Hubungan antara pemanfaatan sumber belajar dengan keefektifan proses pembelajaran di Lembaga PAUD se-kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Dian Puji Astuti

 

Kata Kunci: Pemanfaatan Sumber Belajar, Keefektifan Proses Pembelajaran Sumber belajar merupakan salah satu aspek atau komponen yang terpenting dalam proses pembelajaran guna membantu meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia untuk menuju ke dalam kehidupan yang lebih baik. Dalam usaha meningkatkan kualiatas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran, sebaiknya tidak melupakan satu hal yang sudah pasti keberadaannya, yaitu bahwa peserta didik maupun pendidik harus banyak beriteraksi dengan sumber belajar. Yang menjadi sasaran dalam pencapaian hasil belajar dalam mencapai perubahan tingkah laku ada tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar manusia dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (2) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar perpustakaan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (3) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar mass media dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (4) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar alam lingkungan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (5) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar alat pengajaran dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik (6) Untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan sumber belajar museum dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Rancanagan Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 46 responden. Hasil penelitian ini adalah (1) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar manusia dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, (2) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar perpustakaan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif , afektif maupun psikomotorik (3) terdapati hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar media massa dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif , afektif maupun psiokomotorik, (4) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dalam lingkungan dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, (5) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar alat pengajaran dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik, (6) terdapat hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar museum dengan keefektifan proses pembelajaran dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang penelii ajukan adalah: (1) Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh dalam keberhasilan belajar bagi peserta didik. Dapat dilihat dari segi pembelajarn, teman, pendidik, serta media dan sumber belajar yang ada. Diharapkan Lembaga menyediakan dan memanfaatkan sumber belajar yang berasal dari media massa, dalam lingkungan serta museum agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. (2) Pendidik sebagai pembelajar bagi anak, juga sebagai penganti orang tua disekolah harus mampu memberikan pembelajaran yang baik bagi anak. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran, diharapkan para pendidik PAUD dapat memanfaatkaan sumber belajar yang telah ada terutama sumber belajar media massa, dalam lingkungan serta museum agar pembelajaran dapat berhasil baik dalam ranah kognitig, afektif maupun psikomotorik. (3) Sebagai pemberdayaan masyarakat, berkaitan dengan permasalahan ini hendaknya PLS lebih memantau keadaan Lembaga PAUD dan memberikan pelatihan-pelatihan terutama mengenai tentang pembelajaran serta dalam upaya peningkatan mutu pendidik dan kependidikan bagi Lembaga PAUD.

Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang bercirikan Realistic Mathematics Education (RME) pada materi untuk SMP kelas VIII / Rohmat Yusufa

 

Kata Kunci: Lembar Kerja Siswa (LKS), RME, Lingkaran. Ketersediaan LKS matematika untuk SMP yang beredar dipasaran saat ini tidak dapat ditemukan. Oleh karena itu, perlu disusun dan dikembangkan LKS yang berkualitas menurut kriteria tertentu. LKS yang akan dikembangkan menggunakan salah satu pendekatan pembelajaran yang akan menggiring siswa memahami konsep matematika dengan mengkontruksi sendiri melalui pengetahuan sebelumnya yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya, menemukan sendiri konsep tersebut sehingga belajarnya menjadi bermakna. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan LKS bercirikan RME yang valid sehingga dapat digunakan dalam mendukung proses pembelajaran di kelas pada materi keliling dan luas lingkaran. Model pengembangan LKS pada penelitian ini mengacu pada model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang telah dimodifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut, 1) penyederhanaan model yang sebelumnya terdapat empat tahap menjadi tiga tahapan saja yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), dan pengembangan (develop), hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu serta biaya, 2) tidak semua tahapan pada model 4-D digunakan karena disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan bahan ajar yang berupa LKS. Berdasarkan hasil validasi yang telah diuraikan pada Bab IV, secara keseluruhan produk LKS yang dikembangkan dinyatakan valid menurut penilaian validator ahli dan praktisi dan validator user. Jadi dapat disimpulkan bahwa LKS yang dikembangkan memenuhi kriteria baik. Disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk mengujicobakan LKS ini kepada siswa dalam kelompok yang lebih besar dengan menerapkan tiga prinsip dan lima karakteristik RME secara utuh.

Pengembangan media pembelajaran interaktif sains kelas IV semester 1 pokok bahasan sumber daya alam di SDN Tanjungrejo 1 Malang / Bram Nugroho Bagus Permadi

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media pembelajaran interaktif, Sains. Media pembelajaran interaktif adalah media yang dapat berinteraksi secara langsung dengan pebelajar dan dapat diputar kembali sesuai keinginan pebelajar. Dengan media interaktif pembelajar menjadi lebih aktif dalam mengikuti informasi materi yang terdapat di media tersebut, karena interaktif memiliki komunikasi yang bersifat dua arah. Berdasarkan hasil observasi diperoleh data: (1) kegiatan pembelajaran di SDN Tanjungrejo 1 Malang cenderung pada proses pembelajaran teacher centered, (2) guru hanya menggunakan media berupa buku, sehingga anak cepat bosan. Cara pembelajaran dan media yang dipakai tersebut menurut peneliti kurang efektif untuk digunakan pada kegiatan pembelajaran Sains, untuk itu peneliti berupaya mengembangkan media pembelajaran berupa media pembelajaran interaktif yang dikemas dalam bentuk Compact Disk (CD), sehingga dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan. Tujuan penelitian dan pengembangan media pembelajaran interaktif yaitu untuk menghasilkan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran Sains pokok bahasan Sumber Daya Alam untuk siswa kelas IV di SDN Tanjungrejo 1 Malang yang dapat membantu proses kegiatan belajar mengajar dan mempermudah penyampaian materi pelajaran yang lebih efektif dan efisien serta dapat memotivasi siswa dalam menerima pelajaran. Prosedur pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif adalah menggunakan model pengembangan ADDIE,yaitu: 1) Melakukan analisis kebutuhan, 2) Mendesain media pembelajaran interaktif, 3) Mengembangan produk, 4) Melaksanakan implementasi, 5) Melakukan evaluasi. Intrumen yang digunakan adalah berupa angket berisi tentang rancangan produk,melakukan test hasil belajar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif berupa persentase. Hasil penelitian dan pengembangan ini diperoleh 85% untuk hasil validasi ahli media, 86,6% untuk hasil validasi ahli materi, 93,3% untuk hasil uji coba perseorangan,89,3 untuk hasil uji coba kelompok kecil, dan 91,8% untuk hasil uji coba lapangan,sedangkan pada test hasil belajar perseorangan diperoleh hasil yaitu 86,7%,test hasil belajar kelompok kecil 88%,dan test hasil belajar lapangan 87%.Berdasarkan hasil tersebut media pembelajaran interaktif digolongkan dalam kriteria layak untuk digunakan. Berdasarkan hasil validasi, dan test hasil belajar disimpulkan bahwa media pembelajaran interaktif layak untuk digunakan. Disarankan media pembelajaran interaktif dikembangkan lebih baik lagi, tepat guna, dan tepat sasaran sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. dalam Pengembangan media interaktif Sains Pokok Bahasan Sumber Daya Alam perlu ada perbaikan dalam penambahan video dan animasi.

Korelasi antara suseptibilitas magnetik dengan unsur logam berat pada sekuensi tanah di Pujon, Malang / Dian Farida Rosanti

 

Kata Kunci: Suseptibilitas magnetik, unsur logam berat, korelasi Suseptibilitas magnetik tanah berhubungan erat dengan keberadaan mineral magnetik. Mineral magnetik dalam tanah terbentuk dari dua sumber, yaitu mineral yang hadir secara alami dan mineral yang berasal dari proses anthropogenic (industri). Penelitian ini menggunakan sampel dua kolom dari profil sekuensi tanah di Pujon,Malang, yang diuji dengan suseptibilitas magnetik dan alat X-Ray Flourscene (XRF). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi data dan kecocokan pola serta bentuk grafik antara suseptibilitas magnetik dengan unsur logam berat sebagai indikator pembawa mineral magnetiknya. Rentang nilai suseptibilitas magnetik pada penelitian ini adalah sebesar 695,90 x 10-8 m3/kg – 2432,30 x 10-8 m3/kg. Sementara itu logam berat yang terdeteksi dari XRF didominasi logam besi (Fe) dengan persentase rata-rata sebesar 40,9%. Logam berat lainnya seperti Mn, Fe, Cu, Zn, dan Pb juga terukur dengan persentase rata-rata kurang dari 10%. Korelasi matematis suseptibilitas magnetik antara sampel dalam kedua kolom pada pemberian frekuensi tinggi yaitu sebesar 0,7. Koefisien korelasi terbesar dari suseptibilitas magnetik dan persentase logam berat ditunjukkan dari nilai yang kecil hingga negatif. Hal ini berarti sebagian besar mineral magnetik dibawa oleh alam, daripada anthropogenic.

Peningkatan pembelajaran gerak dasar melempar dan menangkap menggunakan metode bermain pada siswa kelas 3 Bagian C (tunagrahita) Sekolah Dasar Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional Lawang / Mohammad Zainuri

 

Kata kunci: Peningkatan, Pembelajaran, Gerak Dasar Melempar dan Menangkap, Metode Bermain, Tunagrahita Praktek pembelajaran Penjasorkes di SDLB Pembina Tingkat Nasional Lawang masih belum maksimal Hal ini bisa dilihat dari hasil observasi awal, diperoleh hasil bahwa pembelajaran gerak melempar dan menangkap siswa kelas III bagian C (tunagrahita) ternyata kesalahan yang banyak muncul adalah sikap kaki, sikap tangan dan proses pembelajaran yang membosankan. Jumlah siswa kelas III Bagian C adalah 6 siswa, dari hasil observasi yang telah diperoleh 6 siswa mengalami kesulitan antara lain siswa kurang menguasai teknik melempar dan menangkap dengan benar, siswa mudah merasa bosan dengan pembelajaran Penjasorkes, siswa cenderung seenaknya sendiri dan siswa lebih senang dengan kegitan bermain. Oleh karena itu perlu adanya penyampaian materi dengan metode baru yaitu dengan metode bermain yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Penjasorkes. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pembelajaran gerak dasar melempar dan menangkap menggunakan metode bermain pada 6 siswa kelas III Bagian C (Tunagrahita) Sekolah Dasar Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus di mana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah 6 siswa kelas III Bagian C (Tunagrahita). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan keterampilan siswa dari pertemuan ke pertemuan. Pada siklus I ternyata semua siswa sudah memenuhi standar ketuntasan minimal yaitu di atas 76. Dari hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan terhadap penguasaan materi. Meskipun pada siklus I semua siswa sudah memenuhi standar ketuntasan minimal namun siklus II tetap dilakukan sebagai pemantapan materi gerak dasar melempar dan menangkap. Selain hal tersebut diperoleh hasil persentase keberhasilan sebagai berikut: aspek psikomotor 47,91%, aspek afektif 27,67%, aspek kognitif 17,50% dan apabila dijumlah hasil keberhasilan siswa mencapai 93,08%. Peneliti menyarankan bagi guru bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan dan model pembelajaran gerak dasar melempar dan menangkap yang sudah diperbaiki, bagi siswa digunakan sebagai pedoman belajar, bagi sekolah digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran Penjasorkes dan bagi peneliti dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian yang berkaitan dengan materi pada skripsi ini.

Pengembangan senam aerobik dengan kombinasi tarian cha-cha menggunakan media audio visual di Sanggar Senam GOR (SSG) Lumajang / Anggun Kartika Sari

 

Kata kunci: pengembangan, senam aerobik, tarian cha-cha, media audio visual, Sanggar Senam Gor Lumajang Senam aerobik merupakan salah satu cabang olahraga yang menyenangkan karena gerakannya dipadukan dengan musik. Peminat dari senam aerobik adalah kebanyakan dari kaum wanita karena ingin memiliki tubuh yang kencang dan indah. Senam aerobik yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu sangat monoton dan membuat bosan, selain itu ibu-ibu sering merasa sulit mengingat dengan gerakan yang telah diajarkan oleh instruktur jika akan melakukan sendiri di rumah . Untuk itu perlu variasi gerakan yang menarik untuk dikombinasikan dengan senam aerobik dalam bentuk VCD sebagai media panduan belajar.Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat produk VCD yang berisi pengembangan rangkaian senam aerobik yang dikombinasikan dengan tarian cha-cha. Pengembangan senam aerobik ini merupakan kombinasi dari teknik dasar senam aerobik dan teknik dasar tari cha-cha yang disusun menjadi satu rangkaian gerakan, yang terdiri dari: (1) pemanasan, (2) inti yang terdiri dari 3 rangkaian dan setiap jeda gerakan inti ada gerakan peralihan, (3) pendinginan yang ditampilkan dalam bentuk media audio-visual yaitu VCD. Senam aerobik ini diberi nama Senam Aerobik Kombinasi Tarian Cha-Cha. Pengembangan senam aerobik ini menggunakan model pengembangan instruksional yang lebih spesifik untuk VCD dari Sadiman (2003:38) yang dimodifikasi dengan prosedur pengembangan oleh peneliti sebagai berikut: (1) ide, (2) analisis kebutuhan (3) penulisan naskah, evaluasi dan revisi, (4) produk prototipe, pengambilan gambar, (5) evalusi 3 ahli, (6) revisi produk awal, (7) uji kelompok kecil dengan menggunakan 5 subyek, (8) revisi produk utama, (9) uji lapangan dengan menggunakan 25 subyek, (10) revisi produk akhir, (11) hasil akhir. Subyek uji coba dalam pengembanagn senam aerobik ini terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 1 ahli senam aerobik, 1 ahli ahli tari, 1 ahli media, (2) member senam aerobik sebagai kelompok uji coba dengan jumlah 5 orang untuk uji coba kelompok kecil dan 25 orang untuk uji coba kelompok besar. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket dan analisis yang digunakan adalah persentase. Hasil pengembangan Senam Aerobik Kombinasi Tarian Cha-Cha memenuhi kriteria cukup valid untuk ahli senam aerobik memperoleh 75,00%, memenuhi kriteria valid untuk ahli tari memperoleh 81,67%, memenuhi kriteria valid untuk ahli media memperoleh 91,67%, memenuhi kriteria valid untuk uji coba kelompok kecil 85,33%, dan memenuhi kriteria valid untuk uji coba kelompok besar memperoleh 81,33%. Ini berarti pengembangan senam ini bisa diterapkan di sanggar dan menjadi senam model baru yang menarik. Untuk perbaikan pengembangan Senam Aerobik Kombinasi Tarian Cha-Cha diharapkan ada peneliti lain yang menindak lanjuti tentang kefektifannya agar dapat lebih bermanfaat dan diharapkan dapat disosialisasikan di sanggar-sanggar kebugaran.

Pembuatan yoghurt dengan penambahan buah alpukat / Raslianti Ikhlasiah HS.

 

Kata Kunci: yoghurt, buah alpukat, uji kesukaan Yoghurt adalah produk yang diperoleh dari susu yang telah dipasteurisasi, kemudian difermentasikan dengan bakteri tertentu sampai diperoleh keasaman, bau, dan rasa yang khas dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diizinkan. Minuman ini memiliki bentuk yang mirip ice cream atau bubur halus yang sangat digemari banyak orang karena rasa, aroma, dan teksturnya yang khas, menyegarkan dan sangat bermanfaat bagi kesehatan. Buah alpukat merupakan buah yang memiliki nilai nutrisi, kandungan lemak dan nilai energi buah yang tinggi. Kandungan lemak yang terdapat dalam buah alpukat sebagian besar 63% merupakan asam lemak tak jenuh tunggal yang lebih dibutuhkan oleh tubuh manusia. Lemak pada alpukat bersifat antioksidan yang sangat berguna untuk mencegah kerusakan arteri akibat keganasan kolestrol LDL (Low Density Lopoprotein). Kandungan serat dan glutationnya membantu sistem pencernaan dan membuang sisa pencernaan yang beracun. Daging buah alpukat kaya akan zat besi, vitamin A, vitamin B serta Energi dalam 100 gr daging alpukat juga banyak sekitar 600-800 kj/100 gr. Uji coba diawali dengan penimbangan bahan, penghalusan alpukat, pasteurisasi, penambahan alpukat, kulturisasi (penambahan bakteri), inkubasi 7 jam. Proses selanjutnya adalah dengan uji coba formulasi resep yang dilakukan sebanyak 3 kali hingga didapatkan hasil formulasi resep yang tepat. Formulasi ke 3 dengan penanganan buah alpukat yang tepat dan proses fermentasi yang tepat hasil yang diperoleh yaitu rasa asam/khas, aroma normal/khas dan warna hijau muda. Tugas akhir ini membahas tentang uji kesukaan terhadap yoghurt alpukat. Adapun kriteria yang diuji dari segi rasa, aroma, dan warna. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa sebagian kecil 11 responden (12.3%) menyukai rasa asam yoghurt alpukat, Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa kurang dari setengah 23 responden (25,6%) menyukai aroma normal/khas yoghurt alpukat, dan Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa lebih dari setengah 63 responden (70%) menyukai warna hijau muda yoghurt alpukat.

Persepsi stakeholder pendidikan terhadap kebijakan penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 5 Malang / Retno Palupi

 

Palupi, Retno. 2013. Persepsi Stakeholder Pendidikan Terhadap Kebijakan Penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional Di Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Pekantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra.Wasiti, S.Sos, M.Si. (2) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd, M.M. Kata Kunci : RSBI, perubahan, dampak, persepsi stakeholder pendidikan, kendala. Latar belakang penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 20 Pasal 50 ayat 3 tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat membuat Rintisan Sekolah Bertaraf Internsional dihapuskan dan sekolah menjalankan perubahan sesuai dengan kebijakan Mahkamah Konstitusi pada surat edaran nomor : 017/MPK/SE/2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan, dampak, persepsi dan kendala yang dihadapi stakeholder pendidikan setelah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik kualitatif dan data diperoleh melalui wawancara kepada stakeholder pendidikan, yaitu kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua siswa SMA Negeri 5 Malang yang merasakan penerapan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Berdasarkan hasil penelitian, kebijakan penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional membawa perubahan terhadap indikator penilaian kinerja seperti indikator kurikulum, indikator proses pembelajaran, indikator proses penilaian pembelajaran yang kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia dan peran Dinas Pendidikan dalam masalah pembiayaan. Semua itu membawa dampak pelaksanaan pembelajaran lebih baik karena tidak ada beban bahasa, beban biaya, beban waktu yang menjadi keluhan selama ini serta guru dan siswa lebih paham dalam memahami materi. Penelitian ini juga membuktikan persepsi stakeholder pendidikan yang setuju dengan kebijakan penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dengan alasan pelaksanaan kebijakan nasional yang sudah ditetapkan, adanya beban jam mengajar, beban bahasa, beban biaya yang menimbulkan adanya keluhan. Kendala yang dihadapi SMA Negeri 5 Malang saat berstatus RSBI adalah beban biaya yang mahal menjadi keluhan orangtua, beban bahasa bilingual membuat guru terbebani dan siswa tidak maksimal memahami materi, dan pemenuhan sarana-prasarana bertaraf internasional yang harganya cukup mahal. Sedangkan kendala pada saat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dihapuskan adalah peran Dinas Pendidikan yang tidak lagi memberikan bantuan biaya. Saran untuk menghadapi perubahan,dampak, dan kendala, sekolah harus memiliki suatu pelaksanaan pengajaran yang tepat di sekolah yang bertujuan meningkatkan kualitas menuju Go Internasional meskipun tanpa menggunakan status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dengan cara mempertimbangkan dari segala segi.

Penerapan storytelling untuk meningkatkan kemampuan bahasa pada anak kelompok B TK ABA 2 Pakisaji Malang / Ika Damayanti

 

Kata Kunci: storytelling, kemampuan bahasa, anak TK B Latar belakang penelitian ini berawal dari rendahnya kemampuan bahasa anak kelompok B di TK ABA 2 Pakisaji dengan rentang usia 5-6 tahun. Berdasarkan observasi pra tindakan yang dilakukan peneliti pada kemampuan bahasa anak kelompok B di TK ABA 2 dalam mendengarkan cerita dan menceritakan kembali, menceritakan gambar sangat rendah. Hal ini dikarenakan guru tidak pernah mengunakan media dalam bercerita, sehingga membuat anak kurang tertarik dalam kegiatan bercerita. Penelitian ini dilaksanakan di TK ABA 2 Pakisaji Malang dengan rumusan masalah bagaimana penerapan storytelling untuk meningkatkan kemampuan bahasa pada anak kelompok B Tk ABA 2 Pakisaji Malang dan apakah penerapan storytelling dapat meningkatkan kemampuan bahasa apada anak kelompok B TK ABA 2 Pakisaji Malang. Jenis penelitian ini adalah model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Masing-masing siklus meliputi perencanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B TK ABA 2 yang terdiri dari 7 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, lembar penilaian dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) storytelling menggunakan buku cerita bergambar dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak, (2) storytelling dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak. Kemampuan bahasa tersebut dapat diuji dengan menggunakan standar penilaian. Standar penilaian ditentukan dalam 2 ketuntasan yaitu klasikal dan individu. Kesimpulan penelitian ini dapat diketahui bahwa storytelling menggunakan buku cerita bergambar dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak. Hal ini terlihat dari hasil yang diperoleh pada pra tindakan mencapai 34,9%, meningkat pada siklus mencapai I 46,8%, meningkat pada siklus II mencapai 75%. Disarankan bagi guru/lembaga serta peneliti selanjutnya, agar menerapkan storytelling lebih menarik lagi. Bagi penelitian lebih lanjut diharapkan dapat menggunakan metode bercerita dengan bidang kemampuan yang lainnya, sehingga mendapatkan temuan baru dan yang lebih signifikan.

Studi tentang komposisi komunitas gastropoda di ekosistem mangrove desa Padekan Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan / Jamilah Attubel

 

Kata kunci : komposisi komunitas, Gastropoda, ekosistem mangrove Gastropoda yang hidup di ekosistem mangrove memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi karena faktor lingkungan yang ekstrim sehingga dapat dijumpai Gastropoda dengan komposisi komunitas yang khas dan memiliki karakter yang berbeda dengan komunitas Gastropoda yang ditemukan di ekosistem lain. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui komposisi komunitas Gastropoda (yaitu dengan menghitung nilai indeks keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan) serta interaksi faktor-faktor abiotik terhadap komposisi komunitas Gastropoda (dianalisis dengan Multiple Regression Analyze) di ekosistem mangrove Desa Padekan Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Pengambilan data diakukan pada bulan Maret-April dengan membuat 10 transek sepanjang garis pantai dengan 10 plot (berukuran 5 x 5 m2) pada tiap transek, menghitung jumlah Gastropoda yang ditemukan dan mengambil sampel untuk identifikasi serta mengukur faktor abiotik pada lokasi tersebut, sedangkan identifikasi dilakukan di Laboratoriun Ekologi Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian ini, pertama, ditemukan 13 spesies Gastropoda dengan indeks keanekaragaman, kemerataan, dan kekayaan yang tergolong rendah. Kedua, faktor lingkungan yang berpengaruh signifikan (namun dengan pengaruh yang relatif sangat kecil) terhadap komposisi komunitas gastropoda yaitu suhu air 12,14%, pH tanah 3,86%, salinitas 3,47% dan DO 6,68%.

Penerapan pembelajaran kontekstual model react sebagai upaya meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII C SMP Negeri 4 Malang / Dwi Reni Ridhowati

 

Kata Kunci : kontekstual, REACT, kognitif, psikomotor, afektif Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di kelas VIII C SMP Negeri 4 Malang diperoleh permasalahan bahwa hasil belajar siswa rendah. Penilaian yang dilakukan guru selama ini lebih cenderung pada kemampuan kognitif saja, kemampuan psikomotor dan afektif siswa jarang dinilai. Model pembelajaran REACT dapat memberikan penilaian pada ketiga aspek tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Tindakan yang diberikan adalah Penerapan Pembelajaran Kontekstual Model REACT. Penelitian dilakukan pada semester genap SMP Negeri 4 Malang dengan subjek penelitian kelas VIII C jumlah 36 siswa. Instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi untuk mengukur keterlaksanaan pembelajaran, lembar penilaian afektif dan lembar penilaian psikomotor. Hasil belajar ranah kognitif siswa diukur dengan menggunakan instrumen penilaian berupa tes tertulis. Hasil yang didapatkan dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Keterlaksanaan pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 88,40% menjadi 98,15% pada siklus II. Ketuntasan hasil belajar kognitif siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 42,86% menjadi 75,76% pada siklus II. Ketuntasan hasil belajar psikomotor siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 88,41% menjadi 98,12% pada siklus II. Dan ketuntasan hasil belajar afektif siswa meningkat dari siklus I 80,02% menjadi 97,99% pada siklus II. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran REACT dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Tindak tutur direktif dalam wacana kelas (kajian mikroetnografi terhadap bahasa guru) / Dian Etikasari

 

Kata Kunci: tindak tutur direktif, wacana kelas, bahasa guru Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia dalam kehidupannya. Keberadaan bahasa diharapkan dapat membantu manusia untuk memperlancar segala jenis kegiatannya. Semua profesi dan aktivitas dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari penggunaan bahasa. Salah satunya adalah guru yang menggunakan bahasa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, penggunaan bahasa merupakan realitas interaksi komunikasi yang berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar. Guru dalam kegiatan berkomunikasi tersebut harus mampu berkomunikasi dengan baik untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa sehingga menjadi siswa yang aktif. Dalam mewujudkan keaktifan siswa dalam pembelajaran guru harus mampu mengelola kelas dengan baik disertai dengan tindak berbahasa yang mampu menumbuhkan keterampilan dan semangat siswa dalam pembelajaran. Satu diantara wujud tindak bahasa yang tidak kalah penting adalah tindak tutur direktif . Tindak tutur direktif merupakan salah satu usaha untuk memancing respon siswa agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran di kelas yang nantinya akan bermanfaat bagi siswa. Dalam penelitian ini terkait dengan tindak tutur direktif dalam wacana kelas permasalah yang dibahas dalam penelitian ini meliputi tiga hal, yaitu (1) bagaimana bentuk tindak tutur direktif guru dalam wacana kelas, (2) bagaimana fungsi tindak tutur direktif dalam wacana kelas terkait proses pembelajaran, dan (3) bagaimana konteks tindak tutur direktif dalam wacana kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian mikroetnografi yang berorentasi pada teori pragmatik. Penelitian ini digunakan untuk memotret penggunaan bahasa guru dalam wacana kelas selama proses pembelajaran. Data penelitian ini berupa tuturan guru yang diindikasikan sebagai tindak tutur direktif dalam wacana kelas. Data tersebut diperoleh dari tuturan guru kelas II SDN Sumbersari 3 Malang. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu, kehadiran peneliti wajid ada selama proses penelitian (pengumpulan data). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan camera digital untuk merekam tuturan guru dan alat tulis untuk mencatat konteks peristiwa tutur. Pada pengumpulan dat, peneliti menggunakan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, yaitu peneliti tidak terlibat dalam interakasi komunikasi antara guru dan siswa, peneliti hanya menjadi pengamat penuh dalam penggunaan bahasa guru dalam pembelajaran di kelas. Dari hasil penelitian tindak tutur direktif guru dalam wacana kelas dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, bentuk tindak tutur direktif dalam wacana kelas meliputi (1) bentuk tindak tutur direktif suruhan, (2) bentuk tindak tutur direktif memerintah, (3) bentuk tindak tutur direktif meminta, (4) bentuk tindak tutur direktif ajakan, (5) bentuk tindak tutur direktif desakan, (6) tindak tutur direktif larangan, (7) bentuk tindak tutur direktif menyarankan, dan (8) bentuk tindak tutur direktif bujukan. Kedua, penggunaan fungsi tindak tutur direktif dalam wacana kelas, meliputi (1) fungsi tindak tutur direktif suruhan dalam proses pembelajaran, (2) fungsi tindak tutur direktif memerintah dalam proses pembelajaran, (3) fungsi tindak tutur direktif meminta dalam proses pembelajaran, (4) fungsi tindak tutur direktif ajakan dalam proses pembelajaran, (5) fungsi tindak tutur direktif desakan dalam proses pembelajaran, (6) fungsi tindak tutur direktif larangan dalam proses pembelajaran, (7) fungsi tindak tutur direktif menyarankan dalam proses pembelajaran, dan (8) fungsi tindak tutur direktif bujukan dalam proses pembelajaran. Ketiga, Konteks tindak tutur direktif dalam wacana kelas ditemukan pada kegiatan pendahuluan, inti, dan akhir pada pembelajaran meliputi (1) kegiatan pendahaluan terdiri dari (a) tindak tutur direktif dalam wacana kelas pada konteks menyiapkan kondisi kelas, (b) tindak tutur direktif ajakan dalam wacana kelas pada konteks apersepsi, (c) tindak tutur direkti bujukan dalam wacana kelas pada konteks menyampaikan salam dan memberikan perhatian; (2) pada konteks kegiatan inti terdiri dari (a) tindak tutur direktif suruhan dalam wacana kelas pada konteks mengevaluasi hasil tugas, (b) tindak tutur direktif suruhan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan konsep materi, (c) tindak tutur direktif memerintah dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan contoh, (d) tindak tutur direktif meminta dalam wacana kelas pada konteks memberikan perhatian dan motivasi, (e) tindak tutur direktif ajakan dalam wacana kelas pada konteks mengevaluasi hasil latihan, (f) tindak tutur direktif desakan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan contoh, (g) tindak tutur direktif desakan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan konsep materi, (h) tindak tutur direktif larangan dalam wacana kelas pada konteks kedisiplinan, (i) tindak tutur direktif bujukan dalam wacana kelas pada konteks menjelaskan contoh, selanjutnya (3) pada kegiatan akhir ditemukan tuturan direktif, yaitu tindak tutur direktif desakan dalam wacana kelas pada konteks mengevaluasi tugas siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh guru SD dalam memilih dan menggunakan tindak tutur direktif dalam bentuk, fungsi, dan konteks dalam pembelajaran serta guru membiasakan menggunakan bahasa yang baku dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, komunikasi antara guru dan siswa sebagai salah satu bentuk membangun komunikasi yang sehat sehingga siswa memeroleh pembelajaran yang bermakna. Selain itu, kepala sekolah dan guru mampu bekerja sama untuk merencanakan pembelajaran yang lebih baik disertai dengan kemampuan berbahasa yang baik sehingga mampu memotivisi siswa dalam pembelajarannya.

Peningkatan kemampuan kognitif melalui kegiatan bermain lompat angka berantai pada anak kelompok A TK Dharma Wanita Lirboyo Kota Kediri / I'in Suhartiningsih

 

Kata Kunci: kemampuan kognitif, anak usia dini, bermain lompat angka berantai Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan kognitif anak dalam menyebutkan urutan bilangan dan membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan) sampai 10 di TK Dharma Wanita Lirboyo Kota Kediri. Hal ini disebabkan karena anak hanya hafal urutan bilangan tanpa mengetahui konsep dari bilangan itu sendiri. Guru terlihat monoton dalam memilih metode dan media yang digunakan untuk pembelajaran kognitif. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui bagaimana penerapan kegiatan Bermain Lompat Angka Berantai dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Dharma Wanita Lirboyo 2) Untuk mengetahui apakah kegiatan Bermain Lompat Angka Berantai dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Dharma Wanita Lirboyo. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelompok A TK Dharma Wanita Lirboyo Kota Kediri yang berjumlah 20 siswa. Tehnik pengumpulan data menggunakan observasi dan unjuk kerja selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus. Pada siklus pertama terdiri dari 2 pertemuan, sedangkan pada siklus kedua terdiri dari 2 pertemuan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan penelitian, observasi dan refleksi. Metode yang digunakan yaitu metode praktik langsung melalui kegiatan bermain lompat angka berantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah – langkah pelaksanaan kegiatan lompat angka berantai yaitu: a) Mengajak anak untuk mengenal bilangan 1-10 b) Memperkenalkan permainan lompat angka berantai c) Menjelaskan tentang manfaat bermain lompat angka berantai d) Menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan bermain lompat angka berantai e) Membagi anak-anak menjadi dua kelompok agar pelaksanaan kegiatan dapat terlaksana secara optimal f) Kegiatan lompat angka berantai dilaksanakan secara kompetisi agar anak-anak lebih bersemangat. Selain itu permainan lompat angka berantai mampu meningkatkan kemampuan kognitif terutama dalam menyebutkan urutan bilangan serta membilang dengan menunjuk benda sampai 10, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada setiap siklusnya.Temuan penelitian ini disarankan kepada:Kepala sekolah untuk menyediakan sarana bagi guru dan mendorong guru lain untuk menerapkan permainan lompat angka berantai serta mengembangkan menjadi permainan yang lebih inovatif.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis learning cycle 5E pada materi kromatografi lapis tipis untuk kelas X Program Keahlian Teknik Kimia di SMK Negeri 7 Malang / Erviyana Rahmawati

 

Kata kunci: bahan ajar, kromatografi lapis tipis, model Learning Cycle 5E. Program Keahlian Teknik Kimia merupakan salah satu program keahlian/kejuruan yang ada di SMK Negeri 7 Malang. Dari hasil observasi di SMK Negeri 7 Malang Program Keahlian Teknik Kimia, diketahui bahwa terdapat permasalahan berupa rendahnya pemahaman siswa pada materi kromatografi lapis tipis. Hal tersebut didukung dengan data hasil belajar siswa kelas X yaitu 61,11% siswa nilainya berada di bawah standar ketuntasan minimal (SKM). Hasil wawancara dengan guru kimia menyatakan bahwa perlu adanya pengembangan bahan ajar dan alternatif model pembelajaran. Salah satu alternatifnya adalah model pembelajaran Learning Cycle 5E. Tujuan penelitian adalah mengembangkan dan mengetahui kelayakan bahan ajar kimia berbasis Learning Cycle 5E pada materi kromatografi lapis tipis untuk kelas X Program Keahlian Teknik Kimia di SMK Negeri 7 Malang. Pada penelitian ini, model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan yaitu 4-D. Model pengembangan 4-D terdiri dari empat tahapan yaitu define (perencanaan), design (rancangan), develop (pengembangan), disseminate (penyebarluasan). Namun peneliti hanya melakukan sampai tahap ketiga. Produk yang dikembangkan oleh peneliti berupa bahan ajar cetak yaitu buku ajar kromatografi lapis tipis dan RPP. Produk hasil pengembangan diuji coba untuk mengetahui kelayakannya, melalui validasi isi produk (buku ajar dan RPP) dan uji coba soal. Produk yang telah divalidasi kemudian direvisi. Produk yang telah direvisi kemudian di crosscheck kepada guru kimia SMK Negeri 7 Malang untuk mengetahui kesesuaian produk yang telah dikembangkan. Hasil validasi buku ajar oleh satu dosen kimia menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,46 yang berarti sangat valid sedangkan dari dua guru kimia menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,10 yang berarti valid, dan hasil uji terbatas menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,53 yang berarti sangat valid. Hasil validasi RPP menunjukkan nilai rata-rata 3,13 yang berarti valid. Berdasarkan hasil analisis data dan hasil crosscheck oleh guru kimia, dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan layak untuk digunakan.

