Perbedaan sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang konform dan remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang / Nadia Enfika Larasati

 

Kata Kunci : Sikap Terhadap Alasan Merokok, Konformitas Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku merokok, namun para perokok seakan tetap saja tidak peduli terhadap ancaman yang dapat menyiksanya dan bahkan dapat merenggut nyawanya. Jumlah orang yang merokok semakin lama semakin muda. Banyak hal yang melatar belakangi seseorang berperilaku merokok pada remaja. Menurut para remaja mempunyai alasan yang berbeda dalam merokok, antara lain disebabkan oleh faktor-faktor dalam diri sendiri (internal) dan faktor lingkungan (eksternal). Ini juga yang menyebabkan remaja mempunyai sikap yang berbeda terhadap alasan merokok. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengungkapkan: (1) sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang, (2) sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang, (3) sikap terhadap alasan merokok pada remaja yang konform dan remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang. Desain yang digunakan adalah deskriptif komparatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Sikap Terhadap Alasan Merokok diukur dengan skala sikap terhadap perilaku merokok dan konformitas diukur dengan skala perilaku konformitas. Subyek penelitian adalah 82 remaja di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sikap Terhadap Alasan Merokok Pada Remaja yang Konform Di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang memiliki sikap dalam kategori cukup mendukung, (2) sikap Terhadap Alasan Merokok Pada Remaja yang Tidak Konform Di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota Malang meiliki sikap dalam kategori cukup mendukung, dan (3) ada perbedaan sikap terhadap perilaku merokok pada remaja yang konform dan remaja yang tidak konform di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kota. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak pondok pesantren agar memberikan penyuluhan dan menyampaikan informasi yang efektif tentang bahaya merokok, dan memberikan pengawasan yang lebih bagi para santri remaja agar dapat mengurangi konsumsi rokok. Orang tua hendaknya juga memberikan pemahaman yang tepat kepada anak-anaknya mengenai bahaya perilaku merokok, memberikan komunikasi yang baik untuk anak dalam pergaulannya agar tidak terjerumus ikut berperilaku merokok jika ada temannya yang merokok, dan memberikan perhatian yang cukup dan melakukan pengawasan yang efektif terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak mereka dapat mengendalikan, mengurangi, dan menghentikan perilaku merokok mereka.

Peningkatan kemampuan kognitif dengan bermain kubus bergambar (dadu) pada anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kota Malang / Sutikno

 

Kata kunci: kubus bergambar, kemampuan, TK Peningkatan kemampuan kognitif dengan bermain kubus bergambar(dadu) pada anak kelompok A TK Negeri Pembina Kota Malang, masih rendah, hanya 22% dari 22 anak yang mampu membilang/menyebut urutan bilangan, membilang dengan menunjuk benda serta menyebutkan hasil penambahan 1 sampai 10 dengan memiliki kemampuan kognitif yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi guru dalam merancang satuan kegiatan harian masih bersifat konvesional. Media dan sumber belajar yang digunakan masih kurang menarik bagi anak, hal ini tampak pada media pembelajaran saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan Mendeskripsikan dengan bermain kubus bergambar (dadu) dapat meningkatkan kemampuan kognitif dalam menyebut hasil penambahan 1 sampai dengan 10 dan Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif dengan bermain kubus bergambar (dadu) dalam menyebut hasil penambahan 1 sampai dengan 10 pada anak kelompok A TK Negeri Pembina Kota Malang yang dibelajarkan dengan bermain kubus bergambar. Penelitian ini dilaksanakan Kelompok A di TK Negeri Pembina Kota Malang Tahun Pelajaran 2010 / 2011. Subyek penelitian 22 anak didik . Penelitian dilakukan selama dua siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan : (1) Perencanaan tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. (5) Revisi tindakan. Analisis data secara deskriptif baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Alat pengumpulan data berupa lembar observasi penilaian kemampuan anak. Berdasarkan deskripsi pembelajaran dan analisis data, diperoleh Hasil bahwa peningkatan kemampuan kognitif dengan mengunakan media kubus bergambar (dadu) yaitu dengan cara menghubungkan gambar dengan angka dan dengan bermain kubus bergambar (dadu) dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam menyebut hasil penambahan 1 sampai 10 pada anak kelompok A TK Negeri Pembina Kota Malang. Berdasarkan kesimpulan di atas bahwa dengan bermain kubus bergambar (dadu) yang sudah dimodifikasi dengan di beri angka dapat meningkatan kemampuan kognitif anak , maka disarankan kepada guru Taman Kanak-Kanak untuk mengunakan metode bermain dengan media kubus bergambar (dadu) harus sesuai dengan Tema yang direncanakan dalam SKH dan dengan warna dan gambar yang menarik.

Kepribadian tokoh utama anak dalam novel anak Pink Cupcake Bersahabat Itu Menyenangkan karya Ramya Hayasrestha Sukardi / Anita Kurnia Rachman

 

Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (II) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd Kata kunci: kepribadian tokoh, novel anak, psikoanalisis Sigmund Freud Sastra anak ditulis oleh orang dewasa dan anak-anak. Salah satu sastra anak yang ditulis oleh anak adalah Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Dalam penelitian ini, sastra anak yang dianalisis adalah novel Pink Cupcake Bersahabat Itu Menyenangkan Karya Ramya Hayasrestha Sukardi. Alasan dipilihnya novel ini karena tokoh utama dalam novel ini adalah anak yang manja dan tidak mudah bersosialisasi. Keadaan berubah ketika muncul seorang gadis yang ternyata seorang peri persahabatan. Masalah umum dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kepribadian tokoh utama anak yang terdapat dalam novel anak Pink Cupcake Bersahabat Itu Menyenangkan Karya Ramya Hayasrestha Sukardi yang meliputi (1) struktur kepribadian tokoh utama anak yang meliputi id, ego, dan superego, (2) dinamika kepribadian tokoh utama anak yang meliputi naluri, penggunaan energi, dan kecemasan, dan (3) perkembangan kepribadian tokoh utama anak yang meliputi identifikasi, pemindahan objek, pertahanan ego, dan fase perkembangan seksual. Penelitian ini merupakan penelitian kajian pustaka dengan pendekatan psikoanalisis Sigmund Frued. Data penelitian ini berupa teks yang terdiri atas monolog, dialog, dan narasi yang mengambarkan sifat, tingkah laku, perbuatan, dan perkataan yang berwujud paparan-paparan bahasa yang mendeskripsikan kepribadian tokoh utama anak dalam novel anak Pink Cupcake Bersahabat itu Menyenangkan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca, mengidentifikasi, dan mengklasifikasikan data yang mengandung aspek psikoanalisis. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama dan tabel kodifikasi sebagai instrumen pendukung. Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasi data, mendeskripsikan hasil klasifikasi data, menganalisis data, dan menginterpretasi data. Reduksi data dilakukan dengan pengumpulan data, mengklasifikasi data, menginterpretasi data, dan mendeskripsikan hasil interpretasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan membaca ulang, ketekunan pengamatan, konsultasi, dan pemeriksaan teman sejawat. Tahap penelitian dibagi menjadi persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) struktur kepribadian tokoh bersifat dinamis. Ketiga unsur kepribadian tersebut, satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas, meskipun distribusi penggunaan energi terkadang tidak seimbang. Hubungan sastra dan psikoanalisis terletak pada kesamaan antara hasrat tersembunyi pada manusia yang menyebabkan kehadiran karya sastra mampu menyentuh perasaan, kesejajaran antara mimpi dan sastra, dan karya sastra mengandung keindahan serta mencerminkan ajaran moral. (2) Dinamika kepribadian tokoh terdiri dari (a) naluri, yaitu naluri hidup dan naluri mati. Naluri hidup berupa naluri lapar dan naluri sosial, sedangkan naluri mati diwujudkan dengan menyakiti orang lain; (b) distribusi penggunaan energi id ke ego, id ke superego, dan superego ke ego diwujudkan dalam bentuk persepsi, ingatan, dan berfikir ; (c) kecemasan, yaitu kecemasan riil, neurotik, dan moral yang diwujudkan dalam bentuk rasa takut terhadap dunia luar, takut pada hukuman, takut akan dosa, dan melihat penderitaan orang lain. Hubungan sastra dengan psikolanalisis, yaitu saat pengarang memunculkan naluri kehidupan dalam wujud karya sastra, proses pencitraan berhubungan dengan pikiran dan perasaan pengarang. (3) Fase perkembangan seksual tokoh melalui empat tahap, yaitu (a) identifikasi dengan cara bertingkah laku seperti tingkah laku orang lain; (b) pemindahan objek yang dilakukan tokoh menggunakan empat cara, yaitu kondensasi, kompromi, sublimasi, dan kompensasi; (c) mekanisme pertahanan ego tokoh dilakukan dengan cara pembentukan reaksi, fiksasi, dan regresi; (d) fase perkembangan seksual pada tokoh terjadi pada fase latenst. Hubungan psikoanalisis dengan kesusastraan muncul melalui proses sublimasi, pengarang dengan proses sublimasi dengan menulis karya sastra maupun menghasilkan karya lain yang dapat meningkatkan perkembangan kebudayaan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada (1) guru juga menggunakan sastra anak sebagai bahan apresiasi sastra khususnya apresiasi menggunakan psikoanalisis Sigmund Freud, (2) pembaca, diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang keadaan psikologi anak, dan (3) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi penelitian sastra anak lebih lanjut bukan hanya pada hubungan psikolohi dengan karya sastra, tetapi juga hubungan psikologi dengan pengarang dan hubungan psikologi dengan pembaca.

Pengaruh penerapan metode quantum learning dengan berbantuan video pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar kompetensi kejuruan teknik komputer jaringan pada kompetensi dasar instalasi jaringan lokal (local area network) siswa kelas XI TKJ SMKN 6 Malang / Rizka Pr

 

Kata kunci:Quantum Learning , Video Pembelajaran, Hasil Belajar Proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas XI TKJ SMK Negeri 6 Malang selama ini masih dilaksanakan dengan menggunakan metode konvensional. Pembelajaran yang hanya terpusat pada guru saja, sehingga pembelajaran hanya terjadi searah dan membuat siswa menjadi pasif, kurang kreatif, dan cepat bosan. Selain itu, kondisi jumlah siswa di SMK Negeri 6 Malang yang rata-rata mencapai 30 siswa per kelasnya membuat suasana pembelajaran menjadi kurang kondusif. Dalam pelajaran Instalasi Jaringan Lokal di SMK Negeri 6 Malang, hasil belajar siswa selama ini, masih banyak yang belum mencapai standart nilai minimum. Karena itulah diperlukan metode Quantum Learning dengan berbantuan video pembelajaran. Dengan penerapan metode pembelajaran ini, diharapkan siswa akan lebih aktif, kreatif dan belajar dengan suasana menyenangkan. Penelitian ini dilakukan pada semester kedua tahun ajaran 2010/2011 dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi ekperimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI TKJ SMK Negeri 6 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 180 siswa yang terbagi menjadi 6 kelas. Data penelitan diambil dari siswa XI TKJ 1 dan XI TKJ 3 karena kedua kelas bukan merupakan kelas unggulan dan memiliki kemampuan yang sama dalam belajar. Data penelitian berupa data nilai terakhir dan prestasi belajar yang terdiri dari ranah afektif dan kognitif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol, berdasarkan nilai signifikansi (0,000 < 0,05). Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari prestasi belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar kelas eksperimen (70,50) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas kontrol (69,90). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Learning dengan berbantuan video pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi instalasi aringan lokal. Koefisien determinasi R2 = 0,543 dari perhitungan memberikan arti bahwa besarnya pengaruh metode Quantum Learning dengan berbantuan video pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada materi instalasi jarigan lokal adalah 0,543 atau 54,3% dan sisanya terdapat factor dari luar.

Penerapan model pembelajaran team assisted individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar geografi di SMA Negeri 1 Ngunut Tulungagung / Ninda Ardyansyah

 

Kata Kunci: kooperatif, TAI, dan hasil belajar Berdasarkan wawancara pada guru Geografi kelas X dan siswa kelas X-E, diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa tergolong masih rendah terbukti dari 37 siswa dengan nilai SKM 75 hanya 17 siswa yang nilainya di atas SKM dengan ketutasan klaskal hasil belajar 45,9%. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan intelegensi dan latar belakang siswa yang beragam, selain itu pemahaman terhadap materi pelajaran antara siswa satu dengan siswa yang lain tidak sama sehingga mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Alternatif yang dapat dilakukan guru yaitu melalui penggunaan model Team Assisted Individualization (TAI). Model TAI dirancang sebagai model pembelajaran yang mengkombinasikan pembelajaran individu dengan pembelajaran kooperatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar geografi di SMA Negeri 1 Ngunut. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/ 2011. Subjek penelitian ini adalah kelas X-E dengan jumlah 37 siswa. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan perbandingan nilai pada materi sebelum dilakukan tindakan dengan nilai setelah dilakukan tindakan. Instrumen yang digunakan yaitu test objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan ke siklus I yaitu dari rata-rata hasil belajar 68,8 dengan persentase ketuntasan belajar 45,9% menjadi 72,97 dengan persentase ketuntasan belajar 62,2%. Selanjutnya pada siklus II terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar dari 72,97 menjadi 76,35 dengan persentase ketuntasan belajar 86,5%. Berdasarkan perolehan hasil belajar siswa pada siklus II dapat disimpulkan bahwa indikator keberhasilan pembelajaran sudah tercapai, hasil penelitian dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization (TAI) pada materi hidrosfer kelas X-E di SMA Negeri 1 Ngunut dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengembangan video sebagai media pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran seni budaya kelas XI SMAN 2 Blitar / Usmay Sodikin

 

Kata Kunci: video, media pembelajaran, cutting sticker. Video merupakan jenis data berupa gambar-gambar bergerak yang ditampilkan untuk penyampaian suatu informasi. Manfaat video tersebut dapat digunakan sebagai sebuah media pembelajaran dalam penyajian suatu materi pembelajaran. Salah satu materi pembelajaran Seni Budaya yang tepat disajikan dalam bentuk video adalah proses pembuatan cutting sticker. Berkaitan dengan itu, maka perlu diadakan penelitian dan pengembangan video sebagai media pembelajaran membuat cutting sticker. Penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mengembangkan video sebagai media pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya kelas XI.IA SMAN 2 Blitar, dan (2) membantu guru dan siswa kelas XI.IA SMAN 2 Blitar dalam kegiatan pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model prosedural. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan angket. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa lembar wawancara dan lembar angket validasi. Instrumen tersebut kemudian diberikan kepada validator, antara lain: (1) ahli media pembelajaran, (2) ahli materi cutting sticker, (3) guru Seni Budaya SMAN 2 Blitar, dan (4) kelompok kecil. Setelah data terkumpul, kemudian data dianalisis dalam bentuk prosentase dan disajikan dalam bentuk paparan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, media pembelajaran ini layak untuk digunakan guru dan siswa kelas XI.IA SMAN 2 Blitar dalam kegiatan pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya. Media pembelajaran ini layak karena telah diuji oleh ahli media pembelajaran, ahli materi cutting sticker, guru Seni Budaya SMAN 2 Blitar, dan dilakukan uji coba pada kelompok kecil. Selain itu, komponen dari media pembelajaran yang masih perlu direvisi pun telah direvisi oleh pengembang berdasarkan saran dan kritik dari subjek ahli. Kedua, produk pengembangan ini merupakan media pembelajaran yang efektif dan efisien dalam mencapai keberhasilan pembelajaran membuat cutting sticker pada mata pelajaran Seni Budaya siswa kelas XI.IA SMAN 2 Blitar. Media pembelajaran ini dikatakan efektif karena mampu membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan hasil yang lebih dari 80 % dari tingkat keberhasilan. Sedangkan dikatakan efisien karena media pembelajaran ini mampu menyajikan pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mengikuti pembelajaran membuat cutting sticker dengan cara manual.

Perbedaan faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian laptop ditinjau dari need achievement / Sri Wahyuningtyas

 

Kata Kunci: faktor-faktor, pengambilan keputusan pembelian laptop, need achievement. Laptop merupakan salah satu barang penting yang dimiliki mahasiswa. Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian laptop adalah faktor efisiensi, praktis, ekonomis, pengetahuan, merek, harga, model, warna, keawetan, diskon, kecanggihan, kualitas, harga jual kembali, layanan purna jual (aftersale), prestise, self esteem, motivasi, simbol pergaulan, kelompok acuan, keluarga, tuntutan kebutuhan kuliah, dan status sosial. Penelitian ini menggunakan metode korelasional (faktorial) dan uji perbedaan untuk mengetahui perbedaan pengambilan keputusan ditinjau dari need achievement. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang mempunyai karakteristik (1) yang membeli dan memiliki laptop, (2) berusia antara 19-24 tahun, (3) mahasiswa angkatan 2007-2010. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang sebanyak 100 responden. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah teknik insidental sampling. 100 responden diberi kuisioner faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian laptop dan skala need achievement. Dari hasil penelitian 22 faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan pembelian ini dapat direduksi menjadi 6 faktor dengan total muatan varian sebesar 73,326%. Keenam faktor tersebut adalah: (1) faktor sosial yang menyumbang 21,911% varian. (2) faktor kualitas yang menyumbang 14,406% varian. (3) faktor psikologis yang menyumbang 12,835% varian. (4) faktor pengetahuan yang menyumbang 10,753% varian. (5) faktor manfaat yang menyumbang 8,784% varian. (6) faktor objek yang menyumbang 4,638% varian. Hasil penelitian tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan ditinjau dari need achievement menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara mahasiswa yang mempunyai need achievement tinggi dengan mahasiswa yang mempunyai need achievement rendah. Mean Difference need achievement tinggi vs need achievement rendah = 0,025636, siginifikan pada 0,651 > 0,05 (H0 diterima). Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada mahasiswa untuk membeli laptop dengan mempertimbangkan kebutuhan kuliahnya. Diharap mahasiswa dengan need achievement tinggi maupun need achievement rendah dapat terbantu dalam mengerjakan tugas kuliahnya dengan memiliki laptop .

Penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di Taman Kanak-kanak Kartini Kota Batu / Sulikah

 

Kata Kunci : Metode karya wisata, kemampuan kognitif Anak Usia Dini Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan masih rendahnya kemampuan anak dalam membedakan benda. Hal ini disebabkan karena selama proses pembelajaran diterapkan, guru menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas dengan kegiatan dalam kelas, Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1) Mendeskripsikan penerepan metode karya wisata dalam meningktkan kemampuan kognitif anak kelompok B Taman Kanak-kanak KARTINI Batu dan, 2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif melalui Penerapan Metode Karya Wisata. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-kanak KARTINI Batu mulai bulam April-Juni 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas dengan proses bersiklus. Dalam setiap siklus ada beberapa tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelompok B. Tehnik pengumpulan datanya menggunakan lembar observasi, sedangkan teknik analisa data yang digunakan yaitu analisa kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil tindakan siklus I terjadi peningkatan kemampuan kognitif sejumlah 15 % dengan skor rata-rata 64 %, selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peninhkatan sejumlah 24 % dengan skor rata-rata sebesar 88 %. Metode karya wisata merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B di Taman Kanak-kanak KARTINI Kota Batu. Dengan karya wisata perbendaharaan pengetahuan anak tentang dunia nyata yang di perolehnya secara langsung semakin cepat mengembangkan kognisi mereka dan anak dapat berfikir teliti dalam membedakan benda. Disarankan untuk Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini hendaknya menggunakan metode karya wisata dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada anak dan pengembangan situasi pembelajaran ke arah yang lebih kondusif, maka disarankan untuk menggunakan metode karya wisata.

Peningkatan kemampuan membaca awal melalui permainan kubus gambar dan kubus kata di kelompok A TK Negeri Pembina 5 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang / Rr. Savitri Sulistyorini

 

Kata Kunci : membaca awal, permainan kubus gambar dan kubus kata, TK Waktu yang tepat untuk belajar membaca adalah saat anak-anak duduk di TK, karena pada masa ini rasa ingin tahu anak berkembang sehingga banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Dalam mengembangkan minat membaca dan menulis bagi anak usia TK yang perlu dipikirkan adalah metode dan alat peraga yang dapat digunakan. Apabila terjadi kesalahan dalam penerapan metode dan alat peraga, akan mengakibatkan minat anak dalam membaca akan semakin menurun. Hal tersebut tampak pada kemampuan membaca awal pada anak kelompok A TK Negeri Pembina 5 Kecamatan Kedungkandang masih rendah. Hal ini disebabkan karena guru masih belum memanfaatkan strategi yang dapat menumbuhkan minat peserta didik dalam belajar sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk aktif, senang, berfikir kritis dalam pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan permainan kubus gambar dan kubus kata untuk meningkatkan kemampuan membaca awal, dan (2) mendeskripsikan apakah dengan penerapan permainan kubus gambar dan kubus kata dapat meningkatkan kemampuan membaca awal, Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan rancangan deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian adalah peserta didik kelompok A di TK Negeri Pembina 5 Kec. Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 10 peserta didik, terdiri dari 5 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Penerapan permainan kubus gambar dan kubus kata pada pengenalan pembelajaran membaca yang meliputi (a) tahap awal, (b) tahap penyusunan, dan (c) tahap akhir. Tahap awal ditandai dengan membuka skemata peserta didik, tahap penyusunan ditandai dengan aktivitas peserta didik dalam belajar membaca gambar, huruf, suku kata, dan kata sederhana. Tahap akhir ditandai dengan aktivitas siswa dalam mngungkapkan kesan pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan permainan kubus gambar dan kubus kata dapat meningkatkan kemampuan membaca awal bagi anak kelompok A TK Negeri Pembina 5 Kecamatan Kedungkandang. Hal ini dibuktikan dengan prosentase rata-rata yang terus meningkat dari siklus I – II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi yang bervariasi dengan berbagai permainan dalam pelaksanaan pengenalan membaca awal, salah satunya dengan permainan kubus gambar dan kubus kata. Pada pelaksanaan pengenalan membaca awal, guru sebaiknya melaksanakan pengenalan membaca awal dengan membaca gambar terlebih dahulu, dilanjutkan dengan membaca huruf, membaca suku kata, dan membaca kata sederhana.

Pengaruh status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku konsumtif siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang / Rizzul Ngishmawati

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Gaya Hidup Siswa, Konformitas Teman Sebaya, Perilaku Konsumtif. Manusia tidak lepas dari kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Dalam usahanya tersebut manusia melakukan kegiatan menghabiskan nilai guna suatu barang yang disebut dengan konsumsi. Dalam berkonsumsi seseorang dapat berperilaku secara rasional dan irrasional. Perilaku irrasional dalam berkonsumsi salah satunya adalah perilaku konsumtif. Penyimpangan ini sering ditemui pada usia remaja karena dalam berkonsumsi, mereka cenderung didasari pada pemenuhan kepuasan dan keinginannya bukan untuk memenuhi kebutuhan. Perilaku konsumtif pada remaja dapat dipengaruhi oleh status sosial ekonomi keluarga, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya. Perilaku konsumif pada remaja mengakibatkan penyimpangan perilaku konsumsi mereka dan menimbulkan inefisiensi biaya. Pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang dengan intelektualitas yang tinggi tentunya mereka memiliki pengetahuan tentang ekonomi yang bagus. Namun dalam era modernisasi serta perkembangan mode saat ini, terdapat beberapa siswa dengan perilaku konsumtif. Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ketiga faktor tersebut pada kecenderungan perilaku konsumtif siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang. Dalam penelitian ini maka variabel yang digunakan adalah status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya sebagai variabel independen dan peilaku konsumtif siswa sebagai variabel dependen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya secara parsial dan simultan terhadap perilaku konsumtif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat eksplanasi. Polulasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Malang, dengan sampel sebanyak 75 siswa yaitu menggunakan teknik pengambilan sempel proportional random sampling. Data penelitian merepaka data primer yang diambil melalui angket dengan menggunakan skala likert. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan analisa data menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa status sosial ekonomi orang tua berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, gaya hidup siswa berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, konformitas teman sebaya berpengaruh terhadap perilaku konsumtif dan secara simultan status sosial ekonomi orang tua, gaya hidup siswa, dan konformitas teman sebaya berpengaruh terhadap perilaku konsumtif. Ketiga variabel independen menunjukkan pengaruh positif terhadap variabel dependennya. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah bagi guru hendaknya menekankan konsep konsumsi sehingga siswa dapat berfikir rasional dalam keputusan pembeliannya. Kemudian orang tua hendaknya dapat memberi pendidikan dan contoh yang baik berkenaan dengan konsumsi yang dilakukan. Bagi peneliti terdahulu hendaknya dapat menyempurnakan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku konsumtif seseorang. Dan bagi Universitas Negeri Malang dapat mempersiapkan calon-calon guru yang utuh, yaitu memiliki penguasaan materi yang baik dan memiliki kesiapan mental yang bagus sehingga dapat menjadi contoh dan teladan langsung bagi siswa.

Students' and teachers' perception of the implementation of "ESL" clas at SMAN 3 Malang / Aan Frisca D. Prastya

 

Key words: “ESL” class, materials and media, teachers’ problems This research aims at describing the students’ and teachers’ perception about the implementation of “English as a Second Language” (ESL) class, specifically in terms of the use of materials and media and the problems faced by the teachers. This study is a descriptive qualitative research. This research was conducted at SMAN 3 Malang. The subjects of the research were the students of five different “ESL” classes of grade X and XI as well as five teachers of each “ESL” class. The data were collected through the distribution on questionnaires for the students and interview with the teachers. The data comprised the students’ opinion about the materials and media, the teachers’ opinion about the use of materials and media, and the problems faced by the teachers in teaching “ESL” class as well as the solutions they have. The objective of “ESL” class was to prepare the students in taking the University of Cambridge International Examinations (CIE) for English as a Second Language. From this study, it was found that the materials used in “ESL” class met the needs of the students, both according to the students and the teachers. The materials have sufficiently supported the students’ preparation for CIE of English as a Second Language. Regarding the media, both the students and teachers agreed that media have been rarely used in “ESL” class. Concerning the problems, the teachers listed three of them: the students’ lack in motivation, unfamiliar vocabulary in the course book, and the school’s improper facilities. To overcome the problems, the teachers have already some solutions, such as inserting fun activities, conducting pre-reading activities, bringing own laptops and other media, and making a plan “B”. Based on the result of this research, it can be concluded that the materials used in “ESL” class met the objective of the program, which is to prepare the students in order to be successful in the Cambridge exam. Related to the media, the teachers have rarely involved media in teaching “ESL” class due to several reasons: (1) the teaching of English in “ESL” class did not require the aid of media, and (2) the media in the school were not always available to use. Relating to the conditions mentioned above, it is suggested that the teachers enrich the materials by involving more authentic materials such as from the newspaper, magazines, etc. The teachers should also involve the use of media in teaching “ESL” class to help them deliver the materials, attract the students’ attention, and eliminate the students’ boredom. Related to the problems faced by the teachers, it is suggested that the teachers find ways to increase students’ motivation and familiarize new vocabulary to the students. It is also expected that the school make some improvement for better facilities in order to fulfill the criteria of becoming an International-Standardized School (SBI).

Perancangan prototipe elevator empat tingkat dua ruang berbasis PLC / Sigit Teguh Yuwono

 

Kata Kunci: Elevator,PLC,Motor Dewasaini teknologi dengan mempergunakan sistem konvesional sudahbanyak digantikan oleh teknologi yang lebih canggih dan fleksibel, dan mempunyai fungsi yang sama. Hal ini sejalan dengan tututan jaman yang menginginkan berbagai macam kemudahan. Suatu contoh pengunaan tangga konvensional dalamsuatubangunanbertingkat, terlebihuntukbangunan yang memelikilebihdariempatlantaidirasa sangat kurang efisien. Untuk memecahkan masalah ini maka dibutuhkan sebuah elevator yang mengunakan teknologi kendali denganmengunakan motor sebagaipengeraknya. Padapermulaanpengoperasiandenganmenekantombolstart yang mengakibatkanmenyalanyaseven segment(penanda ruang berada) danmenyalanyalampuindikatorrun(menandakansistem ON)pada panel kontrol. Sebagaicontohkerja, apabilapenumpangberadapadalantaisatuinginmenujulantaitigasedangkanruangelevatorberadapadalantaiempatataulantai paling atas, makasikluskerjadarisistemtersebutadalahsebagaiberikut: tahappertama yang dilakukandenganmenekantombolpanggilruangelevatorberadapadalantai 1 untukmengaktifkan internal relay, sehingga motor sebagaipengerakruangelevator yang beradapadalantaiempatakanturunmenujukelantaisatu. Setelah sampai pada lantai tiga ruangelevator menyentuh limit switchsehingga menghentikan motor pengerak ruang setelah lima detik akan mengakfitkan motor pembuka pintu dan pintu akan berhenti setelah menyentuh LS buka pintu dan akan menutup kembali setelah sepuluh detik selanjutnya pintu akan menutup dan akan berhenti setelah menyuntuh LS tutup pintu. Berdasarkanhasilpembahasandapatdiambilkesimpulanpada perancangan prototipe elevator empat tingkat dua ruang berbasis PLC, tahap perancaan dilakukan dengan mendesain bentuk alat yang akan dibuat, mulai dari besarnya dimensi prototipe elevator, penempatan sensor, limit swicth, sampai pada penentuan ukuran ruang yang dibuat. Setelah itu dilakukan penggadaan komponen dan menentukan sistem kerja pada sistem yang dibuat.

Pengembangan media pembelajaran teknik melakukan perawatan PC (Personal computer) berbasis E-learning di SMK Darut Taqwa Purwosari / M. Ali Erkam

 

Kata kunci : Pengembangan, Media, Pembelajaran, E-learning SMK Darut Taqwa sebagai salah satu lembaga formal yang berkecimpung di bawah naungan Yayasan Darut Taqwa merupakan lembaga formal yang berkembang sangat pesat. Meskipun baru berdiri selama 8 tahun namun sudah mampu menampung sejumlah 700 siswa. Tetapi perkembangan tersebut masih belum didukung sepenuhnya dengan proses pembelajaran yang maksimal. Di SMK Darut Taqwa dalam menyampaian materi pembelajaran, sebagian guru masih menggunakan modul, sehingga siswa harus fotocopy atau bahkan harus mencatat. Hal ini menjadi salah satu alasan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis e-learning. Dengan fasilitas intranet yang ada di Yayasan Darut Taqwa, siswa yang mayoritas adalah santri pondok pesantren dapat mengakses dan mempelajari materi pada media pembelajaran e-learning dengan mudah. Sebagai orang komputer, tentu masalah komputer akan selalu timbul ketika kita menggunakan komputer. Melakukan kesalahan pengoperasian adalah sesuatu yang biasa. Ini bisa terjadi karena kurangnya pelatihan, pengetahuan dan pengenalan terhadap komputer. Dengan perawatan preventive, kita bisa menekan permasalahan yang akan muncul seminimal mungkin. Tujuan pengembangan pengembangan media pembelajaran secara rinci adalah: mengembangkan media pembelajaran teknik melakukan perawatan PC berbasis E-learning, dan memvalidasi media pembelajaran teknik melakukan perawatan PC berbasis E-Learning. Pada pengembangan media pembelajaran ini, pengembang menggunakan aplikasi moodle yang dikembangkan dengan metode pengembangan Analysis Design Develop Implementation Evaluate (ADDIE) yang telah disesuaikan dengan objek penelitian. Pengembangan terlaksana dengan terlebih dahulu dilakukan kegiatan validasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket pada uji coba perseorangan (ahli media & ahli materi), responden/siswa kelompok kecil dan responden/siswa kelompok besar/khalayak umum (uji coba lapangan). Sedangkan analisis data yang digunakan untuk mengolah data dari ahli media, ahli materi dan responden/siswa/ khalayak umum menggunakan teknik prosentase. Berdasarkan uji coba/validasi media pembelajaran yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: (1) ahli media 83,75%, (2) ahli materi 83,87%, dan (3) responden/siswa kelompok besar (lapangan) 83,87% dan 86%. Dengan demikian dinyatakan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria valid/layak dan secara keseluruhan dinyatakan baik serta dapat diuji cobakan lebih luas agar nantinya bisa digunakan dalam pembelajaran.

Pengembangan instrumen tes bentuk pilihan ganda bermakna untuk mengidentifikasi miskonsepsi gelombang bunyi pada siswa SMP / Nailil Mustafidah

 

Kata Kunci: gelombang bunyi, miskonsepsi, pilihan ganda bermakna Miskonsepsi merupakan fenomena umum yang terjadi dalam pembelajaran fisika. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya miskonsepsi adalah adanya kesalahan interpretasi pada prekonsepsi. Kesalahan interpretasi ini berujung pada kegagalan kondisi dan intuisi sehingga berdampak pada miskonsepsi pada diri siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen tes berbentuk pilihan ganda yang digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa pada materi gelombang bunyi di tingkat SMP. Kualitas produk hasil pengembangan (berupa instrumen tes pilihan ganda) diperoleh dari hasil uji validasi oleh validator dan uji kelayakan produk dengan menggunakan program Anates dan program Analisis Asesmen Formatif Fisika (AAFF). Langkah-langkah penelitian pengembangan ini meliputi studi pendahuluan, perancangan draft instrumen, pengembangan draft instrumen, validasi akhir produk pengembangan, dan uji coba terbatas. Kegiatan validasi merupakan validasi logis yakni validasi yang menilai kriteria instrumen dari aspek materi, konstruksi, dan bahasa dan dilaksanakan oleh dua dosen dan satu guru fisika SMP. Ketiga validator tersebut memberi validasi pada instrumen pilihan ganda. Kelayakan instrumen diujicoba dengan program Anates dan AAFF. Produk akhir penelitian pengembangan ini berupa instrumen tes pilihan ganda bermakna, yang memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah memiliki empat pilihan jawaban. Satu jawaban merupakan konsepsi yang benar sedangkan tiga yang lain merupakan miskonsepsi yang diperoleh dari variasi jawaban siswa pada soal uraian. Karakteristik yang lain adalah produk pilihan ganda ini terdiri atas tiga soal setara dalam satu indikator. Kecenderungan jawaban yang diberikan oleh siswa pada ketiga butir soal inilah yang digunakan sebagai kunci untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami siswa pada subkonsep gelombang bunyi.

Penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Arrochmah Bangil Kabupaten Pasuruan / Siti Milhanah

 

Kata kunci : Metode Eksperimen, Kemampuan Kognitif, TK Kemampuan kognitif anak di Taman Kanak-kanak merupakan bagian yang integral dari struktur kegiatan pembelajaran. Untuk itu perlu adanya pembelajaran yang bisa mengembangkan kognitif anak salah satunya dengan menggunakan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak di TK Arrochmah Bangil. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: (1) Mendeskripsikan penerapan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak di kelompok A TK Arrochmah Bangil, dan (2) Mendeskripsikan pengembangan kemampuan kognitif anak di kelompok A TK Arrochmah Bangil dengan penerapan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam. Pemecahan masalah dalam penelitian ini dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus berdasarkan model Kemmis dan Taggart, masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yang digunakan sejumlah 16 anak dan melibatkan satu guru kolabolator. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif dengan ketuntasan belajar minimal secara individu 70% dan klasikal 85%. Hasil analisis penelitian kemampuan kognitif pada pra tindakan diperoleh rata-rata 50%. Pada siklus I dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan pada tanggal 13 April dan 14 April 2011 pada pertemuan I dan pertemuan II diperoleh rata-rata 68,44% dengan kategori B. dan pada siklus II dilakukan hanya 1 kali pertemuan yaitu pada tanggal 25 April 2011 diperoleh rata – rata 86,88% terdapat kenaikan skor sebesar 18,44%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen benda terapung dan tenggelam dapat diterapkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompokA TK Arrochmah Bangil Kabupaten Pasuruan. Saran yang disampaikan pada guru TK agar dapat menerapkan metode eksperimen melalui percobaan benda terapung dan tenggelam untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak dan memasukkan aspek benda melayang pada penelitian selanjutnya.

Perancangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dengan materi wayang topeng Malang dan tari bapang Kedungmonggo bagi siswa SMP kelas VII / Anggar Syafi'ah Gusti

 

Kata Kunci: Perancangan, Media Pembelajaran, Multimedia Interaktif, Wayang Topeng Malang, Tari Bapang Kedungmonggo. Perancangan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif dengan segala keunggulannya diharapkan mampu mengatasi bermacam kendala yang dihadapi guru Seni Budaya SMP di Malang dalam pengajaran materi Apresiasi Tari Tradisional Daerah Setempat. Keterbatasan jam pelajaran, banyak guru Seni Budaya yang tidak berlatar pendidikan seni tari, generasi muda yang menganggap tari tradisional adalah seni kuno, tari tradisional tidak lagi populer di masyarakat, dan referensi buku tentang tarian tradisional yang masih sedikit adalah kendala- kendala yang menyebabkan situasi belajar Mengapresiasi Tari Tradisional Daerah Setempat menjadi tidak kondusif. Bahkan, banyak SMP di Malang yang membuat kebijakan untuk tidak memasukkan Seni Tari sebagai mata pelajaran Intrakurikuler. Media pembelajaran ini dirancang untuk mendukung pengajaran di sekolah yang dipandu guru juga pembelajaran secara mandiri oleh siswa. Tampilan media yang menarik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan dengan perencanaan proses pembelajaran yang baik, diharapkan siswa mudah diarahkan untuk mempelajari dan mengapresiasi tari tradisional daerah setempat khususnya Malang. Perancangan media didasarkan pada KTSP Seni Budaya sub Seni Tari SMP kelas VII dengan standar kompetensi mengapresiasi tari tradisional daerah setempat. Target perancangan ini adalah guru dan siswa SMP Kelas VII. Penyusunan naskah media didasarkan pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berisi tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan belajar, dan instrumen evaluasi untuk 4 kali pertemuan. Naskah yang ada dikembangkan menjadi bentuk draft tayang yang menjadi acuan pembuatan media. Data-data untuk materi dalam produk ini didapat dari wawancara kepada pelaku seni Wayang Topeng Malang di Kedungmonggo; pendokumentasian teks dan foto dari berbagai sumber; pendokumentasian foto dan video gerak tari, busana tari, dan topeng dilakukan ke salah satu sanggar Wayang Topeng di Malang. Media pembelajaran terdiri atas SK KD Indikator, materi pembelajaran (Konsep Seni Tari, Wayang Topeng Malang, dan Tari Bapang Kedungmonggo) dan evaluasi materi. Berdasarkan kegiatan diatas, diharapkan produk perancangan ini dapat digunakan sebagai alternatif baru untuk memperkenalkan tari tradisional kepada siswa SMP dengan lebih menarik. Saran yang diajukan, hendaknya banyak dibuat perancangan media pembelajaran tentang tari-tarian tradisional sehingga generasi muda lebih mengenal jati diri bangsa Indonesia lewat kesenian yang dimiliki.

Penerapan permainan jari-jari tangan untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SD Negeri Minggir Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan / Nur Lailiyul Mualudiyah

 

Kata kunci : bermain, perkalian bilangan cacah Berdasarkan observasi awal ditemukan permasalahan bahwa dari 30 siswa kelas IV SDN Minggir ada 19 siswa yang belum menguasai fakta dasar perkalian 6 sampai dengan 9. Disamping itu berdasarkan pre test yang telah dilakukan peneliti tentang operasi perkalian dua angka dengan dua angka menggunakan cara bersusun pendek ditemukan bahwa dari 30 siswa hanya 1 siswa yang mampu mengerjakan 2 soal dengan benar 9 siswa mampu mengerjakan 1 soal dengan benar dan 20 siswa lainnya salah dalam mengerjakan soal tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, diadakan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan strategi permainan jari-jari tangan untuk meningkatkan hasil belajar perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SDN Minggir. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ), dengan rincian pelaksanaan: pre test satu kali pertemuan, siklus I, 3 kali pertemuan, siklus II 3 kali pertemuan, masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek penelitian adalah 30 siswa kelas IV SDN Minggir semester II tahun 2010 / 2011. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 5 Agustus 2010 sampai dengan 10 Desember 2010. Instrumen penelitian ini meliputi: pedoman observasi, lembar evaluasi (test), dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa secara kuantitatif dan kualitatif, indikator keberhasilan dalam PTK ini bila ketuntasan perorangan sebesar 65% dan ketuntasan klasikal 75% berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar dalam KTSP. Permainan jari-jari tangan dapat diterapkan dengan baik, bermain jari-jari tangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu pada siklus I nilai rata-rata kelas dari 34,32 meningkat menjadi 46,20, sedangkan pada siklus II nilai rata-rata 46,20 meningkat menjadi 77,33. Siswa juga aktif dalam menyelesaikan soal-soal perkalian matematika bilangan cacah. Pada siklus I jumlah skor aktivitas 71 poin dan meningkat di siklus II dengan jumlah skor 81 poin. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan permainan jari-jari tangan dapat diterapkan dengan baik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat membuat siswa lebih aktif dalam menyelesaikan soal-soal perkalian bilangan cacah.

Aplikasi sistem informasi administrasi pembayaran SPP dilengkapi informasi berbasis SMS / Fanandy Dwi Untoro

 

Kata kunci: Sistem Informasi, Basis Data, SMS. Mengingat akan pesatnya kemajuan teknologi yang sudah merambah ke semua bidang, serta pola kehidupan masyarakat indonesia yang sudah relatif maju, bahwa hampir semua orang saat ini sudah memanfaatkan teknologi seluler baik GSM maupun CDMA, serta media internet, yang sebenarnya hal ini dapat diarahkan untuk menjadi nilai tambah dalam rangka kemajuan dunia pendidikan. Demikian pula dengan layanan SMS sebagai salah satu layanan seluler yang paling populer serta paling diminati saat ini, karena penggunaannya yang relatif mudah serta biayanya yang sangat murah. Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini untuk menciptakan suatu sistem informasi yang bertugas untuk pemberitahuan pembayaran secara otomatis. Sehingga dengan adanya sistem ini memperlancar pihak administrasi untuk memberikan report dan pendataan pembayaran serta informasi kepada wali murid agar lebih efektif dan efisien. Metode perancangan Tugas Akhir ini meliputi merancang spesifikasi produk yang dijelaskan dalam entitas dan atribut sistem, menggambarkan desain antar muka aplikasi, serta dilakukan pengujian pada tiap blok halaman web. Hasil yang didapat adalah sebuah aplikasi berbasis web yang mengelola data pembayaran SPP siswa, serta informasi pemberitahuan data pembayaran SPP kepada orang tua melalui SMS yang menghasilkan lebih efektif dan mengefisienkan pekerjaan administrasi/TU.

Implementasi program gerakan membangun masyarakat sehat (Gerangmas) dalam membangkitkan kemauan dan semangat demokrasi menuju masyarakat Lumajang sehat di Kelurahan Citrodiwangsan Kabupaten Lumajang / Sani Winanti

 

Kata kunci: Implementasi, Gerbangmas, Kemauan dan Semangat, Demokrasi, Sehat Pembangunan adalah suatu proses perubahan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan manusia yang meliputi perbaikan tingkat hidup, kesehatan, pendidikan, serta keadilan. Salah satu tujuan pembangunan nasional yang tertuang dalam UUD 1945 pada alinea ke empat yaitu memajukan kesejahteraaan umum. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor : 34 Tahun 2005 Nomor : 1138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota sehat. Tujuan Program Kabupaten Sehat pada dasarnya adalah tercapainya kondisi Kabupaten Lumajang untuk hidup dengan bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni dan bekerja bagi warganya dengan terlaksananya berbagai program-program kesehatan dan sektor lain, sehingga dapat meningkatkan sarana dan produktifitas dan perekonomian masyarakat. Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut Bagaimana implementasi program Gerbangmas dapat membangkitkan kemauan dan semangat demokrasi masyarakat menuju Lumajang sehat? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menjelaskan tentang implementasi program Gerbangmas di Lumajang, (2) untuk menjelaskan tentang hasil program Gerbangmas untuk menuju masyarakat Lumajang Sehat , (3) untuk menjelaskan tentang kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program Gerbangmas, (4) untuk menjelaskan tentang Implementasi Program Gerakan Membangun Masyarakat Sehat (Gerbangmas) dalam Membangkitkan Kemauan dan Semangat Demokrasi menuju Masyarakat Lumajang Sehat di Kelurahan Citrodiwangsan Kabupaten Lumajang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumen. Dipilihnya Kabupaten Lumajang sebagai lokasi penelitian karena Kabupaten Lumajang merupakan tempat yang dilaksanakannya program Gerbangmas di kelurahan Citrodiwangsan dan tempat tersebut adalah tempat yang sudah berhasil melaksanakan program Gerbangmas. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini bersumber dari orang, peristiwa dan dokumentasi Temuan penelitian dikemukakan bahwa (1) Implementasi program Gerbangmas di Lumajang antara lain pelaku dalam perencanaan, pelaku pelaksanaan dan pelaku penilaian program Gerbangmas adalah masyarakat, kader-kader Gerbangmas dan tim teknik yang ada di SEKTAP (Sekretariat Tetap), wujudnya mengadakan posyandu kerja bakti serta kader yang bertugas untuk pendataan, dapat melalui LP3S (Laporan Proporsi Potensi Pemukiman Sehat). Peran pemerintah dalam program Gerbangmas antara lain membantu dana, pelatihan, pembinaan, penyuluhan-penyuluhan. Peran masyarakat pada Gerbangmas misalnya kerja bakti, ikut wujudnya dalam pendidikan diluar sekolah menjaga kebersihan lingkungan itu sendiri baik itu keindahan, kenyamanan dan ketertiban. Peran swasta juga mendukung ikut berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan sehat. (2) Hasil program Gerbangmas untuk menuju masyarakat Lumajang Sehat terdiri dari Sehat Manusianya, Sehat Lingkungannya dan Sehat Usahanya. Sehat Manusainya terdiri dari Bina Keluarga Lansia, Bina Keluarga Balita dan Wajar Dikdas. Sehat Lingakungannya terdiri dari progam Penggunaan Air Bersih, Program Pengeloaan Sampah dan Program Rumah Sehat. Sedangkan Sehat Usahanya antara lain Program Kelompok Ekonomi Produktif.(3) Kendala pada perencanaan program Gerbangmas dilihat dari keaktifan kader masyarakat dalam mengikuti perencanaan program Gerbangmas, Kendala pada pelaksanaan kurangnya partisipasi masyarakat, kendala pada penilaian program Gerbangmas adanya Format Laporan Proporsi Potensi Pemukiman Sehat (LP3S). (4) implementasi program Gerbangmas dapat membangkitkan kemauan dan semangat demokrasi masyarakat menuju Lumajang sehat antara laian dapat dilihat Sehat Manusianya, Sehat Lingkungannya dan Sehat Usahanya. Pelaku dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pada program Gerbangmas adalah masyarakat, pegelola anggota Gerbangmas dan kader. Berdasarkan temuan penelitian di sarankan bagi Dinas Pemberdayaan Masyarakat harus lebih memaksimalkan kinerja yang dilakukan demi kelangsungan program Gerbangmas. Terus menumbuhkan dan mengembangkan pelaksanaan kegiatan Gerbangmas sebagai salah satu media kritik sosial yang membangun pemerintahan yang lebih bersih, baik dan berhasil mensejahterakan masyarakatnya.Bagi masyarakat Lumajang harus lebih peduli terhadap lingkungan serta kesehatan. Hal ini bisa diwujudkan dengan selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan program Gerbangmas selain itu juga sebagai media penyampaian informasi-informasi bagi masyarakat yang diharapkan masyarakat dapat memahami, mengerti dan menghargai akan pentingnya program Gerbangmas untuk mewujudkan Lumajang yang sehat baik Sehat Manusianya, Sehat Lingkungannya dan Sehat Usahanya

Hubungan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn di SMP Negeri 13 Malang / Lailatul Badriyah

 

Kata Kunci: Kebiasaan Belajar, Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar PKn Salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pendidikan. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan ini amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Prestasi belajar merupakan salah satu indikator untuk menentukan kualitas pendidikan. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang menggambarkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam menguasai sejumlah mata pelajaran, diantaranya ialah pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Di dalam proses belajar siswa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi proses belajar ialah kebiasaan belajar, kebiasaan belajar merupakan masalah intern dalam proses belajar siswa, untuk belajar dengan baik siswa harus mengatasi masalah tersebut. Faktor yang tak kalah pentingnya untuk dipahami ialah sarana dan prasarana pencapai tujuan belajar misalnya perlengkapan belajar, alat praktikum, buku teks pelajaran dan sebagainya. Kebiasaan belajar dan prasarana sarana belajar siswa memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar PKn siswa. Sebagaimana kita ketahui proses belajar yang dilakukan oleh siswa akan mempengaruhi hasil belajar atau prestasi belajar PKn siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kebiasaan belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (2) mendeskripsikan fasilitas belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (3) mendeskripsikan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (4) menjelaskan hubungan antara kebiasaan belajar PKn siswa dengan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (5) menjelaskan hubungan antara fasilitas belajar PKn siswa dengan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang; (6) menjelaskan hubungan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar PKn siswa dengan prestasi belajar PKn siswa SMP Negeri 13 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Lokasi penelitian di SMP Negeri 13 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 13 Malang kelas VII dan VIII Tahun Pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 622 siswa, dengan sampel siswa sebanyak 62 (10%). Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 13 Malang dan dokumen. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah metode angket dan dokumentasi. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan inferensial (analisis korelasi). Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kebiasaan belajar siswa SMP Negeri 13 Malang. Sebesar 13% atau 8 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori baik, sebesar 84% atau 52 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori cukup, sebesar 3% atau 2 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori kurang, dan 0% atau 0 siswa memiliki kebiasaan belajar dalam kategori sangat kurang; (2) Fasilitas belajar siswa SMP Negeri 13 Malang. Sebesar 79% atau 49 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori baik, sebesar 21% atau 13 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori cukup, sebesar 0% atau 0 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori kurang, sebesar 0% atau 0 siswa memiliki fasilitas belajar dalam kategori sangat kurang; (3) Prestasi Belajar PKn Siswa SMP Negeri 13 Malang Tahun Pelajaran 2010/2011. Sebesar 1,61% atau 1 siswa memiliki prestasi belajar PKn yang baik, sebesar 91,93% atau 57 siswa memiliki prestasi belajar PKn yang cukup, sebesar 6,46% atau 4 siswa memiliki prestasi belajar yang kurang, dan 0% atau 0 siswa memiliki prestasi belajar yang sangat kurang; (4) Terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara kebiasaan belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa, dengan korelasi sebesar 0,554 dengan taraf signifikan 0,003, besarnya probabilitas 0,003<0,05 sehingga dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan signifikan antara kebiasaan belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa; (5) Terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa dengan korelasi sebesar 0,494 dan taraf signifikan 0,007, besarnya probabilitas 0,007<0,05 sehingga dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan signifikan antara fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa; dan (6) Terdapat hubungan (korelasi) yang signifikan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa, dengan korelasi sebesar 0,556 dan taraf signifikan sebesar 0,007, besarnya probabilitas 0,007<0,05. Berdasarkan analisis uji F diketahui Fh > Ft (14,667 > 3,15) dengan besarnya probabilitas 0,003<0,05, sehingga dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar PKn siswa di SMP Negeri 13 Malang. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan adalah sebagai berikut; (1) sekolah dan guru PKn diharapkan dapat melatih dan memperhatikan kebiasaan belajar dan fasilitas belajar siswa yang cukup dan memadai dalam kegiatan belajar siswa; (2) siswa diharapkan mengetahui dan memahami serta menanamkannya dalam diri bagaimana tehnik-tehnik belajar yang tepat sehingga menjadi suatu kebiasaan belajar yang baik serta memperhatikan pemanfaatan fasilitas yang tepat dan memadai untuk menunjang belajar; (3) perlu diadakan penelitian tentang faktor-faktor lain yang mempengaruhi belajar belajar siswa yang dapat berpengaruh dalam hasil belajar siswa.

Bahan ajar ekonomi untuk pengembangan model pendidikan etika bisnis di SMA/MA / Roh Rahayu Handayani

 

Kata Kunci: Bahan Ajar, Pendidikan Etika Bisnis . Perubahan pendidikan ditekankan pada pentingnya penyesuaian orientasi pendidikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat atau pengetahuan berbasis masyarakat. Secara teori kebijakan pemerintah telah menghasilkan intstitusi pendidikan yang berkualitas, berdaya saing dan relevan dengan perkembangan jaman. Namun empirisnya pendidikan sekuler cenderung membentuk pribadi yang individualis dan materialistis. Maka tak heran jika saat ini lebih banyak ditemukan manusia-manusia yang pragmatis terhadap keadaan sehingga menimbulkan krisis global yang menyentuh dimensi-dimensi intelektual, moral, spiritual. Oleh karena itu upaya untk meningkatkan kualitas pendidikan tidak boleh berhenti salah satunya dengan pengembangan bahan ajar untuk pengembangan pendidikan etika bisnis di SMA/MA. Penelitian pengembangan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan di SMAN 7 Malang kelas X.1 dengan prosedur pengembangan (a) analisis latar belakang, (b) analisis kurikulum, (c) pembuatan perangkat pembelajaran/desain produk, (d) validasi desain, (e) revisi desain, (f) pembuatan produk, (g) uji coba produk, (h) revisi produk, (i) uji coba pemakaian, (j) revisi akhir, (k) produk akhir. Dari hasil penelitian pengembangan ini adalah seperangkat bahan ajar kelas X pada standar kompetensi memahami konsep ekonomi dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di sma/ma kelas x dengan kompetensi dasar (1) mendiskripsikan pola perilaku konsumen dan produsen dalam kegiatan ekonomi, (2) mendiskripsikan circulair flow diagram, (3) mendiskripsikan peran konsumen dan produsen dengan memasukan unsur-unsur pendidikan etika bisnis didalamnya. Bahan ajar ini memiliki kejelasan petunjuk kegiatan mampu menarik minat belajar siswa. Penelitian pengembangan ini memiliki kelebihan yaitu: (a) Materi pembelajaran sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kegiatan bersifat kontekstual, bahasa yang komunikatif, dan tampilan, atau bentuk yang menarik (berdasarkan data verbal uji guru dan siswa). (b) Kegiatan bahan ajar ini sesuai dengan minat dan kemampuan siswa, bahasa yang digunakan mudah dipahami, dan memberikan inspirasi bijaksana dalam tindakan ekonomi dengan pengembangan Etika bisnis.Selain beberapa kelebihan yang telah disampaikan diatas, bahan ajar ini juga tidak lepas dari beberapa kelemahan yaitu: (a) Bahan ajar ini hanya memuat kegiatan untuk siswa dan evaluasi siswa, sehingga dalam penggunaanya guru masih perlu menyusun alat evaluasi, (b) pengembangan bahan ajar ini sampai pada tahap uji coba kelompok siswa dan belum diujicobakan di lapangan.

Penerapan pendekatan SAVI (somatis, auditori, visual, intelektual) untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas VII-D SMP Negeri 20 Malang tahun 2010/2011 / Dwi Ayu Wulandari

 

Kata kunci : pendekatan SAVI, kemampuan, membaca puisi Pembelajaran Bahasa Indonesia meliputi empat aspek keterampilan, salah satunya adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan lain yang lebih tinggi. Pada kelas VII, salah satu kompetensi membaca yang harus dicapai oleh siswa adalah kompetensi membaca puisi. Agar siswa mampu menjadi pembaca puisi yang baik, maka dibutuhkan latihan yang berulang-ulang. Meskipun sebelumnya siswa telah banyak membaca karya sastra (puisi), namun tanpa kemampuan dan keterampilan yang terlatih kemungkinan besar pembacaan akan menjadi monoton. Penelitian ini dilaksanakan karena sebagian besar siswa kelas VII-D merasa tidak percaya diri atau malu ketika membacakan puisi di depan kelas. Skor rata-rata pada saat tes awal kemampuan membaca puisi siswa hanya 60,8, dan masih belum banyak upaya khusus yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca puisi. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI. Keunggulannya adalah pendekatan ini mencoba memanfaatkan semua indera pebelajar dan membuat seluruh tubuh/ pikiran terlibat secara aktif dalam proses belajar sehingga siswa memiliki rasa tanggung jawab dan percaya diri, serta dapat membangun pengetahuannya sendiri. Peneliti bekerjasama dengan guru bidang studi merencanakan tindakan pembelajaran yang diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran membaca puisi sekaligus meningkatkan kemampuan siswa dalam hal membaca puisi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di kelas VII SMPN 20 Malang pada tanggal 23 Maret sampai dengan 27 April 2011. Subjek penelitian ini berjumlah 39 siswa, dengan rincian 19 siswa laki-laki, dan 20 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dan tes membaca puisi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, lembar catatan lapangan, kamera, dan rubrik penilaian. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa pembelajaran membaca puisi dengan menggunakan pendekatan SAVI dapat meningkatkan proses dan hasil kemampuan membaca puisi siswa kelas VII-D SMPN 20 Malang. Peningkatan proses kemampuan membaca puisi terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap praperformansi, performansi, dan pascaperformansi. Pada tahap praperformansi dilakukan kegiatan: (1) pemanasan sastra, (2) menyimak model pembacaan puisi, (3) membaca dalam hati, (4) mencari makna atau isi puisi, (5) memberi tanda pembacaan sastra, dan (6) berlatih membaca puisi dengan teman sejawat. Pada tahap performansi, dilakukan kegiatan: (1) pemanasan, (2) membaca puis di dalam kelompok, (3) perwakilan kelompok membaca puisi di depan kelas, dan (4) memberikan saran atau masukan terhadap pembacaan puisi yang dilakukan oleh teman sejawat. Pada tahap pascaperformansi, dilakukan kegiatan: (1) refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, (2) mengemukan kesulitan yang dialami, (3) memberikan penghargaan pada penampilan terbaik. Berdasarkan hasil analisis data peningkatan kemampuan membaca puisi pada aspek irama diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 82,05% (siklus I), meningkat menjadi 97,44% (siklus II). Pada aspek volume suara juga diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 87,18% (siklus I), meningkat menjadi 97,44% (siklus II). Pada aspek mimik juga diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 53,85% (siklus I), meningkat menjadi 79,49% (siklus II). Pada aspek kinesik juga diketahui terjadi peningkatan siswa yang tuntas dengan kualifikasi sangat baik dan baik sebesar 30,75% (siklus I), meningkat menjadi 76,92% (siklus II). Nilai penampilan siswa pada saat membaca puisi juga meningkat dari rata-rata 68,59 dengan siswa yang tuntas sebanyak 17 anak (43,59%) pada siklus I, menjadi 80,13, dengan siswa yang tuntas sebanyak 32 anak (82,05%) pada siklus II. Dari peningkatan hasil belajar setiap siswa, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan SAVI cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa kelas VII-D SMP Negeri 20 Malang. Untuk lebih meningkatkan kemampuan tersebut, diharapkan agar guru Bahasa Indonesia menciptakan sebuah skenario pembelajaran yang menyenangkan akan tetapi tetap menuntut keaktifan dan keberanian siswa untuk tampil di depan umum. Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian sejenis diharapkan agar memperhatikan penggunaan waktu selama pembelajaran berlangsung.

Perbedaan hasil belajar metode ceramah bermakna dengan metode problem solving pada materi perangkat lunak pengolah angka siswa kelas XI MA Maarif Sukorejo / Agustin Muvidhatul Islamiyah

 

Kata Kunci: Hasil belajar, ceramah bermakna, problem solving Selama ini kegiatan yang dilakukan siswa pada saat proses belajar lebih banyak hanya mendengar apa yang disampaikan guru. Komunikasi yang terjadi adalah komunikasi satu arah, yaitu guru kepada siswa. Dengan pembelajaran satu arah dan lamanya jam pelajaran, menimbulkan kebosanan bagi siswa, sehingga minat siswa pada pelajaran TIK berkurang, hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa masih rendah. Penelitian dengan metode Problem solving ini dilakukan dalam upaya meningkatkan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah pada materi menu dan ikon pengolah angka. Metode problem solving melatih siswa dalam menghadapi masalah. Siswa dipacu untuk kreatif, aktif, dan tanggap dalam menghadapi berbagai masalah. Sedangkan guru memotivasi, memberikan arahan dan menjadi fasilitator. Untuk membantu guru dalam menguatkan konsep dengan simulasi/tahap-tahap pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi ekperimental atau eksperimen semu. Sampel yang digunakan sebanyak dua kelas yaitu kelas XI Bahasa sebagai kelompok eksperimen (kelompok yang diberi perlakuan menggunakan metode problem solving dan kelas XI IPS sebagai kelompok kontrol digunakan metode ceramah bermakna. Teknik analisis data menggunakan uji hipotesis dengan teknik uji-t dua pihak yang digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar yang menggunakan metode problem solving telah terjadi peningkatan hasil belajar, hal ini dapat dilihat pada nilai kemampuan awal siswa dengan nilai rata-rata sebesar 61,12, setelah diadakan perlakuan nilai rata-ratanya menjadi sebesar 85,42, sedangkan hasil belajar menggunakan metode ceramah bermakna hanya 79,04 dari kemampuan awal 62,20. (2) adanya perbedaan hasil belajar pada kelas kontrol dan eksperimen. Hal ini dibuktikan dari nilai Sig < 0,05 pada uji-t dua pihak. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata antara kelas eksperimen dibanding kelas kontrol. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar menggunakan menu ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pengolah angka.

Pengembangan pembelajaran e-learning berbasis moodle pada materi pedosfer kelas X Sekolah Menengah Atas / Hendra Pratama

 

Tesis. Jurusan Pendidikan Geografi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd, (2) Dr. Ach. Amirudin, M.Pd. Kata Kunci: Geografi, Pengembangan, E-learning, Moodle, dan Pedosfer. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat mendorong berbagai lembaga pendidikan memanfaatkan sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran. Teknologi dalam e-learning dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran interaktif, dan dukungan pada pelaksanaan pertemuan tatap muka di kelas (blended learning). inovasi ini dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran materi pedosfer untuk siswa kelas X di SMAN I Malang. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi pembelajaran e-learning pada materi pedosfer yang dapat digunakan sebagai suplemen pembelajaran dan menjadi alat bantu pembelajaran untuk penyampaian materi dan tugas-tugas terstruktur siswa kelas X di SMAN I Malang. Penelitian pengembangan ini menggunakan Learning Management System (LMS) moodle untuk mendesain dan mengatur penyelenggaraan pembelajaran. Prosedur pengembangan pembelajaran e-learning ini melalui 5 tahapan, yaitu: tahap analisis, tahan desain, tahap pengembangan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Produk pengembangan yang dihasilkan berbentuk (1) model web learning materi pedosfer, dan (2) panduan penggunaan untuk siswa dan guru. Pengembangan pembelajaran berbasis e-learning ini telah diujicoba pada kegiatan pembelajaran pada materi pedosfer di SMAN I Malang semester genap tepatnya pada bulan januari hingga awal maret tahun pelajaran 2010-2011. Ujicoba awal berupa pelatihan langsung tentang pengoperasian e-learning secara keseluruhan pada kelas X-7 SMAN I Malang dengan jumlah 37 siswa. Setelah pelatihan selesai maka dilanjutkan implemetasi yaitu penggunaan dalam pembelajaran dimana semua fitur dapat diakses oleh siswa. Hasil implementasi dengan 7 indikator menunjukan hasil implementasi dalam pembelajaran berdasarkan rating scale mendapatkan prosentase 74,4%. Revisi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil implementasi dalam pembelajaran dan masukan dari guru dan siswa. Dari hasil pengujian sistem e-learning ini rata-rata responden tertarik dan antusias menggunakan model pembelajaran ini. Hasil pengembangan telah divalidasi ahli materi dan ahli media masing-masing mendapatkan prosentase 74,3% dan 91,%. Hasil tersebut menunjukkan hasil pengembangan produk sudah baik dan layak untuk digunakan oleh siswa. Berdasarkan temuan penelitian,beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan pengembangan e-learning adalah kajian-kajian pada pemanfaatannya sebagai komplemen pembelajaran. Kajian tersebut meliputi evaluasi dalam hal:(1) karakteristik siswa, sampai sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran berbasis e-learning, (2) kesiapan guru pengampu dan pengelola web (admin), (3) ketersediaan perangkat penunjang.

Unsur lokal dalam pemerintahan Kesultanan Bima masa Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (1640-1682 M) / Imam Yuliadi

 

Kata Kunci: Unsur Lokal, Konsep Kekuasaan, Kesultanan Bima, Sultan Abi”l Khair Sirajudin Kesultanan Bima sebagai salah satu kerajaan Islam di Nusantara abad XV merupakan pusat penyebaran Islam di wilayah Nusa Tenggara. Sebelum menjadi kesultanan, Bima merupakan Kerajaaan Hindu, sehingga dalam hal pemerintahan Kerajaan Bima telah mengalami 2 kali perkembangan yang terjadi karena masuknya dua budaya besar yaitu Hindu dan Islam. Namun sebagai sebuah etnis yang mengalami perkembangan pesat pada abad ke XVI di bawah Sultan Abi’l Khair Sirajuddin tentunya masyarakat Bima memiliki suatu kearifan lokal dalam hal pemerintahan yang menjadi samar dengan masuknya kedua budaya besar tersebut (budaya Hindu dan Islam) Tujuan dari penelitian adalah (1) Menjelaskan konsepsi pemerintahan dalam perspektif lokal, (2) Menjelaskan proses peralihan sistem pemerintahan di Bima dan terbentuknya Kesultanan Bima, (3) Menjelaskan bentuk unsur lokal dalam struktur pemerintahan di Bima masa Sultan Abi’l Khair Sirajuddin (1640-1682 M). Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan antropologi dan bersifat deskriptif analisis. Mulai dari pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Terkait dengan pendekatan antropologi peneliti menggunakan teori makro-mikro kosmos untuk memberikan analisis terhadap konsep kekuasaan di Bima yang merupakan bagian dari unsur lokal yang dimaksud oleh penulis. Pendekatan antopologis juga digunakan untuk melihat pengaruh unsur lokal tersebut pada perkembangan sistem pemerintahan di Bima pada masa kerajaan hingga masa kesultanan. Hasil penelitian ini adalah (1) konsep kekuasaan lokal yang terdapat di Bima adalah konsep makro dan mickro kosmos berupa kesakralan para raja yang dianggap sebagai keturunan para Dewa, dan kesakralan arah mata angin pada para Ncuhi sebagai ketua adat sekaligus penguasa 5 wilayah di Bima (wilayah barat, timur, utara, selatan, dan tengah). (2) sekitar tahun 1620 M Kerajaan Hindu Bima berubah menjadi Kesultanan Islam, setelah beberapa kali perang perebutan kekuasaan dalam keluarga kerajaan antara Sultan Abdul Kahir (Sultan I) dengan pamannya Salisi Mantau Asi Peka. (3) Pada masa Sultan Abi’l Khair Sirajuddin (Sultan II) konsep pemerintahan sebelum Islam berusaha dipertahankan dan disesuaikan dengan konsep Islam sehingga terbentuklah konsep kekuasaan baru yang disebut dengan Dwi Sila, yaitu bentuk perpaduan antara hukum Adat dan hukum Islam. Dalam Dwi Sila tersebut, konsep sangaji yang tetap dipertahankan namun disesuaikan dengan kepercayaan Islam sedangkan konsep ncuhi menjadi terbatas pada tingkat desa, sehingga fungsi ritual dan kekuasaannya terbatas di wilayahnya.

Nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata / Novie Sistiarsih

 

Kata kunci: nilai, etika, novel Kajian nilai etika adalah sebuah bagian kajian filsafat nilai yang mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang etika dalam kehidupan. Novel sebagai suatu bentuk representasi kehidupan nyata yang dituangkan pengarang dalam bentuk karya indah yang bersifat fiktif. Kehidupan nyata yang dialami seorang tokoh dalam novel menjadi acuan dalam penelitian. Hal ini dikarenakan nilai etika merupakan penilaian baik terhadap tindakan seseorang. Tindakan seseorang tersebut harus didasari oleh berbagai unsur antara lain kata hati, rasional, dan kebebasan. Jadi yang menjadi tolok ukur dalam penelitian ini adalah tindakan manusia yang baik dan didasari oleh kata hati, rasional, dan kebebasannya sebagai manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai-nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Representasi nilai-nilai etika tersebut meliputi: (1) representasi nilai etika yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap orang lain sebagai individu; (2) representasi nilai etika yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap orang lain sebagai anggota masyarakat; (3) representasi nilai etika yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan sebagai makhluk Tuhan; (4) representasi nilai etika berdasarkan tindakan terhadap diri sendiri. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filsafat tokoh karena penelitian ini berusaha untuk mengkaji pemikiran tokoh terhadap tindakan yang mereka lakukan. Data dalam penilitian ini adalah kutipan novel yang berupa paparan narasi dan dialog tentang representasi nilai etika dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tersebut. Novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka Yogyakarta pada tahun 2008. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai human instrument yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah (1) membaca secara kromprehensif dan kritis novel Laskar Pelangi, (2) mengidentifikasi kata-kata yang mengandung representasi nilai etika, (3) kodifikasi setiap kata yang ditemukan, dan (4) klasifikasi sesuai rumusan masalah yang disusun. Analisis data dilakukan dengan cara kodifikasi, reduksi data, analisis interpretasi kemudian terdapat hasil temuan. Deskripsi yang diperoleh dari hasil analisis adalah (1) representasi nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap orang lain secara perseorangan dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu (a) Hak kawin terdapat nilai etika tentang membentuk sebuah keluarga harus berdasarkan rasa cinta dan kasih sayang serta penuh tanggung jawab agar keluarganya bisa harmonis; (b) nama baik terdapat nilai etika tentang menghargai, mengakui, menghormati, dan menjaga nama baik orang lain agar tidak terjadi kesalahpahaman; (c) hak berpikir terdapat nilai etika tentang menghargai, menghormati, dan mengakui pendapat orang lain agar tidak terjadi perselisihan; (2) representasi nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan berdasarkan tindakan terhadap orang lain sebagai anggota masyarakat yang dapat dilihat dari segi (a) demokratis terdapat nilai tentang sikap seseorang yang harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dan menjadi seorang pemimpin yang amanah bagi anggotanya; (b) kemanusian terdapat nilai etika tentang pentingnya tolong-menolong, gotong royong, toleransi dan cinta terhadap sesama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai; (c) keadilan sosial terdapat nilai etika tentang cara bersikap adil serta tidak membeda-bedakan suku dan ras; (3) representasi nilai etika dalam Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan sebagai makhluk Tuhan yang dapat dilihat dari segi (a) sifat Tuhan terdapat nilai etika tentang mempercayai sifat-sifat Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha kuasa; (b) hubungan Tuhan dengan manusia terdapat nilai etika tentang habluminallah dan habluminanas; (c) Tujuan hidup terdapat nilai etika tentang seseorang hidup di di dunia harus bekerja dan berkeluarga sedangkan tujuan di akherat dilakukan dengan beramal dan beribadah; (4) representasi nilai etika dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang dilakukan tokoh berdasarkan tindakan terhadap diri sendiri yang dapat dilihat dari segi (a) kebebasan fisik terdapat nilai etika tentang kebebasan menjaga menampilan tanpa mengancam fisik orang lain; (b) kebebasan moral terdapat nilai etika tentang kejujuran, keberanian hidup, kewaspadaan, kebijaksanaan, kesederhanaan, dan teguh pendirian.

Utilizing process genre approach to improve the writing skill of the eight graders of MTs Surya Buana Malang / Lilis Farida Isnawati

 

Thesis, Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd., M.Ed (2) Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd. Key words: writing, approach, process genre, recount, action research Writing holds an increasingly important role in the communication today. Besides, it helps the students to learn as it reinforces the grammatical structure, idioms and vocabulary that have been learnt. Based on the finding of the preliminary study, the teaching writing in the grade eighth of MTs Surya Buana Malang could not be considered successful. The students’ writing score in the preliminary study was low. Of 23 students, only four students were able to pass the minimum passing level of 70. Therefore, the researcher was greatly motivated to overcome the problem by implementing Process Genre Approach in teaching writing. This approach is a combination of the process and genre approaches that allows students to study the relationship between purpose and form of a particular genre as they use the recursive processes of prewriting, drafting, revising, and editing. These steps develop students’ awareness of different kinds of text type and of composing processes. The problem of research was how can Process Genre Approach improve the writing skills of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang in writing recount text? This study used action research design. The researcher and her collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, setting the criteria of success, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subjects of this study were VIII A students of MTs Surya Buana Malang of the 2010/2011 academic year. This study was conducted by following the procedures of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. To collect the data, the researcher used some instrument such as observation checklists, field notes, and students’ writing product. The main activity of the teaching and learning process was BKoF (Building Knowledge of the Field), MoT (Modelling of the Text), JCoT (Joint Construction of the Text), and ICoT (Independent Construction of the Text). In BKoF and MoT, the students were given a recount text then the students analyzed the generic structure, language features, and the connectors used in the text. After that the researcher gave a modeling on how to write a recount paragraph using clustering, outlining, and drafting In JCOT, in groups the students wrote a recount paragraph following the procedure in modeling. In ICOT, the students wrote a recount text independently using the modeled procedure. The findings of the research showed that using Process Genre Approach in teaching writing could improve the students’ writing skill. The improvement was indicated by the attainment of the criteria of success that was the students’ average score of 70 and 60% of the students participated. The students’ average score increased into 66.08 after the implementation of Process Genre approach in Cycle 1 and 78.13 after Cycle 2. The data from the observation check list also showed that at the end of Cycle 1, 59% of the students participated actively and after the implementation of the approach in Cycle 2 the participation increased into 77%. Based on the findings it was suggested that the English teachers apply the Process Genre Approach in teaching writing, especially recount text and used teaching media that suited their students’ ability. To the future researchers, particularly those who are interested in applying process genre approach in their Classroom Action Research, it is suggested that they use the result of the present study as reference and they should use second rater to avoid subjectivity. Furthermore, they should model how to revise and edit a text using revising and editing guide before asking the students to do self revising and editing. Peer and teacher conference is necessary to do to improve students’ motivation. Finally, they should be cautious with time management.

Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial pada remaja yang menggunakan tato dan tindik / Deasy Christia Sera

 

Kata Kunci: konsep diri, penyesuaian sosial, remaja yang menggunakan tato dan tindik Konsep diri adalah keseluruhan aspek-aspek individu mengenai persepsi tentang gambaran dirinya. Penyesuaian sosial adalah usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan kelompok sesuai dengan keinginan dari dalam tuntutan lingkungan. Dengan memiliki konsep diri yang positif maka anak dapat menciptakan hubungan dengan orang lain secara tepat dan menumbuhkan penyesuaian sosial yang baik. Tato adalah seni menghias tubuh dengan gambar tertentu. Tindik adalah seni menghias tubuh dengan melubangi dan memberi perhiasan pada anggota tubuh. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui konsep diri remaja yang menggunakan tato dan tindik; (2) mengetahui penyesuaian sosial remaja yang menggunakan tato dan tindik; (3) mengetahui apakah terdapat hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial pada remaja yang menggunakan tato dan tindik. Jenis penelitian ini adalah korelasional, sedang dalam pengambilan sampel uji coba menggunakan teknik purposive sampel, subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah 38 orang yaitu remaja yang menggunakan tato dan tindik di kota Malang yang berusia 17-21 tahun. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Konsep Diri dan Skala Penyesuaian Sosial. Skala Konsep Diri dan Skala Penyesuaian Sosial yang dikembangkan oleh peneliti. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas aitem konsep diri diperoleh nilai validitas antara 0,349 sampai 0,786 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0.935. sedangkan untuk hasil uji validitas aitem penyesuaian sosial diperoleh nilai validitas antara 0,349 sampai 0,784 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien Alpha Cronbach 0,941. Teknik pengumpulan data menggunakan skala. Teknik analisis data menggunakan analisa deskriptif dan korelasi Pearson. Hasil penelitian dari 38 subyek diperoleh hasil: (1) konsep diri remaja yang menggunakan tato dan tindik berada dalam klasifikasi sangat tinggi (10,53%), tinggi (36,84%), rendah (39,47) dan sangat rendah (13,16%); (2) penyesuaian sosialnya berada dalam klasifikasi sangat tinggi (18,42%), tinggi (23,69%), rendah (36,84%) dan sangat rendah (21,05%); (3) dengan menggunakan tehknik Spearman Brown korelasi antara konsep diri dan penyesuaian sosial sebesar rxy = 0,659 dengan signifikansi (0,000 < 0,05), berarti bahwa ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada semua klasifikasi remaja yang menggunakan tato dan tindik yang positif dan signifikan dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi: (1) remaja yang menggunakan tato dan tindik meningkatkan konsep diri dengan cara untuk meningkatkan konsep diri dengan cara lebih banyak menyadari sisi-sisi positif diri dan meningkatkannya melalui pelatihan-pelatihan mengenai konsep diri. dan berafiliasi orang lain dan memiliki persepsi yang sehat mengenai obyek, peristiwa dalam kehidupannya sehingga remaja akan dapat mengefektifkan proses sosialisasinya; (2) peneliti selanjutnya dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut, mengembangkan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendalami dinamika yang ada pada remaja yang menggunakan tato dan tindik.

Verbal language play of indonesian children in an international elementary school / Deviyanti Rafista

 

Deviyanti, R. 2013. Verbal Language Play of Indonesian Children in an International Elementary School. Thesis, Program Pascasarjana dalam Pengajaran Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata Kunci: permainan bahasa, pemerolehan bahasa, studi kasus, anak-anak Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki produksi permainan bahasa secara lisan dari dua anak Indonesia yang sedang belajar di SD internasional Rainbow Junior International School di Bali ketika mereka berinteraksi dengan teman sejawat dan juga dengan guru dalam keadaan yang natural tanpa manipulasi sedikitpun. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana permainan bahasa dapat berfungsi sebagai input bagi anak Indonesia dalam mempelajari bahasa Inggris di SD internasional Rainbow Junior yang merupakan konteks lingkungan yang natural dalam berbahasa asing. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk menyelidiki produksi permainan bahasa secara lisan di setting sekolah. Observasi yang dilakukan meliputi interaksi yang dilakukan oleh subjek dan permainan bahasa yang mereka gunakan ketika mereka berinteraksi dengan teman dan guru. Untuk mengggolongkan permainan bahasa yang di produksi oleh subjek, peneliti menggunakan 6 kategori yang diadopsi dari Corbett dan Prelock (2006). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kedua subjek memproduksi cukup banyak permainan bahasa. Permainan bunyi (Phonological play) merupakan permainan bahasa yang paling banyak diproduksi oleh kedua subjek yang diikuti oleh permainan kombinasi (combination play), permainan kata (morphological play), permainan arti (semantic play), dan yang terakhir adalah permainan linguistik (pragmatic play). Ditemukan pula bahwa kedua subjek sama sekali tidak memproduksi permainan struktur kalimat (syntactical play). Produksi permainan bahasa Rosie lebih kaya dibandingkan dengan produksi permainan bahasa Didi. Berdasarkan hasil temuan, terdapat beberapa saran bagi orang dewasa dan para peneliti selanjutnya. Orang dewasa disarankan untuk mendukung anak-anak untuk mengeksplor permainan bahasa karena hal itu dapat meningkatkan kemampuan kognitif berbahasa anak dan perkembangan bahasa mereka. Disarankan juga bagi orang dewasa untuk tidak mengkoreksi terus-terusan ketika anak memproduksi bahasa atau kata-kata yang tidak familiar. Yang terakhir, untuk para peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengamati anak-anak dalam memproduksi permainan bahasa di konteks sekolah dan rumah untuk mendapatkan data yang lebih dalam dan kaya.

Pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B pada pembelajaran sains di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang / Uswatun Kasanah

 

Kata Kunci: Lingkungan sekitar sekolah, Pembelajaran Sains, TK Keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang pada pembelajaran sains masih belum maksimal. Anak kurang memperhatikan penjelasan guru, sehingga pada saat ditanya serta menyelesaikan tugas masih banyak yang salah. Kemampuan anak dalam mengelompokkan dan memasangkan benda, menceritakan proses percobaan serta menyebut asal mula sesuatu masih rendah. Hal ini disebabkan pemanfaatan sumber belajar serta strategi pembelajaran yang belum memenuhi sasaran. Masalah yang akan diteliti adalah: 1) Bagaimana langkah-langkah pelaksanaan kegiatan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan konitif anak kelompok B 2) Apakah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak tentang konsep sains sederhana 3) Apakah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah dapat meningkatkan keaktifan anak dalam belajar sains. Penelitian ini dilakukan di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang mulai tanggal 19 sampai dengan 28 April 2011, dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan , yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas kelompok B. Hasil penelitian pada siklus I rata-rata keaktifan anak sebesar 81% pada siklus II mencapai 94%, untuk skor rata-rata kemampuan kognitif anak siklus I sebesar 78% dan pada siklus II menjadi 95%. Dapat disimpulkan bahwa dengan memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar sekolah dalam pembelajaran sains dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B di TK-SD Satu Atap Mergosono 2 Malang. Kegiatan pembelajaran sains ini meliputi; 1) mengelompokkan benda (daun, buah, sayuran) melalui kegiatan secara langsung dengan benda aslinya, 2) menyebutkan asal mula sesuatu melalui kegiatan proyek memasak, 3) memasangkan benda sesuai pasangannya melalui metode karya wisata ke kebun sekolah), 4) menjelaskan proses kegiatan atau percobaan tentang pertumbuhan tanaman melalui kegiatan menanam biji dan batang pohon singkong. Disarankan bagi para pendidik anak usia dini untuk memanfaatkan beragam sumber belajar terutama yang terdekat dengan anak pada pembelajaran sains ini dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak karena anak akan memperoleh pengalaman secara langsung dengan obyek yang sedang dipelajarinya serta lebih meningkatkan kecintaannya pada lingkungan yang ada di sekitarnya.

Strategies in learning English used by the succesful learners of English at Laboratory Junior High School State University of Malang: a case study / Wulan Rahayu

 

Key words: learning strategies, successful learners. This study focuses on the language learning strategies used by the successful learners of English. This is important to study it because learning strategies empowered learner to manage their own learning. By knowing their strategies students will be able to improve their strategies. Besides that, they will also be aware of the strategies that might be more beneficial to be used and which strategies that do not really give significant influence. In addition, successful learners’ strategies could provide a basis for developing autonomous learners. The research design of this study was case study research. Using a case study design, the study could go into the details of the phenomenon to be examined, which in this case was the learning strategies used by the successful learners of English. The subjects of this study were two successful learners of English. These subjects were VII grade students of junior high school of UM Lab school. The selection of the subjects was done purposely based on some indicators of success such as their grades in their semester transcript and Teacher’s comments about their English performance also become the consideration. The data in this study were collected through questionnaire, Strategy Inventory for Language Learning (SILL) questionnaire and open-ended questionnaire, and interview. The data gained from the questionnaire, was classified based on the objective of this research. Then it was analyzed to get the interpretation of the strategies that were used by the subjects of the study. The data from interview was in the form of verbal explanation given by the subject. The verbal explanation was analyzed to support the data gained from the questionnaire. The result of this study showed that the successful English learners in this study, generally used strategies in their learning of English. The average score of their strategies used belonged to high category, which meant that they often used strategies in their learning of English. They used direct and indirect strategies. For direct strategies, the order based on the frequency of its used was first Cognitive strategies, second Memory strategies, and third Compensation strategies. Cognitive strategies got the highest average score, which meant that these strategies were often used by the subjects. For Indirect strategies, the order based on the frequency of its used for the first subject was first Social strategies, second Metacognitive strategies, and the third Affective strategies; while for the second subject first Affective strategies, second Metacognitive strategies, and third Social strategies. For the first subject, social strategies that were used more often, while for the second subject among indirect strategies affective strategies that were used more often. Based on the result of the study, the successful learners used strategies in their learning of English, thus English learners are expected to be aware of their learning strategies and improve them in the process of their learning of English. For the less successful learners, it is recommended to develop kinds of learning strategies in their learning of English and apply them in their learning activities. English teachers are suggested to train and facilitate their students to apply and improve their strategies in their learning of English. It is recommended that English teachers can create teaching and learning activities that can help students to develop effective learning strategies. By training the students to used strategies in learning, teachers can help the students to be autonomous learners. For further researches, it is suggested to conduct similar study that investigate topics related to learning strategies such as factors affecting the choice of learning strategies or the less successful learners strategies, thus there would be a continuation of study that dealing with the learning strategies used by EFL learners in Indonesia.

Studi tentang pemilihan busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang / Mamba'ul Ulum

 

Kata Kunci: Studi, pemilihan busana. Pemilihan busana yang tepat merupakan salah satu unsur pendukung dari penampilan diri seseorang. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi seseorang dalam pemilihan busana, dari kenyataan tersebut menarik keinginan peneliti untuk melakukan kajian tentang faktor apa yang mempengaruhi cara pemilihan busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini yaitu faktor internal jasmaniah, faktor internal psikologis, faktor internal kelelahan, faktor eksternal keluarga, faktor eksternal kampus dan faktor eksternal masyarakat. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 2008, yang terdiri dari 60 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2007 dan 54 mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana tahun angkatan 2008. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Random Sampling dan tiap kelas diambil secara random sebanyak 50%, sehingga sampelnya berjumlah 58 mahasiswa. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu faktor yang mempengaruhi cara berbusana. Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Uji validitas dan reabilitas perlu dilakukan untuk mengetahui apakah nilai dari setiap item tersebut sudah valid dan reliabel, setelah semua data sudah valid dan reliabel, angket dibagikan kesampel yang sebenarnya. Setelah semua data terkumpul lalu diolah dengan program computer SPSS 16.0, kemudian menentukan rentang skornya, menentukan panjang kelas interval, menentukan banyaknya presentase dan dari hasil setiap presentase tersebut di deskripsikan. Masing-masing faktor memiliki pengaruh dalam cara pemilihan busana mahasiswa dengan presentase yang berbeda-beda. Akan tetapi faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi cara pemilihan busana pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang Angkatan 2007 dan 2008 adalah faktor internal psikologis, dimana mahasiswa akan berusaha memilih busana sesuai dengan waktu, kesempatan, situasi, kondisi tubuh, warna kulit, dan usia. Selain itu mahasiswa juga akan memilih busana yang menarik perhatian dan berusaha mengikuti trend yang sedang berlaku, sedangkan faktor yang terendah adalah faktor internal kelelahan. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Mahasiswa diharapkan bisa menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dibangku kuliah tentang bagaimana berbusana yang rapi dan sopan ketika kekampus untuk melaksanakan perkuliahan ataupun untuk menghadap ke dosen. (2) Mahasiswa diharapkan lebih memperhatikan cara pemilihan busana dengan memperbanyak dan memahami pengetahuan dalam berbusana agar dapat berperilaku busana yang lebih baik, serasi, indah, menarik dan ideal. (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk menambah variabel penelitian yang lebih variatif, sehingga dapat meneliti berbagai macam faktor yang mempengaruhi pemilihan busana, serta memperluas atau tidak membatasi populasinya.

Kajian kapasitas dan kekuatan lentur balok I (I-joist) dari kayu sengon dengan perkuatan lentur berbahan bambu petung / Andi Rubiantoro

 

Kata kunci: kapasitas lentur, kuat lentur, balok I (I joist) Widianto (2010) telah melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa balok berpenampang I (I-Joist) lebih kuat dari pada balok konvensional berpenampang persegi dengan jenis bahan kayu sengon dan volume bahan yang sama. Penelitian yang telah dilakukan Widianto (2010) masih dapat dikembangkan lebih jauh untuk meningkatkan kapasitas lentur balok I (I-Joist). Kayu sengon dengan nilai kuat lentur rata-rata sebesar 475,17 kg/cm2 (Kasmudjo, 1995) dan sebesar 475,88 kg/cm2 (Karyadi dan Suwarno, 2006), penambahan perkuatan menggunakan bahan dengan nilai kuat lentur yang lebih tinggi dari kayu sengon, seperti bambu petung, yang menurut Eratodi (2008) memiliki kuat lentur sebesar 117.986 kg/cm2, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas lentur balok I (I-Joist). Tentu saja penambahan perkuatan lentur tersebut akan diikuti dengan bertambahnya biaya, waktu serta tenaga yang dibutuhkan dalam proses pembuatan balok I (I-Joist). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Pengumpulan data berkenaan dengan nilai beban terpusat P sebagai parameter kapasitas lentur dan lendutan balok I (I-Joist) dari bahan papan kayu sengon dengan perkuatan lentur maupun tanpa perkuatan lentur dari bahan bilah bambu petung. Pengadaan dan persiapan bahan penyusun bambu petung dan kayu sengon dilakukan di Desa Supiturang, Karangploso. Sedangkan pelaksanaan eksperimen mulai dari pembuatan benda uji sampai dengan mengumpulkan data dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah nilai kapasitas lentur dan kuat lentur balok I (I -Joist), sedangkan variabel bebasnya adalah bentuk penampang balok. Hasil penelitian menunjukkan (1) penambahan perkuatan lentur dari bahan bilah bambu petung tidak efisien karena perbandingan antara persentase rata-rata tegangan lentur bambu petung yang telah diaplikasikan sebagai bahan perkuatan lentur pada benda uji balok I (I-Joist), sebesar 0,747 % dari tegangan lentur ultimit (MOR) rata-rata bambu petung, dengan persentase rata-rata tegangan lentur kayu sengon yang telah diaplikasikan menjadi sebuah bentuk benda uji balok I (I-Joist), sebesar 3,973 % dari tegangan lentur ultimit (MOR) rata-rata kayu sengon, menghasilkan selisih perbandingan yang cukup besar, yaitu 3,226 %. (2) Tidak terpenuhinya beban P hasil perhitungan analitis oleh beban P hasil eksperimen menghasilkan nilai faktor reduksi. Rerata faktor reduksi terhadap beban P hasil perhitungan analitis untuk keseluruhan benda uji tanpa perkuatan lentur adalah 0,549. Sedangkan rerata faktor reduksi terhadap beban P hasil perhitungan analitis untuk keseluruhan benda uji dengan perkuatan lentur adalah 0,865. Adanya faktor reduksi tersebut disebabkan asumsi benda uji bekerja secara monolit sempurna tidak dapat diaplikasikan pada benda uji yang sesungguhnya.

Using story grammar strategy to improve the eight graders' reading comprehension of narrative text (at MTs Miftahul Mubtadiin Muncar Banyuwangi) / Tri Mulyati

 

Thesis.Graduate Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Suharmanto, M.Pd, (II) Dr. RoembilinSoepadi, M.A. Key words: Story Grammar, reading comprehension, narrative text This research was designed to describe how the Story Grammar strategy can improve the eighth graders’ reading comprehension of narrative text at MTs MiftahulMubtadiinMuncar. The story grammar strategy through story mapping was selected because it was reported that the elements of story visually represented in the story maps provide a clear picture of the narrative text structures in the students’ mind and guide them through the text and finally improve their reading comprehension. Thus, this study was directed to solve the students’ problems in comprehending narrative texts in terms of recognizing meaning of words in the text, meaning of sentences in the text, topic of the text, and the rhetorical structures of the narrative text. Collaborative Classroom Action Research was employed. The subjects of the research were the eighth graders of second semester (VIII-3) of MTs MiftahulMubtadiinMuncar in the 2010-2011 academic year. This research was conducted in two cycles comprising four stages of action research, i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The implementation of the action encompassed three meetings in Cycle 1 and two meetings in Cycle 2. It was started with an initial introduction in the first meeting. Here, the teacher read out aloud a narrative text. Then, she modeled the students how to make a story map out of a narrative text and explained to them about the elements of narrative text. She also modeled how to answer reading comprehension questions. Afterward, the teacher applied this strategy to the students by asking them to practice and internalize the strategy in their own time. When applying the story grammar strategy to the students, the teacher asked them to work in pairs. She also distributed the students’ worksheet. Then, the implementation of story grammar strategy in the following meetings was encompassed through three stages: pre-reading, whilst-reading, and post-reading. The steps in the pre-reading stage are: (1)activating the students’ schemata by showing pictures and or giving schema related questions; (2) introducing some irregular verbs; (3) modeling on how to memorize them through body movement. The steps in the whilst-reading stage are: (4)askingthe students to read the text once or twice silently; (5) asking the students to make a story map with their peers; (6) guiding the students by giving some questions which bring out the basic parts of the narrative text to them, such as, who the story is about, what happens in the story, where the story takes place, and how the story ends; (7) providing the list of vocabulary and assistance. The steps in the post-reading stage are: (8) discussing the story maps that the students made in pairs; (9) asking the students to answer the comprehension questions; (10) discussing the answers with the whole class. The students’ reading comprehension achievement in the form of score and the information on students’ interaction during the teaching and learning process were obtained by administering a reading comprehension test at the end of each cycle and by using observation checklists and field notes. The findings of this research indicated that the story grammar strategy was successful in improving the students’ reading comprehension of narrative texts. The comparison of the result of reading comprehension in the preliminary study and in Cycle 2 indicated that 21 students reached gain score of ≥ 20 points. Dealing with the students’ interaction, it also seemed that students were enthusiastic and actively involved in all activities. Based on the research findings, teachers are recommended to use the story grammar strategy as one of alternatives strategies for English instruction. Considering the positive effects of story grammar strategy, students are suggested to apply this strategy in reading narrative texts. For other researchers, it is suggested to conduct a study on story grammar strategy by employing other research designs with reading materials at the same or higher level to find out the advantages of this strategy in the teaching of reading.

Penerapan metode bermain kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kabupaten Blitar / Asyroful Ma'wa

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, bermain kartu kata ,TK Penelitian ini berlatar belakang pada anak yang mengalami kesulitan dalam mengenal kata – kata sejenis, menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya.Guru belum menggunakan metode yang tepat dalam mengembangkan kemampuan tersebut. Penyebab dari kesulitan tersebut adalah metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran kurang menarik bagi anak, anak merasa bosan dan bermain sendiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode bermain kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa kelompok B,(2) Mendeskripsikan hasil penerapan metode bermaian kartu kata untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kab.Blitar. Pendekatan adalah pendekatan kualitatif dengan model PTK. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan ,yaitu perencanaan, pelaksanaan,observasi,dan refleksi. Subyek penelitian guru dan anak didik kelompok B di TK Al Hidayah Bendosewu Talun Kabupaten Blitar, dengan jumlah peserta didik 25 anak. Penelitian di lakukan pada tanggal 9 Mei 2011 sampai dengan 20 Mei 2011. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelas.Instrumen yang digunakan adalah (1) Aktivitas siswa dalam bermain kartu kata (2). Peningkatan kemampuan berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain kartu kata dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak TK.Pada siklus I aktivitas Kemampuan rata rata anak mencapai 67 % dan meningkat menjadi 84% pada siklus II. Pada siklus I ke siklus II kemampuan anak mengalami peningkatan yaitu 17 % Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan langkah-langkah metode bermain dengan menggunakan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat menerapkan langkah metode pembelajaran yang inovatif,menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pengembangan dan efektifitas media pembelajaran untuk meningkatka hasil belajar siswa dengan media visual sejarah kelas XI di SMA Negeri 9 Malang / Sucipto

 

Kata Kunci: pengembangan media visual sejarah ,efektifitas media pembelajaran, hasil belajar. Media pembelajaran kurang dimanfaatkan oleh guru sejarah di SMA Negeri 9 Malang, sehingga dalam penyampaian materi sejarah kurang menarik bagi peserta didik/siswa. Media yang biasa digunakan oleh guru selama ini buku teks, penggunaan papan tulis, permainan monopoli dengan menggunakan soal-soal. Guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Malang juga belum menggunakan variasi media, bahkan peta juga jarang digunakan. Kurangnya variasi dalam penggunaan media menyebabkan minat peserta didik terhadap pelajaran sejarah juga kurang. Penggunaan metode yang kurang tepat dan penggunaan media yang belum memadai, menyebabkan hasil belajar siswa rata-rata kelas XI IPS masih dikisaran KKM mata pelajaran sejarah yang ditetapkan pihak sekolah yaitu 75. Oleh karena itulah dilakukan sebuah penelitian pengembangan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini, yaitu (1) Bagaimana mengembangkan media visual sejarah untuk bahan ajar Kelas XI di SMA Negeri 9 Malang?, (2) Bagaimana efektifitas penggunaan media visual sejarah? dan (3) Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan media visual di SMA Negeri 9 Malang?. Tujuan pengembangan yaitu (1) Untuk menghasilkan media visual sejarah sebagai media pembelajaran. (2) Untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran. (3) Mediskripsikan hasil belajar siswa kelas XI yang mengalami pembelajaran dengan menggunakan media visual sejarah di SMA Negeri 9 Malang. Penelitian ini menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Model pengembangan software ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) tahap identifikasi kebutuhan materi dan media; (2) tahap perancangan prototipe yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan, dan editing; (3) tahap produksi prototipe software; (4) tahap validasi kelompok kecil yang terdiri dari tiga subjek validasi yaitu ahli media, ahli materi, dan audiens; (5) tahap revisi; dan (6) tahap pengemasan akhir. Hasil penelitian menyatakan bahwa media ini secara keseluruhan mendapatkan penilaian 94 (Valid) dari ahli media, 86 (Valid) dari ahli materi, 94 (valid) dari siswa pada uji coba individu, 94 (Valid) dari siswa pada uji coba terbatas, dan 95 (Valid) pada uji coba lapangan. Selain itu, media pembelajaran ini juga terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah penelitian menggunakan media visual sejarah, ternyata media ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan pada peningkatan nilai yang didapat oleh siswa sebelum menggunakan media (pre test) dan setelah menggunakan media (pos test). Pada uji coba individu, uji coba terbatas dan uji coba lapangan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan setelah mengalami pembelajaran menggunakan media visual sejarah. Produk ini dibuat hanya untuk materi Hindu-Budha yang merupakan salah satu produk bahasan di dalam Standar Kompetensi, oleh karena itu, disarankan kepada pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk pokok bahasan lainnya seperti: Kehidupan Pra-Sejarah, Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Pendudukan Jepang di Indonesia, dan lainlain.

Media interaktif berbasis audio visual untuk pembelajaran menyimak bahasa Jawa kelas VII SMP / Nikmatul Zuliana

 

Kata Kunci: Media Interaktif, Pembelajaran Menyimak, Dongeng Bahasa Jawa. Menyimak memiliki tujuan meresepsi pemahaman dari materi yang disimak. Untuk kepentingan tersebut materi harus didesain menarik agar indikator pembelajaran yang diinginkan tercapai dan siswa tertarik mempelajarinya. Untuk lebih meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran menyimak bahasa daerah yang efektif dan efisien dibutuhkan media. Penggunaan media yang tepat dapat menimbulkan suasana pembelajaran menyimak bahasa daerah yang menyenangkan di dalam kelas. Dalam penelitian ini dikembangkan suatu media untuk pembelajaran menyimak bahasa Jawa. Pembelajaran menyimak bahasa Jawa ini difokuskan pada pembelajaran menyimak dongeng bahasa Jawa pada siswa kelas VII SMP. Hal tersebut diharapkan mampu membantu guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Media yang dikembangkan bersifat interaktif sehingga siswa dapat mengoperasikan sendiri media tersebut sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah tertera dalam media. Tujuan pengembangan media ini adalah menghasilkan produk media interaktif berbasis audio visual untuk menyimak dongeng. Selain itu, juga untuk mendeskripsikan isi dan bahasa produk media yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan siswa. Media menyimak dongeng bahasa Jawa menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko dan krama. Produk akhir penelitian pengembangan ini berbentuk CD-Multimedia Interaktif. Rancangan penelitian ini meliputi 3 tahap yakni tahap prapengembangan, pengembangan, dan pascapengembangan. Sebelum diuji coba pada kelompok terbatas, produk terlebih dahulu melalui tahap uji ahli oleh ahli materi, guru, dan ahli media untuk menilai dan memberi masukan pada produk media. Selanjutnya dilakukan revisi berdasarkan penilaian dan masukan dari uji ahli. Setelah produk direvisi, dilakukan uji kelompok terbatas yaitu siswa kelas VII SMP 2 Malang yang berjumlah 24 siswa. Instrumen uji coba berupa angket yang berisi deskripsi pedoman penilaian. Hasil uji coba produk kepada ahli materi dan guru mengenai isi dan bahasa menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan sudah cukup layak. Kelayakan tersebut diperoleh dengan persentase 74,27%. Hasil uji coba produk kepada ahli media mengenai tampilan media juga menunjukkan bahwa produk media cukup layak dengan perolehan persentase 68,75%. Di samping itu, hasil uji coba tampilan produk dari ahli materi dan guru diperoleh presentase 63,89% yang berarti bahwa media sudah cukup layak. Namun saran dan masukan dari ahli materi, guru, dan ahli media perlu dilaksanakan dalam bentuk revisi pada beberapa bagian isi, bahasa, dan tampilan media untuk lebih meningkatan kualitas produk media. Sedangkan, hasil uji kelompok terbatas diperoleh persentase 82,41% untuk isi dan bahasa media. Sedangkan untuk tampilan produk media diperoleh persentase sebanyak 78,48%. Berdasarkan kriteria interpretasi produk media menyimak dongeng bahasa jawa sudah layak dari segi isi, bahasa, dan tampilan sehingga tidak perlu dilakukan revisi.

Pengembangan alat evaluasi dalam pembelajaran bahasa Arab Madrasah Aliyah untuk kemahiran membaca dengan program Hot Potatoes di kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I / Agus Jauhar Makmun

 

Kata kunci: alat evaluasi, hot potatoes, madrasah aliyah. Dewasa ini para pebelajar dituntut untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Sistem pembelajaran kuno seperti teacher centered sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan dalam pembelajaran masa kini. Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi mendorong manusia untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun. Di samping itu, metode pembelajaran bahasa Arab yang konvensional dan klasik menuntut pendidik untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar peserta didik lebih termotivasi dalam belajar bahasa Arab. Media tersebut berupa alat evaluasi berbasis Hot Potatoes yang memberikan output berupa ringkasan materi dan latihan soal. Inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk belajar bahasa Arab secara mandiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (a) membuat langkah-langkah penggunaan perangkat lunak Hot Potatoes sebagai alat evaluasi pembelajaran bahasa Arab peserta didik kelas X Madrasah Aliyah Negeri Malang I. (b) mengembangkan alat evaluasi yang digunakan dalam perangkat lunak Hot Potatoes untuk evaluasi pembelajaran bahasa Arab peserta didik kelas X MAN Malang I semester genap. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan. Uji lapangan dilaksanakan di MAN Malang I, kota Malang, Jawa Timur. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X MAN Malang 1. Prosedur penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi/analisis kebutuhan, (2) studi pendahuluan, (3) menelaah dan memilih materi, (4) mengembangkan media desain program Hot Potatoes dan tahap produksi awal, (5) uji coba awal pada kelompok kecil, (6) tahap validasi dari ahli materi dan ahli media (7) tahap revisi awal dan penyempurnaan, (8) uji coba kedua di lapangan, (9) revisi produk akhir, dan (10) hasil produk akhir. Hasil penelitian adalah berupa produk yakni alat evaluasi bahasa Arab berbasis web yang telah divalidasi oleh ahli di bidang isi produk, ahli di bidang perancangan produk dan sasaran pengguna produk (peserta didik MAN Malang I). Berdasarkan hasil validasi dan uji coba, program ini telah mencapai tingkat kelayakan 86,9% (valid) dan telah memenuhi kategori alat evaluasi yang cocok untuk peserta didik. Dalam model perangkat lunak tersebut disajikan materi membaca bahasa Arab dengan mengacu pada buku yang dipakai untuk peserta didik MAN Malang I. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar alat evaluasi ini dapat digunakan sebagai referensi dan mengevaluasi hasil belajar bagi peserta didik.

Pengaruh metode pengelolaan diri (self-management) terhadap berat badan remaja putri yang mengalami obesitas di SMA Negeri 1 Kepanjen / Siska Dwi Jayanti

 

Kata Kunci: metode pengelolaan diri (self-management), berat badan Obesitas merupakan suatu kondisi kronis yang menunjukkan adanya penumpukkan lemak tubuh yang melebihi normal. Remaja memiliki kecenderungan untuk mengalami penambahan berat badan sebagai akibat dari masa pubertas. Obesitas yang terjadi pada masa remaja perlu mendapat penanganan khusus karena remaja yang obesitas memiliki kecenderungan menjadi dewasa yang obesitas dan rentan terhadap masalah psikologis. Pada remaja khususnya remaja putri sering memilih diet yang tidak sehat dalam menurunkan berat badan dan permasalahan berat badan yang turun-naik tidak dapat dihindari hal ini disebabkan tidak diimbangi dengan perubahan perilaku. Metode pengelolaan diri (self-management) merupakan salah satu metode pengubahan perilaku yang mana klien sendirilah yang dapat mengurangi/ mengubah perilaku lama yang tidak efektif melalui bantuan minimal dari seorang konselor/ terapis dengan menggunakan suatu teknik atau kombinasi teknik tertentu – pemantauan diri, kendali rangsang dan hadiah diri – dalam mempelajari hal-hal yang baru dan mengatur kembali lingkungannya. Metode pengelolaan diri (self-management) diduga mempunyai pengaruh terhadap perubahan berat badan pada remaja putri yang mengalami obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengelolaan diri (self-management) terhadap berat badan remaja putri yang mengalami obesitas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design. Variabel eksperimental dalam penelitian ini adalah metode pengelolaan diri (self-management) dan variabel terikat adalah berat badan pada remaja putri yang obesitas. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling incidental. Subyek penelitian berjumlah tiga orang remaja putri yang mengalami obesitas di SMA Negeri 1 Kepanjen. Analisis hasil penelitian adalah analisis komparatif menggunakan uji statistik nonparametrik two related sample dengan uji Wilcoxon. Uji hipotesis menunjukkan hasil nilai Z= -1.604 dengan signifikansi 0.109 (p> 0.05) yang berarti bahwa tidak ada pengaruh metode pengelolaan diri (self-management) terhadap berat badan remaja putri yang mengalami obesitas. Ketidakberhasilan metode pengelolaan diri dalam mempengaruhi berat badan pada remaja putri yang mengalami obesitas disebabkan oleh waktu pelaksanaan treatment yang terlalu singkat, prosedur pengelolaan diri yang belum dilakukan secara maksimal, komitmen dan motivasi yang cenderung berubah pada remaja dan kurangnya dukungan dari lingkungan. Metode pengelolaan diri untuk menurunkan berat badan diduga kurang sesuai jika diterapkan pada remaja karena emosi pada remaja cenderung fluktuatif yang dapat mempengaruhi motivasi dalam melakukan pengelolaan diri. Dalam penelitian ini terdapat variabel ekstra yang mempengaruhi penelitian dan perlu dikontrol dengan ketat diantaranya komitmen dan motivasi, serta kondisi lingkungan di sekitar subyek. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan pada penelitian selanjutnya melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap variabel-variabel yang ikut berpengaruh selama proses penelitian.

Hubungan minat menjadi guru dengan prestasi PPL mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang / Ahmad Fajar Hidayat

 

Kata Kunci: minat menjadi guru, prestasi. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan suatu pekerjaan, karena dapat memotivasi individu untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Karena itulah, individu akan merasa bahagia dan berhasil dalam pekerjaannya jika minatnya sesuai dengan pekerjaannya. Individu tidak perlu mendapatkan dorongan dari luar apabila pekerjaan yang dilakukannya cukup menarik minat. Demikian juga calon guru akan bekerja dengan sungguh-sungguh jika memang berminat untuk menjadi seorang guru Jenis penelitian ini adalah korelasional. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana minat mahasiswa jurusan teknik sipil Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan untuk menjadi guru dan pengaruhnya terhadap prestasi PPL. Penelitian dilaksanakan terhadap mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan FT UM yang sudah memprogram Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2 (dua) tahun terakhir (tahun 2008 dan 2009). Instrumen dalam penelitian ini berupa angket yang telah di validitas dan reabilitas. Data tentang minat menjadi guru dijaring dengan menggunakan angket sedangkan data tentang prestasi praktek pengalaman lapangan diambil dari nilai akhir PPL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, Minat mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang untuk menjadi guru cukup tinggi. Hasil analisis menyatakan 56,70% (34) dari 60 mahasiswa yang diteliti memiliki minat yang cukup tinggi untuk menjadi guru. Kedua, Dari 60 mahasiswa yang diteliti rata-rata memiliki tingkat penguasaan PPL antara 84% sampai 90% atau memiliki nilai pada rentangan 3,70 sampai 3,99 (A-). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi praktik pengalaman lapangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang memiliki predikat memuaskan.Ketiga, terdapat hubungan yang signifikan antara variabel bebas (minat menjadi guru) dengan variabel terikat (prestasi PPL). Hal ini dinyatakan dengan nilai R hitung sebesar 0,762 yang mendekati angka 1.

Hubungan kemampuan adversity dan intensi berwirausaha pada siswa SMK Yayasan Pendidikan Ma'arif 1 Taman Sidoarjo / Dwi Ratih Anomsari

 

Kata Kunci : kemampuan adversity, intensi berwirausaha. Berdasarkan fakta yang dikemukakan oleh Bapak Dharmawan, ketua organisasi kewirausahaan, banyak lulusan SMK yang belum siap bekerja dan menjadi pengganguran. Hal ini disebabkan para lulusan SMK tidak berani berwirausaha karena takut akan kesulitan dan kegagalan. Disamping itu pula, meningkatnya kebutuhan hidup yang menuntut adanya pemenuhan, mendorong siswa SMK untuk segera lulus dan dapat mencari penghasilan sendiri dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki dalam wirausaha (Dharmawan, 2011). Berwirausaha merupakan salah satu pilihan yang rasional mengingat sifatnya yang mandiri, sehingga tidak tergantung pada ketersediaan lapangan kerja yang ada. Salah satu faktor pendukung wirausaha adalah keinginan. Ini oleh Fishbein dan Ajzen (dalam Dayaksini & Hudaniah, 2006) disebut sebagai intensi, yaitu komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Intensi berwirausaha adalah keinginan yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan wirausaha dengan berani mengambil resiko dalam menangani usaha yang mengarah pada upaya, mencari, menciptakan, menerapkan, cara kerja, teknologi, dan produk baru. Sedangkan kemampuan adversity adalah kemampuan seseorang dalam bereaksi terhadap kesulitan yang dihadapinya (Stoltz, 2000). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional dengan besaran sampel berjumlah 86 siswa yang ditentukan dengan teknik simple random sampling. Hasil uji validitas aitem kemampuan adversity diperoleh nilai validitas antara 0.304 sampai 0.686 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien alpha cronbach 0.786. sedangkan untuk hasil uji validitas aitem intensi berwirausaha diperoleh nilai validitas antara 0.304 sampai 0.727 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien alpha cronbach 0.925. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemampuan adversity dengan intensi berwirausaha pada siswa SMK YPM 1 Taman Sidoarjo (rxy = 0.774, sig.= 0.000 < 0.05). Artinya semakin tinggi kemampuan adversity siswa maka semakin baik intensi berwirausahanya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa siswa SMK YPM 1 Taman Sidoarjo yang memiliki kemampuan adversity tinggi sebanyak 1 siswa (2%), sedang 37 siswa (82%), dan rendah 7 siswa (16%). Sedangkan siswa SMK YPM 1 Taman Sidoarjo yang memiliki intensi berwirausaha tinggi sebanyak 6 siswa (13%), sedang 34 siswa (76%), dan rendah 5 siswa (11%). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada : (1) siswa: dapat mengidentifikasi seberapa besar skill competence dan motivasi yang dimilikinya (2) sekolah: meningkatkan kinerjanya, dalam hal ini memperbaiki metode pengajaran program kewirausahaan agar lebih menarik (3) peneliti selanjutnya: dapat mengembangkan penelitian tentang kemampuan Adversity misalnya menjadikan tipe Adversity sebagai variabel penelitian.

Pengembangan sumber belajar E-learning materi desain grafis berbasis vektor untuk sekolah menengah atas / Achmad Subagiyono

 

Kata Kunci: Pengembangan sumber belajar, desain gafis, internet. Desain grafis merupakan salah satu bidang multimedia yang banyak mendapatkan perhatian di dunia usaha dan dunia industri, salah satu program aplikasi yang digunakan adalah CorelDRAW. Karena adanya keterbatasan pemanfaatan sumber belajar pada materi desain grafis di SMA N 1 Wates yang selama ini digunkan hanya mengacu pada media cetak (buku). Maka usaha untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pengembangan sumber belajar yang mana bisa diakses kapan saja, dimana saja tanpa adanya keterbatasan tempat, ruang dan waktu, sehingga peserta didik dapat belajar lebih mandiri. Penelitian ini akan mengembangkan sumber belajar e-learning materi desain grafis berbasis vektor untuk sekolah menengah atas Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Arif Sadiman Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli media, ahli materi, dan responden. Sampel uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil diambil dari peserta didik SMA Negeri 1 Wates-Kediri. Sumber belajar yang dihasilkan berbentuk web yang terdiri dari modul berupa teks dalam format Pdf, ilustrasi gambar/foto, audio-video, dan dilengkapi fasilitas penunjang seperti: forum, chat,kuis dan latihan atau penugasan. Sumber belajar menggunakan Moodle ini dapat diakses melalui internet yang dapat digunakan untuk pembelajaran baik dalam maupun di luar kelas. Hasil uji coba kelayakan sumber belajar dari ahli media mendapat persentase 89,1%, dari ahli materi mendapat persentase 92,9%, dan dari peserta didik 91,61%. Berdasarkan hasil kelayakan tersebut, sumber belajar berbasis web untuk pembelajaran e-learning materi desain grafis berbasis vektor pada SMAN 1 Wates dapat disimpulkan layak digunakan sebagai sumber belajar.

Pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 8 Pasuruan / Akhmad Nur Shalih

 

Kata kunci: pengembangan, VCD pembelajaran, teknik dasar headstand, senam lantai. Teknik dasar headstand merupakan salah satu materi yang diajarkan pada kelas VIII di SMP Negeri 8 Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan, pada pelaksanaan pembelajaran guru memberikan latihan gerobak dorong, sit up dan back up kemudian pada materi inti guru meberikan contoh sikap headstand setelah itu siswa disuruh melakukan sikap headstand, sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam melakukan sikap headstand. Dalam proses pembelajaran guru memerlukan sarana yang mendukung dan kreativitas yang beraneka ragam untuk mencapai suatu pembelajaran yang maksimal. Salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah dengan tersedianya media VCD pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alat untuk membantu pemahaman siswa dalam proses belajar mengajar. Guru mata pelajaran pendidikan jasmani SMP Negeri 8 Pasuruan menyatakan belum ada video pembelajaran tentang materi teknik dasar headstand pada senam lantai dan menyatakan memerlukan video pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai, oleh karena itu peneliti bertujuan mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai untuk membantu penjelasan tentang cara melakukan sikap headstand. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar headstand pada senam lantai adalah sebagai berikut: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi (kajian pustaka, observasi ke sekolah, dan analisis kebutuhan), 2)Mengembangkan bentuk produk awal (penyiapan materi pengajaran, buku petunjuk yang akan digunakan, dan perlengkapan evaluasi), 3) Evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli media, 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, dan 1 ahli senam. Data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, kemudian melakukan revisi produk awal, 4)Melakukan uji coba (kelompok kecil) terhadap produk awal (dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan dengan menggunakan 6 subyek yang di ambil 1 siswa dari masing-masing kelas), kemudian data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, 5) Melakukan revisi terhadap produk pertama yang berdasarkan dari hasil kuesioner uji coba (kelompok kecil), 6)Melakukan uji lapangan (kelompok besar) yang dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan dengan menggunakan 30 subyek yang di ambil 5 siswa dari masing-masing kelas, kemudian data kuesioner dikumpulkan dan dianalisis, 7) Melakukan revisi produk akhir berdasarkan dari hasil kuesioner, sehingga menjadi produk akhir pengembangan. Berdasarkan hasil analisis data uji coba (kelompok kecil) terhadap 6 orang siswa dan uji lapangan (kelompok besar) terhadap 30 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan diperoleh bahwa seluruh aspek dalam pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar Headstand untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Pasuruan tersebut telah memenuhi kriteria baik yaitu antara 76% - 100%. Hasil pengembangan ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan dan hasil penelitian dan pengembangan ini, diharapkan dapat diuji cobakan pada lingkup yang lebih luas.

Hambatan-hambatan belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif angkatan 2006 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Hendrik Kurniawan

 

Kata kunci: Hambatan belajar mahasiswa Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran nyata tentang hambatan-hambatan belajar mahasiswa dalam memempuh perkuliahan di Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut maka rancangan penelitian ini digolongkan sebagai penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif karena penelitian akan dinyatakan dalam bentuk angka-angka dan dianalisis dengan teknik statistik serta didiskripsikan untuk memperoleh informasi atau gambaran yang jelas mengenai hambatan-hambatan yang dialami oleh mahasiswa selama penelitian ini berlangsung. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat 3 indikator yang menghambat belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif angkatan 2006 yaitu: (1) Indikator kebiasaan belajar dengan nilai rata-rata 2,29 masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa; (2) Indikator organisasi dengan nilai rata-rata 2,65 masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa; (3) Indikator masalah kesehatan dengan nilai rata-rata 3,00 masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) bagi mahasiswa: berdasarkan hasil penelitian, kesehatan fisik, kebiasaan belajar dan organisasi masuk dalam kategori cukup menghambat belajar mahasiswa maka dari itu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi mahasiswa jurusan teknik mesin khususnya program Studi Pendidikan Teknik Otomorif sehingga tepat dalam menyelesaikan studinya, antara lain dengan cara memperhatikan kesehatan fisik, memperbaiki kebiasaan belajar dan manage/mengurangi kegiatan; (2) bagi jurusan: berdasarkan hasil penelitian, fasilitas perkuliahan mendekati kategori cukup menghambat belajar mahasiswa maka dari itu hendaknya jurusan menambah sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar, misalnya menambah koleksi buku-buku perpustakaan mengenai otomotif; (3) bagi Universitas Negeri Malang: mengingat besarnya peranan buku-buku literatur terhadap kesuksesan studi mahasiswa disarankan kepada pihak universitas untuk memperbanyak koleksi buku-buku perpustakaan terutama buku-buku otomotif; (4) bagi peneliti selanjutnya: mengingat sempitnya ruang lingkup penelitian baik populasi, variabel penelitian atau indikator-indikator yang diteliti disarankan kepada pihak peneliti lain yang tertarik pada masalah yang sama untuk memperluas ruang lingkup penelitian.

Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer program Macromedia Flash 8 pada konsep dasar jaringan mata pelajaran TIK siswa kelas IX SMPN 2 Malang / Very Sugiarto

 

Kata Kunci : Media pembelajaran dan Macromedia Flash 8 Saat ini model pembelajaran yang banyak diterapkan di sekolah dengan model pembelajaran konvensional dan metode ceramah telah bergeser kearah penggunaan layar monitor komputer, melalui sistem pembelajaran secara individual (self instruction). Dengan bantuan komputer menjadikan pembelajaran dapat terjadi kepada siapa saja, kapan, dan dimana saja. Media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 akan sangat membantu proses belajar mengajar di SMPN 2 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menghasilkan produk media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 pada bab konsep dasar jaringan; dan (2) Memvalidasi hasil pengembangan media pembelajaran berbasis komputer program macromedia flash 8 pada bab konsep dasar jaringan. Metodologi penelitian ini menggunakan model pengembangan sadiman (2002). Pada teknik pengumpulan datanya menggunakan angket dengan melibatkan ahli media dan materi, kelompok kecil sebanyak 5 responden dan kelompok besar sebanyak 20 responden Hasil pengembangan adalah sebagai berikut: produk berupa media pembelajaran berbasis komputer, yang didalamnya terdapat tampilan home, indikator, tujuan, materi pembelajaran, test formatif, playlist, fullscreen, exit fullscreen, on/off sound, rangkuman dan evaluasi. Hasil validasi dari ahli media sebesar 93,75%, hasil validasi dari ahli materi sebesar 98,07%, dan hasil rata – rata ahli media dan materi adalah sebesar 95,91%. Hasil validasi dari kelompok kecil adalah sebesar 95,50%, yang didapat dari 5 responden. Hasil validasi dari kelompok besar adalah sebesar 97,37%, yang didapat dari 20 responden. Semua validasi mulai dari validasi ahli dan validasi siswa dinyatakan valid dengan tingkat kevalidan lebih dari 96,27%.

Evaluasi kontrol governor pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Temas Kota Batu / Laurensius Wahyu Tirtana

 

Kata Kunci: Turbin Air, guide vane, komparator. Listrik merupakan salah satu jenis energi yang paling banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kebutuhan akan energi ini sangat tinggi. Berbagai jenis pembangkit listrik telah banyak dikembangkan. Salah satunya pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang sangat cocok dikembangkan di Indonesia mengingat banyaknya sumber air yang bisa dimanfaatkan dan dapat membantu masyarakat pedesaan yang belum terjangkau PLN. Pembangkit listrik tenaga air (mikrohidro) adalah memanfaatkan kecepatan aliran dan debit air sebagai tenaga utama dalam menghasilkan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) merupakan salah satu contoh pembangkit yang paling banyak digunakan untuk menghasilkan energi listrik. Energi iistrik yang didapatkan dapat dikendalikan secara otomatis dengan menggunakan governor. Governor merupakan peralatan bantu pembangkit yang berfungsi untuk membuka dan menutup katub yang terdapat pada turbin, sehingga aliran air yang masuk dapat dikendalikan unluk mendapatkan tegangan yang selalu berada dalam keadaan stabil. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang dikaji di dalam tugas akhir ini berada di kelurahan Temas kota Batu. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap turbin mikrohidro ini, pengendalian putaran turbin merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dikarenakan untuk mengendalikan tegangan keluaran generator dilakukan dengan cara memutar governor untuk menggerakkan guide vane sebagai pengatur banyaknya debit air yang masuk pada nozel turbin crossflow. Untuk memutar governor masih dilakukan secara manual, sehingga sebagai hasil evaluasi dibuat prototype sistem kontrol otomatis pada governor untuk menggerakkan guide vane. Selain itu dalam tugas akhir ini dijelaskan beberapa hal yang mempengaruhi karakteristik turbin, pengaruh saluran udara pada pipa pesat terhadap kinerja turbin, dan perencanaan saluran udara pada pipa pesat. Pengujian alat menggunakan regulator tegangan sebagai input dari rangkaian komparator. Rangkaian komparator akan membandingkan tegangan rendah dibawah 220 volt dan tegangan tinggi diatas 230 volt untuk mengaktifkan relay sebagai driver motor DC. Ketika tegangan dibawah 220 volt maka motor akan putar kanan sehingga guide vane akan berada pada posisi membuka nozel dan ketika tegangan diatas 230 volt maka motor akan putar kiri sehingga guide vane akan berada pada posisi menutup nozel.

Studi evaluasi pengaturan air sebagai penggerak turbin terhadap PLTMh di Temas Kota Batu / Irma Nur Rohmah

 

Kata Kunci: Evaluasi Pengaturan Air, Pintu Air Otomatis, Sensor Ketinggian Air Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) adalah pembangkit listrik berskala kecil (kurang dari 200 kW), yang memanfaatkan aliran air sebagai sumber penghasil energi. Berdasarkan hasil evaluasi awal menjelaskan bahwa debit air pada PLTMh Temas cenderung stabil. Sampah pada sungai merupakan faktor penting yang mempengaruhi debit air karena dapat membuat laju air menjadi terhambat. Selain itu, pintu airnya masih bekerja secara manual dan pintu pembuangan cara buka dan tutupnya sulit karena masih harus berjongkok. Hal ini sangat membahayakan terutama proses buka tutup pintu air tidak bisa dilakukan pada waktu banjir dan tidak memenuhi syarat keselamatan. Perancangan proyek akhir ini membahas tentang studi evaluasi terhadap potensi PLTMH di Kelurahan Temas, Kota Batu untuk menggali kembali potensi-potensi Mikrohidro yang sudah ada. Sehingga potensi Mikrohidro tersebut dapat bekerja lebih optimal dalam menghasilkan energi listrik, dengan memfokuskan permasalahan terhadap pengaturan air sebagai penggerak turbin. Serta, membuat sebuah miniatur pintu air otomatis sebagai salah satu upaya perbaikannya. Pintu air akan digerakkan dengan menggunakan motor sehingga akan bekerja secara otomatis Prinsip kerja miniatur pintu air otomatis ini yaitu: membuka dan menutup pintu air dapat bekerja dengan kendali sensor ketinggian air. Sensor ketinggian air ini terdiri dari sensor ketinggian batas atas dan batas bawah. Sensor batas atas berfungsi untuk mendeteksi air penuh atau mencapai batas atas. Sedangkan sensor batas bawah berfungsi untuk mendeteksi air yang habis atau mencapai batas bawah. Relay 1 berfungsi untuk mendeteksi apakah sensor yang terdeteksi adalah sensor batas atas atau sensor batas bawah dan mengendalikan kerja limit switch 1 dan 2.Saat air penuh hingga terdeteksi sensor batas atas, maka sensor batas atas akan ON. Relay 2 akan bekerja dan membuat motor berputar ke kanan. Putaran motor ini membuat pintu air akan membuka secara otomatis. Pintu akan berhenti setelah mengenai limit switch 1. Saat air mulai habis hingga terdeteksi sensor batas bawah, maka sensor batas bawah ON. Relay 3 akan bekerja dan membuat motor berputar ke kiri. Putaran motor ini membuat pintu air akan menutup secara otomatis. Sensor ketinggian air pada batas atas mempunyai ketinggian 8 cm, sedangkan sensor batas bawah mempunyai ketinggian 2 cm dari dasar kotak bendungan. Jadi, dari hasil pengujian yang dilakukan sebanyak 9 kali dapat dilihat jika ketinggian sama dengan lebih dari 8 cm pintu air akan membuka secara otomatis. Pintu akan terus membuka hingga ketinggian air sama dengan kurang dari 2 cm atau hingga mengenai sensor batas bawah.

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung tahun ajaran 2010/2011 dengan metode permainan simulasi / Ahmad Fatoni

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, bahasa Jawa krama, model permainan simulasi Data yang diperoleh dari studi pendahuluan menunjukkan bahwa keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 masih rendah. Siswa belum mampu berbicara bahasa Jawa krama dengan baik dan menempatkan kosakata krama yang sesuai dengan unggah-ungguh basa. Oleh karena itu, penerapan metode yang tepat dan menyenangkan dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) adakah peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 setelah penerapan metode permainan simulasi, dan (2) adakah perubahan perilaku yang ditunjukkan siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 setelah proses belajar mengajar dengan menggunakan metode permainan simulasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan peningkatan kemampuan berbicara bahasa Jawa krama siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 dengan menggunakan metode permainan simulasi dan (2) mendiskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 setelah proses belajar mengajar dengan metode permainan simulasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, catatan lapangan, dan wawancara. Teknik analisis data berupa teknik deskripstif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif kualitatif digunakan untuk analisis perilaku siswa dan deskriptif kuantitatif untuk analisis keterampilan berbicara bahasa Jawa krama siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara bahasa Jawa ragam krama dari kemampuan awal saat pretes studi pendahuluan ke siklus I sebesar 16,36%, siklus I ke siklus II sebesar 28,90 dan dari pretes studi pendahuluan ke siklus II sebesar 50%. Hasil analisis data observasi, catatan lapangan dan wawancara menunjukkan adanya perubahan perilaku yang ditunjukkan siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Kec. Pulung Tahun Ajaran 2010/2011 yaitu siswa menjadi aktif dan bersemangat dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa krama. Selain itu dengan metode permaianan simulasi siswa menjadi paham bagaimana berbicara krama sesuai dengan unggah-ungguh basa. Dari hasil penelitian ini, saran peneliti adalah penggunaan metode permainan simulasi dapat menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa dalam pembelajaran berbicara sehingga perlu dipertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran berbicara bahasa Jawa, khususnya berbicara bahasa Jawa krama.

Implementing story mapping strategy to improve the writing ability of the eight graders of MTs Bahrul Ulum Tajinan Malang / Laili Makhfudhoh

 

Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL., M.Pd. (2) Drs. Fachrurrazy, M. A., Ph.D. Key words: writing, strategy, story mapping, classroom action research. The objective of this study is to find out how Story Mapping Strategy can improve the ability in writing narrative text of the eighth graders f MTs Bahrul Tajinan Malang. Generally, the students got difficult in generating ideas and organized them into a good paragraph. Furthermore, the teacher focused her teaching mostly in grammatical exercises and the product of writing. Therefore, this strategy is considered appropriate to solve the students’ problems in writing, particularly narrative text because story map can enhance students' interpretative abilities by enabling them to visualize story characters, events and settings. This study adopted action research design. The researcher and her collaborative teacher worked together in designing lesson plan, setting the criteria of success, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subject of this study was the eighth graders of MTs. Bahrul Ulum Tajinan Malang of the 2010/2011 academic year. The study consisted of two cycles, and used observation sheet, field notes, questionnaires and writing task for the instruments. The criteria of success were determined on the basis of students’ improvement on the writing achievement and their interest in the activities during the implementation of the strategy. The criteria of success were achieved when 65% of the students could get the score more than 60. Besides, the success was also determined on the basis of students’ interest in the activity. The technique is considered successful when 75% of the students had positive perception on the implementation of strategy. With the implementation of the technique, the criteria of success were successfully achieved in Cycle 2. There was 75% of the total number of the students who could get the scores more than 60 and 83% had positive perception on the implementation of story mapping strategy. The findings showed that the effective procedures of using Story Mapping in teaching narrative text was implemented in pre-writing, whilst writing and post-writing stages. In pre-writing stages, the teacher reconstructs the students’ prior knowledge about a narrative text by showing a famous story Bawang Merah and Bawang Putih and asked some questions about chronological order of the story. In the main activities, the teacher gave the model of a narrative text entitled Bawang Merah and Bawang Putih and its story map, and followed by explaining the procedure in writing narrative text using story map to the students. The teacher also discussed the generic structure and the usage of past tense in narrative texts. The students then were asked to create a story map and their draft individually. The teacher guided the students to revise and edit their draft, and asked them to write a final composition. In the post activities, students were asked to stick on their work on the wall and then collected in the form of portfolio. Then, the result of students’ writing product were evaluated by using analytic scoring, which described the students’ ability in mastering the five components of the writing, namely content, organization, vocabulary, grammar and mechanics. The findings of the research showed that the students gained good progress from the first to the second cycle. They could minimize the number of errors and mistakes in narrative texts they produce so that their writing could be understood easily. It is indicated by the increase of the percentages of the students who achieve the score of greater than or equal to 60 throughout the two cycles of the action, that is, 33% in the preliminary study, 52% in cycle 1 and 75% in the second cycle. Besides, the implementation of this strategy encouraged the students to be more active in the teaching and learning process. Based on the researcher findings, it was concluded that the implementation of Story Mapping Strategy in teaching writing could improve the students writing ability. This improvement could be proved by the students writing achievement and the score obtained by the students. Some suggestions are proposed to the English teacher and future researcher. It is advisable for the teacher to use story mapping strategy in teaching writing, particularly in narrative text, because this strategy could help the students arranged a narrative text in a chronological order. In addition, story map could increase students’ vocabulary. Second, since the research findings showed positive results, it is suggested to the future researcher, especially those who are interested in applying Story Mapping Strategy. Here they are suggested to prepare a deliberate planning before conducting a similar study in order to make the implementation of Story Mapping Strategy runs well.

Pengembangan alat evaluasi pembelajaran berbasis e-learning pada mata pelajaran TIK di SMAN 4 Malang / Arief Rahman Yusuf

 

Kata Kunci: E-learning, Evaluasi, Moodle, Pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada saat melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMAN 4 Malang, kurangnya alat evaluasi pembelajaran yang bervariasi dari guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), menyebabkan siswa menjadi bosan dalam proses pembelajaran. Untuk itu perlu adanya cara untuk membangkitkan ketertarikan siswa dalam proses pembelajaran serta daya ingat siswa dengan memberikan soal yang bervariasi. Berkaiatan dengan itu, maka diperlukan media pendukung yang bertujuan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang ada yaitu mengembangkan alat evaluasi berbasis e-learning dengan memanfaatkan Moodle. Pengembangan ini menggunakan rancangan pengembangan (research and development) yang bertujuan mengembangkan alat evaluasi pembelajaran. Pengembangan alat evaluasi berbasis Moodle menggunakan model Sadiman. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode tes dan metode angket. Hasil uji coba produk dilakukan terhadap 3 subjek sebagai berikut: (1) Ahli media, (2) Ahli materi, dan (3) Siswa Kelas X SMAN 4 Malang. Hasil validasi alat evaluasi berbasis e-learning yang dikembangkan sebagai berikut: (1) Hasil analisis data ahli media menunjukkan sebesar 90%, dapat disimpulkan bahwa alat evaluasi layak digunakan untuk media evaluasi pembelajaran. (2) Hasil analisis data angket ahli materi menunjukkan sebesar 93%, dapat disimpulkan bahwa materi dalam alat evaluasi ini layak untuk digunakan untuk siswa pada saat pembelajaran. (3) Hasil analisis data dalam uji coba lapangan menunjukkan sebesar 78%, dapat disimpulkan bahwa alat evaluasi berbasis e-learning ini layak digunakan sebagai media alat evaluasi pembelajaran untuk siswa. Manfaat hasil pengembangan alat evaluasi terhadap kemudahan siswa didasarkan pada hasil uji coba yaitu dengan melihat persentase item pertanyaan yang terdapat dalam angket siswa, yaitu: (1) Media alat evaluasi dapat membantu pembelajaran materi hasil rata-rata persentase dengan 79,5 % media ini sudah masuk dalam kriteria baik. (2) Kemudahan pemakaian alat evaluasi dapat dilihat hasil rata-rata persentase 77, 5 % dan media alat evaluasi ini sudah termasuk dalam kriteria baik. (3) Memberikan pengalaman baru dapat dilihat hasil rata-rata persentase dengan 75,5 % dan media ini sudah termasuk kriteria cukup.

Penerapan model permainan mencari pasangan dalam meningkatkan pemahaman konsep IPS di kelas V SDN Tumpang 04 / Dwi Cahyono

 

Kata Kunci: model permainan mencari pasangan, pemahaman konsep IPS Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 17-18 Februari 2011 di kelas V SDN Tumpang 04 pada mata pelajaran IPS diperoleh data hasil belajar IPS siswa yang masih terbilang kurang maksimal,.Dari data di SD N Tumpang 04 , nilai yang diperoleh oleh peserta didik di SD N Tumpang 04 tahun pelajaran 2009-2010 untuk mata pelajaran IPS di kelas V dari jumlah peserta didik 23 yang memperoleh hasil di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sebanyak 10 peserta didik atau sebanyak 43%. Sedangkan 13 peserta didik atau sebanyak 57% tidak memenuhi KKM. Hal ini disebabkan oleh luasnya materi, kurang menariknya pembelajaran di kelas serta kurang terampilnya merangkum materi-materi yang penting dari konsep yang ada. Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: 1)mengetahui sejauh mana penerapan metode pembelajaran model permainan mencari berpasangan pada siswa kelas V SD Negeri Tumpang 04 kecamatan Tumpang dapat meningkatkan pemahaman konsep mata pelajaran IPS. 2)mendeskripsikan penerapan model permainan mencari pasangan pada mata pelajaran IPS kelas V SD N Tumpang 04. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Untuk mengumpulkan data, instrument pengumpuan data yang digunakan berupa: 1) lembar observasi; 2) soal tes. Seorang siswa dinyatakan tuntas belajarnya apabila telah mencapai skor 70. Pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu: a) perencanaan; b) pelaksanaan tindakan dan observasi; c) refleksi; d) revisi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Tumpang 04 Kabupaten Malang. Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Dilihat dari proses pembelajaran pada tindakan siklus I dan siklus II dengan skor rata-rata sebagai berikut: (1) tindakan siklus I pre test 48,70 dan post test 60,00; (2) tindakan siklus II pre test 63,48 dan post test 80,87. Pada siklus I dengan prosentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 17,39% dan meningkat pada siklus II menjadi 82,61% Pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar klasikal di atas 80%. Dari penelitian di atas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran permainan mencari pasangan pada mata pelajaran IPS . Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: 1) penerapan model pembelajaran permainan mencari pasangan dapat meningkatkan pemahaman konsep IPS dalam belajar; 2) penerapan model pembelajaran permainan mencari pasangan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Saran kepada guru-guru, hendaknya menggunakan model pembelajaran yang bervariasi yang sesuai dan efektif dalam penyampaian materi pelajaran IPS.

Pengembangan aplikasi e-learning berbasis web untuk meningkatkan prestasi belajar mengoperasikan software web design pada siswa kelas X SMKN 1 Bangil / Byan Purbapranidhana Dwi Maulud

 

Kata Kunci: E-learning, web, software web design, prestasi Pembelajaran secara klasikal yang selama ini masih dilakukan oleh guru adalah metode ceramah. Namun harus diakui bahwa pembelajaran dengan metode ceramah tidak selamanya berjalan dengan baik. Dampak negatif yang ditimbulkan yaitu siswa saling berbicara sendiri dan tidak menghiraukan guru pada saat proses pembelajaran. Salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut yaitu e-learning. Salah satu bentuk implementasi e-learning adalah menggunakan perangkat komputer dilengkapi dengan sarana jaringan secara internet maupun intranet dalam bentuk pembelajaran berbasis web atau web based learning. SMKN 1 Bangil merupakan salah satu sekolah kejuruan yang memiliki fasilitas belajar dengan dukungan infrastruktur jaringan intranet maupun internet. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh pengembang dengan guru mata pelajaran, pencapaian prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif masih belum memenuhi target. Untuk meningkatkan prestasi tersebut, maka guru perlu menarik perhatian siswa untuk belajar. Dengan adanya aplikasi e-learning berbasis web yang memuat materi dengan kombinasi teks, gambar, video, forum, chat yang dapat diakses kapan saja maka siswa dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Model pengembangan aplikasi ini mengadaptasi dari model pengembangan dari Dick & Carey, Borg & Garl dan model Luther. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan ini adalah lembar kuesioner dan soal tes. Lembar kuesioner diberikan kepada ahli materi, ahli media, dan kelompok kecil. Sedangkan soal tes diberikan melalui pre test dan post test kepada siswa kelas X sebanyak 2 kelas dimana 1 kelas sebagai kelas eksperimen dan 1 kelas lainya sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa validasi oleh ahli materi 90% dan memenuhi kriteria valid, oleh ahli media 87,5% dan memenuhi kriteria valid, serta validasi kelompok kecil 89,5% dan memenuhi kriteri valid. Sedangkan untuk hasil tes menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa yang menggunakan aplikasi e-learning berbasis web dengan persentase 20% menjadi 86%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa aplikasi e-learning berbasis web dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran komik untuk menulis cerita bagi siswa kelas VIII SMP / Ferry Ardianto

 

ABSTRAK Ardianto, Ferry. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Komik untuk Menulis Cerita Fabelbagi Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roekhan, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum. Kata kunci: media, komik, pembelajaran menulis ceritafabel. Pembelajaran menulis cerita fabel merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa SMP kelas VIII. Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan di SMPN 20 Malang ditemukan bahwapembelajaranmenulisceritafabeltanpa menggunakan media pembelajaran apapun. Akibatnya, siswa sulit berimajinasiuntukmenemukan ide, mengembangkan paragraf, dan memunculkan unsur pembangun cerita. Berdasarkan identifikasi kebutuhan yang dilakukan di sekolah, pengembang memberikan alternatif berupa media pembelajaran menulis cerita fabel berbasis ilustrasi gambar berbentukkomik. Komik dipilih sebagai media pembelajaran karena siswa lebih menyukai menggunakan gambar yang dikombinaiskan dengan warna. Media komik ini untuk merangsang imajinasi siswa dalam berpikir kreatif untuk mengembangkan ide menjadi sebuah cerita fabel yang menarikPenelitianpengembanganinibertujuanuntukmenghasilkan poduk berupa media komik, dan buku panduan penggunaan media yang menarik dan layak dari segi tampilan, penyajian, isi, dan bahasa. Penelitian ini menggunakan pola gabungan model Sadiman dan model Tim Puslitjaknov. Tahapan-tahapan modifikasitersebut meliputi: (1) analisis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan instruksional, (3) perumusan materi pembelajaran, (4) perumusan alat pengukur kelayakan media, (5) penulisan naskah media, (6) produk awal, (7) uji validasi, (8) uji praktisi, (9) uji coba lapangan, (10) revisi, dan (11) produk akhir. Data penelitian pengembangan ini berupa data verbal dan nonverbal. Data verbal dibedakan menjadi data tulis dan lisan. Data verbal tulis berupa saran perbaikan yang ditulis oleh subjek coba pada lembar penilaian. Data lisan berupa informasi lisan yang diperoleh ketika wawancara dengan guru. Data nonverbal berupa skor yang ditulis oleh subjek uji, yaitu ahli pembelajaran sastra, ahli media, praktisi (guru), dan siswa pada lembar penilaian. Hasil uji coba tampilan produkmenunjukkan produk tergolong sangat layak dan siap diimplementasikanberdasarkanskor ahli (85,7%), praktisi (92,3%), dan siswa (93,88%). Hasil uji coba isi produk menunjukkan produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikanberdasarkanskor ahli (85%), praktisi (95%), dan siswa (92,22%). Hasil uji coba penyajian produk menunjukkan produk tergolong layak dan siap untuk diimplementasikan berdasarkanskorahli (89,3%), praktisi (96,42%), dan siswa (95,58%). Hasil uji coba kebahasaan produk menunjukkan produk tergolong sangat layak dan siap untuk diimplementasikan berdasarkanskorahli (87,5%), praktisi (100%), dan siswa (90%). Ada enamkomentar dan saran perbaikan dari ahlipembelajaransastra, ahli media, dan praktisi dalam penelitian ini. Komentar dan saran tersebut meliputi: (1)penyesuaiantahapan pembelajaran dengan kurikulum yang digunakan, (2) pemberian contoh pada lembar kerja imajinasi, (3) penggunaan gambar dalam komik karakter tokohnya diperjalas, (4) penomoran pada urutan komik untuk memudahkan siswa, (5) covermemakai ilustrasi sesuai dengan keterampilan menulis, yaitu hand writting, serta (6) penggunaan warna pada kolom harus diperhatian agar warnanya padu. Hasil penelitian berupa produk media komikyang dilengkapi dengan buku panduan penggunaan media komikdan lembar kerja siswa atau lembar kerja imajinasi. Penerapan produk dalam pembelajaran dilakukan dalam empat tahap kegiatan. Tahapan-tahapan tersebut meliputi (1) memahami isi komik dan menuliskan unsur pembangun ceritafabel, (2) menulis kerangka cerita fabelberdasarkan imajinasi sendiri, (3) menulis ceritafabelsecara utuh dan menarik, serta (4) menelaah dan merevisi hasil penulisan ceritafabel. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa produk tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran menulis cerita fabeluntuk siswa SMP kelas VIII. Terkait dengan hal tersebut, disarankan kepada guru untuk memanfaatkan produk media sebagai sarana pembinaan moral dan karakter siswa. Selain itu, bagi siswa supaya produk dimanfaatkan untuk memunculkan ide, mengembangkan ide, dan merangkai kalimat menjadi cerita fabel secara maksimal. Bagi pengembang lain, prosedur penelitian pengembangan media ini diharapkan bisa dikembangkan dalam kompetensi yang berbeda.

Kekerasan verbal dalam pembelajaran di SMP Kota Malang / Ribut Wahyu Eriyanti

 

Program Studi Pendidikan Bahasa Idonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M.Pd., (II) Dr. H. Nurhadi, M.Pd., (III) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, M.Pd. Kata Kunci : kekerasan verbal, pembelajaran, analisis wacana kritis, wujud kekerasan verbal, strategi kekerasan verbal Kajian tentang kekerasan dalam konteks pembelajaran telah banyak dilakukan, akan tetapi tentang kekerasan verbal masih terbatas. Padahal, dampak kekerasan verbal pada siswa bisa lebih serius dibandingkan dengan kekerasan fisik karena sasaran kekerasan verbal adalah aspek psikologis. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian secara lebih mendalam tentang kekerasan verbal, khususnya dalam konteks pembelajaran di sekolah. Tujuan penelitian ini secara rinci adalah (1) mendeskripsikan wujud kekerasan verbal, (2) menginterpretasi strategi ekspresi kekerasan verbal, (3) menjelaskan faktor-faktor pemicu kekerasan verbal, dan (4) menjelaskan dampak kekerasan verbal terhadap siswa dalam pembelajaran di SMP Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-kritis dengan ancangan analisis wacana kritis. Data penelitian ini berupa tuturan lisan guru dan siswa yang merepresentasikan kekerasan verbal dalam konteks pembelajaran di SMP Negeri dan Swasta Kota Malang. Sumber data penelitian ini adalah wacana pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, PKn., dan BP yang diperoleh melalui observasi. Di samping itu juga digunakan angket untuk menggali data latar belakang budaya dan pendidikan subjek penelitian. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dibantu dengan alat perekam CCTV, Handycame, alat pencatat data, dan angket. Analisis data didasarkan pada analisis wacana kritis menurut Fairclough, yang meliputi analisis (a) teks bahasa, (b) praksis wacana, dan (c) praksis sosiokultural. Dari penelitian ini ditemukan bahwa (1) terdapat kekerasan verbal guru terhadap siswa dalam pembelajaran, yang merentang dari pengabaian siswa dalam menjalin komunikasi, penolakan pendapat siswa, tuduhan, peremehan kemampuan dan martabat siswa, penghakiman dan celaan, pemaksaan, hingga ancaman, dan ledakan kemarahan. Dari kategori-kategori tersebut, yang dominan adalah penolakan, penghakiman disertai celaan, dan ancaman kepada siswa. (2) Kekerasan verbal guru terhadap siswa diekspresikan melalui strategi langsung dan taklangsung. Strategi langsung ekspresi kekerasan verbal berbentuk tuturan deklaratif, interogatif, dan imperative dengan gaya lugas, sedangkan strategi taklangsung berbentuk tuturan deklaratif, interogatif, dan imperative yang diungkapkan dengan gaya pengiasan, retoris, dan pengabaian. Dari kedua strategi tersebut yang dominan adalah strategi tidak langsung. (3) Kekerasan verbal dalam pembelajaran dipicu oleh adanya (a) ketimpangan kekuasaan guru dan siswa sebagai subjek pembelajaran, (b) adanya prasangka sosial guru terhadap siswa, baik karena stereotype negatif maupun karena jarak sosial yang renggang antara guru dan siswa, (c) ideologi behavioristik yang dianut oleh guru, (d) karakteristik institusi sekolah yang birokratis, dan (e) situasi pembelajaran yang otokratik. (4) Kekerasan verbal guru berdampak negatif pada proses pembelajaran dan siswa. Dalam pembelajaran, kekerasan verbal mengakibatkan situasi pembelajaran kaku dan mencekam karena siswa ketakutan. Kekerasan verbal juga berdampak negatif pada psikologis siswa, yakni berupa ketakutan, malu kepada teman sekelas, tumbuhnya kepatuhan semu, perlawanan secara verbal, dan menirukan mengolok-olok teman. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan kepada guru hendaknya mengubah pandangannya terhadap siswa dan pembelajaran dengan menerapkan paradigma konstruktivistik serta menerapkan berbagai metode pembelajaran yang lebih variatif. Dengan demikian, diharapkan dalam menjalin komunikasi edukatif dengan siswa, guru dapat lebih menaruh empati dan mengeliminasi kekerasan secara verbal serta mengedepankan penggunaan bahasa yang santun, misalnya penggunaan bahasa yang bersifat mengajak, menawarkan, menyarankan, mengingatkan, mempersilakan, mengundang, menyapa dengan bahasa yang halus, dan menginformasikan. Kepada kepala sekolah disarankan agar membantu guru menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dengan menggunakan bahasa yang santun dan komunikatif.

Pengaruh perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri terhadap kecakapan hidup dan hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Purwosari, Pasuruan / Prihatin Dwi Mahareny

 

Tesis, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. agr. H. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si., (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata Kunci: Perangkat Pembelajaran Bioteknologi, model pembelajaran inkuiri, kecakapan hidup, hasil belajar. Di SMK khususnya bidang keahlian Pertanian, materi bioteknologi ini sangat diperlukan karena materi ini dapat memberikan bekal kepada siswa agar siap memasuki dunia kerja. Banyak aspek yang dapat dikembangkan sebagai lapangan kerja dibidang bioteknologi walau masih dalam kajian tradisional, misalnya wirausaha di bidang pembuatan tempe, tape, yoghurt, kecap, nata de coco dan lain-lain. Namun demikian untuk mengantisipasi masa depan bahwa bidang biologi adalah biologi molekuler, maka sudah menjadi hal wajar siswa SMK dikenalkan dengan bioteknologi molekuler. Berdasarkan Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan pada Permendiknas no 22 tahun 2006 (BNSP, 2006) bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan siswa untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Untuk itu kurikulum yang ditetapkan sekarang menekankan bahwa salah satu tugas pendidikan adalah mengupayakan peningkatan kecakapan hidup (life skills) dalam pembelajaran. Pendidikan kecakapan hidup meliputi kecakapan pribadi (personal skill), kecakapan berpikir (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan kerja (vocational skill). Matapelajaran biologi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMK berkaitan dengan cara mencari tahu, bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (inkuiri). Pembelajaran sains di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, sehingga dapat mengatasi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Fakta di lapangan (hasil survei pada bulan April 2010, di SMK Negeri Purwosari dan kuesioner analisis kebutuhan) menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Peran guru masih lebih dominan daripada siswa pada kegiatan pembelajaran bioteknologi dan biologi. Sembilan puluh persen guru belum memahami dengan benar tentang pendekatan inkuiri dan strategi pembelajaran kooperatif, sehingga keduanya belum dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dirancang menggunakan quasy experiment (eksperimen semu), dilaksanakan di SMK Negeri 1 Purwosari pada siswa tingkat XII semester ganjil tahun ajaran 2010/2011, dengan kelas XII ATPH1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XII ATPH2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, lembar pengamatan tentang kecakapan hidup, tes hasil belajar kognitif, tes hasil belajar afektif, dan lembar pengamatan psikomotor. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Anakova, dilanjutkan dengan uji beda LSD (Least Significant Difference), sedangkan data pelaksanaan kegiatan praktikum dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup dan hasil belajar kognitif, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar afektif. Kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Interaksi antara perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri dan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kecakapan hidup, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif. Rerata nilai ketrampilan psikomotor siswa yang belajar dengan perangkat pembelajaran bioteknologi melalui model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibanding siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Terkait kesimpulan tersebut, maka peneliti menyarankan agar guru mengimplementasikan perangkat pembelajaran mata diklat lainnya dipadu dengan model pembelajaran inkuiri agar penguasaan kecakapan hidup, jiwa kewirausahaan, hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa dapat meningkat dan berkembang dengan baik.

Peranan guru bahasa Jerman dalam menumbuhkan minat dan motivasi siswa pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang / Ratna Strie Pratiwimba

 

Kata kunci : peranan guru, minat, motivasi Salah satu bahasa asing yang saat ini diajarkan di Indonesia adalah bahasa Jerman. Berbeda dengan bahasa Inggris, bahasa Jerman terasa lebih sulit untuk dipelajari. Kesulitan itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, minat dan motivasi siswa dalam mempelajari bahasa Jerman, struktur bahasa yang lebih rumit, atau bisa juga karena peranan guru dalam pembelajaran bahasa Jerman yang kurang maksimal. Hal ini juga terjadi di SMA Negeri 7 Malang, tidak hanya di kelas XI, tetapi juga kelas X yang menjadi awal siswa belajar bahasa Jerman. Sebaik apapun guru mengajar bila siswa tidak memiliki minat dan motivasi untuk belajar, hal tersebut dapat menjadi batu sandungan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Di sinilah peran seorang guru sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan guru dalam menumbuhkan minat dan motivasi siswa pada pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, hasil angket guru dan siswa serta hasil wawancara guru dan siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan pengamatan berulang dan kegiatan triangulasi data. Sumber data dalam penelitian ini adalah seorang guru bidang studi bahasa Jerman dan 38 siswa kelas X-6 yang mengikuti pembelajaran bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru bahasa Jerman di SMA Negeri 7 Malang memiliki peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat dan motivasi siswa belajar bahasa Jerman di kelas X-6. Hal ini terbukti dari hasil angket yang menunjukkan bahwa 52,8% siswa menjawab sangat setuju bahwa guru memiliki peran yang besar dalam menumbuhkan motivasi siswa belajar bahasa Jerman dan sebanyak 50% siswa menjawab sangat setuju bahwa guru bidang studi bahasa Jerman mampu menumbuhkan minat siswa belajar bahasa Jerman. Meskipun guru kurang menguasai manajemen kelas, tetapi peran guru sebagai perencana, pelaksana pembelajaran dan pemberi balikan dilakukan dengan baik dan sesuai dengan teori yang mengacu pada minat dan motivasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru disarankan untuk bisa selalu menjadi motivator serta memperbaiki kemampuan manajemen kelas, sehingga minat belajar siswa terus bertambah. Siswa juga diharapkan lebih serius dan memperhatikan saat pembelajaran sedang berlangsung serta mengkomunikasikan dengan guru mata pelajaran masalah pada pembelajaran bahasa Jerman yang memiliki kaitan dengan minat dan motivasi. Dengan demikian siswa bisa lebih mudah menerima materi pembelajaran bahasa Jerman.

Penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC) pada keterampilan menulis siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 5 Malang / Novita Kartikasari

 

Kata kunci: model pembelajaran CIRC, keterampilan menulis Pembelajar bahasa, khususnya pembelajar bahasa Jerman harus menguasai empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Menulis dalam bahasa Jerman bukan hal yang mudah, terlebih bagi pembelajar bahasa pemula, seperti siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 5 Malang. Keterampilan menulis dilatihkan bergantian dengan tiga keterampilan berbahasa yang lainnya, sehingga siswa memperoleh waktu lebih sedikit dalam berlatih keterampilan menulis. Oleh karena itu peneliti menerapkan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) agar keterampilan menulis dapat dikuasai dengan baik. Pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman dengan menerapkan model pembelajaran CIRC mendorong siswa untuk mengemukakan ide dalam memecahkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan model pembelajaran CIRC dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan instrument observasi, kuisioner dan tes, dengan peneliti sebagai instrumen utama. Observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran, sedangkan kuisioner digunakan untuk mengetahui tanggapan dan pendapat siswa tentang model pembelajaran CIRC. Sumber data yang digunakan adalah siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 5 Malang yang berjumlah 8 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis bahasa Jerman. Siswa mampu menulis ringkasan wacana dengan menggunakan kosa kata dan penulisan yang tepat. Penerapan model pembelajaran ini membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran serta mampu membantu siswa dalam menulis karangan berbahasa Jerman. Oleh karena itu, disarankan pada guru mata pelajaran bahasa Jerman untuk menerapkan model pembelajaran CIRC.

Hubungan antara intensitas bermain game online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi pada remaja / Dity Ayu Kusumawardhani

 

Kata Kunci: intensitas bermain game online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi, game online, intensitas, perilaku agresi, remaja. Game online berkembang dengan pesat seiring berkembangnya kreatifitas para pembuatnya. Game online ini banyak diminati oleh masyarakat khususnya para remaja. Hal ini didukung dengan adanya fasilitas warung internet (warnet) yang mengkhususkan untuk game online. Tidak ada aturan khusus untuk bisa memainkan semua game online dengan.segala usia dapat mengakses game online dengan bebas. Agaknya berbahaya ketika game online tersebut berkonten kekerasan. Jika kita membicarakan tentang game online berkonten kekerasan maka akan memiliki kaitan dengan perilaku agresi pada remaja yang cukup banyak terjadi. Penelitian yang dilakukan bertujuan mengetahui (1) untuk megetahui seberapa besar intensitas bermain game online berkonten kekerasan pada remaja, (2) untuk mengetahui perilaku agresi pada remaja , (3) untuk mengetahui hubungan antara intensitas berain gae online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi pada remaja. Rancangan penelitian adalah deskriptif dan korelasi. Populasi penelitian ini adalah remaja dengan cirri-ciri (1) berusia 13 – 17 tahun (2) bermain game online berkonten kekerasan (3) bermain game online berkonten kekerasan lebih dari 1 jam. Pengambilan sampel menggunakan teknik Insidental Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 80 mahasiswa. Alat pengumpulan data berupa kuesioner intensitas dan skala perilaku agresi yang dikembangkan berdasar teori Buss. Skala yang digunakan adalah model Likert. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan (1) intensitas bermain game online berkonten kekerasan adalah sedang (2) perilaku agresi pada remaja adalah sedang (3) ada hubungan antara intensitas bermain game online berkonten kekerasan dengan perilaku agresi pada remaja (rxy= 0,508 ; p = 0,000 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas bermain game online berkonten kekerasan, semakin tinggi pula perilaku agresi pada remaja. Sebaliknya bila intensitas bermain game online berkonten kekerasan rendah maka diikuti dengan rendahnya perilaku agresi pada remaja. Berdasarkan hasil penelitian disarankan (1) Bagi remaja, sebaiknya para remaja memiliki kegiatan yang positif sehingga remaja tidak hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game online khususnya game online yang berkonten kekerasan. (2) Bagi orang tua, hendaknya para orang tua bisa mengawasi kegiatan anak-anak mereka saat bermain game online (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih lengkap karena penelitian ini hasilnya mewakili sebagian remaja yang bermain game online yang ditemui oleh peneliti maka dari itu diharapkan peneliti selanjutnya lebih memperbanyak populasi dan sampel serta dapat pula mengembangkan variabel-variabel lain yang mendukung penelitian yang berkaitan dengan intensitas bermain game online berkonten kekerasan dan perilaku agresi.

Pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar sejarah terhadap hasil belajar sejarah siswa kelas XI Program Studi IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi / Minarti

 

Kata kunci: pemanfaatan internet, sumber belajar, hasil belajar Permasalahan rendahnya minat siswa untuk membeli buku penunjang sejarah menjadi latar belakang utama yang mendorong guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Glagah memanfaatkan internet sebagai sumber belajar alternatif untuk mendukung proses belajar siswa. Melalui penelitian ini penulis ingin mengetahui bagaimana pemanfaatan internet sebagai sumber belajar di sekolah ini apakah memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa sehingga terdapat perbedaan hasil belajar sejarah siswa yang menggunakan internet sebagai sumber belajar dengan siswa yang tidak menggunakan internet sebagai sumber belajar (buku penunjang). Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi yang diajar dengan tidak menggunakan internet sebagai sumber belajar?. (2) Bagaimana hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi yang diajar dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar?. (3) Bagaimana pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar Sejarah terhadap hasil belajar Sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi? Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest posttest control group design. Instrumen penelitian yang akan digunakan terlebih dahulu diuji dengan menggunakan uji validitas data, uji reliabilitas, uji tingkat kesukaran soal dan daya pembeda soal. Sumber data dalam penelitian ini berupa nilai pretest dan posttest yang di dapat dari kelas kontrol dan kelas eksperimen. Data tersebut kemudian di analisis dengan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji homogenitas. Selain itu juga dilakukan uji hipotesis berupa uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi yang diajar dengan tidak menggunakan internet sebagai sumber belajar lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai siswa yaitu sebesar 73,54 yang telah memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditentukan oleh sekolah sebesar 70. Peningkatan hasil belajar siswa pada kelas kontrol sebesar 14,94 %. Peningkatan prestasi belajar secara signifikan ini dimungkinkan karena dengan menggunakan buku penunjang, siswa dapat lebih fokus dalam mempelajari materi pelajaran sehingga siswa lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran tersebut. Siswa juga lebih mudah menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru sehingga siswa mendapatkan nilai yang baik. (2) Hasil belajar sejarah siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi setelah diajar dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar mengalami kenaikan sebesar 19,91%. Hal ini menunjukkan bahwa pengunaan internet sebagai sumber belajar memberikan pengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa walaupun masih kurang maksimal. Kurang maksimalnya pemanfaatan internet sebagai sumber belajar ini dapat dilihat dari rata-rata nilai siswa yaitu sebesar 68,62 yang belum memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Tidak adanya proteksi terhadap sistem internet yang tersedia mengakibatkan perhatian siswa terpecah ketika menggunakan internet di sekolah sehingga tidak terjadi perubahan yang besar dalam hasil belajar siswa khususnya untuk mata pelajaran sejarah. (3) Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar khususnya bagi siswa kelas eksperimen SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi terbukti mampu memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap hasil belajar siswa sebesar 29,2%. Pengaruh pemanfaatan internet terhadap hasil belajar siswa ini masih rendah karena sebesar 70,8% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian ini. Pengaruh pemanfaatan internet sebagai sumber belajar siswa terhadap peningkatan hasil belajar siswa ini dapat ditingkatkan dengan cara memaksimalkan peran guru, sekolah dan orang tua dalam memotivasi siswa agar siswa mampu memanfaatkan potensi internet sebagai sumber informasi tak terbatas secara maksimal. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemanfaatan internet sebagai sumber belajar siswa memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas XI program IPS SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi. Pemanfaatan internet sebagai sumber belajar secara maksimal dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran dengan menggunakan internet sebagai sumber belajar di SMA Negeri 1 Glagah Banyuwangi disarankan untuk lebih dikembangkan sehingga dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap hasil belajar siswa.

Peningkatan kemampuan menyimak tembang pucung dan gambuh dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe cooperative script bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kota Batu / Defri Mustika Rani

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, tembang Pucung dan Gambuh, Cooperative Script Berdasar pada Standar Isi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006, keterampilan menyimak telah diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMP/MTs. Siswa SD/MI hingga SMP/MTs diharapkan memiliki keterampilan menyimak dalam berbagai bentuk, termasuk dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh. Meski telah dilaksanakan pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh, hasil pembelajaran menyimak di kelas tersebut kurang maksimal. Dari kegiatan studi pendahuluan, diketahui adanya permasalahan dalam proses pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh, serta kelemahan siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh, baik pada aspek jenis tembang macapat, ciri-ciri, isi, dan amanat, sehingga nilai yang diperoleh belum mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan, yakni 75%. Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan, peneliti bekerjasama dengan guru mata pelajaran Bahasa Jawa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu merencanakan tindakan melalui penelitian dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu setelah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, baik pada jenis, ciri-ciri, isi, maupun amanat. Dengan menggunakan Cooperative Script, diharapkan kemampuan siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh mengalami peningkatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April―Juni 2011 di SMP Negeri 1 Kota Batu, dengan subjek penelitian siswa kelas VIII E. Penelitian ini difokuskan pada kemampuan siswa dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh. Data penelitian ini adalah data hasil wawancara, rekaman aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dan hasil karya siswa. Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru Bahasa Jawa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu. Berdasarkan hasil penilaian menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa dengan mengacu pada pedoman penskoran dan standar keberhasilan yang telah ditentukan, diketahui bahwa pada tahap pretes, yakni sebelum menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, rata-rata kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa hanya mencapai 61,97% sehingga belum mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Setelah diberikan tindakan dengan menggunakan strategi kooperatif tipe Cooperative Script pada siklus I, rata-rata kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa mengalami peningkatan sebesar 3,84% sehingga mencapai 65,81%. Pada siklus II rata-rata kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa mengalami peningkatan sebesar 13,13% dari siklus I sehingga mencapai 78,94%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, kemampuan siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu dalam menyimak tembang Pucung dan Gambuh mengalami peningkatan sebesar 16,97% dan mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Kota Batu pada setiap aspeknya. Setelah menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh siswa mengalami peningkatan pada: (1) aspek jenis, dengan peningkatan sebesar 19,53%; (2) aspek ciri-ciri, dengan peningkatan sebesar 18,36% pada subaspek guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan; (3) aspek isi, dengan peningkatan sebesar 20,12% pada subaspek penulisan tembang dan isi tembang Pucung dan Gambuh; dan (4) aspek ajaran hidup dengan peningkatan sebesar 8,2%. Berdasarkan penelitian peningkatan kemampuan menyimak tembang Pucung dan Gambuh dengan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kota Batu, guru mata pelajaran Bahasa Jawa disarankan: (1) menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script dalam pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh, (2) menggunakan langkah-langkah pembelajaran sebagaimana langkah-langkah pembelajaran menyimak tembang Pucung dan Gambuh dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script, dan (3) membimbing siswa untuk melakukan tahapan-tahapan dalam menghasilkan sebuah pemahaman setiap aspek, yaitu jenis tembang macapat, ciri-ciri, isi, dan ajaran hidup tembang Pucung dan Gambuh. Untuk peneliti lanjutan disarankan melaksanakan penelitian dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Script untuk meningkatkan kemampuan siswa pada keterampilan menyimak yang lain.

Pengembangan media pembelajaran membaca dengan program Macromedia Flash 8 untuk siswa kelas X SMA / Tariyat Budi Santoso

 

Kata kunci: Media pembelajaran, membaca, kelas X, SMA' Mengajarkan keterampilan berbahasa kepada siswa bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan variasi media untuk meningkatkan minat belajar dan mengurangi rasa bosan siswa dalam belajar. Dengan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, siswa akan lebih bersemangat dan senang dalam belajar. Software Macromedia Flash 8 pada saat ini telah banyak digunakan untuk membuat media pembelajaran. Dari uraian di atas, maka perlu diadakan penelitian tentang media pembelajaran yang bercirikan pembelajaran interaktif dengan media pembelajaran yang berbasis Macromedia Flash 8 sebagai salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan menyenangkan pada kemahiran membaca untuk siswa kelas X SMA. Tujuan penelitian ini adalah (1) menghasilkan media pembelajaran membaca berbasis macromedia flash 8 untuk siswa kelas X SMA, (2) menghasilkan pedoman penggunaan media pembelajaran berbasis macromedia flash 8 untuk siswa kelas X SMA. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model prosedural yang dikembang oleh baedowi dengan sedikit perbaikan dan sedikit penyesuaian pada komponen-komponennya. Langkah-langkah penelittian pengembangan media pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis bahan ajar, (3)analiasis kebutuhan siswa, (4) desain media, (5) produksi, (6) editing, (7) prototipe media, (8) validasi produk, (9) uji coba produk, (10) revisi dan penyempurnaan, (11) produksi akhir. Penelitian ini menghasilkan produk berupa media pembelajaran membaca berbasis Macromedia Flash 8 yang telah divalidasi. Media pembelajaran tersebut adalah media pembelajaran yang dirancang khusus untuk kemahiran membaca bahasa Arab kelas X SMA dengan menggunakan software Macromedia Flash 8. Akan tetapi ada pula software pendukung yang digunakan dalam proses pembuatan media ini yaitu Corel Draw X4 Portable, Audio Recorder Free , Jet Audio 5.0, dan Microsoft Power Point. Berdasarkan hasil uji ahli media, diketahui tingkat validitas media pembelajaran yaitu 80%. Untuk hasil uji ahli materi, produk pengembangan memiliki tingkat validitas 82,14%. Berarti media pembelajaran tersebut cukup layak digunakan dalam pembelajaran. Namun untuk menyempurnakan media ini peneliti merevisi produk berdasarkan saran ahli media dan materi. Dan secara keseluruhan, persentase penilaian yang didapat dari hasil jawaban siswa adalah 80,92%. Hal ini berarti, media pembelajaran membaca dengan program Macromedia Flash 8 ini valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Dari hasil pengembangan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran kepada peneliti selanjutnya mengembangkan evaluasi yang berupa penilian angka dan yang berbasis online atau internet. Dengan begitu semua sekolah bisa memakainya secara online. Selain itu diharapkan dapat melakukan uji coba produk pengembangan kepada subjek yang lebih luas dengan kurun waktu yang lebih lama sehingga didapatkan validitas media yang lebih optimal.

Perbedaan mahasiswa reguler dan non reguler ditinjau dari minat, motivasi dan kebiasaan belajar serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah angkatan 2008 Univeritas Negeri Malang / Derta Arjaya

 

Kata kunci: minat belajar, motivasi belajar, kebiasaan belajar, prestasi belajar Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi berhasil tidaknya mahasiswa selama belajar di universitas, yaitu minat dan motivasi belajar serta kebiasaan belajar yang baik. Minat sangat mempengaruhi kualitas dan pencapaian hasil belajar tertentu serta akan menjaga konsentrasi seseorang sehingga ia dapat menguasai suatu pelajaran dengan baik dan pada gilirannya akan meningkatkan prestasinya pada pelajaran itu. Demikian juga halnya dengan motivasi, pelajar yang memiliki motivasi yang tinggi, akan berusaha lebih keras agar ia bisa mencapai tujuannya. Fakor yang ketiga adalah kebiasaan belajar yang juga sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar. Penelitian ini bertujuan (1) Membandingkan minat belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008 (2) Membandingkan motivasi belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008 (3) Membandingkan kebiasaan belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008 (4) Membandingkan pengaruh minat, motivasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa sejarah reguler dan Non Reguler angkatan 2008. Penelitian ini menggunakan rancangan kausal komparatif. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X1) adalah minat belajar, (X2) motivasi belajar, (X3) kebiasaan belajar, sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah angkatan 2008 sejumlah 102 mahasiswa dengan jumlah sampel 51 mahasiswa. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan teknik proportional random sampling (pengambilan sampel secara acak dan seimbang atau sebanding dengan banyaknya populasi penelitian). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Selanjutnya data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan bantuan soft ware SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai pada equal variance assumed (kedua variance sama besar) adalah 6.050 dengan probabilitas signifikansi 0.000 (two tail) < 0,05. Adapun besarnya perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi minat, dimana ditunjukkan bahwa besarnya korelasi minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa reguler adalah .634, yang berarti besarnya korelasi antara minat belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 63,4%. Sedangkan besarnya korelasi minat belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa non reguler adalah .610, yang berarti besarnya korelasi antara minat belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 61%. Jadi, minat belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yaitu 2,24%. (2) Terdapat perbedaan yang signifikan antara motivasi belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai pada equal variance assumed (kedua variance sama besar) adalah 2.553 dengan probabilitas signifikansi 0.015 (two tail) < 0,05. Adapun besarnya perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi motivasi, dimana ditunjukkan bahwa besarnya korelasi motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa reguler adalah .605, yang berarti besarnya korelasi antara motivasi belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 60,5%. Sedangkan besarnya korelasi motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa non reguler adalah .584, yang berarti besarnya korelasi antara motivasi belajar mahasiswa non reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 58,4%. Jadi, motivasi belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yaitu 2,1%. (3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara kebiasaan belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh equal variance assumed (kedua variance sama besar) adalah 4.388 dengan probabilitas signifikansi 0.000 (two tail) < 0,05. Adapun besarnya perbedaan tersebut dapat dilihat dari hasil uji korelasi kebiasaan belajar, dimana ditunjukkan bahwa besarnya korelasi kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa reguler adalah .459, yang berarti besarnya korelasi antara kebiasaan belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 45,9%. Sedangkan besarnya korelasi kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa non reguler adalah .394, yang berarti besarnya korelasi antara kebiasaan belajar mahasiswa reguler terhadap prestasi belajar mereka adalah 39,4%. Jadi, minat belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka yaitu 6,5%. (4) Dilihat dari pengaruh secara simultan, maka variabel minat, motivasi dan kebiasaan belajar mahasiswa reguler lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka (dilihat dari nilai Adjusted R Square masing-masing) dengan perbandingan .566 (56,6%) berbanding .387 (38,7 %). Hal tersebut menunjukan bahwa pengaruh minat, motivasi dan kebiasaan belajar lebih besar (17,9%) daripada pengaruh minat, motivasi dan kebiasaan belajar mahasiswa non reguler.Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara minat belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hal tersebut ditunjukan oleh besaran probablitas (Sig.) 0,578 > 0,05 dan t hitung (0,578) < t tabel (25 ; 0,05) (2,060) untuk minat belajar mahasiswa reguler. Sedangakan besaran probablitas (Sig.) 0,272 > 0,05 dan t hitung (1,134) < t tabel (18 ; 0,05) (2,101) untuk minat belajar mahasiswa non reguler. Saran dalam penelitian adalah (1) Untuk mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah baik reguler maupun non reguler pada umumnya dan mahasiswa reguler prodi pendidikan Sejarah angkatan pada khusunya agar dapat meningkatan minat dan motivasi belajar serta memperbaiki kebiasaan belajar agar dapat memperoleh prestasi yang optimal, (2) Untuk para dosen, diharapkan agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam menilai minat, motivasi dan kebiasaan belajar mahasiswa, (3) Untuk peneliti, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk selalu memperbaiki kualitas akademiknya, melalui peningkatan minat dan motivasi belajar maupun memperbaiki kebiasaan belajar dan (4) Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran untuk jurusan Sejarah, agar selalu memperhatikan pentingnya minat, motivasi dan kebiasaan belajar.

Manajemen pembelajaran di Lembaga Pendidikan Nonformal Kaliandra Sejati Prigen Pasuruan / Rifan Cahya Saputra

 

Kata kunci : manajemen pembelajaran, pendidikan nonformal. Pendidikan Nasional sebagai sebuah sistem dari suprasistem pembangunan nasional, memiliki tiga subsistem pendidikan yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hal tersebut sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nonformal diharapkan dapat membantu dan menunjang pendidikan formal dalam mencerdaskan peserta didik serta membantu peserta didik dalam mengimplementasikan ilmu yang didapatkan di pendidikan formal. Pendidikan nonformal banyak jenisnya, salah satunya Lembaga Pendidikan Alam dan Budaya (LPAB) Kaliandra Sejati. Pendidikan nonformal diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat dalam pengelolaan dan peningkatan mutu pendidikan nonformal itu sendiri. Dalam lembaga pendidikan terdapat manajemen pembelajaran yang bertujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Kegiatan belajar tidak harus dilakukan dengan model yang monoton itu-itu saja. Hanya duduk di kelas dan mendengarkan ceramah, dan sesekali diselingi diskusi. Namun pendidikan yang sebenarnya tidak hanya dapat kita peroleh dari buku dan informasi dari guru. Kita bisa juga mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan tertentu dengan suasana yang lain dari pendidikan formal yang ada yaitu pendidikan nonformal yang di sana kita akan menemukan keunikan dari pembelajaran yang dikembangkan di pendidikan nonformal dan tentunya mendapatkan berbagai macam pengetahuan. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Kaliandra Sejati yang berada di Prigen Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan paparan di atas, maka fokus umum penelitian ini adalah manajemen pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati Prigen. Fokus khusus penelitian ini meliputi: (1) perencanaan pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati Prigen; (2) pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati Prigen; (3) evaluasi pembeajaran di Lembaga Kaliandra Sejati Prigen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara; (2) teknik observasi; dan (3) teknik dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dikelola dan dianalisis guna mengetahui makna dan kesimpulannya. Triangulasi dilakukan guna memperoleh data-data yang dibutuhkan. Hasil analisis data tersebut kemudian diperoleh tiga kesimpulan yaitu: pertama, perencanaan pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati dibuat sesuai dengan kurikulum yang mengadopsi dari kurikulum di sekolah. Sedangkan untuk materi yang akan disampaikan disesuaikan dengan permintaan kelompok. Hal ini dilakukan dengan analisis tujuan dan harapan kelompok melakukan pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati. Dalam penyusunan perencanaan dilakukan bersamasama team program dimana team program lebih ke kurikulum, kegiatan, metode dan medianya. Kedua, pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati meggunakan konsep pembelajaran berbasis alam. Sumber belajarnya pun menggunakan alam sekitar. Sedangkan media yang digunakan meliputi gedung, alat-alat elektronik, dan alat musik tradisional Pelaksanaan pembejaran per materi dilaksanakan selama 2 jam. Fasilitator mengetahui selama 2 jam peserta sudah merasa bosan. Metode pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati cukup bervariasi antara lain: ceramah, diskusi, observasi langsung, dan game. Ketiga, evaluasi pembelajaran di Lembaga Kaliandra Sejati menggunakan teknik kuesioner dan tanya jawab dalam pengevaluasian. Teknik kuesioner dilakukan untuk mengevaluasi pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh lembaga. Sedangkan teknik tanya jawab dilakukan untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaan materi yang telah diberikan oleh fasilitator. Saran kepada Manajer HRD dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kualitas kinerja karyawan Lembaga Kalindra Sejati. Kepada Kepala Bidang Program Kaliandra Sejati: (1) perencanaan: agar lebih ditingkatkan rencana pembelajarannya sehingga perencanaan lebih matang dan baik; (2) pelaksaaan: agar lebih meningkatkan lagi kreativitas dan kemandirian untuk melaksanakan manajemen pembelajaran dalam penerapan manajemen dan pembelajaran ke arah yang lebih baik; (3) evaluasi: agar semua kegiatan (paket) didokumentasi sehingga kegiatan mempunyai dokumentasi yang lengkap dengan di administrasi secara baik, ada reporting hasil belajar tidak sekedar sertifikat tapi dievaluasi pencapaian belajar. Kepada Jurusan Administrasi Pendidikan agar memberi peluang penelitian mahasiswa yang terkait dengan pendidikan nonformal yang lain sehingga memperkaya manajemen pendidikan nonformal. Saran bagi peneliti lain agar lebih mengupas manajemen pembelajaran di pendidikan nonformal dan mencoba untuk melakukan penelitian dengan membandingkan dua tempat yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan metode-metode tentang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dari pelaksanaan manajemen pembelajaran di pendidikan nonformal.

Pengembangan perangkat pembelajaran blended kimia ada topik solubility equilibria and the solutibility product dan colloid kelas XI semester 2 Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioal / Ubed Sonai Fahruddin Arrozi

 

Kata Kunci: Perangkat pembelajaran, pembelajaran blended, solubility equilibria and the solubility product, colloid, SMA bertaraf internasional. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah melalui peningkatan status sekolah secara bertahap untuk mencapai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dimana Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan lembaga utama dalam implementasi SBI. Sebelum mencapai status SMA Bertaraf Internasional, SMA harus menjadi Rintisan SMA Bertaraf Internasional (R-SMA-BI) terlebih dahulu. Ditinjau dari aspek kurikulum di RSMA- BI, adanya indikator kinerja tambahan membuat beban kurikulum semakin berat dan membuat aktivitas proses belajar mengajar semakin padat. Hal ini mengakibatkan dibutuhkannya waktu tambahan untuk melaksanakan proses belajar mengajar diluar kelas demi terpenuhinya target kurikulum. Salah satu solusi pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengakomodir pembelajaran di luar kelas adalah pembelajaran blended yang menggabungkan pembelajaran tatap muka (face-to-face) dan pembelajaran online (Littlejohn and Pegler, 2007). Gagasan ini juga didukung dengan adanya kriteria unggulan di RSMA- BI yang mengharuskan pengintegrasian penerapan proses pembelajaran berbasis TIK (Depdiknas, 2009). Dengan adanya tuntutan tersebut, penelitan ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran blended pada mata pelajaran kimia yang materinya mengandung banyak konsep abstrak seperti halnya pada materi pokok solubility equilibria and the solubility product dan colloid. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas lima bagian utama, yaitu bagian awal, pendahuluan, isi, penutup, dan media pembelajaran online. Bagian awal meliputi cover, kata pengantar (preface), daftar isi (table of content), dan daftar gambar (picture list). Bagian pendahuluan, meliputi panduan penggunaan perangkat pembelajaran. Bagian isi meliputi silabus (syllabus), rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan), uraian materi pelajaran (handout), lembar kegiatan belajar siswa (worksheet), instrumen penilaian (assessment) yang meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta ringkasan (summary). Bagian penutup meliputi glosarium (glossary) dan daftar pustaka (references). Media pembelajaran online dikem-bangkan dengan menggunakan software open source Moodle. Pengembangan perangkat pembelajaran ini didasarkan atas adaptasi model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick and Carey. Adapun langkah-langkahnya adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melakukan analisis pembelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan pengalaman belajar, mengembangkan item tes berbasis kriteria, mengembangkan strategi dan model pembelajaran, mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, melakukan revisi, dan memproduksi produk yang berupa perangkat pembelajaran yang dilengkapi dengan media pembelajaran online. Desain validasi yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif terhadap perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh validator ahli, dan uji kelompk kecil terhadap media pembelajaran online. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Berdasarkan penilaian oleh tiga validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat dan media pembelajaran yang dikembangkan adalah 94% dengan kriteria valid/layak/baik. Sedangkan data dari hasil uji pada kelompok keci terhadap media pembelajaran online diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh adalah 77% dengan kriteria valid/layak/baik. Untuk pengembangan lebih lanjut, hendaknya perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan ini dilakukan uji validasi empirik (uji sumatif) di sekolah untuk mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran, sedangkan untuk mengimplementasikan media pembelajaran online yang telah dikembangkan diharapkan untuk menyosialisasikan terlebih dahulu pada user (guru dan siswa) tentang penggunaannya. Perangkat pembelajaran blended juga perlu dikembangkan untuk topik yang lain.

Penerapan teknik permainan tebak gaya dalam keterampilan berbicara bahasa Jerman siswa kelas XI SMA Laboratorium Universitas Negeri Malag / Vivi Kurniasari

 

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman teks melalui teknik scramble siswa kelas V SDN Bedali 05 Kabupaten Kediri / Litta Mariyana

 

Kata Kunci: teknik scramble, membaca pemahaman Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesi di SDN Bedali 05 kabupaten Kediri diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan yang dihadapi adalah siswa kurang mampu memahamiisi bacaan dan menyimpulkannya menjadi beberapa paragraf yang runtut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan teknik scramble dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman teks siswa kelas V SDN Bedali 05 kabupaten Kediri. Untuk penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket, dokumentasi dan observasi. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diawali dengan tahap perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflecting). Prosedur penelitian ini meliputi pratindakan, siklus 1, dan siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik scramble dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman teks. Siswa semakin sktif dan tidak takut untukmengekspresikan ide-ide yang dimilikinya. Selain menambah pengetahuan, siswa juga bermain sambil belajar, hal ini terlihat pada waktu siswa melaksanakan kerja kelompok. Selain itu penilaian hasil juga mengalami peningkatan, ini terbukti dari nilai pratindakan sampai penilaian proses siklus 1 ketuntasan klasikal adalah 50% dan pada siklus 2 ketuntasan klasikal mencapai 100%. Pada penilaian hasil pratindakan ketuntasan klasikal mencapai 40%, pada siklus 1 mencapai 50% dan pada siklus 2 adalah 100%. Kesimpulan dari data di atas bahwa pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN Bedali 05 perlu mendapat penanganan khusus pada aspek membaca pemahaman teks dengan materi pokoknya cerita anak.karena siswa kelas Vkurang mampu membaca secara kritis dan menyimpulkan sebuah teks cerita tersebut menjadi beberapa kalimat yang runtut. Berdasarkan kesimpulan yang dipaparkan peneliti maka peneliti memberikan saran, guru hendaknya menggunakan teknik scramble sebagai salah satu cara atau alternative untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan aktifitassiswa dalam kelas, kegiatan ini dilaksanakan secara berkesinambungan dalam mata pelajaran lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan materi lain.

Penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar berdasarkan Permendiknas Nomor 12 tahun 2005 (studi kasus di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang) / Trisiwi Tyas Utami

 

Kata kunci : deskripsi tugas, pengawas pendidikan dasar. Pendidikan nasional memiliki tiga subsistem pendidikan yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Subsistem pertama disebut pula pendidikan sekolah, sedangkan subsistem pendidikan nonformal dan informal berada dalam pendidikan luar sekolah. Pada dasarnya pendidikan ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan yang lebih baik, karena tuntutan peningkatan kualitas pendidikan yang semakin meningkat. Pendidikan berkualitas tidak akan terjadi tanpa ada peserta didik dan tenaga pendidik. Keduanya merupakan simbiosis mutualisme, dimana keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Namun tidak hanya hubungan antara peserta didik dan pendidik yang dibutuhkan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang berkualitas. Peran pengawas juga tidak bisa dilepaskan dari terbentuknya sekolah yang bermutu. Hampir tidak ada sekolah bermutu tanpa kepala sekolah yang bermutu, dan didukung oleh pengawas yang bermutu (Sudrajat, 2010). Aspek yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan mutu belajar siswa adalah kegiatan belajar mengajar guru di dalam kelas. Karena pada hakekatnya kegiatan pembelajaran di kelas merupakan sebuah proses mengubah input menjadi output, dan proses tersebut haruslah dilakukan secara benar. Untuk itu diperlukan pengawasan yang efektif guna mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Di sinilah tugas seorang pengawas untuk merencanakan, memantau, mengarahkan, membantu, dan mengevaluasi pelaksanaan pendidikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas) No. 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah, secara umum dijelaskan bahwa seorang pengawas hendaknya memiliki beberapa kompetensi, antara lain: (1) kompetensi kepribadian; (2) kompetensi supervisi manajerial; (3) kompetensi supervisi akademik; (4) kompetensi evaluasi pendidikan; (5) kompetensi penelitian pengembangan; dan (6) kompetensi sosial. Fokus dari penelitian ini adalah deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar, penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang, faktor pendukung dan kendala yang dihadapi dalam penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang, dan solusi mengatasi kendala penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang. Berdasarkan paparan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara; (2) observasi; dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dikelola dan dianalisis guna mengetahui makna dan kesimpulannya. Triangulasi dilakukan guna memperoleh data yang dibutuhkan. Penelitian ini mengungkap penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang mencakup beberapa hal yang meliputi tugas pengawas pendidikan dasar, tanggung jawab pengawas pendidikan dasar, spesifikasi jabatan pengawas pendidikan dasar, dan hubungan kerja. Penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar di UPT Pendidikan Dasar Kecamatan Klojen Kota Malang, sejauh ini berjalan dengan baik dan optimal. Hal ini terbukti dengan adanya rencana kegiatan pengawasan beserta laporan hasil kepengawasan, pengawas juga melakukan pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah binaannya. Faktor pendukung dari penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan adalah adanya partisipasi beberapa pihak, yaitu pihak sekolah, UPT, komite, dan stakeholder lainnya. Kendala yang dihadapi, dari pihak pengawas mengemukakan kurangnya pemahaman pihak sekolah terhadap kedudukan pengawas serta kendala waktu yang dimiliki pengawas. Langkah-langkah yang ditempuh baik dari pengawas atau dari sekolah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut adalah, pengawas selalu berusaha untuk mengajak semua pihak dalam menyusun program kepengawasan agar tidak terjadi kesenjangan antara program pengawas dengan sekolah maupun dengan UPT. Masalah waktu yang dikeluhkan oleh pihak sekolah, maka solusi untuk mengatasinya adalah dengan mengintensifkan kegiatan KKG dan K3S. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disarankan dalam melakukan proses kepengawasan, pengawas lebih meningkatkan penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan khususnya pengawas pendidikan dasar guna meningkatkan mutu pendidikan di sekolah binaannya. Dengan menerapkan Permendiknas Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas serta Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan. Kepada Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan untuk menyarankan kepada mahasiswa Administrasi Pendidikan untuk mengkaji tentang pengawas dan proses kepengawasan guna memperoleh rujukan di bidang kepengawasan. Dan kepada peneliti lain untuk menyempurnakan teori hasil penelitian yang telah dipaparkan. Kepala Sekolah diharapkan lebih berpartisipasi dalam mendukung penerapan deskripsi tugas pengawas pendidikan dasar.

Pengaruh pengumuman dividen dan stock split terhadap trading volume activity pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010 / Fatmamia Putri Megawati

 

Kata Kunci: Pengumuman Dividen, Stock Split, Trading Volume Activity. Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan. Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu Negara, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha dan kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi. Pengumuman dividen dan stock split merupakan salah satu informasi yang dipiblikasikan dipasar modal dan merupakan sinyal komunikasi secara tidak langsung bagi pemegang saham. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman dividen dan stock split. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI tahun 2007-2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 20 sampel. Periode pengamatan volume perdagangan saham dibedakan menjadi 5 hari sebelum pengumuman dividen dan stock split, pada saat pengumuman dan 5 hari sesudah pengumuman dividen dan stock split. Uji hipotesis menggunakan uji t-berpasangan (paired sample t-test). Hasil analisis menunjukkan bahwa pengumuman dividen dan stock split masing-masing berpengaruh terhadap Trading Volume Activity. Terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai probabilitas TVA sebelum dan sesudah pengumuman dividen. Begitu pula dengan nilai probabilitas TVA sebelum dan sesudah stock split juga memiliki perbedaan yang signifikan. Kesimpulan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pengumuman dividen dan stock split. Dapat disimpulkan bahwa pengumuman dividen dan stock split mempengaruhi aktivitas trading volume activity. Namun obyek penelitian ini relatif kecil jumlahnya dan tidak mengelompokkan sampel perusahaan menurut kelompok industri yang ada di Bursa Efek Indonesia. Saran dari penelitian ini sebaiknya investor dapat meng-gunakan informasi yang didapat dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keuntungan dan meminimalkan resiko atas investasi dananya. Untuk emiten hendaknya tidak hanya memperhatikan pengumuman dividen dan stock split sebagai bahan menentukan kebijakan perusahaan namun juga corporate action lainnya.

Hubungan ketersediaan media pembelajaran TIK dan tingkat literasi komputer terhadap prestasi belajar TIK siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen Kabupaten Malang / Kartika Damayanti

 

Kata Kunci: Ketersediaan Media Pembelajaran TIK, Literasi Komputer, dan Prestasi Belajar TIK Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang saat ini telah masuk ke dalam dunia pendidikan, penyediaan media pembelajaran TIK sangat mendesak untuk dipenuhi, karena media TIK digunakan sebagai alat bantu dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas baik teori maupun praktek agar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Selain penyediaan media, tingkat literasi tentang komputer juga harus diperhatikan, karena tanpa adanya pemahaman komputer secara mendasar kepada peserta didik, maka ketersediaan media pembelajaran TIK akan tidak maksimal dalam pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan secara simultan an¬ta¬ra tingkat ketersediaan media pembelajaran TIK (X1), tingkat literasi komputer (X2) terhadap prestasi belajar TIK (Y) siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen. Penelitian menggunakan pende¬katan kuantitatif, dengan rancangan penelitian des¬krip¬tif kore¬lasional. Populasi diambil dari seluruh siswa kelas X SMAN 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 274 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Teknik Proportional Random Sampling di mana dari masing-masing kelas yang diteliti diambil proporsi 30% siswa secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan metode angket dan dokumentasi. Analisis diperoleh dengan menggunakan teknik regresi ganda. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS for Windows release 17. Hasil penelitian ini adalah: (1) ketersediaan media pembelajaran TIK di SMA Negeri 1 Kepanjen cenderung berada dalam kategori tinggi sebesar 36,8%, tingkat literasi komputer cenderung dalam kategori tinggi sebesar 37,8%,dan prestasi belajar TIK siswa cenderung berada dalam kategori tinggi sebesar 48,2%. (2) hasil korelasi antara ketersediaan media pembelajaran TIK dengan prestasi belajar TIK sebesar 0,263 dan sig=0,01 < 0,05, berarti ada hubungan signifikan antara ketersediaan media pembelajaran TIK dengan prestasi belajar TIK, (3) hasil korelasi antara tingkat literasi komputer dengan prestasi belajar TIK sebesar 0,256 dan sig=0,01 < 0,05, berarti ada hubungan signifikan antara tingkat literasi komputer dengan prestasi belajar TIK siswa, dan (4) hasil korelasi antara ketersediaan media pembelajaran TIK dan tinigkat literasi komputer terhadap prestasi belajar TIK sebesar 0,409 dan sig=0,001 < 0,05, berarti ada hubungan secara simultan dan signifikan antara ketersediaan media pembelajaran TIK dan tingkat literasi komputer dengan prestasi belajar TIK.

Hubungan efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja karyawan / Ilmah Ashihatul Maghfiroh

 

Kata Kunci: efikasi diri, komitmen organisasi, produktivitas kerja Efikasi diri merupakan keyakinan atau kepercayaan seorang karyawan atas kemampuan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang telah ditetapkan. Komitmen organisasi merupakan keinginan karyawan untuk tetap mempertahankan dirinya dalam suatu organisasi dan bersedia memberikan kemampuan dan dirinya untuk membantu kesuksesan organisasi. Produktivitas kerja merupakan indeks perbandingan tingkat pencapaian hasil dengan sasaran atau pun standar kerja yang telah ditetapkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk :1) Mengetahui tingkat efikasi diri, komitmen organisasi, produktivitas kerja pada karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut. 2) Mengetahui hubungan efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja pada karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut. Subjek penelitian ini adalah karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut yang berjumlah 30 orang. Data penelitian diperoleh dari Skala Efikasi Diri dan Skala Komitmen Organisasi serta data gaji karyawan pada bulan Januari 2011. Teknik analisis data untuk melihat efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja adalah Analisis Deskriptif, untuk mengetahui hubungan antara Efikasi Diri dan Produktivitas Kerja, Komitmen Organisasi dan Produktivitas Kerja adalah dengan analisis korelasi Product Moment, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara Efikasi Diri, Komitmen Organisasi dan Produktivitas Kerja adalah dengan analisis korelasi Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Efikasi diri karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut berada dalam intensitas sedang. 2) Komitmen organisasi karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut berada dalam intensitas sedang. 3) Produktivitas kerja karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut berada dalam intensitas sedang. 4) Adanya hubungan yang positif antara efikasi diri dan produktivitas kerja (rxy = 0.601, p = 0.000<0.05). 5) Adanya hubungan yang positif antara komitmen organisasi dan produktivitas kerja (rxy = 0.570, p = 0.001<0.05). 6) Adanya hubungan yang positif antara efikasi diri, komitmen organisasi dan produktivitas kerja (F = 9.442 dengan nilai p = 0.001<0.05). Berdasar hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu: 1) Bagi karyawan PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut agar meningkatkan keyakinan dirinya untuk mampu menyelesaikan setiap pekerjaan dan melanggengkan hubungan dengan perusahaan, agar tercipta suasana hangat ketika bekerja. 2) Bagi perusahaan dan manajeman agar menanamkan keyakinan pada seluruh karyawannya ketika memberikan pekerjaan kepada mereka, dan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang hangat bagi karyawannya. 3) Bagi peneliti selanjutnya bisa menggunakan faktor lain yang memiliki pengaruh sama dan lebih memperluas populasi penelitian yang digunakan.

Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi dengan pendekatan komunikatif pada kelas III SD Berita Hidup Malang / Wahyu Dyah Sriwindartin

 

Pengaruh persepsi atribut produk laptop Toshiba terhadap proses keputusan pembelian konsumen (studi kasus pada mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang) / Rina Nugraheny

 

Kata Kunci: Atribut Produk, Proses Keputusan Pembelian Pada saat sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju, dan perkembangan teknologi semakin canggih dengan memunculkan produk-produk baru yang berteknologi modern untuk konsumen. Alat untuk mengumpulkan informasi yang mendukung kebutuhan konsumen dan banyak diminati masyarakat saat ini adalah laptop. Untuk bersaing didunia pemasaran produsen harus bisa menetapkan strategi-strategi pemasarn yang tepat untuk produknya agar dapat mempertahankan market share yang telah didapat agar tidak direbut oleh pesaing yang semakin banyak. Strategi tersebut bisa dengan cara mengembangkan atau memperbaiki atribut produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keadaan persepsi atribut produk dan proses keputusan pembelian, untuk mengetahui pengaruh atribut produk secara parsial dan simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen yaitu mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang yang membeli dan menggunakan Laptop Toshiba. Varibel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari varibel bebas yakni Atribut Produk (X) yang terdiri dari Merek (X1), Desain (X2), Harga (X3), Mutu(X4) dan Garansi (X5). Sedangkan Variabel terikatnya adalah variabel Proses Keputusan Pembelian(Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang yang membeli dan menggunakan Laptop Toshiba. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 139 responden yang dipilih secara accidental sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel merek terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial B=0,249; thitung=4,107; dan Sig t=0,000; (2) ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel Desain secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen nilai B=0,186; thitung=2,950; dan Sig t=0,004; (3) ada pengaruh positif yang antara variabel Harga terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial dengan nilai B=0,225; thitung=3,759; dan Sig t=0,000; (4) ada pengaruh positif yang antara variabel Mutu dengan proses keputusan pembelian konsumen dengan nilai B=0,384; thitung=6,170; dan Sig t=0,000; (5) ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel Garansi terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial B=0,198; thitung=3,295; dan Sig t=0,001; dan (6) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel Merek, Desain, Harga, Mutu dan Garansi terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara simultan dengan nilai Fhitung =33,663; Ftabel=2,281; Sig. F=0,000; R=0,747; R square =0,559; dan Adjusted R Square=0,542. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas konsumen menjawab setuju terhadap keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian laptop toshiba, dan terdapat pengaruh secara parsial dan simultan antara atribut produk terhadap proses keputusan pembelian laptop Toshiba dan mutu (X4) merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh dominan terhadap proses keputusan pembelian Laptop Toshiba pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Dan Merek, Desain, Harga, Mutu dan Garansi mempengaruhi keputusan mahasiswa jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang sebesar 54,2% sedangkan sisanya 45,8% dipengaruhi faktor-faktor lain diluar penelitian. Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa variabel atribut produk sangat relatif digunakan sebagai salah satu faktor dapat meningkatkan proses keputusan pembelian laptop toshiba pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang. Sehingga perlu adanya perbaikan dan perhatian khusus terhadap variabel-variabel tersebut terutama untuk variabel garansi, karena garansi merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh paling lembah terhadap proses keputusn pembelian laptop toshiba pada Mahasiswa Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang.

Pengaruh atribut kartu seluler Telkomsel terhadap proses keputusan pembelian (studi pada mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Muhammad Nabiel Abraham

 

Kata kunci: Atribut Kartu Seluler, Proses Keputusan Pembelian Salah satu kemajuan teknologi pada saat ini adalah terdapat pada bidang komunikasi yang ditandai dengan adanya berbagai macam alat komunikasi bagi masyarakat dan salah satunya adalah kartu seluler sebagai alat komunikasi. Agar dapat lebih bersaing dengan produsen-produsen kartu seluler yang lain, maka produsen kartu seluler harus menetapkan strategi-strategi pemasaran yang jitu agar dapat memenangkan persaingan serta mampu mempertahankan market share yang telah diraih agar tidak direbut oleh para pesaing yang salah satunya adalah dengan mengembangkan atribut produk. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keadaan atribut kartu seluler produk dan preses keputusan pembelian, mengetahui pengaruh variaber-variabel produk secara parsial dan simultan terhadap proses keputusan pembelian serta mengetahui factor yang paling dominan yang mempengaruhi proses keputusan pembelian kartu seluler Telkomsel pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yakni atribut kartu seluler (X) yang terdiri dari call quality (X1), value added service (X2), pricing structures (X3), customer complaint/customer care (X4), and physical evidence (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel proses keputusan pembelian. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang memakai kartu seluler TELKOMSEL. Jumlah sample sebanyak 100 responden yang dipilih secara accidental random sampling dengan instrument yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen menjawab setuju terhadap keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL, terdapat pengaruh parsial dan simultan antara atribut produk kartu seluler terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dan variabel call quality merupakan variabel atribut kartu seluler yang memiliki pengaruh dominant terhadap proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, i Dari hasil penelitian tersebut dikatakan dapat dikatakan bahwa variabel atribut kartu seluler sangat efektif digunakan sebagai salah satu fatur yang dapat meningkatkan proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, sehingga perlu adanya perbaikan dan perhatian khusus terhadap variabel-variabel tersebut terutama untuk variabel pricing structures karena variabel tersebut mempunyai pengaruh paling lemah terhadap proses keputusan pembelian kartu seluler TELKOMSEL pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang,

Pengaruh manfaat citra merek terhadap intensi pembelian ponsel Nokia (studi kasus pada konsumen di Counter Oke Shop Malang Town Square) / Witamining Ayu Lelia Dewi

 

Analisis faktor dimensi kualitas layanan yang dipertimbangkan pelanggan dalam keputusan pemilihan hotel (studi pada pelanggan Hotel The Graha Cakra Malang) / Diyah Pratiwi

 

Kata Kunci : Bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, empati. Bukti fisik merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Selain bukti fisik, keandalan juga merupakan kemampuan perusahaan untuk menyampaikan layanan yang dijanjikan secara akurat sejak pertama kali. Dengan memberikan layanan yang andal maka tidak mampu ditiru oleh perusahaan lain. Yaitu dengan megimbangi ketanggapan yang diberikan karyawan kepada pelanggan merupakan hal yang sangat penting. Kemampuan dan ketrampilan karyawan sangat diperlukan dalam melayani baik dalam pemberian pelayanan konsultasi bagi pemecahan masalah yang dihadapi pelanggan dengan baik dan tepat. Selain itu jaminan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan harus sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Yaitu berkenaan dengan pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka dalam menumbuhkan rasa percaya (trust) dan keyakinan pelanggan (confidence). Setiap pelanggan tentunya mengharapkan bahwa jaminan yang diberikan akan memberikan kenyamanan pada dirinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang dipertimbangkan pelanggan dalam pemilihan Hotel. Penelitian ini mempunyai 5 variabel, yaitu bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), empati (X5). Populasi dalam penelitian ini adalah Pelanggan yang menginap di Hotel The Graha Cakra Malang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 150 responden. Sampel diambil dengan menggunakan accidental sampling. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: dari 22 variabel yang terotasi dalam 7 faktor yaitu (1) Faktor daya tanggap yang merupakan merupakan faktor yang dominan dibandingkan faktor-faktor lain yang terdapat dalam dimensi kualitas layanan yang dipertimbangkan pelanggan dalam keputusan pemilihan Hotel The Graha Cakra Malang. Hal ini dibuktikan nilai Eigen Value 3.487 dengan nilai variance 15.849%. (2) Faktor empati yang merupakan faktor terbesar kedua, dengan nilai Eigen Value 3.087dengan nilai total variance 14.033%. (3) Faktor jaminan kenyamanan dan kepercayaan yang merupakan faktor terbesar ketiga, dengan nilai Eigen Value 2.683 dengan nilai variance 12.196%. (4) Faktor keandalan dalam pelayanan yang merupakan faktor terbesar keempat, dengan nilai Eigen Value 2.424 dengan nilai variance 11.016%. (5) Faktor buktifisik internal yang merupakan faktor terbesar kelima, dengan nilai Eigen Value 2.349 dengan nilai variance 10.679%. (6) Faktor buktifisik eksternal yang merupakan faktor terbesar keenam, dengan nilai Eigen Value 1.821 dengan nilai variance 8.277%. (7) Faktor jaminan ketepatan yang merupakan faktor terbesar ketujuh, dengan nilai Eigen Value 1.312 dengan nilai variance 5.964%. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah: Faktor daya tanggap merupakan faktor yang dominan dalam dimensi kualitas layanan dalam keputusan pemilihan Hotel The Graha Cakra Malang. Hasil tersebut bisa dijadikan acuan Hotel The Graha Cakra Malang. Sehingga Hotel The Graha Cakra Malang diharapkan lebih meningkatkan faktor daya tanggap yang ada dan disesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan pelanggan yaitu dengan cara memberikan training kepada karyawan Hotel dan pemberian reward kepada karyawan yang memiliki kinerja lebih baik. Untuk mendapatkan harapan pelanggan terhadap layanan yang diberikan, Hotel The Graha Cakra Malang dapat mempelajari dimensi kualitas layanan secara mendalam, dengan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dipertimbangkan pelanggan dalam keputusan pemilihan Hotel yaitu dengan cara menyediakan kotak saran agar pihak Hotel The Graha Cakra Malang mengetahui keluhan, harapan dan juga keinginan dari pelanggan.

Pengetahuan gizi ibu hubungannya dengan status gizi anak balita di Desa Gendangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung / Nila Darmayanti

 

Kata Kunci: Pengetahuan Gizi Ibu, Status Gizi, Anak Balita Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak balita di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini termasuk penelitian Survey dengan pendekatan Cross Sectional. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh balita berusia 36-60 bulan di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 35 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan wawancara, kuesioner (angket) dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data pengetahuan berhubungan secara signifikan terhadap status gizi, terbukti dengan (sig.) 0,002 < 0,05 dan rhitung (0,505) > rtabel (0,334), sehingga dapat disimpulakan bahwa pengetahuan gizi ibu berhubungan dengan status gizi anak balita di Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

The use of smart strategy to improve the reading comprehension of the ninth grade students of MTsN Bantarwaru-Majalengka / Tori Satori

 

Program in English Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1)Dr. Suharmanto, M. Pd. (2) Prof. M. Adnan Latief, M.A, Ph.D. Key words: SMART strategy, improvement, reading comprehension. The teaching of reading comprehension plays significant roles in leading our students the understandingof written texts.Those understandings imply that the objective of teaching reading comprehension should be helping students to develop all of the reading comprehension skills. The teaching techniques and strategies should be directed to achieving those objectives. Students’ difficulty in comprehending the text becomes the case in MTsNBantarwaru. It implies that the students’ reading achievement is yet unsatisfactory.In the preliminary study, the researcher found that the students’ reading achievement is still under the minimum passing level. Therefore, this research is designed to improve the students’ reading comprehension through the use of SMART strategy. In a SMART activity, students are rehearsed to comprehend a text with the procedure of (1) reading a text fast and silently, (2) placing check mark () or question mark (?) next to each paragraph that contains something understood or not, (3) modeling how to paraphrase each paragraph, (4) translating and troubleshooting. The research applies a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher work together in preparing a suitable procedure of SMART strategy, designing the lesson plan, determining the criteria of success, implementing the action, observation, and doing reflection. The subjects of this research were 35 ninth year students of MTsNBantarwaruMajalengka, West Java in the academic year of 2010/ 2011. This research was conducted in 2 Cycles, each of which comprises four meetings. The data of this research were obtained through (1) observation sheet, designed to obtain information about teacher’s and students’ activities and performance during the implementation of SMART strategy, (2) field notes, arranged to note the data beyond the coverage of the observation sheet, and (3) test, devised to identify whether the students make progress in reading comprehension. The research shows that the implementation of SMART strategy in the teaching-learning of reading comprehension can improve the students’ comprehension skill. It can be identified that after the implementation of the action, there was an improvement on the number of students who obtained the gain at least 10 in first Cycle was 30 students out of 35 students (85.71%). It had not fulfilled the criteria of success yet. In cycle 2, the students who got the gain at least 10 were all of 35 students (100%). It had fulfilled the criteria of success in term of the score improvement. Moreover, the finding indicated that SMART strategy was successful to enhance students’ motivation to be actively involved in the instructional process. The improvement on the students’ participation was 75% in Cycle 1 and 87% in Cycle 2. Based on the findings above, some suggestions for English teachers and future researchers are made as follows: for the English teachers who have similar problem, it is suggested that they implement SMART strategy as one of the alternatives for improving students’ reading comprehension. For the future researchers, it is suggested that they conduct the same research in other level of study with different subjects, setting, and other text types to see whether SMART strategy is also applicable and effective to improve the students’ reading comprehension.

Pengembangan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) pada pokok bahasan optika geometri untuk SMA kelas X semester II / Eki Luthfintri

 

Kata kunci: bahan ajar fisika, SAVI, optika geometri Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan bahan ajar untuk membantu jalannya proses pembelajaran tersebut. Bahan ajar yang digunakan haruslah memenuhi kriteria bahan ajar yang baik sehingga siswa mudah memahami materi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada guru dan siswa ditemukan bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan belum adanya inisiatif siswa untuk membaca maupun mengerjakan soal latihan yang ada pada bahan ajar fisika. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan mengembangkan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk aktif bergerak, berbicara, mengamati, menemukan konsep, dan memecahkan masalah dalam pembelajaran fisika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan, mengetahui karakteristik, serta mengetahui kelayakan bahan ajar fisika berbasis SAVI (Somatic, Auditory, Visual, Intellectual) pada pokok bahasan optika geometri untuk SMA Kelas X semester 2. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan lima langkah awal metode Borg dan Gall, yaitu penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan draf produk, uji coba, dan revisi hasil uji coba. Kelayakan diukur dengan menggunakan uji validitas oleh tim ahli materi (dua dosen fisika dan satu guru fisika SMA Negeri 4 Malang), serta pengguna bahan ajar (sepuluh siswa SMA Negeri 4 Malang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar fisika berbasis SAVI pada pokok bahasan optika geometri memperoleh nilai rata-rata 3,44 dari penilaian tim ahli yang berarti layak. Dari siswa, diperoleh nilai rata-rata 3.40 yang berarti layak. Hal ini berarti bahan ajar yang disusun sudah layak untuk digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan penelitian pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar fisika tersebut dengan melakukan uji coba lebih luas, sehingga diperoleh bahan ajar fisika berbasis SAVI pada pokok bahasan optika geometri yang teruji validitasnya secara empiris.

Pengaruh service quality terhadap loyalitas pelanggan (studi pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang) / Rani Fahmi

 

Kata kunci: Service quality, Loyalitas pelanggan Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat ditandai dengan pertumbuhan industri perbankan yang ada dalam negara tersebut. Perkembangan bank-bank syariah di Indonesia mengalami kendala karena Bank Syariah hadir di tengah-tengah perkembangan dan praktik-praktik perbankan konvensional yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, bank Syariah harus memberikan pelayanan prima (service excellent) dengan cara meningkatkan service quality. Hal ini dilakukan agar pelanggan menjadi loyal dengan produk yang ditawarkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana keadaan service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) dan loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (2) apakah service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) berpengaruh secara parsial terhadap loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (3) apakah service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) berpengaruh secara simultan terhadap loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?, (4) variabel service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles, dan compliance) manakah yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang?. Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan nasabah Tabungan Muamalat yang tercatat sebanyak 159.729 sampai bulan Desember 2010, penentuan sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Tekhnik sampling dalam penelitian ini menggunakan (accidental sampling) untuk menyebarkan kuesioner kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup yang menggunakan skala Likert dengan 5 pilihan jawaban. Penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis data yang menggunakan regresi linear berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini adalah: (1) bahwa keadaan service quality terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang cukup tinggi, (2) dengan nilai thitung sebesar 2,911 dan sig t 0,005, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel reliability secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 2,395 dan sig t 0,019, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel responsiveness secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 3,830 dan sig t 0,000, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel assurance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 2,242 dan sig t 0,027, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel empathy secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 3,244 dan sig t 0,002, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel tangibles secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima; dengan nilai thitung sebesar 4,766 dan sig t 0,000, maka ada pengaruh positif yang signifikan service quality variabel compliance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Malang diterima, (3) dengan nilai Fhitung = 34,574 > Ftabel = 2,19 dengan taraf signifikansi 0,000, dengan melihat taraf signifikansi yang lebih kecil dari 0,05, maka ada pengaruh positif yang signifikan antara reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara simultan terhadap loyalitas pelanggan Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang diterima, (4) variabel yang dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan pada Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang adalah compliance yang menunjukkan nilai SE sebesar 23,7%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) keadaan service quality (reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance) Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang cukup tinggi, (2) ada pengaruh positif yang signifikan antara service quality yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara parsial terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang, (3) ada pengaruh positif yang signifikan antara service quality yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangibles dan compliance secara simultan terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang, (4) variabel service quality yang dominan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang adalah variabel compliance (kesesuaian dengan prinsip Syariah). Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pihak Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang lebih meningkatkan responsiveness kepada pelanggan, dari segi assurance karyawan harus bersikap profesional dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, segi tangibles Bank Muamalat Indonesia Cabang Malang bisa lebih meningkatkan kenyamanan bagi pelanggan, diharapkan kepercayaan pelanggan terhadap compliance selalu dipertahankan dan menjadi perhatian khusus dengan meningkatkan kualitas dari compliance; (2) Peneliti selanjutnya, perlu pengujian lebih mendalam mengenai service quality pada perbankan syariah, terutama untuk menemukan peranan dimensi syariah dalam menciptakan loyalitas pelanggan.

Pengaruh cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang / Andi Setiawan

 

Kata kunci: Cara Belajar, Tingkat Stres, Hasil Belajar Ekonomi. Cara belajar merupakan strategi yang dilakukan siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Cara belajar dibagi menjadi cara belajar di rumah dan cara belajar di sekolah. Tingkat stres merupakan tekanan pada aspek emosi, fisik, intelektual dan interpersonal siswa sebagai akibat dari adanya stressor yang diperoleh individu. Masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pengaruh antara cara belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang? (2) Bagaimana pengaruh antara tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang? (3) Bagaimana pengaruh antara cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Malang?. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 1 Malang. Teknik pengambilan sampel dengan “Proportional Random Sampling” Instrumen yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Analisis deskriptif korelasionalnya menggunakan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh variabel cara belajar (X1) dan tingkat stres (X2) terhadap hasil belajar (Y). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh positif antara cara belajar terhadap hasil belajar dengan tingkat signifikansi t (0,000) lebih kecil dari α (0,05) dan sumbangan efektif 6,62%, terdapat pengaruh negatif antara tingkat stres terhadap hasil belajar dengan tigkat signifikansi t (0,000) lebih kecil dari α (0,05) dan sumbangan efektif 57,22%. Secara simultan terdapat pengaruh cara belajar dan tingkat stres terhadap hasil belajar dengan Fhitung = 145.934 dan taraf signifikansi sebesar 0,000, angka Adjusted R Square = 0,634. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran (1) bagi siswa dapat mengatur waktu dan cara belajarnya lebih efektif dan aktif dalam mengikuti pelajaran dan berusaha mengatasi stres yang dialami dalam belajar seperti memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya, belajar atau mempersiapkan pelajaran sebelum dimulai dan rajin berolah raga, (2) bagi sekolah perlu memberikan bimbingan kepada siswa dalam hal cara belajar dan mengolah stres agar siswa lebih baik dalam mengatasi masalah yang dapat menimbulkan stres dalam belajar, (3) bagi peneliti lain diharapkan untuk lebih dalam dan spesifik dalam meneliti masalah tingkat stres siswa dengan metode yang lebih baik.

Analisis tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem wancik untuk ukuran XXXXL / Nurma Evy Maulidya

 

Kata kunci: Analisis, pola, Wancik, Kenyamanan. Masalah-masalah yang sering muncul dalam pembuatan pola badan, misalnya kurang tepatnya ukuran yang dipakai sehingga hasil jadi yang diperoleh kurang maksimal, pemindahan kupnad yang tidak sesuai, terdapat kerut atau menggelembung. Begitu pula dalam pembuatan pola celana untuk seseorang yang memiliki tubuh langsing (ideal) cenderung tidak bermasalah dengan struktur pola celana. Sebaliknya pada orang berbadan gemuk permasalahan sering terjadi pada bagian pesak, karena struktur badan orang gemuk tidak ada keseimbangan antara struktur bagian perut, lingkar panggul, dan lingkar paha, sehingga terlihat bentuk yang tidak rapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kenyamanan pola celana panjang wanita sistem Wancik pada pembuatan celana panjang wanita yang memiliki ukuran tubuh gemuk dengan indikator penilaian hasil pengepasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Objek dalam penelitian ini yaitu pola celana panjang wanita sistem Wancik. Beberapa ukuran dalam pembuatan pola celana panjang wanita sistem Wancik yaitu lingkar pinggang, panjang celana, tinggi duduk, lingkar panggul, lingkar pesak, lingkar paha, lingkar lutut, lingkar kaki. Pola celana panjang wanita dengan sistem Wancik mempunyai bentuk yang lebih lebar, dalam menentukan besar paha sistem Wancik menggunakan rumus lingkar paha + 13 cm dikurangi 1 cm : 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kenyamanan pemakai untuk wanita yang memiliki ukuran XXXXL dengan menggunakan pola celana panjang wanita sistem Wancik. Hasil penelitian berdasarkan penilaian hasil pengepasan dapat diketahui frekwensi rata-rata tingkat kenyamanan celana panjang wanita ukuran (XXXXL), persentase dari masing-masing kedua ukuran tersebut memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda pula. Ukuran pada model pertama (I) nilai tingkat kenyamanan dengan kategori nyaman sebanyak 47,6%, sedangkan untuk ukuran model kedua (II) memiliki nilai dengan kategori nyaman sebanyak 38,01%. Untuk tingkat kenyamanan dengan kategori kurang nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 28,7%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai dengan kategori kurang nyaman sebanyak 33,3%. Persentase nilai dengan kategori tidak nyaman pada ukuran yang pertama sebanyak 23,8%, sedangkan untuk ukuran yang kedua memiliki persentase nilai tingkat kenyamanan dengan kategori tidak nyaman sebanyak 28,7%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pembuatan celana panjang wanita dengan sistem Wancik pada hasil jadi ban pinggang celana bagian belakang longgar dan bergelombang (tidak rata), sehingga terlihat kurang nyaman ketika di pakai, pada bagian lingkar pesak sempit di bagian bawah pantat dan berkerut pada bagian sisi dan pantat, serta pada bagian lingkar paha sedikit longgar. Sistem pola celana yang di ujikan pada dua orang model yang masih memiliki ukuran tubuh yang di tetapkan (XXXXL). Pengujian pada dua ukuran tersebut menghasilkan nilai yang berbeda dan hasil tingkat kenyamanannya berbeda. Untuk ukuran yang pertama memiliki tingkat kenyamanannya lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran yang kedua. Ukuran tubuh seseorang dalam membuat busana sangat penting oleh karena itu pengukuran dilakukan dengan lebih teliti supaya busana yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebaiknya, dalam pemilihan desain tidak terlalu banyak merubah pola dasar, sehingga nantinya bisa diketahui letak kekurangan dan kelebihan dari pola yang di pakai.

Penerapan model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok dengan media alat peraga untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Malang / Bagus Purwanto

 

Kata Kunci: Kooperatif investigasi kelompok, Media Alat Peraga, Prestasi Belajar Fisika Penggunaan metode pembelajaran yang masih didominasi oleh ceramah dalam pembelajaran fisika merupakan faktor penyebab kurang berkembangnya prestasi belajar fisika siswa di sekolah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan menggunakan model pembelajaran tradisional yang didominasi oleh metode ceramah dan jarang menggunakan media alat peraga. Selain itu penerapan model pembelajaran yang selalu sama dalam semua materi membuat siswa merasa jenuh, pada akhirnya menyebabkan prestasi belajar fisika siswa menjadi rendah.Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa dan menyiapkan siswa agar memiliki hubungan sosial yang sehat akhir-akhir ini banyak dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif. Salah satunya adalah kooperatif investigasi kelompok dengan media alat peraga. Sejumlah studi tentang kooperatif investigasi kelompok ini telah konsisten menemukan bahwa siswa yang belajar dengan cara ini dapat belajar dan mengendapkan materi lebih banyak daripada siswa yang sekedar mendengarkan materi pelajaran. Tujuan dari penelitian ini tidak lain untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tahaptahap penelitian tindakan berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) pemberian tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi, yang membentuk siklus demi siklus sampai penelitian tuntas, sehingga diperoleh data yang dapat dikumpulkan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII.H SMP Negeri 10 Malang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif investigasi kelompok dengan peningkatan pada prestasi belajar fisika dengan nilai gain score 0,33 pada siklus I menjadi 0,44 pada siklus II dan ini sudah berada di atas Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75. Diharapkan pada penelitian selanjutnya pembelajaran dapat menggunakan model kooperatif nvestigasi kelompok dengan alat peraga terhadap prestasi belajar fisika karena model kooperatif investigasi kelompok dengan alat peraga ini dapat meningkatkan interaksi siswa melalui proses kerjasamanya.

Upaya meningkatkan kualitas produk media pembelajaran fisika melalui kelompok kolaboratif model think pair share mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM / Dwi Windi Ari Suyitno

 

Kata Kunci: kolaboratif, Think-Pair-Share, kualitas produk media Rerata nilai produk media pembelajaran fisika berupa Galvanometer yang dibuat mahasiswa kelas AA offering CC di Jurusan Fisika masih mencapai 65,71. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar mahasiswa pada ranah psikomotor masih rendah. Penyebab dari permasalahan rendahnya kemam¬puan mahasiswa membuat produk media adalah kurangnya memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk berkreasi mengembangkan suatu desain media karena kerja kelompok yang selama ini dilakukan belum memperhatikan tanggung jawab individu. Berdasar¬kan masalah rendahnya hasil belajar ranah psikomotor maka perlu dilakukan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas produk media melalui kelompok kolaboratif dengan model Think Pair Share. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk media pembelajaran fisika dengan menerapkan kelompok kolaboratif model Think Pair Share mahasiswa Jurusan Fisika kelas AA offering CC. Penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan dosen pengampu mata-kuliah Pengembangan Media Pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Mc Taggart dengan tahapan penelitian berupa siklus spiral yang meliputi kegiatan: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Penelitian dilakukan selama dua siklus. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Fisika kelas AA offering CC dengan jumlah 36 mahasiswa yang terdiri dari 15 mahasiswa laki-laki dan 21 mahasiswa perempuan. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran dan lembar penilaian kualitas produk media pembelajaran fisika Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menerapkan kelompok kolaboratif model Think Pair Share, kualitas produk media pembelajaran fisika yang dibuat mahasiswa meningkat. Skor peningkatan pada siklus I sebesar 70,20 menjadi 85,20 pada siklus II.Rerata skor akhir produk media pembelajaran fisika mahasiswa adalah sebesar 85,20.

Hubungan antara motivasi berprestasi dan adversity quotient dengan prestasi akademik siswa SMAN 1 Malang / Heridha Yuninda

 

Kata Kunci: motivasi berprestasi, adversity quotient, prestasi akademik, siswa Adversity Quotient adalah suatu cara yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh seseorang mampu menghadapi kesulitan dan bagaimana kemampuan seseorang dalam mengatasinya. Motivasi berprestasi adalah usaha seseorang dalam menguasai tugasnya, mencapai kesuksesan, mengatasi rintangan, menjadi lebih baik dari orang lain, dan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan penghargaan atas pekerjaannya. Prestasi akademik adalah hasil dari proses belajar secara formal di sekolah, berupa penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru dalam rapor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik, mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik siswa, mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dengan motivasi berprestasi, dan mengetahui hubungan antara motivasi berprestasi dan Adversity Quotient dengan prestasi akademik pada siswa SMAN 1 Malang. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan korelasional. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik stratified proportional random sampling. Ada tiga alat pengumpul data dalam penelitian ini yaitu skala motivasi berprestasi, skala Adversity Quotient, dan dokumentasi laporan hasil rapor siswa. Subyek penelitian adalah siswa SMAN 1 Malang berjumlah 321 anak. Sampel penelitian adalah siswa SMAN 1 Malang kelas XI berjumlah 79 anak. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebesar 49,3% memiliki motivasi berprestasi yang rendah, sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebesar 36,7% memiliki Adversity Quotient rendah, dan sebagian besar siswa kelas XI SMAN 1 Malang yaitu sebanyak 46,8% siswa memiliki prestasi akademik yang sedang. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik sebesar rx1y = 0, 352 dengan nilai p<0.05. Ini berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi akademik. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik sebesar rx2y= 0.424 dengan nilai p< 0.05. Ini berarti ada hubungan antara Adversity Quotient dengan prestasi akademik. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dengan Adversity Quotient sebesar rx1x2= 0,780 dengan p< 0,05, artinya ada hubungan antara motivasi berprestasi dengan Adversity Quotient. Hasil analisis korelasi ganda menghasilkan koefisien korelasi antara motivasi berprestasi dan Adversity Quotient dengan prestasi akademik yaitu Rsquare= 0.181 dengan sig= 0,001 artinya R2 = 0,181, signifikan pada 0,001 sehingga Ha

Dampak program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri perdesaan (PNPM-MP) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang / Dewi Ningnurati

 

Kata Kunci: Dampak, PNPM-MP, kesejahteraan masyarakat Kemiskinan adalah permasalahan utama dalam agenda pembangunan di Indonesia sampai dengan tahun 2010. Masalah kemiskinan menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah karena merupakan amanat konstitusi dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu cara dalam pengentasan kemiskinan adalah dengan menggunakan pendekatan pemberdayaan, sehingga pemerintah mengeluarkan beberapa program pemberdayaan masyarakat antara lain: PPK, P2K, P4K, PEMP dan KUBE. Program-program pemberdayaan masyarakat dalam pengentasan kemiskinan pelaksanaannya kurang efektif sehingga pemerintah mengeluarkan program baru yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang yang melaksanakan PNPMMP. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji dampak PNPM-MP dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sebagaimana yang ada pada tujuan program, sehingga peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Bagaimana dampak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) dalam pengembangan prasarana sosial dasar dan ekonomi bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang; (2) Bagaimana dampak PNPM-MP dalam perluasan lapangan pekerjaan bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang; (3) Bagaimana dampak PNPM-MP dalam pengembangan partisipasi keswadayaan dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif-studi kasus. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian ini adalah Pengelola PNPM-MP di Kecamatan Wonosari dan di desa serta masyarakat penerima manfaat dari PNPM-MP di Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif (reduksi, penyajian dan verifikasi data). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) dampak PNPM-MP dalam pengembangan prasarana sosial dasar pendidikan pada pembangunan gedung TK bagi rumah tangga miskin di Kecamatan Wonosari yaitu adanya ketersediaan prasarana sosial dasar pada pendidikan, meningkatkan kualitas prasarana gedung i

Pengaruh model pembelajaran inquiry training (pelatihan inkuiri) terhadap hasil belajar dan perhatian siswa pada mata pelajaran fisika di kelas X SMA Negeri 4 Malang / Ika Suryani

 

Kata kunci: model inquiry training, hasil belajar, perhatian Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 4 Malang, ditemukan bahwa hasil belajar dan perhatian siswa pada pelajaran fisika masih rendah. Hasil belajar yang rendah ditunjukkan dengan nilai rata-rata siswa yang masih berada di bawah KKM yang sebesar 76. Nilai-nilai tersebut adalah sebesar 57.35 untuk kelas X1, 56.66 untuk kelas X2, 62.45 untuk kelas X3, 65,21 untuk kelas X4, 64.89 untuk kelas X5, dan 54.97 untuk kelas X6. Nilai tersebut diperoleh dari hasil ujian akhir semester gasal. Sedangkan perhatian siswa yang rendah ditandai dengan banyaknya kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa selama pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan terhadap pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran baru dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar dan perhatian siswa. Salah satunya adalah model pembelajaran inquiry training (pelatihan inkuiri). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Rancangan penelitiannya adalah eksperimen semu dan desain penelitian yang digunakan adalah posttest only control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang yang terdiri dari enam kelas sebagai populasi penelitian, sedangkan sampelnya adalah kelas X3 sebagai kelas eksperimen dan X5 sebagai kelas pembanding. Setiap kelas yang menjadi subjek penelitian tersebut terdiri dari 38 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan berupa RPP dan instrumen pengukuran berupa lembar observasi dan instrumen tes. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar dengan uji U Mann- Whitney, diperoleh nilai z sebesar −2.834 yang lebih kecil dari nilai kritis z yaitu 1.645 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak. Diterimanya H0 ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas pembanding. Artinya, hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran inquiry training tidak lebih tinggi dari hasil belajar siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil analisis terhadap perhatian siswa yang dilakukan dengan uji perbedaan dua proporsi, diperoleh nilai z sebesar 6.087 yang lebih besar dari negatif nilai z tabel yaitu sebesar −1.64 sehingga H0 diterima atau H1 ditolak, artinya proporsi kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa kelas eksperimen tidak lebih kecil dari kelas pembanding. Proporsi kegiatan tidak relevan yang dilakukan siswa ini menunjukkan perhatian siswa. Jadi perhatian siswa kelas eksperimen atau kelas yang belajar dengan model pembelajaran inquiry training tidak lebih besar dari siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. ABSTRAK Suryani, Ika. 2011. The Influence of Inquiry Training Model to Students’ Learning Results and Attention in Physics of Grade X at Public Senior High School 4 Malang. Thesis, Physics Department, Faculty of Mathematics and Science, State University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Subani, (II) Dra. Chusnana Insjaf Yogihati, M.Si. Keywords: inquiry training model, learning results, attention Based on observations in Public Senior High School 4 Malang, it was found that the students’ learning results and attention are low. The low learning results indicated by the average student is still below that of KKM 76. Values amounted to 57.35 for class X1, 56.66 for X2, 62.45 for X3, 65.21 for X4, 64.89 for X5, and 54.97 for X6. This value is obtained from the odd semester of the final exam. While students attention which are low shown by the number of irrelevant activities done by students during the lesson. Therefore, the necessary improvements to learning by applying new learning models in the hope of increasing students’ learning results and attention. One model of learning is inquiry training model. The approach used in this study is a quantitative approach to the type of experimental research. The design study is a quasi-experimental and design study is a posttest only control group design. The subject of this study is the grade X at Public Senior High School 4 Malang which consist of six classes as the population, while the sample is X3 as experiment class and X5 as the comparison class. Each class that is the subject consist of 38 students. Research instrument used is the treatment instrument in the form of lesson plans and measuring instruments in the form of the observation sheets and test instruments. Based on the analysis results of learning results by the Mann-Whitney U test, z values obtained for −2.834 is less than the critical value of z is 1.645 so the H0 is received or H1 is refused. H0 receipt shows that there is no difference in learning results between experimental class and comparison class. It means the learning results of students who learn by inquiry training model is not higher than the learning results of students who studied with conventional learning. The analysis of students' attention to the difference of two proportions test, z values obtained for 6.087 is greater than negative value of z table that is equal to −1.64 so that H0 accepted or H1 refused, meaning that the proportion of irrelevant activities conducted experimental class students is not lower than the comparison class. The proportion of irrelevant activities of the student shows students' attention. So attention experimental class or classes of students who learn by inquiry learning model of training is not greater than students who studied with conventional learning.

Evaluasi potensi mata air Song Bajul untuk suplai air bersih penduduk di Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung tahun 2010-2050 / Mar'atus Sholekhah

 

Kata Kunci: kebutuhan air, kuantitas air, proyeksi penduduk Kekeringan merupakan keadaan dimana sebagian besar penduduk merasakan kurangnya air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah ini dialami oleh penduduk Kabupaten Tulungagung bagian selatan, yaitu Kecamatan Pucanglaban. Penduduk Desa Pucanglaban memanfaatkan mata air Umbul Bendo dan Desa Sumberdadap memanfaatkan mata air Sumber Kucur, yang masing-masing memiliki debit 0,5 liter/detik, sehingga terdapat batasan waktu untuk mendapatkan pasokan air bersih. Di Desa Panggungkalak terdapat sumber mata air yang memiliki debit yang besar, yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan kekurangan air bersih. Mata air tersebut dinamakan mata air Song Bajul yang merupakan mata air karst. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi (kuantitas) mata air Song Bajul, menganalisis kebutuhan air, dan mengevaluasi potensi mata air Song Bajul untuk memenuhi kebutuhan air bersih tahun 2010-2050 di Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Obyek dalam penelitian ini meliputi mata air Song Bajul dan penduduk Desa Pucanglaban dan Sumberdadap. Sampel responden ditentukan dengan Stratified Proportional Random Sampling dan jumlah responden ditentukan dengan Stratified Sampling. Jumlah responden di Desa Pucanglaban 156 KK dan Desa Sumberdadap 133 KK. Hasil penelitian ini yaitu: (1) kuantitas mata air Song Bajul adalah 201,67 liter/detik atau 17.424.616,32 liter/hari, (2) saat ini total kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap yaitu 1.030.381,24 liter/hari, (3) Perkiraan total kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Desa Sumberdadap tahun 2050 yaitu 2.536.746,61 liter/hari. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) Debit mata air Song Bajul memiliki debit yang relatif stabil sepanjang tahun karena merupakan mata air karst, (2) terjadi perbedaan pola konsumsi antara jenis pekerjaan, (3) besar kebutuhan air bersih penduduk Desa Pucanglaban dan Sumberdadap tahun 2050 dapat tercukupi dengan debit mata air Song Bajul baik pada musim kemarau dan dan musim penghujan. Saran yang dapat diberikan: (1) untuk penelitian selanjutnya hendaknya dilakukan juga evaluasi kualitas mata air, (2) faktor kebocoran harus diperhatikan dalam proses distribusi air sehingga kuantitas air yang diperoleh lebih akurat, (3) hendaknya dilakukan prediksi penggunaan lahan untuk beberapa tahun yang akan datang.

Pengaruh permainan dalam outbond terhadap sikap disiplin dalam bekerja / Ken Anis Nur Laily

 

Kata Kunci: permainan, sikap disiplin dalam bekerja Permainan merupakan suatu aktivitas manusia yang menyenangkan, bersemangat dan kompetitif dengan menaati aturan-aturan yang sudah ditentukan sesuai dengan materi dan jenis permainannya. Sikap yaitu suatu penilaian subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Disiplin dalam bekerja adalah serangkaian tingkah laku karyawan untuk mentaati dan mematuhi segala peraturan-peraturan yang berlaku dalam perusahaan yang meliputi ketepatan masuk kerja, kepatuhan dan loyalitas, ketaatan pada peraturan dan prosedur, dan penggunaan alat kerja serta kerjasama dengan rekan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan terhadap sikap dalam disiplin bekerja. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 orang (N=30). Untuk menghitung perbedaan pretest dan posttest menggunakan t-score tesretes. pre test and post test design. Hasildari 30 peserta terdapat 23 orang yang mengalami peningkatan skor sikap disiplin dalam bekerja dan 7 orang mengalami penurunan. Hasil t-score tesretes memperoleh t = 3,498, signifikansi pada. 0.002 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan sikap disiplin sebelum dan sesudah diberikan permainan. Permainan efektif mengubah sikap disiplin dalam bekerja seseorang, dapat dilihat dari skor mean posttest = 96,97 lebih besar dibanding pretest = 88,66 Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan saran pada beberapa pihak diantaranya : (1) Bagi perusahaan diharapkan dapat menjadikan permainan sebagai kegiatan berkala sehingga kinerja karyawan dalam hal ini disiplin dalam bekerja dapat terus meningkat. (2) Bagi para karyawan peserta permainan diharapkan dapat mengaplikasikan pengalaman dan pemahaman yang didapat dalam dunia kerja. (3) Bagi perusahaan jasa permainan diharapkan penelitian ini dapat menjadikan referensi mengenai efektivitas permainan. (4) Bagi praktisi psikologi yang ingin meneliti lebih lanjut disarankan melakukan randomisasi untuk menentukan sampel penelitian dan perlu menggunakan varabel dan atau kelompok kontrol agar eksperimen yang dilakukan lebih bersih.

Penerapan metode mind mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang / Bayu Dwi Septiawan

 

Kata kunci: Metode Mind Mapp, Keterampilan Menulis Narasi. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Purwantoro 02 Malang didapatkan fakta bahwa, pembelajaran yang dilakukan guru terhadap kemampuan siswa dalam menulis karangan menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam penggunaan diksi, ejaan dan tanda baca, serta membangun kepaduan kata dengan kalimat sesuai dengan isi cerita. Nilai yang diperoleh pun secara klasikal rata-ratanya hanya mencapai 45,05. Sedangkan SKM yang ditentukan adalah 75 untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode Mind Mapp. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan metode Mind Mapping untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa. (2) mendiskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi siswa dengan penggunaan metode Mind Mapping. Penelitian ini menggunakan jenis PTK yang dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus 2 pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Jenis data yang hendak dikumpulkan adalah data proses pembelajaran dan hasil keterampilan menulis narasi siswa. Sumber datanya adalah siswa kelas V dan juga guru Bahasa Indonesia di kelas tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan tes dengan instrument berupa lembar observasi, kamera dan soal test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Mind Mapp untuk pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Purwantoro 02 Malang dengan standar kompetensi “Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis” dapat dilaksanakan dengan efektif. Keterampilan menulis narasi siswa meningkat dari 45,05 pada kegiatan pratindakan menjadi 55,16 pada siklus I dan menjadi 75,37 pada siklus II. Pada penilaian menulis narasi terdapat beberapa indikator yang dirasa perlu diperhatikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya keberhasilan indikator yang rendah dibandingkan dengan indikator yang lain. Indikator tersebut adalah pemilihan kata, serta penggunaan Ejaan dan tanda baca. Untuk indikator pemilihan kata dapat diselesaikan dengan menambahkan sumber bacaan kepada siswa pada waktu mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa. Sedangkan indikator penggunaan ejaan dan tanda baca dapat diselesaikan dengan cara pembiasaan dan latihan yang berkelanjutan. Dari hasil penelitian ini, guru seharusnya melakukan persiapan yang matang sebelum kegiatan belajar mengajar seperti lebih menyiapkan media ataupun bahan pembelajaran yang diperlukan untuk menunjang ketercapaian indikator, sedangkan untuk pihak sekolah diharapkan kerjasamanya dalam menumbuhkan minat siswa untuk menulis dengan menyediakan fasilitas berupa buku bacaan anak dan tempat yang nyaman untuk membaca sehingga kosa kata siswa bertambah dengan harapan dapat menumbuhkan minat menulis siswa.

Pengembangan media pembelajaran berbasis auto play untuk mata kuliah teknik penerjemahan di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Syayidah Ginanjar Rahayu

 

Kata Kunci: Hak Asasi Manusia, Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Hak Asasi Manusia merupakan hak dasar yang dimiliki manusia yang tidak dapt di kurangi dengan suatu apapun. Dalam proses pembelajaran Hak Asasi Manusia merupakan salah satu komponen yang dapat mendukung terwujudnya pembelajaran yang lebih menghargai hak-hak manusia dan mewujudkan pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran efektif (effective learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning). Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di SMP Negeri 1 Wajak diaktualisasikan dalam bentuk proses pemebelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan, hal ini dapat terlihat dalam keterlibatan siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas VII SMP Negeri 1 Wajak Kabupaten Malang, (2) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), (3) upaya-upaya yang dilakukan oleh guru guna mengatasi kendala-kendala implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Berdasarkan tujuan tersebut, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data dibedakan menjadi dua, yaitu sumber data manusia dan sumber data non manusia (dokumen). Penentuan informan penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan meliputi tiga unsur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan menggunakan empat teknik, yaitu perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan, triangulasi (sumber, metode, teknik), dan pemeriksaan sejawat. Temuan penelitian menujukkan bahwa (1) implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 1 Wajak meliputi (a) Implementasi HAM dalam perencanaan pembelajaran yang meliputi: Perumusan kompetensi pembelajaran, dimana guru mengembangkan kompetensi dasar yang terdapat dalam standar isi kedalam beberapa indikator pembelajaran, dalam mengembangkan indikator guru tetap memperhatikan potensi dan kemampuan dari peserta didiknya; Perencanaan materi, dalam proses pembelajaran guru selalu menumbuhkan sikap demokratis melalui keterbukaan untuk bertanya atau berpendapat jika dalam pembelajaran ditemukan perbedaan antara materi dengan buku; Perencanaan metode, guru melakukan pemilihan metode yang akan digunakan sehingga pembelajaran lebih efektif, aktif dan sesuai dengan tujuan Perencanaan media, penggunaan media disesuaikan dengan materi yang diajarkan, serta penggunaan media terbatas pada media OHP dan Perencanaan evaluasi pembelajaran, meliputi kegiatan perencanaan waktu, materi yang diujikan serta intrumen dan bentuk tes yang akan digunakan (b) implementasi HAM dalam pelaksanaan pembelajaran, diwujudkan dengan pemberian hak pada siswa dalam bentuk hak untuk bertanya, menyampaikan pendapat, serta mengemukakan gagasan. (c) implementasi HAM dalam evaluasi pembelajaran, dalam merencanakan waktu evaluasi guru berpedoman pada kalender akademik agar tidak berbenturan dengan kegiatan sekolah, serta dalam menentukan soal evaluasi guru tetap memperhatikan batasan-batasan kompetensi dasar yang ditentukan. (2) faktor pendorong implementasi hak asasi manusia dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Wajak adalah sebagai berikut: Ingin mengubah paradigma pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran yang modern, pembelajaran aktif, dan pembelajaran yang menyenangkan. Mewujudkan pembelajaran yang mengedepankan persamaan hak dan kebebasan dalam mengembangkan pengetahuan dan kreativitas. Sedangkan faktor penghambat adalah: Masih kurangnya pengetahuan guru dan siswa tentang penggunaan haknya dalam proses pembelajaran; Siswa masih belum bisa sepenuhnya mengharagai hak-hak masing-masing individu; Adanya sebagian siswa yang memaksakan kehendak dalam berpendapat; Kurangnya komunikasi yang baik antara guru dan siswa. (3) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan implementasi HAM dalam proses pembelajaran PKn adalah: Guru selalu mengadakan komunikasi, sharing dan interaksi dengan siswa; Guru selalu memotivasi diri untuk meningkatkan profesionalismenya unutk meningkatkan kualitas dalam mengajar; Guru selalu menghadirkan model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Beberapa saran sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak asasi manusia dalam proses pembelajaran yaitu: (1) Guru perlu lebih meningkatkan kualitas dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional, (2) Bagi pihak sekolah, perlu adanya bimbingan dan pelatuhan tentang hak asasi manusia bagi guru yang betujuan untuk meningkatkan kesadaran guru dalam peningkatan dan penghargaan hak asasi manusia dalam pembelajaran, (3) Bagi Diknas, perlu adanya pertimbangan tentang penerapan hak asasi manusia dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah serta perlu pelatihan atau sosialisasi tentang hak asasi manusia dalam mengembangkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai hak asasi manusia.

Implementasi strategi pembelajaran mastery learning dalam kompetensi kejuruan sistem pemindah tenaga (kopling) Teknik Mekanik Otomotif di SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung / Muh. Amri Mukhtarifin

 

Peningkatan kemampuan menjawab dan mengajukan pertanyaan melalui metode bisajawab pada siswa kelas IIIB SD Negeri Kandangan I Kediri / Dwi Nur Rohmah

 

Kata Kunci : metode BISAJAWAB, menjawab pertanyaan, mengajukan pertanyaan, kemampuan membaca Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri. Salah satunya adalah membaca intensif suatu artikel pendek. Membaca intensif perlu dibiasakan kepada siswa sejak duduk di bangku kelas rendah. Melalui membaca intensif, siswa dapat mengetahui ide, pesan maupun isi artikel secara menyeluruh sehingga dapat dituangkan ke dalam bentuk tulisan seperti mengajukan dan menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil pengamatan di kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri, sebagian besar siswa belum mampu membaca intensif dengan tepat sehingga banyak kendala yang dihadapi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kendala-kendala tersebut: (1) siswa belum mampu menjawab dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan isi artikel yang dibaca secara intensif, (2) pertanyaan yang diajukan oleh siswa cenderung pada hal-hal yang bukan berkenaan dengan isi artikel yang dibaca, (3) siswa sering kesulitan jika guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan seputar isi artikel yang dibaca, (4) para siswa juga kesulitan untuk menemukan kalimat utama yang menjadi tolak ukur pemahaman siswa terhadap isi artikel yang dibaca secara intensif, (5) jawaban dari pertanyaan guru tidak sesuai dengan kunci jawaban sehingga hasil belajar siswa di bawah KKM. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas IIIB SDN Kandangan I Kediri yang terdiri atas 45 siswa. Analisis data kualitatif menunjukkan bahwa melalui metode BISAJAWAB siswa antara lain (1) dapat membaca intensif dengan tanpa bersuara dan tidak menggeleng-gelengkan kepala, (2) dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan literal secara cepat, (3) dapat berkompetisi secara sehat dengan siswa lain dalam mengikuti kuis bertanya cepat dapat, (4) dapat konsentrasi, teliti, dan tepat dalam menjawab pertanyaan, (5) dapat menggali pembendaharaan kosakata siswa dalam menentukan variasi pertanyaan yang akan diajukan, dan (6) dapat berpikir aktif dalam mengajukan pertanyaan kritis. Analisis data kuantitatif menunjukkan bahwa skor penilaian rata- siswa pada siklus I sebesar 51,59 dengan presentase klasikal 18,17% sehingga siklus I belum dikatakan berhasil karena ketuntasan belajar klasikal siswa belum bisa mencapai standar ketuntasan klasikal pada pembelajaran bahasa Indonesia sebesar 75% seperti yang ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan. Presentase ketuntasan pada siklus II sebesar 89,29%. Pada siklus II, skor penilaian rata-rata siswa sebesar 62,86 dengan ketutasan klasikal 38,63%. Meskipun siklus II mengalami peningkatan tetapi siswa belum mencapai KKM. Perubahan drastis terjadi pada siklus III. Pada siklus III, skor penilaian rata-rata sebesar 89,76 dengan presentase klasikal sebesar 100%. Dengan demikian, presentase hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sampai siklus III mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar ini terjadi karena siswa sudah mampu membaca intensif untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan dengan tepat, cepat, logis, dan bervariasi.

Penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Malang / Wildan Akhsana

 

Kata kunci: Media Macromedia Flash Professional 8, IPA, Pembelajaran, Media pembelajaran adalah segala sesuatu alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip, atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata atau konkrit dari pengirim pesan kepada penerima sehingga terjadi proses belajar, dengan media proses pemahaman konsep siswa menjadi lebih mudah dan belajar menjadi lebih bermakna. Berdasarkan hasil observasi di SDN Tunjungsekar 1 didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang belum pernah menggunakan media, sehingga siswa kurang aktif. Dari nilai tes menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 60,9 dengan ketuntasan kelas hanya mencapai 36,4 %, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 67 untuk hasil belajar dan 70% untuk ketuntasan kelas. Penelitian ini merumuskan masalahnya (1) bagaimanakah langkah-langkah guru dalam memanfaatkan media macromedia flash professional 8 untuk meningkatkan pembelajaran IPA, (2) bagaimankah aktivitas siswa selama pembelajaran dengan media macromedia flash professional 8, (3) bagaimanakah hasil belajar siswa setelah diterapkan media macromedia flash professional 8. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya yaitu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaboratif partisipatoris. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media macromedia flash professional 8, lembar observasi aktivitas siswa, soal tes, pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media macromedia flash professional 8 untuk pembelajaran IPA siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 dengan kompetensi dasar “mendeskripsikan sistem tata surya dan posisi penyusunan tata surya” dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan keberhasilan guru dalam penerapan media macromedia flash professional 8. Aktivitas siswa meningkat, siklus I 82,5 menjadi 86,5 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 78 dengan ketuntasan 84% pada siklus I menjadi rata-rata 82 dengan ketuntasan kelas mencapai 92% pada siklus II. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran macromedia flash professional 8 dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Tunjungsekar 1 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Oleh karena itu disarankan bagi guru dan sekolah supaya lebih termotivasi dan lebih semangat dalam memberikan pengajaran yang bermutu, bervariasi dan berinovasi untuk mengadakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.

Studi setting rele proteksi terhadap gangguan arus hubungan singkat 3 fasa pada generator PT. YTL Jawa Timur / Moch. Efendi

 

Kata kunci: generator, arus gangguan, rele proteksi, EDSA 2005. PLTU Paiton unit 5 dan 6 merupakan pembangkit yang mensuplai energi listrik di Jawa-Bali sebesar 1220 MW. Guna menjaga kontinyuitas suplai energi, maka keandalan generator harus dijaga dari berbagai jenis gangguan. Di PLTU Paiton unit 5 dan 6 sering terjadi gangguan hubung singkat pada lilitan stator. Hal ini bisa disebabkan oleh tegangan lebih ataupun beban yang menghilang mendadak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui setting rele arus lebih terhadap arus hubung singkat yang terjadi pada lilitan stator. Untuk menentukan waktu kerja rele diperlukan perhitungan besar arus hubung singkat yang terjadi pada belitan stator dengan perhitungan manual serta perhitungan arus hubung singkat dengan menggunakan EDSA 2005. Setelah menentukan arus hubung singkat pada lilitan stator baru dapat menetukan waktu setting trip rele. Jadi hubungan gangguan hubung singkat 3 fasa adalah dalam menentukan waktu kerja rele untuk mencegah terjadinya gangguan. Hasil yang didapat berdasarkan analisa dan pembahasan yaitu dalam penyetelan kerja rele arus lebih tidak terdapat perbedaan dengan yang terpasang 1 Ampere, hal ini disebabkan karena pada tap penyetelan rele menggunakan data yang valid untuk perhitungan setting rele. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada pembahasan ini besar arus hubung singkat dengan perhitungan manual sebesar 72237,69 Ampere sedangkan perhitungan menggunakan EDSA 2005 sebesar 78171 Ampere dan setting rele arus lebih terdapat 0,94 Ampere dibulatkan menjadi 1 Ampere dengan setting waktu 2,86 detik dan dibulatkan menjadi 3 detik, sehingga apabila terjadi gangguan arus hubung singkat tiga fasa pada generator akan bekerja dengan waktu tunda 3 detik. Sistem pengaman generator tetap terkoordinasi dengan baik dan keandalan generator dalam menyupplai energi listrik tetap terjaga. Saran yang dapat digunakan untuk permasalahan ini adalah dengan melakukan pemeliharan dan pemeriksaan secara berkala terhadap rele arus lebih karena kalau seandainya rele tidak bekerja maka kita segera mengetahui dan segera memperbaikinya.

Pembuatan cocktail dress variasi ruffles pleats / Amelia Rahma Devi

 

Kata Kunci: Cocktail dress, variasi ruffles pleats. Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan oleh seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk pelengkap busana, tatarias wajah dan tatarias rambutnya. Dunia busana berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat dalam berbusana. Tren busana pesta terus mengalami perkembangan, salah satunya adalah cocktail dress. Cocktail dress merupakan gaun pendek (sampai batas lutut atau lebih), biasanya dibuat dari bahan wol ringan, satin, sutera, beludru, atau bahan mewah lain, juga dapat dihias dengan bordir atau hiasan dekoratif lain, dengan potongan yang memamerkan pundak serta lengan atas. Ruffles pleats dipilih sebagai variasi karena keduanya memiliki keunikan tersendiri. Jika keduanya digunakan dalam pembuatan cocktail dan dress akan memberikan kesan glamor dan feminim. Jenis pleats yang digunakan penulis yaitu sunray pleats dan knife pleats. Dalam pembuatan cocktail dress kali ini, penulis membuat karya cocktail dress dari bahan kain “dobby kombinasi”, kain organdi dan kain tile.  Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 348.700,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa cocktail dress berbahan “doby kombinasi” dengan variasi ruffles pleats. Saran yang dapat diberikan adalah pada saat pembuatan cocktail dress ini adalah pada saat pembuatan ruffles pleats sebaiknya bahan dipleats telebih dalulu sebelum dipotong agar tekstur pleats pada pola ruffles pleats bisa lebih terlihat serta pola ruffles pleats dihasilkan lebih bergelombang.

Peningkatan hasil belajar operasi penjumlahan pecahan melalui pemanfaatan benda manipulatif siswa kelas V SDN Bandulan 5 Kecamatan Sukun Kota Malang / Wahyu Nurdianta

 

Kata kunci: PTK, Benda Manipulatif, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya penguasaan materi dikarenakan kurangnya penggunaan media pembelajaran di SDN Bandulan 5 Kota Malang. Penelitian ini berangkat dari akar permasalahan siswa yang cenderung terlihat sulit menerima materi saat pembelajaran berlangsung. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan memanfaatkan benda manipulatif seperti kertas lipat dan mika transparan. Pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan memamfaatkan benda manipulatif yang dapat meningkatkan keaktifan siswa sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep matematika. Tujuan penelitian ini yaitu : 1) mendeskripsikan pemanfaatan benda manipulatif dalam pembelajaran matematika kelas 5 pada pokok bahasan operasi penjumlahan pecahan; 2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa Kelas 5 SDN Bandulan 5 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara dan tes. Data yang dianalisis pada penelitian ini berupa penguasaan materi yang diperoleh melalui hasil penilaian pembelajaran dan hasil penilaian terakhir pembelajaran yang didapat dari nilai test akhir. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 5 SDN Bandulan 5 Kota Malang, dengan jumlah siswa sebanyak 17 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010-2011, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai Matematika, soal test akhir sebanyak 10 soal, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan benda manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar Matematika dengan materi operasi penjumlahan pecahan di kelas V SDN Bandulan 5 Malang. Perolehan hasil belajar siswa meningkat, dari nilai pretes terlihat 11,76%, pada siklus I mencapai 52,94%, jadi dari hasil pre tes ke siklus I meningkat sebesar 41,18%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 41,18%, hal ini terlihat dari siklus I yang tuntas 52,94% dan siklus II yang tuntas mencapai 94,12%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan benda manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V SDN Bandulan 5 Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menggunakan media pembelajaran saat pembelajaran yang memang membutuhkan media.

Frekuensi kunjungan harian arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Anggun Wulandari

 

Kata kunci: frekuensi, kunjungan harian, distribusi temporal, Arthropoda, tumbuhan liar, faktor abiotik Frekuensi adalah keseringan suatu jenis yang ditemukan dalam setiap petak pengamatan. Frekuensi kunjungan harian Arthropoda dapat dilihat dari seberapa sering famili Arthropoda tersebut dalam mengunjungi tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. yang ditentukan berdasarkan rerata Arthropoda disetiap jam yang di amati secara visual control dari jarak 2 meter selama 10 hari. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. (2) mengetahui distribusi temporal Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. (3) mengetahui faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang memaparkan tentang frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Pengamatan jumlah Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dilakukan pada pukul 07.00-07.15, 08.00-08.15, 09.00-09.15, 10.00-10.15, 11.00-11.15, 12.00-12.15, 13.00-13.15, 14.00-14.15, 15.00-15.15, 16.00-16.15 dan 17.00-17.15, sedangkan pengamatan pada tumbuhan liar Setaria sp. dilakukan pada pukul 07.20-07.35, 08.20-08.35, 09.20-09.35, 10.20-10.35, 11.20-11.35, 12.20-12.35, 13.20-13.35, 14.20-14.35, 15.20-15.35, 16.20-16.35 dan 17.20-17.35. Penelitian ini dilakukan pada petak klon assamica dan faktor abiotik yang diukur meliputi suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya dan kecepatan angin. Frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. dianalisis dengan uji t berpasangan (pair-sample t test), sedangkan distribusi temporal dianalisis secara deskriptif dan untuk mengetahui faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. dianalisis dengan analisis regresi ganda bertahap dengan menggunakan program SPSS. Berdasarkan hasil analisis uji t berpasangan yang dilakukan ada perbedaan frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. dan Setaria sp. di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tinggi pada Borreria repens DC. adalah Acrididae, Coccinellidae, Dolichopodidae, Gryllidae, Syrpidae, Vespidae, Tachinidae dan Ichneumonidae. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tinggi pada Setaria sp. adalah Lycosidae, Oxyopidae, Pholcidae dan Salticidae. Famili Arthropoda yang memiliki frekuensi kunjungan harian yang tidak berbeda pada Borreria repens DC. dan Setaria sp. adalah Cicadellidae, Drosophilidae, Formicidae, Muscidae, Papilionidae, Geometridae, Carabidae, Tettigonidae, Pyrgomorphidae, Aeshnidae, Mantidae, Pentatomidae dan Culicidae. Distribusi temporal menunjukkan bahwa Arthropoda tertentu lebih sering ditemukan pada jam-jam tertentu, dari hasil penelitian diketahui bahwa famili Arthropoda yang aktif pada pagi dan sore hari yaitu Cicadellidae, famili Arthropoda yang aktif pada siang hari yaitu Dolichopodidae dan Syrpidae. Arthropoda yang aktif sepanjang hari yaitu famili Coccinellidae, Formicidae, Lycosidae, Oxyopidae, Geometridae dan Mantidae. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa faktor abiotik yang mempengaruhi frekuensi kunjungan harian Arthropoda pada tumbuhan liar Borreria repens DC. adalah suhu udara dengan sumbangan terbesar pada famili Coccinellidae dengan nilai r2 parsial 21,05%, Lycosidae dengan nilai r2 parsial 28,97%, Oxyopidae dengan nilai r2 parsial 35,04% dan Syrpidae dengan nilai r2 parsial 43,44%. Intensitas cahaya mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Dolichopodidae dengan nilai r2 parsial 29,84% dan Mantidae dengan nilai r2 parsial 21,11%. Kecepatan angin mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Cicadellidae dengan nilai r2 parsial 33,32%, Formicidae dengan nilai r2 parsial 13,25% dan Geometridae dengan nilai r2 parsial 17,08%. Hasil analisis regresi ganda pada tumbuhan liar Setaria sp., suhu udara mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Coccinellidae dengan nilai r2 parsial 22,45% dan Lycosidae dengan nilai r2 parsial 31,22%. Kelembaban udara mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Cicadellidae dengan nilai r2 parsial 33,22%, Dolichopodidae dengan nilai r2 parsial 36,72% dan Geometridae dengan nilai r2 parsial 38,64%. Intensitas cahaya mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Oxyopidae dengan nilai r2 parsial 28,91% dan Syrpidae dengan nilai r2 parsial 38,44%. Kecepatan angin mempunyai sumbangan terbesar pada frekuensi kunjungan harian famili Formicidae dengan nilai r2 parsial 20,38%.

Peningkatan kemampuan menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan media video klip musik pop untuk siswa kelas VIII-G SMP Negeri 2 Malang / Yossy Firmansyah

 

Kata kunci: Kemampuan menulis, pembelajaran menulis, media video klip Dalam kegiatan belajar mengajar, menulis mempunyai peranan penting karena menulis merupakan dasar untuk menguasai kemampuan berbahasa lainnya. Oleh karena itu, penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh pengajar agar tujuan pembelajaran kemampuan menulis dapat tercapai. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan pembelajaran menulis masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Malang, kemampuan menulis siswa masih rendah dan belum mencapai nilai standar yang ditetapkan sekolah tersebut terutama pada kemampuan menulis naskah drama. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan menulis naskah drama pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 2 Malang menggunakan media video klip. Penggunaan media video klip diharapkan dapat menambah minat dan semangat siswa dalam belajar siswa tentang menulis naskah drama sehingga pembelajaran menulis dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Manfaat penelitian ini adalah membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pembelajaran khususnya menulis naskah drama, memotivasi siswa untuk belajar, dan melatih siswa melakukan kegiatan menulis secara efektif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan data yang digunakan berupa tes, observasi, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data penelitian kemampuan menulis naskah drama siswa pada kemampuan awal, siklus I, dan siklus II menunjukkan peningkatan pada tahap pramenulis, tahap menulis dan tahap pascamenulis. Penggunaan media video klip pada tahap pramenulis dikategorikan sangat baik sebesar 82,7% siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat kerangkan naskah drama. Penggunaan media video klip pada tahap menulis dikategorikan sangat baik sebesar 95,6% siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat naskah drama dengan mengembangkan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh dan padu. Penggunaan media video klip pada tahap pascamenulis dikategorikan sangat baik sebesar 100% siswa dapat memberikan komentar terhadap naskah drama milik temannya. Peningkatan kemampuan menulis naskah drama pada tiap siklus diikuti dengan perubahan perilaku positif siswa.. Dari hasil penelitian ini, saran yang disampaikan peneliti adalah penggunaan media video klip dapat menumbuhkan minat dan ketertaikan siswa dalam pembelajaran menulis naskah drama sehingga perlu dipertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran.

Kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang / Nurmeida Rokh Sasminingrum

 

Kata kunci: Kepuasan pelayanan, Subag Pendidikan dan Evaluasi, Universitas Negeri Malang. Kepuasan pelayanan merupakan harapan dari sebuah pelayanan. Pelayanan yang berkualitas akan mampu memberikan pelayanan kepada publik secara memuaskan. Pada era globalisasi sebuah instansi pelayanan dituntut untuk memberikan pelayanan yang baik sehingga dapat meningkatkan derajat kepuasan masyarakat. Mencermati pelayanan subag pendidikan dan evaluasi masih mengandung beberapa permasalahan. Oleh sebab itu, agar memberikan pelayanan yang baik, maka diperlukan adanya peningkatan kepuasan pelayanan. Berdasarkan latar belakang di atas dilakukan penelitian dengan fokus penelitian (1) bagaimana kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan subag pendidikan dan evaluasi (PE) Universitas Negeri Malang, (2) bagaimana partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM, (3) bagaimana tanggapan subag PE terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kepuasan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan yang diberikan subag PE UM, (2) mendeskripsikan partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM, (3) mendeskripsikan tanggapan subag PE UM terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Lokasi penelitian berada di subag pendidikan dan evaluasi Universitas Negeri Malang, diantaranya bagian administrasi nilai, penerbitan kartu hasil studi (KHS), penerbitan transkrip dan ijasah, dan legalisir transkrip dan ijasah. Sumber data berasal dari: orang yaitu kasubag PE UM, para staf PE UM, mahasiswa, dan alumni. Peristiwa berupa seluruh aktivitas pelayanan subag PE UM dan dokumentasi tentang gambaran umum pelayanan subag PE UM. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Analiasis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Keabsahan data dilakukan dengan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) kepuasaan mahasiswa dan alumni terhadap pelayanan yang diberikan subag PE UM yaitu perasaan mahasiswa dan alumni terhadap kepuasan pelayanan subag PE, yaitu perasaan senang dan tidak senang, perasaan senang antara lain tentang kejelasan dan kepastian prosedur, kedisiplinan petugas, kecepatan pelayanan, ketepatan jadwal, perhatian dan tanggapan, dan kenyamanan lingkungan kantor. Perasaan tidak senang antara lain tentang kesopanan, keramahan, dan prosedur pelayanan, (2) partisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE UM yaitu saran mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE dan cara berpartisipasi mahasiswa dan alumni untuk meningkatkan kepuasan pelayanan subag PE berbentuk dua cara yaitu menulis komentar di website UM dan menyampaikan saran langsung ke petugas. (3) tanggapan subag PE terhadap partisipasi mahasiswa dan alumni mengenai masalah jadwal, keramahan, kenyamanan, dan koordinasi. Pertama, masalah jadwal subag pendidikan dan evaluasi negeri malang sudah mencantumkan jadwal penerbitan/pengambilan KHS di internet. Kedua, masalah keramahan pelayanan subag pendidikan dan evaluasi sudah ramah tetapi akan berusaha meningkatkan lagi. Ketiga, masalah kenyamanan tempat duduk/ruang tunggu subag pendidikan evaluasi sudah memperbanyak tempat duduk. Keempat, masalah koordinasi antara subag pendidikan dan evaluasi dengan fakultas tiap jurusan sudah saling berkoordinasi dengan baik mangenai masalah nilai mahasiswa yang terlambat keluar. Berdasarkan temuan penelitian ini, agar disarankan bagi subag pendidikan dan evaluasi (PE) universitas negeri malang sebaiknya lebih meningkatkan pelayanan dengan cara pelatihan pegawai untuk meningkatkan responsivitas dan keramahan pelayanan kepada mahasiswa dan alumni. Subag PE universitas negeri malang menyediakan kotak saran untuk mencapai tingkat kepuasan pelayanan. Peningkatan keramahan perlu dilakukan dengan menerapkan pelayanan seperti di bank agar mahasiswa dan alumni lebih merasa puas terhadap pelayanan subag PE. Selain itu Peran dan kerja sama berbagai pihak terkait, yaitu Rektor UM sebagai pengawas, pihak Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang sebagai pelaksana, serta mahasiswa dan alumni sebagai pengawas dan pengendali nonformal sekaligus pengguna, perlu ditingkatkan dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan subag PE kepada mahasiswa dan alumni. Mahasiswa dan alumni juga harus lebih aktif dan kritis terhadap fenomena pelayanan publik, khususnya di Subag Pendidikan dan Evaluasi Universitas Negeri Malang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 |