Analisis kestabilan lapisan tanah sepanjang bantaran sungai Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen, Malang dengan metode geolistrik tahanan jenis / Deltha Yuwita N.

 

Kata Kunci: Metode Geolistrik, Resistivitas, kestabilan tanah Suatu lereng dikatakan stabil atau tidak tergantung pada kemiringan lereng, struktur lapisan tanah dan besarnya pembebanan pada lereng. Kebanyakan ketakstabilan lereng dapat menyebabkan pergerakan tanah (longsor). Desa Panggungrejo Kecamatan Kepanjen, Malang merupakan daerah pemukiman dan pertanian. Di Desa ini terdapat lereng terjal dengan kemiringan sekitar 75o. Lereng ini berada di sepanjang sungai dengan ketinggian sekitar 10m. Daerah penelitian ini terletak pada 08008’35,7’’ LS dan 112033’28,6’’BT dan memiliki ketinggian 346 dari permukaan laut. Banyak aktivitas penduduk yang masih dilakukan di sungai tersebut, seperti mencuci dan mandi. Informasi mengenai kestabilan lapisan tanah di area ini diperlukan mengingat adanya aktifitas warga yang dilakukan di bawah lereng di dekat sungai tersebut. Metode yang digunakan adalah metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner. Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu cara untuk mengetahui kestabilan tanah, dengan metode pengukuran berdasar sifat-sifat listrik yaitu sifat tahanan jenis dari batuan di lapangan. Keunggulan metode ini adalah dapat digunakan untuk mengadakan eksplorasi dangkal yang tidak bersifat merusak dalam pendeteksiannya. Dari hasil analisis res2div diketahui pada bentangan 2m -96 m dari titik nol pengukuran memiliki nilai resistivitas sekitar 10,8 – 13,7 Ωm dengan kedalaman sekitar antara 0m - 3,765 m. Nilai resistivitas ini menunjukkan bahwa pada lapisan ini tersusun oleh lapisan lempung. Nilai resistivitas sekitar 17,4-58,0 Ωm dengan kedalaman sekitar antara 3,765m – 15,8m pada bentang 22m – 78m menunjukkan bahwa lapisan ini berupa lanauan. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa lokasi penelitian ini diduga tidak stabil dan memiliki potensi longsor yang cukup besar. Hal tesebut dapat dilihat dari beberapa faktor – faktor yaitu kemiringan lereng 75otermasuk dalam kemiringan lereng yang terjal dengan kerentanan gerakan tanah yang tinggi. Nilai resistivitas yang kecil. Jenis tanahnya berupa lempung dan lanauan dimana lempung mudah menyerap air. Batuan yang mudah menyerap air maka bobot isinya menjadi lebih besar, sehingga akan memperkecil kemantapan lereng. Hal ini mengakibatkan tanah tidak stabil. lanauan yang akan cendrungan mengalir sebagai suatu cairan kental dalam keadaan jenuh. posisinya yang dekat dengan aliran air menyababkan lapisan ini berpotensi besar menjadi jenuh.Porositas tanah bagian bawah relatif lebih kecil dari pada bagian atas tetapi letak lereng yang berdekatan dengan sungai yang memungkinkan semen pada tanah lapisan bawah terkikis oleh air sungai menyebabkan daya ikat antar butirannya berkurang.Longsoran yang mungkin terjadi adalah tipe jatuhan atau rutuhan.

Pemetaan resistivitas struktur lapisan tanah tercemar pupuk anorganik menggunakan metode geolistrik di Desa Talangagung Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Fisqiyyatur Rohmah

 

Kata Kunci: Geolistrik, Konfigurasi wenner, Res 2 Dinv, Rembesan pupuk Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di Bumi karena, tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan air dan hara sekaligus sebagai penopang akar. Tanah juga menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam. Di dalam prakteknya, cukup banyak dijumpai pemupukan tidak efektif. Meskipun pupuk anorganik sangat menolong untuk meningkatkan hasil pertanian, tetapi pemakaian dalam jangka panjang tanpa dikombinasi dengan pupuk organik mengakibatkan pencemaran tanah. Pada penelitian ini, dilakukan pemetaan resisitivitas pencemaran lapisan tanah oleh pupuk anorganik dengan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner dengan teknik sounding – mapping di desa Talangagung kecamatan Kepanjen Malang.Pengukuran menggunakan Resistivitimeter OYO McOHM. Pengolahan data dilakukan dengan Res 2 Dinv dengan hasil pengolahan berupa kedalaman dan besar resisitivitasnya. Hasil penelitian ini yaitu pemetaan sebaran rembesan pupuk anorganik di tanah pertanian dan di pemukiman penduduk sekitar . Pengukuran pertama, di tanah pertanian yang terkena rembesan pupuk mempunyai resisitivitas sebesar 4,56 sampai 16,7 Ωm. Dan rembesan pencemaran akibat pupuk telah mencapai kedalaman 13 meter.Di pemukiman lapisan tanah yang telah tercemar terkena rembesan pupuk adalah pada jarak 8 – 10 meter dari titik nol sedalam 2,5 meter. Pada jarak 10 – 13 meter rembesan pupuk mencapai kedalaman 4,8 meter. Pada jarak 13 – 20 meter, rembesan pupuk mencapai kedalaman 2,5 meter. Sedangkan pada jarak 20 – 26 meter, rembesan pupuk mencapai kedalaman 4meter. Persebaran pencemaran tanah di daerah pemukiman terjadi akibat rembesan pupuk dari pertanian dengan radius 10 meter .

Pengaruh similar name terhadap keputusan konsumen dalam membeli mie instan merek Mie Sedaap versus Supermi Sedaap (studi pada mahasiswa Universitas Negeri Malang) / Abdul Ghofur

 

Kata Kunci: Similar Name, Keputusan Konsumen Perkembangan usaha bisnis dalam era globalisasi saat ini semakin pesat ditandai dengan tingkat persaingan antar perusahaan yang semakin tinggi dan ketat. Keadaan tersebut menyebabkan perusahaan pada umumnya berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup, mengembangkan perusahaan, memperoleh laba optimal serta berusaha memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi perusahaan pesaing. Seorang pemasar dituntut mampu menciptakan strategi pemasaran yang tepat dalam rangka persaingannya dengan perusahaan lain. Pemasar juga harus menciptakan produk yang mampu mengkarakteristikkan diri agar konsumen mengenal produk-produk yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Untuk mengantarkan identitas perusahaan agar mudah dikenal konsumen, merek menjadi hal yang sangat penting. Perusahaan-perusahaan yang masih tergolong baru biasanya selalu meniru atau mengikuti merek yang menjadi perusahaan pemimpin (market leader) dalam pasar, karena cara tersebut lebih efektif dan efisien. Kemiripan merek diharapakn membuat konsumen menarik asosiasi bahwa merek perusahaan pengikut (follower) memiliki citra yang sama dengan merek pemimpin pasar (market leader). Meniru, menyamarkan ataupun menyamakan produk terutama dalam hal merek oleh perusahaan pengikut (follower) merupakan bentuk dari konsep similar name. Produk yang memiliki maupun yang menggunakan merek yang serupa (similar name) akan mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk maupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Strategi ini pernah diterapkan oleh SuperMi Sedaaap saat pertama kali masuk pasaran untuk mengambil pasar mie instan yang didominasi oleh Mie Sedaap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kondisi similar name dan keputusan konsumen, mengetahui pengaruh similar name (nama, istilah, tanda, simbol) secara parsial terhadap keputusan konsumen, mengetahui pengaruh similar name secara simultan terhadap keputusan konsumen, dan mengetahui faktor yang dominan mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli Mie Sedaap versus SuperMi Sedaaap pada mahasiswa Universitas Negeri Malang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kausalitas yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas (similar name) terhadap variabel terikat (keputusan konsumen). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh mahasiswa S1 (strata satu) Universitas Negeri Malang yang menjadi pembeli sekaligus konsumen Mie Sedaap dan SuperMi Sedaaap, dimana jumlah populasinya tidak diketahui (indefinite population). Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang, teknik yang digunakan dalam penentuan sampel adalah sample aksidental (accidental sampling) yaitu penentuan sampel berdasarkan siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti yannng dapat digunakan sebagai sampel dan cocok sebagai sumber data. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial, yaitu analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial sub variabel nama, istilah, tanda, dan simbol berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen. Sedangkan secara simultan menunjukkan bahwa sub variabel nama, istilah, tanda, dan simbol berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli mie instan merek Mie Sedaap versus SuperMi Sedaaap pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Hasil ini dapat dilihat pada analisis Regresi Berganda dengan koefisien determinasi ( ) sebesar 35,6 %, berarti bahwa ada pengaruh nama, istilah, tanda, dan simbol terhadap konsumen dalam membeli mie instan merek Mie Sedaap versus SuperMi Sedaaap pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang sebesar 35,6 %, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Saran dari penelitian ini adalah: (1) Saran Saran ditujukkan kepada PT Indofood Sukses Makmur yang memproduksi SuperMi Sedaaap, hendaknya berani menciptakan produk baru yang berbeda dan mempunyai karakteristik khusus agar konsumen mudah mengenali produk tersebut. Tidak hanya membuat kemiripan kemasan maupun meniru secara utuh dari produk Mie Sedaap yang menjadi pemimpin pasar (market leader). (2) Untuk PT Karunia Alam Segar (grup dari Wing’s Food) yang memproduksi Mie Sedaap hendaknya bisa menyempurnakan produk agar mempunyai ciri khas yang sulit ditiru oleh perusahaan pengikut (follower). Selain itu perlu adanya inovasi dan diversifikasi pada produk mie instan baik dari segi kemasan maupun dari produk yang dihasilkan agar tidak mudah ditiru dan agar dapat mempertahankan pasarnya. (3) Saran bagi konsumen sebaiknya teliti terlebih dahulu produk yang akan dibeli, berhati-hati sebelum melakukan pembelian, dan sangat disarankan untuk tidak tergesa-gesa dalam melakukan keputusan pembelian terlebih dengan adanya praktik similar name tersebut.

Upaya pelestarian kebudayaan lokal melalui dokumentasi bangunan candi berbasis fotografi di wilayah Kabupaten Malang / Harini Pangestuti

 

Kata kunci: candi, Kabupaten Malang, buku. Bangunan candi merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang sampai sekarang masih berdiri. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan media yang dapat membantu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan lokal sekaligus sebagai upaya pelestarian aset bersejarah khususnya di wilayah Kabupaten Malang. Perancangan berupa buku yang disajikan secara visual fotografi dan dengan digital imaging. Data lapangan diperoleh melalui observasi langsung ke lokasi candi-candi di wilayah Kabupaten Malang serta melalui berbagai data pustaka yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hasil observasi dan data pustaka yang sebagian besar berupa data tertulis digunakan untuk melengkapi foto-foto dalam produk. Hasil perancangan berupa buku dokumentasi berbasis fotografi dapat dijadikan sebagai media komunikasi visual kepada masyarakat yang bersifat fleksible dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan. Dalam perancangan ini juga dihasilkan media pendukung berupa poster-poster pameran yang berisi tampilan dari bagian isi produk. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media komunikasi visual berupa buku dokumentasi berbasis fotografi merupakan salah satu alternatif upaya pelestarian kebudayaan lokal yang bersifat kebendaan. Jenis media ini juga dapat dapat dijadikan sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan kunjungan wisatawan lokal ke candi-candi di wilayah Kabupaten Malang.

Tindak elisitasi dalam wacana kelas: kajian mikroetnografi terhadap bahasa guru / Fitri Resti Wahyuniarti

 

Tesis, tidak diterbitkan, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dawud, M.Pd, (II) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd. Kata Kunci: tindak elisitasi, guru, wacana kelas Penggunaan bahasa dalam pembelajaran di kelas merupakan realitas komunikasi yang berlangsung dalam interaksi kelas. Dalam interaksi kelas, guru selalu menggunakan bahasa untuk memperlancar proses interaksi pembelajaran. Dalam interaksi tersebut, guru harus mampu berkomunikasi dengan baik untuk mencapai pembelajaran yang aktif. Selain itu, guru memiliki tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran yang lebih efektif dan meningkatkan keterampilan siswa serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejalan dengan pernyataan-pernyataan tersebut, salah satu wujud dari meningkatkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki siswa dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan penggunaan tindak bahasa dalam pembelajaran. Satu di antara tindak yang penting adalah tindak elisitasi. Tindak elisitasi merupakan wujud dari memancing siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran di kelas. Secara umum, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah tindak elisitasi guru dalam wacana kelas. Masalah tersebut dirinci ke dalam sub masalah yang meliputi (1) bentuk tindak elisitasi guru dalam wacana kelas, (2) fungsi tindak elisitasi guru dalam wacana kelas, dan (3) makna tindak elisitasi guru dalam wacana kelas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan pendekatan mikroetnografi yang berorientasi pada teori pragmatik. Penelitian ini digunakan untuk memotret penggunaan bahasa guru dalam wacana kelas selama satu bulan. Data penelitian ini berupa tuturan guru yang diindikasikan sebagai tindak elisitasi dalam wacana kelas. Data tersebut diperoleh dari tuturan guru kelas V di SDN Penanggungan Malang yang terletak di Jalan Cimanggis No. 2 Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Malang. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu, kehadirannya wajib dalam pengumpulan data. Pengumpulan data menggunakan handycam untuk merekam tuturan guru dan alat tulis untuk mencatat konteks peristiwa tutur. Pada pengumpulan data dilakukan dengan teknik “Simak Bebas Libat Cakap” (SBLC), peneliti hanya mengamati penggunaan bahasa guru dan siswa tanpa terlibat dalam interaksi mereka. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, sampai penarikan kesimpulan (verifikasi) dengan memanfaatkan triangulasi sebagai teknik pengecekan keabsahan data temuan. Dari hasil penelitian tindak elisitasi guru dalam wacana kelas dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, terdapat tiga bentuk elisitasi, yakni (a) tindak interogatif, (b) tindak deklaratif, dan (c) tindak imperatif. Tindak interogatif meliputi (1) bentuk interogatif dengan kata apa, (2) bentuk interogatif dengan kata siapa, (3) bentuk interogatif dengan kata kapan, (3) bentuk interogatif dengan kata berapa, (4) bentuk interogatif dengan kata atau, (5) bentuk interogatif dengan kata kenapa, (6) bentuk interogatif dengan kata mengapa, (7) bentuk interogatif dengan kata gimana, (8) bentuk interogatif dengan intonasi, (9) bentuk interogatif dengan menghilangkan sebagian suku kata, dan (10) bentuk interogasi. Tindak deklaratif diwujudkan dalam bentuk pernyataan. Tindak imperatif meliputi (1) perintah, (2) permintaan, (3) ajakan, (4) desakan, (5) larangan, dan (6) saran. Kedua, fungsi tindak elisitasi meliputi (a) menanyakan, (b) menyatakan, dan (c) memerintah. Fungsi menanyakan meliputi (1) meminta jawaban atau keterangan, (2) meminta alasan, dan (3) meminta pendapat. Fungsi menyatakan meliputi (1) menyatakan informasi dan (2) menyatakan penjelasan. Fungsi memerintah meliputi (1) menyuruh, (2) mengajak, (3) mendesak, (4) melarang, dan (5) menyarankan. Bentuk perintah dihadirkan dengan kata coba, menunjuk identitas nama, dan lihat, sedangkan pemintaan dihadirkan dengan kata sebutkan dan tolong. Bentuk ajakan menggunakan kata coba dan ayo, sedangkan desakan menggunakan kata ayo dan intonasi tinggi. Bentuk Larangan diikuti dengan kata jangan, sedangkan bentuk saran memberikan contoh lain yang maknanya berbeda tetapi penggunaan katanya hampir sama. Ketiga, makna tindak elisitasi dalam wacana kelas diwujudkan dalam beberapa makna. Makna tersebut meliputi (a) makna bertanya, (b) makna menyatakan, dan (c) makna memerintah. Makna bertanya meliputi (1) meminta jawaban atau keterangan seperti: makna meminta jawaban atau keterangan tentang sesuatu, makna meminta jawaban atau keterangan tentang identitas “nama”, makna meminta jawaban atau keterangan tentang waktu, makna meminta jawaban atau keterangan tentang jumlah, dan makna meminta jawaban atau keterangan tentang pilihan, (2) meminta alasan, dan (3) meminta pendapat. Makna menyatakan meliputi (1) menyatakan informasi dan (2) menyatakan penjelasan. Makna memerintah meliputi (1) menyuruh, (2) mengajak, (3) mendesak, (4) melarang, dan (5) menyarankan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan guru SD dalam memilih dan menggunakan tindak elisitasi yang meliputi bentuk, fungsi, dan makna yang bervariasi sesuai dengan konteks pembelajaran. Dengan demikian, perilaku guru terhadap siswa tampak sebagai upaya membangun komunikasi yang sehat dan komunikatif, menghindari suasana yang membosankan serta benar-benar menumbuhkan dan mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Selain itu, dapat memberikan masukan kepada kepala sekolah untuk memotivasi dan meminta komitmen para guru agar senantiasa merencanakan, mengembangkan, dan menerapkan aktivitas belajar mengajar dengan memanfaatkan potensi penggunaan tindak elisitasi dalam pembelajaran di kelas. Bagi peneliti berikutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian yang berhubungan dengan tindak elisitasi dalam wacana kelas yang fokus kajiannya terhadap bahasa yang digunakan siswa terhadap guru dan siswa terhadap siswa dalam wacana kelas.

Peningkatan kemampuan bercerita anak kelompok A melalui permainan tebak gambar di TK Negeri Pembina Kabupaten Malang / Astina Ratna Dewi

 

Kata Kunci : Kemampuan Bercerita, Permainan Tebak Gambar, TK Negeri Pembina Kabupaten Malang Usia emas anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat pada aspek fisik, emosi, sosial, bahasa, dan kognitif. Dari hasil observasi pada anak kelompok A di TKN Pembina Kabupaten Malang ditemukan bahwa anak masih belum mampu bercerita tentang pengalamannya. Hal tersebut diperkuat dari 28 orang anak didik ada 17 anak yang belum mampu menceritakan pengalamannya. Berangkat dari masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TKN Pembina Kepanjen melalui permainan “Tebak Gambar” serta untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita anak kelompok A di TKN Pembina Kepanjen setelah dibelajarkan melalui permainan “Tebak Gambar”. Ruang lingkup penelitian ini adalah terbatas pada implementasi kegiatan bermain “Tebak Gambar” sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak khususnya pada anak kelompok A di TKN Pembina Kepanjen. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada model siklus Kemmis dan MC. Taggart yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak-anak kelompok A TKN Pembina Kabupaten Malang yang berjumlah 28 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa panduan observasi aktifitas siswa untuk mengetahui kemampuan bercerita. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah pada siklus I peningkatan kemampuan anak dalam bercerita pengalamannya mencapai 71,43% sedangkan pada siklus 2 meningkat lagi menjadi 100%. Hal ini terlihat dari faktor-faktor sebagai berikut: keberanian anak, kelancaran anak dalam bercerita, serta kevariatifan cerita anak.Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan permainan “Tebak Gambar” dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak terutama kemampuan bercerita anak. Adapun saran yang dikemukakan penulis adalah 1) Bagi guru khususnya TK hendaknya selalu kreatif dan inovatif dalam membantu mengembangkan kemampuan bahasa terutama kemampuan bercerita anak melalui berbagai inovasi pembelajaran, 2) Bagi sekolah, hendaknya pihak sekolah selalu mendekung program guru dalam meningkatkan kemampuan bercerita anak, serta bagi peneliti lanjutan, hendaknya menggunakan media gambar dan tema cerita yang lebih bervariatif.

Pengaruh current ratio, tingkat suku bunga, dan beta akuntansi terhadap beta saham syariah di BEI tahun 2007-2009 / Alief Nur Rohmad

 

Kata Kunci: Current Ratio, Suku Bunga, Beta Akuntansi, dan Beta Saham Berkembangnya pasar modal dan kondisi perekonomian, berdampak pada resiko yang akan diterima oleh investor. secara teori resiko dibagi menjadi dua yaitu resiko unsistematis yang dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan dan resiko sistematis yang dipengaruhi oleh faktor eksternal perusahaan. terdapat ketidak konsistenan teori resiko sitematis yang dikemukakan oleh Jogiyanto. Teori tersebut menyatakan bahwa, terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi beta saham seperti rasio likuiditas, Tingkat suku bunga dan beta akuntansi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh current ratio, tingkat suku bunga dan beta akuntansi, sehingga informasi tersebut dapat mempengaruhi besarnya beta saham syariah secara parsial dan simultan Populasi yang digunakan adalah semua perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2007-2009 yaitu sebanyak 78 perusahaan, dimana dari populasi tersebut terpilih 12 perusahaan sebagai sampel yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan, beberapa situs resmi penyedia data saham perusahaan dan data lainnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linier berganda, uji asumsi klasik serta uji hipotesis dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial current ratio berpengaruh negatif tidak signifikan, dengan korelasi bernilai negatif dengan signifikansi 0,939. Beta akuntansi secara parsial juga berpengaruh positif tidak signifikan dengan korelasi yang bernilai negatif dengan tingkat signifikan 0,269. Tingkat suku bunga secara parsial juga berpengaruh negatif tidak signifikan, dengan korelasi bernilai negatif dengan signifikansi 0,007. Sedangkan hasil penelitian ini secara simultan ketiga variabel independen tersebut memiliki pengaruh terhadap beta saham syariah dengan nilai signifikan 0.038 Berdasarkan penelitian ini maka disarankan investor dapat menggunakan variabel lain untuk menganalisis faktor yang menmpengaruhi beta saham. Untuk peneliti selanjutnya dapat menambah periode pengamatan serta sampel mengingat periode pengamatan yang dilakukan hanya tiga tahun dan terfokus pada perusahaan yang listing di JII

Penerapan strategi diferensiasi produk pada Jawa Pos Radar Malang / Deni Irfayanti

 

Kata Kunci: startegi diferensiasi, produk Globalisasi ditandai dengan dimulainya era perdagangan yang tidak mengenal batas-batas negara. Untuk menghadapi suatu persaingan yang ketat tersebut dibutuhkan manajemen yang handal dan mampu mengantisipasi pada semua persaingan. Pada dasarnya keberhasilan suatu perusahaan di dalam memproduksi dan memasarkan produknya sangat ditentukan oleh ketepatan strategi yang dipakai oleh perusahaan. Strategi adalah suatu kesatuan rencana perusahaan yang menyeluruh untuk mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang. Strategi yang harus digunakan oleh perusahaan agar produk yang dipasarkan lebih menarik dan berbeda adalah dengan diferensiasi produk atau biasa disebut sebagai memodifikasi produk. Unsur-unsur strategi adalah ruang lingkup tujuan dan sasaran, pengalokasian sumber daya, identifikasi keunggulan kompetitif yang layak, dan strategi diferensiasi yang sudah dilakukan dalam perusahaan tersebut. Untuk itu perusahaan perlu memahami kompetensi inti di dalam memiliki keunggulan dibandingkan para pesaing. Strategi yang memiliki ciri ini sering disebut sebagai srategi diferensiasi, yang meliputi strategi produk, personalia,citra dan pelayanan. Melalui strategi yang tepat maka akan dimungkinkan dapat dicapainya nilai kepuasan seperti yang diharapkan. Untuk melakukan diferensiasi perusahaan harus mencoba mengidentifikasi cara-cara spesifik yang menjadi suatu pembeda untuk mencapai keunggulan kompetitif. Karena dengan melakukan diferensiasi ini akan membuat produk atau jasa yang ditawarkan menjadi unik dipasar. Kalau produk yang ditawarkan berbeda dengan produk yang ada dipasaran, pelanggan akan bersedia membayar lebih mahal untuk menikmati perbedaan tersebut. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan dan mendapat laba yang besar sehingga kemajuan perusahaan akan menjadi nyata. Dalam penyusunan tugas akhir yang dimulai dari PKL, yang dilaksanakan mulai tanggal 7 Januari sampai 7 Maret 2011, penulis berusaha untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan strategi diferensiasi Jawa Pos Radar Malang. Tujuan yang ingin dicapai dari strategi diferensiasi dari Jawa Pos Radar Malang, serta kelebihan dan kekurangan dari strategi tersebut. Dengan hasil laporan ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan dan identifikasi pasar yang paling potensial untuk dikembangkan. Sehingga dapat mengembangkan Jawa Pos Radar Malang, serta lebih memahami apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Implementing STAD with Podcast materials to improve students' listening ability / Yunita Puspitasari

 

Thesis. Graduate Program in English Language Teaching. State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien M.Pd, (II) Dr. Yazid Basthomi, M.A. Key words: podcast materials, STAD, listening ability The fact that the Junior High School students have problems in listening comprehension was the concern of this study. The result of the preliminary study conducted at MTs Al-As’ad Jombang showed several findings: a) the students disliked the teaching of listening; b) the students stated that listening was difficult; c) the teacher used unvaried material; d) the teacher unwisely used time allotment. To solve these problems, a collaborative action research was conducted by implementing Student Teams Achievement Division (STAD) with podcast materials. The study was focused on describing how implementing STAD with podcast materials can improve students’ listening ability. STAD is selected as the strategy since it can motivate students to encourage and help each other master the skill presented by the teacher. Besides, this is the simplest model of cooperative learning which is believed to be very effective, meaningful, and motivating. While podcast is chosen as a source of materials as it comes in various themes, levels, and it is free and easy to be segmented. This collaborative action research comprised two cycles; each cycle consisted of four meetings. Three meetings were the implementation of the strategy, and the last meeting was devoted for the achievement test. The subjects of the research were 12 students of the eight grade of MTs Al-As’ad Jombang in 2010/2011 academic year. In conducting this study, the researcher and the collaborator worked together in planning, implementing, observing, and reflecting during the implementation of STAD with podcast materials. The data of the study were gathered through the following instruments: achievement test, observation checklists, and field notes. The achievement tests used to obtain data on the students’ listening ability to comprehend main idea and identifying detailed information. The tests were in pictures-cued selection, chart-filling and short-answer essay type. The tests were administered after three-meeting instruction. The data resulted from the achievement tests were analyzed quantitatively. The observation checklists and field notes were utilized in observing the action. The observation checklists were aimed to collect the data on the students’ participation during the implementation of STAD with podcast materials. They consisted of lists of students’ activities during the implementation of the strategy. Field notes were needed to record any phenomena emerged during the implementation of the strategy which could not be covered by the observation checklists. The findings of the study showed that in implementing STAD with podcast materials two main steps should be followed, namely; initiating and integrating. Initiating meant that googling and selecting of some podcast sites begun, they were selected to meet the need of the students and the learning objectives, worksheets were constructed to support the presentation of the podcast materials, and the chosen podcast materials were segmented. Integrating was the step in which STAD was integrated with podcast materials. Here STAD with podcast materials employed three-phase technique, i.e. Pre-listening, Whilst-listening, and Post-listening. In each phase important stages of STAD emerged. Pre-listening conveyed teach stage in which the teacher sets context, brainstorms, and prepares students for the coming podcasts materials. Whilst-listening includes team-study in which students worked in groups to finish the tasks in their listening worksheets while listening to the podcast materials and their segments. Post-listening consisted of test and team-recognition. The test was in the form of individual quiz and the recognition was done by giving certificates which were pasted on the class announcement board to groups of students. The results of the study also revealed that implementing STAD with podcast materials can improve the students listening ability. The improvement was indicated by the increase of students’ average listening scores from 47.083 in preliminary study, 56.81 in the first cycle and 67.38 in the second cycle. Besides, the results of the study showed that the students were enthusiastic and active in the teaching and learning process using podcast materials presented through STAD. From the research findings, it can be inferred that the strategy is not only effective in improving the students’ listening ability but also in enhancing their participation in the learning process. Therefore, it is suggested that English teachers apply it since it is beneficial in terms of giving the students a motivating way in practicing their listening skill. Finally, it is suggested that further researchers conduct similar action research in the teaching of listening of descriptive texts in the different level of education, for example, Senior High School. Moreover, it is also suggested that future researchers conduct action research in the teaching of listening using different genres for instances; report, narrative, recount or procedure texts.

Pengembangan bahan ajar tata bahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand tingkat pemula / Miss Kholiyoh Salaeh

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo Hs, M. Pd, (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M. Pd. Kata Kunci: Bahan ajar tatabahasa, pembelajar Thailand tingkat pemula. Bahan ajar adalah salah satu komponen inti dalam sistem pembelajaran. Bentuk atau wujud bahan ajar sangat menentukan tercapainya keberhasilan tujuan pembelajaran. Karakteristik pembelajaran BIPA berbeda dengan karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia umum (Bahasa Indonesia bagi penutur Indonesia). Perbedaan mendasar antara BIPA dan bukan BIPA (bahasa Indonesia umum) terletak pada komponen pembelajarnya. Pembelajar BIPA adalah orang asing, sedangkan pembelajar BI umum adalah orang Indonesia. Pembelajar Thailand yang belajar bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam mempelajari tata bahasa Indonesia karena struktur dan tipe tata bahasa Indonesia dengan bahasa Thai sangat berbeda. Bahan ajar khusus tata bahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand belum pernah disusun sebelumnya. Untuk mensiasati masalah kesulitan tersebut, peneliti mencoba mengembangkan sebuah produk bahan ajar tatabahasa Indonesia untuk pembelajar Thailand tingkat pemula. Penelitian ini untuk mengembangkan materi ajar berupa, bentuk produk penyajian materi tata bahasa, dan kerelevansian materi tata bahasa dengan kebutuhan pembelajar Thailand tingkat pemula. Model yang digunakan dalam penelitian ini model pengembangan R2D2 (reflective, recursive, design and development) yang diadopsi dari model R2D2 Jerry Willis (1995, 2000). Model ini bekerja berdasarkan tiga kegiatan pokok, yaitu: 1) kegiatan pendefinisian 2) kegiatan perencanaan dan pengembangan, dan 3) kegiatan penyebarluasan. Dalam kegiatan pendefinisian, peneliti melakukan tiga kegiatan. Ketiga kegiatan itu adalah (1) membentuk tim partisipatif, tim partisipatif terdiri dari tujuh orang, yaitu peneliti sendiri, satu orang pengajar, empat orang pembelajar Thailand, satu orang pakar BIPA, satu orang pakar bahan ajar. (2) pemecahan masalah berkelanjutan dan (3) pemahaman konteks dengan mengajak tim partisipatif memasuki konteks BIPA. Dalam perancangan dan pengembangan, peneliti juga melaksanakan lima kegiatan, yaitu: (1) pemilihan lingkungan pengembangan (membatasi lingkungan pengembangan bahan ajar BIPA yang digunakan di Indonesia, khususnya program BIPA FS UM), 2) memilih format media pengembangan berupa buku teks, dan 3) pemilihan strategi evaluasi, (4) Desain pengembangan produk, dan (5) Prosedur pengembangan produk hingga tersusun produk akhir. Prosedur pengembangan produk meliputi a) pengembangan bahan ajar, b) uji coba, c) refleksi dan rekursi yang dilakukan secara berulang sehingga tersusun produk akhir. Penelitian ini belum menjangkau upaya penyebarluasan yang sesungguhnya, misalnya menggandakan produk dalam jumlah yang banyak untuk disebarkan ke lingkup pemakaian yang lebih luas. Produk akhir pengembangan hanya akan disebarluaskan dilingkungan terbatas di mana pembelajar Thailand belajar Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya sebuah produk bahan ajar tata bahasa Indonesia sebagai bahan ajar tambahan/pendamping bagi bahan ajar utama yang telah digunakan untuk pembelajar Thailand di kelas. Produk akhir ini dapat menfalisitasi pengajar dan pembelajar dalam kegiatan belajar mengajar di BIPA. Bahan ajar ini terdiri dari 10 pelajaran. Setiap unit dibutuhkan proses KBM selama 120 menit (2 jam). Komponen bahan ajar berupa 1) konsep materi, 2) ilustrasi penggunaan, dan 3) latihan-latihan. Bahan ajar tata bahasa Indonesia bagi pembelajar Thailand tingkat pemula ini memiliki konten materi yang terdiri atas sepuluh bagian. Kesepuluh bagian tersebut adalah 1) pengenelan huruf alfabet dalam bahasa Indonesia, 2) jenis kata dalam bahasa Indonesia, 3) kata tanya, 4) kata bilangan, 5) kata ganti nama 6) kata perintah, 7) Penanda aspek, 8) konjungsi, 9) kata kerja berawalan me[N]-, ber-, di, memper, diper, dan 10) akhiran –kan dan i-. Bahan ajar ini disusun untuk melibatkan respon pengguna secara aktif. Produk bahan ajar ini juga terkategorikan sebagai tutorial mandiri. Pembelajar tingkat lanjut dapat menggunakan bahan ajar secara mandiri. Konsep materi tatabahasa diterjemahkan ke dalam bahasa Thai. Contoh/ilustrasi yang disajikan mencerminkan penggunaan kalimat yang digunakan sehari-hari.

Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika melalui pembelajaran model treffinger pada siswa kelas VII SMPN 1 Singosari / Anna Siswati

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ipung Yuwono, M. S., M. Sc., (II) Dr. Swasono Rahardjo, S. Pd., M. Si. Kata kunci: berpikir kreatif, matematika, model Treffinger. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika pada siswa merupakan hal yang sangat penting, karena pada umumnya masalah dunia nyata saat ini tidak sederhana dan konvergen, tetapi kompleks dan divergen. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di kelas VII-C SMPN 1 Singosari diketahui bahwa kemampuan berpikir kreatif matematika siswa masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengamatan yaitu rendahnya rasa ingin tahu, keterbukaan, dan kepercayaan diri siswa, dan hasil tes awal yaitu 26 siswa berada pada tingkat kurang kreatif, 1 siswa berada pada tingkat tidak kreatif, dan hanya 1 siswa berada pada tingkat kreatif. Penelitian ini mengimplementasikan model Treffinger untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika pada siswa kelas VII SMPN 1 Singosari. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran model Treffinger yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika dan (2) meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika siswa kelas VII SMPN 1 Singosari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan dilaksanakan pada semester gasal tahun 2010/2011. Data penelitian ini adalah aktifitas dan sikap siswa selama pembelajaran berlangsung, dan hasil tes siswa setelah pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar observasi dan lembar tes. Analisa hasil tes menggunakan TTCT ( The Torrance Test of Creative Thinking). Subyek penelitian adalah siswa kelas VII SMPN 1 Singosari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah pembelajaran model Treffinger yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematika adalah sebagai berikut. Model Treffinger tingkat I, yaitu (1) memberikan pemanasan melalui pertanyaan yang menarik dan menantang, (2) melatih siswa berpikir divergen melalui pemberian LKS yang berisi masalah terbuka (3) meminta siswa menuliskan semua ide atau gagasannya dalam menyelesaikan masalah terbuka, (4) meminta siswa mendiskusikan ide atau gagasan masing-masing siswa dalam menyelesaikan masalah terbuka bersama kelompoknya, dan menentukan beberapa alternatif penyelesaiannya melalui kegiatan sumbang saran (5) meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi, (6) memberikan tugas mandiri sebagai penguatan. Model Treffinger tingkat II, yaitu (1) memberikan motivasi melalui permainan menyusun tangram, (2) meminta siswa menemukan luas trapesium berdasarkan bangun-bangun penyusun trapesium beserta sifat-sifatnya melalui teknik analisa morfologis. Model Treffinger tingkat III, yaitu (1) meminta siswa untuk mengajukan masalah yang berkaitan dengan luas atau keliling segiempat dan segitiga secara berkelompok melalui kegiatan problem posing, (2) memberikan permainan creative problem solving berupa lomba menyelesaikan masalah yang sudah dibuat masing-masing kelompok pada kegiatan problem posing dan sudah diacak, (3) memberikan reward kepada siswa yang mengalami peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Berdasarkan hasil observasi dan hasil tes disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematika siswa meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya perilaku kreatif siswa menjadi minimal pada kriteria “baik”, dan meningkatnya 41% siswa dari tingkat kreatif rendah ke tingkat kreatif lebih tinggi

Test development by English teachers at SMAN 3 Malang / Ririn Indah Prastiwi

 

This study is intended to find out the test development by English teachers in SMAN 3 Malang in terms of (1) the teachers’ knowledge of test development, (2) the stages of test development by English teachers, and (3) the supporting factors and obstacles faced by the teachers in test development. This research design is descriptive qualitative. This study is a case study and four certified English teachers are chosen as the subjects of this study. The instruments are used to collect the data, namely, interview, the school documents, and questionnaire. The findings of the study are as follows. First, the English teachers in SMAN 3 Malang lack the knowledge of stages in test development. The second, the stages of test development by English teachers do not follow the standard procedure in test development. Third, the factors that supported the teachers in test development are the availability the material and rich experience in test development. And the last, the obstacles or problems faced by the teachers in the test development are mostly due to the limitation of time Key words: test development, English teachers, supporting factors, obstacles

Penerapan model pembelajaran two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar geografi siswa kelas X6 SMAN 6 Malang / Dwi Ratna Anggraini

 

Kata kunci: model pembelajaran TSTS, keaktifan belajar siswa, hasil belajar geografi siswa Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 9 Februari 2011 di kelas X6 SMA Negeri 6 Malang diketahui bahwa 27 siswa masih kurang aktif di dalam proses pembelajaran, dikarenakan siswa kurang memiliki motivasi dalam belajar. Pada saat penerapan metode belajar diskusi sebagian besar siswa kurang dapat memenuhi indikator keaktifan dan didapatkan data sebagai berikut yaitu siswa yang aktif melakukan diskusi mencapai 48,09%, aktif berbagi tugas mencapai 27,61%, aktif bertanya 42,86%, dan aktif merespon terhadap guru mencapai 55,24% dari 37 siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru geografi SMA Negeri 6 Malang diketahui bahwa nilai hasil belajar geografi masih rendah. Dari SKM yang ditetapkan, hanya 15 siswa yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 75 pada ulangan harian pertama dan 22 siswa yang lain mendapat nilai kurang dari 75. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tulis. Penelitian dilaksanakan di kelas X6 SMAN 6 Malang dengan jumlah siswa 35 orang, pada Kompetensi Dasar: Menganalisis Atmosfer dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Di Muka Bumi. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa keaktifan dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan keaktifan belajar siswa yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase keaktifan kelas sebesar 22,7 (53,36%) pada siklus I meningkat menjadi 10,95 (16,78%) pada siklus II. Hasil penelitian juga menunjukkan peningkatan hasil belajar Geografi siswa kelas X6 SMAN 6 Malang. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 7,15 (10,32%) meningkat menjadi 6,31 (8,25%) pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TSTS dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Adapun saran yang diberikan yaitu: (1) guru perlu menerapkan model pembelajaran TSTS sebagai salah satu model alternatif dalam kegiatan pembelajaran, (2) sekolah disarankan untuk menerapkan model pembelajaran TSTS ketika ditemukan permasalahan keaktifan dan hasil belajar, (3) bagi peneliti lanjut dapat melakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran TSTS dengan memberikan variasi model atau variabel lain di dalam pelaksanaannya

Pengaruh model pembelajaran dan kemampuan awal terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen pada materi kesetimbangan kimia / Nur Candra Eka Setiawan

 

Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed dan (2) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc, Ph.D Kata kunci: model pembelajaran, kemampuan awal, hasil belajar kimia, kemampuan berpikir tingkat tinggi Guru-guru di SMAN 1 Turen telah mencoba menerapkan model-model pembelajaran inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun masih mengalami kendala dalam implementasinya. Peningkatan kualitas pembelajaran yang menekankan pembelajaran proses dapat dilakukan dengan memberi pengalaman kerja ilmiah kepada siswa. Pengalaman kerja ilmiah siswa yang diterapkan melalui model pembelajaran siklus belajar tipe hypothetical-deductive (HDLC), kooperatif tipe student teams achievement divisions (STAD) dan metode pembelajaran langsung (MPL) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dampak penggunaan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL berdasarkan kemampuan awal siswa pada materi pokok kesetimbangan kimia terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPA SMAN 1 Turen. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dengan desain faktorial 3 × 2. Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Turen, sampel penelitian dipilih dengan teknik cluster random sampling terdiri atas 3 kelas yaitu kelas XI IPA 2 (36 siswa) sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran HDLC, kelas XI IPA 3 (36 siswa) sebagai kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran STAD dan kelas IX IPA 4 sebagai kelas yang dibelajarkan dengan MPL. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa 30 soal valid dengan validitas isi dari instrumen tersebut sebesar 95,3% dan reliabilitas 0,917. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan program Statistical Package for Social Sciences versi 16.0 for windows pada taraf signifikan α = 0,05 dengan uji anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL pada materi pokok Ketimbangan Kimia kelas XI SMAN 1 Turen; (2) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dengan kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah pada materi pokok Kesetimbangan Kimia kelas XI SMAN 1 Turen; dan (3) Terdapat perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran HDLC, STAD dan MPL dengan memperhatikan kemampuan awal siswa.

Pengembangan bahan ajar menulis puisi baru sebagai pemodelan untuk siswa kelas X SMA / Artha Galuh Rahmania

 

Kata kunci: bahan ajar, menulis, puisi baru, pemodelan. Menulis puisi baru merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa kelas X SMA. Melalui kegiatan menulis puisi, siswa dapat mengembangkan kreativitas yang bersifat ilmiah maupun imajinatif untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang dapat dinikmati pembaca. Pembelajaran menulis puisi menjadi pembelajaran yang kurang diminati oleh siswa. Penyebab itu dipicu oleh beberapa hal yaitu lingkungan belajar yang kurang memadai, belum tersedianya bahan ajar yang mendukung proses pembelajaran, rendahnya minat siswa untuk belajar menulis puisi, kesulitan siswa untuk memunculkan ide menulis puisi, dan strategi yang kurang tepat yang digunakan oleh guru. Bahan ajar dibutuhkan untuk mengatasi hambatan belajar dan mendukung kelancaran pembelajaran menulis puisi. Mengingat pentingnya bahan ajar yang dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran menulis puisi, bahan ajar menulis puisi baru perlu dikembangkan. Terdapat beberapa alasan yang mendasari pentingnya pengembangan bahan ajar ini, yakni pertimbangan kebutuhan siswa akan sumber belajar dan tuntutan agar guru dapat memberikan materi pembelajaran yang berkualitas dalam pembelajaran yang dilakukan. Tujuan penelitian ini secara umum adalah mengembangkan bahan ajar menulis puisi baru sebagai pemodelan untuk siswa kelas X SMA. Adapun tujuan khususnya adalah (1) mengembangkan deskripsi isi bahan ajar, (2) mengembangkan sistematika penyajian bahan ajar, (3) mengembangkan penggunaan bahasa bahan ajar, dan (4) mengembangkan tampilan dan tata letak bahan ajar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari model desain pembelajaran Borg and Gall (1983). Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini terdapat empat tahap prosedur penelitian, yakni (1) tahap pra pengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap pra pengembangan. Selanjutnya produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yaitu melalui kelompok uji, meliputi (1) ahli penulisan kreatif puisi, (2) ahli pembelajaran sastra, (3) guru bahasa Indonesia, dan (4) uji kelompok kecil siswa yang terdiri atas 15 siswa. Data dalam penelitian ini berupa data verbal dan data nonverbal. Data verbal dibedakan menjadi data tulis dan data lisan. Data tulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Data nonverbal yakni berupa data numerik atau skor yang diperoleh dari hasil uji coba angket penilaian dari ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Pengumpulan data dalam penelitian ini, digunakan sejumlah instrumen sebagai penunjang yakni kuesioner dan pedoman wawancara bebas. Analisis data hasil uji coba dianalisis dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian; (2) mentranskrip data verbal lisan; (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasi data verbal tulis dan verbal lisan berdasarkan kelompok uji; dan (4) menganalisis data serta merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan, apakah harus direvisi atau diimplementasikan. Perbaikan dilakukan berdasarkan saran dan masukan dari ahli yang disampaikan secara lisan dan tulisan. Hasil uji bahan ajar dengan ahli penulisan kreatif puisi menunjukkan rata-rata kelayakan sebesar 82,84 %, ahli pembelajaran sastra 83,33%, guru Bahasa Indonesia 97,05%, dan kelompok kecil siswa 88,21%. Keempat hasil uji tersebut menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan. Sekalipun demikian, pada aspek-aspek tertentu juga dilakukan revisi. Data verbal dari ahli menitikberatkan pada deskripsi isi bahan ajar pada aspek latihan yang masih terlalu sulit untuk siswa dan materi penulisan puisi masih kurang memotivasi siswa untuk menulis. Data verbal lisan dari siswa adalah bahan ajar secara keseluruhan bagus, tetapi masih kurang memotivasi mereka untuk menulis. Berdasarkan data verbal tersebut, peneliti merevisi aspek latihan, materi, dan menambahkan kalimat-kalimat motivasi. Perbedaan hasil pengembangan produk bahan ajar menulis puisi baru dengan bahan ajar lain terletak pada penggunaan model-model atau contoh-contoh yang berhubungan dengan materi dan aktivitas pembelajaran yang dilakukan siswa yang bisa ditiru, diadaptasi, atau dimodifikasi. Adapun deskripsi isi bahan ajar menulis puisi baru meliputi (1) materi dan teori menulis puisi baru (2) contoh puisi baru, (3) lembar kegiatan siswa yang berupa latihan-latihan, (4) rangkuman dan refleksi, dan (5) evaluasi kegiatan menulis puisi. Sistematika penyajian bahan ajar meliputi (1) pendahuluan, (2) bagian inti, dan (3) bagian penutup. Penggunaan bahasa dalam bahan ajar memperhatikan keterbacaan siswa, tata bahasa yang benar, struktur kalimat yang sederhana, singkat, jelas, dan memotivasi. Tampilan dan tata letak bahan ajar memperhatikan jenis dan ukuran huruf, penataan halaman, dan ilustrasi isi. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah hasil uji bahan ajar menulis puisi baru menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan menggunakan bahan ajar ini pada pembelajaran menulis puisi baru sebagai salah satu alternatif sumber/bahan belajar bagi peserta didik. Selain guru, siswa juga disarankan memanfaatkan bahan ajar ini dalam pembelajaran menulis puisi baru dengan memperhatikan petunjuk penggunaan dan mecermati setiap langkah-langkah pembelajaran menulis puisi baru dalam bahan ajar. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Perbedaan prestasi dan keaktifan belajar siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas An-Nur Bululawang Malang antara yang diajar dengan strategi diagram Vee dan konvensional pada materi pokok koloid tahun ajaran 2010/2011 / Arif Rahman Hudaifi

 

Kata kunci: Prestasi Belajar, Keaktifan Belajar, Strategi Diagram Vee, dan Konvensional. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi dan keaktifan belajar siswa adalah pemilihan strategi pembelajaran yang digunakan dalam penyampaian materi. Selama ini pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru pengajar kimia di SMA An-Nur Bululawang Malang adalah pembelajaran konvensional. Salah satu tujuan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah adanya peran aktif siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa diharapkan mampu membangun pengetahuannya sendiri melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi dan keaktifan belajar siswa antara yang menggunakan strategi pembelajaran diagram Vee dan pembelajaran konvensional. Penelitian ini dilakukan di SMA An-Nur Bululawang Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA An-Nur Bululawang Malang yaitu XI IPA-I, XI IPA-II, dan XI IPA-III. Data prestasi belajar diperoleh dari tes prestasi belajar pada pokok bahasan koloid dan data keaktifan keaktifan belajar siswa diperoleh dari angket respon siswa. Hasil uji hipotesis pada prestasi belajar siswa diperoleh nilai probabilitas 0,047 (kurang dari 0,05) yang berarti terdapat perbedaan prestasi belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rata-rata skor prestasi belajar pada kelas kontrol adalah 71,70 dan rata-rata prestasi belajar pada kelas eksperimen adalah 88,26. Hal ini berarti prestasi belajar pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil uji hipotesis pada keaktifan belajar siswa diperoleh nilai probabilitas 0,000 (kurang dari 0,05) yang berarti terdapat perbedaan keaktifan belajar siswa kontrol dan kelas eksperimen. Rata-rata skor keaktifan belajar siswa pada kelas kontrol adalah 91,00 dan rata-rata keaktifan belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 96,06. Hal ini berarti keaktifan belajar siswa pada kelas eksperimen lebih aktif dibandingkan kelas kontrol. Hasil ini merupakan akibat dari perlakuan berbeda yang diberikan kepada kedua kelas. Jadi, kesimpulan penelitian ini adalah prestasi dan keaktifan belajar siswa kelas XI yang diajar dengan strategi pembelajaran diagram Vee lebih tinggi daripada prestasi dan keaktifan belajar siswa kelas XI yang diajar dengan pembelajaran konvensional.

Portable solar charger handphone / Abdul Kodir

 

Kata Kunci: Chager Handphone, Solar Cell, Baterai, AC Adapter Handphone Pasti membutuhkan baterai yang dapat berfungsi sebagai sumber energi. Tetapi sangat disayangkan bila ternyata aktifitas yang harus dilakukan diluar ruangan terhambat oleh karena kondisi baterai yang drop atau akan habis. Apalagi Kalau berada di luar rumah, pasti sulit mencari listrik untuk charger handphone. Solar Cell adalah salah satu supply energi listrik alternatif yang memungkinkan untuk dibawa kemana-mana. Sel surya memiliki kemampuan mengonversi cahaya matahari menjadi energi listrik, dengan bentuk yang kokoh dan tahan terhadap pergerakan atau guncangan). Solar cell merupakan solusi yang tepat untuk di jadikan suatu portable charger. Pembuatan Alat Portable Solar Charger Handphone berfungsi untuk pengisian Baterai Handphone Ketika berada di luar rumah mengurangi ketergantungan listrik dari PLN karena pengisian ini menggunakan Solar Cell dan baterai sebagai penyimpan sementara. Baterai ini juga bisa di ganti ketika habis atau tidak sabar menunggu baterai yang di isi oleh Solar Cell penuh. Pengisian baterai sementara dapat dilakukan dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 16.00 dengan kondisi cuaca cerah. Pada cuaca mendung dan hujan, pengisian bisa di ganti dengan Ac adapter. Dalam pemakaiannya charger ini sangat mudah digunakan dalam keperluan sehari-hari sehingga memudahkan kita dalam mengisi handphone tetapi di butuhkan waktu yang lama karena arus yang di hasilkan dari baterai sementara sangatlah kecil, dan tidak bisa mengisi baterai handphone sampai penuh. Saran dari tugas akhir ini Menambah kapasitas panel surya yang lebih besar dengan cara menseri supaya arus yang dihasilkan semakin besar, pengisian baterai sementara lebih cepat penuh. menambah kapasitas baterai sementara supaya pengisian baterai handphone bisa terisi dengan penuh. Menyempurnakan rangkaian penaik tegangan dan penguat arus supaya dalam pengisian handphone bisa cepat penuh. Menambahkan lampu indikator untuk pengisian baterai sementara dan ketika mengisi handphone apabila sedang mengisi dan ketika penuh supaya tidak terjadi overcharging agar baterai tahan lama. Menyempurnakan box supaya tidak terlalu besar agar lebih mudah di bawa.

Mitos tentang masjid bernuansa Hindu di Desa Berbek Kabupaten Nganjuk / Khoirun Nisa'

 

Kata kunci: Prestasi Belajar, Keaktifan Belajar, Strategi Diagram Vee, dan Konvensional. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi dan keaktifan belajar siswa adalah pemilihan strategi pembelajaran yang digunakan dalam penyampaian materi. Selama ini pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru pengajar kimia di SMA An-Nur Bululawang Malang adalah pembelajaran konvensional. Salah satu tujuan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah adanya peran aktif siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa diharapkan mampu membangun pengetahuannya sendiri melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi dan keaktifan belajar siswa antara yang menggunakan strategi pembelajaran diagram Vee dan pembelajaran konvensional. Penelitian ini dilakukan di SMA An-Nur Bululawang Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA An-Nur Bululawang Malang yaitu XI IPA-I, XI IPA-II, dan XI IPA-III. Data prestasi belajar diperoleh dari tes prestasi belajar pada pokok bahasan koloid dan data keaktifan keaktifan belajar siswa diperoleh dari angket respon siswa. Hasil uji hipotesis pada prestasi belajar siswa diperoleh nilai probabilitas 0,047 (kurang dari 0,05) yang berarti terdapat perbedaan prestasi belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rata-rata skor prestasi belajar pada kelas kontrol adalah 71,70 dan rata-rata prestasi belajar pada kelas eksperimen adalah 88,26. Hal ini berarti prestasi belajar pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil uji hipotesis pada keaktifan belajar siswa diperoleh nilai probabilitas 0,000 (kurang dari 0,05) yang berarti terdapat perbedaan keaktifan belajar siswa kontrol dan kelas eksperimen. Rata-rata skor keaktifan belajar siswa pada kelas kontrol adalah 91,00 dan rata-rata keaktifan belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 96,06. Hal ini berarti keaktifan belajar siswa pada kelas eksperimen lebih aktif dibandingkan kelas kontrol. Hasil ini merupakan akibat dari perlakuan berbeda yang diberikan kepada kedua kelas. Jadi, kesimpulan penelitian ini adalah prestasi dan keaktifan belajar siswa kelas XI yang diajar dengan strategi pembelajaran diagram Vee lebih tinggi daripada prestasi dan keaktifan belajar siswa kelas XI yang diajar dengan pembelajaran konvensional.

Meningkatkan kuat geser balok laminasi bambu petung dan kayu sengon melalui perbaikan permukaan rekatan / Nuril Huda

 

Kata kunci: bambu petung, kayu sengon, laminasi, kuat geser. Kebutuhan kayu untuk konstruksi semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah penduduk. Teknologi yang digunakan guna mendukung kayu sebagai bahan konstruksi adalah dengan laminasi. Laminasi (glulam) adalah gabungan dari satu macam bahan ataupun lebih dimana bahan tersebut dibuat menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis yang direkatkan satu sama lain sehingga membentuk dimensi yang lebih besar. Pada penelitian terdahulu balok laminasi dengan rasio 75 persen mengalami kerusakan geser, yang artinya bahwa balok laminasi tersebut masih bisa ditingkatkan lagi kekuatannya dengan melakukan perbaikan permukaan rekatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beda nilai beban geser antara balok laminasi yang diperbaiki permukaan rekatannya dengan balok laminasi yang tidak diperbaiki permukaan rekatannya. Benda uji dalam penelitian ini adalah balok laminasi dari bambu petung dan kayu sengon dengan rasio bambu petung dan kayu sengon sebesar 3 : 1, berdimensi 6 cm x 8 cm x 150 cm. benda uji dibagi menjadi dua, kelompok control dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah balok laminasi tanpa perbaikan permukaan rekatan (tanpa diketam mesin dan tanpa digurat) sedangkan kelompok eksperimen adalah balok laminasi dengan perbaikan permukaan rekatan (diketam dengan ketam mesin dan digurat dengan jarak 1 cm). Penelitian dilakukan di Laboratorium Struktur Teknik Sipil Fakultas Teknik Univesitas Negeri Malang, tanggal 23 Agustus 2010 sampai dengan 23 Oktober 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap balok laminasi kelompok kontrol dan balok laminasi kelompok eksperimen didapatkan bahwa nilai rerata beban maksimum balok laminasi kelompok eksperimen sebesar 881,13 kg, lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata beban maksimum balok laminasi kelompok kontrol sebesar 501,63 kg. Sedangkan nilai tegangan geser rerata balok laminasi kelompok eksperimen 25,70 kg/cm2 lebih besar dibanding tegangan geser kelompok kontrol 14,14 kg/cm2. Selisih nilai rerata beban maksimum balok eksperimen dengan balok kontrol sebesar 379,5 kg atau meningkat sebesar 43,07% dan selisih tegangan geser rerata antara balok laminasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah sebesar 11,56 kg/cm2 atau meningkat sebesar 44,97%. Saran terhadap penelitian lanjutan adalah untuk meneliti kekuatan lentur dan atau kekakuan dari balok laminasi yang diberi guratan, menggunakan kayu sengon yang bebas dari cacat kayu sehingga didapatkan hasil yang maksimum dan hendaknya memakai alat klem yang dapat member tekanan yang sama besar nilainya pada saat pengekleman pembuatan benda uji.

Dimensi profetik dalam fiksi Kuntowijoyo / Anwar Efendi

 

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, (2) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (3) Prof. Dr. H. Abdus Syukur Ghazali, M.Pd. Kata Kunci: pokok persoalan, profetik, dan elemen fiksional Fiksi profetik menjadi media aktualisasi dan konstektualisasi ajaran agama da-lam kehidupan manusia secara nyata. Aktualisasi dan kon¬tekstualisasi tersebut me¬ngarah pada tercapainya keselarasan dimensi tran¬sen¬dental dan dimensi sosial dalam kehi¬dupan ma¬nusia. Muara akhirnya adalah merealisasikan sifat-sifat ketu-han¬an dalam diri manu¬sia dan mengi¬ngat¬kan bahwa perja¬lanan hidup di dunia ju¬ga meru¬pakan perjalanan kerohanian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan dimensi pro-fetik yang terdapat dalam fiksi karya Kuntowijoyo. Dalam penelitian ini, di¬mensi pro¬fetik mencakup: pokok persoalan, pengolahan pokok persoalan, dan pengeks-presian pokok per¬soalan dalam fiksi Kuntowijoyo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ada-lah fiksi karya Kun¬towijoyo yang sudah dibukukan (diterbitkan). Pengumpul¬an data meng¬gunakan tek¬nik studi dokumen¬tasi. Analisis data menggunakan model ana¬lisis interaktif, sehingga pe¬ngum¬pulan dan analisis data dikerjakan secara si-mul¬¬tan. Keab¬sahan data diperiksa dengan mem¬baca dan menelaah sumber data se-cara ber¬ulang, pengecekan teman seja¬wat, dan kons¬ultasi ahli. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Pertama, pokok per¬so¬al¬an yang diungkapkan dalam fiksi Kuntowijoyo mencakup tiga aspek, yaitu (1) tujuan hakiki hidup manusia, (2) penghambaan manusia kepada Tuhan, dan (3) ek¬sistensi dan jatidiri manusia. Tujuan hakiki hidup manusia terdiri atas (a) men¬capai kebahagiaan hidup sejati, dan (b) menggapai kematian sem¬purna. Pengham¬baan manusia kepada Tuhan terdiri atas (a) pe¬murnian ketauhidan dan (b) tasa¬wuf sosial. Eksistensi dan jatidiri manusia terdiri atas (a) gejala objektivasi dan (b) gejala alienasi. Kedua, pengolahan pokok persoalan mencakup empat hal, yaitu (1) motif pe-nu¬¬lisan fiksi, (2) gagasan yang mendasari penulisan fiksi, (3) prinsip penulisan fik-si, dan (4) nada penceritaan. Motif penulisan fiksi terdiri atas (a) sebagai iba¬dah, (b) sebagai artikulasi sejarah, dan (c) sebagai media demitologi. Gagasan yang men¬da¬sari penulisan fiksi terdiri atas (a) strukturalisme tran¬sen¬dental, (b) objek-tifikasi Islam, dan (c) per¬spektif dialektik. Prinsip penulisan fiksi terdiri atas (a) menulis fiksi ‘dari dalam’, (b) menulis fiksi ‘dari bawah’ dan (c) menulis fiksi dengan teknik ‘apa-apa ada’. Nada penceritaan, terdiri atas (a) parodi, (b) ironi, dan (c) satire. Ketiga, elemen fiksi sebagai sarana pengekspresian pokok persoalan menca¬kup lima aspek, yakni (1) tokoh, (2) latar, (3) alur, (4) sudut pandang, dan (5) ga¬ya ba-hasa. Aspek tokoh terdiri atas (a) tokoh yang mengedepankan prinsip rukun, (b) putaran nasib sebagai dasar pengembangan tokoh, dan (c) dialektika tokoh ka¬kek (orang tua) dan tokoh anak-anak. Aspek alur terdiri atas (a) rang¬kaian peris¬tiwa per¬jalanan profetik tokoh, dan (b) kejutan di akhir cerita. Aspek latar terdiri atas (a) latar masjid sebagai simbol keakheratan, (b) latar pasar sebagai sim¬bol kedu-niawian, dan (c) latar bukit sebagai simbol perjalanan-antara. Aspek sudut pan-dang terdiri atas (a) sudut pandang orang pertama, (b) sudut pandang orang ketiga, dan (c) penggunaan bentuk sapaan kepada pembaca. Aspek gaya bahasa terdiri atas (a) peng¬gunaan kalimat tunggal dan kalimat pendek, (b) penggunaan gaya penambah, (c) penggunaan gaya berlebih, dan (d) peng¬gunaan alih kode.

Pelaksanaan strategi saluran distribusi pada Jawa Pos Radar Malang / Hetty Nilawati

 

Kata Kunci: Strategi, Saluran, Distribusi. Setiap perusahaan barang dan jasa tidak akan terlepas dari masalah penyaluran barang yang dihasilkan suatu barang yang akan di jual ke masyarakat. Para produsen berhak menentukan kebijaksanaan distribusi yang akan di sesuaikan dengan jenis barang serta luasnya armada penjualan yang akan digunakan. Suatu perusahaan dikatakan berhasil di dalam marketing apabila perusahaan tersebut dapat memasarkan barang – barangnya secara luas dan merata dengan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam upaya memperkenalkan produk dari produsen tersebut diperlukan beberapa strategi yang meliputi strategi marketing mix, meliputi: price (harga), promotion (promosi), place (tempat), dan product (produk). Saluran distribusi pada Jawa Pos Radar Malang menggunakan saluran distribusi tidak langsung dalam proses distribusinya melainkan melalui perantara agen yang tersebar di beberapa titik di kota Malang dan kemudian ada yang langsung ke konsumen akhir yang dalam hal ini adalah pembaca. Penulisan laporan ini bertujuan untuk mengetahui Pelaksanaan Sistem Strategi Saluran Distribusi Pada Jawa Pos Radar Malang, faktor–faktor yang mempengaruhi Kegiatan Distribusi Pada Jawa Pos Radar Malang, dan Faktor pendukung dan penghambat kegiatan distribusi Pada Jawa Pos Radar Malang. Strategi Saluran Distribusi yang digunakan Jawa Pos Radar Malang adalah mengacu pada saluran distribusi tidak langsung (Indirect Channel Of Distribution) dimana perusahaan tidak melakukan kegiatan distribusi langsung kepada konsumen melainkan melalui perantara agen. Serta menggunakan strategi cakupan distribusi dalam hal ini Jawa Pos Radar Malang menggunakan jenis distribusi intensif. Pelaksanaan saluran distribusi yang menggunakan banyak perantara atau penyalur yang dalam hal ini adalah agen. Faktor–faktor yang mempengaruhi kegiatan saluran distribusi pada Jawa Pos Radar Malang yaitu: Karakteristik Pelanggan, Karakteristik Produk, Karakteristik Perantara, dan Karakteristik Lingkungan. Faktor pendukung dalam kegiatan Distribusi Jawa Pos Radar Malang adalah munculnya isu–isu maupun berita–berita yang menarik dan aktual di kalangan masyarakat, kedatangan truk. Sedangkan yang menjadi penghambat kegiatan Disribusi Jawa Pos Radar Malang adalah Kondisi ekonomi masyarakat, pembayaran agen, kondisi lingkungan, terjadinya kecelakaan.

Penerapan media permainan puzzle dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa SD kelas II di SD Negeri Pohgajih 1 Kec. Selorejo Kab. Blitar / Tisna Kusuma Wardhani

 

Kata kunci : permainan puzzle, menulis deskripsi, peningkatan kemampuan. Menulis adalah salah satu aspek dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang paling kompleks untuk dipelajari. Pada tingkat SD kelas II, materi untuk aspek menulis adalah menulis permulaan dengan mendeskripsikan benda disekitar siswa. Kegiatan tersebut menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran agar siswa mampu mengembangkan kreatifitas dan ide dalam menulis. Untuk mencapai hal itu, guru harus lebih inovatif dalam menyampaikan pembelajaran agar tercapai tujuan dari pembelajaran tersebut. Salah satu cara adalah dengan menggunakan permainan puzzle sebagai media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan racangan penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dengan prosedur pelaksanaan dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Peneliti dalam pelaksanaan tindakan adalah sebagai observer, sedangkan guru kelas adalah sebagai pelaksana tindakan. Subyek penelitian tindakan siswa kelas II SD Pohgajih 1 berjumlah 18 siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis deskripsi. Hal tersebut dilihat dari hasil evaluasi pada pretes siswa, tidak ada satupun siswa yang mencapai tingkat ketuntasan. Selanjutnya pada siklus I meningkat sebanyak 53% siswa atau sekitar 9 siswa mencapai tingkat ketuntasan. Pada pretes siklus II, sejumlah 10 siswa tuntas engan prosentase 55% dan berikutnya pada postes siklus II 18 siswa mencapai ketuntasan dengan prosentase 100%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media puzzle di SDN Pohgajih 1 dapat menciptakan pembelajaran yang santai, menarik dan nyaman yang dapat meningkatkan keaktifan siswa, (2) adaya peningkatan kemampuan siswa terbukti dari hasil pretes, postes siklus I, pretes II dan postes pada sikus II. Berdasarkan penelitian tersebut dimemukakan saran bagi: (1) guru hendaknya mererapkan media permainan puzzle dalam pembelajaran terutama pembelajaran menulis deskripsi pada siswa kelas II, (2) kepala sekolah hendaknya memberi kesempatan kepada guru untuk mengujicobakan metode dan media yang inovatif yang berguna bagi peserta didik, (3) bagi peneliti lain hendaknya menindaklanjuti karya ilmiah ini dengan ruang lingkup dan kajian yang lebih luas.

Pengembangan media komik pembelajaran matematika pokok bahasan perkalian dan pembagian sekolah dasar kelas III semester I di SDN Karang Besuki I Malang / Anita Candra Pratiwi

 

Kata Kunci: media komik, efektif, perkalian dan pembagian Dalam pelajaran matematika dikenal berbagai operasi hitung, diantaranya perkalian dan pembagian. Perkalian dan pembagian memiliki tingkat kesulitan perhitungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penjumlahan dan pengurangan terutama bagi anak-anak sekolah dasar. Selama ini proses pembelajaran matematika yang dilakukan di SDN Karang Besuki I Malang dilakukan dengan metode ceramah dan tugas-tugas, selain itu guru mengadakan kuis yang dilakukan pada saat menjelang atau akhir jam pelajaran dengan menggunakan media kartu bilangan. Namun usaha yang dilakukan guru tersebut masih kurang maksimal dalam pencapaian hasil belajar. Untuk itu perlu dikembangkan media pembelajaran yang dapat memotivasi siswa dengan harapanlebih memaksimalkan pencapaian hasil belajar. Berdasarkan hal tersebut penulis pembagian kelas III semester I yang dilakukan di SDN Karang Besuki I Malang. Pengembangan ini menggunakan model pengembangan prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif yang menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Dalam pengembangan media komik pembelajaran ini, peneliti memilih model pengembangan dari Sadiman (2009). Subjek penelitian adalah ahli materi, ahli media, dan audiens. Subjek penelitian ahli materi sebanyak dua orang guru kelas SDN Karang Besuki I Malang, ahli media sebanyak dua orang yaitu dosen jurusan Teknologi Pendidikan, dan 35 siswa SDN Karang Besuki I Malang. Jenis data yang digunakan yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui angket (ahli materi, ahli media, dan siswa) Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dari ahli materi sebesar 92% (valid) ahli media sebesar 94,5% (valid), audiens kelompok kecil sebesar 99% (valid) dan kelompok lapangan sebesar 93% (valid) maka diperoleh hasil bahwa media komik ini telah valid sehingga dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata kelompok kecil sebelum ada komik adalah 56,8 dan meningkat menjadi 78,4 sehingga peningkatan hasil belajar kelompok kecil mencapai 38%. Hasil belajar siswa rata-rata kelompok lapangan sebelum ada komik adalah 67,2 dan meningkat menjadi 82,87 sehingga peningkatan hasil belajar kelompok lapangan mencapai 23%. Berdasarkan hasil analisis data di atas, dapat disimpulkan bahwa media komik pembelajaran matematika perkalian dan pembagian untuk SDN Karang Besuki I Malang efektif digunakan sebagai media pembelajaran. Peneliti menyarankan agar komik pembelajaran dikembangkan tidak hanya mata pelajaran menghitung saja melainkan pada mata pelajaran sosial juga. Selain itu produksi komik pembelajaran perlu ditambah untuk usia remaja karena untuk menambah referensi media pembelajaran sehingga siswa tidak hanya membaca komik hiburan tetapi juga membaca komik pembelajaran.

Penggunaan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan II Parasrejo Kabupaten Pasuruan / Jubaydah

 

Kata Kunci : media gambar seri, kemampuan bercerita. Berdasarkan hasil observasi di TK Dharma Wanita Persatuan II Parasrejo Pasuruan, kemampuan bercerita anak sangat rendah, sehingga anak tidak termotivasi untuk melakukan kegiatan bercerita. Terbukti dari sikap anak yang tidak mau maju ke depan kelas untuk bercerita. Selama ini menggunakan lembar kerja yang tidak berwarna kegiatan untuk bercerita dengan menggunakan alat peraga masih jarang dilakukan oleh guru, khususnya media gambar seri. Tujuan penelitian ini adalah : 1). Mendeskripsikan cara menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan kemampuan bercerita dan Mendeskripsikan adanya peningkatan kemampuan bercerita dengan menggunakan media gambar seri pada anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan II Parasrejo Pasuruan. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan 2 (dua) siklus. Masing – masing siklus terdiri atas 4 tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi : Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B di TK Dharma Wanita Persatuan II Parasrejo Pasuruan sebanyak 16 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi secara langsung terhadap kegiatan anak. Peningkatan kemampuan bercerita anak melalui penggunaan media gambar seri di TK Dharma Wanita Persatuan II Parasrejo Pasuruan, terbukti dari hasil belajar yang diproleh anak sebelum menggunakan media gambar seri yang berukuran besar, siklus I, siklus II yang terus mengalami peningkatan, yaitu pratindakan terdapat 3 anak (19%) telah mencapai ketuntasan individu dan sebanyak 13 anak (81%) belum mencapai ketuntasan individu, Siklus I mengalami peningkatan terdapat 7 anak (44%) mencapai ketuntasan individu, Siklus II semakin meningkat terdapat 11 anak (63%) telah mencapai ketuntasan individu dan 5 anak (31%) belum mencapai ketuntasan individu. Berdasarkan hasil penelitian bahwa kegiatan bercerita menggunakan media seri dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak. Media gambar yang digunakan hendaknya berukuran besar, berwarna agar menarik bagi anak. Guru harus selalu membimbing dan memberi motivasi kepada anak guru hendaknya sesering mungkin menggadakan kegiatan bercerita, agar anak terbiasa untuk melakukan kegiatan bercerita dan tidak malu lagi untuk bercerita di depan kelas karena sudah terbiasa.

Studi kasus menu pembelajaran dan pelaksanaan kelompok bermain negeri bertaraf internasional di Tlogowaru Kota Malang dan kelompok bermain As Sakinah Fajar Harapan di Gondanglegi / Windu Wulandari

 

Kata kunci : Kelompok bermain, Menu Pembelajaran, Pelaksanaan. Kelompok bermain adalah salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia 2 - 3 tahun yang berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar kea rah perkembangan sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan bagi anak dini usia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, termasuk siap memasuki pendidikan dasar. Agar prinsip-prinsip dasar mengenai tujuan dan kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal, maka perlu adanya menu pembelajaran. Menu pembelajaran merupakan seperangkat rencana dan pengaturan kegiatan pengembangan dan pendidikan yang dirancang sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan di kelompok bermain. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui menu pembelajaran dan pelaksanaannya di Kelompok Bermain Negeri Bertaraf Internasional di Tlogowaru Kota Malang dan Kelompok Bermain Assakinah Fajar Harapan di Gondanglegi, serta perbedaan menu pembelajaran dan pelaksanaannya di kedua kelompok bermain tersebut. Pendekatan permasalahan dalam skripsi ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, display data, pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa menu pembelajaran dan pelaksanaannya di kelompok bermain yang satu dengan kelompok bermain yang lain berbeda. Perbedaan ini sesuai dengan tujuan dan dasar berdirinya kelompok bermain. Selain itu juga karena acuan menu pembelajaran yang didesain oleh Diknas juga tidak bersifat kaku tetapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi social budaya anak, sebab pelaksanaan menu pembelajaran berorientasi kepada kebutuhan anak. Perbedaan antara menu pembelajaran Kelompok Bermain Negeri Bertaraf Internasional di Tlogowaru Kota Malang dan Kelompok Bermain Assakinah Fajar Harapan di Gondanglegi terletak pada (a) Tujuan kelompok bermain, (b)bidang pengembangan, (c) materi, (d) unit waktu dan (e) evaluasi. Perbedaan di atas lebih disebabkan karena tujuan dan dasar pembelajaran dimana Kelompok Bermain Negeri Bertaraf Internasional di Tlogowaru Kota Malang bersifat umum dalam arti tidak berdasarkan pada suatu agama tertentu sehingga dapat diikuti oleh semua pemeluk agama. Sedangkan tujuan dan dasar kelompok bermain Assakinah Fajar Harapan di Gondanglegi menggunakan dasar agama Islam sebagai dasar kegiatan pembelajarannya. Perbedaan kedua adalah penggunaan bahasa pengantar Kelompok Bermain Negeri Bertaraf Internasional di Tlogowaru Kota Malang menggunakan bahasa Inggris sedangkan di Kelompok Bermain Assakinah Fajar Harapan di Gondanglegi menggunakan bahasa Indonesia. Persamaan antara menu pembelajaran Kelompok Bermain Negeri Bertaraf Internasional di Tlogowaru Kota Malang dan Kelompok Bermain Assakinah Fajar Harapan di Gondanglegi terletak pada (a) pengorganisasian menu pembelajaran, (b) pengorganisasian kelas, (c) metode dan media yang digunakan dan (d) sistem pelaksanaan evaluasi. Meskipun menu pembelajaran di kedua kelompok bermain ini berbeda, tetapi pelaksanaan di dalam kegiatan sehari-hari hampir sama misalnya nampak pada metode dan media yang digunakan. Perbedaan dapat terlihat pada materi-materi yang diberikan terutama materi-materi tentang kehidupan beragama. Dengan demikian maka pada dasarnya tidak ada perbedaan diantara kedua lembaga, kecuali yang satu berlatar bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan yang satu berlatar agama Islam. Saran yang dapa diberikan setelah melihat hasil penelitian yaitu jadwal kegiatan pembelajaran harian hendaknya lebih disesuaikan lagi dengan program pembelajaran dan menu pembelajaran yang ada agar pelaksanaan kegiatan sehari-hari tidak terkesan semrawut. Kelompok bermain perlu juga lebih memprioritaskan lagi orientasi program belajar untuk memenuhi kebutuhan warga belajar, srta untuk menhindari kejenuhan penting kiranya agar kelompok bermain lebih luwes lagi dalam menangani waktu, tempat, maupun sumber belajar yang digunakan.

Analisis tingkat kesehatan koperasi simpan pinjam (studi kasus pada koperasi simpan pinjam "Bahaga" Kediri) / Nian Fatma Maryta

 

Kata Kunci : Analisis Kesehatan, Koperasi , Koperasi Simpan Pinjam Menghadapi keterpurukan perekonomian Indonesia yang ditandai dengan adanya penurunan nilai tukar rupiah dan disertai dengan kenaikan barang-barang sebagai akibat adanya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), para perilaku ekonomi baik perusahaan besar maupun industri rumah tangga mempunyai peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Koperasi merupakan salah satu organisasi ekonomi yang memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat. Dengan demikian kemajuan dan pembangunan koperasi semakin berperan dalam perekonomian nasional. Permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana Tingkat Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam BAHAGIA Kediri pada tahun 2005-2009?. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat kesehatan koperasi tersebut , Metode penelitian yang digunakan metode Observasi, Wawancara Dan Dokumentasi dimana dengan melihat laporan keuangan yang dimiliki KSP BAHAGIA Kediri selama 5 tahun berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dari tahun 2005-2007 kondisi KSP BAHAGIA kurang sehat hal ini disebabkan karena kurang adanya rasa kerja keras para pengurus koperasi (2) Masih banyaknya kredit macet yang tak terkendali sehingga kualitas aktiva produktif nilainya sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan kepada pegurus KSP BAHAGIA adalah : hendaknya KSP mengelola aktiva produktif secara optimal, antara lain dengan cara membatasi persediaan cash on hand dan mengalokasikan aktiva produktif untuk kegiatan atau usaha-usaha yang dapat menambah laba atau SHU, misalnya pada unit usaha pertokoan. Selain itu perlu diadakan penjadwalan pembayaran utang kepada pihak lain diiringi dengan dana yang tersedia. Dengan cara ini diharapkan bisa mencegah terjadinya likuiditas

Pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap keberhasilan dalam belajar mata pelajaran IPS ekonomi siswa kelas VII reguler di SMPN 2 Malang / Rahajeng Gandyni

 

Kata Kunci : Faktor Internal, Faktor Eksternal, Hasil Belajar Dalam proses penelitian ini, akan dikaji tentang keberhasilan belajar IPS Ekonomi yang didukung oleh dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) yang diukur menggunakan tiga subvariabel yaitu minat, motivasi, dan kesiapan belajar siswa. Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal) yang diukur dengan lingkungan keluarga siswa,lingkungan sekolah siswa dan lingkungan masyarakat. Faktor internal dan faktor eksternal patut untuk dikaji karena keduanya merupakan faktor penentu keberhasilan siswa dalam bela-jar. Apabila keberhasilan belajar hanya dilihat dari faktor internal saja maka sis-wa tidak melakukan interaksi dengan lingkungannya. Disisi lain, pengaruh dari luar diri siswa juga turut andil bagian dari keberhasilan belajar IPS Ekonomi. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pengaruh faktor internal terhadap keberhasilan dalam belajar mata pelajaran IPS (ekonomi) pada siswa kelas VII Reguler Di SMP Negeri 2 Malang? (2) Bagaima-na pengaruh faktor eksternal terhadap keberhasilan dalam belajar mata pelajaran IPS(ekonomi) pada siswa kelas VII Reguler Di SMP Negeri 2 Malang? (3) Bagai-mana pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap Keberhasilan dalam belajar mata pelajaran IPS(ekonomi) pada siswa kelas VII Reguler Di SMP Nege-ri 2 Malang? Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor internal dan faktor eksternal sebagai variabel independen dan keberhasilan belajar siswa seba-gai variabel dependen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII reguler SMP Negeri 2 Malang. Sampel yang diambil sebanyak 77 siswa dengan teknik purposive random sampling yang diperoleh dengan rumus Slovin. Teknik pengumpulan data adalah melalui angket dan dokumentasi. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Faktor internal siswa berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa kelas VII Reguler SMP Negeri 2 Malang pada mata pelajaran IPS Ekonomi(14,54%). (2) Faktor eksternal siswa berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa kelas VII Reguler SMP Negeri 2 Malang pada mata pelajaran IPS Ekonomi (37,46%). (3) Faktor internal dan faktor eksternal berpengaruh terhadap keberhasilan siswa kelas VII Reguler SMP Negeri 2 Malang pada mata pelajaran IPS Ekonomi (52%) sedangkan sisanya 48% ditentu-kan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian di atas yaitu (1) Guru matapelajaran IPS Ekonomi diharapkan membantu siswa agar lebih me-mantau,memotivasi siswa dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa dengan cara melakukan pendekatan internal kepada siswa. Diharapkan siswa memiliki minat, motivasi dan kesiapan belajar yang lebih agar tercapai keberhasilan belajar, (2) Keluarga mempunyai peranan yang penting dalam keberhasilan belajar. Diha-rapkan orang tua dan saudara dapat memberi dukungan atas usaha siswa dalam belajar. Dukungan yang perlu dilakukan adalah memantau perkembangan belajar IPS Ekonomi misalnya dengan menanyakan sampai sejauh mana materi dipahami oleh siswa, menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan cara tidak gaduh saat siswa belajar, (3) Hendaknya antara guru matapelajaran IPS Ekonomi dengan orangtua siswa perlu adanya komunikasi tentang keberhasilan belajar siswa. Apa-bila komunikasi antara guru dengan orang tua siswa terjalin dengan baik maka keduanya dapat memberikan pengawasan, bimbingan kepada siswa.

Pengembangan sumber belajar alternatif berbasis website pada pokok bahasan tata surya untuk siswa SMP kelas IX / Ruli Yulestian

 

Kata Kunci : Sumber Belajar, Tata Surya, Peta Konsep Sumber belajar alternatif berbasis website ini adalah sebuah media pembelajaran yang digunakan sebagai suplemen dalam belajar materi tata surya untuk siswa Sekolah Menengah Pertama kelas IX yang menggunakan model belajar peta konsep disajikan secara online yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Tujuan pengembangan sumber belajar alternatif berbasis website ini adalah: (1) untuk membuat sumber belajar alternatif berbasis website, (2) mengemas materi tata surya ke dalam sumber belajar alternatif berbasis website, (3) publikasi sumber belajar alternatif berbasis website di internet, dan (4) penerapan sumber belajar alternatif berbasis website sebagai suplemen pembelajaran pokok bahasan tata surya. Dengan adanya sumber belajar alternatif berbasis website yang menggunakan model belajar peta konsep ini, diharapkan pembelajaran pada materi tata surya khususnya akan berjalan lebih efektif, efisien dan menarik untuk dipelajari siswa. Tahap pengembangan sumber belajar alternatif berbasis website ini terdiri dari 5 tahap yaitu:(1) menetapkan mata pelajaran, (2) mengidentifikasi kurikulum, (3) merumuskan langkah- langkah pengembangan, (4) pengembangan sumber belajar alternatif berbasis website, (5) uji coba dan revisi produk. Sumber belajar alternatif berbasis website ini mempunyai beberapa komponen menu yang di dalamnya terdapat modul yang berisi materi teks dan gambar berbentuk file pdf, animasi simulasi tata surya berbentuk flash, video proses gerhana bulan berbentuk flv, menu forum, menu chating, menu tugas, dan menu ujian online. Pengambilan data validasi sumber belajar alternatif berbasis website ini dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa angket dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil uji coba produk yang dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: hasi validasi produk dari ahli media menyatakan produk ini layak dengan persentase 93%; hasil validasi produk dari ahli materi menyatakan produk ini layak dengan persentase 93,8%; dan hasil validitas dari uji lapangan mendapatkan hasil kriteria cukup layak dengan persentase 85,6%. Dengan demikian sumber belajar ini memenuhi kriteria valid tidak perlu melakukan revisi berarti sumber belajar alternatif berbasis website pada materi tata surya untuk siswa Sekolah Menengah Pertama kelas IX ini layak untuk digunakan sebagai suplemen pembelajaran materi tata surya.

Penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kjelas V SDN Jugo 02 tahun pelajaran 2010-2011 / Agus Devid Elfaidin

 

Kata Kunci: Pendekatan Kontekstual, Keterampilan Berbicara, Hasil Belajar Penggunaan metode pembelajaran yang belum tepat dalam pembelajaran bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor kurangnya penguasaan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa. Guru hanya menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan kepada siswa tentang penggunaan ejaan dan kesesuaian kalimat, selanjutnya siswa diberi tugas untuk membuat daftar pertanyaan wawancara. Setelah pembelajaran ini siswa mengumpulkan hasil kerjanya yang selanjutnya diadakan penilaian oleh guru tanpa mencoba untuk mempraktekkan kegiatan wawancara tersebut. Selama proses pembelajaran keterampilan siswa dalam aspek berbicara yang meliputi keberanian, pemahaman, dan sikap badan dari setiap pertemuan berjalan cukup baik. Dengan diterapkannya pendekatan kontekstual ini, siswa merasa terbantu dan lebih paham bagaimana menyampaikan sesuatu secara lisan dengan menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Penerapan pendekatan kontekstual dinyatakan dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar pada siswa kelas V SDN Jugo 02. Hal ini dapat dibuktikan dari ketuntasan siswa yang terus meningkat. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Setiap siklus dengan dua kali pertemuan yang masing-masing. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas V SDN Jugo 02 kabupaten Blitar. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar observasi kegiatan belajar mengajar (aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran), wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh peningkatan nilai rata-rata keterampilan berbicara siswa di kelas V dari sebelum siklus 57,33 mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 66 (9%), siklus II 77 (12%). Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan paparan data bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan hasil belajar siswa. Setelah penerapan pendekatan kontekstual diharapkan guru senantiasa melakukan variasi di dalam menerapkan metode pembelajaran agar siswa tidak bosan dan lebih bersemangat dalam belajar. Siswa diharapkan senantiasa siap untuk menerima pembaharuan dalam setiap metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru, dan lebih bersemangat dalam belajar.

Pelaksanaan strategi pelayanan pada divisi Fresh Department Fruti and Vegetable Giant Hypermarket Gajayana Malang / Dwi Widayanti

 

Kata Kunci: strategi pelayanan, Kepuasan Konsumen, Pada saat ini semakin ketatnya persaingan dalam dunia bisnis dan banyak perusahaan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen dan pelanggannya. Pelanggan merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan sebuah perusahaan, oleh karena itu mempertahankan pelanggan sangatlah perlu dilakukan oleh sebuah perusahaan agar kesuksesan perusahaan tercapai. Berdasarkan hal tersebut pelayanan merupakan landasan dasar yang memperkuat keseluruhan proses pemasaran untuk dapat terus berjalan. Penulisan laporan Tugas Akhir ini menunjukkan: strategi pelayanan apa yang diberikan Departemen Fruit and Vegetable Divisi Fresh Giant Hypermarket Gajayana Malang, strategi pelayanan yang efektif untuk memenuhi kepuasan pelanggan pada Departemen Fruit and Vegetable Giant Hypermarket Gajayana Malang, kendala yang terjadi dalam penerapan strategi pelayanan yang diberikan oleh Departemen Fruit and Vegetable Giant Gajayana Malang. Hasil Praktik Kerja Lapangan yang penulis lakukan untuk (1) kualitas pelayanan Departemen Fruit and Vegetable Divisi Fresh Giant Gajayana Malang mengutamakan kualitas layanan, karena kualitas pelayanan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan sehingga tercipta loyalitas pelanggan yang seperti diharapkan, (2) strategi yang paling afektif untuk digunakan pada Departemen Fruit and Vegetable Giant Hypermarket Gajayana Malang adalah: Strategi Relationship Marketing, Strategi Superior Customer Service, Strategi penanganan keluhan yang efektif , Strategi peningkatan kinerja perusahaan, (3) kendala-kendala yang sering terjadi dalam pelaksanaan pelayanan ini adalah sering terjadi kekosongan barang, dan pelayanan karyawan yang kurang memuaskan. Dengan mengetahui kendala-kendala seperti ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan. Berdasarkan laporan penelitian ini diharapkan agar Giant harus lebih meningkatkan pelayanannya dan kinerja karyawan juga perlu ditingkatkan lagi, dan juga pihak Giant harus sering mengontrol barang-barangnya jangan sampai terjadi kekosongan barang karena dapat mengecewakan konsumen atau pelanggannya.

Pengaruh kepemilikan institusional, kebijakan hutang, dan free cash flow terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008 / Yuliana

 

Kata kunci : Kepemilikan Institusional, Kebijakan Hutang, Free Cash Flow dan Kebijakan Dividen Kebijakan dividen menjadi perhatian banyak pihak, seperti pemegang saham, kreditur, dan pihak eksternal lainnya yang memiliki kepentingan dengan informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemilikan institusional, kebijakan hutang, dan free cash flow terhadap kebijakan dividen. Serta pengaruh ketiganya secara bersama-sama terhadap kebijakan dividen. Sampel pada penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu perusahaan yang listing di BEI tahun 2006-2008 dan membagikan dividen selama tiga tahun berturut-turut pada periode tersebut. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari ICMD. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen. Kuatnya kontrol oleh pihak institusi akan menekan biaya agen sehingga perusahaan tidak perlu membayarkan dividen tinggi. Kebijakan hutang tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini dikarenakan manajemen yang tetap membayarkan dividen agar investor tetap menilai baik keadaan perusahaan dan untuk menjaga reputasi perusahaan di mata investor. Sedangkan free cash flow berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen, di mana free cash flow yang tinggi maka rasio pembayaran dividen juga akan tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kepemilikan institusional, kebijakan hutang, dan free cash flow secara simultan berpengaruh terhadap kebijakan dividen dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000 lebih kecil dibandingkan dengan 0,05. Saran bagi investor yang akan menanamkan modalnya dalam suatu perusahaan jangan hanya melihat rasio pembayaran dividen saja, tetapi juga mempertimbangkan faktor lain seperti rasio keuangan perusahaan.

Developing supplementary reading materials related to science and math for the tenth graders of SMA Negeri 5 Malang / Evi Maria

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (2) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd Kata Kunci: pengembangan, materi bacaan tambahan, ilmu pengetahuan alam dan matematika Materi bahan bacaan tambahan merupakan salah satu cara untuk memenuhi tujuan sekolah berbasis international. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi bacaan tambahan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam dan Matematika dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas satu RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) SMAN 5 Malang. Desain pengembangan yang digunakan dalam penyusunan materi tambahan ini adalah penelitian yang diadaptasi dari Borg dan Gall yang meliputi survai kebutuhan, pengembangan materi, produk awal, validasi ahli pengembangan dan guru, revisi, uji coba, revisi dan hasil produk. Subyek dari studi ini adalah siswa kelas X6 dan X9 yang berjumlah tujuh puluh. Studi ini menggunakan tehnik pengumpulan data, yaitu kuesener,wawancara, studi dokumen, rating scales dan ceklis. Kemudian data dari siswa tentang kebutuhan mereka tehadap bahan bacaan dikalkulasi secara persentase, deskripsi dan kuantitatif. Dan data dari guru tentang bahan bacaan dijabarkan secara kualitatif. Kumpulan data untuk mengetahui kesulitan siswa dalam ketrampilan membaca dijelaskan secara deskripsi dan kuantitatif. Kumpulan data dari penelitian ini adalah kebutuhan siswa terhadap bahan bacaan di SMA Negeri 5 Malang; sekolah berbasis internasional. Draft awal pengembangan materi bacaan terdiri dari dua unit dan dijabarkan secara detil menjadi lima pelajaran di semester pertama. Bahan pengembangan materi ini berhubungan dengan bacaan konten area seperti Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika, yaitu Unit 1 Ilmu Pengetahuan Alam, Pelajaran 1 Wow…a Beautiful Flower! Pelajaran 2 Silent Please! Pelajaran 3 What Should I Do? Dan Unit 2 Matematika, Pelajaran 4 What’s Up? Pelajaran 5 Let’s Study Math! Hasil ahli pengembangan menunjukkan bahwa bahasa dan desain pengembangan materi dapat diterima. Akan tetapi, masih diperlukan revisi yang berhubungan dengan kejelasan tujuan, ketepatan antara isi dan kebutuhan siswa, kesalahan struktur bahasa, dan susunan pemetaan materi. Terlebih lagi, selama koreksi aktifitas dalam situasi informal, ahli bahasa menyarankan bahwa pengembang disarankan untuk menambahkan model teks untuk kegiatan pemecahan masalah. Ahli dari guru menunjukkan bahwa isi dan tujuan instruksional sudah sesuai dengan kebutuhan siswa, akan tetapi masih perlu direvisi. Kemudian, revisi draft awal dikerjakan berdasarkan data tersebut. Berdasarkan hasil uji menunjukkan keefektifan, keatraktifan dan tingkat kesulitan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa lebih tertarik untuk belajar Biologi, mereka berkomentar karena Biologi berhubungan dengan kehidupan nyata. Kecenderungan siswa belajar Matematika karena mereka suka pelajaran Matematika. Revisi dikerjakan dengan cara menyederhanakan lay-out, intruksi, tugas dan latihan. Produk akhir berbentuk buku kerja siswa yang terdiri dari prakata, pengenalan buku kerja tambahan materi bacaan untuk guru, untuk guru, peta materi, judul, tujuan instruksional, materi bacaan yang sesuai dengan konten area, latihan-latihan, tugas-tugas kunci jawaban dan petunjuk guru.

Studi eksplorasi batik Druju di Kabupaten Malang / Nely Zulfa Nofitasari

 

Kata Kunci: Batik, Batik Druju Batik adalah motif kain yang dibuat dengan menggunakan lilin untuk mencegah pewarnaan sebagian kain. Terdapat ribuan motif batik yang ada di Indonesia. Semua motif itu tersebar diberbagai daerah di Indonesia terutama pulau Jawa dan merambat ke Sumatra. Batik tradisional setiap daerah memiliki keragaman dan ciri khas yang sangat menonjol sehingga dapat dibedakan antara batik dari daerah satu dengan batik dari daerah yang lain. Ciri khas ini meliputi keunikan motif, warna dan teknik pembuatannya. Kabupaten Malang merupakan salah satu daerah penghasil batik dengan salah satu batiknya adalah batik Druju yang terletak di Desa Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang yang memiliki ciri khas tersendiri namun belum diketahui luas oleh masyarakat Malang pada umumnya. Dengan adanya penelitian ini maka akan terungkap cirri khas batik Druju. Pendekatan penelitian yang digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, triangulasi waktu dan ketekunan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan:(1) batik Druju muncul pada tahun 1996 di dusun Wonorejo Kabupaten Malang dengan motif Spiral, motif ramuan dan motif Candi Singosari sebagai motif awal; (2) tahapan proses pembuatan batik Druju adalah Persiapan dan pemotongan bahan utama sesuai dengan bahan yang dibutuhkan untuk membuat produk yang diinginkan, Menjahit bahan utama menjadi produk yang diinginkan, Membuat pola motif pada bahan utama, Pemberian lilin dengan cara mencanting, mencap atau perpaduan antara keduanya, Pewarnaan dengan menggunakan zat warna naphtol, Pelorodan, dan Penjemuran; (3) Warna khas dari batik Druju adalah warna hitam dan putih dengan variasi warna dalam satu motif berkisar antara dua hingga empat warna Dalam pemilihan warna tidak tidak ada hubungannya dengan makna perlambang; (4) Motif batik Druju terdiri dari motif organis dan motif geometris. Motif organis dalam batik Druju terdapat tiga jenis yaitu motif floratif, motif fauna, motif benda alam dan motif motif sosial. Selain terilhami oleh alam sekitar desa Druju, ternyata motif batik Druju juga terpengaruh oleh motif batik tradisional dari daerah lain. Hampir semua motif batik Druju tidak memiliki makna perlambang, hanya ada dua motif yang tersirat maknanya yaitu motif Sinar dan motif Seribu Mimpi.

Peningkatan hasil belajar gerakan senam guling depan siswa kelas III SDN Sepuh Gembol 1 Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo dengan menggunakan variasi metode pembelajaran / Eko Budi Priyantono

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Senam Guling Depan, Variasi Metode Pembelajaran, Senam Lantai. SDN Sepuh Gembol 1 adalah salah satu sekolah unggulan di Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo. Walaupun terletak di daerah pedesaan tapi sekolah ini memiliki sarana dan prasarana olahraga yang lumayan lengkap seperti adanya lapangan olahraga, matras, serta aula yang biasanya digunakan untuk kegiatan olahraga indoor. Namun ada sebuah permasalahan yang terjadi pada pembelajaran senam guling ke depan terutama untuk kelas III. Berdasarkan observasi awal peneliti diketahui bahwa jumlah siswa untuk kelas III sebanyak 26 siswa, dan rata-rata skor keberhasilan siswa dalam menguasai gerakan senam lantai guling ke depan adalah 49,99% dengan taraf keberhasilan kurang baik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti bersama guru pendidikan jasmani sekolah tersebut melakukan penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini peneliti dan guru menggunakan variasi metode pembelajaran dalam pembelajarannya sebagai cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model-model pembelajaran yang dilakukan guru saat pembelajaran senam lantai guling ke depan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan eksperimen. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar gerakan senam guling ke depan siswa kelas III SDN Sepuh Gembol I Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo dengan menggunakan variasi metode pembelajaran. Pengambilan data dilaksanakan 31 maret-7 mei 2011. Data diperoleh dari tes, lembar observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Sedangkan langkah-langkah yang dilakukan berupa perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar gerakan senam lantai guling ke depan pada siswa kelas III dengan menggunakan variasi metode pembelajaran di setiap siklus dari siklus I dan siklus II. Diketahui pada siklus I bahwa rata-rata skor keberhasilan siswa dalam menguasai gerakan senam lantai guling ke depan adalah 77,47% dengan taraf keberhasilan termasuk kategori baik. Untuk keberhasilan siswa per indikator gerakan yaitu: 1) indikator sikap awal sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik, 2) indikator tumpuan tangan sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik, 3) indikator memindahkan berat badan 92,31% dengan taraf keberhasilan baik, 4) indikator dagu ke dada sebesar 69,23% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 5) indikator pundak di matras sebesar 69,23% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 6) indikator badan menekuk sebesar 42,31% dengan taraf keberhasilan kurang baik, 7) indikator posisi akhir sebesar 69,23% dengan taraf keberhasilan cukup baik. Sedangkan pada siklus II diketahui bahwa rata-rata skor keberhasilan siswa dalam menguasai gerakan senam lantai guling ke depan adalah 96,15% dengan taraf keberhasilan termasuk dalam kategori baik. Untuk keberhasilan siswa per indikator gerakan yaitu: 1) indikator sikap awal sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik, 2) indikator tumpuan tangan sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik, 3) indikator memindahkan berat badan 100% dengan taraf keberhasilan baik, 4) indikator dagu ke dada sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik,5) indikator pundak di matras sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik, 6) indikator badan menekuk sebesar 73,08% dengan taraf keberhasilan cukup baik, 7) indikator posisi akhir sebesar 100% dengan taraf keberhasilan baik. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa variasi metode pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar gerakan senam guling ke depan siswa kelas III SDN Sepuh Gembol 1 Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo. Bagi guru pendidikan jasmani untuk meningkatkan hasil belajar gerakan senam lantai guling ke depan sebaiknya guru pendidikan jasmani perlu meningkatkan variasi pembelajaran dan model-model pemanasan dengan menggunakan permainan kecil agar siswa lebih senang dan siap untuk mengikuti materi yang akan diberikan. Selanjutnya bagi peneliti hendaknya dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Kurikulum bahasa Indonesia: studi evaluatif SK-KD bahasa Indonesia tingkat sekolah dasar / Trisna Andarwulan

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurhadi, M.Pd, (II) Prof. Dr. Suyono. M.Pd. Katakunci: SK, KD, bahasa Indonesia, sekolah dasar, studi evaluatif. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Pada setiap periode kurikulum yang pernah diberlakukan, model konsep kurikulum yang digunakan, prinsip dan kebijakan pengembangan yang digunakan, serta jumlah jenis mata pelajaran berikut kedalaman dan keluasannya tidak sama. Kurikulum yang berkembang saat ini, yakni kurikulum 2006 atau biasa disebut KTSP merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. KTSP memberi keleluasaan penuh kepada setiap sekolah untuk mengembangkan kurikulum dengan tetap memperhatikan potensi sekolah dan potensi daerah sekitar. Praktiknya, adanya penyederhanaan standar pendidikan nasional yang hanya mencantumkan SK dan KD menimbulkan problematika dalam pembelajaran. Problematika yang terjadi yakni adanya ketidakpaduan dan ketidak- sinambungan antar SK maupun antar KD; terjadi pengulangan kompetensi antar jenjang; terjadi tumpang tindih kompetensi antar mata pelajaran dalam satu jenjang dan sebagainya. Berpijak pada uraian di atas, peneliti bermaksud mengkaji permasalahan tersebut dalam suatu rumusan masalah umum “bagaimanakah tingkat kelayakan penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat sekolah dasar berdasarkan seleksi, pengelompokan, gradasi, dan penyajian kompetensi?” Secara khusus masalah tersebut dipaparkan menjadi empat, yaitu penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD berdasarkan prinsip seleksi, prinsip pengelompokan, prinsip gradasi dan prinsip penyajian kompetensi. Penelitian mengenai kelayakan SK-KD bahasa Indonesia tingkat sekolah dasar ini menggunakan pendekatan evaluatif. Komponen penelitian ini bersifat exposeanalysis karena penelitian dilakukan terhadap produk kebijakan yang telah terjadi/telah ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi. Dalam menyerap data, peneliti mengembangkan instrumen bantu yang berupa (a) angket/kuesioner guru (b) tabel pengumpul data, (c) data statistik. Instrumen-instrumen bantu tersebut digunakan sesuai dengan wujud data dari setiap sumber yang telah ditetapkan. Sementara itu, teknik analisis data yang digunakan bersifat campuran (kualitatif-kuantitatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan (1) seleksi kompetensi, dibagi menjadi tujuh prinsip, yaitu linguistik, psikolinguistik, sosiolinguistik, teori belajar bahasa, psikologi perkembangan, psikologi pembelajaran, dan kekinian (prinsip kurikulum); (2) pengelompokan kompetensi, dibagi menjadi empat prinsip, yaitu kesamaan bentuk, kesejajaran bentuk, keberlawanan bentuk, dan kesulitan pemerolehan; (3) gradasi kompetensi, dibagi menjadi empat prinsip, yaitu prasyarat, umum-khusus, panjang-pendeknya kaidah, dan sederhana-kompleks; dan (4) penyajian kompetensi, dibagi menjadi empat prinsip yaitu, sasaran pemakai dan tujuan, keteraturan urutan dalam penguraian, komposisi dan kemudahan dipahami. Pertama, seleksi kompetensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya prinsip 1 dan prinsip 5 yang layak dengan prinsip yakni sebesar 100%. Sementara itu, SK-KD yang tidak layak yaitu, prinsip 3 sebesar 46,7%, prinsip 4 sebesar 15,8%, prinsip 6 sebesar 13,3%, prinsip 7 sebesar 10,8% prinsip 10 sebesar 6, 7%, prinsip 2 sebesar 5,8%, prinsip 9 dan 11 sebesar 4,2%, dan prinsip 8 sebesar 2,5%. Kedua, pengelompokan kompetensi. Prinsip pertama menunjukkan bahwa dari 120 KD hanya 17 KD atau sekitar 20% yang layak dengan prinsip tersebut; prinsip kedua menunjukkan bahwa terdapat 12 KD atau sekitar 10% dari 120 KD yang termasuk dalam prinsip; prinsip ketiga menunjukkan bahwa terdapat 8 KD atau sekitar 6,6% dari 120 KD yang mengacu pada prinsip; prinsip keempat menunjukkan bahwa terdapat 6 KD atau sekitar 5% dari 120 KD yang layak dengan prinsip.Ketiga, gradasi kompetensi. Prinsip pertama menunjukkan bahwa KD yang tidak layak dengan prinsip adalah 17% atau sebesar 17 KD; prinsip kedua menunjukkan bahwa terdapat 26 KD atau sekitar 21% yang tidak layak dengan prinsip tersebut; prinsip ketiga menunjukkan bahwa sebesar 100% KD sesuai dengan prinsip tersebut; prinsip keempat menunjukkan bahwa sebesar 15,9% KD yang tidak sesuai dengan prinsip tersebut. Keempat, penyajian kompetensi. Prinsip yang tidak layak terdapat pada prinsip kedua dan ketiga. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa (1) 74,2% penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD layak dengan prinsip seleksi, sementara 25,8% sisanya tidak layak dengan prinsip tersebut; (2) 41,5% penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD layak dengan prinsip pengelompokan; (3) 53,9% penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD tidak layak dengan prinsip gradasi; dan (4) penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD yang tidak layak dengan prinsip adalah komposisi dan keteraturan urutan dalam penguraian. Saran dari penelitian mengenai kelayakan SK-KD bahasa Indonesia tingkat sekolah dasar adalah 1) penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD hendaknya memperhatikan prinsip seleksi, sehingga tidak dijumpai adanya pengulangan KD yang tidak berarti, ketidakseimbangan antar KD, frekuensi pakai KD yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, ketidaksesuaian kompetensi pada jenjang tertentu dengan perkembangan kognitif anak; 2) penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD perlu memperhatikan prinsip pengelompokan agar tidak dijumpai adanya guru yang kesulitan dalam menyajikan kompetensi; 3) penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD hendaknya memperhatikan prinsip gradasi agar penyajian kompetensi menjadi sistematis, runtut dan rinci; 4) penyajian SK-KD bahasa Indonesia tingkat SD juga perlu memperhatikan prinsip penyajian agar sajian kurikulum lebih tepatguna dan tidak ambigu.

Meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran geografi dengan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) di kelas XI IPS 2 SMA Brawijaya Malang / Nofita Sari

 

Kata Kunci: Model Teams Games Tournament, Keaktifan belajar siswa, Hasil Belajar Siswa Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan terlihat dengan adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkan dengan negara lain. Salah satu penyebab rendahnya kualitas pembelajaran di sekolah adalah proses pembelajaran di sekolah kurang maksimal dikarenakan model pembelajaran yang diterapkan di sekolah tidak sesuai dengan kondisi sekolah, karakter siswa, ataupun materi yang digunakan. Permasalahan itulah yang akhirnya menyebabkan keaktifan dan hasil belajar siswa rendah. Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa SMA Brawijaya Malang bulan November 2011, diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru sehingga siswa cenderung pasif. Hasil observasi menunjukkan bahwa dari 21 siswa hanya 5 siswa yang banyak bertanya, 2 siwa yang menjawab pertanyaan guru, dan 2 siswa yang sering berpendapat. Secara klasikal nilai keaktifan siswa Kelas XI IPS 2 SMA Brawijaya hanya 43%. Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPS 2 SMA Brawijaya Malang pada pembelajara Geografi materi Lingkungan Hidup dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari tahap perencanaa, pelaksanaan, observasi, dan Refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi keaktifan siswa dan soal tes. Data yang diperoleh akan dibandingkan dari observasi awal, Siklus I, dan Siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Keaktifan klasikal pada siklus I mencapai 62% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 81%, sedangkan ketuntasan klasikal hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 72% pada siklus II meningkat menjadi 90%. Begitu pula rata-rata hasil belajar siswa pada Siklus I 74,52 meningkat menjadi 80,48 pada Siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Teams Games Tournament dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPS 2 SMA Brawijaya Malang. Saran kepada guru georafi di SMA Brawijaya Malang agar menggunakan model pembelajaran TGT untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan aktivitas serta hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif model stad dengan teknik perkalian nappier untuk meningkatkan hasil belajar matematika tentang perkalian pada siswa kelas II SDN Kebonsari 4 kota Malang / Luluk Anida

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif STAD, teknik perkalian Nappier, hasil belajar. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang erat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pemahaman konsep yang benar terhadap matematika sangat diperlukan. Perkalian merupakan salah satu materi dalam matematika yang utama. Kemampuan menyelesaikan perkalian dengan teknik bersusun siswa kelas II SDN Kebonsari 4 sehingga siswa tidak dapat mencapai SKM yang ditentukan. Pembelajaran cenderung klasikal sehingga siswa kurang dapat bekerja sama dalam kelompok. Peneliti melakukan penelitian tindakan kelas untuk mencapai ketuntasan siswa dalam belajar sesuai dengan SKM yang ditetapkan dalan KTSP SDN Kebonsari 4 yaitu 70. Tindakan yang dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaram kooperatif model STAD dengan teknik perkalian Nappier. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK), terdiri atas; (1) penetapan fokus masalah; (2) perencanaan tindakan perbaikan; (3) pelaksanaan tindakan perbaikan; (4) observasi dan interpretasi; (5) analisis dan refleksi; dan (6) perencanaan tindak lanjut. Peneliti bertindak sebagai perancang, pengelola instrument dan pelaksana tindakan. Subjek peneliti sebanyak 34 siswa. Data dan sumber data yaitu hasil belajar siswa, kemampuan bekerjasama, kemampuan menerima perbedan kemampuan akademik siswa lain, kegiatan mengajar guru, dan respon siswa. Pengumpulan data melaui observasi, tes, wawancara dan dokumentasi.nstrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan pedoman wawancara. Analisis data, evaluasi dan refleksi dilakukan secara kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan pemberian kesimpulan. Peningkatan hasil hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep secara klasikal pada siklus I 52% dan siklus II 86,%. Kemampuan bekerjasama pada siklus I 43,5 % dan siklus II 88%, dan penerimaan terhadap perbedan kemampuan akademik siswa lain pada siklus I 43% dan siklus II 85%. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan teknik perkalian Nappier dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang perkalian. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan guru dapat menciptakan inovasi dalam meningkatkan pembelajaran.

Pengembangan media VCD pembelajaran bahasa inggris materi conversation untuk siswa kelas VIII semester 2 di Sekolah Menengah Pertama 01 Gondanglegi Malang / Aris Triwahyu Febriansah

 

Kata Kunci: Pengembangan, VCD Pembelajaran, Conversation, Bahasa Inggris, SMP Kelas VIII. Bahasa inggris sebagai bahasa asing yang sudah diajarkan di Indonesia memerlukan strategi pemilihan media pembelajaran yang tepat serta menarik agar siswa merasa tertarik untuk mempelajari bahasa inggris. Di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) 01 Gondanglegi Malang, proses pembelajaran bahasa inggris sudah menggunakan media laboratorium bahasa sebagai sarana pembelajaran. Kendala yang utama dalam pembelajaran Bahasa Inggris, guru mengalami kesulitan untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan pembelajaran conversation, para murid merasa kesulitan dalam hal penguasaan kosakata dan berbicara aktif bahasa inggris. Pemanfaatan laboratorium juga dianggap minim, karena kurangnya bahan dan media yang mendukung (wawancara dengan Bapak Eddy Rahardjo, Kepala SMPN 01 Gondanglegi Malang). Kompetensi yang menjadi permasalahan selama ini yaitu kompetensi berbicara, hal ini dikarenakan kurangnya contoh percakapan yang menyebabkan siswa kurang mampu berbicara aktif dalam bahasa inggris. Untuk menampilkan contoh percakapan memerlukan media yang mampu menampilkan audio visual sehingga siswa juga mampu melatih pronouncation, gesture tubuh, grammar, dan intonasi melalui contoh yang mereka lihat. Melihat hal ini, penulis memberikan alternatif pemecahan yaitu dengan mengembangkan media pembelajaran Bahasa Inggris materi Conversation menggunakan media VCD. Tujuan dari pengembangan media VCD Pembelajaran ini adalah menghasilkan media VCD pembelajaran Bahasa Inggris yang dapat digunakan oleh guru dan siswa kelas VIII sebagai pembelajaran di kelas. Sehingga siswa mampu melakukan conversation setelah menerima materi melalui media VCD pembelajaran dan diharapkan dapat memecahkan masalah pembelajaran terkait dengan kesulitan guru dalam menyampaikan materi Conversation. Pengembangan media VCD Pembelajaran ini menggunakan model pengembangan Sadiman. Model pengembangan Sadiman terdiri dari Sembilan langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan butir-butir materi, (4) perumusan alat pengukur keberhasilan, (5) penulisan naskah media, (6) produksi, (7) validasi yang terdiri dari validasi ahli media, ahli materi, dan audiens, (8) revisi, dan (9) media siap digunakan. Hasil pengembangan media VCD pembelajaran Conversation Bahasa Inggris untuk Siswa Kelas VIII Semester 2 di Sekolah Menengah Pertama 01 Gondanglegi Malang ini menggunakan data dari validasi ahli media, ahli materi, dan audiens. Berdasarkan data dari validasi diperoleh hasil sebagai berikut: (a) ahli media menyatakan media ini valid dengan total persentase 95,8%, (b) ahli materi menyatakan media ini valid dengan total persentase 86,1%, (c) pada ujicoba perseorangan dinyatakan media ini valid dengan total persentase 85%, (d) pada ujicoba kelompok kecil dinyatakan media ini valid dengan total persentase 85,5%, (e) pada ujicoba lapangan dinyatakan media ini valid dengan total persentase 88%. Untuk hasil belajar siswa sebelum menggunakan media(pre test) dan sesudah menggunakan media (post test) dihasilkan peningkatan hasil belajar siswa adalah 52,18%. Sedangkan untuk tes lisan, pada tes I diperoleh data dengan kriteria baik sekali sebanyak 16 siswa, untuk kriteria baik sebanyak 9 siswa, dan kriteria cukup sebanyak 7 siswa. Pada tes II diperoleh data dengan kriteria baik sekali sebanyak 16 siswa, untuk kriteria baik sebanyak 10 siswa, dan kriteria cukup sebanyak 6 siswa. Pada tes III diperoleh data dengan kriteria baik sekali sebanyak 9 siswa, untuk kriteria baik sebanyak 17 siswa, dan kriteria cukup sebanyak 6 siswa. Berdasarkan hasil dari validasi dapat disimpulkan bahwa media VCD Pembelajaran Conversation ini valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas VIII semester 2. Produk pengembangan ini dapat digunakan guru Bahasa Inggris Kelas VIII dalam memberikan materi (1)menanyakan, menerima, dan menolak opini dan informasi. (2) meminta, memberi, dan menolak bantuan. (3) Percakapan melalui telepon. (4)memulai, memperpanjang, dan mengakhiri percakapan. Peran guru juga dibutuhkan untuk menjelaskan lebih lengkap tentang materi diatas, agar pembelajaran dapat berjalan lebih baik, sehingga tujuan pembelajaran yang ditargetkan bisa tercapai.

Citra bangsa barat dan bangsa timur dalam novel edensor karya Andrea Hirata: Kajian pascakolonial / Arif Lukman Hakim

 

Kata Kunci: Citra, novel, pascakolonial Novel merupakan salah satu bentuk sastra yang berbentuk prosa. Kejadian yang terdapat dalam novel merupakan khayalan atau rekaan yang diceritakan oleh pengarang. Novel memiliki unsur-unsur pembagian cerita. Unsur tersebut berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik. Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja bersifat imajinatif. Kajian pascakolonial terhadap karya sastra membicarakan bagaimana teks sastra mengungkapkan jejak-jejak kolonial. Dalam hal ini permasalahan tersebut menyangkut konfrontasi antarras, antarbangsa, dan antarbudaya, dalam kondisi hubungan kekuasaan yang tidak setara. Teori pascakolonial dengan sendirinya akan membicarakan masalah perdebatan mengenai pengalaman dalam berbagai jenisnya, yaitu migrasi, perbudakan, penindasan, resitensi, representasi, perbedaan, ras, gender, ruang/tempat, subjektivitas, kekuasaan, subaltern, hibriditas dan kreolisasi. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang citra bangsa barat dan bangsa timur dalam novel Edensor karya Andrea Hirata. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan (1) pandangan hidup bangsa barat dan bangsa timur, (2) sikap hidup bangsa barat dan bangsa timur, dan (3) gaya hidup bangsa barat dan bangsa timur yang terkandung dalam novel Edensor. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Edensor karya Andrea Hirata. Data berupa unit-unit teks yang berisi deskripsi tentang citra bangsa barat dan bangsa timur dalam paparan bahasa berbentuk monolog, dialog, dan narasi. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data dan peneliti berperan sebagai instrument (human instrument). Peneliti melakukan identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data berdasarkan permasalahan yang dikaji. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi atau studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menyeleksi, mengklasifikasi, menafsirkan, dan memaknai data kemudian mengambil kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama, pandangan hidup bangsa barat membentuk citra superior terhadap bangsa barat, tetapi di satu sisi juga menunjukan adanya ambivalensi dalam novel Edensor, pandangan hidup tersebut antara lain: pandangan progresif, pandangan rasionalis, dan pandangan egaliter, sedangkan pandangan hidup bangsa timur mencitrakan identitas dan kritik atas inferioritas bangsa timur dalam novel Edensor, pandangan tersebut antara lain: pandangan siklis, pandangan spiritual, dan pandangan hierarkis. Kedua, sikap hidup bangsa barat membentuk citra superior terhadap bangsa barat, tetapi di satu sisi juga menunjukan adanya ambivalensi dalam novel Edensor, sikap tersebut antara lain: sikap individualistik, sikap selalu mencapai yang maksimal, sikap disiplin, dan sikap lugas, sedangkan sikap hidup bangsa timur mencitrakan identitas dan kritik atas inferioritas bangsa timur dalam novel Edensor, sikap tersebut antara lain: sikap kolektif, sikap religius, sikap konformis, dan sikap simpatik. Ketiga, gaya hidup bangsa barat membentuk citra superior terhadap bangsa barat, tetapi di satu sisi juga menunjukan adanya ambivalensi dalam novel Edensor, gaya hidup tersebut antara lain: gaya hidup prestatif, gaya hidup kompetitif, dan gaya hidup hedonis, sedangkan gaya hidup bangsa timur menunjukan mimikri dan kritik atas inferioritas bangsa timur dalam novel Edensor, antara lain: gaya hidup konsumtif, gaya hidup kebarat-baratan, dan gaya hidup hibrid. Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan kesimpulan tersebut, yakni (1) bagi penulis, dikotomi barat dan timur serta permasalahan di dalamnya adalah obyek yang menarik untuk diangkat dalam sebuah cerita. Dalam Edensor, salah satu unsur tersebut telah diangkat, hal ini berarti masih banyak ruang lain dari permasalahan timur dan barat yang bisa diangkat dalam novel, (2) bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi penelitian lebih lanjut disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda, (3) bagi pembaca, penelitian ini dapat digunakan oleh pembaca sebagai bentuk pemahaman dan pengetahuan tambahan mengenai bentuk kajian pascakolonial dalam sebuah karya sastra khususnya novel, dan (4) bagi lembaga atau institusi pendidikan, dari hasil penelitian ini diharapkan peserta didik dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran sastra khususnya apresiasi karya sastra.

Pengaturan rute kereta api pada stasiun berbasis PLC / Moch. Yusnie Azhari

 

Kata Kunci: pengaturan rute, sinyal elektrik, kereta api, wesel, kendali PLC. Perancangan pengaturan rute kereta api pada stasiun ini adalah untuk menjawab salah satu kebutuhan dari PT. KAI yang akan menggalakkan otomatisasi industri dalam segala aspek perjalanan kereta api. Pengaturan rute kereta api ini menggunakan kendali PLC untuk mengendalikan wesel. Dalam rangkaian tersebut terdapat 2 motor utama, dimana motor pertama menggerakkan jalur dari arah masuk, sedangkan pada konveyor kedua motor untuk menggerakkan wesel dari arah keluar. Dalam hal ini akan mengurangi resiko kecelakaan pada stasiun kereta api itu sendiri akibat lalainya dalam mengontrol dan mengatur perpindahan wesel Programmable Logic Controller merupakan bagian yang terpenting dalam system kontrol proses otomasi. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu: alamat, instruksi, dan operand. Pengaturan rute kereta api pada stasiun pada dasarnya dibuata dengan cara kerja mengatur posisi wesel pemindah jalur pada stasiun kereta api untuk memindahkan ke jalur yang tidak sedang disinggahi oleh kereta api. Apabila kereta api memasuki area stasiun pada jalur pertama, maka secara otomatis kereta api yang akan masuk dari arah selanjutnya akan di masukkan ke dalam jalur kedua atau yang lainnya. Untuk alur kerjanya ketika mesin pengaturan rute sudah dalam keadaan ON, pada motor pertama ketika kereta api memotong jalur sensor photo diode, rangkaian sensor akan langsung memberikan sinyal proximity kepada PLC. Kemudian output dari PLC akan menggerakan wesel menuju jalur yang tidak sedang disinggahi kereta api. Begitupun sebaliknya, pada motor kedua apabila kereta api yang masuk dari jalur yang berlawanan dan memotong jalur sensor photo diode, rangkaian sensor akan memberikan sinyal proximity kepada PLC. Kemudian output dari PLC akan menggerakkan wesel ke jalur yang tidak sedang disinggahi kereta api. Sehingga perpindahan jalur kereta api menjadi lebih efektif. Disarankan sebelum merancang Pengaturan Rute Kereta Api Pada Stasiun Berbasis PLC hendaknya memeriksa lagi seluruh komponen yang akan digunakan sebelum dirakit, sehingga pada saat alat dioperasikan tidak akan terjadi trouble dalam prosesnya. Karena sedikit kesalahan dalam proses ini akan menyebabkan sebuah akibat yang sangat fatal dan terjadi kecelakaan.

Penerapan metode bermain sirkuit jasmani untuk mengembangkan kemampuan berhitung pada siswa kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang / Eny Dwi Renata

 

Kata Kunci: berhitung, sirkuit jasmani, TK Kemampuan berhitung khususnya membilang/menyebut urutan bilangan1-10, membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda sampai 5), dan menghubungkan/memasangkan lambang bilangan dengan benda 1-5, pada pra penelitian menunjukkan hanya 23,5% dari 17 anak kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang. Kegiatan berhitung pada anak Taman Kanak-kanak kurang menyenangkan karena hanya menggunakan metode ceramah sehingga kegiatan tidak berpusat pada anak, dan media yang digunakan kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode bermain Sirkuit Jasmani untuk meningkatkan kemampuan berhitung pada siswa kelompok A 2 di TK Tunas Rimba Malang dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan anak dalam berhitung melalui metode bermain Sirkuit Jasmani. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain PTK. Subyek Penelitian 17 anak pada kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilakukan selama dua siklus, setiap siklus meliputi tahapan: (1) Perencanaan tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. Analisis data secara deskriptif kualitatif. Instrumen Pengumpulan data berupa foto, dokumen yang berupa lembar kerja siswa, dan dokumen nilai yang menggambarkan kemampuan berhitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran melalui metode bermain sirkuit jasmani dapat meningkatkan kemampuan berhitung yaitu (1) membilang/menyebut urutan bilangan 1-10, (2) membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda sampai 5), dan (3) menghubungkan/memasangkan lambang bilangan dengan benda 1-5 pada kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang. Pada proses peningkatan kemampuan berhitung dengan penerapan metode sirkuit jasmani dikatakan meningkat dan berhasil. Pada siklus I rata-rata prosentase kemampuan berhitung siswa sebesar 52,9 %. Dan pada siklus II rata-rata prosentase kemampuan berhitung siswa sebesar 82,3 %. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berhitung siswa. Siklus II lebih baik dari pada siklus I. Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan kemampuan berhitung melalui metode bermain sirkuit jasmani dapat dilaksanakan dengan baik pada kelompok A2 di TK Tunas Rimba Malang. Disarankan pada guru TK maupun bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan pembelajaran melalui metode bermain sirkuit jasmani dengan media yang berbeda sehingga akan menambah rasa senang dalam belajar berhitung.

Pengaruh arus kas operasi dan arus kas pendanaan terhadap return saham melalui profitabilitas: Pada Perusahaan Manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2009 / Rizzul Ngishmawati

 

Kata Kunci: Arus Kas Operasi, Arus Kas Pendana, Profitabilitas, Return Saham Investasi pada asset keuangan mengandung banyak ketidakpastian, sehingga investor perlu melakukan penilaian terhadap saham yang akan dipilihnya. Para investor hendaknya mampu menganalisa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk memberikan return kepada investor. Kemampuan atau kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan, yang dapat diukur dengan melihat arus kas dan beberapa rasio keuangan. Arus kas tersebut antara lain arus kas operasi (AKO), arus kas pendanaan (AKP) dan rasio profitabilitas yang dapat memperlihatkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dan menunjukkan baik buruknya kinerja perusahaan yang bersangkutan. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi investor untuk mengetahui return yang dapat diperolehnya. Oleh karena itu penting untuk mengetahui seberapa besar pengaruh AKO, AKP terhadap return saham melalui profitabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat AKO, AKP, Profitabilitas, dan return saham, serta untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh langsung signifikan antara AKO, AKP terhadap return saham dan pengaruh tidak langsung signifikan antara AKO, AKP terhadap return saham melalui profitabilitas. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui fungsi variabel profitabilitas sebagai moderator atau mediator dalam pengaruh AKO dan AKP terhadap return saham. Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasional kausalitas yang bertujuan mencari hubungan pengaruh antara variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar dalam BEI. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 10 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari idx. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis), dan analisa data menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa AKO tidak memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap return melalui profitabilitas. AKP juga tidak berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap return melalui profitabilitas. Hanya AKP yang memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas. Dengan demikian profitabilitas bukan merupakan variabel mediator maupun moderator. Saran untuk investor, hendaknya tetap memperhatikan faktor fundamental perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang lain, seperti likuiditas, leverage, EPS, PER dll. Selain itu, investor juga harus memperhatikan faktor makro yang terjadi, seperti inflasi, kurs, rumor, dan tingkat suku bunga agar tidak salah dalam menentukan investasi selanjutnya. Bagi perusahaan atau emiten, hendaknya tetap menjaga dan meningkatkan kinerja keuangannya. Penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dalam periode tahun yang stabil sehingga data yang diperoleh tidak fluktuatif dan dapat menghasilkan hasil uji yang diharapkan, variabel-variabel lain.

Using comic strips to improve the speaking skill of the eighth graders of SMP Negeri 10 Malang / David Bagus Setyo Nogroho

 

Keywords: teaching speaking, comic strips, SMP grade 8 The students in SMP Negeri 10 Malang had difficulty in learning English speaking. The lack of motivation and confidence were the main problems in the teaching and learning process. Besides, teacher rarely use media to teach in the class to attract their interest. The purpose of the study is mainly improving the students speaking ability through the use of comic strips as the instructional media. The study was designed as a Collaborative Classroom Action Research (CAR). The subject of the study was 43 students of grade VIIIA SMP Negeri 10 Malang. The Classroom Action Research employed in this study comprises four steps: planning the action, implementing the plan, observing the action, and reflecting the action based on the observation. This study was conducted in one cycle consisted of three meetings. The limited time permitted by the school was the cause why this research was done only in one cycle. The first meeting was for the modeling, the second meeting was for group discussion, and the last meeting was a test for the students’ performance. There were two types of criteria of success; the process oriented criterion and the product oriented criterion. The process oriented criterion was at least 22 out of 43 students should be actively involved in the teaching and learning process. Meanwhile, the product oriented criterion was at least 32 out of 43 students should reached 75 in their final speaking score in scale of 0 to 100. The instruments used in this study were the observation checklist, the field notes, questionnaires, and the scoring rubric. According to the findings of the study, 26 students out of 43 students were active in the teaching and learning process in the meeting one. The number of students who were active in the group discussion conducted in the second meeting was improved. 32 out of 43 students classified into active students during teaching and learning process in the second meeting. Besides, 33 out of 43 students reached 75 in the speaking test done in the third meeting. However, most of students still had difficulties in pronouncing the words and using the grammar in sentences. The use of comic strips in teaching speaking is effective to improve the students’ speaking skill in telling a recount text by improving the students’ interest in learning English. Moreover, the pictures provided in the comic strips help the students to create story based on the context given in the comic strips. The future researchers who have the same interest in developing the use of comic strips in teaching speaking are expected to provide many different comic strips in one activity, so each student can tell different story from the others and share the story to the other students. Besides, the future researchers can use other monologue texts such as narrative and report text to test whether the media of comic strips are applicable in other genres or not.

Integrasi aplikasi magnetic contactor (MC) dan programmable logic controller (PLC) untuk mengoperasikan mesin produksi di Industri pada organisasi pengalaman belajar SMK program keahlian teknik pemanfaatan tenaga listrik (TPTL) / Didik Hoediono

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pasca Sarjana Universi¬tas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Haris A Syafrudie, (2) Hakkun Elmunsyah, ST, MT. Kata kunci: organisasi pengalaman belajar, magnetic contactor, programmable logic controller . Salah satu indikator pembelajaran di SMK dikatakan sukses adalah apa bila tamatan tersebut dapat diserap dan bekerja dengan baik di dunia usaha/ industri, maka substansinya adalah penyusunan pengalaman belajar yang terintergasi dengan kondisi industri. Permasalahan dalam proses pembelajaran kompetensi mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektro mekanik yang berbasis magnetic contactor dan kom¬petensi mengoperasikan mesin produksi dengan programmable logic control¬ler (PLC), pada peserta didik Program Keahlian Pemanfaatan Tena¬ga Listrik adalah terdapatnya perbedaan pengalaman belajar tentang penguasaan kompetensi magnetic contactor dan PLC dengan aplika¬si keduanya sebagai komponen pengendali mesin produksi dalam industri. Oleh karenanya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendes¬krip¬sikan integrasi aplikasi magnet kontaktor dan PLC dalam industri pada organisasi pengalam¬an belajar untuk proses pembelajaran kendali elektro mekanik yang berba¬sis magnetic contactor dan PLC di SMK Program Keahlian Pemanfaatan Tena¬ga Lis¬¬trik ? Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan di atas, penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif. Setelah dilakukan penelitian terungkap bahwa, fakta yang tercermin dari data penelitian tentang MC dan PLC sebagai kendali mesin produksi di Industri dan pengalaman belajar tentang kompetensi MC dan PLC di SMK menggambarkan bahwa, yang teraplikasi pada industri ada yang sudah men¬ja¬di pengalaman belajar, tetapi ada juga yang belum. Gambaran diatas selaras dengan kongklusi penelitian bahwa : SMK negeri telah mengorganisasikan sebagian besar pengalaman belajar kompetensi MC, tetapi dalam mengorganisasikan pengalaman belajar kompetensi PLC disamping ada yang mengorganisasikan sebagian besar, ada juga yang masuk katagori sebagian kecil. SMK swasta hanya mengorganisasikan sebagian kecil baik pengalaman belajar kompetensi MC maupun pengalaman belajar kompetensi PLC. Industri telah menggunakan seluruh identifikasi aplikasi MC serta meng gunakan seluruh identifikasi aplikasi PLC sebagai ken¬dali mesin produksi¬nya Hal itu menggambarkan bahwa belum terjadi kesinabungan (Continuity), antara pengala¬man belajar dalam proses pembelajaran terhadap hubung¬an ver tikalnya atau belum ada kontinyuitas dengan tujuan selanjutnya, dengan demikian me¬mung¬kinkan siswa belum memperoleh kesatuan pandangan antara pro¬gram pembelajar¬an¬nya dengan tujuan pembelajarannya, Kondisi tersebut diperbaiki dengan menintegrasikan aplikasi kompetensi MC pada industri pada penga¬laman belajar di SMK negeri seperti : aplikasi thermal switch, flow switch, pressure switch, proximity sen¬sor, light sensor, alarm, relay, so¬le¬noid val¬ve, dan led display. Sedangkan pada SMK swasta seperti: aplikasi se¬lector switch, ther¬mal switch, flow switch, pressure switch, proximity sen-sor, light sensor, alarm, re¬lay, so¬le¬noid valve, dan led display. Disamping itu juga mengitegrasikan aplikasi kompetensi PLC pada industri pada penga¬laman belajar di SMK negeri seperti: aplikasi selector switch, thermal switch, flow switch, pressure switch, proximity sensor, veloci¬ty sensor, ultra¬so¬nic sensor, alarm, solenoid valve, led display, heating, for¬mat function chart, fungsi set and reset, product PLC dari Allen Bradley, Mo¬di¬con, GE Fanuc, Cutler Ham¬mer, dan IDEC. Sedangkan pada SMK swasta seperti: aplikasi selector switch, thermal switch, flow switch, pressure switch, proximity sensor, light sensor, ve¬lo¬city sensor, ultra¬so¬nic sensor, alarm, sole¬no¬id valve, led display, heating, format kode mneumonik, format function chart, tool konsul pemrogram¬an, fungsi set and reset, fungsi sequen¬cial, fung¬si counter, fungsi logika aritmati¬ka, product PLC dari Allen Brad¬ley, Modi¬con, GE Fanuc, Cutler Hammer, IDEC, dan LG. Berdasarkan hasil penelitian disarankan antara lain: (1) Peningkatan kesadaran guru-guru terhadap peningkatan siswa dalam penguasaan Kompetensi magnetic contactor (MC) dan pro¬grammable logic controll (PLC) yang sesuai dengan ha¬sil identifikasi aplikasi keduanya sebagai komponen pengendali mesin produksi pada industri, melalui pengorganisasian pengalaman belajar kompetensi MC dan PLC di rencana pembelajarannya (2) Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa seluruh kompetensi magnetic con¬tac¬tor (MC) dan sebagian besar pro-grammable logic controll (PLC) telah di¬apli¬kasikan pada industri, hendaknya disadari sekolah serta dapat dijadikan seba¬gai acuan untuk mengembangkan kompetensi dasar dalam membangun profil lu¬lusan siswa SMK Program Keah¬lian Teknik Pemanfaatan Tena¬ga Listrik yang lebih selaras dan sesuai de¬ngan kebutuhan dunia usaha/in¬dustri. (3) Pihak penentu kebijakan pendidikan di daerah, Depdiknas disarankan untuk lebih memahami, menyadari, dan akhirnya mengoptimalkan peningkatan bantuan sarana dan prasara¬na sekolah, khususnya yang berhubungan dengan pencapaian kompetensi magnetic con¬tac¬tor MC dan pro¬grammable logic con¬trolerl PLC.

Die anwendung der spt-methode (Strategic processing of text) im deutschleseunterricht in der klasse XI SMA Negeri 8 Malang / Retno Pamungkas

 

Schlüsselwörter: SPT-Methode, Lesefertigkeit Die Lesefertigkeit ist sehr wichtig für die Schüler, weil sie jeden Tag lesen müssen. Bei dem Leseunterricht wird es erwartet, dass die Schüler die Lesematerialien verstehen und die Aufgabe anhand der Informationen aus dem Gelesenen richtig beantworten können. Basierend auf der Erfahrung während des Programms PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) in SMA Negeri 8 Malang besonders in Klasse XI behauptete die Verfasserin, dass die Schüler nur wenig Interresse an Deutschunterricht besonders an Leseunterricht hatten. Dieses wenige Interesse wird wahrscheinlich durch die unpassende Lernmethode oder -strategie beeinflusst. Deshalb hat die Verfasserin daran Interesse, die Methode Strategic Processing of Text im Deutschleseunterricht anzuwenden. Die Methode Strategic Processing of Text ist eine von vielen Methoden, die bei der Bearbeitung vieler Textsorten in den Zielsprachen benutzt werden kann. Diese Methode konzentriert sich auf das Globalverstehen. Diese Untersuchung hat das Ziel, die Anwendung der Methode Strategic Processing of Text im deutschen Leseunterricht in der Klasse XI in SMA Negeri 8 Malang zu beschreiben. Die verwendete Untersuchungsmethode ist die deskriptive qualitative Methode. Die Datenquelle in dieser Untersuchung ist die Schüler der Klasse XI IPA 3 SMA Negeri 8 Malang, die im Schuljahr 2010/2011 im gerade Semester Deutsch lernen. Die Daten sind die Aktivitäten der Schüler während des Unterrichts mit der Methode Strategic Processing of Text. Diese Daten bekommt die Verfasserin von den Arbeitsblättern der Schüler während der Leseaktivität, der Beobachtungschekliste und dem Fragebogen. Anhand des Untersuchungsergebnisses wird es gewusst, dass die Anwendung der Methode Strategic Processing of Text im Deutschleseunterricht in der Klasse XI IPA 3 SMA Negeri 8 Malang gut gelaufen ist. Auβerdem kann diese Methode den Schülern beim Leseverstehen helfen. Im Durchschnitt bekommen die Schüler die Note 80,43. Aber diese Methode hat noch Nachteile. Diese Methode im Leseunterricht anzuwenden, braucht der Lehrer viel Zeit, weil es in dieser Methode so viele Aktivitäten gibt, die die Schüler machen sollen. Aus diesem Grund wird den DeutschlehrerInnen vorgeschlagen, diese Methode im nächsten Leseunterricht zu benutzen, so dass ein gutes Ergebnis erhalten werden kann. Es wird auch den nächsten Verfassern vorgeschlagen, diese Methode in mehreren Subjekten und mit verschiedenen Textsorten anzuwenden.

Penggunaan media video pantonim dalam pembelajaran menulis pada matakuliah Aufsatz I jurusan sastra jerman Universitas Negeri Malang / Heny Setyowati

 

Kata Kunci : media video pantomim, keterampilan menulis, Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting untuk dikuasai seorang mahasiswa, karena menulis dapat melatih seseorang untuk meningkatkan kreativitas dan berpendapat. Pembelajaran menulis bahasa Jerman dilatihkan dalam matakuliah Aufsatz I dan Aufsatz II. Media yang sering digunakan dalam matakuliah Aufsatz adalah film. Meskipun demikian mahasiswa masih kesulitan menceritakan ulang isi sebuah film, karena harus menceritakan ulang secara runtut isinya. Media video pantomim merupakan media baru yang belum pernah digunakan. Media video pantomim hanya berisi gerakan saja tanpa dialog, sehingga setiap mahasiswa dapat mengartikan gerakan pantomim sesuai dengan interpretasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media video pantomim dalam pembelajaran menulis bahasa Jerman pada matakuliah Aufsatz I. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan adalah hasil tes menulis mahasiswa berupa karangan, hasil observasi dan hasil angket mahasiswa. Sumber data pada penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Bahasa Jerman Offering A angkatan 2009. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes, kuesioner atau angket dan observasi. Teknik analisiss data dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bebarapa variasi cerita yang dihasilkan mahasiswa setelah menonton video pantomim. Pertemuan pertama menghasilkan lima variasi cerita. Variasi yang paling banyak adalah variasi kelima (Ie) sebanyak dua belas karangan. Pertemuan kedua menghasilkan tiga variasi cerita. Variasi cerita yang paling banyak adalah ketiga (IIc) lima belas karangan. Terdapat pula kesalahan gramatik dalam karangan mahasiswa. Kesalahan yang paling banyak ditemukan adalah penggunaan kata depan dengan Dativ atau Akkusativ dan adjektiv deklinasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media video pantomim dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan ide dalam mengarang. Dari hasil penelitian, penulis dapat memberikan saran kepada dosen pengajar matakuliah Aufsatz I untuk menggunakan media video pantomim sebagai media alternatif selain film dalam pembelajaran menulis. Namun untuk menggunakan video pantomim perlu diperhatikan hal-hal teknis dalam penggunaannya agar tidak mengganggu jalannya pembelajaran. Kepada peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan media video pantomim dengan keterampilan yang berbeda.

Hubungan antara kecemasan dengan penyusaian diri menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan / Massayu Trisna Widoretno

 

Kata Kunci : kecemasan, penyesuaian diri, menantu perempuan Havighurst (dalam Mappiare, 1983) menyatakan bahwa menikah dilalui sebagian besar individu dewasa muda sebagai salah satu tugas perkembangannya. Carter dan McGoldirck (dalam Santrock, 2002) menyatakan bahwa dengan menikah, individu berada pada tahap pasangan baru dalam siklus keluarga dimana individu menghadapi perubahan peran, dengan menikah individu menghadapi tugas-tugas yang membutuhkan penyesuaian diri. Perempuan yang tinggal dengan mertua perempuan otomatis akan berada di lingkungan dan bersama orang-orang yang baru dan dengan cara hidup yang baru. Hal tersebut akan menimbulkan kecemasan yang akan mempengaruhi penyesuaian diri menantu perempuan. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui gambaran kecemasan menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan, (2) mengetahui gambaran penyesuaian diri menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan, (3) mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecemasan dengan penyesuaian diri menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional pada 41 orang menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan di desa Karangduren. Data diambil dengan menggunakan Skala Kecemasan dan Skala Penyesuaian diri. Teknik analisis data untuk melihat gambaran kecemasan dan penyesuaian diri adalah analisis deskriptif, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan penyesuaian diri adalah dengan analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) menantu yang memiliki kecemasan tinggi sebanyak 41% dan rendah sebanyak 59%, (2) menantu yang memiliki penyesuaian diri tinggi sebanyak 59% dan rendah sebanyak 41%, (3) terdapat hubungan negatif antara kecemasan dengan penyesuaian diri menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan (rxy = -0.302, sig.= 0.038 < 0.05). Artinya semakin tinggi kecemasan menantu perempuan maka semakin rendah penyesuaian dirinya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan: (1) agar menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan meningkatkan penyesuaian diri terhadap mertua dengan cara menjalin hubungan baik, lebih sering berkomunikasi dengan mertua (2) menantu perempuan hendaknya dapat memahami hubungan dan perannya sebagai menantu, yaitu menghormati dan merawat mertua dengan baik (3) peneliti selanjutnya agar menggunakan variabel lain misalnya kecerdasan emosi, konsep diri, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri menantu perempuan yang tinggal serumah dengan mertua perempuan.

Perbedaan hasil belajar microsoft excel akibat pengaruh penerapan model belajar penemuan terbimbing menggunakan metode probing prompting dengan metode diskusi kelompok pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lawang / M. Ramzul Haq

 

Kata Kunci: Model pembelajaran, PenemuanTerbimbing, Probing Prompting, Hasil Belajar. Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bertujuan untukmenciptakan proses belajar yang aktif,kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran yang masihdilakukan merupakan pembelajaran konvensional dan materiyang diulang-ulang membuat siswa merasa bosan dan tidak termotivasi dalam belajar. Untuk mengatasi masalah di atasdiperlukan model pembelajaran yang tepat dan inovatif. Model pembelajaran PenemuanTerbimbing (PT) menggunakan metode Probing Pompting (PP) merupakan model pembelajaran yang diawali dengan skenario model pembelajaran PT yang dilakukan selangkah demi selangkah. Model pembelajaran PP dengan skenario pembelajaran memberikan soal-soal yang bertujuan untuk merangsang siswa berfikir dan menggali sendiri pengetahuan mengenai materi yang diajarkan.Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa akibat pengaruh penerapan model pembelajaran PT menggunakan metode PP dengan metode diskusi kelompok pada kompetensi dasar mengolah dokumen dengan pengolahan menggunakan formula, serta untuk mengetahui besarnya sumbangan keterlaksanaan model pembelajaran PT menggunakan metode PP terhadap hasil belajar siswa pada kelas eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimen semu, sampel yang digunakan adalah dua kelas yaitu XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 2 sebagai kelas kontrol di SMAN 1 Lawang, kelas eksperimen adalah kelas yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran PT menggunakan metode PP sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan metode diskusi kelompok. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS 17. Hasil penelitian rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas eksperimen adalah 90.31 dan pada kelas kontrol adalah 80, nilai rata-rata dari masing-masing kelas diuji hipotesis dengan meggunakan Uji-t,dari Uji-t diperoleh hasil yaitu thitung15.648> ttabel 1.99,kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasilbelajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaranPT menggunakan metode PP dengan yang siswa yang diajar menggunakan metode diskusi kelompok,sedangkan untuk sumbangan pengaruh penerapan model pembelajaran PT menggunakan metode PP terhadap hasil belajar siswa SMAN1 Lawang, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat kenaikan hasil belajar sebesar 4.459 satuan akibat kenaikan 1 satuan skor model pembelajaran.

Penerapan manajemen laboratorium multimedia di SMK Negeri 6 Malang / Ananda Eka Setiawan

 

Kata kunci: Perencanaan Laboratorium Multimedia, pengorganisasian Laboratorium Multimedia, pengawasan Laboratorium Multimedia, pengevaluasian Laboratorium Multimedia. Tersedianya fasilitas Laboratorium Multimedia merupakan hal yang dapat menunjang dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, tetapi hal ini tidak menjamin proses pembelajaran Kompetensi Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak di SMK Negeri 6 Malang menjadi efektif. Perlu didukung dengan penerapan manajemen Laboratorium Multimedia yang baik dan cermat. Penerapan manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang dalam proses pembelajaran dapat memberikan kemudahan bagi Siswa Kelas X, XI, XII Kompetensi Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak untuk menyerap materi pelajaran, memotivasi siswa dalam belajar, dan dapat mengefektifkan upaya pencapaian tujuan pengajaran, guru juga harus dapat memanfaatkan Laboratorium Multimedia secara maksimal karena pada dasarnya proses pembelajaran tidak terlepas dari interaksi siswa dengan media. Penelitian ini mendeskripsikan tentang manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang. Sesuai dengan fokus penelitian tersebut, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini akan mengungkap tentang manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang dengan menggunakan rancangan penelitian Studi Kasus, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan secara mendalam sehingga mendapat suatu temuan Kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci yaitu memerankan dirinya secara aktif dalam keseluruhan proses studi. Sumber data dalam penelitian ini Wakil Kepala Sekolah Manajemen Mutu dan SDM, Kepala Bagian Sarana dan Prasarana, guru RPL Kelas X, XI, XII, Laboran Laboratorium Multimedia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Analisis data pada penelitian ini menggunakan reduksi data, display data, verifikasi data. Tahap-tahap penelitian terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) perencanaan manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang, (2) pengorganisasian manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang, (3) pengawasan manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang, dan (4) pengevaluasian manajemen Laboratorium Multimedia di SMK Negeri 6 Malang. Temuan penelitian yang diperoleh yaitu: (1) perencanaan manajemen laboratorium multimedia yaitu luas laboratorium, fasilitas sarana dan prasarana laboratorium, tata ruang komputer dan peralatan lainya, (2) pengorganisasian manajemen laboratorium multimedia yaitu alur pengajuan sarana dan prasarana ke sekolah, struktur organisasi laboratorium multimedia, syarat peminjaman dan alur proses peminjaman, (3) pengawasan manajemen laboratorium multimedia yaitu pemberian kode pada setiap alat di laboratorium multimedia, tata tertib dan prosedur pemakaian alat, perawatan dan perbaikan sarana prasarana laboratorium, (4) evaluasi setiap akhir semester dengan dihadiri laboran dan tim guru RPL. Dari temuan penelitian disarankan bagi siswa SMK Negeri 6 Malang, fasilitas yang terdapat di dalam laboratorium multimedia merupakan media pendidikan yang mendukung proses pembelajaran siswa program keahlian Rekayasa Perangkat Lunak SMK Negeri 6 Malang, siswa diharapkan turut menjaga serta merawat fasilitas laboratorium tersebut dengan kesadaran masing-masing individu sehingga fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, bagi pihak sekolah, peneliti harapkan penelitian ini dijadikan bahan referensi dan pertimbangan bagi Kepala Sekolah SMK Negeri 6 Malang dalam menambah sumber ilmu dan pengetahuan terkait dengan manajemen laboratorium multimedia di SMK Negeri 6 Malang, bagi laboran laboratorium multimedia, dengan dipaparkanya hasil temuan data dan pembahasannya diharapkan dapat dimanfaatkan khususnya bagi laboran di Laboratorium Multimedia SMK Negeri 6 Malang sebagai acuan dalam mengelola manajemen laboratorium multimedia, sehingga tepat sasaran sebagaimana yang diharapkan dan lebih meningkatkan pemanfaatan manajemen laboratorium multimedia, dan bagi peneliti yang hendak mengembangkan penelitian yang serupa dengan penelitian ini diharapkan menyesuaikan antara rujukan yang sesuai dengan karakter masing-masing sekolah yang akan diteliti sehingga tepat sasaran dan penelitian tersebut dapat berguna bagi sekolah yang diteliti ataupun sekolah-sekolah yang mempunyi kesamaan karakter dengan sekolah yang menjadi obyek penelitian.

Peningkatan kemampuan membaca melalui menggambar bebas dengan bidang lingkaran pada kelompok B di TK Kartika IV-80 kota Malang / Alfiah

 

Kata kunci: membaca, menggambar, TK Kemampuan berbahasa khususnya dalam membaca anak pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang, pada pra penelitian menunjukkan hanya 20% dari 20 anak yang mampu menyebutkan nama gambar, menceritakan gambar serta menyebutkan ciri-ciri gambar. Kegiatan membaca pada anak Taman Kanak-kanak selalu berpusat pada guru, sehingga anak kurang tertarik dan merasa tertekan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran melalui menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran untuk meningkatkan kemampuan membaca, pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang melalui dibelajarkan menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain PTK. Subyek penelitian 20 anak pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian dilakukan selama dua siklus, setiap siklus meliputi tahapan: (1) Perencanaan Tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. Analisis data yang digunakan deskriptif kualitatif. Instrumen pengumpulan data berupa foto, dokumen yang berupa karya anak dan dokumen nilai yang menggambarkan kemampuan membaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran melalui menggambar bebas dengan dasar lingkaran kemudian diberi tulisan yang berbentuk kata benda, lalu anak maju kedepan membaca gambar serta membaca kata, dapat meningkatkan kemampuan membaca pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80.Pada proses peningkatan kemampuan membaca dengan penerapan menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran pada siklus I memperoleh 70% kemudian meningkat pada siklus II menjadi 90%, pada siklus II lebih baik dari siklus I. Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan membaca melalui menggambar bebas dapat dilaksanakan dengan baik pada kelompok B di TK KARTIKA IV-80 Malang, disarankan pada guru TK maupun bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan pembelajaran melalui menggambar bebas dengan bidang dasar lingkaran dengan tema yang berbeda sehingga akan menambah kreatifitas anak.

Hubungan antara minat memasuki dunia kerja dan prestasi belajar dengan kesiapan memasuki dunia kerja pada siswa kelas XI TKJ di SMK Negeri di kota Malang / Kemal Radhiat Bashofy

 

Kata Kunci : Media pembelajaran dan Macromedia Flash 8 Saat ini model pembelajaran yang banyak diterapkan di sekolah dengan model pembelajaran konvensional dan metode ceramah telah bergeser kearah penggunaan layar monitor komputer, melalui sistem pembelajaran secara individual (self instruction). Dengan bantuan komputer menjadikan pembelajaran dapat terjadi kepada siapa saja, kapan, dan dimana saja. Media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 akan sangat membantu proses belajar mengajar di SMPN 2 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menghasilkan produk media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 pada bab konsep dasar jaringan; dan (2) Memvalidasi hasil pengembangan media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 pada bab konsep dasar jaringan. Metodologi penelitian ini menggunakan model pengembangan sadiman (2002). Pada teknik pengumpulan datanya menggunakan angket dengan melibatkan ahli media dan materi, kelompok kecil sebanyak 5 responden dan kelompok besar sebanyak 20 responden Hasil pengembangan adalah sebagai berikut: produk berupa media pembelajaran berbasis komputer, yang didalamnya terdapat tampilan home, indikator, tujuan, materi pembelajaran, test formatif, playlist, fullscreen, exit fullscreen, on/off sound, rangkuman dan evaluasi. Hasil validasi dari ahli media sebesar 93,75%, hasil validasi dari ahli materi sebesar 98,07%, dan hasil rata – rata ahli media dan materi adalah sebesar 95,91%. Hasil validasi dari kelompok kecil adalah sebesar 95,50%, yang didapat dari 5 responden. Hasil validasi dari kelompok besar adalah sebesar 97,37%, yang didapat dari 20 responden. Semua validasi mulai dari validasi ahli dan validasi siswa dinyatakan valid dengan tingkat kevalidan lebih dari 96,27%.

Penyusunan basis data pendidikan sekolah menengah atas (SMA) Negeri kota Surabaya berbasis sistem informasi geografi (SIG) dengan menggunakan software ARCGIS / Depi Priyono

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Agus Suryantoro, M.Si (2) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd. Kata kunci: pendidikan, SIG, data spasial, georeference, Standar Nasional Pendidikan, evaluasi strategis. Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Permasalahan dalam bidang pendidikan yang ada saat ini diperlukan suatu kebijakan dari pemerintah yang komprehensif dan bersifat multidimensi. Informasi mengenai basis data pendidikan dapat dijadikan data awal guna menentukan kebijakan lebih lanjut. Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai sistem yang mampu mengakomodasi data spasial yang ber-georeference dengan data atribut menjadi sebuah tampilan yang mampu memberikan analisis keruangan. Dengan adanya pengembangan SIG untuk informasi kependidikan, pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Surabaya khususnya dan Kementerian Pendidikan Nasional umumnya dapat menghasilkan suatu evaluasi strategis pendidikan dengan konsep DBMS (Data Base Management System) yang kemudian menjadi dasar pertimbangan kebijakan pendidikan yang bersifat perbaikan maupun pengembangan pendidikan. Tujuannya adalah penyusunan basis data pendidikan SMA Negeri Kota Surabaya berbasis SIG dengan menggambarkan kondisi tiga komponen utama pendidikan yaitu: kesiswaan, tenga kependidikan dan sarana prasarana pendidikan. Dalam penelitian ini semua kajian menggunakan pendekatan kualitatif. Bahwa berdasarkan hasil pengakumulasian data kependidikan berbasis SIG untuk wilayah penelitian SMA Negeri kota Surabaya menunjukkan sebuah pelayanan kependidikan yang cukup optimal sebagai bagian dari pengupayaan guna memenuhi Standar Pelayanan Minimum yang termaktub dalam Standar Nasional Pendidikan. Dari 22 SMA Negeri di Kota Surabaya tersimpulkan ada 3 SMAN yang memiliki tingkat pelayanan kependidikan tertinggi yaitu SMAN 5, SMAN 2 dan SMAN 15. Mengikuti di bawahnya adalah SMAN 16, SMAN 6, SMAN 9, SMAN 4, dan SMAN 1. Pengembangan SIG sebagai media informasi kependidikan diharapkan nantinya akan menjadi suatu keakraban sehingga penerapan SIG berjalan di semua lembaga pendidikan tentunya dengan berbagai perangkat yang harus disiapkan dan maintenance (perawatan) yang cukup baik.

Peningkatan kreatifitas kerajinan benda hias dengan memanfaatan bubur kertas di kelas IV SDN Gadang 3 Malang / Anggra Budiharto

 

Kata Kunci: Kreativitas, Kerajinan Benda Hias, Bubur Kertas, SD Seni merupakan sumber ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk dipelajari dan dikembangkan siswa Sekolah Dasar. Salah satu unsur yang sangat menentukan di dalam keberhasilan pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan adalah kreativitas mengolah sesuatu bahan mentah menjadi suatu bentuk benda yang lebih berguna. Salah satunya adalah pemanfaatan barang bekas berupa kertas yang dalam penelitian ini diolah menjadi bubur sebagai usaha untuk meningkatkan kreativitas siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan materi pembuatan benda hias berupa hiasan dinding atau pajangan hewan berkaki 2 dan hewan berkaki 4 untuk meningkatkan kreativitas seni kerajinan pada mata pelajaran Seni Budaya dan Kerajinan dengan memanfaatkan bubur kertas, mendeskripsikan aktivitas kreatif dalam keterampilan membuat benda hias dengan memanfaatkan bubur kertas serta mendeskripsikan peningkatan hasil belajar keterampilan membuat benda hias dengan memanfaatkan bubur kertas. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian ini peneliti sebagai pengajar, guru kelas sebagai observer dan satu teman sejawat sebagai observer. Data dalam penelitian ini berupa data kualitatif yang diperoleh dari data primer berupa angket yang langsung diberikan pada saat penelitian dilaksanakan dan data sekunder diperoleh dari data sekolah yang sudah ada. Teknik pengumpulan data berupa observasi rencana pembelajaran dengan teknik pengamatan dan catatan lapangan selama tindakan kelas berlangsung digunakan untuk menilai rencana pembelajaran dan tingkat kreativitas siswa, observasi kegiatan pembelajaran untuk mengamati dan mencatat kejadian secara langsung pada keadaan sebenarnya sebagai sumber data, lembar kerja siswa digunakan sebagai tolak ukur peningkatan kreativitas siswa dalam pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, teknik dokumentasi digunakan untuk data berupa dokumen mulai dari perencanaan sampai penelitian selesai. Instrumen meliputi APKG 1 dan 2, lembar pengamatan dan lembar penilaian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kreativitas siswa dan hasil belajar siswa. Prosentase peningkatan yang diperoleh dari penilaian proses dari pra tindakan ke siklus I sebesar 28,1%, dari siklus I ke siklus II sebesar 35%. Prosentase peningkatan perolehan penilaian hasil dari pra tindakan ke sikus I sebesar 26% sedangkan dari siklus I ke siklus II sebesar 28%. Total prosentase peningkatan yang diperoleh pada penilaian proses dari pra tindakan sampai siklus II sebesar 63,1%. Total prosentase peningkatan yang diperoleh pada penilaian hasil dari pra tindakan sampai siklus II sebesar 54%. Berdasarkan data yang diperoleh diambil kesimpulan bahwa dengan penerapan seni kerajinan dengan bubur kertas ini aktivitas kreatif siswa meningkat sehingga menimbulkan kreativitas siswa yang lebih tinggi. Saran dari penelitian ini ditujukan kepada guru hendaknya memiliki motivasi untuk meningkatkan kreativitas siswa dengan memanfaatkan barang bekas sebagai kerajinan benda hias, dan bagi pihak sekolah agar mengupayakan adanya guru mata pelajaran khusus yang memiliki keahlian dalam bidangnya sehingga kreativitas siswa dapat tersalurkan secara maksimal untuk hasil yang lebih baik.

Analisa sistem pengendalian peralatan kerja dan material bangunan dalam upaya mengefesiensikan biaya pelaksanaan pembangunan pusat pembelanjaan Kediri Town Square / Ardo Lukas Santra

 

Kata Kunci: pengendalian, peralatan, bahan, efisiensi biaya, Kediri Biaya peralatan kerja dan bahan merupakan bagian terbesar dari proyek, jadi sudah seharusnya bila penyelenggaraan proyek memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sistem pengendalian peralatan kerja dan material. Untuk mengetahui pentingnya sistem pengendalian peralatan kerja dan material dalam upaya mengefisiensikan biaya pelaksanaan, maka dilakukan kajian pada proyek pembangunan pusat perbelanjaan Kediri Town Square. Proyek Akhir ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Sistem pengadaan peralatan kerja dan bahan, (2) Sistem penyimpanan peralatan kerja dan bahan, (3) Sistem perawatan peralatan kerja, (4) Sistem pemakaian peralatan kerja dan bahan, pada pelaksanaan proyek. Studi lapangan untuk Proyek Akhir ini dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data antara lain: pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, kemudian dipelajari dan dilakukan triangulasi data. Hasil studi yang diperoleh dari Proyek Akhir ini, untuk pengendalian peralatan menunjukkan bahwa (1) sistem pengadaan peralatan pada proyek dilakukan dengan pemberdayaan peralatan milik tukang, pengadaan peralatan milik perusahaan pelaksana proyek, dan pengadaan peralatan dengan cara sewa, (2) sistem penyimpanan peralatan dilakukan pada gudang tertutup dan gudang terbuka, (3) sistem perawatan peralatan dilakukan dengan pembersihan peralatan oleh tukang dan perwatan berkala oleh bagian logistik, (4) sistem pemakaian peralatan pada proyek dilakukan dengan melengkapi berita acara. Sedangkan untuk pengendalian bahan/material menunjukkan bahwa (1) sistem pengadaan material pada proyek dimulai dengan perencanaan, seleksi, pembelian, penerimaan, pembayaran, dan evaluasi. Semua tahap seleksi telah dilakukan terhadap calon pemasok, (2) sistem penyimpanan material pada proyek dilakukan pada gudang tertutup dan gudang terbuka, (3) sistem pemakaian dan pengambilan material pada proyek dilakukan dengan menggunakan kitir dari mandor. Saran yang diajukan pada proyek akhir ini adalah sistem pengendalian dalam pelaksanaan proyek sangatlah penting dan merupakan bagian terbesar dalam proses pelaksanaan, maka dari itu efektifitas dan efisiensi dalam pengendalian peralatan dan material perlu diperhatikan.

Improving the reading skill of the eleventh graders of MAN 6 Jombang through the reciprocal teaching technique / Moh. Zainul Ihsan

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Soenardi Djiwandono, (II) Dr. Gunadi H. Sulistyo, M.A. Key Words: reading comprehension, reading improvement, and reciprocal teaching technique Reading is the most important skill because it supports other English skills. Besides, reading composes 35 of 50 items of UN 2007-2010. Therefore, the students are expected to be able to comprehend the reading texts. However, based on the preliminary study, it was found that the students of MAN 8 Jombang still reached low achievement in reading test. They got some difficulties in identifying explicit and implicit information in the text, identifying main and supporting ideas, and making conclusions from information gotten from the text. This condition was related to some factors such as limited vocabulary, low reading skill, and low motivation. Furthermore, three factors mentioned above may be caused by inappropriate teaching technique. Therefore, for the improvement of the students’ reading comprehension ability, the implementation of an appropriate teaching technique is really needed. Reciprocal Teaching Technique (RTT) consisting of four steps: predicting, clarifying, questioning, and summarizing, was applied to solve those problems in reading comprehension. This research was aimed to improve the students’ reading comprehension ability in English through the implementation of Reciprocal Teaching Technique (RTT). In RTT activities, students were divided into groups consisting of four students. The students was encouraged to study how to predict the content of subsequent material based on stimulus such as pictures given by the teacher; to clarify unfamiliar words, phrases, or sentences for others; to generate questions; and to summarize the text they had read. In this study a classroom action research design was implemented. The researcher planned the actions including preparing a suitable procedure of RTT, designing the lesson plan, and determining the criteria of success, conducted the action, observed the action, and conducted reflections. The subjects of this research were 34 students of Grade XI IPS 2 at MAN 6 Jombang in the academic year 2010/2011. This research was conducted in 2 cycles, which each of them consisted of four meetings. The data of this study was collected using three instruments (1) observation checklist, to obtain information about teacher’s and the students’ activities and performance during the implementation of RTT, (2) field notes, to note the data beyond the coverage of the observation sheet, and (3) reading comprehension test to know whether the students had made progress in reading comprehension. However, in the study, the main instrument was reading comprehension test. Consequently, two other instruments were used to support data collected by reading comprehension test. The result of the research showed that the RTT was effective in improving the students’ reading comprehension. The improvement was indicated by the increase of the mean of total score throughout the cycles of action. In pretest the mean score was 33.33, while in reading test 1 the mean score was 37.4, and in the reading test 2 that was 40.35. Besides, there was improvement of number of students getting 40 or above. In the pretest, there was just 6 students, in the reading test 1 there was 11 students, and in the reading test 2 there was 18 students getting 40 or above. With the findings, it is suggested that teachers use RTT as one alternative teaching technique in improving the students’ reading comprehension ability. Moreover, future researchers are suggested that they conduct a similar study involving other graders as the subject of the following research. Besides, future researchers are suggested to implement RTT using other kinds of texts.

Penerapan model pembelajaran talking stick untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas X-7 SMA Negeri 8 Malang / Anis Wahyuniharti

 

Kata Kunci: Talking Stick, Hasil Belajar. Pendidikan merupakan salah satu sektor terpenting dalam pembangunan setiap Negara. Agar lebih berkembang dan berkualitas lagi dari dunia pendidikan, maka yang harus diperbaiki atau dibekali adalah para pendidik maupun calon pendidiknya . Pendidik maupun calon pendidik harus lebih berinovasi dan berimprovisasi dalam menggunakan model pembelajaran. Guru sebagai fasilitator harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola proses pembelajaran di kelas dengan menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada awal bulan Desember 2010, proses pembelajaran geografi di SMA Negeri 8 Malang selama ini masih menggunakan model pembelajaran yang kurang bervariasi. Akibatnya nilai rata-rata dari Ulangan Tengah Semester (UTS) ganjil tahun 2010 siswa kelas X-7 sebesar 61,83, sedangkan KKM (kriteria ketuntasan minimum) yang ditetapkan oleh SMA Negeri 8 Malang sebesar 75. Dari kenyataan tersebut terlihat bahwa siswa kelas X-7 SMA Negeri 8 Malang hasil belajarnya masih rendah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan berupa penerapan model pembelajaran Talking Stick. Penelitian ini terdiri atas dua siklus. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas X-7 SMA Negeri 8 Malang dengan jumlah 38 siswa. Instrumen penelitian meliputi instrument tindakan yaitu RPP dan Silabus, lembar observasi, format catatan lapangan, dan tes akhir belajar di setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-7 SMA Negeri 8 Malang. Hasil analisis menunjukkan peningkatan hasil belajar yaitu pada siklus I 68,15 dengan siswa yang tuntas belajar sebanyak 14 siswa dan pada siklus II sebesar 88,02 dengan siswa yang tuntas belajar sebanyak 35 siswa. Hasil belajar tersebut mengalami peningkatan sebesar 19,87. Saran yang diberikan adalah (1) Bagi guru bidang studi dianjurkan agar dapat menerapkan model pembelajaran Talking Stick sebagai alternatif dalam praktek pembelajaran. (2) Bagi siswa agar melatih untuk lebih berani dalam mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari guru (3) Bagi peneliti berikutnya, diharapkan agar melakukan penelitian dengan model pembelajaran Talking Stick yang dipadukan dengan model pembelajaran lain sehingga lebih variasi.

Hubungan antara intensitas menonton iklan televisi dan perilaku konsumsi konsumtif pada remaja / Zahrotul Ulum

 

Kata Kunci: intensitas menonton iklan televisi, perilaku konsumtif, remaja. Televisi merupakan salah satu produk kemajuan teknologi yang secara langsung dapat dilihat di Indonesia. Seseorang bisa mendapatkan informasi dari televisi. Informasi berlebihan yang didapatkan manusia melalui kemajuan teknologi secara langsung maupun tidak langsung akan mengubah kebiasaan dan gaya hidup seseorang dalam jangka waktu yang relatif singkat, yang pada akhirnya dapat menimbulkan pola hidup konsumtif. Pada dasarnya televisi dianggap mampu menyajikan iklan yang dikemas dalam visualisasi yang sangat bagus, sehingga mudah merangsang remaja untuk mencoba menggunakan produk baru ataupun membeli produk tersebut tanpa berpikir panjang mengenai nilai guna dari barang tersebut. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat deskriptif korelasional. Pemilihan responden penelitian menggunakan teknik Purposive Sampling. Penelitian dilakukan pada 130 remaja, yang terdiri dari 22 remaja mewakili Kecamatan Klojen, 36 remaja mewakili kecamatan Lowokwaru, 23 remaja mewakili kecamatan Sukun, 21 remaja mewakili kecamatan Kedung Kandang dan 28 remaja mewakili kecamatan Blimbing. Metode yang digunakan untuk menyusun skala intensitas menonton iklan televisi adalah metode skala Thurstone dengan skor reliabilitas sebesar 0,863. Sedangkan skala perilaku konsumtif disusun berdasarkan metode Likert dengan skor reliabilitas 0,821. Hasil penelitian mengungkap bahwa: (1) sebesar 91,23% atau sebanyak 119 remaja di Kota Malang dikategorikan dalam intensitas menonton iklan televisi yang sedang; (2) sebesar 67,69% atau 88 remaja di Kota Malang dikategorikan dalam perilaku konsumtif sedang; (3) Ada hubungan positif antara intensitas menonon iklan televisi dan perilaku konsumtif remaja dengan hasil uji korelasi product moment rxy = 0,498 ; p < 0,05, dengan R² sebesar 0,248. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa saran dari peneliti, yaitu: (1) disarankan agar remaja mengurangi intensitas menonton iklan televisi, sehingga mereka lebih mampu mengendalikan kecenderungan perilaku konsumtifnya; (2) disarankan agar orang tua mengarahkan kegiatan putra-putrinya dalam mengisi waktu luang, misalnya mendukung mereka untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya; (3) disarankan agar para pendidik memberikan penyuluhan tentang intensitas menonton iklan televisi dan perilaku konsumtif kepada anak didiknya yang notabene berada dalam usia remaja; (4) terkait dengan keterbatasan penelitian ini, diharapkan pada peneliti yang berminta mengkaji permasalahan ini agar menyusun Skala Intensitas Menonton Iklan Televisi sesuai dengan kaidah penyusunan skala Thurstone yang baku.

Pengembangan paket buku pengetahuan popular seni keramik / Annun Maslahah

 

Kata Kunci: Pengembangan, buku pengetahuan popular, seni keramik. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk memberikan alternatif media baca berupa paket buku bacaan popular untuk pengetahuan seni keramik. Buku merupakan media baca utama dalam menyampaikan pesan, baik secara verbal maupun visual. Paket buku pengetahuan popular untuk seni keramik sebagai media baca sehari-hari memberikan kemudahan bagi semua kalangan dalam menambah pengetahuan tentang seni keramik, karena didalam paket buku pengetahuan popolar disamping terdapat tulisan juga terdapat gambar dengan tujuan untuk lebih memperjelas tulisan. Keramik merupakan produk kesenian yang sangat popular bagi sebagian besar orang, hanya saja di Indonesia masih sedikit yang mengetahui produk seni keramik itu sendiri. Oleh karena itu perlu diperkenalkan kesenian keramik kepada semua kalangan khususnya penggemar keramik melalui paket buku pengetahuan popular tersebut. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model pengembangan prosedural, yakni menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Di awali dari studi pustaka, survei lapangan, penyusunan desain produk buku dilanjutkan dengan uji kelayakan dilapangan. Hasil dari pengembangan ini menunjukkan bahwa produk paket buku pengetahuan popular yang dihasilkan memang cukup layak untuk digunakan untuk media baca bagi semua kalangan khususnya penggemar keramik. Bentuk produk pengembangan buku terdiri atas 3 produk buku, yakni buku sejarah seni keramik sebanyak 27 halaman, buku teknik pembuatan keramik sebanyak 26 halaman, serta buku manfaat produk keramik sebanyak 19 halaman dengan warna yang berbeda masing-masing buku, hanya saja didominasi warna coklat. Untuk penjabaran produk setiap buku hasil pengembangan adalah sebagai berikut: (1)sampul depan, (2)dua sampul dalam (3)kata pengantar, (4)daftar isi, (5)bagian dalam atau isi materi buku, (6)sampul belakang. Pengembangan ini merupakan langkah awal dari upaya penulis untuk mengembangkan paket buku popular untuk bahasan tentang seni keramik lainnya. Berdasarkan pengembangan ini, dapat disarankan untuk pengembangan selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan media baca popular tentang seni keramik dengan materi yang berbeda agar seni keramik lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Korelasi antara harga diri dan perilaku asertif siswa sekolah menengah pertama se Kecamatan Bululawang / Novi Ria Santi

 

Kata Kunci: harga diri, perilaku asertif Di kalangan siswa SMP ditemukan fenomena yang erat kaitannya dengan harga diri siswa, diantaranya perilaku membolos, merokok serta melanggar peraturan-peraturan di sekolah dengan alasan untuk menjaga solidaritas. Mereka merasa tidak mampu menolak ajakan itu yang menunjukkan bahwa mereka takut berperilaku asertif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada korelasi antara harga diri dengan perilaku asertif pada siswa Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Bululawang. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif dan korelasional. Sampel penelitian sejumlah 318 orang siswa, diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Alat pengumpul data berupa skala harga diri yang terdiri dari 48 aitem dan skala perilaku asertif yang terdiri dari 38 aitem. Dengan hasil penelitian yaitu: (1) sebagian besar siswa memiliki harga diri yang tinggi atau sehat, (2) sebagian besar siswa sudah mampu berperilaku asertif, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dan perilaku asertif, artinya semakin tinggi harga diri siswa maka akan semakin asertif perilaku siswa, demikian pula sebaliknya. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar (1) kepala sekolah mengagendakan pelatihan pengenalan dan pengembangan diri serta pelatihan asertivitas. Untuk kemudian mendukung pengadaannya dan selanjutnya untuk dievaluasi, (2) guru BK memasukkan bahasan mengenai harga diri dan perilaku asertif pada kurikulum BK. Mendampingi dalam pelatihan pengenalan dan pengembangan diri serta pelatihan asertivitas (role play, pelatihan berbicara di depan umum dan tukar pendapat), (3) guru memberikan reward (bisa berupa pujian atau hadiah) pada siswa dengan harga diri rendah, jika menunjukkan perilaku yang sesuai keinginan guru; menegur siswa yang tampak bingung dengan materi yang diberikan namun malu bertanya; mengadakan diskusi kelompok untuk merangsang siswa berperilaku asertif, (4) bagi peneliti selanjutnya hendaknya mengadakan penelitian yang bersifat kuantitatif seperti studi kasus agar dapat melihat secara lebih mendalam mengenai harga diri yang bagaimana yang mampu meningkatkan perilaku asertif siswa dan melihat kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku asertif pada siswa, (5) psikolog agar mengembangkan pelatihan pengenalan dan pengembangan diri serta pelatihan asertivitas yang sesuai dengan usia remaja.

Hubungan antara kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja pada guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kabupaten Blitar / Rifa Mahbubah

 

Kata Kunci: Kecerdasan Spiritual, Kepuasan Kerja, Guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kabupaten Blitar. Guru MAN sangat berperan dalam mencetak lulusan yang berkualitas. Diharapkan lulusan MAN mampu berfikir cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak sehingga mampu bersaing dalam pendidikan yang lebih tinggi ataupun dalam dunia kerja. Dalam menjalankan tugasnya guru memerlukan kesejahteraan secara psikologis dan materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesejahteraan berhubungan erat dengan kepuasan yang dirasakan. Kepuasan kerja guru berkaitan dengan efektifitas kinerja dan produktivitas dalam bekerja. Kepuasan dianggap sebagai sesuatu yang ukurannya relatif. Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Diperlukan pula kecerdasan untuk menyadari dan memaknai, menentukan nilai, menghayati pentingnya moral serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk, yaitu kecerdasan spiritual. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui (1) tingkat kecerdasan spiritual pada guru MAN Kabupaten blitar (2) tingkat kepuasan kerja pada guru MAN Kabupaten Blitar (3) hubungan antara kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja pada guru MAN Kabupaten Blitar dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang dikembangkan dengan rancangan deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah guru MAN Kabupaten Blitar, sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 guru dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian ini menggunakan dua instrumen (1) skala kecerdasan spiritual dengan reliabilitas 0,920 (2) skala kepuasan kerja dengan reliabilitas 0,864. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Kecerdasan spiritual guru MAN Kabupaten Blitar termasuk dalam kategori sedang, (2) Kepuasan Kerja guru MAN Kabupaten Blitar termasuk dalam kategori sedang, (3) Ada hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja, yaitu sebesar r = 0,655, sig 0,00 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan kerjanya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan tiap guru meningkatkan kualitas kecerdasan spiritualnya sehingga mampu meningkatkan kepuasan kerja. Untuk kepala sekolah untuk memperhatikan kesejahteraan guru yang difokuskan pada kesejahteraan mental, misalnya dengan mengadakan seminar atau pelatihan tentang kecerdasan spiritual pada guru MAN Kabupaten Blitar. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan pada peneliti selanjutnya agar membuat instrumen penelitian kecerdasan spiritual dalam bentuk lain untuk mengatasi kelemahan instrument yang telah digunakan dan agar lebih mampu mengukur kecerdasan spiritual lebih akurat.

Penerapan metode teams games tournament (TGT) pada keterampilan membaca pembelajaran bahasa jerman kelas X-KT SMAN 1 Malang / Devi Ambarwati Puspitasari

 

Kata Kunci: Metode Teams Games Tournamnet (TGT), Keterampilan Membaca Pembelajaran bahasa Jerman terdiri dari empat keterampilan berbahasa, yakni mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 1 Malang, banyak siswa yang mengalami kesulitan, khususnya dalam keterampilan membaca. Kesulitan tersebut salah satunya dikarenakan kurang efektifnya metode pembelajaran yang digunakan. Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode TGT sebagai metode pembelajaran untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode TGT dalam pembelajaran bahasa Jerman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu siswa kelas X-KT SMA Negeri 1 Malang yang berjumlah 30 orang. Data yang dikumpulkan adalah data proses kegiatan pembelajaran dan data hasil kuesioner siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi dan angket. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teknik dan triangulasi metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode TGT dalam pembelajaran bahasa Jerman pada penelitian ini berjalan sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran metode TGT. Selain itu, penerapan metode ini mampu memberikan suasana belajar yang baru dan menyenangkan bagi siswa, serta menjadikan siswa lebih aktiv. Hal itu terlihat saat siswa berlomba menyelesaikan soal-soal yang diberikan dalam turnamen. Sebagian besar siswa berpendapat bahwa metode ini dapat membantu siswa memahami materi pembelajaran bahasa Jerman. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menerapkan metode TGT secara berkelanjutan, sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal. Sebaiknya metode TGT dapat diterapkan pada keterampilan yang lainnya, yaitu mendengar, berbicara, dan menulis. Siswa disarankan untuk selalu hadir dalam pelajaran bahasa Jerman dan lebih banyak berlatih dalam kegiatan membaca. Peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian pada keterampilan berbahasa yang lainnya.

Bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan / Chusnul Chotimah

 

Kata kunci: Bermain Tebak Alat Musik, Kecerdasan Musikal, PAUD Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan, dengan latar belakang adanya kecerdasan musik yang masih rendah, anak didik belum mengetahui nama, menirukan suara maupun mengenal suara alat musik dan terdapat rumusan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimana pembelajaran melalui bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. 2) Apakah melalui bermain tebak alat musik dapat meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) Penerapan pembelajaran melalui bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan 2) Peningkatan kecerdasan musikal anak melalui pembelajaran bermain tebak alat musik di kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dan kuantitatif berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 15 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran, wawancara tentang kesan dan pesan anak, dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan bermain tebak alat musik untuk meningkatkan kecerdasan musikal pada anak kelompok B TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan, dalam mengenalkan alat musik, menirukan suara alat musik sehingga anak dapat menebak suara alat musik, dan dapat meningkatkan kecerdasan musikal anak dengan terbuktinya lembar observasi siklus 1 dengan hasil kegiatan pembelajaran pada kecerdasan musikal anak kelompok B skor nilai kecerdasan musik 72,7 katagori nilai cukup. Pada siklus II hasil observasi pada kecerdasan musikal anak meningkat menjadi skor nilai kecerdasan musikal 90,5 katagori nilai tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan bagi guru untuk menggunakan kegiatan bermain tebak alat musik dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Pembelajaran hendaknya selalu memberi kesempatan kepada anak didik untuk terlibat langsung dalam proses kegiatan pembelajaran bermain tebek alat musik

Efektifitas pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah kelas XI IPS di SMA Laboratorium Universitas Negeri MAlang / Dewi Oktaviani

 

Kata kunci: program remedial, mata pelajaran sejarah, efektifitas Setiap siswa memiliki tingkat penguasaan yeng berbeda-beda, maka akan berbeda juga ketuntasan belajar siswa. Sehingga siswa yang cepat belajarnya maupun yang lambat belajarnya akan mengalami kesulitan belajar sehingga siswa tidak dapat mencapai kriteria ketuntasan yang harus ditempuh dalam satu mata pelajaran. Salah satu solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dan membantu siswa mencapai ketuntasan adalah dengan remedial. Program remedial adalah suatu bentuk pengajaran (sebagai upaya guru) yang bersifat menyembuhkan, membetulkan, atau membuat menjadi lebih baik sistem pengajaran agar tercapai tujuan pembelajaran yang optimal sebagaimana diharapkan. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium UM khususnya remedial pada mata pelajaran sejarah. Kriteria ketuntasan yang ditetapkan sekolah adalah 75 untuk setiap mata pelajaran. Pada mata pelajaran sejarah, siswa mengalami kesulitan dalam menganalisis peristiwa sejarah. Dari hasil ulangan harian jumlah persentase siswa kelas XI IPS yang belum mencapai ketuntasan adalah 18,98%. Sedangkan berdasarkan hasil ujian akhir semester persentase jumlah siswa kelas XI IPS yang belum mencapai ketuntasan adalah 23,36%. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan tiga fokus penelitian yaitu (1) pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (2) efektifitas pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (3) faktor pendukung dan penghambat (intenal dan eksternal) pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (2) mengetahui efektifitas pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, (3) mengetahui faktor pendukung dan penghambat (internal dan eksternal) pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yaitu metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan alat analisisnya menggunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-data yang berbentuk tertulis atau lisan, dan perilaku dari orang yang diamati yaitu peserta didik yang mengikuti remedial dan guru yang melaksanakan remedial, wakasek bagian kurikulum, dan wali kelas XI IPS. Sehingga dalam hal ini peneliti berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan secara menyeluruh tentang keadaan yang sebenarnya ada di lapangan juga berdasarkan data yang peneliti dapatkan di lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan peneliti, (2) ketekunan pengamatan, (3) teknik triangulasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pelaksanaan program remedial mata pelajaran sejarah di SMA Laboratium UM tidak sesuai dengan prosedur remedial yang ada. Setelah pelaksanaan ujian ulang pertama persentase jumlah siswa kelas XI IPS yang telah mencapai ketuntasan adalah 100%. Untuk pelaksanaan ujian ulang ke dua persentase jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan 56,25% dan persentase jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan adalah 43,75%. Untuk membantu siswa mencapai kriteria ketuntasan, guru memberikan patokan nilai kepada siswa yang nilainya belum mencapai kriteria setelah remedial, yaitu 75 untuk ujian ulang pertama dan 50 untuk ujian ulang ke dua. Faktor pendukung internal dan eksternal yaitu remedial merupakan salah satu program semester yang menjadi agenda setiap guru mata pelajaran dan adanya keseriusan dari guru dalam membantu siswa mencapai ketuntasan belajar. Faktor penghambat internal dan eksternal kurangnya pemahaman guru mengenai program remedial dan kurangnya pengawasan oleh pihak sekolah terhadap pelaksanaan remedial. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi kegiatan remedial pada mata pelajaran sejarah di SMA Laboratorium UM, guru hanya melakukan ujian ulang kepada siswa untuk memperbaiki nilai sehingga dapat mencapai ketuntasan. Dari kesimpulan tersebut peneliti menyarankan: (1) pihak sekolah mengadakan pembinaan guru dalam meningkatkan kemampuan guru melaksanakan program remedial; (2) guru diharapkan lebih mengembangkan wawasan mengenai program remedial untuk membantu siswa mengalami kesulitan belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa; (3) pelaksana penelitian berikutnya dapat mengembangkan lebih dalam mengenai program remedial dan kemampuan guru dalam melaksanakan program remedial.

Pengaruh penambahan lapisan bambu balok laminasi dari bahan kayu sengon dan bambu petung terhadap kekakuan dan kekuatan lenturnya / Wiwit Hermawan

 

Kata kunci: bambu petung, kayu sengon, balok laminasi, kuat lentur. Seiring dengan pertambahan penduduk dari tahun ke tahun harga kayu di Indonesia mengalami kenaikan, hal ini menambah beban masyarakat Indonesia yang masih sering menggunakan kayu dalam kesehariannya. Untuk mananggulangi masalah tersebut diperlukan solusi, salah satunya adalah mencari bahan pengganti kayu yaitu balok laminasi. Balok laminasi adalah balok yang terbuat dari 2 bahan atau lebih yang kemudian disatukan dengan suatu perekat(lem).Pada penelitian kali ini bahan yang digunakan adalah bambu petung dan kayu sengon. Pada penelitian terdahulu yang sejenis balok laminasi dengan rasio bambu 50% mengalami kerusakan lentur, yang sebetulnya balok laminasi tersebut masih bisa ditingkatkan lagi kekuatannya dengan melakukan perkuatan lentur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kekakuan dan kekuatan lentur antara balok laminasi tanpa penambahan lapisan bambu petung dengan balok laminasi yang diberi penambahan lapisan bambu petung. Benda uji dalam penelitian ini adalah balok laminasi dari bambu petung dan kayu sengon dengan rasio bambu petung terhadap kayu sengon sebesar 1 : 1, berdiameter 6 cm x 8 cm x 300 cm. Benda uji dibagi menjadi dua, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah balok laminasi tanpa penambahan lapisan bambu sedangkan kelompok eksperimen adalah balok laminasi dengan penambahan lapisan bambu, yang terbuat dari bilah bambu petung. Penelitian dilakukan di Laboratorium Struktur Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, tanggal 23 Agustus 2010 sampai dengan 23 Oktober 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian eksperimen. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap balok laminasi kelompok kontrol dan balok laminasi kelompok eksperimen didapatkan bahwa nilai rerata tegangan lentur maksimum balok laminasi kelompok eksperimen sebesar 134,3 kg/cm2, lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata tegangan lentur maksimum balok laminasi kelompok kontrol sebesar 60,31 kg/cm2. Selisih nilai rerata tegangan lentur maksimum balok eksperimen dengan balok kontrol sebesar 73,99 kg/cm2 atau meningkat sebesar 122,7%. Nilai rerata kekakuan maksimum balok laminasi kelompok eksperimen sebesar 357.004.667,09 kgcm2, lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata kekakuan maksimum balok laminasi kelompok kontrol sebesar 98.180.354,24 kgcm2. Selisih nilai rerata kekakuan maksimum balok eksperimen dengan balok kontrol sebesar 258.125.412,2 kgcm2 atau meningkat sebesar 162,9 %.

Perbandingan kualitas mikrobiologi kacang tolo (Vigna unguiculata) antara yang dijual di beberapa pasar kota MAlang dan di kota Surabaya berdasarkan angka Lempeng total Kapang / Jose De Deus Maya Da Conceicao

 

Kata Kunci: kualitas mikrobiologi, kacang tolo Kacang tolo (Vigna unguiculata) ialah salah satu jenis dari polong-polongan atau biji-bijian yang banyak ditemukan di berbagai daerah tropis dan saat ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk campuran berbagai macam masakan. Jenis kacang tersebut mengandung protein cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati di samping kedelai. Kacang tolo dapat mengalami kerusakan, yang ditandai dengan ciri-ciri antara lain: biji berlubang, keriput atau berserbuk. Berbagai spesies kapang kontaminan dapat mengkontaminasi kacang tolo. Tujuan penelitian ini ialah untuk: 1) Untuk mengetahui Angka Lempeng Total koloni kapang kontaminan per gram sampel kacang tolo yang dijual di pasar di kota Malang dan kota Surabaya ; 2) Untuk mengetahui perbedaan Angka Lempeng Total koloni kapang pada kacang tolo yang dijual di kota Malang dan di kota Surabaya. 3) Untuk mengetahui perbedaan kualitas mikrobiologi kacang tolo dari pasar kota Malang dan Surabaya ditinjau berdasarkan Angka Lempeng Total koloni kapang . Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif observasional, penelitian ini di lakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2011 di Laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel kacang tolo sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1, kemudian suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1% secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3,10-4, 10-5, dan 10-6. Masing-masing perlakuan sampel dari Malang dan Surabaya dilakukan dalam 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium lempeng Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1ml dan diinkubasikan pada suhu 250C selama 724 jam. Selanjutnya dilakukan per-hitungan terhadap jumlah koloni kapang kontaminan yang tumbuh pada medium lempeng CA. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Jumlah Angka Lempeng Total koloni kapang per gram sampel kacang tolo yang dijual di pasar di kota Malang ialah sebanyak 1.99 X 106 cfu/g dan kota Surabaya sebanyak 7.95 X 106 cfu/g, 2) Terdapat perbedaan Angka Lempeng Total koloni kapang pada sampel kacang tolo, yaitu bahwa Angka Lempeng Total koloni kapang dalam biji kacang tolo dari Surabaya lebih tinggi bila dibandingkan dengan Angka Lempeng Total koloni kapang dalam biji kacang tolo dari Malang,3) Kacang tolo yang di jual dari 3 pasar di kota Malang dan 3 pasar di Surabaya sudah tidak layak untuk di konsumsi, ditinjau berdasarkan ketentuan ALT koloni kapang maksimal, dengan merujukan pada ketentuan dari DIRJEN POM nomor HK.00.06.1.52.4011, Tahun 1998.

Kajian tentang daya tahan simpan kue pia berdasarkan kualitas mokrobiologi di tinjau dari angka lempeng total koloni kapang / Yulia Venicreata Dipu

 

Kata kunci : daya tahan simpan, kue pia, kualitas mikrobiologi, Angka Lempeng Total koloni kapang. Kue pia mengandung nutrisi yang diperlukan oleh manusia antara lain protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Kandungan nutrisi tersebut juga diperlukan untuk pertumbuhan yang baik bagi kapang kontaminan. Keberadaan kapang kontaminan ini dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan pada kue pia sehingga menurunkan kualitas kue pia. Kualitas kue pia yang mengalami penurunan dapat mempengaruhi kelayakan konsumsinya. Kelayakan konsumsi kue pia dapat diketahui melalui uji kualitas mikrobiologi berdasarkan Angka Lempeng Total koloni kapang. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh lama waktu penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi kue pia berdasarkan Angka Lempeng Total (ALT) koloni kapang; 2) mengetahui batas waktu simpan kue pia agar layak dikonsumsi berdasarkan Angka Lempeng Total (ALT) koloni kapang. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, pada bulan Januari sampai dengan Maret 2011. Sampel kue pia dengan merk Cap Mangkok yang diperoleh dari toko kue di kota Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Lama penyimpanan kue pia pada penelitian ini yaitu 0 x 24 jam, 1 x 24 jam, 3 x 24 jam, dan 5 x 24 jam. Menurut petunjuk pemeriksaan mikrobiologi makanan dan minuman oleh Depkes RI tahun 2009 dalam Dirjen POM No.HK. 00. 06. 1. 52. 4011. ditetapkan bahwa batas maksimal cemaran kapang dalam tepung dan hasil olahannya ialah 104 cfu/g. Sampel kue pia sebanyak 10 gram dihaluskan lalu dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1 % sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1. Suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0,1 % secara bertahap sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5 dan 10-6. Perlakuan sampel dilakukan dalam 3 ulangan. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran diinokulasikan pada medium Czapek Agar (CA) sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 250C selama 4 x 24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan Angka Lempeng Total (ALT) koloni kapang pada kue pia yang disimpan selama 0 x 24 jam, 1 x 24 jam, 3 x 24 jam, dan 5 x 24 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) makin lama waktu penyimpanan, makin meningkat Angka Lempeng Total koloni kapang pada kue pia, (2) batas waktu penyimpanan kue pia agar tetap layak dikonsumsi berdasarkan standar Angka Lempeng Total koloni kapang ialah 3 x 24 jam. Sedangkan pada masa penyimpanan lebih dari 3 x 24 jam sudah tidak layak lagi dikonsumsi.

Pengembangan e-module materi animasi flash pada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kelas XI R-SMA-BI Negeri 1 Batu / Evy Kamilah Ratnasari

 

Kata kunci: Pengembangan, E-Module, Animasi Flash Perbedaan karakteristik setiap siswa dalam pembelajaran klasikal mengharuskan guru merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan materi. Saat ini media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran TIK belum mempresentasikan kemajuan tekonologi, memberi pengalaman langsung, dan interaktif, serta bukan merupakan rancangan khusus sesuai dengan standar desain pembelajaran kurikulum. Materi Animasi Flash merupakan implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP menuntut siswa aktif dalam proses pembelajaran, yaitu diharuskan melakukan kegiatan belajar terstruktur dan mandiri. Oleh karena itu, dikembangkan media pembelajaran electronic module (e-module) dengan tampilan menarik dan variatif yang dapat digunakan dalam pembelajaran di dalam kelas maupun mandiri di luar kelas. Pengembangan e-module ini diharapkan dapat membantu dalam menciptakan pembelajaran yang mandiri, menarik, dan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kelayakan e-module, serta melihat perbandingan hasil tes siswa sebelum dan sesudah belajar menggunakan e-module. Penelitian ini menggunakan model pengembangan menurut Sadiman yang dimodifikasi pada tahap validasi. Modifikasi yang dilakukan yaitu sebelum validasi dilakukan implementasi naskah untuk mempermudah mendapatkan data. Model ini dipilih karena prosedural dan menitikberatkan pada masalah media pendidikan formal. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket untuk menilai media dan tes untuk mengetahui pemahaman siswa. Skor angket dihitung persentase dari skor jawaban setiap item dan dianalisis. Sedangkan hasil tes dihitung gain antara pre-test dan post-test. Subjek uji coba pada penelitian ini terdiri dari ahli media, ahli materi dan calon pengguna (siswa). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, media secara keseluruhan dikatakan layak dan tidak perlu revisi dengan persentase rata-rata sebesar 88,57%. Rata-rata tersebut diperoleh dari ahli materi sebesar 86,11%, ahli media sebesar 97,45%, dan siswa sebesar 82,15 %. Media e-module juga telah dapat meningkatkan pemahaman siswa. Hal ini dapat dilihat dari gain rata-rata hasil pre-test dan post-test siswa sebesar 0,63 dan dikategorikan sedang. Dengan hasil tersebut maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: (1) Media e-module telah dikembangkan dengan baik berdasarkan model pengembangan Sadiman dengan persentase validitas sebesar 88,57%; (2) Media e-module telah layak digunakan sebagai media pembelajaran berdasarkan proses validasi dengan perolehan persentase sebesar 88,57%; (3) Media e-module sesuai dengan gaya belajar siswa; dan (4) Media e-module dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa dengan rata-rata gain sebesar 0,63.

Pengaruh strategi pembelajaran think pair share dipadu reciprocal teaching dan kemampuan akademik yang berbeda terhadap hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kreatif pada siswa SMA Negeri 1 Batu dan SMA Negeri 1 Grati / Wiratamasari Sarwinda

 

Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Aloysisus Duran Corebima, M.Pd; (II) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D. Kata Kunci: Think Pair Share, Reciprocal Teaching, Kemampuan Akademik, Hasil Belajar Kognitif, Keterampilan Berpikir Kreatif. Kualitas pendidikan di Indonesia semakin menurun. Salah satu indikator kualitas pendidikan dapat dilihat dari hasil belajar kognitif. Hasil belajar kognitif di Indonesia masih tergolong rendah. Hasil penelitian berbagai lembaga misalnya PBB dan International Institute of Management Development menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal dibanding Negara-Negara ASEAN lainnya. Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai dengan yang kita harapkan, serta memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, tentu saja dibutuhkan suatu perubahan di dalam sistem pengajaran yang ada saat ini. Guru masih menggunakan paradigma lama dalam proses KBM yaitu strategi pembelajaran konvensional. Strategi ini cenderung berpusat pada guru (teacher centered) sehingga belum mengoptimalkan keterampilan berpikir kreatif, dan juga keheterogenitasan kemampuan akademik siswa, oleh sebab itu diperlukan suatu inovasi strategi pembelajaran yang dapat membantu memecahkan masalah tersebut. Strategi pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Reciprocal Teaching (RT) sangat cocok digunakan untuk menjawab permasalahan di atas. Kedua strategi ini sangat cocok digunakan karena strategi ini merupakan pembelajaran cooperative yang dapat memberdayakan adanya heterogenitas kemampuan akademik siswa (Slavin, 2010). Penggabungan Strategi pembelajaran TPS dan Strategi pembelajaran RT mempunyai potensi yang besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama dalam mata pelajaran Biologi di SMA, karena perpaduan kedua strategi ini memberikan peluang kepada siswa untuk dapat meningkatkan hasil belajar kognitif, memberdayakan keterampilan berpikir kreatif dan juga memberdayakan heterogenitas kemampuan akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) apakah ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif siswa; (2) apakah ada pengaruh kemampuan akademik yang berbeda terhadap kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif siswa; (3) apakah ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan kemampuan akademik yang berbeda terhadap keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar kognitif siswa. Metode penelitian: (1) penelitian pengembangan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran; dan (2) penelitian quasi eksperimen untuk mengetahui pengaruh penerapan perangkat pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kreatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Batu dan SMA Negeri 1 Grati. Sampel penelitiannya adalah siswa kelas X4 (RT), X7 (konvensional), X9 (TPS), X3 (RT+TPS) SMA Negeri 1 Batu, dan siswa kelas X2 (RT), X7 (TPS+RT), X3 (konvensional), X8 (TPS) SMA Negeri 1 Grati.. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes untuk mendapatkan data skor hasil belajar kognitif dan keterampilan berpikir kreatif. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis kovarian (anakova). Analisis data menggunakan fasilitas SPSS 16.0 for windows. Pengujian hipotesis pengaruh perlakuan terhadap hasil belajar kognitif menunjukkan bahwa ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif, dengan F-hitung sebesar 24689, nilai signifikansi 0.000, nilai ini lebih kecil dari alpha 0.05. Hasil uji LSD menunjukkan bahwa strategi pembelajaran RT memberikan pengaruh yang berbeda dibandingkan dengan strategi yang lainnya. Kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa, dari data hasil perhitungan, nilai F-hitung sebesar 0.956, nilai signifikansinya 0.330, nilai ini lebih besar dari alpha 0.05. Interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik menunjukkan nilai F-hitung sebesar 3.236 dan nilai signifikansinya 0.024, nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 0.05 sehingga dapat disimpulkan interaksi ini berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif. Dari hasil uji LSD didapatkan bahwa strategi pembelajaran RT kemampuan akademik rendah memberikan perbedaan dibandingkandengan yang lainnya. Pengujian hipotesis pengaruh perlakuan terhadap keterampilan berpikir kreatif menujukkan bahwa strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif. Nilai signifikansi 0.000 lebih kecil dari nilai alpha 0.05. Hasil uji LSD menunjukkan bahwa strategi pembelajaran TPS+RT memberikan perbedaan yang signifikan dibanding strategi yang lainnya. kemampuan akademik berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif dengan nilai signifikansi lebih kecil dari nilai alpha 0.05. Sementara itu interaksi strategi pembelajaran dan kemapuan akademik tidak berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif. Nilai signifikansinya 0,360, lebih besar dari nilai alpha 0,05. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: (1) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif siswa (2) tidak ada pengaruh kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif siswa. (3) ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif siswa. (4) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. (5) ada pengaruh kemampuan akdemik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. (6) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Saran bagi guru dan peneliti berikutnya adalah: (1) Bagi pihak sekolah, dosen, mahasiswa sebagai calon pendidik hendaknya dapat menerapkan strategi pembelajaran TPS, RT, TPS+RT dan berbagai inovasi pembelajaran yang lainnya serta dapat mengembangkan inovasi pembelajaran yang lain supaya terdapat variasi dalam mengajar dan mendapatkan hasil belajar kognitif, dan keterampilan berpikir kreatif yang lebih baik (2) Untuk menerapkan strategi pembelajaran TPS, RT, TPS+RT ditingkat SMA, guru sebaiknya menguasai dengan baik langkah-langkah pembelajaran tersebut (3) kondisi kelas pada saat pelaksanaan penerapan strategi pembelajaran yang telah dirancang harus kondusif dan memungkinkan siswa untuk belajar dengan nyaman sehingga memberikan hasil yang optimal.

Pengaruh penerapan metode quantum learning dengan strategi team teaching untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada kompetensi dasar membuat program aplikasi berbasis desktop dengan visual basic 6.0 bagi siswa kelas X RPL di SMK Negeri 6 Malang / Diafrahma

 

Kata kunci:Quantum Learning , Team Teaching, Prestasi Belajar Proses pembelajaran yang dilaksakan di kelas X RPL SMK Negeri 6 Malang selama ini masih dilaksanakan dengan menggunakan metode konvensional. Metode ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu pembelajaran yang hanya terpusat pada guru saja, sehingga pembelajaran hanya terjadi searah saja dan membuat siswa menjadi tidak aktif, kreatif, dan cepat bosan. Selain itu, kondisi jumlah siswa di SMK Negeri 6 Malang yang rata-rata mencapat 40 siswa per kelasnya membuat suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif, kelas sulit dikuasai, dan siswa tidak dapat menyerap pelajaran secara maksimal. Standart nilai minimal dalam pelajaran Pemrograman Visual Basic di SMK Negeri 6 Malang adalah 7.00, namun dari hasil prestasi belajar siswa yang berhasil direkam selama ini, masih sangat banyak siswa yang belum mencapai standart nilai minimum. Karena itulah diperlukan perubahan pada metode dan strategi mengajar, agar pembelajaran berjalan menyenangkan, menarik, kondusif dan terarah. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa diterapkanlah metode Quantum Learning dengan strategi Team Teaching. Penerapan metode pembelajaran ini, siswa akan lebih aktif, kreatif dan belajar dengan suasana menyenangkan. Penelitian ini dilakukan pada semester 2 tahun ajaran 2010/2011 dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi ekperimental design) tipe Nonrandomized Pre-test Post-test Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X RPL SMK Negeri 6 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 240 siswa yang terbagi menjadi 6 kelas. Data penelitan diambil dari siswa X RPL 4 dan X RPL 5 berupa data nilai terakhir dan prestasi belajar yang terdiri dari ranah afektif dan kognitif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai prestasi belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol sebesar 7,56 poin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Learning dengan strategi Team Teaching dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi membuat program aplikasi berbasis desktop dengan Microsoft Visual Basic 6.0. Besarnya pengaruh metode Quantum Learning dengan strategi Team Teaching terhadap prestasi belajar siswa pada materi membuat program aplikasi berbasis desktop dengan Microsoft Visual Basic 6.0 adalah 0,679 atau 67,9% dan sisanya terdapat factor dari luar.

Pengolahan manisan buah kering berbahan dasar buah murbei / Eka Styananda Ayu Putria

 

Kata kunci : Murbei, Manisan Kering, Uji Hedonik Buah murbei merupakan buah yang digemari oleh berbagai kalangan tetapi mudah busuk karena mempunyai kadar air yang tinggi dan pemanfaatannya masih terbatas. Pengolahan menjadi manisan dapat memperpanjang daya simpan. Pembuatan produk ini dilakukan guna mengetahui kesukaan konsumen tarhadap warna, rasa dan tekstur manisan murbei kering. Formulasi resep pada pembuatan manisan murbei kering menggunakan konsentrasi gula sebanyak 25% dan 50%. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan gula pasir sebesar 25% kurang manis dan 50% manis, maka formulasi resep yang digunakan adalah penggunaan konsentrasi gula sebesar 50% dari jumlah bahan. Teknik pengeringan yang dilakukan pada manisan murbei kering adalah penjemuran (sun drying). Untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap manisan yang berbahan dasar buah murbei, dilakukan uji hedonik. Pengambilan data uji hedonik diperoleh dari 90 orang responden yang terdiri dari anak-anak, remaja dan dewasa. Data dihitung menggunakan perhitungan persentase. Dari hasil uji kesukaan, responden yang menyukai warna manisan murbei kering sebanyak 82,27%, rasa 74,4%, dan tekstur 64,5%. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi gula pada proses penggulaan adalah 50% dari jumlah bahan. Teknik pengeringan yang dilakukan adalah penjemuran (sun drying). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa responden yang menyukai warna manisan murbei kering sebanyak 82,27%, rasa 74,4%, dan tekstur 64,5%. Saran yang dapat disampaikan menjadikan produk manisan murbei kering sebagai peluang berwirausaha dan menjadikan inovasi produk olahan buah murbei.

Hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat pendapatan orang tua dengan kepedulian pada pendidikan anak usia dini di Kelurahan Cemoro Kandang, Kec. Kedung Kandang / Yuyun Marhaenistria

 

Kata kunci: Pendidikan, Pendapatan, dan Kepedulian Secara Teoritik dikatakan bahwa ada hubungan antara Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini. Akan tetapi sering ditemukan fakta bila anak kurang mendapat perhatian Orang Tua, utamanya dalam hal Pendidikan anak ketika masih usia dini. Biasanya Hal ini terkait dengan rendahnya Pendidikan Orang tua dan Rendahnya Tingkat Pendapatan Keluarga. Untuk itu Penelitian ini ingin menjawab masalah tentang : 1) Apakah ada hubungan antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini. 2) Apakah ada hubungan antara Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Anak Usia Dini. 3) Apakah ada hubungan antara Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedilian pada Pendidikan Anak Usia Dini. Metode Pendekatan yang digunakan adalah Kuantitatif Korelasional, sedangkan Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia dini dengan rentang usia 0–6 th dan berada di wilayah Kelurahan Cemoro Kandang, yang jumlah keseluruhanya ada 868 orang, diambil 10%. Dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Proportional random sampling, sehingga jumlah sampel diperoleh 86 responden. Metode Analisis Data yang digunakan adalah Analisis Deskriptif Prosentase untuk mengungkap seberapa besar Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dan Tingkat Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini. Dan untuk menguji hubungan lebih dari dua variabel digunakan Uji Hipotesis Asosiatif dengan menggunakan rumus Asosiatif Regresi berganda, dan Uji F digunakan untuk pengujian Signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda . Hasil dari Analisis yang diperoleh melalui penyebaran kuisioner menunjukan bahwa Tingkat Pendidikan Orang Tua yang Memiliki Anak Usia Dini di Kelurahan Cemoro Kandang termasuk dalam kriteria rendah yaitu 44,2% (38 dari 86), dan Tingkat Pendapatan dalam kriteria sangat rendah yaitu 77,9% (67 dari 86) karena mempunyai pendapatan perkapita dibawah Upah Minimum Kota Malang yaitu sebesar Rp 1.225.000, Sedangkan Tingkat Kepedulian Orang Tua pada PendidikanAnak Usia Dini dalam kriteria sangat tinggi yaitu 86,0% (74 dari 86). Dari hasil Uji Korelasi terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini, i yang ditunjukan dengan nilai r hitung > r tabel yaitu: 0,485 > 0,207, Ada hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini yang ditunjukan dengan nilai r hitung > r tabel yaitu: 0,0337 > 0,0,207, ada hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pendapatan yang ditunjukan nilai r hitung > r tabel, yaitu: 0,0310 > 0,0207, dan juga terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Orang Tua dengan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini yang ditunjukan dengan r hitung > r tabel, yaitu: 0,521 > 0,0207. Kesimpulan yang dapat diambil dari Penelitian ini adalah Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan Orang Tua yang memiliki anak usia dini dengan rentang usia 0–6 th yang berada di wilayah Kelurahan Cemoro Kandang, Kecamatan Kedung Kandang tergolong rendah, sedangkan Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini termasuk dalam kriteria tinggi. Hal ini berarti bahwa meskipun Tingkat Pendidikan Orang Tua rendah dan Tingkat Pendapatan Orang Tua yang berada di wilayah Kelurahan sangat rendah, akan tetapi Tingkat Kepedulianya pada Pendidikan Anak Usia Dini sangat tinggi. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapat oleh peneliti adalah: Variabel Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pendapatan Orang Tua ada hubungan yang signifikan terhadap Kepedulian pada Pendidikan Anak Usia Dini, namun demikian kesadaran akan pentingnya Pendidikan bagi anak sejak anak usia dini tetap harus ditingkatkan, antara lain dengan mensosialisasikan kepada para orang tua yang memiiliki anak usia dini secara periodik dan berkesinambungan.

Pengaruh keterampilan proses terhadap hasil belajar pembelajaran berbasis proyek (project based learning) pada mata pelajaran KKPI di SMK Cendika Bangsa Malang / Anggi Maritza Rindani

 

Kata Kunci: PBL, Keterampilan Proses, hasil belajar. Proses pembelajaran KKPI di SMK Cendika Bangsa Malang memerlukan adanya inovasi metode pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar. Pada hasil observasi awal proses pembelajaran KKPI di kelas X, ditemukan permasalahan rendahnya kegiatan berkelompok yang cenderung hanya menyelesaikan tugas sehingga menyebabkan rendahnya keterampilan proses siswa di kelas. Hal ini terlihat dari kegiatan belajar kelompok dikelas dimana dalam kegiatan tersebut siswa berbicara sendiri dengan teman sekelompoknya dan tugas yang diberikan guru cenderung dikerjakan oleh sebagian anggota kelompok. Sedangkan siswa yang lain menunggu dan mencontoh jawaban dari teman sekelompoknya atau mencari jawaban lain tanpa memahami tugas yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran PBL merupakan pendekatan pemecahan masalah yang menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa dalam mengoperasikan software presentasi. Dengan pembelajaran tersebut diharapkan siswa akan lebih aktif dan hasil belajar dapat tercapai. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan Ekperimen Semu dengan pendekatan kuantitatif. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas X gabungan A SMK Cendika Bangsa Malang yang berjumlah 27 siswa. Instrumen penelitian ini yaitu instrumen perlakuan dan pengukuran. Instrumen perlakuan berupa perangkat pembelajaran. Instrumen pengukuran berupa lembar observasi afektif, lembar observasi keterampilan proses, lembar observasi proyek, dan tes tertulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh dari keterampilan proses siswa terhadap hasil belajar penerapan pembelajaran PBL pada kompetensi dasar mengoperasikan software presentasi. Nilai rata-rata pencapaian hasil belajar meningkat sebesar 80,43 dari rata-rata kemampuan awal sebesar 27,94. Pencapaian rata-rata persentase keterampilan proses siswa pun meningkat dari 59% menjadi 80%. Peningkatan keterampilan proses siswa ini termasuk dalam kriteria Baik.

Perbedaan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu / Marcelyna Shitara

 

Kata Kunci: konsep diri, urutan kelahiran, anak sulung, anak bungsu Konsep diri adalah pandangan dan sikap seseorang tentang seluruh aspek dalam dirinya sendiri yang meliputi diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan diri moral berdasarkan persepsi, pikiran dan keyakinan individu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang, menggunakan purposive sampling maka sampel yang digunakan adalah 50 mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak sulung dan 50 mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak bungsu. Instrumen penelitian menggunakan skala konsep diri dengan 64 item. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan komparatif. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean pada mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak sulung sebesar 198,46 dengan rincian 31 mahasiswa (62%) memiliki konsep diri positif dan 19 mahasiswa (38%) memiliki konsep diri negatif. Skor mean pada mahasiswa Universitas Negeri Malang pada urutan kelahiran anak bungsu sebesar 183,58 dan dengan rincian 34 mahasiswa (68%) memiliki konsep diri negatif, 16 mahasiswa (32%) memiliki konsep diri negatif. Berdasarkan analisis komparatif diperoleh hasil t-hitung = 4,511 signifikansi 0,000 < 0,05 maka terdapat perbedaan konsep diri ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu dimana anak sulung memiliki konsep diri positif dan anak bungsu memiliki konsep diri negatif. Dengan mengetahui perbedaan konsep ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung dan anak bungsu maka disarankan bagi orang tua untuk tidak membandingkan kemampuan masing-masing anak dan memberikan porsi perhatian dan ambisi yang sama pada setiap anak. Mahasiswa diharapkan dapat aktif dalam organisasi untuk mengasah interaksi sosialnya, melatih diri belajar dalam persaingan sehat dalam suatu organisasi dan dapat bertukar pendapat secara sportif dan mampu mengembangkan perasaan dihargai dan menghargai orang lain.Bagi peneliti selanjutnya diharapkan tidak hanya melakukan penelitian dengan metode kuantitatif namun juga dengan metode kualitatif agar hasil penelitian yang diperoleh lebih mendalam.

Pengembangan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA / Ismayanti

 

Kata Kunci: media pembelajaran, apresiasi puisi, multimedia interaktif Pada umumnya, pembelajaran apresiasi puisi dilakukan secara monoton dan kurang menarik. Siswa tidak diajak menjelajahi dan menggauli keagungan nilai dalam puisi, tetapi sekedar membaca dan mengaji puisi dari permukaannya saja. Media yang digunakan dalam pembelajaran berupa buku teks. Media yang digunakan kurang bervariasi sehingga siswa kurang termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Melihat kenyataan zaman sekarang, teknologi semakin canggih. Bahkan, hampir semua siswa SMA memiliki laptop sebagai pengganti buku dan alat tulis. Oleh karena itu, hendaknya para pendidik berupaya menyesuaikan teknik dan media pembelajaran dengan situasi yang semakin berkembang ini. Multimedia pembelajaran dipandang mampu menjawab masalah tersebut. Dengan bantuan multimedia yang dijalankan perangkat komputer, pembelajaran akan lebih menarik, efektif, dan efisien mengingat multimedia memberikan sumbangan yang besar dalam pembelajaran. Pembelajaran yang menarik, efektif, dan efisien akan memberikan hasil yang maksimal. Pengembangan ini adalah upaya untuk mengembangkan sebuah produk yaitu media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif. adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengembangkan isi media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA, (2) mengetahui tingkat kelayakan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA, dan (3) mengetahui tingkat kemenarikan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif pada siswa SMA. Pengembangan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interakti merupakan penelitian prosedural, yaitu memiliki langkah-langkah prosedur dalam membuat produk. Adapun langkah-langkah yang ditempuh peneliti dalam mengembangkan produk yaitu (1) analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) merumuskan tujuan instruksional, (3) pengembangan materi pelajaran, (4) pengembangan alat evaluasi, (5) penyusunan naskah, (6) produksi, (7) evaluasi dan revisi media. Materi yang disajikan dalam media ini yaitu materi tentang struktur fisik puisi yang meliputi definisi puisi dan apresiasi, identifikasi struktur fisik puisi, dan contoh analisis. Disertakan pula video pembacaan puisi dan biografi beberapa sastrawan dan penyair Indonesia. Materi dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan dan rumusan tujuan instruksional. Uji coba produk melibatkan 3 responden yaitu ahli materi dan praktisi, ahli media, dan siswa. Uji coba lapangan dilaksanakan secara nonformal. Hal ini dikarenakan faktor waktu yang kurang mendukung, yakni pada saat peneliti melakukan uji coba lapangan, sekolah sedang libur kenaikan kelas. Oleh karena itu, peneliti mengambil 15 siswa SMA sebagai responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini yaitu angket dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh merupakan data kuantitatif yang dianalisis menggunakan persentase dan data kualitatif yang berupa deskripsi dan komentar dari para ahli dan siswa sebagai responden. Hasil validasi kelayakan dan kemenarikan media pada uji coba pertama yaitu uji ahli materi diperoleh skor 97,56%. Uji coba yang kedua yaitu uji ahli media. Dalam uji coba ini produk media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif memperoleh skor 89,4%. Uji coba yang terakhir yaitu uji coba lapangan. Dari hasil uji coba lapangan terhadap siswa, diperoleh skor 96,49%. Produk pengembangan media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif ini secara keseluruhan memiliki rata-rata nilai 94,48% setelah divalidasi oleh ahli materi dan praktisi, ahli media, dan siswa dalam uji coba lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan menarik dan layak digunakan dalam pembelajaran apresiasi puisi di SMA. Produk yang dihasilkan adalah media pembelajaran apresiasi puisi berbasis multimedia interaktif yang dikemas dalam Compact Disc (CD). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilaksanakan uji coba secara berulang-ulang pada subjek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada guru Bahasa Indonesia di SMA untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran apresiasi puisi.

Perbedaan kemampuan memilih prosedur problem solving antara mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi dan mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi / Nur Faiza Shofiyana

 

Kata kunci : problem solving, aktif organisasi, tidak aktif organisasi. Masa mahasiswa adalah masa yang penuh dengan masalah. Problem solving merupakan suatu proses untuk menemukan suatu solusi atau jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik melalui proses berpikir yang terarah secara langsung dimana proses ini bertujuan untuk memperoleh pemecahan yang ideal atau kepuasan. Dalam proses pemecahan masalah ini terdapat tahapan-tahapan untuk mencapai solusi yang efektif. Pengalaman masa lalu sangat penting dan berpengaruh dalam problem solving. Salah satu cara untuk memperkaya pengalaman kita adalah dengan mengikuti organisasi. Di dalam organisasi mahasiswa dilatih untuk menghadapi dan memecahkan banyak masalah. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana kemampuan memilih prosedur problem solving pada mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi?, (2) bagaimana kemampuan memilih prosedur problem solving pada mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi?, (3) apakah ada perbedaan kemampuan memilih prosedur problem solving antara mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi dan mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi?. Desain penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Penelitian dilakukan di Universitas Negeri Malang dengan subyek penelitian berjumlah 90 mahasiswa, dimana 43 mahasiswa aktif mengikuti organisasi dan 47 mahasiswa tidak aktif mengikuti organisasi. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan memilih prosedur problem solving yang dikembangkan oleh penulis. Uji coba instrumen dilaksanakan pada 36 mahasiswa yang terdiri dari 18 mahasiswa aktif mengikuti organisasi dan 18 mahasiswa tidak aktif mengikuti organisasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis Uji-t dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi yang memiliki kemampuan memilih prosedur problem solving tinggi sebanyak 28 orang (65,12%), dan kategori rendah sebanyak 15 orang (34,88%). (2) Mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi sebanyak 22 orang (46,81%) memiliki kemampuan memilih prosedur problem solving tinggi, sedangkan sisanya 25 orang (53,19%) berada pada kategori rendah. (3) ada perbedaan kemampuan memilih prosedur problem solving antara mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi dan mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi, dengan hasil Uji-t = 2,466, p = 0,016 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitan tersebut, disarankan bagi pihak universitas untuk mengadakan program-program yang dapat lebih memotivasi mahasiswa untuk aktif mengikuti organisasi dan lebih melengkapi referensi mengenai teori problem solving di perpustakaannya. Bagi mahasiswa yang sudah aktif mengikuti organisasi untuk tetap mempertahankan keaktifannya dalam berorganisasi dan terus belajar dalam meningkatkan kemampuan memilih prosedur problem solving yang dimilikinya, sedangkan untuk mahasiswa yang tidak aktif mengikuti organisasi disarankan untuk mencari wadah agar bisa mengadakan latihan dalam memecahkan masalah dengan lebih baik. Bagi peneliti selanjutnya agar mengadakan penelitian tidak terbatas pada keaktifan berorganisasi mahasiswa saja, melainkan bisa juga ditinjau dari jenis kelamin, usia, dan lain sebagainya.

Pengembangan lembar kerja peserta didik (LKPD) kontekstual pada materi balok dan kubus untuk SMP Negeri 1 Bangil / Ria Amalia

 

Tesis Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Mulyati, M. Pd, (2) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata Kunci: Pengembangan, Lembar Kerja Peserta Didik, Kontekstual Belajar dan mengajar kontekstual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang beracuan pada pandangan konstruktivisme. Dalam penerapannya belajar dan mengajar kontekstual menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, serta pengumpulan, penganalisisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan. Oleh karena itu, belajar dan mengajar kontekstual diambil sebagai alternatif mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik. Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah proses dan hasil pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik yang Kontekstual pada Materi Balok dan Kubus untuk SMP Negeri 1 Bangil yang valid, praktis dan efektif”. Sejalan dengan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh Lembar Kerja Peserta Didik yang Kontekstual pada Materi Balok dan Kubus untuk SMP Negeri 1 Bangil dengan kriteria valid, praktis dan efektif. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan ADDIE. Model tersebut terdiri dari lima fase yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Untuk mendeteksi ketercapaian kriteria yang telah ditetapkan, maka dilakukan validasi pakar/ahli dan uji coba terbatas terhadap produk. Instrumen yang digunakan yaitu lembar validasi, lembar observasi, tes, dan angket. Seluruh instrumen divalidasi oleh pakar/ahli. Hasil validasi menunjukkan bahwa lembar validasi, lembar observasi, tes, dan angket telah memenuhi syarat. Menurut ketiga validator, perangkat RPP dan LKPD yang disusun telah memenuhi kriteria valid. Subjek pengembangan LembarKerja Peserta Didik (LKPD) ini adalah peserta didik kelas VIII-B dan VIII-C di SMP Negeri 1 Bangil. Uji coba yang dilakukan terhadap subjek pengembangan terdiri dari uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Uji coba dilakukan untuk mengetahui ketercapaian kriteria yaitu kepraktisan dan keefektifan. Hasil uji coba kelompok kecil yaitu (1) peserta didik dapat menyelesaikan seluruh aktivitas dalam LKPD dalam kurun waktu kurang lebih 40 menit, (2) peserta didik melakukan aktivitas dengan antusias karena masalah yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dan (3) terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan peserta didik mengenai maksud dari kalimat dalam LKPD. Kepraktisan LKPD diamati melalui pedoman observasi keterlaksanaan LKPD dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil uji coba lapangan mengenai observasi keterlaksanaan LKPD diperoleh skor rata-rata seluruh aspek yaitu 2.34 dari skor tertinggi 3 maka dapat disimpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan memiliki tingkat kepraktisan yang tinggi. Keefektifan LKPD diamati melalui beberapa indikator yaitu (1) Hasil tes materi balok dan kubus, (2) angket dan (3) pedoman observasi aktivitas peserta didik. Berdasarkan uji coba lapangan yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu sebanyak 81.8% peserta didik telah menguasai materi balok dan kubus, 93.5% peserta didik memberikan respon yang positif mengenai penggunaan LKPD dalam pembelajaran serta peserta didik tergolong aktif dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat disimpulkan LKPD efektif untuk digunakan dalam pembelajaran.

Improving the quality in writing descriptive texts of Madrasah Aliyah students through directed writing activity strategy / Binti Suaidah Hanur

 

Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D, (2) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D. Key words: the quality in writing, descriptive texts, the directed writing activity strategy This study was intended to improve the first year students’ quality in writing a descriptive text at MA Ar-Rahmah through the Directed Writing Activity strategy. Due to the fact that most Madrasah Aliyah students: (1) did not know how to write a word since the way in pronouncing it is different from its spelling; (2) were not used to writing in English although they have learned grammar; (3) were rarely asked to do a writing task because writing is not tested in National Examination (UN). The design of this study was action research which consists of 4 stages, namely planning the action, implementing and observing the action, and reflecting on the action. The subjects of this study were class X-C in the 2010-2011 academic year consisting 31 students. There were 3 instruments used to collect the data needed, i.e. fieldnotes, portfolio, a scoring guide, and questionnaire. The criteria of success of this study were (1) all students participated in the teaching and learning process, (2) all students got score of equal to or more than 3 in each aspect of writing. The result of the preliminary that was conducted on January 14, 2011 showed that most of the students often made mistakes in grammar, spelling, capitalization, punctuation, and the choice of words. In addition, their paragraph organizations were very poor; only a few of their work that could be understood and acceptable. The findings of the study indicated that in Cycle 1, the study did not meet the criteria of success. Concerning the first criterion, it was only 99% students who followed the teaching and learning process. One student was absent since the first meeting. In connection with the second crietrion, 18 students (58.06%) had achieved a score of equal to or more than 3 and the rest, 13 students (41.94%) got scores below 3. Because the first cycle did not meet the criteria of success, so the researcher carried out the second cycle. Concerning the first criterion. All students (100%) participated in the teaching and learning process. In addition to the second criterion, all students got score equal to even greater than 3 in each aspect of writing. Based on the findings above, it can be concluded that the directed writing activity strategy has been successful in improving the quality in writing descriptive texts of Madrasah Aliyah students. Then, it was suggested to the English teachers to apply the strategy in the teaching and learning writing of other genres and provide students with the internationaly standardized dictionary. The future researchers are suggested to conduct the research to other language subject matters at MA/SMA level

Implementing writing process strategy with pictures to improve the ability of the eighth grade students of MTs. Assa'adah II Bungah Gresik in writing recount text / Moh. Akhnan Arifin

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching. State University of Malang. Advisors: (I) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D., (II) Prof. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Key Words: Pictures, Writing skill, Recount text Writing skill has important role in the English teaching program in Junior High School (SMP/MTs). It is one of the four language skills that must be learnt by students of SMP/MTs. However, the ability of the eighth grade students of MTs. Assa’adah II Bungah Gresik in writing is still dissatisfactory. The students feel still difficulties how to start writing and they don’t have idea to write. This research is intended to improve the writing recount text of the eighth grade students of MTs Assa’adah II Bungah Gresik by implementing writing process strategy with pictures. This strategy is chosen since it can lead the students to generate their ideas into a composition. Pictures usually take in the past events or last experiences and pictures certainly can assist the students to recall in details about events, place, time, situation and people. A picture is source of thousands words because one picture can express the students something, even has chronological events behind it. To achieve the purpose, the researcher conducted the action research which was done in the classroom, following four steps: planning, implementing, observing, and reflecting. The subject of the study were 31 students of the eighth grade of MTs. Assa’adah II Bungah Gresik in 2010/2011 academic year. This research was conducted in two cycles. The first and second cycle included four meetings. The data of the research were taken from writing test, rating scale, field note, and scoring rubric. The results of the research showed that the proper procedures taken in implementing writing process strategy with pictures included the following steps: First, displaying the students some pictures of the topic. Second, grouping the students into small groups consisting of five or six students based on their friendship. Third, distributing the worksheets with the pictures and the pictures must be in color, and in different activities. Forth, giving a model of how to generate their ideas by writing the keywords and the characteristics of recount text. Fifth, encouraging the students’ ideas to write on the rough draft based on the ideas they gathered and they might open the dictionary. Sixth, assigning the students to write the first paragraph based on the generic structure of recount text. Seventh, assigning them to discuss their first paragraph with their friends and the teacher. Eighth, asking them to exchange their draft to other groups, do peer-editing and check the content, organization, language use, vocabulary and mechanics. Ninth, assigning the students to revise the draft based on their friends’ feedbacks and teacher. Tenth, asking them to publish, and stick on the whiteboard. Eleventh, assigning them to submit their final draft. Furthermore, the findings of the research showed that implementing writing process strategy with pictures has improved the writing skill of students of the eighth grade of MTs. Assa’adah II Bungah Gresik in writing recount texts. In cycle one, upper average score was 16 students and under average score was 15 students. In cycle two, upper average score for final product was 25 students and under average score was 6 students. Also, the findings of students revealed that the students’ participation were active and motivated by implementing writing process strategy with pictures in the teaching and learning activities. Based on the results above, it can be summerized that implementing writing process strategy with pictures is very beneficial not only in improving the students’ writing skill but also in motivating the students in the learning activities. Therefore, it is recommended that the English teachers implement writing process strategy with pictures in the teaching of writing skill especially in recount text since it is meaningful in the context of providing the students how to start their writing and have ideas to write. In the last, for the next researchers, particularly those who have the same problems and are interested in doing the research, it is suggested that they implement this strategy in the teaching of recount text since recount text is one of the text types should be taught to the students of MTs. However, in the carrying out, the teacher should do in meeting more frequently and provide clear guidance so that the achievement of the students’ writing skill is further especially for the lower students.

The problems of teaching english at SDN Kedungdoro IV in Surabaya / Mohammad Faisal

 

Thesis, English Language Teaching, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Key words: Elementary school, English for young learners, the teaching of English This study is aimed at describing the problems of teaching English to the fourth to sixth graders of SD Negeri Kedungdoro IV-Surabaya especially concerning syllabus, process of teaching English, materials, English teaching media, assessment, and English teacher’s roles. The study employed descriptive-qualitative research design. The data were collected by using a number of instruments: (1) questionnaire, (2) interview (guideline), (3) documents, and (4) class observation. At first, the obtained data were analyzed by using frequency counted system to observe percentage. Then, the data were interpreted by using descriptive analysis to extract meaning and insight from the data. Generally, the finding showed that the problems of teaching English to the fourth to sixth graders of SD Negeri Kedungdoro IV-Surabaya in the academic year of 2009/2010 were related to syllabus, process of teaching English, materials, English teaching media, kinds of assessment, and teacher’s roles. Moreover, the elaboration of the findings is as follow: (1) the teacher did not develop her own syllabus based on the students’ (local) need, (2) process of teaching English in the school did not meet the particular needs of children in learning English as a foreign language, (3) materials used in the school were limited as books, teacher’s notes in board, and photocopiers, (4) the teacher did not use any kind of media, except herself and board, (5) kinds of assessment used were simply as daily exercises, class assignment, homework, midterm test, final test, and observation, (6) the teacher took her role merely as controller, informant, and evaluator. From the findings, it is suggested that (1) for the teacher who misunderstood the term syllabus, she needed to be recommended to follow English for young learners’ workshop, seminar, or elementary school teacher’s meeting discussion in order to have clear understanding of what syllabus is. Accordingly, the teacher will have the knowledge of developing syllabus, (2) to have a process of teaching English which meet the particular needs of children, the teacher not only encouraged the students to have good score in the exam, but also needed to get along with the students, (3) related to materials used, the teacher was suggested that she not only depend on books, her notes in the board, and photocopiers; but also to vary the materials or use more alternative materials, (4) in order to make the students become more interested in learning English, the teacher was suggested to use various media related to the instructional objectives which are stated in the syllabus, (5) for the teacher who assess her students using non-authentic assessment, she should be motivated to gain knowledge about the recent issues of assessment, (6) related to English teacher’s roles, the teacher was supposed to improve her characteristics of teaching as teacher of young learners. Besides, the school principal is suggested to give more attention and action towards the implementation of teaching English. Coordination between the principal and the English teacher should be made in order to get better result of teaching situation, such as arranging English extra curricular, facilitating the students with English bulletin board, giving short and continual tutorial of English daily conversation to teachers colleague, etc.

Hubungan manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, dan motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru pada SMK Negeri di Malang Raya / Joko Santoso

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata Kunci : manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, kinerja guru Pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia salah satunya dilaksanakan dengan peningkatan sumberdaya manusia, khususnya kinerja guru. Berkaitan dengan kinerja guru, peningkatannya dilakukan melalui banyak cara, diantaranya dengan meningkatkan motivasi guru, melalui pemenuhan atas kebutuhan guru dalam menjalankan tugasnya, dengan meningkatkan kesejahteraannya, dan mengusahakan adanya kenyamanan bekerja. Oleh karena itu untuk guru-guru SMK Negeri di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu atau Malang Raya, perlu dikaji dan diteliti tentang kondisi guru terhadap aspek-aspek yang diduga dapat meningkatkan kinerja guru, yaitu: manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kinerja guru, serta perlu diteliti apakah terdapat hubungan antar aspek-aspek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimanakan persepsi guru terhadap kondisi manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kinerja guru pada SMK Negeri di Malang Raya. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung antara variabel manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, dan motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru pada SMK Negeri di Malang Raya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan model survey yang menggunakan angket sebagai intrumen penelitian. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan 550 guru-guru yang sudah bersertifikat profesi pendidik sampai dengan tahun 2010. Dari jumlah populasi 550 orang guru tersebut, diambil sampel 213 orang guru dengan menggunakan teknik random. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner dengan pengukuran menggunakan skala Likert yang termodifikasi, untuk menjaring data lima variabel, yaitu: (1) manajemen sarana dan prasarana sekolah, (2) dampak sertifikasi guru, (3) iklim sekolah, (4) motivasi berprestasi guru, dan (5) kinerja guru. Analisis data dilakukan dengan pemodelan persamaan struktural (SEM) dan menggunakan Software AMOS 18.0. Dari hasil analisis data, diperoleh hasil penelitian berupa deskripsi kondisi variable-variabel: manajemen sarana dan prasarana sekolah berada pada kategori tinggi, dampak sertifikasi guru berada pada kategori tinggi, iklim sekolah berada pada kategori tinggi, motivasi berprestasi guru berada pada kategori tinggi, dan kinerja guru juga berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur model hubungan antar variabel tidak terbukti secara empiris karena hubungan variabel dampak sertifikasi dengan kinerja guru tidak signifikan. Temuan penelitian terkait dengan hubungan langsung antar variabel adalah: (1) terdapat hubungan yang signifikan antara variabel manajemen sarana dan prasarana sekolah dengan motivasi berprestasi guru, yang berarti makin baik pengelolaan sarana dan prasarana sekolah akan semakin meningkatkan motivasi berprestasi guru, (2) terdapat hubungan yang signifikan antara dampak sertifikasi guru dengan motivasi berprestasi guru, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan motivasi berprestasi guru, yang berarti iklim sekolah yang baik akan meningkatkan motivasi berprestasi guru (4) terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen sarana dan prasarana sekolah dengan kinerja guru, (5) tidak terdapat terdapat hubungan yang signifikan antara dampak sertifikasi guru dengan kinerja guru, yang berarti bahwa dampak sertifikasi tidak secara langsung mempengaruhi kinerja guru, (6) terdapat hubungan yang signifikan antara iklim sekolah dengan kinerja guru, dan (7) terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi guru dengan kinerja guru. Terkait dengan hubungan tidak langsung antar variabel, diperoleh temuan: (1) terdapat hubungan secara tidak langsung yang signifikan antara manajemen sarana dan prasarana sekolah dengan kinerja guru melalui motivasi berprestasi guru, (2) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara dampak sertifikasi guru dengan kinerja guru melalui motivasi berprestasi guru, dan (3) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan antara variabel iklim sekolah dengan kinerja guru melalui motivasi berprestasi guru, bagi guru-guru pada SMK Negeri di Malang Raya. Hasil penelitian ini memiliki implikasi teoretis dalam memberikan kejelasan dalam memperkuat teori-teori yang telah dipergunakan sebagai dasar pengajuan model penelitian ini. Sebagian besar hubungan variabel yang diteliti mendukung teori yang telah dikembangkan peneliti-peneliti terdahulu, dan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan, khususnya terkait dengan guru. Hasil penelitian ini memberikan implikasi secara praktis terhadap upaya peningkatan kinerja guru, dalam kaitanya dengan manajemen sarana dan prasarana sekolah, dampak sertifikasi guru, iklim sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kinerja guru bagi guru-guru SMK Negeri di Malang Raya. Terkait dengan hasil penelitian ini, diberikan saran-saran kepada beberapa pihak, yaitu: (1) untuk pemerintah pusat, disarankan agar dapat membuat program pengembangan dan peningkatan motivasi guru melalui kegiatan-kegiatan antara lain pelatihan pendidikan karakter, karena temuan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan langsung antara dampak sertifikasi guru dengan kinerja guru, melainkan harus melalui motivasi berprestasi guru, (2) untuk Dinas Pendidikan kota/kabupaten agar program pembinaan guru difokuskan pada aspek yang terkait manajemen sarana dan prasarana sekolah, iklim sekolah dan motivasi guru, (3) untuk kepala sekolah dan guru agar dapat menjadikan temuan ini sebagai acuan dalam meningkatkan kinerja guru, dan (4) untuk para teoretisi manajemen pendidikan dan peneliti lebih lanjut agar dapat menjadikan temuan penelitian ini sebagai pelengkap rujukan dalam mengembangkan pendidikan dan dalam mengadakan penelitian lebih lanjut.

Potensi genistein pada sistem repruduksi mencit (Mus musculus) sebagai penyususnan bahan ajar fisiologi reproduksi / Cicilia Novi Primiani

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Umie Lestari, M.Si dan (II) Dr. agr. Mohamad Amin, M.Si. Kata kunci: genistein, sistem reproduksi jantan Usaha untuk mendapatkan sarana kontrasepsi pria sebenarnya telah banyak dilakukan dengan memanfaatkan bahan alami yang berasal dari tanaman. Salah satunya adalah tanaman famili Leguminoceae yang mengandung derivat senyawa genistein. Genistein sebagai salah satu senyawa derivat isoflavon mempuyai struktur kimia mirip dengan 17β-estradiol yang bersifat seperti hormon steroid estrogen, yang mampu menyebabkan kerusakan pada sel germinal dalam tubulus seminiferus testis, merupakan salah satu indikator digunakannya genistein sebagai senyawa antifertilitas. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji pengaruh genistein terhadap sistem reproduksi mencit jantan (Mus musculus), 2) memanfaatkan hasil penelitian pengaruh genistein terhadap sistem reproduksi mencit jantan (Mus musculus) sebagai bahan untuk menyusun bahan ajar mata kuliah fisiologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimental, yang rancangannya mengikuti Rancangan Acak Kelompok. Variabel bebas adalah dosis genistein 0 mg/g, 0,0035 mg/g, 0,0042 mg/g, dan 0,0049 mg/g. Variabel terikatnya adalah sel-sel germinal dalam tubulus seminiferus testis, morfologi spermatozoa, viabilitas spermatozoa, dan kadar hormon testosteron. Data kadar hormon testosteron dan sel-sel germinal dalam tubulus seminiferus testis yang didapat, dianalisis menggunakan Analisis Varians Satu Jalan (One Way ANOVA) dengan tingkat signifikansi 5%. Selanjutnya dilakukan uji Post Hoc untuk mengetahui perbandingan perbedaan antara kelompok. Uji Post Hoc yang digunakan adalah uji Least Significant Difference (LSD) 5%. Data morfologi dan viabilitas spermatozoa dinyatakan dalam prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh genistein pada sistem reproduksi mencit (Mus musculus). Genistein yang diberikan dengan dosis 0,0035 mg/g; 0,0042 mg/g; dan 0,0049 mg/g berpengaruh terhadap jumlah sel germinal dalam tubulus seminiferus testis, morfologi dan viabilitas spermatozoa. Kadar hormon testosteron berbeda nyata pada dosis 0,0049 mg/g. Berdasarkan hasil penelitian ini dan kajian pustaka yang relevan, disusun sebuah bahan ajar yang berupa modul bagi mahasiswa pada mata kuliah Fisiologi pokok bahasan sistem reproduksi.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model picture and picture pada siswa kelas IV SDN Sutojayan 04 Kabupaten Blitar / Tri Cahyo Wulandari

 

Kata kunci: keterampilan menulis, narasi, model picture and picture Keterampilan menulis narasi di kelas IV SDN Sutojayan 04 Kabupaten Blitar kurang memuaskan, yaitu hanya terdapat 2 siswa dari jumlah total 10 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Hal ini dikarenakan guru menggunakan metode konvensional yang membuat siswa menjadi bosan dan pembelajaran kurang menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model picture and picture dalam keterampilan menulis narasi dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui model picture and picture. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian setelah menggunakan model picture and picture, aktivitas siswa dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat sebesar 30%, yaitu dari 40% menjadi 70%. Ketuntasan keterampilan menulis narasi siswa dari pratindakan ke siklus 1 meningkat sebesar 10%, yaitu dari 20% menjadi 30%. Dari siklus 1 ke siklus 2 meningkat 60%, yaitu 30% menjadi 90%. Pada akhir siklus 2 terdapat 1 siswa yang belum tuntas, karena siswa tersebut mengalami keterlambatan belajar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model picture and picture dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi.

Efektivitas pembelajaran pratik komputer di SMP kota Mojokerto / Kurnia Laili Rahmawati

 

Kata Kunci : Efektivitas pembelajaran, Pembelajaran TIK Belajar mengajar merupakan suatu proses yang tidak terlepas dari komponen-komponen yang saling berinteraksi di dalamnya. Segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektiv. Suatu kegiatan dikatakan efektiv bila kegiatan itu dapat diselesaikan pada waktu yang tepat dan mencapai tujuan yang diinginkan. Efektivitas menekankan pada perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai. Oleh karena itu, efektivitas pembelajaran sering kali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajaran, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola situasi. Pembelajaran yang efektif adalah belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik, melalui pemakaian prosedur yang tepat. Latihan atau praktik yang dilakukan dalam kondisi-kondisi tertentu (yang baik) adalah penting untuk mencapai tujuan dan untuk meningkatkan pekerjaan (performance) dalam kebanyakan bidang studi. Agar latihan atau praktik tersebut berlangsung dengan efektiv, guru dapat memberikan hubungan keseluruhan bagian, lamanya waktu latihan, pengetahuan tentang kemajuan, dan kondisi-kondisi lain yang membantu Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keefektivitasan pembelajaran praktik komputer dilihat dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru TIK di SMP Kota Mojokerto. Berdasarkan metode penelitian yang dilakukan peneliti yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Praktik Komputer di SMP Kota Mojokerto” ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah efektivitas pembelajaran praktik komputer di SMP Kota Mojokerto. Sub variabel dalam penelitian adalah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru TIK SMP Kota Mojokerto. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) pelaksanaan pembelajaran pada pembelajaran TIK di SMP Kota Mojokerto ditinjau dari segi perencanaan pembelajaran tergolong cenderung sangat tinggi, (2) pelaksanaan pembelajaran pada pembelajaran TIK di SMP Kota Mojokerto ditinjau dari segi pelaksanaan pembelajaran cenderung tinggi, dan (3) pelaksanaan pembelajaran TIK di SMP Kota Mojokerto ditinjau dari segi evaluasi pembelajaran tergolong sedang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan : (1) bagi sekolah agar menunjang kebrhasilan PBM, (2) bagi guru agar memperhatikan pembelajaran TIK, (3) bagi siswa dapat memperhatikan dan mendukung jalannya pembelajaran, dan (4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperhatikan jumlah populasi.

Gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik berdasaarkan multiple intelligences / Abdul Halim Fathani

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata kunci: multiple intelligences, gaya belajar, masalah matematik Kecerdasan menduduki tempat yang sangat penting dalam dunia pendidikan, namun seringkali kecerdasan ini dipahami secara parsial oleh sebagian kaum pendidik. Hakikatnya, kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu ia menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Gardner menyatakan ada delapan kecerdasan dalam teori multiple intelligences, yaitu kecerdasan linguistik, matematik, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Penelitian ini difokuskan untuk mendeskripsikan dan menganalisis gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik ditinjau dari tingkat kecenderungan multiple intelligences. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen lembar tugas yang digunakan merupakan salah satu contoh masalah matematik yang diambil dari buku berjudul “Problem Solving – A Basic Mathematics Goal: Becoming a Better Problem Solver” yang diterbitkan oleh Ohio Department of Education, Columbus, Tahun 1980. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXB Madrasah Tsanawiyah Negeri Kepanjen Malang yang memiliki tingkat kecenderungan kecerdasan matematik dan linguistik yang ditentukan berdasarkan hasil multiple intelligences research (MIR). Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik. Tetapi, pada tahap-tahap tertentu ada siswa yang menggunakan dua kombinasi gaya belajar (visual–kinestetik dan visual–auditorial), dan ada siswa yang hanya menggunakan gaya belajar secara visual. Secara umum, siswa memiliki kecenderungan tertinggi dalam menyelesaikan masalah matematik dengan menggunakan gaya belajar visual. Dengan demikian, ketika guru melayani siswa sesuai dengan gaya belajarnya yang didasarkan atas tingkat kecenderungan multiple intelligences, maka dia akan mampu meningkatkan gairah belajar siswa dan pemahaman terhadap materi, sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah sampai tuntas. Selain itu, siswa menjadi sadar akan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah matematik, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan refleksi untuk terus memacu semangat belajarnya menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan gaya belajar siswa dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memberi ruang gerak bagi setiap individu siswa untuk mengembangkan kecerdasannya.

Using short-dialogue memorization technique to improve the seventh graders' speaking skill at SMPN 17 malang / Vice Melodiana

 

Key words: short-dialogue memorization, speaking skill, classroom action research This study was intended to improve the seventh graders’ speaking skill in performing the dialogue of asking and giving opinion by using short dialogue memorization technique. Based on the result of the preliminary study, grade VII-E students of SMP Negeri 17 Malang had some problems with their speaking skill, i.e. lack of confidence to speak up in class and tended to be passive to do the speaking activity. Their speaking performance mark was below 65, the standard minimum of learning mastery in the school. Besides, the students were not fully active during the teaching and learning process. They showed a lot of hesitation in their speaking. Many of the students also made grammatical errors in their speaking. The study was a classroom action research, conducted in two cycles, each of which consists of four steps, namely planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects of the study were 39 students of Grade VII-E of SMPN 17 Malang. The instruments used to collect the data are observation checklists, field notes, interview guide, tests, and questionnaire. In implementing the short-dialogue memorization technique, several steps are made. The steps are : (1) instructing students to sit with their pair, (2) giving the best model to the students to pronounce the dialogue, (3) asking the students to examine the dialogue whether they do not know some words in the dialogue, (4) giving a chance to the students to memorize the dialogues for several minutes, (5) after memorizing the dialogue, the students are appointed by the teacher to come to the front of the class to perform the dialogue, (6) giving feedback or comment to the students of their performance. From the analysis of the teaching and learning process and the students’ speaking performance in the second cycle, it was found that the implementation of the short-dialogue memorization technique gives satisfactory results on the improvement of the students’ speaking performance especially in using the expression of asking and giving opinion. In oral speaking test, there were 90% out of 36 students who reached the criteria of success. 26 students out of 36 students (67%) had score 9.5 in which they were in “good” category, 6 students out of 36 students (33%) had score 12 in which they were in “very good” category, and 3 students out of 36 students (8%) had score 15 in which they were in “excellent” category. In the teaching and learning activity, there were 75% of the students were highly motivated in the activity of speaking. The students were actively involved during the teaching and learning process. The students were more confident, fluent, and accurate in speaking. Finally the researcher believed that this research will be beneficial for English teachers since it is a meaningful technique to teach speaking. This study was also useful for the future researcher as a resource or reference to explore this technique for teaching speaking.

Analisis pengaruh biaya produksi terhadap laba pada pabrik gula mojopanggoong Tulungagung / Ida Hermawati

 

Kata Kunci: Biaya Produksi, Laba Bersih Tujuan utama dari setiap kegiatan bisnis perusahaan adalah untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menekan biaya sekecil-kecilnya (profit oriented). Laba merupakan sumber utama perusahaan untuk menjaga kelangsungan hidupnya, hal ini sesuai dengan konsep “going concern” yang beranggapan perusahaan didirikan untuk hidup terus-menerus dan seolah-olah tidak akan berhenti. Oleh karena itu perusahaan harus dapat mengawasi dan mengendalikan biaya produksi, karena biaya produksi sangat penting untuk perusahaan agar dapat terus bertahan. Jika perusahaan bias mengatasi dan menekan biaya produksi seminimal mungkin maka perusahaan akan dapat mengoptimalkan laba. Dari uraian diatas, penulis ingin mencoba menganalisis apakah biaya produksi berpengaruh terhadap laba pada Pabrik Gula Modjopanggoong Tulungagung. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh biaya produksi terhadap laba bersih pada Pabrik Gula Modjopanggoong Tulungagung. Metode pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah 1) melihat perkembangan biaya produksi pada PG Modjopanggoong, 2) melihat perkembangan laba bersih usaha pada PG Modjopanggoong, 3) menganalisis pengaruh biaya produksi terhadap laba bersih usaha pada PG Modjopanggoong. Hasil pembahasan dalam penelitian ini adalah biaya produksi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap laba bersih dan pengaruhnya sebesar 99,7%, sisanya 0,3% dipengaruhi oleh factor lain yang tidak diteliti, seperti biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi mempunyai pengaruh negativ terhadap laba bersih, artinya semakin meningkat biaya produksi maka akan semakin menurun laba bersih yang diperoleh atau sebaliknya.

Prototype mesin cardboard packer dengan kendali PLC untuk membentuk kotak kardus industri kecil / Yoyon Septyan Yulianto

 

Kata Kunci: pembentuk kotak kardus, operator, kendali PLC. Programmable logic Controller merupakan bagian tak terpisahkan dari proses otomasi. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu :alamat, instruksi, dan operand. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah : (1) merencanakan dan membuat alat pengisi pembentuk kotak kardus dengan kendali PLC, (2) Merakit prototive mesin cardboard pecker menggunakan kendali PLC untuk membentuk kotak kardus. (3) merencanakan pengaturan dan penempatan sensor pembatas pada prototipe sehingga mendorong kotak kardus sebagai mana fungsinya. Metode perancangan meliputi : (1) perancangan pengaturan sensor pembatas, (2) perancangan sistem kontrol (hardware), (3) perancangan program (software). Prinsip kerja dari sistem kontrol ini adalah pengaturan pendorong kotak kardus agar terbetuk kotak. Pendorong kotak kardus menggunakan program dari programmable logic controller. Hasil dari analisis tersebut antara lain: (1) relay 1,3,5,7 menggerakan motor DC putar kanan, (2) relay 2,4,6,8 menggerakan motor DC putar kiri (3) motor menggerakkan pendorong kotak kardus yang akan mendorong kardus dengan program programmable logic controller yang telah dibuat dan dikontrol oleh sensor pembatas. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan : (1) untuk mengatur putaran motor DC terdapat relay-relay penggerak motor putar kanan dan kiri pakan sesuai kebutuhan digunakan programmable logic controller, (2) setting hardware dan software menggunakan sensor pembatas, rangkaian driver motor dan pendorong kotak kardus yang diolah oleh programmable logic controller (3) untuk membatasi gerak pendorong kotak kardus maka dipasang sensor pembatas

Supervisi pengajaran berwawasan spiritual di sekolah dasar (Studi multisitus pada SDK Ursulin, SDK Yasukel dan SDN kota Ratu di Kabupaten Kelimutu) / Natsir B. Kotten

 

Kata kunci: supervisi pengajaran, wawasan spiritual, sekolah dasar Supervisi pengajaran berwawasan spiritual adalah supervisi oleh supervi-sor yang memiliki perilaku membangun karakter berdasarkan kemampuannya mengelola kecerdasan spiritualnya dengan berlandaskan pada nilai-nilai religius, dan etika sosial keagamaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan: (1) program supervisi pengajaran yang disusun oleh supervisor yang berwawasan spiritual, (2) teknik supervisi pengajaran berwawasan spiritual, (3) pendekatan supervisi pengajaran berwawasan spiritual, dan (4) sikap dan perilaku guru terhadap pelaksanaan super-visi pengajaran oleh supervisor yang berwawasan spiritual. Penelitian ini menggunakan rancangan studi multisitus dengan metode komparatif konstan. Lokasi penelitian di SDK Ursulin, SDK Yasukel, dan SDN Kota Ratu. Informan dalam penelitian ini adalah pada kepala sekolah dan Guru. Teknik pengumpulan data menggunakan (1) wawancara mendalam, (2) peng-amatan peranserta, dan (3) studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dua tahap, yaitu (1) analisis data situs individu, dan (2) analisis data lintas situs. Pengecekan keabsahan data melalui (1) triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pe-ngumpulan data, (2) pengecekan anggota, dan (3) diskusi sejawat serta arahan Dosen Pembimbing. Temuan penelitian menunjukan bahwa: (1) program supervisi pengajaran yang disusun oleh supervisor yang berwawasan spiritual, disusun secara bersama dan bekerjasama dengan melibatkan guru dalam suatu tim kerja. Kerjasama dan kebersamaan tersebut dibangun dengan berlandaskan pada: visi misi, kreatif, inspiratif, bijaksana dan peduli pada orang lain, dan dibangun dengan nilai-nilai relegius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdas-an jiwa), yaitu: sosok dan perilaku yang ramah dan akrab, arif dan bijak, toleran, humanis, dan berwibawa; (2) teknik supervisi pengajaran berwawasan spiritual, dibangun dengan berlandaskan pada nuansa kebersamaan dan kekeluargaan, dan dibangun dengan nilai-nilai relegius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluharan nurani (kecerdasan jiwa), yaitu mengedepankan doa sebagai sumber kekuatan, motivasi, sikap arif dan bijak, toleran dan humanis, serta sikap ramah dan akrab; (3) pendekatan supervisi pengajaran berwawasan spiritual, dibangun dengan berlandaskan pada motivasi sebagai wujud dari sikap memberikan bim-bingan dan penguatan, membangun semangat kerja, memiliki komitmen, dedikasi, enerjik, dan menjunjung tinggi etika dan wibawa akademik (norma). Pendekatan tersebut juga dibangun dengan berlandaskan nilai-nilai relegius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdasan jiwa), yaitu sosok dan perilaku yang ramah dan akrab, humanis, bersahaja, memiliki keteguhan dan kasih sayang, serta menjaga keutuhan sebagai wujud dari sikap memupuk keber-samaan dalam nuansa kekeluargaan dan rasa persaudaraan; (4) sikap dan perilaku guru terhadap pelaksanaan supervisi oleh supervisor yang berwawasan spiritual, dibangun dengan berlandaskan pada persepsi dan motivasi yang positif, yaitu kepemimpinannya sangat baik, sangat tepat, sesuai, sangat senang, dan sangat menguntungkan. Di samping itu, membangun semangat kebersamaan dan kerja-sama yang baik, membangun relasi yang dilandasi pada keterbukaan dan sema-ngat persaudaraan, dan kekeluargaan, serta dibangun dengan berlandaskan pada nilai-nilai religius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdasan jiwa), yaitu pembinaan dan pelayanan yang mengutamakan: doa, sebagai sumber kekuatan, sikap ramah dan akrab, sikap teguh dan kasih sayang, sikap arif dan bijak, sikap toleran, sikap humanis, berwibawa, dan bersahaja, serta menjaga keutuhan. Berdasarkan temuan-temuan penelitian di atas, disarankan kepada (1) pihak Dinas PPO Kabupaten Kelimutu untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatih-an (Diklat) kepada para kepala sekolah atau calon kepala sekolah tentang Mana-jemen Supervisi Pengajaran Berwawasan Spiritual, sebagai sentuhan penting bagi penanaman nilai-nilai kerja, sebagai fondasi untuk memfungsikan kekuatan inte-lektual dan emosional, memberi motivasi dan produktivitas kerja atas dasar ibadah, dan mengantarkan manusia pada ketenangan diri sejati, (2) bagi kepala sekolah disarankan agar memiliki pemahaman akan konsep dasar supervisi, hubungan timbal balik, dan keterampilan teknis dan non teknik yang berkaitan dengan peran wawasan spiritual atau nilai-nilai religius yang didasarkan pada kearifan spiritual atau keluhuran nurani (kecerdasan jiwa) dalam pembinaan dan pelayanannya, (3) bagi para guru disarankan bahwa pelaksanaan supervisi peng-ajaran berwawasan spiritual, yang berkaitan dengan pemberian bantuan yang bercorak palayanan dan bimbingan profesional telah dilakukan, namun keber-hasilannya sangat tergantung pada tekad dan kemauan guru itu sendiri untuk meningkatkan diri atau tidak. Sehubungan dengan itu, kepada guru-guru disaran-kan agar dapat memanfaatkan kesempatan serta peluang yang dibuat itu untuk meningkatkan motivasi dan disiplin diri terutama motivasi berprestasi, (4) bagi peneliti lain disarankan bahwa pelaksanaan supervisi pengajaran yang berwa-wasan spiritual, dapat memperbaiki kualitas mengajar, meningkatkan kinerja, dan menumbuhkan sikap profesional guru. Agar dapat mengungkap lebih jauh me-ngenai supervisi pengajaran yang berwawasan spiritual, sebaiknya dilakukan pe-nelitian lebih lanjut pada sekolah-sekolah lainnya. Apabila hendak diadakan penelitian lebih lanjut, maka disarankan supaya dilaksanakan pada beberapa situs.

The use dialogue journal to improve the writing ability of the first year students of SMK Negeri 1 Singosari / Nurul Husna

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd Key words: dialogue journal, improve, writing ability. This study is conducted in order to answer the research problem, “How can Dialogue Journal improve writing ability of the first year students of SMK Negeri 1 Singosari?” This strategy is chosen due to its strengths in encouraging students to be more actively involved in the teaching of writing and in helping students to reduce the worry to write in English so that students’ motivation and ability to write might improve. To answer the research problem, Collaborative Action Research is conducted following the four stages, planning, implementing, observing and reflecting. This study was implemented in one cycle. The Cycle 1 consisted of nine sessions. The subjects of this study are the students of Ototronik Program 3 SMK Negeri 1 Singosari 2010 – 2011 which consists of 32 students. In this study, the students were assigned to write two times in a week in their journal. Their journals were handed in on Monday and they were returned to the students on Wednesday after being responded and the students submitted the next entry on Saturday. The instruments used to collect data are observation sheet, questionnaire, field notes, students’ journal entries and writing test. The results show that dialogue journals obviously can improve the students’ ability in writing sentences, paragraphs. It has been observed that the improvements are caused by the regular writing practice done by the students and the teacher’s response given to their writing. It becomes a sort of on – going dialogue. It also develops a personal relationship between the teacher and each of his students. The improvements can be examined from two points of views: process and product. In the form of process, the students’ attitude improves from time to time as reflected from the results of observation and their answers in the questionnaire. First, the students are actively involved during the writing activities. Second, the students are highly enthusiastic in studying English, especially in writing. Third, the students can write journals freely. The last, the improvements can be also examined from the number of topics and the average number of sentences and paragraphs. In the first entry, they write in 11 topics while in the last three entries, it improves to be 49 topics. In addition, the amounts of the sentences improve in conjunction with the improvement of the average of paragraphs produced from the first entry to the next entry. In the first entry, the average of sentences in one entry is 10.1 while in the sixth entry, it improves to be 14.6. The average of the paragraphs that the students write in the first entry is 1.1 while in the sixth entry, it improves to be 1.4. Meanwhile, in the form of product, it is found that there were only 5 students (17.8%) whose score is 75 but in the post test, it became 75% (21 students) out of 30 subjects. The score has met the criteria of success of product of this study that is greater than or equal to 75. Finally, on the basis of the findings, some suggestions for the English teachers and the future researchers are made. First, since the dialogue journal is a kind of informal writing, we have to focus on the content of their writing rather than on the students’ mechanical errors. However, if we want to develop the quality of their writing, we may do a kind of non – instructive correction without interrupting the communication or distracting from the meaning. In this case, the teacher can serve as a model of correct English usage in the response given. To sum up, the students’ journal entries can also be used by the teacher as a reflection to identify the students’ weaknesses in using the language, so the teacher can plan the lesson and exercises focusing on the language use in the teaching and learning process.

Keterlibatan komite sekolah dalam pelaksanaan program sekolah di SDN Gunungrejo 01 Singosari Malang / Ika Puspitasari

 

Kata Kunci: keterlibatan, komite sekolah, program sekolah Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah. Komite sekolah merupakan penyempurnaan dan perluasan badan kemitraan dan komunikasi antara sekolah dengan masyarakat. Komite sekolah bentuk organisasi sebagai bagian dari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dan mempunyai kewenangan untuk mengelola dirinya sendiri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui keterlibatan komite sekolah dalam pelaksanaan program sekolah, faktor pendukung dan penghambat komite sekolah untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah di SDN Gunungrejo 01 Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif studi kasus tunggal. Data penelitian berupa paparan peran komite sekolah di SDN Gunungrejo 01 Singosari, serta faktor pendukung dan penghambat komite sekolah yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu berupa instrumen kunci yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari mereduksi data, display data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut: komite sekolah terlibat secara langsung dalam menjalankan program sekolah, peran komite sekolah meliputi: peran pendukung (Supporting) komite sekolah berperan dalam memberikan motivasi dukungan baik berupa tenaga dan pemikiran; peran pengontrol (Monitoring) komite sekolah meminta penjelasan kepada sekolah tentang hasil belajar siswa, serta mengawasi keadaan lingkungan sekolah; peran penghubung (Mediator), komite sekolah dengan sekolah bekerjasama dalam mengadakan kegiatan/pertemuan yang bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi antara sekolah dengan masyarakat; serta peran pemberi pertimbangan (Advisory) komite sekolah berperan dengan memberikan masukan dan pertimbangan dalam menyusun RAKS, memberikan masukan dan pertimbangan pada saat rehab gedung, dan mengusulkan siswa yang kurang mampu untuk diberi keringanan biaya atau pembebasan biaya sekolah. Faktor pendukung sekolah untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah diantaranya: dukungan dari semua warga sekolah (mulai dari komite sekolah, masyarakat dan sekolah), rasa kekeluargaan yang tinggi masing-masing warga sekolah, suasana kerja organisasi yang kondusif, baik organisasi komite sekolah maupun organisasi sekolah itu sendiri. Sedangkan faktor penghambat komite sekolah untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan program sekolah diantaranya: persamaan profesi anggota komite sekolah, yang menyebabkan tidak berjalannya paguyupan kelas dan penghambat lainnya yaitu keterbatasan dana masyarakat, sehingga dalam penyelenggaraan pendidikan pihak sekolah sedikit mengalami hambatan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada kepala sekolah, komite sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan partisipasi dalam membantu pelaksanaan program sekolah dan senantiasa menjalankan peran, serta meningkatkan kerjasama dengan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dan meningkatkan mutu sekolah.

Penerapan model arias (Assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di SMPN 2 Asembagus / Novi Prayekti

 

Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. (II) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si Kata kunci: Model ARIAS, Motivasi Belajar, pembelajaran Matematika. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) secara rinci mengelompokkan matematika SMP dan MTs dalam 13 standar kompetensi yang tercakup pada 4 (empat) aspek matematika yaitu, Bilangan, Geometri dan Pengukuran, Peluang dan Statistika, Aljabar. Berdasarkan pengamatan peneliti dan wawancara dengan guru matematika di SMPN 2 Asembagus, peneliti menyimpulkan bahwa ketidaktuntasan siswa dalam mempelajari matematika salah satunya disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar siswa. Penelitian ini sebagai alternatif untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penerapan model ARIAS. Model ARIAS dipilih untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika dengan harapan dapat meningkatkan motivasi belajar matematika, dikarenakan model ARIAS mempunyai karakteristik menonjol yang diperkirakan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) motivasi siswa berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus kedua, pada siklus 1 hanya ada satu pertemuan dari empat pertemuan yang mengalami peningkatan motivasi siswa, sedangkan pada siklus 2 keseluruhan pertemuan pada siklus tersebut mengalami peningkatan motivasi. (2) motivasi siswa berdasarkan angket motivasi siswa mengalami peningkatan. Jika pada akhir siklus pertama mengalami peningkatan sebesar 0,09 dari hasil angket petama, pada akhir siklus 2 mengalami peningkatan 0,16 dari hasil angket pertama dan berada dalam kriteria motivasi tinggi. (3) Rata-rata kelas hasil uji kompetensi 1 adalah 77,12 dan 82% siswa dinyatakan tuntas, sedangkan rata-rata kelas hasil uji kompetensi 2 adalah 74,39 dan 97% siswa dinyatakan tuntas. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model ARIAS dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar siswa di SMP Negeri 2 Asembagus. Beberapa saran yang peneliti berikan diantaranya adalah (1) kepada peneliti lain disarankan untuk mengambil materi matematika yang lain agar dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang pembelajaran matematika dengan menerapkan model ARIAS dan dengan waktu penelitian yang lebih lama, (2) Bagi guru yang akan menerapkan model ARIAS untuk meningkatkan motivasi belajar siswanya disarankan dalam menyusun perangkat pembelajarannya hendaknya lebih memperhatikan alokasi waktu, materi, alat evaluasi dan pemberian retensi yang diperlukan agar proses pembelajaran menjadi maksimal.

Penerapan model savi untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IVA SDN Madyopuro 1 Kecamatan Kedungkandang kota Malang / Theresia Natasian

 

Kata kunci: Pembelajaran IPA, Model SAVI Pembelajaran IPA model SAVI merupakan pembelajaran yang menggabung kan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Melalui penerapan model SAVI, siswa mendapat kesempatan terlibat secara aktif pada pembelajaran sekaligus seluruh kompetensi siswa dapat berkembang secara optimal. Hasil observasi awal di SDN Madyopuro 1 Malang ,di temukan permasalahan yaitu hasil belajar siswa sebagian besar nilainya bawah standar KKM. Akar penyebab hasil belajar siswa di bawah standar KKM 70 karena guru kurang tepat dalam memilih model pembelajaran. Untuk mengatasi rendahnya hasil belajar tersebut dilakukan penelitian dengan menerapkan model SAVI pada pembelajaran IPA. Adapun rumusan masalahnya adalah 1) bagaimanakah penerapan model SAVI pada pembelajaran IPA?,2) bagaimanakah aktivitas siswa selama penerapan model SAVI?, 3) apakah hasil belajar siswa meningkat setelah diterapkan model SAVI?. Penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas dengan analisis data deskritif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi,tes,dan dokumentasi selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus sesuai dengan alur penelitian PTK yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian mengatakan bahwa nilai rata-rata aktivitas siswa siklus I pertemuan 1 69,15 termasuk kategori (rendah),dan pertemuan 2 yaitu 75,93 dan pada siklus II pertemuan 1 yaitu 72,30 dan pertemuan kedua 82,73 kategori (tinggi) dan hasil belajar siswa siklus I pertemuan 1 60,39 termasuk kategori (rendah) dan pertemuan 2 hasil belajar siswa 70,65 termasuk kategori(cukup). Pelaksanaan tindakan siklus I pada pertemuan 1 dan pertemuan 2 meningkat sebesar (10,26%). sedangkan siklus II pertemuan 1 hasil belajar siswa 72,79 termasuk kategori(cukup) dan pertemuan 2 mencapai 78,37 termasuk kategori(tinggi). Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan 1 dan 2 mengalami peningkatan sebesar (5,58%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan model SAVI dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas dan hasil belajar siswa SDN Madyopuro 1 Malang. Untuk itu disarankan bagi guru agar dapat memberikan akses kepada siswa untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas yang bersifat student centers melalui penerapan model SAVI.

Penerapan quantum learning untuk meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis mata pelajaran ekonomi bagi siswa kelas VII SLTPN 17 malang / Endah Sugiarti

 

Penerapan Quantum Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Berpikir Kritis Mata Pelajaran Ekonomi Bagi Siswa Kelas VII SLTPN 17 Malang. Pendidikan yang bermutu akan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Sejauh ini proses pembelajaran di sekolah masih didominasi oleh sebuah paradigma yang menyatakan bahwa sebuah pengetahuan (knowledge) merupakan perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Di samping itu, situasi kelas sebagian besar masih berfokus pada guru (teacher) sebagai sumber utama pengetahuan, serta penggunaan ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar mengajar. Oleh karena itu perlunya peningkatan kualitas pembelajaran dengan melakukan berbagai cara. Melalui Quantum Learning siswa akan diajak belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih bebas dalam menemukan berbagai pengalaman baru dalam belajarnya. Dengan Quantum Learning ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik apabila siswa banyak aktif dibandingkan guru. Quantum Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan mengutamakan kondisi relaksasi peserta didik yang mengkombinasikan ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, kerja kelompok, eksperimen, dan pemberian tugas dalam situasi yang nyaman dan menyenangkan. Hasil belajar siswa merupakan suatu tingkat penguasaan siswa terhadap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada akhir siklus I dan siklus II dalam mengikuti pembelajaran. Berpikir kritis merupakan upaya untuk mempertanyakan segala sesuatu yang belum dimengerti dalam menghasilkan gagasan, inovasi, inspirasi dan pilihan baru dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) atau CAR ( Classroom Action Research ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIF SLTP Negeri 17 Malang. Untuk hasil belajar kognitif peningkatan rata-rata terjadi sebesar 27,84%, sedangkan pada hasil belajar siswa afektif sebesar 10,71%, dan pada hasil belajar aspek psikomotorik sebesar 8,68%. Penerapan pembelajaran dengan Quantum Learning dapat meningkatkan upaya berpikir kritis siswa kelas VIIF SLTP Negeri 17 Malang sebesar 11,71% dari siklus II sebesar 82,69% dan siklus I sebesar 70,98%. Penerapan Quantum Learning dapat meningkatkan respon siswa dalam mengikuti proses pembelajaran ekonomi di kelas. Siswa yang menyatakan sangat setuju (SS) dengan penerapan model ini yaitu sebesar 41,63%. Siswa yang menyatakan setuju (S) sebesar 34,88 %. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan pembelajaran dengan Quantum Learning dapat meningkatkan hasil belajar dan upaya berpikir kritis siswa. Sedangkan saran dalam penelitian ini adalah (1.) Bagi guru hendaknya pembelajaran dengan Quantum Learning direkomendasikan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran yang efektif untuk mata pelajaran ekonomi.(2.) Disarankan bagi siswa agar membaca petunjuk pembelajaran dengan pendekatan Quantum Learning agar pembelajaran yang dapat berjalan optimal (3.) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan juga untuk mencoba menerapkan Quantum Learning pada mata pelajaran lain untuk mengukur keefektifan Quantum Learning (4.) Bagi Universitas Negeri Malang (UM) hasil penelitian ini disarankan sebagai tambahan arsip dan bahan pustaka bagi UM. Sehingga dapat dibaca, dijadikan tambahan materi dan dievaluasi oleh Mahasiswa UM baik untuk keperluan penelitian maupun tugas kuliah

Penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar / Eni Widayati

 

Kata kunci : metode eksperimen, kemampuan sains, anak usia dini Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah tentang (1) bagaimana penerapan metode eksperimen untuk dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kab. Blitar?, (2) apakah penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qur'an Jeblog Kabupaten Blitar? Penelitian ini bertujuan : (1) mendeskripsikan penerapan metode eksperimen yang dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan pengembangan kemampuan sains pada anak usia dini dengan metode eksperimen di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar pada tanggal 3, 9, 16, dan 23 Mei 2011. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas B PAUD. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi : (1) penerapan metode eksperimen, dan (2) kemampuan sains meliputi kemampuan mengelompokkan biji-bijian, menanam biji-bijian, mengenal dan mengelompokkan kulit buah kasar-halus, membedakan minuman rasa buah, dan mengamati pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains anak. Pada siklus I prosentase nilai rata-rata anak 46,6%. Pada siklus II naik menjadi 78,2% peningkatan kemampuan sains ditandai dengan meningkatnya kemampuan mengelompokkan biji-bijian, menanam biji-bijian, mengelompokkan buah berkulit kasar-halus, membedakan rasa minuman buah, mengamati proses pertumbuhan tanaman. Penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini di PAUD Al Qolam Jeblog Kabupaten Blitar. Penerapan metode eksperimen dapat mengembangkan kemampuan sains pada anak usia dini. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar mencoba menerapkan metode eksperimen untuk membantu mengatasi kesulitan anak pada pembelajaran sains. Sedangkan untuk peneliti sains diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkan para ruang lingkup yang lebih luas

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPS dengan model talking stick pada kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kraton Pasuruan / Fitria

 

Kata kunci: Aktivitas Siswa, Hasil Belajar Siswa, Model Talking Stick, IPS SD/MI. IPS dalam dunia pendidikan memiliki peran penting dalam memperknalkan siswa dengan lingkungan sedini mungkin. Hal ini disebabkan IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuannya saja, akan tetapi juga keterampilan sosial dalam kegiatan pembelajarannya. Hasil observasi pada kelas III di MI Miftahul Huda Gerongan ada beberapa permasalahan antara lain: 1) Pembelajaran IPS masih konvensional (ceramah, dan penugasan). 2) Siswa kurang perhatian pada saat pembelajaran. 3) Rendahnya aktivitas siswa. 4) Rendahnya hasil belajar, hal ini dibuktikan setelah mengerjakan soal evaluasi dan nilainya rata-rata 58,6. Penelitian ini mendiskripsikan: 1) Aktivitas belajar; 2) Hasil belajar; 3) Pembelajaran kooperatif; 4) Pembelajaran kooperatif model talking stick. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kraton Pasuruan yang berjumlah 18 siswa yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan observasi, tes, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: 1) Hasil aktivitas guru pada siklus I dengan nilai akhir 82,3%, pada siklus II 94,1% . 2) Hasil aktivitas siswa pada siklus 1 dengan nilai akhir 63%, pada siklus II 78%. 3) Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata 68,3 (55,5%), siklus II rata-rata mencapai 85,8 (88,9%). Penerapan model Talking Stick pada mata pelajaran IPS kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Kabupaten pasuruan dilaksanakan dengan tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas siswa pada siklus 1 dan siklus II mengalami peningkatan sampai 15%. Penggunaan model Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III MI Miftahul Huda Gerongan Pasuruan. Dapat dilihat dari hasil belajar siklus 1 siklu II mengalami peningkatan sampai 33,4%. Peneliti menyimpulkan pembelajaran dengan menggunakan model Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peneliti juga menyarankan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa hendaknya menggunakan strategi dan model pembelajaran yang menerik salah satunya adalah dengan menerapkan model Talking Stick. Guru harus bisa menyusun langkah-langkah pembelajaran yang membuat siswa mampu meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dengan menerapkan model pembelajaran Talking Stick.

Perbedaan tingkat asertivitas pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari jenis kelamin / Tatimatul Chusna

 

Kata Kunci : asertivitas, jenis kelamin Asertivitas merupakan salah satu cara berkomunikasi yang menunjukkan individu dapat mengungkapkan emosi, pikiran, ataupun perasaan baik yang positif maupun yang negatif secara jujur dan langsung, serta mampu mempertahankan hak-haknya secara tegas, dengan tetap mengahargai, dan tanpa mengabaikan kesopanan dan hak-hak orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perbedaan tingkat asertivitas pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang, ditinjau dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik quota sample. Sampel yang digunakan yaitu sebanyak 100 orang mahasiswa, dengan 50 orang mahasiswa laki-laki, dan 50 orang mahasiswa perempuan. Sampel diambil secara acak yang mencakup semua fakultas, namun jumlah sampel tiap fakultasnya tidak ditentukan. Berdasarkan analisis deskriptif diperoleh hasil bahwa skor mean keseluruhan sebesar 129,85 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang sangat tinggi sebanyak 1 mahasiswa (1%), tinggi sebanyak 11 mahasiswa (11%), sedang sebanyak 71 mahasiswa (71%), rendah sebanyak 16 mahasiswa (16%), dan sangat rendah sebanyak 1 mahasiswa (1%). Skor mean pada mahasiswa laki-laki sebesar 137,80 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang sangat tinggi sebanyak 1 mahasiswa (2%), tinggi sebanyak 9 mahasiswa (18%), sedang sebanyak 37 mahasiswa (74%), rendah sebanyak 3 mahasiswa (6%), dan tidak ada mahasiswa laki-laki yang termasuk kategori sangat rendah. Skor mean pada mahasiswa perempuan sebesar 121,90 dengan mahasiswa yang memiliki tingkat asertivitas yang tinggi sebanyak 2 mahasiswa (4%), sedang sebanyak 34 mahasiswa (68%), rendah sebanyak 13 mahasiswa (26%), sangat rendah sebanyak 1 mahasiswa (1%), dan tidak ada mahasiswa perempuan yang termasuk kategori sangat tinggi. Berdasarkan analisis komparatif diperoleh hasil t hitung = 4,711 sig 0,000 < 0,05, maka terdapat perbedaan tingkat asertivitas pada mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari jenis kelamin dimana laki-laki memiliki tingkat asertivitas yang lebih tinggi dibanding perempuan. Bagi mahasiswa disarankan agar mengikuti atau melaksanakan pelatihan asertivitas, bagi universitas agar mengadakan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan asertivitas, bagi orang tua agar memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan asertivitas. Bagi peneliti selanjutnya agar lebih memperluas subjek penelitian, dan menambahkan variabel ataupun faktor-faktor lain yang terkait dengan asertivitas.

Kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, desa Bulupasar dan desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri / Benny Isayoga Kristyowidi

 

Kata kunci: kepercayaan, masyarakat, bupati Kepercayaan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam suatu pemerintahan, baik pemerintahan pusat maupun daerah. Begitupula yang terjadi di Kabupaten Kediri. Begitupula yang terjadi di Kabupaten Kediri. Tanpa adanya kepercayaan yang diberikan oleh rnasyarakat maka roda pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik. kepercayaan masyarakat terhadap Bupati Kabupaten Kediri dapat dilihat dari keyakinan penerimaan, pengakuan, dukungan dan ketaatan yang dimiliki oleh masyarakat. Oleh karena itu, maka diperlukan pembahasan mengenai Kepercayaan Masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar Dan Desa Sukorejo) Terhadap Bupati Kabupaten Kediri. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri, (2) untuk mendeskripsikan bentuk kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri, (3) untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam mengumpulkan data-data di lapangan yaitu di Kabupaten Kediri. Prosedur pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (l) kepercayaan masyarakat (Desa Jong Biru, Desa Bulupasar dan Desa Sukorejo) terhadap Bupati Kabupaten Kediri terlihat dari adanya (a) keyakinan yang dimiliki masyarakat bahwa Bupati akan membawa kebaikan bagi Kabupaten Kediri. Selain itu, (b) kesediaan masyarakat, (c) menerima, (d) mengakui, (e) mendukung dan taat terhadap kebijakan Bupati, (2) Bentuk kepercayaan masyarakat terhadap Bupati adalah: (a) mendukung kebijakan, (b) adanya kepedulian terhadap kebijakan Bupati, (c) ketaatan masyarakat atas kebijakan Bupati, (d) penerimaan terhadap Bupati, (3) Faktor yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada Bupati adalah: (a) faktor pendidikan yang dimiliki Bupati yaitu sarjana kedokteran, dimana Bupati tersebut bergelar dokter, (b) memiliki pengalaman, (c) karena Bupati tersebut bersedia terjun ke lapangan dan dekat dengan masyarakat, (d) realisasi visi dan misi, (e) karisma yang dimiliki bupati. Dari penelitian ini saran yang diajukan peneliti yaitu hendaknya dalam memberikan kepercayaan kepada Bupati tidak hanya memandang faktor pribadi semata, namun berdasarkan kredibilitas yang dimilikinya serta realisasi janji politik yang diberikan Hj. Haryanti Sutrisno sebagai Bupati di Kabupaten Kediri.

Penggunaan media pembelajaran Movie Maker (video) dalam upaya peningkatan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kelas X Administrasi Perkantoran SMK Wisnuwardhana Malang / Arisjatun Annisa

 

Annisa, Arisjatun. 2014. Penggunaan Media Pembelajaran Movie Maker (Video) dalam upaya Peningkatan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Kelas X Administrasi Perkantoran SMK Wisnuwardhana Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Kt. Diara Astawa, SH, M.Si, (II) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si. Kata kunci : Media pembelajaran Movie Maker (Video), peningkatan minat belajar siswa, mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)     Media pembelajaran merupakan salah satu bagian dari komponen pembelajaran. Program Windows MovieMaker adalah salah satu software yang memberikan kemudahan bagi kita untuk mengolah atau mengedit video. Windows Movie Maker adalah software video editing grafis yang dibuat oleh Microsoft. Penggunaan media pembelajaran Movie Maker (Video) sangat berguna untuk merangsang minat belajar siswa, sehingga siswa merasa tertarik dan akan lbih mudah dalam memahami materi yang akan diajarkan. Mata Pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pembelajaran PPKn masih didominasi dengan metode ceramah saja, yang dianggap kurang menarik dan mengurangi minat belajar siswa. Dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn.     Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; (2) pelaksanaan pembelajaran PPkn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; (3) peningkatan minat belajar siswa pada mata pelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; (4) kendala dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video).     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Lokasi penelitian dilakukan di SMK Wisnuwardhana Malang yang bertempat di jalan Danau Sentani No. 99 Kota Malang. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan tes.     Analisis dalam penelitian ini didasarkan dari data pengisian hasil post test digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar pada siswa kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang setelah menggunakan media pembelajaran movie maker (video), pengisian lembar observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar saat menggunakan media pembelajaran movie maker (video), dan wawancara digunakan untuk mengetahui minat belajar siswa kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang     Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X Apk SMK Wisnuwardhana Malang dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2014 pada siklus II, setiap siklus 2 kali pertemuan. Temuan penelitian yaitu: (a) peneliti harus bisa menyesuaikan materi yang akan disampaikan dengan gambar yang akan dibuat untuk movie maker (video), dan (b) movie maker sudah tersedia pada program Microsoft, sehingga semua orang bisa menggunakan media pembelajaran tersebut; (2) Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X Apk SMK Wisnuwardhana Malang berjalan lancar sesuai rencana pelaksanaan pembelajaraan, walaupun ada kendala tetapi guru dapat memecahkan masalah tersebut. Hasil penilaian post test siswa pada siklus I siswa yang tuntas 13 (54.16%) siswa dan 11 (45.84%) siswa yang belum tuntas, pada siklus II terdapat 20 (83.33%) siswa yang tuntas dan 4 (16.67%)siswa yang belum tuntas, ; (3) Penggunaan media pembelajaran movie maker (video) pada mata pelajaran PPKn dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang; dan (4) Kendala saat pelaksanaan pembelajaran PPKn dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video) di kelas X APk SMK Wisnuwardhana Malang adalah kendala sarana prasarana (fasilitas) dan kendala listrik yang padam, tetapi peneliti bisa mengatasi tersebut.     Saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah (1) Guru mata pelajaran PPKn dapat menggunakan variasi pembelajaran, sehingga pada saat proses belajar mengajar pada mata pelajaran PPKn siswa tidak mudah bosan, salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran movie maker (video), (2) Siswa seharusnya tidah meremehkan semua mata pelajaran dan tidak menganggap remeh mata pelajaran PPKn, dan (3) Penggunaan media pembelajaran movie maker (video) hendaknya diterapkan pada materi pembelajaran yang menuntut siswa untuk meningkatkan minat belajar siswa pada semua mata pelajaran.

Perbedaan efikasi diri antara mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja jurusan bimbingan konseling dan psikologi Universitas Negeri Malang / Annisa Wasilia

 

Kata Kunci: efikasi diri, mahasiswa bekerja. Banyaknya individu yang belum siap menghadapi persaingan dalam mendapatkan pekerjaan sewaktu menjalani proses perkuliahan menunjukkan banyak mahasiswa yang masih memiliki efikasi diri rendah. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa bekerja dan mahasiswa tidak bekerja, (2) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa bekerja, (3) mengetahui gambaran efikasi diri mahasiswa tidak bekerja, (4) mengetahui perbedaan gambaran efikasi diri antara mahasiswa bekerja dengan mahasiswa tidak bekerja. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan deskriptif dan komparatif pada 100 responden yaitu 50 mahasiswa bekerja dan 50 mahasiswa tidak bekerja yang diambil dengan teknik purposive- quota sampling di Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Malang. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala efikasi diri dengan validitas internal ≥ 30 dan diperoleh α 0,955, kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari 50 mahasiswa bekerja sebagian besar memiliki efikasi diri tinggi yaitu sebanyak 37 orang (74%) dengan mean 187,46 termasuk kategori tinggi, (2) dari 50 mahasiswa tidak bekerja sebagian besar memiliki efikasi diri sedang yaitu sebanyak 43 orang (86%) dengan mean 157,32 temasuk kategori sedang, (3) ada perbedaan efikasi diri mahasiswa bekerja dan tidak bekerja (t=9,094 dengan sig = 0,000 p≤0,05). Berdasar hasil penelitian disarankan (1) mahasiswa meningkatkan pengalaman performansi dengan beraktivitas di luar aktivitas kuliah seperti kegiatan ekstrakurikuler atau bekerja, (2) pihak Universitas Negeri Malang memberi tugas yang dapat mengembangkan dan meningkatkan efikasi diri mahasiswa, memberi penghargaan pada mahasiswa berprestasi dan mengadakan seminar atau workshop tentang dunia kerja, (3) peneliti selanjutnya yang juga akan mengkaji lebih dalam perbedaan efikasi diri mahasiswa dengan melihat faktor-faktor yang melatarbelakanginya, hendaknya memasukkan variabel lain seperti sifat tugas yang dihadapi, adanya insentif eksternal, peran individu dalam lingkungan, atau informasi tentang kemampuan individu sehingga hasil penelitian yang diperoleh menjadi semakin detil dan akurat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |