Penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) untuk meningkatkan hasil belajar daya ingat siswa kelas XI mata pelajaran akutansi di SMAN 1 Sutojayan Kabupaten Blitar / Wulan Puji Lestari

 

Kata kunci : Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), Hasil Belajar Daya Ingat Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di kelas XI IPS V SMAN 1 Sutojayan menunjukkan bahwa daya ingat belajar siswa masih rendah, hal ini terlihat dari kurangnya menguasai materi dengan baik, serta hasil belajar siswa yang masih terlihat kurang memenuhi standart yang sudah ditentukan dan kurang minatnya sama mata pelajaran Akuntansi ini yang dianggap begitu sulit. Selain itu terlihat juga kurangnya pengetahuan atau wawasan siswa sehingga belum bisa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek, bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar daya ingat siswa. Kegiatan pembelajaran berbasis proyek terdiri dari 2 siklus setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPS V SMAN 1 Sutojayan dengan jumlah siswa 32 orang. Tahap- tahap dalam pembelajaran berbasis proyek yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap evaluasi. Perencanaan dilaksanakan dengan menyiapkan skenario pembelajaran, bahan ajar, lembar observasi, catatan lapangan, menyiapkan topik permasalahan yang akan dijadikan sebagai bahan diskusi, menyiapkan soal tes evaluasi diakhir tiap siklus, menyiapkan kamera sebagai dokumentasi dan melakukan koordinasi dengan guru mata pelajaran akuntansi. Analisis data dilakukan dengan paparan data, penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar daya ingat siswa di kelas XI IPS V mengalami peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar daya ingat siswa dengan melakukan tes evaluasi. Hasil belajar daya ingat siswa dapat dilihat dari presentase pada siklus II meningkat dari skor rata- rata sebesar 74, 31dengan presentase 56% meningkat menjadi 77, 09 dengan presentase 75%. Saran yang dapat diberikan yaitu : (1) Bagi guru mata pelajaran akuntansi, penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan hasil belajar daya ingat siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya hasil belajar daya ingat siswa, (2) Guru hendaknya memanagemen waktu dengan sebaik- baiknya, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu, (3) Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang pembelajaran berbasis proyek agar dapat dikembangkan lebih lanjut pada mata pelajaran dan materi yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan strategi pembelajaran berbasis proyek (project based learning).

Pengembangan sistem penilaian formatif berbantuan komputer untuk mendukung pembelajaran fisika pada materi optik geometri / Ismil Mufidah

 

Kata Kunci: penilaian formatif, sistem penilaian formatif berbantuan komputer, optik geometri Penilaian formatif yang telah dilaksanakan guru belum mampu memberikan balikan yang spesifik dalam waktu singkat kepada setiap siswa. Alasan ketidak-mampuan guru dalam memberikan balikan yang spesifik dalam waktu singkat adalah besarnya kapasitas siswa dan lamanya waktu koreksi, semen¬¬tara aloka¬si waktu pembelajaran terbatas. Jika hal ini dibiar¬kan, pemahaman kon¬sep siswa terhadap suatu materi menjadi kurang komprehen¬sif ka¬¬rena siswa tidak mampu mengenali kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Oleh karena itu, diperlu¬kan alat belajar yang dapat membantu guru dalam melakukan penilaian formatif yang bisa memberikan balikan spesifik dalam waktu singkat kepada setiap siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan produk yaitu sistem penilaian formatif berbantuan komputer pada materi optik geometri, serta mengukur kelayakan sistem penilaian formatif tersebut melalui uji validasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan. Instrumen yang digunakan berupa angket untuk penilaian validator dan uji kualitas produk oleh pengguna dalam uji coba terbatas. Kegiatan validasi meliputi validasi produk pengembangan dan validasi soal pilihan ganda sebagai komponen produk. Validasi dilaksanakan oleh validator yang berasal dari pihak guru dan dosen. Jenis data penelitian meliputi data kuantitatif berupa penilaian validator dan tanggapan siswa berdasarkan skala Likert, serta data kualitatif berupa komentar dan saran yang diberikan oleh validator. Hasil dari analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan termasuk dalam kategori baik sehingga tidak memerlukan revisi. Berdasarkan data kualitatif, produk telah direvisi berdasarkan komentar dan saran validator. Produk yang dihasilkan sudah dikatakan layak namun masih memerlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, serta uji coba yang berulang agar lebih bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran materi optik geometri

Implementasi model pembelajaran jaring laba-laba (Webbed Model) pada tema penggunaan uang untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas III semester II tahun ajaran 2011-2012 di SDN Kesatrian 2 Malang / Estri Setyowati Boru Sinaga

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Tema Penggunaan Uang, Webbed Model, Kelas 3, SDN Kesatrian 2 Malang Model jaring laba-laba merupakan model pembelajaran terpadu dengan pendekatan tematik. Model jaring laba-laba digunakan untuk memberikan pengalaman bermakna bagi siswa pada kegiatan pembelajaran. Pada kenyataanya, guru masih menggunakan pembelajaran secara terpisah belum mengintegrasikan mata pelajaran ke dalam satu kaitan tema yang menarik. Pelaksanaan mata pelajaran masih dilaksanakan secara sendiri-sendiri sehingga perlu dibuat contoh penerapan pembelajaran tematik dengan menggunakan model jaring laba-laba agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh dan menyeluruh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam tema penggunaan uang dengan menyatukan beberapa tujuan pembelajaran dari beberapa mata pelajaran dengan menggunakan model jaring laba-laba. Model jaring laba-laba dilaksanakan dengan menetapkan satu tema yang menarik yang terkait dari kompetensi dasar tiap mata pelajaran sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan menyeluruh. Penelitian ini berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian tindakan adalah siswa kelas III berjumlah 52 siswa. Data penelitian yang berupa paparan hasil observasi kegiatan pembelajaran dan hasil belajar akibat dari tindakan penelitian dengan menggunakan Model jaring laba-laba. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dengan menggunakan lembar observasi pembelajaran selama pembelajaran melalui model pembelajaran jaring laba-laba berlangsung, teknik wawancara, catatan lapangan dan teknik tes melalui kegiatan evaluasi di akhir siklus. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif dan kuantitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian dengan menggunakan Webbed Model pendekatan tematik dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I hasil refleksi menyatakan hasil belajar untuk sebagian besar siswa belum tuntas, hal ini disebabkan karena guru terlalu jauh dari konsep materi yang harus diberikan dan belum menyajikan materi sesuai metode atau strategi dan alur tematik. Tes belajar yang telah dilakukan menyatakan hanya 41 siswa (78.84%) dari 52 siswa yang mencapai belum mencapai ketuntasan belajar, pada siklus II guru sudah menyajikan materi metode atau strategi dan alur tematik dengan baik sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajar sebesar 92.3% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran jaring laba-laba dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Diharapkan pada penelitian berikutnya agar guru dapat menerapkan dan mengembangkan tema pembelajaran model jaring laba-laba dengan metode atau strategi dan alur tematik secara variasi dan menarik sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan yang lebih baik dan hasil belajar yang memuaskan. Selanjutnya guru dapat menggunakan model pembelajaran jaring laba-laba dengan lebih baik dalam penyajian konsep pada alur tematik yang dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman belajar bermakna bagi siswa sehingga hasil belajar siswa dapat bertahan lebih lama.

Penggunaan permainan tradisional cublak-cublak suweng untuk meningkatkan pemerolehan kosa kata bahasa arab siswa kelas V MI amanah Turen / Novia Indah K Masykur

 

Kata kunci: permainan tradisional, CCS, pemerolehan. Dunia anak seolah identik dengan permainan, nyanyian, dan cerita. Begitupun dengan karakteristik anak yang identik dengan senang bermain, oleh karenanya strategi pengajaran didesain dengan model permainan. Berdasarkan beberapa penelitian, metode bermain dapat meningkatkan hasil dan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi atau studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, salah satu faktor yang menyebabkan pemerolehan kosa kata, nilai harian dan nilai ulangan harian siswa relatif rendah adalah terdapat pada metode yang digunakan oleh pembina bahasa Arab di MI Amanah. Metode pembelajaran yang digunakan monoton dan cenderung berpusat pada guru, guru menjelaskan materi dan para siswa duduk diam mendengarkan. Selain itu, para siswa harus berkonsentrasi penuh terhadap materi yang dijelaskan dan di akhir pelajaranpun tidak ada evaluasi atas materi yang telah diajarkan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pemerolehan kosa kata bahasa Arab siswa melalui penerapan permainan tradisional cublak-cublak suweng. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan beberapa siklus.Setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan dengan pertemuan pertama digunakan untuk menyampaikan materi dan melakukan drill kosa kata serta pemberian lembar tes yang berhubungan dengan kosa kata yang baru saja disampaikan, sedangkan pertemuan kedua digunakan untuk mereview kosa kata yang telah telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya dengan menggunakan permainan tradisional CCS. Adapun pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara, observasi, pemberian tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain, khususnya permainan tradisional Cublak-Cublak Suweng dapat meningkatkan pemerolehan kosa kata bahasa Arab siswa. Indikator meningkatnya pemerolehan kosa kata bahasa Arab siswa adalah meningkatnya nilai rata-rata siswa dari satu siklus ke siklus berikutnya, yakni pada siklus I: kurang; siklus II: cukup; dan siklus III: baik. Saran yang diberikan oleh peneliti untuk para guru yang akan menerapkan medote permainan adalah agar mempertimbangkan temuan penelitian ini, yang antara lain berupa langkah-langkah pembelajaran dengan metode permainan tradisional. Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis dianjurkan untuk meneliti metode permainan tradisional yang lain agar memperkaya penerapan pembelajaran bahasa Arab dengan metode permainan tradisional.

Penerapan pembelajaran konstruktivistik model kooperatif team assisted individualization pada mata pelajaran akutansi keuangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Studi pada siswa kelas XI program studi akutansi di SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Sri Hariyati

 

Kata Kunci: konstruktivistik, kooperatif TAI (Team Assisted Individualization), hasil belajar Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran dimana siswa aktif untuk mengkonstruksi pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari, sehingga pengetahuan yang dimiliki siswa tidak hanya merupakan hasil tranfer dari guru. Upaya peningkatan hasil belajar terhadap siswa berkesulitan belajar terus diupayakan dengan penanganan yang saksama. Penanganan siswa berkesulitan belajar disesuaikan dengan falsafah dan budaya bangsanya. Bangsa Indonesia mempunyai falsafah Pancasila yang pada esensinya menekankan hidup bergotong royong. Gotong royong dalam mencapai tujuan disebut pula kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menempatkan siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan belajar bersama. Model kooperatif TAI (Team Assisted Individualization) merupakan model pembelajaran yang mengkombinasikan antara belajar individu dan belajar kelompok, serta bertujuan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, sehingga dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI Program Studi Akuntansi di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Lokasi penelitian ini di Jalan Baiduri Sepah No. 27 Malang dengan subjek penelitian siswa kelas XI Program Studi Akuntansi di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam dua siklus dengan materi yang berbeda. Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada siklus I, pemberian tindakan dilanjutkan pada siklus II. Teknik pengumpulan data 1) aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung melalui observasi dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, 2) hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes, dan 3) data respon siswa terhadap pembelajaran melalui angket. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan data secara lengkap dalam bentuk kalimat. Analisis kuantitatif bertujuan sebagai data pendukung pelaksanaan tindakan yang ditunjukkan dalam bentuk angka dan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dilihat dari aktivitas guru dan siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Aktivitas guru meningkat sebesar 3,12% dari 93,94% menjadi 97,06%, sedangkan aktivitas siswa meningkat sebesar 9,19% yang semula 84,93% menjadi 94,12%. Hasil belajar siswa dilihat dari ketuntasan belajar secara klasikal meningkat sebesar 4,17% dari 83,33% pada siklus I menjadi 87,5% pada siklus II. Respon siswa terhadap pembelajaran menunjukkan respon sangat positif dengan nilai skor rata-rata 3,054 dari aspek kebermaknaan, aktivitas siswa dan aktivitas guru selama pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konstruktivistik model kooperatif TAI (Team Assisted Individualization) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X1 Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada 1) guru di SMK Muhammadiyah 2 Malang, terutama guru Akuntansi untuk mencoba menerapkan pembelajaran konstruktivistik model kooperatif TAI (Team Assisted Individualization), 2) pihak sekolah lebih melengkapi sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran, 3) guru lebih sering menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa dan atau kooperatif agar siswa terbiasa berkelompok dengan teman satu kelas secara menyeluruh.

Penerapan strategi motivasi dengan model ARCS dalam pembelajaran seni tari materi ekspresi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada siswa kelas X-4 semester genap 2011-2012 di SMA Negeri 1 Malang / Muji Sri Rahayu

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peningkatan motivasi belajar setelah penerapan strategi motivasi model ARCS pada mata pelajaran seni tari materi ekspresi pada siswa kelas X-4 di SMA Negeri 1 Malang (2) peningkatan hasil belajar setelah penerapan strategi motivasi model ARCS pada mata pelajaran seni tari materi ekspresi pada siswa kelas X-4 di SMA Negeri 1 Malang. Pelaksanaan PTK meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, angket, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. ). Motivasi belajar siswa secara klasikal pada awal sebelum tindakan, 14 siswa dalam kategori baik dan 20 siswa dalam kategori sangat baik. Pada komponen Attention dengan jumlah skor 1412, Relevance 656, Confidence 813, Satisfaction 1286. Hasil analisis angket setelah tindakan secara klasikal 2 siswa dalam kategori baik dan 32 siswa dalam kategori sangat baik. Pada komponen Attention dengan jumlah skor 1514, Relevance 719, Confidence 881, Satisfaction 1382 Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 3,94%

Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe student team achivement division (stad) berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akutansi / Titik Purwaningsih

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperative Tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) Berbasis Multimedia, Hasil Belajar. Hasil belajar siswa ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor tersebut adalah tersedianya media pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan bagi siswa untuk mempelajari materi pembelajaran. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah pemilihan strategi pembelajaran, dalam proses pembelajaran pemanfaatan media dan pemilihan strategi pembelajaran secara sinergi dilakukan oleh guru untuk mencapai hasil belajar yang lebih maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperiment Desaign . Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang, pemilihan sampel dilakukan secara random, kelas XI IPS 1 dijadikan kelas kontrol yang diberi perlakuan pembelajaran konvensional berbasis multimedia, sedangkan kelas XI IPS 4 dijadikan kelas eksperimen yang diberi perlakuan pembelajaran STAD berbasis multimedia. Instrument yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan soal pretest dan posttest yang berbentuk uraian. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata hasil belajar (gainscore) kelas kontrol sebesar 11.11 dan untuk kelas eksperimen sebesar 13.15. Melalui pengujian hipotesis dengan teknik Mann Whitney U Test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.137 yang lebih besar dari 0.05 taraf kesalahan yang bisa diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara hasil belajar kelas kontrol dengan hasil belajar kelas eksperimen dan hasil penelitian ini tidak mendukung argumen atau teori pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah guru seyogyanya memahami karakteristik dan kemampuan anak didiknya untuk menentukan pemilihan strategi yang tepat ketika media sudah tersedia, dan untuk penelitian berikutnya yang ingin melanjutkan penelitian ini disarankan untuk menambah variabel lain selain hasil belajar misalnya motif belajar siswa, kebiasaan belajar, atau dengan menambah variabel interventing antara lain motivasi belajar siswa.

Karakteristik karangan narasi siswa kelas VII SMPN 6 Malang / Nahnu Robid Jiwandono

 

Kata kunci: karangan narasi, karakteristik karangan narasi, unsur intrinsik karangan narasi Menulis pengalaman merupakan salah satu bentuk menulis narasi yang di dalamnya terdapat unsur-unsur pembangun, seperti: kronologis kejadian, tempat, waktu, dan subjek sebagai tokoh. Oleh karena itu, karangan narasi dapat dikaji atau ditelaah dari segi strukturnya mengingat bahwa karangan narasi merupakan suatu karya karangan yang tersusun dari berbagai macam unsur. Begitu juga karangan narasi karya siswa kelas VII SMP tentunya memiliki karakteristik sehingga hasil karya antara siswa satu dengan yang lain berbeda satu sama lain. Karaktersitik tersebut dapat dilihat dari pemilihan tema, penggambaran tokoh dan penokohan, penggambaran latar, serta alur dalam karangan mereka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karangan narasi siswa kelas VII SMP dapat ditelaah dari segi struktur yang membangunnya. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karangan narasi siswa kelas VII SMPN 6 Malang Tahun Ajaran 2011/2012, ditinjau dari unsur intrinsiknya, yaitu: tokoh, penokohan, tema, alur, dan latar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada adanya kecocokan antara data yang diteliti, tujuan penelitian, dan karakteristik penelitian kualitatif. Instrumen yang digunakan yaitu petunjuk pengerjaan yang berisi rambu-rambu dalam menulis karangan narasi dan instrumen berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan. Hasil penelitian ini dijelaskan sebagai berikut. Tokoh yang dipilih oleh siswa kelas VII SMPN 6 Malang dalam karangan narasinya terbagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh sampingan. Tokoh utama yang dipilih oleh siswa kelas VII SMPN 6 Malang adalah tokoh “aku” atau “saya” sedangkan tokoh-tokoh sampingan atau tokoh tambahan yang banyak dipilih oleh siswa adalah keluarga yang meliputi ayah, ibu, kakak, adik, nenek, dsb. Selain itu tokoh sampingan yang sering muncul adalah teman atau sahabat. Keluarga dan teman banyak dipilih oleh siswa karena tokoh-tokoh tersebut sangat dekat dengan kehidupan anak yang masih berada pada tingkat SMP kelas VII. Siswa kelas VII SMPN 6 Malang menggunakan dua cara untuk melukiskan karakter tokoh, yaitu secara langsung atau eksplisit dan secara tidak langsung atau implisit. Cara yang paling banyak digunakan siswa dalam melukiskan karakter tokohnya adalah dengan cara langsung diikuti dengan deskripsi pendukung tentang perilaku tokoh tersebut. Karakter tokoh yang digunakan dalam karangan narasi siswa adalah karakter yang sederhana, seperti baik, ikhlas, dan penakut. Tidak dijumpai karakter kompleks sepert yang ada pada cerpen dan novel. Alur yang dipilih oleh siswa kelas VII SMPN 6 Malang secara keseluruhan adalah alur maju. Alur maju cenderung dipilih oleh siswa kelas VII SMPN 6 Malang karena sesuai dengan daya pikir mereka yang masih sederhana, sehingga cenderung mengurutkan suatu peristiwa secara runtut dari kejadian pertama sampai kejadian terakhir dalam karangannya. Selain itu, terdapat juga karangan yang tidak memiliki klimaks di dalamnya, terutama pada karangan ynag bertema pengalaman berwisata. Pelukisan latar yang digunakan oleh siswa kelas VII SMPN 6 Malang sebagian besar dilakukan dengan cara langsung. Tema yang dipilih oleh siswa kelas VII SMPN 6 Malang sangat beragam. Tema tersebut meliputi: tema tentang pengalaman berwisata, pengalaman menakutkan, pengalaman tentang kegiatan sekolah, pengalaman persahabatan, pengalaman lucu atau konyol, dan pengalaman tentang belajar sesuatu.

Masalah pengadjaran ilmu pasti chususnja ilmu ukur bidang datar pada Sekolah Menengah Ekonomi Pertama / oleh Arief Rusjadi

 

Pengembangan bahan ajar konsep mol berbasis inkuiri terbimbing / Siska Siti Makmuroh

 

Makmuroh, Siska Siti. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Konsep Mol Berbasis Inkuiri Terbimbing. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Muhammad Su’aidy, M. Pd, (II) Dr. H. Sutrisno, M.Si. Kata kunci: bahan ajar, konsep mol, inkuiri terbimbing. Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan penemuan para kimiawan. Metode penemuannya menggunakan metode ilmiah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam mempelajari ilmu kimia seharusnya siswa belajar layaknya kimiawan memperoleh konsep tentang kimia. Dalam pembelajaran kimia hendaknya siswa tidak hanya diberikan konsep-konsep berupa hasil temuan para kimiawan, melainkan perlu dibimbing agar dapat memperoleh pengetahuan sendiri secara utuh dan terstruktur. Sejalan dengan hal tersebut, proses pembelajaran yang cocok digunakan untuk membelajarkan ilmu kimia adalah inkuiri terbimbing. Inkuiri terbimbing merupakan salah satu pendekatan yang cocok digunakan dalam pengembangan bahan ajar dan mengacu pada Kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar konsep mol berbasis inkuiri terbimbing. Rancangan model pengembangan bahan ajar diadaptasi dari model 4D (4D-model) oleh Thiagarajan, yang terdiri dari empat tahap yaitu membatasi (to define), merancang (to design), mengembangkan (to develop), dan menyebarluaskan (to disseminate). Rancangan pengembangan bahan ajar ini dilakukan sampai pada tahap ketiga, yaitu mengembangkan. Bahan ajar divalidasi oleh satu dosen kimia dan tiga guru kimia SMA, dengan instrumen validasi berupa angket penilaian menggunakan skala Likert empat tingkat, disertai dengan lembar komentar dan saran. Revisi dilakukan berdasarkan komentar dan saran validator, sehingga dihasilkan produk berupa bahan ajar yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar dan panduan pengajaran. Berdasarkan hasil angket penilaian diperoleh persentase kelayakan bahan ajar 92,04%. Nilai tersebut menggambarkan bahwa bahan ajar ini sangat layak untuk digunakan sebagai panduan pengajaran maupun sumber belajar untuk kegiatan pembelajaran bahan kajian konsep mol berbasis inkuiri terbimbing bagi siswa SMA kelas X.

Studi desain dan motif hias batik gajah oling produksi sanggar batik sayu wiwit Banyuwangi / Mutiara Zehan

 

Kata Kunci: Desain, Motif Hias Batik Gajah Oling, Sanggar, Banyuwangi Batik Banyuwangi merupakan salah satu contoh batik pesisiran yang banyak mengambil motif flora dan fauna sebagai ungkapan simbolis daerah tersebut. Salah satu batik khas Banyuwangi adalah batik Gajah Oling yang dari asal katanya merupakan gabungan dari kata gajah dan uling, yaitu sejenis ular yang hidup di air. Batik Gajah Oling diproduksi oleh beberapa pengrajin batik di Banyuwangi, salah satu sentra pembatikan yaitu Sanggar Batik Sayu Wiwit. Untuk melestarikan batik Gajah Oling sebagai motif khas batik Banyuwangi perlu diungkap lebih lanjut mengenai desain batik Gajah Oling, proses pembuatan batik Gajah Oling, dan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit. Penelitian ini bertujuan memberikan pengetahuan dan memperkenalkan produk batik Gajah Oling Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, berupa paparan data mengenai desain batik Gajah Oling, proses pembuatan batik Gajah Oling, dan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi yang diperoleh dari observasi langsung dan data sekunder dari berbagai macam sumber. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan unsur-unsur desain berupa titik, garis, bidang dan warna yang dikomposisikan dengan menerapkan prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama sehingga terciptalah suatu produk batik yang bernilai estetis. Tahap-tahap proses pembuatan batik Gajah Oling terdiri dari persiapan alat dan bahan, pengolahan kain, memotong kain, pemindahan pola batik pada kain, proses pencantingan, proses pewarnaan, pelorodan malam. Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan delapan motif Gajah Oling yang menurut spesifikasinya terdiri atas motif Gajah Oling, motif Daun Dilem berjumlah tiga, motif Bunga Melati berkelopak lima, dan motif manggar berjumlah tiga. Warna yang digunakan pada batik Gajah Oling adalah warna cerah khas batik pesisiran. Dari hasil penelitian ini disarankan : (a) untuk Sanggar Batik Sayu Wiwit diharapkan tetap mengembangkan motif batik Gajah Oling yang sesuai dengan kriteria asli motif Gajah Oling; (b) untuk Jurusan Seni dan Desain diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan yang berhubungan dengan seni kerajinan batik Gajah Oling Banyuwangi; (c) untuk Peneliti Penelitian ini masih terbatas pada satu tempat saja. Diharapkan peneliti lain dapat meneliti di berbagai tempat sentra pembatikan di Banyuwangi agar memperoleh data yang lebih lengkap mengenai motif hias batik Gajah Oling.

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif think pair share (TPS) dan numbered head together (NHT) terhadap aktifitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa kelas VII SMPN 12 Balikpapan / Suharti

 

Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Think Pair Share, Numbered Head Together Aktivitas Belajar, Hasil Belajar. Pelaksanaan pembelajaran umumnya masih berorientasi pada guru sehingga proses pembelajaran berlangsung kurang efektif. Kurang efektifnya pembelajaran ini karena, guru sebagai pentransfer informasi atau pengetahuan kepada siswa kurang perencanaan dan penguasaan terhadap strategi pembelajaran. Sehingga tidak tercipta pembelajaran yang aktif, kreatif, mandiri dan bermakna. Akibatnya peserta didik cepat jenuh menerima materi pelajaran, peserta didik mengalami kesulitan mengintegrasikan materi pada persoalan sehari-hari. Akhirnya berdampak pada rendahnya penguasaan konsep, yang berakibat rendahnya hasil belajar siswa. Padahal banyak cara atau strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar dan melibatkan peserta didik secara aktif membangun pengetahuanya sendiri. Misalnya penerapan strategi pembelajaran kooperatif TPS, dan strategi pembelajaran kooperatif NHT. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan keterlaksanaan strategi pembelajaran kooperatif TPS, dan NHT terhadap aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa. (2) mendiskripsikan pengaruh strategi pembelajaran kooperatif TPS terhadap aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa, (3) mendiskripsikan pengaruh strategi pembelajaran kooperatif NHT terhadap aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi-exsperimen) dengan rancangan “Pretest-posttest Non Equivalent Control Group Design” yang terdiri atas 1 variabel bebas dan 3 variabel terikat. Variabel bebes adalah strategi pembelajaran meliputi strategi pembelajaran kooperatif TPS, NHT, dan konvensional. Variabel terikat yaitu aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Penelitian ini dilakukan di SMPN 12 Balikpapan semester genap tahun ajaran 2011/2012 yang berjumlah 118 siswa sebagai subyek penelitian. Subyek penelitian ini terbagi dalam 3 kelas, yakni kelas TPS, NHT, dan konvensional. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan lembar observasi untuk mengukur aktivitas belajar siswa, tes untuk mengukur hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif. Data di analisis menggunakan statistik anakova dengan bantuan program Statistical Program for Social Science (SPSS) 15.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) ) keterlaksanaan strategi pembelajaran kooperatif TPS, dan NHT tergolong sangat baik. (2) ada pengaruh Penerapan strategi pembelajaran kooperatif TPS terhadap aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa. (3) ada perbedaan signifikan aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa yang diberi strategi pembelajaran kooperatif TPS dengan yang diberi strategi pembelajaran konvensional. Rata-rata aktivitas belajar siswa yang diberi strategi pembelajaran kooperatif TPS meningkat 46% yaitu dari 23,2% menjadi sebesar 69,2%, hasil belajar kogitif meningkat 31,7% yaitu dari 55,9 menjadi sebesar 73,6 dan hasil belajar afektif meningkat 3,7% yaitu dari 88,3% menjadi sebesar 92,0%. (4) ada pengaruh Penerapan strategi pembelajaran kooperatif TPS terhadap aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa. (5) ada perbedaan signifikan aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif siswa yang diberi strategi pembelajaran kooperatif NHT dengan yang diberi strategi pembelajaran konvensional. Rata-rata aktivitas belajar siswa yang diberi strategi pembelajaran kooperatif NHT meningkat 49,3% yaitu dari 23,7% menjadi sebesar 73%. Hasil belajar kogitif meningkat 38,5% yaitu dari 56,6 menjadi sebesar 78,4 dan hasil belajar afektif meningkat 5,5% yaitu dari 87,4% menjadi sebesar 92,9%. Terendah pada siswa yang diberi strategi konvensional, dengan rata-rata aktivitas belajar siswa meningkat 1,1% yaitu dari23,5% menjadi sebesar 24%, hasil belajar kognitif meningkat 17,8% yaitu dari 59 menjadi sebesar 69,5 dan hasil belajar afektif meningkat 1,1% yaitu dari 85,8% menjadi sebesar 86,7%. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1 ) keterlaksanaan strategi pembelajaran kooperatif TPS, dan NHT tergolong sangat baik. (2) Penerapan strategi pembelajaran kooperatif TPS berpengaruh terhadap aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa. (3) ada perbedaan signifikan aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif siswa yang diberi strategi pembelajaran kooperatif TPS dengan siswa yang diberi strategi pembelajaran konvensional. (4) Penerapan strategi pembelajaran kooperatif NHT berpengaruh terhadap aktiviats, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa. (5) ada perbedaan signifikan aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif siswa yang diberi strategi pembelajaran kooperatif NHT dengan siswa yang diberi strategi pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil, temuan, dan kesimpulan penelitian ini, disarankan kepada guru biologi di SMPN 12 Balikpapan dan sekolah lainya untuk menerapkan strategi pembelajaran kooperatif TPS, dan NHT dalam membelajarkan siswa karena strategi pembelajaran tersebut terbukti mampu meningkatkan aktivitas, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif biologi siswa.

Penerapan media lagu dalam pembelajaran konjugasi Bahasa Jerman siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang / Roby Hyoga Jaya

 

Kata Kunci: Media, Lagu, Pembelajaran Konjugasi Materi gramatika merupakan materi dasar yang harus dipahami oleh siswa yang mempelajari bahasa Jerman. Permasalahan yang terjadi adalah siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi gramatika. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti menerapkan media lagu sebagai media pembelajaran bahasa Jerman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses dan hasil penerapan media lagu pada pembelajaran konjugasi siswa kelas X SMAN 1 Tumpang. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari 34 siswa kelas X-6 SMAN 1 Tumpang. Data yang diambil adalah observasi atau proses penerapan media lagu dan hasil tes siswa. Teknik analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan proses penerapan media lagu dan menghitung hasil tes sesuai dengan kriteria penilaian. Penerapan media lagu dapat membantu siswa untuk memahami materi konjugasi. Dari tes yang dilaksanakan dua kali, didapatkan rata-rata 75% hasil tes siswa di atas SKM. Sementara itu, 25% mendapatkan nilai di bawah SKM. Penerapan media lagu juga memberi dampak positif bagi siswa, siswa lebih antusias dan bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Perhatian siswa terpusat pada penyampaian materi yang disampaikan melalui media lagu. Hasil penelitian di atas menunjukan bahwa media lagu dapat diterapkan untuk membantu siswa memahami materi konjugasi. Di sisi lain, materi yang terdapat dalam lagu tidak sealalu dapat dipahami oleh siswa, sehingga peran guru tetap dibutuhkan untuk memberi penjelasan atas materi yang disampaikan.

Penggunaan pembelajaran bermain jawaban untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Kesatrian 02 Malang / Kamaluddin

 

Kata kunci : Pembelajaran Bermain Jawaban, Hasil Belajar IPA, Meningkatkan Hasil Belajar IPA. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di kelas V SDN Kesatrian 2 Malang diketahui bahwa dalam pembelajaran IPA, hasil belajar siswa rendah ditunjukkan dari nilai hasil belajar siswa sebelum tindakan (pra siklus) yaitu siswa yang tuntas belajar sebanyak 12 siswa dari 38 siswa. Penelitian ini menerapkan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, satu siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Alokasi waktu selama 2 jam pelajaran setiap pertemuan, setiap jam pelajaran berdurasi 35 menit. Tindakan yang dilakukan yaitu menggunakan pembelajaran bermain jawaban. Pelaksanaan siklus I berjalan kurang tertib karena perwakilan kelompok banyak yang berebut kartu pertanyaan atau jawaban. Pada saat pemberian soal evaluasi hasilnya tidak memuaskan, dari 38 siswa hanya 17 yang nilainya memenuhi Kriteria Ketuntasan minimal (KKM). Pelaksanaan siklus II berjalan tertib karena Guru memperjelas prosedur permainan dan menambah kotak yang berisi kartu pertanyaan dan jawaban masing-masing 2 kotak. Hasil dari soal evaluasi yang dikerjakan siswa memuaskan, dari 38 siswa terdapat 3 siswa yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil penelitian tindakan kelas pada kelas V SDN Kesatrian 02 Malang menyimpulkan bahwa pembelajaran bermain jawaban pada mata pelajaran IPA menunjukkan peningkatan hasil belajar. Kesimpulan tersebut didukung berdasarkan hasil analisis data sebagai berikut : hasil belajar pada siklus I prosentase banyaknya siswa yang tuntas belajar adalah 45 % dengan nilai rata-rata 61,84, sedangkan pada siklus II prosentase banyaknya siswa yang tuntas adalah 92% dengan nilai rata-rata 80. Menurut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan SDN Kesatrian 02 Malang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 80% siswa mendapat nilai minimal 70, sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bermain jawaban dalam penelitian ini berhasil. Dari kesimpulan diatas, peneliti menyarankan : (1) Guru segera memulai pelajaran tepat waktu, (2) Sebaiknya Guru memanfaatkan alokasi waktu dengan sebaik-baiknya, agar setiap tahapan berjalan lancar dan maksimal, (3) Penggunaan pembelajaran bermain jawaban dapat digunakan pada matapelajaran dan kelas yang berbeda.

Pengaruh manajemen laba terhadap reaksi pasar modal dengan kualitas audit sebagai variabel moderating / Fariedah Ramadani Adhima

 

Kata Kunci : Manajemen Laba, Kualitas Audit, Reaksi Pasar Laporan keuangan merupakan penghubung antara pihak manajemen dengan pihak diluar perusahaan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan. Asimetri informasi yang terjadi antara manajemen dengan pihak diluar perusahaan telah dimanfaatkan manajemen untuk melakukan manajemen laba dengan berbagai maksud dan tujuan. Tindakan manajemen laba tersebut dapat dikendalikan atau diminimalkan dengan kualitas auditor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh manajemen laba terhadap reaksi pasar dan menguji pengaruh kualitas audit dalam memperkuat pengaruh manajemen laba terhadap reaksi pasar. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling yang menghasilkan total sampel sebanyak 23 perusahaan yang diteliti untuk tahun 2009 dan 2010. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear dan analisis regresi moderat. Hasil penelitian berdasarkan uji hipotesis menujukkan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap reaksi pasar secara langsung, namun dalam pengujian pengaruh kualitas audit dapat memperkuat pengaruh manajemen laba terhadap reaksi pasar menunjukkan pengaruh signifikan positif. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh terhadap reaksi pasar dikarenakan adanya kualitas audit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas audit adalah pure moderat bagi hubungan antara manajemen laba dengan reaksi pasar. Saran penelitian ini bagi investor hendaknya memperhatikan kualitas audit sebagai dasar pengambilan keputusan investasi dan berhati-hati terhadap laporan keuangan perusahaan yang terindikasi manajemen laba. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menguji terlebih dahulu model manajemen laba yang tepat untuk kondisi di Indonesia.

Pengaruh model pembelajaran konsiderasi terhadap kemampuan berbicara siswa kelas V di SDN Ketawanggede 1 Kota Malang / Nurul Isma Hidayah

 

Kata kunci: konsiderasi, berbicara, SD Kemampuan berbicara harus dimiliki siswa kelas V, khususnya kemampuan berdiskusi karena merupakan tuntutan kompetensi dasar kurikulum 2006. Salah satu cara agar kemampuan berbicara siswa menjadi lebih baik adalah dengan menggunakan sebuah model pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini mencari pengaruh model pembelajaran konsiderasi yang dikembangkan terhadap kemampuan berbicara siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran konsiderasi terhadap kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Ketawanggede 1 Kota Malang. Penelitian ini dilakukan di SDN Ketawanggede 1 Kota Malang pada tanggal 25 April sampai 28 April 2012. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi eksperimen. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data berupa tes kemampuan berbicara yaitu pedoman penilaian dan checklist. Adapun data penelitian ini adalah nilai kemampuan berbicara siswa dari segi pemahaman isi pembicaraan, kualitas gagasan yang dikemukakan, tata bahasa, kosa kata, dan kelancaran berbicara dalam menyampaikan pendapat pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil penelitian tentang pengaruh penggunaan model pembelajaran konsiderasi terhadap kemampuan berbicara setelah pengujian hipotesis pada aspek pemahaman isi pembicaraan, kualitas gagasan yang dikemukakan, tata bahasa, kosa kata, dan kelancaran berbicara dalam menyampaikan pendapat diperoleh hasil bahwa hanya 3 aspek yang mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan dari kelima aspek yang dinilai yaitu aspek pemahaman isi pembicaraan, kualitas gagasan dan kosa kata, sedangkan pada aspek tata bahasa dan kelancaran berbicara tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Terbukti pada kemampuan berbicara siswa dengan taraf kesalahan 5 % dan dk = 1, maka harga χ2 tabel = 3,841, dari aspek pemahaman isi pembicaraan ternyata harga χ2 hitung > dari harga χ2 tabel yaitu 24,42 > 3,841, dari aspek kualitas gagasan ternyata harga χ2 hitung > dari harga χ2 tabel yaitu 4,497 > 3,841, dan pada aspek kosa kata ternyata harga χ2 hitung > dari harga χ2 tabel yaitu 4,10 > 3,841. Sedangkan pada aspek tata bahasa ternyata harga χ2 hitung < dari harga χ2 tabel yaitu 2,355 < 3,841 dan pada aspek kelancaran berbicara ternyata harga χ2 hitung < dari harga χ2 tabel yaitu 0,031 < 3,841. Berdasarkan analisis data tersebut disimpulkan “Ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran konsiderasi terhadap kemampuan berbicara siswa kelas V di SDN Ketawanggede 1 Kota Malang pada aspek pemahaman isi pembicaraan, kualitas gagasan, dan kosa kata.” Selain itu dapat disarankan bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia hendaknya bisa menerapkan pembelajaran berbicara dengan menggunakan model pembelajaran konsiderasi sebab kemampuan berbicara siswa menjadi lebih baik dari segi pemahaman isi pembicaraan, kualitas gagasan, dan kosa kata. Bagi peneliti lain, jika ingin melakukan penelitian dengan model pembelajaran konsiderasi disarankan untuk dilakukan pada subjek penelitian yang lebih luas jenjang pendidikannya, dan instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa pada aspek penilaian berbicara hendaknya lebih ditingkatkan lagi pada faktor kebahasaan dan non kebahasaan dengan menambahkan aspek yang dinilai dalam mengukur kemampuan berbicara siswa.

Karakteristik kompetensi dasar SMK pada standar isi bahasa indonesia / Nella Anggi Martina

 

Kata Kunci: kompetensi dasar, Standar Isi Bahasa Indonesia Kompetensi dasar merupakan penjabaran lebih rinci dari standar kompetensi yang merupakan kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik untuk dapat lulus dari suatu kompetensi tertentu. Kompetensi dasar ada di dalam standar isi jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK (sederajat SMA). Kompetensi dasar di jenjang SMK dipilih menjadi objek penelitian karena penelitian tentang jenjang SMK masih jarang padahal jenjang SMK sedang hangat diperbincangkan oleh khalayak. Selain itu, standar isi SMK yang mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar masih tidak jelas pembagiannya seperti layaknya jenjang SD, SMP, dan SMA. Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan yakni (1) mendeskripsikan karakteristik umum kompetensi dasar SMK dari tingkat semenjana–unggul, (2) mendeskripsikan perbandingan kompetensi dasar SMK dari tingkat semenjana–unggul, (3) mendeskripsikan proporsi penyajian kompetensi dasar SMK dari tingkat semenjana–unggul, dan (4) mendeskripsikan karakteristik pengurutan kompetensi dasar SMK dari tingkat semenjana–unggul. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa kompetensi dasar bahasa Indonesia di jenjang SMK meliputi empat keterampilan berbahasa. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode analisis dokumen. Instrumen yang digunakan yakni manusia (peneliti sendiri) dan dibantu oleh instrumen pembantu yakni tabel analisis. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan trianggulasi data dengan dosen pembimbing dan rekan sejawat. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap identifikasi dan klasifikasi data, tahap penyimpulan data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan analisis data diperoleh empat simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, dalam penggunaan tingkatan berpikir, KD di SMK menggunakan kategori C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (membuat). Pada kompetensi dasar keterampilan membaca menggunakan kategori C2, keterampilan menulis menggunakan kategori C3; C4; dan C6, keterampilan berbicara menggunakan C3; C5; dan C6, dan keterampilan menyimak menggunakan kategori C2. Adapun dalam pemilahan aspek berbahasa dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar di SMK telah dipilah berdasarkan masing-masing keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Hanya saja pengungkapan jenis keterampilan berbahasanya dilakukan secara eksplit (langsung) dan implisit (tidak langsung). Selain itu, terdapat kompetensi dasar yang ambigu di jenjang semenjana. Kedua, perbandingan kompetensi dasar ditinjau dari tiga aspek yakni berdasarkan keterampilan berbahasanya, konteks, dan aspek sastra nonsastra. Ditinjau dari perbandingan berdasarkan keterampilan berbahasa dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan orientasi materi pada seluruh KD masing-masing keterampilan yakni membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dari tingkat semenjana hingga unggul. Pada keterampilan menyimak, di tingkat semenjana materi berorientasi pada kegiatan menyimak ekstensif, di tingkat madia berorientasi pada kegiatan menyimak intensif, dan di tingkat unggul berorientasi pada kegiatan menyimak kritis. Pada keterampilan berbicara di tingkat semenjana berorientasi pada kegiatan berbicara awal, di tingkat madia berorientasi pada kegiatan berbicara dalam dunia kerja dan di tingkat unggul materi berorientasi pada kegiatan berbicara bebas. Pada keterampilan membaca, di tingkat semenjana materi berorientasi pada kegiatan membaca cepat dan membaca beragam bentuk teks, di tingkat madia materi membaca diorientasikan pada kegiatan membaca yang berhubungan dengan dunia pekerjaan, dan di tingkat unggul tidak ditemukan KD keterampilan membaca. Adapun pada keterampilan menulis, di tingkat semenjana berorientasi pada kegiatan menulis permulaan dan menulis banyak teks, di tingkat madia berorientasi pada kegiatan menulis wacana berbagai genre dan wacana berkonteks bekerja, dan di tingkat unggul berorientasi pada kegiatan menulis tingkat lanjut. Ditinjau dari perbandingan berdasarkan konteks dapat disimpulkan bahwa di SMK menggunakan empat konteks yang dinyatakan secara eksplisit dan implisit. Di tingkat semenjana, konteks yang dinyatakan secara eksplisit adalah konteks bermasyarakat dan konteks yang dinyatakan secara implisit adalah konteks personal. Di tingkat madia, konteks yang dinyatakan secara eksplisit adalah konteks bekerja dan konteks yang dinyatakan secara implisit adalah konteks pendidikan. Di tingkat unggul tidak terdapat konteks yang dinyatakan secara eksplisit dan konteks yang dinyatakan secara implisit adalah konteks pendidikan. Konteks yang menjadi fokus utama di SMK adalah konteks bekerja (38,7% atau 12 KD), konteks personal (32,2% atau 10 KD), konteks pendidikan (19,4% atau 6 KD), dan konteks bermasyarakat (9,7% atau 3 KD). Adapun ditinjau dari perbandingan aspek sastra dan nonsastra dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar yang berhubungan dengan sastra di tingkat semenjana tidak ditemukan, di tingkat madia tidak ditemukan, dan di tingkat unggul sebanyak 2 KD (6,4%). Adapun kompetensi dasar aspek nonsastra di tingkat semenjana ditemukan sebanyak 12 KD (38,7%), di tingkat madia sebanyak 14 KD (45,2%), dan di tingkat unggul sebanyak 3 KD (9,7%). Ketiga, ditinjau dari proporsi penyajian kompetensi dasar SMK dapat disimpulkan bahwa secara umum porsi KD di tingkat unggul paling sedikit apabila dibandingkan dengan porsi KD di tingkat semenjana dan madia. Pada masing-masing tingkatan kelas dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis menjadi fokus di tingkat semenjana. Keterampilan berbicara menjadi fokus di tingkat madia. Adapun kompetensi dasar menulis menjadi fokus di tingkat unggul. Keempat, ditinjau dari karakteristik pengurutan KD di jenjang SMK dapat disimpulkan bahwa kompetensi dasar di SMK diurutkan dengan menggunakan kombinasi pendekatan keseluruhan ke bagian-bagiannya dan pendekatan hierarkis pada setiap keterampilan berbahasa dari tingkat semenjana hingga unggul.

Kondisi psikologis dan moral tokoh Nadia dalam novel Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra karya Husain Mu'nis: kritik sastra feminis / Chulusul Umniyati

 

Kata kunci: psikologis, kondisi moral, kritik sastra feminis, novel “Ghadan Tuladu Syamsun Ukhra”. Novel sebagai bagian dari genre sastra mendapat tempat yang baik dalam hubungan antara karya sastra dan kenyataan. Kisah novel “Ghadan Tuladu Syamsun Uhra” (GTSU) ini sarat dengan kehidupan wanita yang dikemukakan pengarang melalui tokoh utama yaitu Nadia. Karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji novel tersebut secara ilmiah dengan menggunakan kritik sastra feminis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi psikologis dan moral tokoh Nadia dalam novel “GTSU” karya Husain Mu’nis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan kritik sastra feminis ideologis. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis dari tokoh dan penokohan yang diamati. Kritik sastra feminis ideologis merupakan kritik sastra feminis yang melibatkan wanita, khususnya kaum feminis sebagai pembaca. Langkah-langkah analisis datanya adalah: (1) menentukan tokoh wanita dalam novel “GTSU”, (2) menentukan kedudukan tokoh wanita dalam novel “GTSU”, (3) menentukan perilaku dan watak tokoh wanita dalam novel “GTSU”, (4) menentukan tujuan hidup tokoh wanita dalam novel “GTSU”, dan (5) menentukan hubungan tindakan tokoh-tokoh lain dengan tokoh Nadia dalam novel “GTSU”. Penelitian novel “GTSU” karya Husain Mu’nis ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis tokoh Nadia itu kurang sehat. Karena semua kebutuhan universalnya tidak terpenuhi akibat adanya penindasan dari keluarganya, dalam hal ini suami dan anak laki-lakinya, Thariq. Sejak keluar dari rumahnya dan kembali bekerja di kedutaan, Nadia sudah bebas dari penindasan dan dapat mengaktualisasikan dirinya. Akan tetapi, Nadia tetap saja belum bisa merasakan hidup aman dan nyaman karena belum mendapatkan rasa memiliki dan cinta serta rasa penghargaan dari keluarganya, terutama Majid, suaminya dan Thariq, anaknya. Sedangkan kondisi moral tokoh Nadia itu baik. Nadia mempunyai etika atau moral yaitu: (1) pandai bersyukur dengan merawat semua yang telah dikaruniakan oleh Tuhan, (2) pekerja keras dan bertanggung jawab, (3) mencintai keluarga dan anak-anaknya, (4) pandai, berpengalaman, dan disiplin, dan (5) sabar dan tulus. Bertolak dari hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada (1) peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini lebih mendalam lagi, (2) dosen Jurusan Sastra Arab UM, hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai pengayaan materi pada mata kuliah telaah prosa Arab.

Pengembangan media game "memory blocks" berbasis macromedia flash dan untuk membelajarkan kosakata bahasa arab bagi siswa kelas XI SMA Assa'adah Bungah Gresik / Iin Jayana

 

Kata kunci: Game Memory Blocks, Macromedia Flash 8, Membelajarkan Kosakata Bahasa Arab Media pembelajaran merupakan wahana penyalur atau wadah pesan pembelajaran. Media pembelajaran mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar. Di samping dapat menarik perhatian siswa, media pembelajaran dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikan dalam setiap mata pelajaran. Salah satu media untuk meningkatkan motivasi pembelajaran kosakata bahasa Arab adalah dengan menggunakan media Game “Memory Blocks” Berbasis Macromedia Flash 8. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengembangkan game “Memory Blocks” berbasis macromedia flash 8 untuk membelajarkan kosakata bahasa Arab bagi siswa kelas XI SMA Assa’adah Bungah Gresik, dan (2) mendeskripsikan kelayakan produk pengembangan media game “Memory Blocks” berbasis macromedia flash 8 untuk membelajarkan kosakata bahasa Arab bagi siswa kelas XI SMA Assa’adah Bungah Gresik. Jenis penelitian ini adalah pengembangan. Pengembangan Media Game “Memory Blocks” Berbasis Macromedia Flash 8 ini, melalui beberapa tahapan yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) pengembangan produk, (5) uji ahli, (6) uji lapangan, (7) revisi akhir, dan (8) produksi akhir Media Game “Memory Blocks” Berbasis Macromedia Flash 8 untuk Membelajarkan Kosakata Bahasa Arab bagi Siswa Kelas XI SMA Assa’adah Bungah Gresik. Hasil pengembangan media ini berupa CD interaktif yang berisi Game “Memory Blocks” Berbasis Macromedia Flash 8 dengan tiga topik yaitu: البیت البیت وأدواتھ ,واجزاءه , dan الحجرة وما فیھا . Game terdiri atas 3 level. Level 1 bertemakan البیت وأدواتھ ,البیت واجزاءه , dan الحجرة وما فیھا . Level 2 merupakan gabungan antara dua tema. البیت واجزاءه dan البیت واجزاءه ,البیت وأدواتھ dan الحجرة وما البیت وأدواتھ ,فیھا dan الحجرة وما فیھا . Level 3 merupakan gabungan tiga tema tersebut. Setiap level terdiri dari lima menu utama yaitu: deskripsi media, pengembang, tema, petunjuk, dan keluar. Hasil kelayakan produk pengembangan ini secara umum diperoleh 88,6%. Adapun saran untuk pemanfaatan media adalah sebagai berikut: (1) sebelum menerapkan media ini guru dan siswa hendaknya memahami petunjuk penggunaan game agar proses belajar mengajar lebih efektif, (2) saran bagi peneliti lain, hasil pengembangan ini dapat digunakan dalam semua aspek kemahiran.

Pembelajaran menulis surat dinas siswa kelas VIII C SMP Negeri 01 Kalipare tahun pelajaran 2011/2012 / Anandita Rahmaning Yusi

 

Peningkatan kemampuan menulis naskah drama dengan menggunakakan metode belajar kelompok kreatif pada siswa SMP kelas VIII / Sigit Setyo Wicaksono

 

Kata Kunci: peningkatan kemampuan menulis, metode belajar kelompok kreatif, menulis naskah drama. Keterampilan berbahasa memiliki empat komponen, yaitu (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca dan (4) keterampilan menulis. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang harus diajarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Kegiatan pembelajaran menulis dapat berhasil jika dilakukan dengan melatih kemampuan siswa untuk membuat tulisan, kegiatan ini dapat dilaksanakan pada pembelajaran menulis naskah drama. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dijelaskan oleh pemerintah tujuan pembelajaran menulis naskah drama adalah dapat membangkitkan semangat menulis, mengembangkan pengetahuan keterampilan berbahasa, mengembangkan gagasan dan ide-ide untuk menghasilkan karya sastra yaitu naskah drama. Untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis naskah drama, dibutuhkan metode pembelajaran yang harus mendukung kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini metode pembelajaran yang digunakan adalah metode belajar kelompok kreatif, dengan metode ini siswa menulis naskah drama melalui tiga tahapan yang terdapat pada metode pembelajaran ini yaitu, menentukan, merancang, dan mengembangkan dengan tahapan yang dimiliki metode ini, siswa akan lebih mudah menulis naskah drama, selain itu menulis naskah drama pada kegiatan ini dilaksanakan dua kali pertemuan, kegiatan pertama tahap perencanaan yaitu menyusun kerangka naskah dan kegiatan kedua tahap menulis naskah drama. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. rancangan disusun dalam satuan siklus, meliputi tahap perencanaan (menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, dengan hasil 18 siswa dengan nilai >70, sedangkan 18 siswa lainnya belum mencapai ketuntasan belajar dengan nilai <70. Data penelitian meliputi hasil siswa menulis naskah drama dan proses menyusun kerangka naskah serta proses dalam kegiatan pembelajaran yang telah ditranskip dari pedoman observasi, catatan lapangan, angket siswa serta pedoman wawancara. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrumen penunjang pedoman observasi, catatan lapangan, angket siswa, pedoman wawancara serta dokumentasi. Hasil evaluasi dan refleksi dalam kegiatan pembelajaran yaitu telah terjadi peningkatan. Kemampuan siswa dalam kegiatan perencanaan naskah dengan bantuan metode pembelajaran belajar kelompok kreatif telah terjadi peningkatan, terbukti siswa dapat menentukan tema, tokoh dan watak tokoh, setting, dan alur yang bervariasi. Sedangkan peningkatan siswa dalam kegiatan menulis naskah drama dapat terlihat dari kemampuan siswa yang telah mampu menciptakan dialog yang komunikatif yang didukung dengan prolog, epilog serta wawancang. Peningkatan ini dapat dilihat dari siklus I dan siklus II. Peningkatan terjadi pada tiga aspek yaitu cerita, bahasa, ejaan. Siklus I aspek cerita 88,2%, aspek bahasa 72,2%, aspek ejaan 68,05%. Sedangkan pada siklus II aspek cerita 97,2%, aspek bahasa 90,2%, aspek ejaan 81,9%. Bantuan metode pembelajaran belajar kelompok kreatif dengan tiga tahapan menentukan, merancang dan mengembangkan yang dilakukan pada kegiatan perencanaan naskah dan menulis naskah drama terbukti dapat meningkatkan kemampuan menulis naskah drama siswa dan kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah dapat tercapai. Peningkatan proses belajar siswa juga meningkat dibandingkan dengan sebelum tindakan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang mendukung dan sesuai dengan kompetensi dasar yang diajarkan dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis naskah drama, sehingga siswa tidak merasa terbebani dan kesulitan dalam belajar. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di sekolah disarankan untuk selalu memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai untuk guru dan siswa. Untuk peneliti selanjutnya agar metode ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan penelitian keterampilan berbahasa yang lain.

Penerapan model pembelajaran role playing untuk meningkatkan aktvitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan (studi pada siswa kelas X APK SMK Cendika Bangsa Kepanjen) / Ridwan Ady Pranata

 

Kata kunci: Role Playing, aktivitas, dan hasil belajar. Model pembelajaran Role Playing, merupakan salah satu model pembelajaran yang diterapkan di kelas dengan harapan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di kelas. Dalam pembelajaran ini siswa dapat berperan aktif dan dapat mengetahui secara langsung bagaimana aplikasi dari mata pelajaran Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran model Role Playing untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan. Ada 4 hal yang dideskripsikan dalam penelitian ini yaitu: 1) penerapan model pembelajaran Role Playing, 2) aktivitas siswa dalam pembelajaran model Role Playing, 3) hasil belajar siswa , 4) hambatan dalam penerapan model pembelajaran Role Playing dan solusi mengatasinya. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMK Cendika Bangsa Kepanjen. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X program studi administrasi perkantoran yang berjumlah 30 orang (semuanya putri). Penelitian ini dilakukan pada 24 Januari 2012 hingga 14 Februari 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) penerapan model Role Playing terdiri dari 6 tahapan yaitu: (a) pembagian kelompok, (b) pembagian skenario, (c) pemilihan peran, (d) mempelajari skenario, (e) bermain peran, (f) evaluasi; 2) Penerapan model pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan persentase aktivitas belajar siswa; 3) Penerapan model pembelajaran Role Playing juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa aspek kognitif, sedangkan untuk aspek psikomotorik siswa juga terdapat peningkatan; 4) Salah satu hambatan dalam menerapkan model pembelajaran Role Playing yaitu membutuhkan waktu yang cukup banyak baik dalam perencanaan maupun pelaksanaanya sehingga guru harus cermat dalam mengalokasikan waktu pada tiap pertemuannya. Saran yang dapat diberikan yaitu (1) bagi guru mata pelajaran hendaknya menjadikan alternatif pilihan model pembelajaran Role Playing ini dalam kegiatan pembelajaran di kelas; (2) bagi siswa hendaknya tetap harus berani dan memiliki motivasi tinggi untuk terus mengikuti kegiatan pembelajaran meskipun tidak menerapkan model pembelajaran Role Playing; (3) bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang model pembelajaran Role Playing pada mata pelajaran dan subyek penelitian yang berbeda.

Penerapan pembelajaran model pelatihan inkuiri (inquiry training model) untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-6 SMA Negeri 8 Malang / Ista Nofasari

 

Kata kunci: Pembelajaran Inquiry Training Mode, Peningkatan Kemampuan Bertanya, Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa Siswa SMAN 8 Malang sering mengalami kesulitan dalam mengajukan pertanyaan tetutup (konvergen). Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru dan apa yang diajarkan bersifat prosedural tanpa upaya membangkitkan kemauan siswa untuk bertanya selama pembelajaran. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran fisika dengan menggunakan Inquiry Training Model untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan prestasi belajar fisika, siswa kelas X-6 SMAN 8 Malang pada materi Suhu dan Kalor. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali 1) Konfirmasi dengan masalah, 2) Pengumpulan dan verivikasi data, 3) Pengumpulan data eksperimen, 4) Mengorganisasi dan merumuskan penjelasan, 5) Menganalisis proses inkuiri kemudian diakhiri tes prestasi belajar fisika. Hasil penelitian ini menunjukkan pada siklus I persentase banyaknya pertanyaan terbuka yang muncul adalah 50%, siklus II 18,75%. Pertanyaan tertutup pada siklus I 50%, pada siklus II 81,25%. Prestasi belajar fisika siswa juga mengalami peningkatan, nilai rata-rata tes yang sebelum tindakan adalah 69,8 setelah diadakan siklus I dan II berturut-turut 76,6 dan 79,2. Peningkatan banyaknya pertanyaan tertutup yang muncul, hal ini berarti siswa sudah terbiasa berpikir konvergen atau menarik kesimpulan yang logis dari informasi yang diberikan. Siswa sudah mengalami proses “penemuan kembali” konsep-konsep materi yang dipelajari melalui pembelajaran Inquiry Training Model. Siswa tidak lagi mendapat transfer ilmu, namun menemukan sendiri pengetahuannya. Kualitas keterlaksanaan pembelajaran Inquiry Training Model Inquiry pada siklus I masuk dalam kategori baik dengan prosentase 71,15% dan untuk pembelajaran Inquiry Training Model siklus II masuk dalam kategori sangat baik dengan prosentase 92,78%, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Inquiry Training Model dalam penelitian ini berhasil.

Pengembangan bahan ajar menulis kreatif cerpen untuk siswa SMA / Deasy Mayasari

 

Kata Kunci: bahan ajar, menulis kreatif, cerpen. Menulis cerpen merupakan salah satu kompetensi dasar yang ada di SMA. Siswa diharuskan mampu menulis cerpen dengan memperhatikan penceritaan tokoh, latar, dan peristiwa. Dengan menulis cerpen siswa dilatih berimajinasi untuk mengembangkan pikiran, perasaan, dan pengetahuan. Pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen memerlukan berbagai media dan metode pembelajaran agar hasil tulisan siswa lebih baik. Salah satu media yang diperlukan adalah bahan ajar. Siswa memerlukan bahan ajar untuk mengetahui materi tentang bagaimana menulis cerpen. Bahan ajar sangat penting untuk menunjang kegiatan belajar siswa. Dengan bahan ajar siswa bisa belajar secara mandiri dengan panduan bahan ajar tersebut. Oleh karena itu bahan ajar yang ada saat ini perlu dikembangkan. Pengembanngan itu didasarkan pada kebutuhan siswa tentang kelengkapan materi dalam penulisan cerpen serta tampilan dan ilustrasi yang mendukung kegiatan penulisan cerpen. Penelitian ini bertujuan (1) mengembangkan rancangan awal bahan ajar menulis cerpen untuk siswa SMA, (2) mengembangkan hasil dari penggunaan bahan ajar menulis cerpen untuk siswa SMA saat diujicobakan, (3) mengembangkan rancangan penggunaan bahan ajar menulis cerpen untuk siswa SMA setelah adanya revisi berdasarkan hasil uji coba. Penelitian ini adalah jenis penelitian pengembangan. Penelitian ini menggunaakan model pengembangan Borg dan Gall. Ada sepuluh langkah dalam metode pengembangan yang diuraikan oleh Borg dan Gall, berikut langkahlangkah tersebut. (1) Penelitian dan pengumpulan informasi, (2) Perencanaan, meliputi rancangan produk yang akan dihasilkan dan proses pengembangangannya, (3) Pengembangan produk awal (materi pengajaran, buku panduan, dan alat evaluasi, (4) Uji coba lapangan awal, (5) Revisi produk utama (6) Uji coba lapangan, (7) Revisi produk hasil uji coba lapangan, (8) Uji pelaksanaan lapangan, (9) Revisi produk akhir, (10) Diseminasi dan implementasi. Prosedur penelitian yang dikemukakan oleh Borg dan Gall tersebut tidak seluruhnya diaplikasikan dalam penelitian ini. Dari prosedur yang telah dijabarkan diadaptasi menjadi 7 tahap. Tahap 7, 8, dan 10 tidak dilaksanakan karena keterbatasan waktu dan anggaran. Uji produk bahan ajar dilakukan kepada (1) ahli pembelajaran sastra, (2) ahli penulisan cerpen, (3) guru Bahasa Indonesia, dan (4) kelompok siswa. Uji produk bahan ajar menghasilkan data yang diperoleh dari angket, lembar balikan, dan wawancara bebas. Data penelitian ini berupa data verbal dan data nonverbal. Data verbal berupa komentar dan saran perbaikan dari ahli dan praktisi, sedangkan data nonverbal berupa skor penilaian. Uji coba produk bahan ajar kepada siswa dilakukan dua kali, yaitu uji coba bahan awal dan uji coba bahan setelah revisi. Hasil uji coba bahan ajar dari masing-masing subjek uji coba menunjukkan bahan ajar ini layak dan siap untuk digunakan dalam pembelajaran. Namun, untuk lebih meningkatkan kualitas bahan ini ada beberapa revisi yang harus dilakukan. Menurut ahli pembelajaran sastra tampilan dan tata letak bahan ajar harus diperbaiki. Menurut ahli penulisan cerpen materi tentang sudut pandang harus lebih jelas dan lebih bervariasi. Kedua ahli dan guru menilai perlu diteliti kembali penggunaan bahasa termasuk ejaan pada bahan ajar. Berdasarkan data tersebut peneliti melakukan perbaikan terhadap bahan ajar. Setelah revisi dilakukan peneliti melakukan uji coba tahap kedua dengan siswa. Hasil uji coba tersebut mengalami peningkatan baik dari penilaian angket siswa maupun dari hasil tulisan siswa. Perbedaan hasil pengembangan bahan ajar ini dengan bahan ajar lain terletak pada penerapan materi dan penggunaan peta konsep. Penerapan materi penulisan dijelaskan secara sistematis. Teknik penulisan cerpen dalam bahan ajar ini dimulai dari tahap mengembangkan tema, tokoh, alur, latar, dan sudut pandang. Dalam bahan ini siswa harus mulai menentukan masing-masing unsur tersebut secara bertahap. Penggunaan peta konsep bertujuan agar kerangka yang ditulis siswa berjalan lurus dengan tema yang telah ditentukan. Sistemtika bahan ajar ini adalah (1) tinjauan ustaka, (2) pendahuluan, (3) isi, (4) penutup, (dan daftar pustaka. Pada bagian isi bahan ajar terdapat materi dan teori penulisan cerpen, contoh penerapan teknik menulis cerpen, latihan menulis cerpen dengan menggunakan peta konsep. Bahasa yang digunakan singkat, menarik, dan mudah dimengerti siswa. Simpulan penelitian pengembangan dikembangkan dengan menggunakan model pengembangan Borg dan Gall. Latihan penulisan cerpen memanfaatkan penggunaan peta konsep. Hasil uji coba yang dilakukan dengan ahli pembelajaran sastra, ahli penulisan cerpen, guru, dan siswa menunjukkan bahwa bahan ajar ini layak digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen di SMA. Dalam memanfaatkan bahan ajar ini perlu dilengkapi dengan RPP. Siswa disarankan memanfaatkan bahan ajar ini dalam pembelajaran menulis cerpen.

Studi komparatif tingkat kesegaran jasmani siswa usia 10-11 tahun di dataran tinggi dan di dataran rendah (studi kasus SDK Sang Timur Batu dan SDN-BI Tlogowaru Malang) / Sri Setyaningsih

 

Pengembangan media pembelajaran bahasa Arab siswa kelas X SMAN 8 Malang berbasis web offline / Amalia Firdausia

 

Kata kunci: Pembelajaran Bahasa Arab, Web, Media Pembelajaran Baasa Arab Di era globalisasi ini proses belajar mengajar lebih maju karena didukung berbagai macam media pembelajaran baik manual maupun berbasis Tekhnologi Informasi ( TI ). Dewasa ini, media yang paling digemari masyarakat adalah web. Dalam dunia pendidikan media berbais web semakin banyak digunakan, akan tetapi dalam pembelajaran bahasa Arab masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, dibuatlah media pembelajaran bahasa Arab dengan sistem web offline dengan tujuan agar mudah diakses meskipun tidak konek internet. Media pembelajaran bahasa Arab berbasis web ini bisa digunakan dalam tiga tahap kegiatan pembelajaran yaitu, (1) kegiatan pendahuluan, (2) kegiatan inti, (3) kegiatan penutup. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan produk pengembangan media pembelajaran bahasa Arab siswa kelas X SMAN 8 berbasis web, (2) mendeskripsikan kelayakan media pembelajaran bahasa Arab siswa kelas X SMAN 8 berbasis web, (3) mendeskripsikan penggunaan media pembelajaran bahasa Arab siswa kelas X SMAN 8 berbasis web. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model pengembangan R & D atas Borg and Gall dengan modifikasi pada komponenkomponennya. Langkah-langkah penelittian pengembangan media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) analisis kebutuhan, (2) pengembangan produk, (3) uji ahli, (4) revisi produk I, (5) uji coba lapangan, (6) revisi produk II. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media pembelajaran bahasa Arab siswa kelas X SMA berbasis web yang telah divalidasi. Media pembelajaran tersebut adalah media pembelajaran yang dirancang khusus untuk semua kemahiran berbahasa Arab yang meliputi: (a) menyimak, (b) berbicara, (c) membaca, (d) menulis dengan menggunakan software joomla1.5.20 akan tetapi ada pula software pendukung yang digunakan dalam proses pembuatan media ini yaitu XAMPP. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas media pembelajaran 93,05%. Untuk hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 80,76%, hasil dari guru pelajaran bahasa Arab yaitu 88,46%. Namun untuk menyempurnakan media ini peneliti merevisi produk berdasarkan saran ahli media dan materi. Dan secara keseluruhan, persentase penilaian yang didapat dari hasil jawaban siswa adalah 82,98%. Hal ini berarti, media pembelajaran bahasa Arab berbasis web offline ini valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran.

Authentic Learning dengan pendekatan kolaboratif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa pada matakuliah strategi pembelajaran fisika (SPF) program studi pendidikan fisika / Eko Sujarwanto

 

Kata Kunci: authentic learning, pendekatan kolaboratif, kemampuan berpikir kreatif Kemampuan berpikir kreatif mahasiswa yang mengikuti matakuliah Strategi Pembelajaran Fisika perlu ditingkatkan agar mahasiswa dapat mengembangkan program pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Dosen menerapkan Authentic Learning dengan Pendekatan Kolaboratif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa Program Studi Fisika yang mengikuti matakuliah Strategi Pembelajaran Fisika. Kemampuan berpikir kreatif mencakup keterampilan mengenali masalah, keterampilan menganalisis, keterampilan berpikir divergen, dan keterampilan mengelaborasi. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dari Kemmis & Mc Taggart. Penelitian dilakukan selama tiga siklus pada offering CC kelas AY yang terdiri dari 19 mahasiswa pada tahun akademik 2011/2012. Materi ajar pada pelaksanaan tindakan adalah Hakikat IPA/Fisika dan implementasinya terhadap pembelajaran fisika, teori-teori belajar IPA/Fisika, dan model-model pembelajaran IPA/Fisika. Keterlaksanaan Authentic Learning dengan Pendekatan Kolaboratif diukur menggunakan Lembar Observasi Keterlaksanaan Authentic Learning dengan Pendekatan Kolaboratif. Kemampuan berpikir kreatif mahasiswa diukur menggunakan tes kemampuan berpikir kreatif yang berupa soal pilihan ganda. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan data secara lengkap dalam bentuk kalimat. Analisis kuantitatif digunakan sebagai data pendukung yang ditampilkan dalam bentuk angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Authentic Learning dengan Pendekatan Kolaboratif dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa. Keterampilan mengenali masalah dan keterampilan berpikir divergen mengalami penurunan sedangkan keterampilan menganalisis dan keterampilan mengelaborasi mengalami peningkatan. Keterlaksanaan authentic learning dengan pendekatan kolaboratif mengalami kenaikan dari siklus I ke siklus II namun mengalami penurunan pada siklus III, sehingga penerapan Authentic Learning dengan Pendekatan Kolaboratif dalam pembelajaran perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara seimbang setiap aspeknya.

Penerapan model talking stik untuk meningkatkan hasil belajar IPS kelas IV di SDN Blabak 3 Kota Kediri / Winarsih

 

Kata Kunci : model talking stik, hasil belajar, ilmu pengetahuan sosial Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peniliti di kelas IV diketahui bahwa dalam pembelajaran IPS sebagian besar siswa mencapai hasil belajar di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 65. Dari 33 siswa, hanya 11 siswa yang dinyatakan tuntas belajar, sedangkan 22 siswa lainya memperoleh hasil belajar dibawah ketentuan ktiteria minimal. Persentase hasil belajar siswa juga masih belum mencapai 75% dari seluruh jumlah siswa di kelas.Hal ini disebabkan karena ketika mengajar guru masih menggunakn model pembelajaran tardisional yaitu ceramah saja. Kenyataan inilah yang melatarbelakangi diadakannya penelitian tindakan kelas. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1) bagaimanakah penerapan model Talking Stik dalam pembelajaran IPS kelas IV di SDN Blabak 3 Kota Kediri, 2) apakah penerapan model Talking Stik dapat meningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Blabak 3 Kota Kediri. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV di SDN Blabak 3 Kota Kediri dengan jumlah 33 siswa. Data penelitian diperoleh dari observasi, tes akhir pembelajaran,dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan model Talking Stik dapat meningkatkan aktivitas siswa, Hal tersebut dibuktikan dengan peningkatan aktivitas siswa pada siklus II yang mencapai 83%.2) Pelaksanaan pembelajaran IPS dengan model Talking Stik dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Dengan jumah rata-rata siswa yang tuntas belajar pada pra siklus sejumlah 11 siswa, pada siklus I sejumlah 17 siswa, dan pada siklus II sejumlah 26 siswa dari 33 siswa di SDN Blabak 3. Adanya siswa yang belum tuntas disebabkan karena ada beberapa siswa yang tidak mau bertanya kepada guru jika ada materi yang belum dipahami saat siswa membaca atau mencari sendiri materi dari buku. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Talking Stik dapat meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Blabak 3 Kota Kediri 

Makna simbolik upacara adat ritual sesaji anak gunung kelud / Annisaul Dzikrun Ni'mah

 

Kata Kunci: Simbolik, Ritual, Sesaji, Gunung Kelud Upacara adat Ritual Sesaji adalah upacara adat yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat sekitar lereng Gunung Kelud. Upacara ini merupakan wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang diberikan kepada masyarakat melalui Gunung Kelud. Upacara ini memiliki tujuan untuk meminta keselamatan kepada Allah agar masyarakat lereng Gunung Kelud mendapatkan keselamatan apabila sewaktu-waktu Gunung Kelud meletus serta berdoa agar dalam bercocok tanam diberikan hasil yang melimpah. Penelitian ini difokuskan pada makna upacara adat ritual sesaji. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosesi, serta makna dan simbol nonverbal dalam upacara adat ritual sesaji anak Gunung Kelud. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memiliki karakteristik deskriptif. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan semiotika. Peneliti menggunakan teori semiotik struktural yang merujuk pada teori Ferdinand de Saussure. Makna dan simbol dalam penelitian ini dianalisis berdasarkan teori semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi. Semiotika signifikasi menghasilkan fungsi-fungsi tanda yang disepakati secara konvensional oleh masyarakat Desa Sugihwaras. Teori semiotika komunikasi digunakan untuk mengungkap maksud-maksud tertentu secara fisik dalam prosesi upacara. Data penelitian berupa hasil wawancara dan hasil pengamatan. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua teknik yaitu, wawancara mendalam dan observasi. Teknik tersebut, ditunjang dengan instrumen yang relevan, yaitu pedoman wawancara, pedoman pengamatan, alat perekam, kamera, dan catatan lapangan. Hasil penelitian berupa prosesi upacara adat ritual sesaji serta makna dan simbol nonverbal upacara adat ritual sesaji. Makna simbolik upacara adat ritual sesaji didasarkan pada interpretasi tanda nonverbal pada upacara adat ritual sesaji. Prosesi upacara adat ritual sesaji terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah persiapan yang meliputi ritual ke pundhen Mbah Ringin dan Mbah Sumber, memasak sesaji, dan pembersihan jalan. Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan yang terdiri dari (1) pemberangkatan menuju lokasi ritual didahului oleh Ratu sebagi cucuk lampah, serta pembawa sesaji, (2) serah terima sesaji dari Camat Ngancar/Bupati Kediri diserahkan kepada yang bertugas, (3) menuju pelataran di atas terowongan Ganesha, (4) mempersiapkan sesaji, (5) pembakaran ubo rampen sesaji, (6) komunikasi dengan makhluk gaib penghuni Gunung Kelud, (7) penyampaian sesaji (ujub) oleh Mbah Ronggo, (8) pembacaan doa oleh Bapak Kyai Ja’is, dan (9) memperebutkan sesaji. Adapun makna dan simbol nonverbal mengacu pada tanda nonverbal yang terdapat pada upacara adat ritual sesaji, yang meliputi (a) tanda nonverbal dalam upacara adat ritual sesaji yaitu, sebagian prosesi yang bermakna simbolik dan baju yang dipakai oleh sesepuh dan perangkat Desa Sugihwaras, (b) objek tanda nonverbal berupa: simbol-simbol keramat dan simbol-simbol ritual. Simbol-simbol keramat berupa pundhen Mbah Ringin dan pundhen Mbah Sumber. Simbol ritual berupa sesaji yang terdiri dari: (1) buceng kuat, (2) lodho sego gurih, (3) buceng kendit, (4) sego punar, (5) buceng towo, (6) keleman, (7) jajan pasar, (8) jenang reno pitu, (9) kembang setaman, (10) sisir, bedak, cermin, (11) cok bakal, dan (12) ubo rampen.

Karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi besar remitensi pengemis di desa Pragaan Daya kabupaten Sumenep / Jita Stia Sifrida

 

Kata kunci: Karakteristik, pengaruh, remitensi, pengemis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah bahwa Desa Pragaan Daya merupakan wilayah dengan kondisi alam yang tandus dan memiliki sumber daya manusia yang rendah. Hal ini mendorong masyarakatnya untuk bekerja sebagai pengemis karena pekerjaan tersebut mudah dilakukan, tidak membutuhkan keterampilan khusus, dan dapat menghasilkan uang dengan jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat. Lokasi kerjanya sebagian besar berada di luar daerah sehingga dalam jangka waktu tertentu akan mengirimkan penghasilan ke daerah asal (remiten). Remiten tersebut dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan guna mencukupi kebutuhan, hal tersebut akan berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga pengemis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) Karakteristik demografi, sosial, ekonomi pengemis (2) Pemanfaatan remitensi oleh rumah tangga pengemis (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi besar remitensi pengemis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode survey dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah Kepala Keluarga yang menjadikan pekerjaan pengemis sebagai mata pencaharian yang berjumlah 166 KK. Analisis data yang digunakan yaitu tabulasi tunggal dan silang (crosstab). Hasil penelitian menunjukkan: (1) Karakteristik demografi, sosial dan ekonomi: mayoritas pengemis berjenis kelamin perempuan, berumur produktif dan berstatus kawin. Sebagian besar berpendidikan rendah, memilih menjadi pengemis karena mendapatkan penghasilan yang lebih banyak, rata-rata telah menjadi pengemis selama 1-10 tahun, lokasi kerja sebagian besar di Pamekasan, dengan menggunakan alat transportasi bus mini dan rata-rata mengeluarkan biaya pemberangkatan sebesar Rp.4000-Rp.10.000, sedangkan cara mengemis sebagian besar dari rumah ke rumah. Memiliki tanggungan keluarga sebanyak 4-6 jiwa, dan rata-rata berpenghasilan per bulan Rp.600.000-Rp.1.200.000 (2) Pemanfaatan remitensi pengemis di Desa Pragaan Daya yaitu sebagian besar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok, dan pembelian barang-barang rumah tangga 3) Besar remitensi dipengaruhi oleh cara kerja mengemis, lokasi tempat mengemis, dan intensitas pengiriman uang.

Telaah strategi, metode, dan teknik pembelajaran membaca dan menulis bahasa Indonesia dalam penelitian mahasiswa Universitas Negeri Malang tahun 1990-2010 / Yesi Devisa Putri

 

Kata kunci: Pembelajaran Membaca, Pembelajaran Menulis Pembelajaran membaca dan pembelajaran menulis seringkali dikesampingkan masyarakat dengan alasan semua orang mampu melakukannya. Justru karena dikesampingkan, kualitas membaca masyarakat Indonesia menjadi sangat rendah. Dengan alasan yang sama, guru menjadi lalai dalam pembelajaran membaca dan menulis di kelas. Pembelajaran menjadi monoton dan sangat membosankan bagi siswa karena guru enggan menggunakan variasi-variasi dalam proses pembelajaran di kelas. Akibatnya, siswa semakin jauh dari aktivitas membaca dan menulis, padahal telah muncul bermacam bentuk strategi, metode, dan teknik pembelajaran membaca dan menulis yang bisa diterapkan guru dalam kelas. Menyikapi fenomena tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan berbagai strategi, metode, dan teknik pembelajaran membaca dan menulis bahasa Indonesia, mengidentifikasi berbagai permasalahan pembelajaran membaca dan menulis bahasa Indonesia serta solusinya yang terhimpun dalam berbagai hasil laporan penelitian tindakan kelas pembelajaran membaca dan menulis mahasiswa Universitas Negeri Malang tahun 1990–2010. Rancangan penelitian ini menggunakan analisis isi kualitatif. Sumber data penelitian adalah seluruh hasil laporan penelitian tindakan kelas pembelajaran membaca dan menulis mahasiswa S1 Universitas Negeri Malang tahun 1990–2010. Data penelitian berupa semua strategi, metode, dan teknik pembelajaran membaca dan menulis bahasa Indonesia, permasalan dalam proses pembelajaran membaca dan menulis bahasa Indonesia di kelas, serta solusinya. Keseluruhan data penelitian ini diambil dari perpustakaan Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik catatan lapangan. Proses analisis data diawali dari kegiatan menentukan unit analisis isi, pengkodean, analisis data, dan penyimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, ditemukan tiga simpulan. Simpulan yang pertama adalah telah ditemukan strategi, metode, dan teknik dalam pembelajaran membaca dan menulis bahasa Indonesia jenjang SD, SMP, dan SMA. Pada keterampilan membaca jenjang SD ditemukan dua bentuk aplikasi pembelajaran, yakni (1) Strategi SAS dan Bunyi dan (2) Metode MUELLER. Pada keterampilan membaca jenjang SMP ditemukan empat bentuk aplikasi pembelajaran, yakni (1) Strategi SQ3R, (2) Metode SPT , (3) Metode Gerak Mata, dan (4) metode DR-TA. Pada keterampilan membaca jenjang SMA tidak ditemukan bentuk strategi, metode maupun teknik. Pada keterampilan menulis jenjang SD ditemukan lima strategi, dua belas metode, dan empat teknik. Lima strategi pada keterampilan menulis jenjang SD adalah (1) strategi Modeling, (2) strategi TOK, (3) Strategi PIGKI, (4) Strategi Peta Pikiran, dan (5) Strategi 3M (Meniru-Mengolah-Mengembangkan). Dua belas metode yang ditemukan pada keterampilan menulis jenjang SD, yaitu (1) Metode Tebak Misteri, (2) Metode Belanja Gambar Berangkai, (3) Metode Windows, (4) Metode RKPL, (5) Metode Karya Wisata, (6) Metode Jigsaw, (7) Metode Flasf Card, (8) Model Paikem, (9) Model CTL, (10) Model STAD, (11) Model Think Pair Share, dan (12) Metode Pemberian Tugas. Empat teknik pada keterampilan menulis jenjang SD, yaitu (1) Teknik Rangsang Benda, (2) Teknik M2L, (3) Teknik Koreksi Teman Sebaya, dan (4)Teknik Rekonstruksi. Pada keterampilan menulis jenjang SMP ditemukan sembilan strategi, tujuh metode, dan lima teknik. Sembilan strategi dalam pembelajaran menulis jenjang SMP, yaitu (1) Strategi Hunter, (2) Strategi OTTL (Observasi, Tanya, Tulis dan Laporan), (3) Strategi MIND MAPPING, (4) Strategi Pair Check, (5) Strategi Windows, (6) Strategi Baca Gunting Tempel, (7) Strategi Konversi Cerpen, (8) Strategi Imagine, dan (9) Strategi Contoh Noncontoh. Tujuh metode dalam pembelajaran menulis jenjang SMP, yaitu (1) Metode STAD, (2) Metode TSTS (Two Stay Two Stray), (3) Metode Percobaan, (4) Metode Investigasi Kelompok, (5) Metode Mind Mapping, (6) Metode Experiental Learning, dan (7) Metode Pika Raka. Lima teknik dalam pembelajaran menulis jenjang SMP, yaitu (1) Teknik Merespon Puisi Model, (2) Teknik Temporari Rangsang lagu, (3) Teknik Modeling dengan Fokus Transfer Model, (4) Teknik Kartu Ilustrasi, dan (5) Teknik ASDAMBA. Pada keterampilan menulis jenjang SMA, ditemukan lima strategi dan lima metode. Lima strategi dalam pembelajaran menulis SMA, yakni (1) Strategi Mind Mapping, (2) Strategi Enam-M, (3) Strategi Bongkar Pasang, (4) Strategi TABIB, dan (5) Strategi 3M . Empat metode dalam pembelajaran menulis SMA, yakni (1) Metode AJJI, (2) Metode Experiental Learning, (3) metode Mind Mapping, dan (4) metode Peer Assesment. Sebagian besar ragam bentuk strategi, metode, dan teknik yang ditemukan dilatar belakangi oleh teori pembelajaran kognitivistik (75%) dan humanistik (23%). Hanya ada sedikit ragam bentuk strategi, metode dan teknik yang menggunakan teori dasar behavioristik, yakni hanya sebesar 2%. Simpulan yang kedua adalah ditemukannya berbagai bentuk permasalahan yang melatarbelakangi pengunaan strategi, metode, dan teknik dalam pembelajaran membaca menulis di jenjang SD, SMP, dan SMA. Pada pelajaran membaca jenjang SD ditemui permasalahan yang mucul antara lain seperti banyaknya siswa yang kurang lancar membaca pada paragraf panjang dan kurang percaya diri ketika membaca lantang. Permasalahan dalam pelajaran membaca jenjang SMP adalah siswa kurang bisa fokus pada tulisan yang dibaca. Sedangkan perma-salahan dalam pelajaran membaca jenjang SMA tidak ditemukan dalam data penelitian. Pada pelajaran menulis jenjang SD ditemukan permasalahan seperti siswa sulit menentukan ide tulisan, siswa sulit mengemukakan ide dalam bentuk tulisan, serta sulit diajak menulis. Pada pembelajaran menulis jenjang SMP ditemui permasalahan seperti siswa cenderung menjiplak, sulit diajak menulis, materi pembelajaran menulis terkesan mengulang-ulang pembelajaran lalu, serta hasil tulisan kurang padat dan beralur. Permasalahan pembelajaran menulis jenjang SMA yang ditemukan adalah kurangnya minat siswa pada pembelajaran menulis dan siswa belum mampu memilih judul yang selaras dengan isi. Simpulan yang ketiga adalah bahwa strategi, metode dan teknik pembelajaran membaca dan menulis yang ditemukan telah berhasil mengatasi beragamnya permasalahan yang muncul dalam pembelajaran membaca dan menulis di kelas. Meskipun demikian, untuk mendapatkan tingkat keberhasilan pembelajaran yang lebih baik masih perlu adanya penyesuaian dalam penggunaan ragam bentuk pembelajaran terhadap keadaan siswa, guru, dan lingkungan sekolah.

Nilai-nilai simbolis pada upacara kungkum sinden di Sendang Made Kudu Jombang / Lindawati

 

Kata Kunci: makna simbolis, Upacara Kungkum Sinden. Upacara Kungkum Sinden di Sendang Made Kudu Jombang merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Upacara tersebut penuh dengan makna dan simbol-simbol yang membentuk culture system (sistem budaya) pada masyarakatnya. Cultere system (sistem budaya) menghasilkan wujud budaya berupa adat istiadat yang berhubungan dengan sistem sosial dan kebudayaan fisik, sehingga terwujud totalitas kebudayaan yang meliputi ide-ide, aktivitas, dan karya manusia dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan simbol-simbol dalam Upacara Kungkum sinden di Sendang Made Kudu Jombang dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data penelitian berupa prosesi Upacara Kungkum Sinden dalam wujud tanda. Data penelitian diperoleh melalui tahapan observasi dengan peneliti sebagai instrumen utama, wawancara mendalam dengan informan, dan dokumentasi berupa foto dan video. Makna dan simbol dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan kajian ilmu semiotika. Analisis semiotika didasarkan atas teori semiotika diskriptif. Teori semiotika diskriptif menghasilkan diskriptif dari Upacara Kungkum Sinden, berupa ubarampe dan prosesi yang disepakati oleh masyarakat Desa Made. Hasil penelitian berupa deskripsi data tentang prosesi Upacara Kungkum Sinden di Sendang Made Kudu Jombang dan makna Simbolis Upacara Kungkum Sinden di Sendang Made Kudu Jombang. Adapun makna Simbolis Upacara Kungkum Sinden Di Sendang Made Kudu Jombang didasarkan pada tanda verbal. Interpretasi tanda non verbal mengacu pada benda-benda dan perilaku diluar kebahasaan yang memiliki makna konotatif bagi masyarakatnya, yaitu (a) objek tanda non verbal, berupa (1) simbol-simbol keramat, antara lain Sendang Drajat, Sendang Omben, Sendang Kemulyaan, Sendang Pengilon, Sumber Payung, Sendang Condong, Sendang Besar, cungkup Mbah Gombloh, cungkup Dewi Pandan Sari; (2) simbol-simbol ritual merupakan wujud adaptasi masyarakat Desa Made dengan alam. Simbol-simbol tersebut adalah, kemenyan, dupa, tumpeng, sesaji, bunga melati, kenanga dan mawar. Simpulan penelitian sebagai berikut (a) Upacara Kungkum Sinden adalah ritual pengukuhan sinden, dimana seorang sinden dipercaya setelah melakukan ritual ini dipercaya bisa mendatangkan berkah dan upacara ini merupakan aktualisasi budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. Selain itu upacara ini dahulu adalah hanya sebagai ritual, tetapi seiring berkembangnya zaman, masyarakat dan pemerintah Kabupaten Jombang bekerjasama untuk menjadikan upacara tersebut sebagai paket wisata yang menarik. (b) prosesi Upacara Kungkum Sinden ini terdiri dari, pembukaan, inti, dan penutup. Pembukaan sendiri diisi dengan pembukaan dari pembawa acara, sambutan dari pejabat terkait dan tes wisudawan wisudawati. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan sinden. Acara inti dimulai dengan prosesi penyiraman sinden oleh pejabat terkait, pemberian Sumber Payung kedalam guci berkah yang dibawa pulang oleh sinden, untuk diminum sebelum bekerja nyinden. Dan pengalungan selendang warna hijau sebagai bukti bahwa sinden telah siap untuk terjun kemasyarakat. Dan acara ditutp dengan acara sedekah desa, ini bertujuan bentuk rasa syukur Desa Made kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap hasil panen yang diperoleh. Ruwatan wayang oleh dalang Jombang, bertujuan untuk meruwat masyarakat Desa Made terhadap batarakala. Pada dasarnya semua piranti-piranti yang digunakan itu maknanya pada satu kehidupan yang dimana manusia bertujuan untuk mencari kebahagiaan. Masyarakat berusaha menggali unsur-unsur keberkahan dalam upacara tersebut, dengan mempersiapkan segala piranti yang dibutuhkan dalam upacara tersebut. Berdasarkan Hasil dari penelitian ini, peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya lebih teliti dalam menggali unsur-unsur budaya yang lebih dalam terhadap penelitian ritual Kungkum Sinden.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis learning cycle 5-E pada materi termokimia untuk kelas X1 kompetensi keahlian kimia analisis di SMK Negeri 7 Malang / Dwi retno wahyuni

 

Kata Kunci: bahan ajar, model learning cycle (LC) 5-E, termokimia. Pemerintah Indonesia memberi dukungan penuh terhadap perkembangan pendidikan melalui upaya perluasan dan pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia, salah satunya melalui pendirian SMK. Salah satu perwujudan SMK adalah SMK Negeri 7 Malang. Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas XI SMKN 7 Malang Kompetensi Keahlian Kimia Analisis banyak mengalami kendala, yakni rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi termokimia. Berdasarkan data yang diperoleh, 92,86 % siswa belum mencapai standar ketuntasan dengan nilai SKM 75. Wawancara dengan guru kimia menyatakan bahwa perlu adanya pengembangan bahan ajar pada materi termokimia dengan model pembelajaran alternatif yaitu Learning Cycle 5-E. Tujuan dari pengembangan bahan ajar adalah menghasilkan produk dan mengetahui kelayakan bahan ajar termokimia berbasis LC 5-E untuk siswa kelas XI Kompetensi Keahlian Kimia Analisis di SMKN 7 Malang. Pengembangan bahan ajar mengadaptasi metodologi penelitian dan pengembangan 4D yang dikemukakan oleh Thiagarajan yang terdiri dari empat tahap pengembangan yaitu define, design, develop dan desiminate. Dalam hal ini peneliti menggunakan tahapan penelitian dan pengembangan hingga pada tahap ketiga yakni define, design, dan develop. Produk yang dihasilkan oleh peneliti dilakukan uji coba produk untuk mengetahui kelayakannya. Uji coba produk yang dilakukan peneliti meliputi validasi produk oleh dosen, guru dan uji terbatas oleh siswa SMKN 7 Malang Kompetensi Keahlian Kimia Analisis melalui instrumen penelitian yang berupa lembar wawancara, soal uji kompetensi, dan lembar validasi. Jenis data yang diperoleh peneliti adalah data kualitatif dan kuantitatif. Untuk mengetahui kesesuaian bahan ajar termokimia dengan pihak SMKN 7 Malang maka bahan ajar yang telah direvisi selanjutnya dilakukan cross check dengan guru kimia SMKN 7 Malang. Hasil dari pengembangan adalah buku ajar termokimia yang dilengkapi dengan RPP. Berdasarkan hasil uji kelayakan terhadap buku ajar termokimia oleh dosen kimia UM dinyatakan sangat layak dengan tingkat validasi 3,78, sedangkan hasil validasi buku ajar termokimia oleh guru SMKN 7 Malang dinyatakan layak dengan tingkat validasi 3,24. Hasil Validasi RPP oleh guru SMK Negeri 7 Malang dinyatakan valid/baik/layak dengan tingkat validasi 3,24. Untuk hasil analisis soal uji kompetensi, diperoleh 35 soal yang dinyatakan valid, memiliki tingkat kesukaran soal sedang, daya beda yang sangat tinggi dan realibel. Berdasarkan hasil analisis validasi dan cross check oleh guru SMKN 7 Malang, maka bahan ajar termokimia yang telah dikembangkan dinyatakan layak untuk digunakan.

Pengembangan bahan ajar menyimak dongeng untuk siswa kelas VII SMP/MTs / Fitri Nur Wijayanti

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, menyimak dongeng, SMP/MTs. Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa siswa kesulitan dalam menentukan kemenarikan dongeng. Hal tersebut disebabkan oleh sedikitnya teori yang ada sehingga mereka kesulitan dalam menentukan hal seperti apa yang dianggap menarik. Selain itu, sedikit pula bahan ajar yang mengkhususkan pada apresiasi sastra untuk anak-anak. Begitu pula dalam hal merelevansikan isi dongeng. Hal-hal apa saja yang dapat direlevansikan, juga menjadi masalah bagi mereka. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar yang menyajikan teori-teori yang mereka butuhkan. Bahan ajar juga sebaiknya memuat tujuan pembelajaran, materi, contoh, latihan, evaluasi, refleksi yang dikemas dalam tampilan yang menarik dengan pemilihan warna,tata letak, dan juga ilustrasi yang sesuai. Siswa yang masih tergolong anak-anak, menyukai segala sesuatu yang santai dan menghibur. Salah satunya adalah dengan media menyimak yang berupa film kartun. Anak-anak sangat gemar menonton film kartun di televisi. Kondisi seperti inilah yang perlu disadari. Dengan menggunakan film kartun sebagai bahan simakan dongeng, diharapkan siswa akan lebih tertarik sehingga mereka lebih memahami isi dongeng tersebut dengan menyimak narasi, dialog dan juga sekaligus melihat adegan-adegan tokoh film kartun tersebut. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan (Research & Development) Borg dan Gall. Dari model penelitian yang dilakukan Borg dan Gall (1983:775) tersebut, peneliti mengadaptasinya sebagai berikut: (1) tahap prapengembangan (persiapan), (2) tahap pengembangan produk, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap pascapengembangan. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui empat kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli pembelajaran dongeng, (2) uji ahli materi dongeng, (3) uji praktisi yakni guru kelas VII SMP, (4) uji lapangan (siswa). Penyajian data uji coba diklasifikasikan berdasarkan inti dari tujuan pengembangan, yaitu aspek isi, penyajian, paparan bahasa, dan tampilan bahan ajar. Data numerik hasil uji produk dipersentase sesuai dengan pedoman interpretasi kelayakan produk agar dapat diketahui tindak lanjut dari produk, yaitu diimplementasikan atau direvisi. Data kuantitatif yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data kualitatif dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian ataupun dalam format uji lapangan, sedangkan data kualitatif lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. i     ii    Fokus penilaian oleh siswa berkaitan dengan media menyimak meliputi: (1) kejelasan suara video dongeng, (2) kejelasan peristiwa-peristiwa yang ada dalam video, (3) kemenarikan isi dongeng yang dipilih, (4) kejelasan bahasa yang digunakan dalam video. Komponen-komponen tersebut mendapat skor sebesar 87,5%, 82,9%, 94,3%, dan 92%. Dari keempat komponen tersebut tergolong, media ini sangat layak dan dapat diimplementasikan. Fokus penilaian oleh siswa berkaitan dengan buku ini meliputi: (1) kemudahan dalam memahami materi dongeng, (2) kemudahan dalam memahami latihan, (3) kemudahan dalam memahami petunjuk pengerjaan, (4) kejelasan bahasa yang digunakan, (5) kemenarikan sampul, (6) kemenarikan gambar dan ilustrasi, (7) kemenarikan warna yang dipilih, dan (8) kesesuaian ukuran dan warna huruf. Berdasarkan lampiran 11, secara berturut-turut komponen tersebut mendapat skor sebesar 98,7%, 86,4%, 84%, 88,6%, 87,5%, 96,6%, 95,4%, 94,3%. Selain data penilaian tersebut juga diperoleh data verbal tertulis pada kolom catatan dan data verbal yang ditranskripsikan dari hasil wawancara bebas dengan kelompok uji. Adapun beberapa saran dan kritik yang disampaikan, yaitu (1) bahan ajar langsung pada langkah pembelajaran, (2) tidak perlu terlalu banyak teori, (3) buang halaman-halaman yang kurang bermanfaat, (4) persebaran butir pembelajaran sebaiknya dihilangkan atau diletakkan dibagian akhir buku karena bahan ajar ini digunakan oleh anak, bukan oleh guru, (5) di bagian depan sebaiknya ditambahkan cerita motivasi atau anekdot agar siswa tertarik, (6) bahasa yang digunakan dalam bahan ajar sebaiknya menggunakan bahasa anak anak (pada bagian sapa penulis dan keterangan isi buku), (7) gunakan gambar-gambar yang lucu dalam buku agar siswa lebih tertarik, (8) definisi dongeng dan legenda berbeda, legenda bukan bagian dari dongeng, (9) tanda baca, khususnya pemenggalan kata disesuaikan dengan EYD, (10) petunjuk pengerjaan lebih diperjelas, (11) cover kurang cerah dan perlu ditambahkan hiasan-hiasan agar lebih menarik. Berdasarkan hasil beberapa uji menunjukkan bahwa produk bahan ajar tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Dengan demikian, hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran bagi beberapa pihak. Bagi guru, diharapkan penelitian pengembangan ini dapat dimanfaatkan untuk menyusun bahan ajar lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Pengembangan media pembelajaran ritatoon mata pelajaran IPS untuk siswa kelas IV di SDN Dinoyo 1 Malang / Kahar Muzakkir

 

Kata Kunci: pengembangan, media pembelajaran ritatoon, pelajaran IPS. Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan, sehingga membantu mengatasi kendala terjadinya kegagalan komunikasi yang terjadi antar guru dan siswa. Oleh sebab itu tujuan utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang dapat dipergunakan oleh guru. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Yang menjadi hambatan dalam proses pembelajaran IPS selama ini adalah kurangnya keterampilan guru dalam mengembangkan pendekatan dan metode atau model pembelajaran, kebanyakan fokus pembelajaran hanya berpusat pada guru, sehingga kurang menarik minat siswa. Pemilihan pengembangan media pembelajaran ritatoon ini berdasarkan observasi pengembang dan konsultasi dengan guru IPS kelas IV di SDN Dinoyo 1 Malang, yakni terbatasnya fasilitas laboratorium komputer dan media pembelajaran lainnya. Media pembelajaran yang digunakan terbatas, seperti buku teks, papan tulis, peta, globe dan gambar-gambar kecil, sehingga memerlukan tambahan media ritatoon, karena dalam media ritatoon terdapat gambar dengan ukuran besar yang bisa didemonstrasikan di depan kelas dan dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa dalam satu kelas. Tujuan pengembangan ini adalah: Menghasilkan media pembelajaran ritatoon yang valid/layak dan efektif digunakan pada mata pelajaran IPS kelas IV SD pada sub pokok bahasan perkembangan teknologi transportasi air di SDN Dinoyo 1 Malang . Model pengembangan yang menjadi acuan dalam pengembangan media ritatoon ini adalah model Sadiman. Model ini urutan langkahnya tersusun secara sistematis, sehingga dapat memudahkan pengembang dalam memproduksi media. Ini yang menjadi alasan pengembang memilih model ini. Analisis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif merupakan tanggapan dari ahli media, ahli materi dan siswa. Kuantitatif berupa skor hasil instrumen angket dan nilai hasil belajar siswa (pre test dan post test). Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan kepada ahli media, ahli materi dan siswa dapat disimpulkan bahwa media pembalajaran ritatoon layak atau valid digunakan sebagai media pembelajaran IPS di kelas IV. Dengan masing–masing presentase dari: (1) Ahli media (91.6%) dengan kriteria valid/layak, (2) Ahli materi (100%) dengan kriteria valid/layak, (3) Siswa perorangan (96.2%) dengan kriteria valid/layak, (4) Siswa kelompok kecil (97%) dengan kriteria valid/layak, (5) Siswa kelompok besar/klasikal (94.8%) dengan kriteria valid/layak.

Penerapan model pembelajaran MIND MAPPING untuk meningkatkan hasil belajar IPS geografi pada materi atmosfer dan hidrosfer siswa kelas VII E SMP Negeri 20 Malang / Riska Sahara

 

Kata Kunci: Hasil belajar IPS geografi, Model pembelajaran Mind mapping. Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa hasil belajar IPS geografi siswa kelas VII E SMP Negeri 20 Malang, 92,1% masih dibawah KKM dengan nilai rata-rata 63,89. Mayoritas siswa kurang dapat memahami dan mengingat materi-materi IPS geografi, terutama untuk materi yang mengandung pemahaman konseptual. Kesulitan pemahaman tersebut disebabkan oleh banyaknya materi dan banyaknya istilah dalam pelajaran IPS geografi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa terhadap materi pelajaran adalah dengan membelajarkan siswa cara mencatat yang baik yaitu melalui penelitian dengan penerapan model pembelajaran mind mapping. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar IPS geografi dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari 2 kali pertemuan dan 1 pertemuan untuk tes akhir siklus. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-E semester genap tahun ajaran 2011-2012 SMP Negeri 20 Malang dengan jumlah 38 siswa, terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 23 siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari dan Maret 2012. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa hasil belajar siswa yang diukur di setiap akhir siklus menggunakan instrument berupa tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa mulai dari pra tindakan, siklus I, hingga siklus II. Pada pra tindakan nilai rata-rata kelas sebesar 63,89, pada siklus I menjadi 73,05 dengan persentase kenaikan sebesar 14,33%, dan siklus II menjadi 78,34 dengan persentase kenaikan sebesar 7,24%. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi guru geografi agar menggunakan model pembelajaran mind mapping sebagai variasi model pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti pembelajaran. Bagi kepala sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan dan mengajarkan kepada guru untuk menerapkan model pembelajaran mind mapping dengan cara melakukan lesson study dan memberikan pelatihan kepada tim MGMP sekolah. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran mind mapping namun dengan subjek penelitian dan materi yang berbeda.

Pengembangan media interaktif permainan kartu berjenjang untuk pembelajaran membaca aksara Jawa siswa kelas VIII SMP / Desi Vuryanti

 

Kata Kunci: media interaktif, permainan kartu berjenjang, pembelajaran membaca, membaca aksara Jawa, siswa SMP Bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di dalamnya mencakup lima kompetensi dasar yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan sastra. Dalam membaca aksara jawa, siswa harus mampu menguasai dua keterampilan yaitu membaca bacaan berbahasa Jawa berhuruf latin, dan membaca bacaan berbahasa Jawa berhuruf Jawa. Agar dapat terampil membaca bacaan berhuruf Jawa, siswa harus memahami dan mengenal aksara Jawa. Pembelajaran membaca aksara Jawa disekolah saat ini masih kurang maksimal. Keterbatasan waktu dan media menjadi salah satu hambatan yang dihadapi oleh guru. Berkaitan dengan hal tersebut maka disajikan sebuah media interaktif dalam bentuk permainan kartu berjenjang untuk pembelajaran membaca aksara Jawa. Tujuan penelitian ini secara umum adalah mengembangkan media interaktif berupa permainan kartu berjenjang untuk pembelajaran membaca aksara Jawa. Adapun tujuan kususnya adalah (1) menghasilakan media interaktif permainan kartu berjenjang untuk pembelajaran membaca aksara Jawa siswa kelas VIII SMP, (2) mendeskripsikan kelayakan media interaktif permainan kartu berjenjang yang memenuhi kriteria sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Jawa untuk meningkatkan kemampuan membaca aksara Jawa siswa kelas VIII SMP. Penelitian ini menggunaka jenis penelitian pengembangan. Rancangan penelitian mengadaptasi dari model desain pembelajaran Brog and Gall (1983). Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini terdapat tujuh tahap prosedur penelitian, yakni (1) penelitian dan pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji coba perorangan/ahli, (5) revisi produk yang telah diuji coba kepada ahli, (6) uji coba terbatas/siswa, (7) revisi produk akhir. Hasil penelitian ini berupa produk CD interaktif permainan kartu berjenjang untuk pembelajaran membaca aksara Jawa dan diuji cobakan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Malang. Validasi media diperolaeh dari hasil uji coba dengan ahli pembelajaran dan praktisi/guru bahasa Jawa serta ahli media. Hasil uji coba dengan ahli pembelajaran bahasa Jawa menunjukkan rata-rata kelayakan sebesar 85,42%, ahli media 80,21%, ahli praktisi/guru bahasa Jawa 79,16%, dan siswa kelompok terbatas sebesar 86,1%. Keempat hasil uji tersebut menunjukkan bahwa media tergolong layak dan siap diimplementasikan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui pembelajaran aktif guide note-taking di kelas V SDN Bawang 3 kota Kediri / Binti Mucholifah

 

Kata Kunci: ilmu pengetahuan sosial, hasil belajar, pembelajaran aktif, guided note-taking Kegiatan observasi yang dilakukan pada kegiatan pembelajaran IPS di kelas V SDN Bawang 3 Kota Kediri menemukan hasil bahwa kegiatan pembelajaran hanya berpusat pada guru, dan siswa kurang aktif. Akibatnya hasil belajar IPS rendah, yaitu dari 41 siswa hanya 4 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM. Untuk itu diperlukan perbaikan pada pembelajaran IPS melalui Pembelajaran Aktif Guided Note-Taking. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Pembelajaran Aktif Guided Note-Taking pada pembelajaran IPS. Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui Pembelajaran Aktif Guided Note-Taking. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Bawang 3 Kota Kediri. Data diperoleh dari hasil observasi aktifitas guru dan siswa selama proses pembelajaran, hasil tes evaluasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan Pembelajaran Aktif Guided Note-Taking pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata keaktifan siswa pada siklus 1 pertemuan 1 adalah 52,2 pertemuan 2 adalah 53,3. Pada siklus 2 pertemuan 1 adalah 59,5 pada pertemuan 2 adalah 65,2. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat mulai dari siklus 1, yaitu 28 siswa mencapai nilai di atas KKM dan pada siklus 2 sebanyak 40 siswa mencapai nilai di atas KKM. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan Pembelajaran Aktif Guided Note-Taking dapat meningkatkan hasil belajar IPS di Kelas V SDN Bawang 3 Kota Kediri. Peningkatan hasil belajar dibuktikan dengan adanya peningkatan aktifitas dan hasil belajar.

Implementasi model pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams Achievement Division) sebagai upaya meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VIIID SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung / Ika Meysiswati

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif STAD, motivasi, aktivitas, hasil belajar Penelitian Tindakan Kelas telah dilakukan di SMP Negeri I Boyolangu Tulungagung mulai tanggal 13 November 2009 sampai dengan 15 Desember 2009. Peneliti berkolaborasi dengan guru bidang studi biologi kelas VIIID di SMP Negeri I Boyolangu untuk menemukan permasalahan dan pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran biologi di kelas. Berdasarkan hasil observasi awal di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung, diketahui bahwa hasil belajar biologi masih rendah. Hal ini dapat diketahui dari hasil SKBM (Standart Ketuntasan Belajar Minimal) klasikal untuk bahasan “Sistem Gerak” hanya sebesar 30,95% (hanya 13 siswa dari 42 siswa yang mencapai tuntas belajar). Di samping itu dari hasil observasi di kelas diperoleh permasalahan yang dihadapi guru pada saat proses pembelajaran, antara lain: kurangnya motivasi belajar siswa yang ditandai dengan kurangnya antusias siswa dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan guru serta sedikitnya siswa yang mau menjawab pertanyaan guru (3 siswa yang duduk di jajaran bangku depan). Dalam hal aktivitas belajar, banyak kelompok yang tidak mau melaporkan hasil diskusi kelompoknya. Selain itu masih banyak siswa yang mendominasi dalam kelompoknya. Melalui diskusi dengan guru mata pelajaran biologi di SMP Negeri I Boyolangu Tulungagung, maka peneliti berkolaborasi dengan guru mencari solusi sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar, aktivitas belajar kooperatif, dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD. Penelitian yang relevan dilakukan oleh Indriani (2006) membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Sedangkan penelitian yang dilakukan Sa’adah (2003) membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar kooperatif dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian tindakan kelas (PTK) tediri dari 2 siklus, masingmasing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif STAD. Untuk motivasi belajar terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 31,9% untuk aspek usaha, 13, 9% untuk aspek perhatian, dan 8,3% untuk aspek penampilan. Untuk aktivitas belajar kooperatif masing-masing kelompok umumnya mengalami peningkatan dari siklus I ke Siklus II yaitu sebesar 29% pada kelompok IV, 8% pada kelompok V, 18 % pada kelompok VI, 12,4% pada kelompok VII, dan 29% pada kelompok VIII. Aktivitas belajar kooperatif siswa per elemen kooperatif juga mengalami peningkatan yaitu sebesar 15,63% untuk elemen kooperatif pertanggungjawaban individu, 12,5% untuk keterampilan berinteraksi antar individu dan kelompok, serta 28% untuk elemen kooperatif keefektivan proses kelompok. Hasil belajar terjadi peningkatan SKBM (Standart Ketuntasan Belajar Minimal) klasikal sebesar 47,62% dari sebelum perlakuan ke siklus I, dan peningkatan sebesar 7,13% dari siklus I ke siklus II.

Pengembangan lembar kerja siswa (LKS) matematika realistik pada materi bangun ruang sisi datar untuk SMP RSBI / Eka Resti Wulan

 

Kata Kunci: LKS, Matematika Realistik, RSBI Pendekatan pembelajaran matematika realistik atau sering disebut Realistic Mathematics Education (RME) dimulai dengan masalah kontekstual yang berisi konsep matematik, siswa diberi kesempatan memikirkan sendiri strategi atau model untuk pemecahan masalah kontekstual, sehingga siswa tidak hanya belajar menghafalkan rumus. Berdasarkan survei dan wawancara dengan seorang guru matematika SMP RSBI, Lembar Kerja Siswa (LKS) bangun ruang sisi datar untuk RSBI belum menghubungkan penemuan konsep matematik dengan masalah kontekstual, sehingga masih banyak siswa yang merasa kesulitan ketika dihadapkan pada masalah kontekstual yang tidak rutin. Padahal banyak masalah di dunia nyata siswa yang berkaitan dengan materi tersebut. Disamping itu masih jarang ditemui LKS berbahasa Inggris yang dipergunakan pada SMP RSBI, maka perlu dikembangkan LKS matematika realistik dengan materi bangun ruang sisi datar untuk siswa SMP RSBI yang berbahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses pengembangan LKS matematika realistik pada materi bangun ruang sisi datar untuk siswa SMP RSBI dan mendeskripsikan LKS tersebut yang valid, praktis dan efektif serta menghasilkan suatu LKS matematika realistik pada materi bangun ruang sisi datar untuk siswa SMP RSBI. Pengembangan LKS ini menggunakan model pengembangan oleh Plomp yang melalui tahap-tahap, yaitu: (1) tahap investigasi awal, (2) tahap perancangan, (3) tahap realisasi/konstruksi, (4) tahap tes, evaluasi, dan, dan (5) tahap implementasi. Tetapi berdasarkan kebutuhan, peneliti hanya melaksanakan hingga tahap keempat. Uji kevalidan dilakukan oleh satu dosen matematika dan satu guru matematika, kemudian uji kepraktisan dilakukan oleh dua guru matematika dan 30 siswa pada suatu kelas. Dilanjutkan uji keefektifan yang juga dilakukan pada 30 siswa tersebut. Berdasarkan hasil analisis pengembangan, skor kevalidan yang diperoleh adalah 3,57; 3,61 sebagai skor kepraktisan dari segi pengajar dan 3,21 dari segi siswa, serta persentase nilai keefektifan yaitu 95,74 %. LKS dinyatakan dalam kriteria valid, praktis, dan efektif. Dengan demikian LKS yang telah dikembangkan layak digunakan sebagai suatu sumber belajar dalam pembelajaran matematika pada materi bangun ruang sisi datar untuk siswa SMP RSBI. Walaupun secara keseluruhan LKS yang dikembangkan dalam kriteria valid, praktis dan efektif, tetapi sebagai penyempurnaan LKS, ada beberapa revisi yang dilakukan peneliti berdasarkan saran dan catatan yang diberikan dosen, guru, dan siswa.

Penerapan pembelajaran model team game tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS 1 SMAN 2 Situbondo / Fathorrahman Jalal

 

Kata Kunci: Pembelajaran model Team Game Tournament (TGT), Hasil belajar Berdasarkan observasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan pada bulan September-Oktober tahun 2011 di SMA Negeri 2 Situbondo diketahui bahwa guru masih menggunakan metode pembelajaran yang sifatnya memusat yaitu tanya-jawab dan diteruskan dengan mengerjakan LKS. Kondisi ini menyebabkan proses pembelajaran kurang bervariasi. Dampaknya siswa merasa bosan dan akhirnya hasil belajar yang diperoleh siswa belum maksimal, nilai rata-rata ulangan harian 58,3 dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) untuk mata pelajaran Geografi adalah 70. Selain itu kondisi belajar yang membosankan, kurang melibatkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, selain itu kurangnya interaksi antar teman juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan nilai hasil belajar siswa rendah. Selain itu menurut para siswa materi pelajaran geografi sangat banyak sehingga susah untuk mempelajarinya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan menerapan metode pembelajaran Team Game Tournament yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Situbondo dalam mata pelajaran IPS Geografi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari 2 siklus, siklus pertama dilaksanakan dalam 2 pertemuan dan siklus kedua juga dilaksanakan dalam 2 pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di kelas XI IPS 1 dengan jumlah siswa 32 orang. Data dalam penelitian ini berupa hasil belajar siswa. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, hasil observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar Gepgrafi siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Situbondo. Rata-rata nilai sebelum tindakan adalah 58,53 mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 79,90 (36,51%) dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 81,50 (39,24%). Setelah diberi tindakan terjadi ketuntasan belajar sebesar 100%. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini disarankan: (1) bagi guru IPS Geografi, model pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Perlu memperhatikan alokasi waktu agar tahapan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan tujuan dapat tercapai, (3) dalam pembuatan soal perlu diperhatikan tingkat kesulitan soal agar nilai belajar siswa dapat meningkat bukan malah menurun, dan (4) Pemberian motivasi dan pengahargaan perlu dilakukan agar siswa bersemangat belajar.

Perbedaan kematangan emosi ditinjau dari kebutuhan akan cinta pada mahasiswi di fakultas pendidikan psikologi Universitas Negeri Malang / Ruud ayu Dewanti

 

Kata kunci: Kematangan emosi, kebutuhan akan cinta, mahasiswi Sebagai individu yang telah memasuki tahap perkembangan dewasa awal salah satu permasalahan yang tidak bisa lepas dari kehidupan seorang mahasiswi adalah permasalahan cinta. Hal tersebut tidak bisa lepas dari salah satu tugas perkembangan masa dewasa awal yaitu mencari pasangan, disisi lain mahasiswi adalah manusia yang tidak pernah lepas dari kebutuhan akan cinta. Kebutuhan akan cinta adalah suatu perasaan yang dibutuhkan oleh manusia agar manusia dapat berkembang dan bersosialisasi, dikarenakan manusia adalah makhluk yang tidak bisa berpisah antara satu sama lain. Mahasiswi dalam menghadapi suatu permasalahan membutuhkan kematangan emosi. Kematangan emosi merupakan suatu keadaan dimana seorang individu telah mencapai keberhasilan dalam mengelola emosinya dengan lebih baik yang memiliki ciriciri antara lain kontrol emosi, pemahaman diri, dan penggunaan fungsi kritis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kematangan emosi ditinjau dari kebutuhan akan cinta pada mahasiswi di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif karena peneliti akan mendeskripsikan atau menggambarkan berdasarkan datadata mengenai tingkat kematangan emosi dan kebutuhan akan cinta, serta perbedaan kematangan emosi ditinjau dari kebutuhan akan cinta pada mahasiswi di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswi yang telah memasuki tahap perkembangan dewasa awal dengan karakteristik berusia 20-22 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang dengan populasi berjumlah 130 orang. Untuk menganalisis data menggunakan statistik inferensial parametrik yaitu Independent Sample Test untuk mengetahui perbedaan kematangan emosi ditinjau dari kebutuhan akan cinta. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan kematangan emosi ditinjau dari kebutuhan akan cinta pada mahasiswi di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang yang dibuktikan dengan nilai yang diperoleh dari uji Independent Sample Test sebesar (t= 0,954) dengan signifikansi (0,344 > 0,05). Selain itu, dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat perbedaan kebutuhan akan cinta berdasarkan status hubungan pada mahasiswi di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada: 1) mahasiswi pada saat seseorang menjalankan suatu hubungan romantis, tinggi atau rendahnya kematangan emosi seseorang akan terlihat seiring dengan berjalannya waktu, maka penting bagi pasangan untuk saling memahami satu sama lain. Apabila mahasiswi menginginkan hubungan cinta yang berkualitas maka dibutuhkan sikap saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ketika ada salah satu dari pasangan yang memiliki kematangan emosi rendah maka disarankan bagi pasangannya untuk berusaha memahami dan membimbing kearah kematangan yang lebih baik. 2) peneliti selanjutnya agar menambah metode penelitian supaya didapat subyek penelitian yang lebih akurat sesuai dengan kriteria yang diinginkan serta menambah jumlah subyek penelitian agar diperoleh data yang lebih akurat.

Persepsi dan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran seni budaya bidang seni tari di SMA Negeri 1 Singosari Malang / Sindi Laras

 

Kata Kunci: persepsi, motivasi, Seni Budaya Pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya di SMA Negeri 1 Singosari mencakup bidang seni rupa untuk siswa kelas XI dan siswa kelas XII, sedang kelas X mencakup bidang seni tari. Seluruh siswa kelas X diwajibkan mengikuti pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari tanpa memperhatikan bakat dan minat mereka. Untuk itu, ada beberapa siswa yang menolak untuk melakukan kegiatan praktek menari. Karena persepsi dan motivasi turut mempengaruhi hasil belajar siswa, serta persepsi dapat menimbulkan minat dan motivasi, maka hasil belajar akan optimal jika didorong oleh motivasi yang tepat dan kuat. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi dan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari di SMA Negeri 1 Singosari Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan persepsi dan motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari di SMA Negeri 1 Singosari Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dan pengumpulan datanya menggunakan angket. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik prosentase. Populasinya adalah siswa SMA Negeri 1 Singosari. Sampel dilakukan secara sampling random sederhana pada kelas X SMA Negeri 1 Singosari yang berjumlah 260 siswa, selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara acak dan jumlah keseluruhan sampel adalah 52 siswa. Hasil penelitian ini adalah persepsi siswa terhadap pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari cenderung kurang baik serta motivasi belajar siswa terhadap pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari cenderung rendah. Maka, disarankan agar guru/pendidik dapat membimbing, mengarahkan serta meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu dengan cara melakukan penelitian tindakan kelas serta memberikan variasi atau metode pengajaran yang kreatif (tidak monoton). Untuk itu, seorang guru pelajaran Seni Budaya bidang seni tari harus memahami konsep pendidikan seni. Selain itu, dengan adanya kesenjangan alasan pada sikap siswa yang menerima jika pelajaran Seni Budaya bidang seni tari menjadi pelajaran yang wajib ditempuh baik siswa perempuan maupun siswa laki-laki adalah, bukan atas minat mereka akan tetapi karena wajib dilaksanakan di sekolah, maka disarankan mahasiswa Pendidikan Seni Tari untuk melakukan tindak lanjut dari penelitian ini yang memfokuskan permasalahan penelitian pada sikap siswa terhadap pembelajaran Seni Budaya bidang seni tari.

Hubungan konflik peran ganda dengan kepuasan kerja pada wanita yang berkarir sebagai guru / Chrisma Maharani

 

Kata Kunci : konflik peran ganda, kepuasan kerja, wanita yang berkarir sebagai guru Konflik peran ganda adalah kondisi psikologis yang bertentangan antara tuntutan pekerjaan dan tuntutan keluarga, sehingga sulit memenuhi harapan masing-masing peran secara seimbang. Kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, dinilai dari terpenuhinya harapan-harapan seseorang terhadap pekerjaan tersebut. Wanita yang berkarir sebagai guru adalah mereka yang memiliki aktivitas diluar kodratnya, serta memiliki ketrampilan dan ketelatenan untuk menciptakan anak memiliki perilaku sesuai yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk ( 1 ) mengetahui konflik peran ganda pada wanita yang berkarir sebagai guru; ( 2 ) mengetahui kepuasan kerja pada wanita yang berkarir sebagai guru; ( 3 ) mengetahui apakah ada hubungan antara konflik peran ganda dengan kepuasan kerja pada wanita yang berkarir sebagai guru. Jenis Penelitian ini adalah deskriptif-korelasional, sedang dalam pengambilan subjek penelitian diambil dengan cara cluster random sampling, dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yaitu wanita karir dengan ciri-ciri : ( 1 ) berkarir sebagai guru ( 2 ) berusia 21-55 tahun ( 3 ) lama bekerja minimal 1 tahun dan ( 4 ) memiliki anak berusia sekitar 0-12 tahun. Penelitian ini menggunakan 2 instrumen yaitu skala konflik peran ganda dan skala kepuasan kerja yang dikembangkan oleh peneliti. Dengan menggunakan korelasi pearson didapatkan hasil uji validitas aitem konflik peran ganda, yaitu validitasnya antara 0,415 sampai 0,902 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0,950. Sedangkan untuk hasil uji validitas aitem kepuasan kerja, yaitu validitasnya antara 0,408 sampai 0,867 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0,919. Dari penelitian diperoleh hasil : ( 1 ) konflik peran ganda wanita yang berkarir sebagai guru berada dalam klasifikasi tinggi ( 53,33 % ) dan ( 46,66 % ) rendah; ( 2 ) kepuasan kerjanya berada dalam klasifikasi tinggi ( 46,66 % ) dan rendah ( 53,33 % ); (3) dengan menggunakan teknik korelasi pearson antara konflik peran ganda dan kepuasan kerja sebesar rxy = -0,850 dengan signifikansi ( 0,000 < 0,05 ), hal ini menunjukan bahwa ada hubungan negatif antara konflik peran ganda dengan kepuasan kerja pada wanita yang berkarir sebagai guru. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi : ( 1 ) wanita yang berkarir sebagai guru untuk melakukan manajemen diri dalam mengatasi konflik diri, khususnya konflik peran, sehingga mengetahui tingkat toleransi stres dan menyeimbangkan dengan refreshing; ( 2 ) organisasi untuk memberikan suatu sistem pengembangan karyawan terkait cara mengatasi konflik peran ( pelatihan manajemen konflik ), kemudian memberi jadwal kerja alternatif dan pembagian kerja ( 3 ) peneliti selanjutnya untuk memberikan sumbangan treatment.

Penerapan cooperative learning model two stay two stray untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IXG di SMP Negeri 7 Malang pada materi unsur-unsur fisik dan sosial kawsan Asia Tenggara / Eri Edi Saputra

 

Kata kunci: model TSTS, hasil belajar siswa Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 15 November 2011 di kelas IXG SMP Negeri 7 Malang diketahui bahwa 27 siswa masih kurang aktif di dalam proses pembelajaran, dikarenakan kurang termotivasi dalam belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matapelajaran IPS di SMPN 7 Malang diketahui bahwa nilai hasil belajar masih rendah dimana dari SKM yang ditetapkan, hanya 13 siswa yang memperoleh nilai lebih dari sama dengan 75 dan 19 siswa lainnya mendapat nilai kurang dari 75. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tulis. Penelitian dilaksanakan di kelas IXG SMPN 7 Malang dengan jumlah 32 siswa, pada materi: Unsur-Unsur Fisik dan Sosial Kawasan Asia Tenggara. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa pada rata-rata persentase aktivitas kelas sebesar 37,03% pada siklus I meningkat menjadi 28,07% pada siklus II. Hasil penelitian tentang hasil belajar siswa kelas IXG SMPN 7 Malang juga mengalami peningkatan. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 5,34% meningkat menjadi 13,11% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa (1) pelaksanaan model TSTS di SMPN 7 Malang sudah terlaksana dengan baik yakni pada siklus I dan siklus II dengan seluruh sintak-sintak pembelajaran model TSTS sudah dilakukan, (2) pembelajaran dengan model TSTS mampu meningkatkan pengetahuan dan interaksi siswa, (3) penerapan model pembelajaran TSTS di kelas IXG SMPN 7 Malang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Saran yang diberikan yaitu: (1) guru harus melakukan pengelolaan kelas yang baik dengan menguasai kondisi kelas sehingga sintak dalam pembelajaran berjalan lancar dan terkendali, (2) guru harus bersikap tegas dalam menegur siswa yang gaduh dan memberi pertanyaan atau perlakuan khusus lain untuk siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran TSTS dapat mencapai tujuan pembelajaran, (3) soal test akhir siklus perlu diberi variasi agar dalam pelaksanaan test siswa tidak saling bertukar jawaban dan bekerjasama, (4) guru harus melakukan managemen waktu dalam pembelajaran TSTS agar setiap sintak dalam pembelajaran dapat berjalan optimal.

Pengembangan modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan NEWS ITEM TEXT untuk siswa kelas X Semester 2 Tahun ajaran 2011/2012 MAN MOJOSARI-MOJOKERTO / Nur izzati

 

Kata kunci: pengembangan, modul pembelajaran, bahasa Inggris, pokok bahasan news item text. Modul adalah suatu cara pengorganisasian materi pelajaran yang lengkap yang berdiri sendiri, terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu para siswa dalam mencapai sejumlah tujuan belajar yang telah dirumuskan secara spesifik dan operasional. Berdasarkan hasil observasi kepada siswa kelas X semester 2 MAN Mojosari-Mojokerto untuk matapelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kebutuhan siswa terhadap modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 tergolong tinggi karena persentase yang dicapai oleh tiap-tiap item berkisar antara 58-100%, meskipun ada satu item yang hanya mencapai persentase 29,41 %. Hal ini menandakan bahwa siswa sangat membutuhkan modul berkaitan dengan pokok bahasan News Item Text. Model pengembangan modul ini melalui serangkaian tahapan yang mengacu pada teori pengembangan Borg & Gall (1983) yaitu: (1) need assessment, (2) merumuskan tujuan pengembangan modul, (3) menyusun modul, (4) penilaian uji ahli, (5) revisi produk, (6) uji calon pengguna produk dan uji kelompok kecil (uji review). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan angket untuk need assesment, penilaian uji ahli, calon pengguna produk, serta uji pada kelompok kecil. Penilaian terhadap modul ini dilakukan oleh ahli isi materi bahasa Inggris, media, serta desain. Selain itu juga dilakukan uji calon pengguna produk yaitu guru dan uji kelompok kecil pada sepuluh orang siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket dan tes hasil belajar. Modul pembelajaran ini divalidasikan kepada ahli isi, ahli media, ahli desain, calon pengguna produk dan audiens/ siswa. Hasil persentase validasi ahli isi sebesar 87,5% berdasarkan kriteria modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 termasuk kualifikasi valid. Hasil persentase validasi ahli media sebesar 100% berdasarkan kriteria modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 termasuk kualifikasi valid. Hasil persentase validasi ahli desain sebesar 85% berdasarkan kriteria modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 termasuk kualifikasi valid. Hasil persentase validasi calon pengguna produk sebesar 90% berdasarkan kriteria modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 termasuk kualifikasi valid. Hasil persentase uji coba audiens/ siswa sebesar 94,74% berdasarkan kriteria modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 termasuk kualifikasi valid. Revisi yang dilakukan setelah validasi antara lain adalah (1) Pengembangan latihan yang berbentuk pilihan ganda sesuai dengan rambu-rambu yang sudah digariskan seperti buku tes Bahasa Inggris. (2) Kosa kata yang terdapat pada modul ditambah untuk menambah kosa kata siswa. (3) Tekstual yang terdapat pada modul direvisi secara umum dan excellence. (4) Ukuran atau format dan font tulisan yang terdapat pada modul dibesarkan supaya tidak terasa sempit untuk penyajian materi atau isi di tiap halaman dan juga supaya tidak berjejalan antara teks, box, dan elemen-elemen lain. (5) Pengembang lebih intensif untuk mengkonsultasikan materi kepada ahli isi. (6) Bahasa yang digunakan pada modul lebih disederhanakan dan diperjelas supaya siswa lebih mudah memahami materi yang terdapat pada modul. (7) Evaluasi yang diberikan dikurangi dan dibuat semenarik mungkin, contohnya seperti evaluasi yang melibatkan gerak fisik karena siswa Indonesia lebih mudah memahami materi yang melibatkan “Physical Involvement”. (8) Gambar yang mendukung pemahaman materi ditambah supaya siswa lebih tertarik untuk mempelajari materi pada modul tersebut. (9) Tanggapan dari uji coba siswa kelompok kecil, modul pembelajaran sebaiknya sering-sering disisipi aktifitas-aktifitas yang bisa membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan siswa tidak jenuh, contohnya seperti diskusi, presentasi, dan praktek. (10) Penulisan modul baik dari segi paragraf bacaan atau materi pada modul tersebut lebih diperbaiki. Untuk Tes Hasil Belajar, dari 10 siswa telah memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Hasil persentase untuk tingkat keefektifan penggunaan modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 ini mencapai 87,75%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan News Item Text untuk siswa kelas X semester 2 bisa dikatakan efektif, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran News Item Text.

Meningkatkan kemenarikan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan metode bermain pada siswa kelas IV di SDN Tundosoro kabupaten Pasuruan / Santi Jayanti

 

Kata Kunci: kemenarikan pembelajaran, lari jarak pendek, bermain. Atletik merupakan salah satu materi Pendidikan jasmani yang wajib diberikan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMA/MA. Atletik adalah cabang olahraga yang meliputi nomor jalan, lari, lempar dan lompat. Didalam nomor lari ada beberapa macam keterampilan yang diajarkan di sekolah-sekolah, yang seperti: 1) lari cepat (sprint), 2) lari jarak menengah, 3) lari jarak jauh dan 4) lari sambung. Lari cepat (sprint) merupakan salah satu macam dari cabang atletik. Melalui pembelajaran lari cepat (sprint) diharapkan siswa lebih perhatian, senang dan termotivasi serta lebih tekun terhadap materi yang diberikan. Berdasarkan observasi awal, diketahui bahwa kemenarikan pembelajara lari cepat (sprint) di SDN TUNDOSORO Kabupaten Pasuruan masih kurang optimal. Masih banyak siswa yang kurang senang, tidak memperhatikan bahkan bermalas-malasan di dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemenarikan pembelajaran lari cepat (sprint) setelah melakukan metode bermain. Melalui bermain ini siswa melakukan pembelajaran lari cepat (sprint) sambil bermain. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Rancangan penilitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK ini dilaksanakan pembelajaran lari cepat (sprint) dengan metode bermain. Melalui bermain siswa melaksankan pembelajaran lari cepat (sprint). Hal ini sangat penting mengingat banyak siswa yang kurang senang, kurang memperhatikan dan bermalas-malasan dalam pembelajaran cepat (sprint). Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru SDN TUNDOSORO merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung selama 3 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemenarikan siswa terhadap pembelajaran lari cepat (sprint) siswa kelas IV SDN TUNDOSORO Kabupaten Pasuruan mengalami peningkatan. Hasil tindakan siklus 1 dari 1) perhatian dalam pembelajaran sebesar 50,77%, 2) senang dalam belajar sebesar 60,93%, 3) keinginan lebih/motivasi dalam pembelajaran sebesar 59,37%, 4) ketekunan sebesar 49,22%. Hasil tindakan siklus 2 dari 1) perhatian dalam pembelajaran sebesar 75,78%, 2) senang dalam belajar sebesar 82,03%, 3) keinginan lebih/motivasi sebesar 76,56%, 4) ketekunan sebesar 69,53%. Hasil tindakan siklus 3 dari 1) senang dalam belajar sebesar 84,37%, 2) senang dalam belajar sebesar 87,52%, 3) keinginan lebih/motivasi sebesar 82,03%, 4) ketekunan sebesar 78,12. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran lari cepat (sprint) dengan metode bermain dapat meningkatkan kemenarikan pembelajaran pada siswa kelas IV SDN TUNDOSORO Kabupaten Pasuruan.

Pengembangan ekowisata di Gua Gong kabupaten Pacitan berdasarkan potensi fisik, sosial dan sarana wilayah / Ardhani Aji Saputra

 

Kata Kunci: pengembangan ekowisata, Gua Gong, Pacitan, kondisi fisik, kondisi sosial, kondisi sarana wilayah Kawasan karst merupakan kawasan dengan keunikan bentang alam yang harus dilindungi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional Pasal 53. Pemanfaatan bentukan karst seperti gua sebagai objek wisata dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan ekosistem tersebut. Gua Gong merupakan salah satu objek wisata paling popular yang dikembangkan di Kabupaten Pacitan. Sebagai objek wisata yang popular, jumlah pengunjung objek wisata Gua Gong semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kenaikan tersebut memunculkan kekhawatiran akan rusaknya sistem karst ini, karena eksploitasi yang berlebihan. Ditemukan banyak ornamen gua yang rusak/patah atau kotor karena disentuh pengunjung, sengaja dipatahkan untuk diambil dan dicoret. Utilitas di dalam gua juga menimbulkan banyak masalah. Banyak ditemukan kondisi ornamen yang berada di sekitar lampu menjadi cepat lapuk karena ditumbuhi lumut dan menghitam karena hembusan debu oleh kipas angin (blower). Kerusakan yang ada harus ditekan dengan melakukan pengembangan objek wisata Gua Gong menjadi objek ekowisata. Ekowisata, selain berusaha melestarikan objek, juga diharapkan mampu memberi kontribusi ekonomis bagi masyarakat sekitar objek wisata. Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui kondisi fisik Gua Gong, 2) mengetahui kondisi sosial masyarakat di sekitar Gua Gong, 3) mengetahui kondisi sarana wilayah Gua Gong dan 4) mengetahui arah pengembangan Gua Gong menjadi objek ekowisata berdasarkan kondisi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian eksposfakto yang berupaya mengungkap fakta-fakta yang berhubungan dengan dasar pengembangan ekowisata di objek wisata Gua Gong Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan kondisi yang ada di daerah penelitian. Subjek kondisi fisik adalah Gua Gong dengan data direkam dari hasil observasi dan dokumentasi. Sampel diambil secara accidental sebanyak 100 dari pengunjung untuk kondisi sarana wilayah dan 25 dari masyarakat sekitar untuk kondisi sosial yang datanya direkam menggunakan kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis scoring dan Analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan 1) kondisi fisik objek wisata Gua Gong sesuai untuk dikembangkan sebagai objek ekowisata, 2) kondisi sosial di sekitar objek wisata Gua Gong sangat sesuai untuk mendukung pengembangan ekowisata, 3) kondisi sarana wilayah objek wisata Gua Gong sesuai untuk mendukung pengembangan ekowisata dan 4) arah pengembangan yang dilakukan adalah Rapid Growth Strategy atau pertumbuhan aliran cepat dengan pengembangan secara maksimal untuk target tertentu dalam waktu singkat.

Pengembangan bahan ajar berbasis learning cycle 5E Pada Materi kromatografi gas-Cair untuk kelas X Kompetensi keahlian kimia analisis di SMK Negeri 7 Malang / Ria Ari Agustin

 

Kata kunci: bahan ajar, kromatografi gas-cair, model Learning Cycle 5E. SMK Negeri 7 Malang merupakan salah satu SMK Negeri yang memiliki Program Kompetensi Keahlian Analisis Kimia. Dari hasil observasi di SMK Negeri 7 Malang, diketahui bahwa di SMK terdapat permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran yaitu tingkat pemahaman siswa yang masih rendah terutama pada materi kromatografi gas-cair. Hal itu juga didukung dengan data hasil belajar siswa kelas X yang diperoleh dari salah satu guru kimia yang menyatakan bahwa 54,05% siswa kelas X KA 1 dan 61, 11% siswa kelas X KA 2 nilainya berada di bawah SKM. Permasalahan tersebut disebabkan oleh dua faktor, yaitu metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru masih menggunakan pembelajaran ekspositori dan keterbatasan bahan ajar yang dimiliki khususnya materi kromatografi gas-cair. Wawancara dengan guru kimia menyatakan perlu pengembangan bahan ajar dengan alternatif model pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat digunakan salah satunya Learning Cycle 5E. Tujuan dari penelitian adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan bahan ajar berbasis Learning Cycle 5E pada materi kromatografi gas-cair untuk kelas X Kompetensi Keahlian Kimia Analisis di SMK Negeri 7 Malang. Pada penelitian pengembangan bahan ajar, model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan yakni 4-D. Model pengembangan 4-D terdiri dari tahapan 1) Define (perencanaan), (2) Design (perancangan), (3) Develop (pengembangan), (4) Disseminate (penyebarluasan). Namun karena keterbatasan waktu dan tenaga dari peneliti maka hanya dilakukan sampai tahap ketiga 3-D. Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar cetak yaitu buku ajar yang dilengkapi dengan RPP. Produk hasil pengembangan diuji coba melalui validasi isi produk (buku ajar dan RPP) dan uji coba soal untuk mengetahui kelayakan dari produk. Validasi isi produk dilakukan oleh 1 dosen kimia, 2 guru kimia SMK Negeri 7 Malang, 10 siswa SMK Negeri 7 Malang sebagai uji terbatas. Produk yang telah divalidasi kemudian direvisi, selanjutnya di crosscheck kepada guru kimia SMK Negeri 7 Malang. Hasil validasi buku ajar oleh validator yaitu satu dosen kimia dan dua guru kimia nilai rata-rata sebesar 3,09 yang berarti valid, serta hasil uji terbatas sebesar 3,60 yang berarti sangat valid. Hasil validasi RPP menunjukkan nilai rata-rata 3,25 yang berarti valid. Berdasarkan hasil analisis dan hasil crosscheck ke guru kimia SMK Negeri 7 Malang, dapat disimpulkan bahwa buku ajar dan RPP yang telah dikembangkan telah layak untuk digunakan.

Penerapan strategi react dengan setting problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-E SMPN 1 Malang (RSBI) pada materi garis singgung lingkaran / Ony Syaiful Rizal

 

Kata kunci: REACT, Problem Based Learning (PBL), hasil belajar Menurut hasil pengamatan dan wawancara dengan guru matematika kelas VIII di SMPN 1 Malang, pembelajaran selama ini terutama untuk materi garis singgung lingkaran masih menggunakan metode konvensional. Hal ini mengakibatkan siswa cenderung menghafal rumus untuk menentukan panjang ruas garis singgung lingkaran. Siswa sering terjebak dalam penggunaan rumus, karena sebagian siswa menggunakan rumus tanpa mengetahui dari mana rumus tersebut diperoleh. Selain itu siswa juga sering tidak memperhatikan sifat ketegaklurusan garis singgung lingkaran terhadap diameter/jari-jari lingkaran yang melalui titik singgung lingkaran. Akhirnya siswa juga mengalami kesalahan dalam penerapan teorema Pythagoras dalam menentukan panjang ruas garis singgung lingkaran. Dari semua hal tersebut, sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak nilai tes siswa yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan di SMPN 1 Malang. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan pembelajaran melalui strategi REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) dengan setting PBL (Problem Based Learning) yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi garis singgung lingkaran. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu; (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Pengamatan/Observasi, dan (4) Refleksi. Pengambilan data penelitian diambil pada bulan Februari-Maret 2012. Data penelitian berupa hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes tiap akhir siklus, catatn lapangan, dan lembar observasi guru dan siswa. Penelitian menghasilkan langkah-langkah pembelajaran yaitu: (1) Relating di mana peneliti menjelaskan kembali materi prasyarat yang berhubungan dengan materi garis singgung lingkaran. (2) Experiencing di mana peneliti mengorientasi-kan siswa pada masalah, selanjutnya meminta siswa melakukan kegiatan pada lembar aktivitas yang yang akan menuntun siswa dalam menemukan rumus garis singgung lingkaran. (3) Applying di mana peneliti meminta siswa mengaplikasi-kan rumus yang didapat setelah mengalami pada tahap experiencing. (4) Cooperating di mana peneliti mengorganisasikan siswa untuk belajar yaitu dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4-5 orang. Selanjutnya siswa mengerjakan LKS bersama kelompok dengan dibimbing oleh guru. Setelah selesai berdiskusi, siswa diminta mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. (5) Transferring di mana peneliti memberikan latihan soal untuk menguji pemahaman siswa pada materi garis singgung lingkaran. Selanjutnya guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I rata-rata kelas dari hasil belajar ranah kognitif adalah 72,91 dan persentase banyak siswa yang tuntas belajar ranah kognitif sebesar 58,62%. Karena persentase ini kurang dari 75% maka tindakan harus dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II, rata-rata kelas dari hasil belajar ranah kognitif adalah 81,53 dan persentase banyak siswa yang tuntas belajar ranah kognitif 82,76%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) dengan setting PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas kelas VIII-E SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini masih banyak terdapat kekurangan, diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat memperbaiki dan menindaklanjuti semua kekurangan dalam penelitian ini.

Pegembangan LKS trigonometri beracuan penemuan terbimbing untuk siswa kelas X SMA RSBI / Yusi Triwulandari

 

Kata Kunci: LKS, trigonometri, penemuan terbimbing Materi trigonometri yang diajarkan pada siswa kelas X semester kedua termasuk materi yang seharusnya dikuasai dengan memahami konsep, bukan dengan menghafal. Tentunya ini juga berlaku pada SMA RSBI. Maka dari itu, diperlukan bahan ajar berbahasa Inggris yang bisa melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran materi ini. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) beracuan penemuan terbimbing yang memuat materi trigonometri berbahasa Inggris merupakan alternatif bahan ajar yang bisa dikembangkan untuk mengatasi masalah tersebut. Pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan LKS materi trigonometri beracuan penemuan terbimbing berbahasa Inggris untuk siswa kelas X SMA RSBI yang valid. Dengan melakukan pengembangan ini, LKS ini diharapkan bisa menjadi alternatif bahan ajar guru dan salah satu sumber belajar siswa dalam mempelajari materi yang dimaksud, serta pemicu bagi peneliti lain untuk mengembangkan bahan ajar lainnya. LKS ini dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan Plomp tanpa melibatkan fase implementasi. Validasi yang dilakukan mencakup validasi ahli, praktisi, dan pengguna (user). Draf produk yang belum valid direvisi. Uji coba produk dilakukan setelah memenuhi kriteria valid berdasarkan validasi ahli dan praktisi. Setelah hasil uji coba dianalisis, LKS akan dinyatakan berkualitas apabila memenuhi kriteria valid berdasarkan validasi pengguna (user). Apabila LKS belum berkualitas, maka dilakukan revisi. LKS yang dihasilkan dari pengembangan ini terdiri atas tiga sub topik, yaitu nilai perbandingan trigonometri untuk sudut istimewa, perbandingan trigonometri untuk sudut di berbagai kuadran, dan rumus perbandingan trigonometri sudut berelasi. LKS ini beracuan penemuan terbimbing dan berbahasa Inggris. Berdasarkan hasil analisis validasi yang melibatkan satu dosen matematika sebagai validator ahli, satu guru matematika sebagai validator praktisi, dan 68 siswa kelas X SMAN 3 Malang sebagai validator pengguna (user) ini menunjukkan bahwa LKS yang dikembangkan tidak perlu direvisi. Namun, untuk perbaikan penulis merevisi LKS ini.

Pengembangan bahan ajar pendidikan berpikir (kritis dan kreatif) berbahasa indonesia SMA melalui pembelajaran lintas mata pelajaran / Fida Pangesti

 

Kata kunci: pengembangan bahan ajar, pendidikan berpikir, keterampilan berbahasa Indonesia, lintas mata pelajaran. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar pendidikan berpikir (kritis dan kreatif) dengan berbahasa Indonesia SMA lintas mata pelajaran. Tujuan umum tersebut kemudian dijabarkan menjadi beberapa tujuan khusus, yaitu mendeskripsikan (1) wujud, (2) kemenarikan, dan (3) efektivitas produk bahan ajar pendidikan berpikir (kritis dan kreatif) dengan berbahasa Indonesia lintas mata pelajaran. Untuk mencapai tujuan di atas, peneliti menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Adapun model pengembangan bahan ajar yang digunakan yaitu model pengembangan Borg & Gall. Secara umum model pengembangan tersebut terdiri dari (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, (4) tahap revisi produk, (5) tahap produk jadi, dan (6) tahap implementasi dan diseminasi. Validasi bahan ajar dilakukan terhadap tiga kelom-pok validator, yaitu kelompok ahli, kelompok praktisi, dan siswa. Dari uji coba terhadap ketiga kelompok validator tersebut, diperoleh rata-rata keterbacaan bahan ajar yaitu 4,33 dengan persentase 86,7% (kategori sangat valid). Selan-jutnya, bahan ajar akan dipaparkan di bawah ini sesuai dengan tujuan khusus penelitian. Pertama, wujud bahan ajar. Bahan ajar yang dihasilkan berupa buku teks yang berjudul Tangga Kritis-Kreatif dan Berbahasa Indonesia. Produk ini memiliki karakteristik aspek berpikir kritis yang merupakan adaptasi dari tingkatan berpikir Taksonomi Bloom, yaitu (1) memahami, (2) mengaplikasikan, (3) menganalisis, (4) mengevaluasi, dan (5) berkreasi. Adapun komponen berpikir kreatif yang dikembangkan meliputi kelancaran, keluwesan, kebaruan, dan elaborasi. Kedelapan komponen berpikir tersebut disajikan secara tumpang tindih dengan keterampilan berbahasa−menyimak, berbicara, membaca, dan menu-lis−serta kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia, Ekonomi, dan Bio-logi. Berbagai keterampilan di atas direalisasikan dengan model pembelajaran lintas mata pelajaran tipe integrated model dan webbed model. Selanjutnya, untuk memaksimalkan keterampilan-keterampilan dan penguasaan kompetensi dasar tersebut, bahan ajar dilengkapi dengan kolom khusus, yaitu (1) Untuk Diingat, (2) Jejak Kritis-kreatif, (3) Pendapatku, dan (4) Mari Menulis!. Desain bahan ajar yang digunakan berbasis simple and colourfull design. Kedua, kemenarikan bahan ajar. Kemarikan bahan ajar terletak pada aspek isi, penyajian, dan kegrafikaan. Dari aspek isi, kemenarikan terletak pada kebaruan produk, pemilihan teks, penggabungan mata pelajaran, dan manfaat jangka panjang yang dimiliki bahan ajar. Kemenarikan penyajian terletak pada penataan yang sistematis. Sementara itu, kemenarikan kegrafikaan terletak pada gambar, tata letak, warna, dan layout yang secara umum tepat dan dinamis. Ketiga, efektivitas bahan ajar. Berdasarkan uji-t posttest kelas ekperimen dan kelas kontrol, diperoleh thitung = 2.738 dengan koefisien beda 7.76786 dan berada pada taraf signifikansi 0,008. Oleh karena sig. kurang dari 0,01 (0,008 < 0,01), maka terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berjudul Tangga Kritis-kreatif dan Berbahasa Indonesia efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam pemanfaatannya, guru dan siswa harus berperan aktif menciptakan pembelajaran yang bermutu. Siswa diharapkan belajar secara mandiri di luar jam KBM agar benar-benar siap ketika mengikuti KBM. Selain itu, siswa diharapkan tidak melewatkan satu bagian pun dalam bahan ajar karena bahan ajar sudah disusun secara hierarki sesuai keterampilan yang diajarkan. Jika siswa mele-watkan satu bagian saja, maka ada satu keterampilan yang tidak dikuasai oleh siswa. Sealnjutnya, guru dapat memanfaatkan bahan ajar dengan cara team teaching model kolaboratif. Artinya, ketiga guru mata pelajaran bersama-sama merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar-mengajar. Guru juga diharapkan kreatif dalam menciptakan suasana belajar di kelas, sehingga siswa jauh dari rasa bosan dan hasil belajar bisa maksimal.

Pengembangan bahan ajar mendengarkan cerita bahasa Jawa berbasis audio untuk siswa IV SD Islam terpadu Ahmad Yani Malang / Heny Kusuma Widyaningrum

 

Kata Kunci : Bahan Ajar Berbasis Audio, Keterampilan Mendengarkan, Cerita Bahasa Jawa Mendengarkan cerita bahasa Jawa merupakan salah satu kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa kelas IV SD. Melalui kegiatan mendengarkan cerita bahasa Jawa, siswa dapat menangkap, memahami, dan mengingat dengan sebaik-baiknya terhadap sesuatu yang didengar. Pembelajaran mendengarkan cerita kurang diminati oleh siswa. Hal tersebut disebabkan belum tersedianya bahan ajar yang mendukung proses pembelajaran, rendahnya minat siswa terhadap untuk belajar mendengarkan cerita bahasa Jawa, dan metode yang kurang tepat yang digunakan oleh guru. Maka dari itu, bahan ajar dibutuhkan untuk mengatasi hambatan belajar dan mendukung kelancaran pembelajaran mendengarkan cerita bahasa Jawa. Tujuan pengembangan bahan ajar ini adalah menghasilkan produk bahan ajar mendengarkan cerita bahasa Jawa berbasis audio serta untuk mengetahui kelayakan bahan ajar tersebut dalam pembelajaran di kelas. Terdapat tiga kompetensi dasar yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar ini, yaitu (1) mendengarkan cerita tentang pengalaman menarik, (2) mendengarkan cerita, dan (3) mendengarkan cerita tentang tokoh pendidikan. Produk akhir pengembangan ini berbentuk compact disk (CD) dengan bantuan fasilitas komputer atau laptop serta fasilitas audio. Hasil uji bahan ajar dengan ahli materi pembelajaran bahasa Jawa menunjukkan rata-rata kelayakan sebesar 83,00% dan ahli media audio sebesar 76%. Kedua ahli tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut dinyatakan sangat valid dan siap diimplementasikan. Hasil uji dengan guru bahasa Jawa menunjukkan rata-rata kelayakan sebesar 82,50%, sedangkan dengan kelompok besar menunjukkan 81,50%. Kedua hasil uji coba dengan instrumen angket menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut sangat valid. Hasil belajar siswa seluruh siswa setelah menunjukkan penggunaan bahan ajar dengan nilai 79. Hasil nilai tersebut sudah mencapai nilai Stndar Ketuntasan Minimal (SKM) yaitu 65 dan dapat mendukung kelayakan bahan ajar setelah diujikan kepada siswa tanpa perlu direvisi. Dari penjabaran hasil uji coba tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk bahan ajar tergolong sangat valid dan dapat diimplementasikan.

Profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mata kuliah fisika dasar mahasiswa jurusan fisika di Universitas Negeri Surabaya / Rudy Pratama

 

Kata Kunci: perkuliahan fisika dasar, sikap ilmiah, prestasi belajar Pemahaman konsep fisika yang baik sangat dibutuhkan oleh mahasiswa jurusan fisika maupun mahasiswa jurusan lain yang membutuhkan pemahaman fisika. Mahasiswa dapat mempelajari konsep fisika secara umum pada mata kuliah fisika dasar. Mata kuliah fisika dasar dapat digunakan sebagai penguatan materi fisika yang diperoleh mahasiswa ketika mereka duduk di bangku SMA. Ketika mempelajari fisika dasar, tidak semua mahasiswa berhasil. Hasil belajar fisika tidak hanya prestasi belajar saja, tetapi juga membentuk sikap ilmiah. Sikap ilmiah memiliki arti penting dalam belajar sains karena sebagian besar perbuatan yang dipilih oleh seseorang dipengaruhi oleh sikap yang diambilnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan perkuliahan fisika dasar di UNESA, jenis bantuan belajar yang diberikan oleh dosen pada perkuliahan fisika dasar, prestasi belajar, dan sikap ilmiah mahasiswa UNESA pada perkuliahan fisika dasar. Jenis penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian adalah seluruh mahasiswa UNESA yang menempuh mata kuliah fisika dasar pada tahun 2011. Sampel yang digunakan sebanyak dua kelas dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Metode yang digunakan adalah observasi perkuliahan, tes prestasi belajar, inventori sikap ilmiah, dan wawancara dengan dosen dan mahasiswa. Tes prestasi belajar terdiri dari 17 soal pilihan ganda dengan reliabilitas 0,738. Inventori sikap ilmiah terdiri dari 16 pernyataan dengan reliabilitas 0,724. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan perkuliahan fisika dasar di UNESA sudah baik, jenis bantuan yang paling banyak diberikan oleh dosen adalah membuka ruang diskusi dengan mahasiswa baik di dalam maupun di luar kelas, prestasi belajar mahasiswa masih belum dapat dikatakan baik, dan sikap ilmiah mahasiswa peserta perkuliahan fisika dasar sudah tinggi.

Perbedaan prokastinasi akademik dan tingkat Stres pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi / Nikmatusolikah

 

Kata Kunci: Prokrastinasi Akademik, Stres, Mahasiswa Mahasiswa yang mempunyai kewajiban untuk melakukan dua aktivitas sekaligus (belajar dan berorganisasi) membutuhkan time management yang baik sehingga tidak melakukan prokrastinasi akademik (kecenderungan/perilaku menunda-nunda untuk menyelesaikan tugas) serta dapat menghindari stres (keadaan terbeban, tegang dan cemas karena adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan respon untuk beradaptasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat prokrastinasi pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi, mengetahui bagaimana tingkat stres pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi, serta mengetahui perbedaan prokrastinasi akademik dan tingkat stres pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi di Universitas Negeri Malang. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa fakultas sastra Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan sebanyak 50 mahasiswa yang aktif berorganisasi dan 50 mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi di Fakultas sastra Universitas Negeri Malang. Instrumen penelitian untuk mengukur prokrastinasi akademik menggunakan Skala Prokrastinasi Akademik dan instrumen penelitian untuk mengukur stres menggunakan Skala Hassles Assessment Scale. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Berdasarkan analisis deskriptif prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 38% (19 mahasiswa) dalam kategori sedang dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 44% (22 mahasiswa) dalam kategori sedang. Berdasarkan analisis deskriptif tingkat stres pada mahasiswa yang aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 60% (30 mahasiswa) dalam kategori tinggi dan tingkat stres pada mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi diperoleh hasil bahwa 42% (21 mahasiswa) dalam kategori rendah. Berdasarkan analisis komparatif prokrastinasi dan stres diperoleh sig 0,000 < 0,05 maka terdapat perbedaan prokrastinasi akademik dan tingkat stres pada mahasiswa yang aktif dan tidak aktif berorganisasi di Universitas Negeri Malang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi memiliki tingkatan prokrastinasi akademik dan stres yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi, maka disarankan bagi mahasiswa untuk menyeimbangkan serta mengatur waktu yang lebih baik agar dapat mengerjakan tugas kuliah tepat waktu dan meningkatkan prestasi belajar dengan tetap aktif dalam organisasai, bagi organisasi kemahasiswaan agar kegiatan dalam organisasi tidak mengganggu proses belajar, dan bagi peneliti selanjutnya agar meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik dan stres sehingga menjadi lebih beragam.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian shampo pantene (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Stepfanie Yuanita

 

Kata kunci: faktor keputusan pembelian, shampo Pantene. Tujuan penelitian ini yaitu (1) untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan pembelian shampo Pantene, (2) untuk mengetahui faktor yang dominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian shampo Pantene. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi melalui pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu pengguna shampo Pantene pada mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik stratified proporsional random sampling dengan jumlah sebanyak 174 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner. Kuesioner disusun dalam bentuk skala likert dan data dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis faktor . Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian shampo Pantene adalah faktor produk dengan eigenvalue 6,477 dan variance 21,589%, faktor promosi dengan eigenvalue 3,376 dan variance 11,254%, faktor pengalaman dengan eigenvalue 2,822 dan variance 9,408%, faktor diskon dan hadiah dengan eigenvalue 2,310 dan variance 7,701%, faktor harga dengan eigenvalue 1,739 dan variance 5,798%, faktor desain kemasan dengan eigenvalue 1,614 dan variance 5,379%, faktor kemasan dengan eigenvalue 1.459 dan variance 4,863%, faktor merek dengan eigenvalue 1,167 dan variance 3,889% dan faktor bintang iklan dengan eigenvalue 1,117 dan variance 3,723%. Dari keseluruhan faktor tersebut faktor produk merupakan faktor yang paling dominan karena memiliki eigenvalue tertinggi 6,477 dan variance 21,589%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti menyarankan : 1) Produsen diharapkan menambah keharuman aroma shampo Pantene, 2) meningkatkan pemasaran langsung dengan memanfaatkan kelompok acuan, 3) meningkatkan kualitas shampo, 4) memberikan hadiah yang semakin menarik, 5) mempertahankan tingkat harga, 6) menghasilkan bentuk kemasan yang indah, 7) menyediakan berbagai ukuran kemasan sesuai kebutuhan konsumen, 8) lebih mempromosikan shampo Pantene dan membuat ciri khas tersendiri, 9) tetap memakai bintang iklan yang sudah menjadi brand ambassador shampo Pantene. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah dapat mencari faktor maupun variabel lain yang diteliti yang diduga juga berpengaruh terhadap keputusan pembelian shampo Pantene. Apalagi berminat untuk mengembangkan studi ini maka diharapkan untuk memperdalam kajian tersebut dengan melanjutkan pada analisis lanjutan seperti analisis regresi linier berganda, diskriminan ataupun cluster.

Analisis faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli kartu seluler prabayar IM3 (studi pada mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Rohman Bangkit Pratama

 

Kata Kunci : faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen, keputusan pembelian Komunikasi merupakan hal yang tidak dapat terlepas pada era saat ini. Hal ini mengakibatkan bisnis seluler berkembang dengan sangat pesat. PT. Indosat sebagai salah satu operator seluler terbesar di Indonesia dengan kartu seluler prabayar IM3 yang merupakan produk andalannya berusaha untuk menjadi market leader dalam bisnis ini. Semakin banyaknya kartu seluler yang beredar di pasaran membuat persaingan dalam bisnis operator seluler semakin ketat. PT. Indosat dalam hal ini perlu mengetahui bagaimana perilaku konsumen dalam membeli kartu seluler, khususnya kartu seluler prabayar IM3 agar tetap bisa eksis dari para pesaingnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dalam membeli kartu seluler prabayar IM3. Penelitian ini bersifat confirmatory yang artinya peneliti mengkonfirmasi apakah variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini sesuai untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dipertimbangkan konsumen. Variabel-variabel dalam penelitian ini diambil berdasarkan teori-teori dan juga penelitian terdahulu yang meliputi product, harga, promosi, distribusi, dan kelompok acuan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden, yaitu mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2010. Teknik analasis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis faktor confirmatory dan Data yang diperoleh melalui kuesioner diolah dengan software SPSS versi 16.0 for windows Hasil dalam penelitian ini menyebutkan bahwa faktor produk, harga, promosi, distribusi, dan kelompok acuan dipertimbangkan responden dalam membeli kartu seluler prabayar IM3 dengan nilai variance yang dihasilkan sebesar 60.771%. Faktor produk terdiri dari masa aktif , jaringan, fitur telebanking, fitur call conference, manfaat fitur call conference dalam pergaulan, serta fitur call hold . Faktor harga terdiri dari harga kartu perdana, biaya telepon, biaya sms, harga isi ulang pulsa, serta biaya jelajah internet. Faktor promosi terdiri dari aneka ragam promo tarif, intensitas promo tarif, iklan media cetak dan iklan media televisi. Faktor distribusi terdiri dari ragam cara pengisian pulsa, kemudahan pengisian pulsa, tempat pengisian pulsa yang mudah dijangkau, serta stock pulsa yang selalu tersedia. Faktor kelompok acuan terdiri dari kesamaan dengan teman, kesamaan dengan keluarga, manfaat yang diberikan dalam pergaulan, serta himbauan keluarga untuk menggunakan kartu seluler.

Kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah Kabupaten Gresik tahun pelajaran 2011/2012 / Mustofa

 

Kata kunci: kemampuan, menulis, naskah, drama. Pentingnya kajian sastra (drama) dalam dunia pendidikan yaitu dapat menunjang keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan, mengembangkan cipta, karsa, dan rasa, mengembangkan pembentukan watak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah, informasi relevan yang dapat digunakan adalah hasil penelitian tentang kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah. Masalah penelitian ini adalah bagaimana kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ujungpangkah dalam menulis naskah drama dari aspek tema, dialog, alur, dan latar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini berupa naskah drama. Data dalam penelitian ini berupa nilai tentang kemampuan menulis naskah drama dari aspek (1) tema, (2) dialog, (3) alur, dan (4) latar. Adapun populasi dalam penelitian ini berjumlah 105 siswa yang terbagi menjadi 4 kelas. Kelas yang dijadikan sampel penelitian adalah VIIIA yang memiliki jumlah siswa sebanyak 26 siswa. Pada saat diadakan tes menulis naskah drama 4 siswa tidak bisa mengikuti dengan keterangan sakit, jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 22 atau 21% dari jumlah populasi. Instrumen penelitian berupa pedoman penyekoran naskah drama. Analisis data dilakukan dalam tiga langkah, yaitu (1) persiapan, (2) tabulasi, dan (3) penerapan data. Hasil analisis dan pembahasan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah kabupaten Gresik dari aspek tema menunjukkan bahwa kemampuan menulis naskah drama siswa dari aspek tema sebesar 68% atau sebanyak 15 siswa belum mencapai ≥ 75 (SKM) dan sebesar 32% atau sebesar 7 siswa mampu mencapai ≥ 75 (SKM). Tema dalam naskah drama siswa dikembangkan sesuai dengan apa yang dialami, didengar, dan dilihat sehingga banyak tema dalam naskah drama tersebut tidak mengandung nilai kehidupan dan semangat yang kuat. Hasil analisis dan pembahasan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah kabupaten Gresik dari aspek dialog menunjukkan bahwa kemampuan menulis naskah drama siswa dari aspek dialog sebesar 91% atau sebanyak 20 siswa telah mampu mencapai ≥ 75 (SKM) dan sebesar 9% atau sebanyak 2 siswa belum mampu mencapai ≥ 75 (SKM). Siswa tidak ada kesulitan membuat dialog dalam naskah dramanya karena sesungguhnya siswa hanya memaparkan kembali dialog-dialog yang diucapkan sehari-hari. Hasil analisis dan pembahasan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah kabupaten Gresik dari aspek alur menunjukkan bahwa kemampuan menulis naskah drama siswa dari aspek alur sebesar 87% atau sebanyak 19 siswa belum mampu mencapai ≥ 75 (SKM) dan sebesar 13% atau sebanyak 3 siswa telah mampu mencapai ≥ 75 (SKM). Siswa tidak ada kesulitan ii dalam menciptakan alur cerita yang logis karena sesungguhnya alur yang dibuat merupakan urutan kejadian yang dilihat atau dijalani dalam kehidupan. Karena merupakan pengalaman penulis banyak siswa yang alur ceritanya belum mampu memberi kejutan dan rasa penasaran. Hasil analisis dan pembahasan kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 1 Ujungpangkah kabupaten Gresik dari aspek latar menunjukkan bahwa kemampuan menulis naskah drama siswa dari aspek latar sebesar 68% atau sebanyak 15 siswa belum mampu mencapai ≥ 75 (SKM) dan sebesar 22% atau sebanyak 7 siswa mampu mencapai ≥ 75 (SKM). Secara umum siswa mampu menghadirkan latar tempat dan latar waktu tetapi penggambaran latar tidak detail. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari keempat aspek yang diteliti hanya satu aspek yakni aspek dialog yang mampu mencapai ≥ 75 (SKM). Secara umum siswa hanya menceritakan kembali kehidupannya bersama kelompok objek di sekitarnya. Oleh karena itu, disarankan kepada kepala sekolah untuk menerapkan penelitian tindakan kelas agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan dapat mengetahui kelemahan pembelajaran. Saran untuk guru sebaiknya guru banyak referensi tentang topik yang akan diajarkan sehingga siswa memiliki banyak cara untuk memberikan hasil yang terbaik. Kemudian saran untuk peneliti lain, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian sejenis. Peneliti bisa mengkaji kemampuan yang sama dengan kopetensi dasar yang berbeda atau meningkatkan kemampuan di tempat penelitian yang sama.

Penerapan cooperative learning teknik make a match untuk Meningkatkan hasil belajar siswa kelas vpada mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar Negeri Candipuro 3 Lumajang / Mayang Arum TRi Rahayu

 

Kata Kunci: make a match, hasil belajar. Berdasarkan observasi di Sekolah Dasar Negeri Candipuro 3 Lumajang, kondisi empiris yang terjadi di lapangan saat ini tidak sesuai dengan ketetapan yang sudah berlaku, walaupun KTSP sudah diberlakukan tetapi proses pembelajaran masih konvensional yakni terpusat pada guru (teacher oriented). Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran yang diharapkan, usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memperhatikan karakteristik siswa, penguasaan materi dan pemilihan teknik pembelajaran yang tepat. Salah satu teknik pembelajaran yang dapat diterapkan adalah make a match (mencari pasangan), dimana pembelajaran ini merupakan pembentukan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari beberapa siswa yang dituntut untuk bekerja sama dalam menemukan pasangan kartu dengan batas waktu tertentu. Teknik pembelajaran make a match merupakan salah 1 teknik pembelajaran dalam cooperative learning, dimana kegiatan pembelajaran dirancang untuk bekerja sama antara siswa satu dengan yang lainnya dengan mencari pasangan. Pembelajaran ini membutuhkan waktu yang cepat, dan pembuatan kartu. Siswa harus mencari pasangan kartu dengan cepat dan tepat untuk mendapatkan reward dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan teknik make a match. Peneliti menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model Kemmis & Taggart. Terdiri dari 4 tahap dalam 2 siklus yaitu perencanaan, pengobservasian, pelaksanaan dan perefleksian. Penelitian berlangsung kurang lebih 1 bulan, dimulai dari kegiatan observasi sampai penarikan kesimpulan. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik make a match dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri 3 Lumajang, menunjukkan bahwa pretes siswa mencapai 6,25%, sedangkan peningkatan hasil belajar pada siklus I ke siklus II mencapai 13,43% dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan. Berdasarakan hasil penelitian ini, disarankan untuk memberikan teknik pembelajaran kepada guru mata pelajaran IPS agar menerapkan pembelajaran seperti make a match dalam proses belajar mengajarnya sebagai teknik pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh penerapan model problem based learning terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran pendidikan lingkungan hidup (PLH) materi kerusakan tanah dan lahan kelas X SMA Negeri 7 Malang / Nurul Hasanah

 

Kata Kunci : Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), model Problem Based Learning, hasil belajar Pembelajaran PLH memiliki tujuan untuk mengembangkan pengetahuan (pemahaman), sikap dan keterampilan siswa sehingga guru sebagai tenaga pendidik harus mampu memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Problem Based Learning terhadap hasil belajar (kognitif dan afektif) pada pembelajaran PLH kelas X SMA Negeri 7 Malang. Bentuk penelitian ini adalah quasi experiment. Subjek penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perlakuan menggunakan pembelajaran konvensional. Desain penelitian ini adalah pre test-post test control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 7 Malang tahun ajaran 2011/2012. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling, yaitu berdasarkan nilai ratarata UAS PLH siswa yang hampir sama, kemudian ditentukan dua kelas sebagai sampel penelitian, yaitu kelas X.3 sebagai kelas eksperimen dan kelas X.10 sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai hasil belajar ranah kognitif siswa pada kelas eksperimen adalah 78,00 dan kelas kontrol adalah 72,77. Sedangkan hasil belajar ranah afektif siswa pada kelas eksperimen adalah 49,43 dan kelas kontrol adalah 49,17. Dari uji-t diperoleh hasil belajar ranah kognitif dengan nilai signifikansi 0,022 ≤ α/2 (0,025) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model Problem Based Learning terhadap hasil belajar kognitif siswa pada pembelajaran PLH. Dari uji Mann-Whitney diperoleh hasil belajar ranah afektif dengan nilai signifikansi 0,621 > α/2 (0,025) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model Problem Based Learning terhadap hasil belajar ranah afektif siswa pada pembelajaran PLH. Saran dari penelitian ini adalah (1) sekolah diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan model Problem Based Learning (2) sebagai referensi model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar ranah kognitif pada mata pelajaran PLH, serta guru perlu selalu memberikan penanaman sikap positif kepada siswa terhadap kelestarian lingkungan hidup dalam setiap aktivitas maupun model pembelajaran yang digunakan (3) peneliti selanjutnya perlu meneliti faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan sikap siswa terhadap kelestarian lingkungan hidup pada pembelajaran PLH.

Perbedaan penggunaan 3 (TIGA) jenis ikan pada penbuatan tekwan / Nina Indra Kristina

 

Kata Kunci: Tekwan, Ikan, Kalsium Tekwan adalah makanan khas Palembang berbahan dasar ikan dan sagu yang dibuat dalam ukuran kecil-kecil (mirip bakso yang dipipihkan), disajikan menggunakan kuah kaldu udang. Tekwan dalam penelitian ini menggunakan 3 jenis ikan yaitu ikan wader (Puntius binotatus), ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) dan ikan lemuru (Sardinella lemuru) serta digunakan seluruh bagian tubuhnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan warna, rasa, aroma, tekstur dan kandungan kalsium yang terdapat pada ketiga tekwan tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengamatan dan pengukuran data dilakukan sesuai dengan uji organoleptik (uji perbedaan dan uji kesukaan) meliputi warna, rasa, aroma, dan tekstur dan uji laboratorium kalsium tekwan ikan wader (Puntius binotatus), tekwan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) dan tekwan ikan lemuru (Sardinella lemuru). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan anova dengan uji lanjut DMRT (apabila Fhitung > Ftabel). Hasil penelitian terhadap uji perbedaan warna menunjukkan bahwa warna dan tekstur ketiga tekwan tidak berbeda nyata. Uji perbedaan rasa dan aroma ketiga ikan menunjukkan tekwan ikan wader (Puntius binotatus) tidak berbeda nyata dengan tekwan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus), tetapi tekwan ikan wader (Puntius binotatus) dan tekwan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) berbeda nyata dengan tekwan ikan lemuru (Sardinella lemuru). Uji kesukaan panelis terhadap warna, rasa dan aroma menunjukkan bahwa tekwan ikan wader (Puntius binotatus) tidak berbeda nyata dengan tekwan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus), tetapi tekwan ikan wader (Puntius binotatus) dan tekwan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) berbeda nyata dengan tekwan ikan lemuru (Sardinella lemuru). Uji kesukaan panelis terhadap tekstur ketiga tekwan tidak berbeda nyata. Kandungan kalsium tekwan ikan wader (Puntius binotatus) mentah sebesar 674,893 mg/100, tekwan ikan uceng (Nemacheilus faciatus) mentah sebesar 805,408 mg/100 dan tekwan ikan lemuru (Sardinella lemuru) mentah sebesar 626,047 mg/100. Kandungan kalsium tekwan ikan wader (Puntius binotatus) matang sebesar 605,651 mg/100, tekwan ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) matang sebesar 709,118 mg/100 dan tekwan ikan lemuru (Sardinella lemuru) matang sebesar 520,407 mg/100.

Implementasi manajemen kurikulum pendidikan pesantren pengembangan dan dakwah (studi kasus Ma'had Nurul Haromain Pujon Malang) / Topik

 

Program Studi Magister Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, dan (2) Prof. Dr. H. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Kata Kunci: Manajemen, Kurikulum Pendidikan, Pesantren Prioritas kebutuhan pendidikan diperlukan oleh siapapun. Karena dari proses pendidikan, memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan /keterampilan sikap atau mengubah sikap. Hak pendidikan telah dijamin oleh undang-undang, khususnya alinea 4 UUD 1945,yang selanjutnya pada bab XIII pasal 31 ayat 1 dan ayat 2. Dengan adanya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, khususnya pasal 13 Ayat 1 dan pasal 54 ayat 1 dan 2, secara prospektif dan strategis memberikan tempat bagi lembaga pesantren dalam mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Perkembangan IPTEK dan nilai-nilai dalam masyarakat di era global, menuntut semua pihak termasuk juga lembaga pesantren agar menata diri dan agar bisa menghadirkan ajaran agama yang lebih “kontributif dan kontekstual”, agar menjadi panduan operasional-fungsional yang dapat dirasakan bagi kebutuhan masyarakat. Karena itu, dibutuhkan alat penyampaian ajaran agama, yaitu dengan sistem pengelolaan ”manajemen ”, khususnya menyangkut manajemen kurikulum pendidikan di lingkungan pesantren. Penulis melakukan penelitian ini di Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Pujon Malang. Dari identifikasi yang penulis lakukan, pesantren ini memfokuskan pendidikannya pada pengembangan dakwah, yang berkomitmen membina dan mencetak kader-kader da’i yang siap diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat. Pesantren ini menerapkan pola kajian teori dan praktek di daerah-daerah binaan dakwah. Konteks penelitian ini penulis fokuskan pada rumusan masalah (1) Bagaimana proses perencanaan kurikulumnya (2) Bagaimana pengorganisasian kurikulumnya (3) Bagaimana pelaksanaan kurikulumnya dan (4) Bagaimana evaluasi kurikulumnya Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan bersifat deskriptif kualitatif, dengan latar studi kasus. Data penelitian ini diperoleh dari beberapa komponen pondok pesantren, yang meliputi pengasuh (kyai), Ahli Syuro (dewan pengawas), pengurus dan para ustadz (guru), serta alumni. Teknik pengambilan data dengan wawancara, pengamatan langsung dan dokumentasi yang diperlukan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif dengan alur tiga langkah yaitu; reduksi data, penyajian data dan kesimpulan/ ferikasi data.Untuk keabsahan data, dilakukan dengan empat kriteria, yaitu; kredibilitas, transferbilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Dari paparan data dan temuan penelitian di Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang, menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan di pesantren ini memfokuskan pada pengembangan pendidikan dakwah, yang memadukan manajemen pesantren salaf dengan komitmen visi, misi dan tujuan dakwah yang melahirkan pola manajemen kejama’ahan yang terlihat sebagai berikut: (1) Proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengevaluasian kurikulum pendidikan Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang mengarah pada gerak jama’ah yang menjunjung tinggi kepentingan bersama. (2) Pembinaan santri di Ma’had NurulHaromain Pujon Malang dibangun dengan memperhatikan dua aspek penting, yaitu aspek ruhiyah (jiwa)/aspek mental pemikiran, yang dimulai dengan pendidikan ruhiyah (ruhiyah) di dalam pesantren, dan pembenahan pemikiran/mental santri di luar pesantren. Kegiatan dzikir, wirid, qiyamullail, khidmah, training, seminar, pelatihan-pelatihan termasuk bentuk media pembinaan integritas santri, yang tersaji dalam rangkaian kegiatan yang disebut Ma’arif Ammah (pengetahuan umum). Demikian juga adanya keharusan kepada para santri agar selalu tampil energik, semangat, selalu bersih, anggun dalam berpakaian, adalah media pembinaan dari aspek jasmaniyah (raga).Temuan penelitian menunjukkan bahwa:(1) Perencananaan kurikulum pendidikan Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang, terimplementasi melalui perencanaan yang lahir dari konsep kejama’ahan lewat kegiatan musyawarah kerja tahunan. (2) Pengorganisasian kurikulum pendidikan Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain, juga mengarah pada pengutamaan dan penggalian dari komponen kekuatan yang dimiliki oleh unsur jama’ah dengan dasar kepentingan dan kebutuhan santri tanpa membedakan kedudukan ia sebagai santri senior atau santri baru. (3) Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Pesantren Pengembangan dan Dakwah Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang mengarah pada penggunaan beberapa metode yang sering digunakan di pesantren pada umumnya, yaitu model Bandongan, Wetonan, Sorogan, namun juga menerapkan metode yang agak berbeda atau jarang dilakukan di pesantren lain adalah metode talqin, diskusi atau bahtsul masaa’il, penugasan dan bimbingan, yang dimaksudkan untuk mengkader santri secara dhohir (jasmani) dan bathin (ruhani)/mental, yang dilakukan di lingkungan pesantren maupun di luar lingkungan pesantren. (4). Pengevaluasian pelaksanaan kurikulum di Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain, dibebankan kepada Ahlu Syura dengan pertimbangan penilaian dari pengurus dan penilaian pengasuh, sehingga memungkinkan adanya sikap keterbukaan untuk perbaikan sesuai dengan yang diharapkan. Kesimpulan dan saran-saran penelitian ini sebagai berikut: Keberadaan Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang, yang menerapkan pola manajemen kejama’ahan agar bisa mengembangkan dan dikembangkan di tempat yang lain, sebab pola kejama’ahan merupakan pondasi dasar untuk tegaknya pendidikan Islam. Perlunya upaya pro aktif dari pihak pesantren untuk mensosialisasikan visi, misi dan tujuan keberadaannya secara luas dan intens, agar bisa diakses dan diadopsi secara luas oleh lembaga terkait khususnya bagi Kementrian Agama setempat, masyarakat dan lembaga-lembaga pesantren yang lain, tetapi juga agar pihak pesantren sendiri bisa dan mau belajar kepada pihak lain untuk menyempurnakan pengelolaan manajemen kurikulumnya.

Perancangan buku cerita POP UP satwa endemik habitat darat Indonesia / Rizky Noviasri

 

Kata Kunci : buku cerita, buku pop up, satwa endemik Indonesia Indonesia memiliki banyak satwa endemik, yaitu satwa yang tidak ditemukan di tempat lain. Sayangnya, satwa di Indonesia terancam punah karena luas hutan tempat tinggal alami para satwa semakin berkurang. Diperlukan media sebagai upaya mengurangi laju kepunahan satwa di Indonesia. Skripsi ini bertujuan untuk merancang media berupa buku cerita pop up yang edutainment mengenai satwa endemik habitat darat Indonesia. Perancangan ini menggunakan metode prosedural modifikasi dari metode J.C Jones yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Perancangan diawali dengan merumuskan latar belakang masalah, menetapkan tujuan perancangan, mengumpulkan data-data yang diperlukan, identifikasi dan analisis data, sintesis, menetapkan konsep perancangan media utama dan media pendukung, masing-masing media dilanjutkan dengan tahap perencanaan media dan perencanaan kreatif, kemudian menghasilkan sebuah desain final. Analisis data menggunakan analisis SWOT sehingga diketahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman produk. Dari hasil analisis diketahui bahwa keunggulan produk adalah sifatnya yang edutainment dan ada merchandise yang menyertai. Media utama perancangan ini adalah buku cerita pop up berjudul “Petualangan Rika di Negeri Endemik”. Produk berisi pengenalan satwa, pengetahuan mengenai berkurangnya luas habitat satwa, dan reboisasi sebagai solusinya. Produk didesain menggunakan ilustrasi kartun dengan gambar besar, sederhana, dan menggunakan warna ceria. Desain ini disesuaikan dengan target audience yaitu anak usia 7-11 tahun. Media pendukung perancangan ini adalah merchandise dan media promosi. Merchandise yaitu peta persebaran satwa dan kartu menghapal, sedangkan media promosi yaitu x-banner, poster, brosur, stiker, chainflag, dan floor advertising.

Perancangan buku pop up keanekaragaman satwa laut perairan tropis Indonesia untuk anak usia 7-11 tahun / Vidya Damayanti

 

Kata Kunci : Perancangan, produk, anak. Pengetahuan tentang keanekaragaman satwa laut Indonesia hendaknya memang diajarkan sedini mungkin. Hal ini karena perairan laut di Indonesia mengalami kerusakan atau penurunan kualitas lingkungan karena pencemaran, atau karena eksploitasi sumberdaya secara berlebihan. Sehingga membuat kelestarian satwa laut Indonesia menghadapi ancaman serius. Bahkan sebagian diantaranya telah mendekati kepunahan akibat pencemaran dan perusakan alam lingkungan laut. Sedangkan laut beserta satwa yang berada di dalamnya merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Rumusan masalah produk ini adalah bagaimana merancang buku pop up tentang keanekaragaman satwa laut perairan tropis Indonesia sebagai media pembelajaran dan pengenalan tentang satwa laut untuk anak usia 7-11 tahun dan bagaimana mempublikasikan buku pop up tersebut secara efektif dan efisien. Tujuan perancangan yang diharapkan adalah membuat perancangan media pengenalan satwa laut perairan tropis Indonesia yang berupa buku pop up dan produk lainnya untuk mengajarkan tentang keanekaragaman satwa laut perairan tropis Indonesia, yang menarik, komunikatif, dan efektif untuk meningkatkan kepedulian anak-anak terhadap kelestarian satwa laut. Model perancangan menggunakan model perancangan prosedural, dengan melakukan langkah-langkah yang ditempuh, berdasar pada perancangan Christopher Jones yang digabungkan dengan model perancangan Sadjiman Ebdi Sanyoto yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi data, analisis data, konsep perancangan, hingga desain final. Produk menggunakan kertas art paper 260 gr, teknik pewarnaan dengan menggunakan komputerisasi dan tersaji full colours dengan gaya desain illustrative cartoon. Buku ini memiliki keistimewaan tersendiri dengan format pop up yang dapat berdiri membentuk gambar tiga dimensi dan dapat digerakkan. Terdapat kartu identifikasi, kubus rubik, serta boneka maskot yang dijadikan satu kemasan dengan buku pop up dengan model kemasan yang menyerupai sampul buku. Dengan adanya inovasi baru ini, diharapkan nantinya anak-anak dapat lebih mengenal dan peduli akan kelestarian kehidupan satwa laut di perairan tropis Indonesia.

Manajemen usaha kesehatan sekolah (studi kasus di taman kanak-kanak negeri bertaraf internasional tlogowaru Malang)

 

Kata kunci:manajemen, usahakesehatansekolah Usaha KesehatanSekolah (UKS) adalahsegalaupayaterpadulintas program danlintassektoruntukmeningkatkankemampuanhidupsehatdanselanjutnyaterbentukperilakuhidupsehatdanbersihbaikbagipesertadidik, wargasekolahmaupunwargamasyarakat.Kegiatan UKS cukuppentingdalammembentukkepribadiananakdidikuntukselalumelakukanPerilakuHidupBersihSehat (PHBS) yang dimulaidaridalamdirisendirisejakusiadini. Tujuan UKS samadengantujuankesehatanmasyarakatpadaumumnya, yang adapadagarisbesarnyameliputimempertinggiderajadkesehatan, mencegahdanmemberantaspenyakitsertamemulihkankesehatansetelahterkenasuatupenyakit.UKS memilikitiga program pokokyaknipendidikankesehatan, pelayanankesehatan, danpembinaanlingkungansekolahsehat. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuiproses manajemen Usaha KesehatanSekolah (UKS) di TK NegeriBertarafInternasionalTlogowaru Malang. Olehkarenaituditetapkanempatfokuspenelitian, yakni: (1) perencanaan program layanan UKS; (2) Pengorganisasian program layanan UKS; (3) pelaksanaan program layanan UKS; dan (4) evaluasi program layanan UKS. Penelitianinidilakukan di TK NegeriBertarafInternasional Malang yang pernahmenjadijuaralombalingkungansekolahsehattingkatnasional.Penelitianinidilaksanakanmenggunakanpendekatankualitatifdenganrancanganstudikasus.Teknikpengumpulan data yang digunakanadalahsebagaiberikut: (1) teknikobservasiberperanserta; (2) teknikwawancaramendalam; (3) teknikdokumentasi. Data yang diperolehdianalisisgunamenyusuntemuanlapangan.Pengecekankeabsahan data menggunakan (1)perpanjangankeikutsertaan; (2) ketekunanpengamatan; dan (3) tekniktriangulasi. Kesimpulandaripenelitianiniadalah (1) perencanaan program layanandisebutdengan program kerja UKS/TRIAS UKS (pendidikankesehatan, pelayanankesehatan, danpembinaanlingkungansekolahsehat), selainituterdapatperencanaandalamhalpengadaandana/pembiayaandankebutuhanpegawai UKS; (2) pengorganisasian program layanan UKS denganpembuatansturkturorganisasisertamenetapandanmembagikerjatiap-tiappersonil UKS; (3) pelaksanaan program layanan UKS berdasarpadaperencanaan program UKS yang telahdibuatdandisusunsebelumnyayaitupendidikankesehatan, pelayanankesehatan, danpembinaanlingkungansekolahsehat; dan (4) evaluasi UKS meliputi a) rapatkoordinasitimpelaksana UKS; b) laporanbulanankepadaPuskesmas; c) laporantengahtahun/tahunankepadakecamatan; d) supervisipihakkecamatan; dan e) supervisidanlaporanbulanankepadakepalasekolah. Berdasarkantemuanpenelitianini, penelitimenyajikan saran sebagaiberikut: (1) dinaspendidikankota Malang diharapkanmemberikandukungandandorongan yang nyataterhadappengembanganlayanankesehatan di sekolah-sekolah; (2) kepala TK Negeri BI Tlogowaru Malang diharapkandapatmenambahpersonil UKS dikarenakantidakadanyatenagadokterprofesionaluntukpenanganankesehatanpesertadidik, sehinggadapatmeringankankerja guru UKS; (3) guru UKS TK Negeri BI Tlogowaru Malang diharapkandapatlebihberpartisipasisecaraaktifsertadapatmembagiwaktusebagai guru kelasdan guru UKS; (4) kepalasekolah lain diharapkandapatmenjadikan UKS di TKN BI Tlogowaru Malang sebagaibahanrujukansekolahmasing-masingdalampeningkatanmanajemen UKS; dan (5) peneliti lain diharapkanpeneliti lain dapatmemperkuatdanmengembangkantemuanpenelitian UKS di TKN BI Tlogowaru Malang denganpermasalahanmembangunkehidupansehatataupendidikankarakterdengan UKS, selainitudapat pula dilakukanpenelitianterhadapperangkatmanajemen UKS.

Hubungan kecerdasan emosi dan kecemasan dalam menghadapi ujian nasional pada siswa kelas XII SMA Negeri di kota Malang / Thika Dwiparing Rachma

 

Kata Kunci: kecerdasan emosi, kecemasan Kecemasan memang menjadi hal yang wajar dirasakan setiap manusia, termasuk kecemasan siswa ketika menghadapi ujian nasional. Jumlah kasus kecemasan meningkat signifikan pada masa menjelang dilaksanakannya Ujian Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) tingkat kecerdasan emosi siswa, 2) tingkat kecemasan siswa, dan 3) ada tidaknya hubungan antara kecerdasan emosi dan kecemasan pada siswa. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional dengan variabel bebas adalah kecerdasan emosi dan variabel terikatnya adalah kecemasan menghadapi ujian nasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 169 siswa. Validitas instrumen menggunakan uji validitas konstruk dengan loading factor masing-masing butir menunjukkan ≥ 0,50. Instrumen yang digunakan berupa skala kecerdasan emosi dengan reliabilitas Alpha Cronbach = 0,797, dan skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional dengan reliablitias Alpha Cronbach = 0,758. Data dianalisis menggunakan tenik uji korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) sebesar 34,32% siswa memiliki kecerdasan emosi pada tingkat sedang, 2) sebesar 44,38% siswa memiliki kecemasan menghadapi Ujian Nasional pada tingkat sedang, 3) terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan kecemasan menghadapi ujian nasional pada siswa kelas XII SMA Negeri di Kota Malang. Nilai rxy product moment sebesar -0,344 dengan signifikansi 0,000. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin rendah kecemasan yang dimiliki siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada: 1) sekolah dapat memberikan pelatihan kecerdasan emosi agar siswa dapat menerapkan apa yang diperoleh untuk meredam kecemasan yang muncul secara berlebihan saat menghadapi ujian nasional, 2) bagi para siswa diharapkan mengikuti pelatihan kecerdasan emosi yang diberikan sekolah maupun instansi lain secara sungguhsungguh, 3) peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema yang sama disarankan untuk melakukan penyempurnaan alat ukur agar lebih baik, dapat menambah variabel pembeda pada sampel penelitian, dapat memperluas jangkauannya sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan di Sekolah / Siti Rodliyah

 

Kata kunci : partisipasi masyarakat, pengambilan keputusan, perencanaan, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. Pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, lembaga sekolah, dan masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan maksimal. Sekarang semua sekolah telah mempunyai Komite Sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah dan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Masyarakat, sebagaimana diamanahkan dalam UU No. 20 tahun 2003, memiliki hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan pendidikan. Masyarakat berhak berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pendidikan. Adapun kewajibannya adalah memberikan dukungan sumber daya, dan sumber dana dalam penyelenggaraan pendidikan. Penelitian ini bertujuan mengungkap lebih mendalam tentang partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan pada tiga sekolah lanjutan tingkat atas (MAN 1, SMAN 1, dan SMKN 1) di Kabupaten Jember yang memiliki karakteristik berbeda. Fokus penelitian ini meliputi empat hal yaitu: pertama, wujud partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan peren- canaan, meliputi: (1) sumbangan tenaga /fisik, (2) sumbangan ide/ pemikiran, (3) sumbangan dana, dan (4) sumbangan moral, kedua, tingkat partisipasi msyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, meliputi: (1) partisi- pasi aktif, dan (2) partisipasi pasif, ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanan, meliputi: (1) tingkat pendidikan, dan (2) jenis pekerjaan, dan keempat, proses pengambilan keputusan dan perencanaan yang melibatkan partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis diskriptif kualitatif, dengan cara data yang telah terkumpul dinalisis dengan menggunakan tiga cara yaitu organisasi data dan reduksi data, penyajian data, dan analisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis kasus individu maupun analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian yang sekaligus menjadi verifikasi/penarikan kesimpulan akhir. Sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan (1) kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi (sumber dan metode), pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat, (2) dependabilitas, merupakan kriteria untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah atau tidak, dan (3) konfir- mabilitas, digunakan untuk melihat tingkat konfirmabilitas antara temuan yang diperoleh dengan data pendukungnya. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, wujud partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan pada tiga lokasi meliputi: (1) Sumbangan tenaga/fisik berupa tanah, bimbingan prakerin, komputer, printer, sound system, keamanan, kontrol komite , sosialisasi narkoba, pendidikan sex, berlalu lintas yang benar , (2) sumbangan ide/pemikiran berupa usulan, masukan, dan kritikan dalam pembuatan visi, misi, tujuan, RPS, RKS, RAKS menjadi bahan pertimbangan, dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan sekolah, (3) sumbangan dana berupa: SPP, beasiswa, dana pengembangan sekolah, dana peningkatan kualitas guru dan siswa, dana les, memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran berjalan dengan baik, dan (4) sumbangan moral berupa keamanan, nasehat, pembinaan moral, amanat, dan ekstrakurikuler pendalaman agama memotivasi tujuan sekolah tercapai, kedua, tingkat partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan meliputi; (1) partisipasi aktif berupa kehadiran dalam rapat menyusun visi, misi, tujuan, RKS, RPS, dan RAKS mendorong sekolah maju, berkembang, dan berkualitas, (2) partisipasi pasif berupa mengontrol, mendampingi belajar, berkomunikasi dengan guru, itu meningkatkan prestasi belajar anak, ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan perencanaan meliputi; (1) tingkat pendidikan orang tua membuat rasa tanggungjawab masyarakat meningkat, dan (2) jenis pekerjaan orang tua membantu kemajuan dan pengembangan sekolah, keempat, proses pengambilan keputusan dan perencaan yang melibatkan partisipasi masyarakat dimulai dari intern yaitu diputuskan oleh lembaga sendiri, sedangkan secara ekstern di mulai dari membahas rencana program dengan Komite Sekolah, sosialisasi ke wali murid untuk mendapatkan dukungan dan persetujuan, kepala sekolah mengambil keputusan, mengajukan atau memberi tembusan ke kapala kantor dinas pendidikan dan kebudayaan dan kepala kantor kementrian Agama, kemudian SK Bupati turun, kepala sekolah mengeluarkan sebuah kebijakan. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka disarankan kepada (1) kepala sekolah diharapkan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan, tetap melibatkan dan mempertimbangkan masukan, usulan dan kritikan dari masyara- kat, (2) Guru hendaknya meningkatkan hubungan silaturahmi dengan orang tua siswa baik langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan membentuk kepribadian anak, (3) Komite Sekolah diharapkan mampu menjadi mediator yang profesional bagi sekolah dan orang tua untuk tercapainya tujuan pendidikan yang berkualitas, (4) masyarakat (orang tua, DUDI dan umum) hendaknya memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap keberhasilan belajar anak (5) kepala kantor Dinas Pendidikan dan Kebudaayaan dan kepala kantor Kementrian Agama Kabupaten Jember hendaknya memberikan kesempatan kepada kepala sekolah untuk mengambil keputusan dan perencanaan dengan melibatkan masyarakat (6) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian Agama hendaknya memberikan otonomi penuh kepada sekolah sesuai dengan konsep MBS, dan (7) peneliti lain agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengembangkan fokus penelitian lain yang lebih mendalam.

Pengaruh ukuran bulir mineral magnetik terhadap suseptibilitas magnetik pasir besi dari pantai senggigi Lombik Barat, NTB / Titis dyah arisanti

 

Kata Kunci: pasir besi, ukuran bulir, suseptibilitas magnetik Pasir besi adalah mineral magnetik alam yang dapat merespon medan magnet. Sifat dari bahan tersebut dapat diukur dengan suseptibilitas magnetik. Suseptibilitas magnetik dipengaruhi oleh jenis mineral magnetik, bentuk dan ukuran bulir mineral magnetik, intensitas mineral magnetik dan distribusi mineral magnetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran bulir mineral magnetik terhadap suseptibilitas magnetik. Sampel dalam penelitian ini adalah pasir besi yang diambil dari pantai Senggigi, Lombok Barat. Sampel pasir besi yang disiapkan berupa sampel pasir besi ekstrak dan non ekstrak, sedangkan sampel pasir besi yang diekstrak dilakukan penggerusan selama 1, 2, 3 dan 4 jam. Kedua sampel yang diekstrak dan non ekstrak diuji dengan XRF untuk mengetahui komposisi sampel. Sedangkan sampel yang diekstrak diuji dengan SEM untuk menggambarkan bentuk dan ukuran bulir sampel. Semua sampel dikarakterisasi suseptibilitas magnetik dan kestabilan remanen magnetik. Berdasarkan analisa data, komposisi pasir besi didominasi oleh Fe, sekitar 76.61% sebelum diekstrak dan 78.60% setelah diekstraksi. Nilai suseptibilitas magnetik pasir besi berkisar 4.896 x 10-4 m3/kg sampai 6.333 x 10-4 m3/kg setelah sampel digerus. kestabilan remanen magnetik menunjukkan bahwa ukuran bulir mineral magnetik didominasi oleh Multi Domain (MD) untuk sampel ekstrak. Ukuran bulir mineral magnetik menurun seiring dengan lama penggerusan. Hasil tersebut didukung oleh gambaran pada SEM. Berdasarkan data, dapat disimpulkan bahwa jika ukuran bulir mineral magnetik semakin menurun maka suseptibilitas magnetik akan semakin meningkat.

Struktur tari topeng Bapang Jambuer di sanggar Galuh Candra Kirana desa Jambuer kecamatan Kromengan kabupaten Malang / Tri Nurning Tyas

 

Kata Kunci : Tari Topeng Bapang, Struktur Tari. Tari Topeng Bapang adalah salah satu tari topeng yang khas diantara topeng yang lain. Bentuk tari ini bisa disajikan tunggal, berpasangan dan ditarikan secara kelompok. Sanggar Galuh Candra Kirana di daerah desa Jambuer adalah satu-satunya sanggar yang masih melestarikan Tari Topeng Bapang Gaya Jambuer, sanggar ini masih melestarikan tari yang berkembang di daerah Jambuer sehingga terjadi regenerasi agar tari ini tidak sampai punah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur Tari Topeng Bapang Jambuer, busana Tari Topeng Bapang, serta musik iringan Tari Topeng Bapang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Karena penelitian ini memperoleh datanya dilakukan secara alami dimana hasil dari penelitian tersebut di deskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Lokasi penelitian ini berada di Sanggar Galuh Candra Kirana Desa Jambuer Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang dengan narasumber seniman. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis yang dilakukan dengan mengelompokkan data serta klasifikasi data, memaparkan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian mencakup tiga hal yaitu (1). Analisis struktur Tari Topeng Bapang Jambuer yaitu bahwa: gerak kepala terdiri dari 5 (lima) unsur gerak, unsur gerak tangan terdiri dari 8 (delapan) unsur gerak, unsur gerak badan terdiri dari 2 (dua) unsur gerak, unsur gerak kaki terdiri 5 (lima) unsur gerak. Mempunyai motif ragam gerak 26 (dua puluh enam) deskripsi gerak. (2) Busana yang dipakai bagian atas: irah-irahan, bagian tengah: stagen, sabuk, ilat-ilatan, sampur, deker. Bagian bawah: rapek, kaos kaki. Properti: gongseng. Tari Topeng Bapang tidak menggunakan tata rias. (3) Iringan musik yang digunakan dalam Tari Topeng Bapang Jambuer ini yaitu kendang, saron, slenthem, bonang dan gong. Beberapa saran yang ditulis penulis, yaitu bagi Sanggar Galuh Candra Kirana agar tetap meneruskan program pelatihan bagi regenerasi untuk tetap melestarikan tari tradisional yang berada di daerah Desa Jambuer Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang. Dari penelitian ini diharapkan menjadi salah satu wacana penambah informasi tentang kegiatan yang berlangsung pada sanggar Galuh Candra Kirana.

Perbedaan kombinasi metode explicit instruction dan mind mapping dengan metode demonstrasi terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan mendemonstrasikann fungsi dan cara kerja perangkat lunak aplikasi teknologi informasi dan komunikasi kelas x SMAN 7 Malang / Hadias

 

Kata kunci: Kombinasi Explicit Instruction dan Mind Mapping, Demonstrasi, hasil belajar, TIK. Pembelajaran yang ada pada teknologi informasi dan komunikasi memiliki karateristik yang berbeda-beda. Karateristik kognitif sangat berperan penting dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman. Pemahaman yang kurang dapat mempersulit proses pembelajaran. Berdasarkan observasi awal di SMAN 7 Malang, terdapat berbagai masalah diantaranya siswa yang remidial untuk mencapai SKM sekitar 30 persen dari jumlah siswa. permasalah tersebut dikarenakan kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran dan sebagian siswa cenderung pasif. Metode yang digunakan kurang maksimal dalam pelaksanaannya dan dapat dilihat dari pelaksanaan dan waktu pembelajaran yang kurang efektif. Solusi dari permasalahan tersebut adalah mengganti metode yang lama yaitu metode demonstrasi dengan metode yang lebih sesuai seperti kombinasi metode explicit instruction dan mind mapping. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas yang diberi perlakuan kombinasi metode explicit Instruction dan mind mapping dengan kelas yang diberi perlakuan metode demonstrasi. Rancangan penelitian ini bersifat eksperimental semu. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan variabel terikatnya hasil belajar. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 7 Malang tahun pelajaran 2011/2012. Penentuan sampel menggunakan sampel bertujuan dan diperoleh kelas X7 sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan metode demonstrasi dan X8 sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan kombinasi metode explicit Instruction dan mind mapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen yang diberi perlakuan kombinasi metode explicit Instruction dan mind mapping memiliki rata-rata hasil belajar 85,85 dan kelas kontrol yang diberi perlakuan metode demonstrasi rata-rata hasil belajar 80,19. Hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol yaitu 85,85 > 80,19. Terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diketahui dengan melihat signifikansi nilai Sig(p) 0,000 < 0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara penerapan kombinasi metode explicit instruction dan mind mapping dengan metode demonstrasi pada pokok bahasan mendemonstrasikan fungsi dan cara kerja perangkat lunak aplikasi teknologi informasi dan komunikasi siswa kelas X SMAN 7 Malang

Ekspresi tekanan batin terhadap keadaan sosial melalui media seni lukis / Tamban Arif Maulana

 

Kata Kunci: Ekspresi, Keadaan Sosial, Seni Lukis Lukisan merupakan tebaran pigmen atau warna cair pada permukaan bidang datar (kanvar, panel, dinding, kertas) untuk menhasilkan sensasi atau ilusi keruangan, gerakan, tektur, bentuk sama baiknya dengan tekanan yang dihasilkan kombinasi unsur-unsur tersebut Ekspresi merupakan pengungkapan atau proses menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan, perasaan) dari hasil pemikiran dan perenungan seniman yang merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dirinya berupa hal yang mengusik bahkan menjadi tekanan batin termasuk kehidupan social bermasyarakat. Keadaan sosial Merupakan suasana/situasi yg sedang berlaku yang berkenaan dengan masyarakat. Dimana seniman juga termasuk sebagai anggota masyarakat dan suatu masyarakat tersebut memiliki stuktur berupa idiologi (nilai norma dan nilai religi). Seniman dapat bertindak sebagai saksi masyarakat atau sebagai kritikus. Sebagai kritikus dalam hal ini, seniman memainkan peran keberadaan dirinya yang bebas dari nilai-nilai yang dianut masyarakatnya. Jadi, meskipun seniman hidup dalam suatu masyarakat dengan tata nilai sendiri, dan belajar dari tata nilai tersebut, ia juga punya kebebasan untuk menyetujui atau tidak menyetujui tata nilai masyarakat itu. Dalam peran sebagai saksi masyarakat seniman dapat menjadikan keadaan masyarakat ini sebagai suatu stimulus dengan reaksi berupa sebuah karya yang bermuatan ide dan gagasan untuk dikomunikasikan kepada orang lain agar orang lain merasakan juga menyadari pemikiran dari hasil pengamatan dan sebagai pelaku dalam bermasyarakat. Dalam penciptaan karya ini menampilkan 6 karya lukis dengan media estetik berupa garis dan warna sebagai simbolisasi dari konsep, media fisik berupa bahan yaitu kanvas, cat akrilik, pigmen cat serta alat yang variatif. menggunakan tiga teknik yaitu cipratan atas , mendatar serta detail dengan penegasan cahaya. Proses penciptaaan ini diawali dari pengembangan ide gagasan, membuat rancangan awal berupa sketsa, proses penerapan teknik dalam hal ini visualisasi karya, dan finishing karya. Berdasarkan hasil penciptaan diharapkan dapat memberikan pengalaman baik yang berupa wujud, proses maupun kreatifitas melalui pemikiran pencipta dalam berkreasi seni dalam hal penciptaan karya.

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris melalui model pembelajaran time token arends pada siswa kelas VB SDN Sawojajar 5 Malang / Elly rahmawati

 

Kata kunci: Keterampilan Berbicara, Pembelajaran Bahasa Inggris, Time Token Arends, Sekolah Dasar. Pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan model Time Token Arends dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran bahasa Inggris kelas V B SDN sawojajar 5 Malang, guru masih menggunakan metode konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Tingkat keterampilan berbicara siswa masih terendah. Hal ini tampak dari siswa yang masih tersendat-sendat dalam berbicara, tidak mau berbicara karena malu dan takut jika salah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Time Token Arends pada pembelajaran Bahasa Inggris, (2) keterampilan berbicara bahasa Inggris setelah menerapkan model pembelajaran Time Token Arends di kelas V B. Subjek dari penelitian adalah siswa kelas V B sebanyak 45 siswa yang terdiri dari 23 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu (1) planning, (2) acting, (3) observing, dan (4) reflecting. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan dan tes dalam bentuk lisan. Dalam penerapan model pembelajaran Time Token Arends untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa ini, terlebih dahulu guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar, lalu guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. Selanjutnya, guru memberikan setiap siswa kupon berbicara dengan waktu yang ditentukan (biasanya 30 detik-1 menit), dan setiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang ditentukan. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan pada guru. Setiap berbicara satu kupon. Siswa yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi, dan siswa yang lain yang masih memegang kupon harus bicara sampai kuponnya habis, sehingga semua siswa memiliki hak bicara yang sama, dan sampai semua siswa berbicara (berpendapat). Pada kegiatan akhir, guru dan siswa membuat kesimpulan bersama dari hasil diskusi kemudian guru menutup pelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Time Token Arends pada pembelajaran bahasa Innggris mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Hal ini terbukti dari rata-rata tingkat keterampilan berbicara siswa pada siklus I adalah 66. Sedangkan di siklus II pertemuan 1 mengalami peningkatan lagi menjadi 76 dan pada pertemuan 2 meningkat lagi menjadi 82. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti terkait dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD khususnya pada aspek keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa dengan model pembelajaran Time Token Arends merupakan model pembelajaran ini cenderung memerlukan waktu yang lama, sehingga dalam perencanaan pembelajarannya guru diharapkan benar-benar memperhatikan alokasi waktu. Dalam penerapan model pembelajaran ini, tidak semua siswa dengan sukarela menggunakan kesempatan mereka untuk berbicara, sehingga guru harus bisa memotivasi siswa secara maksimal.

Minat baca masyarakat dan intensitas kehadiran pengunjung di taman baca Amin di kota Batu / Dian Nur Anggraini

 

Kata Kunci: Minat Baca, Intensitas Kehadiran, Taman Baca AMIN. Dalam masyarakat kita budaya membaca, sangat minim karena masyarakat terlena dengan media propaganda (terutama televisi) dan desain gaya hidup yang berusaha menumpulkan pola pikir Untuk meningkatkan minat baca masyarakat, pemerintah mendorong tumbuhnya berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan konsep berbeda dari perpustakaan. Kemudian muncul pula nama-nama alternatif untuk menggeser kata perpustakaan. Sebut saja misalnya taman baca, rumah baca, rumah pintar, gelaran buku, rumah buku, café buku, dan sebagainya. Nama-nama tersebut berkesan lebih ringan dan akrab bagi pengunjung. Taman Baca AMIN yang tidak termasuk dalam data dari Dinas Pendidikan Kota Batu, memiliki jumlah pengunjung sekitar 70—80 orang setiap hari, memiliki jam buka rutin setiap hari pukul 14.00—21.00 WIB, berada di lokasi yang strategis serta, memiliki koleksi bahan bacaan lebih dari 5000 buku. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan minat baca masyarakat di Taman Baca AMIN di Kota Batu (2) mendeskripsikan intensitas kehadiran pengunjung di Taman Baca AMIN di Kota Batu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 200 orang orang dengan sampel 50 orang dengan menggunakan sampel random. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pengunjung Taman Baca AMIN di Kota Batu memiliki minat baca tinggi sebanyak 56%. (2) Intensitas kehadiran pengunjung di Taman Baca AMIN di Kota Batu dapat diketahui bahwa frekuensi kehadiran pengunjung memiliki kategori sangat sering sebanyak 56%. Lama membaca pengunjung memiliki kategori sangat lama sebanyak 60%. Motivasi kehadiran pengunjung memiliki kategori sangat tinggi sebanyak 54%. Berdasarkan temuan data tersebut maka disarankan (1) Bagi Taman Baca AMIN Untuk meningkatkan minat baca dan jumlah pengunjung sebaiknya menambahkan program kreatif meliputi kegiatan bedah buku, membaca bersama, menonton film, belajar menulis dari penulis, dongeng boneka, dan lain-lain. Sehingga nantinya Taman Baca AMIN dapat menjadi contoh bagi Taman Bacaan Masyarakat lainnya yang berada di Kota Batu dalam rangka menarik minat baca masyarakat Kota Batu. (2) Bagi Jurusan PLS, untuk memperluas dan mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan program Pendidikan Luar Sekolah sehingga semakin dikenal oleh masyarakat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan kontribusi dalam bidang pengembangan Taman Bacaan Masyarakat. (3) Bagi peneliti lanjutan yang ingin mengembangkan penelitian sejenis hendaknya dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas baik variabelnya atau populasinya.

Manajemen peserta didik pada sekolah satu atap sebagai penuntasan wajib belajar di daerah terpencil (studi kasus di SMP Negeri 2 Karangploso satu atap kabupaten Malang) / Sinta Maya Sari

 

Kata Kunci : manajemen peserta didik, sekolah satu atap, wajib belajar. Manajemen peserta didik adalah layanan yang difokuskan kepada peserta didik dalam pengelolaan mulai peserta didik masuk, selama menempuh pembelajaran hingga peserta didik itu lulus. Manajemen peserta didik pada sekolah satu atap adalah manajemen yang pengelolaannya difokuskan pada peserta didik SD dan SMP. Mengelola dua lembaga pendidikan sekaligus bukan hal mudah, apalagi untuk sekolah yang berada di daerah yang terkendala geografis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: (1) Sejarah SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap; (2) Perencanaan peserta didik SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap; (3) Pembinaan peserta didik SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap; (4) Dampak keberadaan SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap terhadap penuntasan wajib belajar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data yaitu wawancara mendalam, observasi berperan serta, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan perpanjangan keikutsertaan dan triangulasi sebagai cara untuk pengecekan keabsahan data. Perpanjangan keikutsertaan dihentikan apabila informasi yang diperoleh benar-benar sudah mencapai batas kelengkapan. Perpanjangan keikutsertaan tersebut didukung oleh triangulasi sumber yang dilakukan oleh peneliti dalam pengecekan keabsahan data. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) Sejarah didirikan SMP Negeri Satu Atap ini karena jumlah APK yang sangat banyak, letak geografis yang terpencil dan juga terpencar serta tidak ada sekolah lanjutan menengah pertama di daerah ini. Langkah awal untuk mendirikan sekolah satu atap adalah verifikasi data yang kemudian hasilnya diserahkan pada Diknas untuk didata dan apabila memenuhi kriteria akan didirikan sekolah satu atap di daerah yang terkendala geografis; (2) Perencanaan peserta didik dilakukan dengan kegiatan analisis kebutuhan peserta didik, rekruitmen peserta didik, dan orientasi peserta didik. Setiap tahun ajaran baru pada analisis kebutuhan peserta didik sekolah tidak pernah mempertimbangkan daya tampung kelas semua peserta didik yang mendaftar selalu diterima di sekolah. Rekruitmen baik untuk SD dan SMP tidak terlalu ketat karena memang tujuan sekolah satu atap adalah melancarkan program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun khususnya di daerah yang terkendala geografis. Walaupun sebagian besar peserta didik adalah lulusan dari SD ini sendiri, pelaksanaan orientasi tetap dilaksanakan untuk menyetarakan dengan SMP reguler; (3) Pembinaan peserta didik terdiri kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler menggunakan KTSP. Jam pembelajaran peserta didik SD dilaksanakan pagi hari dan peserta didik SMP dilaksanakan siang hari. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah untuk sementara waktu di vacum-kan karena sekolah lebih mengoptimalka kegiatan intrakurikuler; (4) Dampak keberadaan SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap antara lain mampu menekan jumlah APK. Berdasarkan kesimpulan tersebut, hasil penelitian ini disarankan bagi: (1) Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap, apabila dapat mendekatkan diri pada masyarakat maka tradisi masyarakat untuk mendaftarkan putra-putrinya lebih terstruktur sesuai jadwal yang diberikan sekolah; (2) Guru SMP Negeri 2 Karangploso Satu Atap, kegiatan ekstrakurikuler juga penting agar peserta didik dapat mendapat ketrampilan lebih di samping mendapat kegiatan intrakurikuler, apabila sekolah terkendala tenaga pengajar, sekolah bisa mencari karang taruna di sekitar untuk menjadi pembina; (3) Diknas Kabupaten Malang, dengan laporan ini supaya lebih terjadwal dalam memantau perkembangan di seluruh sekolah satu atap; (4) Peneliti lain, supaya mengkaji penelitian sebelumnya dan mengembangkan penelitian dengan melakukan action research di bidang layanan khusus perpustakaan.  

Kepuasan masyarakat tehadap pelayanan pendidikan yang di berikan oleh pemerintah Desa Penanggal Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang / Amila huda

 

Kata kunci : Kepuasan Masyarakat, Pelayanan Pendidikan, Pemerintah Desa Penanggal. Keberhasilan pemerintah dalam memberikan pelayanan publik dapat dilihat dari kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan. Kepuasan masyarakat dapat dicapai apabila aparatur pemerintah yang terlibat langsung dalam pelayanan dapat mengerti, menghayati serta berkeinginan untuk melaksanakan pelayanan prima. Masyarakat dapat terpuaskan dari pelayanan aparatur pemerintah berorientasi pada kepuasan total masyarakat. masyarakat membutuhkan komitmen dan tindakan nyata dalam memberikan pelayanan prima. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan yang diberikan pemerintah Desa Penanggal, (2) mendeskripsikan partisipasi masyarakat desa untuk meningkatkan pelayanan pendidikan pemerintah Desa Penanggal, (3) mendeskripsikan tanggapan pemerintah desa terhadap partisipasi masyarakat desa Penanggal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian berada di desa Penanggal kecamatan Candipuro kabupaten Lumajang, tepatnya di pusat pelayanan pendidikan yaitu PAUD, PKK, rumah baca (perpustakaan desa), dan kantor desa. Sumber data berasal dari orang yaitu aparatur pemerintah desa, ibu-ibu PKK, penanggung jawab PAUD dan rumah baca, orang tua siswa PAUD, serta masyarakat desa Penanggal. Peristiwa yaitu berupa seluruh aktivitas pelayanan pendidikan dan dokumentasi tentang gambaran umum pelayanan pendidikan desa Penanggal. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan triangulasi dan pembahasan teman sejawat. Tahap-tahap penelitian dilakukan dengan cara tahap pralapangan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Hasil penelitian antara lain menunjukkan (1) pelayanan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah desa Penanggal, yang terdiri dari PKK, PAUD dan rumah baca, (2) kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan yang diberikan oleh pemerintah desa Penanggal meliputi kebutuhan masyarakat tentang pelayanan pendidikan, perasaan senang dan tidak senang masyarakat, dan penyebab ketidakpuasan masyarakat, (3) Partisipasi masyarakat desa Penanggal untuk meningkatkan pelayanan pendidikan berbentuk saran, dan saran tersebut disampaikan secara lisan ataupun tertulis, yaitu dengan cara berbicara langsung atau mengobrol dengan pihak aparatur desa, mengadakan rapat serta mengajukan proposal (4) tanggapan pemerintah desa terhadap partisipasi masyarakat yaitu mencakup pendapat masyarakat tentang pelayanan pendidikan berupa PAUD, rumah baca (perpustakaan desa), dan PKK. Tanggapan masyarakat yang disampaikan biasanya oleh pihak kepala desa ditampung terlebih dahulu lalu pihak kepala desa akan menyampaikan solusinya dalam pertemuan rutin antara RT dan RW dusun serta apartur desa yang diadakan setiap bulannya. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bagi aparatur penyelanggara pelayanan pendidikan sebaiknya menyediakan kotak saran agar masyarakat desa Penanggal lebih mudah dalam menyampaikan aspirasinya, kotak saran tersebut bisa diletakkan ditempat pelayanan pendidikan. Pemerintah desa sebaiknya segera mempersiapkan dan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat seputar adanya rumah baca, seperti mengundang masyarakat untuk menghadiri sosialisasi,target sosialisasi bisa lebih dikonsentrasikan kepada kaum pemuda yang ada di desa Penanggal. Sebelum adanya pemindahan lokasi pelayanan pendidikan PAUD, sebaiknya pemerintah desa sedikit memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan yang ada, seperti memperbaiki arena bermain yang sudah rusak. Pemerintah desa sebaiknya membuat situs atau website di internet tentang segala profil desa Penanggal karena jaringan internet banyak digunakan oleh masyarakat desa, diharapkan dengan adanya situs ini masyarakat lebih mudah mengetahui kondisi desanya. Peningkaan peran dan kerjasama berbagai pihak terkait yaitu antara penanggung jawab pelayanan pendidikan serta aparatur desa sangat dibutuhkan, agar permasalahan-permasalahan yang terjadi seputar pelayanan pendidikan dapat segera diselesaikan. Masyarakat desa harus lebih aktif dan kritis dalam ikut serta memperbaiki kualitas pelayanan pendidikan.

Kolaborasi problem based learning dan mind mapping untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X perkantoran SMK Ardjuna 1 Malang mata diklat kewirausahaan) / Devi Januari Cristina

 

Kata Kunci: Problem Based Learning, Mind Mapping, Kemampuan Berpikir Kreatif, Hasil Belajar Siswa Hasil observasi di kelas X Administrasi Perkantoran SMK Ardjuna 1 Kota Malang diperoleh bahwa pembelajaran di kelas masih bersifat pemberian informasi dari guru kepada siswa yang mengakitbatkan siswa cenderung pasif dan kurang mandiri. Oleh karena itu perlu adanya sebuah pembaharuan pembelajaran untuk mengubah paradigma tersebut yaitu dengan penerapan pembelajaran kolaborasi Problem Based Learning dan Mnd Mapping yang mengarahkan kepada siswa untuk mempelajari materi melalui pembelajaran berbasis masalah dan dibantu dengan teknik peta pikiran atau mind mapping. Tujuan penelitian ini adalah berusaha untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan jenis enelitian tindakan kelas menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, catatan lapangan, dan angket belajar afektifi siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I dengan poin B+. Pada siklus II meningkat dengan perolehan poin A. Selain itu penilitian ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat pra tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada saat akhir penerapan. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada saat pre-test siklus I sebanyak 4 siswa dan untuk post-test sebanyak 6 siswa untuk siswa yang tuntas belajar. Kemudian untuk hasil post-test siklus II juga menunjukkan peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan siklus I yaitu dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 12 siswa dan yang belum tuntas sebanyak 1 siswa. Pada hasil belajar afektif siswa terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II dalam hal diskusi kelas dan diskusi kelompok. Walaupun pada post-test siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah hal yang wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua.Kemampuan berpikir kreatif siswa juga meningkat dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Bagi Guru SMK Ardjuna 1 Malang dengan model pembelajaran kolaborasi Problem Based Learning dan Mind Mapping perlu menjadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas karena tidak semua materi pelajaran cocok dengan model pembelajaran ini (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kolaborasi Problem Based Learning dan Mind Mapping pada pengajaran mata diklat yang sama atau mata diklat lainnya di tempat yang berbeda untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Untuk peneliti selanjutnya bila masih ditemukan siswa yang belum tuntas belajar maka disarankan untuk melakukan siklus berikutnya.

Penerapan model pembelajaran achievement division (STARD) untuk meningkatkan hasil belajar swiswa npada topik hubungan manusia dengan bumi kelas 1X E SMP Negri 2 Malang / Alfi sahrina

 

Kata kunci :Student Team Achievement Divisions (STAD), hasil belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas IX E SMP Negeri 2 Malang diketahui bahwa hasil belajar yang kurang memuaskan disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya siswa cenderung sulit melakukan kerjasama. Dalam penguasaan materi, kelompok atas sulit bergaul dengan kelompok bawah, sehingga mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh siswa. Ketuntasan belajar klasikal siswa sebesar 39,47 %, yang artinya dari 38 siswa, yang telah tuntas belajarnya sejumlah 15 siswa. Penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan kerjasama siswa perlu dilakukan sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Salah satunya dengan penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD). Melalui penerapan model pembelajaran STAD diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matapelajaran IPS Geografi siswa kelas IX E SMP Negeri 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan mulai tanggal 20 Januari sampai 1 Feberuari 2012. Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus tindakan, yang mana setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian dalam PTK ini adalah siswa kelas IX E SMP Negeri 2 Malang tahun ajaran 2011-2012 yang berjumlah 38 siswa yang terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini berupa keterlaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD yang diukur berdasarkan persentase aktivitas guru dan siswa serta hasil belajar siswa yang diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan setiap akhir siklus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persentase keterlaksanaan pembelajaran STAD sebesar 100% dan terjadi peningkatan hasil belajar IPS Geografi siswa kelas IX E SMP Negeri 2 Malang. Rerata hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan tindakan sebesar 66,32 meningkat menjadi 69,87 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 80,79 pada siklus II. Selain terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa, terjadi ketergantungan positif antar siswa. selain itu juga terjadi perubahan sikap antar siswa, siswa tidak lagi memilih-milih teman dalam bekerjasama. Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran model STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX E SMP Negeri 2 Malang tahun ajaran 2011-2012. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan dalam menggunakan model pembelajaran guru harus bisa membagi waktu dengan baik, menguasai kelas dengan baik, bersikap tegas terhadap siswa yang membuat gaduh serta membuat variasi soal pada soal tes akhir siklus.

Pengaruh insider ownership, dispersion of ownership, free chash flow, dan collaterizable assets terhadap kebijakan dividen ( studi pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2008- 2010) / Fadila qori' imami

 

Kata kunci : Insider Ownership, Dispersion Of ownership, Free Cash Flow, Collaterizable Assets, Kebijakan Dividen Kebijakan dividen adalah keputusan untuk menentukan besarnya bagian pendapatan (earning) yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dan bagian yang ditahan di perusahaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan pembayaran dividen kepada pemegang saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collaterizable assets terhadap variabel terikat kebijakan dividen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dimana populasinya adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010 dengan sampel sebanyak 15 perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan data diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial insider ownership, dispersion of ownership, dan collaterizable assets berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan free cash flow berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal-hal yang bisa disarankan dari hasil penelitian adalah: (1) Bagi investor atau calon investor yang hendak melakukan inivestasi hendaknya perlu memperhatikan insider ownership, dispersion of ownership, free cash flow, dan collaterizable assets perusahaan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan investasi, karena secara parsial keempat variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2008-2010. (2) Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lebih lanjut dengan menambah variabel bebas yang diduga berpengaruh terhadap kebijakan dividen seperti kepemilikan institusional, kebijakan hutang, dan kinerja keuangan perusahaan serta mengganti sampel penelitian.

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa ada mata diklat kewirausahaan (kelas X jurusan analisis kimia 1 SMK Negeri 7 Malang) / Yunita Kurniati

 

Kata Kunci: problem based learning, aktivitas belajar siswa, hasil belajar Berdasarkan study pendahuluan yang dilakukan di SMK Negeri 7 Malang diketahui beberapa hambatan kegiatan pembelajaran pada kelas X Analisis Kimia 1 siswa yang kurang fokus pada pelajaran, belum kondusif dan nilai ulangan harian siswa belum mencapai KKM (Kreteria Ketuntasan Minimal) dengan Problem Based Learning diharapkan siswa dapat lebih aktif mengikuti pelajaran juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah penerapan pembelajaran model Problem Based Learning pada mata diklat Kewirausahaan pada siswa kelas X jurusan Analisis Kimia 1 SMK Negeri 7 Malang ? 2) Apakah aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan setelah pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning? 3) Apakah hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning?4) Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat serta solusi penerapan pembelajaran model Problem Based Learning? Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu (1) planning, (2) action, (3) observation, serta (4) reflection. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Analisis Kimia 1 SMK Negeri 7 Malang Semester II Tahun Ajaran 2011/2012. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: rencana pembelajaran, lembar observasi, angket, dan pedoman wawancar, teknik analisis mengguakan Uji-t dengan dukungan SPSS 17. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (1)aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat. pada masing-masing aspek, yaitu: aspek keaktifan meningkat sebesar 12%, aspek penyelesaian tugas meningkat sebesar 17%, serta aspek diskusi meningkat sebesar 15%. Dari analisis menggunakan Uji-t, sangat berpengaruh sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning, (2) Hasil belajar mengalami peningkatan rata-rata dibandingkan dengan nilai pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru hendaknya menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Guru maupun mahasiswa hendaknya memilih materi yang sesuai dengan kondisi lingkungan siswa, model pembelajaran Problem Based Learning dibuat lebih variatif lagi misalnya terjun langsung ke lapangan untuk memecahkan masalah.

Authentic learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang / Badruz Zaman

 

Kata Kunci : authentic learning, kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa prodi Pendidikan Fisika masih kurang sehingga perlu ditingkatkan. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menerapkan authentic learning. Kemampuan pemecahan masalah dapat diukur dengan tes. Kemampuan tersebut memiliki keterampilan yang meliputi identifikasi masalah, merumuskan masalah, menganalisis masalah, menarik kesimpulan, mencari solusi, melakukan evaluasi, dan memecahkan dan menyelesaikan masalah . Penelitian menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas dalam 2 siklus. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah bagi mahasiswa melalui penerapan authentic learning. Penerapan authentic learning dilaksankan menggunakan model Problem Based Learning (PBL), Think Pair Share (TPS), dan Jigsaw. Penelitian dilakukan di kelas AY CC yang terdiri dari 19 mahasiswa pada semester genap tahun akademik 2011/2012. Materi ajar pada pelaksanaan tindakan adalah hakikat IPA dan teori-teori belajar. Keterlaksanaan authentic learning diukur menggunakan Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran. Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa diukur menggunakan soal tes pilihan ganda. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan data secara lengkap dalam bentuk kalimat. Analisis kuantitatif digunakan sebagai data pendukung yang ditampilkan dalam bentuk angka dan persentase. Hasil penelitian menujukkan terdapat peningkatan persentase keterlaksanaan authentic learning sebesar 8,14%. Kemampuan pemecahan masalah mahasiswa juga meningkat sebesar 13%. Keterampilan identifikasi masalah, merumuskan masalah, menganalisis masalah, dan mencari solusi mengalami peningkatan. Keterampilan memecahkan dan menyelesaikan masalah mengalami penurunan. Sedangkan keterampilan menarik kesimpulan dan melakukan evaluasi tidak mengalami perubahan. Kesimpulan penelitian ini adalah authentic learning terlaksana sesuai harapan dan dapat meningkatan kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika.

The relationship between black master and slaves in Edward P. Jones The Known World / Ivan Setiawan

 

Keywords: black slave owner, slave, Jones, The Known World Literature as the expression of human beings reflects life, thought, feeling, behavior, and attitude of human being. As the product of society, works of literature expresses the social condition in certain place and time. In other words, literature mirrors the history. In this thesis, I study Edward P Jones’ historical novel, The Known World, as the portrait of the social life in the United States in the last of 19th centuries during the era of slavery. The objective of the study is to critically compare master-slave relationship between the fictional character of black slave owners in Edward P. Jones’s The Known World with the real character of black slave owners in the history of slavery in the U.S. Thus, some outstanding and influencing figures of black slaves owners in history of the U.S. will be studied as the comparison to the fictional character in the novel, Henry Townsend. This study specially focuses on how both characters, real and fictional, who formerly were slaves, develop into the slave owner, how they form their initial mindset about slavery, how they treat and interact with their slaves, and how they establish their social status and economic success as the slave owners. This study argues that some slave-born black master might have some benevolent motives before and during their masterhood, although their main purpose of owning and employing slaves is not different to other masters that mostly dominated by the white masters in that era.

Analisis manajemen kredit bermasalah pada kredit pemilikan rumah terhadap upaya pengendalian kredit macet (studi di PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Malang) / Puput Dwi Arista

 

Kata Kunci : Manajemen Kredit Bermasalah, Pengendalian Kredit Macet. Kredit bermasalah merupakan resiko yang terkandung dalam setiap pemberian kredit. Timbulnya kredit bermasalah dapat menjadi penyebab kesulitan bank yang terkait dengan kesehatan bank. Karena itu bank harus menghindarkan diri dari kredit bermasalah atau Non Performing Loan. Terjadinya keterlamabatan pembayaran atau sama sekali tidak ada pembayaran ketika debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada bank, merupakan gejala yang dapat menyebakan terjadinya kredit bermasalah. Mutu kredit menjadi merosot dan bank akan mengalami kerugian yang potensial apabila kredit yang bermasalah tersebut berkembang sampai pada kredit macet. Untuk itu diperlukan manajemen kredit bermasalah yang kompeten dan mampu mengelola kredit bermasalah, agar tidak terjadi dampak yang lebih besar. Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Malang pada tahun 2011. Pada penelitian ini peneliti menggunakan data primer berupa wawancara dan data sekunder yang berupa dokumentasi laporan kualitas kredit macet pertriwulan pada Kredit Pemilikan Rumah tahun 2008 hingga 2010, dengan tujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan pengaruh manajemen kredit bermasalah dalam menangani kredit bermasalah pada Kredit Pemilikan Rumah terhadap upaya pengendalian kredit macet di PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Malang. Manajemen kredit bermasalah yang mampu mengelola Non Performing Loan sehingga tidak sampai mengganggu kesehatan bank, membuat upaya pengendalian kredit macet memperoleh keberhasilan dalam usahanya. Dari hasil penelitian yang peneliti dapatkan, penerapan manajemen kredit bermasalah pada Kredit Pemilikan Rumah di PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Malang telah dilakukan sesuai dengan prosedur dan ketentuan Undang-Undang Perbankan serta sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku. Oleh karena itu Bank BTN Cabang Malang terus berusaha dengan keras memperbaiki mutu, citra dan kinerjanya agar tingkat pertumbuhan kredit macet dapat dikendalikan dari tahun ketahun.

Pengaruh penerapan media video pembelajaran teknik dasar sepakbola menggunakan metode pembelajaran problem posing terhadap hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pulung Ponorogo / Fatoni Fitra Diasa

 

Kata kunci: Pembelajaran Problem Posing, video pembelajaran teknik dasar sepakbola, hasil belajar Mata pelajaran Penjaskes merupakan mata pelajaran yang secara keseluruhan proses pembelajaran berada di luar kelas. Ini merupakan tantangan bagi guru Penjaskes di SMP, sehingga sangat perlu inovasi-inovasi baru dalam mengajar. Salah satunya adalah menerapkan suatu model pembelajaran Problem Posing. Di samping itu perlu juga dilakukan pemanfaatan media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu memanfaatkan media video pembelajaran. Penyajian video dapat membantu penyampaian materi yang diberikan yaitu materi sepakbola dengan sampel 70 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Macam-macam variabel penelitian ini adalah penyajian video pembelajaran dengan bantuan metode pembelajaran problem posing (kelas eksperimen) dengan kelas yang disajikan video pembelajaran tanpa bantuan pembelajaran problem posing (kelas kontrol) sebagai variabel bebas, model pembelajaran problem posing, materi ajar yang diberikan dalam proses pembelajaran dan waktu pembelajaran sebagai variabel kontrol, hasil post-test sebagai variabel terikat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), LKS, dan media video pembelajaran sebagai instrumen perlakuan serta 15 soal post-test sebagai instrumen pengukuran. Berdasarkan hasil penelitian, kelas yang mendapat perlakuan pembelajaran problem posing menggunakan media video pembelajaran lebih baik dari pada kelas yang hanya menggunakan media video pembelajaran saja. Kelas eksperimen memiliki nilai mean sebesar 73,25 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 40,00. Kelas kontrol memiliki nilai mean sebesar 65,60 dengan nilai tertinggi 92,00 dan nilai terendah 36. Observasi selama penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa kelas yang mendapat perlakuan pembelajaran problem posing berbantuan media video pembelajaran memiliki keseriusan yang lebih tinggi dalam mengikuti pembelajaran dibandingkan kelas yang tidak mendapat perlakuan pembelajaran problem posing. Uji hipotesis dengan uji t menghasilkan nilai signifikansi yang lebih kecil dari α, sehingga ada perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang diajar menggunakan media video pembelajaran dengan dan tanpa bantuan pembelajaran problem posing pada materi teknik dasar sepakbola. Karena nilai mean kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol, peneliti menyimpulkan bahwa penggunaan media video pembelajaran dalam pembelajaran problem posing bisa meningkatkan hasil belajar siswa.

Authentic learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa program studi pendidikan fisika Universitas Negeri Malang dalam mata kuliah strategi pembelajaran fisika / Muhammad Nur Hudha

 

Kata kunci : Authentic learning, berpikir kritis Tingkat kemampuan berpikir kritis untuk menyelesaikan suatu permasalahan awal mahasiswa prodi pendidikan fisika masih belum maksimal. Kemampuan berpikir kritis dapat diamati melalui tes dengan indikator yaitu merumuskan masalah, memberi argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan evaluasi, memutus dan melaksanakan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dari Kemmis & Mc Taggart dengan tahapan; indentifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini menggunakan tindakan berupa authentic learning. Authentic Learning yang digunakan berupa Problem Based Learning (PBL), Think Pair Share (TPS), Two Stay Two Stray (TS-TS). Penelitian dilakukan dua siklus pada 19 mahasiswa pada matakuliah Strategi Pembelajaran Fisika (SPF) di Prodi Pendidikan Fisika UM. Keterlaksanaan authentic learning diukur menggunakan Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran. Kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan tes pada setiap akhir siklus. Data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan peningkatan persentase rata-rata keterlaksanaan authentic learning sebesar 6,75%. Sedangkan persentase rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis diperoleh peningkatan sebesar 11%. Indikator merumuskan masalah, memberi argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi mengalami peningkatan. Indikator melakukan evaluasi persentasenya tetap dan indikator memutus dan melaksanakan mengalami penurunan. Kesimpulan penelitian ini adalah authentic learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika pada matakuliah Strategi Pembelajaran Fisika (SPF) di UM.

Nilai - nilai ketuhanan tokoh Nidah Kirani dalam novel tuhan ijinkan aku pelacur karya Muhidin M. Dahlan / Asriyani Sularsanti

 

Kata Kunci: novel, tokoh, nilai ketuhanan Dunia sastra sarat dengan kreativitas dan imajinasi pengarang. Salah satu genre sastra adalah prosa. Salah satu jenis prosa fiksi adalah novel. Novel merupakan salah satu bentuk refleksi dari kesadaran mental pengarang terhadap nilai yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat karena novel tidak pernah lepas dari sistem sosial budaya yang melingkupinya. Salah satu jenis nilai adalah nilai kerohanian. Nilai religius merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Adapun nilai religius tertinggi ialah nilai ketuhanan. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang nilai-nilai ketuhanan tokoh Nidah Kirani pada novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mendeskripsikan amal, ibadah dan aqidah tokoh Nidah Kirani dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Data pada penelitian ini berupa paparan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah sosiologi sastra. Sumber data dalam penelitian ini ialah novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Teknik pengumpulan data menggunakan panduan pengumpulan data atau studi dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Pada tahap analisis data, peneliti menggunakan panduan analisis data. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengrepresentasi dan menginterpretasi data berdasarkan indikator yang telah ditentukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur ditemukan unsur-unsur instrinsik pada novel berupa nilai ketuhanan dalam Islam yang terdiri dari amal, ibadah dan aqidah tokoh Nidah Kirani. (1) Amal sebagai berikut: menepati janjinya dan takut akan azab, memberi makanan yang disukai kepada fakir miskin, anak yatim dan tawanan, dan menghibur orang menderita; (2) Ibadah berupa mengucapkan kalimat syahadat dalam sholat, sholat, puasa dan berdoa; (3) Aqidah tokoh merupakan implementasi dari rukun iman. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru pengajar dan mahasiswa sastra Indonesia agar memanfaatkan penelitian ini sebagai media pengajaran sastra terutama mengenai unsur instrinsik novel yang terkait dengan nilai dalam sebuah karya sastra. Selain itu, penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.

Bentukan kata dalam karangan bahasa Indonesia yang ditulis pelajar Thailand Program Darmasiswa CIS-BIPA UM tahun 2010-2011 / Vania Maherani

 

Kata kunci: bentukan kata, ketepatan bentukan kata, karangan pelajar Thailand, Program Darmasiswa Peranan Indonesia dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang dipandang penting sehingga banyak diajarkan, antara lain di Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Jerman. Minat orang asing untuk belajar bahasa Indonesia cukup tinggi. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah orang asing yang belajar bahasa Indonesia baik di lembaga bahasa yang ada di negara asalnya atau di Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing dilakukan di lembaga Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). BIPA merupakan sebuah wadah bagi orang non-Indonesia untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. Sasaran akhir pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (selanjutnya PBIPA) adalah terampil menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Keterampilan tersebut meliputi empat keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Salah satu keterampilan yang diajarkan oleh pengajar BIPA adalah keterampilan menulis. Hasil tulisan berupa karangan pelajar asing dapat mencerminkan perkembangan kemampuan belajar bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentukan kata dan ketepatan bentukan kata dalam karangan Bahasa Indonesia yang ditulis oleh pelajar Thailand program Darmasiswa CIS BIPA UM tahun 2010 – 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif berupa kata-kata yang terdapat dalam karangan pelajar Thailand. Data yang dikumpulkan terdiri atas kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk. Tahapan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, penganalisisan data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, dan penyusunan laporan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentukan kata yang digunakan pelajar Thailand bermacam-macam (beragam). Bentukan tersebut terdiri dari bentukan kata berafiks (berimbuhan), bentukan kata ulang, dan bentukan kata majemuk. Bentukan kata berafiks meliputi kata berprefiks ber-, meN-, di-, peN-, se-, dan ter; kata bersufiks–an dan–wan; serta kata berkonfiks di-i, di-kan, ke-an, meN-kan, meN-i, memper-kan, peN-an, dan per-an. Bentukan kata ulang meliputi bentukan kata ulang utuh, kata ulang sebagian, dan kata ulang semu. Bentukan kata majemuk yang muncul adalah kata majemuk berkelas kata verba – nomina (KK + KB), verba – adjektiva (KK + KS), dan nomina – adjektiva (KB + KS). Bentukan kata yang digunakan pelajar Thailand ada yang tepat dan ada yang tidak tepat. Penggunaan bentukan kata berafiks yang tepat banyak terdapat pada prefiks ber-, peN-, dan ter-, sufiks –an, -i dan –wan, serta konfiks di-i, ke-an, meN-kan, meN-i, dan memper-kan. Bentukan kata ulang yang tepat banyak terdapat pada bentukan kata ulang semu. Bentukan kata majemuk yang tepat banyak terdapat pada bentukan kata majemuk dengan bentuk dasar verba – nomina (KK + KB) dan verba – adjektiva (KK + KS). Bentukan kata berafiks yang tidak tepat banyak terdapat pada prefiks meN-, di-, dan se-, sufiks –i, serta konfiks di-kan, peN-an, dan per-an. Bentukan kata ulang yang tidak tepat banyak terdapat pada bentukan kata ulang utuh. Bentukan kata majemuk yang tidak tepat banyak terdapat pada bentukan kata majemuk dengan bentuk dasar nomina – nomina (KB + KB) dan nomina – adjektiva (KB + KS). Ketidaktepatan tersebut meliputi tiga hal, yaitu ketidakbenaran (tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa), ketidaklaziman (belum diterima oleh umum), dan ketidakserasian (tidak sesuai dengan konteks kalimat). Berdasarkan hasil penelitian, terdapat saran yang ditujukan kepada beberapa pihak. Pertama, saran ditujukan kepada guru BIPA agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai pedoman penyusunan materi pembelajaran dan pemajanan bahasa Indonesia agar kesalahan (ketidaktepatan) yang terjadi dapat dikurangi. Kedua, saran ditujukan kepada tutor BIPA untuk memetakan kesalahan (ketidaktepatan) yang muncul dari pelajar asing, kemudian mencari tahu penyebabnya dan mengoreksi kesalahan tersebut dengan menggunakan etika yang tepat.

Perbedaan kecemasan calon mempelai wanita dalamn menghadapi perkawinan ditinjau dari urutan kelahiran di Kecamatan Pakis Malang / Arief Wicaksono

 

Kata kunci: kecemasan menghadapi perkawinan, urutan kelahiran. Setiap orang yang menghadapi perkawinan akan mengalami kecemasan, namun tinggi rendahnya kecemasan dipengaruhi oleh karakter yang dimiliki. Penelitian terhadap urutan kelahiran menunjukkan bahwa dari anak-anak hingga dewasa dapat menjadi faktor yang kuat dalam menentukan jenis karakter kepribadian yang dilakukan individu sepanjang rentang kehidupan.Hal ini menimbulkan perbedaan karakteristik kepribadian anak dan bagaimana dia menjalani kehidupan sosialnya (Hurlock, 1990). Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap deskripsi kecemasan calon mempelai wanita dalam menghadapi perkawinan ditinjau dari urutan kelahiran anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu di Kecamatan Pakis Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan komparatif, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling.Teknik analisis yang digunakan adalah teknik one way anova. Jumlah subjek sebanyak 90 orang yang terdiri dari anak sulung sejumlah 30 subjek, anak tengah sejumlah 30 subjek, dan anak bungsu sejumlah 30 subjek. Penelitian menggunakan skala kecemasan menghadapi perkawinan yang dikembangkan oleh peneliti, yang disusun berdasarkan premarital predictor (Larson & Holman, 1994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan calon mempelai wanita di Kecamatan Pakis Malang masuk kategori cukup. Masing-masing anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu di Kecamatan Pakis Malang memiliki kategori kecemasan cukup. Dari hasil perhitungan p sebesar 0,000 < 0,005, maka ada perbedaan kecemasan menghadapi perkawinan apabila ditinjau dari urutan kelahiran. Kecemasan calon mempelai anak tengah lebih rendah dari anak sulung dan kecemasan calon mempelai anak sulung lebih rendah dari anak bungsu. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan bagi calon mempelai wanita dapat lebih meningkatkan kemandirian, kerjasama, minat sosial yang baik serta meningkatkan motivasi dalam menghadapi masalah-masalah perkawinan, baik yang menyangkut di dalam keluarga, keluarga calon pasangan, lingkungan, dan masyarakat. Bagi orang tua diharapkan memperlakukan seorang anak dengan tugas perkembangannya. Dengan demikian, seorang anak semakin mantap melakukan persiapan kehidupan rumah tangga sesuai dengan tugas perkembangan dan kematangannya. Bagi peneliti selanjutnya dengan tema yang sama, diharapkan agar memperluas wilayah penelitian untuk menambah sampel penelitian, memperluas variabel penelitian dan juga melakukan penelitian sejenis dengan pendekatan kualitatif agar mendapat dasar teori kecemasan menghadapi perkawinan di Indonesia.

Pengembangan media pembelajaran Ritatoon mata pelajaran sains untuk siswa kelas IV SDN Gembongan IV Blitar / Dian Anggraeni Novityasari

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Ritatoon, Sains Pengembangan media pembelajaran ritatoon ini merupakan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran klasikal. Mata pelajaran yang digunakan yaitu sains yang di dalamnya mempelajari tentang penampakan benda langit. Dari suatu proses kejadian alam yang membutuhkan waktu lama menjadi cepat, yang besar terlihat kecil, yang tidak wujud menjadi ada wujudnya dan sebaliknya. Berdasarkan tujuan pembelajaran mata pelajaran sains yang menuntut kemampuan siswa Menceritakan perubahan kenampakan bumi karena pengaruh berputarnya bumi pada porosnya. Oleh karena itu diperlukan adanya media pembelajaran yang dapat memperjelas materi tersebut, sehingga pengembang menggunakan media pembelajaran ritatoon sebagai media yang dapat menunjang siswa dalam memahami materi. Pemilihan media pembelajaran ritatoon ini berdasarkan observasi pengembang dan konsultasi dengan guru, di SDN Gembongan IV Blitar belum tersedia fasilitas laboraturiun komputer yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakanpun hanya dengan menggunakan buku teks, LKS, papan tulis, dan gambar-gambar kecil yang diambil dari majalah, koran, ataupun gambar dari internet sehingga memerlukan tambahan media pembelajaran ritatoon, karena di dalam media ritatoon terdapat gambar dengan ukuran besar yang bisa didemonstrasikan di depan kelas dan bisa dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa dalam satu kelas. Maka diharapkan dengan adanya pengembangan media pembelajaran ritatoon ini dapat membuat pembelajaran sains lebih bervariasi dan dapat menjadi media pembelajaran yang menarik bagi siswa sehingga didapatkan pencapaian tujuan dan pencapaian materi. Tujuan dari pengembangan ini menghasilkan media pembelajaran ritatoon yang valid/layak, diterapkan pada mata pelajaran sains kelas IV SDN Gembongan IV Blitar dan mengetahui efektivitas pemanfaatan media pembelajaran ritatoon dalam proses pembelajaran. Metode pengembangan yang digunakan adalah Model ADDIE dengan prosedur pengembangan yang terdiri dari: 1) analisys, 2) design, 3) development, 4) implementation, 5) evaluation. Pengembangan media pembelajaran ini di uji cobakan kepada siswa kelas IV dalam pembelajaran sains di SDN Gembongan IV Blitar. Jenis data yang digunakan dalam pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan ketuntasan tes hasil belajar (tes formatif) Teknik analisis data yang digunakan antara lain: tanggapan ahli media, ahli materi dan siswa dengan menggunakan kriteria kevalidan/kelayakan media pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan menggunakan Tes hasil belajar untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sesudah menggunakan media pembelajaran ritatoon. Berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran ritatoon mata pelajaran sains kelas IV semester 2 telah diuji cobakan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi kelayakan oleh ahli media diperoleh hasil sebesar 100%, ahli materi diperoleh hasil sebesar 95%, dalam uji coba kelompok kecil diperoleh hasil sebesar 88,84%, dalam uji coba klasikal diperoleh hasil sebesar 87,52% maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ritatoon yang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid/layak. Dari hasil belajar semua siswa telah mencapai SKM (65) sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ritatoon yang dikembangkan termasuk efektif digunakan dalam proses pembelajaran. Dari analisis di atas dapat disimpulkan bahwa perolehan data ahli media, ahli materi, audien tentang media pembelajaran ritatoon yang dikembangkan termasuk dalam kriteria valid/layak. Dari perolehan data hasil belajar siswa dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ritatoon yang dikembangkan termasuk efektif digunakan dalam proses pembelajaran. Sehingga media pembelajaran ritatoon mata pelajaran sains kelas IV semester 2 dapat digunakan untuk membantu guru dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil pelaksanaan pengembangan media pembelajaran ritatoon mata pelajaran sains kelas IV semester 2, maka terdapat saran yang diajukan untuk pengembang berikutnya yaitu hendaknya lebih memperhatikan pemilihan materi, pemilihan warna dan gambar, pemilihan ornamen atau hiasan, dan penggunaan media pembelajaran agar dapat menghasilkan media yang layak untuk disajikan.

Efektivitas bantuan sosial bagi masyarakat kampung idiot di Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo / Ambiro Puji Asmaroini

 

Kata Kunci : Bantuan Sosial, Masalah, Kampung Idiot Bantuan sosial merupakan barang yang digunakan untuk membantu untuk kehidupan masyarakat yang membutuhkan. Bantuan sosial untuk masyarakat idiot dikarenakan masyarakat Idiot merupakan masyarakat penyandang cacat mental yang tidak bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Masyarakat idiot tersebut memiliki permasalahan, diantaranya: sebagian besar dari mereka tidak mampu bekerja, hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak mampu berbicara. Karena keterbatasan masyarakat penderita idiot maka dibutuhkannya bantuan untuk mengurangi bebannya. Kajian efektivitas bantuan sosial diperlukan karena kelompok miskin idiot memiliki karakteristik dan kebutuhan khusus sesuai dengan apa yang dibutuhkan penderita idiot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Kondisi sosial ekonomi masyarakat kampung idiot di Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo, (2) Macam-macam bantuan yang diberikan kepada masyarakat Kampung Idiot di Desa Karangpatihan, (3) Efektivitas pemberian bantuan bagi masyarakat Kampung Idiot di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, display data/penyajian data, dan verifikasi data/penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1). Kondisi sosial ekonomi masyarakat kampung idiot di Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo sangat minim, terlihat dari kondisi rumah dan prasarananya, mata pencaharian, dan menu makanan. (2) Bantuan sosial kepada masyarakat kampung idiot di Desa Karangpatihan, yaitu: konsumsi (beras, air bersih, sarden, garam beryodium, minyak makan, ikan asin, paket sembako, sarimi, dan lauk pauk), kesehatan (pengobatan gratis), sarana rumah tinggal (pembangunan rumah tidak layak huni, alat-alat rumah tangga, tikar mendong), dan produktif (ternak kambing dan kandang ayam), (3) Efektivitas pemberian bantuan bagi masyarakat Kampung Idiot di Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, yaitu (a) Efektivitas ditinjau dari segi jenis bantuan yang diberikan dan pihak pemberi bantuan, ada beberapa bantuan efektif diantaranya bantuan yang efektif menurut keluarga idiot adalah sembako, uang, pembenahan rumah, ternak kambing, tikar/kasur, tanaman, dan bak/timba. Bantuan tersebut efektif karena bisa digunakan oleh keluarga dan mampu meringankan beban kebutuhan keluarga idiot. Efektivitas dari segi pihak pemberi bantuan, bantuan yang efektif didominasi oleh bantuan dari pihak pemerintah. Hal ini dikarenakan bantuan dari pemerintah terdiri dari berbagai instansi yang memberikan bantuan. Namun, konsistensinya bantuan yang efektif adalah dari perorangan yang hampir setiap bulan memberikan bantuan tersebut dari tahun 2010 akhir hingga tahun 2012 sekarang. (b) Efektivitas dari segi bantuan yang sesuai dengan kebutuhan, dari bantuan yang diterima sesuai dengan kebutuhannya adalah sembako/beras sesuai dengan kebutuhan sehari-hari dimasak untuk makan; uang sesuai dengan kebutuhan untuk membeli keperluan makan; pembenahan rumah sesuai dengan kebutuhan karena tidak mampu membenahi rumahnya sendiri; kasur/tikar sesuai dengan kebutuhannya karena bisa membantu untuk tidur; ternak kambing sesuai dengan kebutuhan karena bisa menambah penghasilan dengan menjual anak kambingnya; bak/timba sesuai dengan kebutuhan karena setiap hari untuk menyimpan air, meminumi kambing dan mencuci; bantuan pakaian sesuai dengan kebutuhan keluarga idiot karena setiap hari yang dipakai adalah pakaian dari pemberi bantuan, dan pipa/saluran air juga sesuai dengan kebutuhan keluarga idiot karena pipa tersebut menyalurkan air dari sumber air gunung ke sumur-sumur idiot untuk dimasak, meminumi kambing, mandi dan mencuci. Ada pula bantuan yang kurang sesuai dengan kebutuhan. Bantuan tersebut berupa bibit tanaman. Bantuan ini kurang sesuai karena misalnya belimbing yang ditanam sudah berbuah maka yang memakan bukan dari keluarga idiot sendiri namun anak-anak kecil dan siapa saja yang ingin makan boleh memakannya dan bibit yang ditanam masih kecil belum membuahkan hasil, ada pula bibit yang ditanam mati karena kekurangan air. (c) Efektivitas dari segi pola pengelolaan bantuan, dari berbagai donatur dari pemerintah dan non pemerintah, dalam memberikan bantuan dengan mengadakan observasi dan cara ini efektif untuk mengetahui bantuan yang dibutuhkan keluarga idiot. Pemberian bantuan langsung diberikan kepada keluarga idiot bersamaan dengan pengelola bantuan di desa atau perangkat desa. Pengelolaan bantuan di desa dengan membentuk panitia bakti sosial merupakan cara yang efektif. Karena dari pengelolaannya, panitia bakti sosial memiliki tugas untuk mengurusi bantuan, mengantarkan donatur yang akan memberikan bantuan dan mengecek kebutuhan keluarga idiot. Dan bantuan dari donatur lansung dibagikan kepada keluarga idiot. Berdasarkan pola pengelolaan bantuan yang diberikan, ada bantuan yang pola pengelolaannya dari pemerintah yang tidak efektif. Hal ini disebabkan bantuan yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Bantuan tersebut diberikan oleh Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo yang telah mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan berupa sembako, air bersih, roti, super mie, aspal jalan, pelayanan kesehatan gratis, dan biaya pendidikan wajib belajar 9 Tahun. Bakti sosial sejak tahun 2000an. Bantuan yang lainnya berupa pemberdayaan dengan pemberian benih bibit mangga, dan pemberian kambing. Namun ada beberapa bantuan yang tidak ada di lapangan, bantuan tersebut berupa air bersih, aspal jalan, dan pelayanan kesehatan gratis. (d) Efektivitas dari segi jumlah bantuan yang dialokasikan, bantuan yang efektif berdasarkan jumlah bantuan yang dialokasikan diantaranya: sembako/beras, bak/timba, pipa/saluran air dan pakaian. Bantuan ini efektif karena bisa terus digunakan oleh keluarga idiot dan bisa merasakan bantuan tersebut dengan jumlah yang cukup banyak. Bantuan yang jumlahnya banyak merupakan bantuan yang efektif (sembako, bak/timba, pakaian). Hal ini dikarenakan sesuai apa yang dibutuhkan oleh keluarga idiot. Bantuan yang diberikan banyak namun tidak efektif karena mati, bantuan ini berupa ternak kambing dan bibit tanaman. Ada pula bantuan yang kurang efektif karena jumlahnya sedikit diantaranya pembenahan rumah yang hanya satu kali sehingga bila ada kerusakan mereka tidak mampu memperbaiki. (e) Efektivitas dari segi komitmen penerima untuk mengelola bantuan, Berdasarkan deskripsi pandangan yang digali dari masyarakat kampung idiot penerima bantuan yang telah dipaparkan maka bisa ditegaskan bahwa, komitmen penerima untuk mengelola bantuan, bantuan yang paling disenangi dan digunakan adalah sembako atau beras karena bantuan ini bisa langsung digunakan untuk dimasak. Bantuan lain yang disenangi adalah bantuan dalam bentuk uang karena uang ini bisa langsung digunakan untuk membeli keprluan yang dibutuhkan. Bantuan pembenahan rumah juga disenangi oleh keluarga idiot karena dengan adanya pembenahan rumah maka rumahnya lebih baik dari sebelum dibantu. Ternak kambing juga merupakan bantuan yang disenangi oleh keluarga idiot karena dengan adanya ternak kambing bila beranak maka anaknya dijual untuk menambah pendapatan. Bantuan berupa bak/timba juga disenangi oleh keluarga idiot karena bantuan ini bisa digunakan setiap hari untuk tempat penampungan air, mencuci dan meminumi kambing. Dari berbagai bantuan yang efektif atau disenagi berdasarkan komitmen penerima untuk pengelola bantuan, ada pula bantuan yang kurang efektif atau kurang disenangi adalah bibit tanaman. Bantuan tersebut kurang disenagi karena tanamannya ada yang mati, bila berbuah maka buahnya tidak dimakan sendiri dan dari tanaman tersebut ada yang belum membuahkan hasil. Dari hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi Pemerintah hendaknya lebih mengoptimalkan bantuan yang diberikan kepada masyarakat penderita idiot. Selain itu pemerintah lebih memperhatikan masyarakat yang memiliki keterbelakangan mental. (2) Bagi Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo hendaknya memberikan bantuan lebih tepat pada sasaran dan lebih memperhatikan masyarakat idiot dan tidak memberikan keterangan palsu dan tidak ada buktinya di lapangan. (3) Bagi Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Ponorogo hendaknya memberikan bantuan secara bertahap, dan tidak hanya satu kali saja. (4) Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo hendaknya memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan penderita idiot. (5) Bagi Desa Karangpatihan hendaknya membantu masyarakat idiot untuk memberikan kesempatan kerja yang lebih agar mendapat penghasilandan pemberdayaan penderita idiot. (6) Berdasarkan karakteristik penderita idiot, alangkah baiknya bila memberikan bantuan dalam bentuk perawatan, penempatan di lembaga dan optimalisasi pemberdayaan idiot. Karena sampai saat ini belum ada bantuan perawatan dan penempatan di lembaga bagi penderita idiot. Pemberdayaan bagi penderita idiot juga belum maksimal sehingga perlu dimaksimalkan

Beban kognitif peserta didik kelas VII dalam pembelajaran matematika bilingual di SMP Negeri 3 Malang / Isbadar Nursit

 

Kata kunci: Pembelajaran Matematika Bilingual, Toeri Beban Kognitif, Persamaan Linier Satu Variabel Pembelajaran matematika bilingual di SMP Negeri 3 Malang mulai diterapkan untuk seluruh kelas VII pada tahun ajaran 2011/2012. Guru dan peserta didik masih merasa asing dengan pembelajaran matematika dengan menggunakan bahasa Inggris. Bagi peserta didik, mempelajari materi matematika merupakan hal yang sulit. Apabila disampaikan dalam bahasa Inggris, hal ini menimbulkan beban kognitif bagi peserta didik. Jika guru masih kurang menguasai bahasa Inggris, beban kognitif peserta didik dapat semakin tinggi. Tingginya beban kognitif dapat menghambat peserta didik dalam memproses informasi yang diperoleh, dan pada gilirannya pembelajaran tidak dapat berjalan dengan optimal Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan beban kognitif peserta didik kelas VII dalam pembelajaran matematika bilingual berdasarkan teori beban kognitif. Menurut teori beban kognitif, beban kognitif peserta didik terdiri dari beban kognitif intrinsic, extraneous, dan beban kognitif germane. Dengan mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban kognitif extraneous, dan meningkatkan beban kognitif germane pada peserta didik, proses pengolahan informasi pada peserta didik dapat menjadi lebih efektif, sehingga proses pembelajaran juga lebih efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kognitif intrinsic pada diri peserta didik dipengaruhi oleh banyaknya elemen interaktifitas pada materi yang dipelajari, beban kognitif germane pada diri peserta didik dipengaruhi oleh desain pembelajaran dan usaha mental peserta didik dalam membentuk skema pengetahuan, beban kognitif extraneous pada diri peserta didik dpengaruhi oleh cara guru dalam menyajikan materi, faktor bahasa yang digunakan, keadaan psikologis peserta didik, dan gangguan dari luar. Pada awal pertemuan, beban kognitif extraneous peserta didik cukup tinggi karena peserta didik masih belum terbiasa dengan istilah matematika dalam bahasa Inggris. Pada akhir pertemuan beban kognitif ini dapat berkurang karena peserta didik sudah terbiasa dengan kosa kata yang sering digunakan dalam pembelajaran, sedangkan beban kognitif intrinsic semakin tinggi seiring dengan konsep yang semakin komplek. Peserta didik yang berkemampuan tinggi cenderung memiliki beban kognitif germane yang tinggi, beban kognitif intrinsic dan extraneous yang rendah. Peserta didik yang berkemampuan sedang cenderung memiliki beban kognitif germane dan intrinsic yang tinggi dan beban kognitif extraneous yang rendah. Berdasarkan adanya berbagai keterbatasan, kendala dan kelemahan dalam penyelesaian ini diajukan beberapa saran yaitu: (1) Dalam penelitian ini hanya memperhatikan bagaimana suatu beban kognitif muncul tanpa memperhatikaan strategi pembelajaran yang digunakan. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memperhatikan strategi pembelajaran saat mengamati terjadinya beban kognitif yang dirasakan peserta didik selama mengikuti pembelajaran, (2) Bahan atau topik yang digunakan pada penelitian ini hanya memabahas materi persamaan dan pertidaksamaan. Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan bahan atau topik yang lain untuk menguji temuan penelititan, (3) Subjek dalam penelitian ini berasal dari sekolah unggulan dan terbiasa menerima beban kognitif yang besar. Dengan karakteristik yang demikian, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mengambil subjek penelitian yang berasal dari sekolah yang bukan unggulan  

Studi tentang tingkat kenyamanan kebaya menggunakan pola Victory Collection / Suci Duarni

 

Kata Kunci: pola, kebaya, victory collection, kenyamanan. Busana adalah kebutuhan utama disamping kebutuhan lainnya. Busana banyak mengalami perkembangan dari masa ke masa. Mulai dari bahan dasar yang digunakan, model, fungsi, serta teknik pembuatannya semua mengalami perkembangan. Dalam dunia mode busana wanita lebih banyak dibicarakan, salah satunya ialah kebaya. Kebaya adalah salah satu busana daerah yang dipakai oleh wanita dan sekarang menjadi busana nasional. Kebaya menjadi pilihan wanita dalam memenuhi kebutuhan berpakaian saat acara-acara tertentu seperti saat pesta pernikahan, wisuda, serta acara lain yang diangap istimewa. Kebaya memiliki ciri-ciri pas di badan, dengan lengan panjang, panjangnya dapat pas panggul, di atas panggul (kebaya pendek) atau di bawah panggul (kebaya panjang). Meskipun memiliki ciri pas badan namun kebaya haruslah nyaman ketika dikenakan. Salah satu yang mempengaruhi kenyamanan tersebut adalah pola yang dipakai dalam membuat kebaya. Pola Victory Collection adalah salah satu pola yang digunakan untuk membuat kebaya. Pola ini adalah pola yang diciptakan oleh pemilik usaha dengan memodifikasi pola So’En asli. Penelitian ini penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui besarnya persentase tingkat kenyamanan kebaya yang dibuat menggunakan pola Victory Collection. Kebaya ini dipaskan pada tubuh model dengan ukuran M (SNI) dengan menggunakan lembar pengamatan yang berisikan instrumen penelitian dengan 14 kriteria titik pas yang diisi oleh 6 panelis. Dari hasi pengamatan kebaya yang menggunakan pola Victory Collection di dapat hasil penilaian dengan kriteria tepat memperoleh persentase sebesar 65,48%, kriteria kurang tepat sebesar 33,33%, dan kriteria tidak tepat sebesar 1,19%. Rata-rata keseluruhan penilaian titik pas sebesar 88,09% yang termasuk dalam rentang kelas interval dengan kategori nyaman.

Perancangan media promosi kampoeng wisata keramik Dinoyo Malang / Laura Citra Zhahira

 

Kata Kunci: Media Promosi, Kampung Wisata, Keramik Dinoyo Kota Malang termasuk salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang baru berdiri adalah Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo. Sentra keramik Dinoyo yang dulu sempat mengalami masa jaya ini, kemudian semakin lesu seiring dengan perkembangan jaman. Hal inilah yang membuat pemerintah setempat berusaha mengangkat kembali masa jaya sentra keramik Dinoyo dengan pengukuhan nama baru dan menjadikannya sebagai tempat objek wisata. Perancangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk merancang paket media promosi yang tepat dan efektif bagi Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo. Dengan dirancangnya media promosi tersebut, diharapkan akan membantu objek wisata ini untuk semakin eksis serta memiliki jumlah pengunjung yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu, perancangan ini bertujuan untuk mempromosikan sentra keramik Dinoyo sebagai tempat belanja dan belajar keramik. Perancangan ini menggunakan model perancangan milik Sadjiman Ebdi Sanyoto, karena memiliki alur kerja yang sesuai dengan perancangan media promosi. Proses ini diawali dengan perumusan latar belakang masalah, identifikasi, analisa data, sintesis, konsep perancangan, serta konsep tata desain hingga menjadi desain final. Produk yang dihasilkan berupa paket media promosi yang terdiri dari dua macam, yaitu media ATL dan media BTL. Media tersebut berupa iklan surat kabar, outdoor horizontal banner, outdoor vertical banner, billboard, leaflet, booklet, dan website, poster dan stiker. Perancangan media promosi tersebut menggunakan konsep desain natural yang memberikan kesan alami. Dasar tema yang diangkat dalam perancangan ini adalah Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo sebagai wisata belanja dan belajar keramik. Pemasangan media promosi tersebut memiliki jangka waktu selama 1 (satu) tahun, terhitung sejak bulan Juni 2012 sampai bulan Mei 2013.

Pengaruh umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, solvabilitas dan likuiditas terhadap audit delay pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2009 / Kurnia Herwati

 

Kata Kunci: audit delay, umur perusahan, ukuran perusahaan, ukuran KAP, solvabilitas, likuiditas Salah satu kriteria profesionalisme dari auditor adalah ketepatan waktu penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu ini terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri. Jika terjadi penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan keuangan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Lamanya waktu penyelesaian audit ini dapat mempengaruhi ketepatan waktu informasi tersebut dipublikasikan. Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang dilakukan auditor. Perbedaan waktu ini dalam auditing sering disebut dengan audit delay. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur perusahaan, ukuran perusahan, ukuran KAP, solvabilitas, likuiditas terhadap audit delay. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan LQ45 yang listing di BEI tahun 2006-2009. Sampel penelitian ini adalah 10 perusahaan finansial dan manufaktur yang tergabung dalam perusahaan LQ45 selama 4 tahun berturut-turut., yang terdiri dari 6 perusahaan finansial dan 4 perusahaan manufaktur. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan metode analisa data menggunakan metode analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan umur perusahaan, ukuran perusahaan, ukuran KAP berpengaruh terhadap audit delay, sedangkan solvabilitas dan likuiditas tidak berpengaruh terhadap audit delay. Saran yang dapat diberikan, bagi auditor diharapkan mampu untuk mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi audit delay tersebut, dengan cara merencanakan pekerjaan audit sebaik mungkin agar audit delay dapat ditekan seminimal mungkin. Merekrut tenaga kerja yang professional juga dapat membantu menyelesaikan audit tepat waktu. Bagi perusahaan publik, diharapkan dapat bekerjasama dengan auditor dengan cara memberikan data dan informasi yang dibutuhkan oleh auditor secara benar dan akurat. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menambah faktor-faktor itu antara lain kualitas sistem pengendalian internal perusahaan, ada tidaknya komite audit, rata-rata pengalaman kerja pegawai dan masih banyak faktor-faktor lain yang dapat diujikan terhadap audit delay.

Manajemen guru pendamping pada kegiatan tetirah Unit Pelaksana Tehnis Pelayanan Sosial Petirahan Anak Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur (studi kasus di UPT PSPA Batu) / Yayuk Rahayuningsih

 

Kata kunci : Manajemen, UPT PSPA Batu, guru pendamping, kegiatan tetirah. Implementasi manajemen pendidikan oleh guru pendamping pada kegiatan tetirah di UPT Pelayanan Sosial Petirahan Anak merupakan kesuksesan proses belajar mengajar bagi siswa tetirah yang mengikuti program tetirah. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui profil UPT Pelayanan Sosial Petirahan Anak Batu, 2) untuk mengetahui profil guru pendamping dalam kegiatan tetirah di PSPA Batu, 3) untuk mengetahui peran guru pendamping dalam kegiatan tetirah di PSPA Batu, 4) untuk mengetahui implementasi manajemen pendidikan guru pendamping dalam kegiatan tetirah. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif guna menjawab pertanyaan di atas. Dalam penelitian ini, peneliti adalah sebagai instrument utama. Data penelitian ini adalah jawaban-jawaban yang dihasilkan dari ujaran guru pendamping, staf UPT PSPA Batu, siswa tetirah selama proses kegiatan tetirah berlangsung. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan pedoman wawancara, yangh kemudian disusun dalam transkrip wawancara, menggunakan pedoman dan pencatatan hasil observasi, serta pencatata dokumen lainnya. Dalam penelitian ini triangulasi sumber data, data, teori dan metodologi serta dependabilitas diterapkan untuk mengecek keabsahan data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran guru pendamping di UPT PSPA Batu sangat multifungsi dalam kegiatan tetirah di UPT PSPA Batu. Sekolah (lembaga pendidikan) mempunyai lima bentuk modal yang perlu dikelola untuk keberhasilan pendidikan, guru pendamping sebagai Manajer pendidikan di sekolah dasar layaknya dengan menerapka lima modal manajemen sekolah dasar yaitu modal guru, modal keuangan, modal social, modal politik serta modal integrative Hal ini diimplementasikan dalam peran guru pendamping. Guru pendamping juga berperan sebagai orang tua pengganti selama kegiatan tetirah berlangsung, , bahkan dipersiapkan sebagai calon guru bimbingan dan konseling di sekolah dasar. Saran penelitian yang dapat diberikan antara lain bagi lembaga dapat dijadikan masukan dalam peningkatan pelayanan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan guru pendamping selama di UPT PSPA Batu, bagi guru pendamping dapat digunakan sebagai kerangka perbaikan sistem pengajaran selama di di UPT PSPA Batu, selanjutnya bagi daerah kabupaten dan kota dapat dijadikan indikator prasyarat guru pendamping yang akan dikirim.

Pemanfaatan laboratorium bahasa multimedia dalam pengajaran kemahiran berbicara kelas X di SMA Negeri 1 Malang / Yusman

 

Kata kunci: pengajaran, laboratorium bahasa multimedia, berbicara. Pengajaran kemahiran berbicara membutuhkan laboratorium bahasa multimedia sebagai media penunjangnya. Dengan menggunakan multimedia pembelajaran, pengguna akan diajak secara langsung mencoba dan menggunakan simulasi yang tersedia, dan juga pengguna akan mencoba secara langsung bagaimana sesuatu terjadi. Berbeda halnya jika materi yang disampaikan hanya melalui buku. Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimanakah pemanfaatan laboratorium bahasa multimedia dalam pengajaran berbicara di SMA Negeri 1 Malang; (2) Bagaimana efektivitas pemanfaatan laboratorium bahasa multimedia dalam pengajaran berbicara di SMA Negeri 1 Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X, guru bahasa Arab, dan laboran. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, tes, angket, dan dokumentasi. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan adalah: (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) penyajian data; dan (4) penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laboratorium bahasa multimedia sudah digunakan dalam pengajaran berbicara, dan digunakan satu kali dalam satu minggu. Fasilitas yang digunakan dalam pengajaran kemahiran berbicara di dalam laboratorium bahasa multimedia meliputi home theatre, televisi dan parabola, serta mic wireless clip on. Dengan kelengkapan fasilitas yang ada di laboratorium bahasa multimedia siswa merasa tenang dan nyaman belajar bahasa Arab di laboratorium bahasa multimedia daripada belajar di dalam kelas. Materi yang disampaikan bervariasi mulai dari pemutaran video/film, power point, acara televisi, hingga latihan percakapan. Laboratorium bahasa multimedia dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa dalam memahami pelajaran. Selain itu, hasil tes menunjukkan adanya kemajuan bagi siswa dalam belajar bahasa Arab. Namun meskipun motivasi belajar siswa bertambah, akan tetapi penggunaan media dalam meningkatkan hasil belajar siswa belum maksimal, hal ini dibuktikan dengan terbatasnya penggunaan home theatre. Selain itu, hambatan yang diketahui yaitu kesulitan mengoprasikan peralatan. Dengan demikian, pihak pengelola laboratorium bahasa multimedia agar terus mempertahankan sekaligus mengembangkan fasilitas-fasilitas yang ada. Sedangkan pengajar, guru maupun tentor bahasa Arab agar juga mempertahankan menggunakan laboratorium bahasa multimedia sebagai media pembelajaran.

Pengembangan paket pelatihan manajemen waktu belajar / Riida Chasanah

 

Kata Kunci: Paket pelatihan, manajemen waktu belajar Setiap individu memiliki tujuan dan perencanaan dalam menentukan kegiatan yang akan dilakukan, akan tetapi terkadang tujuan yang ditetapkan tidak tercapai dengan baik karena kurangnya perencanaan dan manajemen waktu yang baik. Berdasarkan data yang diambil dari penelitian di SMP Negeri 3 Tuban, siswa masih belum bisa memanajemen waktu belajarnya. Siswa belum memiliki kesadaran belajar dalam dirinya dan belum bisa mendisiplinkan dirinya. Hal tersebut yang menjadi latar belakang disusunnya paket pelatihan manajemen waktu belajar bagi siswa SMP, dan rumusan masalah peneliti adalah belum adanya media bimbingan dalam bentuk paket pelatihan manajemen waktu belajar. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket pelatihan manajemen waktu belajar untuk siswa beserta panduannya untuk konselor. Paket ini dapat digunakan dalam memberikan layanan bimbingan belajar untuk meningkatkan kemampuan manajemen waktu belajar siswa yang memiliki keberterimaan secara teoritis dan praktis. Pengembangan paket pelatihan ini mengikuti langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi: (1) need assesment; (2) menentukan prioritas kebutuhan; (3) menyusun produk; (4) penilaian uji ahli; (5) revisi produk dari ahli; (6) penilaian uji calon pengguna produk; (7) uji coba kelompok kecil; (8) revisi produk; (9) produk akhir. Untuk mengetahui paket pelatihan yang diterima secara teoritis maupun praktis dilakukan uji produk kepada ahli bimbingan dan konseling, ahli media pembelajaran, calon pengguna produk, dan kelompok kecil. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket penilaian. Adapun hasil pengisian angket oleh ahli, calon pengguna produk dan uji kelompok kecil kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif deskriptif. Berdasarkan uji ahli dan calon pengguna produk hasil penelitian ini memiliki skor total aspek ketepatan 136 yang artinya sangat tepat, skor total aspek kegunaan 154 yang artinya sangat berguna, skor total aspek kemudahan 75 yang artinya sangat mudah dan skor total aspek kemenarikan 73 yang artinya sangat menarik. Dari hasil uji kelompok kecil diperoleh skor total 352 yang menunjukkan bahwa paket pelatihan manajemen waktu belajar sangat bermanfaat dan tampilan paket menarik. Secara keseluruhan paket pelatihan ini memiliki keberterimaan secara teoritis dan praktis. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan paket pelatihan manajemen waktu belajar, maka (1) konselor hendaknya menggunakan paket ini sesuai dengan prosedur pelatihan dan petunjuk penggunaan paket pelatihan manajemen waktu belajar; (2) konselor hendaknya melengkapi paket pelatihan dengan tampilan power point dalam menyampaikan materi. Saran untuk peneliti selanjutnya yaitu: (1) hendaknya dilakukan uji lapangan utama untuk mengetahui efektivitas dan kelayakan paket pelatihan; (2) penelitian ini hanya terbatas pada SMP Negeri 3 Tuban, apabila akan menggunakan paket pelatihan ini di sekolah lain, maka perlu diadakan penyesuaian denga karakteristik siswa maupun sekolah yang akan menggunakan paket ini.

Studi tentang kegiatan ekstra kurikuler tari Candhik Ayu kreasi guru di SDN Mantup II Kabupaten Lamongan / Issabela Agustin

 

Kata Kunci: Studi, Ekstra kurikuler, Tari Candhik Ayu. SDN Mantup II merupakan salah satu sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran tari khususnya pada kegiatan ekstra kurikuler seni tari. Kegiatan ekstra kurikuler tari adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk pada hari libur) yang dilakukan di sekolah dengan tujuan memperluas pengetahuan siswa mengenai tari-tarian, sebagai penyaluran bakat dan minat. Salah satu tarian yang diajarkan adalah tari candhik ayu kreasi guru sebagai materinya. Tari candhik ayu merupakan tarian yang diciptakan oleh Drs. Untung Muljono, M.Hum berasal dari sanggar tari Kembang Sore. Selain itu, materi tari candhik ayu kreasi guru diberikan kepada siswa SDN Mantup II, berfungsi sebagai menunjang keterampilan siswa dalam menarikan tarian ini. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Latar belakang guru mengkreasikan tari candhik ayu pada kegiatan ekstra kurikuler seni tari di SDN Mantup II, (2) Latar belakang tari candhik ayu kreasi guru sebagai materi pada kegiatan ekstra kurikuler seni tari di SDN Mantup II, dan (3) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran kegiatan ekstra kurikuler tari candhik ayu kreasi guru di SDN Mantup II. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena subjek dalam penelitian ini adalah guru pengajar ekstra kurikuler seni tari. Pada penelitian ini peneliti sebagai instrumen dan sebagai alat pengumpul data utama. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang guru mengkreasikan tari candhik ayu pada kegiatan ekstra kurikuler seni tari di SDN Mantup II, berasumsi bahwa tari candhik ayu dengan kreasi guru siswa mudah melakukan sebagai bentuk pengetahuan dan pengenalan siswa tentang tari, (2) Latar belakang tari candhik ayu kreasi guru sebagai materi pada kegiatan ekstra kurikuler seni tari di SDN Mantup II, berdasarkan pertimbangan guru pengajar dengan melihat, dari situasi dan kondisi serta kemampuan siswa, (3) Pelaksanaan pembelajaran kegiatan ekstra kurikuler tari candhik ayu kreasi guru di SDN Mantup II, siswa mampu menerima materi yang diberikan oleh guru sesuai dengan terjadinya pembelajaran pada persiapan, pelaksanaan, evaluasi di kegiatan ekstra kurikuler tari. Hasil penelitian pada kegiatan ekstra kurikuler tari candhik ayu di SDN Mantup II, diharapkan pihak sekolah memberikan ruang khusus untuk tari, agar pembelajaran tari berjalan dengan optimal, sehingga siswa-siswi bisa berlatih dengan maksimal dan memberikan prestasi di bidang seni tari dengan memuaskan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif mind mapping untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran kewirausahaan kelas X Program Keahlian Pemasaran di SMK Ma'arif NU 04 Pakis Malang / Evrida Nur Anita

 

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Mind Mapping, Hasil Belajar Hasil observasi pada tanggal 23 Januari 2012 menunjukkan bahwa, menurut data kelas (sekolah) sebagian besar siswa (69%) tidak dapat memahami materi mata pelajaran Kewirausahaan karena kurangnya pemahaman dan minat pada pelajaran tersebut. Artinya, dari 31 siswa yang ada di kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang, sekitar 18 siswa diantaranya belum mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu 75. Hal tersebut terbukti pada saat Ujian Tengah Semester (UTS) berlangsung. Selain itu, siswa masih pasif dalam berkomunikasi dan menyampaikan pendapat pada saat proses belajar-mengajar. Oleh karena itulah, penelitian ini dilakukan oleh peneliti untuk menerapkan model pembelajaran Mind Mapping dalam rangka meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model Mind Mapping pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas X program keahlian Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang, (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang melalui model pembelajaran Mind Mapping, (3) Respon siswa selama diterapkan pembelajaran model Mind Mapping pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X program keahlian Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang. Untuk mencapai maksud tersebut, maka metode penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, analisis reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan pada ranah kognitif yang diukur dari nilai pre test dan post test siswa pada siklus 1 meningkat, yaitu sebelum diberi tindakan 66,93% dan sesudah diberi tindakan menjadi 67,74%. Begitu juga dengan siklus 2, sebelum diberi tindakan 71,61% dan sesudah diberi tindakan menjadi 86,90%. Dan pada ranah afektif yang diukur dari keaktifan siswa, setiap siklusnya mengalami peningkatan pada siklus 1 68,80% dan siklus II 93,82% Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan (1) Dengan adanya penerapan model pembelajaran Mind Mapping siswa lebih aktif, kreatif, dan berani mengungkapkan pendapat (2) model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran SMK MA’ARIF NU 04 Pakis Malang pada mata pelajaran Kewirausahaan dengan pokok bahasan Menerapkan sikap dan perilaku kerja prestatif, (3) model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan respon siswa yang positif setiap siklusnya. Bagi guru mata pelajaran Kewirausahaan disarankan Sebaiknya guru harus memotivasi siswa terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran agar siswa mengerti apa yang akan dipelajari pada pertemuan sekarang, bagi siswa hendaknya mempersiapkan diri dengan belajar terlebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran di kelas sehingga pada saat diskusi kelas siswa mudah mengikuti pembelajaran, bagi peneliti selanjutnya disarankan (1) Dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian mempertimbangkan kebijakan sekolah terutama alokasi waktu, sehingga pencapaian hasil penelitian lebih maksimal (2) Untuk mengukur nilai kognitif sebaiknya peneliti membandingkan nilai ulangan dari guru mata pelajaran dengan soal post test.

Pengembangan media e-comics pembelajaran matematika bentuk soal cerita bab bilangan semester II pada siswa kelas 5 SDN Kauman I Malang / Anandia Rahayu

 

Kata kunci: Pengembangan, Media E- comics pembelajaran, matematika. Matematika mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika telah banyak dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh berbagai pihak yang peduli terhadap pembelajaran matematika sekolah. Pada umumnya, masalah pembelajaran matematika yang cenderung pada pembelajaran berpusat pada guru (teacher oriented) menjadikan anak jenuh dan kesusahan memahami soal matematika khususnya soal cerita . Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas dan guru pengajar matematika kelas V di SDN I Kauman Malang pada 2 Februari 2012, didapatkan hasil bahwa pembelajaran matematika masih menggunakan metode ceramah dan pemakaian buku matematika yang telah disediakan oleh sekolah. Pemanfaatan LCD Proyektor yang tersedia di setiap kelas juga dilakukan untuk menampilkan materi matematika dalam bentuk slideshow namun tampilannya terlihat kurang menarik sehingga membuat siswa merasa jenuh dan kurang tertarik untuk belajar matematika. Pengembang ingin membuat siswa merasa tertarik untuk belajar matematika, sehingga tujuan pembelajaran matematika khususnya bab bilangan pecahan semester 2 pada siswa kelas V di SDN Kauman I Malang dapat tercapai dengan adanya media sebagai pendukung materi pembelajaran. Pengembang memilih media e-comics dengan mengingat keunggulan efek cerita, efek hiburan,efek visual, dan efek gabungan yang terdapat dalam media ini. Pengembangan media e-comics ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket dan post test. Media e-comics pembelajaran ini melalui tahap validasi media dan materi untuk diketahuai kelayakannya. Validitas dilakukan oleh 2 orang ahli media dengan hasil 90% yang berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak, sedangkan oleh ahli materi didapat hasil 91,67% yang berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak, dan dari audiens/ siswa satu lawan satu didapatkan skor presentase sebesar 93,75% media e-comics pembelajaran berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak, dari audien/ siswa kelompok kecil didapatkan skor presentase sebesar 95,25% media e-comics pembelajaran berdasarkan kriteria termasuk valid dan dalam kualifikasi layak dipergunakan sebagai media pembelajaran. . Hasil dari post-test yang dilakukan pada siswa kelas V SDN I Kauman Malang mendapatkan hasil dari 28 orang siswa mereka rata-rata mendapatkan skor diatas 80 dan semua siswa memenuhi KKM sekolah yaitu 70. Hal ini menunjukkan bahwa e-comics bisa dikatakan efektif, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran matematika bab bilangan semester II.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 |