Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB untuk mata pelajaran senirupa pokok bahasan gambar bentuk kelas X di SMA Negeri 1 Pandaan / Putro Bagus Kurniawan

 

Kata Kunci : Biji Nangka, Mesin, Pengolah, Penyaring Di Indonesia sekarang ini banyak sekali sumber gizi alternatif yang telah banyak di kembangkan. Seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, konsumsi bahan pangan juga semakin bertambah. Biji nangka termasuk alternatif gizi yang benilai murah dikarenakan banyak yang tidak dimanfaatkan dan hanya terbuang dengan percuma. Biji nangka memiliki kandungan fosfor dan kalsium yang lebih tinggi dari kedelai, selain itu keunggulan lain dari biji nangka adalah memiliki lemak yang rendah. Dari hasil penelitian dapat di ketahui bahwa setiap 100 gram sari biji nangka mengandung karbohidrat sebanyak 18,74 gram, protein 0,29 gram, lemak 0,23 gram, kalsium 39,39 mg, kadar air 80,74 gram, kalori 74,96 kkal, dan fosfor 400 mg (Direktorat gizi, Depkes 2009). Kandungan dari ampas hasil pengolahan yang dapat dibuat bahan dasar pembuatan adonan kue dan lain-lain (Kementerian Negara Riset dan Teknologi-www.ristek.go.id). sehingga dibutuhkan rancangan sebuah alat mesin pengolah biji nangka in filter sebagai alat dasar dari pembuatan susu sari biji nangka. Rancang bangun mesin pengolah biji nangka dengan sistem in filter adalah alat yang bisa mengolah biji nangka menjadi bahan dasar susu sari biji nangka, yang menggunakan putaran pisau sebagai alat pengolahnya dan in filter sebagai penyaring didalamnya. Prinsip dasar kerja pada mesin pengolah biji nangka ini adalah pada saat motor keadaan menyala maka, akan menggerakkan poros pisau dengan perantara puli motor, sabuk dan puli poros pisau, setelah poros pisau bergerak maka akan menggerakkan pisau dan biji nangka akan masuk melewati bejana dan proses pengolahan terjadi di dalam bejana pengolah, setelah biji nangka lembut cairan akan terpisah dengan ampasnya didalam penyaring. Dengan dibuat mesin pengolah biji nangka diharapkan biji nangka bisa diproduksi dengan kapasitas besar. Rancang bangun mesin pengolah biji nangka ini adalah salah satu cara untuk mengatasi kendala masyarakat yang membutuhkan sumber gizi alternatif yang harganya dapat terjangkau oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Bukan itu saja, rancang bangun mesin pengolah biji nangka ini diharapkan juga dapat dikembangkan agar menjadi suatu alat produksi yang hasilnya dapat dipasarkan, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan baru pada masyarakat sekitar, sehingga biji nangka yang semula terbuang dengan percuma bisa untuk dimanfaatkan menjadi nilai guna yaitu sari susu biji nangka.

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran mata diklat sepeda motor materi engine di kelas X pada Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMKN 10 Malang / Tomy Sugiharto

 

Kata kunci: Studi Tentang Pelaksanaan Pembelajaran Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi ciri abad sekarang atau millennium ketiga. Hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar kepada tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun bangsa secara keseluruhan. Bagaimanapun ini adalah suatu tantangan yang harus dihadapi, dan salah satu upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Diyakini banyak pihak bahwa meningkatkan SDM salah satu hal yang harus dibenahi ialah mutu atau kualitas pendidikan. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas pendidikan, maka pemerintah bersama pihak swasta berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui pengembangan, perbaikan kurikulum, sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengadaan materi ajar, pelatihan bagi guru dan tenaga pendidikan lainnya. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka didirikanlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dimana Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai lembaga pendidikan tingkat menengah bertujuan untuk menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan akhlak mulia serta memiliki kompetensi yang berstandar nasional dan global. Di SMK siswa akan diberikan berbagai macam pelajaran salah satunya pelajaran produktif terdiri dari : (1) Pembacaan dan pemahaman gambar teknik, (2) Pemeliharaan/service sistem hidrolik, (3) Penggunaan dan pemeliharaan alat ukur, (4) Pengujian, pemeliharaan/servis dan penggantian baterai, (5) Perbaikan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan, (6) Perbaikan sistem pengapian, (7) Pemeliharaan/service engine sepeda motor, dan lain-lain. Untuk membentuk lulusan yang berkualitas dan kompeten dibidangnya maka banyak faktor yang harus diperhatikan yaitu studi tentang pelaksanaan pembelajaran. Studi tentang pelaksanaan pembelajaran ini terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Selain itu terdapat faktor lain yang menjadi pendukung kegiatan belajar mengajar yaitu fasilitas dan media pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X pada program TKR di SMKN 10 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran mata diklat sepeda motor materi engine di kelas X pada program keahlian teknik kendaraan ringan SMKN 10 Malang penyusunan perencanaan pelaksanaan pembelajaran telah disusun secara sistematis berdasarkan pada silabus yang ada dan berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran serta kompetensi dasar yang telah ditetapkan secara nasional. Sedangkan pelaksanaan pembelajarannya sudah baik, dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa melalui kegiatan observasi yang telah dianalisis oleh peneliti dan mendapatkan hasil yang bisa diartikan sangat baik. Pelaksanaan pembelajaran juga sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru dan telah disetujui oleh kepala bidang. Hasil Pembelajaran juga dikatakan baik, karena guru telah melaksanakan tiga tahap untuk melakukan proses evaluasi, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengolahan hasil evaluasi, sedangkan aspek yang dinilai ada tiga ranah, yaitu ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan: (1) Perencanaan pembelajaran telah disusun secara sistematis berdasarkan pada silabus yang ada dan sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Oleh karena itu, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kualitasnya sudah baik dipertahankan dan ke depan disempurnakan mengikuti perkembangan zaman, (2) Kepada guru-guru lain SMKN 10 Malang diharapkan dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan menggunakan alat serta sumber belajar yang lebih baik, (3) Evaluasi pembelajaran dan hasilnya sudah baik, perlu dipertahankan dan ditingkatkan lebih dari Standar Ketuntasan Minimum (SKM). Secara standar SKM sudah terpenuhi, diharapkan ke depan SKMnya meningkat lagi diatas 70 sehingga lulusan SMKN 10 Malang dapat bersaing di dunia industri.

Penerapan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Klojen Kidul Kota Malang semester II tahun ajaran 2011/2012 / Lailatul Badriyah

 

Kata Kunci: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SD, Metode Inkuiri, Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek kecakapan hidup (Depdiknas, 2008:484). Hasil wawancara dengan guru kelas IV , 6 Februari 2012 ditemukan fakta, bahwa hasil belajar siswa selama ini belum mencapai SKM yang ditentukan. Selain itu, kurangnya perhatian dan motivasi belajar dari orang tua dan lingkungan sosial yang kurang memperhatikan pendidikan, padahal pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2008:484). Maka untuk mengatasi masalah pada pembelajaran IPA kelas IV diterapkan metode inkuiri dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa, karena departemen pendidikan nasional menyarankan menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran IPA tetapi selama ini guru belum menerapkannya. Metode inkuiri memberikan kepada siswa pengalaman-pengalaman yang nyata dan aktif. Siswa dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan dan memperoleh keterampilan. Tujuan dari penelitian ini, adalah:(1) mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran IPA siswa kelas IV semester II tahun ajaran 2011/2012 SDI Klojen Kidul kota Malang kompetensi dasar mengidentifikasi sumber-sumber energi panas dan bunyi yang ada di lingkungan sekitar, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV semester II tahun ajaran 2011/2012 SDI Klojen Kidul kota Malang pada pembelajaran IPA kompetensi dasar mengidentifikasi sumber-sumber energi panas dan bunyi yang ada di lingkungan sekitar melalui penerapan metode inkuiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk pembelajaran IPA siswa kelas IV SDI Klojen Kidul Kota Malang dengan kompetensi dasar mengidentifikasi sumber-sumber energi panas dan bunyi yang ada di lingkungan sekitar (Depdiknas, 2008:493) dapat dilaksanakan dengan efektif. Kegiatan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Skor kegiatan siswa diperoleh dari lembar observasi yang berisi indikator-indikator yang sudah ditetapkan. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 63 dan ketuntasan kelas 25% pada akhir siklus I menjadi rata-rata 76,5 dan ketuntasan kelas mencapai 75% pada akhir siklus II. Penelitian ini dilaksanakan di SDI Klojen Kidul Jalan Aries Munandar Gang VI B no 2 Kelurahan Kidul Dalem Kecamatan Klojen Kota Malang pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012 melalui penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV berjumlah 8 siswa. Pengumpulan data yang dilakukan melalui tes dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan dalam melaksanakan pembelajaran melalui penerapan metode inkuiri di kelas sebaiknya guru memeratakan pertanyaan dan memberi kesempatan

Analisis ketersediaan fasilitas belajar dan lingkungan sekolah pada teknik kendaraan ringan mata diklat perawatan engine di SMK Negeri 1 Pungging Kabupaten Mojokerto / Uswatun Hasanah

 

Kata Kunci: Ketersediaan Fasilitas belajar, Lingkungan sekolah Proses belajar mengajar akan semakin baik apabila ditunjang oleh fasilitas pendidikan yang memadai. Fasilitas belajar meliputi antara lain: alat, bahan dan, media pembelajaran, yang menunjang proses belajar siswa. Penyediaan fasilitas belajar merupakan suatu hal yang harus diperhatikan agar dapat menumbuhkan kreatifitas siswa. Hal lain yang juga menentukan kualitas lulusan adalah terkait dengan kesesuaian dan ketersediaan fasilitas pendukung kegiatan pembelajaran produktif. Selain fasilitas belajar yang dimiliki oleh sekolah, faktor lingkungan sekolah juga mempengaruhi dalam kegiatan belajar siswa. Lingkungan sekolah dapat dilihat dari tata letak lingkungan yang ada di sekitar sekolah, yaitu lingkungan sekitar sekolah yang dapat mendukung proses belajar. Dari lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih dapat mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal, sehingga menjadi lebih sehat dan dapat berpikir secara jernih, agar dapat menjadi siswa yang cerdas dan kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yakni lembar observasi dengan menggunakan analisis deskriptif persentase dalam empat kategori, yaitu kategori: (1) sangat sesuai, (2) sesuai, (3) cukup sesuai, dan (4) tidak sesuai. Terdapat dua variabel yang hendak diukur yaitu, variabel ketersediaan fasilitas belajar meliputi fasilitas laboratorium perawatan engine, fasilitas ruang kelas, fasilitas perpustakaan dan variabel lingkungan sekolah meliputi lingkungan gedung sekolah, lingkungan halaman sekolah, lingkungan senitasi sekolah. Dari analisis data dapat diketahui variabel ketersediaan fasilitas belajar bahwa: (1) fasilitas laboratorium perawatan engine dalam kategori cukup sesuai dengan persentase 45%, (2) fasilitas ruang kelas belum dilengkapi LCD dan Screen LCD dengan persentase 0% dalam kategori tidak sesuai, dan (3) fasilitas ruang perpustakaan dalam ketegori sangat sesuai dengan persentase 76%.sedangkan dari variabel lingkungan sekolah dapat diketahui bahwa: (1) lingkungan gedung sekolah dalam kategori sangat sesuai dengan persentase 89%, (2) lingkungan halaman sekolah dalam kategori sesuai dengan persentase 58%, dan (3) lingkungan sanitasi sekolah dalam kategori sesuai dengan persentase 75%. Berdasarkan hasil penelitian ini, (1) fasilitas belajar dalam kategori cukup sesuai dengan standar minimal Direktorat Pendidikan Kejuruan, (2) lingkungan sekolah dalam kategori sesuai dengan standar badan akreditasi nasional. Dari kesimpulan tersebut disarankan dapat memberi gambaran yang nyata tentang ketersediaan fasilitas belajar dan lingkungan sekolah pada teknik kendaraan ringan mata diklat perawatan engine. Selanjutnya dikemukakan pula beberapa masukan yang dapat dipertimbangkan agar sekolah selalu meningkatkan kualitas penyediaan atau pengadaan fasilitas belajar di sekolah dan untuk usaha perbaikan dalam upaya melengkapi sesuai dengan standar minimal dan menentukan langkah-langkah yang konstruktif dalam rangka pengembangan sekolah.

Penerapan pembelajaran matematika mengacu pada teori beban kognitif (cognitive load theory) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 21 Malang / Fifi Fitriana Sari

 

Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Subanji, M.Si., (2) Dra. Santi Irawati, M.Si., Ph.D Kata kunci: pembelajaran, teori beban kognitif, hasil belajar Pembelajaran yang diterapkan di sekolah biasa dilakukan dengan penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan latihan soal, siswa tidak bebas mengeluarkan ide-idenya karena pembelajaran didominasi oleh guru. Siswa cenderung menghafal rumus matematika yang diberikan guru dan menyelesaikan masalah secara prosedural. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri rumus volume bangun ruang. Akibatnya, hasil belajar siswa terhadap suatu konsep dan penerapan masih rendah. Pembelajaran tersebut tidak efektif karena beban intrinsic tidak dikelola dengan baik berakibat meningkatnya beban kognitif extraneous. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam membangun penguasaan siswa terhadap materi volume bangun ruang. Karena itu dalam penelitian ini dilakukan pembelajaran mengacu pada teori beban kognitif yang bertujuan menciptakan pembelajaran efektif dengan mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban kognitif extranoues, dan meningkatkan beban kognitif germane. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 21 Malang. Untuk menciptakan belajar efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep volume bangun ruang, maka pada penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran matematika mengacu pada teori beban kognitif (cognitive load theory) dan mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar pembelajaran matematika mengacu pada teori beban kognitif (cognitive load theory) siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang. Pembelajaran mengacu pada teori beban kognitif dapat membuat siswa senang dan aktif dalam mengikuti pembelajaran sehingga siswa mampu mengkonstruk sendiri pengetahuannya. Oleh karena itu, siswa akan menemukan sendiri konsepnya. Tahap pembelajaran yang dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Tahap awal di laksanakan untuk memberikan motivasi kepada siswa dengan mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa, menyiapkan media pembelajaran berupa alat peraga, powerpoint, dan LKS serta memotivasi/membangkitkan minat siswa mengaitkan nama bentuk bangun ruang dengan nama benda yang ada dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan awal digunakan untuk mengelola beban kognitif intrinsic. Tahap inti di laksanakan dengan mengarahkan siswa memperoleh konsep volume bangun ruang melalui powerpoint dengan bantuan alat peraga dan LKS, membantu siswa memahami dan menyelesaikan masalah bangun ruang yang ada di LKS dengan bantuan alat peraga serta menciptakan interaksi antara guru dan siswa melalui diskusi kelompok dan kelas, kegiatan inti digunakan untuk mengelola beban kognitif intrinsic, mengurangi beban extranous, dan meningkatkan beban germane. Tahap akhir di laksanakan untuk merefleksi kegiatan pembelajaran, dengan cara menanyakan respon siswa terhadap pembelajaran dan kesulitan yang dialaminya selama pembelajaran, Kegiatan akhir digunakan untuk mengelola beban kognitif intrinsic. Dengan penerapan pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar. Dari hasil penelitian yang di peroleh berdasarkan hasil observasi, hasil tes siswa, dan wawancara. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan termasuk kategori sangat baik. Penguasaan tentang konsep volume, penguasaan tentang rumus volume, dan penguasaan dalam penggunaan rumus yang melibatkan volume bangun ruang sangat baik. Dari hasil tes, skor rata-rata (dalam persen) dari keseluruhan siswa yang memperoleh skor minimal pada siklus I dan siklus II berturut-turut adalah 77,5 dan 90. Dengan peningkatan skor tes siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang materi volume bangun ruang meningkat.

Pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui motivasi kerja (study kasus pada karyawan PT. Pattindo Malang) / Sualimin

 

Kata kunci : Budaya Organisasi, motivasi kerja, kinerja karyawan. Salah satu kunci keberhasilan suatu perusahaan terletak pada sumber daya manusianya. Di dalam usaha kebutuhan sumber daya manusia yang cerdas dan terampil merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas diharapkan dapat membawa perusahaan ke arah kemajuan dan kesuksesan. Untuk memenuhi tujuan tersebut maka perusahaan harus meningkatkan kinerja karyawan. Dalam usaha meningkatkan kinerja karyawan perlu memperhatikan Budaya Organisasi dan Motivasi Kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi budaya organisasi, motivasi kerja dan kinerja karyawan pada karyawan PT. PATTINDO Malang. Untuk mengetahui pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap motivasi kerja, pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja, pengaruh secara langsung yang signifikan antara motivasi kerja terhadap kinerja, dan pengaruh secara tidak langsung yang signifikan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan dengan motivasi kerja sebagai variabel intervening pada karyawan PT. PATTINDO Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Populasi yang dipilih karyawan pada PT. Pattindo Malang. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampling jenuh dengan sampel sebanyak 54 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini adalah berdasarkan analisis deskriptif kondisi budaya organisasi, motivasi kerja, dan kinerja karyawan pada karyawan PT. Pattindo Malang tinggi, terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap motivasi kerja, terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan, terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja karyawan, dan terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara budaya organisasi terhadap kinerja karyawan yang di mediatori motivasi kerja pada karyawan PT. PATTINDO Malang. Dengan memahami variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja karyawan, pihak perusahaan akan bisa menggunakan hasil tersebut untuk meningkatkan kinerja karyawan.

Pengembangan media pembelajaran E-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA / Amelia Ayu Rosyida

 

Kata Kunci: pengembangan, media pembelajaran e-learning, barisan dan deret. Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi dan metode pembelajaran matematika yang konvensional dan klasik menuntut guru untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar siswa lebih terrtarik dan termotivasi dalam belajar matematika. Media tersebut berupa media pembelajaran elektronik berbasis teknologi web. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk: (1) menghasilkan media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA, (2) mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA. Prosedur penelitian ini adalah: (1) analisis kebutuhan, (2) rumusan tujuan, (3) perumusan butir materi, (4) produksi, (5) menyusun petunjuk pemanfaatan, (6) uji ahli media dan ahli materi, (7) uji lapangan, (8) revisi produk akhir. Teknik analisis data yang diperoleh pada tahap pengumpulan data dengan instrumen pengumpulan data, dianalisa dengan menggunakan teknik analisa data prosentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa angket/validasi. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel semua siswa kelas XIE3 SMA Negeri 2 Malang, seorang guru matematika SMA Negeri 2 Malang, seorang dosen jurusan matematika Universitas Negeri Malang untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA. Hasil penelitian diperoleh tingkat validasi diantaranya: (1) pada ahli media diperoleh hasil 77.5%, dengan revisi pada tampilan halaman materi (2) pada ahli materi diperoleh hasil 90%, dengan revisi pada bahasa yang digunakan dalam materi, dan (3) pada audiens (siswa) atau uji coba lapangan, diperoleh hasil 82%. Tampilan pada media ini berupa web yang dapat diakses dengan memasukkan url: http://localhost/matematika/ pada browser. Media pembelajaran e-learning berbasis web pada materi barisan dan deret kelas XII SMA ini mempunyai 4 tampilan utama yang dapat mewakili tampilan media secara keseluruhan, yaitu halaman materi belajar, halaman game smart, halaman quiz try out, dan halaman ujian akhir.Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar media ini dapat digunakan sebagai referensi dan dapat menjadi salah satu pendamping belajar siswa secara mandiri. Selain itu media ini diharapkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran agar lebih menarik dan variatif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Analisis kesalahan penulisan tanda baca pada tulisan percakapan siswa kelas IV SDN Masangan Kec. Bangil Kab. Pasuruan / Lutfiyah

 

Kata Kunci : Kesalahan Penulisan Tanda Baca, percakapan SD. Tanda baca merupakan salah satu unsur bahasa tulis yang banya pengaruhnya dalam suatu karangan atau wacana. Hal ini berarti tanda baca dapat berfungsi sebagai unsur yang mempertegas maksud suatu bacaan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ada / tidak ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa kelas IV SDN Masangan kecamatan Bangil kabupaten Pasuruan dalam menuliskan tanda baca berupa: tanda baca titik (.), tanda baca koma (,), tanda baca Tanya (?), tanda baca titik dua ( : ), tanda baca petik (“…”) dalam penulisan tanda baca pada tulisan percakapan. Penelitian ini diakukan pada siswa kelas IV SDN Masangan Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan melalui model pengamatan dan tes. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian diskriptif kuantitatif dengan analisis data yang berupa diskriptif untuk mendeskripsikan tentang salah satu aspek kesalahan penulisan tanda baca titik, tanda baca koma, tanda baca tanya, tanda baca titik dua dan tanda baca petik. Bertolak dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 36 siswa yang memperoleh nilai ≥ 41, 86,2 % siswa mampu dalam penulisan tanda baca titik, 97 % siswa mampu dalam penulisan tanda baca koma, siswa yang mampu menggunakan tanda baca tanya sebesar 94,5 %, 89 % siswa mampu menggunakan tanda baca titik dua dan 30,5% siswa kurang mampu dalam menggunakan tanda baca petik dalam penulisan. Dari data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas IV SDN Masangan kecamatan Bangil kabupaten Pasuruan dari 36 siswa, sebagian besar siswa yang sudah menggunakan tanda baca titik, tanda baca tanya, tanda baca koma, tanda baca titik dua, sedangkan sebagian kecil siswa belum menggunakan tanda baca petik. Disarankan kepada guru bahasa Indonesia agar dapat memanfaatkan pola dan hasil penelitian pembelajaran bahasa Indonesia khususnya tentang penulisan tanda baca. i

Penerapan pembelajaran cooperative learning teknik jigsaw untuk meningkatkan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn kelas XI IPS-1 di SMA Negeri 6 Malang / Mahfudi

 

Kata kunci: Model Cooperative Learning Teknik Jigsaw, Peningkatan Tanggung Jawab Belajar Siswa dan Peningkatan Motivasi Belajar Siswa. Pembelajaran model cooperative learning teknik jigsaw adalah pembelajaran dengan teknik siswa dibentuk dalam kelompok yang heterogen baik dari jenis kelamin, kemampuan akademik, yang terbagi menjadi kelompok asal dan ahli, dari kelompok asal membentuk menjadi kelompok ahli dengan tugas yang sama berdiskusi, setelah siswa berdiskusi kelompok ahli siswa kembali pada kelompok asal untuk menjelaskan hasil dari diskusi kelompok ahli,setelah itu tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya dan melaporkan hasil diskusi. Latar belakang dilakukan penelitian ini karena alasan metode konvensional masih menyelimuti proses pembelajaran di kelas, dan rendahnya tanggung jawan dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn di SMAN Negeri 6 Malang khususnya di kelas XI IPS-1. Tujuan dari penelitian dilaksanakan: (1) untuk mengetahui penerapan model cooperative learning teknik jigsaw pada pembelajaran PKn di kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang , (2) untuk mengetahui peningkatan tanggung jawab belajar siswa pada pembelajaran PKn kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang, (3) untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn dengan penerapan teknik jigsaw kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilaksakan di SMAN 6 Malang kelas XI IPS-1 dengan sejumlah siswa sebanyak 37 siswa, 20 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan 2 siklus yaitu siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus I terdiri dari 4 tahap yaitu: 1) tahap perencanaan penelitian, 2) tahap pelaksanaan tindakan penelitian, 3) tahap observasi/ pengamatan penelitian, 4) tahap refleksi. Metode pembelajaran yang digunakan model cooperative learning teknik jigsaw, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model cooperative learning teknik jigsaw yang diterapkan berjalan dengan baik, penerapan model cooperative learning teknik jigsaw pada pembelajaran PKn kelas XI IPS 1 di SMAN 6 Malang yang telah dilakukan oleh pada siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan. Untuk siklus II sama dalam pelaksanaannya dengan siklus I, bedanya pada penelitian siklus II ini hanya untuk memperbaiki kekurangan dari pelaksanaan siklus I. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang mengalami peningkatan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn, setelah diberi tindakan berupa penerapan model cooperative learning teknik jigsaw, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I tanggung jawab belajar siswa pada pembelajaran PKn, diperoleh nilai tanggung jawab belajar siswa pada pembelajaran PKn sebesar 67,4%, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 80%. Untuk motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn pada siklus I sebasar 68%, kemudian setelah siklus II motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn meningkat menjadi 79%. Berdasarkan data diatas peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model cooperative learning teknik jigsaw dapat meningkatkan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn kelas XI IPS-1 di SMAN 6 Malang. Saran bagi guru hendaknya menggunakan motode pembelajaran cooperative learning salah satunya dengan teknik jigsaw yang dapat menjadi pilihan variasi metode pembelajaran berkelompok untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar yang diharapkan dapat meningkatkan tanggung jawab dan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PKn. Bagi siswa setelah diterapkan model cooperative learning teknik jigsaw diharapkan siswa lebih bertanggung jawab dan termotivasi lagi dalam pembelajaran PKn. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaran yang berbeda atau yang belum pernah diterapkan pada mata pelajaran yang sama.

Penerapan model pembelajaran think pair share untuk meningkatkan hasil belajar lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung / Nur Widhi Hastuti

 

Kata kunci: Pembelajaran Think Pair Share, hasil belajar, lingkaran. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru matematika kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung diperoleh informasi bahwa pembelajaran lingkaran khususnya materi menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam menyelesaikan masalah sering menerapkan metode ceramah dan siswa langsung diberi tugas. Berdasarkan kenyataan tersebut membuat siswa kelas VIII pasif dalam pembelajaran menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam menyelesaikan masalah sehingga mengakibatkan hasil belajar kurang maksimal yaitu dari 38 siswa hanya 10 siswa yang mencapai SKBM. Penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung dengan subjek siswa kelas VIII-C yang terdiri dari 38 siswa bertujuan: (1) mendeskripsikan pembelajaran Think Pair Share pada materi lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung, dan (2) meningkatkan hasil belajar lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung dengan menerapkan model pembelajaran Think Pair Share. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran Think Pair Share. Model pembelajaran Think Pair Share dipercaya mampu mengatasi masalah rendahnya hasil belajar menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam menyelesaikan masalah dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang sederhana yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian dikumpulkan dari hasil tes pada setiap akhir siklus, hasil observasi aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran, dan wawancara. Data yang ada dianalisis dan didiskusikan sehingga dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase hasil tes siswa yang mendapatkan nilai 65 pada siklus I adalah 76,31% sedangkan pada siklus II adalah 86,84%. Skor rata-rata aktivitas siswa dan guru pada siklus I adalah 41,25 termasuk kategori “baik” sedangkan pada siklus II adalah 53,5 termasuk kategori “sangat baik” sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar lingkaran siswa kelas VIII-C SMP Negeri 3 Kedungwaru Tulungagung.

Hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah (studi dilakukan pada SMP Negeri se-kota Malang) / Yanti Senja Sari

 

Kata kunci: persepsi, keamanan, makanan jajanan, dan kebiasaan. Jajanan (snack) merupakan makanan kudapan yang paling disukai oleh anak-anak usia sekolah. Faktanya dari segi keamanan makanan masih diragukan, karena penelitian di lapangan menunjukkan bahwa dari produk makanan jajanan yang diperiksa ditemukan sekitar 9,08%–10,23% makanan jajanan yang tidak memenuhi persyaratan. Sejumlah produk makanan yang diperiksa tercatat yang tidak memenuhi persyaratan bahan makanan adalah sekitar 7,82%–8,75%. Pengujian pada minuman jajanan anak sekolah di 27 propinsi ditemukan hanya sekitar 18,2% contoh yang memenuhi persyaratan penggunaan BTM, terutama untuk zat pewarna, pengawet dan pemanis yang digunakan sebanyak 25,5% contoh minuman mengandung sakarin dan 70,6% mengandung siklamat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan, (2) kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah, (3) hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasi, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang menguji ada tidaknya hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan termasuk tinggi dan kebiasaan siswa membeli jajanan di lingkungan sekolah termasuk kadang-kadang. Hubungan antara persepsi siswa tentang keamanan makanan jajanan dengan kebiasaan membeli jajanan di lingkungan sekolah adalah negatif, yaitu semakin tinggi nilai persepsi maka kebiasaan jajan akan semakin rendah. Siswa diharapkan selalu selektif dalam memilih jajanan yang aman. Pihak sekolah diharapkan ikut berpartisipasi aktif dalam menyeleksi para pedagang kaki lima, misalnya dengan melarang pedagang berjualan pada jam-jam tertentu atau dengan menutup pagar sekolah selama jam pelajaran berlangsung atau sampai jam pelajaran berakhir.

Implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas / Agus Purwasih

 

Kata kunci: Implementasi, Pendidikan karakter, Mata Pelajaran Ekonomi Pendidikan karakter di beberapa negara sudah diterapkan dan mendapatkan prioritas utama. Namun di Indonesia, pendidikan karakter masih dianggap sebuah wacana dan belum diintegrasikan dalam pendidikan formal. Pada tahun 2010, pemerintah telah mensosialisasikan pendidikan karakter di tiap jenjang pendidikan. Kebijakan ini dilaksanakan oleh semua sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan perguruan tinggi. Pendidikan karakter adalah mengintegrasikan nilai karakter dan mengimplementasikannya pada setiap mata pelajaran. Guru tidak lagi memusatkan pada materi yang diajarkan saja, namun, guru juga bertugas untuk memasukkan nilai karakter ke dalam silabus dan rencana pembelajaran dan kemudian menerapkan nilai-nilai tersebut melalui aktifitas pembelajaran di dalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup implementasi pendidikan karakter, faktor pendukung dan faktor penghambatnya, serta hasil dari implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dan termasuk jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami sehingga tidak ada batasan dalam memahami fenomena yang sedang dikaji. Penelitian ini mengambil lokasi di SMA Negeri 3 Malang dan SMA Laboratorium UM untuk memberikan hasil penelitian yang luas dan lengkap. Penelitian ini mengambil subyek kelas X SMA Laboratorium UM dan kelas XI SMA Negeri 3 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh 3 kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi dapat dilihat dari silabus, RPP serta proses pembelajaran di dalam kelas. Bentuk silabus dan RPP setiap sekolah formatnya berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Silabus yang menerapkan pendidikan karakter menambahkan satu kolom karakter, kolom tersebut berisi nilai karakter yang direncanakan guru sesuai dengan materi yang diajarkan dengan nilai karakter yang terkait dengan materi tersebut. Sedangkan dalam RPP, nilai karakter dilihat dari indikator atau tujuan pembelajaran dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran. Nilai karakter yang dipilih dikaji berdasarkan materi pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Kedua, faktor pendukung penerapan pendidikan karakter adalah pihak sekolah dan jajaran yang seesuaran instansi pendidikan yang terkait. Bentuk dukungan tersebut dapat dilihat dari penyediaan fasilitas dan sarana dalam implementasi pendidikan karakter. Dukungan dari pihak sekolah berupa diadakannya workshop dan dari dinas pendidikan dukungan tersebut dalam bentuk pemberian buku pedoman penerapan pendidikan karakter yang dapat dijadikan pedoman sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Faktor penghambat pendidikan karakter adalah waktu yang dibutuhkan untuk mebuat perangkat pembelajaran lebih lama karena harus memilah nilai karakter yang cocok untuk dilaksanakan sesuai dengan materi. Selain itu waktu yang lama dalam penyampaian nilai karakter didalam kelas juga merupakan faktor penghambat dalam pengimplementasian pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi. Ketiga, implementasi pendidikan karakter pada mata pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas sudah baik. Namun, penilaian pendidikan karakter dimasukkan dalam penilaian afektif. Hal itu karena belum adanya rubrik baku untuk menilai pendidikan karakter. Proses pembelajaran yang berlangsung juga sudah baik. Guru menyampaikan nilai karakter secara lebih luas kepada siswa, tidak hanya terkait dengan nilai yang dimasukkan dalam silabus, namun guru juga menyampaikan nilai karakter sesuai dengan kegiatan pembelajaran sehingga menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.

Penerapan model pembelajaran Student Team-Achievement (STAD) dalam meningkatkan hasil belajar matematika kelas VII-C siswa SMP Darusalam Blitar / Junita Finisya W.

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Hasil Belajar Siswa. SMP Darusalam adalah salah satu SMP yang ada di kota Blitar. Kelas VII-B merupakan salah satu kelas yang ada di SMP Darusalam. Berdasarkan informasi yang diperoleh guru metode pembelajaran yang sering digunakan guru adalah metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Salah satu permasalahan yang dialami kelas VII-B selama proses pembelajaran matematika di kelas adalah nilai hasil belajar matematika siswa yang tergolong rendah. Dengan permasalahan ini peneliti ingin melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran STAD pada kelas VII-B. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMP Darusalam Blitar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yakni siklus I dan siklus II. Prosedur penelitian ini terdiri dari 4 tahap yakni tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi. Kriteria keberhasilan tindakan yang ditentukan adalah 70% dari jumlah siswa yang ada di kelas mendapat nilai hasil belajar (rata-rata yang diperoleh dari nilai kelompok dan nilai akhir siklus) ≥ 70. Data persentase hasil belajar yang diperoleh pada siklus I adalah 66,6%. Sedangkan data presentase hasil belajar yang diperoleh pada siklus II adalah 71,4%. Data tersebut menunujukan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II yakni 71,4%. Data hasil siklus II ini telah memenuhi kriteria hasil belajar yang telah ditetapkan. Dengan demikian pembelajaran STAD pada penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Darusalam Blitar. Berdasarkan data yang telah disebutkan, penerapan model pembelajaran STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa dapat dirangkum yakni tahapan-tahapan STAD yang dilakukan guru adalah tahap presentasi oleh guru, tahap berkelompok yang dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan siswa, pada saat berkelompok ini guru memberikan bantuan kepada siswa dengan memberikan contoh soal lain beserta penyelesaianya terkait soal yang ada di LKK, tahap pelaksanaan kuis dan tahap penghargaan kelompok.

Penerapan model pembelajaran kooperatif (Think Pair Share) TPS untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Batu semester gasal 2011/2012 / Dani Surya Putra

 

Kata Kunci: Think Pair Share, Hasil Belajar Berdasarkan Observasi dan Pengalaman Praktik Lapangan pada tangal 20 Juli dan tanggal 2 November 2011 di SMP Negeri 3 Batu dalam pembelajaran, khususnya siswa kelas 8b, kurang aktif dalam mengikuti pelajaran dan bila diberi pertanyaan siswa tidak ada yang bersedia mengangkat tangan. Demikian pula bila diminta bertanya tidak bersedia mengangkat tangan melainkan mereka gemar berbicara dengan teman- teman sebangkunya di dalam kelas. Selain itu hasil belajar yang dicapai sebagian siswa pada mata pelajaran ekonomi masih kurang, belum memenuhi SKM yang diterapkan SMP Negeri 3 Batu yaitu 75. Dari jumlah 7 kelas, prosentase ketuntasan belajar secara klasikal kelas 8b lebih rendah dibandingkan dengan kelas lain dalam pelajaran ekonomi ( berdasarkan analisis nilai kelas 8a-8g pada materi kelangkaan). Pengklasifikasian kelas di SMP Negeri 3 Batu secara random berarti tidak ada kelas Unggulan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). Pembelajaran ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu sama lain. Saat pertanyaan diajukan ke seluruh siswa, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan sebelum dilaporkan kepada kelompoknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Ekonomi siswa kelas 8b SMP Negeri 3 Batu melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TPS. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian berupa Hasil belajar kognitif siswa diperoleh melalui skor yang berupa tes yang dilakukan setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil belajar Kognitif siswa mengalami peningkatan sebesar 23,54% dari nilai rata-rata yang sebelumnya 50,78% menjadi 74,12% pada siklus 1 dan pada siklus II meningkat sebesar 16,56% dari rata-rata 67,81 % menjadi 84,37%. Hasil belajar afektif di peroleh dari pengamatan rubrik penilaian aspek afektif yang dilakukan selama kegiatan pembelajaran, dalam pengamatan pada siklus 1 jumlah nilai rata-rata 58,8% pada siklus II meningkat sebesar 80,1% ada peningkatan 21,3%. Sehingga dapat disimpulkan aspek kognitif hasil belajar siklus I, siswa belum mencapai ketuntasan belajar secara klasikal karena jumlah nilai yang diperoleh masih dibawah 80%. Sedangkan pada siklus II, siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal karena jumlah nilai yang diperoleh lebih dari 80%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa, Pada aspek afektif hasil belajar siklus I ke siklus II ada peningkatan 21,3% poin dan penilaian aspek afektif siklus II lebih tinggi dari pada siklus I. adanya peningkatan tersebut Dikarenakan siswa sudah memahami prosedur pembelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif model TPS pada saat proses belajar mengajar.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips untuk meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa dalam pembelajaran geografi kelas VII-A MTs Negeri Kandat Kediri / Ria Diana Wati

 

Kata Kunci: model pembelajaran talking chips, keaktifan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi dalam pembelajaran Geografi memiliki peranan penting. Namun, keterampilan tersebut belum dikuasai siswa dengan baik. Hasil observasi pada saat kegiatan diskusi menunjukkan, bahwa hanya 31.25% siswa kelas VII-A yang terampil berkomunikasi, sedangkan sebagian besar 68.75% belum dapat berkomunikasi dengan baik. Ketidakmampuan berkomunikasi dengan baik tersebut terjadi karena strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru belum membuat siswa aktif berkomunikasi. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking chips. Penelitian ini menggunakan rancangan tindakan kelas dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian siswa kelas VII-A sebanyak 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi keaktifan guru, angket respon siswa, format catatan lapangan, dan lembar observasi keaktifan siswa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif berdasarkan skor keaktifan berkomunikasi siswa. Peningkatan keaktifan berkomunikasi siswa diketahui dengan membandingkan rata-rata skor keaktifan berkomunikasi siswa pada saat pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe talking chips dapat meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa dari pra tindakan sampai siklus kedua. Pada pra tindakan hanya 31.25% meningkat menjadi 56.07% pada siklus I, dan 84.67% pada siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar model pembelajaran ini digunakan untuk meningkatkan keaktifan berkomunikasi siswa.

Analisis keberadaan industri kerajinan rotan dalam penyerapan tenaga kerja (studi kasus industri kerajinan rotan Kelurahan Balearjosari Kecamatan Blimbing Kota Malang) / Fitria Ria Silvida

 

Kata kunci: penyerapan tenaga kerja, kerajinan rotan. Industri kerajinan rotan Balearjosari adalah salah satu sentra industri yang berada di kota Malang. Sentra industri ini terletak di jalan raya Balearjosari dan tersebar di dalam wilayah kelurahan Balearjosari. Industri kerajinan rotan ini bersifat padat karya, yakni menggunakan jasa manusia dalam keseluruhan proses produksinya. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada tenaga kerja yang diserap oleh tiap-tiap pengrajin. Ada 2 jenis pengusaha kerajinan rotan di Balearjosari, yakni penjual dan pengrajin. Dalam penelitian ini difokuskan pada pengrajin saja karena hanya pengrajin yang menyerap tenaga kerja. Saat ini terdapat 11 orang pengrajin yang memproduksi barang dari bahan rotan alami maupun sintetis. Jangkauan pemasaran pengrajin meliputi wilayah Indonesia dan Eropa. Permasalahan yang ada, tidak semua pengrajin rotan Balearjosari mampu memasarkan produk ke seluruh wilayah Indonesia dan Eropa. Perbedaan kemampuan pemasaran ini sangat tergantung pada perkembangan usaha tiap-tiap pengrajin. Selain itu banyak faktor penghambat kemajuan industri rotan di Balearjosari yang mengakibatkan terjadinya penurunan pelaku usaha setiap tahunnya. Di sisi lain, pengrajin mempunyai beberapa alasan yang menjadi faktor pendorong untuk tetap mempertahankan usaha di tengah hambatan yang ada. Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah pokok yang diajukan dalam penelitian ini secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) bagaimanakah peranan industri kerajinan rotan Balearjosari terhadap penyerapan tenaga kerja. (2) faktor-faktor apa sajakah yang menghambat kemajuan industri rotan Balearjosari. (3) faktor-faktor apa sajakah yang mendorong pengrajin mempertahankan industri usaha pembuatan kerajinan rotan Balearjosari. Dalam penelitian ini pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Sedangkan prosedur pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada pengrajin yakni pengusaha yang memproduksi kerajinan rotan baik rotan alami maupun sintetis dan memasarkan sendiri hasil produksinya, kelurahan Balearjosari, dan dinas UMKM kota Malang. Analisis datanya dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa industri kerajinan rotan Balearjosari mempunyai peranan yang cukup besar dalam hal penyerapan tenaga kerja. Dari 11 orang pengrajin yang ada, jumlah tenaga kerja yang diserap adalah 99 orang. Namun apabila dilihat dari aspek prosentase penyerapan tenaga kerjanya, menunjukkan peran industri kerajianan rotan Balearjosari yang kecil dalam penyerapan tenaga kerja yakni sebesar 0,0005% pada penyerapan tenaga kerja di kota Malang, 0,004% di kabupaten Malang, dan 2,652% pada penyerapan di kelurahan Balearjosari. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat banyak hambatan yang dialami diantaranya: susah dan mahalnya bahan baku rotan, sering terjadi keterlambatan bahan baku rotan dan alumunium, tidak adanya perkumpulan, sebagian pengrajin mengalami kesulitan dalam pemasaran, terbatasnya dana, dan perbedaan persepsi antara Dinas Koperasi dan UMKM dengan pengrajin. Disamping hambatan yang selama ini mendesak, penelitian ini juga menunjukkan alasan mengapa pengrajin tetap mempertahankan usahanya, yang diantaranya adalah: tidak adanya patokan harga di pasaran bagi barang kerajinan rotan sehingga usaha ini dinilai menjanjikan dan mempunyai peluang laba yang besar, sudah adanya langganan, minimnya keahlian pengrajin untuk menekuni usaha di luar rotan, dan karena usaha yang dijalankan adalah usaha turun-temurun keluarga sehingga membuat para pengrajin merasa perlu untuk tetap mempertahankan dan mengembangkan usaha yang telah ada. Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai kondisi industri pembuatan kerajinan rotan Balearjosari dan potensi yang dimiliki dalam hal menyerap tenaga kerja, diharapkan kepada pemerintah kota Malang melalui dinas Koperasi dan UMKM berusaha lebih dekat dengan pengrajin untuk menghindari perbedaan persepsi antara pengrajin dengan dinas Koperasi dan UMKM sehingga program pengembangan dan peningkatan mutu usaha yang selama ini dicanangkan bisa berhasil. Diharapkan pula bagi pengrajin untuk meningkatkan kerjasama satu sama lain agar tidak ada lagi penurunan jumlah pengrajin rotan di Balearjosari sehingga diharapkan industri pembuatan kerajinan rotan Balearjosari bisa lebih berkembang.

Penentuan matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel dengan menggunakan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) / Ayu Sadika

 

Kata Kunci: matching, matching maksimum, algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) Dalam kehidupan sehari-hari penerapan graph sangat bermanfaat. Suatu masalah akan menjadi lebih jelas atau mudah dipahami serta lebih mudah dianalisa dengan menggunakan model atau rumusan teori graph yang sesuai. Dalam graph terapan terdapat suatu bahasan mengenai matching. Matching di adalah himpunan dengan setiap pasang sisinya saling asing. Matching berukuran maksimum di graph G adalah matching M yang mempunyai ukuran terbesar. Untuk menentukan matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel dapat digunakan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.). Algoritma ini juga dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari dengan ketentuan berpasangan tepat satu-satu. Skripsi ini membahas penentuan atau pencarian matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel dengan menggunakan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.). Pada skripsi ini juga diberikan contoh penerapan algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) dalam kehidupan sehari-hari, misalkan saja pada masalah pengoptimalan pemasangan karyawan dengan posisi kerja yang sesuai dengan keahliannya, pengoptimalan pemasangan kelompok kursus dengan ruang kelas , serta pengoptimalan pemasangan antibiotik dengan pasien. Skripsi ini tidak hanya membahas algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) saja, namun juga membandingkan dengan algoritma matching maksimum yang telah dibahas dalam skripsi sebelumnya oleh Fatmawati (2006) yaitu algoritma matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel. Selanjutnya, agar lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan matching maksimum pada graph bipartisi tidak berlabel, algoritma matching maksimum (oleh Alom, dkk.) direpresentasikan dalam program komputer menggunakan Borland Delphi 7.

Keefektifan penerapan blended learning ditinjau dari motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima pada materi laju reaksi / Masyhudin

 

Kata kunci: blended learning, motivasi belajar, hasil belajar, laju reaksi. Kesulitan siswa dalam memahami materi laju reaksi disebabkan oleh sifat abstrak konsep-konsep dalam materi ini, rendahnya motivasi belajar siswa dan rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam mengajukan pertanyaan ketika mereka mengalami kesulitan. Beberap solusi alternatif untuk memecahkan masalah ini adalah: 1) menggunakan model konkret untuk membahas konsep abstrak, 2) menggunakan animasi untuk meningkatkan motivasi siswa, 3) pelaksanaan pembelajaran online, dan (4) melibatkan siswa dalam percobaan di laboratorium. Pembelajaran online akan meningkatkan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan ketika mereka mengalami kesulitan. Model pembelajaran yang menggabungkan keempat strategi dapat disebut sebagai model blended learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh blended learning dan pembelajaran konvensional pada motivasi dan hasil belajar siswa pada materi laju reaksi. Model blended learning yang diimplementasikan dalam penelitian ini adalah kombinasi aktivitas pembelajaran di ruang kelas, percobaan di laboratorium dan pembelajaran online, sedangkan pembelajaran konvensional adalah kombinasi aktivitas pembelajaran di ruang kelas dan pembelajaran di laboratorium. Penelitian ini menggunakan pretest-posttest design. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima. Data penelitian adalah skor motivasi dan skor hasil belajar. Data Motivasi dikumpulkan dengan menggunakan angket terdiri dari 36 item yang valid dihitung dengan korelasi bivariat Pearson, dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan rumus Alpha Cronbach sebesar 0,97. Data hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda dengan lima option terdiri dari 25 item yang valid dihitung dengan korelasi bivariat Pearson, dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan rumus Alpha Cronbach sebesar 0,90. Statistik uji t digunakan dalam membandingkan motivasi dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari blended learning dan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Pada penerapan blended learning diperoleh motivasi belajar siswa yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran konvensional, 2) Pada penerapan blended learning diperoleh hasil belajar siswa yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran konvensional.

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas pemilihan produk handphone (studi kasus mahasiswa Matematika Universitas Negeri Malang) / Rhizki Hidayatul Imamah

 

Kata Kunci: AHP, hirarki, prioritas, kriteria, subkriteria. Dengan banyaknya produk handphone yang beredar dan maraknya penggunaan handphone di kalangan mahasiswa, menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam memilih produk handphone yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan. Metode AHP sangat tepat digunakan untuk mengetahui prioritas pemilihan produk handphone yang efektif, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa khususnya mahasiswa Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) adalah suatu metode pengambilan keputusan multikriteria dengan cara memecah situasi kompleks dan tidak terstruktur kedalam bagian-bagian dan meyusunnya dalam hirarki. Langkahlangkah pengambilan keputusan dalam AHP: (1) menyusun hirarki, (2) menghitung vektor eigen dan nilai eigen dari matriks perbandingan berpasangan kebalikan, (3) melakukan uji konsistensi, berdasarkan nilai Consistency Rasio. Syarat inkonsistensi subyektifitas pembuat keputusan tidak lebih dari 10%. Selanjutnya, agar lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan pengambilan keputusan multikriteria akan digunakan Software Expert Choice. Setelah dilakukan analisis dengan metode AHP baik menggunakan penghitungan manual maupun software Expert Choice didapatkan kesimpulan prioritas mahasiswa terhadap produk handphone yang paling disukai adalah Sonyericson, lain-lain, Blackberry, Nokia, dan Samsung. Dengan persentase prioritas berturutturut sebesar 26%, 24%, 22%, 15% dan 12%.

Peningkatan kreativitas dan hasil belajar matematika pada materi garis dan sudut melalui pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika bagi siswa kelas VII SMPN 1 Rembang / Lubab Elfaidhoh Rifhani

 

Kata Kunci : TGT, media pohon matematika, kreativitas, dan hasil belajar Rendahnya prestasi belajar siswa salah satunya disebabkan oleh proses pembelajaran matematika. Paradigma mengajar yang cenderung text book oriented dan kurang bervariasi menyebabkan siswa sering merasa bosan, kurang memiliki daya kreativitas, dan hasil belajarnya juga kurang maksimal. Dalam proses pembelajaran, guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran beserta media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk itu, perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa yaitu “pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika." Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi, dengan menggunakan empat cara dalam pengumpulan data, yaitu (1) observasi, (2) dokumentasi, (3) angket, dan (4) tes. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah 37 siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Rembang, yang terdiri dari 25 putra dan 12 putri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika yang dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa pada materi garis dan sudut dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap dalam TGT yang terdiri dari empat tahap, yakni (1) penyajian kelas; (2) belajar kelompok; (3) game turnamen; dan (4) penghargaan kelompok, dimana pada tahap belajar kelompok dan game turnamen, digunakan pohon matematika sebagai media pembelajaran. Peningkatan prosentase rata-rata kreativitas siswa dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 4,30% dengan prosentase rata-rata kreativitas siswa pada siklus I 85,28% dan siklus II 89,58%. Sedangkan ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa dari nilai awal ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 10% dan prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II secara berurutan adalah 49% dengan rata-rata tes siswa 70 dan 84% dengan rata-rata tes siswa 77, mengalami peningkatan sebesar 35%. Saran yang diberikan, hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang menarik, salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan media pohon matematika.

Pengujian komponen ragam rancangan faktorial-tersarang terhadap kualitas tanaman kedelai (studi kasus di Balitkabi Malang) / Dewi Asrining Puri

 

Kata Kunci : Rancangan Faktorial-Tersarang, ragam, komponen ragam. Komponen ragam adalah faktor-faktor yang ikut mendukung atau berkontribusi terhadap keragaman data. Untuk menganalisis suatu data terdapat tiga model yang terbentuk dari komponen-komponen ragam dari data tersebut, yaitu model tetap, mdel acak, dan model campuran. Model tetap terdiri dari komponen-komponen ragam suatu perlakuan yang kesimpulannya hanya pada perlakuan yang diteliti. Model acak terdiri dari komponen-komponen ragam suatu perlakuan yang diambil secara acak dari suatu populasi sehingga kesimpulannya tertuju pada suatu populasi perlakuan tersebut. Model campuran adalah gabungan dari model tetap dan model acak, dimana terdapat komponen ragam yang bersifat tetap dan ada juga komponen ragam bersifat acak. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan komponen ragam perlakuan dari statistik uji F. Uji F menggunakan rasio kuadrat tengah yang saling bebas dimana penentuan kuadrat pembilang dan penyebutnya disesuaikan dari komponen ragam perlakuan pada nilaiharapan kuadrat tengah. Pada dasaranya, komponen ragam perlakuan dari nilai harapan kuadrat tengah dapat dicari tanpa melalui proses penjabaran yaitu dengan algoritma yang dikemukakan oleh Montgomery. Algoritma yang digunakan tidak membedakan faktor tetap dan acak, namun komponen keduanya 0 atau 1 tergantung dari peubah percobaan yang bersifat tetap atau acak. Hasil pada penelitian ini menjelaskan bahwa penentuan rasio uji F disesuaikan dengan komponen ragam pada nilai harapan kuadrat tengah. Pada rancangan faktorial tersarang sering menggunakan model campuran. Komponen ragam untuk faktor tetap berupa ragam galat dan ragam interaksi yang mengandung faktor pengaruh tetap. Komponen ragam untuk faktor acak terdiri dari ragam galat, ragam faktor yang diujicobakan, ragam interaksi dua faktor yang mengandung faktor utama yang bersifat acak, dan ragam tersarang yang mengandung faktor yang diujicobakan tersebut. Penyebut dalam rasio uji F untuk model campuran disesuaikan dengan nilai komponen yang terdapat dalam E[KT] masing-masing perlakuan.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan peran karakteristik regional di Jawa Timur (periode 2000-2009) / Basuki Prasetiyo Kurniawan

 

Kata Kunci : Aglomerasi, tenaga kerja, inflasi, laju openness, human capital, pertumbuhan ekonomi (PDRB), dan panel data. Aglomerasi dan pertumbuhan ekonomi sudah menjadi fakta, yaitu sebagai cermian atau gambaran perbedaan pembangunan di Indonesia. Menciptakan pembangunan kota menuju kearah yang lebih baik, maka diperlukan strategi yang baik terhadap daerah baik pada saat sekarang maupun di masa yang akang datang. Tujuan dari studi ini untuk mengetahui pengaruh aglomerasi di Jawa Timur. Data terdiri dari 38 daerah dimana 29 merupakan kabupaten dan 8 merupakan kota selama periode tahun 2000 – 2009, data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dalam bentuk angka sehingga penelitian ini menggarah kepada penelitian kuantitatif. Berdasarkan karakteristik masalah, penelitian ini tergolong penelitian kausal-komparatif. jenis data adalah panel data dan metode yang digunakan adalah GLS (General Least Square) untuk memproses perhitungan data panel. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah aglomerasi (X1), tenaga kerja (X2), inflasi (X3), laju openness (X4), dan human capital (X5). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang termasuk pada penelitian causal comparative research. Tipe penelitian ini untuk menguji dan mengungkapkan hubungan sebab – akibat antara dua variabel atau lebih. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data panel, dan termasuk data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur dan penelitian kepustakaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan software ekonometrika yaitu Eviews 6 untuk melakukan uji asumsi klasik serta uji regresi terhadap variabel bebas yang ada. Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari aglomerasi, tenaga kerja dan pendidikan (human capital) terhadap pertumbuhan ekonomi. nilai positif dari hasil analisis data menunjukkan pengaruh yang searah. Berdasarkan hasil analisis uji t di atas, diketahui bahwa variabel aglomerasi mempunyai nilai t hitung 3,874044 > dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,0001 lebih kecil dari α = 0,05 Hal ini menunjukkan bahwa variabel aglomerasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Variabel tenaga kerja mempunyai nilai t hitung 3,051060 > dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,0025 lebih kecil dari α = 0,05. Variabel ekspor mempunyai nilai t hitung -0,584340< dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,5594 lebih besar dari α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ekspor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Variabel inflasi mempunyai nilai t hitung -0,395801 < dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,6925 lebih besar dari α = 0,05. Variabel pendidikan mempunyai nilai t hitung 17,84659 > dari t tabel sebesar 1,960 dengan tingkat signifikansi 0,0000 lebih kecil dari α = 0,05 menunjukkan bahwa variabel pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB). Ini berarti variabel aglomerasi, tenaga kerja, dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah(PDRB). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditentukan baik oleh aglomerasi, tenaga kerja, dan pendidikan (human capita) yang berpengaruh positif dengan nilai yang signifikan serta inflasi dan ekspor (laju openness) walaupun nilainya tidak signifikan. Aglomerasi, tenaga kerja, dan pendidikan (human capital) yang mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja di sektor industri dan meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Timur sehingga dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik.

Pengaruh pemberian zat tumbuh atonik dan GA3 serta lama perendaman terhadap perkecambahan jambu biji (Psidium guajava, L.) / oleh Junaidi

 

Zat tumbuh atonik merupakan zat pengatur tumbuh yang biasa digunakan oleh petandi anb iasad ijual di toko pertanian.Z at tumbuh GA: adalatrs alahiatu faktor yangp entingb agi perkecambahabni ji. pengaruhz at tumbuh atonik dan Ga3 terhadap erkecambahabne nihj ambu biii oitetiti denganm engukurp axameter kecepatadna np ersentasep erkecambahabne nih. penelitian iniiertujuan untuk jSaempbeutabhijig di paenn dgihaarruahpz akat tnud mapbauthd aigtounniakk daanns GebAa3gt eari hadapp ert"camuut an ue,,ir ro"rul* bagi masy;akat dan peneliti yang lain. Penelitian dilakukan di kebun jurusan pendidikan Biologi FMIPA universitas Negeri Malang pada bulan oktober hingga Desember 1999. Rlcanganfenelitian yangd igunakana dalahR ancangans pllt-plot dengant iga ulangan.g -.rdu;ui* jumlahb enihy angb erkecambahd ata hasil penefiian alanatisisa engana iltisis varianu ntuksemwrp arametery ang diamati. KonsentrasGi Aey angi igunakan adalah 0p pm_(G5o p)p: m( G1)t,! .nnm( cr), 15p pm( Gr),2 0p pm icd, iip:p, fcO, :o gl* (a): dan3 5p pm( G)^begrtjug ad engaant onity aituo pp- t.qri j ppm( Ar), ]o pnm(e. J, 15p pm( A3)2, 0p pm( A,42),i ppm( A5)3, 0p pm( 4,6)d, an3 5p pm( A7). Sedangklamn ap erendamyaann gd ieunak;-u aaaiir s :i,ir tr,l, soj ; t T2)4, 5 jan (Tr), dan 60 jam (T). Flasilp enelitiani ni menunjukkanb ahwak onsentrasai tonik dan GA3 Ptp:"g** terhadapp arameterk ecepatanm aupunp ersentasep erkecambahan. untuk konsentrasGi Aey ang paringb erpengaruh-terhadakpe cepatanp erkecambahan adalah2 5 ppm (Gs),u ntuk aronik aAaUtrS lpm (A1) sedangkany *g;;li;; berpgnqatreurhh adappe rsentapseer kecamLan*ait*n ci, rs ppr"< c,i ,Lr"t atonik3 5 ppm (Az ). Perlakuanl ama perendamanb erpengaruhp aaap arameter ]

Analisis sifat sensori, sifat kimia dan daya simpan paste campuran tepung pisang dan kurma / Diah Puspita Sari

 

Kata Kunci: sifat sensori, sifat kimia, daya simpan, pasté tepung pisang dan kurma Buah pisang merupakan buah yang kaya nutrisi dan energi. Penggunaan pisang dengan kombinasi kurma sangat berpotensi sebagai makanan olahragawan, salah satunya dapat dibuat pasté. Sebagai campuran dari tepung pisang, kurma, susu dan margarin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat sensori, sifat kimia dan daya simpan. Penelitian ini dibagi dalam 3 tahap yaitu pembuatan tepung pisang, penilaian sifat sensori (warna, tekstur, aroma, rasa) dari pasté dengan perlakuan pemasakan 5 menit, 10 menit dan 15 menit, kemudian sifat kimia (kalium, Fe, Mg, gula reduksi) dan daya simpannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan lama pemasakan (tahap 2) dan lama penyimpanan (tahap 3). Hasil penelitian yang pertama adalah tepung pisang yang berwarna putih kekuningan, tidak sepat dengan rendemen sekitar 25%. Hasil terbaik tersebut diperoleh dengan menggunakan pisang kepok yang diblansir uap panas selama 5 menit. Hasil penelitian tahap 2 yang paling disukai oleh panelis adalah pasté dengan lama pemasakan 10 menit. Hasil penelitian tahap 3 menunjukkan bahwa pasté tepung pisang dan kurma mempunyai kandungan mineral kalium 0,59 ppm, Magnesium 0,35 ppm, Fe 3,85 ppm dan gula reduksi 16,49%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa aroma dan tekstur pasté tidak berbeda pada taraf 5% setelah penyimpanan 1, 2 dan 3 minggu. Untuk uji daya simpan pasté menunjukkan ketika masa simpan berjalan 1 minggu, warna pasté belum mengalami kerusakan, namun aroma dan tekstur telah mengalami penyimpangan selama masa simpan tersebut.

Keefektifan penerapan strategi pengelolaan diri untuk menurunkan frekuensi membolos siswa kelas X di SMKN 2 Pamekasan / Ratna Ayu Cahyaning Rizza

 

Kata kunci : Pengelolaan diri, perilaku membolos, konseling Tata tertib sekolah merupakan salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa, tata tertib harus ditaati dan dilaksanakan oleh siswa. Siswa yang disiplin akan mematuhi ketentuan-ketentuan sekolah sehingga diharapkan mereka dapat berkembang optimal dan berhasil studinya. Siswa yang frekuensi membolosnya cukup tinggi dapat diartikan sebagai siswa yang tidak disiplin. Siswa yang tidak disiplin memerlukan pengelolaan diri, sehingga dia perlu merubah perilaku tersebut agar disiplin dan tidak membolos. Pengelolaan diri (self-management) adalah suatu kemampuan yang berkenaan dengan kesadaran diri dan keterampilan individu dalam mengarahkan pengubahan tingkah lakunya sendiri dengan menggunakan satu atau kombinasi beberapa strategi (pemantauan diri, kendali rangsang, dan penghargaan diri). Dengan kata lain self-management merupakan kemampuan individu dalam mengelola diri dan lingkungan untuk mengubah perilakunya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah strategi pengelolaan diri (self-management) dapat menurunkan frekuensi membolos siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah one group pretest-posttest design. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah metode pengelolaan diri (self-management) dan variabel terikat adalah frekuensi membolos siswa. Pemberian treatment dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan yang dilaksanakan selama 2 minggu. Subjek penelitian berjumlah tujuh orang siswa kelas X yang memiliki frekuensi membolos tinggi di SMK Negeri 2 Pemekasan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu melihat presensi siswa. Analisis data menggunakan analisis statistik nonparametrik menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi pengelolaan diri (self-management) efektif menurunkan perilaku membolos siswa. Frekuensi membolos siswa setelah dilatih pengelolaan diri mengalami penurunan. Hasil analisis pengujian hipotesis berdasarkan uji statistik two related sample test Wilcoxon adalah (Z= - 2.388a) dan nilai Asymp. sig. (2-tailed) sebesar 0.017, yang artinya strategi pengelolaan diri efektif untuk mengurangi frekuensi membolos siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan pada (1) Konselor agar menggunakan strategi pengelolaan diri self-management) untuk meminimalkan munculnya perilaku membolos siswa, (2) Peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan waktu pemberian treatment (3) Dilakukan lebih dari satu kali pemberian posttest untuk melihat tingkat efektifitas jangka panjang terhadap tingkat pengelolaan diri siswa

Pengaruh suhu sintering pada keramik berpori dengan bahan aditif arang sekam padi (5% dan 20%) terhadap nilai densitas, kuat tekan dan mikrostruktur / Nanik Setyowati

 

Kata kunci : Keramik berpori, arang sekam padi, sintering, kuat tekan, densitas, mikrostruktur Keramik berpori merupakan keramik yang dapat dimanfaatkan sebagai filter gas buang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu sintering terhadap nilai densitas, nilai kuat tekan dan mikrostruktur pada bahan keramik yang ditambahkan bahan aditif berupa arang sekam padi (5% dan 20%). Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah eksperimen. Bahan keramik di buat dengan metode diepressing, dimana bahan dicampur kemudian di cetak dan dipress. Bahan keramik yang digunakan dengan komposisi bahan dasar keramik (Feld spar 20%, Kaolin 30%, clay 30% serta kwarsa 20% ) ditambah bahan aditif arang sekam padi sebanyak 5% dan 20% kemudian di sintering dengan menggunakan variasi suhu pada temperatur 1000 °C, 1100 °C, dan 1200°C selama 240 menit. Setelah sampel jadi kemudian dikarakterisasi dengan uji densitas, kuat tekan dan mikrostruktur. Pengujian mikrostruktur diambil dari nilai kuat tekan tertinggi dan nilai kuat tekan terendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Semakin besar suhu sintering maka nilai densitasnya semakin besar. (2) Semakin besar suhu sintering nilai kuat tekannya semakin besar. (3) Semakin banyak komposisi aditif arang sekam padi maka nilai kuat tekannya semakin kecil. (4) S emakin besar komposisi arang sekam padi maka nilai densitasnya semakin kecil. (5) Nilai kuat tekan cenderung naik apabila pada mikrostruktur jumlah pori – pori yang muncul semakin berkurang.

Rancang bangun mesin serut es batu / Arik Kurniawan, Aric Kurniawan

 

Kata kunci : Es Batu, Mesin Penyerut Dilingkungan Industri kecil dan memnengah (UKM) khususnya yang menjual es batu dalam bentuk serutan, ketika mendapat pesanan Es serutan dalam jumlah banyak maka tidak mungkin menggunakan cara manual. Tujuan membuat Mesin Serut es Batu yaitu untuk membantu para pelaku usaha kecil dan menengah, sehingga akan dapat meningkatkan produktifitas dalam membuat es serut. Penyerutan pada awalnya dilakukan secara manual yaitu dengan diserut menggunakan pisau penyerut tangan, sehingga penulis berinisiatif untuk membuatnya dengan menggunakan mesin yang tentunya akan lebih efektif dan efisien waktu dan tenaga, sehingga dapat menjangkau pada sasaran yaitu para pelaku usaha es batu. Pada Mesin Penyerut Es Batu ini penyerut berupa pisau yang berbentuk rigi-rigi seperti gergaji dengan ukuran 250 mm x 80 mm yang berjumlah 8 buah. Cara kerjanya yaitu es balok dimasukkan melalui corong masuk, kemudian diserut oleh pisau yang berputar, sehingga akan didapatkan es batu dalam bentuk serutan kecil yang seragam. Kapasitas tampung dari mesin ini adalah 288,96 kg/jam. Pembuatan Mesin Peyerut Es Batu ini dimulai dari proses desain gambar. Dilanjutkan dengan perhitungan dan perencanaan mesin. Ini dimaksudkan agar diketahui bahan dan ukuran komponen mesin. Daya motor yang digunakan 1 dalam satuan kuda (HP). Setelah diketahui komponen maka dilanjutkan dengan memasang komponen-komponen yaitu pisau penyerut, dudukan pisau, pulley, poros, sabuk V. Rancangan biaya dalam pembuatan Mesin Penyerut Es Batu ini dihitung dari biaya pembuatan alat, pajak, serta keuntungan. Sehingga didapatkan harga jual alat. Untuk perawatan dan pemeliharan Mesin Penyerut Es Batu setiap komponen berbeda-beda waktunya hal ini dikarenakan jenis pekerjaannya di mesin yang berbeda. Pisau penyerut dapat dirawat dengan melakukan pembersihan dari sisa-sisa es batu pada waktu selesai digunakan. Perawatan untuk bantalan dengan pemberian pelumas pada bantalan, hal ini untuk menjaga agar bantalan menjadi lebih tahan lama serta tidak mudah aus. Perawatan pulley dan sabuk, yaitu dengan memberi pelumas di sekitar pulley, sabuk dilakukan pembersihan dari cairan-cairan yang menempel. Hasil dari proses berupa serutan es batu, mempunyai ukuran yang sama, dikarenakan desain dari Mesin Serut Es Batu ini sudah dirancang khusus sehingga hasil produksi serutan es batu akan seragam.

Hubungan pola asuh orang tua dan kepribadian anak di TK ABA 24 Malang / Beby Octaviany

 

Kata kunci: Pola Asuh Orang Tua, Kepribadian Anak, Anak Tk. Pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yaitu, (1) Seberapa baik pola asuh orang tua di TK ABA 24 Malang, (2) seberapa baik kepribadian anak di TK ABA 24 Malang, (3) apakah terdapat hubungan pola asuh orang tua dan kepribadian anak TK ABA 24 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Pengumpulan data menggunakan instrumen angket/kuesioner. Sampel penelitian ini adalah sampel total (106 anak). Validitas instrumen diuji menggunakan rumus Product Moment Pearson dan reliabilitasnya diuji menggunakan rumus koefisien Alpha. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis korelasi Product Moment Pearson dan analisis persamaan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua anak TK ABA 24 Malang pada umumnya berpola asuh demokratis. Kepribadian anak TK ABA 24 Malang sebagian besar memiliki kepribadian dengan tingkatan matang. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan kepribadian anak di TK ABA 24 Malang. Pola asuh orang tua memberi sumbangan sebesar 56. 5% terhadap kepribadian anak dan sisanya 43. 5% dipengaruhi oleh variabel-variabel di luar penelitian ini, diantaranya faktor lingkungan keluarga maupun lingkungan tempat anak bermain. Saran-saran yang dapat disampaikan hendaknya orangtua dalam mendidik anak dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak, serta membantu mengembangkan tingkah laku yang mencerminkan kepribadian anak, karena setiap anak tidaklah sama. Apabila ada penelitian dengan mengambil judul yang sama hendaknya hasil peneliti ini ditindaklanjuti dengan memperluas populasi sehingga aplikasinya lebih luas.

Pengaruh perubahan Indkes Bias Cladding pada Loss Power serat optik Singlemode SMF-28 / Firman Budianto

 

Kata Kunci: Loss power, Cladding, Serat optik singlemode step index SMF-28. Serat optik merupakan salah satu produk teknologi berdasar prinsip pemantulan total. Perkembangan zaman yang semakin cepat, mempengaruhi fungsi serat optik yang awalnya sebagai alat telekomunikasi sekarang dapat digunakan sebagai sensor. Salah satu piranti yang dapat diaplikasikan adalah mencari pengaruh perubahan cladding dan loss power pada suatu fluida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari pengaruh loss power dan perubahan cladding dengan variasi viskositas larutan gliserin menggunakan serat optik singlemode step index tipe SMF-28. Pengukuran dilakukan dengan alat optical power meter untuk menentukan daya keluaran dan loss test set sebagai sumber cahaya. Cladding serat optik dihilangkan pada bagian tengahnya menggunakan scrub kurang lebih 10 cm. Bagian serat optik tanpa cladding tersebut kemudian dicelupkan seluruhnya pada larutan gliserin. Viskositas didapat dengan memvariasi konsentrasi gliserin yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, 50% 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Grafik hubungan loss power dan viskositas menunjukkan bahwa nilai viskositas yang paling besar yaitu pada gliserin dengan konsentrasi 100%. Nilai loss power yang paling kecil tergantung pada panjang gelombang yang digunakan, yaitu 1) untuk 􀫃= 1310 nm pada kosentrasi sebesar 20%, 2) untuk 􀫃= 1490 nm pada konsentrasi sebesar 30%, 3) 􀫃= 1550 pada konsentrasi sebesar 10%, dan yang terakhir 4) untuk 􀫃= 1625 pada konsentrasi sebesar 30%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah, kenaikan viskositas larutan gliserin mengakibatkan kenaikan indeks bias cladding, sehingga loss power akan naik.

Pengaruh konflik peran terhadap kinerja melalui stres kerja (studi pada perawat RS Aisyiyah Bojonegoro) / Ahmad Riskhi F.R.

 

Kata Kunci: Konflik Peran ,Stres Kerja, Kinerja Rumah sakit merupakan sebuah organisasi yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan. Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan, maka rumah sakit perlu menjaga kualitas layanannya terhadap masyarakat yang membutuhkan. Kualitas pelayanan dapat tercermin dari kerja pegawai rumah sakit. Sukses stau tidaknya suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja yang ditampilkan para karyawannya. Oleh karena itu, suatu perusahaan akan selalu menuntut para karyawan untuk bekerja secara optimal karena baik buruknya kinerja karyawan akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Konflik peran dan stres kerja yang tinggi akan membuat kinerja karyawan menurun. Menurunnya kinerja tentu akan mempengaruhi layanan kesehatan kepada masyarakat.Permasalahan mengenai kinerja merupakan permasalahan yang akan selalu dihadapi oleh perusahaan. Oleh karena itu permasalahan tersebut harus selalu dicari solusinya agar nantinya didapatkan mutu pelayannan yang baik serta pasien merasa puas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi koflik peran, stres kerja, dan kinerja pada RS Aisyiyah Bojonegoro. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana pengaruh antar variabel bebas (konflik peran) terhadap variabel terikat (kinerja) melalui variabel intervening (stres kerja). Jenispenelitian yang digunakanadalahpenelitianekspalanatori.Populasi yang digunakanadalahperawat RS Aisyiyah Bojonegoro yang berjumlah 116.Dari 116 perawatdiambilsampel86 perawatberdasarkanteknikpurposive sampling.Teknik pengambilan data yang digunakan meliputi kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitiandianalisisdenganmenggunakananalisisregresi linear berganda. Hasilanalisisdiketahuikondisi konflik peran yang sangat rendah, stres kerja yang rendah dan kinerja yang tinggi pada perawat RS Aisyiyah Bojonegoro. Sselain itu, hasil analisis diketahui bahwakonflikperanberpengaruhnegatifterhadapkinerja. Variabel konflik peran berpengaruh positif terhadap stres kerja. Sedangkanvariabelstreskerjasignifikannegatifterhadapkinerja. Saran yang dapatdikemukakansehubungandenganhasilpenelitianiniadalah (1) BagiRumahsakitharusselalumemperhatikankeadaanstres dan konflik yang dialami oleh perawatnya, karena hal itu akan mempengaruhi kinerja perawat. Suksesstautidaknyasuatuperusahaandapatdilihatdarikinerja yang ditampilkanparakaryawannya, karenabaikburuknyakinerjakaryawanakanmempengaruhikinerjaperusahaansecarakeseluruhan. (2) Bagipenelitiselanjutnyadiharapkanagar menambahkan variabel lain agar penelitian selanjutnya lebih bervariasi untuk kemudian disempurnakan. Peneliti selanjutnya dapat menambah variabel lain seperti iklim organisasi, dukungan organisasi, keterlibatan organisasi, atau lama bekerja yang kemungkinan masih memiliki pengaruh terhadap stres kerja dan kinerja.

Penerapan model pembelajaran NHT dan carousel feedback untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran prinsip-prinsip kerjasama dengan kolega dan pelanggan siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang / Zulistiowati

 

Kata Kunci: Pembelajaran Numbereds Heads Together (NHT), Pembelajaran Carousel Feedback, Hasil Belajar. Pendidikan merupakan sebuah tolok ukur keberhasilan suatu bangsa. Akan tetapi banyak masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah lemahnya proses pembelajaran. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan siswa hanya diam, duduk dan menerima informasi dari guru. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran kurang kreatif dan menarik perhatian siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang demikian membuat siswa tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran serta kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru karena mereka merasa bosan dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang monoton. Masalah ini pada akhirnya berdampak negatif pada hasil belajar siswa di sekolah. Stategi-strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar adalah menerapkan model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) atau Carousel Feedback agar dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, mengeluarkan pendapat, dan bekerjasama dalam kelompok. Tujuan penelitian ini adalah, untuk mendiskripsikan penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback, untuk mengetahui hasil penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback, untuk mengetahui apa saja hambatan sekaligus solusi dalam pelaksanaan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback pada mata pelajaran Prinsip–prinsip Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 30 orang siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 4 (empat) siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1)Reduksi data, 2)Penyajian data, dan 3)Penyimpulan hasil analisis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Carousel Feedback dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar pada pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) berdasarkan pada : siklus I hasil belajar rata-rata siswa adalah 78,67 dan mengalami peningkatan sebesar 2,66 menjadi 81,33 pada siklus II .Aspek afektif pada siklus I memiliki rata-rata nilai 84,92 dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 86, 29 . Aspek psikomotorik pada siklus I rata-rata nilai siswa sebesar 83,4 dan meningkat sebesar 3,8 menjadi 87,2 pada siklus II. Aspek nilai karakter pada siklus I pada semua indikator masih memerlukan adanya perbaikan dan pada siklus II hanya satu indikator yang masih memerlukan perbaikan. Selain itu, penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) mendapat respon sangat positif sebesar 93% siswa dan 7% siswa memberikan respon positif. Sedangkan peningkatan hasil belajar pada pembelajaran Carousel Feedback berdasarkan pada: siklus III hasil belajar rata-rata siswa adalah 88,67 dan mengalami peningkatan sebesar 0,6 menjadi 89,33 pada siklus IV .Aspek afektif pada siklus III memiliki rata-rata nilai 90,96 dan mengalami peningkatan sebesar 2,93 menjadi 93,89 pada siklus IV. Aspek psikomotorik pada siklus III rata-rata nilai siswa sebesar 89,4 dan meningkat sebesar 0,8 menjadi 90,2 pada siklus IV. Aspek nilai karakter baik pada siklus III maupun IV tidak ada indikator yang memerlukan adanya perbaikan. Selain itu, penerapan model pembelajaran Carousel Feedback 100% mendapat respon sangat positif dari siswa. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah biasakan untuk menggunakan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) atau Carousel Feedback dalam meningkatkan minat belajar siswa, biasakan untuk mengadakan diskusi kelompok, sesuaikan pelaksanaan siklus belajar dengan RPP, bagi siswa SMK belajar yang rajin, biasakan berdiskusi dan mengeluarkan pendapat, untuk penelitian selanjutnya hendaknya model-model ini dikembangkan lagi dan tidak hanya dalam pelajaran Prinsip–prinsip Kerjasama dengan Kolega dan Pelanggan tetapi di mata pelajaran yang lain juga.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada topik memahami hubungan manusia dengan bumi di kelas IX F SMP Negeri 2 Malang / Ditya Ayu Kusuma Dewi

 

Kata Kunci: Model Teams Games Tournament, Keaktifan belajar siswa, Hasil Belajar Siswa Perubahan kurikulum menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi, dan kecakapan hidup peserta didik yang pada gilirannya dapat membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa. Untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar yang optimal, guru harus dapat memilih model pembelajaran yang tepat. Dengan adanya model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran, dan karakteristik siswa, maka siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas. Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru dan siswa SMP Negeri 2 Malang pada bulan November 2011, diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru sehingga siswa cenderung pasif dan juga hasil belajar siswa yang masih rendah. Berdasarkan observasi tersebut hanya 12 siswa dari 37 siswa yang telah mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM). Hasil perhitungan dari data yang diperoleh, ketuntasan klasikal kelas IX F diperoleh sebesar 32,43%. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IX F SMP Negeri 2 Malang pada pembelajaran IPS Pada Topik Memahami Hubungan Manusia Dengan Bumi dengan menggunakan model pembelajaran Teams Games Tournament. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi keaktifan siswa dan soal tes. Data yang diperoleh akan dibandingkan dari observasi awal, Siklus I, dan Siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Keaktifan klasikal pada siklus I mencapai 71,53 % sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 85,59 %, sedangkan ketuntasan klasikal hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 67,56 % pada siklus II meningkat menjadi 83,78 %. Begitu pula rata-rata hasil belajar siswa pada Siklus I 70,73 meningkat menjadi 76,36 pada Siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Teams Games Tournament dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IX F SMP Negeri 2 Malang. Saran kepada guru IPS di SMP Negeri 2 Malang agar menggunakan model pembelajaran TGT untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan aktivitas serta hasil belajar siswa.

Penyerapan tenaga kerja pada usaha tani bibit buah di kecamatan Ngunut kabupaten Tulungagung / oleh Didik Trimarsono

 

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa SDN Gondang III Bojonegoro pada mata pelajaran matematika kelas V semester 2 / Nur Fadlilatus Shiyam

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Jigsaw, aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SDN Gondang III Bojonegoro diketahui bahwa dalam pembelajaran Matematika, aktivitas dan hasil belajar siswa rendah, guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Dari hasil data kegiatan pembelajaran pra tindakan, diketahui bahwa siswa yang serius dan perhatian dalam mengikuti pembelajaran Matematika sebesar 58% dan 67%. Hasil pembelajaran diketahui bahwa 6 (40%) siswa yang tuntas dan 9 (60%) siswa tidak tuntas. Tujuan penelitian ini Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika siswa kelas V SDN Gondang III Bojonegoro. Penelitian ini menerapkan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus, satu siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Alokasi waktu selama 2 jam pelajaran setiap pertemuan, setiap jam pelajaran berdurasi 35 menit. Tindakan yang dilakukan yaitu menerapkan model pembelajaran Jigsaw. langkah-langkah pembelajarannya adalah: (1) siswa membentuk kelompok secara hetrogen (2) 2-4 orang siswa berdiskusi dalam kelompok ahli, (3) setelah berdiskusi di kelompok ahli, siswa kembali dan berdiskusi dalam kelompok asal, (4) siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Penerapan model pembelajaran Jigsaw mengalami perubahan pada Siklus II mengenai komponen tugas dan posisi kelompok ahli, yaitu dengan sistem bergantian (rolling) pada setiap anggota kelompok ahli yang memberikan penjelasan pada kelompok asal. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes tiap siklus, lembar observasi dan catatan lapangan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Jigsaw melalui Penelitian Tindakan Kelas dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Gondang III Bojonegoro pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan pecahan. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aktivitas belajar siswa dari pembelajaran pada siklus I sebesar 72% dan meningkat menjadi 88% pada Siklus II.(2) Hasil belajar siswa terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari rata-rata pada pra tindakan sebesar 45, pada siklus I sebesar 60,6 dan menigkat menjadi 74 pada Siklus II. Adapun saran yang disampaikan peneliti yaitu penerapan model pembelajaran Jigsaw supaya terus diupayakan sehingga mampu mendeteksi kesalahan yang muncul dalam pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar.

Penggunaan media boneka wayang untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar Ridlo Malang / Itsna Nahdhiyyatul A.

 

Kata kunci: Anak TK Kelompok A, Kemampuan Bercerita, Media Boneka Wayang Anak kelompok A masih banyak mengalami kesulitan saat bercerita. Dari hasil observasi pada anak kelompok A1 di TA Ar-Ridlo Malang ditemukan bahwa kemampuan bercerita anak belum maksimal. Hal tersebut diperkuat dari 21 anak terdapat 12 anak yang kesulitan menceritakan pengalaman secara sederhana. Rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana penggunaan media boneka wayang untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, 2) apakah penggunaan media boneka wayang dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang. Penelitian menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dirancang dalam 2 siklus. Tiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, obser-vasi, dan refleksi. Subjek penelitian yaitu kelompok A1 TA Ar-Ridlo Malang sebanyak 21 anak. Intrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Analisis data penelitian yang dipakai adalah deskriptif kuantitatif serta kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) media boneka wayang digunakan untuk melakukan tanya jawab, 2) media boneka wayang serta alat pelengkapnya digunakan untuk menyampaikan cerita secara individu, 3) media boneka wayang serta alat pelengkapnya digunakan untuk menyampaikan cerita bertiga. Pening-katan kemampuan bercerita anak ditandai dengan meningkatnya kemampuan bercerita pada siklus I, persentase kemampuan bercerita mencapai 66,5%. Pada siklus II kemampuan bercerita mengalami peningkatan dengan persentase sebesar 86,9%, artinya rata-rata kemampuan bercerita anak kelompok A1 di TA Ar-Ridlo Malang mengalami peningkatan sebesar 21,4%. Kesimpulan penelitian yaitu dengan menggunakan media boneka wayang dan alat pelengkapnya dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak, hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan kemampuan bercerita anak yang semula 58% meningkat menjadi 65,5% pada siklus I, kemudian meningkat lagi menjadi 86,9% pada siklus II. Saran yang dikemukakan peneliti adalah: 1) bagi sekolah, penelitian ini dapat menjadi panduan dalam mengembangkan media pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran, 2) bagi guru, penelitian ini mampu menjadi inspirasi untuk lebih terampil dalam menyampaikan cerita menggunakan media yang menarik bagi anak, dan 3) bagi peneliti selanjutnya, peneliti selanjutnya dapat lebih mengembangkan kemampuan bercerita anak melalui media pembelajaran yang lebih kreatif lagi.

Kepemimpinan "Kyai Nasib" dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren (Studi multisitus pada Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Pesantren Luhur Husna Surabaya dan Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya) / Muhammad Shodiq

 

Kata kunci: kepemimpinan, “kyai nasib”, mutu pendidikan, pesantren. Tumbuhnya pesantren di perkotaan menunjukkan telah terjadi perubahan pada dunia pesantren itu sendiri. Sebagai salah satu contoh pesantren yang sampai saat ini tetap eksis di perkotaan adalah Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya, dan Pesantren Mahasiswa An-Nur Surabaya. Setelah penulis mengadakan penulisan terhadap ketiga pesantren tersebut maka terlihat adanya dua perubahan yakni: 1) perubahan dari segi kyai: seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia pesantren maka muncullah tipologi “kyai nasib” yaitu seseorang pendiri dan pengasuh pesantren yang bukan keturunan kyai nasab (pesantren) akan tetapi karena keilmuan agama dan manajerialnya serta kharisma yang ada pada dirinya maka umat menyebutnya “kyai” (disebut “kyai nasib”). 2) perubahan dari segi pendidikan pesantren: pesantren kyai nasib lebih terbuka dan penuh inovasi yang mana tidak hanya mengajarkan khazanah intelektualisme Islam klasik tetapi juga mengajarkan santrinya dengan ilmu-ilmu modern. Penulisan ini bermaksud untuk mengungkap lebih mendalam tentang kepemimpinan “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, yakni (a) tipe kepemimpinan “kyai nasib”; (b) strategi “kyai nasib”, dan (c) dampak kepemimpinan “kyai nasib”. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multisitus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik trianggulasi, member check, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penulisan dilakukan dengan para pembimbing sebagai dependent auditor untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisir, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus maupun melalui analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penulisan. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa Pertama, ditemukan tipe kepemimpinan “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren yaitu: (a) mengedepankan prinsip egaliter dilingkungan pesantren sehingga ada kedekatan hubungan antara kyai, ustad dan santri sehingga tercipta suasana pesantren yang lebih dinamis dan dialogis antara kyai, ustad dan santri, (b) mengedepankan prinsip demokratis di lingkungan pesantren, maka otoritas sepenuhnya didelegasikan ke para ustad dan santri yang mana masing-masing bisa menyadari akan tugas dan kewajibannya, (c) seorang motivator di lingkungan pesantren sehingga ustad dan santri merasakan senang dan gairah tinggal di lingkungan pesantren dengan suasana yang menyenangkan, (d) merupakan pemimpin karismatik dilingkungan pesantren yang mana segala pesona pribadi, kemampuan dan keahlian pemimpin menjadi kekuatan yang membuat ustad dan guru setia, loyal dan taat kepada sang “kyai nasib”. Kedua, ditemukan strategi “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, meliputi: (a) Bidang Pendidikan dan Pengajaran yaitu: 1) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pesantren dan manajemen pesantren, 2) pengurus dan para ustad diajak berjalan bersama-sama dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, 3) mendirikan pusat kegiatan santri yaitu: Masjid, Ruang belajar dan Asrama atau pondok dan menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat, 4) menyusun materi dirosah dan kurikulum pesantren sesuai perkembangan zaman, 5) menggunakan tiga macam sistem pengajaran pesantren, yakni: pengajaran klasikal, pengajaran kolektif, dan pengajaran individual. (b) Bidang Ubudiyah dan Keagamaan yaitu: memberikan pelayanan pesantren terhadap: 1) pelayanan masjid dan mushola 2) pengelolaan badan amil zakat, infak dan shodaqoh, 3) penyelenggaraan manasik haji dan umroh, 4) pelaksanaan qurban, 5) khotib, (c) Bidang Mu’amalah dan Sosial, yaitu: 1) memberikan pelayanan pesantren terhadap pengelolaan koperasi pondok pesantren (koppontren), 2) pelayanan pondok pesantren terhadap pengelolaan wartel, dan 3) memberikan pelayanan pesantren terhadap pengelolaan Pos Kesehatan Pesantren (poskestren). Ketiga, dampak kepemimpinan “kyai nasib” dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, yaitu: 1) Interaksi sosial antar komunitas pesantren nasib yang penuh kekeluargaan, 2) visi, misi, dan tujuan pesanten nasib beorientasi ke depan, dan 3) sistem pendidikan dan pengajaran pesantren nasib bersifat komprehensif. Saran-saran dalam penulisan ini antara lain disampaikan kepada: (1) Kyai: melestarikan suasana pesantren lebih dinamis dan dialogis antara kyai, ustad dan santri, (2) Santri: agar selalu menjaga komunikasi yang efektif kepada kyai, ustad, dan sesama santri, (3) Pesantren lain: hasil penulisan sebagai masukan dan informasi keilmuan tentang peningkatan mutu pendidikan pesantren, (4) Penulis, para ahli, ilmuwan, cendekiawan muslim, dan penulis selanjutnya: agar dijadikan sebagai bahan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kepemimpinan kyai dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren, (6) Perguruan Tinggi Islam: supaya memberikan masukan dan informasi baru tentang keilmuan tentang kepemimpinan “kyai nasib” dalam peningkatan mutu pendidikan pesantren, (7) Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM): supaya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa tingkat doktor dalam mengkaji tentang manajemen pendidikan tidak hanya sebatas sekolah formal atau perguruan tinggi umum saja akan tetapi juga penulisan-penulisan yang mengkaji manajemen di dunia pesantren, (8) IAIN Sunan Ampel Surabaya tempat penulis sebagai Dosen Fakultas Dakwah: merupakan kontribusi yang luar biasa bagi lembaga IAIN Sunan Ampel Surabaya karena telah ditemukan tipologi kyai dari terminologi loka yang belum pernah ditulis dan dikaji oleh penulis lain yakni tipologi “Kyai Nasib” (seseorang yang biasa dipanggil masyarakat kyai akan tetapi bukan keturunan dari kyai nasab), (9) Kementerian Agama: agar selalu memberikan motivasi dan dukungan baik moril maupun material dalam setiap penulisan dan pengembangan dalam dunia pesantren, kyai dan santri, serta (10) Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI/Organisasi Pesantren): memberikan kontribusi baru tentang model kepemimpinan dan strategi “kyai nasib” dalam peningkatan mutu pendidikan pesantren.

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A1 di TK Dharma Wanita Gandusari Kec. Gandusari Kab. Blitar / Retno Dewi Nawangsari

 

Kata Kunci: metode eksperimen, kognitif, permainan warna Kemampuan Kognitif khususnya mengenal konsep sains dalam hal mencoba dan menceritakan apa yang terjadi jika warna di campur di TK Dharma Wanita Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran pra tindakan masih belum tuntas. Hal ini disebabkan metode pembelajaran guru mayoritas menggunakan metode pemberian tugas dan tidak melibatkan partisipasi anak. Guna meningkatkan hasil prestasi belajar anak di TK Dharma Wanita Gandusari tersebut, peneliti menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan sains dalam hal mencampur warna. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana penerapan metode eksperimen untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak di TK Dharma Wanita Gandusari? (2) apakah penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan kemampuan anak di TK Dharma Wanita Gandusari? Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode eksperimen. Penelitian ini dilakukan pada kelompok A1 di TK Dharma Wanita Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Instrumen yang digunakan peneliti untuk pengumpulan data berupa observasi dan hasil karya anak. Peneliti terlibat secara penuh dalam kegiatan penelitian baik perencanaan, pelaksanaan, pengamatan maupun refleksi. Penelitian direncanakan dengan 2 siklus, apabila siklus I dirasa belum berhasil maka peneliti melanjutkan ke siklus II. Dalam menerapkan metode eksperimen peneliti menunjukkan dan menjelaskan setiap langkah dalam bermain sains melalui permainan warna. Sehingga anak dapat bermain dengan terarah dan bereksperimen sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa dengan menerapkan metode eksperimen, mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 52,1% dan meningkat pada siklus II sebesar 87,5%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru dapat memilih metode yang tepat dan kreatif dalam mencoba ide baru agar proses pembelajaran berhasil dengan baik dan tidak membosankan misalnya dengan menggunakan metode eksperimen agar dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak. Harapan peneliti, semoga dengan pengalaman penelitian ini dapat bermanfaat bagi rekan – rekan yang terjun di dunia pendidikan.

Kesulitan-kesulitan dalam pelakasanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya dan keterampilan bidang seni rupa di kelas V SDN Arjosari 01 Kecamatan Blimbing tahun pelajaran 2011-2012 / Tukirno

 

Kata Kunci : Pelaksanaan, Pembelajaran, Seni Budaya, Seni Rupa, Pelaksanaan seni budaya bidang seni rupa di sekolah sering mengalami kendala karena diberikan dalam jumlah jam sangat terbatas, padahal cakupan materinya terentang sangat luas. Jumlah durasi waktu pelajaran seni tidak sebanding dengan jumlah jam yang disediakan untuk mata pelajaran lainnya. Akibatnya, guru mendapatkan kesulitan dalam menentukan kompetensi kepada peserta didik berdasarkan jumlah jam yang disediakan. Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa kelas V SDN 1 Arjosari Kecamatan Blimbing. Sedangkan tujuan penelitian secara khusus yaitu untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan dalam persiapan guru sebelum mengajar, proses pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran seni budaya bidang seni rupa kelas di kelas V SDN Arjosari 1 Kecamatan Blimbing. Pendekatan ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, metode pengamatan dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, paparan data dan menarik kesimpulan. Instrumen yang digunakan ialah dengan menggunakan observasi dan wawancara. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berlokasi di SDN 1 Arjosari Kecamatan Blimbing. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ditemukan kendala-kendala dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa di kelas V SDN Arjosari 1 Kecamatan Blimbing. Dalam persiapan pembelajaran ada beberapa hal antara lain kendala dalam merumuskan tujuan, menetapkan langkah pembelajaran, menentukan metode dan media yang tepat. Sedangkan pada pelaksanaan pembelajaran masalah yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan kelas, pemberian motivasi dan penguatan. Hal yang perlu diperhatikan pada pelaksanaan evaluasi, aspek penilaian pada karya siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada semua pihak untuk lebih menyiapkan diri terutama bagi lingkungan pendidikan/sekolah agar persiapan sebelum pembelajaran benar-benar disiapkan, pelaksanaanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, dan tentunya evaluasi benar-benar dilaksanakan sesuai kurikulum/aturan yang berlaku.

Pengaruh pembelajaran organisasi kepemimpinan dan motivasi terhadap kinerja karyawan Koperasi Syariah (BMT) di Malang Raya / Muchni Marlikan

 

Kata Kunci : Pembelajaran Organisasi, Kepemimpinan, Motivasi, Kinerja. Proses pembelajaran organisasi yang efektif dan didukung oleh kemampuan pemimpin dalam mendorong dan memotivasi karyawannya agar berkinerja tinggi merupakan modal dasar bagi pencapaian kinerja organisasi secara keseluruhan. Demikian pula halnya dengan kinerja karyawan Koperasi Syariah di Malang Raya. Prinsip-prinsip dasar manajemen organisasi seperti Pembelajaran organisasi, Kepemimpinan, Motivasi kerja, dan Kinerja karyawan perlu didorong dan direalisasikan dalam rangka mewujudkan kuantitas dan kualitas Koperasi Syariah di Malang Raya. Sejumlah teori dan hasil penelitian telah menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut (Pembelajaran organisasi, Kepemimpinan, Motivasi kerja, dan Kinerja karyawan) berkontribusi pada peningkatan kualitas Sumberdaya Pengelola Koperasi Syariah, dimana Sumberdaya Manusia sangat sentral perannya dalam proses hingga hasil akhir suatu manajemen organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pembelajaran organisasi, kepemimpimpinan dan motivasi terhadap kinerja karyawan Koperasi Syariah di Malang Raya. Penelitian ini merupakan bentuk rancangan penelitian kuantitatif dengan obyek penelitian adalah karyawan Koperasi Syariah yang terdiri dari 33 unit Koperasi Syariah yang berada di wilayah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu). Populasi dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 170 orang. Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sejumlah 118 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik proporsional sampel atau sampel imbangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner sebagai media mendapatkan data dari sampel yang juga sekaligus sebagai responden. Hasil pengolahan data dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan program software komputer Liniear Struktural Relation (LISREL) menunjukkan sebagian dari pola hubungan antar variabel tidak terbukti atau tidak berpengaruh secara signifikan. Untuk membuktikan adanya pengaruh antar variabel digunakan nilai standarized (tingkat pengaruh variabel) dan p-value. Hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh variabel pembelajaran organisasi terhadap motivasi adalah tidak terbukti. Demikian juga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh variabel kepemimpinan terhadap kinerja adalah tidak terbukti. Sedangkan pola hubungan antar variable lain, seperti pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi terbukti, pengaruh pembelajaran organisasi terhadap kinerja juga terbukti dan pengaruh motivasi terhadap kinerja adalah terbukti atau berpengaruh secara signifikansi terbukti. Hasil penelitian ini merekomendasikan kepada pemerintah (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah), pengelola koperasi, peneliti, dan lembaga penelitian untuk melakukan kajian lebih mendalam terkait dengan pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya karyawan Koperasi agar mampu menemukan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja karyawan sebagai sumbangsih terhadap pengembangan pendidikan, utamanya pendidikan ekonomi.

Penerapan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak di kelompok B RA. 03 Al Khoiriyah Batu / Widyaiswari Lisa Hidayat

 

Kata kunci: Metodete bak huruf, membaca permulaan, neurosensory Sejumlah guru taman kanak-kanak kini ”terpaksa” menekankan kemampuan membaca kepada siswanya. Padahal hal ini bertentangan dengan kurikulum TK/RA. Dalam kurikulum anak hanya sebatas dikenalkan kepada membaca permulaan saja salah satunya yaitu mengidentifikasi dan menyebutkan huruf. Melalui metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory anak akan diajarkan untuk mengidentifikasi dan menyebutkan huruf vocal dan konsonan yang ada di sekitarnya dengan metode bermain tanpa dibebani perasaan tertekan karena pembelajaran yang dilakukan dikemas dengan menggunakan permainan yang menarik dan menantang untuk anak. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan penerapan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca permulaan anak pada kelompok B di RA 03 Al Khoiriyah Batu, setelah menerapkan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory. Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 3 siklus dengan masing-masingsiklus tiga kali pertemuan. Ada-pun tahapanpelaksanaannya yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danrefleksi.Subyekpenelitianiniadalahsiswakelompok B di RA 03. Al Khoiriyah Batu. Jumlah siswa di sekolah tersebut adalah 31 anak yang berusia 5-6 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes, observasi dan dokumentasi .Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data berupa instrumen penilaian tes identifikasi huruf dan lembar observasi. Berdasarkan hasil observasi dan olahdata yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukan bahwa penerapan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory dapat dilaksanakan dengan baik dan mampu meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, terbukti anak bersemangat dan senang melakukan permainan ini serta hasil ketuntasan klasikal yang didapatkan pada siklus III mencapai 90,3 %. Metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak.Melalui metode bermain, pembelajaran yang dilakukan anak akan lebih mengena dan menyenangkan serta tidak membebani otak anak. Sehingga harapan kedepan anak akan mampu berkembang secara optimal. Melalui penelitian ini disarankan agar civitas PAUD dapat menerapkan metode bermain tebak huruf berbasis neuro sensory untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak di Taman kanak-kanak.

Penggunaan serat optik singlemode tipe SMF-28 sebagai pedekteksi tekanan pada konstruksi beton / Billy Septian Putra Adi Kusuma

 

Kata Kunci: Serat optik singlemode, sensor serat optik, beton. Struktur bangunan dapat mengalami kerusakan parah bila tidak dideteksi sedini mungkin. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan bangunan adalah tekanan. Tekanan dapat digunakan untuk menguji seberapa kuat material bangunan tersebut. Berkaitan dengan itu, maka pada penelitian ini serat optik digunakan untuk mendeteksi tekanan pada material bangunan berupa beton. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan dengan memberikan tekanan berupa beban sebesar 1 Kg-15 Kg pada material beton yang berisi serat optik. Pemasangan serat optik pada material beton menggunakan konfigurasi melingkar. Hasil data yang diperoleh berupa daya keluaran yang dihasilkan serat optik. Daya keluaran tersebut digunakan untuk menentukan besarnya Loss yang ditimbulkan oleh serat optik. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap menghitung nilai ralat hasil pengukuran, menghitung nilai Loss serat optik, membuat grafik hubungan antara beban yang diberikan dengan Loss yang ditimbulkan oleh serat optik. Berdasarkan analisis perhitungan diperoleh nilai Loss serat optik pada panjang gelombang 1310 nm sebesar 0,528 dB-1,20 dB. Nilai Loss yang dihasilkan serat optik pada panjang gelombang 1550 nm sebesar 15,1 dB-21,6 dB. Berdasarkan analisis grafik diperoleh nilai koefisien kemiringan grafik pada panjang gelombang 1310 nm dan 1550 nm masing-masing sebesar -0,065 dB/Kg dan -0,537 dB/Kg. Ketika serat optik dilengkungkan, maka garis normal akan berubah arah mengikuti permukaan inti serat optik. Hal tersebut menyebabkan sudut datang cahaya yang merambat pada serat optik memiliki nilai yang lebih kecil dari sudut kritis dan menyebabkan sinar dapat menembus inti dan keluar dari serat optik. Cahaya yang keluar tersebut menimbulkan rugi daya pada serat optik. Semakin tajam lengkungan pada serat optik, maka semakin besar pula rugi daya yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pemasangan serat optik pada konstruksi beton menggunakan konfigurasi melingkar dengan diameter sebesar ±2 cm yang ditempatkan disepanjang konstruksi beton. Hal tersebut bertujuan agar serat optik dapat mendeteksi tekanan secara merata disepanjang beton. Kedua, besar nilai beban yang diberikan pada serat optik memiliki hubungan linier yang sebanding dengan besarnya Loss yang dihasilkan oleh serat optik. Panjang gelombang yang baik digunakan pada sumber cahaya adalah sebesar 1310 nm, dimana menghasilkan nilai koefisien Loss terkecil sebesar -0,065 dB/Kg.

Hubungan antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri se-gugus 6 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Indah Kusuma Ariany

 

Kata Kunci: Kebiasaan membaca, kemampuan membaca pemahaman, SD. Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual dan berpikir. Hal ini memerlukan ketekunan dan latihan yang berkesinambungan untuk melatih kebiasaan membaca agar kemampuan membaca, khususnya kemampuan membaca pemahaman dapat dicapai. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) mengetahui kebiasaan membaca siswa kelas VI SDN se-Gugus 6 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, (2) mengetahui kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VI SDN se-Gugus 6 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, dan (3) mengetahui ada tidaknya hubungan antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VI SDN se-Gugus 6 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah 53 orang siswa kelas VI SDN se-Gugus 6 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Instrumen yang digunakan adalah angket kebiasaan membaca dan soal tes kemampuan membaca pemahaman. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan program SPSS 16 for Windows. Hasil analisis statistik korelasi menunjukkan (1) nilai rhitung sebesar 0,368, sedangkan rtabel adalah 0,270 dengan batas signifikasi 5%; (2) nilai signifikansi adalah 0,007; dan (3) nilai rhitung berada pada interval koefisien antara 0,200 sampai dengan 0,399. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VI SDN se-Gugus 6 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar dengan tingkat korelasi rendah. Artinya kebiasaan membaca memiliki hubungan yang nyata dan berarti dengan kemampuan membaca pemahaman, namun hanya memberikan kontribusi yang rendah terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa dan sisanya ditentukan oleh faktor lain. Agar kemampuan membaca pemahamannya tinggi, siswa hendaknya memiliki kebiasaan membaca yang tinggi pula, misalnya dengan cara senantiasa memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan aktivitas membaca. Guru beserta pihak sekolah hendaknya mendukung usaha siswa dengan memperhatikan fasilitas yang dapat menunjang dan memicu motivasi serta semangat membaca siswa.

Pengaruh gaya tambahan terhadap Loss pada serat optik plastik tipe FD=620-10 dan serat optik silika tipe SMF-28 / Miftah Hida Prihantanty

 

Kata Kunci: Serat optik, plastik tipe FD-620-10, silika tipe SMF-28, elastisitas. Sensor serat optik merupakan pemandu gelombang yang terbuat dari bahan dielektrik (gelas atau silika) yang dimanfaatkan mentransmisikan cahaya. Serat optik plastik terbuat dari polimetil metakrilat (PMMA), sedangkan claddingnya terbuat dari kopolimer metakrilat flourinated alkil. Serat optik silika terbuat dari Silica Dioksida (SiO2) yang didopping dengan Germanium Dioksida (GeO2). Selain memiliki kelebihan, serat optik juga mempunyai batas kemampuan menahan tarikan yang disebut kemampuan tegang serat optik. Kemampuan menegang itu disebut efek elasto optik. Elasto optik merupakan efek yang ditimbulkan oleh peregangan partikel penyusun. Jika terjadi peregangan pada serat optik maka cahaya yang seharusnya dipantulkan kembali ke dalam core tidak dipantulkan tetapi diteruskan menuju cladding atau bahkan jika peregangan yang terjadi sangat luas maka cahaya akan keluar. Ini yang disebut rugi daya (loss). Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat elastisitas serat optik plastik dan silika berdasarkan rugi daya (loss) serat optik saat diberi beban. Serat optik plastik yang digunakan adalah serat optik plastik tipe FD-620-10 dan serat optik silika yang digunakan adalah serat optik silika tipe SMF-28. Serat optik plastik diberi perlakuan dengan menggantungkan beban pada serat optik, mulai dari beban 200 gram, kelipatan 200 gram dan beban penggantung bermassa 50 gram, variasi beban dilakukan sampai serat optik putus. Serat optik silika juga diberi perlakuan sama yaitu menggantungkan beban dengan variasi mulai dari 100 gram kemudian kelipatan 100 gram sampai serat optik putus pada massa beban 1 kg. Berdasarkan grafik didapatkan hubungan yang linier antara gaya tarik dengan loss, pada frekuensi 30,71 MHz diperoleh nilai slope sebesar -0,151 dB/N dan koefisien linier 0,98. Sedangkan pada serat optik silika, sebelum serat optik putus perubahan loss tidak begitu signifikan, tetapi ketika serat optik tepat akan putus nilai loss serat optik yaitu -48 dB. Berdasarkan grafik didapatkan hubungan yang linier antara gaya tarik dengan loss, pada panjang gelombang 1490 nm diperoleh nilai slope sebesar -2,174 dB/N dan koefisien linier 0,252. Kesimpulan pada eksperimen ini ada dua. Pertama serat optik plastik lebih elastis dibandingkan serat optik silika. Kedua, untuk digunakan sebagai sensor serat optik plastik lebih baik karena lebih peka terhadap gangguan lingkungan, tetapi jika digunakan untuk komunikasi serat optik silika lebih baik karena lebih tahan terhadap gangguan lingkungan.

Hubungan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan pada siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 Kota Malang / Anita Puspitorini

 

Kata Kunci: Hubungan, Kecepatan membaca, Memahami Isi Bacaan, SD. Kecepatan membaca adalah banyaknya kata yang terbaca setiap menitnya disertai tingkat pemahaman. Kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan dipengaruhi oleh faktor kebiasaan atau latihan. Berdasarkan kesamaan latar belakang faktor yang mempengaruhi diasumikan keduanya berhubungan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan: (1) kecepatan membaca siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 Malang, (2) kemampuan memahami isi bacaan, dan (3) ada tidaknya hubungan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan siswa kelas V SDN lesanpuro 3 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dengan populasi kelas V sebanyak 80 siswa. Sampel penelitian diambil dari seluruh populasi yaitu 80 siswa. Instrumen yang digunakan adalah tes kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan. Teknik pengumpulan data dengan tes dan dokumentasi. Uji hipotesis menggunakan rumus korelasi product moment. Hasil penelitian tentang kecepatan membaca siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 dapat dikatakan cukup baik dengan rata-rata 177 kata per menit atau sebesar 71,25% siswa mencapai kecepatan membaca di atas 166 kata per menit. Kemampuan memahami isi bacaan siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 juga sudah baik dengan rata-rata nilai pemahaman 60 atau sekitar 80% siswa mencapai nilai pemahaman di atas 41 atau cukup. Hasil uji hipotesis menunjukkan ada hubungan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan yang cukup signifikan dengan r hitung sebesar 0,507 dan r tabel 0,220 pada taraf signifikan 5%. Kesimpulan penelitian adalah secara keseluruhan untuk kecepatan membaca siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 Malang cukup baik. Tetapi masih ada beberapa hal yang menghambat kecepatan membaca siswa yaitu menunjuk baris bacaan menggunakan jari tangan, bergumam, menggerakkan bibir, dan menggerakkan anggota tubuh. Kemampuan memahami isi bacaan siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 cukup baik. Dari hasil uji hipotesis didapat r hitung > r tabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, maka terdapat hubungan positif yang cukup signifikan antara kecepatan membaca dengan kemampuan memahami isi bacaan siswa kelas V SDN Lesanpuro 3 Malang. Disarankan untuk (1) guru kelas V hendaknya mengintensifkan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan cara melatih kemampuan membaca cepat siswa, (2) kepala Sekolah hendaknya mendukung usaha tersebut dengan menambah jumlah koleksi buku di perpustakaan, (3) peneliti lanjutan hendaknya melakukan penelitian tentang teknik pembelajaran yang bisa meningkatkan kecepatan membaca bagi siswa SD.

Peningkatan kemampuan memahami teks bacaan melalui strategi Know-Want to Knowledge-Learned (KWL) pada siswa kelas III SDN 3 Gandusari Kabupaten Trenggalek / Reny Herdikawati

 

Kata kunci : kemampuan, memahami teks bacaan, strategi KWL Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas III SDN 3 Gandusari, kemampuan siswa dalam memahami teks bacaan tidak sesuai dengan harapan. Banyak siswa yang belum baik dalam menjawab pertanyaan, menyatakan pendapat atau perasaan berkaitan dengan isi teks dan menyimpulkan isi teks dalam beberapa kalimat. Sehingga hasil belajarnya juga kurang baik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan strategi KWL untuk meningkatkan kemampuan memahami teks bacaan pada siswa kelas III SDN 3 Gandusari Kabupaten Trenggalek dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami teks bacaan pada siswa kelas III SDN 3 Gandusari Kabupaten Trenggalek melalui strategi KWL. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: nilai rata-rata kemampuan awal siswa dalam memahami teks bacaan adalah 68 dengan ketuntasan belajar sebesar 23%. Setelah dilaksanakan siklus I, nilai rata-rata kemampuan memahami teks bacaan siswa meningkat menjadi 75 dengan ketuntasan belajar sebesar 59%. Selanjutnya pada siklus II, nilai rata-rata kemampuan memahami teks bacaan siswa mengalami peningkatan menjadi 82 dengan ketuntasan belajar sebesar 82%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca melalui strategi KWL dapat membantu siswa memahami teks bacaan, menjawab pertanyaan, menyatakan pendapat atau perasaan yang berkaitan dengan isi bacaan, dan menyimpulkan isi bacan dalam beberapa kalimat. Untuk itu diharapkan guru menerapkan strategi KWL dalam pembelajaran membaca sehingga siswa lebih tertarik untuk mengikuti pembelajaran dan memperoleh hasil yang maksimal.

Manajemen pendidikan dan pelatihan prajabatan golongan II bagi calon pegawai negeri sipil angkatan 642/643 tahun 2012 (Studi kasus di Badan Pendidikan dan Latihan Propinsi Jawa Timur) Dimas Agustian Eko Yusanto

 

Kata kunci : manajemen, diklat, pegawai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai unsur utama Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai aparatur negara mempunyai peranan yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Sosok PNS yang mampu memainkan peranan tersebut, yaitu PNS yang mempunyai kompetensi antara lain diindikasikan dari sikap dan perilakunya yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan kepada negara, bermoral dan bermental baik, profesional, sadar akan tanggung jawab sebagai pelayan publik, serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk membentuk itu semua organisasi pemerintahan maupun instansi-instansi terkait memerlukan suatu manajemen Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang baik. Manajemen Diklat yaitu suatu proses pembelajaran dalam organisasi yang mengarah pada perubahan sikap dan perilaku pegawai memenuhi harapan kualifikasi kerja dan tuntutan perkembangan organisasi baik internal maupun eksternal. Diklat Prajabatan sangatlah dibutuhkan oleh Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang ingin meningkatkan jenjang karir, di sisi lain dapat memperoleh pengetahuan/keterampilan dan keahlian yang nantinya dapat diterapkan dalam bekerja serta mendukung karirnya sehingga mampu meningkatkan kinerjanya dalam rangka pengembangan organisasi. Fokus Penelitian ini 1) bagaimana perencanaan Diklat Prajabatan bagi CPNS di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur, 2) bagaimana pelaksanaan diklat Prajabatan bagi CPNS di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur, 3) bagaimana penilaian/pengevaluasian Diklat Prajabatan bagi CPNS di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Tujuan penelitian ini 1) mengetahui perencanaan Diklat Prajabatan bagi CPNS di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur, 2) mengetahui pelaksanaan Diklat Prajabatan bagi CPNS di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur, 3) Untuk mengetahui penilaian Diklat Prajabatan bagi CPNS di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) wawancara tidak tersruktur; (2) observasi partisipatif aktif; dan (3) dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dilakukan melalui tiga cara, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Kesimpulan penelitian sebagai berikut: 1) melakukan analisis kebutuhan, 2) mengkaji peraturan perundang-undangan, 3) mengkaji faktor penunjang dan resiko, 4) mengkaji ruang lingkup hasil yang diharapkan, 5) merumuskan tujuan, 6) menetapkan rincian anggaran dan urutan kegiatan, 7) menetapkan waktu, lokasi dan penanggung jawab, dan 8) menyusun dalam bentuk paper perencanaan. Tahap perencanaan Diklat Prajabatan Golongan II prosesnya: 1) permohonan pemanggilan calon peserta Diklat Prajabatan dari Badan Diklat Propinsi Jawa Timur ke Biro Kepegawaian SETDA Propinsi Jawa Timur, 2) pemanggilan calon peserta Diklat Prajabatan oleh Biro Kepegawaian SETDA Propinsi Jawa Timur kepada bagian kepegawaian kabupaten/kota serta bagian kepegawaian kanwil dari instansi terkait, 3) seleksi administrasi dan akademis calon peserta Diklat Prajabatan, dan 4) menyusun surat keputusan penyelenggaraan Diklat Prajabatan dan salinannya disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur, Depdagri, Badan Pengawas, Biro Kepegawaian, dan Biro Keuangan SETDA Propinsi Jawa Timur. Dalam kegiatan pelaksanaan Diklat Prajabatan Golongan II ini diawali dengan pembukaan Diklat, kegiatan pembelajaran baik di dalam ruangan maupun luar ruangan, dan terakhir penutupan Diklat. Pengevaluasian/penilaian di Badan Diklat Propinsi Jawa Timur sangatlah luas mulai dari peserta Diklat, tenaga pengajar sampai penyelenggara/ panitia. Untuk peserta Diklat penilaian terdiri dari aspek sikap dan perilaku, yaitu terdiri atas 1) disiplin, 2) kerjasama, 3) prakarsa serta aspek penguasaan materi ,yaitu mencakup bahan ujian tertulis. Aspek tenaga pengajar penilaiannya terdiri atas: 1) penguasaan materi, 2) sistematika penyajian, 3) kemampuan menyajikan, 4) ketepatan waktu, kehadiran dan menyajikan, 5) penggunaan metode dan sarana Diklat, 6) sikap dan perilaku, 7) cara menjawab pertanyaan dari peserta, 8) penggunaan bahasa, 9) pemberian motivasi kepada peserta Diklat, 10) pencapaian tujuan pembelajaran, 11) kerapian berpakaian, dan 12) kerjasama antar tenaga pengajar, peserta dan penyelenggara. Sedangkan penilaian untuk penyelenggara terdiri atas: 1) efektivitas penyelenggaraan, 2) ketersediaan bahan ajar Diklat, 3) kesiapan sarana Diklat, 4) kesesuaian pelaksanaan program dengan rencana, 5) ketersediaan dan kelengkapan sarana dan prasarana Diklat, 6) kebersihan kelas, asrama, kafetaria, kamar mandi, WC, dan lain-lain, dan 7) ketersediaan fasilitas olah raga dan kesehatan. Saran penelitian ini bagi: 1) Kepala, Kabid Kepemimpinan Tingkat Dasar, dan Tim Penyelenggara Badan Diklat Propinsi Jawa Timur perlu pengembangan berbagai teknik program pelatihan sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai aset/modal dalam organisasi maupun instansi, 2) Para peserta Diklat, agar selalu senantiasa mengikuti program Diklat dengan sebaik-baiknya sehingga peserta Diklat menjadi PNS yang diharapkan sebagai Aparatur Pemerintah, 3) Para Akademisi Jurusan Administrasi Pendidikan, untuk mengembangkan Ilmu Manajemen Diklat di dalam Jurusan Administrasi Pendidikan yang nantinya semakin bertambahnya Subtansi Manajemen yaitu Matakuliah Pengembangan Profesi Diklat, 4) Peneliti Lain, yang melakukan penelitian dengan subjek yang sama dapat menggunakan pendekatan kuantitatif dan lebih mendalam untuk memperoleh data yang komplek.

Penerapan strategi belajar Murder untuk meningkatkan penguasaan pemahaman siswa pada mata pelajaran menggunakan alat-alat ukur kelas X Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMKN 1 Bandung-Tulungagung / Dianna Ratnawati

 

Hubungan antara perhatian orang tua dan perkembangan bahasa anak Play Group di TA Ar-Ridlo Malang / Eriqa Pratiwi

 

Kata Kunci: Perhatian, Perkembangang Bahasa Anak Play Group Cara bicara anak sangat dipengaruhi oleh perhatian orang tua yang di-berikan. Perhatian orang tua akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskipsikan tingkat perhatian orang tua di TA Ar- Ridlo Malang tahun ajaran 2011/2012. (2) Mendiskripsikan tingkat perkembangan bahasa anak Play Group di TA Ar-Ridlo tahun ajaran 2011/2012. (3) Mendiskripsikan hubungan perhatian orang dan perkembangan bahasa anak Play Group di TA Ar-Ridlo tahun ajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas (X) perha-tian orang tua, dan variabel terikatnya (Y) perkembangan bahasa anak Play Group. Penelitian ini merupakan penenilitian sensus yaitu semua populasi menjadi responden penelitian yaitu 26 anak Play Group yang terdiri dari 17 anak laki-laki dan 9 anak perempuan di TA Ar-Ridlo Malang. Penelitian ini menggunakan skala atau angket sebagai intrumen penelitian, kemudian di olah menggunakan teknik analisis korelasi yang bertujuan mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel X dan variabel Y. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan ada korelasi positif dan signi-fikan antara perhatian orang tua dan perkembangan bahasa anak Play Group di TA Ar-Ridlo Malang pada tahun ajaran 2011-2012. Pengaruh yang tinggi ini ter-bukti dari nilai R Square yang mencapai 0,680 atau 68%. Hasil tersebut diperoleh dari hasil positif dan signifikan yang ditunjukkan melalui hasil analisis data menggunakan SPSS 18.00 Saran diberikan kepada perhatian orang tua untuk meningkatkan perha-tian melalui komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua sehingga tercipta lingkungan yang mendukung perkembangan bahasa anak.

Pengaruh budaya organisasi dan jiwa intrapreneurship terhadap kinerja karyawan (studi pada karyawan PT. Hero Sakti Motor Gemilang Malang) / Wahyu Agung Handono

 

Kata Kunci: budaya organisasi, jiwa intrapreneurship, kinerja Di Indonesia perusahaan yang bergerak di sektor bisnis dan industri manufaktur di bidang otomotif memiliki peran penting dalam meningkatkan kondisi perekonomian. Kemampuan produksi dan permintaan produk otomotif yang besar, membuat persaingan menjadi sangat ketat, perusahaan yang bergerak di industri otomotif dituntut meningkatkan kinerja karyawan agar kualitas produk dan pelayanan menjadi optimal. Budaya organisasi dan jiwa intrapreneurship yang dipandang sebagai variabel bebas yang mempengaruhi peningkatkan kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi dan jiwa intrapreneurship yang ada di PT Hero Sakti Motor Gemilang Malang terhadap kinerja karyawan. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan PT Hero Sakti Motor Gemilang Malang yang berjumlah 110 orang, didapatkan sampel sebanyak 86 orang dari teknik random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu budaya organisasi (X1), jiwa intrapreneurship (X2), dan variabel terikat kinerja karyawan (Y). Analisis data yang dipakai adalah analisis regresi linear berganda dan analisis statistik deskriptif. Secara parsial dapat dikatakan bahwa setiap variabel bebas berpengaruh secara nyata pada variabel terikat. Didapatkan koefisien sebesar 0.454 dari analisis regresi berganda, hasilnya variabel intrapreneurship (X2) memiliki pengaruh terbesar dalam dalam penelitian ini. Secara simultan, didapatkan hasil pengaruh total variabel budaya organisasi (X1) dan variabel jiwa intrapreneurship (X2) pada variabel kinerja karyawan (Y) adalah sebesar 0.553 atau sekitar 55.3%, dan sisanya sebesar 44.7% dipengaruhi oleh variabel lain, maka hipotesis yang diterima adalah hipotesis Ha dan dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang nyata dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar PT Herosakti Motor Gemilang Malang selalu meningkatkan dan mempertahankan budaya organisasi yang menghargai kreatifitas, inovasi serta rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Karena dengan dihargainya kreatifitas karyawan tersebut maka akan muncul ide-ide atau gagasan yang baik untuk organisasi maupun kinerjanya itu sendiri dan jiwa intrapreneurship akan terbentuk.

Pengembangan kemampuan bahasa anak usia dini melalui permainan tebak gambar di kelompok A PAUD Aisyiyah Bustanul Athal 3 Kota Blitar / Prastiwi Ulan Mardani

 

Kata Kunci: kemampuan bahasa, tebak gambar. Penelitian ini berlatar belakang pada anak yang mengalami kesulitan mengungkapkan pendapat dan mengenal huruf. Guru belum mengunakan metode yang tepat dan mengembangkan kemampuan tersebut. Penyebab dari kesulitan tersebut adalah metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran kurang menarik bagi anak, anak merasa bosan dan bermain sendiri. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan penerapan atau penggunaan permainan tebak gambar untuk meningkatkan kemampuan bahasa kelompok A. 2) Mendeskripsikan penggunaan permainan tebak gambar dapat mengembangkan kemampuan berbahasa anak kelompok A di PAUD Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Kota Blitar. Pendekatan yang dilakukan peneliti adalah pendekatan kualitatif dengan model PTK. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian guru dan anak didik kelompok A di PAUD Aisyiyah Bustanul Athfal 3 Kota Blitar dengan jumlah peserta 17 anak. Penelitian dilakukan pada tanggal 31 Januari sampai 20 Februari 2012. Dalam penelitian ini penelti berkaloborasi dengan guru kelas. Instrumen yang digunakan adalah (1) Lembar observasi aktivitas guru dalam permainan tebak gambar, (2) lembar observasi aktivitas anak dalam permainan tebak gambar, (3) lembar observasi kemampuan bahasa anak Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan tebak gambar dalam kegiatan pembelajaran terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak PAUD. Pada siklus I aktivitas rata-rata anak mencapai 41,1% dan meningkat menjadi 76,4% pada siklus II. Pada siklus I ke siklus II kemampuan anak mengalami peningkatan yaitu 35,5%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan langkah-langkah permainnan tebak gambar dapat meningkat kemampuan bahasa anak. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat menerapkan langkah pembelajaran yang inovatif, menarik, dan menyenagkan dalam kegiatan pembelajaran sahari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pengelolaan dana pendidikan pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) (studi kasus di SMP Negeri 1 Kesamben Blitar) / Artika Wijayani

 

Kata Kunci: pengelolaan dana, dana pendidikan, rintisan sekolah bertaraf internasional. Maraknya globalisasi yang menuntut daya saing tiap negara, termasuk daya saing tiap daerah, diharapkan akan tercapai melalui peningkatan kemandirian tiap daerah. Kehadiran undang-undang otonomi daerah memberikan peluang lebih besar bagi daerah untuk mengelola pendidikan secara mandiri sesuai dengan kesiapan daerah bersangkutan. Dalam meningkatkan mutu pedidikan, pembiayaan pendidikan merupakan salah satu bahan kajian yang penting dalam memperbaiki kualitas pendidikan. Sehubungan dengan hal tersebut, penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional diharapkan dapat memberikan solusi terhadap tuntutan perkembangan era globalisasi. Berdasarkan uraian tersebut, fokus penelitian terkait pengelolaan dana pendidikan pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMP Negeri 1 Kesamben, mencakup (1) sumber-sumber pembiayaan pendidikan; (2) penggunaan sumber pembiayaan pendidikan; (3) audit manajemen pembiayaan pendidikan; dan (4) peran komite sekolah dalam pembiayaan pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitataif, dirancang dengan menggunakan rancangan studi kasus, karena pada penelitian ini menggunakan kasus khusus untuk menggambarkan suatu isu atau perhatian yang strategis. Strategisnya penelitian ini terletak pada pentingnya pengelolaan dana pendidikan pada RSBI di SMP Negeri 1 Kesamben. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah, penanggungjawab program RSBI, bendahara sekolah, kepala tata usaha, dan komite sekolah. Sumber data yang digunakan dalam penlitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara dan dokumen yang berkaitan dengan pembiayaan pendidikan di SMP Negeri 1 Kesamben. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, mengorganisasikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil analisis data selanjutnya di cek keabsahannya, melalui pemeriksaan triangulasi, pengecekan anggota, pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi, dan kecukupan referesial. Kesimpulan penelitian adalah (1) Sumber pendanaan untuk pembiayaan pendidikan di SMP Negeri 1 Kesamben terdiri dari tiga sumber dana, yaitu (a) pemerintah, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten, (b) komite sekolah/PSM dari orangtua siswa yang diwujudkan dalam bentuk SPP, dan (c) dana lain. Sumber dana dari Komite Sekolah melalui Peran Serta Masyarakat (PSM) di SMP Negeri 1 Kesamben merupakan sumber dana terbesar, yang mana keberadaannya konsisten di setiap tahunnya apabila dibandingkan dengan sumber dana yang lain. Dana PSM dihimpun dari orangtua siswa yang diwujudkan dalam bentuk Sumbangan Pembiayaan Pendidikan (SPP); (2) Dalam analisis sistem penyelenggaraan pendidikan, dana pendidikan digunakan untuk memenuhi delapan aspek SNP, yang selanjutnya disebut dengan pemenuhan Indikator Kinerja Kunci Minimal (IKKM), dan memenuhi dimensi-dimensi keinternasionalan atau “x”-nya dari SNP, yang selanjutnya disebut dengan pemenuhan Indikator Kinerja Kunci Tambahan (IKKT). Pengelolaan dana di SMP Negeri 1 Kesamben dilakukan dengan sistem pendanaan silang, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Hal ini berarti kebijakan anggaran mengarah pada sistem bottom up, dimana sistem pendistribusian anggaran didasarkan atas program yang dibuat pada masing-masing sasaran dan sesuai dengan prioritas anggaran; (3) Audit manajemen pembiayaan pendidikan di SMP Negeri 1 Kesamben dilakukan oleh auditor internal dan eksternal . Auditor internal yaitu kepala sekolah. Sedangkan auditor eksternal, antara lain Badan Pengawas Daerah (Bawasda), Badan Pengawas Keuangan, dan Direktorat SMP. Dimana ruang lingkup audit meliputi seluruh aspek manajemen dan berkisar pada bukti-bukti transaksi serta akuntansi yang ada. Hasil audit selanjutnya digunakan sebagai laporan pertanggungjawaban kepada stakeholders; dan (4) Peran komite sekolah dapat digolongkan ke dalam empat jenis peranan komite yaitu yaitu sebagai: (a) advisory agency, antara lain memberikan masukan dan pertimbangan kepada sekolah dalam penyusunan APBS, (b) supporting agency, antara lain mendorong orangtua siswa untuk berpartisipasi dalam pendidikan dan memotivasi orangtua siswa dalam melaksanakan kebijakan pendidikan sekolah, (c) controlling agency, antara lain melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan dan hasil pembiayaan pendidikan, dan (d) mediator, yaitu membina hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan seluruh stakeholders. Saran ditujukan untuk (1) Kepala sekolah diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kerjasama dengan komite sekolah, khususnya pembiayaan pendidikan; (2) Komite sekolah sebaiknya bisa meningkatkan perannya sebagai supporting agency dalam hal finansial, yaitu dengan memperbanyak mitra kerja yang bisa ikut berpartisipasi mendukung jalannya program RSBI, membangun networking antara alumni sekolah yang sudah sukses sebagai donator sekolah; (3) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, seyogyanya dapat memberikan kepastian alokasi anggaran setiap tahunnya kepada sekolah, sehingga hal ini nantinya dapat mempermudah perencanaan dan pelaksanaan anggaran pendidikan di sekolah dalam upaya memenuhi tuntutan mutu pendidikan pada RSBI; dan (4) Peneliti lain yang berminat melakukan penelitian terkait pengelolaan pembiayaan pendidikan atau sejenisnya dengan perspektif yang berbeda, dapat mengembangkan penelitian ini pada fokus administrasi pembiayaan pendidikan pada tingkat sekolah. Hal ini dikarenakan konsep manajemen pembiayaan pendidikan ini merupakan tonggak dari keberhasilan manajemen pendidikan yang lainnya, sehingga penting untuk diteliti.

Kuat lentur sambungan jari arah lebar balok dengan perekat epoxy pada balok kayu meranti / Widya Karya Kusumawati

 

Kata kunci: kayu meranti, sambungan jari, kuat lentur. Ukuran kayu yang tersedia di pasaran sangat terbatas untuk memenuhi panjang struktur yang diperlukan pada bangunan. Masalah ukuran panjang bentang ini dapat diatasi dengan menyambung beberapa kayu menjadi satu kesatuan bentang yang utuh dan panjang sesuai dengan bentang kayu yang direncanakan. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui berapa besar kuat lentur pada balok kayu meranti dengan mengunakan sambungan jari (finger joint) arah lebar balok. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan benda uji balok kayu meranti berdimensi 4 cm x 6 cm x 150 cm. Benda uji dibagi menjadi dua, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jumlah benda uji untuk masing-masing kelompok sebanyak 5 buah. Kelompok kontrol adalah balok kayu meranti tanpa sambungan sedangkan kelompok eksperimen adalah balok kayu meranti dengan sambungan jari pada arah lebar balok. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan terhadap balok kayu meranti kelompok kontrol dan balok kayu meranti kelompok eksperimen didapatkan bahwa nilai rerata beban maksimum balok kayu meranti kelompok eksperimen sebesar 310,00 kg, dan nilai rerata beban maksimum balok kayu meranti kelompok kontrol sebesar 695,40 kg. Hal ini berarti bahwa beban maksimum yang mampu diterima oleh balok kayu meranti dengan sambungan jari arah lebar balok adalah 44,58% dari beban maksimum yang mampu diterima oleh balok kayu meranti tanpa sambungan. Sedangkan nilai tegangan lentur rerata balok kayu meranti kelompok eksperimen adalah 232,16 kg/cm2, dan tegangan lentur rerata balok kayu meranti kelompok kontrol sebesar 493,72 kg/cm2 . Hal ini berarti tegangan lentur balok kayu meranti dengan sambungan jari adalah 47,02% dari tegangan lentur balok kayu meranti tanpa sambungan. Kekuatan sambungan juga dipengaruhi oleh tampang efektif sambungan. Berdasarkan penelitian ini dan penelitian terdahulu oleh Ahmad Luthfil Hakim (2011) menunjukan bahwa secara praktis kekuatan sambungan dapat diturunkan dari tampang efektif sambungan dengan koefisien reduksi. Koefisien reduksi dapat bersumber dari kualitas pembuatan sambungan dan proses setting sambungan (proses pengekleman benda uji). Maka, untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan alat atau mesin pembuat profil sambungan jari yang bekerja secara otomatis sehingga dapat menghasilkan profil yang presisi, menggunakan alat klem yang dapat memberikan tekanan yang sama besar nilainya pada saat pengekleman benda uji, dan mengkaji tentang koefisien reduksi pada sambungan yang dibuat dengan mesin dan manual untuk keperluan praktis perhitungan sambungan.

Pengembangan media pembelajaran LAN berbasis multimedia interaktif pada mata pelajaran produktif TKJ di SMK Widyagama Malang / Agung Eka Wicahyono

 

Kata kunci: media pembelajaran, Produktif, multimedia interaktif. Pada pembelajaran produktif Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMK, khususnya pada Standar Kompetensi (SK) Menginstalasi Perangkat Jaringan Lokal (Local Area Network) dibutuhkan kreativitas guru untuk memahamkan konsep dan teori kepada siswa yang selanjutnya akan menjadi dasar dalam kegiatan praktikum. Salah satu pendekatan pembelajaran yang didesain dengan fokus pada penanaman konsep yang baik di kalangan siswa adalah pendekatan pembelajaran konseptual interaktif (Interactive Conceptual Instruction, ICI). Di SMK Widyagama, pembelajaran Local Area Network (LAN) masih dilaksanakan dengan metode konvensional yakni guru hanya melakukan ceramah bermakna berbantuan power point. Presentasi yang digunakan masih sebatas media statis, sehingga untuk konsep aliran data pada jaringan kurang bisa dipahami oleh siswa. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut maka digunakanlah media pembelajaran LAN berbasis multimedia interaktif sebagai media bantu dalam pembelajaran. Pada penelitian ini, model pengembangan yang digunakan adalah model Sugiyono yang telah dimodifikasi. Adapun langkah-langkah penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut, (1) mengidentifikasi kebutuhan, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) validasi produk, (7) revisi produk, (8) uji lapangan, (9) revisi produk. Produk yang disajikan dalam penelitian ini berupa media pembelajaran LAN berbasis multimedia interaktif. Media pembelajaran tersebut menampilkan 6 menu utama yang terdiri dari (1) kompetensi dasar (2) materi, (3) video, (4) soal, (5) profil (7) bantuan. Materi yang terdapat dalam media pembelajaran berbasis multimedia interaktif meliputi satu standar kompetensi yaitu menginstalasi perangkat jaringan lokal (Local Area Network) yang terdiri dari empat kompetensi dasar: (1) merencanakan kebutuhan dan spesifikasi, (2) menginstalasi Local Area Network, (3) mengatur perangkat menggunakan software, (4) menguji Local Area Network. Media pembelajaran LAN berbasis multimedia interaktif mencapai tingkat kelayakan validasi ahli media dengan skor persentase 92,53%, sedangkan hasil validasi ahli materi mencapai tingkat kelayakan dengan skor persentase 96,76%. Hasil uji coba perorangan guru pengajar dan siswa mencapai tingkat kevalidan dengan skor persentase 96,76% dan 85,00%. Hasil respon siswa mencapai tingkat kevalidan dengan skor persentase 85,00%. Oleh karena itu, media pembelajaran LAN berbasis multimedia interaktif ini dapat digunakan untuk pembelajaran matapelajaran produktif pada standar kompetensi menginstalasi perangkat jaringan lokal (Local Area Network) di SMK Widyagama Malang.

Pengaruh pemanfaatan media pembelajaran dan persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru melalui motivasi bel;ajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI IPS si SMA Negeri 7 Malang / Galih Prakasiwi

 

Kata Kunci : Pemanfaatan, Media Pembelajaran, Persepsi, Metode Mengajar, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hendaknya mengoptimalkan pemanfaatan media pembelajaran yang ada, dan siswa hendaknya memiliki persepsi yang baik terhadap guru. Semakin baik tingkat pemanfaatan media pembelajaran dan semakin baik persepsi siswa terhadap guru dalam mengajar, maka siswa akan lebih senang dan bersemangat dalam belajar sehingga semakin besar pula pengaruhnya dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pengaruh pemanfaatan media pembelajaran dan persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru melalui motivasi belajar terhadap hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 7 Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemanfaatan media pembelajaran (X1), persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru (X2) dan variabel intervening adalah motivasi belajar (X3), sedangkan variabel terikat adalah hasil belajar siswa (Y). Jenis penelitian ini adalah eksplanasi asosiatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional random sampling dengan 130 sampel dari 192 populasi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur (path analysis). Berdasarkan hasil analisis data maka: Pemanfaatan media pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi, pemanfaatan media pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi, persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru berpengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi, persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi, motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi, pemanfaatan media pembelajaran melalui motivasi belajar berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi, persepsi siswa mengenai variasi metode mengajar guru melalui motivasi belajar berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 7 Malang. Saran dalam penelitian ini adalah: Guru hendaknya memaksimalkan pemanfaatan media pembelajaran di sekolah, sehingga hasil belajar siswa dapat tercapai secara maksimal. Dan siswa hendaknya memilikian persepsi positif terhadap guru, agar siswa lebih termotivasi serta tidak mudah cepat bosan dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

Peningkatan pembelajaran IPA melalui penerapan model two stay two stray kelas V SDN Ketawanggede 2 Kota Malang / Woro Puspito Wulan

 

Peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan proses menulis di kelas IV SDN Margomulyo 02 Kabupaten Blitar / Erika Puspitasari

 

Kata Kunci : menulis, karangan deskripsi, pendekatan proses menulis Berdasarkan hasil observasi pratindakan, ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan menulis karangan deskripsi di antaranya, siswa kesulitan dalam menemukan ide atau gagasan, belum mampu mengembangkan paragraf dengan baik, belum mampu menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara runtut dalam bentuk bahasa tulis, dan kurang termotivasi mengikuti pembelajaran menulis. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan proses menulis dalam keterampilan menulis karangan deskripsi di kelas IV SDN Margomulyo 02 Kabupaten Blitar dan, (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan proses menulis di kelas IV SDN Margomulyo 02 Kabupaten Blitar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I terdiri dari 3 kali pertemuan dan Siklus II terdiri dari 2 kali pertemuan. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV yang berjumlah 14 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes tulis, dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan proses menulis dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar siswa pada setiap tahap. Pada pembelajaran pratindakan nilai rata-rata siswa sebesar 63, siklus I sebesar 80, dan siklus II sebesar 87. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan sebesar 36%, siklus I sebesar 71%, dan siklus II sebesar 93%. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu dengan menggunaan pendekatan proses menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang menulis karangan deskripsi terbukti dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas IV dalam menulis karangan deskripsi. Maka disarankan agar guru menggunakan pendekatan proses menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan.

Analisis kesalahan gramatika dalam berbicara mahasiswa Jurusa Sastra Jerman Universitas Negeri Malang berdasarkan taksonomi siasat permukaan / Lisa Anggraini

 

Kata Kunci: kesalahan gramatika, berbicara, taksonomi siasat permukaan. Keterampilan berbicara sebagai bentuk dari keterampilan berbahasa lisan mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat maupun di dalam lingkungan pendidikan. Dalam pembelajaran bahasa, khususnya pada keterampilan berbicara bahasa asing, siswa atau mahasiswa dituntut agar dapat berbicara. Meskipun demikian, berbahasa lisan itu tidak mudah, terlebih jika berbicara dalam bahasa asing, seperti bahasa Jerman. Sehubungan dengan hal tersebut, keterampilan berbicara bahasa Jerman diajarkan secara formal di Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang pada beberapa matakuliah, salah satunya adalah matakuliah Freier Vortrag. Berdasarkan fakta yang terdapat di lapangan, kesalahan gramatika masih mewarnai bahasa lisan pembelajar pada matakuliah Freier Vortrag. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan analisis kesalahan gramatika yang dilakukan oleh mahasiswa dalam berbicara pada matakuliah Freier Vortrag. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan gramatika berdasarkan taksonomi siasat permukaan yang dilakukan mahasiswa dalam berbicara pada matakuliah Freier Vortrag. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang angkatan 2008 yang sedang mengikuti matakuliah Freier Vortrag pada tahun ajaran 2011/2012. Adapun data dalam penelitian ini adalah ujaran yang mengandung kesalahan gramatika berdasarkan taksonomi siasat permukaan yang dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 Universitas Negeri Malang pada saat berbicara dalam mata kuliah Freier Vortrag. Untuk memperoleh data, peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian ini menggunakan instrumen bantuan, yaitu alat perekam data. Hasil analisis menunjukkan bahwa masih ditemukan data yang berhubungan dengan kesalahan (1) penghilangan (omission), (2) penambahan (addition), (3) salah formasi (misformation), dan (4) salah susun (misordering).

Pengembangan media pembelajaran interaktif mata pelajaran ilmu pengetahuan alam untuk siswa kelas VI semester II di SDN I Sedarat Ponorogo / Setyo Hadi Nugroho

 

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model pembelajaran Role Playing siswa kelas III SDN Plosoarang 01 Kabupaten Blitar / Anita Lestari

 

Kata Kunci: hasil belajar, pkn, model pembelajaran role playing Data yang diperoleh pada pengamatan awal bahwa pada kegiatan pembelajaran, guru menggunakan model tradisional. Selain itu, data hasil belajar PKn menunjukkan bahwa hasil belajar PKn siswa di bawah KKM. Dari 18 jumlah siswa yang tuntas adalah 3 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas adalah 15 siswa. Hal itu disebabkan siswa belum memahami materi pelajaran, sehingga 83% siswa tidak mencapai KKM yang telah ditetapkan yaitu 70. Berdasarkan hal tersebut, perlu diadakan penelitian yang bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pelaksanaan model pembelajaran Role Playing pada pembelajaran PKn di kelas III SDN Plosoarang 01 kabupaten Blitar, (2) untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Plosoarang 01 kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran PKn melalui model pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar PKn siswa SDN Plosoarang 01. Persentase aktivitas guru pada siklus I sebesar 67%, pada siklus II sebesar 92%. Persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 70%, pada siklus II sebesar 88%. Sedangkan hasil belajar memperoleh nilai rata-rata pada pratindakan 56, siklus I 68, dan siklus II 82. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 17%, siklus I sebesar 44%, dan siklus II sebesar 83%. Dari 18 jumlah siswa yang tuntas adalah 15 siswa, sedangkan siswa yang belum tuntas adalah 3 siswa. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian adalah bahwa kegiatan PKn melalui model pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk itu disarankan agar guru menggunakan model pembelajaran Role Playing karena selain dapat meningkatkan hasil belajar siswa, juga dapat meningkatkan sikap, nilai-nilai untuk memecahkan masalah.

Aplikasi penentuan jenis wireles bridge pada instalasi jaringan wireless menggunakan koordinat GPS berbasis android / Pravantio Fazori

 

Kata kunci : wireless bridge, koordinat GPS, android Pada saat ini, manfaat jaringan komputer dan internet sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga banyak orang berlomba-lomba untuk memasang internet di rumah masing-masing. Untuk memperluas jaringan digunakanlah teknologi wireless bride. Dalam pemasangan wireless bridge perangkat keras yang digunakan sebagai alat bantu masih tergolong mahal dan membutuhkan Global Positioning System (GPS) yang berfungsi untuk menentukan posisi yang memiliki keakuratan cukup tinggi. Selain hal diatas proses pemasangan wireless bridge tergolong rumit karena tidak portable, disebut tidak portable karena alat-alat yang digunakan terpisah atau sendiri-sendiri sehingga untuk mengetahui posisi dan jarak memerlukan beberapa alat yang akan menambah biaya pemasangan wireless bridge. Tujuan tugas akhir ini merancang sebuah aplikasi android yang berfungsi untuk membantu pengguna dalam menghitung jarak dua lokasi berdasarkan koordinat GPS dan menentukan access point yang sesuai dengan jarak tersebut. Metode yang digunakan dalam pembuatan aplikasi ini adalah metodologi Sequential Linear Model dengan tahap-tahap sebgai berikut, analysis, design, Implementation dan yang terakhir testing. Hasil pengujian fasilitas penghitungan dua koordinat pada aplikasi ini memiliki hasil yang sama dengan penghitungan melalui google maps yang telah terpercaya. Dapat disimpulkan bahwa aplikasi ini terbukti mampu berjalan dengan baik dalam membantu proses penghitungan jarak dua koordinat dan menentukan jenis access point yang sesuai, walaupun masih banyak kekurangan. Salah satunya adalah aplikasi ini belum dilengkapi dengan aplikasi chating. Oleh karena itu untuk pengembangan aplikasi ini perlu ditambahkan aplikasi chating untuk komunikasi langsung antar pengguna.

Peningkatan kemampuan motorik halus melalui bermain melipat kertas (origami) pada anak kelompok A2 TK Negeri Pembina 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang / Ika Yuli Kustanti

 

Kata Kunci: Kemampuan Motorik Halus, Bemain Melipat Kertas (origami), Anak Usia Dini Masalah penelitian ini berawal dari observasi di lapangan, diketahui kegiatan bermain melipat kertas (origami) dilakukan hanya 1-2 kali dalam satu minggu, bahkan dalam satu minggu tidak ada kegiatan bermain melipat kertas (origami). Kegiatan peningkatan kemampuan motorik halus anak dilakukan hanya dengan mewarnai gambar. Pemberian penguatan yang diberikan oleh guru sangat terbatas hanya pada anak yang berhasil mengerjakan tugas. Hal ini menyebabkan perlu adanya penelitian tentang peningkatan kemampuan motorik halus melalui bermain melipat kertas (origami) pada anak kelompok A2 TK Negeri Pembina 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rumusan masalah bagaimana penerapan bermain melipat kertas (origami) untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak, apakah kemampuan motorik halus dapat ditingkatkan melalui bermain melipat kertas (origami) pada anak kelompok A2 TK Negeri Pembina 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Rancangan Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan di TK Negeri Pembina 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Subyek penelitian adalah 13 anak kelompok A2 TK Negeri Pembina 2 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi kegiatan anak, dan hasil karya anak. Analisis data yang digunakan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Langkah pembelajaran bermain melipat kertas (origami) 1) Persiapan alat dan bahan. 2) Menunjukkan hasil lipatan. 3) Anak mengambil alat dan bahan. 4) Guru memberikan penjelasan dengan mempraktikkan cara melipat dan anak langsung menirukan tahapan melipat. 5) Anak menunjukkan hasil lipatan dan memainkannya pada taman tiruan. 6)Pengumpulan hasil karya anak. Hasil penelitian menunjukkan skor keberhasilan pada pra tindakan sebesar 60,3%, siklus I sebesar 70,5% . Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan sebesar 10,2% dari pra tindakan ke siklus I. Pada siklus I skor keberhasilan mencapai 70,5% dan pada siklus II sebesar 93,6%. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan sebesar 23,1%. Berdasarkan hasil penelitian kegiatan kemampuan motorik halus dapat dilakukan dengan kegiatan bermain melipat kertas (origami). Disarankan kepada guru dapat menerapkan kegiatan bermain melipat kertas untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Bagi sekolah disarankan penelitian ini dapat dijadikan kebijakan dalam meningkatkan kemampuan motorik halus. Disarakan pada peneliti lain agar dapat menerapkan origami pada perkembangan aspek fisik motorik kasar, kognitif, dan bahasa.

Analisis kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi pada siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang / Yeni Yusella

 

Kata Kunci: analisis kesalahan, penulisan huruf kapital, karangan narasi. Siswa dalam menulis baik itu berupa paragraf atau hanya sebuah kalimat sering melakukan kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain dalam hal pemakaian unit-unit kebahasaan yang meliputi bentukan kata, kalimat, paragraf, ejaan, tanda baca, dan penulisan huruf kapital yang melanggar kaidah baku bahasa Indonesia sehingga akan menimbulkan bentuk yang tidak diinginkan. Pemakaian bahasa Indonesia tersebut dikatakan melanggar atau menyimpang karena tidak sesuai dengan aturan ragam pemakaian bahasa Indonesia baku. Ragam pemakaian bahasa Indonesia baku merupakan ragam yang dipakai dalam situasi resmi, baik secara lisan maupun tertulis. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskriptif obyektif tentang: (1) wujud kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, (2) tingkat kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang, dan (3) faktor-faktor penyebab kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi yang dilakukan oleh siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian kualitatif. Dengan metode ini, kesalahan penulisan huruf kapital yang ditulis oleh siswa dapat dijelaskan. Sesuai dengan metode penelitian yang digunakan, instrumen penelitian dalam penelitian ini ialah peneliti sendiri yang dibantu dengan panduan identifikasi dan analisis data sebagai instrumen pembantu. Subyek penelitian dalam penelitian ini ialah siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 26 siswa, terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Sumber data penelitian ini ialah hasil karangan narasi siswa dan kuesioner siswa. Data penelitian ini berupa data tertulis yang mengkaji wujud kesalahan penulisan huruf kapital, tingkat kesalahan penulisan huruf kapital, dan faktor penyebab kesalahan penulisan huruf kapital yang terdapat dalam karangan narasi yang dilakukan oleh siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang. Penganalisisan data dilakukan dengan cara melingkari huruf kapital yang salah dalam karangan narasi siswa, kemudian diklasifikasikan atau dikelompokkan sesuai dengan jenis kesalahannya serta dianalisis wujud dan tingkat kesalahan penulisan huruf kapital. Selanjutnya, peneliti menganalisis faktor penyebab kesalahan penulisan huruf kapital yang terdapat dalam karangan narasi yang dilakukan oleh siswa dengan menggunakan hasil kuesioner siswa. Setelah itu, peneliti melakukan penginterpretasian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) wujud kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi pada siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang antara lain: (a) kesalahan penulisan sebagai huruf pertama pada awal kalimat, (b) kesalahan penulisan yang digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung, (c) kesalahan penulisan yang digunakan sebagai huruf pertama nama geografi (nama gunung, pantai, kota, lokasi, dan sebagainya), (d) kesalahan penulisan yang digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah, (e) kesalahan penulisan yang digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan/pengacuan, (2) tingkat kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi pada siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang berjumlah 148 atau sebesar 31% termasuk kategori sedikit, akan tetapi 22 dari 26 siswa atau 85% telah melakukan kesalahan penulisan huruf kapital (3) Faktor-faktor penyebab kesalahan penulisan huruf kapital dalam karangan narasi yang dilakukan oleh siswa kelas V SDN Ketawanggede 2 Malang sebab (a) ketidaktahuan atau (b) kekhilafan/kekeliruan. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan kepada: (1) siswa, hendaknya lebih meningkatkan kemampuannya dalam menulis huruf kapital juga dalam pemahaman mengenai unsur kebahasaan yang lain, (2) guru, hendaknya lebih meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain dengan menggunakan metode pembelajaran bervariasi tidak terbatas pada metode ceramah dan tanya jawab. Selain itu juga lebih banyak memanfaatkan media pembelajaran agar penyampaian materi lebih menarik bagi siswa, (3) Kepala Sekolah, agar selalu memberikan pengawasan terhadap guru dalam kegiatan pembelajaran, sekaligus berupaya mendorong semangat siswa untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik dalam berkomunikasi secara lisan maupun tertulis, (4) peneliti selanjutnya, perlu penelitian lanjutan terutama mengenai metode pembelajaran Bahasa Indonesia pada pokok bahasan menulis.

Analisis perbedaan hari perdagangan terhadap return saham: pengujian monday effect, week four effect, dan April effect di BEI (studi pada perusahaan LQ-45 periode 2007 sampai dengan 2008) / Sonya Ayu Anggraini

 

Kata Kunci: Hari Perdagangan, Return Saham, Monday Effect, Week Four Effect, April Effect. Pasar modal menjadi salah satu alternatif sumber pendanaan di luar sistem perbankan yang dapat memberikan dana dengan cara relatif lebih mudah. Informasi yang tercermin dalam harga saham akan menentukan bentuk pasar efisien yang dapat dicapai. Hipotesis pasar yang efisien atau efficient market hypothesis sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang menarik di bidang keuangan, masih ada pro dan kontra di kalangan praktisi dan akademisi bidang keuangan tentang hipotesis pasar yang efisien. Di satu sisi terdapat banyak penelitian memberikan bukti empiris yang mendukung konsep pasar yang efisien. Namun, disisi lain muncul sejumlah penelitian yang menyatakan adanya anomali pasar, yang merupakan penyimpangan terhadap hipotesis pasar yang efisien. Variabel dalam penelitian ini adalah return saham. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan return yang signifikan antar hari perdagangan (Monday effect), antar minggu perdagangan (Week-four effect), antar bulan perdagangan (April effect). Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan LQ 45 yang berjumlah 66 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2008. Sampel yang diambil sebanyak 20 perusahaan yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui akses internet dengan situs www.idx.co.id dan www.finance.yahoo.com. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis Analysis of Variance, one sample t test, independent sample t test dengan bantuan program SPSS 17.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan return yang signifikan antar hari perdagangan (Monday effect), antar minggu perdagangan (Week-four effect), antar bulan perdagangan (April effect). Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) bagi peneliti lain, peneliti yang tertarik dalam mengembangkan penelitian ini, disarankan untuk menambah variabel lain dan menggunakan sampel perusahaan yang lain, serta menambah periode penelitian, (2) bagi calon investor, dapat memberikan informasi agar investor saham bisa melakukan transaksi jual-beli saham kapanpun tanpa perlu memperhatikan hari perdagangan tertentu sebab return saham antar hari perdagangan, minggu perdagangan, maupun bulan perdagangan tidak berbeda secara signifikan.

Pengaruh penggunaan hand puppet terhadap kemampuan menyimak isi dongeng siswa kelas II SDN Sumberkradenan Pakis Malang / Heru Tri Prasetya

 

Kata kunci : Hand puppet, kemampuan menyimak isi dongeng. Hand Puppet dipilih sebagai alternatif media pembelajaran karena media boneka sangat dekat dengan dunia anak-anak dan meskipun Hand Puppet termasuk media visual, akan tetapi media tersebut berguna untuk memvisualisasikan dongeng yang disampaikan oleh guru pada pembelajaran menyimak isi dongeng di kelas II SDN Sumberkradenan Pakis Malang. Dengan menerapkan media Hand Puppet di dalam proses pembelajaran menyimak dongeng, konsentrasi siswa menjadi lebih terfokus terhadap proses pembelajaran, motivasi dan minat siswa terhadap pembelajaran menyimak dongeng dapat lebih ditingkatkan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, yang menggunakan rancangan penelitian Quasi Eksperiment dimana menggunakan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Untuk mengukur kemampuan awal kelas kontrol dan kelas eksperimen dilakukan dengan uji kemampuan awal (pretes). Kemudian pada kelas eksperimen diberi perlakuan, setelah perlakuan diberikan, baru diadakan uji kemampuan akhir (postes) untuk kelas eksperimen. Penelitian ini dalam menguji hipotesisnya menggunakan uji regresi, yaitu menguji pengaruh variabel bebas yang terdiri dari Hand Puppet (X) terhadap variabel terikat kemampuan menyimak (Y). Uji hipotesis menggunakan analisis regresi. Uji regresi digunakan untuk tujuan peramalan, dimana dalam model tersebut ada sebuah variabel independen X (bebas) dan variabel dependen Y (terikat). Dalam penelitian ini uji regresi digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara variabel (X) terhadap variabel (Y). Variabel bebasnya (X) adalah proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Hand puppet dan variabel terikatnya (Y) adalah kemampuan menyimak dongeng siswa kelas II. Pada perhitungan Descriptive Statistics menghasilkan hitungan yaitu, Variabel Y mempunyai rata-rata 81,36 dan standar deviasi 8,335 Variabel X mempunyai ratarata 76,05 dan standar deviasi 6,793. Pada perhitungan Correlations diperoleh perhitungan yaitu Sign. < 0,05 (0,000 < 0,05) maka Ho ditolak sehingga Ha diterima, maka terdapat korelasi antara variabel Y dan X dengan koefisien korelasi sebesar 1,000. Serta pada hasil perhitungan Coefficientsa Reggresion Dari hasil pengolahan dengan SPSS, diperoleh Sign =0,000.Karena Sign. < α (0,000 < 0,05) maka Ho ditolak. Kesimpulannya Ho ditolak sehingga Ha yang diterima, yaitu X berpengaruh terhadap Y. Berdasarkan ikhtisar hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan penggunaan Hand Puppet terhadap kemampuan menyimak isi dongeng siswa kelas II SDN Sumberkradenan Pakis Malang.

Kesalahan pemengggalan kata pada tulisan narasi siswa kelas IV Sekolah Dasar Gugus 5 Kecamatan Klojen Kota Malang / Devie Eka Maryanti

 

Kata Kunci: Pemenggalan Kata, Tulisan Narasi, Siswa Sekolah Dasar Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Berdasarkan media atau sarana, bahasa terdiri dari dua ragam, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa Indonesia sebagai bahasa tulis memiliki tatanan baku sebagai aturan tetap atau standar sehingga tidak dapat berubah setiap saat. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan negara harus dilestarikan. Salah satu usaha pelestariannya dengan menjadikan salah satu pelajaran pokok yang diberikan sejak jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Aspek mata pelajaran bahasa Indonesia secara umum, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Suatu kegiatan yang menghasilkan tulisan disebut menulis. Salah satu aspek penilaian dalam suatu tulisan adalah kerapian dan kejelasan tulisan dengan menggunakan kosakata, kalimat, ejaan yang benar sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Salah satu hal yang termasuk dalam ejaan adalah pemenggalan kata yang merupakan cakupan dari unsur kebahasaan. Berdasarkan hasil observasi di SDN Kauman 03 Malang, banyak ditemukan kesalahan pemenggalan kata. Misalnya kata “pergi” pada kalimat “aku dan keluargaku pergi ke pantai” dipenggal menjadi “pe-rgi”. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kesalahan pemenggalan kata dasar dan kata berimbuhan pada tulisan narasi siswa kelas IV sekolah dasar Gugus V Kecamatan Klojen Kota Malang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Gugus V Kecamatan Klojen Kota Malang sebanyak 495 siswa. Sampel diambil sebanyak 20% dari populasi, yaitu 99 siswa yang diambil dengan teknik probability sampling jenis random sampling. Data dikumpulkan dengan cara mendokumentasikan hasil tulisan narasi siswa kemudian dianalisis pemenggalan kata yang terjadi dengan menggunakan rumus persentase. Temuan penelitian berupa enam tipe kesalahan, yaitu (1) salah karena huruf-hurufnya tidak sempurna, (2) salah karena pemenggalannya tanpa tanda hubung, (3) salah karena pemenggalan kata tidak tepat, (4) salah karena pemenggalan tidak tepat dan tanpa tanda hubung, (5) salah karena huruf tidak sempurna dan tanpa tanda hubung, dan (6) salah karena huruf tidak sempurna dan pemenggalan tidak tepat. Faktor penyebab kesalahan ada dua, yaitu faktor kecerobohan dan faktor ketidaktahuan. Berdasarkan hasil penelitian, kesalahan pemenggalan kata dasar pada tulisan narasi siswa kelas IV sekolah dasar gugus V Kecamatan Klojen Kota Malang sebesar 32,75%, yaitu 245 kata dari 748 kata dasar. Kesalahan pemenggalan kata berimbuhan pada tulisan narasi siswa kelas IV sekolah dasar gugus V Kecamatan Klojen Kota Malang sebesar 49,55%, yaitu 167 kata dari 337 kata berimbuhan. Oleh karena itu, disarankan kepada guru Bahasa Indonesia kelas IV untuk merancang Lembar Panduan Pengeditan (LPP) untuk membantu siswa menemukan kesalahan pemenggalan kata pada tulisannya secara mandiri. Rekomendasi dari penelitian ini ditujukan kepada peneliti lain untuk meneliti pengaruh LPP terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam memenggal kata.

Peningkatan kemampuan menulis sinopsis cerita melalui pemodelan pada kelas V SDN Kalipang 03 Kabupaten Blitar / Mujiasih

 

Kata kunci: menulis sinopsis cerita, pemodelan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa siswa kelas V SDN Kalipang 03 Kabupaten Blitar memiliki kemampuan menulis sinopsis cerita yang rendah, maka perlu diadakan penelitian untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui hasil penerapan teknik pemodelan untuk meningkatkan kemampuan menulis sinopsis cerita siswa kelas V SDN Kalipang 03 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis sinopsis cerita melalui pemodelan dapat meningkatkan hasil sinopsis cerita siswa kelas V SDN Kalipang 03 yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada pratindakan 57, siklus I pertemuan 1 69, siklus I pertemuan 2 sebesar 80 dan siklus II 82. Ketuntasan belajar pada pratindakan sebesar 59%, siklus I pertemuan 1 sebesar 66%, siklus I pertemuan 2 sebesar 76%, dan siklus II 90%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menulis sinopsis cerita melalui pemodelan dapat meningkatkan hasil belajar menulis sinopsis cerita siswa kelas V SDN Kalipang 03 Kabupaten Blitar. Oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan pemodelan dalam melaksanakan pembelajaran menulis sinopsis cerita.

Das image Indonesiens und sein einfluss auf die reiseentscheidung auf den Deutschen tourismusmarkt / Rizky Dian Sari

 

Schlüsselwörter: Tourismus, Image, Reiseentscheidung, Indonesien Tourismus stellt weltweit gesehen eine der Boom-Branchen der Wirtschaft. Außerdem verbucht kein anderer Wirtschaftszweig global gesehen so viel Umsatz und sichert so viele Arbeitsplätze wie der Tourismusbereich. Deswegen nimmt der Wettbewerb unter den Urlaubszielen immer weiter zu, um mehr Touristen zu gewinnen. Heutzutage wird die Destinationslandschaft zunehmend diversifizierter. Es ist schwierig für die Reisenden bei der Entscheidungsfindung mit einer Vielzahl von Destinationsangeboten, so dass die Reiseentscheidung nicht mehr leicht zu treffen ist. In der Dienstleistungsbranche Tourismus spielen sowohl materielle Faktoren wie beispielsweise Reisekosten, Verkehrsmittel oder die Entfernung der Reiseziele, als auch immaterielle Faktoren wie Image, eine sehr große Rolle. Diese liegen im Fokus der Überlegungen, wenn eine Reiseentscheidung getroffen wird. Diese Arbeit beschäftigt sich mit dem Image Indonesiens bei den deutschen Touristen, weil die Deutschen eine wichtigste Quellnation des internationalen Reiseverkehrs sind und behandelt die Frage, ob die vielen Probleme in Indonesien wie beispielsweise Tsunamis, Naturkatastrophen, Bombenattentate, Vogelgrippe, sowie Flugzeugunglücke ein schlechtes Image Indonesiens verursachen und ob diese Probleme die Reiseentscheidung der deutschen Touristen beeinflussen. Weiterhin soll basierend auf die Ergebnisse der Arbeit gezeigt werden, welche Maßnahmen Indonesien durchführen muss, damit der Tourismus Indonesiens in in der Welt wird. Im Rahmen dieser Arbeit werden empirische Untersuchungen verwendet. Eine Erhebung unter den deutschen Studenten wurde durchgeführt, da die deutschen Studenten als potentielle Touristen für Indonesien ansehen werden. Im Ergebnis wird deutlich, dass das Image der Urlaubsdestination Indonesien bei den Deutschen nachweislich einen Einfluss auf die Reiseentscheidung hat. Hier wird basierend auf die Ergebnisse der Arbeit empfohlen, dass Indonesien zuerst seine Realität verbessern sollte und dann müsste eine entsprechende Kommunikation nach außen durchgeführt werden. Schließlich sollte auch eine Image-Kontrolle durchgeführt werden, weil nur so ermittelt werden kann, in wieweit zwischenzeitliche Maßnahmen das Image Indonesiens in die gewünschte Richtung verändert haben.

Peningkatan kemampuan menulis kreatif naskah drama satu babak dengan menggunakan media kartu drama kelas VIII.3 di SMP Negeri 21 Malang tahun ajaran 2011-2012 / Ayu Suci Iryantati

 

Kata Kunci: penulisan naskah drama, media kartu drama Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa perlu mendapat perhatian yang serius dalam pembelajaran di sekolah. Pembelajaran menulis tidak lepas dari keterampilan menyimak dan membaca, namun dalam hal ini penulis lebih menekankan pada pembelajaran menulis naskah drama. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendiskripsikan beberapa hal yang mencakup penulisan naskah drama yaitu: a) bagaimana cara meningkatkan kemampuan menggambarkan tema yang relevan, b) bagaimana meningkatkan kemampuan menggambarkan tokoh dan perwatakan tokoh yang jelas, c) bagaimana meningkatkan kemampuan menggambarkan alur yang jelas dan tajam, d) bagaimana meningkatkan menggambarkan setting atau latar yang jelas, singkat dan sangat hidup, dan e) bagaimana meningkatan kemampuan mengembangkan peristiwa menjadi prolog, epilog, dialog dan ekspresi yang sesuai. Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti menyiapkan pembelajaran menulis kreatif naskah drama dengan menggunakan media kartu drama. Kartu drama berisi a) tema, b) tokoh dan penokohan, c) peristiwa, dan d) setting tempat, waktu dan suasana. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes menulis naskah drama, observasi, wawancara, dan dokumentasi foto. Instrumen yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah instrumen penelitian yang berupa tes digunakan untuk mengungkapkan data tentang kemampuan menulis teks drama, pedoman observasi, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi foto. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap persiapan, pengkodean, penilaian, dan penafsiran hasil penilaian. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama siswa dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan tema yang relevan pada pembelajaran menulis kreatif naskah drama satu babak dengan menggunakan media kartu drama. Tema yang telah dikembangkan pada siklus I dan 2 yaitu Persahabatan dapat Terpecah Belah karena Keegoisan. Kedua, siswa dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan tokoh dan perwatakan tokoh yang jelas pada pembelajaran menulis kreatif naskah drama satu babak dengan menggunakan media kartu drama. Tokoh-tokoh yang telah dikembangkan pada siklus I yaitu Olive (protagonis), Meta (tritagonis yang mendukung Protagonis), Bondan (tritagonis yang mendukung Protagonis), Satrya (tritagonis yang mendukung Protagonis), Luna (tritagonis yang mendukung Protagonis), Lexa (Antagonis) dan Tita (tritagonis yang mendukung Antagonis). Sedangkan Tokoh-tokoh yang telah digambarkan pada siklus II yang dikembangkan yaitu Doko (Protagonis), Paijo (Antagonis), Joko (tritagonis yang mendukung Antagonis), Suminem (tritagonis yang mendukung Protagonis), Bu Aminah (tritagonis sebagai penengah). Ketiga, siswa dapat meningkatkan mengembangkankan setting atau latar yang jelas, singkat dan sangat hidup pada pembelajaran menulis kreatif naskah drama satu babak dengan dengan menggunakan media kartu drama. Kartu setting tempat yang telah dikembangkan pada siklus I yaitu ruang kelas; kamar rumah sakit; rumah sakit; dan halaman sekolah. kartu setting waktu yang telah dikembangkan pada siklus I yaitu siang hari (sepulang sekolah); dan keesokan harinya. kartu latar suasana yang telah dikembangrkan pada siklus I yaitu kaget; tegang; panik; sedih; bahagia; dan takut. Kartu Setting Tempat yang telah dikembangkan pada siklus II yaitu Diruang Kelas. Kartu Setting Waktu yang telah dikembangkan pada siklus II yaitu Waktu Istirahat Sekolah. Kartu Latar Suasana yang telah dikembangkan pada siklus II yaitu Bahagia; dan Tegang. Keempat, siswa dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan peristiwa sesuai tahapan alur dengan menggunakan kartu peristiwa pada pembelajaran menulis kreatif naskah drama satu babak dengan menggunakan media kartu drama. Tahapan alur yang telah dikembangkan pada siklus I dan II yaitu eksposisi atau pelukisan awal cerita, komplikasi atau pertikaian awal, klimaks atau titik puncak, penurunan konflik, dan resolusi atau penyelesaian atau falling action. Kelima, siswa dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan peristiwa ke dalam dialog-dialog, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri dialog pada pembelajaran menulis kreatif naskah drama satu babak dengan menggunakan media kartu drama. ciri-ciri dialog yang telah dikembangkan pada disiklus I dan II yaitu dialog yang mengembangkan tema, dialog harus mengembangkan tokoh dan karakter tokoh, dialog terkadang mengembangkan setting tempat; waktu dan suasana, dan dialog harus mengembangkan peristiwa dan konflik yang ada. Keenam, siswa dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan peristiwa ke dalam prolog, epilog dan ekspresi pada pembelajaran menulis kreatif naskah drama satu babak dengan menggunakan media kartu drama.

Penerapan metode bercerita dengan menggunakan media wayang gapit untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak kelompok B TK Pertiwi Mayangsari 2 Bendosewu Kecamatan Talun Kabupaten Blitar / Endang Septiarsih

 

Kata kunci : kemampuan bahasa, media wayang gapit, metode bercerita, TK Penelitian ini berlatar belakang pada masih kurangnya kemampuan berbahasa anak dalam hal menceritakan pengalaman atau kejadian secara sederhana, bercerita menggunakan kata ganti aku, saya, kamu, dia, dan mereka, mendengarkan cerita dan menceritakan kembali cerita yang baru didengar. Hal ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran bersifat monoton, kegiatan pembelajaran berpusat pada guru, media pembelajaran kurang kreatif dan pengelolaan ruang kelas yang kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan metode bercerita dengan menggunakan media wayang gapit yang dapat mengembangkan kemampuan bahasa anak, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bahasa anak melalui penerapan metode bercerita dengan menggunakan media wayang gapit pada anak kelompok B di TK Pertiwi Mayangsari 2 Bendosewu Kecamatan Talun Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2012 sampai dengan 8 Februari 2012. Tehnik analisis data yang digunakan adalah deskriptif persentase. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru kelompok B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan menggunakan media wayang gapit terbukti dapat mengembangkan kemampuan bahasa anak. Hal ini terbukti pada siklus I kemampuan rata-rata anak mencapai 66,44% meningkat menjadi 87,78% pada siklus II. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan bahasa anak melalui kegiatan menceritakan kembali cerita yang baru didengar dan menceritakan pengalaman secara sederhana. Hasil kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) metode bercerita dengan menggunakan media wayang gapit dimulai dengan mempersiapkan SKH, Skenario, alat dan sumber belajar anak, pada penerapannya selain guru bercerita anak juga diminta untuk bercerita dengan menggunakan media tersebut, (2) metode bercerita dengan menggunakan media wayang gapit dapat diterapkan dengan baik dalam pengembangan kemampuan bahasa anak kelompok B TK Pertiwi Mayangsari 2 Bendosewu. Disarankan untuk penelitian lebih lanjut dalam pembelajaran dapat menggunakan media wayang gapit untuk meningkatkan berbagai aspek kemampuan anak.

Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui permainan kartu kata pada anak kelompok B RA Perwanida Sumberingin Blitar / Siti Masrofah

 

Kata Kunci : Membaca permulaan, permainan kartu kata, kemampuan bahasa, RA Perwanida Sumberingin Berdasarkan observasi yang telah dilakukan bahwa kemampuan membaca permulaan anak kelompok B masih rendah.. Penyebab kesulitan dikarenakan kurang memanfaatkan alat peraga, guru, kurang kreatif, kurang adanya kesempatan bagi anak untuk mengemukaan pendapatnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan pemecahan masalah dengan menerapkan permainan kartu kata (1) Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan permainan kartu kata dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak didik kelompok B RA Sumberingin Sanankulon Blitar (2)Mendeskripsikan permainan kartu kata agar dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak didik kelompok B RA Sumberingin Sanankulon Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah semua anak didik kelompok B RA Perwanida Sumberingin Sanankulon Blitar dengan jumlah 25 anak didik. Penelitian ini dilaksanakan dari 5 Nopember 2011 sampai dengan 10 Maret 2012. Data diambil dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Permainan Kartu kata dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak kelompok B RA Perwanida Sumberingin Blitar. Dengan Permainan Kartu kata dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaankata pada siklus I 64% sedangkan nilai rata-rata siklus II mencapai 80,33%. Antara siklus I dengan siklus II ada peningkatan 15,67%. Pendidik Anak Usia Dini disarankan untuk menerapkan permainan kartu kata untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan karena pada penelitian dapat meningkatkan kemampuan menghubungkan gambar dengan kata, melafalkan huruf dan kata yang terangkai, menirukan kembali 4-5 kata dan dapat menambah kosakata anak.

Analisis aspek afektif dalam karangan siswa kelas V SDN Gadingkasri Kecamatan Klojen Kota Malang / Annisa Kurniati

 

Kata kunci: aspek afektif, analisis karangan, siswa sekolah dasar. Salah satu fungsi bahasa menurut Halliday (dalam Brown, 2008:246) yaitu fungsi personal yang memungkinkan seseorang mengungkapkan perasaan, emosi, dan personalitas dalam berkomunikasi. Dalam watak personal bahasa, kognitif, afektif, dan budaya semuanya berinteraksi. Pengkajian tentang ranah kognitif, afektif, dan psikomotor selama ini diketahui bahwa terdapat kecenderungan di mana aspek afektif kurang mendapat perhatian. Afektif sebagai salah satu watak personal bahasa, dapat dilihat dalam bahasa tulis karangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang aspek afektif dalam karangan siswa, meliputi aspek afektif yang terkait dengan diri sendiri (intrapersonal), orang lain (interpersonal), lingkungan, sasaran pembaca dan realitas. Rancangan penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Teknik sampling yang digunakan berupa sampling jenuh dimana populasi sekaligus menjadi sampel. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Gadingkasri Kota Malang yang berjumlah 34 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar tugas mengarang dan tabel klasifikasi kalimat afektif. Analisis data dilakukan dengan (1) identifikasi karangan, (2) pengkodean karangan, (3) pengklasifikasian kalimat afektif, dan (4) penyimpulan aspek afektif dengan prosentase skor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua siswa kelas V SDN Gadingkasri sudah mampu menghadirkan aspek afektif diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan realitas dalam karangan yang ditulis. Akan tetapi kategori sasaran pembaca belum mampu terkespresikan dalam karangan. Perolehan aspek afektif yang dapat terekspresikan dalam karangan siswa kelas V SDN Gadingkasri Malang kategori pertimbangan diri sendiri (intrapersonal) sebesar 41,93% dan tergolong sedang, pertimbangan orang lain (interpersonal) sebesar 83,87% dan termasuk dalam kategori sangat proporsional, pertimbangan lingkungan sebesar 96,77% dan termasuk dalam kategori sangat proporsional, pertimbangan sasaran pembaca belum terekspresikan dalam karangan, serta pertimbangan realitas sebesar 29,03% dan termasuk kategori cukup proporsional. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar guru menerapkan pembelajaran membaca dan menulis terpadu untuk memotivasi kehadiran aspek afektif dalam karangan siswa, mengembangkan potensi afektif siswa baik dalam ekspresi tulisan maupun dalam sikap sehari-hari. Untuk peneliti selanjutnya semoga dapat melanjutkan penelitian tentang pengembangan model pembelajaran yang mengembangkan keterampilan membaca dan menulis terpadu serta pengembangan afektif untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah.

Pengaruh pembelajaran dengan menggunakan media mading terhadap hasil belajar pada pembelajaran menggambar ilustrasi siswa kelas V SDN Sawojajar 4 Malang / Suciati Purwo

 

Kata kunci: Mading, hasil belajar, pembelajaran menggambar ilustrasi Kondisi pembelajaran menggambar ilustrasi di SDN Sawojajar 4 materi masih belum mencakup semua indikator hasil belajar, guru mengajarkan pengetahuan pengertian gambar ilustrasi serta menggambar ilustrasi. Padahal indikator hasil belajar menggambar ilustrasi adalah menggambar ilustrasi, pengetahuan tentang gambar ilustrasi serta apresiasi gambar ilustrasi. Selain itu guru tidak menggunakan media pembelajaran yang sesuai materi menggambar ilustrasi. Salah satu media yang sesuai adalah mading. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan: (1) hasil belajar pada pembelajaran menggambar ilustrasi objek manusia dan kehidupannya dengan tidak menggunakan mading pada siswa kelas VA, (2) hasil belajar pada pembelajaran menggambar ilustrasi objek manusia dan kehidupannya dengan menggunakan mading pada siswa kelas VB, (3) mengetahui pengaruh pembelajaran yang menggunakan media mading terhadap hasil belajar pada pembelajaran menggambar ilustrasi objek manusia dan kehidupannya. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Penelitian ini dilakukan di SDN Sawojajar 4 Malang dengan sampel total sebagai subjek yaitu siswa kelas V sebanyak 36 siswa yang terdiri dari 20 laki-laki dan 16 perempuan.. Hasil penelitian ini adalah: (1) tidak terdapat peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar dengan indikator menggambar ilustrasi pengetahuan tentang gambar ilustrasi, serta apresiasi terhadap gambar ilustrasi pada pembelajaran yang tidak menggunakan mading, (2) terdapat peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar dengan indikator menggambar ilustrasi pengetahuan tentang gambar ilustrasi, serta apresiasi terhadap gambar ilustrasi pada pembelajaran yang menggunakan mading, (3) penggunaan mading dalam pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa pada pembelajaran menggambar ilustrasi dengan objek manusia dan kehidupannya. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan mading dalam pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa pada pembelajaran menggambar ilustrasi dengan objek manusia dan kehidupannya. Hal ini diuji dengan menggunakan independent sample t-test yang menunjukkan bahwa hasil uji independent sample t-test adalah 0, 00 dan lebih kecil dari pada 0, 05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk menambahkan materi-materi dalam instrumen yang digunakan sehingga data hasil penelitian dapat lebih akurat. Peneliti juga diharapkan dapat menggunakan kelas paralel sehingga tidak membagi satu kelas menjadi 2 untuk dijadikan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Pemanfaatan media audi visual power point sound slide dalam pembelajaran materi globalisasi untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Sawojajar 4 Malang / Dwigita Eva Noviarizky

 

Kata Kunci: Media Audio Visual Power Point Sound Slide, motivasi, hasil belajar PKn. Media memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran, terutama untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar dan memudahkan siswa dalam menangkap informasi materi pelajaran. Dalam penyampaian materi PKn penggunaan media yang dapat membangkitkan semangat siswa untuk belajar sangat penting untuk diperhatikan. Dari hasil observasi awal ditemukan bahwa pembelajaran PKn di Kelas IV SDN Sawojajar 4 Malang belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup pemanfaatan media audio visual, peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data yang diambil pada penelitian ini merupakan data mengenai pemanfaatan media audio visual power point sound slide dalam pembelajaran PKn kelas IV SDN Sawojajar 4 Malang, data motivasi belajar siswa, dan data hasil belajar PKn siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian dengan pemanfaatan media audio visual power point sound slide di kelas IV SDN Sawojajar 4 Malang menunjukkan bahwa dengan penggunaan media ini motivasi siswa meningkat dari tiap pertemuannya melalui pengukuran skala likert, sehingga diperoleh hasil pada siklus I motivasi siswa tergolong kuat, dan pada siklus II motivasi belajar siswa menjadi sangat kuat. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari rata-rata observasi awal 49,4 menjadi 87,16 setelah diberi tindakan. Data tersebut juga sesuai dengan teori yang dikemukakan para ahli yaitu teori motivasi yang dikemukakan Sardiman dan teori mengenai hasil belajar Hamalik. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media dalam pembelajaran ternyata sangat mempengaruhi dan meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian ini diharapkan guru bisa lebih kreatif dalam penyajian materi agar siswa merasa tertarik dan termotivasi untuk belajar. Dan pemanfaatan media audio visual ini hendaknya juga lebih diperhatikan lagi dalam proses pembelajaran

Pengembangan sumber belajar mata pelajaran animasi untuk pembelajaran mandiri pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan / Ahmad Amirudin

 

Penerapan pembelajaran sosiodrama untuk meningkatkan keaktifan proses belajar IPS siswa kelas IV SDN Cemorokandang 1 Malang / Kristina Putri Ayu Rahayu

 

Kata Kunci: Sosiodrama, keaktifan, proses belajar, IPS Hasil observasi awal pada saat kegiatan pembelajaran IPS kelas IV di SDN Cemorokandang Kota Malang, ditemukan beberapa permasalahan antara lain (1) guru masih menjelaskan materi pelajaran dengan ceramah, sedangkan siswa hanya disuruh mendengarkan penjelasan guru (2) beberapa siswa yang duduk di belakang terlihat ramai sendiri tidak memperhatikan penjelasan guru, bahkan ada juga siswa yang melamun dan asyik menggambar sendiri (3) setelah dijelaskan materi pelajaran, kemudian siswa didikte guru untuk mencatat materi pelajaran, padahal materi pelajaran tersebut sudah ada dalam buku paket siswa (4) setelah didikte, siswa disuruh mengerjakan soal di LKS (5) kurangnya interaksi belajar siswa karena dalam pembelajarannya siswa jarang diberi kesempatan untuk belajar dengan berdiskusi untuk saling berpendapat, saling menanggapi pendapat antar siswa lainnya (6) siswa belum aktif dalam proses belajarnya (7) penggunaan metode belum bervariasi (8) setelah pembelajaran IPS selesai, peneliti mencoba bertanya kepada siswa tentang materi apa yang baru saja mereka pelajari, tetapi beberapa siswa tampak kebingungan menjawab. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan sosiodrama dalam pembelajaran mengenal permasalahan sosial di daerahnya pada siswa kelas IV SDN Cemorokandang 1 Malang, (2) mendeskripsikan keaktifan belajar siswa kelas IV SDN Cemorokandang 1 Malang selama penerapan sosiodrama, (3) mendeskripsikan proses belajar siswa kelas IV SDN Cemorokandang 1 Malang selama penerapan sosiodrama. Penelitian ini dilakukan di SDN Cemorokandang 1 Malang dengan subjek siswa kelas IV sebanyak 38 siswa yang terdiri dari 19 laki-laki dan 19 perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, wawancara, catatan lapangan dan angket. Penelitian ini dilakukan secara bersiklus dengan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sosiodrama pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Cemorokandang1 Kota Malang dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada setiap siklusnya. Hal itu terbukti dari rata-rata keaktifan siswa pada pra tindakan adalah 33,3 kemudian pada siklus I meningkat menjadi 44,6. Pada siklus II, rata-rata keaktifan siswa meningkat lagi menjadi 63,4. Dari uraian tersebut, dapat diprosentasekan keberhasilannya yaitu dari pra tindakan ke siklus I peningkatan keberhasilan mencapai 33%, sedangkan prosentase keberhasilan dari siklus I ke siklus II mencapai peningkatan sebesar 42,3%.

Penerapan model pembelajaran learning cycle berbantuan praktikum untuk meningkatkan ketrampilan proses dan kemampuan kognitif fisika siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Malang / Dias Septya Putri Wulandari

 

Kata Kunci : Learning Cycle Berbantuan Praktikum, Keterampilan Proses, Kemampuan Kognitif Berdasarkan observasi di kelas VIII B SMP Negeri 4 Malang diperoleh informasi bahwa keterampilan mengamati 27,19 %, menafsirkan pengamatan 26,32 %, menerapkan konsep 34,21 %, mengajukan pertanyaan 23,68 %, sedangkan keterampilan meramalkan, merencanakan penelitian, menggunakan alat dan bahan, dan berkomunikasi belum nampak. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses siswa masih rendah. Pada materi gelombang, jumlah siswa yang tuntas belajar hanya 7 siswa dari 37 siswa, sehingga dapat dihitung bahwa ketuntasan belajarnya 18, 91 %. Hal ini disebab¬kan oleh guru yang kurang melatihkan keterampilan proses kepada siswa, model pembelajaran yang digunakan hanya sebatas transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Berdasarkan permasalahan ini peneliti melakukan upaya perbaikan dengan menerapkan model Learning Cycle berbantuan praktikum. Model pembelajaran tersebut melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar. Pokok pikiran model Learning Cycle berbantuan praktikum adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya melalui kegiatan praktikum yang dilakukan secara berkelompok. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Tindakan yang diberikan adalah penerapan model pembelajar-an Learning Cycle Berbantuan Praktikum. Penelitian diterapkan di kelas VIII B SMPN4 Malang dengan subjek penelitian 37 siswa. Instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi keterampilan proses dan soal evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan keterampilan proses dan kemampuan kognitif siswa dari siklus I ke siklus II. Keterlaksanaan pembelajaran mengalami peningkatan 67,7 % pada siklus I menjadi 95,44 % pada siklus II. Keterampilan Proses siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 67,7 % menjadi 88,49 % pada siklus II. Kemampuan kognitif Fisika siswa meningkat yaitu 48,65 % pada siklus I menjadi 86,5 % pada siklus II. Peningkatan ini terjadi karena guru dan siswa sudah terbiasa menerapkan model Learning Cycle berbantuan praktikum dan guru selalu melatihkan keterampilan proses kepada siswa melalui kegiatan praktikum. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle berbantuan praktikum dapat meningkatkan hasil keterampilan proses dan kemampuan kognitif Fisika siswa kelas VIII B SMP Negeri 4 Malang.

Pengaruh pembelajaran ekonomi, lingkungan sosial budaya, dan sikap berkonsumsi terhadap perilaku konsumsi yang berkarakter / Diah Syifaul A'yuni

 

Progam Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E (II) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata Kunci : Pembelajaran ekonomi, lingkungan sosial budaya, sikap berkonsumsi, perilaku konsumsi yang berkarakter. Perilaku konsumsi yang berkarakter dipengaruhi oleh beberapa variabel antara lain: pembelajaran ekonomi yang diterima di sekolah, lingkungan sosial budaya tempat tinggal seseorang serta sikap berkonsumsi yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti perilaku konsumsi yang berkarakter. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) Apakah pembelajaran ekonomi mempengaruhi sikap berkonsumsi? 2) Apakah lingkungan sosial budaya mempengaruhi sikap berkonsumsi? 3) Apakah pembelajaran ekonomi mempengaruhi perilaku konsumsi yang berkarakter? 4) Apakah lingkungan sosial budaya mempengaruhi perilaku konsumsi yang berkarakter? 5) Apakah sikap berkonsumsi mempengaruhi perilaku konsumsi yang berkarakter? 6) Apakah pembelajaran ekonomi melalui sikap berkonsumsi mempengaruhi perilaku konsumsi yang berkarakter? 7) Apakah lingkungan sosial budaya melalui sikap berkonsumsi mempengaruhi perilaku konsumsi yang berkarakter? Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan populasi sebanyak 233 dan diambil sampel sebanyak 147 responden. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan atau explanatory research. Instrument yang digunakan adalah angket dengan item pernyataan-pernyataan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis jalur (Path Analysis) dengan computer progam SPSS 16.00 for windows. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa 1) pembelajaran ekonomi berpengaruh secara langsung terhadap sikap berkonsumsi 2) lingkungan sosial budaya berpengaruh secara langsung terhadap sikap berkonsumsi 3) pembelajaran ekonomi berpengaruh secara langsung terhadap perilaku konsumsi yang berkarakter 4) lingkungan sosial budaya berpengaruh secara langsung terhadap perilaku konsumsi yang berkarakter 5) sikap berkonsumsi berpengaruh secara langsung terhadap perilaku konsumsi yang berkarakter 6) pembelajaran ekonomi berpengaruh secara tidak langsung terhadap perilaku konsumsi yang berkarakter melalui sikap berkonsumsi 7) lingkungan sosial budaya berpengaruh secara tidak langsung terhadap perilaku konsumsi yang berkarakter melalui sikap berkonsumsi. Melalui pembelajaran ekonomi yang baik, kondisi lingkungan sosial budaya yang baik akan mempengaruhi sikap berkonsumsi yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Begitupun dengan proses pembelajaran ekonomi yang baik, kondisi lingkungan sosial budaya yang baik dan didukung oleh sikap berkonsumsi yang baik akan dapat mempengaruhi perilaku konsumsi yang berkarakter pada mahasiswa. Perilaku konsumsi yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang sesuai dengan budaya Bangsa Indonesia yang sesuai dengan karakternya. Bukan perilaku konsumsi yang mementingkan diri sendiri (self nterested) tidak memperdulikan orang lain. Melalui pembelajaran ekonomi yang baik diharapkan dapat membentuk karakter mahasiswa yang sesuai dengan pancasila dalam perilaku konsumsinya.

Penerapan metode bercerita untuk mengembangkan emosi anak usia 3-4 tahun di PAUD Al-Hidayah Sukorejo Kota Blitar / Milla Dunka Rohmah

 

Kata Kunci: metode bercerita, emosi, anak usia 3-4 tahun Latar belakang penelitian ini yaitu munculnya permasalahan sulitnya anak dalam mengontrol kemampuan emosi negatifnya seperti cemas, marah,dll. dari jumlah 10 anak, yang dapat mengendalikan emosi negatifnya hanya 2 anak. Penyebabnya adalah penggunaan metode kurang bervariasi , faktor pola asuh dalam keluarga, kemampuan sosial anak kurang. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan penerapan Metode Bercerita untuk mengembangkan emosi. (2) Mendeskripsikan penggunaan Metode Bercerita untuk mengembangkan kemampuan emosi anak di PAUD Al-Hidayah Sukorejo Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu dengan model PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang pada setiap siklusnya terdiri dari: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi dan Refleksi. Teknik pengumpulan data dan analisis data mencerminkan karakteristik penelitian kuantitatif, yaitu (1) latar belakang penelitian sebagai sumber pengambilan data bersifat alamiah, (2) analisis data bersifat deskriptif dan induktif, (3) manusia sebagai instrumen kunci, (4) memperhatikan pentingnya proses bukan semata-mata hasil, dan (5) makna merupakan sesuatu yang esensial. Subyek penelitian adalah anak usia 3-4 tahun di PAUD Al-Hidayah Sukorejo Kota Blitar dengan jumlah 10 anak. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian kemampuan emosi anak dengan penerapan metode bercerita pada pra tindakan sebesar 36.64%, siklus I menunjukkan kemampuan emosi anak 50.82%, dan pada siklus II emosi anak berkembang menjadi 83.33%. Sehingga emosi anak dari pratindakan hingga siklus II mengalami perkembangan sebesar 46.69%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bercerita dapat mengembangkan kemampuan emosi anak usia 2-4tahun. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru dapat mengembangkan kemampuan emosi anak melalui penerapan metode bercerita yang dilakukan secara bertahap, menarik dan menyenangkan agar kemampuan emosi yang dimiliki anak berkembang secara optimal dan terarah.

Using graphic organize to improve the narrative of the students of class VII-H at SMPN 02 Malang / Ardhi Eka Fadilah

 

Keywords: reading, comprehension, graphic organizer, narrative Of all language skills, reading has always been given the greatest emphasis in teaching English. There are some reasons for this. Firstly, reading skill is deemed important because it encourages better spelling, writing, comprehension, and more advanced vocabulary as well. Secondly, reading is important not only because it can give a lot of information but also pleasure and joy. Considering the importance of reading skills, the researcher conducted a preliminary study in one junior high school in Malang, that is, SMPN 02, to find out the students’ reading ability. It was found through observations questionnaires that the students had problems in comprehending narrative texts, particularly in identifiying the important elements of the texts, the result shows 79% of the students of class VII.H in SMPN 02 Malang scored below the KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). To overcome this problem, a graphic organizer strategy is proposed to be applied in the teaching of reading. The technique is chosen because it is simple and considered suitable for students in the junior high school level. To comprehend the elements of the story the students are assigned to make a graphic organizer based of the story given. Classroom Action Research (CAR) is used in this study, following Kemmis and McTaggart’s model (2000). The research is conducted in two cycles; each cycle covers planning an action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. The subjects were 43 students of class VII.H of SMP 02 Malang. There were four kinds of data collected: the students’ scores, the field notes, the students’ questionnaires, the students’ response sheets. The data on the students’ score were obtained from the summary evaluation. The score were used to evaluate the students’ comprehension in reading narrative text. The field notes were made after each meeting during the CAR and were used to find out the students’ attitude toward the implementation of graphic organizer. The students’ questionnaires were distributed in the end of each meeting to know the students response toward the implementation of graphic organizer, and the students’ response sheets were distributed in the end of Cycle 2 to know the students’ opinion and feedback after graphic organizer was implemented. The result of the research showed that the graphic organizer strategy effectively improved the students’ comprehension in reading narrative texts. The scores of the students in Cycle 2 increased compared to the scores in the preliminary study and Cycle 1. From Cycle 1, the percentage of the students who passed the KKM increased from 21% in preliminary study into 48%. Then from Cycle 1 into Cycle 2 the total of the students who passed the KKM after cycle 1 increased from 48% into 75%. Based on the students’ score distribution, the researcher concluded that the graphic organizer could help the students to improve their comprehension in reading narrative text. Based on the results of this study, it is suggested that the English teachers at the school apply the graphic organizer strategy to improve the students’ comprehension in narrative text. In addition further researchers are suggested to carry out the study in different schools condition to see whether the strategy can be implemented effectively. It could be on the use of graphic organizer in the teaching of other types of the texts and/other levels of the students and also other types of graphic organizer.

Pengaruh penerapan model VCT (Value Clarification Technique) Terhadap hasil belajar IPS materi mengenal permasalahan sosial siswa kelas IV SDN Dampit 2 Malang / Dwi Setiani

 

Kata Kunci: Model VCT, Hasil Belajar IPS, Materi Mengenal Permasalahan Sosial, Sekolah Dasar. IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD sampai SMP yang mengkaji tentang peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pendidikan IPS mempunyai peranan penting dalam mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan sosial. Jika melihat kebelakang dengan proses pembelajaran selama ini, guru masih menggunakan paradigma lama sehingga siswa tidak diberi kesempatan yang bebas untuk mengkreasikan secara aktif ide atau gagasannya. Guru sering melakukan hal-hal berikut misalnya: (1) memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, (2) mengkotak-kotakkan siswa berdasar tingkat keberhasilan dalam menghafal dan memacu siswa untuk berkompetisi. Ini berakibat siswa hanya menghafal. Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu untuk mendeskripsikan pengaruh model VCT terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SDN Dampit 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan penelitian kuasi eksperimen, dimana ada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang akan dijadikan populasi dalam penelitian. Tahap penelitian dengan menerapkan model VCT ada 6, yaitu: (1)pemberian stimulus, (2) siswa menanggapi stimulus, (3) dialog tepimpin, (4) menyampaikan pendapat, (5) pembahasan stimulus, (6) memberikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, hasil belajar siswa mengalami peningkatan nilai rata-rata 12,12. Keterampilan awal siswa memiliki nilai rata-rata 69.03, kemudian dilakukan perlakuan dengan model VCT sehingga keterampilan akhir siswa menjadi 81.15. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan yaitu penerapan model VCT memiliki pengaruh terhadap hasil belajar IPS. Hal ini berarti bahwa, penerapan model VCT dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, disarankan pada guru untuk menerapkan model VCT dalam pembelajaran karena sesuai dengan hasil penelitian, model ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terutama pada mata pelajaran IPS materi mengenal permasalahan sosial.

Analisis financial literacy mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Yogi Dwi Satrio

 

Kata Kunci: Financial Literacy, Pendidikan Ekonomi I. PENDAHULUAN Financial literacy atau lebih dikenal dengan pengetahuan dalam pengaturan keuangan adalah salah satu perilaku ekonomi yang berkembang di masyarakat dengan sadar ataupun tidak sadar telah dijalani selama bertahun-tahun. Financial literacy merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang agar terhindar dari masalah keuangan. Financial literacy dapat diartikan sebagai pengetahuan keuangan dengan tujuan mencapai kesejahteraan (Lusardi & Mitchell 2007). Berdasarkan pengertian yang mendasari Australian Securities & Investments Commission (report, 229, March 2011) memahami financial literacy yang juga merupakan pengertian internasional adalah The definition originally developed in the United Kingdom and appearing in the Australian ANZ national adult financial literacy surveys (ANZ surveys) of 2003, 2005 and 2008.6 The definition was also recently adopted by New Zealand: “The ability to make informed judgements and to take effective decisions regarding the use and management of money”. Bukti empiris, Lusardi dan Mitchell (2006, 2008, 2009) menemukan bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam membuat keputusan keuangan, dan laki-laki lebih baik karena memiliki pengetahuan keuangan yang lebih tinggi. Di lain tempat, Ibrahim, Harun dan Isa (2009) menemukan bahwa mayoritas mahasiswa di Malaysia memiliki pengetahuan keuangan (financial literacy) yang kurang tinggi, dan hal ini dapat menyebabkan tidak terarah dengan tepat pada saat membuat keputusan keuangan setiap hari. Orton (2007) memperjelas dengan menyatakan bahwa literasi keuangan menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seseorang karena literasi keuangan merupakan alat yang berguna untuk membuat keputusan keuangan yang terinformasi, namun dari pengalaman-pengalaman di berbagai negara masih menunjukkan relatif kurang tinggi. Byrne (2007) juga menemukan bahwa pengetahuan keuangan yang rendah akan menyebabkan pembuatan rencana keuangan yang salah, dan menyebabkan bias dalam pencapaian kesejahteraan di saat usia tidak produktif lagi. Kesulitan keuangan bukan hanya kurangnya dari pendapatan semata, kesulitan keuangan juga dapat muncul jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan keuangan (miss-management) seperti kesalahan penggunaan kredit, dan tidak adanya perencanaan keuangan. Keterbatasan finansial dapat menyebabkan stress, dan rendahnya kepercayaan diri. Memiliki financial literacy, merupakan hal vital untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera, dan berkualitas. Lebih lanjut dijelaskan bahwa financial literacy bersama-sama dengan lingkungan tempat tinggal, kemampuan membaca keadaan ekonomi merupakan kunci untuk menjadi konsumen yang cerdas. Baik orang kaya atau miskin, pandai atau bodoh, tua atau muda, semua memiliki persamaan kalau sudah sampai pada urusan uang. Kita semua menggunakan uang. Jumlah uang yang dimiliki dan bagaimana cara kita menggunakan uang memang berbeda satu sama lain. Namun, yang pasti di dunia ini kita semua memerlukan uang. Kegiatan mengelola keuangan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari hingga hingga proses persiapan jangka panjang dalam bentuk tabungan juga merupakan bagian dari financial literacy. Fenomena yang ada dalam masyarakat yang ada sekarang adalah Pola hidup konsumtif yang tidak proposional, yang tidak sesuai dengan kemampuan pendapatan dan kondisi keuangan yang akhirnya akan menyebabkan kegagalan finansial. Seperti, kredit macet yang bersumber dari kartu kredit menunjukkan peningkatan, sebagaimana yang tercermin dari NPL (Non Performing Loan ) kartu kredit tahun 2007 sebesar 11, 85% yang meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 8,96%. Fenomena tingginya angka kredit macet ini menunjukkan indikasi rendahnya financial literacy sebagian masyarakat kita, sebagaimana yang dinyatakan pada cetak biru edukasi masyarakat di bidang perbankan (2007) bahwa, “ baseline survey tingkat literacy dan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan dan perbankan tahun 2006 memberikan kesimpulan bahwa edukasi kepada masyarakat di bidang keuangan dan perbankan sangat diperlukan”. Fenomena yang ada dikalangan mahasiswa dilingkungan fakultas ekonomi, terutama mahasiswa yang mengatur kebutuhan konsumsinya secara mandiri, dari hasil pendapatan dari orang tua maupun mandiri, mereka menjalani berbagai kegiatan ekonomi yang tidak proporsional. Kecenderungan ini terlihat dari tidak adanya pembentukan skala prioritas atas kegiatan ekonominya, seperti, pola konsumsinya yang kurang terprogram dan tidak ada pertimbangan konsumsi, dan pertimbangan akan kebutuhan lain-lainnya. Terkadang pula, dalam pemenuhan hasratnya akan suatu barang, mereka cenderung untuk mengurangi alokasi atas kebutuhan pokok mereka. Selain itu, keadaan lingkungan pertemanan didukung dengan banyaknya fasilitas-fasilitas hiburan dan wisata kuliner yang menggiurkan sedikit banyak memberi dampak terhadap pengaturan keuangan dan pola konsumsi mahasiswa pada umumnya. Rasa sungkan, dan persaingan dalam pertemanan terkadang juga membuat pola konsumsi yang tidak rasional dan di akhirnya akan mempengaruhi keadaan finansial sendiri. Pertanggung jawaban finansial kepada orang tua yang tidak terpenuhi, disinyalir pula dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam memahami apa pentingnya pengaturan keuangan sendiri. Pendidikan finansial tidak hanya mampu membuat Anda menggunakan uang dengan bijak, namun juga dapat memberi manfaat pada ekonomi. Jadi, konsumen yang memiliki financial litearcy bagus akan mampu menggunakan uang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sehingga ini akan mendorong para produsen untuk membuat produk atau jasa yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen dan mendorong konsumen untuk membelanjakan uangnya sesuai dengan kebutuhan mereka secara rasional. Sebuah penelitian di Australia pernah mengungkapkan bahwa peningkatan pendidikan finansial pada 10% populasi akan berpotensi meningkatkan ekonomi Australia sebesar 6 miliar dollar Australia per tahun dengan cara membuka 16.000 lapangan kerja baru. Itu semua bisa terjadi karena orang sudah semakin sadar akan pentingnya mengatur keuangan dan bagaimana memanfaatkannya untuk masa depan. Karena itulah, seharusnya anak-anak sekolah sudah dibekali dengan pendidikan finansial, agar nantinya mereka bisa punya kontrol atas uang yang mereka miliki. Karakteristik belajar ini menurut Bernard ( 1971), tidak timbul dengan tiba-tiba/spontan, melainkan timbul sebagai akibat dari proses partisipasi, pengalaman, kebiasaan diri waktu belajar dan bekerja, dan sikap-sikap lainnya. Secara individual, motivasi dianggap sebagai suatu yang berhubungan dengan adanya kebutuhan insani. Maksudnya adalah seseorang termotivasi untuk mengatur keuangan kalau hasil aktifitasnya itu memenuhi kebutuhannya. Kriteria pemuas kebutuhan sendiri dijelaskan oleh Maslow (dalam Elliot; et. al, 1996: 334-335; Maslow, 1997) yang dirumuskan sebagai berikut : 1) self actualization 2) self esteem, 3) love and belonging, 4) safety, 5) physiological needs. II METODE A. JENIS DAN SUMBER DATA Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendeketan fenomenologi. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini lebih bersifat natural, deskriptif, dan induktif. Natural bermakna bahwa latar penelitian merupakan sumber data langsung yang alami, sehingga peneliti harus mampu masuk secara langsung ke latar penelitian yaitu mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sifat deskriptif dapat diartikan bahwa data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar-gambar, sehingga untuk memberikan dukungan terhadap uraian yang disajikan dalam laporan penelitian, diungkapkan kutipan-kutipan dari data sebagai hasil pengungkapan responden. Pencarian data dalam penelitian ini bukan untuk membuktikan atau menolak hipotesis, melainkan membuat abstraksi ketika fakta-fakta khusus telah terkumpul dan dikelompokkan bersama-sama, yang bermakna bahwa analisis dalam penelitian ini bersifat induktif. Lokasi penelitian ini adalah Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebagai lembaga penyelenggara pendidikan tinggi bidang ekonomi. Sumber data dalam penelitian ini tidak ditentukan jumlahnya melainkan berdasar pada snowball sampling. Subjek penelitian adalah mahasiswa yang terdaftar pada fakultas ekonomi di jurusan masing-masing dengan alasan bahwa, mahasiswa fakultas ekonomi telah mempelajari segala aspek ekonomi termasuk didalamnya materi tentang ekonomi secara mendalam, akuntansi pengantar, dan pengantar manajemen yang diharapkan lebih dapat mengkombinasikan antara teori dengan praktek dalam kehidupan keseharian, khususnya dalam pengaturan keuangan pribadinya. B. ANALISIS DATA Analisis data pada penelitian kualitatif pada dasarnya telah dimulai pada saat peneliti memasuki latar penelitian bahkan ketika studi pendahuluan dilakukan, tetapi secara umum dimulai ketika menelaah data tersedia. Data yang diperoleh dari wawancara dan pengamatan, dapat berupa catatan, transkrip rekaman wawancara, dokumen resmi dan dokumen pribadi, yang selanjutnya dipelajari dan ditelaah. Langkah berikutnya mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan cara membuat abstraksi yang berisi rangkuman inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga agar tetap berada dalam konteks penelitian. Berikutnya, data disusun dalam satuan-satuan yang selanjutnya dikategorisasikan. Bersamaan dengan pengkategorisasian data dilakukan pula koding. Tahap selanjutnya, pemeriksaan kebebasan data, kemudian disusul dengan penafsiran dan pemaknaan dari data tersebut. Kemungkinan akan adanya data baru dalam penelitian mengharuskan adanya keterbukaan dalam analisis data. Proses analisis data dilakukan secara terus menerus (cyclical) sejak peneliti memasuki lapangan sampai kegiatan penelitian ini berakhir. Kegiatan penelitian ini tidak terlepas dari empat kegiatan berikut : (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) penyajian data; (4) penyimpulan/ verifikasi. Proses analisis data tersebut dapat digambarkan dalam model berikut : Validasi terhadap penelitian perlu dilakukan dalam upaya memperoleh kredibilitas hasil penelitian antara lain: 1. Perpanjangan waktu pengamatan 2. Triangulasi 3. Member check 4. Audit trail 5. Expert opinion Penelitan ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Tahap pra lapangan • Menyusun rancangan penelitian (proposal dan instrumen penelitian) • Memilih lapangan penelitian • Mengurus perizinan • Menyiapkan perlengkapan penelitian 2. Tahap pekerjaan lapangan • Membatasi latar penelitian • Pengumpulan data • Pengecekan keabsahan data 3. Tahap analisis data • Analisis data • Penyusunan laporan penelitian III HASIL PENELITIAN A. Financial Literacy Mahasiswa Yang Berorientasi Pada Kebutuhan Konsumsi & Produksi Radar diatas menjelaskan bahwa kondisi ideal literasi financial seseorang adalah pada garis hijau, dimana seseorang memiliki literasi financial yang diimbangi oleh kearifan atas keputusannya secara optimal. Mahasiswa dengan financial literacy pada kondisi U = 3; M = 2; dan IJ = 2, memiliki kemampuan terbaik didasarkan pada pengalaman, kegiatan atas pengelolaan dan penggunaan dananya. (M= 2) Keadaan ini responden sudah pada konteks pengelolaan terbilang tinggi karena pola pikir responden lebih condong pada hasratnya untuk meraih segala hal yang dia impi-impikan (berproduksi). (U= 3) dalam penggunaan dananya, mahasiswa cenderung untuk menyiapkan terobosan-terobosan untuk meningkatkan pendapatannya tanpa mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan pentingnya secara individual. Sedangkan pada konteks kearifan (IJ= 2) mahasiswa pada tipe ini sudah memiliki perhatian terhadap lingkungan sekitarnya sebelum membuat keputusan, karena segala keputusan akan berdampak pada lingkungannya. Mahasiswa pada tipe ini, sebenarnya sudah memiliki kesadaran, keaksaran dalam menggunakan dan menggunakan dana, hanya saja kurang memiliki keterampilan dalam pengelolaannya tapi terbilang sudah aman dari resiko-resiko kegagalan pengelolaannya. B. Motif Financial Literacy Mahasiswa Yang Berorientasi Pada Kebutuhan Konsumsi & Produksi Radar diatas menjelaskan bahwa kondisi ideal literasi financial seseorang adalah pada garis hijau, dimana seseorang memiliki literasi financial yang diimbangi oleh kearifan atas keputusannya secara optimal. Mahasiswa dengan financial literacy pada kondisi U = 2; M = 1; dan IJ = 2, memiliki kemampuan sedang didasarkan pada pengalaman, kegiatan atas pengelolaan dan penggunaan dananya. (M= 1) Keadaan ini responden sudah pada konteks pengelolaan terbilang sedang karena pola pikir responden lebih condong pada hasratnya untuk meraih segala hal yang dia impi-impikan dalam bentuk barang konsumsi tanpa memperhatikan cara pendapatannya bisa menjadi pendapatan yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya (pendapatan tambahan) tanpa harus dihadapkan pada pilihan keputusan konsumsi. (U= 2) dalam penggunaan dananya, mahasiswa cenderung teliti dan selektif dalam membuat keputusan konsumsi, yang didasari tingkat kebutuhan dan kebermanfaatan barang konsumsi tersebut. Sedangkan pada konteks kearifan (IJ= 2) mahasiswa pada tipe ini sudah memiliki perhatian terhadap lingkungan sekitarnya sebelum membuat keputusan, karena segala keputusan akan berdampak pada lingkungannya. Mahasiswa pada tipe ini, sebenarnya sudah memiliki kesadaran, keaksaran dalam menggunakan dan menggunakan dana, hanya saja kurang memiliki pertimbangan jangka panjang dan keterampilan dalam pengelolaannya sehingga terbilang terancam resiko-resiko kegagalan pengelolaannya. C. Financial Literacy Mahasiswa Yang Berorientasi Penggunaan Dana Untuk Kebutuhan Konsumsi Radar diatas menjelaskan bahwa kondisi ideal literasi financial seseorang adalah pada garis hijau, dimana seseorang memiliki literasi financial yang diimbangi oleh kearifan atas keputusannya. Mahasiswa dengan financial literacy pada kondisi U = 0; M = 0; dan IJ = 0, memiliki kemampuan terendah didasarkan tipe lainnya. (M= 0) mahasiswa pada tipe ini cenderung tidak pernah memiliki pengalaman dalam pengelolaan keuangan, hal ini disebabkan oleh kurang terbukanya orang tua untuk menerima pertumbuhan anak dengan kemandiriannya, sehingga anak cenderung dimanja dan mendapat perlakuan seperti anak kecil yang dibiasakan dituntun saja. (U= 0) dalam penggunaan dananya, mahasiswa sudah memiliki perhatian dalam benakknya, hanya saja, kurang memiliki kontrol terhadap emosi konsumsinya. Sedangkan pada konteks kearifan (IJ= 0) kalahnya pribadi dengan emosi pada mahasiswa tipe ini membuat responden tidak begitu memperdulikan pendapat orang lain kecuali orang tua, hanya saja ketika dia jauh dari orang tua, mereka cenderung menjalani apa yang sudah dia idam-idamkan tanpa ada pertimbangan apapun.. Mahasiswa pada tipe ini, sebenarnya sudah memiliki kesadaran, keaksaran dalam menggunakan dan menggunakan dana, hanya saja tidak mampu mengalahkan emosi konsumsi dalam penerapannya. D. Lingkaran Motivasi Mengelola Keuangan Keluarga sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya responden. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan bagi pengembangan kepribadian. Selain itu, kondisi lingkungan pertemanan sedikit banyak juga membantu responden untuk mengadobsi perilaku-perilaku ekonomi yang berkembang. Secara internal, kecenderungan ingin mendapat pengakuan kemandirian (motif prestasi) dari khalayak, mendorong responden untuk bertindak progressive mencapai tujuan ekonomi masing-masing. Konteks tujuan ekonomi yang terbentuk dalam masyarakat secara umum adalah tercapainya tata keteraturan ekonomi yang mencapai pada kemakmuran. Di lain pihak, ada pula motif sosial (motif afiliasi) yang secara moril mendorong beberapa responden untuk berbuat lebih baik dalam keuangannya. Perasaan sungkan, kurang nyaman dengan keadaan ekonomi orang lain menggugah responden untuk berkaca dan memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan keuangannya. Selain itu, keterbatasan responden untuk mencapai kepuasan ekonomi, juga disinyalir menjadi faktor pendorong perubahan kondisi financial literacy responden. Seperti yang diungkapkan oleh Mc Clelland dalam teori kebutuhan berprestasi (mendapat pengakuan) dijelaskan bahwa, yaitu : “Need for Achievement is related to the difficulty of tasks people choose to undertake. Those with low N-Ach may choose very easy tasks, in order to minimise risk of failure, or highly difficult tasks, such that a failure would not be embarrassing. Those with high N-Ach tend to choose moderately difficult tasks, feeling that they are challenging, but within reach. People high in N-Ach are characterised by a tendency to seek challenges and a high degree of independence. Their most satisfying reward is the recognition of their achievements. Sources of high N-Ach include: (1)Parents who encouraged independence in childhood, (2) Praise and rewards for success, (3) Association of achievement with positive feelings, (4) Association of achievement with one's own competence and effort, not luck (5)A desire to be effective or challenged, (6) Intrapersonal Strength. ” Harapan responden pencapaian keberhasilan (sesuai tujuan masing-masing) disinyalir menjadi pendorong terbesar untuk mendapat pengakuan atas keberhasilan mengelola keuangan di sisi penanggulangan resiko, efisiensi dan produksi. Di balik itu ada kejadian-kejadian khusus seperti harapan almarhum orang tua untuk melihat kesuksesan anak juga dianggap sebagai salah satu latar belakang yang mendorong responden untuk mencapai tujuan. Dengan kecenderungan yang muncul yaitu : 1. Menetapkan target yang agak sukar (tetapi bukan mustahil) untuk diri mereka sendiri. 2. Mengambil pendekatan yang realistik terhadap risiko. 3. Lebih kepada penganalisis dan menilai masalah. 4. Lebih gemar memikul tanggung jawab pribadi untuk melaksanakan sesuatu tugas. 5. Menyukai imbalan yang tepat dan cepat terhadap prestasi mereka. 6. Pekerja keras 7. Cenderung untuk melakukan sesuatu seorang diri. Dan teori kebutuhan berprestasi (mendapat pengakuan) diatas, responden pada kondisi ini juga ada yang bertipikal suka bersosialisasi (teori afiliasi) yang dijelaskan sebagai berikut : “The Need for affiliation (N-Affil) is a term that was popularized by David McClelland and describes a person's need to feel a sense of involvement and "belonging" within a social group; McClellend's thinking was strongly influenced by the pioneering work of Henry Murray who first identified underlying psychological human needs and motivational processes (1938). It was Murray who set out a taxonomy of needs, including achievement, power and affiliation—and placed these in the context of an integrated motivational model. People with a high need for affiliation require warm interpersonal relationships and approval from those with whom they have regular contact. People who place high emphasis on affiliation tend to be supportive team members, but may be less effective in leadership positions.” Kebutuhan akan afiliasi merefleksikan keinginan untuk berinteraksi secara sosial dengan orang lain. Seseorang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi menempatkan kualitas dari hubungan pribadi sebagai hal yang paling penting, oleh karena itu hubungan sosial lebih didahulakan daripada penyelesaian tugas disinyalir menjadi pendorong terbesar yang menjadikan responden kurang konsisten dalam pelaksanaan strategi berkonsumsinya. Dengan sifat yang muncul sebagai berikut : 1. Berusaha memelihara hubungan sosial yang baik 2. Saling memahami. 3. Peduli tehadap orang lain. 4. Membantu orang dalam kesusahan. 5. Menyenangi hubungan akrab dengan orang lain. E. Kondisi Rasionalitas Ekonomi berdasarkan Financial Literacy Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Tingkat Financial Literacy Konteks Rasionalitas Ekonomi Penanggulangan resiko Strategi dalam berkonsumsi Efisiensi & Optimalisasi sumber daya Tinggi • Masuk dalam prediksi; • Sudah ada penanggulangan terencana (berjaga-jaga); • Menjadi pelajaran agar tak terulang; • Diselesaikan dengan mandiri. • Alokasi sesuai dengan prioritas; • Adanya analisa yang matang atas kegiatan konsumsi; • Perilaku konsumsi tidak merugikan orang lain; • Mengkonversi kebutuhan konsumsi menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan pendapatan (produksi) • Menjalankan kegaitan ekonomi dengan pertimbangan waktu dan ketepatan Sedang • Terprediksi; • Kesalahan sering terulang; • Sumber dana menjadi obyek penanggulangan kegagalan pengelolaan uang • Tergolong labil dalam prioritas & keputusan konsumsi; • Cenderung memuaskan diri sendiri • Cenderung pada efektifitas kegiatan konsumsi. Rendah • Jika gagal mengelola dikembalikan pada orang tua sebagai sumber dana. • Tidak ada analisa tingkat prioritaas yang jelas, cenderung memuaskan diri dan tidak peduli terhadap kebutuhan masa yang akan datang. • Tidak terpikirkan Sumber : pengolahan data oleh peneliti Bagi beberapa responden, keterbatasan dana dan harapan untuk membuat perencanaan konsumsi mendorong responden untuk lebih rasional terhadap kegiatan konsumsinya secara efisien dan mengoptimalkan dana yang diperoleh untuk menghasilkan dana berlebih. Da beberapa responden yang berpandangan lain, bahwa berawal dari pengetahuan rasional atas konsumsi yang mendorong orang untuk membuat pengelolaan uang. Sedikit tersirat bahwa faktor pendidikan, kebudayaan dan pesan moral dari orang tua dalam menggunakan uang yang dimiliki tergolong sebagai faktor yang sebenarnya menjadi pertimbangan oleh responden dalam menganalisa pilihannya atas barang konsumsi. Hal ini tidak dibahas lebih lanjut karena tidak termasuk dalam konteks penelitian yang dilakukan. IV DAFTAR PUSTAKA Bernard; Harold, W. 1971. Principles of guidance: A Basic Text. Sacranton: Pensylvania. Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta. Elliot, S. H; Krarchohwill, T. R., Littlefield, J. F; & Travers, J. F. 1996. Educational Phsycology: Effective Teaching Effective Learning (2¬¬nd ed.). Sydney: Brown & benchmark. Lusardi, A & Mitchell, O. S. 2006. Financial Literacy and Planning: Implications for Retirement Wellbeing. Google.com- Financial Literacy. Diunduh 22 juni 2010. Organisation for Economic Co-operation and Development. 2005. Increasing Financial Literacy, (online), dalam (www.justelsa.com/2009/07/inilah-mengapa-pengetahuan-finansial.html), (diakses pada 21 September 2011) Paul W. Lermitte. 2004. Agar Anak Pandai Mengelola Uang . Jakarta: Gramedia. McClelland, D.C. (Inggris)The Achieving Society, New York: Van Nostrand Rei

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA materi struktur tumbuhan pada siswa kelas IV di SD Islam Nurul Izzah Kota Malang / Heri Hermanto

 

Kata Kunci: model Jigsaw, aktivitas, hasil belajar, struktur tumbuhan, IPA Temuan yang didapat dari observasi di kelas IV SDI Nurul Izzah Kota Malang selama pembelajaran adalah guru terkesan mendominasi pembelajaran melalui kegiatan ceramah dan tanya jawab. Dari hasil wawancara didapat informasi, pada saat belajar dalam bentuk kelompok, siswa yang aktif cenderung hanya ketua kelompoknya saja sehingga kerja dan tanggungjawab antar individu kurang merata. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 25 siswa, hanya 12 siswa yaitu 48% yang termasuk kategori tuntas belajar sedangkan sebanyak 13 siswa yaitu 52 % masih belum tuntas belajar. Salah satu alternatif model pembelajaran yang diyakini dapat mengatasi masalah tersebut adalah dengan model pembelajaran Jigsaw. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah mendeskripsikan: 1) penerapan model Jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada materi struktur tumbuhan, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa pada pembelajaran model Jigsaw materi struktur tumbuhan, 3) mendeskripsikan hasil belajar siswa pada materi struktur tumbuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini siswa kelas IV SDI Nurul Izzah Kota Malang sebanyak 25 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi lembar observasi guru dan siswa, tes, pedoman wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model Jigsaw pada materi struktur tumbuhan dapat dilaksanakan dengan baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil penerapan model Jigsaw pada siklus I rata-rata skor yang diperoleh 90,44% dan meningkat pada siklus II menjadi 96,67%. Aktivitas siswa meningkat, siklus I mendapat rata-rata 85,51 meningkat menjadi 90,34 pada siklus II. Nilai evaluasi rata-rata pada siklus I 73,4 meningkat pada siklus II yaitu rata-rata 79,2. Peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh penerapan model Jigsaw yang telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Haris (2010) terhadap siswa kelas V SDN Sidodadi 04 Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi peneliti lain jika mengadakan penelitian tentang aktivitas dan hasil belajar siswa bisa menggunakan model kooperatif yang lain. Peneliti yang akan akan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dalam penelitian sebaiknya menuliskan aspek kedisiplinan dalam lembar observasi aktivitas siswa.

Pengembangan Media Belajar Game Simulasi Puzzle untuk pembelajaran pengenalan dan perakitan komputer pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang / Baskoro Singgih Anindito

 

Kata Kunci: pengembangan, media belajar, game simulasi puzzle, pengenalan dan perakitan komputer. Simulasi merupakan suatu model pengambilan keputusan dengan mencontoh atau mempergunakan gambaran sebenarnya dari suatu sistem kehidupan dunia nyata tanpa harus mengalaminya pada keadaan yang sesungguhnya. Dalam perakitan sebuah komputer diperlukan persiapan yang cukup dan peralatan yang akan digunakan. Saat merakit komputer dibutuhkan keahlian serta pemahaman sebelum merakit. Untuk itu perlu adanya suatu tahapan belajar sebelum perakitan berlangsung. Berdasarkan observasi dengan beberapa guru TIK di SMA Negeri 3 Malang, yakni proses pembelajaran pengenalan dan perakitan komputer dilaksanakan dengan menggunakan satu atau dua komputer. Pada intinya, sarana untuk praktikum perakitan komputer kurang memadai, sehingga sebagai penggantinya video tutorial digunakan dalam pembelajaran. Akan tetapi, pada saat ujian praktik perakitan komputer, siswa masih belum memahami materi pengenalan dan perakitan komputer. Berdasarkan paparan di atas, akan dikembangkan suatu media pembelajaran dalam bentuk Game Simulasi Puzzle untuk perakitan komputer yang berfungsi untuk memberikan latihan dasar bagi para siswa SMA kelas X (sepuluh) dalam mensimulasikan cara merakit komputer, serta peringatan untuk mengidentifikasi kesalahan dalam pemasangan komponen dan petunjuk pembenarannya. Game Simulasi Puzzle ini menerapkan model pengembangan Research and Development (R&D) dan metode pengembangan Waterfall. Instrumen yang digunakan adalah angket untuk menilai media sebagai indikator kelayakan Game Simulasi Puzzle. Hasil validasi media Game Simulasi Puzzle pada masing-masing tahapan uji coba, yaitu (1) persentase hasil validasi ahli media sebesar 97,32% dan Game Simulasi Puzzle dinyatakan valid; (2) persentase hasil validasi ahli materi sebesar 97,5% dan Game Simulasi Puzzle dinyatakan valid; dan (3) persentase hasil uji coba pemakaian Game Simulasi Puzzle terhadap siswa sebesar 86,99% dan Game Simulasi Puzzle dinyatakan valid. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan media belajar Game Simulasi Puzzle dapat dibangun dan diujicobakan untuk pembelajaran pengenalan danperakitan komputer pada siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Pada tahap ujicoba, persentase hasil uji coba pemakaian Game Simulasi Puzzle sebesar 86,99%. Persentase tersebut termasuk kategori sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Game Simulasi Puzzle layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Perbedaan hasil belajar TIK menggunakan model CTL berbasis NHT dengan model pembelajaran kooperatif strategi expert group pada siswa kelas XI semester II SMAN 1 Purwosari / Putri Khoirin Nashiroh

 

Kata Kunci: CTL, NHT, CTL Berbasis NHT, Expert Group Kegiatan pembelajaran yang optimal dapat meningkatkan keberhasilan siswa. Salah satu faktor pendukung agar pembelajaran berlangsung dengan optimal adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dari hasil observasi di SMAN 1 Purwosari diketahui bahwa kegiatan pembelajaran berlangsung di laboratorium komputer dengan menerapkan model pembelajaran langsung. Siswa mendengarkan dan mengikuti instruksi guru. Siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu dalam penelitian ini diterapkan model CTL berbasis NHT dan model pembelajaran kooperatif strategi expert group pada materi rumus dan rungsi program pengolah angka. Rancangan penelitian ini yaitu eksperimen semu dengan desain pretest and posttest group. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI sebanyak 321 siswa terbagi ke dalam 8 kelas. Sampel penelitiannya adalah kelas XI IPS 1 sebagai kelas ekserimen dan kelas XI IPS 2 sebagai kelas kontrol. Variabel dari penelitian ini terdiri dari variabel bebas, yaitu CTL berbasis NHT dan model pembelajaran kooperatif strategi Expert Group, serta variabel terikatnya berupa hasil belajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model CTL berbasis NHT pada kelas eksperimen memiliki rata-rata hasil belajar lebih tinggi dari pada penerapan model pembelajaran kooperatif strategi expert group pada kelas kontrol yaitu 83,03 > 80,45. Hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan yaitu dengan nilai Sig(p) 0,002 < 0,05, dan terdapat pengaruh signifikan antara model CTL berbasis NHT terhadap hasil belajar dengan hubungan sebesar 80% serta sumbangan pengaruh 63,9% . Untuk kelas kontrol juga terdapat pengaruh signifikan antara pembelajaran kooperatif strategi expert group terhadap hasil belajar dengan hubungan sebesar 74,6% serta sumbangan pengaruh 55,7%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara model pembelajaran CTL berbasis NHT dengan model pembelajaran kooperatif strategi expert group. Berdasarkan uji pengaruh, kedua model pembelajaran sama-sama berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Nilai hasil belajar dari kedua kelas sama-sama melampaui KKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Sehingga kedua model pembelajaran bagus untuk diterapkan di dalam kegiatan pembelajaran.

Keefektifan teknik problem solving untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa SMP laboratorium Universitas Negeri Malang / Rinda Eka Mumpuni

 

Kata Kunci: teknik problem solving, keterampilan memecahkan masalah, bimbingan pribadi sosial Salah satu ciri masa remaja adalah waktu dimana kesempatan dan berbagai resiko datang. Resiko yang dimaksud adalah berbagai masalah yang seringkali dialami remaja. Masalah tersebut adalah permasalahan fisik, psikis dan sosial. Tidak semua remaja bisa mengatasi masalah yang dialami tersebut dengan efektif. Salah satu metode pemecahan masalah adalah teknik problem solving. Efektifkah teknik problem solving dalam meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji keefetifan teknik problem solving untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Pre-Eksperimental, dengan desain eksperimen One Group Pretest-Posttest. Proses penelitian terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu persiapan, meliputi kegiatan observasi, penyusunan instrumen penelitian serta uji coba instrumen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah inventori keterampilan memecahkan masalah, panduan eksperimen pelatihan teknik problem solving dan pedoman observasi. Tahap kedua yaitu seleksi subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh delapan orang siswa yang memiliki tingkat keterampilan memecahkan masalah rendah. Tahap ketiga adalah pelaksanaan pelatihan teknik probem solving. Teknik analisis data yang digunakan adalah Wilcoxon Signed-Rank. Analisis statistik memberi kesimpulan bahwa terdapat perbedaan, karena itu maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik problem solving efektif dalam meningkatkan keterampilan memecahkan masalah siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Hal tersebut terbukti dari hasil analisis Wilcoxon Signed-Rank yang membandingkan antara skor pre tes dan pos tes, diperoleh angka Z -2, 521 dengan sig 0, 012. Angka sig 0, 012 berarti < 0, 05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan atau perubahan tingkat keterampilan memecahkan masalah antara sebelum dan setelah perlakuan berupa kegiatan pelatihan teknik problem solving. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan,saran bagi konselor yaitu teknik problem solving dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan memecahkan masalah pribadi sosial siswa. Disamping itu, bagi Jurusan BK, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam mengkaji teknik-teknik keterampilan memecahkan masalah. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan referensi bagi peneliti lain dalam melaksanakan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan keterampilan memecahkan masalah.

Pembelajaran kooperatif model STAD - problem solving meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika / Erna Yayuk

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Guru Kelas, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D. (II) Dr. Sri Mulyati, M.Pd Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif model STAD, Problem Solving, Kualita s Proses, Hasil Belajar, Matematika. Rendahnya hasil belajar matematika siswa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang mampu mengoptimalkan kemampuan siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan perubahan cara guru dalam mengajar. Dari pembelajaran matematika yang berorientasi pada guru ke pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa. Pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa menekankan siswa sebagai subyek pembelajaran matematika. Sebagai subyek, siswa melakukan berbagai kegiatan untuk dapat memahami suatu konsep maupun algoritma dalam matematika. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Membuat rancangan pembelajaran dan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan Model STAD-Problem Solving dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang, (2) Mendeskripsikan hasil pelaksanaan pembelajaran dengan Model STAD-Problem Solving dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ciri penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian yang bersiklus. Setiap siklus dilakukan pembelajaran dengan strategi pembelajaran kooperatif model STAD-Problem Solving dengan materi pelajaran Bilangan Bulat. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang tahun pelajaran 2011/2012 semester 2. Hasil penelitian ini adalah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD-Problem Solving, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Muhammadiyah 8 Dau Malang tahun pelajaran 2011/2012. Adapun rancangan pemelajarannya dapat dijelaskan sebagai berikut: Fase 1. Persiapan, Fase 2. Penyajian Informasi kearah Problem Solving, yang meliputi mempresentasikan pokok-pokok materi dan menyajikan contoh problem dan cara pemecahannya. Fase 3. Bekerja kelompok, Fase 4. Memberikan Tes/kuis tentang Materi Pelajaran yang meliputi; Tes/kuis diberikan secara individu dan tidak diperkenankan untuk saling bekerja sama. Fase 5. Memberikan skor Perkembangan,. Fase 6. Memberikan Penghargaan pada Kelompok, yang meliputi; Penghargaan untuk kelompok bisa berupa tanda mata, pujian, atau status (misalnya, kelompok terbaik, dll.)

Kinerja guru TK kelas VII semester II dalam penggunaan media pembelajaran di rintisan sekolah menengah pertama bertaraf Internasional 1 Kesamben Blitar / Muslimah Iriawati

 

Kata kunci: Kinerja guru TIK, kinerja guru dalam penggunaan media pembelajaran, media pembelajaran, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan rintisan satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan / atau Negara maju lainnya. Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional juga menerapkan pembelajaran berbasis IT dan tentunya menggunakan berbagai macam media pembelajaran, berdasarkan hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam penyesuaian terhadap pembelajaran berbasis IT yang diselenggarakan oleh RSBI . Oleh karena itu penelitian ini akan meneliti mengenai keefektifan kinerja guru TIK yang dilihat dari hasil belajar siswa kelas VII semester II dan bagaimana gambaran teknik guru dalam penggunaan media pembelajaran di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional 1 Kesamben Blitar agar siswa memenuhi SKM yang telah ditentukan. Untuk mengetahui hal tersebut peneliti menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini sendiri dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama 1 Kesamben, yang merupakan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pertama yang merupakan sekolah Rintisan Bertaraf Internasional dikota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012. Dari hasil penelitian di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 1 Kesamben, ditemukan hasil bahwa Keefektifan kinerja guru TIK yang dilihat dari hasil belajar siswa kelas VII semester 2 yang diajarkan dengan menggunakan media pembelajaran di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraft Internasional 1 Kesamben memiliki kriteria sangat optimal. Dan gambaran keterampilan teknik guru dalam penggunaan media di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional 1 Kesamben sudah maksimal, ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam ketepatan dan kesesuaian menggunakan media pembelajaran terhadap isi materi dan pencapaian tujuan pembelajaran. Dari observasi yang dilakukan memang terlihat bahwa guru sudah dapat menentukan alokasi waktu dalam penggunaan media yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu guru juga mampu mengaplikasikan media sehingga media tersebut dapat memotivasi, mengeksplorasi, serta mengelaborasi siswa kelas VII di Rintisan Sekolah Menengah Pertama Bertaraf Internasional Kesamben.

Pengaruh variasi temperatur dan waktu pemahanan (holding) pada perlakuan panas aging terhadap tingkat kekerasan logam alumunium / Singgih Arianto

 

Kata Kunci: aluminium, perlakuan panas, temperatur, aging, holding Mengingat permintaan pasar yang terus menuntut bahan aluminium yang lebih kuat dan keras, maka perlu kiranya diadakan penelitian terhadap pengaruh variasi temperatur dan waktu penahanan (holding) pada perlakuan panas aging terhadap tingkat kekerasan aluminium, agar dapat menghasilkan aluminium yang lebih keras dan kuat untuk memenuhi permintaan pasar. Aluminium dengan paduan tembaga (Cu) dapat ditingkatkan kekerasanya dengan menggunakan perlakuan panas aging. Prosedur perlakuan panas meliputi perlakuan pelarutan (solution treatment) dengan temperatur 550C dan waktu penahanan (holding) 1 jam, diikuti dengan pendinginan (quenching) dan penuaan (aging). Variabel dalam penelitian ini adalah variasi temperatur aging, suhu kamar, 150C, dan 250C dan variasi waktu aging 1 jam, 1,5 jam, dan 2 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variasi temperatur dan waktu penahanan berpengaruh terhadap tingkat kekerasan logam aluminium. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diadakan penelitian ini yang dilakukan dengan metode eksperimental. Eksperimen pada penelitian ini dimulai dari mempersiapkan spesimen yang berupa aluminium dengan paduan 0,852% Cu. Setelah itu diberikan perlakuan panas aging & uji kekerasan dengan menggunakan Rockwell B. Setelah data didapat maka data tersebut langsung diuji secara statistik dengan menggunakan program SPSS. Dari penelitian ini diketahui pengaruh variasi temperatur dan waktu penahanan (holding) terhadap nilai kekerasan aluminium. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan panas dengan temperatur aging 250C dan waktu aging 2 jam dapat meningkatkan kekerasan aluminium dari 51,81 HRB (tanpa perlakuan panas) menjadi 74,84 HRB. Kekerasan benda meningkat seiring dengan bertambahnya waktu dan temperatur aging. Hasil kekerasan rata-rata yang didapat dari penelitian ini untuk holding selama 1 jam berturut-turut pada suhu kamar (natural aging), aging 150C, dan aging 250C adalah 61,38 HRB, 69,10 HRB, dan 72,08 HRB. Untuk nilai kekerasan yang mendapat holding selama 1,5 jam pada natural aging memiliki nilai kekerasan 61,82 HRB, aging 150C tingkat kekerasannya adalah 71,84 HRB, dan aging 250C memiliki tingkat kekerasan 73,37 HRB. Pada perlakuan yang mendapat holding selama 2 jam untuk natural aging memiliki nilai kekerasan 61,98 HRB, aging 150C tingkat kekerasannya adalah 72,22 HRB, dan aging 250C memiliki tingkat kekerasan 74,84 HRB. Saran untuk penelitian setelah ini perlu kiranya ada tindak lanjut untuk penelitian berikutnya dengan berbagai variasi temperatur dan variasi waktu penahanan (holding) yang penulis belum lakukan. Misalnya variasi temperatur perlakuan panas aging yang telah mencapai temperatur over aging.

Perkembangan lembaga pendidikan Maarif NU di Kota Malang 1947 - 2010 / Ayu Mahmudatul Akhadiyah

 

Kata kunci: Perkembangan, Lembaga Pendidikan Maarif NU, Kota Malang Lembaga Pendidikan Maarif NU adalah salah satu aparat departementasidi lingkungan organisasi NU yang berfungsi sebagai sarana dan wadah untuk mentranformasikan ide-ide, doktrin-doktrin, dan melestarikan nilai-nilai yang menjadi paradigma NU. Lembaga Pendidikan Maarif NU terdiri dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, sampai perguruan tinggi. Lembaga pendidikan ini lahir melalui proses yang panjang dan bertahap, dimulai dari gerakan pendidikan Nahdlatul Wathan, Tashiwul Afkar, Nahdlatul Tujjar dan terus dikembangkan sejak berdirinya NU pada tahun 1926. Di Kota Malang cikal bakal lembaga pendidikan Maarif NU diawali dengan berdirinya Madrasah Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh K.H Nahcrowi di jalan Jagalan gang II pada tahun 1923. Madrasah ini berdiri dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pendidikan oleh masyarakat pribumi. Dampak adanya lembaga pendidikan Maarif NU di Kota Malang tidak hanya terhadap pengajaran dan pendidikan di Kota Malang, tetapi juga terhadap organisasi Nahdlatul Ulama sendiri dan masyarakat di Kota Malang khususnya. Berdasarkan uraian tersebut, masih banyak hal yang perlu dikaji dari lembaga pendidikan Maarif NU, tetapi penelitian ini hanya difokuskan pada rumusan masalah berikut, (1) Bagaimana perkembangan lembaga pendidikan Maarif NU di Kota Malang 1947-2010, (2) Bagaimana dampak perkembangan lembaga pendidikan Maarif NU di Kota Malang 1947-2010. Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah tersebut adalah metode penelitian historis, dengan jenis penelitian deskriptif-kualitatif. Langkah-langkah yang digunakan dalam metode penelitian historis adalah heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Untuk melengkapi data tertulis digunakan sejarah lisan dengan melakukan wawancara. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa (1) Lembaga pendidikan Maarif NU di Kota Malang yang diawali dengan pendirian Nahdlatul Wathan di Jalan Jagalan gang II, dan pada tahun 1947 mulai mengembangkan pendidikan tingkat menengah pertama yang berciri Barat di tempat yang sama. Kemudian berkembang ke beberapa daerah di Kota Malang dengan beragam bentuk dan jenjang pendidikan. Perubahan-perubahan yang terjadi selama periode 1947-2010 tidak terlepas dari gerakan politik organisasi NU dalam pemerintahan di Indonesia dan beberapa kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Perkembangan yang terjadi tidak hanya dalam bentuk kuantitas sekolah/ madrasah, tetapi juga perkembangan kualitas, terutama dalam aspek mutu sekolah dan SDM guru yang terus ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan workshop, diklat dan pelatihan-pelatihan lainnya; (2) Perkembangan lembaga pendidikan Maarif NU memiliki dampak terhadap pendidikan dan pengajaran di Kota Malang yakni turut melayani dan mencerdaskan masyarakat Kota Malang melalui pendidikannya, dalam hal madrasah 60% madrasah yang ada di Kota Malang adalah milik lembaga pendidikan Maarif NU. Dampak positif lainnya adalah semakin dikenalnya pendidikan dan pengajaran di Kota Malang oleh masyarakat di luar Kota Malang. Perkembangan lembaga pendidikan Maarif NU juga berpengaruh terhadap organisasi Nahdlatul Ulama, yakni sebagai pentransfer ide-ide, doktrin dan nilai-nilai NU agar tidak punah. Selain itu, juga mencetak generasi penerus NU yang berkualitas dan mengabdikan diri kepada NU. Dampak bagi masyarakat Kota Malang sendiri adalah tersedianya pelayanan pendidikan dan memudahkan masyarakat untuk memilih berbagai jenis lembaga pendidikan Maarif NU yang ada di Kota Malang, serta menghasilkan lulusan yang berguna bagi masyarakat setempat. Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran: (1) Berkenaan dengan lembaga pendidikan Maarif NU diharapkan mampu bertahan dan eksis di era modern ini serta terus membenahi kekurangan terutama pada aspek kualitas dan administrasi. Walaupun kini sudah cukup baik, namun tetap perlu adanya inovasi dan kedisplinan dalam menegakkannya; (2) Di harapkan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini terutama yang berkaitan dengan pendidikan Islam yakni sekolah/madrasah. Banyak ruang kosong mengenai lembaga pendidikan Maarif NU yang masih dapat dikaji lebih lanjut dengan diadakannya penelitian yang lebih fokus pada sekolah/madrasah tertentu. Sekiranya penelitian tersebut berguna khususnya bagi pengembangan sekolah/madrasah dimasa-masa mendatang.

Pengaruh pembelajaran kooperatif student team achevement division (STAD) dipadu think pair share (TPS) dan kemampuan akademik terhadap ketrampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Ternate

 

Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd, (II) Dr. Hedi Sutomo, S.U. Kata Kunci: student team achivement divisions (STAD), think pair share (TPS), dan kemampuan akademik, keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif biologi. Perubahan sistem pendidikan di Indonesia merupakan implikasi dari perubahan paradigma pendidikan, dari paradigma behaviorisme berubah menjadi paradigma konstruktivisme. Perubahan ini terjadi akibat perubahan pemahaman terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Perubahan pada konsep pendidikan tersebut misalnya paradigma sains sebagai suatu proses, belajar berbasis pengetahuan menjadi belajar berbasis kopetensi, pembelajaran instruktif menjadikan pembelajaran sebagai fasilitas, dan penilaian yang konseptual berubah menjadi penilaian yang autentik. Perubahan paradigma tersebut disikapi oleh pemerintah dengan mengubah kurikulum yang sesuai dengan paradigma dan pemahaman konsep masa kini. Hal ini terbukti dengan adanya perubahan kurikulum 1984 menjadi kurikulum 1994 yang diharapkan mampu dapat menghasilkan lulusan yang tidak saja memiliki pengetahuan melainkan keterampilan, khususnya keterampilan berpikir untuk memecahkan masalah dengan menggunakan prinsip dan prosedur sains. Pada kurikulum 1994 sudah nampak terjadinya perubahan paradigma bahwa belajar bukan berbasis pengetahuan, namun berbasis keterampilan. Selanjutnya, paradigma tersebut diperkuat lagi dengan kurikulum Berbasis Kopetensi 2004 dengan konsep pendidikan berorentasi pada kecakapan hidup (life skill). Setelah kurikulum 2004 mengalami uji coba maka dilakukan penyempurnaan dengan keluarnya peraturan Mentri Pendidikan Repoblik Indonesia Nomor 22, 33, dan 24 tahun 2006. Berdasarkan peraturan tersebut maka pengembangan standar kompetnsi dan kompotesi dasar kedalam kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan atau sekarang disebut KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut guru mengubah paradigma pembelajarannya. Berdasrkan hasil observasi di SMP Negeri 4 Ternate guru biologi belum memberdayakan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan keterampilan metakognisi. Berdasarkan observasi tersebut maka peneliti menggunakan strategi pembelejaran kooperatif model Student Team Achivement Divisions (STAD) dipadu Think Pair Share (TPS). Sehingga dalam penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut (1) Apakah ada pengaruh pembelajaran kooperatif STAD dipadu TPS terhadap keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII di SMP Negeri 4 Kota Ternate, (2) Apakah ada pengaruh kemampuan akademik siswa atas dan bawah terhadap keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII di SMP Negeri 4 Kota Ternate, (3) Apakah ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran kooperatif STAD dipadu TPS dengan kemampuan akademik siswa atas dan bawah terhadap keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif biologi pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Kota Ternate. Maka untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi eksperimen) dengan menggunakan kelas VII 3,VII5, dan VII7 sebagai kelas eksperimen. Dari hasil penelitian telah diperoleh menunjukan bahwa strategi pembelajaran STAD, TPS, dan STAD+TPS berpengaruh signifikan terhadap keterampilan metakognisi, sedangkan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap terhadap keterampilan metakognisi siswa, dan Interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap keterampilan metakognisi siswa. Strategi pembelajaran, kemampuan akademi berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis, sedangkan interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis. Strategi pembelajaran, kemampuan akademik, dan interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar koognitif biologi. Dari sembilan hipotesis yang diajukan hanya satu hipotesis yang tidak signifikan, sedangkan delapan hipotesis lainya signifikan. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dapat diajukan oleh peneliti untuk guru dan calon peneliti adalah (1) Bagi guru dalam mengajar perlu adanya variasi strategi pembelajaran yang digunakan salah satunya STAD, TPS, dan STAD+TPS dan dapat juga strategi pembelajaran yang telah digunakan oleh guru dikombinasikan atau dipadukan dengan ketiga strategi diatas, (2) Seluruh siswa berkemampuan akademik atas dan bawah dapat mencapai KKM yang telah ditentukan, oleh karena itu peneliti menyarankan agar guru memiliki peta kemampuan akademik siswa sebagai dasar penyusun kelompok belajar siswa dalam implementasi TPS, STAD+TPS, sehingga proses scaffolding berjalan dengan baik, (3) Perlu dilakukan penelitian yang mengintegrasikan strategi-strategi pembelajaran berbasis konstruktivisme dan student centred selain STAD dan TPS.

Pelestarian nilai- nilai moral melalui tradisi Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung / Ayu Yulia Purboningsih

 

Kata kunci : Nilai, Moral, Pelestarian, Upacara Adat Jamasan Kyai Upas, Hambatan, Pemerintah Kabupaten Tulungagung memiliki tradisi budaya berupa JamasanTombak Pusaka Kyai Upas yaitu kegiatan ritual yang digelar rutin setiap bulan Suro ini berlangsung di pendopo Dalem Kanjengan, Kelurahan Kepatihan. Jamasan Tombak Kyai Upas ini merupakan suatu tradisi memandikan pusaka yang dilakukan secara turun menurun dalam waktu tertentu. Nilai-nilai moral dalam Upacara Memandikan pusaka tombak Kyai Upas dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini difokuskan dengan judul “Pelestarian Nilai-Nilai Moral Melalui Tradisi JamasanTombak Pusaka Kyai Upas Di Kabupaten Tulungagung” Tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan pelaksanaan JamasanTombak Pusaka Kyai Oepas di Kabupaten Tulungagung, (2) menjelaskan ragam nilai-nilai moral yang terkandung dalam JamasanTombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung, (3) menjelaskan usaha pelestarian nilai-nilai moral melalui tradisi JamasanTombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung, (4) menjelaskan hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelestarian nilai-nilai moral yang terkandung dalam JamasanJamasanTombak Pusaka Kyai Upas di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Jalan A.Yani Timur Gang. IV No.7 Kabupaten Tulungagung. Sumber data dalam penelitian ini adalah Ibu Sri Wahyuni, BA dan Bapak Bimo Wijayanto. Temuan penelitian menunjukan bahwa (1) Upacara Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas dalam proses penyelenggaraannya mempunyai dua tahapan yaitu kegiatan yang bersifat persiapan dan kegiatan-kegiatan inti upacara jamasan dimulai. Kegiatan yang bersifat persiapan yaitu kegiatan malam tirakatan dan kegiatan memasak sesaji. Kegiatan yang merupakan inti dari jamasan Kyai Upas terlaksana di pagi harinya. Urutan acara inti jamasan yaitu sambutan ahli waris, pembacaan sejarah Tombak Kyai Upas, sambutan Bupati/Wakil bupati, lalu kegiatan siraman tombak Kyai Upas. malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang; (2) Jamasan tombak pusaka kyai upas mengandung banyak Nilai-nilai moral, nilai-nilai moral tersebut yaitu nilai kebersamaan, nilai ketelitian, nilai kegotongroyongan, dan nilai religius; (3) Pemerintah memberikan kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas dalam berbagai media yaitu melalui media pendidikan formal atau sekolah, melalui media buklet, melalui website, melalui radio, melalui pagelaran seni tari, melalui BPSNT (Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisi); (4) Hambatan yang dialami dalam upaya-upaya pelestarian kebudayaan Jamasan Tombak Pusaka Kyai Upas dalam berbagai media-media tersebut adalah hambatan biaya, hambatan keterbatasan jumlah buklet dan keterbatasan tenaga untuk penyebarannya, hambatan minimnya pendengar radio sehingga informasi yang disiarkan tidak banyak orang yang menerima, hambatan pro dan kontra dalam pagelaran seni tari yang mempermasalahkan bahwa Tombak Kyai Upas tidak boleh dijadikan pertunjukan maupun membuat tiruan dari Tombak Kyai Upas dengan benda yang dibuat mirip, hambatan BPSNT Yogyakarta karena banyaknya budaya-budaya yang harus didokumentasikan oleh pihak BPSNT Yogyakarta sehingga perhatian untuk fokus terhadap Jamasan Kyai Upas ini agak tertunda. Berdasarkan temuan penelitian diatas, saran yang diajukan sebagai berikut : (1) Kepada pemerintah kabupaten Tulungagung agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat memperkuat kebudayaan lokal yang menjadi ciri khas kabupaten tulungagung, (2) Kepada warga masayarakat Kabupaten Tulungagung agar lebih mengenal dan menampilkan sikap positif terhadap kebudayaan-kebudayaan Kabupaten Tulungagung bukan hanya Jamasan Kyai Upas saja, (3) Kepada mahasiswa Hkn, agar melakukan penelitian lebih lanjut tentang kebudayaan-kebudayaaan Tulungagung, karena masih banyak lagi kebudayaan-kebudayaan lain yang masih belum diteleti di Kabupaten Tulungagung maupun daerah lain.

Peningkatan pemahaman teks bacaan melalui model SQ3R (survey, question, read, recite. and review) pada siswa kelas IV SDN Tanjungsari 1 Kota Blitar / Ninik Indrawani

 

Kata kunci: model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, and Review), teks bacaan, hasil belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa masalah tentang pemahaman teks bacaan yang terjadi di kelas IV SDN Tanjungsari 1 Kota Blitar masih sangat rendah yaitu sebanyak 10 siswa belum mampu memahami isi teks bacaan dalam beberapa kalimat. Dalam mengajar guru menggunakan model pembelajaran yang kurang variatif, menyenangkan dan menarik perhatian siswa. Berdasarkan uraian tersebut tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, and Review) dalam meningkatkan pemahaman teks bacaan siswa kelas IV dan mendeskripsikan dengan menerapkan model SQ3R dapat meningkatkan pemahaman teks bacaan siswa kelas IV serta mengorganisasikannya dengan kelompok. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Tanjungsari 1 Kota Blitar yang terdiri dari 18 siswa. Langkah-langkah model ini ialah kerja kelompok, siswa mengsurvey teks bacaan, menyusun pertanyaan, membaca teks bacaan, menjawab pertanyaan, mengkaji ulang, menceritakan kembali isi teks bacaan, dan persentasi kelompok. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Model SQ3R yang dilakukan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas IV di SDN Tanjungsari 1 dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar sebesar 7,44% dari sebelum dilakukan tindakan dengan melihat rata-rata ulangan harian sebelumnya dan setelah dilaksanakan tes akhir siklus 1. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus 1 telah meningkat sebesar 8% ke siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disarankan bahwa untuk meningkatkan hasil belajsr siswa dalam pembelajaran memahami teks bacaan, maka model pembelajaran SQ3R hendaknya dapat dijadikan pertimbangan guru dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun penerapan model pembelajaran tersebut harus disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Penerapan model pembelajaran SQ3R hendaknya dapat digunakan juga oleh peneliti lain untuk melaksanakan atau mengembangkan penelitian serupa pada subjek penelitian yang berbeda.

Kemungkinan implementasi standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas publik (SAK-ETAP) pada usaha mikro kecil menengah (UMKM) (studi kasus pada usaha mikro toko pakaian IIN collection di Desa Gading, Bululawang Kab. Malang) / Ana Nur Santi

 

Kata Kunci: Standar Akuntansi Keuangan-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Laporan Keuangan. Standar Akuntansi Keuangan-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP) adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai dasar pencatatan dalam laporan keuangan untuk entitas tanpa akuntabilitas publik yang mulai efektif sejak tanggal 1 Januari 2011. Dengan adanya SAK-ETAP diharapkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) mampu membuat laporan keuangan yang memiliki standar nasional sehingga laporan keuangan dapat dipercaya oleh pihak ketiga. Penelitian ini melakukan studi kasus pada UMKM IIN Collection di Desa Gading, Bululawang Kab.Malang dengan melakukan observasi penelitian selama 1 bulan yaitu pada bulan Januari 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP apabila diterapkan dalam Usaha Mikro Toko Pakaian IIN Collection di Desa Gading, Bululawang Kab.Malang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori entitas dan teori proprietory. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dalam kegiatan transaksi UMKM IIN Collection di Desa Gading, Bululawang Kab.Malang mampu menerapkan laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP walaupun ada beberapa kendala yang ditemui seperti pengetahuan pemilik tentang akuntansi masih terbatas, pemilik tidak mengetahui standar akuntansi yang berlaku umum, pemilik tidak pernah melakukan penyusutan terhadap aktiva tetapnya dan banyaknya transaksi yang terjadi setiap harinya sehingga sulit untuk membuat laporan keuangan. Dari hasil penelitian dan pembuatan laporan keuangan UMKM IIN Collection di Desa Gading, Bululawang Kab.Malang tersebut diketahui bahwa laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP dapat diterapkan walaupun ada beberapa penyesuaian. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya hendaknya memperpanjang periode penelitian agar bisa dibandingkan dan menambah sample pada usaha skala kecil, menengah dan skala besar namun tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan (PT tertutup) sehingga bisa tahu bagaimana bentuk laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP pada semua jenis skala usaha. ii

Pengaruh norma subjektif , sikap kewirausahaan dan efikasi diri terhadap intensi berwirausaha mahasiswa / Dwijayanti Renny

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M., (2) Dr. I Wayan Jaman Adi Putra, M.Si. Kata Kunci: Norma Subjektif, Sikap Kewirausahaan, Efikasi Diri, dan Intensi Berwirausaha. Makin banyaknya penelitian mengenai kewirausahaan dewasa ini mengindikasikan makin tingginya perhatian berbagai pihak atas peran kewirausahaan dalam perekonomian suatu negara. Upaya untuk mendorong pilihan karir sebagai wirausaha mulai terlihat dilakukan oleh kalangan institusi pendidikan. Kurikulum yang telah memasukkan pendidikan kewirausahaan telah marak. Namun demikian, hasilnya masih belum terlihat. Berdasarkan pengamatan dari dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan di Fakultas Ekonomi UNESA, antusiasme mahasiswa untuk berwirausaha pada saat pelaksanaan praktek kewirausahaan sangat minim. Hal ini diketahui pada saat evaluasi akhir perkuliahan kewirausahaan yang ternyata sebagian besar mahasiswa enggan untuk berwirausaha. Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan menghindari risiko gagal dan pendapatan yang tidak tetap. Fakta di atas menjadi salah satu alasan untuk mengetahui lebih lanjut tentang intensi berwirausaha di fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui kondisi norma subjektif, sikap kewirausahaan, efikasi diri dan intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (2) menguji besarnya pengaruh norma subjektif terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (3) menguji besarnya pengaruh norma subjektif terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (4) menguji besarnya pengaruh norma subjektif terhadap efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (5) menguji besarnya pengaruh sikap kewirausahaan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (6) menguji besarnya pengaruh sikap kewirausahaan terhadap efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (7) menguji besarnya Besarnya pengaruh efikasi diri terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (8) mengetahui pengaruh norma subjektif terhadap intensi berwirausaha melalui efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (9) mengetahui pengaruh sikap kewirausahaan terhadap intensi berwirausaha melalui efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA, (10) mengetahui pengaruh norma subjektif terhadap intensi berwirausaha melalui sikap kewirausahaan mahasiswa Fakultas Ekonomi UNESA. Peneltian ini merupakan jenis penelitian asosiatif kausalitas yang bersifat ex-post facto dengan menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya dengan jumlah populasi 264 mahasiswa. Selanjutnya teknik pengambilan sampel dilaksanakan dengan cara proportional random sampling, sehingga diperoleh sampel 159 responden. Dalam penelitian ini data norma subjektif, sikap kewirausahaan, efikasi diri, dan intensi berwirausaha diperoleh dengan menggunakan instrumen kuesioner. Kuesioner yang digunakan merujuk pada skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) norma subjektif tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa FE UNESA, (2) norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa FE UNESA, (3) norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap efikasi diri mahasiswa FE UNESA, (4) sikap kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa FE UNESA, (5) sikap kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap efikasi diri, (6) efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya, (7) norma subjektif berpengaruh tidak langsung terhadap intensi berwirausaha melalui efikasi diri, (8) sikap kewirausahaan berpengaruh tidak langsung terhadap intensi berwirausaha melalui efikasi diri, (9) norma subjektif tidak berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap intensi berwirausaha melalui efikasi diri. Sejalan dengan temuan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka dalam upaya peningkatan intensi berwirausaha maka perlu dilakukan inovasi pembelajaran, selain itu dosen berperan untuk dapat menumbuhkan efikasi diri sehingga mahasiswa dapat membentuk mental yang kuat dalam menghadapi kesulitan yang dialami selama berwirausaha. Pada akhirnya mahasiswa akan lebih paham dan dapat mengubah mindset mahasiswa itu sendiri dari job seeker menjadi job creator.

Pengaruh suhu sintering pada komposit keramik porselen dengan penambahan cullet 15% dan ballclay 2% terhadap konstanta dielektrik, kuat tekan dan mikrostruktur / Titis Yunika Putri

 

Kata kunci: keramik porselen, suhu sintering, konstanta dielektrik, kuat tekan, mikrostruktur Keramik porselen yang tampaknya rapuh sebenarnya memiliki kekuatan bahan yang baik karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Untuk memiliki struktur yang baik, keramik harus disintering dengan suhu diatas 1300°C agar terjadi penggelasan. Tetapi pada penelitian ini, suhu sintering yang digunakan dibawah 1300°C. Untuk membantu proses sintering, diberi penambahan cullet sebagai zat aditif yang berfungsi sebagai flux (pelebur) yang dapat membuat keramik tetap memiliki struktur yang baik tetapi dengan suhu sintering yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu sintering terhadap konstanta dielektrik, kuat tekan, mikrostruktur bahan dan suhu sintering yang tepat digunakan untuk pembuatan keramik porselen dengan penambahan cullet 15% dan ballclay 2%. Metode sintesis bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode solid state reaction (reaksi padatan). Cullet sebagai zat aditif ditambahkan sebanyak 15% dari total berat keseluruhan bahan. Variasi suhu sintering yang digunakan yaitu 1000°C, 1050°C, 1100°C, 1150°C dan 1200°C. Dari hasil sintering dilakukan pengujian lebih lanjut yaitu pengujian konstanta dielektrik dengan menggunakan kapasitansimeter, kuat tekan dengan menggunakan set alat uji kuat tekan dan mikrostruktur dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konstanta dielektrik dan kuat tekan keramik naik seiring dengan pertambahan suhu sampai mencapai suhu 1100°C. Pemanasan diatas suhu 1100°C akan membuat nilai konstanta dielektrik dan kuat tekannya turun. Suhu sintering juga mempengaruhi mikrostruktur bahan. Semakin tinggi suhu sinteringnya maka butiran-butiran akan melebur satu sama lain. Cullet membantu mengisi pori saat proses sintering. Nilai konstanta dielektrik tertinggi terdapat pada suhu 1100°C yaitu sebesar 84,52. Nilai kuat tekan tertinggi terdapat pada suhu 1100°C yaitu sebesar 60,77 MPa. Dapat disimpulkan bahwa suhu sintering berpengaruh pada nilai konstanta dielektrik, kuat tekan dan mikrostruktur bahan. Suhu sintering 1100°C merupakan suhu sintering yang sesuai dalam komposit keramik porselen dengan penambahan cullet sebanyak 15% dan ballclay 2%.

Pengaruh leverage keuangan, profitbilitas dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba / Netya Nariswari Nirmalapuspa

 

Kata Kunci: Leverage Keuangan, Profitabilitas Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Manajemen Laba Manajemen dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaan melalui manajemen laba. Agency theory sebagai landasan terjadinya manajemen laba memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan diri mereka sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh leverage keuangan, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba. Pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method dan menggunakan pool time series sehingga diperoleh sebanyak 48 data observasi. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel leverage keuangan berpengaruh terhadap manajemen laba. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi akan termotivasi untuk melakukan manajemen laba. Sedangkan profitabilitas dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Berdasarkan penelitian ini maka saran yang diberikan pada investor adalah agar lebih teliti dalam menilai laporan keuangan, sedangkan terhadap perusahaan sebaiknya memperkecil praktik manajemen laba agar tidak merugikan untuk berbagai pihak, dan bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan memperbanyak sampel, menambah rentang waktu yang lebih panjang, dan menambah variabel lain.

Meningkatkan prestasi belajar IPS kelas III melalui model inkuiri di SDN 2 Sumberingin Kidul kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Saiful Amri

 

Kata kunci : prestasi belajar, ips, dan model inkuiri. Hasil observasi dan wawancara singkat dengan guru kelas III SDN 2 Sumberingin Kidul Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung, diperoleh informasi bahwa (1) Siswa kurang aktif dan kurang berminat dalam pembelajaran IPS. (2) Metode yang sering digunakan oleh guru adalah metode ceramah dan tanya jawab, siswa hanya pasif menerima materi dari guru. (3) Prestasi belajar siswa diketahui 4 siswa yang mendapat nilai di atas 68, dan 11 siswa mendapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Tujuan penelitian ini adalah, (1) mendeskripsikan penerapan model Inkuiri pada pelajaran IPS kelas III SDN 2 Sumberingin Kidul Kec Ngunut Tulungagung. (2) Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar mata pelajaran IPS melalui model inkuiri pada siswa kelas III SDN 2 Sumberingin Kidul Kec Ngunut Tulungagung. Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model bersiklus setiap siklus terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan reflleksi (reflection). Dengan subyek siswa kelas III sebanyak 15 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, angket siswa, tes, dokumentasi dan catatan lapangan. Data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajara inkuiri dapat meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan aktifitas siswa selama proses pembelajaran pada siklus I mencapai ketuntasan klasikal 26% dengan nilai rata-rata kelas 58 dan mengalami kenaikan pada siklus II perolehan ketuntasan kilasikal mencapai 87% dengan nilai rata-rata kelas 83. Sedangkan prestasi belajar siswa pada siklus I mencapai ketuntasan klasikal 47% nilai rata-rata kelas 70. Pada siklus II mencapai ketuntasan klasikal 87% dengan nilai rata-rata kelas 80, dari 15 siswa terdapat 13 siswa yang tuntas belajar dan 2 siswa dinyatakan belum tuntas belajar karena kemampuan sisawa yang di bawah rata-rata/rendah. Penerapan model inkuiri dapat meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar siswa kelas III pada mata pelajaran IPS.

Penerapan pendekatan tim kuis untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Agustina Rokhmawati

 

Kata Kunci: Peningkatan Aktivitas, Hasil Belajar, Tim Kuis, IPS SD. Bedasarkan hasil observasi pada tanggal 15 Desember 2011 di SDN Kedung Banteng I, selama pembelajaran IPS berlangsung seluruh siswa hanya mendengarkan penjelasan guru dan membaca buku pelajaran dan hasilnya nilai ulangan siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang tahun 2011 khususnya pada pembelajaran IPS terdapat kesenjangan nilai, diketahui dari 19 orang siswa sebesar 15,8% (3 orang) yang mendapatkan nilai baik, sedangkan yang mendapatkan nilai cukup yaitu 26,3% (5 orang), dan 57,9% (11 orang ) mendapatkan nilai kurang, hal itu mengacu pada standar ketuntasan minimal yang ditetapkan di SDN Kedung Banteng I adalah 70. Tujuan Penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan penerapan pembelajaran melalui pendekatan tim kuis pada pembelajaran IPS kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang.Pasuruan, (2) mengetahui sejauh mana peningkatan aktifitas siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang Pasuruan setelah diterapkannya pendekatan tim kuis, (3) mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang.Pasuruan setelah diterapkannya pendekatan tim kuis. Pendekatan tim kuis adalah pendekatan pembelajaran yang dapat melatih siswa untuk berfikir mandiri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Deskriptif Kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) langkah-langkahnya diadopsi dari model Kemmis dan Taggart. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kedung Banteng I Rembang Pasuruan sebanyak 19 siswa. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci, lembar observasi, soal test tulis dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan tim kuis dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Kedung Banteng I. Hal ini terjadi karena guru telah menerapkan pendekatan tim kuis sesuai dengan tahap-tahap dalam pendekatan tersebut. Untuk aktifitas siswa pada siklus I mendapat nilai rata-rata (79,8), sedangkan pada siklus II meningkat menjadi (82,0). Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai dari sebelum dilakukannya tindakan (59,47), kemudian dilakunnya tindakan pada siklus I mendapat nilai rata-rata (75,7), selanjutnya tindakan pada siklus II (78,4). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan pendekatan tim kuis terlaksana dengan baik dan hasilnya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru harus mengetahui dengan jelas seperti apa langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar pembelajaran terlaksana dengan efektif dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Uji kualitas genteng keramik berglasir produksi home industry Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Anggi Satria Permadi

 

Kata Kunci : Uji Kualitas.Genteng Keramik.Home Industry. Genteng keramik berglasir adalah genteng keramik yang dalam proses pembuatanya dilakukan proses finishing dengan cara lapisan permukaanya dilapisi glasir. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kualitas genteng keramik berglasir produksi Home Industry Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Pengujian yang dilaksanakan berdasar pada SNI 03-2134-1996. Pengujian genteng keramik berglasir ini dilakukan pada tanggal 13 Februari 2012 sampai dengan 13 April 2012. Pengujian ini dilaksanakan di Laboratorium Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Trenggalek. Pengujian ini meliputi: pengujian pandangan luar, pengujian beban lentur, pengujian peresapan air, dan pengujian ketahanan terhadap kejut suhu. Dari hasil pengujian pandangan luar genteng keramik berglasir sudah memenuhi standar, karena permukaan glasir sudah seragam,bebas dari retak, dan warna glasir sudah merata. Untuk pengujian peresapan air genteng keramik berglasir sudah memenehi standar karena dalam pengujian di dapat nilai 17%, sedangkan dalam SNI 03-2134-1996 genteng keramik berglasir mempunyai persapan air maksimum 18% sehingga tidak terjadi peresapan. Dan untuk pengujian ketahanan terhadap kejut suhu genteng keramik berglasir sudah memenuhi standar yang ditentukan oleh SNI 03-2134-1996 karena tidak ada keretaan pada permukaan genteng. Untuk pengujian beban lentur genteng keramik berglasir belum memenuhi standar. Karena dalam pengujian di dapatkan nilai 713 N. Sedangkan dalam SNI 03-2134-1996 genteng keramik harus mempunyai beban lentur minimum 1180 N sehingga jauh dari standar.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |