Hubungan antara kegiatan promosi periklanan dengan omzet penjualan di PT Pemandian dan Hotel Slecta Batu Malang
oleh Ana Sulistyawati

 

Persepsi pasca penderita kusta terhadap pendidikan, masyarakat dan penyakitnya di Panti Pemukiman Pasca Penderita Kusta Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan
oleh Kusnundon

 

Penelitian tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi anggota di bidang usaha pada KPN Sejahtera" Depdikbud Blitar
oleh Yulianti"

 

Identifikasi kemampuan menyelesaikan soal-soal fisika yang dilakukan siswa kelas II A1 Negeri 1 Kediri ditinjau dari kemampuan intelektualnyaoleh Yulis Kusmonowinarti

 

Hubungan antara kompetensi guru dan hasil belajar bidang studi IPS-Geografi siswa SMP di Kotamadya Malang / oleh Ninik Widayanti

 

Hubungan antara kebiasaan belajar siswa dengan kemampuan menyelesaikan soal-soal hitungan kimia bentuk esai pada siswa kelas II program A-1 dan A-2 SMA Negeri se-Kodya Blitar / oleh Mashudi

 

Kerapan sapi sebagai salah satu wujud kebudayaan masyarakat Madura tinjauan sejarah, fungsi dan peranannya / oleh Misturah

 

Pengaruh perbedaan urutan letak butir soal ilmu kimia berdasarkan tingkat kesukaran terhadap tes hasil belajar siswa kelas IIA1 SMA Negeri 2 Kediri / oleh Tri Harianie

 

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media google sketchup 8 untuk memahamkan konsep jarak pada dimensi tiga kelas X di SMA Negeri 1 Turen / Syaiful Hamzah Nasution

 

Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif tipe STAD, Google SketchUp 8, pemahaman jarak pada dimensi tiga. Dalam proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang dimensi tiga masih lemah. Siswa cenderung terpengaruh dengan tampilan objek dimensi tiga yang disajikan dalam gambar dimensi dua. Oleh karena itu diperlukan suatu media untuk memberikan visualisasi objek dimensi tiga yang dapat membantu siswa dalam memahami objek dimensi tiga. Salah satunya dengan menggunakan Google SketchUp 8. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media Google SketchUp 8 untuk memahamkan konsep menentukan jarak dari titik ke titik, titik ke garis, titik ke bidang, garis ke garis, garis ke bidang dan bidang ke bidang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam penelitian ini terbagi dalam enam tahap, yaitu : (1) pembentukan kelompok, (2) presentasi kelas dengan menggunakan Google SketchUp 8, (3) diskusi kelompok dengan menggunakan Google SketchUp 8, (4) presentasi hasil diskusi kelompok, (5) tes, dan (6) penghargaan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa ketuntasan belajar klasikal pada tindakan I adalah 92,31% dan tindakan II adalah 92,31% banyaknya siswa memperoleh skor tes akhir tindakan lebih dari atau sama dengan 75. Hal ini berarti bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media Google SketchUp 8 dapat memahamkan siswa tentang konsep menentukan jarak pada dimensi tiga. Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan menggunakan media Google SketchUp 8 sangat positif.

Penggunaan metode bermain untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran teknik dasar lompat jauh kelas V SDN Gejugjati 1 Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Baha'udin

 

Kata kunci: Keaktifan siswa, Teknik dasar Lompat Jauh, bentuk-bentuk permainan. Berdasarkan hasil observasi awal tentang pembelajaran teknik dasar Lompat Jauh yang dilaksanakan di SDN Gejugjati l Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, diperoleh hasil bahwa siswa kelas V SDN Gejugjati I terlihat kurang bersemangat dalam pembelajaran atletik khususnya tentang teknik dasar Lompat Jauh. Hal ini diperkuat lagi melalui hasil wawancara dengan guru pendidikan jasmani bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran teknik dasar Lompat Jauh masih tergolong kurang karena pembelajaran dalam atletik khususnya Lompat Jauh kurang disenangi sehingga dalam aktivitas pembelajaran cenderung kurang aktif dalam proses pembelajaran. Sehingga keaktifan siswa dalam pembelajaran atletik Lompat Jauh juga masih rendah, dari 32 jumlah siswa ada 37,5% siswa atau 12 siswa yang tergolong aktif dan 62,5% atau 20 siswa tergolong tidak aktif. Dalam atletik diperlukan pengembangan atletik yang memiliki unsur permainan. Untuk itu perlu adanya metode dengan bentuk-bentuk permainan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Gejugjati I. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, angketdan catatan lapangan. Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan keaktifan siswa dari siklus ke siklus. Peningkatan keaktifan siswa pada saat pembelajaran pada siklus 1 mencapai 70%. Sedangkan peningkatan pada siklus 2 keaktifan siswa pada saat pembelajaran mencapai 86.66%. Peningkatan juga terjadi pada respon siswa melalui angket dari siklus 1 yaitu 78,12% dengan kategori baik menjadi 93,75% pada siklus 2 dengan kategori baik sekali. Peningkatan keaktifan siswa juga terlihat pada hasil observasi teknik dasar Lompat jauh pada siklus 1 yaitu 87,5% menjadi 93,75% pada siklus 2. Pengamatan teknik dasar Lompat Jauh berdasarkan 4 indikator yaitu sikap saat awalan, saat melakukan tumpuan, saat melayang dan saat melakukanpendaratan. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan bagi guru Pendidikan Jasmani untuk menggunakan metode bermain dalam pembelajaran teknik dasar Lompat Jauh , karena sudah terbukti berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa metode bermain dalam pembelajaran teknik dasar Lompat Jauh, dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas V SDN Gejugjati I Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan.

Kajian pustaka tentang psikologi olahraga, kesehatan mental dalam meningkatkan prestasi olahraga ditinjau dari studi ilmu kepelatihan / oleh Catur Yudi Hariyadi

 

Paket program komputer untuk simulasi pemantulan cahaya pada cermin datar dan cermin sferis / oleh Purboningrum

 

Pengembangan audio tape rekorder materi ekonomi dan koperasi untuk siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama kelas II semester 3 / oleh Danu Subroto

 

Hubungan faktor pengetahuan hukum, sanksi hukum, dan perilaku penegak hukum dengan ketaatan pengemudi angkutan kota terhadap UU no. 14 tahun 1994 (penelitian di Kotamadya Dati II Malang) / oleh Tukono

 

Keefektifan antara pembahasan soal tes harian dengan pemberian umpan balik terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas II SMA Negeri 2 Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Yayok Wahyudi

 

Diagnosis kesulitan belajar fisika unit kinematika gerak lurus dan dinamika gerak lurus siswa kelas I SMA Negeri Pasuruan tahun ajaran 1994/1995 / oleh Khoirul Anwar

 

Hubungan antara tingkat penghasilan dengan tingkat pengembalian atas investasi pada Koperasi Karyawan Sari Madu PG Kebonagung Malang
oleh Sri Rejeki Suswandari

 

Kesiapan SMP Negeri di Kecamatan Kepanjen dalam menerapkan mata pelajaran motor bakar sebagai muatan lokal kurikulum 1994
oleh Zainuri

 

Pengaruh cara dan lama pemasakan terhadap jumlah kristal kalsium oksalat pada lima jenis sayuran daun / oleh Dian Prahestuti

 

Analisis realita protes sosial dalam naskah-naskah Teater Gandrik"
oleh Muhammad As'ari"

 

Dirasah washfiyah an atta'birat al-lughowiyah al-mustakhdimah fit-mawaqit al-ijtima'iyah / Imam Sulthoni

 

Pengembangan program pembelajaran pendidikan Pancasila dan Kewargaanegaraan dengan menggunakan metode bermain peran untuk sekolah dasar / oleh Slamet Marwoto

 

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mobilitas tenaga kerja informal studi kasus pada bursa tenaga kerja di Jalan Raya Langsep, Kotamadya Malang / oleh Yayuk Handayani

 

Pengembangan bahan ajar IPA terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema manusia bijak menjaga kelestarian bumi untuk siswa SMP/MTs kelas VII / Legga Putra Nuansa

 

Kata Kunci:. Bahan Ajar, IPA Terpadu, Konstruktivisme Seiring diberlakukannya KTSP pada tahun ajaran 2006/2007 maka subtansi pelajaran IPA pada tingkat pendidikan SMP/MTs berubah menjadi IPA Terpadu. Pembelajaran terpadu ini menuntut bahan ajar yang terpadu pula. Bahan ajar merupakan salah satu sarana yang penting untuk menunjang proses pembelajaran, karena itu perlu bahan ajar yang dapat mendukung keterlaksanaan pembelajaran di kelas. Maka dengan ini dikembangkan bahan ajar untuk pembelajaran IPA Terpadu dengan tema Manusia Bijak Menjaga Kelestarian Bumi. Pengembangan bahan ajar IPA Terpadu menggunakan model pengembangan Borg and Gall yang telah dimodifikasi. Adapun tahap pengembangannya antara lain sebagai berikut (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) tahap validasi ahli, (5) tahap revisi produk awal, (6) tahap uji kelompok kecil, (7) tahap revisi produk akhir. Tahapan validasi dilakukan oleh ahli bahan ajar IPA terpadu, ahli materi Kimia dan Biologi serta ahli praktisi pendidikan. Uji coba kelompok kecil dilakukan sebatas pada keterbacaan bahan ajar dengan subjek coba 15 orang siswa di MTs Hasyim Asy’ari yang telah menempuh materi yang diintegrasikan. Hasil validasi bahan ajar menunjukkan kevalidan dari aspek bahan ajar sebesar 92,27%. Kevalidan dari aspek materi sebesar 90,32% dan dari aspek praktisi pendidikan sebesar 90,28%. Meski dari dari ketiga aspek menujukkan kevalidan, namun revisi tetap dilakukan berdasarkan komentar, saran dan kritik dari validator guna meningkatkan kualitas bahan ajar. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengacu pada seluruh tahapan pengembangan oleh Borg and Gall yakni uji coba lapangan (main field testing), penyempurnaan produk hasil uji lapangan (operasional product revision), penyempurnaan produk akhir (final product revision), desiminasi dan implementasi (dissemination and implementation). Perlu dilakukan pengembangan bahan ajar untuk kompetensi dasar lainnya yang memungkinkan untuk diintegrasikan atau dipadukan.

Penentuan kadar boraks dalam air alam Thithet di Desa Wonorejo Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan / oleh Siti Choiriah

 

Analisis kesalahan penggunaan isim ma'rifah dalam bahasa Arab tulis siswa kelas II Madrasah Aliyah Futuhiyyah-2 Mranggen Demak tahun ajaran 1994/1995
oleh Ambarwati Amiroh

 

Sistem akuntansi untuk pengendalian intern pada perusahaan otobis Akas unit I Probolinggo
oleh Isa Wirahadi Putra

 

Pengaruh frekuensi pemberian tes formatif terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas II A2 SMA Negeri 1 Lumajang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Nurhadi

 

Pengaruh kehidupan sosial ekonomi mahasiswa terhadap prestasi belajar pada mahasiswa Jurusan PDU FPIPS IKIP MALANG
oleh Titik Wijayanti

 

Studi pemahaman konsep struktur atom siswa kelas II A1 dan II A2 SMA Kabupaten Ngawi / oleh Naryani

 

Kemampuan mahasiswa program pendidikan bahasa Arab JPBA FPBS IKIP MALANG yang telah menempuh mata kuliah istimak II dalam menyimak berita berbahasa Arab di Radio / oleh R. Isro' Bagus Kusumobroto

 

Hubungan antara kekuatan otot tungkai, panjang tungkai dan besar paha terhadap kemampuan menendang bola mahasiswa putra POK IKIP MALANG angkatan 1993 semester ganjil tahun 1994/1995 kelas B
oleh Mohammad Agus Sudjono

 

Inventarisasi spesies tumbuhan dari suku Euphorbiaceae yang ditemukan di kampus IKIP MALANG / oleh Kamiyatik Khoiroh

 

Efektivitas rational emotive behavior therapy untuk mengurangi kecemasan siswa akselerasi SMA Negeri 1 Batu / Ririn Andriana

 

Kata Kunci: Efektivitas, kecemasan, REBT, DIBS (Dispute Irrational Beliefs System) Program akselerasi merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak berbakat akademik, diharapkan program ini dapat memenuhi kebutuhan layanan pendidikan yang berbeda bagi mereka yang tergolong gifted atau peserta didik yang memiliki kemampuan diatas rata-rata kemampuan kelas reguler. Dalam program akselerasi siswa diupayakan dapat mengikuti dan menyelesaikan program pendidikan lebih cepat dari program reguler. Misalnya di SMA dari 3 tahun menjadi 2 tahun. Adanya pemampatan dan singkatnya waktu serta banyaknya tugas-tugas yang harus diselesaikan di kelas akselerasi dapat menyebabkan siswa berpeluang mengalami masalah, misalnya segi penyesuaian sosial, segi akademik penyesuaian emosional. Jika siswa memandang tugas-tugas dan pemampatan waktu dengan positif maka hasilnya akan baik dan bahkan menjadi suatu motivasi namun, sebaliknya apabila kita meresponnya negatif akan merupakan suatu ancaman. Jika hal tersebut terjadi pada siswa akselerasi menyebabkan siswa merasa khawatir, gelisah, tegang yang nantinya akan menyebabkan kecemasan ketika mengikuti pembelajaran di kelas akselerasi tersebut dan cenderung berfikiran irrasional sehingga diperlukan suatu upaya untuk mengubahnya menjadi pemikiran yang rasional dan akhirnya akan dapat menurunkan tingkat kecemasannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy untuk mengurangi kecemasan siswa akselerasi di SMA Negeri I Batu, sedangkan rumusannya Apakah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) efektiv untuk mengurangi kecemasan siswa akselerasi SMA Negeri I Batu. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan teknik DIBS (Dispute Irrational Belief System), yang bekerja dengan cara menelusuri, mencari, menemukan, mempertanyakan, menentang, membantah dan mendebat irrational beliefs. Teknik yang digunakan DIBS (Dispute Irrational Belief System), dengan menggunakan empat tahap yaitu: (1) Tahap I: Membangun hubungan interpersonal (rapport), (2) Tahap II; Emperical Disputing, (3) Tahap III; Logical Disputing, dan (4) Tahap IV; Pragmatical Disputing. Penelitian ini menggunakan metode studi pra-eksperimental dengan rancangan the one group pre-test- post test. Subyek penelitian adalah siswa yang mengalami kecemasan tinggi sebanyak 5 orang siswa yang dijaring dengan menggunakan skala kecemasan. Analisis data menggunakan statistik non parametrik yaitu teknik analisis uji beda Wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis data didapatkan nilai z hitung -2,032 dengan probabilitas 0,042. Bila taraf kesalahan 5 %, maka z tabel ± 1,96. Berdasarkan hasil analisis, z hitung ternyata lebih besar dari ±1,96 z hitung {-2,032}> z tabel > -1,96}, dengan demikian H0 tidak diterima. Dalam tes uji dua pihak dua daerah penolakan terdapat kedua ujung sisi distribusi sampling. Oleh karena itu ƿ = 0,042 dan ƿ < ɑ (0,042 < ɑ < 0,05) dan karena nilai z masih berada di dalam daerah penolakan, maka keputusannya adalah Hɑ diterima artinya teknik DIBS efektif untuk mengurangi kecemasan siswa akselerasi. Kesimpulan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan REBT (Rational Emotive Behavior Therapy) dengan teknik DIBS (Dispute Irrational Beliefs System) efektif untuk mengurangi tingkat kecemasan siswa Akselerasi di SMA Negeri I Batu.

Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB untuk mata pelajaran senirupa pokok bahasan gambar bentuk kelas X di SMA Negeri 1 Pandaan / Putro Bagus Kurniawan

 

Kata Kunci : Biji Nangka, Mesin, Pengolah, Penyaring Di Indonesia sekarang ini banyak sekali sumber gizi alternatif yang telah banyak di kembangkan. Seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, konsumsi bahan pangan juga semakin bertambah. Biji nangka termasuk alternatif gizi yang benilai murah dikarenakan banyak yang tidak dimanfaatkan dan hanya terbuang dengan percuma. Biji nangka memiliki kandungan fosfor dan kalsium yang lebih tinggi dari kedelai, selain itu keunggulan lain dari biji nangka adalah memiliki lemak yang rendah. Dari hasil penelitian dapat di ketahui bahwa setiap 100 gram sari biji nangka mengandung karbohidrat sebanyak 18,74 gram, protein 0,29 gram, lemak 0,23 gram, kalsium 39,39 mg, kadar air 80,74 gram, kalori 74,96 kkal, dan fosfor 400 mg (Direktorat gizi, Depkes 2009). Kandungan dari ampas hasil pengolahan yang dapat dibuat bahan dasar pembuatan adonan kue dan lain-lain (Kementerian Negara Riset dan Teknologi-www.ristek.go.id). sehingga dibutuhkan rancangan sebuah alat mesin pengolah biji nangka in filter sebagai alat dasar dari pembuatan susu sari biji nangka. Rancang bangun mesin pengolah biji nangka dengan sistem in filter adalah alat yang bisa mengolah biji nangka menjadi bahan dasar susu sari biji nangka, yang menggunakan putaran pisau sebagai alat pengolahnya dan in filter sebagai penyaring didalamnya. Prinsip dasar kerja pada mesin pengolah biji nangka ini adalah pada saat motor keadaan menyala maka, akan menggerakkan poros pisau dengan perantara puli motor, sabuk dan puli poros pisau, setelah poros pisau bergerak maka akan menggerakkan pisau dan biji nangka akan masuk melewati bejana dan proses pengolahan terjadi di dalam bejana pengolah, setelah biji nangka lembut cairan akan terpisah dengan ampasnya didalam penyaring. Dengan dibuat mesin pengolah biji nangka diharapkan biji nangka bisa diproduksi dengan kapasitas besar. Rancang bangun mesin pengolah biji nangka ini adalah salah satu cara untuk mengatasi kendala masyarakat yang membutuhkan sumber gizi alternatif yang harganya dapat terjangkau oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Bukan itu saja, rancang bangun mesin pengolah biji nangka ini diharapkan juga dapat dikembangkan agar menjadi suatu alat produksi yang hasilnya dapat dipasarkan, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan baru pada masyarakat sekitar, sehingga biji nangka yang semula terbuang dengan percuma bisa untuk dimanfaatkan menjadi nilai guna yaitu sari susu biji nangka.

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran mata diklat sepeda motor materi engine di kelas X pada Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMKN 10 Malang / Tomy Sugiharto

 

Kata kunci: Studi Tentang Pelaksanaan Pembelajaran Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi ciri abad sekarang atau millennium ketiga. Hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar kepada tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun bangsa secara keseluruhan. Bagaimanapun ini adalah suatu tantangan yang harus dihadapi, dan salah satu upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Diyakini banyak pihak bahwa meningkatkan SDM salah satu hal yang harus dibenahi ialah mutu atau kualitas pendidikan. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas pendidikan, maka pemerintah bersama pihak swasta berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui pengembangan, perbaikan kurikulum, sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengadaan materi ajar, pelatihan bagi guru dan tenaga pendidikan lainnya. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka didirikanlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dimana Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan tingkat menengah bertujuan untuk menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan akhlak mulia serta memiliki kompetensi yang berstandar nasional dan global. Di SMK siswa akan diberikan berbagai macam pelajaran salah satunya pelajaran produktif terdiri dari : (1) Pembacaan dan pemahaman gambar teknik, (2) Pemeliharaan/service sistem hidrolik, (3) Penggunaan dan pemeliharaan alat ukur, (4) Pengujian, pemeliharaan/servis dan penggantian baterai, (5) Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan, (6) Perbaikan sistem pengapian, (7) Pemeliharaan/service engine sepeda motor, dan lain-lain. Untuk membentuk lulusan yang berkualitas dan kompeten dibidangnya maka banyak faktor yang harus diperhatikan yaitu studi tentang pelaksanaan pembelajaran. Studi tentang pelaksanaan pembelajaran ini terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Selain itu terdapat faktor lain yang menjadi pendukung kegiatan belajar mengajar yaitu fasilitas dan media pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X pada program TKR di SMKN 10 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran mata diklat sepeda motor materi engine di kelas X pada program keahlian teknik kendaraan ringan SMKN 10 Malang penyusunan perencanaan pelaksanaan pembelajaran telah disusun secara sistematis berdasarkan pada silabus yang ada dan berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran serta kompetensi dasar yang telah ditetapkan secara nasional. Sedangkan pelaksanaan pembelajarannya sudah baik, dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa melalui kegiatan observasi yang telah dianalisis oleh peneliti dan mendapatkan hasil yang bisa diartikan sangat baik. Pelaksanaan pembelajaran juga sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru dan telah disetujui oleh kepala bidang. Hasil Pembelajaran juga dikatakan baik, karena guru telah melaksanakan tiga tahap untuk melakukan proses evaluasi, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengolahan hasil evaluasi, sedangkan aspek yang dinilai ada tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Perencanaan pembelajaran telah disusun secara sistematis berdasarkan pada silabus yang ada dan sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Oleh karena itu, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kualitasnya sudah baik dipertahankan dan ke depan disempurnakan mengikuti perkembangan zaman, (2) Kepada guru-guru lain SMKN 10 Malang diharapkan dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan menggunakan alat serta sumber belajar yang lebih baik, (3) Evaluasi pembelajaran dan hasilnya sudah baik, perlu dipertahankan dan ditingkatkan lebih dari Standar Ketuntasan Minimum (SKM). Secara standar SKM sudah terpenuhi, diharapkan ke depan SKMnya meningkat lagi diatas 70 sehingga lulusan SMKN 10 Malang dapat bersaing di dunia industri.

Penerapan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Klojen Kidul Kota Malang semester II tahun ajaran 2011/2012 / Lailatul Badriyah

 

Kata Kunci: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD, Metode Inkuiri, Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek kecakapan hidup (Depdiknas, 2008:484). Hasil wawancara dengan guru kelas IV , 6 Februari 2012 ditemukan fakta, bahwa hasil belajar siswa selama ini belum mencapai SKM yang ditentukan. Selain itu, kurangnya perhatian dan motivasi belajar dari orang tua dan lingkungan sosial yang kurang memperhatikan pendidikan, padahal pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2008:484). Maka untuk mengatasi masalah pada pembelajaran IPA kelas IV diterapkan metode inkuiri dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa, karena departemen pendidikan nasional menyarankan menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA tetapi selama ini guru belum menerapkannya. Metode inkuiri memberikan kepada siswa pengalaman-pengalaman yang nyata dan aktif. Siswa dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan dan memperoleh keterampilan. Tujuan dari penelitian ini, adalah:(1) mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran IPA siswa kelas IV semester II tahun ajaran 2011/2012 SDI Klojen Kidul kota Malang kompetensi dasar mengidentifikasi sumber-sumber energi panas dan bunyi yang ada di lingkungan sekitar, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV semester II tahun ajaran 2011/2012 SDI Klojen Kidul kota Malang pada pembelajaran IPA kompetensi dasar mengidentifikasi sumber-sumber energi panas dan bunyi yang ada di lingkungan sekitar melalui penerapan metode inkuiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk pembelajaran IPA siswa kelas IV SDI Klojen Kidul Kota Malang dengan kompetensi dasar mengidentifikasi sumber-sumber energi panas dan bunyi yang ada di lingkungan sekitar (Depdiknas, 2008:493) dapat dilaksanakan dengan efektif. Kegiatan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Skor kegiatan siswa diperoleh dari lembar observasi yang berisi indikator-indikator yang sudah ditetapkan. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 63 dan ketuntasan kelas 25% pada akhir siklus I menjadi rata-rata 76,5 dan ketuntasan kelas mencapai 75% pada akhir siklus II. Penelitian ini dilaksanakan di SDI Klojen Kidul Jalan Aries Munandar Gang VI B no 2 Kelurahan Kidul Dalem Kecamatan Klojen Kota Malang pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012 melalui penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV berjumlah 8 siswa. Pengumpulan data yang dilakukan melalui tes dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melaksanakan pembelajaran melalui penerapan metode inkuiri di kelas sebaiknya guru memeratakan pertanyaan dan memberi kesempatan

Analisis ketersediaan fasilitas belajar dan lingkungan sekolah pada teknik kendaraan ringan mata diklat perawatan engine di SMK Negeri 1 Pungging Kabupaten Mojokerto / Uswatun Hasanah

 

Kata Kunci: Ketersediaan Fasilitas belajar, Lingkungan sekolah Proses belajar mengajar akan semakin baik apabila ditunjang oleh fasilitas pendidikan yang memadai. Fasilitas belajar meliputi antara lain: alat, bahan dan, media pembelajaran, yang menunjang proses belajar siswa. Penyediaan fasilitas belajar merupakan suatu hal yang harus diperhatikan agar dapat menumbuhkan kreatifitas siswa. Hal lain yang juga menentukan kualitas lulusan adalah terkait dengan kesesuaian dan ketersediaan fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran produktif. Selain fasilitas belajar yang dimiliki oleh sekolah, faktor lingkungan sekolah juga mempengaruhi dalam kegiatan belajar siswa. Lingkungan sekolah dapat dilihat dari tata letak lingkungan yang ada di sekitar sekolah, yaitu lingkungan sekitar sekolah yang dapat mendukung proses belajar. Dari lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal, sehingga menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih, agar dapat menjadi siswa yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yakni lembar observasi dengan menggunakan analisis deskriptif persentase dalam empat kategori, yaitu kategori: (1) sangat sesuai, (2) sesuai, (3) cukup sesuai, dan (4) tidak sesuai. Terdapat dua variabel yang hendak diukur yaitu, variabel ketersediaan fasilitas belajar meliputi fasilitas laboratorium perawatan engine, fasilitas ruang kelas, fasilitas perpustakaan dan variabel lingkungan sekolah meliputi lingkungan gedung sekolah, lingkungan halaman sekolah, lingkungan senitasi sekolah. Dari analisis data dapat diketahui variabel ketersediaan fasilitas belajar bahwa: (1) fasilitas laboratorium perawatan engine dalam kategori cukup sesuai dengan persentase 45%, (2) fasilitas ruang kelas belum dilengkapi LCD dan Screen LCD dengan persentase 0% dalam kategori tidak sesuai, dan (3) fasilitas ruang perpustakaan dalam ketegori sangat sesuai dengan persentase 76%.sedangkan dari variabel lingkungan sekolah dapat diketahui bahwa: (1) lingkungan gedung sekolah dalam kategori sangat sesuai dengan persentase 89%, (2) lingkungan halaman sekolah dalam kategori sesuai dengan persentase 58%, dan (3) lingkungan sanitasi sekolah dalam kategori sesuai dengan persentase 75%. Berdasarkan hasil penelitian ini, (1) fasilitas belajar dalam kategori cukup sesuai dengan standar minimal Direktorat Pendidikan Kejuruan, (2) lingkungan sekolah dalam kategori sesuai dengan standar badan akreditasi nasional. Dari kesimpulan tersebut disarankan dapat memberi gambaran yang nyata tentang ketersediaan fasilitas belajar dan lingkungan sekolah pada teknik kendaraan ringan mata diklat perawatan engine. Selanjutnya dikemukakan pula beberapa masukan yang dapat dipertimbangkan agar sekolah selalu meningkatkan kualitas penyediaan atau pengadaan fasilitas belajar di sekolah dan untuk usaha perbaikan dalam upaya melengkapi sesuai dengan standar minimal dan menentukan langkah-langkah yang konstruktif dalam rangka pengembangan sekolah.

Penerapan pembelajaran matematika mengacu pada teori beban kognitif (cognitive load theory) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 21 Malang / Fifi Fitriana Sari

 

Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Subanji, M.Si., (2) Dra. Santi Irawati, M.Si., Ph.D Kata kunci: pembelajaran, teori beban kognitif, hasil belajar Pembelajaran yang diterapkan di sekolah biasa dilakukan dengan penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan latihan soal, siswa tidak bebas mengeluarkan ide-idenya karena pembelajaran didominasi oleh guru. Siswa cenderung menghafal rumus matematika yang diberikan guru dan menyelesaikan masalah secara prosedural. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri rumus volume bangun ruang. Akibatnya, hasil belajar siswa terhadap suatu konsep dan penerapan masih rendah. Pembelajaran tersebut tidak efektif karena beban intrinsic tidak dikelola dengan baik berakibat meningkatnya beban kognitif extraneous. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam membangun penguasaan siswa terhadap materi volume bangun ruang. Karena itu dalam penelitian ini dilakukan pembelajaran mengacu pada teori beban kognitif yang bertujuan menciptakan pembelajaran efektif dengan mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban kognitif extranoues, dan meningkatkan beban kognitif germane. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 21 Malang. Untuk menciptakan belajar efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep volume bangun ruang, maka pada penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran matematika mengacu pada teori beban kognitif (cognitive load theory) dan mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar pembelajaran matematika mengacu pada teori beban kognitif (cognitive load theory) siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang. Pembelajaran mengacu pada teori beban kognitif dapat membuat siswa senang dan aktif dalam mengikuti pembelajaran sehingga siswa mampu mengkonstruk sendiri pengetahuannya. Oleh karena itu, siswa akan menemukan sendiri konsepnya. Tahap pembelajaran yang dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Tahap awal di laksanakan untuk memberikan motivasi kepada siswa dengan mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa, menyiapkan media pembelajaran berupa alat peraga, powerpoint, dan LKS serta memotivasi/membangkitkan minat siswa mengaitkan nama bentuk bangun ruang dengan nama benda yang ada dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan awal digunakan untuk mengelola beban kognitif intrinsic. Tahap inti di laksanakan dengan mengarahkan siswa memperoleh konsep volume bangun ruang melalui powerpoint dengan bantuan alat peraga dan LKS, membantu siswa memahami dan menyelesaikan masalah bangun ruang yang ada di LKS dengan bantuan alat peraga serta menciptakan interaksi antara guru dan siswa melalui diskusi kelompok dan kelas, kegiatan inti digunakan untuk mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban extranous, dan meningkatkan beban germane. Tahap akhir di laksanakan untuk merefleksi kegiatan pembelajaran, dengan cara menanyakan respon siswa terhadap pembelajaran dan kesulitan yang dialaminya selama pembelajaran, Kegiatan akhir digunakan untuk mengelola beban kognitif intrinsic. Dengan penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar. Dari hasil penelitian yang di peroleh berdasarkan hasil observasi, hasil tes siswa, dan wawancara. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan termasuk kategori sangat baik. Penguasaan tentang konsep volume, penguasaan tentang rumus volume, dan penguasaan dalam penggunaan rumus yang melibatkan volume bangun ruang sangat baik. Dari hasil tes, skor rata-rata (dalam persen) dari keseluruhan siswa yang memperoleh skor minimal pada siklus I dan siklus II berturut-turut adalah 77,5 dan 90. Dengan peningkatan skor tes siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang materi volume bangun ruang meningkat.

Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui motivasi kerja (study kasus pada karyawan PT. Pattindo Malang) / Sualimin

 

Kata kunci : Budaya Organisasi, motivasi kerja, kinerja karyawan. Salah satu kunci keberhasilan suatu perusahaan terletak pada sumber daya manusianya. Di dalam usaha kebutuhan sumber daya manusia yang cerdas dan terampil merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas diharapkan dapat membawa perusahaan ke arah kemajuan dan kesuksesan. Untuk memenuhi tujuan tersebut maka perusahaan harus meningkatkan kinerja karyawan. Dalam usaha meningkatkan kinerja karyawan perlu memperhatikan Budaya Organisasi dan Motivasi Kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi budaya organisasi, motivasi kerja dan kinerja karyawan pada karyawan PT. PATTINDO Malang. Untuk mengetahui pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap motivasi kerja, pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja, pengaruh secara langsung yang signifikan antara motivasi kerja terhadap kinerja, dan pengaruh secara tidak langsung yang signifikan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan dengan motivasi kerja sebagai variabel intervening pada karyawan PT. PATTINDO Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Populasi yang dipilih karyawan pada PT. Pattindo Malang. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampling jenuh dengan sampel sebanyak 54 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini adalah berdasarkan analisis deskriptif kondisi budaya organisasi, motivasi kerja, dan kinerja karyawan pada karyawan PT. Pattindo Malang tinggi, terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap motivasi kerja, terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan, terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja karyawan, dan terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja karyawan yang di mediatori motivasi kerja pada karyawan PT. PATTINDO Malang. Dengan memahami variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja karyawan, pihak perusahaan akan bisa menggunakan hasil tersebut untuk meningkatkan kinerja karyawan.

Masalah titik belok fungsi polinomial
oleh Sutiono Gunawan

 

Pengembangan media pembelajaran E-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA / Amelia Ayu Rosyida

 

Kata Kunci: pengembangan, media pembelajaran e-learning, barisan dan deret. Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi dan metode pembelajaran matematika yang konvensional dan klasik menuntut guru untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar siswa lebih terrtarik dan termotivasi dalam belajar matematika. Media tersebut berupa media pembelajaran elektronik berbasis teknologi web. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA, (2) mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA. Prosedur penelitian ini adalah: (1) analisis kebutuhan, (2) rumusan tujuan, (3) perumusan butir materi, (4) produksi, (5) menyusun petunjuk pemanfaatan, (6) uji ahli media dan ahli materi, (7) uji lapangan, (8) revisi produk akhir. Teknik analisis data yang diperoleh pada tahap pengumpulan data dengan instrumen pengumpulan data, dianalisa dengan menggunakan teknik analisa data prosentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa angket/validasi. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel semua siswa kelas XIE3 SMA Negeri 2 Malang, seorang guru matematika SMA Negeri 2 Malang, seorang dosen jurusan matematika Universitas Negeri Malang untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA. Hasil penelitian diperoleh tingkat validasi diantaranya: (1) pada ahli media diperoleh hasil 77.5%, dengan revisi pada tampilan halaman materi (2) pada ahli materi diperoleh hasil 90%, dengan revisi pada bahasa yang digunakan dalam materi, dan (3) pada audiens (siswa) atau uji coba lapangan, diperoleh hasil 82%. Tampilan pada media ini berupa web yang dapat diakses dengan memasukkan url: http://localhost/matematika/ pada browser. Media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA ini mempunyai 4 tampilan utama yang dapat mewakili tampilan media secara keseluruhan, yaitu halaman materi belajar, halaman game smart, halaman quiz try out, dan halaman ujian akhir.Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar media ini dapat digunakan sebagai referensi dan dapat menjadi salah satu pendamping belajar siswa secara mandiri. Selain itu media ini diharapkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran agar lebih menarik dan variatif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Hubungan tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan waktu luang dengan persepsi pedagang asongan koran tentang pekerjaannya / oleh Sanuriyawati

 

Analisis kesalahan penulisan tanda baca pada tulisan percakapan siswa kelas IV SDN Masangan Kec. Bangil Kab. Pasuruan / Lutfiyah

 

Kata Kunci : Kesalahan Penulisan Tanda Baca, percakapan SD. Tanda baca merupakan salah satu unsur bahasa tulis yang banya pengaruhnya dalam suatu karangan atau wacana. Hal ini berarti tanda baca dapat berfungsi sebagai unsur yang mempertegas maksud suatu bacaan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ada / tidak ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa kelas IV SDN Masangan kecamatan Bangil kabupaten Pasuruan dalam menuliskan tanda baca berupa: tanda baca titik (.), tanda baca koma (,), tanda baca Tanya (?), tanda baca titik dua ( : ), tanda baca petik (“…”) dalam penulisan tanda baca pada tulisan percakapan. Penelitian ini diakukan pada siswa kelas IV SDN Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan melalui model pengamatan dan tes. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian diskriptif kuantitatif dengan analisis data yang berupa diskriptif untuk mendeskripsikan tentang salah satu aspek kesalahan penulisan tanda baca titik, tanda baca koma, tanda baca tanya, tanda baca titik dua dan tanda baca petik. Bertolak dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 36 siswa yang memperoleh nilai ≥ 41, 86,2 % siswa mampu dalam penulisan tanda baca titik, 97 % siswa mampu dalam penulisan tanda baca koma, siswa yang mampu menggunakan tanda baca tanya sebesar 94,5 %, 89 % siswa mampu menggunakan tanda baca titik dua dan 30,5% siswa kurang mampu dalam menggunakan tanda baca petik dalam penulisan. Dari data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas IV SDN Masangan kecamatan Bangil kabupaten Pasuruan dari 36 siswa, sebagian besar siswa yang sudah menggunakan tanda baca titik, tanda baca tanya, tanda baca koma, tanda baca titik dua, sedangkan sebagian kecil siswa belum menggunakan tanda baca petik. Disarankan kepada guru bahasa Indonesia agar dapat memanfaatkan pola dan hasil penelitian pembelajaran bahasa Indonesia khususnya tentang penulisan tanda baca. i

Studi perbandingan relief cerita Kresnayana pada candi Penataran di Blitar dan candi Jago di Malang / oleh Niken Purwaningtyas

 

Penerapan pembelajaran cooperative learning teknik jigsaw untuk meningkatkan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn kelas XI IPS-1 di SMA Negeri 6 Malang / Mahfudi

 

Kata kunci: Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw, Peningkatan Tanggung Jawab Belajar Siswa dan Peningkatan Motivasi Belajar Siswa. Pembelajaran model cooperative learning teknik jigsaw adalah pembelajaran dengan teknik siswa dibentuk dalam kelompok yang heterogen baik dari jenis kelamin, kemampuan akademik, yang terbagi menjadi kelompok asal dan ahli, dari kelompok asal membentuk menjadi kelompok ahli dengan tugas yang sama berdiskusi, setelah siswa berdiskusi kelompok ahli siswa kembali pada kelompok asal untuk menjelaskan hasil dari diskusi kelompok ahli,setelah itu tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya dan melaporkan hasil diskusi. Latar belakang dilakukan penelitian ini karena alasan metode konvensional masih menyelimuti proses pembelajaran di kelas, dan rendahnya tanggung jawan dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn di SMAN Negeri 6 Malang khususnya di kelas XI IPS-1. Tujuan dari penelitian dilaksanakan: (1) untuk mengetahui penerapan model cooperative learning teknik jigsaw pada pembelajaran PKn di kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang , (2) untuk mengetahui peningkatan tanggung jawab belajar siswa pada pembelajaran PKn kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang, (3) untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn dengan penerapan teknik jigsaw kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilaksakan di SMAN 6 Malang kelas XI IPS-1 dengan sejumlah siswa sebanyak 37 siswa, 20 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan 2 siklus yaitu siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus I terdiri dari 4 tahap yaitu: 1) tahap perencanaan penelitian, 2) tahap pelaksanaan tindakan penelitian, 3) tahap observasi/ pengamatan penelitian, 4) tahap refleksi. Metode pembelajaran yang digunakan model cooperative learning teknik jigsaw, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model cooperative learning teknik jigsaw yang diterapkan berjalan dengan baik, penerapan model cooperative learning teknik jigsaw pada pembelajaran PKn kelas XI IPS 1 di SMAN 6 Malang yang telah dilakukan oleh pada siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan. Untuk siklus II sama dalam pelaksanaannya dengan siklus I, bedanya pada penelitian siklus II ini hanya untuk memperbaiki kekurangan dari pelaksanaan siklus I. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang mengalami peningkatan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn, setelah diberi tindakan berupa penerapan model cooperative learning teknik jigsaw, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I tanggung jawab belajar siswa pada pembelajaran PKn, diperoleh nilai tanggung jawab belajar siswa pada pembelajaran PKn sebesar 67,4%, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80%. Untuk motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn pada siklus I sebasar 68%, kemudian setelah siklus II motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn meningkat menjadi 79%. Berdasarkan data diatas peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model cooperative learning teknik jigsaw dapat meningkatkan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang. Saran bagi guru hendaknya menggunakan motode pembelajaran cooperative learning salah satunya dengan teknik jigsaw yang dapat menjadi pilihan variasi metode pembelajaran berkelompok untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar yang diharapkan dapat meningkatkan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn. Bagi siswa setelah diterapkan model cooperative learning teknik jigsaw diharapkan siswa lebih bertanggung jawab dan termotivasi lagi dalam pembelajaran PKn. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaran yang berbeda atau yang belum pernah diterapkan pada mata pelajaran yang sama.

Bilangan asli, bilangan bulat, dan bilangan rasional / oleh Imam Ma'arif

 

Penerapan model pembelajaran think pair share untuk meningkatkan hasil belajar lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung / Nur Widhi Hastuti

 

Kata kunci: Pembelajaran Think Pair Share, hasil belajar, lingkaran. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru matematika kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung diperoleh informasi bahwa pembelajaran lingkaran khususnya materi menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam menyelesaikan masalah sering menerapkan metode ceramah dan siswa langsung diberi tugas. Berdasarkan kenyataan tersebut membuat siswa kelas VIII pasif dalam pembelajaran menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam menyelesaikan masalah sehingga mengakibatkan hasil belajar kurang maksimal yaitu dari 38 siswa hanya 10 siswa yang mencapai SKBM. Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung dengan subjek siswa kelas VIII-C yang terdiri dari 38 siswa bertujuan: (1) mendeskripsikan pembelajaran Think Pair Share pada materi lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung, dan (2) meningkatkan hasil belajar lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran Think Pair Share. Model pembelajaran Think Pair Share dipercaya mampu mengatasi masalah rendahnya hasil belajar menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam menyelesaikan masalah dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang sederhana yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian dikumpulkan dari hasil tes pada setiap akhir siklus, hasil observasi aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran, dan wawancara. Data yang ada dianalisis dan didiskusikan sehingga dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase hasil tes siswa yang mendapatkan nilai 65 pada siklus I adalah 76,31% sedangkan pada siklus II adalah 86,84%. Skor rata-rata aktivitas siswa dan guru pada siklus I adalah 41,25 termasuk kategori “baik” sedangkan pada siklus II adalah 53,5 termasuk kategori “sangat baik” sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung.

Profil pengajaran fisika pada lembaga bimbingan belajar dan SMA Negeri di Kotamadya Malang / oleh Jurubahasa Sinuraya

 

Hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah (studi dilakukan pada SMP Negeri se-kota Malang) / Yanti Senja Sari

 

Kata kunci: persepsi, keamanan, makanan jajanan, dan kebiasaan. Jajanan (snack) merupakan makanan kudapan yang paling disukai oleh anak-anak usia sekolah. Faktanya dari segi keamanan makanan masih diragukan, karena penelitian di lapangan menunjukkan bahwa dari produk makanan jajanan yang diperiksa ditemukan sekitar 9,08%–10,23% makanan jajanan yang tidak memenuhi persyaratan. Sejumlah produk makanan yang diperiksa tercatat yang tidak memenuhi persyaratan bahan makanan adalah sekitar 7,82%–8,75%. Pengujian pada minuman jajanan anak sekolah di 27 propinsi ditemukan hanya sekitar 18,2% contoh yang memenuhi persyaratan penggunaan BTM, terutama untuk zat pewarna, pengawet dan pemanis yang digunakan sebanyak 25,5% contoh minuman mengandung sakarin dan 70,6% mengandung siklamat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan, (2) kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah, (3) hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang menguji ada tidaknya hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan termasuk tinggi dan kebiasaan siswa membeli jajanan di lingkungan sekolah termasuk kadang-kadang. Hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah adalah negatif, yaitu semakin tinggi nilai persepsi maka kebiasaan jajan akan semakin rendah. Siswa diharapkan selalu selektif dalam memilih jajanan yang aman. Pihak sekolah diharapkan ikut berpartisipasi aktif dalam menyeleksi para pedagang kaki lima, misalnya dengan melarang pedagang berjualan pada jam-jam tertentu atau dengan menutup pagar sekolah selama jam pelajaran berlangsung atau sampai jam pelajaran berakhir.

Manajemen pengembangan staf pimpinan dalam konteks budaya organisasi di Universitas Muhammadiyah Malang
studi kasus / oleh H. Syamsuddin Chalid

 

Implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas / Agus Purwasih

 

Kata kunci: Implementasi, Pendidikan karakter, Mata Pelajaran Ekonomi Pendidikan karakter di beberapa negara sudah diterapkan dan mendapatkan prioritas utama. Namun di Indonesia, pendidikan karakter masih dianggap sebuah wacana dan belum diintegrasikan dalam pendidikan formal. Pada tahun 2010, pemerintah telah mensosialisasikan pendidikan karakter di tiap jenjang pendidikan. Kebijakan ini dilaksanakan oleh semua sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan perguruan tinggi. Pendidikan karakter adalah mengintegrasikan nilai karakter dan mengimplementasikannya pada setiap mata pelajaran. Guru tidak lagi memusatkan pada materi yang diajarkan saja, namun, guru juga bertugas untuk memasukkan nilai karakter ke dalam silabus dan rencana pembelajaran dan kemudian menerapkan nilai-nilai tersebut melalui aktifitas pembelajaran di dalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup implementasi pendidikan karakter, faktor pendukung dan faktor penghambatnya, serta hasil dari implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dan termasuk jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memahami fenomena yang sedang dikaji. Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Negeri 3 Malang dan SMA Laboratorium UM untuk memberikan hasil penelitian yang luas dan lengkap. Penelitian ini mengambil subyek kelas X SMA Laboratorium UM dan kelas XI SMA Negeri 3 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 3 kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi dapat dilihat dari silabus, RPP serta proses pembelajaran di dalam kelas. Bentuk silabus dan RPP setiap sekolah formatnya berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Silabus yang menerapkan pendidikan karakter menambahkan satu kolom karakter, kolom tersebut berisi nilai karakter yang direncanakan guru sesuai dengan materi yang diajarkan dengan nilai karakter yang terkait dengan materi tersebut. Sedangkan dalam RPP, nilai karakter dilihat dari indikator atau tujuan pembelajaran dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran. Nilai karakter yang dipilih dikaji berdasarkan materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Kedua, faktor pendukung penerapan pendidikan karakter adalah pihak sekolah dan jajaran yang seesuaran instansi pendidikan yang terkait. Bentuk dukungan tersebut dapat dilihat dari penyediaan fasilitas dan sarana dalam implementasi pendidikan karakter. Dukungan dari pihak sekolah berupa diadakannya workshop dan dari dinas pendidikan dukungan tersebut dalam bentuk pemberian buku pedoman penerapan pendidikan karakter yang dapat dijadikan pedoman sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Faktor penghambat pendidikan karakter adalah waktu yang dibutuhkan untuk mebuat perangkat pembelajaran lebih lama karena harus memilah nilai karakter yang cocok untuk dilaksanakan sesuai dengan materi. Selain itu waktu yang lama dalam penyampaian nilai karakter didalam kelas juga merupakan faktor penghambat dalam pengimplementasian pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi. Ketiga, implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas sudah baik. Namun, penilaian pendidikan karakter dimasukkan dalam penilaian afektif. Hal itu karena belum adanya rubrik baku untuk menilai pendidikan karakter. Proses pembelajaran yang berlangsung juga sudah baik. Guru menyampaikan nilai karakter secara lebih luas kepada siswa, tidak hanya terkait dengan nilai yang dimasukkan dalam silabus, namun guru juga menyampaikan nilai karakter sesuai dengan kegiatan pembelajaran sehingga menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

Aspek kesastraan dalam pujian-pujian (himne) berbahasa Jawa dikalangan pondok pesantren di Blitar tinjauan unsur bunyi, kata konkret, imajeri dan majas / oleh Moch. Taufik A

 

Penerapan model pembelajaran Student Team-Achievement (STAD) dalam meningkatkan hasil belajar matematika kelas VII-C siswa SMP Darusalam Blitar / Junita Finisya W.

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Hasil Belajar Siswa. SMP Darusalam adalah salah satu SMP yang ada di kota Blitar. Kelas VII-B merupakan salah satu kelas yang ada di SMP Darusalam. Berdasarkan informasi yang diperoleh guru metode pembelajaran yang sering digunakan guru adalah metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Salah satu permasalahan yang dialami kelas VII-B selama proses pembelajaran matematika di kelas adalah nilai hasil belajar matematika siswa yang tergolong rendah. Dengan permasalahan ini peneliti ingin melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran STAD pada kelas VII-B. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMP Darusalam Blitar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yakni siklus I dan siklus II. Prosedur penelitian ini terdiri dari 4 tahap yakni tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi. Kriteria keberhasilan tindakan yang ditentukan adalah 70% dari jumlah siswa yang ada di kelas mendapat nilai hasil belajar (rata-rata yang diperoleh dari nilai kelompok dan nilai akhir siklus) ≥ 70. Data persentase hasil belajar yang diperoleh pada siklus I adalah 66,6%. Sedangkan data presentase hasil belajar yang diperoleh pada siklus II adalah 71,4%. Data tersebut menunujukan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II yakni 71,4%. Data hasil siklus II ini telah memenuhi kriteria hasil belajar yang telah ditetapkan. Dengan demikian pembelajaran STAD pada penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Darusalam Blitar. Berdasarkan data yang telah disebutkan, penerapan model pembelajaran STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa dapat dirangkum yakni tahapan-tahapan STAD yang dilakukan guru adalah tahap presentasi oleh guru, tahap berkelompok yang dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan siswa, pada saat berkelompok ini guru memberikan bantuan kepada siswa dengan memberikan contoh soal lain beserta penyelesaianya terkait soal yang ada di LKK, tahap pelaksanaan kuis dan tahap penghargaan kelompok.

Kemampuan berbahasa Arab (membaca) siswa kelas II Madrasah Aliyah program khusus (MAPK) Denanyar Jombang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Ahmad Munjin Nasih

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif (Think Pair Share) TPS untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Batu semester gasal 2011/2012 / Dani Surya Putra

 

Kata Kunci: Think Pair Share, Hasil Belajar Berdasarkan Observasi dan Pengalaman Praktik Lapangan pada tangal 20 Juli dan tanggal 2 November 2011 di SMP Negeri 3 Batu dalam pembelajaran, khususnya siswa kelas 8b, kurang aktif dalam mengikuti pelajaran dan bila diberi pertanyaan siswa tidak ada yang bersedia mengangkat tangan. Demikian pula bila diminta bertanya tidak bersedia mengangkat tangan melainkan mereka gemar berbicara dengan teman- teman sebangkunya di dalam kelas. Selain itu hasil belajar yang dicapai sebagian siswa pada mata pelajaran ekonomi masih kurang, belum memenuhi SKM yang diterapkan SMP Negeri 3 Batu yaitu 75. Dari jumlah 7 kelas, prosentase ketuntasan belajar secara klasikal kelas 8b lebih rendah dibandingkan dengan kelas lain dalam pelajaran ekonomi ( berdasarkan analisis nilai kelas 8a-8g pada materi kelangkaan). Pengklasifikasian kelas di SMP Negeri 3 Batu secara random berarti tidak ada kelas Unggulan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). Pembelajaran ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu sama lain. Saat pertanyaan diajukan ke seluruh siswa, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan sebelum dilaporkan kepada kelompoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Ekonomi siswa kelas 8b SMP Negeri 3 Batu melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TPS. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian berupa Hasil belajar kognitif siswa diperoleh melalui skor yang berupa tes yang dilakukan setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil belajar Kognitif siswa mengalami peningkatan sebesar 23,54% dari nilai rata-rata yang sebelumnya 50,78% menjadi 74,12% pada siklus 1 dan pada siklus II meningkat sebesar 16,56% dari rata-rata 67,81 % menjadi 84,37%. Hasil belajar afektif di peroleh dari pengamatan rubrik penilaian aspek afektif yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran, dalam pengamatan pada siklus 1 jumlah nilai rata-rata 58,8% pada siklus II meningkat sebesar 80,1% ada peningkatan 21,3%. Sehingga dapat disimpulkan aspek kognitif hasil belajar siklus I, siswa belum mencapai ketuntasan belajar secara klasikal karena jumlah nilai yang diperoleh masih dibawah 80%. Sedangkan pada siklus II, siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal karena jumlah nilai yang diperoleh lebih dari 80%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa, Pada aspek afektif hasil belajar siklus I ke siklus II ada peningkatan 21,3% poin dan penilaian aspek afektif siklus II lebih tinggi dari pada siklus I. adanya peningkatan tersebut Dikarenakan siswa sudah memahami prosedur pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif model TPS pada saat proses belajar mengajar.

Hubungan internal public relations dengan etos kerja karyawan dalam upaya pemasaran produk jasa perhotelan di Hotel Kartika Wijaya Batu Malang / oleh Kurniati

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips untuk meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa dalam pembelajaran geografi kelas VII-A MTs Negeri Kandat Kediri / Ria Diana Wati

 

Kata Kunci: model pembelajaran talking chips, keaktifan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi dalam pembelajaran Geografi memiliki peranan penting. Namun, keterampilan tersebut belum dikuasai siswa dengan baik. Hasil observasi pada saat kegiatan diskusi menunjukkan, bahwa hanya 31.25% siswa kelas VII-A yang terampil berkomunikasi, sedangkan sebagian besar 68.75% belum dapat berkomunikasi dengan baik. Ketidakmampuan berkomunikasi dengan baik tersebut terjadi karena strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru belum membuat siswa aktif berkomunikasi. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips. Penelitian ini menggunakan rancangan tindakan kelas dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian siswa kelas VII-A sebanyak 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi keaktifan guru, angket respon siswa, format catatan lapangan, dan lembar observasi keaktifan siswa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif berdasarkan skor keaktifan berkomunikasi siswa. Peningkatan keaktifan berkomunikasi siswa diketahui dengan membandingkan rata-rata skor keaktifan berkomunikasi siswa pada saat pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe talking chips dapat meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa dari pra tindakan sampai siklus kedua. Pada pra tindakan hanya 31.25% meningkat menjadi 56.07% pada siklus I, dan 84.67% pada siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar model pembelajaran ini digunakan untuk meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa.

Inventarisasi telur nematoda parasit usus manusia pada air sawah di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang / oleh Chafidz Muslim

 

Analisis keberadaan industri kerajinan rotan dalam penyerapan tenaga kerja (studi kasus industri kerajinan rotan Kelurahan Balearjosari Kecamatan Blimbing Kota Malang) / Fitria Ria Silvida

 

Kata kunci: penyerapan tenaga kerja, kerajinan rotan. Industri kerajinan rotan Balearjosari adalah salah satu sentra industri yang berada di kota Malang. Sentra industri ini terletak di jalan raya Balearjosari dan tersebar di dalam wilayah kelurahan Balearjosari. Industri kerajinan rotan ini bersifat padat karya, yakni menggunakan jasa manusia dalam keseluruhan proses produksinya. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada tenaga kerja yang diserap oleh tiap-tiap pengrajin. Ada 2 jenis pengusaha kerajinan rotan di Balearjosari, yakni penjual dan pengrajin. Dalam penelitian ini difokuskan pada pengrajin saja karena hanya pengrajin yang menyerap tenaga kerja. Saat ini terdapat 11 orang pengrajin yang memproduksi barang dari bahan rotan alami maupun sintetis. Jangkauan pemasaran pengrajin meliputi wilayah Indonesia dan Eropa. Permasalahan yang ada, tidak semua pengrajin rotan Balearjosari mampu memasarkan produk ke seluruh wilayah Indonesia dan Eropa. Perbedaan kemampuan pemasaran ini sangat tergantung pada perkembangan usaha tiap-tiap pengrajin. Selain itu banyak faktor penghambat kemajuan industri rotan di Balearjosari yang mengakibatkan terjadinya penurunan pelaku usaha setiap tahunnya. Di sisi lain, pengrajin mempunyai beberapa alasan yang menjadi faktor pendorong untuk tetap mempertahankan usaha di tengah hambatan yang ada. Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah pokok yang diajukan dalam penelitian ini secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) bagaimanakah peranan industri kerajinan rotan Balearjosari terhadap penyerapan tenaga kerja. (2) faktor-faktor apa sajakah yang menghambat kemajuan industri rotan Balearjosari. (3) faktor-faktor apa sajakah yang mendorong pengrajin mempertahankan industri usaha pembuatan kerajinan rotan Balearjosari. Dalam penelitian ini pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Sedangkan prosedur pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada pengrajin yakni pengusaha yang memproduksi kerajinan rotan baik rotan alami maupun sintetis dan memasarkan sendiri hasil produksinya, kelurahan Balearjosari, dan dinas UMKM kota Malang. Analisis datanya dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa industri kerajinan rotan Balearjosari mempunyai peranan yang cukup besar dalam hal penyerapan tenaga kerja. Dari 11 orang pengrajin yang ada, jumlah tenaga kerja yang diserap adalah 99 orang. Namun apabila dilihat dari aspek prosentase penyerapan tenaga kerjanya, menunjukkan peran industri kerajianan rotan Balearjosari yang kecil dalam penyerapan tenaga kerja yakni sebesar 0,0005% pada penyerapan tenaga kerja di kota Malang, 0,004% di kabupaten Malang, dan 2,652% pada penyerapan di kelurahan Balearjosari. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat banyak hambatan yang dialami diantaranya: susah dan mahalnya bahan baku rotan, sering terjadi keterlambatan bahan baku rotan dan alumunium, tidak adanya perkumpulan, sebagian pengrajin mengalami kesulitan dalam pemasaran, terbatasnya dana, dan perbedaan persepsi antara Dinas Koperasi dan UMKM dengan pengrajin. Disamping hambatan yang selama ini mendesak, penelitian ini juga menunjukkan alasan mengapa pengrajin tetap mempertahankan usahanya, yang diantaranya adalah: tidak adanya patokan harga di pasaran bagi barang kerajinan rotan sehingga usaha ini dinilai menjanjikan dan mempunyai peluang laba yang besar, sudah adanya langganan, minimnya keahlian pengrajin untuk menekuni usaha di luar rotan, dan karena usaha yang dijalankan adalah usaha turun-temurun keluarga sehingga membuat para pengrajin merasa perlu untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan usaha yang telah ada. Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai kondisi industri pembuatan kerajinan rotan Balearjosari dan potensi yang dimiliki dalam hal menyerap tenaga kerja, diharapkan kepada pemerintah kota Malang melalui dinas Koperasi dan UMKM berusaha lebih dekat dengan pengrajin untuk menghindari perbedaan persepsi antara pengrajin dengan dinas Koperasi dan UMKM sehingga program pengembangan dan peningkatan mutu usaha yang selama ini dicanangkan bisa berhasil. Diharapkan pula bagi pengrajin untuk meningkatkan kerjasama satu sama lain agar tidak ada lagi penurunan jumlah pengrajin rotan di Balearjosari sehingga diharapkan industri pembuatan kerajinan rotan Balearjosari bisa lebih berkembang.

Pengembangan belajar dengan komputer (BDK) matapelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan untuk kelas I Cawu 2 SLTA / oleh Fa Yuas Widyandono

 

Penentuan matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel dengan menggunakan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) / Ayu Sadika

 

Kata Kunci: matching, matching maksimum, algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) Dalam kehidupan sehari-hari penerapan graph sangat bermanfaat. Suatu masalah akan menjadi lebih jelas atau mudah dipahami serta lebih mudah dianalisa dengan menggunakan model atau rumusan teori graph yang sesuai. Dalam graph terapan terdapat suatu bahasan mengenai matching. Matching di adalah himpunan dengan setiap pasang sisinya saling asing. Matching berukuran maksimum di graph G adalah matching M yang mempunyai ukuran terbesar. Untuk menentukan matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel dapat digunakan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.). Algoritma ini juga dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari dengan ketentuan berpasangan tepat satu-satu. Skripsi ini membahas penentuan atau pencarian matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel dengan menggunakan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.). Pada skripsi ini juga diberikan contoh penerapan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) dalam kehidupan sehari-hari, misalkan saja pada masalah pengoptimalan pemasangan karyawan dengan posisi kerja yang sesuai dengan keahliannya, pengoptimalan pemasangan kelompok kursus dengan ruang kelas , serta pengoptimalan pemasangan antibiotik dengan pasien. Skripsi ini tidak hanya membahas algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) saja, namun juga membandingkan dengan algoritma matching maksimum yang telah dibahas dalam skripsi sebelumnya oleh Fatmawati (2006) yaitu algoritma matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel. Selanjutnya, agar lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel, algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) direpresentasikan dalam program komputer menggunakan Borland Delphi 7.

Hubungan antara tinggi badan, kekuatan otot perut dan power lengan dengan prestasi lempar overhand pada permainan softball bagi mahasiswa putra peserta matakuliah softball Off. A. semester genap tahun 1992/1993 POK. FIP. IKIP MALANG / oleh Agustin Tri Wu

 

Keefektifan penerapan blended learning ditinjau dari motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima pada materi laju reaksi / Masyhudin

 

Kata kunci: blended learning, motivasi belajar, hasil belajar, laju reaksi. Kesulitan siswa dalam memahami materi laju reaksi disebabkan oleh sifat abstrak konsep-konsep dalam materi ini, rendahnya motivasi belajar siswa dan rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam mengajukan pertanyaan ketika mereka mengalami kesulitan. Beberap solusi alternatif untuk memecahkan masalah ini adalah: 1) menggunakan model konkret untuk membahas konsep abstrak, 2) menggunakan animasi untuk meningkatkan motivasi siswa, 3) pelaksanaan pembelajaran online, dan (4) melibatkan siswa dalam percobaan di laboratorium. Pembelajaran online akan meningkatkan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan ketika mereka mengalami kesulitan. Model pembelajaran yang menggabungkan keempat strategi dapat disebut sebagai model blended learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh blended learning dan pembelajaran konvensional pada motivasi dan hasil belajar siswa pada materi laju reaksi. Model blended learning yang diimplementasikan dalam penelitian ini adalah kombinasi aktivitas pembelajaran di ruang kelas, percobaan di laboratorium dan pembelajaran online, sedangkan pembelajaran konvensional adalah kombinasi aktivitas pembelajaran di ruang kelas dan pembelajaran di laboratorium. Penelitian ini menggunakan pretest-posttest design. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima. Data penelitian adalah skor motivasi dan skor hasil belajar. Data Motivasi dikumpulkan dengan menggunakan angket terdiri dari 36 item yang valid dihitung dengan korelasi bivariat Pearson, dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan rumus Alpha Cronbach sebesar 0,97. Data hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda dengan lima option terdiri dari 25 item yang valid dihitung dengan korelasi bivariat Pearson, dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan rumus Alpha Cronbach sebesar 0,90. Statistik uji t digunakan dalam membandingkan motivasi dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari blended learning dan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pada penerapan blended learning diperoleh motivasi belajar siswa yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran konvensional, 2) Pada penerapan blended learning diperoleh hasil belajar siswa yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran konvensional.

Inventarisasi ikan tangkapan nelayan dikawasan bendungan karangkates Kabupaten Malang / oleh Sumarmi

 

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas pemilihan produk handphone (studi kasus mahasiswa Matematika Universitas Negeri Malang) / Rhizki Hidayatul Imamah

 

Kata Kunci: AHP, hirarki, prioritas, kriteria, subkriteria. Dengan banyaknya produk handphone yang beredar dan maraknya penggunaan handphone di kalangan mahasiswa, menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam memilih produk handphone yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan. Metode AHP sangat tepat digunakan untuk mengetahui prioritas pemilihan produk handphone yang efektif, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa khususnya mahasiswa Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) adalah suatu metode pengambilan keputusan multikriteria dengan cara memecah situasi kompleks dan tidak terstruktur kedalam bagian-bagian dan meyusunnya dalam hirarki. Langkahlangkah pengambilan keputusan dalam AHP: (1) menyusun hirarki, (2) menghitung vektor eigen dan nilai eigen dari matriks perbandingan berpasangan kebalikan, (3) melakukan uji konsistensi, berdasarkan nilai Consistency Rasio. Syarat inkonsistensi subyektifitas pembuat keputusan tidak lebih dari 10%. Selanjutnya, agar lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan pengambilan keputusan multikriteria akan digunakan Software Expert Choice. Setelah dilakukan analisis dengan metode AHP baik menggunakan penghitungan manual maupun software Expert Choice didapatkan kesimpulan prioritas mahasiswa terhadap produk handphone yang paling disukai adalah Sonyericson, lain-lain, Blackberry, Nokia, dan Samsung. Dengan persentase prioritas berturutturut sebesar 26%, 24%, 22%, 15% dan 12%.

Pelaksanaan diversifikasi produk dalam usaha meningkatkan volume penjualan studi kasus pada industri keramik Soeharto" Malang / oleh Dyah Hardyanti"

 

Peningkatan kreativitas dan hasil belajar matematika pada materi garis dan sudut melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika bagi siswa kelas VII SMPN 1 Rembang / Lubab Elfaidhoh Rifhani

 

Kata Kunci : TGT, media pohon matematika, kreativitas, dan hasil belajar Rendahnya prestasi belajar siswa salah satunya disebabkan oleh proses pembelajaran matematika. Paradigma mengajar yang cenderung text book oriented dan kurang bervariasi menyebabkan siswa sering merasa bosan, kurang memiliki daya kreativitas, dan hasil belajarnya juga kurang maksimal. Dalam proses pembelajaran, guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran beserta media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk itu, perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa yaitu “pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika." Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi, dengan menggunakan empat cara dalam pengumpulan data, yaitu (1) observasi, (2) dokumentasi, (3) angket, dan (4) tes. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah 37 siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Rembang, yang terdiri dari 25 putra dan 12 putri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika yang dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa pada materi garis dan sudut dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap dalam TGT yang terdiri dari empat tahap, yakni (1) penyajian kelas; (2) belajar kelompok; (3) game turnamen; dan (4) penghargaan kelompok, dimana pada tahap belajar kelompok dan game turnamen, digunakan pohon matematika sebagai media pembelajaran. Peningkatan prosentase rata-rata kreativitas siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 4,30% dengan prosentase rata-rata kreativitas siswa pada siklus I 85,28% dan siklus II 89,58%. Sedangkan ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa dari nilai awal ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 10% dan prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II secara berurutan adalah 49% dengan rata-rata tes siswa 70 dan 84% dengan rata-rata tes siswa 77, mengalami peningkatan sebesar 35%. Saran yang diberikan, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang menarik, salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika.

Kesulitan mahasiswa jurusan pendidikan biologi FPMIPA IKIP Padang dalam mempelajari mata kuliah kalkulus / oleh Armiati

 

Pengujian komponen ragam rancangan faktorial-tersarang terhadap kualitas tanaman kedelai (studi kasus di Balitkabi Malang) / Dewi Asrining Puri

 

Kata Kunci : Rancangan Faktorial-Tersarang, ragam, komponen ragam. Komponen ragam adalah faktor-faktor yang ikut mendukung atau berkontribusi terhadap keragaman data. Untuk menganalisis suatu data terdapat tiga model yang terbentuk dari komponen-komponen ragam dari data tersebut, yaitu model tetap, mdel acak, dan model campuran. Model tetap terdiri dari komponen-komponen ragam suatu perlakuan yang kesimpulannya hanya pada perlakuan yang diteliti. Model acak terdiri dari komponen-komponen ragam suatu perlakuan yang diambil secara acak dari suatu populasi sehingga kesimpulannya tertuju pada suatu populasi perlakuan tersebut. Model campuran adalah gabungan dari model tetap dan model acak, dimana terdapat komponen ragam yang bersifat tetap dan ada juga komponen ragam bersifat acak. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan komponen ragam perlakuan dari statistik uji F. Uji F menggunakan rasio kuadrat tengah yang saling bebas dimana penentuan kuadrat pembilang dan penyebutnya disesuaikan dari komponen ragam perlakuan pada nilaiharapan kuadrat tengah. Pada dasaranya, komponen ragam perlakuan dari nilai harapan kuadrat tengah dapat dicari tanpa melalui proses penjabaran yaitu dengan algoritma yang dikemukakan oleh Montgomery. Algoritma yang digunakan tidak membedakan faktor tetap dan acak, namun komponen keduanya 0 atau 1 tergantung dari peubah percobaan yang bersifat tetap atau acak. Hasil pada penelitian ini menjelaskan bahwa penentuan rasio uji F disesuaikan dengan komponen ragam pada nilai harapan kuadrat tengah. Pada rancangan faktorial tersarang sering menggunakan model campuran. Komponen ragam untuk faktor tetap berupa ragam galat dan ragam interaksi yang mengandung faktor pengaruh tetap. Komponen ragam untuk faktor acak terdiri dari ragam galat, ragam faktor yang diujicobakan, ragam interaksi dua faktor yang mengandung faktor utama yang bersifat acak, dan ragam tersarang yang mengandung faktor yang diujicobakan tersebut. Penyebut dalam rasio uji F untuk model campuran disesuaikan dengan nilai komponen yang terdapat dalam E[KT] masing-masing perlakuan.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan peran karakteristik regional di Jawa Timur (periode 2000-2009) / Basuki Prasetiyo Kurniawan

 

Kata Kunci : Aglomerasi, tenaga kerja, inflasi, laju openness, human capital, pertumbuhan ekonomi (PDRB), dan panel data. Aglomerasi dan pertumbuhan ekonomi sudah menjadi fakta, yaitu sebagai cermian atau gambaran perbedaan pembangunan di Indonesia. Menciptakan pembangunan kota menuju kearah yang lebih baik, maka diperlukan strategi yang baik terhadap daerah baik pada saat sekarang maupun di masa yang akang datang. Tujuan dari studi ini untuk mengetahui pengaruh aglomerasi di Jawa Timur. Data terdiri dari 38 daerah dimana 29 merupakan kabupaten dan 8 merupakan kota selama periode tahun 2000 – 2009, data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dalam bentuk angka sehingga penelitian ini menggarah kepada penelitian kuantitatif. Berdasarkan karakteristik masalah, penelitian ini tergolong penelitian kausal-komparatif. jenis data adalah panel data dan metode yang digunakan adalah GLS (General Least Square) untuk memproses perhitungan data panel. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah aglomerasi (X1), tenaga kerja (X2), inflasi (X3), laju openness (X4), dan human capital (X5). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang termasuk pada penelitian causal comparative research. Tipe penelitian ini untuk menguji dan mengungkapkan hubungan sebab – akibat antara dua variabel atau lebih. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data panel, dan termasuk data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur dan penelitian kepustakaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan software ekonometrika yaitu Eviews 6 untuk melakukan uji asumsi klasik serta uji regresi terhadap variabel bebas yang ada. Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari aglomerasi, tenaga kerja dan pendidikan (human capital) terhadap pertumbuhan ekonomi. nilai positif dari hasil analisis data menunjukkan pengaruh yang searah. Berdasarkan hasil analisis uji t di atas, diketahui bahwa variabel aglomerasi mempunyai nilai t hitung 3,874044 > dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,0001 lebih kecil dari α = 0,05 Hal ini menunjukkan bahwa variabel aglomerasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Variabel tenaga kerja mempunyai nilai t hitung 3,051060 > dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,0025 lebih kecil dari α = 0,05. Variabel ekspor mempunyai nilai t hitung -0,584340< dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,5594 lebih besar dari α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ekspor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Variabel inflasi mempunyai nilai t hitung -0,395801 < dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,6925 lebih besar dari α = 0,05. Variabel pendidikan mempunyai nilai t hitung 17,84659 > dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,0000 lebih kecil dari α = 0,05 menunjukkan bahwa variabel pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Ini berarti variabel aglomerasi, tenaga kerja, dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah(PDRB). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditentukan baik oleh aglomerasi, tenaga kerja, dan pendidikan (human capita) yang berpengaruh positif dengan nilai yang signifikan serta inflasi dan ekspor (laju openness) walaupun nilainya tidak signifikan. Aglomerasi, tenaga kerja, dan pendidikan (human capital) yang mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja di sektor industri dan meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Timur sehingga dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik.

Pengembangan papertoy berbasis multimedia pada pembelajaran motorik halus anak Kelompok B di TK Negeri Model Tlogowaru Malang / Norma Awaliya

 

Analisis sifat sensori, sifat kimia dan daya simpan paste campuran tepung pisang dan kurma / Diah Puspita Sari

 

Kata Kunci: sifat sensori, sifat kimia, daya simpan, pasté tepung pisang dan kurma Buah pisang merupakan buah yang kaya nutrisi dan energi. Penggunaan pisang dengan kombinasi kurma sangat berpotensi sebagai makanan olahragawan, salah satunya dapat dibuat pasté. Sebagai campuran dari tepung pisang, kurma, susu dan margarin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat sensori, sifat kimia dan daya simpan. Penelitian ini dibagi dalam 3 tahap yaitu pembuatan tepung pisang, penilaian sifat sensori (warna, tekstur, aroma, rasa) dari pasté dengan perlakuan pemasakan 5 menit, 10 menit dan 15 menit, kemudian sifat kimia (kalium, Fe, Mg, gula reduksi) dan daya simpannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan lama pemasakan (tahap 2) dan lama penyimpanan (tahap 3). Hasil penelitian yang pertama adalah tepung pisang yang berwarna putih kekuningan, tidak sepat dengan rendemen sekitar 25%. Hasil terbaik tersebut diperoleh dengan menggunakan pisang kepok yang diblansir uap panas selama 5 menit. Hasil penelitian tahap 2 yang paling disukai oleh panelis adalah pasté dengan lama pemasakan 10 menit. Hasil penelitian tahap 3 menunjukkan bahwa pasté tepung pisang dan kurma mempunyai kandungan mineral kalium 0,59 ppm, Magnesium 0,35 ppm, Fe 3,85 ppm dan gula reduksi 16,49%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa aroma dan tekstur pasté tidak berbeda pada taraf 5% setelah penyimpanan 1, 2 dan 3 minggu. Untuk uji daya simpan pasté menunjukkan ketika masa simpan berjalan 1 minggu, warna pasté belum mengalami kerusakan, namun aroma dan tekstur telah mengalami penyimpangan selama masa simpan tersebut.

Keefektifan penerapan strategi pengelolaan diri untuk menurunkan frekuensi membolos siswa kelas X di SMKN 2 Pamekasan / Ratna Ayu Cahyaning Rizza

 

Kata kunci : Pengelolaan diri, perilaku membolos, konseling Tata tertib sekolah merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa, tata tertib harus ditaati dan dilaksanakan oleh siswa. Siswa yang disiplin akan mematuhi ketentuan-ketentuan sekolah sehingga diharapkan mereka dapat berkembang optimal dan berhasil studinya. Siswa yang frekuensi membolosnya cukup tinggi dapat diartikan sebagai siswa yang tidak disiplin. Siswa yang tidak disiplin memerlukan pengelolaan diri, sehingga dia perlu merubah perilaku tersebut agar disiplin dan tidak membolos. Pengelolaan diri (self-management) adalah suatu kemampuan yang berkenaan dengan kesadaran diri dan keterampilan individu dalam mengarahkan pengubahan tingkah lakunya sendiri dengan menggunakan satu atau kombinasi beberapa strategi (pemantauan diri, kendali rangsang, dan penghargaan diri). Dengan kata lain self-management merupakan kemampuan individu dalam mengelola diri dan lingkungan untuk mengubah perilakunya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah strategi pengelolaan diri (self-management) dapat menurunkan frekuensi membolos siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah metode pengelolaan diri (self-management) dan variabel terikat adalah frekuensi membolos siswa. Pemberian treatment dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan yang dilaksanakan selama 2 minggu. Subjek penelitian berjumlah tujuh orang siswa kelas X yang memiliki frekuensi membolos tinggi di SMK Negeri 2 Pemekasan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu melihat presensi siswa. Analisis data menggunakan analisis statistik nonparametrik menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi pengelolaan diri (self-management) efektif menurunkan perilaku membolos siswa. Frekuensi membolos siswa setelah dilatih pengelolaan diri mengalami penurunan. Hasil analisis pengujian hipotesis berdasarkan uji statistik two related sample test Wilcoxon adalah (Z= - 2.388a) dan nilai Asymp. sig. (2-tailed) sebesar 0.017, yang artinya strategi pengelolaan diri efektif untuk mengurangi frekuensi membolos siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan pada (1) Konselor agar menggunakan strategi pengelolaan diri self-management) untuk meminimalkan munculnya perilaku membolos siswa, (2) Peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan waktu pemberian treatment (3) Dilakukan lebih dari satu kali pemberian posttest untuk melihat tingkat efektifitas jangka panjang terhadap tingkat pengelolaan diri siswa

Pengaruh suhu sintering pada keramik berpori dengan bahan aditif arang sekam padi (5% dan 20%) terhadap nilai densitas, kuat tekan dan mikrostruktur / Nanik Setyowati

 

Kata kunci : Keramik berpori, arang sekam padi, sintering, kuat tekan, densitas, mikrostruktur Keramik berpori merupakan keramik yang dapat dimanfaatkan sebagai filter gas buang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu sintering terhadap nilai densitas, nilai kuat tekan dan mikrostruktur pada bahan keramik yang ditambahkan bahan aditif berupa arang sekam padi (5% dan 20%). Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah eksperimen. Bahan keramik di buat dengan metode diepressing, dimana bahan dicampur kemudian di cetak dan dipress. Bahan keramik yang digunakan dengan komposisi bahan dasar keramik (Feld spar 20%, Kaolin 30%, clay 30% serta kwarsa 20% ) ditambah bahan aditif arang sekam padi sebanyak 5% dan 20% kemudian di sintering dengan menggunakan variasi suhu pada temperatur 1000 °C, 1100 °C, dan 1200°C selama 240 menit. Setelah sampel jadi kemudian dikarakterisasi dengan uji densitas, kuat tekan dan mikrostruktur. Pengujian mikrostruktur diambil dari nilai kuat tekan tertinggi dan nilai kuat tekan terendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Semakin besar suhu sintering maka nilai densitasnya semakin besar. (2) Semakin besar suhu sintering nilai kuat tekannya semakin besar. (3) Semakin banyak komposisi aditif arang sekam padi maka nilai kuat tekannya semakin kecil. (4) S emakin besar komposisi arang sekam padi maka nilai densitasnya semakin kecil. (5) Nilai kuat tekan cenderung naik apabila pada mikrostruktur jumlah pori – pori yang muncul semakin berkurang.

Rancang bangun mesin serut es batu / Arik Kurniawan, Aric Kurniawan

 

Kata kunci : Es Batu, Mesin Penyerut Dilingkungan Industri kecil dan memnengah (UKM) khususnya yang menjual es batu dalam bentuk serutan, ketika mendapat pesanan Es serutan dalam jumlah banyak maka tidak mungkin menggunakan cara manual. Tujuan membuat Mesin Serut es Batu yaitu untuk membantu para pelaku usaha kecil dan menengah, sehingga akan dapat meningkatkan produktifitas dalam membuat es serut. Penyerutan pada awalnya dilakukan secara manual yaitu dengan diserut menggunakan pisau penyerut tangan, sehingga penulis berinisiatif untuk membuatnya dengan menggunakan mesin yang tentunya akan lebih efektif dan efisien waktu dan tenaga, sehingga dapat menjangkau pada sasaran yaitu para pelaku usaha es batu. Pada Mesin Penyerut Es Batu ini penyerut berupa pisau yang berbentuk rigi-rigi seperti gergaji dengan ukuran 250 mm x 80 mm yang berjumlah 8 buah. Cara kerjanya yaitu es balok dimasukkan melalui corong masuk, kemudian diserut oleh pisau yang berputar, sehingga akan didapatkan es batu dalam bentuk serutan kecil yang seragam. Kapasitas tampung dari mesin ini adalah 288,96 kg/jam. Pembuatan Mesin Peyerut Es Batu ini dimulai dari proses desain gambar. Dilanjutkan dengan perhitungan dan perencanaan mesin. Ini dimaksudkan agar diketahui bahan dan ukuran komponen mesin. Daya motor yang digunakan 1 dalam satuan kuda (HP). Setelah diketahui komponen maka dilanjutkan dengan memasang komponen-komponen yaitu pisau penyerut, dudukan pisau, pulley, poros, sabuk V. Rancangan biaya dalam pembuatan Mesin Penyerut Es Batu ini dihitung dari biaya pembuatan alat, pajak, serta keuntungan. Sehingga didapatkan harga jual alat. Untuk perawatan dan pemeliharan Mesin Penyerut Es Batu setiap komponen berbeda-beda waktunya hal ini dikarenakan jenis pekerjaannya di mesin yang berbeda. Pisau penyerut dapat dirawat dengan melakukan pembersihan dari sisa-sisa es batu pada waktu selesai digunakan. Perawatan untuk bantalan dengan pemberian pelumas pada bantalan, hal ini untuk menjaga agar bantalan menjadi lebih tahan lama serta tidak mudah aus. Perawatan pulley dan sabuk, yaitu dengan memberi pelumas di sekitar pulley, sabuk dilakukan pembersihan dari cairan-cairan yang menempel. Hasil dari proses berupa serutan es batu, mempunyai ukuran yang sama, dikarenakan desain dari Mesin Serut Es Batu ini sudah dirancang khusus sehingga hasil produksi serutan es batu akan seragam.

Hubungan pola asuh orang tua dan kepribadian anak di TK ABA 24 Malang / Beby Octaviany

 

Kata kunci: Pola Asuh Orang Tua, Kepribadian Anak, Anak Tk. Pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yaitu, (1) Seberapa baik pola asuh orang tua di TK ABA 24 Malang, (2) seberapa baik kepribadian anak di TK ABA 24 Malang, (3) apakah terdapat hubungan pola asuh orang tua dan kepribadian anak TK ABA 24 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Pengumpulan data menggunakan instrumen angket/kuesioner. Sampel penelitian ini adalah sampel total (106 anak). Validitas instrumen diuji menggunakan rumus Product Moment Pearson dan reliabilitasnya diuji menggunakan rumus koefisien Alpha. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis korelasi Product Moment Pearson dan analisis persamaan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua anak TK ABA 24 Malang pada umumnya berpola asuh demokratis. Kepribadian anak TK ABA 24 Malang sebagian besar memiliki kepribadian dengan tingkatan matang. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan kepribadian anak di TK ABA 24 Malang. Pola asuh orang tua memberi sumbangan sebesar 56. 5% terhadap kepribadian anak dan sisanya 43. 5% dipengaruhi oleh variabel-variabel di luar penelitian ini, diantaranya faktor lingkungan keluarga maupun lingkungan tempat anak bermain. Saran-saran yang dapat disampaikan hendaknya orangtua dalam mendidik anak dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak, serta membantu mengembangkan tingkah laku yang mencerminkan kepribadian anak, karena setiap anak tidaklah sama. Apabila ada penelitian dengan mengambil judul yang sama hendaknya hasil peneliti ini ditindaklanjuti dengan memperluas populasi sehingga aplikasinya lebih luas.

Pengaruh perubahan Indkes Bias Cladding pada Loss Power serat optik Singlemode SMF-28 / Firman Budianto

 

Kata Kunci: Loss power, Cladding, Serat optik singlemode step index SMF-28. Serat optik merupakan salah satu produk teknologi berdasar prinsip pemantulan total. Perkembangan zaman yang semakin cepat, mempengaruhi fungsi serat optik yang awalnya sebagai alat telekomunikasi sekarang dapat digunakan sebagai sensor. Salah satu piranti yang dapat diaplikasikan adalah mencari pengaruh perubahan cladding dan loss power pada suatu fluida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari pengaruh loss power dan perubahan cladding dengan variasi viskositas larutan gliserin menggunakan serat optik singlemode step index tipe SMF-28. Pengukuran dilakukan dengan alat optical power meter untuk menentukan daya keluaran dan loss test set sebagai sumber cahaya. Cladding serat optik dihilangkan pada bagian tengahnya menggunakan scrub kurang lebih 10 cm. Bagian serat optik tanpa cladding tersebut kemudian dicelupkan seluruhnya pada larutan gliserin. Viskositas didapat dengan memvariasi konsentrasi gliserin yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, 50% 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Grafik hubungan loss power dan viskositas menunjukkan bahwa nilai viskositas yang paling besar yaitu pada gliserin dengan konsentrasi 100%. Nilai loss power yang paling kecil tergantung pada panjang gelombang yang digunakan, yaitu 1) untuk 􀫃= 1310 nm pada kosentrasi sebesar 20%, 2) untuk 􀫃= 1490 nm pada konsentrasi sebesar 30%, 3) 􀫃= 1550 pada konsentrasi sebesar 10%, dan yang terakhir 4) untuk 􀫃= 1625 pada konsentrasi sebesar 30%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah, kenaikan viskositas larutan gliserin mengakibatkan kenaikan indeks bias cladding, sehingga loss power akan naik.

Pengaruh konflik peran terhadap kinerja melalui stres kerja (studi pada perawat RS Aisyiyah Bojonegoro) / Ahmad Riskhi F.R.

 

Kata Kunci: Konflik Peran ,Stres Kerja, Kinerja Rumah sakit merupakan sebuah organisasi yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan. Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan, maka rumah sakit perlu menjaga kualitas layanannya terhadap masyarakat yang membutuhkan. Kualitas pelayanan dapat tercermin dari kerja pegawai rumah sakit. Sukses stau tidaknya suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja yang ditampilkan para karyawannya. Oleh karena itu, suatu perusahaan akan selalu menuntut para karyawan untuk bekerja secara optimal karena baik buruknya kinerja karyawan akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Konflik peran dan stres kerja yang tinggi akan membuat kinerja karyawan menurun. Menurunnya kinerja tentu akan mempengaruhi layanan kesehatan kepada masyarakat.Permasalahan mengenai kinerja merupakan permasalahan yang akan selalu dihadapi oleh perusahaan. Oleh karena itu permasalahan tersebut harus selalu dicari solusinya agar nantinya didapatkan mutu pelayannan yang baik serta pasien merasa puas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi koflik peran, stres kerja, dan kinerja pada RS Aisyiyah Bojonegoro. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana pengaruh antar variabel bebas (konflik peran) terhadap variabel terikat (kinerja) melalui variabel intervening (stres kerja). Jenispenelitian yang digunakanadalahpenelitianekspalanatori.Populasi yang digunakanadalahperawat RS Aisyiyah Bojonegoro yang berjumlah 116.Dari 116 perawatdiambilsampel86 perawatberdasarkanteknikpurposive sampling.Teknik pengambilan data yang digunakan meliputi kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitiandianalisisdenganmenggunakananalisisregresi linear berganda. Hasilanalisisdiketahuikondisi konflik peran yang sangat rendah, stres kerja yang rendah dan kinerja yang tinggi pada perawat RS Aisyiyah Bojonegoro. Sselain itu, hasil analisis diketahui bahwakonflikperanberpengaruhnegatifterhadapkinerja. Variabel konflik peran berpengaruh positif terhadap stres kerja. Sedangkanvariabelstreskerjasignifikannegatifterhadapkinerja. Saran yang dapatdikemukakansehubungandenganhasilpenelitianiniadalah (1) BagiRumahsakitharusselalumemperhatikankeadaanstres dan konflik yang dialami oleh perawatnya, karena hal itu akan mempengaruhi kinerja perawat. Suksesstautidaknyasuatuperusahaandapatdilihatdarikinerja yang ditampilkanparakaryawannya, karenabaikburuknyakinerjakaryawanakanmempengaruhikinerjaperusahaansecarakeseluruhan. (2) Bagipenelitiselanjutnyadiharapkanagar menambahkan variabel lain agar penelitian selanjutnya lebih bervariasi untuk kemudian disempurnakan. Peneliti selanjutnya dapat menambah variabel lain seperti iklim organisasi, dukungan organisasi, keterlibatan organisasi, atau lama bekerja yang kemungkinan masih memiliki pengaruh terhadap stres kerja dan kinerja.

Analisis kesalahan morfologis bahasa Indonesia pada wacana tulis siswa kelas VI SDK Sang Timur Kotamadya Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Sudadi

 

Penerapan model pembelajaran NHT dan carousel feedback untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran prinsip-prinsip kerjasama dengan kolega dan pelanggan siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang / Zulistiowati

 

Kata Kunci: Pembelajaran Numbereds Heads Together (NHT), Pembelajaran Carousel Feedback, Hasil Belajar. Pendidikan merupakan sebuah tolok ukur keberhasilan suatu bangsa. Akan tetapi banyak masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah lemahnya proses pembelajaran. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan siswa hanya diam, duduk dan menerima informasi dari guru. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran kurang kreatif dan menarik perhatian siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang demikian membuat siswa tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran serta kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru karena mereka merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang monoton. Masalah ini pada akhirnya berdampak negatif pada hasil belajar siswa di sekolah. Stategi-strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar adalah menerapkan model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) atau Carousel Feedback agar dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, mengeluarkan pendapat, dan bekerjasama dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah, untuk mendiskripsikan penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback, untuk mengetahui hasil penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback, untuk mengetahui apa saja hambatan sekaligus solusi dalam pelaksanaan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback pada mata pelajaran Prinsip–prinsip Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 30 orang siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 4 (empat) siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1)Reduksi data, 2)Penyajian data, dan 3)Penyimpulan hasil analisis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar pada pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) berdasarkan pada : siklus I hasil belajar rata-rata siswa adalah 78,67 dan mengalami peningkatan sebesar 2,66 menjadi 81,33 pada siklus II .Aspek afektif pada siklus I memiliki rata-rata nilai 84,92 dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 86, 29 . Aspek psikomotorik pada siklus I rata-rata nilai siswa sebesar 83,4 dan meningkat sebesar 3,8 menjadi 87,2 pada siklus II. Aspek nilai karakter pada siklus I pada semua indikator masih memerlukan adanya perbaikan dan pada siklus II hanya satu indikator yang masih memerlukan perbaikan. Selain itu, penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) mendapat respon sangat positif sebesar 93% siswa dan 7% siswa memberikan respon positif. Sedangkan peningkatan hasil belajar pada pembelajaran Carousel Feedback berdasarkan pada: siklus III hasil belajar rata-rata siswa adalah 88,67 dan mengalami peningkatan sebesar 0,6 menjadi 89,33 pada siklus IV .Aspek afektif pada siklus III memiliki rata-rata nilai 90,96 dan mengalami peningkatan sebesar 2,93 menjadi 93,89 pada siklus IV. Aspek psikomotorik pada siklus III rata-rata nilai siswa sebesar 89,4 dan meningkat sebesar 0,8 menjadi 90,2 pada siklus IV. Aspek nilai karakter baik pada siklus III maupun IV tidak ada indikator yang memerlukan adanya perbaikan. Selain itu, penerapan model pembelajaran Carousel Feedback 100% mendapat respon sangat positif dari siswa. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah biasakan untuk menggunakan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) atau Carousel Feedback dalam meningkatkan minat belajar siswa, biasakan untuk mengadakan diskusi kelompok, sesuaikan pelaksanaan siklus belajar dengan RPP, bagi siswa SMK belajar yang rajin, biasakan berdiskusi dan mengeluarkan pendapat, untuk penelitian selanjutnya hendaknya model-model ini dikembangkan lagi dan tidak hanya dalam pelajaran Prinsip–prinsip Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan tetapi di mata pelajaran yang lain juga.

Pemakaian kata tugas dalam karangan siswa kelas VI SDN Ciptomulyo IV Malang tahun ajaran 1994/1995 / oleh Dientje Emma Manengal

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada topik memahami hubungan manusia dengan bumi di kelas IX F SMP Negeri 2 Malang / Ditya Ayu Kusuma Dewi

 

Kata Kunci: Model Teams Games Tournament, Keaktifan belajar siswa, Hasil Belajar Siswa Perubahan kurikulum menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi, dan kecakapan hidup peserta didik yang pada gilirannya dapat membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa. Untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar yang optimal, guru harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat. Dengan adanya model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran, dan karakteristik siswa, maka siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas. Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa SMP Negeri 2 Malang pada bulan November 2011, diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru sehingga siswa cenderung pasif dan juga hasil belajar siswa yang masih rendah. Berdasarkan observasi tersebut hanya 12 siswa dari 37 siswa yang telah mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Hasil perhitungan dari data yang diperoleh, ketuntasan klasikal kelas IX F diperoleh sebesar 32,43%. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IX F SMP Negeri 2 Malang pada pembelajaran IPS Pada Topik Memahami Hubungan Manusia Dengan Bumi dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi keaktifan siswa dan soal tes. Data yang diperoleh akan dibandingkan dari observasi awal, Siklus I, dan Siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Keaktifan klasikal pada siklus I mencapai 71,53 % sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 85,59 %, sedangkan ketuntasan klasikal hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 67,56 % pada siklus II meningkat menjadi 83,78 %. Begitu pula rata-rata hasil belajar siswa pada Siklus I 70,73 meningkat menjadi 76,36 pada Siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Teams Games Tournament dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IX F SMP Negeri 2 Malang. Saran kepada guru IPS di SMP Negeri 2 Malang agar menggunakan model pembelajaran TGT untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan aktivitas serta hasil belajar siswa.

Studi tentang prestasi belajar matematika siswa kelas II SMA Negeri I Sampang ditinjau dari kemampuan penalaran dan kemampuan skolastik
oleh Siti Aminah

 

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa SDN Gondang III Bojonegoro pada mata pelajaran matematika kelas V semester 2 / Nur Fadlilatus Shiyam

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Jigsaw, aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SDN Gondang III Bojonegoro diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika, aktivitas dan hasil belajar siswa rendah, guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Dari hasil data kegiatan pembelajaran pra tindakan, diketahui bahwa siswa yang serius dan perhatian dalam mengikuti pembelajaran Matematika sebesar 58% dan 67%. Hasil pembelajaran diketahui bahwa 6 (40%) siswa yang tuntas dan 9 (60%) siswa tidak tuntas. Tujuan penelitian ini Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika siswa kelas V SDN Gondang III Bojonegoro. Penelitian ini menerapkan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus, satu siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Alokasi waktu selama 2 jam pelajaran setiap pertemuan, setiap jam pelajaran berdurasi 35 menit. Tindakan yang dilakukan yaitu menerapkan model pembelajaran Jigsaw. langkah-langkah pembelajarannya adalah: (1) siswa membentuk kelompok secara hetrogen (2) 2-4 orang siswa berdiskusi dalam kelompok ahli, (3) setelah berdiskusi di kelompok ahli, siswa kembali dan berdiskusi dalam kelompok asal, (4) siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Penerapan model pembelajaran Jigsaw mengalami perubahan pada Siklus II mengenai komponen tugas dan posisi kelompok ahli, yaitu dengan sistem bergantian (rolling) pada setiap anggota kelompok ahli yang memberikan penjelasan pada kelompok asal. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes tiap siklus, lembar observasi dan catatan lapangan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Jigsaw melalui Penelitian Tindakan Kelas dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Gondang III Bojonegoro pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan pecahan. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aktivitas belajar siswa dari pembelajaran pada siklus I sebesar 72% dan meningkat menjadi 88% pada Siklus II.(2) Hasil belajar siswa terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari rata-rata pada pra tindakan sebesar 45, pada siklus I sebesar 60,6 dan menigkat menjadi 74 pada Siklus II. Adapun saran yang disampaikan peneliti yaitu penerapan model pembelajaran Jigsaw supaya terus diupayakan sehingga mampu mendeteksi kesalahan yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar.

Jumlah total bakteri dan nilai MPN bakteri coliform pada selada (Lactuca sativa Linn.) varietas lokal yang dijual di pasar batu / oleh Eni Ismusasi

 

Penggunaan media boneka wayang untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar Ridlo Malang / Itsna Nahdhiyyatul A.

 

Kata kunci: Anak TK Kelompok A, Kemampuan Bercerita, Media Boneka Wayang Anak kelompok A masih banyak mengalami kesulitan saat bercerita. Dari hasil observasi pada anak kelompok A1 di TA Ar-Ridlo Malang ditemukan bahwa kemampuan bercerita anak belum maksimal. Hal tersebut diperkuat dari 21 anak terdapat 12 anak yang kesulitan menceritakan pengalaman secara sederhana. Rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana penggunaan media boneka wayang untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, 2) apakah penggunaan media boneka wayang dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dirancang dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, obser-vasi, dan refleksi. Subjek penelitian yaitu kelompok A1 TA Ar-Ridlo Malang sebanyak 21 anak. Intrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kuantitatif serta kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) media boneka wayang digunakan untuk melakukan tanya jawab, 2) media boneka wayang serta alat pelengkapnya digunakan untuk menyampaikan cerita secara individu, 3) media boneka wayang serta alat pelengkapnya digunakan untuk menyampaikan cerita bertiga. Pening-katan kemampuan bercerita anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan bercerita pada siklus I, persentase kemampuan bercerita mencapai 66,5%. Pada siklus II kemampuan bercerita mengalami peningkatan dengan persentase sebesar 86,9%, artinya rata-rata kemampuan bercerita anak kelompok A1 di TA Ar-Ridlo Malang mengalami peningkatan sebesar 21,4%. Kesimpulan penelitian yaitu dengan menggunakan media boneka wayang dan alat pelengkapnya dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak, hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan kemampuan bercerita anak yang semula 58% meningkat menjadi 65,5% pada siklus I, kemudian meningkat lagi menjadi 86,9% pada siklus II. Saran yang dikemukakan peneliti adalah: 1) bagi sekolah, penelitian ini dapat menjadi panduan dalam mengembangkan media pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran, 2) bagi guru, penelitian ini mampu menjadi inspirasi untuk lebih terampil dalam menyampaikan cerita menggunakan media yang menarik bagi anak, dan 3) bagi peneliti selanjutnya, peneliti selanjutnya dapat lebih mengembangkan kemampuan bercerita anak melalui media pembelajaran yang lebih kreatif lagi.

Pengaruh pelarut dan lama penyimpanan terhadap trayek pH ekstrak bunga putri malu dalam titrasi asam basa / oleh Triana Karyawati

 

Kepemimpinan "Kyai Nasib" dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren (Studi multisitus pada Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Pesantren Luhur Husna Surabaya dan Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya) / Muhammad Shodiq

 

Kata kunci: kepemimpinan, “kyai nasib”, mutu pendidikan, pesantren. Tumbuhnya pesantren di perkotaan menunjukkan telah terjadi perubahan pada dunia pesantren itu sendiri. Sebagai salah satu contoh pesantren yang sampai saat ini tetap eksis di perkotaan adalah Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya, dan Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya. Setelah penulis mengadakan penulisan terhadap ketiga pesantren tersebut maka terlihat adanya dua perubahan yakni: 1) perubahan dari segi kyai: seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia pesantren maka muncullah tipologi “kyai nasib” yaitu seseorang pendiri dan pengasuh pesantren yang bukan keturunan kyai nasab (pesantren) akan tetapi karena keilmuan agama dan manajerialnya serta kharisma yang ada pada dirinya maka umat menyebutnya “kyai” (disebut “kyai nasib”). 2) perubahan dari segi pendidikan pesantren: pesantren kyai nasib lebih terbuka dan penuh inovasi yang mana tidak hanya mengajarkan khazanah intelektualisme Islam klasik tetapi juga mengajarkan santrinya dengan ilmu-ilmu modern. Penulisan ini bermaksud untuk mengungkap lebih mendalam tentang kepemimpinan “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, yakni (a) tipe kepemimpinan “kyai nasib”; (b) strategi “kyai nasib”, dan (c) dampak kepemimpinan “kyai nasib”. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multisitus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik trianggulasi, member check, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penulisan dilakukan dengan para pembimbing sebagai dependent auditor untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus maupun melalui analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penulisan. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa Pertama, ditemukan tipe kepemimpinan “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren yaitu: (a) mengedepankan prinsip egaliter dilingkungan pesantren sehingga ada kedekatan hubungan antara kyai, ustad dan santri sehingga tercipta suasana pesantren yang lebih dinamis dan dialogis antara kyai, ustad dan santri, (b) mengedepankan prinsip demokratis di lingkungan pesantren, maka otoritas sepenuhnya didelegasikan ke para ustad dan santri yang mana masing-masing bisa menyadari akan tugas dan kewajibannya, (c) seorang motivator di lingkungan pesantren sehingga ustad dan santri merasakan senang dan gairah tinggal di lingkungan pesantren dengan suasana yang menyenangkan, (d) merupakan pemimpin karismatik dilingkungan pesantren yang mana segala pesona pribadi, kemampuan dan keahlian pemimpin menjadi kekuatan yang membuat ustad dan guru setia, loyal dan taat kepada sang “kyai nasib”. Kedua, ditemukan strategi “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, meliputi: (a) Bidang Pendidikan dan Pengajaran yaitu: 1) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pesantren dan manajemen pesantren, 2) pengurus dan para ustad diajak berjalan bersama-sama dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, 3) mendirikan pusat kegiatan santri yaitu: Masjid, Ruang belajar dan Asrama atau pondok dan menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat, 4) menyusun materi dirosah dan kurikulum pesantren sesuai perkembangan zaman, 5) menggunakan tiga macam sistem pengajaran pesantren, yakni: pengajaran klasikal, pengajaran kolektif, dan pengajaran individual. (b) Bidang Ubudiyah dan Keagamaan yaitu: memberikan pelayanan pesantren terhadap: 1) pelayanan masjid dan mushola 2) pengelolaan badan amil zakat, infak dan shodaqoh, 3) penyelenggaraan manasik haji dan umroh, 4) pelaksanaan qurban, 5) khotib, (c) Bidang Mu’amalah dan Sosial, yaitu: 1) memberikan pelayanan pesantren terhadap pengelolaan koperasi pondok pesantren (koppontren), 2) pelayanan pondok pesantren terhadap pengelolaan wartel, dan 3) memberikan pelayanan pesantren terhadap pengelolaan Pos Kesehatan Pesantren (poskestren). Ketiga, dampak kepemimpinan “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, yaitu: 1) Interaksi sosial antar komunitas pesantren nasib yang penuh kekeluargaan, 2) visi, misi, dan tujuan pesanten nasib beorientasi ke depan, dan 3) sistem pendidikan dan pengajaran pesantren nasib bersifat komprehensif. Saran-saran dalam penulisan ini antara lain disampaikan kepada: (1) Kyai: melestarikan suasana pesantren lebih dinamis dan dialogis antara kyai, ustad dan santri, (2) Santri: agar selalu menjaga komunikasi yang efektif kepada kyai, ustad, dan sesama santri, (3) Pesantren lain: hasil penulisan sebagai masukan dan informasi keilmuan tentang peningkatan mutu pendidikan pesantren, (4) Penulis, para ahli, ilmuwan, cendekiawan muslim, dan penulis selanjutnya: agar dijadikan sebagai bahan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kepemimpinan kyai dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, (6) Perguruan Tinggi Islam: supaya memberikan masukan dan informasi baru tentang keilmuan tentang kepemimpinan “kyai nasib” dalam peningkatan mutu pendidikan pesantren, (7) Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM): supaya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa tingkat doktor dalam mengkaji tentang manajemen pendidikan tidak hanya sebatas sekolah formal atau perguruan tinggi umum saja akan tetapi juga penulisan-penulisan yang mengkaji manajemen di dunia pesantren, (8) IAIN Sunan Ampel Surabaya tempat penulis sebagai Dosen Fakultas Dakwah: merupakan kontribusi yang luar biasa bagi lembaga IAIN Sunan Ampel Surabaya karena telah ditemukan tipologi kyai dari terminologi loka yang belum pernah ditulis dan dikaji oleh penulis lain yakni tipologi “Kyai Nasib” (seseorang yang biasa dipanggil masyarakat kyai akan tetapi bukan keturunan dari kyai nasab), (9) Kementerian Agama: agar selalu memberikan motivasi dan dukungan baik moril maupun material dalam setiap penulisan dan pengembangan dalam dunia pesantren, kyai dan santri, serta (10) Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI/Organisasi Pesantren): memberikan kontribusi baru tentang model kepemimpinan dan strategi “kyai nasib” dalam peningkatan mutu pendidikan pesantren.

Kemampuan dasar dan karakteristik kepribadian guru penelitian tentang hubungan antara sejumlah faktor pengalaman atribut, tingkat pendidikan, masakerja, kemampuan skolastik, kemampuan dasar keguruan, minat dan sikap keguruan dan pencapaian belajar siswa / oleh Djoemadi

 

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A1 di TK Dharma Wanita Gandusari Kec. Gandusari Kab. Blitar / Retno Dewi Nawangsari

 

Kata Kunci: metode eksperimen, kognitif, permainan warna Kemampuan Kognitif khususnya mengenal konsep sains dalam hal mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika warna di campur di TK Dharma Wanita Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran pra tindakan masih belum tuntas. Hal ini disebabkan metode pembelajaran guru mayoritas menggunakan metode pemberian tugas dan tidak melibatkan partisipasi anak. Guna meningkatkan hasil prestasi belajar anak di TK Dharma Wanita Gandusari tersebut, peneliti menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan sains dalam hal mencampur warna. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak di TK Dharma Wanita Gandusari? (2) apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan kemampuan anak di TK Dharma Wanita Gandusari? Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode eksperimen. Penelitian ini dilakukan pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Instrumen yang digunakan peneliti untuk pengumpulan data berupa observasi dan hasil karya anak. Peneliti terlibat secara penuh dalam kegiatan penelitian baik perencanaan, pelaksanaan, pengamatan maupun refleksi. Penelitian direncanakan dengan 2 siklus, apabila siklus I dirasa belum berhasil maka peneliti melanjutkan ke siklus II. Dalam menerapkan metode eksperimen peneliti menunjukkan dan menjelaskan setiap langkah dalam bermain sains melalui permainan warna. Sehingga anak dapat bermain dengan terarah dan bereksperimen sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa dengan menerapkan metode eksperimen, mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 52,1% dan meningkat pada siklus II sebesar 87,5%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru dapat memilih metode yang tepat dan kreatif dalam mencoba ide baru agar proses pembelajaran berhasil dengan baik dan tidak membosankan misalnya dengan menggunakan metode eksperimen agar dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak. Harapan peneliti, semoga dengan pengalaman penelitian ini dapat bermanfaat bagi rekan – rekan yang terjun di dunia pendidikan.

Pengaruh pelarut, lama penyimpanan dan tempat penyimpanan terhadap trayek pH indikator ekstrak bunga kacang panjang / oleh Tety Soesanti

 

Kesulitan-kesulitan dalam pelakasanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya dan keterampilan bidang seni rupa di kelas V SDN Arjosari 01 Kecamatan Blimbing tahun pelajaran 2011-2012 / Tukirno

 

Kata Kunci : Pelaksanaan, Pembelajaran, Seni Budaya, Seni Rupa, Pelaksanaan seni budaya bidang seni rupa di sekolah sering mengalami kendala karena diberikan dalam jumlah jam sangat terbatas, padahal cakupan materinya terentang sangat luas. Jumlah durasi waktu pelajaran seni tidak sebanding dengan jumlah jam yang disediakan untuk mata pelajaran lainnya. Akibatnya, guru mendapatkan kesulitan dalam menentukan kompetensi kepada peserta didik berdasarkan jumlah jam yang disediakan. Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa kelas V SDN 1 Arjosari Kecamatan Blimbing. Sedangkan tujuan penelitian secara khusus yaitu untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan dalam persiapan guru sebelum mengajar, proses pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran seni budaya bidang seni rupa kelas di kelas V SDN Arjosari 1 Kecamatan Blimbing. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, metode pengamatan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, paparan data dan menarik kesimpulan. Instrumen yang digunakan ialah dengan menggunakan observasi dan wawancara. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berlokasi di SDN 1 Arjosari Kecamatan Blimbing. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ditemukan kendala-kendala dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di kelas V SDN Arjosari 1 Kecamatan Blimbing. Dalam persiapan pembelajaran ada beberapa hal antara lain kendala dalam merumuskan tujuan, menetapkan langkah pembelajaran, menentukan metode dan media yang tepat. Sedangkan pada pelaksanaan pembelajaran masalah yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan kelas, pemberian motivasi dan penguatan. Hal yang perlu diperhatikan pada pelaksanaan evaluasi, aspek penilaian pada karya siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada semua pihak untuk lebih menyiapkan diri terutama bagi lingkungan pendidikan/sekolah agar persiapan sebelum pembelajaran benar-benar disiapkan, pelaksanaanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, dan tentunya evaluasi benar-benar dilaksanakan sesuai kurikulum/aturan yang berlaku.

Dasar-dasar aljabar Boole
oleh Suparti

 

Pengaruh pembelajaran organisasi kepemimpinan dan motivasi terhadap kinerja karyawan Koperasi Syariah (BMT) di Malang Raya / Muchni Marlikan

 

Kata Kunci : Pembelajaran Organisasi, Kepemimpinan, Motivasi, Kinerja. Proses pembelajaran organisasi yang efektif dan didukung oleh kemampuan pemimpin dalam mendorong dan memotivasi karyawannya agar berkinerja tinggi merupakan modal dasar bagi pencapaian kinerja organisasi secara keseluruhan. Demikian pula halnya dengan kinerja karyawan Koperasi Syariah di Malang Raya. Prinsip-prinsip dasar manajemen organisasi seperti Pembelajaran organisasi, Kepemimpinan, Motivasi kerja, dan Kinerja karyawan perlu didorong dan direalisasikan dalam rangka mewujudkan kuantitas dan kualitas Koperasi Syariah di Malang Raya. Sejumlah teori dan hasil penelitian telah menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut (Pembelajaran organisasi, Kepemimpinan, Motivasi kerja, dan Kinerja karyawan) berkontribusi pada peningkatan kualitas Sumberdaya Pengelola Koperasi Syariah, dimana Sumberdaya Manusia sangat sentral perannya dalam proses hingga hasil akhir suatu manajemen organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pembelajaran organisasi, kepemimpimpinan dan motivasi terhadap kinerja karyawan Koperasi Syariah di Malang Raya. Penelitian ini merupakan bentuk rancangan penelitian kuantitatif dengan obyek penelitian adalah karyawan Koperasi Syariah yang terdiri dari 33 unit Koperasi Syariah yang berada di wilayah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu). Populasi dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 170 orang. Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sejumlah 118 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik proporsional sampel atau sampel imbangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner sebagai media mendapatkan data dari sampel yang juga sekaligus sebagai responden. Hasil pengolahan data dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan program software komputer Liniear Struktural Relation (LISREL) menunjukkan sebagian dari pola hubungan antar variabel tidak terbukti atau tidak berpengaruh secara signifikan. Untuk membuktikan adanya pengaruh antar variabel digunakan nilai standarized (tingkat pengaruh variabel) dan p-value. Hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh variabel pembelajaran organisasi terhadap motivasi adalah tidak terbukti. Demikian juga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh variabel kepemimpinan terhadap kinerja adalah tidak terbukti. Sedangkan pola hubungan antar variable lain, seperti pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi terbukti, pengaruh pembelajaran organisasi terhadap kinerja juga terbukti dan pengaruh motivasi terhadap kinerja adalah terbukti atau berpengaruh secara signifikansi terbukti. Hasil penelitian ini merekomendasikan kepada pemerintah (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah), pengelola koperasi, peneliti, dan lembaga penelitian untuk melakukan kajian lebih mendalam terkait dengan pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya karyawan Koperasi agar mampu menemukan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja karyawan sebagai sumbangsih terhadap pengembangan pendidikan, utamanya pendidikan ekonomi.

Pengaruh medan magnit terhadap viabilitas Drosophila melanogaster STRAIN Normal (N), white (W) dan vestigial (vg) / oleh Rudiyanto

 

Penerapan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak di kelompok B RA. 03 Al Khoiriyah Batu / Widyaiswari Lisa Hidayat

 

Kata kunci: Metodete bak huruf, membaca permulaan, neurosensory Sejumlah guru taman kanak-kanak kini ”terpaksa” menekankan kemampuan membaca kepada siswanya. Padahal hal ini bertentangan dengan kurikulum TK/RA. Dalam kurikulum anak hanya sebatas dikenalkan kepada membaca permulaan saja salah satunya yaitu mengidentifikasi dan menyebutkan huruf. Melalui metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory anak akan diajarkan untuk mengidentifikasi dan menyebutkan huruf vocal dan konsonan yang ada di sekitarnya dengan metode bermain tanpa dibebani perasaan tertekan karena pembelajaran yang dilakukan dikemas dengan menggunakan permainan yang menarik dan menantang untuk anak. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan penerapan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca permulaan anak pada kelompok B di RA 03 Al Khoiriyah Batu, setelah menerapkan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory. Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 3 siklus dengan masing-masingsiklus tiga kali pertemuan. Ada-pun tahapanpelaksanaannya yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danrefleksi.Subyekpenelitianiniadalahsiswakelompok B di RA 03. Al Khoiriyah Batu. Jumlah siswa di sekolah tersebut adalah 31 anak yang berusia 5-6 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes, observasi dan dokumentasi .Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa instrumen penilaian tes identifikasi huruf dan lembar observasi. Berdasarkan hasil observasi dan olahdata yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukan bahwa penerapan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory dapat dilaksanakan dengan baik dan mampu meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, terbukti anak bersemangat dan senang melakukan permainan ini serta hasil ketuntasan klasikal yang didapatkan pada siklus III mencapai 90,3 %. Metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak.Melalui metode bermain, pembelajaran yang dilakukan anak akan lebih mengena dan menyenangkan serta tidak membebani otak anak. Sehingga harapan kedepan anak akan mampu berkembang secara optimal. Melalui penelitian ini disarankan agar civitas PAUD dapat menerapkan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak di Taman kanak-kanak.

Identifikasi kesiapan dalam melakukan kegiatan praktikum unit optika geometri bagi siswa kelas II SMP Negeri Tempursari Lumajang tahun pelajaran 1994/1995 / oleh Masmurhoh Allatifah

 

Penggunaan serat optik singlemode tipe SMF-28 sebagai pedekteksi tekanan pada konstruksi beton / Billy Septian Putra Adi Kusuma

 

Kata Kunci: Serat optik singlemode, sensor serat optik, beton. Struktur bangunan dapat mengalami kerusakan parah bila tidak dideteksi sedini mungkin. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan bangunan adalah tekanan. Tekanan dapat digunakan untuk menguji seberapa kuat material bangunan tersebut. Berkaitan dengan itu, maka pada penelitian ini serat optik digunakan untuk mendeteksi tekanan pada material bangunan berupa beton. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan memberikan tekanan berupa beban sebesar 1 Kg-15 Kg pada material beton yang berisi serat optik. Pemasangan serat optik pada material beton menggunakan konfigurasi melingkar. Hasil data yang diperoleh berupa daya keluaran yang dihasilkan serat optik. Daya keluaran tersebut digunakan untuk menentukan besarnya Loss yang ditimbulkan oleh serat optik. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap menghitung nilai ralat hasil pengukuran, menghitung nilai Loss serat optik, membuat grafik hubungan antara beban yang diberikan dengan Loss yang ditimbulkan oleh serat optik. Berdasarkan analisis perhitungan diperoleh nilai Loss serat optik pada panjang gelombang 1310 nm sebesar 0,528 dB-1,20 dB. Nilai Loss yang dihasilkan serat optik pada panjang gelombang 1550 nm sebesar 15,1 dB-21,6 dB. Berdasarkan analisis grafik diperoleh nilai koefisien kemiringan grafik pada panjang gelombang 1310 nm dan 1550 nm masing-masing sebesar -0,065 dB/Kg dan -0,537 dB/Kg. Ketika serat optik dilengkungkan, maka garis normal akan berubah arah mengikuti permukaan inti serat optik. Hal tersebut menyebabkan sudut datang cahaya yang merambat pada serat optik memiliki nilai yang lebih kecil dari sudut kritis dan menyebabkan sinar dapat menembus inti dan keluar dari serat optik. Cahaya yang keluar tersebut menimbulkan rugi daya pada serat optik. Semakin tajam lengkungan pada serat optik, maka semakin besar pula rugi daya yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pemasangan serat optik pada konstruksi beton menggunakan konfigurasi melingkar dengan diameter sebesar ±2 cm yang ditempatkan disepanjang konstruksi beton. Hal tersebut bertujuan agar serat optik dapat mendeteksi tekanan secara merata disepanjang beton. Kedua, besar nilai beban yang diberikan pada serat optik memiliki hubungan linier yang sebanding dengan besarnya Loss yang dihasilkan oleh serat optik. Panjang gelombang yang baik digunakan pada sumber cahaya adalah sebesar 1310 nm, dimana menghasilkan nilai koefisien Loss terkecil sebesar -0,065 dB/Kg.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |