Analisis kestabilan lapisan tanah sepanjang bantaran sungai Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen, Malang dengan metode geolistrik tahanan jenis / Deltha Yuwita N.

 

Kata Kunci: Metode Geolistrik, Resistivitas, kestabilan tanah Suatu lereng dikatakan stabil atau tidak tergantung pada kemiringan lereng, struktur lapisan tanah dan besarnya pembebanan pada lereng. Kebanyakan ketakstabilan lereng dapat menyebabkan pergerakan tanah (longsor). Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen, Malang merupakan daerah pemukiman dan pertanian. Di Desa ini terdapat lereng terjal dengan kemiringan sekitar 75o. Lereng ini berada di sepanjang sungai dengan ketinggian sekitar 10m. Daerah penelitian ini terletak pada 08008’35,7’’ LS dan 112033’28,6’’BT dan memiliki ketinggian 346 dari permukaan laut. Banyak aktivitas penduduk yang masih dilakukan di sungai tersebut, seperti mencuci dan mandi. Informasi mengenai kestabilan lapisan tanah di area ini diperlukan mengingat adanya aktifitas warga yang dilakukan di bawah lereng di dekat sungai tersebut. Metode yang digunakan adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner. Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu cara untuk mengetahui kestabilan tanah, dengan metode pengukuran berdasar sifat-sifat listrik yaitu sifat tahanan jenis dari batuan di lapangan. Keunggulan metode ini adalah dapat digunakan untuk mengadakan eksplorasi dangkal yang tidak bersifat merusak dalam pendeteksiannya. Dari hasil analisis res2div diketahui pada bentangan 2m -96 m dari titik nol pengukuran memiliki nilai resistivitas sekitar 10,8 – 13,7 Ωm dengan kedalaman sekitar antara 0m - 3,765 m. Nilai resistivitas ini menunjukkan bahwa pada lapisan ini tersusun oleh lapisan lempung. Nilai resistivitas sekitar 17,4-58,0 Ωm dengan kedalaman sekitar antara 3,765m – 15,8m pada bentang 22m – 78m menunjukkan bahwa lapisan ini berupa lanauan. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa lokasi penelitian ini diduga tidak stabil dan memiliki potensi longsor yang cukup besar. Hal tesebut dapat dilihat dari beberapa faktor – faktor yaitu kemiringan lereng 75otermasuk dalam kemiringan lereng yang terjal dengan kerentanan gerakan tanah yang tinggi. Nilai resistivitas yang kecil. Jenis tanahnya berupa lempung dan lanauan dimana lempung mudah menyerap air. Batuan yang mudah menyerap air maka bobot isinya menjadi lebih besar, sehingga akan memperkecil kemantapan lereng. Hal ini mengakibatkan tanah tidak stabil. lanauan yang akan cendrungan mengalir sebagai suatu cairan kental dalam keadaan jenuh. posisinya yang dekat dengan aliran air menyababkan lapisan ini berpotensi besar menjadi jenuh.Porositas tanah bagian bawah relatif lebih kecil dari pada bagian atas tetapi letak lereng yang berdekatan dengan sungai yang memungkinkan semen pada tanah lapisan bawah terkikis oleh air sungai menyebabkan daya ikat antar butirannya berkurang.Longsoran yang mungkin terjadi adalah tipe jatuhan atau rutuhan.

 

Analisis pengaruh laba per lembar saham (EPS), rasio lambang harga (PER) dan nilai tambah ekonomi (EVA) terhadap return saham di BEI tahun 2009-2011 / Surya Dwi Admaja

 

Kata Kunci: Return saham, EPS,PER,EVA Pasar modal di Indonesia memiliki peranan yang penting dalam meningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu peran pasar modal dalam pembangunan ekonomi Indonesia adalah sebagai sumber pembiayaan eksternal bagi perusahaan. Seorang investor yang rasional selalu berusaha agar investasinya mendatangkan tingkat keuntungan yang melebihi biaya modalnya di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Para investor selalu ingin memaksimalkan return (tingkat pengembalian investasi) yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang dominan antara Earning Per Share, Price Earning Ratio, dan Economic Value Added terhadap return saham perusahaan yang terdaftar di BEI. Pergerakan saham-saham di BEI yang fluktuatif mampu merefleksikan perekonomian Indonesia. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menekankan pada pengujian-pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistic. Pengujian hipotesis diuji dengan menggunakan derajat signifikan 5%. Populasi terdiri dari 432 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode pengambilan sampel menggunakan purpossive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 perusahaan dengan periode pengamatan 3 tahun yaitu periode 2009-2011. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji f dan uji t. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa semua variabel berpengaruh signifikan positif terhadap return saham. Hasil penelitian secara simultan juga menunjukkan bahwa berpengaruh signifikan positif terhadap return saham. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan variabel EPS, PER, dan EVA berpengaruh terhadap return saham diterima.

Pelabelan total sisi ajaib pada graph (2n+1)P2 / Ika Rahmawati

 

Pelabelan pada suatu graph adalah pemetaan yang memetakan unsur-unsur pada suatu graph ke bilangan-bilangan yang biasanya bilangan-bilangan tersebut adalah bilangan bulat positif atau bilangan bulat non-negatif. Pelabelan total sisi ajaib pada graph G(V , E ) adalah fungsi bijektif f dari V È E ke {1,2,3,..., V È E }, sehingga untuk masing-masing sisi vivi+1diG berlaku ( ) + f v f (v v )+ ( )= , dengan k konstanta. Pelabelan total sisi ajaib I mi i+1 f vi+1 k dapat diartikan bahwa jumlah label suatu sisi dan label titik yang terkait langsung dengan sisi tersebut adalah sama atau konstan untuk semua sisi. Graph total sisi ajaib adalah graph yang dapat dikenakan pelabelan total sisi ajaib. Pada skripsi ini ditunjukkan bahwa graph (2n +1)P2merupakan graph yang dapat dikenakan pelabelan total sisi ajaib. Pelabelan total sisi ajaib pada graph (2n + P 1)2 ini dikerjakan dengan dua cara yaitu sisi terlebih dahulu yang dilabeli, dilanjutkan dengan titik dan titik terlebih dahulu yang dilabeli dilanjutkan dengan sisi. Dari pembahasan dan pengerjaan dua cara tersebut diperoleh pelabelan total sisi ajaib dengan konstanta ajaib yang sama yaitu k = 9n + 6 . Pelabelan total sisi ajaib pada graph (2n + P1)2 dengan dua cara pengerjaan di atas diimplementasikan ke dalam program komputer menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7.0.

Pengaruh penggunaan model daur belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X semester II tahun pelajaran 2004/2005 SMA Negeri 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan pada materi pokok larutan elektrolit dan non elektrolit / oleh Dyah Novita Rahmawati

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe problem possing terhadap prestasi belajar fisika ditinjau dari motivasi siswa kelas X SMK Negeri 1 Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2009-2010 / Samsu Bashari

 

Program Studi: Pendidikan Fisika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro, M.Si., (2) Drs. Yudyanto, M.Si. Kata kunci: Kooperatif tipe problem possing, prestasi belajar Hasil penelitian terdahulu dan kajian teori menunjukkan bahwa pengaruh penerapan model kooperatif tipe problem possing pada pembelajaran fisika memiliki dampak yang sangat baik terhadap motivasi dan prestasi siswa. Salah satu keunggulan model kooperatif tipe problem possing adalah dapat dilakukan dengan memberikan orientasi permasalahan secara langsung terhadap siswa sesuai materi yang diajarkan dan siswa dapat mengamati sesuai dengan pengalaman sehari-hari dan sekaligus memecahkan masalah sendiri. Gejala yang ada dewasa ini banyak siswa memiliki pengetahuan faktual yang cukup tetapi gagal menggunakan pengetahuannya saat memecahkan masalah. Salah satu faktor yang ditengarai sebagai penyebab gagalnya pembelajaran di kelas adalah proses pembelajaran yang didominasi guru, model pembelajaran yang tidak mendukung aktifitas siswa maka perlu adanya perubahan model pembelajaran yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menguji perbedaan prestasi belajar fisika antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional. 2) Menguji interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi 3) Menguji perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi tinggi. (4) Menguji perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi rendah. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, dengan variabel bebas model pembelajaran kooperatif tipe problem possing dan model konvensional, variabel terikatnya prestasi belajar dan sebagai variabel moderat adalah motivasi belajar. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri I Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2009-2010. Data dianalisis dengan statistik ANAVA dua jalur dan Uji Tukey. Pengujian hipoteis nol dilakukan pada taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan temuan-temuan sebagai berikut. 1) Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional. 2) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar. 3) Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi tinggi. (4) Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model kooperatif tipe problem possing dan model konvensional di kelompok siswa bermotivasi rendah.

Pengaruh penggunaan model daur belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMAN 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan tahun pelajaran 2004/2005 pada materi pokok reaksi oksidasi reduksi / oleh Diana Firdaus

 

Pemetaan akuifer di Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen Malang dengan metode geolistrik tahanan jenis / Lina Khoiriyah

 

Kata Kunci: Metode Geolistrik, Tahanan Jenis, Akuifer, Desa Panggungrejo Air merupakan sumber daya alam yang mutlak dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Sumber daya air dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia di sektor pertanian, perkebunan maupun rumah tangga. Sekitar 0,75% dari jumlah air di bumi merupakan air tawar yang mendukung kehidupan makhluk hidup di darat, di danau, di sungai dan di dalam tanah. Untuk mendapatkan air tawar yang sangat diperlukan manusia tersebut tidaklah mudah. Keadaan ini mendorong dilakukannya penelitian tentang pemetaan akuifer. Penelitian ini dilakukan di desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen Malang. Pemetaan dilakukan di dua tempat, yang pertama dilakukan di sumber air pada koordinat 112o33’21.2” BT dan 08o08’38.3” LS dengan panjang lintasan 16 meter. Nilai resistivitas akuifer di daerah sumber dijadikan referensi untuk mengetahui nilai resistivitas di daerah pemukiman. Pemetaan ke dua dilakukan di daerah pemukiman tepatnya di lahan belakang rumah ibu Potani dan ibu Dul pada koordinat 112o33’30.6” BT, dan 08o08’36.6” LS dengan panjang lintasan 120 meter. Pemetaan akuifer dilakukan dengan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner. Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu cara dalam penelitian air tanah dengan metode pengukuran berdasar sifat-sifat listrik yaitu sifat tahanan jenis dari batuan di lapangan. Keunggulan metode ini adalah dapat digunakan untuk mengadakan eksplorasi dangkal yang tidak bersifat merusak dalam pendeteksiannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan interpretasi data dengan menggunakan Microsoft Excel dan inversi Res2Dinv didapatkan nilai resistivitas akuifer di daerah sumber air adalah 29,5-67,0 Ωm. Di daerah pemukiman, pada bentangan 34-82 meter dari titik nol pengukuran diduga memiliki potensi akuifer. Adapun posisinya adalah pada 42 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman 8,81-11,5 meter, pada 50-64 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman 4,98-9,71 meter, pada 78 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman 9,71-13,5 meter. Pada posisi tersebut nilai resistivitasnya sekitar 32,6-65,7 Ωm. Lokasi yang paling tepat untuk dijadikan sumur galian adalah lahan di belakang rumah ibu Potani dan ibu Dul pada posisi 50-64 meter dari titik nol pengukuran dengan kedalaman sekitar 4,98-9,71 meter.

Pengembangan media pop up untuk pengenalan pakaian adat daerah Nusantara tema Kebutuhanku sub tema Pakaian Tradisional pada anak usia dini / Muhamad Ikhwan Nurdiansyah

 

ABSTRAK Nurdiansyah, M. Ikhwan. 2016. Pengembangan Media Pop Up Untuk Pengenalan Pakaian Adat Daerah Nusantara Tema Kebutuhanku Sub Tema Pakaian Tradisional Pada Anak Usia Dini.Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sulton, M.Pd., (II) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Media Pop Up, Pakaian Adat, Anak Usia Dini. Hasil observasi yang dilakukan di RA Perwanida 3 Malang, diketahuisiswa yang cenderung terlalu aktif dalam belajar sehingga kurang memperhatikan penjelasan guru dalam karena selama ini guru hanya menggunakan sumber belajar berupa buku yang masih berupa teks dan sedikit gambar. Sehingga menimbulkan kejenuhan yang berakibat perhatian siswa kurang fokus sehingga kurang memperhatikan penjelasan guru dalam belajar karena rancangan buku ajar yang kurang disesuaikan dengan materi akibatnya memungkinkan materi yang disampaikan tidak dapat diserap dengan maksimal oleh siswa. Media Pop Upmerupakan sebuah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi. Pemanfaatan media pop up yang menarik sebagai sumber belajar yang menyenangkan, maka media pop up ini dikembangkan dengan menggunakan warna-warna yang cerah dan gambar-gambar yang menarik agar menarik ketertarikan pada anak. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan produk berupa media pop up yang valid dan layak digunakan dalam pengenalan pakaian adat daerah di Indonesia. Selain itu media pop up ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber belajar yang menarik pada pengenalan pakaian adat daerah Nusantara tema kebutuhanku sub tema pakaian tradisional. Penelitian ini menggunakan model pengembanganSugiyono. Subjek penelitian dalam pengembangan ini adalah siswa TK-B di RA Perwanida 3 Malang. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif (instrumen ahli media, ahli materi, dan observer). Hasil pengembangan media pop uppengenalan pakaian adat daerah Nusantara telah divalidasi oleh seorang ahli media, seorang ahli materi, dan diujicoba implementasikan kepada 20 siswa. Hasil validasi oleh ahli media diperoleh hasil persentase 83,75% di kategorikan valid, ahli materi diperoleh hasil persentase 87,50%di kategorikan valid. Uji coba lapangan didapat kesimpulan bahwa dari segi kemenarikan sudah terpenuhi dan dari segi efektivitas hasil belajar diperoleh total persentase 96,25%. Dapat disimpulkan bahwa media popyang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid dan layak digunakan untuk pembelajaran. Agar produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran, maka ada beberapa saran yang terkait dengan media pop up. Peran guru dibutuhkan untuk menjelaskan media pop up untuk pengenalan pakaian adat daerah Nusantara kepada siswa. Sebelum disebarluaskan sebagai media penunjang pembelajaran sebaiknya disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait seperti guru TK dan sekolah untuk memperoleh pengakuan dan perijinan sebagai media yang valid dan layak digunakan.

Pengaruh metode pembelajaran inkuiri terhadap prestasi belajar kimia siswa kelas II MAN I Bojonegoro pada pokok bahasan sistem koloid / Luthfi Fathurrahman

 

Pengaruh current ratio, tingkat suku bunga, dan beta akuntansi terhadap beta saham syariah di BEI tahun 2007-2009 / Alief Nur Rohmad

 

Kata Kunci: Current Ratio, Suku Bunga, Beta Akuntansi, dan Beta Saham Berkembangnya pasar modal dan kondisi perekonomian, berdampak pada resiko yang akan diterima oleh investor. secara teori resiko dibagi menjadi dua yaitu resiko unsistematis yang dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan dan resiko sistematis yang dipengaruhi oleh faktor eksternal perusahaan. terdapat ketidak konsistenan teori resiko sitematis yang dikemukakan oleh Jogiyanto. Teori tersebut menyatakan bahwa, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi beta saham seperti rasio likuiditas, Tingkat suku bunga dan beta akuntansi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh current ratio, tingkat suku bunga dan beta akuntansi, sehingga informasi tersebut dapat mempengaruhi besarnya beta saham syariah secara parsial dan simultan Populasi yang digunakan adalah semua perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2007-2009 yaitu sebanyak 78 perusahaan, dimana dari populasi tersebut terpilih 12 perusahaan sebagai sampel yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan, beberapa situs resmi penyedia data saham perusahaan dan data lainnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda, uji asumsi klasik serta uji hipotesis dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial current ratio berpengaruh negatif tidak signifikan, dengan korelasi bernilai negatif dengan signifikansi 0,939. Beta akuntansi secara parsial juga berpengaruh positif tidak signifikan dengan korelasi yang bernilai negatif dengan tingkat signifikan 0,269. Tingkat suku bunga secara parsial juga berpengaruh negatif tidak signifikan, dengan korelasi bernilai negatif dengan signifikansi 0,007. Sedangkan hasil penelitian ini secara simultan ketiga variabel independen tersebut memiliki pengaruh terhadap beta saham syariah dengan nilai signifikan 0.038 Berdasarkan penelitian ini maka disarankan investor dapat menggunakan variabel lain untuk menganalisis faktor yang menmpengaruhi beta saham. Untuk peneliti selanjutnya dapat menambah periode pengamatan serta sampel mengingat periode pengamatan yang dilakukan hanya tiga tahun dan terfokus pada perusahaan yang listing di JII

Penerapan strategi diferensiasi produk pada Jawa Pos Radar Malang / Deni Irfayanti

 

Kata Kunci: startegi diferensiasi, produk Globalisasi ditandai dengan dimulainya era perdagangan yang tidak mengenal batas-batas negara. Untuk menghadapi suatu persaingan yang ketat tersebut dibutuhkan manajemen yang handal dan mampu mengantisipasi pada semua persaingan. Pada dasarnya keberhasilan suatu perusahaan di dalam memproduksi dan memasarkan produknya sangat ditentukan oleh ketepatan strategi yang dipakai oleh perusahaan. Strategi adalah suatu kesatuan rencana perusahaan yang menyeluruh untuk mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang. Strategi yang harus digunakan oleh perusahaan agar produk yang dipasarkan lebih menarik dan berbeda adalah dengan diferensiasi produk atau biasa disebut sebagai memodifikasi produk. Unsur-unsur strategi adalah ruang lingkup tujuan dan sasaran, pengalokasian sumber daya, identifikasi keunggulan kompetitif yang layak, dan strategi diferensiasi yang sudah dilakukan dalam perusahaan tersebut. Untuk itu perusahaan perlu memahami kompetensi inti di dalam memiliki keunggulan dibandingkan para pesaing. Strategi yang memiliki ciri ini sering disebut sebagai srategi diferensiasi, yang meliputi strategi produk, personalia,citra dan pelayanan. Melalui strategi yang tepat maka akan dimungkinkan dapat dicapainya nilai kepuasan seperti yang diharapkan. Untuk melakukan diferensiasi perusahaan harus mencoba mengidentifikasi cara-cara spesifik yang menjadi suatu pembeda untuk mencapai keunggulan kompetitif. Karena dengan melakukan diferensiasi ini akan membuat produk atau jasa yang ditawarkan menjadi unik dipasar. Kalau produk yang ditawarkan berbeda dengan produk yang ada dipasaran, pelanggan akan bersedia membayar lebih mahal untuk menikmati perbedaan tersebut. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan dan mendapat laba yang besar sehingga kemajuan perusahaan akan menjadi nyata. Dalam penyusunan tugas akhir yang dimulai dari PKL, yang dilaksanakan mulai tanggal 7 Januari sampai 7 Maret 2011, penulis berusaha untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan strategi diferensiasi Jawa Pos Radar Malang. Tujuan yang ingin dicapai dari strategi diferensiasi dari Jawa Pos Radar Malang, serta kelebihan dan kekurangan dari strategi tersebut. Dengan hasil laporan ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan dan identifikasi pasar yang paling potensial untuk dikembangkan. Sehingga dapat mengembangkan Jawa Pos Radar Malang, serta lebih memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Pembuatan adsorben silika-selulosa. silika-selulosa-surfaktan, dan aplikasinya sebagai adsorben rhodamin B, tartrazin, dan campurannya / Setyowati Dewi Yulandari

 

ABSTRAK Yulandari, Setyowati Dewi. 2016. Pembuatan Adsorben Silika-Selulosa, Silika-Selulosa-Surfaktan, dan Aplikasinya sebagai Adsorben Rhodamin B, Tartrazin, dan Campurannya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. Kata kunci: adsorpsi, rhodamin B-tartrazin, silika-selulosa, silika-selulosa-surfaktan, surfaktan. Adsorben silika-selulosa mampu menyerap dan memisahkan campuran rhodamin B dan tartrazin. Sifat kepolaran silika-selulosa lebih rendah jika dibandingkan dengan silika gel, sehingga menghasilkan keterpisahan yang lebih baik. Berdasarkan penelitian sebelumnya, adsorben silika gel dapat ditambahkan dengan surfaktan n-CTMABr sehingga mampu meningkatkan daya adsorpsi terhadap rhodamin B, tartrazin, dan campurannya. Daya adsorpsi silika-selulosa dan silika-surfaktan belum memperoleh hasil yang baik sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu dengan pembuatan adsorben baru, yaitu silika-selulosa-surfaktan. Tujuan penelitian adalah (1) membuat adsorben silika-selulosa, dan silika-selulosa-surfaktan, (2) menguji keterpisahan antara campuran rhodamin B dan tartrazin dalam eluen etanol, metanol, dan surfaktan dalam etanol dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT), (3) mengetahui keterserapan rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode Batch dalam adsorben silika-selulosa, dan silika-selulosa-surfaktan. Penelitian eksperimental ini dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu (1) pembuatanadsorben silika-selulosa dan silika-selulosa-surfaktan yang masing-masing diperoleh dari ekstraksi silika sekam padi, hidrolisis selulosa nata de coco, dan perpaduan dengan surfaktan n-CTMABr, (2) karakterisasi adsorben, (3) aplikasi kemampuan adsorben dalam memisahkan rhodamin B dan tartrazin dalam berbagai eluen, (4) aplikasi kemampuan adsorben dalam mengadsorpsi rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode Batch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil karakterisasi uji fisik adsorbenyang meliputi kadar air, kadar abu, massa jenis, dan daya serap terhadap iod pada silika-selulosa-surfaktan lebih besar dibandingkan dengan silika-selulosa, namun hasil karakterisasi BET menunjukkan bahwa silika-selulosa memiliki luas permukaan, diameter pori, dan volume pori lebih besar daripada silika-selulosa-surfaktan, (2) kedua adsorben mampu memisahkan campuran rhodamin B dan tartrazin, namun silika-selulosa-surfaktan menghasilkan pola keterpisahanyang lebih baik pada eluen surfaktan dalam etanol, (3) silika-selulosa-surfaktan dapat mengadsorpsi rhodamin B, tartrazin, dan campurannya lebih baik dibandingkan silika-selulosa.

Pengembangan bahan ajar tata bahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand tingkat pemula / Miss Kholiyoh Salaeh

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo Hs, M. Pd, (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M. Pd. Kata Kunci: Bahan ajar tatabahasa, pembelajar Thailand tingkat pemula. Bahan ajar adalah salah satu komponen inti dalam sistem pembelajaran. Bentuk atau wujud bahan ajar sangat menentukan tercapainya keberhasilan tujuan pembelajaran. Karakteristik pembelajaran BIPA berbeda dengan karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia umum (Bahasa Indonesia bagi penutur Indonesia). Perbedaan mendasar antara BIPA dan bukan BIPA (bahasa Indonesia umum) terletak pada komponen pembelajarnya. Pembelajar BIPA adalah orang asing, sedangkan pembelajar BI umum adalah orang Indonesia. Pembelajar Thailand yang belajar bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam mempelajari tata bahasa Indonesia karena struktur dan tipe tata bahasa Indonesia dengan bahasa Thai sangat berbeda. Bahan ajar khusus tata bahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand belum pernah disusun sebelumnya. Untuk mensiasati masalah kesulitan tersebut, peneliti mencoba mengembangkan sebuah produk bahan ajar tatabahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand tingkat pemula. Penelitian ini untuk mengembangkan materi ajar berupa, bentuk produk penyajian materi tata bahasa, dan kerelevansian materi tata bahasa dengan kebutuhan pembelajar Thailand tingkat pemula. Model yang digunakan dalam penelitian ini model pengembangan R2D2 (reflective, recursive, design and development) yang diadopsi dari model R2D2 Jerry Willis (1995, 2000). Model ini bekerja berdasarkan tiga kegiatan pokok, yaitu: 1) kegiatan pendefinisian 2) kegiatan perencanaan dan pengembangan, dan 3) kegiatan penyebarluasan. Dalam kegiatan pendefinisian, peneliti melakukan tiga kegiatan. Ketiga kegiatan itu adalah (1) membentuk tim partisipatif, tim partisipatif terdiri dari tujuh orang, yaitu peneliti sendiri, satu orang pengajar, empat orang pembelajar Thailand, satu orang pakar BIPA, satu orang pakar bahan ajar. (2) pemecahan masalah berkelanjutan dan (3) pemahaman konteks dengan mengajak tim partisipatif memasuki konteks BIPA. Dalam perancangan dan pengembangan, peneliti juga melaksanakan lima kegiatan, yaitu: (1) pemilihan lingkungan pengembangan (membatasi lingkungan pengembangan bahan ajar BIPA yang digunakan di Indonesia, khususnya program BIPA FS UM), 2) memilih format media pengembangan berupa buku teks, dan 3) pemilihan strategi evaluasi, (4) Desain pengembangan produk, dan (5) Prosedur pengembangan produk hingga tersusun produk akhir. Prosedur pengembangan produk meliputi a) pengembangan bahan ajar, b) uji coba, c) refleksi dan rekursi yang dilakukan secara berulang sehingga tersusun produk akhir. Penelitian ini belum menjangkau upaya penyebarluasan yang sesungguhnya, misalnya menggandakan produk dalam jumlah yang banyak untuk disebarkan ke lingkup pemakaian yang lebih luas. Produk akhir pengembangan hanya akan disebarluaskan dilingkungan terbatas di mana pembelajar Thailand belajar Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya sebuah produk bahan ajar tata bahasa Indonesia sebagai bahan ajar tambahan/pendamping bagi bahan ajar utama yang telah digunakan untuk pembelajar Thailand di kelas. Produk akhir ini dapat menfalisitasi pengajar dan pembelajar dalam kegiatan belajar mengajar di BIPA. Bahan ajar ini terdiri dari 10 pelajaran. Setiap unit dibutuhkan proses KBM selama 120 menit (2 jam). Komponen bahan ajar berupa 1) konsep materi, 2) ilustrasi penggunaan, dan 3) latihan-latihan. Bahan ajar tata bahasa Indonesia bagi pembelajar Thailand tingkat pemula ini memiliki konten materi yang terdiri atas sepuluh bagian. Kesepuluh bagian tersebut adalah 1) pengenelan huruf alfabet dalam bahasa Indonesia, 2) jenis kata dalam bahasa Indonesia, 3) kata tanya, 4) kata bilangan, 5) kata ganti nama 6) kata perintah, 7) Penanda aspek, 8) konjungsi, 9) kata kerja berawalan me[N]-, ber-, di, memper, diper, dan 10) akhiran –kan dan i-. Bahan ajar ini disusun untuk melibatkan respon pengguna secara aktif. Produk bahan ajar ini juga terkategorikan sebagai tutorial mandiri. Pembelajar tingkat lanjut dapat menggunakan bahan ajar secara mandiri. Konsep materi tatabahasa diterjemahkan ke dalam bahasa Thai. Contoh/ilustrasi yang disajikan mencerminkan penggunaan kalimat yang digunakan sehari-hari.

Peningkatan hasil belajar siswa melalui metode mind mapping dalam pembelajaran IPS kegiatan ekonomi masyarakat kelas V di SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar / Niken Wiyanti

 

Kata kunci : hasil belajar siswa, mind mapping. Hasil observasi penelitian diketahui bahwa pada semester I tahun pelajaran 2010-2011 hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS hanya mencapai rata-rata 57,5 paling rendah bila dibandingkan dengan nilai rata-rata mata pelajaran lain. Dari 11 siswa, terdapat 3 siswa mendapat nilai 55, 2 siswa 50 dan 1 siswa mendapat nilai 48. Dalam kegiatan pembelajaran hanya beberapa anak saja yang antusias memperhatikan, sedangkan yang lain asyik berbicara sendiri bahkan ada berapa anak yang menyandarkan kepala di meja. Jarang dijumpai siswa mencatat materi yang diterangkan oleh guru, sering kali jika tidak diminta mencatat materi yang ditulis guru di papan tulis siswa tidak akan menulis. Tujuan penelitian sesuai dengan rumusan masalah adalah sebagai berikut. (1) Untuk mendeskripsikan penerapan metode mind mapping dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS Kelas V Di SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar pada setiap siklus. (2) Untuk mengetahuai hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS Kelas V di SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar dari penggunaan metode mind mapping. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitiannya yaitu siswa kelas V SDN Bajang 03 Kabupaten Blitar yang berjumlah 11 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Setelah menggunakan metode mind mapping pada siklus I,hasil belajar siswa mencapai yaitu nilai rata- rata 56,3 sedangkan pada siklus II mencapai rata-rata 63,3 sehingga dapat diketahui hasil belajar siswa meningkat 7,3. Peningkatan aktivitas belajar dari pra tindakan dan siklus I sebanyak 14,2. Pada siklus II aktivitas belajar siswa menjadi 76,5, peningkatan 21,8 dari pra tindakan,dan peningkatan 7,6 dari siklus I. Berdasarkan peningkatan hail belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode mind mapping yang di laksanakan dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN Bajang 03. Untuk itu, hendaknya para guru lebih aktif dan kreatif dalam menggunakan metode mind mapping dalam pembelajaran IPS, sehingga anak menjadi lebih aktif dan hasil belajarnya meningkat maksimal.

Dampak pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan terhadap kehidupan masayarakat Desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Fatriyani

 

ABSTRAK Fatriyani. 2016. Dampak Pembangunan Jalan Tol Alternatif Gempol-Pasuruan Terhadap Kehidupan Masyarakat Desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si (2) Yuniastuti, S.H, M.Pd. Kata kunci: Pembangunan, Jalan tol, Dampak bagi Masyarakat. Pembangunan pada hakikatnya merupakan suatu upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk peningkatan daya saing ekonomi, dan kemampuan dalam IPTEK, serta tetap memperhatikan kualitas lingkungan hidup. Pembangunan jalan tol yang dilakukan di desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam bidang infrastruktur untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar, dan juga sebagai alat untuk mendekatkan pasar-pasar produksi dengan daerah pasar karena diketahui bahwa daerah Pasuruan sendiri yang sebagian besar merupakan wilayah industri dengan berbagai macam produksi. Selain itu adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan ini juga untuk mengurangi kemacetan yang sering terjadi di wilayah Pasuruan. Rumusan penelitian ini mencakup (1) latar belakang diadakannya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; (2) dampak positif dan negatif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan terhadap kehidupan masyarakat Desa Gununggangsir; (3) kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; dan (4) upaya mengatasi kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal meliputi (1)latar belakang diadakannya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; (2) dampak positif dan negatif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan terhadap kehidupan masyarakat desa Gununggangsir; (3) kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir; dan (4) upaya untuk mengatasi kendala yang ada dalam pembangun jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan di desa Gununggangsir. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang membahas menjabarkan tentang dampak pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di dusun Pajejeran dan dusun Kepuhrejo desa Gununggangsir Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Teknik pengunpulan data yang digunakan adalah (1) pengamatan; (2) wawancara; (3) dokumentasi; (4) catatan lapangan; dan (5) penggunaan dokumen. Kemudian data yang diperoleh dalam penelitian diolah dengan dianalisis menggunakan beberapa cara seperti: (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) pemrosesan satuan; (4) kategorisasi; dan (5) verifikasi/ penafsiran data. Tahap-tahapan yang dilakukan dalam proses penelitian ini meliputi: (1) Tahapan pra lapangan; (2) Tahapan pekerjaan lapangan; (3) Tahap analisis data; dan (4) Tahap penulisan laporan. Hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan yaitu (1)Latar belakang diadakannya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan adalah kebutuhan prasarana umum yang dapat menunjang aktivitas masyarakat dengan tujuan untuk memperlancar arus lalu lintas dan perdagangan ataupun kegiatan lain yang melintasi Surabaya, Gempol, Pandaan, Pasuruan, Probolinggo, sampai Banyuwangi dan sekitarnya karena wilayah desa Gununggangsir yang strategis untuk dijadikan salah satu arus lintasan tersebut. (2)Dampak positif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan bagi masyarakat desa Gununggangsiradalah adanya kemudahan akses lalu lintas bagi masyarakat, sebagai alat penunjang aktivitas masyarakat maupun industri baik dari segi ekonomi maupun sosial, dan adanya renovasi makam sesepuh dusun Kepuhrejo pasca pembangunan tol ruas Gempol-Pasuruan yang nantinya dapat dijadikan aset desa sebagai salah satu destinasi atau lokasi pariwisata religi. (3)Dampak negatif dari adanya pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan bagi masyarakat desa Gununggangsiradalah berupa getaran, debu akibat aktivitas tol maupun kendaraan yang digunakan dalam proyek terutama ketika musim kemarauserta jalanan menjadi becek ketika musim hujan. Selain itu dampak negatif yang lain di dusun Pajejeran yaitu adanya penutupan jalan warga oleh pihak tol tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu, kemudian dampak negatif yang dialami masyarakat dusun Kepuhrejo yaitu kehilangan salah satu aset dusun yaitu pemandian atau sumber peninggalan purbakala yang ditimbun oleh pihak tol untuk digantikan dengan badan tol ruas Gempol-Pasuruan. (4) Kendala yang ada dalam pembangunan jalan tol alternatif Gempol-Pasuruan adalah berupa pembebasan lahan di dusun Kepuhrejodan sistem sewa yang berlaku bagi pihak tol kepada perusahaan terkait setiap aktivitas tol dilakukan. Kemudian kendala yang bagi warga yaitu terhambatnya aktivitas mereka karena kondisi jalan yang kurang layak, selain itu untuk dusun Pajejeran sendiri yaitu karena adanya penutupan salah satu jalan dusun membuat warga terhambat, selain mengakibatkan jalan menjadi menikung juga berdampak pada jalan yang rawan kecelakaan. Bagi pihak tol sendiri dengan adanya penutupan tersebut memberikan kendala besar karena protes dari warga setempat yang mengakibatkan dilakukannya penghentian sementara. (5) Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak tol untuk menanggulangi yaitu dengan mempertanggungjawabkan kesepakatan yang telah dibuat serta menjawab tuntutan masyarakat yang ada. Untuk kendala seperti debu, getaraan dan lainnya pihak tol telah memberikan kompensasi, dan untuk di dusun Kepuhrejo pihak tol diharapkan dengan bijaksana dapat mengambil kesepakatan untuk segera dialakukannya pembebasan lahan yang masih ada serta segera memenuhi janjinya merenovasi makam sesepuh untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi.

Pengaruh model pembelajaran dan kemampuan awal terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen pada materi kesetimbangan kimia / Nur Candra Eka Setiawan

 

Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed dan (2) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc, Ph.D Kata kunci: model pembelajaran, kemampuan awal, hasil belajar kimia, kemampuan berpikir tingkat tinggi Guru-guru di SMAN 1 Turen telah mencoba menerapkan model-model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun masih mengalami kendala dalam implementasinya. Peningkatan kualitas pembelajaran yang menekankan pembelajaran proses dapat dilakukan dengan memberi pengalaman kerja ilmiah kepada siswa. Pengalaman kerja ilmiah siswa yang diterapkan melalui model pembelajaran siklus belajar tipe hypothetical-deductive (HDLC), kooperatif tipe student teams achievement divisions (STAD) dan metode pembelajaran langsung (MPL) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dampak penggunaan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL berdasarkan kemampuan awal siswa pada materi pokok kesetimbangan kimia terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dengan desain faktorial 3 × 2. Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Turen, sampel penelitian dipilih dengan teknik cluster random sampling terdiri atas 3 kelas yaitu kelas XI IPA 2 (36 siswa) sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran HDLC, kelas XI IPA 3 (36 siswa) sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran STAD dan kelas IX IPA 4 sebagai kelas yang dibelajarkan dengan MPL. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa 30 soal valid dengan validitas isi dari instrumen tersebut sebesar 95,3% dan reliabilitas 0,917. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan program Statistical Package for Social Sciences versi 16.0 for windows pada taraf signifikan α = 0,05 dengan uji anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL pada materi pokok Ketimbangan Kimia kelas XI SMAN 1 Turen; (2) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah pada materi pokok Kesetimbangan Kimia kelas XI SMAN 1 Turen; dan (3) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL dengan memperhatikan kemampuan awal siswa.

Promosi, kendala, dan solusi di Perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang / Moh. Zawawi

 

ABSTRAK Zawawi, Mohammad. 2015. Promosi, Kendala dan Solusi di Perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Tugas Akhir, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. KusubaktiAndajani, M.Pd. (II) Drs. Hari Santoso, S.Sos. Kata Kunci: Promosi, Perpustakaan Promosi perpustakaan merupakan usaha untuk meningkatkan pemustaka datang ke perpustakaan bisa dengan cara membujuk, menginformasikan dan merayu demi mendorong suksesnya sebuah perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang menerapkan promosi ialah perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian yang berkaitan tentang promosi perpustakaan di perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang belum ada. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai promosi yang dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tiga hal, yang mencangkup usaha promosi yang sudah dilakukan, kendala apa saja yang dihadapi ketika melakukan promosi, upaya pemecahan masalah terhadap kendala yang telah dihadapi dalam melakukan promosi perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa paparan dalam bentuk verbal mengenai promosi perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang. Pengumpulan data di lakukan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan ialah menggunakan wawancara terstruktur dan participant observation (observasi berperan serta). Analisisdata dimulai dengan cara menginterpretasikan data berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan dan wawancara dengan landasan teori yang ada. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama promosi yang dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang menggunakan teknik periklanan dan publisitas. Periklanan dilakukan melalui dua media yaitu media cetak dan media elektronik/non cetak. Media cetak yang dilakukan dalam melakukan promosi yaitu spanduk, x banner dan newsletter. Media elektronik/non cetak yang dilakukan yaitu internet dan penayangan video. Teknik publisitas yang dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang sebagai berikut penayangan buku baru, mengikutsertakan pemustaka dalam pengusulan buku baru, pemaparan sertifikat, seminar, pengadaan bazar atau pameran dan penyelenggaraan pendidikan pemakai. Kedua, kendala yang dihadapi perpustakaan Universitas Kanjuruhan Malang ketika melakukan promosi dibagi menjadi dua kendala dari luar dan dalam. Kendala dari dalam antara lain pandangan tradisional pemustaka, pengetahuan pustakawan mengenai promosi, kendala dana dan kurangnya kerjasama antar pustakawan. Untuk kendala dari luar, komitmen dari pimpinan, kendala dengan staf pengajar dan manajemen perpustakaan. Ketiga, solusi pemecahan masalah yang sudah dilakukan perpustakaan Universitas Kanjuruan Malang dalam mengatasi kendala yang ada sebagai berikut (1) perpustakaan akan membuat komitmen dari semua pihak supaya tidak lagi ada salah paham yang berkelanjutan; (2) untuk permasalahan dengan pimpinan pustakawan akan berusaha semakin giat dalam menunjukkan kinerja yang terbaik; (3) solusi buat persepsi orang yang negatif maka harus meneliti dulu kebutuhan mereka; (4) solusi untuk dengan staf pengajar nanti diberikan dalam evaluasi ke pimpinan dan akan membuat kebijakan baru dengan ada masalahnya seperti ini; (5) kekurangan keefektifan pada waktu P3T akan dirundingkan supaya lebih efektif pada waktu seminar ketika bertemu kepala prodi serta para dosen; dan (6) solusi dari dana pustakawan akan anggarkan buat promosi tahun depan karena dirasa sangat penting untuk menunjang minat kunjung pemustaka. Untuk sementara ini pustakawan menggunakan uang denda digunakan dalam melakukan promosi perpustakaan.

Peningkatan hasil belajar seni tari menyususn sinopsis tari kreasi tunggal melalui metode kooperatif model think pair share pada kelas X-Pemasaran SMK Ahmad Yani Gurah Kabupaten Kediri / Jamil Malika Ulum

 

ABSTRAK Ulum, Jamil Malika. 2016. Peningkatan Hasil Belajar Seni Tari Menyusun Sinopsis Tari Kreasi Tunggal Melalui Metode Kooperatif Model Think Pair Share pada Kelas X-Pemasaran SMK Ahmad Yani Gurah Kabupaten Kediri. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd, (II) Rully A Zandra, M.Sn, M.Pd. Kata Kunci: Hasil belajar, seni tari, sinopsis tari kreasi, TPS, SMK, Kediri. Data awal yang diperoleh diketahui bahwa hasil belajar seni tari menyusun sinopsis tari kreasi siswa kelas X-Pemasara SMK Ahmad Yani Gurah belum mencapai KKM. Penyebab rendahnya nilai siswa yaitu guru belum menggunakan metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diberikan. Upaya yang dilakukan adalah menggunakan strategi atau model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik masalah. Peneliti menggunakan metode kooperatif model TPS sesuai karakteristik permasalahan, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar seni tari menyusun sinopsis tari kreasi tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode kooperatif model TPS yang dapat meningkatkan hasil belajar menyusun sinopsis tari kreasi tunggal berdasarkan tari Nusantara pada siswa kelas X-Pemasaran di SMK Ahmad Yani Gurah Kediri. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode penelitian PTK, mengacu pada model siklus oleh Arikunto. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi dengan menggunakan dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan siklus I, nilai rata-rata ranah afektif 88,3 dan kognitif 67,8, sedangkan nilai ketuntasan belajar secara klasikal ranah afektif 80,5% dan kognitif 20,7%. Ketercapaian guru dalam menerapkan metode kooperatif model TPS sebesar 84,37%. Siklus II, nilai rata-rata ranak afektif 94,2 dan kognitif 87, sedangkan nilai ketuntasan belajar ranah afektif 91,5% dan kognitif 90%. Ketercapaian guru dalam menerapkan metode kooperatif model TPS sebesar 93,75%. Indikator ranah afektif yaitu jujur, disiplin, dan tanggungjawab. Indikator ranah kognitif yaitu pengertian, tujuan, tahapan menyusun, contoh, dan membuat sinopsis tari kreasi tunggal. Siswa dikatakan tuntas belajar jika mendapat skor 75 atau di atas 75. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan metode kooperatif model TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi menyususn sinopsis tari kreasi berdasarkan tari Nusantara. Hasil yang dicapai yaitu hasil belajar nilai rata-rata dan nilai ketuntasan siswa yang meningkat.

Menyelesaikan masalah keanggotaan ideal dengan basis Groebner / oleh Eny Daris Silmi

 

Penerapan model pembelajaran Guided Note Taking untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Ngetos V Kabupaten Nganjuk / Verru Ayudia Luviasari

 

Perbedaan prestasi belajar sejarah siswa kelas 2 yang diajar dengan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw dan metode membaca buku teks di SMA Laboratorium UM / oleh Nila Sholicha

 

Pengembangan media pembelajaran interaktif pada pokok bahasan kemagnetan mata pelajaran fisika untuk kelas IX di SMP Negeri 18 Malang / Jayanti Tunggal Nardi

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran Interaktif, Kemagnetan Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui media tertentu ke penerima pesan. Sesuatu dapat dikatakan media pembelajaran apabila media tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan dengan tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran. Berbagai media dapat digunakan salah satunya adalah media pembelajaran interaktif. Dengan media interaktif pebelajar menjadi lebih aktif dalam mengikuti informasi yang terdapat di media tersebut, karena interaktif ini memiliki komunikasi dua arah. Sehingga konsep fisika menjadi lebih menarik sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mempelajari dan menguasainya. Berdasarkan hasil observasi awal melalui wawancara dengan guru fisika di sekolah SMP Negeri 18 Malang kelas IX data yang diperoleh yaitu selama proses pembelajaran fisika di sekolah pada pokok bahasan kemagnetan saat proses belajar mengajar guru megalami kesulitan dalam penyampaian materi dan keterbatasan alat praktek pada saat melakukan praktikum. Hal ini menyebabkan siswa kurang termotivasi dan merasa kesulitan dalam memahami dan membayangkan konsep-konsep pada pokok bahasan kemagnetan secara jelas. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan mengembangkan media pembelajaran interaktif mata pelajaran fisika pada pokok bahasan kemagnetan kelas IX di SMP Negeri 18 Malang. Dalam penelitian dan pengembangan ini mengadopsi model pengembangan dari Sugiyono (2008:298) dan Sadiman (2002:98), peneliti menggunakan delapan langkah. Adapun delapan langkah yang dilakukan antara lain: 1) analisis kebutuhan dilakukan wawancara, 2) perumusan tujuan dengan meminta RPP, 3) pengembangan materi dilakukan penyusunan materi, 4) produksi mulai merancang dan membuat produk, 5) validasi produk memvalidasi produk dengan cara pemberian angket, 6) revisi produk memperbaiki produk yang telah divalidasi, 7) uji coba produk dilakukan pada siswa, 8) produk akhir yaitu hasil akhir produk. Produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini berupa media pembelajaran interaktif. Berdasarkan hasil persentase dari evaluasi yang dilakukan oleh ahli media 95,83%, ahli materi 96%, uji coba kelompok kecil 80,28%, dan uji coba kelompok besar 93,18%. Memperoleh hasil rata-rata keseluruhan yaitu 91,32% yang dinyatakan valid tanpa revisi. Jadi, dari keseluruhan hasil evaluasi dan uji coba lapangan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran interaktif ini sudah layak digunakan sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa di sekolah SMP Negeri 18 Malang.

Karakteristik teks berita karya siswa kelas I SMPN 6 Malang / oleh Indah Sriwilujeng

 

Peningkatan kemampuan bercerita melalui pemanfaatan media boneka penchet pada anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 24 Malang / Shokhi Batul Khikmah

 

Kata kunci: kemampuan bercerita, pemanfaatan media boneka penchet, anak TK A Penelitian ini berlatar belakang pada masih rendahnya kemampuan bercerita anak dalam hal menceritakan gambar yang dibuat sendiri atau gambar yang telah disediakan. Hal ini disebabkan sarana pembelajaran khususnya media untuk pembelajaran kemampuan berbahasa kurang, guru kurang mengembangkan media pembelajaran yang ada sehingga hasil pembelajaran masih belum optimal, anak terbiasa mendengarkan cerita guru dan jarang diberi kesempatan untuk bercerita didepan kelas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan media boneka penchet dalam meningkatkan kemampuan bercerita pada anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 24 Malang; (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita anak kelompok A di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 24 Malang dengan diterapkan pemanfaatan media boneka penchet. Penelitian ini dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 24 Malang, pada kelompok A yang berjumlah 27 anak. Instrumen pada penelitian ini menggunakan lembar observasi berupa instrumen penilaian. Penelitian dilaksanakan atas 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media boneka penchet dapat meningkatkan kualitas pembelajaran bercerita dimana pemanfaatan media tersebut telah dapat menumbuhkan semangat belajar anak dan keaktifan anak dalam pembelajaran bercerita, hal ini ditunjukkan dengan anak berebut maju untuk menceritakan media yang telah dibuat. Berkaitan dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini disarankan guru lebih sering memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri ataupun yang sudah disediakan dan melibatkan anak secara aktif serta membuat media yang menarik perhatian anak. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa khususnya bercerita agar dapat berkembang secara optimal.

Kemampuan menulis kalimat efektif dalam pengumuman siswa kelas VII SMP Negeri 3 Malang tahun ajaran 2004/2005 / oleh Hanik Setyowati

 

Proses layanan perpustakaan berbasis TI di SMA Negeri 3 Malang / Agung Prabowo

 

Kata Kunci: proses layanan, perpustakaan berbasis TI Setelah ditetapkanya sebagai sekolah penyelenggara Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Pembinaan SMA Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Nomor : 564.a/C4/MN/2007 tentang Penetapan Sekolah Penyelenggara Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional (SMA BI) tertanggal 15 Juni 2007, SMA Negeri 3 Malang secara bertahap terus mengembangkan sarana dan prasarana yang ada di antaranya adalah perpustakaan. Perpustakaan merupakan salah satu fasilitas yang sangat penting, sebab perpustakaan yang representatif dapat memberikan dukungan dan mempunyai andil yang sangat besar terhadap berlangsungnya proses pembelajaran yang baik. Oleh sebab itu, sejalan dengan tuntutan zaman, upaya pengembangan fasilitas perpustakaan SMA Negeri 3 Malang terus dilakukan secara bertahap. Penelitian ini dirumuskan untuk menjawab beberapa masalah layanan perpustakaan yang representatif dan berbasis Teknologi Informasi (TI) yaitu analisis kebutuhan dalam perencanaan perpustakaan yang berbasis TI, proses pelaksanaan pelayanan perpustakaan yang berbasis TI, proses evaluasi terhadap layanan perpustakaan berbasis TI, dan proses pengawasan di dalam layanan perpustakaan berbasis TI di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan rancangan penelitian studi kasus. Untuk jenis penelitiannya adalah fenomonologis. Pada penelitian ini, peneliti merupakan satu-satunya pengumpul data yang melakukan sendiri teknik-teknik pengumpulan data. Oleh karena itu, kepekaan peneliti sebagai instrumen kunci dalam mengkaji kasus yang berhubungan dengan objek penelitian adalah hal penting dalam mengumpulkan data. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan di dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indept interview), pengamatan partisipasi (participatory observation), dan dokumentasi. Peneliti melakukan analisis data dengan tematik, yaitu dengan cara Data collection, data reduction, pengelompokan data, pengkodean data, dan Conclusion drawing/verifying. Dari teknik analisis data dapat diperoleh hasil penelitian tentang proses layanan perpustakaan berbasis TI di SMA Negeri 3 Malang. Analisis kebutuhan yang dilakukan untuk perencanaan digital library di SMA Negeri 3 Malang meliputi analisis software dan hardware, kesesuaian antara software dan hardware dengan kebutuhan pengguna perpustakaan, dan keadaan sumber pustaka yang ada pada digital library. Pelaksanaan layanan perpustakaan digital yang ada di SMA Negeri 3 Malang meliputi jenis-jenis sumber pustaka pada digital library, pelaksanaan layanan digital library, pelatihan dan buku petunjuk bagi pengguna perpustakaan digital, personil yang membantu digital library, tata tertib dan prosedur layanan digital library, dan pencatatan terhadap pemakai layanan. Evaluasi layanan perpustakaan digital yang ada di SMA Negeri 3 Malang meliputi persediaan bahan pustaka dan hardware pada digital library, sumber pustaka yang sering diminati pengguna digital library, pendayagunaan software atau menu di digital library, teknik evaluasi digital library, dan tindak lanjut atau proteksi terhadap bahan pustaka yang tidak berguna. Sedangkan pengawasan yang dilakukan untuk layanan digital library di SMA Negeri 3 Malang meliputi pengawasan yang dilakukan pustakawan terhadap pengguna perpustakaan di dalam mengakses sumber pustaka, dan proteksi terhadap situs yang tidak bermanfaat.

Peningkatan kemampuan menyimak dongeng dengan metode mind map melalui media animasi audiovisual kelas VII F MTs Lumajang / Luly Zahrotul Lutfiyah

 

Kata Kunci: kemampuan menyimak, pembelajaran menyimak, metode mind map melalui media animasi audiovisual, peningkatan kemampuan menyimak Menyimak mempunyai peranan penting karena menyimak merupakan dasar untuk menguasai kemampuan berbahasa lainnya. Oleh karena itu, penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran kemampuan menyimak dapat tercapai. Kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran menyimak masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di MTsN Lumajang, kemampuan menyimak siswa masih rendah dan belum mencapai nilai standar yang ditetapkan sekolah tersebut terutama pada kemampuan menyimak hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan. Berdasarkan alasan tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam meningkatkan kemampuan menyimak dongeng, (2) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam menentukan hal menarik dari unsur dongeng yang meliputi(tokoh,watak, latar dan tema), (3) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam menunjukkan hal menarik tentang relevansi tema dengan situasi sekarang, (4) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam menentukan hal menarik dalam dongeng dengan alasan yang logis, (5) mendeskripsikan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam meningkatkan kemampuan menyimpulkan pesan dongeng. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, (3) tes, (4) dokumentasi, dan (5) catatan Lapangan. Metode Pembelajaran mind map melalui media animasi audiovisual dapat meningkatkan kemampuan menyimak dongeng siswa kelas VII F MTsN Lumajang. Berdasarkan hasil evaluasi siklus 1 dan siklus 2 dapat dibuktikan perolehan skor kumulatif terjadi peningkatan dan masing-masing aspek juga terjadi peningkatan kecuali pada aspek kemenarikan relevansi dongeng. Aspek pemahaman isi pada siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 82% dan siklus 2 sebesar 90% . Aspek kemenarikan unsur dongeng pada siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 34% dan siklus 2 sebesar 51%, aspek kemenarikan relevansi dongeng siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 62% dan siklus 2 54%, aspek mengungkapan hal-hal menarik dalam dongeng dengan alasan yang logis pada siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 74% dan siklus 2 sebesar i ii 87%, aspek kesimpulan pesan dongeng siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 75% dan siklus 2 sebesar 79%, dan skor kumulatif siswa siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 72% dan siklus 2 sebesar 80%. Pada hasil observasi juga terjadi peningkatan, secara umum kondisi pembelajaran cukup kondusif. Situasi kelas dapat dikendalikan, siswa merasa senang dengan metode mind map dan VCD dongeng yang digunakan sebagai media untuk menyimak dongeng. Minat siswa dalam mengikuti kegiatan menyimak dongeng cukup besar. Hal-hal yang disarankan untuk peneliti selanjutnya sebaiknya meneliti penerapan metode pembelajaran mind map dalam upaya untuk meningkatkan aspek afektif siswa. Bagi guru Bahasa Indonesia hendaknya menerapkan metode pembelajaran mind map melalui media animasi audiovisual sebagai variasi metode pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti pembelajaran.

Pengaruh kondisi sosial dan ekonomi terhadap diversifikasi mata pencaharian rumah tangga petani Desa Bakung Kecamatang Udanawu Kabupaten Blitar / Novia Dita Kurnia

 

Kata Kunci: kondisi sosial, ekonomi, diversifikasi, pengaruh. Sektor pertanian terutama tanaman pangan (padi) mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian di Kecamatan Udanawu. Meskipun demikian, sektor pertanian cenderung mengalami penurunan peranan pertanian secara sektoral. Seiring dengan hal tersebut maka tingkat pendapatan petani juga menurun. Keadaan demikian dipengaruhi oleh berbagai indikator yang berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi petani. Hal ini dibuktikan dengan adanya mayarakat petani yang mempunyai mata pencaharian yang berasal dari non sektor pertanian sebagai mata pencaharian sambilan (part time). Berbagai masalah yang sering dialami oleh petani tersebut pada umumnya disebabkan oleh penyempitan lahan, posisi petani yang tidak menguntungkan pada saat pemasaran hasil pertanian karena belum mempunyai harga tawar, harga sarana produk padi untuk usaha pertanian tidak seimbang dengan harga hasil produksi, sehingga usaha tani tersebut jika dianalisa dengan benar kebanyakan tidak menguntungkan. Hal ini menyebabkan petani kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam keluarga. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui pengaruh kondisi sosial terhadap diversifikasi mata pencaharian rumah tangga petani, 2) mengetahui pengaruh kondisi ekonomi terhadap diversifikasi mata pencaharian rumah tangga petani, 3) mengetahui bobot sumbangan terbesar dari masing-masing faktor yang berpengaruh pada diversifikasi mata pencaharian rumah tangga petani Desa Bakung Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian survey. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan kondisi yang ada di daerah penelitian. Populasi penelitian adalah seluruh petani yang melakukan diversifikasi mata pencaharian. Sampel diambil dengan cara random sampling sebanyak 80 KK rumah tangga petani yang datanya direkam menggunakan kuesioner. Data mentah yang terkumpul dimasukkan dalam tabulasi tunggal kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa semua variabel yang diteliti kecuali kodisi sosial yang terdiri dari variabel beban tanggungan dan tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pendapatan sampingan. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa semua variabel bebas secara simultan/bersama-sama mampu mempengaruhi pendapatan sampingan dalam rumah tangga petani. Secara parsial hanya terdapat tiga variabel yang mempengaruhi pendapatan sampingan di daerah penelitian yaitu kondisi ekonomi yang terdiri dari variabel hasil panen, pendapatan keluarga, dan pengeluaran. Variabel bebas yang mempunyai bobot sumbangan terbesar terhadap pendapatan sampingan adalah hasil panen.

Peningkatan kemampuan membaca melalui menggambar bebas dengan bidang lingkaran pada kelompok B di TK Kartika IV-80 kota Malang / Alfiah

 

Kata kunci: membaca, menggambar, TK Kemampuan berbahasa khususnya dalam membaca anak pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang, pada pra penelitian menunjukkan hanya 20% dari 20 anak yang mampu menyebutkan nama gambar, menceritakan gambar serta menyebutkan ciri-ciri gambar. Kegiatan membaca pada anak Taman Kanak-kanak selalu berpusat pada guru, sehingga anak kurang tertarik dan merasa tertekan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran melalui menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran untuk meningkatkan kemampuan membaca, pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang melalui dibelajarkan menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain PTK. Subyek penelitian 20 anak pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilakukan selama dua siklus, setiap siklus meliputi tahapan: (1) Perencanaan Tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. Analisis data yang digunakan deskriptif kualitatif. Instrumen pengumpulan data berupa foto, dokumen yang berupa karya anak dan dokumen nilai yang menggambarkan kemampuan membaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran melalui menggambar bebas dengan dasar lingkaran kemudian diberi tulisan yang berbentuk kata benda, lalu anak maju kedepan membaca gambar serta membaca kata, dapat meningkatkan kemampuan membaca pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80.Pada proses peningkatan kemampuan membaca dengan penerapan menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran pada siklus I memperoleh 70% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 90%, pada siklus II lebih baik dari siklus I. Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan membaca melalui menggambar bebas dapat dilaksanakan dengan baik pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang, disarankan pada guru TK maupun bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan pembelajaran melalui menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran dengan tema yang berbeda sehingga akan menambah kreatifitas anak.

Pengembangan multimedia interaktif pembelajaran IPS dengan pendekatan kontekstual berbasis potensi daerah Kabupaten Majene Provinsi Sulawewsi Bara / M. Arif

 

ABSTRAK Arif, M. 2016. Pengembangan Multimedia Interaktif Pembelajaran IPS dengan Pendekatan Kontekstual Berbasis Potensi Daerah Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat. Tesis Program Studi Pendidikan Dasar IPS. Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sudarmiatin, M. Si, (II) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M. Ed., M. Si Kata kunci: Multimedia Interaktif, Kontekstual, Potensi Daerah, IPS Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh tuntutan terciptanya pembelajaran yang relevan dan bermakna. Pada studi pendahuluan, ditemukan masih kurangnya bahan ajar dan sumber belajar yang memperhatikan karakteristik dan kebutuhan belajar siswa. Hal ini berdampak pada kurangnya motivasi dan minat belajar siswa yang berujung pada rendahnya capaian kompetensi belajar siswa. Penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan multimedia pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi yang didesain untuk dapat digunakan secara interaktif. Multimedia interaktif ini dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa kelas VII SMP, untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Model pengembangan yang digunakan adalah modifikasi model pengembangan oleh Borg & Gall (2003), yang meliputi 6 langkah, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) validasi produk, (5) uji coba produk, dan (6) produk akhir. Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini berupa multimedia interaktif untuk pembelajaran IPS SMP kelas VII pada tema potensi dan pemanfaatan sumber daya alam, dan dilengkapi dengan buku petunjuk penggunaan. Keunggulan multimedia ini yaitu memiliki karakteristik kontekstual. Dari segi desain multimedia ini menggunakan gambar latar dan musik pengiring yang berasal dari daerah setempat. Dari segi materi, multimedia ini mengintegrasi kondisi nyata yang ada di lingkungan sekitar siswa, muatan materi pembelajaran mengangkat potensi dan keunggulan yang dimiliki daerahnya. Mutimedia juga sudah dilengkapi dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang disusun secara lengkap, jelas dan sistematis, sehingga secara kesuluruhan, penggunaan multimedia dapat dioperasikan secara mandiri dalam bentuk interaktif. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kelayakan multimedia interaktif melalui uji validasi oleh ahli materi dan ahli desain, juga uji coba produk terhadap subjek coba, yaitu guru IPS dan siswa kelas VII SMP Negeri 3 Majene. Hasil penelitian menunjukkan pada uji validasi oleh ahli materi dan desain, multimedia tergolong valid. Tingkat kepraktisan pada uji coba kelompok kecil dan lapangan mencapai kriteria praktis. Tingkat kemenarikan multimedia pada uji coba kelompok kecil dan lapangan mencapai kriteria menarik. Tingkat keefektifan multimedia dari aktivitas belajar siswa mencapai kriteria aktif dan hasil evaluasi belajar secara klasikal mencapai kriteria tuntas. Hasil respon pada uji coba lapangan dengan kriteria efektif. Disimpulkan bahwa multimedia interaktif pada tema potensi dan pemanfaatan SDA layak digunakan sebagai bahan ajar dan sumber belajar IPS di kelas VII SMP untuk menciptakan pembelajaran yang relevan dan bermakna.

Alat pengontrol rutinitas akuarium ikan hias berbasis mikrokontroler / oleh Benny Arefin

 

Pengaruh variasi media pada Cooperative Learning Cycle 5E (CLC 5E) dan kemampuan awal terhadap motivasi dan hasil belajar siswa dalam materi laju reaksi / Istri Setyowati

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed, Ph.D., (II) Prof. Srini M. Iskandar, M.Sc, Ph.D. Kata-kata kunci: variasi media, CLC 5E, kemampuan awal, motivasi, hasil belajar Laju reaksi merupakan salah satu topik dalam pelajaran kimia yang diajarkan pada siswa kelas XI IPA SMA. Topik ini dapat dianggap sulit dipahami oleh siswa karena sarat dengan konsep abstrak, perhitungan kimia, dan representasi grafik. Kesulitan berkaitan keabstrakan konsep dapat diatasi dengan model konkrit misalnya dengan menggunakan animasi. Kesulitan berkaitan dengan perhitungan kimia tampaknya dapat diatasi apabila siswa dilatih untuk menyelesaikan soal-soal hitungan tentang laju reaksi secara sistematik. Kesulitan berkaitan dengan representasi grafik tampaknya dapat diatasi dengan melatih siswa mengidentifikasi variable-variabel yang terdapat dalam grafik dan memahami hubungan antara mereka. Animasi-animasi yang dipilih dapat dikemas dalam media flash. Pembelajaran materi laju reaksi akan bermakna apabila siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan pembelajaran yang berorientasi pada penemuan. Salah satu model pembelajaran yang tampaknya memenuhi kriteria di atas adalah Cooperative Learning Cycle 5E (CLC5E). Kegiatan penemuan akan berlangsung dengan efektif apabila siswa mempersiapkan kegiatan belajar yang akan dilakukan secara cermat dan mereka dapat melakukan refleksi tentang kegiatan belajar yang telah dilakukan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan pembuatan jurnal metakognitif. Dengan membuat jurnal tersebut keterampilan metakognitif siswa akan semakin terlatih. Media flash dan jurnal metakognitif ini merupakan media pembelajaran yang diyakini berpengaruh terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Di samping media pembelajaran, faktor lain yang dapat mempengaruhi motivasi dan hasil belajar siswa adalah kemampuan awal siswa.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) perbedaan motivasi belajar siswa yang dibelajarkan: (a) dengan model CLC 5E dan model CLC 5E-flash, (b) dengan model CLC 5E dan model CLC 5E-flash-jurnal metakognitif, dan (c) dengan model CLC 5E-flash dan model CLC 5E-flash-jurnal metakognitif; (2) perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan: (a) dengan model CLC 5E dan model CLC 5E-flash, (b) dengan model CLC 5E dan model CLC 5E-flash-jurnal metakognitif, dan (c) dengan model CLC 5E-flash dan model CLC 5E-flash-jurnal metakognitif; (3) perbedaan motivasi belajar siswa dengan kemampuan awal tinggi dan rendah; (4) perbedaan hasil belajar siswa dengan kemampuan awal tinggi dan rendah ; (5) interaksi antara variasi media dengan kemampuan awal terhadap motivasi belajar; (6) interaksi antara variasi media dengan kemampuan awal terhadap hasil belajar. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 3x2. Subyek penelitian adalah tiga kelas siswa kelas XI IPA SMA Laboratorium UM pada tahun pelajaran 2011/2012. Dua kelas masing-masing terdiri dari 32 siswa dan satu kelas terdiri 30 siswa. Satu kelas mengikuti pembelajaran model CLC 5E; satu kelas yang lain mengikuti pembelajaran yang merupakan kombinasi dari CLC 5E-flash; satu kelas sisanya mengikuti pembelajaran yang merupakan kombinasi dari CLC 5E-flash- jurnal metakognitif. Data penelitian terdiri dari motivasi belajar, hasil belajar dan keterampilan metakognitif siswa. Data keterampilan metakognitif diperoleh dari jurnal metakognitif yang dibuat oleh siswa. Data motivasi belajar dikumpulkan dengan angket. Hasil uji coba menunjukkan bahwa angket tersebut memiliki koefisien reliabilitas, dihitung dengan menggunakan persamaan Alfa Cronbach, sebesar 0,82. Data hasil belajar siswa dikumpulkan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 25 item dengan validitas isi 91% dan koefisien reliabilitas, dihitung berdasarkan metode belah dua, sebesar 0,93. Data hasil belajar diuji dengan statistik manova. Hasil-hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E-flash-jurnal metakognitif adalah lebih tinggi dibandingkan motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E-flash atau model CLC 5E; motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E-flash adalah lebih tinggi dibandingkan motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E, (2) hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E-flash-jurnal metakognitif adalah lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E-flash atau CLC 5E; hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E-flash tidak berbeda dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model CLC 5E, (3) tidak terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa berkemampuan awal tinggi dengan siswa berkemampuan awal rendah; (4) siswa dengan kemampuan awal tinggi hasil belajarnya adalah lebih tinggi dibandingkan siswa dengan kemampuan awal rendah; (5) tidak terdapat interaksi antara variasi media dan kemampuan awal terhadap motivasi belajar siswa; (6) tidak terdapat interaksi antara variasi media dan kemampuan awal terhadap hasil belajar siswa.

Perencanaan tachometer digital pada oven cat mobil dengan sensor reed switch / oleh Hasan Ismail

 

Pengaruh motivasi belajar, keterampilan sosial, dan penggunaan teknologi informasi terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas IX SMP Negeri 16 Malang / Niko Parmana Putra

 

Kata Kunci: Motivasi Belajar, Keterampilan Sosial, Penggunaan Teknologi Informasi, dan Prestasi Belajar. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan ekstern. Di antara kedua faktor tersebut terdapat variabel-variabel di dalamnya yang turut mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar anak, yaitu motivasi belajar (faktor intern), keterampilan sosial, dan penggunaan teknologi informasi (faktor ekstern) Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh motivasi belajar (X1), keterampilan sosial (X2) dan penggunaan teknologi informasi (X3) terhadap prestasi belajar siswa (Y), baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 16 Malang. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX yang berjumlah 292 siswa. Jumlah pengambilan sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 siswa dengan menggunakan rumus Slovin dengan teknik proporsional random sample. Metode pengumpulan data yang digunakan berupa kuesioner, tes tulis dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda. Data diolah dengan bantuan software SPSS 16,0. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) ada pengaruh positif yang signifikan motivasi belajar terhadap prestasi belajar, (2) keterampilan sosial tidak ada pengaruh terhadap prestasi belajar, (3) ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan teknologi informasi terhadap prestasi belajar, (4) motivasi belajar, keterampilan sosial, dan penggunaan teknologi informasi berpengaruh positif yang signifikan secara simultan terhadap prestasi belajar siwa pada mata pelajaran ekonomi kelas IX SMP Negeri 16 Malang. i

Perencanaan mesin penebar pakan udang dengan sistem apung / oleh Andy Prasetya

 

Penerapan model blended learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matapelajaran akuntansi kompentensi dasar jurnal penyesuaian pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Lawang / Eflin Erma Erviana

 

Kata kunci: Blended Learning, Kualitas pembelajaran. Variasi dalam penerapan model pembelajaran perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu model yang dapat diterapkan adalah model blended learning, yakni penggabungan antara pembelajaran face-to-face dengan pembelajaran online maupun offline. Peningkatan kualitas pembelajaran tersebut dapat diukur dari aktivitas, motivasi serta hasil belajar siswa yang meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) menjelaskan penerapan model pembelajaran blended learning untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata pelajaran akuntansi kompetensi dasar jurnal penyesuaian pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Lawang, (2) mengetahui peningkatan kualitas pembelajaran setelah penerapan model pembelajaran blended learning pada mata pelajaran akuntansi kompetensi dasar jurnal penyesuaian pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Lawang. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Lawang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model blended learning dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, model blended learning terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya aktivitas, motivasi serta hasil belajar siswa yang meningkat. Dari keempat indikator motivasi belajar (perhatian, keterkaitan, percaya diri dan kepuasan) yang diukur, diperoleh hasil bahwa pada semua indikator mengalami pergeseran kenaikan dari kategori baik menjadi sangat baik. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari meningkatnya hasil pelajar siswa dan tercapainya ketuntasan belajar siswa pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan adalah: (1) bagi guru, harus lebih interaktif demokratis dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk memanfaatkan teknologi informasi agar keaktifan siswa dalam pembelajaran meningkat, (2) bagi siswa, harus lebih aktif untuk bertanya maupun mengungkapkan pendapat baik saat tatap muka, online, kerja kelompok maupun presentasi di depan kelas, (3) bagi sekolah, harus menjadi fasilitator yang baik karena model pembelajaran blended learning membutuhkan sarana dan prasarana minimal yang memadai yaitu tersedianya jaringan dan koneksi internet agar keberhasilan blended learning berjalan dengan lancar, (4) bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengukur kualitas pembelajaran tidak hanya terbatas pada aktivitas di kelas, motivasi dan hasil belajar tetapi juga dari aktivitas dalam pembelajaran online serta kemampuan akademis maupun non akademis siswa yang lain.

Perencanaan sistem indikator air pada sistem aliran bahan bakar bensin pada sepeda motor 4 langkah / oleh Zainal Arifin

 

Analisis pemahaman makroskopik, mikroskopik dan simbolik titrasi asam-basa siswa kelas XI IPA SMA serta upaya perbaikannya dengan pendekatan mikroskopik / Putu Indrayani

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D., (2) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. Kata-kata kunci: representasi, makroskopik, mikroskopik, simbolik, pendekatan mikroskopik Titrasi asam-basa dapat dinyatakan dalam representasi makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Representasi makroskopik menyangkut perubahan warna indikator saat titik akhir titrasi tercapai. Representasi simbolik berkaitan dengan reaksi yang terjadi dan perhitungan pH larutan. Representasi mikroskopik berkaitan dengan bagaimana cara asam dan basa bereaksi membentuk garam dan air serta komponen-komponen apa yang terdapat dalam larutan. Selama ini pembelajaran materi titrasi asam-basa cenderung ditekankan pada representasi makroskopik dan simbolik begitu juga dengan evaluasi yang dilakukan. Hal ini menyebabkan pemahaman mikroskopik siswa cenderung tertinggal dibandingkan pemahaman makroskopik dan simboliknya. Akibatnya siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mengembangkan pemahaman konseptualnya arena pemahaman konseptual berhubungan langsung dengan representasi mikroskopik. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa penjelasan tentang fenomena kimia sampai tingkat mikroskopik dapat meningkatkan pemahaman siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat pemahaman makroskopik, mikroskopik dan simbolik siswa, (2) kesalahan pemahaman makroskopik, mikroskopik dan simbolik siswa, (3) keefektifan pendekatan mikroskopik dibandingkan pendekatan konvensional dalam meningkatkan pemahaman makroskopik, simbolik dan mikroskopik siswa pada materi titrasi asam-basa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan rancangan penelitian eksperimen semu. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan pemahaman makroskopik, simbolik dan mikroskopik siswa serta kesalahan pemahaman siswa pada tiga aspek pemahaman tersebut. Rancangan penelitian eksperimen semu yaitu nonequivalent control group design digunakan untuk mengetahui keefektifan penggunaan pendekatan mikroskopik untuk meningkatkan pemahaman makroskopik, simbolik dan mikroskopik siswa. Subyek penelitian adalah dua kelas siswa kelas XI IPA SMAN 2 Sumbawa Besar pada tahun pelajaran 2011/2012 yang telah menerima materi titrasi asam-basa. Satu kelas diberi pembelajaran ulang dengan pendekatan mikroskopik, sedangkan kelas yang lain diberi pembelajaran ulang dengan pendekatan konvensional. Data penelitian adalah pemahaman makroskopik, simbolik dan mikroskopik siswa pada materi titrasi asam-basa. Pemahaman siswa diukur dengan instrumen tes yang meliputi: (1) tes pemahaman makroskopik yang berupa penyimpulan hasil pengamatan percobaan titrasi asam-basa, (2) tes pemahaman simbolik yang berupa penulisan persamaan reaksi dan perhitungan pH larutan, dan (3) tes pemahaman mikroskopik yang berupa gambaran mikroskopik hasil titrasi asam-basa. Dari hasil uji coba diperoleh validitas isi tes sebesar 97,0%. Koefisien reliabilitas soal tes makroskopik dan mikroskopik, dihitung dengan rumus Spearman-Brown, sebesar 0,98, sedangkan koefisien reliabilitas soal tes pemahaman simbolik, dihitung dengan persamaan Alpha Cronbach’s, sebesar 0,68. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan uji statistik anacova. Hasil-hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Tingkat pemahaman makroskopik siswa adalah tinggi, sedangkan tingkat pemahaman simbolik dan mikroskopik siswa adalah sangat rendah. (2) Kesalahan pemahaman makroskopik yang teridentifikasi adalah siswa tidak memahami bahwa warna yang ditunjukkan oleh indikator berhubungan dengan sifat larutan. Kesalahan pemahaman simbolik yang teridentifikasi adalah: (i) siswa tidak dapat menulis reaksi ionisasi; dan (ii) siswa tidak dapat memilih rumus yang digunakan untuk menghitung pH larutan. Kesalahan pemahaman mikroskopik yang teridentifikasi adalah siswa tidak dapat memberikan gambaran mikroskopik dari larutan asam kuat, basa kuat, asam lemah, basa lemah, dan larutan garam karena mereka tidak memahami ionisasi yang terjadi. (3) Pendekatan mikroskopik menghasilkan peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal makroskopik, simbolik dan mikroskopik lebih tinggi dibandingkan pendekatan konvensional. (4) Temuan terpenting adalah siswa beranggapan bahwa garam baru dapat terbentuk jika jumlah mol asam dan mol basa yang bereaksi sama.

Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan pada pemerintah Kabupaten Blitar / oleh Henry Purwo Nugroho

 

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia pada materi ikatan kimia SMA kelas X / Hairul Fataa

 

Kata kunci : Perangkat Pembelajaran Kimia, Ikatan Kimia Ikatan Kimia merupakan salah satu materi pokok dalam materi kimia yang diajarkan di SMA sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Materi ini memuat konsep-konsep abstrak seperti cara atom-atom berikatan, pembentukan ion atau molekul. Membelajarkan konsep abstrak memerlukan bahan ajar kimia yang dapat membantu siswa mengkonstruk pengetahuaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran kimia untuk SMA pada materi Ikatan Kimia dan Mengetahui Kelayakan Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian pengembangan dengan rancangan adaptasi model Borg dan Gall yang terdiri dari tujuh tahap, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) perencanaan produk, (3) pengembangan produk awal, (4) uji ahli, (5) revisi produk awal, (6) uji lapangan skala kecil, (7) revisi produk akhir. Draf hasil pengembangan divalidasi oleh 5 validator ahli menggunakan instrument validasi berupa angket tertutup serta divalidasi secara langsung pada siswa kelas X.3 SMA Unggulan Haf-Sa ZAHA BPPT Genggong. Data kuantitaif hasil validasi dianalisis dengan teknik rerata, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, kritik, dan saran dari validator yang kemudian digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Hasil pengembangan adalah perangkat pembelajaran kimia untuk siswa kelas X dengan materi Ikatan Kimia. Hasil Pengembangan Terdiri dari silabus, RPP, bahan ajar yang dilengkapi LKS, dan lembar penilaian. Berdasarkan hasil validasi ahli perangkat pembelajaran kimia untuk siswa SMA kelas X yang dikembangkan mempunyai validitas 82.8% (layak), sedangkan hasil uji kelompok kecil memberikan skor rerata 82.1% (layak). Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar kimia yang dikembangkan layak digunakan.

Prototipe alat pengangkat besi dengan remote control infra merah / oleh Rizky Ismanto dan Ruly Arta

 

Perencanaan sistem mekanik mesin penjual minuman kaleng dengan menggunakan PLC (Programmable Logic Controller) / oleh Ahmat Nurkhoiri

 

Perencanaan kopling magnet untuk kipas pendingin radiator pada mesin Mobil Toyota Kijang 4K / oleh Moh. Ikhwan Nurrosidin

 

Pengaruh penetapan Pamekasan sebagai kota batik terhadap pengrajin batik Kecamatan Proppo / Febrihada Gahas Candramukti

 

Kata Kunci: Pengaruh Penetapan, Kota Batik, Pengerajin Batik Proppo. Batik adalah warisan leluhur masyarakat Indonesia yang mengalami titik terang kesejarahanya dengan ditemukan kesamaan beberapa motif pada artefak budaya. Pada masa Kerajaan Majapahit dan persebaran Islam batik berkembang cukup pesat, sehingga menyebabkan banyak daerah mulai mengenal batik, salah satunya adalah batik Pamekasan yang berkembang sejak masa persebaran agama Islam. Banyaknya pengerajin dan ciri khas motif batik daerah tersebut membuat pemerintah Pamekasan berfikir keras dalam pelestarianya sehingga berpengaruh terhadap pengerajin Proppo. Dalam penelitian ini penulis mengangkat dua rumusan masalah. Pertama adalah mengenai latar belakang pendeklarasin Pamekasan sebagai kota batik Madura tahun 2009. Sedangkan rumusan masalah yang kedua adalah mengenai bagaimana pengaruhnya terhadap pengerajin Desa Klampar Kecamatan Proppo mulai dari tahun 1970 sampai 2012. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan metode sejarah yang secara hirarkies terdiri dari pemilihan topik, pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Titik tekan dari sumber yang digunakan adalah sumber lisan dan sumber tertulis, dan keduanya saling melengkapi, mengingat peristiwa ini tergolong sejarah kontemporer, yakni antara tahun 1970-2012. Hasil dari penelitian ini memaparakan tentang pengaruh penetapan Pamekasan sebagai kota batik terhadap pengrajin batik Proppo yang tidak luput dari peran pemerintah dengan tataran bawah masyarakat pengerajin batik Pamekasan. Pada tataran legeslatif, pemerintah melakukan terobosan baru dengan menjadikan batik sebagai identitas kota Pamekaan pada tahun 2009 lalu. Disamping itu, Pemerintah juga mengeluarkan Perbup yang membahas mengenai pemakaian batik Pamekasan, surat edaran sepekan berbusana batik dan berbahasa Madura, pasar tradisional, galery batik Pamekasan, membuka sentra dan desa wisata batik. Pada tataran bawah, penulis menemukan adanya ketekunan dari pengrajin batik terutama di daerah kecamatan Proppo. Kebijakan Pemerintah Pamekasan mengenai batik berpengaruh terhadap pengrajin batik Kecamatan Proppo, dimana pengerajin batik Proppo pada saat ini dapat menjadi mitra pemerintah dalam hal pemasaran dan pelestarian batik. Oleh karena itu, terjadi titik temu antara kebijakan pemerintah dengan kemauan masyarakat pengerajin untuk melestarikan produk lokal berupa batik yang pada akhirnya menimbulkan Simbiosis Mutualis (timbal balik) diantara keduanya. Kiranya penting untuk melengkapi penelitian ini dengan penelitian lanjutan yang lebih mendalam; terutama dalam hal kebijakan pemerintah mengenai pelestarian batik Pamekasan yang nantinya berdampak pada kesejahteraan pengrajin batik tarutama di Proppo dan kebanggan terhadap produk daerah.

Perencanaan sistem lampu tanda belok dan hazard dengan flasher elektronik pada sistem penerangan mobil sebagai media pembelajaran / oleh Tatang Surya Atmaja

 

Pengembangan modul akuntasi berbasis teknik pembelajaran simulasi pada materi siklus akuntansi perusahaan dagang untuk SMK kelas X / Rosaria Ratih Patriaty Fasa

 

Kata Kunci: Modul, Teknik Pembelajaran Simulasi, Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang Tujuan pembelajaran adalah agar siswa berhasil menguasai bahan pelajaran sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Maka dari itu perlu diadakan pengorganisasian materi agar seluruh siswa dalam kelas tersebut dapat menguasai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam waktu yang sama, misalnya satu semester. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan modul dalam kegiatan pembelajaran, hal ini akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu (1) meningkatkan motivasi siswa, (2) setelah dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui pada bagian modul yang mana siswa telah berhasil dan belum berhasil, (3) siswa mencapai hasil sesuai kemampuannya, (4) bahan pelajaran terbagi lebih merata, dan (5) pendidikan lebih berdaya guna. Materi yang dipilih dalam pengembangan modul ini adalah siklus akuntansi perusahaan dagang. Modul yang dikembangkan guna menunjang kegiatan pembelajaran menggunakan teknik pembelajaran simulasi karena metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata kedalam ruang belajar karena adanya kesulitan melakukan praktik di dalam situasi yang sesungguhnya, dengan demikian siswa memperoleh pemahaman dan pengalaman langsung terhadap tugas-tugas yang dilakukan akuntan. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan modul akuntansi berbasis teknik pembelajaran simulasi pada materi siklus akuntansi perusahaan dagang untuk SMK kelas X. Adapun karakteristik modul yang dikembangkan yaitu: (1) self instructional, (2) self contained, (3) stand alone, (4) adaptif, dan (5) user friendly. Prosedur yang digunakan dalam pengembangan modul yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) pengembangan produk awal, (3) validasi ahli, (4) revisi produk 1, (5) uji coba lapangan terbatas, (6) revisi produk 2, dan (7) produk akhir. Modul yang dihasilkan sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan. Selanjutnya modul divalidasi oleh seorang guru mata pelajaran akuntansi SMK dan seorang dosen desain grafis. Selain itu produk juga diujicobakan pada 28 siswa SMK kelas X jurusan akuntansi. Hasil penilaian seluruh aspek validasi memiliki persentase 90%, hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan valid/layak digunakan sebagai bahan ajar untuk membantu siswa dan guru dalam proses pembelajaran.

Analisis penyelesaian klaim asuransi kebakaran pada PT. Asuransi Bintang Tbk. Cabang Malang / oleh Didik Dama Sutawan

 

Penerapan ornamen aplikasi batik Pekalongan pada busana pesta berbahan sifon / oleh Puteri Wulandari

 

Pembuatan gaun malam berornamen kerang / oleh Yeyen Endri Prihastuti

 

Problematika guru dalam pembelajaran IPA kelas IV di sekolah dasar gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Teri Wahyu Siwi

 

Kata kunci: Problematika Guru, Pembelajaran IPA, SD. Guru sebagai salah satu faktor yang dominan dalam proses belajar mengajar tidak lepas dari beberapa problema, problema tersebut bisa muncul pada saat merencanakan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) Problematika guru dalam merencanakan pembelajaran IPA; (2) Problematika guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA; (3) Mendeskripsikan cara guru mengatasi problematika yang dihadapi dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan jenis penelitian Survei. Intrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner, panduan wawancara, panduan observasi. Prosedur pengumpulan datanya menggunakan metode observasi, angket dan wawancara. Data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, telah ditemukan bahwa sebanyak 71,43% guru sudah membuat RPP sebelum mengajar, akan tetapi RPP yang dibuat guru masih belum sesuai dengan standar proses yang ditetapkan oleh BSNP. Ketidak sesuaian tersebut karena seluruh responden (100%) menyatakan mengalami kesulitan dalam merumuskan tujuan pembelajaran, kesulitan dalam memilih metode , model pembelajaran, dan mengembangkan media pembelajaran; lebih dari separo (57,14 %) guru mengalami kesulitan dalam mengelola kelas, dan kesulitan dalam membuat kriteria penilaian hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran; hampir separo (42,85%) guru mengalami kesulitan dalam membuat soal evaluasi. Untuk mengatasi problema tersebut guru akan mengadakan seminar dan pelatihan cara membuat RPP sesuai dengan standar proses, dan pelatihan cara menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran melalui forum KKG yang ada di Sekolah Dasar gugus II Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Berdasarkan temuan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran guru telah mengalami berbagai problema yang bervariasi. Seluruh responden (100%) mengalami kesulitan dalam merumuskan tujuan, memilih metode, model, dan mengembangkan media pembelajaran, lebih dari separo (57,14%) responden mengalami kesulitan mengelola kelas dan membuat kriteria penilaian, hampir separo (42,85%) responden mengalami kesulitan membuat soal evaluasi. Dari kesimpulan tersebut, dapat disarankan hendaknya guru membaca standar proses sampai selesai sebelum membuat RPP , dan sebaiknya terus meningkatkan kemampuan dengan cara mengadakan seminar dan pelatihan.

Perencanaan turbocyclone upaya untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar pada sepeda motor suzuki shogun / oleh Hakam Mahmudi

 

Pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat terhadap upaya pengurangan dampak banjir di Desa Kadungrejo Kecamatan Baureno Kabipaten Bojonegoro / Baiti Nur Saida

 

Reading achevement and problems of the third-year students at SLTP Negeri 1 Kaliorang East Kalimantan : a case study / by Abidin Sitio

 

Penggunaan songket Bima NTB dan teknik hias sulaman bebas dalam pembuatan gaun pesta / oleh Nur Handayani

 

Studi anatomi galur-galur harapan kedelai (Glycine lax L. Merill) tahan Cowpea Mild Mottle Virus (CpMMV) serta pemanfaatannya sebagai modul pembelajaran biologi SMK kelas X / Irwan Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Irwan. 2016. Studi Anatomi Galur-Galur Harapan Kedelai (Glycine max L. Merill) Tahan Cowpea Mild Mottle Virus (CpMMV) Serta Pemanfaatannya Sebagai Modul Pembelajaran Biologi SMK Kelas X. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd., (II) Dr. Heru Kuswantoro, M.P Kata Kunci: Tanaman Kedelai, Anatomi, CpMMV, Modul Pembelajaran Modul merupakan materi yang dikemas dalam bentuk bahan ajar cetak untuk mencapai kompetensi pembelajaran yang diharapkan. Penggunaan modul pembelajaran membuat peserta didik mampu belajar secara mandiri, tidak tergantung pada pihak lain sekaligus dapat memberikan pengalaman pada peserta didik. Pada mata pelajaran Biologi kelas X di SMK, penggunaan bahan ajar yang digunakan hanya sebatas Biologi SMA Umum yang belum dapat mengakomodasi kompetensi yang harus dipelajari siswa. Salah satu materi Biologi yang dipelajari oleh siswa kelas X di SMK adalah mengenai jaringan organ tumbuhan dan hewan, namun materi mengenai tumbuhan kurang dijelaskan. Sebagian besar materi menjelaskan mengenai jaringan manusia dan hewan. Berdasarkan analisis kebutuhan tersebut, pengembangan modul pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran Biologi mengenai materi jaringan organ tumbuhan perlu dilakukan. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran pada materi tersebut adalah tanaman kedelai. Tanaman kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian di Indonesia yang memiliki berbagai manfaat. Di Indonesia kebutuhan kedelai terus meningkat setiap tahun, namun produksi kedelai masih rendah, rendahnya produksi kedelai di Indonesia salah satunya disebabkan oleh serangan CpMMV. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pemuliaan tanaman yang menghasilkan varietas tahan CpMMV. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik anatomi galur-galur harapan kedelai tahan CpMMV dan Menghasilkan modul pembelajaran Biologi SMK kelas X berdasarkan hasil peneliltian “Kajian Anatomi Galur-galur Harapan Kedelai (Glycine max) tahan Cowpea Mild Mottle Virus (CpMMV)”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan dua tahapan penelitian. Pertama, penelitian mengenai anatomi daun kedelai dan penilaian ketahanan tanaman kedelai. Kedua, penelitian pengembangan modul pembelajaran Biologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2015 di Kebun Percobaan Jambegede, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI) Malang sebagai tempat penanaman kedelai dan Laboratorium Genetika Universitas Negeri Malang untuk mengamati anatomi daun (stomata dan trikoma). Tanaman kedelai yang digunakan yaitu 10 galur harapan kedelai tahan CpMMV (UM.4-1, UM.7-2, UM.2-4, UM.7-6, UM.6-2, UM.6-3, UM.3-2, UM.6-1, UM.7-3, UM3-4), dan dua varietas pembanding yaitu Gumitir dan Wilis. Data anatomi dilakukan analisis menggunakan One-Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi. Penilaian ketahanan dilakukan dengan cara pemberian skor pada gejala serangan yang teramati pada daun. Penelitian pengembangan modul ini menggunakan model pengembangan 4D (four-D) yang terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu define, design, develop, dan disseminate, namun pada penelitian ini hanya pada tahap develop. Analisis data pengembangan modul berdasarkan hasil validasi oleh ahli bahan ajar, ahli materi dan praktisi. Hasil analisis karakter anatomi menunjukkan signifikansi>α(0,05) pada masing-masing karakter, hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan karakter baik stomata dan trikoma pada 10 galur kedelai tahan CpMMV dan dua varietas unggul pada permukaan atas dan permukaan bawah daun kedelai. Hasil penilaian ketahanan menunjukkan bahwa intensitas serangan galur dan varietas yang diuji berkisar antara 20-28,08%. Serangan terendah ditunjukkan oleh Gumitir, sedangkan tertinggi ditunjukkan oleh UM.3-4. Varietas Wilis menunjukkan intensitas serangan lebih tinggi daripada varietas Gumitir, yaitu 21,49%. Galur-galur yang lain menunjukkan intentsitas serangan berada di antara kedua genotipe tersebut, yaitu UM.7-3 (20,21%), UM.6-2 (21,19%), UM.6-1 (21,58%), UM.2-4 (22,64%), UM.3-2 (22,83%), UM.6-3 (22,86%), UM.7-6 (22,89%), UM.7-2 (23,94%), dan UM.4-1 (26,10%). Hasil penilaian modul menunjukkan bahwa modul pembelajaran Biologi memiliki persentase penilaian sebesar 81.67% yang berarti sangat valid.

Perencanaan pompa injeksi motor diesel empat langkah empat silinder
oleh Sumardianto

 

Bahan ajar ekonomi untuk pengembangan model pendidikan etika bisnis di SMA/MA / Roh Rahayu Handayani

 

Kata Kunci: Bahan Ajar, Pendidikan Etika Bisnis . Perubahan pendidikan ditekankan pada pentingnya penyesuaian orientasi pendidikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat atau pengetahuan berbasis masyarakat. Secara teori kebijakan pemerintah telah menghasilkan intstitusi pendidikan yang berkualitas, berdaya saing dan relevan dengan perkembangan jaman. Namun empirisnya pendidikan sekuler cenderung membentuk pribadi yang individualis dan materialistis. Maka tak heran jika saat ini lebih banyak ditemukan manusia-manusia yang pragmatis terhadap keadaan sehingga menimbulkan krisis global yang menyentuh dimensi-dimensi intelektual, moral, spiritual. Oleh karena itu upaya untk meningkatkan kualitas pendidikan tidak boleh berhenti salah satunya dengan pengembangan bahan ajar untuk pengembangan pendidikan etika bisnis di SMA/MA. Penelitian pengembangan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan di SMAN 7 Malang kelas X.1 dengan prosedur pengembangan (a) analisis latar belakang, (b) analisis kurikulum, (c) pembuatan perangkat pembelajaran/desain produk, (d) validasi desain, (e) revisi desain, (f) pembuatan produk, (g) uji coba produk, (h) revisi produk, (i) uji coba pemakaian, (j) revisi akhir, (k) produk akhir. Dari hasil penelitian pengembangan ini adalah seperangkat bahan ajar kelas X pada standar kompetensi memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di sma/ma kelas x dengan kompetensi dasar (1) mendiskripsikan pola perilaku konsumen dan produsen dalam kegiatan ekonomi, (2) mendiskripsikan circulair flow diagram, (3) mendiskripsikan peran konsumen dan produsen dengan memasukan unsur-unsur pendidikan etika bisnis didalamnya. Bahan ajar ini memiliki kejelasan petunjuk kegiatan mampu menarik minat belajar siswa. Penelitian pengembangan ini memiliki kelebihan yaitu: (a) Materi pembelajaran sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kegiatan bersifat kontekstual, bahasa yang komunikatif, dan tampilan, atau bentuk yang menarik (berdasarkan data verbal uji guru dan siswa). (b) Kegiatan bahan ajar ini sesuai dengan minat dan kemampuan siswa, bahasa yang digunakan mudah dipahami, dan memberikan inspirasi bijaksana dalam tindakan ekonomi dengan pengembangan Etika bisnis.Selain beberapa kelebihan yang telah disampaikan diatas, bahan ajar ini juga tidak lepas dari beberapa kelemahan yaitu: (a) Bahan ajar ini hanya memuat kegiatan untuk siswa dan evaluasi siswa, sehingga dalam penggunaanya guru masih perlu menyusun alat evaluasi, (b) pengembangan bahan ajar ini sampai pada tahap uji coba kelompok siswa dan belum diujicobakan di lapangan.

Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis problem solving Polya untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa materi peluang kelas XI SMA / Lela Nur Safrida

 

ABSTRAK Safrida, Lela Nur. 2016. PengembanganPerangkatPembelajaranBerbasisProblem Solving PolyauntukMeningkatkanKemampuanPenalaranMatematisSiswaMateriPeluangKelas XI SMA. Tesis. Program StudiPendidikanMatematika, Program PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. A. R. As’ari, M.Pd., M.A., (II) Dr. Sisworo, M.Si. Kata kunci: problem solving polya, kemampuanpenalaranmatematis, peluang Penalaranmerupakanaspek fundamental dalammatematikasehinggamenjadisatukesatuan yang tidakterpisahkan.Selainitu, penalaranmerupakandasarbagistandar proses lainnya. Olehkarenaitu, kemampuanpenalaranmerupakankemampuan yang harusdimilikisiswa.Kemampuanpenalarandapatditingkatkanmelaluipembelajaran yang mampumengakomodasi proses berpikirdanbernalarsiswayaituproblem solving Polyasertapemberiantugastidakrutin yang diintegrasikandalam LKS. LKS yang adasaatinihanyaberisirangkumanmateridanlatihansoalsehinggabelummengakomodasiupayauntukmeningkatkankemampuanpenalaranmatematissiswa.Olehkarenaitu, perludikembangkanperangkatpembelajaranberbasisproblem solving Polya yang mampumeningkatkankemampuanpenalaranmatematissiswapadamateripeluangberupa RPP dan LKS. Penelitianinimerupakanpenelitianpengembangan.Tujuanpenelitianiniadalahmendeskripsikan proses danhasilpengembanganperangkatberbasisproblem solvingPolyapadamateripeluangkelas XI SMA yang valid, praktis, danefektifdalammeningkatkankemampuanpenalaranmatematissiswa. Penelitianpengembanganinimenggunakan model pengembanganPlomp yang terdiridaritigatahapyaitu (1) preliminary research (penelitianawal), (2) prototyping phase (tahappengembangan), dan (3) assessment phase (tahapasesmen). Padatahappenelitianawal, pengembangmenganalisiskemampuanpenalaranmatematissiswa, menganalisisperangkatpembelajaran yang ada, meninjauliteraturtentangpenalarandanpembelajaran yang mampumeningkatkankemampuanpenalaranmatematissiswa, sertamengkajimateri.Padatahappengembangan, pengembangmenyusun RPP, LKS, sertainstrumenpenilaian. Selanjutnyamemvalidasiprodukdaninstrumenpenilaian yang dilanjutkandenganujicoba I. Validasidilakukankepadadua validator ahlidan validator praktisi.Ujicoba I dilakukankepada 4 siswauntukmenilaikepraktisanproduk.Padatahapasesmen, pengembangmelakukanujicoba II pada 30 siswakelas XI SMAN 2 Batuuntukmenilaikepraktisandankeefektifanproduk. Berdasarkananalisiskevalidanproduk yang dilakukan, diperolehhasilbahwa (1) RPP mencapaiskor3.27 ataumemenuhikriteria valid dan (2) LKS mencapaiskor3.12 ataumemenuhikriteria valid. Berdasarkananalisiskepraktisanprodukpadaujicoba I, diperolehhasilbahwaangketresponsiswamencapai 76,56% ataumemenuhikriteriabaiksehinggaprodukdinyatakanpraktisdansiapuntukdilakukanujicoba II padasubjek yang lebihbanyak. Berdasarkananalisiskepraktisanpadaujicoba II, diperolehhasilbahwa (1) observasiaktivitas guru dalamketerlaksanaanpembelajaranmencapai83.88% ataumemenuhikriteriabaik, (2) observasiaktivitassiswamencapai78.94%ataumemenuhikriteriabaik, (3) angketrespon guru mencapai92.50%ataumemenuhikriteriasangatbaik, dan (4) angketresponsiswamencapai 83.39% ataumemenuhikriteriabaik. Olehkarenaitu, dapatdisimpulkanbahwaproduk yang dikembangkanmemenuhikriteriapraktis.Berdasarkananalisiskeefektifanproduk, diperolehhasilbahwa (1) banyaknyasiswa yang mendapatnilai minimal 75 meningkatsebanyaktujuhanakpadatesakhirdan (2) keterpenuhanmasing-masingindikatormeningkatpadatesakhir. Olehkarenaitu, dapatdisimpulkanbahwaproduk yang dikembangkanmemenuhikriteriaefektif.Jadidapat disimpulkanbahwaproduk yang dikembangkanmemenuhikriteria valid, praktis, danefektif. Produklayakdigunakansebagaialternatifperangkatpembelajaranmatematikapadamateripeluang.  

Strategies for oral communication between superiors and subordinates at the local government of Yogyakarta / by Adnan Zaid

 

Perbedaan hasil belajar metode ceramah bermakna dengan metode problem solving pada materi perangkat lunak pengolah angka siswa kelas XI MA Maarif Sukorejo / Agustin Muvidhatul Islamiyah

 

Kata Kunci: Hasil belajar, ceramah bermakna, problem solving Selama ini kegiatan yang dilakukan siswa pada saat proses belajar lebih banyak hanya mendengar apa yang disampaikan guru. Komunikasi yang terjadi adalah komunikasi satu arah, yaitu guru kepada siswa. Dengan pembelajaran satu arah dan lamanya jam pelajaran, menimbulkan kebosanan bagi siswa, sehingga minat siswa pada pelajaran TIK berkurang, hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa masih rendah. Penelitian dengan metode Problem solving ini dilakukan dalam upaya meningkatkan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah pada materi menu dan ikon pengolah angka. Metode problem solving melatih siswa dalam menghadapi masalah. Siswa dipacu untuk kreatif, aktif, dan tanggap dalam menghadapi berbagai masalah. Sedangkan guru memotivasi, memberikan arahan dan menjadi fasilitator. Untuk membantu guru dalam menguatkan konsep dengan simulasi/tahap-tahap pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi ekperimental atau eksperimen semu. Sampel yang digunakan sebanyak dua kelas yaitu kelas XI Bahasa sebagai kelompok eksperimen (kelompok yang diberi perlakuan menggunakan metode problem solving dan kelas XI IPS sebagai kelompok kontrol digunakan metode ceramah bermakna. Teknik analisis data menggunakan uji hipotesis dengan teknik uji-t dua pihak yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar yang menggunakan metode problem solving telah terjadi peningkatan hasil belajar, hal ini dapat dilihat pada nilai kemampuan awal siswa dengan nilai rata-rata sebesar 61,12, setelah diadakan perlakuan nilai rata-ratanya menjadi sebesar 85,42, sedangkan hasil belajar menggunakan metode ceramah bermakna hanya 79,04 dari kemampuan awal 62,20. (2) adanya perbedaan hasil belajar pada kelas kontrol dan eksperimen. Hal ini dibuktikan dari nilai Sig < 0,05 pada uji-t dua pihak. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata antara kelas eksperimen dibanding kelas kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar menggunakan menu ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pengolah angka.

Pengembangan pembelajaran e-learning berbasis moodle pada materi pedosfer kelas X Sekolah Menengah Atas / Hendra Pratama

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (2) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd. Kata Kunci: Geografi, Pengembangan, E-learning, Moodle, dan Pedosfer. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Teknologi dalam e-learning dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran interaktif, dan dukungan pada pelaksanaan pertemuan tatap muka di kelas (blended learning). inovasi ini dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran materi pedosfer untuk siswa kelas X di SMAN I Malang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi pembelajaran e-learning pada materi pedosfer yang dapat digunakan sebagai suplemen pembelajaran dan menjadi alat bantu pembelajaran untuk penyampaian materi dan tugas-tugas terstruktur siswa kelas X di SMAN I Malang. Penelitian pengembangan ini menggunakan Learning Management System (LMS) moodle untuk mendesain dan mengatur penyelenggaraan pembelajaran. Prosedur pengembangan pembelajaran e-learning ini melalui 5 tahapan, yaitu: tahap analisis, tahan desain, tahap pengembangan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Produk pengembangan yang dihasilkan berbentuk (1) model web learning materi pedosfer, dan (2) panduan penggunaan untuk siswa dan guru. Pengembangan pembelajaran berbasis e-learning ini telah diujicoba pada kegiatan pembelajaran pada materi pedosfer di SMAN I Malang semester genap tepatnya pada bulan januari hingga awal maret tahun pelajaran 2010-2011. Ujicoba awal berupa pelatihan langsung tentang pengoperasian e-learning secara keseluruhan pada kelas X-7 SMAN I Malang dengan jumlah 37 siswa. Setelah pelatihan selesai maka dilanjutkan implemetasi yaitu penggunaan dalam pembelajaran dimana semua fitur dapat diakses oleh siswa. Hasil implementasi dengan 7 indikator menunjukan hasil implementasi dalam pembelajaran berdasarkan rating scale mendapatkan prosentase 74,4%. Revisi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil implementasi dalam pembelajaran dan masukan dari guru dan siswa. Dari hasil pengujian sistem e-learning ini rata-rata responden tertarik dan antusias menggunakan model pembelajaran ini. Hasil pengembangan telah divalidasi ahli materi dan ahli media masing-masing mendapatkan prosentase 74,3% dan 91,%. Hasil tersebut menunjukkan hasil pengembangan produk sudah baik dan layak untuk digunakan oleh siswa. Berdasarkan temuan penelitian,beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan pengembangan e-learning adalah kajian-kajian pada pemanfaatannya sebagai komplemen pembelajaran. Kajian tersebut meliputi evaluasi dalam hal:(1) karakteristik siswa, sampai sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran berbasis e-learning, (2) kesiapan guru pengampu dan pengelola web (admin), (3) ketersediaan perangkat penunjang.

Pembelajaran berdasarkan teori Van Hiele berbantuan Hands-On-Activity (HOA) untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah garis dan sudut siswa / Ratna Titi Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Ratna Titi. 2016. Pembelajaran Berdasarkan Teori van Hiele Berbantuan Hands-On Activity (HOA) untuk Meningkatkan Kompetensi Pengetahuan dan Keterampilan Pemecahan Masalah Garis dan Sudut Siswa. Tesis. Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Akbar Sutawijaya, M.Ed, Ph.D, (II) Dr. Susiswo, M.Si. KataKunci: Teori Van Hiele, HOA, Pengetahuan, Keterampilan Pengetahuan dan keterampilan dalam pembelajaran seharusnya diperoleh siswa dengan maksimal. Ternyata pengetahuan dan keterampilan siswa SMP N 3 Grabag, kabupaten Magelang selama beberapa tahun terakhir belum sesuai standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ujian akhir semester. Mempertimbangkan fakta tersebut, perlu ada pembelajaran yang sesuai untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran berdasarkan teori van Hiele berbantuan HOA, yaitu pembelajaran yang melalui level 0, level 1, dan level 2, dimana setiap levelada 5 tahap: information, guide orientation, explicitation, free orientation, dan integration dan HOA digunakan dalam salah satu tahap tersebut. HOA menjembatani tingkat berfikir siswa dari kongkret menuju ke absrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pembelajaran berdasarkan teori van Hiele berbantuan HOA yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di SMP N 3 Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah semester genap tahun pelajaran 2015/2016 pada materi garis dan sudut, dengan subjek penelitian kelas VII E sebanyak 32 orang. Peneliti telah melakukan pembelajaran berdasarkan tahap-tahap padateori van Hiele berbantuan HOA. Pada tahap information, peneliti memberikan pertanyaan prasyarat atau memberikan informasi baru yang diperlukan dalam pembelajaran. Pada tahap guide orientation peneliti mendesain dan membimbing agar siswa menemukan sendiri suatu konsep. Pada tahap explicitation, penelitimembimbing agar siswa menyatakan kembali konsep yang telah dipelajari dengan bahasa sendiri, agar siswa dapat berargumen informal.Pada tahap free orientation peneliti mengaktifkan setiap siswa agar dapat menemukan pengetahuan dan membangun keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks dengan langkah-langkah yang tepat, yaitu memahami masalah, merencanakan strategi penyelesaian masalah, melaksanakan strategi penyelesaian, mengecek hasil penyelesaian masalah. Tahap integration, siswa menyimpulkan kembali suatu konsep yang telah ditemukan dengan bimbingan guru. Di level 0 dan 1 siswa belum bisa menghu-bungkan konsep-konsep yang telah ditemukan. Setelah peneliti melakukan seluruh kegiatan dalam tahap-tahap tersebutpada siklus I dan II, siswa dapat menghubungkankonsep-konsep yang telah ditemukan. Hal ini menunjukkan siswa telah mencapai level 2.Pengetahuan dan keterampilan siswa meningkatdari level 0 sampai level 2. Berdasarkan hal tersebut, maka pembelajaran berdasarkan teori van Hiele berbantuan HOA dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemecahanmasalahgaris dan sudut siswa kelas VII E SMP N 3 Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pengembangan modul multimedia interaktif mata pelajaran IPA kelas V semester 2 di SDN Ranuyoso 01 Kabupaten Lumajang / Redita Eigvin Yankusuma

 

Kata Kunci: Pengembangan, Modul, Multimedia, Interaktif, Ilmu Pengetahuan Alam Kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam kelas V di SDN Ranuyoso 01 Kabupaten berlangsung menjenuhkan bagi siswa. Kejenuhan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran disebabkan karena guru menjadi pusat pembelajaran sehingga siswa kurang bereksplorasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pembelajaran dengan guru sebagai pusat pembelajaran mengakibatkan perbedaan karakteristik peserta didik tidak diperhatikan, sehingga dibutuhkan media modul pembelajaran yang dapat mengatasi perbedaan kebutuhan, kemampuan dan cara belajar siswa. Selain itu, pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam terdapat materi yang membutuhkan contoh – contoh kejadian alam untuk meningkatkan penguasaan materi oleh siswa. Penggunaan multimedia dapat memungkinkan siswa menyaksikan representasi contoh kejadian alam yang tidak dapat disaksikan karena keterbatasan waktu, alat dan ruang. Materi Ilmu Pengetahuan Alam yang mebutuhkan contoh kejadian alam antara lain gaya, pesawat sederhana dan sifat – sifat cahaya dan pemanfaatannya. Pengembangan modul multimedia interaktif merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah pembelajaran tersebut. Modul multimedia interaktif memiliki beberapa kelebihan. Adapun kelebihan media ini adalah 1) menggabungkan komponen modul dengan teks, grafik gambar animasi dan suara untuk memotivasi minat belajar siswa. 2) komposisi warna yang cerah dan beragam menarik minat siswa untuk mempelajarinya. 3) penggunaan praktikum animasi lebih memperkuat pemahaman siswa dalam mempelajari materi. 4) adanya soal-soal latihan yang dapat dijadikan acuan tingkat pemahaman siswa dalam belajar mandiri. 5) tampilan yang user friendly membuat siswa mudah untuk mengoperasikannya. Disamping kelebihan – kelebihan yang dimiliki media ini, modul multimedia interaktif juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan modul multimedia interaktif adalah diperlukannya PC ( Personal Computer ) yaitu komputer individu untuk menunjang keberhasilan pemanfaatan media tersebut. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk media pembelajaran berupa CD modul interaktif untuk pembelajaran IPA SD kelas V yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Selain itu juga menguji kualitas produk modul interaktif yang telah dikembangkan. Model pengembangan media yang digunakan oleh peneliti adalah model pengembangan Arief S. Sadiman yang telah disesuaikan oleh pengembang. Model pengembangan media ini mempunyai langkah - langkah yaitu (1) menganalisis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan pembelajaran, (3) merumuskan butir – butir materi, (4) merumuskan alat pengukur keberhasilan, (5) menulis naskah, (6) produksi, (7) membuat petunjuk pemanfaatan, (8) validasi, Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa kelas 5 SDN Ranuyoso 01 Kabupaten Lumajang. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif dari validasi ahli media, ahli materi dan siswa dan dari hasil pre - test dan post - test.(9) revisi. Hasil pengembangan yang berupa CD Modul Multimedia Interaktif dan buku petunjuk pemanfaatannya divalidasikan pada ahli materi, ahli media dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah (1) data ahli media didapat persentase 97,2% (2) data ahli materi didapat persentase 94,5% (3) data siswa perseorangan hasil persentase yang diperoleh adalah 92,5% (4) data siswa kelompok kecil hasil yang diperoleh adalah 87% (5) data siswa lapangan hasil yang diperoleh adalah 92,5% (6) pada data hasil pre - test dan post - test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar 18% , kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar 15%, lapangan terjadi peningkatan hasil belajar 19% . Berdasarkan data hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Modul Multimedia Interaktif Mata Pelajaran IPA Kelas 5 Semester 2 valid/layak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah media yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah (1) bagi guru mata pelajaran Pada saat guru memanfaatkan modul multimedia interaktif perlu menyiapkan personal komputer, memperhatikan petunjuk pemanfaatan dan membimbing siswa jika siswa mengalami kesulitan dalam mengoperasikan media (2) bagi siswa diharapkan dalam kegiatan pembelajaran menggunakan media ini siswa harus memperhatikan dengan baik petunjuk pemanfaatan dan siswa diharapkan menggunakan media secara individual. (3) bagi pengembang selanjutnya, pengembangan modul multimedia interaktif diperlukan kajian yang lebih mendalam terhadap pemilihan materi sehingga media ini menjadi lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan yang ada.

Unsur lokal dalam pemerintahan Kesultanan Bima masa Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (1640-1682 M) / Imam Yuliadi

 

Kata Kunci: Unsur Lokal, Konsep Kekuasaan, Kesultanan Bima, Sultan Abi”l Khair Sirajudin Kesultanan Bima sebagai salah satu kerajaan Islam di Nusantara abad XV merupakan pusat penyebaran Islam di wilayah Nusa Tenggara. Sebelum menjadi kesultanan, Bima merupakan Kerajaaan Hindu, sehingga dalam hal pemerintahan Kerajaan Bima telah mengalami 2 kali perkembangan yang terjadi karena masuknya dua budaya besar yaitu Hindu dan Islam. Namun sebagai sebuah etnis yang mengalami perkembangan pesat pada abad ke XVI di bawah Sultan Abi’l Khair Sirajuddin tentunya masyarakat Bima memiliki suatu kearifan lokal dalam hal pemerintahan yang menjadi samar dengan masuknya kedua budaya besar tersebut (budaya Hindu dan Islam) Tujuan dari penelitian adalah (1) Menjelaskan konsepsi pemerintahan dalam perspektif lokal, (2) Menjelaskan proses peralihan sistem pemerintahan di Bima dan terbentuknya Kesultanan Bima, (3) Menjelaskan bentuk unsur lokal dalam struktur pemerintahan di Bima masa Sultan Abi’l Khair Sirajuddin (1640-1682 M). Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan antropologi dan bersifat deskriptif analisis. Mulai dari pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Terkait dengan pendekatan antropologi peneliti menggunakan teori makro-mikro kosmos untuk memberikan analisis terhadap konsep kekuasaan di Bima yang merupakan bagian dari unsur lokal yang dimaksud oleh penulis. Pendekatan antopologis juga digunakan untuk melihat pengaruh unsur lokal tersebut pada perkembangan sistem pemerintahan di Bima pada masa kerajaan hingga masa kesultanan. Hasil penelitian ini adalah (1) konsep kekuasaan lokal yang terdapat di Bima adalah konsep makro dan mickro kosmos berupa kesakralan para raja yang dianggap sebagai keturunan para Dewa, dan kesakralan arah mata angin pada para Ncuhi sebagai ketua adat sekaligus penguasa 5 wilayah di Bima (wilayah barat, timur, utara, selatan, dan tengah). (2) sekitar tahun 1620 M Kerajaan Hindu Bima berubah menjadi Kesultanan Islam, setelah beberapa kali perang perebutan kekuasaan dalam keluarga kerajaan antara Sultan Abdul Kahir (Sultan I) dengan pamannya Salisi Mantau Asi Peka. (3) Pada masa Sultan Abi’l Khair Sirajuddin (Sultan II) konsep pemerintahan sebelum Islam berusaha dipertahankan dan disesuaikan dengan konsep Islam sehingga terbentuklah konsep kekuasaan baru yang disebut dengan Dwi Sila, yaitu bentuk perpaduan antara hukum Adat dan hukum Islam. Dalam Dwi Sila tersebut, konsep sangaji yang tetap dipertahankan namun disesuaikan dengan kepercayaan Islam sedangkan konsep ncuhi menjadi terbatas pada tingkat desa, sehingga fungsi ritual dan kekuasaannya terbatas di wilayahnya.

Pengembangan model latihan pukulan netting dan forehand smash bulutangkis u7ntuk atlet 9-13 tahun di PB. Tunas Harapan Kediri / Bangun Prasetyo Utomo

 

ABSTRAK Utomo, Bangun Prasetyo. 2016. Pengembangan Model Latihan Pukulan Netting dan Forehand Smash Bulutangkis Untuk Atlet Usia 9-13 Tahun di PB. Tunas Harapan Kediri. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sri Purnami, S.Pd., M.Pd (II) Febrita P. Heynoek, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, model latihan, pukulan netting, forehand smash, bulutangkis. Permainan bulutangkis adalah permainan yang dilakukan oleh dua orang atau empat orang yang saling berhadapan yang harus mempunyai keterampilan atau penguasaan teknik yang baik dan benar untuk mencapai sebuah prestasi. Pukulan netting dan forehand smash merupakan salah satu teknik dasar dalam permainan bulutangkis. Tetapi jarang sekali ditemui ada materi tentang model latihan pukulan netting dan forehand smash bulutangkis yang bervariasi di PB.Tunas Harapan Kediri. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan terhadap 27 atlet usia 9-13 tahun, sebesar 96% menyatakan bahwa sangat setuju pukulan netting dan forehand smash bulutangkis diberikan. Adapun tujuan penelitian ini adalah dibuatlah 10 model latihan pukulan netting dan forehand smash untuk atlet usia 9-13 tahun di PB.Tunas Harapan Kediri yang dikemas dalam bentuk buku panduan agar memudahkan atlet dalam melakukan pukulan netting dan forehand smash bulutangkis. Metode penelitian ini, menggunakan metode penelitian dan pengembangan Borg dan Gall (1983:775). Tetapi penelitian dan pengembangan ini hanya mengambil 7 langkah dari 10 langkah yang ada pada Borg dan Gall yaitu, 1) analisis kebutuhan, 2) rancangan produk awal, 3) evaluasi ahli, 4) uji coba kelompok kecil, 5) revisi produk, 6) uji coba kelompok besar, dan 7) revisi produk berdasarkan uji coba lapangan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini berupa angket rancangan produk untuk atlet usia 9-13 tahun. Hasil persentase uji coba kelompok kecil yang dilakukan pada 6 atlet sebesar 87,5% dan uji coba kelompok besar yang dilakukan pada 21 atlet sebesar 87,75%. Hasil persentase tersebut dinyatakan layak untuk model latihan pukulan netting dan forehand smash bulutangkis untuk atlet usia 9-13 tahun di PB. Tunas Harapan Kediri yang dikemas dalam bentuk buku panduan. Dari hasil tersebut diharapkan pengembangan model latihan pukulan netting dan forehand smash bulutangkis yang dikemas dalam bentuk buku panduan dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah terkait proses pelatihan bulutangkis menjadi lebih menarik, bervariasi, baik dan lancar bagi atlet.

Penggunaan lagu anak-anak dalam pembelajaran keterampilan berbicara di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Penanggungan 02 Kecamatan Klojen Kotamadya Malang / oleh Ninik Sirtufi Rahayu

 

Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial pada remaja yang menggunakan tato dan tindik / Deasy Christia Sera

 

Kata Kunci: konsep diri, penyesuaian sosial, remaja yang menggunakan tato dan tindik Konsep diri adalah keseluruhan aspek-aspek individu mengenai persepsi tentang gambaran dirinya. Penyesuaian sosial adalah usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan kelompok sesuai dengan keinginan dari dalam tuntutan lingkungan. Dengan memiliki konsep diri yang positif maka anak dapat menciptakan hubungan dengan orang lain secara tepat dan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Tato adalah seni menghias tubuh dengan gambar tertentu. Tindik adalah seni menghias tubuh dengan melubangi dan memberi perhiasan pada anggota tubuh. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui konsep diri remaja yang menggunakan tato dan tindik; (2) mengetahui penyesuaian sosial remaja yang menggunakan tato dan tindik; (3) mengetahui apakah terdapat hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial pada remaja yang menggunakan tato dan tindik. Jenis penelitian ini adalah korelasional, sedang dalam pengambilan sampel uji coba menggunakan teknik purposive sampel, subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 38 orang yaitu remaja yang menggunakan tato dan tindik di kota Malang yang berusia 17-21 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Konsep Diri dan Skala Penyesuaian Sosial. Skala Konsep Diri dan Skala Penyesuaian Sosial yang dikembangkan oleh peneliti. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas aitem konsep diri diperoleh nilai validitas antara 0,349 sampai 0,786 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0.935. sedangkan untuk hasil uji validitas aitem penyesuaian sosial diperoleh nilai validitas antara 0,349 sampai 0,784 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0,941. Teknik pengumpulan data menggunakan skala. Teknik analisis data menggunakan analisa deskriptif dan korelasi Pearson. Hasil penelitian dari 38 subyek diperoleh hasil: (1) konsep diri remaja yang menggunakan tato dan tindik berada dalam klasifikasi sangat tinggi (10,53%), tinggi (36,84%), rendah (39,47) dan sangat rendah (13,16%); (2) penyesuaian sosialnya berada dalam klasifikasi sangat tinggi (18,42%), tinggi (23,69%), rendah (36,84%) dan sangat rendah (21,05%); (3) dengan menggunakan tehknik Spearman Brown korelasi antara konsep diri dan penyesuaian sosial sebesar rxy = 0,659 dengan signifikansi (0,000 < 0,05), berarti bahwa ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada semua klasifikasi remaja yang menggunakan tato dan tindik yang positif dan signifikan dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi: (1) remaja yang menggunakan tato dan tindik meningkatkan konsep diri dengan cara untuk meningkatkan konsep diri dengan cara lebih banyak menyadari sisi-sisi positif diri dan meningkatkannya melalui pelatihan-pelatihan mengenai konsep diri. dan berafiliasi orang lain dan memiliki persepsi yang sehat mengenai obyek, peristiwa dalam kehidupannya sehingga remaja akan dapat mengefektifkan proses sosialisasinya; (2) peneliti selanjutnya dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut, mengembangkan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendalami dinamika yang ada pada remaja yang menggunakan tato dan tindik.

Perkuatan geser balok balok sengon dengan mengunakan bambu ori yang diletakkan dengan kemiringan 45 derajat terhadap arah serat / oleh Kukuh Satrio Pramono

 

The effectiveness of individualized instruction on the students' vocabulary gain at English Departement Muhammadiyah University of Malang / by Masduki

 

Kemampuan menulis teks cerpen siswa kelas X SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun ajaran 2015/2016 / Dini Sylvia Martha Sari

 

ABSTRAK Sari,Dini Sylvia Martha. 2016. Kemampuan Menulis Kreatif Teks Cerpen siswa Kelas X SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd, (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd. Kata Kunci:kemampuan menulis, menulis, unsur intrinsik dan cerpen Kemampuan menulis merupakan salah satu dari aspek kemampuan berbahasa yang dikembangkan melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menulis merupakan salah satu dari empat ketrampilan berbahasa. Ada tiga hal yang terdapat dalam aktivitas menulis, yaitu ide atau gagasan yang melandasi seseorang untuk menulis, media berupa bahasa tulis, dan tujuan yang menjadikan pembaca dapat memahami pesan atau informasi yang disampaikan oleh penulis. Kemampuan siswa dalam menulis dapat diukur dengan memberikan tugas menulis teks cerpen. Oleh karena itu, siswa memiliki pengetahuan tentang struktur teks cerpen sebagai bahan untuk menulis dan pengetahuan tentang gaya bahasa yang meliputi diksi dan majas.Unsur pembangun karya sastra khususnya cerpen, dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pembagian unsur yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan menulissiswa kelas X SMA Negeri 1 Grogol Kabupaten Kediri tahun ajaran 2015/2016. Penelitian ini menggunakandeskriptif. Data penelitianiniberupa: (1) skorkemampuanmengembangkanunsurintrinsik, (2) skorkemampuanmenggunakangayabahasa. Sumber data penelitianiniadalahsiswakelas X SMA Negeri 1 GrogolKabupaten Kediri. Populasisiswakelas X SMA Negeri 1 Grogolsebanyak 343 siswa yang terdiridari 9 kelas. Padapopulasipenelitianinidiambilsampel 40% daripopulasi yang terdiridari 5 kelasdanjumlahsampel 188 siswa. Pelaksanaantesdilakukanpada jam Bahasa Indonesia di masing-masingkelas. Analisis data dilakukandalamempattahapyaitu, (1) seleksi data, (2) penskoran, (3) mengurutkandanmengelompokkan, dan (4) menetapkantingkatkemampuanpenjenjangan. Temuan penelitian ini sebagai berikut. Pertama, kemampuan menulis teks cerpen siswa kelas X SMA Negeri 1 Grogol berdasarkan unsur intrinsik yakni kategori mampu sebanyak 19 siswa (12,9%);kategori cukup mampu sebanyak 105 siswa (71%); dan kategori kurang mampu sebanyak 23 siswa (15,6%). Kedua, kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA Negeri 1 Grogol berdasarkan aspek gaya bahasa yakni kategori sangat mampu sebanyak 24 siswa (16,3%); kategori mampu sebanyak 121 siswa (82,3%), kategori cukup mampu sebanyak 1 siswa (0,6%), dan kategori kurang mampu sebanyak 1 siswa (0,6%). Ketiga, kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA Negeri 1 Grogol secara keseluruhan aspek yakni, siswa belum mampu menulis teks cerpen dari segi unsur intrinsik dan gaya bahasa sebanyak 5 siswa (3,4%) di atas KKM dan siswa yang memiliki kualifikasi di bawah KKM yakni 142 siswa (96,1%).Mean (nilai rata-rata) dari penelitian ini yakni 45, nilai tengah (median) yakni 43 dan nilai yang banyak muncul (modus) yakni 32,5. Simpulan penelitian ini, bahwa kemampuan menulis kreatif teks cerpen siswa kelas X SMA Negeri 1 Grogol tahun ajaran 2015/2016 tergolong kurang mampu, karena jumlah siswa yang kualifikasi di atas KKM yakni 5 siswa (3,4%) dan siswa yang memiliki kualifikasi di bawah KKM yakni 142 siswa (96,1%). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), standar ketuntasan mengajar adalah 75%. Artinya, sebuah kelas digolongkan mampu apabila 75% jumlah siswa memiliki kualifikasi kemampuan sangat mampu, mampu, cukup mampu, kurang mampu.

Pengaruh penambahan 2% lateks terhadap sifat fisik bahan pengikat aspal / oleh Agus Hariyono

 

Studi evaluasi pengaturan air sebagai penggerak turbin terhadap PLTMh di Temas Kota Batu / Irma Nur Rohmah

 

Kata Kunci: Evaluasi Pengaturan Air, Pintu Air Otomatis, Sensor Ketinggian Air Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) adalah pembangkit listrik berskala kecil (kurang dari 200 kW), yang memanfaatkan aliran air sebagai sumber penghasil energi. Berdasarkan hasil evaluasi awal menjelaskan bahwa debit air pada PLTMh Temas cenderung stabil. Sampah pada sungai merupakan faktor penting yang mempengaruhi debit air karena dapat membuat laju air menjadi terhambat. Selain itu, pintu airnya masih bekerja secara manual dan pintu pembuangan cara buka dan tutupnya sulit karena masih harus berjongkok. Hal ini sangat membahayakan terutama proses buka tutup pintu air tidak bisa dilakukan pada waktu banjir dan tidak memenuhi syarat keselamatan. Perancangan proyek akhir ini membahas tentang studi evaluasi terhadap potensi PLTMH di Kelurahan Temas, Kota Batu untuk menggali kembali potensi-potensi Mikrohidro yang sudah ada. Sehingga potensi Mikrohidro tersebut dapat bekerja lebih optimal dalam menghasilkan energi listrik, dengan memfokuskan permasalahan terhadap pengaturan air sebagai penggerak turbin. Serta, membuat sebuah miniatur pintu air otomatis sebagai salah satu upaya perbaikannya. Pintu air akan digerakkan dengan menggunakan motor sehingga akan bekerja secara otomatis Prinsip kerja miniatur pintu air otomatis ini yaitu: membuka dan menutup pintu air dapat bekerja dengan kendali sensor ketinggian air. Sensor ketinggian air ini terdiri dari sensor ketinggian batas atas dan batas bawah. Sensor batas atas berfungsi untuk mendeteksi air penuh atau mencapai batas atas. Sedangkan sensor batas bawah berfungsi untuk mendeteksi air yang habis atau mencapai batas bawah. Relay 1 berfungsi untuk mendeteksi apakah sensor yang terdeteksi adalah sensor batas atas atau sensor batas bawah dan mengendalikan kerja limit switch 1 dan 2.Saat air penuh hingga terdeteksi sensor batas atas, maka sensor batas atas akan ON. Relay 2 akan bekerja dan membuat motor berputar ke kanan. Putaran motor ini membuat pintu air akan membuka secara otomatis. Pintu akan berhenti setelah mengenai limit switch 1. Saat air mulai habis hingga terdeteksi sensor batas bawah, maka sensor batas bawah ON. Relay 3 akan bekerja dan membuat motor berputar ke kiri. Putaran motor ini membuat pintu air akan menutup secara otomatis. Sensor ketinggian air pada batas atas mempunyai ketinggian 8 cm, sedangkan sensor batas bawah mempunyai ketinggian 2 cm dari dasar kotak bendungan. Jadi, dari hasil pengujian yang dilakukan sebanyak 9 kali dapat dilihat jika ketinggian sama dengan lebih dari 8 cm pintu air akan membuka secara otomatis. Pintu akan terus membuka hingga ketinggian air sama dengan kurang dari 2 cm atau hingga mengenai sensor batas bawah.

Penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar / Eni Widayati

 

Kata kunci : metode eksperimen, kemampuan sains, anak usia dini Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah tentang (1) bagaimana penerapan metode eksperimen untuk dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kab. Blitar?, (2) apakah penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qur'an Jeblog Kabupaten Blitar? Penelitian ini bertujuan : (1) mendeskripsikan penerapan metode eksperimen yang dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan pengembangan kemampuan sains pada anak usia dini dengan metode eksperimen di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar pada tanggal 3, 9, 16, dan 23 Mei 2011. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas B PAUD. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : (1) penerapan metode eksperimen, dan (2) kemampuan sains meliputi kemampuan mengelompokkan biji-bijian, menanam biji-bijian, mengenal dan mengelompokkan kulit buah kasar-halus, membedakan minuman rasa buah, dan mengamati pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains anak. Pada siklus I prosentase nilai rata-rata anak 46,6%. Pada siklus II naik menjadi 78,2% peningkatan kemampuan sains ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengelompokkan biji-bijian, menanam biji-bijian, mengelompokkan buah berkulit kasar-halus, membedakan rasa minuman buah, mengamati proses pertumbuhan tanaman. Penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar. Penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar mencoba menerapkan metode eksperimen untuk membantu mengatasi kesulitan anak pada pembelajaran sains. Sedangkan untuk peneliti sains diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkan para ruang lingkup yang lebih luas

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPS dengan model talking stick pada kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kraton Pasuruan / Fitria

 

Kata kunci: Aktivitas Siswa, Hasil Belajar Siswa, Model Talking Stick, IPS SD/MI. IPS dalam dunia pendidikan memiliki peran penting dalam memperknalkan siswa dengan lingkungan sedini mungkin. Hal ini disebabkan IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuannya saja, akan tetapi juga keterampilan sosial dalam kegiatan pembelajarannya. Hasil observasi pada kelas III di MI Miftahul Huda Gerongan ada beberapa permasalahan antara lain: 1) Pembelajaran IPS masih konvensional (ceramah, dan penugasan). 2) Siswa kurang perhatian pada saat pembelajaran. 3) Rendahnya aktivitas siswa. 4) Rendahnya hasil belajar, hal ini dibuktikan setelah mengerjakan soal evaluasi dan nilainya rata-rata 58,6. Penelitian ini mendiskripsikan: 1) Aktivitas belajar; 2) Hasil belajar; 3) Pembelajaran kooperatif; 4) Pembelajaran kooperatif model talking stick. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kraton Pasuruan yang berjumlah 18 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan observasi, tes, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: 1) Hasil aktivitas guru pada siklus I dengan nilai akhir 82,3%, pada siklus II 94,1% . 2) Hasil aktivitas siswa pada siklus 1 dengan nilai akhir 63%, pada siklus II 78%. 3) Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata 68,3 (55,5%), siklus II rata-rata mencapai 85,8 (88,9%). Penerapan model Talking Stick pada mata pelajaran IPS kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kabupaten pasuruan dilaksanakan dengan tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus 1 dan siklus II mengalami peningkatan sampai 15%. Penggunaan model Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Pasuruan. Dapat dilihat dari hasil belajar siklus 1 siklu II mengalami peningkatan sampai 33,4%. Peneliti menyimpulkan pembelajaran dengan menggunakan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peneliti juga menyarankan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa hendaknya menggunakan strategi dan model pembelajaran yang menerik salah satunya adalah dengan menerapkan model Talking Stick. Guru harus bisa menyusun langkah-langkah pembelajaran yang membuat siswa mampu meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dengan menerapkan model pembelajaran Talking Stick.

Hubungan antara kompetensi manajerial kepala sekolah dan kinerja guru di SD Negeri se-Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan / Esti Vita Ningtyas

 

ABSTRAK Ningtias, Esti Vita. 2016. HubunganantaraKompetensiManajerialKepalaSekolahdanKinerja Guru di SD Negeri se-KecamatanModoKabupatenLamongan. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I)Prof. Bambang Budi Wiyono, M.Pd,(II) Dr. H. ImronArifin, M.Pd. Kata Kunci: Kompetensimanajerial, kinerja guru, kepalasekolah Kepemimpinan yang berkualitas akan bermuara pada peserta didik yang memiliki kemampuan sesuai yang diharapkan. Kepala sekolah memiliki posisi penting dalam menggerakkan manajemen sekolah. Tugas-tugas kepala sekolah dapat dilaksanakan dengan baik apabila kepala sekolah memiliki (1) kompetensi kepribadian (2) kompetensi manajerial; (3) kompetensi kewirausahaan; (4) kompetensi supervisi; (5) kompetensi sosial. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Seberapa besar tingkat kinerja guru di SDN se-Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan? (2)Seberapa besar tingkat kemampuan manajerial yang dimiliki kepala sekolah di SDN se-Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan? (3) Apakah ada hubungan antara kompetensi manajerial kepala sekolah dan kinerja guru di SDN se-Kecamatan Modo Kabupaten Lamongan? Metode penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitiandeskriptif-korelasional, dengan tujuan mengetahuihubunganantaravariabel X dan Y. Populasi dalam penelitian ini, yaitu guru di 17 SDN di KecamatanModo. Penentuan sampel menggunakan cluster random samplingyang diperoleh berjumlah 154 guru. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang disusun dalam butir-butir pernyataan berjumlah 55 butir. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis faktor menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) for Windwos Version 16.00. Hasil pengujian asumsi normalitas data diperolehvariabelkompetensimanajerial0,113> 0,05 dan variabel tingkat kinerja0,346> 0,05. Sedangkan untuk pengujian homogenitas varians menggunakan Levenetestvariabel kompetensimanajerial diperoleh koefisien sebesar P = 0,000> = 0,05variabel tingkat kinerjadiperoleh koefisien sebesarP = 0,164> P = 0,05. Analisiskorelasimenggunakan teknik korelasiPearsonmenunjukkan, bahwa nilai r_hitung= 0,872dengansig 2 tailed = 0,000 < 0,05, maka dengan demikian Ada hubungan yang signifikan antara kompetensimanajerial (X) kepalasekolahdan kinerja (Y) guru.Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) tingkat kompetensimanajerialkepalasekolah dalam kategori tinggi, (2) tingkat kinerja guru berada pada kategori tinggi, (3) ada hubungan yang signifikan antara kompetensimanajerialkepalasekolahdankinerja guru. Saran yang dapat diberikan yaitu: (1)bagikepaladinaskabupatenLamongan, hendaknya mewadahi kepala sekolah untuk meningkatkan kemampuan manajerial dengan mengadakan pelatihan peningkatan manajerial; (2) bagi pengawas pendidikan SDN se-kecamatan Modo kabupaten Lamongan, diharapkan pengawas dapat memberikan perhatian terhadap kemampuan manajerial kepala sekolah serta memberikan bantuan dalam peningkatan kualitas kepala sekolah; (3) bagi kepala SDN se-kecamatan Modo kabupaten Lamongan, perlu untuk meningkatkan kemampuan manajerial agar kinerja guru di sekolah juga meningkat. Untuk meningkatkan kinerja guru melalui pendekatan pembinaan kinerja guru adalah program kerja merupakan suatu hal yang penting di dalam kemampuan kepala Sekolah dalam menyusun rencana kerja Sekolah berpengaruh terhadap kemajuan Sekolah yang dipimpinnya; (4) bagi guru SDNse-kecamatan Modo kabupaten Lamongan, hendaknya meningkatkan kinerja guru dengan mendukung peran kepala sekolah sebagai manajer di sekolah. Dukungan ini bisa berupa dukungan tenaga, pikiran dan waktu yang dicurahkan pada pelaksanaan proses manajemen sehingga kinerja guru juga ikut tinggi pula; (5) bagi peserta didik SDNse-kecamatan Modo kabupaten Lamongan, peserta didik juga dapat memberikan sumbangan dalam peningkatan belajar sehingga dapat membantu secara tidak langsung terhadap peningkatan kinerja guru dan kompetensi manajerial kepala sekolah; (6) bagi peneliti lain, mengenai hubungan antara kompetensimanajerialkepalasekolahdankinerja guru SDN se-KecamatanModo dengan hasil tingkat komepetensimanajerial dalam kategori tinggi sedangkan tingkat kinerjadalam kategori tinggi, dengan melakukan penelitian lain misalnya hubungan kompetensimanajerialkepalasekolahdan professional guru.

Analisis sistem akuntansi biaya pada Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah Sakit Umum (RSU) Dr. Saiful Anwar / oleh Tsaniatul Mahmudah

 

Peran unit pelayanan perempuan dan anak (PPA) Polres Malang kota dalam menangani kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap anak di kota Malang / Nina Widyastuti

 

Kata Kunci: Unit Pelayanan Perempuan dan Anak, Kekerasan dan eksploitasi anak Kekerasan terhadap anak adalah tindakan melukai terhadap anak yang berakibat timbulnya penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga yang biasanya dilakukan oleh orang terdekat anak. Eksploitasi anak adalah pemanfaatan tenaga atau kemampuan seorang anak dengan atau tanpa persetujuan anak tersebut oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil. Dalam menangani kasus kekerasan terhadap anak, Polri mendirikan unit khusus yang menangani perempuan dan anak baik sebagai korban, saksi maupun tersangka, yaitu unit Pelayanan Perempuan dan Anak. Namun, keberadaan unit PPA belum dapat mengurangi jumlah kasus kekerasan terhadap anak. Adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap anak di kota Malang mendorong peneliti untuk melihat bagaimana pelaksanaan tugas dan wewenang unit PPA dalam menangani kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap anak. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tugas dan wewenang unit PPA, pelaksanaan tugas dan wewenang unit PPA, kendala yang dihadapi dalam menangani kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap anak, serta upaya unit PPA mengatasi kendala dalam menangani kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap anak di kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskrptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan dari narasumber di unit PPA Polres Malang Kota. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan telaah dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data kemudian penyajian data dan terakhir penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan sebagai berikut. Pertama unit Pelayanan Perempuan dan Anak yang mempunyai tugas pokok melayani dan melindungi perempuan dan anak baik sebagai pelaku, korban atau saksi bertugas/berperan sebagai pelindung dan penyidik, secara umum wewenangnya sama dengan penyidik Kedua, Kanit PPA beserta anggota Polres Malang Kota dalam melaksanakan tugasnya melaksanakan prinsip koordinasi, setiap tindakan yang dilaksanakan Kanit dengan dibantu anggota sesuai dengan peraturan yang ada. Prinsip integrasi dilaksanakan dalam pelaksanaan penyidikan, dalam melaksanakan gelar perkara dimana gelar perkara yang diadakan dihadiri oleh penyidik- penyidik dari unit lain di bawah Sat Reskrim dan dihadiri oleh Kasat Reskrim, dalam menangani kasus kekerasan bekerjasama dengan Polda dalam pelatihan pelayanan perempuan dan anak. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya juga menerapkan prinsip sinkronisasi dimana tugas dilaksanakan sesuai dengan penjabaran dan pembagian tugas unit PPA. Ketiga, Kendala yang di hadapi unit PPA dalam melaksanakan tugas yaitu tidak banyak korban yang melaporkan tindak pidana kekerasan dan eksploitasi terhadap anak, laporan yang telah masuk dicabut. Kendala dalam melaksanakan penyidikan dan permintaan visum et repertum yaitu sulitnya mencari identitas dari tersangka anak jalanan, laporan hasil visum dari rumah sakit yang lama, kesulitan dalam mendapatkan keterangan dari korban yang masih berumur 5 (lima) tahun ke bawah, korban kurang kooperatif. Kendala dalam pemberian konseling yaitu tidak tersedianya konselor khusus, tidak tersedianya LBH atau rumah aman/shelter di lingkungan Polres Malang Kota. Keempat,upaya yang dilakukan unit PPA untuk mengatasi kendala berkisar pada upaya yang bersifat pencegahan yaitu sosialisasi Undang-undang Perlindungan Anak, menghimbau kepada masyarakat untuk melapor jika mengetahui adanya tindak pidana kekerasan terhadap anak, mengirim anggota untuk mengikuti pelatihan pelayanan perempuan dan anak. Upaya mengatasi kendala dalam penyidikan yaitu bekerjasama dengan pihak rumah sakit untuk mempermudah proses visum, bekerjasama dengan RT/RW untuk membantu memberikan surat keterangan bagi anak jalanan yang tidak punya identitas, dan bekerjasama dengan perguruan tinggi di kota Malang yang mempunyai program studi psikologi untuk menyediakan konselor dan bekerjasama dengan LSM dalam menyediakan rumah aman bagi korban. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bagi unit PPA Polres Malang mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa masyarakat tidak perlu merasa takut untuk melaporkan tindak pidana kekerasan anak kepada polisi karena polisi akan memberikan perlindungan bagi pelapor dan penegakan hukum bagi pelaku, bekerjasama dengan pihak terkait seperti Woman Crisis Center untuk menyediakan ruang pelayanan khusus, rumah aman, dan tenaga konselor.

Upaya peningkatan pemahaman materi trigonometri dengan pembelajaran peta konsep bagi siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2004/2005 / oleh Reni Pujiana

 

Perbedaan tingkat asertivitas pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari jenis kelamin / Tatimatul Chusna

 

Kata Kunci : asertivitas, jenis kelamin Asertivitas merupakan salah satu cara berkomunikasi yang menunjukkan individu dapat mengungkapkan emosi, pikiran, ataupun perasaan baik yang positif maupun yang negatif secara jujur dan langsung, serta mampu mempertahankan hak-haknya secara tegas, dengan tetap mengahargai, dan tanpa mengabaikan kesopanan dan hak-hak orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perbedaan tingkat asertivitas pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang, ditinjau dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik quota sample. Sampel yang digunakan yaitu sebanyak 100 orang mahasiswa, dengan 50 orang mahasiswa laki-laki, dan 50 orang mahasiswa perempuan. Sampel diambil secara acak yang mencakup semua fakultas, namun jumlah sampel tiap fakultasnya tidak ditentukan. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean keseluruhan sebesar 129,85 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang sangat tinggi sebanyak 1 mahasiswa (1%), tinggi sebanyak 11 mahasiswa (11%), sedang sebanyak 71 mahasiswa (71%), rendah sebanyak 16 mahasiswa (16%), dan sangat rendah sebanyak 1 mahasiswa (1%). Skor mean pada mahasiswa laki-laki sebesar 137,80 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang sangat tinggi sebanyak 1 mahasiswa (2%), tinggi sebanyak 9 mahasiswa (18%), sedang sebanyak 37 mahasiswa (74%), rendah sebanyak 3 mahasiswa (6%), dan tidak ada mahasiswa laki-laki yang termasuk kategori sangat rendah. Skor mean pada mahasiswa perempuan sebesar 121,90 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang tinggi sebanyak 2 mahasiswa (4%), sedang sebanyak 34 mahasiswa (68%), rendah sebanyak 13 mahasiswa (26%), sangat rendah sebanyak 1 mahasiswa (1%), dan tidak ada mahasiswa perempuan yang termasuk kategori sangat tinggi. Berdasarkan analisis komparatif diperoleh hasil t hitung = 4,711 sig 0,000 < 0,05, maka terdapat perbedaan tingkat asertivitas pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari jenis kelamin dimana laki-laki memiliki tingkat asertivitas yang lebih tinggi dibanding perempuan. Bagi mahasiswa disarankan agar mengikuti atau melaksanakan pelatihan asertivitas, bagi universitas agar mengadakan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan asertivitas, bagi orang tua agar memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan asertivitas. Bagi peneliti selanjutnya agar lebih memperluas subjek penelitian, dan menambahkan variabel ataupun faktor-faktor lain yang terkait dengan asertivitas.

Kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, desa Bulupasar dan desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri / Benny Isayoga Kristyowidi

 

Kata kunci: kepercayaan, masyarakat, bupati Kepercayaan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam suatu pemerintahan, baik pemerintahan pusat maupun daerah. Begitupula yang terjadi di Kabupaten Kediri. Begitupula yang terjadi di Kabupaten Kediri. Tanpa adanya kepercayaan yang diberikan oleh rnasyarakat maka roda pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik. kepercayaan masyarakat terhadap Bupati Kabupaten Kediri dapat dilihat dari keyakinan penerimaan, pengakuan, dukungan dan ketaatan yang dimiliki oleh masyarakat. Oleh karena itu, maka diperlukan pembahasan mengenai Kepercayaan Masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar Dan Desa Sukorejo) Terhadap Bupati Kabupaten Kediri. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri, (2) untuk mendeskripsikan bentuk kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri, (3) untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Kabupaten Kediri. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (l) kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri terlihat dari adanya (a) keyakinan yang dimiliki masyarakat bahwa Bupati akan membawa kebaikan bagi Kabupaten Kediri. Selain itu, (b) kesediaan masyarakat, (c) menerima, (d) mengakui, (e) mendukung dan taat terhadap kebijakan Bupati, (2) Bentuk kepercayaan masyarakat terhadap Bupati adalah: (a) mendukung kebijakan, (b) adanya kepedulian terhadap kebijakan Bupati, (c) ketaatan masyarakat atas kebijakan Bupati, (d) penerimaan terhadap Bupati, (3) Faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada Bupati adalah: (a) faktor pendidikan yang dimiliki Bupati yaitu sarjana kedokteran, dimana Bupati tersebut bergelar dokter, (b) memiliki pengalaman, (c) karena Bupati tersebut bersedia terjun ke lapangan dan dekat dengan masyarakat, (d) realisasi visi dan misi, (e) karisma yang dimiliki bupati. Dari penelitian ini saran yang diajukan peneliti yaitu hendaknya dalam memberikan kepercayaan kepada Bupati tidak hanya memandang faktor pribadi semata, namun berdasarkan kredibilitas yang dimilikinya serta realisasi janji politik yang diberikan Hj. Haryanti Sutrisno sebagai Bupati di Kabupaten Kediri.

Kajian tentang hubungan minat belajar fisika terhadap keinginan berkarir dalam bidang sains dan teknololgi siswa wanita SMA Negeri kelas III IPA di Kabupaten Blitar / oleh Rosyidah Rohmah

 

Factors influencing the students achievement in English in the secondary schoolas in Kotamadya Denpasar / by I Made Sukamerta

 

Formulasi strategi diversifikasi program studi pada perguruan tinggi Agama Islam Negeri : studi kasus di Universitas Islam Negeri Malang / oleh Indah Aminatuz Zuhriyah

 

Keterampilan komunikasi dalam konseling bersumber dari ayat-ayat Al-Qur'an / oleh Thalib

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika materi keliling dan luas segi empat dan segitiga pada siswa kelas VII SMP Negeri 7 Malang / Ratih Mufidah Kusfianti

 

Kata Kunci : TSTS, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Melalui kegiatan observasi dan wawancara, diketahui bahwa motivasi belajar siswa SMP Negeri 7 Malang sangat kurang. Hal disebabkan kurangnya motivasi ekstrinsik yakni perhatian dari orang tua. Kurang termotivasinya siswa dalam belajar berdampak pula pada hasil belajar siswa. Lebih dari 50% siswa mendapatkan nilai di bawah SKM yaitu minimal 67. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan penerapan model pembelajaran yang bervariasi dan mulai mengurangi metode ceramah. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 7 Malang serta untuk mendapatkan deskripsi tentang proses pembelajaran tipe TSTS yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 7 Malang pada bulan April – Mei 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 7 Malang yang berjumlah 40 orang. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket motivasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil tes yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor tes yang dilaksanakan di setiap siklus. Siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai nilai minimal 67 dan daya serap klasikal minimal 85% dari jumlah siswa yang mengikuti tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Skor motivasi rata- rata angket sebelum tindakan 154,6 atau 77,3% meningkat menjadi 170,86 atau 85% setelah pelaksanaan tindakan. Rerata kelas dari hasil evaluasi di siklus II juga mengalami peningkatan, pada saat siklus I sebesar 57,8 dan hasil belajar setelah tindakan sebesar 78,8 dengan peningkatan sebesar 11,4. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 25% dan pada siklus II meningkat menjadi 85%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 60%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa guru dapat menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TSTS dalam proses pembelajaran sebagai variasi dalam pembelajaran Matematika.

Penerapan pendidikan matematika realistik dengan media luas daerah pada perkalian pecahan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Urek-urek 02 Gondanglegi Malang / Muhammad Yusuf

 

ABSTRAK Yusuf, Muhammad. 2015, Penerapan Pembelajaran Matematika Realistik Dengan Media Luas Daerah Pada Perkalian Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SDN Urek-Urek 02 Gondanglegi Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Subanji, M.Si, (2) Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. Kata Kunci: PMR, Media Luas Daerah, Perkalian Pecahan SD. Permasalahan faktual pembelajaran matematika kompetensi dasar perkalian pecahan di SDN Urek-Urek 02 Kec. Gondanglegi Kab. Malang, yaitu: (1) pembelajaran matematika di kelas didominasi oleh guru, (2) Praktik pembelajaran kurang menggunakan situasi kehidupan riil di lingkungan siswa, (3) guru terbiasa menjelaskan cara penyelesaian perkalian pecahan, dan langsung menerapkan teknik-tekhik hitung yang digunakan, (4) pembelajaran perkalian pecahan belum pernah memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif “menemukan” sendiri. Pembelajaran perkalian pecahan dengan menggunakan PMR dengan bantuan media luas daerah dapat mengaktifkan dan memberdayakan rasa ingin tahu siswa untuk belajar secara kreatif, efektif, dan menyenangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan penerapan PMR dengan bantuan media luas daerah untuk meningkatkanhasilbelajarsiswapadapembelajaranperkalianpecahan Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang setiap siklusnya terdiri dari empat komponen yang meliputi: rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, serta refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus pada bulan Februari 2015 di kelas VI SDN Urek-Urek 02 Gondanglegi Malang. Penerapan PMR dengan bantuan media luas daerah pada perkalian pecahan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika baik secara proses, aktivitas siswa maupun produk. Secara umum penerapan PMR dengan media luas daerah pada pembelajaran perkalian pecahan dapat mengoptimalkan interaksi semua komponen dalam pembelajaran yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Peningkatan pemahaman pemecahan masalah matematika yang berkaitan dengan perkalian pecahan pada penerapan PMR dengan bantuan media luas daerah telah tampak dan ditunjukkan pada tahap pemecahan masalah kontekstual. Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri, meningkatkan pemahamannya melalui diskusi, dan negoisasi antar siswa maupun interaksi siswa dengan guru. Berdasarkan hasil tes akhir pada siklus I dan II, dapat disimpulkan prestasi belajar perkalian pecahan pada siswa kelas VI SDN Urek-Urek 02 Kec. Gondanglegi Kab. Malang mengalami peningkatan, dinama siswa dalam mengerjakan soal dan tugas matematika sudah tampak teratur dan tertata dengan pemberian alasan yang benar. Untuk itu, disarankan penerapan PMR dengan bantuan media luas daerah layak dipertimbangkan sebagai alternatif dalam pembelajran matematika pada kompetensi dasar perkalian pecahan.

Mind mapping strategy to develop students' ability in writing a descriptive text grade VII-9 at SMPN 14 Malang / Masrul Huda

 

Key words: mind mapping, writing ability This study was conducted on the basis of the problems faced by the researcher in English teaching in the classroom. When conducting Internship Program in SMPN 14 Malang in the first grade in the second semester showed that the students’ ability in writing English was still low. Based on the preliminary study, there were several problems found. First, the students faced difficulties in starting and organizing the ideas (pre-writing stage). They did not know how to start, discover, and choose many ideas which come to their mind. Second, they got problem in producing a unified paragraph. The problem made the paragraph was difficult to be understood. The last problem was that the students neither active nor motivated in writing activity. In response to the problem, this study was focused on solving the problem related to how the students generate and organize the ideas to write for the topic. This study proposes mind mapping with the proper model to develop the seventh year students’ ability in writing a descriptive text. The research problem is “How can Mind Mapping Strategy develop the students’ writing ability in descriptive writing Grade VII-9 at SMPN 14 Malang?” The design of the study is collaborative classroom action research. Both the researcher and the class teacher worked together in cyclic activities - Planning, Implementing, Observing, and Reflecting on the data gained from the teaching and learning process which run in two cycles. Cycle I covered four meetings while Cycle II covered three meetings. The subjects of the study were the students of class VII-9 of the second semester in the 2010/2011 academic year which consisted of 45 students. The instruments used were the students’ writing task, observation checklist, and field notes. The reflection was based on the findings. Then, they were compared to the criteria of success, namely if 75% of students of the class got more or equal to 65 and if at least 75% of the students in the class were involved in the implementation of the strategy in writing activities. The result of the reflection was used to determine the planning for the next cycle. After implementing the model of mind mapping in the writing class, it was found that the procedures of a proper model developed in implementing mind mapping were as follows: First, model texts were spread out. Second, discussing and drawing Mind Mapping based on the text (Joint Construction). Third, the students brought the picture (favorite idol) by themselves (Cycle I) and made themselves as model (Cycle II) and drew Mind Mapping based on the pictures. Fourth, giving the students guided vocabulary items. Fifth, asking the students to write a rough draft based on the mind mapping. Sixth, asking the students to revise the draft focusing on the content, organization, and grammar. Seventh, asking the student to edit the draft focusing on the mechanics. Eighth, the products were published to the class. The research findings indicate that the students were active during the writing activities and the students’ writing ability developed after the action was implemented. The improvement is shown by the increase of the percentage of the students’ achievement in writing a descriptive text. The percentage of the students achieving the score greater than or equal to 65 increases from 51% in Cycle I to be 91% in Cycle II. The students’ involvement increases from 59.63% in Cycle I to be 82.25% in Cycle II. Based on the research findings, two suggestions are provided for teachers and future researches. In implementing the strategy, teachers should be aware of the following considerations. In using the media “pictures”, the teacher has to make sure that the media will help the students in writing process. The teacher should clarify their instruction in Bahasa Indonesia in order to avoid misunderstanding between the teacher and the students. In addition, dictionary or vocabulary guides should be provided also. The recommendation for the future researchers is to conduct the research by implementing Mind Mapping Strategy in other language skills. It is done to know whether or not Mind Mapping Strategy can be used to improve listening, speaking, and reading skills.

Penerapan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan interaksi dan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang dalam mata pelajaran dasar-dasar kompetensi kejuruan menerapkan K3LK) / Choirul Anam

 

Kata kunci: model pembelajaran Cooperative Script, interaksi siswa, hasil belajar Interaksi siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang dalam mata pelajaran Dasar-dasar Kompetensi Kejuruan Menerapkan K3LK tergolong rendah. Hasil belajar siswa juga tergolong rendah salah satunya dikarenakan kurangnya kemampuan siswa dalam menganalisis suatu masalah dalam soal, misalnya soal studi kasus. Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan interaksi dan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan model pembelajaran Cooperative Script dalam meningkatkan interaksi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang pada tanggal 7 sampai 16 April 2011. Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran Cooperative Script dimulai dengan cara membagi siswa secara berpasangan, pemberian bacaan kepada tiap siswa, salah satu siswa mengikhtisarkan materi sedangkan siswa yang satunya mengoreksi ikhtisar pasangannya, diskusi kelas, dan kesimpulan. Pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, tes, wawancara, dan catatan lapangan. Hasil penelitian penerapan model pembelajaran Cooperative Script yang dilakukan di kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang dalam mata pelajaran Dasar-dasar Kompetensi Kejuruan Menerapkan K3LK ini menunjukkan bahwa: (1) Dapat meningkatkan interaksi siswa. Ini dibuktikan dengan meningkatnya interaksi siswa setelah penerapan model pembelajaran Cooperative Script. Pada siklus I nilai rata-rata interaksi siswa adalah 49% dan siklus II adalah 81%; (2) Dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ini terbukti dari hasil belajar siswa yang meningkat setelah diterapkannya model pembelajaran Cooperative Script. Pada siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa dan siklus II sebanyak 34 siswa; dan (3) Ada hambatan yaitu siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran Cooperative Script. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah menjelaskan langkah-langkah model ini pada tiap pertemuan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa model pembelajaran Cooperative Script dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam kegiatan pembelajaran untuk: (1) Mengatasi siswa yang enggan mengutarakan pendapatnya atau tidak mau bertanya kepada orang lain jika belum memahami tentang suatu materi; (2) Memupuk kerja sama, saling menghargai pendapat teman, dan tenggang rasa dalam diri siswa; serta (3) Memudahkan siswa dalam menghafal materi atau menganalisis suatu permasalahan dengan baik seperti dalam mata pelajaran Dasar-dasar Kompetensi Kejuruan Menerapkan K3LK.

Pengaruh pemberian ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) terhadap jumlah sel CD4+ pada mencit (Mus musculus) model rheumatoid artitis / Putri Diyah Anggraini

 

ABSTRAK Anggraini, P.D. 2016. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap Jumlah Sel CD4+ pada Mencit (Mus musculus) Rheumatoid Arthritis. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Susilowati, M.S., (II) Nuning Wulandari, S.Si., M.Si. Kata Kunci: ekstrak daun sirih merah, rheumathoid arthrits, CD4+ Rheumatoid Arthitis (RA) merupakan salah satu penyakit autoimun yang terjadi akibat adanya Stress oksidatif yang akan memicu teraktivasinya sel CD4 menjadi CD4+. Sel CD4+ akan berpoliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th1 mensekresikan sitokin berupa interferon-γ (IFN-γ) akan meransang makrofag untuk mensekresikan IL-1, IL-6 dan TNF-α, sedangkanTh2 akan mensekresikan IL-4, IL-5, IL10 ke sel B untuk merangsang sel B memproduksi immunoglobulin meliputi faktor rheumatoid dan autoantibodi. Hal ini akan menyebabkan terjadi inflamasi dan kerusakan pada membran synovial dan sendi. Terapi yang digunakan selama dalam mengatasi inflamasi pada penderita RA adalah dengan pemberian obat Non Steroid Anti Inflamation Drug (NSAID yang akan menghambat produksi prostaglandin, sehingga mengurangi nyeri dan inflamasi. Pemberian obat NSAID secara terus menerus akan mengakibatkan tukak dan pendarahan pada saluran pencernaan dan hati. Oleh karena itu diperlukan bentuk terapi yang aman dan tidak menimbulkan efek samping salah satunya dengan menggunakan sirih merah yang memiliki aktivitas antioksidan yang diduga mampu mengurangi stress oksidatif yang terjadi. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih merah terhadap jumlah sel CD4+ dan dosis ekstrak daun sirih merah yang paling efektif dalam menurunakan jumlah sel CD4+ pada mencit RA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada Bulan Oktober sampai Bulan November 2015. Hewan coba yang digunakan adalah 24 ekor mencit jantan galur Swiss berumur 8 minggu dengan berat berkisar antara 28-30 gram. Mencit dimodel RA dengan diinjeksikan Complete Freund’s Adjuvant (CFA) sebanyak 0,01 ml pada intraperitonial dan Incomplete Freund’s Adjuvant (IFA) sebanyak 0,03 ml pada telapak ekstremitas belakang sebelah kiri. Hewan dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan ( normal, RA, Aspirin, sirih merah 100 mg/g BB, sirih merah 200 mg/g BB dan 400 mg/g BB). Perlakuan diberikan selama 21 hari dengan disonde lambung sebanyak 0,5 ml. Pada akhir perlakuan mencit di bedah dan diisolasi sel limfositnya untuk menghitung jumlah sel CD4+ menggunakan Flowcytometry. Data jumlah sel CD4+ dianalisis normalitas dan homogenitas, dimana hasil analisis menunjukkan bahwa data jumlah sel CD4+ tidak homogen maka dilakukan uji Kruskal Wallis dan diuji lanjut dengan uji Games Howell. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun sirih merah terhadap jumlah sel CD4+ pada mencit RA. Pemberian ekstrak daun sirih merah dosis 200 mg/g BB memiliki kecenderungan paling efektif dalam menurunkan jumlah sel CD4+ pada mencit RA.

Pengembangan paket pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas VIII MTs Puspa Bangsa Banyuwangi / Riza Faishol

 

Tesis. Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mohammad Effendi, M.Pd, M.Kes., (II) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Paket Pembelajaran, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Inti kegiatan pembelajaran adalah agar siswa belajar, sehingga terjadi proses interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket pembelajaran mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang terdiri dari 1) bahan ajar; 2) panduan guru; dan 3) panduan siswa yang dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dan memudahkan siswa mempelajari teknologi informasi dan komunikasi. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model Dick, Carey, dan Carey yang telah dimodifikasi berdasarkan keperluan pengembangan. Model ini mengarah pada upaya pemecahan masalah belajar dan terprogram melalui prosedur atau langkah-langkah kegiatan yang sistematis. Langkah-langkah tersebut adalah 1) mengidentifikasi kebutuhan untuk menentukan tujuan umum pembelajaran; 2) melakukan analisis pembelajaran; 3) mengidentifikasi karakteristik siswa; 4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus; 5) mengembangkan instrumen penilaian; 6) mengembangkan strategi pembelajaran; 7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran; 8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif; dan 9) merevisi produk pembelajaran. Produk pengembangan berupa paket pembelajaran yang terdiri atas bahan ajar, panduan guru, dan panduan siswa diuji cobakan melalui evaluasi formatif yang meliputi beberapa tahap yaitu 1) review ahli isi materi; 2) review ahli media pembelajaran; 3) review ahli desain pembelajaran; 4) uji coba perorangan; 5) uji coba kelompok kecil; dan 6) uji coba lapangan. Data hasil evaluasi formatif berupa saran, tanggapan dan penilaian dari subjek uji coba digunakan sebagai masukan untuk merevisi dan menyempurnakan paket pembelajaran yang dihasilkan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa adanya paket pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi kelas VIII semester 2 dengan model Dick, Carey, dan Carey telah mampu meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hal itu terlihat dari hasil pengujian efektivitas pembelajaran menggunakan uji t dari hasil pretest dan posttest yang diberikan kepada siswa menunjukkan nilai thitung = 64,510 > ttabel = 2,064 sehingga dapat dikatakan bahwa paket pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi kelas VIII di MTs Puspa Bangsa Banyuwangi tahun 2011 efektif.

As-saja' fi simti ad-durari li Sayyid Qutb Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi / Imam Qomarudin

 

ABSTRAK Qomarudin, Imam. 2015. Saja' dalamkitabsimtu al-durar. Skripsi, JurusanSastra Arab, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Irhamni, M.Pd, (II) IbnuSamsul Huda S.S, M.Pd. Kata kunci: saja', alfaz, simtu al-durar. Simtu al-durarmerupakankitab yang dikarangoleh Al-Sayyid Al-Qutub Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi. Kitabinimerupakansalahkitabsastra yang berisitentangkisahperjalanannabi Muhammad SAW.Kitabinijugamerupakansumber data danrujukanuntukmengetahuisifat – sifatNabi Muhammad SAW, budipekerti, danlainlain. Kitabiniditulisdengangayabahasadanstruktur yang indah, danhampirseluruhkalimatnyamengandungunsurkeindahanbahasa yang dalambahasa Arab disebutdenganilmubalaghah, apalagipadapembahasantentangsaja'. Secaraumum, tujuanpenelitianiniadalahmendeskripsikandanmenganalisisunsur-unsursaja' yang terdapatdalamkitabsimtu al-durar.Hal itumencakup (1) kalimat-kalimat yang mengandungsaja'dalamkitabsimtu al-durar dan bentukbentuksaja' yang terdapatdalamkitabsimtu al-durar, (2) fungsisaja’dalamkitabsimtu al-durar, (3) keindahan saja’ dalam kitab simtu al-durar. Rancanganpenelitian yang digunakansebagaimetodedaripenelitianiniadalahrancangandeskriptifkualitatif. Data dalampenelitianinidiambildarikalimatkalimat yang terdapatdalamkitabsimtu al-durar.Sumberpenelitianutamanyaadalahkitabsimtu al durardaninstrumennyaadalahpenelitisendiriataudisebutdenganhuman instrument. Hasilpenelitianiniantara lain (1) saja' yang terdapatdalamkitabsimtualdurardibagimenjadiduabagianyaitusaja' yang terdapatpadasyairataudisebutdengansaja' musyathardansaja' yang terdapatdalamprosa. Adapunsaja' musyatharituterdapatdalam lima syi'ir, dansaja' yang terdapatpadaprosaberjumlahseratusdelapanpuluhsatu.Bentukbentuksaja' yang terdapatdalamkitabsimtualdurarada lima bentukyaitu :mutharraf : saja' mutharrafberjumlahsembilanpuluhenam, mutawazi : saja' mutawaziberjumlahenampuluhdelapan, murasha' : saja' murasha'berjumlahtujuh. (2) fungsisaja’antaralain :memperindah kalimat dengan menyamakan huruf ahir, memperindahkalimatdenganmengulang kata, memperindahkalimatdenganmenyamakanrimapadamasingmasing kata, memperindahkalimatdenganmenyamakanbunyi kata padaahirkalimat, memudahkan untuk diingat atau dihafal (3) keindahan saja’ dalam kitab simtu al-durar antara lain : kata-katanya singkat dan ringan didengar, kalimat-kalimatnya memudahkan untuk memahami arti, ahir kata yang berirama. Berdasarkanhasilpenelitianini, disarankankepadapengajarilmubalaghahuntukmemanfaatkandanmenggunakancontohunsur-unsurdanbentukbentuksaja'dalam proses pembelajaran. Kemudiankepadaparapenelitisastra, sekiranyadapatmenjadikansebagiandaripenelitianinisebagaisalahsaturujukanpenelitiansastrakhususnyadalamkajianilmubalaghahmengenaikeindahanlafaz yangdisebutdengansaja'. Dan kepadapembacasebaiknyamemanfaatkankelebihan yang adadalampenelitianinidanmenghindarikekuranganmaupunkesalahan.

Analisis kesalahan konsep tentang hukum-hukum dan keadaan partikulat gas pada siswa dan guru SMU kota dan Kabupaten Malang serta upaya untuk menguranginya dengan menggunakan strategi konflik kognitif / oleh Ninik Sri Widayati

 

Penggunaan teori belajar Van Hielle untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang / Agus Supriyono

 

Kata kunci: teori Van Hiele, meningkatkan hasil belajar, konsep segiempat Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada siswa kelas III SDN Lesanpuro 2 Kota Malang, pada waktu pembelajaran Matematika didapatkan fakta bahwa, pembelajaran yang dilakukan guru masih kurang maksimal, kesimpulan ini diperoleh dari kemampuan siswa dalam memahami unsur dan sifat-sifat bagun datar sederhana yang minim pada saat dilaksanakan tes awal , disamping itu sedikitnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran membuat siswa kurang aktif serta tanggap dalam pembelajaran, terlebih dimana dalam pembelajaran Matematika idealnya diajarkan sesuai dengan tahap berpikir anak. Dari serangkaian observasi yang dilakukan, dari prosentasi nilai yang didapat pada tes awal pada pembelajaran geometri menunjukkan rata-rata hasil evaluasi siswa hanya mencapai 2,5 %. Sedangkan KKM yang ditetapkan yaitu 65. Untuk itu agar dapat meningkatkan pemahaman geometri perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menrapkan teori belajar Van Hiele. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penggunaan teori belajar Van Hiele untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran geometri dengan menggunakan belajar Van Hiele tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang, dan, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa dengan menerapkan teori belajar Van Hiele tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian siswa kelas III SDN Lesanpuro 2 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui peningkatan pemahaman belajar geometri melalui teori belajar Van Hiele pada siswa kelas III SDN Lesanpuro 2 Kota Malang materi memahami unsur dan sifat-sifat bagun datar sederhana, dapat dilaksnakan dengan efektif. KKM dari kemampuan memahami geometri yang diperoleh dari evaluasi belajar meningkat dari 80% pada siklus I meningkat menjadi 84% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitan, dapat disarankan hendaknya guru menggnakan toeri Van Hiele dalam pembelajaran goemetri untuk lebih meningkatkan aktivitas, daya pikir dan hasil belajar siswa.

Pengaruh aktivitas fisik maksimal terhadap peningkatan jumlah leukosit pada tikus putih (Rattus Norvegius Wistar) / Arif Rudiawan

 

ABSTRAK Rudiawan, Arif. 2016. Pengaruh Aktivitas Fisik Maksimal terhadap Peningkatan Jumlah Leukosit pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus Wistar). Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Saichudin, M.Kes., (II) Dra. Desiana Merawati, M.S. Kata kunci: aktivitas fisik maksimal, leukosit, sistem kekebalan tubuh. Aktivitasfisikmemilikiefekuntukmemperbaikifungsi organ tubuhsertameningkatkansistemkekebalantubuh. Sistem kekebalan tubuh akan menjadi baik jika dosis aktivitas fisik yang diberikan tepat. Namun, jika dosis aktivitas fisik tidak tepat akan mengganggu proses homeostatis yang dapat menyebabkan stres fisik sehingga dapat memicu terjadinya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan antioksidan (stres oksidatif) dalam tubuh. Stres oksidatif ini dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah leukosit yang dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh pada sirkulasi darah. Tujuan penelitian ini akan mengungkap pengaruh aktivitas fisik maksimal berupa renang terhadap peningkatan jumlah leukosit. Penelitian ini experimental laboratoriesdengan menggunakan rancangan penelitian random control groupposttest-only design, satukelompok perlakuan aktivitasfisikberuparenangdengan intensitas maksimal yakni 80-100% dari waktu tercapainya exhausted dan satu kelompok kontrol sebagai pembanding yang tidak diberi perlakuan. Penelitian dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 2 bulan (11 minggu). Sampel penelitian yang digunakan adalah tikus putih (rattus norvegicus wistar) sebanyak 10 ekor. Pengumpulan data berupa sampel darah dianalisis dengan menggunakan alat Cobas Microsuntuk mengetahui jumlah leukosit. Hasil laboratoriumjumlah leukosit dianalisis dengan menggunakan ujiShapiro-Wilk dengan taraf signifikansi  = 0.01.Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi data jumlah leukosit adalah normal karena (p< 0.01, dengan p = 0.002), terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan (aktivitas fisik maksimal) dengan kelompok kontrol terhadap jumlah leukosit. Nilai rata-rata kelompok perlakuan lebih tinggi (13580 sel/mm³)daripada kelompok kontrol (5980 sel/mm³). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aktivitas fisik maksimal dapat meningkatkan jumlah leukositpada hewan coba yang menjadi indikator kerusakan sel sehingga dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.  

Implementasi nilai-nilai at-tawazun dalam konseling (studi di Lembaga Pendidikan Formal pada Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo) / Samsul Arifin

 

Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M. A., (II) Dr. Nur Hidayah, M. Pd. Kata kunci: Nilai-nilai at-tawazun, konseling, pondok pesantren Kearifan lokal dalam konseling sangat penting. Konseling yang selama ini didominasi teori-teori dari Barat dalam aplikasi di lapangan kerap mengalami hambatan budaya. Salah satu alternatifnya, upaya menggali nilai-nilai budaya pesantren dalam konseling. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengungkap dan mendeskripsikan nilai-nilai pesantren yang dapat diserap dalam bimbingan dan konseling, (2) memahami dan mendeskripsikan model dan tahapan implementasi nilai-nilai budaya di lembaga pendidikan formal pada Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif tipe etnografi-hermeneutik. Data berasal dari dokumen (buku, kitab, kaset rekaman, dan karya tulis lainnya) dan fieldnotes (hasil observasi dan wawancara). Subyek penelitian adalah para konselor SLTP dan SLTA Pondok Sukorejo. Langkah-langkah analisis data yaitu reduksi data (data reduction), pemaparan data (data display), dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, nilai-nilai pesantren yang dapat diserap dalam bimbingan dan konseling terdapat pada konstruk “at-tawazun” (keseimbangan). Kedua, proses implementasi dalam bimbingan dan konseling terdapat dua model, yaitu: (1) kemasan sama muatan berbeda. Artinya, para konselor memaknai kegiatan bimbingan dan konseling dengan mengalami rekonstruksi nilai yang sarat religius dan (2) muatan layanan kompetensi kepesantrenan. Artinya, para konselor memasukkan nilai-nilai (biasanya bersifat unggulan) ke dalam layanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi kepesantrenan. Adapun pada proses implementasi terdapat tiga tahap, (1) pengenalan dan pemahaman, (2) pengamalan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan, dan (3) evaluasi dan refleksi yang melibatkan semua kalangan. Proses implementasi merupakan sebuah siklus yang istiqamah yaitu tetap, berkesinambungan, dan berkelanjutan. Saran-saran penelitian, (1) perlu dipopulerkan dan dipublikasikan istilah “at-tawazun” dalam kajian konseling, (2) hasil penelitian ini perlu dipraktikkan dan diadaptasi bagi para konselor di lingkungan lembaga pendidikan cabang Pondok Pesantren Sukorejo di seluruh Indonesia dan untuk para konselor di lembaga pendidikan yang berbasis pondok pesantren, (3) kepada peneliti yang lain agar dilakukan kajian terhadap permasalahan yang lain sehingga masyarakat dapat memperoleh gambaran yang utuh tentang konseling berbasis pesantren, dan (4) terdapat kajian pada konteks yang berbeda dengan Pondok Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Kesalahan pembentukan kalimat pasif bahasa Jerman oleh mahasiswa angkatan 2008 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Agnes Gidha Ladja

 

Kata kunci: Kalimat, kalimat pasif, analisis kesalahan, pembentukan Gramatik atau tata bahasa mempunyai peranan penting dalam mempelajari bahasa Jerman karena merupakan tujuan utama, agar komunikasi antar satu sama lain dapat terjalin. Gramatik menunjukkan dan mendeskripsikan struktur sebuah bahasa dan bagaimana orang menggunakannya. Pembelajar, dalam hal ini mahasiswa tentu akan menggunakan gramatik sebagai landasan untuk mengungkapkan ide ke dalam bahasa tulis maupun lisan. Selain penggunaan gramatik, mahasiswa juga memperhatikan tiap kalimat yang dibuat, seperti kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat pernyataan, kalimat langsung dan tak langsung, dan juga kalimat aktif dan pasif. Kalimat pasif sangat mungkin digunakan dalam kalimat tanya dan kalimat berita. Sepintas pembentukan kalimat pasif sangatlah mudah, tetapi tidak pada kenyataannya. Mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam membentuk kalimat pasif bahasa Jerman yang benar. Hal tersebut dapat diketahui dengan ditemukan banyak kesalahan dalam hasil tes mahasiswa ketika membentuk kalimat pasif-kalimat pasif bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan mahasiswa angkatan 2008 Jurusan Sastra Jerman dalam membentuk kalimat pasif bahasa Jerman secara benar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari tes tertulis yang digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan mahasiswa menganalisis morfem bahasa Jerman. Sumber data adalah tes yang diberikan kepada mahasiswa angkatan 2008 offering AA sebanyak 17 orang yang menjadi subjek pada penelitian ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mahasiswa masih melakukan banyak kesalahan dalam membentuk kalimat pasif berdasarkan setiap kala / bentuk waktu, kalimat pasif dengan Modalverben, kalimat pasif tanpa subjek / subjektlose Passivsatz atau yang dikenal dengan Passiv mit der aktive-man Konstruktion. Kesalahan terbanyak dilakukan karena mahasiswa tidak memahami pembentukan kalimat pasif yang mengandung kata kerja Dativ. Berdasarkan hasil penelitian ini, mahasiswa disarankan untuk lebih bisa meningkatkan semangat belajar khususnya belajar materi Passivsatz yang mengandung kata kerja Dativ dan kalimat pasif dengan Modalverben. Selain itu, dosen juga diharapkan untuk mengajarkan materi Passivsatz secara lebih mendetail

Pengembangan video pembelajaran IPA materi pokok kalor untuk siswa kelas VII C di MTs Wahid Hasyim 2 Dau Malang / Ardiyanti Ulyana

 

ABSTRAK Ulyana, Ardiyanti. 2016. Pengembangan Video Pembelajaran IPA Materi Pokok Kalor untuk Siswa kelas VII C di MTs Wahid Hasyim 2 Dau Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. H. Zainul Abidin, M.Pd, (II) Arafah Husna, S.Pd., M.Med.Kom. Kata Kunci:Pengembangan, Media, Video Pembelajaran, Ilmu Pengetahuan Alam Video pembelajaran adalah media audio-visiual yang menampilkan informasi dalam bentuk gambar bergerak yang mampu memperluas pengetahuan siswa untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam mempelajari mata pelajaran IPAsiswa kelas VII C di MTs Wahid Hasyim 2 Dau Malang siswa merasa kesulitan pada materi pokok Kalor, siswa dituntut untuk memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan materi pokok kalor, namun materi pokok kalor masih bersifat abstrak sehingga siswa tidak dapat mencapai kompetensi yang diharapkan, yang mana pada nilai ujian semester mata pelajaran IPA masih banyak yang nilainya dibawah rata-rata dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)> 70. Oleh karena itu perlu dikembangkan media video yang mampu menyajikan konsep pembelajaran yang abstrak menjadi kongkrit dan pengalaman secara nyata baik yang sesungguhnya atau peran sehingga dapat memudahkan siswa dalam menguasai materi pembelajaran pada materi pokok Kalor. Tujuan dari pengembangan yaitu menghasilkan produk media video pembelajaran yang valid sebagai sumber belajar yang efektif dalam mata pelajaran IPAmateri pokok Kalor kelas VII C. Penelitian ini menggunakan model pengembangan Sadiman. Peneliti memilih model Sadiman karena model ini dirancang untuk mengembangkan media pembelajaran berupa audio, video dan film. Selain itu model pengemba-ngan ini sistematis dan sederhana sehingga mudah untuk dikontrol di setiap langkahnya. Adapun langkah-langkah yang dilakukan (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi,(4) perumusan alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media, (6) produksi, (7) uji coba, (8) revisi, dan (9) media siap pakai.Subjek penelitian dalam validasi pengembangan ini yaitu siswa kelas VII C MTs Wahid Hasyim 2 Dau Malang. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari saran dari validator dan siswa, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar pre-test dan post-test. Video Pembelajaran ini divalidasi oleh 1 orang ahli media dan 1 orang ahli materi serta pada ujicoba perorangan sebanyak 3 orang, uji coba kelompok kecil sebanyak 10 orang dan uji coba lapangan sebanyak 20 orang, untuk mengetahui hasil belajar siswa oleh audiens sebanyak 33 orang. Setelah dilakukan analisis, hasil data validasi video pembelajaran ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media didapatkan skor presentase sebesar 89,50%, ahli materi sebesar 96,25%, dari ujicoba perseorangan didapat skor presentase sebesar 90,47%, dari ujicoba kelompok kecil didapat skor prosentase 91,60%, dan ujicoba lapangan didapat skor presentase 91,10%. Hal ini menunjukan bahwa video pembelajaran ini dinyatakan valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Video Pembelajaran ini dinyatakan efektif, hal ini terbukti dari skor tes hasil belajar, jumlah siswa yang memenuhi KKM (≥ 70), dari hasil belajar siswa menunjukan bahwa pada uji coba perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar 100%. Pada uji coba kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar 90%. Pada uji coba lapanganterjadi peningkatan hasil belajar 90,5%. Dengan demikian menurut kriteria kelayakan media yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Disarankan untuk pengembang selanjutnya dalam menggembangkan media video memperhatikan pemilihan gambar yang sesuai dengan materi, jenis huruf pada caption agar mudah dibaca, kualitas audio dan pemilihan musik penggiring yang tepat untuk siswa. Saran bagi guru mata pelajaran yaitu untuk kelancaran proses kegiatan pembelajaran menggunakan video pembelajaran, sebaiknya guru betul-betulsudah mempersiapkan alat-alat pendukung yaitu dengan menyiapkan komputer/laptop yang memiliki fasilitas CD ROM dan dapat menyiapkan LCD proyektor, serta membaca buku petunjuk pemanfaatan dengan cermat agar tidak menemui kendala dalam mengoperasikan video pembelajaran, dan bagi siswahendaknya aktif dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru dalam pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Pembelajaran konsep luas persegi panjang dengan metode penemuan terbimbing pada siswa kelas IV SD Al Baitul Amien (Full day school) Jember / oleh Sholahudin Al'ayubi

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |