, model pembelajaran Group Investigation dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran yang berguna dalam meningkatankan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga dapat meningkatkan mutu pengajaran di sekolah; 2). Bagi peneliti selanjutnya, model pembelajaran Group Investigation dapat digunakan pada materi yang lainnya selain materi litosfer dan pedosfer, dengan diberikan beberapa inovasi pada tahap- tahap pembelajarannya guna menyiasati kebosanan siswa.

Studi tentang media pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo / Analisa Yohana

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Seni Budaya, Seni Rupa. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Ketepatan penggunaan media pembelajaran dapat memepengaruhi kualitas proses serta hasil yang dicapai. SMP Negeri 1 Probolinggo mengadakan mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa pada semester 1. Sekolah tersebut dianggap memiliki prestasi akademik yang baik oleh banyak pihak. Maka dari itu diadakan penelitian tentang media pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa, karena penggunaan media yang tepat akan sangat berpengaruh pada keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah tersebut Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran apresiasi mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo, (2) Mengetahui penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran ekspresi mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di SMP Negeri 1 Probolinggo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk mengungkap data adalah metode observasi pada perangkat pembelajaran yang digunakan guru, wawancara dengan guru mata pelajaran, serta angket yang diberikan pada siswa untuk triangulasi sumber. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Media-media yang digunakan pada pembelajaran apresiasi adalah media buku teks/buku panduan, media contoh gambar/foto-foto, media model, media hasil karya seni yang dihadirkan langsung pada siswa, serta media elektronik berbasis komputer. Guru selalu menggunakan media pembelajaran pada setiap KD pembelajaran apresiasi. Media yang paling berperan membantu siswa dalam pembelajaran apresiasi adalah media LCD, media video/film, dan media contoh-contoh (seperti patung, lukisan, keramik, dll), sedangkan media yang paling berperan membantu guru adalah media karya yang ditunjukkan secara langsung pada siswa yaitu lukisan, (2) Media yang digunakan pada pembelajaran ekspresi selama ini adalah media buku teks/buku panduan, media model, media contoh gambar/foto, media hasil karya seni, media elektronik berbasis komputer, serta media alat dan bahan untuk berkarya seni. Guru selalu menggunakan media pembelajaran pada setiap KD pembelajaran ekspresi. Media yang paling berperan membantu siswa dalam pembelajaran ekspresi adalah media LCD, media video/film, media contoh-contoh (seperti patung, lukisan, keramik, dll), dan media gambar, sedangkan media yang paling berperan membantu guru adalah media karya yang ditunjukkan secara langsung pada siswa yaitu lukisan.

Peran kepala sekolah dalam pengembangan rintisan sekolah bertaraf internasional (studi multisitus di SMA Negeri 1 Malang dan SMA Negeri 10 Malang) / Faridah Hayati)

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd. Kata kunci: peran kepala sekolah, rintisan sekolah bertaraf internasional Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 50 ayat (3) mengamanat­kan agar pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendi­dikan yang bertaraf internasional. Pada tahun 2008 Depdiknas telah menetapkan 570 SMP/SMA/ SMK menjadi sekolah RSBI. Saat ini di kota Malang terdapat beberapa sekolah yang telah ditetapkan sebagai sekolah RSBI, termasuk SMAN 1 dan SMAN 10 Malang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh informasi bahwa RSBI di SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang memiliki beberapa kesamaan, yakni sebagai sekolah RSBI yang pelaksanaannya melibatkan peran serta masyarakat tetapi berbeda dalam hal manajemen dan pendanaannya. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti kedua sekolah tersebut. Peran kepala sekolah sebagai manajer profesional sangat menentukan dalam pengembangan sekolah, maka penelitian akan difokuskan pada peran kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. Dalam Permen­dik­nas Nomor 13 Tahun 2007 dinyatakan bahwa kepala sekolah dipersyaratkan memiliki 5 kompe­tensi, yakni kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Jika sekolah dipimpin oleh kepala sekolah yang memenuhi persyaratan kompetensi kepala sekolah, maka dapat diharapkan bahwa sekolah tersebut dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh Mendiknas tahun 2009 tentang SMA bertaraf internasional. Penelitian ini bertujuan untuk memerikan dan menjelaskan (1) peran kepala sekolah dalam merumuskan dan mensosialisasikan visi dan misi RSBI, (2) peran kepala sekolah dalam pengem­bangan RSBI, dan (3) faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis rancangan studi multisitus (multi-site studies). Penelitian dilakukan di 2 lokasi, yakni SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang. Data penelitian bersumber dari kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, para kepala Tata Usaha, dan dokumen. Untuk menjaring data, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam, angket, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data sampai terselesaikannya laporan penelitian. Analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan secara bersamaan, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam merumuskan dan mensosialisasikan visi dan misi RSBI, kepala SMAN 1 dan SMAN 10 Malang berperan sebagai: manajer dalam mengkoordinasikan kegiatan dengan membentuk tim perumus, inisiator perumusan visi dan misi, fasilitator, pemimpin, dan inspirator dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi. Dalam pengembangan RSBI, kepala SMAN 1 dan SMAN 10 Malang adalah sebagai berikut; (1) akreditasi sekolah, kepala sekolah berperan sebagai manajer dan motivator; (2) pengembangan kurikulum, kepala sekolah beperan sebagai manajer, leader, pendidik, dan inspirator; (3) proses pembelajaran, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, supervisor, dan fasilitator; (4) peningkatan mutu penilaian, kepala sekolah berperan sebagai pendidik dan fasilitator; (5) peningkatan mutu kompetensi lulusan, kepala sekolah berperan sebagai fasilitator, manajer, dan administrator; (6) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, fasilitator, motivator, dan supervisor; (7) pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, kepala sekolah berperan sebagai manajer dan supervisor; (8) pengelolaan, kepala sekolah berperan sebagai manajer, pendidik, dan fasilitator; (9) pembiayaan, kepala sekolah berperan sebagai manajer; dan (10) kesiswaan, kepala sekolah berperan sebagai pendidik, inovator, dan manajer. Faktor pendukung dan kendala yang dihadapi kepala SMAN 1 Malang dan SMAN 10 Malang dalam pengembangan RSBI meliputi: (1) Faktor pendukung: (a) akreditasi sekolah: kuatnya komitmen dan kekompakan serta koordinasi; (b) pengembangan kurikulum: tingginya semangat guru, adanya pendampingan konsultan ahli kurikulum; (c) proses pembelajaran: intensifnya kepala sekolah dalam memotivasi para guru, intensifnya kegiatan peningkatan profesionalisme guru; (d) penilaian: pemahaman guru terhadap sistem penilaian, tersedianya alat dan bahan penilaian, adanya konsultan; (e) peningkatan mutu kompetensi lulusan: efektifnya sistem pembela­jaran, efektifnya program pembinaan ekstrakurikuler, dan adanya program untuk mema­cu siswa berpretasi; (f) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan: profesionalisme guru, kepemimpinan kepala sekolah yang menerapkan pola saling menghargai; (g) pengembangan sarana dan prasarana: tersedianya sarana dan prasarana menunjang pembelajaran, adanya lembaga donor; (h) penge­lolaan: terlaksananya manajemen berbasis sekolah, tingginya kualitas input; (i) pembiayaan: adanya sistem perencanaan anggaran yang baik, adanya dana tambahan; (j) kesiswaan: adanya program pengembang­an kerja sama dengan berbagai pihak, mapannya sistem penerimaan siswa baru, dan input siswa yang bagus. (2) Kendala yang dihadapi: (a) akreditasi sekolah: terbatasnya waktu, kurang tertibnya sistem administrasi; (b) pengembangan kurikulum: guru masih minim pemahamannya tentang kurikulum baru; (c) proses pembelajaran: rendahnya kemampuan bahasa Inggris para guru dan siswa; (d) penilaian: banyak menyita waktu para guru, kurangnya kemampuan siswa berbahasa Inggris; (e) kompetensi lulusan: belum terealisasinya program pembinaan untuk mengikuti ujian; (f) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan: kemam­puan SDM guru mulai dari nol sehingga merasa berat dalam menghadapi RSBI; (g) pengem­bang­an sarana dan prasarana: minimnya bantuan/subsidi pendanaan dari pemerintah; (h) pengelolaan: belum terciptanya budaya layanan prima berstandar internasional; (i) pembiayaan: keterbatasan anggaran, sistem administrasi keuangan yang rumit; (j) kesiswaan: belum bisa memberikan prioritas dalam penerimaan siswa baru bagi warga tinggal di sekitar sekolah. Berdasarkan temuan penelitian tersebut di atas dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. (1) Faktor pendukung dan kendala yang ada di sekolah hendaknya dijadikan pijakan bagi kepala sekolah dalam pengembangan RSBI. (2) Untuk menjamin keberhasilan RSBI, guru perlu terus-menerus meningkatkan profesionalismenya melalui training, workshop, seminar, penataran, dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. (3) Komite Sekolah diharapkan dapat berperan dalam hal pendanaan maupun mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak sehingga pengembangan RSBI dapat berjalan dengan lancar. (4) Dinas Pendidikan Kota Malang sebagai pengambil kebijakan yang dapat mendukung pengembangan RSBI, misalnya kebijakan dalam hal peningkatan profesionalisme guru, pengembangan sarana prasarana dan pendanaan. (5) Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur diharapkan dapat mendukung pengembangan RSBI dalam bentuk pemberian dana blockgrant, sarana dan prasarana, peningkatan SDM, kebijakan dalam pengembangan RSBI, sehingga tujuan pendidikan dapat berhasil dengan baik. (6) Peneliti-peneliti lain dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang RSBI, misalnya pengembangan RSBI di sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan.

Pengembangan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD / Nova Kristian

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, membaca dongeng, berbentuk komik Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran membaca dongeng berdasarkan observasi mengalami beberapa hambatan. Hambatan tersebut adalah (1) terdapat indikasi rendahnya minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran membaca dongeng, (2) pembelajaran mem-baca dongeng monoton dan membosankan, dan (3) guru hanya terpaku pada buku teks dan LKS. Padahal buku tersebut terlalu banyak teori, monoton, dan kurang dekat dengan siswa. Pada akhirnya hal tersebut akan membuat siswa mengalami banyak kesulitan dalam memahami materi yang disajikan di dalamnya, sehingga dapat memengaruhi hasil belajar siswa. Agar proses pembelajaran membaca dongeng dapat berlangsung dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan paling tidak guru dituntut mampu menyedia- kan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pemilihan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik diduga cocok dan sesuai dengan siswa SD karena komik adalah bahan bacaan yang dekat dan disukai oleh siswa SD. Jika dongeng dalam bahan ajar disajikan dalam bentuk komik maka siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari dan membaca bahan ajar tersebut. Motivasi yang tinggi ini akan berpengaruh positif terhadap penyampaian materi dan pesan-pesan pembelajaran yang tertuang di dalam buku ajar tersebut. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar dongeng berbentuk komik untuk Siswa kelas III SD. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, (2) mengembangkan organisasi penyajian bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, dan (3) mengembangkan bahasa bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk siswa kelas III SD, dan (4) mengembangkan tampilan bahan ajar membaca dongeng berbentuk komik untuk sisw kelas III SD Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model desain sistem pembelajaran Dick dan Carey (1990). Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 4 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui tiga kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli sastra, ahli pembelajaran bahasa Indonesia, dan ahli visualisasi komik, (2) uji praktisi yakni guru kelas III SD, dan (3) uji siswa SD kelas III Oro-oro Dowo Malang yang terdiri dari 37 siswa. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kuantitatif dan teknik kualita-tif. Teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kuantitatif yang dipero-leh dari angket penilaian bahan ajar, sedangkan teknik kualititatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif yang berupa data verbal yang diperoleh dari wawancara dan catatan tertulis berupa komentar, saran, dan masukan yang tertulis pada lembar penilaian. Analisis data verbal dilakukan dengan cara (1) mengum-pulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data ver-bal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) mengana-lisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah sudah layak atau harus direvisi. Dari hasil uji bahan ajar dengan ahli sastra menghasilkan rata-rata kelaya-kan sebesar 80%, ahli pembelajaran 89,2%, ahli visualisasi komik 89,6%, guru Bahasa Indonesia 98%, dan siswa 90%. Hasil uji dengan ahli materi dongeng menunjukkan bahwa bahan ajar harus direvisi karena dari kelima aspek yang diujikan ada satu aspek yang belum layak, sedangkan menurut ahli pembelajaran dongeng produk tergolong layak dan dapat diimplementasikan dalam pembela-jaran, dari ahli visualisasi komik produk tergolong layak dan dapat diimplemen-tasikan dalam pembelajaran, dan dari guru dan siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar membaca do-ngeng berbentuk komik dari hasil uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi kepala sekolah bahan ajar ini dapat memberikan kesem-patan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar secara mandiri. Bagi guru dapat menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan bahan ajar yang berfungsi sebagai alternatif bahan pembelajaran membaca dongeng berbentuk komik, diharapkan pembelajaran membaca dongeng lebih menarik bagi siswa. Selanjut-nya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Hubungan motivasi kerja dan prestasi kerja pemantau Pemilu Indonesia 2004 pada jaringan pendidikan pemilih untuk rakyat (JPPR) Kecamatan Blimbing, Kota Malang / Yuli Hartini

 

Survei tentang sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah menengah atas negeri (SMAN) se-kabupaten Bangkalan / Soleh Hoddin

 

Model pembelajaran pada pelatihan bagi tuna netra di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra Budi Mulya Malang / Irwan Hadi Yuwono

 

Hubungan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa kelas II SMA Negeri 1 Pamekasan / Evi Kusdiana

 

Perbedaan kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa kelas II MA Islamiyah yang tinggal di pondok dengan siswa yang tinggal di luar pondok pesantren, At-Tanwir, Talun, Sumberrejo, Bojonegoro / Roikhatul Jannah

 

Analisis tingkat kesehatan perusahaan untuk memprediksi potensi kebangkrutan dengan pendekatan Altman (Z-score) (studi kasus pada perusahaan wholesale and retail yang terdaftar di BEJ) / Zuhrina Puspitasari

 

Pengaruh kualitas layanan terhadap partisipasi anggota KPRI "Praja Mukti" Pemerintah Kabupaten Blitar / Rida Kurnia Hayati

 

Pengujian paritas daya beli relatif di Indonesia tahun 2001-2003 / Binti Nur Cholisiyah

 

Upaya penanggulangan pekerja anak di Indonesia / Dyah Eka Larasati

 

Hubungan antara tingkat partisipasi siswa di koperasi sekolah dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMPNH 1 Wlingi / Wahyu Sari Retno

 

Analisis pembentukan portofolio dengan menggunakan single index market model (studi pada Bursa Efek Jakarta) / Evy Widyaningrum

 

Pengaruh kinerja keuangan perusahaan terhadap return saham pada perusahaan food and beverage di Bursa Efek Jakarta periode tahun 2000-2002 / Medinia Nurul Aini

 

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan pilihan jabatan siswa kelas 2 SMP Negeri se Kota Malang / Ulfatul Millah

 

Analisis keuangan sebagai landasan mengukur kinerja saham pada perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) / Haris Yohananta

 

Perencanaan program sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah (studi kasus di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo) / Yetty Lindiana

 

Keefektifan pengelolaan pengajaran kepala taman kanak-kanak di Kota Malang / Carmelita Ruthmadona

 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe number head together (NHT) untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V SDN Mlaten I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Kurniawan Ujianegara

 

Kata kunci: kemampuan berbicara, pembelajaran kooperatif tipe NHT, SD Dalam rangka mengembangkan perbaikan paradigma siswa belajar saat ini dikembangkan pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Model kooperatif dirancang agar setiap individu dapat bekerja sama dan saling bergantung satu sama lain dalam suatu struktur dan tujuan. Pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat membentuk keterampilan siswa, dimana siswa dapat berkomunikasi dengan baik dalam mengekspresikan kepada lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil survey terhadap siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan kemampuan berbicara anak masih tergolong rendah, hal itu dapat dilihat dari segi pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kalimat, penguasaan naskah atau materi, dan kesungguhan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Berdasarkan hal tersebut peneliti mengangkat judul "Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Untuk meningkatkan Kemampuan Berbicara pada Siswa Kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Metode penelitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk tindakan kelas dan direncanakan dalam dua siklus. Subyek penelitian siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Instrumen penelitian (1) panduan observasi, (2) panduan wawancara, (3) lembar kerja siswa (LKS), (4) lembar tes/soal, (5) refleksi. Analisis data terdiri dari reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian, adanya peningkatan hasil kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Hal itu dapat dilihat dari presentase ketuntasan pada siklus I sebesar 56%, siswa yang tuntas sebanyak 27 siswa dan 12 siswa belum tuntas, meningkat pada siklus II menjadi 77%, 30 siswa tuntas dan 9 siswa belum tuntas. Kesimpulan implementasi pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V SDN Mlaten I Nguling Pasuruan. Saran bagi guru penelitian pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam teknik pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan hasil belajar siswa di dalam kemampuan berbicara. Bagi peneliti lain dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian yang sejenis dengan permasalahan yang lain.

Pemanfaatan obyek-obyek konkrit untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi bagi siswa kelas V SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang / Santi Sari

 

Kata Kunci: obyek konkrit, menulis puisi, pembelajaran bahasa Indonesia SD Berdasarkan observasi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang ditemukan beberapa masalah dalam pembelajaran menulis puisi anatara lain: (1) guru hanya menggunakan metode konvensional, yaitu tanya jawab kemudian penugasan; (2) guru tidak menggunakan media khusus yang bisa memotivasi siswa agar bisa menulis puisi dengan baik; (3) guru tidak menginformasikan tahap menulis puisi; (4) siswa tidak memperhatikan penggunaan lirik, bait dan ejaan dalam menulis puisi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan implementasi kemampuan siswa kelas V SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang dalam menulis puisi dengan pemanfaatan obyek-obyek konkrit (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas V SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang dalam menulis puisi dengan memanfaatkan obyek-obyek konkrit. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini di laksanakan di SDN Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang dengan dua siklus pembelajaran dan subyek penelitian siswa kelas V sebanyak 44 siswa dengan menggunakan model kolaboratif. Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran menulis puisi dengan memanfaatkan obyek-obyek konkrit di lingkungan sekolah, yang berlangsung dalam tiga tahapan menulis, yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap merevisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pratindakan menunjukkan rata-rata 65,1, siklus I hasil belajar siswa menunjukkan rata-rata 74. pada rata-rata pra tindakan dan siklus I mengalami peningkatan nilai sebesar 8,9 atau 13,6 %. Sedangkan pada siklus II dengan nilai rata-rata 80,3 mengalami kenaikan sebesar 6,3 atau 8,5 % dari siklus I. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan pemanfaatan obyek-obyek konkrit dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang baik, maka disarankan agar guru hendaknya memanfaatkan objek-objek konkrit yang ada di lingkungan sekolah sebagai alternatif dalam pembelajaran menulis puisi dan proses pembelajaran bisa dilakukan diluar kelas supaya siswa tidak merasa bosan dengan proses belajar mengajar yang selalu dilakukan di dalam kelas. Bagi sekolah hendaknya sekolah memberikan fasilitas yang baik dalam pemenuhan media pembelajaran agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan siswa mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Penerapan media piramida cerita untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas IV SDN Pagentan 05 Singosari / Frosriana Wahyu Wilujeng

 

Kata Kunci: keterampilan menulis, piramida cerita, Malang Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang wajib diberikan mulai jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Masalah mendasar yang terjadi di kelas IV SDN Pagentan 05 Singosari pada pembelajaran bahasa Indonesia adalah rendahnya kemampuan menulis siswa, terutama menulis cerita. Hal tersebut dikarenakan rendahnya kemampuan siswa menemukan ide yang akan ditulisnya dalam bentuk tulisan. Untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam menulis diperlukan media yang tepat sehingga siswa dapat lebih memacu diri dalam menulis. Piramida cerita merupakan alah satu media yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa dan dapat meningkatkan aktivitas belajar menulis siswa. Rancangan yang digunakan dalam pendekatan ini adalah penelitian tindakan kelas. Data penelitian ini berupa tulisan cerita siswa yang memperhatikan aspek kepaduan antar kalimat, keruntutan cerita, dan penggunaan ejaan. Pengumpulan data yang digunakan adalah berupa tes menulis cerita pada siswa. Metode tes yang digunakan adalah observasi dan tes menulis. Kegiatan analisis data dimulai dari seleksi data, pengoreksian data, pembobotan data, dan penyimpulan data. Pada penelitian ini diperoleh hasil dengan meningkatnya kemampuan menulis cerita dengan memperhatikan kepaduan kalimat, keruntutan cerita, serta penggunaan ejaan. Temuan pada siklus I adalah siswa menghabiskan waktu untuk menggambar dan mewarna sehingga tidak memfokuskan kegiatan menulis ceritanya. Di siklus II hasil menulis siswa lebih meningkat, hal ini dikarenakan siswa membuat piramida cerita di rumah, sehingga waktu untuk menulis cukup lama. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara klasikal meningkatnya kemampuan siswa dalam menulis cerita dengan menggunakan media piramida cerita. Saran dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis sebaiknya menggunakan buku cerita yang didalamnya terdapat gambar yang mudah dibuat agar siswa lebih memfokuskan menulis cerita daripada membuat piramida cerita.

Teaching English for young learners at "TK Negeri Pembina I" Malang / Lepi Leliati

 

English is treated as the first foreign language in Indonesia, and Indonesian people find it important to learn. Some primary schools have treated English as a local content subject even in rural areas since they want to involve themselves in the development of education. Introducing English to young learners should consider their enthusiasm and their interests in learning English; the teacher must motivate the students and be very communicative in teaching English. The purpose of the study is to describe the teaching of English in “TK Negeri Pembina I” Malang in terms of the teaching learning process the classroom, the material used by the teacher, and the techniques of teaching English in the classroom. The design of this study is descriptive qualitative. Related to the result of the study, English teacher is suggested to give simple short stories for the students, in order increase students’ attention in learning English. In telling the story, the teacher may use more interesting media such as: puppets, big books, and picture. The children love listening to stories. Hence, storytelling as part of students’ learning activities will help the teaching and learning process.

Penggunaan model advanced organizer yang dipadu dengan mindmapping untuk meningkatkan pembelajaran IPS di kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso Malang / Amalia Dyah Erviana

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Advanced Organizer, Pembelajaran IPS, Hasil Belajar. Pembelajaran yang dilakukan dalam mata pelajaran IPS harusnya dapat mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Berdasarkan observasi di kelas V di SDN Donowarih 02 pada tanggal 7 januari 2011 ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS. Permasalahan tersebut antara lain (1) Pembalajaran didominasi dengan metode ceramah, (2) guru sering bergantung pada buku teks, (3) siswa kurang memperoleh pengalaman langsung sehingga berpikir kreatif mereka kurang dikembangkan. Oleh karena itu pada penelitian kali ini peneliti ingin mencoba untuk menangani rendahnya hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping dalam pembelajaran IPS, melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk melaksanakan pembelajaran model Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang di kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso Malang. ; 2) Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang siswa kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso Malang; (3) Untuk mengetahui aktivitas siswa terhadap model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping pada mata pelajaran IPS dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang kelas V di SDN Donowarih 02 Karangploso Malang. Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan sejak Januari 2011 sampai dengan Mei 2011. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggrat yang terdiri atas empat fase, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa sebelum tindakan nilai rata-rata siswa 64,65, Diketahui 13 siswa belum mencapai ketuntasan individual. Setelah dilakukan tindakan I hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata 71,2, Selanjutya dilakukan tindakan II dan rata-rata hasil belajar siswa menjadi 80,25. Hal ini menunjukan sudah mencapai KKM yang ditentukan. Terbukti bahwa penerapan model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping dapat meningkatkan hasil belajar IPS dalam materi pokok perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Jepang kelas V SDN Donowarih 02 Karangploso. Selanjutnya peneliti menyarankan kepada guru agar dapat menerapkan model pembelajaran Advanced Organizer yang dipadu dengan Mindmapping pada pembelajaran IPS dengan kompetensi dasar lain ataupun mata pelajaran lain, dengan demikian siswa dapat melakukan pembelajaran secara langsung dan mengembangkan proses berpikirnya melalui presentasi materi dengan menggunakan peta konsep.

Pengaruh modernitas individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Dringu-Probolinggo / Rizkah Ulfah

 

Minat wirausaha siswa pada dasarnya merupakan suatu kehendak atau keinginan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan sebagai wirausaha, yang dapat diukur melalui memiliki motif untuk berprestasi, memilki bekal keterampilan untuk berwirausaha, memiliki mental dan jiwa wirausaha. Modernitas individu adalah serangkaian sifat kepribadian (sikap dan tingkah laku) yang dimiliki oleh siswa untuk aktif dalam menerima pengalaman baru dan memanfaatkan pembaharuan yang ada, serta kesanggupan siswa untuk hidup mandiri dan dinamis ditengah masyarakat modern, yang dapat mempengaruhi pola pikir siswa untuk selalu berfikir kreatif dan bertindak inovatif. Latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa merupakan suatu keadaan sosial ekonomi orang tua dengan indikator tingkat pendidikan orang tua, pendapatan orang tua, pekerjaan orang tua, dan Tanggung jawab terhadap keluarga. Dimana ke empat indikator tersebut mempengaruhi pada dukungan eksternal siswa untuk berwirausaha siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh modernitas individu terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMAN 1 Dringu-Probolinggo, (2) pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMAN 1 Dringu-probolinggo, (3) pengaruh modernitas individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa kelas XII IPS SMAN 1 Dringu-probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang dilakukan pada 100 siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Dringu-Probolinggo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan bantuan komputer program SPSS 17.0 for windows. Dari hasil pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa : (1) terdapat pengaruh positif yang signifikan modernitas individu terhadap minat wirausaha siswa.(2) terdapat pengaruh positif yang signifikan latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa terhadap minat wirausaha siswa. (3) terdapat pengaruh positif yang signifikan modernitas Individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat wirausaha siswa. Dan sebesar 60,5% minat wirausaha siswa dipengaruhi oleh modernitas individu dan latar belakang sosial ekonomi orang tua, sedangkan 39,5% minat wirausaha siswa dipengaruhi variabel lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa: (1) Bagi Siswa SMAN 1 Dringu kelas XII IPS untuk selalu mengembangkan sifat kepribadian secara optimal dengan memanfaatkan IPTEK yang ada dan aktif dalam pengembangan diri, agar dapat dijadikan sebagai bekal untuk mencapai kemandirian dizaman modern saat ini, yakni dengan memilih untuk berwirausaha, (2) Bagi pihak SMAN 1 Dringu hendaknya lebih mengoptimalisasi terhadap materi kewirausahaan, yakni mengembangkan program-program sekolah yang berkaitan dengan kewirausahaan, sehingga dengan dukungan dari sekolah diharapkan siswa lebih mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang wirausaha untuk mendukung minat mereka dalam berwirausaha, (3) Bagi guru diharapkan selalu membimbing dan mengarahkan siswa sebagai manusia yang modern untuk selalu berusaha berfikir kreatif dan melakukan inovasi dalam kehidupan sehari-hari, serta memberikan wawasan kepada siswa tentang kewirausahaan,(4)Bagi peneliti lain, diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk menambahkan variabel lain yang mempengaruhi minat wirausaha siswa dengan menggunakan metode analisis yang berbeda pula.

Pembelajaran dengan pendekatan open-ended untuk memahamkan siswa pada materi segiempat kelas VII-I SMP Negeri 1 Singosari / Nur Yuli Asih

 

Kata kunci open-ended open-ended yaitu metode yang menyajikan suatu permasalahan dengan penyelesaian yang tidak tunggal sehingga mengambangkan pola pikir siswa yang kreatif. Penelitian ini dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas VII-I SMP Negeri 1 Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pembelajaran openended dalam memahamkan siswa kelas VII I SMP Negeri 1 Singosari pada materi segiempat. Pembelajaran open-ended pada materi segiempat melalui 3 tahap: Pada tahap awal, siswa (a) diberi informasi mengenai materi segiempat meliputi identifikasi sifat-sifat segiempat ditinjau dari sudut, diagonal dan sisi-sisinya, (b) dikelompokkan, (c) diberi motivasi dengan cara memberitahukan kepada mereka bahwa diakhir tindakan mereka akan diberi hadiah dan penghargaan bagi kelompok dan siswa terbaik yang dipilih berdasarkan keaktifan dan skor tes. Pada tahap inti, siswa (a) diberi soal-soal open-ended pada LKS untuk dikerjakan secara berkelompok , (b) diberi waktu untuk mengerjakan LKS dan diskusi kelompok, dan (c) diminta untuk melakukan diskusi kelas hingga membuat kesimpulan. Pada tahap selanjutnya dalam model pembelajaran open-ended adalah tahap akhir. Siswa bersama guru mengadakan refleksi dengan mengulang kembali materi segiempat dan membuat kesimpulan Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran melalui open-ended dengan langkah-langkah yang sudah disebutkan dapat memahamkan siswa didasarkan pada hasil penelusuran soal tes dan LKS. Ratarata hasil tes siklus I sebesar 74,35% dan siklus II sebesar 94,1%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembelajaran matematika melalui open-ended dapat digunakan untuk memahamkan siswa pada materi segiempat. Open-Ended, Memahamkan dan Segiempat matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia, akan tetapi tidak sedikit siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika. Pemahaman siswa yang kurang dalam pembelajaran matematika disebabkan siswa tidak dapat mengembangkan pola berpikir kreatif . Tidak berkembangnya pola berpikir kreatif siswa karena guru memandang bahwa pembelajaran matematika sebagai suatu hasil atau produk bukan proses. sehingga mengakibatkan siswa tidak terlibat, baik secara fisik (bekerja) maupun secara mental ( berpikir) dalam kegiatan pembelajaran. Tidak terlibatnya siswa dalam kegiatan pembeajaran menyebabkan siswa menjadi pasif dan cenderung hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Oleh karena itu diperlukannya suatu metode pembelajaran

Simulasi lintasan petir berbasis diffusion limited aggregation menggunakan wolfram mathematica 7.0 / Indro Wicaksono

 

diffusion limited aggregation (DLA) pernah dibuat oleh Endah Wahyuni (2007) dengan memperhatikan probabilitas arah gerak menggunakan program Delphi 7. DLA mensimulasikan perjalanan partikel gerak secara acak (random walk) sampai membentuk suatu kumpulan partikel diam. Simulasi serupa pernah dibuat oleh Hiroki Sayama (2008) dengan menggunakan program Wolfram Mathematica 7.0 tanpa memperhatikan probabilitas arah gerak. Berdasarkan kedua program tersebut, maka dibuat program simulasi lintasan petir berbasis DLA dengan menggunakan Wolfram Mathematica 7.0. Model DLA merupakan cellular automata 2 dimensi yang digunakan untuk menggambarkan perjalanan partikel gerak yang bergerak secara acak sampai membentuk kumpulan partikel yang menempel pada partikel diam. Aturan penting yang digunakan yaitu aturan arah gerak dan syarat batas. Aturan arah gerak digunakan bergerak ke arah kanan, kiri, atas, dan bawah berdasarkan probabilitas masing-masing gerak. Sedangkan untuk aturan syarat batas digunakan memantul jika partikel mengenai batas kisi. Pada program simulasi ini, dengan mengubah probabilitas arah gerak masing-masing gerak dan nilai urutan acak tertentu menghasilkan simulasi lintasan petir yang sangat mirip dengan lintasan petir yang terjadi di alam. Hasil program simulasi ini adalah simulasi lintasan petir dengan kecenderungan merambat ke segala arah, kecenderungan merambat ke kanan bawah, kecenderungan merambat ke kiri bawah, kecenderungan merambat ke bawah, kecenderungan merambat ke atas, kecenderungan merambat ke kanan atas, kecenderungan merambat ke kiri atas, dan kecenderungan merambat ke kanan kiri. Simulasi, lintasan petir, diffusion limited aggregation, Wolfram Mathematica 7.0 Simulasi lintasan petir dengan model

Pengembangan modul pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk kelas IX semester genap SMP Negeri 18 Malang / Beni Hendarwanto

 

Kata kunci: Pengembangan, Modul, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran dari isi kurikulum pendidikan. Sumber belajar di SMP Negeri 18 khususnya untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang berbasis buku adalah LKS dan buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional Tahun 2010. Modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan baik siswa maupun guru kelas IX di SMP Negeri 18 Kota Malang untuk membantu proses pembelajaran. Modul ini dikembangkan sesuai dengan KTSP yang terdapat pada SMP Negeri 18 Kota Malang. Pengembangan modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan ini diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami konsep pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Spesifikasi produk yang diharapkan adalah materi yang disajikan dalam modul ini disesuaikan dengan KTSP SMP Negeri 18 Malang. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan buku ajar pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah sebagai berikut: (a) pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan cara penyebaran angket dan wawancara; (b) membuat rancangan produk; (c) evaluasi 3 orang yang terdiri dari 1 ahli media dan 2 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; (d) revisi produk awal dengan menyesuaikan hasil dari uji kelompok kecil; (e) uji coba lapangan dengan mengujicobakan hasil revisi produk awal; (f) revisi produk akhir dengan menyesuaikan dari hasil uji lapangan; (g) hasil akhir produk, modul mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan untuk siswa kelas IX semester genap SMP Negeri 18 Malang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase Berdasarkan hasil analisis data uji coba kelompok kecil terhadap 9 orang siswa dan uji coba kelompok besar terhadap 45 orang siswa kelas IX SMP Negeri 18 Kota Malang modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dinyatakan dapat digunakan. Produk pengembangan berupa modul pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dalam memberikan materi pada mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

Pengembangan permainan tradisional Jawa untuk menunujang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab / Arini Sadiyah

 

Kata Kunci: pengembangan, permainan tradisional Jawa, kosakata, bahasa Arab untuk anak. Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh pendidikan seorang pendidik. Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan permainan yang ada di lingkungan sekitar. Permainan tradisional daerah juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran. Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dipelajari oleh umat Islam khususnya, karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an. Namun pada kenyataannya pembelajaran bahasa Arab masih kurang diminati oleh sebagian besar orang di Indonesia, mereka beranggapan bahwa mempelajari bahasa Arab itu adalah hal yang sulit. Hal tersebut dimungkinkan karena pelafalan dan tulisan yang tidak sama dengan bahasa negara kita Indonesia yang sudah dipelajari dari usia dini. Untuk itu pengembang memilih permainan tradisional Jawa untuk dikembangkan sebagai media yang menyenangkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Hal ini disebabkan karena permainan adalah sesuatu yang disukai oleh anak-anak, jika anak-anak sudah merasa senang dengan pembelajaran bahasa Arab, sangat mungkin di waktu mereka dewasa, rasa senang itu akan tetap bersemi pada diri mereka. Tujuan penelitian adalah (a) mendeskripsikan proses pengembangan permainan tradisioal Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran Bahasa Arab dalam bentuk buku dan VCD, (b) memproduksi hasil pengembangan permainan tradisional Jawa dalam bentuk buku dan video untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran Bahasa Arab, (c) menguji kalayakan dan efektivitas penggunaan permainan tradisional Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab. Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Dick and Carey. Untuk menguji kelayakan produk, dilakukan validasi oleh ahli materi, ahli media, dan ahli pembelajaran serta dilakukan uji kelompok kecil dan uji lapangan. Hasil akhir dari pengembangan ini adalah berupa buku dan VCD yang diberi nama “Ayo Belajar Babahasa Arab Sambil Dolanan”. Buku berisi 10 macam permainan tradisional Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab yang masing-masing permainan tediri atas enam hingga sepuluh kosakata dengan enam macam tema yaitu: (1) nama-nama buah (2) nama-nama hewan (3) nama-nama profesi (4) peralatan sekolah (5) angka dan (6) kata kerja. Buku digunakan sebagai panduan dalam memainkan permainan tradisional Jawa. Sedangkan VCD digunakan sebagai penunjang buku yang berisikan video siswa siswi yang memainkan 10 permainan tradisional Jawa yang ada dalam buku “Ayo Belajar Bahasa Arab Sambil Dolanan”. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas pengembangan produk buku dan VCD "Ayo Belajar Bahasa Arab Sambil Dolanan" yaitu 83,3%. Untuk hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 87,5%. Berarti media pembelajaran tersebut cukup layak digunakan dalam pembelajaran. Produk buku dan VCD tersebut kemudian diujicobakan kepada siswa. Secara keseluruhan, persentase penilaian yang didapat dari hasil jawaban siswa pada ujicoba kelompok kecil adalah 100% dan untuk ujicoba lapangan adalah 98%. Hal ini berarti, pengembangan permainan tradisional Jawa untuk menunjang pemerolehan kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab validasinya tinggi dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Dari hasil pengembangan dalam penelitian pengembangan ini, pengembang memberikan saran kepada pengembang selanjutnya agar dapat mengembangkan materi dengan menambah jumlah permainan yang dikembangkan dan tema kosakatanya, karena pada produk pengembangan ini hanya memuat 10 (sepuluh) permainan dan 6 (enam) tema kosakata. Akan lebih baik apabila produk pengembangan dibuat dengan lebih banyak jenis permainan tradisional dan kosakatanya serta dibuat lebih menarik baik dari segi permainan, gambar, atau yang lainnya. Selain itu diharapkan dapat dilakukan ujicoba produk pengembangan kepada subjek yang lebih luas dengan kurun waktu yang lebih lama sehingga didapatkan validitas media yang lebih optimal.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe group investigation untuk meningkatkan hasil belajar IPS di SDN Pagentan 01 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Dwi Cahyo Rini

 

Kata Kunci: Tipe Group Investigation, hasil belajar, Aktifitas siswa. Pembelajaran IPS dengan menggunakan Tipe Group Investigation untuk meningkatkan aktivitas belajar ini merupakan salah satu pembelajaran dengan tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai bidang pendidikan, tidak hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan sosial, melainkan lebih jauh dari pada itu berupaya membina dan mengembangkan peserta didik menjadi sumber daya manusia yang berketerampilan sosial dan intelektual sebagai warga masyarakat dan warga Negara yang memiliki perhatian, kepedulian sosial yang bertanggung jawab. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa kelas IV semester II SDN Pagentan I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang melalui penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, serta untuk meningkatan hasil belajar IPS kelas IV semester II SDN Pagentan I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang dengan penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation. Dalam penelitian tindakan kelas ini, untuk melakukan pengamatan atau pengumpulan informasi dan data-data yang diperlukan, maka peneliti melakukan tahap-tahap: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi pada tiap-tiap siklusnya yang saling terkait dan berkelanjutan. data yang telah diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa serta mengetahui keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk analisis tingkat keberhasilan atau prosentase ketuntasan belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada tiap siklusnya, dilakukan dengan cara memberikan evaluasi hasil belajar. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data tentang perkembangan prestasi belajar siswa melalui penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation ternyata prestasi belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Pagentan 01 Kecamatan Singosari dapat meningkat. Berdasarkan penilaian prestasi hasil belajar IPS nilai rata-rata tes formatif 69 meningkat 86, jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 ada 21 siswa, dan pada siklus 2 meningkat 31 siswa sedangkan persentase ketuntasan pada siklus 1 mencapai 58% dan pada siklus ke 2 meningkat 83 %, siswa lebih aktif dan responsif dalam melakukan diskusi dengan menggunakan media vidio visual. Perlu adanya pemanfaatan media Video Visual yang optimal untuk pembelajaran ilmu pengetahuan social dengan mempertimbangkan aspek perkembangan siswa. Kelemahan pada penulisan penelitian ini tidak menggunakan media video visual yang lebih bersifat kongkrit/nyata.

Pengembangan computer assisted instruction (CAI) materi fluida dinamis dengan swishmaz untuk siswa SMK kelas X / Muhammad Fajar Prasetia

 

Kata Kunci : Computer Assisted Instruction (CAI), Fluida Dinamis, SwishMax Pesatnya kemajuan teknologi saat ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan peningkatan proses pembelajaran, salah satunya dengan mengembangkan bahan ajar. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk membuat bahan ajar CAI fluida dinamis. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan memanfaatkan modifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Brog dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut adalah sebagai berikut. (1) Studi pendahuluan (studi kepustakaan, survei lapangan), (2) Pengembangan model/produk (penyusunan draf, validasi produk, revisi, uji coba terbatas). Untuk mengetahui kelayakan/kevalidan produk ini, dilakukan uji coba.Desain uji coba dalam penelitian ini adalah uji coba terbatas, yang meliputi uji coba kepada ahli media, ahli materi, audien. Ahli media adalah orang yang berpengalaman dalam bidang multimedia komputer, ahli materi adalah orang yang berpengalaman dalam bidang fisika, sedangkan pengguna adalah siswa SMK. Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik persentase. Validator kelompok ahli materi, ahli media, dan pengguna masing-masing memberikan nilai dengan rata-rata sebesar 83,3%, 82,5%, 89,4%. Berdasarkan nilai rata-rata hasil validasi dapat disimpulkan bahwa produk bahan ajar CAI fluida dinamis adalah layak/valid untuk digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di sekolah.

Pengaruh fasilitas belajar dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro tahun ajaran 2010/2011 / Yunita Arifiyanti

 

Fasilitas belajar merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Agar siswa dapat mencapai tujuan secara maksimal, maka siswa perlu pengadaan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah, di rumah dan di masyarakat. Adanya fasilitas belajar akan memunculkan motivasi siswa dalam melakukan aktivitas belajar yang biasa dilakukan oleh siswa atau dalam bahasa sederhana disebut dengan kebiasaan belajar yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan belajar siswa. Kebiasaan ini meliputi kebiasaan belajar di sekolah dan di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui persepsi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo terhadap fasilitas belajar, (2) Mengetahui persepsi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo terhadap kebiasaan belajar, (3) Mengetahui pengaruh fasilitas belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo, (4) Mengetahui pengaruh kebiasaan belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo, (5) Mengetahui pengaruh antara fasilitas belajar dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo. Berdasarkan hasil analisis deskripstif diketahui bahwa persepsi siswa terhadap fasilitas belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Sumberrejo 70,69% yang tergolong baik, 27,59% tergolong sangat baik, dan 0,86% tergolong cukup baik, dan 0,86% tergolong kurang baik, dalam fasilitas belajar baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat. Kebiasaan belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Sumberrejo 61,21% yang tergolong baik, 1,72% tergolong sangat baik, 35,34% tergolong cukup baik dan 1,72% tergolong kurang baik, dalam kebiasaan belajar di sekolah maupun di rumah. Hasil belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri 1 Sumberrejo 73,28% yang tergolong baik, 17,24% tergolong sangat baik, dan 9,48% tergolong kurang baik. Berdasarkan hasil uji asumsi klasik, data yang diperoleh dari penelitian ini distribusi datanya normal, bebas dari multikolinieritas, bebas dari heterokedastisitas, dan bebas dari autokorelasi. Hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa fasilitas belajar berpengaruh terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo dan kebiasaan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo. Secara simultan, fasilitas belajar dan kebiasaan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas XII di SMAN 1 Sumberrejo. Saran yang diajukan adalah (1) Diharapkan dalam pengadaan fasilitas belajar disekolah hendaknya memperhatikan kelengkapan fasilitas belajar siswa terutama dalam kondisi fasilitas belajar dan memperbaiki fasilitas belajar yang menunjang proses pembelajaran, seperti keadaan penataan ruang kelas serta keadaan laboratorium. (2) Diharapkan guru dapat meningkatkan fasilitas belajar yang telah dimiliki, serta mengetahui bagaimana menghadapi siswa yang memiliki kebiasaan belajar yang berbeda, sehingga guru dapat memberikan motivasi bagi siswa untuk dapat mencapai kesuksesan dalam belajar. (3) Diharapkan siswa mempunyai hasil belajar yang stabil dan tinggi, berani membuka diri kepada para guru agar berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran agar menjadi lebih nyaman dan juga siswa menggunakan fasilitas yang sudah tersedia semaksimal mungkin dan mempunyai kebiasaan belajar yang baik agar mencapai hasil belajar yang lebih optimal.

Pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis teks berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi-Sumenep tahun ajaran 2010/2011 / Riski Agustini

 

Kata Kunci : menulis teks berita, metode STAD, dan pembelajaran menulis Tingkat minat dan kemampuan siswa dalam menulis teks berita masih rendah karena kurang beragam dan menariknya penerapan metode pembelajaran.Oleh karena itu, diperlukan suatu metode yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya dalam menulis teks berita. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah metode STAD. Metode ini menuntun siswa memperoleh pengetahuan melalui kerjasama kelompok yang diterapkan dalam metode STAD. Dalam metode STAD siswa diajak untuk bekerja sama dalam menyusun pengetahuan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan teman. Pola pembelajaran ini siswa berperan aktif dalam proses menemukan dan menyusun informasi berdasarkan kejadian atau peristiwa yang dialami ataupun diimajinasikan. Metode ini menekankan pada siswa untuk mandiri, mau bekerja sama dengan teman dalam proses pembelajaran, mau menghargai pendapat orang lain. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis judul berita, (2) mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis teras berita, dan (3) mengetahui adanya pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis tubuh berita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Masing-masing kelompok berjumlah 30 siswa. Sampel penelitian merupakan siswa yang benar-benar mengikuti seluruh kegiatan penelitian. Dalam penelitian ini, data berupa hasil pretes dan postes menulis teks berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode STAD memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan menulis teks berita pada aspek menulis judul berita dan teras berita siswa SMP Negeri I Saronggi. Kemampuan menulis teks berita kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek menulis judul berita memiliki nilai uji statistik 2,540 lebih besar dari nilai t tabel 2,045 maka H 1 diterima. Dengan demikian, ada pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis judul berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Kemampuan menulis teks berita kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek menulis teras berita memiliki nilai uji statistik 2,505 lebih besar dari nilai t tabel 2,045 maka H 1 diterima. Dengan demikian, ada pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis teras berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Kemampuan menulis teks berita kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek menulis tubuh berita memiliki nilai uji statistik 1,781 lebih kecil dari nilai t tabel 2,045 maka H 1 ditolak. Dengan demikian, tidak ada pengaruh penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis tubuh berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh positif penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis judul berita dan teras berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi, sedangkan tidak ada pengaruh positif penggunaan metode STAD terhadap kemampuan menulis tubuh berita siswa kelas VIII SMP Negeri I Saronggi. Hal ini disebabkan karena dalam menulis tubuh berita siswa masih belum bisa membedakan mana teras berita dan mana tubuh berita. Mereka mempunyai pemahaman bahwa teras berita dan tubuh berita sama-sama merupakan isi berita keseluruhan kecuali judul berita. Berdasarkan kesimpulan data hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa saran. Saran ini dimaksudkan untuk dapat memberikan masukan pikiran terhadap peningkatan dan pembinaan kemampuan menulis teks berita. Bagi peneliti lain hendaknya penelitian ini dapat dijadikan masukan demi tercapainya penelitian berikutnya. Karena fungsi penelitian eksperimen yang merupakan uji coba suatu produk, maka hasil yang didapat dari penelitian ini bias digunakan sebagai landasan untuk diadakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode STAD. Bagi guru hendaknya penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk menambah pengetahuan dan kreativitas guru dalam mengembangkan metode dan strategi pembelajaran di sekolah. Berdasarkan penelitian ini guru juga dapat mencoba menggunakan metode STAD untuk meningkatkan kemampuan menulis teks berita. Jenis metode STAD yang lain juga dapat digunakan guru di sekolah untuk menambah variasi teknik-teknik menulis teks berita dalam pembelajaran di kelas. Perlu diingat juga agar menanamkan motivasi menulis teks berita dengan menerapkan metode STAD dari dalam diri siswa agar mendapatkan hasil tulisan yang maksimal.

Penggunaan metode shopping post to post untuk meningkatkan kualitas proses dan kualitas hasil pembelajaran menulis makalah siswa kelas XI IPA SMA Widyagama Malang / Ari Dwi Cayanti

 

Kata Kunci: kemampuan menulis, pembelajaran menulis, metode shopping post to post Pembelajaran keterampilan menulis memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, mengajarkan keterampilan menulis harus dalam porsi yang cukup. Pembelajaran menulis merupakan suatu kegiatan yang harus diajarkan secara terus menerus kepada peserta didik. Tanpa adanya latihan yang terus-menerus, kegiatan menulis tidak dapat berjalan dengan baik. Menulis bukanlah aktivitas yang sekali jadi, melainkan masih membutuhkan perbaikan. Akan tetapi, kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan pembelajaran menulis belum diajarkan sesuai dengan porsi seharusnya. Hasil studi pendahuluan di kelas XI IPA SMA Widyagama Malang menunjukkan keterampilan menulis siswa masih rendah. Hal ini disebabkan rendahnya tingkat motivasi pada diri siswa. Berdasarkan uraian di atas, penggunaan metode shopping post to post dalam menulis makalah siswa kelas XI IPA SMA Widyagama bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis. Diharapkan dengan adanya metode shopping post to post dapat merangsang motivasi siswa dan meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang instrumen utamanya adalah peneliti. Instrumen pendukung yang digunakan berupa tes performansi, lembar observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi kegiatan siswa. Sumber data merupakan guru dan siswa kelas XI IPA SMA Widyagama Malang. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan non tes. Data yang diperoleh berupa hasil tulisan siswa dan catatan pada saat kegiatan observasi selama penelitian berlangsung. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian keterampilan menulis makalah yang dilengkapi dengan kutipan, catatan kaki, dan daftar rujukan menggunakan metode shopping post to post pada prasiklus, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada kemampuan siswa menulis makalah prasiklus sebesar 59,8, pada siklus I sebesar 71,6, dan pada siklus II sebesar 79,1. Nilai ratarata kemampuan menulis kutipan pada prasiklus sebesar 52,9, pada siklus I sebesar 70,3, dan pada siklus II sebesar 81,7. Nilai rata-rata kemampuan menulis catatan kaki pada prasiklus sebesar 35,5, pada siklus I sebesar 62,6, pada siklus II sebesar 74,7. Nilai rata-rata pada kemampuan membuat daftar rujukan pada prasiklus sebesar 81,4, pada siklus I sebesar 95,8, dan pada siklus II sebesar 98,3. Peningkatan keterampilan menulis siswa pada tiap siklus diikuti dengan kemajuan sikap siswa yang lebih bertanggung jawab, disiplin, aktif, dan saling membantu. Penerapan metode shopping post to post dengan langkah pembelajaran yang memberikan ruang gerak pada siswa untuk lebih beraktivitas tidak hanya duduk diam di bangku untuk mendengarkan dan menunggu perintah guru. Berdasarkan manfaat dari metode ini disarankan kepada guru untuk menerapkan metode shopping post to post dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan permasalahan yang sama. Bagi peneliti yang akan datang diharapkan meneliti tentang keterampilan menulis menggunakan metode shopping post to post shopping post to post

Penerapan model concept sentence untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas IV mata pelajaran IPS di SDN Lesanpuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Wilhelma Fenanlampir

 

Kata kunci: Model Concept Sentence, Proses dan Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas IV SDN Lesanpuro III ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS materi Perkembangan Teknologi Produksi, Komunikasi dan Transportasi, yaitu (1) Proses belajar siswa rendah yang ditandai oleh siswa kurang aktif dalam mencari atau menemukan pengetahuannya sendiri (2) kurangnya kerjasama dalam proses belajar (3) rendahnya hasil belajar siswa pada bidang studi IPS. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan pembaharuan dalam model pembelajaran. model pembelajaran yang sesuai adalah model concept sentence, yaitu model pembelajaran dimana siswa lebih diarahkan dan difokuskan untuk memahami serta menguasai kata kunci dari setiap materi yang disajikan oleh guru. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana penerapan model Concept Sentence dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial; (2)Apakah penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif model "Concept Sentence" dapat meningkatkan proses belajar siswa; (3) hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan, sedangkan siklus II dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan dan observasi, refleksi dan perbaikan rencana. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Lesanpuro III yang berjumlah 42 siswa yang terdiri dari 28 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model concept sentence dapat meningkatkan proses dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Lesanpuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Hal ini dilihat dari peningkatan proses belajar siswa dari siklus I pertemuan I ke siklus I pertemuan II, ke siklus II. Perolehan rata-rata post test yang juga meningkat tajam, dari rata-rata sebelumnya (56,43%) mengalami peningkatan pada siklus I pertemuan I dengan rata-rata kelas sebesar (68%) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (54,8%) meningkat pada siklus I pertemuan II dengan rata-rata kelas sebesar (75,6%) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (73,8%) meningkat pada siklus II dengan ratarata kelasnya sebesar (85,6%) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (92,9%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model concept sentence telah sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah direncanakan dan mengalami peningkatan secara bertahap serta penerapan model concept sentence dapat meningkatkan proses dan hasil belajar kelas IV SDN Lesanpuro III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan suatu variasi dalam pembelajaran dan dapat menerapkan model concept sentence pada materi lain yang sesuai.

Pengaruh pembelajaran berbasis multiple intelligences terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMKN 4 Malang / Arinda Yussanti Ika F.

 

Multiple Intelligences. Pembelajaran ini dapat mengembangkan kecerdasan siswa dan menggali potensi yang ada pada dirinya serta mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam bentuk interaksi baik antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah prestasi belajar fisika siswa yang diajar dengan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences lebih baik dari prestasi belajar fisika siswa yang diajar dengan model pembelajaran konven-sional pada kelas X SMKN 4 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan rancangan Pretest-Posttest Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMKN 4 Malang tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 28 kelas, kemudian sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling, kelas yang terpilih yaitu kelas X PS F sebagai kelas eksperimen dan X PD D sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji-t dari hasil prestasi siswa (nilai post-test) yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian ini diperoleh rata-rata prestasi belajar (post-test) siswa pada kelas eksperimen sebesar 74,08 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 66,84. Berdasarkan rata-rata prestasi di atas disimpulkan bahwa prestasi belajar fisika dengan menggunakan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences memiliki rata-rata nilai lebih baik dibandingkan dengan tanpa menggunakan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences. Saran yang dapat disampaikan bagi guru fisika, disarankan dapat menerapkan sekaligus dapat mengembangkan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences dengan lebih baik, sehingga siswa mampu mengembangkan kecerdasan yang dimilikinya dan menggali potensi yang ada pada dirinya serta mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitasnya yang mengarah pada pencapaian prestasi belajar yang lebih baik.: multiple intelligences, prestasi belajar. Mengingat pentingnya prestasi belajar fisika siswa sebagai dasar kenaikan kelas siswa, maka prestasi belajar fisika siswa harus benar-benar baik. Untuk dapat mencapai prestasi belajar fisika secara mantap dan tinggi dalam proses pembelajaran, salah satunya dapat digunakan pembelajaran berbasis

Penerapan metode hanifida pada pelatihan menghafal cepat (studi kasus di Laa Raiba Hanifida Training Center) / Prehaning Yuni Astuti

 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) penerapan metode hanifida untuk menghafal cepat asmaul husna, (2) penerapan metode hanifida untuk menghafal cepat pelajaran, dan (3) penerapan metode hanifida untuk menghafal cepat surat terpopuler Al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif jenis deskriptif dengan rangcangan studi kasus yang adakan di Laa Raiba Hanifida Training Center yaitu di pusat Jombang, Kertosono Kabupaten Nganjuk dan Maron Kabupaten Probolinggo. Pada penggalian data digunakan teknik (1) wawancara, (2) observasi, (3) studi dokumentasi, dan (4) studi literatur. Analisis data yang digunakan (1) reduksi data, (2) display data, dan (3) verifikasi. Pengecekan keabsahan temuan digunakan triangulasi dan ketekunan peneliti. Kesimpulan penelitian ini pertama, metode hanifida merupakan metode yang unik dan ekspresif, cara cepat menghafal asmaul husna, pelajaran, dan surat terpopuler Al-Qur’an. Metode hanifida memiliki ekspresi variatif, cerita lebih merakyat, lucu, aneh dan lebih mengena pada sasaran. Kata kunci lebih kreatif dan dilengkapi dengan buku modul bergambar sebagai penguat imajinasi. Menggunakan sistem belajar verbal yaitu menggunakan visual, auditorial, dan kinestetik. Mengkombinasikan metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan percobaan atau simulasi. Metode hanifida menggunakan otak kiri dan otak kanan. Ada tiga langkah dalam menghafal cepat asmaul husna asmaul husna dengan sistem cantolan, dan memasukkan sistem rumus angka ke dalam materi inti ke dalam asmaul husna . Cara belajar asmaul husna memiliki tiga kunci, yaitu nomor urut, arti, dan asmaul husnanya. Kedua, peserta dapat mengembangkan menghafal cepat dengan metode hanifida pada pelajaran sesuai selera. Ketiga, ada dua hal pelatihan asmaul husna yaitu sudah pernah belajar asmaul husna metode hanifida dan pernah menghafal meskipun masih sering lupa ingat atau minimal pernah membaca surat terpopuler tersebut sehingga membantu pada saat pelatihan. Kata Kunci: Metode Hanifida dan Menghafal Cepat dengan metode hanifida, yaitu sepakat bahwa asmaul husna berjumlah 99, menghafal rumus angka primer dan sekunder untuk mengetahui urutan

Peningkatan keterampilan menyimak dongeng melalui media VCD animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Ike Mega Irawati

 

Kata kunci: Menyimak, dongeng, media, VCD animasi Pembelajaran menyimak di sekolah menengah pertama merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memegang peranan penting. Keterampilan ini merupakan keterampilan pertama yang dikuasai siswa dan memiliki peranan terhadap keterampilan berbahasa serta penguasaan materi pelajaran yang lain. Berdasarkan observasi awal, keterampilan menyimak pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang masih kurang dan belum mencapai standar nilai yang berlaku di sekolah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata klasikal siswa yang kurang dari 70. Pemilihan media pembelajaran yang tepat merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam penelitian ini media yang digunakan adalah media VCD animasi. Dengan media ini siswa belajar menyimak dongeng. Dalam meningkatkan keterampilan menyimak dongeng melalui media VCD animasi dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap memahami isi dongeng dan tahap menemukan hal yang menarik. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini mengangkat dua permasalahan, yaitu (1) Bagaimana peningkatan keterampilan memahami isi dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD Animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011? dan (2) Bagaimana peningkatan keterampilan menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD Animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan memahami isi dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011 dan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menemukan hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan melalui media VCD animasi pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2010-2011. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) dengan pendekatan deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek umum penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Negeri 9 Malang dengan jumlah 38 siswa yang terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan tahun ajaran 2010-2011 dan subyek khusus penelitian ini adalah kelompok siswa yang memperoleh nilai dibawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM). SKM untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah 70. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh berupa data numerikal yang diperoleh dari hasil belajar siswa dengan menggunakan media VCD animasi. Instrumen yang digunakan yaitu tes uraian, Lembar Kerja Siswa (LKS),dan rubrik penilaian. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2011 dan 29 Maret 2011 dalam dua siklus. Data penelitian meliputi data numerikal yang berwujud hasil belajar peningkatan keterampilan menyimak dongeng. Data diperoleh melalui instrumen utama, yaitu tes uraian, LKS (Lembar Kerja Siswa), dan rubrik penilaian untuk mengetahui hasil keterampilan menyimak dongeng yang didukung dengan instrumen penunjang berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan untuk mengetahui proses pada saat kegiatan belajar menyimak dongeng dilaksanakan. Hasil penilitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase keberhasilan hasil belajar siswa pada keterampilan menyimak dongeng dengan menggunakan media VCD animasi. Peningkatan hasil belajar ini dapat dilihat dari siklus I dan siklus II melalui tahap memahami isi dongeng dan tahap menemukan hal menarik. Kegiatan yang dilakukan meliputi menyimak dongeng yang diputar oleh guru, kemudian menganalisis unsur intrinsik dan menenukan hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan. Penggunaan media VCD animasi dapat mempermudah siswa dalam memahami alur cerita sehingga siswa dapat mengapresiasikan kegiatan menyimak dongeng hal ini terbukti bahawa siswa dapat menentukan tema, tokoh dan watak tokoh, setting, dan latar serta dapat menemukan hal yang menarik disertai alasan yang logis. Kedua tahapan ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar keterampilan menyimak dongeng pada siswa kelas VII-B SMP Negeri 9 Malang. Peningkatan keterampilan menyimak dongeng pada tahap memahami isi dongeng yang diperdengarkan terlihat dari persentase keberhasilan siswa pada siklus I dan siklus II. Persentase keberhasilan siswa pada siklus I 68,4% atau 5 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70 dan pada siklus II meningkat 18,4 poin menjadi 86,8% atau 12 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70. Dengan rincian 86,8% atau 12 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menyebutkan tokoh, 94,7% atau 15 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menyebutkan watak tokoh, 76,3% atau 8 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menyebutkan jalan cerita atau peristiwa, 84,2% atau 11 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan amanat.Dengan demikian ada peningkatan persentase keberhasilan siswa pada tahap memahami isi dongeng. Peningkatan keterampilan menyimak dongeng pada tahap menemukan hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarkan terlihat dari persentase keberhasilan siswa pada siklus I dan siklus II. Persentase keberhasilan siswa pada siklus I 65,7% atau 4 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70 dan pada siklus II meningkat 26,4 poin menjadi 92,1% atau 14 siswa terteliti yang memperoleh nilai ≥ 70. Dengan rincian 100% atau 17 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari peristiwa, 94,7% atau 15 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari tokoh, 81,5% atau 10 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari latar, 86,8% atau 12 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan hal menarik dari gaya bahasa, 71% atau 6 siswa meningkat dari siklus I ke siklus II pada aspek menentukan amanat. Dengan demikian ada peningkatan persentase keberhasilan siswa pada tahap menemukan hal yang menarik dari dongeng. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru Bahasa dan Sastra Indonesia , hendaknya menggunakan media VCD animasi ini untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng karena berdasarkan hasil penelitian, keterampilan siswa dalam menyimak dongeng mengalami peningkatan. Guru hendaknya memberikan variasi-variasi dalam pembelajaran, yaitu dengan menggunakan media VCD animasi untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng. Pembelajaran menggunakan media VCD animasi dapat dijadikan alternativ bagi guru dalam pembelajaran menyimak dongeng karena terbukti mengarah ke arah positif. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia akan berhasil apabila dikemas dengan menarik dan tidak membosankan. Oleh karena itu, melalui laporan penelitian ini disumbangkan gagasan kepada guru untuk lebih kreatif lagi dengan menerapkan media VCD animasi.Temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam merancang skenario pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan dan mengembangkan media VCD animasi sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain secara lebih kreatif dengan mengembangkan keterampilan berbahasa yang lainnya atau keterampilan berbahasa yang sama namun dengan kompetensi dasar yang berbeda.

Peningkatan kemampuan menanggapi pembacaan puisi menggunakan strategi trial by jury pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Trenggalek / Erlina Yuanita

 

Kata kunci : kemampuan menanggapi, pembacaan puisi, strategi trial by jury Kemampuan menanggapi merupakan salah satu keterampilan menyimak berbicara yang perlu dikuasai oleh siswa. Dengan meningkatkan kemampuan menyimak, berarti juga meningkatkan kemampuan berbicara karena kemampuan menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung (Tarigan, 1986:3). Kemampuan menyimak bisa dinilai dari kemampuan berbicara, yang merupakan salah satu perwujudan hasil pemahaman simakan. Setiap orang yang memilki daya simak tinggi dapat dipastikan bahwa dia akan lebih mudah mempelajari kompetensi berbahasa. Namun adakalanya siswa belum bisa berkonsentrasi menyimak, bahkan ada yang malas kalau disuruh menyimak oleh bosan karena pembelajaran yang kaku dan monoton. Kemampuan menanggapi yang baik akan menunjang aktivitas berkomunikasi siswa, terutama dalam pembelajaran menanggapi. Akan tetapi, masih banyak juga siswa yang takut dan canggung jika menanggapi dalam forum resmi seperti di kelas. Hal itu dikarenakan siswa masih belum terbiasa dan terlatih dengan baik dalam hal menanggapi. Sebenarnya banyak siswa yang berpotensi bagus dalam menanggapi, namun terhambat oleh ketidakpercayaan diri atau masalah teknis seperti strategi pembelajaran yang kaku dan juga monoton. Salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam menguasai kemampuan menanggapi adalah penggunaan strategi yang inovatif dan efisien dalam pembelajarannya. Dalam penelitian ini digunakan strategi trial by jury yang merupakan strategi pembelajaran aktif. Pada strategi trial by jury trial by jury planning),(2) pelaksanaan tindakan (acting) (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflekting). Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, instrument penunjangnya adalah pedoman wawancara, lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa siswi SMPN 3 Trenggalek. Adapun data penelitian ini meliputi data proses dan hasil. Data proses merupakan hasil pengamatan, pencatatan lapangan, dan hasil wawancara terkait proses pembelajaran. Data hasil merupakan hasil tes menanggapi pembacaan puisi siswa dalam mengungkapkan isi tanggapan, penggunaan bahasa Indonesia, dan cara menanggapi. Berdasarkan analisis data penelitian menanggapi pembacaan puisi menggunakan strategi trial by jury pada prasiklus, siklus I, dan siklus II dalam mengungkapkan isi tanggapan, penggunaan bahasa Indonesia, dan cara menanggapi mengalami peningkatan yang signifikan. Nilai rata-rata indikator prasiklus kemampuan mengungkapkan isi tanggapan sebesar 55,1, siklus I sebesar 65,98, siklus II sebesar 80,05. Pada aspek penggunaan bahasa Indonesia, nilai rata-rata indikator prasiklus sebesar 55,06, siklus I sebesar 69,95, siklus II sebesar 81,62. Pada aspek cara menanggapi, nilai rata-rata indikator prasiklus 56,62, siklus I sebesar 67,5, sedangkan siklus II sebesar 81,62. Peningkatan kemampuan menanggapi pembacaan puisi siswa pada tiap siklus diikuti dengan kemampuan peningkatan proses siswa yakni perhatian siswa, keseriusan siswa, keaktifan siswa dan rasa senang siswa ketika pembelajaran berlangsung. Peningkatan perhatian mencapai 93,75% yang perhatian terhadap pembelajaran menanggapi pembacaan puisi. Peningkatan keseriusan siswa mengalami peningkatan secara bertahap hingga mencapai 93,75 % yang telah benar-benar serius dalam belajar. Peningkatan keaktifan siswa mencapai 87,5% siswa yang aktif bertanya jawab pada pembelajaran menanggapi. Peningkatan rasa senang siswa sebesar 93,75%. Keseluruhan rata-rata kelas pada penilaian proses mencapai 92,1% dengan rata-rata peningkatan sebesar 23,92% . Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya bisa menerapkan pembelajaran dengan menggunakan strategi trial by jury karena dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menanggapi. Disarankan kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat mengembangkan strategi trial by jury sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain secara lebih kreatif dengan mengembangkan keterampilan berbahasa yang lainnya. untuk meningkatkan kemampuan menanggapi pembacaan puisi. Penelitian ini dilakukan di SMPN 3 Trenggalek dengan menggunakan siswa kelas VII-A sebagai subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Prosedur penelitian tindakan ini meliputi (1) perencanaan penelitian ( ni siswa dibagi dalam beberapa peran sebagaimana dalam pengadilan. Peran-peran tersebut adalah jaksa, pembela, saksi jaksa, saksi pembela, panitera, dan hakim. Pada strategi ini nanti siswa juga akan termotivasi dan fokus menyimak, karena nanti yang menggunakan media rekaman. Kemampuan menanggapi pembacaan puisi perlu dikuasai dengan baik karena merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa SMP. Oleh karena itu, peneliti tertarik merancang penelitian ini yaitu menggunakan strategi

Studi korelasi kesempatan mengembangkan profesi dan kondisi lingkungan kerja dengan kinerja guru teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Kabupaten Trenggalek / Sonny Triyo Wurianto

 

Kata Kunci: Kesempatan mengembangkan profesi, kondisi lingkungan kerja, kinerja Guru TIK Tugas utama Guru TIK adalah membentuk pola pikir peserta didik yang sistematis, kreatif dan inovatif dalam memecahkan masalah dengan bantuan teknologi. Pada kenyataannya Guru TIK lebih sering mengajarkan cara meng¬ope-ra¬sikan komputer. Hal tersebut disebabkan oleh kesempatan mengembangkan profesi yang diterima Guru TIK belum cukup untuk meningkatkan kinerjanya. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja, sebagian besar sekolah-sekolah di Kabupaten Trenggalek terletak di daerah dataran tinggi yang mengakibatkkan lambatnya pe¬nye¬diaan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran TIK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap hubungan antara kesempatan mengembangkan profesi (X1) dan kondisi lingkungan kerja (X2) dengan kinerja Guru TIK (Y) di Kabupaten Trenggalek baik secara parsial maupun simultan. Serta mendeskripsikan masing-masing variabel X1, X2, dan Y. Penelitian ini menggunakan metode Ex Post Fakto untuk mengungkap hu-bung¬an antara variabel bebas dan variabel terikat secara kuantitatif korelasional. Populasi dan sampel dari penelitian ini adalah Guru TIK di Kabupaten Trenggalek. Data yang diperoleh diuji dengan uji asumsi klasik untuk menguji pra¬syarat analisis dan uji hipotesis untuk mengungkap hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian: (1) variabel X1 dalam kategori cukup sebesar 35%, (2) variabel X2 dalam kategori cukup kondusif sebesar 29%, (3) variabel Y dalam kategori baik sebesar 33%, (4) Ada hubungan positif dan signifikan antara kesempatan mengembangkan profesi dengan kinerja Guru TIK di Kabupaten Trenggalek, (5) Ada hubungan positif dan signifikan antara kondisi lingkungan kerja dengan kinerja Guru TIK di Kabupaten Trenggalek, (6) Ada hubungan positif dan signifikan antara kesempatan mengem¬bang¬kan profesi dan kondisi lingkungan kerja dengan kinerja Guru TIK di Kabupaten Trenggalek. Kesimpulan: sumbangan prediktor terhadap kriteriumnya sebesar 31,7%, yang dijabarkan sebagai (1) sumbangan efektif variabel X1 sebesar 20,5%, (2) sumbangan efektif variabel X2 sebesar 11,2%. Sedangkan 68,3% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar faktor yang diteliti.

Pengembangan media interaktif berbantuan komputer pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel untuk siswa kelas VII SMP / Mayang Dintarini

 

Kata Kunci prosedur penyelesaian yang biasa dikatakan “cara cepat” sering kali dilewatkan oleh guru. Oleh karena itu dikembangkanlah media interaktif berbantuan komputer pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel untuk siswa kelas VII. Didalamnya terdapat penjelasan mengenai pengertian kalimat terbuka, perngertian PLSV dan PtLSV, cara menyelesaikan PLSV dan PtLSV, latihan soal dan evaluasi. Media ini dikembangkan dengan 10 tahap, yaitu: (1) menentukan kebutuhan dan tujuan pengembangan program, (2) mengumpulkan referensi, (3) mempelajari isi, (4) membangkitkan ide, (5) merancang pembelajaran, (6) membuat diagram alir program, (7) membuat storyboard program, (8) membuat program media interaktif, (9) membuat bahan pendukung dan (10) evaluasi dan revisi program. Dari hasil analisis data validasi dan uji coba diperoleh angka 79,4% untuk kevalidan dari segi materi, 80,9% untuk kevalidan dari segi PBK, dan 85,9% untuk kevalidan dari segi pengguna. Sehingga berdasarkan data yang diperoleh itu, media interaktif berbantuan komputer pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel untuk kelas VII dikatakan valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran siswa atau pengguna. Media interaktif, komputer, persamaan linier satu variabel dan pertidaksamaan linier satu variabel. Berdasarkan wawancara secara informal dengan seorang guru SMP, pada dasarnya hampir semua materi matematika menjadi masalah bagi sebagian besar siswa di sekolah, termasuk di dalamnya materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel ( PLSV dan PtLSV). Siswa perlu waktu lebih untuk memahami materi ini, dikarenakan materi ini baru diajarkan kepada siswa di sekolah menengah pertama. Kebanyakan guru di sekolah juga hanya menerangkan bagaimana menyelesaikan PLSV dan PtLSV secara prosedur, sedangkan persamaan-persamaan yang ekuivalen sebagai materi yang mendasari adanya

Penggunaan permainan joepardy untuk meningkatkan kemampuan membuat pertanyaan tertulis pada siswa kelas III SDN Kedawungwetan IV Grati-Pasuruan / Ainur Syafrilia

 

Kata Kunci: permainan Joepardy, pertanyaan tertulis, SD. Bahasa Indonesia mencakup empat aspek keterampilan berbahasa yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan menulis mempunyai tujuan agar siswa dapat menuangkan ide, pikiran dalam bentuk tulisan, dapat membuat pertanyaan tertulis dan karangan dalam sebuah cerita. Penggunaan bahasa gabungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia membuat siswa merasa kesulitan dalam berkomunikasi dengan baik sehingga mempengaruhi gaya tulisan siswa. Kesulitan yang dialami siswa salah satunya adalah membuat pertanyaan tertulis berdasarkan jawaban yang tersedia. Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membuat pertanyaan tertulis dengan menggunakan permainan Joepardy. Media tersebut cocok untuk pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di kelas III di Sekolah Dasar Negeri Kedawungwetan IV, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas, dengan menggunakan model Kemmis dan Tagart (1982). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan 1) perencanaan, 2) tindakan dan observasi, 3) refleksi, dan 4) perbaikan perencanaan. Pada pelaksanaan siklus 1, prosentase siswa masih belum tuntas mencapai 69% atau hanya 39% ketuntasan hasil belajar yang dicapai dengan rata-rata kelas 41,14. Pada siklus 2, prosentase ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 54,28% dengan rata-rata kelas 75,42. Dari hasil pelaksanaan dan observasi dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan kemampuan siswa membuat pertanyaan tertulis berdasarkan jawaban yang tersedia baik dari segi konsep penulisan maupun dari segi karakteristik jawaban yang diberikan dengan menggunakan permaian Joepardy. Sehingga dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran sudah memenuhi apa yang diharapkan yaitu adanya peningkatan hasil belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer berbasis game pada materi segiempat dan segitiga untuk kelas VII / Chezar Andhi Prasetya

 

Kata kunci: game. Ada banyak sekali keuntungan dari pemanfaatan game sebagai media pembelajaran diantaranya adalah dari segi emosional atau motivasi, karena seseorang akan merasa tertantang untuk dapat memenangkan pertandingan atau tantangan yang diberikan di dalam game. Materi yang diambil adalah tentang materi segiempat dan segitiga karena pada umumnya siswa hanya menghafal tentang rumus-rumus yang ada dalam materi tersebut, sehingga perlu adanya suatu pembaharuan dalam cara penyampaian materi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbantuan komputer berbasis game pada materi segiempat dan segitiga untuk kelas VII. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian pengembangan. Langkahlangkah pembuatan game adalah menentukan ide, membuat flowchart, membuat storyboard game ini dikatakan valid dan tidak perlu untuk revisi. Kelebihan dari game game ini merupakan media pemelajaran yang konstruktifis sehingga akan diarahkan ke proses pembentukan rumus dan bukan pemberian rumus secara langsung. Ketiga, game ini dapat dijalankan tanpa pendampingan guru serta dapat dijalankan di komputer manapun tanpa perlu ada program tertentu. Keempat, game ini mengambil cerita kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak perlu membayangkan hal-halyang diluar pemikirannya atau hal yang fiksi. ini adalah sebagai berikut. Pertama, game ini merupakan media embelajaran yang menyenangkan bagi siswa karena ada motivasi tersendiri untuk dapat menyelesaikan cerita sampai selesai. Kedua, , menentukan hardware dan software, dan mencari sumber bahan ebagai materi. Data yang terkumpul berasal dari hasil validasi seorang dosen serta dua orang guru sebagai ahli materi dan seorang dosen sebagai ahli komputer juga uji coba kepada 10 orang siswa smp kelas VII. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh persentase 91,7% untuk ahli materi, 92,9% untuk ahli komputer, dan 96,7% untuk data hasill uji coba. Oleh karena itu, media pembelajaran, game, segitiga dan segiempat. saat ini perkembangan pembuatan media pembelajaran berbantuan komputer telah cukup menarik minat banyak orang untuk mempergunakan sebagai sarana pendidikan. Terobosan baru tentang perkembangan media pembelajaran berbantuan komputer adalah dengan menampilkan sebagai sebuah permainan atau yang lebih dikenal dengan

Penggunaan permainan tazos dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa kelas V MI An-Nur Sawahan Turen Malang / I'is Irnawati

 

Kata kunci Tazos dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis kosakata dapat meningkatan penguasaan kosakata siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi kepala sekolah agar lebih meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menambah fasilitas pembelajaran berupa media – media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam KBM, seperti media Tazos. Bagi pengajar bahasa Arab di MI An-nur Sawahan Turen agar membuat perencanaan sebelum mengajar (RPP), serta memilih metode dan media yang sesuai dengan karakter siswa untuk diterapkan dalam KBM yang akan dilaksanakan. Sedangkan untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis diharapkan agar lebih memperluas cakupannya dengan menambah kosakata yang diajarkan dan dengan kurun waktu yang lebih lama, sehingga hasil penelitian jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guru- guru bahasa Arab untuk meningkatkan pembelajaran di kelas dalam proses KBM. Tazos, pemerolehan kosakata, MI AN-NUR Mengajarkan bahasa Arab untuk anak tidak mudah, diperlukan usaha yang sangat besar dari guru. Selain itu juga dibutuhkan fasilitas yang memadahi, serta pemilihan metode yang sangat tepat bagi mereka. Untuk mengairahkan minat belajar siswa, utamanya untuk anak -anak, guru dapat mengunakan teknik bermain. Salah satu bentuk permaian yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik pembelajaran bahasa Arab oleh guru adalah Tazos. Pemerolehan kosakata bahasa Arab siswa kelas V MI An-Nur Sawahan-Turen masih rendah. Hal ini dikarenakan guru belum mengunakan metode dan media yang sesuai bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran bahasa Arab siswa kelas V MI An- nur Sawahan – Turen dengan mengunakan permainan Tazos (2) proses peningkatan pemerolehan kosakata dengan mengunakan perminan Tazos pada siswa kelas V MI An- Nur Sawahan Turen, serta (3) pemerolehan kosakata siswa kelas V MI An- Nur Sawahan Turen dalam pembelajaran bahasa Arab dengan mengunakan permainan Tazos. Penelitian ini dilakukan di MI An-nur Sawahan Turen pada bulan September sampai Oktober tahun pelajaran 2010/2011 pada saat pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas V MI An-Nur Sawahan Turen. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap -tahap penelitian meliputi perencanaan (planning ), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observasion) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) tes, (2) wawancara, (3) observasi. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan,penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ni diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil tes, wawancara, dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab berbasis kosakata dilakukan dengan observasi awal yang meliputi penyebaran angket, wawancara peneliti dengan guru bahasa arab MI An-Nur Sawahan –Turen, dan wawancara dengan siswa yang bersangkutan. Dalam proses KBM yang berlangsung peneliti menyiapakan RPP, media Tazos, serta papan tulis, Power Point dan soal latihan. Kemudian pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan 2 siklus masing-masing siklus terdiri atas 2 pertemuan dengan alokasi waktu 3x 45 menit, setiap akhir pembelajaran siswa diberikan test evaluasi dan dilakukan refleksi antara guru dan peneliti. Dengan adanya permainan Tazospenguasaan kosakata siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan permainan

Pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis WEB pada mata pelajaran fisika SMP kelas VII / Nurma Ayu Puspitarini

 

Kata Kunci: pengembangan, media pembelajaran e-learning, fisika. Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran didasarkan pada prinsip bahwa cara mengajar yang terpusat pada guru dapat diperbaiki dengan menggunakan media pembelajaran. Dalam usaha peningkatan kualitas dan kuantitas pembelajaran maka media pembelajaran mempunyai peran yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan tampilan hasil media pembelajaran e-learning berbasis web pada mata pelajaran Fisika SMP kelas VII, (2) mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web pada mata pelajaran Fisika SMP kelas VII. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan Sadiman,dkk yang telah dimodifikasi. Uji lapangan dilaksanakan di SMP Negeri 18 Malang. Prosedur penelitian ini adalah: (1) identifikasi kebutuan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media/produksi, (6) tes/uji coba, (7) revisi produk akhir. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel siswa SMP kelas VII, guru fisika dan ahli media pembelajaran untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web digunakan untuk pembelajaran fisika. Hasil penelitian diperoleh tingkat validasi diantaranya: (1) pada ahli media, dengan hasil 75%, (2) pada ahli materi, materi dikembangkan sendiri yaitu materi (.*pdf) yang disesuaikan dengan kompetensi dasar yang berlaku dan materi (.*swf) dikembangkan dari materi yang sudah ada sebelumnya maka diperoleh hasil 83%, dan (3) pada audien/uji coba lapangan, dengan hasil 90%. Tampilan pada media ini berupa web yang dapat diakses dengan memasukkan url: http://localhost/fisika pada browser. Media pembelajaran elearning berbasis web pada mata pelajaran fisika SMP kelas VII ini mempunyai 4 tampilan utama yang dapat mewakili tampilan media secara keseluruhan, yaitu halaman utama admin, halaman utama siswa, materi dan latihan soal. Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan media pembelajaran e-learning berbasis web selanjutnya untuk lebih dapat mengkaji, memodifikasi dan memperkecil kekurangan pada media pembelajaran e-learning berbasis web ini sehingga media ini dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu media belajar bagi siswa yang tidak dibatasi oleh waktu dan jarak. Selain itu media ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pembelajaran fisika oleh guru yang lebih menarik dan variatif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri (tahun ajaran 2010/2011) / Anggun Dyah Palupi

 

Kata Kunci: Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua, Motivasi Belajar Siswa, Prestasi Belajar Siswa. Peserta didik dituntut aktif dan mampu menangkap dan memahami suatu pelajaran dengan cara yang paling efektif agar prestasi belajar yang diperoleh memuaskan. Berkaitan dengan hal tersebut, ada banyak hal hal yang mempengaruhi prestasi belajar jika dilihat dari faktor-faktornya yaitu eksternal dan internal, dimana kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar merupakan beberapa bagian yang termasuk didalamnya. Dan untuk mencapai prestasi yang memuaskan maka dibutuhkan keterkaitan antara faktor-faktor tesebut. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah kondisi sosial ekonomi orangtua dan motivasi belajar siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Kediri pada bulan Maret sampai dengan April 2011 dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPS sejumlah 165 siswa, yang kemudian diambil sampel sejumlah 62 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis data deskriptif dan inferensial. Hasil analisis kondisi sosial ekonomi orang tua siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri tahun pelajaran 2010/2011 memiliki tingkat pendidikan orang tua yang cukup baik, pekerjaan orang tua tergolong cukup baik, pendapatan orang tua yang cukup baik, dan jumlah (anak) yang menjadi tanggungan orang tua tergolong cukup. Artinya siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri tahun ajaran 2010/2011 memiliki kombinasi dari keempat subvariabel kondisi sosial ekonomi orang tua yang tergolong cukup baik. Sedangkan motivasi belajar siswa secara intrinsik tergolong sedang dan motivasi belajar siswa secara ekstrinsik tergolong sedang juga. Artinya siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri tahun ajaran 2010/2011 memiliki kombinasi dari kedua subvariabel motivasi belajar siswa yang tergolong sedang. Hasil analisis kondisi sosial ekonomi orang tua siswa memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar (7,47%). Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 2,278 dengan signifikansi 0,026. Sedangkan motivasi belajar siswa juga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar (19,12%). Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 3.805 dengan signifikansi 0,000. Selain itu diketahui secara simultan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,266 (26,6%). Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 10,697 dengan signifikansi 0,000. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar siswa berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 4 Kediri. Saran yang diajukan dari hasil penelitian adalah (1) SMA Negeri 4 Kediri yaitu sekolah hendaknya memberikan dorongan dan motivasi kepada siswanya untuk dapat berprestasi dengan lebih optimal. (2) Bagi Guru hendaknya tidak membeda-bedakan antara siswa yang kondisi sosial ekonomi orangtuanya baik dengan yang kurang baik, agar siswa tidak merasa di bedakan atau minder sehingga siswa bisa lebih optimal dalam meraih prestasi. Disamping itu, dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan cara mengajar yang lebih efektif dan kreatif dan siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran, sehingga siswapun lebih termotivasi untuk meraih prestasi. (3) Bagi Siswa hendaknya bisa memotivasi dirinya untuk lebih berprestasi, dengan tidak bergantung pada situasi atau keadaan yang ada. Agar siswa bisa lebih kreatif dan mandiri untuk mencapai cita-cita yang lebih baik. (4) Bagi Peneliti Selanjutnya yaitu apabila melakukan penelitian serupa hendaknya menggunakan variabel independen selain kondisi sosial ekonomi orang tua dan motivasi belajar, yaitu variabel fasilitas belajar, gaya belajar siswa, minat belajar serta perhatian orang tua. Karena masih ada faktor lain yang lebih mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (studi kasus pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 9 Malang) / Okta Imindia Sari

 

Kata Kunci: Fasilitas Belajar Di Sekolah, Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar Siswa. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang berkat pengalaman dan latihan. Pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, setiap siswa tentu berharap akan mendapatkan prestasi belajar yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor , yang meliputi faktor internal dan eksternal. Diantara semua faktor tersebut terdapat faktor fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua yang turut mempengaruhi prestasi belajar siswa. Fasilitas belajar menyangkut ketersediaan hal-hal yang dapat memberikan kemudahan bagi perolehan pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Pemanfaatan fasilitas belajar yang memadai akan dapat menumbuhkan daya imajinasi siswa untuk berkreasi dan membuat proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar, teratur, dan nyaman, serta dapat menghadapi perkembangan teknologi. Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dikenal oleh anak dan dalam keluarga ini dapat ditanamkan sikap-sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Keluarga bertanggung jawab menyediakan dana untuk kebutuhan pendidikan anak. Tentunya orang tua turut berperan penting dalam meningkatkan prestasi belajar anak. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Malang kelas XI IPS. Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dan instrument yang digunakan berupa kuisioner dan dokumentasi. Jumlah sampel sebanyak 58 siswa yang diambil dari jumlah populasi sebanyak 139 siswa. Teknik analisis ini menggunakan analisis deskriptif , uji asumsi klasik, regresi berganda dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa fasilitas belajar di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 2,421 dengan signifikansi t=0.019 pada tingkat singnifikansi 0.05. latar belakang sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dengan diperoleh nilai t sebesar 10,236 dengan signifikansi t= 0.000 pada tingkat signifikansi 0.05. Diketahui Secara simultan bahwa fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 54,854 dengan signifikansi F = 0.000 pada tingkat signifikansi 0.05. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 9 Malang. Saran yang diajukan dari hasil penelitian adalah (1) bagi SMA Negeri 9 Malang hendaknya memperhatikan kebutuhan belajar siswa, terutama kebersihan ruang sekolah, dan memperbaiki fasilitas belajar yang telah ada, terutama fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran. Bagi siswa yang berprestasi dan latar belakang sosial ekonomi orang tuanya kurang mampu diharapkan sekolah bisa memperhatikannya dengan memberikan beasiswa atau program orang tua asuh yang bersedia membantu memenuhi biaya pendidikan (2) bagi guru utamanya guru mata pelajaran ekonomi hendaknya selalu memperhatikan perkembangan pendidikan anak didiknya dengan cara tidak membeda-bedakan peserta didik dari tingkat status sosial ekonomi keluarganya akan tetapi lebih memperhatikan perkembangan dan mempertahankan minat belajar peserta didik, (3) Bagi siswa yang berprestasi dan latar belakang sosial ekonomi orang tuanya kurang mampu diharapkan bisa tetap termotivasi untuk berprestasi dalam belajar. Fasilitas yang ada di sekolah seharusnya dimanfaatkan lebih maksimal lagi oleh siswa, (4) bagi peneliti selanjutnya apabila melakukan penelitian serupa hendaknya mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua dengan menambah kajian variabel yang lain sekiranya dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Peningkatan kemampuan menulis cerita melalui penggunaan media film pada siswa kelas VB SDN Pagentan 01 Singosari / Retno Mulyaningsih

 

Kata Kunci: Menulis cerita, Media Film, Singosari, SD Pembelajaran bahasa Indonesia di SD mencakup 4 aspek, yaitu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Untuk aspek membaca dan mendengarkan siswa tidak mengalami kendala. Tetapi untuk aspek menulis siswa selalu mengalami kesulitan, khususnya menulis di bidang sastra. Hal ini terlihat ketika evaluasi hasil karya siswa. Sebagian besar siswa kurang mampu membuat cerita yang urut, oleh karenanya dalam pengajaran bahasa Indonesia di SD harus diupayakan penggunaan media yang aplikatif dan menarik . pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus mengikuti pelajaran dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media film dalam pembelajaran menulis cerita. Aspek-aspek yang akan dideskripsikan mencakup penggunaan kata, kelengkapan kalimat, kesesuaian isi, dan keruntutan cerita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, yang dilakukan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Februari sampai dengan April 2011. Data yang digunakan berupa karangan siswa berdasarkan film yang telah diputar. Teknik pengumpulan data meliputi Observasi atau pengamatan dan tes kemampuan menulis. Untuk teknik analisis data menggunakan model alir yang meliputi 3 alir kegiatan meliputi (1) reduksi data; (2) penyajian data; (3) verifikasi data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus 1, kemampuan menulis cerita belum maksimal karena masih banyak siswa yang belum mampu membuat cerita sesuai dengan aspek-aspek yang telah ditentukan. Pada akhir siklus II diperoleh beberapa kesimpulan, Pertama kemampuan siswa dalam menulis cerita meningkat yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata hasil menulis siswa dari pratindakan 51,7, siklus I 61,9 dan siklus II 77,7 . Kedua, mengenai pemilihan kata atau diksi dalam karangan, ketika pratindakan banyak terjadi pengulangan kata dan kesalahan pada kata sambung. Pada saat akhir siklus II siswa telah mampu memilih kata yang tepat dalam menyampaikan pikiran kedalam tulisan, serta pemilihan kata sambung sebagian besar siswa sudah tepat. Begitu juga aspek yang lain, pada akhir siklus II siswa telah mampu menulis kalimat dengan lengkap serta menceritakan dengan urut sesuai dengan jalan cerita film yang telah ditonton. Berdasarkan hasil temuan-temuan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media film dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif , jika pemilihan jenis dan tema film sesuai dengan karakter usia siswa.

Meningkatkan pemahaman konsep menghargai keputusan bersama dalam pembelajaran PKn melalui metode role playing siswa kelas V SDN Glangang I Malang / Erna Kusrini

 

Kata Kunci: menghargai keputusan bersama, PKn SD, dan role playing. Penelitian dilaksanakan berdasarkan pembelajaran yang disampaikan di kelas selama ini sebagian besar diberikan melalui metode ceramah dan tanya jawab sehingga siswa kurang diberi kesempatan untuk berpikir, berpendapat tentang materi yang dipelajari. Sikap siswa dalam pembelajaran di kelas masih tampak individu, pilih-pilih teman dalam menentukan kelompok, kurang menghargai pendapat teman dalam bermusyawarah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman konsep menghargai keputusan bersama pada siswa kelas V SDN Glanggang I Kecamatan Pakisaji Malang dalam pembelajaran PKn melalui metode role playing. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, sedangkan tiap-tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang dialami melalui pengumpulan data. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN Glanggang I Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap siswa kurang antusias untuk mengikuti setiap pembelajaran PKn. Hal ini disebabkan karena mereka merasa takut untuk tampil di depan kelas apalagi bahasa yang mereka pergunakan kurang lancar. Siswa di dalam pergaulan sehari-hari tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehingga mereka kurang lancar dalam berbicara. Siswa dalam pergaulan sehari-hari masih menggunakan bahasa daerah. Pada siklus I siswa sudah mulai berani untuk tampil di depan teman-temannya meskipun bahasa yang dipergunakan masih belum lancar. Siklus II tampak sikap siswa sudah mampu mengadakan suatu musyawarah untuk mencapai mufakat , berani mengemukakan pendapatnya di hadapan teman-temannya, dan mampu menerima pendapat teman yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan bahwa hasil belajar pada tes awal yang memperoleh nilai di bawah KKM (70) sejumlah 20 siswa dengan nilai rata-rata kelas 59,6. Pada siklus I terjadi peningkatan jumlah siswa yang menguasai materi di atas KKM sebanyak 7 dengan nilai rata-rata 67,6. Sedangkan pada siklus II terjadi lagi peningkatan hasil belajar yaitu sebanyak 20 siswa yang mendapat nilai di atas KKM dengan nilai rata-rata 77,7. Berdasarkan temuan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas V SDN Glanggang I Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang meningkat setelah mengikuti pembelajaran PKn dengan metode role playing. Disarankan agar guru lain jika menggunakan metode role playing diharapkan dapat memperhatikan kesiapan, keterbatasan waktu, dan penguatan pada siswa.

Perancangan media interaktif dolanan Jawa / Dinny Purwaningsih

 

Dolanan Jawa merupakan merupakan sebuah permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak – anak, remaja maupun orang dewasa. Dolanan Jawa bukan hanya sekedar sebuah permainan tradisional semata, dolanan Jawa merupakan sebuah kebudayaan Indonesia yang harus diapresiasi keberadaannya. Dolanan dolanan Jawa. Jika kepedulian terhadap kekayaan budaya tidak pernah terlintas dalam pikiran kita, bahkan membiarkan ia terkubur oleh arus modernisasi dan gedung-gedung pencakar langit. Pada suatu waktu nanti ia akan dikenang sebagai sesuatu yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita dan hanya menjadi kajian para sejarawan, budayawan, maupun antropolog (http://permatanusantara/ 2009/03/nuansa-pesona-dolanan-bocah_25.html). Jawa dapat dipisahkan menurut seleksi permainannya, jenis permainan dan manfaat permainannya. Seleksi permainan itu sendiri terdiri dari hompila, kacang panjang, cingkiripit, batu, gunting, kain dan suitan. Sedangkan jenis permainan masih dapat dibagi lagi menurut fungsi kecerdasaannya, ketangkasaannya, ketrampilannya dan kreativitasnya. Contoh jenis permainan menurut kecerdasaannya adalah congklak, kelereng, dam –daman dan galah. Menurut ketangkasannya adalah engklek, egrang, balap karung, tarik tambang. Menurut ketrampilannya adalah loncat tinggi, gasing, beklen dan yoyo. Menurut kreatifannya adalah layang – layang, encrak dan gatrik. Untuk manfaat dari permainan tradisonal ada 3 yaitu manfaat menurut kecerdasan anak, kreativitas anak dan media terapi anak. Menurut kecerdasannya dapat dibagi menjadi 6 bagian yaitu mengembangkan kecerdasan emosi anak, mengembangkan kecerdasan logika anak, mengembangkan kecerdasan kinetis anak, mengembangkan kecerdasan natural anak, mengembangkan kecerdasan musikal anak, mengembangkan kecerdasan spiritual anak. Sebuah kebudayaan harus dapat diapresiasi keberadaannya salah satu contoh adalah Dolanan Jawa Kondisi Indonesia yang bervariasi mulai dari alam pegunungan, sungai, dataran, pulau, sampai suku-suku yang mendiaminya, menjadi cikal bakal lahirnya permainan-permainan kreatif yang diciptakan oleh leluhur bangsa. Permainan inipun sarat dengan nilai-nilai filosofis. Nilai-nilai yang disisipkan pun diharapkan dapat dilaksanakan dalam setiap tindakan dengan penuh kesadaran. Sehingga permainan tradisional ini akan banyak memberi pengaruh bagi masa depan bangsa (http://filsafat.kompasiana.com /2009/11/20/permainan-tradisionaltak-populer-lagi/) Permainan tradisional atau

Perancangan game bertema tanaman langka Indonesia / anisa Aprilia

 

Kata Kunci: Perancangan, Game, Tanaman Langka Tanah air Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan. Kita sebagai warga negara Indonesia tentu saja patut bangga Namun dari sekian banyak keanekaragaman tanaman tersebut, hanya beberapa saja yang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Untuk itu kita sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya meningkatkan rasa kepedulian dan wawasan kita terhadap keanekaragaman tanaman Langka Indonesia. Penyampaian informasi tersebut dapat melalui beberapa cara, salah satunya yaitu melalui aplikasi game interaktif. Penyampaian informasi melalui aplikasi game interaktif terbukti lebih efektif, keunggulan yang menarik inilah menjadi alasan utama bagi penulis dalam menciptakan perancangan game sebagai media dalam menyampaikan pesan tentang Tanaman Langka Indonesia. Aplikasi game tersebut dibuat berdasarkan konsep dan data-data yang telah diuji kebenaranya melalui penelitian dan uji coba. Penelitian dilakukan bersama pihak BPTP Ir. Amik Krismawati,MP untuk mendapatkan data yang benar, sedangkan uji coba dilakukan oleh pihak-pihak yang memahami tentang game dan kalangan biasa sehingga menghasilkan aplikasi yang sesuai konsep. Dengan menggunakan aplikasi game bertema tanaman langka Indonesia sebagai media informasi, rasa kepedulian dan memiliki masyarakat Indonesia dapat meningkat. Aplikasi game Bertema Tanaman Langka Indonesia juga dapat digunakan sebagai basis data informasi tanaman Langka Indonesia bagi pihak pihak yang membutuhkan.

Penggunaan media gambar untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pagar II Bangil Pasuruan / Wari Hermiati

 

Kata kunci: media gambar, aktivitas, hasil belajar, PKn, SD. Bentuk keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat dilihat dari perbedaan rumah adat, pakaian, lagu daerah, dan sebagainya. Bangsa Indonesia hidup dalam keanekaragaman, tetapi tetap mengutamakan persatuan. Hal ini sesuai dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Kebhinnekaan merupakan salah satu kekhasan bangsa Indonesia dan harus dibanggakan. Kebanggaan terhadap kekhasan tersebut diwujudkan dalam bentuk cinta tanah air. Cinta tanah air merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Kenyataan di SDN Pogar II setelah diadakan tes hasil belajar pada pembelajaran PKn materi cinta tanah air menunjukkan bahwa sebagian besar nilai siswa di bawah rata-rata kelas yaitu 62,2. Nilai ketuntasan belajar mata pelajaran PKn di SDN Pogar II adalah 65. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) cara penggunaan media gambar untuk meningkatkaan aktivitas dan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II Bangil, (2) penggunaan media gambar yang dapat meningkatkaan aktivitas belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II Bangil, (3) penggunaan media gambar yang dapat meningkatkaan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II Bangil. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III sebanyak 27 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi, wawancara, dan tes. Teknik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) penggunaan media gambar untuk meningkatkaan aktivitas dan hasil belajar PKn materi cinta tanah air pada siswa kelas III SDN Pogar II dilakukan dengan cara: (a) penjelasan guru di awal pembelajaran, (b) kegiatan pembelajaran menggunakan media gambar, (3) pembahasan bersama, (2) penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar PKn siswa kelas III SDN Pogar II dapat dibuktikan dari banyaknya siswa yang melakukan aktivitas belajar. Pada siklus I rata-rata banyaknya siswa yang melakukan aktivitas belajar adalah 54,5 dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 76,9, (3) penggunaan media gambar dapat meningkatkaan hasil belajar PKn siswa kelas III SDN Pogar II. Hal ini berdasarkan nilai rata-rata siswa pada siklus I pertemuan 1 adalah 62,2 dan pertemuan 2 adalah 70,4. Pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa pada petemuan 1 adalah 88,9 dan pertemuan 2 adalah 92,2 Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) media gambar dapat digunakan dengan baik, (2) penggunaan media gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Disarankan: (1) Kepala sekolah hendaknya meningkatkan layanan fasilitas pembelajaran di SD, (2) guru hendaknya menggunakan media gambar dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman materi materi pelajaran PKn, (3) peneliti selanjutnya dalam mengadakan penelitian hendaknya meneliti hal lain yang berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran PKn selain media gambar misalnya benda sebenarnya dan komputer.

Perancangan media pembelajaran interaktif "Sistem pencernaan manusia" untuk siswa kelas VIII SMP / Moh. Aan Sulton

 

Kata Kunci: Perancangan, Media, Pembelajaran, Interaktif, Sistem Pencernaan Manusia Perkembangan dunia komputer telah mencapai perkembangaan yang sangat mengagumkan. Hampir semua bidang pekerjaan di dunia telah dikendalikan oleh komputer. Sama seperti bidang yang lain, komputer juga amat erat kaitannya dengan dunia pendidikan. Dalam bidang pembelajaran, komputer memungkinkan untuk terselenggaranya proses belajar mengajar jarak jauh, atau pembelajaran tanpa tatap muka. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar dalam hal ini, guru yang menguasai materi pelajaran, sebagian besar tidak mampu menghadirkan bentuk pembelajaran dalam komputer, sedangkan ahli komputer yang mampu merealisasikan segala hal dalam komputer biasanya tidak menguasai materi pelajaran. Maka diperlukan suatu perangkat lunak yang dapat membantu pengajar menyampaikan ide-idenya ke dalam komputer. Diperlukan suatu media pengajaran yang berbasis multimedia yang dapat membantu pengajar menyampaikan materi pelajaran yang dikuasainya melalui komputer, sehingga dapat terselenggara pembelajaran mandiri atau pembelajaran jarak jauh. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan sebuah media interaktif berbasis komputer yang efektif dan efisien lebih menarik. Diharapkan dengan adanya media interaktif berbasis komputer tersebut, semangat belajar siswa di SMP khususnya kelas VIII dapat meningkatkan pembelajarannya. Metode perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural, yaitu bersifat deskripsif. Adapun proses produksi media interaktif ini tersusun dalam pengumpulan data dan fakta pendukung (observasi, wawancara dan dokumentasi), analisis data, sintesis, konsep media, konsep perancangan, teknik perancangan, dan hasil karya Produk yang dihasilkan CD media interaktif yang dapat membantu siswa dalam mempelajari materi dan organ-organ sistem pencernaan manusia untuk siswa SMP kelas VIII . Untuk memperkuat pemasaran dari produk ini, maka dibuat juga media promosi meliputi x-banner, poster, stiker, kalender, buku saku dan puzzle.

Analisis karakter directional coupler berbasis bahan polimer lithium niobate (LINbO3) / Ika Rosaria Fathony

 

Kata Kunci : directional coupler, indeks bias efektif, panjang kopling, transfer daya, Lithium Niobate Directional coupler merupakan piranti optik yang tersusun atas dua pandu gelombang sejajar dengan salah satu fungsinya yaitu sebagai pendukung teknologi komunikasi lewat pembuatan komponen optika terpadu yang mampu menjalankan fungsi guided, coupled dan sebagainya. Pada skripsi ini dilakukan analisis karakter directional coupler struktur slab berbasis bahan polimer Lithium Niobate (LiNbO3) dengan jenis film yang digunakan adalah planar graded index berprofil 1/cosh2 untuk panjang gelombang 1,33 μm. Directional coupler hasil analisis melalui pengamatan, lebar film paling kecil adalah 0,5 μm menghasilkan nilai indeks bias efektif ternormalisasi sebesar 0,63, frekuensi normalisasi 1,95 Hz, dan nilai indeks bias efektifnya 2,2. Sedangkan pada analisis panjang kopling ketebalan terkecil yang digunakan adalah 0,5 μm, dari hasil analisis didapatkan panjang kopling Lc=0,32cm lalu divisualisasi menggunakan bantuan bahasa pemrogaman Mathematica 7.1 untuk menggambarkan moda simetri dan asimetri. Setelah itu directional coupler juga dianalisis dari segi kemampuan menransfer daya. Hasil penelitian ini menunjukkan directional coupler memenuhi 3-dB power transfer dalam pentransferan daya yaitu semakin besar lebar gap maka akan semakin besar pula panjang kopling (Lc). Maka makin kecil gelombang cahaya yang bisa ditransmisikan ke pandu gelombang dua. Hal ini menunjukkan bahwa dengan makin bertambahnya lebar gap (s), maka semakin besar panjang kopling (Lc) yang artinya semakin lemah kekuatan koplingnya. Dengan demikian, nilai tetapan propagasi efektif moda asimetri (βa) semakin mendekati nilai tetapan propagasi efektif moda simetri (βs).

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep tatanama senyawa biner dan ion poliatomik siswa SMA Negeri I Malang tahun ajaran 2009/2010 / Hayu Winarsih

 

Kata-kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, tatanama senyawa biner, tatanama senyawa ion poliatomik. Konsep kimia sebagian besar bersifat abstrak, berjenjang dan saling berkaitan satu sama lain sehingga cenderung hanya dapat dipahami dengan baik oleh siswa SMA yang telah mengembangkan pola berfikir formal. Tidak semua siswa SMA sudah berada pada tingkat operasi formal. Hal ini mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep dengan benar sehingga konsep tersebut bisa menjadi sukar bagi siswa. Suatu konsep disebut konsep sukar apabila sebagian besar siswa mengalami kesukaran pada konsep tersebut. Hal ini ditandai dengan jumlah siswa yang menjawab salah pada soal yang berkaitan dengan konsep itu antara 61-100% atau ≥ 61%. Lebih lanjut konsep sukar berpengaruh pada pemahaman siswa, sehingga memungkinkan terjadi kesalahan konsep. Konsep tatanama senyawa biner dan ion poliatomik disusun dari konsep lambang unsur, senyawa, muatan, dan bilangan oksidasi. Aturan tatanama senyawa biner dan ion poliatomik merupakan salah satu konsep penting dalam mempelajari kimia. Jika memahami aturan tatanama senyawa, maka dapat memberi nama dari rumus kimianya dan sebaliknya. Lebih lanjut, jika siswa memahami tatanama senyawa maka siswa dapat menuliskan persamaan reaksi. Jika siswa tidak paham, terhadap salah satu konsep tersebut, maka dapat mengakibatkan kesulitan dalam memahami konsep lain. Di samping itu, juga dapat menimbulkan konsep sukar dan kesalahan konsep. Penelitian konsep tatanama senyawa biner dan ion poliatomik yang dilaksanakan di kelas X dan XI di SMA Negeri I Malang, bertujuan untuk mengidentifikasi: (1) jenis konsep sukar; (2) konsep yang paling sukar berdasarkan Persen Jawaban Salah (PJS); (3) jenis kesalahan konsep; dan (4) kesalahan konsep paling besar yang dialami siswa kelas XI berdasarkan konsistensi jawaban salah (PK). Penelitan tentang konsep sukar dan kesalahan konsep merupakan penelitian deskriptif. Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas X dan XI IPA SMA Negeri I Malang tahun ajaran 2009/2010 semester genap yaitu siswa kelas X6, X7, XI IPA3 dan XI IPA5. Jumlah subyek penelitian di kelas X dan XI IPA berturut-turut adalah 73 dan 76 siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai pembuktian data. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Instrumen yang dipakai dalam penelitian adalah tes diagnostik objektif berupa sejumlah 13 soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban yang diperkuat dengan alasan pemilihan jawaban dan hasil wawancara. Tiap alternatif jawaban mewakili satu konsep yang diukur. Sebelum digunakan, soal terlebih dahulu diujicoba pada mahasiswa kimia OFF GG dan Aru 2009 FMIPA Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Konsep sukar yang dimiliki siswa kelas X dan XI IPA SMA Negeri I Malang tahun ajaran 2009/2010 berdasarkan PJS yaitu: (a) sistem Stock di kelas X,, (b) tatanama anion poliatomik dari asam poliprotik di kelas X dan XI, (c) tatanama anion poliatomik berdasarkan bilangan oksidasi di kelas X dan XI. (2) Konsep yang paling sukar adalah tatanama anion poliatomik dari asam poliprotik di kelas X dengan PJS sebesar 90% dan di kelas XI tatanama anion poliatomik berdasarkan bilangan oksidasi sebesar 94%. (3) Kesalahan konsep yang terjadi pada siswa kelas X dan XI berdasarkan PK adalah: Siswa menganggap lambang unsur diambil dari huruf awal nama unsur dalam bahasa Indonesia dimiliki 3,95% siswa kelas X dan 2,82% siswa kelas XI; (b) Siswa menganggap besar muatan kation sama dengan nomor golongan di kelas X dialami 1,30% siswa; (c) Siswa menganggap anion dengan jumlah atom O lebih sedikit maka besar muatan anion berkurang satu di kelas X dengan PK sebesar 14,50% dan sebesar 2,81% di kelas XI; (d) Siswa menganggap sistem Stock digunakan sesuai indeks pada kation dengan tingkat kekonsistenan pada siswa kelas X 1,31% dan 1,14% pada siswa XI; (e) Siswa menganggap sistem Stock digunakan pada kation monoatomik 1 macam biloks dimiliki 1,31% pada siswa kelas X dan 1,40% siswa kelas XI; (f) Siswa menganggap sistem Stock digunakan sesuai indeks anion pada siswa kelas X dan XI sebesar 3,95% dan 1,40%; (g) Siswa menganggap tatanama anion poliatomik tidak dipengaruhi oleh bilangan oksidasi pada siswa kelas X dan XI masing-masing sebesar 2,63% dan 9,85%; (h) Siswa menganggap senyawa yang mengandung unsur logam-nonlogam menggunakan tatanama senyawa biner nonlogam-nonlogam dengan tingkat kekonsistenan pada siswa kelas X 5,26% dan 4,22% pada siswa XI. (4) Kesalahan konsep yang paling besar pada kelas X adalah muatan anion dengan PK sebesar 14,50% dan bilangan oksidasi pada anion poliatomik tidak mempengaruhi tatanama anion poliatomik sebanyak 9,85%.

Pembelajaran kooperatif TGT untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika pokok bahasan kubus dan balok siswa kelas VIII A SMP Negeri 10 Malang / Joko Kurniawan

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, TGT, motivasi, prestasi Selama ini masih banyak guru yang menggunakan metode pembelajaran konvensional yaitu ceramah. Berdasarkan hasil observasi di kelas VIII A SMP Negeri 10 Malang pada mata pelajaran matematika, pembelajaran dengan metode ceramah membuat siswa kurang antusias sehingga berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat hasil perolehan nilai tes/ujian siswa. Dari besar nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan oleh guru matematika, yaitu 68 ternyata dari 39 siswa hanya 46,15% (18 siswa) yang mampu mencapai kriteria lulus. Mengingat rendahnya motivasi dan prestasi belajar siswa, maka dirancanglah suatu penelitian tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan perubahan metode pembelajaran dari paradigma teacher center menuju metode pembelajaran dengan paradigma student center. Metode pembelajaran kooperatif tipe Teams Game Tournament (TGT) merupakan suatu alternatif metode pembelajaran yang berusaha mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus yang diawali dengan kegiatan observasi dan refleksi awal kemudian diikuti dengan tahapan-tahapan pada setiap siklus, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan kelas, pengamatan, dan refleksi. Dalam tahap pelaksanaan tindakan guru menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT yang terdiri dari beberapa kegiatan yang dimulai dengan class presentation, pembentukan kelompok, turnamen, pemberian tugas, tes/kuis, evaluasi, dan diakhiri penutup. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan ternyata pembelajaran kooperatif tipe TGT pada mata pelajaran matematika di SMP Negeri 10 Malang terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam akhir kegiatan penelitian tindakan ini dapat diketahui bahwa rata-rata motivasi belajar meningkat sebesar 7,03% dari 64,98% pada siklus 1 menjadi 72,03% pada siklus 2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa siswa sangat antusias menyelesaikan soal latihan secara kelompok dan aktif bertanya ketika guru menyampaikan materi. Di samping itu pembelajaran kooperatif tipe TGT juga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Persentase ketuntasan belajar siswa aspek kognitif pada pembelajaran tanpa TGT sebesar 46,15% meningkat pada siklus 1 menjadi 76,92% sedangkan siklus 2 mencapai angka 92,30% dan dikategorikan tuntas dari persyaratan sebesar 75%. Siswa mengaku bahwa adanya interaksi antarkelompok dan penghargaan, mampu memotivasi secara individu untuk tekun belajar guna memperoleh nilai yang baik. Berdasarkan data di atas, maka terdapat beberapa saran yang diberikan, yaitu: (1) bagi guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 10 Malang dan guru mata pelajaran lain disarankan untuk senantiasa melakukan pembelajaran kreatif dan inovatif dengan mengacu pada model pembelajaran student center. Salah satu bentuk aplikasinya adalah pembelajaran kooperatif dan khususnya tipe TGT. Pembelajaran jenis ini lebih mengedepankan keaktifan siswa dalam pembelajaran yaitu berupa diskusi kelompok dan pembelajaran teman sejawat sehingga diharapkan siswa mampu mengkonstruk sendiri pemikirannya, (2) hendaknya sekolah-sekolah khususnya SMP Negeri 10 Malang senantiasa mengarahkan kepada tenaga pendidiknya untuk melakukan pembelajaran yang berparadigma student center, yang condong untuk menciptakan keaktifan siswa dalam pembelajaran agar siswa mampu mengeksplorasi pemikirannya, (3) bagi peneliti selanjutnya hendaknya dalam melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas khususnya tentang penerapan model pembelajaran, peneliti memberikan inovasi yang sangat berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu. Hal itu dilakukan dengan harapan dapat memperkaya wawasan bagi tenaga pendidik professional khususnya dalam mengatasi masalah pembelajaran

Karateristik dan prestasi belajar mahasiswa pendidikan tata boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK / Dityas Windi Harto

 

Kata kunci: karakteristik, prestasi belajar, perbedaan Karakteristik setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Karakteristik individu yang terkait dengan pretasi belajar adalah minat dan motivasi. Minat merupakan daya gerak yang mendorong seseorang cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda, atau kegiatan ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri, sedangkan motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk memperoleh kepuasan dalam berprestasi dengan lebih baik dari sebelumnya atau dari orang lain untuk mencapai keberhasilan. Prestasi merupakan gambaran kemampuan memahami isi pelajaran yang biasanya dilambangkan dengan skor atau nilai. Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) Mengetahui karakteristik yang meliputi minat dan motivasi mahasiswa Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK, (2) Mengetahui prestasi belajar yang diungkapkan dengan rata-rata IP (ndeks Prestasi) mahasiswa Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK, dan (3) Mengetahui apakah ada perbedaan karakteristik dan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Tata boga angkatan 2007-2009 jalur PMDK, SPMB, dan SPMK. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan studi komparatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya menggunakan angket dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Tata Boga angkatan 2007-2009 yang berjumlah 173 mahasiswa dengan teknik sampel Random Sampling yang menghasilkan sampel 82 mahasiswa. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa minat mahasiswa jalur PMDK, SPMB, dan SPMK tidak ada perbedaan karena diperoleh F hitung = 2,976 dan F tabel = 3,11 sehingga F hitung < F tabel. Hasil analisis data terkait dengan motivasi berprestasi mahasiswa Pendidikan Tata Boga diperoleh F hitung = 0,653 dan F tabel = 3,11 sehingga F hitung < F tabel maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan motivasi berprestasi mahasiswa Pendidikan Tata Boga jalur PMDK, SPMB, dan SPMK. Hasil analisis data mengenai prestasi belajar diperoleh F hitung = 12,915 dan F tabel = 3,11 maka F hitung > F tabel, jadi dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa Pendidikan Tata Boga jalur PMDK, SPMB, dan SPMK.

Penerapan pendekatan whole language dengan teknik reading alouds untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas I SDN Kejayan I Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Vivi Wijayanti

 

Kata Kunci : whole language, reading alouds, membaca pemahaman, SD Keterampilan membaca menduduki posisi serta peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Membaca merupakan jembatan bagi siapa saja yang ingin meraih kesuksesan. Kenyataannya kemampuan membaca siswa kelas I SDN Kejayan I masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat baca pada siswa. Metode mengajar guru yang kurang sesuai mengakibatkan penguasaan bahasa Indonesia terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan pendekatan pembelajaran whole language dengan teknik reading alouds. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran bahasa Indonesia melalui pendekatan whole language dan peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui teknik reading alouds. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, yaitu (1) siklus I, pembelajaran dilakukan dengan menyusun rancangan pembelajaran, kegiatannya menggunakan metose ceramah, tanya jawab, diskusi dan penugasan, (2) siklus II, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media yang lebih bervariasi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Kejayan I Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 30 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat kemampuan membaca siswa masih kurang, (2) pada siklus I hanya 18 siswa (60%) dari 30 siswa yang mencapai ketuntasan belajar, (3) pendekatan whole language mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut sebesar 12 dari siklus I yang tadinya sebesar 72 menjadi 84 dengan ketuntasan belajar 100% dan dikategorikan sangat baik. Saran pada penelitian ini adalah guru diharapkan bias menerapkan pembelajaran dengan pendekatan whole language di sekolah, guru hendaknya lebih kreatif dalam menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.

Model pembelajaran kolaboratif tipe kooperatif learning dapat meningkatkan aktivitas belajar dan berbicara siswa kelas V SDN Bantur Malang / Eni Nur Afidah

 

Kata Kunci: bahasa Indonesia, model kolaboratif Bahasa Indonesia erat kaitannya dengan guru bahasa Indonesia, yakni orang-orang yang tugasnya setiap hari membina pelajaran bahasa Indonesia. Gurulah yang bertanggung jawab akan perkembangan bahasa Indonesia, yang akan selalu dituding oleh masyarakat bila hasil pengajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak memuaskan khususnya di Sekolah Dasar. Berhasil atau tidaknya pengajaran bahasa Indonesia memang di antaranya ditentukan oleh faktor guru, disamping faktor-faktor lainnya, seperti faktor murid, metode pembelajaran, kurikulum (termasuk silabus), bahan pengajaran dan buku, serta yang tidak kalah pentingnya ialah perpustakaan sekolah dengan disertai pengelolaan yang memadai. Ketermpilan berbahasa akan dapat dicapai dengan baik bila dibiasaka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Berdasarkan paparan tersebut, maka dalam penelitian ini diberi judul "Model Pembelajaran Kolaboratif untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SDN BANTUR MALANG Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas, dengan menggunakan model Kemmis dan Tagart (1990)(dalam Arikunto:2007). Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, yang masing-masing siklus terdiri atas 4 kegiatan melalui prosedur: (a) perencanaan, (b) tindakan dan pengamatan, (c) refleksi, dan (d) perbaikan perencanaan. Hasil dari pelaksanaan dan observasi pembelajaran telah menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa dan peningkatan hasil belajar siswa secara kelompok dalam menyelesaikan masalah. Sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran sudah memenuhi apa yang diharapkan yaitu adanya peningkatan kualitas pembelajaran Kesimpulan dari penelitian ini adalah Model Kolaboratif dapat Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa dan Berbicara pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia kelas V SDN Bantur Malang, dan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia.

The Teaching of English in the fifth grade at International laboratory primary school state University of Malang / Emi Faridah

 

Key Words: Teaching of English, International Standard Schools, This study is interesting to describe the process of the teaching of English in the fifth grade at international laboratory primary school State University of Malang. It covers; (1) what kinds of the teaching-learning activities in the classroom, (2) how the teacher selected the materials, (3) what kinds of instructional media are used by the teacher, and (4) how is assessment applied by the teacher. From the findings, the teaching techniques used by the teacher to conduct the teaching-learning activities in the classroom were listen and do, question and answer, in pair or group work, brainstorming, and modeling and demonstration. Next, the materials used by the teacher are worksheet supported other sources namely electronic books (Timesavers Project Work, Timesavers Vocabularies Activities, and Timesavers Reading Lesson) and English articles. Meanwhile, the teacher used ICT media such as LCD, computer, and internet to support her teaching. She also used visual media such as pictures, real objects, and power point slides. Finally, this study also described how the teachers applied the assessments in the teaching of English.

Pengembangan modul trigonometri dengan metode penemuan terbimbing / Widya Saputri

 

Kata Kunci : modul, trigonometri, penemuan terbimbing Suatu upaya inovatif untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memperhatikan perbedaan kecepatan belajar tiap individu adalah menyelenggarakan Sistem Kredit Semester (SKS). Beberapa sekolah terutama sekolah dengan kategori mandiri dan sekolah bertaraf internasional mulai memberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS) dalam kurikulumnya untuk memenuhi kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Berlakunya Sistem Kredit Semester (SKS) maka menimbulkan upaya untuk melaksanakan pembelajaran yang disesuaikan dengan masing-masing siswa. Pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan masing-masing siswa adalah pembelajaran dengan menggunakan modul. Trigonometri merupakan salah satu pokok bahasan yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengkontruksi pengetahuan secara mandiri dengan metode penemuan terbimbing diharapkan menjadi solusi yang dapat memudahkan siswa untuk memahami materi. Tujuan pengembangan ini adalah adanya produk berupa modul trigonometri dengan metode penemuan terbimbing. Model pengembangan modul ini menggunakan model konseptual. Prosedur pengembangan modul dalam penulisan ini didasarkan pada prosedur pengembangan modul menurut Departemen Pendidikan Nasional. Tahap-tahap pengembangan modul yaitu : (1) tahap persiapan, (2) tahap penyusunan, dan (3) tahap validasi dan penyempurnaan. Berdasarkan hasil analisis pengembangan, keseluruhan aspek penilaian modul dinyatakan sangat valid atau valid. Dengan demikian modul berdasarkan metode penemuan terbimbing yang telah disusun layak dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran matematika pada materi trigonometri untuk siswa SMK kelas X.

Pengaruh game educatif terhadap kemampuan matematika anak di TK Mutiara Singosari / Rani Purwaningtyas

 

Kata kunci : kemampuan matematika, angka, bilangan, game edukatif, taman kanak-kanak Matematika telah diberikan kepada siswa taman kanak-kanak sebagai salah satu mata pelajaran . Materi yang umumnya diajarkan adalah mengenai pengenalan angka dan konsep bilangan sederhana. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan matematika anak dengan menggunakan game edukasi matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh game edukatif terhadap kemampuan matematika anak usia masa kanak-kanak awal di TK Mutiara Singosari. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen dengan menggunakan pretest-post test design. Penelitian dilaksanakan di TK Mutiara Singosari Kabupaten Malang, dengan menggunakan 30 siswa sebagai subyek penelitian. Subyek penelitian dibagi ke dalam dua kelompok secara random, 15 subyek sebagai kelompok eksperimen dan 15 subyek sebagai kelompok kontrol. Penelitian dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2010 sampai 3 November 2011. Data dikumpulkan melalui tes prestasi yang menggunakan Lembar Kerja Siswa (pretest dan post-test) dan observasi. Analisis data menggunakan analisis perbedaan melalui uji beda (uji t) dan analisis dekkriptif. Hasil uji beda (t) adalah 5,380 dan nilai signifikansinya 0,000 sehingga 0,000 < 0,05 maka menunjukkan ada perbedaan kemampuan matematika antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Menurut hasil analisis deskriptif dapat diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen 26,8 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 22,6, sehingga menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki kemampuan matematika yang lebih baik dibanding kelompok kontrol. Dari kedua hasil analisis dapat dibuktikan bahwa game edukatif berpengaruh pada kemampuan matematika siswa TK Mutiara Singosari. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada subjek agar lebih memperhatikan ketika guru mengajar, kepada guru agar memberikan variasi dalam metode pembelajaran sehingga meningkatkan minat dan motivasi siswa seperti game edukatif, kepada peneliti selanjutnya agar memperhatikan aspek-aspek psikologis siswa yang lain seperti inteligensi dan bakat siswa untuk memperkecil penyimpangan hasil dan hendaknya lebih selektif dalam menentukan subjek dan mengkomunikasikan dengan baik pada pihak sekolah sehingga treatmen terlaksana dengan baik dan memperkecil penyimpangan hasil serta dapat digeneralisasikan bagi seluruh siswa taman kanak-kanak.

Hubungan antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (Studi kasus pada siswa kelas XI IPS SMAN 1 Kraksan) / Novy Kurniawati

 

Kata kunci: disiplin belajar di sekolah, fasilitas belajar di sekolah, prestasi belajar siswa SMAN 1 Kraksaan telah membuat disiplin belajar di sekolah berupa tata tertib beserta sanksinya yang tegas dengan tujuan untuk menanamkan sikap disiplin dalam diri siswa, sehingga siswa diharapkan dapat lebih siap dalam menerima pelajaran. Dan fasilitas belajar yang dimiliki oleh SMAN 1 Kraksaan tergolong sudah lengkap, seperti adanya gedung sekolah yang nyaman, perpustakaan, laboratorium, dan fasilitas penunjang kegiatan pembelajaran lainnya. Akan tetapi, ditemukan bahwa masih banyak siswa yang melanggar disiplin belajar yang telah ditetapkan oleh sekolah, khususnya pelanggaran yang banyak dilakukan oleh siwa kelas XI IPS, selain itu juga diketahui bahwa siswa disana masih belum sepenuhnya memanfaatkan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah untuk membantu mereka dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada saat pelajaran ekonomi. Jadi dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti ingin mengetahui sejauh mana hubungan dari adanya disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk menjelaskan hubungan antara disiplin belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa, (2) untuk menjelaskan hubungan antara fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa, dan (3) untuk menjelaskan secara bersama-sama bagaimana hubungan antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Metode pengumpulan data menggunakan angket, observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini bersumber dari data manusia dan data non manusia. Data yang bersumber dari manusia berupa ucapan dan tindakan yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan angket. Sedangkan untuk data non manusia adalah dokumen-dokumen yang relevan dengan fokus penelitian yaitu nilai UTS (Ulangan Tengah Semester) pada semester gasal tahun ajaran 2010/2011. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada penelitian ini, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, dapat diketahui bahwa tingkat prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Kraksaan pada mata pelajaran konomi semester gasal tahun ajaran 2010/2011 yang diambil dari nilai UTS (Ulangan Tengah Semester) meliputi 14 siswa (20,9%) memiliki prestasi belajar yang baik. 41 siswa (61,19%) memiliki prestasi belajar yang cukup baik dan 12 siswa (17,91%) memilki prestasi belajar yang kurang. Sedangkan untuk tingkat disiplin belajarnya meliputi 62 siswa (92,54%) memiliki tingkat disiplin belajar yang tinggi dan 5 siswa (7,46%) memiliki tingkat disiplin belajar yang rendah. Dan untuk fasilitas belajar di sekolah meliputi 65 siswa (97,02%) yang berpendapat bahwa ketersediaan fasilitas belajar di sekolah baik dan 2 siswa (2,98%) berpendapat bahwa ketersediaan fasilitas belajar di sekolah dalam katagori kurang. Kedua, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara disiplin belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011 di SMAN 1 Kraksaan, hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi antara disiplin belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa sebesar 0,603 yang signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 0,05. Ketiga, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara Fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011 di SMAN 1 Kraksaan, hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi antara fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa sebesar 0,514 yang signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 0,05. Keempat, dapat diketahui bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011 di SMAN 1 Kraksaan, hal ini ditunjukkan oleh hasil analisis korelasi antara disiplin belajar dan fasilitas belajar di sekolah dengan prestasi belajar siswa sebesar 0,652 yang signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 0,05.

The Teaching of english at TK Laboratorium UM Malang / Ristia Yulianti Ahmad

 

English is the international language, so if you want to be insightful and knowledgeable then the English language is something which is very important to be learnt. Many parents in Indonesia want their children to learn English language at early age. With the right method, learning English will be fun.The design of this study is descriptive qualitative and the subject here is a teacher who has an educational background of English in Malang. This research aims to investigate the teaching of English at TK Laboratorium UM Malang. TK Laboratorium UM Malang is a private kindergarten under the auspices of the State University of Malang. There are three problems in this research: (1) what techniques are used in the teaching English at TK Laboratorium UM? (2) what materials are used at TK Laboratorium UM? (3) what media are used in the teaching English at TK Laboratorium UM?. Some of the techniques used by teachers in teaching English are: songs, exercises, games, listen and repeat, listen and do, and question- answer.The materials used by teachers are the development of SKM (Weekly Lesson Plan) as a guide for teachers to give lessons with themes that are already available in the SKM. Teaching process in class A Star is also supported by the using of media such as: flashcards, realia, television set, and toys and accessories. Being a teacher in kindergarten requires creativity, innovation, and being active in determining and creating techniques and media that are suitable for young learners so that learning English becomes fun for them.The data obtained can complement the findings in different aspects, so readers can get more information about teaching and learning English in kindergartens.

Peningkatan kemampuan memecahkan masalah pecahan melalui pendekatan realistic mathematic education di kelas IV SDN Grati I Pasuruan / Lilik Nurhayati

 

Kata kunci: memecahkan masalah pecahan, matematika, Realistic Mathematic Education Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, rendahnya hasil belajar matematika siswa disebabkan karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya kreatifitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Tujuan diadakan penelitian di SDN Grati I Kabupaten Pasuruan antara lain: mendeskripsikan proses penerapan pendekatan Realistic Mathematic Education untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pecahan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa di kelas IV. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Grati I Kec. Grati Kab. Pasuruan dengan jumlah 29 siswa. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, dokumentasi dan pengamatan selama pembelajaran berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, yang masing-masing siklus terdiri atas 4 kegiatan melalui prosedur: (a) perencanaan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi, dan (d) refleksi. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pendekatan Realistic Mathematic Education hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran menyelesaikan permasalahan pecahan dalam matematika dapat ditingkatkan. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata skor tes mengalami kenaikan dari 61,8 pada siklus 1 dan naik menjadi 71,8 pada siklus 2. Ketuntasan belajar peserta didik juga mengalami peningkatan. Pada siklus 1 ketuntasannya hanya 31 % dan naik pada siklus 2 menjadi 83 %. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematic Education dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa selama pembelajaran. Hal ini tampak dari peningkatan nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal. Adanya variasi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran sangat diperlukan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan adanya penerapan pendekatan Realistic Mathematic Education membuat siswa menjadi tertarik dengan pembelajaran dan aktif mengikuti pembelajaran karena siswa merasa bahwa ide atau pendapatnya dalam menyelesaikan permasalahan matematika dihargai.

The Teaching of english at TK Negeri Pembina I Jalan Cibogo Malang / Novianty

 

Key words : teaching English, young learners, and TK Negeri Pembina I Jalan Cibogo Malang TK Negeri Pembina I Jalan Cibogo Malang in terms of teaching method, teaching techniques, teaching materials, and students’ responses. This study is a descriptive qualitative research. The subjects were the English teacher and the students of grade A1 of TK Negeri Pembina I Jalan Cibogo Malang. The main instrument in the study was the researcher, who was supported by some instruments: observation checklist, fieldnotes, video camera and interview. Based on the findings, it was found that the teacher used some kinds of techniques; they are warm up, listen and repeat, listen and do, questionanswer, modeling, game, draw and colour. The teacher used some kinds of media, such as; still picture, white board, and textbook. The materials used by the teacher were taken from Satuan Kegiatan Migguan (SKM) and the textbook entitled“I Can Speak English” was written by Arifin Aulia and published by Erlangga in 2005. The teacher also used her own materials of vocabulary. The using of techniques, media, materials have some strengths and weakness. The strengths were on the effective use of selected materials, the complete media, and good teacher’s performance in using them. The weaknesses were on the materials were the teacher had not made syllabus in teaching English, the picture media was small, and the teaching technique needs to vary. In term of students’ responses students gave varied in responses. When the teacher used the same teaching techniques on different days, the students gave the same responses. It was about 60% students were enthusiastic. But, when the teacher used different technique and learning through play the percentage of enthusiasm increased to 80%. Based on the research findings, some suggestions were given to the teacher to pay more attention to the techniques of teaching and uses different techniques in teaching. The teacher should make a detailed syllabus, so the teaching of English can be organized better. The teacher needs to find more interesting media considering that she teaches young learners. It is suggested that the teacher also attends workshops or seminar about teaching English to young learners more frequently. Learning a new language needs a long process. Therefore, it is interesting to observe how the teaching of English to young learners is done at kindergartens, where the students are about four to five years old. This study was intended to describe the teaching process of English in the kindergarten namely

Specific language use in T-Shirt slogan / Narita Candra Purnamasari

 

Keywords: , gender representation, language function, frame strategy, agenda settings. Football has become a pop culture. Masculinity of football has shifted along with the existences of women football supporters community. One of women football supporters’ community is Aremanita. This thesis mainly discusses the existence of Aremanita and the role of Malang Post newspaper in representing them to public. Moreover, it questions the gendered expectation imposed on Aremanita as represented on Malang Post. The main data was taken from Malang Post September 1, 2009- May 30, 2010. Ibnu Hamad’s theory of creating reality in mass media studies is chosen to conduct the research. Mass media should conduct three steps in order to create certain image toward the issue being uplifted, they are language function, framing strategy and agenda setting. Mass media have big power to construct identity of certain community. This thesis analyzes how Malang Post directs its readers to maintain the identity of women football supporters based on the construction that it has implied through the text and images. The result of the research shows that Malang Post identified women supporters as the new community of football supporters which bring their own characteristics that distinguish them to men supporters. Moreover, Malang Post also identified women football supporters as a community which identical with physical beauty and sexiness. On the other hand, women football supporters are only placed as the object in football, they have not been placed as the subject who bring positive contribution for the development of football.

Perancangan visual merchandise Universitas Negeri Malang sebagai media promosi dan peningkatan citra / Happy Yugo Prasetiya

 

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan aktivitas kinerja siswa dalam menggunakan pesawat sederhana di kelas V SDN Pagentan 1 Singosari / Catur Rini Sukmawati

 

Kata Kunci: Pembelajaran pesawat sederhana, metode eksperimen, aktivitas kinerja siswa. Berdasarkan dokumen sekolah, hasil ujian akhir semester I mata pelajaran IPA di kelas V SDN Pagentan 1 Singosari Tahun Pelajaran 2010-2011, siswa yang nilainya memenuhi KKM sebanyak 10 siswa atau hanya 40 % siswa. Dan nilai siswa yang tidak memenuhi KKM sebanyak 15 siswa atau hanya 60 % siswa. Dengan KKM yang ditentukan SDN Pagentan 1 Singosari untuk pelajaran IPA yaitu 60. Berdasarkan pengamatan guru selama ini pada waktu mengajar di kelas V SDN Pagentan 1 Singosari, 50 % aktivitas siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, 25 % aktivitas siswa mencatat materi dan 25 % mengerjakan soal evaluasi. Tujuan dari penelitian ini antara lain: 1) untuk dapat mendeskripsikan penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan aktivitas kinerja siswa dalam menggunakan pesawat sederhana di kelas V SDN Pagentan 1 Singosari, 2) untuk dapat mengetahui penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan aktivitas kinerja siswa kelas V SDN Pagentan 1 Singosari, 3) untuk dapat mengetahui penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Pagentan 1 Singosari. Penelitian ini menggunakan metode reflective thinking. Menurut Aunurrrahman, dkk (2010:10-30) "Reflective thinking adalah metode berpikir yang sebenarnya merupakan ‘akar'dari penelitian ilmiah pada umumnya" Metode reflective thinking diawali dengan kegelisahan terhadap masalah yang dirasakan sulit untuk dipecahkan, sehingga mendorong seseorang untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan metode penulisan deskriptif kualitatif. Sasaran pengamatannya adalah guru dan siswa kelas V SDN Pagentan 1 Singosari Kabupaten Malang. Teknik pengumpulan datanya adalah teknik observasi, tes dan hasil dokumentasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, yang terdiri dari dua siklus. Berdasarkan pengamatan aktivitas kinerja siswa, pada siklus I memperoleh skor rata-rata 69,16 % siswa yang aktif kinerjanya dan pada siklus II memperoleh skor rata-rata 81,5 % siswa yang aktif kinerjanya, pada siklus II dapat dikatakan sudah berhasil karena sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian. Berdasarkan hasil belajar siswa, pada siklus I memperoleh skor rata-rata 47,89 dan siklus II memperoleh skor rata-rata 62,04; pada siklus II dapat dikatakan sudah berhasil karena sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian. Penelitian Tindakan Kelas ini dengan menggunakan metode eksperimen, dapat meningkatkan aktivitas kinerja siswa dan hasil belajar siswa. Saran buat guru selalu meningkatkan kemampuan mengajarnya.

Persepsi guru SMK terhadap pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan di SMK Negeri 6 Malang / Agus Salim

 

enelitian ini dilakukan di SMKN 6 Malang, merupakan penelitian survey dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh guru di SMK Negeri 6 Malang, baik yang berstatus PNS maupun bukan PNS yang sebanyak 116 orang, terdiri dari PNS kelompok Produktif 50orang, Normatif 12 orang, Adaptif 37 orang, dan non PNS kelompok kelompok Produktif 8 orang, Normatif 3 orang, Adaptif 6 orang. dengan teknik Proporsional Cluster Random Sampling. Diambil sampel seluruhnya 30 orang, terdiri dari PNS kelompok Produktif 8 orang, Normatif 2 orang, Adaptif 6 orang, dan non PNS kelompok kelompok Produktif 7 orang, Normatif 2 orang, Adaptif 5 orang. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif yang meliputi analisa frekuensi dan prosentase. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) persepsi guru terhadap pelaksanaan KTSP sebanyak 23 orang (76,67%) termasuk dalam kualifikasi sangat setuju. Sedangkan indikator yang tergolong sangat setuju meliputi penyusunan muatan kurikulum, bahan ajar, pengembangan program, silabus, RPP, sumber belajar, tenaga pendidik, indikator pelajaran. Untuk indikator yang tergolong setuju meliputi pemakaian media, sarana dan prasarana. Sedangkan indikator metode mengajar dapat diartikan tidak setuju. Karena guru hanya menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. (2) Sedangkan untuk persepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran sebanyak 25 Orang (83,33%) termasuk dalam kualifikasi sangat setuju. Sedangkan indikator yang tergolong sangat setuju meliputi waktu pelaksanaan; melakukan penilaian; jenis evaluasi; remedial; perbaikan metode mengajar. Berdasarkan penelitian ini disarankan dalam penentuan metode mengajar perlu ditingkatkan, dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi. Untuk penyikapan evaluasi guru sudah sangat setuju dalam pelaksanaan evaluasi. Tetapi diharapkan juga dapat melaksanakan evaluasi dengan lebih baik lagi agar pelaksanaan KTSP di SMKN 6 Malang dapat berjalan dengan lebih baik.

Hubungan kinerja kepala sekolah, manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan dan kinerja guru dengan prestasi belajar siswa SMP Negeri di kota Malang / Moh. Saifulloh

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT (Numbered Heads Together) untuk meningkatkan prestasi belajar sistem persamaan liner dua variabel siswa kelas VIII-G SMPN 12 Malang 2010/2011 / Moh. Noval

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together), Prestasi Belajar. Berdasarkan observasi awal melalui wawancara dengan guru mata pelajaran Matematika kelas VIII-G SMPN 12 Malang, diperoleh informasi bahwa hasil belajar sebagian besar siswa pada mata pelajaran Matematika masih tergolong rendah. Proses pembelajaran Matematika di SMPN 12 Malang sering menggunakan metode ceramah dan pengerjaan soal secara individu (pemberian tugas) sehingga siswa kurang minat tehadap pelajaran Matematika. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak nilai tes hasil belajar siswa yang belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang ditetapkan di SMPN 12 Malang. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel kelas VIII-G SMPN 12 Malang sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar pada siswa. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan November 2010. Data penelitian berupa keterlaksanaan NHT oleh guru dan siswa melalui lembar keterlaksanaan NHT oleh guru dan siswa dan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan prestasi belajar pada bahasan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel siswa kelas VIII-G SMPN 12 Malang. Hal tersebut didukung oleh hasil belajar pada siklus I yaitu skor rata-rata kelas sebesar 56, 94 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebasar 61,53% dan keterlaksanaan NHT oleh guru dan siswa dalam kategoro “sangat baik”, sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas 69,64 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 66,67% dan keterlaksanaan NHT oleh guru dan siswa dalam kategori “sangat baik”.

Penerapan model pembelajaran react berbantuan diagram vee untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Rismatul Azizah

 

Kata Kunci : Model REACT, diagram Vee, kerja ilmiah, prestasi belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru Fisika kelas VIII-E SMP Negeri 8 Malang, diperoleh informasi bahwa jam pelajaran dominan digunakan guru untuk menerangkan materi kepada siswa dengan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif karena siswa hanya sebatas mendengarkan, mencatat, dan melakukan instruksi guru. Metode eksperimen jarang digunakan, sehingga kemampuan kerja ilmiah siswa rendah. Selain itu prestasi belajar fisika siswa masih rendah dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa sebesar 63,95 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 11,63%. Salah satu cara yang ditem-puh untuk nengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan model pembela-jaran REACT berbantuan diagram Vee yang terdiri atas 5 tahapan, yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring. Diagram Vee digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pada tahap experiencing karena dapat membantu siswa mengintegrasikan konsep-konsep yang dimiliki sebagai penge-tahuan awal dengan pengetahuan baru, yang berusaha dikontruksi atau dipahami dalam pelak-sanaan eksperimen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana keterlaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model REACT berbantuan diagram Vee, bagai-mana peningkatan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang setelah diterapkan model pembelajaran REACT berbantuan diagram Vee. Sesuai dengan yang diungkapkan (Yuliati, 2008: 60) bahwa model pembelajaran REACT efektif meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Data keterlaksanaan model pembelajaran REACT berbantuan dia-gram Vee dan kemampuan kerja ilmiah diperoleh dengan instrumen pengamatan sedangkan prestasi belajar diperoleh dari hasil tes akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan keterlaksanaan pembelajaran dengan model REACT berbantuan diagram Vee 81,42% pada siklus I dan 92,78% pada siklus II. Kemampuan kerja ilmiah siswa mengalami peningkatan secara keseluruhan pada masing-masing indikator, meliputi: (1) penyelidikan/penelitian meningkat dari 79,30% menjadi 90,93%, (2) komunikasi ilmiah meningkat dari 72,47% menjadi 83,72%, (3) pengembangan kreatifitas dan pemecahan masalah meningkat dari 70,47% menjadi 81,17%, dan (4) sikap ilmiah meningkat dari 76,28% menjadi 83,49%. Prestasi belajar fisika pada siklus I mencapai rata-rata 74,77 dan persentase ketuntasan sebesar 72,09%. Pada siklus II rata-rata prestasi belajar meningkat menjadi 84,30 dan persentase ketuntasan belajar sebesar 88,37%.

Perancangan merek dagang original mechandise Arema Indonesia dan media promosinya / Walin Huda

 

Kata Kunci: Merek, Merchandise, Arema Arema Indonesia merupakan klub sepak bola professional yang tergabung dalam kompetisi Liga Super Indonesia. Arema Indonesia memiliki pemasukan dari tiga sumber, diantaranya dari ticketing, sponsorship dan penjualan merchandise. Khusus dari sektor merchandise, Arema Indonesia saat ini hanya mampu mengambil keuntungan dari prosentase atas pemakaian logo klub yang terdapat pada merchandise yang dijual oleh home industry lokal. Oleh karena itu, Arema Indonesia perlu memiliki original merchandise beserta merek dagang yang dikelola secara independen agar dapat menghasilkan pemasukan yang maksimal dari penjualan merchandise. Dalam merancang merek dagang original merchandise Arema Indonesia tersebut, metode perancangan yang digunakan adalah metode perancangan prosedural. Model perancangan prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, dimana menggariskan langkah - langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk ( Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas negeri Malang , 2000:39). Hasil perancangan tersebut menghasilkan merek dagang untuk original merchandise Arema indonesia yang berupa logo dan juga media promosinya, beserta beberapa contoh merchandise yang dibuat sebagai produk dari original merchandise Arema Indonesia

Peningkatan keterampilan berpikir kritis dn hasil belajar fisika menggunakan problem posing siswa kelas X.7 SMA Negeri 1 Kepanjen / Aisyatur Rodiyah

 

Kata kunci: hasil belajar, keterampilan berpikir kritis, problem posing. Berdasarkan observasi yang dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2011, diketahui pembelajaran di SMA Negeri I Kepanjen menggunakan metode ceramah yang diselingi tanya jawab dan diskusi sehingga pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Keaktifan siswa dalam pembelajaran rendah, saat diajukan pertanyaan oleh guru siswa yang menjawab dan angkat tangan tidak ada atau hanya 1-3 siswa saja. Keterampilan berpikir kritis yang rendah akan berdampak pada hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan kurangnya rerata kelas yaitu sebesar 36,77 dari SKM yang berlaku (≥75). Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut diterapkan pembelajaran menggunakan problem posing. Pembelajaran dengan problem posing merupakan suatu bentuk pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran dengan problem posing dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar Fisika siswa SMA Negeri I Kepanjen. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-7 yang berjumlah 30 siswa. Data penelitian ini berupa keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Keterampilan berpikir kritis siswa diketahui dari hasil tes dan lembar observasi keterampilan berpikir kritis, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai skor ≥75 dan daya serap klasikal 85% siswa yang mencapai ≥75. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I rata-rata kelas sebesar 77,17 menjadi 79,17 pada sikluls II. Persentase ketercapaian siklus I sebesar 86,67% meningkat menjadi 93,33% pada siklus II. Rata-rata kelas dari hasil evaluasi di setiap siklus mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 81,5 dan hasil belajar pada siklus II sebesar 82,67 dengan peningkatan sebesar 1,17. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 90% dan pada siklus II meningkat menjadi 100%. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dengan problem posing dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dan hasil belajar siswa berjalan dengan baik dengan persentase pelaksanaan pembelajaran pada siklus I sebesar 87,5% dan pada siklus II 96,79% sehingga diharapkan guru dapat menerapkan problem posing sebagai variasi dalam pembelajaran Fisika. Keterbatasan penelitian yang hanya menerapkan problem posing pada materi pemuaian dan perpindahan kalor dengan waktu penelitian yang cukup singkat, maka diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan pada materi yang lain dengan menghadapkan siswa pada masalah-masalah yang ada pada kehidupan sehari-hari pada waktu penelitian yang cukup lama untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

Perancangan game tradisional Jawa egrang bambu / Mamlu'atul Hikmah

 

Kata Kunci: perancangan, game, egrang bambu Egrang merupakan salah satu permainan tradisional yang berasal dari pulau Jawa. Permainan tradisional egrang tersebut termasuk permainan yang hampir hilang dan tidak dikenal lagi karena adanya pengaruh permainan modern. Berkurangnya minat permainan tradisional Jawa egrang bambu tersebut sebagai dampak dari perkembangan teknologi saat ini. Untuk meningkatkan kesadaran terhadap rasa cinta budaya Indonesia terutama permainan tradisional Jawa egrang bambu yang hampir menghilang tersebut perlu diupayakan berbagai langkah, salah satu diantaranya melalui media game. Perancangan game egrang bambu ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah media game yang efektif, informatif dan menarik guna sebagai upaya pelestarian kembali permainan tradisional Jawa egrang bambu. Data perancangan game egrang bambu ini diperoleh dari pengumpulan data website dan buku-buku atau karya ilmiah. Perancangan game egrang bambu tersebut menggunakan berbagai software grafis animasi yaitu Adobe Flash CS3 dan Adobe Photoshop CS3. Perancangan ini menghasilkan berbagai media yaitu, media game (sebagai media utama), kemasan CD game, marchendise berupa pembatas buku, notes, dan penggaris, media promosi berupa x-banner, poster, brosur, dan stiker. Perancangan game ini belum melewati tahap validasi dan ujicoba. Untuk mengetahui keefektifannya, disarankan untuk dilakukan validasi dan ujicoba terhadap game ini.

Peningkatan proses dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) pada mata pelajaran IPS kelas IV di SDN Sukoharjo 2 Kota Malang / Rahman Kelubas

 

Kata Kunci: Proses dan Hasil Belajar, Model pembelajaran VCT, IPS SD. Apakah penerapan model pembelajaran VCT dapat meningkatkan (1) proses dan (2) hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Sukoharjo 2 Kota Malang? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), prosedur penelitian dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan & observasi refleksi dan perbaikan rencana. Subjek penelitian ini adalah peneliti dan siswa kelas IV SDN Sukoharjo 2 Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Observasi awal hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran VCT menunjukkan bahwa nilai rata-rata proses belajar siswa dari aspek yang dinilai pada siklus I pertemuan I sebesar 61,4, pertemuan II meningkat menjadi 68,1, dan siklus II menjadi 69,4. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan I menjadi 68,2, pertemuan II meningkat menjadi 74,5 dan siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 83,9. Sehingga dapat disimpulkan penerapan model pembelajaran VCT dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sukoharjo 2 Kota Malang dengan materi pokok "Mengenal masalah sosial di daerahnya". Dengan demikian diharapkan guru dapat menerapkan model pembelajaran VCT pada mata pelajaran IPS dengan memperhatikan waktu sehingga siswa mengetahui dan mengalami secara langsung materi yang diajarkan. Pada jenjang sekolah dasar IPS memfokuskan kajiannya kepada hubungan antar manusia dan proses membantu pengembangan kemampuan, pngetahuan, keterampilan dan sikap. Iklim pembelajaran yang di kembangkan oleh guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan proses belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas IV diketahui beberapa permasalahan, diantaranya: (1) Metode mengajar yang digunakan oleh guru masih didominasi metode ceramah, (2) Proses belajar siswa rendah yang ditandai oleh siswa kurang aktif dalam mencari atau menemukan pengetahuannya sendiri, (3) Hasil belajar IPS siswa kelas IV masih rendah, dengan nilai rata-rata 61,9. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dilakukan penerapan model pembelajaran VCT

Strategi penetapan kebijakan harga pada toko buku diskon Toga Mas Malang / Dian Rizky Ratriningrum

 

Kata Kunci: Strategi, Kebijakan, Harga Diskon Strategi adalah sekumpul;an pilihan krisis untuk perencanaan dan penerapan serangkaian rencana tindakan dan alokasi sumber daya yang penting dalam pencapaian tujuan dasar dan sasaran, dengan memperhatikan keunggulan kompetitif, komparative, dan sinergis yang ideal berkelanjutan, sebagai arah, ckupan, dan perspektif jangka panjang. Kebijakan adalah cara atau peraturan yang diterapkan ataupun digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan kelangsungan hidup usahanya. Harga merupakan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan. Tingkat harga yang ditetapkan mempengaruhi kuantitas barang yang dijual.vselain itu secara tidak langsung harga juga mempengaruhi biya, karena kuantitas yang terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan efisiensi produksi. Oleh karena itu penetapan harga mempengaruhi pendapatn total dan biaya total, maka keputusan dan strategi penetapan harga memgangn peranan penting dalam setiap perusahaan. Sedangkan diaskon adalah potongan atau pengrungan harga pada suatu produk atau pengurangan harga yang diberikan pada perusahaan. Penetapan kebijakan harga yang tepat dapat menarim perhatian konsumen. Toko Bbuku Diskon Toga Mas Malang dalam menerapkan kebijakan harga diskon adalah dengan konsep disko seumur hidup (Everlasting Diskon Store). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tujuan perusahaan dalam penetapan harga diskon, strategi yang digunakan dalam penetapan harga diskon. Faktor pendukung dan penghambat, serta keuntungan dan kelemahan yang dihadapi oleh Toko Buku Diskon Toga Mas Malang. Pengamatan menunjukkan bahwa (1) Tujuan dari penetapan harga diskon adalah untuk menunjang kelangsungan hidup, memperoleh market share, mencapai pangsa pasar, dan untuk memperoleh citra atau image. (2) Strategi yang digunakan yaitu High atau Low Pricing. (3) Faktor pendukung dan penghambat yaitu konsumen dan penerbit. (4) keuntungan dari penetapan hara yaitu peningkatan jumlah konsumen secara signifikan, dan peningkatan jumlah volume penjualan, selain itu kelemahannya yaitu berkuragnya margin/ persen keuntungan. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa penetapan kebijakan harga pada Toko Buku Diskon Toga Mas Malang sudah sesuai dengan metode penetapan kebijakan harga diskon. Untuk mencapai tujuan atau sasaran perusahaan dalam menerapkan kebijakan harga diskon sebaiknya tidak hanya pada satu kebijakan tetapi juga memadukan dengan kebijakan harga yang satu dengan yang lain.

Manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan kualitas sekolah (studi kasus di SMAN 1 Malang) / Irma Septiani

 

Kata Kunci: manajemen, kegiatan ekstrakurikuler, kualitas Manajemen merupakan suatu proses mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan sampai dengan evaluasi. Manajemen memiliki banyak substansi diantaranya yaitu manajemen layanan khusus. Manajemen layanan khsusus dalam pendidikan yang disediakan oleh sekolah untuk siswa yaitu adanya kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar matapelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah/madrasah. Fokus penelitian dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana proses perencanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Malang, 2) Bagaimana proses pengorganisasian kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Malang, 3) Bagaimana proses penggerakan kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Malang, 4) Bagaimana proses pengawasan kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Malang, dan 5) Apa saja faktor pendukung dan penghambat dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Malang serta bagaimana cara mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tentang fungsi manajemen kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMA Negeri 1 Malang dan faktor pendukung serta penghambat dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus dalam arti penelitian difokuskan pada satu fenomena saja yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam, dengan mengabaikan fenomena-fenomena lainnya. Penelitian ini dilakukan secara langsung dengan menggunakan catatan lapangan dan kamera untuk dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan/keajegan pengamatan dan trianggulasi. Hasil dari penelitian ini yaitu: 1) Fungsi perencanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang, adanya program kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk satu tahun ajaran dan prinsip dalam proses perencanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang berhubungan dengan tata tertib, 2) Fungsi pengorganisasian kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang, adanya struktur organisasi pada setiap jenis kegiatan ekstrakurikuler dan adanya pendelegasian terhadap tugas dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, 3) Fungsi penggerakan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang, meliputi proses penggerakan atau i pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan di sekolah setelah jam pelajaran intrakurikuler berakhir yaitu pada pukul 14.00-17.00 WIB dan kehadiran harus di atas 80 % karena kegiatan ekstrakurikuler adalah salah satu syarat untuk kenaikan kelas, 4) Fungsi pengawasan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang, adanya pengawasan pada setiap latihan kegiatan ekstrakurikuler berlangsung, dan yang mengawasi jalannya kegiatan adalah Pembina kegiatan ekstrakurikuler dari setiap masing-masing seksi bidang, dan 5) Faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang, serta cara mengatasi hambatan yang terjadi, yaitu yang mendukung dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang adalah dana, kebijakan dari sekolah, guru, orang tua siswa dan siswa yang berkompeten, yang menghambat jalannya kegiatan ekstrakurikuler tersebut adalah cuaca, dana dan sarana yang sudah tidak layak pakai, serta cara mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan cara menyediakan ruangan khusus untuk menampung siswa dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler agar tetap berjalan dengan lancar, membantu siswa mencari donatur atau sponsor dan menyediakan dan memperbaiki sarana yang sudah tidak layak pakai dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Saran dalam penelitian ini yaitu: 1) Kesiswaan SMA Negeri 1 Malang yaitu hendaknya meningkatkan dan memaksimalkan kegiatan pengarahan kepada Pembina agar kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan oleh siswa lebih terarah dan terkelola dengan baik, 2) Kepada orangtua siswa yaitu senantiasa memberikan dukungan dan motivasi yang tinggi terhadap kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan oleh sekolah agar siswa lebih berprestasi tidak hanya di bidang akademik, tetapi di bidang non akademik juga dan 3) Kepada siswa, diharapkan lebih memaksimalkan dan memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang dengan baik agar kualitas sekolah dan prestasi non akademik siswa lebih meningkat, dan 4) Kepada peneliti lain, diharapkan dapat memberikan wawasan dan informasi mengenai penelitian yang sejenis sehingga lebih memaksimalkan hasil yang diperoleh peneliti selanjutnya.

Peningkatan kemampuan mendeskripsikan benda melalui media benda konkret pada siswa kelas II SD NU Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Abdul Karim

 

Kata kunci : Peningkatan Kemampuan, mendeskripsikan benda, benda konkret, Siswa kelas II SD. Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil dalam berkomunikasi secara lisan dan tulisan serta menghidupkan karya cipta bangsa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari empat aspek keterampilan utama yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Pada Kurikulum Tingkat Satuan (KTSP) salah satu Kompetensi Dasar yang diajarkan adalah mendeskripsikan benda. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) Mendeskripsikan proses pembelajaran melalui media benda konkret . (2) Mendeskripsikan peningkatan keaktifan belajar siswa dalam mendeskripsikan benda melalui media benda konkret. (3) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan mendeskripsikan benda melalui media benda konkret pada siswa kelas II SD NU Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus dilaksanakan satu kali pertemuan dengan durasi waktu 4 x 35 menit. Subjek penelitian siswa kelas II yang berjumlah 30 orang, terdiri dari 13 laki-laki dan 17 perempuan. Instrumen pengumpul data utama adalah lembar observasi dan panduan wawancara untuk guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mendeskripsikan benda siswa kelas II SD NU Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan. Pada siklus I hasil yang diperoleh mencapai rata-rata 27% dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan hasil rata-rata 80%. Hasil penilitian menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis penelitian yaitu jika siswa kelas II SD NU Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dibelajarkan mendeskripsikan benda melalui media benda konkret maka kemampuannya akan meningkat. Berdasarkan hasil dan temuan Penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media benda konkret maka kemampuan siswa dalam mendiskripsikan benda mengalami peningkatan. (1) untuk mempermudah pembelajaran mendeskripsikan benda, disarankan kepada guru untuk menggunakan media benda konkret sebagai media pembelajaran. (2) bagi peneliti, penelitian ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk melanjutkan penelitian serupa.

Pengaruh penggunaan modul terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang / Wahyu Wulansari

 

Kata Kunci: Penggunaan Modul, Akuntansi, Prestasi Belajar Penggunaan modul merupakan salah satu alternatif dalam penyelenggaraan pengajaran individual. Pembelajaran modul mampu memberikan kemungkinan kepada siswa untuk belajar mandiri karena setiap siswa dalam kelas dilibatkan secara maksimal dalam pembelajaran. Dalam penggunaan modul sebagai media pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk belajar menurut gaya belajar dan kemampuan masing-masing. Dengan demikian, memungkinkan siswa untuk maju dan berprestasi sesuai dengan kecepatan sendiri. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh penggunaan modul terhadap prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah 185 siswa yang terbagi ke dalam 5 kelas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu kelas XI IPS 3 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI IPS 4 sebagai kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan modul dalam pembelajaran, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar tanpa menggunakan modul dalam pembelajaran. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan cara memberikan tes kemampuan akhir dalam pembelajaran akuntansi pada materi pokok jurnal penyesuaian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari penggunaan modul terhadap prestasi belajar siswa, terbukti dari hasil t-Test:Two-Sample Assuming Equal Variances yang menunjukkan thitung (5,166) > ttabel(1,668). Adapun keterbatasan dari penelitian ini adalah penelitian hanya dilakukan pada satu pokok bahasan saja dikarenakan adanya keterbatasan waktu penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar peneliti lain dapat melakukan penelitian tentang penggunaan modul pada materi lain atau lebih dari satu pokok bahasan dengan menambah waktu penelitian sehingga dapat diketahui keefektifan penggunaan modul untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbasis macromedia flash professional 8 dan hot potatoes untuk mata kuliah tathbiq nahwi 1 di Jurusan Sastra Arab (JSA) Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Puteri Ayu Ratna Dewi

 

Kata Kunci: Macromedia Flash Professional 8, Hot Potatoes, media pembelajaran, Tathbiq Nahwi I. Pesatnya perkembangan teknologi informasi sekarang ini menuntut setiap orang harus selalu mengikuti trend teknologi informasi sekarang dan akan datang. Perkembangannya telah merambah segala bidang salah satunya bidang pendidikan. Tathbiq Nahwi I adalah mata kuliah tentang gramatikal bahasa Arab sebagai salah satu komponen kebahasaan. Bukan rahasia lagi di kalangan pembelajar bahasa Arab bahwa Tathbiq Nahwi I merupakan pelajaran yang oleh banyak pembelajar dianggab sulit. Salah satu komponen yang menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah media pembelajaran. Maka dari itu untuk memudahkan dalam memahami materi Tathbiq Nahwi I diperlukan media yang akan membantu. Media tersebut adalah berupa media pembelajaran berbasis Macromedia Flash Professional 8 dan Hot Potatoes. Tujuan penelitian adalah: (a) memproduksi media pembelajaran berbasis Macromedia Flash Professional 8 dan Hot Potatoes untuk mata kuliah Tathbiq Nahwi I di JSA FS UM, (b) mendeskripsikan langkah penggunaan media, (c) mendeskripsikan materi yang disajikan dalam media, (d) mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan produk. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model prosedural. Uji lapangan dilaksanakan di JSA FS UM. Langkah-langkah penelitian pengembangan media berbasis Macromedia Flash Professional 8 dan Hot Potatoes adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis bahan ajar, (3) analisis kebutuhan siswa, (4) desain media, (5) produksi, (6) editing, (7) prototipe media, (8) validasi produk, (9) revisi dan penyempurnaan, dan (10) tahap akhir. Teknik analisis data yang digunakan adalah tekhnik analisis data persentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrumen) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa angket. Hasil pengembangan dan pembahasan penelitian ini adalah berupa CD interaktif pembelajaran berbasis Macromedia Flash Professional 8 sebagai aplikasi utama dan Hot Potatoes alternatif untuk menutupi kelemahan aplikasi utama, yang telah divalidasi oleh beberapa ahli, dan diuji cobakan pada mahasiswa semester 3 di JSA FS UM, disimpulkan bahwa media ini telah valid dan layak untuk digunakan. Dari 10 aspek penilaian uji materi diketahuibahwa 3 aspek penilaian dikategorikan valid, 6 aspek dikategorikan cukup valid, 1 aspek penilaian yang dikategorikan kurang valid. Dari 10 aspek peniaian uji media dari 10 aspek yang menjadi aspek penilaian diketahui bahwa 1 aspek penilaian dikategorikan valid, 9 aspek penilaian yang dikategorikan cukup valid. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, diketahui 10 aspek penilaian dinyatakan valid. Penggunaan dalam memulai media ini yaitu: (a) memasukkan CD pada CD ROOM komputer atau pada laptop, (b) pengguna bisa langsung melihat media pada layar komputer karena CD sudah di lengkapi dengan autorun dimana komputer bisa langsung membaca program, (c) untuk menjalankan media ini pengguna bisa langsung membaca tutorial media untuk mempermudah dalam penggunaan, (d) dalam menjalankan materi dan variasi soal, pengguna meng-klik tombol-tombol materi maupun variasi latihan, (e) untuk mematikan atau mengakhiri media, pengguna meng-klik tanda panah merah pada ujung layar. Media pembelajaran yang dirancang khusus untuk mata kuliah Tathbiq Nahwi Isemester 3 mahasiswa JSA. Media ini memuat empat tema , yaitu Jumlah Fi'liyyah, Jumlah Ismiyah, Murakkab Washfi dan Murakkab Idhafi. Media ini memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut: (a) di dalam media pembelajaran disertakan panduan program atau tutorial sehingga dapat memudahkan para pengguna untuk mengoperasikan media pembelajaran tersebut dan panduan tertulis berupa buku, (b) produk dapat menampilkan teks, gambar, dan animasi yang didesain sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan media yang dapat menampilkan materi dan tes, (c) teks materi disajikan dengan tampilan tulisan animasi dan disertai dengan tombol-tombol komponen materi, sehingga pengguna mudah memahami pengertian, contoh, dan karakteristik materi, (d) media pembelajaran ditekankan pada latihan-latihan soal pada tiap materi yang terdiri dari lima variasi soal. Sehingga pengguna lebih mudah dalam memahami materi dan tidak bosan dengan satu jenis latihan saja, (e) mempermudah penyampaian materi ajar kepada pengguna. Selain kelebihan, media ini juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu: (a) materi yang dikembangkan dalam media pembelajaran ini terbatas pada empat tema, yaitu Jumlah Fi'liyyah, Jumlah Ismiyah, Murakkab Washfi dan Murakkab Idhafi (b) masih memerlukan penilaian dan uji coba pada subjek yang lebih besar atau lebih luas lagi agar didapatkan penilaian yang lebih valid. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar media pembelajaran ini dapat digunakan mahasiswa sebagai referensi dan salah satu media belajar. Selain itu diharapkan dosen mengkaji ulang terhadap materi-materi di dalam media pembelajaran tersebut.

Pengaruh penggunaan media komik terhadap kemampuan menceritakan tokoh idola siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Farah Ulfa Riadina

 

Pada dasarnya, pembelajaran bahasa Indonesai memuat empat aspek penting untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kedudukan keempat keterampilan tersebut saling melengkapi satu dan lainnya. Penelitian ini berkaitan dengan kemampuan berbicara, khususnya kemampuan bercerita siswa. Dalam pembelajaran bercerita, siswa cenderung merasa kesulitan untuk mengungkapkan gagasan yang dimiliki, salah satunya mengenai tokoh idola. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah media yang mampu mengoptimalkan kemampuan bercerita siswa. Salah satu media yang dapat digunakan adalah Komik. Media komik dapat merangsang daya ingat dan imajinasi siswa dalam bercerita. Komik yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis komik sonen seri penemu dunia. Isi cerita dalam komik tersebut berimbang antara gambar dan tulisan, serta sesuai dengan usia siswa SMP kelas VII (antara 11-12 tahun). Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan media komik terhadap kemampuan menceritakan tokoh idola siswa kelas VII SMP Negeri Malang Tahun Ajaran 2010/2011, ditinjau dari aspek identitas tokoh idola, keunggulan tokoh idola, alasan mengidolakan tokoh idola, pilihan kata, pelafalan, kelancaran, dan intonasi bercerita. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu dengan penggunaan pretes dan postes. Seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang berlaku sebagai populasi. Sementara sampel yang digunakan adalah kelas VII A sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII B sebagai kelas kontrol. Pengambilan kedua kelas sebagai sampel tersebut menggunakan teknik random sampling. Setelah dilakukan tes bercerita tentang tokoh idola, data sampel diolah menggunakan analisis statistik uji-t pada program komputer SPSS (Statistical Package for the Scientist) hitung lebih besar daripada t tabel (5,466 > 2,133). Kedua, kemampuan bercerita siswa dari aspek keunggulan tokoh idola memiliki t hitung lebih besar daripada tabel (5,481 > 2,133). Ketiga, kemampuan bercerita siswa dari aspek alasan mengidolakan tokoh idola memiliki t hitung lebih besar daripada t tabel (4,442 > 2,133). Keempat, kemampuan bercerita siswa dari aspek pilihan kata memiliki t hitung lebih besar daripada t tabel (6,080 > 2,133). Kelima, kemampuan bercerita siswa dari aspek pelafalan memiliki t hitung lebih besar daripada t tabel (6,752 > 2,133). Keenam, kemampuan bercerita siswa dari aspek kelancaran memiliki t hitung lebih besar daripada t tabel (5,319 > 2,133). Ketujuh, kemampuan bercerita siswa dari aspek intonasi memiliki t hitung lebih besar daripada t tabel (4,901 > 2,133). Dari hasil penelitian di atas, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek menceritaan identitas tokoh idola. Kedua, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek menceritakan keunggulan tokoh idola. Ketiga, ada pengaruh signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek mengungkapkan alasan mengidolakan tokoh. Keempat, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek pilihan kata. Kelima, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek pelafalan. Keenam, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek kelancaran. Ketujuh, ada pengaruh yang signifikan penggunaan media komik terhadap kemampuan bercerita siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang dari aspek intonasi. 16.0 for Windows dengan taraf signifikansi 0,05. Uji-t bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaanantara kelas eksperimen yang diberikan perlakuan berupa media komik dan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan dalam pembelajaran bercerita. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, kemampuan bercerita siswa dari segi aspek identitas tokoh idola memiliki t

The teaching of English at "TK Laboratorium" of State University of Malang / Yayan Mariyati Kader

 

This study was conducted to describe the teaching of English at “TK Laboratorium” of State University of Malang. It aims at: (1) describing the teaching preparation stage, (2) describing the teaching of English, (3) describing teacher’s problems, (4) describing how teacher solve the problems in teaching English.This study employed a descriptive design because it described the implementation of the teaching of English at “TK Laboratorium” of State University of Malang including the teaching preparation stage, the teaching of English, teacher’s problems and possible solution to solve the problems in the teaching and learning process. The instruments used to obtain the data were observation, field notes, documentation, and interview. The study was conducted from March 07, 2011 up to March 17, 2011, and the subject was a teacher of “A Bilingual Moon” class of “TK Laboratorium” of State University of Malang. The findings show that the school preparation stage includes: (1) PROTA (Yearly Program), (2) PROMES (Semester Program), (3) SKM (Weekly Lesson Plan), (4) SKH (Daily Lesson Plan). The four programs are based on the curriculum of the school, and then the teachers design them more specifically in order to guide themselves in teaching and introducing the materials to their students bilingually (both in English and Indonesia). However, the teacher in “A Bilingual Moon” did not make SKH as a guide in teaching and learning process. It was also found that there were some problems faced by the teachers in teaching English in the classroom: (1) the use of grammar, (2) the correct pronunciation of new words, (3) the use of local language such as Javanese. Accordingly, the possible ways of solving the problems were: (1) the teacher asked her assistant or other teachers who graduated from English department about the right use of English, (2) the teacher taught herself English by learning English book and listening to the English music.This study suggests both the teacher and the school to improve capability of teachers in English and the use of preparation stage to support the teaching of English at ”TK Laboratorium” of State University of Malang; therefore, students can get the better results in learning English.

The teacher's techniques of introducing new vocabulary at Taman Kanak-kanak Negeri Pembina Malang / Kamariah

 

he purpose of this research to know what techniques does the teacher use to introduce new vocabulary in Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri Pembina Malang. This study employed a descriptive design. The source of the data was the English teacher, and the subjects were the students of B class at TK Negeri Pembina Malang. The instruments used to collect the data were the researcher, observation in form of checklist and field notes, and interview. The data were collected for two months, which consisted of three steps, observing the teacher, interviewing the teacher, making field notes and also using Hp recorder for interview and using digital camera to take picture. The data taken from the observation and interview were analyzed and presented in the form of descriptive explanation. The findings reveal that the teacher applied various techniques of introducing new vocabulary. In teaching vocabulary the teacher used techniques: singing songs, using picture, demonstration, doing exercise or gymnastic, listen-repeat, repetition, playing games, and giving worksheet.

Penerapan model inkuiri untuk meningkatkan pemahaman konsep pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan pada siswa kelas IV SDN Bumiayu 3 Malang / Indah Siatin

 

Kata kunci: Model nkuiri, Pemahaman Konsep, Perubahan Lingkungan Fisik Terhadap daratan. Pemanfaatan model inkuiri dapat menimbulkan dampak positif seperti terciptanya situasi pembelajaran yang memberikan peluang perkembangan kreativitas pada siswa, motivasi dan meningkatkan pemahaman konsep siswa. Metode ini bertujuan agar siswa mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, tidak bosan, menyelidiki sendiri masalah, menemukan, memecahkan masalah sendiri, sehingga siswa dapat belajar dengan optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan penggunaan metode Inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan pada siswa kelas IV SDN Bumiayu 3 Malang, (2) Mendeskripsikan penggunaan metode Inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep belajar siswa kelas IV SDN Bumiayu 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 45 siswa kelas IV SDN Bumiayu 3 Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan model inkuiri mengembangkan kemampuan siswa berfikir secara sistematis, logis dan kritis, agar siswa dapat menemukan sendiri, menyelidiki sendiri menjadi aktif masalah yang dipelajari, memecahkan masalah sendiri sehingga hasilnya optimal dan tidak mudah dilupakan. Hasil observasi aktivitas siswa sebelum tindakan dengan nilai rata-rata kelas 52,8, setelah dilakukan tindakan siklus I nilai rata-rata meningkat menjadi 68 dengan jumlah yang tidak tuntas 12 siswa dan 33 siswa tuntas. Pada tindakan siklus II pemehaman konsep siswa tentang materi meningkat, hal ini terbukti dari kenaikan nilai rata-rata siswa 90 dan ketuntasan klasikal sebesar 93,3%. Disimpulkan bahwa penggunan metode inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bumiayu 3 Kota Malang pada materi pengaruh lingkungan fisik terhadap daratan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan guru menerapkan model inkuiri pada mata pelajaran IPA sehingga hasil belajar siswa meningkat dan siswa dapat lebih memahami konsep materi yang diberikan yang nantinya tujuan pembelajaran tercapai optimal.

Efektivitas strategi pembelajaran reciprocal teaching dalam model two stay two stray terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi (studi pada siswa kelas X SMAN 1 Gondang Tulungagung) / Ana Pratiwi

 

Kata Kunci: Strategi Reciprocal Teaching, Two Stay – Two Stray, Hasil Belajar. Perubahan paradigma pembelajaran dari kurikulum 2004 menjadi KTSP adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered). Salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa aktif adalah pembelajaran yang bersifat konstruktivis. Pada kenyataannya, dalam pembelajaran guru masih menggunakan metode konvensional. Strategi pembelajaran konvensional lebih menekankan pada siswa untuk mengingat atau menghafal, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang berorientasi pada pandangan kontruktivis adalah strategi reciprocal teaching. Strategi reciprocal teaching merupakan prosedur pembelajaran yang dirancang melalui berbagai prinsip kegiatan yaitu, mengklarifikasi, memprediksi, mengajukan pertanyaan serta merangkum. Dewasa ini terdapat berbagai model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan dalam strategi reciprocal teaching untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa yaitu model two stay two stray. Penggunaan strategi pembelajaran reciprocal teaching dalam model two stay two stray mampu mengaktifkan siswa. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (Kuasi Eksperimen). Populasinya adalah siswa kelas X SMAN 1 Gondang yang terdiri dari sembilan kelas, dalam penelitian ini diambil sampel dua kelas yaitu kelas X5 dan X6, teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan soal tes hasil belajar. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar siswa pada kelas eksperimen memiliki rata-rata sebesar 82,375 sedangkan pada kelas kontrol memiliki rata-rata 76,125. Strategi pembelajaran reciprocal teaching dalam model two stay – two stray ini efektif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi kelas X di SMA Negeri 1 Gondang Tulungagung. Hal ini dapat dilihat nilai signifikansi uji hipotesis gain score 0,000 ttabel 2,022. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pada hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan strategi reciprocal teaching dalam model two stay two stray dengan kelas yang menggunakan metode konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa strategi reciprocal teaching dalam model two stay two stray efektif dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah (1) Sekolah disarankan lebih meningkatkan mutu pendidikan melalui pemberian standarisasi RPP dengan model pembelajaran yang bervariasi. (2) Guru disarankan untuk menggunakan strategi pembelajaran reciprocal teaching dan model two stay – two stray sebagai salah satu alternatif dalam proses pembelajaran di kelas dan disesuaikan dengan materi, karena hasil penelitian ini telah membuktikan bahwa strategi pembelajaran reciprocal teaching dan model two stay – two stray efektif serta dapat meningkatkan hasil belajar. (3) Bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran strategi reciprocal teaching dalam model pembelajaran yang lain pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran yang berbeda di tempat yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran strategi reciprocal teaching dalam model two stay – two stray dalam proses pembelajaran.

Pengembangan instrumen tes bentuk pilihan ganda bermakna untuk mengidentifikasi miskonsepsi kinematika gerak lurus pada siswa kelas X / Siti Khusnawiyah

 

Kata Kunci : instrumen tes bentuk pilihan ganda bermakna, miskonsepsi, kinematika gerak lurus. Miskonsepsi dapat diartikan sebagai pertentangan atau perbedaan konsepsi seseorang dengan konsepsi yang dimiliki oleh masyarakat ilmiah atau para ahli yang telah diyakini kebenarannya. Miskonsepsi dapat mengganggu pemikiran siswa baik ketika siswa mengerjakan soal maupun ketika siswa mempelajari materi berikutnya. Selama ini alat identifikasi miskonsepsi yang pernah dikembangkan membutuhkan waktu lama dalam proses analisisnya misalnya tes uraian dan wawancara, sehingga sebagian besar guru sulit dan enggan untuk melakukan identifikasi miskonsepsi. Atas dasar kendala tersebut, maka dikembangkan butir tes pilihan ganda bermakna sebagai alat identifikasi mikonsepsi pada materi Kinematika Gerak Lurus. Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan alat identifikasi miskonsepsi materi Kinematika gerak lurus yang efektif dan efisien. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan produk serta mengetahui karakteristik produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Langkah-langkah penelitian yang akan dilaksanakan meliputi: tahap studi pendahuluan dan tahap pengembangan produk. Penelitian ini menggunakan teknik analisis validasi isi dan analisis program AAFF. Kegiatan validasi dilaksanakan oleh validator yang berasal dari pihak guru dan dosen sebagai ahli materi dan ahli penilaian. Pengumpulan data dilakukan dengan meggunakan angket yang disertai rubrik penilaian, soal uraian dan soal pilihan ganda yang dihasilkan. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator berdasarkan skala likert dan data kualitatif berupa tanggapan dan saran yang diberikan oleh validator. Produk akhir penelitian ini adalah instrumen tes bentuk pilihan ganda bermakna. Soal pilihan ganda bermakna adalah alat identifikasi miskonsepsi yang dikembangkan berdasarkan soal uraian yang telah diujikan sebelumnya dan berdasarkan deskripsi jawaban soal uraian. Pilihan ganda bermakna memiliki empat alternatif jawaban yang masing-masing memiliki deskripsi yang berbeda. Deskripsi yang dibuat menggambarkan pemikiran siswa ketika memilih sebuah jawaban. Berdasarkan hasil analisis, produk yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria layak, namun masih perlu ada revisi berdasarkan saran, kritik dan tanggapan dari validator. Produk yang dihasilkan mampu membedakan siswa yang mengalami miskonsepsi dan yang tidak mengalami miskonsepsi dan mampu mengelompokkan siswa berdasarkan bentuk miskonsepsinya. Proses identifikasi dilakukan dengan melihat kekonsistenan jawaban siswa.

Efektivitas pembelajaran kooperatif model STAD terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas II SMK PGRI 02 Malang / Muizzatul Hasanah

 

Analisis butir soal ulangan umum matematika semester genap kelas II SMA Negeri 1 Bangil tahun ajaran 2003/2004 / Ervita Ummul Khoiroh

 

Selesaian masalah transportasi multi-objektif dengan pohon rentang menggunakan algoritma genetika / Herfa Maulina Dewi Soewardini

 

Perbedaan prestasi belajar matematika dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model TGT da metode ekspositori pokok bahasan logaritma siswa kelas I semester I MAN Kota Blitar / Itsna Hayati

 

Penerapan metode penghapusan sikel dengan dukungan data distribusi produk UD. Meubel Lin / Atik Setyowati

 

Keunggulan pembelajaran kooperatif model jigsaw dibandingkan dengan model konvensional ditinjau dari prestai dan keaktifan/antusiasme belajar siswa kelas I semseter I SMA Negeri 1 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2004/2005 / Nevy An Azura

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 |