Kajian implementasi model pembelajaran generatif dengan tugas ope ended dan close ended terhadap prestasi, keterampilan proses dan sikap belajar mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang / Zuffa Anisa

 

Kata Kunci: Pembelajaran Generatif, Tugas Open Ended, Tugas Close Ended, Keterampilan Proses, Sikap Belajar Fisika Dasar merupakan matakuliah yang menjadi dasar untuk melanjutkan mata kuliah-mata kuliah lain, namun kemampuan awal Fisika mahasiswa Fisika Dasar rendah. Hal ini terlihat dari hasil pre-test yang rendah Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan, mahasiswa merasa bahwa fisika itu sulit karena terlalu banyak rumus. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan konsep fisika masih rendah. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa sikap dan keterampilan proses mahasiswa rendah. Saat pembelajaran berlangsung mahasiswa hanya diam bahkan terlihat tidak tertarik saat mengikuti perkuliahan. Bahkan ketika dosen berupaya untuk berinteraksi, mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa, mahasiswa tidak kunjung menjawab secara aktif. Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar, keterampilan proses, dan sikap mahasiswa perlu dilakukan. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran tepat yang dapat meningkatkan keterampilan proses dan sikap belajar sehingga menyebabkan prestasi belajar meningkat. Dalam penelitian ini peneliti mencoba membandingkan model pembelajaran dengan pemberian tugas open ended dan close ended. Pembelajaran generatif dengan tugas close ended masih tetap diberikan karena melihat kemampuan awal dan penguasaan konsep yang masih rendah. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa model pembelajaran dengan pendekatan open ended dapat meningkatkan pemahaman, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar. Oleh karena itu peneliti mencoba membandingkan 2 model pembelajaran tersebut dan menerapkan kepada mahasiswa Fisika Dasar untuk meningkatkan prestasi, keterampilan proses, serta sikap belajar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian semu (quasi experiment design). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fisika angkatan 2010 tahun ajaran 2011/2012 Universitas Negeri Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas C dan M. Kelas C terdiri dari 34 mahasiswa sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas M terdiri dari 37 mahasiswa sebagai kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa terdapat perbedaan prestasi, keterampilan proses dan sikap belajar yang signifikan antara mahasiswa yang diajar dengan model pembelajaran generatif dengan tugas open ended dan close ended. Prestasi, keterampilan proses, dan sikap belajar mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran generatif dengan tugas open ended lebih baik dari pada mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran close ended.

The use of games in teaching english at SMAN 2 Pare / Lusi Dyah Ayu M.P.W.

 

Keywords: Games, Teaching of English. English has been the most spoken language in the world and been used for global communication. The teaching of English in Indonesia has been advocated to foster students’ ability in mastering the four skills; they are listening, speaking, reading, and writing. Teaching English as a foreign language is a hard task since students practically do not use it every day. Therefore it is clear that a constant effort is required. Teachers need to take up the challenges by having permanent recourse to enhance students’ desire in learning the language for example by using games as an effective way. Therefore the study on the use of games in teaching English is worth conducting. This study is undertaken to describe the use of games in teaching at SMAN 2 Pare. It deals with three aspects. They are (1) kinds of games used and the implementation (2) the problems faced in using games in teaching English including the four skills which are listening, speaking, reading, and writing (3) and the students’ opinions toward the use of games in teaching the four skills in English. This study employed a descriptive-qualitative design specifically case study. The data were obtained through some instruments, namely interview guide, observations, and questionnaire. In analyzing the data the researcher used three processes namely data reduction, data display, and data interpretation. The setting of the study was at SMAN 2 Pare and the subjects of this study were three English teachers, four classes of students of grade X and XI of SMAN 2 Pare. The findings showed that (1) there were several games used by the teacher (There were five games which were observed, they were “Jeopardy”, “Spell Your Word”, “Guess the Word”, “Chain Writing”, and “Rolling Box”) which intended to deliver the material, to give assessment, and to revise the material that had been taught, (2) there were several problems faced by the teacher while conducting the games in teaching and learning process included time management, place, lacked motivated students, finding of suited material, and assessment (3) the result of questionnaire given almost all of the students gave positive responses toward the use of games in teaching English since it provided the students opportunity to improve their abilities. There were some suggestions given by the researcher and they were intended to the English teachers and to the other researchers in the last chapter of the thesis. For the English teachers the suggestions are: (1) giving more attention toward the students while conducting the games, (2) managing the time better by coming on time and making better preparation, (3) giving clear instruction to the students by writing it on a piece of paper about the rules of games and how the teacher assess them, (4) making a good lesson plan so that the teaching and learning process can be done in order. The suggestions for other researchers are: (1) conducting a study which focuses on the improvement of English teacher’s personality, (2) focusing the study on making a good lesson plan for English.

Alasan pemilihan program keahlian dan orientasi setelah lulus bidang keahlian bangunan SMKN Winongan Kabupaten Pasuruan / Muhammad Kholili

 

Kata kunci :Alasan, Orientasi BerawaldaribanyaknyaLapangankerja di kabupatenpasuruan di bidangbangunan, namunKabupatenPasuruanhanyamemilikisatu SMKN yang membukabidangkeahlianbangunan. Berdasarkanlatarbelakang, makatujuanpenelitianiniadalahuntukmengetahuialasansiswamemilihbidangkeahlianbangunandanOrientasisiswasetelah lulus di SekolahMenengahKejuruanNegeriWinonganKabupatenPasuruan. Banyakalasansiswamemilihbidangkeahlianbangunanbeberapa di antaranyaadalahminatdanbakat, danorientasisiswasetelahlulusnantisangatperludiketahuisebagaibahanpertimbanganpengembangankurikulumdanpembelajaran. PenelitiandalamskripsiinimenggunakanmetodepenelitianDeskriptif.Sedangteknikpengambilan data menggunakanteknikangket.Lokasipengambilan data inidilakukan di SMKN WinonganKabupatenPasuruan.PopulasipenelitianiniadalahSiswakelas10 sampel yang di ambil39siswadarikelas 10 Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa42,56%% darisiswamemilikibakat yang sesuaidengan program keahlian yang dipilihnya.50,00%darisiswamemilikiminat yang rendahterhadapbidangkahlian yang dipilihnya. Lebihbanyaksiswa yang memilihkuliahdaripadabekerjadenganperincian64,96% siswa yang memilihkuliahdan33,75% siswamemilihbekerjasetelah lulus nanti

Kemampuan self disclosure dan psychological well being ditinjau dari keutuhan keluarga siswa SMP Negeri 21 Malang / Hilmia Nabila

 

Kata Kunci: self disclosure, psychological well being, keutuhan keluarga Memiliki keutuhan keluarga merupakan harapan bagi semua orang. Keutuhan keluarga adalah keutuhan dalam struktur keluarga, artinya bahwa didalam keluarga itu ada ayah, ibu dan anak-anaknya. Apabila tidak ada ayah atau ibu atau bahkan keduanya, maka struktur keluarga itu tidak utuh lagi. Keutuhan suatu keluarga memang bukan hanya dilihat dari segi struktur keluarganya saja, namun interaksi antara anak dengan orangtua juga merupakan salah satu faktor yang penting dalam suatu keluarga karena hal itu juga akan dapat mempengaruhi perkembangan anak khususnya dalam perkembangan self disclosure dan psychological well being-nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) self disclosure ditinjau dari keutuhan keluarga, 2) psychological well being ditinjau dari keutuhan keluarga, 3) ada tidaknya perbedaan self disclosure ditinjau dari keutuhan keluarga, 4) ada tidaknya perbedaan psychological well being ditinjau dari keutuhan keluarga. Desain atau rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif dan komparatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial. Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa: 1) kemampuan self disclosure siswa yang berasal dari keluarga utuh lebih tinggi daripada kemampuan self disclosure siswa dari keluarga tak utuh, 2) kemampuan psychological well being siswa yang berasal dari keluarga utuh lebih tinggi dari pada psychological well being siswa dari keluarga tak utuh. Sedangkan untuk analisis Inferensial menggunakan Uji-t untuk Menguji Hipotesis. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa : 1) self disclosure siswa dari keluarga utuh lebih tinggi daripada self disclosure siswa dari keluarga tak utuh, 2) psychological well being siswa dari keluarga utuh lebih tinggi daripada psychological well being siswa dari keluarga tak utuh. Dari hasil uji statistik menggunakan uji-t independen sampel, untuk uji hipotesis 1 (self disclosure) sebesar 19,931 dengan signifikansi sebesar 0,000. Sedangkan untuk uji hipotesis kedua (psychological well being) sebesar 26,122 dengan signifikansi sebesar 0,000. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan self disclosure dan psychological well being ditinjau dari keutuhan keluarga pada siswa SMP Negeri 21 Kota Malang. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan agar keluarga remaja yang berasal dari keluarga tak utuh hendaknya menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi psikologis remaja yang menurun. Bagi remaja yang berasal dari keluarga tak utuh, hendaknya lebih bersikap terbuka atas pikiran, tindakan, perilaku, maupun keadaan diri mereka agar psychological well being mereka dapat meningkat. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan memperhatikan aspekaspek lain yang dapat mempengaruhi masing-masing variabel seperti misalnya jenis kelamin, tipe kepribadian, serta tingkat pendidikan.

Pengembangan bahan ajar berpidato untuk siswa SMP/MTs / Sriwijayanti

 

Kata Kunci: penelitian dan pengembangan bahan ajar, berpidato, siswa SMP/MTs Penelitian dan pengembangan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa 1) menulis dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa produktif dan ekspresif yang berguna dalam penyampaian ide atau perasaan, 2) sebagian besar siswa kesulitan dalam menemukan dan menuangkan ide ke dalam teks pidato, 3) berpidato sebagai bentuk keterampilan berbahasa individual yang harus dikuasai siswa, 4) berpidato, baik dalam arti tulis maupun lisan, bisa dipelajari, 5) keterampilan berpidato berperan penting di kehidupan kini maupun yang akan datang, 6) terbatasnya bahan ajar yang mengkhususkan atau sebagai pelengkap buku bahasa Indonesia yang menuntun pada penguasaan berpidato secara berkelanjutan (menulis teks pidato dan berpidato). Adapun tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah 1) menghasilkan bahan ajar pidato untuk SMP/MTs yang menarik dari segi tampilan, 2) menghasilkan bahan ajar pidato untuk SMP/MTs yang menarik dari segi bahasa, 3) menghasilkan bahan ajar pidato untuk SMP/MTs yang layak dari segi isi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan prosedur tersebut, terdapat empat tahap prosedur penelitian, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap pascapengembangan. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui tiga kelompok uji yang meliputi (1) uji ahli yakni ahli materi pidato dan ahli pembelajaran (2) uji praktisi yakni guru dan (3) uji siswa kelas IX-C MTs. Al-Muttaqin sejumlah 27. Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik yakni berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada format penilaian bahan ajar, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. Hasil pengembangan berdasarkan analisis data kuantitatif dari aspek tampilan bahan ajar secara keseluruhan, yaitu dari ahli materi, ahli pembelajaran, guru, dan siswa persentase kelayakan sejumlah 75%, persentase kelayakan dari aspek kebahasaan sejumlah 85%, dan persentase kelayakan dari aspek isi bahan ajar sejumlah 89,9%. Data yang digunakan pada penelitian tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Oleh karena itu, peneliti juga menggunakan data kualitatif sebagai bentuk pertimbangan untuk merevisi bahan ajar. Simpulan dari penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar berpidato untuk siswa SMP/MTs ini termasuk kategori layak dan bisa diimplementasikan. Akan tetapi, sejumlah revisi dilakukan pada bagian-bagian yang mendapat kritik dan saran dari subjek uji coba. Dengan demikian, hasil penelitian pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran bagi beberapa pihak. Bagi guru, diharapkan penelitian pengembangan ini dapat dimanfaatkan untuk menyusun bahan ajar secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Perancangan buku pengetahuan mengenai pelestarian hutan berbentuk pop-up / Tulus Nur Yuliarini Rahayu

 

Kata Kunci: Buku Pop-Up, Pelestarian Hutan, Anak Tingkat kesadaran manusia dalam melestarikan hutan belum sepenuhnya tertanam pada diri manusia sebagai makhluk Tuhan. Terbukti dari sikap manusia yang mengabaikan pentingnya hutan. Maka perlu dilakukan langkah-langkah positif yaitu menanamkan budaya melestarikan hutan sejak dini. Pembentukan kesadaran sejak dini kepada anak-anak, dilakukan karena serapan informasi kedalam otak anak akan lebih tertanam sehingga lebih mudah untuk membangun antusias dan kepedulian untuk melakukan hal-hal positif. Solusi dari permasalahan di atas, penulis merancang buku pop-up mengenai pelestarian hutan sebagai media pengetahuan yang dikemas dengan cerita yang sesuai dengan karakteristik anak-anak. Media ini dapat digunakan anak-anak untuk belajar mandiri mengenai lingkungan hidupnya dan bersikap baik terhadap sesama. Metode perancangan yang digunakan dalam pembuatan buku pop-up ini adalah model prosedural yang diawali dengan penjabaran latar belakang, perumusan masalah dan tujuan perancangan, menentukan metode perancangan, mengidentifikasi dan analisis data, menentukan konsep perancangan dan visualisasi desain yang terdiri dari rought layout; comprehensive layout; hingga final product. Dalam membantu kegiatan promosi dan proses belajar anak, maka juga dirancang media pendukung seperti pembatas buku, tas, kalender unik, stiker, poster, x-banner, dan leaflet yang semuanya memuat pesan-pesan untuk melestarikan hutan dan melakukan hal yang positif kepada sesama makhluk Tuhan. Pada perancangan ini dapat disimpulkan bahwa buku pop-up Petualangan Kaka dan Kiki Menjelajahi Hutan ini merupakan media yang memberikan informasi mengenai cara-cara untuk melestarikan hutan pada masyarakat baik anak-anak maupun orang dewasa. Buku ini dapat juga digunakan sebagai media pendidikan anak untuk melestarikan hutan.

Profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa dalam perkuliahan fisika dasar di Universitas Negeri Malang / Zulaikah

 

Kata kunci: Fisika Dasar, Prestasi Belajar, Sikap Ilmiah. Fisika Dasar merupakan mata kuliah wajib yang merupakan landasan untuk mempelajari fisika selanjutnya, namun hasil studi pendahuluan penelitian Saul et.al sebelumnya menunjukkan bahwa berdasarkan laporan dosen-dosen fisika banyak mahasiswa yang menempuh matakuliah Fisika Dasar yang diselenggarakan melalui ceramah dan kegiatan laboratorium tradisional mengalami berbagai kesulitan. Komponen penting dalam perkuliahan Fisika Dasar tidak hanya prestasi belajar, tetapi juga sikap ilmiah mahasiswa dalam menempuh mata kuliah tersebut, karena dengan sikap ilmiah yang positif, mahasiswa akan cenderung untuk belajar lebih baik. Selain itu, hal-hal penting dalam perkuliahan adalah kegiatan perkuliahan dan fasilitas akademis yang diberikan dosen. Oleh karena itu diperlukan adanya penelitian terhadap karakteristik kegiatan perkuliahan, fasilitas akademis yang diberikan pada mahasiswa, profil sikap ilmiah dan prestasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang dalam perkuliahan Fisika Dasar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode tes prestasi belajar, pengisian skala sikap ilmiah, wawancara dosen dan mahasiswa, dan observasi kegiatan perkuliahan Fisika Dasar. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan perkuliahan Fisika Dasar di UM dilaksanakan dengan tepat, bantuan-bantuan yang diberikan dosen meliputi bimbingan diluar perkuliahan oleh dosen sendiri dan kegiatan tutorial oleh asisten dosen. Profil sikap ilmiah mahasiswa UM dalam perkuliahan Fisika Dasar sudah tinggi, yaitu dengan skor rata-rata 61,6 atau 77,0%. Prestasi belajar Fisika Dasar mahasiswa masih rendah, skor rata-rata 9,4 atau dengan persentase sebesar 55,2%. Pencapaian skor prestasi belajar topik listrik statis (48,1%), topik listrik dinamis (70,9%), topik medan magnet (78,5%), topik induksi elektomagnetik (55,4%), topik persamaan gelombang (46,2%), topik optik fisis (48,1,0%), dan topik optik geometri (47,7%). Skor prestasi yang rendah menunjukkan bahwa mahasiswa masih mengalami kesulitan belajar dan didukung dari hasil wawancara terhadap dosen dan mahasiswa. Semua mahasiswa yang diwawancara menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan belajar Fisika Dasar. Semua dosen yang diwawancarai juga menyatakan hal yang sama dengan persentase bervariasi. Pelaksanaan perkuliahan Fisika Dasar yang tepat dan sikap ilmiah mahasiswa baik masih belum berdampak positif terhadap prestasi belajar mahasiswa. Bantuan akademis dengan berbagai cara untuk mengurangi kesulitan belajar mahasiswa yang secara umum dilaksanakan di luar jam kuliah juga belum bisa mengatasi kesulitan belajar mahasiswa, dengan kata lain perkuliahan yang sudah tepat masih belum mampu menjembatani prestasi belajar mahasiswa menuju pemahaman Fisika Dasar yang mantap. Oleh karena itu diperlukan bantuan, pendampingan dan dukungan yang diintegrasikan kedalam kegiatan perkuliahan.

Perbandingan pengetahuan, sikap dan pertisipasi masyarakat dalam konservasi hutan mangrove di wilayah pesisir dan muara sungai Kabupaten Situbondo / Hardiyanti Utami

 

Kata Kunci: pengetahuan, sikap, partisipasi, konservasi mangrove Konservasi hutan mangrove merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan Dinas Pengelolaan Dampak Lingkungan yang secara intensif berupa kegiatan penanaman pohon mangrove. Pelaksanaan konservasi hutan mangrove saat ini telah menunjukkan hasil yang baik, namun di beberapa lokasi masih terdapat masalah. Lokasi penanaman pohon mangrove yang diadakan oleh dinas terkait tersebut berada di wilayah pesisir dan muara sungai Kabupaten Situbondo. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian untuk membandingkan pengetahuan, sikap, dan partisipasi masyarakat pada dua wilayah yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan pengetahuan, sikap, dan partisipasi masyarakat dalam konservasi hutan mangrove serta membandingkan ketiga variabel antara wilayah pesisir dan muara sungai Kabupaten Situbondo. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survei. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan lembar tes, sedangkan data mengenai sikap dan partisipasi diperoleh dengan menggunakan angket tertutup. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis tabulasi tunggal untuk variabel pengetahuan, sikap, dan partisipasi serta analisis tabulasi silang untuk perbandingan kedua wilayah. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut. Pengetahuan masyarakat di wilayah pesisir sebesar 77,97% dan masyarakat di muara sungai sebesar 48,78%. Sikap positif yang ditunjukkan oleh masyarakat wilayah pesisir sebesar 74,58% dan masyarakat muara sungai sebesar 82,93%. Masyarakat wilayah pesisir mayoritas berpartisipasi dalam bentuk partisipasi informatif, sedangkan masyarakat muara sungai seluruhnya berpartisipasi dalam bentuk partisipasi mandiri, informatif, interaktif, dan insentif. Perbandinganpengetahuan, sikap, danpartisipasimasyarakatdalamkonservasihutan mangrove di wilayahpesisirdanmuarasungaimenunjukkanbahwamasyarakatwilayahpesisir yang bersikappositifcenderunglebihsedikitsehinggabentukpartisipasi yang diberikanolehmasyarakatpesisirjugalebihrendahdibandingkanpartisipasimasyarakatmuarasungai, meskipunmasyarakat di wilayahpesisir yang mengetahuihutan mangrove dankonservasinyalebihbesar. Mengacupadapermasalahan yang ditemukan di wilayahpesisirterutama di DesaBanyuglugur, makapenulismenyarankan agar pelaksanaankonservasihutan Mangrove selanjutnyabisalebihmelibatkanmasyarakatsehinggamasyarakatdapatberpartisipasisecaraaktifdalambentukpartisipasi yang lain.

Upaya meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan melalui penerapan strategi learning community pada mata pelajaran PKn bagi siswa kelas X-3 di SMA Negeri I Durenan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek / Wiwin Pradita

 

Kata Kunci : Peningkatan, Kemampuan Mengemukakan Pendapat, Kemampuan Mengambil Keputusan, Mata Pelajaran PKn, Strategi Learning Community Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang mengembangkan kompetensi siswa agar mampu berperan aktif dan bertanggung jawab bagi kelangsungan pemerintahan demokratis melalui pengembangan pengetahuan, karakter dan ketrampilan kewarganegaraan. Pembelajaran PKn juga menuntut siswa untuk mengembangkan dan menerapkan konsep beserta nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dari itu, siswa harus mampu mengemukakan pendapat dan dapat mengambil keputusan sesuai pemikiran dan pemahamannya sendiri agar mampu mengembangkan konsep beserta nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pelaksanaan pembelajaran PKn di sekolah kurang menerapkan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan. Akibatnya, siswa cenderung teksbook dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan tanpa adanya pemikiran dan pemahamannya sendiri. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan adalah dengan menerapkan strategi learning community. Strategi learning community pelaksanaannya lebih terstuktur sehingga siswa memiliki motivasi dalam belajar yang dapat berdampak pada peningkatan hasil belajarnya khususnya dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas siswa kelas X-3 di SMA Negeri I Durenan dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan pada pelaksanaan proses pembelajaran PKn dengan menerapkan teknik learning community, peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan siswa kelas X-3 SMA Negeri I Durenan dengan menerapkan strategi learning community, dan untuk mengetahui hambatan yang ditemui oleh siswa kelas X-3 di SMA Negeri 1 Durenan dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dapat berkurang setelah menerapkan teknik Learning Community Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang dilaksanakan di SMA Negeri I Durenan dengan sejumlah siswa sebanyak 36 siswa dengan rincian 8 siswa laki- laki dan 28 siswa perempuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Prosedur penelitian tindakan kelas ini meliputi (1) Studi Pendahuluan, (2) Rencana tindakan, (3) Pelaksanaan tindakan, (4) Pengamatan, (5) Refleksi. Adapun data penelitian ini meliputi data pra tindakan, data tindakan dan data hasil tindakan. Data pra tindakan berupa hasil kegiatan studi pendahuluan yakni data hasil wawancara dan pra penelitian serta hasil pengamatan di kelas sebelum tindakan diberikan. Data tindakan atau data proses peneliti berupa catatan lapangan tentang hasil pembelajaran di kelas selama pembelajaran dengan penerapan strategi learning community berlangsung. Data hasil tindakan yang dikumpulkan adalah data verbal yang dihasilkan siswa, berupa tuturan pendapat dan keputusan yang disampaikan oleh siswa serta hasil refleksi. Berdasarkan hasil analisis data proses tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II, dapat dideskripsikan strategi learning community dalam pembelajaran PKn khususnya untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan, yaitu diawali dengan pembentukan kelompok secara heterogen, tahap menemukan artikel yang merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM, tahap menganalisis, tahap diskusi/sharing antar anggota kelompok, tahap hasil dengan mempresentasikan hasil diskusi, tahap pelaporan secara lisan, dan tahap pembuatan display berbentuk laporan sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam menerapkan strategi learning community sangat antusias dan lebih termotivasi. Kemampuan mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan melalui penerapan strategi learning community menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hasil penelitian pada siklus pertama terdapat 12 siswa yang mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan yakni 1 siswa yang menyatakan pendapat dan keputusannya dalam kategori kurang, 2 siswa dalam kategori cukup, 6 siswa dalam kategori baik, dan 3 siwa dalam kategori baik sekali. Sedangkan pada siklus II terdapat 21 siswa yang mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan. Siklus II ini tidak ada siswa yang mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan berada pada kategori kurang, cukup, dan baik. 21 siswa yang mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan berada pada kategori baik sekali. Siswa yang mengalami kendala dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan pada mata pelajaran PKn mengalami penurunan menjadi 23% siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi guru mata pelajaran PKn, hendaknya dapat menggunkan strategi learning community sebagai alternatif dalam kegiatan pembelajaran PKn karena dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan. Guru harus lebih kreatif dalam menggunakan variasi strategi pembelajaran untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan agar siswa lebih termotivasi dan tidak merasa bosan dalam pembelajaran PKn.

Analisis pengaruh investment opportunity set terhadap kebijakan deviden (perusahaan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia 2009-2011) / Catur Prihatmiko

 

Kata kunci: Investment Opportunity Set, kebijakan dividen. Perusahaan umumnya pasti memiliki konsep going concern dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Konsep going concern ini yang menuntut perusahaan untuk bertumbuh dan harus menemukan peluang investasi agar perusahaan tetap selalu eksis. Perusahaan yang memanfaatkan peluang investasi ini tentu memerlukan dana untuk melakukan suatu investasi. Perusahaan dalam melakukan aktivitas pendanaan tentu menginginkan dana yang tidak berisiko sehingga perusahaan lebih menyukai pendanaan internal dari pada pendanaan eksternal yang lebih berisiko. Pendanaan internal ini diperoleh dari laba ditahan yang di peroleh dari laba bersih perusahaan. Semakin tinggi peluang investasi perusahaan maka perusahaan akan semakin mengurangi dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Penelitian ini ingin menjelaskan pengaruh antar variabel yaitu investment opportunity set yang diukur dalam tiga sub variabel, yaitu price to earning ratio, market to book value of asset ratio, market to book value of equity ratio dengan kebijakan dividen yang diukur dengan menggunakan dividend payout ratio. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan property dan real estate yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011. Teknik purposive sampling digunakan untuk memperoleh sampel sebesar 32 perusahaan. Data yang digunakan adalah laporan keuangan yang dipublikasikan pada www.idx.co.id. Untuk menjawab rumusan masalah teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi investment opportunity set cenderung naik pada tahun 2009-2010 pada perusahaan bertumbuh rendah, pada perusahaan bertumbuh tinggi investment opportunity set cenderung turun pada tahun 2009-2010. Investment opportunity set tidak berpengaruh terhadap dividend payout ratio pada perusahaan bertumbuh rendah dan investment opportunity set berpengaruh negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada perusahaan bertumbuh tinggi. Investment opportunity set dapat menurunkan dividen perusahaan karena para manajemen perusahaan lebih termotivasi melakukan pendanaan dari internal dibandingkan dengan pendanaan eksternal untuk mendanai investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa manajer lebih dapat memanfaatkan pendanaan internal dibandingkan pendanaan eksternal perusahaan sehingga perusahaan akan mengurangi dividen yang akan dibagikan ketika perusahaan memutuskan melakukan investasi. Manajemen perusahaan juga harus memutuskan kebijakan dividen yang optimal dimana kebijakan ini menciptakan keseimbangan antara dividen dan pertumbuhan di masa yang akan datang.

An analysis of an english summative test for 6th grade students in three public elementary schools in Udanawu District, Blitar Regency / Hanik Huzaimatul Husna

 

Keywords: test construction, English teachers, summative test, item analysis This study is intended to find out the quality of the English summative test for 6th grade Students in three public elementary schools in Udanawu District, Blitar Regency in terms of the test construction, content validity, level of difficulty, level of discrimination, and the effectiveness of distracters. This research design is descriptive evaluative since this study is designed to evaluate and describe the quality of English summative test for 6th grade students in three public elementary schools in Udanawu District, Blitar Regency. The data that are used in this research are from the school documents. They are English Summative Test for 6th Grade Students in odd semester of 2011/2012 academic year and students’ answer sheets. The data were analyzed using qualitative method by using checklist for test construction analysis and quantitative method for item analysis using software Anates version 4. The findings of the study are as follows. First, the teachers generally know the principles to construct test format. The construction of wh-question, multiple-choice, and completion are excellent because the test construction fulfill principles of test construction, but based on the analysis the researcher finds some mistakes that should be revised by teachers. Second, based on analysis of content validity, the materials being tested do not cover all the basic competences in the School-Based Curriculum. Third, generally, the level of difficulty of each item format is fair. Fourth, the level of discrimination for all the item formats is very good. The last finding is that the of distracters in the multiple-choice format is mostly effective. Based on the findings, it can be concluded that the quality of English Summative Test for 6th Grade Students in odd semester of 2011/2012 academic year is considered very good. Some suggestions are offered to the test constructors are the test should be constructed based on the principles of the test construction, the content validity of the material being tested should be relevant with the curriculum, the test items should not be very difficult and very easy for students, and the distracters should be effective to attract students to choose the distracters equally. Teachers should really understand and apply the concept in constructing test items, try out the test in a small group and analyze the test they have made. Nowadays, analyzing test items is easy because there are some software that can be used for analyzing, such as Software Anates, ITEMAN, Microsoft Excel, SPSS (Statistical Program for Social Science). For further researchers, it is suggested to analyze and evaluate larger scope of the study, for example analyzing construct validity of scoring rubric.

Kepribadian tokoh roda Savitri Darsono dalam Novel Misteri Sutra yang Robek karya S. Mara Gd. (Kajian psikologi behavioral tokoh cerita) / Nur Mauludiyah

 

Kata kunci: kepribadian tokoh, novel, psikologi behavioral Novel sebagai suatu karya sastra pada umumnya merupakan pengalaman kejiwaan pengarang yang telah direnungkan. Hal ini dapat diartikan bahwa pengarang memiliki kepekaan yang tinggi untuk mengamati hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, termasuk suasana batin manusia. Gejala kejiwaan itu diamati, ditangkap, diolah dalam batinnya, dipadukan dengan kejiwaannya sendiri, kemudian disusun menjadi sebuah pengetahuan baru dan diendapkan dalam batinnya. Pengalaman kejiwaan yang semula mengendap dalam batin pengarang akan beralih ke dalam karya sastra ciptaannya, dan tercermin lewat ciri-ciri kejiwaan para tokohnya. Dalam setiap novel, baik novel serius maupun novel populer, yang mengembangkan kejiwaan tokoh-tokohnya, akan ditemukan aspekaspek kepribadian. Begitu juga dengan motif-motif yang mendukung terbentuknya kepribadian itu, yang dapat ditemukan dengan menganalisis novel tersebut dengan pendekatan psikologi behavioral. Aspek-aspek kepribadian berikut motifnya itu ditemukan dengan cara mengamati perilaku tokoh dalam berbagai peristiwa pada novel. Pada penelitian ini masalah umumnya adalah bagaimana kepribadian tokoh Roda, yang meliputi: (1) perilaku tokoh Tuan dan Nyonya Darsono sebagai stimulus/S, (2) perilaku tokoh Roda sebagai respon/R, (3) perilaku tokoh Ir. Sutra sebagai pemerkuat/P, dan (4) hubungan perilaku antartokoh sebagai wujud dari gagasan stimulus-respon-pemerkuat (S-R-P). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan psikologi behavioral. Data penelitiannya berupa teks novel yang terdiri atas monolog, dialog, dan narasi yang mengandung deskripsi kepribadian tokoh utama. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca, memberi tanda, dan mengklasifikasikan data yang mengandung aspek behavioral. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama dan instrumen pendukung berupa panduan identifikasi data perilaku tokoh dan panduan identifikasi data hubungan kausal perilaku antartokoh. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi data, memberi kode, mengklasifikasi, menginterpretasi dan menganalisis data, serta memverifikasi data. Adapun pengecekan keabsahan data dilakukan dengan membaca ulang sumber-sumber pustaka, ketekunan pengamatan, dan pengecekan ahli. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku tokoh Roda merupakan respon yang terbentuk akibat pengaruh lingkungan atau stimulus berupa perilaku tokoh Tuan Darsono dan Nyonya Darsono, yang kemudian memperoleh penguatan berupa perilaku tokoh Ir. Sutra. Hasil itu dapat dijabarkan sebagai berikut. (1) Stimulus yang diberikan oleh Tuan dan Nyonya Darsono berupa perilaku membebaskan Roda dari kesalahan (S1) dan memberikan fasilitas terbaik serta mengalah pada keinginan Roda (S2). (2) Respon Roda atas stimulus yang diberikan oleh orang tuanya berupa perilaku merasa benar dan menyalahkan orang lain (R1), serta tidak mau susah, ingin selalu diistimewakan dan tidak menghargai orang lain (R2). (3) Pemerkuat yang diberikan Sutra atas respon Roda ada dua macam; pemerkuat positif berupa perilaku Sutra yang memanjakan Roda (P3) dan tidak tegas (P4), dan pemerkuat negatif berupa perilaku Sutra yang bijak (P5). (4) S1 dan S2 yang diberikan secara ajeg oleh orang tua Roda menyebabkan pembentukan R1 dan R2 (perilaku manja) pada diri Roda. R1 dan R2 itu menguat setelah adanya P3 dan P4, dan menjadi sebuah ambisi/keinginan untuk diistimewakan pada R3 dan R4. Akan tetapi, kemunculan P5 yang tidak menyenangkan membuat R4 terhenti sehingga muncul R5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya dengan menghubungkan perilaku tokoh Roda dengan perilaku tokoh Gozali, dengan menggunakan teori lain yang sesuai. Dalam studi kepribadian perlu diperhatikan alur cerita yang sangat membantu dalam upaya memahami tokoh.

Pengembangan modul kompetensi dasar menggunakan metode dasar memasak untuk siswa kelas X Jasa Boga SMKN 3 Blitar / Vitriya Okviningrum

 

Kata kunci: pengembangan, modul, metode dasar memasak, jasa boga. Modul merupakan salah satu bahan ajar cetak yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari penelitian dan pengembangan modul metode dasar memasak adalah menghasilkan bahan ajar untuk siswa kelas X Jasa Boga di SMK Negeri 3 Blitar pada kompetensi dasar menggunakan metode dasar memasak yang memiliki kelayakan isi, penyajian modul yang sistematis, dan penggunaan bahasa yang baik. Metode penelitian dan pengembangan yang digunakan mengadaptasi penelitian dan pengembangan menurut desain Dick and Carey yang telah dimodifikasi oleh peneliti yang terdiri dari 5 langkah pengembangan, yaitu (1) analisis situasi awal, (2) rancangan pengembangan bahan ajar, (3) pengembangan bahan ajar, (4) uji kelayakan & uji coba produk, dan (5) evaluasi & revisi produk. Validasi produk dilakukan dengan melibatkan ahli materi, pengembangan media, dan bahasa Indonesia. Uji perorangan dilakukan pada guru SMK yang relevan dengan materi pelajaran yang dikembangkan. Uji kelompok kecil dilakukan pada siswa SMKN 3 Blitar kelas X. Jenis data pada penelitian ini adalah data kuantitatif dari skor penilaian yang diperoleh dari instrumen penilaian ahli, guru SMK, dan siswa SMK. Perolehan skor validasi materi modul sebesar 93,7%, validasi pengembangan media sebesar 92,8%, dan validasi bahasa modul sebesar 95,8%, sehingga produk ini layak untuk diimplementasikan. Uji perorangan dan kelompok kecil dilakukan untuk mengetahui daya terima guru mata pelajaran dan siswa sebagai pengguna modul. Perolehan skor uji perorangan pada guru mata pelajaran terkait sebesar 77,27%, dan uji kelompok kecil pada siswa SMK modul sebesar 88,02%, sehingga produk ini layak untuk diimplementasikan. Pengujian modul yang dikembangkan hanya sebatas pada tingkat penerimaan siswa saja, sehingga belum mencakup pada pengujian efektifitas penggunaan modul pada siswa.

Lexical quality of translation in bilungual mathematics taxtbooks for senior hidh school / Yudha Yanuar Akbar

 

Key Word: lexis, lexical quality, Mathematics, bilingual textbook. Living in globalization era The Ministry of Education and Culture has started to upgrade Indonesian’s Sekolah Standar Nasional (National Standard School) into Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (Pioneering International Standard School) with the materials delivered in English. For this purpose some of the book publishers publish their textbooks in bilingual (Bahasa Indonesia and English). In relation to this matter the researcher found the need to have a study about the lexical quality of translation of the bilingual textbooks. The aim of this study is to know the lexical quality of translation used in two bilingual Mathematics textbooks for Senior High School specifically in lexical aspect for it is can be considered as most important aspect with upmost priority need to be preserved appropriately regardless of the original text forms, field of work, topic and media. The design of this research is qualitative because specifically in this matter the research was to evaluate the lexical quality of translation of bilingual textbooks. Two bilingual Mathematics textbook was evaluated in this research with both Indonesian and English as its language provided together with Indonesian as its source language and English as target language. The bilingual Mathematics textbooks used are for first grader of senior high school for first semester entitled Mathematics 1A and 1B for Senior High School by ESIS and Matematika Bilingual untuk SMA kelas X Semester 1 & 2 by Yrama Widya. Data gathering of this research was done by listing the Mathematics contextual dictions from the aforementioned bilingual textbooks. The data obtained after the data collection is 228 items of contextual diction where 130 items are from first textbook and 98 items are from the second textbook. The data analysis process is started by (1) initial comparison and (2) definition cross-reference. From the first data analysis the researcher found that out of 130 items from the first bilingual textbook, six of them are inappropriately translated. On the other hand, in the second bilingual textbook seven out of the 98 contextual items are inappropriately translated. Yet, after the second data analysis, definition cross-reference, the inappropriate contextual items from each bilingual textbooks reduced by two, leaving only four inappropriate items in the first bilingual textbook and five items in the second bilingual textbooks. After the calculation, first bilingual textbook’s lexical quality level is 96.92% and categorized as “Excellent” while the second bilingual textbook’s lexical quality level is 94.90% and categorized as “Good”. With these quality levels the two bilingual Mathematics textbooks provide qualified translation which will not confuse their users even though there are still some mistranslations in lexical level.

Pengaruh media pembelajaran digital menggunakan model pembelajaran learning cycle 5 fase (LC 5-E) terhadap prestasi belajar kimia pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kesamben / Elok Muji Rahayu

 

Kata Kunci : media pembelajaran digital, model pembelajaran Learning Cycle 5 fase (LC 5-E), prestasi belajar Kimia merupakan materi yang sebagian besar mengandung konsep yang abstrak sehingga banyak siswa kesulitan memahami materi tersebut. Masalah ini juga dialami oleh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kesamben Kabupaten Blitar. Selain itu, keaktifan siswa di SMA Negeri 1 Kesamben tergolong masih rendah. Siswa kurang aktif dalam bertanya dan berdiskusi terkait masalah-masalah yang ada dalam pelajaran. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh metode pembelajaran ekspositori yang sering diterapkan oleh guru kimia di SMA Negeri 1 Kesamben. Dalam metode pembelajaran ekspositori, pembelajaran berlangsung dengan berpusat pada guru sehingga siswa menjadi kurang aktif dan pembelajaran menjadi kurang efektif. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif untuk pembelajaran yang efektif adalah penggunaan media pembelajaran digital (media yang berbasis pada komputer) yang dapat mengkonkritkan konsep-konsep kimia yang bersifat abstrak dalam bentuk gambar dua atau tiga dimensi dan memudahkan pengamatan benda-benda mikroskopis seperti pada materi kimia Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Keefektifan media pembelajaran digital akan lebih baik jika ditunjang dengan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Salah satu model yang berpusat pada siswa yaitu model pembelajaran Learning Cycle 5 fase (LC 5-E). Penggunaan media pembelajaran digital dapat dilakukan pada fase engagement, explanation, elaboration, dan evaluation. Pada fase eksploration, siswa akan melakukan praktikum agar siswa menjadi lebih aktif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran digital yang digunakan dalam model pembelajaran Learning Cycle 5 fase pada pokok materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kesamben tahun ajaran 2011/2012 yang tersebar menjadi 3 kelas. Kemudian diambil secara acak dua kelas yaitu satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah soal post test, untuk mengukur prestasi belajar siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berjalan dengan baik. Prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase mempunyai rata-rata sebesar 77,8 sedangkan siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase tanpa bantuan media pembelajaran digital mempunyai rata-rata sebesar 71,6. Siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase tanpa bantuan media pembelajaran digital mampu memahami dengan baik hanya secara makroskopis melalui praktikum, namun siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan media pembelajaran digital mampu memahami dengan baik secara makroskopis melalui praktikum dan secara mikroskopis melalui media pembelajaran berupa Macromedia Flash. Hasil penelitian ini menunjukkan ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase tanpa bantuan media pembelajaran digital dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan media pembelajaran digital berupa Macromedia Flash pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep bentuk molekul siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Malang / Istiqomah

 

Kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, bentuk molekul Bentuk molekul merupakan materi kimia yang bersifat abstrak. Dalam peramalan bentuk molekul terdapat konsep-konsep yang saling berkaitan dan berjenjang dari konsep sederhana ke konsep yang lebih tinggi tingkatannya dan lebih kompleks. Konsep-konsep tersebut mencakup konsep untuk menentukan atom pusat, jumlah elektron pada kulit valensi atom pusat, jumlah elektron yang digunakan, jumlah elektron bebas dan elektron ikatan, dan bentuk molekul. Karena sifatnya yang saling berkaitan dan berjenjang, maka apabila timbul kesulitan dalam mempelajari konsep sederhana, misalnya konsep atom pusat, siswa akan terus mengalami kesulitan pada konsep elektron valensi dan bentuk molekul. Kesulitan-kesulitan tersebut dapat menimbulkan konsep sukar dan berpeluang menimbulkan kesalahan konsep apabila terjadi secara konsisten. Konsep sukar merupakan persepsi siswa terhadap konsep yang dianggap sukar. Suatu konsep dianggap sukar apabila hanya dapat dipahami oleh kurang dari sama dengan 30% siswa dan pada penelitian diukur menggunakan soal tes diagnostik dengan persentase jawaban salah (PJS) siswa lebih besar sama dengan 61%. Siswa diidentifikasi mengalami kesalahan konsep apabila menjawab salah pada beberapa soal yang berbeda konteksnya, namun memiliki dasar konseptual yang sama. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui konsep sukar dan kesalahan konsep yang dimiliki oleh siswa terhadap konsep bentuk molekul. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI B1 SMA Negeri 2 Malang tahun ajaran 2011/2012 sebanyak 38 siswa yang memiliki nilai di bawah SKM pada KD 1.2 tentang konsep bentuk molekul. Instrumen penelitian berupa tes diagnostik sebanyak 13 butir dengan 5 pilihan jawaban. Validitas instrumen tes sebesar 85,71% dan koefisien realibilitas tes, dihitung menggunakan model split half dengan koefisien Spearman-Brown, sebesar 0,7. Soal tes disusun berdasarkan peta konsep dan kisi-kisi soal yang berpedoman pada KTSP 2006. Data hasil penelitian dianalisis melalui 6 tahap, yaitu (1) pemberian skor; (2) pengelompokan butir soal sesuai konsep; (3) menghitung PJS siswa; (4) menghitung persentasi siswa yang memilih jawaban salah; (5) penentuan kesalahan konsep siswa, dan (6) pengecekan keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Konsep sukar yang dimiliki siswa kelas XI SMA Negeri 2 Malang adalah konsep (a) teori domain elektron dengan kesulitan terbesar dialami siswa pada saat menentukan DEI dan DEB; (b) pasangan elektron dengan persepsi pasangan elektron bebas di sekitar atom yang bukan atom pusat ikut dihitung dalam menentukan bentuk molekul dan ikatan rangkap dua menyumbang dua pasangan elektron ikatan; (c) bentuk molekul trigonal bipiramidal dengan persepsi jika suatu molekul memiliki lima domain elektron, maka bentuk molekul tersebut pasti trigonal bipiramidal.Kesalahan konsep yang dimiliki siswa adalah (1) domain elektron merupakan jumlah dari PEB dengan PEI sebesar 40%; (2) jika elektron valensi atom pusat sama maka memiliki jumlah domain elektron yang sama pula sebesar 14%; (3) jumlah elektron valensi sama dengan jumlah PEI sebesar 3%, (4) ikatan rangkap dua menyumbang dua PEI sebesar 3%.  

Developing supplementary reading material for the seventh graders of the international-standard school / Ratih Kristianasari

 

Kata Kunci: Pengembangan, suplemen materi membaca, SBI Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suplemen materi membaca yang sesuai dengan kurikulum SBI, khususnya untuk peserta didik kelas tujuh. Kelas tujuh dipilih karena level tersebut adalah level di mana pelajaran bahasa Inggris untuk pertama kalinya di anggap sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. Guna mencapai tujuan dari studi ini, peneliti menggunakan model pengembangan yang diadaptasi dari model pengembangan Borg dan Gall (1983). Model asli dari Borg dan Gall telah dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sebagai berikut: (1) analisis kebutuhan, (2) pengembangan materi, (3) validasi ahli, (4) revisi I, (5) uji coba produk, (6) revisi II, (7) produk akhir. Analisis kebutuhan bertujuan untuk menemukan celah antara silabus dengan materi yang disediakan oleh pemerintah. Validasi ahli bertujuan untuk memperoleh umpan balik dari ahli dalam bentuk kritik, saran, dan penilaian. Hasil dari validasi ahli digunakan untuk memperbaiki kualitas produk sebelum produk diujicobakan. Uji coba produk bertujuan untuk memperoleh data yang berhubungan dengan keefektivitasan produk apabila digunakan oleh peserta didik kelas tujuh. Data yang diperoleh dari analisis kebutuhan dan validasi ahli adalah data kualitatif, sedangkan data dari uji coba produk adalah data kuantitatif. Kedua jenis data tersebut dijabarkan dengan cara penggambaran. Studi ini telah menghasilkan sebuah produk berupa materi tambahan membaca yang disajikan dalam tiga paket cetak. Paket A untuk Announcement, Paket B untuk Advertisement, dan Paket C untuk short message. Masing-masing paket terdiri dari tiga aktivitas. Masih-masing aktivitas terdiri dari dua Task. Task pertama tersusun oleh dua teks beserta latihan pemahaman membaca dan kosakata. Task kedua mencakup grammar review beserta latihan-latihannya. Masing-masing paket dilengkapi dengan kunci jawaban yang jelas. Produk dari studi ini telah divalidasi dan telah direvisi berdasarkan umpan balik yang diberikan oleh seorang ahli. Setelah melalui revisi pertama, produk diujicobakan ke delapan belas peserta didik kelas tujuh dari Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Masing-masing paket diuji coba oleh enam peserta didik. Beberapa revisi telah dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari proses uji coba produk Produk dari studi ini dapat menutup celah kesenjangan antara silabus dan buku yang tersedia serta mampu mendorong belajar mandiri. Akan tetapi, karena terbatasnya waktu, produk akhir dari studi ini hanya mencakup teks fungsional pendek dengan topic yang terbatas pada pengetahuan alam, teknologi, dan kehidupan akademis, serta produk ini belum diujicobakan secara luas. Produk bagus digunakan untuk membantu meningkatkan kemampuan membaca. Studi lain yang serupa semestinya dilakukan untuk menghasilkan produk pendidikan.

Pengembangan model permainan untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Frendy Aru Fantiro

 

Kata Kunci: Pengembangan, Model Permainan, Kecerdasan Kinestetik. Berdasarkan penelitian melalui wawancara pada tanggal 27 januari 2012 terhadap dua guru taman kanak-kanak negeri Pembina kecamatan Kepanjen kabupaten Malang yaitu guru menjelaskan bahwa masih kurangnya variasi-variasi model permainan fisik motorik khususnya permainan kecerdasan kinestetik. Hal itu disebabkan karena tidak adanya guru yang berlatar belakang pendidikan jasmani serta minimnya pengetahuan guru terhadap perkembangan gerak motorik serta kecerdasan kinestetik siswa. Berdasarkan masalah tersebut guru sangat memerlukan model permainan untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik. Maka dari itu peneliti bermaksud mengembangkan model permainan yang bertujuan mengembangkan kecerdasan kinestetik siswa taman kanak-kanak negeri Pembina kepanjen malang, yang dikemas dalam bentuk VCD (Video Compact Disk). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model permainan yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa taman kanak-kanak negeri pembina, sehingga model permainan tersebut dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran serta dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa. Penelitian yang dilaksanakan di TK negeri Pembina kecamatan kepanjen kabupaten malang ini termasuk penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam penelitian pengembangan ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket. Dari hasil evaluasi uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 4 ahli. 77,58% untuk ahli media, 88,09% untuk ahli motorik, 78,95% untuk ahli permainan dan 90,90% untuk ahli taman kanak-kanak. pada uji kelompok besar dengan menggunakan 8 orang guru diperoleh persentase 91,19% untuk kelompok A dan 92,61% untuk kelompok B, berdasarkan hasil penelitian uji signifikasi t hitung= 33,953> t table 5% = 2,045 dengan derajat kebebasan = 30-1=29. Karena t hitung lebih besar dari t table pada taraf signifikasi 5% , maka hipotesis nihil ditolak. sehingga model permainan untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa taman kanak-kanak negeri Pembina kepanjen malang dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang dapat diberikan di antaranya: produk sebaiknya diperbanyak.sehingga guru dapat memberikan pembelajaran pendidikan jasmani dengan baik, serta siswa dapat aktif dan meningkat kecerdasan kinestetiknya. Sebelum disebarluaskan sebaiknya produk disusun kembali menjadi lebih baik. Baik isi maupun kemasan.

Perancangan alat bantu visual pembelajaran untuk anak usia dini / Anna Jihad Fatihah

 

Kata Kunci : Perancangan, Alat Bantu Visual, Pembelajaran, Anak Usia Dini Media dalam pembelajaran khususnya dalam pendidikan anak usia dini semakin penting artinya mengingat perkembangan anak pada saat itu berada pada masa berfikir konkrit. Prinsip tersebut mengisyaratkan perlunya digunakan media sebagai saluran penyampai pesan-pesan pendidikan untuk anak usia dini. Alat bantu visual pembelajaran adalah salah satu media pembelajaran yang dapat digu-nakan melihat kondisi di mana sarana dan prasarana belajar secara kuantitatif maupun kualitatif masih terbatas. Hal ini menjadi salah satu tantangan bagi PAUD di Indonesia menurut Direktorat PPAUD. Banyak upaya dapat dilakukan agar sa-rana dan prasarana yang digunakan dalam pendidikan anak usia dini semakin baik. Salah satunya dengan merancang secara khusus alat bantu visual pembelaja-ran yang sesuai dengan kurikulum yang digunakan pada pendidikan anak usia di-ni, yang dapat menstimulus potensi kecerdasan majemuk pada anak usia dini. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan alat bantu visual pembelaja-ran untuk anak-anak usia dini yang disesuaikan dengan kurikulum pendidikan anak usia dini Hasil perancangan desain berupa media grafis cetak yaitu buku identifikasi, flashcards, papan sikuen kegiatan, dan papan lagu anak Indonesia. Media grafis (visual) merupakan media yang langsung melibatkan indera penglihatan dan pendengaran. Media visual memiliki stimulus visual sekaligus stimulus kata, dengan demikian media ini cocok digunakan untuk meningkatkan berbagai kemampuan pada anak-anak usia dini. Penggunaan media visual ini dije-laskan pada konsep perancangan yang terdiri dari konsep isi media berisi penjela-san tujuan media, fungsi media dan materi isi yang ada dalam media tersebut. Konsep isi media dibuat berdasarkan tujuan pembalajaran dan fungsi pembelaja-ran dengan menggunakan media yang dipilih. Konsep bentuk media membahas gambar, tipografi, warna, background, dan spesifikasi desain yang diharapkan. Kesimpulan, perancangan alat bantu visual pembelajaran yang disesuaikan dengan tema dalam kurikulum pendidikan anak usia dini merupakan salah satu upaya untuk menambah daftar alat bantu visual pembelajaran yang layak untuk pembelajaran anak-anak usia dini mengingat masih terbatasnya sarana dan prasa-rana pembelajaran untuk mendukung kegiatan pembelajaran anak usia dini.

Pengaruh penerapan strategi pembelajaran daur belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan soal (Problem Posinbg) terhadap hasil belajar dan motivasi belajar pada materi hidrolisis garam / Reny Eka Evi Susanti

 

Kata Kunci: Learning Cycle-Problem Posing, motivasi belajar, hasil belajar Penelitian tentang penggabungan dua strategi pembelajaran yakni Daur Belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan Soal (Problem Posing) bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Daur Belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan Soal (Problem Posing) terhadap hasil belajar kimia siswa RSBI kelas XI semester 2 SMA Negeri 8 Malang pada materi pokok Hidrolisis Garam, (2) Mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Daur Belajar 6F (Six Phased Learning Cycle)-Pembentukan Soal (Problem Posing) terhadap motivasi belajar kimia siswa RSBI kelas XI semester 2 SMA Negeri 8 Malang pada materi pokok Hidrolisis Garam tahun ajaran 2011/2012. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (Quasy Experimental Design) tanpa pretes dan rancangan penilaian deskriptif. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F-Pembentukan Soal dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran secara nyata motivasi belajar siswa setelah dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F -Pembentukan Soal. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang, sebagai sampel yaitu kelas XI IPA 1 (kelas eksperimen), kelas XI IPA 5 (kelas kontrol). Kelas eksperimen dikenai perlakuan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F -Pembentukan Soal dan kelas kontrol dikenai perlakuan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas yang menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F-Pembentukan Soal dengan kelas yang menggunakan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F. Penerapan strategi pembelajaran Daur Belajar 6F -Pembentukan soal berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Pengembangan paket pembelajaran kewirausahaan kontekstual dengan model Dick & Carrey untuk siswa kelas X SMP-PP Negeri Padang / Hendra Gusmedi

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Pd., M.Ed., (2) Dr. H. Sulton, M.Pd. Kata Kunci: Pengembangan, Model Dick & Carey dan Paket Pembelajaran Kewirausahaan. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Pemecahan masalah belajar tersebut penting karena terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Dengan adanya proses pembelajaran yang berkualitas, akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu upaya pemecahan masalah belajar yaitu melalui pengembangan paket pembelajaran, seperti pengembangan paket pembelajaran kewirausahaan untuk siswa kelas X semester 2 SMK-PP Negeri Padang. Paket pembelajaran kewirausahaan terdiri dari 3 produk yaitu: bahan ajar, panduan siswa, dan panduan guru. Paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan kajian teknologi pembelajaran dengan mengacu kepada rancangan pembelajaran model Dick & Carey, dengan langkah-langkah: (1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, (2) melakukan analisis pembelajaran, (3) menganalisis karakterisktik siswa, (4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, (5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan dan melilih materi pembelajaran, (8) merancang dan melakukan evaluasi formatif, (9) merevisi pembelajaran, (10) merancang dan melakukan evaluasi sumatif. Namun dalam pengembangan ini hanya dilakukan sampai langkah kesembilan. Hasil uji coba ahli isi untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, panduan siswa baik, dan panduan guru sangat baik, hasil uji coba ahli desain pembelajaran untuk bahan ajar berada dalam kriteria baik, untuk panduan siswa sangat baik, dan untuk panduan guru juga sangat baik, hasil uji coba ahli media pembelajaran untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, untuk panduan siswa sangat baik, dan untuk panduan guru juga sangat baik. Hasil uji coba perorangan untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan siswa baik, hasil uji coba kelompok kecil untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan siswa juga sangat baik, hasil uji lapangan untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan siswa juga sangat baik, hasil tanggapan guru matapelajaran untuk bahan ajar berada dalam kriteria sangat baik, dan untuk panduan guru juga sangat baik. Dari kajian produk yang telah direvisi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Produk paket pembelajaran kewirausahaan ini dikembangkan secara sistematis berdasarkan analisis kebutuhan empirik di lapangan, (2) Produk paket pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan rancangan pembelajaran model Dick & Carey. Penilaian pada langkah pengembangan dilakukan hanya sampai penilaian formatif saja setelah satu pokok bahasan tertentu selesai diuji cobakan, dan (3) Produk paket pembelajaran ini dianggap telah memenuhi syarat atau kriteria kelayakan melalui tahapan penyusunan, analisis, dan revisi produk.

Kontinuitas pelayan tenaga listrik pada gedung G4 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Yongki Gibranto

 

Kata Kunci : Kontinuitas, Pelayanan Tenaga Listrik, Sistem Interkoneksi, Sistem Paralel PLN – Genset. Suplai daya utama yang ada sekarang di Gedung G4 tidak mencukupi kegiatan praktikum maupun praktek dibuktikan dengan adanya keluhan apabila terjadi praktek pada ruang mesin listrik dan mesin intalasi listrik secara bersama - sama, maka dari itu diperlukan suplai energi listrik dari sumber yang lain.Tujuan dari tugas akhir ini adalah : (a) Merancang ulang konsep sistem kontinuitas pelayanan gedung G4 dari hasil evaluasi instalasi listrik gedung G4 Fakultas Teknik Negeri Malang sehingga dapat melayani semua beban yang ada; (b) Melakukan studi suplai energi tenaga listrik pada gedung G4 dengan menanggung semua beban yang ada; dan (c) Melaporkan hasil studi dari rancang ulang konsep sistem kontinuitas pelayanan tenaga listrik pada gedung G4 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Kontinuitas pelayanan tenaga listrik menggunakan metode paralel generator dengan PLN ini dimaksudkan sebagai pembelajaran di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Malang (UM). Dikarenakan di Jurusan Teknik Elektro FT UM pembelajaran secara praktikum belum pernah dilakukan. Jurusan Teknik Elektro FT UM hanya mengajarkan tentang sistem interkoneksi antar sumber daya energi pada pembangkit secara teori. Sumber energi yang ada, PLN, diparalelkan dengan sumber energi dari generator. Tujuan memparalel generator dengan PLN atau dua buah generator adalah : 1)Mendapatkan daya yang lebih besar, dan 2) Untuk menjamin kotinyuitas ketersediaan daya listrik. Pengamatan yang dilakukan menggunakan metode gelap terang yaitu melakukan pengamatan pada terang lampu, karena lampu dengan aliran energi dua kali tegangan fasa nyalanya paling terang. Kesimpulan yang didapat dari Tugas Akhir ini adalah: (a) sumber energi yang tersedia tidak mencukupi beban yang ada di gedung G4, maka diperlukan suatu sistem yang dapat memberikan suplai energi kepada beban; (b) Saat melakukan perancangan dengan sistem paralel harus memperhatikan : (1) Fasa, (2) Tegangan, (3) Sudut Fasa, dan (4) Faktor Daya; dan (c) Dengan menggunakan sistem paralel semua beban yang diperlukan dapat disuplai dengan baik dan handal.

Keefektifan penerapan modal pembelajaran Learning Cycle 5-E pada materi pokok hidrokarbon untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang / Inma Yunita Setorini

 

Kata Kunci: Keefektifan, Learning Cycle 5-E, Hidrokarbon, hasil belajar Pelaksanaan proses pembelajaran di SMA berpengaruh penting terhadap keberhasilan belajar siswa. Proses pembelajaran yang kurang sesuai akan membuat siswa tidak fokus dan tidak tertarik mengikuti pelajaran. Selain itu, mata pelajaran yang dianggap sulit juga menjadi faktor siswa kurang berminat dalam proses pembelajaran salah satunya pada mata pelajaran kimia. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang sesuai untuk mempelajari materi kimia yang dapat menekankan pada pemberian pengalaman langsung. Salah satu model pembelajaran yang cocok dengan karakteristik ilmu kimia adalah model pembelajaran yang berbasis konstruktivistik, seperti model pembelajaran Learning Cycle 5-E. Untuk alasan itulah diperlukan studi mengenai keefektifan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5-E untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cycle 5-E pada mata pelajaran Kimia materi Hidrokarbon di kelas X SMA Negeri 6 Malang. (2) untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar antara siswa SMA kelas X yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori pada aspek kognitif dan afektif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu, rancangan penelitian kuasi eksperimen. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMAN 6 Malang yang terdiri dari 7 kelas. Sampel penelitian diambil secara acak dn terpilih kelas X-7 sebagai kontrol dan kelas X-6 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: (1) Silabus (2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (3) Lembar Kerja Siswa (4) Handout (5) Lembar penilaian kognitif proses (6) Lembar penilaian afektif (7) Soal Ulangan Harian. Teknik analisis data yang digunakan meliputi: analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk mengungkapkan data hasil belajar siswa, meliputi hasil belajar kognitif proses dan afektif. Analisis statistik digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, yaitu menggunakan uji-t. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. Keterlaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E saat pembelajaran I, pembelajaran II, dan pembelajaran III diperoleh nilai persentase berturut-turut sebasar 72,40%; 82,30%; dan 74,00%. Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E ( ̅ lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori ̅ . Rata-rata hasil belajar kognitif proses siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E ( ̅ lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar kognitif proses siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori ̅ . Rata-rata hasil belajar afektif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E ̅ lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar afektif siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori ̅ . Ada perbedaan hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5-E dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disarankan bahwa model pembelajaran Learning Cycle 5-E dapat digunakan guru pada pokok bahasan yang berbeda karena telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model Learning Cycle 5-E hendaknya dapat mengatur waktu pembelajaran dengan baik.

Pengembangan paket pembelajaran perbanyakan tanaman secara vegetatif kelas X SPMA H. Moenadi Ungaran / Agus Ikwanto

 

Kata kunci ; Latar belakang pengembangan, Pengembangan paket pembelajaran, Prosedur pengembangan, Hasil pengembangan paket pembelajaran. Bahan ajar yang diterbitkan untuk dipakai di sekolah-sekolah sekarang ini, penyusunanya seringkali tanpa mempertimbangkan struktur isi bidang studi untuk keperluan pembelajaran. Isi buku teks lebih banyak menggunakan pendekatan disiplin bukan pendekatan metodologi pembelajaran, sehingga seringkali terlihat tidak ada kaitan antar bab yang satu dengan bab lainnya, atau bagian-bagian bab yang lebih rinci. Oleh karena itu perlu adanya upaya penyediaan paket pembelajaran yang cocok/sesuai dengan keperluan, kondisi, dan lingkungan dimana siswa melakukan kegiatan belajar. Pengembangan paket pembelajaran sangat penting dikerjakan dengan alasan yaitu: 1) dapat digunakan siswa sebagai salah satu sumber belajar yang diharapkan memudahkan dalam proses belajar baik secara individual, 2) dapat memfasilitasi guru dalam proses pembelajaran dan memberi arah bagi guru dalam membimbing siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan tuntas, 3) dapat digunakan dalam proses pembelajaran, baik klasikal maupun individual, dan 4) dapat menjadi titik awal bagi lembaga sekolah untuk penetapan keputusan dalam memilih dan mengembangkan paket pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan. Prosedur dalam pengembangan paket pembelajaran menggunakan model Dick and Carey dengan tahapan sebagai berikut: 1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, 2) melakukan analisis pembelajaran, 3) mengidentifikasi karakteris-tik siswa, 4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan, 6) pengembangan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku, 8) merancang dan melaksanakan penilaian formatif, 9) merevisi bahan pembelajaran, dan 10) merancang dan melaksanakan evaluasi sumatif. Hasil pengembangan terhadap produk paket pembelajaran DKK Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif adalah sangat layak untuk digunakan dan dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil validasi yang diperoleh dari para ahli yaitu: penilaian ahli isi mata pelajaran terhadap paket pembelajaran adalah 130 atau 81,3% (kriteria sangat layak), penilaian ahli desain pembelajaran adalah 170 atau 75%, berada dalam kriteria layak, dan penilaian dari ahli media pembelajaran adalah 187 atau 85%, dengan kriteria sangat layak).

Manajemen pendidikan karakter di sekolah dasar (Studi multikasus di Sekolah dasar Cita Hati West Campus Surabaya, SD Gloria Pacar Surabaya, SD Petra Kediri) / Ninik Ratnawati

 

Kata kunci: manajemen pendidikan karakter, penanaman nilai-nilai, sekolah dasar Indonesia dewasa ini sedang dihadapkan pada persoalan dekadensi moral dan karakter yang sangat serius. Pergeseran orientasi kepribadian yang mengarah pada berbagai perilaku amoral sudah demikian jelas dan nampak terjadi ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Atas dasar keadaan dilapangan pemerintah ter-gerak untuk menata kembali pola pendidikan Indonesia dengan menghadirkan program pendidikan karakter. SD Cita Hati West Campus Surabaya, SD Gloria Pacar Surabaya dan SD Petra Kediri, merupakan sekolah yang telah melaksanakan pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang : (1) perencanaan pendidikan karakter di SD Cita Hati West Surabaya, SD Gloria Pacar Surabaya, SD Petra Kediri, (2) sosialisasi pendidikan karakter, (3) penanaman nilai-nilai pendidikan karakter, (4) pengawasan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan karak-ter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskrip-tif analisis melalui rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data di¬lakukan dengan (1) wawancara mendalam, (2) observasi partisipatif, dan (3) studi doku-men. Informan diambil dari teknik purposive. Wujud data adalah kata-kata, catatan, laporan dan dokumen yang diperoleh dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan peserta didik SD Cita Hati West Campus Surabaya, SD Gloria Pacar Surabaya dan SD Petra Kediri. Teknik analisis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan derajat kepercayaan, derajat keteralihan, derajat ketergantungan dan derajat kepastian. Temuan penelitian yang dilakukan pada tiga Sekolah Dasar menunjukkan bahwa (1) kegiatan perencanaan pendidikan karakter di sekolah dilandasi oleh visi yayasan, dan melibatkan pengurus yayasan dan guru sehingga menjadi program pendidikan karakter; (2) sosialisasi dilakukan oleh kepala sekolah kepada orang tua siswa dan selanjutnya guru mensosialisasikan kepada siswa melalui berbagai kegiatan intra dan ekstra sekolah; (3) penanaman nilai-nilai karakter, diawali dengan penetapan prioritas nilai-nilai inti (core values) bagi sekolah, dan metode yang digunakan untuk penyemaian nilai-nilai pendidikan karakter adalah dengan menggunakan pendekatan komprehensif yaitu: (a) melalui kegiatan peng¬integra-sian semua mata pelajaran (integrated subject), (b) sebagai program yang berdiri sendiri (separated subject), (c) program ekstra-kurikuler dan (4) penga¬wasan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter dilaksanakan dalam dua cara yaitu : (a) sistem manajemen partisipasi (melibatkan semua komponen sekolah), (b) melalui penilaian akademik (raport). Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa peranan manajemen pendidikan dalam program pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, agar pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dapat mencapai tujuan seperti yang direncanakan. Oleh karena itu diperlukan kreativitas pimpinan untuk program pengembangan pendidikan karakter sehingga tidak terjebak pada kegiatan rutinitas, pemberdayaan sarana dan prasarana, etos kerja budaya sekolah, keluarga akan mendukung keberhasilan pendidikan karakter.

Kajian pengelolaan jenis burung air dan habitatnya secara partisipatif bersama masyarakat di Danau Meno Lombok Utara / Gito Hadiprayitno

 

Kata kunci: pengelolaan, burung air, habitat, partisipatif, Danau Meno. Danau Meno merupakan salah satu kawasan lahan basah yang unik dibandingkan dengan danau lain yang ada di Provinsi NTB. Lokasinya yang berada di tengah pulau menjadikan danau ini memiliki salinitas yang tinggi sehingga rasanya menjadi asin. Salah satu satwa yang terkait dengan keberadaan Danau Meno ialah burung terutama burung air. Hasil penelitian burung yang selama ini dilakukan di Danau Meno mengindikasikan adanya penurunan jumlah jenis dan kelimpahan individu tiap jenisnya. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya ialah berkurangnya habitat burung (mangrove) karena dilakukan penebangan. Kerusakan mangrove yang ada di Danau Meno ditengarai disebabkan oleh rendahnya pendidikan dan kesadaran masyarakat terkait dengan pentingnya menjaga kelestarian mangrove sebagai habitat burung. Berkaitan dengan hal tersebut dalam upaya mempertahankan berbagai jenis burung air yang ada di Danau Meno harus dilakukan bersamaan dengan upaya mengelola habitatnya. Upaya ini harus dilakukan secara sinergis dengan mengikutsertakan masyarakat setempat sehingga dapat berjalan secara efektif dan masyarakat setempat tidak diabaikan kepentingannya. Dalam rangka mengefektifkan upaya ini perlu dilakukan penelitian tentang kajian pengelolaan jenis burung air dan habitatnya secara paartisipatif bersama masyarakat di Danau Meno. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis komposisi dan struktur jenis burung air yang ada di Danau Meno, (2) menganalisis pola aktivitas harian burung air dalam menggunakan habitatnya di Danau Meno, (3) menganalisis komposisi dan struktur vegetasi habitat burung air yang ada di Danau Meno, (4) menganalisis kondisi pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap keberadaan jenis burung air dan habitatnya yang ada di Danau Meno, (5) menganalisis keterkaitan antara latar belakang pendidikan, pengetahuan, kondisi ekonomi keluarga, terhadap sikap masyarakat pada burung air dan habitatnya yang ada di Danau Meno, dan (6) menemukan bentuk pengelolaan jenis burung air dan habitatnya yang ada di Danau Meno yang dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat. Tahapan penelitian dimulai dengan melakukan inventarisasi jenis burung air, menentukan kelimpahan, frekuensi kehadiran, dan indeks keanekaargaman jenis burung air menggunakan metode penjelajahan yang dikombinasikan dengan metode titik hitung. Sedangkan pola aktivitas harian burung air dilakukan dengan menggunakan metode scan sampling. Pengambilan data yang berhubungan dengan komposisi dan struktur vegetasi habitat burung air dilakukan dengan menggunakan pendekatan analisis vegetasi. Data yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan, pengetahuan, kondisi ekonomi keluarga, dan sikap masyarakat terhadap burung air dan habitatnya dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan angket. Pengkajian pengelolaan jenis burung air dan habitatnya dilakukan menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) dengan teknik wawancara mendalam dan FGD (Focus Group Discussion). Hasil penelitian menemukan bahwa (1) Jenis burung air yang ditemukan di Danau Meno sebanyak 12 jenis yang termasuk ke dalam 5 famili dengan jumlah individu 1892. Nycticorax nycticorax ditemukan dengan kelimpahan tertinggi (869 indvidu) kemudian diikuti secara berturut-turut oleh Butorides striatus (479 individu), Egretta garzetta (179 individu), Tringa nebularia (100 individu), Ardea purpurea (95 individu), Egretta sacra (64 individu), Anas gibberifrons (44 individu), Actitis hypoleucos (32 individu), Chlidonias hybridus (18 individu), Himantopus himantopus (7 individu), Nycticorax caledonicus (4 individu), dan Ardeola speciosa (1 individu), (2) Pola aktivitas harian burung air yang ditemukan di Danau Meno sebagian besar (58%) melakukan aktivitas utama istirahat, mencari makan (25%), dan lokomosi (17%). Jenis burung air yang melakukan aktivitas utama istirahat di Danau Meno ialah Ardea purpurea, Egretta garzetta, Egretta sacra, Nycticorax nycticorax, Nycticorax caledonicus, Tringa nebularia, dan Ardeola spesiosa. Jenis burung air yang melakukan aktivitas utamanya mencari makan ialah Butorides striatus, Actitis hypoleucos, dan Himantopus himantopus. Sementara itu Anas gibberifrons dan Chlidonias hybridus melakukan aktivitas utamanya berupa lokomosi, (3) Komposisi dan struktur vegetasi habitat burung air di Danau Meno terdiri dari 5 jenis mangrove. Pada tingkat pohon, Excoecaria agallocha merupakan jenis yang dominan dengan INP sebesar 204,17%, sedangkan Avicennia marina memiliki INP sebesar 95,83%. Pada tingkat tiang Avicennia marina merupakan jenis yang dominan dengan INP sebesar 215,91%, sedangkan Excoecaria agallocha memiliki INP sebesar 84,09%. Pada tingkat sapihan Avicennia marina merupakan jenis yang dominan dengan INP sebesar 243,40% kemudian diikuti secara berturut-turut oleh Bruguiera cylindrica (INP 28,15%), Lumnitzera racemosa (INP 14,47%), dan Scyphiphora hydrophyllacea (INP 13,98%). Pada tingkat semai Avicennia marina merupakan jenis yang mendominasi dengan INP sebesar 251,76% kemudian diikuti secara berturut-turut oleh Bruguiera cylindrica (INP 31,53%) dan Scyphiphora hydrophyllacea dengan INP sebesar 16,71%, (4) Pengetahuan masyarakat tentang burung air dan habitatnya dikategorikan tinggi (91,2%) sedangkan sisanya (8,8%) memiliki pengetahuan yang kurang (rendah), (5) Latar belakang pendidikan, pengetahuan, dan kondisi ekonomi keluarga secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap masyarakat pada burung air dan habitatnya yang ada di Danau Meno dengan meberikan kontribusi sebesar 25%, (6) Pengelolaan jenis burung air dan habitatnya yang dilakukan di Danau Meno harus mengikutsertakan masyarakat karena masyarakat memiliki pengetahuan dan sikap yang sudah memadai. Keterlibatan pemerintah dan lembaga lain diharapkan hanya berperan sebagai fasilitator bukan berperan dalam menentukan kebijakan.

Pengaruh kebijakan pendanaan, kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap kepemilikan manajerial / Pungki Dwiyanti

 

Kata kunci : Kebijakan Pendanaan (Debt to total asset), Kebijakan Dividen (Dividen payout rasio), Profitabilitas (Return on asset), dan Kepemilikan Manajerial MOWN). Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menyediakan kejelasan empiris tentang faktor yang kemungkinan mempengaruhi manajer dalam kepemilikan manajerial. Penelitian ini menguji pengaruh kebijakan pendanaan (DTA), kebijakan dividen (DPR), dan profitabilitas (ROE) terhadap kepemilkan manajerial. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan beberapa kriteria yaitu (1) Perusahaan manufaktur yang listed di BEI yang selalu menyajikan laporan keuangan tahun buku berakhir 31 desember selama periode pengamatan 2005-2008 (2) Perusahaan harus sudah terdaftar pada awal periode pengamatan dan tidak delisting sampai akhir periode dalam penelitian, (3) laporan keuangan mempunyai data lengkap yang dibutuhkan dalam penelitian yaitu rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian (DTA, DPR, ROE dan MOWN), dan (4) Pada awal periode pengamatan hingga akhir periode pengamatan menghasilkan laba positif. Dalam penelitian diperoleh sampel sebanyak 30 perusahaan dari 205 perusahaan sehingga selama periode empat tahun diperoleh 120 perusahaan pada sektor manufaktur. Data dianalisis menggunakan analisis regresi berganda dan uji hipotesis menggunakan uji t secara parsial dengan level of significance 5% dan uji koefisien determinasi. Hasil dari analisis regresi berganda didapat 12 outlier yang harus dihilangkan karena data ekstrim sehingga jumlah sampel dalam penelitian menjadi 108 perusahaan selama lima tahun. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda diperoleh hasil yang pertama menunjukkan bahwa kebijakan pendanaan mempunyai pengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan manajerial sehingga mendukung hipotesis. Hasil kedua menunjukkan bahwa kebijakan dividen mempunyai pengaruh positif dan tidak signifikan secara parsial terhadap kepemilikan manajerial sehingga tidak mendukung hipotesis. Sedangkan hasil yang terakhir menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap kepemilikan manajerial sehingga tidak mendukung hipotesis.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif Jigsaw untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas V semester II tahun 2011/2012 di SD Negeri Tanjungrejo I Malang / Ilham Fahriansah

 

Kata Kunci : Metode Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw, Keaktifan, Hasil Belajar Metode Pembelajaran Kooperatif Jigsaw dipilih untuk diterapkan di SD Negeri Tanjungrejo I Malang, Mata pelajaran IPS Kelas V Semester II karena proses pembelajarannya belum sesuai dengan prinsip belajar sehingga berdampak terhadap hasil belajar siswa yang rendah. Selain itu juga pelajaran IPS materinya membutuhkan waktu lama, waktunya terbatas jika dikerjakan secara individu, harus dikuasai secara mendalam agar pengetahuan yang sudah diperoleh siswa tidak mudah dilupakan, dan siswa dapat mencari sendiri makna dari sesuatu yang mereka pelajari. Maka dengan metode pembelajaran kooperatif jigsaw waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama karena materi dikerjakan secara berkelompok dimana setiap siswa diberikan materi yang berbeda dalam kelompok dan kemudian masing-masing siswa menjelaskan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain, bisa meringankan siswa dalam menguasai suatu materi, proses pembelajarannya menekankan pada keaktifan dan pengalaman siswa secara langsung sehingga materi yang diperoleh siswa tidak mudah dilupakan, hasil belajarnya dapat dicapai dengan kelompok jigsaw atau kelompok ahli. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif jigsaw untuk siswa kelas V semester II di SD Negeri Tanjungrejo I Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus. Dimana pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini setiap siklusnya ada 2x pertemuan. Pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari tes hasil belajar siswa, hasil observasi/pengamatan dan dilengkapi dengan data wawancara, catatan lapangan, dan pedoman dokumentasi. Proses perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dari siklus I ke siklus II yaitu peneliti lebih merangsang interaksi antar siswa, dan peneliti lebih berusaha untuk menemukan soal-soal yang sulit. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa setelah penerapan metode pembelajaran kooperatif jigsaw hasil dan keaktifan belajar siswa dalam kelompok pada mata pelajaran IPS kelas V semester II di SD Negeri tanjungrejo I meningkat. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 71,20 dan ketuntasan klasikal 69% menjadi sebesar 84,13 dan ketuntasan klasikal 90% pada siklus II. Sedangkan rata-rata keaktifan siswa pada siklus I pertemuan 1 dan 2 sebesar 67,8% dan 69,7% menjadi sebesar 82,4% dan 86,6% pada siklus II pertemuan 1 dan 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas Kabupaten Kediri / Hidayatika Ibenty H.

 

Kata Kunci:tingkat kesejahteraan, petani ikan Kecamatan Badas merupakan salah satu kecamatan di sebelah utara Ibukota Kabupaten Kediri. Kecamatan ini merupakan daerah yang subur dengan saluran irigasi yang baik dan dialiri sungai yang mengalir sepanjang tahun.Kecamatan Badas banyak terdapat petani ikan lahan sawah yang terdapat pada dua desa, yakni Desa Canggu dan Desa Krecek. Petani ikan lahan sawah yang terdapat pada dua desa tersebut diduga memiliki tingkat kesejahteraan yang meningkat. Pada tahun 2008, diketahui tingkat kesejahteraan yang dimiliki adalah Keluarga Sejahtera 1, Keluarga Sejahtera 2, Keluarga Sejahtera 3 dan Keluarga Sejahtera 3+. Sedangkan Pada Tahun 2010 tingkat kesejahteraannya meningkat menjadi Keluarga Sejahtera 2, Keluarga Sejahtera 3, dan Keluarga Sejahtera 3+. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah, mendeskripsikan tingkat kesejahteraaan petani ikan dan mendeskripsikan hubungan antara faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan dengan tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah.Penelitian ini merupakan penelitian sensus. Penelitian ini menggunankan metode survey dengan sampel semua petani ikan lahan sawah yang terdapat di Desa Canggu dan Desa Krecek. Teknik pengambilan data yang digunakan angket, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas meliputi pendidikan, pendapatan, beban tanggungan, pengeluaran, lahan, produktifitas dan modal usaha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah di Kecamatan Badas mengalami peningkatan. Tingkat kesejahteraan petani ikan yang mengalami peningkatan yakni tidak ditemukannya tingkat kesejahteraan keluarga 2 dan bertambahnya tingkat kesejahteraan keluarga 3+. Berdasarkan hasil analisis diketahui faktor yang mempengaruhi dengan tingkat kesejahteraan petani ikan lahan sawah adalah luasan lahan dan pendapatan pokok petani ikan lahan sawah. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kecenderungan kaitan antara luasan lahan sebesar 1400-<7000 m2 dengan tingkat kesejahteraan petani ikan. Sedangkan hasil analisis tabulasi silang antara pendapatan pokok dengan tingkat kesejahteraan didapatkan nilai kecenderungan Rp 1.000.000-< Rp 5000.000 dengan tingkat kesejahteraan. Luasan lahan dan pendapatan pokok sangat berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan petani ikan.

Pengaruh penggunaan modul pembelajaran berbasis Learning Cycle 5-E pada materi asam-basa terhadap hasil belajar siswa kelas X kompetensi keahlian kimia analisis SMK Negeri 7 Malang / Riska Kurniawati Asri

 

Kata Kunci: Modul, Model Learning Cycle-5E, Hasil Belajar Modul merupakan salah satu alternatif bahan ajar yang merupakan satu kesatuan bulat dan lengkap, yang mengandung berbagai macam kegiatan belajar. Salah satu penelitian pengembangan modul dilakukan oleh Rhamandica (2011). Modul Asam-Basa yang dikembangkan Rhamandica (2011) telah divalidasi isi dan tampilan oleh 1 orang dosen kimia UM dan 3 orang guru dari SMKN 7 Malang dengan nilai rata-rata hasil uji validasi sebesar 3,51 dan kriteria penilaian valid sehingga modul tersebut layak dilakukan uji empirik. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul dan keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul pada materi Asam-Basa; 2) mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul pada materi Asam-Basa; 3) mengetahui hasil belajar aspek psikomotor dan aspek afektif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul dan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul pada materi Asam-Basa; 4) mengetahui persepsi siswa terhadap penggunaan modul dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E pada materi Asam-Basa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah gabungan dari eksperimental semu dan deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas X kompetensi keahlian kimia analisis SMK Negeri 7 Malang Tahun Ajaran 2011/2012 yang terdiri dari 2 kelas. Penentuan kelas eksperimen dan kontrol dalam penelitian dilakukan dengan teknik undian. Instrumen yang digunakan adalah instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan terdiri dari perangkat pembelajaran penerapan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul dan perangkat pembelajaran penerapan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul. Instrumen pengukuran yang digunakan berupa angket, tes dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data statistik dan deskriptif. Analisis data statistik dilakukan dengan bantuan SPSS 16 for Windows. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh empat kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut : (1) keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul pada materi Asam-Basa terlaksana dengan baik (rerata persentase keterlaksanaan RPP I, II dan III sebesar 95,24%) dan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul pada materi Asam-Basa terlaksana dengan baik (rerata persentase keterlaksanaan RPP I, II dan III sebesar 97,95%); (2) terdapat perbedaan hasil belajar aspek kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul sesuai hasil uji-t dua pihak dengan nilai signifikansi (0,000) < 0,05; (3) hasil belajar aspek psikomotor siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul (rerata nilai sebesar 88,45) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul (rerata nilai 87,04) dan hasil belajar aspek afektif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E berbantuan modul (rerata nilai sebesar 83,35) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle-5E tanpa berbantuan modul (rerata nilai 80,61); (4) persepsi siswa terhadap isi modul adalah sangat positif (76,69%) dan persepsi siswa terhadap pembelajaran dengan modul adalah sangat positif (80,50%). Saran yang diberikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah penggunaan modul Asam-Basa perlu mendapat bimbingan guru agar siswa lebih mudah dalam memahami materi pelajaran, beberapa perbaikan perlu dilakukan terhadap modul Asam-Basa yang dikembangkan oleh Rhamandica (2011) agar modul Asam-Basa tersebut semakin baik dan penelitian untuk mengetahui pengaruh modul Asam-Basa yang dikembangkan Rhamandica (2011) hendaknya diteruskan oleh peneliti lain untuk diterapkan di sekolah lain.

Penerapan pembelajaran Model Siklus Belajar 5E dipadu dengan Teams Games Tournament untuk meningkatkan kemampuan berpkir kritis dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang / Rista Farida

 

Kata kunci:siklus belajar 5E, TGT, bepikir kritis, hasil belajar Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan dalam proses pembelajaran dikelas adalah dengan menggunakan model siklus belajar. Siklus belajar (Learning Cycle) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Siklus belajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang ada. Penerapan model siklus belajar membuat proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorentasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Cara lain yaitu dengan menggunakan model Teams Games Tournament (TGT). Teams Games Tournament merupakan model pembelajaran kooperatif, sebagaimana pembelajaran kooperatif yang lain TGT juga memunculkan adanya kelompok dan kerjasama dalam kelompok. Serta terdapat perlombaan atau pertandingan pada akhir pembelajaran. Aktivitas belajar dengan perlombaan atau pertandingan yang dirancang dalam model TGT memungkinkan siswa untuk dapat lebih bersemangat dan antusian dalam mengikuti pembelajaran disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat serta keterlibatan belajar. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Instrumen pembelajaran ini berupa RPP dan LKS. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi, catatan lapangan, foto dan tes tulis.Tujuan penelitian adalah 1) Mendeskripsikan kemampuan berpikir siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang melalui penerapan pembelajaran model siklus belajar 5E dipadu dengan TGT. 2) Mendeskripsikan hasil belajar biologi siswa kelas VII H SMP Negeri 13 Malang melalui penerapan pembelajaran model siklus belajar 5E dipadu dengan TGT . Dan 3) Menemukan sintak pembelajaran model siklus belajar 5E dipadu dengan TGT yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan sintak pembelajaran oleh guru sebesar 93,33% dan 96,67% pada siklus II, keterlaksanaan sintaks pembelajaran oleh siswa sebesar 92,15% pada siklus I dan 96,70% pada siklus II. Kemampuan berpikir kritis rata-rata ketuntasan klasikal pada siklus I 80% dan dan 87,5% pada siklus II. Peningkatan aspek membandingkan sebesar 6,18%,. Aspek hubungan sebab akibat sebesar 20,36%. Aspek memberi alasan sebesar 12,27%. Aspek menyimpulkan sebesar 20,67%. Aspek berpendapat 0,62%. Aspek mengelompokkan sebesar 16,21%. Aspek menerapkan sebesar 10,97%. Dan aspek menganalisis sebesar 17,97%. Hasil belajar siswa yang diukur dalam penelitian ini meliputi hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar kognitif diperoleh dari hasil tes tulis pada setiap siklus. Rata-rata ketuntasan klasikal pada siklus I 77,5% dan 90% pada siklus II. Peningkatan aspek kognitif CI (remembering) sebesar 0,30%, C2 (understanding) 13,54%, C3 (applying) sebesar 7,69%, C4 (analyzing) sebesar 39,17%, C5 (evaluatung) sebesar 8,82%, dan C6 (create) sebesar 4,65%. Hasil belajar afektif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap dan kepatuhan terhadap moral. Rata-rata hasil belajar afektif pada siklus I 76,80 siklus II 78,66. Aspek afektif A1 mengalami penurunan 6,33%. Aspek afektif A2 (menanggapi) mengalami peningkatan sebesar 1,92%. Aspek afektif A3 (menghargai) 0,94%. Aspek afektif A4 (mengatur diri) 2,34%. Dan aspek A5 (menjadikan pola hidup) sebesar 7,15%. Hasil belajar psikomotorik diukur dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal pada kedua siklus telah mencapai 100%. Nilai rata-rata hasil belajar psikomotor pada siklus I sebesar 78,87 dan siklus II sebesar 80. Penelitian tindakan kelas tentang penerapan model siklus belajar 5E dipadu dengan TGT untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang menghasilkan sintak sebagai berikut yaitu: 1) Pendahuluan berisi tahap engagement dipadu tahap penyajian materi tindakan yang dilakukan terdiri dari apersepsi sehingga dapat memunculkan konflik kognitif; 2) kegiatan inti berisi tahap eksplorasi dipadu tahap teams tindakan yang dilakukan terdiri dari pembentukan kelompok heterogen yang terdiri dari 4 siswa dan diskusi kelompok dengan LKS berbantuan artikel, tahap eksplanasi dipadu tahap games, dan tahap elaborasi dipadu tahap turnamen tindakan yang dilakukan terdiri dari pengelompokan siswa secara homogen untuk kegaiatan turnamen; dan 3) Penutup berisi tahap evaluasi dipadu tahap penghargaan kelompok tindakan yang dilakukan terdiri dari pengkategorian dan penghargaan kelompok.

Penerapan pembelajaran kontektual inkuiri berbasis Lesson Study pada mata pelajaran pelayanan prima untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (Studi kasus pada siswa kelas X Pemasaran SMK Negeri 2 Pacitan) / Christina Ria Respati

 

Kata kunci: Inkuiri, lesson study, aktivitas, hasil belajar. Karena kompetisi dalam bidang apapun semakin ganas, menuntut setiap individu dalam suatu negara untuk berkualitas dalam spesialisasi mereka sendiri. Namun, saat ini masalah adalah kurangnya kompetensi siswa karena kurangnya strategi penyampaian bahan ajar sehingga siswa menjadi malas, konsentrasi kurang dalam belajar, dan tidak mampu memahami pelajaran. Kurangnya strategi pembelajaran mengakibatkan proses pembelajaran dari tidak fokus, tidak efektif dan tidak efisien. Namun, begitu banyak upaya dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa, keaktifan, dan pemahaman tentang pelajaran. Secara umum kajian ini berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan layanan profesional dalam menangani pendidikan, pengajaran dan proses pembelajaran di SMK Negeri 2 Pacitan. Secara khusus penelitian ini berusaha untuk memberikan inovasi pembelajaran dengan menawarkan metode inkuiri berbasis lesson study untuk diterapkan pada mata pelajaran Pelayanan Prima untuk meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan desain deskriptif kualitatif. Sumber data adalah data primer yang dikumpulkan langsung dari tes, wawancara, kuesioner, dan observasi, dan data sekunder yang dikumpulkan dari arsip di SMK Negeri 2 Pacitan. Subyek penelitian adalah siswa kelas X Program Pemasaran, SMK Negeri 2 Pacitan. Data dikumpulkan melalui instrumen dalam bentuk soal pretest dan posttest, catatan lapangan, observasi guru dan kegiatan siswa, pengamatan studi pelajaran, dokumentasi, dan kuesioner yang kemudian dianalisis melalui reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan dalam dua langkah yaitu siklus I dan siklus II. Teknik analisis data penelitian adalah deskriptif dengan menggunakan persentase dan deskriptif kualitatif. Temuan menunjukkan ada kemajuan dalam arti keaktifan belajar siswa seperti yang disajikan dalam perbandingan pengamatan siklus I (87,5%) untuk siklus II (96,43%) yang menunjukkan peningkatan sebanyak 8,93%. Peningkatan keaktifan siswa pada mata pelajaran Pelayanan Prima juga dapat diamati pada rata-rata penilaian afektif siklus I (73,83%) ke II siklus (82,72%) yang menunjukkan peningkatan sebanyak 8,89%. Kenaikan hasil belajar siswa juga menunjukkan pada aspek kognitif (pretest dan posttest) pada siklus I setelah perlakuan skor rata-rata adalah 73,03 dan ketuntasan belajar sama sebanyak 60,71% yang pada siklus II setelah perlakuan skor rata-rata meningkat menjadi 84,82 dan ketuntasan belajar adalah 100%. Analisa kuesioner menunjukkan bahwa siswa Program Pemasaran kelas X, SMK Negeri 2 Pacitan menerima pembelajaran inkuiri berbasis lesson study untuk diterapkan pada mata pelajaran Pelayanan Prima. Saran yang diberikan adalah sebagai berikut: (1) Para guru mengalokasikan waktu sesuai dengan rencana pelajaran, (2) para siswa mengikuti kelas dengan konsentrasi penuh karena melatih mereka untuk berpikir kritis, (3) peneliti kemudian melakukan inovasi dalam metode pembelajaran sehingga mereka bisa mencapai hasil yang optimal, dan (4) sebelum kelas dimulai, para guru mempersiapkan pengelompokan siswa sehingga tidak akan membuang waktu.

Kajian tentang pemahaman konsep reaksi redoks pada seswa kelas X semester II SMA nEGERI 5 Malang tahun ajaran 2011/2012 / Agustina Catur Wulandari

 

Kata kunci: pemahaman siswa, konsep reaksi redoks Konsep kimia merupakan konsep berjenjang berkembang dari sederhana ke konsep lebih tinggi tingkatannya. Dengan demikian untuk memahami konsep lebih tinggi tingkatannya diperlukan pemahaman secara benar mengenai konsep dasar untuk membangun konsep tersebut. Sebagai contoh adalah konsep reaksi redoks yang dibangun oleh konsep bilangan oksidasi, reaksi reduksi-oksidasi, reduktor-oksidator dan identifikasi reaksi. Kesulitan dalam memahami konsep sederhana akan menyebabkan kesulitan dalam memahami konsep yang lebih kompleks. Materi reaksi redoks pada umumnya termasuk materi yang sulit, hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya dan karena di SMA Negeri 5 Malang belum pernah diadakan penelitian tentang pemahaman siswa tentang reaksi redoks, maka peneliti menganggap penting untuk mengadakan penelitian pemahaman siswa tentang konsepreaksi redoks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemahaman siswa kelas X SMAN 5 Malang mengenai reaksi oksidasi, reaksi reduksi, bilangan oksidasi, oksidator-reduktor, identifikasi reaksi redoks, penyetaraan reaksi redoks dalam suasana asam dan suasana basa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa secara sistematik dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan, dimana peneliti hanya melakukan survei terhadap pemahaman siswa tentang materi redoks. Sampel penelitian yaitu siswa kelas X-5 dan kelas X-10. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan cluster random sampling, yang dilakukan secara acak kelas. Instrumen penelitian adalah tes pemahaman siswa pada konsep reaksi redoks, yang terdiri-dari 30 butir, berupa tes obyektif dengan pemberian alasan pemilihan jawaban. Dari hasil validasi isi diperoleh instrumen valid dengan validitas 97,77%, dan reliabel dengan koefisien reliabilitas 0,733. Data dianalisis dengan menghitung persentase tingkat pemahaman konsep siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa kelas X SMA Negeri 5 Malang: (1) terhadap reaksi oksidasi berdasarkan penggabungan oksigen tergolong rendah (55%) dan terhadap reaksi oksidasi berdasarkan transfer elektron (pelepasan elektron) tergolong cukup (60%). (2) terhadap reaksi reduksi berdasarkan pelepasan oksigen tergolong cukup (62%) reaksi reduksi berdasarkan transfer elektron (pengikatan elektron) tergolong cukup (59%). (3) dalam menentukan senyawa yang termasuk reduktor dan oksidator berdasarkan konsep pengikatan dan pelepasan oksigen tergolong tinggi (70%) dan dalam menentukan senyawa yang termasuk reduktor dan oksidator berdasarkan konsep transfer elektron tergolong rendah (45%) serta dalam menentukan senyawa yang termasuk reduktor dan oksidator berdasarkan perubahan bilangan oksidasi tergolong cukup (62%). (4) terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion tunggal tergolong rendah (51%), terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur bebas tergolong sangat tinggi (83%), terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa tergolong rendah (52%) dan terhadap penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion poliatom tergolong sangat tinggi (81%). (5) dalam menentukan reaksi redoks berdasarkan perubahan bilangan oksidasi tergolong rendah (52%). (6) dalam mengidentifikasi reaksi autoredoks tergolong rendah (47%). (7) dalam menyetarakan reaksi redoks dengan metode ion-elektron tergolong cukup (65%) dan tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dalam larutan asam tergolong tinggi (73%), serta tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dalam larutan basa tergolong rendah (42%).

Pemanfaatan kapur sebagai filter untuk campuran aspal beton ditinjau dari parameter marshall / Yusti Anggraeni Pertiwi

 

Kata kunci : kapur, filler, aspal beton, parameter marshall. Batu kapur merupakan salah satu bahan bangunan yang mudah dicari di daerah khususnya yang memiliki tanah dan pegunungan kapur yang ada di Indonesia. Batu kapur adalah salah satu filler yang diharapkan dapat meningkatkan sifat-sifat fisik pada campuran aspal, terutama pada lapisan aspal beton yang kurang baik dalam menggunakan campuran beraspal. Berdasarkan pada pentingnya kualitas bahan yang digunakan untuk lapisan aspal beton, maka perlu dilakukan penelitian kualitas perkerasan lapisan aspal beton yang dihasilkan dari campuran aspal yang menggunakan filler kapur dan dicampur dengan aspal penetrasi 60/70 kemudian diuji dengan menggunakan alat Marshall. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui sifat dan karakteristik aspal bahan penyusun aspal beton, (2) Mengetahui sifat dan karakteristik aspal beton dengan digunakannya kapur sebagai filler. Metode penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap pemilihan bahan, tahap persiapan, dan pembuatan benda uji, serta tahapan pengujian dan analisis data. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sifat dan karakteristik bahan penyusun aspal beton dapat diketahui dengan pengujian berat jenis dengan nilai 2,645 gr/cm3, penyerapan agregat kasar 2,24% , pengujian keausan agregat kasar 17,67%, pengujian penetrasi aspal 63,33 mm, pengujian berat jenis aspal 1,069 gr/cm3, pengujian daktilitas aspal 134,8 cm, pengujian titik nyala 3290C, dan pengujian titik lembek 490C, (2) Sifat dan karakteristik aspal beton dengan digunakannya filler kapur sebagai bahan penyusun aspal beton ditinjau dari Parameter Marshall dapat diketahui dengan nilai Stabilitas maksimum 1313,18 kg pada kadar kapu 0%, Flow yang memenuhi syarat diperoleh pada kadar kapur 0-80% yaitu 3,85-3,92 mm, Marshall Quotient dengan nilai 257,314 mm pada kadar kapur 80%, VIM yang memenuhi syarat pada kadar kapur 0% dengan nilai 4,57%, dan VMA yang memenuhi syarat pada kadar kapur 0-100% dengan nilai 17,14-22,51 %, (3) Berdasarkan tahap dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan filler batu kapur yang paling baik dengan menggunakan kadar dibawah 80% dan filler batu kapur ini dapat dimanfaatkan pada campuran Lapisan Aspal Beton (LASTON).

Peningkatan kemampuan membaca nyaring siswa kelas III melalui Metode Audiolingual (MAL) di SDN Karangbesuki 1 Kecamatan Sukun Kota Malang / Achmad Fauzi

 

Kata Kunci: Membaca, Nyaring, MetodeAudiolingual (MAL), SD Pembelajaran merupakan inti dalam proses pendidikan, karena melalui pembelajaran akan tercipta suatu proses belajar mengajar. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar perlu adanya suatu pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga pembelajaran didalam kelas benar-benar mengeksplorasi seluruh kemampuan siswa. Diantara metode yang cocok untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah metode Audiolingual (MAL) untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring. Penelitianinibertujuanuntuk (1) MendeskripsikanpenerapanMetode Audio Lingual (MAL) untukmeningkatkanketerampilanmembacanyaringsiswakelas III SDN KarangBesuki I Kota Malang (2) Mendeskripsikanpeningkatanketerampilanmembacanyaringsiswakelas III SDN KarangBesuki I KecamatanSukun Kota Malang melaluiMetode Audio Lingual (MAL). Penelitianinimenggunakanpenelitiantindakankelas.Dalampengumpulan data penelitimenggunakantekniktesdan non tes.Tekniktesdigunakanuntukmengumpulkan data kemampuansiswadalammembacanyaring.TesdilakukandenganpemberiantugasmembacanyaringsuatuteksbacaandenganmetodeAudiolingual.Teknik non tesdilakukanuntukmengetahuikeadaan yang terjadisebenarnyaselama proses pembelajaran di dalamkelas, yaitudenganmenggunakanteknikobservasi, wawancara, dancatatanlapangan. Hasilpenelitianpratindakandiketahuibahwa guru dalammengajarkhususnyapembelajaranmembacamasihmenggunakanmetodeklasik (ceramah) sehinggamenyebabkansiswakurangantusiasdalammengikutipembelajaran.Setelahmengikutipembelajaranmembacanyaringdenganmetodeaudiolingual,aktivitasdankemampuansiswadalammembacanyaringmengalamipeningkatan.Kemampuanmembacanyaringdarisiklus I pertemuanpertamakepertemuankeduamengalamipeningkatansebesar 47,3%. Sedangkandarisiklus I pertemuankeduakeSiklus II mengalamipeningkatansebesar 31,6%. Hasilanalisistersebutmenunjukkanbahwapembelajarandenganmetodeaudiolingualdapatmeningkatkanaktivitas yang positifsehinggasiswalebihtertarikdanantusiasdalampembelajaranmembacanyaringdankemampuanmembacanyameningkat. Berdasarkanuraian di atasdapatdisimpulkanbahwametodeaudiolingualdapatmeningkatkankemampuanmembacanyaringsiswakelas III SDN Karangbesuki I KecamatanSukun Kota Malang.Olehkarenaitudisarankanbagi guru dansekolahsupayalebihtermotivasidanlebihsemangatdalammemberikanpengajaran yang bermutu, bervariasidanberinovasiuntukmeningkatkanmutupendidikan.

Penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKN di SMA Negeri 1 Mojosari Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto / Ayu Maya Wulandari

 

Kata kunci: Lembar Kerja Siswa, PKn, Sarana Bahan Ajar. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan dari berbagai macam sumber belajar. Pembelajaran dapat melibatkan antara dua pihak yaitu siswa sebagai pebelajar dan guru sebagai pembelajar. Pendukung dalam kegiatan pembelajaran salah satunya adalah bahan ajar yang digunakan, diantaranya adalah lembar kerja siswa. Lembar kerja siswa tersebut berupa lembaran-lembaran materi singkat dan soal latihan untuk siswa. Bahan ajar tersebut berfungsi membuat siswa aktif melakukan belajar secara mandiri disaat guru berhalangan hadir untuk memberikan pembelajaran, perumusan masalah penelitian tersebut adalah bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar di SMA Negeri 1 Mojosari? Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui penyusunan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, (2) untuk mengetahui penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, (3) untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, (4) untuk mengetahui upaya guru dalam mengatasi masalah kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumen. Dipilihnya SMA Negeri 1 Mojosari sebagai lokasi penelitian dikarenakan sekolah tersebut merupakan sekolah percontohan dari rintisan sekolah bertaraf internasional di Kabupaten Mojokerto dan merupakan satu-satunya SMA RBSI di Kabupaten Mojokerto. terpilihnya SMA Negeri 1 Mojosari sebagai sekolah percontohan tersebut dikarenakan kinerja guru yang profesional, lingkungan belajar yang kondusif, dan SMA Negeri 1 Mojosari mampu memenuhi delapan standart Nasional pendidikan sesuai PP no 19 tahun 2005. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran yang terdapat di sekolah tersebut menggunakan lembar kerja siswa sebagai salah satu bahan ajar pendamping pada mata pelajaran PKn selain buku teks yang digunakan. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini bersumber dari para guru PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, siswa dan dokumentasi. Temuan penelitian dikemukakan bahwa (1) penyusunan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari adalah pembentukan Tim MGMP yang didalamnya merupakan gabungan dari guru-guru dari Kabupaten Mojokerto. Penyusunan lembar kerja siswa dari Tim MGMP tersebut bertujuan untuk membuat bahan ajar yang sesuai dengan kriteria siswa dalam sekolah, hal ini dikarenakan dengan disusunnya lembar kerja siswa tersebut guru mampu mengetahui tingkat pemahaman siswa. Pemanfaatan lembar kerja siswa tersebut merupakan salah satu usaha yang digunakan oleh guru untuk membuat siswa mampu untuk belajar mandiri. (2) Penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari adalah sebagai salah satu bahan ajar pendamping dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan, lembar kerja siswa bukan satu-satunya bahan ajar yang digunakan di SMA Negeri 1 Mojosari. Bahan ajar pendamping lain yang dijadikan referensi dalam kegiatan belajar mengajar dapat berupa buku teks yang tersedia diperpustakaan sekolah, maupun memanfaatkan perkembangan IT yang isinya selalu mengikuti perkembangan dalam masyarakat. (3) Kelebihan dan kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, adalah jika dilihat dari segi kelebihannya menggunakan lembar kerja siswa dilihat dari isi materi yang singkat membuat guru mampu membagi waktu pembelajaran dengan baik, mampu membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran pada saat kegiatan pembelajaran tidak kondusif yang artinya guru mata pelajaran tidak dapat memberikan pembelajaran dikarenakan tugas lain, dan siswa lebih mudah melakukan belajar secara mandiri dengan menggunakan lembar kerja siswa karena penulisannya menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami oleh siswa, sedangkan kelemahan dalam penggunaan lembar kerja siswa dari isi yang singkat membuat siswa kurang mampu memahami materi secara keseluruhan dan secara utuh, karena siswa sebagai pengguna lembar kerja tersebut merasa cukup dengan bahan ajar tersebut. (4) Upaya guru dalam mengatasi masalah kelemahan penggunaan lembar kerja siswa sebagai sarana bahan ajar PKn di SMA Negeri 1 Mojosari, dengan cara memperbaiki isi daripada lembar kerja siswa tersebut, maupun membiasakan siswa mampu memanfaatkan waktu luang dalam kegiatan pembelajaran untuk belajar mencari referensi untuk memperkaya materi. Berdasarkan temuan penelitian di sarankan bagi siswa untuk mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk kepentingan belajar, memanfaatkan perpustakan pada saat terjadinya kekosongan jam pelajaran, selain itu siswa dapat melakukan belajar mandiri dengan bimbingan teman sebaya.

Manajemen "Moving Class" sebagai pengorganisasian sumber daya pembelajaran (Studi multikasus di SMA Charis Malang, SMA Negeri 3 Sidoarjo, dan SMA Negeri 3 Malang) / Edy Widayat

 

Kata kunci : manajemen pembelajaran, moving class, sumber daya pembelajaran. Moving class adalah bentuk pembelajaran yang merupakan bagian dari manajemen kelas. Namun dalam pelaksanaannya moving class sangatlah luas cakupannya karena sangat berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran, penge-lolaan kelas serta strategi pembelajaran. Manajemen moving class mencakup pengelolaan iklim pembelajaran dan pengelolaan alat. Pengelolaam iklim menyangkut pengelolaan manusianya (human), sedangkan pengelolaan alat menyangkut sarana dan prasarana (tools). Penelitian ini bertujuan pertama, mendiskripsikan dan menjelaskan peren-canaan moving class sebagai pengorganisasian sumber daya pembelajaran di tiga SMA yang meliputi: a) pembelajaran yang dilakukan oleh guru, b) aktivitas guru mengontrol perilaku siswa, c) penyediaan sarana prasarana belajar, d) pengaturan tata ruang belajar mengajar e) pengaturan perpindahan peserta didik, dan f) penga-turan dan penyusunan jadwal pembelajaran. Kedua, mendiskripsikan dan menje-laskan pelaksanaan moving class sebagai pengorganisasian sumber daya pembel-ajaran di tiga SMA yang meliputi: a) pembelajaran yang dilakukan oleh guru, b) aktivitas guru mengontrol perilaku siswa, c) penyediaan sarana dan prasarana belajar, d) pengaturan tata ruang belajar mengajar e) pengaturan perpindahan peserta didik, dan f) pengaturan dan penyusunan jadwal pembelajaran. Ketiga, mendiskripsikan dan menjelaskan pengendalian moving class sebagai pengorga-nisasian sumber daya pembelajaran di tiga SMA yang meliputi: a) proses, dan b) hasil/produk pembelajaran Moving Class. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis fenomenologis untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan mene-kankan pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan ke luar dan kesadaran di dalam, yang berbasis pada ingatan, gambaran dan makna. Penelitian dirancang dengan rancangan studi multikasus dimana analisis data, menggunakan metode komparatif konstan (the constant comparative method) merupakan rangkaian ta-hapan-tahapan kerja yang berlangsung secara serempak atau sekaligus dan analisis datanya senantiasa berbalik ulang ke tahap pengumpulan data dan pengkodean. Tehnik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (indepth intervie-wing), observasi berperan serta, dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan tehnik triangulasi, pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan audibilitas data penelitian oleh para pembimbing sebagai “independent auditor” untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ketiga tehnik tersebut diorganisir, ditafsir dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus (individual cases analysis) maupun analisis lintas kasus (cross cases analysis) guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Langkah penelitian yang dilaksanakan Pertama, dilakukan pengamatan dan pengumpulan data pada SMA Charis Malang. Data terkumpul dipelajari, diberi sandi, dan dikerjakan dengan memperhatikan kategori yang dikembangkan dalam tema, sehingga menjadi temuan konseptual yang masih tentatif. Kedua, dilakukan pengamatan dan pe-ngumpulan data pada SMAN 3 Sidoarjo. Ketiga, dilakukan pengamatan dan pengumpul-an data pada SMAN 3 Malang. Hasil penelitian menunjukan: Pertama, perencanaan pembelajaran yang dilaku-kan oleh guru pada tiga sekolah dilihat dari persiapan mengajar, administrasi pembelajar-an, kegiatan remidial, praktikum dan penilaian hasil pembelajaran harus dilakukan guru dengan tertib baik dalam pembelajaran tim maupun secara mandiri. Kedua, kontrol guru terhadap siswa meliputi penciptaan iklim dan kondisi pembelajaran, bimbingan konseling dan kegiatan ekskul perlu dilakukan agar kondisi kelas kondusif yang memungkinkan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Ketiga, perencanaan untuk pengadaan sa-rana dan prasarana sebagai bagian moving class perlu terus diprogramkan pengadaannya untuk “pangkarakteran” kelas mata pelajaran. Keempat, penataan ruang belajar yang bercirikan mata pelajaran perlu diupayakan oleh guru mata pelajaran dengan didukung penyiapan sarana dan prasarana pembelajaran. Kelima, perpindahan kelas perlu dirancang melalui jadwal dan disesuaikan dengan denah gedung agar pembelajaran bisa berjalan efektif. Keenam, Penyusunan jadwal perlu dibuat dengan mekanisme yang ada serta memperhatikan masukan karena menentukan efektifitas belajar. Ketujuh, pelaksanaan pembelajaran, administrasi kelas, remidi, praktikum dan penilaian yang dilakukan guru tidak harus pembelajaran tim, walau guru harus mengajar 24 jam. Kedelapan, kontrol guru terhadap siswa baik di kelas dan luar kelas perlu dilakukan agar pembelajaran dapat berjalan efektif. Kesembilan, sarana dan prasa-rana belajar wajib disediakan untuk mendukung pembelajaran yang berciri mata pelajaran. Kesepuluh, penataan ruang belajar dengan sarana dan media yang mendukung karakter mata pelajaran perlu disiapkan untuk efektifitas belajar. Kesebelas, perpindahan kelas perlu untuk melatih disiplin siswa, refreshing dan belajar bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang diikuti. Keduabelas, penyusunan jadwal perlu disusun agar baik siswa dan guru dapat mentaati jam pelajaran yang ada, sehingga mengatur pembelajaran secara mekanis. Ketigabelas, pengendalian proses dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran yang berlangsung, supervisi kepada guru dan pengendalian terhadap perilaku siswa serta terhadap sarana dan prasarana pembelajaran. Keempatbelas, pengendalian hasil/produk dilakukan agar pembelajaran, prestasi siswa tetap berkualitas serta guru dituntut meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saran-saran dari penelitian ini antara lain disampaikan kepada: 1) Pimpin-an dan guru sekolah yang diteliti sebagai masukan bermanfaat dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan khususnya dalam mengelola moving class agar mendasarkan hasil temuan baik aspek perencanaan, pelaksanaan maupun pengendalian. 2) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur untuk menjadi bahan masukan yang bermanfaat dalam perumusan kebijakan bidang manajemen moving class agar mendasarkan pada hasil temuan. 3) DinasPendidik-an dan Kebudayaan kabupaten Sidoarjo dan kota Malang untuk menjadi bahan masukan yang bermanfaat dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputus-an menyangkut pengelolaan moving class 4) peneliti lain yang menaruh minat ter-hadap manajemen moving class sebagai pengorganisasian sumber daya pembela-jaran di sekolah dan variabel-variabel yang berpengaruh terhadap prestasi siswa.

Analisis pengaruh struktur modal terhadap rentabilitas sebelum dan sesudah penerbitan obligasi syariah / Antok Andriono

 

Kata Kunci: Struktur Modal, Rentabilitas, Obligasi Syariah Situasi serta kondisi dunia usaha dewasa ini menggambarkan betapa semakin berat dan ketatnya persaingan antar pelaku bisnis. Ditengah tuntutan tersebut, dunia usaha dan industri di Indonesia juga harus mengahadapi secara bersamaan kenyataan yang semakin tidak menentu dan sulit diprediksi. Mulai dari fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM), krisis energi hingga dampak dari krisis keuangan global belakangan ini. Dalam menghadapi semua persoalan tersebut, pelaku usaha dan industri hendaknya mampu mengimplementasikan berbagai macam strategi bisnis secara simultan. Mengingat masalah tidak hanya datang dari sisi ektern tetapi juga dari sisi intern, maka intervensi masalah juga harus dimulai dari sisi ini. Masalah krusial dari sisi ini salah satunya adalah kebijakan pendanaan. Sebagaimana diketahui, dewasa ini berkembang sejumlah alternatif pendanaan berbasis syariah. Salah satunya adalah obligasi syariah yang cukup mempunyai prospek baik dalam usaha meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (DER) terhadap variabel terikat (ROE) sebelum dan sesudah penerbitan obligasi syariah. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dan uji asumsi klasik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang menerbitkan obligasi syariah di pasar modal Indonesia. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 7 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum terbitnya obligasi syariah, struktur modal berpengaruh secara negatif signifikan terhadap rentabilitas perusahaan. Ini berarti bahwa setiap perubahan yang terjadi atas struktur modal berkontribusi secara nyata terhadap perubahan rentabilitas. Sementara itu, angka negatifnya mengindikasikan adanya penurunan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setiap adanya peningkatana jumlah hutang. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan setelah penerbitan obligasi syariah, struktur modal berpengaruh secara positif tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi DER, maka ROE akan besar pula. Dengan kata lain, penerbitan obligasi syariah dapat lebih meningkatkan ROE. Secara keseluruhan, hal ini dikarenakan obligasi syariah berbeda dengan sumber pendanaan yang lain seperti obligasi konvensional maupun hutang-hutang yang lainnya. Obligasi syariah tidak menggunakan akad hutang-piutang dalam transaksinya melainkan menggunakan akad penyertaan dan penghasilan dalam bentuk bagi hasil. Akad seperti ini akan memberikan jaminan keamanan keuangan perusahaan dari bunga yang bersitaf tetap pada saat krisis keuangan dan ekonomi terlebih lagi dalam kondisi perekonomian yang sehat. Penelitian ini semakin menguatkan alasan bagi pelaku bisnis untuk mulai memanfaatkan obligasi syariah sebagai alternatif sumber pendanaan yang menguntungkan. Pertumbuhan rentabilitas yang cukup tinggi pada perusahaan yang menerbitkan obligasi syariah juga dapat menjadi alasan bagi investor untuk mulai menggandrungi obligasi syariah sebagai salah satu bagian dari portofolio investasinya. Bagi pemerintah, sudah waktunya untuk memberi payung hukum terhadap instrumen ini guna lebih memberikan rasa aman kepada semua pihak yang berkaitan.

Pengembangan instrumen assesmen pembelajaran membaca puisi siswa SMP/MTs / Yulli Hariyani

 

Kata Kunci: pengembangan instrumen asesmen, membaca puisi. Instrumen asesmen adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan informasi atau bukti tentang kemajuan belajar peserta didik untuk melihat perubahan tingkah laku yang berkenaan dengan ranah afektif, kognitif dan psikomotorik, terutama berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan peserta didik. Instrumen asesmen berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pengetahuan peserta didik dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati. Instrumen asesmen yang digunakan untuk melakukan asesmen pembelajaran membaca puisi bisa berbagai macam instrumen, antara lain tes objektif, tes subjektif, tugas unjuk kerja, produk, laporan, performansi, dan sebagainya. Instrumen asesmen yang dikembangkan di dalam penelitian ini adalah tugas unjuk kerja kelas VII, tes tulis (subjektif) kelas VIII dan rubrik penilaian hasil membaca puisi. Langkah-langkah pengembangan instrumen asesmen secara umum adalah (1) melakukan studi pendahuluan, (2) membuat rancangan pengembangan, (3) membuat draf awal instrumen asesmen, (4) melakukan uji coba produk, dan (5) revisi akhir. Studi pendahuluan yang dilakukan adalah melakukan analisis terhadap instrumen asesmen yang digunakan oleh praktisi (guru bahasa Indonesia). Berdasarkan hasil studi pendahuluan, dibuatlah rancangan pengembangan yang bisa menjadi solusi dari kelemahan dari instrumen asesmen yang telah ada. selanjutnya rancangan yang telah dibuat akan dikembangkan menjadi draf instrumen asesmen. Uji coba produk dilakukan kepada (1) ahli instrumen asesmen, (2) ahli pembelajaran sastra, (3) praktisi 1 (Guru bahasa Indonesia kelas VII), (4) praktisi 2 (Guru bahasa Indonesia kelas VIII), (5) kelompok kecil siswa kelas VIID dan VIIIB. Uji coba kepada para ahli dan praktisi berfungsi untuk mengetahui tingkat kelayakan produk dari aspek validitas isi, keterbacaan, kepraktisan, validitas konstruk, dan kesesuaian, sedangkan uji coba kepada kelompok kecil siswa bertujuan untuk mengetahui kesesuaian tugas unjuk kerja dan tes subjektif. Berdasarkan hasil uji tersebut, maka dilakukanlah beberapa revisi yakni,(1) tingkat kesulitan soal, (2) kriteria yang detail, (3) pemberian bobot yang jelas, dan (4) penggunaan rubrik penilaian yang tepat. Setelah dilakukan revisi, maka instrumen asesmen telah seutuhnya layak untuk digunakan untuk menilai keterampilan membaca indah dan membaca pemahaman siswa terhadap puisi. Produk akhir dari pengembangan ini adalah instrumen asesmen pembelajaran membaca puisi siswa SMP/MTs. Instrumen asesmen ini terdiri dari tugas unjuk kerja/tes subjektif dan rubrik penilaian hasil membaca puisi. Tugas unjuk kerja/tes subjektif terdiri dari dua produk, yakni tugas unjuk kerja kelas VII dan tes subjektif untuk kelas VIII. Rubrik penilaian hasil membaca puisi juga terdiri dari dua, yakni rubrik untuk kelas VII dan kelas VIII. Tugas unjuk kerja untuk kelas VII terdiri dari kisi-kisi pemberian tanda jeda irama dan performansi, petunjuk pengerjaan, kriteria penyekoran, kisi-kisi rubrik, pedoman pengolahan skor. Tes subjektif untuk kelas VIII terdiri dari kisi-kisi tes subjektif, petunjuk pengerjaan soal tes subjektif, soal tes subjektif, rambu-rambu jawaban, kriteria penyekoran, dan pedoman pengolahan skor. Rubrik penilaian hasil membaca puisi terdiri dari kisi-kisi rubrik penilaian hasil membaca puisi, petunjuk penjelasan, rubrik penilaian hasil membaca puisi, rambu-rambu hasil membaca puisi, dan pedoman pengolahan skor. Dari hasil uji coba yang dilakukan kepada dua ahli dan dua praktisi maka diambil rata-rata presentase hasil uji coba yaitu untuk tugas unjuk kerja kelas VII, validitas isi 82,5%, uji keterbacaan adalah 91,25%, uji kepraktisan 93,75%, validitas konstruk 78,125%, dan uji kesesuaian yaitu 83,25%. Presentase tes subjektif kelas VIII yaitu validitas isi 82,5%, uji keterbacaan adalah 91,25%, uji kepraktisan 93,75%, validitas konstruk 78,125%, dan uji kesesuaian yaitu 83,25%. Rubrik penilaian hasil membaca puisi didapatkan presentase hasil uji yaitu validitas isi 82,5%, uji keterbacaan adalah 91,25%, uji kepraktisan 93,75%, validitas konstruk 78,125%, dan uji kesesuaian yaitu 83,25%. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah tugas unjuk kerja/tes subjektif dan rubrik penilaian membaca puisi dari hasil uji menunjukkan bahwa produk instrumen asesmen tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan instrumen asesmen ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan saran dari beberapa pihak. Bagi kepala sekolah instrumen asesmen ini dapat memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan instrumen asesmen secara mandiri. Bagi guru dapat menyusun instrumen asesmen secara mandiri dan lebih kreatif. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan instrumen asesmen ini dapat menjadi pedoman untuk melakukan penelitian serupa. Dengan menggunakan instrumen asesmen yang berfungsi sebagai bahan penilaian dalam pembelajaran membaca puisi, diharapkan penilaian pembelajaran membaca puisi lebih fokus dalam memberikan penilaian bagi siswa. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP dan ditulis dalam jurnal penelitian.

Pemanfaatan permainan papan pintar untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam memahami konsep penjumlahan sederhana pada anak kelompok B di RA Al-Kautsar Ponggok Blitar / Retno Suwandhani

 

Kata Kunci: permainan papan pintar, kemampuan kognitif, penjumlahan sederhana Latar belakang penelitian ini berdasar pada rendahnya kemampuan kognitif dalam memahami konsep penjumlahan sederhana pada anak kelompok B di RA AL-Kautsar Ponggok Blitar dengan skor rata-rata 59,78%. Faktor yang menyebabkan kondisi demikian adalah kegiatan pembelajaran yang monoton, kegiatan pembelajaran penjumlahan hanya menggunakan jari kemudian anak mengerjakan lembar kerja yang diberikan guru baik dari majalah sekolah atau guru menulis menggunakan media papan tulis. Guru juga kurang memanfaatkan kesempatan bermain anak sebagai sarana untuk belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan cara memanfaatkan permainan papan pintar untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam memahami konsep penjumlahan sederhana anak kelompok B RA AL-Kautsar Ponggok Blitar, dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif dalam memahami konsep penjumlahan sederhana anak kelompok B RA AL-Kautsar Ponggok Blitar dengan memanfaatkan permainan papan pintar. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahapan: perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Subyek dalam penelitian ini adalah anak kelompok B di RA AL-Kautsar Ponggok Blitar, dengan jumlah peserta didik 23 anak. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi dan dokumen foto kegiatan pembelajaran. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh data bahwa kemampuan kognitif dalam memahami konsep penjumlahan sederhana pada anak meningkat mulai dari 61% pada siklus I menjadi 87% pada siklus II. Pada siklus I jumlah anak yang berhasil mencapai standar keberhasilan mencapai 14 anak, pada siklus II jumlah anak yang mencapai standar keberhasilan meningkat menjadi 20 anak. Pemanfaatan permainan papan pintar dilakukan dengan langkah-langkah permainan sebagai berikut, guru mengenalkan permainan papan pintar pada anak, anak dibagi menjadi 2 kelompok, aturan bermain menggunakan alat permainan papan pintar yaitu pertama anak diminta memutar papan dan mengamati angka berapa yang ditunjukkan oleh papan, kemudian anak menyusun balok sebanyak angka yang ditunjukkan oleh papan, anak mengulang memutar menyusun balok sebanyak angka yang ditunjuk papan, terakhir anak menghitung jumlah kedua susunan balok tersebut. Pemanfaatan permainan papan pintar dapat dikembangkan pada indikator kemampuan kognitif yang lain dengan lebih bervariasi sehingga lebih memotivasi minat belajar anak.

Pelakasanaan pendidikan karakter yang sesuai dengan tujuan pembelajaran geografi kelas X dan kelas XI di SMA Negeri 1 Batu / Nabila Nurul Hawa

 

Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Geografi, SMAN 1 Batu Pendidikan karakter merupakan salah satu program unggulan Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia sejak tahun 2010. Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan karakter menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni, serta ketrampilan). Sejak tahun ajaran baru 2010/2011 pendidikan karakter telah mulai diberikan pada peserta didik di SMA Negeri 1 Batu secara terintegrasi dalam kurikulum, termasuk dalam mata pelajaran geografi. Selama ini pelaksanaan pendidikan karakter di SMAN 1 Batu sebatas pada penerapan di dalam dan di luar pembelajaran, akan tetapi belum terlaksana sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penilaian atau evaluasi pendidikan karakter tersebut juga belum dilaksanakan, padahal evaluasi perlu dilakukan sebagai bahan acuan refleksi. Oleh karena itu diperlukan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter yang sesuai dengan tujuan mata pelajaran geografi kelas X dan kelas XI di SMA Negeri 1 Batu. Karakter yang diteliti tersebut adalah toleransi, kreatif, bersahabat/komunikatif, peduli sosial, dan peduli lingkungan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Data yang digunakan primer, yaitu berupa pernyataan sikap yang menginterpretasikan pendidikan karakter yang dimiliki peserta didik kelas X dan kelas XI IPS di SMAN 1 Batu dalam mata pelajaran geografi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pemberian angket dan didukung dengan observasi. Adapun analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui hasil pendidikan karakter yang dimiliki peserta didik. Hasil tersebut dideskripsikan melalui beberapa pernyataan yaitu belum tercapai, mulai tercapai, mulai berkembang, dan membudaya. Berdasarkan analisis data, diperoleh simpulan bahwa siswa kelas X dan kelas XI IPS di SMAN 1 Batu telah memiliki karakter yang sesuai dengan tujuan mata pelajaran geografi, meskipun pendidikan karakter tersebut belum disampaikan dengan baik dalam pelaksanaan pembelajaran geografi. Pendidikan karakter tersebut dalam kondisi mulai berkembang dan membudaya. Nilai pendidikan karakter siswa kelas XI IPS lebih tinggi daripada kelas X.

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah dan persepsi siswa pada media pembelajaran yang digunakan guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMA Negeri 1 Malang / Novia Ike Noer Ain

 

Kata Kunci : pemanfaatan perpustakaan sekolah, persepsi siswa pada media pembelajaran yang digunakan guru Membaca merupakan salah satu cara penyerapan informasi dan ilmu pengetahuan. Minat baca dalam masyarakat masih perlu ditumbuhkembangkan. Membaca merupakan pintu gerbang informasi dan ilmu pengetahuan serta pendukung kecerdasan bangsa terutama bagi generasi muda. Oleh sebab itu untuk meningkatkan budaya membaca sejak dini, perlu dilakukan pengoptimalan pemanfaatan perpustakaan sekolah. Jadi dapat dikatakan bahwa keberadaan perpustakaan sekolah menjadi sarana penunjang untuk meningkatkan minat baca siswa dan pengetahuan siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajarnya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, media pembelajaran yang digunakan oleh guru juga dapat menunjang proses pembelajaran. Media pembelajaran digunakan untuk memudahkan siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran perlu adanya komunikasi antara guru dan siswa. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Dengan demikian perpustakaan dan media pembelajaran harus dimanfaatkan oleh siswa agar dapat membantu menambah pengetahuan siswa, memberi kemudahan penyerapan materi oleh siswa serta meningkatkan minat baca dan motivasi mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga dengan adanya pemanfaatan perpustakaan dan media pembelajaran akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMAN 1 Malang, (2) pengaruh persepsi siswa pada media pembelajaran yang digunakan guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMAN 1 Malang, (3) pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah dan persepsi siswa pada media pembelajaran yang digunakan guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMAN 1 Malang. Jenis penelitian ini adalah eksplanasi. Sampel diambil dari populasi dengan menggunakan rumus Slovin sehingga ditemukan jumlah sampel sebanyak 73 siswa. Sampel tiap kelas diambil secara random. Data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif, analisis statistik inferensial dengan analisis regresi linear berganda, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis dengan uji t dan uji F. Berdasarkan hasil penelitian di SMAN 1 Malang menunjukkan secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar dengan nilai sig. t sebesar (0,000) < α (0,05) dan t hitung (4,113) > t tabel (1,667), analisis pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa dengan nilai sig. t sebesar (0,000) < α (0,05) dan t hitung (4,519) > t tabel (1,667). Sedangkan secara simultan pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah dan media pembelajaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa dengan nilai sig. F sebesar (0,000) < α (0,05) dan F hitung (20,424) > F tabel (3,128). Selain itu, dari hasil analisis regresi besar R Square adalah 0,369, hal ini berarti pemanfaatan perpustakaan sekolah (X1) dan Media Pembelajaran (X2) memberikan kontribusi sebesar 36,9% terhadap hasil belajar siswa (Y) sedangkan sisanya sebesar 63,1% disebabkan oleh variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa baik secara parsial maupun secara simultan pemanfaatan perpustakaan sekolah dan persepsi siswa pada media pembelajaran yang digunakan guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMAN 1 Malang. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah: (1) bagi sekolah, Dari hasil analisis diharapkan sekolah merencanakan dan melaksanakan wajib kunjung di perpustakaan sekolah. Sekolah perlu membiasakan siswa memiliki minat baca tinggi sehingga memperluas pengetahuan siswa yang nantinya akan berpengaruh pada hasil belajar. Pada analisis media pembelajaran perlu ditingkatkan lagi penggunaan media pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. (2) bagi guru, guru bidang studi perlu untuk memberikan motivasi dan membina kemampuan membaca para siswa dengan mengadakan proses belajar yang melibatkan perpustakaan sekolah melalui kegiatan berkunjung ke perpustakaan, memberi tugas pada siswa untuk mencari informasi tambahan di perpustakaan, dan menugaskan siswa untuk membaca dan mencari berbagai sumber referensi belajar. Guru perlu meningkatkan dan mengembangkan lagi media pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dimengerti oleh siswa. (3) bagi siswa, diharapkan siswa dapat menggunakan fasilitas perpustakaan sekolah yang sudah tersedia agar dapat meningkatkan hasil belajarnya seperti melakukan kegiatan berkunjung ke perpustakaan, membaca bahan pustaka, dan meminjam bahan pustaka di perpustakaan. Siswa perlu lebih banyak berinteraksi dengan media pembelajaran yang digunakan guru. Siswa perlu menggunakan media pembelajaran juga untuk dapat menambah wawasan dan pengalaman belajar. (4) bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menambah hal-hal yang masih kurang dari penelitian ini. Selain itu, diharapkan agar lebih mengembangkan teori dan rujukan tentang perpustakaan dan media pembelajaran.

Hubungan antara persepsi siswa tentang peran DU/DI dalam praktik kerja industri an sikap kewirausahaan sisw kelas XII Teknik Permesinan SMK Negeri 6 Malang tahun 2011 / Kurnia Gangga Pradhana

 

Kata kunci: hubungan, praktik kerja industri, sikap kewirausahaan. Peran Dunia Usaha atau Industri (DU/DI) dalam Praktik Kerja Industri (Prakerin) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah meningkatkan kompetensi siswa. Salah satunya, sikap dalam kompetensi kewirausahaan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang peran DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan; (2) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang komitmen DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan; (3) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang komunikasi DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan; (4) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang kesesuaian materi pelatihan DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan; (5) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang efisiensi pengalaman belajar DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan; (6) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang evaluasi DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan; (7) menguji hubungan antara persepsi siswa tentang upaya peningkatan kompetensi DU/DI dalam praktik kerja industri dan sikap kewirausahaan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Dengan menggunakan teknik analisis statistik korelasi dan regresi linear berganda akan diramalkan peningkatan dan sumbangan efektif variabel prediktor terhadap variabel kriterium. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII Pemesinan SMKN 6 Malang tahun 2011 sebanyak 85 orang. Data diperoleh dengan menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Angket dikembangkan berdasarkan kisi-kisi indikator variabel. Instrumen diuji validitas dengan menggunakan korelasi Product Moment Pearson, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan koefisien Alpha Cronbach. Instrumen menunjukkan hasil tingkat reliabilitas angket nilai Alpha yaitu (1) Sikap kewirausahaan sebesar 0,734; (2) Komitmen sebesar 0,784; (3) Komunikasi sebesar 0,791; (4) Kesesuaian materi pelatihan sebesar 0,756; (5) Efisiensi pengalaman belajar sebesar 0,860; (6) Evaluasi sebesar 0,765; (7) Upaya peningkatan kompetensi sebesar 0,908. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa (1) Perubahan persepsi siswa terhadap peran DU/DI akan memberikan dampak kuat yang searah dengan sikap kewirausahaannya. Besarnya perubahan tersebut mempunyai nilai efektifitas 58,6% dan dapat diprediksikan dengan persamaan y = 50,12 - 0,469 x1 + 0,758 x2 + 0,946 x3 + 0,553 x4 + 0,530 x5 + 0,484 x6; (2) Perubahan persepsi siswa terhadap komitmen DU/DI akan memberikan dampak yang berlawanan arah dengan sikap kewirausahaannya; (3) Perubahan persepsi siswa terhadap komunikasi DU/DI akan memberikan dampak yang searah dengan sikap kewirausahaannya; (4) Perubahan persepsi siswa terhadap kesesuaian materi pelatihan DU/DI akan memberikan dampak yang searah dengan sikap kewirausahaannya; (5) Perubahan persepsi siswa terhadap efisiensi pengalaman belajar DU/DI akan memberikan dampak yang searah dengan sikap kewirausahaannya; (6) Perubahan persepsi siswa terhadap evaluasi DU/DI akan memberikan dampak yang searah dengan sikap kewirausahaannya; (7) Perubahan persepsi siswa terhadap upaya peningkatan kompetensi oleh DU/DI akan memberikan dampak yang searah dengan sikap kewirausahaannya. Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat memberikan solusi pengembangan sikap kewirausahaan dalam prakerin adalah (1) BKK sekolah menjalin hubungan dengan industri dalam bidang manajemen; (2) Guru mempersiapkan pola kewirausahaan pada pelajaran produktif; (3) Bidang Humas sekolah membuat perangkat evaluasi penilaian kewirausahaan siswa prakerin; (4) DU/DI memperkenalkan aktifitas manajemen industri kepada siswa prakerin.

Peningkatan pemahaman bahan belajar sains siswa kelas III SDN Pule 2 Kecamatan Kandat Kabipaten kediri dengan pendekatan tematik melalui variasi metode pembelajaran Numbered Heads Together / Niken Dani Safitri

 

Kata Kunci : Pendekatan Tematik, Metode Pembelajaran Numbered Heads Together. Pembelajaran Sains di SDN Pule 2 kecamatan Kandat kabupaten Kediri selama ini, guru menggunakan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif karena guru hanya menjelaskan saja selama kegiatan pembelajaran, dan siswa hanya mendengarkan saja, kemudian guru memberi soal atau PR untuk dikerjakan secara individu oleh siswa. Kegiatan diskusi dalam pembelajaran juga tidak pernah dilakukan, sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik dan siswa menjadi tidak aktif. Selain itu, siswa juga menjadi bersifat individual dan cenderung tidak bisa bekerjasama dengan teman-temannya. Nilai mata pelajaran Sains siswa kelas III rata-rata di bawah SKM dan siswa banyak yang tidak pernah memperhatikan saat pembelajaran berlangsung Untuk menangani masalah tersebut maka guru dan peneliti memutuskan untuk menerapkan sebuah pembelajaran yang sesuai untuk siswa kelas III SDN Pule 2 yaitu pembelajaran dengan pendekatan Tematik dan metode pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan pemahaman bahan belajar sains siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana yang menjadi ciri khasnya adalah adanya siklus-siklus. Dalam Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Pengumpulan data dalam penelitian ini berasal dari tes setelah pelaksanaan tiap siklus, dilengkapi dengan hasil observasi. Pada penerapan pendekatan Tematik dan metode pembelajaran NHT siklus 1 diperoleh data bahwa rata-rata skor hasil tes siswa pada mata pelajaran Sains adalah 71,25 dengan keterangan 15 siswa mencapai SKM dan 9 siswa belum mencapai SKM. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada penerapan pendekatan Tematik dan metode pembelajaran NHT siklus 1 belum berhasil karena dari 24 siswa hanya 15 siswa yang dapat mencapai SKM, untuk itu perlu adanya tindak lanjut dengan siklus 2. Setelah peneliti dan guru merancang pelaksanaan pembelajaran untuk siklus 2 dengan melihat hasil refleksi siklus 1, akhirnya pada penerapan pendekatan tematik dan metode pembelajaran NHT di siklus 2 memperoleh hasil yang lebih baik. Rata-rata skor hasil belajar siswa meningkat menjadi 73,95 dengan keterangan 19 siswa mencapai SKM dan 5 siswa belum mencapai SKM. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pendekatan tematik dan metode pembelajaran NHT telah berhasil dalam meningkatkan pemahaman bahan belajar sains siswa kelas III SDN Pule 2 kecamatan Kandat kabupaten Kediri.

Penerapan metode demonstrasi melalui bermain alat musik perkusi untuk meningkatan kemampuan seni anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan / Devinta Eka Prastiwi

 

Kata Kunci: Metode Demonstrasi, Bermain Alat Musik Perkusi, Kemampuan seni, Taman Kanak-kanak Dalam pembelajaran bermain musik selama ini metode demonstrasi sudah diterapkan, akan tetapi dalam penyampaiannya kurang menarik minat anak. Materi yang didemonstrasikan sulit untuk ditirukan oleh anak, faktor penunjangnya alat musik yang digunakan dan juga cara penyampaian kurang menarik bagi anak. Selain hal tersebut selama ini pembelajaran guru lebih banyak pada penggunaan metode pemberian tugas yang cenderung pada lembar kerja, sehingga metode demonstrasi kurang digunakan secara maksimal. Tujuan penelitian yaitu: 1) Mendeskripsikan pelaksanaan metode demonstrasi dalam upaya meningkatkan kemampuan seni melalui bermain alat musik pada anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kab. Pasuruan. 2) Mendiskripsikan hasil peningkatan kemampuan seni dengan metode demonstrasi melalui bermain alat musik perkusi pada anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kab. Pasuruan. Penelitian dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan pada semester 2, subyek penelitian adalah anak kelompok A TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2012. Terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pra tindakan sebesar 53%, tindakan siklus I menunjukkan peningkatan penerapan metode demonstrasi sejumlah 11% dengan skor rata-rata sebesar 58%, selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peningkatan sejumlah 28% dengan skor rata-rata sebesar 86%. Kesimpulan penelitian adalah bahwa metode demonstrasi merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan seni anak melalui bermain alat musik perkusi anak kelompok A di TK Negeri Pembina Kabupaten Pasuruan. Sebagai upaya untuk penerapan metode demonstrasi melalui bermain alat musik perkusi untuk meningkatkan kemampuan seni anak disarankan kepada guru untuk memberikan pembelajaran yang kreatif, materi yang menarik minat anak untuk bermain alat musik perkusi, dan menempatkan anak didik sebagai subyek.

Pemanfaatan webquest sebagai media pembelajaran akuntansi untuk menin gkatan motivasi dan hasil bvelajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI KU 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen / Yunita Budi Artanti

 

Kata Kunci: Pembelajaran, WebQuest, motivasi, hasil belajar Perkembangan teknologi media berbasis internet berpotensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar. Salah satu media berbasis internet tersebut adalah WebQuest. Pembelajaran dengan menggunakan media WebQuest akan membuat proses pembelajaran lebih menyenangkan, kreatif dan tidak membosankan sehingga akan memotivasi siswa dalam belajar dan akhirnya diperoleh hasil belajar yang optimal. Keller telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Perhatian (Attention), relevansi (Relevance), kepercayaan diri (Confidence), kepuasan (Satisfaction) atau ARCS, adalah prinsip-prinsip motivasi yang dapat digunakan untuk memotivasi seseorang agar belajar lebih baik. Penelitian ini merupakan penelitian sampel yang dilakukan kepada 31 siswa kelas XI KU 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner (angket) dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis Uji Beda Paired-Sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan WebQuest sebagai media pembelajaran belum dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan nilai Sig (2 tailed) (0,265) > (0,005). (2) pemanfaatan WebQuest sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menghasilkan nilai.sig (2-tailed (0,000) < (0,05), jadi kedua perlakuan memiliki hasil belajar yang berbeda. Saran yang dapat diberikan adalah (1) hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah untuk memperbaiki sistem pembelajaran dan fasilitas sekolah, sehingga terjadi perbaikan pada kualitas pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif, (2) para guru harus meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih kreatif dengan menggunakan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, dan (3) bagi penelitian selanjutnya yang akan mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk mengukur motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan diberikan dan memperluas penilaian hasil belajar pada ranah afektif serta psikomotor

Manajemen kurikulum berbasis karakter (studi kasus di sekolah dasar negeri Percobaan 1 Malang) / Benny Irawan

 

Kata kunci: strategi, manajemen kurikulum, karakter Globalisasi telah membawa dampak yang luas di belahan bumi manapun, tak terkecuali di Indonesia. Globalisasi bisa berdampak positif ataupun sebaliknya. Dampak negatif globalisasi tersebut diantaranya kekerasan, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, kriminalitas dan sebagainya. Semua hal tersebut berakibat hilangnya karakter bangsa. Oleh karena itu pendidikan karakter merupakan salah satu penyaring efek negatif dari globalisasi. Tujuan pendidikan karakter sendiri adalah sebagai alat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sudah mulai tergerus oleh arus globalisasi. Pengintegrasian muatan karakter ke dalam kurikulum merupakan terobosan yang digunakan dalam menanamkan karakter yang luhur pada diri peserta didik. Hal ini dapat dilakukan melalui Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kegiatan pengembangan diri dan kegiatan pembiasaan. Ketiga hal tersebut merupakan sarana yang efektif dalam penanaman karakter di SDN Percobaan 1 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) perencanaan kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang, (2) pelaksanaan kurikulum berbasis karakter di SD Negeri Percobaan 1 Malang, (3) evaluasi kurikulum berbasis karakter di SD Negeri Percobaan 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi penelitian berada di SDN Percobaan 1 Malang. Sekolah ini memiliki motto,”Anggun dalam Berfikir dan Anggun dalam Berbudi Pekerti”. Dengan demikian sekolah ini tidak hanya mementingkan aspek akademik saja akan tetapi juga mengutamakan juga tentang pembentukan karakter luhur dalam diri peserta didik. Itulah alasan peneliti memilih SDN Percobaan 1 Malang sebagai lokasi penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk memperoleh data menggunakan teknik sampling yaitu mencari informan yang memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan fokus penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala SDN Percobaan 1 Malang, Wakil Kepala SDN Percobaan 1 Malang, Guru Kelas dan bapak ibu guru yang berperan dalam penanaman karakter pada peserta didik. Berdasarkan proses pengumpulan dan analisis data didapatkan hasil berikut. Pertama, perencanaan kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang melewati beberapa langkah. Langkah awal yang ditempuh adalah mengembangkan nilai-nilai karakter dari pusat agar menjadi lebih beraneka ragam sehingga dapat lebih mengoptimalkan dalam penanaman karakter pada peserta didik. Selanjutnya nilai-nilai tersebut diintegrasikan ke dalam perangkat pembelajaran yaitu ke Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kedua, pelaksanaan atau implementasi kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang melewati beberapa macam cara, yaitu (1) terintegrasi dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Dalam Kegiatan Belajar Mengajar muatan karakter terintegrasi dalam proses pembelajaran; (2) terintegrasi dalam kegiatan pengembangan diri. Kegiatan pengembangan diri di SDN Percobaan 1 Malang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kegiatan pengembangan diri secara terprogram dan kegiatan pengembangan diri yang tidak terprogram; (3) kegiatan pembiasaan. Kegiatan pembiasaan ini ada yang bersifat rutin, spontan dan keteladanan. Ketiga, evaluasi kurikulum berbasis karakter di SDN Percobaan 1 Malang berkaitan dengan keefektifan penanaman muatan karakter pada diri peserta didik. Penilaian ini meliputi proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kegiatan pengembangan diri dan kegiatan pembiasaan. Penilaian ini memperhatikan indikator sekolah dan indikator kelas yang telah ditentukan. Peneliti memberikan saran kepada: (1) Kepala SDN Percobaan 1 Malang agar dapat mempertahankan dan mengembangkan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum yang telah berjalan selam ini, (2) Kepala Jurusan Administrasi Pendidikan agar dapat mempersiapkan lulusasan yang menguasai pengintegrasian karakter dalam kurikulum, (3) Mahasiswa Administrasi Pendidikan agar mempelajari tentang implementasi manajemen kurikulum berbasis karakter karena pendidikan karakter menjadi rencana jangka penjang Kementrian Pendidikan Nasional, (4) Peneliti lain agar melalukan penelitian yang sejenis di lokasi yang berlainan agar bisa mengembangkan kurikulum berbasis karakter.

Pola hubungan magersari pemanfaatan lahan perhutani oleh masyarakat Dusun Sumbersari di Desa Tawangargo Kecamatan Karangploso / Ira Maya Santi

 

Kata kunci: Pola Hubungan, Sosial Ekonomi, Magersari. Penelitian tentang kehidupan sosial ekonomi petani magersari dalam pemanfaatan lahan Perhutani di Dusun Sumbersari Kecamatan Karangploso dilandasi oleh ketertarikan penulis terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat petani magersari yang tempat tinggal dan bertaninya merupakan lahan milik perhutani. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan masyarakat tidak akan lepas dari kehidupan sosial ekonomi. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi sesama petani magersari di Dusun Sumbersari?; (2) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan Perhutani?; (3) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan pemilik modal?; (4) Bagaimana pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan tengkulak?; (5) Bagaimana tingkat pendapatan petani magersari?. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan; (1) Pola hubungan sosial ekonomi sesama petani magersari di Dusun Sumbersari; (2) Pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan Perhutani; (3) Pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan pemilik modal; (4) Pola hubungan sosial ekonomi petani magersari di Dusun Sumbersari dengan tengkulak; (5) Mengetahui tingkat pendapatan petani magersari di Dusun Sumbersari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Subjek penelitiannya adalah masyarakat petani magersari di Dusun Sumbersari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: (a) mencatat yang menghasilkan catatan lapangan yang dilakukan di Dusun Sumbersari, (b) mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan data, (c) mencari dan menemukan pola dan hubungan dan membuat temuan-temuan umum, (d) kesimpulan wawancara dan kesimpulan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Hubungan masyarakat petani magersari dengan sesama petani magersari lainnya adalah saling membutuhkan satu sama lain. (2) Hubungan Perhutani dengan petani magersari membentuk hubungan patron-klien. Kedudukan Perhutani kuat terhadap petani magersari karena dapat membuat petani tergantung kepada Perhutani. Ketergantungn tersebut karena petani magersari membutuhkan tempat tinggal dan lahan pertanian untuk kelangsungan kehidupan perekonomian mereka. Meskipun petani magersari tergantung pada Perhutani, tetapi petani magersari tidak hanya menerima bantuan dari Perhutani tetapi juga memberi yaitu bekerja bakti, menyadap getah dan membayar siring kepada Perhutani; (3) Pola hubungan antara Koperasi dengan petani magersari terjadi karena petani membutuhkan modal untuk bertani. Hubungan Koperasai dengan petani magersari merupakan hubungan timbal balik (reciprocity). Hal ini dapat dilihat ketika petani membutuhkan modal maka petani meminjam modal ke Koperasi dengan jaminan BPKB kendaraan mereka dengan imbalan yang harus di berikan petani magersari kepada pihak koperasi adalah bunga sebesar 2,5% setiap bulannya dari nilai uang pinjaman. Sedangkan hubungan antara petani magersari dengan rentenir juga membentuk hubungan timbal-balik (Recyprocity). Rentenir meminta jaminan berupa KTP (kartu tanda penduduk) kepada petani magersari dengan tujuan untuk mengikat petani magersari, dari pemberian pinjaman uang tersebut petani magersari berusaha untuk memberi balasan dari pemberian tersebut melalui bunga sebesar 20% yang dibayarkan pada tiap minggunya; (4) Pola hubungan antara tengkulak dengan petani magersari terjadi karena petani yang kekurangan modal bergantung kepada tengkulak. Hubungan bersifat ketergantungan petani terhadap tengkulak. Hal ini dapat dilihat yaitu dengan adanya pemberian modal berupa uang, bibit maupun pupuk yang dipergunakan petani untuk kebutuhan pertanian, maka menjadikan petani tidak berani menjual hasil pertaniannya ke orang lain, sehingga dalam memasarkan hasil pertaniannya petani magersari menjualnya ke tengkulak yang telah memberikan modal sebelumnya. Kalaupun petani magersari menjual ke orang lain mereka harus melakukan secara sembunyi-sembunyi, hubungan petani magersari dengan tengkulak yang juga sebagai petani magersari membentuk suatu patron-klien.(5) Tingkat penghasilan petani magersari adalah rendah dan cukup. Rendah ketika mengalami kegagalan panen, cukup saat hasil panen bagus. Untuk saran dalam penelitian ini yaitu: (1) Diharapkan pemerintah dapat memberikan pendidikan dalam mengelola pertanian dan keuangan, supaya masyarakat magersari tidak semakin terjerat oleh hutang, (2) Diharapkan Perhutani lebih memahami kondisi masyarakat petani magersari supaya terjalin kerjasama yang lebih baik, (3) Untuk menindak-lanjuti karya tulis ini, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang pola hubungan yang terjadi di Dusun Sumbersari dilihat dari dimensi lain, selain dimensi sosial ekonomi.

Illocutionary acts of the oath utterances employed in english translation of the noble qur'an / Fathur Rahman Macmud

 

Key Words: Noble Qur’an, Oath utterance, Illocutionary act, Illocutionary force, Speech act Linguistic phenomena in any kind of Islamic literatures are an interesting issue to investigate, especially the Holy Qur’an as the main source of Islamic literatures. The Qur’an which is in Arabic language has a rich pragmatic issue to conduct since it comes to be the main important point to interpret and ‘humanize’ the meaning of its utterances. In this case, it is important for every Muslim to understand the message of the Noble Qur’an, particularly for the implicit messages since it is the guidance book for mankind to implement. Thus, the pragmatic study of the Qur’an mostly deals with the illocutionary analysis to be the underlying theory in this study. In accordance with this reason, this study is aimed to find how illocutionary acts used and the illocutionary force performed particularly in the oath utterances in English translation of the holy Qur’an. What makes this study crucial to be conducted is that the oath utterances as messages from the speaker (God) are essential to be completely understood by the hearer (people). Thus, the context analysis is needed to get the intentional meaning of the speaker in the oath utterances which tend to be implicitly performed. To figure out the speaker’s intentions on his utterances, the researcher used descriptive qualitative because it deals with the nature of the real situation and is designed to obtain information concerning the linguistic phenomena. The researcher made himself as the key instrument that collected the data from the English translation of the Noble Qur’an. The fourteen data of this study are the oath utterances in English translation of the Noble Qur’an chapter 30 since they are mostly found in this chapter. After analyzing the data, the researcher found that the object of oath utterances used mostly in the form of concrete noun rather than abstract one. This finding shows that the speaker (God) most frequently uses the concrete objects to make the oath utterances more understandable and make sense to the hearer. The five illocutionary act types of Searle are performed in the oath utterances of the Noble Qur’an, namely assertive and commissive, directive, declarative, and expressive. These five types of illocutionary acts are performed in two different ways: direct and indirect. The form of assertive and declarative are performed in direct ways by the speaker to make them as informative as possible. However, commissive, directive, and expressive are mostly indirectly performed by using some figurative languages.

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar siklus akuntansi siswa kelas X SMK Ardjuna 2 Malang / Maria Sudarwati

 

Kata Kunci: pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, prestasi belajar siswa. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sumber belajar yang dapat menunjang peningkatan kualitas pendidikan karena perpustakaan sekolah merupakan bagian penting dari komponen pendidikan yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari lingkungan sekolah. Sebagai sumber belajar, perpustakaan sekolah berfungsi sebagai penunjang kegiatan belajar siswa, membantu siswa dan guru dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar (X), sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar (Y). Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Ardjuna 2 Malang yang berjumlah 49 siswa. Data diperoleh dari hasil kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis regresi linier sederhana digunakan untuk menganalisis seberapa jauh pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar terhadap prestasi belajar siswa. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siklus akuntansi siswa kelas X SMK Ardjuna 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan adalah: (1) guru memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai pusat pembelajaran selain di kelas; (2) populasi yang digunakan lebih besar dari populasi penelitian ini serta mengembangkan permasalahan yang dibahas dan teknik pengumpulan data tidak hanya dilakukan dengan kuesioner (angket) saja tetapi dapat dikombinasikan dengan teknik wawancara atau observasi sehingga hasil penelitian nantinya dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar mengajar.

Peningkatan keterampilan memahami isi teks bacaan melalui media buku cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Indinesia kelas II SDN Jatimulyo 1 malang / Maya Kristiningrum

 

Kata Kunci: Memahami isi teks bacaan, buku cerita bergambar, Bahasa Indonesia,Sekolah Dasar Hasil pengamatan pada siswa kelas II SDN Jatimulyo I, ditemukan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia aspek membaca belum terlaksana dengan optimal. Siswa terlihat kurang berminat dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, karena (1) siswa belum bisa memahami kosakata yang ada dalam bacaan. (2) siswa belum bisa memahami kalimat yang ada dalam bacaan. (3) siswa belum bisa memahami isi paragraf dalam bacaan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) mendeskripsikan proses penggunaan media buku cerita bergambar untuk meningkatkan kemampuan memahami isi teks bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami isi teks bacaan melalui media buku cerita bergambar dalam pembelajaran memahami isi teks bacaan siswa. Pemecahan masalah dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas dengan menggunakan media buku cerita bergambar. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas II yang berjumlah 20 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan tes, observasi dan wawancara. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisa secara deskritif kualitatif. Hasil peneitian siklus I dan II menunjukkan perubahan positif terhadap hasil keterampilan siswa. Penggunaan buku cerita bergambar dapat meningkatkan keaktifan proses pra membaca dari rata-rata 2,3 menjadi 2,5 pada siklus II. Proses saat membaca dari 1,95 menjadi 2,5 di siklus ke II. Pada proses pasca membaca dari rata-rata 1,7 menjadi 2,2 di siklus II. Guru disarankan untuk menerapkan dan mengembangkan penggunaan media buku cerita bergambar tersebut ke dalam kompetensi atau materi lain sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Dalam penelitian ini masih ada siswa yang belum menimgkat hasil keterampilan memahami isi teks bacaan. Hal ini disarankan untuk dapat ditingkatkan oleh peneliti-peneliti lain dalam kegiatan serupa, sehingga hasil belajar bisa lebih baik.

Alat pemberi pakan ayam otomatis berbasis mikrokomtroler / Septian Benny Pradana Putra .

 

Kata kunci: Paakan Ayam , Otomatis, mikrokontrol. Mikrokontrolmerupakan bagian tak terpisahkan dari proses otomasi. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu :alamat, instruksi, dan operand. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah : (1) Mengetahui bagaimana Perancangan pakan ayam otomatis berbasis mikrokontrol.(2mengetahuibagaimana aplikasi rancangan pakan ayam otomatis berbasis mikrokontrol.(3)mengetahui jalanya proses pakan pada pakan ayam otomatis berbasis mikrokontrol.Metode perancangan meliputi : (1) perancangan pengaturan sensor, (2) perancangan sistem kontrol (hardware), (3) perancangan program (software). Prinsip kerja dari sistem kontrol ini adalah pengaturan volume pakan yang diatur oleh sensor photodiode.Yang dalam proses pengisian tempat pakan menggunakan program mikrokontrol. Hasil dari analisis tersebut antara lain:(1) perpindahan crane dari posisi awal sampai ke tempat pakan, (2) pengaturan volume pakan dengan menggunakan mikrokontroler, akan selalu memantau setiap hai (3) motor menggerakkan crane yang akan mengisi pakan sesuai dengan program mikrokontroler yang telah dibuat dan dikontrol oleh sensor. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan : (1)untuk mengatur volume pakan sesuai kebutuhan ayam digunakan mikrokontroler, dimana volume pakan akan terus dipantau sesuai dengan program yang telah dibuat dan akan berjalan sesuai timer. (2) setting hardware dan software menggunakan rangkaian sensor, rangkaian driver motor dan solenoid yang diolah oleh mikrokontroler(3)untuk membatasi atau mengetahui jumlah pakan ayam sudah penuh apa tidak digunakan rangkaian sensor.

Using pop-up pictures through EEC strategy to improve vocabulary mastery of the first graders in elementary school / Inez Faradisha

 

Pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja melalui kepercayaan pada atasan (Studi kasus karyawan PT. Catur Elang Perkasa KMota Surabaya) / Yogi

 

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan Transformasional, Kepercayaan pada Atasan, Kepuasan kerja. Kepemimpinan adalah suatu proses pemimpin mengarahkan dan mempengaruhi bawahan nya dalam suatu pekerjaan. Gaya kepemimpinan transformasional adalah suatu gaya kepemimpinan yang didalamnya menekankan bahwa seorang pemimpin mampu menciptakan visi dan lingkungan yang memotivasi bawahannya untuk bekerja melampaui harapan nya. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan faktor penentu didalam sebuah organisasi yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja dan kepercayaan pada atasan. Kepuasan kerja merupakan suatu hal yang sangat penting dalam sebuah organisasi, hal ini dikarenakan kepuasan kerja dinilai mapu untuk mempengaruhi jalannya organisasi secara keseluruhan. Pemimpin dipercaya untuk memainkan peran utama dalam membangun dan mengembangkan kepercayaan dalam sebuah organisasi, karena pemimpin yang dapat dipercaya akan membawa sebuah organisasi dimana diperlukan tugas-tugas yang kompleks memerlukan tingkat saling ketergantungan, kerja sama dan berbagi informasi. Penelitian ini dilakukan di PT. Catur Elang Perkasa Surabaya, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan operasional PT. Catur Elang Perkasa Surabaya yang berjumalah 90 karyawan, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 74 karyawan dan teknik pengambilan sampel berupa Purposive Sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas (X1) gaya kepemimpinan transformasional, variabel intervening (Z) kepercayaan pada atasan, dan variabel terikat (Y) kepuasan kerja. Data diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain: kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung yang signifikan gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepercayaan pada atasan; (2) terdapat pengaruh langsung yang signifikan gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja; (3) terdapat pengaruh langsung yang signifikan Kepercayaan pada Atasan terhadap kepuasan kerja. Deskripsi penelitian menyatakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional tinggi, kepercayaan pada atasan tinggi dan kepuasan kerja juga berada pada tingkatan puas. Saran yang bisa diberikan untuk PT. Catur Elang perkasa Surabaya untuk lebih menguatkan gaya kepemimpinan transformasional hendaknya perusahaan diharapkan mampu mengumpulkan informasi yang akurat dan lengkap dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk pengalokasian hasil keputusan terhadap karyawan. Hasil penelitian menunjukan tingkat kepuasan kerja yang cukup. Untuk lebih meningkatkan tingkat kepuasan kerja hendaknya perusahaan lebih memperkuat hubungan interpersonal terhadap karyawan. Karena dengan kepuasan kerja yang minim dapat mempengaruhi ondisi perusahaan dalam jangka panjang yang terutama berkaitan dengan kepercayaan yang akan semakin menurun dalam menghadapi berbagai macam perubahan yang dinamis.

Prototipe sensor parkir mobil dengan tampilan LCD berbasis mikrokontroler / Johan Fahrizal

 

Kata kunci : Modul sensor ultrasonik, LCD (Liquid Crystal Display). Sering kali masalah parkir kendaraan menjadi sebuah masalah ketika ada benda ataupun kendaraan lain di sekitar tempat parkir tersebut sehingga pengendara harus ekstra hati-hati dalam memposisikan kendaraan agar tidak terjadi benturan maupun hal-hal lain yang tidak diinginkan. Hal ini sudah menjadi perhatian khusus oleh para produsen mobil di dunia, hingga banyak diantara perusahaan otomotif khususnya produsen mobil memasang perangkat safety tambahan berupa alarm parkir pada produk yang akan dijual. Sehubungan dengan pentingya keselamatan dalam berkendara maka diperlukan indikator jarak antara kendaraan dengan objek lain disekitarnya, hal ini juga akan memudahkan pengendara dalam memperhitungkan jarak saat akan memarkirkan kendaraanya. Tujuan pembuatan alat ini adalah sebagai perangkat indikator jarak kendaraan dengan obyek lain disekitarnya yang bisa digunakan sebagai peringatan apabila kendaraan berada pada jarak berbahaya. Alat ini menggunakan modul sensor ultrasonik sebagai pendeteksi jarak yang akan ditampilkan pada LCD dalam satuan sentimeter, dilengkapi pula dengan indikator LED untuk menunjukan jarak 15cm sampai dengan 40cm. Untuk indikator peringatan juga dipasang buzzer yang akan berbunyi ketika kendaraan berada pada jarak kurang dari 15cm. Metode perancangan yang digunakan meliputi: (1) perancangan dan pembuatan perangkat keras (hardware) meliputi rangkaian power supply ,rangkaian minimum system, rangkaian LED dan buzzer, (2) perancangan dan pembuatan perangkat lunak (software). Hasil yang didapat menunjukkan bahwa sistem dapat bekerja sesuai dengan rancangan yang telah dibuat yaitu jarak objek yang ada di sekitar alat sudah terdeteksi oleh sensor untuk kemudian diproses pada mikrokontroler dan dapat ditampilkan pada LCD dengan akurat. Kesimpulan dari pembuatan alat ini adalah: 1. Dalam perancangan Prototipe Sensor Parkir Mobil Dengan Tampilan LCD Berbasis Mikrokontroler modul sensor ultrasonik dapat mendeteksi keberadaan benda secara akurat pada jarak 4cm-500cm sesuai dengan perancangan yang dibuat sebagai perangkat keamanan tambahan pada kendaraan. 2. Dalam pembuatan prototipe sensor parkir mobil dengan tampilan LCD berbasis mikrokontroler dibuat rangkaian indikator pengukur jarak berupa tampilan LCD yang digiunakan untuk menampilkan hasil pengukiran jarak dari pembacaan sensor ultrasonik, rangkaian LED dan buzzer digunakan sebagai indikator peringatan ketika kendaraan berada pada jarak berbahaya. 3. Pada tahap pengujian dilakukan dua tahap pengujian yaitu pengujian per blok dan pengujian secara keseluruhan. Dari hasil pengujian didapatkan hasil sesuai dengan perancangan dengan tingkat eror rata-rata kurang dari 1%, atau dapat diartikan bahwa sistem yang dirancang dapat bekerja dengan baik.

Using animation clips to improve the listening anility of the eight graders of SMP Negeri 21 Malang / Rizki Stivini

 

Keywords: Animation Clips, Listening Ability, Action Research. Listening is a vital primary stage of language acquisition. If the EFL learners do not listen or learn to listen well, the next stages of the complex pattern of language acquisition within a productive framework (speaking) in the communicative classroom will simply not happen. Considering this importance of listening for EFL learners, it is essential that the teachers help the learners to improve their listening ability. In the field, however, the carrying out of the teaching and learning of listening might face challenges in term of lack of resources, teacher’s incompetence, students’ skills, and motivation. In this action research, the researcher incorporated the use of animation clips to improve the listening skills of students in one junior high school in Malang. Based on the preliminary study, it was found that the students’ learning activity was not so motivating, that is, the students usually only had to listen to the teacher. In relation to this problem, this research was intended to describe how the use of animation clips can improve the listening skill of the eighth graders of SMPN 21 Malang. The researcher formulated the research problem, that is, “How can Animation clips be used to improve the eighth graders’ listening ability at SMP Negeri 21 Malang?” This Classroom Action Research (CAR) consisted of two cycles because in Cycle I the criteria of success were not achieved yet. Each cycle consisted of two meetings. At the end of each cycle there was a listening test. This CAR used Kemmis and Mc. Taggart’s model which consisted of planning, implementing, observing, and reflecting. The subject of this research was 46 students of the eighth graders of SMPN 21 Malang. The data were collected through the following instruments: interview guide, field notes, observation sheets, questionnaires, and listening tests. The results of listening test of Cycle I showed that the mean scores were 79.21 but there were only 31 students (65%) could get above 75, therefore, the criteria of success were not achieved yet and the researcher needed to conduct Cycle II. The researcher improved the technique by dictating and discussing the difficult words before they watched the animation clips in Cycle II. The results in Cycle II showed that the mean scores reached 87.39 and 87 % (40 students) got above 75. The research found that the animation clips could be used to improve the listening skills of the eighth graders of SMPN 21 Malang. The researcher concluded that the key points of success of the animation clips implementation were (1) selecting the appropriate and interesting animation clips, (2) using relevant and interesting teaching techniques, that is three-phase techniques which consists of pre-listening activities, whilst-listening activities, and post-listening activities, (3) and playing the roles of teacher in the teaching and learning process. Based on the findings, some suggestions are given to English teachers and further researchers. Since the animation clips can help the students’ listening ability and also increase their motivation in doing listening activities, it is recommended that English teachers incorporate the use of animation clips in the classroom.

Penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa (Studi pada siswa kelas XIA-2 Jasa Boga SMK Kartika IV-1 Malang mata pelajaran kewirausahaan) / Vydha Lolita Devy

 

Kata Kunci : Numbered Heads Together, Keaktifan Siswa, Hasil Belajar. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada guru Kewirausahaan SMK Kartika IV-1 Malang, hasil belajar siswa masih jauh dari tuntas, jikalau ada yang tuntas, itu pun tidak lebih dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Tingkat ketuntasan klasikal siswa hanya sebesar 40% selebihnya siswa belum bisa mencapai KKM. Hasil belajar yang masih sangat jauh dari harapan ini disebabkan siswa-siswi yang masih kurang aktif dan kreatif serta masih takut dalam berpendapat di dalam pembelajaran yang ada di kelas. Untuk mengatasi hal ini, dapat digunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) gambaran penerapan model pembelajaran NHT, (2) keaktifan belajar siswa dalam menerima model pembelajaran NHT, (3) hasil belajar siswa sebelum dan setelah penerapan model NHT, (4) respon siswa terhadap pembelajaran dengan penerapan model NHT, (5) kendala dan solusi yang ditemukan pada penerapan model NHT. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Action Research yang cenderung mengarah pada pendekatan kualitatif. Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas XI A-2 Jurusan Jasa Boga di SMK Kartika IV-1 Malang tahun ajaran 2011/ 2012 dengan jumlah siswa 20 orang. Data dikumpulkan melalui lembar observasi, tes, dokumen, catatan lapangan, dan angket. Teknik analisis dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together pada siswa kelas XI A-2 Jasa Boga SMK Kartika IV-1 Malang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa, (2) keaktifan belajar siswa secara individu mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 10,93%, (3) hasil belajar siswa mengalami peningkatan secara bertahap dari metode ceramah ke siklus 1 sebesar 12,63%, dan dari siklus 1 ke siklus 2 terjadi peningkatan sebesar 36,27%, (4) Respon siswa terhadap model NHT sangatlah positif. Hal ini dapat dilihat melalui hasil perhitungan angket yang menunjukkan bahwa 83,33% merasa sangat setuju dan setuju dengan penerapan model NHT, begitu juga dengan hasil wawancara kepada siswa, (5) Kendala dan solusi yang diperoleh adalah pengelolaan kelas yang kurang efektif sehingga guru harus lebih aktif dalam memberikan pengertian dan berkomunikasi dengan baik kepada siswa. Saran yang dapat diberikan peneliti yakni (1) hendaknya guru Kewirausahaan di berbagai SMK mencoba berbagai model pembelajaran agar siswa merasa termotivasi dalam belajar, (2) Peneliti lain diharapkan memperhatikan pengelolaan waktu pada saat pelaksanaan PTK.

Pengaruh penerapan metode inkuiri terbimbing dan inkuiri bebas termodifikasi terhadap motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII di SMP Negeri 11 Balikpapan / Nur Ana Masruro

 

Kata kunci: pembelajaran inkuiri, motivasi siswa, hasil belajar Salah satu tolok ukur keberhasilan pendidikan sekolah adalah kualitas atau prestasi hasil belajar siswa dan adanya perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. Upaya yang telah dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan tampak dengan adanya perubahan orientasi pembelajaran dari belajar yang terpusat pada guru menjadi terpusat pada siswa. Oleh karena itu, penentuan pendekatan dan model pembelajaran yang tepat akan ikut mendukung perubahan orientasi pembelajaran tersebut. Penerapan metode inkuiri terbimbing dan inkuiri bebas termodifikasi, memfasilitasi siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi belajar, sehingga siswa menjadi aktif, kreatif, merasa senang, dan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh penerapan metode inkuiri terbimbing dan bebas termodifikasi terhadap motivasi belajar siswa 2) pengaruh penerapan metode inkuiri terbimbing dan bebas termodifikasi terhadap hasil belajar biologi siswa dan 3) respons siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan metode inkuiri terbimbing dan bebas termodifikasi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 11 Balikpapan Tahun pelajaran 2011/2012. Untuk menentukan subyek penelitian dipilih secara acak dari 8 kelas di SMP Negeri 11 Balikpapan dan didapatkan kelas VIII-B dan kelas VIII-G sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-D sebagai kelas konvensional. Penelitian ini merupakan eksperimen semu (quasy experimental design) dengan rancangan eksperimen yang digunakan adalah Non Random Pre-tes Post-test Control Group untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengumpulan data dari penelitian ini menggunakan angket motivasi siswa dan tes hasil belajar melalui tahap-tahap pre-test dan post-test. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Anakova (Analysis of Covariance) untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Bila hasil analisis signifikan (variabel bebas berpengaruh pada variabel terikat) maka analisis dilanjutkan dengan uji lanjut dengan menggunakan program statistik software SPSS 15 for Windows pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil angket motivasi belajar siswa kelas perlakuan yang diberi metode pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki nilai rata-rata motivasi lebih tinggi daripada siswa yang menggunakan metode pembelajaran inkuiri bebas termodifikasi dan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan persentase peningkatan motivasi siswa terhadap aspek attention, relevance, confidence, dan satisfaction, maka secara umum dapat di interpretasikan bahwa siswa positif terhadap pembelajaran dengan metode inkuiri terbimbing pada materi Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan. Berdasarkan hasil uji anacova diperoleh nilai signifikansi lebih kecil daripada nilai α = 0,05 (sig < 0,05). Sehingga hipotesis statistik (Ho) ditolak dan menerima hipotesis penelitian (H1), yaitu ada pengaruh penerapan metode pembelajaran inkuiri terbimbing dan inkuiri bebas termodifikasi terhadap hasil belajar siswa. Dari hasil uji lanjut LSD juga diperoleh informasi bahwa rata-rata skor terkoreksi hasil belajar dari tertinggi ke terendah berdasarkan metode pembelajaran secara berurutan adalah metode inkuiri terbimbing = 82,35, inkuiri bebas termodifikasi= 78,99 dan terendah metode konvensional = 64,55. Dengan demikian hasil uji ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan sangat signifikan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing, inkuiri bebas termodifikasi dan konvensional. Berdasarkan hasil angket respon siswa, menunjukkan bahwa siswa merasa senang mengikuti pelajaran biologi dengan teman sekelas, dengan menggunakan metode pembelajaran Inkuiri siswa merasa lebih paham tentang materi pelajaran biologi yang disampaikan guru dalam pembelajaran, dengan diterapkannya model pembelajaran inkuiri siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar Biologi karena siswa merasa banyak hal yang belum diketahui dalam pelajaran biologi menjadi mengetahuinya. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa: (1) terdapat pengaruh penerapan metode inkuiri terbimbing dan bebas termodifikasi terhadap motivasi belajar siswa dengan materi memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan, (2) terdapat pengaruh penerapan metode inkuiri terbimbing dan bebas termodifikasi terhadap hasil belajar biologi siswa, (3) siswa memiliki respon positif terhadap pembelajaran inkuiri terbimbing dan inkuiri bebas termodifikasi. Berdasarkan adanya perbedaan dari ketiga metode pembelajaran yaitu metode inkuiri terbimbing, inkuiri bebas termodifikasi dan metode konvensional maka disarankan: 1) Bagi para guru, dalam pembelajaran biologi hendaknya dapat memilih metode yang tepat, disesuaikan dengan konsep dan karakteristik serta kondisi siswa. 2) Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam melakukan penelitian lanjutan dengan cara mengintergrasikan metode pembelajaran inkuiri dengan metode pembelajaran kooperatif lainnya. Supaya diadakan penelitian yang serupa pada materi pelajaran yang lain serta melibatkan variabel yang lebih banyak.

Pengaruh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate melalui kurs rupiah periode September-Oktober 2011 / Habillian Baskoro P.

 

Kata kunci : IHSG, Kurs Rupiah, dan Harga Obligasi Pasar modal merupakan tempat yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana. Berdasarkan pengertian tersebut, maka suatu pasar modal memiliki peranan penting dalam proses alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman kepada peminjam. Obligasi merupakan salah satu bentuk instrumen investasi yang dapat menjadi alternatif dalam berinvestasi. Obligasi adalah efek utang pendapatan tetap di mana penerbit setuju untuk membayar kembali sejumlah bunga tetap untuk jangka waktu tertentu dan akan membayar kembali jumlah pokoknya pada saat jatuh tempo. Salah satu jenis obligasi pemerintah ini adalah obligasi seri fixed rate. Obligasi fixed rate merupakan bunga yang pada obligasi ditetapkan pada awal penjualan obligasi dan tidak berubah sampai dengan jatuh tempo. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui keadaan harga obligasi seri fixed rate, IHSG, dan kurs Rupiah atas Dolar, kurs Rupiah atas Euro, dan kurs Rupiah atas Yen periode September – Oktober 2011. (2) Untuk mengetahui pengaruh IHSG terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate melalui kurs Rupiah periode September – Oktober 2011. (3) Untuk mengetahui pengaruh IHSG terhadap kurs Rupiah periode September – Oktober 2011. (4) Untuk mengetahui pengaruh kurs Rupiah terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate periode September – Oktober 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausalitas melalui pendekatan kuantitatif. Populasi yang digunakan yaitu obligasi pemerintah yang berturut-turut diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia sampai dengan Oktober 2011. Sampel yang digunakan menggunakan teknik purposive sampling, pemilihan sampel dengan memilih obligasi pemerintah seri fixed rate dan memiliki jangka waktu tempo lebih dari 10 tahun. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi berupa data harian obligasi yang diterbitkan koran Harian Bisnis Indonesia dan website Bursa Efek Indonesia. Pada penelitian ini menggunakan path analysis dalam menguji menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda dimana variabel bebasnya yakni IHSG mempengaruhi variabel terikat yakni harga obligasi tidak hanya secara langsung namun juga melalui kurs Rupiah atas Dolar, Euro, dan Yen. Dari hasil penelitian ini ditemukan pengaruh IHSG terhadap harga obligasi pemerintah seri fixed rate melalui kurs Rupiah atas Dolar, Euro, dan Yen. Kurs Rupiah mampu menjadi variabel mediator antara IHSG dan harga obligasi. Hal ini dikarenakan sebelum melakukan investasi, investor akan melihat faktor-faktor fundamental perekonomian dan makro ekonomi suatu negara serta mempertimbangkan keadaan kurs Rupiah terhadap mata uang asing dan juga nilai IHSG. Dari hasil penelitian peneliti dapat menyarankan kepada investor bahwa analisa faktor fundamental perlu dilakukan sebelum melakukan investasi guna menghindari resiko dan mempengaruhi akan return yang didapatkan.

Pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis WEB mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VIII SMPN 2 Ponorogo / Prasetiyo Aji Nugroho

 

Kata kunci: Pengembangan, E-Learning berbasis web, Teknologi Informasi dan Komunikasi Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang pesat memacu munculnya berbagai inovasi teknologi yang berupa pembelajaran berbasis komputer. Dalam bidang pembelajaran kehadiran media pembelajaran yang relevan dengan teknologi dirasakan sudah banyak membantu tugas guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pemanfaatan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran sudah bukan merupakan hal yang baru lagi, terutama untuk membantu guru dan siswa mengatasi kesulitan belajar. Pengintegrasian TIK dalam proses pembelajaran harus memungkinkan siswa menjadi partisipan aktif, menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin serta belajar secara individu sebagai mana halnya juga kolaboratif dengan siswa lain. Pengembangan media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dilaksanakan di SMPN 2 Ponorogo. SMP Negeri 2 Ponorogo merupakan salah satu SMP favorit yang ada di Ponorogo. SMP Negeri 2 Ponorogo merupakan Sekolah standar nasional sejak tahun 2005 dan sekarang menuju rintisan berstandar internasional yang mana sarana dan prasarananya sangat memadai. Dan untuk mewujudkan visinya yaitu menuju sekolah unggulan yang berprestasi, berbudi pekerti luhur berakar pada budaya bangsa berlandaskan iman dan taqwa, SMP Negeri 2 Ponorogo pun mempunyai misi diantaranya, (1) mewujudkan peningkatan dan pengembangan kualifikasi serta kompetensi tenaga pendidikan yang kompak, cerdas dan bertanggung jawab moral spiritual, (2) mewujudkan proses pembelajaran yang terstandar dengan menggunakan pendekatan CTL, (3) menyediakan fasilitas pendidikan yang terstandar meliputi bahan ajar, sumber belajar, media pembelajaran yang seimbang dengan perkembangan teknologi Mata pelajaran yang dijadikan model adalah mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis web pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMPN 2 Ponorogo menghasilkan beberapa spesifikasi produk yaitu, menghasilkan web sebagai media pembelajaran mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang sesuai dengan karakteristik sumber belajar, isi materi, keefektifan performansi siswa. Prosedur pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis web mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi melalui beberapa tahap yaitu : (1) analisis, (2) perancangan, (3) implementasi Coding, (4) pengujian dan (5) evaluasi pemeliharaan. Hasil pengembangan media pembelajaran e-learning berbasis web untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VIII di SMP Negeri 2 Ponorogo ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 83%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 80,8%, uji responden sebagai calon user (siswa) kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 77,9% dan uji responden sebagai calon user (siswa) uji kelompok besar mencapai tingkat kevalidan 80,2%. Berdasarkan hasil implementasi secara menyeluruh produk pembelajaran elearning berbasis web web dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis web untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VIII di SMPN 2 Ponorogo, valid dan/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Pengembangan multimedia interaktif berbasis komputer untuk mata pelajaran sains kelas IV di SDN Ngunut 06 Tulungagung / Dandy Arya Gumilar

 

Kata Kunci : Pengembangan, Multimedia interaktif Berbasis Komputer, Mata Pelajaran Sains Kelas 4 SD Kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri 06 Ngunut khususnya kelas IV Mata Pelajaran Sains masih belum optimal karena dalam pembelajaran guru hanya menggunakan buku sebagai sumber belajar, sehingga siswa kesulitan untuk mendapatkan bahan belajar lain. Pemilihan multimedia interaktif berbasis komputer dipilih untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan pertimbangan untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan fasilitas komputer yang ada di Sekolah Dasar Negeri Ngunut 06. Selain itu, multimedia interaktif ini mempunyai kelebihan yaitu bisa mengatasi keterbatasan ruang, alat, dan waktu, sehingga siswa bisa mengulang kembali materi pelajaran di luar jam sekolah. Dan juga siswa bisa dengan leluasa mengontrol media ini sesuka hati. Siswa bisa memilih sendiri materi pelajaran apa yang ingin di pelajari, dan kemudian mengulangnya. Sedangkan bagi guru, multimedia ini bisa dijadikan sebagai sumber belajar selain dari buku yang digunakan. Tujuan pengembangan adalah untuk menghasilkan produk berupa multimedia interaktif yang valid pada mata pelajaran Sains kelas IV Sekolah Dasar di Sekolah Dasar Negeri 06 Ngunut. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE melalui lima tahap berikut ; (1) Analysis, (2) Design, (3) Development, (4) Implementation, dan (5) Evaluation Multimedia pembelajaran yang dikembangkan ini memenuhi kriteria valid, yang meliputi, ahli media 85% valid, ahli materi 97,5% valid, uji coba 93 % valid. Untuk hasil belajar setelah menggunakan multimedia, siswa yang memenuhi SKM sebesar 26 siswa dengan persentase 86,67%, sedangkan siswa yang belum memenuhi SKM 4 siswa dengan persentase 13,33 % Saran pengembang yang ditujukan kepada siswa adalah lebih giat belajar dengan adanya multimedia ini. Bagi guru adalah guru diharapkan untuk lebih sering belajar menggunakan multimedia dalam pembelajaran yang berkaitan dengan teknologi komputer. Bagi sekolah Diharapkan untuk lebih memanfaatkan komputer sebagai sumber belajar siswa tidak hanya dalam pembelajaran TIK saja, tetapi di semua mata pelajaran agar bisa mengikuti perkembangan jaman dimana teknologi semakin canggih. Bagi pengembang berikutnya Bagi pengembang berikutnya diharapkan bisa menyempurnakan multimedia interaktif berbasis komputer sehingga semakin bermanfaat bagi siswa serta bisa mengembangkan produk-produk multimedia berbasis komputer untuk mata pelajaran lain yang membutuhkan pengembangan media pembelajaran yang sejalan dengan perkembangan teknologi.

Meningkatkan efektivitas pembelajaran guling depan dengan menggunakan metode Part-Whole pada siswa kelas V SDN Butun 1 Kabupaten Blitar / Septa Deny Kurniawan

 

Kata Kunci: Efektivitas Pembelajaran, guling depan, metode partwhole Senam lantai guling depan adalah gerakan berguling ke arah depan melalaui bagian belakang badan (tengkuk), punggung, pinggang dan panggul bagian belakang. Berdasarkan observasi awal pada kelas V SDN Butun I, diperoleh hasil bahwa penguasaan gerak, pemahaman materi dan sikap terhadap pembelajaran ternyata tidak optimal sehingga kurang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran senam lantai guling depan siswa kelas V SDN Butun 1 yang masih mengalami kesulitan dengan menggunakan metode partwhole. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan diskriptif kualitatif. Pelaksanaan tindakan kelas ini dilakukan melalui 2 siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Butun 1. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan) dan tes. Dengan menggunakan metode partwhole terbukti mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran siswa dari siklus ke siklus. Hal ini bisa dilihat dari persentase keberhasilan siswa dalam melakukan senam lantai guling depan setelah diberikan tindakan dari siklus I, dan siklus II hasilnya, efektivitas pembelajaran dari siklus I sebesar 54,94% dengan kategori kurang baik, dan pada siklus II mengalami peningkatan dengan skor efektivitas pembelajaran 83,96% yang tergolong dalam kategori baik. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah dengan menggunakan metode partwhole dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran guling depan siswa kelas V SDN Butun 1. Berdasarkan penelitian ini disarankan menggunakan metode partwhole pada pembelajaran senam lantai guling depan agar memberi kemudahan dan menjadikan siswa menguasai gerakan, memahami materi, menjadi disiplin dan memiliki keberanian untuk melakukan gerakan guling depan dengan benar.

Peranan promosi untuk mendukung aktivitas pemasaran pada BNI Syariah Cabang Malang / Alita Farida Yasha

 

Kata Kunci : Promosi, Mendukung Aktivitas Pemasaran, BNI Syariah Cabang Malang Kegiatan promosi mempunyai peranan yang cukup besar bagi perusahaan untuk mempengaruhi para konsumen dengan menginformasikan produk atau jasa yang ditawarkan, serta dapat menciptakan permintaan suatu produk atau jasa tertentu untuk tercapainya loyalitas. Promosi yang dilakukan harus sejalan dengan rencana pemasaran yang secara keseluruhan dapat direncanakan dan diarahkan dengan baik, sehingga nilai penjualan dan share pasar dapat meningkat. Selain itu, kegiatan promosi diharapkan dapat mempertahankan ketenaran merek (brand) apabila menggunakan promosi secara tepat. Jadi untuk menunjang kelancaran pemasaran dan efektifnya rencana pemasaran yang disusun, maka perusahaan harus menetapkan serta menjalankan strategi promosi secara tepat. Setiap perusahaan selalu berusaha mempengaruhi calon pembeli sehingga dapat tercapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan oleh perusahaan. Usaha yang dilakukan perusahan untuk mempengaruhi calon pembeli dengan cara merayu (persuasive communication), melalui beberapa komponen khusus yang disebut bauran promosi (promotion mix). Komponen dari bauran promosi itu sendiri meliputi periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing). Dengan adanya komponen tersebut perusahaan lebih mudah memberikan informasi tentang produk atau jasa. Pemulisan laporan ini bertujuan untuk mengetahui promosi yang dilakukan oleh BNI Syariah Cabang Malang, serta faktor pendukung dan faktor penghambat dari kegiatan promosi pada BNI Syariah Cabang Malang. Promosi yang dilakukan pada BNI Syariah Cabang Malang adalah periklanan (advertising), penjualan personal (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relation), pemasaran langsung (direct marketing).

Pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa SDN Sawojajar 8 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Iffah Qurrotul A'yun

 

Kata Kunci: perpustakaan, sekolah dasar, sumber belajar Pendidikan merupakan indikator penting dalam perkembangan suatu bangsa. Agar penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan secara optimal, maka sarana dan prasarana di sekolah harus terpenuhi. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyelenggaraan perpustakaan sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar, karena perpustakaan sekolah merupakan salah satu pusat sumber belajar bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui gambaran umum perpustakaan SDN Sawojajar 6, 2) mengetahui sumber belajar yang tersedia di SDN Sawojajar 6, dan 3) mengetahui pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar siswa SDN Sawojajar 6. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam, dokumentasi, dan observasi. Kemudian analisis data dilakukan dengan melakukan reduksi data (reduction data), penyajian data (display data), dan verifikasi data (conclution drawing). Sedangkan untuk menjaga keabsahan data dilakukan perpanjangan pengamatan dan triangulasi. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa: 1) perpustakaan SDN Sawojajar 6 memiliki tujuan, sarana dan prasarana, struktur organisasi, program dan pendanaan, dan pelayanan sirkulasi, 2) sumber-sumber belajar yang tersedia bagi siswa di SDN Sawojajar 6 yaitu: a) sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) terdiri dari perpustakaan sekolah, media pembelajaran, dan guru, dan b) sumber belajar yang tidak dirancang (learning resources by utilization) terdiri dari lingkungan sekitar sekolah, sesama teman, dan pengalaman siswa, 3) pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar siswa SDN Sawojajar 6 yaitu: a) sebagai sarana untuk melatih siswa belajar mandiri, b) siswa dapat menyelesaikan tugas-tugasnya menggunakan bahan pustaka yang tersedia, c) sebagai sarana untuk menanamkan kebiasaan membaca, d) sebagai sarana untuk membiasakan siswa bertanggungjawab dan disiplin, dan e) siswa dapat memperoleh informasi tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah bagi kepala sekolah yaitu perlu adanya upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pengembangan perpustakaan. Sedangkan bagi petugas perpustakaan yaitu perlu adanya perencanaan dan pelaksanaan program perpustakaan yang lebih baik dan lebih variatif. Sehingga perpustakaan SDN Sawojajar 6 dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar secara optimal oleh siswa.

Penarapan bermain sains sederhana melalui kegiatan menimbang dan menakar benda untuk meningkatkan kemampuan kognitif pada anak kelompok B TK PKK I Puspo Pasuruan / Emi Agusrini

 

Kata Kunci : Metode Bermain Sains, Menimbang dan Menakar Benda, Kemampuan Kognitif. Kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak khususnya TK PKK I Puspo Kecamatan Puspo Pasuruan cenderung di arahkan pada pengusaan kemampuan yang bersifat akademik, seperti membaca, menulis dan berhitung tanpa menggunakan media. Prinsip bermain sambil belajar masih belum dilakukan secara memadai oleh guru. Kemampuan koginitf anak dalam membedakan konsep berat ringan,kumpulan benda sama tidak sama , konsep penuh kosong,bilangan , untuk itu peneliti melakukan peningkatan melalui metode bermain sains sederhana melalui kegiatan menimbang dan menakar benda. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan metode bermain sains sederhana melalui kegiatan menimbang dan menakar benda dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK PKK I Desa Puspo Kecamatan Puspo Pasuruan, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif anak kelompok B TK PKK I Desa Puspo Pasuruan setelah dibelajarkan dengan metode bermain sains sederhana melalui kegiatan menimbang dan menakar benda. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) perancangan, (2)tindakan, (3) pengamatan,(3) pengamatan,(4) refleksi. Subyek penelitian ini yaitu anak kelompok B TK PKK I Puspo Pasuruan yang berjumlah 18 anak.Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi. Hasil analisis data setelah pelaksanaan metode bermain sains sederhana menunjukkan bahwa : hasil pengamatan observasi anak dalam melaksanakan kegiatan menimbang dan menakar benda mencapai nilai 80,8% dengan katagori baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan bermain sains sederhana melalui kegiatan menimbang dan menakar benda dapat meningkatkan kognitif anak, terbukti dari hasil yang diperoleh anak dapat dilihat dari rata-rata yang diperoleh mulai dari pra tindakan 57.5% , meningkat siklus I 70.5%,dan meningkat lagi pada siklus II 80.8% yang terus mengalami peningkatan. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan bermain sains sederhana dapat kemampuan kognitif anak meningkat.Dengan demikian demikian disarankan pada guru hendaknya melaksanakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan anak secara langsung dan pembelajaran bukan berpusat pada guru tapi berpusat pada anak. Karena hal ini akan memberi makna yang mendalam bagi anak dan bisa meningkatkan kemampuan kognitif anak yang diharapkan

Simulasi pertumbuhan kristal salju berbasis 7 neighbor outer totalistic cellular automata menggunakan wolfran mathematica 7.0 / Haritsah Alfad

 

Kata kunci: simulasi, pertumbuhan kristal salju, seven neighbor outer totalistic cellular automata, wolfram mathematica 7.0 Stephen Wolfram berpendapat bahwa pada level mikroskopik, kristal-kristal terdiri atas atom-atom yang tersusun secara teratur seperti halnya susunan sel-sel dalam sebuah cellular automata[2]. Simulasi pertumbuhan kristal salju menggunakan cellular automata sel heksagonal dibuat oleh Stephen Wolfram. Model sel heksagonal dipilih karena kristal salju mempunyai bentuk dasar heksagonal. Paul Jean Letourneau membuat program Hexagonal Outer Totalistic Cellular Automata dengan menggunakan Wolfram Mathematica 7.0[4]. Program ini berbasis 7 neighbor outer totalistic cellular automata. Seven neighbor outer totalistic cellular automata adalah model cellular automata berbentuk sel heksagonal yang meninjau total nilai 6 sel tetangga dan nilai sel tengah, dimana setiap sel mempunyai kemungkinan keadaan nilai 1 (sel hitam) atau nilai 0 (sel putih). Pada awalnya hanya ada 1 sel berwarna hitam, kemudian berubah sampai langkah ke-n, sampai akhirnya membentuk kristal salju yang diinginkan. Perubahan sel tengah bergantung pada total nilai 6 sel tetangga dan nilai sel tengah sesuai nomor aturan yang dipilih. Skripsi ini mengembangkan program Paul Jean Letourneau. Dari program yang telah dikembangkan, pengguna dapat memilih simulasi beberapa tipe kristal salju hasil eksperimen yaitu: piringan sektor, piringan bintang, piringan ganda, dendrit bintang, dan prisma sederhana. Pada program tersedia pilihan menu eksperimen dengan tujuan pengguna dapat bereksperimen dengan nomor aturan dan banyak langkah yang ditentukan sendiri. Data nomor aturan, tipe kristal salju, nama file gambar, dan banyak langkah kemudian disimpan dalam file data. Selain itu program mampu menyimpan gambar hasil simulasi kristal salju tiap langkah. Berdasarkan hasil skripsi ini, dapat disarankan agar dilakukan pengembangan program dengan menggunakan cellular automata 3D dan juga penggunaan format notebook terbaru yaitu computable document format (CDF) pada Wolfram Mathematica 8. Dengan format ini program dapat terpisah dari kode program dan dapat diintegrasikan pada web secara online.

Penerapan permainan sains sederhana melalui membedakan biji-bijian untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Persatuan I Warungdowo Pohjentrek Pasuruan / Lailatul Khasanah

 

Kata Kunci : Permainan sains sederhana, membedakan biji-bijian menurut jenisnya, kemampuan kognitif, TK. Anak usia dini umumnya merupakan anak yang aktif dan rasa keingintahuannya tinggi, namun yang terjadi pada kelompok B TK Dharma Wanita Persartuan I WarungdowoPohjentrek Pasuruan masih sedikit anak yang antusias terhadap pembelajaran. Permainan sains sederhana selain itu kemampuan kognitif anak yang berhubungan dengan mengelompokkan biji-bijian menurut jenisnya (dikotil dan monokotil) masih rendah, buktinya dari 15 anak, 9 anak (60%) malu bertanya atau mengemukakan pendapat. Hal ini terjadi karena anak tidak dilibatkan secara langsung dalam memecahkan masalah. Mengingat dunia anak adalah dunia bermain dan merupakan bagian dari perkembangan kognitif maka diperlukan penerapan permainan sains sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan permainan sains sederhana dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Persartuan I WarungdowoPohjentrek Pasuruan, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Persartuan I WarungdowoPohjentrek Pasuruan setelah dibelajarkan permainan sains sederhana. Penelitian ini dilakukan TK DharmawanitaPersartuan I WarungdowoPohjentrek Pasuruan pada tanggal 11 April 2012 dan 17 April 2012 pada anak kelompok B yang berjumlah 15 anak, dengan menggunakan model PTK yang dilakukan dalam II siklus yang terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian observasi berkolaborasi dengan guru observer. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan permainan sains sederhana dapat meningkatkan kemampuan kognitif, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa dengan rata-rata hasil tes mulai dari pra tindakan 66%, meningkat siklus I mencapai 75% dan pada siklus II mencapai 93% dan dinyatakan berhasil tuntas. Dapat disimpulkan permainan sains sederhana dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Dharma Wanita Persartuan I WarungdowoPohjentrek Pasuruan. Kegiatan permainan sains sederhana meliputi : 1) permainan lempar biji, 2) mengelompokkan biji-bijian menurut warna, 3) mengelompokkan biji-bijian menurut jenisnya (dikotil dan monokotil), 4) mengurutkan biji-bijian dari yang terkecil sampai yang terbesar. Dengan demikian disarankan bagi guru Pendidikan Anak Usia Dini hendaknya melaksanakan kegiatan pembelajaran melibatkan anak secara langsung dan pembelajaran bukan berpusat pada guru tapi berpusat pada anak. Karena hal ini akan memberikan makna yang mendalam bagi anak dan bisa meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Pengaruh prestasi bvelajar matakuliah pengantar akuntansi dan pengantar akuntansi II terhadap penguasaan matakuliah komputer akuntansi (Myob Accounting) pada mahasiswa jurusan akuntansi program studi pendidikan akuntasi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri

 

Kata Kunci: Prestasi Belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi I, Pengantar Akuntansi II, Komputer Akuntansi (MYOB Accounting). MYOB Accounting adalah software yang membantu dalam kegiatan akuntansi. Dalam mengoperasikan komputer akuntansi (MYOB Accounting) mahasiswa sebaiknya terlebih dahulu menguasai Matakuliah Pengantar Akuntansi, karena merupakan dasar-dasar dalam kegiatan akuntansi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan apakah terdapat: (1) pengaruh positif antara prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi I terhadap penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) mahasiswa Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang; (2) pengaruh positif antara prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi II terhadap penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) mahasiswa Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi I (X1) dan prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi II (X2). Variabel terikat adalah penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) (Y). Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang telah menempuh dan lulus Matakuliah Pengantar Akuntansi I, Pengantar Akuntansi II dan Komputer Akuntansi yang berjumlah 61 mahasiswa. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Sumber data berasal dari Kartu Hasil Studi (KHS) mahasiswa Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi angkatan 2009 dan teknik pengumpulan data adalah dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan teknik analisis regresi berganda, diperoleh hasil yaitu terdapat pengaruh positif antara prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi I terhadap penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) mahasiswa Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dilihat dari nilai koefisien regresi prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi I terhadap penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) sebesar 0,243. Hasil lain juga menunjukkan terdapat pengaruh positif antara prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi II terhadap penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) mahasiswa Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Angkatan 2009 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dilihat dari nilai koefisien regresi prestasi belajar Matakuliah Pengantar Akuntansi II terhadap penguasaan Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) sebesar 0,322. Hasil ini mengimplikasikan bahwa penggunaan Matakuliah Pengantar Akuntansi I dan Pengantar Akuntansi II terhadap Matakuliah Komputer Akuntansi (MYOB Accounting) sangat diperlukan agar mahasiswa lebih terampil dalam menguasai Komputer Akuntansi (MYOB Accounting). Bagi penelitian selanjutnya, untuk menambah variable penelitian apa yang relevan, memperluas sampel yang digunakan untuk penelitian.

Eksistensi nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme tokoh Sakera di masyarakat Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Saidah Aziza

 

Kata kunci: Eksistensi, Nilai-Nilai Kepahlawanan, Nasionalisme, Tokoh Sakera, Masyarakat Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai perjuangan para pahlawan Bangsa. Banyak sekali para pahlawan yang gugur mempertahankan kemerdekaan dari tangan para penjajah, akan tetapi para pejuang tersebut tidak dikenal sebagai pahlawan. Melalui UU No 20 yang diterbitkan pada 2009, pemerintah tidak mereduksi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebelumnya sosok Pahlawan Nasional identik dengan perjuangan melawan penjajahan. Namun, belakangan sosok-sosok yang memberikan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembagunan dan kemajuan bangsa pun secara teknis dapat dianuge¬rahi gelar Pahlawan Nasional. Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut Bagaimana eksistensi nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme tokoh Sakera bagi masyarakat Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan? Tujuan dari penelitian ini adalah: (1)Untuk mengetahui persepsi masyarakat Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan terhadap tokoh Sakera, (2)Untuk mengetahui Nilai kepahlawanan dan nasionalisme apa saja yang digali pejuang tokoh Sakera di Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan, (3)Untuk mengetahui bentuk kehidupan masyarakat Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dalam meneladani tokoh Sakera. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumentasi. Dipilihnya Kelurahan Kolursari sebagai lokasi penelitian karena di Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari merupakan tempat Sakera di makamkan. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini bersumber dari masyarakat, cucu Sakera dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang diperloleh dari penelitian ini adalah: (1)Persepsi masyarakat Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan terhadap tokoh Sakera, yaitu mayoritas penduduk Dusun Sukorno beranggapan bahwa Sakera merupakan orang yang baik, ringan tangan, membantu sesama, dan giat bekerja. Akan tetapi Sakera senang sekali dengan “Tayuban” dimana masyarakat menilai bahwa tayuban itu negatif, karena tayuban identik dengan minum-minuman keras, saweran, dan main perempuan. Sakera yang mempunyai perawakan tidak terlalu besar, tegap dan berwajah garang terlihat dari kumis tebalnya tetapi dia menunjukan watak yang baik. (2) Nilai kepahlawanan dan nasionalisme apa saja yang digali pejuang tokoh Sakera di Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan meliputi: a.kegigihan, b. keberanian, c. Keyakinan dalam memperjuangkan rakyat kecil, d.rela berkorban. (3) Bentuk kehidupan masyarakat Dusun Sukorno Kelurahan Kolursari Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan dalam meneladani tokoh Sakera, meliputi: a. Dalam bidang idiologi masyarakat Dusun Sukorno dalam meneladani tokoh Sakera yaitu dengan cara menumbuhkan musyawarah dan gotong royong dalam masyarakat, b. Bidang politik dalam meneladani tokoh Sakera diwujudkan dengan bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik misalnya dengan cara memberikan pembinaan dan pendekatan dengan tokoh-tokoh politik yang ada, c. Dalam kehidupan ekonomi ditampakkan dengan cara memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditi (barang) dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat, d.Dalam bidang sosial budaya di bidang keolaragaan, ditampakkan dengan menggunakan Lambang Sakeramania diambil dari nama Pak Sakera, yang merupakan simbol pahlawan dan perlawanan, e. Dalam bidang pertahanan keamanan ditampakkan dengan ikut serta menjaga keamanan masyarakat dengan upaya penyelenggaraan pertahanan keamanan Dusun dengan meroling warga untuk menjaga pos keamanan tersebut. Dari penelitian ini saran yang diajukan peneliti yaitu (1) Dinas Kebudayaan Kabupaten Pasuruan sebaiknya menerbitkan buku sejarah tentang pahlawan daerah agar pengetahuan tentang sejarah para pahlawan yang ada tidak mati sampai disini dan nilai-nilainya akan tetap dipelajari dan dimengerti oleh generasi muda penerus Bangsa; (2) Masyarakat Kolursari sebaiknya lebih peduli untuk mencari dan menggali kepada orang yang telah mengetahui perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita; (3) Bagi generasi muda sebaiknya dapat menjaga dan melestarikan sejarah pahlawan daerah, khususnya yang ada di Dusun Sukorno Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan ini.

Upaya meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kolase berbahan alam pada anak kelompok B di TK Muslimat NU Khadiyah Nganjuk / Maulida Dwi Ningtyas

 

Kata kunci: kemampuan motorik halus, kegiatan kolase berbahan alam. Anak usia dini memiliki berbagai kemampuan yang perlu dikembangkan, salah satunya kemampuan motorik halus, yaitu pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dengan tangan. Di TK Muslimat NU Khadijah Nganjuk, pembelajaran pengembangan kemampuan motorik halus anak belum maksimal. Anak biasanya hanya diajak untuk menulis, menggambar, dan mewarnai saja. Kegiatan pembelajaran yang monoton menjadikan anak kurang bersemangat dan kurang aktif dalam belajar, sehingga secara langsung juga akan menghambat perkembangan motorik halusnya. Diperlukan berbagai kegiatan alternatif yang dapat mengembangkan kemampuan motorik halus anak, salah satunya adalah kolase. Penelitian ini menggunakan dua rumusan masalah, yaitu bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran kolase berbahan alam pada anak kelompok B di TK Muslimat NU Khadijah Nganjuk, dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Rumusan masalah yang lain, yakni apakah ada peningkatan kemampuan motorik halus setelah dilakukan kegiatan kolase berbahan alam pada anak kelompok B di TK Muslimat NU Khadijah Nganjuk. Rancangan penelitian ini adalah rancangan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Mc Taggart yang meliputi 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data penelitian ini meliputi data kualitatif dan data kuantitatif, yang diperoleh dari instrumen lembar pengamatan, penilaian hasil karya, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran yang tampak dari perilaku anak yang lebih tertib, berpartisipasi aktif, dan memberi respon yang baik. Peningkatan juga terjadi pada perkembangan kemampuan motorik halus anak yang tampak pada jumlah anak yang mencapai ketuntasan, dimana pada siklus I hanya 10 anak (43,5%) yang dikategorikan cukup dan meningkat menjadi 19 anak (82,6%) yang dikategorikan baik pada siklus II. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kolase berbahan alam yang berlangsung dengan baik dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru PAUD untuk menerapkan kolase berbahan alam dalam pengembangan kemampuan motorik halus anak. Kepada kepala Diknas disarankan agar memfasilitasi para pendidik AUD dalam menambah wawasan mengenai berbagai kegiatan alternatif pembelajaran, sehingga meningkatkan kreativitas guru dan akhirnya anak-anak dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya yang aktif dan menyenangkan.

Using picture sequences to improve the ability of eleventh graders at SMAN 1 srengat Blitar in writing narrative texts / Bety Dwi Ayuningtyas

 

Keywords: Picture sequences, writing, narrative. Narrative text is an essential text to be mastered by the senior high school students. In this case, the narrative text being learnt is narrative writing. Based on the results of preliminary study, the eleventh graders got low score in writing class. Twenty (66.67%) students scored below 75 as the minimum passing score which is from the school policy. Besides, they were lack of vocabulary and tenses mastery. Twenty nine (96.67%) students were lack of vocabulary. Furthermore, five (16.67%) students found difficulties in generating and expressing ideas and seven (23.33%) students found difficulties in developing ideas. Based on the problem, this research was conducted to answer the research question on how the ability of eleventh graders at SMAN 1 Srengat in writing narrative texts can be improved by using picture sequences as instructional media. The researcher used Classroom Action Research (CAR) design. The subjects of the study were Eleventh Graders of Science Program (XI IIA1) at SMAN 1 Srengat- Blitar consisted of thirty students. The researcher involved a collaborator to assist her. The collaborator was the English teacher at XI IIA1 Class. This Classroom Action Research involved four phases in a cycle: planning the action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. This study was conducted in one cycle consisted of two meetings. The data were obtained through two observation checklists, questionnaire, and the students’ final writing product.In the cycle, it was found that the students participated well in the teaching and learning process. The percentages showed that, thirty (100%) students paid attention to the researcher’s explanations, 23 (76.66%) students were active to ask and answer the questions, thirty (100%) students did peer editing in group of four students, thirty (100%) students were active in writing final draft after revising and editing. Moreover, 93.33% or 28 students received score more than 75 from the final writing product. Thus, the students had reached the criteria of success, 75% out of the students. The reseacher had succeeded to implement the picture sequences in the narrative writing class. Therefore, the researcher stopped the action in a single cycle. Based on the result of this study, it could be concluded that picture sequences could improve the ability of eleventh graders particularly Eleventh graders of science program in writing narrative essay. All students’ score were improved eventhough only 28 (93.33%) students got score above 75, as the criteria of success. The picture sequences were succeeded in helping the students in generating, expressing, and developing the ideas in writing narrative essay. It also helped the students in mastering vocabulary. The students’ attitudes also increased because the use of picture sequences could attract their attention. Finally, it is suggested that the English teacher of SMAN 1 Srengat use picture sequences in teaching and writing especially narrative writing since it can solve the students’ problem in writing itself. For other English teacher in general, the result of this study is suggested to be used as reference in the teaching and learning process, particularly for narrative writing ability. For further reseacher, it is suggested to use picture sequences in conducting research in other skil, for example speaking skill because writing and speaking belong to productive skills and in other genre, such as recount text and procedure text. Besides, it is suggested that the similar research can be conducted in different setting like primary school (elementary school) to write a simple story.

Pengembangan media pembelajaran interaktif mata pelajaran IPA pokok bahasan keanekaragaman makhluk hidup untuk kelas VII di SMP Negeri 1 Kesamben Kabupaten Blitar / Pranata Multi Tugastara

 

Kata kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran Interakti, Pelajaran IPA. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah media pembelajaran berbentuk media interaktif pelajaran IPA di SMP N 1 Kesamben kabupaten Blitar. Mata Pelajaran Keanekaragaman Makhluk Hidup ini merupakan pembelajaran mengenai teori klasifikasi dan jenis-jenis kingdom pada makhluk hidup.. Sementara itu, media pembelajaran pada mata pelajaran ini hanya tersedia dalam bentuk modul cetak yang dirasa kurang menarik. Pengembangan media pembelajaran interaktif akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi, ketertarikan siswa terhadap sajian materi di dalamnya, serta sesuai dengan aplikasi pembelajaran individual. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berupa media interaktif yang menggunakan strategi pembelajaran individual dan memiliki tingkat kemenarikan lebih tinggi pada pelajaran IPA pokok bahasan Keanekaragaman Makhluk Hidup. Model Pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Research and Development (R & D) dari Borg and Gall (1983). Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilakukan guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut antara lain: 1) Analisis kebutuhan, (2) Pengembangan produk, (3) Penyusunan Storyboard, (4) Uji coba, (5) Revisi produk, (6) Hasil Akhir. Hasil Pengembangan media pembelajaran interaktif ini memenuhi kriteria valid/layak yakni, ahli media 86%, ahli materi 80%, dan hasil uji coba lapangan 82 %. Sedangkan untuk tes hasil belajar siswa terdapat 15 orang (75%) yang berhasil mencapai ketuntasan dalam belajar (mastery learning), dan nilai mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Dengan demikian,media pembelajaran interaktif ini bisa dikatakan efektif, dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Saran yang diajukan kepada guru pengajar mata pelajaran IPA adalah, hendaknya media pembelajaran interaktif ini ditindak lanjuti sampai pada tahap pemanfaatan sesuai dengan kebutuhan.Sedangkan untuk siswa meningkatkan kebiasan belajar mandiri dengan cara bersentuhan dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Media pembelajaran interaktif ini adalah salah satu media alternatif yang bisa membantu siswa terutama yang mengikuti mata pelajaran IPA, untuk belajar secara mandiri dengan berbantuan komputer.

Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar fisika siswa kelas X-4 SMAN 5 Malang / Haritsah Alfad

 

Kata kunci: problem based learning, kemampuan berpikir kritis, prestasi belajar Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal pada kelas X-4 SMAN 5 Malang ditemukan bahwa pembelajaran fisika sering dilakukan dengan metode ceramah. Rata-rata hasil belajar fisika siswa pada materi sebelumnya 69,89 dan 65,52% siswa mendapatkan nilai di bawah KKM. Kesulitan yang dihadapi oleh guru adalah mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran, meningkatkan antu-siasme siswa terhadap materi yang diajarkan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Untuk me-ngatasi permasalahan tersebut maka diputuskan untuk menerapkan pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Rangkaian penelitian dilaksanakan mulai tanggal 24 Februari hingga 20 April 2012. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMAN 5 Malang semester genap tahun ajaran 2011/2012 sejumlah 28 siswa. Instrumen yang digunakan terdiri dari instrumen tindakan yaitu RPP dan LKS, serta instru-men pengukuran yaitu lembar observasi keterlaksanaan RPP, tes kemampuan berpikir kritis, tes prestasi belajar, dan catatan lapangan. Data penelitan berupa data hasil keterlaksanaan RPP, kemampuan berpikir kritis siswa, dan prestasi belajar siswa. Peningkatan kemampuan berpikir kritis yang dicapai oleh siswa ditandai dengan meningkatnya hasil uji kemampuan berpikir kritis dari siklus I ke siklus II sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa ditandai dengan mening-katnya hasil tes siswa dibandingkan dengan prestasi belajar prasiklus, siklus I dan siklus II. Pelaksanaan pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas X-4 SMAN 5 Malang menunjukkan hasil sebagai berikut. Keter-laksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran 87,50% terlaksana pada siklus I dan 96,88% pada siklus II atau meningkat 9,38%. Persentase kemampuan berpikir kritis siswa meningkat sebesar 29,28% dari siklus I sebesar 64,64 dan siklus II 83,57. Sedangkan persentase prestasi belajar fisika siswa meningkat sebesar 15,73% dari prasiklus serta meningkat sebesar 23,15% pada siklus II. Dampak positif setelah diterapkan tindakan adalah jumlah siswa kelas X-4 SMAN 5 Malang yang mampu mencapai KKM meningkat dari 34,48% menjadi 89,28% dengan peningkatan sebesar 54,80%. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan ke-mampuan berpikir kritis siswa kelas X-4 SMAN 5 Malang sebesar 29,28%, meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas X-4 SMAN 5 Malang sebesar 23,15%, dan jumlah siswa yang berhasil mencapai KKM hingga 89,28%.

The effectiveness of a dialogue journal in improving students' writing skill in narrative text of eleventh graders / Gundah Basiswi

 

Key words: effectiveness, dialogue journal, students’ writing skill in narrative This study was conducted to investigate the effectiveness of a dialogue journal in improving students’ writing skill in narrative text of the eleventh graders of SMAN 4 Malang. The design of this study was quasi experimental. The subjects of this study taken from the population of the eleventh graders of IPA at SMAN 4 Malang in the period 2011/2012; they were XI-IPA1 as the control group and XI-IPA4 as the experimental group. Both of the classes were taught by the same teacher. In collecting data, writing prompts were used as the primary instrument for pretest and posttest. The writing prompts provided the students to write narrative paragraphs. Then, their writings were scored using a scoring rubric. Based on the findings, it could be seen that the means of the writing aspects of the experimental group were better than the control group. The control class improved 4.78 points, from 68.79 in pretest to 73.57 in posttest, while the experimental class improved 12.02 points, from 68.16 in pretest to 80.18 in posttest. Therefore, the dialogue journals employed in the experimental group helped to improve the students’ skill in writing narrative text. Furthermore, by using Independence Sample t-test, it can be found that the result of t value for Equal Variance Assumed showed that t value is 3.345 with the degree of freedom of 57 and the level of significance coefficient of 0.001. It could be concluded that there was enough evidence to reject H0 because the level of significance coefficient was lower than 0.05 (Sig < 0.05). Thus, the control group was different significantly to the experimental group. Based on the result above, it can be concluded that the dialogue journals given to experimental group is proven to be effective in improving the students’ writing skill in narrative text of the eleventh graders of SMAN 4 Malang. Thus, it is suggested that the English teachers to use this method as additional activity in teaching writing. Besides, the teachers should give more attention, in addition to content, organization, vocabulary, language use, and mechanics. Suggestions are also addressed to next researchers to explore more about the dialogue journal in the teaching of other text types.

Pengaruh media advertising, brand image dan customer reference terhadap keputusan pembelian motor (Studi pada Dealer Suzuki Indomadiun Kota madiun) / Miftah Ali Nurdiyani

 

Kata Kunci: Media Advertising, Brand Image, Customer Reference, Keputusan Pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi media advertising, brand image, customer reference dan keputusan pembelian. Serta untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara media advertising, brand image, dan customer reference terhadap keputusan pembelian motor pada dealer Suzuki Indomadiun. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh konsumen yang melakukan pembelian motor pada dealer Suzuki Indomadiun. Sampel diambil sebanyak 100 responden dengan teknik penyebaran purposive sampling. Kuesioner berbentuk tertutup dengan skala likert 5 pilihan jawaban dengan try out sebanyak 30 responden. Dari data penelitian tersebut kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian memperlihatkan pengaruh masing-masing variabel terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor adalah: (1) media advertising memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor. (2) brand image memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor. (3) customer reference memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam membeli motor. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah. (1) Upaya periklanan, dengan meningkatkan intensitas periklanan, tampilan yang menarik, persuasif, serta penggunaan media yang mampu menjangkau konsumen secara menyeluruh.(2) Upaya pembentukan brand image dengan meningkatkan pelayanan serta melakukan inovasi dalam produk untuk menjawab kebutuhan konsumen. (3) Upaya memperluas pemasaran melalui customer refence, dengan lebih mendekatkan produk kepada konsumen melalui sales, keluarga, teman atau para ahli motor.

Perancangan iklan layanan masyarakat ASI perah bagi kaum ibu pekerja berpenghasilan rendah di Kota Malang / Diska Rahmita Gasti

 

Pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI jurusan ilmu sosial mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 1 Pasuruan / Mandala Eka Cahya Lisdiansya

 

Kata kunci: citra sekolah, motivasi, dan hasil belajar. Secara alami, motivasi belajar siswa sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi, pada umumnya mampu meraih keberhasilan dalam proses maupun hasil belajar. Salah satu pendorong motivasi yang terkait dengan sekolah adalah citra sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi belajar siswa, pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar, dan pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap hasil belajar yang diintervensi oleh motivasi belajar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pasuruan. Adapun subjek yang diteliti adalah populasi siswa kelas XI IS yang berjumlah 79 siswa. Pengumpulan data menggunakan instrumen angket dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis regresi linier pada pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi belajar coefficient sig. menunjukan nilai 0,000 < nilai probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan persepsi siswa tentang citra sekolah berpengaruh langsung dan signifikan terhadap motivasi belajar. Dan pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar coefficient sig. menunjukan nilai 0,014 < nilai probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan motivasi belajar berpengaruh langsung dan signifikan terhadap hasil belajar. Pada pengujian path analysis menunjukan pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap hasil belajar yang diintervensi oleh motivasi belajar dengan konstribusi 0,185. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) Terdapat pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap motivasi belajar siswa, (2) Terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa, serta (3) Terdapat pengaruh persepsi siswa tentang citra sekolah terhadap hasil belajar yang diintervensi oleh motivasi belajar. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Dengan meningkatkan citra sekolah maka secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Senantiasa membangkitkan motivasi belajar siswa yang tinggi agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan (3) Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada masalah atau topik yang berkaitan dengan motivasi dan hasil belajar siswa hendaknya menambah variabel dan sampel sehingga penelitian dapat lebih bervariasi.

Pengembangan media pembelajaran huruf braille berbasis mobile phone dengan J2ME / Judaz Fitronesillah

 

Kata Kunci: Media Pembelajaran, Huruf Braille, Mobile Phone Masalah terbesar yang dialami dalam proses belajar huruf Braille penyandang tuna netra adalah lupa. Papan petak (Brailtex) tidak dapat digunakan secara mobile dan paku tumpul yang digunakan rawan hilang. Bagi penyandang tunanetra, HP merupakan alat yang sudah tidak asing lagi. Secara struktur, keypad HP menyerupai karakteristik huruf Braille. Oleh karena itu, dikembangkan media pembelajaran huruf Braille bagi penyandang tunanetra untuk membantu mengingat struktur huruf Braille. Media ini diciptakan pada perangkat mobile agar dapat digunakan kapanpun dan dimanapun tanpa membutuhkan peralatan tambahan. Pengembangan media menggunakan model pengembangan Waterfall (Air Terjun). Tahap-tahap pengembangan terdiri dari: analisis dan definisi persyaratan, perancangan sistem dan perangkat lunak, implementasi dan pengujian unit, integrasi dan pengujian sistem dan operasi dan pemeliharaan. Pada tahap uji coba menggunakan Black Box Testing. Media pembelajaran huruf Braille memiliki keluaran berupa audio dan visual. Media pembelajaran ini memiliki fitur: belajar, latihan, dan bantuan. Materi yang diajarkan adalah materi huruf (a-z, ng, ny, ai, au), angka, dan tanda baca. Hasil uji validasi oleh ahli materi sebesar 100%; ahli media sebesar 96,15%; pengguna perorangan sebesar 91,36%; dan pengguna kelas kecil sebesar 97,27%. Berdasarkan hasil uji validasi tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran huruf Braille dinyatakan sangat valid dan layak untuk digunakan.

Penerapan metode pemberian tugas untuk peningkatan hasil belajar IPS siswa jelas III SD Negeri Tamanan II Tulungagung / Andika Wahyu Baskara

 

Kata kunci: Metode Pemberian Tugas, Hasil Belajar Kognitif, IPS Penerapan metode pemberian tugas dalam pembelajaran sangat dibutuhkan untuk dapat membantu siswa lebih aktif dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di SD Negeri Tamanan II Tulungagung pada tanggal 02 Februari 2012, beberapa siswa mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tematik dan kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang terdapat di buku teks mereka. Salah satu mata pelajaran yang merupakan bagian dari tematik adalah mata pelajaran IPS. Mata pelajaran IPS yang digunakan yaitu yang sesuai dengan tema dari tematik untuk diteliti dan menggunakan metode pemberian tugas yang benar yaitu dengan cara membuat tugas-tugas dan materinya yang jawaban dari tugas-tugas terdapat dalam materi tersebut. Tugas akan diberikan secara berulang-ulang. Guru mengupayakan adanya peningkatan hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siswa kelas III di SD Negeri Tamanan II Tulungagung melalui pembelajaran dengan metode pemberian tugas. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian adalah penelitian deskriptif yang masuk dalam kategori Pre-Experimental rancangan One Shot Case Study. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Tamanan II Tulungagung semester I Tahun ajaran 2011/2012 pada mata pelajaran IPS dengan jumlah siswa 39 siswa. Penelitian dilaksanakan selama bulan 02 Februari hingga 09 Maret 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian siswa menerima tugas dari guru dengan baik, sebagian besar siswa membaca panduan mengerjakan soal dalam ketelitian dan keaktifan mengerjakan soal, sedangkan dari segi keaktifan dalam kelompok, sebagian besar siswa sangat aktif dalam berkelompok. Penerapan metode pemberian tugas efektif untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan dari sebelum penerapan dan setelah penerapan metode pemberian tugas yaitu 64% menjadi 97%. Sehingga rerata kelas mengalami kenaikan dari 73 menjadi 93. Berdasarkan uji-t, tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara penerapan metode pemberian tugas sebelum tindakan dan setelah tindakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pemberian tugas efektif untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas III SD Negeri Tamanan II Tulungagung pada mata pelajaran IPS.

Pengembangan media board game untuk mata pelajaran IPS kelas IV di SDN 2 Gandusari Trenggalek / Muhammad Imam Habibi

 

Kata Kunci:Pengembangan, Board Game, IlmuPengetahuanSosial Board gamemerupakan segala jenis permainan yang menggunakan papan atau alas untuk bermain, dan biasanya dimainkan oleh lebih dari 1 orang di 1 meja yang sama. Board game ini merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Board game sebagai sebuah media memiliki begitu banyak potensi, salah satunya sebagai sarana penyampaian informasi yang efektif. Dengan format yang mendorongpemainnyauntukberinteraksi, penyampaianinformasimelalui board game menjadilebihdinamisdantidakmembosankan. Berdasarkan observasi awal di lapangan,peneliti menemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial belum sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah tertulis dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.Selain itu guru juga belum menggunakan media maupun metode permainan untuk menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan. Siswa terlihat bosan dengan metode pengajaran tradisonal serta kurang aktif dan antusias terhadap materi yang disampaikan. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan media pembelajaran berupa permainan yang didesain dalam bentuk board game. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan menghasilkan board game yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran IPS kelas IV SDN 2 Gandusari Trenggalek pokok bahasan permasalahan sosial. Pengembangan media board game ini menggunakan model pengembangan Borg & Gall. Model pengembangan Borg & Gall terdiri dari 12 langkah, yaitu (1) Identifikasi kebutuhan, (2) Perumusan tujuan, (3) Pengembangan Produk awal, (4) Validasi ahli, (5) Revisi 1, (6) Uji coba perseorangan, (7) Revisi 2, (8) Uji coba kelompok kecil, (9) Revisi 3, (10) Uji coba lapangan, (11) Revisi akhir, (12) Produk akhir. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa board game Mata Pelajaran IPS pokok bahasan permasalahan sosial. Media tersebut divalidasikan pada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media pada kriteria kelayakan board game dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 91,5%, 2) data ahli materi pada kriteria kelayakan board gamedikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 91,6%, 3) data siswa perseorangan, kelompok kecil, dan lapangan hasil yang diperoleh adalah 90%, 91%, 87,3% sehingga pada kriteria kelayakan board gamedikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) Dari pengolahan data tes hasil belajarterlihat peningkatan persentase siswa yang memenuhi SKM (≥ 65)dari 60,7 %, menjadi 71,4 % setelah siswa menggunakan board game.Dengan demikian menurut kriteria kelayakan,board game yang dikembangkan layak dan cukup efektif digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah board gameyang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan ini adalah: 1) Saran Pemanfaatan a) Bagi Sekolah, pengembangan media ini diharapkan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat memotivasi dan menarik perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran IPS. b) Bagi Guru, sebelum menggunakan media ini sebaiknya guru telah menyampaikan materi secara keseluruhan, membaca petunjuk pemanfaatan media dan memperhatikan waktu pemanfaatan dan jumlah siswa yang menggunakan media. c) Bagi siswa, beberapa hal yang harus diperhatikan siswa dalam pemanfaatan media ini adalah siswa harus bermain sesuai dengan aturan permainan dan dengan hati-hati. Setelah bermain, siswa lebih baik segera merapikan dan menyimpan board game agar komponen-komponennya tetap utuh (tidak hilang). 2) Saran untuk Pengembangan Produk Lebih Lanjut, dalam membuat sebuah karya/produk diharapkan lebih memiliki pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman mengenai media, untuk menghasilkan produk yang lebih layak, maka lakukan validasi dan revisi secara berkelanjutan, tentukan ukuran dan bahan yang akan dipakai untuk membuat board game terlebih dahulu, carilah bantuan dari teman/rekan dalam memproduksi media, buatlah permainan yang kompetitif dan sesuai dengan karakteristik siswa, serta ujilah peraturan permainan untuk mencari di mana kelemahan-kelemahan peraturan tersebut. 3) Saran Diseminasi, sebelum disebarluaskan sebaiknya produk ini dikaji kembali dan disesuaikan dengan keadaan sasaran yang ingin dituju, dan sebaiknya disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait untuk memperoleh pengakuan dan perijinan untuk penerapan board game yang dikembangkan.

Pengaruh pengetahuan awal akuntansi dan self-efficacy terhadap hasil belajar mata kuliah akuntansi mahasiswa Universitas Islam Riau / Akhmad Suyono

 

Kata Kunci: Pengetahuan Akuntansi sebelumnya, Self-Efficacy dan Hasil Belajar Mahasiswa Pengetahuan itu sendiri menekankan pada proses mental dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah mahasiswa peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya. Belajar diperguruan tinggi dituntut tidak hanya untuk mempunyai pengetahuan teknis tetapi juga mempunyai self-efficacy yang baik dan kuat untuk mampu mencapai hasil belajar yang diinginkan. Self-efficacy itu sendiri merupakan keyakinan dan harapan mengenai kemampuan untuk menghadapi tugas-tugasya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) pengaruh pengetahuan awal akuntansi terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa, (2) pengaruh self-efficacy terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa, (3) pengaruh interaksi pengetahuan awal akuntansi self-efficacy terhadap hasil belajar mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian (Explanatory Research) dengan desain faktorial. Analisis yang digunakan adalah analisis two way anova. Variabel dalam penelitian ini meliputi pengetahuan awal akuntansi (X1), self-efficacy (X2), dan hasil belajar mahasiswa akuntansi (y). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi akuntansi FKIP UIR. Sedangkan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah incidental sampling. Sehingga berjumlah 92 mahasiswa angkatan 2008. Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan awal akuntansi berpengaruh terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa dengan fhitung sebesar 23,88 > ftabel 3,0988. Self-efficacy berpengaruh terhadap hasil belajar akuntansi dengan fhitung sebesar 39,48 > ftabel 3,0988. Terdapat pengaruh interaksi antara pengetahuan awal akuntansi dan self-efficacy terhadap hasil belajar akuntansi mahasiswa dengan fhitung sebesar 4,206 > ftabel 3,0988.

Sistem informasi pengaturan jadwal mata pelajaran guru berbasis pemrogaman delphi / Agung Dwi Prastiyo

 

Kata Kunci: Sistem Informasi, Pengaturan jadwal mata pelajaran guru, Delphi Saat ini masih banyak sekolah-sekolah yang menggunakan sistem pengaturan jadwal mata pelajaran guru dengan cara manual, sehingga sering terjadi kesalahan dalam pengaturan jadwal pelajaran. Hal ini dapat merugikan siswa dikarenakan proses belajar mengajar terganggu. Mengacu pada masalah diatas, diharapkan program ini dapat membantu meringankan tugas urusan kurikulum dan memperkecil kesalahan dalam pengaturan jadwal mata pelajaran. Dalam perancangan sistem digunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7 sebagai interfacing antara manusia dengan computer, program database yang digunakan adalah Microsoft Access. Sistem ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan yang tejadi. Sistem pengaturan jadwal mata pelajaran berbasis pemrograman delphi ini diharapkan dapat memperlancar proses belajar mengajar, masing-masing guru mempunyai jadwal mata pelajaran yang juga berfungsi sebagai jadwal untuk mengatur proses belajar mengajar, sehingga kesalahan pada pengaturan jadwal mata pelajaran dapat diminimalisir, karena hanya administrator yang mempunyai hak akses dapat mengoperasikan sistem ini. Dari hasil dan analisis dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7, dapat digunakan untuk membuat program Sistem Informasi Pengaturan Jadwal Mata Pelajaran Guru Berbasis Pemrograman Delphi. Perancangan system yang dibuat memiliki keunggulan , yaitu : keamanan system lebih terjamin karena hanya petugas yang mengetahui username dan password yang dapat mengakses sistem ini, tingkat kesalahan dalam melakukan pengaturan jadwal mata pelajaran dapat diminimalisir sehingga tidak terjadi kres guru yang satu dengan yang lainnya.

Pengembangan bahan ajar operasionalisasi mesin bubut berbasis multimedia pada jurusan teknik permesinan di Sekolah Menengah Kejuruan / Andik Tri Kurniawan

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, operasionalisasi mesin bubut, Sekolah Menengah Kejuruan Pengembangan bahan ajar ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar CD Pembelajaran dengan judul “Menggunakan Mesin Untuk Operasi Dasar” yang materinya disesuaikan dengan sajian materi dalam RPP. CD Pembelajaran yang dikembangkan nantinya akan dijadikan salah satu sumber belajar di seluruh SMK khususnya yang memiliki jurusan Teknik Pemesinan guna menciptakan kreativitas belajar mandiri siswa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi model pengembangan Dick & Carey (1987). Pengembangan model Dick & Carey adalah pengembangan yang bersifat prosedural yang meliputi ; 1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, 2) analisis pembelajaran, 3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik peserta didik, 4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, 8) merancang dan melakukan penilaian formatif, 9) merevisi materi pembelajaran, 10) merancang dan melakukan penilaian sumatif. Untuk mengetahui tingkat kevalidan, kelayakan keterpakaian produk yang dihasilkan dilakukan uji kelayakan produk dalam 2 tahap, yaitu tahap uji ahli dan uji kelompok kecil. Data diambil dengan menggunakan angket, kemudian dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif dalam bentuk persentase. Hasil penilaian/tanggapan digunakan untuk merevisi produk sebagai bagian dari proses penyempurnaan produk bahan ajar. Hasil uji coba pada tahap ahli bidang studi memperoleh skor total 100% dengan kreteria valid, sedangkan dari ahli pembelajaran memperoleh skor 82,81% dengan kreteria sangat valid. Selanjutnya tahap uji coba kelompok kecil memperoleh skor total 85,28%, sehingga dari uji coba yang dilakukan CD pembelajaran layak digunakan sebagai sumber belajar di seluruh Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki jurusan Teknik Pemesinan. Dari serangkaian uji coba dapat diketahui kelebihan dan kelemahan bahan ajar yang telah dikembangkan. Kelebihannya yaitu 1) bahan ajar dirancang sesuai karakteristik dan kebutuhan siswa, 2) bahan ajar disesuaikan dengan menggunakan prinsip pengetahuan yang bersifat fakta, konsep dan prosedural, 3) model pengembangan yang disesuaikan adalah model pengembangan (Saukah, 2000:37 dalam Darmawan 2008) yang sistematis dan sesuai untuk merancang pembelajaran lebih terarah, 4) siswa lebih termotivasi dikarenakan bahan ajar yang dihasilkan berbentuk CD pembelajaran yang berisikan animasi, video, audio, teks, dan gambar. Sedangkan kelemahan bahan ajar ini adalah bahan ajar yang sejenis CD pembelajaran bisa digunakan jika pengoperasiannya menggunakan perangkat lunak yang mendukung dan sesuai.

Penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar untuk mengembangkan kecerdasan naturalis anak kelompok A di Tarbiyatul Athfal Ar-Ridlo Malang / Rizky Nadiayu

 

Kata kunci: karyawisata, lingkungan alam sekitar, kecerdasan naturalis. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelompok A TA Ar-Ridlo Malang menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi dan masih menggunakan metode yang berpusat pada guru atau exspositorik. Pembelajaran hanya dilakukan di dalam kelas, hampir tidak ada unsur discovery (penemuan), sehingga pembelajaran terasa mononton dan anak menjadi jenuh. Kehidupan alam dikota dapat dikatakan sangat sedikit sehingga anak-anak kurang mengenal lingku-ngan yang alami. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan ikut menyumbang terkuburnya potensi alami anak. Pembelajaran diluar kelas dan bersentuhan dengan alam sangat penting bagi perkembangan kecerdasan naturalis anak. Upaya untuk mengembangkan kecerdasan naturalis dengan menerapkan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar sekolah. Rumusan masalah penelitian ini mendeskripsikan penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar untuk mengembangkan kecerdasan naturalis anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang, serta mendeskripsikan tingkat perkembangan kecerdasan naturalis anak kelompok A di TA Ar-Ridlo Malang melalui penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, dengan prosedur disetiap siklusnya, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok A2 di TA Ar-Ridlo Malang yang berjumlah 20 orang. Instrumen penelitian ini menggunakan (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara, dan (3) dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif, yaitu data keaktifan dan peningkatan kecerdasan naturalis anak dalam kegiatan pembelajaran karyawisata yang dinyatakan dengan skor. Data dari catatan pengamatan, dokumen foto dan rekaman wawancara, dianalisis dengan deskriptif kualitatif dengan tahap pemaparan data, reduksi data, kategorisasi data, penafsiran/ pemaknaan, dan penyimpulan hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar dilaksanakan dengan baik, (2) kecerdasan naturalis anak mengalami perkembangan dengan peningkatan persentase rata-rata siklus I sebesar 57,167% dengan kategori cukup baik dan pada siklus II sebesar 72,33% dengan kategori baik. Artinya dari setiap siklus kecerdasan naturalis mengalami perkembangan sebesar 15,163%. Kesimpulan penelitian ini adalah metode karyawisata berbasis lingkungan alam sekitar dapat mengembangkan kecerdasan naturalis anak. Pendidik PAUD disarankan untuk menggunakan metode ini sebagai salah satu pembelajaran alternatif untuk mengembangkan kecerdasan naturalis anak dan mencoba dengan materi yang lainnya dengan manajemen waktu yang baik.

Profil pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto / Ika Dyah Kartika

 

Kata Kunci: Supervisi Pembelajaran, Kepala Sekolah, SD Negeri. Supervisi adalah bantuan yang diberikan kepada guru maupun semua staf yang ada di sekolah untuk memperbaiki kinerja profesionalnya agar berdampak positif pada pembelajaran siswa di sekolah. Dari berbagai macam jenis supervisi yang diberlakukan di sekolah, supervisi pembelajaran yang paling dianggap paling efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Supervisi pembelajaran yaitu kegiatan pembinaan yang ditujukan untuk membantu memperbaiki kondisi-kondisi baik dari segi personel ataupun dari segi material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SD Negeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, kinerja kepala sekolah sebagai seorang supervisor masih dijumpai beberapa penyimpangan. Oleh karena itu, untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah, maka dilakukan penelitian ini. Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu untuk mendeskripsikan pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah di SD Neegeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan penelitian deskriptif, dengan jumlah populasi sebesar 162, dan penelitian ini menggunakan population sampling. sampel yang digunakan berjumlah 162. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner, yang kemudian diolah dengan menggunakan rumus persentase dan mean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kepala sekolah sebagai seorang supervisor dalam membuat perencanaan program supervisi pembelajaran yaitu didapatkan mean sebesar 42,53 yang berada pada interval 34,6 – 42,7 dan tergolong kriteria baik. Sedangkan kemampuan kepala sekolah dalam melaksankan teknik supervisi pembelajaran yaitu didapatkan mean sebesar 173,09 yang berada pada interval 163,8 – 202,3 dan mtergolong kriteria baik. Dan kemampuan kepala sekolah dalam melakukan evaluasi program supervisi pembelajaran mendapatkan mean sebesar 47 yang masuk pada interval 41,4 – 51,1 dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan secara umum profil pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto tergolong baik. Berdasarkan hasil dan kekurangan penelitian disarankan kepada kepala SD Negeri di Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto disarankan agar lebih meningkatkan kemampuannya sebagai supervisor dan juga pemerataan penggunaan semua teknik supervisi agar dapat membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh guru. Kepada guru diharapkan lebih meningkatkan kinerja profesionalnya dengan berinisiasi meminta disupervisi. Kepada Dinas Pendidikan diharapkan memberikan masukan dan menambah frekuensi pelatihan tentang pelaksanaan supervisi pembelajaran kepada kepala sekolah agar menjadi supervisor yang professional. Kepada prodi pgsd hendaknya memberikan persiapan kepada para calon guru dan kepala sekolah dengan menyampaikan materi supervisi pendidikan yang cakupannya lebih luas. Dan kepada peneliti lainnya diharapkan melakukan penelitian yang lebih mendalam, dengan menambah variabel atau mengkorelasikannya dengan variabel lain, sehingga hasil penelitian dapat berkembangkan dan dapat lebih bermanfaat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |