Isolasi dan identifikasi bakteri termofilik penghasil lipase termostabil dari sumber air panas Cangar Kota Batu Jawa Timur / Yeni Rohmatillah

 

Kata kunci: bakteri termofilik, lipase termostabil, sumber air panas Cangar, Baccillus lentus. Lipase (E.C 3.1.1.3) merupakan salah satu enzim dari kelas hidrolase yang dapat menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Dalam bioteknologi, lipase digunakan dalam industri makanan, detergen, kulit serta oleokimia. Proses di industri membutuhkan kondisi khusus seperti suhu tinggi, tahan terhadap denaturasi dan proteolisis yang dapat menyebabkan enzim terdenaturasi dan aktivitasnya menurun. Lipase termostabil merupakan enzim yang sangat potensial untuk mengatasi kendala teknis industri. Enzim termostabil dapat diisolasi dari mikroorganisme termofilik yang hidup di sumber air panas, misalnya sumber air panas Cangar. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengisolasi bakteri termofilik penghasil lipase termostabil dari sumber air panas Cangar, (2) menentukan aktifitas ekstrak kasar lipase termostabil dari bakteri termofilik isolat Cangar, dan (3) menentukan spesies bakteri termofilik penghasil lipase termostabil dengan Microbact System 12B Penelitian ini bersifat deskriptif eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang dan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Penelitian terdiri atas 6 tahap yaitu: (1) pengambilan sampel, (2) isolasi bakteri termofilik, (3) seleksi bakteri termofilik lipolitik, (4) produksi ekstrak kasar lipase termostabil (5) uji aktivitas lipase, dan (6) identifikasi bakteri penghasil lipase dengan menggunakan Microbact System 12B . Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bakteri termofilik lipolitik dapat diisolasi dari sumber air panas Cangar menggunakan media selektif lipase dan diinkubasi pada suhu 55 C selama 96 jam, (2) aktifitas rata-rata ekstrak kasar lipase termostabil dari bakteri termofilik lipolitik isolat Cangar adalah 0,16 (U/mL), dan (3) hasil identifikasi bakteri termofilik lipolitik isolat Cangar secara fenotip dengan Microbact System 12B adalah Baccillus lentus.

Penggunaan flashcard dalam pembelajaran bahasa Arab untuk meningkatkan penguasaan mufradat siswa kelas 4 Madrasah Ibtidaiyyah Sabilul Huda Kecamatan Tarokanm Kabupaten Kediri / Iim Mujtahidin Annabhan

 

Implementasi peer assessment to improve the writing ability of the second year students of SMP Negeri 4 Palu / by Diah Agustiningsih

 

Pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar elektronik dan nonelektronik bagi siswa di SMP se Kecamatan Kota Kediri / Inten Mega Wawarni

 

ABSTRAK Mawarni, Inten Mega. 2016. Pemenuhan dan Pemanfaatan Sumber Belajar Elektronik dan Non Elektronik Bagi Siswa. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd, (2) Prof. Dr. Ali Imron, M.Pd, M.Si Kata kunci : sumber belajar elektronik, sumber belajar non elektronik Sumber belajar merupakan komponen yang membantu dalam proses belajar mengajar, sumber belajar juga adalah sebagai daya yang dapat dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar. Sumber belajar dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik, perpustakaan, narasumber, lingkungan alam sekitar dan sebagainya, yang dipilih berdasarkan kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat (1)pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar elektronik di SMP Negeri dan Swasta (2) pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar non elektronik di SMP Negeri dan Swasta (3) perbedaan pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar elektronik dan non elektronik bagi siswa SMP Negeri dan Swasta di SMP Se-Kecamatan Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Kausal Komparatif. Dalam penelitian ini populasi berjumlah 7365 siswa dan sampel penelitian diambil dengan menggunakan metode proportional random sampling dari jumlah 379 siswa terdiri dari 278 siswa SMP Negeri dan 101 siswa SMP Swasta. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dengan analisis deskriptif komparatif dan analisis Uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar elektronik di SMP Negeri dan SMP Swasta di SMP Se-Kecamatan Kota Kediri termasuk dalam kualifikasi tinggi; (2) pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar non elektronik di SMP Negeri dan SMP Swasta di SMP Se-Kecamatan Kota Kediri termasuk dalam kualifikasi tinggi; (3) ada perbedaan pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar elektronik bagi siswa SMP Negeri dan SMP Swasta di SMP Se-Kecamatan Kota Kediri; (4) ada perbedaan pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar non elektronik bagi siswa SMP Negeri dan SMP Swasta di SMP Se-Kecamatan Kota Kediri. Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian yang telah diperoleh adalah (1)Kepala sekolah hendaknya dapat lebih melengkapi sumber belajar baik elektronik maupun non elektronik agar siswa dapat lebih termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar; (2)Guru diharapkan mampu lebih memanfaatkan sumber belajar baik elektronik maupun non elektronik untuk menyampaikan materi agar siswa lebih giat untuk belajar; (3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk lebih memanfaatkan sumber belajar yang ada, bahwa pada dasarnya baik sekolah negeri maupun swasta seharusnya memiliki kemampuan yang sama untuk memanfaatkan sumber belajar elektronik dan non elektronik; (4) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi jurusan tentang pemenuhan dan pemanfaatan sumber belajar elektronik dan non elektronik yang dapat dijadikan referensi untuk penelitian yang sejenis; (5) Diharapkan mampu menyempurnakan penelitian ini dan kedepannya dapat mengembangkan hasil penelitian ini dengan menambah variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

Pengembangan buku panduan latihan lay up untuk peserta eks-trakurikuler bolabasket di SMANegeri 2 Batu / Candra Dwi Oktobela

 

ABSTRAK Oktobela, Candra Dwi. 2016. Pengembangan Buku Panduan Latihan Lay up untuk Peserta Ekstrakurikuler Bolabasket di SMA Negeri 2 Batu, Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Purnami, M.Pd, (2) Drs. Supriatna, M.Pd. Kata Kunci:Pengembangan, buku panduan,lay up,bolabasket Kegiatan ekstrakurikuler bola basket merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan prestasi siswa, banyak upaya dilakukan dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk meraih prestasi yang diinginkan tentunya banyak komponen yang harus dilatih salah satunya adalah teknik dasar lay up.Berdasarkanhasilobservasiditemukanbahwa 61% siswa di SMAN 02 Batutidakpernahdiajarkantekniklay up, 81% tidakpernahdiberikanvariasilatihanlay up, 71 % siswamenyatakanbahwasangatperluadanyapembelajarantekniklay updan 100% siswasetujubahwa model latihanlay updikemasdalambentukbukupanduan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan variasi model latihan teknik dasar bolabasket (Lay up) dalam kegiatan ekstrakurikuler bolabasket di SMAN 02 Batu.Sehingga siswa dapat dengan mudah belajar teknik dasar bolabasket (lay up) dengan baik dan benar. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan rancangan penelitian melalui 7 langkah yang telah dilalui yaitu 1) Analisis kebutuhan, 2) Observasi awal dan kajian pustaka, 3) Evaluasi ahli, 4) Uji coba kelompok kecil, 5) Revisi produk awal, 6) Uji coba kelompok besar, 7) Revisi produk akhir. Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui ujicobakelompokkecil 8 orang siswaterdapathasil 91% menyatakanprodukini mudah dipahami danlayakdigunakan, danujicobakelompokbesarmelaluikuisionerterdapathasilbahwa 88% siswamenyatakanprodukinidapatdigunakandalampermainanbolabasketkhususnyauntukekstrakurikulerbolabasket di SMAN 02 Batu.Spesifikasi produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah berupa buku panduan berukuran A5,berisi 7 macambentuklatihandisertai gambar dan petunjuk pelaksanaan yang dirangkum sangat menarik dan mudah dipahami. Kajian dan saran dari produk ini bukuyang ditujukan untuk siswa SMA ini adalah buku panduan sehingga memungkinkan buku ini juga dapat digunakan untuk sekolah lainnya baik putra maupun putri tentunya sesuai dengan materi dan tujuan yang sama.Saran untukprodukiniperlunyaperanaktifpelatihdansiswauntukmenggunakanprodukini,sebelum disebarluaskan sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sasaran yang ingin dituju.

Perbedaan faktor penyebab motivasi belajar pada mata pelajaran menggambar dengan perangkat lunak antara siswa SMK Negeri dengan SMK Swasta paket Keahlian Teknik Gambar Bangunan di Malang / Fachryan Kamal Faruq

 

ABSTRAK Faruq, Fachryan Kamal. 2016. Perbedaan Faktor Penyebab Motivasi Belajar pada mata pelajaran Menggambar dengan Perangkat Lunak antara Siswa SMK Negeri dengan SMK Swasta Paket Keahlian Teknik Gambar Bangunan di Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. R.M. Sugandi, S.T., M.T, (II) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T. Kata kunci: faktor penyebab, motivasi belajar sekolah negeri dan swasta Motivasi merupakan salah satu faktor yang menentukan hasil belajar, sehingga besar sekali pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan seseorang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang: motivasi siswa SMK Negeri, motivasi siswa SMK Swasta, dan perbedaan faktor penyebab motivasi belajar siswa SMK Negeri dengan SMK Swasta pada Paket Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 6 Malang, SMK Negeri 1 Singosari dan SMK Nasional Malang. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif komparatif. Objek penelitian adalah siswa kelas XI Paket Keahlian Teknik Gambar Bangunan yang menempuh mata pelajaran Menggambar dengan Perangkat Lunak di SMK Negeri 6 Malang, SMK Negeri 1 Singosari dan SMK Nasional Malang. Subjek penelitian ini adalah 116 siswa kelas XI Teknik Gambar Bangunan tahun ajaran 2016/2017. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan angket motivasi belajar siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan uji t. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat diperoleh tiga kesimpulan sebagai berikut: (1) Siswa Kelas XI SMK Negeri mempunyai motivasi belajar pada faktor internal dengan kategori tinggi sebanyak 46,51%, sedangkan pada faktor eksternal dengan kategori tinggi sebanyak 41,86%, sehingga tingkat motivasi belajar siswa dominan dalam kategori “tinggi”. (2) Siswa Kelas XI SMK Swasta mempunyai motivasi belajar pada faktor internal dengan kategori tinggi sebanyak 36,67%, sehingga tingkat motivasi belajar pada faktor eksternal siswa dominan dalam kategori “tinggi”, sedangkan pada faktor eksternal dengan kategori rendah sebanyak 43,33%, sehingga tingkat motivasi belajar pada faktor eksternal siswa dominan dalam kategori “rendah”. (3) Motivasi belajar siswa SMK Negeri untuk mata pelajaran Menggambar dengan Perangkat Lunak paket keahlian Teknik Gambar Bangunan lebih besar dari pada SMK Swasta, perbedaan tersebut tampak pada motivasi eksternal yang dipengaruhi oleh sarana dan prasarana serta peran orang tua.

Pengaruh metode syllabic terhadap keterampilan membaca per- mulaan anak kelas 1 di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang / Rani Ayu Qumalasari

 

ABSTRAK Qumalasari,Rani Ayu. 2016. Pengaruh Metode Syllabic terhadap Keterampilan Membaca Permulaan Anak Kelas 1 di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi,Jurusan Pendidikan Luar Biasa,Fakultas Ilmu Pendidikan,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sudarsini,M.Pd (II) Drs. H. Ahmad Samawi,M.Hum Kata Kunci : Autis, metode Syllabic, keterampilan membaca permulaan Siswa autis merupakan siswa yang mengalami hambatan berinteraksi sosial dan komunikasi sehingga mengalami kesulitan dalam membaca permulaan sebagai dasar keterampilan membaca. Metode syllabic merupakan salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca permulaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan pengaruh penggunaan metode syllabic terhadap keterampilan membaca permulaan anak kelas 1 di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan bentuk Single Subject Research (SSR) desain A-B-A. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar soal membaca permulaan, lembar penilaian, lembar asesmen, dan dokumentasi. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis visual grafik dalam kondisi dan analisis visual antar kondisi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh metodesyllabic terhadap keterampilan membaca permulaan siswa autis kelas 1. Hal ini ditunjukkan denganskorpada fase baseline 1 berkisar antara 31,7%-35%, fase intervensi berkisar antara 58,9%-67,8% dan fase baseline 2 berkisar antara 57,2%-61,1%.Selain itu juga ditunjukkan dengan perhitungan overlap fase baseline 1 (A1) ke fase intervensi (B) yaitu 0%. Kesimpulan secara keseluruhan yaitu metode syllabic memiliki pengaruh terhadap keterampilan membaca permulaan anak kelas 1 di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang. Saran penelitian adalah guru sebaiknya dapat mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki siswa autis, mahasiswa jurusan PLB sebaiknya dapat mempelajari lebih lanjut tentang metode syllabic sehingga dapat diterapkan pada proses pembelajaran apabila dijumpai masalah yang serupa, dan peneliti selanjutnya sebaiknya dapat mengembangkan penelitian serupa, baik dalam ruang lingkup yang tidak terbatas pada siswa autis saja.

Analisis pelaksanaan branchless banking sebagai upaya mendo rong inklusi keuangan (studi kasus: Program BRILink Bank BRI KCP Unit Panggungrejo Kabupaten Blitar) Linda Mar’atus Sholikah

 

ABSTRAK Sholikah, Linda Mar’atus. 2016.Analisis Pelaksanaan Branchless Banking Sebagai Upaya Mendorong Inklusi Keuangan (Studi Kasus: Program BRILink Bank BRI KCP Unit Panggungrejo Kabupaten Blitar. Skripsi, JurusanEkonomiPembangunan, FakultasEkonomiUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dwi Wulandari, S.E., M.M. (II) Dr. Farida Rahmawati, S.E., M.E. Kata Kunci:Branchless Banking, BRILink, Inklusi Keuangan Keadaan geografis di Indonesia yang luas dengan masih besarnya ketidakmerataan sarana perbankanmengakibatkan masyarakat di pedesaan menjadi kesusahan dalam mengakses perbankan. Berdasarkan data riset global inclusion Bank Dunia, didapatkan angka inklusi keuangan Indonesia terhitung 20% rakyat Indonesia memiliki rekening bank. Fakta ini mendorong Bank Indonesia memperluas layanan perbankandengan penerapan branchless banking. Branchless banking merupakan layanan sistem keuangan yang dilakukan tidak melalui kantor, namun dengan menggunakan sarana teknologi dan/atau jasa pihak ketiga terutama untuk melayani masyarakat unbanked. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan: (1) Gambaran pelaksanaan BRILink (2) Pengaruh BRILink dalam mendorong inklusi keuangan. Penelitian ini mengambil lokasi di Bank BRI Unit Panggungrejo. Penelitian ini mengumpulkandata dengan cara wawancara secara langsung kepada pihak BRI, agen BRILink, dan nasabah BRILink. Hasil penelitian(1) Pelaksanaan BRILink di Panggungrejo dengan menggunakan sistem keagenan (2) Keberadaan BRILink di Panggungrejo berpengaruh dalam mendorong inklusi keuangan, yaitu:(a) Kemudahan dalam mengakses layanan perbankan kini semakin mudah dan cepat dengan adanya agen sebagai kepanjangan tangan dari bank. (b) biaya yang terjangkau dapat menjangkau masyarakat menengah kebawah. (c) fitur yang diberikan BRILink sederhana dan praktis jadi masyarakat nyaman menggunakan layanan BRILink.(d) kualitas BRILink yang lebih bisa menjangkau nasabah dari interaksi yang dilakukan oleh agen dan nasabah. (e) BRILinkmenambahpenghasilanagendanmembantu aktifitas transaksi masyarakat Panggungrejosehinggadapat menambah kesejahteraan masyarakat dalam mengakses perbankan.

Propek pengembangan industri kerajinan anyaman bambu di Desa Ringinagung Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan / Yunindyo Sasmito

 

ABSTRAK Sasmito, Yunindyo. 2016. Prospek Pengembangan Industri Kerajinan Anyaman Bambu Desa Ringinagung Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan.Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Mit Witjaksono, MS. Ed., (II) Dr. Grisvia Agustin, S.E., M.Sc. Kata Kunci : Prospek, Industri Kerajinan Anyaman Bambu, SWOT Kerajinan Anyaman Bambu Desa Ringinagung merupakan sentra kerajinan anyaman bambu yang berada di kecamatan Magetan kabupaten Magetan. Di Desa inilah awal mula kerajinan anyaman bambu di Magetan berasal. Mayoritas usaha bambu di sini adalah industri rumahan dan tergolong usaha kecil yang dirasa memiliki prospek dalam hal pengembangan usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat prospek pengembangan industri kerajinan anyaman bambu di desa Ringinagung yang dilihat dari tiga aspek yaitu aspek persaingan pasar dengan industri serupa, sustainability industri dan kemampuan industri melakukan penyesuaian terhadap perubahan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah para pengrajin anyaman bambu di desa Ringinagung. Sedangkan prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung, wawancara, dan observasi dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara data dianalisis dengan teknis analisis deskriptif yaitu dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan adanya prospek industri kerajinan anyaman bambu di Desa Ringinagung dilihat dari tiga aspek, (1) Persaingan Pasar dengan Industri Serupa, dilihat dari perbandingan dalam lingkup jawa timur industri yang berada di Desa Ringinagung sudah mampu memenuhi kebutuhan industri dalam proses produksi membuat anyaman, bahan baku mudah diperoleh karena disana terdapat pasar bambu. (2) Sustainability Industry, kesinambungan industri anyaman di desa Ringinagung terbukti bahwa kerajinan ini menunjukkan usaha kecil yang terus berkembang dari segi produksi. Para pengrajin setiap hari membuat anyaman karena permintaan pasar yang selalu ramai. (3) Kemampuan Industri Melakukan Penyesuaian Terhadap Perubahan dikaitkan dengan kemampuan industri dalam memenuhi pesanan dengan desain yang beraneka ragam. Industri anyaman di desa Ringinagung terbilang lambat dalam menyesuaikan perkembangan, hal ini dikarenakan mayoritas pengrajin hanya membuat anyaman capil padahal dengan membuat anyaman kreasi lebih memberikan keuntungan terutama dari segi penghasilan yang lebih besar. Setelah dianalisis berdasarkan ketiga hal tersebut, peneliti menggunakan analisis SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan kedepan dari industri kerajinan anyaman bambu.Hasil menunjukkan bahwa industri ini berada di posisi kuadran I yaitu mampu menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.

Manajemen sekolah unggul berbasis nilai Buddhisme (studi multi-situs Sekolah Dasar Virya Dharma, Sekolah Dasar Metta, dan Sekolah Dasar Budi Bakti) / Adi W. Gunawan

 

Kata kunci: manajemen sekolah, kepemimpinan sekolah, sekolah unggul, nilai-nilai Budhisme, manajemen inovasi pembelajaran Bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah dengan kekhususan agama yang lain, sekolah dengan kekhususan nilai-nilai Buddhisme didirikan dan berkembang lebih belakangan. Sejumlah sekolah Buddhis terdahulu didirikan lebih dengan dorongan semangat pengabdian, kurang mencerminkan manajemen sekolah modern, dan kurang melibatkan dunia usaha. Belakangan, beberapa sekolah Buddhis sudah menerapkan manajemen sekolah modern, inovasi pembelajaran, dan diprakarsai para pelaku dunia usaha. Tiga di antaranya, yang terpilih sebagai situs penelitian ini adalah: (1) Sekolah Dasar Virya Dharma, (2) Sekolah Dasar Metta, dan (3) Sekolah Dasar Budi Bakti. Penelitian ini bertujuan memaparkan: (1) pemahaman komunitas sekolah, baik model teladan maupun model adaptasi terhadap landasan filosofis, teleologis dan normatif sekolah, serta mengenali perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, (2) penghayatan komunitas sekolah baik model teladan maupun model adaptasi terhadap nilai-nilai, visi, dan misi sekolah, serta mengenali perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, (3) praktik manajemen dan kepemimpinan sekolah, baik pada model teladan maupun adaptasi, serta mengenali perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, (4) kegiatan sekolah dan pembelajaran di sekolah, baik pada model teladan maupun pada model adaptasi, serta perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi, dan (5) tanggapan orangtua siswa terhadap kinerja sekolah, serta perbedaan yang timbul antara model teladan dan model adaptasi. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dan rancangan studi multi-situs. Situs pertama, Sekolah Dasar Virya Dharma, merupakan model teladan, sedangkan situs kedua dan ketiga, Sekolah Dasar Metta dan Sekolah Dasar Budi Bakti, merupakan model adaptasi. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam, baik secara perseorangan maupun kelompok, teknik pengamatan berperan-serta, dan teknik kajian dokumen. Analisis situs sekolah dilakukan dengan menggunakan metode analisis induktif termodifikasi, sedangkan analisis lintas situs sekolah dilakukan dengan metode persamaan, yang merupakan salah satu metode penarikan kesimpulan secara induktif. Penelitian ini menghasilkan lima kesimpulan. Pertama, landasan filosofis, teleologis, dan normatif ketiga sekolah bersumber dari ajaran Jalan Mulia Berunsur Delapan menurut Buddha, yaitu: pandangan benar atau samma ditthi, pikiran benar atau niat benar atau samma sankappa, ucapan benar atau samma vaca, perbuatan benar atau tindakan benar atau samma kammanta, mata pencaharian benar atau penghidupan benar atau samma ajiva, daya upaya benar atau samma vayama, perhatian benar atau kewaspadaan benar atau samma sati, dan konsentrasi benar atau samma samadhi. Kedua, terdapat keragaman pada tataran nilai-nilai, visi dan misi sekolah. Sekolah model teladan lebih mengedepankan dharma bakti atau pengabdian utama, model adaptasi pertama mengedepankan nilai cinta-kasih, sedangkan model adaptasi kedua lebih mengedepankan nilai pengabdian ilmu pengetahuan dan pemikiran. Ada perbedaan rumusan visi dan misi antara sekolah model teladan dengan sekolah model adaptasi. Ketiga, baik sekolah model teladan maupun kedua model adaptasi menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern. Pendiri sekolah menuntut agar kepala sekolah dan guru bisa menjadi operator menuju visi dan misi sekolah, sehingga harus memahami dan menghayati visi dan misi sekolah, serta memiliki kompetensi untuk menjabarkannya menjadi program dan kegiatan sekolah. Prinsip dasar yang dijadikan pegangan bersama adalah berorientasi kepada anak, efisiensi dalam penggunaan sumber daya, keefektifan dalam pembelajaran, serta kewirausahaan dalam manajemen sekolah. Keempat, masing-masing sekolah mengedepankan citra yang berbeda. Sekolah model teladan menampilkan diri sebagai sekolah re-edukasi. Sekolah model adaptasi pertama menampilkan diri sebagai sekolah modern multi-lingual dan ajaran Konfusius. Sekolah model adaptasi kedua mengedepankan ke-Indonesiaan modern yang inklusif. Semua sekolah menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan agar bisa menyebarluaskan kemanfaatan sosial. Praktik pembelajaran dan kegiatan di sekolah juga menunjukkan kecenderungan sama, yaitu berpusat pada visi sekolah, memperhatikan psikologi, dengan pendekatan inovasi. Model teladan mengedepankan inovasi sebagai praktik membaharu berbasis ketersediaan sumberdaya, sedangkan sekolah model adaptasi menekankan pada inovasi sebagai produk. Aspek kreativitas pendidik lebih menonjol pada model teladan, sedangkan aspek teknologi mutakhir lebih menonjol pada dua model adaptasi. Kelima, berdasarkan nilai dan peringkat akreditasi dan nilai rata-rata ujian akhir sekolah berdasarkan standar nasional, sekolah model teladan tergolong sebagai sekolah berkinerja sangat baik. Secara proses, sekolah model teladan juga sangat baik karena relatif berhasil menjalankan fungsi re-edukasi bagi anak-anak yang memiliki masalah psikologis dan belajar. Orangtua siswa baik pada model teladan maupun pada model adaptasi mempunyai penilaian sangat positif terhadap kinerja sekolah. Secara keseluruhan keunggulan sekolah, yang sekaligus juga disarankan untuk diupayakan baik oleh kepala sekolah dan para guru, lembaga penyelenggara, dan dinas pendidikan, dicirikan oleh komitmen untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan, yang untuk itu perlu melembagakan mekanisme untuk pengenalan kebutuhan belajar dan kebutuhan inovasi, dengan tetap berorientasi kepada tujuan, dan menyelenggarakan fungsi penelitian, penilaian dan pengembangan pendidikan, yang didukung oleh komunitas dan stake-holder, termasuk khususnya lembaga atau perorangan yang memberikan dukungan keuangan, dengan budaya organisasi sekolah yang berciri sebagai organisasi terbuka dan belajar, yang mengambil keputusan secara rasional dan objektif, dan keberanian mengambil risiko secara rasional, dan memberikan penghargaan secara wajar kepada para pembaharu pendidikan.

Penerapan media crossword puzzle untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVB SDN Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang / Angga Tri Aprilia

 

Penerapan pendekatan CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS pada siswa kelas II SDIT Mutiara Hati Kota Malang / Erlia Burul Fatmawati

 

Kata Kunci: Pendekatan CTL, Aktivitas belajar, Hasil belajar, IPS Hasil belajar siswa di SDIT Mutiara Hati, khususnya pada bidang studi IPS masih rendah. Dari 17 siswa, hanya 4 orang siswa yang mampu mencapai KKM yang ditetapkan. Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tesebut, diterapkan pendekatan CTL. Dengan penerapan pendekatan pembelajaran ini, siswa didorong untuk lebih aktif dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya melalui permainan yang menyenangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) penerapan pendekatan CTL pada pembelajaran IPS siswa kelas II SDIT Mutiara Hati, (2) aktivitas belajar siswa kelas II SDIT Mutiara Hati pada pembelajaran IPS dengan pendekatan CTL, (3) hasil belajar siswa kelas II SDIT Mutiara Hati setelah penerapan pembelajaran IPS dengan pendekatan CTL. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan kolaborasi dengan guru kelas II di SDIT Mutiara Hati Kota Malang. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, dokumentasi, catatan lapangan, dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS siswa kelas II di SDIT Mutiara Hati Kota Malang dengan kompetensi dasar “memberi contoh bentuk-bentuk kerjasama di lingkungan tetangga”. Hal ini ditunjukkan dengan keberhasilan guru dalam menerapkan pendekatan CTL pada pada siklus I yang memperoleh nilai rata-rata sebesar 82% dan pada siklus II meningkat menjadi 94 %. Rata-rata nilai akhir penyusunan RPP pada siklus I adalah 90,5% dan meningkat menjadi 96,5%. Aktivitas siswa pada siklus I rata-rata perolehan nilainya adalah 80,5 dan meningkat menjadi 88,35. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal mencapai 73,7% pada siklus I dan meningkat menjadi 91,1% pada siklus II. Hasil belajar pada siklus I rata-rata perolehan nilainya adalah 78,45 dan meningkat menjadi 86,75 pada siklus II. Sementara itu ketuntasan belajar klasikal mencapai 73,45% dan meningkat menjadi 88,2% pada siklus II. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa kekurangan yang dapat dijadikan pelajaran bagi guru atau peneliti selanjutnya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan pada penelitian ini seperti memberikan materi dengan kalimat yang mudah dimengerti siswa, penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL hendaknya sesuai dengan RPP CTL yang telah disusun, dan guru lebih memperhatikan pengelolaan waktu, diharapkan dapat meminimalisir kesalahan pada penelitian selanjutnya.

Pengembangan buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya untuk siswa SMP / Nanda Novarda Rahma Esa

 

Kata Kunci : buku bergambar, pacaran, akibat pacaran, siswa SMP Penelitian pengembangan buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya untuk siswa SMP ini dilatarbelakangi oleh belum adanya media yang tepat, berguna, mudah dan menarik untuk dapat digunakan dalam memberikan informasi tentang pacaran dan akibatnya. Topik ini perlu diangkat karena banyaknya kasus yang diakibatkan oleh pacaran yang sangat merugikan, sehingga media ini sebagai upaya preventif terhadap akibat-akibat pacaran terutama yang sifatnya negatif. Strategi ceramah dan menasehati tidak lagi efektif dan kurang mengena, sehingga dibutuhkan media yang tepat, berguna, mudah, dan menarik agar siswa tertarik untuk mengetahuinya, sehingga mereka tidak akan melakukan hal-hal yang mengarah pada akibat-akibat yang negatif dari pacaran. Tujuan dari penelitian pengembangan ini ialah menghasilkan buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya di Sekolah Menengah Pertama yang dapat diterima dari segi ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1983) melalui studi lapangan/need assessment, pengembangan produk, menguji produk dengan ahli materi/isi dan ahli media, merevisi, menguji kepada calon pengguna produk (4 siswa), merevisi produk tersebut sehingga dihasilkan produk yang sesuai dengan tujuan pengembangan yaitu buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya yang tepat, berguna, mudah dan menarik untuk media informasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik angket. Data dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif, yaitu persentase. Berdasarkan hasil penilaian oleh ahli materi/isi, ahli media, dan pengguna produk (siswa), menunjukkan bahwa, media yang berupa buku bergambar tentang pacaran dan akibatnya ini layak digunakan sebagai media untuk pelayanan informasi pada siswa tentang pacaran dan akibatnya dilihat dari aspek ketepatan, kegunaan, kemudahan, dan kemenarikan. Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa saran yang diberikan, yaitu: (1) konselor dapat menggunakan buku bergambar ini untuk memberikan layanan informasi kepada siswa tentang pacaran dan akibatnya, (2) peneliti selanjutnya bisa melakukan penelitian terhadap buku bergambar ini dengan metode penelitian eksperimen dan melakukan uji lapangan atau kelompok besar, sehingga media yang dikembangkan ini dapat dirasakan manfaatnya oleh lebih banyak pengguna.

Peningkatan kemampuan kognitif anak usia dini melalui kegiatan meroce manik geometri kelompok A di TK PGRI 02 Nglegok, Blitar / Ratih Kartika Sari

 

Kata Kunci: Kemampuan Kognitif, manik geometri Latar belakang penelitian ini yaitu munculnya permasalahan masih banyak anak yang kurang memahami pembelajaran dalam membedakan dan pengelompokkan bermacam-macam bentuk geometri yaitu ada 7 anak dari keseluruhan 19 anak. Penyebabnya adalah penggunaan media yang kurang bervariasi dan anak cenderung bosan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan peningkatan permainan meronce untuk mengembangkan kemampuan Kognitif anak melalui media manik geometri, (2) Mendeskripsikan penggunaan permainan meronce dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak di TK PGRI 02 Nglegok, Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model PTK (Peneitian Tindakan Kelas)). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dalam setiap siklusnya terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian guru dan anak didik kelompok A di TK TK PGRI 02 Nglegok Blitar, dengan jumlah peserta didik 19 anak. Data dijaring melalui observasi dan dokumentasi. Dokumentasi yang dimaksud berupa foto-foto kegiatan yang telah dilaksanakan anak dalam pembelajaran. Instrumen yang digunakan adalah: (1) lembar observasi aktivitas yang dilakukan guru; (2) lembar observasi aktivitas anak dalam meronce manik geometri; (3) lembar observasi hasil peningkatan kemampuan kognitif anak. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I kemampuan kognitif anak prosentase anak tuntas mencapai 48,6% dan prosentase anak tuntas meningkat menjadi 76,7% pada siklus II. Pada siklus I ke siklus II pada kemampuan kognitif anak prosentase anak tuntas mengalami peningkatan yaitu 28,1%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penggunaan media manik geometri dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat menerapkan langkah metode pembelajaran yang inovatif, menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pemanfaatan SIG untuk pemetaan penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar / Effantra Effendi

 

Kata Kunci : Pemanfaatan SIG, Penyalahgunaan Trotoar, Kota Blitar Trotoar merupakan suatu area yang digunakan untuk aktivitas berjalan kaki. Sistem transportasi yang baik adalah yang memberikan fasilitas tersendiri baik untuk kendaraan bermotor maupun pejalan kaki. Namun, kondisi trotoar yang ada di beberapa ruas jalan di Kota Blitar telah mengalami penurunan baik dari segi kondisi fisiknya maupun dari segi pemanfaatannya. Dari segi pemanfaatannya, banyak trotoar yang disalahgunakan dari fungsinya bagi pejalan kaki menjadi tempat berdagang, tempat parkir, maupun jasa. Pejalan kaki yang semula merasa aman berjalan di trotoar kini harus mengalah untuk berjalan di badan jalan karena trotoar yang ada telah mengalami penyempitan akibat aktivitas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar, mengkaji pola persebaran spasial penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar, dan mengkaji dampak spasial dari penyalahgunaan pemanfaatan trotoar terhadap penjalan kaki di Kota Blitar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survey. Objek penelitian adalah trotoar di Kota Blitar dengan subjek penelitian penyalahgunaan pemanfaatan trotoar. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, sedangkan analisis yang digunakan adalah analisis deskripstif. Berdasarkan analisis data dapat diperoleh kesimpulan bahwa 1) Karakteristik kelompok penyalahguna trotoar sangat beragam. Kelompok penyalahguna trotoar semua menunjukkan pada usia produktif dengan tingkat pendidikan sebagian besar SMA/sederajat. Lama usaha sebagian besar 1-10 tahun dengan lama aktifitas 6-10,9 jam per hari. Sebagian besar kelompok penyalahgunaan trotoar tidak ditarik biaya retribusi sedangkan untuk kelompok yang ditarik retribusi yaitu lebih dari Rp. 2.000. 2) Pola persebaran spasial penyalahgunaan trotoar terpusat pada beberapa pusat penting seperti alun-alun yakni jalan merapi, stasiun yakni jalan Mastrip, dan tempat wisata yakni jalan Dr. Moh. Hatta dan Ir. Soekarno. Penyalahgunaan trotoar yang terjadi digunakan untuk perdagangan, jasa, dan perparkiran. Presentase penyalahgunaan pada pagi, siang, dan malam hari terbesar terjadi di trotoar jalan Merapi dengan presentase 98,40%. Sedangkan presentase terkecil pada pagi dan siang hari terjadi di trotoar jalan Sudirman dengan presentase 0%, untuk malam hari di trotoar jalan S. Supriadi dengan presentase 1,59%. 3) Penyalahgunaan untuk perparkiran antara lain parkir sepeda dan motor. Keberadaan kelompok penyalahguna trotoar mengganggu kenyamanan pejalan kaki yang menggunakan trotoar. 4) Pemanfaatan SIG untuk pemetaan penyalahgunaan pemanfaatan trotoar di Kota Blitar sangat membantu karena lebih mudah dan lebih fleksibel, mulai dari pemasukan data seperti digitasi peta administrasi hingga pemasukan keberadaan trotoar, pengolahan data seperti pemasukan titik koordinat kelompok penyalahguna trotoar yang sudah didapatkan, sampai pengeluaran data berupa peta penyalahgunaan pemanfaatan trotoar dan peta presentase penyalahgunaan pemanfaataan trotoar pada pagi, siang, dan malam hari. Hasil akhir berupa peta skala 1:15.000 karena keterbatasan tempat maka hasil akhir peta berskala 1:20.000.

Hubungan kebiasaan belajar dengan hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 Koata Malang / Novi Hariyani

 

Kata Kunci: hubungan, kebiasaan belajar, hasil belajar, siswa Sekolah Dasar Siswa SDN Sawojajar 4 Kota Malang masih perlu meningkatkan kebiasaan belajar yang baik dan hasil belajarnya, khususnya kelas IV masih terdapat siswa yang mempunyai kebiasaan belajar dan hasil belajar yang kurang baik diduga karena berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kebiasaan belajar siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 4 Kota Malang, (2) mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 4 Kota Malang, dan (3) mendeskripsikan hubungan antara belajar siswa dengan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Sawojajar 4 Kota Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 kota Malang sebanyak 37 orang siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket atau kuesioner. Data tentang hasil belajar siswa diperoleh melalui dokumen yang ada di sekolah tersebut. Untuk mencari hasil tentang kebiasaan belajar dan hasil belajar menggunakan teknik prosentase. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan program SPSS 17 for Windows. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa (1) kebiasaan belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 kota Malang sebesar (67,58%) atau sebanyak 25 siswa mempunyai kebiasaan yang cukup atau sedang; (2) hasil belajar siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 kota Malang sebesar (45,94%) atau sebanyak 17 siswa mempunyai hasil belajar yang cukup atau sedang; dan (3) analisis statistik korelasi menunjukkan nilai rhitung sebesar 0,966, sedangkan rtabel adalah 0,325 dengan batas signifikasi 5%, nilai signifikansi adalah 0,000; dan nilai koefisiennya berada pada interval koefisien antara 0,800 sampai dengan 1,000 yang dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan hasil belajar siswa kelas VI SDN Sawojajar 4 kota Malang dengan tingkat korelasi sangat kuat. Artinya kebiasaan belajar memiliki hubungan yang nyata dan berarti dengan hasil belajar serta memberikan kontribusi yang tinggi terhadap hasil belajar. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya agar hasil belajarnya tinggi kepada kepala sekolah dan guru hendaknya lebih memperhatikan dan memberikan bimbingan pada siswa agar siswa dapat belajar dengan baik lagi.

Perbedaan penerapan model pembelajaran quantum teaching-snowball throwing dengan direct instruction terhadap motivasi dan hasil belajar TIK siswa kelas VII SMPN 1 Srengat / Putriana Prihadi

 

Kata kunci: pembelajaran Quantum Teaching Snowball Throwing, pembelajaran Direct Instruction, motivasi belajar, hasil belajar. Proses belajar dan mengajar merupakan wadah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu yang berkaitan dengan belajar begitu sangat berarti. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Srengat, diketahui beberapa hal diantaranya pembelajaran TIK yang berlangsung di kelas cenderung menggunakan cara belajar langsung (Direct Instruction). Pada saat kegiatan belajar mengajar, siswa cenderung pasif dan kurang termotivasi karena pembelajaran di kelas masih berorientasi pada guru (teacher centered). Dampaknya, hasil belajar siswa kurang memuaskan. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan pembelajaran aktif yang dapat menimbulkan motivasi pada diri siswa agar siswa mempunyai prestasi yang optimal. Pembelajaran Quantum Teaching Snowball Throwing merupakan perpaduan pembelajaran di mana kegiatan dengan peran dan fungsinya yang saling mendukung untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang lebih variatif dan bermakna. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Quantum Teaching Snowball Throwing dibandingkan siswa yang diajar dengan pembelajaran Direct Instruction. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas VII SMP Negeri 1 Srengat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik tidak acak dengan pertimbangan penyamaan beban kelas. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan (silabus, RPP, hand out, dan worksheet) dan instrumen pengukuran (tes hasil belajar, angket motivasi dan lembar observasi). Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan pada kelas eksperimen, persentase keseluruhan siswa yang sangat termotivasi sebesar 71% dengan rata-rata 82 sedangkan pada kelas kontrol hanya 31% dengan rata-rata 77. Hasil belajar kognitif kelas eksperimen dengan nilai rata-rata sebesar 82,2 sedangkan nilai ratarata kelas kontrol sebesar 79,1. Hasil belajar afektif kelas eksperimen dengan nilai rata-rata sebesar 79 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 70. Hasil belajar psikomotor kelas eksperimen dengan nilai rata-rata sebesar 77 sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 70. Kesimpulan: hasil belajar kognitif, afektif, psikomotor dan motivasi belajar kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol.

Analisis fitting factor pada vuring blazer sistem Soekarno / Dyan Sukma Sekti Lestari

 

Kata kunci: Fitting factor, vuring, blazer sistem Soekarno Pembuatan blazer cukup rumit, karena menggunakan tambahan vuring dan menggunakan sistem tailoring, sehingga memerlukan pengetahuan, keterampilan, ketelitian, dan tertib kerja yang benar supaya menghasilkan blazer yang rapi, indah, dan nyaman dipakai. Teknik membuat blazer yang masih digunakan yaitu sistem Soekarno, karena polanya mudah untuk dipelajari. Selain itu sistem ini sudah diakui, dipercayai, dan dibukukan di Indonesia sehingga kemungkinan besar dijadikan rujukan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fitting factor pada vuring blazer sistem Soekarno. Berdasarkan tujuan penelitian, jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah menggunakan metode persentase. Obyek pada penelitian ini adalah hasil jadi blazer menggunakan sistem Soekarno yang diuji cobakan pada tubuh wanita dewasa ukuran M. Metode yang digunakan adalah metode observasi. Pengamatan dilakukan oleh empat panelis yang ahli di bidang busana khususnya tailoring. Jenis data, berupa data ordinal dengan alternatif tepat, kurang tepat, dan tidak tepat. Instrumen penelitian berupa lembar pengamatan yang terdiri dari lima belas kriteria penilaian. Sedangkan teknik analisis datanya berupa persentase. Hasil validasi dari ke empat panelis dengan 15 (lima belas) kriteria, dinyatakan tepat sebesar 88,33%, kurang tepat sebesar 8,33%, dan tidak tepat sebesar 3,33%. Blazer dengan sistem Soekarno kekurangannya terletak pada garis prinses dan pada kerung lengan yang terlalu sempit. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan dalam membuat pola blazer menggunakan sistem Soekarno pada ukuran M, harus diperhatikan bagian kerung lengan dan garis prinsesnya.

Hubungan antara tingkat kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal siswa kelas XI SMK Negeri se-Kota Pamekasan / Maulidir Rasuly

 

Kata Kunci : kepercayaan diri, penerimaan diri, komunikasi interpersonal Perasaan rendah diri yang dirasakan oleh siswa dapat mengakibatkan percaya dirinya kurang sehingga secara tidak langsung juga akan berpengaruh dalam melakukan komunikasi. Seharusnya, siswa SMK Negeri di Kota Pamekasan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal yang memudahkan mereka dalam bersosialisasi. Namun tidak semua siswa memiliki keterampilan komunikasi yang memadai sehingga mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan, gagasan atau pikirannya kepada teman atau guru, baik ketika proses belajar mengajar di kelas maupun dalam kegiatan-kegiatan di luar kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) deskripsi kepercayaan diri, (2) deskripsi penerimaan diri, (3) deskripsi keterampilan komunikasi interpersonal siswa SMK Negeri se-Kota pamekasan, (4) hubungan secara parsial antara kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal SMK Negeri se-Kota pamekasan, (5) hubungan secara simultan antara kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal SMK Negeri se-Kota pamekasan, dan (6) sumbangan efektif kepercayaan diri dan penerimanan diri terhadap keterampilan komunikasi interpersonal. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif koresional. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMK Negeri se-Kota Pamekasan sebanyak 877. Sampel penelitian sebanyak 88 siswa ditentukan dengan teknik proporsional random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu skala kepercayaan diri, skala penerimaan diri dan skala keterampilan komunikasi interpersonal dengan jawaban berskala. Teknik analisis yang digunakan analisis statistik deskriptif infrensial. Teknik analisis data inferensial penelitian dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel bebas dan variabel terikat mempunyai hubungan kausal atau korelasi, adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : (1) cukup banyak siswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi, (2) cukup banyak siswa yang memiliki tingkat penerimaan diri sedang, (3) cukup banyak siswa yang memiliki tingkat keterampilan komunikasi interpersonal sedang, (4) ada hubungan yang signifikan secara parsial antara tingkat kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal, (5) ada hubungan yang signifikan secara simultan antara tingkat kepercayaan diri dan penerimaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal, (6) penerimaan diri memberikan sumbangan efektif paling dominan terhadap keterampilan komunikasi interpersonal (43,5328%). Berdasarkan kesimpulan di atas, maka (1) disarankan kepada konselor agar memberikan layanan bimbingan pribadi dan sosial yang berkaitan dengan kepercayaan diri, penerimaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal, (2) di samping sebagai pendidik diharapkan juga bisa memberikan motivasi-motivasi agar rasa percaya diri yg siswa yang tinggi tetap terjaga dan untuk penerimaan diri siswa yang masih sedang agar lebih ditingkatkan lagi sehingga siswa dapat melakukan komunikasi dengan baik dalam kelas maupun diluar kelas, dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah, (3) disarankan kepada peneliti selanjutnya agar mengadakan penelitian pada subyek yang lebih luas lagi sehingga dapat melengkapi penelitian sebelumnya yang juga mengetengahkan masalah kepercayaan diri, penerimaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal siswa.

Penerapan pembelajaran aktif tipe prediction guide untuk meningkatkan oral activities dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-I SMPN 1 Binangun-Blitar tahun pelajaran 2011/2012 / Pinda Maya Nursanti

 

Kata kunci: prediction guide, oral activities, prestasi belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa dan guru fisika serta observasi awal di SMP Negeri 1 Binangun-Blitar, diperoleh informasi bahwa kegiatan pembelajaran sering dilakukan di laboratorium akan tetapi bukan untuk praktikum. Jarangnya diadakan praktikum maupun diskusi, membentuk karakter siswa kurang mengetahui penerapan fisika, menguasai konsep fisika dan minimnya rasa ingin tahu siswa. Pembelajaran masih berpusat pada guru dengan metode ceramah dan siswa menerima materi sambil membuat catatan. Sedikitnya siswa yang bertanya dan sedikitnya siswa yang menjawab ketika ada pertanyaan dari guru, kebanyakan siswa masih kesulitan mengerjakan soal latihan. Kesulitan siswa ini mengindikasikan bahwa pemahaman siswa terhadap suatu materi masih kurang sehingga prestasi belajar siswa rendah. Nilai ulangan harian siswa materi gelombang elektromagnetik dan hukum pemantulan bunyi hanya sebesar 13,33% dan rata-rata kelas hanya 53,25. Bila dibandingkan dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 75 hanya empat siswa yang tuntas.Untuk meningkat-kan oral activities dan prestasi belajar siswa kelas 8-I SMP Negeri 1 Binangun-Blitar tersebut, diterapkan salah satu pembelajaran aktif tipe prediction guide. Pembelajaran aktif tipe prediction guide adalah serangkaian pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa secara aktif untuk memprediksi suatu pernyataan berdasarkan pemahaman siswa, menyesuaikan prediksi melalui pembahasan dalam kelas, menyimpulkan hasil prediksi dan mempresentasikan hasil prediksi. Pembelajaran aktif tipe prediction guide ini digunakan agar siswa aktif mulai dari awal sampai akhir pembelajaran. Dalam pembelajaran ini, siswa diminta untuk mengungkapkan prediksinya terhadap pernyataan yang diberikan pada lembar prediksi. Kemudian berdiskusi bersama teman kelompoknya dan selama pembelajaran siswa menyesuaikan prediksinya dengan pembelajaran di kelas hingga menghasilkan prediksi akhir. Siswa dituntut untuk menyimpulkan berdasarkan kebenaran hasil prediksinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pembelajaran siklus I dan II dilaksanakan dengan cara pengerjaan prediction guide sheet (PGS), rangkuman siswa, dan tes prestasi belajar. Untuk melihat ketercapaian persentase prestasi belajar siswa dengan pembelajaran aktif tipe prediction guide pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Persentase KKM klasikal pada siklus I 74,4% menjadi 85,0% pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 10,6%. Sementara itu persentase tingkat ketuntasan pada siklus I 59,3% menjadi 90,0% pada siklus II mengalami ii peningkatan sebesar 30,7%. Peningkatan persentase pada masing-masing aspek oral activities yang diamati pada siklus I dan siklus II sebagai berikut. Mengajukan pertanyaan pada siklus I 66,67% meningkat pada siklus II menjadi 86,67%. Menjawab pertanyaan pada siklus I 85,00% meningkat menjadi 90,83% pada siklus II. Mengajukan pendapat pada siklus I 68,33% pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Menyampaikan hasil diskusi pada siklus I 80,83% meningkat pada siklus II menjadi 81,67%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran penerapan pembelajaran aktif tipe prediction guide dapat meningkatkan oral activities dan prestasi belajar siswa kelas VIII-I SMP Negeri 1 Binangun. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi guru fisika kelas VIII-I untuk menerapkan pembelajaran aktif tipe prediction guide sebagai salah satu variasi metode pembelajaran di kelas.

Pengembangan media pembelajaran audio visual pada mata pelajaran bubut dasar teknik pemesinan kelas XI SMK Islam 1 Blitar / Ma'sum Andik Prasetya

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Audio Visual, Bubut Dasar, Teknik Pemesinan Media pembelajaran audio visual dapat membantu siswa dalam mempelajari bahan pelajaran yang sangat luas, yang mana didalamnya memuat berbagai konsep, fakta dan prinsip-prinsip tertentu yang berhubungan dengan bahan pelajaran tersebut. Pemilihan media audio visual sebagai produk teknologi media pengajaran mengunakan bubut dasar adalah karena realita bahwa kita berada dalam era teknologi informasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk media audio visual untuk mendukung pembelajaran praktik menggunakan mesin bubut dasar, yang materinya disesuaikan dengan sajian materi dalam RPP. Pembelajaran dalam bentuk CD yang dikembangkan nantinya akan dijadikan salah satu sumber belajar di seluruh SMK khususnya yang memiliki jurusan Teknik Pemesinan guna menciptakan kreativitas belajar mandiri siswa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Keefektifan media pembelajaran ini pada guru yang menggunakan media audio visual. Dalam pengembangan ini dikembangkan model pengembangan media menurut Sadiman (2010). Dalam menyusun pengembangan media audio visual, melalui beberapa tahapan sebagai berikut: (a) Analisis kebutuhan, (b) Perumusan tujuan, (c) Pengembangan materi, (d) Pengembangan alat evaluasi, (e) Menyusun naskah/storyboard, (f) Produksi, (g) Petunjuk pemanfaatan, (h) Validasi (i) Revisi. Dari hasil uji coba produk kepada para ahli media yakni sebesar 93.75%, guru/materi sebesar 82.5% dan siswa sebesar 82.08%, menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai. Kesesuaian media dalam pembelajaran terutama kompetensi “Mempergunakan Mesin Bubut Dasar “ sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Berdasarkan hasil penelitian ini pada mata Pelajaran “Mempergunakan Mesin Bubut Dasar Teknik Pemesinan SMK Islam 1 Blitar” diperoleh kesimpulan media pembelajaran yang dihasilkan adalah berupa VCD, spesifikasi produk media pembelajaran ini berbentuk flash player. Yang didalamnya terdapat materi dan video juga gambar tentang mesin bubut. Penelitian yang dilakukan memperoleh hasil yang cukup memadai, sehingga media ini dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Pada dasarnya media pembelajaran ini digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran mesin bubut dasar dan bisa digunakan oleh siswa untuk pengayaan materi tersebut.

Meningkatkan hasil belajar IPS dengan memanfaatkan media peta di kelas IV SD Negeri Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Rahama Wati Suatkab

 

ABSTRAK Suatkab,Wati,Rahama. 2009. Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Memanfaatkan Media Peta di Kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah , Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.SY.S.Pd, M.Pd, (2) Drs. Toha Mashudi.S.Pd,M.Pd. Kata Kunci: Hasil Belajar, Manfaat Media Peta,IPS. Pendidikan sebagai upaya untuk membangun sumber daya manusia memerlukan wawasan yang luas, karena pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Pendidikan nasional merupakan salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut UU RI No 21 tahun 2003 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus memilih model pembelajaran atau media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan perkembangan berpikir siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan pemanfaatan media peta untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrument pengumpulan data berupa (a) observasi yaitu aktifitas belajar siswa, dan proses pembelajaran (b) tes yaitu pra tindakan, siklus I dan siklus II. Data yang di peroleh dari hasil tes evaluasi hasil belajar dianalisis secara kualitatif dengan nilai standar 60 (10-100), dan tuntas belajarnya apabila telah mencapai 60. Pelaksanaan pembelajaran sibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Hasil dari yang di peroleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dinilai dari proses pembelajaran pada para tindakan, tindaka siklus I, dan tindakan siklus II dengan nilai rata-rata kelas sebagai berikut:pra tindakan 940, tindakan siklus I 1210, dan tindakan siklus II 1630. dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan memanfaatan media peta dalam pembelajaran IPS materi Peta jawa timur, pada: (a) pra tindakan menunjukann 10 siswa mendapat nilai sangat kurang yaitu 37,0, menunjukan 12 siswa mendapat nilai kurang yaitu 44,4, dan 5 siswa mendapat nilai cukup yaitu 18,5. (b) tindakan siklus I menunjukan 10 siswa mendapat nilai kurang yaitu 59,2, menunjukan 7 siswa mendapat nilai cukup 25,9, dan 4 siswa mendapat nilai baik 14,8. (c) tindakan siklus II menunjukan 5 siswa mendapat nilai kurang 18,5, menunjukan 11 siswa mendapat nilai cukup 40,7, dan 11 siswa mendapat nilai baik 40,7. dengan demikian 27 siswa dikatakan tuntas. Peneliti memberi kesimpulan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan Meningkatkan hasil belajar IPS dengan memanfaatkan media peta, terbukti dengan adanya hasil beljar siswa pada setiap akhir siklus. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut, makadapat menyarankan kepada: (1) Guru, dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh siswa dalam diskusi maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan materi, memberikan bimbingan atau permasalahan yang diberikan kepada mereka dalam upaya peningkatan kemampuan yang dimiliki siswa. (2) Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan motivasi, bimbingan kepada guru-guru di lingkungan SDN Gununggangsir III, agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama hasil belajar siswa kearah yang lebih baik. ABSTRAK Suatkab,Wati,Rahama. 2009. Meningkatkan Hasil Belajar IPS dengan Memanfaatkan Media Peta di Kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah , Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. M. Imron Rosyadi, H.SY.S.Pd, M.Pd, (2) Drs. Toha Mashudi.S.Pd,M.Pd. Kata Kunci: Hasil Belajar, Manfaat Media Peta,IPS. Pendidikan sebagai upaya untuk membangun sumber daya manusia memerlukan wawasan yang luas, karena pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Pendidikan nasional merupakan salah satu faktor penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempercepat ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut UU RI No 21 tahun 2003 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus memilih model pembelajaran atau media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan perkembangan berpikir siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan pemanfaatan media peta untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa kelas IV SDN Gununggangsir III Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrument pengumpulan data berupa (a) observasi yaitu aktifitas belajar siswa, dan proses pembelajaran (b) tes yaitu pra tindakan, siklus I dan siklus II. Data yang di peroleh dari hasil tes evaluasi hasil belajar dianalisis secara kualitatif dengan nilai standar 60 (10-100), dan tuntas belajarnya apabila telah mencapai 60. Pelaksanaan pembelajaran sibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Hasil dari yang di peroleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II, menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dinilai dari proses pembelajaran pada para tindakan, tindaka siklus I, dan tindakan siklus II dengan nilai rata-rata kelas sebagai berikut:pra tindakan 940, tindakan siklus I 1210, dan tindakan siklus II 1630. dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan memanfaatan media peta dalam pembelajaran IPS materi Peta jawa timur, pada: (a) pra tindakan menunjukann 10 siswa mendapat nilai sangat kurang yaitu 37,0, menunjukan 12 siswa mendapat nilai kurang yaitu 44,4, dan 5 siswa mendapat nilai cukup yaitu 18,5. (b) tindakan siklus I menunjukan 10 siswa mendapat nilai kurang yaitu 59,2, menunjukan 7 siswa mendapat nilai cukup 25,9, dan 4 siswa mendapat nilai baik 14,8. (c) tindakan siklus II menunjukan 5 siswa mendapat nilai kurang 18,5, menunjukan 11 siswa mendapat nilai cukup 40,7, dan 11 siswa mendapat nilai baik 40,7. dengan demikian 27 siswa dikatakan tuntas. Peneliti memberi kesimpulan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan Meningkatkan hasil belajar IPS dengan memanfaatkan media peta, terbukti dengan adanya hasil beljar siswa pada setiap akhir siklus. Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut, makadapat menyarankan kepada: (1) Guru, dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh siswa dalam diskusi maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan materi, memberikan bimbingan atau permasalahan yang diberikan kepada mereka dalam upaya peningkatan kemampuan yang dimiliki siswa. (2) Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan motivasi, bimbingan kepada guru-guru di lingkungan SDN Gununggangsir III, agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan terutama hasil belajar siswa kearah yang lebih baik.

Penerapan model pembelajaran JIGSAW untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V MI As-Sholihin Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan / Dewi Ainur Rizqiyah

 

Kata Kunci : model pembelajaran, jigsaw, keterampilan berbicara, MI Penelitian ini mengacu pada salah satu Sekolah Dasar di wilayah kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, yaitu MI As-Sholihin Desa Rebalas. Di Madrasah Ibtidaiyah ini keterampilan berbicara siswa sangat memprihatinkan. Hal tersebut disebabkan oleh kurang diterapkannya penggunaan bahasa Indonesia pada kehidupan sehari-hari siswa, bahasa siswa masih sangat terpengaruh bahasa pertama mereka, dan siswa kurang percaya diri ketika menggunakan bahasa Indonesia. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk lebih meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V MI As-Sholihin kecamatan Grati kabupaten Pasuruan dengan menggunakan model pembelajaran jigsaw. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V MI As-Sholihin Kecamatan Grati Pasuruan. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis kualitatif meliputi klasifikasi data dan penyajian data. Dari observasi yang telah dilaksanakan, hasil yang diperoleh siswa mengalami peningkatan nilai. Hasil belajar siswa pada pratindakan secara klasikal yang pada mulanya hanya 25%, meningkat pada kegiatan siklus I, yaitu 75%. Setelah diberikan pembelajaran pada siklus II, hasil belajar siswa lebih meningkat lagi menjadi 87,5%. Dengan demikian, secara klasikal dan individual, siswa telah tuntas, dan tidak memerlukan perbaikan lagi. Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan yaitu melalui siklus I dan siklus II. Dengan menggunakan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam keterampilan berbicara siswa kelas V MI As-Sholihin Kecamatan Grati Pasuruan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa mulai dari kegiatan siklus I ke siklus II. Pada kegiatan siklus I secara klasikal nilai siswa mencapai 75%, dan pada siklus II nilai siswa meningkat menjadi 87,5%. Berdasarkan kesimpulan di atas , maka disarankan guru hendaknya dalam menyampaikan pelajaran harus benar-benar memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Jika model pembelajaran yang digunakan sesuai dengan materi yang dipelajari maka guru bersama siswa akan mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru ekonomi SMA se-Malang Raya / Sri Handayani

 

Kata kunci : Kompetensi Guru Ekonomi, Status Sosial Ekonomi, Komitmen Profesional Guru, Perilaku Ekonomi Guru, Kinerja Guru Ekonomi Kinerja guru yang profesional seharusnya dimiliki oleh setiap pendidik karena melalui kondisi tersebut dapat diperoleh pendidikan yang mampu membentuk manusia berkualitas. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan pembangunan pendidikan terkini, maka guru dituntut untuk terus menerus berupaya meningkatkan kompetensinya secara dinamis. Oleh karena itu kinerja guru dipengaruhi oleh kompetensi guru ekonomi. Guru mata pelajaran ekonomi yang seharusnya sudah memiliki pemahaman dan menguasai tentang hakikat mendasar dari ilmu ekonomi yang didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Untuk itu dituntut untuk lebih peka dan rasional dalam berperilaku ekonomi. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. Kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor internal yang melekat pada diri seseorang. Faktor-faktor internal tersebut terkait dengan kompetensi guru, status sosial ekonomi guru, komitmen profesional guru dan perilaku ekonomi guru. Kompetensi dasar yang harus dimiliki guru meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi personal atau kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Sedangkan status sosial ekonomi guru merupakan kedudukan seorang guru dalam hubungannya dengan orang lain di dalam suatu masyarakat berdasarkan pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan rumah yang dihuni. Faktor internal yang berikutnya yaitu komitmen profesional yang diartikan sebagai kekuatan/intensitas identifikasi dan keterlibatan individu dengan profesinya. Sedangkan untuk perilaku ekonomi pada dasarnya perilaku manusia dalam kegiatan ekonomi bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya. Penelitian ini mengambil 117 responden yang berasal dari Guru Ekonomi SMA di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Pemilihan responden tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penelitian dengan mengambil 3 area yang berbeda sehingga mewakili dari objekpenelitian. Penelitian ini termasuk penelitian explanatory. Tujuan dari penelitian eksplanatori yaitu untuk menjelaskan dan menganalisis variabel tertentu secara objektif. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, serta hipotesis yang diuji dalam penelitian ini, maka teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Structual Equation Modeling (SEM), teknik analisis gabungan antara analisis faktor dan analisis regresi dan penerapannya dilakukan secara simultan yang alat pengumpulannya berupa angket. Dari hasil penelitian ini diketemukan bahwa dari 117 yang dijadikan penelitian 82 responden memiliki kompetensi guru yang tinggi, untuk status sosial ekonomi guru ditemukan bahwa 56 responden memiliki status sosial ekonomi yang sedang, sedangkan untuk komitmen profesional 71 responden memiliki komitmen profesional sangat tinggi, untuk perilaku ekonomi guru ditemukan bahwan 72 responden memiiki perilaku ekonomi yang baik, serta untuk kinerja guru 75 responden memiliki kinerja yang baik. Untuk pengaruh antar variabel diketahui bahwa (1) Kompetensi Guru Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Guru Ekonomi, (2) Status Sosial Ekonomi tidak berpengaruh terhadap Kinerja Guru Ekonomi, (3) Penilaian Komitmen Profesional Guru berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Guru Ekonomi, (4) Kompetensi Guru Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Ekonomi Guru Ekonomi, (5) Status Sosial Ekonomi Guru Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Ekonomi Guru Ekonomi, (6) Penilaian Komitmen Profesional Guru Ekonomi tidak berpengaruh terhadap Perilaku Ekonomi Guru Ekonomi, (7) Perilaku Ekonomi Guru berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Guru Ekonomi.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian pada brownies Amanda Cabang I Malang / Herlina Setiani

 

Kata kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian. Di dalam era globalisasi dan pasar bebas, berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar Indonesia. Seorang pemasar yang baik harus mampu meletakkan posisi produk melalui atribut produk. Dalam penelitian ini, atribut produk yang mempengaruhi keputusan pembelian ini terdiri dari harga, kualitas, kemasan dan merek. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui deskripsi mengenai kondisi atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) dan keputusan pembelian pada Brownies Amanda Cabang I Malang, (2) untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara parsial antara atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) terhadap keputusan pembelian Brownies Amanda Cabang I Malang, (3) untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara simultan antara atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) terhadap keputusan pembelian pada Brownies Amanda Cabang I Malang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian penjelasan (explanatory research). Terdiri dari dua variabel yaitu atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) sebagai variabel bebas dan keputusan pembelian sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah orang yang melakukan keputusan pembelian langsung pada produk-produk Brownies Amanda Cabang I Malang, dan tergolong infinite population (tak terhingga jumlahnya). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Pengambilan data primer dalam penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa angket atau kuesioner yang sebelumnya telah diuji kepada 30 responden di luar sampel yang akan diambil. Instrumen penelitian tersebut menggunakan skala likert dengan 5 skala pengukuran meliputi: sangat setuju (5), setuju (4), cukup setuju (3), tidak setuju (2), sangat tidak setuju (1). Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 16 For Windows. Hasil penelitian ini adalah: (1) deskripsi persepsi konsumen tentang atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) dan keputusan pembelian secara keseluruhan sudah baik, (2) analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 16, For Windows, dengan taraf signifikansi 5%. Dari analisis regresi berganda diketahui hasil penelitian: harga mempunyai thitung = 3,952 dengan β = 0,269, kualitas mempunyai thitung = 6,918 dengan β = 0,472, kemasan mempunyai thitung = 5,778 dengan β = 0,395, dan merek mempunyai thitung = 3,161 dengan β = 0,215, dari hasil tersebut disimpulkan bahwa atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian, (3) diperoleh hasil bahwa nilai Fhitung = 31,303 , Ftabel =1,61 serta dengan sig.F = 0,000. Jadi, pada penelitian ini Fhitung > Ftabel dengan sig.F < alpha (0,000 < 0,05), dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa atribut produk (harga, ii kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap keputusan pembelian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) deskripsi persepsi konsumen tentang atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) dan keputusan pembelian pada Brownies Amanda Cabang I Malang secara keseluruhan sudah baik, (2) atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap keputusan pembelian Brownies Amanda Cabang I Malang, (3) atribut produk (harga, kualitas, kemasan dan merek) berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap keputusan pembelian Brownies Amanda Cabang I Malang. Saran yang bisa diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian adalah (1) sebaiknya Brownies Amanda menambah jenis dan varian rasa baru (2) menambah jenis ukuran kue Brownies Amanda agar lebih bervariasi (3) Karena atribut produk dalam penelitian ini hanya berpengaruh 55% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain, maka diharapkan peneliti selanjutnya untuk meneliti variabel selain atribut produk, misalnya brand image.

Pengaruh good corporate governance terhadap tingkat profitabilitas bank umum konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2014 / Iqbal Agung Budi Santoso

 

ABSTRAK Santoso, Iqbal Agung Budi. PengaruhGood Corporate GovernanceTerhadap Tingkat ProfitabilitasBankUmumKonvensional Yang Terdaftar di Bursa EfekIndonesiPeriode 2013-2014.Skripsi, JurusanAkuntansi, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.NurikaRestuningdiah, S.E., M.Si., AK., CA., (II)SawitriDwiPrastiti, S.E., M.Si., AK. Kata Kunci: Good Corporate Governance, Return on Investment, DewanKomisarisIndependen, DewanDireksi, Komite Audit. Teorikeagenanmenekankanpadapemisahanantarapengelolaandankepemilikanperusahaan.Pemisahanpengelolaandankepemilikanperusahaanakanmenimbulkankonflikkepentinganantaraagendenganpemilikataupundengankreditur,konflikkepentingantersebutdapatdikurangidenganadanyafungsipengawasan. KeberadaanmekanismeGood Corporate Governancediharapkandapatmenjalankanfungsipengawasan, sehinggakinerjaperusahaanberjalandenganbaikdantentunyamendapatkankeuntungan.Kinerjaperusahaandapatdiukurdengantingkatprofitabilitas yang diwakiliolehReturn On Investment. RetunOn Investment digunakanuntukmengukurkinerjakeuanganperusahaan. Return On Investment digunakansebagaialatukurkemampuanperusahaandalammenggunakankeseluruhandana yang telahdiinvestasikandigunakanuntukoperasiperusahaangunamenghasilkankeuntungan. SemakintingginilaiRetunOn Investmentmenunjukkansemakintinggikinerjakeuangansuatuperusahaan, sebaliknyasemakinrendahnilaiReturn On Investmentmenunjukkansemakinrendahkinerjakeuanganperusahaantersebut. PenelitianinibertujuanuntukmenelitipengaruhGood Corporate Governance terhadaptingkatprofitabilitas. Good Corporate Governancediproksikanolehproporsidewankomisarisindependen, dewandireksidankomite audit.TingkkatprofitabilitasdiproksikanolehReturn OnInfestment. Penelitianinimenggunakanrancanganpenelitiandekriptifkuantitatif. Data penelitian yang berupakomposisidewankomisaris, ukurandewandireksi, ukurankomite audit dannilaireturn on investment yang terdapatpadalaporantahunandiperolehdari website Bursa Efek Jakarta.Populasidalampenelitianiniadalahlaporantahunanperusahaanperbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2014. Sampel yang digunakanberjumlah60.Teknik sampling yang digunakanpadapenelitianiniadalahpurposive sampling.Metodeanalisis data menggunakananalisisregresibergandadengansignifikansi 5%. HasilpenelitianmenunjukkanproporsidewankomisarisindependendandewandireksitidakberpengaruhsignifikanterhadapReturn On Investment, komite audit berpengaruhnegatifsignifikanterhadapReturn On Investment. Saran sebagai bahanpertimbangan bagi penelitian selanjutnyayaitutambahperiodepenelitianlebihpanjang, sehingga data lebihbervariasi.Hindarimenelitiperusahaanperbankkan, karenamekanismepengawasanperbankansudahbaik.Sebaiknyamenambahkanmekanisme-mekanismegood corporate governance yang lainsebagai variabel independen yang lebih dapat menjelaskan return on investment perusahaan.

Implementasi Standar Isi (SI) mata pelajaran ekonomi SMA berdasarkan persepsi guru ekonomi SMA Negeri di Kota Malang / Dian Rachmawati

 

Kata kunci : standar isi, tujuan mata pelajaran ekonomi Dari delapan standar nasional pendidikan salah satu yang paling utama adalah standar isi (SI), karena SI merupakan acuan dalam proses pembelajaran di kelas. SI langsung memilahkan “isi” pendidikan menjadi: (a) muatan lokal, (b) kelompok mata pelajaran dan, (c) materi pengembangan diri. Hal tersebut mengakibatkan Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang SI sebagai kebijakan resmi yang by default. Mata pelajaran Ekonomi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (a) Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara, (b) Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi, (c) Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara, (d) Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan tujuan agar dapat memperoleh pemahaman dan penafsiran mendalam tentang makna dari fenomena yang ada di lapangan. Sedangkan sifat atau kategori dalam penelitian ini merupakan penelitian evaluasi menggunakan metodologi studi kasus (case studies). Dalam penelitian ini beberapa tahapan dalam proses pengumpulan data yaitu: (a) survey/ observasi awal, (b) Penyebaran kuesioner, (c) wawancara. Penafsiran rumusan tujuan SI mata pelajaran ekonomi dipersepsikan sesuai dengan background pendidikan dan latar belakang para guru hal tersebut terjadi karena tidak ada langkah operasional yang terkandung dalam SI, sehingga kajian tentang rumusan tujuan mata pelajaran ekonomi masih sangat kurang. Empat rumusan yang terkandung dalam SI memiliki tingkatan aspek yaitu kogitif, afektif, dan psikomotor. Hal tersebut tidak disadari oleh para guru. Setiap guru mengajar namun mereka tidak menyadari bahwa ada tujuan besar yang terkandung dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Pelaksanaan pembelajaran di kelas tidak dirumuskan berdasarkan rumusan tujuan SI. RPP dilaksanakan berdasarkan tujuan pembelajaran, sedangkan tujuan pembelajarannya pun tidak mengacu pada rumusan tujuan SI. Implementasi tentu saja dilakukan sesuai dengan kebutuhan materi sehingga setiap tujuan begitu sulit untuk diimplementasikan secara menyeluruh dalam setiap pembelajaran di kelas.

Pengembangan sistem informasi keuangan SPPD di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Fitri Kushandayani

 

Keyword: Sistem InformasiKeuangan,SPPD,Web Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik adalahsalah satu unit kerja di lingkungan Universitas Negeri Malang. SeiringbertambahnyawaktuJurusanTeknikElektroFakultasTeknikmengalamiperkembangan yang signifikan.Perkembanganinimenuntutadanyasebuahsaranadanprasaranauntukmempercepatkinerjadanefisiensididalamadministrasipendidikantermasukjugamasalahadminstrasikeuangansepertipencatatansurattugas, pencatatanrincianbiayaperjalanandinas (SPPD), danpelaporankeuangannya. Untukitudiperlukanadanyasuatusisteminformasikeuangan yang dapatmencatat, memprosesdanmenghasilkansebuahsisteminformasikeuangan yang cepatdanaman.Permasalahan yang dibahasdalamskripsiiniadalahbagaimanamembangunsebuahsisteminformasikeuanganberbasisweb di JurusanTeknikElektroFakultasTekniksehinggadapatmenyajikaninformasitentangkeuanganperjalanandinas (SPPD) Dalam pengembangan sistem informasi keuangan SPPD ini penulis menggunakan Waterfall Modeldengan pengujian Black Box. Sedangkan untuk pengumpulan data menggunakan observasi,wawancaradanangket.Rancangansistemdimulaidenganmendefinisikankebutuhanperangkatlunakkemudianmenganalisaalur proses kerjasistem yang kemudiandigambarkandalamflowchart, data flow diagram (DFD), kemudianmenyusundatabasedan yang terakhirmembuattampilaninformasipada web.Pembuatansisteminformasikeuangan SPPD inimenggunakanbahasapemrograman PHP dandiinteraksikandengan database MySQL, kemudianditampilkandenganaplikasiweb browser. Hasilpengembanganiniadalahsebuahsisteminformasikeuangan yang berisiinformasitentang data rincianbiayaperjalanandinas, data pegawai, data surattugasdan data perhitunganbiayaperjalanandinas. Berdasakanhasilpenelitiandapatdisimpulkanbahwasisteminformasikeuangan SPPD dapatmembantumempercepatpembuatanSuratPerintahPerjalananDinaskarenainformasikeuangandiolahdandihasilkanlebihcepat, lebihefisiendanefektif.Dari hasilpenelitianinidisarankan agar dilakukanlebihlanjutsehinggadapatmenyempurnakansisteminformasikeuangan yang telahada.

Penerapan kolaborasi model pembelajaran kooperatif STAD dan talking stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (studi pada mata pelajaran manajemen perkantoran siswa kelas X AP SMK Wisnuwardhana Malang) / Weny Widyaningsih

 

Kata Kunci: Kolaborasi Pembelajaran Kooperatif, Model STAD (Student Teams Achievement Division) dan Model Talking Stick, Aktivitas, Hasil Belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) dan Talking Stick pada Mata Pelajaran Manajemen Perkantoran studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas X AP SMK Wisnuwardhana Malang, sebagai upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X AP SMK Wisnuwardhana Malang tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 36 siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif, yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan empat tahapan untuk tiap siklusnya, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui: observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Aktivitas siswa dalam penerapan kolaborasi Model Pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) dan Talking Stick siklus I pada pertemuan I menunjukkan presentase keberhasilan mencapai 61.14% dan pertemuan II 62.85%, mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 1.71%. Ini menunjukkan peningkatan yang masih belum terlalu tinggi. Sedangkan siklus II pada pertemuan I menunjukkan presentase keberhasilan mencapai 63.72% dan pertemuan II 78.80%, mengalami peningkatan yang baik 15.08%. Ini menunjukkan peningkatan yang sudah tinggi dan masuk dalam kategori baik. Hasil belajar dalam penelitian ini meliputi aspek kognitif siswa dari siklus I dan siklus II. Aspek kognitif siswa siklus I, menunjukkan nilai rata-rata post test siswa adalah 71.09. Sedangkan pada siklus II, nilai rata-rata post test siswa mencapai 83.2.Terjadi peningkatan antara siklus I dan siklus II sebesar 12,11 dengan maksud meningkat dari kategori baik menjadi sangat baik. Saran yang diberikan peneliti dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah: 1) bagi guru mata pelajaran, diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran yang bisa diterapkan di kelas, 2) bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam hal mengemukakan pendapat serta keaktifannya sebagai anggota kelompok maupun individu, 3) bagi sekolah SMK Wisnuwardhana Malang, diharapkan dapat menjadikan model pembelajaran kooperatif sebagai model pembelajaran di kelas yang tentunya relevan dengan masing-masing pelajaran.

Pengaruh bauran eceran (retailing mix) terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada Apolo Swalayan Jombang) / Retno Sari Dewanti

 

Kata kunci: Bauran eceran, keputusan pembelian konsumen. Seiring dengan perkembangan dunia bisnis dan kebutuhan manusia akan barang dan jasa, banyak bermunculan perusahaan dagang yang bergerak di bidang perdagangan eceran (retail) yang berbentuk toko, minimarket, pasar swalayan dan lain-lain. Jumlah pasar swalayan yang semakin meningkat tersebut menyebabkan persaingan yang semakin ketat. Persaingan yang semakin ketat menuntut pelaku bisnis untuk pandai-pandai mengatur strategi untuk dapat memenangkan persaingan yaitu dengan mengembangkan strategi-strategi pemasaran berdasarkan sasaran dan rencana strategis keseluruhan. Strategi-strategi yang digunakan pengecer untuk mencapai sasarannya yaitu dengan merumuskan bauran eceran (retailing mix). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui: (1) deskripsi bauran eceran (retailing mix) dan keputusan pembelian konsumen pada Apolo walayan, Jombang, (2) Pengaruh positif bauran eceran (retailing mix) secara parsial yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan, Jombang, (3) Pengaruh positif bauran eceran (retailing mix) secara simultan yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan, Jombang. (4) serta untuk mengetahui elemen bauran eceran (retailing mix) yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian di Apolo Swalayan, Jombang. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari Merchandise (X1), harga (X2), Lokasi (X3), Promosi (X4), retail service (X5), atmosphere (X6),dan variabel terikatnya adalah keputusan pembelian konsumen (Y). Jenis dari penelitian ini adalah asosiatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pembelian di Apolo Swalayan Jombang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 responden. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus untuk populasi tak terhingga.. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner, skala pengukuran yang dipakai adalah Skala Likert (Sangat Setuju, Setuju, Cukup Setuju, Kurang Setuju, dan Tidak Setuju). Analisis data menggunakan regresi linier berganda dan uji asumsi klasik. Hasil dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X1) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,264 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X2) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,312 dan sig t = 0,000, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X3) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,184 dan sig t = 0,003, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X4) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,185 dan sig t = 0,020, terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X5) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,127 dan sig t = 0,003, tidak terdapat pengaruh secara parsial bauran eceran (X6) terhadap keputusan pembelian konsumen dengan nilai B = 0,031 dan sig t = 0,693. (2) Terdapat pengaruh merchandise (X1), harga (X2), lokasi (X3), promosi (X4), retail service (X5), atmosphere (X6),secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen berdasarkan nilai Fhitung sebesar 51,193 dengan tingkat signifikansi 0.000. Sub variabel dari bauran eceran yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen adalah harga (X2) dengan nilai sumbangan efektif sebesar 22,5%. Selain itu, dalam diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,753, ini berarti bahwa variabel merchandise, harga, lokasi, promosi, retail service dan atmosphere secara bersama-sama mempengaruhi keputusan pembelian sebesar 75% sedangkan sisanya sebesar 25% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1)Variabel bauran eceran (retail mix) yang terdiri dari variabel merchandise, harga, lokasi, promosi, lokasi, retail service dan atmosphere mempengaruhi keputusan pembelian Apolo Swalayan Jombang baik secara simultan maupun parsial. (2) Setiap variabel bauran eceran (retail mix) dapat mempengaruhi penjualan di Apolo Swalayan Jombang dan satu sama lain saling mempengaruhi. (3) Dari hasil uji t diketahui bahwa variabel yang memiliki nilai koefisien Beta yang distandarisasi yang terbesar adalah variabel harga (X2). Hal ini membuktikan bahwa harga merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Apolo Swalayan Jombang. (4) Variabel atmosphere kurang berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen Apolo Swalayan. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pengelola Apolo Swalayan Jombang perlu memperhatikan pengaruh bauran eceran terhadap keputusan pembelian konsumen dalam penyusunan rencana maupun strategi pemasaran Apolo Swalayan Jombang. (2) pengelola Apolo Swalayan dapat melakukan penetapan harga yang mampu bersaing dengan Swalayan lain. (3) pengelola Apolo Swalayan diharapkan dapat melakukan peningkatan kualitas dalam toko, misalnya dalam segi desain interior dan eksterior, memperhatikan suhu ruangan agar membuat konsumen nyaman dalam berbelanja, dll. (4) meningkatkan pelayanan terhadap konsumen sangat penting untuk memberikan kesan yang positif dengan cara pelatihan karyawan dalam melayani baik keterampilan teknis maupun keterampilan antarpribadi. Yang dapat diwujudkan dari komitmen semua karyawan untuk meningkatkan pelayanan (5) bagi peneliti lain yang berminat mengembangkan studi ini disarankan untuk lebih memperdalam kajian melalui pengembangan item-item pernyataan untuk variabel-variabel bauran eceran (retail mix) dan meneliti variabel-variabel lain yang belum masuk dalam model, karena dalam penelitian ini masih terdapat variabel lain yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian yang ditunjukkan dengan sisa nilai adjusted R square sebesar 25%.

Evaluasi sistem pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan pada pabrik gula Ngadirejo Kediri tahun 2011 / Nova Kurnia Edwinanda

 

Kata Kunci: Evaluasi Sistem, Pengendalian Intern, Gaji dan Upah Gaji dan upah merupakan bagian dari kompensasi yang paling besar yang diberikan perusahaan sebagai balas jasa kepada karyawannya. Seperti halnya yang dilakukan PG. Ngadiredjo dalam kewajibannya memberikan gaji dan upah kepada seluruh karyawannya. Dibutuhkan pengendalian intern dalam prosedur penggajian dan pengupahan untuk mencegah ancaman dan mengatasi masalah jika terjadi dalam pelaksanaannya. Sistem pengendalian intern yang baik dapat menghasilkan informasi akuntansi yang dapat dipercaya. Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kesesuaian pengendalian intern penggajian dan pengupahan (pemisahan fungsi, wewenang otorisasi, praktek yang sehat, dan karyawan yang berkualitas) dalam upaya menghasilkan informasi akuntansi yang berkualitas. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada penanggung jawab Bagian Pengolahan, Pengawas Bagian Pembukuan, dan Wakil Kepala Bagian Perencanaan dan Pengawasan. Dokumentasi diperoleh dari Bagian Pengolahan, Bagian Pembukuan, dan Bagian Perencanaan dan Pengawasan. Metode pemecahan masalah dilakukan dengan cara menganalisis kesesuaian unsur-unsur pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo. Langkah-langkah dalam menganalisis yaitu mengevaluasi kesesuaian pemisahan fungsi, mengevaluasi kesesuaian wewenang otorisasi dalam pembuatan dokumen-dokumen, mengevaluasi kesesuaian praktik pelaksanaan setiap bagian yang bertugas, dan mengevaluasi kesesuaian kualitas karyawan yang menangani prosedur penggajian dan pengupahan. Berdasarkan hasil analisis dari wawancara dan dokumentasi diketahui bahwa pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo terdapat ketidaksesuaian di beberapa hal yaitu adanya perangkapan jabatan antara pembuat dan pendistribusian cek gaji dan upah, penulisan jam/waktu lembur yang dilakukan oleh karyawan yang bersangkutan, praktek tidak sehat ditandai dengan tidak adanya rotasi jabatan secara berkala di Bagian Pengolahan, serta proses perekrutan karyawan dengan jumlah sedikit yang dilkakukan secara tertutup dengan memprioritaskan lingkungan intern. Kesimpulan penulisan Tugas Akhir ini yaitu pengendalian intern prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo memiliki beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya namun bukan berarti prosedur penggajian dan pengupahan di PG. Ngadiredjo buruk sepenuhnya. Sehingga saran mengenai hasil pembahasan Tugas Akhir ini yaitu adanya kelemahan yang ditemukan dapat dijadikan acuan dalam perbaikan atau pembentukan sistem baru yang lebih efektif agar dapat menghasilkan informasi akuntansi yang memiliki akuntabilitas tinggi serta tidak merugikan perusahaan.

Profil pelaksanaan evaluasi pembelajaran PKn kelas IV SDN se-gugus II Kec. Pagelaran Kab. Malang / Deviena Maya Sari

 

Bahasa Arab Amiyah dalam percakapan sehari-hari pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang / Muh. Taib Azizin

 

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Ragam dan situasi penggunaan bahasa Arab terbagi menjadi dua, yaitu bahasa Arab fasih (fusha) dan bahasa Arab umum (amiyah). Bahasa fusha digunakan dalam situasi yang formal. Bahasa amiyah atau bahasa pasaran pada umumnya digunakan dalam kondisi informal, misalnya percakapan sehari-hari. Bahasa amiyah pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang menarik untuk diteliti karena merupakan bahasa yang sifatnya unik dan asing bagi kelompok masyarakat di luar penggunanya. Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa hal pokok yang meliputi: (1) bentuk kosakata bahasa Arab amiyah yang digunakan oleh masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, (2) pola kecenderung-an penggunaan bahasa Arab amiyah yang terjadi ketika berkomunikasi sehari-hari dalam masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, (3) faktor-faktor yang mendorong terjadinya penggunaan bahasa Arab amiyah dalam ber-komunikasi pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang . Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan kualitiatif. Keseluruhan data diambil dari observasi terlibat, wawancara, rekaman audio dan foto. Data diperoleh dari percakapan sehari-hari pada masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang. Peneliti sebagai instrumen utama dan alat rekaman audio (Flash Disk MP3), kamera digital dan tabel berformat sebagai instrumen tambahan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode cakap dan metode simak. Dalam pengumpulan data peneliti mendengarkan, mewawancarai dan merekam komunikasi informan yakni para jama’ah masyarakat keturunan Arab di Embong Arab Kota Malang, kemudian mencatat data bahasa dan konteksnya yang meliputi (1) topik, (2) tempat pembicaraan, dan (3) peserta tutur. Langkah-langkah penyajian data ialah (1) transkripsi data (2) identifikasi data, (3) klasifikasi data (4) pemaparaan analisa data, dan (5) penyimpulan. Hasil penelitian adalah (1) kosakata Arab amiyah setempat yang mengalami pergeseran makna dan ujaran dari bahasa Arab fusha, bahasa Arab amiyah setempat terinterferensi oleh bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, (2) bahasa arab amiyah setempat digunakan untuk beralih kode yang berupa alih bahasa dan campur kode yang berupa campur bahasa dalam tataran kata dan frase. (3) penggunaan bahasa Arab amiyah oleh jama’ah di Embong Arab Kota Malang didorong oleh faktor sosial untuk mengakrabkan, merahasiakan, mengungkapkan perasaan dan faktor pengaruh situasi bicara.

Perbandingan prestasi belajar fisika antara siswa yang diberi tugas terstruktur dan pre tes harian dengan yang diberi tugas terstruktur tanpa pre tes harian di kelas 1 cawu III SMU Tahfidz al-Amin Prenduan Sumenep Madura tahun pelajaran 2000/2001 / oleh N

 

Penelitianin i bertujuanu ntukm engetahupi erbandingapnr estasbi elajarf isika antara siswa yeng diajar dengan pemberian tugas terstruktur dan pretes harian dan yang diajar a"ng* pemberian tugas terstruktur tanpa pretes harian' Penelitianin i dilakukand isMU TahfidzA l-Amien Prenduanp, adab ulan April sampadi enganb ulanM ei 2001.P opulaspi enelitianin i adalahs emuas iswa telas I StviU Tahfi& Al-Amien Prenduan pada tahun pelajaran 2000/2001 yang tersebard alamd ua kelasd an semuap opulasid iambil sebagasi ampelp enelitiand an untuk menentukank elompoks isway ang diberi tugast erstrukturd an pretesh arian dan kelompok siswa yang diberi tugas tirstruktur tanpa pretes harian diambil secara acak.M etodep enelitiany ang dipakai adalahe ksperimend enganr ancangan ,r andomized pr et e s t p os i te s i de.rcin".P retesd igunakanu ntuk mengetahui kemampuana w4 nsifa siswa,s edangkanp osttestd igunakanu ntuk mengetahui prestasibelajarf isika setelahm endapit petlu\.,! Keduaa lat ukur yang digunakan ielahm engiami penyempurnaalenw atu ji coba.D ari hasilu ji cobad iperoleh reliabilitaialat uliur ro = b,gt. Teknik analisisy angd igunakana dalahu ji-t duaa rah denganta raf signifikansia - 0,05. Hasil pinelitian menunjukkanb ahwap restasbi elajarpadap okokb ahasan Getaran dan Gelombang siswJyang diberi tugas terstruktur dan pretes harian lebih tingli dari padas isway angd iblri iugast erstrukturta npap retesh ariand alam pen'fajaran'fsi ika sehinggidapatd itunjuktan bahwam etodep emberiant ugas irr.itiftut dan pretes harian lebih efektifdari pada metode pemberian tugas terstruhur tanpa Pretes harian.

Analisa hasil karya anak sekolah dasar kelas rendah (kelas 1-3) SDN Sidorahayu 03 Wasgir Malang pada kegiatan menggambar ikan / Bagus Prasetyo Utomo

 

ABSTRAK Utomo, Bagus P. 2016. Analisa Hasil Karya Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah (Kelas 1 – Kelas 3)SDN Sidorahayu 03, Wagir, Malang Pada Kegiatan Menggambar Ikan. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ida Siti Herawati, M. Pd, (II) Drs. Andi Harisman. Kata Kunci: Analisa, Gambar Anak, Gambar Ikan, SDN Sidorahayu 03, Wagir, Malang. Menggambar merupakan kegiatan menuangkan perasaan dan ide kedalam bentuk visual, pada usia sekolah dasar kegiatan menggambar merupakan kegiatan yang mewadahi untuk menyalurkan ekspresi. Hasil gambar anak memiliki ciri yang berbeda dengan orang dewasa karena pada masanya anak cenderung menggambarkan apa yang mereka lihat dan mereka alami tanpa adanya pemikiran hasil karya mereka sebagai bentuk karya untuk kegiatan komersil. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal yang mencakup hasil gambar anak SD kelas rendah dalam menggambar ikan yang antara lain berupa: (1) bentuk penggambaran objek ikan,(2) bentuk objek pelengkap,(3) ukuran ikan,(4) arah, (5) komposisi yang ada pada hasil gambar anak kelas rendah SDN Sidorahayu 03. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan diskriptif, dimana data diperoleh melalui pengamatan yang mendalam pada hasil karya anak kelas rendah pada kegiatan menggambar ikan. pada proses pengecekan keabsahan data peneliti menggunakan trianggulasi teori, dimana teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan pembanding, guna menunjang penjelasan yang sudah ada, sesuai dengan temuan. Tahap penelitian yang digunakan adalah persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) penggambaran objek ikan pada kelas 1,2 dan 3 berupa ikan dengan garis lengkung, ikan dengan bentuk bidang dasar, ikan dengan penggambaran bentuk realis (bagian tubuh lengkap). (2) objek pelengkap berupa gambar tumbuhan dasar air, hewan laut, benda langit, manusia, burung, bebatuan. (3) arah ikan kanan, kiri, atas, bawah dan campuran. (4) ukuran objek ikan besar, sedang dan kecil. (5) komposisi hasil karya anak simetris & asimetris. Komposisi asimetris merupakan komposisi yang ada pada karya anak kelas rendah. (6)jumlah ikan antara lain ikan tunggal, ikan berpasangan dan ikan berkelompok. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan perlu adanya bentuk apresiasi dan dukungan yang mendalam akan hasil karya anak sehingga anak akan merasa percaya diri akan hasil karya mereka sehingga mereka akan cenderung mengembangkan hasil karya mereka. Variasi cara mengajar guru dalam mengajarkan anak menggambar ikan harus bervariatif. Disarankan pula untuk peneliti lain memperdalam penelitiannya yang terkait dengan gambar anak sehingga pengetahuan tentang gambar anak khususnya gambar bertema ikan akan semakin luas dan berkembang seiring dengan munculnya temuan-temuan yang baru pada era-era selanjutnya.

Studi komparatif perkembangan kecepatan lari dan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang tinggal di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk di Malang Raya / Barnes Alfan Tanjihan

 

Kata Kunci: Perkembangan, Kecepatan Lari, Kelincahan, Daerah Padat Penduduk, Daerah Jarang Penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan kecepatan lari dan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang tinggal di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk di Malang Raya. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar yang berada di daerah padat penduduk yaitu Sekolah Dasar Negeri Sawojajar II, IV dan VI sedangkan untuk daerah jarang penduduk yaitu Sekolah Dasar Negeri Bantur I, II dan IV pada tahun ajaran 2011/2012. Berdasarkan latar belakang dan tujuan, penelitian ini menggunakan penelitian metode cross sectional. Penelitian Metode cross-sectional adalah metode yang dipergunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relatif singkat. Artinya tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. kemudian instrumen yang digunakan untuk mengukur perkembangan kecepatan lari dan perkembangan kelincahan peneliti menggunakan tes lari cepat 30 meter versi Asim dan untuk tes kelincahan menggunakan Shuttle run 4 x 10 m versi A.C.S.P.F.T. Dari hasil perhitungan uji Anova menggunakan program SPSS dapat disimpulkan bahwa di daerah padat penduduk nilai signifikansinya kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak. Begitu juga di daerah jarang penduduk uji Anova menunjukkan bahwa hasil perhitungan nilai signifikansi kurang dari 0,05, artinya H0 ditolak dari penjelasan di atas berarti ada perbedaan tingkat perkembangan kecepatan lari dan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk, begitu juga di daerah jarang penduduk juga terdapat perkembangan kecepatan lari dan kelincahannya. Hasil skor total perolehan waktu untuk perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk memperoleh rata-rata sebesar 6,78 detik sedangkan hasil skor total yang diperoleh waktu untuk perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah jarang penduduk memperoleh rata-rata sebesar 6,60 detik. Untuk hasil skor total perolehan waktu untuk perkembangan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk memperoleh rata-rata sebesar 15,96 detik sedangkan hasil skor total yang diperoleh waktu untuk perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah jarang penduduk memperoleh rata-rata sebesar 14,03 detik. Hasil pengujian perhitungan ANOVA pada perkembangan kecepatan lari nilai signifikansi sebesar (0,00) < 0,05, maka H0 ditolak, yang berarti terdapat perbedaan perkembangan kecepatan lari anak usia 7-9 tahun yang berada di ii daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk. Hasil pengujian perhitungan ANOVA pada perkembangan kelincahan nilai signifikansinya sebesar (0,00) <0,05, maka H0 ditolak, yang berarti terdapat perbedaan perkembangan kelincahan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk. Hasil penelitian ini sangat penting untuk diketahui oleh guru pendidikan jasmani baik yang berada di daerah padat penduduk dan daerah jarang penduduk. Dengan perkembangan yang berbeda yaitu lebih baik perkembangan anak 7-9 tahun di daerah jarang penduduk tentunya guru yang berada di daerah padat penduduk harus mampu menyesuaikan pola pembelajarannya agar anak yang berada di daerah padat penduduk mempunyai perkembangan kecepatan lari dan kelincahan yang sama dengan anak usia 7-9 tahun yang berada di daerah jarang penduduk.

Pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi pindah silang Drosophila melanogaster strain ym dan bdp / oleh Duan Agtis Yulapini

 

Pindahs ilangt e{adi saatm eiosisI . Pindahs ilangd ipengaruhoi leh beberapa faktora ntarala in zat kimia, temperaturr,- rmurp, enyinaransi narX , suhu,d an efek sentromerP. enelitiani ni bertujuanu ntuk mengetahupi erbedaanfr ekuensip indah silang l)rosophila melanogaster pada berbagai konsentrasi sodium siklamat, perbedaafnr ekuensip indah silangD rosophila melanogasterp ada berbagais train, sertap erbedaanfr ekuensip indah silang Dro.sophilan rclanoga,r/epr ada interaksi konsentrasio diums iklamatd ans train. Penelitianin i diiakukand i ruang3 10 yangm erupakanla boratoriurGn enetika UniversitaNs egeri Malang.P enelitiand ilakukanb ulan April - Nopember2 001. Rancangapne nelitiany angd igunakana dalahr ancangaanc akl engkapA. nalisisd ata yangd igunakana dalaha n6lisiss idik ragam klasifikasig andad ua. Konsentrasi sodiums iklamatp edakuanI Vo, 0,1%; 0,3%; 0,5%: 0,7o/od, an 170.P ersrlangan Drctsophilma elanogastepre rlakuanO NXOym danO NXO bdp. Hasilp enelitianin i menunjukkabna hwat idak adap erbedaafnre kuenspi indah sllang Drosophilam elanogctstepr adab erbagaik onsentrassi odium siklamat, ada perbedaafnr ekuensip indah silang Droxtphila melanogastept' ada berbagais train Drosophilam elanogaster, dan tidak ada perbedaanfr ekuensip indah silang Drosophilum elanogastepra da interaksik onsentrassi odiurns iklamatd an strain. Frekuensi pindah siiang pada [)rosophiltt melanogaster bdp lebih lresar dari Droso ph ile mela nogaste r ym. Berdasarkahna sil penelitianin i, dapatd isarankana gar dilakukanp enelitian lebihl anjut denganm enggunakakno nsentrassi odiums iklamaty angb erbedaS. elain itu penelitianp engaruhs odiurns iklamatt erhadapfr ekuenspi indahs ilangI )ntsophilu nteianogastedra patd iteliti lagi denganm enggunakasnt rainy angb erbeda

Pengembangan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA / Anik Purwati

 

Kata Kunci: Pengembangan Bahan Ajar, Menulis Laporan Penelitian, Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran menulis laporan penelitian berdasarkan penelitian pada prapengembangan mengalami beberapa masalah. Permasalahan-permasalahan tersebut, yakni pada pembelajaran menulis laporan penelitian guru terpaku pada buku teks dan diketahui bahwa pembahasan di dalam buku teks mengenai laporan penelitian sangat sedikit. Permasalahan lain yang muncul pada siswa adalah (1) siswa kesulitan untuk menuangkan ide-ide mereka ke dalam laporan penelitian, (2) siswa belum paham sistematika menulis laporan penelitian yang benar, dan (3) siswa kurang tertarik terhadap materi menulis laporan penelitian. Permasalahanpermasalahan tersebut harus dipecahkan agar siswa dapat mencapai indikator pembelajaran yang diharapkan. Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan siswa pun bersemangat dalam menulis laporan penelitian, maka peneliti mengembangkan bahan ajar yang menarik dan dikolaborasikan dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran menulis laporan penelitian. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA yang sesuai dengan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan siswa yang dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi bahan menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (2) mengembangkan sistematika bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (3) mengembangkan bahasa bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA, (4) mengembangkan tampilan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek untuk siswa kelas XI SMA. Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan model penelitian pengembangan yang telah dimodifikasi dari model pengembangan Borg dan Gall, Sukmadinata, dan Sugiyono. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 3 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) prapengembangan, (2) pengembangan, dan (3) tahap uji produk. Untuk mengetahui kelayakan produk bahan ajar pada penelitian ini dilakukan uji produk yang melalui tiga kelompok uji, yakni (1) uji ahli pembelajaran menulis laporan penelitian, (2) uji ahli menulis bahan ajar, (3) uji ii praktisi yakni guru bahasa Indonesia kelas XI SMA, dan (4) uji kelompok kecil siswa kelas XI SMA. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripkan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskripsikan data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasikan data verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah implementasi, revisi atau diganti. Dari uji bahan ajar dengan ahli pembelajaran menulis laporan penelitian rata-rata adalah 75%, ahli menulis bahan ajar 83,3%, guru bahasa indonesia 100%, dan siswa 96%. Hasil uji dengan ahli pembelajaran menulis laporan penelitian tergolong layak dan dapat diimplementasi, namun, ada beberapa bagian dari bahan ajar yang perlu direvisi seperti tinjauan kompetensi, penggunaan bahan ajar, ringkasan materi dan penambahan halaman glosarium. Menurut ahli pembelajaran menulis bahan ajar produk tergolong layak dan dapat diimplementasi dan disarankan untuk mengganti tampilan halaman sampul agar tidak mencolok. Guru bahasa Indonesia dan siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dari hasil uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi siswa bahan ajar ini dapat menjadi alternatif untuk pembelajaran menulis laporan penelitian. Bagi guru dapat menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan bahan ajar menulis laporan penelitian dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek ini, diharapkan pembelajaran menulis laporan penelitian lebih menarik dan siswa lebih bersemangat untuk menulis laporan penelitian. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Pengembangan paket pelatihan penegasan konsep diri soal siswa SMP / Niza Wulandari

 

Using pictures to improve the speaking skill of the seventh graders of MTs Al-Madany Menganti Gresik in delivering oral description / Siswa Yusbido

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Enny Irawati, M.Pd. (2) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd. Key words: Pictures, Improving Speaking Skill, Delivering Oral Description. The objective of the research is to improve the speaking skill of the seventh graders of MTs Al-Madany Menganti-Gresik by using the pictures. This research was conducted on the basis of the result of preliminary study of the seventh graders of MTs Al- Madany Kec. Menganti Kab. Gresik showed that the speaking skill in delivering oral description was not sufficient based on the minimum adequacy criterion (Kriteria Ketuntasan Minimum) that was 6.0. The students’ average score was 2,5 or only 2 of eighteen students could pass. By using the pictures of people the researcher is greatly motivated to solve some problems arising in the teaching of speaking skill. This research employed classroom-action research design to improve the students’ speaking skill using picture with the research problem: How can using pictures improve the speaking skill of seventh grade students at MTs Al - Madany Kec. Menganti Kab. Gresik in delivering oral description? The procedure of the research consisted of four main steps i.e. planning, implementing, observing and reflecting. This research was conducted in two cycles. Each cycle comprised two meetings. The subjects of the study were class VII of MTs Al-Madany Kec. Menganti Kab. Gresik in the 2010-2011 academic years consisting18 students. The instruments for collecting the data were questionnaire, observation checklist, field notes, and speaking assessment. Implementing pictures for teaching speaking involves: 1) show some pictures to the students, 2) guide students to find some words based on the pictures, 3) asking questions to the students to check the students’ understanding about words related to the pictures, 4) translating and pronouncing the words to make clear what the pictures are about while teacher writes the description of pictures on the board to become a model in describing someone for the students, 5) dividing the students into four or five groups to do short question and answer base on the pictures given, 6) giving a model in describing someone trough pictures, 7) asking the students to make brief notes of their ideas based on the pictures, 8) asking and guiding the students to do a monolog in describing someone based on the pictures, 9) correcting the student’s pronunciation and grammar usage, 10) asking the students with the different pictures in each group or individually to practice more in or out of class to develop their speaking ability. The finding of the research indicated that the uses of pictures were successful in improving students’ speaking skill based on the students’ speaking performance that could achieve the criteria of success (60% students achieve the standard minimum score 60). The improvement could be seen from the increase of the students’ speaking assessment in cycles one two. It found that 5 (28%) of the students who got 34-54 (Poor Score), 7 (39%) of the students who got 55-64 (Average Score), 4 (22%) of students who got 65-84 (Good Score) and 2 (11%) of the students who got 85-100 (Very Good Score) in cycle one. And in cycle two, 1 (6%) of the students who got 34-54 (Poor Score), 5 (28%) of the students who got Average Score, 8 (44%) of students who got 65-84 (Good Score) and 4 (22%) of the students who got 85-100 (Very Good Score). Based on the improvement of the students’ speaking skill after the implementation of using pictures of people in teaching speaking, it is suggested the English teacher and other language teachers who have similar classroom problems to implement the technique in their class particularly in the speaking class. To the principals, they should provide facilities of media to improve the English teachers’ teaching quality, to socialize the teaching technique to the teachers, and to hold an in-service training about teaching methods for the English teachers. For the future researchers, they should conduct the research more attentive with some students’ obstacles arising like pronunciation, grammar and background knowledge of vocabularies, besides implementing pictures in teaching other language skills such as listening and writing.

Unjuk kerja dosen dalam pembelajaran matakuliah pembaharuan pemikiran modern di dunia Islam (studi kasus pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin) / oleh M. Ramli

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas X Akuntansi di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang / Puput Candra Wijayanti

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Model Numbered Head Together (NHT) merupakan model pembelajaran kooperatif terstruktur dan menekankan kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membagi ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling benar. Struktur yang ada pada pembelajaran NHT dalam penelitian ini adalah pembagian kelompok, pemberian pertanyaan, diskusi kelompok, menjawab pertanyaan. Adapun rumusan dari penelitian ini, (1) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT, (2) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, (3) Bagaimanakah penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (4) Bagaimanakah respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model NHT. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus di mana tiap siklus terdiri 4 tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi yang berjumlah 28 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes dan catatan lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data), dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini diketahui bahwa : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran Kewirausahaan siswa kelas X Akuntansi di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang, (2) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, terbukti dengan persentase rata-rata skor aktivitas belajar siswa pada siklus 1 jumlah skor yang diperoleh 74 dengan skor maksimal 90, persentase nilai rata-rata 82% termasuk dalam kategori baik, sedangkan pada siklus II jumlah skor aktivitas siswa yang diperoleh 84, skor maksimal 90 persentase nilai rata-rata 93%, termasuk kategori sangat baik. (3) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar, terbukti dari hasil Post Test siklus I menunjukkan siswa yang sudah tuntas belajar 18 siswa (64,20%) dan siswa yang belum tuntas belajar 10 siswa (35,72%) dengan nilai rata-rata kelas 73,58, sedangkan hasil belajar pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan siklus I yaitu jumlah siswa yang tuntas belajar 24 siswa (85,71%) sedangkan siswa belum tuntas belajar 4 siswa (14,28%), nilai rata-rata kelas 80, (4) Hasil respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran Kewirausahaan diperoleh hasil rata-rata 80,4%. Siswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran, lebih mudah memahami materi pembelajaran, dapat melatih diri untuk saling bekerjasama dan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan paparan hasil data, dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas X Akuntansi di SMK Kosgoro 01 Lawang-Malang. (2) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. (3) Penerapan pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan hasil belajar. (4) Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif model NHT pada mata pelajaran Kewirausahaan positif hal ini dapat dilihat dari hasil angket respon siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Bagi guru Kewirausahaan, hendaknya mulai mencoba menerapkan pembelajaraan kooperatif model NHT dalam proses pembelajaran untuk menuntut siswa lebih aktif dalam pembelajaran berlangsung, (2) Bagi seluruh siswa-siswi, hendaknya siswa mempersiapkan diri dengan belajar terlebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran di kelas, sehingga pada saat diskusi kelas siswa lebih mudah mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Selain itu siswa harus bisa dengan cepat bersosialisasi dengan teman dalam satu kelasnya, (3) Bagi Peneliti Khususnya Mahasiswa Universitas Negeri Malang, disarankan kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian dengan menggunakan tujuan penelitian yang bervariasi masih berkaitan pada judul penelitian ini, sehingga penelitian selanjutkan akan lebih bisa dikembangkan lagi dan lebih baik lagi.

Pengembangan bahan ajar Computer Assisted Instruction (CAI) IPA terpadu tema air limbah rumah tangga sebagai media belajar siswa SMP/MTs kelas VII / Lailatul Masruroh

 

Kata kunci: CAI, IPA terpadu, media belajar, tema air limbah rumah tangga. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA untuk SMP/ MTs merupakan IPA terpadu. Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran terpadu. Pengembangan bahan ajar IPA Terpadu harus disesuaikan dengan perkembangan IPTEK. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dan pengembangan dengan tujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan Bahan Ajar Computer Assisted Instruction (CAI) IPA Terpadu Tema Air Limbah Rumah Tangga sebagai Media Belajar Siswa SMP/MTs Kelas VII. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan metode Borg dan Gall, yaitu (1) studi pendahuluan yang terdiri dari studi pustaka, survei lapangan, dan rencana pengembangan, (2) pengembangan draft produk yang terdiri dari draft produk, uji kelayakan, revisi draft produk, dan produk hasil pengembangan. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji kelayakan oleh ahli media (dosen Fisika dan Biologi) dan ahli materi (dosen Biologi dan guru IPA SMP). Desain uji coba dalam pengembangan bahan ajar CAI ini adalah uji coba terbatas pada siswa SMP Lab UM. Jenis data ada dua yaitu data kuantitatif dan data kualitatif untuk perbaikan bahan ajar CAI. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis skor rata-rata. Hasil analisis rata-rata evaluator ahli media menunjukkan nilai tingkat kelayakan sebesar 3,43 (layak), ahli materi sebesar 3,60 (layak), dan audiens sebesar 3,32 (layak). Secara keseluruhan diperoleh rata-rata total sebesar 3,45 yang berada pada kategori layak. Berdasarkan analisis data kualitatif dari ahli media dan ahli materi, terdapat beberapa bagian produk yang perlu direvisi. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat bahan ajar CAI sebagai media belajar di sekolah maupun mandiri. Berdasarkan perolehan uji kelayakan dapat disimpulkan bahwa Bahan Ajar CAI (Computer Assisted Instruction) IPA Terpadu Tema Air Limbah Rumah Tangga untuk Siswa SMP/MTs Kelas VII ini layak untuk digunakan sebagai media belajar siswa.

Perencanaan bangunan gedung dua lantai (bank) / oleh Indra Lesmana

 

Pengembangan instrumen tes pilihan ganda untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa SMA pada pokok bahasan dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar / Revinda Afifatintia

 

Kata Kunci : instrumen tes pilihan ganda, miskonsepsi, dinamika rotasi dan kese-timbangan benda tegar Miskonsepsi adalah perbedaan konsepsi seseorang dengan konsepsi yang dimiliki para ahli dalam bidang tertentu yang telah diyakini kebenarannya. Mis-konsepsi dapat mengganggu pemikiran siswa baik ketika mengerjakan soal maupun ketika siswa menerima materi berikutnya. Miskonsepsi dapat disebabkan karena adanya faktor internal dari dalam diri siswa dan faktor eksternal. Alat identifikasi miskonsepsi yang selama ini dikembangkan adalah peta konsep, tes esai tertulis, wawancara, dan diskusi dalam kelas. Alat yang dikembangkan terse-but dalam proses analisisnya membutuhkan waktu lama, sehingga sebagian besar guru enggan untuk melakukan identifikasi miskonsepsi. Atas dasar kendala terse-but, maka dikembangkan alat yang dapat mengidentifikasi miskonsepsi dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam proses analisisnya berupa pengembangan instrumen tes pilihan ganda pada materi dinamika rotasi dan kesetimbangan benda tegar. Penelitian pengembangan (Research and Development) ini memanfaatkan modifikasi dari sepuluh langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Brog dan Gall. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut ada-lah sebagai berikut: (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji lapangan awal, (5) revisi produk utama. Produk akhir penelitian pengembangan ini adalah instrumen tes pilihan ganda sebagai alat identifikasi miskonsepsi. Instrumen ini dikembangkan berda-sarkan respon siswa terhadap soal uraian yang diujicobakan pada siswa. Setiap butir pilihan ganda memiliki empat pilihan jawaban yang terdiri atas satu jawaban benar dan tiga jawaban pengecoh. Keempat pilihan jawaban disusun berdasarkan jawaban siswa dalam soal uraian yang mengandung miskonsepsi. Kelayakan produk ini didasarkan pada hasil validasi oleh tim ahli (dosen dan guru SMA) dan uji coba satu kali (terbatas) pada siswa. Selain itu juga dilaku-kan analisis kelayakan menggunakan program AAFF. Hasil analisis validasi oleh validator dan program AAFF menunjukkan bahwa instrumen tes yang telah disusun sudah memenuhi kriteria layak, namun masih perlu adanya revisi berdasarkan saran, kritik dan tanggapan dari validator. Instrumen pilihan ganda yang dikembangkan mampu membedakan siswa yang mengalami miskonsepsi dan yang tidak miskonsepsi serta mampu mengelompok-kan siswa berdasarkan bentuk miskonsepsinya. Proses identifikasi dilakukan de-ngan melihat kecenderungan jawaban siswa

Keefektifan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP / Anggun Dian Fitriyah

 

Kata Kunci: keefektifan, kesadaran tanggung jawab, permainan simulasi Tanggung jawab adalah kewajiban untuk bertindak sesuai dengan norma yang berlaku secara umum terhadap segala situasi dalam hal untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara tidak merugikan, merampas atau mengorbankan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, serta kemampuan memikul segala konsekuensi dari apa yang dilakukan. Pada kenyataannya masih banyak individu yang kurang memiliki kesadaran tanggung jawab, dalam hal ini adalah siswa SMP. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab adalah permainan simulasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan permainan simulasi dalam meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP. Permainan simulasi merupakan penggambaran berbagai kejadian atau fakta permasalahan dalam kehidupan yang dituangkan dalam lembar beberan yang dilengkapi pesan-pesan bimbingan dan nantinya akan dimainkan oleh beberapa orang pemain dengan aturan permainan yang telah disepakati bersama. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre-experimental design dengan bentuk Pre-test and Post-Test One Group Design. Rancangan pelaksanaan penelitiannya adalah pertama dengan memberikan pretest, kemudian melaksanakan treatment dan yang terakhir adalah pemberian posttest. Subjek penelitian sebanyak sebelas orang siswa yang memiliki klasifikasi skor skala kesadaran tanggung jawab rendah dan sedang. Instrument yang digunakan untuk pengumpulan data adalah angket kesadaran tanggung jawab. Data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif dan analisis uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa teknik permaninan simulasi efektif untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa SMP. Kesimpulan tersebut berdasarkan perbedaan skor pretest dan posttest yang menunjukkan adanya peningkatan setelah diberikan treatment, serta juga dapat dilihat dari hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test (WSRT) yang membuktikan hipotesis penelitian diterima. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) konselor hendaknya menggunakan permainan simulasi untuk meningkatkan kesadaran tanggung jawab siswa (2) peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan kelompok kontrol dengan teknik yang berbeda sebagai pembanding dari kelompok eksperimen.

Penggunaan timbangan kodok untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok pengukuran berat bagi siswa kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan / Nur Aini

 

Kata Kunci : Alat Peraga, Timbangan Kodok, Hasil Belajar, Pengukuran Berat, Matematika. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru kelas III ditemukan bahwa hasil belajar siswa kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan tentang pengukuran berat masih rendah. Dari 12 siswa hanya 3 siswa yang mencapai standar ketuntasan minimal. Untuk memperbaiki kondisi tersebut diperlukan strategi yang tepat. Dalam penelitian ini ditetapkan strategi dengan menggunakan timbangan kodok yang telah dikenal oleh siswa sebagai alat peraga yang dikombinasikan dengan metode yang bervariatif yang bisa melibatkan siswa secara aktif. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : (1) Mendeskripsikan penggunaan timbangan kodok untuk meningkatkan hasil belajar Matematika materi pokok pengukuran berat bagi siswa kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika siswa khususnya materi pokok pengukuran berat dengan penggunaan timbangan kodok di kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan, (3) Mendeskripsikan tingkat aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika materi pokok pengukuran berat dengan penggunaan timbangan kodok untuk meningkatkan hasil belajar di kelas III MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif. Penelitian dilaksanakan di MI Al-Hamidiyah Gondangwetan Pasuruan dengan subyek penelitian sebanyak 12 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara, pedoman observasi dan lembar soal tes formatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan timbangan kodok dengan cara melakukan praktik penimbangan secara berkelompok untuk membandingkan berat benda-benda yang sejenis, membandingkan berat bendpa-benda yang tidak sejenis, serta mencari dan mempelajari hubungan antar satuan berat dan bermain jual beli dapat meningkatkan hasil belajar pengukuran berat. Pada pra tindakan nilai rata-rata 40,0 meningkat menjadi 81,25 pada akhir I dan pada siklus II meningkat menjadi 89,58. Penggunaan timbangan kodok dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar. Pada kahir siklus I tingkat aktivitas siswa mencapai 84,9 % dan meningkat menjadi 90,1 % pada akhir siklus II dengan criteria sangat aktif. Selanjutnya peneliti menyarankan bagi para guru sebaiknya menggunakan timbangan kodok dalam pembelajaran pengukuran agar siswa lebih antusias dalam belajar sehingga lebih mudah menerima materi yang diajarkan. Sedangkan bagi para peneliti lanjutan disarankan untuk membuat rancangan penelitian yang lebih komprehensif karena rancangan penelitian ini masih sangat sederhana.

Hubungan pemberian reward terhadap minat belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran PKn SDN Sutojayan 02 Kabupaten Blitar / Okyana Dewi Gendari

 

ABSTRAK Gendari, OkyanaDewi. 2016. Hubungan Pemberian Reward terhadapMinatBelajarSiswaKelas IV pada Mata PelajaranPKn SDN Sutojayan 02 KabupatenBlitar. Skripsi. S1 Pendidikan Guru SekolahDasar. Jurusan KependidikanSekolahDasardanPrasekolah. Fakultas Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Widayati, M.H, (II) Drs. SuhelMadyono, M.Pd Kata Kunci: Pemberianreward, MinatBelajarSiswa, PKn PendidikanKewarganegaraan (PKn) merupakansalahsatupelajaran yang pentingdanwajibuntukdipelajari. Akan tetapimeskipunpelajaranPKnmerupakansuatupelajaran yang pentingdanwajib, masihbanyaksiswa yang malasuntukmempelajarinya. Di sinilahtugas guru untukmencaricara agar siswatidakmalasuntukmempelajariPkn. Untukmeningkatkan (Y) minatbelajarsiswaterhadappelajaranPKndapatdiwujudkandengansalahsatucarayaitudenganpemberianreward (X). Tujuan dari penelitian ini untuk mengungkap: signifikasi hubungan X dengan Y. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Penelitian ini dilakukan pada SDN Sutojayan 02 di KabupatenBlitardenganjumlahpopulasi 60 siswa. Dengan menggunakan teknik Cluster random samplingdiperoleh sampel sejumlah 11siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini baik variabel pemberianreward (X) dan minatbelajarsiswa (Y) menggunakan instrumen penelitian berupa angket tertutup. Dari hasil penelitian dianalisis menggunakan analisi regresi ganda. Hasil Penelitian mengungkapkanbahwaX dan Y memiliki hubungan yang positif dan signifikan (rxy = 0,909, rtabel=0,602) dengan nilai t sebesar 6,651 dan memberikan kontribusi sebesar 83% sedangkan 17% lainnya dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pemebrianreward (X) dengan minatbelajarsiswa (Y) dengan tingkat kekuatan hubungan sangatkuat

Profil pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW di Dusun Ngrobyong Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Yuwanita Ariyanti

 

Kata Kunci: pola asuh, pendidikan, anak TKI-TKW Pola asuh merupakan usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa. Pola asuh yang diterapkan pada anak tidak hanya diterapkan oleh orang tua kandung melainkan juga diterapkan oleh orang tua wali, terutama terhadap anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka ke luar negeri sebagai TKW maupun sebagai TKI. Sejauh ini belum terlalu banyak fakta yang diungkap tentang pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW sehingga perlu adanya pembahasan yang menggambarkan tentang profil pola asuh anak TKI-TKW.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pola asuh dan pendidikan anak TKI-TKW di Dusun Ngrobyong, Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Data yang dilaporkan berupa paparan yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa pedoman wawancara maupun peneliti sendiri. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Analisis data dimulai dari reduksi data, kategorisasi, penyajian data (display), kemudian diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua wali anak TKI-TKW tidak bersifat mutlak menggunakan pola asuh otoriter, demokratis, maupun, permisif. Pada dasarnya pola asuh tersebut lebih bersifat campuran dengan dominasi indikator pola asuh tertentu. Hal ini ditinjau dari perlakuan wali terhadap anak meliputi pengelolaan keuangan, pemenuhan pendidikan, dan pemenuhan hak anak dalam berkomunikasi dengan orang tua. Faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua, meliputi pengalaman orang tua dalam memperlakukan anak sebagai bagian dari masyarakat. Dalam pelaksanaannya pola asuh tersebut melibatkan orang-orang terdekat maupun masyarakat sekitar tempat tinggal. Orang tua wali cenderung lebih banyak berkolaborasi dengan tetangga dekat dibandingkan dengan orang tua di luar negeri akibat dari keterbatasan komunikasi yang dapat dilakukan, mengingat jarak dan waktu yang tidak mendukung. Sehingga sebagian anak TKI-TKW cenderung lebih dekat dengan orang tua wali maupun dengan salah satu dari orang tua mereka.

Pengembangan aplikasi WEB sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) bagi anak usia Taman Kanak-kanak (TK) di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang) / Kusdarmadi

 

Kata Kunci : website, multiple intelligences, pengembangan Sebagian besar orang tua dan guru pada tingkat pendidikan anak usia dini atau TK berpandangan bahwa anak yang cerdas adalah yang bisa berhitung logika paling cepat dan bertutur bahasa paling lancar. Setiap anak pasti memiliki potensi kecerdasan lain disamping logika dan bahasa yang patut mendapatkan apresiasi serta stimulasi hingga berkembang dengan baik. Permasalahannya saat ini belum ada media atau alat bantu yang bisa diakses secara cepat dan memberikan kontribusi informasi yang akurat terhadap kecerdasan anak usia TK. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media website yang berfungsi sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) bagi anak usia TK berdasarkan teori kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Dr. Howard Gardner (1983). Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (research and development) Borg and Gall dengan langkah-langkah sebagai berikut:(1) analisis kebutuhan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) uji coba perseorangan, (5) revisi, (6) uji coba kelompok kecil, (7) revisi, (8) uji coba lapangan, (9) revisi, (10) penyebaran dan pelaporan. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan instrumen berbentuk angket ahli media dan ahli materi serta siswa. Teknik analisis menggunakan analisis data angket dan analisis data secara keseluruhan yang dihitung menggunakan rumus statistik. Berdasarkan hasil uji coba pada ahli media melalui hasil angket diperoleh persentase 96.25% yang berarti media layak digunakan dan dari ahli materi menunjukkan persentase 88.75% berarti materi dalam media website ini layak dijadikan sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) anak. Sedangkan uji coba lapangan pada kelompok kecil dengan subyek 3 siswa TK mendapat persentase 86.45% yang berarti layak dan uji coba lapangan pada kelompok besar 25 siswa TK mendapatkan persentase 94.5% yang berarti layak untuk diterapkan di TK sebagai alat bantu menentukan kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

Peningkatan pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Mergosono 2 Malang melalui penerapan problem-based learning / Wiwied Endrayeni

 

Kata-kata kunci : Pembelajaran, Model Problem-Based Learning, IPA Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pada umumnya guru IPA terpaku pada metode ceramah, Hasil observasi menyatakan dengan metode ceramah aktivitas siswa cenderung pasif dan hasil belajar siswa rendah. Problem-Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model Problem-Based Learning pada pelajaran IPA di kelas III SDN Mergosono 2, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran, (3) hasil belajar siswa dengan diterapkannya model Problem-Based Learning pada mata pelajaran IPA. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kurt Lewin dengan tahapan perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Mergosono 2 dengan jumlah siswa 33, laki-laki sebanyak 15 siswa dan perempuan sebanyak 18 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning dapat dilaksanakan sesuai dengan tahapan-tahapannya yaitu (1) mengorientasi siswa pada masalah, (2) mengarahkan siswa untuk belajar, (3) membimbing siswa menemukan penjelasan dan pemecahan masalah, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung pada siklus I sebesar 74,5, meningkat pada siklus 2 menjadi 87. Hasil belajar pada siklus I mempunyai rata-rata kelas sebesar 72 meningkat pada siklus II menjadi 87. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Problem-Based Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Jika peneliti lain ingin menggunakan model Problem-Based Learning dalam penelitiannya disarankan agar memperhatikan pengorganisasian siswa. Selain itu materi pokok yang digunakan juga perlu diperhatikan supaya pembelajaran dapat lebih dikemban

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang melalui model Attention Relevance Confidance Satisfaction (ARCS) / Riyani

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, SD, Model ARCS Model ARCS merupakan model pembelajaran yang menitik beratkan pengelolaan dan peningkatan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada saat pembelajaran IPA di kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru, pembelajaran kurang bervariasi, aktivitas siswa terlihat kurang aktif dan banyak yang mengantuk. Dari nilai siswa pada materi menggolongkan hewan berdasarkan makanannya menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 48,88 dengan ketuntasan kelas 13%, sedangkan KKM yang ditentukan adalah 70.00 untuk hasil belajar dan 75% untuk ketuntasan kelas. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan upaya perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran ARCS. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan (1) penerapan model ARCS untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) aktivitas siswa selama pembelajaran dengan model ARCS, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan model ARCS. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru mata pelajaran IPA sebagai pengamat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran ARCS pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Bandungrejosari I Kota Malang dengan standar kompetensi “Menggolongkan hewan berdasarkan jenis makanannya” dapat dilaksanakan dengan baik sesuai rencana. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam menerapkan model ARCS pada siklus I yaitu 75% dan meningkat pada siklus II menjadi 92,5%. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 10,80% menjadi 12,71% pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 62,82 dengan ketuntasan 46% pada siklus I menjadi rata-rata 70,64 dengan ketuntasan kelas mencapai 92% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam menerapkan model ARCS ini hendaknya guru mempersiapkan rencana pembelajaran yang matang, Pembelajaran hendaknya terpusat pada siswa, guru memberikan penghargaan berupa hadiah kecil pada siswa yang aktif dalam pembelajaran.

Electric brooder untuk anak ayam ras pedaging pada peternakan Laisa Poultry Shop / Shellyna Yuri Swastika

 

Kata kunci:Electric brooder , ayam ras pedaging, peternakan. Bibit ayam ras pedaging (Kuri) tidak dapat menstabilkan suhu tubuhnya sendiri. Untuk mendapatkan suhu ideal, kuri harus dipelihara di dalam brooding atau eraman.Brooder merupakan penghangat yang menghasilkan suhu ideal sesuai dengan kebutuhan kuri pada periode brooding. Saat ini jenis brooder yang sering digunakan adalah gas brooder berbahan bakar gas LPG. namun kurang efisien karena gas LPG 3kg hanya bertahan 8jam. Sehingga dibuatlah electric brooder dengan tujuan: (1) mengetahui suhu yang dibutuhkan oleh bibit ayam ras pedaging (kuri); (2) mengetahui komponen-komponen eraman (brooder ) yang digunakan untuk menjaga suhu tubuh kuri; (3) merancang eraman yang menghasilkan suhu yang dibutuhkan kuri; (4) membuat eraman yang menghasilkan suhu yang dibutuhkan kuri; (5) menghasilkan eraman yang telah teruji dapat menghasilkan suhu sesuai kebutuhan kuri. Metode perancangan electric brooder adalah: (1) perancangan sistem; (2) pengujian sistem dan hasil. Proses perancangan dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen yang dibutuhkan dalam membangun sebuah electric brooder . Dan proses pengujian dibutuhkan untuk mengetahui kesalahan, kekurangan serta hasil dari perancangan brooder . Pada bagian pengujian, diketahui bahwa brooder dapat menghangatkan 100ekor kuri pada usia 1-3hari dengan pemberian pembatas di sekitar kuri. Area yang diberi pembatas adalah seluas 1x1,5m2 dengan setpoint suhu 320 C-350 C. Ketika usia kuri mencapai 4hari maka pembatas dapat dibuka, dan kapasitas brooder berkurang menjadi 75ekor. Pada usia 14hari dengan setpoint suhu maksimal 330 C, brooder dapat menghangatkan 100-200ekor kuri. Kesimpulan yang didapatkan dari proses perancangan hingga pengujian electric brooder adalah electric brooder mampu menghangatkan kuri pada usia dan jumlah tertentu. Dengan menyesuaikan kondisi alam, kandang serta luas area pemanasan. Kelebihan electric brooder dibandingkan dengan brooder konvensional adalah panas yang dihasilkan lebih standar, yaitu tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Electric brooder dapat diatur setpointnya sesuai dengan kebutuhan kuri. Ketika suhu terlalu tinggi maupun terlalu rendah, brooder akan secara otomatis mati dan menyala kembali sesuai dengan kebutuhan.

Pengaruh modernitas individu terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMK Ardjuna I Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Ervin Mutia Hanifah

 

Kata kunci: Modernitas Individu, Prestasi Belajar Pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar. Pada saat proses belajar mengajar di sekolah berlangsung, setiap siswa tentu berharap mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang dilakukan. Hasil dari kegiatan belajar mengajar ini kemudian disebut dengan prestasi belajar. Prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam nilai rapor yang diberikan pada akhir semester. Dari prestasi belajar tersebut dapat dilihat tingkat penguasaan siswa atas materi-materi pembelajaran yang diberikan. Materi pembelajaran dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari yang diajarkan oleh guru di sekolah maupun dari sumber-sumber lain misalnya dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang semakin canggih di jaman modern ini. Pada jaman yang semakin modern siswa diharapkan dapat bersikap, berfikir dan bertindak sesuai tuntutan modernitas serta siap dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang semakin maju. Siswa modern hendaknya aktif menambah pengetahuan dari berbagai sumber dengan memanfaatkan teknologi yang pada akhirnya akan berpengaruh pada peningkatan prestasi belajarnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang bertujuan untuk mencari pengaruh variabel gaya belajar dan modernitas individu terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMK Ardjuna 1 Malang. Metode pengumpulan data adalah metode kuesioner (angket) dan dokumentasi. Penelitian ini merupakan penelitian populasi dengan subyek penelitian siswa kelas II SMK Ardjuna 1 Malang yang berjumlah 66 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernitas individu berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas II SMK Ardjuna 1 Malang. Hal ini dapat diartikan semakin tinggi tingkat modernitas inidividu dalam diri responden, maka responden tersebut akan dapat bersikap, berfikir dan bertindak sesuai tuntutan jaman modern serta siap dalam menghadapi masyarakat yang semakin maju. Siswa modern aktif menambah pengetahuan dari berbagai sumber dengan memanfaatkan teknologi yang pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan prestasi belajarnya. Saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan meneliti pengaruh modernitas individu terhadap prestasi belajar pada siswa dengan satuan pendidikan yang berbeda-beda sehingga didapat hasil yang beragam. Selain itu dapat juga ditambah dengan variabel penelitian yang lain.

A case study on the teaching of English at SMUN I Malang and SMUK Frateran Malang / by Yuliana Tri Nirmayanti

 

Analisis perubahan penghitungan PPH pasal 21 atas penghasilan dokter setelah penghitungan kembali PPH terutang / Faiz Abdillah

 

Kata Kunci: Perubahan Penghitungan PPh Pasal 21, Penghitungan Kembali PPh Terutang. Sesuai dengan ketentuan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia, terdapat dua tahapan kewajiban perpajakan yang harus dilakukan oleh wajib pajak. Salah satu dari tahapan tersebut adalah pemotongan pajak dalam masa tahun berjalan yang dilakukan oleh pemberi kerja. Pelunasan pajak pada masa tahun berjalan dimaksudkan agar wajib pajak tidak dibebani PPh yang kurang dibayar terlampau besar jumlahnya pada saat dilakukan penghitungan kembali PPh terutang pada akhir tahun pajak. Di samping itu juga dapat dihindari terjadinya pajak yang lebih dibayar. Untuk meringankan beban wajib pajak, penghasilan yang diterima oleh wajib pajak dipotong/dipungut oleh pemberi kerja setiap bulannya. Sejak berlaku PER-31/pj/2009 yang diperbaharui dengan PER-57/pj/2009, tatacara pemotongan PPh Pasal 21 menurut PER-15/pj/2006 telah ditinggalkan. Sebelumnya pada PER-15/pj/2006 untuk menentukan jumlah pajak yang harus dipotong, pemberi kerja akan menghitung sebesar 15% dari 50% jumlah penghasilan bruto wajib pajak. Kini berdasarkan PER-57/pj/2009, pemberi kerja melakukan pemotongan PPh Pasal 21 sebesar jumlah kumulatif dari 50% penghasilan bruto lalu dikalikan sesuai dengan lapisan tarif pajak menurut UU-PPh Pasal 17 ayat (1). Agar dapat dicapai tujuan penelitian secara maksimal maka dilakukan pengkajian atas ketentuan perpajakan berikut aturan pelaksanaannya dan undang-undang yang berkaitan dengan pemotongan PPh Pasal 21. Penulis berupaya memahami ketentuan perpajakan sebelumnya sampai dengan perubahannya yang terbaru. Dari tahapan ini kemudian dibandingkan kesesuaian kedua hasil penghitungan kembali PPh terutang baik menggunakan kredit pajak PER-15/pj/2006 maupun PER-57/pj/2009 terhadap UU-PPh Pasal 20 ayat (1) yang merupakan landasan dari peraturan pemotongan pajak penghasilan. Berdasarkan analisis langsung di KPP Pratama Malang Selatan, ditemukan kecenderungan terjadinya pajak lebih bayar atas penghasilan tenaga ahli yaitu dokter. Pemotongan menurut PER-57/pj/2009 cenderung mengakibatkan pajak lebih bayar menjadi semakin besar daripada pemotongan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit menurut PER-15/pj/2006. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan maksud dan tujuan UU-PPh pasal 20 ayat (1). Dari hasil penelitian diatas, penulis menyarankan agar pemerintah melakukan revisi atau pengkajian ulang atas Peraturan Dirjen Pajak PER-57/PJ/2009 di kemudian hari sehingga tidak lagi bertentangan dengan UU-PPh Pasal 20 ayat(1)

Penerapan strategi inquiry untuk membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus kelas V SDN Percobaan I Malang / Mohammad Husnan

 

Tesis tidak dipublikasikan. Program Studi Pendidikan Matematika SD, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D, dan (II) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata Kunci: Luas Permukaan Balok dan Kubus, Strategi Inquiry, Membangun Pemahaman Pelajaran geometri mempunyai peranan yang penting dalam bidang matematika dan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran tersebut diberikan mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Sesuai dengan perkembangan kognitif anak SD yang berada pada tahap operasi konkret maka diperlukan alat peraga yang tepat untuk membantu membangun pemahaman siswa dalam pembelajaran geometri. Disamping penggunaan alat peraga siswa diharapkan aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran di kelas. Salah satu strategi untuk mengaktifkan siswa adalah dengan strategi inquiry. Strategi inquiry adalah suatu strategi yang menekankan pada proses mencari dan menemukan. Guru sebagai fasilitator berperan dalam memberikan sejumlah pertanyaan-pertanyaan kepada siswa sehingga siswa merasa terpancing untuk memahaminya. Ada enam tahap dalam strategi inquiry, yaitu: orientasi, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan membuat kesimpulan. Dengan strategi inquiry ini siswa kelas V SDN Percobaan I Malang tahun pelajaran 2010/2011 mampu membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus. Penelitian ini merupakan tindakan partisipan dengan pendekatan kualitatif melalui rancangan penelitian tindakan kelas ini siswa memahami secara prosedural dan memahami secara konseptual masalah yang berkaitan dengan luas permukaan balok dan luas permukaan kubus. Disini soal dibuat bervariasi yang dimulai dengan bantuan benda konkret, gambar , dan soal cerita dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan perencanaan pembelajaran untuk membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus, (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran untuk membangun pemahaman konsep menghitung luas permukaan balok dan kubus, (3) Mendeskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran untuk membangun pemahaman konsep menghitung luas permukaan balok dan kubus siswa kelas V SDN Percobaan I Malang. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dari hasil tes akhir pada tindakan I, siswa tuntas dalam belajar adalah 87,50%. Persentase aktivitas belajar siswa pada tindakan I adalah 93,50%. Pada Tindakan II, hasil tes akhir tindakan siswa yang tuntas belajar adalah 92.50%. Persentase aktivitas belajar siswa pada tindakan II 94,44%. Dengan demikian diperoleh bahwa strategi inquiry dapat membangun pemahaman luas permukaan balok dan kubus siswa kelas V SDN Percobaan I Malang.

Mekanisme penanganan klaim meninggal dunia pada semua produk asuransi di AJB Bumiputera 1912 Cabang Kayutangan Malang / Ananda Hakim Baihaqi

 

Kata Kunci: Mekanisme, PenangananKlaimMeninggalDunia, Asuransi Salah satujenisasuransi yang dikenalluassekaranginiadalahasuransijiwa.Pandanganumummasyarakatmengenaiasuransidanmanfaatnyaternyatamemangbelumdikenalluassepertihalnya bank ataulembagakeuanganlainnya.Disampingmasihadanyakesanbahwamenjadinasabahasuransihanyamenambahbebandancitra miring masyarakatterhadapasuransiterutamadalamkaitannyadenganprosedurklaim yang berbelit-belit. DalamPenulisanTugasAkhirpenulisbertujuanuntukmengetahuiapakahMekanismepenangananklaimmeninggaldunia yang dilakukan AJB Bumiputera1912 cabangKayutangan Malang telahberjalanefektif, hambatan-hambatan yang munculdalam proses penyelesaianklaimasuransijiwapada AJB Bumiputera 1912 cabangKayutangan Malang danupaya-upaya yang dilakukanolehpihak AJB BumiputeracabangKayutangan Malanguntukmengatasihambatan-hambatantersebut. Data yang digunakandalampenulisaniniadalahstudipustakadanstudilapangan, yang diperolehdenganmengumpulkandanmempelajarireferensi yang berkaitandenganmasalah yang dibahas. Berdasarkanhasilpengamatandananalisis data yang diperolehditemukanbahwasecaraumumAJB Bumiputera 1912 cabangKayutangan Malang telahmelaksanakanpenangananklaimsecarabaik. Akan tetapikecenderunganterjadinya proses yang kurangmaksimaldalampelaksanaanklaimmeninggalduniamasihditemukan. Terjadiketerlambatanpembayaranklaimkepadakliendalamsuatukasus yang membuatklienmerasadirugikan.Hal initentusajatidaksesuaidenganmaksuddantujuandariPasal 27 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor:422/kmk.06/2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang menerangkanbahwajangkawaktupenyelesaianklaimtidaklebihdari 30 hariterhitungsejaktanggalpenerimaanpengajuanklaim. Pentingnyapembenahan yang harusdilakukanperusahaanasuransi (AJB Bumiputera 1912) atasmekanismepenangananklaimmeninggaldunia di kemudianhari

Studi penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling melalui modul di SMK Negeri 2 Malang / Siwi Wahyuni

 

Kata Kunci: Bimbingan dan konseling, layanan bimbingan, media, modul Modul merupakan salah satu media bimbingan dan konseling. Di antara sekolah-sekolah yang menggunakan modul sebagai media layanan bimbingan dan konseling, salah satunya adalah SMK Negeri 2 Malang. Bahkan SMK Negeri 2 Malang merupakan sekolah yang dinilai berhasil menggunakan modul dalam waktu yang relatif lama, sehingga menjadi contoh bagi sekolah-sekolah yang lain. Demikian pula dengan modul yang digunakan dijadikan sebagai contoh bagi SMK di Kota Malang. Terkait dengan hal itu, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui deskripsi modul, makna modul bagi konselor dan siswa, penyelenggaraan layanan bimbingan melalui modul, serta hasil layanan bimbingan melalui modul di SMK Negeri 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian studi kasus. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 2 Malang yang berlokasi di jalan Veteran No. 17 Malang. Data penelitian diperoleh dari siswa, konselor serta dokumen BK. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Untuk mengetahui keabsahan data, peneliti melakukan perpanjangan keikutsertaan di lapangan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi data. Penelitian dilakukan secara sistematis meliputi tahap pra-penelitian, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data. Analisis data meliputi kegiatan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul BK di SMK Negeri 2 Malang adalah Modul Bina Karir Bimbingan dan Konseling. Modul tersebut dimaknai oleh konselor dan siswa sebagai media layanan informasi, pedoman/panduan, instrumen penilaian, sumber informasi, bahan belajar mandiri, dan sebagai buku pelengkap. Media modul kurang diminati oleh siswa, namun media film dan video motivasi sangat diminati oleh siswa. Layanan bimbingan dan konseling di SMK Negeri 2 Malang menggunakan sistem pengajaran konvensional yang menggunakan metode ceramah untuk menyajikan materi dalam modul. Ada perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik selama pelaksanaan layanan bimbingan melalui Modul Bina Karir Bimbingan dan Konseling, namun perubahan tersebut juga karena intervensi lingkungan di sekitar siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian, disarankan kepada konselor SMK Negeri 2 Malang untuk memperbanyak layanan bimbingan melalui media yang ii disukai siswa, yaitu film dan video motivasi. Namun jika konselor tetap mempertahankan modul, maka seyogyanya materi yang disajikan dalam modul sesuai dengan kebutuhan siswa serta memungkinkan siswa menjadi pebelajar yang aktif sehingga tidak hanya duduk menyimak saja.

Perbandingan kurikulum tahun 1994 Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa dan kurikulum tahun 1994 MA Keagamaan mata pelajaran bahasa Arab / oleh Mustika Nur Mutmainah

 

Bahasa arab merupakan mata pelajaran yang memberi kekhasan bagi Madrasah Aliyah (MA), sekolah yang sederajat dengan SMU dan berciri nkhas Agama Islam. Terdapat dua jenis program yang di selenggarakan oleh MA, yaitu progaram kelas khusus, salah satunya program bahasa (MA program bahasa), dan program keagamaan (MA keagamaan).

Pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis WEB untuk mata pelajaran produktif troubleshooting dan perbaikan PC/periferal kelas X SMKN 5 Malang / Ika Wiyanti Unitaria Wida

 

Kata kunci: pengembangan media pembelajaran, media pembelajaran interaktif, web, mata pelajaran produktif, troubleshooting dan perbaikan PC/periferal. Pendidikan kejuruan, sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 mengenai tujuan Pendidikan Nasional dengan penjelasan pasal 15, merupakan pendidikan menengah yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, sehingga tujuan khusus dari program Teknik Komputer dan Jaringan yaitu untuk menyiapkan tenaga kerja professional dalam bidang Teknik Komputer dan Jaringan, maupun wirausahawan dalam bidang Teknik Komputer dan Jaringan. Ketidakhadiran guru pada saat praktikum seringkali menjadi kendala tersendiri bagi siswa, sehingga seringkali siswa harus melakukan praktikum secara mandiri dengan berbantuan modul atau handout yang telah diberikan oleh guru, atau bersifat trial and error. Dampak dari hal ini adalah banyaknya jumlah kerusakan PC yang digunakan untuk praktikum, serta kerugian materiil oleh pihak sekolah. Media pembelajaran interaktif berbasis web dipilih sebagai alternatif untuk menjembatani permasalahan tersebut karena sifatnya sebagai media yang dapat mengatasi jarak dan waktu, serta dapat digunakan oleh siswa sebagai bahan pembelajaran agar dapat lebih mendalami materi troubleshooting dan perbaikan PC/periferal, sebelum melakukan praktikum secara riil. Media pembelajaran interaktif berbasis web diharapkan dapat mengurangi cost atau biaya kerusakan akibat trial and error pada saat praktikum. Troubleshooting dan perbaikan PC/periferal merupakan gabungan dari 3 standar kompetensi pada mata pelajaran produktif program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan, yaitu 1) mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC dan periferal; 2) melakukan perbaikan dan/atau setting ulang sistem PC; dan 3) melakukan perbaikan periferal, yang ditujukan bagi siswa kelas X semester II program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. Desain pengembangan media ini menggunakan model pengembangan Arif S. Sadiman dengan subjek uji coba adalah siswa Teknik Komputer dan Jaringan SMKN 5 Malang. Jenis data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari ahli media, ahli materi, dan siswa terkait dengan kualitas media pembelajaran. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari skor hasil belajar ii siswa (pre-test dan post-test) sebelum dan setelah menggunakan media pembelajaran berbasis web yang mengacu pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang digunakan oleh SMKN 5 Malang, yaitu sebesar 7,78. Hasil dari validasi media pembelajaran interaktif berbasis web ini adalah: 1) pada validasi ahli media diperoleh hasil 97%, sehingga media termasuk dalam kriteria valid 2) pada validasi ahli materi diperoleh hasil 81%, sehingga media termasuk dalam kriteria valid 3) pada validasi kelompok kecil dan lapangan, diperoleh hasil 88% dan 85%, sehingga media termasuk dalam kriteria valid 4) pada hasil pre-test dan post-test diperoleh peningkatan sebesar 22% sehingga dapat disimpulkan bahwa media yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran.

Implementasi strategi produk pada divisi fresh Department Bakery di Giant Hypermarket Gajayana Malang / Diandra Nur Devianty

 

Kata kunci : strategi produk Seiring munculnya pusat-pusat perbelanjaan seperti minimarket, supermarket, swalayan, ,all, plaza, Town Square dan sebagainya diiringi dengan persaingan yang semakin ketat. Tingkat persaingan usaha yang ketat ini menuntut para pelaku bisnis untuk lebih aktif dan inovatif dalam menerapkan strategi pemasarannya. Strategi produk yang tepat akan menempatkan perusahaan dalam posisi persaingan yang lebih unggul dari para pesaingnya. Hal ini dapat dilihat pada Giant Hypermarket Gajayana Malang yang melaksanakan berbagai strategi produk untuk mendapatkan kepuasan dari konsumennya dan memeproleh laba. Subyek yang dipergunakan sebagai sumber data penelitian adalah Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang. Tujuan penelitian yang saya lakukan pada Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang yaitu ” (1)Menjelaskan produk apa saja yang ada di Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery, (2) Menjelaskan strategi produk yang dilaksanakan pada Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery, (3) Mengetahui permasalahan dan pemecahan strategi produk yang dilaksanakan oleh Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery”. Strategi produk pada Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang ditujukan untuk menetapkan cara yang tepat memuaskan konsumen dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang melalui peningkatan penjualan dan peningkatan pasar. Dalam hal ini kepuasan pelanggan terletak atau berfokus pada kualitas maupun kuantitas produk yang diberikan. Strategi produk yang efektif dilakukan oleh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang yaitu bagaimana menangani produk yang akan expired atau bisa disebut dengan strategi blanded dimana produk yang besoknya expired diblanded menjadi beli satu gratis satu, strategi pengadaan produk dimana ada tiga cara yang diterapkan, diantaranya konsinyasi, beli putus dan produk sendiri, selain itu strategi displayed produk dimana berkaitan dengan tata letak produk-produk untuk menarik konsumen yang datang yaitu dengan metode FIFO (First In First Off ) dan Show Moving. Strategi-strategi tersebut di atas saling terkait dalam upaya meningkatkan penjualan yang berorientasi terhadap keuntungan. Masalah-masalah yang dihadapi pada Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan strategi produk. Adapun beberapa masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut : (1) Kondisi produk (roti dan kue) banyak yang rusak atau cacat pada saat penyimpanan, (2) Luas cold storage dan chiller Departemen Bakery kurang karena menjadi satu dengan Departemen RTE (Ready To Eat), (3) Adanya keterlambatan dalam pengiriman produk dan bahan baku dari supplier, (4) Anggapan yang melekat di benak konsumen bahwa produk roti dan kue yang ada pada Departemen Bakery Giant Gajayana Malang memiliki harga yang lebih mahal daripada harga jual di pusat perbelanjaan lainnya, (5) Divisi Fresh Departemen Bakery Giant Hypermarket Gajayana Malang masih menjual produk broken stock yang masih layak makan tetapi sudah mendekati tanggal kadaluarsa (expired), (6) Kurangnya ketelitian dalam pembuatan produk roti dan kue akibatnya mengalami gagal produksi sehingga produk gagal tersebut dibuang begitu saja, (7) Karyawan (pembuat roti dan kue) Departemen Bakery kurang mengapresiasikan kreativitasnya dalam menciptakan produk yang lebih menarik (monoton). Setiap produk akan mengalami tingkat kejenuhan dimana stok produk masih cukup banyak hingga masa kadaluarsa (expired) yang mengakibatkan penurunan penjualan. Untuk menghadapi hal tersebut, Departemen Bakery Giant Gajayana Malang melakukan strategi khusus agar kemungkinan tersebut tidak terjadi secara berulang. Strategi khusus yang efektif dilakukan oleh Departemen Bakery Giant Gajayana Malang adalah strategi blanded dimana produk yang besoknya akan kadaluarsa (expired) diblanded menjadi “beli satu gratis satu”. Pemblandedan hanya berlaku pada produk bermerek “GIANT” dan produksi Departemen Bakery sendiri. Langkah yang dilakukan apabila produk yang diblanded tidak habis adalah mencatat produk yang tersisa (sudah kadaluarsa) biasa disebut dengan BS (Broken Stock). Setelah di BS maka produk tersebut dibuang atau dihancurkan kedalam tempat pembuangan. Strategi ini dimaksudkan untuk meminimumkan broken stock karena apabila catatan jumlah produk broken stock banyak menunjukkan bahwa terjadi penurunan penjualan. Dengan melakukan strategi blanded secara efektif, resiko kerugian dapat diminimalisir. Selain itu Departemen Bakery menyeleksi dan merekrut pegawai yang tanggung jawab, cekatan, cepat dan sigap sehingga dapat menangani kerusakan. Sehingga apabila ada keluhan dari konsumen mengenai kondisi produk maka pegawai/karyawan dapat segera tanggap dan mampu menanganinya. Begitu juga dengan DH (Departement Head) maupun ADH (Assistent Departement Head) yang mendukung dan menunjang kreativitas dari karyawan/pegawainya untuk menciptakan produk yang berkualitas dan mampu menarik konsumen. Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan ini untuk bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh seluruh karyawan Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Bakery dalam penerapan strategi produk pada periode selanjutnya agar mendapatkan hasil yang optimal dari pelaksanaan strategi produk tersebut.

The students' ability to use cohesion devices and their achievement in writing
by Musiin

 

Upaya meningkatkan prestasi belajar fisika melalui LKS berbasis pendekatan keterampilan proses pada siswa kelas I MAN Denanyar Jombang / oleh Nur Ani Susanti

 

Belajar fisika pada hakekatnya adalah upaya terwujudnya perubahan tingkah laku manusia yang melalui proses. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar fisika, agar dapat berhasil dengan baik, guru hedaknya memberikan rangsangan kepada siswa agar mereka dapat belajar fisika secara efektif dan efesien. Untuk itu perlu media yang menantang dalm bentuk LKS yaitu berupa LKS berbasis PKP yang dapat membantu siswa pada saat melakukan eksperimen.

Efektivitas teknik rational emotive behavior dalam konseling kelompok untuk meningkatkan mental juara atlet catur junior / Sisviana Dewi Indrawati

 

Kata kunci: teknik REB, konseling kelompok, mental juara Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa gejala yang menunjukkan rendahnya mental juara pada atlet catur junior ketika menghadapi suatu turnamen. Atlet catur junior yang menghadapi turnamen seringkali merasa cemas, gugup, pesimis, dan panik. Keyakinan irasional tersebut menyebabkan kinerjanya kurang maksimal. Keyakinan irasional yang dialami oleh atlet catur junior berupa demandingness, attribution error, dan antiempirism. Oleh karena itu diberikan bantuan berupa teknik REB dalam konseling kelompok untuk mengubah keyakinan irasional atlet catur junior menjadi keyakinan rasional sehingga dapat meningkatkan mental juaranya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas teknik REB dalam konseling kelompok untuk meningkatkan mental juara atlet catur junior di Kota Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre-eksperimental dengan desain penelitian one group pre-test and post-test design. Subjek penelitian adalah atlet catur junior Kota Pasuruan yang dipilih berdasarkan hasil pengisian angket kematangan mental juara atlet catur junior yang memiliki skor mental juara rendah. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data statistik non-parametrik, menggunakan uji beda two related samples tests Wilcoxon. Uji Wilcoxon digunakan untuk mengetahui perbedaan tingkat mental juara atlet catur junior sebelum dan sesudah diberi perlakuan berupa teknik REB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik REB dalam konseling kelompok efektif untuk meningkatkan mental juara atlet catur junior yang dibuktikan dengan nilai yang diperoleh dari uji wilcoxon sebesar (Z= -2.201a) dengan nilai probabilitas (ρ=0.028 < 0.05). Berdasarkan hasil penelitian diajukan beberapa saran sebagai berikut: (1) Konselor hendaknya dapat menerapkan teknik REB bukan hanya di bidang akademik, melainkan di bidang non akademik misalnya pada kegiatan ekstrakurikuler siswa khususnya bidang olahraga, (2) Konselor diharapkan dapat memberikan bantuan kepada siswa yang berprestasi di bidang olahraga dengan menggunakan teknik REB untuk meningkatkan mental juara. (3) Peneliti selanjutnya dapat menggunakan pendekatan konseling kelompok yang lain seperti pendekatan konseling realita, konseling SFBC, konseling behavioral, dan konseling gestalt dan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian eksperimen ini dengan menggunakan desain penelitian yang lain seperti one-shot case study, posttest only control design, pretest control group design, single subject experimental design dan sebagainya.

Persepsi guru kelas I s/d VI sekolah dasar terhadap evaluasi pembelajaran berbasis kurikulum 2013 se-Gugus III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Ririn Arista

 

ABSTRAK Arista, Ririn. 2016. Persepsi Guru Kelas I s/d VI Sekolah Dasar Terhadap Evaluasi Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013 Se-Gugus III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Setyo Winarni, M.Pd (II) Dra. Sri Sugiharti, M.Pd Kata Kunci: persepsi guru, evaluasi pembelajaran , kurikulum 2013 Kurikulum 2013 merupakan Kurikulum yang sedang berlangsung sejak 2013. Pembelajaran yang diterapkan pada Kuikulum 2013 yaitu pembelajaran tematik dan pada penilaiannya menggunakan penilaian autentik. Evaluasi pembelajaran secara autentik baru berjalan selama 3 tahun di Kota Malang. Evaluasi pembelajaran pada Kurikulum 2013 ini mencakup 3 ranah yaitu, pengetahuan, sikap dan keterampilan. Persepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran pada Kurikulum 2013 tersebut berbeda-beda. Persepsi yaitu suatu tanggapan seseorang terhadap suatu hal apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Diharapkan tanggapan para guru tersebut sesuai dengan anjuran dari Kemendikbud no. 53 tahun 2015. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada guru kelas I s/d VI Sekolah Dasar se Gugus III Kecamatan Kedungkandang Kota Malang dalam menanggapi evaluasi pembelajaran pada kurikulum 2013 hanya sebatas kebutuhan siswa. Selain itu, masih banyak guru yang tidak melakukan penilaian sesuai dengan anjuran dari Kemendikbud. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendiskripsikan suatu fenomena sebagaimana adanya pada waktu penelitian dilakukan. Instrumen penelitian ini menggunakan kuisioner dan wawancara, dengan menggunakan skala likert dalam penyusunannya. Penyusunan kuisioner menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas yang digunakan ada 2 macam, yaitu validitas konstruk dan validitas isi yang dilanjut ujicoba lapangan. Uji coba lapangan ini dilakukan pada bulan Februari 2016, dan penelitian sebenarnya dilakukan pada bulan Maret 2016 Penelitian ini diterapkan untuk mengetahui persepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran pada aspek pengetahuan, sikap, keterampilan dan persepsi pada penilaian autentik. Berdasarkan hasil dari kuisioner yang telah disebar dan melakukan wawancara, bahwa persepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran pada aspek pengetahuan mencapai 78,6%, untuk aspek sikap mencapai 78,36%, untuk aspek keterampilan 78,02%, untuk penilaian autentik mencapai 76,68%. Dengan demikian persepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran Kurikulum 2013 sudah baik. Penelitian ini digunakan untuk bahan rujukan bagi guru dan dinas untuk mengevaluasi tanggapan dan pengertian guru terhadap evaluasi pembelajaran pada kurikulum 2013 yang sedang berjalan sekarang agar lebih baik lagi. Dengan demikian tanggapan para guru akan sejalan dengan anjuran dari Kemdikbud no. 53 tahun 2015.

Meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan melalui pendekatan bermain untuk siswa kelas V SDLB B di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Kecamatan Lawang Kabupaten Malang / Frans Yohanes Hidayat

 

Kata kunci: Keterampilan, Senam Lantai Guling Depan, Pendekatan Bermain. Senam lantai guling depan adalah gerakan berguling ke arah depan melalaui bagian belakang badan (tengkuk), pinggul, pinggang dan panggul bagian belakang. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas V SDLB Pembina Tingkat Nasional Lawang, diketahui bahwa dalam melakukan gerakan senam lantai guling depan dilapangan belum optimal, adalah pada saat sikap awal, gerakan berguling, dan sikap akhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki pembelajaran senam lantai yang belum optimal yang diharapkan bisa meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas V SDLB C di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang yang belum optimal dengan menggunakan pendekatan bermain Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDLB Pembina Tingkat Nasional Lawang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), dan tes. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa melalui pendekatan bermain mampu meningkatkan keterampilan siswa dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan siswa dalam melakukan senam lantai guling depan setelah diberikan tindakan dari siklus1 dan siklus 2 hasilnya, dari 3 (60%) siswa yang sudah bisa melakukan gerakan sikap awal dengan baik menjadi 5 (100%) siswa yang mampu melakukan gerakan yang benar dengan katagori baik. Dari belum ada siswa yang bisa melakukan gerakan berguling (0%) menjadi 4 (80%) siswa yang mampu melakukan gerakan benar pada gerakan dengan katagori baik. Dari belum ada siswa yang bisa melakukan sikap akhir dengan benar (0%) menjadi 4 (80%) siswa yang mampu melakukan gerakan yang benar pada sikap akhir posisi jongkok dengan katagori baik Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah dengan pemberian pendekatan bermain dapat memperbaiki pembelajaran senam lantai yang belum optimal dan dapat meningkatkan keterampilan senam lantai guling depan siswa kelas V di SLB Pembina Tingkat Nasinal Lawang.

Identifikasi konsepsi siswa kelas V terhadap sistem peredaran darah di MI Kecamatan Kraton gugus I Kabupaten Pasuruan / Ifa Mardiana

 

Kata Kunci: Konsepsi siswa kelas V, Sistem Peredaran Darah, Pasuruan Belajar yang efektif harus dimulai dari pengalaman langsung atau pengalaman kongkrit dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat indranya. Semakin banyak alat indera untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dapat dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan.Oleh karena itu penanaman konsep suatu materi pembelajaran sangat penting ditanamkan pada siswa terutama pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Tujuan penilitian ini adalah untuk mengidentifiasi konsepsi siswa kelas V Terhadap bagian-bagian jantung, jenis-jenis pembuluh darah, gangguan pada sistem peredaran darah, cara menjaga kesehatan peredaran darah, dan penyebab miskonsepsi tehadap sistem peredaran darah. Metode dalam penulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan cara , wawancara kepada siswa pemberian tes dan analisis buku sumber. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa siswa mempunyai konsepsi yang beragam tentang materi sistem peredaran darah, antara lain: jantung terletak disebelah rongga bagian kanan, alat peredaran darah manusia terdiri dari jantung dan paru-paru, dalam satu peredaran darah mengalir dua kali melalui jantung disebut peredaran darah besar dan penyakit yang yang menyerang pada pembuluh darah di otak seseorang pecah siswa menjawab orang tersebut menderita penyakit hipertensi. Konsepsi yang paling banyak keragamannya dan menurut pengertian ilmiah belum benar adalah konsepsi siswa terhadap bagian-bagian jantung dan jenis-jenis pembuluh darah. Agar siswa memiliki pengetahuan yang dimiliki siswa tidak hanya bagian per bagian tetapi merupakan pengetahuan yang utuh , maka sebaiknya yang dilakukan guru adalah mengaitkan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain yang berhubungan, agar siswa dapat memahami dengan mudah dan benar secara ilmiah mengenai konsep sebaiknya guru mampu mengembangkan media pembelajaran sendiri seperti membuat gambar sendiri pada saat pembelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Divisions (STAD) untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X Pemasaran di SMK Kosgoro 1 Lawang-Malang / Monica Wanda Alissa

 

Sejarah koperasi susu "SAE" Pujon dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pujon / Mirna Usia Dia Mitha

 

Kata kunci: sejarah, koperasi susu, kesejahteraan masyarakat. Sejarah ialah suatu ilmu pengetahuan sebagai pertumbuhan hikmah kebijaksanaan (rasionalisme) manusia (Dekker, 1993:2). Dengan kata lain sejarah adalah suatu sistem ilmu pengetahuan, yakni sebagai daya cipta manusia untuk mencapai hasrat ingin tahu serta perumusan sejumlah pendapat yang tersusun atas keseluruhan masalah. Sehubungan dengan ini tidak dapat dilepaskan sifatnya sebagai ilmu mengenai berlakunya hukum sebab dan akibat atau kausalitas. Dalam hal ini keberadaan Koperasi Susu “SAE” Pujon juga mempengaruhi masyarakat sekitar, terutama terhadap kesejahteraan. Sejauh ini sebagian besar fakta di lapangan telah menunjukkan bahwa Koperasi Susu “SAE” Pujon telah berhasil dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Pujon dengan usaha peternakan sapi perah, namun masih ada beberapa masyarakat peternak sapi perah yang belum merasakan sejahtera, hal ini karena beberapa faktor. Adapun pertimbangan yang mendorong peneliti memilih Koperasi Susu “SAE” sebagai tema penelitian yaitu peran dan posisi koperasi yang pada hakikatnya adalah bertujuan untuk mensejahterakan anggota, namun masih saja terdapat anggota yang belum sejahtera dengan keberadaan koperasi. Berangkat dari realita inilah peneliti akhirnya merasa tertarik dan berinisiatif untuk membuat dan melanjutkan penulisan sejarah koperasi tersebut dalam bentuk sebuah karya yang utuh berupa Skripsi. Dalam hal ini penelitian bertujuan untuk mencari fakor-faktor penyebab masyarakat anggota Koperasi Susu “SAE” Pujon yang masih belum sejahtera berdasarkan hasil dan fakta yang terjadi pada masyarakat Pujon. Rumusan masalah dalam penulisan Skripsi ini adalah (1) Bagaimanakah sejarah Koperasi Susu “SAE” Pujon pada periode rintisan, periode kebangkitan, dan periode pengembangan?, (2) Bagaimanakah dampak keberadaan Koperasi Susu “SAE” Pujon terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar koperasi tersebut? Tujuan penulisan Skripsi ini adalah (1) Untuk mengetahui sejarah Koperasi Susu “SAE” Pujon pada periode rintisan, periode kebangkitan, dan periode pengembangan, (2) Untuk mengetahui dampak keberadaan Koperasi Susu “SAE” Pujon terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar koperasi tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai dengan Juni 2012 di Koperasi Susu “SAE” Pujon. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian historis dan menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Koperasi Susu “SAE” Pujon dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Pujon melalui berbagai fasilitas dan bantuan dari koperasi berupa kredit sapi maupun kredit uang serta beberapa fasilitas penunjang kebutuhan sehari-hari seperti Waserda dan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit belum bisa dikatakan berhasil karena terdapat sekitar 82,54% masyarakat yang merasa belum sejahtera dengan menjadi peternak sapi perah dan anggota Koperasi Susu “SAE” Pujon karena beberapa faktor, seperti modal, jumlah kepemilikan sapi perah dan kesulitan dalam mencari maupun membeli pakan ternak. Dari berbagai temuan dalam penelitian ini, disampaikan beberapa saran, (1) Bagi Koperasi Susu “SAE” Pujon lebih memperhatikan lagi masyarakat atau anggota yang kurang mampu dengan menambahkan beberapa program bantuan sosial bagi yang kurang mampu agar setiap anggota dapat menikmati keuntungan dengan menjadi anggota Koperasi Susu “SAE” Pujon. (2) Bagi peternak sapi perah yang bermodal kecil hendaknya belajar dari peternak-peternak lain yang lebih sukses, misalnya tentang cara perawatan, makanan, dan pemerahan susu sapi. Kesadaran dari para peternak sapi perah akan pentingnya koperasi sebagai salah satu alat penunjang kelangsungan usaha peternakan sapi perah perlu ditingkatkan, sehingga akan terjalin suatu hubungan yang harmonis antara Koperasi Susu “SAE” Pujon dengan para peternak sapi perah yang menjadi anggota koperasi. (3) Bagi peternak sapi perah yang bermodal besar hendaknya bersedia untuk membantu peternak yang masih kurang mampu. (4) Penelitian ini masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan observasi lapangan karena terbatasnya waktu untuk penyelidikan sehingga diharapkan penelitian berikutnya dapat memaksimalkan dan menyempurnakan hasil penelitian. (5) Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut mengenai Koperasi Susu “SAE” Pujon. Penelitian selanjutnya difokuskan pada program-program inovasi baru yang dihasilkan oleh Koperasi Susu “SAE” Pujon seperti program Biogas.

Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dan pilihan karier siswa SMA Negeri se-Kota Malang / oleh Martanti Pamungkas

 

Pola sebaran batu kapur dengan metode geolistrik konfigurasi dipole-dipole: studi kasus Desa Segaran Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang / Dinda Larasati Inayah

 

ABSTRAK Inayah, Dinda Larasati.2015. Pola Sebaran Batu Kapur Dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-Dipole: Studi Kasus Desa Segaran Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang.Skripsi,Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang (UM).Pembimbing: (I) Daeng Achmad Suaidi, S.Si.,M.Kom., (II) Dr. Hari Wisodo, M.Si. Kata kunci : Batu kapur, Resistivitas, Konfigurasi Dipole-dipole, Res2Dinv, Malang Batu kapur memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Di beberapa daerah Indonesia terdapat pabrik yang memproduksi batu kapur dalam jumlah yang relatif besar. Batu kapur tersebar dibeberapa daerah salah satunya kabupaten Malang khususnya bagian selatan. Secara umum kegunaan batu kapur sebagai bahan baku semen, pembuat kapur tohor, pengolahan karet, bahan pemutih, dll. Penduduk desa Segaran kecamatan Gedangan kabupaten Malang beberapa diantaranya bermata pencaharian sebagai tenaga pertambangan batu kapur. Sayangnya, masyarakat setempat tidak mengetahui pola sebaran batu kapur di wilayahnya. Akibatnya, eksplorasi batu kapur dilakukan dengan cara mencari daerah-daerah singkapan. Memanfatkan metode geolistrik konfigurasi dipole-dipole diharapkan dapat diketahui pola sebaran yang lebih berpotensi untuk batuan kapur. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat lebih mengetahui keadaan geologi sekitar pertambangan dan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan daerah maupun peneliti selanjutnya. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian lapangan, dimulai dengan observasi, pengambilan data, analisis data dan pembahasan. Pengolahan data menggunakan software Res2Dinv kemudian interpretasi pola sebaran batuan kapur tiap lintasan. Jumlah lintasan untuk pengambilan data sebanyak 4 lintasan dengan spasi 10 m. Lintasan 1, lintasan 4 dan lintasan 5 terbentang sepanjang 130 m, sedangkan lintasan 2 dan lintasan 3 terbentang sepanjang 150 m. Lintasan 3 merupakan lintasan singkapan (acuan). Hasil yang diperoleh dari penelitian, untuk lintasan 1 berpotensi pada titik 70 m sampai 100 m dengan kedalaman kurang dari 15 m. Lintasan 2 berpotensi pada daerah menuju titik 150 m dengan kedalaman kurang lebih 10 m. Lintasan 3 titik 30 – 40 m merupakan daerah ditemukannya singkapan batu kapur. Lintasan 4 berpotensi pada titik 40 m sampai 80 m dengan kedalaman kurang lebih 10 m. Lintasan 5 pada titik 50 m sampai 65 m dengan kedalaman kurang lebih 30 m dimungkinkan terdapat batu kapur. Sehingga dapat diduga bahwa sebaran batuan kapur banyak ditemukan dari timur laut ke barat daya.

Pengaruh penyusunan kartu konsep dalam pengajaran inkuiri induktif terhadap prestasi belajar laju reaksi siswa kelas XI semester I SMA Negeri I Lamongan / oleh Eva Rokhmawati

 

Pengembangan media Fun Magnetic Alphabet dalam pembelajaran membaca permulaan pada anak usia 5-6 tahun di TK / Rahmatika

 

ABSTRAK Rahmatika.2016. Pengembangan Media Fun Magnetic Alphabet DalamPembelajaranMembacaPermulaanPadaAnakUsia 5-6 Tahun di TK. Skripsi, Program StudiPendidikan Guru PendidikanAnakUsia Dini, JurusanKependidikanSekolahDasardanPrasekolah, FakultasIlmuPendidikanUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. KentarBudhojo, M.Pd, (II) EnyNurAisyah, S.Pd.I, M.Pd. Kata Kunci:Pengembangan, Media Fun Magnetic Alphabet, MembacaPermulaan Media “Fun Magnetic Alphabet”merupakansalahsatu media yang digunakanuntukmembacapermulaan di TK. Hasilanalisiskebutuhan di TK Muslimat NU 14 Malang, salahsatukegiatanpengembanganbahasaadalahmembacapermulaan, kegiatanbiasanyadilakukanmenggunakantulisan-tulisan di papantulis, LK, dankartu kata yang disusun di atasmeja. Hal inimembuatanakcepatbosandantidakmemperhatikanpembelajaran. Tujuanpenelitiandanpengembanganadalahuntukmenghasilkanprototype produk media “Fun Magnetic Alphabet” yang diharapkanmenarik, mudahamandan valid digunakananakusia 5-6 tahundalammengembangkankemampuanmemacapermulaan. Model pengembangan yang digunakandalampenelitianadalah model pengembangan Borg and Gall (1983). Prosedurpenelitiandanpengembangan media “Fun Magnetic Alphabet”inimenggunkantujuhtahapan.Subyekpenelitianadalahanakusia 5-6 tahun (kelompok B) di TK Muslimat NU 14 Malang. Data penelitianiniberupa data kualitatifdankuantitatif. Pengumpulan data dilakukandenganteknikwawancara, observasi, danpengumpulankuisioner. Instrumenpengumpulan data yang digunakanadalahlembarwawancara, observasi, dankuisioner. Hasilpenelitiandanpengembanganberdasarkanhasilevaluasiahlipembelajarandanbahasasebesar 88,33%, ahli media pembelajaransebesar 78,57%, ahlipraktisipembelajaransebesar 95%, hasilujicobakelompokkecil 100%, danhasilujicobakelompokbesarsebesar 98,60%. Kesimpulanpenelitiandanpengembangan media “Fun Magnetic Alphabet”untukmengembangkankemampuanmembacapermulaananaktermasukkategorisangattinggidanlayakdigunakan (valid). Diharapkanhasilpenelitiandanpengembangan media “Fun Magnetic Alphabet”digunakansalahsatualternatif media dalampembelajaranmembacapermulaanoleh guru dandapatdigunakansebagaireferensipengembangan media bagipeneliti lain.

Pembelajaran wechselpraposition menggunakan media audiovisual di kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang / Frida Rachmawati

 

Kata Kunci : Media Pembelajaran, Media Audiovisual, Wechselpräposition Pembelajaran bahasa Jerman di SMA menuntut siswa untuk menguasai gramatika. Präposition adalah salah satu gramatika yang harus dipelajari siswa. Namun, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 8 Malang, diketahui bahwa siswa kurang menguasai materi preposisi terutama materi Wechselpräposition. Hal ini disebabkan karena media yang digunakan masih konvensional dan kurang dapat membantu siswa dalam memahami materi. Oleh karena itu, media audiovisual dapat dijadikan alternatif pembelajaran Wechselpräposition karena video ini sangat menarik dan disertai dengan gerak dan mimik dari penutur asli, sehingga memudahkan pemahaman siswa terhadap materi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran Wechselpräposition dengan menggunakan media audiovisual/video di kelas XI Bahasa SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa XI Bahasa yang berjumlah 8 orang. Instrumen dalam penelitian ini yaitu observasi, tes, dan angket. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan data yang telah terkumpul melalui observasi, angket, dan tes. Pengecekan keabsahan temuan ini juga dilakukan dengan melakukan diskusi dengan teman sejawat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa terlihat sangat antusias terhadap media video German 2 Way Prepositions (Wechselpräposition). Berdasarkan hasil pengamatan, siswa terlihat sangat termotivasi dalam belajar dan aktif dalam pembelajaran. Hasil angket menunjukkan bahwa 100% responden menyatakan bahwa media audiovisual dapat memotivasi belajar mereka. Selain itu, siswa yang semula menemui kesulitan dalam belajar, dapat mencapai nilai tertinggi setelah belajar menggunakan video ini. Nilai rata-rata kelas dapat mencapai nilai 85. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa media ini dapat dijadikan alternatif yang baik dalam pembelajaran Wechselpräposition. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan kepada guru untuk menggunakan media audiovisual ini dalam pembelajaran Wechselpräposition dengan memperhatikan teknis penayangan. Peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan berbicara.

Utilizing debate method in EFL class to improve the argumentative writing ability of the students of the English Department State University of Malang / Sueb

 

Keywords: debate, argumentative writing Writing competence requires learners' understanding of sentence construction and sentence organization into a text. Focusing in argumentative writings ability of the EFL learners, besides vocabulary mastery, there were at least three problems belonged to the the students: content, organization, and stylistic aspects. With its complexity and complicated contents among the other genres of essay writings, argumentative writing teaching and learning process needs certain method to enhance the learners' mastery to write effectively. This study utilized in-class debate as the method to facilitate the EFL learners to improve the argumentative writing ability. Employing Classroom Action Research (CAR), this study was conducted at Argumentative Writing class A-A 2011, English Department, State University of Malang. The procedure for the action research emphasized the process writing. During the debate activity, the students discussed about some controversial issues with their teammates and set into two sides, advocating their opinions and argumentations in the classroom; through this activity, they could create stronger outlines focusing the content aspect. There were some essential procedures in utilizing debate in the EFL class: (1) providing some motions to debate on the earlier meeting so the students can browse the sources, (2) dividing the class into two parties for proposition and opposition, (3) providing the teams the case-building period, (4) letting the teams debate, at the same time taking notes of debate flow on the debate organizer, (5) employing the students to create outline based on their notes after debating, and (6) allowing the students to develop the outline into draft to be revised for the on the next meeting. The instruments of this study covered the students' works portofolio, fieldnotes, and observation checklists. After the implementation of the action research in two cycles, the study showed successful result as 87.50% of the students in the class scored equal to/or more than 81 as the minimum score of the criteria of success. The improvement was identified from some aspects: content aspect (20.83%), organization (12.50%), and stylistic skill (20.28%). The other essential improvement was the students' courage to write more sophisticated and wider issues from education to social and politics. These various topics were also the indication of the the students' writing competence improvement. In teaching and learning process, it became more active as the students engaged with the other students in responding/comenting their friends' argumentations. In conclusion, through well-prepared materials and procedures, the debate method successfully improved the argumentative writing ability of the students. Finally, it was suggested for English language teachers apply the debate method for their classes. It was also recommended that students be active in utilizing the debate for their writing inside/outside the class. As debate was an instructional communicative teaching and learning approach, thus, the future researchers might be able to apply the method in other language classes in order to optimize the students' achievement.

Penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran meronce untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok A TK Al-Hidayah Jatilengger / Angga Bayu Jatmiko

 

Kata Kunci:Metodedemonstrasi, Meronce, Motorikhalusanak Keterampilanmeroncemerupakansalahsatukegiatandalampembelajaran di TK yang harusdikuasaianakusia 4-6 tahun. Keterampilaninibertujuanuntukmelatihkoordinasidankelenturanjarianak.Berdasarpengam atan yang dilakukanolehpeneliti dikelompok A TK Al-HidayahJatilenggerdari 20 anakkelompokA 13 anaktidakdapatmeronce. TujuanPenelitianiniadalahmendeskripsikanbagaimanapelaksanaanpembelaja ranmeroncedenganmenggunakanmetodeDemonstrasidanmendeskripsikanpeningkatanmo torikhalusanakdapat di tingkatkanmelaluimeronce. Penelitianinidilakukan di TK Al- HidayahJatilenggerdenganrancanganpenelitiantindakankelas (PTK).SubjekpenelitiananakkelompokAdenganjumlah 20 anak. Setiapsiklusterdiritahapperencanaan, pelaksanaan, observasidanrefleksi.Instrumenpenelitianberupalembarobservasi.Teknikanalisis data yang digunakanyaitudeskriptifkualitatif. Kemampuanmotorikhalusanakkelompok A TK Al-HidayahJatilenggerdapat di tingkatkanmelaluipenerapankegiatanmeronce.Pelaksanaankegiatanpembelajaranmeronce padaanakkelompok A TK Al- HidayahJatilenggerdilakukandenganmenggunakanmetodedemonstrasi.Adanyapeningkat aninimendukungtujuanpenelitian yang diajukanbahwapeningkatankemampuanmotorikhalusmelaluikegiatanmeroncepadaanakk elompok A TK Al-HidayahJatilengger. Penerapanmetodedemonstrasidalampembelajaranmeroncedapatmeningkatka nkemampuan motorikhalusanak. Sehinggadalampenelitiantindakankelasinidisarankanbagi guru hendaknyadalamkegiatanpembelajaranmeronce bisamenggunakanmetodedemonstrasiuntukmeningkatkankemampuanmotorikhalusanaks ehinggakegiatanpembelajaranberjalanlebihbaik.

Kajian keterampilan proses sains dan hasil belajar teori asam basa pada pembelajaran inkuiri terbimbing di kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Turen / Oktyas Shinta Mayasari

 

Kata Kunci : hasil belajar, inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains, teori asam basa Sistem pembelajaran kimia tidak hanya belajar mencari informasi saja akan tetapi belajar untuk mengungkap fakta dan fenomena melalui eksperimen. Sebagaimana seorang kimiawan belajar, diharapkan siswa mampu mengumpulkan fakta dan data dari hasil pengamatan. Ilmu kimia bukan hanya dipandang sebagai ilmu pengetahuan akan tetapi sebagai proses sains, oleh karena itu kimia diterapkan dengan bentuk keterampilan proses yang mampu melatih siswa untuk berfikir sains. Asam basa merupakan salah satu materi yang sulit dipahami dan sebagai pokok pengantar materi selanjutnya yaitu buffer, hidrolisis, kelarutan dan hasil kali kelarutan. Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih menekankan pada penguasaan konsep oleh siswa yang didasari suatu percobaan agar mampu mengembangkan kemampuan berfikirnya dari analisis data percobaan. Tujuan penelitian adalah mengkaji hubungan antara keterampilan proses sains dengan hasil belajar kognitif siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan tanggal 18 Januari sampai 6 Februari 2012 dengan tempat penelitian kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Turen. Alat untuk mengukur keterampilan proses sains yaitu lembar kerja siswa (LKS), lembar observasi, rubrik penilaian. Alat yang digunakan untuk mengukur hasil belajar berupa 20 soal tes pilihan ganda yang telah valid. Pengumpulan data dilakukan dengan tes untuk mengambil hasil kognitif siswa sedangkan lembar observasi digunakan untuk melihat hasil afektif dan psikomotor siswa. Hasil analisis data terdiri dari keterlaksanaan pembelajaran dengan persentase sebesar 100%, keterampilan proses sains persentase ketuntasan 52,5%, sedangkan hasil belajar kognitif persentase ketuntasannya sebesar 52,5%. Secara umum kelompok siswa dengan nilai rata-rata keterampilan proses sains tinggi disertai dengan rata-rata hasil belajar kognitif yang tinggi pula dan begitu pula sebaliknya. Mayoritas siswa kelompok atas memiliki hasil belajar kognitif lebih dari hasil rata-rata kognitif kelompok bawah, tetapi 19% hasil belajar kognitif siswa kelompok atas masih di bawah hasil rata-rata kognitif kelompok bawah. Sedangkan mayoritas siswa kelompok bawah memiliki hasil belajar kognitif kurang dari hasil rata-rata kelompok atas, tetapi 36,8% hasil belajar kognitif siswa kelompok bawah sudah di atas hasil rata-rata kognitif kelompok atas. Sehingga tidak semua siswa yang memiliki keterampilan proses sains tinggi memiliki hasil belajar yang tinggi pula, sebaliknya tidak semua siswa yang memiliki keterampilan proses sains rendah memiliki hasil belajar yang rendah pula.

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di Sekolah Kejuruan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional / Bayu Anggara

 

Kata Kunci: Pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling, Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah bertaraf Internasional. Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dalam program pendidikan. Program Bimbingan dan Konseling dalam rangka membantu siswa memecahkan masalahnya disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan daerah masing-masing. Pelaksanaan layanan yang diberikan memiliki kekhasan yaitu disesuaikan dengan tugas konselor sesuai jenjang pendidikan dalam jalur pendidikan formal (TK, SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA, PT). SMK Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan contoh sekolah kejuruan yang mengembangkan sekolah tersebut menuju sekolah bertaraf internasional (SBI). Dengan demikian pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di SMK RSBI juga akan memiliki karakteristik yang khas yaitu konselor yang memberikan alokasi waktu pelayanan lebih besar terhadap pelayanan perencanaan individual dan keluarga, juga pengajaran di kelas yang menggunakan dua bahasa (bilingual). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di SMK RSBI, (2) pemaknaan personil sekolah terhadap pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling, (3) pemaknaan siswa terhadap program Bimbingan dan Konseling, (4) faktor yang mempengaruhi pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di SMK RSBI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis fenomenologi; dilakukan di SMK Negeri 1 Kota Blitar dengan subjek konselor, personil sekolah dan siswa. Teknik pengumpulan data: (1) wawancara mendalam, (2) observasi, (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dideskripsikan, dimaknai, dikategorisasikan dan dibuat koneksitas antar data yang telah ditemukan. Keabsahan data diuji dengan, (1) kecukupan referensial, dan (2) triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di SMK RSBI menggunakan program dan materi pengembangan diri siswa sesuai kurikulum KTSP, menggunakan semboyan konselor sahabat siswa dan menggunakan manajemen yang telah tersertifikasi international standard organization (ISO) 9001. Personil sekolah dalam memaknai Bimbingan dan Konseling adalah membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri di sekolah dan membantu untuk merencanakan karier mereka. Siswa memaknai Bimbingan dan Konseling berbeda-beda sesuai dengan tingkatan kelas. Kelas sepuluh memaknai Bimbingan dan Konseling masih negatif misalnya menghukum, menertibkan. Kelas sebelas memaknai Bimbingan dan Konseling masih kurang akrab dengan siswa. Kelas dua belas memaknai Bimbingan dan Konseling dengan positif membantu menyelesaikan masalah siswa. Faktor yang mendukung pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling meliputi konselor yang selalu meng-update ilmunya, konselor memiliki etos kerja yang tinggi, konselor mendahulukan pekerjaan serta ii dukungan dari personil sekolah yang positif. Faktor yang menghambat pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling meliputi belum adanya fasilitas online untuk Bimbingan dan Konseling, ruang bimbingan yang kurang strategis serta dukungan orang tua yang kurang maksimal. Saran: (1) Kepala sekolah hendaknya meningkatkan sarana dan fasilitas sekolah; (2) Konselor hendaknya berkonsultasi kepada pihak-pihak yang lebih ahli dalam melaksanakan layanan Bimbingan dan Konseling; (3) Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa sekolah RSBI dan jenjang pendidikan yang berbeda untuk menemukan kekhasan lainnya.

Peran asisten pribadi Soeharto dalam perpolitikan Indonesia 1969-1974 / Intan Fuji Listari

 

Kata Kunci: Asisten Pribadi, Politik, Soeharto Asisten Pribadi (Aspri) dibentuk oleh Presiden Soeharto pada tahun 1969, dan beranggotakan Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani. Aspri adalah sebuah lembaga yang kedudukannya inkonstitusional, artinya lembaga ini tidak termasuk dalam struktur organisasi kementerian ataupun lembaga pemerintah non-kementerian. Peran Aspri menarik untuk dikaji, karena meskipun tidak mempunyai kekuasaan eksekutif, tetapi Aspri mempunyai kekuasaan yang besar dan berperan dalam proses penentuan kebijakan Orde Baru. Permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini menyangkut (1) Bagaimana kebijakan politik Orde Baru ? (2) Bagaimana latar belakang pembentukan Aspri ? (3) Bagaimana peran Aspri Soeharto dalam perpolitikan Indonesia 1969-1974 ?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kebijakan politik Orde Baru. (2) Mendeskripsikan latar belakang pembentukan Aspri. (3) Mendeskripsikan peran Aspri Soeharto dalam perpolitikan Indonesia 1969-1974. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah tersebut adalah metode penelitian historis. Pada dasarnya penulisan sejarah mempunyai lima tahap, yaitu (1) pemilihan topik, (2) heuristik atau pengumpulan sumber, (3) kritik atau verifikasi (kritik ekstern dan kritik intren), (4) interpretasi: analisis dan sintesis, dan (5) historiografi atau penulisan sejarah. Hasil dari penelitian ini adalah (1) kebijakan politik Orde Baru ditempuh melalui empat tahapan, yaitu “Penghancuran” PKI, konsolidasi pemerintahan dan pemurnian Pancasila dan UUD 1945, menghapus dualisme dalam kepemimpinan sosial, mengembalikan kestabilan politik dan merencanakan pembangunan”. (2) Latar belakang pembentukan Aspri, karena berbagai masalah yang dihadapi pemerintah Orde Baru pada masa awal pemerintahannya, seperti adanya ekstrem kanan, ekstrem kiri, dan golongan radikal serta adanya krisis ekonomi. Mengatasi masalah tersebut, Presiden Soeharto membentuk Staf Pribadi (Spri). Pada perkembangannya, Spri dibubarkan karena menuai banyak kritik dari masyarakat dan pers, sebagai gantinya dibentuklah Aspri. Anggota Aspri terdiri dari Ali Moertopo yang bertugas mengurusi masalah politik sedangkan Soedjono Hoemardhani mengurusi masalah ekonomi. (3) Peranan Aspri adalah melakukan proses rekayasa politik untuk menguatkan legitimasi Orde Baru, khususnya memenangkan Golkar pada Pemilu 1971. Kekuasaan yang dimiliki oleh Aspri semakin besar dan menimbulkan kritik dari berbagai pihak, terutama dari Pangkopkamtib Soemitro. Pada perkembangannya, muncul isu rivalitas antara Ali Moertopo dan Soemitro. Rivalitas tersebut, mencapai puncaknya saat terjadi peristiwa 15 Januari 1974 (Malari). Peristiwa Malari, berakibat pada dibubarkannya Aspri dan jabatan Pangkopkamtib yang dipegang oleh Soemitro kembali dipegang oleh Presiden Soeharto. Aspri memang dibubarkan, tetapi Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardhani masih berperan dalam pemerintahan Orde baru. Ali Moertopo masih menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), sedangkan Soedjono Hoemardhani menjadi anggota Dewan Stabilisasi Ekonomi dan tetap aktif dalam menjalin hubungan Indonesia-Jepang.

Peningkatan kemampuan pemahaman isi teks melalui metode membaca cepat (speed reading) di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar / Adhitia Putra Harsono

 

Kata kunci: membaca teks, metode membaca cepat Pembelajaran membaca isi teks di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar dinilai kurang efektif. Pembelajaran membaca pemahaman isi teks dilaksanakan dengan guru memberi tugas. Tidak adanya penjelasan pembela-jaran menyebabkan sebagian besar siswa mendapat nilai di bawah KKM yang ditetapkan (65). Penelitian ini membahas permasalahan (1) bagaimanakah pene-rapan metode Speed Reading pada pembelajaran membaca isi teks di kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar, dan (2) apakah metode Speed Reading dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obser-vasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Speed Reading dapat meningkatkan hasil membaca pemahaman isi teks siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Hal ini dapat dilihat dari dengan perubahan sikap siswa selama pembelajaran, meliputi keaktifan dan kerjasama. Peningkatan proses ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai siklus I 60 meningkat pada siklus II menjadi 71. Peningkatan hasil membaca isi teks ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 58, siklus I 60, dan siklus II 70. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 24%, siklus I sebesar 52%, dan siklus II 82%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode Speed Reading dapat meningkatkan hasil membaca isi teks siswa kelas IV SDN Kembangarum Kabupaten Blitar. Hal ini, ditunjukkan dengan kemampuan siswa membaca cepat dalam waktu yang ditentukan. Siswa yang sebelumnya lambat dalam membaca namun dengan metode Speed Reading, siswa dapat membaca dengan waktu yang lebih cepat. Pemahaman siswa dalam membaca isi teks juga meningkat. Oleh karena itu, guru disarankan untuk menerapkan metode Speed Reading dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas IV, khususnya dalam pembelajaran membaca.

Rancang bangun mesin penggiling kedelai untuk susu kedelai dengan sistem ayak goyang kapasitas 70 kg/jam
oleh Muhammad Iqbal

 

Pengembangan panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa kelas X di SMAN 1 Kota Kediri / Rizkha Puspita Dewi

 

Kata kunci : Keterampilan Pengelolaan Emosi, Panduan Sosiodrama, Siswa SMA NegeriI 1 Kediri Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Selama masa transisi ini remaja mempunyai berbagai problematik yang dapat menimbulkan krisis identitas dan ketidakstabilan emosi. Karena itu remaja memerlukan layanan bimbingan dan konseling. untuk memberikan bimbingan pada siswa remaja diperlukan metode dan media. Salah satu teknik bimbingan dan konseling adalah sosiodrama. Untuk menerapkannya diperlukan panduan sosiodrama. Panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi bagi siswa SMA merupakan panduan yang bertujuan atau berfungsi dalam kegiatan pencegahan. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi siswa SMA Negeri 1 Kediri yang dapat diterima secara teoritis dan praktis.Penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg and Gall 2003. Langkah-langkah dari Borg and Gall yang dikembangkan peneliti dalam penelitian ini meliputi enam langkah, yaitu menentukan potensi dan masalah penelitian, mengumpulkan informasi, mendesain produk, validasi rancangan produk, perbaikan atau revisi produk I dan II, dan produk akhir. Analisis data kuantitatif menggunakan analisis statistik deskriptif dan data kualitatif disimpulkan apa adanya. Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif berupa statistif deskriptif yaitu format penilaian dan data kualitatif yaitu berupa saran atau pendapat dari uji ahli bimbingan dan konseling, uji ahli drama, dan uji calon pengguna produk (konselor), dapat disimpulkan bahwa panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi ini bermanfaat bagi siswa SMA Negeri 1 Kediri dalam pemberian layanan BK secara optimal dengan memiliki keberterimaan sangat berguna, sangat mudah, sangat menarik, dan sangat akurat secara teoritis. Saran bagi konselor juga dapat mengaplikasikan model sosiodrama ini secara efektif, dan peneliti selanjutnya dapat Melakukan uji kelompok kecil atau uji lapangan yang lebih luas serta pengkajian untuk mengetahui keefektifan panduan sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan pengelolaan emosi guna diperoleh hasil yang lebih akurat.

Hubungan minat dan cara belajar pengerjaan logam dasar dengan prestasi belajar pengerjaan logam dasar SMK Negeri Tuban
oleh Munawar Setyanudin

 

Penelitianin i bertujuanu ntukm engetahuhi ubungana ntaram inatd anc ara belajarp engerjaalno gamd asard enganp restasbi elajarp engeqaanlo gamd asarS MK Negeri I Tuban. Dalamp enelitianin i menggunakarann cangapne nelitianje nisk orelasional. Penelitianin i dilaksanakadni sMK NegeriI Tubanp adab ulanJ uni.p opulasid iambil di kelasI JurusanT eknik Mesin sebanyake mpatk elas.S ampelyangd ipilih dalam penelitianin i adalahk elasI MC t{asil analisism enunjukkann ilai r- 0,889u ntukm inat,n ilai r: 0,772u ntuk carabelajars, edangn ilai r:0,925 untuk prestasbi elajar.B erdasarkapne rhitungan tersebutm, akam inatd anc arab elajarp enge{aanlo gamd asarm empunyahi ubungan denganp restasu I t l

Perencanaan pesawat pengangkat sampah pada pintu air bendungan PLTA kapasitas 1 ton
oleh Yuni Sulistio Watik

 

Persepsi guru pamong terhadap profesionalitas mahasiswa PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) Prodi PKn di SMPN Kota Malang / Wika Leny Setyowati

 

Kata Kunci: persepsi guru pamong, profesionalitas, mahasiswa PPL Seorang guru dikatakan profesional jika memenuhi empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dilaksanakan untuk mendukung kompetensi calon guru yang profesional dan memiliki kompetensi. Setiap mahasiswa PPL akan dibimbing dan dinilai oleh guru pamong masing-masing program studi. Setiap guru pamong mempunyai persepsi yang berbeda-beda terhadap profesionalitas mahasiswa. Di sisi lain, persepsi guru pamong juga menjadi faktor penunjang guna mengetahui berhasil tidaknya mahasiswa menguasai keempat aspek profesionalitas yang harus dimiliki sebagai calon guru, pendidik atau pengajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana persepsi guru pamong terhadap kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial serta kompetensi profesional mahasiswa PPL prodi pkn di SMPN kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah semua guru pamong mahasiswa PPL prodi PKn di empat SMPN kota Malang yang digunakan tempat PPL pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 10 orang guru pamong. Keempat SMPN yang digunakan sebagai tempat PPL tersebut adalah SMPN 3, SMPN 13, SMPN 19, SMPN 20. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah teknik (1) kuesioner, (2) wawancara. Sedangkan analisis data yang digunakan mengacu pada pendapat Arikunto dengan prosedur: (1) analisis deskriptif presentase Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru pamong terhadap profesionalitas mahasiswa PPL prodi PKn yang meliputi empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional adalah baik dengan hasil analisis sebanyak 45% guru pamong berpendapat bahwa kompetensi pedagogik mahasiswa PPL prodi PKn adalah baik. Sebanyak 51% guru pamong berpendapat bahwa kompetensi kepribadian mahasiswa PPL prodi PKn adalah baik. 47% guru pamong berpendapat bahwa kompetensi sosial mahasiswa PPL prodi PKn adalah baik serta sebanyak 49% guru pamong berpendapat bahwa kompetensi profesional mahasiswa PPL prodi PKn adalah baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan mahasiswa PPL prodi PKn telah memenuhi dengan baik empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional. Persepsi guru pamong SMPN di Kota Malang terhadap kompetensi pedagogik mahasiswa PPL prodi PKn adalah baik. Hal ini menunjukkan bahwa guru pamong yakin pada penguasaan mahasiswa terhadap karakteristik peserta didik serta penguasaan terhadap prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Untuk kompetensi kepribadian, guru pamong berpendapat bahwa pada umumnya kompetensi kepribadian mahasiswa PPL prodi PKn di SMPN kota Malang adalah baik. Persepsi guru pamong SMPN Kota Malang terhadap kompetensi sosial mahasiswa PPL program studi PKn juga baik. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang PPL di SMP negeri sudah dapat melaksanakan dengan baik indikator-indikator dalam kompetensi kepribadian. Sedangkan persepsi guru pamong SMPN di kota Malang terhadap kompetensi profesional mahasiswa PPL program studi PKn adalah baik. Kompetensi ini mengharuskan seorang guru terampil dan profesional dibidangnya masing-masing. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar mahasiswa lebih memahami kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, sehingga mahasiswa dapat menanam, memupuk dan mengembangkan kompetensi-kompetensi mulai dari bangku perkuliahan serta hendaknya jurusan dapat memberikan bimbingan dan latihan yang lebih intensif sehingga akan didapatkan peningkatan kompetensi yang maksimal.

Pelajaran teori graph di SMU / oleh Heri Kusbiyantoro

 

Keefektivan konseling realita dengan visual art untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa SMA / Rosa Irawati

 

ABSTRAK Irawati, Rosa. 2016. Keefektivan Konseling Realita dengan Visual Artuntuk Meningkatkan Efikasi Diri Akademik Siswa SMA. Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany M. Handarini, M.A. (II) Dr. M. Ramli, M.A. Kata Kunci:efikasi diri akademik, konseling realita,visual art Efikasi diri akademik merupakan salah satu faktor non kognitif yang dapat ditingkatkan untuk membantu siswa meraih prestasi belajar yang optimal. Salah satu cara untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa adalah layanan konseling. Kreativitas dalam konseling diperlukan agar konseli mendapatkan manfaat yang lebih dalam dan luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kombinasi pendekatan Konseling Realita dengan kegiatan seni kreatif yaitu visual art. Penelitian eksperimen ini menggunakan ancangan double blind randomized controlled group pre-test post-test design. Penelitian ini dilakukan oleh konselor sekolah dengan subjek penelitian masing-masing 15 konseli di dua sekolah yang berbeda. Baik konselor maupun konseli tidak mengetahui keberadaannya, apakah di kelompok eksperimen ataukah di kelompok kontrol. Analisis statistik yang digunakan untuk menguji keefektifan intervensi pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol adalah analisis non parametrik The Wilcoxon Matched-pairs Signed-ranks Test dan untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan analisisThe Mann-Witney U Test.Keefektifan KRVA pada kelompok eksperimen dibuktikan dengan perolehan nilai Z sebesar -3, 454 dengan Asymp. Sign. (2-tailed) sebesar 0,001. Pada kelompok kontrol, keefektifan Konseling Realita dibuktikan dengan perolehan nilai Z sebesar -3, 422 dengan Asymp. Sign. (2-tailed) sebesar 0,001. Perbedaan efektivitas perlakuan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dianalisis dan diperoleh nilai mean kelompok eksperimen (20) lebih besar daripada mean kelompok kontrol (11), nilai uji Z sebesar -2,816 dengan angka Asymp. Sign. (2-tailed) sebesar 0,005. Dengan demikian dapat disimpulkan ada, artinya KRVA efektif untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa. Saran penelitian: 1) bagi konselor sekolah, bila karakteristik siswa sama dengan kelompok eksperimen yakni memiliki efikasi diri akademik rendah dan memiliki minat/kemauan mengikuti proses konseling dengan menggambar maka Konseling Realita dengan Visual Art dapat dipilih. Dalam melaksanakan KRVA di sekolah maka hal yang perlu diperhatikan adalah adanya konseli yang kurang mampu untuk menuangkan pemikiran dan perasaannya dalam bentuk gambar maka perlu diberi stimulus dan motivasi.2) bagi peneliti selanjutnya, a) perlu dilakukan penelitian pengembangan untuk mengembangkan panduan KRVA untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa, b) penelitian ini perlu ditindak lanjuti dengan variasi populasi yang berbeda misalnya di SD dan SMP, c) penelitian ini perlu ditindak lanjuti dengan menguji keefektifannya pada aspek lain, misalnya manajemen diri, harga diri, regulasi diri dan kemampuan pengambilan keputusan.

Efektivitas model pembelajaran inkuiri terbimbing dilanjutkan dengan peta konsep terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan / Widya Fitriana

 

Kata Kunci: Efektivitas, Inkuiri Terbimbing, Peta Konsep, Prestasi Belajar Fisika Kurikulum yang diterapkan saat ini di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang kegiatan pembelajarannya berpusat pada siswa sehingga diharapkan kualitas pembelajaran meningkat. Kenyataannya, masih banyak sekolah yang dalam kegiatan pembelajarannya masih berpusat pada guru sehingga kualitas pendidikan yang diharapkan belum tercapai secara optimal. Hasil observasi di SMAN 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan menunjukkan masih banyak siswa yang belum mencapai KKM pada matapelajaran fisika. Perlu ada perubahan proses belajar yaitu proses belajar yang berpusat pada siswa sehingga perlu diadakan inovasi pembelajaran. Maka diadakan penelitian untuk menguji keefektifan model pembelajaran inkuiri terbimbing dilanjutkan dengan peta konsep terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu (Quasi Experi-mental Design) dengan desain Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah kelas X SMAN 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan. Penen-tuan sampel menggunakan teknik random sampling. Sebagai kelas inkuiri terbimbing-peta konsep adalah kelas X.C dengan jumlah 34 siswa dan sebagai kelas konvensional adalah kelas X.F dengan jumlah 32 siswa. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah yang diperoleh melalui tes (pretest dan posttest) dan lembar keterlaksanaan pembelajaran berupa komentar guru bidang studi SMAN 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan. Hasil penelitian secara statistik menggunakan Uji-t (independent t test) dengan bantuan program SPSS 17.0 for Windows Evaluation Version. Uji-t satu pihak menghasilkan t hitung = 2,800 dan t tabel = 1,670 dengan df = 64 dan  = 0,05, sehingga t hitung > t tabel, maka prestasi belajar kelas inkuiri terbimbing-peta konsep lebih tinggi daripada prestasi belajar kelas konvensional. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu model pembelajaran inkuiri terbim-bing dilanjutkan dengan peta konsep lebih efektif terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMAN 1 Sukodadi daripada model pembelajaran konvensioanl. Terbukti bahwa sekor rata-rata posttest kelompok siswa kelas inkuiri terbimbing-peta konsep (79,98) lebih tinggi daripada sekor rata-rata posttest kelompok siswa kelas konvensional (74,01).

Penerapan metode bercerita dengan menggunakan media finger puppet untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar / Ana Setyoningrum

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, media finger puppets ,metode bercerita,TK Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan berbahasa anak dalam hal menceritakan pengalaman secara sederhana pada kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar.Guru belum menggunakan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana, disamping itu keberanian bercerita didepan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta imajinasi anak dalam bercerita juga relative rendah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan langkah metode bercerita dengan media finger puppet yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa serta Mendeskripsikan penerapan metode bercerita dengan media finger puppet untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok A di TK PKK I Sentul Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilakukan di Tk PKK I Sentul Kec.Kepanjenkidul dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan tindakan kelas (PTK) model siklus . Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan mengunakan media finger puppets dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I Kemampuan rata rata anak mencapai 64,28 % meningkat menjadi 84,52 % pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan bahasa melalui keberanian bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita, imajinasi anak dalam bercerita. Berdasarkan penelitian ini, mendengarkan cerita dan menceritakan kembali cerita yang baru didengar, menceritakan pengalaman secara sederhana dan bercerita dengan menggunakan kata ganti aku, saya kamu, mereka, dia dengan menggunakan media finger puppets dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak dalam bercerita.

Studi deskriptif batik Gajah Mada di Desa Mojosari Kecamatan Kauman Tulungagung / Hana Siskawati

 

Kata Kunci: batik, batik Gajah Mada, Tulungagung Batik adalah suatu cara yang dilakukan untuk menghasilkan motif yang memiliki tujuan untuk memperindah sebuah kain, menggunakan malam atau lilin yang bertujuan untuk menutup kain agar tidak terkena warna pada saat dicelup ke dalam cairan pewarna, dengan cara dititik-titik menggunakan canting, mengikuti motif tertentu yang memiliki kekhasan, dan merupakan hasil kebudayaan bangsa yang bernilai tinggi, serta layak untuk dikembangkan dan ditingkatkan. Perkembangan tersebut diikuti oleh berbagai daerah yang ada di Indonesia, salah satunya adalah daerah Tulungagung yang dikenal dengan batik Gajah Mada Tulungagung. Fokus penelitian yang diambil adalah (1) Motif Khas Batik Gajah Mada Tulungagung; (2) Teknik Pembuatan Batik Gajah Mada Tulungagung; dan (3) Kualitas Batik Gajah Mada Tulungagung. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah Triangulasi Sumber Data, yaitu (1) Pemilik/yang mewakili batik Gajah Mada Tulungagung; (2)Pengrajin batik Gajah Mada Tulungagung; dan (3) Pengguna batik Gajah Mada Tulungagung;, dan Triangulasi Teknik, yaitu (1) Observasi; (2) Wawancara; dan (3) Dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada paparan data, temuan penelitian, dan pembahasan, maka dapat dijelaskan bahwa terdapat 4 motif khas pada batik Gajah Mada Tulungagung, yaitu (1) Motif Sekar Jagad Rante, yang sudah dipatenkan; (2) Motif Granit Biota Indah; (3) Motif Teratai Emas; dan (4) Motif Sekar Jagad Ungker, yang ketiganya masih dalam proses untuk hak paten. Terdapat perbedaan yang jelas antara teknik pembuatan batik tulis, batik cap, dan batik printing (sablon). Ciri-ciri batik halus dan kualitas pada masing-masing batik di Gajah Mada Tulungagung juga berbeda. Batik tulis Gajah Mada Tulungagung memenuhi ciri-ciri batik tulis halus dan kualitas yang paling halus bila dibandingkan dengan batik cap Gajah Mada Tulungagung dan batik printing (sablon) Gajah Mada Tulungagung. Saran yang dapat diberikan adalah (1) Motif pakem batik, harus tetap dipertahankan; (2) Bagi pengusaha batik, disarankan untuk melakukan proses dokumentasi dan pembukuan untuk menyimpan data-data penting; (3) Mengikuti pameran nasional untuk memperkenalkan batik Gajah Mada Tulungagung ke luar Tulungagung; (4) Memperkenalkan batik melalui dunia maya dengan cara membuat blog atau jejaring sosial; (5) Ilmu dari pengrajin batik Gajah Mada Tulungagung sebaiknya diturunkan pada generasi yang lebih muda; (6) Proses pembuatan batik, didokumentasikan sebagai bahan referensi dan evaluasi, menambah penerangan di tempat proses, sebaiknya menggunakan pewarna alam; (7) Mempertahankan kualitas bahan dan kehalusannya untuk pembuatan batik; (8) Pengguna batik Gajah Mada Tulungagung hendaknya merawat batiknya dengan cara tidak menjemur di bawah sinar matahari langsung untuk menjaga kualitas tetap baik. (9) Pemkab Tulungagung turut mendokumentasikan data-data yang ada pada batik Gajah Mada karena batik tersebut merupakan bagian dari sejarah Tulungagung, agar tidak terjadi pengakuan kepemilikan oleh pihak lain.

Pengembangan sistem informasi perpustakaan berbasis WEB di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Veny Wulandari

 

Kata Kunci: sistem informasi, perpustakaan, waterfall. Sistem informasi sekarang sudah berkembang pesat, hampir semua instansi menggunakannya. Oleh karena itu, menerapkan Sistem Informasi Perpustakaan merupakan hal yang penting untuk memajukan perpustakaan Jurusan Teknik Elektro yang kurang memanfaatkan adanya perpustakaan. Pada perpustakaan di Jurusan Teknik Elektro ini sudah memanfaatkan sistem informasi tetapi sifatnya masih terpusat pada satu komputer (stand alone). Selain itu, ruangannya juga sempit, maka perlu adanya pengembangan dengan menggunakan aplikasi web yang bisa diakses di mana saja dan bersifat multi platform. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan perangkat lunak untuk aplikasi Sistem Informasi Perpustakaan sesuai yang diinginkan, memudahkan pengunjung perpustakaan dalam mencari buku yang diinginkan dengan cepat, dan memudahkan pekerjaan admin dalam pengelolaannya. Model pengembangan sistem menggunakan model waterfall dengan 5 tahapan. Adapun tahapannya meliputi: (1) requirement and definition yaitu mencari kebutuhan pengguna melalui wawancara dan observasi; (2) system and software design yaitu menggambarkan sistem yang dikembangakan dengan flowchart, DFD, ERD, struktur data, serta desain interface sistem; (3) implementasi and unit testing yaitu melakukan pengkodean dengan menggunakan dreamweaver dan notepad++ untuk dikoneksikan dengan PHP serta MySQL; (4) integration and system testing yaitu melakukan uji coba produk dengan pengujian black box menggunakan instrumen angket (checklist serta lembar saran); dan (5) operation and maintenance yaitu melakukan evaluasi dan perbaikan sistem bila diperlukan serta penyediaan buku pedoman untuk pengguna (user-guide). Analisis data menggunakan prinsip pareto dimana dikatakan valid bila 80% sistem dapat berfungsi. Pengujian dilakukan terhadap 3 user yaitu admin, Ketua Jurusan, dan mahasiswa. Hasil uji untuk Ketua Jurusan dan mahasiswa 100% diterima sedangkan hasil uji untuk admin 96,93% diterima. Hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem yang dikembangkan termasuk dalam kualifikasi valid, secara fungsional sistem sudah dapat menghasilkan output yang diharapkan.

Pengaruh penggunaan media gambar seri terhadap kemampuan menulis karangan narasi bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Baraeng 3 Kota Malang / Dyah Ayu Ishlahiyah

 

Kata kunci: Penggunaan Media Gambar Seri, Menulis Narasi, Sekolah Dasar. Menulis merupakan salah satu komponen kemampuan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa. Melalui menulis, siswa dilatih untuk mengungkapkan perasaan, ide, serta gagasan secara tertulis. Dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa, maka diperlukan usaha untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Penggunaan media gambar seri dapat membangun imajinasi dan konsep siswa untuk menulis karangan yang lebih terarah sesuai sajian gambar. Tujuan penelitian ini adalah: (1)Mendeskripsikan kemampuan menulis karangan narasi di kelas IVb yang tidak menggunakan media gambar seri, (2) Mendeskripsikan kemampuan menulis karangan narasi di kelas IVc yang menggunakan media gambar seri, (3) Mendeskripsikan pengaruh penggunaan media gambar seri terhadap kemampuan menulis karangan narasi Bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Bareng 3 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, rancangan penelitiannya eksperimen semu, sedangkan desain penelitiannya pretest posttest. Siswa kelas IV SDN Bareng 3 sebagai populasi dengan jumlah 96 siswa. Sampel penelitian ini sebanyak 62 siswa diambil dari populasi. Instrumen penelitian berupa RPP, lembar penilaian kemampuan menulis karangan siswa, dan lembar pengamatan penggunaan media gambar seri. Data hasil penelitian dianalisis dengan statistik deskriptif dan uji T menggunakan bantuan program SPSS 16 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan media gambar seri terhadap kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas IV SDN Bareng 3 Kota Malang. Pengaruh tersebut telah dibuktikan dengan hasil uji hipotesis yakni thitung sebesar 2,791 dengan harga ttabel lebih kecil yakni 2,000. Taraf signifikansi yang digunakan yaitu 5%(0,05) dan harga thitung lebih besar dari ttabel (thitung>ttabel) maka H0 ditolak dan Ha diterima, dengan selisih rata-rata nilai posttest dengan pretest kelompok kontrol sebesar 9,931, lebih rendah dibandingkan dengan selisih rata-rata nilai posttest dengan pretest kelompok eksperimen yaitu sebesar 11,533. Hasil penelitian ini hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan tambahan media pembelajaran bagi guru untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IV SDN Bareng 3 Kota Malang dalam menulis karangan. Bagi lembaga pendidikan, pembinaan penggunaan media lebih diefektifkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Peningkatan prestasi belajar siswa pada kompetensi mengelas Shield Metal Arc Welding (SMAW) dengan menggunakan modul CD pembelajaran pada siswa SMK kelas X di Malang / Erwin Yulianto

 

Kata Kunci; Prestasi Belajar, Kompetensi, Mengelas, Shield Metal Arc Welding (SMAW), Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Modul, CD Pembelajaran. Penelitian tindakan kelas (PTK) mempunyai kegunaan yang besar dalam mengembangkan kualitas pembelajaran karena PTK dapat mengidentifikasi beberapa aspek-aspek yang menjadi permasalahan terkait dengan proses pembelajaran suatu materi pelajaran. PTK dapat mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, sekaligus juga dapat menemukan pemecahan permasalahan tersebut. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran khususnya pada matapelajaran praktikum pengelasan dengan menggunakan modul CD Pembelajaran. Penelitian dilakukan pada kompetensi persiapan material, pelelehan elektrode dan pengelasan sambungan I sebanyak tiga siklus. Metode pembelajaran yang digunakan adalah menggunakan modul CD pembelajaran dan beberapa perangkat pembelajaran yang lainnya yaitu modul pendamping, jobsheet, dan instrumen penilaian. Perencanaan pembelajaran dimulai dari perencanaan skenario pembelajaran, penyiapan media pembelajaran, penyiapan perangkat observasi siswa maupun guru pengajar, pelaksanaan pembelajaran dan sistem penilaian. Hasil refleksi pada siklus pertama masih kurang baik, sehingga dilakukan berbagai upaya perbaikan untuk siklus kedua seperti memperpanjang durasi penayangan, pemutaran film pembelajaran sebanyak dua kali dan memperbaiki kualitas slide dan film. Sehingga diperoleh data hasil pembelajaran siklus kedua di SMK PGRI 3 Malang pada ranah psikomotorik 5% siswa telah kompeten, sedangkan di SMK N6 Malang pada ranah psikomotorik sejumlah 95% siswa telah kompeten untuk kompetensi pelelehan elektrode. Hasil refleksi pada siklus kedua yaitu masih ada beberapa siswa belum kompeten sehingga dilanjutkan dengan siklus ketiga. Pada siklus kedua diperoleh data di SMK PGRI 3 sejumlah 33,3% siswa telah kompeten, sedangkan di SMK N6 Malang sejumlah 100% telah kompeten. Upaya perbaikan pada siklus ketiga diantaranya memperbaiki kualitas slide dan film serta pemindahan lokasi pemutaran CD pembelajaran dari ruang bengkel ke ruang kelas. Sehingga diperoleh data hasil pembelajaran siklus ketiga di SMK PGRI 3 Malang pada ranah psikomotorik I tertutup 81,4% dan I terbuka 51,85% siswa telah kompeten, sedangkan di SMK N6 Malang pada ranah psikomotorik I tertutup 75% dan I terbuka 27,5% siswa telah kompeten untuk kompetensi pengelasan sambungan I.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Keselamatan, Kesehatan kerja dan Lingkungan Hidup (Studi pada siswa kelas X APK 1 SMK Wisnuwardhana Malang) / Joni Alif Utama

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Numbered Heads Together (NHT), Hasil Belajar. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di SMK Wisnuwardhana Malang, diperoleh informasi bahwa pembelajaran Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup sudah mulai menggunakan variasi bentuk model pembelajaran, namun dalam pelaksanaannya masih belum maksimal Pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) adalah strategi pembelajaran dimana para siswa aktif bekerjasama dalam kelompok kecil yang dimulai dengan penomoran, pengajuan pertanyaan, berpikir bersama, dan pemberian jawaban. Tujuan pada penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), (2) untuk mengetahui hasil penerapan metode pembelajaran Numbered Heads Together (NHT), (3) untuk mengetahui apa saja hambatan-hambatan dan solusinya dalam penerapan metode pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada mata pelajaran Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup siswa kelas X APK 1 SMK Wisnuwardhana Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) pada mata pelajaran Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup sudah berjalan dengan lancar, hal ini ditandai dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan ketuntasan individual 32 siswa (88,9 %) meningkat sebesar 27,8% dari siklus 1. Didalam pembelajaran kooperatif harus ada elemen yang terkandung didalam setiap pembelajaran antara lain: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, pertanggung jawaban individu, keterampilan menjalin hubungan antar pribadi; (2) tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran koperatif model Numbered Heads Together (NHT) secara umum positif yaitu antara lain siswa merasa senang dan bisa dijadikan variasi kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran tidak monoton, hanya beberapa siswa yang merasa terbebani dengan penerapan pembelajaran ini; (3) tanggapan guru cukup positif, guru beranggapan bahwa model tersebut dapat membuat siswa aktif berpartisipasi mengemukakan pendapat dalam diskusi; (4) hasil belajar siswa dilihat dari 2 ranah yaitu kognitif dan afektif. Dalam pelaksanaannya terdapat peningkatan dimana dari siklus 1 sampai siklus 2 terjadi kenaikan hal ini dapat dilihat bahwa hampir seluruh nilai siswa telah memenuhi standart kelulusan yang telah ditentukan yaitu 70. v Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan saran: (1) bagi sekolah SMK hasil penelitian diharapkan menjadi pertimbangan dalam upaya perbaikan penerapan strategi pembelajaran, (2) bagi guru mata pelajaran Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup dianjurkan menggunakan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa, (3) bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) pada mata pelajaran lain sebagai salah satu model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar yang valid, (4) bagi siswa SMK hendaknya lebih meningkatkan kreatifitas mereka untuk berfikir lebih maju dan berani mengungkapkan pendapat.

Hubungan pemanfaatan waktu belajar dengan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) siswa kelas 3 SDN Bareng 1 Kota Malang / Putri Adhelina Puspita Sari

 

Kata kunci: waktu belajar, hasil belajar pendidikan kewarganegaraan (PKn), Belajar dapat dilakukan dimana saja. Waktu belajar juga dapat dilaksanakan kapan saja. Cara belajar yang baik bukan dilakukan saat akan menghadapi tes, tetapi belajar yang dilakukan secara teratur dan sungguh-sungguh, serta menepati waktu belajar yang sudah ditetapkan. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan pemanfaatan waktu belajar siswa SDN Bareng 1 Kota Malang (2) mendeskripsikan hasil belajar PKn siswa SDN Bareng 1 Kota Malang (3) mendeskripsikan hubungan antara pemanfaatan waktu belajar siswa dengan hasil belajar mata pelajaran PKn siswa SDN Bareng 1 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dan memilih siswa kelas 3 SDN Bareng 1 sebagai subyek penelitian dengan jumlah 54 siswa. Data pemanfaatan waktu belajar diambil dengan menggunakan angket, sedangkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan (PKn) diambil dari dokumentasi hasil ulangan harian. Reliabilitas skala pemanfaatan waktu belajar 0,605, sedangkan skala hasil belajar telah di dilihat dari dokumentasi. Data hasil penelitian dianalisis dengan korelasi product moment menggunakan bantuan program SPSS 17 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan waktu belajar siswa dengan kualitas sangat baik berjumlah 2 siswa (3.70%), kualitas baik 30 siswa (55.56%), kualitas sedang 16 siswa (29.62%), kualitas kurang 5 siswa (9.26%) dan kurang sekali 1 siswa (1.86%). Skala hasil belajar siswa dengan kualitas sangat baik berjumlah 16 siswa (29,62%), kualitas baik 17 siswa (31,48%), kualitas sedang 11 siswa (20,37%) dan kualitas kurang 10 siswa (18.51%). Kesimpulan dalam penelitian yaitu (1) pemanfaatan waktu belajar siswa kelas 3 SDN Bareng 1 Kota Malang dalam kategori baik (2) Hasil belajar siswa kelas 3 SDN Bareng 1 Kota Malang dalam kategori kurang baik (3) Didapatkan hubungan positif dan signifikan antara pemanfaatan waktu belajar dan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan (PKn) pada siswa kelas 3 SDN Bareng 1 sebesar r xy hitung= 0, 383 dan r xy tabel= 0,345 (Ho ditolak), yang berarti ada hubungan antara pemanfaatan waktu belajar dengan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan (PKn) pada siswa kelas 3 SDN Bareng 1 Kota Malang. Disarankan kepala sekolah untuk melakukan pembinaan bagi guru untuk memotovasi pemanfaatan waktu belajar sehingga meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan (PKn) .Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah hendaknya menjadi reverensi untuk lebih meningkatkan pemanfaatan waktu belajar. Peneliti lanjut dapat dijadikan landasan terutama yang berhubungan dengan waktu belajar dan hasil belajar.

Keefektifan bibliokonseling untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMP / Irnada Mufidah

 

Kata Kunci: bibliokonseling, kesadaran bertanggung jawab, siswa SMP. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. tanggung jawab berarti juga berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Rendahnya kesadaran bertanggung jawab di kalangan siswa dapat menyebabkan adanya perilaku seperti membolos, mencontek pada saat ujian, dan malas belajar, serta dapat berdampak pada berkurangnya kesadaran lain seperti kepedulian. Siswa membuang sampah sembarangan adalah salah satu contoh berkurangnya kesadaran akan kepedulian sebagai imbas akan berkurangnya kesadaran bertanggung jawab. Kesadaran bertanggung jawab siswa dapat ditingkatkan melalui aplikasi teknik bibliokonseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bibliokonseling untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMP. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP berjumlah 10 orang siswa. Bibliokonseling adalah salah satu teknik yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Konsep perlakuan bibliokonseling adalah dengan memberikan bahan bacaan kepada siswa sebagai media untuk mencapai suatu tujuan yaitu meningkatkan kesadaran bertanggung jawab. Dalam penelitian ini, teknik bibliokonseling yang digunakan adalah dengan memberikan cerita pendek sebagai media. Adapun tahap-tahapnya adalah pembagian cerita pendek, refleksi isi dan refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen, dan refleksi pengalaman. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen one group pretest posttest. Subjek penelitian berjumlah sepuluh orang siswa SMP yang memiliki kriteria kesadaran bertanggung jawab rendah yang diukur dengan menggunakan skala tanggung jawab siswa SMP. Pemberian treatment dengan menggunakan bibliokonseling berupa cerita pendek dilakukan dalam sepuluh kali pertemuan yang diawali dengan kegiatan ice breaking pada pertemuan pertama. Delapan kali pertemuan selanjutnya diberikan satu cerita pendek setiap pertemuan untuk direfleksi. Di pertemuan kesepuluh dilaksanakan posttest. Data pretest dan posttest yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik nonparametrik uji wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis uji wilcoxon dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling dengan menggunakan cerita pendek efektif untuk meningkatkan kesadaran bertanggung jawab siswa SMP. Hal ini dapat dilihat dari skor pada posttest di akhir pertemuan, di sini semua siswa mengalami kenaikan skor yang bervariasi. Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) dalam mengaplikasikan teknik ini, konselor harus mempersiapkan bahan bacaan yang sesuai dengan usia kelompok eksperimen, dan cerita yang diberikan harus menarik. (2) pada peneliti selanjutnya disarankan menggunakan desain time series untuk melihat perubahan setelah memberikan treatment berupa bibliokonseling.

Musuh dalam selimut: Mencari akar penyebab kemumnduran industri bubut kayu pada masyarakat Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar tahun 1990-2010 dan relevansinya terhadap pendidikan / Eka Metta Hariyani

 

Kata Kunci: konflik, kemunduran industri kerajinan bubut kayu, pendidikan Masyarakat Kelurahan Tanggung sebagian besar bekerja sebagai perajin bubut kayu. Industri kerajinan bubut kayu di Kelurahan Tanggung sudah ada sejak tahun 1910. Industri kerajinan bubut kayu mulai mengalami pertumbuhan mulai tahun 1990. Pada tahun 1998, industri kerajinan bubut kayu mengalami kejayaan karena penjualan mengalami puncaknya. Industri kerajinan bubut kayu mengalami kemunduran mulai tahun 2006 yang dikarenakan faktor intern masyarakat Kelurahan Tanggung. Tujuan penelitian ini adalah (1)Menjelaskan bagaimana sejarah industri kerajinan bubut kayu Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar, (2) Menjelaskan proses kemunduran industri kerajinan bubut kayu Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar tahun 1990-2010, (3) Menjelaskan relevansi penelitian ini terhadap pendidikan. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan sejarah sosial. Terdapat empat langkah yang ditempuh yakni pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Pemilihan topik menggunakan dua pendekatan yaitu kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Heuristik adalah pengumpulan sumber sejarah yang terdiri dari sumber primer, sekunder, dan tersier. Kritik bertujuan untuk mencari kebenaran dengan cara mengecek keabsahan data yang telah diperoleh. Dalam metode sejarah, kritik (verifikasi) sumber dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kritik eksternal dan internal. Interpretasi atau penafsiran ada dua cara yaitu analisis dan sintesis. Hasil interpretasi kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang disusun secara kronologis. Hal ini biasa dikenal dengan istilah historiografi yang merupakan tahap akhir dari penelitian sejarah. Hasil penelitian ini adalah (1) Industri kerajinan bubut kayu berawal tahun 1910. Pada tahun 1990-1998 industri kerajinan bubut kayu mulai berkembang. Periode ini tingkat pendidikan, gaya hidup Kelurahan Tanggung masih sederhana dan status sosial masih didasarkan pada jenis pekerjaan. Periode tahun 1998-2006 industri kerajinan bubut kayu berkembang pesat. Periode ini tingkat pendidikan, gaya hidup sudah tinggi dan status sosial masih didasarkan pada kekayaan. Tahun 2007-2010 mengalami kemunduran. Saat itu, tingkat pendidikan masih tinggi, gaya hidup menurun dan status sosial masih didasarkan pada kekayaan. (2) Industri kerajinan bubut kayu mengalami kemunduran karena konflik antar sesama perajin bubut kayu dan konflik antara pengurus dan anggota P2BKKT yang berdampak pada tingkat pendapatan perajin bubut kayu. (3) Relevansi pendidikan bagi pemerintah Kota Blitar terkait dengan kebijakan pemerintah dalam memberikan kebijakan tentang bermasyarakat dan juga berorganisasi. Relevansi penelitian ini terhadap pendidikan formal adalah digunakan sebagai sumber belajar siswa SMP kelas VII semester 1 dengan standar kompetensi dua yakni memahami kehidupan sosial manusia dengan kompetensi dasar 2.4 Menguraikan proses interaksi sosial. Relevansi penelitian ini pada pendidikan bagi Pemerintah Kota Blitar yakni untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak terjadi konflik, relevansi penelitian ini untuk pendidikan non formal dapat dijadikan sebagai refleksi masyarakat industri agar dapat menjaga kerukunan agar tidak terjadi konflik yang tentunya merugikan mereka sendiri, dan relevansi penelitian ini untuk pendidikan informal yakni digunakan sebagai salah satu wacana untuk mendidik anggota keluarga agar tidak terlibat konflik dalam kehidupan bermasyarakat.

Hubungan antara status sosial ekonomi anggota PKK dengan tingkat partisipasinya terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup di Kecamatan Dau Kabupaten Malang / oleh Suti'ah

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |