Hubungan antara kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja pada guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kabupaten Blitar / Rifa Mahbubah

 

Kata Kunci: Kecerdasan Spiritual, Kepuasan Kerja, Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kabupaten Blitar. Guru MAN sangat berperan dalam mencetak lulusan yang berkualitas. Diharapkan lulusan MAN mampu berfikir cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak sehingga mampu bersaing dalam pendidikan yang lebih tinggi ataupun dalam dunia kerja. Dalam menjalankan tugasnya guru memerlukan kesejahteraan secara psikologis dan materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesejahteraan berhubungan erat dengan kepuasan yang dirasakan. Kepuasan kerja guru berkaitan dengan efektifitas kinerja dan produktivitas dalam bekerja. Kepuasan dianggap sebagai sesuatu yang ukurannya relatif. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Diperlukan pula kecerdasan untuk menyadari dan memaknai, menentukan nilai, menghayati pentingnya moral serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk, yaitu kecerdasan spiritual. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) tingkat kecerdasan spiritual pada guru MAN Kabupaten blitar (2) tingkat kepuasan kerja pada guru MAN Kabupaten Blitar (3) hubungan antara kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja pada guru MAN Kabupaten Blitar dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang dikembangkan dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah guru MAN Kabupaten Blitar, sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 guru dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian ini menggunakan dua instrumen (1) skala kecerdasan spiritual dengan reliabilitas 0,920 (2) skala kepuasan kerja dengan reliabilitas 0,864. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Kecerdasan spiritual guru MAN Kabupaten Blitar termasuk dalam kategori sedang, (2) Kepuasan Kerja guru MAN Kabupaten Blitar termasuk dalam kategori sedang, (3) Ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja, yaitu sebesar r = 0,655, sig 0,00 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan kerjanya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan tiap guru meningkatkan kualitas kecerdasan spiritualnya sehingga mampu meningkatkan kepuasan kerja. Untuk kepala sekolah untuk memperhatikan kesejahteraan guru yang difokuskan pada kesejahteraan mental, misalnya dengan mengadakan seminar atau pelatihan tentang kecerdasan spiritual pada guru MAN Kabupaten Blitar. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan pada peneliti selanjutnya agar membuat instrumen penelitian kecerdasan spiritual dalam bentuk lain untuk mengatasi kelemahan instrument yang telah digunakan dan agar lebih mampu mengukur kecerdasan spiritual lebih akurat.

Penerapan metode teams games tournament (TGT) pada keterampilan membaca pembelajaran bahasa jerman kelas X-KT SMAN 1 Malang / Devi Ambarwati Puspitasari

 

Kata Kunci: Metode Teams Games Tournamnet (TGT), Keterampilan Membaca Pembelajaran bahasa Jerman terdiri dari empat keterampilan berbahasa, yakni mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 1 Malang, banyak siswa yang mengalami kesulitan, khususnya dalam keterampilan membaca. Kesulitan tersebut salah satunya dikarenakan kurang efektifnya metode pembelajaran yang digunakan. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode TGT sebagai metode pembelajaran untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode TGT dalam pembelajaran bahasa Jerman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-KT SMA Negeri 1 Malang yang berjumlah 30 orang. Data yang dikumpulkan adalah data proses kegiatan pembelajaran dan data hasil kuesioner siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan angket. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik dan triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode TGT dalam pembelajaran bahasa Jerman pada penelitian ini berjalan sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran metode TGT. Selain itu, penerapan metode ini mampu memberikan suasana belajar yang baru dan menyenangkan bagi siswa, serta menjadikan siswa lebih aktiv. Hal itu terlihat saat siswa berlomba menyelesaikan soal-soal yang diberikan dalam turnamen. Sebagian besar siswa berpendapat bahwa metode ini dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran bahasa Jerman. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menerapkan metode TGT secara berkelanjutan, sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal. Sebaiknya metode TGT dapat diterapkan pada keterampilan yang lainnya, yaitu mendengar, berbicara, dan menulis. Siswa disarankan untuk selalu hadir dalam pelajaran bahasa Jerman dan lebih banyak berlatih dalam kegiatan membaca. Peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian pada keterampilan berbahasa yang lainnya.

Bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan / Chusnul Chotimah

 

Kata kunci: Bermain Tebak Alat Musik, Kecerdasan Musikal, PAUD Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan, dengan latar belakang adanya kecerdasan musik yang masih rendah, anak didik belum mengetahui nama, menirukan suara maupun mengenal suara alat musik dan terdapat rumusan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimana pembelajaran melalui bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. 2) Apakah melalui bermain tebak alat musik dapat meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) Penerapan pembelajaran melalui bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan 2) Peningkatan kecerdasan musikal anak melalui pembelajaran bermain tebak alat musik di kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dan kuantitatif berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 15 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran, wawancara tentang kesan dan pesan anak, dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal pada anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan, dalam mengenalkan alat musik, menirukan suara alat musik sehingga anak dapat menebak suara alat musik, dan dapat meningkatkan kecerdasan musikal anak dengan terbuktinya lembar observasi siklus 1 dengan hasil kegiatan pembelajaran pada kecerdasan musikal anak kelompok B skor nilai kecerdasan musik 72,7 katagori nilai cukup. Pada siklus II hasil observasi pada kecerdasan musikal anak meningkat menjadi skor nilai kecerdasan musikal 90,5 katagori nilai tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan bagi guru untuk menggunakan kegiatan bermain tebak alat musik dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Pembelajaran hendaknya selalu memberi kesempatan kepada anak didik untuk terlibat langsung dalam proses kegiatan pembelajaran bermain tebek alat musik

Efektifitas pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah kelas XI IPS di SMA Laboratorium Universitas Negeri MAlang / Dewi Oktaviani

 

Kata kunci: program remedial, mata pelajaran sejarah, efektifitas Setiap siswa memiliki tingkat penguasaan yeng berbeda-beda, maka akan berbeda juga ketuntasan belajar siswa. Sehingga siswa yang cepat belajarnya maupun yang lambat belajarnya akan mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tidak dapat mencapai kriteria ketuntasan yang harus ditempuh dalam satu mata pelajaran. Salah satu solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dan membantu siswa mencapai ketuntasan adalah dengan remedial. Program remedial adalah suatu bentuk pengajaran (sebagai upaya guru) yang bersifat menyembuhkan, membetulkan, atau membuat menjadi lebih baik sistem pengajaran agar tercapai tujuan pembelajaran yang optimal sebagaimana diharapkan. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium UM khususnya remedial pada mata pelajaran sejarah. Kriteria ketuntasan yang ditetapkan sekolah adalah 75 untuk setiap mata pelajaran. Pada mata pelajaran sejarah, siswa mengalami kesulitan dalam menganalisis peristiwa sejarah. Dari hasil ulangan harian jumlah persentase siswa kelas XI IPS yang belum mencapai ketuntasan adalah 18,98%. Sedangkan berdasarkan hasil ujian akhir semester persentase jumlah siswa kelas XI IPS yang belum mencapai ketuntasan adalah 23,36%. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan tiga fokus penelitian yaitu (1) pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (2) efektifitas pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (3) faktor pendukung dan penghambat (intenal dan eksternal) pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (2) mengetahui efektifitas pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (3) mengetahui faktor pendukung dan penghambat (internal dan eksternal) pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yaitu metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan alat analisisnya menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-data yang berbentuk tertulis atau lisan, dan perilaku dari orang yang diamati yaitu peserta didik yang mengikuti remedial dan guru yang melaksanakan remedial, wakasek bagian kurikulum, dan wali kelas XI IPS. Sehingga dalam hal ini peneliti berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan secara menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya ada di lapangan juga berdasarkan data yang peneliti dapatkan di lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan peneliti, (2) ketekunan pengamatan, (3) teknik triangulasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratium UM tidak sesuai dengan prosedur remedial yang ada. Setelah pelaksanaan ujian ulang pertama persentase jumlah siswa kelas XI IPS yang telah mencapai ketuntasan adalah 100%. Untuk pelaksanaan ujian ulang ke dua persentase jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan 56,25% dan persentase jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan adalah 43,75%. Untuk membantu siswa mencapai kriteria ketuntasan, guru memberikan patokan nilai kepada siswa yang nilainya belum mencapai kriteria setelah remedial, yaitu 75 untuk ujian ulang pertama dan 50 untuk ujian ulang ke dua. Faktor pendukung internal dan eksternal yaitu remedial merupakan salah satu program semester yang menjadi agenda setiap guru mata pelajaran dan adanya keseriusan dari guru dalam membantu siswa mencapai ketuntasan belajar. Faktor penghambat internal dan eksternal kurangnya pemahaman guru mengenai program remedial dan kurangnya pengawasan oleh pihak sekolah terhadap pelaksanaan remedial. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi kegiatan remedial pada mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, guru hanya melakukan ujian ulang kepada siswa untuk memperbaiki nilai sehingga dapat mencapai ketuntasan. Dari kesimpulan tersebut peneliti menyarankan: (1) pihak sekolah mengadakan pembinaan guru dalam meningkatkan kemampuan guru melaksanakan program remedial; (2) guru diharapkan lebih mengembangkan wawasan mengenai program remedial untuk membantu siswa mengalami kesulitan belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa; (3) pelaksana penelitian berikutnya dapat mengembangkan lebih dalam mengenai program remedial dan kemampuan guru dalam melaksanakan program remedial.

Pengaruh penambahan lapisan bambu balok laminasi dari bahan kayu sengon dan bambu petung terhadap kekakuan dan kekuatan lenturnya / Wiwit Hermawan

 

Kata kunci: bambu petung, kayu sengon, balok laminasi, kuat lentur. Seiring dengan pertambahan penduduk dari tahun ke tahun harga kayu di Indonesia mengalami kenaikan, hal ini menambah beban masyarakat Indonesia yang masih sering menggunakan kayu dalam kesehariannya. Untuk mananggulangi masalah tersebut diperlukan solusi, salah satunya adalah mencari bahan pengganti kayu yaitu balok laminasi. Balok laminasi adalah balok yang terbuat dari 2 bahan atau lebih yang kemudian disatukan dengan suatu perekat(lem).Pada penelitian kali ini bahan yang digunakan adalah bambu petung dan kayu sengon. Pada penelitian terdahulu yang sejenis balok laminasi dengan rasio bambu 50% mengalami kerusakan lentur, yang sebetulnya balok laminasi tersebut masih bisa ditingkatkan lagi kekuatannya dengan melakukan perkuatan lentur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kekakuan dan kekuatan lentur antara balok laminasi tanpa penambahan lapisan bambu petung dengan balok laminasi yang diberi penambahan lapisan bambu petung. Benda uji dalam penelitian ini adalah balok laminasi dari bambu petung dan kayu sengon dengan rasio bambu petung terhadap kayu sengon sebesar 1 : 1, berdiameter 6 cm x 8 cm x 300 cm. Benda uji dibagi menjadi dua, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah balok laminasi tanpa penambahan lapisan bambu sedangkan kelompok eksperimen adalah balok laminasi dengan penambahan lapisan bambu, yang terbuat dari bilah bambu petung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Struktur Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, tanggal 23 Agustus 2010 sampai dengan 23 Oktober 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap balok laminasi kelompok kontrol dan balok laminasi kelompok eksperimen didapatkan bahwa nilai rerata tegangan lentur maksimum balok laminasi kelompok eksperimen sebesar 134,3 kg/cm2, lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata tegangan lentur maksimum balok laminasi kelompok kontrol sebesar 60,31 kg/cm2. Selisih nilai rerata tegangan lentur maksimum balok eksperimen dengan balok kontrol sebesar 73,99 kg/cm2 atau meningkat sebesar 122,7%. Nilai rerata kekakuan maksimum balok laminasi kelompok eksperimen sebesar 357.004.667,09 kgcm2, lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata kekakuan maksimum balok laminasi kelompok kontrol sebesar 98.180.354,24 kgcm2. Selisih nilai rerata kekakuan maksimum balok eksperimen dengan balok kontrol sebesar 258.125.412,2 kgcm2 atau meningkat sebesar 162,9 %.

Perbandingan kualitas mikrobiologi kacang tolo (Vigna unguiculata) antara yang dijual di beberapa pasar kota MAlang dan di kota Surabaya berdasarkan angka Lempeng total Kapang / Jose De Deus Maya Da Conceicao

 

Kata Kunci: kualitas mikrobiologi, kacang tolo Kacang tolo (Vigna unguiculata) ialah salah satu jenis dari polong-polongan atau biji-bijian yang banyak ditemukan di berbagai daerah tropis dan saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk campuran berbagai macam masakan. Jenis kacang tersebut mengandung protein cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati di samping kedelai. Kacang tolo dapat mengalami kerusakan, yang ditandai dengan ciri-ciri antara lain: biji berlubang, keriput atau berserbuk. Berbagai spesies kapang kontaminan dapat mengkontaminasi kacang tolo. Tujuan penelitian ini ialah untuk: 1) Untuk mengetahui Angka Lempeng Total koloni kapang kontaminan per gram sampel kacang tolo yang dijual di pasar di kota Malang dan kota Surabaya ; 2) Untuk mengetahui perbedaan Angka Lempeng Total koloni kapang pada kacang tolo yang dijual di kota Malang dan di kota Surabaya. 3) Untuk mengetahui perbedaan kualitas mikrobiologi kacang tolo dari pasar kota Malang dan Surabaya ditinjau berdasarkan Angka Lempeng Total koloni kapang . Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif observasional, penelitian ini di lakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2011 di Laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel kacang tolo sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1, kemudian suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1% secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3,10-4, 10-5, dan 10-6. Masing-masing perlakuan sampel dari Malang dan Surabaya dilakukan dalam 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1ml dan diinkubasikan pada suhu 250C selama 724 jam. Selanjutnya dilakukan per-hitungan terhadap jumlah koloni kapang kontaminan yang tumbuh pada medium lempeng CA. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Jumlah Angka Lempeng Total koloni kapang per gram sampel kacang tolo yang dijual di pasar di kota Malang ialah sebanyak 1.99 X 106 cfu/g dan kota Surabaya sebanyak 7.95 X 106 cfu/g, 2) Terdapat perbedaan Angka Lempeng Total koloni kapang pada sampel kacang tolo, yaitu bahwa Angka Lempeng Total koloni kapang dalam biji kacang tolo dari Surabaya lebih tinggi bila dibandingkan dengan Angka Lempeng Total koloni kapang dalam biji kacang tolo dari Malang,3) Kacang tolo yang di jual dari 3 pasar di kota Malang dan 3 pasar di Surabaya sudah tidak layak untuk di konsumsi, ditinjau berdasarkan ketentuan ALT koloni kapang maksimal, dengan merujukan pada ketentuan dari DIRJEN POM nomor HK.00.06.1.52.4011, Tahun 1998.

Kajian tentang daya tahan simpan kue pia berdasarkan kualitas mokrobiologi di tinjau dari angka lempeng total koloni kapang / Yulia Venicreata Dipu

 

Kata kunci : daya tahan simpan, kue pia, kualitas mikrobiologi, Angka Lempeng Total koloni kapang. Kue pia mengandung nutrisi yang diperlukan oleh manusia antara lain protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Kandungan nutrisi tersebut juga diperlukan untuk pertumbuhan yang baik bagi kapang kontaminan. Keberadaan kapang kontaminan ini dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan pada kue pia sehingga menurunkan kualitas kue pia. Kualitas kue pia yang mengalami penurunan dapat mempengaruhi kelayakan konsumsinya. Kelayakan konsumsi kue pia dapat diketahui melalui uji kualitas mikrobiologi berdasarkan Angka Lempeng Total koloni kapang. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh lama waktu penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi kue pia berdasarkan Angka Lempeng Total (ALT) koloni kapang; 2) mengetahui batas waktu simpan kue pia agar layak dikonsumsi berdasarkan Angka Lempeng Total (ALT) koloni kapang. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, pada bulan Januari sampai dengan Maret 2011. Sampel kue pia dengan merk Cap Mangkok yang diperoleh dari toko kue di kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Lama penyimpanan kue pia pada penelitian ini yaitu 0 x 24 jam, 1 x 24 jam, 3 x 24 jam, dan 5 x 24 jam. Menurut petunjuk pemeriksaan mikrobiologi makanan dan minuman oleh Depkes RI tahun 2009 dalam Dirjen POM No.HK. 00. 06. 1. 52. 4011. ditetapkan bahwa batas maksimal cemaran kapang dalam tepung dan hasil olahannya ialah 104 cfu/g. Sampel kue pia sebanyak 10 gram dihaluskan lalu dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1 % sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1. Suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1 % secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5 dan 10-6. Perlakuan sampel dilakukan dalam 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 250C selama 4 x 24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan Angka Lempeng Total (ALT) koloni kapang pada kue pia yang disimpan selama 0 x 24 jam, 1 x 24 jam, 3 x 24 jam, dan 5 x 24 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) makin lama waktu penyimpanan, makin meningkat Angka Lempeng Total koloni kapang pada kue pia, (2) batas waktu penyimpanan kue pia agar tetap layak dikonsumsi berdasarkan standar Angka Lempeng Total koloni kapang ialah 3 x 24 jam. Sedangkan pada masa penyimpanan lebih dari 3 x 24 jam sudah tidak layak lagi dikonsumsi.

Pengembangan e-module materi animasi flash pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas XI R-SMA-BI Negeri 1 Batu / Evy Kamilah Ratnasari

 

Kata kunci: Pengembangan, E-Module, Animasi Flash Perbedaan karakteristik setiap siswa dalam pembelajaran klasikal mengharuskan guru merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan materi. Saat ini media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran TIK belum mempresentasikan kemajuan tekonologi, memberi pengalaman langsung, dan interaktif, serta bukan merupakan rancangan khusus sesuai dengan standar desain pembelajaran kurikulum. Materi Animasi Flash merupakan implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP menuntut siswa aktif dalam proses pembelajaran, yaitu diharuskan melakukan kegiatan belajar terstruktur dan mandiri. Oleh karena itu, dikembangkan media pembelajaran electronic module (e-module) dengan tampilan menarik dan variatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas maupun mandiri di luar kelas. Pengembangan e-module ini diharapkan dapat membantu dalam menciptakan pembelajaran yang mandiri, menarik, dan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan e-module, serta melihat perbandingan hasil tes siswa sebelum dan sesudah belajar menggunakan e-module. Penelitian ini menggunakan model pengembangan menurut Sadiman yang dimodifikasi pada tahap validasi. Modifikasi yang dilakukan yaitu sebelum validasi dilakukan implementasi naskah untuk mempermudah mendapatkan data. Model ini dipilih karena prosedural dan menitikberatkan pada masalah media pendidikan formal. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket untuk menilai media dan tes untuk mengetahui pemahaman siswa. Skor angket dihitung persentase dari skor jawaban setiap item dan dianalisis. Sedangkan hasil tes dihitung gain antara pre-test dan post-test. Subjek uji coba pada penelitian ini terdiri dari ahli media, ahli materi dan calon pengguna (siswa). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, media secara keseluruhan dikatakan layak dan tidak perlu revisi dengan persentase rata-rata sebesar 88,57%. Rata-rata tersebut diperoleh dari ahli materi sebesar 86,11%, ahli media sebesar 97,45%, dan siswa sebesar 82,15 %. Media e-module juga telah dapat meningkatkan pemahaman siswa. Hal ini dapat dilihat dari gain rata-rata hasil pre-test dan post-test siswa sebesar 0,63 dan dikategorikan sedang. Dengan hasil tersebut maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: (1) Media e-module telah dikembangkan dengan baik berdasarkan model pengembangan Sadiman dengan persentase validitas sebesar 88,57%; (2) Media e-module telah layak digunakan sebagai media pembelajaran berdasarkan proses validasi dengan perolehan persentase sebesar 88,57%; (3) Media e-module sesuai dengan gaya belajar siswa; dan (4) Media e-module dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa dengan rata-rata gain sebesar 0,63.

Pengaruh strategi pembelajaran think pair share dipadu reciprocal teaching dan kemampuan akademik yang berbeda terhadap hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kreatif pada siswa SMA Negeri 1 Batu dan SMA Negeri 1 Grati / Wiratamasari Sarwinda

 

Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Aloysisus Duran Corebima, M.Pd; (II) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D. Kata Kunci: Think Pair Share, Reciprocal Teaching, Kemampuan Akademik, Hasil Belajar Kognitif, Keterampilan Berpikir Kreatif. Kualitas pendidikan di Indonesia semakin menurun. Salah satu indikator kualitas pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar kognitif. Hasil belajar kognitif di Indonesia masih tergolong rendah. Hasil penelitian berbagai lembaga misalnya PBB dan International Institute of Management Development menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal dibanding Negara-Negara ASEAN lainnya. Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan yang kita harapkan, serta memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, tentu saja dibutuhkan suatu perubahan di dalam sistem pengajaran yang ada saat ini. Guru masih menggunakan paradigma lama dalam proses KBM yaitu strategi pembelajaran konvensional. Strategi ini cenderung berpusat pada guru (teacher centered) sehingga belum mengoptimalkan keterampilan berpikir kreatif, dan juga keheterogenitasan kemampuan akademik siswa, oleh sebab itu diperlukan suatu inovasi strategi pembelajaran yang dapat membantu memecahkan masalah tersebut. Strategi pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Reciprocal Teaching (RT) sangat cocok digunakan untuk menjawab permasalahan di atas. Kedua strategi ini sangat cocok digunakan karena strategi ini merupakan pembelajaran cooperative yang dapat memberdayakan adanya heterogenitas kemampuan akademik siswa (Slavin, 2010). Penggabungan Strategi pembelajaran TPS dan Strategi pembelajaran RT mempunyai potensi yang besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam mata pelajaran Biologi di SMA, karena perpaduan kedua strategi ini memberikan peluang kepada siswa untuk dapat meningkatkan hasil belajar kognitif, memberdayakan keterampilan berpikir kreatif dan juga memberdayakan heterogenitas kemampuan akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) apakah ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif siswa; (2) apakah ada pengaruh kemampuan akademik yang berbeda terhadap kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif siswa; (3) apakah ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan kemampuan akademik yang berbeda terhadap keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif siswa. Metode penelitian: (1) penelitian pengembangan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran; dan (2) penelitian quasi eksperimen untuk mengetahui pengaruh penerapan perangkat pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kreatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu dan SMA Negeri 1 Grati. Sampel penelitiannya adalah siswa kelas X4 (RT), X7 (konvensional), X9 (TPS), X3 (RT+TPS) SMA Negeri 1 Batu, dan siswa kelas X2 (RT), X7 (TPS+RT), X3 (konvensional), X8 (TPS) SMA Negeri 1 Grati.. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes untuk mendapatkan data skor hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kreatif. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis kovarian (anakova). Analisis data menggunakan fasilitas SPSS 16.0 for windows. Pengujian hipotesis pengaruh perlakuan terhadap hasil belajar kognitif menunjukkan bahwa ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif, dengan F-hitung sebesar 24689, nilai signifikansi 0.000, nilai ini lebih kecil dari alpha 0.05. Hasil uji LSD menunjukkan bahwa strategi pembelajaran RT memberikan pengaruh yang berbeda dibandingkan dengan strategi yang lainnya. Kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa, dari data hasil perhitungan, nilai F-hitung sebesar 0.956, nilai signifikansinya 0.330, nilai ini lebih besar dari alpha 0.05. Interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik menunjukkan nilai F-hitung sebesar 3.236 dan nilai signifikansinya 0.024, nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 0.05 sehingga dapat disimpulkan interaksi ini berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif. Dari hasil uji LSD didapatkan bahwa strategi pembelajaran RT kemampuan akademik rendah memberikan perbedaan dibandingkandengan yang lainnya. Pengujian hipotesis pengaruh perlakuan terhadap keterampilan berpikir kreatif menujukkan bahwa strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif. Nilai signifikansi 0.000 lebih kecil dari nilai alpha 0.05. Hasil uji LSD menunjukkan bahwa strategi pembelajaran TPS+RT memberikan perbedaan yang signifikan dibanding strategi yang lainnya. kemampuan akademik berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif dengan nilai signifikansi lebih kecil dari nilai alpha 0.05. Sementara itu interaksi strategi pembelajaran dan kemapuan akademik tidak berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif. Nilai signifikansinya 0,360, lebih besar dari nilai alpha 0,05. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: (1) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif siswa (2) tidak ada pengaruh kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif siswa. (3) ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif siswa. (4) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. (5) ada pengaruh kemampuan akdemik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. (6) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Saran bagi guru dan peneliti berikutnya adalah: (1) Bagi pihak sekolah, dosen, mahasiswa sebagai calon pendidik hendaknya dapat menerapkan strategi pembelajaran TPS, RT, TPS+RT dan berbagai inovasi pembelajaran yang lainnya serta dapat mengembangkan inovasi pembelajaran yang lain supaya terdapat variasi dalam mengajar dan mendapatkan hasil belajar kognitif, dan keterampilan berpikir kreatif yang lebih baik (2) Untuk menerapkan strategi pembelajaran TPS, RT, TPS+RT ditingkat SMA, guru sebaiknya menguasai dengan baik langkah-langkah pembelajaran tersebut (3) kondisi kelas pada saat pelaksanaan penerapan strategi pembelajaran yang telah dirancang harus kondusif dan memungkinkan siswa untuk belajar dengan nyaman sehingga memberikan hasil yang optimal.

Pengaruh penerapan metode quantum learning dengan strategi team teaching untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada kompetensi dasar membuat program aplikasi berbasis desktop dengan visual basic 6.0 bagi siswa kelas X RPL di SMK Negeri 6 Malang / Diafrahma

 

Kata kunci:Quantum Learning , Team Teaching, Prestasi Belajar Proses pembelajaran yang dilaksakan di kelas X RPL SMK Negeri 6 Malang selama ini masih dilaksanakan dengan menggunakan metode konvensional. Metode ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu pembelajaran yang hanya terpusat pada guru saja, sehingga pembelajaran hanya terjadi searah saja dan membuat siswa menjadi tidak aktif, kreatif, dan cepat bosan. Selain itu, kondisi jumlah siswa di SMK Negeri 6 Malang yang rata-rata mencapat 40 siswa per kelasnya membuat suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif, kelas sulit dikuasai, dan siswa tidak dapat menyerap pelajaran secara maksimal. Standart nilai minimal dalam pelajaran Pemrograman Visual Basic di SMK Negeri 6 Malang adalah 7.00, namun dari hasil prestasi belajar siswa yang berhasil direkam selama ini, masih sangat banyak siswa yang belum mencapai standart nilai minimum. Karena itulah diperlukan perubahan pada metode dan strategi mengajar, agar pembelajaran berjalan menyenangkan, menarik, kondusif dan terarah. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa diterapkanlah metode Quantum Learning dengan strategi Team Teaching. Penerapan metode pembelajaran ini, siswa akan lebih aktif, kreatif dan belajar dengan suasana menyenangkan. Penelitian ini dilakukan pada semester 2 tahun ajaran 2010/2011 dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi ekperimental design) tipe Nonrandomized Pre-test Post-test Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X RPL SMK Negeri 6 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 240 siswa yang terbagi menjadi 6 kelas. Data penelitan diambil dari siswa X RPL 4 dan X RPL 5 berupa data nilai terakhir dan prestasi belajar yang terdiri dari ranah afektif dan kognitif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai prestasi belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol sebesar 7,56 poin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Learning dengan strategi Team Teaching dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi membuat program aplikasi berbasis desktop dengan Microsoft Visual Basic 6.0. Besarnya pengaruh metode Quantum Learning dengan strategi Team Teaching terhadap prestasi belajar siswa pada materi membuat program aplikasi berbasis desktop dengan Microsoft Visual Basic 6.0 adalah 0,679 atau 67,9% dan sisanya terdapat factor dari luar.

Pengolahan manisan buah kering berbahan dasar buah murbei / Eka Styananda Ayu Putria

 

Kata kunci : Murbei, Manisan Kering, Uji Hedonik Buah murbei merupakan buah yang digemari oleh berbagai kalangan tetapi mudah busuk karena mempunyai kadar air yang tinggi dan pemanfaatannya masih terbatas. Pengolahan menjadi manisan dapat memperpanjang daya simpan. Pembuatan produk ini dilakukan guna mengetahui kesukaan konsumen tarhadap warna, rasa dan tekstur manisan murbei kering. Formulasi resep pada pembuatan manisan murbei kering menggunakan konsentrasi gula sebanyak 25% dan 50%. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan gula pasir sebesar 25% kurang manis dan 50% manis, maka formulasi resep yang digunakan adalah penggunaan konsentrasi gula sebesar 50% dari jumlah bahan. Teknik pengeringan yang dilakukan pada manisan murbei kering adalah penjemuran (sun drying). Untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap manisan yang berbahan dasar buah murbei, dilakukan uji hedonik. Pengambilan data uji hedonik diperoleh dari 90 orang responden yang terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa. Data dihitung menggunakan perhitungan persentase. Dari hasil uji kesukaan, responden yang menyukai warna manisan murbei kering sebanyak 82,27%, rasa 74,4%, dan tekstur 64,5%. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi gula pada proses penggulaan adalah 50% dari jumlah bahan. Teknik pengeringan yang dilakukan adalah penjemuran (sun drying). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa responden yang menyukai warna manisan murbei kering sebanyak 82,27%, rasa 74,4%, dan tekstur 64,5%. Saran yang dapat disampaikan menjadikan produk manisan murbei kering sebagai peluang berwirausaha dan menjadikan inovasi produk olahan buah murbei.

Hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat pendapatan orang tua dengan kepedulian pada pendidikan anak usia dini di Kelurahan Cemoro Kandang, Kec. Kedung Kandang / Yuyun Marhaenistria

 

Kata kunci: Pendidikan, Pendapatan, dan Kepedulian Secara Teoritik dikatakan bahwa ada hubungan antara Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini. Akan tetapi sering ditemukan fakta bila anak kurang mendapat perhatian Orang Tua, utamanya dalam hal Pendidikan anak ketika masih usia dini. Biasanya Hal ini terkait dengan rendahnya Pendidikan Orang tua dan Rendahnya Tingkat Pendapatan Keluarga. Untuk itu Penelitian ini ingin menjawab masalah tentang : 1) Apakah ada hubungan antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini. 2) Apakah ada hubungan antara Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Anak Usia Dini. 3) Apakah ada hubungan antara Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedilian pada Pendidikan Anak Usia Dini. Metode Pendekatan yang digunakan adalah Kuantitatif Korelasional, sedangkan Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia dini dengan rentang usia 0–6 th dan berada di wilayah Kelurahan Cemoro Kandang, yang jumlah keseluruhanya ada 868 orang, diambil 10%. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Proportional random sampling, sehingga jumlah sampel diperoleh 86 responden. Metode Analisis Data yang digunakan adalah Analisis Deskriptif Prosentase untuk mengungkap seberapa besar Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dan Tingkat Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini. Dan untuk menguji hubungan lebih dari dua variabel digunakan Uji Hipotesis Asosiatif dengan menggunakan rumus Asosiatif Regresi berganda, dan Uji F digunakan untuk pengujian Signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda . Hasil dari Analisis yang diperoleh melalui penyebaran kuisioner menunjukan bahwa Tingkat Pendidikan Orang Tua yang Memiliki Anak Usia Dini di Kelurahan Cemoro Kandang termasuk dalam kriteria rendah yaitu 44,2% (38 dari 86), dan Tingkat Pendapatan dalam kriteria sangat rendah yaitu 77,9% (67 dari 86) karena mempunyai pendapatan perkapita dibawah Upah Minimum Kota Malang yaitu sebesar Rp 1.225.000, Sedangkan Tingkat Kepedulian Orang Tua pada PendidikanAnak Usia Dini dalam kriteria sangat tinggi yaitu 86,0% (74 dari 86). Dari hasil Uji Korelasi terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini, i yang ditunjukan dengan nilai r hitung > r tabel yaitu: 0,485 > 0,207, Ada hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini yang ditunjukan dengan nilai r hitung > r tabel yaitu: 0,0337 > 0,0,207, ada hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pendapatan yang ditunjukan nilai r hitung > r tabel, yaitu: 0,0310 > 0,0207, dan juga terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini yang ditunjukan dengan r hitung > r tabel, yaitu: 0,521 > 0,0207. Kesimpulan yang dapat diambil dari Penelitian ini adalah Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan Orang Tua yang memiliki anak usia dini dengan rentang usia 0–6 th yang berada di wilayah Kelurahan Cemoro Kandang, Kecamatan Kedung Kandang tergolong rendah, sedangkan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini termasuk dalam kriteria tinggi. Hal ini berarti bahwa meskipun Tingkat Pendidikan Orang Tua rendah dan Tingkat Pendapatan Orang Tua yang berada di wilayah Kelurahan sangat rendah, akan tetapi Tingkat Kepedulianya pada Pendidikan Anak Usia Dini sangat tinggi. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapat oleh peneliti adalah: Variabel Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan Orang Tua ada hubungan yang signifikan terhadap Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini, namun demikian kesadaran akan pentingnya Pendidikan bagi anak sejak anak usia dini tetap harus ditingkatkan, antara lain dengan mensosialisasikan kepada para orang tua yang memiiliki anak usia dini secara periodik dan berkesinambungan.

Pengaruh keterampilan proses terhadap hasil belajar pembelajaran berbasis proyek (project based learning) pada mata pelajaran KKPI di SMK Cendika Bangsa Malang / Anggi Maritza Rindani

 

Kata Kunci: PBL, Keterampilan Proses, hasil belajar. Proses pembelajaran KKPI di SMK Cendika Bangsa Malang memerlukan adanya inovasi metode pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar. Pada hasil observasi awal proses pembelajaran KKPI di kelas X, ditemukan permasalahan rendahnya kegiatan berkelompok yang cenderung hanya menyelesaikan tugas sehingga menyebabkan rendahnya keterampilan proses siswa di kelas. Hal ini terlihat dari kegiatan belajar kelompok dikelas dimana dalam kegiatan tersebut siswa berbicara sendiri dengan teman sekelompoknya dan tugas yang diberikan guru cenderung dikerjakan oleh sebagian anggota kelompok. Sedangkan siswa yang lain menunggu dan mencontoh jawaban dari teman sekelompoknya atau mencari jawaban lain tanpa memahami tugas yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran PBL merupakan pendekatan pemecahan masalah yang menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa dalam mengoperasikan software presentasi. Dengan pembelajaran tersebut diharapkan siswa akan lebih aktif dan hasil belajar dapat tercapai. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan Ekperimen Semu dengan pendekatan kuantitatif. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas X gabungan A SMK Cendika Bangsa Malang yang berjumlah 27 siswa. Instrumen penelitian ini yaitu instrumen perlakuan dan pengukuran. Instrumen perlakuan berupa perangkat pembelajaran. Instrumen pengukuran berupa lembar observasi afektif, lembar observasi keterampilan proses, lembar observasi proyek, dan tes tertulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh dari keterampilan proses siswa terhadap hasil belajar penerapan pembelajaran PBL pada kompetensi dasar mengoperasikan software presentasi. Nilai rata-rata pencapaian hasil belajar meningkat sebesar 80,43 dari rata-rata kemampuan awal sebesar 27,94. Pencapaian rata-rata persentase keterampilan proses siswa pun meningkat dari 59% menjadi 80%. Peningkatan keterampilan proses siswa ini termasuk dalam kriteria Baik.

Perbedaan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu / Marcelyna Shitara

 

Kata Kunci: konsep diri, urutan kelahiran, anak sulung, anak bungsu Konsep diri adalah pandangan dan sikap seseorang tentang seluruh aspek dalam dirinya sendiri yang meliputi diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan diri moral berdasarkan persepsi, pikiran dan keyakinan individu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang, menggunakan purposive sampling maka sampel yang digunakan adalah 50 mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak sulung dan 50 mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak bungsu. Instrumen penelitian menggunakan skala konsep diri dengan 64 item. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean pada mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak sulung sebesar 198,46 dengan rincian 31 mahasiswa (62%) memiliki konsep diri positif dan 19 mahasiswa (38%) memiliki konsep diri negatif. Skor mean pada mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak bungsu sebesar 183,58 dan dengan rincian 34 mahasiswa (68%) memiliki konsep diri negatif, 16 mahasiswa (32%) memiliki konsep diri negatif. Berdasarkan analisis komparatif diperoleh hasil t-hitung = 4,511 signifikansi 0,000 < 0,05 maka terdapat perbedaan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu dimana anak sulung memiliki konsep diri positif dan anak bungsu memiliki konsep diri negatif. Dengan mengetahui perbedaan konsep ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu maka disarankan bagi orang tua untuk tidak membandingkan kemampuan masing-masing anak dan memberikan porsi perhatian dan ambisi yang sama pada setiap anak. Mahasiswa diharapkan dapat aktif dalam organisasi untuk mengasah interaksi sosialnya, melatih diri belajar dalam persaingan sehat dalam suatu organisasi dan dapat bertukar pendapat secara sportif dan mampu mengembangkan perasaan dihargai dan menghargai orang lain.Bagi peneliti selanjutnya diharapkan tidak hanya melakukan penelitian dengan metode kuantitatif namun juga dengan metode kualitatif agar hasil penelitian yang diperoleh lebih mendalam.

Pengembangan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA / Ismayanti

 

Kata Kunci: media pembelajaran, apresiasi puisi, multimedia interaktif Pada umumnya, pembelajaran apresiasi puisi dilakukan secara monoton dan kurang menarik. Siswa tidak diajak menjelajahi dan menggauli keagungan nilai dalam puisi, tetapi sekedar membaca dan mengaji puisi dari permukaannya saja. Media yang digunakan dalam pembelajaran berupa buku teks. Media yang digunakan kurang bervariasi sehingga siswa kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Melihat kenyataan zaman sekarang, teknologi semakin canggih. Bahkan, hampir semua siswa SMA memiliki laptop sebagai pengganti buku dan alat tulis. Oleh karena itu, hendaknya para pendidik berupaya menyesuaikan teknik dan media pembelajaran dengan situasi yang semakin berkembang ini. Multimedia pembelajaran dipandang mampu menjawab masalah tersebut. Dengan bantuan multimedia yang dijalankan perangkat komputer, pembelajaran akan lebih menarik, efektif, dan efisien mengingat multimedia memberikan sumbangan yang besar dalam pembelajaran. Pembelajaran yang menarik, efektif, dan efisien akan memberikan hasil yang maksimal. Pengembangan ini adalah upaya untuk mengembangkan sebuah produk yaitu media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif. adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA, (2) mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA, dan (3) mengetahui tingkat kemenarikan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA. Pengembangan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interakti merupakan penelitian prosedural, yaitu memiliki langkah-langkah prosedur dalam membuat produk. Adapun langkah-langkah yang ditempuh peneliti dalam mengembangkan produk yaitu (1) analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) merumuskan tujuan instruksional, (3) pengembangan materi pelajaran, (4) pengembangan alat evaluasi, (5) penyusunan naskah, (6) produksi, (7) evaluasi dan revisi media. Materi yang disajikan dalam media ini yaitu materi tentang struktur fisik puisi yang meliputi definisi puisi dan apresiasi, identifikasi struktur fisik puisi, dan contoh analisis. Disertakan pula video pembacaan puisi dan biografi beberapa sastrawan dan penyair Indonesia. Materi dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan dan rumusan tujuan instruksional. Uji coba produk melibatkan 3 responden yaitu ahli materi dan praktisi, ahli media, dan siswa. Uji coba lapangan dilaksanakan secara nonformal. Hal ini dikarenakan faktor waktu yang kurang mendukung, yakni pada saat peneliti melakukan uji coba lapangan, sekolah sedang libur kenaikan kelas. Oleh karena itu, peneliti mengambil 15 siswa SMA sebagai responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini yaitu angket dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh merupakan data kuantitatif yang dianalisis menggunakan persentase dan data kualitatif yang berupa deskripsi dan komentar dari para ahli dan siswa sebagai responden. Hasil validasi kelayakan dan kemenarikan media pada uji coba pertama yaitu uji ahli materi diperoleh skor 97,56%. Uji coba yang kedua yaitu uji ahli media. Dalam uji coba ini produk media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif memperoleh skor 89,4%. Uji coba yang terakhir yaitu uji coba lapangan. Dari hasil uji coba lapangan terhadap siswa, diperoleh skor 96,49%. Produk pengembangan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif ini secara keseluruhan memiliki rata-rata nilai 94,48% setelah divalidasi oleh ahli materi dan praktisi, ahli media, dan siswa dalam uji coba lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan menarik dan layak digunakan dalam pembelajaran apresiasi puisi di SMA. Produk yang dihasilkan adalah media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif yang dikemas dalam Compact Disc (CD). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilaksanakan uji coba secara berulang-ulang pada subjek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada guru Bahasa Indonesia di SMA untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran apresiasi puisi.

Perbedaan kemampuan memilih prosedur problem solving antara mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi dan mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi / Nur Faiza Shofiyana

 

Kata kunci : problem solving, aktif organisasi, tidak aktif organisasi. Masa mahasiswa adalah masa yang penuh dengan masalah. Problem solving merupakan suatu proses untuk menemukan suatu solusi atau jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik melalui proses berpikir yang terarah secara langsung dimana proses ini bertujuan untuk memperoleh pemecahan yang ideal atau kepuasan. Dalam proses pemecahan masalah ini terdapat tahapan-tahapan untuk mencapai solusi yang efektif. Pengalaman masa lalu sangat penting dan berpengaruh dalam problem solving. Salah satu cara untuk memperkaya pengalaman kita adalah dengan mengikuti organisasi. Di dalam organisasi mahasiswa dilatih untuk menghadapi dan memecahkan banyak masalah. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kemampuan memilih prosedur problem solving pada mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi?, (2) bagaimana kemampuan memilih prosedur problem solving pada mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi?, (3) apakah ada perbedaan kemampuan memilih prosedur problem solving antara mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi dan mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi?. Desain penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Penelitian dilakukan di Universitas Negeri Malang dengan subyek penelitian berjumlah 90 mahasiswa, dimana 43 mahasiswa aktif mengikuti organisasi dan 47 mahasiswa tidak aktif mengikuti organisasi. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan memilih prosedur problem solving yang dikembangkan oleh penulis. Uji coba instrumen dilaksanakan pada 36 mahasiswa yang terdiri dari 18 mahasiswa aktif mengikuti organisasi dan 18 mahasiswa tidak aktif mengikuti organisasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis Uji-t dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi yang memiliki kemampuan memilih prosedur problem solving tinggi sebanyak 28 orang (65,12%), dan kategori rendah sebanyak 15 orang (34,88%). (2) Mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi sebanyak 22 orang (46,81%) memiliki kemampuan memilih prosedur problem solving tinggi, sedangkan sisanya 25 orang (53,19%) berada pada kategori rendah. (3) ada perbedaan kemampuan memilih prosedur problem solving antara mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi dan mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi, dengan hasil Uji-t = 2,466, p = 0,016 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitan tersebut, disarankan bagi pihak universitas untuk mengadakan program-program yang dapat lebih memotivasi mahasiswa untuk aktif mengikuti organisasi dan lebih melengkapi referensi mengenai teori problem solving di perpustakaannya. Bagi mahasiswa yang sudah aktif mengikuti organisasi untuk tetap mempertahankan keaktifannya dalam berorganisasi dan terus belajar dalam meningkatkan kemampuan memilih prosedur problem solving yang dimilikinya, sedangkan untuk mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi disarankan untuk mencari wadah agar bisa mengadakan latihan dalam memecahkan masalah dengan lebih baik. Bagi peneliti selanjutnya agar mengadakan penelitian tidak terbatas pada keaktifan berorganisasi mahasiswa saja, melainkan bisa juga ditinjau dari jenis kelamin, usia, dan lain sebagainya.

Pengembangan lembar kerja peserta didik (LKPD) kontekstual pada materi balok dan kubus untuk SMP Negeri 1 Bangil / Ria Amalia

 

Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Mulyati, M. Pd, (2) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata Kunci: Pengembangan, Lembar Kerja Peserta Didik, Kontekstual Belajar dan mengajar kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang beracuan pada pandangan konstruktivisme. Dalam penerapannya belajar dan mengajar kontekstual menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, serta pengumpulan, penganalisisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan. Oleh karena itu, belajar dan mengajar kontekstual diambil sebagai alternatif mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik. Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah proses dan hasil pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik yang Kontekstual pada Materi Balok dan Kubus untuk SMP Negeri 1 Bangil yang valid, praktis dan efektif”. Sejalan dengan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh Lembar Kerja Peserta Didik yang Kontekstual pada Materi Balok dan Kubus untuk SMP Negeri 1 Bangil dengan kriteria valid, praktis dan efektif. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan ADDIE. Model tersebut terdiri dari lima fase yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Untuk mendeteksi ketercapaian kriteria yang telah ditetapkan, maka dilakukan validasi pakar/ahli dan uji coba terbatas terhadap produk. Instrumen yang digunakan yaitu lembar validasi, lembar observasi, tes, dan angket. Seluruh instrumen divalidasi oleh pakar/ahli. Hasil validasi menunjukkan bahwa lembar validasi, lembar observasi, tes, dan angket telah memenuhi syarat. Menurut ketiga validator, perangkat RPP dan LKPD yang disusun telah memenuhi kriteria valid. Subjek pengembangan LembarKerja Peserta Didik (LKPD) ini adalah peserta didik kelas VIII-B dan VIII-C di SMP Negeri 1 Bangil. Uji coba yang dilakukan terhadap subjek pengembangan terdiri dari uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Uji coba dilakukan untuk mengetahui ketercapaian kriteria yaitu kepraktisan dan keefektifan. Hasil uji coba kelompok kecil yaitu (1) peserta didik dapat menyelesaikan seluruh aktivitas dalam LKPD dalam kurun waktu kurang lebih 40 menit, (2) peserta didik melakukan aktivitas dengan antusias karena masalah yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dan (3) terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan peserta didik mengenai maksud dari kalimat dalam LKPD. Kepraktisan LKPD diamati melalui pedoman observasi keterlaksanaan LKPD dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil uji coba lapangan mengenai observasi keterlaksanaan LKPD diperoleh skor rata-rata seluruh aspek yaitu 2.34 dari skor tertinggi 3 maka dapat disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan memiliki tingkat kepraktisan yang tinggi. Keefektifan LKPD diamati melalui beberapa indikator yaitu (1) Hasil tes materi balok dan kubus, (2) angket dan (3) pedoman observasi aktivitas peserta didik. Berdasarkan uji coba lapangan yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu sebanyak 81.8% peserta didik telah menguasai materi balok dan kubus, 93.5% peserta didik memberikan respon yang positif mengenai penggunaan LKPD dalam pembelajaran serta peserta didik tergolong aktif dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat disimpulkan LKPD efektif untuk digunakan dalam pembelajaran.

Improving the quality in writing descriptive texts of Madrasah Aliyah students through directed writing activity strategy / Binti Suaidah Hanur

 

Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D, (2) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D. Key words: the quality in writing, descriptive texts, the directed writing activity strategy This study was intended to improve the first year students’ quality in writing a descriptive text at MA Ar-Rahmah through the Directed Writing Activity strategy. Due to the fact that most Madrasah Aliyah students: (1) did not know how to write a word since the way in pronouncing it is different from its spelling; (2) were not used to writing in English although they have learned grammar; (3) were rarely asked to do a writing task because writing is not tested in National Examination (UN). The design of this study was action research which consists of 4 stages, namely planning the action, implementing and observing the action, and reflecting on the action. The subjects of this study were class X-C in the 2010-2011 academic year consisting 31 students. There were 3 instruments used to collect the data needed, i.e. fieldnotes, portfolio, a scoring guide, and questionnaire. The criteria of success of this study were (1) all students participated in the teaching and learning process, (2) all students got score of equal to or more than 3 in each aspect of writing. The result of the preliminary that was conducted on January 14, 2011 showed that most of the students often made mistakes in grammar, spelling, capitalization, punctuation, and the choice of words. In addition, their paragraph organizations were very poor; only a few of their work that could be understood and acceptable. The findings of the study indicated that in Cycle 1, the study did not meet the criteria of success. Concerning the first criterion, it was only 99% students who followed the teaching and learning process. One student was absent since the first meeting. In connection with the second crietrion, 18 students (58.06%) had achieved a score of equal to or more than 3 and the rest, 13 students (41.94%) got scores below 3. Because the first cycle did not meet the criteria of success, so the researcher carried out the second cycle. Concerning the first criterion. All students (100%) participated in the teaching and learning process. In addition to the second criterion, all students got score equal to even greater than 3 in each aspect of writing. Based on the findings above, it can be concluded that the directed writing activity strategy has been successful in improving the quality in writing descriptive texts of Madrasah Aliyah students. Then, it was suggested to the English teachers to apply the strategy in the teaching and learning writing of other genres and provide students with the internationaly standardized dictionary. The future researchers are suggested to conduct the research to other language subject matters at MA/SMA level

Implementing writing process strategy with pictures to improve the ability of the eighth grade students of MTs. Assa'adah II Bungah Gresik in writing recount text / Moh. Akhnan Arifin

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching. State University of Malang. Advisors: (I) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Prof. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Key Words: Pictures, Writing skill, Recount text Writing skill has important role in the English teaching program in Junior High School (SMP/MTs). It is one of the four language skills that must be learnt by students of SMP/MTs. However, the ability of the eighth grade students of MTs. Assa’adah II Bungah Gresik in writing is still dissatisfactory. The students feel still difficulties how to start writing and they don’t have idea to write. This research is intended to improve the writing recount text of the eighth grade students of MTs Assa’adah II Bungah Gresik by implementing writing process strategy with pictures. This strategy is chosen since it can lead the students to generate their ideas into a composition. Pictures usually take in the past events or last experiences and pictures certainly can assist the students to recall in details about events, place, time, situation and people. A picture is source of thousands words because one picture can express the students something, even has chronological events behind it. To achieve the purpose, the researcher conducted the action research which was done in the classroom, following four steps: planning, implementing, observing, and reflecting. The subject of the study were 31 students of the eighth grade of MTs. Assa’adah II Bungah Gresik in 2010/2011 academic year. This research was conducted in two cycles. The first and second cycle included four meetings. The data of the research were taken from writing test, rating scale, field note, and scoring rubric. The results of the research showed that the proper procedures taken in implementing writing process strategy with pictures included the following steps: First, displaying the students some pictures of the topic. Second, grouping the students into small groups consisting of five or six students based on their friendship. Third, distributing the worksheets with the pictures and the pictures must be in color, and in different activities. Forth, giving a model of how to generate their ideas by writing the keywords and the characteristics of recount text. Fifth, encouraging the students’ ideas to write on the rough draft based on the ideas they gathered and they might open the dictionary. Sixth, assigning the students to write the first paragraph based on the generic structure of recount text. Seventh, assigning them to discuss their first paragraph with their friends and the teacher. Eighth, asking them to exchange their draft to other groups, do peer-editing and check the content, organization, language use, vocabulary and mechanics. Ninth, assigning the students to revise the draft based on their friends’ feedbacks and teacher. Tenth, asking them to publish, and stick on the whiteboard. Eleventh, assigning them to submit their final draft. Furthermore, the findings of the research showed that implementing writing process strategy with pictures has improved the writing skill of students of the eighth grade of MTs. Assa’adah II Bungah Gresik in writing recount texts. In cycle one, upper average score was 16 students and under average score was 15 students. In cycle two, upper average score for final product was 25 students and under average score was 6 students. Also, the findings of students revealed that the students’ participation were active and motivated by implementing writing process strategy with pictures in the teaching and learning activities. Based on the results above, it can be summerized that implementing writing process strategy with pictures is very beneficial not only in improving the students’ writing skill but also in motivating the students in the learning activities. Therefore, it is recommended that the English teachers implement writing process strategy with pictures in the teaching of writing skill especially in recount text since it is meaningful in the context of providing the students how to start their writing and have ideas to write. In the last, for the next researchers, particularly those who have the same problems and are interested in doing the research, it is suggested that they implement this strategy in the teaching of recount text since recount text is one of the text types should be taught to the students of MTs. However, in the carrying out, the teacher should do in meeting more frequently and provide clear guidance so that the achievement of the students’ writing skill is further especially for the lower students.

The problems of teaching english at SDN Kedungdoro IV in Surabaya / Mohammad Faisal

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Key words: Elementary school, English for young learners, the teaching of English This study is aimed at describing the problems of teaching English to the fourth to sixth graders of SD Negeri Kedungdoro IV-Surabaya especially concerning syllabus, process of teaching English, materials, English teaching media, assessment, and English teacher’s roles. The study employed descriptive-qualitative research design. The data were collected by using a number of instruments: (1) questionnaire, (2) interview (guideline), (3) documents, and (4) class observation. At first, the obtained data were analyzed by using frequency counted system to observe percentage. Then, the data were interpreted by using descriptive analysis to extract meaning and insight from the data. Generally, the finding showed that the problems of teaching English to the fourth to sixth graders of SD Negeri Kedungdoro IV-Surabaya in the academic year of 2009/2010 were related to syllabus, process of teaching English, materials, English teaching media, kinds of assessment, and teacher’s roles. Moreover, the elaboration of the findings is as follow: (1) the teacher did not develop her own syllabus based on the students’ (local) need, (2) process of teaching English in the school did not meet the particular needs of children in learning English as a foreign language, (3) materials used in the school were limited as books, teacher’s notes in board, and photocopiers, (4) the teacher did not use any kind of media, except herself and board, (5) kinds of assessment used were simply as daily exercises, class assignment, homework, midterm test, final test, and observation, (6) the teacher took her role merely as controller, informant, and evaluator. From the findings, it is suggested that (1) for the teacher who misunderstood the term syllabus, she needed to be recommended to follow English for young learners’ workshop, seminar, or elementary school teacher’s meeting discussion in order to have clear understanding of what syllabus is. Accordingly, the teacher will have the knowledge of developing syllabus, (2) to have a process of teaching English which meet the particular needs of children, the teacher not only encouraged the students to have good score in the exam, but also needed to get along with the students, (3) related to materials used, the teacher was suggested that she not only depend on books, her notes in the board, and photocopiers; but also to vary the materials or use more alternative materials, (4) in order to make the students become more interested in learning English, the teacher was suggested to use various media related to the instructional objectives which are stated in the syllabus, (5) for the teacher who assess her students using non-authentic assessment, she should be motivated to gain knowledge about the recent issues of assessment, (6) related to English teacher’s roles, the teacher was supposed to improve her characteristics of teaching as teacher of young learners. Besides, the school principal is suggested to give more attention and action towards the implementation of teaching English. Coordination between the principal and the English teacher should be made in order to get better result of teaching situation, such as arranging English extra curricular, facilitating the students with English bulletin board, giving short and continual tutorial of English daily conversation to teachers colleague, etc.

Hubungan manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, dan motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru pada SMK Negeri di Malang Raya / Joko Santoso

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata Kunci : manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, kinerja guru Pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia salah satunya dilaksanakan dengan peningkatan sumberdaya manusia, khususnya kinerja guru. Berkaitan dengan kinerja guru, peningkatannya dilakukan melalui banyak cara, diantaranya dengan meningkatkan motivasi guru, melalui pemenuhan atas kebutuhan guru dalam menjalankan tugasnya, dengan meningkatkan kesejahteraannya, dan mengusahakan adanya kenyamanan bekerja. Oleh karena itu untuk guru-guru SMK Negeri di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu atau Malang Raya, perlu dikaji dan diteliti tentang kondisi guru terhadap aspek-aspek yang diduga dapat meningkatkan kinerja guru, yaitu: manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kinerja guru, serta perlu diteliti apakah terdapat hubungan antar aspek-aspek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimanakan persepsi guru terhadap kondisi manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kinerja guru pada SMK Negeri di Malang Raya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung antara variabel manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, dan motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru pada SMK Negeri di Malang Raya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan model survey yang menggunakan angket sebagai intrumen penelitian. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan 550 guru-guru yang sudah bersertifikat profesi pendidik sampai dengan tahun 2010. Dari jumlah populasi 550 orang guru tersebut, diambil sampel 213 orang guru dengan menggunakan teknik random. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan pengukuran menggunakan skala Likert yang termodifikasi, untuk menjaring data lima variabel, yaitu: (1) manajemen sarana dan prasarana sekolah, (2) dampak sertifikasi guru, (3) iklim sekolah, (4) motivasi berprestasi guru, dan (5) kinerja guru. Analisis data dilakukan dengan pemodelan persamaan struktural (SEM) dan menggunakan Software AMOS 18.0. Dari hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian berupa deskripsi kondisi variable-variabel: manajemen sarana dan prasarana sekolah berada pada kategori tinggi, dampak sertifikasi guru berada pada kategori tinggi, iklim sekolah berada pada kategori tinggi, motivasi berprestasi guru berada pada kategori tinggi, dan kinerja guru juga berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur model hubungan antar variabel tidak terbukti secara empiris karena hubungan variabel dampak sertifikasi dengan kinerja guru tidak signifikan. Temuan penelitian terkait dengan hubungan langsung antar variabel adalah: (1) terdapat hubungan yang signifikan antara variabel manajemen sarana dan prasarana sekolah dengan motivasi berprestasi guru, yang berarti makin baik pengelolaan sarana dan prasarana sekolah akan semakin meningkatkan motivasi berprestasi guru, (2) terdapat hubungan yang signifikan antara dampak sertifikasi guru dengan motivasi berprestasi guru, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan motivasi berprestasi guru, yang berarti iklim sekolah yang baik akan meningkatkan motivasi berprestasi guru (4) terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen sarana dan prasarana sekolah dengan kinerja guru, (5) tidak terdapat terdapat hubungan yang signifikan antara dampak sertifikasi guru dengan kinerja guru, yang berarti bahwa dampak sertifikasi tidak secara langsung mempengaruhi kinerja guru, (6) terdapat hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan kinerja guru, dan (7) terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru. Terkait dengan hubungan tidak langsung antar variabel, diperoleh temuan: (1) terdapat hubungan secara tidak langsung yang signifikan antara manajemen sarana dan prasarana sekolah dengan kinerja guru melalui motivasi berprestasi guru, (2) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara dampak sertifikasi guru dengan kinerja guru melalui motivasi berprestasi guru, dan (3) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara variabel iklim sekolah dengan kinerja guru melalui motivasi berprestasi guru, bagi guru-guru pada SMK Negeri di Malang Raya. Hasil penelitian ini memiliki implikasi teoretis dalam memberikan kejelasan dalam memperkuat teori-teori yang telah dipergunakan sebagai dasar pengajuan model penelitian ini. Sebagian besar hubungan variabel yang diteliti mendukung teori yang telah dikembangkan peneliti-peneliti terdahulu, dan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan, khususnya terkait dengan guru. Hasil penelitian ini memberikan implikasi secara praktis terhadap upaya peningkatan kinerja guru, dalam kaitanya dengan manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kinerja guru bagi guru-guru SMK Negeri di Malang Raya. Terkait dengan hasil penelitian ini, diberikan saran-saran kepada beberapa pihak, yaitu: (1) untuk pemerintah pusat, disarankan agar dapat membuat program pengembangan dan peningkatan motivasi guru melalui kegiatan-kegiatan antara lain pelatihan pendidikan karakter, karena temuan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan langsung antara dampak sertifikasi guru dengan kinerja guru, melainkan harus melalui motivasi berprestasi guru, (2) untuk Dinas Pendidikan kota/kabupaten agar program pembinaan guru difokuskan pada aspek yang terkait manajemen sarana dan prasarana sekolah, iklim sekolah dan motivasi guru, (3) untuk kepala sekolah dan guru agar dapat menjadikan temuan ini sebagai acuan dalam meningkatkan kinerja guru, dan (4) untuk para teoretisi manajemen pendidikan dan peneliti lebih lanjut agar dapat menjadikan temuan penelitian ini sebagai pelengkap rujukan dalam mengembangkan pendidikan dan dalam mengadakan penelitian lebih lanjut.

Potensi genistein pada sistem repruduksi mencit (Mus musculus) sebagai penyususnan bahan ajar fisiologi reproduksi / Cicilia Novi Primiani

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Umie Lestari, M.Si dan (II) Dr. agr. Mohamad Amin, M.Si. Kata kunci: genistein, sistem reproduksi jantan Usaha untuk mendapatkan sarana kontrasepsi pria sebenarnya telah banyak dilakukan dengan memanfaatkan bahan alami yang berasal dari tanaman. Salah satunya adalah tanaman famili Leguminoceae yang mengandung derivat senyawa genistein. Genistein sebagai salah satu senyawa derivat isoflavon mempuyai struktur kimia mirip dengan 17β-estradiol yang bersifat seperti hormon steroid estrogen, yang mampu menyebabkan kerusakan pada sel germinal dalam tubulus seminiferus testis, merupakan salah satu indikator digunakannya genistein sebagai senyawa antifertilitas. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji pengaruh genistein terhadap sistem reproduksi mencit jantan (Mus musculus), 2) memanfaatkan hasil penelitian pengaruh genistein terhadap sistem reproduksi mencit jantan (Mus musculus) sebagai bahan untuk menyusun bahan ajar mata kuliah fisiologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimental, yang rancangannya mengikuti Rancangan Acak Kelompok. Variabel bebas adalah dosis genistein 0 mg/g, 0,0035 mg/g, 0,0042 mg/g, dan 0,0049 mg/g. Variabel terikatnya adalah sel-sel germinal dalam tubulus seminiferus testis, morfologi spermatozoa, viabilitas spermatozoa, dan kadar hormon testosteron. Data kadar hormon testosteron dan sel-sel germinal dalam tubulus seminiferus testis yang didapat, dianalisis menggunakan Analisis Varians Satu Jalan (One Way ANOVA) dengan tingkat signifikansi 5%. Selanjutnya dilakukan uji Post Hoc untuk mengetahui perbandingan perbedaan antara kelompok. Uji Post Hoc yang digunakan adalah uji Least Significant Difference (LSD) 5%. Data morfologi dan viabilitas spermatozoa dinyatakan dalam prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh genistein pada sistem reproduksi mencit (Mus musculus). Genistein yang diberikan dengan dosis 0,0035 mg/g; 0,0042 mg/g; dan 0,0049 mg/g berpengaruh terhadap jumlah sel germinal dalam tubulus seminiferus testis, morfologi dan viabilitas spermatozoa. Kadar hormon testosteron berbeda nyata pada dosis 0,0049 mg/g. Berdasarkan hasil penelitian ini dan kajian pustaka yang relevan, disusun sebuah bahan ajar yang berupa modul bagi mahasiswa pada mata kuliah Fisiologi pokok bahasan sistem reproduksi.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model picture and picture pada siswa kelas IV SDN Sutojayan 04 Kabupaten Blitar / Tri Cahyo Wulandari

 

Kata kunci: keterampilan menulis, narasi, model picture and picture Keterampilan menulis narasi di kelas IV SDN Sutojayan 04 Kabupaten Blitar kurang memuaskan, yaitu hanya terdapat 2 siswa dari jumlah total 10 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Hal ini dikarenakan guru menggunakan metode konvensional yang membuat siswa menjadi bosan dan pembelajaran kurang menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model picture and picture dalam keterampilan menulis narasi dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui model picture and picture. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian setelah menggunakan model picture and picture, aktivitas siswa dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat sebesar 30%, yaitu dari 40% menjadi 70%. Ketuntasan keterampilan menulis narasi siswa dari pratindakan ke siklus 1 meningkat sebesar 10%, yaitu dari 20% menjadi 30%. Dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat 60%, yaitu 30% menjadi 90%. Pada akhir siklus 2 terdapat 1 siswa yang belum tuntas, karena siswa tersebut mengalami keterlambatan belajar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model picture and picture dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi.

Efektivitas pembelajaran pratik komputer di SMP kota Mojokerto / Kurnia Laili Rahmawati

 

Kata Kunci : Efektivitas pembelajaran, Pembelajaran TIK Belajar mengajar merupakan suatu proses yang tidak terlepas dari komponen-komponen yang saling berinteraksi di dalamnya. Segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektiv. Suatu kegiatan dikatakan efektiv bila kegiatan itu dapat diselesaikan pada waktu yang tepat dan mencapai tujuan yang diinginkan. Efektivitas menekankan pada perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai. Oleh karena itu, efektivitas pembelajaran sering kali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola situasi. Pembelajaran yang efektif adalah belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik, melalui pemakaian prosedur yang tepat. Latihan atau praktik yang dilakukan dalam kondisi-kondisi tertentu (yang baik) adalah penting untuk mencapai tujuan dan untuk meningkatkan pekerjaan (performance) dalam kebanyakan bidang studi. Agar latihan atau praktik tersebut berlangsung dengan efektiv, guru dapat memberikan hubungan keseluruhan bagian, lamanya waktu latihan, pengetahuan tentang kemajuan, dan kondisi-kondisi lain yang membantu Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keefektivitasan pembelajaran praktik komputer dilihat dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru TIK di SMP Kota Mojokerto. Berdasarkan metode penelitian yang dilakukan peneliti yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Praktik Komputer di SMP Kota Mojokerto” ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah efektivitas pembelajaran praktik komputer di SMP Kota Mojokerto. Sub variabel dalam penelitian adalah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru TIK SMP Kota Mojokerto. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) pelaksanaan pembelajaran pada pembelajaran TIK di SMP Kota Mojokerto ditinjau dari segi perencanaan pembelajaran tergolong cenderung sangat tinggi, (2) pelaksanaan pembelajaran pada pembelajaran TIK di SMP Kota Mojokerto ditinjau dari segi pelaksanaan pembelajaran cenderung tinggi, dan (3) pelaksanaan pembelajaran TIK di SMP Kota Mojokerto ditinjau dari segi evaluasi pembelajaran tergolong sedang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan : (1) bagi sekolah agar menunjang kebrhasilan PBM, (2) bagi guru agar memperhatikan pembelajaran TIK, (3) bagi siswa dapat memperhatikan dan mendukung jalannya pembelajaran, dan (4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperhatikan jumlah populasi.

Gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik berdasaarkan multiple intelligences / Abdul Halim Fathani

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata kunci: multiple intelligences, gaya belajar, masalah matematik Kecerdasan menduduki tempat yang sangat penting dalam dunia pendidikan, namun seringkali kecerdasan ini dipahami secara parsial oleh sebagian kaum pendidik. Hakikatnya, kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu ia menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Gardner menyatakan ada delapan kecerdasan dalam teori multiple intelligences, yaitu kecerdasan linguistik, matematik, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Penelitian ini difokuskan untuk mendeskripsikan dan menganalisis gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik ditinjau dari tingkat kecenderungan multiple intelligences. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen lembar tugas yang digunakan merupakan salah satu contoh masalah matematik yang diambil dari buku berjudul “Problem Solving – A Basic Mathematics Goal: Becoming a Better Problem Solver” yang diterbitkan oleh Ohio Department of Education, Columbus, Tahun 1980. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXB Madrasah Tsanawiyah Negeri Kepanjen Malang yang memiliki tingkat kecenderungan kecerdasan matematik dan linguistik yang ditentukan berdasarkan hasil multiple intelligences research (MIR). Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik. Tetapi, pada tahap-tahap tertentu ada siswa yang menggunakan dua kombinasi gaya belajar (visual–kinestetik dan visual–auditorial), dan ada siswa yang hanya menggunakan gaya belajar secara visual. Secara umum, siswa memiliki kecenderungan tertinggi dalam menyelesaikan masalah matematik dengan menggunakan gaya belajar visual. Dengan demikian, ketika guru melayani siswa sesuai dengan gaya belajarnya yang didasarkan atas tingkat kecenderungan multiple intelligences, maka dia akan mampu meningkatkan gairah belajar siswa dan pemahaman terhadap materi, sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah sampai tuntas. Selain itu, siswa menjadi sadar akan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah matematik, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan refleksi untuk terus memacu semangat belajarnya menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan gaya belajar siswa dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memberi ruang gerak bagi setiap individu siswa untuk mengembangkan kecerdasannya.

Using short-dialogue memorization technique to improve the seventh graders' speaking skill at SMPN 17 malang / Vice Melodiana

 

Key words: short-dialogue memorization, speaking skill, classroom action research This study was intended to improve the seventh graders’ speaking skill in performing the dialogue of asking and giving opinion by using short dialogue memorization technique. Based on the result of the preliminary study, grade VII-E students of SMP Negeri 17 Malang had some problems with their speaking skill, i.e. lack of confidence to speak up in class and tended to be passive to do the speaking activity. Their speaking performance mark was below 65, the standard minimum of learning mastery in the school. Besides, the students were not fully active during the teaching and learning process. They showed a lot of hesitation in their speaking. Many of the students also made grammatical errors in their speaking. The study was a classroom action research, conducted in two cycles, each of which consists of four steps, namely planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects of the study were 39 students of Grade VII-E of SMPN 17 Malang. The instruments used to collect the data are observation checklists, field notes, interview guide, tests, and questionnaire. In implementing the short-dialogue memorization technique, several steps are made. The steps are : (1) instructing students to sit with their pair, (2) giving the best model to the students to pronounce the dialogue, (3) asking the students to examine the dialogue whether they do not know some words in the dialogue, (4) giving a chance to the students to memorize the dialogues for several minutes, (5) after memorizing the dialogue, the students are appointed by the teacher to come to the front of the class to perform the dialogue, (6) giving feedback or comment to the students of their performance. From the analysis of the teaching and learning process and the students’ speaking performance in the second cycle, it was found that the implementation of the short-dialogue memorization technique gives satisfactory results on the improvement of the students’ speaking performance especially in using the expression of asking and giving opinion. In oral speaking test, there were 90% out of 36 students who reached the criteria of success. 26 students out of 36 students (67%) had score 9.5 in which they were in “good” category, 6 students out of 36 students (33%) had score 12 in which they were in “very good” category, and 3 students out of 36 students (8%) had score 15 in which they were in “excellent” category. In the teaching and learning activity, there were 75% of the students were highly motivated in the activity of speaking. The students were actively involved during the teaching and learning process. The students were more confident, fluent, and accurate in speaking. Finally the researcher believed that this research will be beneficial for English teachers since it is a meaningful technique to teach speaking. This study was also useful for the future researcher as a resource or reference to explore this technique for teaching speaking.

Analisis pengaruh biaya produksi terhadap laba pada pabrik gula mojopanggoong Tulungagung / Ida Hermawati

 

Kata Kunci: Biaya Produksi, Laba Bersih Tujuan utama dari setiap kegiatan bisnis perusahaan adalah untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menekan biaya sekecil-kecilnya (profit oriented). Laba merupakan sumber utama perusahaan untuk menjaga kelangsungan hidupnya, hal ini sesuai dengan konsep “going concern” yang beranggapan perusahaan didirikan untuk hidup terus-menerus dan seolah-olah tidak akan berhenti. Oleh karena itu perusahaan harus dapat mengawasi dan mengendalikan biaya produksi, karena biaya produksi sangat penting untuk perusahaan agar dapat terus bertahan. Jika perusahaan bias mengatasi dan menekan biaya produksi seminimal mungkin maka perusahaan akan dapat mengoptimalkan laba. Dari uraian diatas, penulis ingin mencoba menganalisis apakah biaya produksi berpengaruh terhadap laba pada Pabrik Gula Modjopanggoong Tulungagung. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh biaya produksi terhadap laba bersih pada Pabrik Gula Modjopanggoong Tulungagung. Metode pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah 1) melihat perkembangan biaya produksi pada PG Modjopanggoong, 2) melihat perkembangan laba bersih usaha pada PG Modjopanggoong, 3) menganalisis pengaruh biaya produksi terhadap laba bersih usaha pada PG Modjopanggoong. Hasil pembahasan dalam penelitian ini adalah biaya produksi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap laba bersih dan pengaruhnya sebesar 99,7%, sisanya 0,3% dipengaruhi oleh factor lain yang tidak diteliti, seperti biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi mempunyai pengaruh negativ terhadap laba bersih, artinya semakin meningkat biaya produksi maka akan semakin menurun laba bersih yang diperoleh atau sebaliknya.

Prototype mesin cardboard packer dengan kendali PLC untuk membentuk kotak kardus industri kecil / Yoyon Septyan Yulianto

 

Kata Kunci: pembentuk kotak kardus, operator, kendali PLC. Programmable logic Controller merupakan bagian tak terpisahkan dari proses otomasi. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu :alamat, instruksi, dan operand. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah : (1) merencanakan dan membuat alat pengisi pembentuk kotak kardus dengan kendali PLC, (2) Merakit prototive mesin cardboard pecker menggunakan kendali PLC untuk membentuk kotak kardus. (3) merencanakan pengaturan dan penempatan sensor pembatas pada prototipe sehingga mendorong kotak kardus sebagai mana fungsinya. Metode perancangan meliputi : (1) perancangan pengaturan sensor pembatas, (2) perancangan sistem kontrol (hardware), (3) perancangan program (software). Prinsip kerja dari sistem kontrol ini adalah pengaturan pendorong kotak kardus agar terbetuk kotak. Pendorong kotak kardus menggunakan program dari programmable logic controller. Hasil dari analisis tersebut antara lain: (1) relay 1,3,5,7 menggerakan motor DC putar kanan, (2) relay 2,4,6,8 menggerakan motor DC putar kiri (3) motor menggerakkan pendorong kotak kardus yang akan mendorong kardus dengan program programmable logic controller yang telah dibuat dan dikontrol oleh sensor pembatas. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan : (1) untuk mengatur putaran motor DC terdapat relay-relay penggerak motor putar kanan dan kiri pakan sesuai kebutuhan digunakan programmable logic controller, (2) setting hardware dan software menggunakan sensor pembatas, rangkaian driver motor dan pendorong kotak kardus yang diolah oleh programmable logic controller (3) untuk membatasi gerak pendorong kotak kardus maka dipasang sensor pembatas

Supervisi pengajaran berwawasan spiritual di sekolah dasar (Studi multisitus pada SDK Ursulin, SDK Yasukel dan SDN kota Ratu di Kabupaten Kelimutu) / Natsir B. Kotten

 

Kata kunci: supervisi pengajaran, wawasan spiritual, sekolah dasar Supervisi pengajaran berwawasan spiritual adalah supervisi oleh supervi-sor yang memiliki perilaku membangun karakter berdasarkan kemampuannya mengelola kecerdasan spiritualnya dengan berlandaskan pada nilai-nilai religius, dan etika sosial keagamaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan: (1) program supervisi pengajaran yang disusun oleh supervisor yang berwawasan spiritual, (2) teknik supervisi pengajaran berwawasan spiritual, (3) pendekatan supervisi pengajaran berwawasan spiritual, dan (4) sikap dan perilaku guru terhadap pelaksanaan super-visi pengajaran oleh supervisor yang berwawasan spiritual. Penelitian ini menggunakan rancangan studi multisitus dengan metode komparatif konstan. Lokasi penelitian di SDK Ursulin, SDK Yasukel, dan SDN Kota Ratu. Informan dalam penelitian ini adalah pada kepala sekolah dan Guru. Teknik pengumpulan data menggunakan (1) wawancara mendalam, (2) peng-amatan peranserta, dan (3) studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dua tahap, yaitu (1) analisis data situs individu, dan (2) analisis data lintas situs. Pengecekan keabsahan data melalui (1) triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pe-ngumpulan data, (2) pengecekan anggota, dan (3) diskusi sejawat serta arahan Dosen Pembimbing. Temuan penelitian menunjukan bahwa: (1) program supervisi pengajaran yang disusun oleh supervisor yang berwawasan spiritual, disusun secara bersama dan bekerjasama dengan melibatkan guru dalam suatu tim kerja. Kerjasama dan kebersamaan tersebut dibangun dengan berlandaskan pada: visi misi, kreatif, inspiratif, bijaksana dan peduli pada orang lain, dan dibangun dengan nilai-nilai relegius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdas-an jiwa), yaitu: sosok dan perilaku yang ramah dan akrab, arif dan bijak, toleran, humanis, dan berwibawa; (2) teknik supervisi pengajaran berwawasan spiritual, dibangun dengan berlandaskan pada nuansa kebersamaan dan kekeluargaan, dan dibangun dengan nilai-nilai relegius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluharan nurani (kecerdasan jiwa), yaitu mengedepankan doa sebagai sumber kekuatan, motivasi, sikap arif dan bijak, toleran dan humanis, serta sikap ramah dan akrab; (3) pendekatan supervisi pengajaran berwawasan spiritual, dibangun dengan berlandaskan pada motivasi sebagai wujud dari sikap memberikan bim-bingan dan penguatan, membangun semangat kerja, memiliki komitmen, dedikasi, enerjik, dan menjunjung tinggi etika dan wibawa akademik (norma). Pendekatan tersebut juga dibangun dengan berlandaskan nilai-nilai relegius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdasan jiwa), yaitu sosok dan perilaku yang ramah dan akrab, humanis, bersahaja, memiliki keteguhan dan kasih sayang, serta menjaga keutuhan sebagai wujud dari sikap memupuk keber-samaan dalam nuansa kekeluargaan dan rasa persaudaraan; (4) sikap dan perilaku guru terhadap pelaksanaan supervisi oleh supervisor yang berwawasan spiritual, dibangun dengan berlandaskan pada persepsi dan motivasi yang positif, yaitu kepemimpinannya sangat baik, sangat tepat, sesuai, sangat senang, dan sangat menguntungkan. Di samping itu, membangun semangat kebersamaan dan kerja-sama yang baik, membangun relasi yang dilandasi pada keterbukaan dan sema-ngat persaudaraan, dan kekeluargaan, serta dibangun dengan berlandaskan pada nilai-nilai religius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdasan jiwa), yaitu pembinaan dan pelayanan yang mengutamakan: doa, sebagai sumber kekuatan, sikap ramah dan akrab, sikap teguh dan kasih sayang, sikap arif dan bijak, sikap toleran, sikap humanis, berwibawa, dan bersahaja, serta menjaga keutuhan. Berdasarkan temuan-temuan penelitian di atas, disarankan kepada (1) pihak Dinas PPO Kabupaten Kelimutu untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatih-an (Diklat) kepada para kepala sekolah atau calon kepala sekolah tentang Mana-jemen Supervisi Pengajaran Berwawasan Spiritual, sebagai sentuhan penting bagi penanaman nilai-nilai kerja, sebagai fondasi untuk memfungsikan kekuatan inte-lektual dan emosional, memberi motivasi dan produktivitas kerja atas dasar ibadah, dan mengantarkan manusia pada ketenangan diri sejati, (2) bagi kepala sekolah disarankan agar memiliki pemahaman akan konsep dasar supervisi, hubungan timbal balik, dan keterampilan teknis dan non teknik yang berkaitan dengan peran wawasan spiritual atau nilai-nilai religius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdasan jiwa) dalam pembinaan dan pelayanannya, (3) bagi para guru disarankan bahwa pelaksanaan supervisi peng-ajaran berwawasan spiritual, yang berkaitan dengan pemberian bantuan yang bercorak palayanan dan bimbingan profesional telah dilakukan, namun keber-hasilannya sangat tergantung pada tekad dan kemauan guru itu sendiri untuk meningkatkan diri atau tidak. Sehubungan dengan itu, kepada guru-guru disaran-kan agar dapat memanfaatkan kesempatan serta peluang yang dibuat itu untuk meningkatkan motivasi dan disiplin diri terutama motivasi berprestasi, (4) bagi peneliti lain disarankan bahwa pelaksanaan supervisi pengajaran yang berwa-wasan spiritual, dapat memperbaiki kualitas mengajar, meningkatkan kinerja, dan menumbuhkan sikap profesional guru. Agar dapat mengungkap lebih jauh me-ngenai supervisi pengajaran yang berwawasan spiritual, sebaiknya dilakukan pe-nelitian lebih lanjut pada sekolah-sekolah lainnya. Apabila hendak diadakan penelitian lebih lanjut, maka disarankan supaya dilaksanakan pada beberapa situs.

The use dialogue journal to improve the writing ability of the first year students of SMK Negeri 1 Singosari / Nurul Husna

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd Key words: dialogue journal, improve, writing ability. This study is conducted in order to answer the research problem, “How can Dialogue Journal improve writing ability of the first year students of SMK Negeri 1 Singosari?” This strategy is chosen due to its strengths in encouraging students to be more actively involved in the teaching of writing and in helping students to reduce the worry to write in English so that students’ motivation and ability to write might improve. To answer the research problem, Collaborative Action Research is conducted following the four stages, planning, implementing, observing and reflecting. This study was implemented in one cycle. The Cycle 1 consisted of nine sessions. The subjects of this study are the students of Ototronik Program 3 SMK Negeri 1 Singosari 2010 – 2011 which consists of 32 students. In this study, the students were assigned to write two times in a week in their journal. Their journals were handed in on Monday and they were returned to the students on Wednesday after being responded and the students submitted the next entry on Saturday. The instruments used to collect data are observation sheet, questionnaire, field notes, students’ journal entries and writing test. The results show that dialogue journals obviously can improve the students’ ability in writing sentences, paragraphs. It has been observed that the improvements are caused by the regular writing practice done by the students and the teacher’s response given to their writing. It becomes a sort of on – going dialogue. It also develops a personal relationship between the teacher and each of his students. The improvements can be examined from two points of views: process and product. In the form of process, the students’ attitude improves from time to time as reflected from the results of observation and their answers in the questionnaire. First, the students are actively involved during the writing activities. Second, the students are highly enthusiastic in studying English, especially in writing. Third, the students can write journals freely. The last, the improvements can be also examined from the number of topics and the average number of sentences and paragraphs. In the first entry, they write in 11 topics while in the last three entries, it improves to be 49 topics. In addition, the amounts of the sentences improve in conjunction with the improvement of the average of paragraphs produced from the first entry to the next entry. In the first entry, the average of sentences in one entry is 10.1 while in the sixth entry, it improves to be 14.6. The average of the paragraphs that the students write in the first entry is 1.1 while in the sixth entry, it improves to be 1.4. Meanwhile, in the form of product, it is found that there were only 5 students (17.8%) whose score is 75 but in the post test, it became 75% (21 students) out of 30 subjects. The score has met the criteria of success of product of this study that is greater than or equal to 75. Finally, on the basis of the findings, some suggestions for the English teachers and the future researchers are made. First, since the dialogue journal is a kind of informal writing, we have to focus on the content of their writing rather than on the students’ mechanical errors. However, if we want to develop the quality of their writing, we may do a kind of non – instructive correction without interrupting the communication or distracting from the meaning. In this case, the teacher can serve as a model of correct English usage in the response given. To sum up, the students’ journal entries can also be used by the teacher as a reflection to identify the students’ weaknesses in using the language, so the teacher can plan the lesson and exercises focusing on the language use in the teaching and learning process.

Keterlibatan komite sekolah dalam pelaksanaan program sekolah di SDN Gunungrejo 01 Singosari Malang / Ika Puspitasari

 

Kata Kunci: keterlibatan, komite sekolah, program sekolah Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah. Komite sekolah merupakan penyempurnaan dan perluasan badan kemitraan dan komunikasi antara sekolah dengan masyarakat. Komite sekolah bentuk organisasi sebagai bagian dari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dan mempunyai kewenangan untuk mengelola dirinya sendiri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keterlibatan komite sekolah dalam pelaksanaan program sekolah, faktor pendukung dan penghambat komite sekolah untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah di SDN Gunungrejo 01 Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif studi kasus tunggal. Data penelitian berupa paparan peran komite sekolah di SDN Gunungrejo 01 Singosari, serta faktor pendukung dan penghambat komite sekolah yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu berupa instrumen kunci yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari mereduksi data, display data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut: komite sekolah terlibat secara langsung dalam menjalankan program sekolah, peran komite sekolah meliputi: peran pendukung (Supporting) komite sekolah berperan dalam memberikan motivasi dukungan baik berupa tenaga dan pemikiran; peran pengontrol (Monitoring) komite sekolah meminta penjelasan kepada sekolah tentang hasil belajar siswa, serta mengawasi keadaan lingkungan sekolah; peran penghubung (Mediator), komite sekolah dengan sekolah bekerjasama dalam mengadakan kegiatan/pertemuan yang bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi antara sekolah dengan masyarakat; serta peran pemberi pertimbangan (Advisory) komite sekolah berperan dengan memberikan masukan dan pertimbangan dalam menyusun RAKS, memberikan masukan dan pertimbangan pada saat rehab gedung, dan mengusulkan siswa yang kurang mampu untuk diberi keringanan biaya atau pembebasan biaya sekolah. Faktor pendukung sekolah untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah diantaranya: dukungan dari semua warga sekolah (mulai dari komite sekolah, masyarakat dan sekolah), rasa kekeluargaan yang tinggi masing-masing warga sekolah, suasana kerja organisasi yang kondusif, baik organisasi komite sekolah maupun organisasi sekolah itu sendiri. Sedangkan faktor penghambat komite sekolah untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah diantaranya: persamaan profesi anggota komite sekolah, yang menyebabkan tidak berjalannya paguyupan kelas dan penghambat lainnya yaitu keterbatasan dana masyarakat, sehingga dalam penyelenggaraan pendidikan pihak sekolah sedikit mengalami hambatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada kepala sekolah, komite sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dalam membantu pelaksanaan program sekolah dan senantiasa menjalankan peran, serta meningkatkan kerjasama dengan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dan meningkatkan mutu sekolah.

Penerapan model arias (Assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di SMPN 2 Asembagus / Novi Prayekti

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. (II) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si Kata kunci: Model ARIAS, Motivasi Belajar, pembelajaran Matematika. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) secara rinci mengelompokkan matematika SMP dan MTs dalam 13 standar kompetensi yang tercakup pada 4 (empat) aspek matematika yaitu, Bilangan, Geometri dan Pengukuran, Peluang dan Statistika, Aljabar. Berdasarkan pengamatan peneliti dan wawancara dengan guru matematika di SMPN 2 Asembagus, peneliti menyimpulkan bahwa ketidaktuntasan siswa dalam mempelajari matematika salah satunya disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar siswa. Penelitian ini sebagai alternatif untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penerapan model ARIAS. Model ARIAS dipilih untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika dengan harapan dapat meningkatkan motivasi belajar matematika, dikarenakan model ARIAS mempunyai karakteristik menonjol yang diperkirakan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) motivasi siswa berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus kedua, pada siklus 1 hanya ada satu pertemuan dari empat pertemuan yang mengalami peningkatan motivasi siswa, sedangkan pada siklus 2 keseluruhan pertemuan pada siklus tersebut mengalami peningkatan motivasi. (2) motivasi siswa berdasarkan angket motivasi siswa mengalami peningkatan. Jika pada akhir siklus pertama mengalami peningkatan sebesar 0,09 dari hasil angket petama, pada akhir siklus 2 mengalami peningkatan 0,16 dari hasil angket pertama dan berada dalam kriteria motivasi tinggi. (3) Rata-rata kelas hasil uji kompetensi 1 adalah 77,12 dan 82% siswa dinyatakan tuntas, sedangkan rata-rata kelas hasil uji kompetensi 2 adalah 74,39 dan 97% siswa dinyatakan tuntas. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model ARIAS dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar siswa di SMP Negeri 2 Asembagus. Beberapa saran yang peneliti berikan diantaranya adalah (1) kepada peneliti lain disarankan untuk mengambil materi matematika yang lain agar dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang pembelajaran matematika dengan menerapkan model ARIAS dan dengan waktu penelitian yang lebih lama, (2) Bagi guru yang akan menerapkan model ARIAS untuk meningkatkan motivasi belajar siswanya disarankan dalam menyusun perangkat pembelajarannya hendaknya lebih memperhatikan alokasi waktu, materi, alat evaluasi dan pemberian retensi yang diperlukan agar proses pembelajaran menjadi maksimal.

Penerapan model savi untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IVA SDN Madyopuro 1 Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Theresia Natasian

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model SAVI Pembelajaran IPA model SAVI merupakan pembelajaran yang menggabung kan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Melalui penerapan model SAVI, siswa mendapat kesempatan terlibat secara aktif pada pembelajaran sekaligus seluruh kompetensi siswa dapat berkembang secara optimal. Hasil observasi awal di SDN Madyopuro 1 Malang ,di temukan permasalahan yaitu hasil belajar siswa sebagian besar nilainya bawah standar KKM. Akar penyebab hasil belajar siswa di bawah standar KKM 70 karena guru kurang tepat dalam memilih model pembelajaran. Untuk mengatasi rendahnya hasil belajar tersebut dilakukan penelitian dengan menerapkan model SAVI pada pembelajaran IPA. Adapun rumusan masalahnya adalah 1) bagaimanakah penerapan model SAVI pada pembelajaran IPA?,2) bagaimanakah aktivitas siswa selama penerapan model SAVI?, 3) apakah hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan model SAVI?. Penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas dengan analisis data deskritif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi,tes,dan dokumentasi selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus sesuai dengan alur penelitian PTK yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian mengatakan bahwa nilai rata-rata aktivitas siswa siklus I pertemuan 1 69,15 termasuk kategori (rendah),dan pertemuan 2 yaitu 75,93 dan pada siklus II pertemuan 1 yaitu 72,30 dan pertemuan kedua 82,73 kategori (tinggi) dan hasil belajar siswa siklus I pertemuan 1 60,39 termasuk kategori (rendah) dan pertemuan 2 hasil belajar siswa 70,65 termasuk kategori(cukup). Pelaksanaan tindakan siklus I pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 meningkat sebesar (10,26%). sedangkan siklus II pertemuan 1 hasil belajar siswa 72,79 termasuk kategori(cukup) dan pertemuan 2 mencapai 78,37 termasuk kategori(tinggi). Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan 1 dan 2 mengalami peningkatan sebesar (5,58%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan model SAVI dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas dan hasil belajar siswa SDN Madyopuro 1 Malang. Untuk itu disarankan bagi guru agar dapat memberikan akses kepada siswa untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas yang bersifat student centers melalui penerapan model SAVI.

Penerapan quantum learning untuk meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis mata pelajaran ekonomi bagi siswa kelas VII SLTPN 17 malang / Endah Sugiarti

 

Penerapan Quantum Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Berpikir Kritis Mata Pelajaran Ekonomi Bagi Siswa Kelas VII SLTPN 17 Malang. Pendidikan yang bermutu akan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Sejauh ini proses pembelajaran di sekolah masih didominasi oleh sebuah paradigma yang menyatakan bahwa sebuah pengetahuan (knowledge) merupakan perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Di samping itu, situasi kelas sebagian besar masih berfokus pada guru (teacher) sebagai sumber utama pengetahuan, serta penggunaan ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar mengajar. Oleh karena itu perlunya peningkatan kualitas pembelajaran dengan melakukan berbagai cara. Melalui Quantum Learning siswa akan diajak belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih bebas dalam menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya. Dengan Quantum Learning ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik apabila siswa banyak aktif dibandingkan guru. Quantum Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan mengutamakan kondisi relaksasi peserta didik yang mengkombinasikan ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, kerja kelompok, eksperimen, dan pemberian tugas dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan. Hasil belajar siswa merupakan suatu tingkat penguasaan siswa terhadap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada akhir siklus I dan siklus II dalam mengikuti pembelajaran. Berpikir kritis merupakan upaya untuk mempertanyakan segala sesuatu yang belum dimengerti dalam menghasilkan gagasan, inovasi, inspirasi dan pilihan baru dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) atau CAR ( Classroom Action Research ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIF SLTP Negeri 17 Malang. Untuk hasil belajar kognitif peningkatan rata-rata terjadi sebesar 27,84%, sedangkan pada hasil belajar siswa afektif sebesar 10,71%, dan pada hasil belajar aspek psikomotorik sebesar 8,68%. Penerapan pembelajaran dengan Quantum Learning dapat meningkatkan upaya berpikir kritis siswa kelas VIIF SLTP Negeri 17 Malang sebesar 11,71% dari siklus II sebesar 82,69% dan siklus I sebesar 70,98%. Penerapan Quantum Learning dapat meningkatkan respon siswa dalam mengikuti proses pembelajaran ekonomi di kelas. Siswa yang menyatakan sangat setuju (SS) dengan penerapan model ini yaitu sebesar 41,63%. Siswa yang menyatakan setuju (S) sebesar 34,88 %. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan pembelajaran dengan Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar dan upaya berpikir kritis siswa. Sedangkan saran dalam penelitian ini adalah (1.) Bagi guru hendaknya pembelajaran dengan Quantum Learning direkomendasikan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran ekonomi.(2.) Disarankan bagi siswa agar membaca petunjuk pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning agar pembelajaran yang dapat berjalan optimal (3.) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan juga untuk mencoba menerapkan Quantum Learning pada mata pelajaran lain untuk mengukur keefektifan Quantum Learning (4.) Bagi Universitas Negeri Malang (UM) hasil penelitian ini disarankan sebagai tambahan arsip dan bahan pustaka bagi UM. Sehingga dapat dibaca, dijadikan tambahan materi dan dievaluasi oleh Mahasiswa UM baik untuk keperluan penelitian maupun tugas kuliah

Penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar / Eni Widayati

 

Kata kunci : metode eksperimen, kemampuan sains, anak usia dini Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah tentang (1) bagaimana penerapan metode eksperimen untuk dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kab. Blitar?, (2) apakah penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qur'an Jeblog Kabupaten Blitar? Penelitian ini bertujuan : (1) mendeskripsikan penerapan metode eksperimen yang dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan pengembangan kemampuan sains pada anak usia dini dengan metode eksperimen di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar pada tanggal 3, 9, 16, dan 23 Mei 2011. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas B PAUD. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : (1) penerapan metode eksperimen, dan (2) kemampuan sains meliputi kemampuan mengelompokkan biji-bijian, menanam biji-bijian, mengenal dan mengelompokkan kulit buah kasar-halus, membedakan minuman rasa buah, dan mengamati pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains anak. Pada siklus I prosentase nilai rata-rata anak 46,6%. Pada siklus II naik menjadi 78,2% peningkatan kemampuan sains ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengelompokkan biji-bijian, menanam biji-bijian, mengelompokkan buah berkulit kasar-halus, membedakan rasa minuman buah, mengamati proses pertumbuhan tanaman. Penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar. Penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar mencoba menerapkan metode eksperimen untuk membantu mengatasi kesulitan anak pada pembelajaran sains. Sedangkan untuk peneliti sains diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkan para ruang lingkup yang lebih luas

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPS dengan model talking stick pada kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kraton Pasuruan / Fitria

 

Kata kunci: Aktivitas Siswa, Hasil Belajar Siswa, Model Talking Stick, IPS SD/MI. IPS dalam dunia pendidikan memiliki peran penting dalam memperknalkan siswa dengan lingkungan sedini mungkin. Hal ini disebabkan IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuannya saja, akan tetapi juga keterampilan sosial dalam kegiatan pembelajarannya. Hasil observasi pada kelas III di MI Miftahul Huda Gerongan ada beberapa permasalahan antara lain: 1) Pembelajaran IPS masih konvensional (ceramah, dan penugasan). 2) Siswa kurang perhatian pada saat pembelajaran. 3) Rendahnya aktivitas siswa. 4) Rendahnya hasil belajar, hal ini dibuktikan setelah mengerjakan soal evaluasi dan nilainya rata-rata 58,6. Penelitian ini mendiskripsikan: 1) Aktivitas belajar; 2) Hasil belajar; 3) Pembelajaran kooperatif; 4) Pembelajaran kooperatif model talking stick. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kraton Pasuruan yang berjumlah 18 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan observasi, tes, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: 1) Hasil aktivitas guru pada siklus I dengan nilai akhir 82,3%, pada siklus II 94,1% . 2) Hasil aktivitas siswa pada siklus 1 dengan nilai akhir 63%, pada siklus II 78%. 3) Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata 68,3 (55,5%), siklus II rata-rata mencapai 85,8 (88,9%). Penerapan model Talking Stick pada mata pelajaran IPS kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kabupaten pasuruan dilaksanakan dengan tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus 1 dan siklus II mengalami peningkatan sampai 15%. Penggunaan model Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Pasuruan. Dapat dilihat dari hasil belajar siklus 1 siklu II mengalami peningkatan sampai 33,4%. Peneliti menyimpulkan pembelajaran dengan menggunakan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peneliti juga menyarankan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa hendaknya menggunakan strategi dan model pembelajaran yang menerik salah satunya adalah dengan menerapkan model Talking Stick. Guru harus bisa menyusun langkah-langkah pembelajaran yang membuat siswa mampu meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dengan menerapkan model pembelajaran Talking Stick.

Perbedaan tingkat asertivitas pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari jenis kelamin / Tatimatul Chusna

 

Kata Kunci : asertivitas, jenis kelamin Asertivitas merupakan salah satu cara berkomunikasi yang menunjukkan individu dapat mengungkapkan emosi, pikiran, ataupun perasaan baik yang positif maupun yang negatif secara jujur dan langsung, serta mampu mempertahankan hak-haknya secara tegas, dengan tetap mengahargai, dan tanpa mengabaikan kesopanan dan hak-hak orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perbedaan tingkat asertivitas pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang, ditinjau dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik quota sample. Sampel yang digunakan yaitu sebanyak 100 orang mahasiswa, dengan 50 orang mahasiswa laki-laki, dan 50 orang mahasiswa perempuan. Sampel diambil secara acak yang mencakup semua fakultas, namun jumlah sampel tiap fakultasnya tidak ditentukan. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean keseluruhan sebesar 129,85 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang sangat tinggi sebanyak 1 mahasiswa (1%), tinggi sebanyak 11 mahasiswa (11%), sedang sebanyak 71 mahasiswa (71%), rendah sebanyak 16 mahasiswa (16%), dan sangat rendah sebanyak 1 mahasiswa (1%). Skor mean pada mahasiswa laki-laki sebesar 137,80 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang sangat tinggi sebanyak 1 mahasiswa (2%), tinggi sebanyak 9 mahasiswa (18%), sedang sebanyak 37 mahasiswa (74%), rendah sebanyak 3 mahasiswa (6%), dan tidak ada mahasiswa laki-laki yang termasuk kategori sangat rendah. Skor mean pada mahasiswa perempuan sebesar 121,90 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang tinggi sebanyak 2 mahasiswa (4%), sedang sebanyak 34 mahasiswa (68%), rendah sebanyak 13 mahasiswa (26%), sangat rendah sebanyak 1 mahasiswa (1%), dan tidak ada mahasiswa perempuan yang termasuk kategori sangat tinggi. Berdasarkan analisis komparatif diperoleh hasil t hitung = 4,711 sig 0,000 < 0,05, maka terdapat perbedaan tingkat asertivitas pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari jenis kelamin dimana laki-laki memiliki tingkat asertivitas yang lebih tinggi dibanding perempuan. Bagi mahasiswa disarankan agar mengikuti atau melaksanakan pelatihan asertivitas, bagi universitas agar mengadakan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan asertivitas, bagi orang tua agar memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan asertivitas. Bagi peneliti selanjutnya agar lebih memperluas subjek penelitian, dan menambahkan variabel ataupun faktor-faktor lain yang terkait dengan asertivitas.

Kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, desa Bulupasar dan desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri / Benny Isayoga Kristyowidi

 

Kata kunci: kepercayaan, masyarakat, bupati Kepercayaan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam suatu pemerintahan, baik pemerintahan pusat maupun daerah. Begitupula yang terjadi di Kabupaten Kediri. Begitupula yang terjadi di Kabupaten Kediri. Tanpa adanya kepercayaan yang diberikan oleh rnasyarakat maka roda pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik. kepercayaan masyarakat terhadap Bupati Kabupaten Kediri dapat dilihat dari keyakinan penerimaan, pengakuan, dukungan dan ketaatan yang dimiliki oleh masyarakat. Oleh karena itu, maka diperlukan pembahasan mengenai Kepercayaan Masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar Dan Desa Sukorejo) Terhadap Bupati Kabupaten Kediri. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri, (2) untuk mendeskripsikan bentuk kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri, (3) untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Kabupaten Kediri. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (l) kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri terlihat dari adanya (a) keyakinan yang dimiliki masyarakat bahwa Bupati akan membawa kebaikan bagi Kabupaten Kediri. Selain itu, (b) kesediaan masyarakat, (c) menerima, (d) mengakui, (e) mendukung dan taat terhadap kebijakan Bupati, (2) Bentuk kepercayaan masyarakat terhadap Bupati adalah: (a) mendukung kebijakan, (b) adanya kepedulian terhadap kebijakan Bupati, (c) ketaatan masyarakat atas kebijakan Bupati, (d) penerimaan terhadap Bupati, (3) Faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada Bupati adalah: (a) faktor pendidikan yang dimiliki Bupati yaitu sarjana kedokteran, dimana Bupati tersebut bergelar dokter, (b) memiliki pengalaman, (c) karena Bupati tersebut bersedia terjun ke lapangan dan dekat dengan masyarakat, (d) realisasi visi dan misi, (e) karisma yang dimiliki bupati. Dari penelitian ini saran yang diajukan peneliti yaitu hendaknya dalam memberikan kepercayaan kepada Bupati tidak hanya memandang faktor pribadi semata, namun berdasarkan kredibilitas yang dimilikinya serta realisasi janji politik yang diberikan Hj. Haryanti Sutrisno sebagai Bupati di Kabupaten Kediri.

Penggunaan media pembelajaran Movie Maker (video) dalam upaya peningkatan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kelas X Administrasi Perkantoran SMK Wisnuwardhana Malang / Arisjatun Annisa

 

Annisa, Arisjatun. 2014. Penggunaan Media Pembelajaran Movie Maker (Video) dalam upaya Peningkatan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Kelas X Administrasi Perkantoran SMK Wisnuwardhana Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Kt. Diara Astawa, SH, M.Si, (II) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si. Kata kunci : Media pembelajaran Movie Maker (Video), peningkatan minat belajar siswa, mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)     Media pembelajaran merupakan salah satu bagian dari komponen pembelajaran. Program Windows MovieMaker adalah salah satu software yang memberikan kemudahan bagi kita untuk mengolah atau mengedit video. Windows Movie Maker adalah software video editing grafis yang dibuat oleh Microsoft. Penggunaan media pembelajaran Movie Maker (Video) sangat berguna untuk merangsang minat belajar siswa, sehingga siswa merasa tertarik dan akan lbih mudah dalam memahami materi yang akan diajarkan. Mata Pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pembelajaran PPKn masih didominasi dengan metode ceramah saja, yang dianggap kurang menarik dan mengurangi minat belajar siswa. Dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn.     Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; (2) pelaksanaan pembelajaran PPkn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; (3) peningkatan minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; (4) kendala dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video).     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Lokasi penelitian dilakukan di SMK Wisnuwardhana Malang yang bertempat di jalan Danau Sentani No. 99 Kota Malang. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan tes.     Analisis dalam penelitian ini didasarkan dari data pengisian hasil post test digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar pada siswa kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang setelah menggunakan media pembelajaran movie maker (video), pengisian lembar observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar saat menggunakan media pembelajaran movie maker (video), dan wawancara digunakan untuk mengetahui minat belajar siswa kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang     Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X Apk SMK Wisnuwardhana Malang dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2014 pada siklus II, setiap siklus 2 kali pertemuan. Temuan penelitian yaitu: (a) peneliti harus bisa menyesuaikan materi yang akan disampaikan dengan gambar yang akan dibuat untuk movie maker (video), dan (b) movie maker sudah tersedia pada program Microsoft, sehingga semua orang bisa menggunakan media pembelajaran tersebut; (2) Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X Apk SMK Wisnuwardhana Malang berjalan lancar sesuai rencana pelaksanaan pembelajaraan, walaupun ada kendala tetapi guru dapat memecahkan masalah tersebut. Hasil penilaian post test siswa pada siklus I siswa yang tuntas 13 (54.16%) siswa dan 11 (45.84%) siswa yang belum tuntas, pada siklus II terdapat 20 (83.33%) siswa yang tuntas dan 4 (16.67%)siswa yang belum tuntas, ; (3) Penggunaan media pembelajaran movie maker (video) pada mata pelajaran PPKn dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; dan (4) Kendala saat pelaksanaan pembelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang adalah kendala sarana prasarana (fasilitas) dan kendala listrik yang padam, tetapi peneliti bisa mengatasi tersebut.     Saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah (1) Guru mata pelajaran PPKn dapat menggunakan variasi pembelajaran, sehingga pada saat proses belajar mengajar pada mata pelajaran PPKn siswa tidak mudah bosan, salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video), (2) Siswa seharusnya tidah meremehkan semua mata pelajaran dan tidak menganggap remeh mata pelajaran PPKn, dan (3) Penggunaan media pembelajaran movie maker (video) hendaknya diterapkan pada materi pembelajaran yang menuntut siswa untuk meningkatkan minat belajar siswa pada semua mata pelajaran.

Perbedaan efikasi diri antara mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja jurusan bimbingan konseling dan psikologi Universitas Negeri Malang / Annisa Wasilia

 

Kata Kunci: efikasi diri, mahasiswa bekerja. Banyaknya individu yang belum siap menghadapi persaingan dalam mendapatkan pekerjaan sewaktu menjalani proses perkuliahan menunjukkan banyak mahasiswa yang masih memiliki efikasi diri rendah. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja, (2) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa bekerja, (3) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa tidak bekerja, (4) mengetahui perbedaan gambaran efikasi diri antara mahasiswa bekerja dengan mahasiswa tidak bekerja. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan deskriptif dan komparatif pada 100 responden yaitu 50 mahasiswa bekerja dan 50 mahasiswa tidak bekerja yang diambil dengan teknik purposive- quota sampling di Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala efikasi diri dengan validitas internal ≥ 30 dan diperoleh α 0,955, kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari 50 mahasiswa bekerja sebagian besar memiliki efikasi diri tinggi yaitu sebanyak 37 orang (74%) dengan mean 187,46 termasuk kategori tinggi, (2) dari 50 mahasiswa tidak bekerja sebagian besar memiliki efikasi diri sedang yaitu sebanyak 43 orang (86%) dengan mean 157,32 temasuk kategori sedang, (3) ada perbedaan efikasi diri mahasiswa bekerja dan tidak bekerja (t=9,094 dengan sig = 0,000 p≤0,05). Berdasar hasil penelitian disarankan (1) mahasiswa meningkatkan pengalaman performansi dengan beraktivitas di luar aktivitas kuliah seperti kegiatan ekstrakurikuler atau bekerja, (2) pihak Universitas Negeri Malang memberi tugas yang dapat mengembangkan dan meningkatkan efikasi diri mahasiswa, memberi penghargaan pada mahasiswa berprestasi dan mengadakan seminar atau workshop tentang dunia kerja, (3) peneliti selanjutnya yang juga akan mengkaji lebih dalam perbedaan efikasi diri mahasiswa dengan melihat faktor-faktor yang melatarbelakanginya, hendaknya memasukkan variabel lain seperti sifat tugas yang dihadapi, adanya insentif eksternal, peran individu dalam lingkungan, atau informasi tentang kemampuan individu sehingga hasil penelitian yang diperoleh menjadi semakin detil dan akurat.

Perancangan dan implementasi virtual private network (VPN) dengan secure socket layer (SSL) / Indra Ari Susilo

 

Kata kunci: Virtual Privat Network (VPN), Secure Socket Layer (SSL)/ Transport Layer Security (TLS). Dengan adanya cyber crime, para pengguna semakin tidak aman dan menjadi sasaran para penjahat setiap kali melakukan aktifitas internet. Keberadaan jaringan di internet merupakan sarana yang memungkinkan seorang hacker menemukan informasi yang penting, sehingga dibutuhkannya keamanan jaringan dari serangan tersebut. Untuk mengatasi permasalahan ini adalah VPN (Virtual Privat Network). VPN memanfaatkan jaringan internet sebagai media internet sehingga daerah jangkauannya menjadi luas. VPN menghadirkan teknologi yang mengamankan semua lalu lintas jaringan virtual dalam internet, sehingga memberikan rasa aman bagi semua pemakai jaringan privat. Secure Socket Layer (SSL) dan Transport Layer Security (TLS), menyediakan komunikasi yang aman di internet. Protokol ini menyediakan authentikasi akhir dan privasi komunikasi di internet menggunakan cryptography. Dalam penggunaan umumnya, hanya server yang diauthentikasi (dalam hal ini, memiliki identitas yang jelas) selama dari sisi client tetap tidak terauthentikasi. Authentikasi dari kedua sisi (mutual authentikasi) memerlukan penyebaran Public Key Infrastructure (PKI) pada client-nya. Perancangan sebuah jaringan komputer berbasis virtual privat network (VPN) yang digunakan pada jaringa internet agar lebih aman dalam komunikasi data. Implementasi jaringan Virtual Private Network (VPN) di lakukan di laboratorium komputer jaringan Teknik Elektro dan menggunakan aplikasi OpenVPN sebagai keamanan jaringan. Menguji jaringan Virtual Private Network (VPN) dengan aplikasi openVPN pada client/server dan melakukan komunikasi atau pengiriman data. Hasil yang didapat dari sebuah teknologi jaringan Virtual Private Network (VPN) dengan SSL/TLS adalah keamanan data pada sebuah jaringan internet (IP publik) dikarenakan data sudah terenkripsi dan melalui jaringan private yang lebih aman. Banyak kemudahan dan keuntungan dalam penggunaan VPN ini terutama keamanan data dibandingkan dengan melewatkan langsung pada sebuah jaringan internet.

Hubungan anatara kecerdasan adversity dan harga diri pada mahasiswa / Ambar Pranita Ruliana

 

Kata Kunci: Kecerdasan adversity, Harga Diri, Mahasiswa Mahasiswa adalah usia dimana individu memandang dunia seperti apa yang diinginkan bukan sebagaimana adanya. Mahasiswa akan menyukai dan menghargai dirinya sendiri jika ia mampu menerima dirinya sendiri. Penilaian terhadap dirinya sendiri akan mempengaruhi proses berpikir, perasaan, keinginan, nilai maupun tujuan hidupnya. Seseorang yang memandang dan mampu mengubah kesulitan atau hambatan sebagai suatu tantangan dan peluang adalah seseorang yang akan mampu terus berjuang dalam situasi apapun sehingga merekalah yang akan mencapai kesuksesan. Harga diri merupakan salah satu bagian dari kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keadaan ini akan membawa seseorang menuju ke arah keberhasilan atau kegagalan dalam hidup serta perasaan percaya akan dirinya mampu untuk dapat hidup dengan layak. Seorang mahasiwa yang mempunyai kecerdasan dalam menghadapi kesulitan dan merubahnya menjadi peluang yang tinggi juga memiliki penghargaan yang tinggi terhadap dirinya. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity yang rendah pasti memiliki penghargaan yang rendah pula terhadap dirinya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) gambaran tingkat kecerdasan adversity pada mahasiswa (2) gambaran harga diri pada mahasiswa (3) hubungan antara kecerdasan adversity dan harga diri pada mahasiswa dengan menggunakan metode kuantitatif yang dikembangkan dengan cara deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, sampel dalam penelitian ini 100 mahasiswa dengan menggunakan teknik incendental sampling. Penelitian ini menggunakan dua instrumen (1) skala kecerdasan adversity dengan reliabilitas 0,935 (2) skala harga diri dengan reliabilitas 0,951. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Sebagian besar memiliki kecerdasan adversity dalam tingkatan sedang, (2) Sebagian besar memiliki harga diri dalam tingkatan tinggi, (3) Uji korelasi dengan menggunakan analisis Product Moment diperoleh bahwa ada korelasi positif antara kecerdasan adversity dan harga diri pada mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara kecerdasan adversity dan harga diri pada mahasiswa, semakin tinggi kecerdasan adversity maka semakin tinggi pula harga diri mahasiswa, sebaliknya semakin rendah kecerdasan adversity maka semakin rendah pula harga diri pada mahasiswa. Disarankan pada mahasiswa untuk meningkatkan kecerdasan dalam mengatasi kesulitan lalu mengubahnya menjadi peluang, dan juga meningkatkan kecerdasan adversitynya dari golongan campers menjadi golongan climbers, dan mempertahankan harga dirinya yang sudah tinggi. Diharapkan bagi perguruan tinggi untuk memberi pelatihan-pelatihan dan studi banding ke perguruan tinggi lain untuk meningkatkan kecerdasan adversity dan harga diri pada mahasiswanya. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan kcerdasan adversity dan harga diri dengan metode penelitian yang berbeda, yaitu dengan mengunakan metode penelitian kualitatif karena diharapkan dapat lebih menggali aspekaspek lain yang berhubungan dengan kecerdasan adversity dan harga diri dengan menggunakan skala pengukuran psikologi

Perbedaan model pembelajaran drill and practice dengan pembelajaran demontransi terhadap hasil belajar TIK standar kompetensi menggunakan perangkat lunak pengolah kata kelas X SMA Islam Kepanjen / Zakarya Firmansyah

 

Kata kunci: model pembelajaran drill and practice, pembelajaran demonstrasi, hasil belajar, TIK Banyak siswa mengeluh materi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sulit untuk dipahami. Sebagian menganggap TIK bukan pembelajaran yang menyenangkan karena kurang terbiasa menggunakan program dan kurang memahami materi yang dijelaskan. Dari permasalahan tersebut muncul gagasan untuk merubah paradigma siswa dengan mengoptimalkan pembelajaran TIK melalui model pembelajaran drill and practice. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan hasil belajar TIK siswa pada model pembelajaran drill and practice, mendeskripsikan hasil belajar TIK siswa menggunakan pembelajaran demonstrasi, mengetahui perbedaan hasil belajar TIK siswa pada model pembelajaran drill and practice dan pembelajaran demonstrasi. Penelitian eksperimen nyata (true experiment) ini dilakukan di SMA Islam Kepanjen pada semester 2 tahun ajaran 2010/2011. Populasi penelitian adalah siswa kelas X. Sampel penelitian adalah kelas X.5 sebagai kelompok eksperimen yang menerapkan model pembelajaran drill and practice. Sedangkan kelompok kontrol adalah kelas X.6 dengan pembelajaran demonstrasi. Instrumen perlakuan berupa RPP, sedangkan instrumen pengukuran hasil belajar meliputi penilaian tes, afektif, psikomotor, dan respon keterlaksanaan pembelajaran. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui perbedaan model pembelajaran drill and practice dengan pembelajaran demonstrasi terhadap hasil belajar siswa adalah uji-t. Setelah dilakukan model pembelajaran drill and practice, diperoleh kelas eksperimen dengan rata-rata hasil belajar 85,77, serta kelas kontrol dengan rata-rata hasil belajar 82,55, selain itu terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar kelas ekperimen dan kelas kontrol dengan thitung (3,929) > ttabel (1,9925) dan sig (p) = 0,000 < 0,05 (sangat signifikan). Maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa adanya perbedaan model pembelajaran drill and practice dengan pembelajaran demonstrasi terhadap hasil belajar siswa.

Mind mapping strategy to develop students' ability in writing a descriptive text grade VII-9 at SMPN 14 Malang / Masrul Huda

 

Key words: mind mapping, writing ability This study was conducted on the basis of the problems faced by the researcher in English teaching in the classroom. When conducting Internship Program in SMPN 14 Malang in the first grade in the second semester showed that the students’ ability in writing English was still low. Based on the preliminary study, there were several problems found. First, the students faced difficulties in starting and organizing the ideas (pre-writing stage). They did not know how to start, discover, and choose many ideas which come to their mind. Second, they got problem in producing a unified paragraph. The problem made the paragraph was difficult to be understood. The last problem was that the students neither active nor motivated in writing activity. In response to the problem, this study was focused on solving the problem related to how the students generate and organize the ideas to write for the topic. This study proposes mind mapping with the proper model to develop the seventh year students’ ability in writing a descriptive text. The research problem is “How can Mind Mapping Strategy develop the students’ writing ability in descriptive writing Grade VII-9 at SMPN 14 Malang?” The design of the study is collaborative classroom action research. Both the researcher and the class teacher worked together in cyclic activities - Planning, Implementing, Observing, and Reflecting on the data gained from the teaching and learning process which run in two cycles. Cycle I covered four meetings while Cycle II covered three meetings. The subjects of the study were the students of class VII-9 of the second semester in the 2010/2011 academic year which consisted of 45 students. The instruments used were the students’ writing task, observation checklist, and field notes. The reflection was based on the findings. Then, they were compared to the criteria of success, namely if 75% of students of the class got more or equal to 65 and if at least 75% of the students in the class were involved in the implementation of the strategy in writing activities. The result of the reflection was used to determine the planning for the next cycle. After implementing the model of mind mapping in the writing class, it was found that the procedures of a proper model developed in implementing mind mapping were as follows: First, model texts were spread out. Second, discussing and drawing Mind Mapping based on the text (Joint Construction). Third, the students brought the picture (favorite idol) by themselves (Cycle I) and made themselves as model (Cycle II) and drew Mind Mapping based on the pictures. Fourth, giving the students guided vocabulary items. Fifth, asking the students to write a rough draft based on the mind mapping. Sixth, asking the students to revise the draft focusing on the content, organization, and grammar. Seventh, asking the student to edit the draft focusing on the mechanics. Eighth, the products were published to the class. The research findings indicate that the students were active during the writing activities and the students’ writing ability developed after the action was implemented. The improvement is shown by the increase of the percentage of the students’ achievement in writing a descriptive text. The percentage of the students achieving the score greater than or equal to 65 increases from 51% in Cycle I to be 91% in Cycle II. The students’ involvement increases from 59.63% in Cycle I to be 82.25% in Cycle II. Based on the research findings, two suggestions are provided for teachers and future researches. In implementing the strategy, teachers should be aware of the following considerations. In using the media “pictures”, the teacher has to make sure that the media will help the students in writing process. The teacher should clarify their instruction in Bahasa Indonesia in order to avoid misunderstanding between the teacher and the students. In addition, dictionary or vocabulary guides should be provided also. The recommendation for the future researchers is to conduct the research by implementing Mind Mapping Strategy in other language skills. It is done to know whether or not Mind Mapping Strategy can be used to improve listening, speaking, and reading skills.

Pengembangan paket pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas VIII MTs Puspa Bangsa Banyuwangi / Riza Faishol

 

Tesis. Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mohammad Effendi, M.Pd, M.Kes., (II) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Paket Pembelajaran, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Inti kegiatan pembelajaran adalah agar siswa belajar, sehingga terjadi proses interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket pembelajaran mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi yang terdiri dari 1) bahan ajar; 2) panduan guru; dan 3) panduan siswa yang dapat mengoptimalkan proses pembelajaran dan memudahkan siswa mempelajari teknologi informasi dan komunikasi. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model Dick, Carey, dan Carey yang telah dimodifikasi berdasarkan keperluan pengembangan. Model ini mengarah pada upaya pemecahan masalah belajar dan terprogram melalui prosedur atau langkah-langkah kegiatan yang sistematis. Langkah-langkah tersebut adalah 1) mengidentifikasi kebutuhan untuk menentukan tujuan umum pembelajaran; 2) melakukan analisis pembelajaran; 3) mengidentifikasi karakteristik siswa; 4) merumuskan tujuan pembelajaran khusus; 5) mengembangkan instrumen penilaian; 6) mengembangkan strategi pembelajaran; 7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran; 8) mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif; dan 9) merevisi produk pembelajaran. Produk pengembangan berupa paket pembelajaran yang terdiri atas bahan ajar, panduan guru, dan panduan siswa diuji cobakan melalui evaluasi formatif yang meliputi beberapa tahap yaitu 1) review ahli isi materi; 2) review ahli media pembelajaran; 3) review ahli desain pembelajaran; 4) uji coba perorangan; 5) uji coba kelompok kecil; dan 6) uji coba lapangan. Data hasil evaluasi formatif berupa saran, tanggapan dan penilaian dari subjek uji coba digunakan sebagai masukan untuk merevisi dan menyempurnakan paket pembelajaran yang dihasilkan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa adanya paket pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi kelas VIII semester 2 dengan model Dick, Carey, dan Carey telah mampu meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Hal itu terlihat dari hasil pengujian efektivitas pembelajaran menggunakan uji t dari hasil pretest dan posttest yang diberikan kepada siswa menunjukkan nilai thitung = 64,510 > ttabel = 2,064 sehingga dapat dikatakan bahwa paket pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi kelas VIII di MTs Puspa Bangsa Banyuwangi tahun 2011 efektif.

Penggunaan teori belajar Van Hielle untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang / Agus Supriyono

 

Kata kunci: teori Van Hiele, meningkatkan hasil belajar, konsep segiempat Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada siswa kelas III SDN Lesanpuro 2 Kota Malang, pada waktu pembelajaran Matematika didapatkan fakta bahwa, pembelajaran yang dilakukan guru masih kurang maksimal, kesimpulan ini diperoleh dari kemampuan siswa dalam memahami unsur dan sifat-sifat bagun datar sederhana yang minim pada saat dilaksanakan tes awal , disamping itu sedikitnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran membuat siswa kurang aktif serta tanggap dalam pembelajaran, terlebih dimana dalam pembelajaran Matematika idealnya diajarkan sesuai dengan tahap berpikir anak. Dari serangkaian observasi yang dilakukan, dari prosentasi nilai yang didapat pada tes awal pada pembelajaran geometri menunjukkan rata-rata hasil evaluasi siswa hanya mencapai 2,5 %. Sedangkan KKM yang ditetapkan yaitu 65. Untuk itu agar dapat meningkatkan pemahaman geometri perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menrapkan teori belajar Van Hiele. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penggunaan teori belajar Van Hiele untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran geometri dengan menggunakan belajar Van Hiele tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang, dan, (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa dengan menerapkan teori belajar Van Hiele tentang geometri di kelas 3 SDN Lesanpuro 2 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian siswa kelas III SDN Lesanpuro 2 Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui peningkatan pemahaman belajar geometri melalui teori belajar Van Hiele pada siswa kelas III SDN Lesanpuro 2 Kota Malang materi memahami unsur dan sifat-sifat bagun datar sederhana, dapat dilaksnakan dengan efektif. KKM dari kemampuan memahami geometri yang diperoleh dari evaluasi belajar meningkat dari 80% pada siklus I meningkat menjadi 84% pada akhir siklus II. Berdasarkan hasil penelitan, dapat disarankan hendaknya guru menggnakan toeri Van Hiele dalam pembelajaran goemetri untuk lebih meningkatkan aktivitas, daya pikir dan hasil belajar siswa.

Kesalahan pembentukan kalimat pasif bahasa Jerman oleh mahasiswa angkatan 2008 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Agnes Gidha Ladja

 

Kata kunci: Kalimat, kalimat pasif, analisis kesalahan, pembentukan Gramatik atau tata bahasa mempunyai peranan penting dalam mempelajari bahasa Jerman karena merupakan tujuan utama, agar komunikasi antar satu sama lain dapat terjalin. Gramatik menunjukkan dan mendeskripsikan struktur sebuah bahasa dan bagaimana orang menggunakannya. Pembelajar, dalam hal ini mahasiswa tentu akan menggunakan gramatik sebagai landasan untuk mengungkapkan ide ke dalam bahasa tulis maupun lisan. Selain penggunaan gramatik, mahasiswa juga memperhatikan tiap kalimat yang dibuat, seperti kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat pernyataan, kalimat langsung dan tak langsung, dan juga kalimat aktif dan pasif. Kalimat pasif sangat mungkin digunakan dalam kalimat tanya dan kalimat berita. Sepintas pembentukan kalimat pasif sangatlah mudah, tetapi tidak pada kenyataannya. Mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam membentuk kalimat pasif bahasa Jerman yang benar. Hal tersebut dapat diketahui dengan ditemukan banyak kesalahan dalam hasil tes mahasiswa ketika membentuk kalimat pasif-kalimat pasif bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan mahasiswa angkatan 2008 Jurusan Sastra Jerman dalam membentuk kalimat pasif bahasa Jerman secara benar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari tes tertulis yang digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan mahasiswa menganalisis morfem bahasa Jerman. Sumber data adalah tes yang diberikan kepada mahasiswa angkatan 2008 offering AA sebanyak 17 orang yang menjadi subjek pada penelitian ini. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mahasiswa masih melakukan banyak kesalahan dalam membentuk kalimat pasif berdasarkan setiap kala / bentuk waktu, kalimat pasif dengan Modalverben, kalimat pasif tanpa subjek / subjektlose Passivsatz atau yang dikenal dengan Passiv mit der aktive-man Konstruktion. Kesalahan terbanyak dilakukan karena mahasiswa tidak memahami pembentukan kalimat pasif yang mengandung kata kerja Dativ. Berdasarkan hasil penelitian ini, mahasiswa disarankan untuk lebih bisa meningkatkan semangat belajar khususnya belajar materi Passivsatz yang mengandung kata kerja Dativ dan kalimat pasif dengan Modalverben. Selain itu, dosen juga diharapkan untuk mengajarkan materi Passivsatz secara lebih mendetail

Peningkatan pembelajaran IPA dengan penggunaan CD interaktif di kelas VI MIN Beji Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Ahmad Zamroni Lutfi

 

Kata kunci : Pembelajaran IPA, CD Interaktif, SD Kualitas pembelajaran IPA pada materi tata surya yang dilaksanakan di kelas VI MIN Beji Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan tergolong rendah. Dari 20 siswa, hanya 50% (10 siswa) yang mampu menguasai materi pembelajaran dengan nilai rata-rata kelas 62. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan: (1) Langkah-langkah penggunaan CD Interaktif pada mata pelajaran IPA materi tata surya pada siswa kelas VI MIN Beji, (2) Peningkatan aktivitas belajar siswa, dan (3) Peningkatan hasil belajar siswa. Pemecahan masalah dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif menggunakan CD Interaktif. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VI MIN Beji Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan semester II tahun pelajaran 2010-2011 yang berjumlah 20 anak. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini sebagai berikut: (1) Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dalam penelitian ini sebagai berikut: (a) Guru membagi siswa ke dalam 5 (lima) kelompok, (b) Tiap kelompok mendapat 1 (satu) unit komputer dengan program “Jelajah Antariksa”, (c) Guru menjelaskan cara mengoperasikan aplikasi “Jelajah Antariksa” dan teknik pencarian data, (d) Guru membagikan LKS, (e) Tiap kelompok melakukan presentasi, (f) Guru melaksanakan tes evaluasi, (g) Guru meminta kesan siswa, pemberian penghargaaan, dan PR, (2) Tingkat aktivitas belajar IPA siswa pada siklus I sebesar 70,85% dan pada siklus II sebesar 82.3% atau meningkat 11, 45%, (3) Hasil belajar IPA siswa pada siklus I memenuhi skor 68,6 dengan ketuntasan belajar 55% atau meningkat jika dibandingkan dengan hasil belajar pra penelitian sebesar 62 dengan ketuntasan belajar 50%. Pada siklus II, meningkat menjadi 71,8 dengan ketuntasan belajar 85% atau meningkat 30% jika dibandingkan siklus I dan memenuhi indikator keberhasilan penelitian, karena itu penelitian ini dinyatakan selesai. Peneliti menyarankan agar penggunaan CD Interaktif ini dapat diterapkan sebagai variasi pembelajaran di kelas agar siswa tidak merasa jenuh dalam dan menjadi aktif. Pada penelitian ini, masih ada 3 siswa (15%) yang belum tuntas belajar. Peneliti berharap kepada peneliti lain yang melaksanakan kegiatan penelitian melalui media pembelajaran yang sama agar meningkatkan hasil tersebut menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Upaya peningkatan aktivitas gerak siswa pada pembelajaran atletik nomor lari sprint 50 M melalui pendekatan bermain kelas V di SDN Ngembul III Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar / Arif Afandi

 

Kata Kunci: Aktivitas Gerak Siswa, Lari Sprint Atletik merupakan dasar dari berbagai cabang olahraga. Atletik telah diberikan kepada siswa sejak di sekolah dasar. Hal yang diperlukan dalam pembelajaran atletik adalah (1) waktu yang tersedia, (2) umur, kemampuan dan tingkat kedewasaan siswa, (3) ukuran kelas dan ruang yang tersedia, (4) alat dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran Penjaskes tujuan utama dalam keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam koordinasi, sehingga terwujud otomatisasi gerak jasmani. Lari sprint sebagai bagian dalam cabang atletik merupakan salah satu materi yang harus diberikan pada siswa. Tujuan Penelitian tindakan kelas ini adalah untuk Mengetahui apakah pendekatan bermain dapat meningkatkan Aktivitas Gerak Siswa Kelas V Dalam Pelajaran Penjasorkes Nomor Lari Sprint 50 M Di SDN Ngembul III Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar. Siswa memiliki Aktivitas Gerak tinggi dapat dipengaruhi dari segi rekayasa guru dalam menyusun desain pembelajaran yang menarik. Rekayasa dalam hal ini adalah suatu stimulus yang diberikan kepada siswa sehingga siswa merespon (Aktivitas Geraknya meningkat). Dengan meningkatnya Aktivitas Gerak siswa dalam pembelajaran diharapkan siswa memperoleh hasil yang optimal. Hasil pembelajaran inilah yang akan dibawa siswa dalam proses belajar sepanjang hayat. Berkaitan dengan itu, maka perlu diadakan penelitian dalam rangka peningkatan Aktivitas Gerak siswa terhadap lari sprint. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yaitu sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dan tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan Penelitian yang telah dilakukan telah sesuai dengan tujuan yaitu meningkatkan Aktivitas Gerak siswa terhadap atletik nomor lari sprint 50 m dengan pendekatan bermain. Hasil keseluruhan Aktivitas Gerak siswa adalah 100% yang termasuk dalam kategori baik. Pada penelitian ini diperoleh 2 kesimpulan sebagai berikut: (1) penerapan pendekatan bermain dan estafet pendular dapat meningkatkan Aktivitas Gerak siswa terhadap pembelajaran lari sprint 50 m. (2) penerapan pendekatan bermain dan estafet pendular memperbaiki keterampilan siswa dalam pembelajaran lari sprint 50 m sehingga nilai siswa memenuhi SKM yang ditentukan sekolah.

Penerapan model bermain engklek untuk meningkatkan kemampuan gerak dasar tumpuan dalam pembelajaran lompat jangkit pada siswa kelas V-A SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Lamongan / Cendika Bara Satyagraha

 

Kata kunci: Peningkatan, Kemampuan, Lompat Jangkit, Model Bermain Engklek. Salah satu materi yang dipelajari pada pendidikan jasmani yaitu atletik. Atletik adalah cabang olahraga yang meliputi jalan, lari, lompat, dan lempar. Salah satu materi atletik yang terdapat dalam standar kompetensi Sekolah Dasar kelas V adalah lompat jangkit. Lompat jangkit merupakan salah satu olahraga atletik nomor lompat dengan tiga tahap lompatan atau tumpuan yaitu hop-step-jump. Berdasarkan hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa penguasaan keterampilan lompat jangkit siswa kelas V-A SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Lamongan terdapat banyak kesalahan yaitu pada saat gerakan jingkat dan langkah. Dari permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu proses belajar mengajar yang sesuai dengan anak-anak sekolah dasar yaitu pembelajaran pendidikan jasmani melalui pendekatan bermain, yaitu model bermain engklek. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pembelajaran lompat jangkit pada siswa kelas V-A SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Lamongan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus di mana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V-A SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Lamongan. Hasil penelitian ini telah terbukti bahwa model bermain engklek mampu meningkatkan keterampilan siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I, gerakan jingkat yang pada awalnya siswa mengalami kesalahan sebanyak 70% berkurang menjadi 30%, pada siklus II berkurang menjadi 15%. Sedangkan pada gerakan langkah yang awalnya siswa mengalami kesalahan sebanyak 75% berkurang menjadi 25%, pada siklus II berkurang menjadi 10%. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan penguasaan keterampilan lompat jangkit, yaitu terlihat dari perbandingan antara hasil pada saat sebelum tindakan dan setelah dilakukan tindakan. Secara umum hasil tes pada siklus pertama mengalami peningkatan pada siklus kedua. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa aspek teknik jingkat dinyatakan tuntas karena sudah melewati batas keberhasilan tindakan dengan kategori baik yang memiliki rentang nilai yaitu 76-100%. Peneliti menyarankan kepada guru pendidikan jasmani hendaknya model permainan engklek disiapkan untuk siswa yang mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran lompat jangkit pada kelas lain.

Pengembangan bahan pembelajaran membaca intensif dengan penataan ulang kompetensi dasar di SMP/MTs kelas VII / Oppy Prismadewi

 

Kata Kunci: bahan pembelajaran, membaca intensif, penataan ulang kompetensi dasar Penataan ulang kompetensi dasar membaca intensif didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, kompetensi dasar membaca pada KTSP matapelajaran bahasa Indonesia SMP/ MTs kelas VII memiliki kesinambungan, akan tetapi penyusunan dalam standar isi belum menunjukkan kesinambungan tersebut. Kedua, urutan kompetensi dasar tidak harus sesuai dengan urutan dalam standar isi. Artinya urutan kompetensi dasar boleh diubah dan ditata sesuai dengan kebutuhan siswa. Ketiga, di dalam KTSP guru sebagai pengajar memiliki wewenang untuk mengembangkan sendiri materi pembelajaran, sehingga guru dapat menata kompetensi dasar yang diajarkannya. Keempat, adanya materi prasyarat belajar yang menuntut penguasaaan materi dasar tertentu untuk menguasai materi selanjutnya karena pada dasarnya orang belajar setahap demi setahap. Penyusunan bahan pembelajaran ini dilakukan setelah kompetensi dasar membaca intensif yang serumpun ditata ulang. Kompetensi dasar membaca intensif yang ditata ulang yaitu (1) menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit, (2) menceritakan kembali cerita anak yang dibaca, (3) menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca. Penataan ulang kompetensi dasar membaca intensif dimulai dari kompetensi dasar yang mudah menuju kompetensi dasar yang sulit, yaitu (1) menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca, (2) menceritakan kembali cerita anak yang dibaca, dan (3) menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit. Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk berupa bahan pembelajaran Membaca Intensif untuk SMP/ MTs Kelas VII. Pengembangan produk dilakukan dengan menata kompetensi dasar terlebih dahulu, kemudian mengembangkannya menjadi bahan pembelajaran dengan mengadaptasi mode pengembangan Pannen dan Purwanto, yaitu melalui tahap (1) menentukan tujuan instruksional, (2) melakukan analisis terhadap KTSP, pandangan ahli, dan teoriteori, (3) menentukan perilaku siswa, (4) menyusun bahan pembelajaran, (5) uji coba produk, dan (6) revisi. Uji coba produk dalam penelitian ini dilakukan kepada ahli, guru, dan siswa. Ahli yang dipilih untuk memvalidasi bahan pembelajaran adalah (1) Dr. H. Nurhadi, M.Pd, dan (2) Masnur Muslich, M.Si. Guru dan siswa yang mengujicobakan bahan pembelajaran ini adalah guru bahasa Indonesia Kelas VII, yaitu Bernadin Nila Kusuma, S.Pd dan sebelas siswa kelas VII B di SMP N 13 Malang. Hasil uji coba bahan pembelajaran berupa skor nilai dan komentar. Ratarata hasil skor penilaian aspek isi oleh ahli sebesar 87,5%, guru sebesar 100%, dan siswa sebesar 93,18%. Dari perolehan persentase tersebut, aspek isi bahan pembelajaran sudah baik akan tetapi masih diperlukan revisi di beberapa bagian. Rata-rata hasil skor penilaian aspek penyajian oleh ahli sebesar 93,63%, guru sebesar 100%, dan siswa sebesar 86,36%. Dari perolehan persentase tersebut, aspek penyajian bahan pembelajaran sudah baik, akan tetapi masih diperlukan revisi di beberapa bagian.. Rata-rata hasil skor penilaian aspek bahasa oleh ahli sebesar 87,5%, guru sebesar 100%, dan siswa sebesar 93,18%. Dari perolehan persentase tersebut, aspek bahasa bahan pembelajaran sudah baik, akan tetapi masih diperlukan revisi di beberapa bagian. Rata-rata hasil skor penilaian aspek tampilan (kegrafikaan) oleh ahli sebesar 93,75%, guru sebesar 81,25%, dan siswa sebesar 84,84%. Dari perolehan persentase tersebut, aspek tampilan (kegrafikaan) bahan pembelajaran sudah baik, akan tetapi masih diperlukan revisi di beberapa bagian. Selain penilain beripa skor, ahli dan guru juga memberikan komentar dan saran terhadap perbaikan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan pembelajaran yang telah memenuhi kriteria kelayakan untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran di kelas. Kriteria kelayakan tersebut mencakup empat aspek, yaitu (1) deskripsi isi, (2) penyajian, (3) bahasa, dan (4) tampilan (kegrafikaan) di dalam bahan pembelajaran. Selain itu, di dalam penyusunan bahan pembelajaran juga memperhatikan penataan ulang kompetensi dasar. Hal ini dimaksudkan agar siswa dalam menggunakan bahan pembelajaran runtut. Bahan pembelajaran yang dihasilkan terdiri atas tiga bab, yaitu Pelajaran 1, Pelajaran 2, dan Pelajaran 3 yang susunannya telah runtut dimulai dari yang mudah ke sulit. Setiap bab memuat (1) materi dan dasar teori, (2) contoh, (3) latihan, (4) penugasan, (5) rangkuman, dan (6) latihan kompetensi. Bahan pembelajaran memiliki langkahlangkah pembelajaran yang jelas dan terpandu sehingga memudahkan siswa dalam belajar, baik secara mandiri maupun dengan bimbingan guru. Saran dalam penelitian ini adalah agar bahan pembelajaran ini dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Bahan pembelajaran ini berfungsi untuk memudahkan guru dalam mengajar dan memudahkan siswa dalam belajar. Mengingat bahan pembelajaran tersebut sangat bermanfaat untuk proses pembelajaran, peneliti memberikan saran agar diadakan penelitian lanjutan terutama yang terfokus pada penataan ulang kompetensi dasar pada keterampilan bahasa yang lain sehingga semakin banyak alternatif bahan pembelajaran yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran di kelas.

Hubungan pengendalian diri dan kecenderungan perilaku konsumtif pada remaja akhit putri / Astria Wardani Nanda Sari

 

Kata kunci: pengendalian diri, kecenderungan perilaku konsumtif, remaja akhir putri. Pengendalian diri merupakan kemampuan berfikir rasional untuk mengendalikan emosi dan mengatur tingkah laku impulsif. Permasalahan yang timbul pada remaja akhir putri terkait dengan peningkatan penampilan dalam memenuhi persiapan masa dewasa, banyaknya sejumlah mall, pusat perbelanjaan maupun expo atau yang lebih dikenal dengan bazar yang menawarkan barang-barang shopping goods mempermudah remaja akhir putri untuk memiliki kecenderungan perilaku konsumtif.. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengendalian diri remaja akhir putri, mengungkap kecenderungan perilaku konsumtif remaja akhir putri, dan mengungkap hubungan pengendalian diri dan kecenderungan perilaku konsumtif pada remaja akhir putri. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara pengendalian diri dan kecenderungan perilaku konsumtif pada remaja akhir putri. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian deskripsi korelasional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel yang digunakan adalah 55 remaja akhir putri dengan karakteristik mahasiswa mandiri dan reguler fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, berjenis kelamin perempuan, dan belum bekerja. Instrumen penelitian ini adalah skala pengendalian diri dan skala kecenderungan perilaku konsumtif. Skala pengendalian diri memiliki nilai validitas 0,0373-0,745dengan reliabilitas 0,720. Skala kecenderungan perilaku konsumtif memiliki nilai validitas 0,409-0,719. Hasil penelitian pada remaja akhir putri menunjukkan 12,73% memiliki tingkat pengedalian diri tinggi, 67,27% memiliki tingkat pengendalian diri sedang, 20% memiliki tingkat pengendalian diri rendah. dan 9,09 memiliki kecenderungan perilaku konsumtif tinggi, 72,73% memiliki kecenderungan perilaku konsumtif sedang, 18,18% memiliki kecenderungan perilaku konsumtif rendah. Ada hubungan negatif antara pengendalian diri dan kecenderungan perilaku konsumtif pada remaja akhir putri (r =-0,403): nilai p=0,002 dengan taraf signifikansi < 0,05). Saran yang bisa disampaikan untuk penelitian selanjutnya dengan mengembangkan populasi dan jumlah sampel serta mengembangkan alat tes yang mampu mengukur lebih mendalam sehingga dapat tercapai hasil yang optimal dan representatif.

Perbedaan persepsi keefektifan komunikasi antara ibu dan anak dalam keluarga berdasarkan status pekerjaan ibu / Sartika Primastidya

 

Kata kunci : persepsi, komunikasi, ibu, anak, status pekerjaan ibu. Komunikasi yang efektif penting untuk mencegah terjadinya masalah dalam keluarga dan menjaga keharmonisan keluarga. Masalah dalam keluarga bisa terjadi karena perbedaan persepsi antara ibu dan anak mengenai komunikasi yang terjalin di antara mereka. Selain itu, penting untuk mengetahui juga pengaruh status pekerjaan ibu terhadap komunikasi yang terjalin antara ibu dan anak. Komunikasi yang efektif penting pada ibu yang bekerja maupun tidak bekerja karena masing-masing memiliki problema komunikasi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan komunikasi efektif antara ibu dengan anaknya. Selain itu, penelitian ini dilakukan pula untuk mengetahui perbedaan komunikasi efektif ibu dengan anaknya antara ibu yang bekerja dan tidak bekerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Penelitian deskriptif bertujuan memilah dan mengelompokkan informasi menjadi lebih bermakna dalam mendeskripsi suatu fenomena. Penelitian komparatif bertujuan menemukan perbedaan tentang objek tertentu atau perubahan pandangan orang terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Subjek penelitian ini adalah ibu dan anak. Setiap ibu yang dijadikan responden maka salah satu anak kandungnya juga akan menjadi responden untuk menjawab instrumen. Teknik pengambilan sampel adalah Snowball Sampling dimana peneliti menemui seseorang dalam suatu daerah yang dapat membantu untuk menemukan subjek penelitian yang lebih banyak. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala persepsi ibu mengenai keefektifan komunikasi ibu-anak dalam keluarga dan skala persepsi anak mengenai keefektifan komunikasi ibu-anak dalam keluarga. Skala memiliki persamaan indikator tapi memiliki item yang berbeda. Analisis datanya menggunakan formula analisis varian satu jalur (One Way Anova). Melalui hasil analisis varian satu jalur diperoleh signifikansi 0.000<0.05 untuk hipotesis pertama yang berarti ada perbedaan antara persepsi komunikasi efektif ibu dan anak. Ibu dan anak memiliki faktor kebutuhan dan komunikasi efektif ideal yang berbeda dalam berkomunikasi. Ibu cenderung membutuhkan komunikasi yang dapat menjaga, dan melindungi anak sedangkan anak membutuhkan komunikasi yang nyaman dan menyenangkan. Hipotesis kedua menghasilkan signifikansi 0.607>0.05 yang berarti tidak ada perbedaan antara persepsi komunikasi efektif ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja. Hipotesis ketiga menghasilkan signifikansi 1>0.05 yang berarti tidak ada perbedaan antara persepsi komunikasi efektif anak yang ibunya bekerja dan anak yang ibunya tidak bekerja. Kasih sayang ibu yang begitu besar dan adanya kesadaran akan tanggung jawab untuk membimbing dan mendidik anak membuat ibu tetap dapat menjalankan komunikasi efektif dan anak tetap dapat merasakannya.

Minat dan motivasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman angkatan 2009 Jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang terhadap profesi guru bahasa Jerman / Muhammad Basthomi Ali Hasda

 

Kata Kunci: minat, motivasi, profesi guru bahasa Jerman Minat merupakan salah satu sumber motivasi yang sangat dibutuhkan untuk memberikan semangat dan mewujudkan suatu tujuan yang diinginkan dengan hasil yang memuaskan. Oleh karena itu minat mempunyai kaitan yang sangat erat dengan motivasi. Motivasi adalah daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Kedua hal tersebut saling berkaitan dalam memengaruhi keberhasilan mahasiswa jurusan bahasa Jerman untuk menjadi guru bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat dan motivasi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Jurusan Sastra Jerman angkatan 2009 terhadap profesi guru bahasa Jerman. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah hasil angket kuesioner mahasiswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket, sedangkan sumber data penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan bahasa Jerman angkatan 2009 yang berjumlah 57 mahasiswa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teknik analisis kualitatif. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan, bahwa sebanyak 25 mahasiswa (43,8%) memiliki minat dan motivasi terhadap profesi guru bahasa Jerman. Sebanyak 32 mahasiswa (56,1%) tidak berminat dan termotivasi terhadap profesi guru bahasa Jerman. Sebanyak 6 mahasiswa (7%) dari total 57 mahasiswa berminat dan termotivasi mulai sejak dini untuk menjadi guru bahasa Jerman, sedangkan sebanyak 25 mahasiswa (43,8%) dari 57 mahasiswa menyatakan berminat dan termotivasi untuk menjadi guru di masa mendatang. Hal ini dikarenakan mahasiswa angkatan 2009 masih belum menempuh matakuliah ilmu keguruan, sehingga hal ini berpengaruh pada keinginan mereka untuk menjadi guru bahasa Jerman. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada lembaga pendidikan (jurusan sastra Jerman) agar menyediakan dosen sebagai konselor yang bertugas untuk memberikan informasi pentingnya bahasa Jerman dan peluang kerja guru bahasa Jerman. Hal itu bisa menumbuhkan minat dan motivasi mahasiswa terhadap guru bahasa Jerman.

Peningkatan hasil belajar bangun ruang melalui teori belajar Van Hiele pada siswa kelas V SDN Sumbersari 2 Malang / Bayu Tatag Prasetyono

 

Kata kunci: Van Hielle, Bangun Ruang, SD. Hasil tes awal siswa kelas V SDN sumbersari 2 Malang sebelum menerapkan teori Van Hielle pada materi bangun ruang keseluruhan siswa belum mencapai KKM. Hal tersebut disebabkan karena siswa kelas V SDN Sumbersari 2 belum memahami sifat bangun ruang. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa pada materi sifat-sifat bangun ruang yaitu dengan menerapkan teori Van Hielle. Teori Van Hielle merupakan teori yang mampu menjebatani perbedaan karakteristik siswa yang berada pada tahap operasional konkret dengan karakteristik matematika yang bersifat abstrak. Terdapat lima tingkatan pada teori Van Hielle, yaitu (1) tahap pengenalan, (2) tahap analisis, dan (3) tahap pengurutan, (5) tahap deduksi, (6) tahap akurasi. Dalam penerapan pada pembelajaran teori Van Hielle juga memiliki 5 fase, yaitu (1) fase informasi, (2) fase orientasi lansung, (3) fase penjelasan, (4) fase orientasi bebas, (5) fase integrasi. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan teori Van HIelle dalam pembelajaran sifat bangun ruang pada siswa kelas V SDN Sumbersari 2 Malang. Selain itu mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan teori Van Hielle untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar keliling bangun datar pada siswa kelas V SDN Sumbersari 2 Malang Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan jenis penelitiannya Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini yaitu seorang guru kelas V dan seluruh siswa kelas V SDN Sumbersari 2 Malang. Adapun prosedur dalam penelitian ini yaitu (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi dan Evaluasi, (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman dokumentasi, (3) LKS, (4) soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan teori Van Hiele dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Peningkatan rata-rata kelas keaktifan siswa dari siklus I dengan nilai 2,73 meningkat menjadi 2,99 atau meningkat sebesar 6,50 %. Sedangkan peningkatan ketuntasan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu berturut-turut dari pra tindakan tidak ada yang mencapai ketuntasan minimum, pada siklus I siswa yang mencapai ketuntasan minimum meningkat menjadi 21,05% dan pada siklus II meningkat 31,58% dari siklus I.

Kesalahan penggunaan relativsatz mahasiswa angkatan 2008 pada mata kuliah aufsatz II / Syamsurijal

 

Kata kunci: Kesalahan Penggunaan, Relativsatz, Aufsatz II Dibandingkan dengan bahasa Indonesia, bahasa Jerman tentu saja memiliki aturan-aturan yang berbeda, karena pada hakikatnya setiap bahasa mempunyai aturan masing-masing. Karena perbedaan aturan-aturan bahasa inilah, mahasiswa mengalami kesulitan yang menyebabkan munculnya kesalahan, baik dalam bahasa tulis maupun bahasa lisan. Salah satu kesalahan yang muncul dalam bahasa Jerman adalah kesalahan penggunaan Relativsatz. Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kesalahan penggunaan Relativsatz yang muncul pada mahasiswa angkatan 2008 dalam mata kuliah Aufsatz II. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa dalam penggunaan Relativsatz. Hasil penelitian ini akan memberikan gambaran mengenai kesulitan mahasiswa dalam penggunaan Relativsatz sehingga para dosen mengetahui kemungkinan yang harus dilakukan untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang offering B angkatan 2008. Adapun data dalam penelitian ini adalah kalimat yang mengandung unsur Relativsatz dari seluruh karangan mahasiswa. Instrumen yang digunakan terbagi atas dua bagian, yaitu peneliti sebagai instrumen utama, dan tabel berfungsi sebagai instrumen pembantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat cukup banyak kesalahan penggunaan Relativsatz yang dilakukan mahasiswa dalam karangan mereka, terutama dalam hal penempatan kata kerja, penggunaan Relativpronomen dalam kasus Nominativ, Akkusativ, dan Dativ, serta kesalahan peletakan posisi klausa relativ. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah karena kelalaian mahasiswa itu sendiri dan kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap materi Relativsatz. Oleh karena itu, disarankan kepada dosen untuk mengenalkan serta membahas materi Relativsatz kepada mahasiswa secara lebih jelas lagi dan mahasiswa hendaknya mempelajari kembali buku gramatik tentang Relativsatz Relativsatz. Mahasiswa juga sebaiknya lebih sering melakukan latihan dan berkonsentrasi dalam menggunakan Relativsatz untuk memperlancar kemampuan mereka baik lisan maupun tulisan. Selain itu, mahasiswa disarankan untuk bersikap lebih mandiri dan pro aktif, artinya mempelajari bahasa Jerman tidak hanya mengandalkan informasi dari dosen saja, tetapi juga dengan belajar dari sumber lain, seperti buku, teman, internet, dan lainlain. , agar mereka dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menggunakan

Peningkatan kemampuan menyimak dongeng dengan metode mind map melalui media animasi audiovisual kelas VII F MTs Lumajang / Luly Zahrotul Lutfiyah

 

Kata Kunci: kemampuan menyimak, pembelajaran menyimak, metode mind map melalui media animasi audiovisual, peningkatan kemampuan menyimak Menyimak mempunyai peranan penting karena menyimak merupakan dasar untuk menguasai kemampuan berbahasa lainnya. Oleh karena itu, penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran kemampuan menyimak dapat tercapai. Kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran menyimak masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di MTsN Lumajang, kemampuan menyimak siswa masih rendah dan belum mencapai nilai standar yang ditetapkan sekolah tersebut terutama pada kemampuan menyimak hal-hal menarik dari dongeng yang diperdengarkan. Berdasarkan alasan tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam meningkatkan kemampuan menyimak dongeng, (2) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam menentukan hal menarik dari unsur dongeng yang meliputi(tokoh,watak, latar dan tema), (3) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam menunjukkan hal menarik tentang relevansi tema dengan situasi sekarang, (4) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam menentukan hal menarik dalam dongeng dengan alasan yang logis, (5) mendeskripsikan penerapan metode mind map melalui media animasi audiovisual dalam meningkatkan kemampuan menyimpulkan pesan dongeng. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, (3) tes, (4) dokumentasi, dan (5) catatan Lapangan. Metode Pembelajaran mind map melalui media animasi audiovisual dapat meningkatkan kemampuan menyimak dongeng siswa kelas VII F MTsN Lumajang. Berdasarkan hasil evaluasi siklus 1 dan siklus 2 dapat dibuktikan perolehan skor kumulatif terjadi peningkatan dan masing-masing aspek juga terjadi peningkatan kecuali pada aspek kemenarikan relevansi dongeng. Aspek pemahaman isi pada siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 82% dan siklus 2 sebesar 90% . Aspek kemenarikan unsur dongeng pada siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 34% dan siklus 2 sebesar 51%, aspek kemenarikan relevansi dongeng siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 62% dan siklus 2 54%, aspek mengungkapan hal-hal menarik dalam dongeng dengan alasan yang logis pada siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 74% dan siklus 2 sebesar i ii 87%, aspek kesimpulan pesan dongeng siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 75% dan siklus 2 sebesar 79%, dan skor kumulatif siswa siklus 1 memperoleh persentase skor sebesar 72% dan siklus 2 sebesar 80%. Pada hasil observasi juga terjadi peningkatan, secara umum kondisi pembelajaran cukup kondusif. Situasi kelas dapat dikendalikan, siswa merasa senang dengan metode mind map dan VCD dongeng yang digunakan sebagai media untuk menyimak dongeng. Minat siswa dalam mengikuti kegiatan menyimak dongeng cukup besar. Hal-hal yang disarankan untuk peneliti selanjutnya sebaiknya meneliti penerapan metode pembelajaran mind map dalam upaya untuk meningkatkan aspek afektif siswa. Bagi guru Bahasa Indonesia hendaknya menerapkan metode pembelajaran mind map melalui media animasi audiovisual sebagai variasi metode pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti pembelajaran.

Pengaruh doping ion Sr2+ terhadap struktur kristal dan sifat histerisis E-P pada senyawa Ba(1-x)Sr(x)TiO3 / Putri Agustining Rahayu

 

Kata Kunci: Ferroelektrik, Struktur kristal, Histerisis, Ba(1-x)Sr(x)TiO3 Ferroelektrik adalah bahan dielektrik yang mempunyai kemampuan mengubah polarisasi internalnya dengan menggunakan medan listrik yang sesuai. Barium Strontium Titanate (BaSrTiO3) merupakan salah satu senyawa ferroelektrik yang mempunyai struktur perovskite. BST sangat potensial untuk digunakan pada aplikasi devais karena memiliki dielektrisitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur kristal dan sifat histerisis bahan ferroelektrik Barium Strontium Titanate pada berbagai variasi doping. Pada penelitian ini bahan dasar yang digunakan adalah SrCO3 (99,99%), TiO2 (99,99%), BaCO3 (99,99%). Sampel disintesis dengan metode reaksi padatan (solid state reaction), dikalsinasi pada suhu 600ºC selama 2 jam dan disinterring pada suhu 1150ºC selama 5 jam dengan variasi molar x=0; x=0,025; x=0,05; x=0,075; dan x=0,1. Sampel ditentukan kurva histerisisnya dengan menggunakan rangkaian sawyer tower pada suhu ruang. Karakterisasi sampel menggunakan Difraksi Sinar-X (XRD) dan dianalisis menggunakan program GSAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi doping menyebabkan perubahan struktur yang ditunjukkan dengan adanya perubahan parameter kisi a, b, c, dan volume kristal. Hasil analisis sifat histerisis menunjukkan bahwa sampel dengan x=0,075 dan x=0,1 memiliki polarisasi remanen dan medan koersif listrik tertinggi dari semua sampel penelitian.

Using computer based British Council's short stories to improve reading comprehension for the eight graders of MTs Hamid Rusydi Malang / Yeni Nurhayati Setyo Rahayu

 

Unpublished thesis Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang, Advisors (i) Dr. Arwijati W. M, DipTESL., M.Pd, (ii) Dr. Sri Rachmajanti, DipTESL., M.Pd Key words: computer-based British Council's Short Stories, reading comprehension. The objective of the study is to examine and describe how British Council‘s short stories can improve the reading comprehension ability of the eighth graders of MTs Hamid Rusydi Malang. Based on the preliminary study, the students cannot find the topic of the paragraph or the text, they need a long time to answer comprehension questions, and the result of the reading test in preliminary study was still poor and low. The researcher wants to improve their achievement by using Computer Based British Council's short stories applying the story mapping. The problem in this research is "How can the use of Computer Based British Council's short stories improve the reading comprehension of the eighth graders of MTs Hamid Rusydi Malang?" This study employed collaborative classroom action research, in which the teacher and the collaborator worked together in planning, implementing the action, observing the action and reflecting the action. The subjects of this research were 25 students 2010/2011 academic year. This research was done in two cycles with some steps: planning, implementing, observing the action and reflecting. Referring to the findings of the research, the percentage of the improvement of the reading comprehension ability in cycle 1 is 60% and in cycle 2 is 88%. The activities in computer based British Council's short stories have improved the students' achievement and based on the result of observation checklists make them more active. They enjoyed the teaching and learning activities through the implementation of Computer Based British Council's Short Stories. So, it is suggested that the English teachers of other schools should implement the Computer-Based British Council's Short Stories in reading comprehension if their class has the same problem as the eighth graders of MTs Hamid Rusydi Malang. Future researchers can conduct the research about Computer-Based British Council's Short Stories in teaching language skills and language components with different text. Although most of the student s could finish it on time the future researchers should manage the time effectively, use on line dictionary, Encarta dictionary and use another story map to save the time.

The teaching of English at SMP Negeri 10 Malang / Basori

 

Keywords: teaching English, teaching technique This study was intended to investigate and describe the kinds of teaching techniques used by the English teachers in teaching English and the English teachers’ perceptions on the use of teaching techniques in teaching English at SMP Negeri 10 Malang. The design of the study was descriptive qualitative research. The research was conducted in SMP Negeri 10 Malang which is located at Jl. Mayjend Sungkono No. 57 Malang, East Java. The researcher meant to involve all the English teachers from all grades as the subject of the study but because of some practical reason, only three teachers participated as the subjects of the study. The study was conducted on 28th of February – 2nd of April 2011. The researcher used interview and observation for data collection and also used some supplementary documents as supporting data so that the researcher could get the valid data. Having analyzed the data, the researcher found that teachers in SMP Negeri 10 Malang used three-phased technique in teaching English. This technique is actually more about the division stages in the process of teaching learning, namely pre-activity, main or whilst activity, and ended by post activity. In every stage, the teachers did some activities which vary from teaching one skill to others particularly in the main activities. The goal of the technique used in SMP Negeri 10 Malang was aimed overall to motivate the students to study English. Furthermore, the activities were modified so that they could handle the lack of facilities in order to run the teaching and learning process well. Together with that reasons, every single activity used implies many reasons why they were used in teaching English. It is suggested that (1). Teachers learn more about various techniques in teaching English, (2). Teachers use more kinds of media in the process of teaching learning as a part of consideration as it improves the quality of teaching and learning, (3). The variations of activities particularly in each phase be used to avoid students’ boredom.

Listening materials for the tenth grade students of MA Miftahul Huda Purwosari Pasuruan / Mufidah Inayati

 

Thesis, State University of Malang, Graduate Program in English Language Teaching. Advisors: (I) Prof. H. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D (II) Dr. Arwijati Murdibjono, Dip TESL., M.Pd Key words: Listening materials The unavailability of teaching materials for listening skill that are suitable with the characteristics and the need of the students, makes the process and the result of English teaching, especially for listening skill in MA Miftahul Huda Purwosari Pasuruan not good. The teachers teach listening in a very small frequency and the students’ ability in listening was very low. The students’ problem in listening to English is identifying what words are being spoken. Their problem in understanding spoken English was influenced by their ability in pronouncing English words which was very poor. Most of the students could not pronounce English words correctly. This study aims at developing listening materials for the tenth grade students of MA Miftahul Huda Purwosari Pasuruan. The result of the study is expected to give valuable significances for the school, the English teachers, the students, and the future researchers, in the effort of improving the quality of English Language Teaching. This study adapted the procedures of Research and Development by Borg and Gall (1983) with the following steps (1) needs survey, (2) planning, (3) material development, (4) expert validation, and (5) field testing. Before becoming final product, the proto type of the product has passed revisions based on the expert validation and revisions based on the finding in the field testing. The final product of the study is a package of listening materials for the tenth grade students of MA Miftahul Huda which consists of three parts namely students’ book, teacher’s book and recorded materials in the form of CD. The students’ book contains 12 topics namely (1) expressions of introducing, meeting, and parting, (2) past experiences, (3) invitation and appointment, (4) stories, (5) expressions of sympathy, affection, and happiness (6) announcement and advertisement, (7) instructions, (8) expressions of congratulating and complimenting, (9) description, (10) expressions of gratitude, (11) news, and (12) expressions of surprise and disbelief. Each topic has three kinds of activities namely warm-up, main-activity, and follow-up. The teacher’s book contains suggested teaching techniques for each topic in the materials, listening scripts, and answer keys. The product has a special characteristic, which is the availability of “listen and repeat activity”. The activity is provided to give the students good model of pronunciation.

Pengaruh penggunaan modul pembelajaran learning cycle-5E untuk materi kelarutan (s) dan hasil kali kelarutan (Ksp) pada siswa kelas XI semester 2 MAn 3 Malang terhadap hasil belajar / Binti Afifah

 

Kata kunci: modul pembelajaran, model Learning Cycle -5E, kelarutan (s) dan hasil kali kelarutan (Ksp) Keberhasilan suatu pembelajaran dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan belajar siswa secara mandiri, sehingga pengetahuan yang dikuasai siswa adalah hasil belajar yang dilakukannya sendiri. Kenyataan di sekolah menunjukkan bahwa kemampuan belajar siswa secara mandiri masih cukup rendah, oleh karena itu model pembelajaran hendaknya menciptakan dan menumbuhkan keaktifan siswa. Salah satu model pembelajaran yang mendukung hal tersebut yaitu model learning cycle -5E. Keterlaksanaan model pembelajaran yang efektif dan efisien tergantung pada sumber belajar yang relevan. Salah satu sumber belajar yang dapat digunakan adalah bahan ajar yang berupa modul dengan pembelajaran model LC -5E. Penelitian-penelitian terdahulu, menunjukkan bahwa penerapan modul pembelajaran mampu meningkatkan prestasi/hasil belajar dari peserta didik. Hanafi (2008) dalam sikripsinya menyatakan bahwa, ketuntasan belajar pada pembelajaran menggunakan modul 94,12% sedangkan pada pembelajaran tanpa modul 55,88% Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penggunaan modul dengan pembelajaran model LC -5E pada materi Kelarutan (s) dan Hasil Kali Kelarutan (Ksp) pada siswa MAN 3 Malang kelas XI Semester 2. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimental semu (Quasy Experimental Design). Rancangan penelitian yang dipilih adalah model desain postest only control group design. Untuk mengetahui Persepsi siswa dan validasi empirik terhadap penggunaan modul selama proses pembelajaran pada siswa kelas XI MAN 3 Malang digunakan rancangan deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa digunakan tes yang terdiri dari soal objektif dan subjektif, presepsi siswa terhadap modul pembelajaran digunakan angket tertutup dan terbuka. Analisis data hasil eksperimen terdiri atas analisis data awal berupa uji normalitas, uji homogenitas dan uji-t dan analisis data akhir berupa uji normalitas, uji homogenitas, dan pengujian hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji-t 2 pihak dengan α= 0,05 tidak terdapat perbedaan prestasi belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran learning cycle -5E berbantuan modul dengan rata-rata sebesar 82,32 dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran learning cycle -5E berbantuan LKS dengan rata-rata sebesar 77,15. Berdasarkan hasil angket, siswa memberikan respon sangat positif terhadap penerapan model pembelajaran learning cycle -5E berbantuan modul yakni 76,32%, Artinya penggunaan modul pembelajaran tersebut efektif dalam meningkatkan proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari nilai kuis, nilai afektif dan psikomotor siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran learning cycle 5 E berbantuan modul lebih tinggi daripada yang dibelajarkan dengan model pembelajaran learning cycle -5E berbantuan LKS.

Hubungan antara sistem pembelajaran dan kepuasan siswa di lembaga bimbingan belajar Bina Evaluasi Siswa Terpadu (BEST) Kediri / Riski Atma Wisesa

 

Kata kunci: sistem pembelajaran, kepuasan siswa Sistem pembelajaran adalah suatu aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Sistem pembelajaran di Lembaga Bimbingan Belajar meliputi dimensi siswa, tujuan, metode, media, strategi pembelajaran, evaluasi, dan umpan balik. Sedangkan kepuasan siswa adalah suatu keadaan dimana derajat keinginan, harapan dan kebutuhan siswa terpenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan apabila pelayanan tersebut dapat memenuhi derajat kebutuhan dan harapan siswa. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah tingkat kualitas sistem pembelajaran di Lembaga Bimbingan Belajar Bina Evaluasi Siswa Terpadu, (2) bagaimanakah tingkat kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar Bina Evaluasi Siswa Terpadu, dan (3) apakah terdapat hubungan antara kualitas sistem pembelajaran (siswa, tujuan, metode, media, strategi pembelajaran, evaluasi, umpan balik) dan kepuasan siswa di Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui tingkat kualitas sistem pembelajaran di Lembaga Bimbingan Belajar Bina Evaluasi Siswa Terpadu, (2) untuk mengetahui tingkat kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar Bina Evaluasi Siswa Terpadu, dan (3) untuk mengetahui adakah hubungan yang signifikan antara kualitas sistem pembelajaran (siswa, tujuan, metode, media, strategi pembelajaran, evaluasi, umpan balik) dan kepuasan siswa di Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu dengan menggunakan penelitian deskriptif korelasional dengan analisis korelasi product moment. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa Lembaga Bimbingan Belajar BEST yang berjumlah 250 orang siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan tabel Krejcie & Morgan. Sampel diambil sebanyak 152 orang siswa. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel yaitu menggunakan teknik proportional random sampling. Berdasarkan analisis data yang diperoleh bahwa ada hubungan yang signifikan antara kualitas sistem pembelajaran dengan kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri. Hal ini terbukti dari analisis product moment diperoleh harga sebesar 0,643 dengan harga pada taraf signifikasi 0,05 atau 5% dengan N = 152 responden yaitu sebesar 0,159. Dengan demikian diketahui bahwa lebih besar dari yaitu 0,643 > 0,159 atau sig.2 tailed hitung 0,000 < 0,05. Berdasarkan analisis data tersebut berarti ada hubungan yang kuat dan signifikan antara kualitas sistem pembelajaran dengan tingkat kepuasan siswa di Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri. Tingkat keeratan antara kualitas sistem pembelajaran dengan kepuasan siswa yaitu sebesar 64,3% dan 35,7% sisanya dipengarui oleh hal-hal lain. Kesimpulan yang diperoleh adalah: (1) kualitas sistem pembelajaran di Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri termasuk pada kualifikasi baik (2) kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri termasuk pada kualifikasi sangat tinggi, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas sistem pembelajaran dengan kepuasan siswa Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini diantaranya, bagi: (1) Siswa, dengan sistem pembelajaran yang baik hendaknya siswa mampu belajar dengan baik dan dapat meraih prestasi yang membanggakan, (2) Pimpinan Lembaga Bimbingan Belajar BEST Kediri, sebagai bahan informasi, referensi, dan evaluasi kerangka acuan strategis dalam menambah sumber ilmu pengetahuan dan pencapaian tujuan-tujuan yang belum sempat terjangkau agar lebih berkualitas dan mampu menghasilkan lulusan yang cerdas, berdaya guna dan mampu bersaing diera global dalam kancah internasional secara optimal sehingga akuntabilitas pendidikan di Indonesia semakin membaik, (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, untuk menambah referensi khususnya yang berhubungan dengan kualitas sistem pembelajaran dan juga kepuasan siswa sehingga bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang sistem pembelajaran dapat melihat referensi yang ada, dan (4) Peneliti lain, diharapkan mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai sistem pembelajaran dan kepuasan siswa dengan menambah kajian variabel yang lain sekiranya dapat mempengarui kepuasan siswa. Variabel lain yang direkomendasikan misalnya: hubungan antara kualitas sistem pembelajaran dengan prestasi siswa.

Perbedaan sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang konform dan remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang / Nadia Enfika Larasati

 

Kata Kunci : Sikap Terhadap Alasan Merokok, Konformitas Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku merokok, namun para perokok seakan tetap saja tidak peduli terhadap ancaman yang dapat menyiksanya dan bahkan dapat merenggut nyawanya. Jumlah orang yang merokok semakin lama semakin muda. Banyak hal yang melatar belakangi seseorang berperilaku merokok pada remaja. Menurut para remaja mempunyai alasan yang berbeda dalam merokok, antara lain disebabkan oleh faktor-faktor dalam diri sendiri (internal) dan faktor lingkungan (eksternal). Ini juga yang menyebabkan remaja mempunyai sikap yang berbeda terhadap alasan merokok. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengungkapkan: (1) sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang, (2) sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang, (3) sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang konform dan remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang. Desain yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Sikap Terhadap Alasan Merokok diukur dengan skala sikap terhadap perilaku merokok dan konformitas diukur dengan skala perilaku konformitas. Subyek penelitian adalah 82 remaja di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sikap Terhadap Alasan Merokok Pada Remaja yang Konform Di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang memiliki sikap dalam kategori cukup mendukung, (2) sikap Terhadap Alasan Merokok Pada Remaja yang Tidak Konform Di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang meiliki sikap dalam kategori cukup mendukung, dan (3) ada perbedaan sikap terhadap perilaku merokok pada remaja yang konform dan remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak pondok pesantren agar memberikan penyuluhan dan menyampaikan informasi yang efektif tentang bahaya merokok, dan memberikan pengawasan yang lebih bagi para santri remaja agar dapat mengurangi konsumsi rokok. Orang tua hendaknya juga memberikan pemahaman yang tepat kepada anak-anaknya mengenai bahaya perilaku merokok, memberikan komunikasi yang baik untuk anak dalam pergaulannya agar tidak terjerumus ikut berperilaku merokok jika ada temannya yang merokok, dan memberikan perhatian yang cukup dan melakukan pengawasan yang efektif terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak mereka dapat mengendalikan, mengurangi, dan menghentikan perilaku merokok mereka.

Peningkatan kemampuan kognitif dengan bermain kubus bergambar (dadu) pada anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kota Malang / Sutikno

 

Kata kunci: kubus bergambar, kemampuan, TK Peningkatan kemampuan kognitif dengan bermain kubus bergambar(dadu) pada anak kelompok A TK Negeri Pembina Kota Malang, masih rendah, hanya 22% dari 22 anak yang mampu membilang/menyebut urutan bilangan, membilang dengan menunjuk benda serta menyebutkan hasil penambahan 1 sampai 10 dengan memiliki kemampuan kognitif yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi guru dalam merancang satuan kegiatan harian masih bersifat konvesional. Media dan sumber belajar yang digunakan masih kurang menarik bagi anak, hal ini tampak pada media pembelajaran saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan Mendeskripsikan dengan bermain kubus bergambar (dadu) dapat meningkatkan kemampuan kognitif dalam menyebut hasil penambahan 1 sampai dengan 10 dan Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif dengan bermain kubus bergambar (dadu) dalam menyebut hasil penambahan 1 sampai dengan 10 pada anak kelompok A TK Negeri Pembina Kota Malang yang dibelajarkan dengan bermain kubus bergambar. Penelitian ini dilaksanakan Kelompok A di TK Negeri Pembina Kota Malang Tahun Pelajaran 2010 / 2011. Subyek penelitian 22 anak didik . Penelitian dilakukan selama dua siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan : (1) Perencanaan tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. (5) Revisi tindakan. Analisis data secara deskriptif baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Alat pengumpulan data berupa lembar observasi penilaian kemampuan anak. Berdasarkan deskripsi pembelajaran dan analisis data, diperoleh Hasil bahwa peningkatan kemampuan kognitif dengan mengunakan media kubus bergambar (dadu) yaitu dengan cara menghubungkan gambar dengan angka dan dengan bermain kubus bergambar (dadu) dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam menyebut hasil penambahan 1 sampai 10 pada anak kelompok A TK Negeri Pembina Kota Malang. Berdasarkan kesimpulan di atas bahwa dengan bermain kubus bergambar (dadu) yang sudah dimodifikasi dengan di beri angka dapat meningkatan kemampuan kognitif anak , maka disarankan kepada guru Taman Kanak-Kanak untuk mengunakan metode bermain dengan media kubus bergambar (dadu) harus sesuai dengan Tema yang direncanakan dalam SKH dan dengan warna dan gambar yang menarik.

Kepribadian tokoh utama anak dalam novel anak Pink Cupcake Bersahabat Itu Menyenangkan karya Ramya Hayasrestha Sukardi / Anita Kurnia Rachman

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (II) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd Kata kunci: kepribadian tokoh, novel anak, psikoanalisis Sigmund Freud Sastra anak ditulis oleh orang dewasa dan anak-anak. Salah satu sastra anak yang ditulis oleh anak adalah Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Dalam penelitian ini, sastra anak yang dianalisis adalah novel Pink Cupcake Bersahabat Itu Menyenangkan Karya Ramya Hayasrestha Sukardi. Alasan dipilihnya novel ini karena tokoh utama dalam novel ini adalah anak yang manja dan tidak mudah bersosialisasi. Keadaan berubah ketika muncul seorang gadis yang ternyata seorang peri persahabatan. Masalah umum dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kepribadian tokoh utama anak yang terdapat dalam novel anak Pink Cupcake Bersahabat Itu Menyenangkan Karya Ramya Hayasrestha Sukardi yang meliputi (1) struktur kepribadian tokoh utama anak yang meliputi id, ego, dan superego, (2) dinamika kepribadian tokoh utama anak yang meliputi naluri, penggunaan energi, dan kecemasan, dan (3) perkembangan kepribadian tokoh utama anak yang meliputi identifikasi, pemindahan objek, pertahanan ego, dan fase perkembangan seksual. Penelitian ini merupakan penelitian kajian pustaka dengan pendekatan psikoanalisis Sigmund Frued. Data penelitian ini berupa teks yang terdiri atas monolog, dialog, dan narasi yang mengambarkan sifat, tingkah laku, perbuatan, dan perkataan yang berwujud paparan-paparan bahasa yang mendeskripsikan kepribadian tokoh utama anak dalam novel anak Pink Cupcake Bersahabat itu Menyenangkan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan data yang mengandung aspek psikoanalisis. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama dan tabel kodifikasi sebagai instrumen pendukung. Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasi data, mendeskripsikan hasil klasifikasi data, menganalisis data, dan menginterpretasi data. Reduksi data dilakukan dengan pengumpulan data, mengklasifikasi data, menginterpretasi data, dan mendeskripsikan hasil interpretasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan membaca ulang, ketekunan pengamatan, konsultasi, dan pemeriksaan teman sejawat. Tahap penelitian dibagi menjadi persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) struktur kepribadian tokoh bersifat dinamis. Ketiga unsur kepribadian tersebut, satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas, meskipun distribusi penggunaan energi terkadang tidak seimbang. Hubungan sastra dan psikoanalisis terletak pada kesamaan antara hasrat tersembunyi pada manusia yang menyebabkan kehadiran karya sastra mampu menyentuh perasaan, kesejajaran antara mimpi dan sastra, dan karya sastra mengandung keindahan serta mencerminkan ajaran moral. (2) Dinamika kepribadian tokoh terdiri dari (a) naluri, yaitu naluri hidup dan naluri mati. Naluri hidup berupa naluri lapar dan naluri sosial, sedangkan naluri mati diwujudkan dengan menyakiti orang lain; (b) distribusi penggunaan energi id ke ego, id ke superego, dan superego ke ego diwujudkan dalam bentuk persepsi, ingatan, dan berfikir ; (c) kecemasan, yaitu kecemasan riil, neurotik, dan moral yang diwujudkan dalam bentuk rasa takut terhadap dunia luar, takut pada hukuman, takut akan dosa, dan melihat penderitaan orang lain. Hubungan sastra dengan psikolanalisis, yaitu saat pengarang memunculkan naluri kehidupan dalam wujud karya sastra, proses pencitraan berhubungan dengan pikiran dan perasaan pengarang. (3) Fase perkembangan seksual tokoh melalui empat tahap, yaitu (a) identifikasi dengan cara bertingkah laku seperti tingkah laku orang lain; (b) pemindahan objek yang dilakukan tokoh menggunakan empat cara, yaitu kondensasi, kompromi, sublimasi, dan kompensasi; (c) mekanisme pertahanan ego tokoh dilakukan dengan cara pembentukan reaksi, fiksasi, dan regresi; (d) fase perkembangan seksual pada tokoh terjadi pada fase latenst. Hubungan psikoanalisis dengan kesusastraan muncul melalui proses sublimasi, pengarang dengan proses sublimasi dengan menulis karya sastra maupun menghasilkan karya lain yang dapat meningkatkan perkembangan kebudayaan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada (1) guru juga menggunakan sastra anak sebagai bahan apresiasi sastra khususnya apresiasi menggunakan psikoanalisis Sigmund Freud, (2) pembaca, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang keadaan psikologi anak, dan (3) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi penelitian sastra anak lebih lanjut bukan hanya pada hubungan psikolohi dengan karya sastra, tetapi juga hubungan psikologi dengan pengarang dan hubungan psikologi dengan pembaca.

Pengaruh penerapan metode quantum learning dengan berbantuan video pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar kompetensi kejuruan teknik komputer jaringan pada kompetensi dasar instalasi jaringan lokal (local area network) siswa kelas XI TKJ SMKN 6 Malang / Rizka Pr

 

Kata kunci:Quantum Learning , Video Pembelajaran, Hasil Belajar Proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas XI TKJ SMK Negeri 6 Malang selama ini masih dilaksanakan dengan menggunakan metode konvensional. Pembelajaran yang hanya terpusat pada guru saja, sehingga pembelajaran hanya terjadi searah dan membuat siswa menjadi pasif, kurang kreatif, dan cepat bosan. Selain itu, kondisi jumlah siswa di SMK Negeri 6 Malang yang rata-rata mencapai 30 siswa per kelasnya membuat suasana pembelajaran menjadi kurang kondusif. Dalam pelajaran Instalasi Jaringan Lokal di SMK Negeri 6 Malang, hasil belajar siswa selama ini, masih banyak yang belum mencapai standart nilai minimum. Karena itulah diperlukan metode Quantum Learning dengan berbantuan video pembelajaran. Dengan penerapan metode pembelajaran ini, diharapkan siswa akan lebih aktif, kreatif dan belajar dengan suasana menyenangkan. Penelitian ini dilakukan pada semester kedua tahun ajaran 2010/2011 dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi ekperimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI TKJ SMK Negeri 6 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 180 siswa yang terbagi menjadi 6 kelas. Data penelitan diambil dari siswa XI TKJ 1 dan XI TKJ 3 karena kedua kelas bukan merupakan kelas unggulan dan memiliki kemampuan yang sama dalam belajar. Data penelitian berupa data nilai terakhir dan prestasi belajar yang terdiri dari ranah afektif dan kognitif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol, berdasarkan nilai signifikansi (0,000 < 0,05). Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari prestasi belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar kelas eksperimen (70,50) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas kontrol (69,90). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Learning dengan berbantuan video pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi instalasi aringan lokal. Koefisien determinasi R2 = 0,543 dari perhitungan memberikan arti bahwa besarnya pengaruh metode Quantum Learning dengan berbantuan video pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada materi instalasi jarigan lokal adalah 0,543 atau 54,3% dan sisanya terdapat factor dari luar.

Penerapan model pembelajaran team assisted individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar geografi di SMA Negeri 1 Ngunut Tulungagung / Ninda Ardyansyah

 

Kata Kunci: kooperatif, TAI, dan hasil belajar Berdasarkan wawancara pada guru Geografi kelas X dan siswa kelas X-E, diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa tergolong masih rendah terbukti dari 37 siswa dengan nilai SKM 75 hanya 17 siswa yang nilainya di atas SKM dengan ketutasan klaskal hasil belajar 45,9%. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan intelegensi dan latar belakang siswa yang beragam, selain itu pemahaman terhadap materi pelajaran antara siswa satu dengan siswa yang lain tidak sama sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Alternatif yang dapat dilakukan guru yaitu melalui penggunaan model Team Assisted Individualization (TAI). Model TAI dirancang sebagai model pembelajaran yang mengkombinasikan pembelajaran individu dengan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar geografi di SMA Negeri 1 Ngunut. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/ 2011. Subjek penelitian ini adalah kelas X-E dengan jumlah 37 siswa. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan perbandingan nilai pada materi sebelum dilakukan tindakan dengan nilai setelah dilakukan tindakan. Instrumen yang digunakan yaitu test objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan ke siklus I yaitu dari rata-rata hasil belajar 68,8 dengan persentase ketuntasan belajar 45,9% menjadi 72,97 dengan persentase ketuntasan belajar 62,2%. Selanjutnya pada siklus II terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar dari 72,97 menjadi 76,35 dengan persentase ketuntasan belajar 86,5%. Berdasarkan perolehan hasil belajar siswa pada siklus II dapat disimpulkan bahwa indikator keberhasilan pembelajaran sudah tercapai, hasil penelitian dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization (TAI) pada materi hidrosfer kelas X-E di SMA Negeri 1 Ngunut dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan video sebagai media pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran seni budaya kelas XI SMAN 2 Blitar / Usmay Sodikin

 

Kata Kunci: video, media pembelajaran, cutting sticker. Video merupakan jenis data berupa gambar-gambar bergerak yang ditampilkan untuk penyampaian suatu informasi. Manfaat video tersebut dapat digunakan sebagai sebuah media pembelajaran dalam penyajian suatu materi pembelajaran. Salah satu materi pembelajaran Seni Budaya yang tepat disajikan dalam bentuk video adalah proses pembuatan cutting sticker. Berkaitan dengan itu, maka perlu diadakan penelitian dan pengembangan video sebagai media pembelajaran membuat cutting sticker. Penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mengembangkan video sebagai media pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya kelas XI.IA SMAN 2 Blitar, dan (2) membantu guru dan siswa kelas XI.IA SMAN 2 Blitar dalam kegiatan pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model prosedural. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan angket. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar wawancara dan lembar angket validasi. Instrumen tersebut kemudian diberikan kepada validator, antara lain: (1) ahli media pembelajaran, (2) ahli materi cutting sticker, (3) guru Seni Budaya SMAN 2 Blitar, dan (4) kelompok kecil. Setelah data terkumpul, kemudian data dianalisis dalam bentuk prosentase dan disajikan dalam bentuk paparan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, media pembelajaran ini layak untuk digunakan guru dan siswa kelas XI.IA SMAN 2 Blitar dalam kegiatan pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya. Media pembelajaran ini layak karena telah diuji oleh ahli media pembelajaran, ahli materi cutting sticker, guru Seni Budaya SMAN 2 Blitar, dan dilakukan uji coba pada kelompok kecil. Selain itu, komponen dari media pembelajaran yang masih perlu direvisi pun telah direvisi oleh pengembang berdasarkan saran dan kritik dari subjek ahli. Kedua, produk pengembangan ini merupakan media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam mencapai keberhasilan pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya siswa kelas XI.IA SMAN 2 Blitar. Media pembelajaran ini dikatakan efektif karena mampu membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan hasil yang lebih dari 80 % dari tingkat keberhasilan. Sedangkan dikatakan efisien karena media pembelajaran ini mampu menyajikan pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mengikuti pembelajaran membuat cutting sticker dengan cara manual.

Perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian laptop ditinjau dari need achievement / Sri Wahyuningtyas

 

Kata Kunci: faktor-faktor, pengambilan keputusan pembelian laptop, need achievement. Laptop merupakan salah satu barang penting yang dimiliki mahasiswa. Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian laptop adalah faktor efisiensi, praktis, ekonomis, pengetahuan, merek, harga, model, warna, keawetan, diskon, kecanggihan, kualitas, harga jual kembali, layanan purna jual (aftersale), prestise, self esteem, motivasi, simbol pergaulan, kelompok acuan, keluarga, tuntutan kebutuhan kuliah, dan status sosial. Penelitian ini menggunakan metode korelasional (faktorial) dan uji perbedaan untuk mengetahui perbedaan pengambilan keputusan ditinjau dari need achievement. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang mempunyai karakteristik (1) yang membeli dan memiliki laptop, (2) berusia antara 19-24 tahun, (3) mahasiswa angkatan 2007-2010. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang sebanyak 100 responden. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah teknik insidental sampling. 100 responden diberi kuisioner faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian laptop dan skala need achievement. Dari hasil penelitian 22 faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian ini dapat direduksi menjadi 6 faktor dengan total muatan varian sebesar 73,326%. Keenam faktor tersebut adalah: (1) faktor sosial yang menyumbang 21,911% varian. (2) faktor kualitas yang menyumbang 14,406% varian. (3) faktor psikologis yang menyumbang 12,835% varian. (4) faktor pengetahuan yang menyumbang 10,753% varian. (5) faktor manfaat yang menyumbang 8,784% varian. (6) faktor objek yang menyumbang 4,638% varian. Hasil penelitian tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan ditinjau dari need achievement menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara mahasiswa yang mempunyai need achievement tinggi dengan mahasiswa yang mempunyai need achievement rendah. Mean Difference need achievement tinggi vs need achievement rendah = 0,025636, siginifikan pada 0,651 > 0,05 (H0 diterima). Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada mahasiswa untuk membeli laptop dengan mempertimbangkan kebutuhan kuliahnya. Diharap mahasiswa dengan need achievement tinggi maupun need achievement rendah dapat terbantu dalam mengerjakan tugas kuliahnya dengan memiliki laptop .

Penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di Taman Kanak-kanak Kartini Kota Batu / Sulikah

 

Kata Kunci : Metode karya wisata, kemampuan kognitif Anak Usia Dini Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan masih rendahnya kemampuan anak dalam membedakan benda. Hal ini disebabkan karena selama proses pembelajaran diterapkan, guru menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas dengan kegiatan dalam kelas, Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1) Mendeskripsikan penerepan metode karya wisata dalam meningktkan kemampuan kognitif anak kelompok B Taman Kanak-kanak KARTINI Batu dan, 2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif melalui Penerapan Metode Karya Wisata. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-kanak KARTINI Batu mulai bulam April-Juni 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses bersiklus. Dalam setiap siklus ada beberapa tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelompok B. Tehnik pengumpulan datanya menggunakan lembar observasi, sedangkan teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil tindakan siklus I terjadi peningkatan kemampuan kognitif sejumlah 15 % dengan skor rata-rata 64 %, selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peninhkatan sejumlah 24 % dengan skor rata-rata sebesar 88 %. Metode karya wisata merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di Taman Kanak-kanak KARTINI Kota Batu. Dengan karya wisata perbendaharaan pengetahuan anak tentang dunia nyata yang di perolehnya secara langsung semakin cepat mengembangkan kognisi mereka dan anak dapat berfikir teliti dalam membedakan benda. Disarankan untuk Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini hendaknya menggunakan metode karya wisata dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada anak dan pengembangan situasi pembelajaran ke arah yang lebih kondusif, maka disarankan untuk menggunakan metode karya wisata.

Peningkatan kemampuan membaca awal melalui permainan kubus gambar dan kubus kata di kelompok A TK Negeri Pembina 5 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Rr. Savitri Sulistyorini

 

Kata Kunci : membaca awal, permainan kubus gambar dan kubus kata, TK Waktu yang tepat untuk belajar membaca adalah saat anak-anak duduk di TK, karena pada masa ini rasa ingin tahu anak berkembang sehingga banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Dalam mengembangkan minat membaca dan menulis bagi anak usia TK yang perlu dipikirkan adalah metode dan alat peraga yang dapat digunakan. Apabila terjadi kesalahan dalam penerapan metode dan alat peraga, akan mengakibatkan minat anak dalam membaca akan semakin menurun. Hal tersebut tampak pada kemampuan membaca awal pada anak kelompok A TK Negeri Pembina 5 Kecamatan Kedungkandang masih rendah. Hal ini disebabkan karena guru masih belum memanfaatkan strategi yang dapat menumbuhkan minat peserta didik dalam belajar sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk aktif, senang, berfikir kritis dalam pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan permainan kubus gambar dan kubus kata untuk meningkatkan kemampuan membaca awal, dan (2) mendeskripsikan apakah dengan penerapan permainan kubus gambar dan kubus kata dapat meningkatkan kemampuan membaca awal, Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan rancangan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian adalah peserta didik kelompok A di TK Negeri Pembina 5 Kec. Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 10 peserta didik, terdiri dari 5 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Penerapan permainan kubus gambar dan kubus kata pada pengenalan pembelajaran membaca yang meliputi (a) tahap awal, (b) tahap penyusunan, dan (c) tahap akhir. Tahap awal ditandai dengan membuka skemata peserta didik, tahap penyusunan ditandai dengan aktivitas peserta didik dalam belajar membaca gambar, huruf, suku kata, dan kata sederhana. Tahap akhir ditandai dengan aktivitas siswa dalam mngungkapkan kesan pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan permainan kubus gambar dan kubus kata dapat meningkatkan kemampuan membaca awal bagi anak kelompok A TK Negeri Pembina 5 Kecamatan Kedungkandang. Hal ini dibuktikan dengan prosentase rata-rata yang terus meningkat dari siklus I – II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi yang bervariasi dengan berbagai permainan dalam pelaksanaan pengenalan membaca awal, salah satunya dengan permainan kubus gambar dan kubus kata. Pada pelaksanaan pengenalan membaca awal, guru sebaiknya melaksanakan pengenalan membaca awal dengan membaca gambar terlebih dahulu, dilanjutkan dengan membaca huruf, membaca suku kata, dan membaca kata sederhana.

Pengaruh status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku konsumtif siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang / Rizzul Ngishmawati

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Gaya Hidup Siswa, Konformitas Teman Sebaya, Perilaku Konsumtif. Manusia tidak lepas dari kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Dalam usahanya tersebut manusia melakukan kegiatan menghabiskan nilai guna suatu barang yang disebut dengan konsumsi. Dalam berkonsumsi seseorang dapat berperilaku secara rasional dan irrasional. Perilaku irrasional dalam berkonsumsi salah satunya adalah perilaku konsumtif. Penyimpangan ini sering ditemui pada usia remaja karena dalam berkonsumsi, mereka cenderung didasari pada pemenuhan kepuasan dan keinginannya bukan untuk memenuhi kebutuhan. Perilaku konsumtif pada remaja dapat dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya. Perilaku konsumif pada remaja mengakibatkan penyimpangan perilaku konsumsi mereka dan menimbulkan inefisiensi biaya. Pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang dengan intelektualitas yang tinggi tentunya mereka memiliki pengetahuan tentang ekonomi yang bagus. Namun dalam era modernisasi serta perkembangan mode saat ini, terdapat beberapa siswa dengan perilaku konsumtif. Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ketiga faktor tersebut pada kecenderungan perilaku konsumtif siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang. Dalam penelitian ini maka variabel yang digunakan adalah status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya sebagai variabel independen dan peilaku konsumtif siswa sebagai variabel dependen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya secara parsial dan simultan terhadap perilaku konsumtif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat eksplanasi. Polulasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang, dengan sampel sebanyak 75 siswa yaitu menggunakan teknik pengambilan sempel proportional random sampling. Data penelitian merepaka data primer yang diambil melalui angket dengan menggunakan skala likert. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan analisa data menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa status sosial ekonomi orang tua berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, gaya hidup siswa berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, konformitas teman sebaya berpengaruh terhadap perilaku konsumtif dan secara simultan status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya berpengaruh terhadap perilaku konsumtif. Ketiga variabel independen menunjukkan pengaruh positif terhadap variabel dependennya. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah bagi guru hendaknya menekankan konsep konsumsi sehingga siswa dapat berfikir rasional dalam keputusan pembeliannya. Kemudian orang tua hendaknya dapat memberi pendidikan dan contoh yang baik berkenaan dengan konsumsi yang dilakukan. Bagi peneliti terdahulu hendaknya dapat menyempurnakan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku konsumtif seseorang. Dan bagi Universitas Negeri Malang dapat mempersiapkan calon-calon guru yang utuh, yaitu memiliki penguasaan materi yang baik dan memiliki kesiapan mental yang bagus sehingga dapat menjadi contoh dan teladan langsung bagi siswa.

Students' and teachers' perception of the implementation of "ESL" clas at SMAN 3 Malang / Aan Frisca D. Prastya

 

Key words: “ESL” class, materials and media, teachers’ problems This research aims at describing the students’ and teachers’ perception about the implementation of “English as a Second Language” (ESL) class, specifically in terms of the use of materials and media and the problems faced by the teachers. This study is a descriptive qualitative research. This research was conducted at SMAN 3 Malang. The subjects of the research were the students of five different “ESL” classes of grade X and XI as well as five teachers of each “ESL” class. The data were collected through the distribution on questionnaires for the students and interview with the teachers. The data comprised the students’ opinion about the materials and media, the teachers’ opinion about the use of materials and media, and the problems faced by the teachers in teaching “ESL” class as well as the solutions they have. The objective of “ESL” class was to prepare the students in taking the University of Cambridge International Examinations (CIE) for English as a Second Language. From this study, it was found that the materials used in “ESL” class met the needs of the students, both according to the students and the teachers. The materials have sufficiently supported the students’ preparation for CIE of English as a Second Language. Regarding the media, both the students and teachers agreed that media have been rarely used in “ESL” class. Concerning the problems, the teachers listed three of them: the students’ lack in motivation, unfamiliar vocabulary in the course book, and the school’s improper facilities. To overcome the problems, the teachers have already some solutions, such as inserting fun activities, conducting pre-reading activities, bringing own laptops and other media, and making a plan “B”. Based on the result of this research, it can be concluded that the materials used in “ESL” class met the objective of the program, which is to prepare the students in order to be successful in the Cambridge exam. Related to the media, the teachers have rarely involved media in teaching “ESL” class due to several reasons: (1) the teaching of English in “ESL” class did not require the aid of media, and (2) the media in the school were not always available to use. Relating to the conditions mentioned above, it is suggested that the teachers enrich the materials by involving more authentic materials such as from the newspaper, magazines, etc. The teachers should also involve the use of media in teaching “ESL” class to help them deliver the materials, attract the students’ attention, and eliminate the students’ boredom. Related to the problems faced by the teachers, it is suggested that the teachers find ways to increase students’ motivation and familiarize new vocabulary to the students. It is also expected that the school make some improvement for better facilities in order to fulfill the criteria of becoming an International-Standardized School (SBI).

Perancangan prototipe elevator empat tingkat dua ruang berbasis PLC / Sigit Teguh Yuwono

 

Kata Kunci: Elevator,PLC,Motor Dewasaini teknologi dengan mempergunakan sistem konvesional sudahbanyak digantikan oleh teknologi yang lebih canggih dan fleksibel, dan mempunyai fungsi yang sama. Hal ini sejalan dengan tututan jaman yang menginginkan berbagai macam kemudahan. Suatu contoh pengunaan tangga konvensional dalamsuatubangunanbertingkat, terlebihuntukbangunan yang memelikilebihdariempatlantaidirasa sangat kurang efisien. Untuk memecahkan masalah ini maka dibutuhkan sebuah elevator yang mengunakan teknologi kendali denganmengunakan motor sebagaipengeraknya. Padapermulaanpengoperasiandenganmenekantombolstart yang mengakibatkanmenyalanyaseven segment(penanda ruang berada) danmenyalanyalampuindikatorrun(menandakansistem ON)pada panel kontrol. Sebagaicontohkerja, apabilapenumpangberadapadalantaisatuinginmenujulantaitigasedangkanruangelevatorberadapadalantaiempatataulantai paling atas, makasikluskerjadarisistemtersebutadalahsebagaiberikut: tahappertama yang dilakukandenganmenekantombolpanggilruangelevatorberadapadalantai 1 untukmengaktifkan internal relay, sehingga motor sebagaipengerakruangelevator yang beradapadalantaiempatakanturunmenujukelantaisatu. Setelah sampai pada lantai tiga ruangelevator menyentuh limit switchsehingga menghentikan motor pengerak ruang setelah lima detik akan mengakfitkan motor pembuka pintu dan pintu akan berhenti setelah menyentuh LS buka pintu dan akan menutup kembali setelah sepuluh detik selanjutnya pintu akan menutup dan akan berhenti setelah menyuntuh LS tutup pintu. Berdasarkanhasilpembahasandapatdiambilkesimpulanpada perancangan prototipe elevator empat tingkat dua ruang berbasis PLC, tahap perancaan dilakukan dengan mendesain bentuk alat yang akan dibuat, mulai dari besarnya dimensi prototipe elevator, penempatan sensor, limit swicth, sampai pada penentuan ukuran ruang yang dibuat. Setelah itu dilakukan penggadaan komponen dan menentukan sistem kerja pada sistem yang dibuat.

Pengembangan media pembelajaran teknik melakukan perawatan PC (Personal computer) berbasis E-learning di SMK Darut Taqwa Purwosari / M. Ali Erkam

 

Kata kunci : Pengembangan, Media, Pembelajaran, E-learning SMK Darut Taqwa sebagai salah satu lembaga formal yang berkecimpung di bawah naungan Yayasan Darut Taqwa merupakan lembaga formal yang berkembang sangat pesat. Meskipun baru berdiri selama 8 tahun namun sudah mampu menampung sejumlah 700 siswa. Tetapi perkembangan tersebut masih belum didukung sepenuhnya dengan proses pembelajaran yang maksimal. Di SMK Darut Taqwa dalam menyampaian materi pembelajaran, sebagian guru masih menggunakan modul, sehingga siswa harus fotocopy atau bahkan harus mencatat. Hal ini menjadi salah satu alasan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis e-learning. Dengan fasilitas intranet yang ada di Yayasan Darut Taqwa, siswa yang mayoritas adalah santri pondok pesantren dapat mengakses dan mempelajari materi pada media pembelajaran e-learning dengan mudah. Sebagai orang komputer, tentu masalah komputer akan selalu timbul ketika kita menggunakan komputer. Melakukan kesalahan pengoperasian adalah sesuatu yang biasa. Ini bisa terjadi karena kurangnya pelatihan, pengetahuan dan pengenalan terhadap komputer. Dengan perawatan preventive, kita bisa menekan permasalahan yang akan muncul seminimal mungkin. Tujuan pengembangan pengembangan media pembelajaran secara rinci adalah: mengembangkan media pembelajaran teknik melakukan perawatan PC berbasis E-learning, dan memvalidasi media pembelajaran teknik melakukan perawatan PC berbasis E-Learning. Pada pengembangan media pembelajaran ini, pengembang menggunakan aplikasi moodle yang dikembangkan dengan metode pengembangan Analysis Design Develop Implementation Evaluate (ADDIE) yang telah disesuaikan dengan objek penelitian. Pengembangan terlaksana dengan terlebih dahulu dilakukan kegiatan validasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket pada uji coba perseorangan (ahli media & ahli materi), responden/siswa kelompok kecil dan responden/siswa kelompok besar/khalayak umum (uji coba lapangan). Sedangkan analisis data yang digunakan untuk mengolah data dari ahli media, ahli materi dan responden/siswa/ khalayak umum menggunakan teknik prosentase. Berdasarkan uji coba/validasi media pembelajaran yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: (1) ahli media 83,75%, (2) ahli materi 83,87%, dan (3) responden/siswa kelompok besar (lapangan) 83,87% dan 86%. Dengan demikian dinyatakan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria valid/layak dan secara keseluruhan dinyatakan baik serta dapat diuji cobakan lebih luas agar nantinya bisa digunakan dalam pembelajaran.

Pengembangan instrumen tes bentuk pilihan ganda bermakna untuk mengidentifikasi miskonsepsi gelombang bunyi pada siswa SMP / Nailil Mustafidah

 

Kata Kunci: gelombang bunyi, miskonsepsi, pilihan ganda bermakna Miskonsepsi merupakan fenomena umum yang terjadi dalam pembelajaran fisika. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya miskonsepsi adalah adanya kesalahan interpretasi pada prekonsepsi. Kesalahan interpretasi ini berujung pada kegagalan kondisi dan intuisi sehingga berdampak pada miskonsepsi pada diri siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen tes berbentuk pilihan ganda yang digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi gelombang bunyi di tingkat SMP. Kualitas produk hasil pengembangan (berupa instrumen tes pilihan ganda) diperoleh dari hasil uji validasi oleh validator dan uji kelayakan produk dengan menggunakan program Anates dan program Analisis Asesmen Formatif Fisika (AAFF). Langkah-langkah penelitian pengembangan ini meliputi studi pendahuluan, perancangan draft instrumen, pengembangan draft instrumen, validasi akhir produk pengembangan, dan uji coba terbatas. Kegiatan validasi merupakan validasi logis yakni validasi yang menilai kriteria instrumen dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa dan dilaksanakan oleh dua dosen dan satu guru fisika SMP. Ketiga validator tersebut memberi validasi pada instrumen pilihan ganda. Kelayakan instrumen diujicoba dengan program Anates dan AAFF. Produk akhir penelitian pengembangan ini berupa instrumen tes pilihan ganda bermakna, yang memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah memiliki empat pilihan jawaban. Satu jawaban merupakan konsepsi yang benar sedangkan tiga yang lain merupakan miskonsepsi yang diperoleh dari variasi jawaban siswa pada soal uraian. Karakteristik yang lain adalah produk pilihan ganda ini terdiri atas tiga soal setara dalam satu indikator. Kecenderungan jawaban yang diberikan oleh siswa pada ketiga butir soal inilah yang digunakan sebagai kunci untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami siswa pada subkonsep gelombang bunyi.

Penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Arrochmah Bangil Kabupaten Pasuruan / Siti Milhanah

 

Kata kunci : Metode Eksperimen, Kemampuan Kognitif, TK Kemampuan kognitif anak di Taman Kanak-kanak merupakan bagian yang integral dari struktur kegiatan pembelajaran. Untuk itu perlu adanya pembelajaran yang bisa mengembangkan kognitif anak salah satunya dengan menggunakan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak di TK Arrochmah Bangil. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Mendeskripsikan penerapan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak di kelompok A TK Arrochmah Bangil, dan (2) Mendeskripsikan pengembangan kemampuan kognitif anak di kelompok A TK Arrochmah Bangil dengan penerapan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam. Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus berdasarkan model Kemmis dan Taggart, masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 16 anak dan melibatkan satu guru kolabolator. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif dengan ketuntasan belajar minimal secara individu 70% dan klasikal 85%. Hasil analisis penelitian kemampuan kognitif pada pra tindakan diperoleh rata-rata 50%. Pada siklus I dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan pada tanggal 13 April dan 14 April 2011 pada pertemuan I dan pertemuan II diperoleh rata-rata 68,44% dengan kategori B. dan pada siklus II dilakukan hanya 1 kali pertemuan yaitu pada tanggal 25 April 2011 diperoleh rata – rata 86,88% terdapat kenaikan skor sebesar 18,44%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen benda terapung dan tenggelam dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompokA TK Arrochmah Bangil Kabupaten Pasuruan. Saran yang disampaikan pada guru TK agar dapat menerapkan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak dan memasukkan aspek benda melayang pada penelitian selanjutnya.

Perancangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dengan materi wayang topeng Malang dan tari bapang Kedungmonggo bagi siswa SMP kelas VII / Anggar Syafi'ah Gusti

 

Kata Kunci: Perancangan, Media Pembelajaran, Multimedia Interaktif, Wayang Topeng Malang, Tari Bapang Kedungmonggo. Perancangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dengan segala keunggulannya diharapkan mampu mengatasi bermacam kendala yang dihadapi guru Seni Budaya SMP di Malang dalam pengajaran materi Apresiasi Tari Tradisional Daerah Setempat. Keterbatasan jam pelajaran, banyak guru Seni Budaya yang tidak berlatar pendidikan seni tari, generasi muda yang menganggap tari tradisional adalah seni kuno, tari tradisional tidak lagi populer di masyarakat, dan referensi buku tentang tarian tradisional yang masih sedikit adalah kendala- kendala yang menyebabkan situasi belajar Mengapresiasi Tari Tradisional Daerah Setempat menjadi tidak kondusif. Bahkan, banyak SMP di Malang yang membuat kebijakan untuk tidak memasukkan Seni Tari sebagai mata pelajaran Intrakurikuler. Media pembelajaran ini dirancang untuk mendukung pengajaran di sekolah yang dipandu guru juga pembelajaran secara mandiri oleh siswa. Tampilan media yang menarik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan dengan perencanaan proses pembelajaran yang baik, diharapkan siswa mudah diarahkan untuk mempelajari dan mengapresiasi tari tradisional daerah setempat khususnya Malang. Perancangan media didasarkan pada KTSP Seni Budaya sub Seni Tari SMP kelas VII dengan standar kompetensi mengapresiasi tari tradisional daerah setempat. Target perancangan ini adalah guru dan siswa SMP Kelas VII. Penyusunan naskah media didasarkan pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berisi tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan belajar, dan instrumen evaluasi untuk 4 kali pertemuan. Naskah yang ada dikembangkan menjadi bentuk draft tayang yang menjadi acuan pembuatan media. Data-data untuk materi dalam produk ini didapat dari wawancara kepada pelaku seni Wayang Topeng Malang di Kedungmonggo; pendokumentasian teks dan foto dari berbagai sumber; pendokumentasian foto dan video gerak tari, busana tari, dan topeng dilakukan ke salah satu sanggar Wayang Topeng di Malang. Media pembelajaran terdiri atas SK KD Indikator, materi pembelajaran (Konsep Seni Tari, Wayang Topeng Malang, dan Tari Bapang Kedungmonggo) dan evaluasi materi. Berdasarkan kegiatan diatas, diharapkan produk perancangan ini dapat digunakan sebagai alternatif baru untuk memperkenalkan tari tradisional kepada siswa SMP dengan lebih menarik. Saran yang diajukan, hendaknya banyak dibuat perancangan media pembelajaran tentang tari-tarian tradisional sehingga generasi muda lebih mengenal jati diri bangsa Indonesia lewat kesenian yang dimiliki.

Penerapan permainan jari-jari tangan untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SD Negeri Minggir Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan / Nur Lailiyul Mualudiyah

 

Kata kunci : bermain, perkalian bilangan cacah Berdasarkan observasi awal ditemukan permasalahan bahwa dari 30 siswa kelas IV SDN Minggir ada 19 siswa yang belum menguasai fakta dasar perkalian 6 sampai dengan 9. Disamping itu berdasarkan pre test yang telah dilakukan peneliti tentang operasi perkalian dua angka dengan dua angka menggunakan cara bersusun pendek ditemukan bahwa dari 30 siswa hanya 1 siswa yang mampu mengerjakan 2 soal dengan benar 9 siswa mampu mengerjakan 1 soal dengan benar dan 20 siswa lainnya salah dalam mengerjakan soal tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, diadakan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan strategi permainan jari-jari tangan untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SDN Minggir. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ), dengan rincian pelaksanaan: pre test satu kali pertemuan, siklus I, 3 kali pertemuan, siklus II 3 kali pertemuan, masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek penelitian adalah 30 siswa kelas IV SDN Minggir semester II tahun 2010 / 2011. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 5 Agustus 2010 sampai dengan 10 Desember 2010. Instrumen penelitian ini meliputi: pedoman observasi, lembar evaluasi (test), dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa secara kuantitatif dan kualitatif, indikator keberhasilan dalam PTK ini bila ketuntasan perorangan sebesar 65% dan ketuntasan klasikal 75% berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar dalam KTSP. Permainan jari-jari tangan dapat diterapkan dengan baik, bermain jari-jari tangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu pada siklus I nilai rata-rata kelas dari 34,32 meningkat menjadi 46,20, sedangkan pada siklus II nilai rata-rata 46,20 meningkat menjadi 77,33. Siswa juga aktif dalam menyelesaikan soal-soal perkalian matematika bilangan cacah. Pada siklus I jumlah skor aktivitas 71 poin dan meningkat di siklus II dengan jumlah skor 81 poin. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan permainan jari-jari tangan dapat diterapkan dengan baik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat membuat siswa lebih aktif dalam menyelesaikan soal-soal perkalian bilangan cacah.

Aplikasi sistem informasi administrasi pembayaran SPP dilengkapi informasi berbasis SMS / Fanandy Dwi Untoro

 

Kata kunci: Sistem Informasi, Basis Data, SMS. Mengingat akan pesatnya kemajuan teknologi yang sudah merambah ke semua bidang, serta pola kehidupan masyarakat indonesia yang sudah relatif maju, bahwa hampir semua orang saat ini sudah memanfaatkan teknologi seluler baik GSM maupun CDMA, serta media internet, yang sebenarnya hal ini dapat diarahkan untuk menjadi nilai tambah dalam rangka kemajuan dunia pendidikan. Demikian pula dengan layanan SMS sebagai salah satu layanan seluler yang paling populer serta paling diminati saat ini, karena penggunaannya yang relatif mudah serta biayanya yang sangat murah. Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini untuk menciptakan suatu sistem informasi yang bertugas untuk pemberitahuan pembayaran secara otomatis. Sehingga dengan adanya sistem ini memperlancar pihak administrasi untuk memberikan report dan pendataan pembayaran serta informasi kepada wali murid agar lebih efektif dan efisien. Metode perancangan Tugas Akhir ini meliputi merancang spesifikasi produk yang dijelaskan dalam entitas dan atribut sistem, menggambarkan desain antar muka aplikasi, serta dilakukan pengujian pada tiap blok halaman web. Hasil yang didapat adalah sebuah aplikasi berbasis web yang mengelola data pembayaran SPP siswa, serta informasi pemberitahuan data pembayaran SPP kepada orang tua melalui SMS yang menghasilkan lebih efektif dan mengefisienkan pekerjaan administrasi/TU.

Implementasi program gerakan membangun masyarakat sehat (Gerangmas) dalam membangkitkan kemauan dan semangat demokrasi menuju masyarakat Lumajang sehat di Kelurahan Citrodiwangsan Kabupaten Lumajang / Sani Winanti

 

Kata kunci: Implementasi, Gerbangmas, Kemauan dan Semangat, Demokrasi, Sehat Pembangunan adalah suatu proses perubahan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan manusia yang meliputi perbaikan tingkat hidup, kesehatan, pendidikan, serta keadilan. Salah satu tujuan pembangunan nasional yang tertuang dalam UUD 1945 pada alinea ke empat yaitu memajukan kesejahteraaan umum. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor : 34 Tahun 2005 Nomor : 1138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota sehat. Tujuan Program Kabupaten Sehat pada dasarnya adalah tercapainya kondisi Kabupaten Lumajang untuk hidup dengan bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni dan bekerja bagi warganya dengan terlaksananya berbagai program-program kesehatan dan sektor lain, sehingga dapat meningkatkan sarana dan produktifitas dan perekonomian masyarakat. Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut Bagaimana implementasi program Gerbangmas dapat membangkitkan kemauan dan semangat demokrasi masyarakat menuju Lumajang sehat? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menjelaskan tentang implementasi program Gerbangmas di Lumajang, (2) untuk menjelaskan tentang hasil program Gerbangmas untuk menuju masyarakat Lumajang Sehat , (3) untuk menjelaskan tentang kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program Gerbangmas, (4) untuk menjelaskan tentang Implementasi Program Gerakan Membangun Masyarakat Sehat (Gerbangmas) dalam Membangkitkan Kemauan dan Semangat Demokrasi menuju Masyarakat Lumajang Sehat di Kelurahan Citrodiwangsan Kabupaten Lumajang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumen. Dipilihnya Kabupaten Lumajang sebagai lokasi penelitian karena Kabupaten Lumajang merupakan tempat yang dilaksanakannya program Gerbangmas di kelurahan Citrodiwangsan dan tempat tersebut adalah tempat yang sudah berhasil melaksanakan program Gerbangmas. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini bersumber dari orang, peristiwa dan dokumentasi Temuan penelitian dikemukakan bahwa (1) Implementasi program Gerbangmas di Lumajang antara lain pelaku dalam perencanaan, pelaku pelaksanaan dan pelaku penilaian program Gerbangmas adalah masyarakat, kader-kader Gerbangmas dan tim teknik yang ada di SEKTAP (Sekretariat Tetap), wujudnya mengadakan posyandu kerja bakti serta kader yang bertugas untuk pendataan, dapat melalui LP3S (Laporan Proporsi Potensi Pemukiman Sehat). Peran pemerintah dalam program Gerbangmas antara lain membantu dana, pelatihan, pembinaan, penyuluhan-penyuluhan. Peran masyarakat pada Gerbangmas misalnya kerja bakti, ikut wujudnya dalam pendidikan diluar sekolah menjaga kebersihan lingkungan itu sendiri baik itu keindahan, kenyamanan dan ketertiban. Peran swasta juga mendukung ikut berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan sehat. (2) Hasil program Gerbangmas untuk menuju masyarakat Lumajang Sehat terdiri dari Sehat Manusianya, Sehat Lingkungannya dan Sehat Usahanya. Sehat Manusainya terdiri dari Bina Keluarga Lansia, Bina Keluarga Balita dan Wajar Dikdas. Sehat Lingakungannya terdiri dari progam Penggunaan Air Bersih, Program Pengeloaan Sampah dan Program Rumah Sehat. Sedangkan Sehat Usahanya antara lain Program Kelompok Ekonomi Produktif.(3) Kendala pada perencanaan program Gerbangmas dilihat dari keaktifan kader masyarakat dalam mengikuti perencanaan program Gerbangmas, Kendala pada pelaksanaan kurangnya partisipasi masyarakat, kendala pada penilaian program Gerbangmas adanya Format Laporan Proporsi Potensi Pemukiman Sehat (LP3S). (4) implementasi program Gerbangmas dapat membangkitkan kemauan dan semangat demokrasi masyarakat menuju Lumajang sehat antara laian dapat dilihat Sehat Manusianya, Sehat Lingkungannya dan Sehat Usahanya. Pelaku dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pada program Gerbangmas adalah masyarakat, pegelola anggota Gerbangmas dan kader. Berdasarkan temuan penelitian di sarankan bagi Dinas Pemberdayaan Masyarakat harus lebih memaksimalkan kinerja yang dilakukan demi kelangsungan program Gerbangmas. Terus menumbuhkan dan mengembangkan pelaksanaan kegiatan Gerbangmas sebagai salah satu media kritik sosial yang membangun pemerintahan yang lebih bersih, baik dan berhasil mensejahterakan masyarakatnya.Bagi masyarakat Lumajang harus lebih peduli terhadap lingkungan serta kesehatan. Hal ini bisa diwujudkan dengan selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan program Gerbangmas selain itu juga sebagai media penyampaian informasi-informasi bagi masyarakat yang diharapkan masyarakat dapat memahami, mengerti dan menghargai akan pentingnya program Gerbangmas untuk mewujudkan Lumajang yang sehat baik Sehat Manusianya, Sehat Lingkungannya dan Sehat Usahanya

Hubungan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn di SMP Negeri 13 Malang / Lailatul Badriyah

 

Kata Kunci: Kebiasaan Belajar, Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar PKn Salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pendidikan. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan ini amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Prestasi belajar merupakan salah satu indikator untuk menentukan kualitas pendidikan. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang menggambarkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran, diantaranya ialah pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Di dalam proses belajar siswa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi proses belajar ialah kebiasaan belajar, kebiasaan belajar merupakan masalah intern dalam proses belajar siswa, untuk belajar dengan baik siswa harus mengatasi masalah tersebut. Faktor yang tak kalah pentingnya untuk dipahami ialah sarana dan prasarana pencapai tujuan belajar misalnya perlengkapan belajar, alat praktikum, buku teks pelajaran dan sebagainya. Kebiasaan belajar dan prasarana sarana belajar siswa memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar PKn siswa. Sebagaimana kita ketahui proses belajar yang dilakukan oleh siswa akan mempengaruhi hasil belajar atau prestasi belajar PKn siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kebiasaan belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (2) mendeskripsikan fasilitas belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (3) mendeskripsikan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (4) menjelaskan hubungan antara kebiasaan belajar PKn siswa dengan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (5) menjelaskan hubungan antara fasilitas belajar PKn siswa dengan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (6) menjelaskan hubungan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar PKn siswa dengan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Lokasi penelitian di SMP Negeri 13 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 13 Malang kelas VII dan VIII Tahun Pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 622 siswa, dengan sampel siswa sebanyak 62 (10%). Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 13 Malang dan dokumen. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah metode angket dan dokumentasi. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan inferensial (analisis korelasi). Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kebiasaan belajar siswa SMP Negeri 13 Malang. Sebesar 13% atau 8 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori baik, sebesar 84% atau 52 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori cukup, sebesar 3% atau 2 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori kurang, dan 0% atau 0 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori sangat kurang; (2) Fasilitas belajar siswa SMP Negeri 13 Malang. Sebesar 79% atau 49 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori baik, sebesar 21% atau 13 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori cukup, sebesar 0% atau 0 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori kurang, sebesar 0% atau 0 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori sangat kurang; (3) Prestasi Belajar PKn Siswa SMP Negeri 13 Malang Tahun Pelajaran 2010/2011. Sebesar 1,61% atau 1 siswa memiliki prestasi belajar PKn yang baik, sebesar 91,93% atau 57 siswa memiliki prestasi belajar PKn yang cukup, sebesar 6,46% atau 4 siswa memiliki prestasi belajar yang kurang, dan 0% atau 0 siswa memiliki prestasi belajar yang sangat kurang; (4) Terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara kebiasaan belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa, dengan korelasi sebesar 0,554 dengan taraf signifikan 0,003, besarnya probabilitas 0,003<0,05 sehingga dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan signifikan antara kebiasaan belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa; (5) Terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa dengan korelasi sebesar 0,494 dan taraf signifikan 0,007, besarnya probabilitas 0,007<0,05 sehingga dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan signifikan antara fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa; dan (6) Terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa, dengan korelasi sebesar 0,556 dan taraf signifikan sebesar 0,007, besarnya probabilitas 0,007<0,05. Berdasarkan analisis uji F diketahui Fh > Ft (14,667 > 3,15) dengan besarnya probabilitas 0,003<0,05, sehingga dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa di SMP Negeri 13 Malang. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan adalah sebagai berikut; (1) sekolah dan guru PKn diharapkan dapat melatih dan memperhatikan kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa yang cukup dan memadai dalam kegiatan belajar siswa; (2) siswa diharapkan mengetahui dan memahami serta menanamkannya dalam diri bagaimana tehnik-tehnik belajar yang tepat sehingga menjadi suatu kebiasaan belajar yang baik serta memperhatikan pemanfaatan fasilitas yang tepat dan memadai untuk menunjang belajar; (3) perlu diadakan penelitian tentang faktor-faktor lain yang mempengaruhi belajar belajar siswa yang dapat berpengaruh dalam hasil belajar siswa.

Bahan ajar ekonomi untuk pengembangan model pendidikan etika bisnis di SMA/MA / Roh Rahayu Handayani

 

Kata Kunci: Bahan Ajar, Pendidikan Etika Bisnis . Perubahan pendidikan ditekankan pada pentingnya penyesuaian orientasi pendidikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat atau pengetahuan berbasis masyarakat. Secara teori kebijakan pemerintah telah menghasilkan intstitusi pendidikan yang berkualitas, berdaya saing dan relevan dengan perkembangan jaman. Namun empirisnya pendidikan sekuler cenderung membentuk pribadi yang individualis dan materialistis. Maka tak heran jika saat ini lebih banyak ditemukan manusia-manusia yang pragmatis terhadap keadaan sehingga menimbulkan krisis global yang menyentuh dimensi-dimensi intelektual, moral, spiritual. Oleh karena itu upaya untk meningkatkan kualitas pendidikan tidak boleh berhenti salah satunya dengan pengembangan bahan ajar untuk pengembangan pendidikan etika bisnis di SMA/MA. Penelitian pengembangan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan di SMAN 7 Malang kelas X.1 dengan prosedur pengembangan (a) analisis latar belakang, (b) analisis kurikulum, (c) pembuatan perangkat pembelajaran/desain produk, (d) validasi desain, (e) revisi desain, (f) pembuatan produk, (g) uji coba produk, (h) revisi produk, (i) uji coba pemakaian, (j) revisi akhir, (k) produk akhir. Dari hasil penelitian pengembangan ini adalah seperangkat bahan ajar kelas X pada standar kompetensi memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di sma/ma kelas x dengan kompetensi dasar (1) mendiskripsikan pola perilaku konsumen dan produsen dalam kegiatan ekonomi, (2) mendiskripsikan circulair flow diagram, (3) mendiskripsikan peran konsumen dan produsen dengan memasukan unsur-unsur pendidikan etika bisnis didalamnya. Bahan ajar ini memiliki kejelasan petunjuk kegiatan mampu menarik minat belajar siswa. Penelitian pengembangan ini memiliki kelebihan yaitu: (a) Materi pembelajaran sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kegiatan bersifat kontekstual, bahasa yang komunikatif, dan tampilan, atau bentuk yang menarik (berdasarkan data verbal uji guru dan siswa). (b) Kegiatan bahan ajar ini sesuai dengan minat dan kemampuan siswa, bahasa yang digunakan mudah dipahami, dan memberikan inspirasi bijaksana dalam tindakan ekonomi dengan pengembangan Etika bisnis.Selain beberapa kelebihan yang telah disampaikan diatas, bahan ajar ini juga tidak lepas dari beberapa kelemahan yaitu: (a) Bahan ajar ini hanya memuat kegiatan untuk siswa dan evaluasi siswa, sehingga dalam penggunaanya guru masih perlu menyusun alat evaluasi, (b) pengembangan bahan ajar ini sampai pada tahap uji coba kelompok siswa dan belum diujicobakan di lapangan.

Penerapan pendekatan SAVI (somatis, auditori, visual, intelektual) untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas VII-D SMP Negeri 20 Malang tahun 2010/2011 / Dwi Ayu Wulandari

 

Kata kunci : pendekatan SAVI, kemampuan, membaca puisi Pembelajaran Bahasa Indonesia meliputi empat aspek keterampilan, salah satunya adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan lain yang lebih tinggi. Pada kelas VII, salah satu kompetensi membaca yang harus dicapai oleh siswa adalah kompetensi membaca puisi. Agar siswa mampu menjadi pembaca puisi yang baik, maka dibutuhkan latihan yang berulang-ulang. Meskipun sebelumnya siswa telah banyak membaca karya sastra (puisi), namun tanpa kemampuan dan keterampilan yang terlatih kemungkinan besar pembacaan akan menjadi monoton. Penelitian ini dilaksanakan karena sebagian besar siswa kelas VII-D merasa tidak percaya diri atau malu ketika membacakan puisi di depan kelas. Skor rata-rata pada saat tes awal kemampuan membaca puisi siswa hanya 60,8, dan masih belum banyak upaya khusus yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca puisi. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI. Keunggulannya adalah pendekatan ini mencoba memanfaatkan semua indera pebelajar dan membuat seluruh tubuh/ pikiran terlibat secara aktif dalam proses belajar sehingga siswa memiliki rasa tanggung jawab dan percaya diri, serta dapat membangun pengetahuannya sendiri. Peneliti bekerjasama dengan guru bidang studi merencanakan tindakan pembelajaran yang diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran membaca puisi sekaligus meningkatkan kemampuan siswa dalam hal membaca puisi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di kelas VII SMPN 20 Malang pada tanggal 23 Maret sampai dengan 27 April 2011. Subjek penelitian ini berjumlah 39 siswa, dengan rincian 19 siswa laki-laki, dan 20 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes membaca puisi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, lembar catatan lapangan, kamera, dan rubrik penilaian. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa pembelajaran membaca puisi dengan menggunakan pendekatan SAVI dapat meningkatkan proses dan hasil kemampuan membaca puisi siswa kelas VII-D SMPN 20 Malang. Peningkatan proses kemampuan membaca puisi terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap praperformansi, performansi, dan pascaperformansi. Pada tahap praperformansi dilakukan kegiatan: (1) pemanasan sastra, (2) menyimak model pembacaan puisi, (3) membaca dalam hati, (4) mencari makna atau isi puisi, (5) memberi tanda pembacaan sastra, dan (6) berlatih membaca puisi dengan teman sejawat. Pada tahap performansi, dilakukan kegiatan: (1) pemanasan, (2) membaca puis di dalam kelompok, (3) perwakilan kelompok membaca puisi di depan kelas, dan (4) memberikan saran atau masukan terhadap pembacaan puisi yang dilakukan oleh teman sejawat. Pada tahap pascaperformansi, dilakukan kegiatan: (1) refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, (2) mengemukan kesulitan yang dialami, (3) memberikan penghargaan pada penampilan terbaik. Berdasarkan hasil analisis data peningkatan kemampuan membaca puisi pada aspek irama diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 82,05% (siklus I), meningkat menjadi 97,44% (siklus II). Pada aspek volume suara juga diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 87,18% (siklus I), meningkat menjadi 97,44% (siklus II). Pada aspek mimik juga diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 53,85% (siklus I), meningkat menjadi 79,49% (siklus II). Pada aspek kinesik juga diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 30,75% (siklus I), meningkat menjadi 76,92% (siklus II). Nilai penampilan siswa pada saat membaca puisi juga meningkat dari rata-rata 68,59 dengan siswa yang tuntas sebanyak 17 anak (43,59%) pada siklus I, menjadi 80,13, dengan siswa yang tuntas sebanyak 32 anak (82,05%) pada siklus II. Dari peningkatan hasil belajar setiap siswa, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan SAVI cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas VII-D SMP Negeri 20 Malang. Untuk lebih meningkatkan kemampuan tersebut, diharapkan agar guru Bahasa Indonesia menciptakan sebuah skenario pembelajaran yang menyenangkan akan tetapi tetap menuntut keaktifan dan keberanian siswa untuk tampil di depan umum. Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis diharapkan agar memperhatikan penggunaan waktu selama pembelajaran berlangsung.

Perbedaan hasil belajar metode ceramah bermakna dengan metode problem solving pada materi perangkat lunak pengolah angka siswa kelas XI MA Maarif Sukorejo / Agustin Muvidhatul Islamiyah

 

Kata Kunci: Hasil belajar, ceramah bermakna, problem solving Selama ini kegiatan yang dilakukan siswa pada saat proses belajar lebih banyak hanya mendengar apa yang disampaikan guru. Komunikasi yang terjadi adalah komunikasi satu arah, yaitu guru kepada siswa. Dengan pembelajaran satu arah dan lamanya jam pelajaran, menimbulkan kebosanan bagi siswa, sehingga minat siswa pada pelajaran TIK berkurang, hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa masih rendah. Penelitian dengan metode Problem solving ini dilakukan dalam upaya meningkatkan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah pada materi menu dan ikon pengolah angka. Metode problem solving melatih siswa dalam menghadapi masalah. Siswa dipacu untuk kreatif, aktif, dan tanggap dalam menghadapi berbagai masalah. Sedangkan guru memotivasi, memberikan arahan dan menjadi fasilitator. Untuk membantu guru dalam menguatkan konsep dengan simulasi/tahap-tahap pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi ekperimental atau eksperimen semu. Sampel yang digunakan sebanyak dua kelas yaitu kelas XI Bahasa sebagai kelompok eksperimen (kelompok yang diberi perlakuan menggunakan metode problem solving dan kelas XI IPS sebagai kelompok kontrol digunakan metode ceramah bermakna. Teknik analisis data menggunakan uji hipotesis dengan teknik uji-t dua pihak yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar yang menggunakan metode problem solving telah terjadi peningkatan hasil belajar, hal ini dapat dilihat pada nilai kemampuan awal siswa dengan nilai rata-rata sebesar 61,12, setelah diadakan perlakuan nilai rata-ratanya menjadi sebesar 85,42, sedangkan hasil belajar menggunakan metode ceramah bermakna hanya 79,04 dari kemampuan awal 62,20. (2) adanya perbedaan hasil belajar pada kelas kontrol dan eksperimen. Hal ini dibuktikan dari nilai Sig < 0,05 pada uji-t dua pihak. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata antara kelas eksperimen dibanding kelas kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar menggunakan menu ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pengolah angka.

Pengembangan pembelajaran e-learning berbasis moodle pada materi pedosfer kelas X Sekolah Menengah Atas / Hendra Pratama

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (2) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd. Kata Kunci: Geografi, Pengembangan, E-learning, Moodle, dan Pedosfer. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Teknologi dalam e-learning dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran interaktif, dan dukungan pada pelaksanaan pertemuan tatap muka di kelas (blended learning). inovasi ini dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran materi pedosfer untuk siswa kelas X di SMAN I Malang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi pembelajaran e-learning pada materi pedosfer yang dapat digunakan sebagai suplemen pembelajaran dan menjadi alat bantu pembelajaran untuk penyampaian materi dan tugas-tugas terstruktur siswa kelas X di SMAN I Malang. Penelitian pengembangan ini menggunakan Learning Management System (LMS) moodle untuk mendesain dan mengatur penyelenggaraan pembelajaran. Prosedur pengembangan pembelajaran e-learning ini melalui 5 tahapan, yaitu: tahap analisis, tahan desain, tahap pengembangan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Produk pengembangan yang dihasilkan berbentuk (1) model web learning materi pedosfer, dan (2) panduan penggunaan untuk siswa dan guru. Pengembangan pembelajaran berbasis e-learning ini telah diujicoba pada kegiatan pembelajaran pada materi pedosfer di SMAN I Malang semester genap tepatnya pada bulan januari hingga awal maret tahun pelajaran 2010-2011. Ujicoba awal berupa pelatihan langsung tentang pengoperasian e-learning secara keseluruhan pada kelas X-7 SMAN I Malang dengan jumlah 37 siswa. Setelah pelatihan selesai maka dilanjutkan implemetasi yaitu penggunaan dalam pembelajaran dimana semua fitur dapat diakses oleh siswa. Hasil implementasi dengan 7 indikator menunjukan hasil implementasi dalam pembelajaran berdasarkan rating scale mendapatkan prosentase 74,4%. Revisi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil implementasi dalam pembelajaran dan masukan dari guru dan siswa. Dari hasil pengujian sistem e-learning ini rata-rata responden tertarik dan antusias menggunakan model pembelajaran ini. Hasil pengembangan telah divalidasi ahli materi dan ahli media masing-masing mendapatkan prosentase 74,3% dan 91,%. Hasil tersebut menunjukkan hasil pengembangan produk sudah baik dan layak untuk digunakan oleh siswa. Berdasarkan temuan penelitian,beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan pengembangan e-learning adalah kajian-kajian pada pemanfaatannya sebagai komplemen pembelajaran. Kajian tersebut meliputi evaluasi dalam hal:(1) karakteristik siswa, sampai sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran berbasis e-learning, (2) kesiapan guru pengampu dan pengelola web (admin), (3) ketersediaan perangkat penunjang.

Unsur lokal dalam pemerintahan Kesultanan Bima masa Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (1640-1682 M) / Imam Yuliadi

 

Kata Kunci: Unsur Lokal, Konsep Kekuasaan, Kesultanan Bima, Sultan Abi”l Khair Sirajudin Kesultanan Bima sebagai salah satu kerajaan Islam di Nusantara abad XV merupakan pusat penyebaran Islam di wilayah Nusa Tenggara. Sebelum menjadi kesultanan, Bima merupakan Kerajaaan Hindu, sehingga dalam hal pemerintahan Kerajaan Bima telah mengalami 2 kali perkembangan yang terjadi karena masuknya dua budaya besar yaitu Hindu dan Islam. Namun sebagai sebuah etnis yang mengalami perkembangan pesat pada abad ke XVI di bawah Sultan Abi’l Khair Sirajuddin tentunya masyarakat Bima memiliki suatu kearifan lokal dalam hal pemerintahan yang menjadi samar dengan masuknya kedua budaya besar tersebut (budaya Hindu dan Islam) Tujuan dari penelitian adalah (1) Menjelaskan konsepsi pemerintahan dalam perspektif lokal, (2) Menjelaskan proses peralihan sistem pemerintahan di Bima dan terbentuknya Kesultanan Bima, (3) Menjelaskan bentuk unsur lokal dalam struktur pemerintahan di Bima masa Sultan Abi’l Khair Sirajuddin (1640-1682 M). Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan antropologi dan bersifat deskriptif analisis. Mulai dari pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Terkait dengan pendekatan antropologi peneliti menggunakan teori makro-mikro kosmos untuk memberikan analisis terhadap konsep kekuasaan di Bima yang merupakan bagian dari unsur lokal yang dimaksud oleh penulis. Pendekatan antopologis juga digunakan untuk melihat pengaruh unsur lokal tersebut pada perkembangan sistem pemerintahan di Bima pada masa kerajaan hingga masa kesultanan. Hasil penelitian ini adalah (1) konsep kekuasaan lokal yang terdapat di Bima adalah konsep makro dan mickro kosmos berupa kesakralan para raja yang dianggap sebagai keturunan para Dewa, dan kesakralan arah mata angin pada para Ncuhi sebagai ketua adat sekaligus penguasa 5 wilayah di Bima (wilayah barat, timur, utara, selatan, dan tengah). (2) sekitar tahun 1620 M Kerajaan Hindu Bima berubah menjadi Kesultanan Islam, setelah beberapa kali perang perebutan kekuasaan dalam keluarga kerajaan antara Sultan Abdul Kahir (Sultan I) dengan pamannya Salisi Mantau Asi Peka. (3) Pada masa Sultan Abi’l Khair Sirajuddin (Sultan II) konsep pemerintahan sebelum Islam berusaha dipertahankan dan disesuaikan dengan konsep Islam sehingga terbentuklah konsep kekuasaan baru yang disebut dengan Dwi Sila, yaitu bentuk perpaduan antara hukum Adat dan hukum Islam. Dalam Dwi Sila tersebut, konsep sangaji yang tetap dipertahankan namun disesuaikan dengan kepercayaan Islam sedangkan konsep ncuhi menjadi terbatas pada tingkat desa, sehingga fungsi ritual dan kekuasaannya terbatas di wilayahnya.

Nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata / Novie Sistiarsih

 

Kata kunci: nilai, etika, novel Kajian nilai etika adalah sebuah bagian kajian filsafat nilai yang mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang etika dalam kehidupan. Novel sebagai suatu bentuk representasi kehidupan nyata yang dituangkan pengarang dalam bentuk karya indah yang bersifat fiktif. Kehidupan nyata yang dialami seorang tokoh dalam novel menjadi acuan dalam penelitian. Hal ini dikarenakan nilai etika merupakan penilaian baik terhadap tindakan seseorang. Tindakan seseorang tersebut harus didasari oleh berbagai unsur antara lain kata hati, rasional, dan kebebasan. Jadi yang menjadi tolok ukur dalam penelitian ini adalah tindakan manusia yang baik dan didasari oleh kata hati, rasional, dan kebebasannya sebagai manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai-nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Representasi nilai-nilai etika tersebut meliputi: (1) representasi nilai etika yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap orang lain sebagai individu; (2) representasi nilai etika yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap orang lain sebagai anggota masyarakat; (3) representasi nilai etika yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan sebagai makhluk Tuhan; (4) representasi nilai etika berdasarkan tindakan terhadap diri sendiri. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filsafat tokoh karena penelitian ini berusaha untuk mengkaji pemikiran tokoh terhadap tindakan yang mereka lakukan. Data dalam penilitian ini adalah kutipan novel yang berupa paparan narasi dan dialog tentang representasi nilai etika dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tersebut. Novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka Yogyakarta pada tahun 2008. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah (1) membaca secara kromprehensif dan kritis novel Laskar Pelangi, (2) mengidentifikasi kata-kata yang mengandung representasi nilai etika, (3) kodifikasi setiap kata yang ditemukan, dan (4) klasifikasi sesuai rumusan masalah yang disusun. Analisis data dilakukan dengan cara kodifikasi, reduksi data, analisis interpretasi kemudian terdapat hasil temuan. Deskripsi yang diperoleh dari hasil analisis adalah (1) representasi nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap orang lain secara perseorangan dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu (a) Hak kawin terdapat nilai etika tentang membentuk sebuah keluarga harus berdasarkan rasa cinta dan kasih sayang serta penuh tanggung jawab agar keluarganya bisa harmonis; (b) nama baik terdapat nilai etika tentang menghargai, mengakui, menghormati, dan menjaga nama baik orang lain agar tidak terjadi kesalahpahaman; (c) hak berpikir terdapat nilai etika tentang menghargai, menghormati, dan mengakui pendapat orang lain agar tidak terjadi perselisihan; (2) representasi nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan berdasarkan tindakan terhadap orang lain sebagai anggota masyarakat yang dapat dilihat dari segi (a) demokratis terdapat nilai tentang sikap seseorang yang harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dan menjadi seorang pemimpin yang amanah bagi anggotanya; (b) kemanusian terdapat nilai etika tentang pentingnya tolong-menolong, gotong royong, toleransi dan cinta terhadap sesama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai; (c) keadilan sosial terdapat nilai etika tentang cara bersikap adil serta tidak membeda-bedakan suku dan ras; (3) representasi nilai etika dalam Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan sebagai makhluk Tuhan yang dapat dilihat dari segi (a) sifat Tuhan terdapat nilai etika tentang mempercayai sifat-sifat Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha kuasa; (b) hubungan Tuhan dengan manusia terdapat nilai etika tentang habluminallah dan habluminanas; (c) Tujuan hidup terdapat nilai etika tentang seseorang hidup di di dunia harus bekerja dan berkeluarga sedangkan tujuan di akherat dilakukan dengan beramal dan beribadah; (4) representasi nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap diri sendiri yang dapat dilihat dari segi (a) kebebasan fisik terdapat nilai etika tentang kebebasan menjaga menampilan tanpa mengancam fisik orang lain; (b) kebebasan moral terdapat nilai etika tentang kejujuran, keberanian hidup, kewaspadaan, kebijaksanaan, kesederhanaan, dan teguh pendirian.

Utilizing process genre approach to improve the writing skill of the eight graders of MTs Surya Buana Malang / Lilis Farida Isnawati

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd., M.Ed (2) Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd. Key words: writing, approach, process genre, recount, action research Writing holds an increasingly important role in the communication today. Besides, it helps the students to learn as it reinforces the grammatical structure, idioms and vocabulary that have been learnt. Based on the finding of the preliminary study, the teaching writing in the grade eighth of MTs Surya Buana Malang could not be considered successful. The students’ writing score in the preliminary study was low. Of 23 students, only four students were able to pass the minimum passing level of 70. Therefore, the researcher was greatly motivated to overcome the problem by implementing Process Genre Approach in teaching writing. This approach is a combination of the process and genre approaches that allows students to study the relationship between purpose and form of a particular genre as they use the recursive processes of prewriting, drafting, revising, and editing. These steps develop students’ awareness of different kinds of text type and of composing processes. The problem of research was how can Process Genre Approach improve the writing skills of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang in writing recount text? This study used action research design. The researcher and her collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, setting the criteria of success, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subjects of this study were VIII A students of MTs Surya Buana Malang of the 2010/2011 academic year. This study was conducted by following the procedures of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. To collect the data, the researcher used some instrument such as observation checklists, field notes, and students’ writing product. The main activity of the teaching and learning process was BKoF (Building Knowledge of the Field), MoT (Modelling of the Text), JCoT (Joint Construction of the Text), and ICoT (Independent Construction of the Text). In BKoF and MoT, the students were given a recount text then the students analyzed the generic structure, language features, and the connectors used in the text. After that the researcher gave a modeling on how to write a recount paragraph using clustering, outlining, and drafting In JCOT, in groups the students wrote a recount paragraph following the procedure in modeling. In ICOT, the students wrote a recount text independently using the modeled procedure. The findings of the research showed that using Process Genre Approach in teaching writing could improve the students’ writing skill. The improvement was indicated by the attainment of the criteria of success that was the students’ average score of 70 and 60% of the students participated. The students’ average score increased into 66.08 after the implementation of Process Genre approach in Cycle 1 and 78.13 after Cycle 2. The data from the observation check list also showed that at the end of Cycle 1, 59% of the students participated actively and after the implementation of the approach in Cycle 2 the participation increased into 77%. Based on the findings it was suggested that the English teachers apply the Process Genre Approach in teaching writing, especially recount text and used teaching media that suited their students’ ability. To the future researchers, particularly those who are interested in applying process genre approach in their Classroom Action Research, it is suggested that they use the result of the present study as reference and they should use second rater to avoid subjectivity. Furthermore, they should model how to revise and edit a text using revising and editing guide before asking the students to do self revising and editing. Peer and teacher conference is necessary to do to improve students’ motivation. Finally, they should be cautious with time management.

Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial pada remaja yang menggunakan tato dan tindik / Deasy Christia Sera

 

Kata Kunci: konsep diri, penyesuaian sosial, remaja yang menggunakan tato dan tindik Konsep diri adalah keseluruhan aspek-aspek individu mengenai persepsi tentang gambaran dirinya. Penyesuaian sosial adalah usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan kelompok sesuai dengan keinginan dari dalam tuntutan lingkungan. Dengan memiliki konsep diri yang positif maka anak dapat menciptakan hubungan dengan orang lain secara tepat dan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Tato adalah seni menghias tubuh dengan gambar tertentu. Tindik adalah seni menghias tubuh dengan melubangi dan memberi perhiasan pada anggota tubuh. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui konsep diri remaja yang menggunakan tato dan tindik; (2) mengetahui penyesuaian sosial remaja yang menggunakan tato dan tindik; (3) mengetahui apakah terdapat hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial pada remaja yang menggunakan tato dan tindik. Jenis penelitian ini adalah korelasional, sedang dalam pengambilan sampel uji coba menggunakan teknik purposive sampel, subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 38 orang yaitu remaja yang menggunakan tato dan tindik di kota Malang yang berusia 17-21 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Konsep Diri dan Skala Penyesuaian Sosial. Skala Konsep Diri dan Skala Penyesuaian Sosial yang dikembangkan oleh peneliti. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas aitem konsep diri diperoleh nilai validitas antara 0,349 sampai 0,786 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0.935. sedangkan untuk hasil uji validitas aitem penyesuaian sosial diperoleh nilai validitas antara 0,349 sampai 0,784 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0,941. Teknik pengumpulan data menggunakan skala. Teknik analisis data menggunakan analisa deskriptif dan korelasi Pearson. Hasil penelitian dari 38 subyek diperoleh hasil: (1) konsep diri remaja yang menggunakan tato dan tindik berada dalam klasifikasi sangat tinggi (10,53%), tinggi (36,84%), rendah (39,47) dan sangat rendah (13,16%); (2) penyesuaian sosialnya berada dalam klasifikasi sangat tinggi (18,42%), tinggi (23,69%), rendah (36,84%) dan sangat rendah (21,05%); (3) dengan menggunakan tehknik Spearman Brown korelasi antara konsep diri dan penyesuaian sosial sebesar rxy = 0,659 dengan signifikansi (0,000 < 0,05), berarti bahwa ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada semua klasifikasi remaja yang menggunakan tato dan tindik yang positif dan signifikan dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi: (1) remaja yang menggunakan tato dan tindik meningkatkan konsep diri dengan cara untuk meningkatkan konsep diri dengan cara lebih banyak menyadari sisi-sisi positif diri dan meningkatkannya melalui pelatihan-pelatihan mengenai konsep diri. dan berafiliasi orang lain dan memiliki persepsi yang sehat mengenai obyek, peristiwa dalam kehidupannya sehingga remaja akan dapat mengefektifkan proses sosialisasinya; (2) peneliti selanjutnya dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut, mengembangkan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendalami dinamika yang ada pada remaja yang menggunakan tato dan tindik.

Verbal language play of indonesian children in an international elementary school / Deviyanti Rafista

 

Deviyanti, R. 2013. Verbal Language Play of Indonesian Children in an International Elementary School. Thesis, Program Pascasarjana dalam Pengajaran Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata Kunci: permainan bahasa, pemerolehan bahasa, studi kasus, anak-anak Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki produksi permainan bahasa secara lisan dari dua anak Indonesia yang sedang belajar di SD internasional Rainbow Junior International School di Bali ketika mereka berinteraksi dengan teman sejawat dan juga dengan guru dalam keadaan yang natural tanpa manipulasi sedikitpun. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana permainan bahasa dapat berfungsi sebagai input bagi anak Indonesia dalam mempelajari bahasa Inggris di SD internasional Rainbow Junior yang merupakan konteks lingkungan yang natural dalam berbahasa asing. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk menyelidiki produksi permainan bahasa secara lisan di setting sekolah. Observasi yang dilakukan meliputi interaksi yang dilakukan oleh subjek dan permainan bahasa yang mereka gunakan ketika mereka berinteraksi dengan teman dan guru. Untuk mengggolongkan permainan bahasa yang di produksi oleh subjek, peneliti menggunakan 6 kategori yang diadopsi dari Corbett dan Prelock (2006). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kedua subjek memproduksi cukup banyak permainan bahasa. Permainan bunyi (Phonological play) merupakan permainan bahasa yang paling banyak diproduksi oleh kedua subjek yang diikuti oleh permainan kombinasi (combination play), permainan kata (morphological play), permainan arti (semantic play), dan yang terakhir adalah permainan linguistik (pragmatic play). Ditemukan pula bahwa kedua subjek sama sekali tidak memproduksi permainan struktur kalimat (syntactical play). Produksi permainan bahasa Rosie lebih kaya dibandingkan dengan produksi permainan bahasa Didi. Berdasarkan hasil temuan, terdapat beberapa saran bagi orang dewasa dan para peneliti selanjutnya. Orang dewasa disarankan untuk mendukung anak-anak untuk mengeksplor permainan bahasa karena hal itu dapat meningkatkan kemampuan kognitif berbahasa anak dan perkembangan bahasa mereka. Disarankan juga bagi orang dewasa untuk tidak mengkoreksi terus-terusan ketika anak memproduksi bahasa atau kata-kata yang tidak familiar. Yang terakhir, untuk para peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengamati anak-anak dalam memproduksi permainan bahasa di konteks sekolah dan rumah untuk mendapatkan data yang lebih dalam dan kaya.

Pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B pada pembelajaran sains di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang / Uswatun Kasanah

 

Kata Kunci: Lingkungan sekitar sekolah, Pembelajaran Sains, TK Keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang pada pembelajaran sains masih belum maksimal. Anak kurang memperhatikan penjelasan guru, sehingga pada saat ditanya serta menyelesaikan tugas masih banyak yang salah. Kemampuan anak dalam mengelompokkan dan memasangkan benda, menceritakan proses percobaan serta menyebut asal mula sesuatu masih rendah. Hal ini disebabkan pemanfaatan sumber belajar serta strategi pembelajaran yang belum memenuhi sasaran. Masalah yang akan diteliti adalah: 1) Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan kegiatan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan konitif anak kelompok B 2) Apakah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak tentang konsep sains sederhana 3) Apakah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah dapat meningkatkan keaktifan anak dalam belajar sains. Penelitian ini dilakukan di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang mulai tanggal 19 sampai dengan 28 April 2011, dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan , yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas kelompok B. Hasil penelitian pada siklus I rata-rata keaktifan anak sebesar 81% pada siklus II mencapai 94%, untuk skor rata-rata kemampuan kognitif anak siklus I sebesar 78% dan pada siklus II menjadi 95%. Dapat disimpulkan bahwa dengan memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar sekolah dalam pembelajaran sains dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang. Kegiatan pembelajaran sains ini meliputi; 1) mengelompokkan benda (daun, buah, sayuran) melalui kegiatan secara langsung dengan benda aslinya, 2) menyebutkan asal mula sesuatu melalui kegiatan proyek memasak, 3) memasangkan benda sesuai pasangannya melalui metode karya wisata ke kebun sekolah), 4) menjelaskan proses kegiatan atau percobaan tentang pertumbuhan tanaman melalui kegiatan menanam biji dan batang pohon singkong. Disarankan bagi para pendidik anak usia dini untuk memanfaatkan beragam sumber belajar terutama yang terdekat dengan anak pada pembelajaran sains ini dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak karena anak akan memperoleh pengalaman secara langsung dengan obyek yang sedang dipelajarinya serta lebih meningkatkan kecintaannya pada lingkungan yang ada di sekitarnya.

Strategies in learning English used by the succesful learners of English at Laboratory Junior High School State University of Malang: a case study / Wulan Rahayu

 

Key words: learning strategies, successful learners. This study focuses on the language learning strategies used by the successful learners of English. This is important to study it because learning strategies empowered learner to manage their own learning. By knowing their strategies students will be able to improve their strategies. Besides that, they will also be aware of the strategies that might be more beneficial to be used and which strategies that do not really give significant influence. In addition, successful learners’ strategies could provide a basis for developing autonomous learners. The research design of this study was case study research. Using a case study design, the study could go into the details of the phenomenon to be examined, which in this case was the learning strategies used by the successful learners of English. The subjects of this study were two successful learners of English. These subjects were VII grade students of junior high school of UM Lab school. The selection of the subjects was done purposely based on some indicators of success such as their grades in their semester transcript and Teacher’s comments about their English performance also become the consideration. The data in this study were collected through questionnaire, Strategy Inventory for Language Learning (SILL) questionnaire and open-ended questionnaire, and interview. The data gained from the questionnaire, was classified based on the objective of this research. Then it was analyzed to get the interpretation of the strategies that were used by the subjects of the study. The data from interview was in the form of verbal explanation given by the subject. The verbal explanation was analyzed to support the data gained from the questionnaire. The result of this study showed that the successful English learners in this study, generally used strategies in their learning of English. The average score of their strategies used belonged to high category, which meant that they often used strategies in their learning of English. They used direct and indirect strategies. For direct strategies, the order based on the frequency of its used was first Cognitive strategies, second Memory strategies, and third Compensation strategies. Cognitive strategies got the highest average score, which meant that these strategies were often used by the subjects. For Indirect strategies, the order based on the frequency of its used for the first subject was first Social strategies, second Metacognitive strategies, and the third Affective strategies; while for the second subject first Affective strategies, second Metacognitive strategies, and third Social strategies. For the first subject, social strategies that were used more often, while for the second subject among indirect strategies affective strategies that were used more often. Based on the result of the study, the successful learners used strategies in their learning of English, thus English learners are expected to be aware of their learning strategies and improve them in the process of their learning of English. For the less successful learners, it is recommended to develop kinds of learning strategies in their learning of English and apply them in their learning activities. English teachers are suggested to train and facilitate their students to apply and improve their strategies in their learning of English. It is recommended that English teachers can create teaching and learning activities that can help students to develop effective learning strategies. By training the students to used strategies in learning, teachers can help the students to be autonomous learners. For further researches, it is suggested to conduct similar study that investigate topics related to learning strategies such as factors affecting the choice of learning strategies or the less successful learners strategies, thus there would be a continuation of study that dealing with the learning strategies used by EFL learners in Indonesia.

Studi tentang pemilihan busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang / Mamba'ul Ulum

 

Kata Kunci: Studi, pemilihan busana. Pemilihan busana yang tepat merupakan salah satu unsur pendukung dari penampilan diri seseorang. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi seseorang dalam pemilihan busana, dari kenyataan tersebut menarik keinginan peneliti untuk melakukan kajian tentang faktor apa yang mempengaruhi cara pemilihan busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini yaitu faktor internal jasmaniah, faktor internal psikologis, faktor internal kelelahan, faktor eksternal keluarga, faktor eksternal kampus dan faktor eksternal masyarakat. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 2008, yang terdiri dari 60 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 54 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2008. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Random Sampling dan tiap kelas diambil secara random sebanyak 50%, sehingga sampelnya berjumlah 58 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu faktor yang mempengaruhi cara berbusana. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Uji validitas dan reabilitas perlu dilakukan untuk mengetahui apakah nilai dari setiap item tersebut sudah valid dan reliabel, setelah semua data sudah valid dan reliabel, angket dibagikan kesampel yang sebenarnya. Setelah semua data terkumpul lalu diolah dengan program computer SPSS 16.0, kemudian menentukan rentang skornya, menentukan panjang kelas interval, menentukan banyaknya presentase dan dari hasil setiap presentase tersebut di deskripsikan. Masing-masing faktor memiliki pengaruh dalam cara pemilihan busana mahasiswa dengan presentase yang berbeda-beda. Akan tetapi faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi cara pemilihan busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2007 dan 2008 adalah faktor internal psikologis, dimana mahasiswa akan berusaha memilih busana sesuai dengan waktu, kesempatan, situasi, kondisi tubuh, warna kulit, dan usia. Selain itu mahasiswa juga akan memilih busana yang menarik perhatian dan berusaha mengikuti trend yang sedang berlaku, sedangkan faktor yang terendah adalah faktor internal kelelahan. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Mahasiswa diharapkan bisa menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dibangku kuliah tentang bagaimana berbusana yang rapi dan sopan ketika kekampus untuk melaksanakan perkuliahan ataupun untuk menghadap ke dosen. (2) Mahasiswa diharapkan lebih memperhatikan cara pemilihan busana dengan memperbanyak dan memahami pengetahuan dalam berbusana agar dapat berperilaku busana yang lebih baik, serasi, indah, menarik dan ideal. (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk menambah variabel penelitian yang lebih variatif, sehingga dapat meneliti berbagai macam faktor yang mempengaruhi pemilihan busana, serta memperluas atau tidak membatasi populasinya.

Kajian kapasitas dan kekuatan lentur balok I (I-joist) dari kayu sengon dengan perkuatan lentur berbahan bambu petung / Andi Rubiantoro

 

Kata kunci: kapasitas lentur, kuat lentur, balok I (I joist) Widianto (2010) telah melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa balok berpenampang I (I-Joist) lebih kuat dari pada balok konvensional berpenampang persegi dengan jenis bahan kayu sengon dan volume bahan yang sama. Penelitian yang telah dilakukan Widianto (2010) masih dapat dikembangkan lebih jauh untuk meningkatkan kapasitas lentur balok I (I-Joist). Kayu sengon dengan nilai kuat lentur rata-rata sebesar 475,17 kg/cm2 (Kasmudjo, 1995) dan sebesar 475,88 kg/cm2 (Karyadi dan Suwarno, 2006), penambahan perkuatan menggunakan bahan dengan nilai kuat lentur yang lebih tinggi dari kayu sengon, seperti bambu petung, yang menurut Eratodi (2008) memiliki kuat lentur sebesar 117.986 kg/cm2, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas lentur balok I (I-Joist). Tentu saja penambahan perkuatan lentur tersebut akan diikuti dengan bertambahnya biaya, waktu serta tenaga yang dibutuhkan dalam proses pembuatan balok I (I-Joist). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Pengumpulan data berkenaan dengan nilai beban terpusat P sebagai parameter kapasitas lentur dan lendutan balok I (I-Joist) dari bahan papan kayu sengon dengan perkuatan lentur maupun tanpa perkuatan lentur dari bahan bilah bambu petung. Pengadaan dan persiapan bahan penyusun bambu petung dan kayu sengon dilakukan di Desa Supiturang, Karangploso. Sedangkan pelaksanaan eksperimen mulai dari pembuatan benda uji sampai dengan mengumpulkan data dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah nilai kapasitas lentur dan kuat lentur balok I (I -Joist), sedangkan variabel bebasnya adalah bentuk penampang balok. Hasil penelitian menunjukkan (1) penambahan perkuatan lentur dari bahan bilah bambu petung tidak efisien karena perbandingan antara persentase rata-rata tegangan lentur bambu petung yang telah diaplikasikan sebagai bahan perkuatan lentur pada benda uji balok I (I-Joist), sebesar 0,747 % dari tegangan lentur ultimit (MOR) rata-rata bambu petung, dengan persentase rata-rata tegangan lentur kayu sengon yang telah diaplikasikan menjadi sebuah bentuk benda uji balok I (I-Joist), sebesar 3,973 % dari tegangan lentur ultimit (MOR) rata-rata kayu sengon, menghasilkan selisih perbandingan yang cukup besar, yaitu 3,226 %. (2) Tidak terpenuhinya beban P hasil perhitungan analitis oleh beban P hasil eksperimen menghasilkan nilai faktor reduksi. Rerata faktor reduksi terhadap beban P hasil perhitungan analitis untuk keseluruhan benda uji tanpa perkuatan lentur adalah 0,549. Sedangkan rerata faktor reduksi terhadap beban P hasil perhitungan analitis untuk keseluruhan benda uji dengan perkuatan lentur adalah 0,865. Adanya faktor reduksi tersebut disebabkan asumsi benda uji bekerja secara monolit sempurna tidak dapat diaplikasikan pada benda uji yang sesungguhnya.

Using story grammar strategy to improve the eight graders' reading comprehension of narrative text (at MTs Miftahul Mubtadiin Muncar Banyuwangi) / Tri Mulyati

 

Thesis.Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Suharmanto, M.Pd, (II) Dr. RoembilinSoepadi, M.A. Key words: Story Grammar, reading comprehension, narrative text This research was designed to describe how the Story Grammar strategy can improve the eighth graders’ reading comprehension of narrative text at MTs MiftahulMubtadiinMuncar. The story grammar strategy through story mapping was selected because it was reported that the elements of story visually represented in the story maps provide a clear picture of the narrative text structures in the students’ mind and guide them through the text and finally improve their reading comprehension. Thus, this study was directed to solve the students’ problems in comprehending narrative texts in terms of recognizing meaning of words in the text, meaning of sentences in the text, topic of the text, and the rhetorical structures of the narrative text. Collaborative Classroom Action Research was employed. The subjects of the research were the eighth graders of second semester (VIII-3) of MTs MiftahulMubtadiinMuncar in the 2010-2011 academic year. This research was conducted in two cycles comprising four stages of action research, i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The implementation of the action encompassed three meetings in Cycle 1 and two meetings in Cycle 2. It was started with an initial introduction in the first meeting. Here, the teacher read out aloud a narrative text. Then, she modeled the students how to make a story map out of a narrative text and explained to them about the elements of narrative text. She also modeled how to answer reading comprehension questions. Afterward, the teacher applied this strategy to the students by asking them to practice and internalize the strategy in their own time. When applying the story grammar strategy to the students, the teacher asked them to work in pairs. She also distributed the students’ worksheet. Then, the implementation of story grammar strategy in the following meetings was encompassed through three stages: pre-reading, whilst-reading, and post-reading. The steps in the pre-reading stage are: (1)activating the students’ schemata by showing pictures and or giving schema related questions; (2) introducing some irregular verbs; (3) modeling on how to memorize them through body movement. The steps in the whilst-reading stage are: (4)askingthe students to read the text once or twice silently; (5) asking the students to make a story map with their peers; (6) guiding the students by giving some questions which bring out the basic parts of the narrative text to them, such as, who the story is about, what happens in the story, where the story takes place, and how the story ends; (7) providing the list of vocabulary and assistance. The steps in the post-reading stage are: (8) discussing the story maps that the students made in pairs; (9) asking the students to answer the comprehension questions; (10) discussing the answers with the whole class. The students’ reading comprehension achievement in the form of score and the information on students’ interaction during the teaching and learning process were obtained by administering a reading comprehension test at the end of each cycle and by using observation checklists and field notes. The findings of this research indicated that the story grammar strategy was successful in improving the students’ reading comprehension of narrative texts. The comparison of the result of reading comprehension in the preliminary study and in Cycle 2 indicated that 21 students reached gain score of ≥ 20 points. Dealing with the students’ interaction, it also seemed that students were enthusiastic and actively involved in all activities. Based on the research findings, teachers are recommended to use the story grammar strategy as one of alternatives strategies for English instruction. Considering the positive effects of story grammar strategy, students are suggested to apply this strategy in reading narrative texts. For other researchers, it is suggested to conduct a study on story grammar strategy by employing other research designs with reading materials at the same or higher level to find out the advantages of this strategy in the teaching of reading.

Penerapan metode bermain kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kabupaten Blitar / Asyroful Ma'wa

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, bermain kartu kata ,TK Penelitian ini berlatar belakang pada anak yang mengalami kesulitan dalam mengenal kata – kata sejenis, menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya.Guru belum menggunakan metode yang tepat dalam mengembangkan kemampuan tersebut. Penyebab dari kesulitan tersebut adalah metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran kurang menarik bagi anak, anak merasa bosan dan bermain sendiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode bermain kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa kelompok B,(2) Mendeskripsikan hasil penerapan metode bermaian kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kab.Blitar. Pendekatan adalah pendekatan kualitatif dengan model PTK. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Subyek penelitian guru dan anak didik kelompok B di TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kabupaten Blitar, dengan jumlah peserta didik 25 anak. Penelitian di lakukan pada tanggal 9 Mei 2011 sampai dengan 20 Mei 2011. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas.Instrumen yang digunakan adalah (1) Aktivitas siswa dalam bermain kartu kata (2). Peningkatan kemampuan berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain kartu kata dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I aktivitas Kemampuan rata rata anak mencapai 67 % dan meningkat menjadi 84% pada siklus II. Pada siklus I ke siklus II kemampuan anak mengalami peningkatan yaitu 17 % Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan langkah-langkah metode bermain dengan menggunakan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat menerapkan langkah metode pembelajaran yang inovatif,menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pengembangan dan efektifitas media pembelajaran untuk meningkatka hasil belajar siswa dengan media visual sejarah kelas XI di SMA Negeri 9 Malang / Sucipto

 

Kata Kunci: pengembangan media visual sejarah ,efektifitas media pembelajaran, hasil belajar. Media pembelajaran kurang dimanfaatkan oleh guru sejarah di SMA Negeri 9 Malang, sehingga dalam penyampaian materi sejarah kurang menarik bagi peserta didik/siswa. Media yang biasa digunakan oleh guru selama ini buku teks, penggunaan papan tulis, permainan monopoli dengan menggunakan soal-soal. Guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Malang juga belum menggunakan variasi media, bahkan peta juga jarang digunakan. Kurangnya variasi dalam penggunaan media menyebabkan minat peserta didik terhadap pelajaran sejarah juga kurang. Penggunaan metode yang kurang tepat dan penggunaan media yang belum memadai, menyebabkan hasil belajar siswa rata-rata kelas XI IPS masih dikisaran KKM mata pelajaran sejarah yang ditetapkan pihak sekolah yaitu 75. Oleh karena itulah dilakukan sebuah penelitian pengembangan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini, yaitu (1) Bagaimana mengembangkan media visual sejarah untuk bahan ajar Kelas XI di SMA Negeri 9 Malang?, (2) Bagaimana efektifitas penggunaan media visual sejarah? dan (3) Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan media visual di SMA Negeri 9 Malang?. Tujuan pengembangan yaitu (1) Untuk menghasilkan media visual sejarah sebagai media pembelajaran. (2) Untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran. (3) Mediskripsikan hasil belajar siswa kelas XI yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan media visual sejarah di SMA Negeri 9 Malang. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Model pengembangan software ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) tahap identifikasi kebutuhan materi dan media; (2) tahap perancangan prototipe yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan editing; (3) tahap produksi prototipe software; (4) tahap validasi kelompok kecil yang terdiri dari tiga subjek validasi yaitu ahli media, ahli materi, dan audiens; (5) tahap revisi; dan (6) tahap pengemasan akhir. Hasil penelitian menyatakan bahwa media ini secara keseluruhan mendapatkan penilaian 94 (Valid) dari ahli media, 86 (Valid) dari ahli materi, 94 (valid) dari siswa pada uji coba individu, 94 (Valid) dari siswa pada uji coba terbatas, dan 95 (Valid) pada uji coba lapangan. Selain itu, media pembelajaran ini juga terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah penelitian menggunakan media visual sejarah, ternyata media ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan pada peningkatan nilai yang didapat oleh siswa sebelum menggunakan media (pre test) dan setelah menggunakan media (pos test). Pada uji coba individu, uji coba terbatas dan uji coba lapangan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah mengalami pembelajaran menggunakan media visual sejarah. Produk ini dibuat hanya untuk materi Hindu-Budha yang merupakan salah satu produk bahasan di dalam Standar Kompetensi, oleh karena itu, disarankan kepada pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lainnya seperti: Kehidupan Pra-Sejarah, Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Pendudukan Jepang di Indonesia, dan lainlain.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |